Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 24 April 2017

Cersil Top Banget : To Liong To Pendekar Bukie 1

Cersil Top Banget : To Liong To Pendekar Bukie 1 Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Top Banget : To Liong To Pendekar Bukie 1
Baca Seri Sebelumnya Pendekar Yoko
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Top Banget : To Liong To Pendekar Bukie 1
WEBSITE
http://kangzusi.com & http://dewikz.com
2
MUSIM semi gembira-ria,
Setiap peringatan Han-sit,
Bunga Lee-hoa mekar semua.
Sutera putih licin,
Bau harum bertebaran,
Pohon2 bagaikan giok,
Tertutup salju berhamburan.
Malam yang sunyi,
Sinar yang mengambang,
Cahaya, yang dingin.
Diantara bumi dan langit,
Sinar perak menyelimuti semesta a1am.
Ah, dia bagaikan Dewi dari gunung Kouwsia,
Bakatnya cerdas dan suci,
Wataknya agung dan murni.
Laksaan sari bunga besar kecil tak ketentuan,
Tapi siapa berani mengatakan, dia tak
berendeng dengan bunga2 kenamaan?
Jiwanya gagah,
Kepintarannya berlimpah2,
Sesudah rontok, semua sama.
Maka itu, dia pulang kekeraton langit'
Guna melihat keindahan nan ABADI.
3
Sajak diatas sajak "Boe siok liam" (Cita2 hidup bebas
dari segala keduniawian), adalah buah kalam seorang ahli
silat ternama dijaman Lan-song (kerajaan Song Selatan).
Orang itu she Khoe bernama Cie Kie (Kee) bergelar Tiang
coen coe, salah seorang dari Coan cin Cin Cit coe (Tujah
Coe dari agama Coan cin kauw)
Dalam sajak itu Khoe Cie Kie bicara tentang bunga
Leehoa. Tapi sebenarnya, dalam melukiskan keagangan
bunga Leehoa, is ingin memberi pujian kepada seorang
wanita cantik yang mengenakan pakaian serba putih. la
membandingkan wanita itu seperti "Dewi dari gunung
Kouw sia, bakatnya cerdas dan suci, wataknya agung dan
murni." Ia memujinya sebagai manusia yang "jiwanya
gagah kepintarannya ber-limpah2."
Siapakah wanita yang mendapat pujian sedemikian
tinggi dari seorang, beribadat yang berilmu itu ?
Ia adalah Siauw Liong Lie, seorang jago betina parte
Kouw bok pay (parte Kuburan tua). Ia suka mengenakan
pakaian serba putih, sehingga se-olah2 pohon giok yang
tertutup salju Dengan sifat2nya yang bersih dingin is seakan2
sinar rembulan yang menyelimuti semesta alam
dengan sinarnya yg teduh dan dingin.
Waktu masih berdiam di Ciong Lan Sam Siauw Liong
Lie pernah jadi tetangga Kho Cie Kie dan sesudah melihat
gadis itu yang elok luar biasa. Cie Kie segera menulis sajak
"Boe siok-liam" untuk memujinya.
Tapi sekarang Kho Cie Kie sudah lama meninggal dunia,
sedang Siauw Liong Lie pun sudah menikah dengan
Sintiauw Tayhiap Yo Ko.
Akan tetapi, pada suatu hari, dijalanan gunung Siauw sit
san, di propinsi Holam, terlihat seorang gadis remaja yang
sedang berjalan sambil menundukkan kepada dan
4
menghafal sajak "Boe siok liam."
Gadis itu, yang berusia kira-kira delapan belas tahun
dam mengenakan pakaian warna kuning menunggang
seekor keledai kurus. Perlahan-lahan binatang itu mendaki
jalanan gunung yang sempit. Sambil termenung2 diatas
tunggangannya, sinona berkata dalam hatinya. "Ya !
Memang juga, hanyalah seorang seperti Liong Cie-cie yang
pantas menjadi isteri dia."
"Dia" adalah Sintiauw Tayhiap Yo Ko.
Keledai berjalan terus, perlahan-lahan.
Si nona menghela papas dan berkata dengan suara
perlahan. "Berkumpul gembira, berpisahan menderita......"
Gadis tersebut, yang berpakaian sederhana dan yang
pada pinggangnya tergantung sebatang pedang pendek,
berjalan dengan paras muka tenang, sehingga dengan muka
sekelebatan saja, orang bisa menebak, bahwa ia adalah
seorang yang sadah biasa berkelana dalam dunia Kangouw.
Ia berada dalam usia remaja, usia riang gembira.
Menurut akuran biasa, dalam usia belasan, pemuda atau
pemudi tak mengenal apa yang dinamakan penderitaan
atau kedukaan. Akan tetapi, nona itu berada di luar dari
ukuran biasa. Pada paras mukanya yang cantik bagaikan
sekuntum bunga mawar, terlihat sinar yang guram. Alisnya
berkerut, seolah-olah serupa pikiran berat sedang menindih
hati iya.
Nona itu she Kwee bernama siang, puteri ke dua dari
Tayhiap Kwee Ceng dan Liehiap Oey Yong. Dalam dunia
Rimba Persilatan, ia di juluki sebagai "Siauw-tong-sia" (si
Sesat kecil dari Timur). Dengan seekor keledai dan sebatang
pedang, ia berkelana untuk menghilangkan kedukaan. Tapi
diluar dugaan semakin jauh ia berkelana mendaki gunung2
yang indah dan sunyi semakin besar kedukaannya.
5
Jalan kecil itu, dibuat atas perintah Kaizar Kocong dari
kerajaan Tong, untuk memudahkan lalu lintas kekuil Siaulim-
sie.
Sesudah berjalan beberapa lama, Kwee Siang melihat
lima buah air terjun digunung seberang dan dibelakang
sebuah tikungan, apat2 terlihat tembok dap genteng dari se
buah kuil yang besar luar biasa.
Sambil mengawasi bangunan2 yang berderet, si nona
berkata dalam hatinya. "Semenjak dulu Siauw lim sie
dikenal sebagai pusat pelajaran ilmu silat. Tapi mengapa,
selama dua kali diadakan pertandingan di puncak gunung
Hwa-san, diantara lima jago utama tidak terdapat orang
yang berkepandaian Cukup tinggi? Atau apakah, karena
sudah memiliki ilmu yang sangat tinggi, mereka sung kan
mencampuri segala pergaulan didalam dunia?"
Sambil berpikir, ia mendekati kuil itu.
Ia turun dari tunggangannya dan menuju ke pintu
kelenteng. Ia melewati pohon2 itu yang berdiri sejumlah
pay batu yang sebagian besar sudah rusak, sehingga
hurup2nya tak dapat dibaca lagi.
Si nona menghela napas. "Ah ! Huruf2 yang terpahat di
pay batu sudah hampir tak terbaca karena lamanya tempo,
tapi mengapa, huruf2 yang terukir dalam hatiku, semakin
lama jadi semakin tegas ?" katanya didalam hati.
Dalam saat, ia berpapasan dengan sebuah pay batu yang
sangat besar dengan hurufnya yang masih dapat di baca.
Pay itu ternyata hadiah Kaizar Tong-thay-tong sebagai
pujian untuk jasa-jasanya para pendeta Siauw-lim-Sie
Menurut catatan sejarah, pada waktu masih jadi Raja
muda Cin-ong, Tong-thay-cong pernah membawa tentara
untuk menghukum Ong Sie Oen. Dalam peperangan itu,
6
bajak pendeta siauw-lim-sie memberi bantuan dan yang
paling terkenal berjumlah tiga belas orang. Antara mereka
itu, hanya seorang she Tham yang suka menerima pangkat
jenderal sedang yang lainnya, sesudan peperangan selesai,
lantas meminta diri. Tong-thay-cong tak dapat menahan
mereka dan sebagai pernyataan terima kasih kepada setiap
orang, ia menghadiahkan satu jubah pertapaan yang sangat
indah.
"Pada jaman antara kerajaan Soe dan Tong ilmu silat
Siau Lim sie sudah tersohor dikolong langit," kata Kwee
Siang didalam hati.
"Selama beberapa ratus tahun, ilmu silat itu tentu sudah
memperoleh banyak kemajuan. tahu berapa banyak orang
yang berilmu bersembunyi dalam kuil yang besar ini?"
Selagi dia melamun dibelakang pohon, tiba2 terdengar
suara berkerincingnya rantai besi, disusul dengan suara
seseorang yang sedang menghafal Hoed keng (Kitab Suci
agama Budha. ). Antara perkataan2 yang di hafal ia
menangkap kata2 seperti berikut.
"... Dari cinta timbul ke jengkelan, dari cinta timbul
ketakutan. Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, ia
terbebas dari kejengkelan dan ketakutan."
Jantung si nona memukul keras. Ia bengong mengulangi
kata2 itu. "Dari cinta timbul ke jengkelan dan ketakutan.
Jika seseorang menyingkirkan diri dari cinta, ia terbebas
dari kejengkelan dan ketakutan."
Dilain saat, suara kerincingan rantai besi dan suara
pembacaan Kitab Suci sudah jadi semakin jauh.
"Aku mesti tanya dia," kata si nona dalam hati. "Aku
mesti tanya, bagaimana seseorang bisa menyingkir dari
cinta, bisa terbebas dari kejengkelan dan ketakutan". Buru2
7
ia mengikat tali les keledai disatu pohon dan lalu mengubar
kearah suara itu.
Ternyata, dibelakang pohon2 terdapat satu jalan kecil
yang menanjak keatas dari seorang pendeta yang memikul
dua tahang besar sedang naik ditanjakan itu.
Dengan cepat Kwee Siang mengudak dan waktu berada
dalam jarak belasan tombak dari si pendeta, tiba2 terkesiap.
la mendapat kenyataan, bahwa yang dipikulnya sepasang
tabang besi yang tiga kali lipat lebih besar dari tahang biasa.
Yang mengejutkan ialah, dileher, di tangan dan dikaki
sipendeta dilibatikan rantai besi yang besar, sehingga
menimbulkan suara berkerincingan. Berat kedua tahang
besi itu ratusan kati dan ditambah dengan air dapat
dibayangkan betapa beratnya.
".. Toah hweeshio (pendeta besar) "teriak si nona.
"Berhenti dulu ! Aku ingin bertanya."
Si pendeta menengok, mereka saling memandang.
Pendeta itu ternyata Kak-wan yang pada tiga tahun
berselang pernah bertemu Kwee Siang di puncak ganung
Hwa-san.
Si Nona tahu, biarpun pendeta itu agak tolol, ia memiliki
Lweekang yang sangat tinggi, yang tak kalah dari siapapun
juga. "Ah! Kukira siapa," katanya. "Tak tahunya Kak kwan
Taysoe. Mengapa kau jadi begini ?"
Kak kwan manggut kan kepalanya sambil tersenyum dan
merangkapkan kedua tangannya, tapi ia tak menjawab
pertanyaan si nona. Lalu ia memutar badan dan berjalan
pula
"Kak Wan Taysoe !" teriak Kwee Siang. "Apakah tidak
mengenal aku ? Aku Kwee Siang!"
Kak wan kembali menengok, ia tertawa dan
8
memanggut2kan kepala, tapi kakinya bertindak terus.
"Siapa yang mengikat kau dengan rantai?" tanya sinona.
"Siapa yang menghina kau?"
Sambil berjalan terus Kak wan menggoyang2 tangan
kirinya dibelakang kepala, sebagai isyarat supaya sinona
jangan terlalu melit.
Kwee Siang jadi semakin heran. Mana ia bisa puas
dengan begitu saja? Ia segera mengudak untuk mencegat
pendeta yang aneh itu, tapi diluar dugaan, sesudah
mengubar beberapa lama, Kak wan yang dilibat rantai dan
memikul tahang, masih tetap berada disebelah depan.
sinona jadi jengkel. Ia mengempos semangat dan mengudak
dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Bagaikan seekor walet tubuhnya yang langsing melesat
kedepan dan satu tangannya coba menjambret sebuah
tahang.
Menurut perhitungan, jambretan itu tak akan melesat.
Tapi diluar dugaan, tangan Kwee Siang jatuh ditempat
kosong, hanya kacek dua dim dari tahang itu.
"Toahweeshio ! Lihay benar kau !" teriaknya. "Lihatlah!
Biar bagaimanapun juga aku akan menyandak kau."
Jalanan semakin menanjak,kebelakang gunung. Dengan
tenang Kak Wan percepat tindakannya, sehingga
berkerincingnya rantai jadi semakin ramai. Si ubar dengan
sekuat tenaga, nafasnya tersengal2, tapi ia terpisah kurang
lebih setombak dari pendeta ltu. Ia kagumi bukan main dan
berkata dalam hatinya : "Diatas gunung Hwa-san, ayah dan
ibu pernah mengatakan, bahwa hweeshio ini memiliki
kepandaian yang sangat tinggi. Waktu itu aka masih
percaya. Sekarang baru terbukti, perkataan ayah dan ibu
adalah benar."
9
Tak lama kemudian merekapun tiba didepan sebuah
rumah kecil dan Kak Waa sagera pergi kebelakang dam
menuang air kedua tahang itu kedalam sumur. Kwee siang
jadi lebih heran. "Toa hweeshio, apa kau sudah gila? "
tanyanya. "Mengapa kau menuang air kedalam sumur?"
Paras muka sipendeta tetap tenang. Ia hanya tersenyum.
Mendadak Kwee siang tertawa nyaring. " Ah! Kutahu
sekarang," katanya. "Kau sedang melatih ilmu silat bukan ?"
Kak Wan kembali meng-geleng2kan kepala.
Sinona jadi mendongkol. "Kau seorang gagu, barusan
aku mendengar kau menghafal Kitab Suci." katanya.
"Mengapa kau tak mau menjawab pertanyaanku ?"
Si pendeta merangkap kedua tangannya, Sedang dilihat
dari paras mukanya, ia seperti ingin meminta maaf. Tapi ia
tetap membungkam dan sesudah mengangkat kedua
tahangnya, ia lalu turun di jalanan tadi.
Kwee siang melongok sumur itu. Ia hanya melihat air
yang bening dan merasakan hawa yang dingin. Tiada
apapun yang luar biasa.
Ia berdiri bengong dan hati bimbang mengawasi
bayangan Kak wan yang semakin lama jadi semakin jauh.
Sesudah menguber mati matian, ia merasa letih dan lalu
duduk dipinggir sumur sambii memandang keadaan
diseputarnya. Ia berada ditempat yang lebih tinggi dari pada
kuil Siauw liem sie. Di pandang dari jauh kuil itu, angker
dan indah. Ia mendongak dan memandang puncak. yang
menjulang kelangit dan berderet2 bagaikan sekosol, sedang
di bawah puncak2 itu terdapat awan putih yang
mengambang kian kemari. Di lain saat, sayu sayu
kupingnya mendengar suara lonceng di kuil yang dibawa
keatas olen tiupan angin. Dalam keadaan begitu, ia merasa
10
berada di suatu tempat suci yang jauh dari keduniawian.
"Kemana perginya murid si pendeta itu?" tanyanya
didalam hati. "Kalau dia sendiri tak mau bicara, biar kucari
itu." Perlahan lahan ia turun gunung untuk mencari Thio
Koen Po, murid Kak wan.
Sesudah berjalan beberapa lama, ia kembali mendengar
suara berkerincingnya rantai besi dan jauh-jauh Kak wan
kelihatan mendatangi sambil memikul dua tahang besinya.
Kwee siang baru baru melompat dan menyembunyikan diri
di belakang pohon. "Biarlah aku intip padanya." pikirnya,
"Permainan gila apa yang tengah dilakukannya?"
Tak lama kemudian, Kak wan sudah tiba di tempat
bersembunyinya. Kwee Siang yg mendapat kenyataan,
bahwa sambil berjalan pendeta itu membaca sejilid buku
dengan penuh perhatian. Mendadak ia melompat dan
berteriak. " Toah wee shio, buku apa yang di baca olehmu
?"
"Aduh ! Kaget benar aku !" teriak sipendeta tanpa
merasa. "Nakal sungguh kau!"
Si nona tertawa geli. "Toa hwee shio, mengapa tadi kau
berlagak gagu ?" tanyanya dengan dada mangejek,
Muka pendeta itu lantas saja berubah pucat, seperti
orang ketakutan. Ia menegok ke Kiri kanan dan
menggoyang-goyangkan tangannya.
"Apa yang di takuti olehmu ?" tanya pula Kwee Siang
dengan perasaan heran.
Sebelum Kak wan keburu menjawab, dari dalam hutan
mendadak muncul dua orang pendeta yang mengenakan
jubah kuning. "Kak wan!" bentak sipendeta yang jalan
didepan. "Hm! Kau berani bicara dan melanggar larangan
kami ? Hm! Kau berani bicara dengan seorang luar. Apa
11
pula demang seorang wanita. Sekarang kau harus
menghadap pada tetua Kayloet tong (dewan per udangundangan
dari kalangan Buddha)."
Kak wan kelihatan berduka. Ia menunduk dan mengguk,
akan kemudian berjalan mengikuti dibelakang kedua
pendeta itu.
Kwee Siang lantas saja naik darahnya "Hai ! Dikolong
langit mama ada aturan tak boleh bicara ?" bentaknya. "Aku
bicara dengan Tay soe itu, karena aku mengenalnya. Ada
sangkut paut apakan dengan kau berdua ?"
Pendeta yang bertubuh jangkung melotot matanya.
"Semenjak ribuan tahun, seorang wanita belum pernah
dipermisikan masuk kedalam daerah Siauw lim sie."
katanya. "Lebih baik nona cepat-capat turun gunung
supaya tidak menghadapi kesukaran."
Sinona jadi semakin gusar. "Eh, kalau wanita masuk
disini, mau apa kau?" bentaknya." Apa perempuan tak sama
dengan lelaki? Mengapa kamu menyusahkan Kak wan
Taysoe? Sesudah mengikatnya dengan rantai besi, kau
mengeluarkan larangan gila-gila."
Si jangkung mengeluarkan suara dihidung "Kaizar
sendiri tak pernah mencampuri urusan dalam kuil kami,"
katanya dengan suara tawar.
"Nona tak usah banyak bicara."
Kwee Siang berjingkrak. "Kutahu Kak wan Taysoe
seorang baik dan karena ia seorang baik, kau berani
menghinanya," katanya. "Huh-huh! Dimana adanya Thian
beng Siansoe, Boe sek Hweeshio dan Boe Siang Hweeshio?
Panggil mereka? Aku mau menanyakan urusan gila ini!"
Kedua pendeta itu terkejut. Harus diketahui, bahwa
12
Thian beng Siansoe adalah Hongthio atau kepala dari kuil
Siauw lim sie, sedang Boe sek Siansoe pemimpin Lo-hantong
Pan Boe siang Siansoe pemimpin Tak mo tong dengan
kedudukan yang sangat tinggi, mereke dihormat oleh
segenap pendeta yang belum pernah berani menyebutkan
Hoat nia (nama sesudah jadi pendeta) mereka dan biasa
menggunakan panggilan "Loo hong thio" "Lo han tong Cosoe"
atau "Tat mo tong Cocoa. " Maka itu, tidaklah heran
jika mereka kaget tercampur gusar waktu mendengar sinona
menyebut nama ketiga, pemimpin dengan suara kasar.
Hoat mia pendeta yang bertubuh jangkung itu, adalah
Hong bang, muria kepala Co coe (pemimpin) Kay Loet
tang. Atas perintah coe coe, bersama Hong yan, adik
seperguruannya ia menilik gerak-gerik Kak kwan. "Lie sie
cue (nona) !" bentaknya sambil menahan amarah. "Jika kau
terus berlaku kurang sopan ditempat yang suci ini,
Siauwceng tak akan berlaku sangkan lagi."
"Kau kira aku takut ?" Kwee Siang balas membentak.
"Lekas buka rantai yang meli- bat Kak wan Taysoe. Jika
tidak, aku akan cari Thian beng Loo hwaeshio untuk
berurusan lebih jauh."
Bagaimana siauw tong sia Kwee Siang bisa berada
digunung Siaw sit san ?
Sesudah berpisah dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie
dipuncak Hwa san, tiga tahun lamanya ia tak pernah
menerima warta tentang kedua sahabat itu. Karena
berkuatir, ia segera minta permisi dari kedua orang tuanya
untuk pesiar keberbagai tempat, dengan tujuan mendengar
berita tentang Yo Ko. la bukan terlalu ingin bertemu muka
dengan kedua suami isteri itu. Ia sudah merasa puas jika
bisa mendengar warta tentang sepak terjang mereka. Tapi
semenjak berpisah, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tak pernah
muncul dalam dunia Kangouw. Tiada orang tahu dimana
13
mereka menyembunyikan diri. Sesudah berkelana
disebagian besar wilayah Tiong go an, dari utara keselatan,
dari timur kebarat, belum pernah Kwee Siang nendengar
disebut-sebutnya, nama "Sintiauw Tayhiap Yo Ko."
"Waktu tiba dipropinsi Holam, dia ingat dulu Yo Ko
pernah mengatakan bahwa ia kenal Hong thio dari, kuil
Siauw Lim sie. Mengingat begitu dalam hatinya muncul
harapan, kalau Thian beng SianSoe mengetahui segala
sesuatu mengenai Yo Ko. la lalu mendaki Siauw sit san,
tapi tak dinyana, begita tiba ia bertemu dengan kejadian
mengheran kan.
Melihat dipinggang Kwee Siang tergantung sebatang
pedang pendek, Hong beng dan Hoang yan jadi semakin
gusar. "Tinggal kan pedangmu disini dan lekas pergi dari
gunung!" bentak Hoang yang dengan mata melotot.
Mendengar perintah itu, kegusaran sinona jadi
bertambah2. Ia membuka ikatan tali pedang dari
pinggangnya dan sambil menggusarkannya dengan kedua
tangan ia berkata seraya tertawa dingin.
"Baiklah, aku menurut perintah!"
Semenjak kecil Hongyan sudah mencucikan diri dikuil
Siauw Lim sie. Selama belasan tahun, ia selalu mendengar
bahwa Siauw lim sie adalah pusat dari ilmu silat dan
siapapun juga, biarpun ahli silat yang berkepandaian paling
tinggi, tak akan berani melewati pintu kuil dengan
membawa senjata. Sekarang walaupun Kwee Siang masih
belum masuk dipintu, tapi ia sudah berada dalam
lingkungan Siauw lim. Dengan usianya yang masih begitu
muda, apa pula ia hanya seorang wanita, dapat dimengerti
jika Hong Yang tidak mempandang sebelah mata kepada
Kwee Siang. Begitu ia mengangsurkan senjatanya, si
pendata menafsirkan, bahwa nona itu sudah menyerah
14
dengan ketakutan. Dengan paras muka ber seri2 sambil
mengebas tangan-jubah yang menutupi kedua tangannya; ia
segera menelonjorkan tangan untuk menjemput pedang Si
nona.
Tapi baru saja lima jarinya menyentuh sarung pedang,
lengannya bergetaran, seperti kena arus kilat. Ia merasakan
semacam tenaga yang sangat besar menerobos keluar dari
pedang itu dan mendorongnya dengan hebat, sehingga tak
ampun lagi ia roboh terguling dan terus menggelinding
kebawah tanjakan. Sesudah tergelincir belasan tombak,
untuk juga ia berhasil menjemput satu pohon kecil di
pinggir jalanan dan dapat menolong dirinya,
Darah Hong beng mendidih; paras mukanya merah
padam. "Perempuan celaka!" bentaknya,
"Kau rupanya sudah makan nyali singa, sehingga berani
unjuk keganasan di Siauw Lim sie." Sambil mencaci, ia
menghantam dengan kedua tangannya.
Melihat gerakan orang, Kwee Siang tahu, bahwa
kepandaian pendeta itu banyak lebih tinggi daripada
kawannya yang barusan terguling. Dengan capat ia
mengangkat pedangnya yang masih berada didalam sarung
dan menotok pundak Hong bang bagaikan kilat, si pendeta
mengegos, sambil coba menjambret sarung pedang.
"Jangan berkelahi! Jangan berkelahi!" teriak Kak wan
dengan suara bingung.
Jembretan Hong beng ternyata berhasil, tapi baru saja ia
mau membetot sarung pedang, lengannya mendadak
kesemutan dan ia mengeluarkan teriakan tertahan.
"Celaka!" Hampir berbaring, Kwee Siang menyapu
dengan kakinya dan tubuh Hong beng tergelincir ke bawah,
ia menderita lebih hebat dari pada Hong yang dan baru
15
berhenti sesudah menggelinding duapuluh tombak lebih
dengan badan dan muka berlepotan darah.
Peristiwa itu membuat sinona agak menyesal.
"Ah! Aku naik ke Siauw Lim sie untuk mendengar2
warta tentang Yo Toako," pikirnya. "Siapa nyana, aku
kebentrok dengan mereka."
Melihat Kak wan berdiri di pinggir jalan dengan paras
muka berduga, ia segera menghunus pedang dan membacok
rantai yang melibat kaki pendeta itu. Biarpun bukan pedang
mustika, senjata Kwee Siang bukan senjata sembarangan.
Dengan berkerincingan, tiga rantai sudah putus terbacok.
"Jangan! Jangan !" si pendeta coba mencegah.
"Mengapa jangan ?" tanyanya. Ia mengawasi Hong beng
dan Hong yang yang sedang berlari-lari dan berkata pula.
"Dua hweshio jahat itu tentu mau melapor. Mari kita
mabur. "Mana muridmu, si orang she Thio ? Kita ajak dia
lari ber sama-sama."
Kak wan meng geleng2kan kepala dan mengawasi si
nona dengan sorot mata berterima kasih.
Tiba-tiba Kwee Siang mendengar suara orang
dibelakangnya. "Terima kasih untuk kebaikan nona. Aku
berada di sini."
Si nona menengok dan melihat di belakang nya berdiri
seorang pemuda yang berusia kurang lebih tujuh belas
tahun, dengan alis tebal, mata besar dan badan tinggi besar,
tapi paras mukanya masih ke-kanak-kanakkan la segera
mengenali bahwa pemuda itu bukan lain dari pada Thio
Koen Po, yang pernah bertemu di puncak gunung Hwa-san.
Tubuh anak itu sudah banyak lebih tinggi, tapi mukanya
tidak banyak berubah.
16
Kwee Siang girang. "Dua hwe-shio jahat itu telah
menghinakan gurumu," katanya. Mari kita kabur"
"Mereka sebenarnya tidak menghinakan Soe-hoe." kata
Koen Po.
"Tidak menghinakan", menegas si nona. "Mereka
melibatkan rantai di kaki tangan gurumu dan melarang
gurumu bicara. Apa itu tidak menghina?" Kak-wan tertawa
getir. Ia kembali menggelengkan kepala sambil menuding
kebawah sebagai nasehat supaya Kwee Siang buru-buru
kabur sendiran.
Tapi Siauw tong-sia Kwee Siang adalah manusia yang
memiliki sifat-sifat kesatria. Ia yakin bahwa di kuil Siauw
Lim-sie terdapat ahli-ahli silat yang tak terhitung berapa
banyaknya. Tapi melihat keganjilan, ia tak bisa berpeluk
tangan. Melihat Kak wan Koen Po ayal-ayalan ia jadi
bingung karena kuatir keburu di cegat. "Lekas! Kalau mau
bicara, boleh bicara dibawah gunung. katanya sambil
menyeret tangan pak gurunya dan murid itu. Tapi baru saja
ia mengeluarkan perkataan itu dari bawah tanjakan sudah
muncul tujuh delapan pendeta yang masing2 bersenjata
toya Cee bie koen.
"Perempuan dari mana berani mengganas di Siauw lim
sie?" teriak satu antaranya.
"Soeheng jangan kurang ajar," kata Koen Po. "la adalah
..."
"Jangan menyebutkan namaku!", memotong Kwee
Siang. Ia mengerti bahwa ia sudah menerbitkan keonaran
yang mungkin tak bisa dibereskan lagi dengan jalan damai.
Sebagai jago betina bertanggung jawab sepenuhnya atas
perbuatannya sendiri, ia sungkan meyeret2 kedua orang
tuanya. Maka itu ia lalu menambahkan dengan suara
17
perlahan: "Mari kita kabur. Tapi kau jangan se kali
menyebut nama kedua orang tuaku atau lain-lain sahabat".
Se-konyong2, terdengar suara bentakan dan diatas
gunung kembali muncul tujuh delapan pendeta.
Melihat jalanan didepan dan dibelakang sudah tercegat,
Kwee Siang jadi mendongkol. "Semua gara2mu berdua
yang seperti nenek2 sedikitpun tak punya semangat laki2.
Bilang sekarang. Mau pergi atau tidak ?"
Koen Po berpaling kepada gurunya seraya berkata:
"Soehoe inilah kebaikan budi dari Kwee Kouwnio . . . "
Sesaat itu, dibawah tanjakan kembali muncul empat
pendeta yang berjubah warna kuning, Mereka tidak
bersenjata, tapi selagi mendaki tanjakan, gerakan mereka
gesit dan cepat luar biasa. Diam2 Kwee Siang mengakui,
bahwa mereka adalah orang2 yang berkepandaian tinggi.
Sekarang sinona mengerti, bahwa ia tak kan dapat
melarikan diri lagi. Ia segera ber diri tegak dengan sikap
angkuh, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.
Begitu datang dekat, pendeta yang berjalan paling depan
segera berteriak dengan suara nyaring: "Atas perintah tetua
Lo-han-Tong, kau harus meninggalkan senjatamu. Sesudah
itu, kau harus pergi ke Pendopo Lip swat teng dikaki
gunung untuk memberi penjelasan dan mendengar
keputusan kami."
Kwee Siang tertawa dingin. "Ah! Lagak hweeshio2
Siauw Lim sie sungguh tak berbeda dengan pembesar2
negeri," katanya dengan nada mengejek. "Bolenkah aku
mendapat tahu, apa para Toa hweeshio menjadi pembesar
dari kerajaan Song atau menjadi pembesar dari kaizar
Mongol ?"
Pada waktu itu, daerah disebelah utara sungai Hway soei
18
sudah jatuh kedalam tangan tentara Mongol dan Siauw sit
san dengan Siauw lim sienya justeru berada diwilayah
kekuasaaan Mongol.
Sampai sebegitu jauh, karena bertahun-tahun repot
menyerang kota Siangyang, maka bala tentara Mongol
masih belum sempat memperhatikan soal2 lain, sehingga
sampai sebegitu juga, Siauw lim sie masih belum diganggu.
Mendengar perkataan Kwee Siang yang sangat tajam,
paras muka pendeta itu lantas saja berubah merah. Ia
merasa, bahwa perkataannya memang tidak pantas, karena
dengan berkata begitu, Siauw lim sie se olah-olah mau jadi
hakim sendiri terhadap orang luar. Maka itu, sambil
merangkap kedua tangannya, ia segera berkata pula dengan
suara manis. "Ada urusan apa Lie sie coe datang
berkunjung kekuil kami? Memohon kau suka meninggalkan
senjata dan pergi kependopo Lip swat teng untuk sekedar
minum teh dan beromong-omong."
Kwee Siang mengeluarkan suara dihidung,
"Huh! Kau orang melarang aku masuk kekuil mu, apa
dalam kuilmu terdapat mustika yang menjadi ternoda
karena dilihat olehku?" katanya sambil melirik Thio Koen
Po dan berkata pula dengan suara perlahan. " Kau mau ikut
tidak?"
Pemuda itu menggelengkan kepala dan moyongkan
mulut kearah Kak wan, sebagai tanda, bahwa ia mau
menetap disamping gurunya.
"Baiklah," kata sinona dengan suara nyaring
"Aku tak campur lagi." Ia mengangkat kaki dan turun
ditanjakan itu.
Sijubah kuning yang pertama lantas minggir kesamping,
tapi yang kedua dan yang ketiga merintang sambil
19
mengangkat tangan mereka.
"Tunggu dulu," kata salah seorang. "Tinggalkan dulu
senjatamu."
"Kami tak akan menahan senjata Lie sie coe dalam
tempo lama," kati si jubah kuning yang pertama. "Begitu
lekas Lie coe sudah turun gunung, kami akan segera
mengembalikannya. peraturan ini adalah peraturan Siauw
lim sie sudah dipertahankan selama ribuan tahun, sehingga
kami meminta Lie sie coe suka memaaf kannya."
Mendengar permintaan yang sopan itu, sinona bimbang.
" Jika membantah, aku tentu mesti bertempur dan seorang
diri, bagaimana bisa melawan jumlah mereka yang begitu
besar?" Pikirnya. "Tapi, kalau aku meninggalkan senjata,
aku seperti juga menghilangkan muka ayah, ibu, kakek
ciecie, Toako dan Liong Cie cie."
Sebelum ia mengambil keputusan, tiba2 satu bayangan
kuning berkelebat, disusul dengan bentakan. "Kau bukan
saja membawa senjata, tapi juga sudah melakukan orang.
Semenjak dulu, belum pernah ada manusia yang berani
berbuat begitu." Hampir berbareng, lima jeriji menyambar
sarung pedang Kwee Siang.
Jika dia tidak diserang, sesudah memikir masak-masak,
mungkin sekali si nona akan menyerahkan senjatanya.
Harus diketahui, bahwa sifat gadis itu berbeda dengan
Kwee Hoe, kakaknya. Walaupun gagah, ia tidak sembrono.
Melihat keadaan yang merugikan dirinya, ia bisa menahan
sabar untuk kembali lagi dikemudian hari dengan
membawa, bala-bantuan.
Tapi usaha si pendeta untuk merebut pedangnya, sudah
meniadakan segala mungkinan perdamaian. Mana bisa ia
menyerahkan senjatanya dengan begitu saja?
20
Ilmu Kin na Chioe hoat (ilmu menangkap
menyengkeram) pendeta itu memang sangat lihay. Sekali
menjambret, ia berhasil menyengkeram sarung pedang.
Dalam keadaan terdesak, Kwee Siang mencekal gagang
pedang dan membetotnya. "Sret!", pedang tercabut dan
mengeluarkan sinar menyilau, kan mata.
Hampir berbareng si pendeta berteriak, karena lima
jarinya terpapas putus. Dalam kesakitan, ia menotok muka
si nona dengan sarung pedang yang dicekal dalam tangan
kanannya. Kwee Siang memapaki dan "trang!", sarung
pedang itu jadi dua potong. Pendeta itu tidak bisa
menyerang lagi dan dengan paras muka pucat ia lalu
melompat mundur. Kawan2nya jadi gusar bukan main,
dengan serentak mereka memutar toya dan maju
mengepung.
"Ah, hari ini aku pasti tak bisa meloloskan diri tanpa
melukakan banyak orang," kata Kwee Siang dalam hatinya.
Sambil mencekal pedangnya erat2, ia segera menerjang
dengan Lok-eng Kiam-hoat.
Lok-eng Kiam-hoat yang digubah Oey Yok Soe dari ilmu
pukulan Lok-eng Cianghwat, merupakan salah satu
kepandaian istimewa dari pulau Tho hoa dan tidak kalah
lihapnya dari pada Giok siauw Kiam hoat. Begitu
menerjang, pedang si nona menyambar2 bagaikan kilat dan
dalam sekejap dua orang pendeta sudah terluka. Akan
tetapi, ia berada diatas angin hanya untuk sementara waktu
dan tidak lama kemudian, keadaannya mulai terjepit,
karena semakin lama jumlah pengepung jadi semakin besar.
Sesudah bertempur beberapa puluh jurus, Kwee Siang
hanya bisa membela diri, tanpa mampu menyerang pula.
Sebenarnya dalam keadaannya yang terdesak, seperti itu
para pendeta sebenarnya bisa segera merobohkannya. Akan
tetapi, sebab Siauw lim sie mengutamakan belas kasihan,
21
mereka merasa tak tega untuk melakukannya. Tujuhan
mereka hanyalah untuk merebut senjata sinona dan
kemudian mengusirnya dari sit san.
Tapi merebut pedang bukan pekerjaan mudah dan
sesudah lewat lagi puluhan jurus, Kwee Siang masih dapat
mempertahankan senjatanya. Semakin lama para pendeta
itu jadi semakin heran. Mereka merasa pasti, bahwa gadis
kecil ita adalah puteri atau murid seorang ahli silat
kenamaan dan oleh karena nya, mereka lebih2 tidak berani
melukakan nya, sebab hal itu bisa berbuntut panjang.
Maka itu, sambil mengepung, salah seorang buru2 pergi
kekuil dan melaporkan kepada Boe sek Siansoe, pemimpin
Loo han tong.
Tak lama kemudian, seorang pendeta tua yang bertubuh
jangkung kurus mendekati gelanggang pertempuran dan
lalu menonton sambil tersenyum. Dua orang pendeta segera
melompat keluar dari gelanggang dan bicara bisik-bisik
dengan pendeta tua itu.
Sementara itu, Kiam hoat sinona sudah kulihat.
"Hai! Kau semua benar-benar tak mangenal malu !"
teriaknya. "Kau orang mengugulkan Siauw lim sie sebagai
pusat pelajaran ilmu silat, tapi tak tahunya, puluhan Toa
hweeshio menarik keuntungan dengan jalan mengerubuti."
"Berhenti!" membentak sipendeta tua bukan lain dari
pada Boe sek Siansoe, sambil bersenyum. Mendengar
perintah itu dengan serentak semua pendeta melompat
keluar dari gelanggang dan berdiri dipinggiran.
"Nona," menegur Boe sek dengan suara sabar.
"Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama nona yang
mulia. Siapa nama orang tuamu dan siapa gurumu ? Ada
urusan apa nona datang berkunjung ke kuil kami ?"
22
"Hari ini aku sudah mengacau hebat dan jika diketahui
ayah ibu dan Toakoko, mereka tentu akan mengomel," kata
Kwee Siang dalam hatinya. Memikir begitu, ia lantas saja
mengeluarkan suara dihidung. "Tak mung kin aku
memberitahukan namaku," jawabnya. "Aku mendaki
gunungmu karena ketarik dengan pemandangannya yang
sangat indah dan sama sekali tidak mengandung maksud
apapun juga. Tapi siapa nyana, Siauw lan-sie lebih angker
dari pada keraton kaizar. Tak keruan-ruan, kau ingin
merampas senjataku. Taysoe, aka ingin tanya. Apakah aku
pernah menginjak pintu kuilmu?' Ia berdiam sejenak sambil
mengawasi Boe sek dan kemudian berkata pula. "Dulu,
pada wakta Tat-Mo Couw soe menurunkan ilmu silat,
kurasa tujuannya yang terutama adalah supaya para
pendata memiliki tubuh yang kuat supaya dapat
menjalankan tugas2 keagamaan se-baik2nya. Tapi ternyata
semakin lama nama Sauw lim sie semakin terkenal, ilmu
silatnya jadi semakin tinggi dan kebiasaan
mengeroyoknyapun jadi semakin kesohor! Baiklah, Toa
hweeshio, jika kau mau merebut juga senjataku, ambillah!
Tapi, kecuali kau membinasakan aku, kejadian ini pasti
akan diketahui oleh semua orang dalam Rimba persilatan."
Mendengar perkataan sinona yang sangat tajam itu. Boe
Sek tergugu. Untuk sejenak ia mengawasi si nona dengan
mulut ternganga dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata.
"Aku sendiri takut kejadian ini diketahui orang, tapi dia
rupanya lebih takut lagi." kata Kwee Siang dalam hatinya.
Memang juga puluhan pendeta mengerubuti seorang wanita
bukan kejadian yang boleh dibuat bangga." Ia segera
melontarkan pedangnya dan bertindak untuk turun gunung.
Boe sek maju setindak sambil mengebas dengan lengan
dan pedang itu lantas saja tergulung lengan jubah. Seraya
mencekal senjata itu yang bernoda darah dengan kedua
23
tangannya ia berkata: "Jika nona enggan menjawab
pertanyaanku, biarlah aku mengembalikan saja senjata ini
dan dengan segala kehormatan aku mengantar nona turun
dari gunung ini."
Kwee Siang tertawa. "Toa-hweeshio adalah seorang yang
mengerti urusan dan boleh di buat contoh oleh pendeta2
disini." ia memuji sambil mengulur tangan untuk
menyambuti. Tapi begitu lekas jerijinya menyentuh gagang
pedang, ia terkesiap.
Ternyata, dari telapakan tangan Boe-sek keluar semacam
tenaga menyedot sehingga pedang itu tak dapat diangkat.
Tiga kali Kwee Siang mengempos semangat dan
mengerahkan Lwekang, tapi ia belum juga bisa berhasil.
"Eh. Toahweesio, kau sengaja memperlihatkan
kepandaianmu, ha?" tanyanya dengan mendongkol.
Mendadak, bagaikan kilat tangannya menyambar dan
mengebut jalanan darah Thian-teng-hiat dan Kie-koet-hiat
di leher Boe-sek, yang jadi kaget bukan main dan buru2
melompat kebelakang.
Pada detik ia terkejut dan Lweekangnya jadi agak
kendor, si nona membetot dan berhasil merebut pulang
senjatanya.
"Sungguh indah Lan hoa Hoed hiat Chioe (Ilmu Bunga
anggrek mengebut jalanan darah )!" memuji Boe sek.
"Nona, masih pernah apakah kau dengan majikan pulau
Tho hoa?"
"Majikan pulau Tho hoa?" ia menegas seraya tertawa
"Dia dikenal sebagai Loo-tong sia ( si Sesat Tua dari Timur
)."
Tong sia Oey Yok Soe, pemilik Tho hoa, adalah kakek
Kwee Siang. Orang tua yang adat nya aneh sering
24
memanggil cucu perempuan nya sebagai "Siauw-tong-sia"
yang lalu membalas dengan menggunakan istilah "Lootong-
sia". Sebaliknya dari jengkel, sang kakek jadi girang
dan menerima baik panggilan si cucu nakal. begitu
mendengar jawaban Kwee Siang, Boe-sek sendiri segera
menarik ke simpulan bahwa sinona tak punya hubungan
rapat dengan orang tua itu. Jika masih tersangkut keluarga,
ia tentu tak akan mengeluarkan kata-kata yang agak kurang
ajar.
Memikir begitu, hati Boe-sek jadi lebih lega.
Diwaktu masih muda, Boe-sek Siang-soe pernah
menjagoi di kalangan Rimba Hijau. Maka itu, biarpun ia
sudah menjadi orang beribadat puluhan tahun lamanya,
sifat-sifat Jagoannya masih belum hilang. Semakin Kwee
Siang menolak untuk memberitahukan nama gurunya dan
asal-usulnya, semakin besar hasratnya untuk menyelidiki. la
tertawa ter bahak-bahak seraya berkata. "Nona kecil mari
kita main-main sedikit untuk menjajal mata si pendeta tua.
Coba kita lihat, apakah dalam sepuluh jurus, aku bisa atau
tidak menerka asal usul ilmu silatmu ?"
"Bagaimana jika kau tak mampu ?" tanya si nona.
Boe-sek kembali tertawa terbahak-bahak. "Jika kau bisa
melayani aku dalam sepuluh jurus dan aku masih belum
bisa menebak asal-usul ilmu silatmu, aku akan turut segala
kemauanmu." jawabnya.
"Dengan Tay-soe itu dulu aku pernah bertemu muka dan
sekarang aku ingin meminta apa-apa untuknya," kata Kwee
siang sambil menunjuk Kak wan. "Kalau dalam sepuluh
jurus kau masih belum bisa menebak siapa guruku aku
minta kau suka meluluskan permohonanku untuk tidak
menyukarkan Tay-soe itu lagi.
Boe-sek merasa sangat heran. Sepanjang
25
pengetahuannya, selama sepuluh tahun mengurus kitabkitab
di Cong-keng-kok ( perpustakaan.) Kak wan belum
pernah berhubungan dengan orang luar. Bagaimana ia bisa
mangenal sinona? Maka itu, sambil mengawasi Kwee Siang
dengan sorot mata tajam, ia berkata. "Kami belum pernah
berniat untuk sengaja menyakitinya. Jika melanggar, setiap
pendeta dalam kuil ini, tak perduli siapapun juga,
diharuskan mendapat hukuman. Maka dari itu, adalah
kurang tepat jika nona menggunakan istilah menyusahkan."
"Hm!" kata Kwee Siang seraya tertawa dingin. "Biar
apapun yang dikatakan olehmu, kau tetap seorang yang
pandai putar putar omongan.”
Boe sek mengangkat kedua tangannya seraya berkata.
"Baiklah. Aku luluskan permintaanmu ! Jika loohap kalah,
biarlah aku mewakili Kak wan Soetee memikul tiga ribu
seratus delapan pikul air. Nona kecil, hati2 aku akan segera
menyerang."
Diam2 Kwee Siang menentukan siasat.
"Pendeta ini pasti memiliki kepandaian tinggi dan jika
dibiarkan ia menyerang lebih dulu, aku mesti mengeluarkan
ilmu silat ayah dan ibu untuk membela diri." pikirnya.
"Paling benar aku mendului dan mengirim sepuluh
serangan aneh beruntun-runtun."
Boe sek habis mengucapkan perkataannya Kwee Siang
segera menikam dengan pukulan Ban-cie cian-hong dari
Lok eng Kiam hoat. Dengan pukulan itu, ujung pedang
menggetar tak hentinya, sehingga musuh sukar menebak
arah serangannya. Boe sek yang tahu lihaynya pukulan
tersebut, tidak berani menyambut secara berhadapan dan
buru2 melompat.
"Awas,sekarang kedua!" teriak si nona seraya memutar
senjatanya dan lalu menikam dari bawah keatas dengan
26
tipu Thin sin to hian (Malaikat langit jungkir balik) dari
Coan cia Kiam boat.
"Thin sin to hian!" seru Bee sek.
"Belum tentu benar," kata si nona sambil me nyengir.
Begitu mengegos, Boe sek membalik tangan kanannya
dan lima jerijinya yang dipentang menyambar kearah muka
Kwee Siang. Sinona terkejut karena ia sama sekali tak
menduga, bahwa pendeta itu bisa mengirim serangan
membalas secara begitu cepat. Dalam keadaan terdesak, ia
menggonyangkan pedangnya berapa kali dan menyambut
dengan Ok kian lum Louw (Anjing jahat mencepat jalan)
dari Tah kauw Pang hoat (ilmu tongkat memukul anjing).
Harus diketahui, bahwa diwaktu kecil, nona Kwee
bersahabat rapat dengan mendiang Louw Yoe Kak, Pangca
dari Kaypang (Partai pengamis). Mereka sering makan
minum ber sama2, bersenda gurau dan tempo2 atas desakan
sinona , mereka berlatih. Meskipun dalam Kaypang
terdapat peraturan, bahwa Tah kauw Pang hoat hanya
boleh diturunkan kepada seorang pangcoe, tapi lama2
berkat pergaulannya dengan orangtua itu maka Kwee Siaug
bisa berhasil untuk mencari beberapa pukulan dari ilmu silat
tongkat yang luar biasa itu. Jika diingat, bahwa bekas
pangcoe Oey Yong sekarang Yek lu Chi, adalah suami
kakak perempuannya, maka sinona sebe narnya
mempunyai kesempatan luas untuk melihat latihan-latihan
Tah kauw Pang hoat. Maka itu walaupun tak mengerti
intisari dari pada ilmu silat tersebut, dalam keadaan terjepit,
ia masih bisa menggunakannya untuk menolong diri.
Boe sek kaget bukan main sebab pada saat lima jarinya
hampir menyeatuh pergelangan tangan sinona, mendadak
sehelai sinar putih berkelebat dan pedang menyambar dari
arah yang sebenarnya tak mungkia dilakukan, sehingga
27
hampir-hampir jerijinya terbabat putus. Untung juga, pada
detik terakhir ia masih keburu melompat kebelakang. Tapi
meskipun begitu, tak urung lengan jubahya tergores ujung
pedang dan menjadi robek. Paras muka Boe sek lantas saja
berubah pucat dan keringat dingin mengucur dari dahinya.
Kwee Siang berbunga hatinya. "Taysoe apa kau tahu
ilmu pedang apa itu?" tanyanya sambil menyengir.
Dalam dunia memang tidak terdapat Kim-boat yang
serupa itu. Sesudah mencuri Tah kauw Pang hoat, dengan
otaknya yang sangat cerdas, sinona megubah pukulan Kiam
hoat berdasarkan ilmu tongkat itu, sehingga dengan
demikian, ia telah membuat seorang pendeta Siauw limsie
yang berilmu tinggi, tak bisa menjawab pertanyaannya.
"Ha! Jika aku bisa menyerang lagi dengan beberapapu
kulan Tah kauw Pang hoat, pendeta tua ini pasti akan dapat
dirobohkan katanya didalam hati. "Sungguh sayang, aku
hanya memiliki satu pukulan yang semengga-mengganya
ini."
Sebelum sang lawan sempat bergerak, Kwee siang sudah
mendului lagi dan menotol baberapa kali bagian bawah Boe
sek dengan ujung pedang. Kali ini ia menyerang Leng po
wie po (Leng po bertindak dengan ayunya), yaitu salah satu
pukulan dari Giok lie Kiam hoat yang didapat dari Siauw
Liong lie.
Sebagaimana diketahui, Giok lie Kiam hoat ilmu pedang
gubahan Lim Tiauw Eng dan setiap pukulannya
mempunyai gerakan Leng po wie go jadi lebih menyolok
karena dilakukan oleh nona Kwee yang cantik dan ayu.
Dengan perasaan kagum, para pendeta mengawasi
serangan itu sambil menahan napas.
Harus dike tahui, bahwa Tat mo Kiam boat, Lo han
Kiam boat dan lain2 ilmu pedang dari Siauw lim sie
28
mengutarakan "kekerasan", sedang Giok lie Kiam boat,
yang jarang terlihat dalam Rimba Persilatan justru berbeda
dengan silat Siauw lim pay. Begitu sinona meyerang dengan
Leng-po we-po, seperti pendeta lainnya Boe sek pun
mengawasi dengan rasa kagum dan heran. Seumur hidup,
belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang yang seindah itu
dan cepat2 ia meloncat ke samping dengan harapan sinona
akan mengulangi serangannya.
Dalam saat, Kwae Siang kembali mengubah cara
bersilatnya. la sekarang berlari ketimur dan kebarat sambil
membabat berulang dengan pedangnya. Thio Koen Po yang
menonton dipinggir jalan mengawasi serangansi nona
dengan mata membelalak dan tiba2 ia mengeluarkan
teriakan : "Ah!" Ternyata, yang digunakan Kwee Siang
adalah pukulan Soe tong Pat ta (Empat menembus Delapan
meyampaikan), yaitu ilmu silat yang pada tiga tahun
berselang telah diturunkan oleh Yo Ko kepada Koen Po.
Waktu itu Kwee Siang kebetulan dapat melihatnya dan
sekarang lalu menggunakan untuk menghadapi Boe sek.
Soe thong Pat-ta yang dulu diajar Yo Ko ialah Canghoat
ilmu silat tangan kosong. Dengan mengubahnya menjadi
Kiam hoat (ilmu pedang), pengaruh ilmu itu jadi banyak
berkurang, sehingga jika dulu Thio Koen Po berhasil
mengalahkan In Kek See, sekarang Kwee Siang tidak bisa
berbuat banyak terhadap Boe sek.
Dengan be-runtun2 KWee Siang sudah menyerang lima
kali, tapi Boe sek masih juga belum bisa meraba asal usul
ilmu silat sinona. Diwaktu muda ia malang melintang
dalam dunia Kangouw dan, mempunyai pengalaman yang
sangat luas. Semenjak mengetuai Lo-han tong pada belasen
tahun berselang, ia telah menggunakan seluruh temponya
untuk menyelidiki ilmu silat barbagai partai dau
membandingkannya dengan ilmu Siauw lim-sie. Ia
29
menggodok semua pengalamannya dan pendapatnya itu
untuk menyempurnakan ilmu partainya. Maka itu, ia selalu
percaya penuh bahwa dengan sekali melihat, ia sudah bisa
tahu asal usul ilmu silat setiap ahli. Tapi di luar dugaan,
hari ini ia "ketemu batunya". Kakek, ayah-ibu paman2,
kakak2 Kwee Siang rata2 adalah ahli2 silat nomor satu
pada jaman itu. Dalam menghadapi serangan yang
bermacam2 coraknya, kapandaian Boe-sek masih lebih dari
cukup untuk membela diri. Tapi untuk mengetahui siapa
guru sinona, ia masih belum bisa me-raba2.
"Jika aku membiarkan ia menyerang lebih dulu,
jangankan dalam sepuluh jurus, sedangkan se ratus jurus
sekalipun, belum tentu aku bisa menebak asal usul ilmu
silatnya," pikir Boa sek.
"'Jalan satu2 nya adalah menyerang dengan hebat,
supaya ia terpaksa mengeluarkan imu silatnya yang asli
guna monolong diri" Memikir begitu cepat bagaikan kilat ,
ia mengepos kekiri dan menghantam dengan pukulan Song
Koan koen, dengan merapatKan kedua tangannya dan
sepulun jarinya ditekuk bagai kan ceker. Melihat sambaran
yang sangat dahsyat, Kwee Siang tidak berani menyambut
kekerasan, dengan kekerasan. Dengan membungkuk sedikit
dan dengan saatu gerakan yang sangat indah dan lincah, ia
berhasil meloloskan diri dari bawah kedua tangan lawan.
Tipu itu adalah tipu yang pernah digunakan Eng Kouw
waktu bertempur dengan Yo Ko di Ban Hoa Kok (lembah
laksaan bunga).
"Bagus, sungguh bagus gerakanmu!" memuji Boe sek
"sambutlah lagi satu seranganku." Ia membuat sebuah
lingkaran dengan tangan kirinya, sedang sikut kanan
ditaruh didada dengan telapakan tangan menghadap keatas.
Itu lah pukulan Oei eng loh kee (Burung kuning hinggap
dicagak) dari Siauw lim koen. Sebagai seorang tetua Siauw
30
lim sie, biarpun paham dengan ilmu silat berbagai partai,
tapi dalam setiap pertempuran, ia selalu harus
menggunakan ilmu partai sendiri yang paling asli.
Kwee Siang kaget sebab begitu lekas Boe sek membuat
lingkaran ditengah udara ia lantas saja merasakan tindihan
semacam tenaga yang sangat kuat. Buru2 membalik pedang
dan dengan gagang pedang, ia menotok jalanan darah Wankoet-
hiat, Yang kok hiat dan Yang loo hiat di pergelangan
tangan si pendeta. Ilmu molok itu adalah It yang cie yang ia
belajar dari Boe Sioe Boen. Sebenarnya pelajarannya masih
sangat cetek dan belum bisa digunakan untuk melukakan
musuh. Tapi gerakan menotok tiga jalanan darah itu adalah
salah satu pukulan yang paling lihay dari It yang cie. Maka
itu, begitu melihat gerakan tangan si nona, Boe sek kaget
tak kepalang dan cepat2 ia menarik pulang serangannya.
Andaikata ia menyerang terus dan tertotok pergelangan
tangannya, ia pasti tak akan terluka, sebab totokan itu tidak
di sertai dengan Lwekang It yang cie yg disegani orang.
Tapi sebagai orang yang berpengalaman, Boe sek sungkan
mempertaruhkan nama besarnya dalam satu pukulan itu.
Kwee Siang tertawa nyaring. "Toahweeshie kau ternyata
mengenal ilmuku yang sangat lihay," katanya seraya
menyengir.
Boe sek tidak menyambut, ia hanya mangeluarkan suara
"Hm" dan lalu menyerang dengan pukulan Tan-hong-tiauwyang
(Angin dan matahari). Dengan pukulan itu, kedua
tangannya terpentang lebar dan terangkat tinggi, sehingga si
nona sukar menggunakan It-yang cie lagi. Tapi Kwee Siang
tak kehabisan modal. Dengan cepat ia menyilangkan kedua
telapak tangannya dan balas menyerang deugan Biauwchioe-
kong-kong (Tangan yang lihay ke lihatan kosong),
yaitu jurus ketujuh puluh dua dari Kong beng koen,
gubahan Loo hoan tong. Cioe Pek Tong Kong beng koen
31
adalah ilmu yang belum pernah tersiar didunia maka untuk
sekian kalinya, Boe sek ter-heran2. Dengan cepat ia berkelit
kesamping dan hampir berbareng mengirim pukulan Pi na
hoa cit seng (Tujuh bintang). Bagaikan arus kilat, tahu2
tangannya sudah menyentuh telapakan tangan si nona,
yang jika tidak melawan dengan menggerakkan Lwekang,
tulang tangannya pasti akan patah.
Kwee Siang mengerti, bahwa tangannya sudah ada
dibawah kekuasaan lawan, tapi hati nya masih penasaran.
Jangan kegirangan dulu kau! Belum tentu bisa mematah
tulang tanganku," katanya didalam hati. Ia segera
mengempos semangat melawan tenaga si pendeta dengan
Cat-po-san-chioe ( Kipas-besi ) . llmu ini yang merupakan
ilmu simpanan dari Tiat-Ciang-kang (ilmu tangan besi)
adalah satu ilmu "keras" yang paling ditakuti dalam Rimba
Persilatan.
Sebagai seorang ahli, Boe sek tentu saja mangenal ilmu
itu dan jantungnya memukul keras. Ia jadi serba salah. Jika
ia menggunakan kekerasaan sinona bisa terluka berat dan ia
sama sekali tidak bermaksud until mencelakai gadis itu.
Disamping itu untuk berterus terang, ia memang merasa
agak segan terhadap Tiat-ciang-kang. Sesudah memikir
sejenak, ia segera menarik pulang tangannya.
Sekali lagi, si nakal tertawa nyaring. " Awas! Pukulan
yang ke sepuluh. Apa kau masih belum bisa menebak
partaiku ?" teriaknya. Sambil berteriak begitu, ia mengebas
keatas dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya
menyambar kejanggut Boe-sek. Tanpa merasa, semua
pendeta mengeluarkan seruan tertahan, sebab pukulan itu,
yang diberi nama Kouw hay hoei tauw ( Memutar kepala di
laut kesengsaraan ) adalah salah situ pukulan Kin na chioe
hoat ( Ilmu menangkap dan menyengkeram), dari Siauw lin
pay sendiri.
32
Tapi Kouw hay hoei tauw agak berlainan dengan Kim na
chioe hoat lain cabang, karena biasanya hanya di gunakan
pada saat berbahaya untuk menolong jiwa. Dengan pukulan
itu, tangan kiri sipenyerang menolak kepala musuh, sedang
tangan kanan menyambar leher, sehingga jika berhasil,
leher musuh bisa patah, setidaknya terluka berat.
Melihat sinakal berani menggunakan pukulan tersebut
dihadapannya, seolah seorang sasterawan mengugulkan diri
dihadapan Nabi Khong Coe. Boe sek jadi geli dalam
hatinya. Selama puluhan tahun, ia sudah melatih pukulan
tersebut sehingga setiap gerakanya sudah terjadi secara
wajar. Secepat kilat, ia miringkan badan dan menggeser
maju kakinya, sedang tangan kirinya menyambar kebawah
ketiak si nona dan tangan kanannya mencekal belakang
lutut Kwee Siang.
Pukulan itu yang diberi nama Sia can tiauw hay
(Mengempit gunung melompati lautan) merupakan pukulan
tunggal untuk memunahkan Kouw hay hoei-tauw.
Si nona kaget tak kepalang dan tahu2 ke dua kakinya
sudah terangkat naik dari muka bumi. Sebenarnya dengan
menggunakan sikut, ia masih bisa menyikut lawan. Tapi
sebab gerakan Boe sek cepat luar biasa, sebelum sempat
bergerak, ia sudah tak berdaya.Dengan demikian, putri
Kwee Ceng telah dikalahkan.
Selagi kedua tangannya mencekal sinona, mendadak Boe
sek terkesiap. "Celaka !" ia mengeluh. "Aku hanya
memperoleh kemenangan dalam pertempuran, tapi masih
belum tahu siapa gurunya dan apa nama partainya."
Kwee Siang memberontak sekuat tenaga. "Lepaskan
aku!" teriaknya. "Cring!" serupa benda jatuh dari saku
sinona.
"Toahweeshio, apa benar2 kau tak mau melepaskan
33
diriku ?" serunya dengan suara ke takutan.
Boe sek Siansoe adalah seorang berlibat yang berilmu
tinggi dan yang mencintai segenap makhluk Tuhan. Maka
itu, mendengar suara sinona cilik, is lantas saja tertawa ter
bahak2.
"Nona kecil, loolap sudah berusia lanjut dan pantas
menjadi kakekmu," katanya seraya tersenyum. "Apa kau
masih perlu merasa takut ?" Sehabis berkata begitu, dengan
menggunakan tenaga yang diperhitungkan, ia melontarkan
tubuh sinona kira2 dua tombak jauhnya dan kedua kaki
Kwee Siang hinggap dimuka bumi tanpa kurang suatu apa.
Sebagai ksatria yang tak akan menjilat ludah sendiri. Boe
sek segera manggutkan kepalanya untuk mengaku kalah.
Selagi kepalanya mengangguk, tiba-tiba ia melihat serupa
benda hitam diatas tanah dan benda itu adalah sepasang
Lohan (pendeta yang berilmu tinggi) yang terbuat daripada
besi.
"Toahweeshio, apa kau mengaku kalah ?" tanya Kwee
Siang.
Boe sek mengangkat mukanya yang berseri-seri dan
seraya tertawa girang, ia menjawab.
"Bagaimana aku bisa kalah dari seorang bocah cilik? Aka
tahu, ayahmu adalah Tay hiap Kwee Ceng, ibumu Liehiap
Oey Yong dan majikan pulau Thoa hoa adalah kakekmu.
Ayahandamu memiliki kepandaian yang beraneka ragam,
karena ia pernah berguru dengan Kanglam Citkoay, dengan
Kioe-cie sin-kay, tokoh-tokoh Coancien pay dan lain lain
partai lagi. Kwee Jie kaouwnio, kau adalah putrinya
pendekar kelas satu pada jaman ini sehingga tidaklah heran,
jika kau memiliki kepandaian luar biasa."
Kwee Siang kemekmek, ia tak pernah mimpi akan
34
mendengar jawaban begitu.
Melihat paras bingung dimuka sinakal, sambil tertawa
geli Boe sek membungkuk dan menjemput dua Lo han besi
itu.
"Kwee Jie kouwnio, aku si pendeta tua tak boleh
mendustai seorang bocah cilik," katanya. "Aku bernasil
menebak asal usulmu karena melihat sepasang Lo Han besi
ini. Apa Yo Tayhiap baik ?"
"Apa kau pernah berjumpa dengan Toako dan Liong
cici?" ia balas menanya. "Aku datang kemari justru untuk
mendengar-dengar tentang mereka. Kau mungkin belum
tahu, bahwa toakoku dan Liong sudah merangkap menjadi
suami istri."
Boe sek mengangguk beberapa kali, "Pada beberapa tahn
yang lalu, Yo Tayhiap pernah datang berkunjung kekuil
kami untuk beberapa hari dan aku merasa sangat cocok
dengannya," menerangkan si tua. "Belakangan kami
mendengar, bahwa ia membinasakan kaizar Mongol diluar
kota Siangyang, sehingga namanya menggetarkan seluruh
dunia. Waktu menerima warta itu, kami semua merasa
girang bukan main. Tapi sekarang kami tak tahu, dimana ia
berada. Ah. Kalau begitu ia sudah menikah. Aku berani
memastikan, bahwa istrinya adalah seorang wanita yang
boen boe song coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu
perang)."
Kwee Siang berdiri bengong dan mengawasi ketempat
jauh. Ia menghela napas seraya berkata dengan suara
perlahan. "Kalau begitu, kalian pun tak tahu dimana
mereka berada. Siapa yang bisa memberi keterangan?"
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula,
"Sekarang baru kutahu, kau adalah Boe sek Siansu. Tak
heran. Jika kau memiliki memiliki begitu tinggi. Hmm! Aku
35
belum menghaturkan terima kasih untuk hadiah ulang
tahunku. Sekarang belum terlambat. Biarlah hari ini saja
aku menghaturkan banyak terima kasin kepadamu."
Sipendeta tertawa. "Orang sering mengata kan, bahwa
tanpa berkelahi tidak bisa menjadi sahabat," katanya. "Bagi
kita berdua, Kata-kata itu sungguh tepat sekali. Eh, kalau
kau bertemu dengan Yo Tayhiap, kuharap kau jangan
memberitahukan bahwa aku si tua telan menghina seorang
wanita muda,"
Kedua mata sinona memandang puncak2 gunung yang
tertutup awan, "Sampai kapan. ... sampai kapan baru akan
bisa bertemu dengannya" katanya.
Sebagaimana diketahui, pada waktu Kwee Siang
merayakan hari ulang tahunnya yang keenam belas, Yo Ko
telah mengundang jago jago Rimba persilatan untuk
berkumpul di kota Siang yang, guna memberi selamat
panjang umur. Pada hari itu, dengan memandang muka Yo
Ko, ahli-ahli silat dari "jalanan hitam" dan "jalanan putih"
telah berkumpul di Siangyang. Boe sek yang kebetulan
sedang repot tak bisa datang berkunjung dan hanya
mengirim seorang wakil untuk memberi selamat dan
menyampaikan barang antaran, Dan barang antaran yang
dikirimnya bukan lain sepasang Lo han besi itu dipasang
alat alat dan jika alat2 tersebut diputar, anak2an itu segera
menjalankan satu pukulan Lo han koen. Yang membuatnya
adalah seorang pendeta aneh yang pada satu abad berselang
pernah bertempat tinggal dikuil Siauw lim sie. Kwee Siang
yang masih ke kanak2an merasa sangat ketarik dengan
mainan yang selalu di bawa2nya didalam saku. Pukulan
Kauw hay hoei tauw yang barusan digunakannya,
sebenarnya telah didapat oleh si nona dari kedua Lo han
besi itu. Tak dinyana, karena gara2 itu juga hari ini asal
usulnya telah ditebak jitu oleh Boe sek Siansoe.
36
"Berhubung dengan peraturan yang turun tumurun, aku
merasa menyesal tak bisa mengundang Kwee Jie-kouwnio
datang berkunjung kekuil kami," kata Boe sek. "Aku
percaya kau tak akan jadi kecil hati."
"Tak apa2," kata sinona dengan masgul. "Ada yang aku
hendak tanyakan."
Sambil menunjuk Kak wan, pendeta tua itu berkata pula.
"Tentang Soeteeku itu, aku akan menerangkan kepadamu
perlahan2. Begini saja. "Si tua akan menemani kau turun
gunung dan kita cari sebuah rumah makan, supaya aku bisa
menjadi tuan rumah untuk minum beberapa cawan arak.
Bagaimana pikiranmu?"
Mendengar kata2 itu, semua pendeta kaget tercampur
heran. Boe sek Siansoe adalah seorang yang mempunyai
kedudukan sangat tinggi dalam Siauw lim sie. Bahwa ia
sudah berlaku begitu hormat terhadap seorang gadis remaja,
adalah suatu kejadian luar biasa.
"Taysoe, janganlah kau berlaku begitu sungkan," kata
sinona de ngan perasaan jengah." Aku menyesal bahwa
barusan dengan semberono aku sudah melakukan
perbuatan sangat tak pantas terhadap beberapa Sueheng.
Aku memohon Taysoe sudi menyampaikan maafku kepada
mereka.
Biarlah kita berpisahan disini saja dan dilain hari, kita
pasti akan bertemu pula." Sehabis berkata begitu, ia segera
memberi hormat, lalu memutar dapan dan mulai bertindak
turun dari tanjakan itu.
"Nona kecil, mengapa kau menolak tawaranku yang
diajukan dengan setulus hati?" kata Boe sek sambil tertawa.
"Beberapa tahun berselang, karena sedang repot, aku tak
bisa menghadiri pesta hari ulang tahunmu, sehingga sampai
sekarang hatiku masih merasa tak enak. Kalau hari ini aku
37
tidak mengatarkan kau sampai 30 li, aku seperti juga tidak
mengenal peraturan untuk melayani tamu terhormat."
Mendengar kata2 itu yang tulus iklas dan juga karena
merasa senang dengan cara2 si tua yang polos, Kwee Siang
segera berpaling dan berkata sambil bersenyum."Marilah."
Dengan berendeng pundak mereka turun dari tanjakan
itu dan tak lama kemudian, tibalah mereka dipendopo Lip
swat teng. Tiba2 mereka mendengar suara tindakan kaki
dan waktu menengok, mereka melihat, bahwa orang yang
membuntuti adalah Thio Koan Po. " Saudara Thio,"
menegur Kwee Siang." Apakah kau juga ingin mengatarkan
tamu?"
Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah.
"Benar!" jawabnya.
"Pada saat itulah, se-konyong2 dari jauh mereka melihat
seorang pendeta bertindak keluar dari pintu kuil dan
kemudian lari turun sekeras kerasnya dengan menggunakan
ilmu mengentengkan badan. Alis Boe sek berkerut. "Ada
apa begitu ter-buru2 ?" tanyanya.
Begitu berhadapan dengan Boe sek, pendeta itu memberi
hormat dan lalu bicara bisik2. Paras muka si tua laatas saja
berubah. "Apa benar ada kejadian begitu?" teriaknya.
"Loo hong-thio (pemimpin kuil) mengudang Sioe-co
(kepala bagian) untuk berdamai." jawabnya.
Melihat paras muka Boe-sek. Kwee Siang mengerti,
bahwa Siauw-lim-sie sedang menghadapi urusan sulit.
Maka itu, ia lantas saja berkata: "Loo-sian-soe, dalam
persahabatan yang paling penting adalah kecintaan hati.
Segala adat istiadat tiada sangkut pautnya dengan
persahabatan. Jika Loo-sian-soe mempunyai urusan,
uruslah saja. Di lain hari, kita masih mempunyai banyak
38
kesempatan untuk makan minum sepuas hati."
"Tak heran Yo Tay hiap begitu menghormatimu,"
memuji Boe sek. "Kau benar2 seorang gagah, seorang jago
betina. Aku merasa girang bisa bersahabatan dengan
seorang seperti kau."
Kwee Siang bersenyum deagan paras muka ke-merah2
an dan sesudah mereka saling memberi hormat, si pendeta
tua segera kembali kekuil Siauw-lim-sie.
Sinona lalu meneruskan perjalanannya dengan dibuntuti
Thio Koen Po dari belakang. Pemuda itu tak berani berjalan
berendeng, ia mengikuti dalam jarak lima-enam tindak.
"Saudara Thio, mengapa mereka menghinakan gurumu
?" tanya nona Kwee sambil menengok kebelakang. "Dengan
memiliki kepandaian begitu tinggi, gurumu sebenarnya
boleh tak usah takuti mareka."
Koen Po mempercepat tindakannya. "Mereka bukan
sengaja menghina Soehoe," jawabnya. "Peraturan di dalam
kuil selalu dipegang keras sehingga siapapun juga membuat
pelanggaran, tak akan terluput dari hukuman."
Kwee Siang jadi heran. "Gurumu adalah seorang kesatria
dan dalam dunia jarang terdapat manusia yang hatinya
begitu mulia," katanya. "Kedosaan apakah yang telah di
perbuatnya ?"
Pemuda itu menghela napas panjang. "Latar belakang
kejadian ini sebetulnya sudah di ketahui nona," jawabnya.
"Yang menjadi gara-gara adalah kitab Leng-keh-keng."
"Ah ! Kitab yang dicuri Siauw Siang Coe dan In Kek See
?" menegas si nona.
"Benar," jawabnya. "Hari itu, waktu berada di puncak
Hwa-san, atas petunjuk Yo Tay hiap, aku telah
39
menggeledah badan kedua orang. Sesudah turun gunung,
mereka tak kelihatan mata hidungnya lagi. Dengan apa
boleh buat, Soesoe dan aku segera kembali kekuil dan
melaporkan kepada Sioe co dari Kay-loet-ton. Leng keh
keng adalah kitab yg di tulis oleh Tatmo Couwsoe sendiri
dan merupakan salah sebuah barang berharga dalam Siauwlim-
sie. Maka itu dapatlah dimengerti, jika Soehoe tak bisa
terlolos dari hukuman.
"Gurumu dihukum tak boleh bicara ?" tanya pula si
nona.
"Ya, menurut peraturan yang sudah turun temurun,"
sahutnya. Menurut peraturan itu, seorang yang dihukum
harus memikul air dengan kaki tangan dilibat rantai dan tak
boleh bicara".
"Menurut katanya para tetua hukuman memikul air
malahan ada baiknya untuk yang terhukum. Dengan
membungkam, ia mendapat kemajuan dalam latihan
rokhani dan dengan memikul air tangannya akan
bertambah besar."
Si nona tertawa geli. "Kalau begitu, gurumu sebetulnya
bukan menjalani hukuman, tapi sedang melatih badan."
katanya. "Ah ! Memang aku yang terlalu rewel dan suka
mencampuri urusan orang lain."
"Bukan, bukan begitu," kata Koen Po dengan cepat,
"Untuk kebaikan nona, Soehoe merasa sangat berterima
kasih dan tak akan melupakannya."
Kwee Siang menghela nafas. "Lain orang sudah
melupakan aku sama sekali," katanya didalam hati.
Sesaat itu, tiba2 terdengar suara bunyi keledai yang
sedang makan rumput didalam hutan. "Saudara Thio, tak
usah kaum engantar lebih jauh lagi." katanya sambil bersiul
40
dan tunggangannya segera menghampiri.
Koen Po mengawasi dengan sorot mata duka. Ia
kelihatannya merasa berat untuk berpisahan, tapi ia tak
mengeluarkan sepatah kata,
Kwee Siang yang dapat membaca jalan pikiraannya,
segera merogoh saku dan mengeluarkan sepasang Lo han
besi. "Kau ambilah ini" katanya seraya mengangsurkannya.
Koen Po terkejut, ia tak berani menyambutinya. "Ini . ini
. ." katanya ter-putus2.
"Aku berikan ini kepadamu," kata si nona , "Kau ambil
lah."
Pemuda itn tergugu: "Aku . . aku .."
SiNona segera memasukkan sepasang han besi itu
kedalam saku Koen Po dan kemudian melompat naik
keatas punggung keledai.
Tapi, sebelum ia berangkat, diatas tanjakan se konyong2
terdengar teriak: "Kwee
Jie-bouwnio! Tahan!" Si nona menengok dan melihat
Boe Sek Siansoe sedang mendatangi dengan ber-lari2.
"Pendeta tua itu ternyata kukuh sekali," pikirnya. "Perlu
apa ia mengatarkan aku?"
Begitu berhadapan dengan sinona, Boe Sek segera
berkata pada Koen Po: "Lekas kau kembali kekuil. Kau tak
boleh berkeliaran lagi digunung ini."
Pemuda itu mengangguk sambil melirik sinona, ia segera
mendaki tanjakan.
Sesudah Koen Po berada jauh. Boe sek segera
mengeluarkan selembar kertas dari dalam lengan jubahnya
dan berkata: "Kwee Jie-kauw nio, apa kau kenal tulisan
41
siapa ini ?"
Sinona menyambuti dan membaca dua baris huruf yang
tertulis diatasnya. "Sepuluh hari kemudian, Koen-leon Sam
seng (Tiga nabi gunung Koen-loen san) akan datang
berkunjung ke Siauw lim-sie untuk meminta pelajaran,"
"Siapa Koen loen Sam seng ?" tanya sinona "Suaranya
sombong sekali!"
"Kalau begitu nona pun tak mengenal mereka katanya."
Situa berdiri bengong. "Urusan ini benar benar
mengherankan," katanya dengan suara perlahan.
"Mengapa mengherankan ?" tanya Kwee Siang.
"Biarpun baru pernah bertemu, aku menganggap nona
sebagai seorang sahabat lama dan aku bersedia untuk
menerangkan se-jelas2nya kata Boe-sek. "Apa nona tahu
dari mana datangnya kertas ini ?"
"Diantarkan oleh suruhan Koe-loen Sam-seng."
Jawabnya.
"Jika disampaikan oleh seorang suruhan, kami tentu tak
menjadi heran." kata siPendeta.
"Orang sering mengatakan, bahwa pohon yang tinggi
selalu mengundang serangan angin. Dan sudah sejak lama,
selama beberapa ratus tahun, Siauw lim sie dikenal sebagai
sumber pelajaran ilmu silat dan oleh karena demikian,
banyak sekali ahli silat datang berkunjung untuk menjajal
kepandaian kami. Hal ini adalah hal yang lumrah. Dipihak
kami, setiap kali orang menantang, kami selalu coba
membujuknya, supaya ia membatalkan niatan itu. Sedapat
mungkin, kami coba mengelakkan pertandingan. Kami
sungkan merebut kemenangan. Orang2 yang masih suka
berkelahi, mana boleh jadi murid Budha
42
"Benar, perkataan Taysoe benar sekali," ka ta sinona
sambil mengangguk.
Akan tetapi, pada umumnya, seorang ahli silat yang
datang berkunjung, masih penasaran jika belum
memperlihatkan kepandaiannya," kata pula Boe sek. "Maka
itu, dalam kuil kami dibentuk bagian Lo han tong yang
bertugas untuk melayani para tamu itu."
Sinona tertawa-tawa geli. "Aha ! Kalau begitu Taysoe
bertugas sebagai tukang berkelahi," katanya.
Situa tertawa getir. "Sebagian besar ahli ahli silat yang
datang kemari dapat dilayani oleh para murid dan aku tak
usah turun tangan sendiri," katanya. "Tapi hari ini karena
melihat gerakan2 nona yang luar biasa, aku terpaksa turun
tangan sendiri."
"Terima kasih banyak2 atas pujian Toahweeshio," kata
sinona sambil membungkuk dan tertawa manis.
"Ah, aku sudah melantur kelain tempat," kata Boe sek.
"Sekarang kita kembali pada surat tantangan itu. Untuk
bicara sejujurnya kertas ini diambil dari dalam tangan
patung Hang-liong Lo-han yang terdapat didalam kamar
Lo-han-tong."
"E eh! Siapa yang menaruhnya?" tanya si nona.
Sipendeta meng garuk2 kepala. "Kami tak tahu, inilah
justru yang mengherankan," jawabnya. "Dalam Siauw limsie
terdapat ratusan pendeta, sehingga seorang luar tak
mungkin menyelinap masuk, tanpa diketahui. Apa pula
kamar Lo han tong siang malam dijaga oleh delapan murid
dengan bergantian. Barusan, mendadak saja seorang murid
melihat kertas itu didalam tangan Hang liong Lo han dan ia
segera melaporkan kepada Loo-hong-thio. Semua orang
jadi heran tak habisnya dan mereka lalu memanggil aku
43
untuk diajak berdamai."
Mendengar sampai disitu, Kwee Siang lantas saja dapat
menebak jalan pikiran sipendeta. "Bukankah kau merasa
curiga terhadapku?" tanyanya. "Kalian menganggap, bahwa
aku mempunyai hubungan dengan manusia2 yang
menamakan dirinya sebagal Koen-loen Sam-seng. Aku
mengacau diluar dal mereka diam2 masuk ke Lo han-tong
untuk menaruh surat itu. Bukankah begitu dugaanmu?"
"Aku sendiri tidak, hatiku bebas dari segala prasangka,"
sahutnya. "Tapi nona tentu bisa mengerti, jika Loo-hongthio
dan Boe siang Soe-heng agak curiga. Secara kebetulan,
surat itu muncul pada waktu nona mau berangkat."
"Sekali lagi aku memastikan, bahwa aku tidak mengenal
tiga manusia itu," kata Kwee Siang.
"Toa-hweeshio, apa yang mesti ditakuti? Jika mereka
benar2 berani menyateroni, iringlah segala kemauannya."
"Takut kami tentu tak takut," kata situa. "Jika nona tidak
bersangkut paut dengan mereka, aku boleh tak usah
berkuatir lagi."
Kwee Siang mengerti, bahwa maksud si pendeta tua
adalah baik sekali. Boe sek rupanya menyangka tiga orang
itu ada berhubungan dengan dirinya, sehingga jika sampai
bergerak ketiga orang itu sampai terluka, si pendeta akan
merasa tak enak hati terhadapnya. Maka itu, ia lantas saja
berkata. "Toa hweesio, jika mereka datang baik2 dan bicara
baik2, kau boleh menyambutnya secara baik2 pula. Tapi
kalau mereka kurang ajar, hajarlah, supaya mereka tahu
lihaynya Siauw lim-sie. Dilihat dari suratnya, mereka
kelihatannya sombong luar biasa."
Bicara sampai di situ, dalam otaknya mendadak
berkelebat serupa pikiran dan ia lalu berkata pula: "Toa,
44
hweeshio, apa tak mungkin didalam kuil terdapat konconya
yang diam2 sudah menaruh kertas itu ditangan Hang liong
Lo han?"
"Kemungkinan ini sudah direnungkan oleh kami,"
sahutnya. "Tapi rasanya tak mungkin terjadi. Tinggi tangan
Hang liong Lo han da ri lantai ada tiga tombak lebih dan
murid yang membersihkannya, selalu harus menggunakan
tangga. Orang yang memiliki ilmu mengentengkan badan
sangat tinggi, belum tentu bisa mencapainya. Andaikata
benar ada pengkhianat, dia pasti tak mempunyai ilmu yang
begitu tinggi."
Penuturan yang sangat manarik itu sudah
nembangkitkan rasa kepengin tahu dalam hati Kwee Siang.
Ia kepingin tahu, bagaimana macamnya Koen loen Sam
Seng dan kepingin tahu pula bagaimana kesudahan
pertemuan itu. Hanya sayang, tak mungkin ia menyaksikan
itu semua dengan mata sendiri, karena Siauw lim-sie tak
bisa menerima tamu wanita.
Melihat sinona ter-menung2. Boe sek menduga, bahwa
nona itu sedang memikiri daya upaya untuk mengelakkan
ancaman bahaya. Maka dari itu, sambil tersenyum ia
berkata. "Kwee Jie kouwnio, selama ribuan tahun Siauwlim-
sie telah mengalami banyak gelombang dan taufan, tapi
begitu jauh, belum pernah dirusak orang. Jika Koen loen
Sam sang sungkan di ajak berunding, kamipun tak akan
mengorbankan keangkeran Siauw lim sie dengan begitu
saja. Kwee Jie kouwnio, setengah bulan kemudian, kau
boleh men-dengar2, apa Koen loen Sam seng sudah berhasil
menghancurkan kuil kami" Waktu mengucapkan kata2
yang paling akhir, muncullah kembali keangkeran Boe sek
di jaman muda, suaranya nyaring dan berpengaruh, sedang
kedua matanya ber-kilat2.
"Toa hweeshio, jangan kau gampang2 naik darah," kata
45
sinona sambil tertawa geli. "Cara2 yang berangasan tak
sesuai dengan kedudukanmu sebagai murid Sang Buddha.
Baiklah setengah bulan lagi, aku menunggu warta
menggirangkan." Sehabis berkata begitu, ia mengedut les
keledai dan lalu mulai turun gunung. Diam2 ia mengambil
keputusan, bahwa sepuluh hari kemudian ia akan kembali
untuk menonton keramaian.
Sambil jalankan keledai perlahan2, rupa2 pikiran berkelebat2
dalam otak si nona. "Mungkin sekali Koen loen
Sam seng tak mem punyai kepandaian berarti, sehingga aku
tak bakal menyaksikan keramaian, yang menarik nati,"
pikirnya. "Ah jika di antara mereka terdapat orang2 yang
memiliki kepandaian kira2 seperti kakek, ayah, ibu atau Yo
Toa koo, peritiwa Sam seng mengacau Siauw lim sie
barulah sedap ditonton."
Mengingat Yo Ko, hatinya lantas saji berduka. Selama
tiga tanun, ia telah menjelajahi berbagai tempat, tapi selalu
menubruk angin. Ciong lim -san Kuburan Mayat Hidup
sunyi-senyap, dilembah Ban hoa kok hanya terdapat
rontokan laksaan bunga, Coat ceng kok hanya penuh
dengan tampukan puing, sedang di Hong leng touw pun, ia
tidak bisa menemukan tapak2 Yo Ko dan Siauw Long Lie.
Ia menghela napas ber-ulang2 dan berkata dalam hatinya.
"Andaikata, kubisa bertemu dengan dia nya, apa artinya
pertemuan itu ? Bukan kah akan hanya menambah luka
yang pedas perih ? Bukankah hanya menyingkirnya dia ke
tempat jauh banyak baiknya untuk diriku ? Hai ! Terang2an
kutahu, bahwa apa yang kupikir adalah bayangan bunga di
kaca atau bayangan rembulan di muka air. Tapi. . . aku tak
berkuasa untuk menindas dorongan hati . .untuk menindih
keinginan mencari dia."
Sambil melamun, la membiarkan keledainya jalan
sejalan-jalannya. Diwaktu lohor ia sudah terpisah agak jauh
46
dari Siau sit san, Disepanjang jalan, ia menikmati
pemandangan yang sangat indah dan dari jauh ia
memandang puncak timur dari Siauw sit san yang
menjulang kelangit. Mendadak, dari antara pohon-pohon
siong yang sudah ribuan tahun tuanya, lapat-lapat terdengar
suara khim. "Si apa yang menaruh khim ditengah gunung
yang sunyi ini ?" tanyanya didalam hati. Karena kepingin
tahu, ia melompat turun dari keledainya dan berjalan
kearah suara tetabuhan itu,
Sesudah datang lebih dekat, ia mendapat kenyataan,
bahwa suara khim itu diiringi dengan suara lain, seperti
semacam nyanyian.
Semenjak kecil, di bawah pimpinan ibunya Kwee Siang
telah mempelajari berbagai ilmu sehingga, walaupun tidak
terlalu mendalam, ia mengenali baik ilmu menabuh khim,
ilmu main tiokie ( catur Tioaghoa ) , Unit surat dan melukis
yang umumnya di miliki oleh orang2 terpelajar pada jaman
itu, di tambah dengan otaknya yang sangat cerdas, ia tak
usah kalah dari orang2 biasa dan malahan ia masih sanggup
menimpali kakeknya dalam ilmu musik dan melayani Coe
Coe Lioe dalam ilmu surat. Sekarang mendengar suara
tabuh tabuhan yang agak aneh itu, ia segera mendekati
dengan indap-indap.
Dalam jarak belasan tombak, barulah terang baginya,
bahwa suara khim itu diiringi oleh suara ratusan burung.
Dengan rasa heran, ia lalu mengintip dari belakang satu
pohon besar dan terlihat seorang lelaki yang mengenakan
baju putih sedang duduk di bawah tiga pohon siong sambil
menabuh khim. Di dahan2 ketiga pohon itu terdapat
ratusan ekor burung besar dan kecil yang menyanyi
menurut irama tabuh2an itu. Suara khim dan bunyi burung
adalah sedemikian akur sehingga didengar dari jauh, sukar
sekali orang dapat membedakan, yang mana suara khim,
47
yang mana suara burung.
Kwee Siang terpesona dan dengan hati ber debar2, ia
mendengari musik luar biasa itu, yang semakin lama jadi
semakin keras. Tiba2 di sebuah kejauhan terdengar ramai
suara gerakan sayap burung yang mendatangi dengan cepat
sekali dan di lain saat ratusan burung gereja tiba di situ,
sebagaian segera hinggap di cabang2, sebagian pula terbang
ber-putar2. Tiba-tiba Kwee Siang ingat suatu hal. "Ah"
katanya di dalam hati. "Apakah lagu ini bukan lagu Pek
niauw hong (
Ratusan burung menghadap kepada burung Hong) yang
sudah tak dikenal lagi dalam dunia ? Menurut katanya
kakek, dalam lagu tersebut suara khim menyerupai bunyi
burung Hong yang bisa menyebabkan kedatangan ratusan
burung. Tapi, apa benar dalam dunia terdapat ilmu
memetik khim yang begitu tinggi?"
Berapa lama kemudian, suara itu berubahlah perlahan,
kawanan burung mulai meninggalkan dahan2 dan lalu
terbang berputaran diatas pohon. Mendadak terdengar
suara "ting" dan orang ita berhenti memetik alat musiknya.
Setelah terbang memutar beberapa kali lagi, ratusan burung
itupun turut bubar.
Orang itu dongak dan sesudah menghela napas, dari
mulutnya terdengar nyanyian seperti berikut.
Mengapa siang hari begitu cepat saatnya
Ratusan tahun lewat dalam sekejap mata
Langit yang luas tiada batasnya.
Takdir mendurita tak bisa dibantah.
Lihatlah rambut si Niekauw suci.
Sebagian sudah seperti salju yang putih.
48
Thian kong bertemu dengan Gioklie
Tertawa ter-bahak2 laksana kali.
Aku ingin mengeluarkan kereta.
Dan mendorongnya pulang kekampung halaman.
Pak tauw menuang air kata2.
Dan mengajak semua orang minum secawan.
Kekayaan dan, kemewahan tak jadi idam-idaman.
Yang diharapkan ialah awet muda sepanjang jaman.
Suara orang itu sedih sekali, seperti juga ia merasakan,
bahwa penghidupan manusia dalam dunia ini diliputi
dengan kesengsaraan yang tidak habis2nya. Kwee Siang
jadi turut merasa terharu, tanpa merasa dua butir air mata
mengalir turun kedua pipinya. Ia mendongak seraya
berkata.
"Memutar pedang!
Mengangkat alis!
Air bening, batu putih, mengapa bersimpang siur?
Manusia hidup tanpa sahabat sejati.
Hidup ribuan tahun, tiada berarti."
Tiba2 dari bawah khim, orang itu menghunus sebatang
pedang bersinar hijau. "Aha Kalau begitu, dia seorang Boe
boe coan cay (pandai ilmu surat dan ilmu perang)" pikir si
nona. "Coba kulihat ilmu silatnya.
Perlahan2 orang itu berjalan kesebidang tanah lapang.
Tapi sebaliknya dia bersiasat, ia menggores tanah dengan
pedangnya, segaris demi segaris.
"E eh? Kiam hoat apa itu?" tanya sinona dalam hatinya.
49
"Benar2 dia manusia aneh."
Orang itu terus memcuat garisan2 melintang, sesudah
menggores sembilan belas kali ia berhenti dan lain mulai
membuat garisan2 membujur, yang jaraknya
bersamaan satu sama lain, yaitu kurang lebih satu kaki.
Seperti juga garisan melintang, ia membuat sembilanbelas
garisan membujur.
Dengan menuruti caranya orang itu, Kwee Siang menggaris2
tanah dengan telunjuknya. "Wah! Kurang ajar!"
katanya didalam hati, "Papan Wie-kie !" ( Wie kie semacam
catur yang menggunakan biji putih dan biji hitam).
Sesudah selesai, dengan ujung pedang ia membuat
bundaran disudut kiri atas dan sudut kanan papan catur itu.
Kemudian ia membuat tanda silang, juga disudut kiri atas
dan sudut kanan bawah.
Kwee Siang yang mengintip dari sebelah kejauhan,
mengerti, bahwa orang itu sedang mengatur biji Wie kie,
tanda bundar mewakili biji putih, tanda silang merupakan
biji hitam.
Orang itu lalu mulai jalankan biji2nya. Sesudah jalan
enambelas biji, ia kelihatan bersangsi. Apakah biji putih
harus bergulat terus atau mengambil sikap membela diri
disepanjang pinggiran papan? la menancap pedangnya
ditanah dan mengawasi papan dengan berpikir keras.
"Dilihat begini, dia seorang yang hidup kesepian," pikir
sinona: "Ia memetik khim sendirian dan berkawan dengan
burung." Ia tak punya kawan untuk main Wie
kie dan harus main seorang diri"
Sesudah memikir beberapa saat, orang itu lalu mulai
jalankan lagi biji2 Wie kie. Ternyata, biji putih sungkan
50
mengalah dan sa tu pertempuran hebat lantas saja terjadi
disudut kiri atas. Putih dan hitam lantas ber gerak2 dan
saling makan dengan serunya sama2 coba merebut
kedudukan Tionggoan (tengah2). Tapi, biar bagaimanapun,
karena memang sudah kalah setingkat, biji putih terus
berada dibawah angin. Sesudah jalan 93 kali, biji putih
sudah terjepit, tapi masih ber gulat terus sedapat mungkin.
Si nona menonton pertempuran itu dengan hati berdebar.
Tiba2 tanpa merasa ia berteriak. "Mengapa tak mau
meninggalkan Tiong goan dan mundur ke See ek (sebelah
barat)"
Orang itu terkejut. Ia melihat bahwa bagian barat papan
catur itu memang terdapat sebidang tanah yang kosong, dan
jika biji putih menerjang kesitu, masih bisa dipertahankan
keadaan seri."
"Bagus ! Bagus!" serunya dan lalu menjalankan biji putih
kejurusan barat. Sesudah jalan beberapa kali, barulah ia
ingat kepa da orang yang memberi tunjuk. Ia melemparkan
pedangnya diatas tanah dan memutar tubuh. "Orang yang
berilmu siapakah yang memberi pelajaran ?" teriaknya.
"Aku sungguh merasa berterima kasih."
Sehabis berkata begitu ia mengoya kearah Kwee Siang.
Si nona mendapat kenyataan, bahwa orang itu, yang
berusia kurang lebih tigapuluh tahun, bermuka lonjong
panjang dan bermata dalam, sedang badannya jangkung
kurus. Sebagai seorang jago betina yang tak menghiraukan
perbedaan antara lelaki dan perempuan, perlahan-lahan
Kwee Siang berjalan keluar dari tempat sembunyinya dan
berkata seraya tertawa. "Barusan aku merasa kagun waktu
mendengar Sian-seng memetik khim dengan diiring
nyanyian dari ratusan burung. Sesudah itu, dengan tak
kurang rasa kagumku, kumelihat Sianseng membuat papan
51
Wie kia dengan menggaris tanah dan main Wie xie dengan
menggunakan pedang, Karena itu, aku jadi banyak mulut
dan aku harap Sianseng sudi memaafkan."
Mendengar perkataan sinona, orang itu kelihatan girang
sekali. "Dari kata2mu. nona ternyata mahir dalam ilmu
memetik khim," katanya sambil bersenyum. "Jika sudi, aku
memohon nona suka perdengarkan satu dua lagu."
"Memang benar aku pernah belajar menabuh dari ibuku,
tapi jika dibandingkan dengan kepandaianmu, aku masih
kalah jauh sekali," kata sinona. "Tapi jika menolak terlalu
keras, aku merasa tak enak hati. Biarlah aku akan
mendengarkan sebuah lagu. Tapi jangan tertawa."
"Bagaimana aku berani ?" kata orang itu sambil
mengangsurkan khimnya dengan kedua tangan.
Khim itu sudah berusia tua dan enteng se kali. Sesudah
mengakurkan tali2nya. Kwee Siang segera memetik lagu
Kho phoa. Kepandaian sinona memang tidak seberapa
tinggi dan lagu yang didengarnya tidak luar biasa. Tapi
walaupun begitu, pada paras muka orang itu terlukis rasa
kaget tercampur girang. Mengapa? Karena lagu Kho phoa
mengenakan jitu pada apa yang dipikirnya, sehingga ia
merasa amat girang dan berterima kasih ter hadap sinona.
Sesudah selesai Kwee Siang menabuh, untuk beberapa saat
ia masih bengong dengan mata mengawasi ketempat jauh.
Syair lagu Ko phoa diambil dari Sie keng (Kitab Syair).
Itulah sebuah nyanyian dari seorang Tay soa, seorang yang
mengasingkan diri dari pergaulan umum.
Dalam syair itu dikatakan bahwa cita2 yang luhur dari
seorang laki2 sejati yang berkelana sebatangkara didaerah
pegunungan tidak akan berubah, biarpun pada mukanya
terlihat sinar kedukaan dan didalam hatinya terdapat rasa
kesepihan.
52
Perlahan2 si nona menaruh khim diatas tanah dan tanpa
mengeluarkan sepatah kata lalu barjalan pergi, akan
kemudian melompat keatas punggung keledai dan
meneruskan perjaanan yang tak tentu rimbanya.
Siang dan malam lewat dengan cepatnya dan dalam
sekecap tibalah hari kesepuluh, yaitu hari yang dijanjikan
Koen loen Sam seng untuk menyataroni Siauw lim sie.
Sudah berapa hari Kwee Siang mengasah otak untuk
mencari daya guna masuk kekuil Siauw lim sie, tapi ia
belum juga berhasil." Sungguh malu aku menjadi anak
ibuku", pikirnya dengan mendongkol.
"Ibuku begitu pintar, anaknya sedemikian tolol. Biarlah
aku datang saja diluar kuil dan menunggu kesempatan.
Mungkin sekali, selagi repot berkelahi, mereka tak sempat
merintangi aku."
Pagi itu sudah menangsal perut dengan makanan kering,
ia tujukan keledainya ke Siauw lim sie. Waktu berada
dalam jarak kurang lebih sepuluh li dari kuil, tiba2 ia
mendengar suara kaki kuda dan dari jalanan gunung di
sebelah kaki kelihatan mandatangi tiga penunggang kuda.
Ketiga ekor kuda itu satu bulu dauk, satu kuning dan satu
lagi putih bertubuh tinggi besar dan cepat sekali larinya.
Dalam sekejap, mereka sudah melewati sinona dan menuju
kearah kuil. Ketiga penunggang kuda itu rata2 berusia kira2
limapuluh tahun. Mereka mengenakan baju pendek warna
hijau dan diatas pelana masing2 tergantung kantong kain
yang berisi alat senjata. " Ah! Mereka tentulah Koen loen
Sam seng, " pikir Kwee Siang. "Jika terlambat, bisa2 aku
ketinggalan nonton."
Ia segera menjepit perut keledai dengan lututnya dan
menepuk leher binatang itu. Sambil berbunyi kerena,
keledai itu lantas saja lari congklang. Biarpun kurus kecil,
dia ternyata kuat sekali dan cepat larinya. Tak lama
53
kemudian, dia sudah bisa menyusul dan membuntuti ketiga
penunggang kuda itu.
Sekarang si nona bisa melihat lebih tegas. Penunggang
kuda dauk bertubuh kate kecil, Penungggang kuda kuning
berpotongan badan sedang dan penungggang kuda putih
seorang jangkung kurus. Selanjutaya ia pun mendapat
kenyataan, bahwa ketiga binatang itu berbulu sangat
panjang sampai dikakinya sehingga berbeda sekali dengan
kuda di wilayah Tiong goan.
Begitu tahu ada yang membututi, ketiga orang itu segera
menggeprak tunggannya yg lantas saja kabur sekeraskerasnya
sehingga Kwee Siang lantas saja ketinggalan jauh
sekali.
Sesudah me]alui dua-tiga-li, si nona belum juga melihat
bayangan2 ketiga penunggang kuda itu. Biarpun kuat,
tenaga keledai kecil kurus itu, sangat terbatas.
Napasnya sudah tersengal-sengal dan dia kelihatannya
sudah lelah sekali. "Binatang tak punya guna!" bentak
sinona. "Biasanya kau banyak lagak dan selalu mau lari
cepat cepat. Tapi waktu aku justeru memerlukan tenagamu
kau lantas saja keok." Melihat tak gunanya coba menyusul
lagi, ia lalu melompat turun dari punggung si kurus dan
duduk mengaso di sebuah pendopo batu dipinggir jalan dan
membiarkan keledai makan rumput.
Belum lama ia duduk mengaso sekonyong konyong
terdengar pula suara kaki kuda dan ketiga penunggang kuda
yg tadi sesudah male wati satu lembah, kelihatan
mendatangi.
"Eh, mengapa mereka kembali begitu cepat?° tanyanya
di dalam hati.
Setibanya dipendopo satu itu, mereka segera melomat
54
turun dari tunggangan mereka dan lalu duduk mengaso
bersama-sama si nona. Orang yang bertubuh kate kecil,
bermuka merah dan yang paling menyolok adalah
hidungnya yang merah mengkilap seolah olah bara.
Ia mempunyai paras yang selalu tersungging senyuman.
Si tua yang bertubuh jangkung kurus, pucat sekali
mukanya, di antara warna putih pias terdapat sinar
biru, seolah olah ia tak pernah kena sorotan matahari.
Dengan demikian, warna kedua orang itu bertentangan satu
sama lain: yang satu merah membara, yang lain pucat pias.
Orang ketiga, yang badannya sedang sedang saja, tidak
mempunyai ciri ciri luan biasa, kecuali mukanya yang
berwarna kuning seperti orang sakitan.
Sesudah menyapu ketiga orang itu dengan matanya yang
bening tajam, Kwee Siang ber senyum seraya menanya:
"Samwe Loosian seng (ketiga tuan) apakah kalian barusan
mengunjungi Siauw lim sie? Mengapa, baru naik kalian
sudah turun kembali?"
Si muka pucat melirik seperti orang kekhi tapi si muka
merah tertawa dan balas menanya dengan suara manis.
"Bagaimana nona tahu, kami pergi ke Siauw lim-sie
?"
"Kalau bukan ke kuil kemana lagi?" kata Kwee Siang.
Si muka merah mengangguk. "Benar," katanya.
"Kemana nona sendiri mau pergi?"
"Kalian pergi ke Siauw Lim sie, akupun mau kesitu,"
jawabnya.
Tiba2 simuka pucat menyelak:" Siauw lim sie tak pernah
mempermisikan orang perempuan masuk kedalam kuil dan
juga tak pernah mempermisikan masuknya orang yang
55
membawa senjata."
Ia bicara dengan suara sombong, tanpa melirik kepada si
nona.
Kwee Siang jadi mendongkol. "Tapi mengapa kalian
sendiri membawa senjata?" tanyanya. "Bukankah dalam
kantong dicelana, berisi senjata ?"
"Bagaimana kau bisa dibandingkan dengan kami," kata
simuka pucat dengan suara tawar.
"Sombong sungguh! Siapa sebenarnya kalian?" tanya
sinona dengan suara yang sama tawarnya. "Apa Koen loen
Sam seng sudah bertempur dengan pendeta2 Siauw 1im
sie?" "Bagaimana kesudahannya ?"
Mendengar kata2 Koen loen Sam sang," ketiga Orang itu
jadi kaget bukan main dan paras muka mereka lantas saja
berubah.
"Nona kecil," kata simuka merah.'"Bagaimana kau tahu
hal Koen loen Sam seng ?'
"Tentu saja kutahu," jawabnya.
Mendadak simuka pucat maju setindak dan membentak:
"She apa kau ? Siapa gurumu Ada urusan apa kau datang
kesini ?'
"Bukan urusanmu," sinona balas membentak.
Simuka pucat yang sangat berangasan dan yang selama
puluhan tahun selalu dihormati orang, lantas saja meluap
darahnya. la segera mengangkat tangan untuk menggaplok
si jelita yang dianggap sangat kurang ajar. Tapi sebelum
tangannya melayang, tiba2 ia ingat kedudukannya yang
sangat tinggi. la insyaf bahwa adalah sangat tidak pantas,
jika sebagai seorang tua, ia menghina seorang muda, lebih2
seorang wanita. Mengingat begitu, ia mengurungkan
56
niatnya untuk menggampar muka, tapi tangannya
menyambar terus kepinggang sinona dan tiba2 pedang
Kwee Siang bersama sarungnya sudah pindah tangan!
Kecepatan orang tua itu, sungguh sukar dilukiskan.
Selama berkelana dalam dunia Kangouw kejadian getir
itu belum pernah dialami oleh nona. Kepandaian yang
dimilikinya memang belum cukup untuk malang melintang
dengan leluasa. Akan tetapi, jago2 Rimba Persilatan
sebagian besar tahu, bahwa ia adalah puteri Kwee Ceng,
sedang pentolan2 dalam kalangan tersesat juga banyak
sekali mengenalnya karena atas undangan Yo Ko, mereka
pernah datang di Siang yang untuk memberi selamat
panjang umur kepadanya. Maka itu semua orang berlaku
sungkan terhadap si nona, jika tidak memandang muka
Kwee Ceng, memandang Yo Ko. Di samping itu si nona
mempunyai paras yang cantik dan adat yang polos terbuka.
Ia tidak pernah bersikap sombong dan memandang
siapapun juga sebagai sesama manusia. Bukan jarang ia
mengajak buaya2 kecil minum arak ber-sama2. Dengan
demikian, biarpun dunia Kang ouw penuh dengan duri dan
bahaya, sebegitu jauh ia berkelana dengan tak kurang suatu
apa. Belumm pernah ada
orang yang berani mengnina padanya.
Ia kemekmek waktu mendapat kenyataan bahwa
pedangnya telah dirampas si tua. Ia angin coba merebut
kembali, tapi ia tahu ke pandaiannya masih kalah terlalu
jauh. Tapi kalau menyudahi saja, hatinya sangat penasaran.
Sementara itu, sambil megang pedang orang dalam
tangan kirinya, si muka pucat berkata dengan suara dingin:
"Aku akan menyimpan pedangmu ini untuk sementara
waktu. Bahwa kau sudah berani berlaku begitu karang ajar
terhadapku, adakah karena seorang tua dan gurumu kurang
mengajarmu. Beritahukanlah, supaya mereka datang
57
kepadaku untuk meminta pulang pedangmu ini. Dengan
baik2 aku akan menasehati ayah ibu dan gurumu, supaya
mereka lebih memperhatikan kau."
Paras muka si nona lantas saja berubah merah. Si tua
seolah2 memandangnya sebagai bocah nakal yang kurang
ajar. Dengan gusar, ia berkata dalam hatinya.
"Bagus! Kau mencaci aku seperti juga mencaci kakek,
ayah dan ibuku. Apa benar kau punya kepandaian begitu
tinggi sehingga kau begitu sombong?" Sesudah dapat
menenteramkan hatinya yang bergoncang keras, sambil
menahan amarah ia menanya, "siapa namamu ?"
Si muka pucat mengeluarkan suara di hidung. "Apa?
Kau berani menanya siapa nama ku?" bentaknya. "Kau
sungguh-sungguh tak tahu adat. Kau harus mengatakan
begini, Bolehkah aku mendapat tahu, she dan nama Loo
cianpwee yang mulia ?" Mengerti ?"
"Jangan rewel!" bentaknya. "Aku merdeka untuk
menggunakan kata apapun juga. Berapa harganya pedang
itu? Kau seorang tua, tapi tidak menghargai usiamu yang
tua. Tak malu mencuri pedang orang! Sudahlah ! Aku tak
mau pedang itu" Sambil berkata begitu, ia bertindak keluar
dari pendopo.
Se-konyong2 satu bayangan berkelebat dan simuka
merah menghadang didepannya. "Seorang gadis remaja tak
boleh gampang marah," katanya saraya ber-senyum2.
"Kalau sudah menikah, apa kau boleh marah2 seperti
anak kecil dihadapan mertua? Baiklah, sekarang aku
memberitahukan kau. Dalam beberapa hari sesudah melalui
perjalanan berlaksa kami bertiga saudara seperguruan
baru saja tiba di Tionggoan dari daerah See ek (daerah
sebelum barat) . ..."
58
"Aku sudah tahu," memotong sinona sambil
monyongkan mulutnya. Didaerah Tiong-goan memang
tidak terdapat namamu bertiga.
Ketiga orang itu saling meagawasi.
"Nona, bolehkah aku mendapat tahu siapa gurumu ?"
tanya si muka merah.
Sebenarnya Kwee Siang tak suka memberi tahu nama
ayah dan ibunya, tapi sekarang, karena sudah jengkel, ia
lantas saja menjawab: "Ayah she Kwee bernama Ceng.
Sedang ibuku she Oey bernama Yong. Aku tak punya garu,
hanya kedua orang tuaku yang menurun kan sedikit ilmu
silat."
Ketiga kakek itu saling mengawasi. Saaat kemudian
barulah simuka pucat berkata. "Kwee Ceng? Oey Yong?
Dari partai mana mereka ? Murid siapa ?"
Dengan pertanyaan itu sinona jadi gusar. Nama kedua
orang tuanya tersohor dikolong langit, jangankan orang2
dari Rimba Persilatan, sedangkan rakyat jelatapun
mengenal Kwee Tay hiap, seorang pendekar yang telah
bantu membela kota Siang-yang.
Tapi, melihat paras sungguh2 dari ketiga orang itu, Kwee
Siang segera mendapat lain ingatan. "Koen-loen-san terletak
didaerah barat dan terpisah jauh dari wilayah Tionggoan"
pikirnya. "Ketiga orang lihai memiliki ilmu ilmu silat yang
sangat tinggi, tapi ayah dan ibu belum pernah me-nyebut2
nama mereka. Maka itu, memang mungkin sekali, mereka
belum pernah mendengar nama kedua orang tuaku."
Mengingat begitu darahnya yang barusan sudah meluap,
mereda kembali. "Aku sendiri she Kwee bernama Siang,"
katanya pula. "Siang adalah Siang dari Siang yang. Nah
sesudah memperkenalkan diri, bolehkah menanya she dan
nama kalian yang mulia ?"
59
Si muka merah tertawa hahahihi. "Bocah perkataanmu
tepat sekaii, " katanya. "Dengan jawabanmu itu, kau
menghormati orang yang lebih tua," Sambil menunjuk si
muka kuning, ia berkata pula: "Itulah Tosoeko (kakak
seperguruan yang paling tua) kami. Ia she Phoa bernama
Thian Keng. Aku sendiri adalah Jie soe heng (kakak
kedua),aku she Phoe, namaku Thian Loo" la menuding
pada si muka pucat dan melanjutkan perkataannya. "Yang
itu adalaa Sam soetee( adik ketiga), she Wie, bernama
Thian Bong. Kau lihat! Kami bertiga saudara seperguruan
masing2 mengambil huruf "Thian (Langit) untuk nama
kami."
"Hm!" Kwee Sing mengeluarkan suara dihidung dan
berdiam sejenak mengingat2 tiga nama itu. "Tapi apakah
kalian sudah bertanding dengan pendeta2 Siauw lim se?
Kalau sudah, siapa yang lebih unggul?" tanyanya
kemudian.
Si muka pucat Wie Thian Bong lantas saja menjadi gusar
dan membentak dengan suara keras. "Eh, bagaimana kau
tahu? Bahwa kami ingin menjajal ilmu dengan Siauwlim sie
hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Bagaimana kau
bisa tahu? Lekas bilang! " Seraya berteriak ia mendekati
Kwee Siang dan menatap wajah si-nona dengan mata
melotot.
Tentu saja Kwee Siang jadi dongkol. Jika mereka
menanya baik2 mungkin sekali ia akan memberitahukan
dengan segala senang hati. Tapi dengan cara yang kasar itu,
ia lantas saja mengambil putusan untak menutup rahasia.
"namamu bertiga sebenarnya kurang tepat. " katanya
dengan suara tawar "Mengapa tak dirubah menjadi Thian
Ok (Ok berarti jahat)?"
"Apa kau kata?" bentak Thian Bong.
60
"Kwee Siang menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku
sungguh jarang lihat manusia yang begitu galak seperti kau"
katanya dengan adem.
"Sesudah merampas barangku, kau masih bersikap begitu
ganas. Bukankah kau seperti juga penitisan dari binatang
jahat dilangit?"
Tiba2 tenggorokan Wie Thian Bong mengeluarkan suara
aneh, se olah2 menggaungnya binatang buas dan dadanya
lantas saja melembung keatas, sedang rambut dan alisnya
bangun serentak.
"Samtee!" kata Phoei Thian Loo simuka merah dengan
cepat. "Jangan kau naik darah."
Sanbil berkata begitu, ia menyeret tangan Kwee Siang
kebelakangnya, sehingga badannya sendiri berada diantara
kedau orang itu, Melihat hebatnya gerak gerik Wie Thian
Bong sehingga jika ia turun tangan, pukulannya tentu hebat
luarbiasa, hati si nona jadi keder juga.
Sementara itu, dengan tangannya Wie Thian Bong
mencabut pedang Kwee Siang, sedang jariji tangan kirinya
mementil badan pedang. "Cring!" pedang itu patah dua.
Kemudian ia memasukkan pedang buntung itu ke dalam
sarungnya seraya berkata dengan suara mengejek: "Siapa
yang kepingin senjata yang tak gunanya ini ?"
Bukan main kagetnya si nona. Biarpun kepandaian itu
belum bisa menandingi Ian cia San thong (ilmu mementil)
dari kakeknya tapi tenaga Lwee kang yang begitu dahsyat
sungguh jarang terlihat dalam Rimba persilatan
Melihat perubahan pada paras muka si nona, Wie Thian
Bong jadi bungah hatinya. Ia dongak dan tertawa terbahak2.
Suara tertawa itu, yang disertai Lwee kang sangat
menusuk kuping dan malahan menggoncangkan juga
61
genteng2 di atas pendopo batu itu.
Se-konyong2, berbareng dengan suara gedbrakan, atap
pendopo berlubang besar dan dari lubang itu jatuh serupa
benda yang sangat besar.
Semua orang terkejut, terhitung Wie Thian Bong sendiri.
Ia sama sekali tak pernah menduga, bahwa suara
tertawanya biarpun di sertai Lwee kang bisa merusakkan
atap pendopo batu.
Waktu orang tahu, benda apa yaag jatuh itu, rasa kaget
jadi semakin besar. Ternyata yang rebah di lantai adalah
seorang lelaki yang mengenakan baju putih dan kedua
tangannya memeluk khim. Ia rebah disitu sambil meramkan
kedua matanya, se-olah2 sedang tidur pulas.
Mendadak terdengar teriakan Kwee Siang "Aha ! Kau
berada di sini ?"
Orang itu bukan lain dari pada si pria yg pandai memetik
khim dan yaag telah di temui si nona pada beberapa hari
berselangi.
Per-lahan2 orang ita membuka matanya. Begitu melihat
Kwee Siang, ia melompat bangun seraya berkata. "Nona,
aku cari kau kesegala tempat. Tak tahunya kau berada
disini."
"Perlu apa kau cari aku?" tanyanya. "Aku lupa menanya
she nona yang mulia dan nama yang besar," jawabnya.
"Apa itu she mulia nama besar?" kata Kwee Siang seraya
mencebikan bibir. Aku paling sebal dengan kata2 yang
banyak kembangnya."
Orang itu kelihatan kaget, tapi di lain saat ia tertawa
besar. "Benar, nona," katanya "Memang, semakin manusia
berlagak pintar semakin kosong otaknya."
62
Sambil berkata begitu, ia mengawasi Wie Thian Bong
dengan mata melotot dan kemudian tertawa dingin.
Kwee Siang jadi girang sekali. Ia tak nyana si baju putih
seorang yang menarik.
Paras muka Wie Thian Bong yang pucat jadi lebih pucat
lagi. "Siapa tuan?" tanyanya.
Ia tidak menggubris dan sambil berpaling kepada Kwee
Siang, ia menanya: "Nona, siapa namamu ?"
"Aku she Kwee bernama Siang." jawabnya
Orang itu menepuk kedua tangannya dan berseru dengan
suara girang. "Ah ! Mataku benar2 kotokan tak mengenali
gunung Thay san yang besar. Kalau begitu kau Kwee
Toakouwnio yang namanya kesohor diseluruh jagat!
Kecauli manusia-manusia tolok, siapapun juga mengenal
ayahmu Kwee Ceng Kwee Tayhiap, dan ibumu, Oey Yong
Oey Liehiap Dalam dunia Kangoaw, siapakah yang tidak
mengenal mereka? Mereka adalah orang2 yang boen-boesong-
coan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu perang ),
mahir menggunakan macam senjata dan sudah menyelami
dasarnya berbagai ilmu silat paham dalam ilmu penabuh
khim, tio kie, menulis huruf-huruf indah, melukis, bersyair,
dan bersajak. Dari dulu sampai sekarang, kepandaian
mereka jarang tandingan didalam dunia. Ha ha ha ! Tapi
masih juga terdapat manusia-manusia yang tidak mengenal
mereka!"
Kwee Siang jadi girang sekali. "Kalau begitu sudah lama
dia bersembunyi diatas atap pendopo dan sudah
mendengari pembicaraanku dengan ketiga orang itu."
katanya di dalam hati, "Didengar dari perkataannya, ia
pun belum mengenal kedua orang tuaku. Kalau sudah
mengenal, ia tentu tak akan memanggil aku sebagai Kwee
63
Toakouwnio (nona Kwee yang paling besar). Sungguh lucu
ia mengatakan ayahku mahir dalam ilmu menabuh khim,
main tio kie, menulis huruf indah dan sebagainya. Memikir
begitu, seraya bersenyum ia menanya. "Siapa namamu?"
"Aku she Ho, namaku Ciok Too." jawab nya, (Ho Ciok
Too berarti Tidak cukup berharga untuk dibicarakan).
"Ho Ciok Too?" menegas si nona. "sungguh satu nama
yang merendahkan diri."
"Benar." jawabnya. "Tapi namaku banyak lebih baik dari
pada nama yang menggunakan perkataan2 sombong seperti
"Langit dan bumi". Sedikitnya namaku tidak memuakkan
orang yang mendengarnya."
Siapapun mengerti, ia sedang mengejek ketiga
Soehengtee itu (saudara seperguruan yang menggunakan
huruf "Thian" langit itu), maka sesudah manyaksikan cara
Ho Ciok Too menjatuhkan diri dari lubang atap mereka
tahu bahwa orang itu bukan sembarangan orang dan oleh
karenanya, se-bisa2 mereka menahan sabar. Tapi
mendengar ejekan yang paling belakang, Wie Thian Bong
meluap darahnya. Dengan sekali membalik tangan la
menggapelok dagu orang. Ho Ciok Too menundukkan
kepalanya dan molos dari bawah bahu. Mendadak Wie
Thian Bong merasa tangan kirinya kesemutan dan tahu2
pedang, Kwee-Siang yang sedang dicekalnya sudah
berpindah tangan. Sebagaimana diketahui, waktu
merampas pedang itu dari tangan nona Kwee, gerakannya
cepat luar biasa, Dari sini dapatlah dibayangkan,
bagaimana cepat gerakan Ho Ciok Too yang dengan begitu
mudah sudah berhasil merampas senjata itu.
Wie Thian Bong terkesiap. Dilain detik, dengan gusar ia
menerjang dan lima jerijinya yang dipentang bagaikan
gaetan, menyambar pundak Ho Ciok Too. Dengan sekali
64
mengegos Ho Ciok Too sudah berhasil menyelamatkan diri.
Sementara itu, hampir berbareng Phoa Thian Keng dan
Phoei Thian Loo melompat keluar dari pendopo. Dengan
gergetan, Wie Thian Bong mengirim serangan2 berantai
dengan kedua tangannya dan dalam sekejap, ia sudah
menyerang tujuh delapan kali. Tapi lawannya tetap
bersikap tenang. Kemudian diserang bagaikan hujan dan
angin sedikitpun ia tidak membalas. Dengan mengengos
kekiri kanan, kedepan dan kebelakang, ia kelit pukulan2
hebat itu.
Biarpun masih bersia muda dan kepandaiannya tidak
seberapa tinggi, nona Kwee Siang adalah puterinya ahli2
silat nomor satu pada jaman itu dan dengan sendirinya, ia
mempunyai mata yang sangat tajam. Melihat gerakan Ho
Ciok Too yang begitu gesit dan lincah, ia yakin bahwa
orang itu adalah barbeda dengan berbagai ilmu silat yang
terdapat diwilayah Tionggoan.
Sementara itu, sesudah menyerang dua puluh jurus lebih
tanpa berhasil, tiba2 Wie Thian Bong menggeram dan
mengubah silatnya. Jika tadi serangan2 dikirim bagaikan
kilat, sekarang gerakan-gerakannya banyak lebih perlahan,
tapi disertai dengan tenaga yang sangat hebat. Sesudah ia
menyerang beberapa jurus, Kwee Siang yang berada
didalam pendopo, turut merasakan sambaran-sambaran
pukulannya, sehingga buru-buru ia melompat keluar.
Ho Ciok Too pun lantas saja mengubah sikap. Kini ia tak
berani memandang enteng lagi musuhnya. Setelah
menyelipkan pedang Kwee Siang dipinggangnya, berdiri
tegak dan badannya seolah-olah sebuah gunung yang kokoh
teguh. "Kau menggunakan ilmu keras?" tanya Ho Ciok
Too, lalu "Apa kau rasa diriku tidak mampu ?" Pada saat
kedua tangan Wie Thian Bong menyambar, sambil
mengerahkan Lweekang, ia memapaki dengan tangan
65
kirinya. Karena melawan keras! "Tak!" kedua tangan
beradu dengan dahsyatnya. Badan Wie Thian Bong bergoyang2
terhuyung kebelakang dua tiga tindak, sedang
kedua kaki Ho Ciok Too tetap berdiri tegak.
Wie Thian Bong yang selala menganggap bahwa
Gwakangnya (ilmu luar, yaitu ilmu yang menggunakan
teanga kekerasan) jarang tandingan, jadi penasaran sekali.
Sesudah menarik napas panjang, sambil membentak
keras sekali lagi is menghantam dengan kedua tangannya.
Ho Ciok Too pun mengeluarkan teriakan nyaring, dan satu
tangannya kembali memapaki pukulan lawan. "Dak !",
kedua bau tangan beradu pula, kali ini hebat luar biasa,
sehingga debu dan pasir meluruk turun dari lubang diatap
pendopo. Hampir berbareng dengan bentrokan itu, tubuh
Wie Thian Bong terhuyung lagi dan sesudah sempoyongan
empat lima tindak, barulah ia bisa berdiri tegak.
Sesudah dikalhkan dua kali, Wie Thian Bong jadi mata
merah. Rambutnya terurai, kedua matanya melotot,
sehingga macamnya menakuti sekali. Dengan kedua tangan
memegang perut, dia menarik napas panjang. Dilain saat,
dadanya melesak kedalam, perut melembung keluar, seakan2
sebuah tambur dan tulang2nya berkerotokan.
Dalam keadaan yang menyeramkan itu, setindak demi
setindak ia mendekati lawannya.
Melihat begitu, Ho Ciok Too mengerti, bahwa lawannya
akan segera menyerang dengan menggunakan seantero
kepandaian dan tenaga Lwekang. Ia tak berani berayal lagi
dan buru2 monyedot nafas untuk mengerahkan Lweekang.
Menurut kebiasaan, sesudah mengerahkan Lweekang
yang hebat itu, dari jarak empat lima tindak, Wie Thian
Bong sudah mengirim pukulan. Tapi sekarang ia tak
berbuat begitu. Dengan perlahan, ia terus maju hingga
66
berhadapan dengan lawan. Sesudah itu, barulah kedua
tangannya bergerak, yang satu memukul muka, yang lain
menyambar kepunggung. Tujuan kedua pukulan, itu adalah
untak membuyarkan seantero Lwekang Ho Ciok Too.
Ho Ciok Too pun lantas saja menyambar dengan kedua
tangannya. Tangan kiri menempel dengan tangan kiri,
tangan kanan dengan tangan kanan. Tetapi didalam tangan
itu, dia mengeluarkan dua tenaga yang berbeda, satu
"keras" dan yang satu "lembek". Dengan begitu tangan Wie
Thian Bong yang memukul keras kepunggung seperti juga
menghantam kapas, sedang tangan kanan yang menyambar
kemuka se-akan2 menyentuh tembok tembaga. "Celaka !"
Wie Thian Bong mongeluh. Hampir berbareng, ia
merasakan dorongan tenaga yang sangat hebat dan tanpa
ampun lagi badannya didorong keluar dari pendopo.
Itulah akibat keras melawan keras. Yang bertenaga lebih
lemah, dialah yang celaka. Didorong dengan tenaganya
sendiri yang berbalik dan ditambah dengan dorongan
tenaga Ho Ciok Too, Wie Thian Bong pasti bakal muntah
darah.
Pada saat yang sangat berbahaya, yaitu sedetik sebelum
roboh, tiba2 Phoa Thian Keng dan Phoei Thian Loo
membentak keras: "Keluarkan pukulan!" Dengan berbareng
mereka mendorong kedepan dan tenaga tangan mereka
merupakan semacam tembok lembek yang tidak kelihatan.
Punggung Wie Thian Bong bersandar diarus tenaga itu dan
ia tertolong dari luka berat didalam badan. Tapi meskipun
begitu, isi perutnya mendapat goncangan hebat, tulang2nya
seolah terpukul hancur dan ia merasakan kesakitan biasa
disekujur badannya.
Melihat saudara seperguruannya dirobohkan secara
begitu menyedihkan bukan main gusar nya Phoei Thian
Loo, tapi paras mukanya masih tetap tersenyum. "Kekuatan
67
tenaga tangan tuan sangat jarang terdapat didalam dunia,"
katanya. "Aka sugguh marasa tahluk."
Mendengar kata2 xu, Kwee Siang tertawa. Dalam
hatinya. "Koen loen Sam seng tiada bedanya seperti kodok
didalam sumur" pikirnya. "Mengenai tenaga tangan
siapakah yang dapat menadingi ayahku dalam pukulan
Hang Liong Sip pat ciang?"
Sesudah berdiam sejenak, seraya tertawa hahahihi, simuka
marah berkata pula: "Aku si tua yang tak punya
kepandaian berarti, sekarang ingin meminta pengajaran dari
Kiam hoat tuan"
"Phoei-heng berlaku sangat manis terhadap Kwee
Kouwnio dan akupun tak mempunyai ganjelan
terhadapmu," jawabn:ya. "Aku rasa kita boleh tak usah
menjajal kepandaian."
Kwee Siang terkejut. Kalau begitu, ia menghajar Wie
Thian Bong karena kurang ajar terhadapku," katanya
didalam hati.
Sementara itu, tanpa menggubris penolakan orang, Phoei
Thian Loo segera menghampiri tungggangannya dan
mengambil sebatang pedang panjang dari kantong senjata.
"Srt!" ia menghunusnya dan paras mukanya latas saja
berubah keren!. Sambil melonjorkan tangan kirinya, ia
mendongakkan pedang yang dicekal dalam tanganaya.
Itulah pukulan yang diberi nama Sian-jin-tit-loan (Dewa
mengunjuk jalan).
Ho Ciok Too bersenyum seraya berkata "Jika Phoei-heng
mau juga bertanding, biarlah aku melayani beberapa jurus
dengan menggunakan pedang Kwee Kouwnio."
Sehabis berkata begitu ia mencabut pedang buntung yang
terselip dipinggangnya. Pedang itu asal nya memang
68
pedang pendek. Panjangnya tak lebih daripada dua kaki.
Sesudah dipatahkan Wie Thiang Bong, yang ketinggalan
hanya tujuh delapan dim, sehingga lebih pendek daripada
pisau belati biasa.
Sambil mencekal sarung pedang ditangan kirinya, tanpa
menegur lagi ia segera mengirim tiga serangan kilat yang
cepat luar biasa. Hanya karena senjatanya terlalu pendek,
maka serangan2 itu tidak mengenakan sasarannya. Phoei
Thian Loo terkesiap. "Cepat sungguh gerakannya !"
pikirnya. "Kiam-hoat apa itu? Jika ia menggunakan pedang
panjang, jiwaku mungkin sudah melayang"
Dilain pihak, sesudah menyerang tiga kali beruntun, Ho
Ciok Too melompat kesamping dan berdiri tegak. Ia hanya
mengenggos dan berkelit, waktu Phoe Tnian Loo balas
menyerang. Tiba2 selagi dihujani serangan, sekali lagi ia
mengirim tiga tikaman berantai, sehingga silat lawan jadi
kalang kabut. Dilain saat, seperti tadi, ia meloncat lagi
kesamping dan berhenti menyerang. Dipermainkan begitu
rupa. Phoei Thian Lpo meluap darahnya. Sambil
membentak keras ia menyerang seraya memutar pedangnya
yang lantas saja me nyambar2 bagaikan kilat. Badannya
yang kurus kecil se-akan2 dikurung sinar pedang yang
berkelebat seperti titiran.
Semakin lama pertempuran dilakukan semakin cepat,
sehingga gerakan2 kedua lawan itu sukar dapat dilihat
tegas. Se-konyong2 terdengar bentakan Ho Ciok Too.
"Awas !" Hampir berbareng dengan bentakan itu, sarung
pedang yang dicekal dalam tangan kirinya, menyambar.
"Trang !", sarung itu masuk diujung pedang lawan dan
pedang buntung meluncur ketenggorokan Phoei Thian Loo.
Walaupun lihay, simuka merah tak bisa menangkis lagi,
sebab pedangnya tak bisa bergerak. Tapi sebagai orang yang
69
kepandaian tinggi, dalam bahaya ia tak jadi bingung. Buru2
ia melepaskan pedangnya dan sambil melenggakkan kepala,
ia membuang diri dan bergulingan ditanah.
Sebelum Phoei Thian Loo melompat bangun tiba2
berkelebat satu bayangan dan tangan Phoei Thian Keng
sudah mencekal gagang pedang yang barusan dilepaskan
oleh Soetee nya. Dengan sekali membetot, ia sudah
mencabut pedang itu dari sarung pedang buntung yang
dipegang Ho Ciok Too.
"Sungguh indah gerakan itu!" puji Ho Ciok Too dan
Kwee Siang hampir berbaring.
Ternyata, sikakek yang mukanya seperti orang
berpenyakitan dan tidak pernah mengeluarkan sepatah kata,
memiliki kepandaian yang paling tinggi diantara ketiga
orang2 itu.
"Aku sungguh merasa sangat takluk akan kepandaian
tuan." kata Ho Ciok Too sambil membungkuk. Ia berpaling
pada Kwee Siang dan berkata pula "Kwee Kouwnio.
sesudah mendengar lagumu pada beberapa hari yang lalu,
aku telah menggubah sebuah lagu baru yang aku ingin
mempersembahkan kepadamu untuk dinilai."
"Lagu apa ?" tanya sinona.
Tanpa menghiraukan tiga otang tua itu, ia lantas saja
bersila diatas tanah, meletakkan khimnya dipangkuan dan
lalu menyetel tali2 nya.
Melihat begitu, Phoa Thian Keng lalu mendekati dan
berkata. "Tuan sudah merobohkan kedua Soeteeku dan
sekaranglah aku yang ingin meminta pengajaranmu."
Ho Ciok Too menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Tidak, sudah cukup," katanya. "Pertandingan silat tidak
menimbulkan banyak kegembiraan. Sekarang aku ingin
70
memetik khim untuk diperdengaran kepada Kwee
Kouwnio. Laguku adalah sebuah lagu baru. Jika suka,
kalian boleh duduk mendengari. Kalau tidak, kalian
merdeka untuk berlalu." Sehabis berkata begitu, jari2 nya
mulai memetik tetabuhan itu.
Sesudah mendengari beberapa saat, Kwee Siang jadi
kaget bercampur girang. Semenjak belajar memetik khim,
belum pernah ia mendengar lagu yang begitu luar biasa.
Luar biasa, karena lagu itu merupakan kombinasi dari lagu
Ko-phoa yang pernah diperdengarkan olehnya dan lagu
Kian kee (nama semacam rumput). Kedua lagu itu yang
sebenarnya sangat berbedaan telah digubah begitu rupa
sehingga merupakan sebuah lagu baru yang sangat merdu
dan harmonis, Syair lagu ini antara lain berbunyi.
Siorang pertapaan.
Berkelana dipegunungan
Rumput,Kian kee hijau2.
Embun berubah menjadi salju.
Dan sidia.
Berada disatu sudut dunia
Mendengar sampai disitu, hati sinona berdebaran. "Siapa
sidia ?" tanyanya dihati. "Apa dimaksudkan aua ? Mengapa
suara khim itu sedemikian merdu dan mengharukan hati?"
Mengingat begitu, mukanya lantas saja bersemu dadu. Ia
merasa kagum bukan main, sebab dalam kombinasi itu,
yang telah merupakan sebuah lagu Kian kee masih bisa
mempertahankan kepribadiannya sendiri.
Phoa Thian Keng dan kedua Soeteenya, yang tidak
mengerti ilmu musik, jadi mendongkol bukan main.
Disamping cara2 Ho Ciok Too yang terus memetik tali2
71
khim tanpa memperdulikan mereka, dianggapnya sebagai
suatu hinaan.
Sesudah mendengari beberapa saat, Phoa Thian Kheng
tidak dapat menahan sabar lagi. Ia mendekati dan sambil
menotok pundak kiri Ho Ciok To dengan ujung pedang, ia
membentak. "Bangun kau ! Mari kita jajal kepandaian."
Ho Ciok Too yang sedang memusatkan seluruh
semangat kepada tetabuhannya, seolah olah tidak
mendengar tantangan itu. Ia seperti juga sedang berkelana
disatu pegunungan yang amat indah dan dari jauh ia
melihat seorang gadis jelita yang tengah berdiri diatas
sebuah pulau kecil yang dikurung air...
Tiba2 ia merasa pundak kirinya sakit dan ia tersadar. Ia
dongak dan melihat Phoa Thian Kheng berdiri didekatnya
sambil mencekal pedang terhunus yang barusan telah
digunakan untuk menotol pundaknya. Ia mengerti, bahwa
jika tidak melawan, mungkin sekali ia akan terluka secara
konyol. Hanya sungguh sayang, lagunya belum selesai.
Sebagai seorang seniman tulen, ia tak rela menghentikan
lagunya ditengah jalan.
Maka itu, tangan kirinya segera mengulurkan pedang
buntung yang lalu digunakan untuk menangkis senjata
Phoa Thian Kheng, sedang tangan kanannya tetap memetik
tali2 khim.
Dengan kedua mata tetap memperhatikan tetabuhannya,
Ho Ciok Too menangkis setiap serangan lawan. Phoa
Thian Kheng jadi semakin gusar dan menyerang tambah
hebat. Tapi kemanapun juga pedangnya menyambar, Ho
Ciok Toa selalu menangkis.
Kwee Siang yang sedang kesengsem juga tidak
memperdulikan serangan itu. Akan tetapi ia mendongkol,
sebab suara bentrokan senjata telah merusak irama. Ia
72
membentak. "Hai ! Apa kau tuli akan merdunya lagu ini.
Jangan merusak ! Cobalah kau menyerang menurut tempo
tepukan tanganku"
Tapi tentu saja Phoa Thian Kheng tak meladeni. Sambil
membentak keras, dengan gusar ia mengobah kiam hoatnya
dan menyerang bagaikan hujan angin sehingga suara
bentrok an senjata jadi semakin gencar dan irama khim jadi
semakin dikacaukan.
Ho Ciok Too juga mendongkol dan seraya menambah
Lweekang, ia menangkis satu tikaman. "Trang !" pedang
Phoa Thian Keng patah dua. Hampir berbareng, tali kelima
dari Cithian khim ( khim yang bertali tujuh ) juga putus.
Paras muka Phoa Thian Keng jadi pucat bagaikan
mayat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia meloncat
keluar dari pendopo batu dan kemudian, bersama kedua
Soeteenya, dia melompat naik kepunggung tunggangan
mereka yang segera dikaburkan keatas gunung.
Kwee Siang heran. "E eh!" katanya. "Mengapa mereka
lari kearah kuil ?" Ia nengok dan melihat Ho Ciok Too
sedang memegang tali Khim yang putus itu dengan paras
duka. "Mengapa dia begitu jengkel ?" tanyanya di dalam
hati. ""Berapakah harganya tali khim?
Ho Ciok Too menghela napas dan berkata dengan suara
perlahan: "Tujuh tahun aku barlatih, tapi hatiku tetap
belum bisa tenang. Tangan kiriku berhasil mematahkan
senjata, tapi tangan kanan memutuskan tali khim."
Sekarang si nona baru mengerti, bahwa ia berduka
karena merasa kepandaiannya belum sempurna. Ia tertawa
seraya barkata: "Dengan tangan kiri melawan musuh dan
tangan kanan memetik khim, kau sebenarnya menggunakan
ilmu Hoen sin Jie yong (ilmu memecah pikiran). Dalam
dunia ini, hanya tiga orang yang mahir dalam ilmu itu.
73
Bahwa kau belum mencapai taraf yang tinggi, tak usah
dibuat jengkel!"
"Siapa tiga orang itu?" tanya Ho Ciok Too.
"Yang pertama adalah Loo boan thiong Cioe Pek
Thiong," jawabnya. "Yang kedua ayanku sendiri, sedang
yang ketiga Yo Hoe jin, Siauw Liong Lie. Selain tiga orang
itu, malahan kakekku, ibuku atau SintiauwTayhiap Yo Ko
tiada yang mampu memiliki ilmu yang luar biasa itu."
"Bolehkah kau memperkenalkan orang2 berilmu itu
kepadaku ?" tanya Ho Ciok Too.
"Kalau kau mau bertemu dengan Thia thia (ayah) mudah
sekali," jawabnya. "Tapi dua orang lainnya sangat sukar
dicari, karena mereka tak punya tempat kediaman yang
tentu"
Ho Ciok Too berdiri bengong, seperti juga ia masih
merasa sangat menyesal karena putus nya tali khim itu. Si
nona tertawa seraya berkata dengan suara
menghibur."Dengan sekali gebrak. kau sudah berhasil
merobohkan Koen loen Sam-seng dan hasil itu boleh dibuat
bangga. Perla apa kau berduka karena hal yang remeh itu?"
Ho Ciok Too terkesiap. "Koen-loen Samseng?" ia
menegas, "Apa kau kata? Bagaimana kau tahu?"
"Bukankah ketiga orang itu dikenal sebagai Koen-loen
Sam sang?" tanyanya. "Kepandaian mereka mamang cukup
tinggi, tapi jika mau coba2 membentur Siauw lim sie,
kurasa mereka agak tahu diri . . . " Melihat paras muka Ho
Ciok Too mengunjuk perasaan heran yang semakin besar, si
nona lalu menaya. "Mengapa kau kelihatannya heran?"
"Koen loan Sam seng . . . Koen loan Sam seng Ho Ciok
Too . . . itulah aku sendiri!" katanya dengan suara perlahan.
74
Sekarang giliran Kwee Siang yang terheran heran.
"Kau... kau Koen loen Sam seng?" tanyanya. " Mana yang
dua lagi?
"Koen loen Sam seng hanya satu orang," jawabnya, "Di
See ek aku telah mendapat nama walaupun bukan nama
besar. Kawan2 disitu menganggap, bahwa aku memiliki
kepandaian tinggi dalam ilmu main khim, ilma pedang
dan ilmu main catur, sehingga oleh karena nya, kata
mereka, aku boleh dinamakan sebagai Khim seng dan Kiam
seng dan Kie sang (Nabi khim, Nabi pedang dan nabi kie.
Kie berarti Tio kie atau catur). Lantaran aku suka sekali
berdiam digunung Koen loen san, maka mereka memberi
julukan -Koen loan Sam seng- kepadaku. Tapi aku selalu
merasa malu dengan istilah Seng itu. Mana bisa manusia
seperti aku menamakan diri sebagai seorang nabi ? Biarpun
gelaran itu diberikan oleh orang lain, tak boleh aku
menerimanya dengan begitu saja. Maka itulah, aku segera
mengubah namaku, Aku menggunakan nama Ho Ciok
Too, yang jika disambung jadi -Koen loan Sam seng Ho
Ciok Too- (Koen loen Sam seng tidak cukup berharga untuk
dibicarakan). Dengan demi kian orang tidak bisa
mengatakan, bahwa aku manusia sombong."
Si nona menepuk2 tangan dan tertawa geli, "Oh, begitu?"
katanya: "Mati hidup aku menduga, bahwa Koen loen Sam
seng terdiri dari tiga orang. Tapi siapakah ketiga orang tua
itu ?"
"Mereka adalah orang2 Siauw lim pay." Kwee Siang
terkejut. "Siauw lim pay ?" ia menegas. "Hm ! . . . . Ilmu
silat mereka kurang. Yang lain cukup tinggi ...
benar! Ilmu pedang sikakek muka merah memang Tat
mo Kiam hoat. Tak salah! Si muka penyakitan paling
belakang menyerang dengan ilmu Wie to Hok mo kiam
75
(ilmu pedang telukan iblis), Tadi aku tidak bisa melihatinya
karena dalam ilmu pedang itu terdapat banyak sekali
perubahan. Tapi. . mengapa mereka mengaku baru datang
dari See-ek ?"
"Ada sebabnya," jawab Ho Ciok Too, "Pada musim semi
tahun lalu, aku main khim di puncak Keng sin hong gunung
Koen loen san. Tiba-tiba aku mendengar suara pertempuran
di luar gubuk. Aku segera keluar dan melihat dua orang
yang masing-masing terluka berat sedang berkelahi matimatian,
Aku berteriak supaya berhenti, tapi dia tak
meladeni. Karena merasa tak tega, aku segera memisahkan
mereka. Begitu dipisahkan, salah seorang terbalik matanya
dan menarik napasnya yang penghabisan. Yang satu lagi
belum mati dan dulu aka membawanya kedalam gubukku
dan coba menolong dengan memberikan pel Siauw yang
tan kepadanya. Tapi sebelah lukanya terlalu berat, obatku
tidak berhasil. Sebelum meninggal, ia memperkenalkan diri
sebagai In Kek See.."
"Ah!" seru sinona, "Orang yang satunya lagi mestiaya
Siauw Siang Coe. Bukankah orang yang binasa lebih pula
bertubuh jangkung kurus dan bermuka seperti mayat
?"
"Benar," jawabnya. "Bagaimana kau tahu?". Kata sinona
sambil tertawa. "Aka tak nyana pada akhirnya kedua
mustika hidup itu mampus dengan saling bunuh."
Ho Ciok Too menghela napas dan berkata pula: "
Sebelum mati, In Kek See mengatakan bahwa selama
hidup, ia telah berbuat banyak sekali kedosaan dan
sekarang ia merasa sangat menyesal, tapi sudah terlambat.
Ia memberitahukan, bersama Siauw Siang Coe, ia telah
mencuri sejilit kitab suci dari Siauw lim sie. Sesudah
memiliki kitab itu, mereka saling curiga. Masing2 merasa
76
kuatir, bahwa jika yang satu memahami kitab itu terlebih
dulu dan berhasil mempertinggi ilmu silatnya, dia segera
menurunkan tangan jahat untuk membinasakan yang lain
guna memiliki sendiri kitab suci itu. Demikianlah, masing2
saling mengawasi dua
sungkan berpisahan. Mereka makan disatu meja dan
tidur satu ranjang Sedikitpun hati mereka tak pernah
tenang. Diwaktu makan, masing-masing kuatir racun.
Diwaktu tidur, masing-masing takut kalau-kalau yang satu
turunkan tangan jahat selagi pulas. Di samping itu, mereka
juga kuatirkan kejaran pendeta2 Siauw lim sie. Mereka
kabur sampai di See-ek. Setibanya di Keng sin hong,
keduanya sudah lelah sekali. Mereka mengerti bahwa
dengan hidup begitu terus menerus, belum sepuluh hari,
mereka tentu sudah binasa. Mereka jadi nekat dan terus
bertempur untuk mengakhiri keadaan yang gila itu. In Kek
See mengatakan, bahwva ilmu silat Siauw Siang Coe
sebenarnya banyak lebih tinggi dari padanya. Semula ia tak
mengerti, mengapa dalam perkelahian, Siauw Siang Coe
hanya lebih unggul sedikit. Belakagan ia baru igat, bahwa
kawan yang berubah jadi musuh itu telah mendapat luka di
gunung Hwa-san. Jika mereka tidak saling curiga, mereka
tentu tak akan mendaki Koen loen-san."
Mendengar penuturan itu, Kwee Siang kelihatan
berduka. Ia menghela napas berkata: "Hai! Karena sejilid
kitab, mereka bersama-sama mengorbankan jiwa. Berapa
harganya kitab itu ?"
Ho Ciok Too mengangguk dan kemudian melanjutkan
perkataannya : "In Kek See bicara dengan napas tersengalsengal
dan suara ter-putus2. Akhirnya ia meminta supaya
aku suka pergi kekuik Siauw-lim-sie dan menemui seorang
pendeta yang bernama Kak wan. Ia memberitahukan,
bahwa kitab suci itu berada didalam minyak. Aku heran
77
mengapa didalam minyak? Selagi mau menayakan terlebih
terang, ia sudah tak tahan lagi dan pingsan. Ia pingsan
untuk tidak tersadar pula. Sesudah ia mati, aku teras
memikiri arti perkataannya. Di dalam minyak ? Apa ia
maksud kan kitab itu di bungkus didalam kain minyak.
Dengan teliti aku memeriksa jenazah mereka, tapi aku tak
bisa mendapatkan kitab itu. Sesudah menerima permintaan
orang, aku tidak bisa menyampingkan dengan begitu saja.
Mengingat bahwa aku memang belum pernah menginjak
wilayah Tiong-goan, maka dengan menggunakan
kesempatan itu, aku segera mengambil keputusan untuk
pergi kekuil Siauw lim sie sebagian guna memenuhi
pesanan orang dan sebagian lagi guna pesiar"
"Tapi mengapa kau sudah mengirim surat tantangan ?"
tanya Kwee Siang.
Ho Ciok Too bersenyum waktu menjawab: "Asal
mulanya adalah gara2 ketiga orang itu. Mereka bertiga
adalah murid2 Siauw lim sie yang tidak mencukur rambut.
Menurut katanya orang2 Rimba persilatan di daerah Barat
(See ek), mereka adalah orang orang dari tingkatan Thian
dan tingkatannya itu sama tingginya dengan Hong thio
Siauw lim sie Thian heng Siansoe. Menurut dugaan orang.
Soecouw mereka dulu telah kebentrokan dengan saudara2
seperguruannya dalam kuil Siauwlim sie dan sebagai akibat
bentrokan itu, ia pergi ke daerah Barat dan mendirikan
sebuah cabang Siauw lim pay. Hal ini bukan hal yang
mengherankan. Ilmu silat Siauw lim sie telah di bawah oleh
Tatmo Couw soe dari Thian tiok (India) ke Tiong goan
(Tiongkok asli). Sekarang dari Tiong goan di angkat pula ke
daerah Barat. Tak mengherankan, bukan ?
"Mendengar julukanku sebagai Koen loen Sam seng,
mereka bertiga jadi penasaran. Mereka sesumbar ingin
menjajal kepandaianku. Mereka tidak menghiraukan
78
gelaran Khim seng dan Kie sang. Tapi gelaran Kiam seng
(Nabi pedang) ? Ha ! Tak boleh dibiarkan saja?"
"Secara kebetulan muncul urusan In Kek See. Maka itu,
aku segera mengambil keputusan untuk pergi kekuil
Siauwlimsie, sekalian menjajal2 kepandaian mereka.
Sebelum tiba di Tiong goan, aku sengaja menyingkirkan diri
dari mereka. Tapi tak dinyana, mereka bisa datang begitu
cepat."
"Oh, begitu?" kata Kwee Siang. Semua dugaan ternyata
meleset semua. Sekarang ketiga orang itu sudah tiba dikuil.
Entah apa yang dikatakan mereka !"
"Dengan pendeta2 Siauw lim-sie, aku tak punya ganjelan
apapun juga," kata Ho Ciok Too. "Itu sebabnya, untuk
menunggu kedatangan tiga orang itu, aku menjanjikan
sepuluh hari. Sekarang penjajalan kepandaian sudah
dilakukan, segala apa sudah jadi beres. Mari kita naik
keatas. Sesudah aku menyampaikan pesanan In Kek See,
kita boleh lantas turun lagi."
Si-nona mengerutkan alis. "Pendeta2 Siauw lim-sie
mempunyai semacam peraturan yang sangat keras, yaitu,
wanita dilarang masuk kedalam kuil," kata Kwee Siang.
"Fui ! Aturan apa itu?" kata Ho Ciok Too. "Bagaimana
kalau kita menerobos masuk ?"
Sebenarnya Kwee Siang adalah seorang gadis pemberani
yang suka cari urusan. Tapi karena merasa malu hati
terhadap Boe sek Sian soe, ia segera menggelengkan kepala
seraya berkata: "Jangan! Aku menunggu di luar kuil, kau
masuk sendiri saja, supaya jangan banyak urusan."
"Baiklah," kata Ho Ciok Too. "Lagu yang tadi belum
selesai. Begitu kembali, aku akan memetik sekali lagi"
Per-lahan2 mereka mendaki gunung, tapi sesudah tiba
79
didepan pintu, mereka belum melihat bayangan satu
manusiapun.
"Sudahlah, aku juga tak perlu masuk," katanya. "Aku
akan panggil saja pendeta itu." Sehabis berkata begitu, ia
berteriak. "Ho Ciok Too datang berkunjung ke Siauw
limsie, ingin menyampaikan omongan kepada Kakwan
Taysoe."
Hampir berbareng dengan teriakannya, belasan lonceng
besar dalam kuil berbunyi dengan serentak, sehingga
seluruh Siauw sit san se olah2 tergetar.
Mendadak pintu kuil terbuka dan dari kiri kanan keluar
dua basis pendeta yang mengenakan jubah warna abu2.
Kedua barisan itu masing terdiri dari lima puluh empat
murid Lohan tong dan jumlah mereka adalah sesuai dengan
seratus delapan Lo han. sesudah itu keluar delapan belas
pendeta yang badannya dikerebungi jubah pertapan warna
kuning Mereka adalah murid2 Tat mo tong yang berusaha
lebih tinggi daripada murid2 Lo han tong. Sesaat kemudian
dari dalam kuil berjalan keluar tujuh pendeta yang sudah
berusia lanjut. Mereka adalah Cit loo (Tujuh Tetua) dari
Simsian tong yang berkedudukan sangat tinggi. Beberapa
diantaranya memiliki ilmu silat luar biasa, tapi yang lain
tidak mengenal ilmu silat dan ia duduk dalam Sim siantong
karena pengetahuannya yang sangat mendalam mengenai
agama Buddha. Mereka malahan sangat dihormati oleh
Hong thio Siauw limsie sendiri.
Paling akhir keluarlah Hong thio Thian beng Sansea,
yang diampit olah kepala Tat ma tong Boe Shian Siansoe
dan kepala Lo han tong Boesek Siansoe. Phoa Thian Keng,
Phoei Thian Loa dan Wie Thian Bong mengikuti di sebelah
belakang, bersama kurang lebih delapan puluh murid2
Siauw lim sie, yang tidak jadi pendeta.
80
Itulah penyambutan yang hebat luar biasa dan dapat
dikatakan belum pernah, atau sedikitnya langka sekali,
diberikan kepada seorang tamu. Menurut kebiasaan
pembesar negeri, biarpun pangkatnya sangat tinggi, atau
tokoh Rimba persilatan Paling banyak disambut oleh
Hongthio, Boesek dan Boesiang sebegitu jauh di ingat orang
Cii Loo dari Sim sian tong belum pernah keluar
menyambut tamu.
Mengapa sekarang diadakan upacara penyambutan yang
begitu besar? Sebab yang terutama yalah karena Ho Ciok
Too tanpa diketahui oleh siapapun juga, sudah menaruh
surat tantangan dalam tangan patung Hang liong Lohan.
Kepandaian yang luar biasa itu mengejutkan hatinya para
pemimpin Siauw lim sie. Selain itu, Phoa thian Keng dan
kedua Soeteenya yang baru tiba dari See ek, juga telah
menceritakan lihaynya Koen loan Sam seng, sehingga para
pemimpin Siauw lim sie lebih berwaspada lagi.
Karena berpisahan sangat jauh, Siauwlimpay cabang See
ek sangat jarang berhubungan dengan cabang Tiong cioe
yaitu Siauw lim sie dan siauw sit san. Akan tetapi, para
pendata tahu, bahwa Soe siok couw mereka mereka yang
telah pergi ke Barat memiliki kepandaian yang sangat
tinggi, sehingga murid marid atau cucu2 muridnya tentu
juga bukan sembarangan ahli silat. Maka itu, sesudah
mendengar keterangan Phoa Thian Keng bertiga, para
pemimpin Siauw lim sie lantas saja mangambil tindakan2
yang seperlunya. Disamping tindakan2 didalam kuil, pucuk
pimpinan juga telah mengeluarkan perintah, supaya murid
Siauw lim sie, tak perduli pendeta atau orang biasa yang
bertempat tinggal dalam lingkungan lima ratus li harus
segera datang kekuii guna menunggu perintah2 selanjutnya.
Semua para pendeta itu menganggap bahwa Koen loen
Sam seng terdiri dari tiga orang Sesudah mendapat
81
keterangan Phoei Thian Keng, barulah mereka tahu bahwa
Koen loan Sam seng hanya seorang dan bahwa ia
memperoleh gelaran itu sebab mahir dalam tiga macam
ilmu, yaitu ilmu main khim, ilmu pedang dan ilmu main
catur. Mengenai ilmu main khim dan main catur, para
pendeta tidak menghiraukannya. Yang mereka harus bersiap2
yalah untuk menghadapi ilmu pedang dari orang itu.
Maka itulah, semenjak mendapat tantangan, siang malam
ahli-ahli pedang Siauw lim sie berlatih keras.
Sementara itu, karena merasa sengketa dengan Koen
loan Sam seng adalah gara-gara mereka, Phoa Thian Keng
dan kedua Soetee nya ingin sekali bisa membereskan
pertikaian tersebut dengan tangan mereka sendiri, Untuk
memapaki dengan menunggang kuda, setiap hari ia
meronda disekitar gunung. Mereka kepingin sekali menjajal
kepandaian lawan diluar kuil dan sesudah itu barulah
mereka ingin balik kekuil, supaya Koen loen Sam seng bisa
mengukur tenaga dengan para pendeta.
Dengan demikian mereka pikir biarlah dilihat, apa
cabang Tiong cioe atau cabang See ek dari Siauw lim pay
yang lebih unggul.
Tapi diluar dugaan, dalam pertandingan di pendopo
batu, dengan mudah mereka telah dirobohkan oleh Ho Ciok
Tao.
Begitu mendapat warta tentang kekalahan Phoa Thian
Keng dan 2 Soeteenya Thian beng Sian soe insaf, bahwa
hari itu adalah hari memutus utuh runtuhnya nama Siauw
lim sie.
Biar bagaimanapun juga, gelar "sumber pelajaran Lima
silat dikolong langit" yang sudah dipertahankan Siauw lim
sie selama ribuan tahun, tak boleh hancur dalam tangannya.
Tapi dalam pada itu, ia agak keder, karena merasa bahwa
82
kepandaiannya, kepandaian Boe sek dan Boe siang, Tidak
lebih unggul banyak diatas kepandaian Phoa Thian Keng
bertiga, itulah sebabnya mengapa dengan terpaksa ia
mengundang Cit long Sim sian tong untuk turut keluar
menyambut, guna mem beri bantuan jika perlu. Tapi
sampai berapa tinggi kepandaian tujuh tetua itu, ia dan Boe
sek serta Boa siang juga tak tahu pasti. Apa jika ada bahaya
Cit loo bisa menolong muka siauw lim sie masih
merupakan sebuah teka teki.
Begitu berhadapan dengan Ho Ciok Too dan Kwee
Siang, Thian beng segera merangkap kedua tangannya
seraya berkata. "Apakan Kie soe (tuan) yang mahir dalam
ilmu Khim Knim Kie? Loo ceng (aku pendeta tua) tidak
bisa menyambut dari jauh dan untuk itu, aku harap Kie soe,
suka memaafkan,"
Ho Ciok Too segera membalas hormat dengar
membungkuk. "Boanseng (orang yang tingkatannya rendah)
merasa tidak enak hati sudah mengacau dikuil yang angker
ini dan Boan seng sungguh tidak sanggup menerima
penyambutan yang begini besar"
Mendengar jawaban itu, Thian beng berkata dalam
hatinya. Kata2nya cukup menyenangkan. Dilinat dari
romannya, ia baru berusia kira2 tiga puluh tahun. Apa
benar ia mempunyai kepandaian tinggi?" Memikir begitu, ia
lantas saja berkata lagi: "Ho Kie toe jangan terlalu sungkan.
Marilah kita masuk untuk minum air teh dingin dan Lie kie
soe (nona) ini ..." ia tidak meneruskan perkataannya dan
pada paras mukanya terlihat perasaan sangsi.
Melihat pendeta itu mau menolak Kwee Siang, Ho Ciok
Loo dongak dan tertawa tawa 2.
"Loo hong thio," Katanya, "Boan-seng datang kemari
karena menerima permintaan seseorang untuk
83
menyampaikan sepatah kata. Sesudah menyampaikan ita,
Boan seng akan segera berlalu. Akan tetapi, peraturan
dalam Kuil Loa bong thio yang memandang tinggi kepada
pria data memandang rendah kepada wanita, adalah
peraturan yang tidak dimengerti olehku. Harus diketahui,
bahwa ilmu Sang-Buddha tiada batasnya dan semua
makhluk Tuhan adalah sama rata. Maka itu, menurut Boan
seng, peraturan itu agak bertentangan dengan pelajaran
Sang Buddha."
Thian beng Sian soe adalah seorang pendeta yang
berilamu tinggi dan berpandangan luas. Ia segera dapat
membedakan, apa yang benar dan apa yang salah.
Mendengar perkataan Ho Ciok Too, ia segera bersenyum
dan berkata. "Trima kasih atas petunjuk Kie soe. Peraturan
itu memang peraturan yang agak sempit. Kalau begitu,
akupun mengundang nona untuk turut minum teh."
Kwee Sang melirik kawannya sambil bersenyum. sedang
didalam hati ia memuji ketajaman lidah pemuda itu.
Thian beng segera minggir kesamping dan mengangkat
tangannya sebagai undangan supaya kedua tetamu itu
masuk. Tapi sebelum Ho Ciok Too bertindak dari samping
kiri Thian beng tiba2 maju seorang pendeta tua yang
bertubuh krus ."Dengan bebeapa perkataan saja, Kie soe
sudah meniadakan peraturan Siauw lim sie yang sudah
berjalaa ribuan tahun, katanya."
"Peraturan itu bukan tak boleh dirubah. Tapi kita harus
menyelidiki. apa orang yang menyebabkan berubah
peraturan2 itu, benar2 seorang yang berkepandaian tinggi.
Maka itu aku mengharap Ho Kie soe suka memberi sedetik
pelajaran, supaya para pendeta bisa membuka mata dan
tidak merasa penasaranlagi karena mengetahui, bahwa
orang yang merobah peraturan kami, ia orang yang
84
sungguh sungguh berkepandaian tinggi," Orang bicara itu
adalah Boe siang Sian soe, kepala Tatmo tong. Ia bicara
dengan suara nyaring luar biasa, sehingga telinga yang
mendengarnya merasa sakit sebagai akibat dari tekanan
tenaga Lweekang yang sangat dahsyat.
Mendengar perkataan Boe siang, paras muka Phoa Thian
Keng dan kedua Soeteenya lantas saja berubah. Mereka
merasa diejek, bahwa mereka telah dijatuhkan oleh seorang
yang belum tentu memiliki kepandaian tinggi.
Sementara itu, waktu melirik Bu sek Sia soe, Kwee Siang
melihat sorot bingung dan jengkel pada muka pendeta itu.
"Toa hweeshio adalah seorang baik dan juga sahabat
Toakoko," katanya didalam hati. Jika Hiok Too dan
pendeta Siau lim sie sampai bertempur, tak perduli siapa
yang kalah dan siapa menang hatiku merasa tak enak."
Memikir begitu, lantas saja ia berkata dengan suara nyaring.
"Ho Toako, aku sebenarnya tidak perlu masuk kekuil.
Beritahukanlah sekarang omongan yang ingin disampaikan
olehmu dan sesudah itu, kita boleh segera berlalu"
Sehabis berkata begitu, sambil menunjuk Boe sek, ia
melan jutkan perkataannya. "ltulah Boe sek Sian soe,
sahabat baikku. Kedua belah pihak sebaiknya jangan
merusak keakuran."
Ho Ciok Too kelihatan terkejut. "Oh, begitu ?" katanya
sambil berpaling kepada Thian beng dan berkata pula :
"Loo hong thio, yang mana Kak wan Siansoe ? Aku
menerima permintaan seseorang untuk menyampaikan
perkataan kapadanya."
"Kak wan Sian-soe ?” menegas Thian beng dengan suara
perlahan.
Dalam kuil Siauw lim-sie, Kak wan berkedudukan
85
rendah dan selama beberapa puluh tahun, ia
menyembuyikan diri dalam perpustakaan Cong keng-kok.
Ia tidak banyak dikenal dari sebegitu jauh, belum pernah
orang menambahkan kata2 "Siansoe" dibelakang nama
gelarnya. Maka itu, untuk sementara, Thian beng tak ingat
siapa adanya. "Kak wan Siansoe". Sesudah bengong
beberapa saat, barulah ia berkata: "A ! Ho Kie soe tentu
maksudkan pendeta yang jaga kitab Lang keh keng.
Apakah Kie soe mencari dia dalam hubungan soal kitab
itu ?"
"Entahlah," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
Thian bang segera berpaling kepada seorang murid dan
berkata: "Coba panggil Kak wan." Murid itu lantas saja
berlalu untuk mejalankan tugasnya.
Boe siang Siansoe yang rupanya sangat bernapsu, sudah
tak bisa menahan sabar lagi. Begitu mendapat kesempatan,
ia segera berkata pula: "Ho Kie sie, kau dijuluki sebagai
Khim kiam-kie Sam-seng dan kata Seng itu tentu tak dapat
dimiliki oleh sembarang orang. Tak usah disangsikan lagi,
Kie soe mempunyai kepandaian yang baik, tinggi dalam
tiga rupa ilmu itu, 10 hari yang lalu, Kie soe telah menulis
surat dan berjanji untuk memperlihatkan kepandaianmu.
Tapi mengapa sesudah datang kemari, kau jadi begitu pelit
dan sungkan memberi pelajaran kepada kami ?"
Ho Ciok Too menggelengkan kepala. "Nona ini sudah
mengatakan, bahwa kedua belah pihak tidak boleh merusak
keakuran," katanya.
Boe siang jadi gusar sekali. Ia terutama gusar karena, Ho
Ciok Too sudah menantang lebih dulu dan tantangan itu
dianggap sebagai kekurang-ajaran terhadap Siauw-lim sie.
Disamping itu, ia juga gusar sebab Phoa Thian Keng dan
kedua Soetee telah dirobohkan hingga diluaran orang bisa
86
menyiarkan cerita, bahwa murid Siauw-lim pay dijatuhkan
oleh Kiam seng. Tapi iapun yakin, bahwa sebagian besar
murid2 Siauw-lim sie bukan tandingan Ho Ciok Too dan
oleh karenanya, ia segera mengambil keputusan untuk
turun tangan sendiri. Ia maju dua tindak seraya berkata:
"Menjajal ilmu tak selamanya merusak keakuran. Mengapa
Ho Kie soe menolak begitu keras ?" Ia berpaling kepada
muridnya dan berkata pula. "Ambil pedang !"
Didalam kuil sudah diSediakan macam2 senjata, tapi
pada waktu keluar menyambut tamu para pendeta itu tentu
saja merasa tak pantas untuk membawa senjata.
Dengan cepat murid itu sudah keluar kembali dengan
membawa tujuh delapan batang pedang yang lalu
diangsurkan kepada Ho Ciok Too. "Apa Kie soe membaWa
pedang sendiri atau ingin meminjam senjata kami?"
tanyanya.
Sebaiknya dari menjemput senjata yang diangsurKan Ho
Ciok Too membungkuk dan mengambil sebutir batu kecil.
Tiba2 dengan mengunakan batu itu, ia membuat sembilan
belas garis melintang dan sembilan belas garis membujur
diatas batu hijau yang menutupi jalanan didepan kuil,
Setiap garis itu sangat lurus, seperti juga di babat dengan
menggunakan penggaris. Tapi apa yang mengejutkan yalah
setiap goresan masuk dibatu kira2 satu dim dalamnya. Batu
hijau itu adalah batu gunung Siauw sie san yang keras
bagaikan besi. Ratusan tahun orang mundar mandir di
atasnya, tanpa rusak sedikit juga.
Sesudah membuat garis2 itu yang merupakan papan
catur, sambil tertawa Ho Ciok Too berkata: "Mengadu
pedang agak terlalu ganas, sedang suara khim pun sukar
diadu. Maka itu, jika Toahweeshio merasa gembira, mari
kita main catur."
87
Apa yang diperlihatkan Ho Ciok Too sangat
mengejutkan hatinya Thian beng, Boesek, Boe siang dan Cit
loo dari Sim sian tong. Thian beng Siansoe yakin, bahwa
Lweekang yang setinggi itu tidak dipunyai oleh siapa pun
juga dalam kuil Siauw limsie. Ia jadi bingung bukan main,
tapi baru saja ia memikir untuk mengaku kalah, tiba-tiba
terdengar suara berkerincin dan rantai besi dan di lain saat,
Kak wan muncul sambil memikul dua tahang besi, sedang
di belakangnya mengikuti seorang pemuda yang bertubuh
jangkung. Begitu tiba dihadapan Thian beng, ia segera
memberi hormat seraya menanya. "Apakah Loo hong thio
memanggil aku ?"
"Ho Kie soe ingin bertemu dan bicara denganmu."
jawabnya.
Ia memutar badan dan merasa heran, sebab tak tahu
siapa adanya orang itu. "Siauw ceng adalah Kak wan," ia
memperkenalkan diri. "Omongan apa yang hendak
disampaikan oleh Kie soe ?"
Sesudah membuat papan catur, kegembira Ho Ciok Too
terbangun. "Omongan itu aku akan beritahukan sebentar."
katanya. "Toahweesio manakah yang ingin melayani aku
main catur ?" Ho Ciok Too adalah seorang yang
keranjingan main khim, pedang dan tiokie. Kalau gilanya
datang, ia melupakan apapun juga.
"Kepandaian Kie soe dalam membuat papan catur
dengan menggores batu, belum pernah di saksikan oleh
loolap," kata Thianbeng. "Samua pendeta dalam kuil kami
tak dapat menandinginya."
Mendengar perkataan Thian beng dan melihat papan
catur itu, barulah Kak wan tahu, bahwa Ho Ciok Too
datang di Siauw Iim sie untuk memamerkan
kepandaiannya.
88
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menaruh kedua
tahang besi di pundaknya sambil menyedot napas untuk
mangumpulkan semua tenaga dalamnya di kedua lutut.
Sesudah itu, setindak demi setindak, ia berjalan digarisan
pinggir dari papan catur itu.
Semua orang terkesiap dan mengawasi tindakan Kak
wan dengan mata membalalak. Mengapa ?
Ternyata, di tempat yang dilewati rantai besi yang
melibat di kakinya, terdapat goresan-goresan yang lebarnya
kira-kira lima dim dan goresan-goresan itu telah merusak
garis yang dibuat Ho Ciok too! Sesaat kemudian, tanpa
merasa semua pendeta bersorak sorai.
Thian beng, Boe Sek, Boe siang dan lain2 pemimpin jadi
kaget campur girang. Mereka tak pernah mimpi, bahwa
pendeta tua yang tolol2an itu, memiliki lweekang tinggi.
Mereka sudah berkumpul didalam satu kuil puluhan tahun
lamanya, tapi tak seorangpun yang tahu kelihayan Kak
Wan
Sebenarnya, biarpun seseorang mempunyai tenaga
dalam yang hebat, ia tak mungkin membuat goresan seperti
yang dibuat Kakwan diatas batu hijau yang amat keras itu.
Hanyalah karena pendeta itu memikul dua tahang besi
berisi air yang beratnya kurang lebih enam ratus kati
sehingga tenaga yang sangat besar itu dapat disalurkan dari
pundak ke rantai besi, maka selagi terseret, rantai besi itu
seolah olah semacam cangkul yang mencangkul garis2
papan catur. Tapi meskipun demikian, walaupun Kak wan
meminjam tenaga apa yang dipertunjuknya sudah jarang
sekali terlihat dalam Rimba Persilatan.
"Toahweeshio!" teriak Ho Ciok Too. "Lwee kangmu
hebat sekali, aku tak bisa menandingi"
89
Kak wan menghentikan tindakannya dan mengawasi
tamu sambil bersenyum.
"Toahweeshio," kata pula He Ciok Too. "Kita tidak bisa
main catur lagi dan aku mengaku kalah. Sekarang aku ingin
minta petunjukmu dalam ilmu pedang."
Hampir berbareng dengan perkataannya, ia menghunus
sebatang pedang panjang dari bawah Cit hian khim. Ia
segera bergerak untuk menyerang dan gerakannya yang
pertama sangat luar biasa, yaitu ujung pedang menuking
dadanya sendiri, sedang gagang pedang menuding lawan.
Semua orang ter-heran2 sebab didalam dunia belum pernah
ada Khiam boat yang begitu aneh.
"Loo ceng hanya bisa membaca kitab, bersemedhi,
menjemur buku dan menyapu lantai," kata Kak wan.
"Mengenai ilmu silat sedikitpun aku tidak mengerti,"
Ho Ciok Too tentu saja mau percaya. Seraya tertawa
dingin ia lompat menerjang. Tiba tiba ujung pedang itu
berbalik dan meluncur kedada si pendeta. Ternyata, dalam
gerakannya yang pertama, yaitu? waktu ujung pedang
manuding dadanya sehdiri, ia sedang mengumpulkan
tenaga dalam dan kemudian, secara mendadak,
membalikkan senjatanya dengan Lweekang itu.
Jika Ho Ciok Too menghadapi ahli silat biasa, serangan
itu pasti akan berhasil. Akan tetapi Lweekang Kak wan
sudah mencapai tarap dimana setiap gerakannya selalu
terjadi secara wajar, menurut jalan pikirannya, Maka itu,
biarpun pedang menyambar bagaikan kilat, jalan pikiran si
pendeta lebih cepat dari sambaran pedang. Pada detik yang
tepat, sebuah tahang melompat naik dan "tang" pedang
menikam tahang dan lantas saja melengkung seperti bulan
sisir, Buru2 Ho Ciok Too menarik pulang senjatanya,
sedang tangan kirinya mengebas muka lawan. Sekali lagi
90
tahang yang lain naik dan tangannya terpental kesamping
Ia kaget tercampur penasaran. Ia merasa pasti, bahwa
kedua tahang besi yang sangat berat itu, tak akan bisa
menangkis ceceran pedang jika ia menyerang dengan
menggunakan kecepatan. Memikir begitu, ia lantas saja
berseru: "Toahweeshio, kali ini kau hati2" Pedangnya
menggetar dan seperti kilat, ia mengirim enam belas
tikaman berantai.
"Tang-tang-tang ! - - -" enambelas kali Cap-lak chioe
Soen loei kiam (Pedang geledek enambelas kali menikam)
menikam di tahang besi!
Melihat gerak gerik Kak-wan yang sangat repot dan
bingung waktu diserang, semua orang percaya, bahwa
memang sebenarnya ia tidak mengerti ilmu silat.
Pada waktu Ho Ciok Too baru mulai menyerang, semua
orang sangat berkuatir. "Ho Kie-sie, jangan berlaku kejam !"
teriak Boe sek dan Boe siang hampir berbareng,
"Ho Toako, jangan turuskan tangan jahat!" seru Kwee
Siang.
Tapi heran sungguh, dalam caranya yang sangat luar
biasa dan tidak sesuai dengan ilmu silat, Kak-wan
mengangkat kedua tahang besi itu pergi datang dan semua
tikaraan itu mampir ditahang air.
Sedang semua orang bisa melihat bahwa si-pendeta
sebenaraya tak mengerti ilmu silat, Ho Ciok Tao seadiri,
yang serangan2nya digagalkan hingga ia jadi sangat
mendongkol, sedikitpun tidak merasa, bahwa lawannya
menangkis tikaman2nya dengan gerakan wajar yang telah
dapat berkat latihan Lweekang yang sangat tinggi. Maka
itu, sesudah Cap-lak chioe Soen-loei-kiam, gagal, sambil
membentak keras, ia menikam kempungan Kak-wan,
91
"Celaka !"seru sipendeta yang datam repotnya
merangkap kedua tangan yang mencekal tahang. Berbareng
dengan terdengarnya suara nyaring akibat beradunya besi,
pedang Ho-Ciok Too tergencet diantara kedua tahang itu.
Buru2 ia mengerahkan tenaga dalam dan coba membetot
senjatanya, tapi sedikitpun tidak bergeming. Cepat bagaikan
kilat, tangan kirinya menghantam muka lawan.
Semua orang terkesiap. Kak-wan yang sedang mencekal
tahang besi itu, tak bisa menangkis lagi. Pada detik yang
sangat berbahaya mendadak Thio Koen Po melompat dan
menghantam pundak Ho Ciok Too dengan pukulan Soe
thong Pat ta yang didapat dari Yo Ko. Pada saat yang
bersamaan, Lweekang Kak wan sudah mengalir masuk
kedalam tahang dan tiba-tiba saja sepasang "arus" air
menyembur dari kedua tahang itu dan menyambar muka
Ho Ciok Too, sehingga pukulannya kebentrok dengan air
yang menyemprot dan ke dua dua nya basah kuyup.
Oleh karena tangan kanannya mencekal pedang yang di
gencet tahang air dan tangan kiri menyambut sambaran air,
maka ia tidak bisa menangkis lagi pukulan Thio Koen Po.
"Bak !", pukulan itu mengenakan tepat di pundaknya.
Sekali lagi semua orang terkejut, sebab Thio Koen Po yaug
masih seperti bocah, ternyata memiliki Lweekang yang
cukup tinggi, sehingga badan Ho Ciok Too bergoyang2 dan
terhuyung kebelakang beberapa tindak.
"O mi-to-hoed !" teriak Kak wan. "Ho Kie soe, ampuni
Loo ceng ! Tikaman-tikaman mu menenakuti sangat."
Sehabis berkata begitu, ia menyusut air dan keringat yang
membasahi mukanya dan lalu minggir kesamping.
Sekarang Ho Ciok Too naik darah nya. "Aku dengar
dalam kuil Siauw lim sie berkumpul banyak sekali orang
pandai dan ternyata memang benar begitu," katanya dengan
suara mendongkol. "Malahan seorang bocah cilik memiliki
92
kepandaian yang sangat tinggi. Bocah ! Mari kita main2.
Jika kau bisa melayani aku dalam sepuluh jurus, Ho Ciok
Too tidak akan datang lagi ke wilayah Tiong goan untuk se
lama-lamanya."
Boe sek, Boe siang dan yang lain-lain tahu bahwa Thio
Koen Po adalah kacung Cong keng-kok dan sebegitu jauh
belum pernah belajar silat. Entah bagaimana secara
kebetulan, ia berhasil memukul orang she Ho itu. Mereka
yakin, bahwa jika bertempur sungguh sungguh, dalam
sejurus saja bocah itu bisa binasa dalam tangan lawannya.
"Ho Kie soe salah," kata Boo siang. "Kau bergelar Koein
loen Samseng dan ilmu silatmu telah menggetarkan seluruh
jagat. Bagaimana kau boleh bertempur dengan satu kacung
tukang masak air dan menyapu lantai ? Jika kau tidak kau
main-main sepuluh jurus.
Ho Ciok Too menggelengkan kepala. "Tak bisa,"
katanya. "Hinaan pukulan itu, bagaimana bisa disudahi
saja. Bocah! Sambutlah!" Hampir berbareng dengan
bentakannya, tangannya menyambar kedada Thio Koen
Po. Jarak antara dia sangat dekat, sehingga biarpun Boe sek
dan Boe siang ingin menolong, sudah tidak keburu lagi.
Semua orang menduga, bocah itu akan segera terluka berat.
Diserang dengan pukulan hebat itu, kedua kaki Thio
Koen Po tidak bergerak. Ia hanya menggeser ujung kakinya
kekanan dan badan nya lantas saja turut berputar kekanan.
Dalam gerakan itu, ia sudah berhasil mengempos pukulan
lawan. Hampir berbaring, dengan tinju kiri melindungi
pinggang, telapak tangan kanannya menyambar. Itulah
pukulan Yoe co an hoa chioe (Pukulan menembus bunga)
salah satu pukulan pokok dari ilmu silat Siauw lim pay.
Apa yang luar biasa, yalah, waktu memukul tubuhnya
kokoh teguh bagaikan gunung, sedang pukulannya dahsyat
93
seperti gelombang sungai Tiang kang. Semua orang kaget
bukan main, karena pukulan itu bukan pukulan seorang
pemuda yang masih hijau, tapi pukulan seorang tokoh
kenamaan dari Rimba Persilatan. Sesudah pundaknya
terpukul, Ho Ciok Too tahu, bahwa tenaga dalam pemuda
itu banyak lebih kuat dari pada Phoa Thian Keng dan
kedua saudara seperguruannya. Tapi ia yakin, bahwa dalam
sepuluh jurus, ia akan dapat merobohkannya. Melihat
sambaran Yoe coan hoa chioe yang sangat hebat itu, tanpa
merasa ia memuji. "Bocah! Lihay benar pukulanmu!"
Jantung Boe siang berdebar2. Ia melirik Boe sek dan
berkata seraya bersenyum: "Boe sek Soetee, aku memberi
selamat, bahwa dengan diam-diam kau sudah mendapat
murid yang begitu berbakat !"
Boe sek menggelengkan kepala dan berkata dengan suara
perlahan. "Bukan ...."
Sementara itu, dengan beruntun Thio Koen Po sudah
mengirim empat serangan berantai yaitu Auw po lat kiong
(Menggeser kaki manarik busur), Tan hong tauw yang
(Burung hong menghadap matahari), Sioe teek kiat chiang
(Di bawah tangan baju memotong tangan) dan Jie long tan
jan (Jie long memikul gunung). Setiap pukulan di sertai
dengan Lweekang yang sangat tinggi, sehingga semua
pendeta jadi kagum bukan main. Thian beng, Boe sek, Boe
siang dan Cit loo dari Sim sian tong saling mengawasi
dengan hati berdebar debar. "Pukulan-pukulannya yang
sangat bagus dan cepat, masih dapat dimengerti," kata Boe
siang. "Tapi bagaimana dengan Lwee kangnya yang begitu
hebat?"
Sesaat itu dengan paras muka ke merah2-an Ho Ciok
Too mengirim pukulan yang keenam. "Sedang seorang
bocah saja aku sudah tak mampu jatuhkan, bagaimana aku
berani datang di perguruan silat ditempatnya Siauw lim sie
94
dan mengirim surat tantangan ." pikirnya. "Bukankah
perbuatanku itu hanya jadi bahan tertawaan orang2 gagah
dikolong langit?" sambil memikir begitu, ia memutar badan
dan lalu menyerang dengan pukulan Thian san soat piauw
(Salju melayang2 digunung Thiansan), dalam sekejap
seluruh badan Thio Koen po sudah dikurang dengan
pukulan2 yang menyambar2 bagaikan turunnya salju.
Kecuali Yo Ko yang pernah memberi petunjuk
kepadanya dipuncak Hwa san, Koen Po belum pernah
menerima pelajaran dari lain guru, Oleh karena itu, ia jadi
kaget bukan main ketika melihat serangan2 yang sehebat
itu. Pada detik yang sangat berbahaya, dalam bingungnya ia
memutar pinggang kekiri, mengangkat kedua tangannya
sampai meleWati dagu dan telapakan tangan kiri ber
hadapan dengan telapak tangan kanan. Itulah pukulan Song
coan chioe (pukulan sepasang lingkaran) dari Siauw limpay,
serupa pukulan yang teguh kokoh bagaikan gunung jika
disertai dengan tenaga Lweekang yang kuat dan dapat
memunahkan segala rupa serangan. Maka itulah semua
serangan Ho Ciok Too, tak perduli dari mana datangnya,
dapat ditangkis dengan Song coan chioe.
Sampai disitu, kegirangan pihak Siauw Lim sie tak dapat
ditekan lagi. Dengan serentak murid2 Tat mo tong bersorak
sorai.
Sedang sorakan masih belum mereda, sambil membentak
keras, Ho Ciok Too meninju dada lawannya, pukulan itu
adalah pukulan biasa saja, tapi disertai dengan tenaga
dalam yang sangat dahsyat. Buru2 Koen Po menolak
dengan kedua telapakan tangannya dalam pianhoa citseng.
"Buk!", telapakan tangan dan tinju beradu keras. Badau Ho
Ciok Too ber goyang2 sedang Thio Koen Po terhuyung ke
belakang beberapa tindak.
"Huh!" demikian terdengar suara Ho Ciok Too yang
95
tanpa tenaga dalam mengubah gerakannya lalu maju
setindak dan sekali lagi mengirim tinju deugan sepenuh
tenaga. Thio Koen Po yaug ilmu silatnya saugat terbatas,
kembali menangkis dengan Pian hoa cit seng yaitu
mendorong dengan keduu telapakan tangaunya. "Buk !",
tubuh Koen Po sempoyongan lima tindak kebelakaug,
sedang badan Ho Ciok Too terhuyung kedepan, "Tinggal
satu pukulan lagi !" bentaknya dengau paras muka pucat.
"Sambutlah dengan seantero tenagamu!" ia maju dua
tindak, memasang kuda2 dan mengirim pukulan dengan
gerakan perlahan.
Sesaat itu, ratusan pendeta Siauw lim sie mengawasi
sambil menahan napas. Semua orang yakin, bahwa dengan
pukulan itu, Ho Ciok Too mempertaruh nama besarnya dan
bahwa ia tentu menggunakan seantero tenaga Lwee kang
yang dimilikinya.
Untuk ketiga kalinya, Koen Po menyambut dengan Pian
hoa cit seng. Sekali ini, beradunya tinju dan telapak tangan
tidak mengeluarkan suara apapun juga. Kedua lawan
dengan berbareng mengempos semangat mengarahkan
seluruh Lweekang mereka.
Mengenai ilmu silat, Ho Ciok Too lebih unggul ratusan
kali lipat daripada Thio Koen Po tapi dalam tenaga
Lweekang, ia masih belum bisa mengatasi pemuda itu.
Semua orang tak pernah mimpi, bahwa secara kebetulan
Koen Po memperoleh pelajaran dari Kioe yang Cin ken
keng dan memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai
tingkat tinggi.
Sama juga mereka bertahan sambil memusat seantero
tenaga dalam di tangan mereka. Se-konyong2, berbareng
dengan keluarnya suara "huh", Ho Ciok Too mundur
setindak karena ia merasa darahnya meluap ke atas, Se
96
bisa2 ia masih mau coba mempertahankan diri, tapi
mendadak matanya gelap dan ia lantas memuntahkan
darah dari mulutnya. Walau tidak tahu apa artinya
memuntahkan itu tak tabu, bahwa lawannya sudah terluka
berat Thio Kaen Po kaget bukan main. "Celaka !" teriaknya
sambil memburu untuk memapah lawan.
Ho Ciok Too mengebas tangannya dan seraya tertawa
getir, ia berkata. "Ho Ciok Too! Ho Ciok Too! Kau benar2
orang edan!" berpaling kearah Thian beng Siansoe dan
menyoja sampai ketanah. "Ilmu silat Siauw lim-sie sudah
kesohor ribuan tahun dan benar saja nama itu bukan nama
kosong," katanya. Hari ini aku bisa membuka kedua
mataku lebih lebar. Sehabis berkata begitu, ia memutar
badan dan dengan sekali menotol tanah dengan ujung
kakinya, tubuhnya melesat beberapa tombak jauhnya. Ia
berhenti sebentar dan menengok kearah Kak-wan. "Kakwan
Taysoe," katanya. "Orang itu mengatakan, bahwa kitab
suci berada didalam minyak. Ia minta aku menyampaikan
perkataannya kepadamu." Dilain saat dengan menotol
tanah beberapa kali dengan ujung kakinya, ia sudah berada
diluar dari rentetan pohon2 pek yang tumbuh disepanjang
jalan. Semua pendeta merasa kagum bukan main, karena
sesudah terluka berat ia masih bisa bergerak begitu cepat.
Kepandaian dan keuletan itu sesungguhnya jarang ter dapat
dalam Rimba Persilatan.
Sesudah musuh berlaen, semua pendeta segera
mengawasi Thian beng untuk mendengar perintah lebih
jauh. Tiba2 seorang pendeta tua yang bertubuh kurus dari
Cit loo Sim sian tong berkata dengan suara nyaring dan
menyeram kan.
"Siapa yang sudah turunkan ilmu silat kepada murid
itu?"
Semua orang bergidik mendengar suara itu yang
97
menyerupai bunyinya seekor burung malam. Thian bong,
Boe sek dan Boe siang yang juga ingin mengajukan
pertanyaan tersebut, dengan serentak mengawasi Kak wan
dan Thio Po. Tapi guru dan murid itu tidak lantas
menjawab. Mereka berdiri bengong dengan mulut
ternganga.
"Kak wan memiliki Lweekang yang sangat tiggi, tapi bisa
dilihat nyata, bahwa ia belum pernah belajar ilmu silat,"
kata Thian beng.
"Apa yang mengherankan adalah ilmu silat Siauw lim
dari anak itu. Siapakah yang sudah mengajarkannya?"
Semua murid Tat mo tong dan Lo han tong menunggu
jawaban dengan hati berdebar2. Semua orang menganggap
bahwa bocah itu yang sudah merobohkan musuh
sedemikian tangguh, pasti bakal mendapat hadiah besar,
sadang gurunya pun akan mendapat pujian tinggi.
Melihat Thio Koen Po tidak mejawab pertanyaannya,
alis sipendeta tua mendadak berdiri dan pada paras
mukanya terdapat sinar Pembunuhan. " Hei! Aku tanya
kau. Siapa yang mengajar Lohan koen kepadamu?"
tanyanya pula dengan suara keras.
Thio Koen Po segera merogoh saku dan mengeluarkan
sepasang Tiat lo han (Lo han besi) yang diberikan
kepadanya oleh Kwee Siang.
"Teecoe (murid) belajar dari kedua Tiat lo han ini,"
jawabnya. "Dengan se-benar2nya Tee coe belum pernah
mendapat pelajaran ilmu silat dari siapa juga pun."
Sipendeta tua maju setindak dan berkata pula dengan
suara perlahan. "Kau bicaralah se tulus2nya. Siapa yang
sudah turunkan ilmu silat kepadamu?" Walaupun
diucapkan seperti berbisik, suara itu yang disertai Lweekang
98
yang tinggi, dapat nyata oleh semua orang.
Thio Koen Po merasa sangat kecewa, tapi karena tidak
merasa bersalah, maka biarpun melihat paras muka
sipendeta tua yang menyeramkan, sedikitpun ia tidak
merasa keder. "Tidak, dalam kuil ini, belum pernah ada
seorang pun yang mengajar ilmu silat kepada Teecoe"
katanya dengan suara nyaring. "Teecoe selalu berdiam di
Keng kok, menyapu lantai, masak air dan melayani Kak
wan Soehoe. Beberapa pukulan Lo han-koen itu telah
dipelajari oleh Tee-coe sendiri dan jika ada gerak-gerik yang
kurang benar, Teecoe memohon Loo soehoe sudi memberi
petunjuk.
Si pendeta tua mengeluarkan suara di hidung dan kedua
mata yaug ber-api2, ia menatap wajah Thio Koeh Po. Lama
sekali ia mengawasi muka pemuda itu tanpa mengeluarkan
sepatah kata.
Kak wan tahu, bahwa pendeta Sim sian-tong itu
mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam Siauw lim-sie
dan ia adalah Soesiok (paman guru) dari Thian beng
Siausoe. Melihat sikap situa tehadap muridnya, ia merasa
sungguh tidak mengerti. Tiba2 waktu kedua matanya
kebentrok dengan mata pendeta tua yang penuh dengan
sorot kebencian, dalam otaknya berkelebat suatu keingatan.
Ia ingat bahwa duapuluh tahun lebhn berselang, secara ke
betulan dalam Cong kek kok ia mandapatkan se jilid buku
tipis dengan tulisan tangan, yang mencatat suatu peristiwa
besar dalam kuil Sauw lim-sie.
Kejadiannya seperti berikut. Pada tujuh puluh tahun
lebih yang lalu, Hong thio kuil Siauw lim-sie adalah Kouw
tin Siansoe, itu Soecouw atau kakek guru dari Thian beng
Siansoe. Menurut adad, setiap tahun sekali ada hari
perayaan Tiong-coe, di Tat mo tong diadakan ujian ilmu
silat yang dikepalai oleh Hong thio, sIoe coe dari Tat mo99
tong dan Lo han-tong. Tujuan dari ujian itu adalah untuk
melihat kemajuan para murid Siauw limsie selama satu
tahun.
Diluar dugaan, waktu diadakan ujian pada tahun itu,
telah terjadi suatu peristiwa yang sangat menyedihkan.
Sesudah semua murid memperlihatkan kepandaiannya,
pemimpin Tat mo tong, Kouw tie Siansoe, segera naik
kemimbar
dan membincangkan kepandaian setiap murid. Selagi
Kouw-tie enak bicara, tiba2 muncul seorangTauw-to, atau
pendeta yang memiara rambut, yang lantas saja berteriak;
"Omongan Kouw tie Siansoe omongan kentut anjing! Dia
sebenarnya tak tahu apa artinya ilmu silat dan berani mati,
ia menduduki kursi Soei-co dari Tat mo-tong. Sungguh
memalukan!"
Dengan kaget semua pendeta mengawas orang itu yang
ternyata adalah Tauw to yaag bekerja didapur sebaai tukang
menyalakan api. Pada sebelum guru mereka membuka
mulut, murid2 Tat mo-tong sudah balas mencaci dengan
kegusaran yang meluap-luap.
"Jangan banyak bacot kau!" teriak Si Tauw to "Gurunya
kentut anjing, muridnyapun kentut anjing!" Sehabis
memaki, ia berdiri di tengah ruangan dengan sikap
menantang. Sejumlah pendetalantas saja maju untuk
menghajar Tauwto itu, tapi satu demi satu, mereka
dirobohkan secara mudah sekali. Apa yang lebih hebat lagi
si Tauwto tidak berlaku sungkan2. Sembilan murid utama
dari Tat mo tong telah dijatuhkan dengan luka berat atau
patah kaki tangannya.
Kouw tie Siansoe kaget tercampur gusar. Ia mendapat
kenyataan bahwa ilmu silat Tauwto itu adalah ilmu Siauw
limpay, sehingga dia bukan seorang luar yang sengaja
100
datang untuk mengacau. Sambil menahan amarah,
Kouwtie meanaya siapa gurunya. "Aku belajar sendiri, tak
satu manusia pun yang mengajar aku," jawabnya.
Apa latar belakang perbuatan Tauwto itu? Ternyata,
selama baberapa tahun ia sering dianiaya olah pemilik
bagian dapur yang beradat berangasan dan suka main pukul
orang sebawahannya. Tiap kali ia muntah darah akibat
pukulan pemilik dapur itu yang sering turun tangan tanpa
mengenal kasihan. Dengan mendedam sakit hati yang
sangat besar, diam2 ia belajar silat. Ia mendapat
kesempatan luas untuk mencuri pelajaran, karena hampir
semua murid Siauwlim si pandai ilmu silat jika seseorang
bertekat untuk melakukan serupa pekerjaan lama atau
cepat, ia pasti akan berhasil.
Dibantu dengan kecerdasan otaknya yang melebihi
manusia biasa, maka dalam tempo belasan tahun, ia sudah
memiliki, kepaudaian yang sangat tinggi. Tapi ia masih
tetap menyembunyikan kepadaianaya itu dan terus bekerja
sebagai tukang menyalakan api yang dengar kata Kalau
dipukul oleh sipemilik dapur, ia sama sekali tidak melawan.
Berkat Lweekangnya yang sangat kuat, ia sekarang tidak
takut lagi segala pukulan. Dengan sabar ia berlatih terus.
Sesudah merasa, bahwa kepandaiannya berada diatas
semua pendeta Siawlim sie, pada hari ujian silat, dihari
Tiongcoe, barulah ia turun tangan.
Sakit hati yang sadah didendam belasan tahun lamanya,
menanam rasa benci terhadap semua pendeta Siauwlimsie,
didalam lubuk hatinya, maka itu ia sudah menyerang tanpa
sungkan2 lagi.
Sesudah mengetahui sebab musabab kejadian itu, Koawti
Siansoe tertawa dengan seraya berkata, "Aku sungguh
merasa kagum akan kegiatanmu itu." Ia turun dari mimbar
dan satu pertempuran hebat lantas saja terjadi. Pada masa
101
itu, Kouwtie adalah orang yang berkepandaian paling tinggi
di-kuil Siauwlimsie.
Mereka berdua segera serang menyerang dengan
menggunakan ilmu2 pukulan yang paling hebat dan dalam
tempo cepat, mereka sudah bertempur kurang lebih 500
jurus.
Semakin lama pertempuran semakin hebat, sehingga
mencapai sesuatu titik yang sangat berbahaya. Pada saat
itu, karena mengingat jerih payahnya si Touw to untuk
memiliki kepandaianya yang begitu tinggi, dalam hati
Kouw tie muncul perasaan sayang dan kasihan. Maka itu,
sambil mementang kedua tangannya, ia membentak.
"Mundurlah!"
Tapi sungguh sayang, si Tauw to salah tampah maksud
orang yang baik. Ia menduga, bahwa dengan mementang
kedua tangannya, Kouw tie Siansoe ingin menyerang
dengan Sin ciang Pat ta (Delapan pukulan Tangan
Malaikat), salah satu ilmu terlihay dari Siauw lim sie. Ia
ingat, bahwa waktu berlatih dengan ilmu itu, seorang murid
Tat mo tonG pernah mematahkan satu balok kayu dengan
pukulan kedua tangannya. Maka ita, ia tahu hebatnya Sin
ciang Pat ta. Biar bagaimanapun juga, biar memiliki
kepandaian tinggi tapi karena ia belajar dengan mencuri
dan tidak mendapat petunjak guru yang pandai, maka ia
masih belum bisa menyelami ilmu Siauw lim pay sampai
didasarnya.
Ia sama sekali tak tahu, bahWa dengan mementang
kedua tangannya, Kouw tie Siansoe sebenarnya
mengeluarkan pukulan Hoen kay cian ( pukulan memecah
dan membuka) untuk meminjam dan memindahkan tenaga,
dengan tujuan menghentikan pertempuran begitu lekas
kedua belah pihak melompat mundur. Ia menduga, bahwa
Koauw tie ciaag (pukulan pembelah hati), pukulan
102
keenaam dari Sin ciang Pat ta. Dengan menduga begitu, ia
berkata dalam hatinya: "Tak begitu gampang kau ambil
jiwaku !" la melompat dam memukul dengan kedua
tangannya.

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil