Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 19 April 2018

Jaka Lola 1 Lanjutan Pendekar Buta

----
THE SUN memasuki dusun Ling-chung dengan langkah seenaknya. Pemandangan di sepanjang
perjalanan tadi amat indah, mendatangkan rasa tenang dan tenteram di hati, menggembirakan
perasaannya. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di kota dan sibuk dengan segala macam urusan
kerajaan, pertempuran dan peperangan, kini keadaan di dusun-dusun terasa amat aman dan tenteram
baginya.
Musim panen sudah hampir tiba, padi dan gandum di sawah sudah hamil tua, siap untuk dipotong.
Penduduk dusun, tua muda lelaki perempuan agaknya enggan meninggalkan sawah ladang yang mereka
pelihara setiap hari seperti memelihara anak-anak sendiri, enggan meninggalkan harta pusaka yang juga
merupakan penyambung nyawa mereka, yaitu padi-padi yang sudah menguning. Mereka siang malam
menjaga keras terhadap gangguan burung di waktu siang dan tikus-tikus pada waktu malam.
The Sun adalah anak murid Go-Bi-san, putera mendiang The Siu Kai seorang pembesar militer Mongol
yang sekeluarganya terbasmi habis oleh Ahala Beng, kecuali The Sun yang dapat menyelamatkan diri.
Di dalam cerita PENDEKAR BUTA, diceritakan betapa The Sun yang cerdik, lihai dan bercita-cita tinggi,
berhasil menjadi orang kepercayaan Kaisar Hui Ti atau Kian Bun Ti. Akan tetapi dalam perang saudara
antara Hui Ti dan pamannya, Raja Muda Yung Lo, Hui Ti kalah dan kerajaan dirampas oleh Raja Muda
Yung Lo.
Dalam pertempuran hebat, The Sun beserta teman-temannya kalah oleh Pendekar Buta dan temantemannya.
Nyaris dia tewas kalau saja dia tidak ditolong oleh kakek gurunya, Hek Lojin, yang berhasil
membawanya lari. Namun Hek Lojin, tokoh Go-bi itu, juga telah terluka oleh Pendekar Buta, lengan kirinya
menjadi buntung! Peristiwa itu baru beberapa bulan saja terjadi.
Setelah mengantar kakek gurunya yang terluka itu ke puncak Go bi-san, The Sun yang tidak betah tinggal
di puncak gunung yang sunyi dan dingin itu lalu turun gunung. Akan tetapi alangkah jauh bedanya The Sun
dahulu dan sekarang.
la masih tetap tampan dan gagah, gerak-geriknya lemah-lembut, namun pakaiannya kini adalah pakaian
sederhana, bukan pakaian pembesar atau pun pelajar yang pesolek lagi. Malah dia tidak membawa-bawa
pedang.
la harus menyamar sebagai seorang penduduk biasa, karena tentu saja dia merupakan seorang yang
dicari oleh pemerintah baru, yaitu pemerintah Kaisar Yung Lo atau yang sekarang disebut Kaisar Cheng
Tsu. Meski kota raja telah dipindahkan ke utara (Peking), namun masih banyak orang-orangnya kaisar baru
ini yang akan mengenalnya dan akan senang menangkapnya untuk mencari pahala.
Oleh karena inilah The Sun tidak berani ke selatan, dan sekarang dia hendak melakukan perantauan ke
utara. Seenaknya saja dia melakukan perjalanan, menikmati ketentraman dusun-dusun dan diam-diam dia
merasa betapa bodohnya dia dahulu, mencari keributan dan kesenangan hampa belaka di kota raja.
Alangkah indah pemandangan di gunung-gunung, sawah-sawah hijau segar, gadis-gadis dusun yang
memiliki kecantikan segar dan wajar, sehat dan pipinya merah jambu tanpa yanci (pemerah pipi).
Penyamarannya membuat dia berlaku hati-hati sekali.
Biar pun hatinya masih jungkir balik kalau melihat gadis-gadis dusun yang manis segar itu, akan tetapi
tidak seperti dahulu kalau melihat wanita cantik dia terus saja berusaha mendapatkannya secara kasar
mau pun halus, dia sekarang hanya bisa menelan ludah, menekan perasaan dan kalau gadis itu terlalu
cantik apa lagi membalas senyumannya, dia sengaja membuang muka dan mempercepat langkah
meninggalkannya.
The Sun sesungguhnya merupakan keturunan orang besar. la menjadi rusak dan dahulu berwatak
sombong, mau menang sendiri, mata keranjang, adalah karena dipengaruhi oleh lingkungan dan
dunia-kangouw.blogspot.com
hubungannya. Buktinya sekarang setelah dia berkelana seorang diri, tidak mempunyai kedudukan dan
tidak memiliki sandaran, tidak ada sesuatu yang boleh dia andalkan, dia dapat menguasai perasaan dan
nafsunya.
Memang betul kata-kata orang bijak bahwa kesempatan membuat orang menjadi lemah, yaitu lemah
terhadap dorongan nafsu-nafsu buruk. Setiap perbuatan maksiat, pertama kali dilakukan orang tentu
karena mendapat kesempatan inilah. Kemudian akan menjadi kebiasaan dan membentuk watak.
Dusun Ling-chung tampak amat sunyi karena sebagian besar penghuninya sedang sibuk menjaga sawah
dengan wajah gembira penuh harapan. The Sun melihat ke kanan kiri, mencari-cari sebuah warung nasi
dengan pandangan matanya, karena pagi hari itu dia merasa amat lapar setelah melakukan perjalanan
semalam suntuk tanpa berhenti.
Mendadak dia mendengar samar-samar suara wanita menjerit. Telinganya yang terlatih dapat menangkap
ini. Seketika dia meloncat dan lari menuju ke utara, ke arah suara itu. Di sebelah utara dusun ini sunyi
sekali, tak tampak seorang pun manusia, bahkan bagian ini merupakan bagian yang tidak subur dari dusun
itu, banyak terdapat rawa yang tidak terurus. Di sudut sana tampak sebuah rumah tua yang agaknya tidak
ditinggali orang.
"Tolong...!" sekali lagi terdengar jeritan lemah dan The Sun segera mempercepat larinya menuju ke rumah
tua karena dari sanalah pekik itu datangnya.
Dengan gerakan seperti seekor burung garuda melayang, dia melompat dan setibanya di dalam rumah tua
melalui pintu yang tak berdaun lagi, dia menjadi tertegun dan matanya membelalak memandang ke dalam.
Mukanya seketika menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi-api. Apa yang tampak olehnya
di sebelah dalam rumah rusak itu benar-benar membuat The Sun marah sekali.
Di atas lantai yang kotor tengah duduk menangis seorang wanita muda yang pakaiannya robek-robek di
bagian atas sehingga tampak pundak dan sebagian dadanya yang berkulit putih seperti salju. Wanita ini
cantik jelita dan mukanya pucat, rambutnya awut-awutan. Di sana-sini terlihat robekan kain pakaiannya,
dan sebagian dari robekan kain masih berada di tangan seorang laki-laki yang berdiri membungkuk di
depan wanita itu.
Laki-laki yang amat menyeramkan. Tinggi besar seperti raksasa, rambut panjang terurai, mukanya buruk
serta sikapnya kasar dan canggung sekali. Sepasang matanya membuat orang bergidik, karena mata
seperti itu biasanya hanya terdapat pada muka orang gila. Mata yang liar, bodoh dan aneh.
"Bangsat kurang ajar! Berani kau mengganggu wanita?" bentak The Sun sambil meloncat ke dalam.
Lelaki tinggi besar itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan mengeluarkan suara menggereng seperti harimau.
Mendadak dia tertawa bergelak dan suaranya seperti gembreng pecah. "Pergi kau! jangan ikut campur, dia
milikku, heh-heh-heh."
The Sun termangu dan meragu, lalu menoleh kepada wanita itu. Mungkinkah si jelita ini milik orang gila itu?
Isterinya?
Sambil tertawa-tawa si gila itu kembali maju mendekat, tangannya yang besar dan kasar hendak meraih si
cantik.
Wanita itu bergidik dan berseru lemah, "Jangan sentuh aku...! Kang Moh, jangan... kau... kau bunuh saja
aku..."
The Sun makin bingung. "Nona... eh, Nyonya... dia siapakah? Apakah suamimu?"
”Bukan...! Sama sekali bukan! Dia orang gila di dusun ini... ah, Tuan, tolonglah, suruh dia pergi dan jangan
biarkan dia ganggu aku... lebih baik aku mati, ya Tuhan…." Ia menangis sedih sekali.
"Keparat! Mundur dan minggat kau!" The Sun kini maju dengan hati tetap. Lega hatinya bahwa wanita ini
bukan isteri si gila ini dan kemarahannya timbul kembali, malah lebih hebat dari pada tadi.
Kang Moh buaya gila itu tiba-tiba memekik keras dan menerjang maju, menghantam The Sun. Gerakannya
dunia-kangouw.blogspot.com
kuat sekali, membayangkan tenaga yang luar biasa besar, sedangkan gerakan tangan kakinya
menunjukkan bahwa sedikit banyak orang ini juga pernah belajar silat.
Namun yang diserang kini adalah The Sun. Orang sekampung itu boleh takut kepadanya, akan tetapi
menghadapi The Sun, dia bagaikan menghadapi kakek gurunya. Sekali dia memiringkan tubuh dan
menggeser kaki ke kiri, The Sun sudah menghindarkan diri dari terjangan lawan, kemudian dua kali
tangannya bergerak, sekali menotok leher dan kedua kalinya menusuk ulu hati dengan jari-jari terbuka.
“Ngekkk!”
Terdengar suara dan tubuh Kang Moh yang tinggi besar itu roboh terjengkang seperti pohon ditebang
dan... dia tidak bergerak-gerak lagi karena dua kali pukulan tadi ternyata sudah mengirim nyawanya
meninggalkan badan. Matanya mendelik, ada pun dari mulut, hidung, dan telinganya keluar darah!
The Sun bekerja cepat. Sekali renggut dia telah membuka jubah si gila itu.
"Nona, kau pakailah ini, untuk sementara lumayan guna menutupi pundakmu."
Wanita itu berdiri dengan lemah, muka yang tadinya pucat menjadi agak merah, tampak gugup dan malumalu.
Kemudian, setelah menutupkan jubah yang berbau apek itu ke atas pundaknya, fia menjatuhkan diri
berlutut di depan The Sun.
"Terima kasih... terima kasih, Tuan... tapi tiada gunanya...,. ahh, tiada gunanya lagi aku hidup..." la
menangis terisak-isak dan tak dapat melanjutkan kata-katanya.
Sementara itu, The Sun sudah mendapat kesempatan memandang. Wanita ini bukan main cantik jelitanya
dan aneh sekali, jantungnya berdegup tidak karuan. Sudah banyak dia mengenal wanita cantik, akan tetapi
agaknya baru kali ini ada seorang wanita yang dapat membuat dia marah bukan main tadi, dan sekarang
membuat jantungnya berdebar keras.
Wajah manis itu laksana pisau belati menikam ulu hatinya, mendatangkan rasa kasihan yang tidak ada
dasarnya. Mata itu, hidung dan mulut itu, seakan-akan menggurat-gurat kalbunya, menggores-gores
jantungnya, minta dikasihani.
Dengan dua kaki lemas, The Sun lalu berlutut pula di depannya. "Jangan berduka, Nona. Kesukaran
apakah yang kau hadapi? Dia itu kurang ajar kepadamu? Lihat, sudah kubikin mampus dia! Manusia
macam dia berani mengganggumu? Biar pun ada seratus orang macam dia, semua akan kubasmi kalau
mereka berani mengganggumu!"
Mendengar ucapan yang penuh dengan kemarahan ini, wanita itu lalu mengangkat muka memandang.
Muka yang kini pucat kembali, yang amat sayu dan patut dikasihani, yang basah air mata.
"Saya berterima kasih sekali bahwa Tuan sudah menolong saya dari tangan Kang Moh yang gila itu, akan
tetapi... Inkong (Tuan Penolong) semua itu percuma... belum dapat membebaskan diri saya dari
kesengsaraan... dan jalan satu-satunya bagi saya hanyalah mati..."
"Tidak ada kesulitan di dunia ini yang tidak dapat di atasi. Memilih jalan kematian adalah pikiran sesat.
Nona, percayalah kepadaku, aku The Sun siap untuk menolongmu sampai titik darah terakhir. Kau
ceritakan saja kepadaku kesukaran apa yang kau derita."
Mendengar ucapan yang tegas dan sikap yang sungguh-sungguh ini, wanita itu menjadi terharu sekali, lalu
terisak-isak ia menceritakan penderitaannya.
la bernama Ciu Kim Hoa, semenjak kecil ia sudah diberikan oleh ayah bundanya kepada seorang
pamannya, karena ayah bundanya bercerai dan kawin lagi. Pamannya bukanlah orang baik-baik. Selama
hidup di rumah pamannya, ia diperas tenaganya, bekerja kasar dan berat. Beberapa kali sudah ia mencoba
untuk minggat, akan tetapi selalu gagal dan hasilnya hanya gebukan dan tendangan.
"Kekejaman itu masih dapat saya tahan, Inkong, karena kadang-kadang paman itu pun bersikap baik
sehingga kedukaan saya terhibur. Akan tetapi, setahun yang lalu dia sudah menjual saya kepada keluarga
Lee di dusun ini dan mulailah penderitaan batin yang tak tertahankan lagi..." la menangis terisak-isak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam The Sun menaruh kasihan. Wanita begini lemah dan cantik jelita, mengapa nasibnya demikian
buruk? Dia membiarkan nona itu menangis sejenak, lalu menghibur, "Sudahlah, Nona. Semua penderitaan
itu takkan terulang kembali, ceritakan selanjutnya, mengapa kau menderita di rumah keluarga Lee?"
Sesudah menghapus air matanya, wanita itu melanjutkan, "Kalau di rumah paman saya hanya menderita
lahir, di rumah keluarga Lee saya menderita lahir batin. Pada mulanya kedua orang tua dari keluarga itu
baik terhadap saya, akan tetapi tiga bulan kemudian saya dijadikan permainan oleh tiga orang anak lakilaki
keluarga Lee. Usia mereka antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, dan mereka laki-laki yang kejam.
Saya tidak dapat menolak, tidak dapat melarikan diri, beberapa kali mencoba membunuh diri juga mereka
halang-halangi, ahhh... In-kong... apa artinya lagi hidup ini...?"
The Sun menggigit gigi hingga mengeluarkan bunyi berkerot. Di samping kasihan kepada wanita ini, dia
pun merasa hatinya panas dan marah sekali.
"Teruskan... teruskan...!" Desaknya dengan suara keras dan nafas memburu.
"In-kong... betapa hancur hati saya ketika saya mendapatkan diri saya... mengandung! Saya ceritakan
kepada mereka dan menuntut supaya dinikahi dengan sah. Namun apa yang saya dapatkan? Mereka
marah-marah. Saya diusir dengan tuduhan telah main gila dengan laki-laki luar, padahal mereka bertigalah
yang memaksa serta mempermainkan saya".
"Keparat jahanam!!" The Sun memaki, akan tetapi tiba-tiba mukanya merah sekali dan dia termenung.
Teringatlah ketika dia masih dalam keadaan jaya dahulu, entah berapa banyak wanita yang dia
permainkan tanpa mempedulikan akibatnya. Heran sekali. Biasanya mendengar cerita semacam ini
baginya malah terasa lucu sekali, dan biasanya mungkin dia akan mentertawakan wanita yang mengalami
nasib demikian.
Akan tetapi mengapa sekarang, di depan wanita ini, timbul rasa kasihan dan marah? Apakah ini
kemarahan karena dia tidak senang mendengar orang melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang,
ataukah kemarahan ini timbul justru karena wanita inilah yang dipermainkan? The Sun tidak tahu,
pendeknya waktu itu dia marah sekali terhadap mereka yang telah mempermainkan wanita itu.
"Kemudian bagaimana, Nona? Teruskan…"
"Saya diusir dari rumah mereka tanpa diberi apa-apa dan diancam akan dipukuli sampai mati kalau tidak
lekas pergi. Dengan hati remuk saya terpaksa pergi dan sampai di rumah tua ini karena tiada lain tempat
yang dapat saya datangi. Tak lama kemudian datanglah Kang Moh ini..."
la memandang ke arah mayat itu dan bergidik ngeri. "Dia ini juga orangnya keluarga Lee, dan tadinya saya
kira dia menyusul dengan pesan dan maksud baik dari mereka. Tidak tahunya Kang Moh hendak
melakukan perbuatan keji dan melanggar susila. Baiknya kau datang menolong, In-kong... akan tetapi
setelah In-kong menolong saya, apa artinya bagi saya? Keadaan saya masih belum lagi terlepas dari
penderitaan, saya tak punya sanak keluarga, tiada handai taulan, tak ada sahabat. Ke mana saya harus
pergi? Bagaimana saya dapat hidup?" Kembali ia menangis sesenggukan.
The Sun bangkit berdiri. Dalam sinar matanya tampak api yang penuh ancaman. "Nona, di mana tempat
tinggal keluarga Lee itu? Katakan di mana mereka itu, akan saya paksa mereka menerimamu kembali dan
mengawinimu sebagaimana mestinya."
"Percuma, In-kong. Mereka tak akan mau dan harap In-kong jangan memandang rendah mereka. Mereka
itu orang-orang kejam dan ganas, pandai main silat dan di dalam dusun ini selain terkenal sebagai
keluarga terkaya, mempunyai tanah yang luas, juga terkenal sebagai jagoan-jagoannya. Tiga orang itu
ditakuti semua orang di dusun. Jangan-jangan kau akan dipukuli, In-kong, dan kalau hal ini terjadi, ahh, aku
akan menyesal karena kau tertimpa mala petaka oleh karena aku."
The Sun tertawa. "Anjing-anjing itu mampu memukul saya? Ha-ha-ha-ha, Nona, boleh mereka coba! Kau
tunggu saja di sini sebentar, Nona. Aku tanggung bahwa mereka akan menerimamu secara baik-baik atau
mampus, karena hanya itulah pilihan mereka. Nah, di sebelah mana rumah mereka?"
Nona itu menuding ke arah timur. "Rumah mereka mudah dikenal, rumah paling besar, merupakan gedung
tembok dan di depannya terdapat banyak gentong-gentong tempat gandum. Mereka siap menerima hasil
dunia-kangouw.blogspot.com
panen dan gentong-gentong itu sudah dijajarkan di pekarangan depan."
"Nona, kau tunggu saja sebentar di sini, aku akan segera datang lagi." The Sun berkata sambil melangkah
lebar menghampiri mayat Kang Moh, lalu dia mencengkeram rambut mayat itu dan menyeretnya ke luar
dari dalam rumah tua.
Tentu saja orang-orang menjadi heran dan terbelalak memandang seorang lelaki muda dan tampan
berjalan cepat di jalan dusun sambil menyeret tubuh Kang Moh yang sudah menjadi mayat!
Semua orang dusun mengenal siapa Kang Moh dan amat takut kepadanya, karena Kang Moh merupakan
tukang pukul keluarga Lee. Siapa kira sekarang Kang Moh sudah mati dan mayatnya diseret-seret seperti
bangkai anjing saja oleh seorang pemuda yang tidak mereka kenal.
Apa lagi melihat pemuda itu menuju ke rumah gedung keluarga Lee, keheranan mereka bertambah dan
berbondong-bondonglah orang dusun mengikuti The Sun dari belakang. Akan tetapi, karena rasa ngeri,
takut dan juga jeri akan kemarahan keluarga Lee, mereka mengikuti dari jauh dan secara setengah
sembunyi.
Memang mudah mengenali gedung keluarga Lee. Di dalam pekarangan depan rumah itu terdapat banyak
gentong yang masih kosong dan sebuah alat timbangan digantungkan di sudut. The Sun menyeret mayat
Kang Moh ke dalam pekarangan yang masih sunyi itu, kemudian dia mengangkat mayat itu, dilemparkan
ke ruangan dalam. Mayat itu melayang ke depan menubruk pintu yang segera terbuka dan menimbulkan
suara hiruk-pikuk.
Terdengar pekik kaget di sebelah dalam rumah. "Kau kenapa, Kang Moh? Hei,..dia... dia mati...!”
Di dalam rumah menjadi ribut dan terdengar bentakan keras, "Siapa yang main gila di sini?!"
Lalu melompatlah sesosok bayangan orang tinggi kurus dari dalam. Ketika sudah tiba di luar dan melihat
The Sun berdiri sambil bertolak pinggang di dalam pekarangan, orang itu melangkah lebar, menghampiri
The Sun.
The Sun memandang dengan senyum mengejek. Orang ini umurnya kira-kira tiga puluh tahun, kelihatan
kuat dan gerak-geriknya gesit, tanda bahwa dia juga mengerti ilmu silat. Teringat akan cerita nona itu, dia
segera mendahului,
"Apakah kau putera keluarga Lee yang tertua?"
"Jembel busuk, kau ini siapa? Benar, aku tuanmu adalah putera sulung. Mau apa kau mencari Lee-toaya?
Eh, mayat Kang Moh itu..." Orang itu ragu-ragu dan melirik ke dalam rumah.
"Tak usah bingung. Mayat itu aku yang melemparkannya ke dalam, malah akulah yang telah
membunuhnya."
Orang she Lee Itu kaget setengah mati, juga marah sampai mukanya merah. "Siapa kau dan mengapa kau
main gila di sini?"
"Aku The Sun, tadi kulihat anjing gila peliharaanmu itu hendak mengganggu nona yang seharusnya
menjadi nyonya rumah di sini. Orang she Lee, kau dan dua orang adikmu sudah berlaku sewenangwenang
terhadap nona Ciu Kim Hoa. Sesudah kalian berbuat mengapa tidak berani bertanggung jawab?
Mengapa kalian bahkan mengutus anjing gila peliharaan kalian itu untuk menggigitnya?"
Muka yang pucat itu kini berubah merah. Kemarahan putera sulung Lee ini tidak dapat dikendalikannya
lagi.
"Bangsat rendah, jembel busuk, berani kau bicara begini di hadapanku? Beraninya kau mencampuri
urusan kami? Setan, kau mau apa?!"
Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin sekali pukul The Sun membinasakan orang ini. Namun dia ingat
akan Ciu Kim Hoa dan dia menahan kesabarannya.
"Orang she Lee, sekarang kau pilihlah salah satu. Pertama, kau harus menerima kembali nona Ciu, mohon
dunia-kangouw.blogspot.com
ampun kepadanya, kemudian mengawininya secara sah, menyerahkan hak kepadanya sebagai nyonya
rumah dan diperlakukan sebagaimana mestinya. Atau yang kedua, kau dan adik-adikmu itu boleh memilih
kematian di tanganku, karena demi roh nenek moyangmu, kalau kau tidak memenuhi tuntutanku itu, aku
akan membunuh kalian bertiga!"
"Keparat, kau kira aku takut akan ancamanmu yang kosong itu? Kau malah yang harus membayar
hutangmu atas nyawa Kang Moh!" Orang she Lee itu lalu membentak keras dan menerjang maju, mengirim
pukulan tangan kanan yang keras ke arah dada The Sun.
Melihat gerakan ini, The Sun tersenyum. Seorang ahli silat biasa saja. Kalau dia mau, sekali sodok dia
akan dapat membuat nyawa orang ini melayang ke neraka. Akan tetapi dia tak mau menuruti nafsu hatinya
dan hendak memperlihatkan kepandaiannya supaya orang ini kapok dan taat.
Dengan mudah dia mengelak, hanya dengan miringkan tubuh, kemudian tangan kirinya menyambar dan…
"Plak-plak!"
Kedua pipi di muka orang she Lee itu dia tampar dengan keras. Seketika kedua pipi itu menjadi bengkak
dan orang itu mengusap-usap kedua pipinya sambil meringis saking nyerinya.
Namun dia membentak lagi dan menerjang makin marah, malah dibarengi teriakan keras memanggil adikadiknya.
Sebetulnya tak perlu dia berteriak karena dua orang adiknya itu setelah tadi ribut-ribut memeriksa
tubuh Kang Moh, sekarang sudah berlari ke luar dan mereka marah sekali melihat betapa kakak mereka
bertempur dengan seorang pemuda yang tak mereka kenal. Siapa orangnya yang berani berkelahi dengan
Lee Kong, kakak mereka? Kurang ajar!
Tanpa berkata apa-apa lagi dua orang pemuda yang usianya kira-kira dua puluh empat dan dua puluh
delapan tahun ini serta merta menyerbu dan mengeroyok The Sun.
"Ha-ha-ha, jadi kalian bertiga inikah putera-putera keluarga Lee? Bagus, sekarang dapat kuberi hajaran
sekaligus."
Begitu ucapannya terhenti, terdengar pekik kesakitan tiga kali dan tiga orang muda itu terlempar ke
belakang lantas roboh bergulingan. Baiknya The Sun hanya ingin memberi hajaran saja, maka mereka
tidak terluka hebat, hanya dilemparkan dan roboh saja.
"Nah, sekarang bersumpahlah untuk menerima kembali nona Ciu serta mengawininya secara sah. Kalau
kalian tidak mau, sekali lagi roboh kalian takkan mampu bangun lagi!"
Namun dasar pemuda-pemuda hartawan yang semenjak kecil sudah terlalu biasa diberi kemenangan
terus, ketiga orang she Lee ini tentu saja enggan mengalah. Selama hidup mereka baru kali ini mereka
mendapat pengalaman pahit seperti ini. Biasanya, jangankan merobohkan mereka, melawan pun tidak ada
yang berani.
"Jembel busuk, kaulah yang akan mampus!" teriak mereka.
Seperti tiga ekor anjing galak, mereka menyerbu lagi. Sekarang malah dengan senjata di tangan. Kiranya
mereka itu masing-masing selalu menyimpan sebatang pisau panjang yang tadi mereka selipkan di ikat
pinggang.
Habislah kesabaran The Sun. la maklum bahwa andai kata mereka terpaksa menerima kembali Kim Hoa
karena dia tekan, kiranya nona itu kelak takkan terjamin keselamatan dan kebahagiaannya hidup di tengah
orang-orang semacam ini. Kasihan nona itu kalau harus menjadi keluarga mereka, tentu hanya siksa dan
derita saja yang akan dia alami selama hidupnya.
Kemarahannya memuncak, apa lagi melihat berkelebatnya tiga batang pisau panjang itu, baginya seperti
seekor harimau mencium darah. The Sun berseru panjang, melengking tinggi suaranya dan sangat cepat
gerakannya sehingga tiba-tiba saja lenyaplah dia dari pandangan mata ketiga orang pengeroyoknya.
Jerit yang terdengar beruntun tiga kali itu sekarang amat mengerikan karena itulah jerit kematian dari tiga
orang pengeroyok itu. Tahu-tahu mereka telah roboh berkelojotan dan tepat pada ulu hati mereka
tertancap pisau masing-masing, sangat dalam sampai hanya tersisa gagangnya dan ujung pisau tembus
dunia-kangouw.blogspot.com
sedikit di punggung! Ada pun The Sun sudah tak tampak lagi di tempat itu!
Gegerlah dusun itu. Orang-orang yang tadi menonton sambil sembunyi, sekarang keluar dari tempat
persembunyian. Namun ketiga orang muda itu tak tertolong lagi, begitu pisau dicabut nyawa mereka ikut
tercabut.
Tinggallah kakek dan nenek keluarga Lee yang menangis meraung-raung. Tampak juga orang-orang
dusun, terutama yang wanita, menangis karena terharu. Akan tetapi banyak orang laki-laki dusun itu diamdiam
tertawa, bahkan wanita-wanita itu setelah pulang ke gubuk masing-masing juga tertawa lega. Sudah
terlalu banyak penderitaan lahir batin yang harus mereka alami dari tiga orang pemuda Lee itu.
The Sun sudah kembali ke dalam rumah tua. Hatinya berdebar cemas, dan dia kembali merasa heran
kepada dirinya sendiri. Kenapa dia cemas dan takut kalau-kalau wanita itu sudah tidak berada lagi di situ?
Mengapa dia khawatir kalau-kalau Kim Hoa membunuh diri? Bagaikan terbang dia tadi kembali ke tempat
ini dan kedua kakinya gemetar ketika dia memasuki rumah tua.
Wajahnya seketika berseri ketika dia lihat Kim Hoa masih berada di situ, berdiri di sudut dengan mata
selalu memandang ke luar, agaknya mengharapkan kembalinya. Memang betul dugaannya karena begitu
melihat dia muncul, Kim Hoa segera berlari menghampiri.
"Bagaimana, In-kong?"
The Sun tersenyum dan hendak menggodanya. "Mereka dengan senang hati suka untuk menerimamu
kembali, Nona, bahkan bersedia mengawinimu. Kau akan menjadi nyonya muda di sana, dihormati dan
disegani di samping nyonya tua ibu mereka."
Tiba-tiba nona itu kembali menangis sesenggukan sambil menutupi mukanya. The Sun mengerutkan
keningnya, tetapi sepasang matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum karena dia senang melihat
bahwa dugaannya benar. la sudah menduga bahwa gadis itu pasti tidak suka kembali ke sana, biar pun
dikawini secara sah, dijadikan nyonya rumah, karena memang watak tiga orang laki-laki itu amat buruk.
"Nona, kenapa kau menangis? Bukanlah hal itu baik sekali?"
Kim Hoa menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis, sukar baginya mengeluarkan suara karena
menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya dia mampu menguasai tangisnya dan berkata, "Tidak, In-kong... saya
tidak sudi kembali ke sana. Mereka mau menerima saya dan mengawini saya hanya karena kau paksa.
Kalau In-kong sudah pergi, tentu mereka akan melampiaskan kedongkolan hati kepada saya, …aahh...
ngeri saya memikirkan hal itu."
”Nona, apakah kau tidak... tidak cinta kepada mereka? Kepada salah seorang di antara mereka?"
"Tidak! Tidak! Aku benci kepada mereka semua! Aku benci kepada yang muda-muda, juga benci kepada
yang tua! Mereka orang-orang jahat dan keji!"
The Sun mengerutkan kening dan ragu-ragu untuk mengeluarkan pertanyaan ini, namun dipaksanya,
"Maaf, Nona. Tetapi... tapi... bukankah mereka... seorang di antara mereka adalah... ayah dari anak dalam
kandunganmu?"
Tiba-tiba Kim Hoa menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis dengan sedih.
"Biarkan aku mati... biarlah aku mati saja... ya Tuhan, apa dosa hamba sehingga harus menanggung derita
dan hinaan seperti ini?" Nona itu mengeluh panjang dan pingsan.
The Sun berlutut, menggeleng-gelengkan kepala. "Kasihan..."
Dengan hati-hati sekali dia lalu mengurut jalan darah di leher dan punggung. Kembali dia merasa heran
dan tak mengerti mengapa dadanya berdebar begitu keras ketika ujung jari tangannya menyentuh kulit
leher dan punggung. Apa yang aneh dalam diri nona ini sehingga seakan-akan mempunyai besi sembrani
yang menariknya amat kuat?
Kim Hoa siuman kembali, mula-mula hanya termenung memandang kosong, kemudian dia mengeluh
panjang. "In-kong, pertanyaanmu tadi... bagaimana saya harus menjawab? Saya dipaksa, saya tak
dunia-kangouw.blogspot.com
berdaya... saya benci mereka, saya benci diri sendiri dan saya benci anak dalam kandungan ini...”
"Hushhh, jangan bicara demikian. Anak itu tidak berdosa."
"Lebih baik aku bunuh diri, biarlah anak ini tidak sempat terlahir."
”Hushhh, tidak boleh. Kau harus hidup, hidup bahagia, juga anak itu harus lahir dalam rumah tangga
bahagia."
"Bagaimana...? Apa maksudmu, In-kong...?”
Kini The Sun tidak tersenyum lagi, wajahnya yang tampan nampak bersungguh-sungguh. Matanya
menatap tajam pada saat dia membantu Kim Hoa duduk.
"Nona, aku The Sun seorang laki-laki sejati, sekali bicara tidak akan kutarik kembali. Aku juga hidup
sebatang kara. Terus terang saja, saat melihat kau, hatiku timbul kasihan dan cinta. Aku cinta kepadamu
dan kalau kau sudi menerima, aku bersedia menjadi suamimu dan menjadi ayah dari anak di
kandunganmu. Sekarang juga, jawablah, kalau kau mau akan kubawa ke Go-bi-san di mana kita hidup
berbahagia di tempat yang jauh dari dunia ramai. Kalau kau tidak mau, terpaksa aku harus
meninggalkanmu dan kau boleh pilih apa yang baik untukmu, aku tidak berhak mencampuri lagi."
Dapat dibayangkan betapa sukar keadaan Kim Hoa di saat itu. la belum mengenal The Sun, dan ia sama
sekali tidak tahu bahwa di dunia ini ada orang seperti ini, yang tampan, gagah perkasa dan aneh. la tahu
bahwa ia harus dapat menjawab sekarang juga, tanpa ragu-ragu.
Terang bahwa pemuda ini berbeda dengan keluarga Lee, berbeda dengan pamannya, berbeda dengan
ayahnya dulu. Pemuda ini tampan dan memiliki kepandaian luar biasa. Hidup di sampingnya berarti hidup
aman tenteram, terbebas dari gangguan orang-orang jahat. Sebaliknya apa bila ia menolak, jalan satusatunya
hanya membunuh diri. la ngeri kalau memikirkan ini.
"Bagaimana, Nona?" The Sun mendesak.
"Aduh, In-kong, bagaimana saya harus menjawab? Saya seorang wanita... bagaimana... ahhh..."
The Sun mengangguk senang. Keadaan lahir nona ini sudah dia lihat, dan dia sangat tertarik dan suka
akan kecantikannya. Keadaan batinnya belum dia ketahui, akan tetapi melihat sikap gadis ini, dia pun
dapat menduga bahwa Kim Hoa berperasaan halus dan bersusila tinggi. Hanya karena nasibnya yang
buruk, tidak mempunyai andalan di dunia ini, maka dia terjerumus ke dalam jurang kesengsaraan seperti
itu.
"Aku tahu betapa sukarnya bagimu untuk menjawab, Nona. Sekarang jawablah dengan anggukan saja.
Jika kau mengangguk, berarti kau sudi menerima tawaranku untuk hidup berdua. Apa bila kau menggeleng
kepala, aku akan pergi sekarang juga dan tidak akan mengganggumu lebih lama lagi."
Dengan air mata bercucuran saking terharu dan merasa bahagia karena baru sekarang selama hidupnya ia
mendapatkan orang yang begini memperhatikan nasibnya, Kim Hoa menganggukkan kepalanya sampai
berulang-ulang!
The Sun tertawa bergelak, menubruk maju dan di lain saat Kim Hoa sudah dipondongnya dan dibawa lari
ke luar rumah tua. Kim Hoa kaget sekali, apa lagi merasa betapa ia bagai dibawa terbang. Ngeri hatinya.
Sedetik ia curiga. Manusiakah atau bukan pemuda ini?
Bagaimana bisa terbang kalau manusia? Akan tetapi ia menyerahkan diri kepada orang ini, yang
dekapannya begitu kokoh kuat, begitu sentosa. la meramkan mata dan merasa aman. Desir angin yang
mengaung di kedua telinganya makin lama makin merdu seperti dendang yang menina-bobokkannya
Sesudah bertemu dengan Ciu Kim Hoa, The Sun benar-benar sudah berubah menjadi seorang manusia
lain. Dia merasa hidupnya tenteram dan penuh damai, tidak bernafsu untuk merantau lagi. Kakek gurunya,
yaitu Hek Lojin yang sudah buntung lengan kirinya, menerimanya dengan girang. The Sun bersama Kim
Hoa yang ia aku sebagai isterinya, selanjutnya tinggal di puncak Go-bi-san ini bersama Hek Lojin.
Beberapa bulan kemudian Kim Hoa melahirkan seorang anak perempuan yang mungil dan sehat. The Sun
dunia-kangouw.blogspot.com
menerima kehadiran anak ini dengan gembira dan bahagia, dengan tulus menganggapnya sebagai anak
sendiri. Anak itu diberi nama Siu Bi dan diberi nama keturunan The.
Juga Hek Lojin amat sayang kepada bayi ini, sehingga dalam masa tuanya kakek itu pun merasakan
kebahagiaan. Memang, kebahagiaan dapat dinikmati dalam hal apa pun juga, dalam soal-soal sederhana,
asalkan orang dapat mengenalnya.
Yang paling berbahagia adalah Kim Hoa. Dia bahagia, juga sangat terharu akan sikap suaminya yang
benar-benar menganggap Siu Bi seperti anak keturunannya sendiri. Dia sangat kagum akan kebijaksanaan
suaminya dan bagi Kim Hoa, manusia yang paling mulia di dunia adalah suaminya, The Sun!
Memang ganjil dunia ini. Banyak sekali orang menganggap The Sun sebagai seorang manusia jahat, keji,
pendeknya bukan manusia baik-baik. Akan tetapi coba tanya Kim Hoa, apakah bagi dia ada manusia yang
lebih mulia dari pada The Sun? Kelihatannya saja ganjil dan aneh. Keganjilan yang tidak aneh, atau
keanehan yang tidak ganjil bagi yang mau memperhatikan.
Hidup manusia dikuasai seluruhnya oleh egoisme (ke-akuan). Maka tidak mengherankan apa bila
pandangan orang terhadap orang lain juga terbungkus sifat ke-akuan ini. Orang lain yang menguntungkan
dirinya, tentu dipandang sebagai orang baik, sebaliknya orang lain yang merugikan dirinya, tentu
dipandang sebagai orang tidak baik.
Dalam hal ini, keuntungan atau kerugian diartikan luas dan mengenai lahir batin. Sifat ke-akuan yang
sudah menyelubungi seluruh kehidupan manusia ini sudah menjadi satu dengan kehidupan itu sendiri
sehingga sifat ini dianggap umum. Siapa menyeleweng dari sifat ini, dialah yang dianggap tidak umum,
malah dianggap tidak normal! Inilah dunia dan manusianya, panggung sandiwara dengan manusia sebagai
badut-badutnya.
Dengan The Sun sebagai ayah dan Hek Lojin sebagai kakek guru, tentu saja semenjak kecil Siu Bi sudah
digembleng dengan ilmu silat. Hek Lojin bahkan mengajarnya dengan sungguh-sungguh, sedangkan
ayahnya, The Sun, adalah seorang ahli dalam ilmu surat. Oleh karena itu, semenjak kecil Siu Bi menerima
gemblengan ilmu surat dan ilmu silat, malah oleh ibunya juga dilatih dalam ilmu kewanitaan, memasak dan
menyulam.
Maka, biar pun anak ini hidup di puncak gunung, tidak pernah melihat kota besar kecuali dusun-dusun di
sekitar pegunungan, akan tetapi ia menerima pendidikan anak kota, tidak hanya pandai bermain pedang,
berlatih ginkang, lweekang dan memelihara sinkang di dalam tubuh, tetapi juga tidak asing akan tata cara
dan sopan santun, pandai menulis sanjak, juga tahu akan sejarah, pandai meniup suling dan dapat pula
mengganti pedang dengan jarum halus untuk menyulam!
Siu Bi menjadi seorang gadis cantik, secantik ibunya. Rasa kecintaan yang dicurahkan kepadanya oleh
ayah, ibu, dan kakeknya, membuat ia menjadi seorang gadis manja dan nakal. Segala keinginannya selalu
dituruti dan karenanya gadis ini tak biasa menghadapi penolakan terhadap keinginannya. Apa yang ia
kehendaki harus dituruti dan dipenuhi!
Dalam hal ilmu silat, dia sudah mewarisi semua kepandaian ayahnya, bahkan Hek Lojin tidak tanggungtanggung
menurunkan ilmunya yang paling hebat, yaitu ilmu tongkat yang diubah menjadi ilmu pedang
untuk disesuaikan dengan gadis itu.
"Ilmu ini kuberi nama Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh), cucuku. Jangankan
orang lain, bahkan ayahmu sendiri tidak pernah kuwarisi ilmu pedang yang tadinya adalah ilmu tongkatku
ini."
"Kongkong, apakah ilmu pedang ini tidak ada tandingannya lagi di dunia ini? Ibu bilang bahwa ayah adalah
seorang yang sakti, malah katanya di dunia ini jarang ada yang bisa melawan. Kongkong sebagai gurunya
tentu merupakan jago utama di dunia ini, karena itu aku ingin kau beri ilmu yang nomor satu di dunia, agar
jangan ada orang lain dapat mengalahkan aku.”
"Ha-ha-ha-ha, kau cerdik… kau sangat pintar." Dengan tangan kanannya, kakek hitam itu mengelus-elus
hidungnya. "Mari kau datang ke kamarku, jangan sampai ketahuan ayah ibumu dan aku akan menurunkan
ilmu yang paling hebat ini kepadamu."
Siu Bi yang sekarang sudah berusia enam belas tahun itu berjingkrak kegirangan, lalu menggandeng
dunia-kangouw.blogspot.com
tangan kanan kakeknya dan menyeret orang tua itu ke dalam kamar Hek Lojin yang lebar dan gelap.
"Nah, sekarang kau harus berlutut dan bersumpah, baru aku akan menurunkan Cui-beng Kiam-hoat."
"Bersumpah segala apa perlunya, Kongkong? Apakah kau tidak rela menurunkan ilmu itu kepadaku?" Siu
Bi mulai merengek manja.
"Hisss, anak bodoh. Mempelajari ilmu ini ada syaratnya, dan kalau kau mau bersumpah untuk memenuhi
syarat itu, kelak baru aku mau menurunkannya dan mati pun aku akan meram." Kakek itu menghela nafas
panjang.
"Lho, kau susah, Kek? Ada apakah? Bilang saja, cucumu akan dapat menolongmu." Siu Bi menyombong.
"Kau lihat lengan kiriku ini?" Kakek itu menggerakkan sisa lengan kirinya yang buntung sebatas siku. Tentu
saja Siu Bi yang sudah melihatnya sejak kecil tidak merasa ngeri dan sudah biasa.
"Bukankah dahulu kau bilang karena kecelakaan maka lenganmu buntung, Kek? Ataukah ada cerita lain?"
Siu Bi memang cerdik sekali orangnya, jalan pikirannya cepat dan mungkin karena hidup di tempat sunyi
dan dekat dengan seorang sakti aneh seperti Hek Lojin, sedikit banyak wataknya juga terbawa aneh. Gadis
ini tidak pernah memperlihatkan perasaan terharu. Perasaannya kuat dan tidak mudah terpengaruh.
"Memang akibat kecelakaan, akan tetapi kecelakaan yang dibuat oleh orang lain. Lengan kiriku buntung
oleh seorang musuhku yang bernama Kwa Kun Hong, berjuluk Pendekar Buta."
"Buta? Dia buta...? Wah, mana bisa hal ini terjadi? Aku tidak percaya, Kek. Kau bohong!"
Hek Lojin menarik nafas panjang. Ucapan cucunya yang manja dan telah biasa bersikap kasar
terhadapnya itu pada saat lain tentu akan membuat dia terkekeh geli, akan tetapi saat itu dia menerimanya
seperti sebuah tusukan pada jantungnya.
Memang sungguh memalukan sekali. Dia, tokoh besar Go-bi-san yang namanya sudah sejajar dengan
tokoh-tokoh kelas satu di dunia persilatan, menjadi buntung lengan kirinya menghadapi seorang lawan
yang buta, dan masih muda lagi!
"Aku tidak bodoh, dan memang dia itu buta kedua matanya, tapi amat lihai."
"Bagaimana kau bisa kalah, Kek? Bukankah kau orang terpandai di kolong langit?"
"Pada waktu itu, delapan belas tahun yang lalu, aku belum lagi menciptakan Cui-beng Kiam-hoat, ilmuku
masih merupakan ilmu tongkat yang liar. Juga aku belum menciptakan Ilmu Pukulan Hek-in-kang yang juga
hendak kuajarkan kepadamu sebagai imbangan dari Cui-beng Kiam-hoat."
"Sekarang kau sudah mempunyai kedua ilmu itu, mengapa tidak mencari dia dan balas membuntungi
lengannya?"
Karena sejak kecil berada di puncak Go-bi dan tidak pernah menyaksikan sepak terjang Hek Lojin terhadap
orang lain, hanya sehari-hari menyaksikan sikap kakek itu terhadap dirinya amat baik dan mencinta, tentu
saja Siu Bi juga menganggap kakek ini orang yang amat mulia dan baik hatinya.
Kembali Hek Lojin menarik nafas panjang, tampak berduka sekali. "Aku sudah makin tua, usiaku sudah
delapan puluh lebih, sudah lemah, tenaga sudah hampir habis, mana bisa membalas dendam? Musuhku
itu sekarang paling banyak setua ayahmu, bahkan masih lebih muda lagi, sedang kuat-kuatnya. Selain itu,
dengan hanya sebuah lengan, mana aku dapat menang?
Untuk melawan ilmu pedangnya, dengan pedang yang bersembunyi dalam tongkat, dan menghadapi ilmu
pukulannya yang mengeluarkan uap putih, harus memainkan Cui-beng Kiam-hoat dan sekaligus tangan kiri
memainkan Hek-in-kang. Bagiku tiada harapan lagi, harus kutelan kekalahan dan penghinaan ini dan aku
akan mati dengan mata terbelalak kalau tidak ada orang yang dapat membalaskan dendamku."
"Hemmm, kalau begitu, engkau mau menurunkan kedua ilmu itu kepadaku dengan syarat bahwa aku harus
membalaskan dendammu terhadap Pendekar Buta itu, Kek?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan lengan kanannya, Hek Lojin memeluk pundak cucunya. "Siu Bi, kau benar-benar menggembirakan
hatiku. Kau cerdik, kau pintar, kau tahu akan isi hatiku. Benar, cucuku, kau bersumpahlah bahwa kelak kau
akan membalaskan hinaan terhadap diriku ini pada Pendekar Buta, dan sekarang juga aku akan wariskan
kedua ilmu itu kepadamu."
"Kongkong, tanpa hadiah apa pun juga, sudah menjadi kewajibanku untuk membalaskan sakit hatimu.
Terlalu sekali Pendekar Buta itu. Sudah buta matanya, buta pula hatinya, menghina orang sesukanya.
Lengan orang dibuntungi, hemmm, padahal kau seorang tua yang baik dan tidak berdosa, apa dikiranya
dia seorang saja yang paling pandai di dunia ini? Jangan khawatir, Kek, aku bersumpah, kelak kalau ada
kesempatan tentu aku akan membuntungi lengan kirinya, persis seperti yang telah dia lakukan kepadamu."
"Orang hutang harus ada bunganya, Siu Bi. Keenakan dia kalau hanya dibuntungi lengan kirinya seperti
aku, harus ada tebusan bagi penderitaanku belasan tahun ini. Tidak hanya dia, juga kalau dia mempunyai
anak, semua anaknya harus kau buntungi pula lengan kirinya."
"Bapaknya jahat anaknya pun tentu jahat. Baik, Kek, akan kutaati permintaanmu itu."
Bukan main girangnya hati Hek Lojin dan semenjak hari itu dia menurunkan Ilmu Pukulan Hek-in-kang
yang kalau dimainkan dengan sempurna, dari tangan si pemain akan keluar uap kehitaman yang
mengandung racun.
Tanpa ia sadari, gadis yang bersih itu kini dikotori oleh ilmu silat yang mengandung ilmu hitam. Tidak ini
saja, malah di dalam hatinya sudah ditanamkan bibit permusuhan yang hanya dapat dipuaskan dengan
aliran darah dan buntungnya lengan entah berapa orang banyaknya!
Tidak mudah mewarisi dua macam ilmu itu. Meski pun Siu Bi sudah mempunyai dasar yang kuat, namun
untuk memahami dua buah ilmu itu ia harus berlatih sampai setahun lebih lamanya!
Bukan main cepatnya kemajuan gadis Itu setelah ia mewarisi dua macam ilmu silat ini dari kakeknya. The
Sun sama sekali tidak tahu akan hal ini, karena kakek dan gadis itu tidak memberi tahu kepadanya.
Memang keduanya merahasiakan hal ini, bahkan The Sun sama sekali tidak mengira bahwa kakek itu telah
menciptakan ilmu silat yang begitu hebat dan dahsyat.
Pada suatu senja, secara iseng-iseng ayah ini mengintai kamar anaknya, karena dia merasa heran
mengapa sekarang sore-sore gadis itu sudah masuk ke kamar sehabis makan sore. Alangkah herannya
saat dia melihat gadis itu berjungkir balik di atas tempat tidurnya, kepala di atas kasur dan kedua kaki lurus
ke atas, kemudian kedua tangannya bergerak-gerak aneh.
Yang amat mengagetkan hatinya adalah cara gadis itu berlatih pernafasan. Mengapa secara berjungkir
seperti itu?
Diam-diam dia merasa heran, akan tetapi dia tidak mau mengganggu, hanya mengintai terus sampai jauh
malam. Ketika menjelang tengah malam anaknya itu melompat keluar jendela secara diam-diam dan pergi
ke pekarangan belakang, The Sun terus mengikuti dengan hati tidak enak.
Dia melihat anaknya itu mencabut pedang dan bersilat di bawah sinar bulan purnama. Bukan main
hebatnya. The Sun sampai melongo ketika menyaksikan betapa pedang itu bergulung-gulung
mengeluarkan hawa dingin dengan sinar menghitam. Kemudian makin terkejut dia ketika tangan kiri
anaknya itu diputar-putar dan digerakkan sedemikian rupa sehingga mengeluarkan uap berwarna hitam
pula!
Tiba-tiba muncul bayangan hitam yang dikenal oleh The Sun biar pun keadaan remang-remang, karena
orang ini bukan lain adalah Hek Lojin. Kakek itu keluar sambil tertawa bergelak.
"Bagus, bagus! Kau malah lebih hebat dari pada aku sepuluh tahun yang lalu. Cucuku yang pintar, cucuku
yang manis, engkaulah yang akan membikin aku dapat mati meram. Sekarang tinggal aku menagih janji,
kau harus memenuhi janji dan sumpahmu."
"Di mana adanya Pendekar Buta itu, Kek?"
"Ha-ha-ha, dia manusia sombong itu berdiam di puncak Liong-thouw-san. Dia sebetulnya putera ketua
dunia-kangouw.blogspot.com
Hoa-san-pai. Kau cari dia di Liong-thouw-san, apa bila tidak ada, susul dia ke Hoa-san-pai, buntungi
lengannya dan lengan isterinya, juga lengan semua anaknya. Ha-ha-ha, aku akan mati meram."
Tiba-tiba The Sun melompat ke luar, bulu tengkuknya berdiri. "Suhu (guru)! Siu Bi! Apa artinya ini semua?
Dari mana kau mendapatkan ilmu setan itu?"
"Ayah, ilmu warisan Kongkong bagai-mana kau berani menyebutnya ilmu setan?"
The Sun makin tercengang, lalu memandang kakek itu yang diam saja. "Suhu, benarkah Suhu yang
mewariskan kedua ilmu itu?"
"Hemmm, memang benar. Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-hoat adalah perubahan dari ilmu tongkat hitamku
dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang itu adalah inti sari semua Iweekang yang kupelajari. Dua ilmu ini diperlukan
untuk menghadapi kepandaian Kun Hong si manusia buta."
"Suhu!" The Sun berseru keras, kemudian berpaling kepada Siu Bi sambil membentak keras. "Hayo kau
kembali ke kamarmu!" Bentakan ini ketus dan marah.
Siu Bi selama hidupnya belum pernah dibentak seperti ini oleh ayahnya, maka dia terisak menangis sambil
berlari masuk ke kamarnya! Akan tetapi, gadis yang sangat cerdik ini tentu saja tidak merasa puas kalau
harus menangis begitu saja.
la merasa sangat penasaran dan diam-diam ia mempergunakan ginkang-nya yang tinggi untuk keluar lagi
dari dalam kamarnya, lalu berindap-indap mengintai dan mendengarkan percakapan antara kakeknya dan
ayahnya. Dan apa yang dia dengar malam itu baginya merupakan tusukan-tusukan pedang beracun yang
berkesan hebat dan menggores amat dalam di kalbunya.
"Suhu," dia mendengar ayahnya mencela, "Bagaimanakah Suhu mempunyai niat yang begitu berbahaya?
Mengapa Siu Bi Suhu bawa-bawa, Suhu seret ke dalam gelombang permusuhan pribadi? Teecu menyesal
sekali, karena menurut pendapat teecu (murid), permusuhan dengan Pendekar Buta bukan merupakan
permusuhan pribadi, akan tetapi permusuhan karena negara. Teecu tidak suka dia diseret ke dalam
permusuhan Suhu itu, malah teecu mempunyai keinginan untuk menjodohkan dia dengan seorang di
antara para ksatria dari Hoa-san-pai atau Thai-san-pai, supaya keturunan teecu kelak menjadi orang-orang
gagah perkasa yang terhormat dan membuat nama besar di dunia."
"Huh, The Sun. Kau sekarang mau pura-pura menjadi orang alim? Apa kau tidak melihat lenganku yang
buntung ini? Apakah sakit hati ini harus kita diamkan saja ? Bukankah ini berarti merendahkan nama besar
Go-bi-san? The Sun, ke mana kegagahanmu? Mana baktimu terhadap guru? Ahhh, dia lebih gagah dari
pada kau, lebih setia dan berbakti!"
"Suhu, terang bahwa Pendekar Buta bukan musuh teecu. Andai kata teecu tidak yakin betul bahwa teecu
tak akan mampu menandinginya, tentu teecu sudah lama mencarinya untuk diajak bertanding. Apa bila
memang Suhu demikian menaruh dendam kepadanya, mengapa tidak Suhu sendiri turun gunung,
mencarinya dan menantangnya? Masa gadis remaja seperti dia disuruh turun gunung? Teecu tidak setuju
dan tidak boleh!" Suara The Sun mengeras.
"Hemmm, kau murid durhaka Aku sudah begini tua, bagaimana dapat membalas dendam sendiri? Apa
artinya aku punya murid? Apa artinya menurunkan kepandaian? Kau sendiri kalau dahulu tidak lekas-lekas
kubawa lari, apakah juga tidak akan mampus di tangan Pendekar Buta? Sekarang, Siu Bi suka
membalaskan dendam, mengapa kau ribut-ribut? Kalau kau sendiri tidak becus membalas budi guru,
biarlah dia yang pergi. Kau tidak mau ya sudah, tapi dia mau, perlu apa kau ribut lagi?"
"Tapi dia puteriku, Suhu. Dia anak tunggal... seorang gadis lagi...!"
"Siapa bilang dia puterimu? Ha-ha-ha, dia bukan anakmu!"
"Suhu...!!!"
"Ha-ha-ho-ho-ho, kau kira Hek Lojin sudah pikun dan bermata buta? Ha-ha-ha, The Sun, tentu saja aku
tahu. Tetapi aku tidak akan membuka mulut kepada siapa pun juga, asal kau membiarkan dia
membalaskan dendam terhadap Pendekar Buta."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak! Tidak boleh...! Suhu, jangan suruh dia!"
"Ha-ha-ha, dia telah bersumpah, tak mungkin menjilat ludah sendiri, tak mungkin seorang keturunan jago
Go-bi mengingkari janji."
"Teecu akan melarangnya!" teriak The Sun, kemarahannya memuncak.
"Aku akan memaksanya, mengingatkan dia akan sumpahnya!" Hek Lojin bersikeras.
"Kau... kau jahat...!" The Sun lupa diri dan menerjang kakek itu.
Hek Lojin cepat-cepat menangkis, akan tetapi karena dia sudah amat tua, sudah hampir sembilan puluh
tahun usianya, tangkisannya kurang kuat dan gerakannya kurang cepat.
"Bukkk... bukkk!" Dua kali dadanya terpukul oleh The Sun dan dia terguling roboh.
"Ayahhh...!" Siu Bi meloncat dan berlari menghampiri.
Sebutan ayah tadi tercekik di tenggorokannya karena ia teringat akan kata-kata Hek Lojin bahwa dia bukan
anak The Sun! Akan tetapi pada saat itu ia tidak peduli dan menubruk Hek Lojin yang rebah terlentang.
Kakek itu terengah-engah, memandang pada Siu Bi dengan mata mendelik, kemudian... nyawanya
melayang, nafasnya putus. Dia tewas dalam pelukan Siu Bi, tetapi matanya tetap mendelik memandang
gadis itu.
"Kongkong...!" Siu Bi menangis dan memeluki kakek itu yang mencintanya semenjak ia masih kecil. Di
dekat telinga kakek yang sudah mati itu ia berbisik perlahan, "Aku akan balaskan dendammu, Kek..."
Bisikan campur isak ini tidak terdengar oleh The Sun yang berdiri seperti patung dengan muka pucat. Akan
tetapi anehnya, kedua mata yang mendelik dari kakek itu tiba-tiba kini tertutup rapat setelah Siu Bi berbisik.
Hal ini terlihat oleh Siu Bi, di bawah sinar bulan. la terharu dan menangis lagi, menggerung-gerung.
The Sun menyesal bukan main, namun penyesalan yang sudah terlambat. Betapa pun juga, hatinya lega
karena rahasia tentang Siu Bi yang entah bagaimana sudah diketahui oleh Hek Lojin itu, sekarang tertutup
rapat-rapat. Sama sekali dia tidak menduga bahwa Siu Bi telah mendengarkan percakapan tadi!
Setelah jenazah Hek Lojin dikubur, pada malam harinya, secara diam-diam Siu Bi telah minggat tanpa
pamit, meninggalkan puncak Go-bi-san! Ketika itulah The Sun baru sadar bahwa ternyata anaknya sudah
tahu akan rahasia dirinya.
Tentu saja hal ini membuat The Sun hancur hatinya, dan lebih-lebih ibu Siu Bi sangat berduka sehingga
berkali-kali ia jatuh pingsan. The Sun menghibur isterinya dengan janji bahwa mereka juga akan turun
gunung setelah masa berkabung habis, untuk mencari anak mereka yang tercinta itu.
Suasana bahagia di puncak ini seketika berubah menjadi penuh kedukaan. Siapa kira, kehidupan yang
tadinya serba bahagia itu dapat sekaligus hancur berantakan. Memang begitulah keadaan hidup di dunia
ini…..
********************
Kita tinggalkan dahulu keluarga di puncak Go-bi-san yang sedang dicekam kedukaan itu dan mari kita
menengok Pendekar Buta, orang yang menjadi sebab timbulnya peristiwa menyedihkan di puncak Go-bisan.
Para pembaca cerita ‘Pendekar Buta’ tentunya tahu siapakah pendekar yang cacat ini, seorang tuna netra
(buta) yang memiliki ilmu kepandaian dahsyat sehingga orang sakti seperti Hek Lojin dapat dibuntungi
lengan kirinya.
Pendekar Buta adalah putera dari ketua Hoa-san-pai yang sekarang sudah sangat tua dan disebut Kwa
Lojin. Ada pun Pendekar Buta sendiri bernama Kwa Kun Hong. Seperti telah diceritakan dalam cerita
‘Pendekar Buta’ yang ramai, setelah selesai pertempuran dan perang saudara antara Pangeran Kian Bun
Ti dan pamannya, Raja Muda Yung Lo di mana Pendekar Buta membela Raja Muda Yung Lo sehingga
dunia-kangouw.blogspot.com
mencapai kemenangan, Pendekar Buta lalu menikah dengan Kwee Hui Kauw, yaitu seorang gadis perkasa
puteri Kwee-taijin yang semenjak kecil diculik oleh Ching-toanio dan dididik ilmu silat di Ching-coa-to (Pulau
Ular Hijau).
Setelah menikah, Kun Hong beserta isterinya mendiami puncak Liong-thouw-san, puncak gunung di mana
dahulu dia menerima warisan ilmu dari seorang sakti bernama Bu Beng Cu, ditemani oleh seekor burung
rajawali berbulu emas. Yang ikut ke Liong-thouw-san bersama suami isteri ini adalah seorang anak laki-laki
berusia enam tahun yang menjadi muridnya. Siapakah anak laki-laki ini?
Dalam cerita ‘Pendekar Buta’ sudah dituturkan dengan jelas bahwa anak laki-laki yang menjadi murid Kun
Hong ini adalah Yo Wan atau biasanya dipanggil A Wan. Dia anak keluarga petani sederhana, ayahnya
tewas disiksa kaki tangan tuan tanah di dusunnya, sedangkan ibunya mati membunuh diri setelah
membiarkan dirinya diperkosa oleh The Sun dalam usahanya menolong keselamatan Kun Hong yang
ketika itu terluka di dalam rumahnya. Karena pertolongan yang mengorbankan kehormatan dan nyawa
inilah maka Kun Hong merasa berhutang budi kepada ibu Yo Wan dan dia lalu membawa anak yatim piatu
ini sebagai muridnya.
Yo Wan seorang anak yang sangat cerdik. Dengan tekun dia mempelajari semua ilmu yang diturunkan
oleh Kun Hong kepadanya dan setiap hari anak ini tidak mau bersikap malas. Ia rajin sekali melayani
segala keperluan gurunya dan ibu gurunya.
Mencari kayu bakar, mengambil air dari sungai, membersihkan pondok, malah kelebihan waktu dia
pergunakan untuk menanam sayur mayur serta memeliharanya. Juga segala keperluan Kun Hong dan
isterinya jika membutuhkan sesuatu ke bawah gunung, dialah yang turun dari puncak dan pergi ke dusundusun.
Pendeknya, Yo Wan sangat rajin dan patuh sehingga tidaklah mengherankan apa bila Kun Hong
dan isterinya Hui Kauw, amat mencinta anak itu.
Dua tahun setelah menikah, Hui Kauw pun mengandung. Kun Hong yang amat mencinta isterinya merasa
khawatir. Dia sendiri adalah seorang buta. Sungguh pun dia ahli dalam hal pengobatan, namun belum
pernah dia menolong wanita melahirkan dan tidak pernah pula dia mempelajari dalam kitab pengobatan.
Tempat tinggal mereka di puncak Liong-thouw-san yang tersembunyi dan jauh dari para tetangga.
Bagaimana kalau sudah tiba saatnya isterinya melahirkan?
"Sebaiknya kita pindah dulu saja ke Hoa-san, isteriku," kata Kun Hong setelah isterinya mengandung tiga
bulan lamanya.
Hui Kauw mengerutkan alisnya yang kecil melengkung panjang dan hitam. Di dalam hati ia merasa tidak
setuju. Ia cukup maklum akan bahayanya hidup berdekatan dan tinggal bersama sanak keluarga. Betapa
mudahnya terjadi bentrokan. Gedung besar orang lain kadang kala merupakan neraka, sebaliknya gubuk
kecil milik sendiri adalah sorga, apa lagi di dekatnya ada suami yang tercinta. Akan tetapi, ia maklum pula
bahwa suaminya mengusulkan hal ini karena mengingat akan kepentingan dan keselamatannya.
"Suamiku, perlukah kita pindah sejauh itu? Kurasa, kalau sudah sampai saatnya kita bisa minta bantuan
seorang nenek dari dusun di bawah.” la mencoba untuk membantah.
Kun Hong memegang tangannya, mesra. "Hui Kauw, alangkah akan gelisahnya hati kita kalau saat itu tiba
dan di sini tidak ada orang lain kecuali kau, aku, A Wan, dan seorang nenek pembantu. Sebaliknya, hati
kita akan besar dan tenang, apa lagi kau melahirkan di tengah-tengah keluargaku, keluarga besar Hoasan-
pai, di mana terdapat banyak paman dan bibi yang lebih berpengalaman, juga dekat dengan orang tua.
Selain itu, kita harus memikirkan juga pertumbuhan anak kita kelak. Tentu kau tidak ingin anak kita tumbuh
besar di tempat sunyi seperti ini. Aku ingin anak kita hidup bahagia, gembira setiap hari dan disayang oleh
banyak orang."
Hui Kauw amat mencinta suaminya, juga amat taat. Karena itu ia tidak mau membantah. Akan tetapi ketika
teringat akan A Wan ia bertanya,
”Bagaimana dengan A Wan?"
"Tentu saja dia ikut! Mana bisa kita tinggalkan dia di sini seorang diri?"
Di dalam hatinya, Hui Kauw mengkhawatirkan keadaan murid itu. Dia cukup mengenal watak A Wan
dunia-kangouw.blogspot.com
setelah anak itu tinggal di sana selama dua tahun. Anak itu pendiam dan taat, akan tetapi mempunyai
watak yang amat halus. Belum tentu anak itu akan merasai kebahagiaan di Hoa-san-pai, karena merasa
bahwa dia menumpang pada gurunya, dan sekarang gurunya sendiri akan menumpang di tempat orang
lain.
"Apakah dia suka?” tanyanya ragu-ragu.
"Ha-ha-ha, isteriku, kenapa tidak akan suka? Coba panggil dia ke sini."
A Wan segera datang berlari ketika mendengar suara guru dan ibu gurunya memanggil. Anak ini meski pun
usianya baru delapan tahun lebih, namun tubuhnya tegap dan kuat, berkat kerja setiap hari di sawah
ladang. la cekatan sekali, wajahnya lebar dan terang, matanya memiliki sinar mata yang sayu tetapi
kadang-kadang mengeluarkan sinar yang tajam. Dengan amat hormat anak ini menghadap suhu-nya.
"A Wan, kau bersiaplah. Kita akan pindah ke Hoa-san-pai, ke rumah kakek gurumu, ayahku yang menjadi
ketua Hoa-san-pai," kata Kun Hong singkat.
Berubah wajah A Wan dan hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Hui Kauw.
"Bagaimana, A Wan? Kenapa kau diam saja?"
Sedih hati A Wan. la merasa bahagia hidup di Liong-thouw-san. la merasa bahwa tempat itu merupakan
tempat tinggalnya dan dia amat sayang kepada tempat yang sunyi itu. la merasa bahagia dapat melayani
kedua orang itu yang dia anggap sebagai pengganti orang tuanya, bahagia dapat belajar ilmu silat dari
orang yang sejak dahulu dia anggap sebagai bintang penolongnya. Tapi sekarang, gurunya mengajak dia
pindah dan gurunya akan mondok di rumah orang lain!
"Suhu... tempat ini... siapa yang akan mengurusnya? Kalau kita semua pergi... tempat ini tentu akan
rusak..,.." Suaranya agak gemetar.
Kun Hong menarik nafas panjang. la pun tahu bahwa meski pun usianya masih kecil, namun A Wan sudah
mempunyai pandangan yang jauh dan penuh pengertian, maka tak boleh dia diperlakukan sebagai anak
kecil.
“A Wan, kau harus tahu bahwa ibu gurumu membutuhkan bantuan sanak keluarga kalau adikmu lahir.
Untuk sementara tempat ini kita tinggalkan, kelak kita tentu dapat datang menengok."
Wajah A Wan berubah gembira. "Suhu, kalau begitu, biarlah teecu (murid) tinggal di sini merawat tempat
ini. Kelak kalau Suhu dan Subo (Ibu Guru) kembali ke sini, tempat ini masih dalam keadaan baik. Lagi pula,
tanpa adanya teecu yang mengganggu perjalanan, Suhu dan Subo akan dapat melakukan perjalanan yang
lebih cepat."
Anak yang berpemandangan jauh, pikir Kun Hong kagum. Memang dengan adanya A Wan, mereka berdua
takkan dapat mempergunakan ilmu lari cepat tanpa menggendong anak itu.
"Tetapi, mungkin kami akan lama di sana, entah kapan dapat kembali kesini." katanya meragu.
"Setahun dua tahun bukan apa-apa, Suhu. Teecu dapat menjaga diri sendiri dan juga merawat tempat ini.
Sayur-mayur cukup, sebagian dapat teecu tukar gandum dan beras dengan penduduk di bawah. Kelak
kalau Suhu dan Subo kembali membawa... adik yang sudah berusia setahun lebih, wah, alangkah akan
senangnya...!"
Kun Hong adalah seorang yang senang mendengar kegagahan dan keberanian. Sikap muridnya ini benarbenar
mengagumkan hatinya, bukan sikap seorang anak kecil yang cengeng merengek-rengek.
Biarlah dia digembleng oleh alam, merasakan hidup sendiri tanpa sandaran. Biarlah dia belajar hidup
sendiri, karena hal ini akan memupuk rasa percaya pada diri sendiri. Malah sebaliknya dia ingin melihat
ketekunan muridnya itu, bagaimana hasil latihan-latihannya selama dua tahun kelak tanpa pengawasan.
“Bagaimana, isteriku, apakah kau setuju dengan permintaan A Wan untuk tinggal di sini?" Kun Hong
mengerti betapa isterinya amat sayang pula kepada A Wan, maka tak mau dia melewati isterinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kalau dia menghendaki demikian, kurasa baik kita setuju. Pula, memang sayang kalau tempat kita ini
menjadi rusak. Kelak kita kembali ke sini dan tempat ini dalam keadaan baik. Aku setuju."
Di dalam hatinya, Hui Kauw amat kasihan kepada A Wan. Akan tetapi nyonya muda ini beranggapan
bahwa kalau A Wan masih ditinggal di situ, sudah pasti suaminya kelak akan kembali ke Liong-thouw-san.
Dan inilah yang ia inginkan!
Kun Hong tertawa. "Baiklah, A Wan. Kau tinggal di sini dan kau harus melatih diri dengan jurus-jurus yang
sudah kuajarkan kepadamu. Latihan semedhi juga harus kau kerjakan dengan tekun. Aku ingin mendengar
mengenai kemajuanmu beberapa tahun kemudian. Andai kata sudah lewat dua tahun aku tidak datang ke
sini, dan kau merasa kangen, kau boleh sewaktu-waktu melakukan perjalanan ke Hoa-san-pai seorang diri
menyusul kami."
"Anak sekecil ini...?" Hui Kauw mencela, kaget.
Kun Hong tertawa, "Beberapa tahun lagi dia sudah berusia belasan tahun, dan biar pun masih kecil, apa
artinya melakukan perjalanan dari sini ke Hoa-san bagi seorang murid kita? Ha-ha-ha, kau tentu akan
berani bukan?"
"Tentu saja, Suhu! Subo, harap jangan khawatir. Teecu mampu menjaga diri dan kalau teecu kangen dan
Suhu berdua belum pulang, teecu akan menyusul ke Hoa-san!"
Demikianlah, setelah memilih hari baik, Kun Hong berdua Hui Kauw pergi meninggalkan Liong-thouw-san
menuju ke Hoa-san, meninggalkan Yo Wan yang mengantar guru dan ibu gurunya sampai ke kaki gunung.
Beberapa kali Hui Kauw menoleh dan sepasang mata nyonya muda yang cantik ini berlinang air mata
ketika dia melihat dari jauh tubuh Yo Wan masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dengan kedua
tangan di belakang. Sesosok bayangan bocah yang walau pun masih kecil sudah membayangkan
keteguhan hati yang luar biasa dan nyali yang besar.
Setelah suhu dan subo-nya lenyap dari pandang matanya, barulah A Wan merasa sunyi dan kosong
rongga dadanya. Namun dia menekan perasaannya dan mendaki puncak Liong-thouw-san. Dahulu,
puncak ini tidak mungkin dapat dinaiki orang, apa lagi orang biasa atau seorang anak kecil seperti A Wan.
Akan tetapi, semenjak Kun Hong dan isterinya bertempat tinggal di situ, suami isteri pendekar yang
memiliki kesaktian ini sudah membuat jalan menuju ke puncak. Bukan jalan biasa melainkan jalan yang
juga amat sukar karena harus melalui dua buah jurang lebar dan amat dalam yang mereka pasangi
jembatan berupa dua buah tali besar dan kuat.
Untuk menyeberangi jembatan-jembatan istimewa di atas dua buah jurang lebar ini orang harus berjalan di
atas dua utas tali ini tanpa pegangan! Hanya orang-orang yang memiliki ginkang serta nyali besar saja
berani menyeberangi jembatan istimewa ini. Kemudian, setelah mendekati puncak, untuk mencapai
dataran puncak itu jalan satu-satunya hanya memanjat sebuah tangga terbuat dari tali pula, tingginya
seratus kaki dan amat terjal.
Tentu saja memanjat tangga ini lebih mudah karena kedua tangan dapat berpegangan, akan tetapi juga
membutuhkan nyali yang cukup besar di samping syaraf membaja. Akan tetapi, bagi Yo Wan semua ini
bukan apa-apa lagi, dia sudah terbiasa dengan jembatan-jembatan dan tangga ini. Semenjak berusia enam
tahun dia sudah dapat menggunakan alat-alat penyeberangan itu.
Biar pun baru berlatih silat dua tahun lamanya, namun berkat bimbingan dua orang yang mempunyai
kepandaian tinggi, Yo Wan sudah memperoleh kemajuan lumayan. Gerak-geriknya gesit, nafasnya
panjang, daya tahan tubuhnya luar biasa dan dia sudah kuat bersemedhi sampai setengah malam
lamanya. Hebat dan luar biasa bagi seorang anak laki-laki yang belum sembilan tahun usianya!
Yo Wan memang seorang anak yang berhati teguh dan memiliki ketekadan hati yang besar. Memang
tadinya dia merasa kesunyian, begitu dia tiba di pondok suhu-nya dan melihat betapa tempat itu kosong,
sekosong hatinya, dia terduduk di atas bangku depan pondok dan termenung.
Ketika matanya terasa panas oleh desakan air mata, dia lantas menggigit bibirnya dan menggelenggelengkan
kepala, melawan perasaannya sendiri. Akibat gerakan kepala ini, dua titik air mata yang tadinya
menempel di bulu matanya, meluncur turun melalui pipi, terus ke ujung kanan kiri bibir. Dia mengecapnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Rasa asin air matanya membuat dia sadar.
"Heh, kenapa menangis? Cengeng! Sejak dahulu kau sudah yatim piatu, kau si jaka lola (anak laki-laki
yatim piatu), hidup di dunia seorang diri, mengapa bersedih hati ditinggal suhu dan subo? Ihhh, kalau subo
melihatmu, kau tentu akan ditampar!”
A Wan tertawa kepada diri sendiri, tertawa bahagia karena teringat dia betapa selama dia berada di sini,
belum pernah dia dibentak Kun Hong apa lagi ditampar Hui Kauw. Kedua orang itu amat baik kepadanya.
Mereka orang-orang mulia, maka aku tidak boleh mengganggu mereka. Harus kupelihara baik-baik tempat
ini, kelak bila mana mereka kembali, tempat ini tetap bersih dan terjaga! Setelah berpikir demikian, anak ini
bangkit dan lari berloncatan ke ladangnya. Mukanya sudah jernih kembali dan dia tertawa-tawa melihat
burung-burung terkejut beterbangan oleh loncatannya itu.
Yo Wan selalu teringat akan nasehat suhu-nya. la amat tekun berlatih ilmu silat. Karena gurunya lebih
mementingkan dasar ilmu silat, maka selama ini dia tidak banyak diajarkan ilmu pukulan, lebih diutamakan
pelajaran pernafasan, semedhi dan mengatur jalan darah untuk menghimpun kemurnian hawa di dalam
tubuhnya. Juga ilmu meringankan tubuh diajarkan lebih dahulu oleh subo-nya, karena hal ini amat perlu
baginya untuk naik turun puncak.
Sebelum turun gunung suhu-nya mengajarkan ilmu langkah yang terdiri dari empat puluh satu langkah.
Langkah-langkah ini merupakan perubahan-perubahan dalam kuda-kuda yang jika dilatih terus-menerus,
selain dapat mempertinggi kegesitan dan memperkokoh kedudukan, juga dapat memperkuat tubuh,
terutama kedua kaki.
Suhu-nya hanya memberi tahu bahwa langkah-langkah ini dapat dilatih terus-menerus sampai belasan
tahun, makin terlatih semakin baik dan kelak akan hebat kegunaannya. Kun Hong hanya memberi tahu
bahwa langkah-langkah ini diberi nama Si-cap-it Sin-po (Empat puluh Satu Langkah Sakti).
Tentu saja Yo Wan sama sekali tidak pernah mimpi bahwa langkah-langkah ini adalah langkah-langkah
ajaib yang gerakan-gerakannya mencakup seluruh inti sari dari gerakan ilmu silat karena biar pun jurusnya
hanya empat puluh satu, tetapi kalau dijalankan dan susunan jurusnya diubah-ubah, merupakan gerak
jurus yang tak terhitung banyaknya!
Dua tahun sudah Yo Wan hidup seorang diri di puncak Liong-thouw-san. Tekun bekerja dan berlatih.
Setiap hari dia mengharap-harapkan kedatangan suhu dan subo-nya, tetapi pengharapannya sia-sia
belaka.
Setelah lewat tiga tahun, belum juga kedua orang yang dikasihinya itu pulang. Ingin dia menyusul ke Hoasan
karena sudah amat kangen, akan tetapi dia takut kalau-kalau dua orang itu akan menganggapnya
kurang setia menanti.
Dia menanti terus, empat tahun, lima tahun! Waktu berjalan sangat pesatnya, tanpa dia rasakan, lima
tahun sudah dia hidup menyendiri di tempat sunyi itu. Dan kedua orang yang dinanti-nantinya belum juga
pulang!
"Sudah sangat lama aku menunggu, mengapa mereka belum juga pulang?" Yo Wan termenung duduk di
atas bangku depan pondok. Bukan bangku lima tahun yang lalu.
Sudah ada lima kali dia mengganti bangku itu dengan bangku baru buatannya sendiri. Sudah penuh tiang
pondok itu dengan guratan-guratannya. Setiap bulan purnama dia tentu menggurat di tiang. Tadi
dihitungnya guratan-guratannya itu, sudah lebih dari enam puluh gurat!
"Besok aku menyusul ke Hoa-san," demikian dia mengambil keputusan karena sudah tidak kuat
menanggung rindunya lagi.
Malam itu dia sibuk menambal pakaiannya yang robek-robek. Selama lima tahun ini, dia dapat mencari
ganti pakaian ke dusun di bawah gunung dengan jalan menukarkan hasil ladangnya berupa sayur-sayuran
segar yang tak mungkin bisa tumbuh di bawah puncak. Dasar watak Yo Wan sangat polos, jujur dan tidak
serakah, dia hanya memilih pakaian sekedarnya saja, bersahaja asal kuat. Yang membuat dia kesal
menanti lebih lama lagi, sesungguhnya adalah kalau dia teringat akan pelajaran ilmu silatnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Enam puluh bulan lebih dia ditinggal gurunya, hanya ditinggali ilmu langkah yang sudah dia latih tiap hari
sampai dia menjadi bosan. Padahal dia bercita-cita untuk mempelajari ilmu silat tinggi dari suhu-nya karena
dia masih ingat betul akan musuh besarnya, musuh besar yang menyebabkan kematian ibunya yang
tercinta, The Sun! Muka orang ini masih selalu terbayang di depan matanya.
Dia mendengar dari gurunya bahwa The Sun mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Sekarang dia
hanya diberi pelajaran langkah-langkah yang aneh, bagaimana mungkin dia dapat membalas kematian
ibunya pada musuh besar yang lihai itu kalau dia hanya pandai melangkah? la ingin menyusul untuk
mohon diberi pelajaran ilmu silat berikutnya, untuk menjadi bekal mencari musuh besar yang sudah
menyebabkan kematian ibunya yang mengerikan itu.
Masih terbayang di depan matanya betapa pada saat dia masih kecil, dia melihat ibunya menggantung diri,
dengan susah payah dia tolong, akan tetapi ibunya tak tertolong lagi. Masih bergema di telinganya akan
pesan ibunya, agar supaya dia memenuhi dua buah permintaan ibunya, dua buah tugas yang selama
hidupnya pelaksanaannya harus dia usahakan, yaitu pertama membalas budi kebaikan Kwa Kun Hong
Pendekar Buta, kedua membalas dendam kepada The Sun! (baca cerita Pendekar Buta)
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yo Wan telah menutup pintu depan pondok dan berjalan ke luar
halaman. Pada punggungnya terdapat sebuah buntalan pakaian dan dia pun melangkah lebar menuju ke
jurang di mana terdapat tangga tali itu. Sebelum kakinya melangkah ke tangga, dia memandang sekeliling
seakan-akan merasa kasihan kepada puncak yang akan ditinggalkan.
Tiga batang pohon cemara di depan pondok itu kini sudah besar, dia yang menanam semenjak suhu dan
subo-nya pergi. Tadinya dia ingin sekali melihat suhu dan subo-nya memuji dan girang melihat tiga batang
pohon yang indah itu, bahkan dia sudah memberi ‘nama’ pada tiga batang pohon itu, yaitu nama suhu-nya,
nama subo-nya dan namanya sendiri!
Setelah menarik nafas panjang, Yo Wan kemudian melangkah dan menuruni tangga tali dengan kecepatan
yang amat luar biasa, seakan-akan dia melorot saja tanpa melangkah turun. Setibanya di bawah, dia
berlari-lari menuju ke jembatan pertama yang melintasi sebuah jurang lebar.
Tiba-tiba dia mendengar suara aneh sekali, suara mendesis-desis keras bercampur aduk dengan suara
melengking tinggi. Suara itu datang dari seberang jurang pertama. Cepat dia lalu meloncat ke atas
tambang dan berlari-lari menyeberang.
Melihat bocah tiga belas tahun ini menyeberang dan jalan di atas tambang, benar-benar membuat orang
terheran-heran dan ngeri. Jurang itu dalamnya tidak dapat diukur lagi. Tambang itu sama sekali tak
bergerak ketika dia berlari di atasnya, dan hebatnya, anak ini berlari seenaknya saja, sama sekali tidak
melihat ke bawah lagi seakan-akan kedua kakinya sudah terlalu hafal dan dapat menginjak dengan tepat.
Setelah meloncat di atas tanah seberang, Yo Wan dapat melihat apa yang menimbulkan suara aneh itu.
Kiranya dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebat dan aneh.
Seorang di antaranya, yang berdesis-desis, adalah seorang lelaki yang tinggi kurus dan kulitnya hitam.
Rambutnya yang keriting itu terbungkus sorban kuning, telinganya pakai anting-anting hitam, juga pada
dua pergelangan memakai sepasang gelang hitam yang tampak ketika tangannya bergerak dan keluar dari
lengan baju yang lebar.
Orang asing yang aneh bukan main. Usianya kurang lebih lima puluh tahun. Tangannya memegang
cambuk kecil panjang dan agaknya cambuk inilah yang menimbulkan suara mendesis-desis aneh itu ketika
digerakkan berputar-putar di udara.
Di depan orang bersorban ini tampak seorang kakek yang sudah tua sekali, kakek yang agak bongkok,
yang kadang-kadang terkekeh dan kadang-kadang mengeluarkan suara melengking tinggi rendah
menggetarkan lembah dan jurang. Kakek tua ini pun bergerak-gerak, tetapi tidak bersenjata, melainkan
tubuhnya yang bergerak-gerak dengan tangan menuding dan menampar ke depan.
Yo Wan berdiri bengong. Walau pun dia murid seorang sakti seperti Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta, tapi
selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan orang bertanding. Apa lagi kalau yang bertempur itu dua
orang tingkat tinggi yang mempergunakan cara bertempur yang begini aneh, seperti dua orang badut
sedang berlagak di panggung saja. la masih menduga-duga, apakah yang dilakukan oleh dua orang itu,
karena biar pun dia menduga mereka sedang bertempur, namun dia masih ragu-ragu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba pandang matanya kabur dan cepat dia menutup telinganya yang terasa perih ketika lengking itu
semakin meninggi dan desis semakin nyaring. Matanya dibuka lebar, namun tetap saja dia tidak dapat
mengikuti gerakan mereka yang kini menjadi semakin cepat. Beberapa menit kemudian, gerakan dua
orang aneh itu begitu cepatnya sehingga tubuh mereka lenyap dari pandangan mata Yo Wan yang hanya
dapat melihat gulungan sinar yang berkelebatan.
Tiba-tiba sinar itu seperti pecah, gulungan sinar lenyap dan dia melihat kedua orang itu rebah telentang,
terpisahkan jarak antara sepuluh meter. Keduanya terengah-engah dan terdengar mereka merintih
perlahan.
"Bhewakala, kau hebat sekali..." Kakek tua itu berseru sambil ketawa terkekeh di antara rintihannya.
"Sin-eng-cu (Garuda Sakti), kau tua-tua merica, makin tua makin kuat...," terdengar orang asing bersorban
itu pun memuji dengan suara terengah-engah dan nada suaranya kaku dan lucu.
Melihat kedua orang itu tak dapat bangun kembali, Yo Wan mengerti bahwa keduanya terluka. Dia cepat
berlari menghampiri, keluar dari tempat persembunyiannya karena tadi dia mengintai dari balik batu
gunung yang besar.
Tentu saja dia mengenal kakek itu. Sin-eng-cu Lui Bok, paman guru dari suhu-nya, yang dahulu membawa
dirinya ke puncak Liong-thouw-san dan yang kemudian pergi merantau membawa kim-tiauw (rajawali
emas) bersamanya. (baca Pendekar Buta)
"Susiok-couw... (Kakek Paman Guru)!" serunya sambil meloncat mendekati.
Akan tetapi Sin-eng-cu Lui Bok sudah tidak bergerak-gerak lagi, bahkan nafasnya sudah empas empis,
tinggal satu-satu saja. Yo Wan kaget dan bingung, diguncang-guncangnya tubuh kakek itu, namun tetap
tidak dapat menyadarkannya.
Alangkah kagetnya pada saat dia mengguncang-guncang ini, dia melihat muka kakek itu agak biru dan
tubuh bagian depan, dari leher sampai ke perut, terluka dengan guratan memanjang yang menghancurkan
pakaiannya. Selagi dia dalam keadaan bingung sekali, dia mendengar di belakangnya suara orang
mengaduh-aduh.
Cepat dia bangkit dan membalik. Dilihatnya orang itu pun sedang mengerang kesakitan. Suaranya begitu
mendatangkan rasa iba, maka tanpa ragu-ragu lagi Yo Wan lalu cepat menghampirinya dan berlutut di
dekatnya.
Orang itu bermuka hitam. Matanya lebar, dilihat dari jauh tadi amat menakutkan, tetapi setelah dekat,
sepasang mata yang agak biru itu ternyata mengandung sinar yang amat menyenangkan.
Tanpa diminta, Yo Wan kemudian membantu orang itu bangkit dan duduk. Terpaksa dia merangkul pundak
orang asing ini karena begitu dilepas segera akan terguling kembali. Dia begitu lemas. Orang asing itu
mengedip-ngedipkan matanya, melirik ke arah tubuh Sin-eng-cu, lalu memandang kepada Yo Wan.
"Dia susiok-couw-mu? Jadi, kau ini murid Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta?" Suaranya amat lemah,
nafasnya terengah-engah.
Agak sukar bagi Yo Wan untuk dapat menangkap arti kata-kata yang kaku dan asing itu. Namun dia
seorang bocah yang cerdik, maka dapat dia merangkai kata-kata itu menjadi kalimat yang berarti.
Yo Wan mengangguk, lantas menjawab lantang, "Betul Locianpwe (Orang Tua Gagah). Kenapa Locianpwe
bertempur dengan susiok-couw? Ia terluka hebat, apakah Locianpwe juga terluka?"
Sejenak orang asing itu memandang tajam. Yo Wan merasa betapa sinar mata dari mata yang kebiruan itu
seakan-akan menembus jantungnya dan menjenguk isi hatinya.
Kemudian suara orang itu terdengar makin kaku dan agak keras, "Kau murid Kwa Kun Hong? Kau melihat
kami bertempur? Mengapa kau sekarang menolongku? Mengapa kau tidak segera menolong susiok-couwmu
yang pingsan itu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Diberondongi pertanyaan-pertanyaan ini, Yo Wan tidak menjadi gugup, karena memang dia tidak
mempunyai maksud hati yang bukan-bukan. Semua yang dia lakukan adalah suatu kewajaran, tidak
dibuat-buat dan tidak mengandung maksud lain kecuali menolong. Maka tenang saja dia menjawab,
"Sudah saya lihat keadaan susiok-couw. Dia terluka dari leher ke perut, dia tak bergerak lagi, saya tidak
tahu bagaimana saya harus menolongnya. Karena Locianpwe saya lihat dapat bergerak dan bicara, maka
saya membantu Locianpwe sehingga nanti Locianpwe dapat membantu saya untuk menolong susiokcouw."
Sepasang mata itu masih menyorotkan sinar bengis. "Kau tadi melihat kami bertempur?"
Yo Wan mengangguk. Tangan kanannya masih merangkul pundak orang asing itu dari belakang,
menjaganya agar jangan roboh terlentang.
"Jadi kau tahu bahwa aku adalah musuh susiok-couw-mu, juga musuh gurumu?"
Yo Wan menggeleng kepala, pandang matanya penuh kejujuran.
"Apa bila kami saling serang, tentu berarti kami saling bermusuhan. Mengapa kau tidak membantu susiokcouw-
mu, malah menolong aku? Hayo jawab, apa maksudmu? Aku musuh susiok-couw-mu, aku datang
untuk memusuhi gurumu. Nah, kau mau apa?"
Yo Wan mengerutkan kening. Orang asing ini kasar sekali, akan tetapi kekasarannya itu mungkin
disebabkan bahasanya yang kaku.
"Locianpwe, saya belum tahu urusannya, bagaimana saya berani turut campur? Suhu selalu berpesan agar
supaya saya menjauhkan diri dari permusuhan-permusuhan, agar supaya saya jangan lancang
mencampuri urusan orang lain, dan agar saya selalu siap menolong siapa saja yang patut ditolong, tanpa
memandang bulu, tanpa pamrih untuk mendapat jasa. Saya lihat susiok-couw tak bergerak lagi, dan saya
tidak tahu bagaimana harus menolongnya, maka saya segera membantu Locianpwe."
Sinar mata yang mengeras sekarang menjadi lunak kembali. Kumis di atas bibir itu sedkit bergerak-gerak.
"Wah, suhu-mu hebat! Kau patut menjadi muridnya. Mana dia suhu-mu? Mengapa sampai sekarang dia
belum muncul?"
"Suhu tidak berada di sini, Locianpwe. Sudah lima tahun suhu pergi dari sini, ke Hoa-san. Yang berada di
sini hanya saya seorang diri."
Mata yang kebiruan itu melotot, wajah itu berubah agak pucat. "Celaka benar...! Heee, Sin-eng-cu, celaka!
Kwa Kun Hong tidak berada di sini!"
Yo Wan menoleh dan melihat susiok-couw-nya bergerak-gerak hendak bangkit, namun sukar sekali dan
mengeluh panjang. "Maaf, Locianpwe, saya harus menolongnya."
Orang asing itu mengangguk dan sekarang dia sudah bersila, kuat duduk sendiri. Yo Wan melepas
rangkulannya kemudian tergesa-gesa menghampiri Sin-eng-cu Lui Bok. Ia cepat merangkul dan
membangunkannya.
Nafas kakek ini terengah-engah dan dia terkekeh senang melihat Yo Wan. "Wah, engkau kan bocah yang
dulu itu? Kau masih di sini? Aku lupa lagi, siapa namamu?"
"Teecu (murid) Yo Wan, Susiok-couw..."
"Ha-ha-ha, kau terus menjadi murid Kun Hong? Selama tujuh tahun ini? Sin-eng-cu, kita akan mampus di
sini. Pendekar Buta ternyata tidak berada di sini lagi."
Sin-eng-cu Lui Bok menggerakkan alisnya yang sudah putih. "Apa?" la memandang Yo Wan. "Mana
gurumu?"
"Susiok-couw, suhu dan subo telah pergi semenjak lima tahun yang lalu, mereka pergi ke Hoa-san
meninggalkan teecu seorang diri di sini. Tadi teecu sedang turun dari puncak untuk menyusul karena
sudah terlalu lama suhu dan subo pergi."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Lima tahun? Wah-wah, guru macam apa dia itu? Eh, Yo Wan, jadi kau hanya untuk dua tahun saja
menjadi muridnya? Ha-ha-ha, kutanggung kau belum becus apa-apa. Murid Pendekar Buta yang sudah
belajar tujuh tahun belum becus apa-apa. Ha-ha-ha, bukan main!" Orang asing itu mencela dan mengejek.
Namun Sin-eng-cu tidak mempedulikannya. "Yo Wan, apakah suhu-mu pernah mengajar ilmu pengobatan
kepadamu selama dua tahun itu?"
Yo Wan menggeleng kepalanya dan lagi-lagi orang asing itu yang mengeluarkan suara mengejek, "Sineng-
cu, kau sudah terlalu tua, maka menjadi pikun. Lima tahun yang lalu anak ini paling-paling baru
berusia delapan tahun. Dari usia enam sampai delapan tahun, mana bisa belajar ilmu pengobatan? He, tua
bangka, umurmu hampir dua kali umurku. Apakah kau takut mampus? Tidak usah takut, ada aku yang
akan menemanimu ke alam halus."
Akan tetapi Sin-eng-cu sudah bersila dan diam saja, kakek ini sudah bersemedhi untuk menyalurkan hawa
sakti di dalam tubuh untuk mengobati lukanya. Dalam hal ini Yo Wan mengerti maka ia pun lalu mundur
dan membiarkan kakek itu tanpa berani mengganggu. Pada waktu dia menoleh, orang asing yang tadinya
bicara sambil bergurau itu pun sudah meramkan mata bersemedhi.
Yo Wan pernah mendengar keterangan suhu-nya bahwa dengan hawa murni di dalam tubuh yang sudah
terlatih dengan semedhi, orang tidak hanya dapat memperkuat tubuh, namun juga dapat mencegah atau
mengobati luka-luka sebelah dalam. Maka dia maklum bahwa dua orang aneh ini sedang mengobati luka
masing-masing, karena itu dia pun lalu duduk bersila, menanti dengan sabar.
Para pembaca cerita ‘Pendekar Buta’ tentu mengenal dua orang ini. Dua orang tokoh besar yang sakti.
Sin-eng-cu Lui Bok adalah orang aneh yang suka merantau, dia adalah sute (adik seperguruan) dari Bu
Beng Cu, mendiang guru Kwa Kun Hong.
Tujuh tahun yang lampau dia meninggalkan puncak Liong-thouw-san ini, pergi merantau dengan burung
rajawali emas menuju ke utara. Kakek yang aneh ini merantau ke bagian paling utara dari dunia,
menjelajahi daerah-daerah bersalju dan di tempat itulah burung rajawali emas yang sudah sangat tua itu
menemui ajalnya, tidak kuat menahan serangan salju yang dingin sekali.
Pada waktu kakek ini kembali ke Liong-thouw-san, di tempat ini dia berjumpa dengan Bhewakala. Orang
asing ini adalah seorang pendeta yang sakti pula, seorang tokoh dari barat, seorang pertapa di puncak
Anapurna di Pegunungan Himalaya. Ia adalah seorang pendeta bangsa Nepal yang banyak melakukan
perantauan di Tiongkok.
Tujuh tahun yang lalu dia pernah bertanding melawan Kwa Kun Hong dan dikalahkan. Akan tetapi karena
melihat sifat-sifat baik dari pendeta ini, Kun Hong tidak membunuhnya dan Bhewakala yang sangat kagum
terhadap Kun Hong ini berniat akan belajar lagi dan kelak mencari Kun Hong untuk diajak mengadu ilmu.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang berwatak aneh. Begitu bertemu, mereka tidak mau saling
mengalah dan keduanya setuju untuk mengadu ilmu di sana. Mereka adalah orang-orang yang selain sakti,
juga mempunyai pribudi yang baik. Tentu saja mereka tak bermaksud mengadu ilmu dengan taruhan
nyawa.
Akan tetapi setelah bertempur dengan hebat dari tengah malam sampai pagi, belum juga ada yang kalah
atau menang. Akhirnya mereka setuju untuk mengeluarkan senjata dan menggunakan pukulan-pukulan
yang dapat mendatangkan luka hebat.
"Takut apa dengan luka hebat?" kata Bhewakala ketika Sin-eng-cu menolak. "Bukankah Pendekar Buta
berada di sini? Kalau seorang di antara kita terluka, dia pasti akan dapat menyembuhkan."
Memang, di samping kepandaiannya yang amat tinggi, Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta juga sangat
terkenal akan kepandaiannya mengobati. Dengan jaminan inilah Sin-eng-cu akhirnya menerima tantangan
Bhewakala dan bertempurlah mereka dengan lebih hebat lagi karena kini Bhewakala menggunakan
cambuknya yang beracun, ada pun Sin-eng-cu mempergunakan pukulan-pukulan maut.
Seperti telah diketahui akibatnya, Sin-eng-cu terluka oleh cambuk, sebaliknya Bhewakala juga terkena
pukulan yang mendatangkan luka dalam hebat sekali. Keduanya rebah, tapi tidak putus asa karena mereka
yakin bahwa Kun Hong akan dapat mengobati mereka. Di samping penasaran mereka merasa lega, bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
keadaan mereka tetap seimbang, tiada yang kalah tiada yang menang!
Siapa sangka, Kun Hong tidak berada di situ! Hal ini berarti bahwa mereka akan mati, karena masingmasing
cukup maklum bahwa luka yang diakibatkan oleh masing-masing pukulan itu tak mungkin dapat
diobati jika tidak oleh Kun Hong yang memiliki kepandaian luar biasa dalam hal pengobatan.
Maka, seperti telah diberi komando, keduanya lalu cepat-cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya untuk
menjaga supaya luka itu tidak menjalar lebih hebat. Setidaknya mereka dapat memperpanjang nyawa
untuk tinggal lebih lama di dalam tubuh yang sudah terluka berat di sebelah dalam.
Kesabaran Yo Wan mendapat ujian pada saat itu. Sudah tiga jam lebih dia bersila di situ menanti. Tiba-tiba
awan tebal menyelimuti tempat itu, menjadi halimun yang amat dingin. Pakaian Yo Wan basah semua, juga
pakaian dan tubuh dua orang aneh itu.
Namun, Bhewakala dan Sin-eng-cu tetap duduk bersila bagaikan patung, tidak bergerak-gerak. Berkali-kali
Yo Wan merasa khawatir, jangan-jangan dua orang itu sudah menjadi mayat, pikirnya. Akan tetapi tiap kali
dia menjamah tubuh mereka masih hangat, malah sekarang wajah mereka tidak segelap tadi.
Setelah lewat enam jam, matahari sudah naik tinggi dan halimun telah terusir habis. Dua orang itu
membuka mata dan menarik nafas panjang. Malah keduanya saling pandang.
"Bagaimana, Sin-eng-cu?" Bhewakala bertanya sambil tertawa lebar.
"Hebat pukulan cambukmu, Bhewakala. Racun dapat kuhalau atau setidaknya kucegah untuk menjalar,
akan tetapi pukulanmu merusak pusat. Karena Kun Hong tidak berada di sini, maka tamatlah sudah
riwayatku sebagai seorang ahli silat. Setiap kali aku mencoba mengerahkan Iweekang untuk mengeluarkan
tenaga, pusarku malah terpukul dan kalau terus kupaksa, tentu aku akan mampus. Kau hebat! Dan
bagaimana denganmu?"
Bhewakala menggeleng kepala. "Kau pun luar biasa. Pukulanmu meremukkan tulang iga. Hal ini masih
tidak mengapa, tetapi menggetarkan pusat pengendalian tenaga Kundalini. Karena itu, tenagaku musnah
dan mungkin akan dapat kembali sesudah minum obat dan berlatih sedikitnya sepuluh tahun! Hemmm, apa
artinya bagi seorang seperti aku?"
Kini keduanya merasa amat menyesal, namun sudah terlambat. Ketika mereka menoleh dan melihat
bahwa Yo Wan masih bersila tak jauh dari situ, mereka tercengang.
"Kau masih berada di sini?" Sin-eng-cu bertanya kaget.
Yo Wan mengangguk dan menghampiri kakek itu.
"Ha-ha-ha, Sin-eng-cu, bocah ini hebatl Sayang bakat dan sifat begini baik tidak dipupuk oleh Pendekar
Buta. Ha-ha-ha, Pendekar Buta, kali ini benar-benar kau telah buta, sudah menyia-nyiakan anak orang
begini rupa. Sin-eng-cu, kau menjadi saksi, selama hidup ini aku tidak suka menerima murid, akan tetapi
kali ini aku ingin sekali meninggalkan inti sari kepandaianku kepada anak ini sebelum aku mampus."
Sin-eng-cu mengangguk-anggukkan kepala. "Yo Wan, lekas kau berlutut menghaturkan terima kasih
kepada Bhewakala Locianpwe, untungmu baik sekali."
Yo Wan cepat berlutut di depan Bhewakala sambil berkata, suaranya nyaring dan tetap, "Saya
menghaturkan banyak terima kasih atas maksud hati yang mulia dan kasih sayang Locianpwe terhadap
saya, tetapi saya tidak berani menerima menjadi murid Locianpwe karena saya adalah muridnya suhu.
Bagaimana saya berani mengangkat guru lain tanpa perkenan suhu?"
"Yo Wan, hal itu tidak apa-apa, ada aku di sini yang menjadi saksi!" kata Sin-eng-cu Lui Bok.
"Ha-ha-ha, anak baik, anak baik. Ini namanya ingat budi dan setia, teguh seperti gunung karang, tidak
murka dan tamak! Ehh, Yo Wan, siapakah orang tuamu?"
Yo Wan menggigit bibir, matanya dimeramkan untuk menahan keluarnya dua butir air mata. Pertanyaan
yang tiba-tiba itu merupakan ujung pedang yang menusuk ulu hatinya. Sampai lama dia tidak menjawab,
kemudian dia membuka mata dan berkata perlahan, "Saya yatim piatu, Locianpwe..."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kedua orang tua itu saling pandang, diam tak bersuara. Mereka itu sudah kenyang akan pengalaman pahit
getir, perasaan mereka sudah kebal. Namun, membayangkan seorang bocah yang tinggal seorang diri di
tempat sunyi itu bergulung dengan mega, tak ber-ayah ibu pula, benar-benar mereka merasa kasihan.
"Yo Wan, aku pun tidak bermaksud mengambil murid kepadamu, melainkan hanya ingin meninggalkan
atau mewariskan kepandaianku saja. Gurumu tentu tak akan marah."
"Mohon maaf sebesarnya, Locianpwe. Saya cukup maklum bahwa Locianpwe memiliki ilmu kepandaian
yang hebat sekali dan hanya Tuhan yang tahu betapa ingin hati saya memilikinya. Akan tetapi, tanpa
perkenan suhu, bagaimana saya berani menerimanya? Suhu adalah tuan penolong saya dan mendiang ibu
saya, suhu adalah pengganti orang tua saya, harap Locianpwe maklum..."
Suara Yo Wan tergetar saking terharu, dan kini tak dapat tertahan lagi olehnya, dua butir air matanya
tergantung pada bulu matanya. Namun cepat dia menggunakan punggung kepalan tangannya mengusap
air mata itu.
Tiba-tiba Sin-eng-cu tertawa bergelak dan suaranya terdengar gembira sekali ketika dia berkata, "Hee!
Bhewakala pendeta koplok (goblok)! Dia seorang bocah yang tahu akan setia dan bakti, mana dapat
dibandingkan dengan kau yang meski pun bertapa puluhan tahun dan belajar segala macam filsafat,
kekenyangan pengetahuan lahirnya saja tanpa berhasil menyelami dan melaksanakan isinya sedikit pun
juga? Lebih baik kita lanjutkan adu ilmu. Ingat, aku tua bangka belum kalah!"
"Huh, tua bangka tak tahu diri. Apa kau kira aku pun sudah kalah? Hayo kita pergunakan tenaga terakhir
untuk mencari penentuan!"
Bhewakala bangkit berdiri dengan susah payah, tapi berdirinya tidak tegak, punggungnya tiba-tiba menjadi
bongkok dan dia meringis, menahan sakit. Juga Sin-eng-cu tertatih-tatih bangkit berdiri, akan tetapi dia
juga tidak sanggup berdiri tegak, kedua kakinya menggigil seakan-akan tubuh atasnya terlalu berat bagi
tubuh bawahnya.
Yo Wan bingung dan gugup bukan main. "Susiok-couw... Locianpwe... ji-wi (Kalian) telah terluka hebat,
bagaimana mau bertempur lagi? Harap suka saling mengalah, harap ji-wi sudahi saja pertempuran ini...!"
Yo Wan berdiri di antara mereka berdua dengan sikap melerai.
"Ha-ha-ha, cucuku. Orang-orang macam kami berdua ini hanya nafsunya saja besar tapi tenaganya
kurang, malah sudah habis tenaganya! Jangan khawatir, kami tidak mungkin dapat bertempur lagi, akan
tetapi kami belum dapat menentukan siapa lebih unggul. He, Bhewakala, apa kau siap melanjutkan adu
ilmu?"
"Boleh!" jawab Bhewakala dengan suara digagah-gagahkan. "Bila belum ada yang kalah menang, tentu
penasaran dan kelak kalau sama-sama ke alam baka, tak mungkin dapat melanjutkan pertandingan."
"Bagus, kau laki-laki sejati, seperti juga aku! Sekarang kita lanjutkan!"
"Majulah kalau kau masih kuat melangkah!" tantang Bhewakala.
"Ho-ho-ho, sombongnya si pendeta koplok! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau pun tidak sanggup maju
selangkah pun? Ha-ha-ha-ha, tertiup angin pun kau akan roboh. Kita melanjutkan ilmu, bukan kepalan. Ada
Yo Wan di sini, apa gunanya?"
Bhewakala tersenyum lebar, matanya yang besar itu berkedip-kedip. "Ha-ha-ha, engkau benar, tua
bangkotan. Di sini ada Yo Wan, biarlah anak ini yang menjadi alat pengukur tingginya ilmu."
"Yo Wan, cucuku! Kau benar sekali, jangan sudi menjadi murid pendeta koplok ini! Kalau kau tadi mau
menerimanya, aku yang tidak sudi, tidak memperbolehkan. Tapi kau tentu mau menjadi alat kami untuk
mengukur kepandaian, bukan? Kau harus menolong kami, kalau tidak, kami berdua tak akan dapat mati
meram."
Yo Wan cepat berlutut di depan kakek itu. "Susiok-couw, tak usah diperintah, teecu tentu bersedia
menolong Ji-wi. Katakanlah, apa yang harus teecu lakukan?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Selagi Yo Wan berlutut itu, Sin-eng-cu bertukar pandang dengan Bhewakala dan saling memberi isyarat
dengan kedipan mata.
"Yo Wan, lebih dulu bawa kami ke puncak. Sanggupkah kau?"
"Teecu akan mencobanya." Ia menghampiri Sin-eng-cu dan berkata, "Maaf, teecu akan menggendong
Susiok-couw."
Anak ini membungkuk di depan Sin-eng-cu, jongkok membelakanginya. Sin-eng-cu tidak sungkan-sungkan
pula lalu menggemblok di punggung Yo Wan yang menggendongnya. Anak ini sendiri merasa sangat
heran, karena tadinya dia meragu apakah dia akan kuat menggendong kakek itu.
la terkejut dan diam-diam merasa girang sekali serta memuji kehebatan Susiok-couw ini, karena dia
merasa yakin bahwa kakeknya ini tentu menggunakan ginkang tingkat tinggi sehingga dapat membuat
tubuhnya menjadi demikian ringannya! Dengan langkah lebar serta gerakan cepat dia lalu menyeberangi
jurang melalui dua tambang, kemudian dia memanjat tangga tali itu ke atas puncak.
"Harap Susiok-couw beristirahat di sini lebih dulu, teecu akan menggendong Bhewakala Locianpwe ke
sini."
"Yo Wan, apakah suhu-mu sudah mengajarkan Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas) kepadamu?" tibatiba
saja kakek itu bertanya kepada anak yang sudah akan lari keluar kembali dari dalam pondok itu.
Yo Wan berhenti, membalikkan tubuh dan menjawab dengan sinar mata tidak mengerti dan kepala
digelengkan. Pertanyaan itu tak ada artinya bagi dirinya, tetapi mengingatkan dia akan burung rajawali
emas yang dahulu pergi bersama kakek ini, maka dia cepat bertanya,
"Susiok-couw, kenapa kim-tiauw (rajawali emas) tak ikut pulang bersama Susiok-couw?"
"la sudah terlalu tua dan tidak kuat menghadapi hujan salju di utara, dia sudah mati dan kukubur dalam
tumpukan salju."
Yo Wan merasa menyesal sekali sehingga untuk semenit dia diam saja termenung. Dia kemudian teringat
kembali akan tugasnya.
"Teecu pergi dulu, hendak menjemput Bhewakala Locianpwe."
"Pergilah, akan tetapi kau harus waspada, siapa tahu pendeta Nepal itu di tengah jalan mencekik dan
membunuhmu, ha-ha-ha!"
Yo Wan terkejut, akan tetapi hanya sejenak saja dia terpaku dan ragu-ragu, kemudian kakinya melangkah
lebar dan dia sudah berlari ke luar, terus menuruni puncak itu dan menyeberangi jurang pertama.
Bhewakala masih berada di situ, duduk bersila. Pendeta hitam ini tersenyum lebar ketika dia melihat Yo
Wan.
"Kau sudah kembali?"
Yo Wan mengangguk, lalu membelakangi pendeta itu sambil berjongkok.
"Harap Locianpwe suka membonceng di punggung saya, tapi saya harap Locianpwe sudi menggunakan
kepandaian ginkang seperti Susiok-couw tadi, kalau tidak, saya khawatir tidak akan kuat menggendong
Locianpwe."
Pendeta asing itu hanya mendengus, lalu merangkul pundak bocah ini dan menggemblok di punggungnya.
Yo Wan bangkit berdiri dan diam-diam dia menjadi girang dan kagum. Ternyata pendeta ini pun amat sakti,
ginkang-nya hebat sehingga tubuhnya yang jauh lebih besar dan tinggi dari pada susiok-couw-nya juga
terasa ringan, hanya sedikit lebih berat dari pada tubuh kakek tadi. Ia mulai melangkah maju setengah
berlari ke depan.
"Yo Wan, kenapa kau mau menolong aku, seorang asing yang tidak kau kenal?" tiba-tiba pendeta Nepal itu
bertanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Suhu berpesan kepada saya bahwa menolong orang tak boleh melihat siapa dia, hanya harus dilihat
apakah dia benar-benar membutuhkan pertolongan dan apakah kita dapat menolongnya. Locianpwe
sedang terluka, perlu beristirahat, dan saya mampu membawa Locianpwe ke puncak untuk beristirahat di
pondok kediaman suhu, mengapa saya tidak mau menolong Locianpwe?"
Diam-diam Bhewakala kagum, bukan saja oleh jawaban ini, juga melihat betapa bocah ini dapat
menggendongnya sambil berjalan cepat dan ketika menjawab pertanyaannya, nafasnya tidak memburu,
kelihatan enak saja.
Ketika ia memandang ke arah kedua kaki bocah itu, dia terkejut. Bocah itu menggunakan langkah-langkah
yang luar biasa, kadang-kadang berlarian di atas tumit, kadang-kadang dengan kaki miring!
"He, kau menggunakan langkah apa ini?" tak tertahan lagi Bhewakala bertanya nyaring.
Yo Wan menjadi merah mukanya. Karena selama lima tahun itu siang malam dia berlatih langkah-langkah
Si-cap-it Sin-po, maka setiap kali berlari tanpa disengaja kedua kakinya melakukan gerak langkah-langkah
itu secara otomatis!
"Bukan apa-apa, Locianpwe, saya berlari biasa," jawabnya dan kedua kakinya kini berlari biasa.
Seperti juga dengan susiok-couw-nya tadi, dia hendak membawa Bhewakala ke dalam pondok, akan tetapi
pendeta Nepal ini tidak mau.
"Turunkan saja aku di luar sini. Aku lebih senang duduk di luar menikmati pemandangan alam yang amat
hebat dan indah ini."
Yo Wan menurunkan pendeta itu di atas bangku di depan rumah dan Bhewakala duduk bersila di situ
dengan wajah berseri gembira.
"Yo Wan! Pendeta koplok itu sudah datang? Hayo, bawa aku ke luar!" terdengar teriakan Sin-eng-cu dari
dalam pondok.
Yo Wan berlari masuk dan tak lama kemudian kakek tua itu sudah digendongnya keluar. Sin-eng-cu minta
diturunkan di atas sebuah batu halus yang memang dahulu menjadi tempat duduknya. Dia pun bersila di
atas batu ini, kurang lebih lima meter jauhnya dari bangku yang diduduki Bhewakala.
"Sin-eng-cu, cucu muridmu ini benar-benar hebat, membuat aku gembira sekali!" berkata Bhewakala.
"Betapa tidak? Kalau tidak hebat berarti dia bukan cucu muridku!" Sin-eng-cu menjawab dengan nada
suara bangga.
Yo Wan menjadi heran dan merasa malu. Yang hebat adalah mereka, pikirnya, biar pun sudah terluka
hebat masih mampu mengerahkan ginkang sehingga tubuh mereka begitu ringannya ketika dia membawa
mereka mendaki tangga tali tadi. Kalau tidak demikian, mana mungkin dia akan kuat?
Anak ini sama sekali tidak tahu bahwa kedua orang itu sama sekali tidak menggunakan ilmu untuk
membuat tubuh mereka ringan. Hal ini tidak mungkin, apa lagi mereka terluka hebat sehingga tidak mampu
menggunakan ilmu-ilmu mereka yang berhubungan dengan kekuatan di dalam tubuh.
Yang membuat dia merasa ringan pada waktu menggendong mereka bukan lain adalah karena kekuatan
yang terkandung di dalam tubuhnya sendiri. la telah melatih diri tujuh tahun dengan pekerjaan yang
membutuhkan tenaga serta kegesitan, di samping itu dia pun dengan amat tekun berlatih semedhi dan
pernafasan. Hawa murni dalam tubuhnya sudah terkumpul, maka dia dapat mengerahkan tenaga besar
luar biasa yang membuat dia dapat menggendong kakek-kakek itu secara mudah!
"Yo Wan, kau tadi sudah berjanji hendak menolong kami dua orang-orang tua. Apakah kau betul-betul suka
menolong?" tanya Bhewakala dengan pandang mata penuh gairah.
"Betul, Yo Wan, kau harus menolong kami melanjutkan adu ilmu sampai ada keputusan siapa yang lebih
unggul."
Yo Wan membungkuk, "Susiok-couw, teecu siap menolong dan membantu, akan tetapi teecu hanya
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang anak yang bodoh, mana bisa menjadi perantara dalam adu ilmu? Bagaimana caranya?"
"Mudah saja asal kau mau menolong. He, Bhewakala pendeta hitam! Di dalam pondok ini terdapat empat
buah kamar, cukup untuk kita seorang sekamar. Kita lanjutkan adu ilmu. Kau tinggallah di kamar kiri, aku di
kamar kanan, biar Yo Wan di kamar lain. Kau kuberi kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Beri tahukan
jurus penyeranganmu kepada Yo Wan, dan kalau dia sudah memperlihatkan jurus itu, aku akan
menghadapi dengan jurus pertahananku, lalu balas menyerang dengan jurus istimewa. Dua jurus itu kuberi
tahukan kepada Yo Wan yang akan menyampaikannya padamu. Kau harus dapat memecahkan jurusku
dan boleh balas menyerang. Siapa yang tidak dapat memecahkan sebuah jurus serangan, dia itu harus
mengakui keunggulan lawan. Bagaimana?"
"Setuju! Itulah yang kukehendaki. Hayo mulai sekarang juga!"
"Yo Wan, kau mendengar perjanjian kami untuk mengadu ilmu? Maukah kau menolong, hanya menjadi
perantara begitu?"
Yo Wan adalah seorang anak yang baru berusia tiga belas tahun. Apa lagi dia kurang pengalaman,
semenjak kecil selalu berada di tempat sunyi mengejar ilmu dan bekerja, mana dia mampu menandingi
kelihaian otak dua orang sakti ini?
Secara tidak langsung, selain dua orang itu dapat memuaskan hati mencari keunggulan dalam ilmu silat,
juga mereka ingin sekali menurunkan ilmu kepandaian masing-masing kepada bocah yang sudah
menaklukkan hati dan cinta kasih mereka itu.
Yo Wan malah menganggap mereka berdua adalah kakek-kakek yang lucu dan aneh. Masak ada orang
melanjutkan adu ilmu seperti itu? Seperti main-main saja. Keduanya sudah terluka tetapi masih tidak mau
terima, masih ingin melanjutkan terus, benar-benar gila, pikirnya.
"Kalau kau keberatan pun tidak apa," sambung Sin-eng-cu, "kami bisa merangkak turun saling
menghampiri, lalu saling cekik sampai mampus di sini!" sambil berkata demikian, Sin-eng-cu mengedipkan
mata kepada Bhewakala.
"Jangan kira kau akan dapat mencekik leherku, Sin-eng-cu tua bangka bangkotan. Lebih dulu jari-jariku
akan menusuk dadamu sampai bolong-bolong?” Bhewakala mengancam, juga tersenyum dan
mengedipkan mata pula.
"Jangan...! Harap ji-wi jangan berkelahi lagi. Baiklah, saya bersedia mentaati permintaan ji-wi, menjadi
perantara. Akan tetapi saya harap ji-wi betul-betul menghentikan adu ilmu ini apa bila seorang di antara jiwi
ada yang tidak sanggup memecahkan sebuah jurus. Sekarang harap ji-wi sudi menanti sebentar, saya
hendak menyediakan makanan."
Tanpa menanti jawaban mereka, Yo Wan lalu menuju ke ladang, memetik sayur-mayur, kemudian
membawanya ke dapur dan memasak sayur-mayur serta ubi kentang. Pandai dia memasak setelah
berlatih selama lima tahun ini, dan di situ pun tersedia lengkap pula bumbu-bumbu yang dia tukar dari
penduduk dusun dengan hasil ladangnya.
Di luar, tanpa sepengetahuan Yo Wan, dua orang kakek itu berunding. Karena mereka amat suka kepada
Yo Wan dan maklum pula bahwa keadaan tubuh mereka sudah cacat akibat pertandingan semalam,
agaknya tak mungkin dapat tertolong lagi karena Kwa Kun Hong tidak berada di situ, maka mereka
mengambil keputusan untuk menurunkan semua ilmu-ilmu mereka yang paling lihai kepada Yo Wan.
"Jangan kau terlalu bernafsu merobohkan aku," kata Sin-eng-cu, "Kita turunkan dahulu jurus-jurus yang
pernah kita mainkan malam tadi sehingga masing-masing tentu sudah mengenalnya dan mampu
memecahkannya. Setelah itu, barulah kita bertanding secara sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus-jurus
baru yang harus dapat dipecahkan."
Bhewakala menyetujui usul kakek bekas lawannya ini. Sesudah masakan sayur-mayur matang dan
dihidangkan oleh Yo Wan, mereka bertiga makan dengan tenang dan lahap. Kemudian dua orang sakti itu
minta diantar ke kamar masing-masing dan mulai hari itu juga, Yo Wan menjadi perantara pertandingan
yang aneh ini.
Mula-mula dia harus menghafal dan menggerakkan sebuah jurus yang diturunkan oleh Bhewakala. Oleh
dunia-kangouw.blogspot.com
karena jurus ini harus digunakan untuk menyerang, tentu saja Yo Wan diharuskan dapat memainkannya
dengan baik.
Pada hari-hari pertama, amat sukar bagi anak ini untuk dapat menghafal dan memainkan jurus-jurus itu,
karena jurus yang diturunkan itu adalah jurus ilmu silat tingkat tinggi yang sukarnya bukan main. Andai kata
dia belum pernah diberi dasar Ilmu Si-cap-it Sin-po, yaitu langkah-langkah ajaib yang sudah mengandung
inti sari dari semua jenis langkah dalam persilatan, agaknya anak ini tak mungkin sanggup melakukan
gerakan jurus yang diturunkan oleh dua orang sakti ini.
Jurus pertama yang diturunkan Bhewakala baru dapat dia lakukan setelah latihan selama dua minggu!
Memang amat mengherankan bagi yang tidak tahu, akan tetapi jika diingat syarat-syaratnya, memang
berat. Dalam setiap gerakan pada jurus ini, imbangan tubuh harus tepat bahkan keluar masuknya nafas
juga harus disesuaikan dengan setiap gerak!
Biar pun Yo Wan belum dapat menikmati dan membuktikan sendiri kegunaan ilmu silat karena selama
belajar di situ belum pernah dia menggunakan ilmu silat untuk bertempur, namun mengingat sukarnya jurus
ini, dia mengira bahwa Sin-eng-cu tentu akan menjadi bingung dan tidak mudah memecahkannya.
Jari tengah dan telunjuk kanan menusuk mata, kemudian diteruskan dengan siku kanan menghantam jalan
darah di bawah telinga, dibarengi pukulan tangan kiri pada pusar yang disusul lutut kaki kanan menyodok
arah kemaluan, akhirnya dilanjutkan tendangan kaki kanan sebagai gerak terakhir. Sebuah jurus yang
‘berisi’ lima gerak serangan berbahaya! Bhewakala menamakan jurus ini Ngo-houw Lauw-yo (Lima
Harimau Mencari Kambing), sebuah jurus dari ilmu silat ciptaannya yang paling lihai pada saat dia bertapa
di Gunung Himalaya, yaitu ilmu silat yang dinamainya Ngo-sin Hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti).
Akan tetapi alangkah herannya ketika Sin-eng-cu menyambut jurus yang dia mainkan di depan kakek ini
dengan tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Pendeta koplok! Jurus cakar bebek beginian dipamerkan di depanku? Wah, terlalu
gampang untuk memecahkannya!"
Yo Wan hanya memandang dengan kagum. Diam-diam dia pun girang karena ternyata susiok-couw-nya ini
tak kalah lihainya oleh Bhewakala. Sudah tentu saja dalam adu ilmu yang luar biasa ini sedikit banyak dia
berpihak kepada Sin-eng-cu dan mengharapkan kemenangan bagi kakek ini, karena betapa pun juga
kakek ini adalah paman guru dari suhu-nya.
"Awas, dengarkan dan lihat baik-baik gerak tanganku. Sekaligus aku akan patahkan daya serang jurus
cakar bebek ini." Dengan gerak tangan dan keterangan yang lambat serta jelas Sin-eng-cu mengajarkan
jurusnya.
"Menghadapi serangan seorang berilmu seperti Bhewakala, kita harus bersikap waspada dan jangan
mudah terpancing oleh gerak pertama, karena semua jurus ilmu silat tinggi selalu menggunakan pancingan
dan semakin tersembunyi gerak pancingan ini akan lebih baik. Gerak pertama menyerang anggota tubuh
bagian atas tidak perlu dihadapi dengan perhatian sepenuhnya, akan tetapi harus dielakkan sambil
menunggu munculnya gerak susulan yang merupakan gerak inti. Serangan tangan kanan ke arah mata
dan leher, kita hadapi dengan merendahkan tubuh sehingga tusukan mata beserta serangan siku kanan
akan lewat di atas kepala. Serangan pukulan tangan kiri pada pusar kita tangkis dengan tangan kanan dan
apa bila dia berani menggunakan lututnya, kita mendahului dengan pukulan sebagai tangkisan ke arah
sambungan lutut. Inilah jurusku yang menghancurkan jurus Bhewakala itu, kunamai jurus Lo-han Pai-hud
(Kakek Menyembah Buddha)."
Jurus ini dilatih oleh Yo Wan dengan susah payah, apa lagi karena segera disusul jurus kedua yang
merupakan serangan balasan dari Sin-eng-cu, yaitu jurus yang dinamakan Liong-thouw Coan-po (Kepala
Naga Terjang Ombak). Kedua buah jurus ini merupakan jurus-jurus dari ilmu silat ciptaan kakek ini yang
dia beri nama Liong-thouw-kun (ilmu Silat Kepala Naga) atau ilmu silat dari Liong-thouw-san tempat dia
bertapa di bekas kediaman mendiang kakak seperguruannya, Bu Beng Cu.
Untuk dua buah jurus ini Yo Wan menggunakan waktu dua puluh hari. Ia bangga sekali terhadap kakek itu
dan mengira bahwa Bhewakala tentu akan repot menghadapi ketika Liong-thouw Coan-po. Eh, kembali dia
tercengang dan kecewa karena pendeta Nepal ini terkekeh-kekeh, memandang rendah sekali jurus
serangan balasan Sin-eng-cu ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Uwa-ha-ha-ha…! Tua bangka bangkotan itu sudah gila kalau mengira bahwa jurusnya monyet menari ini
bisa menggertak aku. Lihat baik-baik jurusku yang akan memecahkan rahasianya dan sekali ini dengan
jurus seranganku yang kedua, dia pasti akan mati kutu!" Kakek pendeta Nepal ini lalu mengajarkan dua
buah jurus lain yang lebih sulit dan aneh lagi.
Demikianlah, setiap hari, siang malam hanya berhenti kalau mengurus keperluan mereka bertiga, makan
dan tidur, Yo Wan melayani mereka berdua silih-berganti. Pada mulanya memang setiap jurus harus dia
pelajari sampai hafal dan baru dapat dia mainkan setelah tekun mempelajarinya sampai beberapa hari, apa
lagi jurus-jurus yang dikeluarkan kedua orang sakti itu makin lama makin sukar. Akan tetapi setelah lewat
tiga bulan, dia mulai dapat melatihnya dengan lancar, dan dapat menyelesaikan setiap jurus dalam waktu
satu hari saja!
Yo Wan tidak hanya harus menghafal dan dapat mainkan jurus-jurus ini untuk dimainkan di depan kedua
orang sakti itu, namun karena tingkat itu makin tinggi, terpaksa dia harus menerima latihan siulian
(semedhi), pernafasan serta cara menghimpun tenaga dalam tubuh.
"Tanpa mempelajari Iweekang dahulu, tak mungkin kau mainkan jurus ini," demikian kata Bhewakala.
Karena dia sudah berjanji untuk membantu kedua orang itu menjadi perantara dalam adu ilmu, terpaksa Yo
Wan tak membantah dan mempelajari Iweekang yang aneh dari kakek Nepal ini. Begitu pula, dengan
alasan yang sama, Sin-eng-cu juga menurunkan latihan Iweekang yang lain. Untuk latihan ini Yo Wan
mengalami kelancaran karena Iweekang dari kakek ini sejalan dengan apa yang dia pelajari dari suhu-nya.
Tanpa terasa lagi, tiga tahun sudah lewat! Ngo-sin Hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti) dari
Bhewakala yang berjumlah lima puluh jurus itu sudah dia mainkan semua. Demikian pula Liong-thouw-kun
dari Sin-eng-cu Lui Bok yang jumlahnya empat puluh delapan jurus.
Bukan ini saja. Dengan alasan bahwa ilmu pukulan tangan kosong tak dapat menentukan kemenangan,
Bhewakala lalu menurunkan ilmu cambuk yang dapat dimainkan dengan pedang. Karena ilmu pedang ini
pun berdasar pada Ngo-sin Hoan-kun, maka tidak sukar bagi Yo Wan untuk menghafal dan
memainkannya. Sebagai imbangannya, Sin-eng-cu juga menurunkan ilmu pedangnya.
Pada bulan kedua dari tahun ketiga, Sin-eng-cu yang keadaannya sudah sangat payah saking tuanya dan
juga karena kelemahan tubuhnya akibat pertempuran tiga tahun yang lalu, menurunkan jurus yang tadinya
amat dirahasiakan.
"Yo Wan... Bhewakala memang hebat. Tapi coba kau perlihatkan jurus ini dan dia pasti akan kalah. Jurus
ini dinamakan Pek-hong Ci-tiam (Bianglala Putih Keluarkan Kilat), jurus simpananku yang belum pernah
kupergunakan dalam pertandingan karena amat ganas. Coba... bantu aku berdiri, jurus ini harus
kumainkan sendiri, baru kau dapat menirunya. Ke sinikan pedangmu..."
Yo Wan yang tadinya berlutut menyerahkan pedangnya, pedang dari kayu cendana yang sengaja dibuat
untuk perang adu ilmu itu, sambil membantu kakek yang sudah tua renta itu bangkit berdiri.
Diam-diam Yo Wan menyesal sekali mengapa kakek yang tua ini begini gemar mengadu ilmu. Selama tiga
tahun ini sudah sering kali dia membujuk-bujuk kedua orang kakek itu untuk menghentikan adu ilmu,
namun sia-sia belaka. Namun sebenarnya, di balik semua itu, dia pun mulai merasa senang sekali dengan
pelajaran jurus-jurus itu.
"Nah, kau lihat baik-baik..."
Kakek itu menggerakkan pedang kayu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram
dari atas. Memang gerakan yang amat hebat dan dahsyat. Bahkan kakek yang sudah kehabisan tenaga
itu, ketika mainkan jurus tersebut kelihatan menyeramkan. Terdengar suara bercuitan dari pedang kayu
dan tangan kirinya, kemudian... kakek itu roboh terguling.
"Susiok-couw...!" Yo Wan cepat menyambar tubuh kakek itu dan membantunya duduk sambil
menempelkan dua telapak tangannya pada punggung kakek itu dan menyalurkan hawa murni sesuai
dengan ajaran Sin-eng-cu.
"Sudah... eh, sudah baik... uh-uh-uh... tua bangka tak becus aku ini... Yo Wan, sudahkah kau dapat
mengerti jurus tadi?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Wan mengangguk, dan maklum akan watak kakek ini. Seperti biasa setelah kakek itu duduk bersila, dia
mengambil pedang kayu dan mainkan jurus tadi. Suara bercuitan lebih nyaring terdengar, dan kakek itu
berseru gembira, tapi nafasnya terengah-engah.
"Bagus, bagus…! Nah, kalau sekali ini pendeta koplok itu sanggup memecahkan jurusku Pek-hong Ci-tiam,
dia benar-benar patut kau puja sebagai gurumu!"
Dengan nafas terengah-engah kakek itu lalu melambaikan tangannya, mengusir Yo Wan keluar dari kamar
itu untuk segera mendemonstrasikan jurus itu kepada lawannya.
Dengan hati sedih karena ketika meraba punggung tadi dia tahu bahwa keadaan kakek itu sangat payah,
Yo Wan meninggalkan kamar, langsung memasuki kamar Bhewakala. Keadaan pendeta Nepal ini tidak
lebih baik dari pada Sin-eng-cu Lui Bok. Dia pun amat payah karena selain kekuatan tubuhnya makin
mundur akibat luka dalam, juga dia harus mengerahkan tenaga dan pikiran setiap hari untuk mengajar Yo
Wan.
Ketika Yo Wan memasuki kamarnya dan mainkan jurus Pek-hong Ci-tiam, dia terkejut sekali. Sampai lama
dia bengong saja, menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengeluh.
"Hebat... Sin-eng-cu Lui Bok hendak mengadu nyawa..."
Akan tetapi selanjutnya dia termenung. Dua tangannya bergerak-gerak menirukan gerak jurus itu, bicara
perlahan seorang diri, mengerutkan kening dan akhirnya menggelengkan kepala seakan-akan
pemecahannya tidak tepat. la memberi isyarat dengan tangan agar Yo Wan keluar dari kamarnya. Pemuda
ini lalu mengundurkan diri dan masuk ke kamar sendiri karena waktu itu malam sudah agak larut.
Menjelang fajar, Yo Wan kaget mendengar suara Bhewakala memanggil namanya. la bangun dan cepat
menuju ke kamar pendeta itu. Pintu kamarnya terbuka dan pendeta itu duduk di atas pembaringan. Cepat
dia maju menghampiri.
"Yo Wan, jurus Sin-eng-cu ini hebat! Aku tidak dapat menangkis atau mengelaknya...," katanya dengan
suara lesu.
Diam-diam Yo Wan menjadi girang. Akhirnya Sin-eng-cu yang menang, seperti yang dia harapkan. "Kalau
begitu, Locianpwe menyerah...," katanya perlahan.
Mata yang lebar itu melotot. "Siapa yang menyerah? Karena Sin-eng-cu ingin mengadu nyawa, apa kau
kira aku tidak berani? Jurus itu memang tidak dapat kutangkis atau pun kuhindarkan, akan tetapi dapat
kuhadapi dengan jurusku yang istimewa pula. Mungkin aku akan mati oleh jurusnya, tapi dia pun pasti
mampus bila melanjutkan serangannya. Kau lihat baik-baik!"
Bhewakala kemudian mengajar Yo Wan sebuah jurus sebagai imbangan dari Pek-hong Ci-tiam. Kemudian
pendeta itu menyuruh Yo Wan memainkan cambuk dengan jurus itu. Hebat bukan main jurus ini. Cambuk
itu melingkar-lingkar di udara kemudian melejit ke empat penjuru dengan suara nyaring sekali.
"Tar-tar-tar-tar!" Terjangan cambuk ini diiringi gempuran tangan kiri yang penuh dengan tenaga dalam ke
arah pusar lawan.
"Cukup! Lekas kau perlihatkan kepada Sin-eng-cu," kata Bhewakala setelah dia merasa puas dengan
gerakan Yo Wan.
Pemuda ini keluar dari kamar Bhewakala dan memasuki kamar Sin-eng-cu. Waktu itu matahari telah naik
agak tinggi, akan tetapi lampu di dalam kamar kakek ini masih saja menyala.
"Susiok-couw, Locianpwe Bhewakala tidak dapat memecahkan Pek-hong Ci-tiam, akan tetapi menghadapi
jurus itu dengan jurus serangan pula, seperti ini," kata Yo Wan sambil memainkan cambuk yang memang
sengaja dibawanya ke dalam kamar itu. Cambuknya melejit-lejit dan tangan kirinya mengeluarkan angin
yang mematikan lampu di atas meja ketika dia mainkan jurus itu.
Akan tetapi setelah dia berhenti mainkan jurus ini, Sin-eng-cu tidak memberi komentar apa-apa. Kakek itu
tetap duduk bersila dengan tangan kanan terkepal di atas pangkuan, telentang, serta tangan kiri diangkat
dunia-kangouw.blogspot.com
ke depan dada, jari-jari tengah terbuka dan telapak tangan menghadap keluar.
"Susiok-couw, bagaimana sekarang...?" Yo Wan menegur lagi sambil maju mendekat dan berlutut.
"Susiok-couw...!" la berseru agak keras sambil berdongak memandang.
Kakek itu masih duduk bersila dengan mata meram. Ketika Yo Wan melihat sikap yang tidak wajar ini,
berubah air mukanya. Dirabanya kepalan tangan kanan di atas pangkuan itu dan dia menarik kembali
tangannya. Kepalan itu dingin sekali. Dirabanya lagi nadi, tidak ada denyutan. Kakeknya itu seperti orang
tidur tanpa bernafas.
"Susiok-couw...!"
Tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya. "Dia sudah mati. Ahhh, Sin-eng-cu, kau benar-benar hebat.
Dengan jurus terakhir itu kau telah mengalahkan aku. Aku mengaku kalah!"
Yo Wan menoleh dengan sangat heran. Bhewakala sudah berdiri di situ dan walau pun kelihatannya masih
amat lemah, kiranya pendeta ini sudah dapat berjalan dengan ringan sehingga dia tidak mendengar
kedatangannya.
Akan tetapi Yo Wan segera menghadapi Sin-eng-cu lagi, berlutut sambil memberi hormat sebagaimana
layaknya dan berkata, "Harap Susiok-couw sudi mengampuni teecu yang tidak bisa menolong Susiok-couw
yang terluka sehingga hari ini Susiok-couw meninggal dunia." la tidak dapat menangis karena memang dia
tidak ingin menangis.
"Yo Wan, orang selihai dia mana bisa mati hanya karena luka pukulanku? Seperti juga pukulannya, mana
bisa membikin mati aku? Kami berdua hanya terluka yang akibatnya melenyapkan tenaga dalam karena
pusat pengerahan sinkang di tubuh kami rusak akibat pukulan. Tanpa pukulanku, hari ini dia akan mati
juga, kematian wajar dari usia tua."
Bhewakala maju menghampiri kakek yang masih duduk bersila itu, lalu tiba-tiba pendeta Nepal ini
memeluknya.
"Sin-eng-cu, tua bangka... terima kasih. Belum pernah selama hidup aku merasa begitu senang dan
gembira seperti selama tiga tahun kita mengadu ilmu ini. Kau sangat hebat, sahabatku, kau hebat.
Jurusmu terakhir tak dapat kupecahkan, biarlah sisa hidupku akan dapat kupergunakan untuk
memecahkan jurus itu agar kelak kalau kita bertemu kembali, dapat kumainkan di depanmu..."
Pendeta ini lalu membaringkan tubuh Sin-eng-cu. Tangan dan kaki kakek itu sudah kaku, namun begitu
disentuh Bhewakala pada jalan darah dan sambungan-sambungan tulang yang membeku itu, bagianbagian
tubuh kakek itu segera lemas kembali sehingga dapat ditelentangkan. Kemudian pendeta hitam ini
berpaling kepada Yo Wan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak heran. Memang pendeta
hitam ini seorang yang aneh dan luar biasa, pikirnya.
“Yo Wan, kau adalah murid Pendekar Buta, akan tetapi tidak pernah menerima warisan ilmu silatnya
kecuali pelajaran langkah-langkah yang tak ada artinya dalam menghadapi lawan. Kau bukan murid kami,
namun kau sudah mewarisi inti sari dari ilmu silat kami berdua. Memang lucu. Akan tetapi ketahuilah
bahwa di dalam hatiku, aku menganggap kau sebagai murid tunggalku dan selalu menanti kunjunganmu ke
Anapurna di Himalaya. Selamat tinggal, muridku."
Setelah berkata demikian, Bhewakala berjalan ke luar dari pondok itu. Wajahnya muram seakan-akan
kegembiraannya lenyap bersama nyawa Sin-eng-cu.
Yo Wan tiba-tiba merasa dirinya sangat kesunyian. Yang seorang menjadi mayat, yang seorang lagi sudah
pergi. Kembali dia hidup seorang diri di tempat sunyi itu. Namun dia segera dapat menguasai perasaannya.
la bukan kanak-kanak lagi.
Ketika suhu dan subo-nya pergi, delapan tahun yang lalu, dia baru berusia delapan tahun lebih. Sekarang
dia sudah menjadi seorang pemuda, enam belas tahun usianya seperti dikatakan oleh Sin-eng-cu
beberapa hari yang lalu. Tadinya dia sendiri tidak tahu berapa usianya kalau saja bukan Sin-eng-cu yang
menghitungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seorang jejaka, Jaka Lola. Tidak hanya yatim piatu, akan tetapi juga tiada sanak-kadang. Di dunia ini
hanya ada suhu serta subo-nya, akan tetapi kedua orang itu sudah pergi meninggalkannya sampai delapan
tahun tanpa berita.
Dengan hati berat Yo Wan mengubur jenazah Sin-eng-cu di belakang pondok. la tidak tahu bagaimana
harus menghias kuburan ini, maka dia lalu mengangkuti batu-batu besar yang dia taruh berjajar di
sekeliling kuburan. la masih belum sadar bahwa kini dia dapat mengangkat batu-batu yang demikian
besarnya, tidak tahu pula bahwa setiap batu yang diangkatnya dengan ringan itu sedikitnya ada seribu kati
beratnya!
"Aku harus pergi menyusul suhu dan subo ke Hoa-san." Inilah pikiran yang pertama-tama memasuki
kepalanya.
Teringat akan niatnya pergi menyusul ke Hoa-san tiga tahun yang lalu, dia kini merasa menyesal sekali.
Mengapa dia dahulu tidak jadi menyusul? Kalau tiga tahun yang lalu dia sudah pergi ke Hoa-san, tentu
saat ini dia sudah berada bersama suhu dan subo-nya.
Akan tetapi, dia teringat lagi betapa dua orang kakek yang mengadu ilmu itu membuat dia betah, malah
selama tiga tahun ini dia tidak merasa rindu kepada suhu dan subo-nya. Juga membuat dia tak pernah
meninggalkan puncak karena dua orang itu melarangnya. Biar pun bumbu-bumbu habis, mereka tidak
membolehkan dia turun puncak, dan sebagai pengganti bumbu-bumbu itu, Bhewakala menyuruh dia
mengambil bermacam-macam daun di puncak yang ternyata dapat mengganti bumbu dapur.
Dengan pakaian penuh tambalan Yo Wan turun dari puncak. Cambuk Bhewakala yang ditinggalkan oleh
pendeta itu digulungnya melingkari pinggangnya, tersembunyi di balik bajunya yang penuh tambalan dan
tidak karuan potongannya. Juga pedang kayu buatan Sin-eng-cu yang dipakainya untuk bermain jurus di
depan Bhewakala, dia bawa pula, dia selipkan di balik ikat pinggang.
Berangkatlah Yo Wan si Jaka Lola meninggalkan puncak Liong-thouw-san, berangkat dengan hati lapang
dan penuh harapan untuk segera bertemu kembali dengan dua orang yang amat dikasihi, yaitu suhu dan
subo-nya. la tidak sadar sama sekali, betapa dirinya telah mengalami perubahan hebat berkat latihan
Iweekang menurut ajaran Sin-eng-cu dan Bhewakala, betapa dirinya selain mempunyai tenaga sinkang
yang hebat juga sudah memiliki berbagai ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mudah didapat orang!
Ketika penduduk sekitar kaki gunung yang sudah mengenalnya melihat Yo Wan, mereka segera menegur
dan mempersilakan dia singgah. Mereka menyatakan rasa penyesalan mengapa pemuda itu selama tiga
tahun ini bersembunyi saja. Malah yang mempunyai kelebihan pakaian segera memberi beberapa buah
celana dan baju kepada Yo Wan ketika dilihatnya betapa pakaian pemuda ini penuh tambalan.
Yo Wan, menerima dengan penuh syukur dan terima kasih. Ia sendiri tak ingin suhu dan subo-nya marah
dan malu melihat dia berpakaian seperti jembel. Segera dia menukar pakaiannya dan kini biar pun
pakaiannya sederhana dan terbuat dari kain kasar, tetapi cukup rapi dan tidak robek, juga tidak ada
tambalan menghiasnya…..
********************
Yo Wan melakukan perjalanan seperti seorang yang linglung. Dia laksana seekor anak burung yang baru
saja belajar terbang meninggalkan sarangnya. Semenjak usia delapan tahun, dunianya hanya puncak Bukit
Liong-thouw-san dan perkampungan sekitar kaki gunung. Meski pun di waktu kecilnya dia pernah melihat
kota dan tempat-tempat ramai, akan tetapi selama delapan tahun dia seakan mengasingkan diri di puncak
gunung.
Dan sekarang, melakukan perjalanan melalui kota-kota dan dusun-dusun yang ramai, dia bagai orang
dusun yang amat bodoh. Bangunan-bangunan besar mengagumkan hatinya. Melihat banyak orang
membuat dia bingung. Apa lagi ilmu membaca dan menulis. Dia adalah seorang buta huruf yang
melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang asing baginya, tanpa kawan tiada sanak kadang, tanpa
bekal uang di saku!
Tetapi kekurangan-kekurangan ini sama sekali tidak membuat Yo Wan menjadi khawatir atau susah.
Semenjak kecil dia sudah tergembleng oleh segala macam kesulitan hidup. Meski masih muda, jiwanya
sudah matang oleh asam garam dan pahit getir kehidupan, membuatnya tenang dan dapat menghadapi
segala macam keadaan dengan tabah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak sukar baginya untuk mengatasi kekurangannya dalam perjalanan. Kadang-kadang dia hanya makan
buah-buahan dan daun-daun muda di dalam hutan untuk berhari-hari. Ada kalanya dia makan dalam
sebuah kelenteng bersama hwesio-hwesio yang baik hati dan yang tetap membagi hidangan sayur-mayur
sekedarnya tanpa daging itu kepada Yo Wan. Tentu saja Yo Wan belum mau pergi meninggalkan
kelenteng sebelum melakukan sesuatu, mencari air, menyapu lantai, membersihkan meja sembahyang
dan pekerjaan lain untuk membalas budi. Kadang kala ada orang dusun atau kota yang mau menerima
bantuan tenaganya untuk ditukar dengan makan sehari itu.
Dengan cara begitu Yo Wan melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya jalan menuju ke Hoa-san. Dia
berlaku hati-hati sekali, selalu menjauhkan diri dari keributan, dan tidak pernah dia memperlihatkan kepada
siapa pun juga bahwa dia memiliki tenaga luar biasa dan kepandaian yang tinggi.
Yo Wan sendiri sebenarnya belum mengerti betul bahwa dia telah mewarisi inti sari dari kepandaian dua
orang kakek berilmu, sungguh pun dia mengetahui bahwa dia memiliki tenaga dan keringanan tubuh yang
melebihi orang lain. Oleh karena ini maka dia sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari dan
membalas musuhnya, The Sun, sebelum dia bertemu dengan suhu-nya dan menerima pelajaran ilmu silat
tinggi dari gurunya itu.
Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan, akhirnya pada suatu pagi sampai juga dia di kaki Gunung
Hoa-san. Dengan hati berdebar tegang dia berdiri memandang ke arah puncak gunung itu, sebuah gunung
tinggi yang hijau, tidak liar seperti Liong-thouw-san. Membayangkan pertemuan dengan suhu dan subo-nya
setelah berpisah selama delapan tahun, mendatangkan rasa haru dan membuatnya agak lama termenung
di situ dengan jantung berdebar-debar.
Betapa pun juga, dalam kegembiraan ini, ada rasa tidak enak di hatinya, rasa bahwa dia merupakan
seorang tamu di Hoa-san. Suhu dan subo-nya sendiri terhitung tamu di situ, bagaimana dia akan dapat
merasa di rumah sendiri? Berpikir begitu, timbullah kegetiran. Mengapa suhu-nya membiarkan dia bersunyi
sampai delapan tahun di Liong-thouw-san? Mengapa gurunya itu tidak kembali?
Ya, mengapakah? Mengapa Kun Hong dan Hui Kauw tidak kembali ke Liong-thouw-san sampai delapan
tahun lamanya, dan membiarkan murid mereka itu seorang diri saja di puncak gunung yang sunyi. Apakah
terjadi sesuatu yang hebat atas diri mereka?
Sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Tidak lama setelah Kun Hong dan Hui Kauw sampai di Hoasan,
Hui Kauw melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Tentu saja peristiwa ini mendatangkan
kegembiraan luar biasa di Hoa-san. Oleh kakeknya, anak itu diberi nama Kwa Swan Bu.
Ketua Hoa-san-pai sekarang adalah Kui Lok yang berjulukan Kui Sanjin, seorang tokoh Hoa-san-pai yang
paling lihai karena dia dan isterinya (Thio Bwee) merupakan sepasang suami isteri yang mewarisi ilmu silat
Hoa-san-pai yang paling tinggi. Kedua suami isteri ini memimpin Hoa-san-pai, dibantu oleh suheng-nya
bernama Thian Beng Tosu (Thio Ki) dan Lee Giok, dan diawasi oleh kakek Kwa Tin Siong dan isterinya.
Kwa Tin Siong sudah amat tua dan sudah bosan mengurus Hoa-san-pai, maka dia dan isterinya
menyerahkan tugas ini kepada Kui Sanjin dan mereka sendiri tekun bertapa.
Kedatangan putera tunggal mereka, Kwa Kun Hong bersama isterinya, tentu saja sangat menggirangkan
hati kedua orang tua ini, apa lagi sesudah isteri Kun Hong melahirkan seorang putera, kebahagiaan suami
isteri tua ini pun menjadi sempurna. Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang
memiliki keturunan laki-laki, kecuali Kwa Kun Hong seorang.
Thian Beng Tosu hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Thio Hui Cu dan sudah menikah
dengan Tan Sin Lee, putera Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai. Juga Kui Sanjin
hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Kui Li Eng yang sudah menikah pula dengan Tan Kong
Bu, yaitu putera lain lagi dari Raja Pedang Tan Beng San.
Semua ini dapat dibaca dalam cerita Rajawali Emas dan dan Pendekar Buta!
Karena tidak ada keturunan laki-laki di Hoa-san, tentu saja lahirnya Kwa Swan Bu amat menggirangkan
hati Kakek Kwa. Thian Beng Tosu dan Kui Sanjin ketua Hoa-san-pai juga amat girang. Orang-orang tua
inilah yang minta dengan sangat kepada Kun Hong dan istrinya agar suami isteri itu tidak kembali ke Liongthouw-
san, setidaknya menanti kalau Swan Bu sudah besar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sangatlah tidak baik membiarkan seorang anak laki-laki bersunyi di puncak bukit dengan kedua orang
tuanya saja, kata Kwa Tin Siong kepada putera dan mantunya.
“Dia akan tumbuh besar dalam kesunyian, kurang bergaul dengan sesama manusia. Di Hoa-san-pai ini
adalah tempat tinggalmu sendiri sejak kau kecil, Kun Hong. Oleh karena itu sebaiknya kau membiarkan
puteramu tinggal di sini pula. Di sini merupakan keluarga Hoa-san-pai yang besar, dan puteramu tentu
akan menerima kasih sayang dari semua orang. Juga aku dan ibumu sudah tua, biarkanlah kami
menikmati hari-hari akhir kami dengan cucu kami Swan Bu."
Hal inilah yang membuat Kun Hong dan isterinya tak dapat meninggalkan Hoa-san. Kun Hong kemudian
berunding dengan isterinya tentang Yo Wan. Hui Kauw yang tentu saja menimpakan kasih sayang
seluruhnya kepada puteranya, menyatakan bahwa tentu Yo Wan akan menyusul ke Hoa-san.
"Bukankah dulu kau sudah meninggalkan pesan bahwa dia harus menyusul ke Hoa-san kalau dalam waktu
dua tahun kita belum pulang? Dia sudah besar, tentu dapat mencari jalan ke sini. Pula, hal ini amat perlu
bagi dia. Murid kita harus menjadi seorang yang tabah dan tidak gentar menghadapi kesukaran."
Kun Hong setuju dengan pendapat isterinya ini. Akan tetapi hatinya gelisah juga setelah lewat dua tahun,
bahkan sampai lima tahun, murid itu tidak datang menyusul ke Hoa-san.
"Jangan-jangan ada sesuatu terjadi di sana?" Kun Hong menyatakan kekhawatirannya.
"Atau dia memang tak ingin ikut dengan kita di sini," Hui Kauw berkata, keningnya agak berkerut.
Diam-diam ia merasa tidak senang mengapa Yo Wan tidak mentaati perintah suaminya. Seorang murid
harus mentaati perintah guru, kalau tidak, dia bukanlah murid yang baik. "Sudahlah, kita tidak perlu
memikirkan Yo Wan. Kalau dia datang menyusul, berarti dia suka menjadi murid kita, kalau tidak, terserah
kepadanya. Lebih baik kita melatih anak kita sendiri."
Demikianlah, setelah lewat delapan tahun, suami isteri ini telah melupakan murid mereka yang mereka kira
tentu sudah pergi dari Liong-thouw-san dan tidak mau ikut mereka di Hoa-san. Sama sekali mereka tidak
menyangka bahwa murid mereka itu selama ini tak pernah meninggalkan puncak Liong-thouw-san. Dan
sama sekali mereka tidak pernah menduga bahwa pada pagi hari itu, orang muda tampan sederhana yang
sedang berdiri termenung di kaki Gunung Hoa-san adalah Yo Wan.
Yo Wan amat kagum melihat keadaan Gunung Hoa-san. Alangkah jauh bedanya dengan Liong-thouw-san.
Gunung ini benar-benar terawat. Tak ada bagian yang liar. Hutan-hutan bersih dan penuh pohon buah dan
kembang. Sawah ladang terpelihara, ditanami dengan sayur-mayur dan pohon obat. Malah dibangun pula
jalan yang cukup lebar, memudahkan orang naik mendaki gunung.
Terdengar derap kaki kuda dari sebelah kanan, diiringi suara ketawa yang amat nyaring, ketawa kanakkanak.
Yo Wan mengangkat kepala memandang ke sebelah kanan dan dia menjadi kagum sekali.
Ada tiga orang penunggang kuda. Kuda mereka adalah kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan nampak kuat.
Akan tetapi bukan binatang-binatang itu yang mengagumkan hati Yo Wan, tapi penunggang yang berada di
tengah-tengah, di antara dua orang penunggang kuda lainnya.
Penunggang kuda ini adalah seorang anak laki-laki yang usianya kelihatannya belum ada sepuluh tahun.
Seorang anak laki-laki yang amat tampan, yang pakaiannya serba indah, kepalanya ditutupi topi sutera
yang bersulam kembang dan terhias burung hong dari mutiara.
Anak laki-laki itu pandai sekali menunggang kuda dan pada saat itu dia menunggang kuda tanpa
memegang kendali, karena kedua tangannya memegangi sebuah gendewa dan beberapa batang anak
panah. Dua orang yang mengiringi anak ini adalah dua orang laki-laki berusia empat puluhan,
dandanannya seperti tosu dan terlihat sangat mencinta anak itu.
"Ji-wi Susiok (Dua Paman Guru), lihat, burung yang paling gesit akan kupanah jatuh!"
"Swan Bu... jangan...! Itu bukan burung walet...!" Salah seorang di antara kedua tosu itu mencegah.
Akan tetapi anak itu sudah mengeprak kuda dengan kedua kakinya yang kecil. Kudanya lari congklang
dengan cepat ke depan. Dengan gerakan yang tenang namun cepat anak itu sudah memasang dua batang
dunia-kangouw.blogspot.com
anak panah pada gendewanya, kemudian menarik tali gendewa.
Terdengar suara menjepret dan Yo Wan melihat seekor burung kecil melayang jatuh di dekat kakinya. Ia
merasa kasihan sekali melihat burung itu, sebatang anak panah sudah menembus dadanya. Burung kecil
berbulu kuning amat cantik.
Yo Wan menekuk lutut, membungkuk untuk mengambil bangkai burung itu. Tiba-tiba saja berkelebat
bayangan dan tahu-tahu sebuah tangan yang kecil sudah mendahului dirinya, menyambar bangkai burung
itu.
Yo Wan berdiri dan melihat anak kecil yang pandai main anak panah tadi telah berdiri di depannya,
bangkai burung di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
"Ehh, kau mau mencuri burungku? Burung ini aku yang panah jatuh, enak saja kau mau mengambilnya.
Hemmm, kau orang dari mana? Mau apa berkeliaran di sini?"
Yo Wan tertegun. Anak ini masih kecil, akan tetapi sikapnya amat gagah dan berwibawa. Kedua matanya
tajam penuh curiga, akan tetapi juga membayangkan watak tinggi hati. la tahu bahwa dirinya berada di
tempat orang, karena Gunung Hoa-san tentu saja menjadi wilayah orang-orang Hoa-san-pai. Dengan
senyum sabar dia menjura dan berkata.
“Aku tidak bermaksud mencuri, hanya kasihan melihat burung ini..."
Sementara itu, dua orang tosu juga sudah melompat turun dan kuda dan menghampiri. “Swan Bu, kau
terlalu. Ilmu memanah yang kau pelajari bukan untuk membunuh burung yang tidak berdosa. Kalau ayah
bundamu tahu, kau tentu akan mendapat marah," tegur seorang tosu.
“Susiok, apakah urusan begini saja Susiok hendak mengadu kepada ayah dan ibu? Jika tidak berlatih
memanah burung kecil terbang, mana bisa mahir? Anggap saja burung ini seorang penjahat. Susiok, orang
ini mencurigakan sekali, aku belum pernah melihatnya. Jangan-jangan dia pencuri.”
Dua orang tosu itu memandang Yo Wan. Tosu kedua segera menegur, "Orang muda, kau siapakah?
Agaknya kau bukan orang sini .. ehhh, apakah kau pemuda yang hendak bekerja sebagai tukang
mengurus kuda di Hoa-san? Dua hari yang lalu kepala kampung Lung-ti-bun menawarkan tenaga seorang
pemuda tukang kuda..."
Yo Wan menggeleng kepala. Dia sejak kecil tinggal di gunung, tentu saja tidak tahu akan tata susila umum,
dan gerak-geriknya agak kaku dan kasar. "Aku bukan tukang kuda, akan tetapi kalau Lo-pek (Paman Tua)
suka memberi pekerjaan, aku pun mau mengurus kuda, asal mendapat makan setiap hari."
Entah bagaimana, melihat anak laki-laki yang sombong dan yang dia tahu tentu anak Hoa-san-pai ini,
mendadak hati Yo Wan menjadi tawar untuk bertemu dengan suhu-nya. Bukankah suhu-nya itu putera
Hoa-san-pai dan sekarang sedang mondok di situ? Bagai mana seandainya orang-orang Hoa-san-pai
memandang rendah padanya dan tidak suka mengangkatnya sebagai murid Pendekar Buta?
Lebih baik dia menjadi tukang kuda dan tidak usah ‘mengaku’ sebagai murid gurunya agar tidak
merendahkan nama gurunya. Dengan pekerjaan ini, dia ingin melihat gelagat, melihat dulu suasana di
Hoa-san-pai sebelum mengambil keputusan untuk menghadap suhu-nya.
"Baik, kau boleh bekerja menjadi pengurus kuda. Setiap hari kau harus mencari rumput yang segar dan
gemuk untuk dua belas ekor kuda, memberi makan dan menyikat bulu kuda. Tidak hanya makan, kau juga
akan diberi pakaian dan upah. Ehh, siapa namamu? Di mana rumahmu?"
"Namaku A Wan, Lopek, dan aku tidak punya rumah. Terima kasih atas kebaikanmu, aku akan merawat
kuda dengan baik-baik.”
“Bekerjalah dengan baik, dan ketua kami tentu akan menaruh kasihan padamu. Jangan sekali-kali suka
mencuri, apa lagi melarikan kuda," kata tosu kedua.
"Susiok, mengapa takut dia mencuri dan lari? Kalau dia jahat, anak panahku pasti akan merobohkannya!"
"Hushh, Swan Bu, jangan bicara begitu...”
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku paling benci penjahat, Susiok, setiap kali aku melihat penjahat, pasti akan kupanah mampus. Kelak
kalau aku sudah besar, aku akan basmi semua penjahat di permukaan bumi ini."
Hemmm, bocah manja dan amat besar mulut, pikir Yo Wan. Heran sekali dia mendengar omongan
seorang anak kecil seperti itu. Anak siapa gerangan bocah ini? Apakah anak ketua Hoa-san-pai? Akan
tetapi dia tidak berani banyak bertanya, karena nanti pun dia akan tahu sendiri.
"Swan Bu kita pulang berlari sambil melatih ilmu lari cepat," kata tosu pertama kepada anak itu. "Biar tiga
ekor kuda ini dituntun naik oleh A Wan. A Wan, kau tuntun tiga ekor kuda ini ke puncak, sampai di sana
bawa ke kandang, gosok badannya sampai kering dari keringat dan beri makan." Setelah berkata
demikian, tosu itu memberikan kendali tiga ekor kuda itu kepada A Wan, kemudian mengajak tosu kedua
dan Swan Bu untuk berlari cepat.
Mereka berkelebat dan seperti terbang mereka lari mendaki gunung. Memang tosu itu sengaja tidak
memberi penjelasan karena hendak menguji kecerdikan kacung kuda itu, apakah mampu dan dengan baik
mengantar binatang-binatang itu ke kandang ataukah tidak. la masih ragu-ragu melihat pemuda yang
bodoh itu.
Ada pun Yo Wan melihat mereka berlari-lari cepat sambil memegangi kendali tiga ekor kuda itu. Biasa saja
kepandaian mereka itu, pikirnya, lalu dituntunnya tiga ekor kuda itu mendaki gunung.
Sambil berjalan perlahan dia bertanya-tanya di dalam hati, siapa gerangan bocah yang bernama Swan Bu
itu. Bocah tampan dan bersemangat, mempunyai dasar watak yang gagah dan pembenci penjahat, akan
tetapi rusak oleh kemanjaan dan kesombongan.
Pertemuannya dengan anak laki-laki tadi membuat hati Yo Wan makin terasa tidak enak lagi. Dia merasa
bahwa orang-orang Hoa-san-pai kurang bijaksana, terbukti dari watak bocah tadi yang agaknya terlalu
manja.
Heran dia mengapa suhu-nya yang jujur dan budiman, subo-nya yang berwatak halus dan penuh pribudi itu
bisa tinggal di situ sampai bertahun-tahun. Akan tetapi dia teringat lagi bahwa suhu-nya adalah putera
ketua Hoa-san-pai, tentu saja harus berbakti kepada orang tua, dan orang dengan watak sehalus subonya,
tentu dapat menghadapi segala macam watak dengan penuh kesabaran.
Yo Wan menarik nafas. Dasar kau sendiri yang iri agaknya melihat bocah tadi demikian manja, pakaiannya
demikian indah, dia mencela diri sendiri.
Betapa pun juga, Yo Wan adalah seorang pemuda yang masih remaja dan kurang sekali pengalaman,
kurang pula pendidikan, maka rasa iri itu adalah wajar. Iri karena dia tidak pernah merasakan bagaimana
dicinta orang tua, dimanja orang tua. la pun teringat akan keadaan sendiri, seorang jaka lola yang tidak
punya apa-apa di dunia ini. Alangkah jauh bedanya dengan Swan Bu tadi, bagai bumi dan langit.
Selagi dia melamun sambil menuntun kudanya di jalan yang cukup lebar tapi menanjak itu, tiba-tiba
terdengar derap kaki-kaki kuda dari belakang dan disusul bentakan nyaring, "Minggir...! Minggir...!!" Lalu
terdengar bunyi cambuk di udara.
Kalau saja A Wan tidak sedang melamun, agaknya dia tidak begitu terkejut dan dapat menuntun ketiga
ekor kuda itu ke pinggir. Akan tetapi bentakan nyaring ini seakan-akan menyeretnya secara tiba-tiba dari
dunia lamunan, membuat dia kaget dan tidak sempat menguasai seekor di antara kudanya yang kaget dan
melonjak ke tengah jalan.
Karena dua ekor kuda yang lain juga melonjak-lonjak ketakutan, terpaksa Yo Wan hanya menenangkan
dua ekor yang masih dia pegang kendalinya, sedangkan yang seekor lagi telah terlepas kendalinya dan
kini berloncatan di tengah jalan. Pada saat itu, dua orang penunggang kuda sudah datang membalap dekat
sekali. Yo Wan berteriak kaget, karena kudanya yang mengamuk itu tidak menghindar, malah meloncat
dan menubruk ke arah seorang di antara penunggang-penunggang kuda itu.
"Setan...!" Penunggang kuda yang ditubruk itu memaki.
Dia adalah seorang laki-laki yang berkumis panjang, berusia kurang lebih empat puluh tahun. Pakaiannya
penuh tambalan, akan tetapi sepatunya baru dan mengkilap. Sambil memaki, dia menggerakkah kakinya,
dunia-kangouw.blogspot.com
menendang ke arah perut kuda yang menubruknya.
"Krakkk!"
Tendangan itu keras sekali dan mendengar bunyinya, agaknya tulang-tulang rusuk kuda yang
menubruknya itu telah ditendang hingga patah. Kuda itu meringkik, terjengkang ke belakang lalu roboh dan
berkelojotan, tak mampu bangun lagi.
"Wah-wah, Sute (Adik seperguruan), kau sudah membunuh seekor kuda Hoa-san-pai!" tegur orang kedua,
usianya hampir lima puluh, rambutnya putih semua digelung ke atas, mukanya licin tanpa kumis,
pakaiannya juga penuh tambalan seperti orang pertama.
"Habis, apakah aku harus membiarkan kuda itu menubrukku, Suheng? Salahnya bocah ini, menuntun kuda
kurang hati-hati!"
Mereka berdua melompat turun dari kuda dan memandang kepada Yo Wan.
Bukan main kagetnya hati Yo Wan melihat betapa seekor di antara tiga kuda yang dia tuntun itu sekarang
telah berkelojotan hampir mati di tengah jalan. Baru saja dia diterima menjadi kacung kuda, tetapi sudah
terjadi hal seperti ini. Karena kaget dan bingung, dia segera berkata,
"Kau membunuh kudaku. Hayo ganti kudaku!”
Si kumis tersenyum. "Bocah, ketahuilah. Aku dan suheng-ku ini adalah dua orang utusan dari Sin-tung
Kaipang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti). Urusan kuda merupakan urusan kecil, tak perlu kau ributribut."
"Urusan kecil bagaimana?" Yo Wan berteriak. "Mungkin kecil untuk kau, akan tetapi amat besar bagiku.
Kau harus mengganti kuda ini!"
Muka si kumis menjadi merah. la heran sekali. Biasanya, orang-orang Hoa-san-pai tentu akan bersikap
hormat bila mana mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Sin-tung Kaipang. Akan tetapi bocah ini,
tentunya hanya seorang anak murid yang masih rendah, sama sekali tidak menghormat, malah agak kasar
sikap dan bicaranya.
"Kau siapa? Apakah kuda ini bukan milik Hoa-san-pai?" tanya si kumis.
"Memang kuda Hoa-san-pai, dan aku adalah kacung kuda yang baru. Bagaimana aku harus pulang kalau
kuda yang kutuntun berkurang seekor? Lopek, kau harus mengganti kudaku!" Sambil berkata demikian, Yo
Wan menuntun dua ekor kudanya di tengah jalan, menghadang perjalanan karena dia khawatir kalau dua
orang itu akan melarikan diri.
Si kumis menjadi makin merah mukanya karena marah ketika mendengar bahwa bocah ini hanya seorang
kacung kuda saja. Seorang kacung kuda bagaimana berani bersikap sekasar itu terhadap dia, anak murid
Sin-tung Kaipang yang sudah bersepatu baru?
Di perkumpulan pengemis ini terdapat peraturan yang aneh. Tingkat seseorang ditandai dengan sepatu.
Yang terendah tidak memakai apa-apa, yang lebih tinggi memakai alas kaki, makin tinggi semakin baik,
mulai sandal kayu sampai sepatu kulit yang mengkilap seperti yang dipakai oleh kedua orang penunggang
kuda ini. Maklumlah, mereka berdua adalah murid-murid dari ketua Sin-tung Kaipang, karena itu
kepandaiannya sudah sangat tinggi, demikian juga ‘pangkatnya’ karena memakai sepatu baru.
"Hemmm, bujang rendah! Kau hanya tukang kuda, banyak cerewet. Urusan seekor kuda saja kau ributribut!
Minggir! Biarlah nanti kubicarakan dengan orang-orang Hoa-san-pai tentang kuda ini, kau boleh
pulang ke kandangmu!"
"Betul kata-kata Sute-ku, bocah tukang kuda, jangan kau takut. Urusan kuda ini biar nanti kami bicarakan
dengan majikanmu," sambung orang kedua yang rambut putih.
"Tidak!" Yo Wan membantah karena dia takut dua orang ini akan mengadu kepada ketua Hoa-san-pai dan
membalikkan duduk perkaranya sehingga dia yang akan dipersalahkan. "Kau harus ganti sekarang juga!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bujang rendah, kau buka matamu baik-baik dan lihat dengan siapa kau bicara!" bentak si kumis, marah
sekali.
"Aku sudah melihat, kalian adalah dua orang pengemis aneh."
Kedua orang itu tertawa. Memang aneh orang-orang dari Sin-tung Kaipang. Kalau orang lain menyebut
mereka pengemis, hal itu berarti suatu penghormatan bagi mereka! Inilah sebabnya mereka menjadi
senang mendengar Yo Wan menyebut mereka pengemis aneh dan hal ini mereka anggap bahwa Yo Wan
menyadari siapa mereka dan takut.
"Bocah! Kau lihat sepatu kami!"
Yo Wan mendongkol sekali. Orang ini terlalu menghinanya, akan tetapi dia memandang juga ke arah
sepatu mereka. "Ada apa dengan sepatu kalian? Sepatu baru, akan tetapi penuh debu!" jawabnya.
"Ha-ha-ha, anak baik, kau mengenal sepatu baru kami!" Si kumis tertawa senang. "Hayo kau bersihkan
debu sepatu kami, dan nanti kami akan minta kepada majikanmu agar kau jangan dihukum karena
kelalaianmu menuntun kuda."
Yo Wan menegakkan kepalanya, memandang tajam. "Harap kalian tidak main-main. Aku pun tidak ingin
main-main dengan kalian. Lebih baik sekarang kalian tinggalkan seekor di antara kudamu untuk mengganti
kudaku yang mati, baru kalian melanjutkan perjalanan."
“Apa...?!" Dua orang itu berteriak kaget, heran dan juga marah. "Kau ini kacung kuda tapi berani bicara
begitu kepada kami? Kami adalah dua orang utusan yang terhormat dari Sin-tung Kaipang, tahu? Minggir
dan jangan banyak cerewet kalau kau tak ingin mampus seperti kuda itu!"
Yo Wan adalah seorang yang mempunyai watak suka merendah, hal ini terbentuk oleh keadaan hidupnya
semenjak kecil. Dia suka mengalah dan mempunyai rasa diri rendah dan bodoh, akan tetapi betapa pun
juga, dia adalah seorang muda yang berdarah panas. Melihat sikap dan mendengar ucapan menghina itu,
kesabarannya patah.
"Biar kalian utusan dari Giam-lo-ong (Malaikat Maut) sekali pun, karena kau membunuh kudaku, kau harus
menggantinya!"
Dua orang itu mencak-mencak saking marahnya. Kalau saja mereka tidak ingat bahwa kacung itu adalah
seorang bujang Hoa-san-pai dan bahwa mereka berada di wilayah Hoa-san-pai, tentu sekali pukul mereka
akan membikin mampus bocah ini.
"Sute, jangan layani dia. Dorong minggir!"
Si kumis tertawa sambil melangkah maju mendekati Yo Wan, tangan kirinya mendorong pundak pemuda
itu sambil membentak, "Tidurlah dekat bangkai kudamu!"
la menggunakan tenaga setengahnya karena tidak ingin membunuh Yo Wan, hanya ingin membuat kacung
itu terjengkang dekat bangkai kuda tadi. Akan tetapi dia salah besar kalau mengira bahwa dengan hanya
sebuah dorongan seperti itu saja dia akan mampu merobohkan Yo Wan.
Tangannya mendorong pundak Yo Wan yang sengaja tidak mau mengelak, akan tetapi tenaga
dorongannya bertemu dengan pundak yang kokoh dan kuat seperti batu karang. Jangankan membuat
kacung itu roboh, membuat pundak itu bergoyang sedikit saja tidak mampu!
"Kau ganti kudaku yang mati!” kata Yo Wan tanpa bergerak.
Si kumis terheran, penasaran, lalu timbul kemarahannya. "Kau kepala batu!" bentaknya dan kini dia
menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Yo Wan.
Yo Wan tidak mau mengalah sampai dua kali, apa lagi sekarang yang didorong adalah dadanya. Tak
mungkin dia mau membiarkan dadanya didorong orang karena hal ini amat berbahaya.
Selama tiga tahun, terus-menerus siang malam dia bermain silat menurut petunjuk dari Sin-eng-cu dan
Bhewakala, ilmu silat tingkat tinggi yang membuat ilmu itu mendarah daging di tubuhnya dan di pikirannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seluruh panca inderanya sudah matang sehingga segalanya bergerak secara otomatis, karena memang
demikianlah kehendak dua orang sakti itu.
Sekarang, menghadapi dorongan dua tangan si kumis ke arah dadanya, secara otomatis kaki Yo Wan
melangkah dengan gerak tipu Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po, yang dia warisi dari Pendekar Buta. Ketika
tubuh si kumis yang mendorongnya itu lewat dekat tubuhnya, otomatis pula tangannya bergerak ke
punggung dan pantat.
Seperti sehelai layang-layang putus talinya, tubuh si kumis itu ‘melayang’ ke depan dan memeluk bangkai
kuda yang tadi ditendangnya!
"Bukkk! Uh-uhhh..."
Si kumis terbanting pada bangkai kuda. Oleh karena dia tadi mencium hidung kuda yang mancung dan
keras, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya menjadi pening.
Temannya yang berambut putih sejenak berdiri melongo. Hampir saja dia tidak dapat percaya bahwa sutenya
begitu mudah dirobohkan oleh seorang kacung kuda! Padahal dia maklum bahwa ilmu kepandaian
sute-nya itu sudah tinggi, patutnya kalau dikeroyok oleh dua puluh orang kacung seperti ini saja tidak
mungkin kalah. Tapi mengapa sampai hidungnya mengeluarkan kecap?
"Kau berani melawan kami?" bentaknya marah setelah sadar kembali dari keheranannya.
Sambil membentak begitu pengemis rambut putih ini menerjang maju. la memukul ke arah muka Yo Wan
dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya diam-diam melakukan gerakan susulan, yaitu serangan yang
sesungguhnya dan tersembunyi di balik serangan pertama yang merupakan pancingan. Maksudnya
hanyalah ingin membanting roboh Yo Wan sebagai pembalasan atas kekalahan temannya tadi karena dia
masih belum berani membunuh seorang bujang Hoa-san-pai.
Yo Wan tersenyum. Sesudah melatih dirinya dengan tipu-tipu yang luar biasa hebatnya secara bergantiganti
dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, di mana kedua orang sakti itu menggunakan gerakan-gerakan yang
penuh tipu muslihat, penuh pancingan dan amat tinggi tingkatnya, jurus yang dipergunakan oleh si rambut
putih ini baginya merupakan gerakan main-main yang tidak ada artinya sama sekali.
Agaknya boleh dikatakan bahwa Yo Wan telah mengetahui lebih dulu sebelum pengemis itu bergerak!
Dengan tenang dia miringkan kepala dan tangannya mendahului digerakkan ke depan menyambut tangan
kanan kakek pengemis yang hendak membantingnya, lalu dipegangnya pergelangan tangan itu dan sekali
tekan tangan itu seakan-akan menjadi lumpuh.
Pada lain saat, tubuh pengemis berambut putih ini pun sudah melayang ke depan dan... menimpa tubuh
pengemis berkumis yang baru krengkang-krengkang hendak merangkak bangun. Tentu saja dia roboh lagi
dan keduanya bergulingan di dekat bangkai kuda!
"Lebih baik kalian pergi dan tinggalkan seekor kuda untuk mengganti yang mati," kata Yo Wan menyesal.
Dia sama sekali tidak ingin berkelahi. Dia takut kalau-kalau hal ini akan membikin marah suhu-nya.
"Bila mana kau merasa rugi, boleh kau bawa bangkai kuda itu. Aku tidak mau mencari perkara.”
Akan tetapi kedua orang pengemis itu sudah memuncak kemarahannya. Mereka adalah murid-murid yang
terkenal dari ketua Sin-tung Kaipang, maka apa yang baru terjadi tadi merupakan penghinaan besar yang
hanya bisa dicuci dengan darah dan nyawa! Seorang kacung kuda membuat mereka jatuh bangun macam
itu. Mana mereka ada muka untuk memakai sepatu baru lagi?
"Keparat, lihat golok kami merenggut nyawamu!" bentak si kumis.
Sinar golok berkelebat ke arah leher Yo Wan, disusul bacokan golok si rambut putih ke arah pinggangnya.
Memang keistimewaan para anak murid Sin-tung Kaipang ialah pada permainan golok.
Ketuanya terkenal dengan ilmu tongkatnya, maka perkumpulan pengemis itu dinamakan Sin-tung (Tongkat
Sakti). Akan tetapi agaknya si ketua ini tidak mau menurunkan ilmu tongkatnya kepada para murid dan
anggotanya. Malah sebaliknya dia lalu menciptakan ilmu golok dari ilmu tongkat itu dan ilmu golok inilah
dunia-kangouw.blogspot.com
yang dipelajari oleh semua murid dan anggota Sin-tung Kaipang.
Yo Wan menggerakkan kedua kakinya, dia memainkan langkah ajaib dan... dua orang pengemis itu
seketika menjadi bingung karena pemuda itu lenyap di belakang. Pada saat mereka membalik dan
menerjang kembali, pemuda itu menggerakkan kedua kaki secara aneh, lenyap lagi dan tiba-tiba belakang
siku kanan mereka terkena sentilan jari tangan Yo Wan.
Seketika kaku rasanya lengan itu dan golok mereka terlepas tanpa dapat dipertahankan lagi. Sebelum
mereka tahu apa yang barusan terjadi, untuk kedua kalinya tubuh mereka melayang karena kaki Yo Wan
otomatis telah mengirim dua buah tendangan.
"Aku tidak mau berkelahi, lebih baik kalian pergi. Ganti saja kudaku dan perkara ini habis sampai di sini
saja,” kembali Yo Wan berkata.
Akan tetapi dua orang pengemis itu menjadi begitu kaget, heran dan ketakutan sehingga tanpa berkata
apa-apa lagi mereka berdua kemudian merangkak bangun dan... lari turun gunung!
Yo Wan berdiri tertegun, mengikuti mereka dengan pandang mata heran. Kemudian dia mengangkat
pundak, lalu memegang kendali dua ekor kuda mereka itu. Kini ada empat ekor kuda di tangannya. Kudakuda
itu dia cancang pada sebatang pohon dan dia segera menggali lubang di pinggir jalan untuk
mengubur bangkai kuda tadi. Setelah selesai, Yo Wan menuntun empat ekor kuda, melanjutkan
perjalanannya mendaki puncak.
Kiranya jalan yang sengaja dibangun menuju puncak itu berliku-liku mengelilingi puncak. Memang, satusatunya
cara untuk membuat jalan yang dapat dilalui kuda dan manusia biasa, hanya membuatnya berlikuliku
seperti itu sehingga jalan tanjakannya tidak terlalu sukar dilalui.
Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, tentu saja dapat mendaki dengan melalui jalan yang lurus dan
dapat cepat sampai di puncak. Akan tetapi melalui jalan buatan ini, apa lagi sambil menuntun empat ekor
kuda yang kadang-kadang rewel dan mogok di jalan, benar-benar memakan waktu setengah hari lebih.
Menjelang senja barulah Yo Wan tiba di pintu gerbang tembok yang mengelilingi Hoa-san-pai yang berupa
kelompok bangunan besar di puncak.
Seorang tosu yang menjaga pintu gerbang menyambut Yo Wan dengan pertanyaan, "Apakah kau tukang
kuda baru?"
Yo Wan mengangguk. "Aku harus membawa kuda-kuda ini ke kandang. Dapatkah kau menunjukkan di
mana adanya kandang kuda?"
Tosu itu kelihatan kurang senang mendengar kata-kata Yo Wan yang sederhana tanpa penghormatan
sama sekali itu. Betul-betul seorang anak muda dusun yang amat bodoh, pikirnya.
"Kandang kuda berada di luar tembok sebelah barat. Kau kelilingi saja tembok ini terus ke barat, nanti akan
sampai di sana," jawabnya lalu duduk kembali, sama sekali tidak mengacuhkan Yo Wan yang berpeluh dan
amat lapar itu.
Yo Wan memandang ke arah barat. Benar saja, di dekat tembok sebelah sana kelihatan kandang kuda,
terbuat dari papan dan kayu sederhana. Tanpa mengucap terima kasih karena dianggapnya tanya jawab
itu sudah semestinya, dia pun pergi dari situ, menuntun empat ekor kudanya.
Tosu yang menyambutnya di kandang kuda lebih peramah. Tosu ini bertubuh gemuk pendek, mukanya
bundar dan matanya seperti dua buah kelereng.
"Ha-ha-ha, ada tukang kuda baru!” serunya. "Orang muda, mana kuda tunggangan Swan Bu yang berbulu
hitam? Dan ini ada empat ekor, ehh, bagaimana ini, Bong-suheng tadi bilang bahwa kau membawa kuda
mereka bertiga, kenapa sekarang ada empat ekor?" Kuda siapa yang dua ekor ini dan mana kuda Swan
Bu?"
"Lopek, kuda yang hitam itu sudah kukubur di pinggir jalan sana," berkata Yo Wan sambil menyusut peluh
dengan ujung lengan baju.
la merasa lelah dan lapar sekali, juga amat haus. Semenjak kemarin ia tidak makan, dan tadi ia tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
berani berhenti untuk mencari buah atau air. Kini ia pun masih menghadapi urusan kuda dan tentu akan
mendapat marah lagi.
Tosu gendut itu melongo, sepasang matanya semakin bundar, memandangnya dengan bingung dan
heran. "Kau kubur? Bagaimana ini? Maksudmu, kau pendam kuda itu?"
Yo Wan mengangguk, "Benar, karena dia mati." la berhenti sebentar kemudian berkata, "Lopek, aku lapar
dan haus, apa kau bisa menolong aku?"
Tosu itu mengangguk-angguk, masih kebingungan. "Ah, tentu... tentu... tunggu sebentar. Aneh, bagaimana
kuda bisa mati dan dikubur? Aneh..." Namun dia berjalan memasuki kandang kuda sambil mengomel
panjang pendek, dan pada waktu keluar lagi membawa bungkusan makanan dan sekaleng air minum.
Tanpa banyak sungkan lagi Yo Wan menerima kaleng air dan minum dengan lahapnya. Tosu itu
memandangnya penuh kasihan dan tidak mengganggunya ketika Yo Wan mulai makan. Berbeda dengan
ketika minum tadi, kini Yo Wan makan dengan lambat-lambat dan tenang. Melihat tosu itu memandangnya,
Yo Wan bercerita sambil makan.
"Kuda hitam dibunuh orang, Lopek. Untungnya mereka berdua itu lari meninggalkan dua ekor kuda mereka
ini, lalu kubawa ke sini dan bangkai kuda hitam itu kukubur di pinggir jalan."
Tosu itu mendengarkan dengan melongo. "Kuda itu dibunuh orang? Siapa mereka yang begitu berani main
gila di Hoa san?
"Mereka mengaku utusan-utusan dari Sin-tung Kaipang. Tadinya mereka tidak mau ganti, aku tetap tidak
mau terima. Akhirnya mereka mengalah dan lari pergi, meninggalkan dua ekor kuda ini."
Tosu itu melebarkan matanya. "Sin-tung Kaipang? Dan mereka mengalah? Hemmm, kau masih untung,
orang muda. Mereka itu jahat. Kalau mereka tidak memandang kebesaran Hoa-san-pai, kiranya bukan
hanya kuda itu yang mereka bunuh dan saat ini kau takkan dapat makan minum lagi."
Yo Wan diam saja, pikirannya melayang ke arah Swan Bu. Jangan-jangan anak itu akan menjadi marah
sekali karena kuda kesayangannya dibunuh orang dan akan membuat gara-gara dengan pembunuh kuda.
"Lopek, tadi aku sudah melihat anak yang bernama Swan Bu itu. Dia tampan dan pandai main panah.
Siapakah dia? Apakah putera Ketua Hoa-san-pai?"
Tosu itu menggeleng kepala. "Kau orang baru, agaknya bukan orang sekitar Hoa-san. Memang Swan Bu
tampan dan gagah. Ahhh, kasihan dia, tentu akan sedih dan marah kalau mendengar kudanya dibunuh
orang... hemmm, aku tidak akan tega menyampaikan berita ini kepadanya, …anak malang..."
Hemmm, benar-benar orang Hoa-san-pai amat memanjakan anak itu.
“Lopek, kalau dia bukan putera Ketua Hoa-san-pai, apakah dia itu anak raja yang sedang bermain-main di
sini?"
Tosu itu memandangnya dengan mata terbelalak. "Putera raja? Ha-ha-ha, sama sekali bukan, akan tetapi
memang dia patut menjadi putera raja! Dia itu adalah cucu tunggal dari Kwa-lo-sukong, jadi masih terhitung
keponakan dari ketua kami yang sekarang.”
Berdebar jantung Yo Wan. Cucu guru besar she Kwa? Suhu-nya juga she Kwa!
“Lopek, dia itu anak siapakah? Aku belum mengenal orang-orang di sini, keteranganmu tadi sama sekali
tidak jelas.”
Tosu itu kini tertawa dan mengangkat jempol tangan kanannya ke atas.
"Dia keturunan orang-orang gagah, karena itu dia harus menjadi seorang calon tokoh Hoa-san-pai yang
nomor satu. Ayahnya adalah tokoh sakti yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta, ibunya juga
mempunyai kepandaian setinggi langlt. Ada pun kakeknya adalah Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong, bekas
ketua Hoa-san-pai, pamannya adalah Kui Sanjin (Orang Gunung she Kui) yang sekarang menjadi ketua
kami. Paman-paman gurunya adalah orang-orang sakti yang bersama-sama menggemblengnya, bukankah
dunia-kangouw.blogspot.com
dia kelak akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan?"
Tosu gendut itu nampak bangga sekali sehingga tidak tahu betapa wajah kacung kuda ini menjadi pucat.
Kiranya Swan Bu yang pagi tadi memakinya dan hendak memanahnya kalau dia lari, adalah putera suhunya!
Pantas saja demikian gagah dan tampan.
Ahhh, aku kurang hati-hati, pikirnya. Dia anak suhu, dan diam-diam dia merasa bangga juga. Akan tetapi
dia kecewa sekali teringat bahwa kuda anak itu telah terbunuh.
"Malam sudah tiba... ehh, siapa namamu tadi?"
"A Wan, Lopek."
"A Wan, kau jaga baik-baik kuda di kandang ini. Rumput masih cukup di sudut kandang sana, kau beri
makan mereka dulu, lalu kau boleh tidur. Kau bikin sendiri tempat tidurmu, banyak rumput kering di
kandang kosong sebelah kiri. Beberapa malam ini pinto (aku) juga tidur di sana, lebih enak dari pada tidur
di ranjang. Kalau perlu mandi, tuh di bawah pohon besar itu ada sumber air. Besok saja pinto ajak kau ke
dalam, bertemu dengan para pemimpin. Malam ini kau mengaso saja."
"Baik, terima kasih, Lopek." Yo Wan berterima kasih sekali sekarang karena memang dia membutuhkan
istirahat untuk memutar otak.
Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya. Jadi suhu-nya sudah mempunyai putera yang demikian
tampan dan gagahnya. Putera itu dididik di Hoa-san-pai. Mungkin saking senangnya mendapatkan putera
ini, suhu dan subo-nya sampai lupa kepadanya. Besok dia harus menghadap suhu dan subo-nya.
Tentu saja dia bisa bekerja di situ, menjadi tukang kuda atau apa saja. Akan tetapi... dia ragu-ragu apakah
dia akan suka tinggal di sini selamanya. Apakah suhu-nya masih mau menurunkan ilmu silat sesudah
mempunyai putera yang amat disayang? Bukankah tosu gendut tadi menyatakan bahwa cita-cita mereka
semua adalah membuat Swan Bu agar menjadi jago nomor satu di dunia?
Mungkin suhu dan subo-nya mau mengajarnya, dia cukup mengenal watak mereka yang budiman. Akan
tetapi apakah para orang tua di Hoa-san-pai akan suka menerimanya?
Pusing pikiran Yo Wan. Betapa pun juga, besok aku akan menghadap suhu dan lihat saja bagaimana
perkembangannya. Kalau tidak mungkin tinggal di situ, pikirnya, dia akan bertanya pada suhu-nya tentang
musuh besarnya, The Sun. Akan dicari dan dilawannya dengan apa yang dia miliki sekarang.
Berpikir sampai di sini dia teringat akan pertempuran tadi dan diam-diam dia menjadi girang. Tadinya dia
menganggap bahwa dua orang itu hanyalah dua manusia sombong yang tidak becus apa-apa, orangorang
lemah yang hanya bisa mengandalkan aksi dan mungkin kedudukan, yang sama sekali tidak
mempunyai kepandaian silat yang berarti. Apakah tosu gendut tadi yang melebih-lebihkan?
Tidak mungkin dua orang yang begitu lemah bisa merajalela berbuat kejahatan. Orang dengan kepandaian
serendah itu mana bisa mengganggu orang lain? Sampai dia tertidur pulas di atas rumput kering yang
nyaman ditiduri, Yo Wan masih belum dapat menjawab pertanyaannya sendiri itu.
Memang, pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa bukan dua orang itu yang terlalu lemah, melainkan dia
sendirilah yang terlalu tinggi tingkat ilmunya bagi dua orang tadi. la sama sekali tak menyadari bahwa
dalam dirinya telah terkandung ilmu silat tingkat tinggi yang sudah mendarah daging dengan dirinya. la
menganggap dirinya belum pandai silat, sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerakannya mengandung
inti sari ilmu silat tinggi yang diwariskan oleh Sin-eng-cu dan Bhewakala!
Tentu saja Yo Wan yang sederhana jalan pikirannya ini tidak merasa pandai ilmu silat. Baginya, ketika
selama tiga tahun dia memainkan jurus-jurus sakti, sama sekali bukanlah ‘belajar’, melainkan hanya
menjadi perantara kedua orang sakti mengadu ilmu.
Tiba-tiba Yo Wan bangkit dari rumput kering. Telinganya mendengar kuda meringkik dan menyepaknyepak.
Jika saja dia tidak ingat bahwa dia sedang menjadi tukang kuda dan kewajibannya menjaga kuda,
tentu dia akan tidur lagi. la terlalu lelah.
Dengan malas dia bangun dan keluar dari kandang kosong yang menjadi kamar tidurnya, menghampiri
dunia-kangouw.blogspot.com
kandang kuda. Tidak ada sesuatu. Malam gelap dan kuda-kuda itu masih berada di kandang.
"Ahh, kiranya benar hanya tukang kuda...," terdengar suara lirih, dari atas.
Yo Wan terkejut. Kiranya ada orang di atas kandang kuda. Mendadak dia mendengar sambaran halus dari
belakang. Cepat dia miringkan tubuhnya dan…
"Takkk!"
Sebuah benda kecil menyambar lewat, menghantam tiang kandang dan mengeluarkan sinar. Di lain saat,
tiang itu dan rumput kering di bawah yang terkena pecahan benda itu sudah terbakar.
Yo Wan kaget bukan main. Cepat dia menggunakan rumput basah untuk memadamkan api. Dengan
penuh amarah dia menggerakkan tubuh melompat ke atas kandang. Akan tetapi sunyi di situ, tidak ada
bayangan orang.
Dia menduga bahwa orang yang menyambitnya tadi tentu sudah melarikan diri. Kembaii dia memasuki
kandang kosong, akan tetapi kali ini dia tidak dapat tidur pulas. Agaknya yang datang itu adalah dua orang
Sin-tung Kaipang tadi, atau bisa jadi teman-temannya.
Mereka datang menyerangnya dengan benda yang dapat membakar tiang dan rumput, ataukah memang
sengaja hendak membakar kandang? Namun mendengar ucapan lirih tadi, agaknya mereka ingin pula
melihat apakah dia benar-benar seorang tukang kuda. Benar-benar aneh. Apa artinya ini semua?
Pada keesokannya, pagi-pagi sekali serombongan orang yang semua berpakaian penuh tambalan
mendaki puncak Hoa-san. Yang berjalan paling depan adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun
lebih, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit saja tanpa daging sedikit pun, namun
tubuh itu masih tegak berdiri kaku seperti prajurit bersikap di depan komandannya.
la memegang sebatang tongkat yang aneh. Tongkat ini entah terbuat dari bahan apa, tidak dapat dikenal
begitu saja, tapi warnanya aneka macam, belang-bonteng ada warna hijau, merah, kuning, hitam dan putih.
Lebih hebat lagi sepatunya, karena sepatu ini pun terbuat dari kulit mengkilap yang warnanya juga macammacam.
Dilihat begitu saja dia lebih pantas menjadi seorang pemain lawak di atas panggung wayang.
Akan tetapi, jangan dikira bahwa dia itu orang gila atau seorang biasa saja, karena kakek ini adalah Sintung
Kaipangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti) yang amat terkenal sebagai raja pengemis.
Permainan tongkatnya hebat dan ditakuti orang.
Memang ketua pengemis ini pandai sekali main tongkat. Dia menerima kepandaian ini dari dua orang
hwesio pelarian dari Siauw-lim-si yang terkenal dengan julukan Hek-tung Hwesio dan Pek-tung Hwesio, Si
Hwesio Tongkat Hitam dan Hwesio Tongkat Putih.
Di kanan kirinya berjalan dua orang pengemis tua yang berusia lima puluh lebih. Salah seorang membawa
sebatang pedang tergantung pada pinggang, yang kedua memegang sebatang toya panjang. Kedua orang
pengemis ini memakai sepatu yang berwarna, akan tetapi warnanya tak sebanyak pada sepatu pangcu itu.
Ini menjadi tanda bahwa mereka itu masih setingkat lebih rendah dari pada pangcu mereka. Mereka adalah
kedua orang pembantu ketua itu, dan merupakan orang kedua dan ketiga dalam Sin-tung Kaipang.
Di belakang tiga orang tokoh Sin-tung Kaipang ini, nampak berbaris murid-murid mereka bertiga yang
jumlahnya lima belas orang, di antara mereka ini tampak dua orang yang kemarin ribut-ribut dengan Yo
Wan. Melihat mereka mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa dapat diduga bahwa mereka adalah
orang-orang yang berkepandaian tinggi. Memang sesungguhnya, delapan belas orang pengemis yang
mendaki puncak Hoa-san dengan muka marah ini merupakan orang-orang terpenting dalam Sin-tung
Kaipang!
Para tosu yang bekerja di luar dan menjaga pintu segera mengenal mereka. Dengan tergesa-gesa para
tosu yang melihat datangnya rombongan ini menyampaikan laporan ke dalam.
Kaget dan heran juga Kui Sanjin, ketua Hoa-san-pai ketika mendengar laporan ini. Cepat dia keluar
menyambut dan berturut-turut keluar pula isterinya, suheng-nya yaitu Thian Beng Tosu. Bahkan Kwa Kun
Hong bersama isterinya, Kwee Hui Kauw, dan puteranya, Kwa Swan Bu, juga keluar untuk melihat apa
kehendak rombongan pengemis itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketua Hoa-san-pai, Kui Sanjin, diam-diam merasa tidak enak perasaannya. Memang ada sesuatu di antara
Hoa-san-pai dan Sin-tung Kaipang yang menjadi ganjalan hati. Dimulai dengan bentrokan kecil antara
salah seorang anak murid Hoa-san-pai yang pergi ke kota dengan seorang anggota Sin-tung Kaipang.
Seorang pengemis yang sombong dan memandang rendah Hoa-san-pai sudah bentrok dengan seorang
anggota Hoa-san-pai yang berwatak keras. Si pengemis dipukul roboh, datang banyak pengemis yang
mengeroyok sehingga anak murid Hoa-san-pai itu terluka dan lari.
Akan tetapi urusan ini sudah diselesaikan oleh suheng-nya, Thian Beng Tosu sehingga tidak menjalar lagi
menjadi permusuhan antara kedua pihak. Betapa pun juga, diam-diam kedua pihak menaruh ganjalan hati.
Kini ketua Sin-tung Kaipang beserta rombongannya pagi-pagi mendaki puncak Hoa-san, ada keperluan
apakah? Karena mendengar bahwa yang memimpin rombongan adalah ketuanya sendiri, maka Kui Sanjin
sendiri menyambut ke luar, khawatir kalau anak murid yang menyambut, akan terjadi bentrokan yang lebih
besar. Sengaja dia menyambut di luar tembok, sesuai dengan keadaan tamu yang bukan merupakan
sahabat.
Ketika melihat rombongan tuan rumah ke luar dari pintu gerbang, Sin-tung Kaipangcu memberi tanda
kepada rombongannya untuk berhenti. la melihat dua orang kakek yang berpakaian pendeta, seorang
wanita tua yang masih cantik, seorang laki-laki muda yang buta di samping seorang wanita jelita, dan juga
seorang anak laki-laki yang tampan dan membawa gendewa. Di belakang rombongan ini tampak pula
beberapa orang tosu yang mengikuti dari jauh, agaknya bukan anggota-anggota rombongan penyambut.
Ketua pengemis yang sebutannya Sin-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Sakti) berdiri memandang
dengan sikap galak dan angkuh. la sama sekali tak gentar biar pun dengan sudut matanya dia lihat betapa
puluhan orang tosu kelihatan keluar pula seperti rayap. Malah dia hanya berdiri tegak saja, sama sekali
tidak menghormat tuan rumah sebagai mana layaknya seorang tamu.
Melihat sikap seperti ini, Kui Sanjin hanya tersenyum-senyum sabar dan begitu sampai di depan
rombongan tamu, dia mengangkat tangan ke depan dada sebagai penghormatan. Juga suheng-nya, Thian
Beng Tosu, mengangkat kedua tangan memberi hormat.
Namun Sin-tung Lo-kai sama sekali tidak membalas penghormatan ini, malah langsung bertanya, suaranya
kaku,
"Yang manakah ketua Hoa-san-pai?"
Para tosu anak buah Hoa-san-pai amat marah mendengar pertanyaan yang memandang rendah ini,
namun rombongan pemimpin Hoa-san-pai itu tersenyum sabar. Hoa-san-pai merupakan sebuah partai
besar, patut mempunyai pimpinan yang bijaksana dan memiliki kesabaran tinggi, sikap orang-orang besar.
Kui Sanjin melangkah maju dan menjawab,
"Sayalah yang mendapat kehormatan menjadi ketua Hoa-san-pai. Kalau saya tidak keliru sangka, sahabat
ini tentu ketua dari Sin-tung Kaipang, bukan?"
Sin-tung Lo-kai tidak segera menjawab, melainkan menatap tuan rumah penuh selidik. Seorang kakek
kurang lebih enam puluh tahun, pakaiannya sederhana seperti pertapa, sikapnya lemah-lembut dan tidak
kelihatan sesuatu yang aneh pada dirinya. Meski pun demikian Sin-tung Lo-kai tidak berani memandang
rendah karena dia sudah mendengar akan kebesaran Hoa-san-pai.
"Bagus! Ketua Hoa-san-pai, pagi ini kami sengaja datang berkunjung dengan maksud ingin minta
penjelasan kenapa Hoa-san-pai amat menghina terhadap Sin-tung Kaipang? Apakah kini Hoa-san-pai
merasa sebagai perkumpulan yang paling besar sehingga boleh malang-melintang dan melakukan
penghinaan sesuka hatinya pada perkumpulan lain?"
Kui Sanjin mengerutkan alisnya, bertukar pandang dengan Thian Beng Tosu, kemudian menjawab, "Sintung
Kaipangcu, saya harap kau suka bicara yang jelas. Sesungguhnya kami tidak mengerti apa yang kau
maksudkan dengan penghinaan itu. Memang harus kami akui bahwa telah terjadi bentrokan disebabkan
salah paham antara beberapa anak muridmu dengan anak murid kami, akan tetapi hal itu telah
diselesaikan dan didamaikan, bahkan oleh Suheng-ku ini, Thian Beng Tosu sendiri. Kami anggap urusan
kecil antara anak murid yang masih berdarah panas itu telah selesai. Mengapa kau sekarang datang
dunia-kangouw.blogspot.com
menyatakan bahwa kami sudah melakukan penghinaan? Penghinaan yang mana harap kau jelaskan."
"Hemmm, bagus sekali! Hoa-san-pai kabarnya merupakan perkumpulan yang besar dan berpengaruh,
ternyata ketuanya tidak tahu apa yang terjadi di depan matanya sendiri! Pangcu (Ketua), karena hendak
memperbaiki hubungan antara perkumpulan kita yang pernah retak oleh perbuatan anak-anak murid kita,
kemarin pagi aku sengaja mengutus dua orang anak muridku untuk naik ke Hoa-san-pai dan
menyampaikan surat undangan penghormatan dari Sin-tung Kaipang kepadamu."
"Akan tetapi, kami tidak pernah menerimanya, Pangcu," jawab Kui Sanjin.
"Hemmm, tentu saja tidak pernah menerimanya!” Sin-tung Kaipangcu berkata sambil membanting ujung
tongkatnya sampai menancap di atas tanah berbatu di depan kakinya. "Di tengah jalan, dua orang
utusanku itu diserang oleh tukang kuda Hoa-san-pai, malah dua ekor kuda tunggangan mereka pun
dirampas!"
Semua orang menjadi kaget sekali mendengar ini. "Ahh, mana bisa terjadi hal itu?" Kui Sanjin berseru,
tidak percaya. Tidak mungkin ada anak muridnya yang berani melakukan perbuatan seperti itu. Merampas
kuda? Tidak bisa jadi!
"Hemmm, tentu saja tidak percaya!" Sin-tung Lo-kai mendengus, kemudian melambaikan tangan kepada
dua orang anak buahnya. "Ceritakan kepada mereka!" perintahnya.
Dua orang pengemis melangkah maju dan berdiri membungkuk. Salah seorang di antara mereka yang
berkumis panjang lalu bercerita, sedangkan temannya yang berambut putih hanya menundukkan muka.
"Kami berdua sedang menunggang kuda mendaki kaki gunung ketika tiba-tiba seorang pemuda
melepaskan kuda yang hampir menubruk kami. Karena merasa kaget dan untuk menyelamatkan diri dari
tubrukan, terpaksa saya menggerakkan kaki menendang kuda yang menubruk kami itu. Kuda itu mati.
Tukang kuda Hoa-san-pai itu marah-marah, biar pun kami sudah berjanji hendak membicarakan hal itu
dengan ketua Hoa-san-pai, karena kami adalah utusan dari Sin-tung Kaipang untuk menyampaikan
undangan. Akan tetapi orang muda itu tetap tidak mau melepaskan kami, malah segera menyerang kami
dan merampas dua ekor kuda tunggangan kami. Maka terpaksa kami kembali turun gunung dan melapor
kepada ketua kami."
Setelah berkata demikian, dua orang pengemis ini cepat-cepat mengundurkan diri lagi ke belakang ketua
mereka. Mereka merasa amat malu harus bercerita bahwa mereka kalah oleh seorang kacung kuda Hoasan-
pai.
Kui Sanjin tertegun. Cerita ini benar-benar tidak masuk akal. Dua orang pengemis tadi dia lihat memiliki
gerakan-gerakan yang tangkas dan kuat, dan sudah bisa membuat mati seekor kuda hanya dengan sekali
tendangan saja, cukup membuktikan kepandaiannya. Masa mereka berdua dikalahkan oleh tukang kuda
Hoa-san-pai? Padahal tukang kuda Hoa-san-pai yang sudah tua itu telah meninggal dunia, dan selama
belum mendapatkan tukang kuda baru, pekerjaan merawat kuda dilakukan oleh seorang tosu, kalau tak
salah Can Tosu yang gendut dan yang dia tahu kepandaiannya rendah sekali.
Kui Sanjin menoleh ke belakang, mencari-cari dengan pandang matanya, mencari Can Tojin, ada pun
mulutnya berkata, "Kami tidak memiliki kacung kuda yang masih muda..."
Ketua Sin-tung Kaipang mengeluarkan suara ketawa mengejek. Pada saat itu dua orang tosu maju dan
berlutut di depan Kui Sanjin. Itulah dua orang tosu yang kemarin bersama Kwa Swan Bu menyerahkan
kuda mereka kepada Yo Wan.
"Mohon ampun sebesarnya kepada Suhu," kata seorang di antara mereka, "Sebenarnya teecu berdua
yang sudah menerima kacung itu. Kemarin pagi pada waktu teecu berdua mengantar Swan Bu berlatih
panah dan sampai di kaki gunung, teecu melihat seorang pemuda yang keadaannya miskin dan seperti
kelaparan. Tadinya teecu kira dia adalah tukang kuda baru yang dijanjikan oleh lurah dusun, akan tetapi
ternyata bukan dan dia menyatakan suka bekerja membantu kita. Karena teecu kasihan kepadanya, maka
teecu lalu menerimanya sebagai tukang kuda, dan teecu baru akan melaporkan hari ini kepada Suhu.
Siapa duga bocah itu menimbulkan onar. Mohon ampun sebesarnya, Suhu."
Kui Sanjin terkejut sekali mendengar ini. Akan tetapi sebelum dia bicara, Swan Bu sudah melangkah maju
dan dengan suara lantang berkata kepadanya,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Supek, benar kata kedua muridmu ini. Memang tadinya sudah kucurigai dia." Dia lalu menoleh ke arah
kakek pengemis dan berkata, suaranya tetap lantang, "Hai, Pangcu dari Sin-tung Kaipang! Kau dengar
sendiri, tukang kuda itu bukanlah anak murid Hoa-san-pai dan ketua kami tidak tahu menahu tentang
keributan itu. Namun, kami dapat memberi hajaran kepada pengacau itu, jangan kau merembet-rembet
nama Hoa-san-pai ."
"Swan Bu, diam kau...!" Kwa Kun Hong membentak dan seketika Swan Bu diam.
Akan tetapi tiba-tiba bocah ini meloncat ke depan. Tangan kirinya meraih anak panah, dipasangnya pada
gendewanya dan menjepretlah tali gendewa sehingga anak panahnya meluncur ke kiri.
Semenjak tadi Yo Wan sudah mendengarkan semua pembicaraan itu. Pagi-pagi tadi dia sudah pergi
mencari rumput dan ketika dia melihat rombongan pengemis yang tampak marah mendaki naik puncak,
hatinya berdebar tidak enak. Sudah tentu ada hubungannya dengan urusan kemarin, pikirnya.
Oleh karena dia merasa bahwa dia yang menjadi biang keladinya, maka dia lalu pergi mengikuti mereka
sampai ke puncak. Yo Wan bersembunyi di balik pohon dan mengintai semua perdebatan tadi. Setelah
namanya disebut-sebut oleh dua orang tosu dan Swan Bu, dia segera muncul dengan maksud mengakui
semuanya dan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Dari balik batang pohon tadi Yo Wan merasa amat terharu dan sedih melihat suhu dan subo-nya.
Sekarang, maklum bahwa perbuatannya itu dapat mengakibatkan keributan, dia mengambil keputusan
untuk mempertanggung jawabkan sendiri supaya Hoa-san-pai, terutama suhu dan subo-nya jangan sampai
terbawa-bawa. Dengan pikiran inilah dia lalu muncul keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan
menuju ke tempat pertemuan.
Sama sekali tidak diduganya bahwa Swan Bu yang pertama melihat dan mengenalnya, malah bocah itu
sudah pula melepaskan sebatang anak panah kepadanya. Semua tokoh Hoa-san-pai yang tidak mengenal
siapa dia, hanya bisa tertegun dan heran, juga kaget melihat Swan Bu memanah orang muda itu, tanpa
sempat mencegah lagi.
Yo Wan tentu saja akan dapat mengelak dengan mudah. Namun dia sedang berduka bahwa dalam
pertemuan dengan suhu-nya ini dia sudah mendatangkan keributan hebat, apa lagi mengingat bahwa
bocah itu adalah putera suhu-nya yang dibangga-banggakan, dia tidak tega untuk mengelak dan
mendatangkan malu.
Sambil mengerahkan tenaga sinkang yang dia latih dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, dia sengaja menerima
anak panah itu dengan pundak kirinya, akan tetapi cepat-cepat dia menutup jalan darah pada bagian ini
sehingga anak panah yang menancap satu dim dalamnya itu hanya melukai kulit dan dagingnya saja.
Dengan anak panah menancap di pundak, dia berjalan terus menghampiri mereka.
"Swan Bu, kau lancang..!”
Yo Wan mendengar subo-nya berteriak mencela puteranya. Di dalam hatinya Yo Wan bersyukur bahwa
subo-nya masih tetap seorang wanita budiman seperti dulu, sehingga dia menjadi semakin tidak tega untuk
membiarkan suhu, subo serta putera mereka itu menanggung akibat dari perbuatannya.
Dia berpura-pura tidak melihat pandang mata subo-nya yang diarahkan kepadanya dan seakan-akan subonya
itu hampir mengenalnya! Dia juga tak peduli akan pandang mata semua orang di sana yang
memandangnya dengan tatapan heran dan tercengang. Yo Wan langsung menghampiri Kui Sanjin dan
membungkuk sampai dalam sambil berkata,
"Lopek (Paman Tua), memang betul seperti dikatakan oleh kedua Lopek tadi, saya telah menerima
pekerjaan sebagai kacung kuda. Di tengah jalan saya bertengkar dengan dua orang pengemis. Akan tetapi
hal itu adalah urusan saya sendiri, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Hoa-san-pai. Ini
hanyalah urusan seorang kacung kuda dengan para pengemis, harap para lopek di sini melegakan hati
karena sekarang juga saya akan bereskan urusan ini dengan para pengemis.”
"Dia... dia... A Wan...!" terdengar Kun Hong berseru.
"Yo Wan...!" Hui Kauw juga menahan teriakannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Yo Wan yang terkejut sekali mendengar suhu dan subo-nya sudah berhasil mengenalnya,
segera menghampiri rombongan pengemis dan dengan berdiri tegak dia berkata lantang,
"Kakek pengemis, jika benar kau ketua dari Sin-tung Kaipang, sebaiknya kau memeriksa keadaan anakanak
muridmu sendiri sebelum kau menyalahkan orang lain. Urusan anak muridmu dengan aku si kacung
kuda sama sekali berada di luar tanggung jawab pihak Hoa-san-pai karena aku belum diterima secara
resmi menjadi tukang kuda Hoa-san-pai. Kenapa kalian ini tak tahu malu membikin ribut di Hoa-san-pai?
Akulah yang seharusnya bertanggung jawab!"
Sin-tung Lo-kai marah bukan main. Ingin sekali gebuk dia membikin remuk kepala bocah itu, akan tetapi
sebagai seorang ketua kaipang yang tersohor, tentu saja dia tidak mau melakukan hal yang akan
merendahkan namanya. Maka dia hanya melotot memandang Yo Wan, lalu membentak,
"Bocah setan! Apa kau mengaku telah merampas dua ekor kuda anak muridku?"
Yo Wan menggeleng kepala, tersenyum mengejek. "Siapa yang merampas? Aku sedang menuntun tiga
ekor kuda naik puncak, tiba-tiba dua orang pengemis itu membentak dari belakang. Kuda yang kupegang
kaget, seekor meloncat dan hampir menubruk pengemis kumis panjang. Ehh, si kumis itu memamerkan
kepandaiannya, kuda itu ditendang mati. Tentu saja aku minta ganti dan siapa pun mereka itu, harus
mengganti kuda yang mati karena aku bertanggung jawab atas keselamatan kuda-kuda itu."
"Apa kau tidak dengar bahwa mereka itu merupakan utusan Sin-tung Kaipang?" Ketua ini membentak.
"Baik mereka itu utusan dari raja pengemis atau raja neraka sekali pun, karena sudah membunuh kuda
yang menjadi tanggung jawabku, mereka harus menggantinya. Ehhh, mereka marah-marah sehingga
terpaksa aku membela diri karena mereka menyerangku. Kemudian mereka berdua lari meninggalkan
kuda mereka. Apakah yang begini dapat disebut aku merampas kuda?"
"Keparat kau tukang kuda, mulutmu besar dan sombong sekali! Kau sudah menghina murid-muridku,
menghina Sin-tung Kaipang, apakah nyawamu rangkap?"
"Kakek pengemis, kau mau menang sendiri. Kau bilang aku yang menghina, tetapi dua orang muridmu itu
hendak membunuhku, malahan malam tadi, siapa yang melepas api hendak membakar kandang kalau
bukan orang-orangmu? Hemmm, sebetulnya, kau pun harus mempertanggung jawabkan perbuatan anakanak
muridmu."
"Suheng, menghadapi anak anjing yang menggonggong seperti ini, kenapa pakai banyak aturan? Banting
saja mampus, habis perkara!" mendadak salah seorang pengemis yang hidungnya bengkok ke kiri, yang
memegang toya, berkata marah.
"Pangcu, harap kau bersabar," tiba-tiba Kui Sanjin berkata lembut. "Sesudah pinto (aku) mendengar
omongan bocah ini, kiranya harus diselidiki lebih dulu apakah betul dia yang bersalah. Dalam segala hal,
tak baik untuk bertindak sembrono, menghukum orang yang tidak bersalah."
Ternyata ketua Hoa-san-pai ini telah dibikin kagum oleh sikap Yo Wan. la maklum bahwa pemuda itu
adalah seorang pemuda yang bodoh dan sederhana, agaknya tidak pandai ilmu silat karena kalau memang
pandai ilmu silat, bagaimana tidak mampu mengelak dari anak panah yang dilepaskan Swan Bu tadi?
Akan tetapi, jelas bahwa pemuda itu memiliki daya tahan yang luar biasa dan memiliki rasa tanggung
jawab yang kiranya jarang dimiliki oleh orang-orang yang mengaku dirinya gagah perkasa. Buktinya,
dengan anak panah menancap pada pundak, pemuda itu sama sekali tak mengeluh, bahkan juga tidak
tampak nyeri, malah menghadapi para pengemis dengan penuh ketabahan serta penuh tanggung jawab,
agaknya jelas hendak mencuci nama Hoa-san-pai dari urusan itu.
"Hoa-san-ciangbunjin (ketua Hoa-san)! Apamukah bocah ini? Apa dia adalah anak murid Hoa-san-pai?
Ataukah dia ini menjadi tanggung jawab Hoa-san-pai maka engkau hendak membelanya?" bentak Sin-tung
Kaipangcu.
"Dia... A Wan...," kembali terdengar suara perlahan Kwa Kun Hong,
"Sstttt..."
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan sudut matanya Yo Wan melihat betapa subo-nya menyentuh lengan suaminya. Yo Wan melempar
kerling penuh terima kasih kepada Hui Kauw yang memandangnya penuh pengertian.
Memang Hui Kauw amat cerdik dan halus perasaannya. Agaknya nyonya muda ini telah dapat menduga
apa yang menjadi maksud hati murid itu, maka dia hendak membantu, memberi kebebasan kepada Yo
Wan untuk melanjutkan maksud hatinya, akan tetapi tentu saja nyonya muda ini bersiap sedia untuk
membantu muridnya. Dia dapat melihat lebih jelas dari pada apa yang dapat didengar oleh telinga
suaminya yang buta.
"Heh, Pangcu dari para pengemis! Kenapa kau selalu mendesak Hoa-san-pai? Agaknya kau merasa jeri
untuk menjatuhkan hukuman terhadap diriku, maka kau selalu berpaling dan mencari-cari kesalahan
kepada Hoa-san-pai! Huh, tak tahu malu. Kalau kalian para pengemis hendak membalas dendam
kepadaku, lekaslah turun tangan. Apa kau kira aku takut menghadapi kematian?"
"Sin-tung Kaipangcu, jangan ladeni omongan seorang bocah nekat!" tiba-tiba Thian Beng Tosu berseru
keras. "Hee, bocah tak melihat keadaan, apakah kau sudah menjadi gila? Jangan main-main terhadap Sintung
Kaipang!"
Akan tetapi dengan tenang Yo Wan memberi hormat sambil membungkuk kepadanya, lalu berkata,
"Urusan ini adalah urusan saya sendiri, harap para lopek yang terhormat dari Hoa-san-pai jangan ikut
campur. Hee, pengemis kelaparan, masih tidak berani turun tangan terhadap kanak-kanak seperti aku?
Memalukan benar!"
Terdengar teriakan marah dan si pengemis hidung bengkok yang memegang toya sudah melompat maju.
Dia adalah sute (adik seperguruan) dari ketua pengemis itu, lihai sekali permainan toya besinya dan dia
diberi julukan Tiat-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Bertoya Besi). Wataknya lebih keras berangasan dari
pada para tokoh Sin-tung Kaipang yang lain. Mendengar ucapan yang menantang-nantang dari Yo Wan,
dia tidak mau bersabar lagi.
"Ada hubungan dengan Hoa-san-pai atau tidak, kau bocah setan sekarang juga harus mampus!"
bentaknya dan toyanya yang berat itu menyambar cepat, mendatangkan desir angin gemuruh.
Yo Wan sudah bertekad tidak akan membawa-bawa suhu dan subo-nya, sungguh pun tadi dia bersikap
seakan-akan hendak membersihkan Hoa-san-pai, padahal sebenarnya dia tidak hendak menyeret suami
isteri itu. Maka sekarang menghadapi sambaran toya, dia tidak mau mempergunakan langkah-langkah
ajaib yang dia pelajari dari Kun Hong. la siap menerima kematian karena memang hanya kematian saja
yang dapat dia harapkan dalam menghadapi orang-orang berilmu tinggi seperti pimpinan Sin-tung Kaipang
ini.
Namun dia juga tidak mau mati konyol begitu saja tanpa perlawanan. Melihat datangnya toya, otomatis kaki
tangannya bergerak dan dengan amat mudah dia membiarkan toya itu menyambar lewat tanpa dapat
menyentuh tubuhnya sedikit pun juga. Karena tanpa disadarinya dia sudah memiliki kesaktian ilmu silat
yang mendarah daging, maka sesuai dengan daya tahan dan daya serang yang berganti-ganti diturunkan
Sin-eng-cu beserta Bhewakala kepadanya, tentu saja setiap kali menghadapi serangan, begitu mengelak
terus saja Yo Wan membalas serangan itu.
Dan bukan hal kebetulan kalau pada saat itu dia menggunakan sebuah jurus dari Ilmu Silat Ngo-sin Hoankun
(Lima Lingkaran Sakti) yang telah dia pelajari atau lebih tepat dia ‘mainkan’ menurut petunjuk
Bhewakala. Hal ini adalah karena jurus serangan toya yang dilakukan oleh Tiat-pang Sin-kai tadi sifatnya
hampir sama dengan jurus-jurus serangan Sin-eng-cu, maka otomatis tubuhnya lalu bergerak mainkan
jurus ilmu yang diturunkan oleh Bhewakala kepadanya sebagai lawannya.
Ilmu Silat Ngo-sin Hoan-kun adalah ilmu silat ciptaan pendeta Nepal, pertapa di Gunung Himalaya yang
sakti itu, gerakannya dahsyat dan aneh. Tiat-pang Sin-kai melihat betapa dua lengan pemuda itu terus
berputar membuat lingkaran-lingkaran yang mengaburkan pandangan matanya dan dia tidak tahu
bagaimana harus menghadapinya. Betapa ingin dia memukul dengan toya, akan tetapi ujung toyanya
seakan-akan terlibat oleh sebuah di antara lingkaran itu dan tak dapat digerakkan.
Tiba-tiba dia merasa tubuhnya berpusing laksana tenggelam dalam pusingan angin dan sebelum dia tahu
apa yang terjadi dengan dirinya, tubuhnya itu sudah terlempar sambil berputaran dan robohlah dia dengan
kepala di bawah kaki di atas. Dia menjadi pening, kepalanya benjol, toyanya terlempar entah ke mana dan
dunia-kangouw.blogspot.com
sampai lama dia hanya rebah sambil menggerak-gerakkan kepala mengusir kepeningan dengan mata
menjadi juling!
"Ahhh...!"
"Hebat...!"
"Aneh...!"
Seruan-seruan ini keluar dari mulut para tokoh Hoa-san-pai. Peristiwa itu sungguh amat mengejutkan. Kui
Sanjin dan yang lain-lain memang sudah siap untuk menolong orang muda yang tabah itu kalau pihak Sintung
Kaipang hendak membunuhnya. Siapa tahu, hanya dalam dua gebrakan saja seorang tokoh Sin-tung
Kaipang yang cukup lihai sudah dibikin melayang seperti itu dengan gerakan tangan dan kaki yang luar
biasa, ilmu silat yang membentuk lingkaran-lingkaran ajaib. Ilmu apakah yang dipergunakan pemuda ini?
Hanya Hui Kauw dan Kun Hong yang tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hui Kauw memandang
kagum dan juga heran karena sepanjang pengetahuannya, murid ini hanya baru menerima dasar-dasar
ilmu silat dan di saat terakhir hanya ditinggali Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po oleh Kun Hong. Tadi Hui Kauw
sengaja memperhatikan gerak kaki anak itu untuk melihat apakah Yo Wan sudah mahir melakukan
langkah-langkah itu, karena kalau sudah mahir, tentu anak itu sanggup menyelamatkan diri dengan
langkah-langkah ajaib.
Anehnya, langkah yang dipergunakan Yo Wan sama sekali bukan langkah ajaib ajaran Kun Hong, sungguh
pun gerak dan langkah yang dilakukan anak itu pun amat aneh dan asing! Ketika Hui Kauw melirik ke arah
suaminya, ia melihat suami ini miringkan kepala mengerutkan kening dan bibirnya menggumam,
"Hemmm... hemmm...."
Sebetulnya, robohnya Tiat-pang Sin-kai hanya dalam satu jurus ini bukan semata-mata karena kelihaian
Yo Wan, melainkan sebagian besar disebabkan kesalahan pengemis itu sendiri. la terlalu memandang
rendah bocah itu, dianggapnya hanya sekali pukul dengan toya akan remuk kepalanya.
Oleh karena memandang rendah inilah maka sekali balas saja Yo Wan langsung berhasil merobohkannya.
Andai kata pengemis itu lebih hati-hati, biar pun tak mungkin dia dapat mengalahkan Yo Wan yang sudah
mewarisi ilmu-ilmu sakti, namun kiranya dia pun tidak akan roboh hanya dalam satu dua jurus saja!
"Bocah setan! Berani kau menghina saudaraku?" Kakek pengemis di sebelah kiri ketua pengemis meloncat
ke depan, lantas menghadapi Yo Wan sambil mencabut pedang di pinggangnya. "Hayo keluarkan
senjatamu dan kau lawan aku!"
Sikap pengemis ini jauh lebih gagah dari pada Tiat-pang Sin-kai dan memang dia tidak memandang
rendah kepada Yo Wan, karena dia menduga bahwa Yo Wan tentu memiliki kepandaian yang tinggi.
Memang dia adalah seorang yang cukup berpengalaman dan tidak bersikap sembrono seperti temannya
tadi. Pengemis ini menjadi pembantu Sin-tung Lo-kai karena ilmu pedangnya membuat dia jarang
menemukan tandingan. Dia bernama Souw Kiu, seorang ahli pedang dan ahli tenaga Iweekang.
Hati Yo Wan tergetar keras. la tidak pernah mengalami pertandingan-pertandingan, yaitu pertandingan
yang sungguh-sungguh, sebab pertandingan yang dia saksikan selama tiga tahun di puncak Liong-thouwsan
adalah pertandingan ‘teori’.
Saat dia merobohkan dua orang pengemis kemarin dan pengemis bertoya tadi, dia sama sekali tidak
mengira bahwa demikian mudah dia mencapai kemenangan. Disangkanya bahwa memang tiga orang
pengemis itu hanyalah orang-orang sombong yang tidak ada gunanya. Sekarang, menghadapi Souw Kiu
yang tenang, bermata tajam dan memegang pedang dengan sikap yang kokoh serta kuat, mau tak mau dia
menjadi gentar pula untuk menghadapinya dengan tangan kosong.
"Tukang kuda, kau pakailah pedangku ini!" Tiba-tiba Swan Bu berseru sambil mencabut pedangnya yang
amat indah.
Yo Wan tersenyum. Lenyap sudah rasa sakit di pundaknya oleh anak panah yang masih menancap itu.
Sikap Swan Bu ini sekaligus sudah menjatuhkan hatinya dan meluapkan rasa maafnya terhadap putera
dari suhu-nya itu. Dia tersenyum lebar sambil menoleh ke arah Swan Bu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tuan Muda, terima kasih. Tidak berani aku merusakkan pedangmu," jawabnya dengan sungguh-sungguh
dan jujur.
Yo Wan sama sekali dia tidak tahu bahwa jawabannya ini membuat wajah Hui Kauw dan Kun Hong
menjadi merah. Ayah dan ibu ini merasa terpukul dengan jawaban muridnya kepada puteranya yang tadi
memperlakukan Yo Wan secara sewenang-wenang.
Yo Wan maklum bahwa untuk menghadapi pedang lawan, maka dia harus menggunakan senjata pula dan
dia anggap bahwa senjata terbaik adalah melawan dengan pedang pula. Lupa bahwa pedangnya hanya
sebatang pedang kayu saja, dia segera membuka jubah dan mengeluarkan pedang kayunya yang
panjangnya hanya tiga puluh sentimeter, terbuat dari kayu cendana yang harum itu.
Meledak suara ketawa dari anak buah Hoa-san-pai dan anak buah pengemis, akan tetapi tokoh-tokohnya
sama sekali tidak tertawa, malah memandang dengan wajah tercengang. Gilakah anak ini? Ataukah
memang dia begitu sakti sehingga cukup menghadapi lawan ini dengan pedang kayu saja?
"Itukah senjatamu?!" Souw Kiu membentak dengan suara kecewa. "Apakah kau hendak main-main?" Dia
seorang tokoh ilmu silat, mana enak hatinya apa bila dihadapi seorang lawan begini muda yang
mempergunakan pedang kayu?
"Memang inilah senjataku dan aku tidak main-main, pengemis tua."
"Jangan menyesal nanti dan bilang aku berlaku sewenang-wenang!" kata pula Souw Kiu, masih meragu.
Pertandingan ini disaksikan oleh banyak tokoh Hoa-san-pai, sebab itu dia harus memperlihatkan
kegagahannya.
"Aku tak akan menyesal. Kalian memang sudah bertekad untuk membunuhku, tentu saja aku pun bertekad
untuk mempertahankan nyawaku sedapat mungkin. Aku tidak biasa memegang pedang tulen, biasa
bermain-main dengan pedangku ini. Kalau kau memang berkukuh hendak membunuhku, silakan."
"Awas pedang!"
Sesudah mengeluarkan bentakan ini, dengan secepat kilat Souw Kiu menerjang dengan pedangnya.
Gerakan pedangnya sangat cepat dan mengeluarkan suara berdesing yang mengerikan.
Namun bagi Yo Wan, gerakan pengemis itu tidaklah terlalu hebat, apa lagi cepat. Kalau dibandingkan
dengan jurus-jurus yang dikeluarkan Sin-eng-cu atau Bhewakala, gerakan itu seperti anak kecil main-main
belaka!
Dengan tenang dia kemudian memainkan jurus-jurus yang sesuai dengan pedang yang dipegangnya, yaitu
Ilmu Silat Liong-thouw-kun yang diturunkan oleh Sin-eng-cu padanya. Memang pedang kayu itu adalah
senjata buatan Sin-eng-cu yang dahulu dia pakai untuk menghadapi cambuk dari Bhewakala. Maka ketika
dia bersilat pedang dengan jurus-jurus dari Sin-eng-cu, seketika pedang kayu di tangannya itu berubah
menjadi puluhan batang banyaknya dalam pandang mata lawannya!
“Whir-whir-whirrr…!”
Pedang kayu ini menerbitkan bunyi angin dibarengi kilatan sinar yang membingungkan hati Souw Kiu.
Karena maklum bahwa bocah ini benar-benar pandai, Souw Kiu segera mengerahkan seluruh tenaga
dalam dan mengeluarkan semua jurus simpanannya untuk mendapatkan kemenangan. Dia sengaja
hendak mengadu senjata, karena merasa yakin bahwa sekali pedang kayu itu bertemu dengan pedangnya,
tentu pedang kayu itu akan patah dan dia akan mudah merobohkan lawan.
Hui Kauw memandang dengan kagum sekali. Ilmu pedang yang dimainkan Yo Wan itu benar-benar
merupakan ilmu pedang yang selain indah, juga amat luar biasa. Dia sendiri belum tentu dapat mainkan
pedang kayu seperti itu. Ketika dia melirik ke arah suaminya, wajah Kun Hong tegang sekali dan bibir
Pendekar Buta ini menggumam lirih,
"Ahhh... mana mungkin...?"
Memang, dapat dibayangkan betapa heran hati Kun Hong ketika telinganya menangkap gerakan ilmu silat
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Wan yang kali ini cara bersilatnya sama sekali berlawanan dengan dua gerakan ketika merobohkan
lawan pertama tadi. Tidak demikian saja, bahkan ilmu pedang yang dimainkan ini mengandung jurus-jurus
Ilmu Silat Kim-tiauw-kun, yaitu ilmu silatnya sendiri! Padahal dia sama sekali belum pernah mengajarkan
ilmu itu meski pun hanya sejurus kepada muridnya.
Para tokoh Hoa-san-pai adalah tokoh-tokoh yang berilmu tinggi. Apa lagi ketuanya, Kui Sanjin yang dikenal
sebagai seorang ahli pedang Hoa-san Kiam-sut, di samping isterinya yang juga hadir di situ. Mereka
semua kini berdiri bengong, kagum bukan main.
Siapa orangnya yang tidak kagum kalau melihat betapa kacung kuda itu dengan hanya sebatang pedang
kayu dapat menghadapi seorang ahli pedang seperti Souw Kiu? Dan kadang-kadang pedang di tangan
pengemis itu dengan hebatnya menggempur pedang kayu, akan tetapi jangan kata pedang kayu itu
menjadi patah karenanya, malah tampak jelas betapa lengan dan tangan Souw Kiu yang memegang
pedang tergetar hebat.
Ini hanya menjadi bukti bahwa bocah itu mempunyai tenaga sinkang yang ampuh sekali, tenaga yang
bukan sewajarnya dimiliki seorang pemuda tanggung berusia enam belas tahun. Diam-diam mereka
menduga-duga, murid siapakah gerangan pemuda ini dan apa maksud orang muda yang memiliki
kesaktian itu naik ke Hoa-san-pai dan berpura-pura menjadi tukang kuda? Mengandung maksud
tersembunyi yang bagaimanakah? Mereka juga merasa gelisah, menduga bahwa tentulah pemuda itu
mengandung suatu maksud tertentu.
Yang paling bingung dan kaget setengah mati adalah Souw Kiu sendiri. Pedang kayu di tangan bocah itu
bukan main hebatnya. Gerakannya aneh, daya tahannya amat kokoh kuat dan setiap kali beradu dengan
pedangnya sendiri, tangannya tergetar hebat.
Dia menjadi penasaran sekali. Masa dia harus mengaku kalah terhadap seorang kacung kuda? Jika dia
dikalahkan oleh salah seorang tokoh Hoa-san-pai, masih tidak apa, akan tetapi oleh seorang kacung kuda?
Dan masih bocah lagi!
Dua puluh jurus telah lewat dan dalam penasarannya, Souw Kiu tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring
sekali lalu pedangnya melakukan terjangan kilat.
Hui Kauw menutup mulutnya dan seluruh urat tubuhnya menegang. Sebagai seorang ahli pedang, dia pun
maklum bahwa pengemis itu melakukan serangan nekat, mengajak adu nyawa. Dia sudah siap untuk
menyambar dan menolong muridnya, tetapi dia tidak mau tergesa-gesa karena bila keadaan Yo Wan tidak
berbahaya lalu dia menolongnya, hal itu akan merendahkan diri sendiri.
Yo Wan sudah mempelajari banyak sekali jurus-jurus ampuh dan ada kalanya Sin-eng-cu mau pun
Bhewakala dalam keadaan terdesak pun mengeluarkan jurus-jurus yang nekat. Karena itu, menghadapi
serangan ini dia tidak menjadi gugup. Dari pada dia terluka atau terpaksa membunuh orang, lebih baik
mengorbankan pedang kayunya, pikirnya cepat. Melihat pedang lawan menyambar dengan babatan kilat,
dia cepat menangkis dengan pedang kayunya, tetapi dia sengaja tidak menyalurkan tenaga kepada
pedang kayu ini.
"Krakkk!"
Pedang kayu patah menjadi dua, tubuh Souw Kiu terdorong ke depan dan di lain saat dia sudah roboh
terguling oleh pukulan tangan kiri Yo Wan yang tepat mengenai pundak kanannya sedangkan pedangnya
entah bagaimana sudah berpindah ke tangan pemuda itu!
Souw Kiu bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba dia muntahkan darah merah. Ternyata satu kali pukulan Yo
Wan itu sudah mendatangkan luka parah di dalam dadanya. Hal ini tidak mengherankan karena Yo Wan
menggunakan pukulan Iweekang dari Sin-eng-cu sebagai timpalan permainan pedangnya tadi.
Tanpa dapat ditahan lagi, para tosu Hoa-san-pai bertepuk tangan memuji. Setelah ketua mereka berpaling
dan memandang tajam, baru mereka berhenti. Walau pun tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang terangterangan
memuji dan berpihak, namun wajah mereka yang berseri menjadi tanda bahwa mereka merasa
puas melihat rombongan Sin-tung Kaipang yang sombong itu diberi hajaran oleh orang luar yang mengaku
sebagai kacung kuda Hoa-san-pai!
Baru seorang pelamar kacung kuda saja sudah begini hebatnya, apa lagi orang-orang Hoa-san-pai sendiri!
dunia-kangouw.blogspot.com
Meski pun tidak secara langsung, pemuda yang luar biasa itu sudah mengangkat tinggi derajat dan nama
Hoa-san-pai dengan sepak terjangnya menghadapi Sin-tung Kaipang ini.
Yo Wan sendiri sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk memusuhi Sin-tung Kaipang. Dia tahu bahwa
kemarin dia telah membuat onar. Hanya untuk menjaga agar nama suhu serta subo-nya jangan sampai
terbawa-bawa, maka dia mempertanggung jawabkannya sendiri. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau
dibunuh tanpa melawan.
Hatinya girang luar biasa setelah berhasil mengalahkan dua orang lawan. Semangatnya timbul dan dia
mulai mengerti, mulai terbuka mata hatinya bahwa jika dia mau melawan, belum tentu orang-orang kasar
ini mampu membunuhnya!
Sementara itu, Sin-tung Lo-kai sampai menjadi pucat mukanya saking marah. la merasa terhina sekali.
Dua orang pembantu yang paling dia andalkan, sudah berturut-turut roboh secara mudah oleh seorang
kacung kuda.
"Orang-orang Hoa-san-pai!" bentaknya sambil mengangkat tongkatnya ke depan dada. "Apakah kalian
diamkan saja bocah setan ini menghina kami?"
"Urusanmu dengan anak ini tak ada sangkut-pautnya dengan kami, Pangcu," berkata Kui Sanjin dengan
suara tenang.
Kakek ketua Hoa-san-pai ini sekarang timbul kepercayaannya terhadap Yo Wan. Pantas saja bocah ini
hendak membereskan sendiri, kiranya dia memiliki ilmu kepandaian yang begitu hebat. Dia masih tidak
mengerti kenapa bocah ini suka menutupi dan melindungi Hoa-san-pai, akan tetapi jalan satu-satunya bagi
ketua Hoa-san-pai ini untuk membalas budi hanya membiarkan bocah itu melanjutkan maksud hatinya.
Inilah sebabnya maka dia sengaja menjawab seperti itu.
"Hemmm, biarlah kubikin mampus dahulu bocah ini, baru kami akan bicara lagi dengan Hoa-san-pai!" Sintung
Lo-kai berseru marah. "Bocah setan, lekas kau memilih senjata. Aku tidak sudi menyerang lawan
tanpa senjata. Kalau kau butuh pedang, orang-orangku bisa memberi pinjam untukmu."
Yo Wan maklum bahwa lawannya ini tentu seorang yang pandai. Kemantapan gerakan tongkat itu saja
sudah membayangkan tenaga Iweekang yang amat hebat. la tidak berani memandang ringan, maka
dilolosnya cambuk peninggalan pertapa Bhewakala. Cambuk ini hitam warnanya, panjang dan berat, tetapi
di tangan Yo Wan terasa ringan dan enak. Maklum, selama tiga tahun dia main-main dengan cambuk ini.
"Ketua Sin-tung Kaipang, sesungguhnya aku tidak suka berkelahi dengan siapa pun juga, aku tak ingin
mencari perkara dengan siapa juga. Akan tetapi bila kau masih tetap nekat hendak membunuhku, tentu
saja aku akan berusaha menyelamatkan diri," jawab Yo Wan sambil memegang gagang cambuk dengan
tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membelai-belai ujung cambuk.
"Tak usah cerewet, lihat tongkatku!" Ketua pengemis itu menggerakkan tongkatnya dan berkelebatlah sinar
beraneka warna seperti pelangi menyilaukan mata.
Yo Wan kaget dan bingung seketika karena gerakan tongkat itu hebat serta menyilaukan warnanya. Juga
para tokoh Hoa-san-pai menahan nafas. Sekali ini mereka benar-benar khawatir karena tingkat kepandaian
Sin-tung Lo-kai benar-benar tidak boleh dipandang ringan. Anak muda remaja ini mana mampu
mempertahankan diri?
"Tar-tar-tarrr...!"
Lecutan cambuk bertubi-tubi terdengar nyaring disusul berkelebatnya sinar cambuk yang hitam, bergerakgerak
bagai ular naga hitam bermain di angkasa. Yo Wan telah mainkan ilmu cambuknya Ngo-sin Hoankun
dan ujung cambuk itu kini melecut-lecut, menyambar-nyambar setelah membentuk lingkaran-lingkaran
aneh di udara.
Kagetlah semua orang. Hui Kauw melihat betapa suaminya sambil mengerutkan kening telah mengepal
tinjunya.
"Bhewakala... siapa lagi... tentu Bhewakala...," terdengar suaminya bersungut-sungut.
dunia-kangouw.blogspot.com
Yang paling kaget adalah Sin-tung Lo-kai sendiri. Permainan cambuk lawannya amatlah hebatnya,
bagaikan gelombang samudera sedang mengamuk. Lingkaran-lingkaran yang bergelombang lima kali itu
benar-benar sangat dahsyat, menyembunyikan ujung cambuk yang kadang-kadang mematuk dan melecut
bagai petir menyambar.
Inilah ilmu cambuk yang luar biasa aneh, yang belum pernah disaksikan Sin-tung Lo-kai selama hidupnya.
la mengertak gigi, mengerahkan seluruh kepandaian dan mainkan ilmu tongkatnya untuk menahan
gelombang dan petir itu.
Akan tetapi Yo Wan tidak mau memberi hati kepadanya. Pemuda ini memilih jurus-jurus serangan dari
Ngo-sin Hoan-kun sehingga belum lewat tiga puluh jurus, ketua pengemis itu sudah mundur-mundur dan
hanya dapat menangkis serta mengelak ke sana ke mari, tidak mampu membalas dan keadaannya repot
sekali.
Tiba-tiba pengemis tua itu mengeluarkan bentakan keras dan sinar-sinar hijau langsung menyambar ke
arah Yo Wan. Inilah sinar senjata rahasia berupa paku-paku hijau yang beracun, yang tadi disambitkan
secara diam-diam, merupakan senjata gelap yang sangat berbahaya.
"Curang...!" Hui Kauw berseru, namun dia tahu bahwa dia sendiri tidak mampu menolong karena senjatasenjata
gelap itu dilempar dari jarak yang amat dekat, yaitu selagi kedua orang itu bertanding berhadapan.
Yo Wan adalah seorang pemuda yang belum berpengalaman dalam urusan bertempur. Sungguh pun dia
telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat, tetapi dia tidak tahu akan adanya akal-akal busuk dari lawan macam
Sin-tung Lo-kai. Akan tetapi dia seorang yang amat cerdik.
Melihat berkelebatnya sinar-sinar hijau dan juga mendengar seruan subo-nya, dia cepat menggunakan
langkah ajaib. Kini terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan memainkan langkah-langkah yang dia
pelajari dari suhu-nya karena dia maklum bahwa benda-benda yang menyambarnya itu amat berbahaya.
Dan benar saja, dengan langkah-langkah ajaib yang dia mainkan, tujuh buah benda kecil kehijauan itu
meluncur lewat di samping tubuhnya, tak ada sebuah pun mengenai dirinya. Teringat akan bahaya ini,
timbul kemarahan Yo Wan. la mencabut anak panah dengan tangan kiri, pecutnya kembali menerjang maju
dan kini dibarengi dengan sambitan anak panah.
Sin-tung Lo-kai tadi terkejut bukan main melihat pemuda aneh itu dapat menghindarkan diri dengan
gerakan kaki seperti orang mabuk. Selagi dia kecewa dan terkejut, cambuk lawannya menerjang seperti
hujan badai. Cepat dia mengangkat tongkat menangkis dan melompat mundur.
Tetapi tiba-tiba dia berteriak keras dan roboh, anak panah itu menancap pada dadanya sebelah kanan!
Baiknya anak panah itu tidak terlalu dalam menembus kulit dada, namun cukup membuat ketua Sin-tung
Kaipang itu mengerang kesakitan dan tidak bisa bangun kembali.
Anak buahnya cepat memberi pertolongan. Tanpa pamit lagi Sin-tung Lo-kai menyuruh anak buahnya
memanggulnya turun gunung! Mereka bagaikan serombongan anjing yang disiram air panas, lari tersaruksaruk
sambil tunduk, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi.
Andai kata mereka memiliki buntut, sudah tentu buntut itu mereka kempit di antara kaki. Kekalahan yang
diderita sekali ini benar-benar membuat mereka kuncup dan selamanya mereka takkan berani memusuhi
Hoa-san-pai. Baru melawan seorang kacung kuda saja, ketua mereka dirobohkan dengan mudah!
Setelah musuh pergi, Yo Wan tidak dapat menyembunyikan diri lagi. la menghampiri Kwa Kun Hong dan
Kwee Hui Kauw, serta merta dia menjatuhkan diri berlutut lalu berkata dengan suara gemetar penuh
keharuan.
"Suhu...! Subo...!" la tinggal berlutut, meletakkan mukanya di atas tanah dan meramkan kedua matanya,
mulutnya berkata lirih, "...teecu datang menyusul..."
"Wan-ji (anak Wan)! Kenapa baru sekarang kau datang...?" Hui Kauw berkata dan siap merangkul murid
itu. Akan tetapi nyonya muda ini menahan kedua tangannya pada saat melihat wajah suaminya. Jelas
bahwa suaminya kelihatan marah.
"A Wan, apa maksudmu datang seperti ini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Wan tak dapat menjawab dan pada saat itu, para tokoh Hoa-san-pai sudah datang menghampiri.
Dengan senyum lebar Kui Sanjin berkata,
"Ahhh, kiranya anak ini murid Kun Hong? Pantas begini lihai! Ha-ha-ha-ha, benar-benar Sin-tung Kaipang
tidak tahu diri, dan senang sekali hati pinto mengetahui bahwa anak yang memberi hajaran kepada mereka
kiranya adalah orang sendiri! Ha-ha-ha!"
Para tokoh Hoa-san-pai sungguh-sungguh merasa gembira dan bangga. Kehebatan ilmu kepandaian
Pendekar Buta tentu saja sudah mereka ketahui dengan baik, dan meski pun Pendekar Buta terhitung
golongan muda di Hoa-san, akan tetapi dialah sebetulnya yang menjadi andalan untuk membikin besar
nama Hoa-san-pai. Kelihaian anak muda yang sudah mengusir para tokoh Sin-tung Kaipang ini merupakan
bukti akan kehebatan ilmu kepandaian Pendekar Buta.
Tentu saja mereka tidak mengerti bahwa Pendekar Buta sendiri berpikir lain pada saat itu. Tidak tahu
bahwa Kun Hong amat marah kepada Yo Wan, hanya menahan hatinya karena dia tidak ingin memarahi
muridnya di depan banyak orang.
"A Wan kau ikut aku...!" kata Kun Hong kepada anak muda itu.
Yo Wan mengerti bahwa suhu-nya marah, sebab itu dengan kepala tunduk dia mengikuti gurunya masuk
ke dalam, diikuti pula oleh Kwee Hui Kauw yang menggandeng tangan Swan Bu. Para tokoh Hoa-san-pai
yang masih bergembira itu juga mengundurkan diri, membiarkan guru dan murid itu menikmati pertemuan
tanpa diganggu.
"Nah, sekarang ceritakan tentang sikapmu yang aneh itu, A Wan. Aku ingin mendengar selengkapnya dan
sejujurnya. Mengapa kau datang menyusul kami secara sembunyi dan pura-pura menjadi kacung kuda?"
tanya Kun Hong, suaranya perlahan.
Akan tetapi Yo Wan maklum bahwa suhu-nya sedang tak senang hati. Menggigil dia dan cepat-cepat dia
berlutut di depan suhu-nya yang duduk di atas sebuah kursi lain, ada pun Swan Bu berdiri memandang
dengan matanya yang lebar tajam.
Dengan suara lirih Yo Wan lalu menceritakan pengalamannya sejak suhu dan subo-nya turun gunung
meninggalkannya seorang diri. Tentang niatnya menyusul ke Hoa-san-pai tiga tahun yang lalu, dan betapa
dia bertemu dengan Sin-eng-cu serta Bhewakala yang sedang bertanding dan keduanya terluka, betapa
kemudian dia menolong mereka dan selama tiga tahun menjadi perantara dalam adu ilmu sampai Sin-engcu
meninggal dunia karena tua dan Bhewakala kembali ke dunia barat.
"Kemudian teecu menyusul ke Hoa-san, Suhu, dan sungguh tidak teecu kehendaki telah terjadi keributan di
sini, bahkan teecu-lah yang menjadi biang keladinya. Teecu mengaku salah dan siap menerima hukuman
apa pun juga dari Suhu dan Subo."
"Mengapa kemarin kau tidak langsung naik menemui kami, tapi malah bersembunyi dan menyamar
sebagai tukang kuda?" suara Kun Hong masih bengis karena hatinya belum puas.
"Teecu merasa ragu-ragu... dan takut kalau-kalau Suhu tidak menghendaki kedatangan teecu... kebetulan
teecu bertemu dengan dua orang tosu dan putera Suhu ini... teecu ditawari pekerjaan tukang kuda, teecu
lalu menerimanya, ingin melihat gelagat lebih dulu sebelum teecu berani menghadap Suhu. Celakanya, di
tengah jalan seekor di antara tiga kuda yang harus teecu bawa ke puncak dibunuh pengemis itu. Teecu tak
ingin berkelahi, hanya minta ganti seekor kuda yang hidup, kiranya mereka marah dan menyerang teecu.
Akhirnya mereka lari dan meninggalkan kedua ekor kuda mereka, terpaksa teecu bawa sekalian ke
puncak, dan kuda yang mati teecu kubur di pinggir jalan."
"Yang mati itu kudaku! Ayah, suruh murid Ayah ini mencarikan pengganti kudaku, dialah yang bertanggung
jawab karena dia yang membawanya,” Swan Bu berseru nyaring.
"Hushhh, diam kau!" Kun Hong membentak puteranya lalu bertanya, "A Wan, setelah kau tahu rombongan
Sin-tung Kaipang datang mengapa kau masih pura-pura tidak mengenal kami dan melayani mereka
seorang diri mengandalkan ilmu silatmu? Apakah kau hendak pamerkan kepandaian di Hoa-san-pai?"
Yo Wan mengangguk-angguk mencium lantai. “Ahhh tidak... Suhu, sama sekali tidak...,” katanya gagap
dunia-kangouw.blogspot.com
dan takut. "Mana teecu berani begitu kurang ajar pamerkan kepandaian sedangkan teecu tidak bisa apaapa?
Hanya kebetulan saja teecu bisa menang padahal sama sekali teecu tidak bermaksud demikian.
Sesudah melihat bahwa peristiwa kemarin itu menimbulkan keributan hebat, teecu menjadi takut kalau
Hoa-san-pai terbawa-bawa, terutama sekali kalau Suhu dan Subo terbawa-bawa oleh gara-gara yang
teecu lakukan kemarin. Maka dari itu, teecu sengaja pura-pura tidak ada hubungan dengan Suhu dan
Subo, juga dengan Hoa-san-pai. Teecu ingin mempertanggung-jawabkan sendiri, kalau perlu teecu rela
mati untuk menebus kesalahan, asal tidak sampai menyeret Hoa-san-pai dan terutama sekali Suhu berdua.
Akan tetapi, tentu saja seberapa dapat teecu hendak mempertahankan diri terhadap pengemis-pengemis
yang jahat itu."
Kun Hong mengangguk-angguk dan pada sepasang mata Hui Kauw tampak dua butir air mata. Nyonya
muda itu menjadi terharu sekali melihat murid yang amat setia itu.
Diam-diam dia memperhatikan dan menjadi kagum sekali. Muridnya ini sekarang bukan seorang anak kecil
lagi, melainkan sudah menjadi seorang jejaka tanggung yang tampan dan sederhana, pandai
merendahkan diri biar pun memiliki kepandaian yang amat tinggi.
"Yo Wan, apakah kehendakmu sekarang?" Kun Hong bertanya, suaranya halus kini.
"Suhu, tidak ada keinginan lain dalam hati teecu semenjak dahulu selain ikut Suhu dan Subo, bekerja untuk
Suhu dan mengharapkan belas kasihan berupa pelajaran ilmu silat agar dapat teecu pakai kelak untuk
membalas dendam terhadap The Sun."
Kun Hong menggeleng kepala. "Tidak mungkin, Yo Wan, tidak bisa kau ikut dengan kami di sini..."
"Suhu, biarlah teecu menjadi tukang kuda, menjadi kacung pelayan, teecu akan bekerja apa saja, biarkan
teecu melayani Suhu berdua, dan adik... adik Swan Bu, asal teecu boleh berdekatan dengan Suhu
berdua...," suara Yo Wan menggetar karena terharu dan khawatir kalau-kalau dia tidak akan diterima oleh
suhu-nya.
"Yo Wan, kau bukan kanak-kanak lagi! Kau sudah dewasa, masa selama hidupmu hanya ingin menjadi
kacung saja? Tidak, aku tak mau menerimamu di sini, sekarang sudah tiba waktunya kau hidup sendiri,
mengejar ilmu dan pengalaman, mengisi hidupmu dengan perbuatan-perbuatan yang berguna bagi orang
lain dan bagi dirimu sendiri, kau tak boleh tinggal di sini."
"Suhu, teecu ingin menerima pelajaran ilmu silat dari Suhu..."
"Tidak bisa, Yo Wan. Ilmu silat dariku tidak boleh dicampur aduk. Kau sudah menerima warisan ilmu silat
yang tinggi dan hebat dari susiok-couw-mu dan dari Bhewakala. Hanya belum kau selami inti sarinya dan
belum matang saja. Kepandaianmu sudah cukup dan kalau kau menerima pelajaran dariku, salah-salah
bisa rusak malah."
"Suhu, teecu bukanlah murid kakek Sin-eng-cu, juga bukan murid Bhewakala locianpwe. Teecu tidak
belajar dari mereka. Apa yang teecu ketahui dari mereka boleh teecu buang dan mulai saat ini juga dan
teecu akan mulai belajar dari suhu."
Tiba-tiba ada angin pukulan mendesir dari arah belakang menyerang tengkuk Yo Wan, disusul sinar
pedang yang menusuk lambungnya. Otomatis Yo Wan membuang diri, lantas bergulingan dan cambuknya
berbunyi nyaring ketika bergerak melingkar-lingkar melindungi bagian belakang tubuhnya. Betapa terkejut
hatinya pada saat dia melihat bahwa yang menyerangnya tadi ternyata adalah subo-nya sendiri, Kwee Hui
Kauw yang kini telah duduk kembali sambil menyarungkan pedangnya.
"Suhu-mu bicara benar, Yo Wan. Ilmu silat kedua orang kakek sakti itu sudah mendarah daging padamu,
tak mungkin dibuang begitu saja lalu mulai belajar ilmu silat baru. Akan merusak segala-galanya. Kau lihat
sendiri tadi, begitu ada bahaya mengancam, otomatis tubuhmu melakukan gerakan sesuai dengan jurusjurus
dari kedua orang kakek itu. Ilmu silatmu sudah cukup tinggi, tak perlu belajar lagi dari kami."
Yo Wan tertegun, lalu menjatuhkan diri berlutut, air matanya bertitik perlahan. "Suhu dan Subo...
perkenankan teecu membalas budi Suhu berdua dengan pelayanan, tidak diberi pelajaran silat juga tidak
apa, asal teecu dapat melayani Suhu berdua..."
Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan perasaan terharu. Hui Kauw menghapus dua butir air matanya
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan sapu tangan.
"Yo Wan, kami mengusirmu bukan karena kami tidak cinta kepadamu. Sama sekali tidak. Semua peristiwa,
baik yang terjadi di Liong-thouw-san mau pun di sini, bukan salahmu. Aku mengusirmu turun gunung
sekarang juga bukan dengan maksud tak baik, muridku, namun dengan maksud untuk kebaikanmu sendiri.
Kau bukan anak murid Hoa-san-pai, juga tidak bisa dibilang muridku dan kau sudah dewasa. Kau harus
mencari kedudukan dan membuat nama baik di dunia."
"Apakah Suhu mengira bahwa teecu sudah boleh pergi mencari The Sun dan membalas sakit hati ibu?"
Kun Hong menghela nafas panjang. "Dendam... balas membalas... tiada habisnya, tidak akan aman dunia
ini selamanya. Yo Wan, mengapa kau tidak membalas dendam dengan kasih?"
Yo Wan bingung, tidak mengerti apa yang dimaksudkan suhu-nya.
"Bagaimana, Suhu? The Sun menyebabkan kematian ibu, sudah seharusnya kalau teecu mencarinya dan
balas membunuhnya."
"Ha-ha-ha, anak bodoh. Siapakah The Sun itu yang bisa mendatangkan kematian pada seseorang? la
hanya menjadi lantaran, karena memang nyawa ibumu sudah semestinya kembali pada saat itu, sudah
dikehendaki oleh Thian Yang Maha Kuasa!"
Yo Wan makin bingung, dia menoleh kepada subo-nya. Nyonya muda itu maklum bahwa suaminya sedang
kambuh, yaitu tenggelam dalam lautan filsafat kebatinan, maka ia lalu berkata halus, "Yo Wan ingin
mendengar apa yang selanjutnya harus dia lakukan. Bicara tentang filsafat yang tidak dimengerti olehnya,
membuang waktu sia-sia saja."
Kun Hong sadar dari lamunannya, keningnya berkerut. "Yo Wan, jangan kau kira bahwa akan mudah saja
menghadapi seorang seperti The Sun. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan kepandaian yang kau warisi dari
kedua orang kakek itu masih mentah. Coba kau berdiri dan siap menghadapi seranganku, aku akan
mengujimu!"
Yo Wan girang karena ini berarti dia akan mendapat petunjuk. Cepat dia bangkit berdiri, dan secepat kilat
Kun Hong telah menerjang. Yo Wan melihat gurunya memukul dengan gerakan cepat akan tetapi pukulan
itu amat lambat tampaknya. Dia tidak berani berlaku sembrono.
Melihat betapa ilmu pukulan suhu-nya itu serupa benar dengan Liong-thouw-kun yang dia pelajari dari Sineng-
cu, segera dia mengeluarkan jurus-jurus Ngo-sin Hoan-kun dari Bhewakala. Sampai lima jurus dia
dapat mengimbangi gurunya, tapi pada jurus ke enam, suhu-nya melakukan gerakan serangan yang aneh
sekali dan... tahu-tahu pundak kirinya terdorong. Dorongan perlahan yang cukup hebat, membuat Yo Wan
terpelanting.
"Aduhhh..." Yo Wan menahan keluhannya.
Dorongan itu mestinya tidak menimbulkan rasa nyeri. Akan tetapi karena kebetulan yang didorong adalah
pundak kiri yang tadi terluka oleh anak panah Swan Bu, terasa perih dan sakit sekali.
"...ehhh, kenapa pundakmu...?" Kun Hong bertanya kaget. Diam-diam dia kagum karena muridnya yang
masih mentah ilmunya ini ternyata mampu mempertahankan diri sampai lima jurus!
"...ti... tidak apa-apa, Suhu... dorongan Suhu hebat bukan main, teecu rasa biar sampai seratus tahun
teecu belajar, tanpa bimbingan Suhu teecu tetap takkan mampu menjadi seorang ahli..."
"Hushh, goblok jika kau berpikir begitu. Kau hanya kurang matang itulah. Pundak kirimu itu... coba kau
mendekat." Yo Wan mendekat dan Kun Hong lalu meraba. "Ehh, terluka senjata? Kapan terjadinya? Dalam
pertempuran tadi kau sama sekali tidak terluka, kan?"
"Ayah, luka di pundaknya itu adalah karena terkena anak panahku!" Swan Bu berkata lantang. "Ketika tadi
dia muncul, kuanggap dia itu mengacau di Hoa-san, maka kupanah dia, kena pundaknya. Akan tetapi dia
memiliki ilmu sihir, Ayah. Panahku terus menancap di pundaknya ketika dia bertempur tadi, bahkan ketika
melawan Sin-tung Lo-kai, anak panahku itu dia pergunakan untuk melukai lawannya. Apakah itu bukan
ilmu hitam?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Swan Bu...! Ahh, bagaimana kau menjadi rusak oleh kemanjaan seperti ini? Setan, kau lancang sekali.
Hayo lekas minta maaf kepada Yo Wan koko!"
Swan Bu bersungut-sungut. "Aku tidak merasa salah, mengapa minta maaf?"
"Suhu, sudahlah. Adik Swan Bu masih kecil, dan dia mempunyai watak gagah perkasa. Kalau tidak
mengira bahwa teecu seorang jahat dan musuh Hoa-san-pai, kiranya dia tak akan melepaskan anak
panah. Dia tidak bersalah, Suhu."
Kun Hong menarik nafas panjang. "Yo Wan, setelah kau menerima semua ilmu itu, tak mungkin lagi kau
menjadi muridku. Hanya Thian yang tahu betapa kecewa hatiku, karena mencari murid seperti kau,
agaknya selama hidupku takkan dapat kutemukan. Sekarang kau ingat baik-baik pesanku. Turunlah dari
sini dan kau carilah Bhewakala. Hanya dialah yang dapat menyempurnakan dan mematangkan ilmu yang
ada padamu, karena selain sebagian ilmu itu dari dia datangnya, juga dalam pertandingan selama tiga
tahun itu tentu dia dapat menyelami ilmu dari susiok-couw-mu pula. Kau harus mematangkan ilmu yang
kau miliki itu di bawah petunjuk Bhewakala. Nah, sesudah kepandaianmu matang, baru kau boleh datang
lagi kepadaku untuk bicara tentang The Sun."
Yo Wan merasa berduka sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Hui Kauw lalu melangkah maju
dan memegang kedua pundaknya. Sepasang mata bening subo-nya itu berair.
"Yo Wan, kau tahu betapa besar kasih sayang kami padamu. Percayalah, semua pesan Suhu-mu adalah
demi kebaikan dirimu sendiri. Taati pesannya itu, Yo Wan. Perjalanan mencari pendeta barat itu tentu
sukar dan jauh, akan tetapi untuk mencapai sesuatu, makin jauh dan makin sukar akan semakin baik.
Terimalah ini untuk bekal di perjalanan." Hui Kauw meloloskan pedang dari pinggangnya, memberikan
pedangnya itu kepada Yo Wan, kemudian dia menyerahkan pula sekantung uang emas.
Bukan main terharunya hati Yo Wan. Ingin dia menangis menggerung-gerung oleh kasih sayang yang
besar, yang dilimpahkan mereka padanya. Akan tetapi dia maklum bahwa suhu-nya tidak suka akan sikap
cengeng semacam ini, maka dia menekan perasaannya, lalu berpamit. Takut kalau-kalau air matanya
bercucuran, sesudah mendapat ijin dia lalu melangkah ke luar dengan langkah lebar, lalu berlari
secepatnya meninggalkan tempat itu agar tidak ada orang melihat betapa air matanya bercucuran di
sepanjang jalan.
Akan tetapi sepasang suami isteri yang sakti itu mengetahui hal ini. Hui Kauw terisak menangis. "Dia anak
baik...," katanya.
"Sebaliknya anak kita yang akan rusak bila terus-terusan mendapat kemanjaan yang luar biasa di sini. Hui
Kauw, kita harus pergi dari sini, kembali ke Liong thouw-san, sekarang juga."
Bukan main girangnya hati Hui Kauw mendengar ini. Memang inilah yang sudah menjadi idam-idaman
hatinya, akan tetapi tadinya Kun Hong menaruh keberatan karena dia ingin membiarkan puteranya hidup
bahagia, dekat saudara-saudara di Hoa-san-pai yang amat mencinta anak itu. Siapa tahu, terlalu banyak
cinta kasih yang dilimpahkan membuat anak itu tidak pernah dan tidak mau tahu akan kesukaran,
membuatnya manja dan selalu ingin dituruti kehendaknya karena semenjak kecil tidak pernah ada yang
menolak semua keinginannya…..
********************
Perjalanan yang dilakukan Yo Wan sangat sukar dan jauh. la mentaati pesan Kun Hong, juga dia ingat
akan pesan Bhewakala bahwa pendeta itu selalu menanti kedatangannya di Anapurna, yaitu sebuah
puncak di Pegunungan Himalaya. Perjalanan yang amat jauh dan membutuhkan ketekatan yang bulat
serta keuletan yang tahan uji.
Baiknya dia membawa bekal sekantung uang emas pemberian Hui Kauw. Kalau tidak, perjalanannya tentu
akan lambat karena dia harus berhenti-henti untuk bekerja sekedar mencari pengisi perut. Sekarang dia
dapat melakukan perjalanan dengan lancar, terus ke barat, hanya mau berhenti kalau kemalaman di jalan
atau kalau sudah amat lelah.
Melakukan perjalanan ke timur atau ke selatan jauh lebih cepat dari pada perjalanan ke barat atau ke
utara. Hal ini adalah karena semua sungai mengalir ke selatan atau ke timur, dan pada masa itu, di waktu
dunia-kangouw.blogspot.com
perjalanan darat amatlah sukarnya, jalan satu-satunya yang paling cepat adalah perjalanan melalui air.
Namun Yo Wan adalah seorang pemuda yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Larinya cepat bagaikan
kijang dan setiap kali melalui hutan atau gunung yang sukar, dia masih dapat berlari cepat. Juga sebagai
seorang pemuda yang berpakaian sederhana, nampak tidak membawa apa-apa, dia selalu terbebas dari
gangguan para perampok yang hanya memperhatikan orang-orang yang membawa barang-barang
berharga.
Setelah tiba di Pegunungan Himalaya, barulah pemuda itu mengalami kesukaran hebat. Beberapa kali
hampir saja dia mendapat celaka ketika perjalanannya sampai di bagian yang tertutup salju. Dinginnya
hampir tak tertahankan lagi. Malah pernah ada gunung es longsor, gugur dan kalau dia tidak cepat
melompat ke dalam jurang dan berlindung, tentu dia akan terkubur hidup-hidup di dalam salju.
Kurang lebih sudah sebulan dia melalui perjalanan yang amat sukar dan sunyi ini. Hanya kadang-kadang
dia berjumpa kelompok pengembara atau singgah di gubuk pertapa. Di tempat seperti ini, uang sudah tidak
ada artinya lagi, tak dapat menolong seseorang dari kesengsaraan. Hanya sikap yang baik dapat
menolongnya, karena pertolongan datang dari orang-orang yang tidak terbeli oleh harta, melainkan oleh
keramahan.
Dari para pertapa inilah Yo Wan akhirnya sampai juga di Anapurna, tempat pertapaan Bhewakala. Pendeta
itu amat girang melihat kedatangan Yo Wan yang sekarang berlutut di depannya dan menceritakan semua
pengalamannya di Hoa-san.
"Ha-ha-ha, Pendekar Buta memang hebat dan dia cukup menghargai orang lain, maka dia menyuruh kau
datang ke sini, muridku. Memang dia betul, meski pun ilmu-ilmu yang pernah kau latih dari aku dan Sineng-
cu telah mendarah daging pada tubuhmu, namun masih mentah karena kau belum mampu menyelami
inti sarinya. Nah, mulai hari ini kau belajarlah baik-baik muridku."
Bhewakala tidak hanya menggembleng Yo Wan dalam ilmu silat untuk menyempurnakan ilmunya, akan
tetapi juga memberi gemblengan-gemblengan ilmu batin kepada Yo Wan. Makin lama pemuda ini semakin
betah tinggal di Himalaya, pelajaran kebatinan semakin meresap ke dalam hatinya, dan walau pun dia
masih buta huruf karena tidak pernah mempelajarinya, namun kini mata hatinya sudah terbuka dan
dapatlah dia meneropong ke dalam penghidupan manusia.
Mengertilah dia kini akan ucapan Kun Hong tentang dendam dan balas-membalas, dan makin lama makin
tipislah keinginan hatinya untuk mencari The Sun dan membunuhnya. Telah lenyap pula hasratnya untuk
merantau di dunia ramai karena di samping gurunya, di tempat sunyi dan dingin ini, dia sudah menemukan
ketenteraman hidup, kebahagiaan sejati manusia yang tidak digoda oleh kehendak nafsu, sedikit demi
sedikit melepaskan diri dari lingkaran karma…..
********************
Waktu berjalan pesat bagai anak panah terlepas dari busurnya. Sembilan tahun lamanya Yo Wan berada
di Himalaya dan pada suatu hari Bhewakala yang sudah tua itu jatuh sakit.
Pendeta ini maklum bahwa waktu hidupnya sudah tiba pada saat terakhir. la tidak ingin muridnya yang
terkasih itu menyia-nyiakan hidupnya sebagai pertapa selagi masih begitu muda. Dipanggilnya Yo Wan
dan dengan suara lirih dan nafas tinggal satu-satu pendeta ini meninggalkan pesan.
"Yo Wan, saat bagiku untuk meninggalkan dunia sudah hampir tiba. Aku girang dengan peristiwa ini,
karena selain berarti kebebasanku, juga kau akan terlepas dari ikatanmu dengan aku. Kini ilmu yang kau
miliki telah cukup untuk bekal hidup. Bertahun-tahun kau selalu menolak perintahku untuk turun gunung
dan pergi merantau, dengan alasan ingin melayani aku yang sudah tua sebagai pembalas budi. Kau masih
terikat oleh budi, tentu tak mudah melepaskan diri dari ikatan dendam. Akan tetapi kau sudah masak
sekarang, matang lahir batin. Pesanku terakhir ini harus kau taati, Yo Wan. Apa bila aku meninggal dunia,
kau harus membakar jenazahku di pondok ini, bakar semua yang berada di sini. Kemudian kau harus
meninggalkan tempat ini, kembali ke timur."
"Tapi... Guru…”
"Tidak ada tapi, kau sebagai seorang anak tidak boleh menjadi anak yang puthauw (tidak berbakti). Di sana
terdapat kuburan ayahmu, juga ada kuburan ibumu, siapa yang akan merawatnya? Lagi pula, kau bukan
dunia-kangouw.blogspot.com
ditakdirkan hidup menjadi pertapa. Kau harus turun gunung, kembali ke dunia ramai, mencari jodoh,
mempunyai keturunan seperti manusia-manusia lain. Soal The Sun, terserah kebijaksanaanmu sendiri."
"Ahh, Guru..."
Bhewakala tersenyum lebar, kembali berkata, "Biarkan dirimu menjadi permainan hidup, menjadi
permainan kekuasan Tuhan, karena untuk itu kau telah diberi hak hidup disertai kewajiban-kewajibannya.
Apa bila kau mengingkari pesanku ini, selamanya kau tak akan dapat tenteram, karena kau tentu tidak
akan suka mengecewakan aku."
Yo Wan tidak dapat membantah lagi karena dia maklum bahwa semua yang dikatakan gurunya itu betul
belaka. la tidak mungkin mau mengecewakan orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya, sungguh pun
masa depan di dunia ramai tidak menarik hatinya, bahkan menggelisahkan.
Pada malam harinya, Bhewakala menghembuskan nafas terakhir di hadapan Yo Wan. Pemuda yang kini
sudah berusia dua puluh lima tahun lebih itu menyambut kematian ini dengan wajar, tidak menangis, meski
pun ada juga penyesalan akibat dari perpisahan dengan orang yang disegani dan dihormati.
la melaksanakan pesan gurunya itu dengan baik-baik, membakar jenazah berikut pondok dan segala
benda yang berada di sana. Tiga hari tiga malam dia berkabung di tempat yang sudah menjadi gundul dan
kosong itu, kemudian mulailah dia turun gunung.
Pagi-pagi dia berangkat ke arah munculnya matahari yang kemerah-merahan. Bergidik dia melihat
keindahan ini, sebab dia merasa seakan-akan sedang berjalan menuju ke api neraka yang merah, dahsyat
dan akan menelannya…..
********************
Kita tinggalkan dahulu Yo Wan yang sedang turun dari Pegunungan Himalaya, memulai perjalanannya
yang amat sunyi dan jauh serta sukar untuk mulai dengan perantauannya, dan marilah kita kembali
mengikuti perjalanan Siu Bi, gadis lincah dan berhati tabah itu.
Seperti sudah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Siu Bi, puteri tunggal The Sun, meninggalkan Gobi-
san dengan hati sakit. Setelah mengetahui bahwa dia bukan puteri The Sun, bukan keturunan keluarga
The, simpatinya lalu tertumpah pada mendiang Hek Lojin yang telah terbunuh oleh The Sun. Dia merasa
menyesal dan kecewa. Kiranya dia bukan puteri The Sun. Siapakah orang tuanya? Apakah dia bukan anak
ibunya pula?
Mengingat ini, menangislah Siu Bi di sepanjang jalan. Dia sangat mencinta ibunya, dan sekarang dia pergi
tanpa pamit. Biar pun orang yang selama ini mengaku ayahnya telah mengecewakan hatinya dengan
memukul mati Hek Lojin dan dengan kenyataan bahwa orang itu bukan ayahnya yang sejati, namun ibunya
tidak pernah melukai hatinya. Ibunya selalu sayang kepadanya sehingga andai kata dia bukan ibunya yang
sejati, Siu Bi tetap akan mencintanya.
Betapa pun juga, Siu Bi dapat menguasai perasaannya. Ia melakukan perjalanan dengan tabah. Tujuannya
hanyalah satu, yaitu mencari dan membalas dendam kepada Kwa Kun Hong! la akan menantang Pendekar
Buta itu sebagai wakil dari Hek Lojin dan berusaha sedapatnya untuk membuntungi sebelah lengan
Pendekar Buta itu, juga lengan isterinya dan anak-anaknya.
la telah bersumpah di dalam hati kepada kongkong-nya, Hek Lojin. la merasa yakin akan dapat melakukan
tugas ini. Sesudah mewarisi Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang, ia merasa
dirinya cukup kuat dan tidak gentar menghadapi lawan yang bagaimana pun juga.
Ingat akan hal ini, Siu Bi menjadi bersemangat dan di bawah sebatang pohon besar ia berhenti kemudian
berlatih dengan kedua ilmu silat itu. Memang hebat sekali ilmunya ini. Pedangnya hanya sebatang pedang
biasa saja, namun berubah menjadi gulungan sinar putih yang naik turun menyambar-nyambar di antara
awan menghitam yang merupakan uap dari pukulan-pukulan Hek-in-kang.
Ketika ia berhenti berlatih satu jam kemudian, di bawah pohon sudah penuh daun-daun pohon yang
terbabat putus tangkainya oleh sinar pedangnya dan yang rontok oleh hawa pukulan Hek-in-kang! Siu Bi
berdiri tegak, kepalanya tunduk memandangi daun-daun itu dengan hati puas. Pendekar Buta, pikirnya,
lenganmu dan lengan-lengan anak isterimu akan putus seperti daun-daun ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebagai seorang gadis remaja, gadis yang baru berusia tujuh belas tahun lebih, Siu Bi melakukan
perjalanan yang amat jauh dan sulit. Go-bi-san merupakan pegunungan yang luas sedang jalan menuruni
pegunungan ini sama sukarnya dengan jalan pendakiannya. Namun, dengan kepandaiannya yang tinggi
Siu Bi tidak menemui kesukaran.
Tubuhnya bergerak lincah dan ringan, kadang kala dia harus melompat jurang. Dengan ginkang-nya yang
amat tinggi ia dapat melompat bagaikan terbang saja, tubuhnya ringan meluncur di atas jurang, dilihat dari
jauh tidak ada ubahnya seorang dewi dari kahyangan yang terbang melayang turun ke dunia.
Pakaiannya yang terbuat dari sutera halus berwarna merah muda, biru dan kuning itu berkibar-kibar tertiup
angin ketika ia melompat. Ronce-ronce pedang yang tergantung di punggungnya menambah kecantikan
dan kegagahannya.
Berpekan-pekan Siu Bi keluar masuk hutan, naik turun gunung, melalui banyak dusun di kaki gunung dan
melalui beberapa kota pegunungan. Setiap kali dia bertemu orang, tentu dia menjadi pusat perhatian. Apa
lagi kaum pria, melihat seorang gadis remaja demikian cantik jelitanya, memandang penuh kekaguman.
Namun tiada orang berani mengganggu, karena tidak hanya pedang di punggung Siu Bi yang
membuktikan bahwa gadis remaja jelita itu seorang ahli silat. Akan tetapi juga Siu Bi tidak
menyembunyikan gerak-geriknya yang lincah dan ringan, sehingga setiap orang tahu bahwa dia adalah
seorang pendekar wanita muda yang tak boleh dibuat main-main!
Pada suatu hari tibalah ia di kota Pau-ling di tepi Sungai Huang-ho, setelah melakukan perjalanan sebulan
lebih ke selatan. Sebetulnya Pau-ling tidak patut disebut kota, tetapi sebuah dusun yang menghasilkan
banyak padi dan gandum.
Tanah di lembah Sungai Huang-ho ini amat subur sehingga pertanian banyak maju dan hasilnya
berlimpah-limpah. Karena letaknya dekat dengan sungai besar, maka dusun ini makin lama makin ramai
dengan perdagangan melalui sungai. Hasil-hasil sawah ladang diangkut melalui sungai dengan perahuperahu
besar.
Ketika Siu Bi lewat di pelabuhan sungai, ia melihat banyak orang mengangkat padi dan gandum berkarungkarung
ke atas perahu-perahu besar. Orang-orang ini bekerja dengan wajah muram, tubuh mereka kuruskurus
dan pakaian mereka penuh tambalan.
Beberapa orang yang memegang cambuk dan berpakaian sebagai mandor, membentak-bentak dan ada
kalanya mengayunkan cambuk ke punggung seorang pengangkut yang kurang cepat kerjanya. Ada lima
enam orang mandor yang galak-galak, dan melihat Siu Bi lewat, mereka tertawa-tawa sambil memandang
dengan mata kurang ajar. Ada yang bersiul-siul dan menuding-nuding ke arah Siu Bi.
Panas hati Siu Bi. Namun ia menahan sabar, karena ia tidak mau kalau perjalanannya tertunda hanya
karena ada beberapa orang laki-laki yang memperlihatkan kekaguman terhadap kecantikannya secara
kurang ajar. la mempercepat langkahnya dan sebentar saja ia sudah tiba di luar dusun Pau-ling.
Akan tetapi kembali di luar dusun, di kanan kiri jalan di mana sawah ladang membentang luas, ia disuguhi
pemandangan yang amat mencolok mata. Belasan orang laki-laki yang keadaannya miskin dan bertubuh
kurus seperti para kuli angkut karung gandum dan padi tadi, tampak sedang menuai gandum di sawah.
Tampak pula belasan orang wanita yang juga bekerja.
Mereka bekerja dengan penuh semangat, tapi jelas bukan semangat yang mengandung kegembiraan,
melainkan semangat karena ketakutan. Beberapa orang mandor menjaga mereka dengan cambuk di
tangan pula. Di sana-sini terdengar cambuk berbunyi ketika melecut punggung, diiringi jerit kesakitan.
Siu Bi berdiri terpaku. Hatinya mulai panas. Akan tetapi kiranya ia tak akan sembarangan mau mencampuri
urusan orang bila saja tidak melihat kejadian yang membuat wajahnya yang jelita menjadi kemerahan
saking marahnya.
la melihat betapa seorang wanita setengah tua yang tampaknya sakit, roboh terpelanting sesudah
menerima cambukan pada punggungnya. Seorang gadis yang usianya sebaya dengan dia menjerit dan
menubruk wanita itu, menangisi ibunya yang telah pingsan. Dua orang mandor cepat menghampiri mereka,
lalu dengan sekali sambar yang seorang telah mengangkat tubuh gadis itu dan... menciuminya sambil
dunia-kangouw.blogspot.com
terkekeh-kekeh dan berkata,
"Ha-ha-ha, jangan kau besar kepala setelah terpakai oleh majikan! Lain hari kau tentu akan diberikan
kepadaku. Ha-ha-ha…!"
Ada pun mandor kedua dengan marahnya menghajar wanita setengah tua itu dengan cambuk, memakimaki,
"Anjing betina! Siapa suruh kau pura-pura mampus di sini? Hayo berdiri dan bekerja, kalau tidak
kucambuki sampai hancur badanmu!"
Siu Bi tidak dapat menahan kesabarannya lagi. "Keparat jahanam, lepaskan mereka!"
Bagaikan seekor burung walet cepat dan ringannya, tubuh Siu Bi sudah melayang dekat orang yang
menciumi gadis tadi. Sekali kakinya bergerak menendang terdengar suara berdebuk dan mandor yang
galak serta ceriwis itu terlempar sampai empat meter lebih kemudian jatuh terbanting ke dalam lumpur.
“Ngekkk!” terdengar suara lain beberapa detik kemudian.
Ternyata orang kedua yang mencambuki wanita setengah tua itu terlempar pula oleh tendangan Siu Bi,
hampir menimpa kawannya yang baru merangkak-rangkak bangun.
Semua pekerja serentak menghentikan pekerjaan mereka, berdiri terpaku. Muka mereka pucat dan hampir
saja mereka tidak percaya apa yang mereka lihat tadi. Seperti dalam mimpi saja. Siapakah orangnya
berani melawan para mandor? Kiranya hanya seorang gadis yang cantik jelita, seorang gadis remaja.
"Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwa Im) menolong kita...," bisik seorang lelaki tua dan serentak mereka
menjatuhkan diri berlutut menghadapi Siu Bi.
Di jaman itu kepercayaan orang-orang, terutama orang-orang dusun, tentang kesaktian Dewi Kwan Im
yang sering kali muncul atau menjelma untuk membersihkan kekeruhan dunia dan menolong orang-orang
sengsara, masih amat tebal. Dewi Kwan Im terkenal sebagai Dewi Welas Asih, dewi lambang kasih sayang
dan penolong yang juga terkenal amat cantik jelita. Kini melihat seorang dara jelita berani melawan dua
orang mandor, dan sekali tendang dapat membuat dua orang mandor galak itu terpelanting dan roboh,
otomatis mereka menganggap bahwa Dewi Kwan Im yang menolong mereka.
Namun dua orang mandor itu tidak berpendapat demikian. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang
kasar, yang tahu akan wanita-wanita pandai ilmu silat semacam Siu Bi. Mereka malu dan marah sekali,
akan tetapi untuk beberapa menit mereka tidak berdaya karena ketika terbanting tadi, muka mereka
mencium lumpur sehingga kini mereka sibuk membersihkan lumpur dari wajah mereka, menyumpahnyumpah
dan meludah-ludah.
Empat orang kawan mereka sudah datang berlari, diikuti para pekerja yang ingin melihat apa yang sedang
terjadi di situ. Pada saat para pekerja melihat teman-temannya berlutut menghadapi Siu Bi dan melihat
pula dua orang mandor merangkak dengan muka penuh lumpur seperti monyet, mereka segera mengerti
atau dapat menduga duduknya perkara. Tanpa banyak komentar lagi mereka segera menjatuhkan diri
berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala kepada Dewi Kwan Im yang menjelma sebagai gadis cantik
jelita dan sedang menolong mereka itu!
Empat orang mandor tadinya masih belum menduga apa yang terjadi, akan tetapi dua orang mandor yang
merangkak di lumpur itu segera berkaok-kaok, “Tangkap gadis setan itu, berikan padaku nanti!"
Mendengar ini, empat orang mandor lari menghampiri Siu Bi. Seorang di antara mereka yang berkumis
tikus membentak, "Bocah, siapa kau dan apa yang kau lakukan di sini?"
"Yang menjadi persoalan adalah apa yang kalian lakukan, bukan apa yang aku lakukan," suara Siu Bi
merdu dan nyaring sehingga para pekerja miskin itu makin percaya bahwa dara ini, tentulah penjelmaan
Kwan Im Pouwsat!
"Kalian berenam ini manusia ataukah sekumpulan binatang buas, menekan orang-orang miskin ini,
mencambuki mereka, menghina wanitanya. Yang barusan kulakukan hanyalah menendang dua orang
kawanmu itu sebagai pelajaran. Apa bila ternyata kalian serupa dengan mereka, kalian berempat pun akan
kuberi tendangan seorang sekali."
dunia-kangouw.blogspot.com
Dapat dibayangkan betapa marahnya empat orang itu. Mereka adalah mandor-mandor jagoan alias para
tukang pukul dari Bhong-loya (tuan tua she Bhong) yang menjadi lurah dan orang paling kaya di Pau-ling.
Semua sawah ladang adalah milik Bhong-loya, semua perahu besar adalah milik Bhong-loya.
Siapa berani menentang Bhong-loya yang mempunyai pengaruh besar pula di kota raja? Para pembesar
dari kota raja merupakan teman-temannya, para buaya darat adalah kaki tangannya, serta para mandor
adalah bekas-bekas jagoan dan perampok yang memiliki kepandaian. Sekarang anak perempuan yang
masih hijau itu berani memandang rendah mereka?
"Bocah setan, kau harus diseret ke hadapan Bhong-loya dan ditelanjangi, terus dipecut seratus kali sampai
kau menjerit-jerit minta ampun, baru tahu rasa!" bentak seorang di antara mereka. Akan tetapi baru saja
mulutnya tertutup, tubuhnya sudah terlempar ke dalam lumpur oleh sebuah tendangan kaki kiri Siu Bi!
Gerakan Siu Bi tadi cepat bukan main, tendangannya hanya tampak perlahan saja akan tetapi akibatnya
terlihat oleh semua orang. Tubuh si tukang pukul yang tinggi besar itu melayang bagaikan sehelai daun
kering tertiup angin.
Tiga mandor yang lain dengan marah menerkam maju. Mereka tak menggunakan aturan perkelahian lagi,
karena di samping kemarahan mereka, juga mereka merasa kagum dan tergila-gila akan kecantikan serta
kejelitaan yang jarang bandingannya di kota Pau-ling. Maka seakan berlomba mereka berusaha meringkus
dan memeluk gadis galak itu untuk memuaskan kemarahan dan kegairahan mereka.
"Brukkk!"
Ketiga orang itu mengaduh karena mereka saling tabrak dan saling adu kepala. Dalam kegemasan tadi
mereka menubruk berbareng, bagaikan tiga ekor kucing menubruk tikus. Akan tetapi yang ditubruk hilang,
yang menubruk saling beradu kepala.
Siu Bi tidak mau bertindak kepalang tanggung. Dengan gerakan yang cepat sekali kedua kakinya
menendang dan di lain saat tiga orang tukang pukul itu juga sudah terpelanting masuk ke dalam lumpur di
sawah.
"Lopek, kenapa mereka itu amat kejam terhadap kalian?" tanya Siu Bi kepada seorang petani tua yang
berlutut paling dekat di depannya, sama sekali ia tidak peduli lagi pada enam orang mandor yang kini sibuk
berusaha membuka mata yang kemasukan lumpur.
"Pouwsat (Dewi) yang mulia... kami adalah petani-petani dusun yang sengsara dan amat miskin... tolonglah
kami, karena sekarang sekedar untuk dapat makan kami telah diperas dan ditekan oleh Bhong-loya...
mereka itu adalah tukang-tukang pukul Bhong-loya..."
"Tan-lopek, mengapa kau begitu lancang mulut...?" tegur seorang petani di belakangnya yang nampak
ketakutan sekali. "Apa kau tidak takut akan akibatnya kalau Pouwsat sudah kembali ke kahyangan?"
Siu Bi menahan senyum, geli hatinya mendengar bahwa ia disebut Pouwsat. Dianggap Kwan Im! Mengapa
tidak? Kwan Im Pouwsat merupakan seorang dewi yang penuh kasih kepada manusia. Kata kongkongnya,
dunia kang-ouw banyak orang-orang pandai yang mempunyai nama julukan. Dia telah mewarisi
kepandaian tinggi, maka sudah sepatutnya memiliki nama julukan pula. Kwan Im? Nama julukan yang baik
sekali.
"Jangan takut. Aku akan membela kalian dan memberi hajaran kepada mereka yang jahat. Apakah
mandor-mandor ini jahat terhadap kalian?"
"Jahat?" Petani tua yang disebut Tan-lopek oleh temannya tadi mengulang kata-kata ini, mukanya
memperlihatkan bayangan kemarahan yang memuncak. "Mereka itu lebih jahat dari pada Bhong-loya
sendiri! Mereka seperti serigala-serigala kelaparan, entah berapa banyak di antara kami yang mereka
bunuh, mereka aniaya menjadi manusia-manusia cacat dan selanjutnya hidup sebagai jembel."
Semakin panaslah hati Siu Bi. Orang-orang jahat yang suka menganiaya dan membunuh orang patut
dihukum, pikirnya. Ketika ia membalikkan tubuh ke arah enam orang mandor itu, ternyata mereka telah
bangkit dari lumpur, berhasil mencuci muka dengan air sawah, lalu sekarang melangkah lebar sambil
mencabut pedang. Dengan sikap penuh ancaman mereka menghampiri Siu Bi, pedang di tangan, nafsu
membunuh terbayang pada mata mereka yang merah.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Setan betina. Berani kau main gila dengan para ngohouw (tukang pukul) Bhong-loya? Bersiaplah untuk
mampus dengan tubuh tercincang hancur!" teriak si kumis tikus sambil menerjang lebih dulu dengan
ayunan pedangnya.
Melihat gerakan mereka, Siu Bi memandang rendah. Mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang
mengandalkan kekuasaan saja, sama sekali tidak memiliki ilmu kepandaian yang berarti. Oleh karena ini ia
merasa tak perlu harus menggunakan pedangnya. Tanpa mencabut pedang, ia menghadapi serangan si
kumis tikus.
Dengan ringan ia miringkan tubuh, tangan kirinya menyambar. Pada waktu itu tangan kiri Siu Bi sudah
amat terlatih dan penuh terisi hawa Hek-in-kang. Ada bayangan sinar hitam berkelebat ketika tangan
kirinya bergerak. Tahu-tahu si kumis tikus berteriak keras dan terpelanting roboh, pedang di tangan
kanannya sudah berpindah ke tangan Siu Bi. Cepat laksana kilat menyambar, pedang itu membabat ke
bawah dan buntunglah tangan kanan si kumis tikus itu sebatas siku. Orangnya menjerit dan pingsan!
Lima orang kawannya segera menerjang dengan marah. Namun kali ini Siu Bi tidak mau memberi ampun
lagi. Pedang rampasan di tangannya berkelebat dan lenyap bentuknya sebagai pedang, berubah menjadi
sinar bergulung-gulung.
Terdengar jeritan susul-menyusul dan dalam beberapa jurus saja, lima orang itu sudah kehilangan lengan
kanan mereka sebatas siku. Agaknya, teringat akan janjinya kepada kakeknya, Hek Lojin, gadis ini apa bila
marah terdorong oleh nafsu membuntungi lengan orang, terutama orang-orang jahat, seperti enam orang
mandor ini, dan seperti Pendekar Buta Kwa Kun Hong beserta anak isterinya!
Dengan tenang Siu Bi membalikkan tubuh menghadapi para petani yang masih berlutut dan yang kini
semua pucat wajahnya karena ngeri menyaksikan peristiwa pembuntungan enam orang mandor itu. Di
dalam hati mereka merasa puas sebab ada ‘Sang Dewi’ yang membalaskan dendam mereka terhadap
mandor-mandor yang kejam itu, tetapi mereka juga amat takut akan akibatnya. Alangkah akan marahnya
Bhong-loya, pikir mereka.
"Para paman dan bibi, jangan kalian takut. Sekarang mari antarkan aku ke rumah orang she Bhong yang
sewenang-wenang itu. Jangan takut, aku akan menanggung semua perkara ini, kalian hanya mengantar
dan menonton saja."
Pada mulanya para petani itu ketakutan. Mendatangi rumah Bhong-loya? Sama dengan mencari penyakit,
mencari celaka. Akan tetapi petani tua itu bangkit berdiri.
"Mari, Pouwsat, saya antarkan. Biar nanti aku akan dipukul sampai mati, aku sudah puas melihat ada yang
berani membela kami dan memberi hajaran kepada manusia-manusia berwatak binatang itu."
Melihat semangat empek tua ini banyak pula yang ikut bangkit, tetapi hanya beberapa belas orang saja
dan semua laki-laki. Yang lain-lain tetap berlutut tak berani mengangkat muka. Akan tetapi bukan maksud
Siu Bi untuk mengajak banyak orang, karena yang ia kehendaki hanya petunjuk jalan agar ia tidak usah
mencari-cari di mana rumah manusia she Bhong itu.
Dengan wajah membayangkan perasaan geram dan nekat, belasan orang laki-laki yang sebagian besar
bertelanjang kaki dan berpakaian penuh tambalan itu mengantar Siu Bi menuju ke dalam dusun.
Rombongan ini tentu saja menarik perhatian banyak orang, apa lagi ketika mereka mendengar dari para
pengiring Siu Bi tentang perbuatan gadis jelita itu membuntungi lengan enam orang mandor di sawah.
Seketika keadaan dusun Pau-ling menjadi gempar, lebih-lebih saat para petani miskin itu menyatakan
tanpa keraguan bahwa dara jelita yang sedang mereka iringkan ini adalah penjelmaan Kwan Im Pouwsat!
Segera banyak orang ikut mengiringkan walau pun dari jarak agak jauh sebagai penonton, karena mereka
tidak ingin menimbulkan kemarahan Bhong-loya, maka tidak menggabungkan diri dengan rombongan
petani itu, melainkan sebagai rombongan penonton.
Gedung besar yang menjadi tempat tinggal Bhong-loya memang amat besar dan amat menyolok kalau
dibandingkan dengan kemelaratan di sekelilingnya. Bhong-loya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun
lebih, menjadi lurah di dusun itu sudah bertahun-tahun. Karena korupsi besar-besaran dan penghisapan
atas tenaga murah para petani yang dulunya sebagian besar merupakan pengungsi dari banjir besar
Sungai Huang-ho, maka dia menjadi kaya-raya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Betapa pun juga harus diakui bahwa Bhong-loya (tuan tua Bhong) yang sesungguhnya bernama Bhong
Ciat itu tidaklah seganas atau sekeji orang-orangnya. Bukan menjadi rahasia lagi bahwasannya anjinganjing
peliharaan penjaga rumah jauh lebih galak dan ganas dari pada majikannya. Para petugas rendahan
merupakan serigala-serigala buas yang selalu mengganggu rakyat miskin, tentu saja dengan bersandar
kepada kekuasaan dan pengaruh Bhong Ciat.
Ransum untuk para pekerja kasar yang telah ditentukan oleh Bhong Ciat hanya sebagian kecil saja sampai
di tangan para pekerja itu. Upah pun demikian pula, dicatut, dipotong, dikurangi banyak tangan-tangan
kotor sebelum sisanya yang tidak berapa itu masuk ke kantong para pekerja.
Celakanya, Bhong Ciat sudah terlalu mabuk dengan kesenangan serta kemuliaan, sama sekali tidak
memperhatikan keadaan rakyatnya, tidak tahu bahwa orang-orangnya sudah melakukan tekanan yang
amat keji. Dikiranya bahwa semua berjalan lancar dan licin, dan dia merasa bahagia di dalam rumah
gedungnya, setiap hari menikmati makanan lezat dilayani oleh selir-selir muda dan cantik.
Lebih celaka lagi bagi para penduduk miskin di Pau-ling, lurah Bhong memiliki seorang anak laki-laki,
bukan anak sendiri tetapi anak pungut karena Bhong Ciat tidak mempunyai keturunan sendiri, yaitu
seorang anak laki-laki yang sudah dewasa bernama Bhong Lam.
Pemuda inilah yang membuat keadaan menjadi makin berat bagi para penduduk karena Bhong Lam
merupakan pemuda yang selalu mengumbar nafsu-nafsu buruknya. Tak ada seorang pun wanita yang
muda dan cantik di dusun itu yang dapat hidup aman. Tidak peduli anak orang, isteri orang, siapa saja asal
gadis itu termasuk keluarga miskin, pasti akan dicengkeramnya.
Untuk maksud-maksud keji ini, Bhong Lam tidak segan-segan menghambur-hamburkan uang ayah
angkatnya. Setiap hari dia berpesta-pora, kadang-kadang bila sudah bosan di dusun lalu pergi pesiar ke
kota-kota lain diikuti rombongan tukang pukulnya dan di kota inilah dia menghamburkan uang dan main
gila.
Bhong Lam tidak hanya ditakuti karena dia putera angkat Bhong-loya, akan tetapi juga karena dia
merupakan seorang pemuda yang lihai ilmu silatnya. Dia pernah belajar ilmu silat pada seorang hwesio
Siauw-lim perantauan, dan terutama sekali permainan toyanya amat kuat sehingga semua tukang pukul
keluarga Bhong tidak seorang pun yang dapat mengalahkannya. Agaknya kepandaiannya inilah yang
membuat Bhong Lam makin lama semakin bertingkah, merasa seakan-akan dia sudah menjadi seorang
pangeran!
Sebagai keluarga yang paling berkuasa di Pau-ling, tentu saja banyak kaki tangannya. Banyak pula petanipetani
miskin yang berbatin rendah sehingga suka menjadi penjilat. Oleh karena itu, peristiwa di sawah tadi
sudah pula sampai kabarnya di rumah gedung Bhong Ciat sebelum rombongan yang mengiringkan Siu Bi
tiba di situ. Ada saja petani miskin yang lari lebih dulu dan dengan maksud menjilat mencari muka, lalu
melaporkan peristiwa di sawah kepada Bhong-loya.
Pada waktu itu, kebetulan sekali Bhong Lam juga berada di rumah. Mendengar tentang peristiwa itu
marahlah pemuda ini. Cepat-cepat dia menyambar toyanya dan menyatakan kepada ayah angkatnya
bahwa orang tua itu tidak perlu khawatir karena dia sendiri yang akan memberi hajaran kepada ‘dewi palsu’
itu.
Dengan geram Bhong Lam melompat dan lari keluar dari dalam gedung saat mendengar suara ribut-ribut
di luar gedung karena rombongan petani itu memang sudah tiba di sana. Kemarahan Bhong Lam
memuncak. Akan dia bunuh wanita jahat itu dan semua petani yang mengiringkannya. Tidak seorang pun
akan diberi ampun karena hal ini perlu untuk menakuti hati para petani agar tidak memberontak lagi.
"Setan betina, berani kau main gila?!" Bhong Lam melompat keluar sambil menudingkan telunjuknya.
Akan tetapi tiba-tiba dia berdiri terpaku dan biar pun telunjuk kirinya masih menuding dan toyanya dipegang
di tangan erat-erat, namun matanya terbelalak mulutnya ternganga. la melongo tanpa dapat mengeluarkan
suara, memandang wajah Siu Bi, seperti terpesona dan kehilangan semangat. Sungguh mati dia tidak
mengira sama sekali bahwa wanita yang telah membuntungi lengan enam orang mandornya adalah dara
secantik bidadari. Pantas saja disebut-sebut sebagai Dewi Kwan Im!
Belum pernah selama hidupnya dia melihat dara secantik ini, kecuali dalam alam mimpi dan dalam
dunia-kangouw.blogspot.com
gambar. Lebih suka dia rasanya untuk maju berlutut dan menyatakan cinta kasihnya dari pada harus
menghadapi dara ini sebagai lawan yang harus dibunuhnya.
Dibunuh? Wah, sayang! Lebih baik ditangkap dan... ah, belum pernah dia mendapatkan seorang dara
pendekar. Alangkah baiknya kalau dia berjodoh dengan gadis yang pandai ilmu silat pula seperti dia!
Senyum lebar menghias wajahnya yang tampan juga dan kini mulutnya dapat bergerak.
"Nona... eh, kau siapakah dan... eh, kudengar kau bertengkar dengan orang-orang kami? Bila mereka
berbuat salah terhadap Nona, jangan khawatir, aku yang akan menegur dan menghukum mereka!"
Jika saja dalam perjalanan ke rumah keluarga Bhong itu Siu Bi tak mendengar penuturan petani tua
tentang keadaan Bhong Ciat dan putera angkatnya, Bhong Lam, tentu ia akan tercengang dan heran
menyaksikan sikap dan mendengar omongan pemuda ini. Karena ia sudah mendengar bahwa pemuda
yang menjadi putera angkat keluarga Bhong, seorang ahli main toya, adalah pemuda yang paling jahat dan
yang mata kerajang, maka baginya sikap Bhong Lam ini merupakan sikap ceriwis, bukan sikap ramah
tamah.
Berkerut aiisnya yang kecil panjang ketika Siu Bi menodongkan pedang rampasannya sambit bertanya,
"Kaukah yang bernama Bhong Lam?"
"Aduh mati aku..." Bhong Lam bersambat dalam batinnya mendengar suara yang merdu itu. Baru bertanya
dengan nada marah saja sudah begitu merdu, apa lagi kalau suara itu dipergunakan untuk merayunya.
"Hayo jawab!" Siu Bi tak sabar lagl melihat pemuda itu memandangnya tak berkedip.
Bhong Lam sadar dan tersenyum dibuat-buat. "Betul, Nona. Silakan Nona masuk." Pada para petani itu
Bhong Lam berseru, "Kalian pergilah, kembali ke sawah. Tak ada urusan apa-apa di sini. Nona ini adalah
tamu agung kami, kesalah pahaman di sawah tadi habis sampai di sini saja."
"Siapa sudi mendengar omongan manismu yang beracun?!" Siu Bi membentak. "Kau adalah seorang yang
sangat jahat, mengandalkan kedudukan orang tua, mengandalkan harta benda dan kekuasaan untuk
melakukan perbuatan sewenang-wenang. Manusia macam engkau ini tidak ada harganya diberi hidup
lebih lama lagi."
Memang Siu Bi sangat marah dan benci kepada pemuda ini setelah tadi ia mendengar penuturan para
petani betapa pemuda ini sudah menghabiskan semua gadis muda dan cantik di dusun itu, juga merampas
isteri-isteri orang sehingga banyak timbul hal-hal yang mengerikan, banyak di antara wanita-wanita itu
membunuh diri. Sekarang melihat sikap pemuda ini yang ceriwis, matanya yang berminyak itu menatap
wajahnya dengan lahap, kemarahannya memuncak.
"Nona, antara kita tidak ada permusuhan. Aku mengundang Nona menjadi tamu..."
"Jahanam perusak wanita! Tidak usah kau berkedok bulu domba karena aku sudah tahu bahwa kau adalah
seekor serigala yang busuk dan jahat!"
Bhong Lam adalah seorang pemuda yang selalu dihormati serta ditakuti orang. Selama hidupnya, baru
sekali inilah dia dimaki-maki dan dihina. Walau pun dia tergila-gila akan kecantikan Siu Bi, namun darah
mudahnya bergolak ketika dia dimaki-maki seperti itu. Mukanya menjadi merah sekali, apa lagi melihat
betapa para petani itu masih belum mau pergi, memandang kepadanya dengan mata penuh kebencian.
"Keparat, kau benar-benar lancang mulut, tidak bisa menerima penghormatan orang. Kau kira aku takut
kepadamu? Kalau belum dihajar, kau belum tahu rasa, karena itu biarlah aku memaksamu tunduk
kepadaku dengan jalan kekerasaan!" Setelah berkata demikian, Bhong Lam menerjang maju sambil
memutar toyanya.
Dengan senyum mengejek Siu Bi berkelebat, menghindarkan terjangan toya dan balas menyerang. la
mendapat kenyataan bahwa kepandaian pemuda ini memang jauh lebih tinggi dari pada para mandor dan
tukang pukul yang tiada gunanya tadi, namun baginya, pemuda ini pun merupakan lawan yang empuk
saja.
Pada saat itu, terdengar suara berisik dan para tukang pukul berdatangan ke tempat itu sambil membawa
senjata. Jumlah tukang pukul keluarga Bhong ada dua puluh orang, dan kini mendengar berita bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
gedung majikan mereka didatangi seorang wanita yang mengamuk, tergesa-gesa mereka lari mendatangi.
Ketika mendengar bahwa ada enam orang teman mereka yang dibuntungi lengannya, mereka menjadi
marah sekali. Apa lagi saat melihat betapa Bhong-siauw-ya (tuan muda Bhong) mereka sekarang telah
bertempur melawan wanita itu dan sedang berada dalam keadaan terdesak, kemarahan mereka
memuncak dan tanpa diberi komando lagi, empat belas orang tukang pukul itu serentak maju mengeroyok.
Siu Bi tadi sudah mendengar keterangan para petani bahwa lurah itu mempunyai dua puluh orang tukang
pukul, maka melihat serbuan ini, maklumlah ia bahwa mereka semua sudah lengkap berkumpul di situ.
Memang inilah yang ia kehendaki, maka tadi ia tidak lekas-lekas merobohkan Bhong Lam, yaitu hendak
memancing datangnya semua tukang pukul, baru ia hendak turun tangan.
"Para paman, lihatlah aku membalaskan dendam kalian!" terdengar bentakan merdu dan nyaring di antara
hujan senjata itu. Para petani sudah gelisah sekali dan menggigil, maka mereka menjadi girang mendengar
suara ini.
Seiring dengan bentakan merdu dan nyaring itu, lenyaplah tubuh Siu Bi, berubah menjadi bayangan
berkelebat yang dibungkus sinar kehitaman. Pedang Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) dan Ilmu
Pukulan Hek-in-kang dipergunakan oleh gadis itu, dan akibatnya mengerikan sekali. Jerit dan tangis
terdengar susul-menyusul.
Tubuh para tukang pukul roboh bergelimpangan satu demi satu dengan cara yang cepat sekali. Paling
akhir Bhong Lam yang tadinya mainkan toya dengan ganas itu pun roboh tersungkur tak dapat berkutik
lagi.
Tak sampai seperempat jam lamanya, empat belas orang tukang pukul itu roboh semua dengan lengan
kanan terbabat putus. Sedangkan Bhong Lam sendiri roboh tak berkutik dan darah mengucur dari dadanya
yang telah tertembus pedang. Mandi darah dan hujan rintihan memenuhi halaman itu.
Para petani yang tadinya menonton dengan jantung berdebar-debar, sekarang tak berani memandang lagi.
Mereka adalah korban-korban kekejaman yang sudah sering disiksa, akan tetapi menyaksikan ini membuat
mereka menggigil dan tak berani memandang lagi. Mereka memang menaruh dendam dan ingin sekali
menyaksikan para penyiksa mereka itu terbalas dan terhukum, akan tetapi apa yang barusan dilakukan
oleh ‘Dewi Kwan Im’ ini benar-benar amat menyeramkan.
Empat belas orang dan enam orang mandor di sawah dibuntungi lengannya, sedangkan Bhong-kongcu
tewas. Semua tukang pukul merintih-rintih memegangi lengan kanan yang buntung dengan tangan kiri,
bingung melihat darahnya sendiri mengucur bagai pancuran.
Siu Bi bagaikan seekor harimau betina mencium darah. Dengan sikap beringas karena mengira bahwa
akan datang lagi antek-antek keluarga Bhong, dia kemudian menantang, "Hayo, bila masih ada binatangbinatang
keji penindas orang-orang miskin, majulah dan inilah lawanmu, aku Cui-beng Kwan Im!"
Seorang laki-laki setengah tua, yaitu Bhong-loya sendiri, alias lurah Bhong Ciat, diiringi isterinya, berlari
tersaruk-saruk keluar gedung dan menangislah pasangan suami isteri ini setelah melihat putera tunggal
mereka menggeletak mandi darah tak bernyawa lagi.
Pada waktu itu terdengar derap kaki kuda dan datanglah serombongan orang berkuda. Melihat pakaian
mereka, terang bahwa mereka adalah prajurit-prajurit istana, berjumlah dua puluh empat orang, dikepalai
oleh seorang muda yang amat gagah dan tampan.
"Minggir! Bun-enghiong (pendekar Bun) telah datang...!" teriak orang-orang yang tadinya berkumpul
memenuhi tempat itu, menonton kejadian yang hebat di depan gedung lurah Bhong.
Pemuda tampan itu memberi tanda dengan tangan, menyuruh barisannya berhenti. Dia sendiri melompat
turun dan atas kudanya dan lari memasuki pekarangan. Alisnya yang tebal itu bergerak-gerak dan matanya
terbelalak heran menyaksikan empat belas orang tukang pukul merintih-rintih dengan lengan buntung serta
Bhong-kongcu tewas ditangisi ayah bundanya.
Ada pun Bhong Ciat, ketika mendengar seruan orang-orang dan melihat pemuda gagah itu, segera
menangis sambil menyambut dan berlutut di depan pemuda itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aduh, Bun-enghiong... tolonglah kami... mala petaka telah menimpa keluarga kami, anak kami tewas...
orang-orang kami buntung semua lengan mereka... penasaran... sungguh penasaran...."
"Paman Bhong, siapa yang melakukan perbuatan keji itu?" Si pemuda tampan bertanya, pandang matanya
mencari-cari.
"Aku yang melakukan!" tiba-tiba terdengar bentakan halus.
Pemuda itu cepat memandang dan dia melongo. Sinar matanya yang tajam itu jelas tidak percaya, dan
sampai lama dia memandang Siu Bi. Kemudian dia tersenyum, sama sekali tidak mau percaya ketika dia
berkata,
"Nona, harap kau jangan main-main dalam urusan yang begini hebat. Lebih baik Nona tolong memberi
tahu siapa mereka yang telah melakukan pengamukan seperti ini."
"Siapa yang main-main? Huh, kalau hanya memberi hajaran kepada anjing-anjing ini saja apa sih
sukarnya? Biar mereka ada sepuluh kali banyaknya, semua akan aku robohkan!" Siu Bi menyombong, ada
pun pedangnya digerakkan melintang di depan dada, gerakan yang amat indah dan gagah.
Seketika berubah wajah pemuda tampan itu, sinar matanya menyinarkan kekerasan dan kekagetan.
"Nona siapakah?"
"Huh, baru bertemu tanya-tanya nama segala, mau apa sih? Kau sendiri siapa, lagaknya kayak pembesar,
datang-datang main urus persoalan orang lain!"
Pemuda itu cepat-cepat memberi hormat sambil menjura, bibirnya tersenyum dan untuk sedetik matanya
menyinarkan kegembiraan. "Nona, ketahuilah, aku yang rendah adalah Bun Hui. Bolehkah sekarang aku
tahu, siapa Nona?"
"Aku Cui-beng Kwan Im!" jawab Siu Bi berlagak, mengedikkan kepala membusungkan dada serta pandang
matanya menantang, memandang rendah, sungguh pun diam-diam dia kagum melihat pemuda yang
tampan dan gagah ini,
Bun Hui tercengang. Dia tahu bahwa nona itu menggunakan nama samaran atau nama julukan. Julukan
yang hebat dan tepat. Memang cantik jelita seperti Kwan Im, dan ganas seperti setan pengejar nyawa!
Dia mengingat-ingat. Sudah banyak dia mengenal tokoh-tokoh di dunia kang-ouw, lebih banyak lagi yang
sudah dia dengar namanya, namun belum pernah dia mendengar nama julukan Cui-beng Kwan Im! Apa
lagi kalau yang mempunyai nama itu seorang dara jelita seperti ini!
Sementara itu, petani tua yang tadi mempelopori kawan-kawannya kini mendekati Siu Bi dan berbisik,
"Pouwsat (dewi), dia adalah Bun-enghiong, putera Bun-goanswe (Jenderal Bun) yang amat berkuasa di
kota raja dan terkenal sebagai keluarga yang amat adil dan ditakuti pembesar macam Bhong-loya."
Siu Bi mengangguk-angguk, akan tetapi hatinya merasa dongkol. Jadi pemuda ini putera pembesar tinggi
yang ditakuti semua orang? Hemmm, dia tidak takut!
"Ehh, orang she Bun, kiranya kau putera pembesar yang katanya adil? Huh, siapa sudi percaya? Apa bila
kau atau ayahmu benar-benar adil, tentu tidak akan membiarkan para penduduk miskin dusun ini ditekan
dan dicekik oleh lurah Bhong beserta kaki tangannya. Karena kau dan ayahmu, meski pun merupakan
pembesar-pembesar tinggi namun tidak becus memberi hajaran kepada bawahanmu semacam anjinganjing
ini, maka aku yang turun tangan memberi hajaran. Sekarang kau mau apa? Mau membela mereka?
Boleh! Aku tidak takut!"
Bun Hui terheran-heran dan diam-diam dia amat kagum di samping kemarahannya akan kesombongan
dara ini. Ia menoleh ke arah Bhong Ciat yang masih berlutut, lalu bertanya, "Betulkah apa yang dikatakan
Nona ini, paman Bhong?"
Bhong Ciat adalah seorang yang pandai mengambil hati, karena kekayaannya dia pandai bermuka-muka
sehingga banyak pembesar di kota raja yang dapat dikelabui, mengira dia seorang yang baik dan pandai
mengurus kewajibannya. Tadinya Bun Hui juga mendapat kesan baik akan diri lurah ini, maka hari itu dia
dunia-kangouw.blogspot.com
hendak membelokkan tugas kelilingnya ke dusun Pau-ling.
"Bohong, Bun-enghiong, Nona itu mengatakan fitnah!" Bhong Ciat segera membantah. "Siapa yang
menindas orang? Harap tanyakan saja kepada para saudara petani."
Akan tetapi belum juga Bun Hui melakukan pertanyaan, para petani itu sudah serempak berteriak-teriak,
"Memang benar ucapan Pouwsat! Bertahun-tahun kami ditindas dan hidup sengsara di bawah telapak kaki
Bhong-kongcu dan kaki tangannya yang kejam! Bhong-loya tak tahu apa-apa, enak-enak saja di dalam
gedung tidak peduli akan keganasan puteranya, selalu berpihak kepada puteranya!"
Biar pun orang-orang itu bicara tidak karuan dan saling susul, namun isi teriakan-teriakan itu adalah cukup
bagi Bun Hui. Dia kini menghadapi Siu Bi kembali, yang masih berdiri tegak menantang.
"Nah, apakah kau masih hendak memihak lurah yang bejat moralnya ini? Boleh, aku tetap berpihak kepada
mereka yang tertindas!"
"Sabar, Nona. Aku tak berpihak kepada siapa-siapa, melainkan berpihak kepada hukum. Ketahuilah, oleh
yang mulia kaisar, ayahku diberi tugas untuk meneliti serta mengawasi sepak-terjang para petugas negara.
Kini, sebagai wakil ayah, aku menghadapi peristiwa ini. Bukanlah kewajibanku untuk mengambil keputusan
di sini, khawatir kalau-kalau aku terpengaruh oleh salah satu pihak kemudian dianggap tidak adil. Oleh
karena itu, aku persilakan Nona suka ikut bersamaku, juga paman Bhong, dan beberapa orang saudara
petani sebagai saksi. Apakah Nona berani menghadapi pemeriksaan pengadilan yang berwenang?"
Biar pun masih muda, baru dua puluh lewat usianya, Bun Hui memiliki kecerdikan yang berhubungan
dengan tugasnya mewakili ayahnya. Karena kecerdikannya inilah dia dapat menghadapi Siu Bi. Dia dapat
menyelami watak dara lincah yang tidak mungkin mau mengalah itu, oleh karena itu sengaja dia
menantang apakah Siu Bi berani menghadapi pemeriksaan pengadilan. Benar saja dugaannya, dengan
mata berapi gadis itu langsung membentaknya,
"Mengapa tidak berani? Hayo, biar pun malaikat sendiri datang mengadili, aku tidak takut karena aku
membela keadilan!" serunya.
"Bagus sekali!" Bun Hui berseru girang. "Nona betul-betul gagah perkasa. Banyak orang kang-ouw yang
tak mau tahu akan pemeriksaan pengadilan negara, seolah-olah mereka itu tidak bernegara dan tidak
mengenal hukum. Mereka lebih suka menjadi hakim sendiri menurut kehendak hati mereka, sehingga
terjadilah balas-membalas dan permusuhan di mana-mana."
Siu Bi mengerutkan keningnya. Ucapan ini tidak menyenangkan hatinya, sebab ia sendiri menganggap
dirinya merupakan seorang tokoh kang-ouw pula, biar pun belum ternama. "Karena mereka itu tidak
berani!" serunya ingin menang.
"Memang, karena mereka itu tidak berani, dan Nona tentu saja berani menghadapi apa saja."
"Tentu aku berani, takut apa? Kalau aku tidak bersalah, siapa pun juga akan kulawan dan kuhadapi
dengan pedangku!"
Bun Hui tersenyum. Ia segera memberi perintah kepada anak buahnya agar menyiapkan kuda. la sendiri
lalu memberikan kudanya kepada Siu Bi.
"Mari, Nona, ayo kita berangkat." Kepada para petani yang tidak ikut menjadi saksi, dia berkata, "Paman
sekalian harap rawat mereka yang terluka. Mulai saat ini juga di dusun Pau-ling tak lagi boleh terjadi
keributan, tidak boleh ada yang menggunakan kekerasan. Kalau terjadi sesuatu penasaran, harap lapor
kepadaku."
Berangkatlah rombongan itu. Siu Bi naik kuda di samping Bun Hui, di depan barisan. Lurah Bhong dan
enam orang petani saksi berada di tengah rombongan.
Para penduduk Pau-ling mengantar rombongan itu dengan pandangan mata mereka. Banyak yang
berlinang air mata karena girang, terharu akan tetapi juga khawatir akan keselamatan Siu Bi. Nama Cuibeng
Kwan Im akan tetap terukir di sanubari para petani miskin di Pau-ling karena sesungguhnya, sejak
Siu Bi turun tangan, penderitaan mereka lenyap, setelah di dusun itu diperintah oleh seorang lurah baru
dunia-kangouw.blogspot.com
yang adil sehingga tidak ada lagi terjadi pemerasan dan penindasan di situ.
Tak ada seorang pun yang tahu bahwa semenjak Siu Bi dikeroyok tadi, semua peristiwa dilihat oleh
sepasang mata yang sangat tajam, yang tadi memandang kagum, kemudian memandang khawatir ketika
melihat gadis itu turut pergi bersama rombongan Bun Hui. Tanpa diketahui siapa pun, pemilik sepasang
mata ini diam-diam mengikuti rombongan. Hebatnya, biar pun rombongan itu berkuda, dia dapat berlari
cepat dan tetap mengikuti di belakang rombongan.
Dia adalah seorang laki-laki muda, kurang dari tiga puluh tahun, pakaiannya sederhana, sikapnya halus
dan pendiam. Siapa lagi kalau bukan Si Jaka Lola, Yo Wan!
Seperti diketahui, Yo Wan meninggalkan Pegunungan Himalaya, dalam perantauannya menuju ke timur.
Tiba-tiba saja timbul pikirannya untuk mengunjungi Hoa-san. Ketika dia mengenangkan peristiwa di Hoasan
beberapa tahun yang silam, dia menyesalkan akan sikapnya sendiri yang telah mendatangkan garagara
di sana. la tidak perlu merasa takut, karena maksud kedatangannya sekarang hanya ingin
mengunjungi suhu dan subo-nya, untuk memberi hormat dan melihat keadaan kedua orang tua itu.
Gembira juga hatinya kalau memikirkan bahwa tentu sekarang Swan Bu, anak yang dulu sangat manja itu,
kini sudah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah. Tampan dan gagah, tak salah lagi.
Dahulu pada waktu kecil saja sudah memperlihatkan ketampanan dan kegagahan. la akan merasa bangga
melihat adik seperguruan ini.
Pada hari itu, secara kebetulan sekali dia tiba di dusun Pau-ling dan mendengar adanya keributan. Ketika
dia memasuki dusun, tepat dilihatnya seorang gadis remaja dikeroyok oleh banyak orang.
Dia tidak tahu akan persoalannya, maka ditanyakannya kepada seorang petani di antara banyak penonton
itu. Dan apa yang didengarnya benar-benar membuatnya kagum luar biasa. Gadis itu, yang berjuluk Cuibeng
Kwan Im, ternyata membela para petani miskin yang ditindas lurah, dan sekarang tengah dikeroyok
oleh tukang pukul-tukang pukul yang biasanya menyiksa penghidupan para petani miskin.
la kagum, akan tetapi juga khawatir kalau-kalau gadis pendekar itu akan celaka di tangan para tukang
pukul yang galak. Akan tetapi, betapa kagumnya menyaksikan sepak terjang gadis itu, sepak terjang yang
amat ganas dengan ilmu pedang serta ilmu pukulan yang dahsyat dan ganas pula.
Uap hitam yang keluar dari tangan kiri gadis itu! Terang merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa
beracun, sedangkan ilmu pedang yang juga bersinar hitam, semua ini membuktikan bahwa gadis itu
memiliki ilmu kepandaian dari golongan hitam. Akan tetapi harus diakui bahwa kepandaian gadis itu benarbenar
luar biasa!
Munculnya pemuda bernama Bun Hui mengagumkan hatinya, juga gerak-gerik pemuda itu mendatangkan
rasa suka di hatinya. Sekali pandang saja Yo Wan dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang
sembarangan. Langkah kakinya yang mantap, semua gerak-geriknya yang ringan, terang menjadi tandatanda
seorang ahli silat tinggi.
Maka diam-diam dia mentertawai gadis itu yang amat tinggi hati. Kau terlalu memandang rendah pemuda
ini, pikirnya. Betapa pun juga, dia mengkhawatirkan gadis perkasa yang agaknya masih hijau ini dan diamdiam
dia mengikuti dari jauh.
Gembira juga hati Siu Bi, kegembiraan yang timbul oleh kebanggaan. Ketika rombongan memasuki kota
Tai-goan, sebuah kota besar di sebelah barat kota raja, rombongan itu lantas menjadi tontonan banyak
orang. Dan terutama sekali, dirinya yang menjadi pusat perhatian para penonton. Dengan lagak angkuh ia
duduk di atas kudanya yang berjalan berendeng dengan kuda Bun Hui.
Di sepanjang jalan tadi ia tidak mempedulikan pemuda ini, juga Bun Hui tidak satu kali pun bicara dengan
Siu Bi. Walau pun di dalam hatinya Bun Hui amat kagum dan tertarik dengan gadis ini, akan tetapi dia
adalah seorang pemuda gagah yang menjunjung tinggi kesopanan, maka dia menahan perasaannya dan
tidak mau mengajak bicara Siu Bi di depan orang banyak.
Akan tetapi tidak sedetik pun perhatiannya beralih dari diri gadis di sampingnya. la heran sekali bagaimana
seorang gadis semuda dan sejelita ini dapat bersikap demikian ganas. Diam-diam dia menduga-duga,
murid siapakah gerangan gadis ini, siapa pula namanya. Ingin dia segera sampai di kota raja agar dalam
pemeriksaan dia akan dapat mendengar riwayat dara yang telah menjatuh bangunkan hatinya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siapakah pemuda ini sesungguhnya? Para pembaca cerita Pendekar Buta tentu telah mengenal ayah
pemuda ini yang bukan lain adalah Bun Wan, putera tunggal dari ketua Kun-lun-pai! Di dalam cerita
Pendekar Buta telah dituturkan bahwa Bun Wan menikah dengan seorang gadis lihai puteri majikan Pulau
Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau) yang bernama Giam Hui Siang.
Kemudian, karena jasa-jasanya dalam perjuangan membantu Raja Muda Yung Lo yang mengalahkan
keponakannya sendiri, setelah Yung Lo menggantikan kedudukan sebagai kaisar dan memindahkan ibu
kota dari selatan ke utara, Bun Wan diberi kedudukan tinggi sesuai dengan jasanya, malah pernah
menjabat sebagai seorang jenderal.
Dari perkawinannya dengan Giam Hui Siang, dia memperoleh seorang putera yang diberi nama Hui.
Kemudian, melihat watak Jenderal Bun yang sangat jujur keras dan adil, oleh kaisar Jenderal Bun diangkat
menjadi pengawas dan pemeriksa semua alat negara.
Kekuasaannya amat tinggi sehingga dengan pedang kekuasaannya yang diberikan oleh kaisar, Jenderal
Bun berkuasa memeriksa semua petugas, dari yang terendah sampai yang paling tinggi. Inilah yang
menyebabkan dia ditakuti dan disegani oleh para menteri sekali pun, karena jenderal ini terkenal sebagai
seorang yang berdisiplin, keras dan adil, tak mungkin bisa disuap dan tidak mengenal ampun pada para
pembesar yang korup.
Di samping keseganan, tentu saja Jenderal Bun ini mendapatkan banyak sekali musuh yang membencinya
secara diam-diam. Tetapi siapakah orangnya berani menentangnya secara berterang? Jenderal Bun selain
lihai ilmu silatnya, memiliki prajurit-prajurit pilihan, disayang dan dipercaya kaisar, dan di samping ini, masih
ada Kun-lun-pai sebagai partai persilatan besar yang seratus persen berdiri di belakangnya!
Jenderal Bun adalah seorang ahli silat Kun-lun-pai yang memiliki kepandaian tinggi. Juga Giam Hui Siang
isterinya adalah seorang ahli silat tinggi yang telah mewarisi kepandaian Ching-toanio majikan Pulau
Ching-coa-to. Tentu saja, sebagai putera Bun Hui semenjak kecil digembleng ayah bundanya sendiri
sehingga memiliki kepandaian yang hebat.
Pemuda ini mewarisi watak ayahnya, keras, jujur dan adil. Oleh karena inilah maka dia dipercaya oleh
ayahnya dan sering kali mewakili ayahnya yang sibuk dengan pekerjaan di Tai-goan, untuk mengadakan
pemeriksaan di wilayah yang dikuasakan oleh kaisar.
Pada hari itu, Bun-goanswe (Jenderal Bun) yang tengah sibuk di kamar kerjanya menjadi terheran-heran
ketika melihat puteranya pulang bersama seorang gadis cantik jelita yang sikapnya angkuh dan gagah,
diiringkan pula oleh lurah Bhong dari dusun Pau-ling dan beberapa orang petani miskin.
Lurah Bhong dan para petani segera menjatuhkan diri berlutut di depan meja jenderal itu. Akan tetapi Siu
Bi tentu saja tidak sudi berlutut, malah berdiri tegak dan memandang pria tinggi besar yang duduk di
belakang meja.
Dia melihat seorang laki-laki yang gagah, berusia sepantar ayahnya, pakaiannya seperti seorang panglima
perang. Matanya yang sebelah kanan buta, akan tetapi hal ini malah menambah keangkerannya. Mau tidak
mau Siu Bi menaruh segan dan hormat terhadap orang tua ini, maka dia diam saja, hanya memandang.
Sejenak Bun-goanswe menatap wajah Siu Bi, maklum bahwa gadis ini tentulah seorang gadis kang-ouw
yang tinggi hati dan merasa dirinya paling pandai. Maka dia tersenyum di dalam hati dan tidak menjadi
kurang senang melihat gadis remaja itu tidak mau memberi hormat kepadanya.
Dengan tenang Bun-goanswe mendengarkan penuturan Bun Hui mengenai keributan di dusun Pau-ling.
Tampak mata yang tinggal sebelah itu bersinar marah dan alisnya yang tebal hitam berkerut. Segera dia
menoleh ke arah lurah Bhong yang masih berlutut tanpa berani mengangkat mukanya.
"Lurah Bhong, benarkah pendengaranku bahwa kau memperlakukan penduduk desamu secara tidak adil,
melakukan tindakan sewenang-wenang mengandalkan kedudukanmu?"
"Mohon ampun, Taijin... hamba... hamba tidak merasa melakukan perbuatan sewenang-wenang. Ham...
hamba sudah tua... sudah jarang bekerja di luar... semua urusan hamba serahkan kepada petugas petugas
hamba..."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, sudah keenakan lalu bermalas-malasan dan bersenang di dalam gedung saja, ya? Melalaikan
kewajiban, tidak peduli akan keadaan penduduk, bersikap masa bodoh asal kau sendiri senang? Begitukah
sikap seorang kepala kampung? Tentang keributan antara anakmu dan orang-orangmu dengan Nona ini,
bagaimana?"
"Hamba kurang jelas... hanya gadis liar ini datang menyerang, membunuh anak hamba... juga melukai
semua petugas, membuntungi lengan mereka, tidak seorang pun selamat. Hamba... hamba mohon Taijin
sudi menghukum gadis liar ini, dia sangat jahat!"
Bun-goanswe menoleh ke arah Siu Bi, sinar matanya penuh selidik. Dia tak senang juga mendengar gadis
ini sudah membunuh orang dan membuntungi lengan dua puluh orang lebih. Sungguh ganas!
Akan tetapi Siu Bi menentang pandang matanya dengan berani, bahkan berkedip pun tidak. Sepasang
mata yang amat tajam, penuh ketabahan dan kekerasan hati. Seorang gadis berbahaya, apa lagi kalau
berkepandaian tinggi.
"Nona, kau siapakah?"
"Orang-orang dusun menyebutku Kwan Im Pouwsat, tetapi aku lebih senang memakai nama Cui-beng
Kwan-im," jawab Siu Bi, suaranya merdu dan lantang.
Bun-goanswe tak dapat menahan senyumnya, senyum maklum dan setengah mengejek. la pernah muda,
pernah dia melihat gadis-gadis kang-ouw seperti ini di waktu mudanya. Malah isterinya sendiri, dahulu lebih
ganas dari pada gadis ini!
"Namamu siapa? Siapa orang tuamu dan siapa pula gurumu?"
Siu Bi mengerutkan kening. Untuk apa tanya-tanya orang tua ini, pikirnya. Akan tetapi ia tidak berani
menjawab secara kurang ajar, hanya menjawab sewajarnya, "Tentang orang tuaku, kiranya tidak perlu
disebut-sebut di sini. Namaku Siu Bi, dan mengenai guruku... hemmm, mendiang guruku berjuluk Hek
Lojin."
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bun-goanswe mendengar nama ini. Di dalam cerita Pendekar
Buta telah diceritakan betapa dia dan isterinya pernah bertemu dengan Hek Lojin dan terluka hebat,
mungkin binasa kalau tidak ditolong oleh Kwan Kun Hong Si Pendekar Buta!
Hek Lojin adalah seorang kakek iblis, yang dulu pernah hampir membunuh dia bersama isterinya. Dan
sekarang muridnya, gadis yang tentu juga seorang gadis iblis pula, berdiri di depannya Kalau saja Bungoanswe
bukan seorang tua yang pengalamannya sudah matang, berwatak adil dan pandai
menyembunyikan perasaan, tentu dia sudah melompat untuk menerjang murid bekas musuhnya ini. la
menekan perasaannya dan mengangguk-angguk.
“Mengapa kau membunuh putera lurah Bhong dan membuntungi lengan banyak orang?" tanyanya,
sikapnya masih tetap tenang akan tetapi suaranya sekarang tidak sehalus tadi, terdengar agak ketus
sehingga Bun Hui yang mengenal watak ayahnya, mengangkat muka memandang.
Siu Bi mengedikkan kepala, mengangkat kedua pundak, gerakan yang membayangkan bahwa dia tidak
peduli. "Harap kau orang tua suka tanya saja kepada para petani ini bagaimana duduknya perkara yang
sebenarnya. Kalau benar seperti yang kudengar dari paman tani bahwa kau seorang pembesar yang adil,
tentu kau akan menghukum lurah brengsek ini, kalau tidak, akulah yang akan turun tangan memberi
hajaran kepadanya!" Siu Bi mengerling kepada lurah Bhong dengan pandang mata jijik.
Merah muka Bun-goanswe. Seorang bocah berbicara seperti itu di depan banyak orang, benar-benar hal
ini amat merendahkannya. Akan tetapi dia bertanya, "Dengan cara apa kau hendak menghajarnya?"
Siu Bu menepuk gagang pedangnya. "Dengan ini! Mungkin akan kulepaskan kedua daun telinganya yang
terlalu lebar itu.”
Menggigil tubuh lurah Bhong mendengar ini, bahkan kedua telinganya bergerak-gerak seperti telinga
kelinci saking ngeri hatinya. Bun Hui yang otomatis melirik ke arah telinga lurah itu, menahan rasa geli di
dalam hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bun-goanswe lalu bertanya kepada para petani. Mereka ini serta-merta, sambil berlutut dan menempelkan
jidat pada lantai, menceritakan penderitaan mereka sedusun, tentang perbuatan sewenang-wenang dari
Bhong-kongcu dan para kaki tangannya, juga tentang perampasan wanita, perampasan sawah ladang,
pemerasan dan mengenai upah yang tidak cukup mereka makan sendiri.
Kemarahan Bun-goanswe membuat mukanya semakin merah lagi. Ada seorang lurah macam ini di dalam
wilayah yang dikuasakan kepadanya, benar-benar amat memalukan!
"Hemmm, urusan ini harus kuselidiki sendiri di Pau-ling. Kalau betul lurah ini sewenang-wenang, akan
kuhukum dan kuganti. Sebaliknya, pembunuhan dan penganiayaan berat sampai membuntungi lengan dua
puluh orang, bukanlah hal kecil seakan-akan di sini tak ada hukum yang berlaku lagi. Perkara ini akan
diputuskan besok setelah aku meninjau ke sana. Nona, kau harus ditahan semalam ini, serahkan
pedangmu padaku. Tidak ada tahanan yang boleh membawa pedang atau senjata lain."
Siu Bi merah mukanya, hendak marah. Akan tetapi Bun Hui melangkah maju dan berkata halus, "Harap
Nona suka mengindahkan peraturan dan hukum di sini, percayalah bahwa ayah akan memberi keadilan
yang seadil-adilnya. Melawan akan menjerumuskan Nona ke dalam urusan yang lebih besar lagi. Pedang
itu hanya disimpan dulu di sini, tidak akan hilang. Besok kalau urusan selesai, Nona tentu akan
menerimanya kembali."
Karena sikap Bun Hui yang ramah dan halus sopan, Siu Bi mengalah. Dia pikir tidak ada gunanya
mengamuk di sini. Dia melihat jenderal mata satu itu sangat berwibawa, juga tampaknya gagah perkasa,
demikian pula pemuda ini. Dan di situ tampak pula barisan pengawal yang bersenjata lengkap, sungguh
tak boleh dipandang ringan. Jika melawan seorang pembesar tinggi sama dengan memberontak,
pengetahuan ini sedikit banyak ia dapatkan dari ayah dan mendiang kakek gurunya.
"Boleh, andai kata tidak dikembalikan pun, apakah aku tidak akan dapat mengambilnya kembali?" Siu Bi
berkata sambil meloloskan pedang berikut sarung pedangnya. Pedang Cui-beng-kiam ia letakkan di atas
meja depan Bun-goanswe yang memandangnya penuh selidik.
Bun-goanswe memerintahkan orang-orangnya untuk menggiring Bhong Ciat serta enam orang petani ke
dalam kamar tahanan, kemudian setelah semua orang itu dibawa pergi, dia berkata kepada puteranya,
"Bawa Nona ini ke kamar tahanan di belakang, suruh jaga, jangan boleh dia bermain gila sebelum urusan
ini selesai."
Mendongkol juga hati Siu Bi mendengar ini, "Orang tua, kuharap saja besok urusan ini sudah harus
selesai. Aku tidak punya banyak waktu untuk tinggal di sini, apa lagi menjadi orang tahanan. Aku
mempunyai urusan penting di Liong-thouw-san!"
Mendengar ini makin terkejutlah Bun-goanswe. Liong-thouw-san adalah tempat tinggal Pendekar Buta,
sahabat sekaligus penolongnya. Mau apa murid Hek Lojin ini pergi ke Liong-thouw-san?
"Hemmm, ke Liong-thouw-san, ada urusan apakah? Atau, kau tidak berani mengatakan kepadaku karena
di sana hendak melakukan sesuatu yang jahat?" Ternyata jenderal ini menggunakan akal seperti yang
dipakai puteranya, memancing dengan memanfaatkan ketinggian hati gadis itu!
"Mengapa tidak berani? Apa yang hendak kulakukan di sana, siapa pun di dunia ini tidak bisa melarangku!
Aku akan... membuntungi lengan beberapa orang di sana!" Gadis itu memandang Bun-goanswe dengan
pandang mata seakan berkata, "kau mau apa?!"
Bun-goanswe tercengang. "Lengan siapa yang hendak kau buntungi lagi? Agaknya kau mempunyai
penyakit ingin membuntungi lengan orang!" serunya.
Akan tetapi tanpa dijawab dia sudah dapat menduga. Lengan siapa lagi kalau bukan lengan Pendekar Buta
yang akan dibuntungi gadis itu? Dia sudah mendengar tentang pertempuran hebat antara Pendekar Buta
dan musuh-musuhnya, dan betapa lengan Hek Lojin buntung dalam pertandingan itu oleh Pendekar Buta.
Mengingat betapa gadis yang masih hijau ini mengancam hendak membuntungi lengan Pendekar Buta, tak
dapat ditahan lagi Bun-goanswe tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, kau hendak membuntungi lengannya dengan pedang ini?" Dia lalu mencabut pedang itu dan
tiba-tiba dia terbelalak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pedang itu adalah pedang yang mempunyai sinar hitam dan mengandung hawa dingin yang amat jahat.
Diam-diam dia bergidik dan memasukkan kembali pedang itu ke dalam sarungnya.
"Hui-ji (anak Hui), antarkan dia ke dalam tahanan besar."
"Mari, Nona," ajak Bun Hui yang mukanya berubah pucat.
Pemuda ini tadi juga kaget sekali mendengar maksud gadis ini pergi ke Liong-thouw-san untuk
membuntungi lengan orang. Dia sudah mendengar dari ayahnya tentang Pendekar Buta, pendekar besar
yang menjadi sahabat dan penolong ayahnya, orang yang paling dihormati ayahnya di dunia ini. Dan gadis
ini hendak pergi ke sana membuntungi lengan pendekar itu!
Dia mengerti kehendak ayahnya. Gadis ini berbahaya dan merupakan musuh besar dari Pendekar Buta,
harus ditahan di dalam kamar tahanan besar, yaitu kamar tahanan di belakang yang paling kuat, berpintu
besi dengan jeruji baja yang amat kuat, cukup kuat untuk mengeram seekor harimau yang liar sekali pun!
Bun Hui berduka. Dia amat tertarik kepada gadis ini, ingin dia melihat gadis ini menjadi sahabat baiknya,
melihat gadis ini berbahagia. Siapa duga, keadaan menghendaki lain. Gadis ini harus dikeram dalam
kamar tahanan, dan justru dia yang harus melakukannya. Dia sedih, akan tetapi tanpa bicara sesuatu dia
mengantarkan Siu Bi ke belakang. Gadis itu pun tanpa banyak cakap mengikuti, mengagumi gedung besar
yang menjadi kantor dan rumah tinggal Jenderal Bun.
"Silakan masuk, Nona. Jangan khawatir, ayah adalah seorang yang adil. Nona pasti akan diperlakukan
dengan baik," katanya, akan tetapi suaranya agak gemetar karena dia tidak percaya kepada omongannya
sendiri.
Begitu Siu Bi masuk, pintu ditutup dan dikunci dari luar oleh Bun Hui. Siu Bi kaget dan marah. "Kenapa
harus dikurung seperti binatang liar? Tempat apa ini?" teriaknya.
Bun Hui menjawab sambil menunduk. "Nona, sungguh aku menyesal sekali. Akan tetapi, kau... kau..." Bun
Hui tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan segera berlari pergi dari situ. Wajahnya pucat, nafasnya
terengah-engah dan dia langsung lari ke kamarnya untuk menenteramkan hatinya yang tidak karuan
rasanya.
Siu Bi membanting-banting kedua kakinya. Didorongnya daun pintu, akan tetapi daun pintu yang dicat
seperti daun pintu kayu itu ternyata terbuat dari besi yang amat kuat. la memeriksa ruangan tahanan itu.
Cukup luas, akan tetapi di kanan kiri tembok tebal, di sebelah belakang terbuka dan dihalangi jeruji baja
yang besar dan kokoh kuat.
Tidak mungkin dia sanggup merusak pintu atau jeruji itu untuk membebaskan diri hanya mengandalkan
tenaganya saja. Namun Siu Bi masih penasaran. la mengerahkan tenaga Hek-in-kang, lalu
menghantamkan kedua tangan ke arah jeruji.
Terdengar suara berdengung keras dan bergema, seluruh kamar tahanan itu tergetar, akan tetapi jeruji
tidak menjadi patah. Dia mencoba pula untuk menarik jeruji agar lebar lubangnya supaya ia dapat lolos
keluar, akan tetapi sia-sia. Jeruji baja itu amat kuat dan tenaga gwakang (tenaga luar) yang ia miliki tidak
cukup besar. Tenaga Iweekang (tenaga dalam) memang tiada artinya lagi kalau menghadapi benda mati
yang tak dapat bergerak seperti pintu dan jeruji yang terpasang mati di tempat itu.
Siu Bi membanting-banting kedua kakinya, berjalan hilir-mudik seperti seekor harimau liar yang baru saja
dimasukkan kerangkeng. Biar pun besok ia akan dibebaskan, ia merasa terhina dengan dimasukkan dalam
kamar tahanan seperti kerangkeng binatang ini.
Sore hari itu, hanya beberapa jam kemudian, seorang penjaga datang dan mengulurkan sebuah baki terisi
mangkok nasi dan masakan, juga minuman yang cukup mahal. Namun hampir saja pengawal itu remuk
lengannya kalau saja dia tidak cepat-cepat menariknya keluar karena Siu Bi sambil memaki telah
menerkam tangan itu untuk dipatahkan!
Siu Bi marah sekali, lalu memaki-maki sambil menyambar baki dan isinya. Mangkok dan sumpit
beterbangan menyambar keluar dari sela-sela jeruji dan menyerang pengawal itu yang segera lari
tunggang-langgang! Siu Bi makin jengkel apa bila mengingat betapa dia telah menyerahkan pedangnya
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada Jenderal Bun. Andai kata pedang Cui-beng-kiam berada di tangannya, tentu dia dapat membabat
putus jeruji-jeruji ini.
Malam tiba dan Siu Bi menjadi agak tenang. Akhirnya dia berpendapat bahwa semua kemarahannya itu
tiada gunanya sama sekali. Tubuhnya menjadi letih sekali, pikirannya bingung dan... perutnya lapar!
Mengapa dia tidak menerima sabar saja sampai besok. Kalau dia sudah bebas dan mendapatkan
pedangnya kembali, mudah saja baginya untuk mengumbar nafsu amarah. Sedikitnya dia akan memakimaki
jenderal dan puteranya itu sebelum dia melanjutkan perjalanannya.
Pikiran ini membuat dia tenang. Dibaringkannya tubuhnya yang sangat lelah itu di atas sebuah dipan kayu
yang terdapat di ujung kamar tahanan. Lebih baik mengaso sambil memulihkan tenaga, siapa tahu besok
ia harus menggunakan banyak tenaga, pikirnya. la kemudian bangkit dan duduk bersila, bersemedhi
mengumpulkan tenaga serta mengatur pernafasan.
"Nona... maafkan aku..."
Semenjak tadi memang agak sukar bagi Siu Bi untuk dapat bersemedhi dengan tenang. Perutnya sangat
terganggu, berkeruyuk terus! la membuka mata dan menoleh. Biar pun kamar tahanan itu buruk, sedikitnya
di waktu malam tidak gelap, mendapat sinar lampu besar yang dipasang di luar. Bun Hui berdiri di luar
jeruji, membawa sebuah baki terisi makanan dan minuman.
"Mau apa kau?!" bentak Siu Bi timbul kembali kemarahannya.
"Nona, maafkan kalau tadi pelayan yang mengantar makanan kurang sopan. Sekarang aku sendiri yang
mengantar makanan dan minuman, harap Nona sudi menerima. Tidak baik membiarkan perut kosong.
Silakan, Nona."
Dengan kedua tangannya Bun Hui mengulurkan dan memasukkan baki itu ke dalam kamar tahanan
melalui sela-sela jeruji yang cukup lebar untuk dimasuki baki yang kecil dan panjang itu.
Sejenak timbul niat di hati Siu Bi untuk membikin celaka pemuda putera Jenderal Bun ini dengan cara
menangkap dan mematahkan kedua lengannya. Akan tetapi niat ini segera diurungkannya ketika dia
memandang wajah yang ramah, tampan dan kelihatan agak bersedih ini.
"Ayahmu menahanku dalam kerangkeng, mengapa kau pura-pura berbaik hati padaku? Jangan kira kau
akan dapat menyuapku hanya dengan makanan dan minuman ini. Apa artinya kau mengantar sendiri ini?
Hayo katakan, kalau hendak menyuap, lebih baik aku mati kelaparan!"
"Ahh, kau terlalu berprasangka yang bukan-bukan dan yang buruk terhadap diriku, Nona. Di antara kita tak
ada permusuhan, kenapa kami akan mencelakakanmu? Hanya karena persoalan itu baru beres besok,
terpaksa ayah menahanmu, juga lurah Bhong dan para saksi. Harap Nona suka memaafkan aku dan suka
bersabar untuk semalam ini."
”Hemmmm, begitukah? Muak aku akan segala aturan dan hukum ini!" kata Siu Bi, akan tetapi suaranya
tidak seketus tadi.
Bun Hui girang hatinya, lalu berkata, "Silakan makan, Nona, aku takkan mengganggumu lagi."
Dan pemuda itu segera pergi dari situ. Andai kata pemuda itu tetap berada di tempat itu, agaknya Su Bi
takkan sudi menyentuh makanan dan minuman itu. Akan tetapi sekarang, ditinggalkan seorang diri,
matanya mulai melirik baki dan melihat masakan mengepulkan uap yang sedap dan gurih, perutnya makin
menggeliat-geliat.
Setelah celingukan ke kanan kiri dan merasa yakin bahwa di situ tidak ada orang yang melihatnya,
mulailah Siu Bi makan. Setelah kenyang, ia sengaja melemparkan baki dan semua isinya keluar jeruji
sehingga mangkok-mangkok itu pecah. Isinya, yaitu sisa yang ia makan, tumpah ruah tidak karuan.
Dengan begitu, takkan ada yang tahu apakah tadi ia makan dan minum isi baki ataukah tidak!
Suara berisik ini diikuti datangnya Bun Hui. "Kenapa...? Kenapa kau buang makanan dan minuman itu,
Nona?"
"Ihhh, siapa sudi…?" Siu Bi tidak melanjutkan kata-katanya dan diam-diam dia mengusap pinggir mulutnya
dunia-kangouw.blogspot.com
dengan lengan baju.
"Nona, maafkan aku. Aku sengaja datang untuk bicara sedikit denganmu."
"Mau bicara, bicaralah, mengapa banyak cerewet?" Siu Bi sengaja bersikap galak.
Pemuda itu makin bingung dibuatnya, tampak maju mundur untuk mengeluarkan isi hati. "Nona Siu Bi, aku
tidak tahu mengapa kau berniat mengacau ke Liong-thouw-san. Akan tetapi, ketahuilah bahwa yang tinggal
di sana adalah pendekar besar Kwa Kun Hong yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta. Beliau adalah
seorang pendekar besar yang menjagoi dunia persilatan, tidak hanya terkenal karena kesaktiannya, juga
karena kegagahan dan pribudinya. Oleh karena itu Nona, kuharap dengan sangat, apa pun juga
alasannya, kau batalkan saja niatmu itu.”
Siu Bi melotot. "Apa?! Apa pedulimu? Apamukah Pendekar Buta?"
"Bukan apa-apa, hanya dia satu-satunya manusia yang paling dihormati ayah!”
"Wah, celaka! Aku masuk perangkap musuh! He, orang she Bun, kalau memang kau dan ayahmu orangorang
gagah, kalau memang mau membela Pendekar Buta, hayo cepat lepaskan aku, kembalikan
pedangku lalu kita bertempur dengan cara orang-orang gagah. Mengapa menggunakan akal curang untuk
menahanku di sini?"
"Wah, harap Nona bersabar dan jangan salah sangka. Niatku hanya untuk menolongmu keluar dari
kesulitan, Nona. Aku tak akan mencampuri urusanmu dengan siapa pun juga, sungguh pun sedih hatiku
melihat engkau memusuhi Pendekar Buta di Liong-thouw-san. Maksudku, kalau saja besok kau suka
berkata kepada ayah bahwa kau membatalkan niatmu memusuhi Pendekar Buta di Liong-thouw-san, tentu
kau akan mudah dibebaskan. Setelah bebas, terserah kepadamu. Ini hanya untuk menolongmu, Nona..."
"Ihhh, apa maksudmu dengan pertolonganmu ini? Hayo bilang, orang she Bun, jangan bersembunyi di
balik kata-kata manis. Kenapa kau begini ngotot hendak menolongku?"
Wajah pemuda itu merah seluruhnya. Sukar sekali menjawab pertanyaan yang berupa serangan tiba-tiba
ini. "Kenapa? Ah... kenapa, ya? Aku sendiri tidak tahu pasti, Nona... hanya agaknya... aku tidak suka bila
melihat kau mendapatkan kesukaran. Aku kagum kepadamu, Nona... aku... aku ingin menjadi sahabatmu.
Nah, itulah! Aku ingin menjadi sahabat baikmu karena aku kagum dan suka padamu."
Kini Siu Bi yang tiba-tiba menjadi merah sekali wajahnya. Celaka, pikirnya. Pemuda ini benar-benar tidak
tahu malu, terang-terangan bilang suka dan kagum dan ingin menjadi sahabat baik! Sekarang dia yang
kebingungan dan tidak segera dapat membuka mulut.
"Sejak aku melihat kau menolong petani-petani miskin, lalu dengan gagah kau melawan tukang-tukang
pukul jahat di Pau-ling itu, aku amat kagum dan tertarik kepadamu, Nona. Aku tahu, juga ayah tentu yakin
bahwa dalam urusan ini kau tidak bersalah malah kau berjasa bagi peri kemanusiaan, bagi kebenaran dan
keadilan, kau telah menolong yang tergencet, menghajar yang menindas. Akan tetapi, hukum tetap hukum
yang harus ditaati dan dilaksanakan dengan tertib. Bila mana ayah mengambil keputusan begitu saja tanpa
mengadili terus membenarkan kau, apa akan kata orang? Terhadap urusan di Pau-ling itu, aku tidak
khawatir sama sekali. Akan tetapi urusan kedua ini... ahhh, kau tidak tahu, Nona. Ayah pasti akan
mencegah maksud hatimu itu, bukan sekedar karena menjadi sahabat baik, akan tetapi masih ada ikatan
keluarga. Ketahuilah bahwa isteri Pendekar Buta adalah enci angkat dari ibuku. Nah, kau tahu betapa tidak
bijaksananya kalau kau mengaku akan hal itu di depan ayah!"
"Ahhh, begitukah? Jadi kau masih keponakan isteri musuh besarku? Wah, celaka, aku terjebak. Tentu kau
mengajakku ke sini untuk menipuku... ahhh, mengapa aku begitu bodoh?"
"Nona, harap jangan bicara begitu. Urusan itu baru kami ketahui setelah kau berada di sini dan
mengakuinya di depan ayah. Aku... aku tidak memandang kau sebagai musuh, sebaliknya dari itu. Aku
bersedia menolongmu, Nona. Aku akan membujuk ayah untuk membebaskanmu, asal saja kau suka
berjanji kepada ayah bahwa kau takkan memusuhi Pendekar Buta..."
"Aku mau memusuhi siapa pun juga, apa pedulinya dengan kau?"
"Nona..." suara Bun Hui penuh penyesalan, akan tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat
dunia-kangouw.blogspot.com
itu berkelebat bayangan orang dan seorang wanita setengah tua yang cantik telah berdiri di sebelah Bun
Hui.
"Ibu... kau di sini...?" Bun Hui bertanya gagap.
"Hui-ji (anak Hui), aku mendengar dari ayahmu bahwa ada seorang gadis liar yang mengancam hendak
menyerbu ke Liong-thouw-san dan membuntungi lengan Kun Hong dan enci Hui Kauw? Mana dia? Apakah
ini?" telunjuk yang runcing menuding ke arah Siu Bi yang memandang dengan bengong.
Wanita itu bukan main cantiknya, suaranya nyaring, matanya bersinar-sinar. Pakaiannya sangat indah
namun tidak mengurangi gerakannya yang gesit tanda bahwa nyonya ini mempunyai ilmu kepandaian yang
tinggi. Siu Bi kagum. Alangkah jauh bedanya dengan ibunya sendiri. Ibunya wanita lemah.
"Betul, Ibu. Aku... aku sedang membujuknya supaya tidak melanjutkan maksud hatinya itu," kata Bun Hui
sambil menundukkan muka, khawatir kalau-kalau ibunya akan dapat membaca isi hatinya.
Wanita itu adalah Giam Hui Siang. Seperti telah diceritakan di bagian depan, wanita ini adalah puteri dari
Ching-toanio. Ilmu kepandaiannya amat tinggi dan di waktu mudanya ia sendiri merupakan seorang gadis
yang selain cantik dan lihai, juga amat ganas, malah pernah bentrok dengan cici angkatnya dan Kwa Kun
Hong. Kini dia melangkah maju dan memandang Siu Bi penuh perhatian. (baca Pendekar Buta)
"Kau anak siapa? Kenapa hendak memusuhi Pendekar Buta dan isterinya?" la bertanya memandang
tajam.
Ditanya tentang orang tuanya, hati Siu Bi menjadi panas dan jengkel. la bukan anak The Sun yang
semenjak kecil ia anggap seperti ayah sendiri. Semenjak rahasia bahwa ia bukan anak The Sun ia ketahui
dari ucapan Hek Lojin, ia pun tidak mau mengaku The Sun sebagai ayahnya lagi. la sendiri tidak tahu
siapakah orang tuanya, atau lebih tepat lagi, siapa ayahnya.
la tidak pernah meragu bahwa ia bukan anak ibunya. Mudah saja diketahui akan hal ini. Wajahnya serupa
benar dengan wajah ibunya. Akan tetapi ayahnya? la tidak tahu!
Karena pertanyaan itu membuatnya mendongkol, maka ia menjawab seenaknya. "Sejak tadi sudah
kukatakan bahwa orang tuaku tidak perlu disebut-sebut di sini. Aku memusuhi Pendekar Buta karena aku
benci kepadanya, karena dia memang musuh besarku. Habis perkara."
Giam Hui Siang tercengang mendengar jawaban dan melihat sifat berandalan ini. Dia lalu teringat akan
masa mudanya. Dia dahulu juga seperti nona ini, penuh keberanian, penuh kepercayaan akan kepandaian
sendiri. Apakah nona ini selihai dia? Mungkinkah ia dapat mengalahkan Pendekar Buta dan cici-nya yang
amat lihai itu?
Diam-diam ia mengharapkan akan ada orang yang dapat mengalahkan Pendekar Buta, kalau perlu dapat
membuntungi lengannya dan lengan Hui Kauw! Diam-diam nyonya ini masih merasa mendendam dan
benci kepada Pendekar Buta dan isterinya. Hal ini ada sebabnya.
Pertama karena ketika dia masih muda, dua orang itu pernah menjadi musuhnya. Kedua kalinya, karena
suaminya, Bun Wan, menjadi buta sebelah matanya karena Pendekar Buta pula. Sungguh pun suaminya
itu membutakan sebelah mata sendiri karena malu dan menyesal atas perbuatannya sendiri yang
menyangka buruk kepada Pendekar Buta, tapi secara tidak langsung, suaminya buta karena Pendekar
Buta (baca cerita Pendekar Buta)!
Inilah sebabnya terselip rasa dendam di sudut hati kecil nyonya ini. Akan tetapi, apakah mungkin dara
remaja yang masih setengah kanak-kanak ini dapat melawan Kun Hong?
"Lihat senjata!" tiba-tiba Giam Hui Siang berseru nyaring.
Tangannya bergerak dan sinar hijau menyambar ke arah Siu Bi, melalui sela-sela jeruji baja. Itulah belasan
batang jarum Ching-tok-ciam (Jarum Racun Hijau), senjata rahasia maut dari Ching-coa-to yang sangat
ditakuti lawan karena selain halus juga amat cepat menyambarnya, apa lagi racunnya amat ampuh. Lebih
hebat lagi, serangan ini masih ia susul dengan pukulan jarak jauh oleh sepasang lengannya yang
didorongkan ke depan!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ibu...!"
Bun Hui terkejut bukan main, namun tidak sempat mencegah karena gerakan ibunya itu sama sekali tidak
pernah disangka sebelumnya. Dia maklum akan kehebatan serangan ibunya ini, maka dengan muka pucat
dia memandang kepada Siu Bi.
Siu Bi juga terkejut menghadapi serangan mendadak itu. Akan tetapi karena sejak tadi ia sudah mengambil
sikap bermusuhan, tentu saja ia waspada dan tidak kehilangan akal. la mengerahkan Hek-in-kang
kemudian menggerakkan dua lengannya menyampok sambil mendoyongkan tubuh ke kiri, lalu ia susul
dengan dorongan ke muka yang mengandung tenaga Hek-in-kang yang amat kuat.
Giam Hui Siang dan Bun Hui hanya melihat uap menghitam bergulung dari kedua lengan Siu Bi dan pada
lain saat tubuh Hui Siang sudah terhuyung-huyung ke belakang. Hampir saja nyonya ini roboh terjengkang
kalau dia tidak lekas-lekas melompat dan berjungkir balik. Wajahnya menjadi pucat, akan tetapi mulutnya
tersenyum.
"Hebat...! Kau cukup lihai untuk menghadapi dia! Hui-ji, hayo kita pulang."
Bun Hui menghadapi Siu Bi, suaranya terdengar sedih, "Nona, harap kau suka maafkan ibuku yang
sebetulnya hanya hendak mencoba kepandaianmu."
"Hemmm...!" Siu Bi mendengus, masih belum hilang kagetnya.
Nyonya itu benar-benar ganas dan galak, juga lihai bukan main. Jarum-jarum yang lewat di dekat tubuhnya
tadi mengandung hawa panas yang luar biasa, juga pukulan jarak jauh tadi amat kuat. Baiknya ia memiliki
Hek-in-kang, jika tidak, tentu ia akan menjadi korban jarum atau pukulan sinkang.
Setelah ibu dan anak itu pergi, Siu Bi kembali duduk di atas pembaringan di sudut kamar, berusaha untuk
istirahat sambil mengumpulkan tenaga. la dapat duduk tenang, kemudian menjelang tengah malam yang
sunyi, mendadak ia berjungkir balik, kepala di bawah dan kaki yang tetap bersila itu di atas, untuk melatih
Iweekang menurut ajaran Hek Lojin.
Belum ada setengah jam ia berlatih, terdengar suara orang perlahan.
"Selagi kesempatan lari terbuka, mengapa membiarkan diri terkurung?"
Cepat sekali gerakan Siu Bi, tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur ke dekat jeruji. Di luar jeruji berdiri
seorang laki-laki yang mengeluarkan seruan kagum akan gerakannya yang memang luar biasa tadi.
Laki-laki ini berdiri tegak, bersedekap dan memandang kepadanya dengan alis berkerut. Sukar menduga
apa yang berada di dalam pikiran laki-laki ini. Siu Bi memandang tajam, memperhatikan dan siap untuk
memaki atau menyerang melalui sela-sela jeruji.
Akan tetapi dia mendapat kenyataan bahwa laki-laki itu bukanlah seorang penjaga atau pengawal.
Pakaiannya sederhana berwarna serba putih, rambutnya digelung ke atas dan dibungkus kain putih.
Mukanya membayangkan ketenangan luar biasa dengan sepasang mata yang sayu, membayangkan
kematangan jiwa dan penderitaan lahir batin. Orang ini bukan lain adalah Si Jaka Lola, Yo Wan.
Seperti diketahui, Yo Wan melihat bagaimana gadis yang luar biasa dan mengagumkan hatinya itu
merobohkan para tukang pukul, lalu ikut bersama pemuda yang memimpin barisan. la tidak tergesa turun
tangan menolong karena ingin ia melihat apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, dan apa pula yang
akan dilakukan oleh gadis itu untuk bisa menolong dirinya sendiri. Alangkah herannya ketika ia mendapat
kenyataan bahwa gadis itu membiarkan dirinya ditahan.
Malam tadi dia diam-diam memasuki bagian belakang gedung ini dan ia sempat melihat betapa ibu
pemuda itu tiba-tiba menyerang dengan jarum hijau dan pukulan sinkang. la kaget sekali, akan tetapi
kembali ia dibuat kagum oleh kepandaian Siu Bi. la tidak sempat mendengar percakapan mereka tentang
niat Siu Bi membuntungi lengan Pendekar Buta, karena kedatangannya tepat pada saat Giam Hui Siang
melakukan penyerangan tadi
Dia benar-benar merasa heran akan sikap tiga orang itu. Lebih-lebih lagi rasa herannya kenapa gadis ini
membiarkan dirinya dijebloskan kamar tahanan. Oleh karena itu, ketika menyaksikan sampai jauh malam
dunia-kangouw.blogspot.com
betapa gadis itu tidak berusaha melarikan diri, tetapi malah berlatih Iweekang secara aneh, dia tak dapat
menahan keheranannya dan muncul sambil mengucapkan kata-kata tadi.
Kenapa ia terlambat muncul? Tadi ketika berhasil memasuki gedung, diam-diam Yo Wan menculik seorang
penjaga tanpa ada yang mengetahuinya. la lalu melompati tembok dan membawa lari penjaga itu ke luar
kota, lalu memaksanya bercerita tentang gadis itu.
Si penjaga ketakutan setengah mati karena ia tidak dapat melihat siapa penculiknya dan baru dilepaskan
ketika berada di tempat yang gelap dan sunyi di luar kota, di bawah pohon yang besar. Dia hanya merasa
tubuhnya tidak mampu berkutik dan seakan-akan dibawa terbang. Saking takutnya mengira bahwa ia
diculik iblis, tubuhnya menggigil dan ia tak berani membantah.
Dengan suara gemetar ia menceritakan betapa Bun-goanswe menahan gadis itu karena urusan ini akan
diselidiki ke Pau-ling pada esok hari oleh Goanswe sendiri, dan besok baru akan diberi keputusannya.
Juga ia menceritakan betapa gadis itu tidak membantah, malah menyerahkan pedangnya.
Demikianlah, dengan penuh keheranan Yo Wan cepat kembali ke dalam gedung setelah menotok penjaga
itu dan meninggalkannya di tempat sunyi. la tahu bahwa penjaga itu tak mungkin akan dapat melepaskan
diri sebelum besok pagi.
Dia tidak langsung mencari tempat gadis itu ditahan akan tetapi mencuri masuk secara diam-diam ke
dalam kamar Bun-goanswe dan dengan kepandaiannya yang luar biasa ia berhasil mencuri pedang Siu Bi
yang disimpan di dalam kamar itu! Setelah menyimpan pedang di balik jubahnya, barulah dia mencari
tempat tahanan di belakang dan tepat kedatangannya pada saat Hui Siang menyerang Siu Bi.
Siu Bi kini berdiri dekat jeruji. Mereka saling pandang dan gadis itu berdebar jantungnya karena merasa
seram melihat laki-laki itu berdiri seperti patung di luar kamar tahanan.
"Kau siapa? Apa maksud ucapanmu tadi?" Akhirnya ia menegur, sambil menatap wajah yang tampan dan
agak pucat, tubuhnya yang kurus sehingga tulang pundaknya tampak menjendul di balik bajunya yang
sederhana.
"Maksud ucapanku tadi sudah jelas, Nona. Selagi ada kesempatan untuk lari, mengapa membiarkan dirimu
terkurung di sini?”
Siu Bi merasa heran. Apa kehendak orang ini dan siapa dia? Apa yang diucapkan orang ini memang
menjadi suara hatinya. Memang ingin ia melarikan diri, tidak sudi ditahan seperti binatang buas. Akan
tetapi bagaimana ia dapat melarikan diri kalau ia tidak kuat membongkar daun pintu dan jeruji baja?
Bahkan pedangnya pun ditahan, bagaimana ia suka pergi tanpa mendapatkan pedangnya kembali?
Akan tetapi untuk menjawab kenyataan ini, tentu saja dia tidak sudi. Hal itu hanya akan merendahkan
dirinya sendiri, mengakui kebodohan serta kelemahan dirinya. Maka ia pun menjawab dengan suara ketus,
"Kau peduli apa? Aku harus tunduk kepada hukum, aku bukan manusia liar yang tidak mengenal hukum."
Laki-laki muda itu tertawa, hanya sebentar saja. Akan tetapi dalam waktu beberapa detik itu, selagi tertawa,
laki-laki itu dalam pandang mata Siu Bi kelihatan tampan dan lenyap semua kekeruhan pada mukanya.
Akan tetapi hanya sebentar saja, senyum dan tawa itu melenyap, kembali wajah itu tampak suram muram.
"Hukum, kau bilang? Nona, aku lebih banyak mengalami hal-hal yang berkaitan hukum. Semua pembesar
bicara tentang hukum, bersembunyi di belakang hukum, dan tahukah kau apa arti hukum sebenarnya?
Hukum hanya menjadi alat penyelamat mereka belaka, bahkan alat menindas mereka yang lebih lemah!
Hukum dapat mereka putar balik, dapat ditekuk-tekuk ke arah yang menguntungkan dan memenangkan
mereka. Kau nanti akan kecewa kalau kau mempercayakan keselamatanmu kepada hukum, Nona. Karena
itu, pokok yang terpenting, kau tak bersalah dalam suatu persoalan. Perbuatanmu membela para petani
miskin yang tertindas itu adalah perbuatan orang gagah, sama sekali tidak seharusnya dihukum atau
ditahan."
Di dalam hatinya, Siu Bi setuju seribu persen. Tetapi bagaimana dia dapat menyatakan setuju kemudian
menyatakan pula bahwa dia tidak mampu keluar?
"Eh, kau ini siapakah, berlagak pandai dan membelaku? Hemmm, lagaknya saja hendak menolong. Apa
dunia-kangouw.blogspot.com
sih yang dapat kau lakukan untuk menolongku? Lagi pula, aku pun tidak membutuhkan pertolonganmu,
dan andai kata kau mau menolong, mengapa pula kau yang sama sekali tidak kukenal ini hendak
menolongku? Apakah bukan maksudmu untuk mencari muka belaka?"
Yo Wan tersenyum kecut. la kagum menyaksikan sepak terjang gadis ini, juga senang menyaksikan
ketabahan dan kelincahannya, akan tetapi watak gadis ini sangat sombong. Yo Wan sudah mencapai
tingkat tinggi, baik dalam ilmu silat mau pun ilmu batin, berkat gemblengan selama sepuluh tahun di
puncak Pegunungan Himalaya. Karena itu ia tidak menjadi marah oleh sikap kasar dan ketus dari gadis itu.
Dengan tenang dia kemudian mengeluarkan pedang Cui-beng-kiam dari balik jubahnya, menaruh pedang
itu di atas lantai, lalu dia menggunakan kedua tangannya memegang jeruji baja, mengerahkan sedikit
sinkang dan... jeruji-jeruji itu pun melengkung, membuka lubang yang cukup lebar untuk dilalui tubuh
orang!
"Aku datang sekedar memenuhi kewajiban membantu yang benar, tidak perlu berbicara tentang
pertolongan. Tentang kau mau ke luar atau tidak, adalah menjadi hakmu untuk menentukan, Nona.
Pedangmu ini tadi kuambil dari kamar Bun-goanswe. Tidak baik bila seorang gagah berjauhan dari
senjatanya. Selamat tinggal."
Siu Bi bengong terlongong. Dia berdiri seperti patung memandang bayangan laki-laki itu yang berjalan
perlahan, pergi meninggalkannya dan menghilang di dalam gelap. Setelah bayangan orang itu tidak
tampak, baru ia sadar. Kerangkeng terbuka, pedangnya di situ, mau tunggu apa lagi?
Cepat ia menyelinap ke luar di antara dua jeruji yang sudah melengkung, disambarnya pedang Cui-bengkiam
dan di lain saat ia sudah melompat ke atas genteng, memandang ke sana ke mari. Namun sunyi di
atas gedung itu, tidak tampak bayangan laki-laki tadi.
Hatinya merasa bimbang. Apakah ia akan pergi melarikan diri sekarang juga ke luar kota. Memang
sesungguhnya lebih baik dan lebih aman begitu. Akan tetapi, setelah Jenderal Bun itu melakukan hal yang
tidak patut terhadapnya, mengurungnya dalam kerangkeng seperti binatang, lalu nyonya jenderal itu tanpa
sebab menyerangnya dengan jarum dan pukulan, masa ia harus pergi begitu saja seperti orang lari
ketakutan?
Tidak, tidak ada penghinaan yang tidak dibalas. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu dia harus
menunjukkan kelihaiannya dan memberi sedikit hajaran kepada Jenderal Bun dan isterinya yang galak.
Tentu saja Bun Hui tidak termasuk dalam daftarnya untuk diberi hukuman, karena pemuda itu bersikap baik
sekali kepadanya.
Pikiran ini mendorong Siu Bi membatalkan niatnya untuk melarikan diri. Tubuhnya lantas bergerak-gerak
bagaikan seekor kucing ringannya, meloncati genteng di atas gedung itu menuju ke bangunan besar,
kemudian ia mengintai dan mencari di mana adanya kamar Jenderal Bun dan isterinya, mendekam serta
mendengarkan. Mendadak dia mendengar suara Jenderal Bun dan isterinya.
"Masa tengah malam begini hendak pergi? Urusan bagaimana pentingnya pun, kan bisa diurus besok
pagi?" terdengar suara nyonya Jenderal Bun, suara yang merdu dan halus.
"Harus sekarang juga kuselesaikan. Selain menyelidiki ke Pau-ling, aku juga harus cepat menyuruh
seorang pengawal yang tangkas untuk mengabarkan kepada Kwa Kun Hong di Liong-thouw-san tentang
ancaman gadis liar itu." Suara yang berat dari Jenderal Bun ini mendebarkan hati Siu Bi yang
mendengarkan terus.
"Ahh, tentang urusan itu, apa sangkut-pautnya dengan kita? Kalau dia memiliki dendam pribadi dengan
Kun Hong, biarkan dia menyelesaikannya sendiri. Urusan pribadi orang lain, bagaimana kita dapat ikut
campur?" Isterinya mencela.
"Orang lain? Kurasa Kwa Kun Hong dengan keluarganya tidaklah dapat dikatakan orang lain!" Bungoanswe
berseru keras, suaranya mengandung penasaran besar. "Bukankah isterinya adalah cici-mu
(kakakmu)?"
"Enci Hui Kauw hanyalah saudara pungut."
Hening sejenak, lalu terdengar suara jenderal itu penuh penyesalan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hui Siang, isteriku, harap kau jangan merusak perasaan hatiku dengan sikapmu seperti ini terhadap
mereka. Aku tahu bahwa kau masih menaruh dendam akan urusan lama, bukankah itu merupakan sifat
kanak-kanak? Kita bukan kanak-kanak lagi. Perbuatanmu tadi mendatangi kamar tahanan dan menyerang
gadis itu, juga merupakan sisa dari sifat di waktu mudamu. Ahh, Hui Siang, aku dapat menduga isi hatimu,
setelah kau menguji gadis itu dan mendapat kenyataan bahwa dia cukup lihai, kau ingin sekali melihat dia
itu mengacau Liong-thouw-san. Begitukah?"
Nyonya itu berseru kaget. "Kau... kau mengintai...?" Kemudian disusul suaranya bernada menantang,
"Benar, aku... aku memang masih benci terhadap Kun Hong dan enci Hui Kauw!" Disusul isak tangis
tertahan dan tarikan nafas panjang jenderal itu,
"Hui Siang, mengapa kau masih juga belum dapat memadamkan api dendam terhadap mereka? Lupakah
kau bahwa Kun Hong adalah penolong kita? Dia seorang pendekar besar yang telah terkenal kegagahan
dan budi pekertinya. Dia merupakan penolong kita!"
Isak tangis itu semakin keras. "Aku... aku pun tidak bisa lupa... bahwa kau... kau sudah membutakan mata
kananmu karena dia...!”
Bun-goanswe tertawa. "Ha-ha-ha-ha, itukah yang membuat dendammu tak dapat hilang? Tidak usah
dipusingkan, isteriku. Kebutaan sebelah mataku ini dapat membuka kebutaan mata hatiku, bukankah itu
baik sekali?"
"Lalu, apa yang hendak kau lakukan terhadap gadis itu?"
"Aku akan membujuknya agar supaya ia membatalkan niatnya mengacau tempat tinggal Kun Hong. Kalau
dia bersikeras, apa boleh buat, aku akan memasukkannya ke dalam tahanan sampai dia bertobat."
"Jenderal busuk, kau benar-benar ingin menggunakan hukum untuk mencari kebenaran dan kemenangan
sendiri. Aku, Cui-beng Kwan Im, mana sudi kau perlakukan demikian?" Sesosok bayangan melayang turun
dari jendela dan sinar pedang hitam lalu menerjang Bun-goanswe.
Jenderal ini kaget sekali, cepat dia menghunus pedangnya dan menangkis. Ada pun Hui Siang, isteri
jenderal itu, terkejut dan khawatir, untuk sejenak hanya dapat memandang dengan kaget. Akan tetapi,
beberapa menit kemudian nyonya ini sudah mendapatkan pedangnya lalu menyerbu dan mengeroyok Siu
Bi.
Dara ini tidak menjadi gentar, malah berseru keras. Segera pedangnya berubah menjadi gulungan sinar
kehitaman, diselingi oleh pukulan-pukulannya yang mengandung tenaga Hek-in-kang! Memang hebat
gadis ini. Ilmunya tinggi nyalinya pun sebesar nyali harimau, akan tetapi dia terlalu memandang rendah
orang lain. Terjangannya yang dahsyat dan ganas itu memang membuat suami isteri itu kaget dan
terdesak mundur.
Akan tetapi, jenderal itu adalah Bun Wan, putera tunggal ketua Kun-lun-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya
juga hebat. Dan isterinya adalah puteri dari Ching-toanio yang juga memiliki ilmu silat segolongan dengan
Siu Bi, yaitu golongan hitam. Biar pun tingkat ilmu silat kedua orang suami isteri ini tidak sedahsyat ilmu
silat Siu Bi warisan dari kakek sakti Hek Lojin, tapi gadis itu kalah ulet dan kalah pengalaman sehingga
semua terjangannya meski pun mendesak dan mengejutkan, namun belum mampu merobohkan mereka.
Pada saat itu, Bun Hui datang berlari-lari dengan muka pucat. Cepat pemuda yang juga lihai ini memutar
pedangnya menahan pedang Cui-beng-kiam, lalu dia berkata, suaranya menggetarkan penuh perasaan,
"Nona...! Mengapa kau tidak memegang janjimu, malah melarikan diri dan menyerbu ke sini? Ah... Nona,
kenapa kau menyerang ayah bundaku? Mengapa kau lakukan hal ini... Kau, yang kupandang gagah
perkasa..."
Getaran suara yang terkandung di dalam ucapan Bun Hui ini tidak lagi menyembunyikan perasaannya.
Jelas terdengar dan terasa, baik oleh Siu Bi mau pun oleh ayah bunda pemuda itu, bahwa Bun Hui
menaruh hati cinta kepada gadis ini!
"Hui-ji, mundur kau!" bentak Jenderal Bun.
"Hui-ji, kenapa kau merengek-rengek kepada bocah ini?" seru pula ibunya penuh teguran dan suami isteri
dunia-kangouw.blogspot.com
itu sudah menerjang Siu Bi dengan hebat.
Terpaksa Siu Bi mundur tiga langkah karena terjangan kedua orang itu dalam serangan balasan bukanlah
main-main. Namun dengan Hek-in-kang, dia berhasil mengusir mundur lagi kedua orang pengeroyoknya.
Ternyata Hek-in-kang ampuh luar biasa, hawanya saja cukup membuat kedua orang suami isteri tokoh
persilatan yang berkepandaian tinggi itu tergetar mundur dan tidak berani terlalu mendekat.
Mendengar suara ribut-ribut ini, beberapa orang pengawal menerjang masuk dan melihat betapa Jenderal
Bun bersama isterinya bertempur melawan gadis tahanan yang entah bagaimana kini telah berada di situ,
mereka cepat mencabut senjata masing-masing dan bersiap.
Sementara itu, dengan hati hancur saking menyesal dan kecewa, Bun Hui menggunakan pedangnya
membantu ayah bundanya sambil berkata lirih, "Betapa pun berat bagiku, aku harus memihak ayah
bundaku, Nona."
"Cih, cerewet amat. Mau keroyok, keroyoklah. Hayo semua orang di sini boleh masuk mengeroyokku. Aku
Cui-beng Kwan Ini tidak gentar seujung rambut pun!"
Bukan main marahnya Bun-goanswe. "Hayo tangkap dia! Jangan bunuh, tangkap kataku. Mana akal
kalian? Masa tidak mampu menangkap hidup-hidup seorang bocah nakal?"
Belasan orang pengawal yang cukup tinggi kepandaiannya datang, mereka membawa tali-tali yang besar
dan kuat. Dengan senjata ini mereka mengurung Siu Bi dari segala penjuru, kemudian mereka
mengayunkan tambang itu ke arah kaki untuk merobohkan Siu Bi.
Gadis ini kaget sekali karena suami isteri yang kosen itu, dibantu puteranya yang tak boleh dipandang
ringan, membuat ia cukup repot menjaga diri. Sekarang ada tambang-tambang yang menyambar dari
segala jurusan, melibat dan menjegal kedua kakinya.
Dia terpaksa berloncatan untuk menyelamatkan diri, menendang sana sini sambil tetap melayani tiga orang
lawannya. Akan tetapi, mana dapat gadis yang kurang pengalaman bertempur ini memecah perhatiannya
menghadapi serangan yang sekian banyaknya.
Tiga batang pedang dengan dahsyat mengurungnya dan mengancamnya dari atas, ini saja sudah
membutuhkan pemusatan perhatian sebab tiga batang pedang itu digerakkan oleh tangan-tangan ahli.
Belasan jurus dia masih sanggup bertahan, akan tetapi karena kebingungannya, akhirnya kakinya terlibat
tambang dan tanpa dapat ia pertahankan lagi, kakinya kena dijegal sehingga ia terguling dengan pedang
masih di tangan.
Ketika itu, selagi Bun-goanswe dan para pengawalnya siap menubruk dan menangkap Siu Bi, mendadak
mereka kelabakan karena lampu penerangan tiba-tiba menjadi padam. Perubahan seketika antara
keadaan terang benderang menjadi gelap ini benar-benar membingungkan mereka.
"Pasang lampu...! Lekas pasang lampu...!" bentak Bun-goanswe.
Tak ada seorang pun berani menubruk ke depan untuk meringkus Siu Bi. Mereka cukup maklum akan
kelihaian nona itu yang masih memegang pedang. Di dalam keadaan gelap itu, mana ada yang berani
mempertaruhkan nyawa?
Setelah suasana gelap yang hiruk-pikuk ini diakhiri dengan penerangan lampu, keributan lain timbul ketika
mereka melihat bahwa gadis yang tadinya terguling miring itu sudah tiada di tempatnya lagi. Gadis itu
lenyap seperti ditelan bumi, tidak meninggalkan bekas.
Bun-goanswe cepat memerintah para pengawalnya melakukan pengejaran. Dia sendiri menjatuhkan diri di
atas kursi, penasaran, malu dan marah. Hui Siang dan Bun Hui saling pandang.
"Wah, dia dapat melarikan diri!" Kata Hui Siang, diam-diam girang karena sesungguhnya ia ingin sekali
mendengar gadis itu menyerbu rumah tangga Kun Hong, apa lagi setelah sekarang ia yakin benar akan
kelihaian gadis itu.
"Siapa bilang lari?" Jawab jenderal itu marah. "Terang ada orang sakti yang menolong dan membawanya
lari. Siapa yang memadamkan lampu serentak seperti itu tadi? Tentu bukan gadis itu. Dan cara ia
dunia-kangouw.blogspot.com
meloloskan diri, sama sekali tidak terdengar olehku."
"Mudah-mudahan ia tidak membikin ribut lagi...," Bun Hui menggumam seorang diri.
"He, kau Hui-ji. Sikapmu tadi sungguh memalukan! Apa maksudmu? Apakah kau sudah tergila-gila kepada
gadis liar itu?"
Bentakan ayahnya ini membuat Bun Hui merah mukanya. Ia tergagap mencari jawaban, "Aku... aku... tidak
begitu, Ayah. Aku hanya... kagum akan sepak terjangnya dan aku... aku kasihan…”
"Hemmm, menilai seseorang, apa lagi wanita, jangan sekali-kali dari kecantikan wajah atau
kepandaiannya. Akan tetapi wataknya! Gadis itu wataknya keranjingan, seperti iblis betina. Hui-ji, besok
pagi-pagi kau berangkatlah ke Liong-thouw-san menemui pamanmu Kwa Kun Hong kemudian berikan
sepucuk suratku. Urusan ini terlampau penting untuk kuserahkan kepada seorang pengawal, maka harus
kau sendiri yang membawanya ke Liong-thouw-san."
"Baik, Ayah."
Diam-diam pemuda ini menjadi girang juga, karena memang sudah amat lama ia ingin bertemu dengan
orang yang selalu disebut-sebut ayahnya dengan penuh penghormatan, yaitu Kwa Kun Hong Si Pendekar
Buta…..
********************
Siu Bi mencoba tenaganya untuk meronta dan melepaskan diri, akan tetapi sia-sia saja. Orang itu
memanggulnya dengan menekan tengkuk serta punggungnya, di mana pusat tenaganya ditekan sehingga
kekuatannya menjadi hilang. Dia merasa dibawa lari cepat sekali, sementara angin dingin membuat dia
mengantuk sekali. Akhirnya, saking lelahnya bertempur tadi dan semalam tidak tidur sedikit pun juga, ia
tertidur di atas pundak orang yang memanggulnya itu.
Ketika Siu Bi sadar dari tidurnya, sedetik ia tertegun, hendak mengulet (menggeliat) tidak dapat. Tubuhnya
serasa kesemutan, sedangkan pipi kanannya yang berada di sebelah atas terasa panas. Kiranya matahari
sudah menyorot agak tinggi juga.
Segera ia teringat. la masih berada di atas pundak orang, masih dipanggul! Sejak lewat tengah malam
sampai sekarang, lewat pagi! Dan dia tertidur di dalam pondongan orang! Dan selama itu ia masih belum
tahu siapa orang yang menculiknya ini, yang membawa lari tubuhnya dari dalam gedung Jenderal Bun
selagi dia roboh dalam keroyokan para pengawal.
"Hemmm, perawan macam apa ini? Dipondong orang sejak malam, tapi enak-enak tidur mendengkur.
Malas dan manja, ihhh, benar-benar celaka..." Orang yang memanggulnya itu terdengar bersungut-sungut.
Kemarahan memenuhi kepala Siu Bi. "Siapa mendengkur? Aku tak pernah mendengkur kalau tidur. Hayo
lepaskan kau laki-laki kurang ajar!"
"He? Kau sudah bangun? Nah, turunlah!" Dengan gerakan tiba-tiba orang itu melepaskan pondongan
sambil mendorong sedikit sehingga tubuh Siu Bi terlempar dan jatuh berdiri di depannya dalam jarak dua
meter.
Dapat dibayangkan betapa kaget, heran, dan marahnya ketika melihat bahwa orang yang memanggulnya
tadi adalah laki-laki muda sederhana berpakaian putih yang tadi malam mengunjunginya di dalam
kerangkengnya!
"Heeeiiiii! Kenapa kau memondongku? Aku bukan anak kecil!" Siu Bi membanting kaki dengan gemas.
Yo Wan, orang itu, tersenyum kecil. Cahaya matahari pagi serasa lebih gemilang bila menghadapi seorang
dara lincah nakal ini.
"Kau masih kanak-kanak," katanya tenang.
"Siapa bilang? Aku bukan anak kecil, aku bukan kanak-kanak lagi!" Siu Bi bersitegang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Disebut kanak-kanak baginya sama dengan penghinaan. Masa dia yang sudah memiliki julukan Cui-beng
Kwan Im sekarang di-‘cap’ kanak-kanak?
"Aku Cui-beng Kwan Im, aku seorang dewasa. Jangan kau main-main!"
"Bagiku kau masih kanak-kanak," kata pula Yo Wan, memalingkan muka seperti seorang yang tidak acuh.
Padahal pemuda ini memalingkan muka karena merasa ‘silau’ akan kecantikan wajah Siu Bi. Kebetulan
sekali cahaya matahari yang menerobos melalui celah-celah daun pohon menyoroti muka dan rambut itu,
sehingga wajah gadis itu gilang gemilang dan rambutnya membayangkan warna indah, benar-benar
laksana Dewi Kwan Im turun melalui sinar matahari pagi. Yo Wan memalingkan muka agar jangan melihat
keindahan di depannya ini, yang membuat isi dadanya tergetar.
"Wah, kau ini kakek-kakek, ya? Aksinya!" Siu Bi membentak gemas.
"Aku jauh lebih tua dari padamu." Suara Yo Wan perlahan, seperti berkata kepada diri sendiri.
Memang ini suara hatinya yang membantah gelora di dalam dada, untuk memadamkan api aneh yang
mulai menyala dengan peringatan bahwa dia jauh lebih tua dari pada gadis remaja yang berdiri di
depannya dengan sikap menantang itu.
"Hanya beberapa tahun lebih tua. Hemmm, lagakmu seperti kakek-kakek berusia lima puluh tahun saja.
Kurasa kau belum ada tiga puluh."
"Dua puluh enam tahun umurku, dan kau ini paling banyak lima belas..."
"Siapa bilang? Ngawur! Sudah tujuh belas lebih, hampir delapan belas aku."
"Ya itulah, masih kanak-kanak kataku."
"Setan kau. Delapan belas tahun kau anggap kanak-kanak? Kau baru umur dua puluh enam tahun sudah
berlagak tua bangka. Biarlah kusebut kau lopek (paman tua) kalau begitu. Heh, Lopek yang sudah pikun,
kenapa kau tadi memondongku? Siapa yang beri ijin kepadamu?"
Yo Wan panas perutnya. Masa dia disebut lopek? Ngenyek (ngece) benar bocah ini. Dia mengebutngebutkan
ujung lengan baju di lehernya, seakan-akan kepanasan. Memang ada rasa panas, tapi bukan di
kulit melainkan di hati. Lalu dia memilih akar yang bersih, akar pohon besar yang menonjol keluar dari
tanah. Didudukinya akar itu tanpa menjawab pertanyaan Siu Bi.
"Hee, Lopek Apakah kau sudah terlalu tua sehingga telingamu sudah setengah tuli?" bentak Siu Bi dengan
suara nyaring.
"Kau anak kecil jangan kurang ajar terhadap orang tua. Duduklah, anakku, duduk yang baik dan kakekmu
akan mendongeng, kalau kau mendengarkan baik-baik, nanti kuberi mainan."
Siu Bi meloncat-loncat marah. "Nak-nak-nak? Aku bukan anakmu, juga bukan cucumu. Jangan sebut nak,
aku bukan anak kecil!" la menjerit-jerit, kedua pipinya merah padam, kemarahannya melewati takaran.
Yo Wan bersungut-sungut, "Kalau kau bukan anak kecil, aku pun bukan kakek-kakek yang sudah tua renta,
kenapa kau sebut aku lopek?"
"Kau yang mulai dulu!"
"Siapa mulai? Kau yang mulai," jawab Yo Wan mulai mendongkol hatinya.
"Kau yang mulai."
"Kau."
"Kau! Kau! Kau! Nah, aku bilang seribu kali, kau yang mulai, mau apa?" kata Siu Bi menantang.
Yo Wan mengeluh, kemudian menarik nafas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar
dunia-kangouw.blogspot.com
dara lincah nakal ini sudah menyeretnya kembali ke alam kanak-kanak dan berhasil mengaduk isi dada
dan isi perutnya menjadi panas. Sepuluh tahun ia bertapa di Himalaya menguasai tujuh macam perasaan,
sekarang perasaannya diawut-awut oleh gadis remaja ini.
"Dibebaskan dari bahaya, dipondong sampai setengah malam suntuk, tahu-tahu upahnya hanya diajak
bertengkar. Di dunia ini mana ada aturan bo-cengli tidak benar macam ini?" Ia mengomel panjang pendek.
"Siapa suruh kau mondong aku? Siapa? Aku tidak sudi kau pondong, tahu?"
"Tidak sudi masa bodoh, pokoknya aku gudah memondongmu sampai setengah malam, tangan dan
pundakku sampai pegal rasanya.”
Siu Bi semakin marah, kedua tangannya dikepal. "Aku tidak sudi, tidak sudi, tidak sudi! Hayo jawab,
kenapa kau memondongku? Kalau kau tidak jawab, jangan menyesal kalau aku marah dan menghajarmu.
Aku Cui-beng Kwan Im, ingat?"
"Kenapa aku memondongmu? Habis kalau tidak dipondong, apa minta digendong? Atau harus kuseret?
Kau dikepung, berada dalam bahaya maut, tetapi masih membuka mulut besar. Tak tahu diri benar!"
"Biar aku dikepung, biar dicengkeram maut, apa pedulimu? Aku tak sudi pertolonganmu, mengapa kau
menolong aku?"
"Aku pun tidak bermaksud menolongmu. Aku hanya tidak senang melihat seorang gadis dikeroyok oleh
para pengawal jenderal itu, oleh karena itu aku berusaha menggagalkan pengeroyokan mereka dan
membawamu pergi."
Siu Bi seakan-akan tidak mendengarkan omongan Yo Wan, ia termenung lalu berkata penuh penyesalan,
"Celaka betul, karena kau membawaku pergi, pedangku hilang! Ahh, Cui-beng-kiam itu tentu ketinggalan di
tempat pertempuran dan..."
Siu Bi menghentikan kata-katanya karena melihat sinar kehitaman pada saat pedang itu dicabut oleh Yo
Wan dari balik jubahnya. Tanpa berkata sesuatu Yo Wan memberikan pedang kepada Siu Bi yang cepat
menyambarnya.
"Kebetulan aku juga melihat pedang ini terlepas dari tanganmu, aku tidak ingin pengawal-pengawal itu
merampasnya, maka kubawa sekalian. Nah, kiranya sudah cukup obrolan kita yang amat menyenangkan
hati ini. Aku tak pernah tolong kau dan kau tak pernah ada urusan denganku. Kita sama-sama bebas, tak
ada urusan apa-apa. Selamat tinggal." Yo Wan berdiri, lalu berjalan perlahan meninggalkan Siu Bi.
Seperti malam tadi, Siu Bi memandang dengan mata tak berkedip. Ketika bayangan Yo Wan hampir lenyap
pada sebuah tikungan, ia baru teringat sesuatu dan cepat melompat mengejar sambil berseru,
"Heee, berhenti dulu!!"
Yo Wan berhenti dan perlahan membalikkan tubuhnya. Dilihatnya gadis itu berloncatan sambil membawa
pedang. Hemmm, jangan-jangan gadis itu akan menyerangnya, siapa dapat menduga isi hati gadis liar dan
buas seperti itu?
"Ada apa lagi? Hendak menghajarku?" tanyanya.
Siu Bi menggelengkan kepala, akan tetapi mulutnya masih cemberut. "Tergantung dari jawabanmu,"
katanya, lalu disambungnya cepat-cepat, "Aku tidak pernah mendengkur kalau tidur. Kau tadi bilang aku
mendengkur, kau bohong! Aku tidak pernah mendengkur, memalukan sekali!"
Hampir Yo Wan ketawa terbahak-bahak. Benar-benar gadis yang liar dan aneh. Masa menyusulnya hanya
akan bicara tentang itu?
"Tidak mendengkur, hanya... ngo…rok..."
"Bohong! Kau berani sumpah? Aku tak pernah ngorok, mendengkur pun tidak."
"Ngorok pun mana kau bisa tahu? Kan kau sedang tidur? Yang tahu hanya orang lain tentu."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak, tidak! Aku tidak ngorok, hayo katakan, aku tidak pernah ngorok!"
Siu Bi hampir menangis ketika membanting-banting kaki di depan Yo Wan. la marah dan malu sekali,
kedua matanya sudah merah, air matanya sudah hampir runtuh. la bukan seorang gadis cengeng, malah
jauh dari itu, menangis sebetulnya merupakan pantangan baginya. Hatinya amat keras, nyalinya besar, tak
pernah ia mengenal takut. Akan tetapi dikatakan ngorok dalam tidur, sungguh-sungguh merupakan hal
yang menyakitkan hati, memalukan dan menjengkelkan.
Kasihan juga hati Yo Wan melihat keadaan gadis ini. "Ya sudahlah, tidak mengorok ya sudah. Agaknya
karena terlampau lelah bertanding dan terlalu enak kau pulas, nafasmu menjadi berat seperti orang
mengorok. Tidurmu memang enak sekali sampai aku tidak tega untuk membangunkan dan terpaksa
memondongmu terus sampai kau bangun."
Memang watak Siu Bi aneh. Mana bisa tidak aneh watak gadis ini yang semenjak kecil hidup dekat Hek
Lojin, manusia aneh yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw? Kini dia memandang kepada Yo Wan
dengan sinar mata berseri, melalui selapis air mata yang tidak jadi tumpah.
"Kau baik sekali..."
Yo Wan tertegun. Alangkah bedanya dengan tadi. Kini dia benar-benar melihat seorang Dewi Kwan Im di
depannya, seorang dewi yang cantik jelita, yang bersuara lembut dan yang matanya bersinar mesra.
"Ahhh... sama sekali tidak baik, biasa saja," katanya. "Aku melihat kau menolong para petani miskin, tentu
saja aku tidak suka melihat kau celaka di tangan para pengawal."
Hening sejenak, agaknya Yo Wan sudah lupa bahwa baru saja ia mengucapkan selamat tinggal. Juga Siu
Bi bagaikan orang termenung, tidak memandang Yo Wan, melainkan memandang ke tempat jauh di
sebelah kiri. Mendadak dia menengok, agak berdongak untuk mencari mata Yo Wan dengan
pandangannya,
"Kau... lapar...?"
Yo Wan melongo beberapa detik.
"Lapar? Tentu saja..." jawabnya otomatis, karena memang perutnya terasa perih minta diisi.
Wajah Siu Bi berseri gembira. "Kau tunggu di sini sebentar, kutangkap kelinci gemuk di sana itu!"
Tubuhnya berkelebat cepat sekali dan pada lain saat dia telah menguber-uber seekor kelinci putih yang
gemuk.
Yo Wan kembali tertegun, kemudian dia tersenyum geli dan menggaruk-garuk belakang telinganya yang
tidak gatal. Lalu dia mengumpulkan daun dan ranting kering serta duduk di atas sebuah batu, menunggu
dengan sabar.
Siu Bi datang sambil berloncatan dan menari-nari kegirangan. Seekor kelinci yang gemuk sekali merontaronta
di bawah pegangannya. Siu Bi memegang kedua telinga itu.
"Lihat, wah gemuk sekali! Masih muda lagi!" teriaknya sambil tertawa-tawa.
Wajah Yo Wan berseri dan untuk sejenak lenyaplah kemuraman wajahnya.
”Hemmm, tentu lezat sekali dagingnya. Biar kubuatkan api."
la lalu membuat api sambil matanya melirik ke arah gadis itu yang dengan cekatan sekali menyembelih
kelinci dengan pedangnya, lalu mengulitinya dengan cepat. Sambil bekerja, Siu Bi bersenandung dan Yo
Wan beberapa kali melirik ke arah gadis ini. Seorang gadis yang benar-benar aneh, pikirnya. Watak yang
luar biasa dan sukar diselami.
"Lihat nih, gajihnya sampai tebal? Hemmm... Makin lapar perutku," kata Siu Bi sambil mengangkat daging
kelinci tinggi-tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Lekas panggang, tak kuat lagi aku." Yo Wan berkata sambil beberapa kali menelan air ludah sendiri.
Bagaikan seorang anak kecil, sambil tertawa-tawa gembira Siu Bi lalu menusuk daging kelinci dengan
bambu dan memanggangnya. Bau yang sedap gurih segera memenuhi udara, menambah rasa lapar di
perut. Selama mengerjakan itu, Siu Bi tidak bicara, hanya beberapa kali melirik ke arah Yo Wan, tetapi
kalau pemuda itu membalas pandangnya, ia mengalihkan kerling sambil tersenyum.
Biar pun mulutnya tidak berkata sesuatu, namun di dalam hatinya Siu Bi tiada hentinya berkata-kata.
Pikirannya diputar terus. Pemuda ini baik, pikirnya. Tidak kurang ajar, biar pun kelihatan agak tolol. Terang
bahwa dia itu lihai sekali, sudah berkali-kali dibuktikan biar pun tidak berterang.
Dapat memasuki rumah gedung Jenderal Bun tanpa diketahui, seperti setan saja, dapat membebaskannya
dari kerangkeng, kemudian ia harus mengakui bahwa ketika ia roboh terjegal kakinya oleh tambangtambang
itu, keadaannya memang amat berbahaya.
Pemuda itu tiba-tiba saja muncul dalam gelap, dapat membawanya pergi tanpa diketahui semua
pengeroyok, malah tidak lupa membawa pula pedangnya. Kalau tidak lihai sekali mana mungkin dia
melakukan semua itu?
Kembali dia melirik Yo Wan duduk termenung, tapi lubang hidungnya kembang-kempis, jakunnya naik
turun, jelas bahwa dalam termenung, pemuda itu tergoda hebat oleh asap panggang kelinci yang sedap
dan gurih. Melihat ini, Siu Bi tertawa mengikik sehingga dia terpaksa menutupi mulutnya dengan tangan
kiri.
Ibunya yang selalu marah kalau melihat ia ketawa tanpa menutupi mulutnya dan terlalu sering Siu Bi
melupakan hal ini. Baiknya sekarang ia tidak lupa, mungkin karena sadar bahwa ada orang lain di
dekatnya, laki-laki pula.
"Hemmm, mengapa kau tertawa?" Yo Wan bertanya, kaget dan sadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa, tidak bolehkah orang tertawa?" Siu Bi menjawab sambil melirik nakal, tangannya memutarmutar
daging kelinci di atas api.
Jawaban ini merupakan tangkisan yang membuat Yo Wan gelagapan. "A... a... aku tidak melarang... tentu
saja, siapa pun boleh tertawa. Kau mentertawai aku?"
Siu Bi hanya tersenyum saja, tidak menjawab, melirik pun tidak. Daging itu sudah hampir matang. Yo Wan
juga tidak mendesak, tapi cukup mendongkol hatinya. Gadis remaja ini benar-benar pandai mengobrakabrik
hati orang dengan sikapnya yang aneh, sebentar marah, sebentar ramah, sebentar kemudian
menggoda.
Pemuda ini terang pandai sekali, Siu Bi melanjutkan lamunannya. Apa bila aku berbaik kepadanya dan
kemudian mendapat bantuannya, agaknya akan lebih besar hasilnya di Liong-thouw-san.
Menurut ucapan Bun Hui pemuda putera jenderal itu, Pendekar Buta adalah seorang sakti yang sangat
tinggi kepandaiannya. Tentu saja ia tidak takut, akan tetapi bagaimana kalau dia gagal? Tentu akan
mengecewakan sekali jika dia tidak berhasil membalaskan dendam kakek Hek Lojin. Akan tetapi kalau bisa
mendapat bantuan pemuda ini, hemmm, kepandaian mereka berdua dapat disatukan untuk menghadapi
dan mengalahkan Kwa Kun Hong si Pendekar Buta.
Akan tetapi apakah benar-benar pemuda ini lihai? Kembali dia melirik. Yo Wan tampak mengantuk,
sepasang matanya hampir meram dan kepalanya terangguk-angguk ke kiri dan kanan, seakan-akan
lehernya tidak kuat pula menyangga kepalanya.
Kasihan! Tentu dia sangat mengantuk, mengantuk dan lapar karena semalam tidak tidur sama sekali,
memondongnya pergi sejauh ini. Kalau sedang mengantuk dan ‘tidur ayam’ begini sama sekali tidak patut
menjadi seorang yang berkepandaian tinggi. Juga tidak nampak membawa senjata.
Makin dia perhatikan, semakin tidak memuaskan kesan di hati Siu Bi. Pemuda yang tidak muda lagi,
sungguh pun belum tua. Rambutnya kering akibat tidak terpelihara baik-baik. Wajahnya biar pun tampan,
akan tetapi tampak muram seperti orang yang sedih selalu. Pakaiannya yang serba putih itu tidak bersih
lagi, juga ada beberapa bagian yang robek. Pemuda miskin!
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Yo Wan yang benar-benar sangat mengantuk itu terangguk ke depan, menjadi kaget dan
membuka matanya, memandang bingung.
"Hi-hi-hik...!" kembali Siu Bi terkekeh. Lucu sekali keadaan pemuda itu.
"Kenapa kau tertawa?"
"Siapa yang tidak tertawa melihat kau terkantuk-kantuk seperti ayam keloren (menderita penyakit kelor)?
Hayo bangun, dagingnya sudah matang!" Siu Bi mengangkat panggang daging kelinci dan menaruhnya di
atas daun-daun bersih yang sudah disediakan di situ, di depan Yo Wan.
"Wah, gurih baunya!" Yo Wan memuji. "Hayo, kau ambil dulu."
"Kau ambillah dulu."
"Kau yang tangkap dan masak kelinci, masa aku harus makan dulu?"
"Sudahlah, kau ambil dulu, mengapa sih? Aku tidak selapar engkau!"
Yo Wan tidak berlaku sungkan lagi. Dengan penuh gairah ia segera merobek daging itu, mengambil bagian
yang ada tulangnya, lalu langsung menggerogotinya dengan lahap.
"Wah, hebat...! Lezat bukan main...!" katanya sambil mengunyah.
Memang kelinci itu gemuk sekali, gajihnya banyak sehingga begitu daging tergigit, gajih yang mencair oleh
api itu menitik dari kanan kiri bibir Yo Wan.
"Sayang tidak ada arak...Heee! Kau ke mana, Nona?"
"Tunggu dulu sebentar, aku ambil air minum!" Cepat Siu Bi berlari meninggalkan Yo Wan.
Pemuda ini mengunyah lambat-lambat dan pikirannya makin penuh oleh keadaan Siu Bi. Gadis itu benarbenar
hebat, wataknya aneh sekali. Sekarang sangat ramah dan baik kepadanya. Siapakah dia ini?
Siu Bi kembali membawa dua buah kulit labu yang penuh air jernih, dan selain air, juga ia membawa
banyak buah-buah manis yang dipetiknya dari dalam hutan. Dengan hati-hati agar jangan tumpah, dia
menaruh kulit labu yang dipakai menjadi tempat air itu di atas tanah, kemudian ia pun mulai makan daging
kelinci.
Keduanya makan dengan lahap, tanpa bicara, hanya kadang-kadang pandangan mata mereka bertemu
sebentar. Yo Wan duduk di atas batu, Siu Bi duduk bersila di atas tanah berumput. Api bekas pemanggang
daging masih bernyala sedikit.
Tak sampai sepuluh menit habislah daging kelinci, tinggal tulang-tulangnya saja. Setelah minum air dan
mencuci mulut dengan air, keduanya lalu makan buah. Barulah Yo Wan berkata,
"Nona, kau baik sekali padaku. Terima kasih, daging kelinci tadi amat gurih dan langsung mengenyangkan
perut. Airnya jernih, segar sekali. Dan buah-buah ini pun manis. Kau memang baik”.
"Terima kasih segala, untuk apa? Tidak ada kau pun aku toh harus makan dan minum. Kau berkali-kali
menolongku, aku pun tidak bilang terima kasih padamu."
Yo Wan tersenyum. Dekat dan bercakap dengan nona ini memaksanya untuk sering tersenyum. "Aku tidak
menolongmu, tak perlu berterima kasih, Nona."
"Siapakah kau ini? Siapa namamu?"
Yo Wan menggerakkan alisnya yang tebal. Baru terasa olehnya betapa lucu dan janggal keadaan mereka
berdua.
"Ahh, kita sudah cekcok bersama, makan minum bersama, mengobrol bersama, tetapi masih belum saling
dunia-kangouw.blogspot.com
mengenal. Namaku… orang menyebutku Jaka Lola, Nona."
"Jaka Lola? Ayah bundamu... sudah tiada?"
Yo Wan mengangguk sunyi. Kemudian balas bertanya, "Kau sendiri? Siapakah namamu kalau aku boleh
bertanya?"
"Orang-orang di dusun itu, para petani itu menyebutku Cui-beng Kwan Im. Sedangkan namaku... ahh, kau
juga tidak memperkenalkan namamu, masa aku harus menyebutkan namaku?"
Kembali Yo Wan tersenyum. "Namaku Yo Wan, hidupku sebatang kara, tiada sanak tiada kadang, tiada
tempat tinggal tertentu, rumahku dunia ini, atapnya langit, lantainya bumi, dindingnya pohon, lampulampunya
matahari, bulan dan bintang."
Siu Bi tertawa, lalu bangkit berdiri dan menirukan lagak serta suara Yo Wan ia berkata, "Namaku Siu Bi,
hidupku sebatang kara, tiada sanak kadang, tidak punya tempat tinggal tertentu, rumahku di mana aku
berada, atap, lantai dan dindingnya, apa pun jadi!" Dan ia tertawa lagi.
Yo Wan mau tidak mau ikut pula tertawa. Kalau gadis ini sedang berjenaka, sukar bagi orang untuk tidak
ikut gembira. Suara ketawa dan senyum gadis ini seakan menambah gemilangnya sinar matahari pagi.
"Nona, namamu bagus sekali. Akan tetapi siapakah she-mu (nama keturunan)"
"Cukup Siu Bi saja, tidak ada tambahan di depan mau pun embel-embel di belakangnya. Nah, sekarang
kita sudah tahu akan nama masing-masing. Kau bersiaplah dan keluarkan senjatamu!" kata Siu Bi sambil
mencabut Cui-beng-kiam yang tadinya ia selipkan di ikat pinggangnya. Pedang itu berada di tangannya,
digerakkan di depan dada dengan sikap hendak menyerang.
Yo Wan terkejut. "Eh… ehh… ehhh, apa pula ini?"
"Artinya, aku hendak menguji kepandaianmu. Gerak-gerikmu penuh rahasia, aku masih belum yakin benar
apakah kau memang memiliki kelihaian seperti yang kusangka."
"Wah, aneh-aneh saja kau ini, nona Siu Bi. Aku orang biasa, tidak punya kepandaian apa-apa, jangan kau
main-main dengan pedang itu, Nona."
"Tak usah kau pura-pura, kau mau atau tidak, tetap harus melayani aku beberapa jurus. Bersiaplah! Awas,
pedang!"
Serta merta Siu Bi menerjang dan mengirim tusukan secepat kilat.
"Wah, gila...!" Yo Wan mengeluh di dalam hatinya.
la cepat membuang diri mengelak, maklum akan keampuhan pedang bersinar hitam itu. Akan tetapi Siu Bi
sudah menyerangnya secara bertubi-tubi, malah gadis itu sudah mulai menggerakkan tangan kirinya
sambil mengerahkan tenaga Hek-in-kang!
Yo Wan yang menangkis sambaran tangan kiri ini terpental. Ia merasa betapa lengannya yang menangkis
terasa panas dan sakit. Dia terkejut sekali dan timbul rasa gemasnya. Gadis ini benar-benar liar pikirnya.
Akan tetapi pedang bersinar hitam itu sudah datang lagi mengirim tusukan bertubi-tubi diseling pula
dengan pukulan yang membawa uap berwarna kehitaman. Hebat! Gadis ini ternyata mempunyai ilmu yang
amat ganas dan dahsyat. Kalau aku tidak memperlihatkan kepandaian, ia akan terus berkepala batu dan
tinggi hati.
Cepat tangan kanan Yo Wan merogoh ke balik jubahnya dan di lain saat pedang kayu cendana sudah
berada di tangannya, pedang buatannya sendiri di Himalaya. Ketika sinar hitam menyambar dia
menangkis.
"Dukkk!"
Siu Bi melangkah mundur tiga tindak, tangannya linu dan pegal. Heran ia kenapa pedang lawannya itu
dunia-kangouw.blogspot.com
ketika bertemu dengan pedangnya terasa seperti benda lunak, seperti kayu, tidak menimbulkan suara
nyaring. Ketika ia memandang lebih jelas, betul saja bahwa pedang itu memanglah sebatang pedang kayu!
Mukanya seketika menjadi amat merah. Ia penasaran, masa pedangnya, Cui-beng-kiam yang ampuh itu
hanya dilawan oleh Yo Wan dengan sebatang pedang kayu? la segera mengeluarkan seruan keras dan
kembali maju menerjang, mengerahkan seluruh tenaga Hek-in-kang untuk membabat putus pedang kayu
itu.
Akan tetapi ia salah duga. Pedang di tangan Yo Wan biar pun hanya terbuat dari kayu cendana yang
mengeluarkan bau harum kalau diayun, namun yang mengerahkan adalah tangan yang terisi ilmu, tangan
yang mengandung hawa sinkang dan mempunyai tenaga dalam yang sudah amat tinggi tingkatnya. Bukan
saja pedang kayu itu tidak rusak, malah dia sendiri beberapa kali hampir melepaskan pedangnya karena
tangannya terasa panas dan sakit apa bila kedua senjata itu bertemu.
Ia mulai kagum bukan main. Tidak salah dugaannya. Pemuda ini lihai bukan main. Akan tetapi di samping
kekagumannya, dia pun penasaran dan marah sekali. Masa dia yang berjulukan Cui-beng Kwan Im, hanya
dilawan dengan pedang kayu saja? Bukan pedang sungguh-sungguh, melainkan pedang-pedangan yang
hanya patut dipakai mainan anak kecil. Rasa penasaran dan marah membuat Siu Bi bergerak semakin
ganas dan dahsyat.
Yo Wan diam-diam mengeluh. Kepandaian gadis ini kalau sudah matang, benar-benar berbahaya sekali,
apa lagi pukulan-pukulan tangan kiri yang melontarkan hawa beracun, benar-benar sukar dilawan bila
mana tidak mempergunakan sinkang yang kuat. Dia pun mengerahkan tenaga dan mengeluarkan ilmu
pedangnya dari Sin-eng-cu.
Namun, ilmu pedangnya itu hanya sanggup menandingi Ilmu Pedang Cui-beng Kiam-sut dari Siu Bi dan
perlahan-lahan gadis itu mendesak dengan pukulan-pukulan Hek-in-kang. Sekarang Siu Bi tidak hanya
menguji ilmu atau main-main, melainkan menyerang dengan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Kalau
tidak dilayani dengan sepenuhnya, tentu akan lama pertandingan itu dan akan berubah menjadi
pertandingan mati-matian.
"Benar-benar kau aneh sekali, Nona,” seru Yo Wan ketika dia terpaksa berjungkir balik untuk
menghindarkan sebuah pukulan tangan kiri gadis itu.
Tangan kiri itu kini mengeluarkan uap hitam dan makin lama makin dahsyat pukulannya sehingga Yo Wan
tidak berani menangkis, bukan takut kalau ia terluka, namun khawatir kalau-kalau tangkisannya yang
terlalu kuat akan mencelakai nona itu. Sambil berjungkir balik ini, dia mencabut keluar cambuknya yang
melingkar di pinggang. Kini tangan kirinya memegang cambuk dan…
"Tar-tar-tar!" cambuk itu menyambar-nyambar bagaikan petir di atas kepala Siu Bi.
“Ayaaa...!" Siu Bi kaget bukan main. Apa lagi ketika melihat betapa cambuk itu berubah menjadi lingkaranlingkaran
yang membingungkan.
Seketika itu juga keadaan menjadi berubah Dia terdesak hebat, beberapa kali pedangnya hampir terlibat
cambuk lawan. Akan tetapi, bukan watak Siu Bi untuk menjadi gentar. Dia malah makin bersemangat.
"Wah, benar-benar keras hati dia...,” pikir Yo Wan dan cepat ia mempergunakan langkah-langkah Si-Cap-it
Sin-po.
Seketika Yo Wan lenyap dari depan Siu Bi dan dalam kebingungannya, gadis itu cepat berbalik ketika
mendengar desir cambuk dari belakang. Baru satu kali tangkis, pemuda itu kembali lenyap lagi dan tahutahu
sudah berada di belakangnya, lalu lenyap, muncul di sebelah kiri, lenyap lagi, muncul di sebelah
kanannya. Bingung ia dibuatnya sehingga kepalanya menjadi pening!
"Sudahlah, cukup, Nona. Kau lihai sekali...," berkali-kali Yo Wan berseru.
Namun mana Siu Bi mau sudah dan mengalah? la menggigit bibir dan menerjang seperti seekor harimau
gila, nekat dan tidak takut mati.
"Awas pedangmu!" Yo Wan berseru dan lenyap.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada waktu Siu Bi membalik, terasa sesuatu membelit pundaknya. la merasa ngeri dan menggeliat
seakan-akan ada ular yang melilit pundak. Ternyata cambuk lawannya yang sudah melilitnya, membuat ia
sukar bergerak dan pada saat itu, ujung pedang kayu Yo Wan menotok pergelangan tangan kanannya.
Pedangnya jatuh!
Dengan marah sekali Siu Bi berdiri di depan Yo Wan, lalu membanting-banting kaki dan memandang
penuh kebencian.
“Maaf, Nona, aku... aku tidak sengaja. Kau telah mengalah..."
Akan tetapi Siu Bi membanting kaki lagi, terisak lalu membalikkan tubuh dan lari cepat, tidak peduli lagi
akan pedangnya yang tergeletak di atas tanah.
"Heee, nona Siu Bi... tunggu... pedangmu...!" Yo Wan mengambil pedang itu dan cepat mengejar. Akan
tetapi Siu Bi sudah berlari jauh dan menghilang di balik pohon-pohon di dalam hutan.
Yo Wan berhenti sebentar, menggeleng-geleng kepala dan menarik nafas panjang.
"Wah, benar-benar luar biasa anak itu. Wataknya seperti setan!" Akan tetapi diam-diam ia mengagumi
kepandaian Siu Bi yang memang jarang dicari bandingnya. "Entah anak siapa dia itu, dan entah siapa pula
yang mewariskan kepandaian dan watak segila itu."
Kemudian ia mengejar lagi, tidak bermaksud segera menyusul karena ia maklum bahwa agaknya
membutuhkan beberapa lama untuk membiarkan hati gadis itu agak mendingin. Kalau sedang panas dan
marah seperti itu, agaknya tidak akan mudah dibujuk dan tentu sukar bukan main diajak bicara secara
baik-baik.
Seorang gadis luar biasa yang masih amat muda. Mengapa sudah merantau seorang diri di dunia ini?
Benarkah dia pun sebatang kara? Kasihan! Wataknya keras, berbahaya sekali kalau tidak ada yang
mengamat-amati. Sayang kalau seorang dara masih remaja seperti itu mengalami mala petaka atau
menjadi rusak.
Hati Yo Wan mulai gelisah ketika sudah mengejar seperempat jam lebih, belum juga ia melihat bayangan
Siu Bi.
"Nona Siu Bi! Tunggu...!" Yo Wan berseru sambil mengerahkan khikang hingga suaranya bergema di
seluruh hutan. Namun tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri. la mengejar lebih cepat lagi.
Tiba-tiba ia tersentak kaget dan berhenti melangkah. Di depan kakinya tergeletak sehelai sapu tangan
sutera kuning. Bukankah ini sapu tangan yang dia lihat tadi mengikat rambut Siu Bi? Dipungutnya sapu
tangan itu dan jari-jari tangannya menggigil. Sapu tangan itu berlepotan darah! Sepasang matanya menjadi
beringas ketika ia menoleh ke kanan kiri, lalu dia meloncat ke atas pohon, memandang ke sana ke mari.
"Nona Siu Bi! Di mana kau...?!" la berseru memanggil. Tetap sunyi tiada jawaban.
"Celaka, apa artinya ini...?" Yo Wan meloncat turun lagi, memandangi sapu tangan di tangannya. "Janganjangan..."
la tidak berani melanjutkan kata-kata hatinya, melainkan mengantongi kain sutera itu dan
berkelebat cepat ke depan untuk melakukan pengejaran lebih cepat lagi.
Apakah yang terjadi dengan diri Siu Bi?
Gadis itu merasa amat marah, penasaran, malu dan kecewa sekali setelah mendapat kenyataan bahwa
ilmu kepandaiannya jauh kalah oleh Yo Wan. Memang Siu Bi berwatak aneh, mudah sekali berubah.
Tadinya ia hendak menguji kepandaian Yo Wan dan kalau ternyata Yo Wan benar lihai, akan dijadikan
sahabatnya menghadapi musuh besarnya. Akan tetapi sesudah ternyata dia kalah jauh, dia menjadi
kecewa dan marah, lalu pergi sambil menangis! Malah dia tinggalkan begitu saja pedangnya yang terlepas
dari tangan.
Siu Bi menggunakan ilmu lari cepat. la maklum bahwa Yo Wan tentu akan mengejarnya, maka ia lari
sekuat tenaga. Kemudian, sampai di pinggir hutan ia melihat bahwa daerah itu banyak terdapat batu-batu
besar yang merupakan dinding lereng gunung dan tampak bahwa tempat itu terdapat banyak goanya yang
gelap dan terbuka seperti mulut raksasa. Tanpa banyak pikir lagi ia lalu membelok ke daerah ini, memilih
dunia-kangouw.blogspot.com
sebuah goa yang paling gelap dan besar, lalu menyelinap masuk.
Goa itu gelap sekali dan lebar. Begitu masuk, tubuhnya langsung diselimuti kegelapan, sama sekali tidak
tampak dari luar. la masuk terus dan ternyata terowongan dalam goa itu membelok ke kiri sehingga ia
terbebas sama sekali dari sinar matahari. Terlalu gelap di situ, melihat tangan sendiri pun hampir tidak
kelihatan.
Siu Bi meraba-raba dan ketika mendapatkan sebuah batu yang licin dan bersih, ia duduk di situ terengahengah.
Disusutnya air matanya dengan ujung lengan bajunya.
Tiba-tiba ia hampir menjerit saking kagetnya ketika terdengar suara orang tertawa, apa lagi ketika disusul
dengan dua buah tangan yang merangkul pundaknya! Secara otomatis tangan kirinya bergerak,
menghantam ke belakang. Karena terkejut, maka sekaligus dia mengerahkan Hek-in-kang. Tangannya
yang terbuka bertemu dengan bagian perut yang lunak.
"Bukkk!" orang yang punya perut itu merintih dan terlempar ke belakang.
Siu Bi melompat bangun. Akan tetapi mendadak ia mencium bau harum yang luar biasa, yang membuat
kepalanya pening dan matanya melihat seribu bintang, terhuyung-huyung dan roboh dalam pelukan dua
buah lengan yang kuat!
Beberapa detik kemudian, dua orang lelaki tinggi besar yang usianya kurang lebih empat puluh tahun,
melompat keluar dari dalam goa. Salah seorang di antara mereka, yang berjenggot kaku, memondong
tubuh Siu Bi yang pingsan. Setibanya di luar goa, mereka memandang wajah Siu Bi dan si pemondong
tertawa.
"Ha-ha-ha, luar biasa sekali, Bian-te (adik Bian). Kita menangkap seorang bidadari!"
Kawannya yang mukanya pucat tertawa masam. "Bidadari namun pukulannya seperti setan! Kalau aku tadi
tidak cepat-cepat mengerahkan sinkang, kiranya isi perutku sudah hancur dan hangus. Heran, gadis cilik
secantik ini kepandaiannya hebat dan pukulannya dahsyat."
"Dia tentu murid orang pandai. Jangan-jangan berkawan yang lebih lihai lagi. Mari kita cepat bawa pergi.
Gong-twako bersama perahunya tentu berada di pantai. Hayo, cepat!"
Dua orang itu berlari cepat sekali menuju ke barat. Tidak lama kemudian mereka tiba di pinggiran Sungai
Fen-ho. Si muka pucat bersuit keras sekali dan tiba-tiba dari rumpun alang-alang muncul sebuah perahu
kecil cat hitam yang didayung oleh seorang laki-laki berambut putih, berusia lima puluh tahunan.
"Hee, kalian membawa seorang gadis, untuk apa? Siapa dia?"
Dua orang tinggi besar itu melompat ke dalam perahu dengan gerakan yang ringan. Si jenggot kasar
merebahkan tubuh Siu Bi yang masih pingsan itu ke dalam bilik perahu, kemudian ia keluar lagi untuk
bercakap-cakap dengan dua orang temannya.
"Kami tidak tahu dia siapa. Seorang bidadari!" katanya.
"Bidadari yang pukulannya seperti setan!" sambung si muka pucat dan tiba-tiba meringis, lalu muntahkan
darah yang menghitam.
Dua orang temannya kaget. Kakek rambut putih itu memandang dengan kening berkerut. "Bian-te, kau
terluka dalam yang hebat."
"Lekas kita pergi ke Ching-coa-to. Gong-twako, gadis itu seorang yang cantik dan pandai, tentu kongcu
(tuan muda) akan senang sekali mendapatkannya, dan kita akan mendapat jasa besar. Juga Bian-te perlu
segera diobati. Agaknya hanya toanio (nyonya) seorang yang mampu mengobatinya. Pukulannya hebat
sekali dan agaknya mengandung racun yang aneh."
Si rambut putih bersuit dan muncullah perahu kedua, didayung seorang laki-laki muda. "Kau menjaga di
sini, kami akan ke pulau," pesannya dan didayunglah perahu hitam itu dengan cepat sekali, mengikuti
aliran sungai sehingga meluncur dengan lajunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beberapa jam kemudian, si muka pucat muntah-muntah lagi, keadaannya makin payah. Dua orang
temannya berusaha untuk mengurut jalan darah dan menempelkan telapak tangan pada punggungnya
untuk membantu pengerahan sinkang, namun hasilnya tidak banyak, hanya membuat si muka pucat itu
dapat bernafas lebih leluasa. Mukanya makin pucat dan matanya beringas.
"Keparat, aku harus membalas ini." la bangkit hendak memasuki bilik perahu.
"Bian-te, sabarlah," cegah si brewok.
"Perjalanan ini masih lama, agaknya aku tak akan kuat. Tidak lama lagi aku mati, dan sebelum mati, aku
harus melampiaskan penasaran."
"Jangan bunuh dia, Bian-te...," cegah si rambut putih. "Agaknya dia sudah terkena bius racun merah kita, ia
tidak berdaya lagi. Itu sudah merupakan pembalasan dan nanti kalau ia terjatuh ke tangan kongcu, ha-haha,
tentu tak lama lagi dihadiahkan kepadamu. Masih banyak waktu untuk membalas penasaranmu."
"Aku tidak bisa menunggu lagi. Sesampainya di sana, tentu aku sudah menjadi mayat. Gong-twako, lukaku
hebat, aku merasa ini. Biarkan aku memilikinya sebelum aku mati."
"Bian-te, dia hendak kami berikan kepada kongcu. Kalau kau mendahuluinya, tentu kau akan dihukum
kongcu."
"Kongcu tidak tahu tentang dia, laginya, kalau sebentar lagi aku mati, kongcu mau bisa berbuat apa
kepadaku?" Si muka pucat memasuki bilik dan dua orang kawannya hanya saling pandang.
"Dia sudah terluka hebat dan agaknya betul-betul tak akan dapat ditolong, biarkanlah dia menebus
kekalahan dan membalas dendam," kata si rambut putih sambil mengeluarkan pipa tembakaunya dan
mengisap. Si brewok juga mengangkat pundak.
Siu Bi sudah kena bubuk beracun Ang-hwa-tok (Racun Kembang Merah) yang membuat dia mabuk dan
pingsan. Akan tetapi gadis ini adalah murid dari Hek Lojin, seorang tokoh dunia hitam. Ketika gadis ini
mempelajari Iweekang, latihannya dengan berjungkir balik sehingga dalam pengerahan Hek-in-kang, jalan
darahnya membalik dan sinkang dalam tubuhnya membentuk hawa Hek-in-kang yang beracun hitam.
Oleh karena itu, ketika ia terkena pengaruh racun Ang-hwa-tok, hanya sebentar saja ia tercengkeram dan
pingsan. Pada saat itu, ia telah mulai bergerak biar pun masih pening, dan ketika ia membuka matanya,
cepat ia meramkan lagi karena segala yang tampak berputaran sedangkan darahnya di kepala berdenyutdenyut.
Cepat-cepat ia mengerahkan sinkang untuk mengusir pengaruh memabukkan ini. Untung baginya, pada
saat tadi terkena racun Ang-hwa-tok, dia baru mengerahkan Hek-in-kang sehingga tenaga mukjijat inilah
yang menolak sebagian besar pengaruh racun. Sekarang dengan sinkang ia berhasil mengusir hawa
beracun, akan tetapi pikirannya masih belum sadar benar dan ia merasa seakan-akan melayang di
angkasa, belum sadar benar dan belum ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya. la merasa seperti
dalam alam mimpi.
Mendadak ada orang menubruk dan memeluknya sambil mencengkeram pundak. Siu Bi kaget bukan main,
cepat membuka matanya. Hampir dia menjerit ketika melihat bahwa yang menindihnya adalah seorang
lelaki bermuka pucat bermata beringas dan mulutnya menyeringai liar, dari ujung bibirnya bertetesan darah
menghitam!
Dia tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang mengerikan ini terhadap dirinya. Dia menyangka bahwa ia
akan dibunuh dan dicekik, maka cepat Siu Bi mengerahkan seluruh tenaga Hek-in-kang yang ada pada
dirinya, kemudian sambil meronta ia menggunakan kedua tangannya menghantam dengan pengerahan
Hek-in-kang.
Lambung dan leher orang yang bermuka pucat itu dengan tepat kena dihantam. Dia memekik keras,
tubuhnya terpental dan roboh terguling ke bawah dipan. Pada waktu Siu Bi melompat bangun, ternyata
orang itu sudah rebah dengan mata mendelik dan dari mulutnya bercucuran darah, nafasnya sudah putus!
Siu Bi bergidik mengenangkan bahaya yang hampir menimpa dirinya. Dengan penuh kebencian ia lalu
menendang mayat itu sehingga terlempar ke luar dari pintu bilik kecil.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, si brewok dan si rambut putih yang sedang enak-enakan duduk di atas perahu, terkejut
bukan main mendengar pekik tadi. Cepat-cepat mereka melempar pipa tembakau ke samping dan
melompat, langsung menyerbu ke dalam bilik.
Sesosok bayangan menyambar mereka. Si brewok menyampok dan bayangan itu adalah temannya
sendiri, si muka pucat yang sekarang sudah menjadi mayat! Tentu saja di samping rasa kaget, mereka
berdua marah sekali melihat seorang teman mereka tewas dalam keadaan seperti itu. Bagaikan dua ekor
beruang luka mereka berteriak keras dan menyerbu ke dalam bilik.
Siu Bi menjadi nekat. la sudah siap dan telah mengerahkan Hek-in-kang untuk melawan. Akan tetapi
sedikit banyak racun Ang-hwa-tok masih mempengaruhinya. Dia mencoba untuk menerjang kedua orang
yang menyerbu itu dengan pukulan Hek-in-kang.
Namun dua orang lawannya bukanlah orang lemah. Mereka itu, terutama si rambut putih, adalah jagoanjagoan
dari Ching-coa-to. Mereka sudah tahu akan kelihaian ilmu pukulan Siu Bi, maka cepat mereka
mengelak lalu balas menyerang.
"Gong-twako, kita tangkap hidup-hidup!" seru si brewok.
Si rambut putih maklum akan kehendak kawannya ini. Memang, setelah gadis ini berhasil membunuh
seorang kawan, bila dapat menangkapnya dan menyerahkannya hidup-hidup kepada kongcu mereka di
Ching-coa-to, jasanya tidak kecil. Pertama, dapat menangkap musuh yang membunuh seorang anggota
Ang-hwa-pai (Perkumpulan Kembang Merah), kedua kalinya, dapat menghadiahkan seorang gadis yang
cantik molek kepada kongcu!
Siu Bi melawan dengan nekat, menangkis sepenuh tenaga dan mencoba merobohkan mereka dengan
pukulan Hek-in-kang. Namun, kedua orang musuhnya ini amat kuat dan gesit, sedangkan kepalanya masih
terasa pening.
Tiba-tiba tampak sinar merah. Siu Bi cepat-cepat menahan nafasnya, namun terlambat. Kembali dia
mencium bau yang amat harum dan tiba-tiba dia menjadi lemas dan roboh pingsan lagi! Ternyata bahwa si
rambut putih sudah berhasil merobohkannya dengan bubuk racun merah, senjata rahasia yang menjadi
andalan para tokoh Ching-coa-to.
Siapa mereka ini? Mereka bukan lain adalah tokoh-tokoh yang menjadi anggota sebuah perkumpulan yang
disebut Ang-hwa-pai. Sesuai nama perkumpulannya, para tokoh ini memiliki tanda setangkai bunga
berwarna merah, menghias sebagai sulaman pada baju yang menutupi dada kiri. Ang-hwa-pai bersarang di
Pulau Ching-coa-to, yaitu Pulau Ular Hijau.
Kiranya para pembaca cerita Pendekar Buta masih ingat akan nama Ching-coa-to. Pulau ini adalah tempat
tinggal Ching-toanio, ibu dari Giam Hui Siang dan ibu angkat dari Hui Kauw isteri Pendekar Buta. Setelah
Ching-toanio meninggal dan kedua orang puterinya itu menikah serta meninggalkan Ching-coa-to, pulau itu
menjadi kosong, hanya ditinggali bekas anak buah Ching-toanio yang hidup sebagai perampok dan bajak
sungai.
Beberapa bulan kemudian, muncul seorang wanita yang kulitnya agak kehitaman dengan pakaiannya yang
serba merah. Wanita galak yang genit, yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi masih
kelihatan pesolek dan genit sekali. Dia ini bukanlah wanita sembarangan dan para pembaca dari cerita
Pendekar Buta tentu mengenalnya. Dia merupakan seorang di antara tiga saudara Ang-hwa Sam-cimoi
yang amat lihai ilmu silatnya.
Di dalam cerita Pendekar Buta, tiga orang kakak beradik ini bertanding hebat melawan Pendekar Buta.
Dua di antara mereka, yaitu Kui Biauw dan Kui Siauw, tewas dan yang tertua, Kui Ciauw, berhasil
melarikan diri sambil membawa mayat dua orang saudaranya. Wanita yang datang ke Ching-coa-to adalah
Kui Ciauw inilah. Tentu saja para anak buah Ching-coa-to telah mengenalnya.
Di dunia hitam, siapa yang tidak mengenal Ang-hwa Sam-cimoi yang bahkan lebih lihai dari pada suci
mereka, si wanita iblis Hek-hwa Kui-bo yang sudah tewas pula? Karena percaya akan kelihaian Kui Ciauw,
para anak buah Ching-coa-to mengangkat Kui Ciauw menjadi kepala dan wanita ini lalu mendirikan sebuah
perkumpulan yang diberi nama Ang-hwa-pai, sesuai dengan julukannya, yaitu Ang-hwa Nio-nio.
dunia-kangouw.blogspot.com
la lalu mengumpulkan orang-orang dari golongan hitam, dipilih yang memiliki kepandaian tinggi. Malah ia
lalu melatih mereka dan menurunkan kepandaian melepas bubuk racun kembang merah kepada para
pembantunya. Setelah masa peralihan kekuasaan, dengan memanfaatkan keadaan yang kacau,
perkumpulan hitam ini lantas merajalela, merampok membajak dan keadaan mereka menjadi makin kuat
karena banyak perampok ternama dan lihai yang melihat kemajuan dan pengaruh Ang-hwa-pai, lalu
menggabungkan diri.
Ang-hwa Nio-nio atau Kui Ciauw ini tidak pernah melupakan dendam hatinya terhadap Pendekar Buta yang
sudah membunuh dua orang adiknya. Akan tetapi maklum bahwa tidak mudah membalas dendam kepada
orang sakti itu, ia tekun memperdalam ilmunya. Bahkan ia lalu menyusun kekuatan partainya dengan
maksud kelak akan menyerang ke Liong-thouw san.
Ang-hwa Nio-nio, seperti lainnya para tokoh dunia gelap, biar pun sudah berusia hampir setengah abad,
namun masih merupakan seorang wanita cabul yang gila laki-laki. Maka, bukan rahasia lagi bagi para anak
buahnya akan kesukaan ketua ini mengumpulkan pria yang masih muda dan tampan, menjadikan mereka
itu kekasih atau ‘selir’. Tentu saja banyak di antara mereka yang melakukan hal ini karena dipaksa dengan
ancaman maut.
Setelah muncul seorang pemuda tampan bernama Ouwyang Lam, kerakusannya dalam mengumpulkan
pemuda-pemuda tampan baru berhenti. Ouwyang Lam adalah seorang pemuda dari daerah Shan-tung,
bertubuh tegap kuat berwajah tampan, anak seorang bajak tunggal. Bersama ayahnya, Ouwyang Lam
menggabungkan diri pada Ang-hwa-pai dan tentu saja pemuda tampan ini tidak terlepas dari incaran Anghwa
Nio-nio. Akan tetapi, kali ini Ang-hwa Nio-nio betul-betul ‘jatuh hati’ kepada Ouwyang Lam.
Agaknya cinta tidak memilih umur sehingga dalam usia hampir setengah abad, Ang-hwa Nio-nio kali ini
benar-benar jatuh cinta! Segala kehendak Ouwyang Lam selalu dituruti dan pertama-tama yang diminta
oleh pemuda pintar ini adalah mengusir atau membunuhi puluhan orang ‘selir’ laki-laki itu! la ingin
memonopoli ketua Ang-hwa-pai, bukan karena cantiknya, melainkan karena kedudukannya yang mulia dan
karena pemuda ini ingin pula mewarisi kepandaiannya.
Dan demikianlah kenyataannya. Ouwyang Lam lalu diambil sebagai ‘putera angkat’ oleh Ang-hwa Nio-nio,
mendapat sebutan kongcu (tuan muda), dihormat oleh seluruh anggota Ang-hwa-pai dan selain kedudukan
yang tinggi ini, juga pemuda yang cerdik ini setiap hari memeras ilmu-ilmu kesaktian dari ‘ibu angkat" alias
kekasihnya ini untuk dimilikinya.
Terdorong cinta kasih yang membuatnya tergila-gila, Ang-hwa Nio-nio tidak segan-segan menurunkan
semua ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu beberapa tahun saja ilmu kepandaian Ouwyang Lam
sangat hebat. Bahkan Ilmu Pedang Hui-seng Kiam-sut (Ilmu Pedang Bintang Terbang) yang menjadi
kebanggaan Ang-hwa Sam-cimoi dahulu, telah diajarkan kepada Ouwyang Lam.
Dasar Ouwyang Lam memang pandai mengambil hati, maka dia bersumpah kepada kekasihnya bahwa
kelak dia sendiri yang akan membalaskan dendam kekasihnya itu kepada Pendekar Buta. Tentu saja untuk
ini dia memerlukan ilmu kepandaian yang tinggi agar dapat berhasil.
Tidak ini saja, malah pemuda tampan ini begitu dimanja sehingga segala permintaannya dituruti, termasuk
pula kegemarannya akan wanita cantik. Ang-hwa Nio-nio yang sudah setengah tua itu tidak memiliki hati
cemburu, bahkan rela membagi cinta kasih Ouwyang Lam.
Demikianlah sekelumit keadaan Ang-hwa-pai di Ching-coa-to. Kalau kepalanya bergerak ke utara, tak
mungkin ekornya menuju selatan demikian kata orang-orang tua. Dengan pimpinan macam Ang-hwa Nionio
dan Ouwyang Lam, dapat dibayangkan betapa bobrok moral para anak buah dan anggota Ang-hwapai.
Mereka seperti mendapat contoh dan demikianlah, seluruh wilayah di sebelah barat dan selatan kota raja,
penuh dengan orang-orang Ang-hwa-pai yang bergerak dan merajalela menjadi perampok atau bajak yang
malang-melintang tanpa ada yang berani melawan mereka. Asal ada penjahat yang memakai tanda bunga
merah di dada yang melakukan gerakan, tidak ada yang berani berkutik!
Ouwyang Lam amat pandai dan cerdik sehingga untuk memperkuat kedudukannya, dia tidak segan-segan
mempergunakan uang untuk menyuap sana-sini, menghubungi para pembesar dan menghamburkan uang
secara royal kepada para pembesar korup yang memenuhi negara pada masa itu. Para pembesar korup
sangat berterima kasih dan menganggap orang-orang Ang-hwa-pai amat baik. Mereka tidak peduli bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
uang yang dipakai menyogok dan menyuap mereka itu adalah uang hasil rampokan!
Siu Bi sungguh malang nasibnya, terjatuh ke tangan tiga orang tokoh Ang-hwa-pai. Akan tetapi baiknya ia
memiliki wajah yang amat jelita sehingga hal ini menggerakkan hati dua orang penawannya untuk mencari
jasa hendak mempersembahkan dia kepada Ouwyang Lam!
Tentu saja hal ini baik baginya, karena dalam keadaan pingsan di perahu itu, nasibnya sudah berada di
tangan si rambut putih dan si brewok. Namun, mengingat akan hadiah dan kedudukan yang mungkin
dinaikkan, dua orang itu tidak berani mengganggu Siu Bi, ingin mempersembahkan gadis ini kepada
kongcu mereka dalam keadaan utuh! Mereka hanya mengikat kaki tangan Siu Bi, kemudian cepat-cepat
mereka mendayung perahu, langsung menuju ke Ching-coa-to.
Dan inilah sebabnya mengapa Yo Wan sia-sia saja mengejar. la tidak mengira bahwa Siu Bi ditangkap
orang di dalam goa kemudian dilarikan dengan perahu. Terlalu lama dia mencari-cari di dalam hutan,
berputar-putar tanpa hasil. Baru setelah menjelang senja, ia sampai di pinggir Sungai Fen-ho, berdiri
termangu-mangu di tepi sungai…..
********************
Pada saat tersadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya dalam keadaan terikat kaki tangannya serta
rebah di atas pembaringan dalam perahu, Siu Bi menjadi marah dan mendongkol sekali. Ia merasa lega
bahwa tubuhnya tidak merasakan sesuatu, juga tidak menderita luka. Akan tetapi ketika ia mencoba untuk
mengerahkan tenaga melepaskan diri dari belenggu, ia mendapat kenyataan bahwa tali-tali yang mengikat
kaki tangannya amatlah kuat, tak mungkin diputus mempergunakan tenaga.
la mengeluh dan mulailah ia menyesal. Kenapa ia melarikan diri meninggalkan Yo Wan? Kalau ada Yo
Wan di dekatnya, tak mungkin ia sampai mengalami bencana seperti ini. Lebih menyesal lagi ia mengapa
pedangnya, Cui-beng-kiam, ia tinggalkan di depan kaki Yo Wan. Kalau perginya membawa senjatanya
yang ampuh itu lebih baik lagi. Kalau ia tidak bertanding melawan Yo Wan, kalau... kalau... ahh, tidak akan
ada habisnya hal-hal yang sudah terlanjur dan sudah lalu disesalkan. Sesal kemudian tiada guna.
Perahu itu dengan cepatnya meluncur sepanjang Sungai Fen-ho, sampai masuk Sungai Kuning di selatan.
Kemudian membelok ke timur melalui Sungai Kuning yang lebar dan diam.
Selama beberapa hari melakukan perjalanan melalui air ini, Siu Bi tetap dalam belenggu. Akan tetapi gadis
ini tidak diganggu dan karena mengharapkan sewaktu-waktu mendapat kesempatan membebaskan diri,
Siu Bi tidak menolak suguhan makan minum yang setiap hari diberi oleh dua orang penawannya. la harus
menjaga kesehatannya dan memelihara tenaga agar dapat dipergunakan sewaktu ada kesempatan.
Perjalanan dilanjutkan melalui darat. Kedua orang itu dengan mudah mendapatkan tiga ekor kuda dari
kawan-kawan mereka yang memang banyak terdapat di sekitar daerah itu, merajalela dan boleh dibilang
menguasai keadaan di sebelah selatan dan barat dan kota raja.
Akhirnya mereka menyeberang telaga dan mendarat di Pulau Ching-coa-to di tengah telaga. Pulau ini
sekarang berubah keadaannya jika dibandingkan belasan tahun yang lalu. Setelah Ang-hwa-pai berdiri dan
pulau ini dijadikan pusat, pulau ini dibangun dan dari jauh saja sudah tampak bangunan-bangunar yang
besar dan megah. Taman bunga yang dulu menjadi kebanggaan Ching-toanio dan puteri-puterinya,
terpelihara baik-baik, malah dilengkapi pondok-pondok mungil karena tempat ini terkenal pula sebagai
tempat Ang-hwa Nio-nio dan Ouwyang Lam bersenang-senang.
Siu Bi merasa heran dan kagum juga sesudah ia dibawa mendarat dari perahu yang menyeberangi telaga.
Pulau itu benar-benar indah, juga megah. Apa lagi ketika mereka mendarat di pulau, mereka disambut oleh
sepasukan penjaga yang berpakaian lengkap, berseragam dan bersikap gagah. Di dada kiri mereka
tampak sebuah lencana, yaitu sulaman berbentuk bunga merah.
Si rambut putih yang agaknya mempunyai kedudukan lumayan tinggi di pulau ini, segera menyuruh
seorang penjaga lari melapor kepada pangcu (ketua) dan kongcu (tuan muda). Penjaga itu berlari cepat.
Siu Bi digiring berjalan memasuki pulau itu dengan perlahan, diiringkan sepasukan penjaga dan diapit oleh
kedua orang penawannya.
Tak lama kemudian rombongan ini berhenti dan dari depan tampak serombongan orang berjalan datang
dengan cepat. Siu Bi membelalakkan mata, menatap penuh perhatian.
dunia-kangouw.blogspot.com
la melihat barisan wanita-wanita muda cantik yang gagah sikapnya, memegang pedang telanjang di
tangan, berjalan dengan teratur di kanan dan kiri. Di tengah-tengah tampak berjalan dua orang.
Yang seorang adalah wanita tua yang berkulit hitam dan pakaiannya biar pun terdiri dari sutera mahal dan
amat mewah, akan tetapi benar-benar tidak serasi karena warnanya merah darah dan berkembangkembang,
amat tidak cocok dengan kulit hitam itu. Apa lagi karena muka itu meski pun dibedaki dan
ditutupi gincu, tetap saja memperlihatkan keriput-keriput usia tua.
Seorang nenek yang amat pesolek dan sinar matanya tajam dan liar. Akan tetapi langkah kakinya
sedemikian ringannya seakan-akan tidak menginjak bumi, menandakan bahwa ginkang dari nenek ini luar
biasa hebatnya.
Orang kedua adalah seorang laki-laki muda, kurang lebih dua puluh tahun. Tubuhnya tegap, agak pendek
namun wajahnya tampan sekali dengan kulit yang putih kuning, alis hitam panjang dan matanya bersinarsinar.
Mereka ini bukan lain adalah Ang-hwa Nio-nio atau paicu, ketua dari Ang-hwa-pai, dan Ouwyang Lam atau
kongcu yang sesungguhnya mempunyai kekuasaan tertinggi di sana karena si ketua itu berada di telapak
tangan si pemuda ganteng!
Tempat itu kini penuh dengan para anggota Ang-hwa-pai dan semua orang memandang Siu Bi penuh
perhatian. Mereka bersikap hormat ketika ketua mereka muncul. Si rambut putih dan si brewok juga segera
berlutut memberi hormat, lalu berdiri lagi.
Pandang mata Ouwyang Lam untuk sejenak menjelajahi Siu Bi, dari rambut sampai ke kaki, kemudian dia
menoleh kepada si rambut putih. Ada pun Ang-hwa Nio-nio segera menegur.
"Betulkah seperti yang kudengar bahwa bocah ini sudah membunuh A Bian? Mengapa kalian tidak segera
membunuhnya dan perlu apa dibawa-bawa ke sini?"
"Maaf, kami sengaja menangkap dan membawanya ke sini supaya mendapat putusan sendiri tentang
hukumannya dari Paicu dan Kongcu," kata si rambut putih dengan nada suara menjilat. "Lagi pula,
bagaimana kami dapat membuktikan tentang kematian A Bian kalau pembunuhnya tidak kami seret ke
sini?"
"Hemmm, bocah yang berani membunuh seorang pembantuku, apa lagi hukumannya selain mampus? Biar
aku sendiri membunuhnya!" Tangan nenek ini bergerak, terdengar angin bercuitan ketika angin pukulan
meluncur ke arah dada Siu Bi.
Gadis ini terkejut bukan main. Hebat pukulan ini dan karena kedua tangannya masih dibelenggu, hanya
kedua kakinya saja yang bebas, ia terpaksa melompat cepat ke kiri.
"Srrrttt…!"
Pinggir bajunya tersambar angin pukulan, pecah dan hancur berantakan. Wajah Siu Bi berubah. la maklum
bahwa nenek ini merupakan lawan yang berat, seorang yang amat lihai ilmunya.
"Ihhh, kau berani mengelak?" Nenek itu memekik, suaranya melengking tinggi.
Kembali tangannya bergerak, sekarang angin yang berciutan itu menyambar ke arah leher Siu Bi. Gadis ini
kembali mengelak, akan tetapi kurang cepat sehingga pundaknya terhajar. Baiknya ia telah siap dan
mengerahkan Hek-in-kang di tubuhnya, maka ia tidak mengalami luka, hanya terhuyung dan roboh miring
di atas tanah.
Muka nenek itu berubah. Baru kali ini ia mengalami hal yang seaneh ini. Biasanya, kalau pukulannya sudah
dilakukan, tentu seorang lawan akan roboh binasa. Apa lagi kalau pukulannya yang mengandung hawa
racun merah ini mengenai sasaran, tentu yang terkena akan terluka dalam.
Akan tetapi gadis ini hanya terhuyung dan roboh, tetapi tidak terluka. Ini membuktikan bahwa gadis ini ‘ada
isinya’. Saking penasaran, ia lalu mengerahkan tenaga dan hendak memukul lagi. Akan tetapi Ouwyang
Lam mencegah, menyentuh lengan nenek itu sambil berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Nio-nio, harap sabar dulu..."
"Apa?" Kau masih belum puas dengan mereka itu dan hendak mengambil dia? Hati-hati, perempuan
seperti ia bukan untuk hiburan, sekali ia lolos akan mendatangkan bencana!" kata Ang-hwa Nio-nio sambil
menuding ke arah Siu Bi yang sudah melompat bangun lagi dan memandang mereka dengan mata
terbelalak penuh hawa amarah dan kebencian. Sedikit pun gadis ini tidak memperlihatkan rasa takut.
"Bukan begitu, Nio-nio. Ingat, Nona ini mempunyai kepandaian, akan tetapi menghadapi seorang nona
muda, dua orang kita menawannya dan membelenggunya seperti itu, sudah merupakan hal yang
meremehkan nama besar kita. Apa lagi sekarang kau hendak membunuhnya dalam keadaan terbelenggu,
aku khawatir nama besarmu akan ternoda. Nio-nio, biarkan aku menghadapinya setelah belenggunya
dilepas, agaknya ia lihai, patut aku berlatih dengannya. Ehh, Nona, sesudah kau lancang tangan
membunuh seorang pembantu kami dan kau telah ditangkap ke sini, kau hendak berkata apa lagi?"
Siu Bi mengerutkan alisnya, matanya seolah-olah mengeluarkan api ketika memandang kepada wajah
tampan itu. "Kenapa banyak cerewet lagi? Mau bunuh boleh bunuh, siapa yang takut mampus? Pura-pura
akan membebaskan, hemmm, kalau benar-benar kedua kakiku bebas, aku akan membunuh kalian semua,
tak seekor pun akan kuberi ampun!"
Inilah makian dan hinaan yang sangat hebat. Semua orang sampai melongo. Alangkah beraninya bocah
ini. Sudah tertawan, sedang berada di tangan musuh dan tak berdaya, nyawanya tergantung di ujung
rambut, tapi masih begitu besar nyalinya. Benar-benar hal yang amat mengherankan untuk seorang gadis
remaja seperti ini.
Akan tetapi Ouwyang Lam tertawa girang. Hatinya amat tertarik kepada gadis ini. Cantik jelita dan gagah
perkasa. Walau pun baginya tidaklah sukar untuk mencari gadis cantik, malah boleh jadi lebih cantik dari
pada Siu Bi, akan tetapi takkan mudah mendapatkan seorang gadis yang begini gagah perkasa dan
bernyali harimau.
Kalau dia bisa mendapatkan seorang seperti itu di sampingnya, selain dia mendapatkan pasangan yang
setimpal, juga gadis ini dapat merupakan tambahan tenaga yang amat penting dan memperkuat
kedudukan mereka. Memang Ouwyang Lam orangnya cerdik, penuh tipu muslihat dan akal yang halus
sehingga biar pun di hatinya dia mempunyai niat yang tidak baik, namun pada lahirnya dia bisa kelihatan
amat baik dan peramah.
"Nona, karena kau seorang gagah, maka kuberi kesempatan untuk membela diri. Kami dari Ang-hwa-pai
juga orang-orang gagah dan menghargai kegagahan. Kau kubebaskan dari belenggu dan boleh membela
diri dengan kepandaianmu!"
Tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu belenggu pada kedua tangan Siu Bi sudah putus. Kiranya itu tadi
adalah sinar pedang di tangan Ouwyang Lam!
Siu Bi kagum. Ia maklum bahwa pemuda ini juga merupakan lawan yang berat. Namun, mana ia menjadi
gentar karenanya? la tersenyum mengejek, menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir rasa
pegal.
Berhari-hari sudah dia dibelenggu dan hal ini membuat kedua lengannya terasa pegal. la mengerahkan
tenaga sinkang untuk mendorong peredaran darahnya, terutama di bagian kedua lengan sehingga ia dapat
mengusir semua rasa kaku dan dapat bergerak lincah kembali. Setelah merasa dirinya sehat kembali, ia
lalu menghadapi Ouwyang Lam dan berkata,
"Nah, aku telah siap. Siapa yang akan maju menghadapi aku? Ataukah barang kali kalian hendak
mengandalkan kegagahan dengan cara pengeroyokan?" Ucapan ini merupakan tantangan yang
mengandung ejekan.
Saking marahnya muka Ang-hwa Nio-nio yang hitam sampai berubah menjadi semakin hitam. Gadis ini
benar-benar memandang rendah Ang-hwa-pai. Akan tetapi Ouwyang Lam tersenyum dan melangkah
maju. Pedangnya masih berada di tangan, akan tetapi dia tidak segera menyerang, melainkan berkata
halus,
"Nona, aku sudah siap dengan pedangku. Harap kau suka mengeluarkan senjatamu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Siu Bi menghargai sikap pemuda tampan ini, setidaknya pemuda ini memiliki watak yang
gagah, tidak seperti nenek yang tak tahu malu menyerangnya ketika masih terbelenggu kedua tangannya
tadi. Akan tetapi pedang Cui-beng-kiam dia tinggalkan di depan kaki Yo Wan.
”Aku mengandalkan kedua kepalan tangan dan kakiku. Kalau pedangku Cui-beng-kiam berada di sini,
mana orang-orangmu mampu menghinaku?"
Rasa kagum Ouwyang Lam makin besar dan dia yakin bahwa gadis ini tentulah seorang pendekar wanita
yang gagah. Dia segera menyimpan kembali pedangnya dan berkata, "Kalau begitu, marilah kita mainmain
dengan tangan kosong. Majulah, Nona."
Siu Bi tak mau sungkan-sungkan lagi. Setelah sekarang ia ditantang dan tidak dikeroyok, ini merupakan
keuntungannya dan ia harus membela diri sekuat tenaga. Sambil berseru panjang ia lalu menerjang maju.
Akan tetapi betapa pun juga, ia ingat akan budi pemuda ini.
Biar pun merupakan seorang musuh, pemuda ini harus ia akui telah menolong nyawanya tadi ketika ia
hendak dibunuh dalam keadaan terbelenggu oleh nenek yang lihai itu. Maka ia pun hanya ingin
merobohkan pemuda ini saja, kalau mungkin tanpa melukainya, apa lagi membunuhnya. Oleh karena inilah
maka ia lalu memainkan ilmu silat biasa yang ia pelajari dari ayahnya dan dari Hek Lojin. Gerakannya
sangat gesit, serangannya ganas dan dahsyat, juga tenaga dalamnya amat kuat.
"Bagus!" Ouwyang Lam berseru ketika menyaksikan ketangkasan lawannya.
la juga menggerakkan kaki tangannya, bersilat dengan gaya yang indah. Dalam sekejap mata saja,
keduanya sudah saling terjang, saling serang dengan hebat. Gerakan mereka begitu cepatnya sehingga
sukar diikuti oleh pandangan mata karena bayangan itu sudah menjadi satu. Angin pukulan dan gerakan
tubuh menyambar-nyambar ke kanan kiri dan empat puluh jurus lewat dengan amat cepatnya.
Diam-diam Ang-hwa Nio-nio mendongkol melihat murid dan kekasihnya itu tidak segera menggunakan
jurus-jurus Ilmu Silat Hui-seng Kun-hoat, yaitu Ilmu Silat Bintang Terbang yang merupakan ilmu silat
tertinggi yang dimilikinya.
Sementara itu, diam-diam Siu Bi mengeluh. Kiranya pemuda ini benar-benar lihai sekali sehingga
jangankan bicara tentang merobohkan tanpa melukai, mengalahkan pemuda ini saja masih merupakan hal
yang belum tentu kecuali kalau ia mainkan Hek-in-kang. Akan tetapi kalau dia keluarkan ilmu ini, tak
mungkin lagi mengalahkan tanpa membahayakan jiwa lawannya.
"Kenapa tidak keluarkan Hui-seng (Bintang Terbang)?" tiba-tiba saja nenek itu berseru menegur murid dan
kekasihnya.
Melihat Ouwyang Lam sampai puluhan jurus belum juga mampu mengalahkan lawan, Ang-hwa Nio-nio
menjadi marah dan penasaran. Hal ini akan membikin malu dirinya, merendahkan nama Ang-hwa Nio-nio
sekaligus Ang-hwa-pai! Memang hal ini amat luar biasa bagi para anggota Ang-hwa-pai.
Biasanya, Ouwyang Kongcu adalah orang yang amat lihai, hanya kalah oleh Ang-hwa Nio-nio dan begitu ia
turun tangan semua tentu beres. Belum pernah para anggota ini melihat ada lawan yang mampu melawan
Ouwyang Kongcu lebih dari sepuluh jurus.
Namun sekarang, dara remaja yang menjadi tawanan dua orang pembantu itu ternyata dapat menahan
terjangan Ouwyang Kongcu sampai begitu lama tanpa terlihat terdesak! Tentu saja hal ini tidak
mengherankan bagi Ouwyang Kongcu dan bagi Ang-hwa Nio-nio karena kedua orang ini cukup maklum
bahwa dua orang pembantu mereka sama sekali bukanlah lawan gadis ini. Mereka dapat menawannya
tentu karena hasil dari Ang-tok-san yaitu bubuk racun merah yang dapat membius lawan.
Mendengar seruan Ang-hwa Nio-nio, Ouwyang Lam menjadi ragu-ragu. Betapa pun juga, dia belum kalah
dan biar pun dia tidak dapat mendesak gadis itu, namun sebaliknya dia pun tidak terdesak. Mereka sama
kuat dan hal ini membuat hatinya gembira dan kagum bukan main. Selama hidup belum pernah ia bertemu
dengan seorang gadis yang begini hebat.
Tadinya dia sama sekali tidak mengira bahwa Siu Bi akan begini kosen sehingga dapat mengimbangi
permainan silatnya. Tentu saja hal ini membuat rasa sayangnya terhadap Siu Bi makin menebal. la tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
tega untuk mempergunakan ilmu silat yang lebih dahsyat, khawatir kalau-kalau melukai Siu Bi dan
membikin gadis itu menjadi sakit hati. la hendak membaiki gadis ini, hendak memikat hatinya karena dia
betul-betul jatuh hati yang baru pertama kali ini dia alami.
Akan tetapi, di pihak Siu Bi, seruan itu merupakan tanda bahaya. Jika lawannya memiliki ‘simpanan’ yang
belum dikeluarkan, ini berbahaya. la tidak mau didahului, maka tiba-tiba Siu Bi mengeluarkan seruan
nyaring laksana pekik burung elang dan kedua lengannya bergerak aneh, diputar-putar secara luar biasa.
Segera tampak sinar menghitam menyambar-nyambar. Dari dua lengan itu tampak uap hitam dan
Ouwyang Lam merasakan sambaran hawa pukulan yang amat dahsyat. Ketika dia menangkis, lengannya
terasa panas sekali dan nyeri sampai menembus ke ulu hati. Kagetlah dia dan sambil terhuyung-huyung
dia mundur ke belakang dengan muka pucat.
Akan tetapi karena maklum bahwa lawannya ini betul-betul hebat, mempunyai simpanan ilmu dahsyat yang
baru sekarang ini dikeluarkan, segera Ouwyang Kongcu mengerahkan tenaga mengusir rasa nyeri,
berbareng dia membentak keras dan tubuhnya mumbul ke atas, lalu menukik ke bawah melakukan
penyerangan balasan. Inilah sebuah jurus dari Ilmu Silat Hui-seng Kun-hoat, ilmu silat Bintang Terbang
yang di samping gerak-geriknya hebat sekali, juga mengandung hawa pukulan beracun, racun ang-tok
(racun merah)!
Pada waktu Siu Bi menangkis dengan tenaga Hek-in-kang, keduanya terhuyung mundur dengan muka
berubah. Tahulah mereka bahwa masing-masing kini sudah mengeluarkan kepandaian dan tenaga
simpanan. Ilmu Pukulan Hek-in-kang yang mengandung racun hitam kini bertemu tanding dengan hawa
pukulan racun merah.
Akan tetapi keduanya menyesal bukan main karena apa bila dilanjutkan, mereka berdua terpaksa akan
mempergunakan dua macam ilmu dahsyat ini dan akibatnya, yang kalah tentu akan celaka, apa bila tidak
tewas paling sedikit tentu akan terluka parah di sebelah dalam tubuh!
"Tahan dulu...!" Tiba-tiba Ang-hwa Nio-nio berseru.
Tubuhnya segera melayang menengahi kedua orang muda yang sedang bertanding itu. Karena nenek ini
menggunakan kedua tangan mendorong, dua orang muda itu terpaksa meloncat ke belakang.
"Kau mau mengeroyok?" Siu Bi mendahului membentak.
Bentakan yang merupakan gertak belaka karena sesungguhnya di dalam hati ia merasa khawatir kalaukalau
nenek ini benar-benar mengeroyoknya. Kalau benar demikian, biar pun ia tidak akan mundur, akan
tetapi boleh dipastikan bahwa ia akan kalah dan roboh.
Dalam pertemuan tenaga dengan pemuda itu tadi saja sudah dapat ia bayangkan bahwa tidak akan mudah
baginya mengalahkan Ouwyang Lam. Apa lagi kalau nenek ini yang agaknya malah lebih lihai lagi dari
pada si pemuda, turun tangan mengeroyoknya.
Akan tetapi Ang-hwa Nio-nio tidak bergerak menyerang. Wajahnya kereng dan suaranya berwibawa,
"Bocah, kau jangan sombong terhadap Ang-hwa Nio-nio! Kau tadi mainkan Hek-in-kang, orang tua Hek
Lojin masih terhitung apamukah?"
Siu Bi kaget. Baru kali ini semenjak ia turun gunung, ada orang yang mampu mengenal Hek-in-kang.
Banyak orang lihai dia temui, termasuk Jenderal Bun, isterinya, puteranya dan Si Jaka Lola. Akan tetapi
mereka semua tidak mengenal ilmunya. Bagaimana nenek genit ini dapat mengenal Hek-in-kang? Malah
tahu pula bahwa Hek-in-kang adalah ilmu mendiang kakeknya, Hek Lojin yang dikenalnya pula?
Setelah nenek ini mengetahui semuanya, agaknya tidak perlu lagi berbohong, malah dia hendak
menyombongkan kakeknya yang dia tahu amat lihai dan sangat terkenal di dunia kang-ouw.
"Hek Lojin adalah kakekku. Mau apa kau tanya-tanya?" jawab Siu Bi dengan nada suara sombong dan
tidak mau kalah.
”Kakekmu?!" Keriput-keriput pada wajah nenek itu semakin mendalam. ”Bagaimana bisa jadi? Maksudmu
kakek guru? Kau mengenal The Sun?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Berdebar jantung Siu Bi. Terang bahwa nenek ini bukanlah orang asing bagi ayah dan kakeknya. Biar pun
di dalam hati ia tidak mau lagi mengakui The Sun sebagai ayahnya karena ia pun maklum sekarang bahwa
The Sun memang bukan ayahnya, akan tetapi agaknya nama The Sun dan Hek Lojin akan dapat
menolongnya pada saat itu.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil