Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 27 April 2017

Cersil Bukan Kho Ping Hoo 12 : Toliongto

Cersil Bukan Kho Ping Hoo 12 : Toliongto Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Bukan Kho Ping Hoo 12 : Toliongto
Cersil Bukan Kho Ping Hoo 12 : Toliongto
Cersil Bukan Kho Ping Hoo 12 : Toliongto
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Bukan Kho Ping Hoo 12 : Toliongto
“Malam ini… aku… aku keluar untuk memburu babi
hutan yang sering mengganggu tanamanku,” ia
menerangkan. “Secara kebetulan aku bertemu dengan
seorang wanita dan seorang pria yang sedang beromongomong
di bawah pohon…Hai…” ia tidak bisa meneruskan
perkataannya lagi, tubuhnya tidak berkutik lagi.
Boe Kie lantas saja menduga, bahwa wanita dan pria itu
adalah Coe Kioe Tin dan Wie Pek yang mengadakan
pertemuan rahasia di tengah malam buta. Mengingat
kekejaman wanita itu, darahnya lantas saja meluap.
Kesunyian malam kembali meliputi lembah yang dingin
itu.
Sekonyong-konyong di sebelah kejauhan terdengar suara
tindakan kuda, disusul dengan teriakan memanggil-manggil
dari seorang wanita. Jantung Boe Kie memukul keras,
karena ia segera mengenali suara Kioe Tin yang sedang
memanggil2 anjing-anjingnya. Boe Kie segera bersiap sedia
sebab suara tindakan kuda itu mendatangi ke arahnya. Tak
lama kemudian, dua penunggang kuda, satu wanita dan
satu pria, sudah tiba di situ. Dugaan Boe Kie ternyata tepat,
mereka itu adalah Coe Kioe Tin dan Wie Pek.
“Ih! Mengapa ketiga Peng see Ciangkoen binasa semua?”
kata si nona dengan suara heran.
Wie Pek melompat turun dari tunggangannya. “Ada dua
orang mati di sini!” katanya heran.
Boe Kie siap sedia. “Kalau dia bergerak, aku turun
1112
tangan lebih dahulu,” pikirnya.
Melihat korban itu yang mendapat luka-luka berat dan
Boe Kie yang pakaiannya compang camping dan rebah
tanpa berkutik, Kioe Tin segera menarik kesimpulan bahwa
mereka kedua-duanya sudah binasa digigit anjing. Ia
mengadakan pertemuan itu untuk bersuka-sukaan dengan
Wie Pek dan ia tak mau berdiam lama-lama di tempat yang
dapat merusak suasana. Maka itu, ia lantas saja berkata,
“Piawko, hayolah! Sebelum mati, mereka melawan matimatian
dan sudah membinasakan ketiga anjing itu.” Seraya
berkata begitu, ia mengedut les kuda yang dikaburkan ke
jurusan barat. Wie Pek sebenarnya merasa sangat heran dan
menyelidiki lebih jauh. Tapi karena kecintaannya sudah
berlalu, maka buru-buru ia melompat ke atas punggung
tunggangannya untuk menyusul si cantik.
Sayup2 Boe Kie mendengar suara tertawanya Kioe Tin.
Tiba2 ia dihinggapi perasaan muak dan gusar terhadap
nona itu. Ia sendiri merasa heran. Empat tahun yang lalu, ia
memuja Coe Kioe Tin seperti memuja seorang dewi.
Andaikata ia diperintah memanjat gunung golok atau
masuk ke dalam kuali minyak mendidih, ia pasti akan
menurut tanpa bersangsi. Tapi sekarang, entah mengapa
pengaruh si nona atas dirinya tiada bekas2nya lagi. Di
dalam hati kecilnya ia menduga-duga bahwa perubahan itu
sudah terjadi berkat latihan Kioe yang kang. Ia tak tahu,
bahwa hal itu adalah kejadian lumrah bagi seorang lelaki
yang baru berangkat besar. Pada masa akil balig, rasa cinta
dari seorang lelaki terhadap orang perempuan cepat
panasnya dan cepat pula dinginnya. Sesudah lewat
beberapa lama pikirannya berubah sering2 mentertawai
dirinya sendiri, mengapa dulu ia begitu gila. Kejadiannya
ini sedikit banyak sudah dialami oleh setiap orang lelaki.
Pada keesokan harinya, seekor elang yang melihat mayat
1113
manusia dan bangkai binatang, terbang berputaran di
angkasa. Beberapa saat kemudian, dia menyambar ke
bawah untuk mematok makanannya. Tapi elang itu
bernasib sial. Bukan mayat yang disambar, tapi Boe Kie
yang dikira mayat. Dengan sekali menggerakkan tangan
Boe Kie sudah mencekal leher elang itu yang lalu
dibinasakan. Langit menaruh belas kasihan dan sudah
mengantarkan sarapan pagi, pikirnya dengan rasa girang. Ia
lalu mencabut bulu burung itu dan makan dagingnya.
Biarpun mentah, ia memakannya dengan bernafsu, karena
sudah berhari-hari perutnya menahan lapar.
Belum habis daging elang yang pertama, elang kedua
sudah menyatroni. Dengan begitu, ia tidak kekurangan
makanan untuk menangsal perut. Hari lewat hari ia rebah
disitu sambil menunggu bersambungnya tulang. Untung
juga karena hawa yang sangat dingin, mayat dan bangkai
manusia yang mengawaninya tak menjadi rusak. Karena
sudah biasa hidup menyendiri maka hari2 itu telah
dilewatkannya tanpa terlalu penderitaan.
Pada suatu lohor, sesudah melatih Lweekang ia melihat
dua ekor elang yang terbang berputaran terus menerus di
angkasa tanpa berani turun. Tiba2 salah seekor menyambar
ke bawah menyambar ke arahnya. Tapi dia tak menyambar
terus. Waktu terpisah kira-kira tiga kaki dengan Boe Kie,
elang itu mendadak berbelok dan terbang ke atas lagi
dengan suatu gerakan yang lincah dan indah sekali.
“Aha, gerakan itu dapat dipergunakan dalam ilmu silat,”
kata Boe Kie dalam hatinya. “Serangan cepat sehingga
lawan sukar dapat menangkisnya dan kalau serangan itu
gagal, gerakan mundurnya pun tak kurang cepatnya
sehingga musuh takkan bisa mengundak.”
Sebagaimana diketahui, Kioe yang cin keng adalah kitab
yang mengutamakan pelajaran latihan tenaga dalam.
1114
Dalam kitab itu tidak terdapat pelajaran jurus-jurus dan
tipu-tipu silat. Maka itulah, biarpun sudah berlatih Kioe
yang Cin keng, waktu diserang Kak wan tak tahu cara
membela diri. Perlawanan Thio Koen Po (belakangan
dikenal sebagai Thio Sam Hong) terhadap In Kek See juga
berkat empat jurus silat yang didapatnya dari Sin Tiauw
Tayhiap Yo Ko. Tapi Boe Kie agak berlainan daripada Kak
wan dan Thio Sam Hong. Sedari kecil, ia sudah belajar ilmu
silat. Akan tetapi jika ia ingin melebur Lweekang tertinggi
yang telah dimilikinya dalam ilmu-ilmu silat, ia tak akan
bisa melakukannya di dalam waktu yang pendek. Maka
setiap kali melihat jatuhnya bunga, menjulangnya cabang
pohon ke angkasa, gerak-gerik binatang atau burung,
ataupun perubahan angin, ia lantas ingat jurus-jurus silat
yang dapat digubah daripada contoh-contoh itu.
Ia terus mengawasi kedua elang itu dan mengharapharap
agar mereka menyambar lagi seperti tadi.
Tiba2 kupingnya menangkap suara tindakan manusia di
atas salju. Tindakan itu enteng dan lincah, seperti tindakan
wanita. Ia memutar kepala dan mengawasi ke arah suara
itu. Benar saja yang sedang mendatangi adalah seorang
wanita yang tangannya menenteng sebuah keranjang kecil.
Melihat mayat dan bangkai binantang, wanita itu
merandek dan mulutnya mengeluarkan seruan kaget. Ia
seorang wanita muda yang kira2 tujuh belas atau delapan
belas tahun. Dilihat pakaiannya yang terbuat dari pada kain
kasar, ia seorang gadis dusun yang miskin. Ia pun bukan
gadis cantik, bahkan dapat dikatakan beroman jelek karena
rambutnya kering, kulitnya hitam, otot otot pada mukanya
banyak melesak atau menonjol keluar, sedangkan kedua
ujung mulutnya agak turun ke bawah. Bagian yang
menyedapkan dari wanita itu adalah kedua matanya yang
jeli dan bersinar tajam serta tubuhnya yang ramping dan
1115
gemulai.
Ia mendekati dan waktu kedua matanya kebentrok
dengan sorot mata Boe Kie, ia kaget dan bertanay dengan
suara terputus putus. “Kau… kau… tidak mati?”
“Tidak,“ jawabnya.
Pertanyaan yang pendek itu dijawab dengan pendek
pula.
Di lain saat, mereka tertawa bersama. “Kalau kau belum
mati, perlu apa kau rebah di situ?” tanya pula si nona.
“Aku jatuh dari atas gunung, tulang betisku patah.” Boe
Kie menerangkan.
“Apa dia kawanmu?” tanya wanita itu seraya menunjuk
mayat. “Mengapa tiga anjing itu mati?”
“Tiga binatang itu telah menggigit dan membinasakan
saudara itu,” jawabnya.
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau tidak lapar?”
“Tentu saja lapar. Tapi aku tidak dapat bergerak dan
menyerahkan segala apa pada nasib.”
Wanita itu tersenyum. Ia merogoh keranjangnya dan
mengeluarkan dua potong kue phia lalu diberikan kepada
Boe Kie.
“Terima kasih,” kata Boe Kie seraya menyambutinya,
tapi ia tidak lantas memakannya.
“Mengapa kau tidak makan? Apa kau takut ada
racunnya?” tanya si nona.
Sudah 4 tahun lebih, kecuali dengan Coe Tiang Leng,
Boe Kie tidak pernah bicara dengan lain manusia. Maka itu,
pertemuannya dengan gadis itu menggirangkan hatinya,
karena biarpun si nona berparas jelek, omongan2 nya
1116
sangat menarik. Ia tertawa dan menjawab, “Bukan, bukan
begitu. Sebabnya adalah karena phia ini diberikan oleh
nona, maka aku merasa sayang untuk segera
memakannya.”
Jawaban itu, yang sebenarnya hanya guyon guyon dapat
diartikan sebagai ejekan. Boe Kie adalah seorang yang
sifatnya sungguh2 dan ia jarang sekali bicara main-main.
Tapi sekarang, dalam berhadapan dengan gadis jelek itu,
hatinya bebas tanpa merasa ia sudah mengeluarkan katakata
itu.
Di luar dugaan, paras muka si nona lantas saja berubah
gusar dan ia mengeluarkan suara di hidung sehingga Boe
Kie merasa sangat menyesal dan buru-buru ia memasukkan
kue ke dalam mulutnya. Karena terburu-buru, kue itu
menyangkut di tenggorokannya dan ia batuk-batuk.
Muka si nona berubah lagi, dari marah menjadi girang.
“Terima kasih Langit, terima kasih Bumi. Tioe Pat Koay (si
muka jelek) bukan manusia baik, katanya. “Bapak Langit
menjatuhkan hukuman kepadamu. Mengapa orang lain
tidak dipatahkan tulangnya, hanya kau seorang yang
dipatahkan tulang betismu?”
“Sesudah empat tahun tak pernah mencukur rambut dan
muka, tentu saja mukaku kelihatannya jelek,” kata Boe Kie
dalam hati. “Tapi kaupun tidak cantik. Kita berdua setali
tiga uang.” Tapi tentu saja ia tak berani mengutarakan
berterus terang apa yang dipikir dalam hatinya. Ia
tersenyum dan berkata, “Sudah 9 hari aku menggeletak di
sini. Sungguh untung, nona kebetulan lewat disini dan nona
sudah memberikan kue kepadaku. Terima kasih banyak
untuk kebaikanmu itu.”
Si nona tertawa. “Jangan kau bicara menyimpang,”
katanya. “Aku tanya mengapa hanya seorang yang patah
1117
tulang? Kalau kau tidak menjawab, aku akan mengambil
pulang kueku itu.”
Jantung Boe Kie memukul keras sebab selagi bicara
sambil tertawa di mata gadis itu terdapat sinar kenakalan
yang menyerupai sinar mata yang dimiliki oleh ibunya
sendiri. “Mengapa sinar matanya mirip dengan sinar mata
ibu?” tanyanya di dalam hati. “Sebelum meninggal dunia,
waktu ibu memperdayai pendeta Siauw lim sie, pada kedua
matanya terlihat sinar yang seperti itu.” Mengingat ibunya,
hatinya merasa pilu dan air matanya lantas saja mengucur.
“Fui!” kata si nona sambil tertawa nyaring. “Tidak, aku
tidak akan merampas kue itu. Sudah! Jangan nangis. Hai…!
Kalau begitu, kau hanya satu manusia dungu.”
“Huh! Kau kira kuemu terlalu enak?” kata Boe Kie.
“Aku menangis karena ingat sesuatu bukan sebab kuemu.”
“Ingat apa?” tanya si nona.
Boe Kie menghela nafas. “Aku ingat ibu. Ibuku yang
sudah meninggal dunia,” jawabnya.
Si nona tertawa nyaring. “Ibumu sering memberi phia
kepadamu, bukan?” tanyanya.
“Benar, ibuku memang sering memberi kue kepadaku,”
jawabnya. “Tap aku ingat kepadanya bukan sebab itu. Aku
ingat ibu sebab tertawamu sangat mirip dengan tertawa
ibu.”
“Setan!” bentak si nona dengan suara gusar, “Aku sudah
tua ya? Sama seperti ibumu, ya?” Ia mengambil cabang
kering dan menyabet Boe Kie dua kali.
Kalau mau, dengan mudah Boe Kie bisa merampas
cabang kering itu. Tapi ia berkata dalam hatinya, “Ia tidak
tahu bagaimana cantiknya ibuku. Ia rupanya menganggap
1118
roman ibu sejelek romanku dan ia merasa tersinggung.
Dilihat dari sudut ini, ia memang pantas bergusar.”
Sesudah disabet, ia berkata, “Ibuku sangat cantik!”
Muka si nona tetap muram. “Kau mentertawai aku
karena romanku jelek?” bentaknya pula. “Benar-benar kau
sudah bosan hidup, biar aku tarik kakimu.” Seraya
mengancam, ia membungkuk dan bergerak untuk menarik
kaki pemuda itu.
Boe Kie kaget. Tulang betisnya baru menyambung,
sehingga kalau ditari ia bakal menderita lebih berat. Buruburu
ia meraup salju, begitu kakinya tersentuh ia akan
menimpuk Bie sim hiat si nona supaya ia pingsan. Untung
juga ancaman itu tidak dibuktikan.
Melihat perubahan pada paras muka Boe Kie nona itu
berkata, “Mengapa kau begitu ketakutan? Nyalimu seperti
nyali tikus, siapa suruh kau mentertawai aku?”
“Sedikitpun aku tak punya niat untuk menggoda nona,”
kata Boe Kie dengan suara sungguh-sungguh. “Jika di
dalam hati aku berniat mentertawai nona, biarlah sesudah
sembuh, aku jatuh lagi tiga kali dan seumur hidup aku
menjadi seorang pincang.”
Mendengar sumpah itu, ia tertawa geli dan lalu duduk di
samping. “Kalau ibumu seorang wanita cantik, mengapa
kau membandingkan aku dengan dia?” tanyanya dengan
suara perlahan.
“Apa akupun cantik?”
Boe Kie tergugu. Sesaat kemudian barulah ia bisa
menjawab. “Entahlah, aku pun tak tahu sebabnya. Aku
hanya merasa, bahwa kau mirip dengan ibuku. Biarpun kau
tidak secantik ibu, tapi aku merasa sayang jika memandang
parasmu.”
1119
Si nona tersenyum, ia mencolek pipi Boe Kie dengan
jarinya dan berkata sambil tertawa, “Anak baik, nah kalau
begitu kau panggil saja ibu kepadaku…” Ia tidak
meneruskan perkataannya dan dengan sikap kemalumaluan,
dia memutar kepala ke jurusan lain, karena ia
merasa bahaw perkataannya itu tidak pantas dikeluarkan.
Tapi sesudah memutar kepala, ia ta dapat menahan rasa
gelinya dan lalu tertawa pula.
Melihat begitu, Boe Kie lantas saja ingat kejadiankejadian
di pulau Peng hwee to, yaitu pada saat kedua
orang tuanya bersenda gurau. Ia ingat bahwa dalam
guyon2, sikap mendiang ibunya sangat menyerupai sikap si
wanita jelek saat ini. Tiba-tiba ia merasa bahwa nona itu
tidak jelek. Dia cantik, dia ayu… ia mengawasi seperti
orang kesengsem.
Tiba2 si nona memutar lagi kepalanya dan melihat Boe
Kie mengawasinya seperti orang linglung. Ia tertawa dan
bertanya, ”Mengapa kau senang melihat aku? Coba
beritahukan kepadaku sebab musababnya.”
Boe Kie tidak lantas menjawab. Sesudah gelenggelengkan
kepalanya ia baru berkata, “Aku tak dapat
mengatakan secara tepat. Aku hanya merasa bahwa kalau
memandang wajahmu, hatiku tenang dan aman. Aku
merasa bahwa kau akan hanya berbuat baik terhadapku,
bahwa kau tidak akan mencelakai aku.”
Si nona tertawa nyaring, “Haa..ha..! Kau salah! Aku
adalah manusia yang paling suka mencelakai orang,”
katanya.
Sekonyong2 ia mengangkat cabang kayu yang
dipegangnya dan menyabet betis Boe Kie dua kali. Sesudah
itu ia berjalan pergi. Sabetan itu yang dijatuhkan secara
diluar dugaan, kena tepat pada tulang yang patah, sehingga
1120
Boe Kie kesakitan dan berteriak, “Aduh!” Teriakan Boe Kie
disambut dengan tertawa geli.
Dengan mendongkol Boe Kie mengawasi bayangan
wanita itu yang makin lama jadi makin jauh. “Kurang
ajar!” ia mengomel. “Yang cantik suka melukai orang, yang
jelekpun begitu juga”.
Malam itu Boe Kie banyak bermimpi. Ia bermimpi
bertemu dengan wanita itu, bertemu pula dengan mendiang
ibunya dan bertemu pula dengan seorang wanita yang tidak
terang wujudnya. Mungkin ibunya dan mungkin juga
wanita jelek itu. Ia bermimpi sang ibu mempermainkannya
menjatuhkannya dan sesudah ia menangis barulah ibunya
memeluknya, menciumnya dan berkata, “Anak baik jangan
menangis, sayang…sayang… ibu menyayang kau.”
Waktu terdengar dalam otaknya mendadak berkelebat
serupa ingatan yang baru pernah diingatnya sekarang.
“Mengapa ibu begitu suka mencelakakan manusia?”
tanyanya di dalam hati. “Kedua mata Giehoe dibutakan
oleh ibu. Jie Sam soepeh bercacat karena ibu. Seluruh
keluarga Liong boen Piauw kiok binasa dalam tangan ibu.
Apa ia orang baik?” Sambil bertanya begitu, ia mengawasi
bintang-bintang di langit dan menghela nafas berulangulang.
“Tak peduli baik atau jahat, ia tetap ibuku,”
pikirnya. “Kalau ibu masih hidup, aku pasti akan
menyintanya dengan segenap jiwa dan raga.”
“Di lain saat ia ingat gadis dusun itu. Mengapa si jelek
memukul kakinya? Aku tidak bersalah mengapa dia
memukul aku?” tanyanya di dalam hati. “Sesudah aku
berteriak kesakitan, ia tertawa kegirangan. Apakah ia
manusia yang senang mencelakakan sesama manusia?”
Ia mengharapkan nona itu datang lagi, tapi iapun kuatir
akan dipukul lagi. Otaknya bekerja terus, sebentar ia ingat
1121
mendiang ibunya, sebentar ia ingat gadis dusun itu dan
sebentar ia ingat lain-lain hal.
Dua hari telah lewat dan nona itu tidak pernah muncul.
Boe Kie menganggap dia tak akan
Datang lagi untuk selama-lamanya. Diluar dugaan, pada
hari ketiga, kira2 lohor, gadis dusun itu menyatroni lagi
sambil menenteng keranjangnya. “Tio pat koay,” tegurnya
seraya tertawa. “Kau belum mati kelaparan ?”.
“Sudah hampir,” jawabnya. “Sebagian besar mampus,
sebagian kecil masih hidup”.
Nona itu tertawa, lalu duduk disamping Boe Kie.
Mendadak memandang betis pemuda itu. “Apa bagian itu
masih hidup?” tanyanya.
“Aduh!” teriak Boe Kie. “Kau sungguh manusia yang
tak punya liangsim!” (Liangsim---perasaan hati).
“Tak punya liangsim?” menegas si nona. “Kebaikan apa
yang sudah ditunjuk olehmu terhadap diriku?”
Boe Kie terkejut. “Kemarin dulu kau telah memukul aku,
tapi aku tidak menaruh dendam,” katanya. “Selama dua
hari, aku selalu mengingat kau”.
Paras muka si nona lantas saja berubah merah, seperti
orang bergusar, tapi ia menekan nafsu amarahnya. “Apa
yang dipikir olehmu kebanyakan bukan hal yang baik,”
katanya. “Aku berani memastikan, didalam hati kau
mencaciku sebagai perempuan jelek perempuan jahat”.
“Romanmu tidak jelek,” kata Boe Kie. “Tapi mengapa
kau baru merasa senang bila sudah mencelakai manusia?”
Si nona tertawa geli. “Bagaimana kudapat
memperlihatkan rasa senangku, jika aku tak bisa
menyaksikan penderitaan orang?” katanya dengan suara
1122
adem.
Sehabis berkata begitu, ia mengawasi Boe Kie yang pasa
mukanya menunjuk perasaan tidak puas dan tidak setuju.
Melihat pemuda itu masih mencekal sepotong kue yang
belum dimakan tiga hari, ia tersenyum lalu berkata.
“Phia itu sudah tiga hari, apa masih enak dimakan?”
“Aku merasa sayang untuk makan kue ini yang
dihadiahkan olehmu,” jawabnya. Bila pada tiga hari
berselang ia mengatakan begitu untuk berguyon, kini
suaranya bernada sungguh2. Nona itu juga merasa, bahwa
kali ini Boe Kie tidak bicara main2 dan paras mukanya
lantas saja bersemu merah. “Aku membawa kue-kue yang
baru,” katanya sambil merogoh keranjang dan
mengeluarkan beberapa macam makanan, disamping kue,
terdapat juga ayam panggang dan kaki kambing panggang
yang baunya wangi.
Boe Kie girang bukan main. Selama tiga tahun lebih, ia
hanya mengenal daging kodok dan bebuahan dan baru
sekarang, ia dapat mencicipi lagi makanan enak. Tanpa
sungkan sungkan, di lalu memasukkan sepotong daging
ayam ke dalam mulutnya.
Sambil memeluk lutut dan mengawasi cara makannya
Boe Kie yang sangat bernafsu, si nona duduk disamping
pemuda itu. “Siluman muka jelek (Tioe pat koay), kau
makan enak sekali,” katanya. “Kusenang melihat cara
makanmu. Kau agak berlainan dengan lain manusia. Tanpa
mencelakai kau, aku sudah merasa senang.”
“Rasa senang yang sejati adalah rasa senang yang
didapat karena melihat orang lain merasa senang.” Kata
Boe Kie.
Nona itu tertawa dingin. “Huh!” ia mengeluarkan suara
1123
di hidung. “Biarlah aku berterus terang terhadapmu. Hari
ini hatiku senang dan aku tidak mencelakai kau. Tapi dilain
hari, bila aku tak senang, mungin sekali aku akan
menghajar kau, sehingga kau hidup tidak, matipun tidak.
Kalau terjadi kejadian itu, jangan kau menyalahkan aku”.
Boe Kie menggeleng kepalanya. “Kau takkan mampu
menghajar aku, “ katanya.
“Mengapa begitu?” tanya si nona.
“Sedari kecil aku sudah biasa dihajar oleh manusia
jahat,” jawabnya. “Aku dihajar hingga besar. Makin
dihajar, aku maikn a lot”.
“Lihat saja buktinya nanti,” kata nona itu.
Boe Kie tersenyum dan berkata pula. “Sesudah lukaku
sembuh, aku akan menyingkir jauh jauh. Kau takkan bisa
menganiaya aku lagi”.
“Kalau begitu, lebih dahulu aku akan putuskan betismu
sehingga kau seumur hidup takkan bisa berpisahan lagi
denganku,” kata si nona.
Mendengar suara dingin bagaikan es, Boe Kie bergidik.
Ia mersa, bahwa perkataan itu bukan diucapkan seenaknya
saja dan bahwa apa yang dikatakannya dapat dilakukan
oleh wanita itu.
Sementara itu, setelah mengawasi Boe Kie beberapa saat,
si nona menghela nafas. Sekonyong-konyong paras
mukanya berubah. “Tioe pat koay” bentaknya. “Apakah
betis anjingmu tak pantas dibacok putus olehku?”
Mendadak ia berbangkit, merampas potongan daging ayam,
kaki kambing dan kue phia yang belum dimakan dan
melemparkannya jauh-jauh. Sesudah itu dengan penuh
amarah, ia meludahi muka Boe Kie.
1124
Boe Kie menatap wajah si nona. Ia merasa, bahwa gadis
itu bukan sengaja benar2 bergusar dan juga tak sengaja mau
menghina dirinya, karena pada paras mukanya terlihat sinar
kedukaan yang sangat besar. Boe Kie adalah seorang yang
mempunyai perasaan halus dan bisa turut merasakan
penderitaan orang lain. Ia ingin sekali menghibur, tapi
untuk sementara ia tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Melihat sikap Boe Kie, nona itu berhenti meludah. “Tioe
pat koay!” bentaknya. “Apa yang sedang dipikir olehmu?”
“Nona, mengapa kau kelihatannya begitu menderita?”
Boe Kie balas menanya. “Beritahukanlah kepadaku”.
Karena ditanya dengan perkatann lemah lembut, gadis
itu tak dapat jalan untuk mengumbar nafsunya lagi.
Sekonyong2 ia duduk pula disamping Boe Kie dan
menangis sedu sedang sambil memeluk kepalanya.
Boe Kie mengawasinya dengan belas kasihan.
“Nona,” katanya dengan suara perlahan. “Siapa yang
sudah menghina kau? Tunggulah, sesudah kakiku sembuh
aku akan membalas sakit hatimu.
Nona itu terus menangis. Selang beberapa lama, barulah
ia berkata. “Tidak ada orang yang menghinaku.
Penderitaanku karena nasibku yang buruk, karena salahku
sendiri. Aku memikiri orang yang tak dapat
melupakannya”.
Boe Kie mangut2kan kepala. “Orang laki2 bukan?”
tanyanya pula. “Dia jahat terhadapmu bukan ?”
“Benar!” jawabnya. “Dia sangat tampan, tapi sombong
luar biasa. Aku ingin dia mengikuti aku seumur hidup, tapi
dia tak mau. Itu masih tidak apa. Celakanya, dia bukan saja
mencaci tapi juga sudah menganiaya aku, sehingga darah
berlumuran.”
1125
“Kurang ajar sungguh dia !” teriak Boe Kie dengan
gusar. “Nona kau jangan perdulikan dia lagi.”
Air mata si nona kembali mengucur “Tapi…..aku tak
dapat melupakannya”, katanya. “Dia pergi jauh2 untuk
menyingkirkan diri dan aku sudah mencarinya kesana
kemari!”
Mendengar begitu, walaupun merasa, bahwa nona itu
beradat aneh, rasa kasihan Boe Kie jadi makin besar.
“Didunia terdapat banyak sekali lelaki yang baik. Perlu apa
kau memikiri manusia yang tak berbudi itu ?”
Si nona menghela nafas panjang, matanya mengawasi
ketempat jauh. Boe Kie tahu, bahwa ia tak dapat
menghilangkan bayangan lelaki itu dari alam pikirannya.
Untuk mencoba lagi ia berkata pula, “Lelaki itu hanya
memukulmu satu kali. Tapi penderitaanku sepuluh kali
lebih hebat daripada kau”.
“Apa? Kau ditipu wanita cantik ?” tanya nona itu.
“Dia bukan sengaja ingin menipu aku”, jawabnya. “Aku
sendirilah yang salah. Melihat kecantikkannya aku jadi
seperti orang edan. Tentu saja aku bukan pasangannya dan
akupun tidak mengharapkan yang tidak2. belakangan
ayahnya wanita itu telah menjalankan siasat busuk terhadap
diriku sehingga aku sangat menderita”. Seraya berkata
begitu, ia menggulung tangan bajunya dan sambil
menunjuk tanda2 bekas luka, ia berkata pula. “Lihatlah! Ini
tanda bekas gigitan anjing2nya yang jahat”.
Paras muka nona itu lantas berubah gusar. “Apa kau
maksudkan Coe Kioe tia ?” tanyanya.
“Bagaima kau tahu?” Boe Kie balas menanya dengan
suara heran.
“Budak hina itu suka sekali memelihara anjing yang
1126
sering untk mencelakakan manusia”, jawabnya. “Dalam
jarak ratusan li disekitar tempat ini, tak seorangpun yang
tidak tahu”.
Boe Kie mengangguk “Benar”, katanya. “Lukaku sudah
sembuh dan akupun masih hidup, akupun tak mau mebenci
dia lagi”.
Mereka saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah
kata. Selang beberapa saat nona itu bertanya. “Siapa
namamu? Mengapa kau berada disini?”
Mendengar pertanyaan itu Boe Kie segera ingat bahwa
waktu berada di tionggoan banyak sekali orang coba
mengorek keterangan tentang ayah angkatnya dan karena
urusan itu, ia telah mendapat banyak kesengsaraan. “Mulai
dari sekarang Thio Boe Kie sudah meninggal dunia dan
didalam dunia tak ada manusia lagi yang tahu tempat
bersembunyinya Kim Mo Say Ang Cia Soen”, katanya
didalam hati. “Dikemudian hari biarpun aku bertemu
dengan manusia yang sepuluh kali lihay daripada Coe
Tiang Leng, aku tak bisa diakui lagi”. Memikiri begitu, ia
lantas menjawab. “Namaku Ah Goe”.
“Shemu?” tanya pula si nona.
“Aku…..aku si Ca”, jawabnya. “Dan Kau?”
“Aku tak punya She”, jawabnya. Sesaat kemudian ia
berkata lagi dengan suara perlahan. “Ayah kandungku
membenci aku. Kalau ia bertemu denganku ia pasti akan
membunuhku. Bagaimana aku bisa menggunakan shenya?
Ibuku sendiri meninggal dunia sebab gara2ku. Akupun
tidak bisa menggunakan she ibu. Romanku sangat jelek
(toe), maka itu biarlah, kau memanggil aku dengan
panggilan Tioe Kouwnia (nona muka jelek saja)”.
Boe Kie terkejut. “Kau……..kau telah mencelakakan
1127
ibumu sendiri?” tanyanya dengan suara terputus2.
“Bagaimana bisa begitu?”
Gadis itu menghela nafas. “Kalau mau dituturkan
panjang sekali”, jawabnya. “Aku mempunyai dua orang
ibu. Ibu kandungku adalah istri pertama dari ayahku.
Karena lama tidak punya anak ayah mengambil istri kedua.
Ibu tiriku (Jienio) telah melahirkan dua kakak laki laki dan
seorang kakak perempuan, sehingga ayah sangat
menyayangnya. Belakangan ibu melahirkan aku. Sebab
disayang dan juga sebab keluarganya berpengaruh, Jienio
sangat sewenang-wenang terhadap ibuku yang hanya bisa
menangis, ketiga kakak juga sangat jahat dan mereka
membantu ibu mereka untuk menindas ibuku. Tioe Pat
Koay, coba kau pikir, apakah yang harus diperbuat
olehku?”
“Dalam hal ini ayahmu harus berlaku adil”, kata Boe
Kie.
“Tapi ayah sangat memilih kasih dan ia selalu
membenarkan Jienio” kata si nona. “Karena tak dapat
menahan sabar akhirnya aku bacok mampus ibu tiriku itu”.
“Ah”, tanpa merasa Boe Kie mengeluarkan suara kaget.
Ia adalah seorang dari rimba persilatan yang sudah biasa
melihat pertempuran dan pembunuhan. Tapi gadis itu yang
kelihatannya lemah bisa membunuh orang adalah kejadian
yang sangat diluar dugaannya. Tapi nona itu sebaliknya
tenang2 saja dan dengan suara perlahan ia melanjutkan
penuturannya. “Ibu jadi ketakutan dan menyuruh aku
melarikan diri. Ketika kakakku mau mengubar untuk
menangkap aku, ibu mencoba mencegah mereka, tapi tidak
berhasil. Untuk menolong jiwaku, ibu segera menggantung
diri sehingga mati. Coba kau pikir. Bukankah aku yang
sudah mencelakai ibuku sendiri? Kalau ayah bertemu
denganku bukankah ia bisa membunuh aku?”
1128
Boe Kie mendengarkan cerita itu dengan jantung
memukul keras. “Walaupun kedua orang tuaku sudah
meninggal dunia secara menggenaskan, mereka sedikitnya
mencintai satu sama lain”, katanya didalam hati. “Ayah
dan ibu juga sangat mencintai aku. Ya! Kalau
dibanding2kan, penderitaan nona itu memang ribuan kali
lebih hebat daripada pengalamanku”. Mengingat begitu,
rasa kasihannya jadi terlebih besar. “Apa sudah lama kau
meninggalkan rumah?” tanyanya “Apa mulai dari waktu itu
kau terus terlunta2 sebatang kara?”
Si nona manggut-manggutkan kepalanya.
“Sekarang, kemana kau mau pergi?” tanya pula Boe Kie.
“Entahlah”, jawabnya. “Dunia sangat lebar dan aku bisa
pergi kemanapun juga. Asal tidak berpapasan dengan ayah
dan kakakku, aku boleh tak usah berkuatir”.
Darah Boe Kie bergolak dalam dadanya. Disamping rasa
kasihan, ia merasa senasib dengan gadis dusun itu, sebab
iapun sebatang kara dan hidup bergelandang di dunia yang
lebar ini. “Biarlah kau tunggu sampai lukaku sembuh”,
katanya kemudian. “sesudah sembuh, kita akan cari
toako….pemuda itu. Aku mau tanya, bagaimana sikapnya
yang sebenarnya terhadapmu?”
“Bagaimana kalau ia memukul aku?” tanya si nona.
“Hm!” Boe Kie mengeluarkan suara dihidung. “Kalau
dia berani menyentuh selembar rambutmu saja, aku pasti
tak akan mengampuninya”.
“Tapi bagaimana jika ia hanya mengambil sikap tidak
memperdulikan?” mendesak si nona.
Boe Kie membungkam. Ia mengerti, bahwa ia tak dapat
memaksakan cinta. Sesudah termenung beberapa saat, ia
berkata. “Aku akan berusaha sedapat mungkin”.
1129
Sekonyong2 nona itu tertawa terbahak2, tertawa geli,
seolah2 didalam dunia tak ada lain hal yang lebih
menggelikan daripada pernyataan Boe Kie.
“Mengapa kau tertawa?” tanya Boe Kie dengan heran.
“Tioe pat koey”, jawabnya. “Manusia apa kau? Apa kau
kira orang akan mengindahkan segala kemauanmu? Aku
sudah mencari2 dia ke segala pelosok, tapi tak bisa
menemukannya. Apakah dia masih hidup? Apakah sudah
mati? Entahlah kau mau berusaha sedapat mungkin? Apa
kemampuanmu? Ha ha ha!......ha ha….”.
Boe Kie sebenarnya mau mengatakan sesuatu akan
tetapi, mendengar perkataan itu, mulutnya yang sudah
terbuka tertutup kembali. Dengan paras muka merah dan
mulut ternganga, ia mengawasi gadis dusun itu.
“Kau mau bicara apa?” tanya si nona.
“Sesudah kau mentertawai aku, tak perlu aku bicara
lagi”.
“Hm!......Paling banyak aku tertawa lagi. Dengan
ditertawai olehku, kau toh tak akan mati”.
“Nona, aku bicara dengan setulus hati. Tak pantas kau
mentertawai aku”.
“Sudahlah. Sekarang jawablah pertanyaanku. Apa yang
mau dikatakan olehmu?”
“Baiklah”, kata Boe Kie. “Karena melihat kau sebatang
kara dan nasibmu agak bersamaan dengan nasibku sendiri,
yang sudah tak punya orang tua atau saudara, maka tadi
aku ingin mengatakan. Jika pemuda itu tetap tak mau
memperdulikan kau, biarlah aku saja yang mengawani kau.
Biar bagaimanapun jua, aku bisa menjadi kawan
beromong2, guna menghibur kau. Tapi jika kau
1130
menganggap, bahwa diriku tidak sesuai untuk berbuar
begitu, terserahlah kepadamu”.
“Tidak sesuai!.......Memang tidak sesuai”, kata si nona.
“Orang jahat itu seratus kali lipat lebih tampan daripada
mukamu. Celaka sungguh! Aku membung2 tempo disini
dengan pembicaraan yang tidak ada faedahnya”. Sesudah
menendang daging ayam dan kaki kambingyang
dilontarkannya ke tanah, ia segera berlalu dengan cepat.
Boe Kie menghela nafas. “Nona itu sungguh harus
dikasihani”. Pikirnya dengan perasaan duka. Ia sangat
menderita dan segala sepak terjangnya yang sangat aneh
harus dimaafkan”.
Sekonyong2 terdengar suara tindakan dan gadis dusun
itu kembali lagi. “Tioe pat koey!”, bentaknya dengan
garang. “Kau tentu merasa sabngat penasaran didalam hati,
kau pasti merasa sangat mendongkol, bahwa seorang
wanita yang sejelek aku masih berani menghina dirimu.
Benarkah begitu?”.
Boe Kie meggelengkan kepala. “Tidak, tidak begitu”,
katanya. “Karena kau tidak begitu cantik, maka begitu
bertemu, aku lantas saja merasa cocok denganmu. Kalau
mukamu tidak berubah jelek dan masih seperti pada waktu
pertemuan pertama kali…..”
“Apa?” memutus si nona. “Bagaimana kau tahu bahwa
dahulu aku tidak seperti sekarang?”
“Dalam pertemuan ini, bengkak matamu lebih hebat dan
warna kulitmu lebih hitam daripada dalam pertemuan
pertama kali”, kata Boe Kie.
“Roman muka yang didapat semenjak dilahirkan tidak
bisa berubah2.”
“Nona itu kelihatan kaget sekali. “Aku……. Aku dalam
1131
beberapa hari ini, aku tidak berani berkaca”, katanya
“Apakah romanku makin lama jadi makin jelek?”
“Aku memandang manusia bukan melihat romannya”,
kata Boe Kie menghibur.
“Dlam manusia, yang terutama adalah hati harus baik,
rupa adalah soal kedua. Ibuku pernah mengatakan bahwa
makin cantik seorang wanita mungkin makin busuk
hatinya, makin suka menipu orang dan ibu menasehati aku
supaya aku berwaspada terhadap wanita cantik”.
Tapi gadis itu tentu saja tidak memperdulikan apa yang
dikatakan oleh ibunya Boe Kie. Yang penting baginya
adalah soal dirinya sendiri. Cepat2 ia berkata “Kau
jawablah pertanyaanku. Dalam pertemuan kita pertama
kali, apa romanku belum sejelek sekarang ?”
Boe Kie mengerti, bahwa jika ia menjawab “Ya”, gadis
itu tentu akan tersinggung. Maka itu, ia tidak menjawab
dan hanya mengawasi si nona dengan hati sangsi.
Tapi nona itu ternyata cukup cerdas otaknya. Melihat
kesangsian orang, ia bisa menebak apa yang dipikir oleh
pemuda itu. Tiba2 ia menangis “Tioe pat koey! Aku benci
kau!......benci kau….” Teriaknya. Ia segera berlalu dan kali
ini tidak kembali lagi.
Dua hari telah lewat.
Malam itu, seekor srigala berkeliaran mencari makanan.
Sambil mengendus2 dia mendekati Boe Kie. Dengan sekali
meninju, Boe Kie berhasil membinasakannya, sehingga
binatang itu yang mau cari makan, malah kena dimakan.
Beberapa hari lewat lagi tanpa terjadi sesuatu yang
penting. Kedua tulang betis Boe Kie yang patah sudah
menyambung pula dan tujuh delapan hari lagi, ia akan bisa
jalan seperti sedia kala. Selama beberapa hari itu, ia selalu
1132
memikirkan si gadis dusun. Ia merasa menyesal, bahwa ia
masih belum tahu nama si nona. Disamping itu, iapun
merasa heran mengapa muka nona itu bisa berubah menjadi
lebih jelek. Ia mengasah otak untuk memecahkan teka teki
itu, tapi sampai kepalanya puyeng, ia masih belum juga
berhasil. Karena capai, tak lama kemudian ia pulas
nyenyak.
Kira kira tengah malam ia tersadar karena suara
tindakan beberapa orang di tempat jauh. Sesudah melatih
Kioe Yang Sin Kang didalam dirinya telah mendapat
semacam kewaspadaan yang wajar. Biarpun sedang pulas,
setiap suara dalam puluhan tombak tidak terlepas dari
pendengarannya.
Waktu itu biarpun kakinya masih belum bisa digunakan,
ia sudah bisa duduk. Dengan cepat ia duduk dan
mengawasi ke arah suara itu. Dengan bantuan sinar bulan
sisir yang remang2, ia melihat tujuh orang sedang
mendatangi. Yang berjalan paling dulu adalah seorang
wanita bertubuh langsing dan gerak geriknya gemulai.
Sesaat kemudian ia terkejut sebab wanita itu bukan lain
daripada si wanita dusun yang aneh. Dibelakangnya
mengikuti enam orang yang berjalan dengan berbareng dam
bentuk kipas, seolah olah mau menjaga supaya nona itu
jangan sampai melarikan diri. “Apakah ia sudah ditangkap
oleh ayah dan kakak2nya?” tanyanya di dalam hati.
“Mengapa mereka datang kesini?”
Makin lama mereka makin mendekati.
Tiba tiba Boe Kie terkesinap. Keenam orang itu sudah
dikenal olehnya. Yang berjalan di sebelah kiri adalah Boe
Ceng Eng bersama ayahnya, Boe Liat, dan Wie Pek.
Sedang yang disebelah kanan adalah Ciang Boen Jin Koen
Loen Pay Ho Thay Ciong bersama istrinya, Pan Siok Ham,
dan yang satunya lagi, seorang wanita berusia pertengahan,
1133
juga seorang kenalan lama, yaitu Teng Bin Koen, Murid
Goe Bi Pay.
Itulah kejadian yang sungguh diluar dugaan!
“Bagaimana ia bisa mengenal orang2 itu?” tanya Boe Kie
didalam hati. “Apakah ia juga seorang rimba persilatan
yang sudah mengenali siapa adanya aku dan kemudian
memberitahukan kawan-kawannya untuk memaksa aku
buka rahasia Gioehoe?”. Dengan adanya dugaan itu
darahnya lantas meluap. “Perempuan jelek!” cacinya “Aku
dan kau tidak mempunyai permusuhan. Mengapa kau
mencelakai aku?”
Denga cepat ia memikir daya upaya untuk menolong
diri. “Kedua kakiku belum bisa bergerak dan keenam orang
itu lihay semuanya,” katanya didalam hati. “Mungkin
sekali si perempuan dusunpun mempunyai kepandaian
tinggi. Biarlah untuk sementara aku berlagal menunduk dan
pura2 meluluskan kemauan mereka dalam hal mencari
GieHoe. Sesudah sembuh, aku bisa membuat perhitungan
dengan mereka”.
Jika kejadian itu terjadi pada empat rahun berselang, Boe
Kie tentu akan berlaku nekat, karena baginya, tiada jalan
lain daripada mati. Ia tentu akan menolak segala paksaan
dan menutup mulutnya rapat2. tapi sekarang, sesudah
memiliki Kioe yang Sin kang, ia jadi mantep dan percaya
dirinya sendiri. Maka itu, sesudah hilang kagetnya, ia
tertawa dalam hatinya dan sedikitpun ia tidak merasa takut.
Ia hanya merasa mendongkol dan menyesal, karena tak
pernah menduga, bahwa gadis dusun itu akan mengkhianati
dirinya.
Beberapa saat kemudia, nona itu sudah berdiri didekat
Boe Kie. Untuk beberapa lama, ia mengawasi pemuda itu
dan kemudian perlahan lahan memutar badan.
1134
Waktu ia memutar badan, Boe Kie mendengar hela nafas
perlahan yang penuh dengan perasaan sedih. “Kau boleh
turun tangan sesuka hati”, kata pemuda itu didalam hati.
“Perlu apa berlagak sedih?”
Tiba tiba Wie Pek mengibas pedangnya dan berkata
dengan suara dingin. “Kau mengatakan bahwa sebelum
mati, kau ingin bertemu lagi dengan dia untuk penghabisan
kali. Semula kukira ia tampan laksana Phoa An, tak
tahunya manusia beroman memedi.
Ha…ha…ha……Sungguh menggelikan. Kau dan dia
sungguh pasangan setimpal”.
Gadis itu sama sekali tidak menjadi gusar. “Benar”,
jawabnya dengan tawar. “Sebelum mati, aku ingin bertemu
lagi dengan dia, sebab aku mau mengajukan sebuah
pertanyaan. Sesudah mendengar jawabannya, barulah aku
bisa mati dengan mata meram”.
Boe Kie heran tak kepalang. Didengar dari omongan
kedua orang itu, mereka berenam kelihatannya mau
membinasakan si gadis dusun dan nona tersebut sudah
mengajukan sebuah permintaan terakhir, yaitu minta
menemui dirinya sendiri untuk menanyakan sesuatu.
Memikir begitu, ia lantas saja bertanya, “Nona ada urusan
apakah kau datang kemari bersama orang orang itu?”
“Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu
dan kau harus menjawabnya dengan setulus hati”, katanya.
“Kalau pertanyaanmu mengenai diriku pribadi aku tentu
menjawab dengan seterang terangnya dan setulus
tulusnya”, kata Boe Kie. “Tapi jika kau mengajukan
pertanyaan yang mengenai dirinya orang lain. Maaf,
biarpun aku dibunuh mati, aku tak akan membuka mulut”.
Ia menjawab begitu sebab menduga, bahwa pertanyaan
yang akan diajukan adalah halnya Cia Soen.
1135
“Perlu apa kau mencampuri urusan orang lain”, kata si
nona dengan suara dingin. “Pertanyaan yang kuinginkan
adalah ini. pada hari itu kau mengatakan kepadaku, bahwa
kita berdua adalah orang2 yang hidup sebatang kara dan tak
punya tempat meneduh. Oleh karena itu, kau bersedia
untuk mengawani aku. Sekarang aku mau tanya. Apakah
pernyataanmu itu keluar dari hati yang tulus bersih?”
Boe Kie segera berduduk. Melihat sinar mata nona itu
yang penuh kedukaan, ia lantas saja menjawab. “Aku
bicara sesungguhnya.”
“Kalu begitu, bukankah kau tak mencela romanku yang
jelek dan bersedia untuk hidup bersama-sama aku seumur
hidup?” tanya pula si nona.
Boe Kie terkesiap. Sedikitpun tak menduga bahwa ia
bakal dihadapi pertanyaan begitu. Tapi karena sungkan
melukai hati orang, ia segera menjawab, “Soal jelek atau
cantik tak pernah dihiraukan olehku. Manakala kau ingin
aku mengawaninmu untuk beromong2 tentu saja aku
merasa senang untuk mengiring keinginanmu itu”.
“Kalau….begitu….kau……kau bersedia untuk
mengambil aku sebagai istrimu, bukan ?” tanya nona itu
dengan suara gemetar dan terputus2.
Boe Kie kaget tak kepalang, hingga badannya mengigil
dan untuk beberapa saat ia tak dapat mengeluarkan sepatah
kata. Sesudah dapat menentramkan hatinya yang berdebardebar.
Ia menjawab juga dengan suara terputus2. Aku…..
aku tak pernah…..tak pernah memikir untuk menikah….”
“Lihatlah!” kata Wie Pek dengan suara mengejek.
“Lelaki dusun yang tua dan jelek seperti dia masih tak mau
menikah denganmu. Andai kata kami tak mengambil
jiwamu, kau hidup teruspun tak ada artinya. Sebelum kami
turun tangan, lebih baik kau membenturkan kepalamu
1136
sendiri dibatu besar itu.”
Dengan penuh rasa kasihan, Boe Kie mengawasi nona
itu mengucurkan air mata sambil menundukkan kepalanya.
Ia tak tahu, apa si nona menangis karena takut mati, apa
karena memikir romannya yang jelek atau karena perkataan
Wie Pek yang tajam bagai pisau.
Melihat begitu, darah Boe Kie bergolak. Ia lantas saja
ingat, bahwa sesudah kedua orang tuanya meninggal dunia,
ia telah menerima macam2 hinaan. Gadis itu, yang berusia
lebih muda daripadanya, mempunyai riwayat hidup yang
lebih tak beruntung daripada riwayat hidupnya sendiri.
Maka itu bagaimana ia tega untuk menambah penderitaan
si nona yang sudah cukup hebat. Disamping itu, pertanyaan
yang diajukan merupakan suatu pengabdian dari seorang
wanita yang bersedia untuk menjadi istrinya.
“Selama hidupku, selain ayah, ibu, ayah angkat, Thay
soehoe dan para paman, siapa lagi yang pernah mencintai
aku dengan setulus hati?” katanya dalam hati. “Jika di
kemudian hari dia bisa memperlakukan aku secara pantas,
aku dan dia masih bisa hidup beruntung.”
Sesaat itu dengan badan gemetaran, si nona sudah
bergerak untuk berlalu. Dengan cepat Boe Kie
mengangsurkan tangan kirinya dan mencekal lengan kanan
nona itu. “Nona” katanya dengan suara nyaring. “Dengan
setulus hati, aku bersedia untuk menikah dengan kau. Aku
hanya mengharap kau tak mengatakan, bahwa aku tak
setimpal dengan dirimu.”
Demi mendengar perkataan Boe Kie dari kedua mata
gadis itu mengeluarkan sinar terang sinar kemenangan. “Ah
Goe Koko,” katanya dengan suara perlahan. “Apakah tak
mendustaiku?”
“Tidak! Aku tak mendustai kau,” jawabnya. “Mulai dari
1137
detik ini, aku akan mencintai, akan melindungi kau dengan
segenap jiwa dan raga. Tak peduli ada berapa banyak orang
yang akan mencelakaimu, tak peduli ada berapa banyak
jago yang mau menghina kau, aku pasti melindungimu.
Aku bersedia untuk mengorbankan jiwa demi
kepentinganmu. Aku ingin kau bahagia dan melupakan
segala penderitaanmu yang dulu2.”
Si nona lantas saja berduduk di tanah dan menyandarkan
tubuhnya di badan Boe Kie. Sambil mencekal tangan
pemuda itu yang satunya lagi, ia berkata dengan suara
lemah lembut. “Aku sungguh merasa sangat berterima
kasih.” Ia meramkan kedua matanya dan berbisik, “Ah Goe
Koko, cobalah katakan lagi apa yang tadi, dikatakan
olehmu, supaya setiap perkataan bisa diingat didalam lubuk
hatiku, cobalah!”
Mwlihat kebahagiaan nona itu, Boe Kie pun merasa
bahagia. Sambil memegang keras2 kedua tangan si gadis
yang empuk bagaikan kapas, ia mengulani perkataannya.
“Aku ingin berusaha supaya kau bisa hidup beruntung,
supaya kau melupakan segala penderitaanmu yang dulu2.
tak peduli ada berapa banyak orang yang mau menghina
kau, yang mau mencelakakan kau. Aku berseida untuk
mengorbankan jiwa demi keselamatanmu”
Si nona bersenyum senium yang penuh dengan rasa
beruntung. Sambil bersandar pada dada pemuda it, ia
berkata, “Dulu, waktu aku minta kau mengikut aku, kau
bukan saja sudah menolak, tapi jg memukul aku, mencaci…
Aku merasa sangat beruntung, bahwa sekarang kau bisa
mengatakan begitu.”
Perkataan si nona seolah-olah air dingin yg menyiram
kepala pemuda itu. Ia mendapat kenyataan, bahwa dengan
mendengar perkataannya sambil memeramkan mata, nona
itu membayang bayangkan, bahwa perkataan itu
1138
dikeluarkan oleh pemuda yang di pujanya, tapi yang sudah
menyakiti hatinya.
Tiba tiba gadis itu menggigil dan ia membuka kedua
matanya. Pada paras mukanya terlihat sinar kegusaran,
tercampur dengan perasaan kecewa, tapi dalam sinar
kekecewaan itu terbayang juga sedikit rasa bahagis. Selang
beberapa saat ia berkata, “Ah Goe Koko, aku merasa sangat
berterima kasih, bahwa engkau bersedia untuk mengambil
aku sebagai istrimu. Kau tidak mencela aku, seorang wanita
yg beroman jelek. Hanya sayang, semenjak bebeapa tahun
berselang aku sudah memberikan hatiku kepada seorang
lain. Dahulu saja, ia sudha tidak memperdulikan aku.
Kalau dia melihat keadaaku yang sekarang lebih2 dia tak
akan menghiraukan aku… Ah! Setan kecil yg berhati
kejam… waktu mengatakan ‘setan kecil berhaiti kejam’ ”
nadanya masih menunjuk perasaan cinta.
“Apa sekarang kau sudah boleh berbangkit?” tanya Boe
Ceng Eng sambil mengawasi gadis dusun itu, “Dia sudah
menyatakan bersedia untuk menikah denganmu dan kamu
berdua sudah cukup lama membicarakan soal cinta?”
Perlahan lahan nona itu bangkit, katanya, “Ah Goe
Koko,” katanya sambil mengawasi Boe Kie “Aku akan
segera menemui ajalku. Andaikata tidak mati, akupun tidak
bisa menikah denganmu. Tapi biar bagaimana kata2mu
yang diucapkan taid, asesudah aku mati janganlah kau
membenci aku. Kalau ada tempo luang, boleh jg kau
mengingat aku.” Ia bicara dengan suara meminta, sehingga
Boe Kie merasa sangat terharu.
“Sudahlah! Jangan terlalu rewel!” bentak Pan Siok Ham,
“Kami sudah meluluskan permintaanmu dan kau sudah
bertemu dengan dia. SEkarang kau harus menepati janji
dan memberitahukan dimana adanya orang itu.”
1139
“Baiklah,” kata si nona. “Sepanjang pengetahuanku,
orang itu pernah berdia dirumahnya” ia berkata begitu
sambil menuding Boe Liat.
Paras muka Boe Liat berubah. Sambil mengeluarkan
suara di hidung, ia membentak. “Jangan omong yang
gila2!”
“Jawab pertanyaanku!” Wie Pek turut membentak,
“Siapa yang menyuruh kau membunuh Coe Kioe Tin
Piauwmoay?”
Kagetnya Boe Kie bagaikan disambar halilinta.
“Membunuh… membunuh Coe Kioe Tin Kauwnio?” ia
menegas.
Dengan mata mendelik Wie Pek menatap wajah Boe
Kie, “Kau kenal Coe Kioe Tin Kauwnio?” tanyanya dengan
suara gusar.
“Siapa yang tidak pernah mendengar nama Soet-leng
Siang moay yg tersohor?” kata Boe Kie.
Bibir Boe Ceng Eng bergerak, seperti orang bersenyum.
“Hei, jawablah! Siapa yang meyuruh kau?” teriaknya.
“Kalau kau mau tahu juga, baiklah, aku akam
memberitahukan terang2an,” kata si gadis dusun. “Yang
menyuruh aku membunuh Coe Kioe Tin adalah Ho Thay
Ciong dari Koen Loen pay dan Biat coat Soethay dari Go
bie pay.”
“Gila!” teriak Boe Liat. “Binatang! Jangan kau harap
bisa menyebar racun dan merenggangkan persahabatan
kami.” Seraya mencaci ia menghantam dengan telapak
tangannya, tapi dengan gerakan yg sangat gesit, nona itu
berhasil menyelamatkan diri.
Boe Kie jadi bingung bukan main. “Kalau begitu dia
1140
benar2 seorang dari Rimba Persilatan,” pikirnya. “Tak bisa
salah lagi, dia membunuh Coe Kauwnio untuk membalas
sakit hatiku, sebab aku memberitahukanm bahwa aku
sudah ditipu oleh nona Coe dan digigit oleh anjing2nya
nona itu, celaka sungguh! Aku sama sekali tidak menyuruh
ia membinasakan Coe Kioe Tin. Aku semula hanya
mengganggap dia manusia aneh karena romannya jelek dan
nasibnya buruk. Tak tahunya ia bisa membunuh manusia
secara serampangan.”
Sementar itu, dengan bersenjata pedang Wie Pek dan
Hoe Ceng Eng sudah bantu menyerang dari kiri dan kanan.
Dengan penuh kewaspadaan Boe Kie memperhatikan jalan
pertempuran. Dengan menggunakan kegesitan, dengan
melompat kian kemari, gadis dusun itu mengelakkan
serangan Boe Liat yang bertubi2. Dari gerak geriknya, ia
kelihatannya tidak memandang sebelah mata keapda Wie
Pek dan Boe Ceng Eng. Sesudah bertempur belasan jurus,
bagaikan kilat ia melompat kesamping Boe Ceng Eng dan
“plok!” ia menggaplok pipi nona boe. Berbareng dengan
gaplokan itu, tangan kirinya turut menyambar dan dilain
saat pedang Boe Ceng Eng sudah berpindah kedalam
tangannya. Boe Liat dan Wie Pek terkejut. Degan
berbareng mereka menerjang untuk menolong nona Boe
yang berada dalam bahaya.
“Kena!” gadis dusun itu berteriak dan pedang nya
menggores muka Boe Ceng Eng! Ternyata dalam gusarnya
sebab nona Boe sudah mengejek romannya yang jelek.
Tanpa memperdulikan bahaya yang datang dari Boe Liat
dan Wie Pek ia melompakt dan menggoreskan ujung
pedang di muka nona Boe.
Seraya mengeluarkan teriak keras, Boe Ceng Eng jatuh
terjengkang. Sebenarnya, lukanya sendiri sangat enteng. Ia
jatuh lantaran kaget, sebab ia tahu bahwa mukannya yang
1141
cantik manis sudah digores pedang.
Dengan mata merah Boe Liat menerjang dan si gadis
dusun melompat kesamping. Mendadak terdengar “trang!”
suara bentrokan antara pedang si nona dan pedang Wie Pek
yg terbang ke tengah angkasa.
Hampir pada detik yg bersamaan, telunjuk tangan kanan
Boe Liat berhasil menotok Hok touw hiat dan Hong Sau
Hiat, dibetis si nona. Totokan ini adalah It Yang Cie yg
sangat lihai.
Sambil mengeluarkan rintihan perlahan, gadis itu roboh
terguling, jatuh diatas Boe Kie. Ia merasa sekujur badannya
nyaman dan hangat tapi tidak bertenaga sedikitpun jua,
bahkan tak kuat menggeraklkan jari tangannya. Ia merasa
di ikat dengan semacam tenaga yg kekuatannya ribuan kati
tapi badannya bebas dari perasaan sakit. Biarpun Boe Liat
sendiri bukan seorang yang sepak terjangnya boleh di puji,
tapi ilmu It Yang Cie adalah warisan dari seorang ksatria.
Maka itu meskipun dapat menjatuhkan lawan, ilmu
tersebut tidak mengakibatkan penderitaan.
Boe Ceng Eng menjemput pedang Wie Pek dan bekata
dengan suara yg membenci “Perempuan bau! Sekarang
tamatlah riwayatmu. Tapi aku tak mau menghadiahkan
kebiasaan yg enaka kepadamu. Aku hanya mau
memutuskan kedua tangan dan kedua betisnya, supaya
hidup2 kau di gegares kawanan serigala.” Seraya mencaci,
ia mengayun pedang untuk membabat lengan kanan si gadis
dusun.
“Tahan!” mencegah Beo Liat sambil mencekal
pergelangan tangan putrinya. Ia mengawasi gadis dusun itu
dngan berkata pula. “Jika kau memberitahukan siapa yang
menyuruh, aku akan membinasakan kau tanpa siksaan.
Tapi jika kau membandel… huh-huh… aku akan
1142
memutuskan kaki tanganmu.”
Nona itu ternyata mempunya nyali yg sangat besar.
Mendengar ancaman yang hebat itu, ia tersenym dan
berkata dengan suara tenag. “Kalau kau kepingin tahu juga
aku terpaksa bicara terus terang. Nona Coe Kie Tin
mencintai seorang pemuda dan seorang nona lain jg
mencintai pemuda itu. Yang menyuruh aku membinasakan
nona Coe Kieo tin adalah nona yang lalu itu. Aku
sebenarnya sungkan membuka rahasi.” Belum habis ia
bicara Boe Ceng Eng sudah jadi kalap dan menikam dan
menggunakan seantero tenaganya.
Ternyata, si gadis dusun sudah dapat menduga adanya
percintaan antara Wie Pek coe Kioe tin dan Boe Ceng Eng.
Ia sudah sengaja mengatakan begitu untuk membangkitkan
amarahnya nona Boe, supaya ia bisa mati tapi disiksa.
Sinar pedang Boe Ceng Eng berkelebat bagaikan kilat.
Pada detik ujung pedang hamper menyentuh ulu hati
mendadak serupa benda, yang tak bersuara menyambar dan
membentur pedang itu. Tiba tiba saja Boe Ceng Eng
merasakan telapak tangannya seperti di beset dan tanpa
apapun lagi, senjatanya tebang ke atas. Tenaga benturan itu
hebat luar biasa dan pedang nona Boe jatuh ditempat yang
jauhnya lebih dari dua puluh kaki.
Di tengah malam yang gelap, tak seorangpun lihat
mengapa pedang itu terpental dari tangan Boe Ceng Eng.
Apa yang mereka tahu hanyalah bahwa tenang yang
membenturnya sangat menakjubkan, sehingga menduga si
gadis dusun mendapat bantuan dari seorang yang
bersembunyi. Dengan kaget keenam orang itu mundur
beberapa tindak dan mengawasi kesekitarnya. Tempat itu
adalah tanah lapang yg luas tanpa pohon yang dapat
digunakan untuk menyembunyikan diri. Sesudah
mengawasi kesana sini beberapa lama mereka tak melihat
1143
bayangan siapapun jua. Dengan rasa heran dan bercuriga,
mereka saling memandang tanpa mengeluarkan suara.
Beberapa saat kemudian, Boe Liat berkata dengan suara
perlahan. “Ceng Jie, apa yg sudah terjadi?”
“Pedangku seperti dipukul dengan semacam senjata
rahasia yg sangat lihai,” jawabnya.
Boe Liat mengawasi kesekitarnya, tapi ia tetap tidak
melihat lain manusia. Ia heran bukan main dan berkata
dalam hatinya. “Terus terang dia sudah kena ditotok olehku
dengan It Yang Cie. Bagaimana ia masih mempunyai
tenaga yang begitu besar? Apa perempuan ini mempunyai
ilmu siluman?” Ia maju mendekati dan menepuk pundak
nona itu. Dengan tepukan yang disertai Lweekang dahsyat,
ia bermaksud menghancurkan tulang pundak si nona
supaya kepandaiannya musnah dan dapat dipermainkan
oleh puterinya.
Pada saat telapak tangan Boe Liat hampir menyentuh
pundak, tiba2 gadis dusun itu mengangkat tangan kirinya
dan menangkis. Begitu kedua tangan kebentrok, Boe Liat
merasa daatnya panas, seolah2 didorang dengan tenaga
taufan atau gelombang laut yang maha dahsyat. Sambil
mengeluarkan teriakan “ah!” tubuhnya mengapung ke atas
dan jatuh ke tempat yang jauhnya melebihi tiga tombak.
Untung jg, ia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi,
sehingga begitu lekas punggungnya ambruk ditanah, begitu
lekas pula ia dapat melompat bangung. Tapi biarpun begitu
ia masih merasakan sakit didadanya dan darahnya
bergolak, sehingga kepalanya pusing. Baru saja ia berdiri
tegak dan mau mengatur pernapasannya, tiba2 matanya
berkunang2, badannya bergoyang2 dan sekali lagi ia jatuh
terguling.
Boe Ceng Eng mencelos hatinya, buru2 ia menubruk dan
1144
membangunkan ayahnya.
“Biarkan ia rebah lebih lama!” tiba2 Ho Thay Ciong
berkata.
Nona Boe menengok dan membentak dengan gusar.
“Apa kau kata!” Ia menganggap bahwa dengan berkata
begitu, Ho Thay Ciong mengejek ayahnya.
“Darahnya bergolak dan ia harus mengaso dengan
merebahkan diri,” jawabnya.
Wie Pek lantas saja tersadar. “Benar,” katanya. Ia segera
memeluk tubuh gurunya dan merebahkan kembali diatas
tanah.
Ho Thay Ciong dan Pan Siok Ham saling mengawasi
dengan perasaan sangat heran. Mereka sudah pernah
bertempur dengan gadis dusun itu dan mereka tahu bahwa
meskipun begitu ilmu silat si nona cukup tinggi.
Lweekangnya belum mencapai tingkatan atas. Tapi tenaga
yang barusan merobohkan Boe Liat adalah lweekang yang
sungguh2 jarang terdapat dalam dunia ini.
Kalau mereka heran. Si gadis dusun pun lebih heran lagi.
Sesudah kena ditotok ia roboh dalam pangkuan Boe Kie
tanpa bisa bergerak. Waktu pedang Boe Ceng Eng hampir
mampir di ulu hatinya, tiba2 menyambar serupa benda
yang membentur senjata itu, sehingga terlepas dari tangan
nona Boe. Ia sendiri tidak tahu apa adanya benda itu.
Sesaat kemudian, tiba2 ia merasakan masuknya hawa panas
di Ciok sam lie dan Yang leng coan, yaitu dua hiat di
betisnya.
Hawa panas itu terus menerjang ke How touw hiat dan
Hong hiat sehingga jalan darah yang ditotok lantas saja
terbuka kembali.
Begitu terbuka jalan darahnya, ia bergidik. Ia mengawasi
1145
kakeknya dan melihat kedua tangan Boe Kie sedang
mencekal kedua tumit kakinya dan semacam hawa hangat
masuk kedalam badannya dari kedua kakinya itu.
Sesaat itu Boe Liat telah menghantam dengan telapak
tangannya. Dengan nekad ia mengangkat tangannya dan
menangkis. Ia merasa, bahwa hancurnya tulang lengan
lebih baik dari pada hancurnya tulang pundak. Mimpipun
ia tak pernah mimpi, bahwas tangkisannya itu sudah
membuat terpentalnya tubuh Boe Liat sampai beberapa
tombak. Ia terkesiap dan berkota dalam hatinya.
“Apakah aku mendapat bantuan dari Tioe pat-koay?
Apakah Tioe-pat koay seorang tokoh rimba persilatan ini
berkepandaian luar biasa tinggi?”
Sesudah menyaksikan lihainya nona itu, Ho Thay Ciong
tak berani mengadu tenaga. Sambil menghunus pedang itu
berkata, “Aku ingin meminta pelajaran kiamhoat dari
nona.”
“Aku tak punya pedang,” kata si nona sambil tertawa.
Dengan kakinya Ho Tay Ciong menyontek pedang Boe
Ceng Eng yang lantas terbang kearah si nona yang lalu
menyubitnya. Sebagai seorang Ciang Boen Jin dari sebuah
partai besar, dalam menghadapi seorang yang tingkatnya
lebih muda, Ho Thay Ciong sungkan bergerah lebih dahulu.
“Kau mulailah,” ia mengundang. “Kau boleh menyerang
lebih dulu dalam tiga jurus dan sesudah itu, barulah aku
membalas.”
Tanpa sungkan2 lagi si nona lalu menikam dan Ho Thay
Ciong menangkis. “Trang!” kedua pedang itu patah
bersama sama.
Paras muka Ho Thay Ciong pucat pias. Ia melompat
mundur beberapa tindak. “Sayang! Sungguh saying!” kata si
1146
nona. Ia mengerti, bahwa Boe Kie sudah memasukkan
semacam tenaga luar biasa (yaitu tenaga Kioe yang Sin
kang) ke dalam tubuhnya, tapi karena ia masih belum bisa
menggunakannya, maka pedangnya sendiripun turut
menjadi patah. Bila ia telah dapat menggunakan Kioe yang
Sin kang, senjatanya pasti akan tinggal utuh.
Pan Siok Ham heran tak kepalang. “Bagaimana bisa
begitu?” tanyanya dengan suara perlahan.
“Ilmu silatmu!” jawabnya sang suami.
Dengan rasa penasaran nyonya itu lalu menghunus
pedang. “Akupun ingin meminta pelajaran,” katanya
dengan suara menyeramkan.
Si nona mengangkat kedua tangannya untuk mengunjuk,
bahwa ia tak punya senjata lagi.
“Kau boleh menggunakan pedaang itu,” kata Pan Siok
Ham sambil menuding pedang Wie Pek yang menggeletak
ditempat yg agak jauh.
Nona itu tahu, bahwa jika berpisahan dengan Boe Kie, ia
takkan mempunya lweekang yang begitu tinggi lagi. Maka
itu, seraya bersenyum ia berkata. “Biarlah aku
menggunakan pedang buntung itu saja.”
Pan Siok Ham melupa daranya. Jawabnya nona itu
dianggap sebagai penghinaan baginya. Dalam gusarnya, ia
tak berbuat seperti suaminya dan tak menghiraukan lagi
kedudukannya sebgai seorang cianpwee (org yg tingkatnya
lebih tinggi). Dengan mendadak ia menikam leher si nona,
yang lantas saja menangkis. Nyonya itu mempunyai
kegesitan luar biasa. Baru saja tikamannya yang pertama
ditangkis, tikaman kedua, yang menyambar kearah pundak
sudah menyusul. Si nona baru2 mengebas pedang
buntunnya untuk melindungi pundak kiri, tapi hampir
1147
berbareng, pedang musuh sudah menyambar pundak
kanan. Dalam sekejap, Pan Siok Ham sudah mengirim
delapan tinju kilat yang susul2an dalam serangan2nya itu,
ia selalu menjaga supaya senjatanya tak terbentuk dengan
senjata si nona. Sebelum menyerang dia telah mengambil
keputusan untuk menggunakan kegesitan guna
mengimbangi Lwee kang si nona.
Benar saja, makin lama si nona makin repot. Dalam hal
ilmu pedang, biarpun dia tidak bisa menandingi Pan Siok
Ham, gadis dusun itu sebenarnya masih bisa bertahan
dalam sedikitnya seratus jurus. Apa mau, ia bukan saja
menggunakan pedang bunting, ia juga tidak berani
berpisahan sama Boe Kie, sehingga dalam pertempuran itu,
ia hanya membela diri dan tidak bisa balas menyerang.
Mendadak pedang Pan Siok Ham berkelebat bagaikan kilat
dan “sret!” lengan kirinaya sudah kena di gores. Nyonya itu
jadi girang dan terus mengirim serangan2 berantai. Sesaat
kemudian si nona mengeluarkan teriakan “aduh!” dan
sekali ini, pundaknya tertikam pendang.
“Hai! Apa kau tidak mau membantu aku lagi?” teriak si
nona.
Dengan kaget Pang Sik Ham melompat mundur dan lalu
mengawasi kesekitarnya. Tapi diseputar itu tidak terdapat
bayangan manusia lain.
Sambil tersenyum, ia segera menyerang lagi dengan
hebatnya.
Walaupun sudah terluka, gadis dusun itu terus melawan
dengan nekad. Satu kali dengan kecepatan luar biasa, ia
bisa mengelakkan serangan Pan Siok Ham. “Perempuan
bangsat, tanganmy cepat jg,” memuji nyonya itu.
“Nenek bangsat! Tanganmu pun tidak terlalu lambat,”
jawab si nona yang tidak mau kalah.
1148
Diluar dugaan, jawabnya itu membawa akibat buruk.
Sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi,
biarpun mulutnya berbicara tangan Pan Siok Ham bekerja
terus seperti biasa. Dilain pihak begitu ia bicara pemusatan,
perhatian si nona segera jadi terpecah dan gerakannya
berubah lambat. Pan Siok Ham tentu saja sungkan menyia
nyiakan kesempatan baik itu. Dengan sekali menikam,
pedangnya tempat menancap di pergelangan tangannya
nona itu, sehingga pedang yg sedang di cekalnya lantas saja
terbang.
“Celaka!” si nona mengeluarkan seruan kaget dan
hampir berbareng ujung pedang Pan Siok Ham sudah
meluncur ke bawah ketiaknya.
Sesudah orang hampir roboh, tentang Bin Koe yg sedari
tadi terus menonton tanpa bergerak, sekarang turun tangan.
Tanpa menghunus pedang, dengan jurus Toe Chung bong
Goat (mendorong jendela melihat rembulan), neduu telapak
tangannya menghantam punggung gadis dusun. Boe Ceng
Eng jg tidak mau ketinggalan. Ia melompat dan menendang
pinggang musuhnya.
Hati si gadis dusun mencelos. Ia merasa ajalnya sudah
tiba.
Mendadak mendadak saja, ia merasa sekujur badannya
panas luar biasa, seolah2 dibakar. Waktu pedang Pan Siok
Ham menyambar tanpa merasa ia mengangkat tangannya
dan menyentil badan pedang dengan jarinya. Pada detik yg
bersamaan punggungnya kena pulukan Teng Bin Koen dan
pinggangnya kena tendangan Boe Ceng Eng.
“Tring…..” “Aduh!.....” “Aduh….”
Tiga suara itu terdengar dengan berbareng. Apa yg sudah
terjadi? Pedang Pan Siok Ham patah, tubuh Teng Bin Koen
dan Boe Ceng Eng jatuh terpelanting.
1149
Ternyata pada detik yg sangat berbahaya, Boe Kie telah
mengempos (^0^) semangatnya dan memasukkan seantero
“hawa murni” ke dalam tubuh si nona. Pada waktu itu, ia
sudah berhasil mendapatkan dua bagian dari tenaga Kioe
yang Sing kang dan bagian ini sudah hebat bukan main.
Sebagai akibatnya, pedang Pan Siok Ham patah, kedua
tulang lengan Teng Bin Koen hancur dan tulang kaki Boe
Ceng Eng pun remuk.
Ho Thay Ciong, Boe Liat dan Wie Pek mengawasi
dengan mata membelak dan mulut ternganga.
Pan Siok Ham melemparkan pedang buntungnya di
tanah “Hayo kita pergi!” katanya pada sang suami, “Apa
kau belum cukup mendapat malu?”
“Baiklah,” jawabnya. Dengan menggunakan ilmu
mengentengkan badan, mereka belalu tanpa berpamitan
lagi. Sambil menuntun tangan guru dan memapah adik
seperguruannya, Wie Pek pun segera meninggalkan tempat
itu. Karena tulang kaki Boe Ceng Eng hancur, mereka
terpaksa jalan perlahan lahan. Hati mereka berdebar debar
dan saban2 menengok kebelakang karena kuatir dikejar oleh
gadis dusun itu. Teng Bin Koen juga tidak dapat berbuat
lain daripada menyingkir dengan rasa gusar dan sakit hati
yang sangat besar.
Sesudah semua berlalu, si nona tertawa terbahak bahak.
“Tioe Pat Koay!” teriaknya. “Kalau begitu kau…” Ia tidak
dapat meneruskan perkataannya sebab kedua matanya
mendadak berkunang2 dan ia segera roboh dalam keadaan
pingsan.
Ternyata sesudah musuh kabur, Boe Kie segera
melepaskan kedua kaki si nona dari cekalannya dan dengan
berbareng, semua hawa Kioe yang keluar dari tubuhnya.
Dengan demikian tubuh itu menjadi “kosong” secara
1150
mendadak tenaganya habis dan ia tak dapat
mempertahankan diri lagi.
Boe Kie lantas saja mengerti sebab musabah pingsannya
si nona. Buru2 menekan Sie Tiok Kong di ujung alis nona
itu dan mengerahkan sin kang. Selang beberapa saat, si
nona tersadar dan perlahan2 ia membuka matanya.
Melihat dirinya sedang rebah dipangkuan Boe Kie, paras
mukanya lantas saja berubah merah dan cepat2 melompat
bangun.
Sekonyong2 ia membetot kumis Boe Kie dan berteriak,
“Tioe pat koay! Kau menipu aku! Kau mempunyai
kepandaian yg sangat lihai, tapi kau sengaja tidak mau
memberitahukan kepadaku.”
“Aduh… aduh… lepas!” teriak Boe Kie.
“Siapa suruh kau mendustai aku?” kata si nona seraya
tertawa.
“Lagi kapan aku mendustai kau?” Boe Kie balas
menanya. “Kau tidak pernah memberitahukan kepadaku,
bahwa kau mengerti ilmu silat. Akupun begitu jg.”
“Baiklah, sekali aku suka mengampuni kau,” kata si
nona. “Biar bagaimanapun jua, tadi kau sudah bisa jalan?”
“Belum bisa,” jawabnya.
Si nona menghela napas, “Benar jg kata orang siapa yg
berbuat baik akan mendapat pemabalasan baik,” katanya.
Jika aku tidak memikiri kau dan tidak datang lagi kesini,
kau tentu tidak bisa menolong jiwaku.” Ia berdia sejenak
dan kemudian berkata pula, “Kalau aku tahu bahwa kau
berkepandaian lebih tinggi dari aku, aku tentu tidak merasa
perlu untuk membinasakan perempuan she-Coe itu.”
Paras muka Boe Kie lantas saja berubah gusar. “Aku
1151
sama sekali belum pernah meminta kan untuk membunuh
nona Coe,” katanya dengan suara mendongkol.
“Aduh! Kau ternyata belum dapat melupakan nona
manis itu!” kata si nona dengan suara mengejek. “Akulah
yg bersalah. Aku sudah mencelakakan kecintaanmu.”
“Nona Coe bukan kecintaanku,” kata Boe Kie. “Dia dan
aku tidak ada sangkut pautnya.”
“Ah, heran sekali!” kata si nona. “Dia sudah
mencelakakan kau dan aku membinasakannya untuk
membalas sakit hatimu. Apa dengan bertidak begitu aku
bersalah?”
“Orang yang mencelakai aku banyak jumlahnya,” kata
Boe Kie tawar. “Jikalau mereka satu demi satu harus
dihukum mati, mereka tidak bakal terbunuh habis. Pula ada
orang2 yg berniat mencelakai aku, tetapi di pandangan
mataku, mereka itu harus di kasihani. Seperti nona Coe, dia
setiap hari dirundung kekuatiran, hati nya terus
berdenyutan, dia kuatir kakak misannya tidak mau baik
dengannya, dia kuatir kaka misan itu menikahi nona Boe.
Orang semacam dia, ada apakah senangnya?”
Mendengar itu si gadis desa murah wajahnya.
“Apakah kau menyindir aku?” tanyanya gusar.
Boe Kie melengak. Ia tidak menyangka lantaran
menyebut2 Coe Kioe Tin, ia membangkitkan cemburunya
nona dihadapannay ini.
“Bukan, bukan…,” katanya cepat. Aku mau bilang
sesuatu orang ada nasibnya masing2. Umpama kata ada
orang berbuat tidak benar terhadapmu lantas kau bunuh
dia, itulah tidak baik.”
Gadis desa itu tertawa dingin.
1152
“Jikalau kau mempelajari ilmu silat bukan untuk
membunuh orang, habis untuk apakah?” dia tanya.
“Jikalau kita telah mempelajari ilmu silat,” sahut Boe
Kie, dalam suaranya, “Jikalau ada orang jahat terhadap
kita, kita lawan dia.”
“Kagum aku, kagum terhadapmu,” berkata si nona.
“Kiranya kau seorang, kuncu sejati, seorangyg sangat baik
hatinya!”
Boe Kie tunduk, ia mengawasi nona itu. Ia merasa si
nona aneh sekali, ia merasakan sikap orang yg sangat erat
hubungannya dengan ia, agaknya ia mengenalnya dengan
baik.
“Kau mengawasi apa?” tanya si nona matanya memain.
“Aku ingat ibuku,” menyahut Boe Kie. “Ibu sering
menertawakan ayahku, yg dikatakan sebagai orang yg
sangat baik hatinya, yang menjadi seorang pelajar yg harus
dikasihani sebab hatinya sangat lemah. Selagi itu bicara itu,
gerak gerimnya lagu suaranya, mirip dengan mu.”
Mukanya si nona menjadi merah.
“Haik au menggoda aku!” tegurnya. “Kau bilang aku
mirip ibumu, jadi kau mirip ayahmu”
Meski ia menegur, toh sinar matanya, sinar mata yang
manis!!...
“Oh, oh….” Kata Boe Kie cepat. “Langit ada diatas
jikalau aku menggoda kau, biarlah langit membunuhnya
dan bumi memusnahkannya!”
Nona itu mendadak tertawa.
“Kau bicara gampang saja!” katanya. “Kenapa mesti
main sumpah2?”
1153
Tepat si nona baru habis mengatakan demikian, dari
arah timur utara terdengar siutan yg nyaring dan panjang.
Itulah suaranya seorang wanita. Lantas jawaban serupa,
yang dtgnya dari kejauhan. Itulah jawabannya Teng Bin
Koen, yang belum pergi jauh.
Air mukanya si nona lantas saja berubah.
“Kembali ada dating orang dari Go Bie Pay,” katanya
perlahan.
Gadis desa ini dan Boe Kie merasakan suarakan,
jawaban itu membuktikan orang lebih lihai tenaga
dalamnya drpd Teng Bin Koen sebab suara itu terang dan
jernih sekali. Toh orang berada lebih jauh daripada sinona
Teng.
Ketika ia mendengar jawaban itu Teng Bin Koe
menghentikan tindakannya.
Boe Kie dan si gadis dusun memandang kearah timur
utara itu.
Cuaca sudah mulai terang, maka disana terlihat
bayangan seorang dengan pakaian hijaunya. Berjalan diatas
salju, orang itu bagaikan melayang laying. Dia mendekati
Teng Bin Koen, untuk terus bicara satu pada lain, kemudian
dia menendang kepada Boe Kie dan si nona terus dia
menghampiri. Dia bertindak dengan tindakan ringan dan
jarak tindakannya itupun tidak lebar. Ketika ia sudah
mendatangi kira2 empat atau lima tomabk, terlihat tegas
wajahnya ygn cantik sekali dan bersih, dan usianya belum
lewat tujuh atau delapan belas tahun.
Dalam herannya Boe Kie berpikir, mendengar suara
siulannya tadi dan menyaksikan ringannya tubuhini, dia
sebenarnya lebih tua dari Teng Bia Keon, tidak tahunya dia
justru lebih muda bahkan rupanya lebih muda dari ia
1154
sendiri.
Nona itu membawa pedang di pinggangnya, senjata itu,
tapi tidak dihunus. Dia bertindak mendekati dengan tangan
kosong.
“Cioe Soe moay, hati hati!” Teng Bie Koen berkata
memperingati. “Badak setan itu bekepandaian rada sesat!”
Nona itu mengangguk.
“Jiwi, kamu she apa dan nama siapa?” ia menanya
halus. Ia memanggil jiwi berdua nona atau tuan, kepada
Boe Kie dan gadis desa. “Kenapa jiwi melukai siecoeku
itu?”
Selagi orang mendekat Boek Kie mengawasi terus. Ia
lantas merasa bahwa ia pernah kenal nona itu. Ketika ia
mendengar suara si nona, lantas ia ingat, maka katanya
didalam hati, “Ah kiranya dia Coe Cie Jiak yang aku
pernah ketemukan disungai Han Soei! Tay soehoe
membawa dia ke Boe Tong san, kenapa dia sekarang masuk
dalam partai Gio Bie Pay!”
Karena memikir begini Boe lantas ingat juga Thio Sam
Hong. Ia lantas merasakan dadanya panas. Hanya sejenak
ia lantas berpikir pula, “Thio Boe Kie telah mati!” srkarang
ini akulah seorang dusun, si Can A Goe yang sangat jelek
rupanya! Asal aku tidak bisa menyambarkan diri mungkin
aku bakal menghadapkan malapetaka yg tak ada habisnya!
Tidak, di depan siapa pun, tdk dapat aku memperlihatkan
diriku yg asli, supaya ayah dan ibuku jangan
berpenasaranterus didunia baka!”
Sekejap ia menjadi ingat pula ayah angkatnya berdiam
diri dipulau mencil yg tak dikenal dan tentang ayah dan
ibunya yang sudah binasa penasaran.
Selagi Boe Kie berpikir itu, si gadis desa menyahuti
1155
dengan suara dingin. Sembari berkata itu dia tertawa.
“Soecie kau itu sudah menghajar punggungku dengan
kedua tangannya dengan pukulan Toe Chung Bong Hoa,”
ia kata. “Dia memukul aku, lantas tangannya patah
sendirinya. Apakah waktu itu aku pasti disesalkan dan
dipersalahkan? Coba kau tanya soecie mu apakah pernah
aku membalas memukul dia sekalipun satu kali saja?”
Cio Cie Jiak berpaling kepada kakak seperguruannya itu,
romannya menanya.
Teng Bin Koen tidka memberi jawaban, hanya dengan
gusar dia kata: “Kau bawalah dia berdua kepada suhu,
supaya suhu yang memberi hukuman kepadanya!”
Mendengar itu Cie Jiak berkata, “Jika mereka ini
bertindak keliru bukan dengan sengaja, menurut
pandanganku baiklah urusan dihabiskan saja. Lebih baik
kita menjadi sahabat2”.
Teng Bin Koen gusar.
“Apa?” dia berteriak. “Apakah kau berbalik untuk
membantui orang luar?”
Melihat romannya Teng Bin Koen itu, Boe Kie ingat
peristiwa itu malam ketika Pheng Eng Giok Hweeshio kena
dikeroyok didalam rimba, karena mana Kie Siauw
Hoe menjadi bentrok sama Teng Bin Koen ini. Sekarang
rupanya peristiwa ini mengulangi diri, Teng Bin Koen
kembali mendesak, memaksa adik seperguruannya ini,
untuk bertindak sewenang2 dan kejam. Karena ini, ia
menjadi berkuatir untuk Cie Jiak.
Agaknya nona Cioe sangant menurut kepada sucinya itu,
ia sangat menghormati. Sembari menjura ia berkata,
“Baiklah siaomoi menurut kata suci, tidka bernai siaomoi
1156
membantah nya.”
“Bagus!” kata Bin Koen. “Sekarang kau boleh bekuk
budak itu, kau patahkan kedua tangannya!”
“Baik!” menyahut adik seperguruan itu. “Tolong suci
berjaga2” Ia lantas berpaling kepada gadis dusun, untuk
berkata, “Maaf, siaomoi berlaku kurang aja, ingin ku
menerima beberapa jurus.”
Gadis desa itu tertawa dingin. “Tak usah banyak
pernik!” katanya. Dengan sebat sekali, ia lantas menyerang,
beruntun 3 kali. Sebab serangannya yang pertama dan
kedua tidak memberikan hasil.
Cie Jiak main mundur, tangan kanannya menangkis,
tangan kirinya mencoba menangkap. Itulah pembelaan diri
sambil menyerang. Dia bergerak lincah sekali.
Boe Kie menonton, ia menjadi kagum. Didalam ilmu
dalam, ia sudha mencapai puncak kemahiran, tetapi di
dalam hal ilmu silat, ia masih ketinggalan. Sekarang ia
melihat kedua nona itu bertempur cepat dan hebat. Lihati
tangan Bian Ciang dari Cie Jiak, tetapi aneh gerak gerik si
gadis desa. Ia kagum berbareng berkuatir. Sebenarnya ia
tidak mengharap siapa jg yang menang, ia hanya ingin
dua2nya tidak sampai terluka…
Dengan lekas orang sudah bertarung lebih dari duapuluh
jurus, sekarang mereka itu sama sama memasuki babak yg
berbahaya. Mendadak si gadis desa berseru. “Kena!” benar
saja ia dapat menghajar pundak Cie Jiak. Sebaliknya si
nona Cioe dapat menjambret baju orang hingga robek.
Setelah itu, keduanya sama-sama melompat mundur, muka
merekapun sama-sama merah.
“Sungguh suatu ilmu menangkap yang hebat!” si gadis
desa berseru. Sebenarnya ia hendak maju pula, tapi ia lantas
1157
melihat lawannya mengerutkan alis, tangannya meraba
dadanya, tubuhnyapun terhuyung dua kali, hampir roboh.
Boe Kie kaget hingga ia berteriak, “Kau…kau….” Nyata
sekali besar perhatiannya terhadap nona marga Cioe itu.
Cie Jiak heran melihat pria itu, yang rambut dan
kumisnya panjang, menaruh perhatian sedemikian rupa
terhadapnya.
“Soe-moay, kau kenapa?” Bin Koen bertanya heran.
Dengan tangan kirinya, Cie Jiak memegang pundak sang
Soe-cie, kepalanya digeleng.
Bin Koen heran kemudian ia menjadi kaget. Tadi ia
dikalahkan si gadis desa, ia penasaran ingin menuntut balas,
maka senang hatinya sang Soe-moay itu, adik seperguruan,
sudah datang kepadanya. Ia percaya Soe-moay ini bakal
berhasil melampiaskan sakit hatinya itu. Ia pernah
mendengar guru mereka memuji sang Soe-moay sebagai
murid yang cerdas, yang majunya pesat, sehingga –Cioe Cie
Jiak- diharap nanti dapat mengangkat pamor rumah
perguruan mereka, maka itu sekarang, ia memaksa sang
Soe-moay menempur si gadis desa. Ia berlega hati melihat
Cie Jiak dapat berkelahi hingga dua puluh jurus lebih. Itu
tanda Soe-moay itu sudah lebih menang darinya, maka ia
heran melihat akhir pertandingan itu, bahkan ia terkejut
waktu ia merasa cekalan tangan Soe-moay di pundaknya.
Tangan itu seperti tidak ada tenaganya. Itulah tanda bahwa
sang Soe-moay telah terluka. Dari kaget ia menjadi takut,
takut si gadis desa nanti merangsak untuk menyerang pula.
“Mari kita pergi!” katanya cepat. Ia membawa Soe-moay
itu, untuk berlalu dengan cepat ke arah timur laut tadi.
Si gadis desa mengawasi kepergian lawannya lantas ia
menoleh kepada Boe Kie. Ia tertawa dingin. “Hai, si muka
1158
jelek tidak keruan!” katanya mengejek, “Melihat nona
cantik, semangatmu terbang hingga keluar langit!”
Boe Kie berniat membantah ketika ia lantas berpikir.
“Jikalau aku tidak memperlihatkan jati diriku, urusan sukar
dibuat jelas. Tapi baiklah aku tetap jangan bicara!” Maka ia
menjawab, “Perduli apa dia cantik atau tidak? Apa
kaitannya dengan aku? Aku justru menguatirkan kau, aku
takut kau nanti terluka….”
Mendengar itu, si nona menjadi girang. Perubahan
sikapnya cepat.
“Omonganmu ini benar-benar atau dusta?” dia bertanya.
“Sebenarnya aku menguatirkan kalian berdua,” piker
Boe Kie, tapi ia menjawab, “Untuk apa aku mendustai kau?
Aku hanya tidak menyangka dalam Go Bie-pay ada nona
demikian muda tapi ilmu silatnya sudah mahir sekali.”
“Hebat, ya hebat!” kata si gadis desa.
Boe Kie mengawasi ke arah Cie Jiak. Tadi nona itu
datang dengan lincah, tapi sekarang pergi dengan langkah
terseok-seok. Ia lantas ingat bagaimana dulu, di dalam
perahu di sungai Han Soet, si nona menyuapi ia,
meminumkan air, bagaimana ia diberikan sapu tangan
untuk menyusut air matanya…Itulah budi si nona. Maka
mengingat begitu, ia berdoa agar luka si nona tidak
berbahaya…
Tiba-tiba gadis desa tertawa dingin.
“Tak usah kau menguatirkan dia!” katanya nyaring.
“Dia tidak terluka sama sekali! Bahkan aku bilang dia
hebat! Bukan ilmunya yang aku maksud, tapi
kecerdikannya, selagi ia masih berusia demikian muda!”
Boe Kie heran.
1159
“Apakah dia tidak terluka?” ia tanya.
“Memang tidak! Ketika tanganku mengenai pundaknya,
dari pundak itu menolak keluar aliran tenaga dalam yang
membuat tanganku mental kembali. Jelaslah dia telah
mempelajari ilmu Kioe Yang Kang dari Go Bie-pay. Dan
membuat tanganku gemetaran dan kesemutan! Dia mana
terluka?”
Boe Kie menjadi girang. Ia berkata dalam hatinya,
“Kalau begitu, Biat Ciat Soe-thay menghargai nona itu. Dia
rela menurunkan ilmu Kioe Yang Kang dari Go Bie-pay,
sedangkan ilmu itu adalah ilmu pelindung untuk partainya.
Tengah ia berpikir, Boe Kie merasa kupingnya sakit.
Tanpa setahunya, telinganya itu telah ditampar si nona,
pipinya juga kena, sehingga kuping dan pipinya menjadi
merah dan bengap.
“Kau…kau bikin apa?” tegurnya gusar.
Nona itu mendongkol, katanya sengit. “Melihat orang
demikian cantik semangatmu terbang naik keluar langit!
Aku bilang dia tidak terluka, lantas kau jadi kegirangan!
Kenapa?”
“Jika benar aku girang untuknya, apa kaitannya
dengamu?” Boe Kie balik bertanya.
Tangan si nona melayang pula, tapi Boe Kie dapat
berkelit mundur.
Nona itu menjadi gusar dan berseru.
“Kau telah bilang bahwa kau telah bakal menikahi aku!
Belum setengah hari lewat, pikiranmu sudah berubah! Kau
sudah kepincut nona lain!”
“Toh kau sendiri yang bilang aku tidak cocok untukmu?”
balas Boe Kie. “Kau pun bilang bahwa di dalam hatimu ada
1160
seorang kekasih lainnya, kau tak dapat menikah denganku!”
“Itu benar! Tapi kau telah berjanji padaku bahwa seumur
hidupmu kau akan setia padaku,” kata si nona pula.
“Tentu sekali, apa yang telah aku bilang akan
kupegang,” kata Boe Kie pula.
“Kalau begitu?” kata si nona gusar, “Kenapa setelah
melihat nona cantik kau tak ada semangat seperti ini?
Melihat lagakmu ini bagaimana orang tidak mendongkol?”
Mau tidak mau, Boe Kie tertawa.
“Semangatku tidak hilang!” katanya.
Si nona masih berkata sengit, “Aku larang kau menyukai
dia! Aku larang kau memikirkan dia!”
“Aku tidak bilang bahwa aku menyukai dia,” kata Boe
Kie. “Tapi kau, di dalam hatimu mengapa kau senantiasa
mengingat seseorang lain. Kau mengingatnya hingga kau
tidak melupakannya?”
“Sebab aku kenal orang itu lebih dulu daripada aku kenal
kau. Coba aku mengenal kau terlebih dahulu, pasti seumur
hidupku, aku selalu baik terhadap kau seorang, tidak akan
mencintai orang lain lagi. Ini dia yang dibilang, ikut satu
orang hingga akhir hayatnya. Jikalau satu orang
mempunyai dua atau tiga pikiran, Tuhan juga tidak dapat
menerimanya?”
“Aku kenal nona Cioe jauh lebih lama daripada aku
kenal kau,” kata Boe Kie di dalam hati. Ia tidak dapat
mengatakan itu, maka ia bilang, “Jikalau kau baik
denganku seorang, aku juga akan baik dengan kau seorang,
tetapi jikalau di dalam hatimu memikirkan orang lain, aku
pun dapat memikirkan orang lain!”
Nona itu terdiam, beberapa kali ia hendak membuka
1161
mulutnya, tiba-tiba batal. Mendadak kedua matanya
mengalirkan air, lantas ia berpaling ke arah lain. Tanpa
sepengetahuan Boe Kie, ia menghapus air matanya itu.
Boe Kie menjadi kasihan. Ia mencekal tangannya.
“Kita bicara tidak keru-keruan begini, untuk apa?” ia
bilang. “Beberapa hari lagi kakiku sembuh, kita berdua
boleh pergi pesiar memandangi keindahan sang alam. Tidak
baguskah itu?”
Nona itu menoleh, wajahnya berduka.
“Goe koko, aku mau minta sesuatu,” katanya sabar.
“Aku minta kau jangan gusar.”
“Apakah itu?” balik tanya Boe Kie. “Asal yang aku
sanggup, tentu aku akan melakukannya untuk kau.”
“Jikalau kau berjanji tidak akan gusari aku, baru aku
mau bicara.”
“Baik, aku tidak akan gusar.”
Nona itu ragu-ragu. Katanya sesaat kemudian. “Kau
bilang di hatimu tidak gusar, kalau di mulut bilang tak
gusar…”
“Baiklah, di dalam hatiku juga aku tidak gusar.”
Nona itu lantas menggenggam keras.
“Goe koko!” Ia berkata sungguh-sungguh. “Aku datang
dari Tionggoan yang berlaksa li sampai di wilayah Barat ini,
maksudku ialah untuk mencari dia. Mulanya aku masih
dapat mendengar sedikit kabar tentangnya, lalu setibanya di
sini ia bagaikan sebuah batu yang tenggelam dalam lautan
besar, sedikitpun tak kudengar lagi kabarnya. Maka itu,
kalau nanti kakimu sudah sembuh aku minta kau
membantuku mencari dia, sesudah itu baru aku menemani
kau pesiar ke gunung dan sungai! Tidakkah ini bagus?”
1162
Boe Kie tidak dapat menahan rasa tidak senangnya,
hingga ia mengeluarkan suara di hidung. “Hmm….”
“Kau sudah menerima baik, kau sudah berjanji tidak
akan gusar,” kata si nona. “Apakah ini bukan tandanya
gusar?”
“Baiklah, aku nanti membantu kau mencari dia!” kata
Boe Kie.
Kembali si nona girang secara mendadak.
“Goe koko, kau baik sekali,” dia berseru. Lantas ia
memandang jauh ke depan, ke arah di mana langit dan
bumi bertemu, hatinya bergetar. Dengan perlahan dia
berkata, “Jikalau nanti kita dapat menemukan dia, dia akan
berpikir bahwa aku telah mencari dia lama sekali, dia tidak
akan mengusir aku. Apa yang dia bilang, aku akan
melakukannya. Pendek kata, aku akan turut segala
perkataannya!”
“Sebenarnya kekasihmu itu ada kebaikkan apa?” tanya
Boe Kie. “Kenapa kau sampai selalu memikirkannya saja?”
Ditanya begitu, si nona tertawa.
“Apa kebaikkannya?” katanya. “Mana dapat aku
menerangkan? Goe koko, aku tanya apakah kita dapat
mencari dia? Umpama kata kita dapat mencari, apakah dia
bakal mencaci dan memukulku?”
Tidak senang Boe Kie melihat orang demikian tergilagila,
akan tetapi ia pun tidak mau membuatnya tidak
bergembira, maka ia berkata perlahan, seperti
bersenandung. “Asal hati manusia keras bagaikan emas, di
atas langit atau di dalam dunia pasti orang dapat saling
bertemu!”
Mulut mungil si nona bergerak perlahan, air matanya
1163
berlinang. Ia mengulangi dengan perlahan. “Asal hati
manusia keras bagaikan emas, di atas langit atau di dalam
dunia pasti orang dapat saling bertemu….”
Boe Kie mendengar suara si nona, katanya di dalam hati.
“Nona ini demikian tergila-gila terhadap kekasihnya,
jikalau di dalam dunia ini ada seorang yang demikian
memikirkan aku, biar dalam hidupku lebih menderita lagi
aku rela….”
Ia memandang ke arah timur laut, di atas salju ia melihat
tapk kakinya Cie Jiak dan Bin Koen, ia melamun pula.
“Jikalau tapak kakinya Bin Koen itu tapak kakiku, dapat
berjalan bersama nona Cioe….”
Ia terbangun dari lamunannya dengan kaget. Mendadak
ia mendengar suara keras dari si nona. “Hayo! Lekas! Mari
kita pergi. Kalau terlambat, nanti tak keburu!”
“Apa?” tanya Boe Kie masih gelagapan.
“Nona muda dari Go Bie-pay itu tidak mau bertempur
sama aku,” kata si nona. “Ia berpura-pura terluka, tetapi
lain dengan Teng Bin Koen, dia bilang dia mau menangkap
kita untuk dibawa kepada gurunya. Itu berbahaya.
Mestinya Biat Coat Soe-thay berada di dekat sini. Pendeta
wanita bangsat yang tua itu paling mau menang sendiri,
mana bisa dia tidak datang kemari?”
Boe Kie terkejut, ia pun kuatir. Ia ingat kekejamannya
Biat Coat Soe-thay ketika ia menghajar mati Kie Siauw Hoe
dengan sebelah tangannya.
“Memang dia sangat hebat, kita tidak dapat
melawannya,” katanya.
“Apakah kau pernah bertemu dengan dia?”
“Bertemu, itulah belum, tapi dia ketua Go Bie-pay, dia
1164
bukan sembarangan orang.”
Nona itu mengerutkan alis. Hanya sebentar, ia lantas
bekerja. Ia mengumpuli beberapa kayu yang kuat, ia ikat itu
dengan tali babakan pohon. Segera setelah selesai, membuat
semacam kursi bagaikan kereta. Tanpa bilang apa-apa ia
lantas menggendong Boe Kie, untuk duduk di dalam kursi
itu, yang ujungnya diikatkan tali panjang, sesudah itu ia
terus tarik bawa pergi berlari-lari! Kencang larinya….
Sambil duduk di kereta salju, Boe Kie mengawasi gadis
desa yang tabiatnya aneh itu. Dia lari dengan lincah. Dia
lari terus menerus, tak hentinya sampai kira-kira empat
puluh li. Sama sekali tidak terdengar nafasnya menghela. Ia
kagum akan kemahiran ilmu ringan tubuh si nona itu. Tapi
ia merasa tidak enak hati.
“Eh, berhenti dulu!” katanya, “Kau beristirahatlah!”
Nona itu tertawa, ia menyahuti, “Siapa eh, eh? Apakah
aku tidak punya nama?”
“Kau tidak mau memberitahukan namamu, apa yang
aku bisa? Kau menghendaki memanggilmu si nona jelek,
tapi aku merasa kau bagus dilihat….”
Nona itu tertawa, lalu berhenti berlari. Dia menyingkap
rambutnya.
“Baiklah, sekarang aku memberitahukan kepadamu!”
katanya. “Taka pa aku bilang padamu. Aku dipanggil Coe
Jie.”
“Coe Jie! Coe Jie!” kata Boe Kie. “Sungguh benar satu
anak mustika!”
“Fui!” nona itu meludah. “Namaku bukannya Coe dari
Tin Coe yang berarti mutiara, hanya Coe dari Tin-coe, yaitu
laba-laba!”
1165
Boe Kie tercengang.
“Mana ada orang yang pakai huruf Coe untuk
namanya?” katanya. Ia heran nona itu memakai nama Coe
itu, hingga ia menjadi Coe Jie (anak Coe atau si Coe).
“Itu justru namaku!” kata si nona. “Umpama kata kau
takut, nah, tak usahlah kau memanggilnya!”
“Apakah itu nama pemberian ayahmu?” Boe Kie
bertanya.
“Jikalau ayahku yang memberikannya, kau piker,
apakah kau kira aku suka menerimanya?” si nona
membalas, “Ibuku yang memberikannya. Ibu mengajarkan
ilmu silat Cian Coe Cit-hoe choe, maka ia bilang, aku
baiknya memakai nama ini.”
Terkesiap Boe Kie mendengar disebutnya ilmu silat Cian
Coe Ciat-hoe choe itu.
“Aku mempelajari itu dari kecil,” si nona menjelaskan
tanpa diminta, “Sampai sekarang aku belum dapat
menyempurnakan. Jikalau aku sudah mahir maka tak
usahlah kita takut pula pada Coat Soe-thay si pendeta
wanita bangsat itu. Maukah kau melihatnya?”
Sembari berkata begitu, Coe Jie merogoh ke dalam
sakunya, untuk menarik keluar sebuah kotak dari emas,
yang ia terus buka tutupnya dan di dalam itu lantas terlihat
dua ekor laba-laba, yang tubuhnya berkotak-kotak.
Punggung laba-laba itu bertitik-titik belang, bertotolan
seperti bunga sulaman. Yang aneh pula kalau biasanya
berkaki delapan, kedua binatang ini berkaki masing-masing
dua belas.
Boe Kie terkejut. Mendadak ia ingat Tok Kang, Kitab
Racun karangannya Ong Lan Kouw. Di dalam kitab itu
antaranya ada ditulis. “Laba-laba itu ada yang belang.
1166
Itulah yang beracun sekali. Laba-laba dengan sepuluh kaki
ialah yang paling beracun tak ada bandingan, siapa kena
digigit dia tak akan ketolongan lagi.” Kali ini laba-laba
berkaki dua belas pasti mereka lebih beracun daripada yang
kakinya sepuluh. Sebab di dalam kitab tersebut tidak ada
disebut-sebut.
Si nona ketawa melihat kawannya ketakutan.
“Kau ahli, kau tahu kegunaannya laba-laba mustika ini!”
ia berkata, “Kau tunggu sebentar!”
Ia simpan kotaknya itu lantas ia lari menghampiri sebuah
pohon besar, untuk lompat naik ke atasnya. Di situ ia
berdiam lama di cabang yang tertinggi, untuk memandang
sekitarnya. Ia seperti melihat atau mencari sesuatu. Setelah
itu ia lompat turun lagi.
“Mari kita pergi pula barang selintasan,” ia berkata.
“Perlahan-lahan saja kita bicara tentang laba-laba. “Ia
lantas menarik pula kereta saljunya bermuatan manusia. dia
berlari-lari kira-kira tujuh atau delapan li, hingga mereka
tiba di sebuah lembah. Di sini ia turunkan Boe Kie dari
kereta istimewanya itu, sebagai gantinya, dia memuat
beberapa buah batu besar. Lantas ia menarik pula, berlarilari.
Akhirnya ia lari ke tepi jurang, di situ ia berhenti
dengan tiba-tiba, keretanya dilepaskan, maka kereta itu
bersama batunya terjun ke dalam jurang yang dalam,
terdengar suara berisik dari jatuhnya kereta.
Boe Kie heran, ia mengawasi kelakuan nona itu. Ketika
ia melihat ke salju, tempat yang tadi menjadi jalanan
mereka, ia mendapatkan dua baris tapak kereta salju itu. Ia
cerdas dan ia lantas mengerti. Maka di dalam hatinya ia
berkata.
“Nona ini sangat cerdik. Jikalau Biat Coat Soe-thay
menyusul kita, setibanya di sini, tentu dia bakal menyangka
1167
bahwa kita jatuh mati ke dalam jurang itu.”
Coe Jie lantas kembali.
“Mari naik ke atas punggungku!” ia berkata kepada
kawannya, di depannya ia berjongkok.
“Kau hendak menggendong aku?” tanya Boe Kie,
“Tubuhku berat, kau bakal sangat letih.”
Nona itu mengawasi, matanya melotot.
“Kalau aku letih aku pasti bisa tahu?” ujarnya.
Boe Kie terdiam, ia naik ke punggung nona itu, kedua
tangannya merangkul leher si nona perlahan-lahan tanpa
bertenaga.
“Apa kau takut merangkul aku keras-keras hingga mati
tercekik?” kata nona itu tertawa. “Kau merangkul begini
pelan dan kakimu menjepit orang enteng sekali, kau
membuat leherku geli saja!”
Boe Kie yang polos, melihat kepolosan si nona ia
menjadi girang. Ia lantas merangkul erat-erat dan kedua
kakinya menjepit keras.
Mendadak saja si nona bergerak, untuk melompat naik
ke atas pohon.
Pohon itu mengarah ke arah barat, di sana terdapat
barisan pohon lainnya. Bagaikan kera gesit, dengan cepat
nona itu berlompatan dari pohon yang satu ke pohon yang
lain, untuk jauh meninggalkan tempat di mana barusan
singgah.
Boe Kie kagum bukan main. Nona itu bertubuh kecil,
tapi nyata dia kuat sekali. Tubuhnya dapat dibawa
berlompatan dan berlari-lari dengan ringan. Setelah
melewati kira-kira delapan puluh pohon, hingga mereka
sudah pergi jauh. Baru nona itu melompat turun, hingga
1168
sekarang mereka berada di pinggiran sebuah gunung. Di
situ Boe Kie diturunkan dengan hati-hati.
“Di sini kita membangun gubuk kerbau!” kata nona itu
tertawa, “Tempat ini baik!”
“Gubuk kerbau?” Boe Kie heran, “Untuk apakah gubuk
kerbau?”
Si nona tertawa.
“Memang gubuk kerbau!” katanya. “Gubuk untuk
menempatkan seekor kerbau yang besar! Bukankah kau
bernama A Goe, si kerbau?”
Boe Kie tersentak, lantas ia pun tertawa. Nona itu sedang
bergurau. Memang namanya A Goe, berarti kerbau.
“Bila begitu, tak usahlah,” ia berkata. “Empat atau lima
hari lagi, kakiku tentu sudah sembuh banyak, aku dapat
berjalan meskipun dipaksakan….”
“Hm, dipaksakan!” kata si nona, tersenyum. “Kau sudah
jadi si jelek tidak karuan, kalau nanti kaki kerbaumu
pincang, apa itu bagus dilihat?”
Habis berkata, si nona kembali bekerja. Dengan cabang
pohon yang berdaun, ia menyapu salju di batu gunung.
Mengertilah Boe Kie bahwa si nona sangat
memperhatikannya. Itulah bukti dari kata-katanya:
“…kalau nanti kaki kerbaumu pincang, apa itu bagus
dilihat?” Tanpa terasa hatinya jadi tergerak. Iapun lantas
mendengar nona itu berjanji perlahan, berjanji sambil
bekerja. Dia tidak usah membuang waktu lama akan dapat
membangun gubuk yang beratap alang-alang. Gubuk itu
cukup besar untuk mereka berdua bernaung di dalamnya.
Tapi Coe Jie masih bekerja terus. Sekarang ia
mengangkut salju tak hentinya. Ia menutup gubuk dari atas
1169
atap, lalu ke bawah di sekitarnya. Di lain saat, dari tempat
jauh gubuk itu tidak kelihatan lagi, kecuali sebagai
gundukan salju.
Kembali Boe Kie menjadi kagum.
Habis bekerja, Coe Jie mengeluarkan sapu tangan untuk
menyusut keringatnya. Setelah bekerja begitu berat,
tubuhnya kepanasan hingga ia mengeluarkan peluh.
Namun ia tidak duduk beristirahat.
“Kau tunggu di sini!” katanya. “Aku hendak pergi
mencari makanan!”
“Kau beristirahat dulu,” Boe Kie berkata. “Aku belum
lapar, kau boleh menunggu sebentar lagi. Kau terlalu letih.”
Nona itu mengawasi.
“Jikalau kau hendak memperlakukanku dengan baik kau
harus sungguh-sungguh baik,” dia berkata. “Manis di mulut
saja buat apa?” Lantas ia pergi berlari memasuki hutan. Boe
Kie terpaksa berdiam. Ia merebahkan dirinya di batu
gunung, yang terkurung gubuknya itu. Ia sekarang
mempunyai kesempatan untuk memikirkan kelakuan si
nona yang polos itu, yang suaranya halus, yang gerakgeriknya
genit. Saking polosnya nona itu gampang gusar.
Mestinya gerak-gerik itu dipunyai seorang nona cantik,
tetapi dia berwajah jelek sekali. Tapi ia lantas ingat katakata
ibunya di saat hendak menghembuskan nafas terakhir.
Kata ibu, “Wanita itu, makin cantik makin pandai dia
menipu orang maka terhadap wanita cantik kau harus
semakin berhati-hati menjaga diri!”
Coe Jie jelek, tapi dia baik sekali,” pikirnya.
“Aku mempunyai niat mengambil dia sebagai kawan
hidupku, tapi dia mempunyai pacar sendiri jadi tidak
menaruh hati padaku….”
1170
Tanpa terasa, lama juga Boe Kie berpikir, lantas ia
melihat si nona kembali dengan tangannya menenteng dua
ekor ayam hutan. Tanpa bicara nona itu bekerja
menyalakan api, membakar ayam itu, hingga mereka
mencium bau yang wangi, yang membangkitkan selera
makan.
“Mari makan!” kata si nona akhirnya. Ia memberikan
seekor pada kawannya.
Tanpa sungkan Boe Kie makan ayam itu. Ia pun makan
dengan cepat.
“Ini masih ada,” kata si nona sambil tertawa. Ia
melemparkan sisa dua potong kaki ayam.
Boe Kie malu hati, hendak ia menolak. Tapi si nona
gusar.
“Kalau mau makan, makanlah!” katanya ketus. “Siapa
berpura-pura baik terhadapku, mulutnya lain hatinya lain,
nanti kita tikam tubuhnya hingga berlubang!”
Tanpa banyak bicara Boe Kie makan ayam itu.
Kemudian, untuk mencuci mulutnya, ia pakai salju tebal
sebagai air. Lengan tangan bajunya menyusut kering
mulutnya berikut mukanya.
Kebetulan Coe Jie berpaling ketika ia melihat muka
orang, dia tersentak kemudian mengawasi, Boe Kie heran,
ia menjadi curiga.
“Kenapa?” ia bertanya.
“Usiamu berapa?” tanya si nona tanpa menjawab.
“Baru dua puluh tahun tepat.”
“Ah, kau lebih tua dua tahun daripada aku. Mengapa
kumismu sudah tumbuh begitu panjang?”
1171
Boe Kie tertawa.
“Dari kecil aku hidup sendirian di gunung,” sahutnya,
“Belum pernah aku ketemu orang, maka itu aku tidak
berpikir untuk cukur.”
Coe Jie merogoh sakunya untuk mengeluarkan sebilah
pisau kecil yang bergagang emas.
“Mari!” katanya. Lantas dengan memegangi muka
orang, ia mulai mencukur.
Boe Kie diam saja. Ia merasa pisau yang tajam itu
mencukur kumisnya. Ia merasakan juga tangan yagn halus
dan lemas dari si nona. Tanpa terasa, hatinya dag dig dug…
Habis mencukur kumis dan janggut, Coe Jie mencukur
terus tenggorokan. Tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Asal
aku menggunakan sedikit saja tenaga, aku bisa memotong
lehermu ini, maka terbanglah jiwamu! Kau takut tidak?”
“Mati atau hidup, aku terserah pada kau, nona,” sahut
Boe Kie. “Mati di tanganmu, menjadi setanpun aku
senang!”
Coe Jie membalik pisaunya, dan menekan keras ke leher.
Mendadak ia membentak, “Nih, jadilah kau setan yang
senang!”
Boe Kie kaget, tak sempat ia melawan. Tapi ia tak
merasakan sakit, maka ia tersenyum.
“Senangkah kau?” tanya si nona tertawa.
Pemuda itu tertawa, ia mengangguk. Baru ia tahu bahwa
ia dipermainkan.
Habis mencukuri muka orang, Coe Jie mengawasi. Ia
bengong saja. Beberapa lama, lalu terdengar helaan
nafasnya.
1172
“Eh, kau kenapa?” tanya Boe Kie heran.
Nona itu tak menyahuti, ia lantas memotong rambut
orang, untuk dibikin sedikit pendek, setelah itu ia membuat
konde. Sebagai tusuk kondenya, ia meraut cabang pohon.
Diriasi begitu, walaupun pakaiannya butut, Boe Kie
tampak cakap dan gagah.
Lagi-lagi si nona menghela nafas.
“Goe koko,” katanya perlahan, kagum. “Aku tidak
sangka, kau sebenarnya berwajah begini tampan….”
Boe Kie cepat menyahut, nona itu tentu menyesali
wajahnya sendiri, maka ia berkata, “Di dalam dunia ini,
apa yang bagus, di dalamnya suka mengeram apa yang
jelek. Burung merak begitu indah bulunya tapi nyalinya
beracun. Jengger burung boo yan merahpun bagus sekali
tapi racunnya bukan main. Demikian binatang lainnya,
seperti ular, bagus dilihatnya tapi jahatnya berlebihan.
Wajah tampan apa faedahnya? Yang penting hatinya baik.”
Mendengar itu si nona tertawa dingin.
“Hati baik apa faedahnya?” ia tanya. “Coba kau
jelaskan!”
Ditanya begitu, Thio Boe Kie tidak segera dapat
menjawab. Dia tersentak sejenak.
“Siapa berhati baik, dia tak dapat melukai orang,”
katanya kemudian.
“Tidak mencelakai orang apakah kebaikannya?” tanya
Coe Jie.
“Jikalau kau tidak membunuh orang maka hatimu
menjadi tenang,” Boe Kie menjelaskan.
“Jika aku tidak mencelakai orang, hatiku justru tidak
1173
tenang,” kata si nona. “Kalau aku mencelakai orang hingga
hebatnya bukan kepalang hatiku barulah tenang dan
girang.”
Boe Kie menggelengkan kepala. “Itu artinya kau
merampas peri keadilan!” katanya.
Si nona ketawa dingin.
“Kalau bukan mencelakai orang, apa gunanya aku
belajar ilmu Cian Coe Ciat-hoe coe?” katanya. “Kenapa
aku mesti menyiksa diri, hingga menderita tak habisnya?
Apa itu untuk main-main saja!”
Habis berkata ia mengeluarkan kotak kemalanya,
membuka tutupnya dan memasukkan kedua telunjuknya ke
dalam kotak tersebut.
Sepasang laba-laba belang dalam kotak bergerak
perlahan-lahan, lantas mereka menggigit kedua telunjuk itu.
Si nona menarik nafas dalam-dalam, kedua lengannya
gemetaran, tandanya ia mengerahkan tenaga dalamnya
melawan isapan laba-laba itu. Kalau si laba-laba mengisap
darah si nona, maka si nona menyedot masuk racun kedua
binatang itu ke dalam darahnya.
Boe Kie mengawasi saja. Ia melihat wajah si nona
bersungguh-sungguh, di kedua pelipisnya muncul warna
hitam, lantas nona itu mengertak gigi, tandanya ia menahan
sakit. Selama sejenak, dari hidungnya keluar keringat
menetes.
Sekian lama Coe Jie melatih ilmu itu. Sesudah kedua
laba-laba mengisap puas darahnya, keduanya lantas
melepaskan gigitannya, merebahkan dirinya untuk terus
tidur pulas.
Cahaya hitam di pelipis Coe Jie lenyap dengan cepat,
kulitnya menjadi segar kembali. Dia menghela nafas, Boe
1174
Kie merasakan hawa nafas itu berbau harum, hanya
berbeda, ia merasa kepalanya pusing mau pingsan. Itulah
tandanya hawa itu beracun hebat.
Coe Jie yang meram sejak mula, membuka kedua
matanya. Ia tersenyum.
“Sampai bagaimana latihan itu baru sempurna?” tanya
Boe Kie.
“Setiap laba laba ini,” menyahut si nona, “mestinya
tubuhnya dari belang menjadi hitam, dari hitam menjadi
putih. Dengan begitu habislah racunnya dan mati dengan
sendirinya. Racunnya masuk dalam telunjukku. Untuk
menjadi sempurna, aku mesti menghabiskan seribu laba
laba. Untuk mencapai puncak kesempurnaan, aku harus
menghabiskan lima ribu sampai selaksa ekor masih belum
cukup.”
Boe Kie heran, hatinya jeri.
“Dari mana didapatkan begitu banyak laba laba belang?”
tanyanya.
“Di satu pihak dia mesti dipelihara, supaya dia dapat
beternak,” menyahut Coe Jie, “Dilain pihak dia mesti dicari
di temapt kehidupannya.”
Boe Kie menghela nafas.
“Dikolong langit terdapat banyak sekali ilmu
kepandaian, mengapa mesti menyakinkan yang begitu
beracun?” katanya.
Si nona tertawa dingin, “Memang amat banyak ilmu
kepandaian di kolong langit ini, tetapi tidak ada satu yang
dapat melawan Ciat hoe cioe ini.” katanya. “Kau jangan
anggap tenaga dalammu sudah mahir, jikalau nanti aku
telah berhasil melatih, tidak nanti kau dapat bertahan,
1175
untuk satu tusukan saja telunjukku ini!”
Sambil berkata, si nona menusuk batang pohon
didekatnya. Sebab dia belum mahir dengan ilmunya itu,
jarinya hanya masuk setengah dim.
“Kenapa ibumu mengajar ilmu ini?” Boe Kie tanya pula.
Ia heran, “Apakah ibumupun mempelajarinya juga?”
Mendengar disebut ibunya, mata Coe Jie tiba2 bersorot
tajam dan bengis, bagaikan seekor raja hutan hendak
menerkam manusia, ia lantas berkata nyaring. “Siapa
mempelajari Cian coe Ciat hoe cioe ini, setelah ia
menghabiskan delapan ratus ekor, hingga tubuhnya sudah
penuh dengan racun, romannya berubah, dan setelah seribu
ekor, romannya akan bertambah jelek. Ibuku telah
menghabiskan hampir lima ratus ekor ketika ia bertemu
ayahku. Ia kuatir ayah tak menyukainya karena romannya
sangat jelek, ia terpaksa menghentikan latihannya.
Kesudahannya ia menjadi wanita tanpa tenaga, tenaganya
lenyap, umpama kata, ia tak sanggup menyembelih seekor
ayam. Benar ia menjadi cantik tapi iapun lantas dihinakan
madunya serta kakakku. Ia tak dapat melawan, hingga
akhirnya ia membuang jiwanya. Maka hm! Apa gunanya
paras elok? Ibuku seorang wanita sangat cantik dan halus,
tapi sebab tak mendapat anak laki laki, ayahku menikah
pula….”
Sinar mata Boe Kie menyapu wajah nona itu. “Jadinya
kau……kau mempelajari ilmu….” Katanya perlahan.
“Benar!” si nona menyahut cepat. “Karena belajar ilmu
ini, romanku jadi jelek begini, hingga laki laki tak berbudi
itu tidak memperdulikan lagi padaku. Jikalau nanti
pelajaranku selesai, akan kucari padanya. Bila disisinya
tidak ada lain wanita, ya sudah saja….”
“Kau toh belum menikah dengannya?” tanya Boe Kie.
1176
“Bukankah diantara kamupun tidak ada janji ikatan jodoh?
Hanya….hanya…”
“Omonglah terus terang!” kata si nona. “Takut apa?
Bukankah kau hendak membilang bahwa aku menyintai dia
sepihak saja, ialah hanya pihakku sendiri? Apa salahnya?
Aku telah menyintai dia, maka aku larang dia mempunyai
lain pacar! Dia tak berbudi, biarlah dia nanti merasai
telunjukku ini, telunjuk Cian Coe Ciat-hoe cioe!”
Boe Kie tersenyum. Ia tidak mau mengadu omong pula.
Di dalam hatinya, ia merasa, bahwa Coe Jie bertabiat luar
biasa sekali. Baik, ia sangat baik, tapi selagi gusar ia sangat
galak dan tidak mengenal aturan lagi. Ia menjadi ingat pula
kata2 guru besarnya, paman gurunya yang kesatu dan
kedua, bahwa di dalam Rimba Persilatan ada perbedaan
antara yang sesat dan yang lurus, maka ia percaya Cian Coe
Ciat hoe cioe ini ialah pelajaran sesat, bahwa ibunya Coe
Jie mungkin seorang sebangsa siluman. Karena ini, tanpa
berasa, ia menjadi rada jeri terhadap si nona……
Coe Jie tak mendapat tahu apa yang orang pikir, ia
berlari lari keluar dan kedalam, mondar mandir, memetik
berbagai macam bunga, maka dilain saat gubuk mereka
telah terpajang rapih, menarik hati untuk dipandang.
“Coe Jie” kata Boe Kie, “Setelah sakit kakiku sembuh,
aku nanti pergi mencari daun obat obatan untuk mengobati
bengkak mukamu yang beracun itu…..”
Mendengar itu, si nona nampaknya ketakutan.
“Tidak, tidak!” katanya “Aku telah menyiksa diri sekian
lama, baru kuperoleh kepandaian seperti ini! apakah kau
hendak memusnahkan kepandaianku?”
“Bukan!” katanya cepat. “Mungkin kita dapat memikir
semacam obat. Memakai mana kepandaianmu boleh tak
1177
usah lenyap, asal keracunan di muka saja yang hilang tak
berbekas”.
“Tidak dapat!” si nona berkata pula. “Bila ada semacam
obat atau cara, mustahil ibuku tak mendapat tahu?
Kepandaian ini adalah kepandaian turunan. Kupikir, yang
bisa berbuat itu mungkin Cuma Tiap kok Ie sian Ouw Ceng
Goe yang lihay ilmu pengobatannya, hanya sayang banyak
tahun dia telah meninggal dunia”.
“Kau kenal Ouw Ceng Goe?” tanya Boe Kie.
Coe Jie mementang matanya, ia kelihatannya heran.
“Apa?” katanya. “Adakah aneh untuk mengetahui dia?
Nama Tiap Kok Ie Sian toh memenuhi seluruh negara!
Siapakah yang tidak tahu?” ia menghela nafas, dan ia
berkata pula. “Taruh kata dia masih hidup, apakah gunanya
itu? Dialah yang dijuluki ‘Melihat kematian tak
menolong’!”
Boe Kie tidak membilang apa apa, akan tetapi didalam
hatinya, ia berkata “Nona ini sangat baik terhadapku, mesti
aku balas kebaikkannya ini. dia tidak tahu semua
kepandaiannya Tiap kok iIe sian telah diwariskan
kepadaku. Baiklah, sekarang aku jangan membilang apa2
padanya, hanya dibelakang hari nanti, aku dayakan untuk
mengobati mukanya ini, supaya dia kaget dan girang!”.
Selama itu, langit sudah gelap, maka keduanya lantas
rebah bersandar di batu gunung untuk tidur. Boe Kie dapat
pulas, hanya tengah malam, ia mendusin dengan tiba tiba,
telinganya mendengar tagisan isak2 tertahan. Ketika ia
membuka matanya, kawannya lagi menangis sedih. Ia
mengulur tangannya meraba pundak nona itu, menepuk
dua kali.
“Jangan nangis, Coe Jie” ia menghibur. “Jangan
1178
bersusah hati….”
Tapi justru karena ditegur, Coe Jie tidak dapat menahan
lagi kedukaannya. Dengan menyenderkan kepalanya
dipundak orang ia menangis mengerung2.
“Kau kenapa Coe Jie?” Boe Kie tanya perlahan. “Ada
apa? Apakah kau ingat ibumu? Benarkah?”
Coe Jie menggangguk perlahan.
“Ibu telah menutup mata.” Katanya. “Aku jadi sebatang
kara. Siapa juga tidak menyukai aku….., siapa juga tidak
mau baik denganku…”
Boe Kie menggunakan tangan bajunya untuk mengelap
air mata nona itu.
“Aku menyukai kau, aku dapat berlaku baik
terhadapmu,” sahut Coe Jie. “Orang yang kucintai tidak
perdulikan aku, ia memukul aku, iapun mau menggigit
aku…..”
“Lupakan laki2 tidak berbudi itu,” kata Boe Kie “Aku
akan menikah dengan kau, seumurku nanti akan
perlakukan kau dengan baik.”
“Tidak! Tidak!” Coe Jie berseru. “Tidak dapat aku
melupakan dia! Jikalau lagi sekali kau menganjurkan aku
melupakan dia, untuk selamanya aku tidak akan peduli
padamu!”.
Boe Kie heran, malu dan jengah. Syukur cuaca gelap,
jika tidak, akan terlihat mukanya yang merah.
Keduanya berdiam.
“A Goe koko, apakah kau gusar padaku?” kemudian
nona itu bertanya.
“Aku tidak gusar, aku hanya menyesalkan diriku
1179
sendiri.” Jawabnya. “Tidak selayaknya aku bicara seperti
barusan padamu”.
“Tidak, tidak demikian. Kau bilang kau suka menikah
denganku, bahwa seumurmu kau hendak perlakukan baik
padaku. Senang aku mendengar kata2mu itu. Coba kau
mengulangi sekali lagi.”
Tapi Boe Kie menjadi tidak senang.
“Kau tidak dapat melupakan orangmu itu perlu apa aku
bicara lagi?” katanya.
Coe Jie mencekal tangannya Boe Kie dan berkata dengan
suara lemah lembut. “A goe koko, jangan kau gusar. Aku
mengku bersalah. Kalau kau benar2 menikah denganku,
kubisa membutakan kedua matamu dan mungkin juga, aku
akan mengambil jiwamu”.
Boe Kie kaget. “Apa kau kata?” ia menegas. “Sesudah
kedua matamu buta, kau tak akan bisa melihat lagi
romanku yang jelek” katanya perlahan “Kau tak akan bisa
lagi memandang lagi wajah nona Cioe dari Goe Bie pay
yang cantik manis. Andaikata, sesudah buta, kau masih
juga belum dapat melupakan dia. Aku akan membinasakan
kau dan kemudian mengambil jiwa sendiri.” Ia memberi
jawaban yang hebat itu dengan suara tenang2 saja, seolah2
apa yang dikatakannya adalah hal yang wajar. Waktu
mendengar “nona Cioe dari Goe Bie pay” jantung Boe Kie
memukul terlebih keras.
Mendadak, baru saja Coe Jie selesai bicara di kejauhan
terdengar suara seorang tua.
“Nona Cioe dari Goe Bie pay mempunyai hubungan
apakah dengan kamu berdua?”
Coe Jie melompat bangun. “Biat Coat Soe thay!”
bisiknya.
1180
Tapi, biarpun ia hanya berbisik, perkataannya sudah
didengar oleh orang itu yang lantas saja menjawab. “Benar,
Biat Coat Soe thay” Waktu orang itu berbicara pertama
kali, ia masih berada jauh tapi waktu bicara kedua kali, ia
sudah berada disamping gubuk.
Coe Jie mengenal bahaya. Ia sebenarnya ingin kabur
dengan mendukung Boe Kie, tapi sudah tidak keburu lagi.
Sesaat kemudian, orang itu membentak dengan suara
dingin. “Keluar! Apa kamu mau bersembunyi seumur
hidup?”
Sambil memapah dan menyekel tangan Boe Kie, Coe Jie
menyingkap tirai rumput dari gubuknya dan bertindak
keluar. Dalam jarak kira2 setombak dari gubuknya, berdiri
seorang pendeta tua yang rambutnya putih dan ia itu
memang bukan lain daripada Ciang boen jin Goe bie pay
Biat coat Soethay. Dari sebelah kejauhan mendatangi dua
belas orang yang kemudian berdiri berjejer di kedua
samping pendeta wanita itu. Mereka itu adalah murid2 Goe
bie pay empat nie kouw (pendeta wanita) empat orang
wanita biasa dan empat laki2 yang berdiri di barisan
belakang dan diantaranya mereka terdapat Teng Bin Koen
dan Cioe Cie Jiak.
Dalam kalangan Goe bie pay selama beberapa turunan,
yang memegang tampuk pimpinan selalu wanita dan murid
lelaki tidak pernah diberikan pelajaran ilmu silat yang
paling tinggi, sehingga oleh karenanya, kedudukan murid
lelaki lebih rendah daripada murid wanita.
Dengan sorot mata dingin, tanpa mengeluarkan sepatah
kata, Biat Coat Soethay mengawasi Coe Jie.
Mengingat kebinasaan Kie Siauw Hoe, Boe Kie sangat
berkuatir. Sambil menyandarkan diri di punggung Coe Jie,
diam2 dia mengambil keputusan, bahwa jika si pendeta
1181
wanita menyerang, mestipun mesti binasa, ia akan
mengadu jiwa.
Beberapa saat kemudian, seraya mengeluarkan suara di
hidung, Biat Coat mengenok ke arah Tian Bin Koen dan
bertanya “Apa budak kecil itu?”
“Benar!” jawabnya.
Tiba2, “Krak!....krak!....” Coe Jie mengeluarkan suara
kesakitan, tulang kedua pergelangan tangannya patah, dan
ia rebah dalam keadaan pingsan.
Boe Kie sendiri terpaku dan ternganga. Ia hanya melihat
berkelebatnya bayangan warna abu2 dan Coe Jie sudah
terguling. Dengan kecepatan luar biasa ia menyerang, dan
dengan kecepatan luar biasa pula, ia balik ke tempatnya
yang semula, dimana ia kembali berdiri tegak bagaikan satu
pohon tua di tengah malam yang sunyi itu. Gerakan yang
secepat itu sudah mrengaburkan mata Boe Kie yang jadi
terkesima dan hanya bisa mengawasi tanpa berdaya.
Sesudah memperlihatkan kepandaiannya, denga sorot
mata bengis Biat Coat mengawasi Boe Kie. “Pergi!”
bentaknya.
Cioe Ci Jiak maju setindak dan berkata seraya
membungkuk. “Soehoe ia tidak dapat berjalan, mungkin
kedua tulang betisnya patah.”
“Buatlah dua buah soat kio untuk membawa mereka”,
memerintah sang guru (Soat kio semacam kereta salju tidak
beroda).
Murid2 itu mengiakan dan kecuali Teng Bin Koen yang
belum sembuh dari lukanya, mereka segera melakukan apa
yang diperintah. Sesudah selesai, dua orang murid wanita
lalu mengangkat Coe Jie dan lalu menaruhnya di kereta
yang satu, sedang dua orang murid pria menaruh Boe Kie
1182
di kereta yang lain. Sambil menyeret kedua kereta itu,
mereka mengikuti Biat Coat ke arah barat.
Dengan penuh kekuatiran, Boe Kie memasang kuping
untuk mendengari gerak gerik Coe Jie. Sesudah melalui
belasan li, barulah ia mendengar rintihan si nona. “Coe Jie
bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan suara nyaring.
“Apakah kau mendapat luka didalam?”.
“Dia mematahkan pergelangan tanganku. Tapi aku tidak
mendapat luka di dalam” jawabnya.
“Bagus” kata Boe Kie, “Gunakanlah sikut kiri untuk
membentur lengan kananmu, tiga coen lima hoen dibawah
tekukan lengan. Sesudah itu, gunakanlah skut kananmu
untuk membentur lengan kiri, tiga coen lima hoen dibawah
tekukan lengan. Dengan berbuat begitu, rasa sakit akan
berkurang”.
“Sebelum Coe Jie menjawab, Biat Coat sudah
mengeluarkan suara “Ih!” dan mengawasi Boe Kie dengan
mata mendelik “Bocah! Kau mengerti ilmu ketabiban.”
Katanya “Siapa namamu?”
“Aku she Can, namaku A Goe” jawabnya.
“Siapa gurumu?” tanya pula si nenek.
“Guruku adalah tabib kampungan” menerangkan si Boe
Kie. “Biarpun kuberitahukan namanya, Soethay pasti
takkan mengenal namanya”.
Biat Coat mengeluarkan suara di hidung dan tidak
mendesak lagi.
Sampai fajar menyingsing barulah rombongan itu
mengaso dan makan makanan kering, Cioe Jiak membawa
beberapa bakpauw dan memberikannya kepada Boe Kie
serta Coe Jie. Melihat Boe Kie yang sesudah di cukur,
1183
barulah menjadi pemuda tampan, diam2 ia merasa heran
dan kagum.
Sesudah mengaso kurang lebih dua jam, mereka
meneruskan perjalanan ke arah barat. Sesudah berjalan tiga
hari, Boe Kie menarik kesimpulan, bahwa dalam perjalanan
itu, rombongan Goe Bie Pay mempnyai tugas yang sangat
penting. Baik waktu berjalan, maupun waktu mengaso,
kecuali sangat perlu semua orang menutup mulut rapat2.
seolah2 mereka manusia gagu. Tapi tugas apakah yang mau
ditunaikan mereka? Boe Kie tak dapat menjawab.
Selama beberapa hari itu tulang betis Boe Kie yang patah
sudah bersambung pula seperti sedia kala dan ia sebenarnya
sudah dapat berjalan lagi.
Tapi ia saja tidak memperlihatkan kesembuhannya itu,
malah ia sering merintih untuk mengelabui Biat Coat. Ia
ingin menunggu kesempatan baik untuk kabur bersama2
Coe Jie. Kesempatan itu belum datang, sebab mereka masih
berjalan di tanah datar. Sehingga kalau kabur belum jauh ia
tentu sudah dibekuk lagi. Maka itu, ia bersabar terus. Pada
waktu mengaso ia mengobati luka Coe Jie dan Biat
Coatpun tidak menghalang-halanginya.
Sesudah selang dua hari lagipada suatu lohor, rombong
Biat Coat tiba di gurun pasir. Selagi enak berjalan,
sekonyong2 terdengar suara tindakan kuda yang
mendatangi dari sebelah barat. Biat Coat segera memberi
perintah dengan gerakan tangan dan semua murid lalu
menyembunyikan diri di belakang bukit pasir. Dua
diantaranya menghunus pedang pendek dan mengarahkan
ujungnya ke arah punggung Boe Kie dan Coe Jie . sudah
terang mereka mau menyerang musuh dan kalau dua
tawanan berani berteriak, kedua pedang pendek itu pasti
digunakan.
1184
Tak lama kemudian, kuda2 itu sudah mendekati.
Melihat tapak2 kaki, para penunggang kuda menahan
tunggangannya.
Tiba2 Ceng she Soethay mengangkat hud im (kebutan
yang dapat digunakan sebagai senjata) dan dengan serentak
sebelas murid Goe Bie pay melompat keluar dari belakang
bukit pasir.
Boe Kie mengawasi dan melihat empat penunggang
kuda yang semuanya mengenakan jubah warna putih.
Sambil membentak keras; keempat orang itu lalu mencabut
senjata dan pertempuran lantas saja terjadi.
“Semua siluman dari Mo Kauw! Satupun tak boleh di
kasih lolos!” teriak Ceng she.
Walaupun dikepung musuh yang berjumlah lebih besar,
keempat orang itu melawan dengan gagahnya. Tapi kedua
belas murid Goe Bie pay yang kali ini mengikut Biat Coat
ke See hek adalah murid2 pilihan. Baru bertempur tujuh
delapan jurus, tiga anggota Mo kouw sudah roboh dari
tunggangannya, sedang yang keempat, sesudah melukai
seorang murid Goe Bie, coba melarikan diri. Tapi baru saja
kabur beberapa tombak, ia telah kena dicandak Ceng hian.
“Turun kau!” bentak si nie kouw seraya mengebut betis kiri
orang itudengan hudtimnya. Dia coba menangkis dengan
goloknya. Bagaikan kilat Ceng hian mengubah pukulannya
dan mengebut kepala musuh. Pukulan yang hebat itu
hampir tepat pada sasarannya dan orang itu terguling dari
kudanya.
Tapi orang itu a lot dan nekat. Dalam keadaan terluka
berat, ia masih bisa balas menyerang dengan tujuan untuk
mati bersama2 musuhnya. Sambil mementang kedua
tangannya ia menubruk. Untung saja Ceng hian keburu
berkelit dan mengebut dadanya.
1185
Pada saat itulah, tiga ekor merpati putih terbang dari
sangkarnya yang tergantung di leher kuda.
“Jangan main gila!” bentak Ceng Hian seraya mengibas
lengan jubahnya dan tiga butir thie lian coe (biji teratai besi)
menyambar kearah tiga burung itu. Dua diantaranya jatuh,
tapi yang satu dapat terbang terus sebab si jubah putih
berhasil memukul sebutir thie lian coe dengan busur
besinya. Semua murid Goe bie menimpuk dengan senjata
rahasia mereka, tapi burung itu sudah terbang jauh.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil