Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Cerita Silat Pendekar Budiman 3

------
“Bolehkah kiranya aku mengetahui, siapakah adanya
kedua orang tuamu? Di mana mereka tinggal?”
“Aku hidup sebatangkara di dunia ini dan tidak
mempunyai tempat tinggal yang tetap” jawab Wan Kan.
“Aku sudah menduga demikian.” The Liok mengangguk
angeuk. “Berapakah usiamu tahun ini, Wan siangkong?”
Wan Kan yang berotak cerdik itu sudah dapat menduga
ke mana tujuan percakapan ini, akan tetapi ia pura pura
tidak mengerti dan menekan debaran jantungnya. “Ah, The
toako, kau ini aneh benarl Kau seperti sedang menyelidiki
keadaanku, ada apa sih? Usiaku tahun ini duapuluh empat
tahun.”
“Bagusl Cocok betul!” The Liok kembali mengangguk
angguk. “Dan… kau belum menikah?”
Wan Kan menggeleng gelengkan kepalanya. “Orang
bodoh dan sebatangkara seperti aku ini siapakah yang mau
menjadikan suaminya?” karanya sambil tersenyum.
“Wan siangkong, jangan kau berkata begitu. Aku dan
kakak perempuauku telah berunding dan kami merasa
sangat suka kepadamu. Keponakanku Ling In itu wataknya
aneh sekali. Semenjak berusia enambelas atau tujuhbelas
tahun, telah banyak pemuda pemuda datang meminangnya
akan tetapi dia selalu menolak dengan keras. Sekarang
usianya sudah duapuluh tiga tahun. Dan jika kau suka dan
tidak menganggap Ling In terlalu bodoh dan buruk, kami
akan merasa beruntung sekali untuk menjodohkan Ling In
dengan kau, siangkong.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Biarpun sudah menduga sebelumnya, namun tetap saja
Wan Kan menjadi merah mukanya. Mau rasanya ia
bersorak kegirangan. Semenjak tinggal di rumh itu beberapa
hari ini dan selalu dekat dengan Ling In, cintanya makin
mendalam terhadap gadis itu. Akan tetapi ada satu hal yang
mengganggu hatinya. Di utara, sebagai seorang pangeran,
sekali mengulurkan tangannya saja, gadis gadis yang
menjadi puteri bangsawan maupun hartawan atau puteri
rakyat biasa, akan datang berlari lari kepadanya. Tak usah
ia menikah dengan puteri itu, dan orang tua gadis itu pun
tentu takkan keberatan biarpun ia mengambil gadisnya
tanpa mengawininya. Bahkan ia pernah mempunyai bini
muda beberapa kali, akan tetapi tak pernah ada yang
dicintanya secara mendalam. Akan tetapi, terhadap Ling In
perasaannya lain lagi. Ia benar benar mencinta gadis
perkara ini dan ingin hidup selamanya di samping Ling In
sebagai suami isteri yang saling mencinta. Akan tetapi, hal
inipun tidak mungkin, karena banyak sekali halangannya.
Pertama tama dari fihak istana Kerajaan Kin pasti akan
menentangnya. Ke dua, kalau gadis ini dan keluarganya
tahu bahwa dia seorang pangeran Kin, belum tentu mereka
menerimanya sebagai keluarga. Apalagi gadis itu sendiri,
sebagai seorang pendekar, besar sekali kemungkinan takkan
sudi menjadi isteri seorang pangeran Kin!
Akan tetapi, perasaan cinta kasih mengalahkan segala
macam rintangan. Bahkan sewaktu waktu cinta kasih
menimbulkan ketidakjujuran dan kecurangan. Demikian
pula Wan yen Kan. Ia tidak berani berterus terang bahwa
dia adalah seorang pangeran Kin, takut kalau kalau ia akan
terpisah dari Ling In. Kalau ia tetap dalam penyamaran dan
hidup sebagai suami isteri dengan Ling In di Biciu, apa
salahnya? Tak seorangpun akan mengenalnya dan karena ia
sudah biasa merantau, maka sewaktu waktu ia dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkunjung ke utara, ke istana ayah ibundanya. Soal kelak
kalau rahasianya bocor, bagaimana nanti sajalah!
Maka ia cepat berdiri dan menjura kepada The Liok.
“Banyak terima kasih atas penghargaan dan penghormatan
besar yang dilimpahkan padaku. Akan tetapi, aku seorang
yang sebatangkara, tiada rumah tinggal, bagaimana aku ada
harga untuk menjadi suami nona Ling In?”
“Jangan bimbang, Wan siangkong,” kata The Liok
sambil tertawa, “Ibu anak itu sudah setuju dan memang
sudah lama mencari seorang mantu yang baik. Sekarang
aku akan menjumpainya dan menyatakan bahwa kau
menerima usul ini. Bolehkah?”
Wan yen Kan hanya bisa mengangguk dengan hati
berdebarl Tak lama setelah pergi meninggalkan pemuda itu,
The Liok muncul lagi dengan wajah berseri, kini diikuti
oleh nyonya Thio. Wan Kan cepat bangun dari tempat
duduknya.
“Terima kasih, Wan kongcu. Kau menerima anak ku
sebagai jodohmu. Ah, sekarang legalah hatiku,
mendapatkan seorang mantu yang mencocoki hati. Semoga
kau dan Ling In kelak hidup berbahagia,” kata nyonya tua
itu dengan mata berlinang air mata.
Wan Kan segera menjatuhkan diri berlutut di depan
calon ibu mertuanya ini memberi hormat. Nyonya Thio
buru buru mengangkatnya bangun dengan wajah gembira.
Juga kepada The Lok, Wan Kan menghaturkan terima
kasih dan hormatnya sebagai calon mantu keponakan.
“Aku yang miskin tidak mempunyai sesuatu yang pantas
untuk dijadikan tanda ikatan jodoh, karena di dalam
perantauan tak pernah membawa sesuatu,” kata Wan Kan,
kemudian ia melanjutkan cepat cepat. “Namun demikian,
sesungguhnya ketika orang tuaku tiada lagi aku telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menerima warisan yang cukup besar. Oleh karena itu,
biarlah untuk sementara ini gak bo (ibu mertua) dan paman
menerima tanda mata ini untuk adik Ling in, dan aku akan
pergi mengambil barang barangku untuk disumbangkan
sebagai mas kawin. Harap jiwi jangan kuatir, tentang segala
keperluan pernikahan, biarlah semua tanggung jawabku.”
Sambil berkata demikian, Wan Kan mengeluarkan sehelai
ikat pinggangnya yang dibuat dari pada sutera halus sekali
yang digulung merupakan sehelai tali pinggang. Selain ini,
juga ia mengeluarkan sebuah benda dari sakunya, dan
benda ini ternyata adalah sebuah mainan dari batu pualam
yang berupa seekor burung Hong. Ukirannya indah sekali
dan sekali melihat saja, dua orang tua itu dapat mengetahui
bahwa benda ini tak ternilai harganya.
Kedua benda itu diterima oleh Nyonya Thio.
“Kautunggulah dulu sebelum pergi. Aku hendak mintakan
sesuatu untuk tanda ikatan dari puteri ku.” Dengan muka
girang, nyonya Thio membawa dua macam benda tanda
ikatan jodoh itu ke kamar Ling In.
Gadis ini duduk di dalam kamarnya seperti patung,
sedikiipun tak bergerak. Mukanya pucat sekali dan di kedua
pipinya masih nampak air mata mengalir turun. Semenjak
malam tadi, Ling In berada dalam keadaan sedih dan
bingung. Ibunya memaksa dan memohon, bahkan
mengancam kalau Ling In berkeras kepala, ibunya akan
membunuh diri, agar ia mau menjadi isteri Wan Kan!
Ling In benar benar bingung. Ia memang tertarik kepada
pemuda yang tampan dan sopan ini, akan tetapi, hatinya
berat pula kepada suhengnya, Lie Bu Tek! Diam diam ia
merasa menyesal mengapa suhengnya itu sejak dulu tak
pernah mengajukan pinangan kepadanya?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ibu tentu maklum betapa perasaan Lie suheng
kepadaku,” kata Ling In malam tadi membantah kehendak
ibunya untuk menjodohkannya kepada Wan Kan.
“Ah, laki laki mana yang tidak kelihatan suka kepada
seorang gadis seperti kau yang cantik manis? Kalau benar
benar Bu Tek ingin mengambil kau sebagai jodohnya,
mengapa dia tidak pernah datang meminang? Jangan
jangan dia hanya mau main main saja. Aku sejak dulu tidak
senang melihat kau gulang gulung dengan suhengmu itu.
Tak pantas!”
“Ibu, kau tahu sendiri bahwa Lie suheng hidup
sebatangkara dan keadaannya miskin sekali. Adanya dia
tidak mau meminang, karena ia merasa belum kuat
mendirikan rumah tangga.” Ling In membela suhengnya
itu.
“Hm, apakah dia mau tunggu sampai kau menjadi
seorang nenek nenek? Anakku, pikirlah. Kau sudah berusia
duapuluh tiga, dan aku tak lama lagi akan menyusul
ayahmul Apa kau tega melihat ibumu mati tidak meram
karena masih penasaran ingin melihat cucunya?
Kaubukalah matamu baik baik. Kurang apakah Wan
kongcu itu? Apakah dia kalah oleh suhengmu? Coba
bandingkan, baik ketampanannya, maupun kepandaiannya,
atau juga kesopanannya! Apalagi dalam hal kepandaian
sastera, benar benar suhengmu itu kalah jauh!”
Hal ini harus diakui kebenarannya oleh Ling In.
Memang, dalam segala hal, bahkan mungkin sekali dalam
ilmu silat juga, Wan Kan masih lebih unggul apabila
dibandingkan dengan Lie Bu Tek. Akan tetapi, ia telah
mengenal suhengnya itu selama bertahun tahun, ia sudah
tahu benar akan watak dan hati suhengnya. Ia yakin bahwa
suhengnya itu akan menjadi seorang suami yang bijaksana.
Akan tetapi Wan Kan? Baru dua kali ia bertemu, biarpun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sikap dan bahasanya halus dan sopan santun, namun
siapakah bisa mengetahui hati orang?
Akan tetapi setelah ibunya mengancam akan membunuh
diri apabila dia menolak lagi perjodohan ini, Ling In kalah
dan dengan kepala tunduk, ia mengambil keputusan,
“Tentang pernikahanku berada di dalam tanganmu, ibu.
Kau juga yang akan ikut merasa perih hati kelak kalau
melihat anakmu tidak bahagia hidupnya.”
Ibunya memeluk dan menciuminya. “Siapa bilang kau
tidak akan bahagia? Ibumu tidak sembarangan memilih
calon suami untukmu. Percayalah, anakku. Diantara semua
pemuda yang pernan menimangmu, bahkan juga akan
meminang mu, Wan kongcu ini pasti yang terbaikl
Sikapnya demikian agung sehingga kadang kadang aku
merasa bahwa dia bukanlah seorang sembarangan dan
masih berdarah bangsawan.”
Demikianlah, setelah Ling In menurut, Nyonya Thio
menyuruh adiknya untuk menyampaikan usul perjodohan
itu kepada Wan Kan. Alangkah girangnya ketika The Liok
memberi tahu kepadanya bahwa pemuda itu sudah setuju,
maka cepat cepat ia menghampiri pemuda itu bersama The
Liok. Sebagaimana telah dituturkan di depan, kini Nyonya
Thio membawa dua buah benda tanda ikatan jodoh dari
Wan Kan ke kamar anaknya.
“Lihat, Ling In! Pernah kau melihat benda sebagus ini
selama hidupmu?” kata nyonya itu sambil memperlihatkan
ikat pinggang dan burung Hong pualam itu kepada
puterinya.
Ling In menyusut air mata dan menengok. Ibunya
terkejut juga karena melihat betapa kedua mata anaktya
membengkak, tanda bahwa semalam gadis itu tidak tidur
sama sekali dan terus terusan menangis. Memang benar,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ling In tidak pernah tidur dan menangis terus. Bukan
karena ia benci atau tidak suka kepada Wan Kan, akan
tetapi ia menangis karena selalu timbul perasaan kasihan
yang besar sekali kalau ia teringat kepada suhengnya. Ia
dapat menduga betapa akan hancur hati Lie Bu Tek
mendengar dia akan menikah dengan lain pemuda. Biarpun
suhengnya itu belum pernah menyatakan cinta kasihnya
namun dari pandangan matanya Ling In sudah dapat
membaca jelas apa yang terkandung dalam hati pemuda
gagah perkasa itu.
Namun ketika gadis itu menengok dan meiihat benda
yang dipegang oleh ibunya, ia menjadi kagum juga.
Terutama sekali burung Hong dari batu pualam itu, benar
benar sebuah benda yang langka sekali terlihat orang. Ling
In menerima dua benda itu dan melihat lihat dengan amat
tertarik. Memang belum pernah ia menyaksikan mainan
batu pualam sehalus dan seindah itu, juga sehelai tali sutera
itu henar benar indah warnanya dan agak mengkilap dan
halus.
“Ibu, dari manakah kau mendapatkan benda yang
demikian besarnya?”
Nyonya Thio tersenyum dan dengan hati bangga dan
kedua matanya mulai basah, ia memeluk puterinya dengan
penuh kasih sayang.
“Anakku, peruntunganmu baik sekali. Tepat dugaanku
bahwa calon suamimu tentu bukan orang sembarangan. Ini
adalah tanda mata dari calon suamimu. Wan kongcu!”
Hampir saja kedua macam benda itu terlepas dari tangan
Ling In yang tiba tiba menggigil kedua tangannya. Ia segera
menaruh benda itu di atas meja di depannya dan
memandangnya dengan mata termenung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Anakku, sekarang Wan kongcu menanti tanda mata
darimu. Benda apakah yang kiranya patut dijadikan ikatan
jodoh dan diberikan kepadanya?”
Wajah Ling In tiba tiba menjadi merah sekali dan
dengan kepala tetap tunduk ia berkata perlahan, “Terserah
kepadamu, ibu. Terserah kepadamu,” dan air matanya
mengucur kembali.
Ibunya lalu mencabut tusuk konde gadis itu yang
merupakan ukiran bunga bwe dan yang selalu menghias
rambutnya yang hitam dan halus. Rambut itu terlepas dan
terurai di atas pundak Ling In.
“Tusuk kondemu inilah tanda mata yang tepat sekali,
anakku.” Dengan menyayang sekali ibu ini lalu mengonde
rambut Ling In yang terlepas dan memasang mainan
burung Hong pada konde anaknya.
“Aduh, bagus dan cocok sekali. Kau bercerminlah!”
serunya girang karena burung Hong itu benar benar cocok
dan menambah kemanisan wajah Ling In. Akan tetapi
gadis itu tidak bergerak dan hanya menundukkan mukanya.
“Ling In, calon suamimu sekarang hendak pergi untuk
mengatur pernikahan yang akan diadakan dua pekan
kemudian. Apakah kau hendak berjumpa dengan dia
sebelum dia pergi?”
Ling In menggelengkan kepalanya. “Tak usah, ibu.”
Nyonya Thio maklum bahwa setelah sekarang menjadi
calon isteri, tentu saja Ling In merasa malu malu untuk
bertemu muka dengan Wan Kau, maka sambil tersenyum
seuyum ia lalu meninggalkan kamar anaknya untuk pergi
keluar menjumpai calon mantunya dan untuk memberikan
penghias rambut anaknya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wan Kan menerima dengan hati girang dan bahagia
sekali. Ia memegang tusuk konde bunga bwe dari emas itu
dengan penuh kasih sayang dan menyimpan benda itu di
dalam saku bajunya sebelah dalam. Kemudian ia lalu
berpamit dan memberi hormat, kemudian pergilah dia
meninggalkan kota Bi ciu, setelah mendapat ketetapan
bahwa pernikahan akan dilangsungkan dua pekan lagi.
Adapun Ling In setelah ibunya pergi, masih saja duduk
termenung. Tak terasa pula, tangannya bergerak ke arah
kepala dan menyentuh burung Hong pualam itu, kemudian
bagaikan dalam mimpi, ia menghampiri tempat di mana
terdapat cerminnya dan melihat bayangan sendiri di dalam
cermin. Benar ibunya! Memang burung Hong yang indah
itu cocok sekali menghias rambutnya. Sayang sekali tidak
berbentuk tusuk konde, sehingga ada bahayanya terjatuh
dari kepalanya. Maka diambilnya cemara rambut dan
dengan seikal cemara rambut, dibelitnya burung Hong itu
sehingga kini tidak mungkin jatuh kembali dari rambutnya.
Ling In tidak tahu bahwa seperginya Wan Kan,
terjadilah sesuatu yang mengharukan di ruang depan
rumahnya. Tak lama setelah Wan Kan pergi, datanglah Lie
Bu Tek mengunjungi rumah itul Seperti biasa, pemuda yang
bertubuh tegap tinggi ini, berjalan dengan langkah bagaikan
seekor harimau, dan wajahnya yang gagah itu berseri seri,
menuju ke pintu rumah.
Alangkah heran dan gelisahnya ketika ia di sambut oleh
Nyonya Thio dan The Liok dengan muka dingin dan sama
sekali tidak ramah tamah seperti biasal Namun, Lie Bu Tek
tetap berkata gembira sambil menjura untuk memberi
hormat, “Bibi dan paman The, apakah sekeluarga baik baik
saja?” Memang, sudah menjadi kebiasann Lie Bu Tek untuk
bicara dengan sederhana, bahkan mendekati kasar.
Memang dia seorang ahli silat dan wataknya jujur dan terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terang. Tak dapat ia bersikap seperti seorang anak sekolah,
dan dalam hal ini jauh bedanya dengan Gan Hok Seng
sutenya. Inipun tidak aneh. Sebagaimana telah diketahui,
Ling In adalah murid Liang Bi Suthai dan Lie Bu Tek
murid Liang Gi Tojin. Akan tetapi Hok Seng adalah murid
Liang Tek Sianseng, seorang sasterawan. Maka di samping
ilmu silat yang didapatnya dari Liang Tek Sianseng juga
menerima pelajaran bun (sastera). Sikapnya boleh dibilang
paling sopan dan halus diantara suheng dan sucinya.
“Kami sekeluarga baik baik saja, Lie hiante,” jawab The
Liok yang kemudian bertanya secara langsung dan tiba tiba,
“Dan ada keperluan apakah kau datang mengunjungi
kami, Lie hiante?”
Lie Bu Tek adalah seorang pemuda gagah perkasa yang
tabah. Kalau dia disuruh menghadapi serangan pedang
yang dilakukan tiba tiba, mungkin ia masih akan dapat
berlaku tenang. Akan tetapi, kini menghadapi serangan The
Liok dengan pertanyaan yang sama sekali tak terduga dan
yang tidak biasa ini, Bu Tek tertegun dan menjawab gagap,
“Aku… aku… aku berkunjung saja karena sudah lama…
dan mana sumoi?
Kini Nyonya Thio yang maju menjawab, “Anak Bu Tek,
harap kauketahui bahwa mulai sekarang, Ling In tidak bisa
lagi bertemu dengan kau seperti yang sudah sudah.”
Bu Tek menjadi pucat. “Apa.... apa maksudmu?”
“Dia sudah bertunangan dan dua pekan lagi Ling In
akan menikah. Maka, tentu kau tahu sendiri bahwa dia
tidak boleh lagi bergaul dengan pemuda lain, sungguhpun
kau suhengnya.”
Bu Tek merasa seakan akan petir menyambar kepalanya.
Ia memegangi kepalanya dengan muka pucat dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memandang kepada nyonya Thio. “Aku... sebetulnya aku
datang untuk.... meminangnya kali ini...”
Nyonya Thio memandangnya dengan pandang mata iba,
kemudian menggeleng geleng kepala sambil berkata,
“Sayang kau terlambat, nak Bu Tek!”
Hening sejenak dan dalam waktu beberapa detik itu. Bu
Tek telah menjadi puluhan tahun lebih tua agaknya.
“Bibi Thio, sebagai suheng dari Ling In, bolehkah aku
mengetahui dengan siapa dia dijodohkan?”
“Calon suaminya bernama Wan Kan, seorang pemuda
bun bu cwan jai yang kepandaian ilmu silatnya tidak kalah
oleh Ling In sendiri,” jawab Nyonya Thio dengan bangga.
“Dan agaknya, biarpun hanya dugaan, dia tentu bukan
orang sembarangan. Seperti berdarah bangsawan.”
Lie Bu Tek tertegun dan hampir ia tak dapat percaya ada
seorang pemuda tidak terkenal yang kepandaiannya lebih
tinggi dari Ling In.
“Sukar bagiku untuk percaya, bibi Thio. Apakah
pertunangan ini sudah resmi?”
“Anak Bu Tek, apa kaukira aku dapat membohong
dalam hal ini? Tentu saja sudah resmi. Malah sudah
bertukar tanda mata ikatan jodoh. Kalau kaulihat apa yang
Ling In terimal Sebuah burung Hong batu pualam yang
indah bukan main dan sehelai ikat pinggang sutera yang
belum pernah kulihat seumur hidupku, demikian indah dan
halus. Dan, Ling In juga sudah memberi tusuk kondenya
bunga bwe kepada tunangannya!”
Hampir saja Bu Tek tidak dapat percaya, ia sudah kenal
baik tusuk konde itu. Mengenal begitu baik karena sering
kali secara diam diam ia mengagumi rambut sumoinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang terhias bunga bwe emas itul Dan kini bunga bwe emas
itu tetah diberikan kepada pemuda lain.
“Sudahlah, anak Bu Tek. Dunia bukan selebar telapak
tangan dan wanita bukan hanya Ling In saja. Paling baik
kau menjauhkan diri dari Ling in dan mencari jodoh lain.
Dia bukan jodohmu,” kata Nyonya Thio yang ingin
menghibur, akan tetapi kata kata ini bahkan menikam ulu
hati pemuda itu.
Sambil memegangi kepalanya, Bu Tek mengangguk
angguk perlahan dan suaranya hampir tidak kedengaran
ketika ia berkata, “Aku.... aku tahu....” Ia lalu memutar
tubuhnya dan berjalan tersaruk saruk dengan tubuh lemas.
“Kasihan juga dia...” kata Nyonya Thio.
“Sebetulnya diapun seorang pemuda yang baik.”
“Sayang dia hanya hidup sebagai petualang, tiada
pekerjaan, hanya merantau ke sana ke mari.” The Liok
memberi komentarnya.
Malam hari itu, Ling In duduk di dalam kamarnya,
memandang api lilin yang bernyala di atas mejanya. Ia
masih termenung menung, akan tetapi tidak berduka lagi
seperti siang tadi. Rasa iba terhadap Lie Bu Tek berangsur
angsur hilang, ketika dipikirnya bahwa hubungannya
dengan suhengnya itu belum erat benar, yaitu belum saling
menyatakan cinta kasih. Memang tak dapat disangkal pula
bahwa cahaya pandangan mata suhengnya itu selalu penuh
cinta kasih dan mungkin pandangan matanya sendiri
terhadap suhengnyapun demikian. Akan tetapi karena
mulut mereka tak pernah menyatakan sesuatu, maka boleh
dibilang diantara mereka belum ada janji apa apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suhengnya seorang perantau, seorang pemuda yang gagah
perkasa, tentu akan bisa mendapatkan jodoh yang setimpal.
Apalagi kalau Ling In mengenangkan tunangannya, ia
tidak bisa merasa kecewa. Wan Kan memenuhi syarat
menjadi calon suami. Ketampanannya tidak kalah oleh Lie
Bu Tek, bahkan bentuk tubuhnya tidak sekasar dan setegap
Lie Bu Tek, wajahnya berkulit putih dan halus. Apalagi
matanya, Ling In berdebar dan wajahnya memerah dengan
mata bercahaya kalau ia ingat akan mata tunangannya yang
indah dan lebar itu. Tentang ilmu silatnya, sudah pasti tidak
kalah oleh suhengnya itu. Apa lagi yang harus disusahkan
atau dibuat kecewa? Wan Kan benar benar memenuhi
syarat untuk menjadi suaminya. Dan diam diam Ling In
membenarkan keputusan ibunya. Kalau ia menanti
datangnya pinangan Bu Tek, bilakah terjadinya? Bagaimana
kalau suhengnya itu tidak akan pernah melamarnya?
Sedangkan usianya sudah duapuluh tiga, sudah terlalu tua
untuk seorang gadis memasuki pintu pernikahan!
Ling In masih memakai hiasan rambut burung Hong. Ia
telah memasang jarum panjang pada kaki burung sehingga
kini dapat dijadikan tusuk konde. Tali sutera masih terletak
di atas meja, kadang kadang dipegangnya, dicobanya pada
pinggangnya. Kadang kadang ia bercermin mengagumi
burung Hong di kepalanya.
Tiba tiba terdengar suara di atas genteng. Ling In cepat
bersiap, akan tetapi pada saat itu, dari atas melayang turun
tubuh seorang pemuda tegap yang berseru perlahan, “Ling
In…!”
“Suheng......??” Ling In terkejut sekali dan mengingat
akan burung Hong yang menghias kepalanya, ia menjadi
demikian malu dan gugup sehingga dengan saputangannya
yang lebar, segera dibungkusnya rambutnya untuk
menutupi hiasan rambut itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tiada gunanya, sumoi. Aku sudah melihat burung
Hong itu dan aku sudah tahu pula betapa kejamnya hatimu!
Tak kusangka bahwa kau diam diam menerima pinangan
pemuda lain. Ah, Ling In bagaimana kau sampai hati
berlaku demikian?”
“Suheng, kau ada hak apakah hendak mencampuri
urusan perjodohanku?” Ling In penasaran juga karena
disebut kejam.
“Hak apa? Hak atas ikatan batin yang ada diantara kita
Sumoi, mengapa kau mengkhianat perasannku
terhadapmu? Mengapa kau mengkhianati suara hatimu
sendiri? Salahkah dugaanku selama ini atau memang hati
dan pandang matamu kepadaku itu palsu belaka? Sudah
butakah mataku atau memang kau seorang wanita kejam
yang suka melihat kehancuran hatiku? Ataukah kau melihat
pemuda yang meminangmu itu seorang bangsawan kaya
raya sehingga kau melupakan aku?”
“Cukup, suheng!” Ling In membentak dengan wajah
pucat. “Kau agaknya sudah lupa bahwa aku adalah seorang
gadis dan bahwa aku masih mempunyai seorang ibu! Kau
lupa pula bahwa urusan perjodohan, tergantung
sepenuhnya atas keputusan ibuku. Mengapa kau berani
sekali datang menghinaku? Kedatanganmu seperti seorang
pencuri ini saja sudah melanggar kesopanan dan tata
susila!”
“Ling In, betulkah bahwa kau tidak tahu bahwa aku
mencintamu sepenuh jiwaku? Dengarlah, sumoi. Aku
datang kali ini untuk meminangmu secara resmi, untuk
meminta agar kau suka menjadi isteriku.”
“Sudah, sudah, aku tak ingin mendengar lagi! Kau bilang
mencinta, akan tetapi sudah bertahun tahun ini kau
menutup mulut saja? Mengapa kau tidak meminangku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada ibu? Kau terlalu memandang rendah kepadaku,
tidak menghargaiku. Kaukira aku dan ibu mau menunggu
terbukanya mulutmu sampat aku menjadi seorang nenek
beruban? Kini, setelah ibu menerima pinangan orang lain,
kau pura pura datang marah marah dan meminangku!
Sudahlah suheng, nasi sudah menjadi bubur, tak dapat
diperbaiki lagi. Kau pergilah dari sini, karena tidak baik
kalau sampai terdengar orang lain.” , ling In menahan air
matanya yang hendak mengucur pula setelah siang tadi ia
berhasil membendungnya.
Lie Bu Tek tiba tiba melihat ikat pinggang sutera yang
terletak di atas meja.
“Hm, kau agaknya telah lupa kepadaku hanya karena
benda benda ini? Ingin aku melihat orangnya yang memberi
benda ini kepadamu!” Dengan cepat tangannya diulur ke
depan dan ia telah memegang ujung tali pinggang itu.
“Jangan pegang itu!” Ling In membentak dan iapun
berusaha merampas tanda mata tunangannya. Akan tetapi
Bu Tek tidak mau melepaskan sehingga mereka saling tarik.
“Suheng, apakah kau sudah gila? Kau sudah gila kaena
iri hati dan cemburu! Alangkah bodoh dan rendahnya!
Lepaskan benda ini, kau tak berhak memegangnya!”
“Tidak, aku akan membawanya dan kemudian mencari
orangnya. Hendak kupakai menggantung lehernya!” kata
Bu Tek sambil menarik keras.
Ling In juga menggunakan tenaga membetot untuk
merampas tali pinggang sutera itu. Keduanya saling
menarik… “brett!” putuslah ikat pinggang itu pada
tengahnya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ah… putus!” Ling In berseru marah. “Suheng,
putusnya barang ini berarti putusnya pula perhubungan
kita!”
Akan tetapi Lie Bu Tek sudah melompat ke atas dan
pergi dari situ sambil membawa sepotong ikat pinggang
yang putus menjadi dua tadi.
Pada saat itu, pintu kamar Ling In terbuka dan masuklah
ibunya dengan muka khawatir.
“Ling In, kau bicara kepada siapakah?” tanyanya heran.
Akan tetapi Ling In tidak menjawab, hanya menjatuhkan
diri di atas pembaringan sembil menangis. Akan tetapi
tangisnya kali ini adalah tangis dari hati yang lega. Kalau
saja Bu Tek datang dan memperlihatkan sikap penuh
kedukaan dan patah hati, mungkin Ling In akan merasa
lebih tersiksa hatinya, karena memang ia amat kasihan
kepada suhengnya itu. Akan tetapi, Bu Tek datang dan
memperlihatkan sikap kasar, bahkan telah berani mencoba
merampas dan kemudian merusak tali pinggang sutera itu,
sehingga perasaan marah dan penasaran, ditambah pula
dengan ucapan ucapan menghina dari suhengnya itu,
melenyapkan rasa kasihan dari hatinya. Kini ia dapat
menghadapi perjodohannya dengan Wan Kan dengan hati
lebih ringan.
-ooo0dw0ooo-
Di Tiongkok sebelah utara, di perbatasan Mongol,
terdapat padang pasir yang amat luas. Hanya dengan
bantuan binatang onta dan membawa perbekalan yang
lengkap saja manusia berani menyeberangi padang atau
juga disebut laut pasir ini. Beratus lie jauhnya, orang hanya
melihat pasir di mana mana, tidak sehelaipun rumput atau
tetumbuhan lain nampak, tidak ada setetespun air di tempat
yang luas itu. Panasnya tak dapat diceritakan lagi, karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sinar matahari yang terpantul kembali oleh pasir yarg panas
cukup hebat untuk menghanguskan sepatu pelindung kaki.
Jarang ada orang melakukan perjalanan seorang diri
melintasi padang pasir ini. Selalu yang menyeberang adalah
rombongan orang yang dapat saling membantu sewaktu
waktu seorang diantara mereka jatuh sakit atau tertimpa
bencana lain. Kalau orang menjalankan penyeberangan
sendiri saja dan ketika tiba di tengah padang pasir ia jatuh
sakit, itu berarti kematian yang amat mengerikan baginya.
Jarang ada perampok di daerah ini, hanya kadang
kadang saja timbul dan terjadi perampokan. Ini terjadi
secara kebetulan saia, yaitu kalau ada serombongan orang
jahat melintasi padang pasir, kemudian bertemu dengan
serombongan pedagang, maka terjadilah perampokan.
Akan tetapi tidak ada gerombolan perampok yarg tetap
tinggal di daerah ini.
Bahaya yang benar benar ditakuti orang adalah angin
ribut yang datangnya tiba tiba dan menyerang para
penyeberang. Kalau angin ribut timbul, maka banyak terjadi
angin puyuh, yaitu angin putaran yang akan menerbangkan
orang dan barang dengan mudahnya, yang akan
mendatangkan gelombang pasir dan akan menimbuni apa
saja yang berada di depannya!
Akan tetapi, tidak seperti biasanya, pada hari itu di atas
padang pasir nampak seorang kakek berjalan dengan
tongkat di tangan. Kakek ini benar benar luar biasa sekali.
Jangankan naik onta atau membawa perbekalan, bahkan
sebelah kaki nyapun bertelanjang tak bersepatu! Akan
tetapi, biarpun matahari sedang teriknya dan pasir sedang
panasnya, kakek itu kelihatannya ayem saja dan berjalan
sambil berdendang!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kakek ini tubuhnya tinggi kurus, sepasang matanya liar
dan pakaiannya serta rambutnya tidak karuan, sama sekali
tidak terpelihara. Tongkat di tangannya itu bukan
sembarang tongkat, melainkan sebatang ranting bambu
kuning dengan bintik bintik hijau. Bagi orang biasa, tentu
akan mengira bahwa kakek ini adalah seorang pengemis tua
yang kelaparan dan yang menjadi gila karena kesengsaraan
hidupnya. Akan tetapi, kalau ada orang kang ouw
kebetulan bertemu dengan kakek ini, mungkin ia akan
mengambil langkah seribu dan berlari pergi menyelamatkan
diri. karena kakek ini bukan lain adalah Coa ong Sin kai
(Pengemis Sakti Raja Ular) yang amat ditakuti oleh orang
orang gagah di dunia kang ouw.
Siapakah orangnya yang tidak jerih menghadapi kakek
gila yang amat lihai ini? Pembaca tentu masih ingat akan
kekejaman dan kegilaan kakek ini, yang lebih menyayang
jiwa binatang dari pada jiwa manusia. Sebagaimana telah
diuraikan di bagian depan, Coa ong Sin kai setelah
mengamuk di Cin an, dalam amukannya di taman
pertemuan yang diadakan oleh Sam Thai Koksu itu
membunuh Suma Kwan Seng, Bu eng Lo koai, dan banyak
orang lagi, lalu melarikan bekas muridnya, yakni Bi Lan.
Akan tetapi Thian Te Siang mo mengejarnya dan akhirnya
merampas Bi Lan dan Coa ong Sin kai terpaksa berlari pergi
karena tidak kuat menghadapi Sepasang Iblis Kembar yang
sakti itu.
Orang seperti Coa ong Sin kai yang jalan pikirannya
sudah tidak normal, tidak dapat mempunyai hati dendam.
Marahnya kepada Bi Lan sudah terlupa lagi. Akan tetapi ia
merasa kecewa, karena sebegitu jauh ia belum mempunyai
murid. Bi Lan ia anggap bukan muridnya lagi dan kini ia
merantau tanpa tujuan untuk mencari seorang murid baru
yang cocok.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Memang Coa ong Sin kai orang aneh. Dari caranya ia
berjalan melintasi padang pasir itu saja sudah aneh dan
lucu. Ia seperti seorang anak kecil yang baru bisa lari saja.
Kadang kadang ia berjalan lambat lambat, dan kadang
kadang ia berlari cepat sekali. Inilah yang membuat ia tak
lama kemudian tersusul oleh dua bayangan orang yang
mempergunakan ilmu lari cepat dan memang mengejarnya.
Dua orang ini adalah orang orang tua yang berpakaian
seperti sasterawan, akan tetapi yang memiliki ilmu lari
cepat luar biasa sekali.
Karena ginkang dari dua orang ini memang amat tinggi
dan pula mereka berjalan di atas pasir, biarpun Coa ong Sin
kai telah memiliki pendengaran yang amat tajam, namun ia
tidak mendengar kedatangan dua orang kakek ini. Adapun
dua orang kakek itu setelah melihat bayangan Coa ong Sin
kai dari jauh, lalu mempercepat kejaran mereka.
Setelah dekat, seorang diantara kedua kakek sasterawan
in berseru, “Coa ong Sin kai, perlahan dulu. Kami hendak
bicara dengan kau!”
Pengemis Sakti Raja Ular berhenti dan menengok, la
segera mengenal dua orang kakek sasterawan itu dan
tertawalah Coa ong Sin kai sambil menggerak gerakkan
tongkat bambunya.
“Ha, ha, ha, hal Di tempat seperti ini dapat bertemu
dengan Liang Tek Sianseng dan Luliang Siucai, benar benar
seperti dalam mimpi! Bagaimana ini? Aku Coa ong Sin kai
yang sedang mimpi bertemu dengan kalian, ataukah kalian
yang sedang mimpi bertemu dengan aku?” Kemudian ia
menjura kepada Luliang Siucai dan berkata, “Siucai,
apakah orang tua yang gagah di puncak Luliang san baik
baik saja?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata segila gilanya Coa ong Sin kai, ia masih ingat
kepada Pak Kek Siansu dan masih memandang hormat
kepada orang tua sakti itu!
“Terima kasih, Coa ong Sin kai. Siansu baik baik saja,
sehat seperti kita,” jawab Luliang Siucai sambil membalas
penghormatan pengemis sakti itu.
“Kalian ini jauh jauh datang menyusulku, apakah
memang keberulan saja bertemu dengan aku, ataukah
sengaja mencariku? Agaknya sasterawan dari Hoa san pai
ini yang ada urusan dengan aku, betulkah?” tanya Coa ong
Sin kai sambil melirik ke arah Liang Tek Sianseng.
Liang Tek Sianseng melangkah maju dan berkata.
“Coa ong Sin kai, kau benar benar keterlaluan sekali.
Apakah sampai sekarang kau masih mau berpura pura? Kau
telah menawan murid kami dan membawanya pergi dengan
paksa. Di mana dia?”
“Eh, siap yang kaumaksudkan?” Co ong Sin kai tertawa
tawa menggoda.
“Orang liar, apakah kau masih hendak main main? Kau
telah menculik murid perempuan kami, Liang Bi Lan.
Sekarang di mana dia?”
“Aha, kaumaksudkan burung kecil yang liar itu? Ha, ha,
kaulihat sendiri, dia tidak berada bersamaku. Dia telah
terbang pergi!”
“Siapa bisa percaya omongan seorang seperti engkau?
Hayo kaukatakan, di mana dia? Kalau kau sampai
mengganggunya, aku terpaksa akan bertempur mati matian
melawanmu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Coa ong Sin kai merobah sikapnya yang main main. Ia
membelalakkan matanya dan berdiri sambil bertolak
pinggang.
“Sudah
kukatakan dia
terbang pergi, kau
masih tidak percaya.
Habis kau mau
apa?” ia menantang.
“Kau sendiri
yang menculiknya
dari kami di Hoa
san, maka sekarang
kau pula yang harus
mengembalikan Bi
Lan kepada kami!”
“Bohongl Burung
kecil itu memang
suka ikut dengan aku untuk belajar ilmu silat. Sudahlah,
kutu buku, kau pergi saja jangan bikin aku marah!” kata
Coa ong Sin kai dan menggerak gerakkan tongkat
bambunya dengan senyum mengejek.
“Dasar tua bangka jahat!” seru Liang Tek Sianseng yang
segera maju menyerang dengan senjatanya, yaitu sepasang
poan koan pit yang gerakannya amat lihai.
“Bagus, tempat ini memang tepat sekali untuk main
main, cukup lega dan luas. Marilah!” kata Coa ong Sin kai
sambil tertawa bergelak. Ranting bambunya bergerak cepat
menangkis serangan Liang Tek Sianseng dan sebentar saja
kedua orang tua yang berkepandaian tinggi itu bertempur
hebat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dulu ketika Coa ong Sin kai naik ke Hoa san dan
sebelum ia menculik Bi Lan, ia pernah menghadapi
keroyokan empat orang tokoh Hoa san pai, yaitu Liang Gi
Tojin, Liang Bi Suthai, Liang Tek Sianseng dan Tan Seng.
Setelah dikeroyok empat, barulah Coa ong Sin kai menjadi
sibuk dan kewalahan. Akan tetapi kalau tokoh tokoh Hoa
san pai itu maju seorang demi seorang, Coa ong Sin kai tak
perlu takut karena memang tingkat kepandaiannya masih
lebih tinggi. Kini karena Liang Tek Sianseng menghadapi
dia sendiri, ia dapat mainkan ranting bambunya sambil
tertawa tawa mengejek. Dan benar saja sepasang poan koan
pit di tangan Liang Tek Sianseng biarpun jarang ada yang
dapat menandinginya, namun menghadapi ranting bambu
di tangan Coa ong Sin kai, tak berdaya dan hilang
kelihaiannya. Liang Tek Sianseng mempergunakan
sepasang poan koan pit dengan tenaga berlawanan, yaitu
tenaga kasar dan lemas. Penyerangan selalu dilakukan
bertubi tubi dari kanan kiri atau atas bawah. Namun, Coa
ong Sin kai selalu dapat memecahkannya dengan tangkisan
rantingnya yang bergerak cepat bagaikan seekor ular hidup.
Ranting yang lemas dan kuat ini memang cocok sekali
untuk menghadapi senjata lawan, baik senjata berat
maupun ringan. Dan begitu ranting ini terbentur senjata
lawan dalam menangkis, selalu ranting terpental dan terus
dipergunakan untuk menyerang!
Kalau Liang Tek Sianseng bukan seorang tokoh kang
ouw yang sudah banyak pengalaman dalam pertempuran
besar, tentu dalam duapuluh jurus saja ia sudah akan
dikalahkan. Dengan mati matian tokoh Hoa san pai ini
melakukan perlawanan dan ia masih kuat menghadapi
lawannya sampai empatpuluh jurus lebih, baru ia mulai
terdesak hebat dan gulungan sinar ranting yang kehijau
hijauan itu mulai mengurung tubuhnya. Akhirnya ia hanya
bisa menangkis saja tanpa dapat membatas serangan lawan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika ranting bambu di tangan Coa ong Sin kai
menyambar ke arah ulu hatinya. Liang Tek Sianseng yang
tidak keburu mengelak lalu cepat menggerakkan poan koan
pit di tangannya. Senjata yang bentuknya seperti alat tulis
(pena bulu) ini, datang dari kanan kiri dan menggunting
ranting bambu itu. Yang atas menekan dan yang bawah
mendorong sehingga ranting bambu itu tidak dapat ditarik
kembalil Coa ong Sin kai mengerahkan tenaga,
demikianpun Liang Tek Sianseng, namun tetap saja
Pengemis Sakti itu tidak dapat menarik kembali rantingnya.
Akan tetapi tangan kirinya masih bebas dan kini Pengemis
Sakti ini menggerakkan tangan kirinya mengirim pukulan
ke arah leher Liang Tek Sianseng dengan kerasnya!
Tokoh Hoa san pai ini maklum bahwa kalau sampai
lehernya terkena pukulan yang berbentuk totokan itu, pasti
jalan darah kematian akan terpukul dan ia takkan dapat
bernapas lagi. Untuk menangkis, kedua tangannya sedang
menggunakan poan koan pit untuk menahan tongkat
lawan, maka terpaksa ia menggeser tubuh dan miringkan
kepalanya. Namun tetap saja jari jari tangan kiri yang lihai
dari Coa ong Sin kai mengenai pundak kirinya dan sambil
mengeluarkan seruan lemah, tubuh Liang Tek Sianseng
terdorong dan terhuyung huyung ke belakang. Dari mulut
dan hidungnya mengalir darah!
Coa ong Sin kai tertawa bergelak gelak dan maju untuk
mengirim tusukan maut dengan rantingnya, akan tetapi tiba
tiba dari samping menyambar angin pukulan yang
mendorongnya kuat sekali sehingga terpaksa ia
membatalkan serangannya kepada Liang Tek Sianseng dan
cepat meloncat mundur.
Ternyata bahwa yang menyerang tadi adalah Luliang
Siucai. Tadi ketika pertempuran berjalan, Luliang Siucai
tidak berani turun tangan membantu, karena hal itu akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyalahi hukum orang orang gagah. Ia hanya
menyesalkan sikap sahabatnya, yakni Liang Tek Sianseng
yang berlaku sembrono sehingga memperlibatkan diri
dalam pertempuran satu lawan satu menghadapi Coa ong
Sin kai, padahal sudah tahu bahwa kepandaiannya kalah
jauh. Namun, di dalam pertempuran satu lawan satu, ia
tidak berdaya turun tangan, maka ia hanya memandang
dengan penuh kegelisahan. Setelah Liang Tek Sianseng
terluka dan hendak dibunuh barulah ia turun tangan
menolongnya.
“Coa ong Sin kai, lawan yang sudah kalah tak boleh
didesak!” tegurnya.
Coa ong Sin kai tertawa bcrgelak. “Luliang Siucai,
mengapa kau mencampuri urusau kami? Kami
memperebutkan kebenaran, ada hubungan apakah dengan
kau penjaga Gunung Luliang san?”
Luliang Siucai tersenyum. “Kau tadi bilang
memperebutkan kebenaran, sebetulnya kebenaran yang
manakah yang diperebutkan olehmu? Kau tadi bertempur
dengan Liang Tek Sianseng itu bukan urusanku, buktinya
sampai Liang Tek Siangseng kaukalahkan, akupun tidak
mau turut campur. Akan tetapi kalau kau hendak
membunuh lawanmu yang sudah kalah, itu adalah urusan
siapa saja yang suka membela yang lemah. Dan di
hadapanku, kau tidak boleh membunuh siapapun juga
tanpa alasan. Selain itu, ketahuilah, Coa ong Sin kai, bahwa
kedatanganku ini adalah atas permintaan Liang Tek
Sianseng. Katanya kau menculik muridnya perempuan,
betulkah ini? Kalau betul, tak perlu dibicarakan panjang
lebar lagi. karena sudah tentu kau yang salah. Maka,
kuharap kau suka melihat mukaku dan mengingat kepada
Siansu, kembalikanlah anak perempuan itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hm, kau memang pandai bicara. Tidak aneh, karena
orang orang seperti kau yang menganggap diri sasterawan,
selalu pandai putar lidah! Akan tetapi, bukankah tadi aku
sudah menyatakan bahwa anak perempuan itu telah lari
pergi? Apakah kau juga tidak percaya kepadaku, Luliang
Siucai?” Coa ong Sin kai memandang sambil menyeringai,
sikapnya penasaran dan matanya makin liar dan ganas.
Luliang Siucai seperti biasa, berlaku tenang, sabar dan
tetap tersenyum.
“Coa ong Sin kai, kepercayaan ada dua macam, yaitu
kepercayaan yang berdasar dan kepercayaan yang
membuta. Aku tidak mau menaruh kepercayaan secara
membuta. Kalau memang betul bahwa murid perempuan
Hoa san pai itu telah lari, kau harus ceritakan ke mana ia
lari dan mengapa sampai bisa lari daripadamu. Aku tidak
percaya begitu saja bahwa dia bisa lari dari kau orang tua
yang lihai.”
Merah muka Coa ong Sin kai mendengar ini. Ia tidak
sudi menceritakan bahwa Bi Lan lari karena dirampas oleh
Thian Te Siang mo, karena pengakuan ini sama halnya
dengan mengaku bahwa ia kalah oleh Sepasang Iblis
Kembar itu! Maka katanya sambil tersenyum mengejek,
“Luliang Siucai, agaknya kau memandang rendah
kepadaku! Kalau aku tidak mau memberi tahu kepadamu,
kau mau apakah?”
“Kalau begitu, sebagai sahabat Hoa san pai, terpaksa aku
harus menggunakan kekerasan.”
“Heh, heh, heh? Begitukah? Kaukira aku takut
kepadamu? Cobalah, Luliang Siucai, hendak kulihat sampai
di mana kehebatan kepandaian tokoh Luliang san. Kalau
kau bisa mengalahkan tongkatku ini, baru aku mau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memberi keterangan tentang murid perempuan Hoa san pai
itu.”
“Coa ong Sin kai, kau sombong! Jangan kira di dunia ini
hanya kau seorang saja yang pandai!” kata Luliang Siucai,
yang segera mengeluarkan dua buah benda dari saku
bajunya yang lebar. Melihat sepasang benda ini, Coa ong
Sin kai tertawa bergelak. Ternyata bahwa di tangan kiri
Luliang Siucai terdapat sebuah kitab kosong, yaitu hanya
sampulnya saja yang tebal dan dapat dibuka tutup dalam
penggunaan sebagai senjata. Adapun tangan kanannya
memegang sebatang pit bulu yang panjangnya ada satu
kaki, gagangnya terbuat daripada bambu biasa sedangkan
bulunya berwarna hitam karena memang pit bulu ini
biasanya ia pergunakan untuk menulis! Adapun sampul
buku itupun bisa dipergunakan sebagai alas menulis.
“Ha, ha, ha, dasar kutu buku! Terimalah tongkatku!”
Sambil tertawa tawa, Coa ong Sin kai lalu menyerang
dengan tongkat bambunya secara hebat sekali.
Luliang Siucai berlaku waspada. Gerakan gerakannya
tenang sekali dan nampaknya lambat, namun setiap kali
ujung tongkat Coa ong Sin kai mendekat, selalu tongkat itu
terpental kembali begitu terbentur dengan sampul buku atau
pit bulu.
Adapun serangan balasan dan Luliang Smcai datangnya
jarang, namun setiap kali datang, Coa ong Sin kai sampai
terlompat lompat saking bingungnya hendak
menghindarkan diri. Serangan totokan pit bulu itu benar
benar amat lihai dan kuat sekali sehingga biarpun ditangkis
oleh tongkat, masih saja pit bulu itu meluncur terus
menjangkau sasarannya! Oleh karena itu, kini Coa ong Sin
kai tak berani tertawa tawa lagi, juga menghadapi setiap
totokan, ia selalu menghindarkan diri dengan jalan
mengelak cepat cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, Liang Tek Sianseng yang telat menderita
luka berat, semenjak tadi sudah duduk bersila di atas pasir
dan mengendalikan napas serta mengerahkan tenaga
lweekangnya untuk memulihkan jalan darah dan
menyembuhkan luka di dalan pundak kirinya yang terpukul
oleh jari jari tanga yang lihai dari Coa ong Sin kai tadi.
Kalau ia tidak sedang dalam keadaan seperti itu, tentu Lian
Tek Sianseng akan melihat datangnya tiga titik hitam dari
utara yang makin besar dan dekat. Tiga titik hitam itu
ternyata adalah bayangan tiga orang yang mendatangi
dengan cepat sekali ke arah dua orang yang sedang
bertempur hebat.
Coa ong Sin kai benar benar terdesak hebat oleh Luliang
Siucai. Namun, murid dan pelayan dari Pak Kek Siansu ini
memang seorang yang berwatak sabar dan pemurah.
Luliang Siucai tidak hendak melukai lawannya kalau
lawannya itu bersedia memenuhi permintaannya. Berkali
kali ia membujuk, “Coa ong Sin kai, masih belum mengaku
kalah kah kau? Lebih baik kau beritahukan di mana adanya
murid Hoa san pai itu!”
Namun Coa ong Sin kai takkan amat terkenal namanya
di dunia kang ouw katau dia tidak keras kepala dan mau
mengalah. Biarpun ia sudah terdesak hebat dan napasnya
mulai memburu, namun ia masih berlaku nekad, bahkan
kini tongkatnya menyerang dengan ganasnya. Setiap
gerakannya tidak lagi merupakan adu kepandaian,
melainkan adu nyawa!
-ooo0dw0ooo-
Jilid 9
KALAU saja Luliang Siucai bukan seorang yang
berbatin tinggi dan amat penyabar, tentu ia sudah menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
marah dan merobohkan lawannya ini dengan pukulan
maut. Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak mau
membunuh orang, dan ia berlaku amat hati hati, dengan
maksud merobohkan Coa ong Sin kai tanpa
membahayakan nyawanya. Akan tetapi hal ini bukanlah
mudah, karena kepandaian Coa ong Sin kai sudah terlalu
tinggi untuk dapat dirobohkan dengan mudah begitu saja.
Ketika Coa ong Sin kai membalas serangan Luliang
Siucai dengan sebuah tusukan yang berbahaya sekali ke
arah lambung tokoh Luliang san ini, tiba tiba Luliang Siucai
berderu keras dan tahu tahu ujung tongkat bambu itu
terjepit oleh sampul kitab di tangan kirinya. Jepitan ini
demikian kuatnya sehingga Coa ong Sin kai tak berdaya
untuk mencabutnya kembali!
“Coa ong Sin kai, kau menyerahlah!” seru Luliang
Siucai.
Akan tetapi Coa ong Sin kai mengerahkan tenaganya
untuk mencabut kembali tongkatnya yang terjepit oleh
sampul kitab sehingga dua orang kakek lihai ini saling betot
dan keadaan menjadi tegang. Tentu saja kalau Luliang
Siucai mau, ia dapat menggerakkan tangan kanannya dan
dapat menyerang lawannya dengan pit bulunya yang lihai.
Akan tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak mau berlaku
demikian.
Pada saat itu, tiga bayangan orang sudah tiba di situ dan
terdengar bentakan halus.
“Luliang Siucai, jangan menghina orang dengan
kepandaianmu yang tidak seberapa itu!”
Ucapan ini dibarengi dengan menyambarnya sehelai
sinar putih yang ternyata adalah seikat mutiara putih yang
dibuat seperti tasbeh. Ketika tasbeh mutiara ini menyentuh
tongkat dan sampul kitab, baik Coa ong Sin kai maupun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Luliang Siucai merasa tubuh mereka gemetar dan dengan
kaget sekali mereka melompat mundur. Cepat mereka
memandang kepada tiga orang yang baru datang itu.
Orang yang tadi menegur dan menggerakkan tasbeh
secara hebat dan luar biasa sekali adalah seorang kakek tua
sekali dengan tubuh bengkok sehingga kelihatan pendek,
berkepala botak dan kulit mukanya putih sekali. Sepasang
matanya lebar, pakaiannya seperti seorang pertapaan,
tangan kirinya memegang sebatang tongkat panjang
berwarna merah dan tangan kanannya memegang seuntai
tasbeh terbuat dari pada batu mutiara putih yang
mengeluarkan cahaya gemilang.
Orang ke dua adalah seorang pendeta tinggi besar
bermuka hitam dan nampaknya sombong sekali. Adapun
orang ke tiga adalah seorang yang usianya kurang lebih
limapuluh tahun, berpakaian seperti seprang tosu, sepasang
matanya nampak cerdik dan juga kejam.
Siapakah mereka ini? Mereka bukan orang orang
sembarangan, karena orang pertama yang memegang
tasbeh bukan lain adalah Pak Hong Siansu, orang yang
paling lihai dan amat berkuasa di Tibet. Ilmu kepandaian
Pak Hong Siansu sukar diukur sampai di mana tingginya,
dan dari gerakan tasbehnya tadi saja sudah dapat dilihat
bahwa kepandaiannya beberapa kali lipat lebih pandai dari
pada Luliang Siucai atau Coa ong Sin kai!
Orang ke dua itu adalah Ba Mau Hoatsu, juga seorang
tokoh Tibet dan sebagaimana para pembaca sudah
mengenalnya, Ba Mau Hiatsu ini adalah guru dari Pangeran
Wanyen Kan. Adapun orang ke tiga itu adalah Giok Seng
Cu, murid dari Pak Hong Siansu, seorang yang telah
memiliki kepandaian tinggi pula dan sudah banyak
merantau ke dunia barat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Luliang Siucai melihat orang orang yang datang
ini, ia terkejut sekali dan cepat cepat ia menjatuhkan diri
berlutut di depan Pak Hong Siansu sambil berkata, “Susiok,
mohon maaf sebanyaknya bahwa teecu tidak tahu akan
kedatangan susiok sehingga terlambat memberi hormat.”
Sementara itu, Coa ong Sin kai yang tahu bahwa orang
orang yang datang itu adalah orang orang lihai, ia lalu
tertawa tawa dan pergi meninggalkan tempat itu sambil
berkata, “Banyak benar orang orang lihai di dunia ini...!
Hebat, aku mesti melatih diri baik baik!”
Ba Mau Hoatsu yang tadinya melihat Coa ong Sin kai
dan hendak memberi hajaran kepada orang aneh yang
pernah mengacau dan menghina Sam Thai Koksu ketika
diadakan pertemuan orang orang gagah, terpaksa menunda
niatnya dan tidak mengganggu kepergian Coa ong Sin kai
karena melihat betapa orang berpakaian sasterawan yang
kepandaiannya tinggi dan bertempur dengan Coa ong Sin
kai tadi kini berlutut di depan Pak Hong Siansu. Ia pernah
mendengar tentang suheng (kakak seperguruan) dari Pak
Hong Siansu, yaitu yang bernama Pak Kek Siansu, dan
mendengar pula bahwa Pak Kek Siansu mempunyai tiga
orang murid yang lihai. Ketika mendengar disebutnya nama
Luliang Siucai oleh Pok Hong Siansu tadi, tahulah Ba Mau
Hoatsu bahwa yang mengalahkan Coa ong Sin kai tadi
adalah seorang murid dari Pak Kek Siansu.
Memang benar, Pak Hong Siansu adalah sute (adik
seperguruan) dari Pak Kek Siansu, maka tidak
mengherankan apabila kepandaiannya amat tinggi. Kedua
orang sakti ini telah berpuluh tahun bertapa di kutub utara
dan keduanya memiliki kepandaian yang luar biasa
tingginya. Akan tetapi Pak Hong Siansu memiliki cita cita
sehingga akhirnya ia menjadi seorang yang paling tinggi di
Tibet, didewa dewakan oleh para Lama sehingga hidupnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sama dengan seorang raja! Sebaliknya, Pak Kek Siansu
menyembunyikan diri di puncak Bukit Luliang san, bertapa
dan tidak mencampuri urusan duniawi.
Pak Hong Siansu sendiri sebetulnya juga sudah malas
untuk berurusan dengan orang lain, karena hidupnya sudah
aman, tenteram, dan makmur di Tibet. Akan tetapi, Ba
Mau Hoatsu adalah seorang sahabat baiknya, seorang
tokoh Tibet pula yang berkedudukan tinggi dan yang telah
banyak berjasa membantunya memperoleh kedudukan yang
paling mulia di Tibet, maka ketika Ba Mau Hoatsu datang
minta bantuannya menolong negara Kin menghadapi orang
orang seperti Thian Te Siang mo, ia memenuhi juga.
Apalagi ketika ia mendengar bahwa Thian Te Siang mo
memiliki kepandaian tinggi sekali dan oleh Ba Mau Hoatsu
dikabarkan sebagai Sepasang Iblis Kembar yang sombong
dan menjagoi daratan Tiongkok. Memang, berbeda dengan
Pak Kek Siansu, Pak Hong Siansu ini adatnya keras dan
tidak mau kalah oleh siapapun juga dalam hal kepandaian
ilmu silat. Maka ia lalu menyanggupi Ba Mau Hoatsu untuk
turun dari Tibet, ikut ke negara Kin dan berjanji hendak
mengalahkan Thian Te Siang mo. Tentu saja Ba Mau
Hoatsu merasa girang sekali. Ba Mau Hoatsu tidak takut
kepada siapapun juga dan yang membuat ia jerih hanya
menghadapi Thian Te Siang mo. Maka dengan adanya Pak
Hong Siansu yang membantu, apalagi di situ ada pula
murid dari Pak Hong Siansu, yaitu Giok Seng Cu yang
kepandaiannya juga setingkat dengan Ba Mau Hoatsu.
tentu saja Ba Mau Hoatsu berbesar hati sekali. Dari Tibet,
tiga orang tua yang lihai ini melakukan penjalanan berkuda
ke Cining, sebuah kota di sebelah selatan dari Mongolia
dalam karena Pak Hong Siansu hendak mengunjungi
seorang sahabatnya. Kemudian, dari Cining mereka ke
selatan dengan berjalan kaki melintasi padang pasir karena
Pak Hong Siansu tidak suka naik unta.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Demikianlah, secara kebetulan sekali rombongan dari
tiga orang ini bertemu dengan Luliang Siucai yang tengah
bertanding silat dengan Coa ong Sin kai dan berkat campur
tangan Pak Hong Sian su, maka selamatlah Coa ong Sin kai
yang berhku cerdik dan segera pergi dari situ. Biarpun Pak
Hong Siansu tidak tahu siapa orangnya yang bertempur
melawan Luliang Siucai, namun melihat murid
keponakannya itu mendesak seorang pengemis tua yang
sudah kewalahan, tanpa banyak pikir lagi ia turun tangan
dan menegur, “Luliang Siucai,” kata Pak Hong Siansu
melihat murid keponakannya itu berlutut di depannya,
“agaknya biarpun suheng telah lama tidak muncul, namun
dia masih mengumbar nafsunya melalui murid muridnya.
Ini namanya turun tangan secara tidak langsung!”
Luliang Siucai adalah seorang yang amat tenang dan
sabar, akan tetapi ada pantangannya, yaitu kalau suhunya
dicela orang lain, akan naik darah nya. Kini mendengar Pak
Hong Siansu mengucapkan tuduhan yang sifatnya
menyinggung dan sedikit menghina suhunya, ia menjawab
tak senang, “Susiok, pertempuran teecu menghadapi Coa
ong Sin kai tadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan
Siansu yang bertapa di puncak Gunung Luliang san. Suhu
benar benar telah mencuci tangan dan segala tanggung
jawab dalam sepak terjang teecu adalah tanggung jawab
teecu sendiri!”
Mendengar jawaban ini, tahulah Pak Hong Siansu
bahwa murid keponakannya ini marah, maka ia tertawa
sambil berkata lagi, “Aha, Luliang Siucai, kau agaknya
sudah mendapat banyak kemajuan sehingga berani
mengeluarkan kata kita di depanku. Sebagai paman
gurumu, aku hendak bertanya, mengapakah kau tadi
mendesak dan menyerang pengemis tua itu? Apa alasanmu
?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Luliang Siucai menunjuk ke arah Liang Tek Sianseng
yang masih duduk bersila di atas pasir tanpa bergerak,
“Teecu bertempur untuk membela sahabat teecu itu.”
“Siapakah dia?”
“Dia adalah Liang Tek Sianseng dari Hoa san pai.
Karena muridnya diculik oleh Coa ong Sin kai, maka dia
minta tolong kepada teecu untuk membujuk Coa ong Sin
kai, agar suka mengembalikan murid perempuannya, akan
tetapi siapa kira, Coa ong Sin kai bahkan menyerang dan
melukainya. Ketika teecu menegur dan minta supaya
pengemis ular itu mengembalikan murid Hoa san pai, Coa
ong Sin kai bahkan menentang teecu. Oleh karena itulah
maka teecu sampai bertempur dengan dia.”
Tiba tiba terdengar Bu Mau Hoatsu tertawa bergelak,
“Ha, ha, ha, benar orang orang Hoa san pai selalu
menimbulkan keributan belaka di mana saja mereka berada!
Sam Thai Koksu dari negeri Kin ketika mengadakan
perayaan di Cin an, juga terjadi keributan yang ditimbulkan
oleh orang orang Hoa san pai! Sangat meragukan apakah
orang orang Hoa san pai ini benar benar orang orang yang
baik dan patut dibela!”
Mendengar ucapan sahabatnya itu, Pak Hong Siansu
mengerutkan keningnya sehingga matanya yang lebar itu
nampak makin bundar.
“Luliang Siucai, apakah kau sudah tahu betul mengapa
murid perempuan Hoa san pai itu diculik? Apakah kau
sudah yakin betul mana yang benar dan mana yang salah
dalam persoalan antara Coa ong Sin kai dan orang orang
Hoa san pai?” tanya kakek sakti itu.
Luliang Siucai menggeleng kepalanya. “Teecu tidak
mengetahui sedalam dalamnya tentang urusan itu. Yang
teecu ketahui bahwa Liang Tek Sianseng dari Hoa san pai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah seorang sahabat teecu yang baik dan boleh dipercaya
kemuliaan hatinya, sedangkan Coa ong Sin kai, siapakah
yang tidak mengenal kebusukan hatinya?”
“Kau berat sebelah!” Pak Hong Siansu membentak
marah. “Tidak boleh mendasarkan benar tidaknya
seseorang dalam satu urusan atas watak mereka! Bulan
tidak selamanya bundar dan matahari tidak selamanya
terang! Orang pintar sekali kali melakukan kebodohan dan
orang bodoh sekali waktu akan melakukan kebenaran. Kau
terlalu mengandalkan kepandaian sendiri sehingga tidak
memandang kepada orang lain. Sekarang hendak kulihat
sampai di mana sih kepandaanmu sehingga kau berani
bertindak demikian sembrono dan sombong? Giok Seng
Cu, coba kaulayani Luliang Siucai ini beberapa jurus untuk
mengukur kepandaiannya!”
Dengan sikapnya yang tenang dan gerakan kakinya yang
kuat, Giok Seng Cu melangkah maju menghadapi Luliang
Siucai yang juga sudah bangun sendiri.
“Luliang Siucai, beranikah kau melawan pinto (aku)?”
tanya Giok Seng Cu kepada Luliang Siucai yang
memandang dengan penuh perhatian. Tokoh Luliang san
ini belum pernah melihat tosu yang menjadi murid
susioknya itu. Memang Giok Seng Cu bukan murid
semenjak kecil. Dia adalah seorang tosu perantau yang
tadinya memang telah memiliki kepandaian tinggi. Pada
suatu waktu, ia bentrok dengan Pak Hong Siansu dan
setelah kena dikalahkan, dia mengaku guru kepada Pak
Hong Siansu yang suka menerimanya sebagai murid karena
memang Giok Seng Cu berbakat baik sekali. Semenjak
menjadi murid Pak Hong Siansu, kepandaian Giok Seng Cu
meningkat cepat sekali.
“Giok Seng Cu, sebetulnya menurut tingkat perguruan
kita. kau masih terhitung saudara muda atau masih menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suteku. Kalau susiok hendak memberi pengajaran
kepadaku, tentu aku tidak berani melawan. Akan tetapi
kalau kau yang hendak mencoba kepandaianmu kepadaku,
silahkan!”
Giok Seng Cu meraba pinggangnya di mana ia memakai
senjatanya sebagai sabuk, yaitu sehelai rantai perak, lalu
berkata, “Luliang Siucai, apakah kau menghendaki di
pergunakannya senjata dalam permainan ini?”
“Giok Seng Cu, kita masih saudara seperguruan.
Mengapa harus bersikap seperti dua orang musuh? Mari
kita main main dengan tangan kosong saja.”
“Baik, sambutlah seranganku.”
“Hati hatilah, Giok Seng Cu!”
Giok Seng Cu mulai dengan serangannya. Ia mengirim
pukulan dengan tangan kiri dimiringkan dan jari jari
tangannya diluruskan. Pukulan ini mendatangkan sambaran
angin dan mengarah leher Luliang Siucai. Dari gerakan
pertama ini saja Luliang Siucai maklum bahwa ilmu silat
dari lawannya amat lihai serta tenaga dalamnya juga luar
biasa. Ia berlaku tenang akan tetapi cepat. Dengan gerakan
halus Luliang Siucai mengelak ke kiri lalu membalas
serangan Giok Seng Cu dengan totokan ke arah dada. Giok
Seng Cu menarik kembali jangan kirinya dan dari samping,
tangan kanannya menyampok pukulan lawan. Dua tangan
beradu dan keduanya merasa bahwa tenaga lawan
sebanding kuatnya.
Setelah bertempur lima puluh jurus, tahulah Luliang
Siucai bahwa kepandaian tosu ini hanya sedikit saja di
bawah tingkatnya dan agaknya tak mungkin ia akan dapat
menang tanpa menggunakan serangan yang dapat melukai
Giok Seng Cu. Sedangkan ia tidak mau melukai murid
susioknya ini, karena ia tahu akan kekerasan hati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
susioknya. Kalau ia merobohkan Giok Seng Cu sehingga
luka berat, tentu susioknya akan merasa tersinggung
hatinya.
Setelah berpikir masak masak, ia lalu berobah
gerakannya dan kini ia mainkan ilmu Silat Pak kek Sin
ciang! Ilmu sitat ini hanya sedikit saja ia pelajari dari Pak
Kek Siansu, karena ia terpaksa harus menyerah dan tidak
sanggup melanjutkan pelajaran ilmu silat yang aneh dan
amat berat syarat syaratnya itu. Namun, biarpun ia baru
mempelajari sedikit saja, ketika ia menggerakkan kaki
tangannya menurutkan ilmu silat ini, Giok eng Cu
mengeluarkan suara tertahan saking kaget dan bingungnya
dan pada suatu saat, Luliang Siucai berhasil menangkap
kedua pergelangan tangannya!
Pak Hong Siansu juga terkejut melihat gerakan Luliang
Siucai itu, dan tanpa terasa pula ia mengepal tinjunya dan
berkata perlahan, “Hm, inikah ilmu silat yang baru dari
suheng !”
Luliang Siucai merasa tidak enak, maka katanya, “Sute
Giok Sengcu, sudahlah. Cukup kiranya main main ini!” Ia
mengharapkan dari mulut Giok Seng Cu untuk mengakui
kekalahannya, akan tetapi siapa kira Giok Seng Cu masih
merasa penasaran dan tosu ini mengerahkan tenaga
lweekang dan diam diam melalui pergelangan tangan yang
terpegang ia menyalurkan tenaga untuk melukai Luliang
Siucai yang memegangnya. Tentu saja Luliang Siucai
menjadi terkejut ketiga merasa betapa telapak tangannya
yang memegangi pergelangan tangan lawan itu menjadi
panas. Ia cepat mengerahkan tenaganya dan pegangannya
makin mengeras. Ia menjadi bingung. Kalau diteruskan,
urat nadi Giok Seng Cu akan menjadi putus, dan kalau ia
lepaskan, benar sekali bahayanya ia akan menerima
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serangan yang tiba tiba dari lawannya yang tidak mau
mengaku kalah itu.
“Giok Seng Cu, apakah kau sudah gila? lepaskan
perlawananmu dan mari kita sudahi pertempuran gila ini!”
Namun Giok Seng Cu sebagai jawaban malah makin
memperhebat tenaganya sehingga terpaksa Luliang Siucai
juga memperhebat tenaga gencetannya. Untuk menjaga
diri. terpaksa Luliang Siucai tidak mau melepaskan tangan
lawannya yang tak tahu diri itu. Muka Giok Seng Cu sudah
mulai berpeluh dan nyata sekali tosu ini menahan
kesakitan.
Pegangan kedua tangan Luliang Siucai bukan sembarang
pegangan, karena yang dipegang adalah tepat jalan darah
bagian urat nadi!
Pada saat itu, terdengar Pak Hong Siansu berkata
perlahan, “Hm, Giok Seng Cu ternyata kau masih belum
mendapat kemajuan!” Setelah berkata demikian, kakek
sakti ini melangkah maju dan berdiri di belakang muridnya,
kemudian dengan tangan kirinya ia menepuk perlahan ke
arah punggung muridnya itu.
Tepukan itu perlahan saja, akan tetapi akibatnya hebat
bagi Luliang Siucai. Ternyata bahwa kakek sakti ini sambil
menepuk telah, menyalurkan tenaganya yang luar biasa
sehingga tenaga ini membantu kekuatan muridnya dan
seketika itu juga, Luliang Siucai merasa betapa kedua
telapak tangannya seperti ditusuk jarum. Sambil menjerit
“celaka!” ia melepaskan pegangannya dan melompat
mundur, akan tetapi ia terhuyung huyung lalu roboh
dengan mulut menyemburkan darah. Ternyata bahwa dia
telah menderita luka hebat di sebelah dalam tubuhnya!
Melihat ini, Pak Hong Siansu merasa tidak enak hati
juga, karena biarpun tidak terlihat secara menyolok mata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sesungguhnya ia telah berlaku curang, diam diam
membantu muridnya dan merobohkan Luliang Siucai.
Maka ia lalu berkata, “Sudahlah, mari kita pergi dari sini!”
Sebentar saja, Pak Hong Siansu, Giok Seng Cu dan Ba
Mau Hoatsu telah pergi dari tempat itu meninggalkan
Luliang Siucai dan Liang Tek Sianseng yang terluka parah.
Dua orang sasterawan gagah ini tak berdaya dan luka yang
diderita oleh Luliang Siucai bahkan lebih parah daripada
Liang Tek Sianseng. Keduanya duduk di atas pasir, bersila
untuk mengerahkan tenaga menolak daya luka di dalam
tubuh yang dapat merenggut nyawa. Melanjutkan
perjalanan bagi keduanya tak mungkin. Kalau mereka
memaksa diri melakukan perjalanan di terik panas matahari
di atas padang pasir itu, tentu sebentar saja mereka akan
kehabisan tenaga dan akan roboh binasa. Akan tetapi,
sebaliknya sukar pula memulihkan tenaga mereka untuk
mengatasi luka di bagian dalam yang parah itu. Nasib
mereka agaknya sudah dapat ditentukan, yaitu mati di
padang pasir yang luas dan panas!
“Aku merasa menyesal sekali telah membawamu
sehingga kau menderita luka hebat,” kata Liang Tek
Sianseng dengan suara lemah kepada Luliang Siucai.
Tokoh Luliang san itu tersenyum. “Mengapa menyesal?
Mati atau hidup hanya sebutan saja, siapakah yang dapat
menguasai hidup dan mati? Yang penting bagi kita, tiada
ruginya harus mati dalam membela kebenaran! Pula, kalau
kita mati bersama di tempat ini, bukankah kita akan
berangkat bersama pula dan tidak akan merasa kesepian?”
Diam diam Liang Tek Sianseng merasa kagum atas sikap
kawannya ini, yang dalam menghadapi maut masih
bersikap gembira dan tenang. Ucapan tokoh Luliang san ini
membesarkan hatinya dan melenyapkan kekecewaan dan
penyesalannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Memang ucapan Luliang Siucai itu benar belaka.
Manusia yang manakah di dunia ini dapat menguasai mati.
Dilihat begitu saja agaknya sudah tiada harapan lagi bagi
mereka untuk menghindarkan diri dari bahaya maut. Siapa
yang dapat menolong mereka di padang pasir yang sunyi
itu? Akan tetapi, kalau Thian menghendaki, ada saja jalan
bagi mereka untuk dapat hidup terus.
Secara kebetulan sekali, pada saat itu, dari jurusan timur
datang tiga orang yang tepat menuju ke tempat itu.
Bagaikan dituntun oleh tangan Thian Yang Kuasa, tiga
orang itu kebetulan sekali mengambil jalan di tempat itu
sehingga mereka dapat melihat dua orang kakek yang
sedang duduk meramkan mata dan tidak bergerak
sedikitpun juga.
“Susiok„....!” seorang diantara ketiga orang ini berseru
kaget ketika ia melihat Tiang Tek Sianseng. Tokoh Hoa san
pai ini mengenal suara orang yang menegurnya, maka cepat
ia membuka matanya dan alangkah girang dan herannya
melihat orang yang baru datang ini.
“Bi Lan! Kau…? Di sini…??” Setelah berkata demikian,
saking menahan gelora hatinya yang memang sudah lemah
karena dikerahkan untuk menahan lukanya. Liang Tek
Sianseng roboh pingsan di atas pasir!
Memang, orang ke tiga ini adalah Liang Bi Lan anak
murid Hoa san pai yang tadinya diculik oleh Coa ong Sin
kai dan kemudian menjadi murid Thian Te Siang mo.
Adapun dua orang yang datang bersama dia itupun bukan
lain adalah Thian Te Siang mo gurunya. Sepasang Iblis
Kembar ini setelah mendapatkan murid baru yang cerdik
dan rajin ini, segera membawa Bi Lan merantau sambil
tiada hentinya menggembleng nona itu dengan ilmu silat
mereka yang baru diciptakan, yaitu Thian Te Kun hwat
(Ilmu Silat Langit dan Bumi) Dan di dalam perantauan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka ini, Bi Lan banyak sekali mendapat kemajuan dan
pengalaman. Ia dapat mempelajari Thian Te Kun hwat
dengan amat baiknya dan beberapa kali ia oleh guru
gurunya dicoba menghadapi tokoh tokoh persilatan dan
selalu mendapat kemenangan. Oleh karena ini, Bi Lan
banyak bertemu dengan tokoh tokoh kang ouw dan
namanya sebagai murid Thian Te Siang mo dan juga
sebagai Sian li Eng cu (Bayangan Bidadari) cukup terkenal.
Bi Lan demikian maju kepandaiannya sehingga ia
bahkan telah mempelajari pula Ilmu Ciang siang ci hoat
(Ilmu Mengobati Luka Pukulan Tangan) dari kedua
gurunya. Oleh Karena itu, ketika melihat bahwa yang
berada di padang pasir dan sedang terluka hebat adalah
susioknya sendiri dari Hoa san, Bi Lan cepat cepat maju
mendekati dan diam diam ia lalu mengumpulkan seluruh
perhatian dan mengerahkan tenaga lweekangnya. Kedua
telunjuknya kanan kiri telah siap sedia untuk melakukan
Ciang siang ci hoat setelah ia melihat bahwa susioknya ini
terluka di dalam tubuh oleh pukulan tangan lawan yang
ampuh.
Akan tetapi sebelum gadis perkasa ini menggerakkan
tangannya, tiba tiba Thian Lo mo membentaknya,
“Bi Lan, jangan gunakan Ciang siang ci hoat!”
Karena maklum bahwa gurunya amat aneh dan keras
wataknya, Bi Lan menunda niatnya dan berpaling kepada
suhunya.
“Suhu, ini adalah susiokku sendiri, Liang Tek Sianseng
dari Hoa san pai. Dia terluka hebat, bagaimana teecu tidak
akan menolongnya?”
Kini Te Lo mo yang mencelanya, “Anak bodoh! Kami
bersusah payah melatihmu dan kau sendiri telah melatih
Ciang siang ci hoat selama beberapa bulan dengan tekun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Apakah kau hendak melenyapkannya begitu saja dan
bahkan membahayakan dirimu sendiri?”
“Suhu, untuk menolong orang, apalagi susiok sendiri,
teecu rela kehilangan tenaga.”
“Bodoh!” Sepasang Iblis Kembar itu mencela marah.
Memang, penggunaan Ciang siang ci hoat atau ilmu
pengobatan luka bekas pukulan tangan yang diajarkan oleh
Thian Te Siang mo, berdasarkan kepandaian ilmu dalam
yang amat tinggi tingkatnya. Ilmu ini sebetulnya
merupakan latihan untuk memperkuat keadaan di dalam
tubuh sendiri, akan tetapi kalau dipergunakan untuk
mengobati orang lain yang menderita luka parah karena
pukulan yang lihai dari lawan, maka akibatnya akan
berbahaya sekali bagi si penolong. Ciang siang ci hoat
dipergunakan dengan pengerahan tenaga lweekang dan
pengerahan seluruh perhatian sambil menahan napas. Yang
dipergunakan hanya dua jari telunjuk untuk menotok,
menutup dan membuka jalan jalan darah tertentu di seluruh
tubuh. Dengan jalan ini maka aliran aliran darah yang
teratur membangkitkan daya tahan dan kekuatan di dalam
tubuh orang yang terluka sehingga luka itu akan terobati
sendiri oleh daya tahun di dalam tubuhnya sendiri.
“Hayo kita pergi! Jangan berlaku bodoh, dan jangan
mencampuri urusan orang lain!” kata Thian Lo mo kepada
muridnya sambil memegang tangan Bi Lan untuk
mencegah gadis itu mempergunakan Ciang siang ci hoat
untuk menolong Liang Tek Sianseng yang masih rebah
pingsan.
“Tidak, suhu! Teecu tidak bisa pergi sebelum susiok
ditolong!” kata Bi Lan dan sikapnya yang keras kepala itu
membuat dua orang gurunya saling pandang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Jangan begitu, Bi Lan. Kita tak perlu bercampur tangan
dengan urusan lain. Jangan jangan kita hanya akan terbawa
dalam urusan permusuhan yang memusingkan belaka.
Hayo kita pergi saja,” mendesak Te Lo mo.
Akan tetapi Bi Lan tetap berkeras kepala. “Kalau suhu
berdua tidak mau menolong susiok. terpaksa teecu
mengobatinya sendiri!”
Guru guru dan murid ini bersitegang dan tiba tiba
terdengar suara ketawa halus. Yang tertawa ini adalah
Luliang Siucai yang sudah membuka matanya.
“Lain guru lain murid! Sungguh aneh dunia ini.”
“Luliang Siucai, kau sudah menculik murid kami!
Sekarang kami tidak turun tangan membunuhmu masih
boleh dianggap beruntung sekali bagimu!” kata Te Lo mo
marah.
“Siapa hendak mencampuri urusan kalian dengan murid
kalian ini? Aku hanya hendak mencegah percekcokan
antara guru dan murid. Kedua luka Liang Tek Sianseng
memang berat, akan tetapi kalau kalian mau membawanya
keluar dari pedang pasir ini, tentu ia akan dapat beristirahat
dan dapat pulih kesehatannya. Dengan berbuat demikian,
kalian akan mendatangkan tiga macam kebaikan. Pertama,
Liang Tek Sianseng akan selamat. Kedua, muridmu akan
puas, dan ke tiga, kalian sendiri berarti tidak menolong
sepenuhnya, hanya setengah setengah saja. Bukankah itu
baik sekali.”
Dari bicaranya ini, dapat dimengerti bahwa Luliang
Siucai benar benar seorang yang berhati mulia dan ia sama
sekali tidak memperdulikan keadaannya sendiri. Baginya,
kalau Liang Tek Sianseng sudah tertolong, cukuplah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thian Te Siang mo ketika mendengar ini, lalu tertawa
dan Thian Lo mo berkata. “Ucapan itu ada isinya juga,
kutu buku! Akan tetapi, jangan kaukira kami begitu gila
untuk bersusah payah membawa kawanmu ini keluar dari
padang pasir.”
“Suhu, teecu tetap tidak mau pergi kalau suhu tidak mau
mengobati atau menolong susiok.” Bi Lan berkata dengan
suara tetap.
“Baiklah, baiklah! Akan tetapi jangan kira aku mau
diganggu oleh orang yang kausebut susiok ini sehingga
terpaksa kita harus merobah haluan perjalanan. Biar
susiokmu ini kuberi obat sehingga ia kuat untuk
melanjutkan perjalanan seorang diri, kemudian ia dapat
berobat di kota yang berdekatan,” kata Thian Lo mo yang
segera mengeluarkan sebungkus besar obat obat yang selalu
dibawa di dalam saku bajunya. Ia memilih sebungkus kecil
yang setelah dibuka berisi beberapa butir pel merah.
Dengan amat hati hati seakan akan obat itu didapatkannya
dari sorga, Thian Lo mo mengambil tiga butir dan
memberikannya kepada Bi Lan. Muridnya menerima
dengan wajah girang.
“Masukkan dua butir ke dalam perutnya dan yang
sebutir lagi untuk bekal di jalan sebelum ia dapat tiba di
kota,” kata Thian Lo mo sambil membungkus kembali,
obat obatnya dan memasukkan ke dalam kantongnya.
Bi Lan melakukan perintah gurunya. Ia menghampiri
Liang Tek Sianseng yang masih pingsan dengan muka
pucat dan napas terengah engah. Karena mulut orang tua
ini terbuka saking kepanasan dan menahan sakit, dengan
mudah Bi Lan dapat memasukkan dua butir pel merah ke
dalam mulut susioknya dan dengan sedikit tenaga, gadis ini
dapat melontarkan pel itu melalui kerongkongan dan turun
ke dalam perut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tak lama kemudian, siumanlah Liang Tek Sianseng. Ia
bangkit dan memandang kepada Bi Lan dengan muka
girang sekali.
“Bi Lan, sampai aku bertempur dan mengejar ngejar Coa
ong Sin kai karena mengira kau masih dibawanya.”
“Jadi susiok terluka oleh Coa ong Sin kai?” tanya Bi
Lan.
Liang Tek Sianseng mengangguk, kemudian ia bertanya.
“Apakah Thian Te Siang lo enghiong ini yang
menolongku?”
“Benar, susiok. Mereka ini sekarang telah menjadi guru
guruku.”
Bukan main girangnya hati Liang Tek Sianseng. Ia
menghampiri dua orang iblis kembar itu dan memberi
hormatnya.
“Banyak terima kasih atas pertolongan jiwi, terutama
sekali atas kesediaan jiwi memberi pimpinan kepada Bi
Lan,” kata Liang Tek Sianseng.
“Kalau tidak karena anak keras kepala ini, siapa sudi
bersusah payah?” jawab Thian Lo mo acuh tak acuh.
Bi Lan memberikan pel merah yang sebutir lagi kepada
susioknya.
“Susiok, ini obat dari suhu masih ada sebutir lagi, harap
kautelan di dalam perjalanan.”
“Kedua suhumu baik sekali, Bi Lan, Kau belajarlah baik
baik dan rajin agar tidak mengecewakan pengharapan
mereka. Aku akan kembali ke Hoa san dan mengabarkan
tentang keadannmu yang selamat.” Kemudian Liang Tek
Sianseng berjalan menghampiri Luliang Siucai yang masih
duduk bersila.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sahabat baik, kita mendapat pertolongan dari dua orang
lo enghiong, kautelanlah obat ini,” katanya sambil
menyerahkan pel merah.
Akan tetapi Luliang Siucai menggelengkan kepalanya
sambil tersenyum.
“Tiada guna, Liang Tek Sianseng. Pel itu untuk bekalmu
di jalan. Aku tak perlu kau pikir, pergilah sendiri.”
“Apa? Tak mungkin. Kau sudah membelaku mencari Bi
Lan dan menghadapi Coa ong Sin kai, bagaimana aku bisa
meninggalkanmu begitu saja? Kalau kau tidak mau makan
obat ini, akupun tidak akan pergi dari sampingmu,” kata
Liang Tek Sianseng dengan suara keras.
“Kau benar benar sahabat sejati,” kata Luliang Siucai
yang terpaksa menerima dan menelan pel merah itu.
Sebentar saja mukanya yang pucat telah berobah merah.
“Ah, obat yang bagus. Patut sekali berada di tangan
Thian Te Siang mo,” katanya memuji sambil mengangguk
anggukkan kepalanya. “Akan tetapi, lukaku terlampau berat
dan aku masih belum kuat berlari. Aku hanya akan
menghambat perjalananmu, Liang Tek Sianseng, dan
mungkin sekali sebelum keluar dari padang pasir ini, aku
akan roboh dan kau juga.”
“Akan tetapi aku sudah kuat, aku akan
menggendongmu!” Tanpa menanti jawaban lagi, Liang Tek
Sianseng sudah menyambar tubuh Luliang Siucai dan terus
digendong. Kemudian ia menjura kepada Thian Te Siang
mo dan berkata, “Sekali lagi terima kasih banyak. Bi Lan,
kau belajarlah baik baik dan yang pandai menjaga diri!”
Setelah berkata demikian, Liang Tek Sianseng yang
menggendong tubuh Luliang Suicai lalu berjalan cepat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Susiokmu benar benar orang aneh,” kata Te Lo mo
kepada Bi Lan sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“Tidak saja memberikan sebutir pel merahnya, bahkan kini
menggendongnya. Mana dia kuat keluar dari padang pasir
kalau begitu?”
“Tidak ada gunanya sama sekali,” menyambung Thian
Lo mo, “sebelum keluar, keduanya akan mati. Percuma
saja kita kehilangan tiga butir Ang kim tan ( Pel Emas
Merah ).”
“Belum tentu, suhu,” bantah Bi Lan dan tiba tiba gadis
ini berlari cepat mengejar Liang Tek Sianseng.
“Eh, anak gila, kau mau ke mana?” Te Lo mo berteriak.
“Teecu akan mewakili susiok menggendong Luliang
Siucai!” kata Bi Lan sambil berlari terus.
Thian Te Siang mo mendongkol sekali dan cepat
mengejar, akan tetapi sementara itu, Bi Lan telah dapat
menyusul Liang Tek Sianseng yang tidak berani berlari
terlalu cepat.
“Susiok, kau takkan kuat menggendongnya keluar dari
padang pasir. Biarkan teecu yang menggendongnya!” kata
gadis ini kepada Liang Tek Sianseng.
Tokoh Hoa san pai ini berhenti dan sementara itu, Thian
Te Siang mo telah berada di situ pula.
“Bi Lan, anak berkepala batu! Kau tidak boleh
menggendongnya, mari kita pergi melanjutkan perjalanan
kita!” kata Thian Lo mo.
Bi Lan menggelengkan kepalanya. “Tidak, suhu.
Sebelum susiok dan sahabatnya tertolong, teecu takkan mau
pergi.”
“Anak setan!” memaki Te Lo mo.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, biarpun memaki, Thian Lo mo
mengeluarkan bungkusan obatnya dan mengambil tiga butir
Ang kim tan lagi.
“Celaka, gara gara bocah ini, terpaksa bari ini aku harus
kehilangan enam butir kim tan!” katanya sambil
menyerahkan tiga butir pel itu kepada Bi Lan yang cepat
memberikannya pula kepada Luliang Siucai.
Luliang Siucai menelan sebutir pel lagi dan kini dia
mempunyai sisa dua untuk bekal di jalan sehingga ia dan
Liang Tek Sianseng akan dapat keluar dari padang pasir itu.
Luliang Siucai tertawa geli, “Thian Te Siang mo, kalian
adalah sebaliknya dari pada pel pel merah ini. Pel ini
luarnya kelihatan merah dan bagus, akan tetapi dalamnya
pahit sekali. Adapun kalian ini pada luarnya kelihatan
ganas dan jahat, akan tetapi di dalam hatimu adalah orang
orang yang budiman. Mengapa berpura pura jahat? Ha, ha,
ha!”
“Luliang Siucai, mengapa kau tidak mampus saja
sehingga tidak membikin susah kepada kami?” bentak
Thian Lo mo, akan tetapi Luliang Siucai tertawa dan
setelah menjura mengucapkan terima kasihnya, ia lalu
mengajak Liang Tek Sianseng pergi dari situ. Kini ia tidak
perlu digendong lagi karena setelah menelan sebutir kim tan
lagi, tubuhnya menjadi kuat kembali.
Sambil mengomel panjang pendek. Thian Te Siang mo
lalu mengajak Bi Lan melanjutkan perjalanan. Gidis ini
tersenyum senyum dan berlaku gembira. Akan tetapi ia tiba
tiba terkejut sekali ketika melihat kedua orang suhunya
berlari cepat mengejar Liang Tek Sianseng dan Luliang
Siucai. Bi Lan cepat mengejar pula. Ia maklum akan watak
yang aneh dari kedua suhunya dan khawatir kalau kalau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suhu suhunya ini berobah pikiran dan mengandung maksud
buruk terhadap dua orang tua.
Juga Liang Tek Sianseng dan Luliang Siucai heran
melihat dua iblis kembar itu mengejar, maka mereka itu
berdiri menanti.
“Thian Te Siang mo, kalian mengejar apakah hendak
menyatakan menyesal karena telah menyelamatkan nyawa
kami?” tegur Luliang Siucai.
“Siapa perduli akan nyawamu?” bentak Thian Lo mo.
“Kami hanya merasa tertipu olehmu.”
“Siapa yang menipu? Apa maksudmu?” tanya Luliang
Siucai.
“Kau tadi bilang bahwa Liang Tek Sianseng terluka oleh
Coa ong Sin kai, ini mungkin benar! Akan tetapi, apakah
kau juga terluka olehnya? Kami tidak percaya!”
Luliang Siucai hanya tertawa sehingga Sepasang Iblis
Kembar ini menjadi makin penasaran.
“Jiwi lo enghiong, harap tenang. Sahabatku ini mana
bisa terluka oleh Coa ong Sin kai? Ia terluka oleh sutenya
sendiri, yakni Giok Seng Cu murid dari Pak Hong Siansu
atau sebenarnya ia terluka oleh susioknya itulah yang
membantu Giok Seng Cu.”
Thian Te Siang mo mengerutkan kening. “Apa? Orang
tua bangkotan itu bisa berada di sini? Apakah Tibet sudah
terlalu panas untuknya?”
“Dia memang telah turun bersama muridnya itu.
Agaknya ikut dengan Ba Mau Hoatsu yang berada diantara
mereka pula,” jawab Luliang Siucai.
“Hm, Sam Thai Koksu agaknya tidak mau bekerja
kepalang tanggung,” kata Te Lo mo seperti bicara kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diri sendiri. “Dengan bantuan Pak Hong Siansu,
keadaannya akan kuat sekali,”
“Apa?” Luliang Siucai bertanya, “Apakah mereka itu
membantu Sam Thai Koksu? Apakah Ba Mau Hoatsu
pembantu pemerintah Kin?”
Thian Lomo mengeluarkan suara mengejek. “Kau belum
tahu? Hm, sungguh bodoh !” Sebelah berkata demikian.
Thian Te Siang mo lalu mengajak pergi Bi Lan dari situ.
Juga Luliang Siucai dan Liang Tek Sianseng cepat pergi,
karena setelah mendengar bahwa Sam Thai Koksu
mengundang Pak Hong Siansu dan Ba Mau Hoatsu,
mereka menjadi gelisah sekali. Liang Tek Sianseng hendak
buru buru pulang ke Hoa san pai dan juga Luliang Siucai
hendak cepat cepat menyampaikan warta ini kepada
saudara dan kepada gurunya.
-ooo0dw0ooo-
Mari kita mengikuti perjalanan Lie Bu Tek, pemuda
murid Hoa san pai pertama, pemuda yang harus dikasihani
karena menderita luka di hatinya, karena patah hatinya.
Sumoinya, Ling In, gadis yang telah bertahun tahun
menjadi bayangan yang selalu mengisi dan memenuhi
lubuk hatinya, telah direbut orang!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lie Bu
Tek mengunjungi Ling In dan merampas sepotong dari
sabuk sutera, yakni barang tanda mata dari Wan Kan yang
diberikan kepada Ling In yang menjadi calon isterinya.
Dengan hati remuk rendam, tubuh lemah lunglai, Bu Tek
meninggalkan rumah sumoinya yang amat dikasihinya itu
sambil membawa sepotong sabuk yang amat dibencinya. Ia
ingin sekali bertemu muka dengan orang yang bernama
Wan Kan itu. Ingin ia mengadu kepandaian, bertanding
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang dan ia baru mengalah dan memberikan Ling In
kepada orang lain melalui darahnya!
Lie Bu Tek mulai dengan penyelidikannya, hendak tahu
siapa adanya Wan Kan yang telah merebut kekasihnya itu.
Akhirnya ia mendengar tentang perbuatan Ling In di kota
An keng, yaitu bagaimana sumoinya itu menolong seorang
petani muda yang terjatuh ke dalam cengkeraman Liok
taijin kepala daerah kota An keng. Maka ia segera menuju
ke kota An keng dan dengan mendatangi Liok taijin pada
malam harinya dan mengancam dengan pedangnya,
akhirnya tahulah dia siapa adanya Wan Kan itu. Dan
bukan main kagetnya ketika ia mendengar bahwa Wan Kan
sesungguh nya adalah Wan yen Kan, Pangeran Kerajaan
Kin!
Kemarahan yang mengamuk di dalam dada Lie Bu Tek
hampir saja membuatnya pingsan. Bagaimana sumoinya
bisa terpikat hatinya oleh seorang pangeran Kin? Inilah
pengkhianatan terhadap bangsa, pengkhianatan terhadap
cita cita dan jiwa kepatriotan sendiri! Ia harus menegur
sumoinya, kalau perlu, ia harus melupakan cinta kasihnya
dan memberi hajaran kepada sumoinya dan juga berusaha
membunuh Pangeran Wan yen Kan itu!
Dengan rasa marah yang meluap luap, Bu Tek segera
menuju ke Biciu, hendak menegur dan mencela sumoinya.
Akan tetapi, penyelidikan yang ia lakukan itu makan waktu
dua bulan lamanya dan sementara itu, Thio Ling In telah
menjadi isteri dari Wan yen Kan!
Memang, sepekan kemudian setelah Wan yen Kan
meninggalkan Biciu, ia datang kembali membawa banyak
perbekalan dan keperluan upacara pernikahan. Tentu saja
Nyonya Thio sekeluarga girang bukan main ketika
mendapat kenyataan bahwa calon mantunya itu ternyata
adalah seorang yang kaya raya. Upacara pernikahan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dilakukan dengan meriah dan setiap orang memuji mantu
Nyonya Thio tapi yang selain tampan sekali, juga cukup
kaya untuk membiayai semua peralatan pernikahan.
Dan bagaimana dengan Ling In sendiri? Ia cukup puas
dan bahagia. Suaminya benar benar amat mencintanya,
berlaku penuh cinta kasih, lemah lembut, dan amat
menghormatinya. Jatuhlah hatinya terhadap suami ini dan
iapun membalas cinta kasih suami dengan sepenuh hati.
Kalau tadinya masih ada perasaan membekas di dalam
lubuk hatinya terhadap Bu Tek, kini perasaan itu lenyap
sama sekali dan terganti oleh cinta kasih sepenuhnya
kepada suaminya yang masih dikenalnya sebagai Wan Kan,
seorang pemuda gagah yang hidup sebagai perantau.
Hanya sedikit yang mengecewakan hati Ling In atau
setidaknya yang mengganggu kebahagiaannya, yakni
bahwa pernikahannya tidak dihadiri oleh seorangpun
keluarga Hoa san pai. Hal ini karena pernikahannya
dilakukan dengan amat cepat dan terburu buru. Hanya ada
waktu sepekan dan mana bisa ia memberi kabar kepada
tokok tokoh Hoa san pai? Dan pula, kalau ia mengingat
kepada Bu Tek yang memperlihatkan sikap bermusuh, ia
menjadi sedih juga.
Akan tetapi, sikap suaminya yang manis budi
melenyapkan kekecewaan dan kesedihannya. Mereka hidup
sebagai suami isteri yang saling mencinta dan pekan pekan
mendatang merupakan hari hari bermadu yang manis.
Suaminya belum bercerita tentang keadaan dirinya, maka
sebegitu jauh Ling In tetap mengira bahwa suaminya adalah
seorang terpelajar yang berkepandaian tinggi seorang yatim
piatu yang hidup sebatangkara akan tetapi yang menerima
warisan banyak dari mendiang orang tuanya.
-oo0dw0ooTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Jilid X
SEBULAN lebih setelah pernikahan dilangsungkan,
Wan Kan minta diri dari isterinya untuk membereskan sisa
sisa hartanya yang katanya hendak dibawa semua ke Biciu.
Padahal sebetulnya, pangeran ini ingin pulang dulu karena
sudah terlalu lama meninggalkan istana ayahnya, Ling In
tentu saja menyatakan keinginan hatinya hendak turut,
akan tetapi Wan Kan berkeras mencegahnya, menyatakan
bahwa perjalanan itu amat sukar dan jauh dan bahwa ia
tidak tega melihat isterinya menderita dalam perjalanan.
“Suamiku, kaukira aku seorang wanita yang amat
lemah? Perjalanan jauh dan sukar sudah seringkali
kulakukan. Mengapa kau tidak mau mengajakku?” Ling In
membantah.
“In moi, isteriku yang manis,” Wan Kan menghibur
dengan sikap mesra penuh cinta kasih.
“Aku pergi takkan lama, dan dalam waktu yang tidak
aman ini, lebih baik kau menanti saja di Biciu. Paling lama
dua pekan aku pasti akan kembali.”
Kata kata suaminya ini mengherankan Ling In. Pada
waktu itu, di daerah selatan amat aman dan tidak pernah
terjadi kekacauan. Memang tentu saja Ling In tidak tahu
akan maksud suaminya. Wan yen Kan maksudkan keadaan
di utara yang pada waktu itu memang amat tidak aman.
Pemberontakan pemberontakan terhadap Kerajaan Kin
meletus di mana mana.
Akhirnya, karena dibujuk bujuk pun tetap tidak mau
menyerah kalah, Ling In menarik napas panjang dan dua
butir air mata mengalir turun di pipinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Asal saja tidak terlalu lama kau meninggalkan aku,”
katanya perlahan.
Wan Kan memeluknya dan menghiburnya. “Bodoh,
siapa mau berpisah terlalu lama dengan isterinya yang
demikian cantik dan mencinta?”
Demikianlah, Wan Kan berangkat ke utara,
meninggalkan Ling In yang merasa kecewa sekali karena
tidak diajak. Ling In merasa amat kesunyian ditinggalkan
suaminya. Suaminya yang tampan, peramah, dan amat
mencintanya itu benar benar telah mengisi hidupnya dan
membuat dunianya nampak ramai gembira. Sekarang,
seperginya suaminya, ia selalu duduk termenung di
halaman rumahnya, menanti nanti kembalinya orang yang
dicintanya itu.
Dua hari kemudian, datang seorang muda memasuki
halaman rumah itu, akan tetapi bukan Wan Kan yang
datang, melainkan Lie Bu Tek! Pemuda Hoa san pai ini
dengan hati panas dan penuh amarah, datang kepada Ling
In dengan maksud menegur sumoinya itu yang telah begitu
merendahkan diri untuk menikah dengan seorang pangeran
Bangsa Kin yang menindas rakyat bangsanya!
Untuk sesaat Ling In berseri wajahnya karena mengira
bahwa yang datang adalah suaminya. Akan tetapi ternyata
dugaannya keliru. Sebetulnya perawakan Bu Tek lebih
besar dari pada Wan Kan, akan tetapi pada waktu itu Bu
Tek amat kurus sehingga mendekati perawakan Wan Kan.
Ketika Ling In melihat bahwa yang datang adalah Bu
Tek, wajahnya berobah merah dengan tiba tiba dan ia
merasa terkejut, malu dan jengah. Akan tetapi, segera
semua perasaan ini terganti oleh rasa kasihan ketika ia
melihat betapa kurusnya suhengnya ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Suheng... kau… ?” perhatian Ling In tertarik oleh
kekurusan pemuda itu dan entah mengapa, melihat pemuda
itu menderita karena dia, selain perasaan kasihan, juga ada
perasaan puas! Sebagai seorang wanita, dia tetap saja
memiliki perasaan suka kalau melihat laki laki menderita
karena mencinta dia! Melihat betapa besar dan hebat
pengaruh dirinya terhadap laki laki yang mencintanya!
Kalau saja Ling In tidak tenggelam dalam laut
kebanggaannya, tentu ia akan dapat melihat betapa muka
Bu Tek memperlihatkan sikap mengancam dan galak sekali.
Sebaliknya, laki laki yang disohorkan amat kuat dan jauh
lebih kuat daripada hati wanita, di dalam persoalan cinta
ternyata sebaliknya! Wanitalah yang jauh lebih kuat
menguasai hatinya, dan sebaliknya, hati laki laki yang
bagaimana kuatpun, menghadapi kekasihnya, akan
merobah menjadi sepotong gumpalan darah yang tak
berdaya. Menjadi lemah sekali dan demikian pula Bu Tek.
Ketika dia melihat wajah Ling in, bentuk tubuhnya, dan
pakaiannya yang kini jauh berbeda daripada dahulu, wajah
yang kini nampak segar kemerahan dan bagaikan setangkai
bunga sedang mekarnya, bentuk tubuhnya yang kini tidak
bercorak “jantan” seperti dahulu akan tetapi dengan jelas
membayangkan kewanitaannya yang menimbulkan
kemesraan di hati, ditambah pula dengan pakaian dan
bentuk sanggul serta hiasan rambutnya yang indah menarik,
seketika itu juga cairlah kekerasan hati Bu Tek.
Inilah Ling In seperti yang seringkali ia impikan. Bukan
Ling In pendekar wanita yang kasar dan keras. Inilah Ling
In seratus prosen wanita, penuh kehalusan, penuh
kelembutan dan kemesraan.
“Sumoi...” katanya dan suaranya tersendat di dalam
kerongkongannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ling In lebih dulu dapat menguasai hati nya dan dengan
muka girang ia lalu tersenyum dan berkata, “Ah, Lie
suheng, terima kasih kau mau mengunjungiku. Silakan
duduk di dalam, suheng!”
Makin lemah dan lenyap kemarahan hati Bu Tek
mendengar suara ini, dan timbul pula kehangatan dalam
hatinya. Betapapun juga Ling In adalah sumoinya yang
telah bertahun tahun belajar ilmu silat di Hoa san dengan
dia! Bagaimana ia dapat melukai hati sumoinya ini?
Bagaimana ia dapat mencela dan menegurnya berhubung
dengan pernikahannya dengan pangeran Kerajaan Kin itu?
Tentu ada sesuatu yang membuat sumoinya ini mau
menjadi isteri pangeran itu. Ia tidak percaya bahwa
sumoinya ini membuta mau menjadi isteri Wan yen Kan.
“Tak usah, sumoi. Biarlah, cukup di sini saja.”
Baru sekarang Ling In melihat sikap Bu Tek yang dingin
dan mukanya yang tidak memperlihatkan kemarahan. Ia
mengerutkan kening, lau bertanya dengan hati timbul
kecurigaan, “Suheng, kedatanganmu ini, hanya ingin
mengunjungi aku ataukah... ataukah ada keperluan lain?”
“Aku hendak melihat keadannmu, sumoi. Syukur kau
nampak bahagia...”
“Aku memang berbahagia, suheng,” kata Ling In sambil
menundukkan mukanya yang menjadi merah.
“Ling In, mana suamimu?”
Kembali Ling In merasa gembira ketika diingatkan
kepada suaminya. Sepasang matanya berseri dan mukanya
menjadi merah.
“Ah, kau tentu akan senang kalau berkenalan dengan
dia, suheng. Kami telah merencanakan untuk mengunjungi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hoa san pai, dan memperkenalkan suamiku kepada para
suhu di sana. Ia seorang baik hati dan mulia suheng.”
Lie Bu Tek hanya memperdengarkan suara “hm....
hmm...” saja, kemudian ia memandang tajam sambil
bertanya, “Sumoi, sebetulnya siapakah suamimu itu? Dia
orang apa dan dari mana? Aku ingin sekali bertemu dengan
dia. Di mana dia sekarang?”
Kembali berobah sikap Ling In. Kini air mukanya
memperlihatkan sikap menentang.
“Kau mau apa, suheng? Apakah setelah dia menjadi
suamiku kau masih saja hendak melampiaskan nafsu
jahatmu? Apakah kau hendak menyerangnya? Terus terang
saja, suheng. Kau takkan menang menghadapi dia! Wan
Kan adalah seorang yang berkepandaian tinggi, jauh lebih
tinggi daripada kepandaianmu atau kepandaianku. Dia
murid seorang pandai, Suheng. Maka lebih baik
hilangkanlah saja rasa iri hati dan cemburu di dalam
dadamu yang tak berdasar itu. Aku menjadi isterinya
karena aku memang mencintanya.”
“Hm… jadi namanya Wan Kan? Putera siapakah dia,
sumoi?”
“Ayah bundanya sudah tidak ada lagi. Dia yatim piatu
dan perantau seperti engkau, suheng. Dia seorang baik baik,
sungguh! Harap kau suka sadar dan janganlah mencari
perkara dengan kami. Karena, kalau kau memusuhi dia,
berarti pula bahwa kau memusuhi aku, suheng!”
Tahulah sekarang Bu Tek bahwa sumoinya ini sungguh
tidak tahu bahwa suaminya adalah seorang pangeran Kin!
Akan tetapi ia merasa tidak tega untuk membuka rahasia ini
di depan sumoinya.
“Di mana dia sekarang, sumoi?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dia sedang pergi, sejak dua hari yang lalu.
Kenapakah?”
“Ah, tidak apa apa, sumoi” kata Bu Tek sambil
mengeluarkan potongan sabuk dari kantongnya. “Aku
takkan mengganggu, sumoi, selama hidupku tak mungkin
aku mau mengganggumu. Nah, ini terimalah kembali sabuk
ini. Tak perlu lagi bagiku.” Bu Tek tak usah bertanya ke
mana Wan Kan atau Wan yen Kan, karena ia dapat
menduga bahwa pangeran itu tentu kembali ke utara dan ia
bermaksud hendak menyusulnya tanpa memberi tahu
kepada sumoinya.
Ling In menerima potongan sabuk itu dan hatinya
terharu.
“Suheng, kaumaafkanlah aku, suheng. Pernikahan ini….
pembatalan hubungan kita…. semua adalah kesalahanku….
suamiku tidak ada hubungannya dengan ini, dia tidak boleh
dipersalahkan.”
“Aku tidak menyalahkan siapapun juga dalam hal
pernikahanmu, sumoi. Kalau ada orang yang
kupersalahkan, orang itu adalah.... aku sendiri. Aku
seorang bodoh tak tahu diri, tak tahu malu! Nah, selamat
tinggal sumoi.”
“Suheng, kau masih bersikap marah kepadaku…!”
“Tidak, sumoi. Semoga Thian melindungimu. Selamat
tinggal!” Maka pergilah Bu Tek dengan cepat,
meninggalkan Ling In yang memandangnya dengan air
mata berlinang. Ling In merasa kasihan sekali kepada
suhengnya yang ia ketahui amat menderita hatinnya itu.
-ooo0dw0ooo-
Karena melakukan perjalanan siang malam dengan cepat
sekali, Lie Bu Tek hampir dapat menyusul Wan yen Kan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pagi harinya Wan yen Kan tiba di kota Cin an, sedangkan
pada hari itu juga, menjelang senja, Lie Bu Tek juga tiba di
kota itu!
Pemuda ini hatinya penuh dendam yang membuatnya
menjadi nekad dan berani mati. Ia bukan tidak tahu bahwa
kota Cin an merupakan sarang naga gua harimau bagi
orang orang gagah seperti dia, dan ia telah mendengar pula
bahwa selain di situ terdapat Sam Thai Koksu yang kosen,
juga masih terdapat orang orang gagah yang sengaja
didatangkan oleh Sam Thai Koksu untuk membantu
pemerintah Kin. Akan tetapi, nafsunya untuk membunuh
Pangeran Wan yen Kan demikian besar dan alangkah
girangnya ketika ia menyelidiki, ia dapat mendengar bahwa
pangeran itu memang betul berada di dalam gedung Sam
Thai Koksu pada hari itu!
Malam hari itu, sambil membawa pedangnya, Lie Bu
Tek meloncat ke atas genteng dan bagaikan seekor kucing
gesitnya, ia berlari lari di atas genteng rumah orang tanpa
mengeluarkan suara sedikitpun juga karena ginkangnya
memang sudah cukup tinggi. Tak lama kemudian, tibalah ia
di atas genteng sekelompok rumah gedung yang dijadikan
markas oleh Sam Thai Koksu, di mana orang orang gagah
yang membantu pemerintah Kin berkumpul. Dengan amat
hati hati Lie Bu Tek meloncat loncat di atas genteng dan
menyelidiki untuk mencuri tahu di mana adanya pangeran
yang dibencinya itu!
Betapapun tinggi kepandaian Lie Bu Tek, namun ia
masih tidak tahu bahwa semenjak tadi sesosok bayangan
yang bagaikan setan saja gerakannya telah mengikutinya
dan kini bayangan itu bersembunyi di balik wuwungan dan
mengintai sambil memperhatikan gerak geriknya.
“Pemuda goblok,” bayangan itu berkata seorang diri di
dalam hatinya, “orang dengan kepandaian seperti dia,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagaimana berani mati sekali mendatangkan sarang
harimau?”
Benar saja dugaan bayangan yang aneh ini karena baru
saja Lie Bu Tek menurunkan kakinya di atas genteng yang
berada di tengah tengah kelompok rumah gedung itu, dari
bawah melayang naik tubuh seorang tosu yang membentak
keras.
“Bangsat dari mana berani datang mengantar kematian?”
Lie Bu Tek sudah siap sedia dan secepat kilat ia
mencabut pedangnya menghadapi tosu itu. Ia tidak
mengenal siapa adanya tosu ini, maka ia berkata,
“Aku datang bukan untuk berurusan dengan totiang,
akan tetapi hendak mencari Wan yen Kan pangeran mata
keranjang itu. Suruh dia keluar untuk menghadapi Lie Bu
Tek dan mengadu nyawa di sini!”
Tosu itu tertawa bergelak. “Ha, ha, ha! Kau ini orang
macam apakah berani buka mulut besar hendak menantang
siauw ongnya? Di hadapan Giok Seng Cu jangan kau
menjual kesombongan! Hayo lekas berlutut minta ampun
agar kuhadapan kepada siauw ongya!”
Lie Bu Tek marah sekali. Ia tidak mengenal siapa adanya
Giok Seng Cu, yang seperti pembaca masih ingat adalah
murid dari Pak Hong Siansu yang lihai. Dengan seruan
keras Lie Bu Tek lalu menggerakkan pedangnya menyerang
dengan hebat. Giok Seng Cu tertawa mengejek dan ketika
tubuhnya bergerak, Bu Tek terkejut sekali karena gerakan
kakek itu benar benar cepat sekali seperti berkelebatnya
burung terbang. Namun hati Lie Bu Tek sudah nekad dan ia
melanjutkan serangannya secara bertubi tubi, memutar
pedangnya sehingga berobah menjadi segulung sinar putih
menyilaukan mata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun yang ia hadapi adalah murid dari Pak Hong
Siansu yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya.
Jangankan baru Lie Bu Tek, biarpun guru gurunya
sendiripun takkan mungkin dapat menangkan Giok Seng
Cu! Tosu ini mempergunakan telapak tangannya, untuk
menangkis atau menyampok pedang Lie Bu Tek. Seorang
yang tidak memiliki kepandaian tinggi, mana berani
menyampok pedang tajam hanya dengan telapak tangan?
Bu Tek maklum akan hal ini dan iapun sudah putus
harapan untuk memperoleh kemenangan menghadapi tosu
itu, akan tetapi ia berlaku nekad dan menyerang membabi
buta.
Dengan amat hati hati dan garang, Bu Tek lalu
menggunakan ilmu pedang yang paling lihai dari Hoa san
pai. Ia menyerang dengar gerak tipu To goat jio seng
(Menyangga Bulan Merampas Bintang). Gerakannya cepat
dan kuat sekali, kaki kirinya diangkat, tangan kirinya
membuat gerakan seperti menahan atau menyangga sesuatu
di atas kepalanya untuk mengimbangi gerakan pedangnya
yang ditusukkan ke ulu hati lawannya! Gerak tipu To goat
jio seng ini sesungguhnya amat berbahaya bagi lawan yang
kurang pandai karena akan disusul oleh serangan serangan
lain dan juga dengan tendangan berantai. Akan tetapi,
dengan enak saja Giok Seng Cu lalu miringkan tubuh ke
kanan tanpa merobah kedudukan kakinya dan ketika
pedang Bu Tek meluncur di samping tubuhnya sebelah kiri,
tosu ini secepat kilat menggerakkan tangan kanan
mencengkeram pergelangan tangan Bu Tek, yang
memegang pedang! Pemuda ini merasa tangan kanannya
lumpuh dan tak terasa pula pedangnya terlepas dari
pegangan! Sebelum ia sempat bergerak, Giok Seng Cu
sudah menggerakkan tangan kirinya, menotok jalan darah
di bawah lengan kanannya sehingga tak dapat dicegah lagi
tubuh Lie Bu Tek roboh lemas tak berdaya sedikitpun juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia roboh dalam keadaan lumpuh seluruh tubuhnya,
mendekam di atas genteng!
“Ha, ha, ha! Orang dengan kepandaian macam ini berani
mengganggu Enghiong Hwee koan (Rumah Perkumpulan
Orang orang Gagah)?” kata Giok Seng Cu sambil tertawa
bergelak. Memang rumah itu adalah kelompok rumah
rumah yang dijadikan markas oleh Sam Thai Koksu yang
membentuk Enghiong Hwe atau Perkumpulan Orang orang
Gagah seperti yang pernah dikemukakan di hadapan para
orang gagah dalam pertemuan di taman kota Cin an
dahulu.
Pada saat Giok Seng Cu masih tertawa bergelak, tiba tiba
menyambar sesosok bayangan cepat dan ringan sekali
gerakannya. Tahu tahu bayangan itu telah menyambar
tubuh Lie Bu Tek dan sebelah tangannya menyambar
pedang Lie Bu Tek yang berada di atas genteng pula. Giok
Seng Cu terkejut sekali dan cepat ia mengulur tangan
menyerang pundak bayangan hitam itu. Bayangan itu
dengan tangan kirinya mengempit tubuh Lie Bu Tek dan
tangan kanannya memegang pedang, kini melihat orang
menyerang pundaknya, ia melontarkan pedang yang
dipegangnya ke atas untuk memberi kesempatan kepada
tangan kanannya menangkis pukulan Giok Seng Cu,
kemudian ketika pedang itu meluncur turun, ia menyambut
pedang lalu melompat jauh sekali lenyap dari pandangan
mata Giok Seng Cu!
Tosu ini terkejut bukan main karena tadi ketika lengan
tangannya bertemu dengan tangkisan tangan bayangan itu,
ia merasa seakan akan ada api memasuki tangannya yang
menyerang dan cepat ia menarik kembali tangannya. Ia
masih dapat menyaksikan betapa bayangan itu sengaja
tidak mau mempergunakan pedang mencelakainya, dan
melihat betapa lompatan bayangan yang menolong pemuda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang menyerangnya tadi demikian ringan dan gesit, ia tak
terasa lagi berseru,
“Tangkap penjahat!”
Sebentar saja, beberapa bayangan orang melompat naik,
di antaranya terdapat Pek Hong Siansu. Ba Mau Hoatsu,
Sam Thai Koksu dan masih banyak orang orang gagah lagi.
“Ada apakah ribut ribut?” tanya Pak Hong Siansu
dengan kening dikerutkan. Tentu saja orang tua ini merasa
kurang senang melihat betapa muridnya sampai minta
tolong menangkap penjahat, karena hal itu menandakan
bahwa muridnya ini tidak sanggup menghadapi penjahat itu
seorang diri!
Merahlah wajah Giok Seng Cu, ia lalu bercerita bahwa
tadi datang seorang pemuda yang menurut ilmu pedangnya
tentu seorang anak murid Hoa san pai. Ia berhasil
merobohkan pemuda itu, akan tetapi tiba tiba sesosok
bayangan menolongnya dan ia tidak keburu menangkap
bayangan itu. Janganlah menangkap, mengenal siapa
orangnyapun tidak!
“Hm, siapa lagi kalau bukan murid Pak Kek Siansu itu!”
kata Ba Mau Hoatsu dengan suara gemas.
Teringatlah Giok Seng Cu. “Bisa jadi….” ia mengangguk
anggukkan kepalanya. “Sekarang aku ingat, biarpun
gerakannya cepat sehingga aku tidak sempat mengenal
mukanya namun bajunya berkembang.....!”
“Tentu pemuda she Go itu yang datang menolong murid
Hoa san pai!” kata pula seorang pendeta atau hwesio
gundul yang ikut pula naik ke atas genteng. “Orang orang
Hoa san pai sudah patut dibasmi, selalu mendatangkan
kekacauan!” Orang yang bicara ini adalah seorang hwesio
gundul dari Go bi dan ia ternyata adalah Bu It Hosiang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang dulu pernah ribut ribut dengan Bi Lan di taman kota
Cin an! Kini Bu It Hosiang juga menjadi sahabat dari Sam
Thai Koksu karena ia menaruh dendam kepada Hoa san pai
dan mengharapkan bantuan orang orang gagah dari negeri
Kin!
Dengan sikap mendongkol, orang orang itu lalu turun
lagi dari atas genteng dan marilah kita ikuti keadaan Bu
Tek. Pemuda ini ketika tertotok oleh Giok Seng Cu tadi,
telah lumpuh tubuhnya, namun panca inderanya masih
berjalan baik. Ia tahu bahwa seorang yang berkepandaian
tinggi sekali telah menolongnya dan ia melihat seorang
pemuda tampan yang menolongnya, akan tetapi ia tidak
kenal siapa adanya pemuda ini. Karena gerakan pemuda ini
cepat sekali, ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu
dengan jelas, dan ia kagum sekali ketika pemuda itu
membawanya berlari luar biasa cepatnya melalui genteng
genteng rumah penduduk kota Cin an. Selama hidupnya,
belum pernah Bu Tek menyaksikan ilmu lari cepat seperti
dilakukan oleh pemuda penolongnya ini, yang berlari
seakan akan terbang saja cepatnya.
Setelah tiba di luar kota Cin an, di tempat yang gelap
pemuda itu menepuk pundaknya dan seketika itu juga
pulihlah kesehatan Bu Tek dan totokan dari Giok Seng Cu
yang mempengaruhi lenyap sama sekali.
“Kau jangan bertindak secara bodoh dan sembarangan,
sahabat,” pemuda itu berkata di dalam gelap. “Andaikata
ada sepuluh orang seperti kau, masih belum cukup kuat
untuk menyerbu Sam Thai Koksu dan kawan kawannya.
Bukan perbuatan gagah berani untuk berlaku nekad dan
menyerbu musuh tanpa memperhitungkan kekuatan
sendiri. Paling baik, kalau kau memang seorang hohan
(orang gagah), atau menggabungkan diri dengan para
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
patriot lain untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman
orang orang Kin!”
Sebelum Bu Tek sempat menjawab atau bertanya, sekali
berkelebat saja orang itu lenyap dari hadapannya. Untuk
beberapa lama Bu Tek berdiri ternganga, kemudian ia
menghela napas dan tahu betapa rendahnya tingkat
kepandaiannya kalau dibandingkan dengan penolongnya
tadi. Juga ia merasa malu sendiri. Dengan kepandaiannya
yang tidak berarti itu, bagaimana ia berani mencari Wan
yen Kan di sarang harimau? Sungguh bodoh dan lucu.
Sudah sepatutnya ia ditertawai oleh orang gagah di dunia.
Lie Bu Tek segera pergi, dan ia mengambil keputusan
untuk menggabungkan diri dengan patriot patriot yang
sedang memberontak hendak menumbangkan kekuasaan
pemerintah Kin di Tiongkok utara.
-ooo0dw0ooo-
Siapakah pemuda yang luar biasa lihainya, yang
menolong Li Bu Tek? Tepat seperti dugaan para tokoh yang
membantu Sam Thai Koksu, pemuda ini bukan lain adalah
Hwa I Enghiong (Pendekar Baju Kembang), Go Ciang Le!
Telah dituturkan di bagian depan bahwa Ciang Le
menerima gemblengan ilmu silat dari Pak Kek Siansu di
puncak Bukit Luliang san. Dengan amat tekun dan rajinnya
ia menerima latihan ilmu silat Pak Kek Sin ciang hoat yang
amat sukar dipelajari itu. Berkat ketekunannya dan
kekerasan hati serta bakatnya yang luar biasa, akhirnya
dapat juga ia menguasai ilmu silat ini. Alangkah girangnya
bahwa ia berhasil mempelajari ilmu silat yang aneh ini,
kepandaiannya meningkat secara luar biasa sekali. Baik
ginkang maupun khikang dan lweekangnya telah mencapai
tingkat yang melebihi ketiga murid Pak Kek Siansu, yaitu
Luliang Ciangkun. Luliang Siucai, dan Luliang Nungjin!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada suatu hari, datanglah Luliang Siucai menghadap
kepada gurunya dan menceritakan tentang keadaan di
utara. Ketika Pak Kek Siansu yang tadinya mendengarkan
dengan acuh tak acuh itu mendengar bahwa Pak Hong
Siansu didatangkan oleh Sam Thai Koksu untuk membantu
pemerintah Kin, ia menaruh perhatian dan sepasang alisnya
yang putih itu dikerutkan.
“Siancai, siancai!” ia menyebut perlahan. “Bagaimana
sute (adik seperguruan) demikian bodoh dapat diperalat
oleh pemerintah Kin?” Untuk sehari lamanya kakek sakti
ini tidak mau bicara lagi dan duduk termenung seakan akan
menyesalkan sesuatu yang amat mengganggu hatinya.
Kemudian ia memanggil Ciang Le menghadap.
“Ciang Le, sekarang tiba saatnya kau harus berjuang
demi kebenaran. Kau telah dapat menamatkan Pak kek Sin
ciang dan akan sia sialah semua jerih payahmu mempelajari
ilmu itu apabila kau tidak dapat mempergunakan pada saat
penting seperti sekarang ini. Pak Hong Siansu itu adalah
susiokmu sendiri, namun ia ternyata telah tersesat jalan.
Sudah menjadi kewajibanmu untuk menginsyafkannya dan
untuk menolong para patriot bangsa yang memperjuangkan
nasib mereka. Kau pergilah ke utara dan temui susiokmu
itu, membawa suratku kepadanya. Kalau dia menurut
nasihatku, itu lebih baik lagi. Kalau tidak, terpaksa kau
harus mempergunakan kepandaian untuk mencegah
pemerintah Kin menghancurkan para patriot yang berjuang
demi kebenaran dan kesucian.
Pak Kek Siansu lalu membuat sehelai surat untuk Pak
Hong Siansu, kemudian berangkatlah Ciang Le membawa
surat itu. Dengan amat cepat Ciang Le lalu menuju ke Cin
an, karena dari Luliang Siucai ia mendapat petunjuk bahwa
orang orang gagah yang membantu pemerintah Kin
bermarkas di kota ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Demikianlah, dengan perjalanan yang cepat sekali,
Ciang Le tiba di Cin an. Tanpa ragu ragu lagi ia segera
menuju ke Enghiong Hwe koan. Rumah perkumpulan ini
sebetulnya masih menjadi kelompok dengan rumah kepala
daerah di Cin an dan karenanya, di situ terjaga oleh
sepasukan pengawal yang berpakaian seperti tentara
menghadapi peperangan! Di halaman depan dari Enghiong
Hwekoan terjaga oleh pasukan yang dikepalai oleh seorang
panglima yang menjadi pembantu Sam Thai Koksu.
Panglima ini sudah setengah tua, dan ia dibantu oleh dua
orang perwira yang amat gagah, dua orang yang terkenal
memiliki kepandaian tinggi karena menerima latihan ilmu
silat dari Sam Thai Koksu sendiri! Seorang diantara dua
perwira ini bertubuh tinggi besar, seorang ahli gwakang
(tenaga kasar) bernama Ban Kui yang selain ilmu silatnya
yang tinggi, juga terkenal ahli dalam ilmu gulat. Orang ke
dua adalah seorang perwira bertubuh kecil pendak bermata
tajam. Dia ini seorang ahli lweekang yang memiliki tenaga
lweekang yang amat terkenal. Selain tenaga lweekangnya
sudah mahir, juga ia pandai mempergunakan senjata
rahasia berupa jarum jarum perak yang diberi nama Hui gin
ciang (Jarum Perak Terbang). Perwira ke dua ini bernama
Lee Gai. Dua orang perwira ini boleh dibilang menjadi jago
jago yang diandalkan dalam penjagaan kelompok rumah
pembesar di Cin an dan yang bertanggung jawab atas
penjagaan Enghiong Hwekoan.
Ketika Ciang Le tiba di Enghiong Hwekoan, ia dibawa
oleh penjaga menghadap ke kantor penjagaan yang berada
di ruang depan dari Enghiong Hwekoan itu. Ban Kui dan
Lee Gai tengah berunding dengan komandannya yaitu
panglima ahli perang yang sudah setengah tua bernama
Kim Ti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat seorang pemuda berbaju kembang, berwajah
tampan dan tersenyum senyum datang menghadap tanpa
memheri hormat, Kim ciangkun menjadi marah! Ia
menggebrak meja. “Orang liar dari manakah datang
menghadap di sini? ? Apakah kau tidak tahu cara
bagaimana memberi hormat kepada pembesar?”
Ciang Le memperlebar senyumnya dan ia lalu menjura
sambil berkata.
“Aku datang bukan hendak menghadap melainkan
hendak bertemu dengan Pak Hong Siansu.”
Terkejut juga Kim Ti dan dua orang perwira
pembantunya mendengar bahwa pemuda ini hendak
bertemu dengan Pak Hong Siansu. Akan tetapi pemuda ini
terang adalah seorang Han, tentu saja mereka menjadi
bercuriga dan Kim ciangkun membentak lagi, “Kau ini
masih pernah apakah dengan Pak Hong Siansu?”
Ciang Le menggelengkan kepalanya karena ia tidak perlu
memperkenalkan diri terhadap pembesar Kim yang
sombong ini, “Disebut pernah apa, bertemupun belum
pernah. Disebut tidak ada hubungan, sekarang aku datang
khusus untuk bertemu dengan dia. Lebih baik lekas minta
Pak Ho Siansu keluar menemuiku, atau… apakah dia tidak
berada di sini?”
Pembesar she Kim itu marah sekali. “Kau orang Han
benar benar kurang ajar sekali. Menghadap di sini kau
harus berlutut!” Sambil berkata demikian, Kim Ti memberi
tanda dengan tangannya kepada dua orang penjaga yang
tadi mengantar Ciang Le masuk agar dua orang itu
memaksa Cian Le berlutut.
Dua orang itu segera melangkah maju dan sebentar saja
kedua pundak Ciang Le dipegang dan ditekan kanan kiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Berlutut kau!” seru penjaga penjaga itu Akan tetapi,
ketika mereka menekan pundak pemuda itu, sama sekali
pemuda itu tidak bergeming seakan akan mereka menekan
sebuah batu karang saja. Bahkan sambil tersenyum, Ciang
Le lalu membalikkan tubuh dan kini dia yang memegang
belakang leher dua orang penjaga itu sambil berseru, “Kau
dua ekor anjing keluarlah!” Entah bagaimana, agaknya
Ciang Le tidak mempergunakan tenaganya, namun ternyata
dua tubuh penjaga itu terlempar keluar pintu, jatuh
bergulingan bagaikan dua ekor anjing ditendang!
Melihat peristiwa ini, Kim ciangkun menjadi makin
marah. Akan tetapi ia adalah seorang yang cerdik dan suka
berlaku hati hati. Kalau dia bodoh dan ceroboh, tidak nanti
ia diangkat untuk menjadi komandan penjaga dari
Enghiong Hwekoan. Ia tahu bahwa Pak Hong Siansu
adalah seorang sakti yang aneh dan tentu saja mempunyai
kawan kawan yang aneh pula di dunia kang ouw. Ia belum
tahu apakah pemuda yang berpakaian lucu ini kawan atau
lawan, maka tidak pada tempatnya kalau ia berlaku
ceroboh. Pula, pemuda ini terang memiliki kepandaian
tinggi dan kalau seandainya ia berlaku kasar kemudian
ternyata pemuda ini kawan baik Pak Hong Siansu, ia tentu
akan mendapat teguran dari Sam Thai Koksu. Oleh karena
itu, ia lalu berkata, “Aha, tidak tahunya kau adalah seorang
enghiong muda yang gagah! Ah, kau tentu seorang tamu
yang terhormat. Lee ciangkun, ada tamu terhormat datang,
mengapa tidak menyuguh sepotong daging dan secawan
arak?”
Memang di atas meja di depan pembesar ini masih
penuh dengan mangkok mangkok terisi masakan dan
cawan cawan arak, tanda bahwa tiga orang perwira tadi
tengah makan minum ketika Ciang Le dihadapkan.
Mendengar ucapan atasannya ini, Lee Gai mengerti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maksudnya, maka ia lalu berdiri dari tempat duduknya
dengan muka tersenyum senyum ia menghadapi Ciang Le
lalu menjura dan berkata,
“Enghiong yang gagah perkasa memang perlu mendapat
penghormatan. Baiklah siauwte memberi hormat dengan
sepotong daging empuk !” Ia lalu mengambil sepasang
sumpit dari atas meja dan sekali ia menggerakkan
sumpitnya, ia telah menyumpit sepotong daging besar, lalu
dengan gaya dibuat buat ia meluncurkan daging di ujung
sumpit itu ke arah mulut Ciang Le!
Diam diam Ciang Le merasa mendongkol sekali. Kalau
ia mengelak atau menolak, tentu dianggap takut, maka
terpaksa ia lalu memperlihatkan kepandaiannya. Ia melihat
datangnya sumpit itu cepat dan kuat sekali dan maklum
bahwa perwira kecil pendek ini bermaksud buruk
terhadapnya, bukan sekedar mencoba kepandaian atau
menghormat, akan tetapi sumpit dan daging itu merupakan
serangan ke arah mulut yang berbahaya sekali! Namun,
dengan tenang Ciang Le membuka mulutnya dan ketika
daging berikut sumpit memasuki mulutnya, ia menyambar
daging itu dengan giginya lalu miringkan kepalanya
sehingga sumpit yang menusuk mulut itu lewat didekat
pipinya. Akan tetapi daging itu telah memasuki mulutnya
sedangkan sumpit itu sedikitpun tidak melukainya!
Ciang Le tentu saja tidak sudi makan daging itu, maka ia
lalu meniupkan mulutnya dan daging itu menyambar ke
tembok dan terus amblas masuk ke dalam tembok!
Lee Gai menjadi merah mukanya, akan tetapi kini ia
mempunyai alasan untuk menjadi marah. “Kau tidak mau
menerima daging suguhanku, sungguh tidak menghormat!”
Sepasang sumpit di tangannya kini meluncur lagi dan
menusuk ke arah Ciang Le!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda ini cepat mengelak dan berlaku mengalah. Akan
tetapi ternyata orang itu tidak tahu diri dan terus menyerang
secara bertubi tubi dan sepasang sumpit itu kini mengancam
jalan darah di leher, dada, dan pundak!
Ciang Le mengebutkan lengan bajunya untuk
menangkis. Akan tetapi tentu saja ia kewalahan kalau terus
menerus diserang tanpa membalas, maka tiba tiba ia
mengulur tangan kanannya menyambar sepasang sumpit
dari atas meja. Ia menanti sampai sumpit ditangan
lawannya menyerang lagi, lalu tiba tiba, bagaikan sepasang
ular hidup, sumpitnya menyambut tangan Lee Gai dan tahu
tahu sepasang sumpit ditansan Ciang Le menjepit
pergelangan tangan Lee Gai!
Kalau dilihat benar benar amat aneh dan sukar
dipercaya. Berapakah kuatnya jepitan sepasang sumpit yang
dipegang tangan? Apalagi pergelangan tangan Lee Gai yang
berbaju perang itu terlindung oleh kulit tebal, akan tetapi
begitu pergelangan tangan ini terkena jepitan sumpit Ciang
Le, perwira pendek kecil ini tiba tiba menjadi pucat dan ia
menjerit kesakitan! Ia merasa betapa jepitan itu
mendatangkan rasa sakit yang demikian hebat sampai
menusuk ke sumsum dan jantung. Ia mencoba
mempertahankankan diri, namun ia tidak kuat dan tanpa
terasa lagi ia jatuh berlutut dengan tangan masih terjepit!
“Ciangkun, kau lepaskanlah sumpitmu, baru akupun
hendak melepaskan sumpitku!” kata Ciang Le sambil
tersenyum. Pemuda ini berdiri dan nampaknya tidak
menggunakan tenaga sama sekali sehingga melihat hal ini,
Ban Kui yang berdri disebelah kiri Kim Ti berdiri bengong
dan memandang dengan mulut ternganga. Adapun Kim Ti
menjadi terkejut dan wajahnya pucat.
Mendengar ucapan Ciang Le, maklumlah Lee Gai
bahwa pemuda ini menganggapnya keterlaluan telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempergunakan sumpit sebagai senjata, maka kini dialah
yang harus melepaskan “senjata” lebih dulu. Akan tetapi
alangkah herannya ketika ia merasa jari jari tangan
kanannya kaku dan ia tidak dapat melepaskan sumpit yang
dipegangnya itu! Ia terkejut bukan main karena sebagai
seorang ahli lweekeh (tenaga dalam), ia maklum bahwa
pemuda aneh ini sedang mempergunakan lweekang untuk
menguasai jalan darahnya! Ia mengerahkan lweekangnya
untuk melawan tenaga lawan ini, namun begitu ia
mengerahkan lweekangnya, kembali ia menjerit kesakitan
karena tubuhnya terasa panas dan sakit sakit. Terpaksa ia
merintih rintih.
“Taihiap (pendekar besar), harap kau sudi memaafkan
aku yang bodoh dan lancang!”
Ciang Le juga tidak ingin mempermainkan orang lebih
lama lagi. Ia melepaskan sumpit itu dan melemparkan
sumpit secara sembarangan di atas meja, namun sumpit itu
menancap sampai setengah lebih di depan Kim Ti.
Sepasang sumpit bambu itu menembus papan, meja yang
demikian tebalnya! Ternyata pemuda ini telah
memperlihatkan kepandaiannya untuk menundukkan orang
orang sombong itu. Akan tetapi ia keliru kalau menganggap
bahwa dengan demonstrasi itu ia akan menundukkan
mereka, ia tidak tahu bahwa orang orang Kin amat
sombong dan mengandalkan kekuatan fihak sendiri. Baru
saja Lee Gai diberi kesempatan berdiri, tiba tiba perwira
yang curang ini menggerakkan tandannya dan tahu tahu
belasan Hui gio ciam (Jarum Perak Terbang) menyambar ke
arah tubuh Ciang Le dari belakang! Jarak diantara mereka
hanya dua tombak lebih maka tentu saja serangan ini amat
berbahaya bagi Ciang Le!
Akan tetapi, dengan tenang seperti gunung akan tetapi
cepat laksana angin lalu, Ciang Le membalikkan tubuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sambil mengebutkan lengan bajunya yang lebar dan semua
jarum itu tersampok runtuh! Kemudian, tahu tahu
tubuhnya berkelebat dan sebelum tiga orang itu tahu
bagaimana pemuda ini bergerak, tiba tiba Lee Gai menjadi
kaku dan berdiri dengan tangan kanan masih terulur bekas
menyambit dan tangan kiri masih menggenggam jarum
jarum yang lain! Dia telah terkena totokan yang luar biasa
lihainya dari Ciang Le!
Melihat ini Ban Kui segera menubruk maju dan
menyerang Ciang Le dengan pukulannya yang dilakukan
keras sekali. Kepalan tangan Ban Kui besarnya sama
dengan kepala Ciang Le dan kerasnya seperu pelor besi.
Tenaganya pun seperti tenaga kerbau, maka kalau sekiranya
pukulan yang diarahkan kepada kepala Ciang Le itu
mengenai sasaran, agaknya kepala itu akan pecah!
Akan tetapi, apakah yang dilakukan oleh Ciang Le?
Pemuda ini tidak mengelak, hanya secepat kilat tangannya
menotok dari bawah dan memapaki pukulan tangan lawan
ini. Sebelum pukulan itu mengenai kepalanya, pergelangan
tangan lawannya telah kena ditotok oleh jari telunjuknya,
benar benar menggelikan kalau melihat betapa Ban Kui
yang tinggi besar itu tiba tiba merendahkan diri berjongkok
sambil mengaduh aduh dan memegangi tangannya.
Sebentar saja tangannya membengkak dan sambil mengurut
urut tangan kanannya dengan tangan kiri, ia mengaduh
aduh terus seperti babi disembelih!
Ciang Le kehilangan kesabarannya. Ia membungkuk
memegang kaki meja di depan Kiat Ti dan sekali
menggerakkan tangan, ia mengangkat meja besar itu di atas
kepalanya dan mengancam hendak menimpakan meja itu
kepada Kim Ti sambil membentak. “Manusia sombong!
Lekas kaukatakan, di mana adanya Pak Hong Siansu? Kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebagai kepala penjaga ternyata tidak menghormat tentu
yang datang hendak bertemu dengan tuan rumah!”
Kim Ti menjadi pucat dan dengan ketakutan ia berseru.
“Tolong...! Tolong ada penjahat!” Akan tetapi suaranya
lenyap ketika meja itu benar benar menimpanya, akan
tetapi tidak begitu keras karena Ciang Le masih memegang
kaki meja, namun cukup keras untuk membuat Kim Ti
terpelanting dalam keadaan pingsan.
Beberapa orang berlari dari dalam gedung dan ternyata
mereka ini adalah Ba Mau Hoatsu, Giok Seng Cu, Suma
Kwan Eng dan beberapa orang pembesar dan tokoh
pemerintah Kin yang membantu Sam Thai Koksu. Pada
waktu itu Pak Hong Siansu sedang keluar kota bersama
Sam Thai Koksu.
“Siapakah kau ini berani mengacau di sini?” bentak Ba
Mau Hoatsu ketika melihat keadaan di situ dan melihat
pula Ciang Le yang berdiri dengan muka merah akan tetapi
sikapnya tenang sekali.
Ciang Le memandang semua orang itu, lalu menjura dan
bertanya. “Di mana adanya Pak Hong Siansu? Aku datang
dengan maksud bertemu dengan dia, akan tetapi siapa tahu
anjing anjing penjaga ini bahkan menghinaku!”
Giok Seng Cu yang mendengar bahwa pemuda ini
hendak bertemu dengan suhunya, lalu melangkah maju dan
bertanya, “Siapakah kau dan ada keperluan apakah hendak
bertemu dengan suhu?”
Mendengar ini, Ciang Le memandang kepada tosu ini
dengan penuh perhatian. Ia tahu bahwa kalau tosu ini
murid susioknya, betapapun juga tingkatnya dalam
perguruan lebih tinggi, maka ia tidak memberi hormat dan
hanya berkata tenang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku datang hendak bertemu dengan orang tua itu untuk
memberikan sepucuk surat yang dialamatkan kepadanya.”
“Surat? Dari siapa? Dan siapa kau?” Giok Seng Cu
mendesak dan memandang penuh kecurigaan.
“Siapa adanya aku, tak perlu kalian ketahui karena tidak
ada sangkut pautnya. Juga dari siapa surat itu tak perlu
kusebutkan. Lebih baik biarkan aku bertemu dengan orang
tua itu agar segala sesuatu berjalan beres tanpa ada salah
pengertian,” jawab Ciang Le. Jawaban yang singkat ini
menang terdengar agak sombong, maka tentu saja Giok
Seng Cu menjadi marah sekali.
“Orang muda di hadapan Giok Seng Cu murid Pak
Hong Siansu kau
tidak boleh
berlaku sombong.
Suhu tidak berada
di sini dan kau
berikanlah saja
surat itu
kapadaku. Akan
tetapi kalau kau
tidak mau
mengaku siapa
adanya dirimu
dan dari siapa
surat itu, tentu
saja kau tidak
boleh pergi dari
sini sebelum suhu
datang.”
“Ah, jadi Pak Hong Siansu tidak berada di sini? Sayang
sekali. Kalau begitu kedatanganku percuma saja. Baik lain
kali saja aku kembali.” Tanpa mempedulikan omongan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Giok Seng Cu tadi, Ciang Le lalu memutar tubuhnya dan
hendak pergi meninggalkan Enghiong Hwekoan.
Bukan main marahnya Giok Seng Cu melihat sikap
orang muda ini yang sama sekali tidak memandang mata
kepadanya.
“Kau tidak boleh pergi dari sini!” bentaknya dan
serentak ia melompat maju dengan tangan kiri diulur ke
arah pundak Ciang Le. Sekaligus murid Pak Hong Siansu
ini menyerang Ciang Le dengan sebuah totokan kearah
jalan darah kian goan hiat di pundak kiri!
Serangan ini berbahaya sekali karena dilakukan oleh
seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi. Baru angin
serangan saja sudah dapat menginsyafkan Ciang Le bahwa
orang ini memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang
ringan begitu saja.
“Maaf, kau yang mulai lebih dulu!” serunya dan cepat ia
mengelak dengan merendahkan pundak itu, kemudian
sambil membalikkan tubuh ia membalas serangan lawan
dengan gerak tipu Tan hong lian sim (Burung Hong
Membelah Hati). Tangan kanannya dengan jari jari terbuka
ditusukkan ke arah dada kiri Giok Seng Cu.
Melihat gerakan ini, terkejutlah Giok Seng Cu. Hanya
orang yang telah mempelajari ilmu silat tinggi saja dapat
membalas serangannya dengan cara demikian cepat dan
juga berbahaya datangnya. Ia cepat manangkis sambil
mengerahkan tenaganya dengan maksud membuat lengan
tangan lawannya yang masih muda itu patah atau
setidaknya sakit. Akan tetapi ia kecele, karena begitu kedua
tangan beradu, pemuda itu nampaknya tidak apa apa,
sebaliknya dia mencelat mundur dengan tubuh terhuyung!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Giok Seng Cu berlaku hati hati. Kepandaian pemuda ini
sudah demikian tinggi tingkatnya, maka ia merasa kuatir
kalau kalau salah tangan terhadap orang pandai.
“Siapakah kau? Mengakulah, barangkali kita dapat
mendamaikan urusan ini,” katanya.
“Giok Seng Cu, percuma saja kau memakai jubah
pendeta dan menjadi murid Pak Hong Siansu kalau kau
tidak bisa mengendalikan nafsumu yang terdorong
kesombongan itu!” Ciang Le mengejek dan kembali ia
membalikkan tubuh hendak pergi dari situ. Ba Mau Hoatsu
marah dan merasa tersinggung. Cepat ia meloncat
menghadapi Ciang Le.
“Nanti dulu, anak muda! Ketahuilah bahwa aku adalah
Ba Mau Hoatsu dari Tibet. Kalau kau belum pernah
mendengar namaku, itu tidak mengapa. Akan tetapi aku
mewakili Sam Thai Koksu dan boleh dibilang pada saat ini
aku menjadi tuan rumah. Kau telah datang sebagai tamu,
maka sebelum menyambut mu, aku merasa tidak patut
sebagai tuan rumah.”
Ciang Le mengangguk angguk dan tersenyum. “Ah,
tidak nyana begitu banyak tokoh besar berkumpul di sini.
Ba Mau Hoatsu, seperti telah kunyatakan tadi,
kedatanganku ini hanya ada urusan dengan Pak Hong
Siansu. Karena aku mendengar bahwa Pak Hong Siansu
berada di sini, maka aku berada di tempat ini. Sekarang Pak
Hong Siansu tidak berada di sini, untuk apa berdiam lebih
lama lagi? Aku akan kembali kalau orang tua itu sudah
berada di sini.”
Ba Mau Hoatsu tertawa bergelak. “Anak muda, siapapun
juga kau, dan siapapun juga adanya gurumu yang besar,
kiranya tidak patut kalau kau bersikap demikian sombong.
Sebagai tamu dari rumah di mana aku menjadi wakil tuan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
rumah, tentu saja kau haru memberitahukan namamu.
Kalau tidak bagaimana kelak aku memberi laporan kepada
Pak Hong Siansu?”
“Tak perlu memperkenalkan nama kalau Pak Hong
Siansu tidak ada di sini.” Ciang Le berkukuh.
“Kalau begitu, terpaksa aku menghalangi kau pergi dari
sini!” kata Ba Mau Hoatsu sambil mengeluarkan sepasang
senjatanya yang aneh, yaitu sepasang roda (siang lun)
terbuat dari pada emas dan perak. Tangan kanannya
memegang kim lun (roda emas) dan tangan kiri memegang
gin lun (roda perak).
Melihat senjata ini saja, tahulah Ciang Le bahwa dia
berhadapan dengan lawan berat yang berilmu tinggi. Akan
tetapi, murid Pak Kek Siansu ini tidak gentar sedikitpun
juga.
Dengan sikapnya yang tenang, pandang mata tajam dan
bibir tersenyum, Ciang Le menghadapi Ba Mau Hoatsu
yang melarangnya pergi meninggalkan Enghiong Hwekoan.
Pendeta Tibet yang bertubuh tinggi besar itu berdiri
memagang kuda kuda dengan kedua tangan memegang
senjatanya siang lun (sepasang roda) yang hebat.
“Hm, BaMau Hoatsu, agaknya dengan cara seperti ini
pula kau dapat merampas kedudukan yang tinggi di mana
mana.”
“Pemuda sombong jangan banyak cakap, tandingilah
senjataku ini kalau kau memang lihai!” kata Ba Mau
Hoatsu sambil menggerakkan kedua roda di tangannya.
Sepasang roda perak dan emas itu terputar cepat sekali dan
menerbitkan angin serta mengeluarkan suara mendesing.
Senjata ini memang luar biasa sekali dan lebih lebih lagi di
tangan Ba Mau Hoatsu yang telah melatih diri berpuluh
tahun, sepasang senjata ini benar benar amat lihai. Dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penyerangannya. Ba Mo Hoatsu dapat mempergunakan
senjata roda ini untuk dilontarkan kepada lawan dan sambil
terputar putar, roda ini dapat mengejar lawan dan dapat
kembali pula ke tangannya seperti roda roda terbang. Atau
dapat juga dipegang untuk dipergunakan sebagai senjata
amat kuat.
Ciang Le maklum bahwa menghadapi kim lun dan gin
lun ini, tak mungkin bertangan kosong saja. Maka iapun
menggerakkan tangan meraba ke balik jubahnya yang
berkembang itu dan di lain saat tangan kanannya telah
memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar
kuning emas.
“Kim kong kiam!” seru Suma Kwan Eng ketua Hui eng
pai yang mengenal baik pedang ini. “Dia ada hubungan
dengan Thian Te Siang mo!”
“Benarkah kau ada hubungan dengan Sepasang Iblis
Kembar itu? Apakah kau muridnya, anak muda?”
Ciang Le tersenyum. “Memang pernah aku menjadi
murid Thian Te Siang mo dan pedang ini memang
pemberian mereka. Apakah salahnya itu?”
“Bagus! Memang kami sedang mencari iblis kembar itu
dan sekarang lebih dulu aku akan menangkap muridnya!”
kata Ba Mau Hoatsu dan secepat kilat roda peraknya
menyambar ke arah kepala Ciang Le.
Pemuda ini cepat mengelak dan ketika roda emas
menyusul menyambar dengan kuat dan cepat ke arah
dadanya, ia menangkis dengan Kim kong kiam.
“Traaang...!” Roda emas itu berputar kembali ke arah
pemiliknya sedangkan Ciang Le cepat menggetarkan
pedangnya agar tenaga benturan tadi tidak mempengaruhi
tangannya. Pemuda ini telah memiliki kepandaian tinggi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan berkat latihan dari Pak Kek Siansu, ia telah dapat
mengatur tenaga di dalam tubuhnya dan tidak
mengherankan apabila kini ia kuat menghadapi benturan
kim lun, bahkan dapat membuat roda emas itu terputar
kembali ke arah Ba Mau Hoatsu! Sebaliknya, pendeta Tibet
itu kaget bukan main menyaksikan kehebatan tenaga lawan
yang masih muda ini. Ia memang maklum akan kelihaian
Thian Te Siang mo dan untuk menghadapi Sepasang Iblis
Kembar itu ia memang merasa jerih. Akan tetapi apakah
untuk menghadapi murid dari iblis kembar itu saja ia harus
kalah? Tentu saja ia merasa penasaran sekali dan cepat ia
menyerbu lagi sambil menggerakkan kedua rodanya dengan
cepat.
“Ha Mau Hoatsu, kau telah menjadi buta karena nafsu
marah!” Ciang Le menegur sambil menggerakkan
pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut
yang pernah ia pelajari dari Thian Te Siang mo. Memang
ilmu pedang ini hebat sekali, ditambah pula oleh tenaganya
yang besar dan gerakannya yang cepat, maka kini pedang
itu berobah menjadi segulung sinar kuning emas yang amat
panjang dan yang bergulung gulung seperti seekor sinar
kuning! Adapun sepasang roda di tangan Ba Mau Hoatsu
juga tidak kurang hebatnya. Sepasang senjata itu diputar
sedemikian rupa sehingga yang nampak hanyalah bundaran
sinar kuning dan putih yang menyilaukan mata. Bagi orang
orang yang menonton pertempuran ini, benar benar mereka
melihat pemandangan yang luar biasa dan indah. Kalau
sinar pedang di tangan Ciang Le merupakan seekor naga
kuning yang gagah, adalah dua roda itu seakan akan
menjadi sepasang mustika yang berkejaran dengan naga itu!
Pertempuran berjalan puluhan jurus, namun tetap saja
sepasang roda itu tidak dapat mendesak Ciang Le. Pemuda
ini tetap berlaku sabar dan tenang, tidak mau ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempergunakan Pak kek Sin ciang untuk merobohkan
lawan, karena memang ia tidak berniat membunuh atau
melukai Ba Mau Hoatsu tanpa alasan.
Sebaliknya, Ba Mau Hoatsu menggigit bibirnya dengan
hati penasaran dan mendongkol sekali. Tak pernah
disangkanya bahwa menghadapi murid dari Thian Te Siang
mo saja ia tidak becus mengalahkannya! Kemarahannya
memuncak dan ia makin ganas. Sepasang rodanya diputar
sedemikian rupa sehingga kini setiap serangannya
mengarah nyawa lawan.
Ciang Le merasa betapa lawannya ini benar benar
keterlaluan dan tidak mau mengerti bahwa sebetulnya ia
telah banyak mengalah. Oleh karena itu ia berseru keras
dan tiba tiba pedangnya berubah gerakannya dan ia mulai
mempergunakan gerakan dari Pak kek Sinciang! Bukan
main kagetnya hati Ba Mau Hoatsu ketika tiba tiba ia
merasa sambaran angin yang aneh dan kuat sekali keluar
dari sambaran pedang lawan dan tiba tiba roda perak di
tangan kirinya telah dapat dimasuki pedang lawan dan
sekali gertak, rodanya itu telah terlepas dari pegangannya!
Ciang Le menggerakkan pedangnya dan roda itu kini
terputar putar oleh pedang.
“Ba Mau Hoatsu, terimalah kembali roda perakmu!”
Pada saat itu, Ba Mau Hoatsu yang menjadi marah
sedang melontarkan roda emasnya ke arah kepala Ciang Le
dan ketika pemuda ini menggerakkan pedang sehingga roda
perak itu meluncur ke arah pemiliknya, maka sepasang roda
itu saling bertemu di udara dan mengeluarkan suara nyaring
sekali seperti gembreng dipukul. Sepasang roda itu runtuh
dan jatuh di atas lantai!
“Bangsat muda, kau benar benar berani mati!” seru Ba
Mau Hoatsu yang cepat menggerakkan tubuh menyambar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembali sepasang rodanya dan tanpa mengenal malu
pendeta Tibet ini menyerang lagi.
Akan tetapi, pada saat itu, dari pintu depan berkelebat
bayangan putih dan tahu tahu tubuh Ba Mau Hoatsu
tertarik ke belakang oleh sebuah lengan tangan yang halus
dan nampak lemah.
“Ba Mau Hoatsu, tahan dulu!” terdengar suara halus
menegur dan ternyata bahwa yang datang itu adalah
seorang kakek tua renta berpakaian seperti pendeta,
bertubuh bongkok dan berkepala botak. Kakek ini bukan
lain adalah Pak Hong Siansu yang baru saja kembali dari
perjalanannya. Ba Mau Hoatsu cepat meloncat mundur dan
kini Pak Hong Siansu berdiri menghadapi Ciang Le dengan
mata penuh selidik.
Adapun Ciang Le ketika melihat kakek bongkok dan
botak ini, tahu bahwa tentu inilah Pak Hong Siansu. Ia lalu
menyimpan kembali pedangnya kemudian menjatuhkan
diri berlutut di depan Pak Hong Siansu sambil berkata,
“Teecu Go Ciang Le datang menghadap susiok atas
perintah suhu.”
Mendengar ini semua orang terkejut. Pemuda ini
menyebut susiok kepada Pak Hong Siansu dan ini hanya
mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda ini adalah murid
dari Pak Kek Siansu!
Juga Pak Hong Siansu tercengang mendengar ini.
“Hm, suheng masih mempunyai seorang murid baru
yang begini muda dan gagah? Ada keperluan apa kau
disuruh menghadapku di sini?”
Ciang Le mengeluarkan surat dari suhunya lalu
memberikan surat itu kepada Pak Hong Siansu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Suhu menyuruh teecu menghaturkan surat ini kepada
susiok,” katanya penuh hormat.
Pak Hong Siansu suka juga melihat sikap Ciang Le yang
amat sopan ini, maka sambil tersenyum ia menerima surat
dari suhengnya. Telah belasan tahun ia tidak bertemu
dengan suhengnya, juga tidak pernah mendengar berita dari
Pak Kek Siansu. Sekarang tiba tiba suhengnya itu menulis
surat, ada keperluan apakah?
Begitu membuka surat itu, Pak Hong Siansu tersenyum.
Ia mengenal baik tulisan tangan suhengnya, tulisan yang
bertenaga akan tetapi yang kelihatan indah dan halus,
tulisan seorang ahli surat yang pandai, yang bagaikan
lukisan indah sekali. Akan tetapi, setelah ia mulai membaca
isi surat, berobahlah wajahnya. Mukanya yang putih bersih
dan yang tadinya berseri dengan senyumnya, tiba tiba
menjadi merah dan keningnya berkerut kerut. Nyata bahwa
ia kelihatan marah sekali.
Tiba tiba kakek sakti ini tertawa. Suara ketawanya halus,
akan tetapi di dalamnya mengandung getaran yang
mempengaruhi semua orang yang berada di situ karena
suara ketawa ini mengandung tenaga yang menggetarkan
hati orang.
“Aha, suheng benar benar masih sombong dan lancang!
Menganggap diri sendiri selalu betul!” Ia lalu melemparkan
surat itu ke atas dan biarpun surat itu terbuat dari pada
kertas yang ringan, namun ketika dilemparkan ke atas,
kertas itu meluncur dan Pak Hong Siansu menyusul dengan
gerakan tongkatnya yang merah dan panjang.
“Bret!” ujung tongkat itu menusuk kertas sehingga
terobeklah surat itu dan kini berada di ujung tongkat.
Kembali kakek itu menggerakkan tongkatnya dan kertas
yang sudah bolong dan berada di ujung tongkat kini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melayang cepat sekali ke arah Ciang Le. Pemuda ini
mengangkat tangan menyambut surat itu dan terkejutlah ia
ketika merasa betapa telapak tangannya terasa sakit ketika
menerima kertas yang meluncur tadi. Alangkah hebatnya
tenaga susioknya yang dapat membuat kertas seringan itu
seperti sebuah senjata rahasia yang berat!
“Kembalilah kepada gurumu. Katakan bahwa ia sudah
pikun dan selalu bersembunyi di puncak gunung, ia tidak
melihat kenyataan di atas dunia ini! Kerajaan Kin adalah
kerajaan yang kuat dan jaya, yang akan dapat menjadi
pemerintah yang adil di Tiongkok. Mengapa aku tidak
membantunya?”
Tanpa banyak cakap lagi, sambil menahan gelora
hatinya yang merasa mendongkol sekali, Ciang Le lalu
bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Ba Mau Hoatsu merasa penasaran melihat betapa Pak
Hong Siansu hendak membebaskan begitu saja pemuda
yang telah berani menghina Enghiong Hwee.
“Jangan harap bisa pergi dari sini!” serunya dan ia
mengejar. Akan tetapi terdengar Pak Hong Siansu
mencegah.
“Tahan, Ba Mau Hoatsu! Dia seorang utusan, tak boleh
diganggu!”
Ciang Le menoleh dan memandang kepada Ba Mau
Hoatsu dengan sikap mengejek, lalu ia menjura ke arah
mereka semua dan sekali berkelebat, ia lenyap dari situ!
“Kau tadi terburu nafsu,” kata Pak Hong Siansu kepada
Ba Mau Hoatsu, “kulihat kepandaian anak itu tidak berada
di sebelah kepandaianmu sendiri. Kalau dilanjutkan
pertempuran tadi, kau akan kalah.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ba Mau Hoatsu memperlihatkan muka tidak puas.
“Belum tentu, Siansu. Betapapun juga, biar ia murid dari
Pak Kek Siansu, rasanya tak mungkin aku akan kalah oleh
seorang bocah.”
Pak Hong Siansu tertawa. “Kau masih belum melihat
kekalahanmu? Ha, coba lihatlah jubahmu di dekat dada.”
Ba Mau Hostsu melirik ke arah jubahnya dan pucatlah
mukanya. Ternyata bahwa jubah nya tepat yang melindungi
jantung, telah bolong bekas tertusuk pedang! Ternyata
bahwa pemuda lawannya tadi telah melobangi jubahnya,
yang berarti bahwa pemuda itu masih mengampuninya,
karena kalau pedang itu diteruskan tusukannya, tentu
nyawanya tak tertolong lagi. Karena itu, ia tidak dapat
mengeluarkan suara lagi dan diam diam semua orang
memuji kepandaian pemuda tadi yang benar benar lihai
sekali.
-oodwoo-
Demikianlah pengalaman Ciang Le yang kemudian
berhasil menolong Lie Bu Tek yang tertawan oleh Giok
Seng Cu, karena Ciang Le memang masih berada di Cin an.
Sesuai dengan perintah gurunya ketika ia turun dari
Luliang.san, melihat sikap Pak Hong Siansu, Ciang Le
berdiam dikota ini secara diam diam dan melakukan
penyelidikan untuk membantu sepak terjang para orang
gagah yang berjuang untuk membebaskan rakyat daripada
tindasan pemerintah Kin. Selama ia berdiam dikota ini, ia
mengalami banyak hal hebat yang akan di tuturkan
kemudian. Sekarang lebih baik kita menengok lebih dulu
keadaan Bi Lan yang lama kita tinggalkan.
Bi Lan yang ikut merantau dengan guru gurunya yang
baru yaitu Thian Te Siang mo, mempelajari ilmu silat
dengan amat tekunnya. Thian Te Siang mo merasa amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gembira melihat kemajuan Bi Lan dan ternyata oleh mereka
bahwa Bi Lan murid yang cerdik dan berbakat sekali. Oleh
karena itu, kedua orang tua ini lalu menurunkan seluruh
kepandaian mereka kepada Bi Lan, bahkan menurunkan
pula Ilmu Silat Thian te kun hoat yang paling lihai.
Betapapun juga, Thian Te Siang mo masih merasa
penasaran dan kecewa kalau mereka terkenang kepada
Ciang Le. Pada suatu hari, Bi Lan bertanya keprda mereka,
“Suhu, apakah sebelum menerima teecu sebagai murid, jiwi
suhu belum pernah mempunyai seorang murid lain?
Apakah teecu tidak mempunyai saudara seperguruan yang
menjadi murid jiwi suhu?”
Thian Lo mo menarik napas panjang. “Ada seorang
suhengmu (kakak seperguruan). Anak itu semenjak kecil
kami didik dan setelah besar dan pandai, ternyata ia
menyakitkan hati kami dan menjadi murid orang lain!”
Bi Lan merasa tertarik. “Siapakah dia, suhu? Dan di
mana sekarang dia berada?”
“Kalau kelak bertemu dengan dia, kau harus memberi
hajaran kepadanya sebagai wakil kami. Kalau perlu, kau
boleh bunuh dia!” kata Te Lo mo yang lebih keras
wataknya.
“Siapakah namanya, suhu?”
“Namanya Go Ciang Le, dia lebih tua beberapa tahun
dari padamu,” jawab Thian Lo mo.
Diam diam Bi Lan terkejut sekali dan kalau saja ia belum
mempelajari ilmu batin yang membuat hatinya kuat
menahan getaran, tentu ia sudah menjadi pucat dan
berobah air mukanya. Ia menahan gelora hatinya dan
dengan suara biasa ia bertanya, “Apakah dia bukan putera
dari mendiang Go Sik An, pahlawan yang kenamaan itu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Eh, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Te Lo mo.
Bi Lan tersenyum. “Dia adalah cucu dari Tan Seng,
tokoh Hoa san pai sedangkan teecu adalah seorang murid
Hoa san pai pula, mengapa teecu tidak tahu?”
“Memang benar, dia adalah Go Ciang Le putera dari
mendiang Go Sik An.” Kemudian Thian Lo mo lalu
menceritakan tentang pertolongan mereka kepada anak itu
dan betapa mereka mendidik Ciang Le semenjak kecil.
Dengan hati berdebar Bi Lan mendengarkan pembukaan
rahasia ini dan diam diam ia merasa girang luar biasa
karena cucu dari Tan Seng yang dianggap sebagai kakeknya
sendiri itu ternyata masih hidup dan tanpa disangka sangka
ternyata adalah suhengnya sendiri!
“Kepandaiannya tentu hebat, bukan, suhu?” tanyanya
kepada Te Lo mo.
Akan tetapi dengan muka sungguh sungguh, Thian Te
Siang mo menggelengkan kepala.
“Kau akan menang menghadapi dia. Kami sengaja
menciptakan Ilmu Silat Thin te kun hoat dan ilmu ini belum
kami ajarkan kepadanya. Oleh karena anak itu
mengecewakan hati kami, maka sekarang kau harus berjanji
untuk memberi hajaran kepadanya kalau kau kelak bertemu
dengan dia!”
“Bagaimana kalau teecu kalah!” tanya Bi Lan.
“Tak mungkin, kau takkan kalah? Berjanjilah.”
“Teecu berjanji untuk bertanding dengan dia,” kata Bi
Lan sungguh sungguh, bukan terdorong oleh benci dan
hendak membalaskan sakit hati kedua gurunya ini,
melainkan terdorong oleh keinginan tahunya sampai di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mana kepandaian pemuda yang menjadi suhengnya dan
juga menjadi cucu dari Tan Seng itu.
Setelah yakin betul kepandaian gadis itu sudah sempurna
dan semua ilmu telah mereka turunkan kepada murid ini,
Thian Te Siang mo lalu memberi kesempatan kepida Bi Lan
untuk memisahkan diri dan melakukan perjalanan seorang
diri. Gadis ini menjatuhkan diri berlutut, di depan kedua
orang gurunya, menghaturkan terima kasih atas semua
pimpinan dan pelajaran yang diterimanya selama itu.
Kemudian Bi Lan lalu melakukan perjalanan cepat. Tempat
pertama tama yang ditujunya adalah Hoa san, karena ia
ingin sekali cepat cepat bertemu dengan Tan Seng kakeknya
untuk menceritakan tentang Ciang Le! Juga anak ini tidak
mempunyai keluarga lain kecuali Tan Seng yang dianggap
sebagai kakeknya sendiri, maka orang pertama yang
dirindukan adalah Tan Seng dan saudara saudara
seperguruannya seperti Lie Bu Tek, Gan Hok Seng, Thio
Ling In dan tokoh tokoh Hoa san pai seperti Liang Gi
Cinjin, Liang Tek Sianseng dan Liang Bi Suthai.
Dengan hati ringan dan gembira Bi Lan berlari lari
mendaki Bukti Hoa san, tempat di mana ia tinggal
semenjak kecil. Betapa hatinya takkan girang?
Kepandaiannya telah maju dengan pesat sekali, terbukti
dari cara ia mendaki gunung dan meloncati jurang jurang
yang menghadang perjalanannya. Ginkangnya telah
menjadi berlipat ganda lebih maju daripada dahulu. Dan
selain ini, ia akan bertemu dengan orang orang yang
dicintanya, membawa berita menggembirakan tentang
Ciang Le kepada Tan Seng.
Akan tetapi setelah ia tiba di puncak Bukit Hoa san tiba
tiba mukanya menjadi pucat dan dadanya berdebar. Ia
berdiri bagaikan patung memandang ke arah tempat di
mana dahulu berdiri bangunan yang kini telah menjadi abu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan melihat kayu kayu yang masih hangus itu agaknya baru
beberapa hari saja tempat itu dimakan api! Tak seorangpun
kelihatan berada di tempat itu. Suasana amat sunyi dan
menyeramkan dan Bi Lan merasa seakan akan ada sesuatu
yang hebat telah terjadi di tempat itu. Suasananya demikian
sunyi dan menyedihkan.
“Apakah yang telah terjadi?” katanya perlahan dan ia
lalu berlari lari mengelilingi tempat itu, mencari cari, akan
tetapi tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menjelaskan
kepadanya tentang arti semua ini.
Bi Lan benar benar menjadi bingung sekali. Kepada
siapa harus bertanya? Di sekitar tempat ini tidak ada dusun,
hanya di lereng gunung sebelah bawah terdapat dusun
dusun kecil. Tidak ada lain jalan baginya, setelah sekali lagi
memeriksa tumpukan puing tanpa mendapatkan sesuatu
tanda, ia lalu turun dari puncak, menuju ke kelompok
dusun yang berada di lereng bukit.
Tiba tiba ia melihat bayangan orang berlari di sebelah
depan. Bi Lan mempercepat larinya dan sebentar saja ia
dapat menyusul orang itu.
“Gan suheng...!” serunya girang
Orang itu terkejut dn berhenti berlari lalu menoleh.
Benar saja, dia adalah Gan Hok Seng. Ketika melihat Bi
Lan, tiba tiba Gan Hok Seng lalu menutupi mukanya
dengan kedua tangan dan menangis sedih!
“Suheng, apa… apakah yang telah terjadi…?” tanya Bi
Lan dengan hati makin tidak enak.
Akhirnya Gan Hok Seng dapat juga menegangkan
hatinya, lalu ia memandang sumoinya dengan mata merah
dan muka suram.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ah, sumo… banyak macam malapetaka terjadi
semenjak kau pergi dibawa oleh Coa ong Sin kai,” kata Hui
houw Gan Hok Seng, Si Macan Terbang itu kepada
sumoinya sambil menarik napas panjang.
“Malapetaka apakah, suheng? Lekas kauceritakan
padaku!” Bi Lan mendesak tak sabar lagi.
“Baru saja tiga hari yang lalu, Hoa san pai diserbu oleh
Sam Thai Koksu dan guru guru kita telah ditawan dan
tempat kita dibakar habis.”
Bukan main terkejutnya hati Bi Lan mendengar warta ini
juga ia merasa marah sekali.
“Mengapa …? Apa sebabnya Sam Thai Koksu dari
negeri Kin memusuhi guru guru kita?”
“Entahlah, sumoi. Aku kebetulan sekali sedang menuju
ke Hoa san ketika aku bertemu dengan mereka di tengah
jalan. Tentu saja aku terkejut sekali melihat rombongan
Sam Thai Koksu yang membawa empat orang guru kita di
tengah tengah mereka sebagai orang orang tahanan. Akan
tetapi apakah dayaku menghadapi mereka? Aku cepat lari
ke sini untuk melihat keadaan dan ternyata tempat tinggal
suhu sekalian telah dibakar habis.”
“Siapa saja yang berada dengan Sam Thai Koksu?” tanya
Bi Lan dengan wajah beringas. Dan kemanakah mereka
membawa suhu sekalian?”
“Aku melihat Sam Thai Koksu dan seorang tua
berkepala botak yang nampakaya lemah akan tetapi yang
selalu mereka hormati, kemudian aku melihat pula Bu It
Hosiang dari Go bi pai dan mereka ini masih diikuti pula
oleh beberapa orang perwira Kerajaan Kin dan diantar oleh
pembesar Sung setempat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hm, kalau begitu tentu orang orang Go bi pai yang
menghasut dan sengaja minta bantuan Sam Thai Koksu
untuk membalas dendam kepada fihak kita! Dan aku dapat
menduga kemana suhu suhu kita dibawa, tentu ke kota Cin
an, sarang dari Enghiong Hwee bentukan Sam Thai Koksu!
Suheng, dalam perjalananku ke sini, aku telah mendengar
bahwa pemerintah Kin telah mengumpulkan orang orang
berkepandaian tinggi dengan maksud menggempur semua
patriot yang sedang berjuang hendak membebaskan
Tiongkok Utara dari cengkeraman pemerintah Kin
Sekarang pemerintah Kin telah memperlihatkan kekejaman
terhadap Hoa san pai maka kita tidak boleh tinggal diam
saja. Aku sendiri akan mengejar ke Cin an, berusaha
menolong guru guru kita. Sedangkan kau lebih baik
mencari Lie Bu Tek suheng dan Thio Ling In suci untuk
diajak bersama sama dengan para hohan, menggempur
pemerintah Kin demi nusa dan bangsa kita!”
Akan tetapi, mendengar disebutnya Lie Bu Tek dan Thio
Ling In, Hok Seng kelihatan makin sedih.
“Kau tidak tahu, sumoi. Diantara Lie suheng dan Thio
suci, juga telah terjadi hal yang hebat dan amat
menggelisahkan hati.”
“Apa pula terjadi pada mereka?”
“Thio suci sudah menikah….”
“Itu baik sekali!” kata Bi Lan girang. “Mengapa hal yang
baik itu suheng sebut menggelisahkan hati?”
“Nanti dulu, sumoi, dengar dulu penuturanku. Thio suci
bukan menikah kepada Lie suheng sebagaimana yang kita
semua duga dan harapkan, melainkan keprda Pangeran
Wanyen Kan dari Kerajaan Kin!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apa......??” Bi Lan benar benar tercengang dan tetkejut
mendengar berita yang tak pernah disangka sangkanya itu.
“Kau tentu suduh dapat membayangkan betapa hancur
hati Lie suheng.” Hok Seng melanjutkan. “Aku sudah
bertemu dengan dia dan keadaannya amat menyedihkan.
Tidak saja ia parah hati karena cinta kasihnya kepada Thio
suci dihancurkan orang, juga ia merasa sengsara hati karena
Thio suci justeru memilih suami seorang pangeran Bangsa
Kin! Lie suheng di hadapanku bersumpah untuk mencari
dan membunuh Pangeran Wanyen Kan itu, bukan hanya
disebabkan karena telah merebut Thio Suci, akan tetapi juga
ia menganggap pangeran itu sebagai musuh rakyat dan
patut dibinasakan. Ah, sumoi, benar benar banyak hal yang
menyedihkan telah terjadi dan sekarang dengan
tertawannya guru guru kita, apakah yang dapat kita
lakukan? Bagaimana kita dapat menghadapi kekuasaan dan
pengaruh pemerintah Kin yang dibantu oleh orang orang
pandai?”
“Suheng, dalam keadaan seperti sekarang ini, tiada
gunanya berkeluh kesah. Paling baik kita berdaya upaya
dengan segala tenaga yang ada pada kita. Kau jangan
khawatir, tentang guru guru kita, biarlah aku yang akan
membebaskan mereka dari tangan Sam Thai Koksu.
Adapun kau sendiri, lebih baik kau mengumpulkan kawan
kawan dan kalau mungkin juga Lie suheng, untuk
menggabungkan diri dengan pasukan pasukau gerilya dan
rakyat yang sudah lama bergerak di bawah tanah
menghadapi tentara tentara Kin penindas rakyat jelata.”
Mendengar kata kata Bi Lan, terbangun pula semangat
Hok Seng dan ia mengangkat dadanya. “Kata katamu
benar, sumoi! Kita sebagai murid murid Hoa san pai, harus
memperlihatkan kegagahan kita. Bagaimana dengan
keadaanmu sendiri, sumoi? Aku masih belum mendengar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentang pengalamanmu dibawa oleh Coa ong Sin kai
dahulu itu. Tentu kau telah mengalami hal yang hebat,
sumoi.”
“Gan suheng, sekarang bukan waktunya bagi kita untuk
bercakap cakap panjang lebar, oleh karena itu cukup
kiranya kauketahui bahwa aku telah menjadi murid Coa
ong Sin kai untuk beberapa lama, kemudian akupun
menjadi murid dari jiwi suhu Thian Te Siang mo. Nah,
biarlah aku segera menyusul Sam Thai Koksu, takut kalau
kalau guru guru kita akan menghadapi bahaya!” Setelah
berkata demikian sekali berkelebat saja Bi Lan telah lenyap
dari hadapan suhengnya!
Gan Hok Seng berdiri bengong saking heran dan
kagumnya. “Aduh, sumoi yang dulu juga telah memiliki
kepandaian paling lihai diantara anak murid Hoa san pai,
sekarang telah memiliki kepandaian yang agaknya tidak di
bawah kepandaian guru guru Hoa san pai!” pikirnya
dengan hati girang dan kagum. Pengertian bahwa sumoinya
memiliki kepandaian yang amat tinggi ini menambah
semangatnya dan ia lalu turun dari Hoa san pai mengambil
keputusan untuk sementara waktu, membubarkan
perusahaan piauw kioknya (ekspedisi) dan membawa
kawan kawannya menggabungkan diri dengan para
gerilyawan rakyat.
Sebelum kita mengikuti perjalanan Bi Lan dara perkasa
itu, baiklah kita menjenguk dulu peristiwa pada tiga hari
yang lalu, yang terjadi di puncak Hoa san pai.
Setelah mengalami kekalahan dan bersama Lu siang
Siucai dirobohkan oleh Coa ong Sin kai di padang pasir,
Liang Lek Sianseng yang menjadi girang sekali melihat Bi
Lan telah menjadi murid Thian Te Siang mo, lalu cepat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat pulang ke Hoa san. Ia disambut oleh saudara
saudaranya dan bukan main girang hati mereka, terutama
sekali Tan Seng, ketika mendengar bahwa Bi Lan masih
selamat, bahkan menjadi murid guru guru yang pandai.
Akan tetapi, di samping kegirangan ini, mereka juga
merasa gelisah dan marah mendengar bahwa pemerintah
Kin dibantu oleh orang orang yang sakti dan bahkan Ba
Mau Hoatsu dan Pak Hong Siansu dari Tibet juga diundang
oleh pemerintah Kin untuk membantu.
“Kita tidak boleh tinggal diam saja,” kata Tan Seng,
“Sudah terang pemerintah Kin memeras rakyat menghisap
habis kekayaan bumi kita dan sekarang mereka bahkan
hendak membasmi para patriot kita. Bagaimana kita bisa
tinggal diam saja! Kita harus kumpulkan kawan kawan
sehaluan dan membantu pergerakan para gerilyawan,
mengusir penjajah itu dari tanah air kita!”
Saudara saudaranya, baik yang berwatak sabar dan
tenang seperti Lang Gi Cinjin maupun yang berwatak keras
seperti Liang Bi Suthai, ketika mendengar kata kata ini
serentak terbangun semangatnya dan mereka seakan akan
kembali menjadi muda lagi dan perasaan cinta tanah air
timbul di dalam dada masing masing.
Akan tetapi, sebelum empat orang tokoh Hoa san pai ini
meninggalkan gunung untuk ikut berjuang melawan
penjajah Kin yang menindas rakyat dan bangsa mereka,
dari bawah gunung naik serombongan orang yang sama
sekali tak pernah mereka sangka akan datang di tempat itu.
Rombongan ini bukan lain adalah Pak Hong Siansu yang
datang bersama Sam Thai Koksu, Bu It Hosiang dan lain
lain perwira Kin sebagaimana telah diceritakan oleh Gan
Hok Seng kepada Bi Lan karena pemuda murid Hoa san pai
ini melihat mereka di tengah jalan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semenjak Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo
mengacau pertemuan di taman kota Cin an, Bu It Hosiang
menjadi makin sakit hati terhadap Hoa san pai. Ia diam
diam mengadakan persekutuan dengan Sam Thai Koksu
dan menjanjikan tenaganya dan tenaga semua kawan
kawannya di Go bi san untuk membantu pemerintah Kin
apabila Sam Thai Koksu suka pula membantunya untuk
membalaskan sakit hatinya terhadap Hoa san pai! Oleh
karena itulah, maka pada hari itu Bu It Hosiang dengan
bantuan Sam Thai Koksu, bahkan dengan bantuan Pak
Hong Siansu naik ke Hoa san pai dengan maksud hendak
membalas dendamnya!
Dapat dibayangkan betapa heran dan juga kagetnya
empat orang tokoh Hoa san pai itu ketika melihat siapa
adanya rombongan orang yang naik ke Hoa san! Akan
tetapi dengan tenang dan sama sekali tidak merasa jerih,
mereka keluar menyambut.
Liang Gi Cinjin mengenal baik siapa adanya Sam Thai
Koksu, akan tetapi ia tidak mengenal kakek botak yang
kelihatannya lemah itu. Ia lalu memimpin adik adiknya
menyambut mereka dan menjura kepada Sam Thai Koksu
tanpa memperdulikan Bu It Hosiang.
“Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa
Hoa san yang buruk mendapat kunjungan Sam Thai Koksu
dari Negeri Kin,” kata Liang Gi Cinjin. “Tidak tahu ada
kepentingan yang manakah sehingga Sam wi sampai
memerlukan datang ke sini?”
Sebelum Sam Thai Koksu menjawab, Bu It Hosiang
dengan sikap galak karena merasa mendapat bantuan orang
orang pandai, melangkah maju dan menudingkan
telunjuknya sambil berkata, “Kalian ini orang orang Hoa
san pai benar benar jahat! Beberapa kali anak muridmu
mengacau, bahkan mengandalkan bantuan orang orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jahat seperti Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo untuk
mencelakakan orang lain. Sungguh tidak memandang mata
kepada orang orang gagah sedunia. Kami orang orang dari
Go bi pai sudah seringkali menerima hinaanmu maka
sekarang kami datang, kamu masih bertanya lagi ada
kepentingan apa? Sungguh tidak kenal malu, hendak
menutupi kesahihan dengan omongan manis!”
Tentu saja tokoh tokoh Hoa san pai menjadi marah
mendengar omongan ini, kalau Liang Gi Cinjin masih
dapat bersikap sabar, adalah Liang Bi Suthai yang terkenal
berwatak keras, menudingkan jarinya ke muka hwesio dari
Go bi pai itu sambil membentak.
“Bangsat gundul! Kau yang berwatak sombong dan
mencari perkara, sekarang kau datang hendak mengoceh
tidak karuan! Hm, agaknya kau datang untuk membalas
kekalahanmu, akan tetapi kini kau mengandalkan bantuan
bantuan orang gagah dan dengan lidahmu yang beracun itu
kau agaknya berhasil pula menggerakkan hati orang orang
seperti Sam Thai Koksu ini untuk menyerbu kami!”
Mendengar ini, Sam Thai Koksu menjadi merah
mukanya. Kim Liong Hoat ong lalu berkata dengan suara
keren, “Liang Bi Suthai, harap kau jangan bicara
sembarangan saja! Kami bukan sekali kali datang hanya
karena hendak membantu Bu It Losuhu. Ketahuilah bahwa
seorang anak muridmu yang bernama Bi Lan pernah
mengacau di kota Cin an dan mengandalkan bantuan Coa
ong Sin kai, dia telah mendatangkan banyak kerusakan dan
kematian. Oleh karena ini, kami anggap semua itu adalah
tanggung jawab kalian dan sekarang, harap kalian berempat
menurut saja kami bawa ke Cin an sebagai tawanan. Kami
tahu bahwa kalian berempat bermaksud memberontak
kepada pemerintah kami terbukti dari perbuatan anak
murid mu itu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
-ooo0dw0ooo-
Jilid XI
TAN SENG tertawa bergelak mendengar ini.
“Jadi kalian ini, Sam Thai Koksu dari Kerajaan Kin,
hendak menangkap kami atas tuduhan memberontak? Ha,
ha, benar benar lucu sekali! Kami adalah orang orang Han
aseli, penduduk Tiongkok sejak ribuan tahun yang lalu,
keturunan nenek moyang kami yang selamanya menjadi
penduduk pribumi, sekarang kalian cap sebagai
pemberontak? Eh, Sam Thai Koksu, dengarlah baik baik.
Tahukah kalian mengapa rakyat Tiongkok memberontak
terhadap pemerintahaamu? Karena orang orang bangsamu
yang memegang pemerintahan, adalah orang orang picik
seperti kalian pula, yang dengan bodoh sekali dapat dihasut
oleh orang orang macam Bu lt Hosiang, mempergunakan
kedudukan dan kepandaian untuk memeras rakyat jelata,
demi kesenangan dan kebesaran serta kemuliaan diri
sendiri”
“Tutup mulutmu!” bentak Tiat Liong Hoat ong, orang
termuda dari Sam Thai Koksu.
“Mengapa kami harus menutup mulut?” Liang Bi Suthai
balas membentak. “Kami berada di tempat sendiri. Kami
adalah tuan rumah dan kalian adalah tamu, tamu tamu
yang tidak mengenal aturan. Kalian hendak menawan
kami? Silakan kalau kalian sanggup!” Ini merupakan
tantangan hebat dan dengan marah sekali Tiat Liong Hoat
ong lalu menerjang maju setelah mencabut goloknya yang
lebar dan tajam.
Liang Bi Suthai berlaku waspada dan cepat mengelak
dan mencabut keluar pedangnya yang tipis pendek. Nenek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tua yang lihai dari Hoa san pai ini maklum akan kelihaian
lawan, namun ia tidak takut sama sekali dan dengan gemas
membalas serangan lawan. Sebentar saja sinar pedang dan
golok berkelebatan dan tubuh mereka terbungkus oleh
gulungan sinar senjata.
Bu It Hosiang mengeluarkan suara geraman seperti
harimau dan hwesio ini lalu menggerakkan tongkatnya
menyerang Tan Seng yang segera menghadapinya sambil
menggerak gerakkan kedua ujung lengan bajunya yang
panjang. Memang untuk menghadapi serangan tongkat
lawan, senjata yang berupa ujung legan baju kanan kiri
merupakan senjata yang amat baik, karena selain ujung
lengan baju ini dapat dipergunakan untuk menyampok
ujung tongkat, juga dapat dipergunakan untuk melihat dan
merampas tongkat lawan. Akan tetapi tentu saja
dibutuhkan pengalaman, kepandaian, dan tenaga untuk
dapat mainkan kedua ujung lengan baju dengan baik.
Adapun Bu It Hosiang adalah seorang tokoh Go bi pai yang
sudah tinggi ilmu silatnya, maka pertempuran itu berjalan
seru sekali, tidak kalah ramainya dengan pertempuran yang
berjalan antara Liang Bi Suthai melawan Tiat Liong Hoat
ong.
Kim Liong Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong tidak mau
tinggal diam dan keduanya lalu melompat maju disambut
oleh Liang Gi Cinjin din Liang Tek Sianseng. Seperti juga
Tan Seng, Liang Gi Cinjin hanya mempergunakan kedua
ujung lengan bajunya, adapun Liang Tek Sian seng telah
mengeluarkan sepasang pit bulunya yang digerakkan secara
lihai, menghadapi serbuan Gin Liong Hoat ong yang
memegang sepasang ruyung warna hijau. Hebat sekali
adalah gerakan Kim Liong Hoat ong yang bersenjatakan
sebatang rantai baja yang besar dan berat. Liang Gi Cinjin
yang kepandaiannya paling lihai diantara saudara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saudaranya, harus mengerahkan ginkangnya untuk
menghadapi rantai baja ini.
Sebetulnya, tingkat kepandaian Sam Thai koksu masih
lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian tokoh tokoh Hoa
san pai, namun karena pada saat itu para tokoh Hoa san pai
maklum akan kelihaian lawan, mereka melawan mati
matian dan bersemangat sehingga pertandingan berjalan
seru sekali.
Biarpun fihaknya takkan mengalami kekalahan, namun
melihat jalannya pertandingan demikian lama, Pak Hong
Siansu tidak sabar lagi. Tiba tiba tubuhnya berkelebat luar
biasa cepatnya memasuki gelanggang pertempuran dan
berturut turut Tan Seng, Liang Tek Sianseng, dan Liang Gi
Ciijin roboh terkena totokannya. Bukan main lihainya
tokoh besar Tibet ini, yang dengan sekali serang saja sudah
berhasil merobohkan tiga tokoh Hoa san pai! Akan tetapi,
karena Liang Bi Suthai seorang wanita, ia merasa malu
untuk menyentuh tubuh nenek ini dan ia hanya
mengerahkan pikulannya dari jarak jauh Namun demikian,
ketika sambaran hawa pukulan itu menyerang Liang Bi
Suthai, nenek ini terhuyung kebelakang dan saat itu
dipergunakan oleh Tiat Liong Hoat ong untuk menyerang
dengan goloknya secara hebat sekali!
Tubuh Liang Bi Suthai sudah terhuyung dan
kedudukannya amat lemah, maka menghadapi serangan
golok ini, ia terkejut sekali dan cepat , menjatuhkan
tubuhnya ke belakang agar jangan sampai “termakan” oleh
golok lawan. Akan tetapi, Tiat Liong Hoat ong tidak mau
memberi hati lagi dan ketika kaki kanannya menendang.
Liang Bi Suthai terlampir dan menderita patah tulang
iganya!
Namun, dasar seorang yang berkepangan tinggi, ia masih
dapat meloncat berdiri dengan muka pucat dan ketika Tiat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liong Hoat ong menotoknya, ia tidak berdaya lagi dan
tertawan seperti juga tiga orang saudaranya.
Demikianlah, empat orang tokoh Hoa san pai ini
tertawan dan digiring menuju ke Cin an oleh Pak Hong
Siansu dan kawan kawannya. Mereka tidak berdaya untuk
melawan lagi karena mereka berada dalam keadaan tertotok
dan tidak dapat menggerakkan kedua tangannya. Lebih
lebih Liang Bi Suthai, yang telah menderita luka dan tidak
terawat, keadaannya amat sengsara sehingga tiga orang
saudaranya yang melihat keadaan nenek ini menjadi
kasihan dan terharu sekali.
Dengan nafsu marah meluap luap, Bi Lan melakukan
perjalanan cepat sekali dan pada suatu hari sampailah ia di
kota Taigoan. Karena hari sudah malam, ia lalu bermalam
di sebuah hotel besar dan menyewa sebuah kamar cukup
bersih, ia bermaksud untuk melanjutkan perjalanan pada
keesokan harinya pagi pagi, akan tetapi keinginannya ini
gagal karena tak tersangka sangka ia menghadapi perkara
besar. Ketika ia memasuki hotel, ia melihat tujuh orang laki
laki yang bertubuh tinggi besar dan nampaknya galak
tengah duduk menghadapi meja di ruang tengah. Mereka
ini terang sekali adalah orang orang kang ouw yang kasar,
karena begitu mereka melihat Bi Lan, tujuh orang itu
menghentikan percakapan dan memandang kepada Bi Lan
dengan mata kurang ajar sekali.
Namun Bi Lan biarpun merasa amat mendongkol tidak
mau memperdulikan mereka dan memasuki kamarnya.
Akan tetapi sebelum ia menutup pintu ia mendengar
percakapan mereka tanpa disengaja dan alangkah kagetnya
ketika ia mendengar seorang diantara mereka menyebut
nyebut nama Lie Bu Tek!
“Lebih dulu kita singkirkan Lie Bu Tek itu, baru kita
menggunakan kekerasan terhadap Hek kin kaipang!” kata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang berbaju kotak kotak dengan lagak sombong. Agaknya
dia yang menjadi kepalanya, karena Bi Lan mendengar
orang orang yang lain membenarkan kata kata ini.
Malam itu Bi Lan tak dapat tidur. Ia berlaku waspada
dan memasang telinga baik baik, siap untuk mengikuti
tujuh orang yang mengancam hendak menyingkirkan
suhengnya itu. Akan tetapi tujuh orang yang menyewa
kamar kamar besar di bagian belakang, malam itu tidak
keluar dan terpaksa Bi Lan menanti saja di dalam kamarnya
dan akhirnya tertidur.
Ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan perkara
ini lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanannya, ia tidak
tahu entah di mana adanya Lie Bu Tek yang diancam oleh
tujuh orang kasar itu, akan tetapi ia hendak mengikuti
mereka. Demikianlah pada keesokan harinya ketika pagi
pagi rombongan dari tujuh orang itu keluar dari hotel, diam
diam Bi Lan mengikuti mereka.
Tujuh orang itu kembali memandang kepadanya dengan
sikap menjemukan sekali, akan tetapi oleh karena Bi Lan
ingin mengikuti mereka, gadis mi menahan sabarnya. Ia
pikir belum waktunya turun tangan karena ia ingin tahu
lebih dulu kemana tujuh orang itu hendak pergi mencari Lie
Bu Tek. Ternyata bahwa orang orang itu pergi menuju ke
persimpangan jalan lalu membelok ke kiri. Mereka berhenti
di depan sebuah rumah dan berdiri di depan pintu rumah
itu dengan sikap ugal ugalan.
“Hek kin kai pangcu (ketua Perkumpulan Sabuk Hitam)!
Suruh bangsat Lie Bu Tek keluar untuk mengadu
kepandaian dengan kami kalau memang kauanggap dia
lebih jantan!” seru orang yang berpakaian baju kotak kotak
sambil menggerak gerakkan sepasang ruyung nya dengan
lagak jagoan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan menjadi heran sekali. Apakah mungkin Lie Bu
Tek suhengnya itu berada di dalam rumah ini? Mengapa
suhengnya berada di dalam rumah perkumpulan pengemis?
Untuk memuaskan keinginan tahunya kenapa sampai lama
dari rumah itu tidak terdengar jawaban, diam diam Bi Lan,
lalu mempergunakan kepandainnya, meloncat dari
belakang tembok rumah dan terus naik ke atas genteng.
Gerakannya demikian ringan dan lincah laksana seekor
burung walet saja sehingga tidak di ketahui oleh lain orang,
baik oleh tujuh orang yang sedang petentang petenteng di
depan pintu maupun oleh penghuni rumah itu.
Ketika ia membuka genteng mengintai, tiba tiba
mukanya menjadi merah sekali. Ia melihat Lie Bu Tek yang
berwajah kurus sekali sedang rebah di atas pembaringan
dan di pinggir pembaringan itu duduk seorang wanita
cantik dan berpakaian mewah dan bersikap genit. Beberapa
kali wanita itu menggunakan tangannya yang halus untuk
membelai muka Lie Bu Tek, bahkan mengelus elus rambut
pemuda itu dan terdengar ia berkata perlahan “Kau
tenanglah dan tidurlah. Selama aku berada disampingmu
orang orang kasar itu takkan dapat mengganggumu! tak
seorangpun di dunia ini boleh merampas kau dari
tanganku.”
Bi Lan menjadi tertegun, terheran, mendongkol dan juga
jengah sendiri. Siapakah perempuan ini dan mengapa
suhengnya rebah di situ dan dikawani oleh seorang
perempuan cantik yang bersikap seakan akan menjadi
kekasihnya? Akan tetapi untuk meloncat turun, ia merasa
malu sekali, maka kini Bi Lan hendak menumpahkan
kemendongkolan hatinya kepada orang orang kasar yang
mengancam Lie Bu Tek. Ia maklum bahwa keadaan Lie Bu
Tek demikian lemah seperti orang sakit maka tak mungkin
dapat melawan orang orang itu. Ia hendak membereskan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang orang, itu lebih dulu, baru kemudian ia hendak
menyelidiki ke dalam untuk mengetahui keadaan yang
sebenarnya dari suhengnya yang amat mencurigakan
hatinya itu.
Dengan beberapa lompatan saja Bi Lan sudah berada di
atas genteng halaman depan dan tubuhnya lalu melayang
turun ke bawah menghadapi tujuh orang itu. Tentu saja
tujuh erang itu menjadi terkejut sekali ketika mengenal Bi
Lan. Tadinya mereka mengira bahwa Hek kin kai pangcu
sendiri yang akan keluar menyambut mereka, tidak tahunya
yang datang adalah gadis yang sehotel dengan mereka dan
yang kecantikannya membuat mereka tertarik sekali.
“Eh, nona manis! Siapakah kau? Apakah kau kawan dari
Hek kin kai pangcu yang sengaja menyuruhmu memata
matai kami ?” tanya orang yang berbaju kotak kotak sambil
menyeringai dan memandang dengan mata kurang ajar,
“Eh, Gak twako, bunga ini berikan kepadaku. Bukankah
twako sudah punya bunga dari Hek kin kaipang?” tiba tiba
seorang yang memegang golok berkata. Orang ini berbaju
hitam dan tubuhnya tinggi besar dengan muka seperti
seekor lutung. Ia cengar cengir dan mendekati Bi Lan, lalu
berkata.
“Nona manis, kalau kami sudah membikin mampus
bangsat Lie Bu Tek itu dan Gak twako menikah dengan
nona Kiang Cun Eng kau pun menikah dengan aku! Aku
masih bujang dan di seluruh Taigoan tidak ada yang tidak
mengenal Kwa Swan si golok sakti! Ha ha ha!”
Akan tetapi, ketawanya terhenti sampai di situ ketika tiba
tiba Bi Lan menggerakkan tubuhnya. Dengan kecepatan
yang luar biasa sekali sehingga tidak terlihat oleh lawannya,
Bi Lan menggunakan kedua tangannya dengan berbareng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tangan kanan merampas golok dan tangan kiri menggaplok
muka orang.
Kwa Swan menjerit jerit seperti babi di sembelih.
Hidungnya berdarah dan pecah terkena gamparan tangan
kiri Bi Lan sedangkan goloknya kena dirampas oleh gadis
itu! Selagi ia mengaduh aduh, kaki kiri Bi Lan bergerak
menendang dan bagaikan sebutir pelor, tubuh orang she
Kwa ini mencelat sampai tiga tombak jauhnya dan ia roboh
tanpa dapat mengeluarkan suara lagi karena ia telah
menjadi pingsan!
Sebelum menuturkan keadaan Bi Lan lebih jauh, baiklah
kita mundur dulu dan melihat bagaimana Lie Bu Tek bisa
berada di tempat itu dan siapa adanya rombongan tujuh
orang yang mengancamnya ini.
Seperti pernah dituturkan di bagian depan dengan hati
patah dan amat berduka, Lie But Tek meninggalkan Ling In
dengan maksud hendak mencari Wan yen Kan. Kemudian,
bukannya berhasil membunuh Wan yen Kan, bahkan ia
terkalahkan oleh Giok Seng Cu dan hampir saja ia tertawan
kalau tidak tertolong oleh bayangan aneh yang kita ketahui
adalah Ciang Lee. Makin kecewalah hatinya dan ia
merantau dengan hati patah dan keadaan amat sengsara.
Akhirnya ia tiba di kota Taigoan dalam keadaan payah
karena hatinnya yang tertindih serta makannya yang amat
tidak terjaga itu membuat ia jatuh sakit.
Namun kegagahannya masih tetap tidak lenyap. Di kota
ini, ketika ia sedang berjalan dengan muka pucat, kurus,
dan mata sayu, ia melihat seorang pengemis tua diseret
seret oleh dua orang pengemis muda. Jiwa kesatria di dalam
tubuhnya menuntut melihat perlakuan tidak adil dari dua
orang pengemis muda ini, maka biarpun tubuhnya amat
lemah dan kepalanya pening, Lie Bu Tek melompat maju
dan sekali ia menerkam, ia telah berhasil mencengkeram
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
leher dua orang pengemis muda itu yang segera dilontarkan
sehingga dua orang itu jatuh tunggang langgang!
“Congsu (orang gagah), jangan ikut campur urusan
kami!” pengemis tua itu berseru kepadanya sehingga Bu
Tek berdiri tertegun. Bagaimana ada orang ditolong bahkan
menegurnya?
Sementara itu, tiba tiba ia telah dikerumuni oleh banyak
orang pengemis dan baru sekarang Bu Tek mendapat
kenyataan bahwa semua orang pengemis itu memakai ikat
pinggang hitam yang sama ! Diantara para pengemis ini,
muncul seorang kakek bongkok yang memegang sebatang
tongkat hitam. Dengan muka menyeringai, kakek ini
menudingkan tongkatnya kepada Bu Tek lalu memaki.
“Orang muda yang lancang dari manakah berani
mencampuri urusan dalam perserikatan kami Hek kin
kaipang? Ketahuilah bahwa setelah aku Beng san kui berada
di sini, kau takkan kuberi ampun sebelum kau berlutut dan
minta ampun sambil membayar denda seratus tail perak !”
Lie Bu Tek adalah seorang pemuda perantau yang sudah
banyak pengalamannya, maklum akan keanehan orang
orang kang ouw dan kini mendengar sebutan Hek kin
kaipang diam diam ia terkejut sekali karena nama ini adalah
nama perkumpulan pengemis yang amat berpengaruh.
Ia cepat menjura tanda hormat, lalu berkata. “Maaf, lo
enghiong Siauwte Lie Bu tek dai Hoa san pai tidak tahu
bahwa siauwte berhadapan dengan para orang gagah dari
Hek kin kaipang. Tadi siauwte melihat seorang pengemis
tua diseret seret oleh dua orang muda, maka karena
kasihan, tanpa menyelidiki lebih dulu telah turun tangan,
harap dimaafkan.”
Beng san kui tertawa bergelak dengan suara besar, jauh
berbeda dengan potongan tubuhnya yang kecil bongkok.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ha, ha ha! Bocah Hoa san pai berani main gila. Kau
tidak tahu bahwa pengemisitu adalah anggota kami yang
melanggar dan melakukan pencurian makanan, karenanya
harus dihukuum. Sekarang kau telah berlaku lancang, hayo
lekas berlutut dan keluarkan uang denda itu!”
Mendengar ini, panaslah hati Lie Bu Tek. Ia memang
sedang berduka dan hatinya, penuh dendam penasaran,
sekarang ada orang menghinanya, tentu saja ia menjadi
marah.
“Beng san kui, kau sombong sekali! Apakah kau tidak
mau memandang muka orang lain dan mengingat
hubungan orang orang tang ouw? Aku sudah minta maaf,
akan tetapi siapa sudi berlutut dan membayar denda?”
“Kalau begitu, kau harus merasakan kerasnya
tongkatku!” kata Beng san kui yang segera menyerang
dengan tongkat
hitamnya.
Bu Tek terkejut
sekali dan cepat ia
menggerakkan
tubuhnya mengelak
lalu membalas
serangan lawan. Akan
tetapi, ternyata kakek
pengemis yang
bertubuh kecil itu gesit
sekali dan sebentar saja
Bu Tek yang sudah
amat lelah dan pening
itu terdesak hebat.
Akhirnya, tak dapat
tertangkis lagi pundaknya terpukul tongkat dan terasa amat
sakit. Kini Bu Tek menjadi mata gelap dan dicabutnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedangnya, lalu ia mengamuk, namun tongkat di tangan
Beng san kui benar benar lihai dan dalam jurus ke tiga
puluh, sebuah dorongan tongkat mengenai dada kanan
pemuda itu yang segera terguling roboh dan pingsan! Kalau
sekiranya tubuh Bu Tek tidak demikian lemah, belum tentu
Beng san kui akan dapat merobohkannya dengan mudah,
biarpun sebetulnya tingkat ilmu silat si kate ini memang
masih lebih tinggi daripada kepandaian Bu Tek.
Beramai ramai tubuh Lie Bu Tek diangkat oleh para
pengemis dan dibawa ke rumah perkumpulan mereka untuk
melaporkan hal pemuda itu kepada ketua mereka, yaitu
nona Kiang Cun Eng yang sudah lama kita kenal. Nona ini
adalah ketua Hek kin kaipang yang dulu tergila gila kepada
Ciang Le.
“Bunuh saja pemuda ini !” kata Bi Mo li, nenek
pengemis seperti setan yang amat galak itu.
“Suruh dia membayar denda seribu tail perak!” kata
Siang tung him, kakek tampan yang buntung kaki kirinya.
Seperti telah kita ketahui, Kiang Cun Eng mempunyai
tiga orang pembantu yang lihai, yaitu kakek pendek
bongkok Beng san kui (Setan Gunung Sakti), nenek jembel
bermuka setan Bi Mo li (Setan Perempuan Cantik), dan
kakek berkaki sebelah Siang tung him (Biruang Tongkat
Dua).
Akan tetapi, begitu melihat Lie Bu Tek, hati Kiang Cun
Eng amat tertarik, apalagi ketika mendengar bahwa pemuda
ini adalah murid dari Hoa san pai. Semenjak gagal menarik
perhatian Ciang Le, nona ini merasa amat kecewa dan
berduka. Memang tidak sukar baginya untuk mencari jodoh
karena banyak laki laki yang tergila gila kepada nona yang
cantik, kaya dan berkepandaian tinggi ini. Akan tetapi tak
seorangpun diantara mereka berkenan di hati Kiang Cun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Eng. Mana ia mau pandang mata kepada segala pemuda
biasa yang biasanya hanya berpakaian mewah dan menjual
lagak! Ia merindukan seorang suami yang gagah perkasa.
Dan Bu Tek cocok dengan bayangan pemuda yang
dirindukannya.
“Dia murid Hoa san pai, tidak boleh diganggu.
Baringkan di kamarku dan sediakan obat!” kata ketua ini
dan tak seorangpun berani membantahnya.
Dengan amat telaten dan penuh perhatian, Kiang Cun
Eng sendiri merawat Lie Bu Tek. Hek kin kaipangcu ini
tidak mengulangi kekecewaannya seperti dulu ketika ia
bertemu dengan Ciang Le. Disamping memberi minum
obat kepada Bu Tek yang selain terluka juga menderita sakit
panas itu, ia memberi pula tiap hari semacam arak yang
telah dicampur dengan obat pemabok. Oleh pengaruh obat
inilah maka Lie Bu Tek menjadi tak berdaya, seakan akan
berada dalam mimpi dan terjatuh ke dalam kekuasaan dan
pengaruh kecantikan Kiang Cun Eng. Pemuda ini seakan
akan tidak tahu lagi apa yang dilakukannya. Patah hati dan
kedukaan telah membuat ia kurang perduli akan
kehidupannya, dan sekarang di bawah pengaruh obat
pemabok, wajah Cun Eng yang cantik, sikapnya yang genit,
dan kesenangan yang diberikan oleh ketua Hek kin kaipang
itu kepadanya, membuat Bu Tek lupa akan segalanya.
Namun di dalam lubuk hatinya. Bu Tek tetap merana,
tetap menderita. Hal ini terbukti dari keadaan tubuhnya
yang kurus pucat, ia seakan akan tak bersemangat lagi,
bagaikan boneka hidup.
Di dalam kota Taigoan, selain adanya perkumpulan
pengemis Hek kin kaipang yang berpengaruh sekali dan
boleh dibilang menjadi pembantu penjaga keamanan kota,
baru baru ini terbentuk pula sebuah perusahaan pengantar
barang yang dikepalai oleh tujuh orang saudara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperguruan. Perusahaan ekspedisi ini diberi nama Jit liong
piauwkiok (Piauwkiok Tujuh Naga) dan setiap kali mereka
mengantar dan mengawal barang, tempat barang ditancapi
tujuh buah bendera kecil yang kesemuanya bergambarkan
liong dalam tujuh macam warna!
Kalau diceritakan memang aneh, akan tetapi
sesungguhnya betul bahwa diantara tujuh orang piauwsu
ini, yang paling tinggi kepandainnya dan bahkan yang
menjadi kepalanya orang termuda! Dia ini bernama Gak
Un Kiong, dan biarpun ia termuda usianya, namun saudara
saudaranya menyebutnya “twako” untuk tanda
menghormat! Memang mereka ini orang orang kasar yang
tidak begitu mengindahkan kesopanan atau peraturan dan
hal ini pun tidak begitu aneh kalau orang mengetahui asal
usul mereka. Gak Un Kiong dan kawannya ini memang
bekas perampok perampok kejam yang telah keluar dari
hutan dan kini mencoba peruntungan dengan menjadi
piauwsu!
Kepandaian Gak Un Kiong dan kawan kawannya
memang cukup lihai, apalagi orang she Gak ini sendiri,
kepandaiannya tinggi dan tenaganya besar. Di samping itu,
enam orang saudaranya juga memiliki kepandaian tinggi,
belum diingat akan hubungan hubungannya dengan dunia
hitam (penjahat penjahat), maka tentu saja ia amat
berpengaruh.
Kiang Cun Eng maklum akan hal ini, namun ia
melarang anak buahnya mengganggu. Gak Un Kiong
karena ia anggap bahwa biarpun mereka itu bekas
perampok, akan tetapi kalau sekarang sudah bertobat dan
mau menjadi penduduk baik baik, bahkan menjadi
piauwsu, mengapa harus diganggu? Ia tahu bahwa kalau ia
mengganggu piauwsu piauwsu bekas perampok itu, ia akan
mengundang permusuhan hebat dengan orang orang jahat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan hal ini amat berbahaya bagi perkumpulannya sendiri.
Pendeknya, Kian Cun Eng hanya akan turun tangan kalau
benar benar terbukti orang melakukan kejahatan.
Ketika Gak Un Kiong melihat Cun Eng pada suatu hari,
jatuhlah hatinya terhadap nona ketua ini dan serta merta ia
majukan lamaran. Akan tetapi mana gadis ini mau
menerimanya? Dengan sikap halus, ia menolak pinangan
itu dengan alasan bahwa ia masih mempunyai tugas berat
sebagai pemimpin Hek kin kaipang dan belum ada ingatan
menikah.
Gak Un Kiong mengerti bahwa penolakan ini
berdasarkan rasa tidak suka maka diam diam ia merasa
sakit hati sekali. Namun terhadap ketua dari Hek kin
kaipang, ia tidak berani mempergunakan kekerasan, ia
bukan seorang bodoh dan tahu pula akan kelihaian Kiang
Cun Eng yang dibantu oleh tiga orang tua yang
berkepandaian tinggi pula, maka ia menahan hatinya dan
diam diam ia berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan
merintangi dengan kekerasan, hanya apabila ketua Hek kin
kaipang itu akan menikah dengan orang lain. Pendeknya,
kedua fihak, baik dari Pihak Jit liong piauwkiok maupun
dari fihak Hek kin kaipang saling menaruh perasaan jerih
dan tidak mau membuat gara gara.
Dan akhirnya datanglah Lie Bu Tek yang kini sudah
terkenal sebagai kekasih atau orang yang terpilih oleh Kiang
Cun Eng. Hal ini tentu saja membuat Gak Un Kiong marah
sekali. Kepala Jit liong piauwkiok ini merasa serba salah.
Untuk mempergunakan kekerasan sesungguhnya ia merasa
agak jerih terhadap nama Hek kin kaipang. Akan tetapi
mendiamkannya saja, hatinya tidak rela mendengar nona
yang dicintanya itu akan menjadi milik orang lain. Maka ia
telah berhari hari tidak kembali ke rumah dan selalu mabok
mabokan dan bermalam di dalam hotel di kota Taigoan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya enam orang saudaranya menyusul dan di
dalam hotel itu mereka berunding, lalu mengambil
keputusan untuk membunuh Lie Bu Tek kemudian
merampas Kiang Cun Eng dengan paksa. Sebagaimana
telah dituturkan di bagian depan, kebetulan sekali ketika
mereka mengadakan pertemuan di dalam hotel, datang Bi
Lan yang mendengar percakapan mereka dan gadis ini
bersiap sedia menolong suhengnya yang terancam bahaya.
Demikianlah keadaan di kota Taigoan dan pengalaman
pengalaman Lie Bu Tek, pemuda yang patah hati dan
sengsara itu, yang kini berada dalam cengkeraman Kiang
Cun Eng dan terancam oleh Gak Lu Kiong dan kawan
kawannya yang merasa sakit hati kepadanya.
Kita kembali pula kepada Bi Lan yang bagaikan seekor
burung walet menyambar turun dari atas genteng dan
dalam segebrakan saja telah berhasil merampas golok dari
tangan Kwa Swan, seorang saudara dari Un Kiong yang
menjadi marah sekali. Kwa Swan adalah seorang
saudaranya yang memiliki ilmu golok cukup lihai, namun
dalam segebrakan saja telah roboh dalam keadaan pingsan
oleh Bi Lan, maka tentu saja Gak Un Kiong selain menjadi
marah juga amat kaget menyaksikan kehebatan sepak
terjang nona muda yang cantik manis ini.
“Kawan kawan serbu !” seru Gak Un Kiong sambil
menggerakkan sepasang ruyungnya. Dengan gerak tipu Ji
liong jut tong (Sepasang Naga Keluar Dari Goa), ia
menyerang Bi Lan dengan ruyungnya. Namun Bi Lan
sambil tersenyum mengejek, menggerakkan golok
rampasannya dan sekaligus ia menindih ruyung kanan di
tangan Gak Un Kiong dengan gerakan Yan cu liok sui
(Burung Walet Menyambar Air). Bukan main kaget hati
Gak Un Kiong ketika ia merasa seakan akan ruyung
kanannya tertimpa oleh benda yang berat sekali sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja ruyungnya itu terlepas dari pegangannya. Akan tetapi
ia lihai sekali dan ruyung kirinya yang berada di atas itu
secepat kilat menimpa dari atas mengarah kepala Bi Lan!
Dara perkasa ini tidak menjadi bingung menghadapi
serangan hebat ini. Ia miringkan tubuh ke kanan dan begitu
ruyung kiri lawannya lewat di samping kepalanya,
goloknya, membabat diantara kedua ruyung dan langsung
menyambar ke arah leher Gak Un Kiong. Sabetan iri
demikian cepat dan kuatnya sehingga menimbulkan suara
angin dan membuat Gak Un Kiong menjerit kaget. Piauwsu
ini cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan di
atas tanah menjauhkan diri. Keringat dingin berkumpul di
dahinya karena serangan gadis itu tadi benar benar amat
berbahaya dan hampir saja lehernya terbabat putus!
Ia meloncat lagi dan kini lima orang saudaranya dan
beberapa orang anak buah Jit liong piauw kiok yang sudah
memburu ke tempat itu, segera maju mengeroyok Bi Lan!
Gadis ini sama sekali tidak menjadi jerih dan begitu
goloknya berkelebat, robohlah beberapa orang anak buah
piauw kiok itu. Betapapun juga, Bi Lan tidak mau
sembarangan membunuh orang dan goloknya hanya
menerbangkan senjata senjata lawan dan melukai tangan
dan pundak mereka saja. Gerakan Bi Lan demikian
cepatnya sehingga mereka yang terluka itu sendiri tidak
tahu bagaimana mereka sampai dapat dirobohkan.
Pada saat itu, dari dalam rumah perkumpulan Hek kin
kaipang, meloncat keluar empat orang. Mereka ini adalah
Kiang Cun Eng dan tiga orang pembantunya yang
menyeramkan, yaitu Bi Mo li, Siang tung him dan Beng san
kui!
Ketika itu Gak Un Kiong sudah terluka pundaknya oleh
ujung golok Bi Lan, maka ketika melihat empat orang
pemimpin Hek kin kaipang ini keluar, mereka menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketakutan dan tidak ada harapan untuk dapat melawan lagi.
Un Kiong bersuit keras dan kawan kawannya segera angkat
kaki sambil menyeret kawan kawan yang terluka!
“Gak Un Kiong. mulai saat ini kau tidak boleh terlihat di
kota ini! Kalau kami melihat kau dan kawan kawanmu,
jangan anggap kami keterlaluan kalau kami takkan
memberi ampun lagi!” teriak Kiang Cun Eng dengan
suaranya yang nyaring dan berpengaruh. Tentu saja untuk
ini Gak Un Kiong tidak perlu mendapat peringatan dua
kali, karena ia sendiripun sudah tahu bahwa setelah
menderita kekalahan dan pengacauan yang dilakukannya
terhadap Hek kin kaipang ini, ia dan kawan kawannya
takkan mungkin tinggal di Taigoan lagi. Maka pergilah ia
bersama kawan kawannya, kembali ke dalam hutan!
Kini Kiang Cun Eng menghadapi Bi Lan dan sepasang
matanya yang bagus dan genit itu memandang tajam,
penuh kekaguman.
“Adik yang gagah perkasa, kau siapakah dan mengapa
kau mencampuri urusan kami?” tanya Cun Eng dengan
suara halus dan ramah, namun mengandung nada tinggi,
tanda bahwa ketua Hek kin kaipang ini tidak merasa puas
karena Gak Un Kiong dan kawan kawannya dihajar oleh
orang lain.
Sebaliknya, Bi Lan memang sudah merasa jemu dan
muak melihat lagak genit dari Kiang Cun Eng, apabgi kalau
ia teringat akan pemandangan yang dilihatnya di dalam
kamar tadi.
“Sebelum kita bicara lebih jauh, ingin aku bertanya
kepadamu, pangcu (ketua), siapakah pemuda di dalam
kamarmu itu dan pernah apakah kau dengan
dia?”Pertanyaan ini diajukan dengan nada gemas, karena
memang Bi Lan merasa mendongkol terhadap perempuan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini, terutama sekali mendongkol melihat keadaan
suhengnya yang sungguh mengecewakan hatinya.
Merahlah muka Cun Eng mendengar pertanyaan ini.
Sepasang matanya dibuka lebar dan ia membentak marah,
“Bocah lancang mulut! Perduli apa kau dengan urusan
pribadiku dan mengapa kau mengurus perkara di dalam
kamar orang lain! Sungguh tak tahu malu! Apakah kau iri
hati? Kalau kau iri hati carilah pemuda lain jangan
mencampuri urusanku. Dia adalah calon suamiku, kau mau
apakah tanya tanya tentang dia?”
Bukan main malunya Bi Lan ketika mendengar bentakan
ini, akan tetapi kemarahannya lebih besar dari pada rasa
malunya.
“Aku merasa heran mengapa dia sudi berdekatan dengan
perempuan macam engkau! Lekas kau panggil dia keluar.
Lie Bu Tek adalah suhengku dan biarpun aku tidak perduli
apa yang ia lakukan dengan kau, namun aku hendak bicara
tentang urusan penting sekali dengan dia.”
Cun Eng mengerutkan keningnya, akan tetapi hatinya
lega. Kalau gadis ini hanya sumoi (adik seperguruan) dari
Bu Tek saja, kepandaiannya tak perlu ditakuti. Namun
mengingat bahwa gadis ini adalah sumoi dari kekasihnya, ia
merobah nada suaranya dan kini ia berkata dengan suara
agak ramah.
“Ah, tidak tahunya sumoi yang datang! Mengapa tidak
dari tadi memperkenalkan diri sehingga tak perlu kita ribut
ribut? Suheng mu sayang sekali tidak dapat keluar karena ia
sedang menderita sakit panas. Marilah kau mengaso di
rumah kami, akan kami sediakan kamar untukmu dan
setelah suhengmu agak mereda sakitnya, boleh kau bertemu
dengan dia.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak, aku mau bertemu sekarang juga. Harap kau suka
menyuruh dia keluar.” Bi Lan berkata tetap.
“Tidak bisa, adikku yang baik. Aku lebih sayang
kepadanya dari pada kau menghormat suhengmu, pada
waktu ini ia tidak boleh keluar dari kamarnya.”
“Kalau begitu, terpaksa aku akan masuk ke dalam
mencarinya!” kata Bi Lan mengancam.
Tiba tiba Cun Eng mengeluarkan seruan marah dan
tubuhnya melompat ke depan pintu, menghadang jalan
masuk.
“Bocah kurang ajar! Kau mengandalkan apakah maka
demikian lancang dan berani mati? Kau sungguh sungguh
tidak tahu diri, berani main gila dan bersikap sombong di
depan kami! Kalau aku tidak mengingat bahwa kau adalah
sumoi dari Lie Bu Tek, sudah semenjak tadi aku usir
engkau!”
“Nona, pukul saja mulutnya yang lancang, habis
perkara!” Bi Mo li yang melangkah maju dengan sikap
mengancam, siap untuk menyerang Bi Lan.
“Nona muda, lebih baik kau menurut kata kata panecu
dan bermalam di sini menanti saatnya kau boleh bertemu
dengan suhengmu,” kata Siang tung him si kakek buntung
dengan suara membujuk.
“Benar, nona. Akupun tidak suka bermusuhan dengan
seorang nona muda seperti engkau, apalagi engkau adalah
sumoi dari calon pangcu kami,” kata Beng san kui sambil
menyeringai.
“Kalian bandot tua mata keranjang!” Bi Mo li memaki
marah kepada dua orang kawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hek kin kaipang sudah mempunyai nama besar. Aku
benar benar mengharap kalian tidak berlaku memalukan
dan memberi kesempatan kepadaku untuk bicara dengan
suheng ku. Kalau kalian tidak merintangi, akupun tidak
akan memperdulikan segala urusanmu, akan tetapi kalau
kalian memaksa merintangi aku bertemu dengan suhengku,
terus terang saja kukatakan, bahwa itu berarti rusaknya
Hek kin kaipang di tanganku!”
“Bocah sombongl Biarpun sumoi Lie Bu Tek, tidak boleh
bersombong seperti itu di hadapanku. Hendak kulihat
sampai di mana sih kepandaianmu maka begitu sombong
kau!”
Setelah berkata demikian, Kiang Cun Eng mencabut
keluar siang to ( sepasang golok ) yang berkilauan saking
tajamnya. Ketua Hek kin kaipang ini memang ahli main
golok pasangan dan kini sepasang goloknya itu menyambar
dari kanan kiri, yang kanan menyambar leher Bi Lan
sedangkan yang kiri, menyambar ke arah pinggang, inilah
gerak tipu Ji seng hui thian (Dua Bintang Terbang di
Langit) yang amat hebat dan berbahaya!
Akan tetapi, Bi Lan tersenyum mengejek dan sekali
goloknya berkelebat mengitari tubuhnya, sepasang golok di
tangan Cun Eng sudah dapat tertangkis dan alangkah
kagetnya hati Cun Eng ketika merasa betapa telapak
tangannya tergetar dan sakit sekali.
“Kau benar benar hendak melihat perkumpulanmu
hancur hari ini?” bentak Bi Lan yang cepat membalas
dengan serangan bertubi tubi. Menghadapi serangan ini,
Cun Eng cepat memutar dua batang goloknya, menangkis
sambil mundur sehingga terdengar suara nyaring “trang!”
berkali kali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat betapa dalam segebrakan saja ketua mereka
sudah terdesak hebat, Bi Mo li menjerit dan menyerbu
dengan siang kiamnya (sepasang pedangnya). Juga Siang
tung him Si Beruang Tongkat Dua menyerbu dan
membantu ketuanya dengan mainkan sepasang tongkat
yang lihai. Beng san kui tidak mau tinggal diam. Betapapun
ia merasa sayang kepada nona muda yang lihai ini, namun
melihat kedudukan perkumpulannya terancam, ia lalu
menerjang dengan tongkat hitamnya dan sebentar saja Bi
Lan dikeroyok empat oleh tokoh tokoh Hek kin kaipang.
Namun, Bi Lan sekarang bukanlah Bi Lan dahulu lagi.
Dara perkasa ini telah mendapat gemblengan hebat, tidak
saja oleh Coa ong Sin kai, akan tetapi bahkan telah
digembleng secara hebat oleh Thian Te Siang mo, maka
jangankan baru empat orang ini, biar ditambah empat lagi
agaknya takkan mungkin dapat menangkan gadis jelita
yang lihai ini. Golok rampasan di tangannya bergerak
laksana seekor naga mengamuk, gulungan sinar goloknya
demikian lebar, panjang, dan kuat sehingga menindih dan
mengurung empat orang pengeroyoknya yang menjadi
bingung dan kabur pandangan matanya.
Kini tempat ini penuh dengan pengemis pengemis
anggauta Hek kin kaipang dan mereka ini sambil berteriak
teriak ikut pula menyerbu dan mengeroyok Bi Lan dengan
tongkat mereka. Gadis ini menjadi gemas sekali, berkali kali
ia berseru, “Roboh kau!” dan sebentar saja terdengar pekik
disana sini karena di mana saja tubuh dara ini berkelebat,
tentu seorang dua orang pengemis roboh terkena
tendangan, pukulan tangan kiri atau juga kena dicium oleh
ujung golok sehingga menderita luka dan tidak dapat
bangun kembali.
Tiba tiba terlihat serombongan orang datang berlari lari.
Melihat cara mereka berjalan, rombongan ini merupakan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pasukan terlatih dan benar saja, mereka adalah penjaga
penjaga kota dan tanpa banyak cakap lagi mereka ini
menyerbu Bi Lan dan membantu para pengemis itu! Bi Lan
terkejut buka main. Bagaimana ada penjaga penjaga kota
bahkan membantu para pengemis yang mengeroyoknya?
“Eh, eh, apakah kalian sudah gila? Bukan menangkap
pengemis pengemis yang mengacau ini, bahkan
mengeroyokku!”
“Perempuan pemberontak, lebih baik kau menyerah!”
komandan pasukan itu membentak sambil menyerang
dengan goloknya.
Bi Lan menjadi makin marah. Ketika kaki kirinya
menyambar dan mengenai pergelangan tangan komandan
itu, orang ini menjerit dan goloknya terlempar. Ternyata
pergelangan tangannya telah patah tulangnya. Bi Lan lalu
mengamuk, ia pikir bahwa keroyokan para pengemis dan
penjaga itu tak perlu ditakuti, dan yang paling penting
merobohkan pentolannya. Goloknya dikerjakan menurut
ajaran Te Lo mo, dicampuradukkan dengan Ilmu Pedang
Sin coa kiam hoat yang ia pelajari dari Coa ong Sin kai.
Baru beberapa jurus saja, ia telah berhasil melukai pundak
Bi Mo li dan menendang roboh Siang tung him!
Jerihlah semua pengeroyok melihat kehebatan gadis ini.
“Mundur semua! Kalau tidak, demi golok ini..... akan
kurobohkan kalian ini semua kacoa kacoa yang tiada
guna!” Bi Lan berseru keras sambil mainkan goloknya
sehingga tubuhnya lenyap terbungkus oleh gulungan sinar
golok! Para pengeroyok terkejut dan melangkah mundur,
akan tetapi Kiang Cun Eng dan Beng san kui masih nekad
mengeroyok. Dalam gemasnya, menggerakkan goloknya
keras sekali. Terdengar suara nyaring dan sepasang golok di
tangan Cun Eng terlempar jauh, kemudian terdengar ketua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hek kin kaipang ini menjerit karena pahanya telah terluka
oleh tusukan golok, sedangkan Beng san kui sendiripun
roboh karena dadanya didorong oleh tangan kiri Bi Lan.
“Kau yang menjadi biang keladinya! Kau perlu dihajar!”
seru Bi Lan sambil memburu ke arah Cun Eng yang sudah
rebah di atas tanah. Akan tetapi pada saat itu dari pintu
muncul seorang laki laki yang cepat mencegah dengan
tegurannya, “Sumoi jangan...!”
Bi Lan tertegun dan menengok sambil bertolak pinggang.
Sikapnya gagah sekali, matanya tajam bersinar sinar dan
semua pengeroyok yang masih belum roboh menjauhkan
diri dengan gentar.
“Suheng, mengapa kau berada di neraka ini?” Bi Lan
segera menegur Bu Tek. Pemuda itu menghela napas dan
mukanya menjadi merah.
“Sumoi, sudahlah, jangan kaulanjutkan amukanmu.
Betapapun juga, Hek kin kaipang telah berlaku baik
kepadaku bahkan… bahkan mereka telah menolongku.”
Pemuda ini dengan tindakan kaki terhuyung huyung
menghampiri Kiang Cun Eng dan berkata, “Cun Eng,
terima kasih atas segala kebaikanmu dan… maafkan aku
orang yang tidak kenal budi dan tiada guna ini. Aku
pergi...”
“Bu Tek, jangan tinggalkan aku …!”
Cun Eng menangis, akan tetapi Bu Tek tidak
memperdulikannya lagi dan pergi dari situ diikuti oleh Bi
Lan.
“Serbu! Tangkap mereka. Bunuh kedua nya!” Cun Eng
meloncat dan bagaikan seekor harimau betina ia menerjang
Bi Lan dan Bu Tek. Akan tetapi dengan sekali tendang saja
Bi Lan sudah merobohkannya kembali dan tidak ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorangpun anak buahnya berani menyerbu Bi Lan lagi
setelah menyaksikan kelihaian gadis ini. Bi Lan tersenyum
sindir dan melemparkan golok rampasannya ke atas tanah,
di mana golok itu menancap setengahnya lebih. Kemudian
Bi Lan lalu menarik tangan Bu Tek berlari cepat pergi dari
tempat itu.
Setelah berada jauh dari Taigoan, Bi Lan berhenti dan
bertanya kepada Bu Tek.
“Suheng, bagaimana kau meniadi begini kurus dan
lenah? Aku sudah mendengar dari suheng Gan Hok Seng
tentang kau dan… dan suci Ling In.”
“Jangan sebut sebut namanya lagi, sumoi….”
Terharu hati Bi Lan dan biarpun ia masih amat muda, ia
dapat menyelami keadaan hati suhengnya ini. Agaknya
karena kehilangan kekasihnya, Bu Tek menjadi manusia
yang tidak bersemangat lagi sehingga sampai termasuk
dalam perangkap ketua Hek kin kaipang.
“Suheng mengapa begitu lemah? Mana kegagahanmu?
Mana semangat dan kepahlawanan murid Hoa san pai?
Kau hanya menghancurkan nama Hoa san pai kalau kau
bersikap selemah ini.” Bi Lan sengaja mengeluarkan kata
kata keras untuk membakar semangat pemuda ini.
Bu Tek menundukkan kepalanya. “Apa dayaku, sumoi?”
“Suheng, tidak tahukah kau betapa rakyat sedang
berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bangsa
Kin? Dari pada kau bersikap seperti ini, tidakkah lebih baik
kalau kau menggabungkan diri dengan para pejuang?
Suheng Gan Hok Seng juga menggabungkan diri, maka
sayangnya kalau kau menyia nyiakan usia muda dan
kepandaianmu. Pula ketahuilah, guru guru kita telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tertawan oleh Sam Thai Koksu dari pemerintah Kin dan
sekarang...”
“Apa katamu?” berita ini membangunkan semangat Bu
Tek dan ia nampak marah sekali.
Bi Lan menjadi girang dan ia menceritakan peristiwa
yang terjadi di Hoa san. Bu Tek mengepal ngepal tinjunya
dan memaki maki.
“Jahanam benar orang orang Kin! Tidak saja
menghancurkan hidupku, bahkan berani mengganggu Hoa
san pai. Aku bersumpah untuk membalas dendam ini.
Sumoi, mari kita serbu ketempat mereka di Cin an.”
“Sabar, suheng. Aku memang hendak menuju ke sana
untuk berusaha menolong guru guru kita. Akan tetapi,
keadaanmu masih lemah, kau masih belum sehat benar.
Paling baik kaucarilah Gan suheng dan setelah merawat
kesehatanmu, kau dan Gan suheng dapat berjuang di
samping para patriot lainnya. Adapun tentang, keselamatan
guru guru kita, kau doakanlah saja mudah mudahan aku
berhasil menolong mereka.”
Bu Tek telah menyaksikan kepandaian sumoinya tadi,
maka ia merasa akan kebenaran kata kata ini. Ia sendiri
selain masih lemah tubuhnya, juga apakah artinya
kepandaiannya? Bagaimana ia bisa menyerbu ke Cin an?
Sedangkan menghadapi Giok Seng Cu saja ia tak berdaya!
Maka ia lalu menyetujui pendapat Bi Lan dan berpisahlah
kedua saudara seperguruan ini. Bi Lan melanjutkan
perjalanan ke Cin an, adapun Lie Bu Tek lalu berangkat
mencari sutenya, Gan Hok Seng. Sekarang pemuda ini
seakan akan telah mendapat semangat baru dan hidupnya
mempunyai cita cita yaitu membantu perjuangan rakyat
menghalau pemerintah Kin!
-oo0dw0ooTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Bi Lan melakukan perjalanan cepat sekali menuju ke Cin
an. Ketika tiba di kota ini, ia tidak berani mengambil
tempat bermalam di dalam hotel, karena tahu bahwa mata
mata pemerintah Kin tersebar di mana mana. Ia lalu
memilih sebuah kelenteng yang berada di luar kota dan
bermalam di situ. Setelah beristirahat sehari lamanya, pada
keesokan sorenya, masuklah ia ke kota Cin an dan malam
hari itu ia mulai dengan penyelidikannya. Siang tadi ia telah
bertanya tanya akan tetapi tak seorangpun dapat memberi
tahu kepadanya tentang keadaan tokoh tokoh Hoa san pai
yang tertawan. Agaknya hal ini dirahasiakan oleh Sam Thai
Koksu.
Perlu diketahui bahwa ketika Sam Thai Koksu pulang ke
Cin an membawa para tawanan di tengah jalan Liang Bi
Suthai menghemhuskan napas terakhir karena tidak kuat
menahan penderitaan luka lukanya. Ketiga saudara
seperguruannya hanya dapat menangis dan jenazah nenek
lihai ini dimakamkan di dalam sebuah hutan di tengah
jalan. Kemudian, karena tidak sabar melihat perjalanan
terlalu lambat baginya, Pak Hong Siansu mendahului
rombongan itu dan berlari cepat lebih dulu pulang ke Cin
an di mana seperti telah dituturkan di bagian depan,
kebetulan sekali ia dapat bertemu dengan Ciang Le yang
membaca surat dari suhengnya, yakni Pak Kek Siansu.
Malam itu sunyi sekali. Pemberontakan yang timbul di
mana mana membuat keadaan Tiongkok utara menjadi
kacau dan tidak aman. Jarang ada orang berani keluar pintu
di malam hari karena boleh dibilang setiap malam tentu
terjadi penyerbuan oleh fihak pemberontak yang tiba tiba
menyerang tempat yang kurang kuat penjagaannya. Yang
dijadikan sasaran oleh para penyerbu tentulah rumah
rumah gedung pembesar Kin atau tangsi tangsi penjaga dan
lain lain. Pokoknya, para pemberontak itu mengarahkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penyerbuan mereka terhadap kaki tangan pemerintah Kin
yang mereka benci.
Bi Lan mengambil jalan di atas genteng, langsung
menuju ke Enghiong Hweekoan untuk menyelidiki dan
kalau mungkin menolong guru gurunya yang tertawan oleh
Sam Thai Kok su. Tingkat kepandaian Bi Lan sekarang
sudah tinggi sehingga ketika ia berlari di atas genteng tidak
menimbulkan suara berisik.
Pada waktu itu, biarpun nampaknya sunyi, namun
sebetulnya penjagaan di Enghiong Hweekoan amat kuat.
Sam Thai Koksu maklum bahwa sekarang para orang gagah
dari selatan sudah bangkit dan membantu perjuangan para
pemberontak, maka selain mengatur barisan barisan untuk
memadamkan api pemberontakan, merekapun tidak lalai
untuk menjaga gedung itu secara diam diam.
Maka ketika Bi Lan berada di atas genteng Enghiong
Hweekoan, diam diam segala gerak geriknya telah dilihat
oleh para penjaga yang sudah siap dengan anak panah di
tangan dan mengurung tempat itu! Sam Thai Koksu sendiri
yang memimpin penjagaan ini, terkejut melihat gerakan
bayangan nona muda di atas genteng, karena gerakan itu
benar benar cepat dan ringan sekali, tanda bahwa yang
datang adalah seorang pandai.
Ketika Bi Lan sedang berdiri di atas genteng dan
menduga duga di mana kiranya tokoh tokoh Hoa san pai
dikurung, tiba tiba terdengar suara mendesing dan dari
segenap penjuru menyambar anak panah ke arah dirinya!
Gadis ini tidak menjadi gugup. Dengan cepat ia
menanggalkan baju mantelnya dan memutar jubah itu
sedemikian rupa melindungi dirinya, sehingga semua anak
panah yang menyambar ke arahnya runtuh semua ke atas
genteng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sam Thai Koksu, manusia manusia curang!” bentaknya
sambil mencabut pedang dan secepat terbangnya burung
walet, tubuh Bi Lan sudah meloncat ke kanan di mana
terdapat barisan panah yang tadi menyerangnya. Keadaan
menjadi gempar ketika Bi Lan menyerbu ke arah ini.
Beberapa orang penjaga menyambutnya dengan golok,
akan tetapi terdengar suara nyaring dan beberapa batang
golok terbabat putus berikut tangan yang memegangnya.
Teriakan teriakan ngeri terdengar dan tubuh beberapa orang
penjaga berguling dari atas genteng! Bi Lan mengamuk
terus dan dalam waktu pendek saja ia sudah merobohkan
tujuh orang penjaga.
Sam Thai Koksu marah sekali dan mereka ini muncul
sendiri, menghadapi Bi Lan dengan senjata di tangan.
“Gadis liar dari manakah berani datang mengacau di
sini?” bentak Kim Liong Hoat ong sambil melintangkan
rantai bajanya di depan dada. “Sam Thai Koksu berada di
sini, apakah kau tidak lekas lekas berlutut?”
Bi Lan melihat tiga orang gagah berdiri di hadapannya,
maka dengan marah ia menudingkan pedangnya.
“Sam Thai Koksu, bagus benar perbuatanmu!
Ketahuilah bahwa aku datang untuk minta kembali guru
guruku yang kalian tawan dari Hoa san!”
Kini Sam Thai Koksu mengenal gadis yang lihai ini,
yang bukan lain adalah nona yang dulu telah mengacaukan
pertemuan orang orang gagah di taman bunga di kota Cin
an.
Tertawalah Kim Liong Hoat ong. “Ha, ha, ha, tidak
tahunya kau yang datang! Bagus, kebetulan sekali. Memang
sudah lama kami hendak menangkapmu atas kedosannmu
dahulu di taman bunga. Sekarang kami takkan memberi
ampun lagi padamu!” Biarpun mulutnya berkata demikian,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
namun diam diam Kim Liong Hoat ong menjadi terkejut
dan juga gelisah. Dahulupun gadis ini yang mendatangkan
malapetaka. Terhadap gadis ini sendiri, ia tidak merasa
takut, akan tetapi siapa tahu kalau kalau gadis ini datang
bersama Coa eng Sin kai dan Thian Te Siang mo! Diam
diam Kim Liong Hoat ong lalu memberi tanda rahasia
kepada seorang penjaga untuk menyusul Ba Mau Hoatsu
dan Pan Hong Siansu yang bermalam di rumah kepala
daerah, untuk memanggil mereka membantu, karena kalau
Coa ong Sin kai dan Thian Te Siang mo benar benar datang
bersama gadis ini, hanya Ba Mau Hoatsu dan Pak Hong
Siansu saja yang kiranya dapat menghadapi mereka.
“Kim Liong Hoat ong, percuma saja kau dan dua orang
saudaramu menyebut diri sebagai Sam Thai Koksu, karena
ternyata kalian adalah pengecut dan berwatak curang.
Mengapa kalian menawan guru guruku di Hoa san? Kalau
memang kalian berkepandaian, bebaskan guru guruku dan
marilah kita bertempur secara jujur! Biar aku yang mewakili
Hoa san pai menghadapi kalian bertiga.”
Kim Liong Hoat ong tertawa. “Bocah sombong, kau dan
semua orang Hoa san pai adalah pemberontak pemberontak
yang mengacau keamanan, maka sekarang juga kami akan
menangkapmu!” Sambil berkata demikian, rantai baja di
tangan Kim Liong Hoat ong bergerak menyambar ke arah
kepala Bi Lan.
Gadis ini menjadi marah sekali dan pedangnya
berkelebat cepat. Dengan gerakan yang indah dan manis ia
mengelak dari sambaran rantai baja dan dalam gerakan
mengelak ini ia membarengi dengan tusukan maut ke arah
dada lawannya. Kim Liong Hoat ong terkejut sekali.
Gerakan nona ini benar benar cepat dan tidak terduga
sekali, maka ia lalu melompat ke belakang sampai setombak
jauhnya untuk menghindarkan diri dari serangan ganas itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun Bi Lan tidak mau memberi hati dan secepat kilat
ia mengejar dengan tusukan lain dari pedangnya yang
berkelebat kelebat ganas. Melihat betapa nona itu mendesak
suheng mereka, Gin Liong Hoat ong menyerbu dengan
sepasang ruyungnya yang berwarna hijau, sedangkan Tiat
Liong Hoat ong juga tidak mau tinggal diam, langsung
menyerang dengan goloknya yang lebar.
“Bagus, hari ini aku akan menamatkan riwayat Sam
Thai Koksu!” Bi Lan berseru dan pedangnya diputar cepat
sekali dalam permainan pedang Sin coa Kiam hoat (Ilmu
Pedang Ular Sakti) yang dulu ia pelajari dari Coa ong Sin
kai. Ilmu pedang ini memang sifatnya ganas sekali dan
paling tepat dan cepat untuk dipergunakan menyerang
lawan. Kalau saja tiga orang tokoh Kerajaan Kin ini maju
seorang demi seorang, dalam beberapa jurus saja mereka
tentu roboh oleh ilmu pedang ini. Namun, mereka adalah
orang orang yang berkepandaian tinggi dan kini dengan
jalan mengeroyok mereka masih dapat mempertahankan
diri dan bahkan membalas dengan serangan yang tak
kurang hebatnya.
Melihat ketangguhan tiga orang lawannya, Bi Lan
kehilangan kesabarannya dan tiba tiba pedangnya berobah
gerakannya. Kini ia mainkan Ilmu Pedang Thian te Kiam
hoat yang ia pelajari dari Thian Te Siang mo. Kebebatan
ilmu pedang ini luar biasa sekali dan dalam beberapa jurus
saja. terdengar teriakan kesakitan ketika pedangnya berhasil
melukai pundak Tiat Liong Hoat ong sehingga golok besar
di tangan orang ini terlempar di atas genteng.
Kim Liong Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong menjadi
terkejut dan marah sekali. Mereka menyerbu makin ganas,
akan tetapi kembali ujung pedang Bi Lan telah melukai
lengan kiri Gin Liong Hoat ong sehingga kini terpaksa
orang ke dua dari Sam Thai Koksu itu hanya mainkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ruyung kanan saja sambil meringis kesakitan karena lengan
kirinya telah terluka dan ruyung kirinya juga terlepas dari
pegangan.
Bi Lan mendesak terus dan agaknya tak lama lagi ia akan
dapat merobohkan lawannya yang tinggal dua orang itu
kalau saja pada saat itu tidak terdengar bentakan hebat,
“Bocah liar kau mencari mampus!” Bentakan ini disusul
dengan melayangnya dua senjata roda yang lihai sekali. Ba
Mau Hotsu telah datang atas panggilan para penjaga tadi!
Melihat kedatangan kawan yang tangguh ini, Kim Liong
Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong menjadi lega dan
meloncat mundur. Gin Liong Hoat ong segera merawat
lengan kirinya, adapun Kim Liong Hoat ong lalu merawat
Tiat Liong Hoat ong yang menderita luka parah di
pundaknya.
Bi Lan terkejut melihat datangnya serangan sepasang
roda itu, ia belum kenal siapa adanya pendeta yang
bertubuh tinggi besar ini. Dengan cepat ia menangkis
dengan pedangnya dan karena ia kurang mengenal
kelihaian sepasang roda ini, hampir saja pedangnya
terampas dari tangannya dan hampir ia mendapat celaka.
Roda yang kiri berputar dan pedangnya seakan akan
terbetot oleh tenaga yang luar biasa kuatnya, sedangkan
roda kanan terbang menyambar kepalanya. Bi Lan cepat
mengerahkan tenaganya mencabut pedangnya dan serangan
roda kanan itu dapat dihindarkan dengan jalan
merendahkan tubuhnya. Kemudian ia meloncat mundur
dan memandang dengar penuh perhatian, la mulai merasa
kuatir dan bersikap hati hati sekali. Ternyata olehnya
bahwa yang menyerangnya adalah pendeta tinggi besar itu,
yang datang bersama dua orang tua lain. Seorang
diantaranya adalah seorang kakek yang sudah tua sekali,
dan orang ke dua adalah seorang tosu. Ia tidak tahu bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang menyerangnya, yaitu Ba Mau Hoatsu, datang bersama
Pak Hong Siansu dan Giok Seng Cu yang amat lihai.
Ba Mau Hoatsu memang mempunyai watak yang agak
sombong dan menganggap diri sendiri terpandai. Tadi
ketika melihat Sam Thai Koksu tidak dapat mengalahkan
lawannya yang ternyata hanya seorang gadis muda ia lalu
berpesan kepada Pak liong Siansu dan Giok Seng Cu agar
jangan turun tangan, karena ia sendiri hendak menghadapi
gadis itu.
Melihat betapa gadis itu dapat menangkis serangannya,
Ba Mau Hoatsu menjadi terkejut dan juga penasaran, ia lalu
menyerang lagi dan kini sepasang rodanya mengancam
gadis itu dan mengurung rapat. Diam diam Bi Lan
nengeluh karena ternyata kepandaian lawannya ini benar
benar hebat. Tahulah ia mengapa kakek dan gurunya dari
Hoa san pai sampai kalah dan tertawan, karena Sam Thai
Koksu mempunyai pembantu yang begini pandai, ia
mengerahkan seluruh kepandaiannya dan melawan mati
matian. Pedangnya bergerak cepat sekali dan kini ia
mainkan Ilmu Pedang Thian te Kian hoat yang amat aneh
gerakannya. Namun, tetap saja sepasang roda itu masih
mengancam dan menindih pedangnya, bahkan beberapa
kali hampir saja pedangnya dapat terampas, Bi Lan maklum
bahwa menghadapi pendeta ini saja ia sukar mencapai
kemenangan, apalagi kalau Kim Liong Hoat ong
membantu, tentu akan kalah.
Tak seorangpun tahu bahwa diam diam sepasang mata
yang tajam menyaksikan pertempuran ini dari balik
wuwungan rumah. Mata ini memandang penuh
kekhawatiran. Karena ia maklum bahwa tak lama lagi Bi
Lan pasti akan kalah apalagi kalau Giok Seng Cu atau Pak
Hong Siansu turun tangan! Yang mengintai adalah mata
Ciang Le pemuda gagah perkasa yang memang selalu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memasang mata menyelidiki keadaan Enghiong Hwee
koan, bersiap untuk menolong orang orang gagah yang
menyerbu tempat itu. Kini ia menjadi bingung. Untuk
keluar membantu ia merasa sungkan dan takut kepada
susioknya. Kalau dia diam saja tidak membantu, ia benar
benar kasihan kepada gadis itu. Juga diam diam ia merasa
kagum sekali melihat gadis yang perkasa itu.
Keadaan Bi Lan kini benar benar amat terdesak dan
berbahaya sekali. Makin lama gerakan sepasang roda dari
Ba Mau Hoatsn makin kuat saja dan Bi Lan yang tadi
sudah mengeluarkan banyak tenaga ketika dikeroyok oleh
Sam Thai Koksu dan kawan kawannya Uni mulai merasa
lelah menghadapi Ba Mau Hoatsu yang demikian
tangguhnya.
Keadaan malam hari itu gelap dan penerangan di atas
genteng itu hanya dari tiga buah lampu yang digantung
tinggi tinggi di sekeliling rumah. Tiba tiba terdengar suara
keras dan tiga buah lampu ini meledak pecah dan padam.
Bahkan sebuah diantaranya, terbakar dan mulai membakar
tiang di bawah gunungan sang melintang!
Pada saat itu, sepasang roda dari Ba Mau Hoatsu sedang
mengurung dan mengancam Bi Lan. Tiba tiba nampak
beberapa benda berkeredepan menyambar dan dengan cepat
sekali menghantam kedua pundak Ba Mau Hoatsu. Kakek
ini terkejut sekali, la melihat pula datangnya benda benda
ini dan mendengar suara anginnya, maka cepat ia
merendahkan tubuhnya untuk mengelak dari sambaran dua
buah benda yang mengarah pundaknya, akan tetapi
beberapa buah benda lain menghantam roda roda di
tangannya sehingga ia merasa kedua rodanya terpukul dan
hampir terlepas dari tangannya! Cepat ia melompat mundur
dan pada saat itu terdengar seruan,
“Laril!!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan juga tahu bahwa ada orang pandai membantunya
secara diam diam, maka kini mendengar seruan “lari!” itu,
ia cepat melompat jauh, melarikan diri dari tempat
berbahaya itu.
“Bangsat kecil, kau berani main gila?” Seru Pak Hong
Siansu yang tahu tahu menggerakkan tubuhnya ke arah dari
mana benda benda itu menyambar. Adapun Ba Mau
Hoatsu dan Giok Seng Cu juga tidak tinggal diam.
“Gadis liar, kau hendak lari ke mana?” bentak Ba Mau
Hoatsu yang bersama Giok Seng Cu mengejar Bi Lan.
Lain lain orang dikepalai oleh Kim Liong Hoat ong,
segera memadamkan kebakaran kecil yang diakibatkan oleh
pecahnya lampu, dan memasang lampu baru untuk
menerangi tempat itu.
Ciang Le yang menolong Bi Lan, ketika melihat
susioknya melayang ke arahnya, tidak berani menyambut
dan segera melompat jauh. Pak Hong Siansu dapat
mengenal sambitan senjata rahasia yang berkeredepan tadi,
karena itu adalah am gi (senjata gelap) yang disebut Siauw
seng ciam (Jarum Bintang Kecil), semacam jarum yang
ujungnya runcing dan gagangnya mempunyai kepala
terbuat dari batu yang berkeredep. Inilah senjata rahasia
yang biasa dipergunakan oleh Pak Kek Siansu di waktu
muda, maka Pak Hong Siansu dapat menduga bahwa
pelemparnya tentulah murid suhengnya itu. Karena Ciang
Le berlaku hati hati dan tidak mau melayaninya ketika Pak
Hong Siansu tiba di tempat itu, pemuda tadi telah pergi
jauh.
Adapun Bi Lan yang melarikan diri, dikejar oleh Giok
Seng Cu dan Ba Mau Hoatsu. Gadis ini berlari cepat sekali,
melompat turun dari atas rumah. Akan tetapi Ba Mau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hoatsu yang merasa penasaran, terus mengejarnya dan
telah mengambil keputusan hendak menangkap gadis ini.
Setelah mereka keluar dari kota Cin an dan tiba di luar
tembok kota, tiba tiba di atas tembok melayang turun
sesosok bayangan yang menghadang larinya Ba Mau
Hoatsu dan Giok Seng Cu. Ketika mereka ini memandang,
bukan main marahnya Ba Mau Hoatsu mengenal bahwa
penghadangnya bukan lain adalah Go Ciang Le, pemuda
yang pernah mengalahkan sepasang rodanya ketika pemuda
ini datang membawa surat suhunya untuk Pak Hong
Siansu!
“Keparat! Lagi lagi kau yang mengganggu rami!” seru Ba
Mau Hoatsu dan cepat ia menyerang dengan sepasang
rodanya. Giok Seng Cu tanpa mengeluarkan kata kata
langsung maju mengeroyok sambil mainkan senjata
rantainya yang lihai.
Akan tetapi kali ini Ciang Le tidak main main lagi dan
begitu ia mainkan pedangnya sambil mengerahkan
tenaganya, Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu terpaksa
mundur dengan kaget sekali. Serbuan pemuda ini benar
benar hebat dan tenaga yang keluar dari sambaran pedang
Kim kong kiam sekaligus dapat membuat sepasang roda
dan rantai itu terpental memukul pemegangnya sendiri!
Beberapa jurus lamanya Ciang Le tidak mau memberi
kesempatan kepada dua orang lawannya untuk membalas
serangannya, ia mendesak dan mengeluarkan Ilmu Silat
Pak kek Sin ciang hoat yang lihai. Oleh karena ilmu silat ini
memang ilmu silat rahasia yang belum pernah terlihat di
dunia dan yang kehebatannya menduduki tingkat tertinggi,
tentu saja Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu menjadi
bingung dan tidak dapat membalas serangan pemuda itu,
melainkan sibuk menjaga diri karena pedang kuning emas
itu seakan akan berobah menjadi puluhan banyaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le memang hanya bermaksud menolong Bi Lan
saja dan memberi kesempatan kepada gadis itu untuk
melarikan diri, maka setelah ia mendesak beberapa jurus
dan mengerti bahwa kini Bi Lan telah lari jauh, tiba tiba ia
meloncat keluar dari kalangan pertepruran dan berlari
meninggalkan Ba Mau Hoatsu dan Giok Seng Cu!
Bukan main marahnya kedua orang ini. Sambil memaki
maki mereka lalu melepaskan senjata senjata gelap ke arah
bayangan Ciang Le yang meloncat jauh. Akan tetapi Ciang
Le adalah bekas murid Thian Lo mo, seorang ahli am gi
(senjata gelap) yang lihai sekali. Sebelum senjata senjata
rahasia yang dilepas oleh kedua orang pendeta itu mengenai
tubuh Ciang Le, terlebih dulu pemuda ini sudah
menggerakkan tangan kirinya dan beberapa benda
berkerdepan telah menyambar dan memukul runtuh semua
senjata rahasia lawan. Sebelum menjadi murid Pak Kek
Siansu, Ciang Le memang sudah ahli dalam penggunaan
senjata rahasia yaitu kepandaian yang dipelajarinya dari
Thian Lo mo. Setelah ia menjadi murid Pak Kek Siansu di
puncak Lu liang san, ia menambah kepandaiannya ini
dengan penggunaan Siauw seng ciam ( Jarum Bintang
Kecil), yaitu senjata rahasia yang dahulu seringkali
dipergunakan oleh Pak Kek Siansu di waktu muda.
Setelah dapat melarikan diri dari Ba Mau Hoatsu dan
Giok Seng Cu, Ciang Le berlari terus. Akan tetapi, tiba tiba
dari balik sebatang pohon meloncat keluar sesosok
bayangan dan ketika ia memandang, ternyata Bi Lan telah
berdiri di hadapannya! Keadaan suram suram mendekati
gelap dan ia tidak dapat melihat wajah gadiss itu dengan
jelas, akan tetapi melihat bentuk tubuhnya, tahulah Ciang
Le bahwa ia berhadapan dengan gadis yang ditolongnya
tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Anjing pemerintah Kin, kau masih mengejarku? Asal
jangan main keroyokan, aku Liang Bi Lan takkan mundur
setapakpun!’ seru BiLan sambil maju menerjang dengan
pedangnya. Di dalam gelap, gadis inipun tidak dapat
mengenal siapa adanya orang yang ia hadapi, akan tetapi
karena orang ini berlari cepat mengejarnya tentu saja ia
menduga bahwa orang ini juga seorang kaki tangan Sam
Thai Koksu yang mengejarnya.
Ciang Le menjadi geli dan diam diam ia memuji
ketabahan hati gadis muda ini. Dimaki dan diserang, ia
diam saja, hanya segera mengeluarkan pedangnya dan
melayani Bi Lan bermain pedang! Ketika mereka bertempur
dam bergebrak beberapa jurus lamanya, keduanya terkejut
dan heran. Bi Lan merasa terkejut sekali karena ternyata
bahwa kepandaian atau ilmu pedang dari lawannya ini
benar benar lihai sekali, adapun Ciang Le merasa terheran
heran karena ia mengenal ilmu pedang yang dimainkan
oleh Bi Lan sebagai ilmu pedangnya sendiri sebelum
menjadi murid Pak Kek Siansu, yakni ilmu pedang dari
Thian Te Siang mo dan biarpun gerakan gadis ini lebih lihai
dan juga ilmu pedang itu banyak sekali kemajuannya
seakan akan kedua bekas gurunya itu telah
menyempurnakannya, namun pada dasarnya sama saja
dengan ilmu pedang yang ia pernah pelajari dari Iblis
Kembar itu. Maka iapun lalu merobah gerakan pedangnya
dan kini iapun mainkan ilmu Pedang Thian Te Kiam sut
yang tentu saja dikenal baik oleh Bi Lan.
“Eh, siapa kau ?” gadis ini membentak dengan suara
heran. “Dari mana kau mencuri ilmu pedang Thian Te
Kiam hoat?”
“Tidak ada yang mencuri ilmu pedang. Sebaliknya kau
tadi mengaku anak murid Hoa san pai, mengapa sekarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mainkan ilmu pedang dari Thian Te Siang mo?? Sejak
kapankah kau menjadi murid dari kedua orang guruku?”
“Hm… kau mengaku guru kepada kedua suhuku? Tak
salah lagi kau tentulah Go Ciang Le murid yang murtad
dan yang mengkhianati kedua suhuku itu !” Seru Bi Lan
yang sengaja bersikap keras, padahal hatinya berdebar
debar karena ia kini berhadapan dengan cucu dari kakek
angkatnya, yaitu Tan Seng.
“Eh, eh, nanti dulu!” kata Ciang Le. “Betapapun juga,
kalau kau sudah menjadi murid mereka kau masih terhitung
sumoiku sendiri. Bagaimana kau tadi dapat katakan bahwa
aku seorang murid murtad dan mengkhianati guru guruku!”
“Karena kau meninggalkan mereka dan belajar silat
kepada orang lain!”
Tiba tiba pemuda itu tertawa bergelak, seakan akan ia
mendengar sesuatu yang amat menggelikan hatinya. Bi Lan
menjadi gemas, sayang ia tidak dapat melihat dengan nyata
wajah pemuda itu, karena keadaan gelap. Akan tetapi ia
dapat melihat bahwa tubuh pemuda itu tinggi tegap,
biarpun tidak setegap tubuh Lie Bu Tek suhengnya, dan
dapat mendengar bahwa suara pemuda ini lantang akan
tetapi bernada halus.
“Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?”
Ciang Le menahan suara ketawanya. “Karena kau tadi
memaki aku sebagai murid murtad dan berkhianat,
sedangkun kau sendirpun murtad dan berkhianat.”
Bi Lan terkejut. “Kurang ajar, kau lancang sekali.”
“Bukankah betul kata kataku tadi. Kau, seorang anak
murid Hoa san pai, namun kau juga meninggalkan Hoa san
pai dan menjadi murid Thian Te Siang mo. Orang selagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
muda mencari kemajuan, mengapa disebut murtad dan
berkhianat?”
Bi Lan tertegun. Memang, biarpun kedua orang suhunya
telah berpesan agar kalau bertemu dengan Ciang Le ia suka
menghajar murid murtad itu, namun di dalam hatinya tentu
saja ia merasa berat untuk melakukan tugas ini. Pertama
tama ia sendiripun berganti guru, sama halnya dengan
Ciang Le, ke dua karena Ciang Le adalah cucu dari kakek
angkatnya!
“Kau pandai memutar lidah! Cukup tentang itu,
sekarang hendak kubertanya apakah maksudmu
mengejarku? Apakah kau sudah menjadi kaki tangan
pemerintah Kin?”
“Nona, jangan menuduh secara sembarangan saja. Kita
bersatu haluan. Bahkan aku tahu pula akan maksud
kedatanganmu, tentu hendak mencari tokoh tokoh Hoa san
pai itu dan hendak menolong mereka bukan? Tak usah kau
bersusah payah, kalau hendak bertemu dengan mereka,
pergilah ke bio (kuil) rusak di sebelah barat kota, di dalam
hutan bambu itu.” Setelah berkata demikian, Ciang Le
meloncat ke dalam gelap dan lenyap dari situ.
“Sayang ..aku belum dapat melihat mukanya … dan
belum berkesempatan untuk menanya tentang riwayatnya.
Apakah ia tidak tahu bahwa kong kong adalah kakeknya
yang aseli?” pikir Bi Lan dan teringatlah ia akan kata kata
pemuda itu. Benar benarkah ia akan dapat menemui kong
kongnya dan suhu suhu nya di dalam hutan sebelah barat
kota? Hatinya berdebar penuh harapan ketika Bi Lan berlari
lari dalam menuju ke barat.
Ketika ia tiba di dalam sebuah hutan bambu, benar saja
ia melihat kuil kuno yang biar pun di bagian bawahnya
sudah buruk dan rusak, namun gentengnya masih kuat dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baik. Ia meloncat ke atas karena sebagai seorang gadis kang
ouw yang berpengalaman, ia selain berlaku hati hati dan
menyelidiki lebih dulu sebelum mengambil tindakan.
Begitu kakinya menginjak genteng, lampu penerangan
yang tadinya terpasang di dalam kuil itu padam dan tiba
tiba dari bawah menyambar tiga buah benda ke arah
tubuhnya, Bi Lan terkejut dan cepat mengelak sambil
mengulur tangannya. Ia berhasil menyambar sebutir senjata
rahasia itu dan ketika dilihatnya ternyata itu adalah sebutir
besi thi lian ci, senjata rahasia yang biasa dipergunakan oleh
Tan Seng, kakeknya!
“Kong kong! Suhu, teecu Bi Lan berada di sini!” teriak
Bi Lan dengan girang sekali!
Terdengar seruan girang dan juga terheran dari bawah
dan tak lama kemudian, dari bawah melayang naik, tiga
bayangan yang bukan lain adalah Tan Seng, Liang Gi
Cinjin dan Liang Tek Sian seng!
Bi Lan cepat cepat memberi hormat dengan hati girang
sekali.
“Bi Lan, sungguh tidak kami nyana bahwa kau yang
datang! Semenjak tadi memang ada bayangan seorang yang
mengintai kami, kami sedang menanti saat baik untuk
menangkapnya. Agaknya ia mata mata dari pemerintah
Kin!” kata Tan Seng.
“Kalau begitu, mari kita mencari dan membekuknya,
kong kong!” kata Bi Lan dengan gemas.
“Tadi dia datang dari jurusan sana!” kata Liang Gi
Cinjin sambil menunjuk ke arah kanan kuil. Beramai ramai
mereka lalu mengejar ke jurusan itu, namun tidak nampak
bayangan siapapun juga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Padahal, memang ada seorang laki laki bertubuh pendek
berkumis melintang panjang yang bersembunyi di balik
wuwungan sebelah depan. Orang yang pendek kecil ini
mempunyai gerakan yang amat lincah dan cepat. Juga
ginkangnya sudah tinggi sekali sehingga ia tidak
menerbitkan suara sedikitpun juga. Dengan sepasang
matanya yang lebar ia mengintai ke arah mereka berempat
yang mencoba mencarinya dan sikapnya seperti seorang
maling yang amat mencurigakan.
Ketika sudah melihat dengan jelas dan mendapat
kenyataan bahwa tiga orang tua itu adalah tokoh tokoh Hoa
san pai, sedangkan nona itu adalah pendekar wanita yang
paru saja mengacau Enghiong Hweekoan, orang ini lalu
bergerak hendak meninggalkan kuil. Akan tetapi, baru saja
ia meloncat, tiba tiba bayangan lain menyambar dan
sebelum ia berdaya, ia telah kena ditotok oleh orang itu
yang mempergunakan tiam hwat (ilmu menotok jalan
darah) yang istimewa sekali. Orang pendek kecil ini seketika
menjadi lumpuh seluruh tubuhnya dan ia tidak dapat
melawan lagi ketika orang yang menotoknya itu memegang
leher bajunya dan membawanya turun ke bawah dengan
gerakan yang luar biasa ringannya. Orang yang
menangkapnya ini bukan lain adalah Ciang Le yang diam
diam tadi mengikuti perjalanan Bi Lan.
Setelah Ciang Le membuat pengintai itu tidak berdaya,
ia lalu melemparkan tubuh itu ke dalam kuil, kemudian ia
pergi meninggalkan kuil itu.
Bi Lan dan tiga orang tokoh Hoa san pai kembali ke kuil
dengan tangan hampa. Mereka telah mencari cari, namun
tidak menemukan orang di dalam hutan yang sunyi itu.
Maka, alangkah heran dan tercengang mereka ketika di
dalam kuil mereka melihat seorang laki laki rebah dalam
keadaan tertotok dan tidak berdaya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Inilah dia orang yang mengintai kami tadi!” kata Liang
Gi Cinjin kepada Bi Lan, kemudian kakek ini lalu menotok
orang itu untuk membebaskannya dari pengaruh totokan
Ciang Le. Orang pendek kecil berkumis itu berlutut dengan
tubuh gemetar, ia maklum bahwa kini ia telah berada di
tangan musuh dan dalam keadaan berbahaya.
“Kau siapa dan mengapa mengintai kami?” tanya Liang
Gi Cinjin dengan suara keren.
“Aku… aku tidak mengintai… aku seorang pelancong
yang kemalaman di… di hutan ini ...” jawab orang itu
gugup.
“Bohong!” Bi Lan membentak dan sekali pedangnya
berkelebat, lenyaplah sebelah kumis orang itu! “Sekali lagi
membohong, telingamu kupotong! Hayo mengaku kau
siapa dan apa kerjamu di sini!”
Dengan muka pucat dan suara megap megap, orang ini
mengaku. Dia adalah seorang pencopet atau pencuri yang
kenamaan di kota Cin an dan telah lama bekerja sebagai
mata mata yang amat dipercaya oleh Sam Thai Koksu.
Karena ia memiliki kepandaian berlari cepat dan ginkang
yang sudah tinggi maka gerakannya gesit dan cocok sekali
kalau ia menjadi seorang mata mata. Ia bernama Lo Tek
dan dijuluki Sin touw (Malaikat Copet)! Atas perintah Sam
Thai Koksu ia disuruh menyelidiki keadaan orang orang
gagah yang mengganggu kota Cin an dan kebetulan sekali
ia dapat menemukan tempat bersembunyi tokoh tokoh Hoa
san pai yang telah lari dari tempat kurungan mereka di Cin
an.
“Dan bagaimana kau tahu tahu meringkuk .....
...hal 62-63 ga ada......
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siang mo sehingga tokoh tokoh Hoa san pai itu menjadi
girang sekali karena mereka dapat menduga bahwa
kepandaian Bi Lan kini tentu amat tinggi.
Sebaliknya Bi Lan lalu mendengar penuturan kakek
angkatnya. Ternyata bahwa tiga orang tokoh Hoa san pai
ini ditawan dan dibawa ke Cin an, di mana mereka selain
menerima siksaan juga mendapat bujukan dari Sam Thai
Koksu agar supaya suka menyerah saja dan membantu
pemerintah Kin. Tentu saja tiga orang kakek gagah ini tidak
sudi menerima bujukan ini dan menyatakan lebih baik
binasa dari pada membantu pemerintah Kin yang menindas
rakyat Tiongkok.
-ooo0dw0oo-
Jilid XII
MEREKA diputuskan mendapat hukuman mati, akan
tetapi pada malam hari terakhir, sesosok bayangan yang
aneh dan luar biasa cepat gerakannya, merobohkan para
penjaga tanpa banyak ribut. Kemudian bayangan ini di
dalam gelap memutuskan belenggu mereka dan mengajak
mereka pergi dari tempat tahanan.
“Siapa dia itu kong kong?” tanya Bi Lan dengan hati
berdebar, karena iapun teringat akan orang yang
membantunya dalam pertempuran ketika ia terdesak oleh
Ba Mau Hoatsu. Ia ada persengkaan bahwa orang itu tentu
Ciang Le, akan tetapi ia rasa tidak mungkin pemuda itu
memiliki kepandaian begitu tinggi.
Kakeknya menggelengkan kepanya. “Ia tidak mau
mengaku hanya membawa kami ke tempat ini dan minta
kepada kami supaya beristirahat dan jangan pergi sebelum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehat benar. Dia tentu seorang pemuda yang berkepandaian
tinggi sekali, akan tetapi entah siapa kami tidak tahu.”
“Juga yang menangkap mata mata tadi tentu dia pula”
kata Liang Tek Sianseng sambil mengangguk anggukkan
kepalanya.
“Kong kong, tahukah kau bahwa Go Ciang Le cucumu
itu masih hidup?”
Tan Seng terkejut dan girang. “Betulkah? Di mana dia?”
“Untuk apa aku membohong, kong kong? Aku bahkan
sudah bertemu dengan dia di dalam gelap, sudah pula
bertempur melawan dia! Dia juga murid dari Thian Te
Siang mo, jadi suhengku sendiri.” Bi Lan lalu menuturkan
pertempurannya antara dia dan Ciang Le, akan tetapi tentu
saja dia tidak menuturkan bahwa kedua suhunya berpesan
agar supaya dia memberi “hajaran” kepada pemuda itu!
“Sayang mengapa kau tidak memberi tahu bahwa aku
menunggu dan mencarinya.” kata orang tua ini.
“Aku tidak diberi kesempatan, kong kong. Dia terus
pergi lagi.”
Setelah berunding, empat orang Hoa san pai ini lalu
mengambil keputusan untuk pergi ke Go bi pai, memberi
teguran kepada ketua Go bi pai yaitu Kian Wi Taisu, atas
sepak terjang Bu It Hosiang yang khianat, mempergunakan
tenaga pemerintah Kin untuk memusuhi Hoa san pai.
-ooo0dw0ooo-
Pemberontakan di Tiongkok utara, wilayah yang
diduduki oleh pemerintah Kin makin meluas. Para
gerilyawan melakukan perjuangan mati matian, dibantu
oleh orang orang gagah dari utara dan selatan, orang orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Han aseli yang tidak rela melihat bangsanya ditindas oleh
orang Kin.
Pemerintah Kin di utara makin menggila dan menindas
rakyat. Banyak orang orang Han dipaksa menjadi budak
belian, diperdagangkan dan diperlakukan seperti kerbau
peliharaan. Banyak sekali kaum tani dipaksa menjadi
pelayan ketentaraan dan diperas tenaganya habis habisan.
Setiap orang Kin menjadi bangsawan dan tiap orang
bangsawan tentu mempunyai budak belian orang Han.
Bahkan ada sekeluanga bangsawan besar mempunyai
hamba hamba orang Han sampai seratus orang lebih!
Namun pemberontakan rakyat tak kenal lelah dan tak
kenal mundur. Dibunuh seorang maju dua orang,
dibinasakan sepasukan maju dua pasukan. Muncullah
orang orang gagah yang memimpin barisan petani dan
barisan rakyat yang berjuang dengan gigih, di mana mana
merupakan barisan berani mati, menyerbu dan mengganggu
keamanan para petugas Kerajaan Kin. Barisan Kin
dikerahkan dan Sam Thai Koksu menjadi sibuk sekali.
Namun berkat bantuan Pak Hong Siansu yang lihai, setiap
muncul barisan yang dipimpin oleh seorang gagah dari
fihak pemberontak, pasti dapat dihancurkan.
Banyak tokoh tokoh kang ouw gugur dalam membela
rakyatnya. Yang amat mengagumkan, biarpun tokoh tokoh
kang ouw yang tadinya berwatak kasar dan ganas, boleh
dibilang jahat dalam pandangan umum, ketika melihat
betapa banyak sekali bangsanya menjadi korban barisan
Kin, serentak bangkit dan membantu perjuangan
bangsanya!
Orang seperti Coa ong Sin kai yang terkenal ganas, yang
disohorkan berotak miring dan yang berani membunuh
sesama manusia tanpa berkejap mata, sampai bisa tergerak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hatinya dan kakek aneh ini bahkan berani seorang diri
mendatangi Enghiong Hweekoan dan mengamuk!
Hal ini terjadi pada suatu pagi. Ketika itu bala tentara
Kin yang dipimpin oleh Kim Liong Hoat ong sendiri
melakukan pembasmian terhadap sebuah dusun yang
dianggap menjadi sarang pemberontak. Seluruh dusun
dibakar musnah, orang orang lelaki dibunuh dan
perempuan perempuan diculik oleh barisan ini. Dalam
waktu kurang dari setengah hari saja dusun itu telah
menjadi tumpukan puing dan mayat rakyat berserakan di
mana mana ada diantaranya yang terpanggang api sampai
hangus!
Kebetulan Coa ong Sin kai berada di tempat yang tidak
jauh dari dusun itu dan ketika kakek gila ini tiba di dusun
yang sudah menjadi abu, timbul jiwa kepatriotannya dan ia
menangis menggerung gerung ditengah dusun kosong itu.
Kemudian, bagaikan orang gila, ia mencak mencak dan
langsung berlari cepat menuju ke Cin an sambil memaki
maki di sepanjang jalan, menyumpah nyumpah pemerintah
Kin.
Tentu saja setibanya di kota Cin an, ia disambut oleh
sepasukan penjaga yang hendak menangkap atau
membunuhnya. Akan tetapi dengan ranting bambunya yang
lihai ia membuka jalan darah dan sebentar saja sepuluh
orang lebih penjaga roboh tak bernyawa lagi! Coa ong Sin
kai terus berlari ke Enghiong Hweekoan dan menyerbu ke
dalam sambil memaki keras, “Sam Thai Koksu, keluarlah
untuk terima binasa!”
Beberapa orang penjaga Enghiong Hweekoan keluar
menyambut dengan golok di tangan, akan tetapi seperti
penjaga kota tadi, sebentar saja terdengar jerit mengerikan
dan beberapa orang itu roboh malang melintang dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepala pecah atau tubuh bolong bolong tertusuk ranting
bambu!
Pada saat itu, yang berada di dalam Enghiong Hweekoan
adalah Sam Thai Koksu dan Ba Mau Hoatsu. Mereka ini
sedang merayakan “kemenangan” dari Kim Liong Hoat
ong yang siang tadi katanya melakukan pembersihan di
dusun itu. Ketika mendengar ribut ribut di luar, kemudian
disusul oleh bentakan dan tantangan Coa ong Sin kai,
mereka menjadi marah sekali dan memburu keluar dengan
senjata siap di tangan.
Sam Thai Koksu menjadi terkejut dan jerih juga melihat
Coa ong Sin kai. Akan tetapi Ba Mu Hoatsu membentak
kepada para penjaga yang mengeroyok Coa ong Sin kai
supaya mundur, kemudian dia sendiri lalu menghadapi
kakek Raja Ular itu dengan sepasang senjata rodanya.
“Orang gila, bagus benar kau datang mengantar
kematian. Memang telah lama aku mencarimu!” kata Ba
Mau Hoatsu sambil mempersiapkan sepasang rodanya.
Coa ong Sin kai menunda amukannya dan dengan mata
merah ia memandang kepada Ba Mau Hoatsu. Tentu saja ia
mengenal orang ini, akan tetapi ia tidak memperdulikan
pendeta dari Tibet ini dan pandang matanya ditujukan ke
arah Sam Thai Koksu.
“Tiga anjing Kin, aku datang untuk menghirup darah
kalian!” serunya dan tiba tiba tubuhnya berkelebat cepat
menyerang kepada Kim Liong Hoat ong!
Sam Thai Koksu terkejut sekali dan berbareng mereka
menangkis serangan ini. Namun gerakan Coa ong Sin kai
bukan main hebatnya, karena ia berada dalam keadaan
marah. Ranting bambunya bagaikan telah menjadi seekor
ular hidup yang bergerak berlenggak lenggok sukar sekali
dijaga serangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kim Liong Hoat ong yang diserang menangkis dengan
rantainya, dibantu oleh Tiat Liong Hoat ong yang juga
membantu suheng nya menangkis dengan goloknya.
Adapun Gin Liong Hoat ong yang memegang sepasang
ruyung, menghantamkan ruyungnya ke pundak dan
lambung Coa ong Sin kai! Akan tetapi, kakek yang
dianggap gila ini sudah nekad benar rupanya. Ia tidak
mengelak dari serangan ruyung dan ranting bambunya
begitu tertangkis oleh rantai dan golok, bukannya ditarik
mundur, melainkan diteruskan dan kini meluncur cepat
menotok ulu hati Kim Liong Hoat ong. Serangan iri
demikian tiba tiba dan tak terduga sehingga orang pertama
dari Sam Thai Koksu ini tidak melihat lain jalan untuk
menghindarkan diri. Namun ia masih percaya bahwa
serangan ruyung Gin Liong Hoat ong akan mengenai
sasaran dan secepat kilat ia menjatuhkan tubuhnya ke
belakang.
Pada saat itu, terjadilah akibat yang hebat dari serangan
serangan ini. Terdengar pekik kesakitan dari Kim Liong
Hoat ong dan seruan kaget dari Gin Liong Hoat ong.
Ruyung sebelah kanan di tangan Gin Liong Hoat ong
dengan tepat mengenai pundak Coa ong Sin kai dan
terdengar tulang pundak kaket gila ini patah, akan tetapi
ujung ranting bambu di tangan Coa ong Sin kai masih
sempat menusuk pundak Kim Liong Hat ong yang segera
terguling dan merintih rintih di atas tanah dengan muka
menjadi pucat sekali. Adapun ruyung di tangan kiri Gin
Liong Hoat ong yang menyerang lambung Coa ong Sin kai,
kena disabet oleh tangan kiri kakek pengemis ini dan
terdengar suara “krak” dan patahlah ruyung yang kuat itu!
Biarpun tulang pundaknya telah patah, namun Coa ong
Sin kai seakan akan tidak merasa sakit sama sekali.
Terdengar ia tertawa bergelak dan menyeramkan kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ia menubruk mau menyerang Tiat Liong Hoat ong dengan
ranting bambunya.
Pada saat itu, sepasang roda di tangan Ba Mau Hoatsu
menyambar cepat. Melihat datangnya senjata yang luar
biasa lihainya ini, Coa ong Sin kai tidak berani
menerimanya dan cepat mengelak. Sementara itu, ranting
bumbunya telah berpindah ke tangan kiri, karena lengan
kanannya tak dapat digerakkan lagi. Ia membatalkan
niatnya menyerang Tiat Liong Hoat ong dan kini dengan
sepenuh tenaga dan pengerahan kepandaiannya, ia
menghadapi Ba Mau Hoatsu sambil masih tertawa bergelak
gelak.
Gin Liong Hoat ong dan Tiat Liong Hoat ong ketika
melihat keadaan Kim Liong Hoat ong yang terluka parah,
menjadi marah sekali dan berbareng mereka mengeroyok
Coa ong Sin kai. Akan tetapi, perbuatan mereka ini
merugikan Ba Mau Hoatsu dan bahkan menggirangkan hati
Coa ong Sin kai yang menjadi makin ganas. Dengan
tendangan kaki berantai, ia berhasil membuat golok di
tangan Tiat Liong Hoat ong terlempar jauh dan sebelum
Tiat Liong Hoat ong sempat menangkis, sebuah tendangan
kakek pengemis ini mengenai pahanya sehingga tubuhnya
terlempar jauh dan tak dapat bangun lagi karena tulang
pahanya patah!
“Ha ha ha! Anjing anjing Kin, kalau belum membasmi
kalian, aku belum puas! Ha ha ha! Kata Coa ong Sin kai
dan kini ia menubruk Gin Liong Hoat ong yang sudah
menjadi pucat dan gentar. Akan tetapi, Ba Mau Hoatsu
mendesak maju dan karena perhatian Coa ong Sin kai
ditujukan kepada Gin Liong Hoat ong yang hendak
dirobohkannya ia tidak dapat menjaga datangnya roda kiri
di tangan Ba Mau Hoatsu yang amat lihai, “Prak!” dengan
tepat sekali roda itu menghantam kepala Coa ong Sin kai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan pengemis tua ini menjerit ngeri, akan tetapi ia masih
sempat melontarkan rantingnya ke arah Ba Mau Hoatsu.
Lontaran ranting ini dilakukan dengan tenaga terakhir
sebelum ia roboh tak bernyawa di atas tanah karena
kepalanya telah pecah. Bukan main hebatnya lontaran ini
dan Ba Man Hoatsu maklum bahwa ranting ini ujungnya
mengandung racun dan apabila mengenai tubuhnya akan
berbahaya sekali. Ia cepat menangkis dengan sepasang
rodanya sehingga ranting itu menyeleweng ke pinggir dan
menjeritlah seorang penjaga, lalu roboh tak bernyawa lagi.
Ranting itu dengan keranya menancap di dadanya dan ia
tewas di saat itu juga.
Dengan amat marah, Gin Liong Hoat ong mengerjakan
ruyungnya yang tinggal sebelah untuk memukuli kepala dan
tubuh Coa ong Sin kai sehinga tak lama kemudian tubuh
kakek pengemis itu sudah tidak karuan macam nya lagi.
Ngeri orang orang melihat peristiwa ini dan hati para
perwira Kin menjadi gentar.
Bukan main hebatnya orang orang Han yang datang
mengamuk.
Baiknya ada Pak Hong Siansu yang datang pada senja
harinya, karena kalau tidak ditolong oleh kakek sakti ini,
agaknya Kim Liong Hoat ong yang tertusuk ujung ranting
bambu berbisa, tentu akan tewas. Sam Thai Koksu merawat
luka mereka sambil menyumpah nyumpah.
“Masih ada dua orang lagi, yakni Iblis Kembar. Kalau
mereka tidak dibasmi dan mereka beri kesempatan
mengacau di sini, akan lebih hebat lagi,” kata Kim Liong
Hoat ong, “Jangan khawatir, biar dia datang kalau hendak
mencari mampus!” kata Ba Miu Ihoatsu.
Mendengar ini Kim Liong Hoat ong menjadi
mendongkol. “Apa lagi kalau mereka datang, sedangkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baru Coa ong Sin kai yang datang saja, hampir saja kami
binasa. Kalau Pak Hong Siansu berada di sini, tentu takkan
terjadi hal seperti ini.” Ucapan ini terang terangan
menyindir bahwa adanya Ba Mau Hoatsu di situpun tidak
banyak gunanya!
Merah wajah Ba Mau Hoatsu. Ia adalah seorang
sombong yang segan mengalah, maka diam diam ia timbul
perasaan tidak senang kepada Sam Thai Koksu, katanya,
“Salah sam wi sendiri, kalau tadi sam wi tidak ikut campur
dan menyerahkan Coa ong Sin kai kepadaku seorang, tak
nanti akan jatuh korban. Di dalam pertempuran
menghadapi musuh pandai, paling selamat menonton saja
di pinggir dan membiarkan orang yang lebih kuat maju
melayaninya!” Ucapan inipun merupakan sindiran bagi
Sam Thai Koksu yang terang terangan dikatakan masih
terlampau rendah kepandaian mereka! Suasana menjadi
panas dan Ba Mau Hoatsu maupun Sam Thai Koksu,
kedua fihak telah mulai merasa tidak senang hati.
“Tak perlu ribut ribut,” kata Pak Hong Siansu, “hal yang
sudah lewat tak perlu diributkan. Sekarang kita ke depan
dan mencari jalan terbaik.”
“Tidak ada lain jalan lagi, sebelum harimau menyerang,
kita turun tangan lebih dulu!” kata Kim Liong Hoat ong.
“Ucapan Kim Liong Hoat ong betul juga,” kata Giok
Seng Cu. “Pemberontakan ini tidak kuat kalau di belakang
mereka tidak ada orang orang seperti Coa ong Sin kai,
orang orang Hoa san pai, dan Thian Te Siang mo. Oleh
karena itu, sebelum menanti mereka bergerak terlebih dulu
membasmi mereka, adalah siasat yang baik sekali.”
“Akan tetapi Thian Te Siang mo tidak tentu tempat
tinggalnya. Di mana kita bisa mencari mereka?” kata Pak
Hong Siansu. “Memang aku sendiripun sengaja
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meninggalkan gunung dengan maksud mencoba
kepandaian mereka.”
“Mudah saja,” kata Kim Liong Hoat ong. “Kalau kita
menyiarkan berita menantang mereka, apakah mereka tidak
akan datang? Biar kami bertiga mempergunakan nama kami
untuk menantang dia menantang pibu di kota Cin an!”
Demikianlah, tak lama kemudian, tersiar berita luas di
kalangan kang ouw bahwa Sam Thai Koksu menantang
Thian Te Siang no untuk mengadu kepandaian!
-oo0dw0oo-
Gan Hok Seng, murid ke tiga dari Hoa san pai, setelah
bertemu dengan Bi Lan, cepat pulang dan ia mulai
mengumpulkan kawan kawan sehaluan di daerahnya, lalu
ia memimpin pasukan suka rela ini untuk membantu
perjuangan saudara saudaranya di utara melawan
pemerintah Kin.
Sebelum berangkat, ia membuat sepucuk surat ditujukan
kepada sucinya, yaitu Thio Ling In di Biciu, lalu ia
menyuruh seorang kawannya naik kuda mengantar surat itu
ke Biciu. Kemudian pada hari keberangkatan .......
...Hal 16-17 ga ada...
....kata demikian, orang itu lalu mengeluarkan sepucuk
surat dari saku bajunya.
Ling In menerima surat ini dengan hati tidak enak.
“Duduklah, saudara. Kau datang dari tempat jauh dan
mengasolah.”
Akan tetapi orang itu menggeleng kepalanya. “Aku
harus segera kembali untuk menyusul pasukan Gan toako
yang berangkat lebih dulu ke utara.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah berkata demikian, pesuruh Gan Hok Seng itu
segera meloncat kembali ke atas kudanya, ia memang sudah
tidak sabar lagi untuk segera menyusul rombongan
pasukannya karena, kuatir kalau kalau tertinggal. Beginilah
semangat kepahlawanan yang membakar dada setiap
pemuda di waktu itu dan pergi perang menghadapi penjajah
bagi mereka seakan akan pergi menuju ke medan pesta!
Ling In duduk kembali di atas bangkunya dan membuka
surat dari Hok Seng. Dibacanya surat itu dengan berdebar.
“Suci ( Kakak seperguruan ) THIO LING IN, Siauwte ( adik )
mengharap suci takkan terkejut dengan isi surat ini. Siauwte
hendak berterus terang saja dan percayalah bahwa siauwte, juga
Lie Suheng dan kami semua tidak mengandung rasa hati benci
atau mendendam kepada suci karena dapat menduga bahwa
perbuatan suci yang memutuskan hubungan dengan Lie Suheng
dan menikah dengan orang she Wan itu tentu dengan alas an
yang kuat.
Akan tetapi, hendaknya suci maklum bahwa orang yang
bernama Wan Kan dan menjadi suami suci bukan lain adalah
WAN YEN KAN, pangeran BAngsa Kin, musuh bangsa kita
yang kejam dan ganas!
Oleh karena itu, terserah kepada suci hendak bersikap
bagaimana hanya ketahuilah bahwa kami juga Lie suheng,
sekarang berangkat hendak membantu perjuangan rakyat di utara
untuk membebaskan tanh air dan bangsa dari cengkeraman dan
penindasan kaum penjajah!
Harap saja suci insyaf dan dapat mengambil tindakan yang
sesuai sebagai anak murid Hoa san pai yang gagah perkasa !
Tertinggal Hormatnya,
Siauwte GAN HOK SENG
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Membaca surt ini, pucatlah wajah Ling In. Kedua
tangannya gemetar, bibirnya menggigil dan tak terasa pula
surat itu terlepas dari tangannya. Kemudian ia menutup
mukanya dengan kedua tangan dan menangis.
“Kau... kau… Wan yen Kan Pangeran Kin…? Ya Tuhan
Yang Maha Kuasa… bagaimana bisa terjadi hal seperti
ini…?”
Sampai setengah hari Ling In menangis dan segala
pertanyaan ibu dan pamannya tak di jawabnya. Kemudian,
bagaikan seorang gila dan nekad, tanpa mengeluarkan
sepatah kata pun kepada orang serumah, Ling In
membuntal pakaiannya dan pergilah ia meninggalkan
rumahnya. Tekadnya hendak mencari suaminya, hendak
menuntut balas karena suaminya dianggap telah
menipunya, ia akan mencari Wan Kan atau Wan yen Kan,
hendak dibunuhnya, kemudian ia akan membunuh diri
sendiri, karena sesungguhnya ia cinta kepada suami itu,
siapapun juga adanya orang itu!
Ibu dan pamannya hanya saling pandang dengan
bingung dan nyonya Thio hanya bisa menangis dan
mengeluh melihat kepergian puterinya. Akan tetapi ketika
ia mendapatkan surat dari Hok Seng bukan main bingung
dan menyesalnya. Tak disangkanya sama sekali bahwa
mantunya yang kelihatan baik itu adalah pangeran Bangsa
Kin!
Sementara itu, di dalam istana Kaisar Kin terjadi
peristiwa lain lagi, Wan yen Kan ribut mulut dengan
ayahnya.
“Kalau kau ingin mempunyai selir perempuan Han,
tentu saja aku tidak keberatan. Kau boleh mencari beberapa
belas atau beberapa puluh sesukamu. Akan tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membawa seorang perempuan Han ke sini untuk menjadi
isteri tunggal? Tak mungkin!”
“Ayah, aku cinta kepadanya dan aku tidak mau menikah
dengan wanita lain!” bantah Wan yen Kan.
“Bodoh! Karena sejak muda kau merantau dan bergaul
dengan orang orang Han, watak mupun berobah seperti
seorang petani Han! Bangsa Han sedang memberontak dan
merongrong kita, apakah sekarang kau hendak
memasukkan seorang wanita Han sebagai mantuku di sini?
Tidak boleh!”
“Ayah, pemberontakan mereka itu terjadi karena tidak
becusnya para pembesar kita sendiri mengurus pemerintah.
Mereka itu tidak lain merupakan orang orang jahat yang
berselimutkan pangkat, korupsi besar besaran dan memeras
rakyat jelata untuk kantong sendiri. Tidak dapat disalahkan
kepada rakyat yang memberontak begitu saja, karena setiap
pemberontakan tentu ada sebabnya dan selalu yang menjadi
sebabnya adalah penindasan dan pemerasan. Siapa
orangnya takkan memberontak kalau ditindas dan dicekik?
Dari pada menindas mereka yang memberontak untuk
perbaikan nasib, lebih tepat kalau ayah bertindak keras
terhadap para pembesar tukang makan dan mengganti
mereka dengan orang orang yang benar benar jujur dan
tepat.”
“Apa katamu?” kaisar menggebrak meja. Kau membela
kaum pemberontak? Sungguh gila, mana yang lebih gila
dari pada ini? Dan kau adalah pangeran, puteraku, calon
kaisar menggantiku! Terkutuk, agaknya kau telah
kemasukan racun orang orang Han. Lebih baik kau
mampus dalam tanganku !” Kaisar yang marah itu lalu
mencabut pedangnya, akan tetapi permaisurinya atau ibu
dari Wan yen Kan segera mencegah dan menghiburnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dia masih terlalu muda, harap kau suka maafkan dia
dan memberi kesempatan padanya,” kata ibu Wan yen
Kan.
“Bangsat besar!” kaisar memaki maki. “Pendeknya, tidak
boleh dia membawa perempuan Han itu di sini sebagai
isterinya. Kalau sebagai selir, masa bodoh.”
“Dari pada menganggap isteriku sebagai selir, lebih baik
aku pergi dan hidup sebagai seorang petani biasa,” Wan
yen Kan membantah, sedikitpun tidak takut.
“Bangsat tak tahu malu, kalau begitu baik, pergilah!”
Ayahnya menudingkan jarinya mengusir Wan yen Kan
memeluk ibunya lalu berlari keluar. Hatinya sudah tetap. Ia
lebih suka meninggalkan istana ayahnya, meninggalkan
kesempatan menjadi pengganti ayah nya, dari pada harus
merendahkan Ling In sebagai selirnya!
“Setelah keluar dari istana ayahnya, Wan yen Kan lalu
membuang semua pakaian pangeran yang melekat di
tubuhnya dan mengganti dengan pakaian biasa, pakaian
seorang Han! Baiknya semua orang di kota raja sudar
mengenalnya, dan sudah biasa melihat Pangeran Wan yen
Kan berpakaian seperti itu. Mereka menganggap bahwa
pangeran yang pandai dan tinggi kepandaiannya ini tentu
akan bekerja sebagai mata mata, menyelidiki orang orang
Han yang memberontak, maka berpakaian seperti itu.
Kalau saja semua orang tidak mengenal Wan yen Kan,
tentu ia akan dikeroyok dan dibunuh, karena pada waktu
itu, siapa yang tidak membenci orang Han yang telah
menimbulkan pemberontakan di mana mana? Bahkan para
hamba sahaya Bangsa Han yang berada di kota raja,
menjadi manusia setengah binatang, banyak yang dibunuh
oleh orang orang Kin untuk melampiaskan amarah mereka
mendengar betapa orang orang Han memberontak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keputusan hati Wan yen Kan sudah tetap. Ia hendak
pergi ke Biciu dan hidup sebagai suami isteri penuh bahagia
dengan Ling In, isterinya. Bahkan ia hendak mengajak Ling
In pindah jauh ke selatan agar jangan mendengar pula
tentang keributan dan pemberontakan Bangsa Han terhadap
Kerajaan Kin! Ia lalu melakukan perjalanan ke selatan
dengan cepat, tak diperdulikannya keributan dan
pertempuran pertempuran kecil yang selalu ia dengar dan
lihat di sepanjang perjalanannya. Apabila ia ditahan oleh
sepasukan Kin, ia memperlihatkan tanda pengenalnya dan
menyatakan kepada komandan tentara bahwa dia bertugas
menyelidiki ke selatan! Kalau bertemu dengan pasukan
pemberontak, tak seorangpun mencurigainya, karena selain
pakaian yang dipakainya seperti pakaian seorang Han aseli,
juga Wan yen Kan pandai sekali berbahasa Han dengan
lidah yang fasih.
Akan tetapi, dasar memang sudah nasibuya untuk
menghadapi keributan. Pada suatu hari, ia mendengar dari
komandan barisan Kin bahwa tak jauh di sebelah utara
lembah Sungai Huai, terdapat sekelompok barisan
pemberon tak yang dikepalai oleh orang orang Hoa san pai.
Mendengar ini tertariklah hati Wan yen Kan karena ia
teringat bahwa Thio Ling In, isterinya tercinta, juga anak
murid Hoa san pai, juga memperkenalkan nama saudara
saudara seperguruan isterinya, yaitu yang bernama Lie Bu
Tek, Gan Hok Seng, dan Liang Bi Lan.
Dengan hati girang dan besar Wan yen Kan lalu
meninggalkan barisan Kin itu dan dengan tabah menuju ke
tempat di mana pasukan pemberontak berada, ia ingin
sekali bertemu dan berkenalan dengan saudara saudara
seperguruan isterinya!
Ketika ia berjalan di daerah pemberontak itu, seorang
penjaga menegurnya, “Eh, saudara! Di waktu tidak aman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti ini, mengapa kau berjalan enak enak saja? Apakah
kau tidak tahu bahwa barisan Kin yang ganas berada hanya
beberapa li di sebelah utara?”
Wan yen Kan tersenyum. “Tentu saja siauwte tahu akan
hal itu karena siauwtepun mengungsi dari utara. Siauwte
mendengar bahwa pemimpin mu adalah orang orang gagah
dari Hoa san pai, betulkah? Apakah ada yang bernama Gan
Hok Seng dan Lie Bu Tek di sini? Siauwte kenal baik
dengan nama mereka, maka kalau bisa, mohon bertemu
dengan mereka.”
Sikap penjaga itu berobah manis ketika mendengar ini.
“Ah, tidak tahunya siangkong adalah kawan kawan baik
dari Gan piauwsu dan Lie taihiap. Mereka memang berada
di sini, dan kalau kau ingin bertemu datanglah di lembah
sebelah kiri itu, mereka biasanya berada di tempat itu. Aku
tidak dapat mengantar, maaf, karena aku harus menjaga di
sini.”
Wan yen Kan menghaturkan terima kasih dan dengan
girang ia lalu menuju ke tempat yang ditunjuk oleh penjaga
itu. Ia bertemu dengan orang orang yang bersenjata tajam,
sikap mereka gagah dan bersemangat sekali. Diam diam
Wan yen Kan menarik napas panjang dan menyesalkan
kesalahan tindakan dari pemerintahan ayahnya.
Tempat yang ditunjuk oleh penjaga tadi merupakan
sebuah tempat terbuka di mana Gan Hok Seng dan Lie Bu
Tek seringkali mengadakan perundingan dan
membicarakan siasat dengan kawan kawan lain. Pada saat
itu, tempat itu sunyi saja dan ketika Wan yen Kan tiba di
tempat itu, ia memandang ke kanan kiri dengan ragu ragu.
Mengapa tidak ada orang di sini, pikirnya.
Tiba tiba dari balik pohon muncul seorang pemuda yang
gagah perkasa. Pemuda ini adalah Lie Bu Tek yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersikap hati hati dan waspada. Tidak seperti penjaga tadi,
ia selalu bersikap hati hati dan curiga. Biarpun pemuda
yang berdiri di situ terang adalah seorang Han, namun
karena ia belum pernah melihatnya, maka timbul
kecurigaan dalam hatinya.
“Siapa kau dan ada keperluan, apa datang di sini?”
bentaknya.
Wan yen Kan menengok dan ia melihat seorang pemuda
yang memandangnya tajam penuh selidik.
“Siauwte ingin bertemu dengan Lie Bu Tek dan Gan
Hok Seng, anak murid Hoa san pai,” jawabnya.
Makin besar curiga di hati Lie Bu Tek. “Ada keperluan
apakah kau hendak bertemu dengan mereka? Siapakah
kau?”
“Aku bernama Wan Kan, suami dari Biciu Lihiap Thio
Ling In.”
Pucat wajah Lie Bu Tek mendengar ini dan secepat kilat
ia mencabut pedangnya.
“Bagus! Jadi kaukah Wan yen Kan, pangeran Kin yang
terkutuk itu? Hari ini kau berhadapan dengan Lie Bu Tek
jangan harap kau dapat hidup lagi!”
Wan yen Kan kaget bukan main. “Ah, jadi kau adalah
Lie toako? Mengapa kau bersikap begini, Lie toako?
Bukankah isteriku Ling In adalah sumoimu sendiri?
Mengapa kau memusuhi aku?”
“Tutup mulut dan jangan menyebut nyebut nama Ling
In di sini! Kau adalah Wan yen Kan, pangeran musuh yang
sudah mempergunakan kekayaan, ketampanan, dan
kedudukanmu untuk memikat hati sumoi. Oleh karena itu.
kau harus mampus!” Tanpa banyak cakap lagi Lie Bu Tek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lalu menyerang dengan pedangnya menusuk dada pangeran
itu sekuat tenaga.
Wan yen Kan merasa penasaran sekali. Tak pernah
disangkanya suheng dari isterinya akan bersikap begini,
juga ia terkejut sekali karena sedangkan isterinya sendiri
belum tahu akan rahasianya, akan tetapi pemuda ini sudah
tahu dia adalah Wan yen Kan, pangeran Kin. Ini
berbahaya, pikirnya. Kalau para pemberontak tahu bahwa
dia adalah pangeran Kin, tentu sukar baginya untuk
meloloskan diri. Maka iapun cepat mengelak dan mencabut
rantainya.
Lie Bu Tek mendesak terus dan menyerang bertubi tubi
dengan sengit sekali. Inilah orang yang merebut Ling In
dari padanya, orang yang mendatangkan kesengsaraan
batin kepadanya. Ingin ia menembuskan pedangnya di dada
pangeran ini. Akan tetapi ternyata Wanyen Kan amat lihai
dan gerakannya amat cepat sehingga jangankan
mengalahkannya, untuk menghadapi rantai itu saja Lie Bu
Tek merasa sibuk sendiri. Kepandaian Wan yen Kan
memang masih lebih tinggi setingkat dari pada
kepandaiannya sendiri.
“Lie toako, sabar dan tenanglah. Biarpun aku benar
pangeran Kin, akan tetapi aku tidak ikut mencampuri
urusan pemerintahan, bahkan aku bersimpati terhadap
perjuangan para pemberontak.”
“Simpan kata katamu yang memikat. Aku tidak sudi
mendengarnya!” kata Lie Bu Tek yang menyerang terus.
Pertempuran berjalan ramai sekali, namun Wan yen Kan
hanya melayani Bu Tek dengan setengah hati. Ia mainkan
rantai dengan tangan kirinya dan hanya mempergunakan
ginkangnya yang tinggi untuk mengelak dari setiap
serangan Lie Bu Tek yang sedang marah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertempuran itu menarik perhatian orang orang yang
berada di situ dan sebentar saja datanglah para pejuang
menonton pertempuran itu, termasuk Gan Hok Seng yang
berlari lari mendatangi.
“Sute, ini dia si bangsat Wan yen Kan pangeran Kin
itu!”
“Tangkap dia!” teriak Gan Hok Seng marah dan pemuda
inipun lalu menyerbu sambil mainkan sepasang poan koan
pitnya yang lihai.
Wan yen Kan menjadi makin gelisah ia memutar
rantainya untuk menangkis serangan serangan itu dan ia
harus mengerahkan seluruh tenaganya, karena kini yang
mengeroyoknya adalah dua saudara Hoa san pai yang
berilmu tinggi.
Berkali kali ia berseru dengan suara memohon.
“Mengapa jiwi tidak mau mendengarkan kata kataku? Aku
Wan yen Kan biarpun Pangeran Kin, namun tidak
memusuhi rakyat Han, dan jiwi adalah saudara saudara
seperguruan isteriku, aku tidak suka bertanding melawan
jiwi.”
“Bangsat hina dina! Siapa sudi menjadi isterimu?” tiba
tiba terdengar bentakan da seorang wanita muda menyerbu
dengan pedangnya. Wanita ini bukan lain adalah Thio Ling
In sendiri! Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan,
Ling In sedih bukan main menerima surat Gan Hok Seng,
maka iapun lalu menyusul rombongan sutenya itu untuk
membantu perjuangannya.
Kebetulan sekali ketika ia tiba di tempat itu, ia melihat
Wan yen Kan atau suaminya tengah dikeroyok oleh Bu Tek
dan Hok Seng. Melihat Wan yen Kan, kesedihan dan
kemurkaannya memuncak, maka ia lalu menyerbu dan
menusuk ulu hati suaminya dengan pedangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ling In...!” teriakan Wan yen Kan ini penuh dengan
kesedihan dan putus asa. Ia tidak dapat mengelak serangan
isterinya dan bahkan berdiri memandang dengan mata
terbelalak. Ling In ketika melihat wajah suaminya,
lemaslah tubuhnya dan pedangnya yang tadi menusuk ke
arah dada, kini diangkatnya dan hanya melukai pundak
Wan yen Kan.
“Ling in… kau juga sudah tahu ….? Kau mau
membunuhku? Bunuhlah, isteriku … bunuhlah! Untuk apa
hidup di dunia ini bagiku kalau kau sendiripun
membenciku?”
Ling In tak dapat menahan lagi membanjirnya air
matanya.
Suaminya berdiri dengan kepala menunduk dan pundak
berdarah. Bagaimana ia bisa membunuh suaminya ini! Ia
amat mencintanya!
“Bangsat, kau memang harus mampus!” teriak Lie Bu
Tek dan pemuda ini menggerakkan pedang menusuk. Akan
tetapi, tiba tiba Ling In menggerakkan pedangnya pula,
menangkis suhengnya itu.
“Sumoi! Kau melindungi seorang pangeran musuh!”
bentak Bu Tek.
“Sabar, suheng, betapapun juga dia suami dari Suci.”
Hok Seng merasa kasihan kepada Ling In.
“Dia memang suamiku dan dia memang pangeran
musuh! Oleh karena itu tidak lain orang yang boleh
membunuhnya. Aku sendiri yang berhak menamatkan
hidupnya!”
“Bagus, Ling In, isteriku yang baik. Aku pun tidak rela
mati di tangan orang lain. Kecuali kau yang menyerangku,
siapapun juga takkan dapat membunuhku tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
perlawanan mati matian dari padaku,” kata Wan yen Kan
sambil memandang kepada isterinya dengan pandangan
mesra yang menjatuhkan hati Ling In.
“Wan yen Kan, kau sudah mengetahui dosa dosamu,
dosa dosa pemerintahanmu terhadap bangsaku?” tanya
Ling In kepada suaminya sambil menggigit bibir dan
menahan air matanya. Pedangnya menggigil di tangan nya.
Wan yen Kan mengangguk. “Memang kuakui bahwa
pemerintahan ayahku telah berlaku salah.”
“Kalau begitu aku sebagai seorang berjiwa patriot,
seorang anak murid Hoa san pai sejati, hari ini akan
membunuh Pangetan Wan yen Kan, seorang pangeran
Kin!” Kata Ling In sambil menahan air matanya.
“Dan suamimu.” Wan yen Kan memperingatkannya.
“Bukan! Suamiku bernama Wan Kan ia seorang yang
amat baik hati !” jawab Ling In sambil mengangkat
pedangnya.
Terharulah hati Wan yen Kan mendengar ini. Tak terasa
pula air matanya turun membanjir di atas kedua pipinya.
“Ling In… isteriku, kau seorang isteri baik, seorang
pahlawan yang bijaksana… Wan Kan suami mu berterima
kasih kepadamu. Nah, bunuhlah Wan yen Kan putera
kaisar Kin!” Ia mengangkat dadanya. Ling In menusuk,
akan tetapi karena tangan Ling In gemetar dan menggigil,
tusukannya mencong dan tidak tepat menembusi dada,
melainkan melukai dada sebelah kanan, membentur tulang
iga dan menyeleweng ke pinggir sehingga hanya kulit dan
daging dada Wan yen Kan yang terluka hebat. Namun
cukup membuat pangeran itu terjungkal mandi darah.
“Wan Kan...” isak Ling In sambil meramkan matanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu, terdengar sorak sorai hebat dan beberapa
orang pejuang terjungkal dengan punggung tertancap anak
panah. Ternyata bahwa barisan Kin yang amat kuat datang
menyerbu dengan tiba tiba ! Keadaan menjadi kacau balau,
para pejuang melawan mati matian, namun jumlah barisan
musuh lebih besar. Banyak sekali pejuang yang gugur dan
setelah bertempur hebat setengah hari lamanya, akhirnya
semua pemberontak dapat dibasmi. Bu Tek, Hok Seng dan
Ling In terluka dan tertawan! Adapun Wan yen Kan yang
tadinya jatuh pingsan, ditolong oleh komandan pasukan
Kin dibawa bersama semua tawanan ke Cin an!
-oo0dw0oo-
Sebelum kita mengikuti nasib tiga orang murid Hoa san
pai yang tertawan oleh bala tentara Kin, marilah melihat
keadaan Liang Bi Lan yang bersama Tan Seng, Liang Gi
Cinjin, dan Liang Tek Sianseng. menuju ke Go bi san untuk
memberi teguran kepada tokoh tokoh Go bi pai mengenai
perbuatan Bu It Hosiang yang memusuhi mereka dengan
menggunakan orang orang Kin.
Biarpun mereka berempat ini mempergunakan ilmu lari
cepat yang sudah tinggi sekali, namun Go bi san bukanlah
tempat yang dekat dan agaknya perjalanan itu akan makan
waktu berpekan pekan kalau saja tidak kebetulan sekali
mereka bertemu dengan ketua Go bi pai sendiri di tengah
jalan! Kian Wi Taisu, hwesio ketua Go bi pai itu, sambil
membawa tongkatnya yang panjang diikuti oleh murid
muridnya sebanyak tujuh orang diantaranya terdapat Tiauw
It Hosiang.
Ketika melihat rombongan hwesio dari Go bi pai ini,
merahlah wajah Bi Lan dan guru gurunya. Mereka berdiri
tegak di tengah jalan menanti datangnya rombongan hwesio
itu. Kebetulan sekali pertemuan ini terjadi di luar sebuah
dusun yang sunyi sehingga tidak terlihat oleh orang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Siancai… kebetulan sekali!” kata Liang Gi Cinjin
sambil memimpin tiga orang kawannya menjura kepada
rombongan hwesio itu. Akan tetapi Bi Lan tidak mau ikut
menjura karena hati gadis ini sudah marah sekali melihat
rombongan orang orang yang dianggap musuhnya ini.
Kian Wi Taisu dan kawan kawannya ketika melihat
tokoh tokoh Hoa san pai mencegat perjalanan mereka,
mengerutkan kening dan menyangka tak baik. Memang,
orang kalau sudah bermusuhan selalu menyangka buruk
saja kepada lawan.
“Hm, kalau tidak salah lihat mata pinceng yang sudah
lamur ini, pinceng berhadapan dengan tokoh tokoh besar
dari Hoa san pai yang ternama! Liang Gi Cinjin sudah
puluhan tahun kita tak bertemu dan pertemuan pinceng
akhir akhir ini dengan sumoimu Liang Bi Suthai benar
benar tak bisa disebut pertemuan yang menyenangkan.
Sekarang, kau dan kawan kawanmu menghadang
perjalanan pinceng, ada keperluan apakah gerangan?”
Mendengar ucapan ini tak senanglah hati Liang Gi
Cinjin dan adik adiknya. Memang Kian Wi Taisu orang
yang berhati keras dan ucapannya tadi tentu saja tak dapat
dipergunakan sebagai dasar perdamaian. Terutama sekali
bagi Bi Lan yang masih amat muda dan yang merasa sakit
sekali atas kematian gurunya. Liang Bi Suthai. Mendengar
ucapan itu, ia melangkah maju dan menudingkan
telunjuknya yang runcing kecil itu ke arah muka Kian Wi
Taisu.
“Hwesio tua, kau datang datang menyalahkan orang lain
saja! Beberapa tahun yang lalu, muridmu si kepiting gundul
itu mengacau di puncak Hoa san!” Ia menuding ke arah
Tiauw It Hosiang yang memandang marah. “Kemudian
muridmu Bu It Hosiang yang lebih jahat itu mendatangkan
malapetaka kepada kami orang orang Hoa san pai! Kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak menghukum murid muridmu bahkan membela
mereka. Cih! Apakah seorang hwesio tua yang sudah berani
menjadi ketua Go bi pai masih belum dapat mengoreksi
kesalahan sendiri dan menimpakan semua keburukan
kepada orang ain?”
Berdiri sepasang alis hwesio tua itu ketika mendengar
ucapan ini.
“Bagus! Memang tidak mudah mengakui kesalahan
sendiri, termasuk kau bocah murid Hoa san pai yang
sombong! Akan tetapi pinceng tidak ada waktu untuk
melayani orang orang picik semacam kalian. Ada persoalan
yang lebih penting. Minggirlah kalian, jangan mengganggu
perjalanan kami!” Sambil berkata demikian, Kian Wi Taisu
menggerakkan lengan bajunya yang panjang, dikebutkan ke
arah Bi Lan dengan sikap seakan akan orang mengusir
binatang yang mengganggu. Sambaran ujung lengan baju
ini mendatangkan angin pukulan yang kuat sekali dan ketua
Go bi pai itu merasa yakin bahwa sabetan ini tentu akan
membikin kapok anak murid Hoa san pai yang kurang ajar
ini. Akan tetapi bukan main terkejutnya ketika melihat
gadis itu sama sekali tidak mengelak, bahkan berani
menangkis dengan jari jari tangan disabetkan pula.
“Tahan tanganmu!” Kian Wi Taisu berseri kaget karena
ia merasa khawatir kalau kalau jari jari tangan gadis muda
itu akan patah patah tulangnya. Ia memang marah, akan
tetapi ia masih belum begitu kejam untuk melukai gadis
muda ini dengan hebat. Namun teriakannya tidak
dipedulikan oleh Bi Lan dan pertemuan antara ujung lengan
baju dan ujung jari tangan Bi Lan tak dapat dielakkan lagi
“Plak! Breet!!” Bi Lan merasa tangannya kesemutan dan
terpental seperti tertotok oleh tenaga yang amat kuat akan
tetapi sebaliknya air muka Kian Wi Taisu berubah ketika
kakek ini melihat betapa ujung lengan bajunya telah robek!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kurang ajar!” bentaknya dan tongkat di tangannya
tergetar. “Bocah Hoa san pai, apa sih kehendakmu maka
kau berani mengganggu pinceng?”
Bi Lan tersenyum, sikapnya tenang akan tetapi
menantang sekali.
“Kian Wi Taisu, aku akan selalu menghormat orang
orang tua, akan tetapi kalau dia benar. Kau tanya apa
kehendakku atau kehendak kami orang orang Hoa san pai?
Kami menghendaki perdamaian, sama sekali kami bukan
tukang tukang pukul yang suka mencari perkara. Akan
tetapi, karena muridmu Bu It Hosiang amat jahat
bersekongkol dengan pemerintah Kin dan menyerbu Hoa
san pai sehingga guruku Liang Bi Suthai sampai tewas,
kuharap kau segera menghukum muridmu itu!”
“Bohong! Tak mungkin muridku bersekongkol dengan
pemerintah Kin!” bentak Kian Wi Taisu marah sekali,
“Hati hati kau dengan mulutmu, bocah lancang. Kami
orang orang Go bi pai turun gunung hanya untuk
membantu perjuangan rakyat, melawan pemerintah Kin,
dan kau sekarang berani sekali menuduh murid Go bi pai
bersekongkol dengan pemerintah Kin?”
Bi Lan tertawa, Tan Seng tersenyum sindir lalu berkata,
“Kian Wi Taisu, lebih baik buktikan dulu sebelum kau
menyangkal. Untuk apakah kami berdusta?”
“Kalian selalu membusukkan nama kami. Siapa mau
percaya? Minggirlah dan jangan mengganggu pinceng lebih
lama lagi!” bentak Kian Wi Taisu makin marah.
Akan tetapi Bi Lan sudah mencabut pedangnya dan
gadis ini menghadang di jalan sambil berkata, “Sebelum
kau berjanji hendak menghukum Bu It Hosiang dan minta
maaf kepada guru guruku, jangan harap akan dapat lewat!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Muka Kian Wi Taisu yang sudah keriputan itu sebentar
merah sebentar pucat saking marahnya. Untuk sejenak ia
tidak dapat berkata apa apa, kemudian ia membentak.
“Kalau begitu, kalian mencari binasa!” Tongkatnya yang
besar dan panjang itu bergerak cepat sekali menghantam ke
depan, akan tetapi karena ia tidak tega untuk membunuh
orang begitu saja, pukulannya ini bukan diarahkan kepada
Bi Lan, melainkan diarahkan kepada sebuah batu besar
yang berada di dekat Bi Lan. Terdengar suara keras dan
batu itu pecah menjadi dua, debu mengebul dan tanah,
yang diinjak oleh Bi Lan tergetar!
Dengan demonstrasi ini Kian Wi Taisu hendak memberi
peringatan kepada orang orang Hoa san pai agar menjadi
jerih dan tidak mengganggunya lagi. Akan tetapi Bi Lan
tersenyum mengejek dan berkata memanaskan hati,
“Siapa sih yang takut menghadapi tongkat!”
Kini Kian Wi Taisu tak dapat menahan marahnya dan ia
lalu memutar tongkatnya, mendorong ke arah dada Bi Lan.
Gadis ini telah waspada dan sekali menggerakkan tubuhnya
yang ringan, serangan ini dapat digagalkan. Sebelum Kian
Wi Taisu menarik kembali tongkatnya, Bi Lan sudah
mendahuluinya, membalas dengan tusukan pedangnya.
Gerakannya tidak kalah kuat dan cepatnya sehingga diam
diam ketua Go bi pai terkejut sekali. Agaknya tak mungkin
anak murid Hoa san pai memiliki kecepatan seperti itu. Ia
lalu menangkis dengan pengerahan tenaga sekuatnya
namun ternyata pedang di tangan gadis itu tidak dapat
dibikin terlepas, bahkan dalam beradu senjata ini, Bi Lan
nampaknya enak saja mainkan pedangnya terus
diluncurkan menusuk kembali ke arah tenggorokannya!
Tahulah kini Kian Wi Taisu bahwa gadis ini memiliki
kepandaian yang lebih tinggi dari pada tokoh tokoh Hoa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
san pai. Ia pernah menyaksikan kepandaian Liang Bi
Suthai, maka tanpa ragu ragu lagi ia lalu mengeluarkan
ilmu tongkatnya yang hebat, menyerang bagaikan taufan
mengamuk. Bi Lan mengimbanginya dan gadis ini lalu
mainkan Ilmu Pedang Thian te Kiam hoat yang ia pelajari
dari Thian Te Siang mo.
Menghadapi permainan pedang ini, Kian Wi Taisu
tercencang. Ia sudah pernah menyaksikan ilmu pedang Hoa
san pai yang gerakannya seperti kembang teratai dan
sinarnya bundar dan cepat sekali gerakannya serta kuat
dalam daya bertahan. Akan tetapi ilmu pedang gadis ini
gerakannya seperti kilat menyambar nyambar, dari atas dan
bawah, sukar sekali ditahan! Ia terkejut sekali dan setelah
mengerahkan kepandaian sampai belasan jurus, ia menjadi
makin kaget karena gerakan pedang ini mengingatkan ia
akan ilmu pedang yang pernah ia lihat dimainkan oleh Te
Lo mo, orang ke dua dari Thian Te Siang mo yang lihai.
“Tahan dulu!” bentaknya sambil meloncat mundur.
“Hm, ada apa Kian Wi Taisu? Apakah kau jerih
menghadapi pedangku?”
“Bocah sombong! Kau mainkan ilmu pedang apakah?
Bukan Hoa san Kiam hoat yang kau mainkan, dan kalau
tidak salah kau mainkan ilmu pedang dari iblis tua Te Lo
mo! Ada hubungan apakah kau dengan Thian Te Siang
mo?”
Bi Lan tersenyum mengejek. “Thian Te Siang mo adalah
guru guruku, akan tetapi pada saat ini aku adalah anak
murid Hoa san pai yang membela nama baik Hoa san pai!”
“Bagus, tidak tahunya Hoa san pai sudah berhubungan
pula dengan orang orang jahat seperti Thian Te Siang mo!
Kini pinceng tidak ragu ragu lagi untuk membasmi kalian!”
Kembali Kian Wi Taisu menyerang Bi Lan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tongkatnya dan mereka bertempur lagi makin hebat dan
seru.
Karena maklum akan kelihaian Kian Wi Taisu, Tan
Seng tidak tega melihat cucu angkatnya melayani hwesio
ini seorang diri, maka ia lalu menyerbu dan membantu
cucunya ini sambil mainkan sepasang lengan bajunya yang
lihai.
Adapun para murid Kian Wi Taisu yang dikepalai oleh
Tiauw It Hosiang ketika melihat guru mereka dikeroyok
dua lalu berseru keras dan menyerbu, disambut oleh Liang
Gi Cinjin dan Liang Tek Sianseng, Liang Gi Cinjin, seperti
Tan Seng, mainkan sepasang lengan bajunya, adapun Liang
Tek Sianseng telah mengeluarkan sepasang poan koan pit,
senjatanya yang berupa alat tulis sederhana namun yang
amat lihai itu. Karena tingkat kepandaian adik adik
seperguruan Tiauw It Hosiang tidak begitu tinggi, maka
pertempuran ini berlangsung ramai sekali. Yang paling seru
adalah pertempuran antara Kian Wi Taisu yang dikeroyok
oleh Bi Lan dan Tan Seng. Biarpun ilmu silat yang dimiliki
oleh Bi Lan pada waktu itu sudah amat tinggi dan jauh
lebih tinggi dari kepandaian Tan Seng sendiri, namun
menghadapi Kian Wi Taisu gadis ini masih belum mampu
mendesaknya, sungguhpun bagi Kian Wi Taisu juga bukan
merupakan pekerjaan ringan untuk memecahkan sinar
pedang sadis itu yang benar benar lihai ilmu pedangnya.
Adapun Tan Seng, biarpun membantu sekuat tenaga,
namun ia tidak banyak berdaya, bahkan ia harus selalu
menghindarkan diri dari sambaran tongkat Kian Wi Taisu
yang amat berbahaya itu.
Pada saat pertempuran sedang berjalan seru serunya, tiba
tiba berkelebat bayangan orang yang segera berseru keras,
“Cuwi sekalian, harap menghentikan pertempuran yang
tidak ada artinya dan merugikan ini!” Seruan ini amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nyaring sehingga berpengaruh sekali dan otomatis mereka
yang bertempur meloncat mundur dan memandang.
Diantara semua orang yang berada di situ hanya Bi Lan
yang mengenal baik pemuda yang baru datang ini. Pemuda
ini bukan lain adalah Ciang Le yang datang sambil
mengempit tubuh seorang hwesio dan ketika semua orang
memperhatikan, ternyata bahwa hwesio itu adalah Bu It
Hosiang!
Sebelum semua orang sempat bertanya, Kian Wi Taisu
tentu saja menjadi marah sekali dan salah duga. Ia
menduga bahwa pemuda ini tentulah kawan dari orang
orang Hoa san pai buktinya datang datang membawa tubuh
muridnya yang agaknya berada dalam keadaan tertotok dan
tidak berdaya. Maka sambil berseru marah, ia mengayun
tongkatnya mengemplang kepala Ciang Le sekuat tenaga!
Semua orang terkejut, terutama sekali Bi Lan karena gadis
ini yang sudah tahu akan kelihaian tongkat itu, melihat
betapa serangan itu benar benar berbahaya sekali dan ia
berada di tempat agak jauh, tak berdaya menolong pemuda
itu. Lebih lebih kagetnya ketika ia melihat Ciang Le
mengangkat tangan kirinya menangkis tongkat tanpa
melepaskan kempitan tangan kanannya pada tubuh hwesio
Go bi pai yang dibawanya tadi.
Akan tetapi, tangan pemuda itu sama sekali tidak
menjadi remuk terkena kemplangan tongkat hebat tadi,
karena ternyata bahwa Ciang Le sama sekali tidak hendak
menangkis, melainkan menerima tongkat itu dengan
telapak tangannya. Kian Wi Taisu merasa betapa
tongkatnya bertemu dengan sesuatu yang lunak dan secara
aneh sekali tenaga kemplangannya tadi lenyap dan kini
tongkat itu terpegang oleh Ciang Le! Kian Wi Taisu marah
membetot tongkatnya, namun tak dapat terlepas dari
pegangan anak muda yang berbaju kembang ini!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kian Wi Taisu, sabar dan tenanglah. Siauwte datang
sama sekali bukan membawa maksud buruk.” Sambil
berkata demikian, pemuda ini melepaskan tongkat yang
dipegangnya, lalu ia melepaskan tubuh Bu It Hosiang dari
pengaruh tiam hoat (ilmu totok).
Bu It Hosiang buru buru menghampiri Kian Wi Taisu
dan menjatuhkan diri berlutut dengan muka merah dan
wajah gelisah sekali. Pemuda baju kembang itu lalu
berpaling kepada tokoh tokoh Hoa san pai, mengerling ke
arah Bi Lan sambil tersenyum, kemudian berkata, “Siauwte
maklum mengapa cuwi datang dan bertempur melawan
Kian Wi Taisu, karena siauwte telah mendengar semua dari
Bu It Hosiang ini. Akan tetapi, agaknya dugaan cuwi
terlampau jauh. Betapapun bodoh dan tidak baik perbuatan
yang telah dilakukan oleh Bu It Hosiang, namun dia
bukanlah seorang pengkhianat bangsa. Dia tidak sengaja
hendak membantu orang orang Kin, semata mata karena
merasa sakit hati dan hendak membalas dendam kepada
cuwi dari Hoa san pai. Betapapun bodohnya, ia bukan
seorang pengkhianat dan karenanya, siauwte berpendapat
bahwa pertikaian antara Hoa san pai dan Go bi pai tak
perlu dilanjutkan secara berlarut larut.”
Tokoh tokoh Hoa san pai mendengar ucapan ini
mengerutkan kening. Bagaimana mereka dapat
menghabiskan permusuhan itu begitu saja kalau Kian Wi
Taisu bersikap seperti tadi dan Liang Bi Suthai sudah
menjadi korban? Hanya Tan Seng yang memandang kepada
pemuda itu bagaikan telah berobah menjadi patung batu,
mulut ternganga mata terbelalak, tak kuasa mengeluarkan
suara sedikitpun. Hatinya bimbang ragu dan dadanya
berombak, menahan detak jantungnya yang berdebar debar.
Akan tetapi pemuda itu tidak menanti jawaban mereka,
ia telah berpaling kepada Kian Wi Taisu dan berkata, “Kian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wi Taisu, terus terang saja siauwte nyatakan bahwa dalam
hal keributan kali ini, fihakmu yang salah. Kesalahan ini
ditimbulkan oleh Bu It Hosiang yang secara pengecut tidak
berani membalas dendam sendiri terhadap Hoa san pai
sebaliknya membawa bawa orang Kin sehingga ia kelihatan
seperti seorang yang telah bersekongkol dengan pemerintah
Kin. Oleh karenanya, kalau kau suka minta maaf kepada
fihak Hoa san pai serta suka menghukum muridmu Bu It
Hosiang, kiraku persoalan ini dapat dibikin beres sampai di
sini saja.”
“Enak saja kau bicara!” tiba tiba Bi Lan membentak
pemuda itu. “Kali ini kau salah besar, kawan! Guruku
Liang Bi Suthai telah tewas gara gara perbuatan Bu It
Hosiang yang pengecut ini, dan kami sengaja mencari Kian
Wi Taisu untuk menegurnya, akan tetapi kami bahkan
disambut dengan tongkatnya! Bagaimana kami orang orang
Hoa san pai mudah saja dihina oleh orang orang Go bi
pai?”
Adapun Kian Wi Taisu yang mendengar tentang sepak
terjang muridnya, menjadi pucat mukanya. Ia membentak
Bu It Hosiang, “Bangsat rendah! Coba katakan, betulkah
bahwa kau telah membawa orang orang Kin untuk
menyerbu Hoa san pai seperti yang diceritakan oleh anak
muda ini.”
Dengan suara gemetar Bu It Hosiang berkata, “Betul,
suhu dan teeeu mohon maaf sebanyaknya.”
Kian Wi Taisu tidak berkata apa apa, akan tetapi tiba
tiba kakinya menendang sehingga tubuh Bu It Hosiang yang
berlutut di depannya itu mencelat sampai jauh dan
menggelinding bergulingan. Kian Wi Taisu masih belum
puas. Sekali melompat ia telah berada di dekat muridnya ini
dan ia mengangkat tongkatnya, dipukulkan ke arah kepala
Bu It Hosiang!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, tiba tiba tongkatnya itu berhenti gerakannya
karena tertahan oleh tangan dari belakangnya. Ia merasa
heran sekali akan kekuatan tangan yang menahan
tongkatnya itu dan ketika ia menengok ke belakang,
ternyata bahwa yang menahannya itu adalah pemuda baju
kembang tadi!
“Kian Wi Taisu, kiranya tak perlu menurutkan nafsu
amarah! Memang muridmu telah bersalah, akan tetapi
kesalahannya itu sebenarnya tidak besar. Sudah lajimnya
kalau diantara orang kang ouw balas membalas sakit hati
karena kekalahannya. Kesalahannya karena ia minta
bantuan orang orang Kin dan ini dilakukan di luar
kesadarannya, ia amat bodoh sehingga tidak tahu bahwa
orang orang Kin adalah penindas rakyat yang tidak boleh
didekati. Aku sendiri sudah banyak memberi ingat
kepadanya dan kalau kiranya siauwte tidak melihat bahwa
dia masih bisa diperbaiki, untuk apa siauwte jauh jauh
membawanya ke sini? Ampunkanlah dia, taisu, dan
habiskanlah permusuhanmu dengan Hoa san pai!”
“Eh, anak muda. Kau siapakah maka begitu berlaku
lancang dan bermulut besar memberi nasihat kepada
pinceng? Kau murid siapa dan datang dari partai mana?”
tanya Kian Wi Taisu yang merasa lebih heran dari pada
marah kepada pemuda aneh ini.
“Siapa adanya siauwte kiranya tak perlu dipersoalkan.
Siauwte orang biasa saja.”
“Dia murid Thian Te Siang mo, masih pernah suhengku
juga, suhengku yang murtad!” tiba tiba Bi Lan berkata
mengejek.
“Tak mungkin murid Thian Te Siang mo!” kata Kian Wi
Taisu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le tersenyum. “Sudah kukatakan tadi, siapa
adanya aku, tak ada harganya untuk dibicarakan. Sekarang
yang penting membicarakan tentang pertikaian antara dua
fihak.” Ia memandang tajam kepada Bi Lan.
“Sumoi… atau kalau kau lebih suka ku sebut nona…
Nona, harap kau bersabar dan tidak menurutkan nafsu hati
seperti ketua Go bi pai. Juga cuwi sekalian, harap sudi
mendengarkan kata kataku. Cuwi sekalian mengerti bahwa
pada waktu ini, rakyat kita di utara sedang dalam
penindasan pemerintah Kin dan sedang memberontak
memperjuangkan perbaikan nasib. Sudah menjadi tugas
kewajiban orang orang gagah di dunia untuk membela dan
membantu perjuangan mereka itu. Akan tetapi, apakah
yang dilakukan oleh orang orang gagah Hoa san pai dan Go
bi pai? Saling gigit dan saling cakar! Cuwi sekalian,
perjuangan rakyat menghadapi penjajahan dan penindas
termasuk dalam sejarah yang takkan lenyap selama dunia
berkembang! Sukakah cu wi sekalian kalau kelak tercatat
dalam sejarah bahwa Go bi pai dan Hoa san pai yang besar
itu di waktu rakyat berjuang tidak membantu bahkan
menimbulkan kekacauan dengan saling bertempur sendiri?”
“Kita bukan orang macam itu!” seru Bi Lan membantah
keras “Ketahuilah, he, orang sombong, bahwa kami juga
membantu perjuangau para patriot! Bahkan saudara
saudara seperguruanku masih berjuang bahu membahu
dengan rakyat pada saat ini dan kamipun menunda bantuan
kami hanya untuk menghajar adat kepada orang orang Go
bi pai!”
“Pinceng juga turun gunung bersama murid murid untuk
membantu perjuangan rakyat!” Kian Wi Taisu membantah
keras.
Ciang Le tersenyum. “Bagus sekali kalau begitu, akan
tetapi mengapa perjuangan suci dikotori oleh keributan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saling menyerang sendiri karena urusan tetek bengek?
Tanah air membutuhkan tenaga kita, mengapa tenaga kita
bahkan saling bertumbuk dan melemahkan kedudukan
sendiri? Bukankah ada peribahasa yang menyatakan bahwa
bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh? Oleh karena itu,
dari pada tenaga kita dipergunakan untuk saling gempur,
bukankah lebih baik dipersatukan untuk menggempur
musuh?”
Terpukul hati semua orang mendengar omongan ini.
Kian Wi Taisu mengangguk anggukkan kepalanya dan
memandang kagum.
“Kau benar sekali, anak muda.”
“Memang begitulah seharusnya,” kata pula Liang Gi
Cinjin, “kalau saja Kian Wi Taisu mau mengakui kesalahan
muridnya, kamipun tak ingin membikin panjang urusan
ini.”
“Bagus!” kata Ciang Le girang. “Memang, kesalahan
seorang anggauta Go bi pai saja tidak seharusnya
membakar seluruh partai yang akan membikin kedua partai
selamanya turun temurun bermusuhan.”
Kian Wi Taisu lalu berpaling kepada Bu It Hosiang.
“Manusia sesat! Mulai sekarang, kau kuturunkan
kedudukanmu menjadi penjaga pintu dan tukang
membersihkan halaman kelenteng, selama lima tahun! Dan
awas sekali lagi kau menyeleweng, aku takkan
mengampunkan nyawamu lagi.”
“Teecu menerima salah,” kata Bu It Hosiang.
“Nah, pulanglah ke Go bi san dan jagalah kelenteng di
sana, pinceng dan yang lain lain hendak membantu
perjuangan rakyat.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalau boleh, teecu mohon ikut untuk membantu dan
menebus dosa,” kata Bu It Hosiang.
“Tidak bisa, kau akan mengotori perjuangan,” kata Kian
Wi Taisu dengan kukuh dan keras. Dengan hati hancur dan
malu sekali, Bu It Hosiang lalu berlutut dan pergi dari situ
tanpa menoleh lagi, menuju ke Go bi san.
Kemudian Kian Wi Taisu lalu memandangi kepada
Ciang Le dengan tajam.
“Anak muda, sebelum kita berpisah, ingin pinceng
mengetahui namamu untuk diingat ingat, karena jarang
sekali bertemu dengan seorang muda seperti kau.”
“Siauwte bernama Go Ciang Le...” kata pemuda itu
sambil menjura dengan hormat.
“Terima kasih, selamat berpisah, cuwi sekalian,” kata
pendeta tua itu sambil menyeret tongkatnya dan pergi dari
situ, diikuti oleh semua muridnya.
Adapun Tan Seng yang semenjak tadi berdiri seperti
patung dan penuh dugaan dalam hatinya melihat bahwa
pakaian berkembang yang dipakai oleh Ciang Le adalah
pakaian dari mantunya, yakni Go Sik An, ketika
mendengar pemuda itu mengakui namanya kepada Kian
Wi Taisu, seketika menjadi pucat dan tubuhnya menggigil.
Akan tetapi ia masih dapat mempertahankan diri. Setelah
rombongan Go bi pai pergi, barulah ia berlari maju
menghampiri Ciang Le.
“Kau … Ciang Le…??” Kakek ini memandang dan
kedua tangannya dibentangkan, mukanya yang keriputan
ini basah oleh air matanya yang mengalir turun.
Tentu saja Ciang Le yang tidak mengenalnya,
memandang bingung, pemuda ini dahulu hanya diberitahu
oleh Thian Te Siang mo bahwa dia adalah putera dari Go
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sik An yang tewas bersama isterinya oleh Bangsa Kin.
Thian Te Siang mo sama sekali tidak pernah menceritakan
tentang Tan Seng atau orang orang lain. Maka tentu saja ia
tidak kenal kepada kakek ini dan melihat sikap kakek ini,
Ciang Le menjadi bingung sekali.
“Ada apakah lo enghiong ....” tanyanya, karena
sepanjang pengetahuannya, Tan Seng hanyalah seorang
diantara tokoh tokoh Hoa san pai.
“Ciang Le… cucuku...” Hanya demikian saja Tan Seng
dapat berkata dan ia segera merangkul pemuda itu. Ciang
Le mendengar semua ini menjadi makin terheran dan ia
memandang ke arah tokoh tokoh Hoa san pai yang lainnya,
yaitu Liang Gi Cinjin dan Liang Tek Sianseng, yang hanya
berdiri sambil menundukkan muka, nampaknya terharu
sekali. Ketika Ciang Le melirik ke arah Bi Lan, bukan main
kagetnya karena gadis itu memandangnya dan matanya
bercucuran air mata!
Ketika Ciang Le menatap wajah gadis itu dengan alis
terangkat, penuh pertanyaan, Liang Bi Lan berkata diantara
isaknya, “Dia adalah kong kongmu, ayah dari mendiang
ibumu...”
Bukan main girang dan terharunya hati Ciang Le
sungguhpun ia masih bingung karena kenyataan yang tiba
tiba ini. Ia lalu melepaskan pelukan Tan Seng dan
menjatuhkan diri berlutut.
“Kong kong...” katanya perlahan.
Tan Seng dapat menguasai hatinya dan ia mengangkat
bangun pemuda itu dan memandanginya ke seluruh
tubuhnya dengan hati besar dan girang sekali.
“Ciang Le, kau tentu bingung menghadapi semua ini
kalau tidak melihat baju ayah mu yang kaupakai ini......
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
baju kematiannya ........ akupun mungkin tidak percaya
bahwa cucuku telah menjadi seorang pemuda yang gagah
seperti engkau ini .....” kata Tan Seng dan kakek ini lalu
menceritakan betapa dahulu ketika ibu Ciang Le bersama
dia dan ayah Bi Lan berusaha memampas jenasah Go Sik
An yang digantung. Ciang Le yang masih orok itu
ditinggalkan dan kemudian lenyap diculik oleh Thian te
Siang mo!
Terharu sekali hati Ciang Le mendengar ini, terutama
sekali mendengar betapa ayah Bi Lan juga tewas karena
berkorban membela ayah bundanya. Ia mengerling ke arah
Bi Lan yang masih merah matanya karena terharu, dan
menangis itu, lalu berkata perlahan, “Adik Bi Lan,
mendiang ayahmu besar sekali jasanya dan aku patut
menghaturkan terima kasihku kepadamu.” Pemuda ini lalu
berlutut di depan Bi Lan! Tentu saja gadis itu menjadi
gugup sekali dan cepat cepat ia lalu menyingkir, tidak mau
menerima penghormatan sebesar itu.
“Tidak, tidak! Ciang Le jangan kau menghaturkan
terima kasih kepadaku. Kalau tidak ada… kong kong, eh…
kong kong mu ini… yang merawatku semenjak kecil, entah
apa jadinya dengan diriku...”
Tan Seng berkata, “Bangunlah, Ciang Le, tidak perlu
banyak sungkan terhadap orang sendiri. Bi Lan telah kuaku
menjadi cucuku sendiri dan. … memang ia patut menjadi
cucuku yang baik!”
Pada saat itu, Liang Gi Cinjin mendapat pikiran baik
sekali. Ia melangkah maju mendekati Tan Seng dan berbisik
sebentar di telinga sutenya ini. Tan Seng mendengarkan dan
seketika mukanya berseri dan mulutnya tersenyum biarpun
pipinya masih basah oleh air mata tangisnya tadi!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bagus, terima kasih, suheng, memang pikiran itu sudah
ada dalam pikiranku semenjak aku mendapat harapan
bahwa Ciang Le masih hidup!” Ia lalu menengok kepada
Ciang Le dan Bi Lan yang memandang kepada orang orang
tua itu dengan penuh dugaan.
“Ciang Le, dan kau Bi Lan. Pertemuan ini sudah
dikehendaki oleh Thian dan inilah saatnya pula aku orang
tua menyampaikan hasrat hatiku yang disokong pula oleh
suhengku. Kalian berdua adalah anak anak yatim piatu dan
orang tuamu hanyalah aku seorang. Oleh karena itu,
sekarang juga kunyatakan bahwa kalian akan menjadi
suami isteri, atau tegasnya aku menjodohkan kalian satu
kepada yang lain!”
Liang Gi Cinjin dan Liang Tek Sianseng tersenyum
mendengar omongan ini, akan tetapi akibatnya membuat
dua orang muda itu menjadi merah mukanya sampai ke
telinga.
Akan tetapi, sungguh mengherankan semua orang ketika
tiba tiba Bi Lan menangis dan di dalam tangisnya itu ia
berkata, “Tidak ...! Tidak…! Tak mungkin....!”
Setelah berkata demikian, gadis ini lalu meloncat pergi
dan berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu. Sebentar
saja ia telah menghilang ke arah timur.
Sebelum tiga orang tokoh Hoa san pai itu dapat berkata
kata, Ciang Le mendahului mereka.
“Kong kong, bagaimana aku bisa bicara tentang
perjodohan dalam masa seperti ini? Kematian ayah bunda
belum terbalas, tentara penjajah belum terusir, perjuangan
bangsa belum selesai, bagaimana bicara tentang jodoh? Aku
tidak mau menikah sebelum selesai tugas itu? Maaf dan
selamat tinggal!” Pemuda inipun meloncat dan sekejap saja
lenyap pula menyusul Bi Lan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Seng dan dua orang suhengnya menarik napas
panjang. Terdengar Liang Gi Tojin berkata, “Begitulah
orang orang muda. Penuh semangat dan berdarah panas!
Tidak apa, sute. Jangan gelisah, urusan ini dapat
dilanjutkan kelak. Lebih baik kita sekarang menyusul murid
murid kita, karena Bi Lan tentu juga menyusul Hok Seng
dan Bu Tek untuk membantu mereka. Adapun tentang
pemuda cucumu itu. Tan sute, tak usah dikawatirkan.
Kulihat ilmu kepandaiannya bahkan lebih tinggi dari Bi
Lan. Tentu kelak kita akan dapat bertemu dengan dia
kembali !”
Tan Seng menghela napas dan ia tak dapat berbuat
sesuatu kecuali menurut kehendak suhengnya.
Demikianlah, tiga orang tokoh Hoa san pai inipun lalu
turun dari tempat itu, pergi ke medan perjuangan
membantu para patriot yang sedang berjuang mengusir
penjajah Kin yang memeras rakyat jelata.
Bi Lan berlari cepat sekali, bagaikan seekor rusa betina
muda yang berlari lari lincah melawan tiupan angin.
Tubuhnya meluncur cepat sehingga seandainya ada orang
dusun atau petani melihatnya, tentu orang ini hanya
melihat berkelebatnya bayangan saja. Ia mempergunakan
ilmu lari cepat Liok te Hui teng (Terbang di Atas Bumi)
yang ia pelajari dari Thian Te Siang mo. Guru gurunya
sendiri, tokoh tokoh Hoa san pai, agaknya takkan dapat
mengimbangi kecepatan larinya ini.
Setelah berlari setengah hari lamanya tanpa mengurangi
kecepatan dan merasa bahwa kini ia telah berada jauh sekali
dari guru gurunya dan dari pemuda baju kembang itu, Bi
Lan lalu duduk di atas rumput, di tempat yang teduh di
pinggir hutan, untuk beristirahat. Lelah juga rasanya setelah
berlari larian setengah hari lamanya itu dan bukan main
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
segar dan enaknya ditiup angin hutan yang sejuk. Bi Lan
mengeluarkan saputangannya dan menghapus butir butiran
peluh yang membasahi jidat dan lehernya. Pipinya kemerah
merahan dan matanya berseri, tidak hanya karena habis
berlari cepat, akan tetapi terutama sekali karena teringat
akan kata kata Tan Seng tentang perjodohan itu. Tiap kali
ia teringat akan ucapan kakek angkatnya, pipinya menjadi
merah lagi dan hatinya berdebar tidak karuan. Ia tidak tahu
bagaimana perasaan hatinya pada waktu itu, ada girang,
ada marah, malu, penasaran, juga bingung dan gugup, amat
gugup sehingga kalau teringat, berkali kali ia menghapus
jidatnya yang sudah kering tak berpeluh itu dengan
saputangannya.
Ia akui bahwa Ciang Le amat tampan dan gagah, lebih
tampan dan gagah dari pada suhengnya Lie Bu Tek dan
Gan Hok Seng, dan sikapnya lemah lembut, halus dan
sopan pula. Ia tahu bahwa kepadaian Ciang Le dalam ilmu
silat cukup tinggi, barang kali tidak kalah olehnya sendiri,
walaupun tidak setinggi kepandaian orang yang telah
menolongnya dan menolong guru gurunya keluar dari
tahanan ! Tentu saja gadis ini juga para tokoh Hoa san pai,
tidak pernah mengira bahwa orang yang berkepandaian
tinggi dan yang menolong mereka itu bukan lain adalah
Ciang Le sendiri, karena pemuda itu memang tidak
membicarakan hal itu.
Akan tetapi, sungguhpun Ciang Le cukup tampan,
gagah, dan pandai, bagaimana ia bisa menjadi isterinya? Ia
telah berjanji kepada guru gurunya, Thian Te Siang mo,
untuk memberi “hajaran” kepada Go Ciang Le, murid
Thian Te Siang mo yang dianggap murtad dan khianat itu!
Bagaimanakah pertanggungan jawabnya terhadap dua
orang gurunya itu kalau kelak mereka ketahui bahwa ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukan ia bukan memberi “hajaran”, bahkan menjadi isteri
dari Ciang Le?
Pikiran ini membuatnya pening dan siliran angin yang
sejuk membuat ia mengantuk sekali dan sebentar kemudian,
tanpa terasa lagi Liang Bi Lan telah tertidur pulas di atas
rumput itu, bersandarkan batang pohon!
Bi Lan memang cantik sekali, apalagi bersandar pada
pohon dalam keadaan tertidur, di tempat yang sunyi dan
indah. Ia benar benar seperti seorang bidadari yang
tertinggal oleh kawan kawannya yang telah terbang kembali
ke sorga setelah turun dan bermain main di hutan.
Wajahnya yang manis dan berkulit putih itu nampak nyata
dengan kulit batang pohon yang hitam kecoklatan di
belakangnya. Tubuhnys yang ramping dan penuh sempurna
bentuknya nampak indah sekali bersandar pada batang
pohon yang lembam dan kasar. Rambutnya yang digelung
ke atas, agak terlepas dan segumpal rambut tertiup angin
melambai lambai menyapu jidat dan pipinya. Entah berapa
lama ia tertidur, Bi Lan tak dapat ingat lagi. Ia sadar ketika
mendengar suara orang dan ketika ia membuka matanya, ia
melihat seorang laki laki tinggi besar seperti raksasa yang
berwajah menakutkan, tengah berdiri bertolak pinggang
menghadapi Ciang Le yang sikapnya tenang seperti biasa!
Saking heran dan terkejutnya, Bi Lan hanya bisa duduk dan
memandang kepada mereka.
“Ha, ha, ha, orang muda yang masih hijau! Kau lebih
baik menyingkir pergi, jangan kau menanti sampai aku Tiat
pi him (Biruang Lengan Besi) menjadi marah!” kata laki
laki tinggi besar itu sambil matanya melirik lirik penuh
gairah kepada Bi Lan.
“Kaulah yang harus pergi dari sini, orang tak tahu
aturan,” kata Ciang Le dengan suara tenang. “Tak pantas
sekali seorang laki laki berdiri melihat seorang gadis yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tak dikenalnya sedang tidur seorang diri. Sungguh kau tak
tahu malu!”
Orang itu tertawa dan suaranya menyeramkan sekali,
seperti gerengan seekor biruang tulen.
“Pemuda gila! Kau tidak tahu dengan siapa kau
berhadapan! Kalau hatiku tak sedang gembira menemukan
bunga indah di hutan sunyi ini, tentu kau takkan bisa
berpanjang cerita lagi, sudah tadi tadi kau kupecahkan
kepalamu!” Kemudian sikapnya berobah dan wajahnya
beringas ketika ia memandang kepada Ciang Le dengan
penuh kecurigaan “Eh, bangsat, apakah kau juga tertarik
kepada bunga itu? Awas, dia punyaku, kau lekas pergi!”
“Manusia kasar! Jangan persamakan aku dengan
manusia berhati binatang seperti engkau! Kau
mengandalkan namamu sebagai Biruang Berlengan Besi,
hendak kurasakan sampai di mana kerasnya tanganmu!”
Orang itu tertawa lagi dan karena ia sedang bertolak
pinggang, maka kepalanya doyong ke belakang dan
wajahnya menengadah ketika ia tertawa bergelak itu.
“Lucu, lucu! Seekor kelinci menantang biruang! Ha, ha,
ha! Kau menantang berkelahi. Sekali pukul saja, remuk
dadamu, bocah!”
“Benarkah? Coba kita saling pukul satu kali saja dan
hendak kulihat siapa yang akan patah patah tulangnya,”
jawab Ciang Le.
0ooodwooo0
Jilid XIII
MELIHAT sikap Ciang Le orang itu makin geli. “Boleh,
boleh! Siapa akan memukul lebih dulu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sesukamulah. kalau kau kehendaki, kau boleh
memukul dadaku satu kali lebih dulu,” jawab Ciang Le.
Orang itu tersenyum senyum, mengeluarkan suara haha
hehe dengan muka geli sekali merasa menghadapi seorang
pemuda yang sudah miring otaknya.
“Tidak bisa, kalau kau kupukul dulu lalu mampus,
bagaimana aku dapat merasakan empuknya tanganmu yang
berkulit halus itu? Kau boleh pukul dulu, tidak satu kali,
akan tetapi sepuluh kali, kemudian aku ikan membalas
sekali saja untuk memecahkan dadamu!” Sambil berkata
demikian, Tiat pi him berdiri dengan kedua kaki dipentang
lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan dadanya
melembung karena diisi hawa untuk siap menerima
pukulan Ciang Le.
Melihat sikap orang itu, diam diam Bi Lan merasa geli
sekali. Tadinya ia telah marah sekali dan ingin meloncat
dan menghajar orang kurang ajar itu, akan tetapi melihat
sikap Ciang Le, ia tahu bahwa pemuda itu hendak
mempermainkan raksasa ini, maka tanpa terasa, gadis ini
menggunakan tangan kiri untuk menutupi mulutnya agar ia
tidak tertawa geli.
Adapun Ciang Le lalu memasang kuda kuda dan kedua
tangannya dengan jari tangan terbuka lalu menebak ke arah
dada yang melembung itu. perlahan sekali.
“Terimalah pukulanku!” katanya. Kedua tangannya
jatuh di dada itu perlahan dan tidak mengeluarkan suara,
seakan akan menepuk biasa saja dan orang tinggi besar itu
tidak merasa sesuatu, maka ia tertawa bergolak!
“Hayo pukul lagi, sembilan kali lagipun boleh!” katanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Cukup, satu kali saja sudah cukup. Dadamu terlalu
keras hingga tanganku terasa sakit!” kata Ciang Le sambil
meringis seperti orang merasa sakit.
Tiat pi him benar benar seorang tolol yang tidak tahu
diri. Ia tertawa bergelak sampai keluar air matanya, lalu
berkata, “Bocah gila, aku kasihan kepadamu. Melihat nona
manis itu, biar aku beri ampun kepadamu. Ini bukan
waktunya bagiku untuk membunuh orang, hatiku sedang
gembira mendapat kawan cantik jelita,” katanya sambil
melirik ke arah Bi Lan, seakan akan hendak memamerkan
bahwa dia adalah seorang yang baik hati.
“Tidak bisa begitu, kau harus membalas memukulku.
Kalau tidak, aku belum mau mengaku kalah dan tidak akan
membiarkan kau berlaku kurang ajar terhadap nona itu.”
jawab Ciang Le.
Marahlah Tiat pi him. “Kau minta mampus? Nah,
terimalah pukulan ini!” Setelah berkata demikian, raksasa
ini lalu mengayun kepalan tangan kanannya ke arah dada
Ciang Le sekuat tenaga.
“Buk!” Aneh sekali akibatnya! Bukan tubuh Ciang Le
yang terlempar atau pecah dadanya, melainkan orang tinggi
besar itu yang menjerit kesakitan sambil memegangi dada
nya.
“Aduh… aduh…. mati aku..... aduhh....!” jeritnya sambil
berdiri dan jongkok, bagaikan dikeroyok semut berbisa. Ia
merasa dadanya sakit sekali, terutama di mana tadi kedua
tangan pemuda itu menepuknya dan ketika ia meraba,
ternyata tulang tulang iganya terasa sakit luar biasa! Mana
orang kasar itu tahu bahwa tadi Ciang Le telah
menggunakan ilmu pukulan yang disebut coh kut ciang,
(pukulan melepaskan tulang) yang dilakukan dengan tenaga
lweekang secara luar biasa disertai pengetahuan luas sekali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentang duduknya tulang dan urat tubuh lawan. Maka,
tanpa terasa, oleh Tiat pi him, tepukan kedua tangannya
pada dada lawan tadi telah membuat tulang tulang iga Tiat
pi him terlepas sambungannya. Hal ini tidak terasa dan
mungkin akan dapat pulih kembali kalau orang kasar ini
lalu beristirahat dan tidak mempergunakan tenaga kasar.
Akan tetapi ketika ia memukul dada Ciang Le yang tidak
terasa oleh pemuda sakti ini, ia menggunakan tenaga
gwakang sekuatnya dan karenanya, tulang tulang iganya
banyak yang copot sambungannya!
Tiat pi him si raksasa kasar itu hendak melarikan diri,
akan tetapi Ciang Le berkata,..
“Kalau kau pergi membawa luka lukamu itu, kau akan
mampus dalam waktu sehari semalam!”
Mendengar ini, Tiat pi him menjadi pucat dan rasa sakit
itu makin menghebat. Pada saat itu, ia membelalakkan
kedua matanya karena terkejut melihat betapa gadis cantik
manis, yang tadi duduk tertidur, kini sekali tubuhnya
bergerak, gadis itu telah melompat tinggi di atas kepalanya
dan sebelum hilang kagetnya, kaki Bi Lan telah menendang
kepalannya!
Tiat pi him merasa seakan akan kepalanya disambar
petir. Tubuhnya terputar putar dan ia roboh dengan napas
empas empis, akan tetapi ia masih dapat melihat tegas
betapa gadis itu kini berdiri sambil bertolak pinggang di
depannya, ia diam diam mengeluh. Celaka hari ini ia benar
benar sial. Tidak saja bertemu dengan pemuda aneh ini,
bahkan gadis yang hendak diganggunya itupun memiliki
kepandaian yang demikian hebatnya! Ia tidak punya
harapan untuk lolos lagi.
“Anjing macam kau harus dibunuh!” terdengar suara
gadis itu memakinya dan sekali lagi Bi Lan menggerakkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kakinya. Akan tetapi pemuda itu berkata, “Jangan bunuh
dia! Dosanya belum begitu besar untuk dibunuh, bahkan
seharusnya kau menyembuhkan luka di tulang iganya!”
Mendengar ini, Bi Lan tidak perduli dan tetap
menendang sampai tujuh kali ke arah dada kanan kiri
raksasa itu. Ciang Le tersenyum senang, ia maklum, bahwa
yang dilakukan oleh gadis itu bukanlah tendangan biasa
saja melainkan tendangan berdasarkan ilmu Ciang siang ci
twi hwat (Ilmu Tendangan Untuk Mengobati Luka Bekas
Pukulan Tangan) yang lihai dan yang hanya dimiliki oleh
Thian Lo mo!
Biarpun kini di luar pengetahuannya, tulang tulang
iganya telah kembali di tempatnya dan nyawanya tertolong,
namun rasa sakit makin menghebat sehingga Tiat pi him
berkuik kuik seperti anjing disiram air panas.
“Aduh… ampunkan hamba, taihiap dan lihiap… hamba
Kwan Sam berjanji tak berani berlaku kurang ajar lagi....”
ratapnya.
“Pergilah, dan biarlah pelajaran ini menginsyafkan kau.
Perbuatan jahat di manapun juga pasti akan membawamu
ke bencana. Nyawamu tertolong oleh tendangan tadi.”
Girang hati Tiat pi him Kwan Sam mendengar ini, maka
ia lalu berdiri sambil meringis ringis dan berjalan terhuyung
huyung pergi dari tempat itu.
Ciang Le membalikkan tubuh memandang kepada Bi
Lan. Gadis itupun tengah memandangnya dan dua pasang
mata bertemu sebentar.
“Sumoi…”
“Aku bukan sumoimu, karena kau tidak diakui lagi oleh
suhu!” potong gadis itu dengan ketus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le menarik napas panjang dan mengganti
panggilannya, “Adik Bi Lan....”
“Sejak kapan aku menjadi adikmu? Kong kongmu
bukanlah kong kongku, aku hanya cucu angkat saja,
seorang sebatangkara….”
Ciang Le menjadi bingung.
“Kalau begitu, kau memang bukan sumoi atau adikku,
kau adalah... calon jodoh ku…. betul tidak, Lan moi….?”
“Cih! Siapa bilang? Sudahlah jangan banyak cakap, kau
menyusulku ada keperluan apakah?”
Ciang Le makin gugup melihat sikap ketus dan galak ini,
akan tetapi dalam pandangannya, gadis ini makin manis
kalau sedang marah marah.
“Lan moi aku bukan menyusulmu, hanya kebetulan saja
kita bertemu di sini, kebetulan sekali karena..karena aku
memang ingin menyampaikan sedikit perasaan hatiku
kepadamu. Orang tuamu telah melepas budi,
mengorbankan nyawa untuk membela orang tua ku, hal ini
saja sudah membuat aku berterima kasih kepada ayahmu
dan kepadamu, dan aku berjanji untuk membalas kebaikan
ini sedapat mungkin. Oleh karena itu, terus terang saja,
aku.. aku merasa bahagia sekali ketika tadi kong kong
menyatakan perjodohan kita.. “
“Cukup! Jangan bicara tentang jodoh, siapa sudi menjadi
jodohmu?”
Pucat wajah Ciang Le mendengar kata kata ini. Ia
memandang tajam untuk menyelidiki perasaan hati gadis
itu, rupa rupa dugaan timbul dalam otaknya. Apakah gadis
ini telah mempunyai seorang pilihan? Akan tetapi Bi Lan
tidak mau bertemu pandang secara langsung dengan dia,
bahkan pipinya menjadi kemerahan dan bibirnya gemetar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Lan moi, mengapa kau agaknya.... membenci sangat
kepadaku? Apa salahku? Melihat betapa kau masih dapat
mengampunkan penjahat tadi dan menolong nyawanya
setelah ia bersikap kurang ajar kepadamu, nyata bahwa kau
baik budi dan murah hati. Akan tetapi kepadaku….
agaknya kau lebih membenci aku dari penjahat tadi.
Kenapakah? Apakah urusan perjodohan ini menyakiti
hatimu? Kalau demikian, terus terang sajalah Lan moi, aku
dapat minta kong kong membatalkan niatnya itu.”
Suara Ciang Le yang tenang, penuh kehalusan budi dan
mengharukan itu, membuat Bi Lan terharu juga. Sukar
baginya untuk mengeluarkan kata kata, karena ia sendiri
sebetulnya bukan benci kepada pemuda ini, juga tidak sakit
hatinya mendengar tentang perjodohan itu. Akan tetapi….
“Kau telah mengkhianati suhu, telah meninggalkan
mereka dan menjadi murid murtad.” Ketika Ciang Le
hendak membantah, Bi Lan tahu bahwa pemuda itu seperti
dulu tentu akan memperingatkan kepadanya bahwa dia
sendiri sebagai murid Hoa san pai juga telah berguru
kepada orang lain, maka ia cepat cepat menyambung kata
katanya. “Betapapun juga kedua guruku Thian Te Siang mo
yang mengangapnya begitu. Dan aku sebagai murid mereka
telah dipesan kalau bertemu denganmu harus
memusuhimu, kalau dapat memberi hajaran kepadamu.
Kedua suhu amat sakit hati kepadamu Nah, kalau sudah
begini soalnya, bagai mana aku bisa..... bisa menjadi….
jodohmu?”
Berserilah wajah Ciang Le mendengar ini. Ah, pikirnya
dalam hati, tak tahunya gadis ini tidak membenciku,
agaknya iapun suka kepadaku, hanya saja, ia mengerti
bahwa tentu Bi Lan takut akan kemarahan Thian Te Siang
mo kalau sampai menjadi jodohnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Terima kasih atas keteranganmu ini, Lan moi. Baiklah,
aku akan mencari kedua suhu itu dan akan minta ampun.
Aku semenjak masih orok mereka pelihara dan urus, aku
tahu betul bahwa di dalam dada mereka tersembunyi hati
yang amat baik, sungguhpun mereka menjalani cara hidup
liar. Aku percaya dan sudah kenal kepada mereka, pasti
mereka suka memberi ampun kepadaku. Setelah kedua
orang tua itu mau memberi ampun kepadaku kau.... kau
tentu takkan keberatan lagi, bukan?”
“Keberatan untuk apa? Apa maksudmu?” tanya Bi Lan
dan bibirnya tersenynm mengejek, penuh godaan.
Ciang Le menjadi merah mukanya dan untuk sesaat ia
bingung tak tahu harus menjawab bagaimana.
“Untuk… untuk …. melanjutkan perjodohan ini
tentunya.” Akhirnya dapat juga ia bicara.
Bi Lan mengerling dengan gaya menarik sekali lalu
melempar pandang ke samping dan mukanya menjadi
makin merah.
“Soal itu ..... bagaimana nanti sajalah. Pertama kau
belum mendapat ampun dari ke dua suhu dan ke dua ..
aku masih belum tahu di mana tingginya ilmu
kepandaianmu. Menurut suhu Thian Te Siang mo, setelah
aku mempelajari ilmu silat yane mereka ciptakan baru baru
ini, kepandaianku lebih tinggi dari pada kepandaianmu.
Maka syarat ke dua.....” wajahnya makin merah lagi ketika
mengucapkan kata kata syarat ini, “kau harus dapat
mengalahkan pedangku!”
“Lan moi….!”
“Cukup! Bukan untukmu saja syarat itu? melainkan aku
sudah mengambil keputusan takkan sudi menjadi jodoh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang yang ilmu silatnya tak dapat mengalahkan
kepandaianku.”
“Lan moi........ kau benar benar keras hati, Lan moi.”
“Dan pula.... jangan kau memanggil aku Lan moi seperti
itu!”
“Habis bagaimana? Kau boleh dibilang masih sumoiku
sendiri, juga mendiang ayahmu adalah suheng mendiang
ibuku dan kau diangkat cucu oleh kong kongku pula.
Akhirnya…. kau dicalonkan menjadi jodohku! Syaratnya
sudah terlalu penuh untuk membolehkan aku menyebutmu
Lan moi! Apa sih jeleknya sebutan ini?”
“Bukan sebutannya, bukan panggilannya....”
“Habis, apanya?”
“Cara kau menyebutkan itu… suaramu itu…”
“Mengapa?”
“Terlalu… mesra!”
“Eh, eh! Bagaimana pula ini?”
'“Kalau terdengar orang lain kurang pantas, seakan akan
diantara kita ada apa apanya!”
Ciang Le tersenyum dan matanya bersinar sinar jenaka.
“Bukankah memang ada… apa apanya, Lan moi?” kini
suaranya ketika memanggil nama gadis itu mesra sekali!
“Cih...! Tak tahu malu!” kata Bi Lan dengan muka
merengut dan gadis ini lalu melompat pergi dan berlari
cepat dengan hati.... berdebar girang dan penuh
kebahagiaan yang ia sendiri tidak mengerti dari mana
datangnya Ciang Le tertawa bergelak dan tidak mengejar.
Ia tahu ke mana gadis itu hendak pergi ke mana lagi kalau
bukan ke daerah utara untuk membahu perjuangan saudara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saudaranya? Iapun lalu berlari cepat menuju ke kota raja
Kerajaan Kin. Hatinya penuh dengan kebahagiaan dan
kerinduan dan ia berlari sambil melamun muluk muluk
tentang Bi Lan, gadis yang begitu bertemu telah menarik
seluruh jiwa dan hatinya itu.
-oodwoo-
Kini kembali kita melihat keadaan Thio Ling In, Lie Bu
Tek, dan Gan Hok Seng, murid murid Hoa san pai yang
tertawan oleh pasukan Kin. Sebagaimana telah dituturkan
di bagian depan, tiga orang murid Hoa san pai ini pada saat
menyerang Wan yen Kan di dalam hutan tiba tiba datang
serbuan dari tentara Kin yang membuat kawan kawannya
banyak yang tewas dan mereka sendiri tertawan.
Mereka dibawa ke kota Cin an dan sesampainya di sana,
mereka dimasukkan ke dalam kamar tahanan secara
terpisah. Enghiong Hwee koan, rumah perkumpulan orang
gagah yang didirikan oleh Sam Thai Koksu memang amat
luas dan mempunyai banyak sekali kamar kamar tahanan
yang kuat.
Ketika Ling In siuman dari pingsannya, wanita muda ini
teringat akan semua kejadian dan ia menangis sedih sekali.
Ia tidak menyesal dan sedikitpun tidak takut bahwa dia
telah tertawan oleh musuh. Kematian bukan apa apa bagi
orang orang gagah yang berjiwa pahlawan, bahkan tewas
dalam perjuangan berarti mati secara terhormat. Akan
tetapi kalau nyonya muda ini mengingat kembali betapa ia
telah menusuk dada suaminya yang tercinta, kalau
terbayang kembali dalam ingatannya betapa Wan Kan yang
amat dikasihinya itu menggeletak dengan dada berlumur
darah karena ia tusuk, hatinya menjadi perih sekali.
“Wan Kan... Wan Kan suamiku ... ampunkan aku....”
keluhnya berkali kali dan ia menggunakan kedua tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menutupi mukanya agar bayangan tubuh suaminya
yang menggeletak mandi darah itu lenyap dari depan
matanya. Namun, makin jelaslah barangan itu sehingga hati
nyonya muda ini makin perih dan sakit.
Ling In dikurung di dalam sebuah kamar yang gelap.
Penerangan yang masuk hanyalah cahaya matahari yang di
antara celah celah ruji besi dari pintu yang tebal dan kuat
itu. Kedua kakinya dibelenggu oleh rantai yang kuat dan
panjang, dimatikan oleh kunci baja yang besar. Tiada
harapan baginya untuk melepaskan diri. Biarpun kedua
tangannya bebas namun bagaimana ia dapat membuka
kunci itu tanpa anak kunci? Juga tidak mungkin
memutuskan rantai besi yang demikian tebalnya. Andaikata
ia dapat melepaskan diri dari belenggu kakinya, juga tak
mungkin ia dapat membuka pintu setebal itu. Keadaannya
sudah tidak ada harapan lagi.
Selagi Ling In merenung dan mengeluh mengabungi
kematian suaminya yang dibunuhnya sendiri, suaminya
yang amat dicintainya itu, tiba tiba terdengar bunyi pintu
bergerit dan perlahan lahan terbukalah pintu itu. Saat itu
telah menjelang malam dan cahaya matahari yang tadi
mencuri masuk telah terganti oleh cahaya lampu di luar
kamar tahanan. Ketika pintu tahanan terbuka
mengeluarkan suara bergerit, cahaya lampu ikut masuk
mengantar bayangan sesosok tubuh manusia.
Ling In cepat mengangkat muka dan kedua, tangannya
siap sedia. Ia tahu akan kejahatan orang orang Kin, tahu
akan kebuasan laki laki dan tahu pula akan nasib
mengerikan dari tawanan wanita. Namun ia bukan
sembarang wanita yang mudah dipermainkan sesukanya
oleh siapa pun juga. Lebih baik mati dari pada
dipermainkan oleh penawannya dan ia masih mempunyai
sepasang tangan yang lihai yang sekali pukul akan dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meremukkan benak laki laki yang hendak mengganggunya,
ia mengira bahwa yang datang tentulah penjaga yang
bermaksud tidak baik terhadap dirinya. Maka ia berjaga
jaga penuh ketegangan.
Bayangan itu benar seorang laki laki yang cepat masuk
ke dalam dan menutupkan kembali, daun pintu cepat cepat.
Di dalam gelap, Ling In tidak dapat melihat muka laki laki
ini, akan tetapi potongan tubuhnya mengingatkan ia akan
seseorang dan ia bergidik kengerian. Kemudian, laki laki itu
melangkah maju sehingga mukanya tersorot oleh sinar
lampu dari luar. Ling In mendekap mulut sendiri agar tidak
mengeluarkan jerit saking ngerinya.
“Ling In, isteriku.......” bayangan itu berkata dengan
suara penuh kasih sayang, suara yang dikenalnya baik baik
di antara seribu macam suara orang lain. Kalau tadinya
masih ragu ragu, kini Ling In yakin bahwa yang berdiri di
hadapannya adalah suaminya, Wan Kan! Atau lebih tepat,
roh dari suaminya yang sudah mati dibunuhnya itu.
Sambil menahan isak tangisnya, Ling In menjatuhkan
diri berlutut di depan bayangan itu.
“Suamiku, aku tahu kau mati penasaran karena terbunuh
oleh isteri yang kaucinta sepenuh jiwamu. Aku mengaku
telah berdosa besar sekali, suamiku… akan tetapi itu adalah
dorongan tugas suci membela bangsaku....! Sekarang kau
datang… untuk membawaku kah? Jangan lama lama, Wan
Kan, bawalah aku serta. Aku ikut padamu, Wan Kan.....
aku ingin mati bersamamu. Mari kita bertiga meninggalkan
dunia yang kejam ini” kata nya di antara isak tangisnya.
“Bertiga! Apa maksudmu, Ling In?”
“Ya… bertiga bersama… anak kita yang berada dalam
kandunganku....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bayangan itu terkejut sekali.
“Kau sudah mengandung….? ?” suaranya terdengar
penuh perasaan menggetar terharu.
“Dua bulan sudah aku mengandung…. tadinya hendak
kusembunyikan sebagai rahasia yang membahagiakan ......
tidak tahunya kau ...... kau berobah menjadi pangeran
Kin…. terpaksa kubunuh ....” Ling In tak dapat
melanjutkan kata katanya dan menangis tersedu sedu.
“Aduh, Ling In isteriku yang manis…!” Bayangan itu
meloncat maju, mengangkat tubuh Ling In dan
memeluknya erat erat, “Isteriku….” katanya berkali kali.
Ling In merasa tubuhnya dingin dan bulu tengkuknya
berdiri, kemudian ia menggigil. Bagaimana seorang roh
atau makhluk halus bisa memeluk begini mesra? Bagaimana
ia masih dapat merasakan getaran kedua lengan suaminya,
detak jantung di balik baju dan kehangatan jari jari tangan
yang membelai rambutnya? Tak mungkin sekali!
“Isteriku, aku… suamimu, Wan Kan ..... masih hidup.
Aku tahu bahwa kau mencintaku bahwa kau takkan dapat
membunuhku, aku tahu sejak kumelihat kau menyerangku
dengan pedangmu, Ling In.”
“Wan Kan… jadi kau belum... belum mati?”
Wan Kan mencium jidat isterinya penuh kasih sayang.
“Sedikit saja selisihnya, ibu anakku. Selisihnya Thian
menghendaki kita tetap hidup untuk mengasuh anak kita.
Mari, cepat, kubukakan belenggu kakimu.” Tanpa banyak
cakap lagi Wan yen Kan atau Wan Kan lalu menggunakan
anak kunci membuka belenggu kaki isterinya. Kemudian ia
lalu menarik tangan isterinya itu, dibawa keluar dan dengan
tergesa gesa mereka lalu menolong dan mengeluarkan Lie
Bu Tek dan Gan Hok Seng dari kamar tahanan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan penuh keheranan namun kekaguman Lie Bu Tek
dan Gan Hok Seng melihat bekas musuhnya ini diam diam
mereka merasa terharu juga melihat kesetiaan dan
kecintaan Wan Kan kepada Ling In.
“Lekas kalian lari! Sudah kuatur bahwa penjagaan pintu
kota sebelah selatan dikosongkan pada saat ini. Cepat!”
kata Wan Kan.
“Kau harus pergi bersamaku!” kata Ling In.
“Sst, jangan ribut ribut, isteriku. Pergilah kau dengan
kawanmu, aku akan menyusul kemudian.”
“Tidak, mati hidup aku harus berada di sampingmu!”
Ling In berkukuh sambil membanting kakinya dan berdiri
di samping suaminya yang tercinta.
Wan yen Kan memeluk isterinya, penuh rasa bahagia
dan terima kasih.
“Isteriku, kali ini harap kau jangan ragu ragu dan
membandal. Larilah lebih dulu, bagiku mudah saja untuk
pergi dan menyelamatkan diri. Yang penting kau dan
saudara saudaramu ini yang harus pergi dulu. Cepat,
mereka datang .......!” Katanya sambil melepaskan pelukan.
“Suci, marilah kita pergi dulu. Suamimu tentu sudah
mengatur dan merencanakan semua dengan sempurna!”
kata Gan Hok Seng sambil meloncat ke arah selatan
bersama Lie Bu Tek.
Beberapa kali Ling In ragu ragu dan menoleh ke arah
suaminya, akan tetapi Bu dan Hok Seng menarik
tangannya.
“Wan Kan… suamiku....” bisiknya.
“Pergilah, Ling In. Tuhan bersamamu dan anak kita…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambil menahan isaknya, Ling In meloncat pergi
bersama kedua saudara seperguruannya. Belum lama
mereka pergi, terdengar suara ribut ribut di belakang
mereka, dari arah tempat mereka ditahan tadi. Hati Ling In
tidak karuan rasanya, mengkhawatirkan keadaan suaminya,
akan tetapi Bu Tek dan Hok Seng menghiburnya,
mengatakan bahwa sebagai pangeran Kin, Wan Kan pasti
akan selamat dan tidak ada orang yang berani
mengganggunya. Benar seperti yang dinyatakan oleh Wan
Kan, pintu kota bagian selatan ini hanya terjaga oleh dua
orang saja. Dua orang penjaga ini tentu saja mencoba untuk
menghalangi mereka keluar, namun apa artinya dua orang
penjaga yang kasar bagi murid murid Hoa san pai? Sekali
terjang saja Bu Tek dan Hok Seng dapat merobohkan
mereka dan berlarilah tiga orang murid Hoa san pai ini
cepat cepat memasuki hutan.
Adapun Wan yen Kan setelah berhasil melepaskan isteri
dan saudara saudara seperguruan isterinya, cepat kembali
ke kamar istirahatnya sendiri. Pangeran ini seperti diketahui
telah menderita luka tusukan pedang isterinya akan tetapi
karena tubuhnya kuat dan luka itu hanya luka di daging
saja, maka setelah tertolong dan dibawa ke kota Cin an dan
mendapat perawatan teliti sekali segera sembuh kembali. Ia
amat cinta kepada Ling In, maka sebelum ia berhasil
menolong isterinya, ia gelisah bukan main dan sikap
isterinya yang memusuhinya jauh lebih menyakitkan hati
dari pada pedang yang menyakiti tubuhnya. Akan tetapi
sekarang ia merasa bahagia sekali. Ternyata isterinya amat
mencintanya pula, bahkan isterinya telah mengandung!
Akan tetapi ia tidak tahu bahwa malapetaka tergantung
di atas kepalanya. Perbuatannya menolong para tawanan
tadi terlihat oleh seorang penjaga! Tentu saja penjaga ini
merasa heran sekali melihat betapa Pangeran Wan yen Kan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menolong dan membebaskan para tawanan pada hal ia
mendengar betapa pangeran itu hampir terbunuh oleh para
tawanan itu! Akan tetapi sebagai seorang penjaga biasa,
mana berani ia menegur atau menghalang apa yang
dilakukan oleh seorang pangeran yang berkuasa? Dengan
cepat penjaga ini lalu berlari lari ke tempat di mana Sam
Thai Koksu tinggal dan menggedor pintu pemimpin
pemimpin ini. Dengan tersengal sengal ia menceritakan apa
yang dilihatnya.
Sam Thai Koksu marah sekali. Orang orang besar ini
sudah mendengar peristiwa di kota raja, yakni tentang
percekcokan antara sri baginda raja dan Pangeran Wan yen
Kan sehingga pangeran itu diusir oleh baginda. Namun
tentu saja berita ini ditutup rapat rapat dan tidak tersiar di
kalangan pegawai rendah dan rakyat. Hal ini untuk
menjaga nama baik kaisar. Amat memalukan kalau
terdengar orang bahwa pangeran Kin tergila gila dan
hendak memperisteri seorang perempuan Han!
Kini mendengar betapa Wan yen Kan melepaskan para
tawanan, mereka menjadi marah, tak pernah disangkanya
bahwa perempuan Han yang ditawan itu adalah isteri Wan
yen Kan dan kini mereka hanya mengira bahwa Wan yen
Kan benar benar berkhianat terhadap pemerintah Kin.
Bersama dengan Giok Seng Cu yang kebetulan berada di
situ, Sam Thai Koksu menyerbu kamar Wan yen Kan.
Dengan sekali tendang saja, robohlah pintu kamar Wan
yen Kan oleh Tiat Liong Hoat ong, orang ke tiga dari Sam
Thai Koksu. Memang di antara mereka. Tiat liong Hoat
ong yang paling marah dan sakit hati atas perbuatan
pangeran ini. Seandainya yang dilepaskan oleh Wan yen
Kan bukan Ling In, agaknya ia masih takkan semarah itu.
Dalam hal ini ada rahasia yang hanya diketahui oleh Tiat
Liong Hoat ong, yakni bahwa diam diam ia amat tertarik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
oleh Ling In yang cantik jelita dan diam diam ia
mengandung maksud untuk mengganggu wanita muda
cantik ini!
Wan yen Kan terkejut sekali memandang pintu
kamarnya jebol. Cepat ia melompat dan mempersiapkan
senjata rantainya. Ketika dilihatnya Sam Thai Koksu dan
Giok Seng Cu murid Pak Hong Siansu yang muncul dengan
maka marah, ia dapat menduga bahwa tentu perbuatannya
telah ketahuan orang. Ia tetap berlaku tenang dan
melompat turun dari pembaringannya.
“Sam Thai Koksu dan Giok Seng Cu To tiang malam
malam datang menggedor pintu ada apakah?” tanyanya.
“Pengkhianat!” Tiat Liong Hoat ong memaki sambil
mencabut goloknya dan menudingkan golok itu kepada
Wan yen Kan. “Masih banyak tanya lagi? Kau telah
melepaskan para tawanan pemberontak, bukankah ini
berarti bahwa kau juga menjadi pemberontak dan
pengkhianat!”
“Tiat Liong Hoat ong, kau hanya seorang koksu berani
berkata demikian terhadap putera kaisar junjunganmu?”
Wan yen Kan balas membentak ketika melihat betapa Kim
Liong Hoat ong dan Gin Liong Hoat ong juga Giok Seng
Cu agaknya masih malu malu dan ragu ragu
memandangnya, karena mengingat berhadapan dengan
seorang pangeran. Pemuda ini hendak mempergunakan
kedudukannya untuk menggertak dan membela diri.
“Biarpun kau seorang pangeran, namun kau telah
berkhianat dan setiap orang pengkhianat harus dibunuh!
Kau telah berlaku khianat, melepaskan tawanan tawanan
pemberontak berbahaya, apakah itu belum cukup?”
“Semua perbuatanku kalian tak berhak mencampuri!
Kalau aku bersalah, biar ayah kaisar sendiri yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memutuskan hukumannya, tidak orang orang seperti
kalian. Keluar dari sini!”
Kim Liong Hoat ong, Gin Liong Hoat ong dan Giok
Seng Cu saling pandang dengan ragu ragu. Mereka masih
sangsi untuk turun tangan terhadap Pangeran Wan yen
Kan. Akan tetapi Tiat Liong Hoat ong berseru marah.
“Hukuman terhadap seorang pengkhianat tak perlu
menanti keputusan kaisar! Kami sendiri berhak
menghukummu!” Setelah berkata demikian, ia
menggerakkan goloknya hendak menyerang.
Wan yen Kan menangkis dan berseru, “Setidaknya
tunggu kalau suhu sudah pulang.”
Ucapan ini membikin empat orang tua itu makin ragu
ragu. Pangeran ini adalah murid dari Ba Mau Hoatsu yang
datang dari Tibet khusus untuk membantu mereka, dan
kalau sampai mereka turun tangan terhadap muridnya.
Apakah Ba Mau Hoatsu tidak akan marah? Juga Tiat Liong
Hoat ong merasa ragu ragu dan menahan goloknya.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Wan yen Kan untuk
menerobos lewat dan keluar dari kamarnya yang sempit. Ia
pikir kalau harus bertempur, lebih tidak memilih ruangan
depan yang lega agar ia mendapat kesempatan melarikan
diri.
Akan tetapi empat orang itu cepat mengejarnya dan baru
saja Wan yen Kan tiba di ruangan depan ia telah dihadang
oleh empat orang ini “Kau hendak lari ke mana?” bentak
Tiat Liong Hoat ong.
“Siapa mau lari? Aku memilih tempat luas ini agar dapat
melayani kalian orang orang yang berlaku kurang ajar
terhadap seorang putera kaisar!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kim Li mg Hoat ong kini membuka mulutnya. “Siauw
ong ya, harap kau tidak salah faham. Sungguhpun Tiat
Liong Hoat ong bersikap kasar terhadap siauw ong ya,
namun tentu kau dapat memaklumi hal ini. Kau telah
membebaskan tiga orang tahanan pemberontak dan tentu
siauw ong ya mengerti bahwa mereka adalah murid murid
Hoa san pai yang berbahaya. Kalau bukan Siauw ong ya
yang melakukan hal ini, tentu kami sudah turun tangan dan
membunuhmu tanpa banyak cakap lagi. Akan tetapi dalam
hal ini kami harap siauw ong ya suka mengalah dan
menyerah. Kami akan menangkapmu dan selanjutnya akan
kami serahkan kepada suhumu dan juga kepada kaisar
sendiri.”
Mereka semua tidak tahu bahwa baru saja ada bayangan
yang luar biasa cepat gerakannya melayang di atas genteng
dan kini bayangan ini mendengarkan percakapan mereka
dengan penuh perhatian. Dan bayangan ini bukan lain
adalah Go Ciang Le yang tiba di Cin an lebih dulu karena
ia mempergunakan jalan lain dari Bi Lan dan ilmu lari
cepatnya juga jauh lebih menang. Kini ia mendengarkan
dengan heran dan penuh perhatian percekcokan antara
orang orang Kin ini.
Wan yen Kan tahu bahwa kalau ia menyerah dan
ditawan, maka keputusan hukuman yang akan dijatuhkan
oleh ayahnya sendiri tentulah hukuman mati! Juga ia sudah
mengenal watak suhunya, yang keras dan sombong. Tentu
suhunya akan merasa tersinggung dan malu mendengar
akan perbuatannya dan dari fihak gurunya, sukarlah
diharapkan pertolongan. Maka ia berlaku nekad dan
berkata dengan keras, “Sam Thai Koksu, dengarlah baik
baik! Wanita murid Hoa san pai yang kalian tawan itu
kubebaskan tadi, bukan lain adalah isteriku sendiri! Dan
dua orang lain adalah saudara seperguruannya. Bagaimana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aku tega melihat isteri sendiri dan saudara saudaranya akan
dihukum mati? Aku tahu bahwa memang dipandang dari
sudut kebangsaan, aku telah berlaku khianat, akan tetapi
dipandang dari sudut perikemanusiaan, kalian tentu tahu
bahwa aku tak dapat berbuat lain. Sekarang terserah kepada
kalian, kalau kalian melepaskan aku, aku akan pergi ke
selatan dan takkan kembali lagi, tak sudi memusingkan diri
dengan urusan pemerintahan dan peperangan. Kalau kalian
memaksa hendak menawanku, majulah dan biar aku
melawan dengan napas terakhir!”
Mendengar pengakuan ini, Sam Thai Koksu dan Giok
Seng Cu tercengang dan terheran sehingga mereka tak
dapat berkata kata. Kemudian Kim Liong Hoat ong yang
berkata, “Kami dapat memaklumi keadaanmu, siauw ong
ya. Akan tetapi kalau kami melepaskan kau, berarti kami
juga berkhianat dan kami tidak mau berlaku khianat. Maka
harap kau suka menanti sampai datang keputusan dari
kaisar sendiri.”
“Tidak, sekarang juga aku harus pergi dari sini.”
“Kalau begitu, kami harus menghalangimu,” jawab Tiat
Liong Hoat ong.
“Bagus, hendak kulihat bagaimana kalian dapat
menghalangiku,” seru Wan yen Kan yang cepat meloncat
hendak pergi. Akan tetapi, golok di tangan Tiat Liong Hoat
ong berkelebat di hadapannya sehingga terpaksa pangeran
ini harus mengelak dan membalas serangan ini. Sebentar
saja pangeran ini dikeroyok oleh Sam Thai Koksu dan Giok
Seng Cu. Mereka merasa perlu mengeroyok karena mereka
tidak hendak membunuh atau melukai pangeran ini,
melainkan hendak menangkap hidup hidup. Dan hal ini
bukanlah pekerjaan yang mudah, karena kepandaian Wan
yen Kan bukannya rendah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kalau sekiranya mereka mau merobohkan Wan yen Kan
dan melukainya, kiranya dalam beberapa jurus saja
pangeran itu akan roboh. Akan tetapi, biarpun demikian,
desakan dari empat orang tua yang berkepandaian tinggi itu
sebentar saja membuat Wan yen Kan mandi keringat dan
kepalanya pening. Luka di dadanya akibat tusukan pedang
Ling In belum sembuh benar dan lawan lawan yang
dihadapinya memiliki kepandaian amat tinggi. Apa lagi
tosu itu, Giok Seng Cu murid Pak Hong Siansu!
Kepandaian tosu ini bahkan tidak kalah oleh suhunya
sendiri, Ba Mau Hoatsu, maka dapat dibayangkan betapa
sibuknya Wan yen Kan mencoba untuk mencari jalan
keluar. Ia maklum bahwa kalau sampai tertawan, tidak saja
ia akan dihukum mati, akan tetapi juga ia akan menderita
malu dan ejekan hebat. Namun, kematian baginya bukan
soal berat lagi karena ia teringat bahwa isterinya telah
selamat dan bahwa kelak anaknya akan melanjutkan
riwayatnya.
“Kalian menghendaki nyawaku? Baiklah, akan tetapi
aku tidak sudi mati di tangan orang lain!” Setelah berkata
demikian, pangeran yang malang ini lalu menggunakan
senjata rantainya untuk dipukulkan ke arah kepalanya
sendiri sekuat tenaga! Sam Thai Koksu dan Giok Seng Cu
terkejut sekali, akan tetapi mereka tidak keburu turun
tangan mencegah perbuatan yang nekad dari Wan yen Kan!
“Keliru sekali jalan sesat itu diambil!” tiba tiba terdengar
suara orang dan bayangan yang amat gesit menyambar ke
arah Wan yen Kan dan tahu tahu rantai yang mengancam
kepala pangeran itu telah berpindah ke dalam tangan
seorang pemuda baju kembang yang semenjak tadi diam
diam mengintai dari atas genteng! Ciang Le yang
mendengar semua percakapan terakhir tadi, terkejut ketika
mengetahui bahwa pemuda yang tampan dan gagah itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah Pangeran Wan yen Kan yang telah menjadi suami
dari murid Hoa san pai! Ia kagum sekali melihat Wan yen
Kan dan mendengar bicaranya yang penuh
perikemanusiaan dan cinta kasih terhadap isterinya, maka
melihat pangeran itu hendak membunuh diri cepat ia
menolong dan merampas rantainya.
Melihat pemuda ini, bukan main marahnya Giok Seng
Cu.
“Setan, kau lagi datang mengacau?” bentaknya dan
secepat kilat ia mencabut senjatanya yakni rantai baja yang
lihai. Tadi ketika menghadapi Wan yen Kan, ia tidak
mempergunakan senjatanya ini.
Ciang Le tersenyum dan ia memutar rantai yang
dirampasnya dari tangan Wan yen Kan tadi untuk
menangkis. Terdengar suara keras sekali dibarengi
berpijarnya bunga api dan rantai di tangan Giok Seng Cu
terlepas dari pegangan!
“Mari kita pergi!” seru Ciang Le kepada Wan yen Kan
yang semenjak tadi berdiri tertegun. Juga Sam Thai Koksu
yang sudah merasai kelihaian tangan Ciang Le, ragu ragu
untuk maju menyerbu. Ketika pangeran Kin itu mendengar
ajakan ini, ia cepat meloncat ke dalam gelap dan melarikan
diri.
Ciang Le tidak mau membuang waktu lagi, segera
menyusul Wan yen Kan dan Giok Seng Cu bersama Sam
Thai Konsu tidak berdaya mengejar, mereka memang
sudah merasa jerih sekali menghadapi pemuda baju
kembang yang memiliki kepandaian luar biasa.
-odwo-
Pada keesokan harinya, pagi pagi sekali nampak dua
orang muda berjalan perlahan di dalam hutan. Mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah Wan yen Kan dan Ciang Le. Pangeran itu tiada
hentinya memuji Ciang Le.
“Taihiap siapakah dan mengapa sudi menolong seorang
pangeran Kin seperti aku ini?” tanyanya ketika mereka telah
keluar dari kota Cin an dan telah selamat berada di dalam
hutan.
Ciang Le tersenyum. “Bukan orang jauh, apa lagi karena
kau telah menjadi suami dari seorang murid Hoa san pai
dan telah menolong murid murid Hoa san pai dari tawanan.
Aku bernama Go Ciang Le dan tentu kau akan mengenal
nama ayahku yaitu Go Sik An.”
Terbelalak mata Wan yen Kan memandang.
“Apa…? Go Sik An yang dahulu terkenal menentang
pemerintah ayahku dan kemudian dihukum mati?? Dan kau
sekarang bahkan menolongku dari bahaya maut?”
Ciang Le mengangguk. “Benar dia. Akan tetapi, yang
membunuh ayahku bukanlah kau dan melihat sikap dan
mendengar percakapanmu tadi, kau tidak sama dengan
orang orang kejam bangsamu yang menindas rakyat,
biarpun kau seorang pangeran. Karena itulah maka
kuanggap kau sebagai seorang gagah yang patut ditolong.”
“Aneh, benar benar kau seorang pemuda aneh....” kata
Wan yen Kan.
“Kau yang lebih aneh, siauw ong ya....”
“Jangan sebut aku siauw ong ya, sebut saja namaku,
bukan Wan yen Kan, akan tetapi Wan Kan. Cukup kau
menyebutku Wan twako (kakak Wan) saja. Dan kau bilang
aku lebih aneh, bagaimana maksudmu?” Wan Kan suka
dan tertarik sekali kepada Ciang Le, ia memandang wajah
yang tampan dan gagah itu penuh kekaguman. Seorang
pemuda yang “berisi” lahir batinnya, pikir pangeran ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kau memang lebih aneh dari padaku, Wan twako,”
kata Ciang Le yang juga merasa cocok dan suka kepada
pangeran ini. “Kau seorang pangeran yang berkedudukan
tinggi, biasa hidup dalam kemewahan dan kesenangan.
Akan tetapi… kau berbeda dengan bangsamu, lebih suka
hidup menderita dan sengsara, demi untuk berkorban guna
isterimu yang tercinta, isteri seorang Bangsa Han.
Bukankah ini ajaib sekali?”
Wan Kan menarik napas panjang. “Kau masih muda,
taihiap. Mana kau mengerti dan dapat merasakan pengaruh
dari cinta yang murni? Kalau aku tidak bertemu dengan
Ling In isteriku, agaknya biarpun aku tidak suka melihat
sepak terjang para pembesar bangsaku, aku takkan sampai
berlaku senekad ini ....”
Merah muka Ciang Le mendengar ini. Kata kata ini
mengingatkan ia akan Bi Lan! Alangkah bahagianya kalau
ia dan Bi Lan dapat menjadi suami isteri penuh cinta kasih
seperti Wan Kan dan Ling in!
“Kau seorang baik dan berbudi mulia, Wan twako….”
“Karena kau lain dari pada yang lain maka kau bisa
berkata demikian, Go taihiap. Akan tetapi, seluruh
bangsamu, tentu mengutukku sebagai seorang musuh besar.
Bahkan saudara saudara seperguruan Ling In sendiri amat
membenciku, dan isteriku sendiri pernah mencoba untuk
membunuhku…”
Berobah wajah Ciang Le. “Apa ?!? Mengapa begitu ...??”
Wan Kan mengajak Ciang Le duduk di bawah pohon
dan pada pagi hari itu pangeran ini menceritakan semua
pengalamannya, bagaimana Ling In dengan terpaksa sekali
mencoba untuk membunuhnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar semua penuturan ini, Ciang Le merasa amat
terharu.
“Kasihan sekali kalian suami isteri yang malang....”
komentarnya. “Akan tetapi jangan khawatir, Wan twako.
Aku akan membantumu, akan kujelaskan kepada semua
orang Han bahwa kau berbeda dengan orang orang Kin
yang telah memeras rakyat. Kau kuanggap sebagai
saudaraku terdiri, sebagai seorang Han juga karena aku
yakin akan kebersihan hatimu.”
Wan Kan merasa terharu dan ia memegang lengan
pemuda baju kembang itu dengan mata basah “Ciang Le...
kalau aku mempunyai adik seperti kau… alangkah akan
senang hati ku....”
“Mengapa tidak? Apa salahnya kalau aku menjadi
adikmu, Wan twako?”
“Benar benarkah? Kau sudi mengangkat saudara dengan
aku, seorang pangeran Bangsa Kin yang sudah banyak
membikin sengsara bangsamu?”
“Bukan kau yang membikin sengsara, juga bukan Bangsa
Kin, melainkan pemerintah Kin! Kejahatan sesuatu negara
bukan dilakukan oleh bangsanya melainkan oleh
pemerintahnya? Antara bangsa dan bangsa tidak ada
perbedaan faham semua menghendaki keamanan,
kesejahteraan dan hidup makmur dan damai! Kita sama
sama hidup merasai suka duka yang sama pula.”
“Aduh, adikku... adikku yang bijaksana…. terima
kasih,”
Wan Kan dan Chng Le lalu berlutut dan bersumpah
menjadi saudara angkat. Wan Kan yang lebih tua menjadi
saudara tua dan Ciang Le menjadi saudara muda. Dua
orang asing yang pertama kali bertemu telah saling tertarik
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan bersimpati, memang hal demikian ini banyak terjadi di
dunia ini. Agaknya kalau mau mempercayai hukum karma,
dalam kehidupan dahulu kedua orang ini memang telah
mempunyai hubungan yang amat dekat, siapa tahu?
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil