Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Pendekar Budiman Serial Terbaru Kho Ping Hoo

-----
SSSeeerrriii kkkeee 111 PPPeeennndddeeekkkaaarrr BBBuuudddiiimaaannn
Peennddeekkaarr Buuddiimaann
(Hwa I Eng-hiong)
Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Sumber DJVU : Orang Stress
Convert & Editor : Rif Zyr (thanks)
Final edit & pdf Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
Jilid 1
Tahun 1126.
KOTA besar Kaifeng di Propingi Honan terancam
bahaya hebat ketika bala tentara kerajaan baru Kin
mengurungnya. Kerajaan kin adalah kerajaan baru yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
didirikan oleh Raja Akkuta dalam tahun 1115 Raja Akutta,
pemimpin besar Bangsa Wanyen, telah berhasil
mengumpukan rakyatnya yang selalu tertindas dan terhina
kerajaan dan tentara Liao. Kemudian dengan sama yang
baik antara, bala tentara Kin dan Sung, Akutta berhasil
menyerbu dan menduduki Peking.
Akan tetapi celakanya setelah menikmati beberapa
kemenangan, bala tentara Kin yang berasal utara sepanjang
lembah Sungai Sungari dan Heitungkiang itu, menjadi
“keenakan” dan tidak mau mundur ke utara kembali.
Bahkan tentara yang besar jumlahnya dan amat kuat ini
terus menjelajah ke selatan, sebagian besar maju terus
menyerbu ke Taigoan di mana mereka mendapatkan
perlawanan sengit dari rakyat dan tentara. Sebagian pula
lalu maju mengurung kota Kaifeng sehingga kota itu berada
di bawah ancaman bahaya maut!
Kaisar Chin Tsung dan sebagian besar para pembesar
yang selalu hidup berkorupsi, tentu saja tidak memiliki
semangat bertempur. Bagi mereka ini, orang orang yang
menamakan diri pembesar dan pemimpin, kehilangan
kehormatan atau kehilangan negara bukanlah soal pentng.
Yang penting bagi mereka adalah harta benda, kedudukan,
dan jiwa! Hanya tiga macam inilah isi kehidupan mereka,
yakni harta benda, kedudukan dan jiwa. Mereka pun siap
sedia untuk menukar kehormatan bangsa atau negara untuk
menyelamatkan yang tiga itu.
Para pembesar dan kaisar Chin Tsung mempunyai niat
untuk mengadakan perundingan dan perdamaian saja
dengan bala tentara Kin yang kuat dan ingin
mempergunakan “sogokan” kepada bala tentara asing itu
agar jangan mengganggu kesenangan hidup mereka. Akan
tetapi rakyat kecil dan prajurit prajurit yang patriotis tidak
menyetujui hal ini. Mereka ini lebih baik mati daripada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerah karena mereka maklum sedalam dalamnya
bahwa kalau sampai tentara musuh itu merebut Kaifeng
yang akan menderita hebat adalah rakyat kecil. Yang akan
dirampok, dibunuh, disiksa, dihina bukan lain adalah
rakyat kecil kota Kaifeng, yang akan menderita hebat
adalah rakyat kecil. Yang akan dirampok, dibunuh, disiksa,
dihina, bukan lain tentu rakyat kecil juga! Oleh karena
itulah maka rakyat serentak bangkit melakukan perlawanan.
Tidak saja di dalam kota Kaifeng sendiri bahkan dari lain
lain kota di sekitar daerah itu, sama datang dan merupakan
kesatuan yang gagah perkasa melakukan perlawanan. Di
mana mana timbul pemimpin kesatuan yang terdiri dari
pendekar pendekar gagah perkasa. Tidak perduli buruh,
petani, guru silat, piauwsu (pengawal barang antaran),
pedagang maupun pelajar, semua serentak melawan
penyerbu.
Melihat semangat perlawanan hebat dari rakyat jelata.
Kaisar Chin Tsung dan para pembesar tidak berani
menahan kehendak mereka yang patriotik. Terpaksa Kaisar
Chin Tsung lalu mengangkat Li Kang, pemimpin yang
gagah perkasa dan berkepandaian tinggi, untuk menjadi
pemimpin barisan melawan bala tentara musuh. Penjagaan
disiapkan di mana mana dan barisan suka rela yang datang
dari semua jurusan dikumpulkan! Dua ratua ribu orang
lebih terkumpul, merupakan kekuatan maha hebat yang
siap sedia menggempur musuh. Karena datangnya bala
bantuan dari luar ini, musuh terserang dari dua fihak dan
menjadi terpecah dua. Musuh yang mengurung kota
terpisah dari bagian perlengkapan mereka.
Akan tetapi, pertempuran pertempuran hebat itu telah
meng goncangkan iman Kaisar Chin Tsung yang lemah,
demikian pula para pembesar setiap hari menggigil seluruh
tubuh nya. Tel....ah terbayang di depan mata mereka yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengecut ini, betapa pihak sendiri kalah dan barisan musuh
menyerbu masuk ke dalam kota. Tentu saja mereka tidak
membayangkah keadaan rakyat, melainkan membayangkan
keadaan sendiri, menjadi amat gelisah mengingatkan
keselamatan sendiri, terutama keselamatan rumah, gedung
dan harta benda mereka.
Berita tentang kemenangan Li Kang yang memim pin
pasukan rakyat tidak menggembirakan hati Kaisar Chin
Tsung dan kaki tangan nya, bahkan membuat kaisar ini
menjadi makin ketakutan. Dia telah mendengar tentang
kekejaman bala tentara Kin. Apalagi setelah kini bala
tentara itu terpukul oleh pasakan yang dipimpin Li Kang
tentu mereka menjadi sakit hati dan makin ganas! Oleh
karena itu, diam diam kaisar lalu mengirim utusan kepada
pimpinan tentara musuh untuk mengajak damai dan
menawarkan uang sogokan dari seluruh jumlah perak yang
bisa didapatkan dari dalam kota Kaifeng! Kemudian kaisar
bahkan memecat Li Kang!....
Akan tetapi perbuatan kaisar ini sekaligus mendapat
tentangan hebat dari rakyat jelata. Laksaan orang
berdemonstrasi, berkumpul di depan istana, dipimpin oleh
seorang mahasiswa bernama Cheng Tung dan seorang
kawannya, juga seorang terpelajar bernama Go Sik An.
Para demonstran ini menuntut agar supaya Li Kang
diangkat lagi menjadi pemimpin pasukan untuk
menggempur para penyerbu. Akhirnya kaisar tidak melihat
lain jalan dan terpaksa menuruti kehendak rakyat.
Demikianlah, berkat semangat yang tak kunjung padam
dari rakyat jelata yang dipimpin oleh patriot patriot yang
tadinya merupakan pendekar pendekar silat di dunia
kangouw akhirnya bala tentara Kin yang mengepung kota
kaifeng dapat terusir bersih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, kemenangan ini membuat kaisar dan para
pembesar berkhawatir, tidak saja takut akan pembalasan
barisan Kin, akan tetapi juga merasa ngeri melihat
semangat perlawanan rakayat jelata yang diangap remeh
sebelumnya itu. Kalau semangat perlawanan rakyat itu
ditunjukan kepada kedudukan kaisar dan pemerintahannya,
bukankah itu berbahaya sekali? Demikianlah, setelah
musuh dapat terusir pergi, kaisar lalu membubarkan semua
kesatuan dan hanya memelihara pasukan pasukan penjaga
yang tidak banyak jumlahnya. Hal ini dilakukan dengan
alasan untuk menghemat belanja negara yang habis
menderita perang. Bahkan Li Kang lalu diasingkan ke
tempat yang jauh dan orang tidak mendengar berita lagi
dari pemimpin besar ini.
Setengah tahun kemudian, kembali barisan besar dari
Kin menyerbu ke selatan. Kini bala tentara yang menyerbu
amat besar jumlahnya dan kuat sekali karena memang Raja
Akutta hendak menuntut balas kekalahan kekalahannya
yang di deritanya beberapa bulan yang lalu. Kota Kaifeng
juga tidak terlewat, mengalami serbuan hebat sekali.
Kembali barisan rakyat melakukan perlawanan gigih
sekali. Akan tetapi apakah yang dilakukan oleh kaisar?
Kembali kaisar dan anak buahnya mencoba untuk
mengadakan kontak dan damai dengan para penyerbu,
bahkan memerintahkan agar bala bantuan dari luar kota
dihentikan.
“Kota telah terkepung musuh. Bagaimana kita harus
menambah kekuatan barisan? Ransum kita tinggal sedikit,
kalau kita harus menambah orang, sebentar saja kita akan
kelaparan dan mati semua tanpa dipukul musuh!” demikian
ucapan kaisar sebagai alasannya mengurangi daya lawan
dari pasukan rakyat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Atas pernyataan kaisar ini. Go Sik An yang menjadi
kawan baik mahasiswa Cheng Tung, menjadi marah sekali.
Go Sik An dikenal sebagai seorang bun bu cwan jai
(seorang yang memiliki kepandaian bu dan bun atau ilmu
silat dan kesusasteraan). Dan dia adalah seorang keturunan
keluarga hartawan, mempunyai gedung besar di kota
Kaifeng dan keluarganya terkenal sebagai keluarga ang
terhormat dan juga dermawan. Sebagaimana telah
disebutkan di bagian depan setengah tahun yang lalu, juga
Go Sik An bersama Chen Tung mengadakan demonstrasi di
depan istana. Kini karena Chen Tung telah meninggalkan
Kaifeng, Go Sik An sendiri lalu mengadakan protes atas
keputusan kaisar mengurangi bala bantuan itu.
Dan apa akibatnya? Co Sik An ditangkap oleh kaisar
dan ketika Go Sik An melakukan perlawanan, ia dikeroyok
oleh pasukan pengawal kaisar dan dimasukkan dalam
penjara!
Go Sik An mempunyai banyak kawan terdiri dari orang
orang gagah Bahkan isterinya sendiri juga seorang wanita
yang berkepandaian tinggi, seorang anak murid dari Hoa
san pai. Ketika mendengar tentang penangkapan suaminya,
nyonya Go ini lalu melarikan diri dari rumah, membawa
lari putera tunggalnya yang baru berusia tiga tahun. Ia
ditolong oleh kawan kawannya dan disembunyikan
sehingga para pengawal kaisar yang tadinya hendak
menumpas seluruh keluarga Go tidak berhasil
mendapatkannya. Yang menjadi korban hanya harta benda
keluarga itu. Rumah gedung yang penuh barang berharga
itu sebentar saja habis dan kosong, diangkut oleh para
pembesar yang memakai alasan “sita”!
Makin lemahlah pertahanan kota Kaifeng dan dengan
amat mudah barisan Kin dapat menduduki kota ini.
Betapapun juga kaisar dan para pembesar hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengadakan persekutuan dengan mereka. Tetap saja kaisar
dan banyak bangsawan dijadikan tawanan!
Barisan Kin melakukan penggedoran, pembunuhan dan
penyiksaan Dan semua orang hukuman dibunuh dan ketika
mereka mendengar bahwa Go Sik An yang ditahan kaisar
itu adalah seorang pemimpin Barisan rakyat, segera
diumumkan bahwa orang she Go itu akan dihukum
gantung di depan pintu benteng!
Semua orang menjadi terharu dan berduka mendengar
pengumuman ini, akan tetapi siapakah yang berani
membela Go Sik An? Orang ini terkenal amat dermawan,
gagah perkasa, dan juga pandai. Akan tetapi sekarang ia
terjatuh dalam tangan musuh yang berkuasa, apakah daya
orang orang lain?
Akan tetapi semua orang maklum , diam diam para
orang gagah yang menjadi sahabat Go Sik An tentu takkan
tinggal diam saja. Semua orang menanti datangnya
hukuman itu dengan hati berdebar. Pasti akan terjadi hal
hal yang hebat, pikir mereka. Keadaan di dalam kota sejak
diumumkannya hokum gantung bagi Go Sik An itu,
menjadi makin sunyi dan pada muka semua orang
penduduk terbayang kekhawatiran yang besar.
Sebaliknya, sudah tentu saja sebagaimana terjadi pada
setiap peralihan kekuasaan, anjing anjing penjilat yang
merangkak rangkak dan menciumi ujung sepatu para
pembesar Kin orang orang yang berjiwa bobrok, yang tadi
nya juga merupakan pembesar korupsi dan sekarang
bertukar bulu menjadi pengkhianat pengkhianat, cepat
menyebar mata mata untuk mencari rahasia tempat tinggal
isteri dan putera Go Sik An dan juga kawan kawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam sebuah hutan liar diluar kota Kaifeng pada pagi
hari, Terdengar suara belasan ekor anjing menggonggong
diselingi oleh suara banyak orang bercakap cakap dan suara
tindakan kaki mereka tersaruk saruk atau menginjak ranting
dan daun kering.
Mereka ini adalah sepasukan tentara Kin yang telah
mendapat khabar dari para penyelidik dan pengkhianat
bahwa di hutan itulah isteri dan kawan kawan Go Sik An
bersembunyi. Pasukan ini lalu membawa anjing pemburu
dan mereka memeriksa hutan ini dengan maksud mencari
dan membasmi kawan kawan Go Sik An yang dianggap
berbahaya dan mempunyai maksud memberontak terhadap
pemerintah baru.
Sampai matahari telah naik tinggi, mereka masuk ke
dalam hutan dan memeriksa ke sana ke mari, akan tetapi
mereka tidak menemukan orang orang yang dicari, bahkan
tidak nampak bekas bekas mereka, anjing anjing yang
mereka bawa tidak menemukan seorang manusia, bahkan
lalu mengejar kelinci dan babi hutan.
Mereka mendapatkan sebuah kuil tua di dalam hutan itu
dan beramai ramai pasukan Kin yang sudah lelah ini masuk
ke dalam kuil. Mereka memeriksa dengan teliti, akan tetapi
melihat sarang laba laba yang memenuhi lantai, mereka
dapat menduga bahwa kuil ini sudah lama dikosongkan
orang.
Seorang di antara mereka sambil tertawa tawa
mendorong roboh sebuah patung Buddha yang gemuk
sehingga patung itu berguling dan pecah bagian kepalanya.
“Jangan main main di tempat ini!” tegur seorang
kawannya. “Jangan jangan roh yang menjadi penghuni
patung itu akan marah.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kawannya tertawa dan menghina, lalu menghampiri
patung batu berbentuk singa yang amat besar, ia mendorong
singa singaan batu itu sekuat tenaga, akan tetapi jangankan
terguling, bergerakpun tidak! Kawan kawannya
mentertawainya sehingga orang itu nenjadi marah dan
menantang.
“Coba kalian mendorongnya. Kalau ada yang kuat
mendorong roboh singa batu ini, biar kuberikan gajiku
sepekan kepadanya!” Kawan kawannya tentu saja segera
maju dan bergiliran mendorong singa batu itu, akan tetapi
tetap saja tidak bergoyang sedikitpun juga! Mereka bahkan
mulai beramai ramai mendorongnya, akan tetapi biarpun
sepuluh orang mendorong berbareng, singa batu itu tidak
bergerak sedikitpun.
Suara mereka menarik perhatian para komandan
pasukan yang beristirahat di bagian lain. Tiga orang di
antara para perwira Kin ini datang menghampiri mereka.
“Ada apa ribut ribut ini ?” tanya seorang perwira yang
bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk. Dia bernama
Liang Kui dan berjaluk San mo (Setan Gunung), tenaganya
amat besar dau di dalam pertempuran ia amat terkenal
kegagahannya, sedangkan senjatanya, sepasang golok besar
yang amat ditakuti orang.
“Liang ciangkun ( perwira Liang ), singa batu ini luar
biasa beratnya dan karena menghalangi pintu, kami
mencoba mendorongnya. Akan tetapi sepuluh orang masih
belum kuat menggoyangnya!” kata seorang perajurit.
Liang Kui yang berasal dari sebuah dusun di sebelah
utara kota Peking, tertawa bergelak. Dengan ujung kakinya
ia menggoyang singa batu itu, kemudian berkata, “Apa sih
beratnya benda macam ini?” Setelah berkata demikian,
Liang Kui lalu membungkuk, memegang singa batu itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan kedua tangan dan sekali ia mengerahkan tenaga,
singa batu itu telah diangkatnya di atas kepala!
Tentu saja semua perajurit menjadi kagum sekali dan
sorak sorai serta tepuk tangan riuh memenuhi kuil itu,
bahkan bergema sampai di tempat jauh dalam hutan itu.
Liang Kui menaruhkan singa batu itu di tempat lain dan
ternyata ia bernapas biasa saja, hanya muka nya yang
menjadi agak merah tanda bahwa ia hanya mengeluarkan
tenaga setengah bagian
saja!
Liang Kui dan dua
orang kawannya
melangkah masuk ke
dalam kamar yang
pintunya terjaga oleh
singa batu tadi. Baru
saja mereka melangkah,
tiba tiba Liang Kui
berseru keras, “Awas !”
Terdengar suara
berkeretak dan ternyata
bahwa tiang besar yang
menyangga atap telah patah! Berbahaya sekali keadaan
mereka dan beberapa orang perajurit yang berada disitu
menjadi panik karena kalau atap itu runtuh, maka balok
balok besar akan menimpa mereka dari atas!
“Tenang !” tiba tiba seorang kawan Liang Kui yang
bertubuh gemuk pendek berseru dan melompat maju. Cepat
bagaikan ular menyambar tidak sesuai dengan gemuknya,
kedua tangannya menangkap tiang yang patah tadi dan lalu
mengganjal tiang itu dengan pundaknya ! Ternyata bahwa
tiang tadi memang sudah retak dan agaknya singa batu
yang diangkat oleh Liang Kui tadi memang sengaja ditaruh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di dekat pintu untuk menahan tiang yang sudah retak.
Setelah singa batu dipindahkan tiang itu tidak kuat lagi dan
patah.....
Harus dipuji ketangkasan dan kekuatan luar biasa dari si
gemuk pendek itu. Baru saja masuk pintu dan melihat tiang
patah, itu dapat melompat cepat keluar dan menahan tiang
itu dengan pundaknya dan nampaknya ringan saja.
Kembali terdengar sorak sorai pujian para perajurit yang
mengagumi ilmu kepandaian dari perwira ini. Perwira
gemuk pendek ini bernama Kwa Sun Ok, bekas perwira dari
kerajaan lama yang telah kalah oleh bala tentara Kin dan
kini menjadi perwira pemerintah baru. Kwa Sun Ok adalah
seorang ahli silat keturunan Go bi pai, dan selain memiliki
ilmu silat toya yang amat kuat, ia pun terkenal sebagai
seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga luar biasa.
“Hayo ambil balok balok penahan atap jangan bertepuk
tangan saja!” si gemuk pendek itu menegur. “Apa kau kira
selama hidup aku harus menjadi pengganti tiang di kuil
ini?”
Barulah para perajurit itu tergopoh gopoh mencari balok
balok yang terdapat di luar kuil bahkan ada beberapa orang
yang sengaja menebang pohon untuk dipergunakan sebagai
penahan atap. Setelah tiang itu dibantu oleh beberapa
batang balok besar, barulah Kwa Sun Ok terlepas dari
tugasnya yang tidak ringan itu.
Memang di dalam pasukan Kin banyak terdapat orang
orang pandai, tidak saja dari suku suku bangsa di daerah
utara, bahkan banyak sekali orang orang Kang ouw. Bangsa
Han yang tempat tinggalnya sudah diduduki, lalu berbalik
menjadi kaki tangan mereka. Tentu saja mereka ini adalah
orang orang yang beriman lemah dan tidak tahan
menghadapi bujukan manis dan matanya silau melihat
mengkilap nya emas dan perak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah beristirahat, pasukan Kin ini lalu meninggalkan
hutan untuk kembali ke kota Kaifeng dengan tangan
hampa.
Baru saja mereka keluar dari hutan, seorang demi
seorang berkelebatlah bayangan tujuh orang melompat
turun dari tempat persembunyian mereka, yakni di atas
pohon pohon besar. Oleh kareua itulah maka anjing anjing
pemburu tidak dapat mencium bau manusia dan pasukan
Kin tidak melihat mereka.
Orang yang bersembunyi di atas pohon terdekat dengan
kuil itu, adalah seorang wanita muda yang cantik dan yang
menggendong seorang anak laki laki berusia tiga tahun
lebih. Anak ini diikat erat erat di punggungnya dan mulut
anak inipun diikat dengan sehelai saputangan! Selain
wanita muda ini, terdapat pula seorang kakek yang
memakai topi petani yang sederhana. Dengan gerakan amat
ringan, wania muda ini melompat turun dari atas pohon
dan berlari masuk ke dalam kuil. Juga kakek itu dengan
gerakan lebih gesit dan ringan lagi, melompat turun dan
menyusul wanita tadi.
Kemudian berturut turut datanglah lima orang kawan
mereka yang kesemuanya laki laki setengah tua dan
berkepandaian silat tinggi, terbukti dari cara mereka
melompat turun dari tempat persembunyian masing
masing. Dengan diam diam mereka masuk ke dalam kuil
dan memandang ke arah singa batu yang sudah pindah
tempat dan atap yang kini tersangga oleh balok balok itu
“Banyak terdapat orang lihai diantara mereka!” kata kakek
petani itu sambil menarik napas panjang. “Kecil sekali
harapannya untuk dapat menolong mantuku.”
Wanita muda yang menggendong anak itu makin muram
wajahnya dan terdengar ia menahan isak. Lima orang laki
laki yang berkumpul di situ memandang dengan terharu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Betapapun juga, Ceng ji (anak Ceng), kau harus dapat
menghibur hatimu dengan perasaan bangga bahwa
suamimu adalah seorang pahlawan sejati yang takkan
pernah lenyap namanya selama dunia berkembang. Tidak
kecewa kau menjadi isterinya dan tidak malu pula Ciang Le
menjadi puteranya. Akupun bangga bisa menjadi
mertuanya. Pula, belum tentu kita takkan dapat
menolongnya. Biarpun sukar, selalu masih ada harapan.
Besok kalau hukuman itu dijalankan, kita menyerbu dari
empat jurusan, mengacaukan pertahanan dan aku sendiri
yang akan menolong mantuku.”
“Tidak, ayah, menolong dia adalah kewajiban dan
bagianku. Ayah dan kawan kawan menahan serangan
penjaga dan biarkan aku yang pergi menolongnya. Untuk
keperluan itu. lebih baik besok kita tinggalkan Le ji (anak
Le) di kamar ini lebih dulu agar ia tidak terancam bahaya.
Andaikan kita gagal dan tewas…” nyonya muda itu
menahan napas dan menggigit bibirnya, “tentu ada seorang
di antara kita yang dapat lolos dan aku mengharap dengan
sangat kepada orang yang dapat lolos itu, sudilah kiranya
ingat kepada anakku dan suka memeliharanya baik baik,”
dengan air mata berlinang diantara bulu matanya, nyonya
itu memandang sayu kepada lima orang yang berdiri di
hadapannya. Lima orang setengah tua yang bersikap gagah
itu semua tak dapat menahan pandang mata ini dan
memalingkan atau menundukkan muka.
“Jangan khawatir, toanio. Kita adalah orang orang
sendiri dan siapakah yang tidak bersedia menolong putera
dari Go siucai, seorang hohan (pahlawan) yang gagah
perkasa? Tak perlu kita berputus asa, belum tentu kita akan
gagal,” kata seorang diantara mereka.
Dari percakapan di atas tentu dapat diduga siapa adanya
tujuh orang dan seorang anak laki laki itu. Kakek petani itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adalah mertua dari Go Sik An yang bernama Tan Seng,
seorang tokoh Hoa san pai. Ilmu silatnya tinggi dan ia
terkenal sebagai seorang berhati mulia dan berjiwa
pendekar. Setelah tua, ia hidup sebagai seorang petani di
luar kota Kaifeng, tidak suka menjadi beban mantunya yang
kaya. la merasa bebas dan senang hidup seorang diri,
karena isterinya sudah meninggal dunia dan melakukan
pekerjaan tani. Hanya kadang kadang saja ia mengunjungi
puterinya yang menjadi isteri Go Sik An.
Wanita muda itu adalah Tan Ceng atau nyonya Go,
yang mewarisi ilmu silat Hoa san pai dari ayahnya,
sedangkan anak yang digendongnya adalah Go Ciang Le,
putera tunggal dari Go Sik An. Lima orang itu adalah
kawan kawan mereka, kawan kawan seperjuangan yang
bersama sama dengan amat gigihnya melakukan
perlawanan terhadap bala tentara Kin. Mereka ini juga
pendekar pendekar kang ouw yang budiman dan berjiwa
patriot dan juga mereka adalah murid murid terkenal dari
cabang persilatan Hoa san pai, masih terhitung murid murid
keponakan dari Tan Seng.
“Liang Ti, kau dan sute sutemu pergilah melakukan
penyelidikan di benteng. Mereka tidak mengenal kalian
akan tetapi berlakulah hati hati agar jangan sampai
menimbulkan kecurigaan dari fihak penjaga. Kami menanti
di sini.” kata Tan Seng kepada seorang diantara mereka.
“Baik, susiok (paman guru).” jawab Liang Ti yang paling
tua di antara lima tokoh Hoa san ini. Kemudian mereka
keluar dari kuil untuk melakukan tugas menyelidiki
keadaan. Go Sik An yang ditahan di dalam penjara yang
gentengnya nampak dari luar tembok benteng.
Sepeninggal mereka ini, Tan Seng dan puterinya duduk
di dalam kuil dengan hati gelisah dan wajah muram. Betapa
mereka tidak bersedih dan gelisah kalau mengingat bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Go Sik An akan dijatuhi hukuman gantung di luar tembok
benteng pada hari esok. Beberapa kali terdengar Tan Ceng
menahan isak, disusul oleh kata kata hiburan dari ayahnya,
dengan suaranya yang besar dan parau. Kadang kadang
terdengar tangis anak anak, yakni tangis Ciang Le yang
disusul oleh suara hiburan ibunya.
Akan tetapi kedua orang ini sama sekali tidak pernah
menyangka bahwa pembesar pembesar militer Kin berlaku
amat curang dan licik. Setelah mereka menanti sampai
malam tiba, terdengarlah suara kaki orang dari luar dan
Liang Ti masuk ke dalam kuil napasnya memburu dan
wajahnya pucat sekali.
“Suheng, apa yang terjadi?” tanya Tan Ceng dengan
penuh kekhawatiran sambil mendekap anaknya. Liang Ti
tidak dapat menjawab, bahkan lalu menggeleng geleng
kepala dan menjatuhkan diri duduk di atas lantai denpan
mata basah.
“Liang Ti, tenanglah dan ceritakan apa yang telah
terjadi? Di mana adanya kawan kawanmu?” tanya Tan
Seng ang lebih tenang biarpun hatinya juga diliputi
kekhawatiran besar.
“Ce… celaka, susiok… Go siucai (orang terpelajar Go)
telah… telah.... dibunuh.... !” Biarpun Liang Ji seorang ahli
silat gagah perkasa, pada saat itu ia bicara dengan gagap
karena sedih dan bingungnya.
Terdengar Tan Ceng menjerit sambil mendekap kepala
anaknya, lalu nyonya muda ini menangis tersedu sedu,
berbisik bisik memanggil nama suaminya. Tan Seng berdiri
mengepal tinju, sepasang matanya memancarkan cahaya
merah, seluruh urat tubuhnya menegang.
“Ceritakan apa yang kaulihat,” perintahnya kepada
Liang Ti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ketika teecu (murid) berlima melakukan penyelidikan,
tidak nampak sesuatu yang aneh, juga tidak terdengar berita
lain. Keadaan biasa saja, hanya kota menjadi makin sunyi
seakan akan semua orang menyatakan ikut berduka dengan
nasib Go siucai. Berita yang tersiar Setap menyatakan
bahwa besok pagi pagi baru akan dilakukan hukuman itu.
Akan tetapi ketika teecu pergi ke belakang tembok benteng
di mana genteng penjara kelihatan, teecu melihat…. Go
siucai telah digantung. Jahanam jahanam terkutuk benar
mereka itu !”
Kembali Tan Ceng menjerit perlahan, disusul oleh
elahan napas panjang Tan Seng.
“Kuatkan hatimu, Ceng ji. Suamimu telah tewas sebagai
seorang pahlawan besar “
“Ayah ... aku harus merampas jenazahnya agar dapat
dikubur baik baik.” Nyonya muda itu akhirnya dapat
berkata sambil mendekap kepala anaknya yang sudah tidur.
“Tentu saja, Ceng Ji. Dan hal itu lebih baik dilakukan
malam ini juga agar besok pagi jenazah suamimu tidak
dijadikan tontonan orang. Liang Ti, dimana kawan
kawanmu?”
“Mereka masih teecu suruh mengintai di dekat tempat
itu, susiok. Teecu merasa curiga kalau kalau perbuatan
mereka itu sengaja untuk menjebak kita.”
Tan Seng mengangguk angguk, “Memang, kita harus
berlaku hati hati, Ceng ji. Mari kita berangkat sekarang
juga. Tidurkan anakmu di dalam kamar singa (kamar di
mana terdapat singa batu di depannya), akan tetapi kau
harus cancang dia, takut kalau kalau dia akan pergi keluar.”
Tan Ceng lalu membawa puterunya ke dalam kamar kuil
dan tak lama kemudian nyonya muda ini sudah keluar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini ia mengenakan pakaian ringkas dan gagang pedangnya
nampak tersembul di belakang pundaknya. Wajahnya agak
pucat, akan tetapi tidak mengurangi kecantikannya dan
nampak amat gagah. Hati Tan Seng serasa luluh ketika ia
melihat puterinya dengan terharu. Baru lima tahun
puterinya berumah tangga dan sekarang sudah ditinggalkan
suami dalam keadaan yang demikian menyedihkan.
Berangkatlah mereka bertiga, Tan Seng, Tan Ceng dan
Liang Ti menuju ke kota Kaifeng. Malam itu bulan
sepotong bersinar terang karena langit amat bersih.
Beberapa buah bintang yang letaknya tidak terlalu dekat
dengan bulan bermain mata dengan bintang bintang lain.
Malam itu memang menyeramkan. Tidak saja karena
cahaya bulan yang redup itu mendatangkan bayang bayang
yang aneh dan ganjil Juga kesunyian yang memekik itu
mendatangkan perasaan serem, seakan akan kesunyian itu
membisikkan sesuatu tentang maut. Semua orang di kota
Kaifeng, telah menutup pintu jendela, dan telah meniup
padam api penerangan di dalam rumah. Di jalan jalan tidak
kelihatan seorangpun penduduk, kecuali beberapa orang
tentara roboh yang bernyanyi nyanyi tidak karuan tentang
perempum molek dengan kata kata yang kotor dan tidak
sopan. Setelah beberapa orang pemabok itu lenyap di balik
tembok benteng, kembali keadaan kota sunyi sepi.
Akan tetapi, jauh dari luar kota, terdengar sayup sampai
suara nyanyian yang dinyanyikan oleh suara laki laki yang
besar dan parau. Nyanyian ini terdengar dari dalam hutan
dan siapa yang mendengarnya tentu akan menjadi makin
serem ! Diantara suara yang parau ini terdengar isak seperti
orang menangis, akan tetapi harus diakui bahwa nyanyian
itu dinyanyikan dengan semangat yang gagah.
Apa lagi kalau orang melihat penyanyinya, seorang
kakek tua berpakaian petani yang berjalan keluar dari hutan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersama seorang setengah tua dan seorang nyonya muda
yang menangis perlahan lahan di sepanjang jalan.
Kaifeng, kotaku kampung halamanku
Betapa buruk nasibmu
Srigala buas masuk menyerbu
Mencemarkan bumi dan airmu,
Ah, Kaifeng! Aku rela berjuang sampai tewas
Untuk membelamu dari cengkeraman
srigala buas
Kaifeng, tanah tumpah darah,
sumber hidupku
Nyawa masih terlalu kecil
untuk balas jasamu !
Syair ini adalah karangan dari Go Sik An yang tersebar
luas di kalangan pejuang. Go Sik An banyak membuat syair
syair perjuangan yang amat disuka dan sekarang dengan
suara lantang. Tan Seng, mertuanya sendiri berjalan sambil
menyanyikan lagu kegemarannya ini.
Orang orang penduduk kota Kaifeng yang sudah
bersembunyi di dalam kamar masing masing, ketika
mendengar nyanyian ini, mau tiduk mau menitikkan air
mata. Mereka merasa terharu dan sedih, akan tetapi sekali
lagi, apakah daya mereka?
Setelah tiba di dekat benteng, Tan Seng dan puteri serta
murid keponakannya, berjalan dengan hati hati dan tidak
mengeluarkan suara. Mereka bertiga mempergunakan
ginkang dan berlari seperti terbang cepatnya tanpa
mengeluarkan sedikitpun suara berisik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah melalui beberapa tempat penjagaan tanpa
diketahui oleh penjaga penjaga, sampailah mereka di luar
tembok benteng di mana kelihatan genteng dari bangunan
rumah penjara.
Dan jauh mereka telah disambut oleh empat orang
kawan yang bertugas mengintai di situ.
“Teecu merasa curiga, susiok,” kata seorang diantara
mereka, “tempat ini terlampau sunyi. Biarpun teecu tidak
mendengar gerakan orang dan tidak melihat bayangan,
akan tetapi teecu merasa yakin bahwa di tempat tempat
tersembunyi pasti ada musuh musuh berjaga.”
Tan Seng mengangguk angguk dan dengan berindap
indap mereka lalu menuju ke tempat di mana menurut lima
orang tadi tergantung tubuh Go Sik An. Hati Tan Ceng
berdebar debar dan bibirnya gemetar, kedua kakinya lemas.
Ketika mereka tiba di dekat tembok benteng, tiba tiba
Tan Ceng menahan jerit isaknya.
“Ayah….!” keluhnya sambil menudingkan telunjuk
tangan kirinya ke arah tembok benteng. Kemudian nyonya
ini hendak melompat dan lari menghampiri tubuh yang
tergantung di dekat tembok itu, akan tetapi ayahnya cepat
memegang lengannya.
“Sabar, Ceng ji. Kuatkan hatimu !” bisik Tan Seng
dengan suara perlahan dan menggetar. Hatinya juga
tertusuk sekali menyaksikan pemandangan yang amat
menyedihkan. Tubuh Go Sik An nampak tergantung
lehernya di tiang penggantungan yang dipasang di atas
tembok. Tak salah lagi, Go Sik An ying digantung itu.
Pakaiannya masih seperti ketika ia ditangkap, yakni baju
berkembang dengan dasar warna kuning dan kembang
kembangnya berwarna merah!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ayah, birkan aku mengambil jenazahnya. Tidak kuat
hatiku melihat dia tergantung seperti itu!” Tan Ceng
meronta ronta dalam pegangan ayahnya.
“Tentu saja, akan tetapi kita harus berhati hati” kata
ayahnya. Kemudian tokoh Hoa san pai ini lalu berkata
kepada Ling Ti. “Awas kalian berlima jagalah sambil
berpencar, mengurung tiang gantungan itu sementara aku
dan Ceng ji mencoba untuk menurunkan jenazah
mantuku.”
Setelah bersiap sedia dan melihat keadaan tetap sunyi
saja, melompatlah Tan Ceng dan ayahnya. Dengan dua kali
lompatan saja mereka telah tiba di bawah tiang gantungan
Tan Ceng tidak dapat menahan hatinya lagi. Melihat betapa
suaminya telah tergantung di situ dalam keadaan tak
bernyawa lagi, ia lalu mencabut pedangnya dan sekali
melompat saja ia telah dapat bergantung pada besi
gantungan di atas. Ia bergantung di situ dengan tangan
kirinya dan sebelum ia mengayun pedangnya untuk
memutuskan tali yang menjirat suaminya, tiba tiba banyak
sinar hitam menyambar ke arahnya.
“Ceng ji, awas! Lompat turun !” ayahnya berseru kaget.
Akan tetapi Tan Ceng tidak mau turun. Ia tidak takut segala
dalam keadaan seperti itu. Ia mencoba untuk mengayun
pedangnya, di sekeliling tubuhnya dan berusaha menangkis
semua senjata rahasia yang menyambar ke arahnya.
Terdengar bunyi nyaring berkali kali dan banyak senjata
rahasia piauw, anak panah, pelor besi dan jarum terpental
oleh tangkisan pedangnya. Akan tetapi senjata rahasia yang
menyambar ke arahnya, ternyata banyak sekali dan rata
rata disambitkan oleh tangan yang ahli. Tiba tiba nyonya
muda itu mengeluh dan tangan kirinya yang bergantung
kepada besi gantungan itu terlepas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Nyonya ini merasa tangannya sakit sekali karena
sebatang piauw hitam telah menanep di dekat nadi
tangannya. Akan tetapi ia masih dapat dengan cepat sekali
menyambit tubuh suaminya dan tangan kirinya itu kini
memeluk pinggang mayat suaminya.
“Suamiku... .!” keluhnya dengan ratap tangis ketika ia
merasa betapa tubuh itu dingin, dan kaku.
“Ceng ji....!” terdengar ayahnya berseru keras. Tan Seng
yang melihat anaknya terluka, menjadi marah sekali. Pada
saat itu, dari balik tembok dan diri belakang pohon
berlompatan keluar belasan bayangan orang yang
memegang senjata.
“Bagus, kalian datang mengantar nyawa seperti kelinci
kelinci masuk perangkap. Ha ha ha !” terdengar suara
ketawa seorang tinggi besar yang segera menyerbu ke arah
Tan Seng dan dengan sepasang goloknya yang besar, orang
tinggi besar ini menyerang kakek itu.
“San mo Liong Kui, pengkhianat keji!” Tan Seng berseru
keras dan ketika lengan bajunya yang panjang bergerak,
angin besar menyambar ke arah Liong Kui Si Setan
Gunung. Inilah pukulan yang lihai dari ilmu silat tangan
kosong Hoa san pai yang disebut Ngo heng cio hwat. Baru
angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan
seorang lawan.
San mo Liong Kui bukanlah seorang lemah. Ilmu
silatnya sudah termasuk tingkat tinggi. Akan tetapi
menghadapi Ilmu Pukulan Ngo heng cio hwat yang lihai ini
ia menjadi gentar juga. Angin pukulan itu telah membuat ia
merasa dadanya tergetar, maka ia lalu mundur kembali
untuk menanti kawan kawannya dan hendak maju
bersama.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu, Tan Ceng telah dapat menggerakkan
tangan kanannya ke atas dan meraih tali penggantung
setelah menggigit pedangnya. Kemudian, kembali tangan
kirinya yang terluka itu telah memegang besi gantungan dan
secepat kilat pedangnya di gerakkan oleh tangan kanannya
ke arah tali penjirat leher suaminya.
Akan tetapi pada saat itu, beberapa orang pengawal yang
berkepandaian tinggi menyerbunya dan baru saja tubuhnya
bersama mayat suaminya jatuh ke bawah, tiga batang golok
menyambar ke arahnya dengan gerakan yang amat
berbahaya, Tan Seng melihat puterinya terancam bahaya,
hendak menolong, akan tetapi Liong Kui yang kini telah
dibantu oleh Kwa Sun Ok dan dan lain perwira perwira
kosen telah maju mengurungnya dengan hebat. Sementara
itu, murid murid keponakan dari Tan Seng, yakni Liang Ti
dan empat orang adik seperguruannya, begitu melihat
munculnya para perwira musuh, segera maju menyerbu.
Tiga orang membantu paman guru mereka adapun Liang Ti
dan seorang adiknya membantu Tan Ceng yang berada
dalam keadaan berbahaya sekali.
Akan tetapi kedatangan Liang Ti dan kawan kawannya
terlambat. Ketika tadi nyonya muda itu bersama mayat
suaminya jatuh ke bawah, tiga batang golok yang
menyambar ke arahnya itu masih dapat ditangkis oleh
pedang nya. Namun bagaimana nyonya muda ini dapat
bergerak dengan lincah setelah ia jatuh bersama suaminya
dan dalam keadaan hati remuk, dan pikiran bingung
melihat keadaan suami nya? Kembali golok golok musuh
menyerang dengan ilmu silat yang tidak rendah Tan Ceng
masih berusaha untuk mengelak dan menangkis akan tetapi
kembali sebatang piauw menyerangnya dari belakang dan
menancap pada punggungnya tanpa dapat dicegah lagi. Ia
menjerit dan roboh, dihujani serangan tiga golok tajam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu tubuhnya akan menjadi hancur kalau saja pada saat
itu Liang Ti dan adiknya tidak keburu datang dan
menyerang tiga orang itu.
Pertempuran berjalan seru sekali. Tan Ceng tak dapat
bangun lagi. Punggungnya terluka oleh piauw beracun,
demikian pula tangan kirinya dan di dalam serangan tadi, ia
telah mendapat bacokan pula pada lambungnya. Dengan
mandi darah dan keadaan payah, nyonya muda ini
merangkak rangkak ke arah mayat suaminya yang jatuh
beberapa kaki dari tempat dia rebah.
“Suamiku… tunggulah Ceng Ceng….” bisiknya setelah
ia dapat meraba kepala suaminya. Matanya menjadi gelap
dan ia merebahkan pipinya di atas mayat suaminya yang
telentang. Kemudian ia menjadi pingsan di atas dada mayat
suaminya !
Tan Seng yang diam diam memperhatikan keadaan
puterinya, menjadi sedih dan marah sekali melihat keadaan
Tan Ceng. Disangkanya bahwa anaknya itu tentu telah
tewas, maka matanya menjadi gelap.
“Keparat keji kalian ini! Aku Tan Seng akan mengadu
nyawa dengan kalian !” Setelah berkata demikian, kakek
yang sakti ini lalu mengamuk. Kedua ujung lengan bajanya
merupakan senjata yang amat ampuh dan lihai ! Dalam
beberapa belas gebrakan saja robohlah dua orang perwira
dengan kepala pecah dan otak berhamburan terkena
sambaran ujung lengan baju. Akan tetapi tetap saja ia tidak
dapat maju menghampiri puterinya oleh karena Liong Kui
dan Kwa Sun Ok dibantu oleh banyak perwira lagi, masih
mengurungnya rapat rapat dan tidak memberi kesempatan
kepada kakek lihai ini untuk keluar dari kepungan.
Adapun Liang Ti dan empat orang saudaranya yang
bertempur melawan keroyokan lain perwira, juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperlihatkan kepandaian mereka. Namun fihak perwira
makin lama makin banyak jumlahnya sehingga kini selaruh
pengeroyok yang berada di tempat itu lebih dari dua puluh
orang! Dan diantara para pengengeroyok itu tidak semua
berpakaian seperti perwira. Enam orang di antara mereka
adalah orang orang berpakaian biasa, bahkan di antaranya
terdapat searang wanita yang bertubuh tegap dan besar,
bermuka cukup manis dan mainkan sebatang golok besar
pula. Wanita ini memiliki ilmu golok yang lihai sekali.
Siapakah mereka ini? Bukan lain mereka adalah orang
orang kang ouw yang termasuk golongan penjilat. Begitu
melihat bala tentara Kin mendapat kemenangan, mereka ini
buru buru datang menyatakan kesanggupan mereka untuk
membantu pemerintah baru.
Wanita itu adalah seorang wanita sakti yang telah lama
terkenal sebagai seorang tokoh hek to (jalan hitam) dan
karena ia merasa bahwa dirinya dimusuhi oleh banyak
orang gagah, maka ia lalu mencari tempat perlindungan
yang kuat pada benteng pasukan Kin. Tentu saja orang
orang seperti ini diterima baik oleh komandan pasukan
pasukan Kin, karena mereka maklum bahwa mereka
menghadapi perlawanan rakyat yang dipimpin oleh banyak
ahli ahli silat yang lihai.
Melihat betapa fihaknya terancam bahaya, Tan Seng
menjadi khawatir juga. Kalau sampai semua orang tewas
dalam keroyokan itu, bukankah itu kerarti pengorbanan sia
sia belaka? Lebih baik menyelamatkan mayat mantunya
dan tubuh puterinya yang terluka atau tewas itu, lalu
mengajak murid murid keponakannya melarikan diri!
Pikiran seperti ini ternyata juga timbul dalam otak Liang
Ti. Ia berseru kepada empat orang saudaranya, “Kalian
membantu sosiok membawa pergi sumoi dan mayat
suaminya. Biar aku menahan anjing anjing busuk ini!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah berkata demikian, Liang Ti lalu memutar pedangya
dan mainkan Hoa san kiam hwat yang paling lihai. Pedang
itu merupakan sinar putih bergulung gulung melagukan
serangan serangan nekat ke arah para pengeroyokannya dan
kenekatannya ini ternyata berhasil ketika seorang
pengeroyok menggelundung dengan leher hampir putus!
Marahlah Coa Kim Kiok, wanita tegap itu melihat orang
yang terbunuh oleh pedang di tangan Liang Ti, karena
orang itu adalah seorang kekasihnya. Ia mengangkat
goloknya dan menyerang sambil memaki maki, dibantu
pula oleh empat orang kawannya. Akan tetapi Liang Ti
tidak menjadi jerih, bahkan mengamuk hebat sekali berkali
kali menyuruh saudara saudaranya cepat membantu sosiok
mereka menolong Tan Ceng dan mayat suaminya.
Tan Seng mengerti akan maksud Liang Ti dan diam
diam ia menjadi amat terharu. Murid keponakannya itu
ternyata hendak mengorbankan dirinya untuk memberi
kesempatan kepada yang lain lain, agar supaya dapat
melarikan diri dan menolong Tan Ceng. Iapun lalu berseru
keras dan tubuhnya berkelebat cepat kearah Go Sik An.
Beberapa orang perwira mengejarnya, akan tetapi empat
orang murid keponakannya cepat menghadang mereka dan
sebentar saja empat orang ini di kurung hebat. Dua orang
adik seperguruan dari Liang Ti tak dapat menahan serangan
fihak lawan yang banyak ini dan robohlah mereka ini.
Tan Seng, makin bingung dan pada saat itu Tan Ceng
siuman dari pingsannya. Wanita ini dengan amat lemah
menggerakkan kepalanya, lalu membuka matanya. Melihat
betapa ayahnya dikeroyok hebat dan dua orang suhengnya
tewas, timbul tenaga dan semangat baru dalam dirinya.
Serentak ia melompat berdiri dan dengan pedang ditangan
ia menerjang maju pula. Bukan main hebatnya nyonya
muda ini. Mukanya telah menjadi kehitaman karena
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengaruh racun yang telah menjalar di dalam tubuhnya dan
luka di lambungnya mengeluarkan banyak darah. Akan
tetapi rasa sakit hati melihat suamiya dan khawatir melihat
ayahnya dan suheng suhengnya, telah mendatangkan
kekuatan baru yang ajaib. Tenaganya menjadi berlipat
ganda dan gerakannya cepat dan kuat. Ia menyerang
dengan nekat, dan sebentar saja merobohkan tiga rang
musuh! Melihat sepak terjang nyonya muda ini, para
pengeroyok menjadi jerih juga. Akan tetapi, akhirnya
pengaruh racun dan kekurangan darah membuat Tan Ceng
roboh lagi tanpa tersentuh senjata lawan. Ia roboh sambil
berseru nyaring kepada ayahnya yang masih melayani
keroyokan lawan.
“Ayah.... aku minta agar supaya Le ji (anak Le)
selamanya mengenakan hwa i (baju kembang) ayahnya agar
rohku dapat mengenalnya di mana mana!” Setelah berkata
demikian, nyonya ini lalu merangkak kedekat suaminya
yang memakai baju kembang dan…. menghembuskan
napas terakhir di atas dada mayat suaminya.
Tan Seng tentu saja tidak tahu bahwa puterinya telah
tewas, akan tetapi kata kata ini membuat ia menahan sedu
sedan yang naik ke lehernya. Ia tahu bahwa mantunya
semenjak masa kanak kanaknya paling suka mengenakan
baju kembang, bahkan setelah menikah selalu memakai
baju berkembang. Agaknya karena pikiran Tan Ceng penuh
dengan bayangan suaminya dan penuh kesedihan, maka ia
berkata demikian, pikir kakek ini, sama sekali tidak mengira
bahwa puterinya itu telah mati dan bahwa kata kata tadi
merupakan pesan terakhir!
Kembali dua orang murid keponakannya roboh binasa.
Tan Seng cepat mendekati Liang Ti yang masih mengamuk
bagai seekor naga terluka. Orang inipun telah menderita
banyak luka sehingga bajunya telah penuh darah, tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kirinya hampir putus di bagian siku, akan tetapi dengan
penuh kegeraman, Leng Ti masih mengamuk terus dan
pedangnya menyambar nyambar hebat, masih banyak
merobohkan pengeroyok !
Tan Seng yang melihat hal ini, mengambil keputusan
nekad untuk bertempur sampai akhir. Biarlah kita mati
semua asalkan dapat membunuh sebanyak banyaknya,
demikian pikir kakek yang gagah ini. Akan tetapi tiba tiba
Liang Ti berseru, “Susiok, semua sudah tewas, tinggal kita
berdua. Larilah kau, biar teecu menahan tikus tikus ini.”
“Enak saja kau bicara. Liang Ti! Kau kira aku takut
menghadapi maut?” kata Tan Seng sambil memutar ujung
lengan bajunya. Juga dia sekarang dapat melihat bahwa
Tan Ceng sudah meninggal, hal itu mudah dilihat dari
wajah anaknya itu yang menjadi kebiruan dan matanya
yang setengah terbuka tanpa bergerak.
“Bukan begitu, susiok. Kau harus hidup untuk merawat
cucumu dan juga.... jangan lupakan anak isteriku!” Baru
saja mulutnya tertutup, tiba tiba Liang Ti mengeluh ngeri
dan tubuhnya terkulai. Dadanya terpanggang oleh pedang
musuh yang tak kenal ampun.
Tan Seng merasa hatinya hancur luluh, ia kagum dan
terharu melihat betapa Liang Ti telah mengorbankan diri
sedangkan di rumahnya masih ada anak isterinya! Ah,
Liang Ti hanya seorang diantara sekian banyak pahlawan
pahlawan bangsa.
Kini semua pengeroyok mengepung Tan Seng sambil
bersorak sorak karena hanya tinggal kakek ini seorang yang
belum roboh. Tan Seng hendak berlaku nekad, akan tetapi
kata kata Liang Ti berdengung di dalam telinganya. Aku
harus hidup, pikirnya. Aku harus hidup demi kebaikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cucuku dan juga demi keluarga Liang Ti! Aku harus dapat
melarikan diri!
Tiba tiba para pengeroyok menjadi kacau balau. Entah
apa sebabnya, mereka jatuh bangun dan dibagian luar
kepungan, banyak perwira roboh sambil memekik
kesakitan. Tan Seng melihat sinar keemasan berkelebat ke
sana ke mari tanpa terlihat orangnya dan hampir saja ia
tidak percaya kepada pandangan matanya sendiri. Dia
adalah seorang tokoh dari Hoa san pai telah memiliki
kepandaian tinggi, bagaimana ia sampai tidak dapat melihat
gerakan orang? Benar benarkah seorang manusia yang
sedang mengamuk, dan membantunya itu? Belum pernah
selama hidupnya ia melihat gerakan pedang yang dapat
menjadi satu dengan bayangan orangnya sehingga orang itu
sendiri terbungkus sama sekali oleh gundukan sinar pedang!
“Tan lo enghiong, tidak lekas lari mau tunggu kapan
lagi?” terdengar suara yang nyaring dari dalam gundukan
sinar pedang itu. Barulah Tan Seng teringat. Ketika ia
hendak mencari mayat mantunya dan mayat anaknya, ia
menjadi terkejut melihat sinar pedang keemasan itu
menyambar ke arah kedua mayat itu dan tiba tiba kedua
mayat itu terangkat ke atas dengan cepatnya bagaikan
terbang.
“Tan lo enghiong kalau hendak mencari jenazah orang
orang gagah, harus pergi ke Guha Makam Pahlawan!”
terdengar lagi orang aneh itu berkata.
Para pengeroyok telah berlari cerai berai setelah dihajar
oleh sinar pedang keemasan itu, maka ketika Tan Seng
melihat dua mayat itu lenyap dibawa lari oleh orang aneh
itu, iapun segera menyambar mayat Liang Ti dan seorang
murid keponakan lagi. Lalu berlarilah kakek ini keluar dari
tempat itu memasuki hutan. Malam itu juga ia mengubur
mayat Liang Ti dan seorang adik seperguruannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian kakek ini lalu kembali ke tempat pertempuran
tadi. Ternyata bahwa mayat mayat fihak lawan telah
diangkat masuk ke dalam benteng, akan tetapi mayat tiga
orang murid keponakannya ditinggalkan di situ saja,
bahkan telah rusak karena dihujani senjata tajam. Dengan
hati penuh dendam dan haru, kakek ini lalu mengangkat
semua mayat murid keponakannya, kemudian
menguburnya menjadi satu di dalam hutan itu.
Kemudian, Tan Seng cepat berlari memasuki hutan
menuju ke kuil di mana cucunya ditinggalkan. Hampir Tan
Seng tak dapat menahan runtuhnya dua titik air matanya
ketika ia teringat akan cucunya. Go Ciang Le. Anak itu
telah menjadi seorang anak yatim piatu! Dan usianya baru
juga tiga tahun lebih! Ia teringat akan pesan terakhir dari
anaknya dan sedu sedan naik ke lehernya. Bagaimana pula
pesan anaknya? Bahwa Ciang Le harus selamanya memakai
Hwa I (baju berkembang), seperti ayahnya!
Dengan hati penuh keharuan, Tan Seng melompat ke
dalam kuil dan terus menuju ke dalam kamar singa batu di
mana Ciang Le ditidurkan oleh ibunya. Tidak terdengar
suara sesuatu. Kasihan, anak itu masih tidur nyenyak, sama
sekali tidak tahu nasib apakah yang telah menimpa diri
ibunya, pikir kakek ini.
Akan tetapi setelah ia memasuki kamar, terbelalak ia
memandang ke sudut kamar di mana tadi anak kecil itu
tidur. Tempat itu sekarang kosong dan tidak nampak
bayangan cucunya!
“Ciang Le…!” tak terasa pula ia berseru keras
memanggil. Apakah anak itu berhasil melepaskan ikat
pinggangnya dan ke luar dari kamar? Kakek ini memeriksa
di dalam kamar, akan tetapi tidak kelihatan ikat pinggang
yang tadi diikatkan pada tiang. Ia lalu keluar dan mencari
cari di seluruh kuil sambil berseru berulang ulang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memanggil nama cucunya. Akan tetapi sia sia belaka, tidak
ada jawaban, juga tidak ada tanda tanda ke mana cucunya
pergi.
“Ciang Le…!!” kini panggilan ini mengandung
kekhawatiran besar dan terdengar menggetar. Kakek Tan
Seng benar benar gelisah sekali. Apakah yang telah terjadi
dengan Ciang Le?? Sambil berlari ke sana kemari dan
memanggil manggil nama Ciang Le, kakek ini mencari di
dalam hutan, membuka rumpun dan menjenguk ke dalam
jurang. Sampai pagi hari bahkan sampai siang dan kembali
senja mendatang, kakek ini masih saja mencari ke sana ke
mari di dalam hutan itu seperti orang gila!
Akhirnya ia menjadi putus harapan dan menjatuhkan
diri di bawah sebatang pohon, menyembunyikan mukanya
di atas kedua lututnya. Ia merasa lelah sekali, lelah lahir
batin, dan merasa bosan hidup di atas dunia ini. Puterinya
telah tewas, mantunya mati tergantung, dan kini cucunya,
harapan satu satunya sebagai penyambung keturunan, telah
lenyap pula!
Siapakah yang begitu jahat menculik Ciang Ley anak
berumur tiga tahun itu?
Tiba tiba ia teringat akan orang aneh yang telah mencuri
jenazah. Go Sik An dan Tan Ceng. Apakah orang aneh itu
pula yang mem bawa pergi Ciang Le? Mungkin sekali.
Harapannya timbul kembali dan ia teringat pula akan
pengorbanan dan pesan terakhir dari Liang Ti, murid
keponakannya. Ah, benar, ia masih mempunyai kewajiban,
yakni memelihara anak dan isteri Liang Ti. Tergopoh
gopoh kakek ini lalu meninggalkan hutan dan pergi menuju
ke kampung Keng an bun, sebuah kampung kecil tak jauh
dari Kaifeng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Kaisar Chin Tsung dan ayahnya. Kaisar Hui
Tsung, tertawan oleh pasukan Kin di Kaifeng, seorang
pangeran berhasil melarikan diri di bawah perlindungan
beberapa orang pembesar yang setia kepadanya. Pangeran
ini adalah Kao Tsung yang berhasil lari ke Propinsi Honan
dan kemudian mendirikan lagi kerajaan dengan ibu kota
Sang ciu di Propingi Honan. Kemudian ia memindahkan
pula ibu kota atau kota raja ke Hongkouw, Kerajaan Kaisar
Kao Tsung ini disebut dinasti Sung selatan.
Bala tentara Kim masih saja melanjutkan serbuannya ke
selatan, akan tetapi di mana mana mereka menjumpai
perlawanan yang gigih dari rakyat jelata. Di seluruh daerah
Propingi Hopei dan Sansi, rakyat membentuk kesatuan
kesatuan sendiri untuk bangkit melawan bala tentara Kin,
Pasukan pasukan rakyat ini bermarkas di lereng gunung
atau di lembah sungai sungai, melakukan perang gerilya
dan menyerang pasukan musuh di mana saja musuh
berada.
Sebuah di antara pasukan pasukan rakyat ini, yang
paling terkenal adalah Pasukan Surban Merah yang gagah
perkasa. Pernah pasukan Surban Merah ini menyergap
markas besar musuh dan membasmi seluruh penghuni
markas besar itu. Kemenangan yang dicapai oleh Pasukan
Surban Merah yang gagah berani ini tidak sedikit
menambah semangat perlawanan dari rakyat jelata
terhadap barisan musuh.
Patriot patriot yang paling gagah berani adalah mereka
yang melakukan perlawanan di sebelah utara Sungai Huang
ho (Sungai Kuning). Boleh dibilang hampir seluruh rakyat
mengadakan perlawanan. Hal ini tidak aneh karena yang
paling menderita akibat perampokan dan penghinaan bala
tentara Kin, adalah orang orang utara, maka dendam dan
sakit hati merekapun lebih besar dan mendalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jenderal yang bertugas mempertahankan daerah Kaifeng
adalah Jenderal Tsung Ce yang terkenal gagah dan ahli
dalam siasat perang. Karena melihat bahwa para pasukan
patriot di sebelah utara Sungai Kuning dapat diandalkan,
Jenderal Tsung Ce lalu menyeberangi Huang ho dan
mengadakan perundingan dengan patriot patriot rakyat itu
dan mencari jalan bagaimana untuk dapat merampas
kembali daerah yang diduduki oleh musuh.
Para patriot utara yang sudah mendengar nama Jenderal
Tsung Ce, menyatakan kesanggupan mereka untuk
membantu. Diantara para patriot ini, terdapat kakek Tan
Seng yang terkenal gagah dan disegani oleh kawan
kawannya. Kemudian Jenderal Tsung Ce menentukan
siasat dan memerintahkan sebarisan patriot terdiri dari
tujuh ribu orang dipimpin oleh seorang gagah bernama Ong
Goan dibantu oleh kakek Tan Seng, untuk menyerbu
barisan musuh yang puluhan ribu jumlahnya. Dengan amat
gagah berani, pasukan tujuh ribu orang ini membobolkan
barisan pertahanan bala tentara Kin dan dapat merebut dan
menduduki Pegunungan Tai hang. Dan di Tai hang inilah
dikumpulkan barisan barisan rakayat sampai mencapai
jumlah ratusan ribu orang.
Demikianlah, di bawah pimpinan Jenderal Tsung Ce
yang gagah perkasa dan pandai, barisan tertara Han dan
barisan rakyat petani yang kuat itu bertubi tubi mengadakan
serangan kepada musuh dan berhasil merebut kembali
daerah yang amat luas, menyelamatkan jiwa banyak sekali
rakyat dan merampas kembali harta benda dari tangan
musuh.
Akan tetapi, sungguh merupakan catatan sejarah yang
harus disesalkan. Semua usaha dan perjuangan rakyat ini
sia sia belaka. Kaisar Kao Tsung yang seperti juga kakak
kakaknya atau ayahnya berada di bawah pengaruh menteri
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menteri durna (menteri jahat), tidak menyetujui perjuangan
rakyat ini, Kaisar Kao Tsung dan menteri menterinya
terlalu takut kepada musuh dan terlalu memandang ringan
kekuatan rakyat jelata sendiri. Bagi kaisar dan para
pembesar, akan lebih amanlah apabila dapat mengadakan
perundingan secara damai dengan fihak musuh yang
terkenal amat kuat itu.
Sungguh tepat sekali ucapan seorang bijaksana di jaman
dahulu yang menyatakan bahwa orang yang selalu hidup di
dalam kemewahan bertabiat pengecut, berbeda dengan
orang yang pernah mengalami pahit getir penghidupan.
Kaisar Kao Tsung yang semenjak kecilnya hidup berenang
di laut kemewahan, tidak pernah mengalami kesukaran,
menjadi amat penakut dan ia merasa khawatir kalau kalau
ia akan menderita di dalam hidupnya. Untuk keselamatan
dirinya sendiri ia tidak memikirkan nasib rakyat jelata. Biar
rakyat dirampok habis, biar rakyat dihina, dijadikan budak
belian, dibunuh, asal dia sendiri tidak kehilangan jiwa,
demikianlah jalan pikirannya!
Beberapa kali jenderal Tsung Ce yang sudah amat tua itu
mendesak kepada kaisar untuk mengadakan ekspedisi ke
utara, untuk mengusir penjajah mengandalkan bantuan
rakyat di utara. Akan tetapi jangankan kaisar
menyetujuinya, bahkan kaisar menjadi takut kalau kalau
jenderal itu kelak di utara akan bersekutu dengan para
patriot dan mengancam kedudukannya! Oleh karena itu,
jenderal yang sudah berusia tujuh puluh tahun ini bahkan
lalu dicurigai dan diawasi gerak geriknya dan dilarang
melanjutkan gerakkannya mengadakan pambersihan ke
sebelah utara Sungai Huang ho.
Atas sikap kaisar ini, Jenderal Tsung Ce yang amat setia
kepada kaisar mendapat pukulan batin yang hebat sekali.
Tubuhnya yang sudah tua itu tak dapat menahan datangnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pukulan ini sehingga ia jatuh sakit. Dan apakah yang
dilakukan oleh pahlawan ini ketika ia menghadapi saat
terakhir? Ia memanggil semua pemimpin patriot, termasuk
kakek Tan Seng dan dengan suaranya yang sudah lemah
akan tetapi tetap menggelora, berapi api bersemangat, ia
memesan kepada mereka agar melanjutkan perjuangan dan
membasmi musuh! Kemudian ketika ajalnya tiba, ia
mengigau dan di dalam igauannya ini ia selalu menyebut
nyebut tentang ekspedisi menyeberangi Sungai Kuning
untuk membasmi bala tentara Kin, musuhnya dan musuh
rakyatnya! Bukan main hebatnya semangat kepahlawanan
jenderal ini, semangat yang patut dijadikan tauladan oleh
semua orang yang bertanah air.
Kakek Tan Seng sampai menumpahkan air mata ketika
ia menghadapi kematian jenderal besar itu. “Kaisar benarbenar
tidak dapat melihat mana pahlawan mana
pengkhianat !” Kakek ini berkata sambil mengepal tinju.
Dengan hati marah kakek ini lalu meninggalkan pasukan
dan kembali ke Hoa san menyusul Bi Lan, anak perempuan
Liang Ti yang telah dibawanya ke atas puncak Hoa San.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kakek ini
mendatangi rumah Liang Ti dan menemui isteri dari murid
keponakannya ini.
Mendengar betapa suaminya telah tewas, nyonya Liang
Ti menjadi amat berduka. Kemudian, ketika Tan Seng
memberi nasihat agar supaya menyerahkan puterinya untuk
dididik ilmu silat, ia menyatakan setuju. Demikianlah,
puteri dari Liang Ti, puteri tunggal yang bernama Bi Lan,
dibawa oleh Tan Seng ke puncak Hoa san. Adapun nyonya
Liang Ti sendiri lalu kembali ke kampung orang tuanya di
mana ia hidup menjanda sambil menanti kembalinya
puterinya dengan penuh harapan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah kakek Tan Seng menyerahkan Bi Lan yang baru
berusia dua tahun lebih itu kepada suheng suhengnya di
kuil Thian seng si di puncak Gunung Hoa san, ia lalu turun
gunung untuk menggabungkan diri dengan para patriot.
Akan tetapi, perbuatan kaisar terhadap Jenderal Tsung Ce
membuat harinya menjadi tawar dan dingin. Maka
kembalilah dia ke Hoa san dan membantu suheng
suhengnya untuk mendidik Bi Lan, puteri dari mendiang
Liang Ti.
Sampai belasan tahun, rakyat masih mengadakan
perlawanan gigih terhadap penyerbuan tentara Kin. Akan
tetapi, karena kaisar tidak menyetujui kenekatan rakyat
yang mempertahankan daerah masing masing, maka
perlawanan rakyat itu kurang sempurna dan balatentara
Kin yang banyak dibantu oleh orang orang pandai berjiwa
pengkhianat, terus mau menyerbu ke selatan.
Dalam masa inilah munculnya pahlawan pahlawan
termasuk pahlawan besar Gak Hui yang tercatat dengan
tinta emas dalam buku sejarah Tiongkok. Agaknya kurang
sempurnalah kalau dalam cerita ini kita tidak mengenang
pahlawan bangsa yang besar ini dan mengikuti riwayatnya
secara singkat sebelum melanjutkan inti cerita.
Gak Hui adalah seorang keturunan petani yang
sederhana dari kota Tang yin di Propinsi Honan. Semenjak
bala tentara Kin menyerbu ke selatan, ia telah aktip dalam
perlawanan sehingga kemudian ia diakui sebagai seorang
pemimpin yang cakap. Ia adalah seorang patriot sejati yang
amat mencinta tanah airnya dan yang karenanya
mempunyai kebencian hebat terhadap musuh. Semua
perajuritnya terdiri dari pada petani petani utara yang patuh
terhadap disiplin dan peraturan yang diadakan dengan keras
oleh Gak Hui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Lebih baik mati kelaparan atau kedinginan dari pada
mengambil milik rakyat jelata!” demikian bunyi sumpah
mereka. Oleh karena ini barisan yang dipimpin oleh Gak
Hui amat dihormat dan dicinta oleh rakyat. Di mana mana
mereka berada, mereka membantu penduduk kampung dan
karenanya disambut dengan hangat oleh rakyat, dan
mendapat dukungan rakyat kecil. Pasukan manakah yang
takkan menjadi kuat setelah mendapat simpati dan
dukungan rakyat, sumber kekuatan masa itu?
Akhirnya Gak Hui dapat bergerak maju memukul
pasukan musuh, dan tiba di lembah Kuning di mana ia lalu
menggabungkan diri lengan patriot patriot dari Pegunungan
Tai hang. Juga hubungan dengan patriot patriot lain,
diantaranya di Hopei, diadakan sehingga kedudukan
mereka makin kuat. Dengan kerja sama yang amat baik,
mereka dapat melakukan pukulan lebih cepat terhadap
musuh.
Alangkah baiknya persatuan antara tentara akyat dan
tentara pemerintah Sung Selatan yang mempunyai tujuan
satu, yakni mengusir musuh dari tanah air. Demikianlah,
dalam tahun 1140 fihak Kin mengalami pukulan besar dan
hebat seperti yang belum pernah mereka rasakan.
Pukulan ini dirasakan oleh seorang komandan tentara
Kin yang amat terkenal dan yang bernama Bucu (Wuchu).
Ia memimpin bala tentaranya ke selatan dan mula mula
menerima pukulan dari pasukan Jenderal Liu Ti di
Shuncang Propinsi Anhwi. Dalam pada itu, lain panglima
Kerajaan Sung Selatan yakni Wu Lin, mehkukan gempuran
hebat pula pada pasukan Kin di Kufeng di Propingi Shensi.
Pada saat itulah Gak Hui bergerak dan menyerbu dari Siang
yang di Propingi Hupeh. Dengan serangan berantai ini, bala
tentara Bucu dapat dipukul hancur dan di cerai beraikan.
Barisan yang dipimpin oleh Gak Hui terus mengejar musuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan setelah terjadi pertempuran hebat sekali di Yen ceng
(Propingi Honan) maka rusak binasalah bala tentara yang
dipimpin oleh Bucu.
Kemenangan besar ini membangkitkan semangat para
patriot. Mereka hendak mengejar terus untuk mengusir
penjajah dari tanah air, akan tetapi pada saat kemenangan
total berada di ambang pintu, Kaisar Kao Tsung
memerintahkan penarikan mundur semua pasukan! Gak
Hui, seperti lain lain patriot, adalah orang gagah yang setia,
maka tentu saja tidak berani membantah perintah dan
komando tertinggi ini. Ditarik mundurlah semua tentara
sehingga Bucu dapat menarik napas lega karena terlepas
dari pada kehancuran total.
Pada waktu itu yang memiliki kekuasaan besar di istana
kaisar adalah Perdana Menteri Jin Kui. Perdana Menteri
durna ini bersama kaisar merasa amat gelisah, karena
mereka ini diam diam telah mengadakan kontak dengan
Bucu, pemimpin bala tentara Kin itu. Pengaruh Gak Hui
yang besar terhadap rakyat dan kemenangan
kemenangannya membuat kaisar dan perdana menterinya
ketakutan kalau Gak Hui akan menjadi makin kuat dan
bersekutu dengan patriot patriot utara sehingga
membahayakan kedudukan mereka sendiri. Maka mereka
lalu memerintahkan penarikan mundur semua pasukan,
bahkan memanggil Gak Hui dan lain lain jenderal dan
panglima patriotik, menggantikan kedudukan mereka
dengan orang orang sendiri!
SementerĂ  itu, Bucu mengirim surat rahasia kepada Jin
Kui, menyatakan bahwa kalau Gak Hui tidak dibunuh, tak
mungkin akan ada “perdamaian” sebagaimana yang dicita
citakan oleh kaisar bersama Kerajaan Kin.
Kaisar mempergunakan kekuasaannya dan Gak Hui
ditangkap! Ketika semua orang sedang terkejut dan hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memprotes, tahu tahu Gak Hui telah dibunuh mati di
dalam penjara atas perintah perdana menteri!
Demikianlah, secara pengecut sekali dan demi menjaga
kesenangan sendiri, orang orang yang menganggap diri
sebagai “pemimpin pemimpin” ini telah bersekutu dengan
Kin dan negara dibagi dua. Mulai dari lembah utara Sungai
Huai dan Terusan Tasan kuan di Propingi Shensi menjadi
daerah kekuasaan Kin. Di samping itu, Kerajaan Sung
masih, diwajibkan membayar upeti tahunan sebanyak dua
ratus lima puluh ribu tail perak dan dan ratus lima puluh
ribu kayu kain sutera kepada Kin!
-oo0dw0oo-
Tujuh belas tahun telah lewat semenjak pahlawan Go Sik
An tewas digantung oleh tentara Kin.
Pada suatu pagi di Pegunungan Tapie san yang terletak
di sebelah selatan Sungai Huai, hawa udara pagi hari itu
amat dinginnya dan bagi orang orang kaya, tentu pada hari
sepagi dan sedingin itu masih amat malas meninggalkan
pembaringan. Akan tetapi tidak demikian dengan kaum
miskin, terutama kaum tani yang rajin. Sebelum matahari
terbit, kaum tani telah meninggalkan rumah, membawa alat
cocok tanam dan bagaikan tentara maju ke medan
pertempuran, mereka juga berangkat ke medan juang yang
bagi mereka tempatnya di tengah tengah sawah ladang
meluas.
Akan tetapi, dari sebuah dusun pertanian yang berada di
lereng Gunung Tapie san sebelah selatan, serombongan
petani terdiri dari belasan orang laki laki berjalan
berkelompok mengikuti seorang pemuda yang berjalan di
depan mereka, memasuki sebuah hutan yang penuh dengan
pohon pohon besar dan batu batu karang yang kokoh kuat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dari dalam hutan itu terdengar suara suara keras
menyeramkan, suara binatang binatang hutan yang buas.
Tidak mengherankan apabila belasan orang petani itu saling
pandang dengan mata terbelalak ketakutan dan biarpun
hawa udara pagi itu amat dingin, mereka semua ajaknya
selalu merasa gerah! Mereka berjalan di belakang pemuda
itu dengan kaki selalu bersiap sedia untuk sewaktu waktu
melarikan diri dan memutar tubuh meninggalkan tempat
berbahaya itu. Hanya kedua kaki mereka saja yang dipaksa
maju padahal semangat mereka sudah mundur ketika
mendengar suara geraman srigala dan harimau hutan.
Akan tetapi, pemuda yang berjalan di depan rombongan
orang orang ini, nampak tersenyum senyum tenang dan
tindakan kakinya yang ringan dan tetap itu membuat
tubuhnya nampak seperti seekor singa berjalan.
Langkahnya tetap, tubuhnya lurus dengan dada yang
bidang. Tubuhnya tinggi tegap dan kelihatan kuat sekali
dan wajahnya membayangkan kegagahan. Benar benar
seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah. Ia
memakai topi berwarna biru dan sepatunya yang hitam
terbuat dari pada kulit. Yang aneh adalah pakaiannya.
Celananya biru dan biasa saja, akan tetapi bajunya yang
aneh. Baju itu terbuat dari pada sutera halus, berwarna
kuning dengan kembang kembang besar warna merah. Di
punggungnya tergantung sebatang pedang yang
bersarungkan kain bersulam dan gagang pedang itu nampak
bersih mengkilap dengan kain ronce warna merah. Usia
pemuda ini paling banyak dua puluh tahun, akan tetapi
sepasang matanya memiliki daya yang amat berpengaruh
yang membuat orang tidak berani memandang rendah
kepadanya.
Siapakah pemuda yang tampan dan gagah Ini? Pembaca
tentu dapat menerkanya, melihat dari pakaiannya yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkembang itu. Memang benar, dia adalah Go Ciang Le
putera dari mendiang Go Sik An, sasterawan ahli silat itu !
Seperti telah diceritakan di bagian depan tujuh belas
tahun yang lalu, ketika Ciang Le oleh ibunya ditinggalkan
seorang diri di dalam kuil tua dan ketika kakek anak ini,
yaitu Tan Seng, datang hendak mengambilnya, anak ini
telah lenyap tak meninggalkan bekas. Siapakah yang
menculik anak itu dan siapa pula yang mencuri jenazah Go
Sik An dan isteri nya secara demikian anehnya?
Yang melakukannya adalah sepasang iblis manusia yang
disebut di kalangan kang ouw Thian te Siang mo (Sepasang
Iblis Bumi Langit), dua orang tua yang luar biasa dan aneh
sekali. Mereka ini diwaktu mudanya merupakan dua orang
penjahat yang ganas sekali, sepasang saudara kembar yang
memiliki kepandaian luar biasa tingginya. Boleh dibilang
hampir seluruh cabang persilatan telah didatangi oleh
sepasang saudara kembar ini dan di setiap perguruan silat
mereka mengacau, menantang ketuanya untuk mengadakan
pibu dan merobohkan mereka!
Tak seorangpun tahu dari mana asalnya sepasang
manusia seperti iblis ini dan juga tidak ada yang tahu
siapakah yang mengajar ilmu silat selihai itu kepada
mereka. Sebetulnya kalau orang melihat keadaan mereka,
yang jarang sekali terjadi karena gerakan mereka memang
cepat laksana bayangan iblis, mereka itu tidak kelihatan
seperti iblis. Kedua kakek ini berpakaian serupa, pakaian
pendeta Tao yang panjang berwarna kuning keemasan
dengan jenggot panjang dan rambut kepala di gelung ke atas
seperti umum nya para tosu memelihara rambut mereka.
Juga wajah mereka tidak buruk atau nampak jahat, hanya
sepasang mata mereka saja yang bersinar kocak dan seperti
mata kanak kanak yang nakal. Yang menarik adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
persamaan kedua orang itu. Sukarlah bagi orang lain untuk
dapat membedakan.
Yang tertua diantara sepasang iblis kembar ini disebut
Thian Lo mo (Iblis Tua Langit)
......Hal 59,60,61,61.62 gak ada.....
yang dipakai pada saat terakhir oleh Go Sik An!
Juga Ciang Le mendengar penuturan guru gurunya
tentang kedua orang tuanya, maka sering kali anak ini
mengunjungi dua tengkorak di depan untuk duduk di dekat
rangka rangka ayah bundanya. Bagi Ciang Le, ruangan
yang gelap dan penuh rangka manusia itu merupakan
tempat yang menyenangkan! Sering kali ia bicara seorang
diri ditujukan kepada kerangka kerangka ayah bundanya,
sehingga kalau orang lain melihatnya berhal demikian,
tentu ia akan dianggap seorang yang miring otaknya.
Betapapun gagah perkasanya Thian te Siang mo dan
betapapun banyaknya ilmu yang mereka miliki, akhirnya
setelah melatih dan menggembleng Ciang Le selama enam
belas tahun lebih, habislah semua kepandaian mereka
diturunkan kepada Ciang Le!
“Murdku, kata Thian Lo mo ketika menyatakan kepada
muridnya bahwa pemuda itu telah tamat belajar, “semua
ilmu silat yang kami miliki, telah kami ajarkan semua
kepadamu Bahkan sedikit ilmu surat juga telah kaupelajari.
Usiamu sudah sembilan belas tahun lebih, maka sudah
sepantasnya kalau sekarang kau turun gunung untuk
mewakili kami menebus dosa! Hanya ada satu macam ilmu
pukulan yang belum kaupelajari, ialah ilmu pukulan yang
sedang kami ciptakan berdua, yang disebut Thian te Siang
mo Ciang hwat. Ilmu pukulan ini sedang kami
sempurnakan, sedikitnya makan waktu setahun lagi baru
sempurna. Ilmu pukulan ini amat berbahaya, muridku dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
agaknya akan melebihi semua ilmu silat yang telah
kaumiliki. Akan tetapi, biarlah kelak saja kami ajarkan
kepadamu.”
-oo0dw0oo-
Jilid 2
“DAN pedang ini boleh kau bawa, Ciang Le” kata Te Lo
mo sambil menyerahkan pedangnya yang disebut Kim kong
kiam (Pedang Sinar Emas). “Kau telah beberapa kali
bersumpah hendak mempergunakan ilmu kepandaian yang
kau pelajari untuk berbuat kebaikan. Kau harus menjadi
seorang pendekar budiman dan jangan lupa selamanya kau
harus memakai baju kembang, sesuai dengan pesan terakhir
ibumu!”
Ciang Le menerima pedang dan buntalan pakaian serta
beberapa potong emas dari kedua suhunya, la merasa amat
terharu dan berterima kasih. Baginya, kedua orang yang
disebut Sepasang Iblis di dunia kang ouw ini, bukan iblis
melainkan dua orang yang paling mulia di dunia ini.
Mereka itu adalah gurunya, juga pengganti orang tuanya
dan penolongnya.
“Teecu (murid) akan memperhatikan segala nasihat jiwi
suhu (guru berdua) dengan taat. Dimanapun teecu berada
teecu takkan melupakan suhu berdua. Akan tetapi, mohon
penjelasan dari jiwi suhu, bilakah teecu diperbolehkan
kembali ke sini ?”
“Tak usah kembali, tak usah kembali….” kata Thian Lo
mo sambil menggoyang goyang tangannya.
Ciang Le memandang dengan terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Twa suhumu (guru besarmu) hanya main main, Ciang
Le,” kata Te Lo mo sambil tertawa. “Memang tak usah
kembali, akan tetapi kita pasti akan bertemu kembali.
Ingatlah bahwa kedua gurumu selalu memperlihatkan gerak
gerikmu dan kalau sampai kau menyeleweng dan menyia
nyiakan harapan kedua gurumu dan kedua orang tuamu,
kau harus tahu bahwa dengan ilmu pukulan Thian te Siang
mo Ciang hwat, kami dengan mudah akan dapat
membinasakanmu!” Ucapan terakhir ini dikeluarkan oleh
Te lo mo dengan sikap sungguh sungguh dan muka keras.
Ciang Le menjadi girang dan menghaturkan terima
kasih. Memang, pemuda ini masih bingung ke mana harus
pergi dan merasa amat tidak enak harus berpisah dari kedua
suhunya yang disayangnya. Maka mendengar bahwa kelak
kedua suhunya pasti akan menjumpainya, terhiburlah
hatinya.
“Nah, kau berangkatlah dan jaga dirimu baik baik!” kata
Thian Lo mo.
Ciang Le berlutut dan memberri hormat serta ucapan
selamat tinggal kepada kedua suhu nya, kemudian ia keluar
dari pintu gua yang kecil, masuk ke dalam ruang rangka
dan berlutut di depan kerangka ayah bundanya.
“Ayah ibu aku pergi turun gunung. Mohon doa restu dan
anak akan mencoba mencari orang orang yang telah
membunuh kalian. Kemudian ia berdiri dan keluar dari gua
yang besar dan gelap itu.
Gua Pahlawan yang dipergunakan sebagai tempat
tinggal Thian te Siang mo itu terletak di atas Pegunungan
Tapie san sebelah timur, di puncak yang masih liar dan
belum pernah didatangi manusia saking sulitnya perjalanan
menuju ke situ.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le yang kini telah merupakan seorang yang gagah
dan tampan, kali ini ketika turun gunung, mengenakan baju
kembang milik ayahnya yang dulu diambil oleh Thian Lo
mo, sengaja disimpan untuk diberikan kepadanya! Baju itu
ternyata persis sekali pada tubuhnya, mendatangkan rasa
hangat yang luar biasa. Ia merasa bangga bahwa besar
tubuhnya sama benar dengan ayahnya. Akan tetapi tentu
saja tidak tahu bahwa wajahnya tidak sama dengan wajah
ayahnya, melainkan lebih mirip wajah ibunya.
Demikianlah, seperti yang telah dituturkan di bagian
depan, Ciang Le tiba di lereng bukit sebelah selatan. Hari
telah mulai menjadi gelap ketika ia tiba di dalam dusun di
selatan puncak itu. Heranlah ia ketika melihat betapa semua
pintu rumah di dalam dusun itu telah ditutup rapat rapat
dan tak seorangpun manusia kelihatan berada di luar
rumah.
Ciang Le tidak takut untuk tidur di mana saja, biar di
atas dahan pohon sekalipun, akan tetapi kali ini ia ingin
bercakap cakap dengan orang lain dan bertemu dengari
penduduk dusun. Maka, diketoknya pintu rumah pertama.
Tak ada yang menyahut, dan telinganya yang tajam
mendengar suara yang orang berbisik bisik ketakutan dan
kemudian diam, tanda bahwa tuan rumah sengaja tidak
mau menjawab dan bersembunyi ketakutan.
Ciang Le tidak putus asa dan mengetuk pintu rumah
berikutnya. Sama saja. Makin heranlah dia. Begini tak
sopankah penduduk di dusun ini? Ia telah mendengar
tentang peradaban dan kesopanan dari kedua suhunya, dan
sama sekali tidak pernah mengira bahwa ada orang orang
yang tidak mau menjawab!
Ia tahu bahwa di dalam setiap dusun tentu ada kepala
dusunnya, maka ia lalu berjalan jalan di dalam dusun itu,
mencari rumah yang terbaik dan terbesar. Rumah kepala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dusun pasti yang besar dan terbaik, pikirnya dan pada saat
seperti itu, semua penuturan suhunya terbayang dalam
ingatannya.
Akhirnya sampai juga di depan sebuah rumah yang besar
dan paling mewah diantara semua rumah di situ. Ia lalu
melangkah maju sampai di depan pintu dan mengetuk daun
pintu beberapa kali. Kembali tidak ada jawaban, akan tetapi
Ciang Le yang berpendengaran tajam dapat mendengar
bahwa ada sedikitnya sepuluh orang datang mendekati
pintu dan mengintip dari dalam! Akan tetapi ia berpura
pura tidak tahu dan mengetuk pintu lagi sambil berkata
keras.
“Sungguh mengherankan, mengapa seluruh dusun
menutup pintu pada hari sesore ini? Apakah tidak ada yang
sudi menolong seorang perantau yang Kemalaman di
jalan?”
Tiba tiba pintu besar terbuka dan dua belas orang laki
laki yang berpakaian sebagai penjaga kampung melompat
keluar dengan senjata tajam di tangan! Ketika mereka
keluar, dari penerangan lampu yang bersinar di halaman
rumah, Ciang Le melihat wajah mereka ketakutan, akan
tatapi kini mereka agaknya lega setelah melihat siapa
orangnya yang mengetuk pintu. Namun, masih saja dua
belas orang penjaga itu memandang dengan penuh
kecurigaan dan kewaspadaan.
Setelah mengamat amati keadaan Ciang Le dan melihat
ke arah gagang pedangnya di pundak, orang tertua yang
brewokan lalu melangkah maju dan mengangkat tangan
memberi hormat sambil bertanya.
“Siangkong siapa dan dari manakah?” Ciang Le
tersenyum girang mendengar suara ini. Alangkah merdunya
suara orang lain yang sudah bertahun tahun dirindukannya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ia cepat menjura dengan hormat kepada semua orang itu
dan berkata dengan halus,
“Mohon maaf sebesarnya apabila siauwte mengganggu
cuwi sekalian di waktu malam. Sesungguhnya siauwte
adalah seorang perantau yang kemalaman dan ingin sekali
siauwte mencari rumah penginapan di dusun yang indah
ini. Akan tetapi sayangnya, setiap rumah tertutup dan
ketika siauwte mencoba untuk mengetuk pintu guna minta
keterangan, tak seorangpun mau menjawab.”
Tiba tiba sikap orang brewokan itu menjadi ramah dan
cepat ia berkata, “Siangkong, silakan masuk dan bermalam
di rumah kepala kampung saja. Tak baik kita bicara di luar
dalam saat seperti ini.”
“Mana siauwte berani mengganggu rumah chung cu
(kepala kampung)?”
“Masuk sajalah, siangkon. Aku sendirilah kepala
kampung di dusun ini. Di sini tidak ada rumah penginapan
dan kurasa takkan ada orang yan berani membuka pintu di
waktu malam hari.”
Ciang Le menjadi tertarik hatinya. Kalau tidak ada orang
berani membuka pintu di waktu malam, tentu terjadi
sesuatu yang hebat. Tentu ada bahaya mengancam
penduduk dan inilah yang dicarinya! Ia harus mencari
kesempatan untuk mengulurkan tangan menolong sesama
manusia. Tanpa banyak cakap dan see ji (sungkan) lagi ia
lain mengikuti mereka memasuki pintu besar yang cepat
ditutup lagi dari sebelah dalam.
Kepala kampung itu ternyata adalah seorang yang amat
peramah. Belum juga mengenal siapa nama dan di mana
tempat tinggal tamunya, ia telah memberi perintah kepada
pelayan untuk mengeluarkan hidangan dan menemani
tamunya di ruang dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le merasa berterima kasih sekali. Itu adalah
makanan pertama yang dirasakannya semenjak
meninggalkan gua. Di dalam gua, ia hanya makan buah
buah dan daging dipanggang biasa saja, maka tidak
mengherankan apabila hidangan kepala kampung yang
sebenarnya amat sederhana itu terasa lezat dan baginya
merupakan hidangan raja!
Ketika disuguhi arak dan minum arak keras, hampir saja
ia tersedak karena selama hidup nya Ciang Le belum
pernah minum arak. Akan tetapi baiknya ia memilki
lweekang dan khi kang yang tinggi. Cepat ia menutup jalan
pernapasannya mendorong hawa arak keluar dari dalam
perutnya untuk dikeluarkan kembali melalui mulutnya
sehingga hawa arak yang memabokkan itu tidak
mengganggunya. Dengan jalan ini biarpun ia harus
menghabiskan seguci arak ia takkan terpengaruh.
Setelah sisa makanan diambil oleh pelayan, kepala
kampung mengajak Ciang Le bercakap cakap di ruang
depan di mana berkumpul pula sebelas orang penjaga. Dari
percakapan mereka, tahulah Ciang Le bahwa mereka itu
adalah orang orang yang dianggap paling kuat didusun itu
yang sengaja berkumpul di rumah kepala dusun untuk
menjaga sesuatu yang mengancam.
“Chung cu, sesungguhnya rahasia apakah yang meliputi
dusun ini? Siauwte merasa seakan akan ada sesuatu yang
membuat semua penduduk merasa gelisah.”
Kepala kampung yang brewokan itu memandang wajah
Ciang Le seperti orang menyelidik, lalu mengerling sebentar
ke arah gagang pedang pemuda itu, kemudian menarik
napas panjang seperti orang putus asa. “Apa gunanya
diceritakan? Siangkong, menceritakan hal ini tidak ada
baiknya, bahkan menambah besar bahaya yang
mengancam.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le menjadi tak sabar, ia tahu bahwa kepala dusun
ini memandang rendah kepadanya dan menganggap bahwa
dia takkan dapat menolong, maka percuma saja diceritakan
juga.
“Chungcu, percayalah, kalau benar benar ada yang
mengganggu dusunmu ini dan menyusahkan kau dan
pendudukmu, aku akan membasminya!”
Kepala kampung itu memandang tajam dan di sana sini
terdengar suara orang tertawa kecil. Ciang Le maklum
bahwa kepala kampung dan orang orang yang berada di situ
tidak percaya kepadanya.
“Siangkong, kau baik sekali! Akan tetapi, kenapa kau
hendak menolong kami? Tahukah kau bahwa menolong
kami berarti mengorbankan nyawamu yang masih muda ?”
“Biarpun harus mengorbankan nyawa, aku bersedia,
chungcu!”
“Kenapa? Kenapa kau begitu mati-matian hendak
menolong kami?”
“Kenapa??” Ciang Le mengulang kata kata ini seakan
akan ini adalah pertanyaan yang aneh “Karena kau adalah
orang baik dan kau telah menerima siauwte dengan ramah
tamah, telah menghidangkan makanan dan memberi
tempat beristirahat.”
Kepala kampung itu menarik napas panjang. “Terima
kasih, siangkong. Kalau hanya berdasarkan kebaikan
hatimu dan mengandalkan keberanianmu saja takkan ada
gunanya, bahkan membuang nyawamu dengan sia sia
belaka. Memang dusun kami telah mendapat gangguan
hebat selama sepekan ini, akan tetapi pengganggunya bukan
sembarang manusia, melainkan siluman-siluman jahat!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semenjak kecil Ciang Le hidap di dalam gua yang penuh
tengkorak manusia, bahkan kedua orang suhunya juga
bernama Iblis! Ia tetap tersenyum tenang lalu bertanya,
“Siluman macam apakah yang menggangu, chungcu?
Ceritakan yang jelas agar mudah aku mencari dan
membasminya.”
Pada saat itu, terdengar suara gemuruh dan diantara
suara seperti angin keras itu terdengar pekik mengerikan,
”Kepala kompung tolol! Lagi lagi kau berani tidak
memenuhi permintaanku? Sekarang cucumu sendiri
hendak kuambil!”
Menyusul suara ini, terdengar suara keras pada pintu
besar di depan rumah itu serasa tergetar, kemudian pintu itu
runtuh ke dalam seperti terdorong oleh tenaga raksasa! Dan
di ambang pintu muncul seorang yang bertubuh tinggi
kurus dan kedua tangannya sampai ke siku berbulu.
Gerakan orang ini cepat sekali sehingga sukar untuk
melihat wajahnya dengan nyata. Akan tetapi, bagi Ciang Le
yang memiliki kepandian tinggi, ia dapat melihat dan
ternyata olehnya bahwa orang itu berusia kurang lebih lima
puluh tahun, berwajah biasa saja hanya sepasang matanya
terputar putar tanda bahwa otaknya kurang beres! Namun
harus diakui nya bahwa orang tua itu memiliki ginkang atau
ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi.
Sementara itu, kepala kampung dan para penjaga telah
menjadi pucat dan tubuh mereka menggigil. Apalagi ketika
kepala kampung mendengar betapa siluman ini hendak
mengambil cucunya yang disayangnya!
“Jangan....jangan ganggu cucuku....” Katanya dengan
suara gemetar, yang disusul oleh suara ketawa
menyeramkan dari orang siluman itu. Dengan gerakan
seperti kilat menyambar, siluman itu melompat hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masuk ke dalam rumah. Akan tetapi tiba tiba melayang
sinar putih mengkilap ke arah tubuhnya.
“Aaaahh....” orang itu menjerit kesakitan dan cepat ia
memandang benda yang telah mengenai tubuhnya dan yang
kini telah menggelinding pecah di atas lantai. Ternyata
bahwa benda itu adalah sebuah cawan arak yang tadi
dipegang oleh Ciang Le. Pemuda inipun terheran ketika
melihat betapa orang gila itu tidak roboh oleh sambitannya.
Ia telah menyambit dengan menggunakan ilmu Sambit Pek
po coan ang (Menyambit Tepat Dalam Jarak Seratus Kaki)
dan tahu bahwa sambitannya itu biarpun hanya dengan
cawan arak, namun tepat mengenai jalan darah Tai hwi hiat
yang sudah cukup untuk merobohkan seorang bagaimana
gagahpun. Akan tetapi orang iai hanya menjerit kesakitan
dan tidak roboh. Oleh karena itu, cepat Ciang Le lalu
melompat dan ia telah berdiri di depan siluman itu.
Orang tinggi kurus yang bermata liar ini memandang
dengan marah sekali kepada Ciang Le, seakan akan
menyelidik dan hendak mengetahui siapakah pemuda
tampan yang dapat menyambitkan cawan arak selihai itu.
Akan tetapi ia tidak mengenal Ciang Le, maka sambil
menegereng seperti seekor harimau, ia lalu meneabut
sebatang ranting pohon bambu berwarna kuning berbintik
bintik hijau.
Ciang Le sebagai seorang ahli dapat mengetahui bahwa
orang yang mainkan senjata kecil dan lemah, bahkan
adalah orang yang paling berbahaya dan sukar untuk
dilawan. Kalau saja lawannya itu mengeluarkan senjata
yang besar dan berat ia masih akan memandang ringan.
Akan tetapi kini siluman itu mengeluarkan senjata yang
hanya sebesar jari tangan dan panjangnya tiga kaki, juga
amat lemas. Terpaksa untuk menjaga segala kemungkinan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
karena tahu lawannya amat lihai, pemuda ini lalu mencabut
pedang Kim kong kiam.
Anehnya, melihat pedang yang mengeluarkan cahaya
emas itu. siluman tadi nampak terkejut sekali dan melompat
mundur dua kali. Kemudian, sambil memperdengarkan
suara pekik seperti tangis yang menyayat hati ia lalu
berkelebat keluar dari pintu dan lenyap di dalam gelap
malam.
Kepala kampung dan para penjaga menyaksikan semua
kejadian ini dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Kemudian setelah iblis itu pergi, kepala kampung lalu
menghampiri Ciang Le yang masih berdir dengan pedang di
tangan, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda
agah itu, diturut oleh semua penjaga.
“Eh, eh, jangan begitu. Chungcu. Harap cu wi sekalian
berdiri dan lebih baik ceritakanlah kepada siauwte apa yang
telah terjadi dan siapakah orang gila itu tadi!”
Akan tetapi kepala Lampung dan sebelas orang penjaga
tidak mau berdiri dan tetap berlulut. “Agaknya Thian Yang
Maha Kuasa telah mengutus taihiap (tuan pendekar besar)
untuk menolong kami. Terima kasih, taihiap dan mohon
jangan kepalang menolong kami dan dapat membersihkan
semua bahaya yang mengancam.”
Ketika masih tinggal di dalam guha, guru-gurunya
seringkali memberi peringatan kepada Ciang Le agar
supaya berhati hati menghadapi omongan yang manis dan
merendah karena di dalam segala gerak gerik dan omongan
orang yang terlalu manis atau terlalu merendah seakan-akan
dilebih lebihkan, tersembunyi maksud yang jahat dan
curang. Kini melihat sikap kepala kampung, ia teringat
akan nasihat guru-gurunya itu sehingga timbul perasaan
tidak senang padanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bangunlah kalian!” serunya sambil membanting
kakinya di atas lantai. Bantingan kaki ini ia lakukan dengan
pengerahan tenaga dalam sehingga dua belas orang itu
merasa lantai tergetar dan tahu tahu tubuh mereka seperti
ada yang mendorong dari bawah dan mau tidak mau
mereka bangun berdiri, memandang kepada Ciang Le
dengan terheran-heran dan makin kagum.
“Duduklah, chungcu dan coba ceritakan dengan tenang
kejadian apakah yang dialami oleh dusun ini?” tanya Ciang
Le dengan suara sabar.
Kepala kampung itu yang kini percaya penuh akan
kelihaian pemuda yang sudah berhasil mengusir pergi
“siluman” tadi, segera menceritakan malapetaka yang telah
menimpa dusun itu. Semenjak sepekan yang lalu dusun itu
mengalami gangguan siluman tadi yang datang bersama
seekor ular senduk yang luar biasa besarnya. Telah tiga
orang anak anak ditangkap oleh siluman itu dan dijadikan
mangsa ularnya yang mengerikan ! Dua hari sekali siluman
itu datang mengambil seorang anak kecil untuk diberikan
kepada ular nya dan tiap kali ia selalu minta kepada kepala
kampung untuk disediakan seorang anak kecil ! Tentu saja
kepala kampung itu tidak mau melayaninya, bahkan
mengumpulkan orang orang untuk berusaha mengusirnya.
Akan tetapi ternyata siluman itu amat sakti dan keroyokan
orang orang hanya menghasilkan tewasnya beberapa orang
saja terkena pukulan tangannya yang membuat kulit
menjadi hitam seperti terbakar! Adapun anak anak yang
dikehendakinya tetap saja diculiknya dan diberikan kepada
ularnya ! Dan pada malam hari itu karena melihat sikap
kepala kampung yang selalu tidak mentaati perintahnya,
siluman itu datang hendak menghukum kepala kampung
dan menculik cucunya! Akan tetapi ia telah dapat dibikin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mundur dan takut oleh pemuda perkasa yang kebetulan
menjadi tamu kepala kampung itu.
“Di mana dia bersembunyi ?” tanya Ciang Le setelah
mendengar penuturan itu.
“Kami pernah mengumpulkan orang-orang dan
menyerangnya di siang hari, dan kami mendapatkan dia
berada di dalam hutan. Di sudah mengerikan, akan tetapi
ular senduknya lebih lebih menyeramkan lagi. Belum
pernah selama hidup aku melihat ular senduk sedemikian
besarnya,”
“Baiklah, biar kita beristirahat dulu malam ini.
Kutanggung besok pagi pagi siluman itu bersama ularnya
akan dapat kubasmi!” kata Cìang Le dengan tenang.
Kembali kepala kampung itu menghaturkan terima
kasihnya dan cepat memerintah para pelayan menyediakan
tempat tidur yang paling baik.
“Tak usah, chungcu, aku tidak biasa tidur di atas
pembaringan yang enak. Biar aku duduk di atas lantai di
ruangan yang sunyi,” kata Ciang Le segera pergi ke sudut
dan duduk bersila untuk melakukan siulian ( samadhi ).
Demikianlah pada keesokan harinya, berita tentang
kedatangan seorang pemuda yang telah mengusir siluman,
tersiar luas dan sebentar saja semua penduduk menyerbu
rumah kepala kampung untuk menyaksikan sendiri pemuda
gagah perkasa itu.
Dan ketika Ciang Le menyatakan hendak berangkat
mencari siluman itu bersama ularnya, berduyun duyun
orang dusun hendak mengikutinya. Akan tetapi kepala
kampung melarangnya, dan hanya memperkenankan
serombongan orang orang lelaki untuk membawa senjata
mengantarkan pendekar muda itu. Dia sendiripun tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketinggalan ikut pula mengantar pemuda yang menjadi
pusat harapan mereka itu. Rombongan itu terdiri dari tujuh
belas orang, berjalan di belakang Ciang Le yang tetap
nampak tersenyum tenang.
Setelah rombongan itu masuk ke dalam hutan liar yang
penuh dengan pohon pohon raksasa dan batu batu karang
menghitam, kepala kampung dan kawan kawannya makin
memperlambat jalan kaki mereka.
“Taihiap, di batu batu karang itulah tempatnya,” kepala
kampung berbisik perlahan.
Ciang Le memandang tajam dun melihat betapa pohon
pohon di situ amat tinggi dengan batangnya yang bengkak
bengkok dan berlubang lubang. Di bawah pohon pohon itu
terdapat batu karang yang tajam dan runcing, menghitam
dan nampak kokoh kuat dan keras sekali. Mata pemuda
yang amat tajam ini dapat melihat dua ekor kelinci berlari
masuk ke dalam semak semak dan selain itu tidak terdapat
gerakan sesuatu. Kalau saja ada musuh tersembunyi di balik
pohon atau di dalam semak semak, tentu akan terlihat oleh
mata pemuda yang sakti ini.
Ciang Le melangkah maju terus setelah memberi isyarat
kepada rombongan orang dusun itu untuk menunggu di
tempat itu. Dengan langkah tetap pemuda ini menghampiri
batu karang yang hitam. Tiba tiba terdengar desis yang
kuat, yang berbunyi gemerisik bagai angin meniup daun
bambu, akan tetapi lebih kuat lagi. Desis ini disusul oleh
desis lain yang lebih kuat dan terdengarlah orang-orang
petani yang menonton di tempat aman itu mengeluarkan
seruan ngeri dan kaget.
Dari balik batu batu karang itu tiba tiba keluar kepala
seekor ular senduk yang besar sekali. Besar kepala itu
hampir sama dengan besar kepala seekor anjing, matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan lidahnya merah menakutkan. Bagian leher ular itu
melar sampai lebar dan tipis menyekung seperti senduk dan
sambil menyemburkan uap kehitaman ia lalu menegakkan
kepalanya, memandang kepada Ciang Le dengan leher
berkembang kempis.
“Taihiap, hati hati…” kepala kampung masih dapat
mengeluarkan suara memperingatkan. Adapun kawan
kawannya berdiri bagaikan patung dengan muka pucat dan
jelas nampak mereka itu menggigil ketakutan. Siapa yang
tidak merasa ngeri melihat ular siluman yang pernah
mereka keroyok, akan tetapi yang dibacok golok tidak
terluka itu? Ketika beberapa hari yang lalu mereka
mengeroyok, golok pedang dan anak panah melesat saja
ketika mengenai kulit ular itu.
Akan tetapi, Ciang Le tidak merasa gentar sedikitpun
juga. Bahkan pemuda itu tetap berjalan maju mendekati
ular itu. Ular cobra yang luar biasa besar dan yang
panjangnya kurang lebih empat meter itu memandang tak
bergerak seakan akan merasa terheran heran melihat
keberanian dan ketenangan manusia muda di depannya ini.
Ia sedang lapar dan marah, karena semalam tidak mendapat
mangsa. Dengan ekornya melilit batu karang, ia bersiap
sedia untuk menerkam pemuda itu, sungguhpun pemuda itu
tidak membangkitkan seleranya karena terlalu besar dan
terlalu keras dagingnya, tidak seperti daging anak kecil.
Tiba tiba ular itu menyerang Bagaikan anak panah
cepatnya, kepala yang besar itu dengan mulut terbuka lebar
dan lidah terjulur meluneur ke arah leher Ciang Le!
Serangannya ini didahului oleh semburan uap hitam yang
berbau keras dan amis sekali.
Ciang Le berlaku sebat dan sambil miringkan tubuhnya
ia mengelak dan sekaligus mengirim tamparan dengan
tangan kirinya ke arah kepala ular itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Plakk!!” ular itu bagaikan disambar petir dan kepalanya
membalik berikut tubuhnya terlempar membentur batu
karang! Akan tetapi Ciang Le segera menjadi heran karena
kepala ular itu tidak pecah sebagaimana dikiranya. Benar
benar ular yang luar biasa kuatnya, pikir pemuda ini.
Pukulan tangan kiri nya tadi bukanlah pukulan biasa saja
dan batu karang agaknya akan remuk menerima
tamparannya tadi. Akan tetapi ular itu agaknya tidak apa
apa, bahkan setelah kepalanya terbentur batu karang, masih
tidak kelihatan ular itu terluka!
Pemuda itu tidak mau menyerang, karena memang ia
telah bersumpah kepada Thian te Siang mo kedua gurunya,
bahwa ia tidak akan menyerang lebih dulu kepada siapapun
juga sebelum lawan yang dihadapkannya itu menyerangnya
atau melakukan sesuatu gerakan yang membahayakan
orang lain. Kini ia telah berhasil memukul ular yang
menyerangnya dan berdiam saja, menanti serangan
selanjutnya dari binatang berbahaya itu. Akan tetapi,
pengalaman yang tidak enak tadi agaknya membuat ular itu
menjadi ragu ragu untuk menyerang lagi. Untuk beberapa
kali binatang ini menggerak gerakkan kepalanya dan Ciang
Le melihat betapa pada leher ular itu, tepat di bawah
mulutnya terdapat bagian yang mengkilap dan berminyak.
Kembali ular itu mendesis desis, selain untuk mengeluarkan
racun juga untuk menakut nakuti lawannya, kemudian
tanpa peringatan lebih dulu, ia menyerang lagi.
Serangannya yang kedua kalinya ini lebih hebat dan lebih
cepat daripada tadi.
Ciang Le melihat betapa ketika melakukan serangan,
bagian leher yang berminyak itu makin mengkilap dan
cepat ia lalu menggunakan dua jari tangan kanannya
menyambut serangan ular itu. Dengan menekuk kedua
lututnya, Ciang Le mengelak sehingga ular itu melayang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lewat dan pada saat itu kedua jari tangan itu menotok ke
leher ular, tepat di bagian yan mengkilap tadi. Serangan ini
mengenai sasaran tepat sekali sehingga terdengar leher ular
itu berbunyi “kok!” dan secepat kilat tangan kiri Ciang Le
menyusul, seperti tadi menampar kepala ular.
Terdengar bunyi “prak!” dan kepala ular itu terpukul dan
menubruk batu karang. Tubuhnya terkulai dan jatuh di
bawah batu karang, menggeliat geliat perlahan. Ternyata
bahwa kepalanya pecah berantakan!
Bukan main girangnya hati kepala kampung dan kawan
kawannya melihat ular itu telah ditewaskan oleh penolong
mereka dan tak terasa lagi mereka bersorak sorai dengan
girang. Akan tetapi tiba tiba sorak sorai itu terdiam dan
kembali mereka gemetar ketakutan ketika mendengar suara
pekik mengerikan. Siluman itu telah datang, bisik kepala
kampung dan tanpa dikomando lagi, para petani ini lalu
melarikan diri ke belakang dan bersembunyi di balik batu
batu karang! Mereka hanya berani menonton dari jauh saja
sambil mengintai dari balik batu.
Ciang Le tetap tenang dan ia tidak bergerak ketika orang
tua yang dianggap siluman oleh para petani itu muncul dari
balik batu karang. Mata orang tua ini terputar putar
mengerikan dan berwarna merah ketika ia melihat ke arah
bangkai ular. Kemudian terdengar ia melolong dan
menangis seperti anak kecil sambil menubruk dan
memeluki bangkai ular besar itu. “Ularku... ularku
sayang....”
Ciang Le merasa kasihan juga menyaksikan keadaan
orang gila itu. Ia memandang dengan penuh perhatian.
Ternyata bahwa orang tua itu pakaiannya compang
camping dan tubuhnya kotor. Akan tetapi selain matanya
yang terputar putar, tidak nampak tanda tanda lain yang
luar biasa. Lebih kuat dugaannya bahwa orang tua ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentulah seorang ahli persilatan yang telah menjadi gila.
Tiba tiba tangis orang tua itu berhenti dan ia melompat ke
atas lalu menghadapi Ciang Le dengan air mata membasahi
pipinya.
“Orang kejam, kau berani sekali membunuh kekasih Coa
ong Sin kai yang takkan mengampuni nyawamu? Siapakah
kau orang muda berani mati yang bertangan lancang?”
Kaget juga hati Ciang Le mendengar bahwa orang ini
adalah Coa ong Sin kai (Pengemis Sakti Raja Ular). Nama
ini ia pernah mendengar dari kedua gurunya sebagai
seorang tokoh besar dari selatan yang memang berotak
miring. Maka ia berlaku waspada dan hati hati sekali. Cepat
ia menjura dan dengan hormat berkata.
“Ah, kiranya Coa ong Sin kai locianpwe yang berada di
sini! Siauwte mengharap banyak maaf kalau siauwte
kesalahan tangan membunuh ular ini. Hendaknya
locianpwe ingat bahwa ular ini amat jahat, telah makan
anak anak penduduk dusun dan tadipun bahkan telah dua
kali menyerangku. Maka, sudah sepantasnya kalau binatang
sejahat ini dilenyapkan agar jangan mengganggu manusia
lagi.”
Coa ong Sin kai berjingkrak saking marahnya. “Kau
bilang ularku ini kejam? Kau anak kecil tahu apa tentang
kekejaman? Ularku makan anak anak karena memang ia
suka dan perutnya lapar. Manusia lebih kejam lagi, suka
membunuh bukan karena lapar, hanya karena nafsunya.
Hayo kau ganti jiwa ularku!” Sambil berkata demikian,
kakek ini mengeluarkan pekik nyaring yang menggetarkan
hutan itu, lalu maju menerjang Ciang Le dengan pukulan
tangan terbuka seperti cengkeraman kuku harimau.
Ciang Le cepat mengelak dan otomatis ia membalas
serangan lawannya. Memang ilmu silat yang dipelajari oleh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda ini adalah ilmu silat yang sifatnya aktif apabila
menghadapi serangan lawan. Ilmu silatnya selalu
disesuaikan oleh suhunya seperti sifat air. Diam dan tenang,
kelihatan lemah apabila didiamkan. Akan tetapi cobalah
ganggu air itu, akan nampak kehebatan dan kekuatan nya
yang tak terkalahkan.
Ilmu silat dari Coa ong Sin kai benar benar cepat, ganas
dan bertubi tubi datang nya. Karena melihat gerakan
lawannya yang aneh, Ciang Le membatasi serangan sendiri.
Ia menjadi amat tertarik dan karena ia pernah mendengar
dari suhunya bahwa kepandaian Coa ong Sinkai ini amat
tinggi dan ilmu silatnya amat sukar dilawan, ia menjadi
makin tertarik. Ingin sekali ia melihat sampai di mana
kehebatan ilmu silat orang miring otaknya ini, maka ia lalu
mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk
mempertahankan saja.
Pertama tama Coa ong Sin kai menyerang dengan
pukulan yang disebut Jit seng to hian (Tujuh Bintang
Jungkir Balik). Gerak tipu ini susul menyusul sampai tujuh
kali, dilakukan bertubi tubi dengan kedua tangan yang
menyerang dari atas akan tetapi selalu dari jurusan yang
berlawanan sehingga Ciang Le merasa seakan akan ada
tujuh lawan yang mengeroyoknya. Akan tetapi dengan
ginkang nya yang sudah tinggi, pemuda itu dapat
menghindarkan diri dari serangan lawan dan berkali kali ia
mengelak akan menangkis sampai tujuh gerakan dari jurus
Jit seng to hian ini lewat tanpa merugikan.
Coa ong Sin kai menjadi penasaran, lalu mengubah
serangannya dengan gerak tipu Cong eng kun touw
(Garuda Menyambar Kelinci) semacam gerakan ilmu
pedang yang olehnya dilakukan dengan tangan. Kedua
tangannya dimiringkan dan disambarkan seperti orang
mempergunakan pedang Ciang Le mengerti bahwa biarpun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangan orang gila itu hanya terdiri dari kulit, daging dan
tulang namun karena digerakkan dengan tenaga lwekang
yang amat tinggi, apabila mengenai tubuhnya dari pedang
manapun juga. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi
saking cepatnya gerakan Coa ong Sin kai yang mengobat
abitkan kedua tangannya sehingga mendatangkan angin,
hampir saja pundak pemuda itu terkena sabetan!
Ciang Le terkejut. Tak disangkanya bahwa lawan nya
yang sudah tua itu memiliki kegesitan yang tidak kalah oleh
orang muda. Berbahaya juga kalau didiamkan saja tanpa di
balas dengan serangan serangannya, la mengeluarkan ilmu
silat tangan kosong yang ia pelajari dari Thian Lo mo yakni
Ilmu Silat Thian hong ciang hwat (ilmu Silat Tangan
Kosong Angin dari Langit). Karena ilmu silat tangan
kosong ini amat luas penggunaannya sehingga ia harus
mempelajari sampai sepuluh tahun lebih maka di dalamnya
termasuk ilmu tiam hwat (menotok jalan darah), kin na
hwat (ilmu mencengkeram dan menangkap) dan juga
terdapat jurus jurus yang mengeluarkan tenaga gwakang
(tenaga kasar) dan lwekang (tenaga dalam).
Ilmu silat dari ilmu totokan dari Thian Lo mo memang
luar biasa sekali dan dahulu pernah menjagoi di kolong
langit, maka setelah Ciang Le mainkan ilmu silat ini, dalam
lima jurus saja ia telah berhasil menorok jalan darah yan
goat hiat yang berada di bawah pangkal lengan. Totokan itu
mengenai dengan tepat sekali, akan tetapi kembali Ciang Le
terkejut karena orang gila itu tidak roboh, hanya terhuyung
mundur sambil tertawa bergelak.
“Ha ha ha, orang muda. Totokanmu benar benar lihai,
akan tetapi kurang tenaga!”
Ciang Le menjadi penasaran. Mana bisa kurang tenaga?
Ia telah mengerahkan lwekangnya dan bagi orang lain,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
totokan tadi pasti akan membuat tangan dan lengan
lawannya menjadi kaku tak dapat digerakkan !
Kembali ia menyerang dengan cepat dan kuat, kali ini
dengan gerak tipu Thian hong sauw sui (Angin Langit Sapu
Air). Gerakannya cepat sekali dan untuk kedua kalinya, ia
berhasil menotok jalan darah di pundak kiri lawannya.
Hanya terdengar suara “duk” akan tetapi kembali lawannya
hanya tertawa bergelak sambil membalas dengan serangan
ganas!
Mendengar betapa lawannya selalu tertawa bergelak
sehabis terkena totokannya dan totokan itu tidak berhasil
memuaskan, teringatlah Ciang Le bahwa lawannya itu
tentulah seorang ahli Ilmu I-kong-hoan-hiat (Ilmu
Memindahkan Jalan Darah ). Pantas saja totokannya tidak
pernah menghasilkan sesuatu dan suara ketawa lawannya
itu hanya untuk memulihkan pengaruh totokan pada kulil
dan jaringan darah.
Sementara itu setelah dua kali terkena totokan. Coa ong
Sin kai barulah maklum bahwa ia menghadapi seorang
pemuda yang lihai sekali ilmu silatnya, ia menggereng
seperti seekor harimau terluka lalu mengeluarkan
senjatanya, yakni ranting bambu yang lemas itu. Dengan
gerakan yang luar biasa cepatnya, ranting bambu ini
mengeluarkan suara bersiul dan menyambar ke arah leher
Ciang Le. Ketika pemuda ini melompat ke kiri untuk
menghindarkan diri, ujung ranting ini masih mengejarnya
bagaikan ekor ular dan terdengar suara keras ketika ujung
ranting itu menyabet paha Ciang Le.
Pemuda ini baiknya telah menyalurkan tenaganya untuk
menahan sabetan itu sehingga ujung ranting bambu itu
terpental kembali ketika menimpa pahanya. Akan tetapi
celananya yang berwarna biru itu lelah robek di bagian paha
seperti terobek oleh pisau tajam!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali Coa ong Sin kai tertawa bergelak. “Orang
muda, pukulan ke dua akan merobek kulit lehermu!”
sindirnya sambil menyerang lagi lebih hebat.
Ciang Le menjadi marah. Dicabutnya Kim kong kiam
dari sarung pedangnya dan ketika ia menggerakkan pedang
itu, berkelebatlah sinar emas yang menyilaukan mata.
Tiba tiba Coa ong Sin kai terbelalak dan berteriak,
“Thian te Siang mo….!” kemudian seperti orang ketakutan
ia lalu melarikan diri meninggalkan Ciang Le yang
memandang dengan senyum ditahan. Ia dapat menduga
bahwa orang gila itu tentu pernah dihajar oleh kedua
suhunya, maka sekarang mengenal pedang ini, lalu berlari
terbirit birit. Melihat betapa baru setelah ia mencabut
pedangnya, kakek itu mengenalnya, sebagai pemuda yang
malam tadi menghalanginya, lebih yakinlah dia bahwa
kakek itu memang benar benar tidak beres pikiran dan
ingatannya. Kalau orang waras, masa tidak mengenalnya
setelah pertemuan malam tadi?
Kepala kampung dan kawan kawannya setelah melihat
siluman itu melarikan diri, lalu bersorak girang dan beramai
menghampiri Ciang Le. Ketika mereka mencabut senjata
hendak memukul hancur bangkai ular besar itu, Ciang Le
mencegah mereka.
Kemudian, pemuda ini meminjam sebuah golok dan
dengan hati hati sekali ia membelek leher ular yang
mengkilap itu. Benda cair berwarna hitam seperti tinta bak
mengalir keluar dari leher itu dan akhirnya keluarlah
sebuah benda hitam bulat yang mengkilap. Ciang Le
mengeluarkan sehelai saputangan, lalu diambilnya benda
itu dan dibungkus dengan saputangan, terus dimasukkan ke
dalam kantong bajunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak rugi celanaku robek mendapat benda ini,”
katanya perlahan sambil tersenyum, seperti kepada diri
sendiri.
“Untuk apakah benda itu, taihiap? Dan apakah itu, apa
gunanya?” tanya kepala kampung yang tidak sengaja
mendengar ucapannya ini.
Ciang Le tersenyum. “Benda itu adalah batu yang
mengandung racun ular yang amat jahat.”
Kepala kampung menjadi terheran heran, akan tetapi ia
tidak berani bertanya lebih panjang lagi bahkan kemudian
ia mengajak kawan kawannya untuk menghaturkan terima
kasih kepada Ciang Le sambil berlutut.
“Tak perlu berterima kasih,” mencegah pemuda itu,
“dan tak perlu kalian kini berkuatir. Siluman itu
sesungguhnya seorang manusia biasa yang berotak miring.
Yang jahat adalah ularnya. Sekarang ularnya telah mati, ia
takkan datang kembali. Sepeninggalku, kuburlah bangkai
ular ini agar tidak menimbulkan penyakit yang akan lebih
jahat lagi mengganggu kampung kalian.”
Setelah berkata demikian, pemuda sakti itu membalikkan
tubuh dan hendak pergi dari situ. Akan tetapi kepala
kampung itu berkata.
“Taihiap, tunggu dulu. Mohon tanya she yang mulia dan
nama besar taihiap, agar selama hidup kami takkan
melupakan penolong kami yang budiman.”
Ciang Le menengok dan tersenyum, lalu menggoyang
goyang tangannya dan berkata, “Tak perlu diingat lagi, tak
perlu. Lupakan, saja semua hal yang telah terjadi, karena
apa yang Kulakukan bukanlah pertolongan, melainkan
kewajibanku untuk menebus dosa!” Setelah berkata
demikian, agar jangan terganggu lebih lama lagi, pemuda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu menggunakan kepandaiannya berkelebat pergi dan
lenyap dari pandang mata orang orang itu.
Semua orang menjadi bengong dan saling pandang,
kemudian atas pimpinan kepala kampung mereka berlutut
ke arah menghilangnya pemuda itu. Dan karena mereka
tidak tahu nama pemuda itu, hanya ingat bahwa pemuda
itu berpakaian kembang kembang yang lucu dan aneh,
maka mereka memberi nama Hwa-I-Enghiong (Pendekar
Baju Kembang) kepada Ciang Le.
-oo0dw0oo-
“Kong kong (kakek), sesungguhnya mengapakah ayah
bundaku lelah meninggal dunia lebih dulu? Mengapa aku
tak pernah mengenal mereka?” demikianlah pertanyaan
yang diajukan oleh seorang gadis remaja kepada seorang
kakek berpakaian petani. Mereka berdua duduk di atas batu
besar di sebuah lereng Gunung Hoa san yang terkenal indah
pemandangan alamnya.
Kakek itu menundukkan kepalanya dan nampak
berduka. Akan tetapi ia menjawab juga, “Bi Lan, mengapa
kau selalu menanyakan hal itu? Orang tuamu tentu saja
meninggal dunia karena sudah tua dan sampai saatnya
meninggal dunia.”
“Kong kong, dahulu ketika aku masih kecil boleh kau
membohongi aku seperti itu. Akan tetapi sekarang tak
mungkin lagi. Bagaimana boleh jadi kedua orang tuaku
mati karena usia tua, sedangkan kongkong sendiri yang
lebih tua masih hidup? Tidak, kong kong orang tuaku tentu
mati ketika mereka masih muda. Hayo ceritakan, kong
kong, kalau tidak, aku akan marah!” Gadis itu membuang
lagak manja dengan mata setengah terkatup tanda marah
dan bibirnya yang manis cemberut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kakek yang sedang suram wajahnya itu ketika melihat
lagak gadis ini menjadi tersenyum. Gadis ini merupakan
cahaya matahari, baginya dan setiap kali gadis ini sajalah
yang mampu mengusir kemuraman wajahnya dalam
sekejap mata. Pembaca tentu sudah dapat menduga siapa
adanya kakek ini. Memang, dia adalah Tan Seng, kakek
tokoh Hoa san pai yang tangguh itu.
Di bagian pertama dari cerita ini telah dituturkan betapa
Tan Seng tidak saja kehilangan anak perempuan dan
mantunya, bahkan juga cucu tunggalnya, Go Ciang Le,
telah lenyap diculik orang tanpa ia ketahui siapa
penculiknya dan kemana perginya anak itu. Tadinya ia
merasa putus asa dan tidak tahu untuk apa ia harus hidup
lebih lama lagi. Akan tetapi kemudian ia teringat akan
keturunan Liang Ti, murid keponakannya yang telah
mengorbankan nyawa demi perjuangan suci.
Maka ia lalu mendatangi isteri Liang Ti, lalu membawa
anak tunggal Liang Ti yang bernama Liang Bi Lan,
dibawanya ke puncak Hoa san pai dan diserahkan kepada
suci (kakak perempuan seperguruan) dan suheng suhengnya
yang bertapa di puncak Hoa san. Adapun isteri Liang Ti
kembali ke dusun orang tuanya, akan tetapi tiga tahun
kemudian, janda yang bernasib malang ini membunuh diri
karena dipaksa oleh seorang pembesar Kin yang
mengadakan pembersihan di dusun orang tuanya.
Selama belasan tahun, Bi Lan mewarisi ilmu silat dari
Hoa san pai dan boleh dikata untuk masa itu, murid
terpandai dan yang banyak mewarisi ilmu silat Hoa san pai
adalah Bi Lan! Memang masih ada beberapa orang
suhengnya dan seorang suci. akan tetapi biarpun
kepandaian mereka itu lebih masak, tetap saja Bi Lan
seorang yang lebih banyak mewarisi ilmu ilmu paling
rahasia dari Hoa san pai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tokoh tokoh Hoa san pai yang berkumpul di puncak
Hoa san dan yang bersama sama menggembleng Bi Lan
adalah empat orang. Pertama tama adalah tokoh nomor
satu atau yang tertua di Hoa san pada waktu itu, yakni
Liang Gi Tojin yang lebih mementingkan ilmu bathin dari
pada ilmu silat. Dari Liang Gi Cinjin, Bi Lan mewarisi
lweekang yang tinggi dan juga pengetahuan bathin yang
dalam. Kemudian orang ke dua adalah Liang Bi Suthai,
yang berwatak keras akan tetapi yang memiliki ilmu silat
paling lihai diantara saudara saudaranya. Orang ke tiga
adalah sasterawan dan memang dahulunya ketika masih
muda, kakek ini adalah seorang sasterawan yang gagal
menempuh ujian! Namanya Kui Tek An, akan tetapi
setelah ia menjadi pertapa, ia memakai nama Liang Tek
Sianseng. Dan orang ke empat adalah Tan Seng sendiri
yang berpakaian seperti seorang petani. Empat orang tokoh
Hoa san pai ini menjadi guru dari Bi Lan, maka tidak
mengherankan apabila sekarang nona ini telah menjadi
seorang nona yang lihai ilmu silatnya.
Adapun suheng suhengnya (kakak seperguruan laki laki)
atau suci (kakak seperguruan perempuan) dari Bi Lan
adalah murid murid dari semua gurunya, yakni yang
pertama bernama Lie Bu Tek murid dari Liang Gi Tojin
yang telah meninggalkan perguruan empat tahun yang lalu.
Ke dua adalah murid tunggal dari Liang Bi Suthai, seorang
pendekar wanita bernama Ling In she Thio, seorang nona
cantik bertubuh langsing tegap yang juga telah turun
gunung kembali ke rumah orang tuanya di Biciu. Orang ke
tiga adalah murid dari Liang Tek Sianseng, seorang pemuda
bernama Gau Hok Seng dan yang bekerja sebagai seorang
pianwsu di selatan.
Baiklah kita kembali kepada Bi Lan dan kakeknya, yakni
Tan Seng yang pada pagi hari yang sejuk dan indah itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
duduk di lereng bukit dan bercakap cakap setelah Tan Seng
mengagumi latihan ilmu silat dari cucunya. Dengan
gemblengan empat orang guru, Tan Seng percaya bahwa
kini ilmu kepandaian Bi Lan tidak berada di sebelah bawah
tingkat kepandaiannya sendiri. Ia maklum bahwa di dunia
ini banyak sekali orang orang pandai yang menjadi
penjahat, sehingga dia sendiri dahulu hampir celaka ketika
dikeroyok oleh perwira perwira Kin yang dibantu oleh
orang orang kang ouw yang menjadi penjilat dan
pengkhianat bangsa.
Ketika untuk kesekian kalinya Bi Lan yang sebenarnya
bukan cucunya sendiri itu bertanya tentang ayah bundanya,
Tan Seng berpikir bahwa agaknya sudah tiba waktunya bagi
Bi Lan untuk mendengar hal yang sesungguhnya tentang
orang tuanya.
Nona ini tidak menjadi sedih mendengar tentang
kematian ayahnya bahkan ia merasa bangga bahwa
ayahnya tewas dalam pertempuran untuk membela bangsa.
Kematian ibunya membuat ia menggertak gigi dan memaki,
“Akan kuhancurkan kepala anjing anjing Kin itu !”
“Memang sudah menjadi kewajiban kita untuk berusaha
mengusir penjajah yang menguasai dan menjajah tanah air
bagian utara, Bi Lan, akan tetapi kita tidak boleh
menurutkan nafsu marah. Pada waktu ini pun rakyat masih
terus menerus melakukan perlawanan dan pemberontakan
dengan gigih. Nah, kewajibanmulah untuk membantu
perjuangan mereka itu, demi kemerdekaan tanah air dan
demi menjunjung tinggi nama Hoa san pai kita.”
Akan tetapi yang membuat nona itu paling berduka
adalah kenyataan bahwa Tan Seng bukanlah kakeknya.
Dan mendengar tentang riwayat Go Sik An, ia merasa
kagum sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kong kong,” sebutan ini sekarang terdengar agak ganjil
olehnya. “a…. seharusnya aku menyebut sukong (kakek
guru) karena aku.... aku bukan cucumu,”
“Tidak begitu Bi Lan,” jawab Tan Seng terharu, sambil
mengusap usap kepala gadis itu. “Biarpun kau bukan
cucuku yang aseli akan tetapi bagiku kau adalah pengganti
cucuku. Kau seterusnya sebutlah kong kong padaku, Bi
Lan.” Suara kakek ini terdengar menggetar sehingga Bi Lan
yang amat sayang kepada kakek ini, tidak tega untuk
menolak permintaan ini.
“Jadi cucumu yang bernama Go Ciang Le itu lenyap
diculik orang, kong kong?”
Tan Seng mengangguk, lalu menceritakan kejadian itu
dengan singkat. “Sampai sekarang aku tidak tahu apakah
Ciang Le masih hidup atau sudah mati dan juga masih
belum kuketahui siapa sebenarnya yang telah menculik
anak malang itu.”
“Heran sekali, kong kong, mengapa kau tidak bisa
mencari orang yang melakukan perbuatan itu? Bukankah
kong kong mempunya banyak sekali sahabat di dunia kang
ouw?”
Kakek ini mengangguk angguk, “Memang betul begitu,
akan tetapi di dunia ini terdapat banyak sekali orang orang
aneh dan orang orang sakti yang menyembunyikan diri.
Kalau maksud penculik itu baik, mungkin cucuku itu kelak
akan muncul sebagai seorang gagah perkasa, menjadi murid
orang sakti. Akan tetapi kalau dia bermaksud buruk....”
kakek ini tidak kuasa melanjutkan kata katanya, kemudian
disambungnya pula, “akan tetapi, aku telah berpesan
kepada kedua suhengmu dan sucimu untuk menyelidiki di
mana sesungguhnya gua yang disebut Gua Pahlawan itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu, dari kaki bukit Hoa san pai berlari lari naik
seorang pemuda tinggi besar berbaju biru, bertopi biru dan
bercelana putih. Pemuda ini memiliki wajah yang biasa
disebut “toapan”, simpatik dan jujur. Tubuhnya kekar dan
tegap membayangkan akan kebesaran tenaganya dan
wajahnya yang bersih membayangkan kebersihan hatinya,
ia melomoat lompat dan berlari cepat mempergunakan Ilmu
Lari Cepat Cho sang hui (Terbang di Atas Rumput) yang
dilakukan dengan amat mahirnya. Biarpun tubuhnya tinggi
besar, namun ia seakan akan seekor kupu yang beterbangan
tanpa menimbulkan suara berisik.
Inilah Gan Hok Seng, atau yang di daerahnya terkenal
dengan sebutan Gan piauwsu, karena dia telah membuka
sebuah perusahaan piauwkiok (ekspedisi) yang diberi nama
Hui houw piauw kiok (Perusahaan Ekspedisi Macan
Terbang) dan oleh karena nama perusahaannya inilah maka
ia mendapat nama julukan Hui houw (Macan terbang).
Seperli telah diceritakan di depan, Gan Hok Seng ini adalah
murid dari Lian Tek Sian seng, sasterawan tokoh Hoa san
pai itu.
Cara Hok Seng berlompatan dan berlari lari,
membayangkan bahwa wataknya selain jujur dan polos juga
amat gembira. Sayang nya bahwa pemuda ini agak dogol,
yakni kurang cepat jalan pikirannya, sungguhpun ia bukan
seorang bodoh, namun menghadapi perkara yang tiba tiba
ia suka memperlihatkan sikap yang ketolol tololan.
Ketika ia tiba di lereng yang penuh rumput hijau tiba tiba
ia mendengar suara angin dari belakang dan ketika ia
menengok, ia melihat seorang hwesio, Pendeta Buddha
bekepala gundul yang bertubuh tegap pendek berusia
kurang lebih tiga puluh lima tahun berlari cepat sekali, lebih
cepat dari pada larinya sendiri. Karena hwesio itu agakiya
hendak menuju ke kuil di puncak Hoa san, Gan Hok Seng
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lalu membalikkan tubuhnya menghadang hwesio itu yang
juga segera berhenti melihat pemuda itu mengangkat
tangannya.
“Selamat siang, twa suhu” tegur Hok Seng sambil
tersenyum gembira dan memberi hormat dengan kedua
tangannya diangkat ke dada. “Hendak ke manakah twa
suhu agaknya amat tergesa gesa?”
Hwesio itu memandang dengan pandang mata
menyelidik, kemudian balas bertanya, “Kau siapakah dan
apa hubunganmu dengan Hoa san pai ?”
Hok Seng tidak senang mendengar pertanyaan dan
melihat sikap hwesio yang kasar ini, yang dianggapnya
tidak sesuai untuk seorang pendeta. Akan tetapi Karena ia
jujur, ia menjawab dan mencela dengan terus terang, “Ah
tidak kusangka twa suhu demikian kasar seperti seorang
kang ouw buta huruf saja ! Aku adalah murid Hoa san pai
bernama Gan Hok Seng atau Gan piauwsu. ketua dari Hui
houw piauwkiok.”
Hwesio itu mengangkat hidungnya dengan sikap
memandang rendah sekali. “Hem, jadi kau ini masih murid
Hoa san pai? Siapa gurumu ? Si pemalas Liang Gi atau si
nenek genit Liang Bi, ataukah si kutu buku Liang Tek?
Atau barangkali petani busuk Tan Seng? Hayo kau
beritahukan kepada pinceng, karena segala julukan Hui
houw dan nama Hui houw piauwkiok, mana pinceng
mengenalnya !”
Merahlah wajah Hok Seng. Dia memang masih muda
baru dua puluh tiga tahun umur nya dan darahnya masih
panas. Lagak hwesio ini benar benar amat menyebalkan
hatinya.
Guru nya Liang Tek Kian seng disebut kutu buku, twa
supeknya disebut pemalas, bahkan sukouwnya disebut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
nenek genit dan susioknya disebut petani busuk! “Eh,
hwesio gendeng, mengapa kau datang datang memaki
orang? Ketahuilah bahwa aku adalah murid dari Liang Tek
Sianseng, guru ku pernah bilang bahwa menilai hati orang
dengar saja apa yang keluar dari mulutnya. Kau
mengeluarkan omongan kotor dan hawa busuk maka
mudah saja menerka bagaimana macamnya isi perutmu!”
Tiba tiba hwesio itu tertawa bergelak. “Sebetulnya
memang malu harus ribut ribut dengan seorang tingkat
rendah macam engkau ini, akan tetapi karena kau murid
Liang Tek si kutu buku, biarlah pinceng lihat apakah kau
juga menjadi kutu buku seperti gurumu.”
“Aku bukan kutu buku! Guruku telah mengajar ilmu
silat tinggi kepadaku. Jangan kau memandang hina ilmu
kepandaian dari Hoa san pai!” Hok Seng membentak,
hampir tak dapat menahan marahnya lagi.
“Begitu? Nah, cobalah, bocah! Kalau kau bisa menahan
sepuluh jurus seranganku, baru lah aku percaya
omonganmu.” Setelah berkata demikian, tiba tiba hwesio
itu mengibaskan tangan bajunya yang lebar ke arah Hok
Seng dalam Ilmu Pukulan Tui san ciang (Pukulan
Mendorong Bukit) yang dilakukan dengan pengerahan
tenaga lweekang.
Hok Seng merasa betapa angin dingin dan tajam
menyambar mukanya, maka ia cepat menggeser kaki sambil
miringkan tubuh untuk menghindarkan diri dari pukulan
pertama ini. Akan tetapi tak terduga sama sekali bahwa
pada saat itu juga, pukulan kedua dengan ujung lengan baju
sebelah kiri telah menyusul ke arah pusarnya! Inilah
pukulan yang amat berbahaya dan dapat membuat jiwa
melayang. Hok Seng cepat melompat ke kiri, akan tetapi
masih saja ujung lengan baju itu mengenai tubuh
belakangnya sehingga terdengar bunyi berdebuk dan Hok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seng merasa betapa daging dan kulit di bagian belakang Itu
panas dan pedas. Baiknya ia telah mengerahkan lweekang
di bagian itu sehingga hanya terasa sakit saja tanpa
menderita luka berat.
Akan tetapi yang lebih menyakitkan hati nya adalah
suara ketawa hwesio itu. “Ha ha ha ha, tidak tahunya
hanya sebegitu saja kebecusan murid dari si kutu buku! Ha
ha ha, orang dogol! Lihat, kulit pantatmu kelihatan, apakah
kau masih belum mau mengaku kalah dan berlutut di depan
Tiauw It Hosiang yang bergelar It ci sinkang (Si Jari Lihai).
Ketahuilah bahwa kau berhadapan dengan tokoh dari Go bi
pai!”
Hok Seng cepat melirik ke arah tubuh belakangnya dan
benar saja, celananya yang putih itu telah hancur di bagian
tubuh belakang sebelah kanan sehingga tampak kulit tubuh
belakangnya yang putih dan agak kemerahan karena
pukulan tadi. Ia menjadi mendongkol sekali dan secepat
kilat tangannya bergerak kearah punggung, mengeluarkan
sepasang poan koan pit (senjata seperti alat tulis pensil
bulu). Poan koan pit di tangarnya ini memang senjatanya
yang paling istimewa warisan dari suhunya yang memang
amat ahli dalam mainkan poan koan pit, baik untuk
menulis syair maupun untuk dipergunakan sebagai senjata.
Poan koan pii di tangan kirinya berbulu pulih, dan di
tangan kanannya berbulu hitam dan keras.
Melihat pemuda itu mengeluarkan senjata poan koan pit,
Tiauw It Hosiang tertawa bergelak dan kelihatan ia geli
sekali. “Ha ha ha benar benar si kutu buku telah membiak
muridnya menjadi kutu buku kecil! Eh, bocah! Kau
mengeluarkan pit, apakah kau hendak menulis sajak
ataukah hendak melukis gambar? Ha ha ha!”
Hok Seng tak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia
cepat maju menggerakkan sepasang poan koan pit dan pit di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangan kiri yang berbulu putih itu cepat menusuk ke arah
mata kanan lawannya, sedangkan pit berbulu hitam di
tangan kanan menusuk dengan totokan ke arah jalan darah
tai hwi hiat! Serangannya ini luar biasa hebatnya dan
karena ia tahu akan kelihaian lawannya, maka sekali serang
ia mengeluarkan gerak tipu yang di sebut Ji liong lo hui
(Dua Ekor Naga Mengacau Laut).
Akan tetapi hwesio itu benar benar lihai dan memiliki
gerak cepat sekali. Dan kali ia menggerakkan tangannya
dan ujung lengan bajunya sekaligus dapat menangkis
serangan poan koan pit bahkan ujung lengan baju itu
hendak membelit senjata lawan untuk dirampasnya. Hok
Seng sudah berlaku waspada dan karena ia tahu bahwa
tenaga lweekang dari lawannya ini masih lebih tinggi diri
pada tenaganya sendiri, maka ia tidak membiarkan poan
koan pit nya dilibat oleh ujung lengan baju itu. Ia membetot
kedua senjata sambil mengirim tendangan Soan hong twi
yang bertubi tubi menyerang bagian tubuh yang paling
berbahaya dari hwesio itu.
Kembali hwesio itu memperlihatkan kepandaiannya. Ia
tidak mengelit atau menangkis tendangan tendangan itu
dengan kedua tangan nya, melainkan menggerakkan kedua
kakinya juga dan membarengi tendangan lawan untuk
mengadu kaki! Dengan amat cepatnya ia menyambut kaki
Hok Seng dengan dupakan kaki nya sehingga pemuda itu
mengeluarkan teriakan kaget karena tubuhnya seakan akan
di lemparkan ke belakang oleh tenaga yang amat hebat!
Baiknya ia masih sadar dan dengan cepat ia menggertakkan
tubuh yang terlempar di udara berjungkir balik membuat
salto tiga kali dengan gerak tipu Kou liong hoan sin (Naga
Siluman Berjungkir Balik). Dengan gerakan indah ini
barulah ia dapat turun keatas tanah dengan baik dan dalam
keadaan berdiri teguh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bagus, sekarang kau harus roboh !” teriak Tiauw It
Hosiang dan dengan cepat sekali tubuhnya melayang
kearah pemuda itu dan melakukan serangan serangan hebat
dengan kedua kepalan dibantu oleh ke dua lengan baju.
Tidak hanya dua kepalan tangannya yang amat berbahaya,
akan tetapi juga ujung lengan bajunya yang selalu
mengadakan serangan menyilang dengan kepalan,
merupakan bahaya besar.
Hok Seng benar benar kali ini merasa terkejut sekali.
Kedua ujung lengan baju hwesio itu merupakan tandingan
setimpal terhadap sepasang poan koan pitnya. Ke mana
juga sepasang alat penotoknya menyerang, selalu terpental
kembali karena kebutan kedua ujung lengan baju, adapun
sepasang kepalan hwesio itu merupakan alat penyerang
yang berbahaya dan hanya dapat ia hadapi dengan elakan
elakan cepat. Akan tetapi segera ia terdesak mundur dan
menjadi sibuk sekali berlompatan ke sana ke mari untuk
menghindarkan diri dari bahaya maut.
Pada saat Hok Seng berada dalam bahaya, tiba tiba
berkelebat bayangan yang gesit sekali dibarengi bentakan
nyaring “Penjahat gundul jangan kau berani mengacau di
Hoa san !”
Tiauw It Hosiang cepat melompat mundur dan
menyampok sinar pedang yang mengarah pundaknya itu
dengan ujung lengan bajunya. Akan tetapi sebelum lengan
bajunya mengenai pedang, senjata itu telah dibelokkan dan
sekarang tanpa tertunda lagi telah maju menusu ke arah
lambungnya. Hwesio ini kaget juga dan tahu bahwa
penyerang baru ini memiliki kegesitan yang lebih tinggi
daripada Hok Seng. Ia segera melompat satu setengah
tombak ke belakang, lalu memandang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata yang datang adalah seorang wanita yang cantik
bertubuh tinggi langsing dan tegap, berwajah segar
kemerahan bagaikan kembang botan yang sedang mekar.
“Suci…!” Hok Seng menegur dan gadis itu berpaling lalu
tersenyum ramah kepadanya Kemudian gadis yang baru
datang ini, yaitu kakak seperguruan dari Hok Seng atau
murid dari Liang Bi suthay yang bernama Thio Ling In,
menudingkan pedangnya kepada Tiauw It Hosiang sambil
bertanya, “Kau ini hwesio dari manakah? Apakah tidak
tahu bahwa di sini Gunung Hoa san dan menjadi derah dari
Hoa san pai? Mengapa kau mengandalkan sedikit
kepandaian untuk mengacau?”
Tiauw It Hosiang tertawa bergelak dan karena ia tertawa
sambil menggerakkan khikangnya, maka suara ketawa nya
terdengar bergema sampai jauh. Pada saat itu, dari bawah
berlari naik seorang pemuda pula, seorang pemuda yang
bermuka putih dan gagah sekali. Pakaiannya bersih dan
indah dan sikapnya patut sekali kalau ia menjadi seorang
pendekar besar. Dia ini bukan lain adalah Lie Bu Tek,
murid dari Liang Gi Tojin, atau murid tertua dan Hoa san
pai. Ia tadi memang ber sama sama Thio Lin ln, hanya
sumoinya ini yang tidak sabar telah berlari lari naik
mendahuluinya.
Ketika melihat pemuda ini, Tiauw It Hosiang segera
menudingkan telunjuknya sambil bertanya, “Apakah yang
datang inipun seorang murid Hoa san pai juga?”
Dari jauh Lie Bu Tek sudah mendengar suara ketawa
hwesio ini dan dia merasa tak senang sekali melihat lagak
hwesio yang amat sombong ini, maka katanya tegas. “Aku
memang murid Hoa san pai bernama Lie Bu Tek. Tidak
tahu siapakah kau dan apa maksudmu datang di gunung
kami?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ha ha ha! Murid murid Hoa san pai memang galak
galak! Jika geledek bersuara keras takkan turun hujan dan
jika gentong berbunyi nyaring, tanda ia kosong! Murid
murid Hoa san pai bermulut besar bersuara keras tanda
kosong pengetahuannya!”
“Eh, eh, hwesio gundul gila!” Thio Ling In memaki
marah. Gadis ini memang mempunyai watak keras seperti
gurunya. “Kau ini datang datang mencari perkara, apakah
sudah bosan hidup?”
“Suci, dia adalah Tiauw It Hosiang berjuluk It ci sinkang
dari Gobi san. Memang dia datang datang menyerangku
dan sengaja mencari perkara. Tak usah banyak bicara
dengan dia, mari kita tangkap dia untuk diseret ke depan
guru guru kita!”
Kembali hwesio itu mentertawakan mereka. Lie Bu Tek
menjadi gemas sekali. Pemuda yang usia nya sudah dua
puluh lima tahun lebih ini telah merantau dan memiliki
pengalaman luas, juga dengan kepandaiannya, ia telah
memperoleh nama besar. Kini menghadapi hwesio Go bi
pai ini, tentu saja ia tidak menjadi takut dan marahlah ia
melihat kekurangajaran hwesio ini.
“Sute, sumoi, biarkan aku mencoba kepandaian hwesio
ini,” katanya, kemudian dengan sekali lompatan saja ia
telah berada di depan Tiauw It Hosiang. Hwesio ini melihat
gerakan orang tahu bahwa ia menghadapi seorang ahli yang
tidak boleh dipandang ringan, maka ia hentikan senyumnya
dan memasang kuda kuda.
“Bagus, kau murid tertua dari Hoa san pai? Majulah,
hendak kulihat sampai di mana tua bangka tua bangka di
puncak Hoa san itu memberi pelajaran kepadamu.”
“Hwesio, mulutmu terlalu kotor !” bentak Lie Bu Tek
yang cepat maju menyerang dengan kepalan tangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kanannya. Pukulannya dilakukan dengan cepat dan
manlep, membawa tenaga yang luar biasa kuatnya.
Melihat cara pemuda ini memukul, Tiauw lt Hosiang
tidak berani main main lagi. Ia cepat mengelak ke kiri dai
membalas kontan dengan tendangan ke arah perut Lie Bu
Tek. Akan tetapi pemuda Hoa san pai inipun tidak gugup
dan cepat ia menggunakan tangan tadi ditarik ke bawah dan
menggunakan sikunya untuk menangkis tendangan ini.
Pukulan dengan siku tangan kanan ini merupakan totokan
ke arah jalan darah pada mata kaki, maka Tiauw It Hosiang
cepat menarik kembali kakinya dan kini kedua ujung lengan
bajunya menyambar dari kanan kiri mengarah kedua telinga
Lie Bu Tek!
Pemuda ini cepat menggunakan gerakan Liang tho lian
kai (Dua Bunga Teratai Mekar), kedua tangannya bergerak
dari pinggang ke atas dan berhasil menanakis sambaran
ujung lengan baju. Lie Bu Tek merasa betapa lengannya
tergetar dan Tiauw It Hosiang melihat betapa kedua lengan
bajunya terpental ke belakang.
“Bagus, berisi juga kau!” kata hwesio itu yang
melangkah mundur tiga tindak, kemudian ia menggerak
gerakkan kedua lengannya. Tiba tiba dadanya mengempis
dan perutnya mengembung, mukanya menjadi pucat dan
matanya tak pernah berkedip memandang ke depan.
Dengan langkah perlahan ia lalu maju menghampiri Lie Bu
Tek dengan kedua tangan terkepal, akan tetapi jari
telunjuknya lurus keluar. Inilah Ilmu Silat lt ci tiam
hwelouw (Ilmu Totok Satu Jari) atau It ci ciang (Pukulan
Satu Jari) yang menjadi kebanggaan dan yang membuat
namanya terkenal di dunia kang ouw. Ilmu silat ini benar
benar luar biasa karena seluruh gerakan berdasarkan
lweekang yang berbahaya. Gerakannya menang perlahan
saja, akan tetapi daya pukulannya amat lihai, sukar sekali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dilawan, apa lagi oleh orang yang ilmu kepandaian atau
tenaga lweekangnya masih rendah, Sebetulnya apabila tidak
menghadapi lawan tangguh, Tiauw It Hosiang tidak mau
mengeluarkan kepandaian simpanannya ini. Sekarang ia
hendak mengalahkan lawannya cepat cepat, maka ia
mengeluarkan It ci tiam hwelouw.
Lie Bu Tek terkejut. Sebagai seorang yang banyak
merantau, ia maklum akan kehebatan lawannya ini iapun
telah melatih diri dan memiliki lweekang yang tinggi, maka
tentu saja ia tidak gentar dan menghadapi lawannya dengan
tabah. Akan tetapi ia maklum jika kali ini tidak dapat
mengalahkan lawan nya, pasti ia akan terluka hebat ! Gan
Hok Seng dan Thio Ling In juga maklum akan hal ini,
maka mereka memandang dengan hati berdebar dan
gelisah.
Pada saat itu, tiba tiba terdengar suara ketawa terkekeh
yang merdu sekali, lalu disusul oleh suara yang jenaka, “Eh
kau ini orang gundul apakah hendak meniru seekor
kepiting? Kepalamu gundul licin, dada kempis perut
kembung, telunjuk menuding, apa apaan sih? Sungguh
amat lucu, anak anak bukan, orang tuapun tak pantas !”
Saking marah dan mendongkolnya mendengar olok olok
ini, Tiauw lt Hosiang tidak jadi menyerang Lie Bu Tek
menyimpan kembali tenaga lweekangnya sehingga perutnya
mengempis kembali dan dadanya mekar. Ia cepat cepat
menoleh dan entah dari mana datangnya, tahu tahu di
sebelah kanannya telah berdiri seorang gadis amat cantik
dan usianya baru belasan tahun. Gadis itu berdiri dengan
kedua alis diangkat tinggi, mata memandang lucu dan
bibirnya menahan geli hati yang membuatnya tertawa
terkekeh. Di belakangnya berdiri seorang kakek berpakaian
petani, maka tahulah Tiauw It Hosiang bahwa ia
berhadapan dengan orang keempat dari tokoh tokoh Hoa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
san pai lalu ia menjura kepada Tan Seng yang berdiri di
belakang Bi lan.
“Susiok!” Lie Bu Tek, Gin Hok Seng, dan Thio Ling In
memberi hormat kepada Tan Seng yang menganguk angguk
kepada mereka. Adapun Bi Lan lalu menghampiri Ling In
sambil berlari lari, kemudian memeluk gadis itu sambil
berkata, “Enci Ling In mengapa begitu lama kau baru
muncul? Ji wi suheng, kalian tidak bertambah besar, masih
sama seperti dulu !”
Kedua suheng itu tersenyum gembira. “Kau yang
sekarang telah menjadi besar benar benar telah menjadi
sarang dara yang cantik, bukan begitu sute?” kata Lie Bu
Tek kepada Gan Hok Seng yang semenjak tadi menatap
wajah Bi Lan dengan kagum terheran heran. “Kalau
bertemu berdua di jalan, tentu aku takkan mengenalmu,
sumoi. Kau benar benar berubah!” akhirnya Hok Seng
berkata dan pujian kedua suhengnya ini membuat wajah Bi
Lan beseri seri.
Sementara itu Tiauw It Hosiang yang menjura kepada
Tan Seng berkata, “Kebetulan sekali kau turun! Bukankah
pinceng berhadapan dengan Tan Seng lo enghiong, tokoh
ke empat dari Hoa san pai, bukan dari murid muridnya
yang kosong melompong hanya pandai menyombong saja!”
Tan Seng bersikap sabar dan hendak merendahkan diri,
akan tetapi tiba tiba Bi Lan melompat ke depan hwesio itu
dan menudingkan jari telunjuknya hampir mengenai hidung
Tiauw It Hosiang Hwesio ini cepat melangkah mundur,
karena tentu saja ia tidak sudi hidungnya ditunjuk tunjuk
oleh nona kecil Ini.
“Eh, hwesio pemotong babi, kau bilang apa tadi? Kau
bilang datang hendak minta tambah pengertian, akan tetapi
mengapa kau memaki maki murid Hoa san pai! Tadipun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kau berani mempermainkan saudara saudaraku, berani pula
membadut dan hendak berjoget tari kepiting, apa apaan sih
kau ini? Orang seperti kau tidak berharga untuk bicara
dengan kami, hayo kau pergi dari sini!” Setelah berkata
demikian Bi Lan lalu menggunakan tangan kanannya yang
jari jarinya dibuka untuk mendorong dada hwesio itu,
Tiauw It Hosiang tentu saja memandang rendah gadis ini
dan melihat kejenakaan Bi Lan, dan karena mendongkol
juga dihina oleh gadis cilik ini, ia bermaksud hendak
mempermainkan Bi Lan dan membikin malu. Demikianlah,
ketika tangan nona itu mendorong ke arah dadanya, ia lalu
mengulur tangan kanan untuk menyambut lengan itu dan
hendak ditangkap pergelangan tangannya.
Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika jari jari tangan
Bi Lan yang mendorongnya itu tiba tiba saja menukik ke
bawah dengan pergelangan tangan ditekuk secara
mendadak, dan dua buah jari tangan gadis itu dengan tepat
sekali menotok ke arah jalan darah pada pergelangan
tangannya! Tiauw It Hosiang cepat menarik kembali
tangannya,, akan tetapi pada saat itu tangan kiri gadis yang
jenaka ini telah mendorong dadanya. Tiauw It Ho siang
mempertahankan diri, akan tetapi dorongan itu selain tiba
tiba dan tak terduga datangnya, juga tenaga yang
dipergunakan luar biasa besarnya sehingga biarpun tidak
terjengkang ke belakang, tubuh hwesio itu telah terhuyung
huyung ke belakang sampai lima tindak!
“Eh eh, kau masih tidak mau pergi?” bentak Bi Lan
sambil pelototkan mata dan bertolak pinggang, lagaknya
seperti sedang menegur seorang anak kecil yang nakal.
“Apakah mau tunggu sampai aku menjewer telingamu?”
Selama Tiauw It Hosiang menjadi tokoh ke tiga dari Go
bi pai, yakni sudah lebih lima tahun, di manapun dia berada
belum pernah hwesio ini mengalami hinaan orang seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang telah dihadapinya sekarang. Dara remaja yang usianya
baru belasan tahun ini, yang nampak lemah lembut karena
kulitnya halus seperti sutera dan wajahnya cantik jelita
seperti bidadari, telah berani mempermainkan nya dan
menghinanya dengan cara yang hebat sekali.
“Tan Seng lo enghiong,” katanya dengan suara
menggigil saking marahnya kepada gadis itu, “kalau kau
tidak menyuruh pergi gadis liar ini dan tidak menyuruh dia
minta ampun kepadaku, jangan salahkan pinceng turun
tangan menghajarnya!”
“Bi Lan, jangan main main dengan It ci sinkang Tiauw It
Hosiang, dia adalah tokoh besar ke tiga dari Go bi pai!”
kata Tan Seng setengah mengejek hwesio yang sombong
itu tanpa minta gadis itu mengundurkan diri. Memang Tan
Seng kakek petani ini sengaja hendak melihat sampai di
mana keberanian dan kepandaian cucunya yang tercinta,
dan sampai di mana pula kesombongan hwesio itu. Kalau
kiranya gadis itu nanti terancam bahaya, baru ia hendak
turun tangan membantu.
“Kong kong, jangan kata baru satu jarinya yang lihai (it
ci), biarpun dua puluh jari tangan dan kakinya semua lihai,
tidak seharusnya ia main gila di Hoa san! Jangankan baru
tokoh ke tiga, biar tokoh terbesar sekalipun harus menaruh
hormat kepada Hoa san pai! Aku takkan minta ampun
sebelum dia yang lebih dulu berlutut minta ampun kepada
kong kong karena tadi telah berani menghina anak murid
Hoa san pai.” Sambil berkala demikian kembali ia
menghadapi hwesio itu dengan kedua tangan bertolak
pinggang dan dengan sikap menantang sekali.
“Sumoi, jangan main main. Dia lihai sekali!” kata Gan
Hok Seng memperingatkan sumoinya karena peauwsu
muda ini tadi telah merasakan sendiri kelihaian hwesio itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sumoi, biar susiok menghadapinya, jangan main
main!” Lie Bu Tek juga memperingatkan, karena tiga tabun
yang lalu, ketika ia hendak meninggalkan perguruan,
sumoinya yang paling kecil ini kepandaiannya masih di
bawah tingkatnya sendiri. Sedangkan dia sebagai murid
pertama dari Hoa san pai yang sudah banyak merantau dan
berpengalaman, masih tidak kuat menghadapi hwesio ini,
apalagi sumoinya yang cantik dan jenaka ini?
Adapun Thio Ling In, gadis murid Liang Bi Suthai yang
juga memiliki watak jenaka akan tetapi keras, melihat
betapa sumoinya berani mempermainkan Tiauw It Hosiang
tertawa geli dan berkata kepada Tan Seng, “Susiok, biarkan
teecu membantu sumoi menghadapi si gundul sombong ini
!”
“Tak usah, suci, tak usah! Orang macam ini saja perlu
apa harus kau sendiri turun tangan? Cukup dihadapi murid
termuda dari Hoa san pai! Nah, Tiauw It Hosiang, kau
hendak berkata apa sekarang?” Bi Lan kembali mengejek
hwesio itu.
Kulit muka hwesio itu sebentar menjadi merah sampai
ke kepalanya dan sebentar pula menjadi sangat pucat saking
menahan marahnya.
“Kau....kau....akan kubunuh kau...” hanya ini yang
dapat keluar dari mulutnya dengan dada terengah engah,
kemudian ia mengumpulkan tenaganya, menggerak
gerakkan kedua tangannya. Seperti tadi ketika menghadapi
Lie Bu Tek, dadanya mengempis dan perutnya
mengembung, mukanya pucat dan sepasang matanya
melotot memandang kepada Bi Lan! Ia melangkah maju
dengan kedua tangan terkepal akan tetapi jari telunjuknya
lurus keluar. Saking marahnya, menghadapi anak dara ini
Tiauw It Hosiang tidak segan segan mengeluarkan ilmunya
yang paling dibanggakan dan diandalkan, yakni It ci tiam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hwelouw yang jarang sekali gagal dalam menghadapi lawan
tangguh.
Lie Bu Tek menjadi pucat ketika melihat ini, juga Thio
Ling In dan Gan Hok Seng memandang dengan hati
berdebar debar dan diam diam mereka menyesali sumoinya
yang dianggap terlalu sembrono itu. Hanya Tan Seng
seorang yang masih tenang tenang saja. Bagaimana sikap Bi
Lan sendiri? Sungguh mengherankan, gadis ini bahkan
mentertawakan Tiauw It Hosiang. Ia tertawa tawa sambil
menutup mulut dengan tangan kirinya, sama sekali tidak
memasang kuda kuda untuk menghadapi serangan lawan.
“Aha, badut gundul, kembali kau berjoget kepiting!”
Tiauw It Hosiang mengeluarkan bentakan parau
menyeramkan dan tubuhnya menubruk maju, melakukan
serangan dengan kedua jari telunjuknya yang kiri menotok
jalan darah Hong sai hiat di lutut kanan, sedangkan jari
kanan menotok jalan darah Kiam ceng hiat di pundak kiri
nona itu! Memang luar biasa dan hebat sekali serangan
beruntun yang hampir berbareng telah menyerang bagian
bagian tubuh yang berjauhan ini.
“Ayaaa! Tidak tahunya kepiting gnndul ini galak!”
dengan amat lincahnya Bi Lan mengelak ke belakang
menghindarkan serangan totokan yang lihai itu.
Gerakannya tadi ketika mengelak adalah gerakan dari
langkah kaki yang disebut Tui po lian hoan (Gerakan Kaki
Mundur Berantai). Ketiga kakak seperguruannya tentu saja
sudah mempelajari Tui po lian hoan, akan tetapi mereka
merasa kagum sekali ketika menyaksikan betapa gerakan
kaki ini dapat dipergunakan untuk menghindarkan diri dari
serangan yang demikian berbahaya. Di samping itu, Bi Lan
masih bisa mengeluarkan kata kata ejekan pula!
“Mampus kau!” Tiauw It Hosiang dengan marah
menyerang terus tanpa memberi kesempatan kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lawannya. Kini kaki kanannya menendang dari bawah ke
arah pusar sedangkan dua telunjuknya melakukan totokan
berbareng ke arah leher dan ulu hati. Dengan demikian,
maka sekaligus ada tiga serangan yang mengancam diri Bi
Lan
Dengan bibir masih tersenyum manis, Bi Lan
menghadapi serangan maut ini dengan gerak tipu Ouw po
lat kiang (Menggeser Kaki Menarik Busur). Gerakan ini
indah sekali karena sambil mengelak dari tendangan kaki
lawan, kedua tangannya bergerak maju dan sekaligus ia
menyambut totokan lawan dengan mendahuluinya
menotok ke arah sambungan siku !
Kembali Lie Bu Tek dan dua orang adik seperguruannya
melenggong, karena biarpun mereka telah mempelajari
gerak tipu Ouw po lat kiang ini, namun harus mereka akui
bahwa gerakan mereka takkan secepat dan setepat itu.
Ketika mereka melirik ke arah susiok mereka, Tan Seng
hanya mengangguk angguk puas dan nampaknya juga
kagum dan gembira sekali !
Tentu saja Tiauw It Hosiang tidak mau membiarkan
sambungan sikunya ditotok lawan, maka cepat ia menarik
kembali kedua tangannya. Akan tetapi sekarang Bi Lan
tidak mau memberi hati dan memberi kesempatan kepada
lawannya untuk menyerang terus, ia membalas dengan
serangan serangan hebat pula dan yang ia pergunakan
untuk menyerang adalah Pukulan Hun kai ciang hwat
(Pukulan Memecah dan Membuka). Memang pukulan ini
tepat sekali untuk menghadapi lt ci tiam hwelouw sehingga
pertempuran berjalan luar biasa ramainya. Tentu saja dara
yang masih hijau belum berpengalaman itu kalah dalam hal
tenaga dan kemahiran kaki tangan, akan tetapi tak dapat
disangkal pula bahwa Bi Lan menang dalam kegesitan,
ketabahan dan ketenangan. Benar benar amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengagumkan betapa dara itu mempermainkan Tiauw It
Hosiang seperti seorang dewasa mempermainkan seorang
anak kecil saja!
Pertempuran telah berlangsung empat puluh jurus lebih
dan belum juga Tiauw It Hosiang mengalahkan atau
mendesak gadis itu! Hal ini benar benar membuat dada
hwesio itu hampir meledak saking marah dan penasaran, ia
sengaja datang untuk menantang empat tokoh dari Hoa san
pai, dan kini menghadapi murid termuda dari Hoa san pai
saja, sampai kepalanya yang licin itu berpeluh belum juga ia
dapat mengalahkannya! Ia mengeluarkan suara seperti
seekor biruang marah, lalu merobah ilmu silatnya dan kini
setiap pukulannya ditujukan untuk membunuh!
-oo0dw0ooo-
Jilid 3
BI LAN juga merasa penasaran karena ia tidak dapat
mengalahkan hwesio ini. Ketawanya mulai menghilang dan
ia bersungguh sungguh untuk merobohkan lawannya. Gadis
ini semenjak kecilnya memiliki kecerdikan yang luar biasa
sekali. Kini setelah ia mengeluarkan seluruh kepandaian
dan pikirannya di dalam pertempuran ini, mulailah ia
mencari akal untuk mengalahkan hwesio yang tangguh ini.
Ia tadi melihat betapa hwesio itu mudah sekali marah dan
ternyata amat berangasan. Kalau dilawan keras sama keras,
mungkin dia akan kalah karena hwesio itu benar benar
tangguh. Maka setelah berpikir masak masak, Bi Lan
kembali memasang senyumnya yang manis dan tiba tiba ia
merobah ilmu silatnya dan kini ia mainkan Ilmu Silat Bi
ciong kun, semacam ilmu silat lemas dan lemah gemulai
akan tetapi penuh terisi dengan tipu tipu menyesatkan!
Karena memang gadis ini merupakan seorang dara remaja,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka bagaikan setangkai bunga ia sedang mekarnya dan Bi
Lan memiliki potongan yang langsing dan menggairahkan.
Setelah mainkan ilmu silat ini, ia berhasil mempermainkan
lawannya dan membuat hwesio itu menjadi makin
penasaran dan marah. Memang di dalam gerakan Bi ciong
kun ini terisi tipu tipu yang sifatnya mengejek dan
mempermainkan, bagaikan seorang penari sedang menari
indah dan tiap kali hwesio itu menyerang selalu mengenai
tempat kosong! Pada saat yang amat baik di mana terdapat
lowongan. Bi Lan tidak menyia nyiakan kesempatan ini dan
cepat mengirim pukulan tangan kiri dengan ilmu pukulan
dari Hoa san pai aseli. Tiauw It Hosiang tak sempat
mengelak lagi dan terpaksa ia mengerahkan lweekangnya
ke bagian dada yang terpukul, sedangkan telunjuk kirinya
dengan cepat lalu mengirim totokan ke arah pangkal lengan
gadis itu, yakni bagian tubuh lawan yang terdekat di waktu
itu.
“Duk!” pukulan tangan kiri Bi Lan mengenai sasaran
dan tubuh hwesio itu terlempar sampai setombak lebih dan
biarpun ia roboh dalam keadaan berjongkok dan segera
berdiri lagi, namun mukanya pucat sekali dan ia telah
menderita luka dalam yang cukup lumayan. Akan tetapi, Bi
Lan juga tertolak ke belakang dan gadis ini menahan rasa
sakit pada pangkal lengan kanannya, bahkan masih
tersenyum mengejek memandang kepada Tiauw It Hosiang.
Padahal lengan kanannya pada saat itu telah menjadi
lumpuh !
Tiauw It Hosiang kaget sekali melihat betapa dara itu
tidak nampak sakit terkena totokannya tadi, seakan akan
gadis itu tidak merasa sama sekali. Betul betulkah anak ini
dapat menahan totokannya tadi? Dengan malu dan
penasaran di dalam hati, Tiauw It Hosiang menjura ke arah
orang orang Hoa san pai ini sambil berkata, “Bukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepandaian Hoa san pai yang terlalu tinggi, melainkan
pinceng (aku) yang lalai dan kurang latihan. Tan lo
enghiong, biarlah kali ini pinceng mengaku kalah, akan
tetapi kami dari Go bi pai akan merasa terhormat sekali
kalau sewaktu waktu kami mengadakan pibu dengan kalian
orang orang Hoa san pai.” Setelah berkata demikian,
hwesio ini membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.
“Tiauw It Hosiang, kau telah terluka oleh pukulan Tin
san ciang (Pukulan Menggetarkan Gunung), mari kuobati
lukamu itu!” kata Tan Seng yang diam diam merasa
gembira dan kagum sekali melihat cucunya berhasil
mengalahkan hwesio itu !
Tiauw It Hosiang menengok dan mukanya menjadi
makin garang. “Terima kasih, biarlah luka ditimbulkan oleh
pukulan Hoa san pai dan diobati dengan obat Go bi pai!
Selamat berpisah,” Hwesio ini sambil menahan sakit lalu
pergi dari situ dengan cepat.
“Hem, orang macam dia mana pantas menjadi pendeta?”
Tan Seng berkata perlahan seperti pada diri sendiri, akan
tetapi ketika ia menengok ke arah Bi Lan, ia menjadi kaget
sekali. “Bi Lan, kau kenapa?” Gadis itu nampak pucat dan
meringis kesakitan setelah lawannya sudah pergi.
“Lengan kananku, kong kong. Ketika aku memukul
dengan tangan kiri, ia telah berhasil menotok jalan darah di
pangkal lengan kananku.” Tan Seng memegang lengan
kanan gadis itu dan setelah menekan nadinya, ia berkata,
“Tidak ada yang luka, hanya totokan Go bi pai ini lain dari
pada tiam hwat ( ilmu totok) kita, apalagi Tiauw It Hosiang
berjuluk It ci sinkang. Twa suhumu ( guru tertua ) paling
ahli tentang jalan darah, kau mintalah dia menolongmu
sekalian melaporkan kedatangan kedua suheng dan
sucimu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan lalu berloncat loncatan dan berlari mencari twa
suhunya, yakni Liang Gi Cinjin di dalam kuil.
“Susiok, mengapa kepandaian sumoi menjadi sehebat
itu?” Thio Ling In bertanya kepada Tan Seng dan jelas
nampak rasa iri hati nya sebagaimana telah lajimnya
terdapat dalam watak sebagian besar wanita. “Ia memiliki
kepandaian jauh lebih tinggi dari pada teecu, bahkan masih
lebih tinggi dari pada kepandaian Lie suheng sendiri!
Agaknya ada rasa pilih kasih dan berat sebelah dalam
perguruan kita.”
Tan Seng tersenyum dan menggeleng geleng kepalanya.
“Ling In dan kalian juga, Bu Tek dan Kok Seng. Jangan
kalian mengira yang bukan bukan. Apakah kalian tidak
melihat suatu gerakan dalam ilmu silat Bi Lan yang belum
pernah kalian pelajari? Nah, tentu kalian sudah melihatnya
sendiri bahwa semua ilmu silatnya tadi adalah ilmu silat
Hoa san pai kita yang kalian sudah pelajari. Guru gurumu
tidak berat sebelah dan juga tidak pilih kasih. Sesungguhnya
anak itu sendiri yang membuat kepandaiannya jadi
sempurna dan sebaik itu. Tahukah kalian bahwa sekarang
aku sendiripun agaknya takkan dapat menandinginya?
Anak itu amat maju karena bakatnya dan karena ia
memang tekun sekali melatih diri.”
Tiga orang muda itu menjadi amat kagum dan setelah
mereka mengingat ingat, memang betul bahwa semua
gerakan Bi Lan ketika menghadapi hwesio tadi, tidak ada
yang tidak mereka kenal. Akan tetapi bagaimanakah ilmu
silat Bi ciong kun saja dapat dipergunakan untuk
menghadapi Tiauw It Hosiang yang memiliki kepandaian
begitu tinggi?
“Tinggi dan rendahnya tingkat kepandaian seorang,
bahkan semata mata tergantung pada ilmu silatnya, akan
tetapi terutama sekali tergantung kepada orang yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memainkannya.” Tan Seng memberi penjelasan. “Ilmu silat
yang biasa dan sederhana saja dapat menjadi ilmu yang
amat tangguh dan lihai jika dimainkan oleh seorang yang
telah menguasainya betul betul dan yang melatihnya
sampai ilmu silat itu seakan akan mendarah daging
sehingga gerakan gerakannya menjadi otomatis. Sebaliknya
ilmu silat yang bagaimana tinggipun akan percuma saja
apabila dimainkan oleh orang yang hanya menguasai
kulitnya saja.”
Ketiga murid Hoa san pai ini mendengarkan sambil
menundukkan kepala dan mereka berjanji di dalam hati
akan berlatih lebih tekun lagi. Tak lama kemudian,
datanglah Bi Lan berlari larian dengan wajah girang.
Ternyata, benar sebagaimana kata kong kongnya tadi,
sebentar saja twa suhunya. Liang Gi Tojin atau juga disebut
Liang Gi Cinjin, dapat memulihkan lengan kanannya yang
lumpuh, bahkan lalu menjanjikan untuk mengajar rahasia
Ilmu Pi ki hu hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan
Darah) untuk menghindarkan serangan totokan lawan.
“Twa suhu, ji suthai dan sam suhu dengan girang minta
suheng dan suci datang di ruang besar,” kata Bi Lan sambil
memegang lengan Ling In. “Suci, kau menjadi makin cantik
jelita saja!”
Ling In memeluk sumoinya dan berkata dengan bangga,
“Sumoi, kaulah yang amat manis dan kepandaianmu benar
mengagumkan hatiku.”
“Ah, bagaimana suci bisa bilang begitu kalau melawan
seorang gundul saja aku sampai terkena totokannya?”
Sepasang alis Bi Lan berkerut dan ia benar benar merasa
amat penasaran dan tidak puas.
“Tapi kau tadi boleh bilang telah mendapat kemenangan,
sumoi!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku tidak puas, suci. Aku masih belum patut menyebut
diri sendiri berkepandaian kalau menghadapi seorang
seperti Tiauw It Hosiang saja masih terluka. Aku harus
belajar lebih giat lagi!”
Diam diam Ling In menjadi makin kagum dan ia
membenarkan kata kata susioknya tadi tentang kebesaran
semangat Bi Lan dalam pelajaran ilmu silat.
Mereka lalu menuju ke ruang besar dalam kuil di mana
telah menanti Liang Gi Tojin, Liang Bi Suthai, dan Liang
Tek Siangseng. Tokoh tokoh Hoa san pai ini merasa girang
melihat kedatangan murid murid mereka, dan ketika
mendengar tentang penyerbuan Tiauw It Hosiang, Liang Bi
Suthai menjadi marah. Memang tokouw ini berwatak keras.
Sambil mengepal tangannya ia berkata,
“Orang orang Go bi pai memang sombong sekali! Aku
tahu mereka itu tentu masih menaruh hati dendam karena
dahulu aku telah membunuh penjahat yang ternyata anak
murid mereka itu. Baiklah, lain kali aku sendiri akan datang
ke sana untuk membereskan hal ini agar jangan berlarut
larut menjadi permusuhan besar !”
Liang Gi Tojin menarik napas panjang. “Sumoi,
memang sebaiknya kalau kau membereskan urusan ini
dengan Kian Wi Taisu, ketua Go bi pai sendiri. Akan tetapi
harap kau suka berlaku sabar agar jangan membikin ribut
pula Go bi san.” Setelah berkata demikian. Liang Gi Tojin
lalu bertanya kepada muridnya, “Bu Tek, bagaimana
dengan penyelidikanmu tentang Gua Makam Pahlawan?
Apakah kedatanganmu sekarang ini ada hubungannya
dengan itu?”
“Betul suhu. Teecu mendengar dari orang orang kang
ouw bahwa Gua Makam Pahlawan yang dimaksud oleh
Tan susiok itu berada di puncak Tapie san di sebelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selatan Sungai Huai kiang. Akan tetapi .....” Pemuda yang
gagah ini mengerutkan keningnya seakan akan ada sesuatu
yang membuat dia merasa ngeri.
“Bagaimana, Bu Tek? Apa yang hendak kau katakan?”
Liang Tek Sianseng mendesak.
“Teecu mendengar berita yang amat menggelisahkan,
susiok,” jawab Bu Tek. “Menurut berita yang teecu dengar,
Pegunungan Ta pie san adalah tempat yang amat berbahaya
kalau tidak boleh disebut tak mungkin didatangi manusia.
Di sana menjadi pusat dari pada perkumpulan rahasia Hui
eng pai (Perkumpulan Garuda Terbang) dengan tiga orang
ciang bun jin (ketua) mereka yang amat terkenal jahat dan
ganas, yakni Hui to Sam eng.” Memang tiga orang ketua
dari perkumpulan Hui eng pai menggunakan nama julukan
di mana terdapat huruf huruf Hui eng, akan tetapi Hui to
sam eng kalau diterjemahkan boleh juga diartikan Tiga
Pendekar Golok Terbang, karena biarpun dituliskan jauh
berbeda namun Eng dapat diartikan Garuda atau Pendekar.
Mendengar keterangan ini, Liang Gi Tojin mengangguk
angguk “Pantas saja mereka itu tidak kelihatan lagi, tidak
tahunya bersembunyi di Gunung Ta pie san. Memang
mereka itu terkenal suka sekali mencari permusuhan dan
tidak memandang kepada golongan lain. Akan tetapi,
apakah jalan menuju Gua Makam Pahlawan itu hanya
dapat dilakukan melalui tempat tinggal Hui eng pai saja?”
“Memang ada jalan mendaki dari jurusan lain, suhu.
Akan tetapi menurut keterangan orang kang ouw, bahkan
jalan yang lain itu lebih berbahaya lagi, karena kabarnya di
situ bersembunyi Coa ong Sin kai.”
Kini empat orang tokoh Hoa san pai itu terkejut. “Apa?
Setan pemelihara ular itu masih hidup?” kata Liang Tek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sianseng. “Kukira dia tewas dalam tangan Thian te Siang
mo.”
Pada saat itu tiba tiba terdengar suara ketawa bergelak
dari luar kuil. Cepat sekali adalah gerakan Bi Lan, karena
sebelum lain orang melakukan sesuatu gerakan, gadis ini
telah melompat keluar.
Suara ketawa itu disambung oleh kata kata yang parau
menyeramkan, “Siapa bilang Coa ong Sin kai tewas? Dia
tidak akan dapat mati karena memiliki tiga nyawa
cadangan, ha ha ha !”
Keempat tokoh Hoa san pai menjadi terkejut sekali dan
lalu melompat keluar untuk melihat siapa orangnya yang
demikian lihai sehingga dapat mendengar percakapan yang
dilakukan di dalam kuil. Bu Tek dan kedua adik
seperguruannya juga menyusul guru guru mereka keluar
dari kuil itu dengan hati berdebar!
Ketika semua orang tiba di luar, mereka melihat Bi Lan
sedang bertempur melawan seorang kakek tinggi kurus yang
bermata liar. Kakek itu bertempur sambil tertawa tawa
menghadapi Bi Lan dengan tangan kosong sedangkan gadis
itu yang menggunakan pedangnya nampak tak berdaya dan
dipermainkan saja oleh kakek tinggi kurus itu.
“Coa ong Sin kai !” Liang Tek Sianseng berseru kaget
lalu kedua kakinya bergerak dan melompatlah ia ke tempat
pertempuran itu. Tangan kanannya telah memegang senjata
Poan koan pit, yakni senjatanya yang dapat dipergunakan
untuk menulis. “Harap kau jangan mencari permusuhan
dengan kami orang orang Hoa san pai,” serunya.
Akan tetapi Coa ong Sin kai tertawa bergelak. “Ha ha
ha, kalian masih menjaga di Hoa san? Ha ha ha, nona kecil
ini manis sekali, aku suka padanya. Ada jodoh antara dia
dan aku, ha ha!” Sambil berkata demikian tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperdulikan Liang Tek Sianseng kakek yang seperti gila
ini lalu menggerakkan kedua tangannya. Tahu tahu pedang
di tangan Bi Lan telah kena ditangkapnya. Sungguh
mengherankan dan hebat sekali kakek ini yang dapat
menangkap pedang tajam begitu saja dengan tangannya! Bi
Lan menggunakan tenaganya membetot dengan maksud
melukai tangan kakek itu, akan tetapi alangkah herannya
ketika ia mendapat kenyataan bahwa pedangnya itu telah
patah menjadi dua! Sebelum ia hilang kagetnya, tiba tiba ia
merasa tubuhnya lemas karena jari jari tangan kiri kakek itu
telah mencengkeram pundaknya dan menekan jalan
darahnya. Di lain saat ia telah dikempit oleh Coa ong Sin
kai !
“Setan gila, kaulepaskan muridku!” Liang Bi Suthai
dengan marah sekali maju menerjang dan memukul dengan
kepalan tangannya. Angin pukulannya membuat pakaian
Coa ong Sin kai yang compang camping itu berkibar, akan
tetapi kakek gila ini dengan gerakan yang aneh dapat
mengelak dan membalas serangan itu dengan pukulan
pukulan berantai. Memang hebat sekali kepandaian Coa
ong Sin kai. Biarpun tangan kirinya memondong tubuh Bi
Lan yang tak berdaya karena tertotok, namun tangan
kanannya dan kedua kakinya masih dapat bergerak dengan
amat cepatnya dan menghadapi serangan berantai ini,
Liang Bi Suthai sendiri tokoh kedua dari Hoa sanpai
sampai berlompatan mundur untuk menyelamatkan diri !
Kembali Coa ong Sin kai tertawa bergelak. “Anak ini
berjodoh dengan aku, jangan kalian menghalangi. Ha ha
ha!”
“Coa ong Sin kai, kau manusia iblis. Lepaskan
muridku!” Liang Gi Tojin menggerakkan tubuhnya dan
menyerang dengan ilmu silat Hoa san pai yang paling
berbahaya. Liang Gi Tojin adalah seorang ahli kebatinan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jarang sekali ia mengeluarkan ilmu silatnya, akan tetapi
kalau ia sudah mau mengeluarkannya, ternyata bahwa
semua gerakannya adalah ilmu ilmu silat yang paling lihat
dari Hoa san pai. Juga tenaga lweekangnya adalah paling
tinggi diantara adik adik seperguruannya. Namun Coa ong
Sin kai tidak menjadi gentar. Kini tangan kanannya telah
memegang senjatanya yang ringan sederhana, akan tetapi
lihai itu yakni sebatang bambu yang berwarna kuning
berbintik bintik hijau.
Tan Seng yang semenjak tadi melihat keadaan cucunya
dengan hati gelisah, kini dengan amat marah telah
mencabut goloknya dan menyerbu kakek gila itu,
membantu twa suhengnya. Demikianpun Liang Bi Suthai
dan Liang Tek Sianseng, cepat maju mengurung sehingga
kakek gila itu kini terkurung dan dikeroyok oleh empat
tokoh Hoa san pai !
Lie Bu Tek, Thio Ling In dan Gan Hok Seng hanya
menonton saja dengan hati berdebar, karena melihat
gerakan kakek gila itu, mereka tahu bahwa tidak akan ada
gunanya kalau mereka ikut mengeroyok Kepandaian kakek
itu terlalu tinggi dan kalau mereka membantu, bahkan
hanya akan mengganggu pengeroyokan empat orang tua
itu.
Ketika tadi menghadapi Liang Gi Tojin, biarpun
ditambah lagi dengan Tan Seng, kakek gila itu masih dapat
menahan bahkan dapat membalas serangan serangan
mereka. Akan tetapi kini setelah empat orang tokoh Hoa
san pai yang rata rata berkepandaian tinggi itu maju semua
mengeroyok Coa ong Sin kai menjadi sibuk juga. Kalau saja
ia tidak sedang memondong tubuh Bi Lan, mungkin ia
takkan kalah dan akan dapat merobohkan empat orang
pengeroyoknya. Sebaliknya, serakan empat orang tokoh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hoa san pai itupun tidak leluasa karena mereka takut kalau
kalau serangan mereka akan mengenai tubuh Bi Lan.
Tiba tiba kakek itu tertawa lagi dan berkata. “Kalian
curang, main keroyokan! Sudah, aku pergi!” Ia lalu
menggunakan tubuh Bi Lan yang dipegang kedua
lengannya untuk diputar sedemikian rupa sebagai pengganti
senjata! Tentu saja Liang Gi Tojin dan adik adik
seperguruannya menjadi terkejut sekali dan melompat
mundur agar jangan sampai melukai Bi Lan sendiri dan
dengan demikian, Coa ong Sin kai dengan enaknya dapat
turun gunung dan melarikan Bi Lan !
“Celaka!” Tan Seng membanting banting kakinya.
“Kalau dia mengganggu Bi Lan, aku akan mengadu nyawa
dengan dia !”
“Percuma saja kita mengejarnya,” kata Liang Gi Tojin
“Dia tidak waras otaknya, kalau kita mendesak mungkin
dia bahkan membunuh Bi Lan. Kita harus mengikutinya
diam diam dan mencari kesempatan untuk merampas Bi
Lan kembali. Lagi pula, biarpun dia terganggu otaknya,
kulihat sinar matanya tidak mengandung kebuasan
terhadap Bi Lan, tidak ada hawa nafsu jahat terbayang pada
matanya. Maka aku yakin bahwa dia takkan mengganggu
Bi Lan.”
“Kalau tidak hendak mengganggu, mengapa dia
menculik Bi Lan ?” tanya Liang Bi Suthai dengan kening
berkerut, tanda bahwa ia sedang gelisah sekali.
Liang Gi Tojin menggerakkan pundaknya. “Siapa tahu
jalan pikiran seorang gila? Mungkin diambil anak, mungkin
diambil sebagai murid siapa tahu?”
“Dia tadi menyatakan ada jodoh, kurasa dia ingin
mengambil murid kepada Bi Lan.” kata Liang Tek Sianseng
dengan suaranya yang halus seperti lazimnya suara seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terpelajar. “Biarpun dia gila, akan tetapi seorang yang
berkepandaian silat tinggi tentu akan dapat dengan mudah
melihat bakat bakat yang luar biasa dalam diri Bi Lan dan
tentu inilah yang menarik hatinya untuk mengambil Bi Lan
sebagai muridnya.”
Semua orang membenarkan dugaan ini dan hati mereka
agak merasa lega. Betapapun juga, Tan Seng mengambil
keputusan untuk menyelidiki dan mengejar ke Ta pie san,
sekalian hendak mencari Goa Makam Pahlawan seperti
yang diterangkan oleh Lie Bu Tek tadi. Tiga orang murid
Hoa san pai itu menyatakan hendak ikut dengan Tan Seng,
karena merekapun merasa sedih mengingat akan nasib Bi
Lan dan ingin sekali turun tangan membantu susiok mereka
dan menolong Bi Lan.
Adapun Liang Tek Sianseng lalu menyatakan hendak
mencari seorang tokoh terbesar di dunia kang ouw pada
waktu itu untuk dimintai pertolongannya. Ia percaya bahwa
kalau tokoh kang ouw ini yang mendatangi Coa ong Sin kai
dan menggunakan pengaruhnya, tentu kakek gila itu akan
mengembalikan Bi Lan ke Hoa san pai. Tokoh terbesar
pada waktu itu, yang namanya terkenal di seluruh penjuru
dunia, bukan lain adalah Pak Kek Siansu (Guru Dewa
Kutub Utara), seorang kakek sakti yang bertapa di Puncak
Pegunungan Lu liang san, yakni puncak yang disebut Jeng
in thia (Ruang Seribu Awan). Kakek ini dahulunya datang
dari utara, dari mana asalnya tak seorangpun
mengetahuinya, maka ia disebut Guru Dewa Kutub Utara.
Baru kira kira sepuluh tahun yang lalu ia bertapa di puncak
Gunung Lu liang san akan tetapi biarpun dia sendiri belum
pernah turun gunung dan mencampuri urusan dunia, semua
orang di dunia kang ouw tahu belaka bahwa kakek ini
memiliki kesaktian yang luar biasa sekali. Banyak sudah
tokoh tokoh dunia persilatan yang ingin menguji
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepandaian Pak Kek Siansu, akan tetapi apa yang selalu
terjadi? Jagoan jagoan ini setelah tiba di Jeng in thia,
dengan mudah dirobohkan oleh tiga orang kakek pelayan
yang selalu melayani keperluan Pak Kek Siansu, yang boleh
juga disebut sebagai murid muridnya! Baru menghadapi
pelayan pelayannya saja sudah tak ada yang dapat
mengalahkan, apalagi kalau Pak Kek Siansu turun tangan
sendiri! Akan tetapi kakek sakti ini tak pernah mau turun
tangan, bahkan banyak sudah yang tunduk baru mendengar
wejangan dan melihat sikapnya saja.
Biarpun Pak Kek Siansu tak pernah mencampuri urusan
dunia ramai, akan tetapi oleh karena ia terkenal sakti, maka
ia disegani dan dihormati oleh semua golongan, baik dari
golongan orang orang kang ouw yang gagah perkasa,
maupun dari mereka yang memilih jalan hitam dan dikenal
sebagai orang orang jahat.
Dan oleh karena menganggap bahwa perbuatan Coa ong
Sin kai yang menculik murid perempuannya itu keterlaluan
sekali, maka Liang Tek Sianseng mengambil keputusan
untuk melaporkannya kepada Pak Kek Siansu dan mohon
pertolongannya agar murid itu dapat dilepaskan dari
kekuasaan Coa ong Sin kai, pengemis yang gila itu. Sudah
beberapa kali Liang Tek Sianseng mengunjungi Pak Kek
Siansu dan kakek sakti itu suka sekali kepada sasterawan
ini, yang selain pandai menulis syair, juga pandai sekali
bermain catur.
Pada hari itu juga, Liang Bi Suthai berangkat
meninggalkan puncak Hoa san. Pendeta wanita ini hendak
mengunjungi Go bi san dan hendak bertemu dengan Kian
Wi Taisu untuk menghilangkan segala kesalahpahaman
antara Hoa san pai dan Go bi pai.
Dengan demikian yang tinggal di kuil puncak Hoa san
hanya Liang Gi Tojin seorang. Pertapa ini sepeninggal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semua orang lalu duduk bersamadhi di dalam kamarnya,
mendoakan agar tugas sumoi dan sutenya akan berhasil
dengan baik dan semua orang dapat terhindar dari pada
malapetaka.
-ooo0dw0ooo-
Seperti pernah dituturkan di bagian pertama dari cerita
ini, Gunung Ta pie san di bagian timur merupakan daerah
yang amat sukar dilewati orang, penuh dengan hutan hutan
yang amat dalam. Belum pernah ada orang berani mendaki
Gunung Ta pie san melalui lereng timur, maka Goa Makam
Pahlawan tempat bertapa ThianTe Siang mo itu belum
pernah terlihat oleh siapapun juga Hanya ada beritanya
didengar orang bahwa di puncak Ta pie san terdapat goa
penuh tengkorak yang disebut Makam Pahlawan, akan
tetapi jarang sekali ada orang yang pernah menyaksikan
dengan mata sendiri.
Jalan yang paling aman untuk mendaki bukit itu adalah
dari selatan dan bahkan semenjak mulai dari kaki gunung
terus naik ke lerengnya terdapat dusun dusun kecil yang
penduduknya hidup bertani. Dan di lereng sebelah selatan
inilah adanya Coa ong Sin kai yang membawa ularnya dan
yang telah banyak mengorbankan banyak nyawa anak kecil
sebagaimana pernah dituturkan, di mana ia dapat
dikalahkan oleh Go Ciang Le, murid tunggal dari Thian Te
Siang mo !
Adapun bagian yang dipergunakan untuk markas besar
atau tempat persembunyian perkumpulan rahasia Hui eng
pai, adalah di lereng sebelah barat di mana banyak terdapat
hutan hutan liar dan binatang binatang buas. Oleh karena
kepergian mereka ke Ta pie san memang hendak mencari
jejak Coa ong Sin kai di samping tujuan untuk mencari Goa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Makam Pahlawan, maka Tan Seng dan tiga orang murid
keponakannya mengambil jalan dari selatan. Setiap kali
mereka masuk ke dalam sebuah dusun, Tan Seng lalu
mengajukan pertanyaan kepada penduduk tentang Coa ong
Sin kai, akan tetapi tiada seorangpun pernah mendengar
tentang kakek yang bernama Coa ong Sin kai.
Akan tetapi setelah mereka tiba di lereng yang agak
tinggi, di dalam sebuah dusun mereka mendengar berita
yang amat mendebarkan hati Tan Seng. Ia mendengar
beberapa bulan yang lalu, di dalam hutan terdapat seorang
siluman dengan ularnya yang suka makan anak anak kecil,
kemudian datang seorang pemuda yang mereka sebut
sebagai Hwa i eng hiong yang telah membunuh ular itu dan
telah mengusir siluman tinggi kurus itu.
Ketika para petani itu menggambarkan keadaan siluman
itu, tidak ragu ragu lagi hati Tan Seng, bahwa siluman itu
tentu Coa ong Sin kai. Akan tetapi, siapakah pemuda itu?
Mungkinkah…? Tan Seng tak berani melanjutkan jalan
pikiran dan renungannya. Akan tetapi, kini bernyala api
harapan di dalam hatinya. Tak mungkin kalau keturunan
satu satunya dari puterinya lenyap begitu saja. Tak mungkin
kalau semangat kepahlawanan dari mantunya, yaitu Go Sik
An, akan habis demikian saja dan tidak menurun kepada
putera tunggalnya, yang lenyap semenjak kecil. Hwa i
enghiong? Pendekar Baju Kembang? Terbayanglah di depan
mata Tan Seng baju kembang dari mantunya yang dipakai
ketika mantunya mati digantung oleh tentara Kin dan
berdengunglah dalam telinganya pesan isterinya agar
supaya kelak Ciang Le putera tunggalnya itu selalu
mengenakan baju kembang! Apakah hubungan Hwa i
enghiong, yang telah mengalahkan Coa ong Sin kai itu
dengan putera dari Tan Ceng, puterinya?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, tentu saja orang orang dusun itu tidak dapat
menceritakan banyak banyak, karena mereka sendiripun
tidak tahu siapa nama sebetulnya dari Hwa i enghiong yang
tidak mau menyebutkan namanya itu. Juga ketika mereka
itu ditanyai tentang Goa Makam Pahlawan, semua orang
dusun itu menggeleng kepala. Jangankan mengetahui,
mendengarpun belum pernah !
Tan Seng dan murid murid keponakannya melanjutkan
perjalanannya. Makin tinggi mereka mendaki, makin liarlah
hutan hutan di gunung itu dan kini tidak terdapat rumah
orang sama sekali. Keadaan mulai menyeramkan, hutan
hutan itu benar benar besar dan liar. Beberapa kali mereka
melihat ular ular besar bergantungan di pohon dan
terdengar auman binatang binatang buas. Mereka berempat
adalah orang orang gagah yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi, tentu saja tidak merasa takut dan melanjutkan
perjalanan tanpa banyak cakap.
Tan Seng yang memimpin rombongan ini maju terus,
sama sekali tidak mengira bahwa rombongannya mulai
membelok ke barat. Sukar sekali di dalam hutan hutan liar
dan jalan yang sukar itu untuk mengenal arah mata angin.
Setelah berjalan beberapa jauhnya dan tiba di tebing yang
meninggi, barulah dengan terkejut Tang Seng sadar bahwa
mereka telah tersesat !
“Jangan jangan kita memasuki daerah Hui eng pai“
katanya perlahan.
Sebagai jawaban dari dugaannya! “Auw.... auw…
auuuuuww…” Suara ini bergema di seluruh hutan di
sebelah bawah! Kemudian terdengar jawaban yang sama
dari hutan di sebelah atas! Berdiri bulu tengkuk Ling In
ketika ia mendengar suara yang aneh itu saut menyahut dari
atas dan bawah. Suara itu mula mula rendah, kemudian
meninggi seperti lengking yang menyakitkan telinga.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Suara apakah itu, susiok?” tanya Ling In kepada Tan
Seng.
Kakek petani itu menggeleng kepalanya “Entahlah, Ling
In. Aku sendiripun belum pernah mendengar suara seperti
itu.”
“Seperti suara srigala,” kata Lie Bu Tek yang banyak
pengalaman.
“Suara serigala tidak meninggi seperti itu, suheng. Juga
tidak terus menerus. Lebih menyerupai suara monyet besar
atau mungkin suara… manusia!” kata Gan Hok Seng yang
sebagai seorang piauwsu tentu saja banyak pula melakukan
perjalanan melalui hutan hutan besar.
Tiba tiba Tan Seng berseru. “Awas am gi (senjata
gelap)!” Dan kakek lihai ini lalu mengebut dengan ujung
lengan bajunya. Sebatang anak panah jatuh ke bawah
terpukul oleh lengan bajunya. Serangan anak panah gelap
ini disusul oleh serangan banyak sekali senjata rahasia yang
menghujani mereka sehingga empat orang ini dengan sibuk
sekali memutar senjata masing masing untuk menangkis.
Suara yang menyeramkan tadi kini telah lenyap.
“Kami adalah pengembara pengembara dari Hoa san pai
kalau tanpa disengaja melanggar wilayah orang orang
gagah, harap dimaafkan!” kata Tan Seng dengan suara
keras sekali karena ia mengerahkan lweekangnya. Benar
saja, serangan senjata senjata gelap itu berhenti dengan tiba
tiba dan dari atas pohon pohon yang besar itu terdengar
suara, “Jangan bergerak dan pergi dari sini sebelum ada
putusan dari pangcu (ketua)!”
Tan Seng dan murid murid keponakannya menengok ke
atas pohon dari mana suara itu datang, akan tetapi tidak
terlihat seorangpun di sana. Kemudian terdengar pula suara
lengking tinggi dan dari jauh terdengar balasan terus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menerus berbunyi dan yang lama lama menjadi dekat
seakan akan suara itu dikeluarkan oleh seekor burung yang
sedang terbang datang. Kemudian dengan gerakan yang
luar biasa ringan dan cepatnya, tahu tahu di atas pohon
depan Tan Seng telah bergoyang goyang dan ketika mereka
memandang terlihatlah seorang laki laki tinggi besar yang
bermuka merah telah berdiri di atas cabang pohon itu. Laki
laki ini usianya kurang lebih empat puluh tahun dan
mukanya
mengingatkan
orang akan
tokoh
peperangan di
jaman Sam kok
yang bernama
Kwan In Tiang!
Hanya bedanya,
kalau Kwan In
Tiang memiliki
sepasang mata
yang bernyala
nyala dan
membayangkan
kegagahan dan
kejujuran,
adalah orang
bermuka merah
di atas cabang
pohon ini memandang ke arah Ling In dengan sinar mata
seorang mata keranjang.
“Sam pangcu dari Hui eng pai telah tiba, diminta orang
orang yang di bawah memberi hormat,” terdengar seruan
dari atas pohon.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ucapan ini membuat Bu Tek, Ling In dan Hok Seng
menjadi mendongkol sekali, karena mereka merasa betapa
mereka direndahkan orang. Mereka tidak sudi memberi
hormat, hanya berdiri tegak dengan senjata di tangan dan
siap sedia menghadapi segala kemungkinan sebagai
layaknya orang orang gagah.
Akan tetapi Tan Seng yang sudah tua dan
berpengalaman, ternyata lebih sabar dan tenang. Ia lalu
menghadapi si muka merah itu, tersenyum ramah dan
menjura untuk memberi hormat sebagaimana pantasnya
seorang tamu kepada tuan rumahnya, lalu berkata, “Ah,
tidak tahunya lohu (aku yang tua) telah tersesat dan tanpa
disengaja memasuki wilayah Hui eng pai. Maaf, maaf,
betapapun juga ada girang dalam hati kami karena
mendapat kesempatan untuk bertemu dengan sam pangcu
(ketua ke tiga) dari Hui eng pai. Sudah lama kami
mendengar nama besar dari Hui to Sam eng!”
Si muka merah itu dengan sombongnya memandang
kepada Tan Seng, lau berkata dengan suaranya yang
mengguntur, “Kalian tadi mengaku orang orang Hoa san
pai, dan melihat pakaianmu serta usiamu, agaknya takkan
keliru kalau aku menduga kau adalah orang ke empat diri
Hoa san yang bernama Tan Seng dan yang menjadi mertua
dari Go Sik An, orang yang mengaku bun bu cwan jai (ahli
silat dan surat) akan tetapi yang ternyata mati sebagai
pengkhianat di tiang penggantungan?”
Merahlah wajah Tan Seng mendengar ini, akan tetapi ia
tetap masih dapat menahan kesabarannya.
“Tanpa disengaja kami memasuki wilayah Hui eng pai,
dan kuulangi lagi permintaan maaf kami yang sebesar
besarnya. Kami datang tanpa disengaja, tidak mengandung
maksud buruk dan juga tidak ingin mengganggu atau
diganggu. Oleh karena itu, harap sam pangcu maafkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kalau kami hendak melanjutkan perjalanan dan mencoba
keluar dari wilayah ini.”
Setelah berkata demikian, tanpa perdulikan si muka
merah, Tan Seng lalu memberi tanda kepada murid murid
keponakannya untuk pergi dari situ dan membelok ke arah
timur.
“Hm. tidak begitu mudah, orang she Tan !” tiba tiba si
muka merah berkata dengan keras.
Tan Seng menjadi mendongkol dan ia berhenti lalu
menengok. “Sam pangcu, apakah yang kau kehendaki dari
kami?”
Si muka merah itu menggerakkan tangan kirinya dan
meluncurlah delapan sinar perak di sekeliling Tan Seng dan
murid murid keponakannya dan ternyata bahwa sinar perak
itu adalah delapan batang golok kecil yang kini menancap
di atas tanah, mengurung mereka dari delapan penjuru! Si
muka merah itu telah membuktikan kelihaiannya dalam
penggunaan hui to (golok terbang) yakni golok yang
disambitkan seperti senjata rahasia, akan tetapi yang dapat
juga dipergunakan sebagai senjata dalam pertandingan silat.
Diam diam Tan Seng memuji karena sekaligus dapat
melepaskan delapan batang hui to bukanlah pekerjaan yang
mudah, selain membutuhkan tenaga lweekang yang kuat,
juga memerlukan latihan yang lama dan tekun Gerakan
pelemparan hui to ini disusul oleh melayangnya tubuh yang
tinggi besar itu. Pantas saja pangcu ini dijuluki Hui eng atau
Garuda Terbang, karena memang gerakannya, amat indah
dan ringan sungguhpun tubuhnya tinggi besar. Kedua
kakinya tidak mengeluarkan suara ketika ia turun dan
berdiri menghadapi Tan Seng dan murid murid
keponakannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akan tetapi, tentu saja tokoh Hoa san pai yang memiliki
ilmu kepandaian tinggi itu tidak merasa gentar bahkan tiga
orang murid keponakannya juga tidak merasa takut. Ling In
merasa benci dan muak sekali melihat betapa kepala
gerombolon itu memandangnya seperti seekor harimau
lapar memandang seekor kelinci yang gemuk! Ia beberapa
kali membuang muka apabila pandangan matanya kertemu
dengan pandangan mata si muka merah itu.
“Orang orang Hoa san, dengarlah. Aku adalah Ciu Hoan
Ta, orang ke tiga dari Hui to Sam eng yang tentu kalian
telah mendengar namanya! Kalian bilang tidak bermaksud
jahat biarpun telah melanggar dan memasuki wilayah kami?
Baik, baik, biar aku percaya saja omonganmu. Akupun
takkan mengganggu kalian, akan tetapi ketahuilah bahwa
kami Hui eng pai mempunyai peraturan sendiri bagi siapa
yang telah memasuki daerah kami!”
“Apakah bunyi peraturanmu itu ?” tanya Tan Seng dan
ketiga orang murid keponakannya mendengarkan dengan
penuh perhatian.
“Ada tiga macam. Pertama, yang kuat menjadi sahabat.
Ke dua, yang lemah masuk tanah dan ke tiga, yang indah
menjadi hadiah! Siapapun juga asal sudah memasuki
daerah kami, mau tidak mau harus tunduk terhadap
peraturan peraturan kami ini!”
Tan Seng menjadi pucat mendengar ucapan ini, juga
Hok Seng menjadi marah sekali mukanya. Inilah tanda
bahwa Tan Seng dan Hok Seng yang mengetahui maksud
peraturan itu, telah marah sekali. Sebagai seorang piauw su
Hok Seng banyak berhadapan dengan bangsa perampok,
maka ia mengerti istilah istilah di atas, adapun Tan Seng
memang sudah banyak pengalaman maka tahulah dia
bahwa si muka merah ini tidak bermaksud baik. Akan tetapi
ia berpura pura tidak tahu dan minta penjelasan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apakah maksudmu dengan yang pertama bahwa siapa
yang kuat menghadapi pertandingan pibu, akan dijadikan
sahabat?”
“Betul, betul, kau memang pandai, oran she Tan!”
“Dan yang keduanya, kalau kalah dalam pibu sampai
meninggal dunia, tidak boleh, menaruh dendam dan
dianggap sudah sepantasnya menjadi isi tanah?” kata pula
Tan Seng tanpa memperdulikan kegirangan yang terbayang
pada wajah Ciu Hoan Ta.
“Tepat sekali, memang demikianlah !”
“Dan yang ke tiga, kau menghendaki semua barang
barang, perbekalan kami yang indah indah, atau tegasnya,
kau hendak merampok kami?”
“Ha ha ha, salah! Kali ini kau keliru, orang she Tan.
Ketahuilah bahwa biarpun pada umumnya anak buahku
memang menghendaki barang barang indah, akan tetapi
aku Ciu Hoan Ta tidak butuh akan barang barang indah!
Aku telah cukup kaya dan mempunyai banyak emas dan
perak. Barang indah yang kali ini kubutuhkan bukanlah
benda mati.”
Sepasang mata Tan Seng mengeluarkan cahaya berapi.
Biarpun ia merasa marah sekali karena sudah dapat
menduga apa yang dimaksudkan oleh Ciu Hoan Ta, namun
ia masih menahan sabar.
“Apa maksudmu, orang she Ciu?” tanyanya dengan
sabar.
“Dengarlah, sahabat sahabat dari Hoa san pai.
Mengingat bahwa kita adalah orang orang gagah yang
menghargai persahabatan, biarlah aku Ciu Hoan Ta
membebaskan kalian dari pibu. Kuanggap kalian ini cukup
gagah perkasa untuk dijadikan sahabat, bahkan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dijadikan keluarga! Adapun tentang yang ke tiga, aku… aku
adalah seorang jejaka! Aku belum menikah dan nona ini.....
nona ini cocok sekali untuk mempererat tali persaudaraan
antara Hui eng pai dan Hoa san pai. Berikan nona ini
sebagai isteriku, dan kalian tidak saja akan dibebaskan,
bahkan, akan dijadikan tamu tamu agung dari Hui eng pai.”
Setelah berkata demikian untuk menutupi rasa jengah yang
mengganggunya, Ciu Hoan Ta lalu tertawa bergelak.
“Bangsat tak kenal malu!” tiba tiba Ling In memaki dan
cepat ia menyerang dengan pedangnya, ditusukkan ke arah
leher Ciu Hoan Ta. Akan tetapi Ciu Hoan Ta sambil
tersenyum cepat melompat ke belakang.
“Jangan main main dengan pedang, nona manis. Kalau
terluka, aku suamimu akan menjadi susah!”
“Keparat bermulut kotor!” Ling In hendak menyerang
lagi, akan tetapi tiba tiba lengannya dipegang oleh Tan Seng
yang memberi isyarat dengan mata kepadanya. Dengan
marah sekali. Ling In mengundurkan diri dan berdiri di
sebelah Lie Bu Tek dan Gan Hok Seng yang juga sudah tak
dapat menahan kesabaran mereka lagi.
“Ciu Hoan Ta mengapa kau berlaku keterlaluan kepada
kami orang orang Hoa san pai?”
“Apa? Aku mengajukan pinangan secara baik baik, kau
masih mengatakan aku keterlaluan?” bentak Ciu Hoan Ta.
“Bagaimana kalau kami menampik?”
Ciu Hoan Ta tertawa besar, diikuti oleh semua anak
buahnya yang kini nampak muncul dari balik pohon pohon
dan daun daun pohon di atas.
“Menampik? Berarti kalian binasa, kecuali calon
isteriku.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ciu Hoan Ta, aku mendengar bahwa Huito Sam eng
adalah orang orang gagah, apakah kau juga merasa sebagai
seorang gagah berani dan tidak curang?”
Ciu Hoan Ta membelalakkan matanya. “Sekali lagi kau
mengatakan aku tidak gagah dan curang, golok terbangku
akan bicara!”
Tan Seng tersenyum mengejek dan menggerak gerakkan
kepalanya. “Ciu Hoan Ta, kalau memang betul kau gagah
perkasa dan tidak curang, aku Tan Seng, orang tua lemah
dari Hoa San pai, pada saat ini juga menantang kepadamu
untuk mengadu kepandaian secara laki laki! Kalau aku
kalah dan tewas di tanganmu sudahlah, kau boleh lakukan
apa yang kau suka. Akan tetapi kalau kau kalah olehku, kau
harus membebaskan murid murid keponakanku yang tiga
ini. Bagaimana, beranikah kau?”
Bukan main marahnya Ciu Hoan Ta menerima
tantangan ini. Ia memang seorang yang berwatak keras dan
sombong, berbeda dari dua orang kakak seperguruannya
yang benar benar berkepandaian tinggi dan juga biarpun
menuntut kehidupan sebagai kepala kepala gerombolan,
namun masih menghargai peraturan dari dunia bu lim dan
kang ouw. Ciu Hoan Ta memang belum mempunyai isteri
yang sah, karena biarpun sudah seringkali ia menculik anak
bini orang tentu saja tidak boleh disebut sebagai isterinya
yang sah. Di dalam kesombongannya, Ciu Hoan Ta tadi
memandang rendah kepada Tan Seng yang memang
kelihatannya lemah dan seorang petani biasa saja, tidak
memegang senjata pula.
“Baik, baik, kalau memang kau yang sudah tua bangka
ini telah bosan hidup. Akan tetapi kalau kau mati, jangan
nona calon isteriku ini kelak merasa menyesal kepadaku!
Ha ha ha!” Diam diam Ciu Hoan Ta memberi tanda
dengan jari jari tangannya yang merupakan bahasa rahasia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari perkumpulan Hui eng pai. Melihat isyarat ini, anak
anak buahnya maklum bahwa kalau ketua mereka nanti
terdesak, mereka diharuskan maju mengeroyok! Memang
Ciu Hoan Ta ini curang sekali wataknya.
Kemudian Cin Hoan Ta mencabut golok nya yang besar.
Gagang golok ini diikat dengan tali yang panjang dan
sambil menyeringai dan memandang dengan matanya yang
liar ke arah Ling In, Ciu Hoan Ta lalu membelit belitkan
tali golok itu kepada pergelangan tangan kanannya.
Kemudian ia menggerak gerakkan goloknya dan berkata.
“Kakek tua, lekas kau keluarkan senjatamu!”
Tan Seng tadi telah melihat gerakan orang kasar ini dan
biarpun harus ia akui bahwa kepandaian lawannya ini
benar benar lihai, namun ia merasa masih kuat
menghadapinya. Apalagi memang keistimewaan Tan Seng
terletak pada sepasang ujung lengan bajunya. Ujung lengan
bajunya dapat dipergunakan untuk menotok atau
menampar dan kelihaiannya tidak kalah oleh sepasang
golok atau pedang!
“Aku tak pernah memegang senjata, kau majulah!”
tantang Tan Seng.
Ciu Hoan Ta menjadi marah karena mengira bahwa
orang itu memandang rendah kepadanya. Sambil berseru
bagaikan seekor garuda menyambar, ia menubruk maju dan
membabat dengan goloknya yang bertali pada gagangnya
itu.
Tan Seng berlaku waspada dan cepat mengelak sambil
mengebutkan ujung lengan baju kiri di muka mata lawan
untuk membikin bingung, kemudian ia menggerakkan
ujung lengan baju kanan untuk menotok ke arah jalan darah
di iga lawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Barulah Ciu Hoan Ta terkejut karena serangan tokoh
Hoa san pai ini benar benar lihai dan berbahaya sekali. Ia
cepat memutar goloknya untuk membabat ujung lengan
baju lawan, akan tetapi Tan Seng kembali dapat
menggerakkan ujung lengan baju sehingga terhindar dari
bacokan. Ciu Hoan Ta lalu mengeluarkan kepandaian
simpanannya, yakni Ilmu Golok Hui eng To hwat ( Ilmu
Golok Garuda Terbang ). Dia dan kedua suhengnya
menjadi terkenal dan ditakuti orang karena ilmu golok ini.
Memang sesungguhnya Ilmu Golok Hui eng To hwat ini
benar benar amat lihai, karena selain cepat dan tak terduga
gerakannya, juga banyak terdapat tipu tipu yang
menyesatkan.
Baiknya bagi Tang Seng bahwa Ciu Hoan Ta hanya
menguasai enam puluh bagian saja dari ilmu golok ini dan
terutama Sekali yang menyebabkan Ciu Hoan Ta kurang
berbahaya adalah wataknya yang sombong, tidak tenang
sehingga Tan Seng yang sudah berpengalaman itu dapat
menghadapinya dengan hati hati, mengelak dan menangkis
serangan lawannya yang membabi buta, sebaliknya
membalas dengan serangan serangan yang jitu dan tepat.
Baru saja lima puluh jurus mereka bertempur, nampak
dengan nyata bahwa Tan Seng lebih menang pengalaman
dan mulai mendesak lawannya. Hal ini dilihat pula oleh
anak buah Hui eng pai, maka sambil berseru keras, tujuh
orang pembantu Ciu Hoan Ta lalu menyerbu maju sambil
menggerakkan golok dan pedang.
“Jangan berlaku curang!” Lie Bu Tek melompat maju
dengan pedang di tangannya, demikian pula Ling In dan
Hok Seng cepat menghadang datangnya tujuh orang anak
buah Hui eng pai ini.
Sementara itu, berhubung terdesak, Ciu Hoan Ta lalu
mengeluarkan kepandaiannya yang terakhir. Tiba tiba ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berseru keras dan goloknya menyerang dengan sebuah
tusukan, akan tetapi Tan Seng melompat mundur, golok itu
terus menyerang, terlepas dari tangan pemegangnya dan
terbang mengarah leher kakek itu. Inilah keistimawaan ilmu
golok dari Ciu Hoan Ta. Golok itu pada gagangnya diikat
dengan tali yang dibelitkan pada pergelangan tangan dan
kini golok itu dipergunakan untuk disambitkan tanpa kuatir
golok itu akan hilang. Karena apabila serangan itu luput,
golok itu bisa ditarik kembali!
Tan Seng terkejut sekali dan ketika ia menyampok
dengan ujung lengan bajunya, terdengar suara membrebet
dan ujung lengan bajunya itu putus! Ia maklum bahwa
dengan disambitkan, golok itu akan lebih berbahaya
daripada kalau dipegang oleh Ciu Hoan Ta sendiri.
Melihat betapa goloknya berbasil membabat putus ujung
lengan baju Tan Seng, Ciu Hoan Ta tertawa bergelak dan
golok itu kembali ke tangannya. Kini ia menyerang lagi,
lebih hebat daripada tadi. Goloknya terbang memutar dari
kiri dan membabat ke arah leher Tan Seng dengan
kecepatan kilat! Akan tetapi Tan Seng telah bersiap sedia. Ia
maklum bahwa ia tidak mungkin terus menerus dapat
menghadapi serangan aneh ini, maka dengan keberanian
luar biasa sekali, ia menanti sampai golok itu terbang dekat.
Kemudian, sambil mengeluarkan seruan keras dan
mengerahkan lweekangnya, ia lalu menyambar dan
memukul golok itu dari pinggir sambil mengerahkan ilmu
Pukulan Sin ciang ia liong (Pukulan Sakti Menghantam
Naga). Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, golok
Ciu Hoan Ta itu membalik dan secepat kilat meluncur ke
arah dada tuannya! Ciu Hoan Ta mencoba untuk mengelak,
akan tetapi ia lupa bahwa golok itu terikat pada pergelangan
tangannya maka tetap saja golok itu ikut berobah arahnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan segera terdengar pekik mengerikan dan golok itu telah
menancap di dadanya hampir menembusi punggungnya.
Tan Seng terkejut sekali melihat hasil tangkisannya ini.
Ia tidak bermaksud membunuh Ciu Hoan Ta, maka
melihat, ini, ia lalu berkata cepat kepada murid murid
keponakanny.a. “Hayo lari ke timur !”
Pada waktu itu, anak buah Hui eng pai yang hendak
mengeroyok, menjadi kaget dan untuk sesaat mereka tidak
bergerak, memandang ke arah Ciu Hoan Ta yang sudah
roboh mandi darah tak bergerak lagi. Kemudian, setelah
melihat empat orang Hoa san pai itu lari, mereka berseru
keras dan mengejar sambil mengeluarkan suara yang
menyeramkan, “Mauw… auw... auw…!!”
Akan tetapi empat orang Hoa san pai memiliki ginkang
yang tinggi sehingga para pengejarnya dengan mudah dapat
tertinggal jauh dan suara teriakan mereka hanya terdengar
sayup sayup saja. Akan tetapi, tiba tiba setelah mereka tiba
di pinggir hutan sebelah timur, terdengar suara jawaban
yang luar biasa nyaringnya dari depan mereka! Tak lama
kemudian, bagaikan dua ekor burung garuda, menyambar
turun dua bayangan orang yang memiliki gerakan luar biasa
sekali gesitnya. Ketika Tan Seng dan murid murid
keponakannya memandang, di depan mereka telah berdiri
dua orang kakek berusia lima puluh tahun lebih yang
memandang dengan tajam ke arah mereka.
“Dari manakah datangnya orang orang yang telah berani
mengganggu anak buah Hui eng pai?” tanya yang seorang
yang memegang pedang. Yang seorang lagi memegang
sepasang tongkat bercagak.
Tan Seng menjura dan menjawab, “Siauwte adalah Tan
Seng dan tiga anak muda ini adalah murid murid
keponakanku. Kami datang dari Hoa san pai dan ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanpa disengaja kami telah tersasar dan memasuki daerah
kekuasaan Hui eng pai.”
Kedua orang tua itu ketika mendengar bahwa empat
orang ini adalah orang orang Hoa san pai, lalu cepat
memberi hormat dan berkata, “Ah, kiranya Tan lo
enghiong dari Hoa san! Harap dimaafkan apabila anak
buah kami berlaku kurang ajar. Aku adalah Suma Kwan
Seng dan ini adikku, Suma Kwan Eng. Kamilah yang
menjadi ketua pertama dan ke dua dari Hui eng pai. Silakan
kalian mampir di tempat kami untuk menerima
penghormatan kami,” kata orang yang berpedang.
“Terima ksih, harap ji wi tidak kecewa. Lain kali saja
kami datang berkunjung, sekarang kami tidak ada waktu
lagi,” jawab Tan Seng sambil menjura. “Selamat berpisah!”
Setelah berkata demikian, Tan Seng lalu mengajak murid
murid keponakannya pergi dari situ secepatnya. Para
pengejar sudah semakin dekat, akan tetapi tiba tiba Suma
Kwan Eng mengangkat tongkatnya dan berseru, “Jangan
ganggu Tan lo enghiong dan murid muridnya! Mereka
adalah orang orang gagah yang patut dijadikan sahabat!”
Tan Seng menengok dan setelah mengucapkan “terima
kasih!” ia lalu melompat dan mengajak murid murid
keponakannya untuk berlari cepat cepat dari tempat itu!
Mereka telah keluar dari hutan dan kini telah berada di
luar daerah gerombolan Hui eng pai. Akan tetapi, setelah
mereka berlari sejauh empat li kurang lebih, tiba tiba
mereka mendengar seruan seruan dari belakang dan
tampaklah bayangan kedua saudara Suma ketua ketua dari
Hui eng pai itu.
“Hm, mereka tentu akan membalas dendam. Kita
bersiap sedia !” kata Tan Seng perlahan kepada Bu Tek dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
adik adiknya. Empat orang Hoa san pai ini mempersiapkan
senjata masing masing.
Benar saja, yang datang adalah Suma Kwan Seng dan
Suma Kwan Eng dan kini wajah mereka tidak seramah tadi.
Suma Kwan Seng memandang kepada Tan Seng dengan
mata bernyala, kemudian ia menegur, “Orang she Tan,
tidak tahunya kau telah nembunuh sute kami, Ciu Hoan
Ta!”
Tan Seng tersenyum tenang. “Saudara Suma Kwan
Seng, sebagai seorang kang ouw, apalagi sebagai ciangbujin
dari sebuah perkumpulan besar, kau tentu maklum akan
akibat dari sebuah pibu. Sutemu memaksa kepadaku untuk
mengadakan pibu dan ia tewas oleh goloknya sendiri.
Mengapa hal seperti ini saja diributkan? Kalau seandainya
di dalam pibu itu aku yang tewas, apakah kau akan ribut
ribut juga?”
Ketua pertama dari Hui eng pai itu membanting kakinya
dan sebuah batu hitam yang kebetulan berada di depannya
menjadi remuk! “Baiknya kau berada di luar daerah kami
dan karena memang betul ucapanmu tadi bahwa sute tewas
dalam sebuah pertempuran pibu, kami akan menahan diri
dan bersabar. Betapapun juga, kami tidak dapat
menyangkal bahwa kaulah yang menjadi gara gara. Kalau
kalian orang orang Hoa san pai tidak melanggar wilayah
kami dan tidak naik ke gunung ini, tak mungkin suteku
sampai tewas. Oleh karena itu, biarlah kami menahan
kesabaran, akan tetapi lain waktu kami akan membalas
kehormatan ini dan membalas kunjunganmu di Hoa san!”
setelah berkata demikian Suma Kwan Seng dan Suma
Kwan Eng lalu berkelebat dan sekali melompat mereka
telah kembali ke dalam hutan.
Tan Seng menarik napas panjang. “Baiknya mereka
masih menghargai kesopanan kang ouw dan entah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengapa, mereka agaknya takut untuk turun tangan di
daerah ini! Hm, tanpa disengaja, kita telah menanam bibit
permusuhan baru dan kukira kalau tadi mereka berdua
turun tangan, belum tentu kita akan dapat menang.
Kepandaian mereka jauh lebih tinggi dari pada kepandaian
Ciu Hoan Ta.”
Demikianlah, mereka lalu melanjutkan perjalanan
mereka ke timur, hanya berhenti untuk mengambil buah
buah dari dalam hutan dan untuk mengisi perut. Dua hari
kemudian, tibalah mereka di puncak bagian timur, tempat
yang jauh lebih menyeramkan lagi kalau dibandingkan
dengan bagian lain.
Setelah menjelajah dan memeriksa puncak itu setengah
hari lamanya, akhirnya mereka dapat menemukan juga gua
yang besar di mana dahulu Thian Te Siang mo membawa
masuk muridnya dan di mana kedua orang Iblis Bumi
Langit ini mengumpulkan jenazah jenazah orang orang
gagah yang tewas sebagai pahlawan bangsa!
Mula mula Tan Seng hanya melihat gua yang kecil saja,
yang hanya dapat dimasuki oleh tubuh seorang. Dengan
Tan Seng memelopori di depan, empat orang ini memasuki
gua itu dan makin dalam mereka masuk, gua itu makin
lebar dan besar sekali. Akan tetapi gelapnya bukan main
dan tiba tiba Ling In berbisik, “Susiok. mengapa baunya
demikian tidak enak?”
“Ah, benar, suci,” kata Hok Seng, “aku jadi teringat….”
Ia tidak melanjutkan bicara.
“Teringat apa. sute?”
“Teringat… teringat akan bau mayat!”
Berdiri bulu tengkuk Ling In ketika ia mendengar ini.
Gadis ini berjalan paling belakang, maka tak terasa lagi ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lalu memegang lengan Hok Seng yang berjalan di depannya
dan ketika ia menyentuh tangan Hok Seng, ternyata sutenya
ini pun amat dingin tangannya dan agak gemetar tubuhnya!
“Susiok, lebih baik kita menyalakan api. Terlalu gelap
bagi kita, siapa tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres,”
kata Bu Tek.
“Tunggu sebentar, biar aku mencari ranting kering di
luar!” kata Hok Seng yang segera keluar dari gua itu. Untuk
keluar lebih mudah dari pada masuk ke dalam, karena pintu
gua yang sempit itu nampak nyata dan dapat menjadi
penunjuk jalan. Tak lama kemudian, Hok Seng masuk lagi
sambil membawa dua ranting yang sudah ia belit belit
dengan alang alang kering, merupakan obor yang cukup
besar.
“Suheng, lekas keluarkan batu apimu,” kata Hok Seng.
Bu Tek segera memukul batu apinya dan bernyalalah api
membakar dua batang obor itu. Tan Seng memegang
sebatang obor, yang ke dua dipegang oleh Hok Seng.
Untuk sesaat pandang mata empat orang itu menjadi
silau dan tak dapat melihat. Tan Seng mengangkat obor
tinggi tinggi, demikian pula Hok Seng sehingga kini di
dalam gua yang gelap itu menjadi terang. Mereka
memandang ke dalam dan….
“Thian Yang Agung....” Tan Seng berseru.
“Ayaaaa…” Ling In hampir menjerit dan kembali ia
menangkap lengan Gan Hok Seng yang berdiri di
depannya. Gadis ini memandang ke depan dengan wajah
pucat dan mata terbelalak serta tubuh menggigil saking
seramnya.
Bertumpuk tumpuk, dalam berbagai posisi, terdapat
banyak sekali rangka manusia. Tengkorak tengkorak yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bermata dan berhidung bolong memandang ke arah mereka
dalam cara mengerikan sekali. Tulang tulang iga, tulang
tulang lengan kaki tumpang tindih, di sana sini tengkorak
tengkorak berserakan! Inilah Gua Makam Pahlawan itu. tak
salah lagi.
“Lebih tepat disebut gua tengkorak!” akhirnya Tan Seng
berkata perlahan setelah ia dapat menguasai kekagetannya.
“Susiok, mari kita keluar dari neraka ini…” kata Ling In
yang selama hidupnya belum pernah menyaksikan
pemandangan yang demikian menyeramkan. Kalau saja
tidak berada di dalam gua yang demikian gelap tentu
pemandangan ini takkan demikian mengerikan. Akan
tetapi, di dalam tempat yang gelap gulita, lalu tiba tiba di
bawah sinar api melihat pemandangan seperti itu, benar
benar bisa membuat orang yang setabah tabahnya menjadi
ketakutan.
“Nanti dulu, aku harus mencari rangka anak dan
mantuku. Ceng ji (anak Ceng) diantara sekian banyaknya
rangka, bagaimana aku bisa menemukan kau dan
suamimu?” Suara Tan Seng ini amat mengharukan hati
murid murid keponakannya, terutama sekali Ling In.
Kemudian, ketika Tan Seng memberikan obor kepada Bu
Tek dan dia sendiri membalik balikkan tengkorak tengkorak
itu seperti orang memeriksa sekumpulan barang barang
untuk mencari tengkorak puterinya, Ling In tak dapat
menahan mengalirnya air matanya.
“Susiok, bagaimana dapat membedakan… tengkorak
dan tulang…?” tanyanya dengar hati terharu.
“Dapat, dapat....” Tan Seng berkata terengah engah
sambil melanjutkan memilih tengkorak tengkorak itu,
“orang sakti yang aneh itu telah menuliskan nama nama
pada tengkorak tengkorak ini! Lihat, bukankah ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tengkorak dari Kwee enghiong yang tewas di utara. Dan
ini.... bukankah ini tengkorak Ang goan swe (Jenderal Ang)
yang dahulu jenazahnya lenyap pula? Benar semua
tengkorak ditulisi namanya, tentu aku akan bisa mencari
rangka anak dan mantuku!” Makin bersemangat kakek itu
memilih tengkorak.
Kemudian perhatiannya tertarik oleh dua rangka
manusia yang duduk menyandar dinding batu karang dan
agaknya didudukkan sengaja terpisah dari tengkorak
tengkorak lain. Ia menghampiri, diikuti oleh Bu Tek yang
memegang obor tinggi tinggi. Sekali saja menjenguk dan
melihat huruf huruf yang terukir di belakang tengkorak. Tan
Seng berseru gembira, “Inilah mereka! Inilah Tan Ceng dan
Go Sik An, suaminya!” Ia berlutut di depan kedua rangka
anak dan mantunya itu. Bu Tek, Hok eng, dan Ling In juga
berlutut dengan penuh hormat.
Tan Seng yang duduk bersimpuh di depan kedua rangka
itu, tiba tiba tak disengaja memandang ke atas lantai di
depan rangka, lantai yang terbuat dari pada batu karang
keras hitam. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, yakni
lantai yang hitam itu seperti ada corat coretnya. Ia meraba
dengan jari tangan nya. Benar saja, ada tulisan di situ,
tulisan yang dibuat dengan ukiran di lantai batu yang keras.
“Bu Tek, coba dekatkan obor itu. Ada tulisan di sini!”
katanya Ketika obor didekatkan, semua orang membaca
tulisan yang jelas dan besar, yang diguratkan dalam dalam
pada lantai di depan kedua rangka manusia itu.
ANAK BERSUMPAH UNTUK MEMBALAS DENDAM
AYAH DAN BUNDA.
“Ciang Le…!” Tan Seng berbisik dan sepasang matanya
terbelalak dan penuh harap dan kegembiraan. “Dia masih
hidup…! Ciang Le cucuku .. dia masih hidup dan pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang di sini, bersumpah di depan rangka ayah ibunya!”
Setelah berkata demikian, tiba tiba kakek ini menangis
terisak isak di depan rangka anak dan mantunya. Tangis
karena kegirangan dan keharuan. Ling In ikut pula
menumpahkan air mata, sedangkan Gan Hok Seng
mengejap ngejapkan matanya sendiri yang menjadi pedas
dan merah. Lie Bu Tek menggigit bibirnya menahan
keharuan hatinya.
Kemudian, dibantu oleh Bu Tek dan Hok Seng, kakek itu
mengangkut keluar rangka puteri dan mantunya dan setelah
memilih tempat yang baik hongsuimya (kedudukan tanah),
ia lalu mengubur jenazah dua orang pahlawan itu. Setelah
semua beres dan mereka telah bersembahyang, Ling In lalu
minta diri untuk pulang ke Biciu, diantar oleh suhengnya,
yaitu Lie Bu Tek. Diantara dua orang saudara seperguruan
ini memang terdapat pertalian asmara dan pernikahan
mereka hanya tinggal “tunggu waktu” saja. Adapun Gan
Hok Seng lalu kembali ke Kanglam di mana ia membuka
perusahan ekspedisinya yang diberi nama Hui houw
piauwkiok (Kantor Ekspedisi Harimau Terbang).
“Apakah susiok hendak kembali ke Hoa san?” tanya tiga
orang murid keponakan itu sebelum mereka berpisah
mengambil jalan masing masing.
Tan Seng mengerutkan keningnya. “Aku hendak
mencari Bi Lan.”
Ketiga murid keponakan itu berjanji bahwa di dalam
perjalanan mereka, mereka juga hendak membuka mata
memasang telinga untuk mendengarkan di mana adanya
Coa ong Sin kai, pengemis gila yang sudah berani menculik
sumoi mereka itu.
Maka turunlah mereka dari Pegunungan Ta pie san yang
penuh dengan hal hal yang aneh dan berbahaya itu. Tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
saja mereka mengambil jalan dari lereng sebelah selatan
agar jangan sampai bertemu dengan gerombolan Hui eng
pai yang lihai.
-ooo0dw0ooo-
“Kau berjodoh dengan aku! Ha ha ha, burung kecil, kau
berjodoh dengan aku! Bagus, bagus....” sambil terkekeh
kekeh Coa ong Sin kai berlari cepat sekali, memondong
tubuh Bi Lan yang tidak berdaya, akan tetapi yang dapat
melihat dan mendengar serta mengikuti semua gerak gerik
pengemis gila ini.
Tentu saja sebagai seorang gadis yang baru remaja, Bi
Lan merasa jijik sekali berada dalam pondongan kakek gila
ini dan bau apak yang keluar dari pakaian dan tubuh Coa
ong Sin kai membuat ia hampir muntah. Akan tetapi diam
diam otak gadis yang cerdik ini bekerja keras, terputar putar
dan menimbang nimbang.
Ketika ia terpukul oleh Tauw It Hosiang, tokoh dari Go
bi pai itu, Bi Lan merasa tidak puas sekali akan kepandaian
sendiri. Ia merasa betapa semenjak kecil, kong kongnya
melatih dan menggemblengnya dengan nasihat nasihat agar
ia belajar dengan tekun. Oleh karena ia adalah seorang yang
taat kepada kong kongnya dan juga memang ia suka sekali
akan ilmu silat, maka semenjak kecil, ia suka sekali belajar
dan melatih diri sehingga keempat orang gurunya cinta
sekali kepadanya. Tiap kali ia belajar di bawah asuhan guru
gurunya, tentu ia mendesak guru guru nya untuk
menurunkan ilmu ilmu silat yang belum diketahuinya. Dan
sekali ia diajar, ia telah hafal dan dengan gerakan lincah
sekali ia dapat mainkan semua ilmu silat yang diajarkan
kepadanya. Berkali kali ia mendengar betapa guru gurunya
memujinya sebagai seorang anak yang benar benar berbakat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menjadi ahli silat tinggi. Kalau pujian ini keluar dari
mulut kong kongnya, ia takkan menganggapnya karena
tahu betapa besar kasih sayang Tan Seng kepadanya. Akan
tetapi pujian ini bahkan keluar dari mulut Liang Gi Tojin
dan kakek ini selamanya tak pernah membohong.
Tidak tahunya, menghadapi seorang hwesio seperti
Tiauw It Hosiang saja biarpun tak dapat dibilang ia kalah,
namun ia masih terkena pukulan hwesio itu. Ia benar benar
merasa tidak puas sekali maka ia tadinya girang mendengar
bahwa Liang Gi Tojin hendak memberi pelajaran Pi ki hu
hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah). Tidak
tahunya, sebelum pelajaran itu diturunkan ia telah terkena
totokan yang luar biasa dari pengemis gila ini dan bahkan
kena ditawan!
Akan tetapi, ia teringat betapa lihainya pengemis gila ini,
sudah terang bahwa guru gurunya tak dapat melawan kakek
gila ini, yang dengan menggendongnya masih sanggup
menghadapi keroyokan empat orang gurunya, bahkan
dengan enaknya dapat melarikan diri tanpa dapat dikejar
oleh tokoh tokoh Hoa san pai! Alangkah hebat kakek gila
ini dan kalau ia dapat menjadi muridnya alangkah akan
senang hatinya! Berfikir demikian lenyaplah semua rasa
takutnya, lenyap pula rasa jijiknya terhadap kakek gila ini
dan ia memandang dengan mata bersinar gembira.
Kebetulan sekali kakek gila itu memandang ke arah
muka Bi Lan. Melihat betapa sinar mata gadis itu tidak
seperti tadi dan kini nampak berseri seri, ia tertawa
bergelak, melepaskan dan sekali tepuk saja pada punggung
gadis itu, terlepaslah Bi Lan dari pengaruh totokannya.
“Ha ha ha, burung kecil (Siauw niau), kau tidak takut
lagi sekarang? Bagus, aku paling benci pada orang penakut!
Kau berjodoh padaku, Siauw niau, kau berjodoh dengan
aku. Aduh gatalnya rambutku, lekas kau cari dan keluarkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kutu kutu busuk di rambutku ini!” Kakek ini lalu duduk di
pinggir jalan dan minta supaya Bi Lan mencari kutu di
kepalanya!
Bi Lan ragu ragu, lalu bertanya, “Orang tua, enak saja
kau menyuruh aku. Apa upahnya kalau aku mendapatkan
kutu rambutmu?”
“Ha ha ha, kau lebih pintar dari pada monyet kecil
berbulu hitam itu. Dia selalu mencari kutu rambutku tanpa
minta upah. Ha ha, siauw niau, kau mau minta apakah?”
“Aku minta upah ilmu silat.”
“Bagus, kalau kau tidak takut lelah bermain silat, akan
kuberi itu padamu.”
“Aku ingin kau memberi pelajaran Pi ki hu hiat!” Kakek
itu menengok dengan sepasang alis berdiri, lalu berkata
sambil terkekeh kekeh.
“Kepandain macam itu saja tua bangka tua bangka dari
Hoa san pai belum memberikan pelajaran kepadamu? Baik,
baik, aku akan memberi pelajaran Pi ki hu hiat yang paling
baik, bahkan aku akan memberi pula lajaran I kong hoan
hiat (Memindahkan Jalan Darah) asal saja kau dapat
mengeluarkan lebih dari lima ekor kutu rambut!”
Bi Lan menjadi girang sekali dan sambil menahan napas
agar bau rambut kakek itu yang amat tidat enak jangan
terlalu banyak mengotori paru parunya, ia lalu membuka
buka rambut yang kotor dan kusut itu dan mencari kutu
rambut. Karena memang rambut kakek itu menjadi sarang
kutu, sebentar saja ia sudah dapat menangkap seekor kutu
yang hitam dan besar. Sekali pencet dengan dua kuku ibu
jarinya, matilah kutu itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Nah, sudah mendapat satu. Ah, besarnya!” seru gadis
itu dan ia memperlihatkan kutu yang sudah dibunuhnya itu
kepada Coa ong Stn kai.
Kakek gila itu mengeluarkan seruaan keras dan tiba tiba
tangan kirinya dengan gerakan melengkung telah bergerak
menampar kepala Bi Lan! Gadis ini tentu saja terkejut
sekali dan mencoba untuk mengelak, akan tetapi pukulan
ini benar benar luar biasa dan tetap saja kepalanya kena
ditempiling sehingga terdergar suara nyaring di telinganya
dan ia terlempar dengan kulit kepala terasa panas dan
pedas! Tentu saja ia merasa heran karena kakek itu tiba tiba
menamparnya, juga heran sekali mengapa tanparan yang
demikian jitu ternyata tidak melukainya sama sekali!
“Anak jahat!” kakek itu memaki. “Mengapa kau telah
membunuhnya? Apa salahnya maka kau membunuhnya?”
Bi Lan membuka matanya lebar lebar karena heran dan
tidak mengerti.
“Membunuh siapa ......?” tanyanya Coa ong Sin kai
menunjuk ke arah kutu rambut yang masih menempel di
kuku ibu jari Bi Lan. “Apa dosanya maka kau
membunuhnya, anak bodoh?”
Hampir saja Bi Lan tertawa geli. Orang tua ini marah
marah karena ia telah membunuh kutu rambut yang
ditangkapnya! Alangkah lucu dan ganjilnya.
“Orang tua, bukankah kutu busuk ini telah
mengganggumu, menghisap darah dari kulit kepalamu?
Mengapa tidak boleh dibunuh?”
“Bodoh! Dia menghisap darah memang sudah menjadi
pekerjaannya, dan memang darah itulah makanannya. Dia
tidak melakukan satu yang jahat. Awas, kau tidak boleh lagi
sembarangan membunuh.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baiklah, akan kutangkap hidup hidup kutu kutu
rambutmu.”
Lenyap kemarahan kakek itu dan ia membiarkan
rambutnya dicari kutu rambutnya oleh Bi Lan lagi.
“Orang tua….”
“Hm, apa lagi?”
“Pukulanmu tadi… hebat sekali. Aku ingin pula
mempelajarinya.”
“Tentu kau akan mempelajarinya. Kalau tidak ada
artinya aku membawamu? Sudah kukatakan kau berjodoh
dengan aku.”
Karena kutu rambut di kepala kakek itu memang banyak,
maka sebentar saja Bi Lan telah menangkap sepuluh ekor
lebih. Kakek itu menjadi girang sekali dan ia
mengumpulkan kutu kutu rambut itu yang dibungkus di
dalam sehelai daun.
“Kau hendak memelihara kutu kutu itu?” Bi Lan
bertanya heran.
Kakek itu tertawa. “Akan kupindahkan mereka pada
tubuh kera di dalam hutan.”
Benar saja, ketika mereka memasuki hutan di mana
terdapat banyak kera, Coa ong Sin kai lalu membuka daun
itu dan menyebarkan kutu kutu itu pada kera kera yang
duduk di bawah. Kakek itu mencari buah buah dan
membagi bagikan kepada kera kera itu dan mengajak
mereka tertawa tawa dan bercakap cakap kepada mereka.
Diam diam gadis ini memperhatikan semua itu dan ia dapat
menduga bahwa kakek yang aneh sekali ini ternyata lebih
sayang kepada binatang dari pada kepada manusia!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Demikianlah, dengan amat cerdik dan pandai
mengambil hati, akhirnya Bi Lan dapat menerima pelajaran
dua macam ilmu silat dari kakek gila ini selama beberapa
bulan, yakni ilmu silat tangan kosong yang disebut Ouw
wan ciang ( \Ilmu Silat Lutung Hitam) yang terdiri dari 36
jurus dan juga ilmu pedang yang oleh kakek itu dimainkan
dengan sebatang ranting bambu, yakni ilmu pedang yang
disebut Sin coa kiam hoat (Ilmu Pedang Ular Sakti)
Memang Bi Lan besar dan luar biasa sekali bakatnya dalam
ilmu silat sehingga dalam tiga bulan saja ia telah dapat
mewarisi dua macam ilmu silat ini.
Biarpun otaknya agak miring, ternyata bahwa Coa ong
Sin kai memang tajam pandangan matanya. Tadinya tidak
terpikir olehnya untuk mengganggu Hoa san pai dan
menculik Bi Lan, akan tetapi begitu melihat gadis itu, ia
menjadi amat terlarik. Segila gilanya kakek ini, ia masih
mengerti bahwa ia tidak mempunyai murid dan kalau
sampai ia mati tanpa menurunkan kepandaiannya kepada
orang lain, akan lenyaplah kepandaian yang selama
berpuluh tahun dipelajarinya, ia maklum bahwa Bi Lan
adalah seorang gadis yang cerdik dan berbakat sekali, dan
juga melihat wajah gadis ini, ia menjadi suka sekali, maka
diculiknya gadis itu untuk dijadikan muridnya!
“Suhu, apakah tidak ada lain macam ilmu silat yang kau
ketahui? Teecu ingin mempelajari semua kepandaian suhu,”
kata Bi Lan setelah ia tamat mempelajari Sin coa Kiam
hoat.
Coa ong Sin kai tertawa bergelak. “Kau benar benar
serakah sekali! Kau kira kau akan dapat memeluk Gunung
Thai san? Kalau kau tidak dapat memeluk Gunung Thai
san, bagaimana hendak mempelajari semua kepandaian di
dunia ini yang besarnya lebih hebat dari Gunung Thai san?
Banyaknya kepandaian seperti air di Telaga See ouw,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapatkah kau minum semua sampai habis? Ha ha ha!
Kepandaianmu yang telah kau pelajari itu sudah banyak,
akan tetapi masih belum hebat. Kalau bertemu dengan
orang yang lebih pandai, tetap kau akan kalah. Oleh karena
itu, mari kau ikut dengan aku. Aku lebih suka bersahabat
dengan binatang yang dapat membantuku di dalam
keadaan bahaya dan kalau kau dapat mempelajari
kepandaian ini, kaupun akan terjaga dari ancaman siapapun
juga.” Sambil berkata demikian, Coa ong Sin kai lalu berlari
cepat dan Bi Lan segera mengejar. Salain dua macam ilmu
silat yang telah disebutkan itu, juga kakek gila ini telah
mengajarnya Pi ki hu hiat dan I kong hoan hiat, yakni ilmu
ilmu menutup atau memindahkan jalan darah yang dalam
melatihnya harus memiliki lweekang tinggi, maka otomatis
lweekang dari gadis ini memperoleh banyak sekali
kemajuan di bawah pimpinan Coa ong Sin kai, juga
pengemis sakti ini melatihnya dalam hal ginkang dan ilmu
lari cepat sehingga kini ia dapat berlari mengikuti gurunya
yang baru ini tanpa tertinggal terlalu jauh.
Setelah berlari kurang lebih tiga puluh li jauhnya, mereka
memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon pohon
besar dan tua. Tiba tiba setelah mereka masuk sampai di
tengah tengah hutan Bi Lan menghentikan larinya dan
memandang ke depan dengan mata terbelalak. Nyata ia
merasa ngeri dan jijik sekali. Di depannya terdapat lima
batang pohon pek yang besar dan pohon pohon ini penuh
dengan ular yang besar besar, yang melingkari cabang
cabang pohon, ada pula yang melingkar tidur di bawah
pohon.
Coa ong Sin kai menghampiri tempat itu sambil tertawa,
kemudian ia lalu mengeluarkan suara mendesis yang keras.
Tiba tiba semua ular yang tadinya nampak mati tak
bergerak, kini mulai hidup. Kepala mereka diangkat dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lidah yang merah bergerak gerak keluar dari mulut, lalu
terdengarlah suara mendesis desis yang keras pula, yang
keluar dari mulut semua ular itu. Agaknya binatang
binatang ini mengenal tanda yang dikeluarkan oleh Coa
ong Sin kai. Adapun kakek itu sambil tertawa tawa lalu
maju dan duduk bersila di bawah pohon.
Bi Lan melihat dengan amat jijik dan ngeri betapa ular
ular itu kini melepaskan lingkarannya dan merayap
mendekati Coa ong Sin kai. Setelah tubuhnya terlepas dari
lingkaran, nampak betapa panjang ular ular itu, bahkan ada
yang panjangnya hampir tiga tombak! Coa ong Sin kai
masih tertawa tawa dan ketika ular ular itu datang dekat, ia
mengulurkan tangan membelai belai kepala mereka! Ular
ular itu mencium cium dan menjilat jilat dengan lidah
mereka yang merah meruncing, sehingga Bi Lan yang
melihatnya merasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Tiba
tiba seekor ular belang yang besarnya selengan orang,
merayap cepat ke arah kakek itu dan tidak seperti yang lain,
ia lalu menyerang ke arah leher kakek itu dengan mulutnya
yang bergigi runcing!
“Eh, belang, kau masih belum tunduk kepadaku?” kakek
itu berseru dan sekali tangannya bergerak, ia telah
menggunakan dan jari tangannya untuk menotok arah leher
ular itu yang terus dijepitnya. Ular itu tak sempat menggigit
pula dan sekali saja Coa ong Sin kai menekan belakang
kepala ular itu dan terus diurut ke belakang, ketika
dilepaskan, ular belang yang berbisa itu menjadi jinak!
Bi Lan menjadi kagum sekali dan sekarang tahulah dia
mengapa gurunya yang baru ini dijuluki orang Coa ong Sin
kai (Pengemis Sakti Raja Ular). Kiranya suhunya
mempunyai kepandaian yang aneh untuk membikin tak
berdaya dan takluk binatang merayap yang menjijikkan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Siauw niau (burung kecil), kau ke sinilah!” Coa ong Sin
kai yang selalu menyebut muridnya “burung kecil” itu
memanggil.
Sebetulnya Bi Lan merasa jijik dan geli untuk mendekati
ular ular itu, akan tetapi ia tidak berani membantah
panggilan suhunya, ia berjalan mendekati. Ular ular yang
nampak jinak terhadap Coa ong Sin kai itu ketika melihat
seorang manusia asing mendekat, lalu serentak bangun dan
merayap hendak menyerang! Kepala mereka terangkat
tinggi dan lidah mereka yang merah itu menjilat jilat ke luar
dibarengi oleh suara mendesis yang menakutkan.
Bi Lan merasa geli akan tetapi sama sekali tidak takut.
Gadis ini mengambil sebatang cabang kering di atas tanah
dan siap sedia untuk menggempur ular ular itu apabila
menyerangnya.
“Jangan pukul mereka, lemparkan ranting di tanganmu!”
tiba tiba Coa ong Sin kai membentak dan suaranya
terdengar begitu marah sehingga Bi Lan menjadi kaget dan
buru buru melempar ranting itu. Ia teringat akan
kemarahan suhunya, ketika ia membunuh kutu rambutnya
dahulu itu. Ular ular itu merayap makin dekat dan kini
tidak kurang dari tujuh ekor ular besar telah mengurung Bi
Lan dari genap penjuru! Bi Lan menjadi bingung dan
gelisah. Untuk menendang atau memukul ular lar itu, ia
takut suhunya menjadi marah.
“Mereka tidak apa apa, asal kau tahu bagaimana
menghadapi mereka.” Coa ong Sin kai mengeluarkan suara
mendesis dan tujuh ekor ular itu lalu berhenti merayap dan
mendekam tak bergerak!
“Lihat, bukankah anak anak ini manis benar? Kalau kau
sudah mempelajari cara bagaimana untuk menguasai
mereka, mereka ini akan membelamu sampai mati dan kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tak perlu takut menghadapi siapapun juga. Lihatlah,
pernahkah, kau melihat ular ular menari nari ?”
-ooo0dw0ooo-
(Bersambung jilid ke 4)
Jilid 4
DENGAN mata terbelalak heran, Bi Lan melihat
gurunya memperlihatkan kepandaiannya. Dengan siul dan
desis yang aneh, gennya ini dapat memerintah kepada ular
ular yang makin lama makin banyak muncul di tempat itu.
Ular ular itu dapat diperintah untuk berbaris, untuk
mengangkat leher dai menari nari di depannya, kemudian
dengan barisan yang rapih sekali merayap rayap
mengelilingi Raja Ular itu. Dan semua ini hanya dilakukan
dengan desis dan siulan yang amat kuat bunyinya dan juga
amat tinggi sekali hingga Bi Lan dapat menduga bahwa
suara suara itu hanya dapat dikeluarkan dengan tenaga
khikang yang hebat. Senang juga melihat binatang binatang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu dapat dipermainkan sekehendak hatinya oleh Coa ong
Sin kai. Akan tetapi, diam diam Bi Lan merasa makin geli
dan jijik, apa lagi setelah ia melihat betapa Coa ong Sin kai
mengambil seekor ular kecil panjang yang dikalungkan
pada lehernya dan seekor pula yang lain melibat libat di
sekitar tubuhnya. Ia tidak suka mempelajari ilmu
menaklukkan ular ini. Ia akan bisa mati kaku kalau ular itu
harus melilit tubuh dan lehernya seperti itu! Bi Lan bergidik
dan meram matanya.
Pada saat itu, pendengaran Bi Lan yang terlatih dan
tajam dapat mendengar suara orang bersorak dari jauh.
Ternyata Coa ong Sin kai juga telah mendengar suara ini.
Suara orang orang itu makin lama makin dekat dan tak
lama kemudian, Bi Lan dan gurunya melihat banyak
binatang hutan berlari larian dan burung burung
beterbangan ketakutan.
“Hm, agaknya manusia manusia kejam merajalela di
hutan ini,” tiba tiba Coa ong sin kai berkata. “Mari kita
lihat.” Bi Lan mengikuti suhunya menuju ke arah suara itu
dan dari balik pohon mereka melihat lima orang laki laki
yang berpakaian sebagai pemburu berjalan di dalam hutan
itu. Dua orang memanggul bangkai harimau yang agaknya
tadi dikejar kejar oleh mereka, dan yang tiga orang masing
masing memanggul bangkai kelinci yang gemuk. Mereka
memegang tombak di tangan kiri dan di pundaknya
nampak pula busur dan anak panah.
“Kurang ajar, benar benar manusia manusia kejam!”
kata Coa ong Sin kai perlahan. “Lihat siauw niau, kaulihat
baik baik betapa setia nya ular ularku itu!” Setelah berkata
demikian, kakek ini menggerakkan bibirnya dan keluarlah
suara mendesis yang terputus putus akan tetapi tajam sekali,
persis suara ular yang sedang marah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lima orang pemburu itu ketika mendengar suara ini,
menjadi terkejut sekali dan berdiri diam.
“Ada ular!” kata seorang diantara mereka cepat ia
mencabut golok yang tergantung di pinggangnya. Juga
kawan kawannya bersiap sedia, karena memang binatang
ular ini yang paling ditakuti oleh para pemburu.
Tiba tiba, diantara daun daun dan batang batang pohon,
juga dari bawah rumput, keluar belasan ekor ular besar kecil
menerjang ke lima orang pemburu itu. Para pemburu itu
terkejut sekali karena belum pernah mereka mengalami hal
yang aneh seperti ini, diserbu belasan ekor ular yang
agaknya demikian marah kepada mereka. Bi Lan juga
memandang dengan mata terbelalak. Ia melihat betapa
suhunya dengan wajah berkilat karena berpeluh mata
berseri dan mulut diruncingkan, terus mengeluarkan suara
desisan yang ternyata merupakan panggilan kepada ular
ular itu. Makin lama makin banyaklah ular ular itu datang
mengeroyok para pemburu itu. Lima orang itu telah
menurunkan bawaan masing masing dan kini mereka
mengamuk dengan mata terbelalak ngeri. Golok mereka
diobat abitkan membacok ular ular itu, akan tetapi makin
lama makin bertambah juga jumlah ular ular itu sehingga
akhirnya mereka kena juga digigit dan dibelit tubuh mereka.
Terjadilah pergulatan yang maha hebat dan yang amat
mengerikan Bi Lan menjadi pucat dan tak terasa pula ia
memekik ngeri, lalu melompat ke tempat pertempuran itu.
Ia telah mengambil sebatang ranting kecil dan dengan
ranting ini ia menghajar ular ular itu. Sekali sabet dengan
ranting saja, pecahlah kepala seekor ular, atau kalau terkena
perutnya, maka pecahlah perut itu dan putus tubuh ular itu
menjadi dua! Kehebatan ranting kecil ini lebih besar dari
pada sebatang golok atau pedang! Ular ular itu menyerang
Bi Lan, akan tetapi gadis ini dengan cepatnya dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merobohkan mereka sehingga kini bangkai ular bertumpuk
tumpuk dan tubuh mereka menggeliat geliat menggelikan.
“Siauw niau, kau gila?” tiba tiba Coa ong Sin kai
membentak dan muncul dari tempat sembunyinya.
“Suhu, Kau tidak boleh menyuruh ular ular ini
menyerang manusia!” Bi Lan membentak marah. Akan
tetapi ketika ia menengok ke arah lima orang yang tadinya
bergulingan meronta ronta mencoba melepaskan ular yang
melilit leher mereka, ternyata lima orang itu kini telah tak
bergerak lagi karena mereka telah menjadi biru! Mereka
telah tewas karena tak dapat bernafas.
“Suhu…!” Bi Lan terisak, kemudian ia melemparkan
rantingnya dan melompat pergi dari situ.
“Siauw niau… ke mana kau…?” teriak Coa ong Sin kui.
Akan tetapi Bi Lan tidak menjawab, bahkan mempercepat
larinya. tidak sudi lagi berdekatan dengan gurunya yang
kejam dan ganas, yang lebih menyayangi nyawa binatang
dari pada jiwa manusia. Kalau gurunya mengejar, ia akan
melawan mati matian. Akan tetapi ternyata Coa ong Sin kai
tidak mengejar, bahkan terdengar kakek itu mengeluh dan
menangis menyesali kematian begitu banyak ular ularnya
yang tersayang.
“Tidak ada manusia yang ingat budi…” suara kakek itu
terdengar jelas oleh Bi Lan yang melarikan diri, “kalian
lebih baik, ular ularku!”
Gadis itu diam diam merasa terharu juga. Gurunya
berlaku sedemikian aneh bukan karena wataknya memang
jahat, melainkan karena pikirannya sudah rusak dan gila.
Akan tetapi ia tidak perduli lagi. Tidak mungkin ia harus
berkumpul terus dengan guru yang kadang kadang
membuatnya merasa serem dan ngeri itu. Kadang kadang
gurunya ini berlaku luar biasa manjanya minta dicari kutu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kutu rambutnya yang tidak boleh dibunuh, minta dipijiti
seluruh tubuhnya. Ah, siapa tahu kalau kalau di luar
kesadarannya, kakek itu akan melakukan sesuatu yang jahat
terhadap dia. Ia masih ingat betapa karena membunuh
seekor kutu rambut saja, gurunya sudah tega
menamparnya! Betapapun juga, ia harus berterima kasih
kepada Coa ong Sin kai. Kakek gila itu sudah menurunkan
banyak ilmu silat yang tinggi dan luar biasa kepada nya.
Tidak hanya Ouw wan ciang yang tiga puluh enam jurus itu
dan Sin coa kiam hwat yang hebat telah dipelajarinya,
bahkan iapun telah dapat melakukan Pi ki hu hiat dan I
kiong hoan hiat yang tak sembarang orang dapat
melakukan!
Sekarang ke mana ia hendak pergi? Kembali ke Hoa san?
Ah, pengemis sakti yang gila itu telah membawanya jauh ke
utara. Maka teringatlah Bi Lan akan penuturan Tan Seng,
kong kongnya atau lebih tepat sukong nya (kakek gurunya),
yaitu guru daripada mendiang ayahnya. Ayahnya telah
tewas dalam pertempuran melawan orang orang Bangsa
Kin yang juga menjadi sebab kematian ibunya. Dan
sekarang Bangsa Kin masih menjajah di Tiongkok bagian
utara, yakni di sebelah utara Sungai Huai dan juga di
daerah Celah Tasan kuan di Shensi. Aku harus membalas
dendam ayah bundaku, pikir gadis ini. Dengan hati tetap ia
lalu melanjutkan perjalanannya dengan cepat menuju ke
utara!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, semenjak
tahun 1141, Kerajaan Sung Selatan dengan amat terpaksa
telah mengadakan perdamaian dalam keadaan amat terhina
dengan orang orang Kin yang memiliki barisan kuat itu.
Selain Kerajaan Kin mendapat bagian tanah di sebelah
utara Sungai Huai dan di Celah Tasan kuan di Shensi, juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
setiap tahun pemerintah Sung harus mengirim upeti tanda
bakti kepada pemerintah Kin berupa dua puluh lima laksa
tail perak dan dua puluh lima laksa lain sutera halus!
Betapapun juga, pemerintah Sung Selatan ternyata
pandai mengatur pemerintahannya sehingga keadaan
penghidupan rakyat jelata tidak begitu tertekan. Pertanian
dan perdagangan mendapat kemajuan lumayan dan biar
pun harus diakui bahwa penghidupan para petani tak dapat
dibilang makmur, namun keadaan mereka jauh lebih baik
dari pada keadaan rekan rekan mereka di sebelah utara. Di
bagian utara, yakni di wilayah yang diduduki oleh
pemerintah Kin, keadaan rakyat jelata Bangsa Han benar
benar payah dan tertindas. Bala tentara Kin telah
menghancurkan banyak kota dan desa, membunuh dan
menyiksa rakyat, merampok harta bendanya sehingga
setelah perdamaian diadakan, keadaan rakyat di utara
sudah amat miskin dan habis habisan. Lebih lebih karena
daerah ini diberikan kepada Kerajaan Kin, maka keadaan
rakyat benar benar menyedihkan. Keluarga keluarga
pembesar Kerajaan Kin menjadi majikan majikan mereka,
sedang rakyat Han menjadi hamba hamba yang
kehidupannya lebih berat dari pada penghidupan binatang
ternak! Pada waktu itu, seorang pembesar bangsawan
Bangsa Kin sampai mempunyai hamba sebanyak seratus
lebih Bangsa Han, yang boleh diperlakukan sesuka hati
mereka seperti orang boleh memperlakukan apa saja
terhadap binatang peliharaan mereka. Banyak pula yang
dipaksa mengerjakan sawah ladang yang keseluruhannya
dibagi bagikan kepada pembesar pembesar dan bangsawan
bangsawan Kin, dengan hanya mendapat upah makan
sekedarnya untuk menjaga jangan sampai mereka kelaparan
saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tentu saja rakyat yang diperlakukan seperti hewan ini
mengandung kebencian yang mendalam sekali.
Pemberontakan meletus dimana mana. Orang orang gagah
memimpin rakyat untuk melakukan perlawanan dan
tuntutan perbaikan nasib.
Biarpun sejarah mencatat bahwa akhirnya
pemberontakan pemberontakan itu berhasil juga dan
Kerajaan Kin makin lama makin menjadi lemah untuk
akhirnya runtuh dan lenyap, namun dalam tahun tahun
pertama, keadaan Keajaan Kin amat kuatnya. Kerajaan ini
mempunyai banyak sekali orang kuat, terdiri dari pembesar
pembesar bu (militer) yang memiliki kepandaian tinggi.
Selain itu, masih ada juga tiga orang gagah yang oleh kaisar
Kin dianggap sebagai tiang negara atau penasihat kaisar.
Tiga orang gagah ini adalah Bangsa Kin yang terkenal
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dikabarkan orang bahwa
guru mereka adalah seorang pertapa Bangsa Thian tok
(India) yang berilmu tinggi. Mereka ini setelah menduduki
pangkat tinggi sebagai orang orang yang paling berpengaruh
dalam Kerajaan Kin di bawah kaisar sendiri, lalu memilih
nama yang cukup keren dan gagah, yakni yang tertua
bernama Kim Liong Hoat ong, yang ke dua Gin Liong
Hoat ong dan yang ke tiga Tiat Liong Hoat ong. Mereka ini
adalah saudara saudara seperguruan dan selain mereka
bertiga, Sam thai koksu (Tiga guru negara besar) ini masih
mempunyai suheng (kakak seperguruan) yang menjadi
pendeta di Tibet dan bernama Ba Mau Hoatsu yang
kabarnya memiliki kepandaian paling tinggi diantara
mereka.
Sam thai koksu inilah yang berhasil menggagalkan
pemberontak pemberontak dan orang orang gagah yang
mencoba menghancurkan pemerintah Kin yang menjajah
tanah air mereka. Jarang ada orang kang ouw yang dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menandingi kegagahan Sam thai koksu. Apa lagi akhir
akhir ini Sam thai koksu mendatangkan suheng mereka dari
Tibet, dan Ba Mau Hoatsu selain tinggi sekali ilmu silatnya,
juga memiliki ilmu hoatsut (sihir) yang menakutkan orang.
Kini para orang gagah hanya berani melakukan gerakan
secara tersembunyi saja, yakni mengganggu pembesar
pembesar yang terlalu menindas rakyat di kota kota yang
jauh dari kediaman Sam thai koksu.
Di dalam perjalanannya menuju ke utara, setelah
menyeberangi Sungai Huai, yakni tapal batas antara
wilayah Sung dan Kin, Bi Lan lalu menuju ke kota Sucouw.
Melihat kemelaratan para petani yang miskin, hati dara
perkasa ini memberontak. Memang ada diantara orang
orang Han yang hidup mewah dan makmur yakni mereka
yang memang tadinya orang orang hartawan dan kemudian
setelah pemerintah Kin berdiri, mereka dapat mengadakan
hubungan yang baik dengan pembesar pembesar Kin,
melakukan penyogokan. Harta yang hartawan ini sekarang
hidup seperti raja yang terjamin keselamatannya oleh
pembesar pembesar Kin. Dan untuk mengisi kantong para
pembesar Kin yang tidak ada dasarnya itu hartawan
hartawan ini lalu melakukan pemerasan sehebat hebatnya
kepada para petani dan buruhnya. Setiap orang buruh tani
diharuskan bekerja lebih berat dari pada kerbau hanya
untuk dapat mengisi perut setiap hari!
Semenjak menyeberangi Sungai Huai Bi Lan mulai
melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar wanita,
sesuai dengan pesan dari semua gurunya di Hoa san pai.
Dan semenjak Bi Lan memasuki wilayah pemerintah Kin,
di daerah ini muncullah seorang pendekar wanita yang
menggemparkan di samping orang orang gagah yang
memang banyak mengadakan perbuatan perbuatan yang
membela rakyat. Di sepanjang perjalanannya, Bi Lan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendatangi pembesar pembesar Kin di waktu malam,
mengancamnya, menggurat muka dengan pedang atau
bahkan membabat putus sebelah telinganya dengan
ancaman agar supaya pembesar itu tidak memeras kepada
rakyat.
Kemudian ia mengambil banyak perak dan emas dari
pembesar pembesar ini dan pada malam itu juga, orang
orang yang hidup miskin dan hampir kelaparan, tiba tiba
saja menemukan potongan potongan perak atau emas di
dalam kamar mereka! Juga banyak orang orang hartawan
yang didatangi oleh Bi Lan dan diancam untuk dicabut
nyawanya apabila tidak ingat akan kesengsaraan bangsanya
dan tidak mengulurkan tangan untuk menolong.
Semua perbuatan mulia ini dilakukan Bi Lan dengan
diam diam, dan karena gerakannya amat lincah, cepat dan
ginkangnya sudah tinggi, maka semua petani miskin yang
hanya melihat bayangan seorang gadis muda yang cantik
jelita dan berpinggang langsing lalu memberi julukan
kepada Bi Lan. Julukan ini adalah Sian li Eng cu (Bayangan
Bidadari). Akan tetapi, para pembesar Kin yang tentu saja
merasa penasaran dan marah, juga membenci gadis
pendekar ini, memberi julukan Mo li Eng cu (Bayangan
Iblis Wanita) kepadanya. Akan tetapi, Bi Lan yang
mendengar julukan julukan ini untuknya, hanya tersenyum
gembira dan tidak ambil perduli sama sekali.
Beberapa pekan kemudian tibalah Bi Lan di kota Cin an,
kota terbesar di Propingi San tung. Di kota ini pemerintah
Kin mendirikan kantor yang besar, bahkan di sinilah letak
pusat kubu kubu atau benteng pertahanan tentara Kin. Oleh
karena itu, jarang sekali ada orang gagah berani main main
di tempat ini, karena di kota Cin an ini terdapat banyak
sekali perwira perwira Kin yang gagah perkasa. Bahkan
tidak jarang Sam thai koksu mengunjungi tempat ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Bi Lan memasuki kota yang besar ini,
perhatiannya tertarik oleh pengumuman yang ditempel di
mana mana. Ia berhenti dan membaca pengumuman itu
dan makin tertariklah dia. Ini bukanlah sebuah
pengumuman, melainkan sebuah undangan untuk orang
orang gagah di dunia kang ouw! Karena ingin membaca
dengan jelas, Bi Lan lalu mendesak maju dan beberapa
orang yang sedang membaca surat undangan itu memberi
jalan dan memandang kepada Bi Lan dengan heran.
Pengumuman undangan ini tertulis dengan huruf huruf
yang indah dan bergaya kuat dan berbunyi seperti berikut :
PARA ORANG GAGAH DI SELURUH PENJURU.
Kami, Sam Thai Koksu dari Kerajaan Kin dengan ini
mengumumkan bahwa pada nanti malam bulan purnama kami
hendak mengadakan pesta hiburan menghormat para orang gagah
di dunia kang ouw. Pesta itu diadakan di kebun raya di luar
benteng dan di sana disediakan hidangan yang paling lezat dan
arak paling baik untuk para enghiong.
Dengan ini kami mengundang kepada para orang gagah di
seluruh penjuru untuk datang dan beramah tamah dengan kami
untuk membersihkan segala sesuatu yang nampak keruh.
Kami percaya bahwa cuwi (tuan tuan sekalian) tentu akan
berani datang dan mengingat bahwa kita adalah orang orang
yang menjunjung tinggi kegagahan dan keberanian, cuwi tentu
percaya penuh bahwa kami takkan melakukan penangkapan atau
tindakan lain yang mengecewakan dan merusak nama baik kami
sendiri.
Menanti dengan hormat,
SAM THAI KOKSU.
Bi Lan baru membaca setengahnya ketika tiba tiba
terdengar orang tertawa dan surat pengumuman yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tertempel di atas tembok itu tiba tiba tertiup angin yang
kuat dan tempelannya terlepas lalu melayang ke kiri !
Bi Lan terkejut karena maklum bahwa yang meniup itu,
bukanlah angin sewajarnya, melainkan tiupan khikang yang
kuat dari orang pandai. Timbul hati penasaran dalam dada
gadis ini karena ia belum membaca habis, maka sekali ia
mengulurkan tangannya, ia telah dapat menangkap kertas
itu. Dengan tenang, Bi Lan lalu menempelkan kertas itu di
tembok. Akan tetapi karena lemnya telah kering, kertas itu
tidak mau menempel, Bi Lan menjadi mendongkol dan ia
menggunakan ibu jarinya untuk menekan kepada empat
ujung kertas itu pada tembok. Dengan mengerahkan sedikit
lweekangnya, ia telah dapat membuat kertas itu melesak ke
dalam tembok, sehingga kertas itu dapat menempel!
Terdengar suara ketawa lagi, akan tetapi Bi Lan tidak
mau menengok atau memandang hanya melanjutkan
membaca pengumuman itu sampai habis. Orang orang di
sekitarnya tentu saja dapat melihat semua ini dan diam
diam mereka menjadi tegang karena dapat menduga bahwa
gadis muda cantik jelita ini tentulah seorang tokoh kang
ouw yang berilmu tinggi.
Setelah selesai membaca, barulah Bi Lan menengok ke
arah orang yang meniup tadi. la melihat dua orang kakek
yang rambutnya sudah putih dan diikat ke atas, jenggotnya
terurai ke bawah tak terpelihara, demikian pula pakaian
mereka amat sederhana Yang mengherankan adalah
persamaan wajah kedua orang kakek ini, sehingga sukar
untuk membedakan antara mereka. Bi Lan tidak mengenal
kedua kakek ini, maka setelah membaca, ia lalu pergi dari
situ mencari tempat penginapan. Kedua orang kakek yang
sederhana itu memandang kepadanya sambil tersenyum
dan Bi Lan merasa betapa dua pasang mata itu berkedip
kedip seakan akan memberi isyarat “tahu sama tahu”. Di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepanjang perjalanan mencari hotel, ia mengingat ingat
siapa adanya dua orang kakek ini yang tiupannya demikian
kuat sehingga dari jarak jauh dapat melepaskan kertas itu
tanpa terasa anginnya oleh semua orang.
Setelah mendapat kamar di hotel, Bi Lan beristirahat
sambil berpikir. Malam ini bulan sudah hampir penuh, jadi
undangan itu dimaksudkan besok malam. Aku harus datang
pula untuk melihat apa sebenarnya maksud tiga orang guru
besar pemerintah Kin itu, pikir Bi Lan. Memang sudah
lama ia mendengar nama Sam Thai Koksu dan kini
mendengar tentang undangan mereka terhadap orang orang
gagah, tentu saja hatinya amat tertarik. Apakah akan ada
perobahan sikap yang baik dari pemerintah Kin terhadap
rakyat jelata? Dan siapa pula dua orang kakek yang kembar
itu? Apakah mereka juga datang untuk memenuhi
undangan Sam Thai Koksu? Tentu saja Bi Lan tidak tahu
bahwa surat undangan seperti yang dibaca tadi, oleh
pemerintah Kin telah disebar di seluruh wilayahnya. Setiap
kota besar tentu disebari undangan ini karena memang Sam
Thai Koksu mempunyai rencana yang amat baik, yang
sudah disetujui oleh kaisar sendiri.
Telah lama Sam Thai Koksu merasa pening kepala
karena gangguan orang orang gagah di dunia kang ouw
yang melakukan pemberontakan pemberontakan kecil.
Biarpun tiga orang guru besar ini dengan kepandaiannya
dapat mengerahkan perajurit untuk membasmi setiap
pemberontakan, namun perlawanan rakyat yang terus
menerus itu menggelisahkan juga Mereka tahu bahwa
rakyat takkan berani bangkit tanpa dorongan dari orang
orang gagah di dunia kang ouw. Melakukan kekerasanpun
sukar karena orang orang gagah itu tak mungkin dapat
dicari dan dibasmi semua. Pemberontakan pemberontakan
itu akan melemahkan kedudukan negara, maka kini Sam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Thai Koksu hendak mengambil jalan halus. Mereka hendak
menggunakan siasat mengambil hati orang orang gagah
untuk menarik mereka agar mau membantu pemerintah
dengan hadiah hadiah besar dan juga janji janji muluk demi
kebaikan penghidupan rakyat! Maka diadakanlah undangan
itu yang maksudnya untuk mengambil hati orang orang
gagah itu.
Sampai malam Bi Lan tak dapat pulas, la telah
mengambil keputusan untuk datang menghadiri pesta itu
besok malam dan melihat gelagat. Kalau kiranya Sam Thai
Koksu ternyata mempunyai maksud buruk, ia takkan
berlaku kepalang dan hendak menyerang tiga orang besar
itu! Apabila dia dapat membinasakan tiga orang yang
dianggap sebagai guru besar negara Kin ini, maka itu
merupakan jasa yang tidak kecil artinya bagi seluruh
bangsanya yang tertindas! Bi Lan sekarang telah
menemukan kembali sifatnya yang dahulu, yakni percaya
penuh akan kepandaiannya sendiri. Dulu ketika berada di
puncak Hoa san, iapun telah memiliki kepercayaan besar
terhadap kepandaian sendiri sampai datang Tiauw It
Hosiang yang mengecewakan hatinya karena ia tidak dapat
mengalahkan hwesio itu dengan mudah. Kemudian setelah
ia terculik oleh Coa ong Sin kai, ia menjadi makin kecewa
karena merasa betapa kepandaiannya masih jauh dari pada
memuaskan. Akan tetapi, setelah ia mendapat latihan dari
Coa ong Sin kai dan merasa betapa kepandaiannya telah
maju pesat sekali, kini ia merasa bahwa kepandaiannya
telah cukup tinggi dan agaknya ia akan dapat
membinasakan tiga orang koksu yang terkenal itu!
Bi Lan memang masih terlalu muda untuk dapat
mengerti bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang
orang yang berkepandaian tinggi sekali dan bahwa
betapapun tinggi kepandaian seseorang, tentu ada orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang akan mengatasinya. Pula ia masih kurang pengalaman
sehingga kadang kadang timbul sifatnya yang
membanggakan kepandaian sendiri sehingga ia kehilangan
kewaspadaannya.
Ketika ia hampir pulas di atas pembaringannya, tiba tiba
ia mendengar suara kaki menginjak genteng di atas
kamarnya. Suara injakan kaki itu amat perlahan,
menandakan bahwa orang di atas kamar itu telah
mempunyai ginkang yang tinggi. Bi Lan tersenyum
mengejek, kemudian dengan sekali menggerakkan tangan
ke arah lilin yang bernyala di atas meja, api lilin itu padam
oleh tiupan hawa pukulannya.
Agaknya orang yang di atas genteng dapat melihat pula
betapa api di dalam kamar tiba tiba padam, karena
terdengarlah suara berbisik dari atas, “Lihiap (nona yang
gagah), aku datang dengan maksud baik. Harap kau suka
keluar untuk bercakap cakap!”
Bi Lan memang seorang dara muda yang tabah sekali.
Biarpun ia tahu bahwa orang di atas itu tidak boleh
dipercaya, akan tetapi ia tidak merasa takut sama sekali.
Malah ia menduga bahwa mungkin sekali orang itu adalah
seorang diantara kakek yang dilihatnya siang tadi. Ketika ia
mendengar tindakan kaki dua orang melompat turun dari
atas genteng, dugaannya makin kuat bahwa tentu dua orang
kakek kembar itulah yang datang mengunjunginya. Setelah
meringkaskan pakaiannya, Bi Lan lalu membuka jendela
kamar dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berada di
luar kamar. Ia melihat dua bayangan orang menanti di
tempat agak jauh dari hotel sambil melambaikan tangan,
maka ia lalu berlari ke tempat itu sambil memperlihatkan
ilmu berlari cepatnya yang lihai.
Ia kecele karena dua orang itu sama sekali bukan dua
orang kakek yang dilihatnya siang tadi, melainkan seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
laki laki berusia kurang lebih empat puluh tahun dan
seorang wanita yang tinggi besar dan cantik juga, usianya
kurang lebih empat puluh tahun akan tetapi masih nampak
cantik dan selain pakaiannya mewah, juga masih
menggunakan bedak tebal dan yanci (alat pemerah pipi)
dan gincu bibir! Dua orang itu nampak kagum melihat cara
Bi Lan berlari, maka buru buru mereka memberi hormat
dengan menjura.
“Maaf kalau kami telah mengganggu lihiap yang sedang
tidur,” kata wanita pesolek itu sambil tersenyum ramah.
“Ah, tidak apa,” Bi Lan terpaksa menjawab sambil
tersenyum manis, “tidak tahu siapakah jiwi dan ada
keperluan apakah dengan aku yang muda?” Memang Bi
Lan berwatak nakal. Ucapannya yang terakhir itu, yang
menegaskan bahwa dia jauh lebih muda dari pada wanita
itu, diam diam merupakan sindiran bahwa wanita itu
sebetulnya sudah terlalu tua untuk demikian genit dan
demikian mewah. Akan tetapi wanita itu agaknya tidak
merasa sama sekali akan sindiran ini, bahkan tertawa makin
ramah.
Aku bernama Coa Kim Kiok dan dia ini adalah
suhengku yang bernama Kwa Cu Bi. Kami adalah anak
anak murid dari Go bi pai. Melihat betapa siang tadi kau
memperlihatkan kepandaianmu ketika menempelkan kertas
pada tembok, kami menjadi amat tertarik karena kami
merasa bahwa antara kau dan kami tentu terdapat
persamaan tujuan datang di kota ini. Kau siapakah nona
dan mewakili perguruan mana? Tentu kedatanganmu ini
ada hubungannya dengan undangan dari Sam Thai Koksu,
bukan?”
Bi Lan tentu saja sudah mendengar tentang perguruan
silat Go bi pai, sungguhpun guru gurunya di Hoa san pai
seringkali meragukan dan menyatakan bahwa di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pegunungan Go bi san yang amat luasnya itu, banyak sekali
terdapat orang orang pandai yang membuka perguruan silat
sendiri sendiri sehingga yang disebut Go bi pai (partai Go bi
san) sungguh amat kabur dan sukar ditentukan mana yang
aseli. Akan tetapi dia belum pernah mendengar nama Coa
Kim Kiok maupun Kwa Cu Bi. Para pembaca mungkin
masih ingat akan nama Coa Kim Kiok ini. Dia adalah
wanita bertubuh tegap yang dahulu ikut mengeroyok Tan
Seng dan murid muridnya ketika hendak mengambil dan
merampas jenajah Go Sik An. Coa Kim Kiok sudah
semenjak bala tentara Kin menyerang ke selatan, telah
menjadi kaki tangan Kerajaan Kin, bersama dengan orang
orang gagah Bangsa Han lain seperti San mo Liong kui,
Kwa Sun Ok dan yang lain lain. Kwa Cu Bi yang
mengawani Kim Kiok pada waktu ini adalah adik kandung
dari Kwa Sun Ok.
Tentu saja Bi Lan tidak tahu bahwa dua orang yang
dihadapinya itu, selain merupakan mata mata dan kaki
tangan dari Sam Thai Koksu, juga merupakan dua orang
yang benar benar cocok sekali. Kim Kiok semenjak muda
terkenal sebagai seorang perempuan jahat yang bertabiat
cabul. Adapun Kwa Cu Bi yang bermuka putih dan halus
serta termasuk orang tampan itu dengan sikapnya yang
lemah lembut seperti seorang laki laki banci, sebenarnya
adalah seorang jai hwa cat besar. Maka sekarang sepasang
manusia bermoral bejat ini menjadi sahabat, tentu, amat
cocok bagaikan sampah busuk di keranjang bobrok. Ketika
ia ditanya nama dan mewakili pergurun mana, Bi Lan
menjadi agak bingung Karena sebetulnya ia datang bukan
karena surat undangan dari Sam Thai Koksu itu dan tidak
mewakili perguruan manapun juga. Akan tetapi karena
sudah ditanya, ia menjawab juga, “Namaku Bi Lan, she
Liang. Aku mewakili Hoa san pai!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Coa Kim Kiok nampak terkejut, akan tetapi hanya
sebentar karena ia segera tertawa dan berkata girang. “Ah,
tidak tahunya kau adalah seorang anak murid Hoa san pai.
Pantas saja demikian lihai! Adik yang baik, kebetulan sekali
kita dapat bertemu, maka bagaimana pikiranmu kalau
besok malam kita pergi bersama ke kebun raya itu?”
Bagi Bi Lan tentu saja tiada halangannya untuk pergi
bersama, apa lagi memang dia tidak mempunyai kenalan
dan merasa asing di tempat ini, maka ia menganggukkan
kepala, “Boleh saja kalau jiwi suka mengajakku pergi
bersama.”
“Bagus, sekarang selamat tidur, adik Bi Lan. Besok siang
kami akan datang menemuimu dan bercakap cakap.
Maafkan kalau kami datang mengganggu.”
Setelah memberi hormat, kedua orang itu lalu berlompat
pergi dan Bi Lan mendapat kenyataan bahwa kepandain
mereka sebetulnya tidak demikian hebat. Ia lalu kembali ke
kamarnya dan gangguan ini melenyapkan nafsunya untuk
tidur. Ia berpikir pikir dengan hati merasa tegang juga.
Tidak disangkanya bahwa undangan dari Sam Thai Koksu
itu telah menarik orang orang dari Go bi pai yang demikian
jauhnya. Diam diam ia merasa heran sekali mengapa kedua
orang anak murid Go bi pai ini demikian baik kepadanya,
padahal ia pernah bertempur melawan Tiauw It Hosiang,
orang yang dianggap sebagai tokoh ke tiga dari pada
perguruan Go bi pai. Tentu mereka itu dari perguruan Go
bi san yang lain lagi dengan Tiauw It Hosiang, pikirnya dan
kemudian setelah menjelang fajar, dapat juga ia pulas. Pada
keesokan harinya, baru saja Bi Lan bangun, mandi dan
tukar pakaian, seorang pelayan mengetuk pintu dan
memberitahukan bahwa di ruang tamu telah menanti dua
orang. Gadis ini makin heran karena ia dapat menduga
bahwa dua orang itu tentulah Kim Kiok dan Cu Bi yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
malam tadi datang mengunjunginya. Ia segera keluar dan
benar saja, Coa Kim Kiok menyambutnya dengan senyum
di mukanya. Juga Cu Bi yang pagi ini mengunjunginya,
berpakaian mewah dan tersenyum senyum manis
kepadanya!
“Ah, adik Bi Lan yang manis! Kau baru bangun? Mari
kita sarapan, sudah kusediakan semenjak tadi!” Kim Kiok
memberi tanda kepada pelayan yang cepat datang
mengantarkan hidangan yang masih mengebul hangat.
“Ah, enci Kim Kiok, kau sungguh membikin aku
menjadi sungkan dan malu saja. Mengapa pagi pagi sudah
repot repot?”
“Nona Liang, mengapa harus berlaku sungkan?
Bukankah kita adalah orang orang segolongan yang tak
perlu malu malu lagi?” kata Kwa Cu Bi dengan ramah
sambil tersenyum.
Bi Lan tak dapat menolak lagi dan makanlah mereka
bertiga sambil bercakap cakap.
“Apakah jiwi kemarin tidak melihat dua orang tua yang
berpakaian seperti tosu?”
Kim Kiok dan Cu Bi merenung dan mengingat ingat,
akan tetapi mereka menggeleng kepala. “Tosu yang mana?
Aku tidak melihat dua orang kakek yang berpakaian seperti
tosu,” kata Kim Kiok.
“Bukankah engkau kemarin melihat aku membaca surat
undangan di tembok kota itu?” tanya Bi Lan.
“Betul, akan tetapi kami tidak melihat dua orang tosu.
Siapakah mereka?” tanya Cu Bi dengan pandang mata
tajam menyelidik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan diam diam merasa heran. Bagaimana kedua
orang ini tidak melihat dua orang kakek yang lihai, yang
mempergunakan tiupan khikang sehingga kertas undangan
itu lepas dari tembok? Akan tetapi karena mereka tidak
mengetahuinya, iapun lalu tersenyum dan berkata, “Mereka
kulihat diantara orang orang yang membaca surat
undangan. Ah, kalau kalian tidak melihat mereka,
sudahlah. Kiraku mereka itupun hanya orang orang biasa
saja yang tertarik oleh surat undangan itu. O, ya? hampir
aku lupa bertanya Jiwi adalah murid murid Go bi pai,
kenalkah dengan hwesio yang bernama Tiauw It Hosiang?”
“Kaumaksudkan It ci sinkang Tiauw It Ho siang?” Cu Bi
mengulang, sambil memandang dengan girang. Ketika Bi
Lan mengangguk, ia berkata, “Tentu saja kenal, karena ia
terhitung masih susiok (paman guru) kami. Kenalkah nona
kepadanya?”
Bi Lan tersenyum dan mengangguk. “Kami pernah
bertemu satu kali. Akan tetapi sungguh aneh bagaimana dia
yang masih muda bisa menjadi susiok dari jiwi. Kukira
usianya tidak lebih dari padamu,”
“Memang betul demikian, It ci sinkang semenjak kecil
telah menjadi hwesio di Gobi san dan karena semenjak
kecil sudah mendapat latihan ilmu silat dari sukong (kakek
guru) kami, yaitu Kian Wi Taisu, maka ilmu
kepandaiannya luar biasa sekali. Suhu kami adalah
suhengnya dan usia suhu jauh lebih tua dari pada It ci
sinkang. Pada waktu ini, boleh dibilang It ci sinkang Tiauw
It Hosiang menduduki tempat ke tiga dalam tingkat
kepandaian, di bawah guru kami Bu It Hosiang dan sukong
kami. Akan tetapi entahlah kalau sekarang terdapat
perobahan karena sudah lama sekali kami tidak pernah
menghadap suhu di Go bi san, karena terlalu jauh.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan mengangguk angguk maklum, akan tetapi tentu
saja ia tidak tahu bahwa dua orang di hadapannya ini
sebenarnya tidak memberi keterangan yang tepat, bahkan
banyak membohong. Kwa Cu Bi memang betul adalah
murid dari Bu It Hosiang, akan tetapi dia dan kakaknya,
Kwa Sun Ok, telah diusir dari perguruan Go bi pai, karena
diketahui melakukan, perbuatan jahat. Adapun Coa Kim
Kiok sama, sekali bukan murid Go bi pai, melainkan
seorang murid dari pendeta Pek lian kauw yang cabul! Kim
Kiok dan Cu Bi yang menjadi kaki tangan Sam Thai Koksu
mendapat tugas untuk menyelidiki orang orang kang ouw
yang datang di kota Cin an dan sedapat mungkin
diperintahkan membujuk orang orang gagah agar suka
bekerja sama dengan pemerintah Kin, atau setidak tidaknya
memberi kesan kesan baik dan benar benar murid
keponakan dari orang orang gagah. Dan usaha kedua orang
ini memang banyak berhasil. Sudah banyak orang gagah
yang dapat mereka bujuk dan kini melihat Bi Lan yang
masih muda dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, mereka
sedang berusaha untuk membujuk Bi Lan. Akan tetapi di
samping itu. seperti biasa dan sesuai dengan wataknya yang
cabul dan kotor, diam diam ia tergila gila melihat
kecantikan dan kemudaan Bi Lan yang amat menggiurkan
hatinya dan ia telah mengambil kepastian untuk
menjadikan gadis muda ini sebagai korbannya!
“Di manakah kau bertemu dengan susiok kami itu, adik
Bi Lan?” Kim Kiok bertanya dengan gaya seakan akan ia
memang benar benar kenal Tiauw It Hosiang.
“Ah, begitu saja, katika ia datang mengunjungi Hoa san
setengah tahun yang lalu,” jawab Bi Lan dengan dingin,
karena ia tidak ingin menceritakan tentang pertempurannya
menghadapi It ci siokang Tiauw It Hosiang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian, kedua orang itu mulai dengan tugas mereka.
Dengan gaya menarik dan bergantian mereka menceritakan
tertang kebaikan kebaikan pembesar pembesar Kin,
terutama Sam Thai Koksu terhadap orang orang gagah.
“Sam Thai Koksu adalah orang orang berilmu tinggi
yang menghargai orang orang gagah,” kata Kim Kiok.
“Apakah kau kenal baik dengan mereka?” Bi Lan
bertanya, “Memang aku mengenal mereka sebagai orang
orang yang amat tinggi kepandaiannya dan sebagai orang
orang yang dapat menghargai kepandaian orang. Mereka
itu ingin sekali bekerja sama dengan orang orang gagah
untuk dapat bersama sama mengamankan negeri dan
menenteramkan kehidupan rakyat jelata. Sungguh orang
orang tua yang boleh dipuji.”
Bi Lan mengerutkan keningnya. “Mungkin benar bahwa
mereka bekepandaian tinggi karena aku sendiripun sudah
mendengar nama mereka. Akan tetapi tentang niat
menenteramkan kehidupan rakyat........ ah, enci Kim Kiok,
hal ini tidak cocok dengan kenyataan!”
Diam diam Kim Kiok dan Cu Bi saling bertukar
pandang.
“Kau salah sangka, nona,” kata Cu Bi. sambil
memainkan alis matanya, lagak yang amat “genit” bagi
seorang laki laki. “Memang harus diakui bahwa banyak
rakyat kecil yang miskin keadaannya, akan tetapi hal inilah
yang justeru hendak dirobah oleh Sam Thai Koksu. Dengan
adanya kerusuhan dan pemberontakan dimana mana,
bagaimana keadaan rakyat bisa diperbaiki? Oleh karena ini
pula, untuk merundingkan tentang cara dan usaha
memperbaiki keadaan penghidupan rakyat, maka Sam Thai
Koksu mengadakan pertemuan dengan orang orang gagah.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bi Lan diam saja, berpikir dalam dalam. “Baiklah, kita
sama dengar saja apa yang hendak mereka katakan malam
nanti, dan kita sama lihat apa yang akan terjadi
selanjutnya,” akhirnya dia berkata.
Menghadapi sikap Bi Lan yang dingin dan tawar ini,
Kim Kiok dan Cu Bi merasa tidak enak. Mereka lalu
berpamit dan Kim Kiok berkata.
“Adikku yang manis. Malam nanti kita bersama
mengunjungi tempat pesta. Kautunggu saja, kami akan
menjemputmu.”
“Tidak usahlah, enci Kim Kiok. Baik kita bertemu di
sana saja, karena sebelum pergi ke kebun raya, aku hendak
jalan jalan dulu melihat lihat keadaan kota yang besar ini.”
jawab Bi Lan.
Cu Bi nampak kecewa, akan tetapi Kim Kiok lalu
berkata dengan ramah, “Begitupun baiklah. Aku akan
memberitahukan kepada Sam Thai Koksu tentang
kedatanganmu. Seorang wakil dari Hoa san pai perlu
disambut baik baik!” Setelah berkata demikian, Kim Kiok
dan Cu Bi lalu meninggalkan Bi Lan.
Dara ini harus mengakui bahwa ia amat sebal melihat
kedua orang itu. Kim Kiok dianggapnya terlalu genit dan
mewah, serta memiliki gaya dan gerak gerik yang
menjemukan. Sedangkan Cu Bi, biarpun harus diakui
jarang ada seorang setua dia masih memiliki wajah yang
tampan menarik, namun ia merasa sebal dan muak melihat
cara laki laki itu memandangnya, cara dia tersenyum dan
memainkan alis matanya. “Mereka itu bukan orang orang
baik, aku harus hati hati,” bisiknya seorang diri. Kesadaran
ini bukan timbul karena kecerdikannya, akan tetapi karena
suara hati dan perasaannya. Ia masih belum berpengalaman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menghadapi orang orang jahat yang pandai
mempergunakan lidah.
Malam hari itu udara bersih sekali. Tak nampak bintang
di langit karena sinar sinar bintang itu tertutup dan kalah
oleh cahaya bulan yang, dingin dan terang. Angin malam
bertiup perlahan, membuat suasana menjadi sejuk sekali.
Akan tetapi, cahaya bulan itu masih kalah oleh
terangnya lampu lampu yang dipasang di bawah pohon
pohon dalam kebun raya, yakni sebuah kebun atau taman
bunga yang biarpun disebut kebun raya, namun
sesungguhnya adalah taman bunga khusus diperuntukkan
bagi bangsawan bangsawan Kin dan beberapa orang
hartawan terkemuka saja. Tempat mereka minum arak dan
mendengarkan nyanyian gadis gadis penyanyi dan tempat
mereka bersenang senang!
Akan tetapi pada malam hari itu, biarpun bulan sudah
cukup terang namun tempat itu masih diterangi pula oleh
lampu lampu yang digantungkan dicabang cabang terendah
dari pohon pohon. Bahkan di tengah tengah kebun raya
yang besar dan luas itu dipasangi tenda tenda tempat orang
masak dan tempat orang menaruhkan alat alat keperluan
pesta malam hari ini.
Penduduk berduyun duyun menonton dan berdiri di
sekeliling taman bunga itu, karena biarpun mereka tidak
boleh masuk, namun dari luar saja mereka dapat pula
melihat pesta yang meriah itu. Tamu tamu mulai masuk ke
dalam ke kebun raya, melalui sebuah pintu besar yang
terjaga oleh penjaga penjaga berpakaian militer dan yang
memberi hormat dengan gagahnya pada setiap orang yang
memasuki taman itu. Tamu tamu yang masuk ini semua
terdiri dari tokoh tokoh kang ouw, ada orang orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpakaian sebagai piauwsu, (guru silat), ada pula yang
berkepala gundul karena dia adalah hwesio, ada pula tosu,
bahkan ada pula yang berpakaian sebagai seorang
pengemis. Ada pula beberapa orang wanita tua muda yang
menggantungkan pedang di punggung!
Sam Thai Koksu sendiri menyambut kedatangan para
tamu di pintu keluar yakni pintu yang tak berdaun, hanya
merupakan jalan masuk terbuka dari lingkungan pagar
pohon bunga yang mengelilingi taman luas itu. Tiga orang
guru besar ini memang amat gagah. Tubuh mereka tinggi
besar dan tegap dengan dada yang bidang menandakan
bahwa mereka rata rata bertenaga besar. Pakaian mereka
sederhana potongannya, seperti biasa pakaian orang orang
ahli persilatan, ringkas dan pendek, akan tetapi terbuat dari
pada sutera yang paling mahal. Kim Liong Hoat ong yang
tertua berusia kurang lebih enam puluh tahun, Gin Liong
Hoat ong lima puluh tahun lebih, akan tetapi Tiat Liong
Hoat ong yang termuda paling banyak berusia empat puluh
lima tahun. Akan tetapi mereka masih kelihatan segar sehat
dan muda, bahkan Kim Liong Hoat ong sendiri masih
kelihatan muda dan pesolek.
Di samping tiga orang guru besar dari Kerajaan Kin ini
masih ada lagi pembesar kepala daerah sendiri yang
menyambut datangnya para tamu. Benar benar merupakan
satu kehormatan yang besar sekali!
Bi Lan juga memasuki pintu dan disambut dengan
hormat oleh penjaga penjaga pintu yang mau tidak mau
memandang kepadanya dengan mata menyatakan kagum
kepada nona yang cantik sekali ini. Kemudian Bi Lan
disambut oleh Sam Thai Koksu dengan menjura. Bi Lan
membalas penghormatan ini dengan kaku.
“Ah, kalau tidak salah, nona yang disebut Liang lihiap
(pendekar wanita Liang) dan yang mewakili Hoa san pai?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanya Kim Liong Hoat ong kepada Bi Lan sambil
memandang dengan mata berseri girang.
“Aku yang bodoh memang murid Hoa san pai,” jawab
Bi Lan. Jawaban ini bukan berarti ia membohong, karena
menghadapi tiga orang yang kelihatan gagah perkasa ini, ia
merasa tidak enak membohong. Lagi pula, ia tidak merasa
takut sama sekali, mengapa harus membohong? Terhadap
Kim Kiok lain lagi, karena kalau ia tidak membohong tentu
wanita itu akan banyak bertanya tentang dirinya dan hal ini
ia tidak suka.
“Silakan masuk, Liang lihiap, silakan memilih tempat
duduk sesuka hatimu,” Kim Liong Hoat ong
mempersilakan dan Bi Lan lalu menyatakan terima kasih
dan memasuki taman itu. Yang sudah masuk ke dalam
taman itu kurang lebih ada dua puluh orang tamu dan
keadaan di dalam taman memang meriah. Di sudut kiri
terdapat serombongan penabuh gamelan yang dimainkan
terus menerus hingga suasana makin ramai. Meja meja
dipasang di dalam taman itu, di dekat bunga bunga yang
sedang mekar dan lampu lampu teng yang tergantung di
pohon pohon dihias kertas berwarna warni menimbulkan
pemandangan yang indah menggembirakan. Akan tetapi
hati Bi Lan tidak gembira. Ia tidak melihat orang orang
yang kelihatan memiliki kepandaian tinggi, seperti,
misalnya kekek pengemis yang berpakaian tambal tambalan
dan yang kini duduk melenggut di atas tanah mengikuti
irama gamelan. Ada pula wanita tua yang kepalanya diikat
dengan saputangan putih seperti orang berkabung dan yang
duduk menghadapi meja bersama seorang wanita muda dan
seorang laki laki muda pula. Juga terlihat seorang hwesio
tua yang bertubuh kekar pendek dengan kepalanya yang
licin bersih itu menghadapi meja pula seorang diri. Dalam
pandangan mata Bi Lan yang tajam, tiga orang ini tentu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memiliki kepandaian yang tinggi, berbeda dari tamu tamu
lain yang nampaknya seperti ahli ahli silat biasa saja.
Bi Lan tidak memilih tempat duduk, sebaliknya ia lalu
berjalan jalan dan mengagumi kembang kembang yang
memenuhi tempat itu. Ketika ia tiba di sudut kanan taman
itu, tiba tiba saja ia mendengar suara orang ketawa dan
ketika ia mengangkat muka, ternyata di dekat sebuah meja
di situ berdiri dua orang kakek yang memandangnya
dengan tertawa tawa. Melihat betapa dua orang kakek itu
mengajak tertawa kepadanya, Bi Lan yang memang
berwatak gembira itu tak dapat menahan untuk tidak
bersenyum! Padahal gadis ini tersenyum untuk
menyembunyikan rasa heran dan kagetnya karena dua
orang kakek ini adalah mereka yang siang kemarin
dilihatnya. Sepasang kakek kembar yang pernah
memperlihatkan kelihaian mereka dengan meniup kertas
pengumuman di tembok itu.
“Kalau kau benar benar mewakili Hoa san pai, benar
benar Liang Gi Tojin tolol sekali menyuruh bocah seperti
kau datang ke tempat semacam ini, akan tetapi kalau tidak
mewakili siapa siapa, kau benar benar bernyali besar. Ha ha
ha!” seorang diantara sepasang kakek kembar ini berkata
lalu tertawa terkekeh kekeh, akan tetapi matanya
memandang dengan seri gembira kepada Bi Lan. Kakek
yang seorang lagi hanya mengangguk anggukkan kepala
dan juga tertawa.
Sebelum Bi Lan dapat menjawab, kedua orang kakek itu
menggerakkan ujung lengan baju dan sekali berkelebat
mereka lenyap dari depannya! Bi Lan terkejut sekali dan
selagi ia bengong melihat ke depan, tiba tiba terdengar
orang menegur,
“Adik Bi Lan, semenjak tadi aku mencarimu di mana
mana. Aku sudah kuatir kalau kalau kau tidak akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang?” Bi Lan menengok dan ia melihat Kim Kiok berlari
menghampirinya. Wanita ini sekarang memakai pakaian
sutera yang indah dan bedaknya lebih tebal dari pada biasa.
“Enci, apakah baru saja kau melihat dua orang kakek
itu?” tanyanya karena pikirannya masih penuh dengan
bayangan dua orang kakek aneh tadi.
Kim Kiok memandang ke kanan kiri dan mengerutkan
kening, “Dua orang kakek? Yang mana? Aku tidak melihat
mereka.”
Bi Lan makin kagum dan heran Bagaimanakah dua
orang tua itu dapat bergerak sesukanya tanpa diketahui dan
dilihat orang? Siapakah mereka? Dan perlu apa mereka
datang ke tempat ini dengan sembunyi sembunyi? Diam
diam Bi Lan berpikir dan hatinya berdebar.
“Eh adik Bi Lan, mengapa engkau termenung saja?
Apakah baru saja kau melihat setan?” Kim Kiok tertawa
menggoda dan ucapan ini menyadarkan Bi Lan yang segera
tersenyum kepadanya.
“Tamu tamu sudah banyak,” katanya menyimpang
sambil memandang ke arah para tamu yang duduk
mengelilingi meja mereka.
“Memang, sedikitnya ada tiga puluh orang. Hayo kita
duduk dan memilih tempat yang enak, akan tetapi jangan
terlalu jauh dari panggung hingga kita akan dapat
mendengar segala yang akan diucapkan oleh tuan rumah,”
sambil berkata demikian Kim Kiok menggandeng tangan Bi
Lan dan diajak duduk di bangku dekat korsi yang berada di
dekat panggung besar yang sengaja didirikan di tengah
tengah taman itu. Karena di atas meja ini terdapat sebuah
lampu teng yang cukup besar, maka wajah kedua orang
wanita ini tersorot lampu dan sebentar saja hampir semua
mata memandang ke arah mereka, karena wajah Bi Lan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benar benar amat indah rupawan dan menarik perhatian
semua orang tamu yang berada di situ. Sebentar saja semua
orang bertanya tanya siapakah adanya gadis cantik jelita
itu? Akan tetapi ketika melihat Kim Kiok, pandang mata
mereka terhadap Bi Lan berubah, kalau tadi kagum dan
mengindahkan sekarang hanya tinggal kagum saja
sedangkan di dalam hati menyayangkan mengapa seorang
gadis manis yang masih demikian muda telah bergaul
dengan seorang perempuan cabul seperti Kim Kiok! Tentu
saja Bi Lan sendiri tidak tahu sama sekali tentang hal ini
dan ia duduk sambil tersenyum senyum gembira,
pikirannya masih penuh oleh bayangan sepasang kakek
kembar tadi dan beberapa kali ia menoleh ke sana ke mari
dengan mata mencari cari, akan tetapi tetap saja ia tidak
menemukan bayangan dua orang kakek itu.
Diam diam ia mengakui bahwa kepandaian dua orang
kakek itu benar benar hebat sekali dan jauh lebih tinggi dari
pada kepandaiannya sendiri! Kalau saja Bi Lan tahu siapa
adanya sepasang kakek kembar itu, tentu ia takkan merasa
seheran itu. Sebetulnya dua orang kakek ini bukan lain
adalah Thian Te Siang mo, yakni Sepasang Iblis Bumi
Langit yang kita sudah lama kenal sebagai guru dari Go
Ciang Le !
Thian Te Siang mo mendengar juga tentang undangan
yang dikeluarkan oleh Sam Thai Koksu dan memang sudah
lama kedua orang kakek kembar ini mendengar tentang
nama Sam Thai Koksu yang terkenal lihai. Kedatangan
Thian Te Siang mo sama sekali bukan karena undangan itu,
dan juga biarpun Iblis Kembar ini mempunyai kesukaan
mengumpulkan jenazah orang orang gagah, namun mereka
sendiri tidak ambil perduli tentang politik dan perang.
Mereka kini datang karena tertarik oleh nama Sam Thai
Koksu dan selain ingin menyaksikan kelihaian guru guru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
besar negara Kin, juga memang kebetulan sekali mereka
mengembara dan berada di dekat kota Cin an. Selain dari
pada ini semua, Sepasang Iblis Kembar ini ingin pula
bertemu dengan orang orang gagah yang akan mengunjungi
pesta di kebun raya ini untuk menghibur hati karena kedua
orang sakti ini sedang menderita kekecewaan yang amat
besar. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh murid tunggal
mereka, yaitu Go Ciang Le! Sebelum kita melihat lebih jauh
apa yang akan terjadi di dalam taman bunga di mana
diadakan pesta oleh Sam Thai Koksu itu, lebih baik kita
menengok pada peristiwa yang terjadi lebih dahulu dan
mengetahui mengapa Thian Te Siang mo bisa menjadi
kecewa karena Go Ciang Le.
Setelah menolong penduduk dusun di lereng Gunung
Tapie san sebelah selatan, membunuh ular yang dipelihara
oleh Coa ong Sin kai dan bahkan berhasil mengusir
pengemis sakti yang gila itu, Ciang Le lalu melanjutkan
perjalanannya turun dari gunung. Mulailah ia dengan
pengembaraannya sebagai pendekar yang budiman, yang
selalu siap sedia mengulurkan tangan menolong kepada
orang orang lemah yang tertindas atau mengalami
kesengsaraan. Selama berbulan ia mengembara dan
mendapat kenyataan bahwa kepandaiannya yang dipelajari
dari dua orang gurunya, ternyata benar benar memuaskan
hatinya dan tak pernah ia menemui tandingan Selama ini,
lawan yang dianggapnya paling berat hanyalah Coa ong Sin
kai seorang, yang baru melarikan diri setelah melihat
pedangnya Kim kong kiam. Akan tetapi, semenjak itu, tak
pernah ia mengeluarkan pedangnya karena semua penjahat
yang dihadapinya cukup dilawan dan dirobohkan oleh
kedua tangannya saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan tanpa ia ketahui, semua perbuatannya dilihat dari
jauh oleh Thian Te Siang mo. Sepasang Iblis yang diam
diam memperhatikan sepak terjang murid mereka itu.
Tanpa disengaja, Ciang Le terus menuju ke utara sampai
ia memasuki wilayah Kerajaan Kin dan di situ ia
menyaksikan kesengsaraan rakyat kecil sehingga makin
giatlah ia melakukan perbuatan perbuatan yang sesuai
dengan tuntutan jiwa seorang pendekar. Namanya menjadi
makin terkenal dan karena ia tak pernah mau mengaku
nama aselinya, ia lebih suka disebut Hwa I Enghiong yang
makin lama makin terkenal baik di kalangan rakyat yang
tertolong maupun di kalangan dunia liok lim (rimba hijau).
Pada suatu hari, sampailah ia di kota Taigoan di Propingi
Shansi dan di kota inilah ia mengalami hal yang hebat,
menjumpai orang orang yang memiliki kepandaian tinggi
yang belum pernah ia impikan atau menduga sebelumnya.
Di dalam kota Taigoan yang besar terdapat sebuah
perkumpulan pengemis seperti yang sering kali terdapat di
kota kota besar pada waktu itu. Akan tetapi perkumpulan
pengemis yang berada di Taigoan ini bukanlah
perkumpulan pengemis biasa saja yang suka membagi bagi
hasil pekerjaan mereka di antara kawan kawan.
Perkumpulan ini amat berpengaruh, bahkan pengaruhnya
demikian besarnya sehingga para pemimpinnya
mengadakan perhubungan dengan para pembesar Kin yang
berada di kota itu, perkumpulan ini disebut Hek kin kaipang
(Perkumpulan Pengemis Ikat Pinggang Hitam). Semua
pengemis yang berada di kota Taigoan dan daerahnya,
tidak ada yang tidak menjadi anggauta perkumpulan ini,
karena mereka yang berani menjadi pengemis di luar
keanggautaan perkumpulan ini tentu akan dipukuli atau
diusir dari tempatnya bekerja!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Anggauta anggauta biasa dari perkumpulan ini memang
terdiri dari pada pengemis pengemis biasa saja, akan tetapi
perkumpulan ini mempunyai dewan pengurus yang amat
kuat organisasinya dan selain semua pengurus ini
mempunyai hubungan dan kedudukan yang kuat di
Taigoan dan sekitarnya, juga mereka terkenal sebagai ahli
ahli silat yang tinggi ilmu kepandaiannya. Para pemimpin
pengemis itupun mempunyai tingkat tingkat kedudukan.
Anggauta biasa dapat dikenal dari jubah hitam tambal
tambalan yang memakai sebuah kantong besar di dada,
tempat ia menaruh hasil minta minta kepada penduduk.
Pengemis pengemis yang menjadi pengurus perkumpulan
dapat dilihat dari jumlah kantong di dada mereka. Kantong,
kantong ini kecil dan dipasang di baju mereka bagian dada.
Makin banyak jumlah kantong kecil itu di bajunya, makin
tinggilah kedudukannya atau tingkatnya dan dengan
sendirinya makin tinggi pula ilmu silatnya. Adapun siapa
yang menjadi ketua dari Hek kin kai pang, tak seorangpun
mengetahui atau pernah melihatnya, semua pengemis, baik
yang menjadi anggauta biasa dengan baju hitam tambal
tambalan maupun yang mempunyai kedudukan dan
bajunya berwarna macam macam, tentu mengenakan
sehelai sabuk atau ikat pinggang berwarna hitam terbuat
dari sutera pada pinggang mereka. Inilah tanda
keanggautaan dari perkumpulan Hek kin kai pang.
Para anggauta pengemis itu melakukan pekerjaan minta
minta sepeiti pengemis pengemis biasa dan mereka
menerima apa saja yang diberikan orang kepada mereka.
Tak pernah mereka menimbulkan kerusuhan, kecuali kalau
ada orang melakukan pekerjaan mencopet. Pengemis
pengemis ini memang diakui dan dibiarkan oleh pemerintah
karena mereka menjamin bahwa di kota Taigoan dan
sekitarnya takkan ada pencopet atau pencuri. Bahkan,
sedikitnya mereka menjamin dan merupakan tempat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pelarian dari mereka yang lemah dan tidak mampu bekerja
lagi sehingga tidak mati kelaparan di pinggir jalan dan
memusingkan kepada para petugas pemerintah.
Akan tetapi, ada hal yang amat ganjil dalam
perkumpulan ini, yaitu pada para pimpinannya. Biarpun
mereka berpakaian seperti pengemis dan di bajunya
terdapat kantong kantong kecil, jangan mencoba untuk
memberi sesuatu kepada pemimpin pemimpin ini!
Pemberian berupa apapun juga kepada para pengemis yang
sudah mempunyai tanda kedudukan, yakni kantong
kantong di bajunya, dianggap sebagai penghinaan dan
pemberi itu akan dihajar! Setidak tidaknya dimaki maki!
Hal ini sudah diketahui oleh seluruh penduduk di
Taigoan dan sekitarnya, maka tak pernah terjadi
pelanggaran dan keributan yang tidak diingini.
Karena para pemimpin inipun jarang sekali berkeliaran
di dalam kota, maka juga para pelancong dan pendatang
dari luar kota jarang ada yang bertemu dengan mereka
sehinga biarpun pelancong ini tidak mengetahu tentang
“pantangan” pemimpin pemimpin Hek kin kaipang, tidak
pernah terjadi pelanggaran.
Ketika Ciang Le memasuki kota Taigoan, secara
kebetulan sekali ia bertemu dengan pengemis pengemis ini
dan menyaksikan keributan yang timbul karena
pelanggaran ini sehingga mengakibatkan pertempuran
besar.
Seperti biasa, Ciang Le memasuki kota dengan tindakan
kaki tenang. Ia gembira sekali melihat keindahan kota
Taigoan, biarpun hati kecilnya ada perasaan tak senang
karena ia tahu bahwa gedung gedung yang membuat kota
ini nampak indah adalah milik dari para pembesar Kin,
pembunuh pembunuh kedua orang tuanya! Telah lama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le dapat mengubur rasa dendamnya, karena kedua
orang gurunya memberitahukan kepadanya bahwa ayahnya
yang bernama Go Sik An bersama ibunya telah tewas oleh
pengeroyokan tentara tentara Bangsa Kin.
“Tak ada gunanya kau berdendam hati, muridku,” kata
Thian Lo mo, “orang tuamu tewas sebagai pahlawan
pahlawan, sebagai perajurit perajurit gugur dalam perang.
Tidak ada sakit hati atau dendam dalam hal ini, karena
tewasnya orang tuamu bukan karena pertempuran atau
urusan perseorangan, melainkan membela negara. Pula,
kita semua tidak tahu siapa orangnya sebetulnya yang
menjatuhkan tangan maut terhadap orang tuamu, maka
tidak mungkin sekali kalau kau hendak membalas sakit hati
kepada seluruh tentara Kin yang puluhan laksa jumlahnya
itu!”
Dengan nasihat nasihat dan ucapan ucapan seperti
inilah, mata telah lama hati Ciang Le telah menjadi dingin
dan tidak ada nafsu untuk membalas dendam atas kematian
kedua orang tuanya. Menang ia tadinya telah bersumpah
untuk membalas dendam dan sakit hati ayah bundanya,
akan tetapi karena tidak tahu siapa orangnya yang harus
dibalas, hati nya menjadi tawar. Ada sedikit harapan di
dalam dadanya bahwa siapa tahu kalau kalau secara
kebetulan ia akan dapat mendengar siapa orangnya yang
membunuh mereka dan kepada orang ini tentulah ia akan
menjatuhkan tangan pembalasan!
Ketika ia berjalan sampai di sebuah jalan yang
menikung, tiba tiba ia mendengar suara ribut ribut dan
melihat seorang laki laki yang berpakaian seperti seorang
pelajar sedang dipukuli oleh dua orang pengemis. Melihat
cara dua orang pengemis itu memukul, dengan kaget Ciang
Le mendapat kenyataan bahwa dua orang itu mengerti ilmu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
silat sedangkan pelajar yang usianya tiga puluh tahun lebih
itu hanya mengeluh dan jatuh bergulingan.
“Ampun, tai ong… ampun…!” pelajar itu mengaduh
aduh dan minta ampun sambil menyebut “tai ong” yang
berarti raja besar, yakni sebutan yang lajim bagi kepala
kepala perampok!
“Kau harus mampus!” seorang diantara pengemis itu
berseru marah. “Kau cacing buku ini berani sekali
menghina kami, pemimpin tingkat ke lima dari Hek kin
kaipang? Apakah matamu buta tidak melihat jumlah
kantong kantong jimat di baju kami?”
“Ampun… siauwte tidak tahu tentang hal itu sama
sekali… baru tiga hari siauwte datang di kota ini… harap tai
ong suka memberi maaf.”
“Kami bukan perampok perampok, berani sekali kau
menyebut tai ong!” pengemis ke dua membentak sambil
memberi gaplokan ke arah mulut pelajar itu sehingga darah
mengalir dari bibirnya yang pecah pecah.
Ketika dua orang pengemis itu hendak memukuli lagi,
tiba tiba mereka merasa tangan mereka tertahan oleh
tangan orang lain. Mereka cepat menengok dan dengan
marah sekali mereka melihat seorang pemuda berbaju
kembang yang berdiri dengan tenang dan gagah, akan tetapi
dengin sepasang mata bernyala saking marahnya.
“Kalian ini dua orang pengemis yang biasanya minta
dikasihi orang, mengapa sekarang bahkan berlaku kejam
kepada seorang terhormat?” Ciang Le mencela dua orang
pengemis itu dengan suara halus, akan tetapi cukup ketus.
Ia melihat bahwa dua orang pengemis itu memakai baju
berwarna biru dan biarpun ditambal di sana sini, namun
nampak bersih dan baru. Di bagian dadanya dipasangi lima
buah kantong kecil berwarna kuning emas dan di pinggang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka terselip dua batang tongkat bambu yang runcing. Ia
sendiri tidak pernah mendengar tentang perkumpulan Hek
kin kaipang, akan tetapi melihat sikap dua orang pengemis
yang usianya sudah empat puluh tahun lebih ini, Ciang Le
dapat menduga bahwa dua orang pengemis ini tentulah
orang orang yang memiliki kepandaian silat dan agaknya
sombong dan jahat. Akan tetapi Ciang Le tidak
memperdulikan lagi dua orang pengemis itu, sebaliknya ia
lalu menolong pelajar itu, membantunya bangun dan
berdiri.
Baiknya pelajar itu hanya menerima gebukan dan
tendangan yang tidak bermaksud membunuh, maka hanya
muka dan tubuhnya saja yang matang biru, namun tidak
ada tulang patah atau luka di dalam.
“Saudara, apakah kesalahanmu maka kau sampai
dipukuli oleh dia orang ini?” tanya Ciang Le kepada orang
berpakaian pelajar itu.
Orang itu menarik napas panjang dan menggunakan
ujung lengan bajunya untuk menyusut darah dari bibirnya,
“Terima kasih atas pertolonganmu, hohan (orang gagah),”
katanya. “Aku sendiri masih merasa heran mengapa kedua
orang gagah ini marah marah kepadaku. Ketahuilah bahwa
aku tadi melihat mereka duduk di pinggir jalan dan karena
merasa kasihan, aku lalu memberi dua potong uang
tembaga kepada mereka. Tidak kusangka sangka, mereka
tiba tiba lalu berdiri dan memukul padaku.”
Sementara itu, dua orang pengemis Hek kin kaipang
yang mempunyai tingkat ke lima itu menjadi marah sekali
melihat ada orang berani membela pelajar yang telah
menghina mereka. Kedua orang pengemis ini
kedudukannya tidak terlalu rendah, karena pemimpin, yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
paling rendah, adalah tingkat ke tujuh yakni yang
pekerjaannya mengumpulkan hasil pendapatan para
pengemis Pemimpin tingkat ke enam berkewajiban
membagi bagi hasil itu untuk makan para pengemis
sehingga takkan terjadi keributan. Tingkat ke lima
berkewajiban mengontrol pekerjaan pengemis agar jangan
ada yang menganggur atau bermalas malasan dan hanya
mengandalkan makan dari hasil pekerjaan kawan kawan.
“Kau ini orang dari manakah yang sengaja mau
membela orang yang telah menghina kami?” bentak
seorang diantara mereka yang bercambang bauk menutupi
hampir seluruh mukanya, sambil mendelik memandang
kepada Ciang Le.
Pemuda ini tetap berlaku tenang dan sambil tersenyum ia
berkata, “Sungguh perkara yang aneh sekali. Orang mau
menyumbang uang, kalian tidak berterima kasih, bahkan
berlaku kasar dan menyiksa orang. Aturan manakah ini?
Aku yang telah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya,
baru kali ini melihat hal yang seaneh ini. Sahabat, coba
kauterangkan kepadaku mengapa kau memukuli orang
yang hendak memberi bantuan uang kepadamu?”
Karena tahu bahwa Ciang Le bukan orang dalam kota
dan dari suara pemuda ini terdengar jelas bahwa ia datang
dari selatan, pengemis itu menahan marahnya lalu berkata.
“Dia menghina kami dengan memberi uang itu. tidak
tahukah kau?”
“Menghina?” Ciang Le terheran. “Kalian adalah
pengemis pengemis atau setidak tidaknya orang orang yang
berpakaian seperti pengemis. Apa salahnya kalau orang
memberi sumbangan uang kepadamu. Mengapa kau bilang
menghina?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang orang yang menonton ribut ribut itu diam diam
mengeluh karena mereka menganggap pemuda tampan
berbaju kembang ini benar benar “mencari penyakit”
dengan ucapan ucapannya yang tidak disadarinya itu.
Memang benar, dua orang pemimpin pengemis tingkat lima
itu makin merah mukanya, akan tetapi si cambang bauk
tetap memberi penjelasan dengan suara ketus.
“Babaimana kau bilang tidak menghina? Butakah
matanya dan tidak melihat bahwa kami memakai lima buah
kantong pada baju kami?”
“Itu artinya bahwa kalian mempunyai banyak tempat
untuk menyimpan uang. Adakah arti yang lain lagi?” tanya
Ciang Le mencoba berkelakar. Terdengar suara ketawa
tertahan dari orang orang yang menonton di pinggir jalan.
“Orang muda, hati hatilah dengan mulutmu. Jangan
jangan kau akan keluar dari tempat ini dengan bibir pecah
pecah pula!” Pengemis kedua membentak sambil bertolak
pinggang. “Buka matamu baik baik, kami adalah dua orang
pemimpin tingkat ke lima dari Hek kin kaipang! Apa kau
mau bilang pula bahwa selama hidup kau belum pernah
mendengar tentang Hek kin kaipang??”
Ciang Le memang benar benar belum pernah mendengar
nama perkumpulan ini maka dengan sungguh sungguh ia
menggelengkan kepalanya berkali kali dan berkata,
“Memang aku belum pernah mendengar nama
perkumpulan pengemis ini, sahabat. Dan biar pun kalian
menduduki tingkat ke satu sekali pun dari perkumpulan
yang manapun juga, kurasa kalian berlaku keterlaluan
terhadap orang yang bermaksud baik memberi sumbangan
kepadamu. Kalau kalian tidak suka menerima kalian boleh
menolak dengan halus, bukan dengan main pukul seperti
tukang tukang pukul dan jagoan jagoan murah saja!” Ciang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Le bicara keras, karena iapun mulai merasa mendongkol
dan marah melihat sikap pengemis yang keterlaluan itu.
Mendengar ucapan ini, tentu saja kedua orang pengemis
itu menjadi makin marah dan mencak mencak, “Agaknya
kau sudah bosan hidup berani bermain gila dan menghina
kami!” kata si cambang bauk yang segera maju menubruk
dan mengayun tangan hendak menampar Ciang Le seperti
yang ia lakukan kepada si pelajar tadi. Akan tetapi kali ini
ia bertemu batunya. Sikap Ciang Le yang lemah lembut dan
kulitnya yang halus itu memang tidak ada bedanya dengan
sikap pelajar tadi dan semua orang tentu akan mengiranya
sebagai seorang yang lemah. Ciang Le memang selalu
menyembunyikan pedangnya di dalam bajunya yang lebar
dan panjang.
Orang orang yang menonton mengira bahwa Ciang Le
tentu akan roboh seperti pelajar tadi akan tetapi alangkah
herannya hati semua orang termasuk si cambang bauk
sendiri ketika yang jatuh bukannya Ciang Le, melainkan si
cambang bauk itulah! Ketika ditampar tadi, Ciang Le
bersikap tenang tenang saja, sama sekali tidak mengelak.
Akan tetapi begitu kepalan tangan pengemis itu telah
mendekati pipinya, tiba tiba pemuda ini menggerakkan
tangan dan miringkan kepalanya. Pukulan itu tidak
mengenai sasaran, sebaliknya begitu tangannya mendorong
tubuh pengemis cambang bauk itu, tak dapat dicegah lagi
tubuh pengemis yang tinggi besar itu terdorong roboh dan
bergulingan beberapa kali!
Hal ini tidak saja mengherankan para penonton, bahkan
pengemis cambang bauk itu sendiri dan kawan kawannya
jua terheran heran. Bagaimana seorang pemuda lemah
lembut seperti ini dapat merobohkannya, yang sudah
memiliki kepandaian lumayan dan menduduki tingkat ke
lima?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Eh, sobat, kau siapakah dan dari golongan mana? Beri
tahu lebih dulu agar kami dari Hek kin kaipang tidak salah
tangan terhadap kawan segolongan!” Si cambang bauk
melompat berdiri dan menegur Ciang Le.
Pemuda ini tersenyum manis ketika berkata, “Aku bukan
dari golongan mana mana, hanya seorang pelancong biasa
saja yang tidak suka melihat orang orang kasar
mengandalkan tenaganya dan menghina yang lemah. Lebih
baik kalian minta maaf kepada siucai (orang terpelajar) ini,
dan habislah perkara ini. Akupun tidak suka bermusuhan
dengan siapapun.”
“Ah, lagakmu sombong sekali, orang muda! Biarpun kau
belum mendengar tentang perkumpulan kami, sedikitnya
kau harus tahu bahwa kami bukanlah orang orang yang
boleh dihina begitu saja. Kaukira kami takut kepadamu?
Rasakan pukulanku ini!” Dua orang pengemis itu
menyerang dari kanan kiri dengan pukulan yang dilakukan
sekuat tenaga. Mereka memang marah sekali dan hendak
merobohkan pemuda yang dianggapnya sombong dan
lancang ini dengan sekali pukul. Akan tetapi kembali
mereka kecele, karena bukan pemuda itu yang terjungkal
roboh, melainkan kedua orang pemukul tadi! Demikian
cepat dan hebat gerakan Ciang Le sehingga tahu tahu kedua
orang pengemis Hek kin kaipang tingkat ke lima itu
terjerumus maju dan kepala mereka saling beradu,
keduanya lalu roboh sambil meringis ringis kesakitan sambil
menggosok gosok kepala mereka yang menjadi benjol!
Terdengar suara ribut ribut dan semua penonton yang
makin banyak bekumpul di tempat itu serentak menjauhkan
diri dengan muka nampak takut takut. Sebaliknya, dua
orang pengemis yang masih belum berdiri itu kelihatan
girang sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le berlaku waspada dan ketika melihat datangnya
serombongan orang memasuki tempat itu, ia maklum tentu
ia harus menghadapi lawan lawan yang tangguh. Ternyata
bahwa yang datang adalah pemimpin pemimpin Hek kin
kaipang tingkat empat, tiga, dan dua! Semuanya berjumlah
tujuh orang.
“Suheng, pemuda ini telah menghina kita!” Si cambang
bauk itu berkata kepada pengemis tertua yang bajunya
berkantong dua, tanda bahwa dia memiliki kedudukan
tinggi dalam perkumpulan ini, yakni tingkat ke dua. “Siucai
itu telah merendahkan kita dengan memberi uang. Selagi
siauwte menghajarnya, datang pemuda ini yang turun
tangan dan merobohkan siauwte berdua.”
Pengemis tua tingkat ke dua itu memandang kepada
Ciang Le lalu menjura dan berkata, “Enghiong siapakah
dan dari golongan mana? Harap sudi memperkenalkan diri
dan jangan sampai timbul salah faham diantara orang orang
segolongan.”
Melihat sikap pengemis ini dan mendengar kata katanya
yang sopan, Ciang Le cepat membalas penghormatan itu
dan menjawab, “Mohon maaf sebanyaknya. Siauwte
sesungguhnya tidak ingin mencari keributan. Siauwte
seorang pelancong biasa saja yang tidak tahu akan
kebiasaan setempat. Akan tetapi melihat seorang siucai
dipukuli oleh dua orang ini, terpaksa siauwte menegur
mereka. Tidak tahunya mereka menyerang, maka tiada lain
jalan bagi siauwte kecuali membela diri. Kalau kedua orang
ini mau minta maaf kepada, siucai itu, siauwte bersedia
minta maaf pula kepada mereka.”
Mendengar pemuda ini tidak mau menyebut nama,
pengemis tua ini mengerutkan keningnya. “Hm, apakah
kau orang muda merasa terlalu tinggi untuk
memperkenalkan diri lebih dulu? Kalau begitu, biarlah lohu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memperkenalkan diriku. Aku adalah Thio Han, pemimpin
tingkat dua dari Hek kin kaipang. Nah, harap sekarang kau
memberitahukan namamu.”
Dari kedua orang suhunya, Ciang Le seringkali diberi
nasehat agar jangan mengobral namanya, maka ia
menjawab. “Siauwte memberi hormat kepada lo enghiong
dan dengan setulusnya siauwte memandang tinggi
kedudukan lo enghiong di Hek kin kaipang. Akan tetapi
terus terang saja, siauwte tidak mau terlibat dalam urusan
pertikaian ini. Marilah sita sudahi saja dan asal kalian
melepaskan siucai itu, siauwtepun akan melanjutkan
perantauan.”
Tiba tiba diantara para penonton yang memperhatikan
pakaian Ciang Le, berkata. “Apakah pemuda gagah ini
bukan Hwa I Eng hiong?”
Mendengar sebutan ini, berobah muka Ciang Le dan ia
segera menoleh untuk memandang kepada orang yang
menyebut nama julukannya itu. Adapun para anggota Hek
kin kaipang yang sudah mendengar pula nama pendekar
muda yang baru muncul itu, merasa terkejut dan teringat.
Juga Thio Han memandang tajam dan tersenyum, “Ah,
tidak tahunya Hwa I Enghiong yang membuat nama besar!
Betulkah lohu berhadapan dengan Hwa I Enghiong?”
Terpaksa Ciang Le tak dapat menyembunyikan diri lagi.
Ia tersenyum dan berkata, “Orang orang telah terlalu
melebih lebihkan sesungguhnya siauwte tidak patut disebut
enghiong (orang gagah) sungguhpun sebutant Hwa I
(Berbaju Kembang) tidak dapat kusangkal lagi. Memang
aku berbaju kembang.”
“Kalau begitu, kebetulan sekali. Harap Hwa I Enghiong
sudi memberi sedikit petunjuk kepadaku!” kata Thio Han
yang menggulung lengan bajunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat sikap bermusuh ini dan mendengar ucapan
minta petunjuk berarti mengajak adu kepandaian, Ciang Le
merasa heran. Mengapa pengemis tua ini tiba tiba merobah
sikap? Ia tidak tahu bahwa sudah jadi kebiasaan tokoh
tokoh Hek kin kaipang untak mencoba dan menguji
kepandaian setiap orang tokoh kang ouw yang baru muncul
apabila kebetulan mereka berjumpa. Tokoh tokoh Hek kin
kaipang amat bangga atas kemashuran nama mereka dan
kepandaian mereka, maka setiap kali ada orang kang ouw
memasuki daerah Taigoan, orang kang ouw itu tentu akan
menghadap pimpinan Hek kin kaipang sebagai kunjungan
kehormatan. Pemuda ini baru saja membuat nama di dunia
kang ouw, dan kini tidak saja lalai untuk kunjungan
kehormatan bahkan pemuda ini sama sekali belum pernah
mendengar nama Hek kin kaipang dan berani pula
merobohkan dua orang pengurus tingkat ke lima! Oleh
karena itu, Thio Han menganggap bahwa sudah sepatutnya
ia “memperkenalkan” perkumpulannya agar pemuda ini
jangan memandang rendah “Hm, jadi kau hendak
menantangku bertempur?” kata Ciang Le dengan pandang
mata penasaran. “Ketahuilah bahwa aku hanya akan turun
tangan terhadap orang yang menyerangku, atau yang
melakukan perbuatan jahat. Aku baru akan melayanimu
kalau kau menyerangku.”
Mendengar ini, Thio Han ragu ragu untuk turun tangan.
Kalau ia menyerang lebih dulu, ia akan dianggap
keterlaluan, maka ia lalu menengok kepada seorang saudara
muda, yakni pemimpin tingkat empat yang bertubuh tinggi
kurus “Sute, coba kaulayani siauw enghiong ini beberapa
jurus agar kita mendapat tambahan pengertian.”
Pengemis tinggi kurus itu kelihatan gembira menerima
tugas ini. Ia memandang rendah kepada pemuda yang
lemah lembut ini, maka ia melangkah maju menghadapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le. Sementara itu. ketika melihat betapa
penolongnya terdesak oleh rombongan pengemis yang
agaknya hendak menimbulkan keributan, pemuda pelajar
yang tadi dipukuli oleh dua orang pengemis, lalu bertindak
maju dan berkata kepada Ciang Le.
(Bersambung ke jilid V )
PENDEKAR BUDIMAN
Karya Asmaraman S Kho Ping Hoo
Jilid V
“HOHAN, sungguh menyesal sekali karena aku kau
sampai menghadapi kesulitan ini.” Kemudian ia berpaling
kepada para pengemis itu dan berkata, “Kalian ini kalau
mau disebut orang orang gagah mengapa mencari perkara
dengan orang orang yang baru datang dari tempat jauh?
Apakah ini bukan berarti akan membikin malu saja kepada
kota Taigoan yang besar dan indah?”
“Kau cacing buku, pergilah !” Pengemis tingkat empat
yang tinggi kurus itu menggerakkan tangan kirinya
mendorong ke arah siucai itu. Dorongan dilakukan dengan
tenaga lweekang dan dari gerakannya itu tahulah Ciang Le
bahwa pengemis ini adalah seorang ahli lweekeh yang
karenanya amat membahayakan keselamatan siucai itu
kalau sampai terdorong dadanya, ia cepat mengulur
tangannya dan berkata,
“Sahabat, jangan kau mencampuri urusan kekerasan ini.
Biarlah aku menghadapinya sendiri.” Biarpun ia
kelihatannya mendorong pula tubuh siucai itu, akan tetapi
sebenarnya ia menggerakkan tangannya memapaki tangan
pengemis yang mendorong tadi. Belum juga tangan mereka
bertemu, pengemis tinggi kurus itu telah terdorong ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belakang dan merasa betapa tangannya sakit sekali. Cepat
ia melompat ke belakang dan menjadi marah sekali.
“Kurang ajar, kau benar benar hendak bertempur?”
bentaknya.
Ciang Le tersenyum dan tidak memperdulikannya,
bahkan memegang pundak siucai itu, didorongnya perlahan
ke pinggir sambil berkata, “Sahabat, lebih baik kau lekas
pergi saja dari sini.” Siucai itu maklum bahwa memang
keadaannya berbahaya sekali, maka setelah
menganggukkan kepala dengan pandang mata terima kasih
kepada Ciang Le, ia lalu pergi dari situ untuk cepat cepat
meninggalkan Taigoan yang mendatangkan pengalaman
pahit padanya.
“Menyerang seorang yang tidak mengerti ilmu silat
mengandalkan kepandaian sendiri untuk menindas yang
lemah, adalah perbuatan yang kusebut pengecut dan hina,”
kata Ciang Le seperti kepada diri sendiri.
Mendengar ini, pengemis tinggi kurus itu makin marah
dan dengan cepat ia melangkah maju dan menyerang Ciang
Le dengan pukulan tangan miring. Akan tetapi, kepandaian
pengemis tingkat ke empat ini biarpun bagi orang biasa
sudah hebat sekali, namun menghadapi Ciang Le ia masih
kalah jauh. Gerakan pemuda ini jauh lebih cepat lagi dan
sebelum tangan yang miring itu menyambar ke lehernya, ia
telah mendahuluinya dengan jari jari terbuka, menyambut
datangnya lengan itu dan menangkap pergelangan
tangannya, sekali ia mengerahkan tenaga, tubuh pengemis
itu terjerumus ke depan. Hampir saja hidungnya mencium
tanah. Melihat betapa dalam segebrakan saja pemimpin
Hek kin kaipang tingkat empat sudah roboh oleh pemuda
ini, tentu saja semua orang menjadi makin terheran heran!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika seorang pengemis tingkat tiga hendak maju. Thio
Han mencegahnya. Menurut penglihatan kakek ini,
kepandaian Hwa I Eng hiong terlalu tinggi untuk dihadapi
oleh saudara mudanja tingkat tiga. Ia sendiri lalu
melangkah maju dan berkata. “Hwa I Eng hiong, iangan
berlaku kepalang tanggung memberi petunjuk kepada kami.
Sambutlah!” Sambil berkata demikian, Thio Han
mengerang dengan kepalan tangan kanan. Pukulan datang
nya cepat dan antep sekali, maka tahulah Ciang Le bahwa
kepandaian kakek ini jauh lebih tinggi dari pada pengemis
yang baru saja di kalahkan. Ia melangkah mundur sehingga
pukulan lawan tidak mengenai tubuhnya. Akar tetapi,
dengan gerakan yang luar biasa cepatnya. Thio Han sudah
melangkah maju lagi dan sekaligus pengemis Hek kin
kaipang tingkat dua ini telah melakukan serangan tigat
macam dengan kedua tangan dan dibantu oleh kaki kiri!
Ciang Le mengerti bahwa kalau ia tidak
mendemonstrasikan kepandaiannya, ia akan di rongrong
terus oleh kawanan pengemis yang maju seorang demi
seorang. Oleh karena itu, melihat datangnya serangan yang
susul menyusul dan hampir berbareng ini, ia segera
mengumpulkan tenaga memperkuat kedudukan kaki,
kemudian kedua tangannya memukul dari kaki kanannya
menendang lawan.
Bukan main hebatnya gerakan ini dan juga amat aneh
dalam pandangan semua kawanan pengemis. Akan tetapi
yang lebih terkejut adalah Thio Han sendiri. Terdengar
suara “buk buk buk!” tiga kali ketika kedua tangannya yang
terkepal beradu dengan kepalan tangan dari kedua tangan
pemuda itu, sedangkan kaki kirinya bertemu dengan kaki
kanan lawan. Kalau Ciang Le masih berdiri seperti biasa
sambil tersenyum, sebaliknya Thio Han merasa betapa
kedua tangan dan kaki kirinya menjadi sakit dan tergetar. Ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mencoba untuk mempertahankan diri, akan tetapi
pertemuan kaki tadi membuat kuda kuda kaki kanannya
bobol dan tak dapat dicegah lagi tubuhnya terlempar ke
belakang bagaikan didorong oleh angin besar! Baiknya ia
cukup lihai sehingga dapat berpoksai (membuat salto) untuk
mencegah tubuhnya terjungkal. Akan tetapi ia meringis
kesakitan dan melihat betapa kepalan kedua tangan dan
kaki kirinya menjadi bengkak!
Saudara saudaranya melihat kekalahan ini, sambil
berteriak teriak marah mereka maju menyerbu dan
mengeroyok Ciang Le! Inilah kerukunan dari Hek kin
kaipang dan oleh karena ini pula jarang ada orang berani
menentang mereka. Akan tetapi kerukunan ini dalam
pandangan Ciang Le hanya merupakan sifat yang amat
licik. Ia mendongkol juga ketika para pengemis itu
menggunakan tongkat untuk menyerangnya. Diam diam
telah datang banyak pemimpin pengemis yang telah
mendengar tentang keributan itu, kini Ciang Le dikepung
oleh kurang lebih lima belas orang pengemis dari tingkat
lima sampai tingkat dua! Kepandaian para pengemis Hek
sin kaipang itu sudah cukup baik dan lihai, ditambah pula
dengan senjata tongkat mereka yang berbahaya, maka tentu
saja Ciang Le tidak berani berlaku lambat. Ia tidak ingin
melukai orang yang berpakaian tambal tambalan ini akan
tetapi dengan tangan kosong menghadapi keroyokan ini
memang membutuhkan kejelian mata dan kegesitan
gerakannya. Ia cepat mainkan ilmu silat tangan kosong
yang dipelajarinya dari Thian Lo mo sambil mengerahkan
tenaganya.
Bukan main ramainya pertempuran itu akan tetapi juga
amat menarik hati untuk ditonton. Dengan gerakannya
yang lincah dan tenaga dalamnya yang besar, Ciang Le
melayani mereka. Tongkat datang menyerangnya bagaikan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hujan, akan tetapi semua itu dengan cepat dapat dielakkan
oleh Ciang Le. Kadang kadang pemuda ini menggunakan
lengan untuk menangkis dan sekali tangkis saja tentu
sebatang tongkat menjadi patah atau terpental jauh!
Kemudian dalam serangan balasan, Ciang Le
mempergunakan tiam hwat (ilmu menotok jalan darah)
sehingga sebentar saja di tempat itu menggeletak tubuh
tubuh para pengemis dalam keadaan lumpuh, lemas
ataupun kaku membatu !
Akan tetapi tiba tiba banyak sekali orang yang
berpakaian dinas datang menyerbu dengan senjata golok.
Melihat orang orang berpakaian seragam ini, terkejutlah
Ciang Le. Mereka adalah penjaga penjaga kota!
Bagaimanakah penjaga penjaga keamanan ini bahkan
datang menyerbu dan membantu para pengemis yang
mengeroyoknya?
“Eh, saudara saudara! Mengapa kalian mengeroyok aku?
Yang menjadi pengacau pengacau adalah para pengemis
ini, bukan aku !”
“Bangsat kecil, kaulah yang mengacaukan kota.
Menyerah atau mati !” bentak seorang komandan pasukan
penjaga itu. Mendengar ini Ciang Le menjadi penasaran
dan marah sekali. Ketika komandan itu menusukkan
goloknya kepadanya, ia cepat membuat gerakan miring dan
dengan jalan menyerong tangannya cepat bergerak dan tahu
tahu golok itu telah berpindah ke dalam tangannya! Dengan
gemas sekali pemuda ini lalu menekuk golok itu sehingga
patah menjadi tiga! Semua orang terkejut sekali
menyaksikan demonstrasi tenaga yang luar biasa ini, akan
tetapi pengeroyokan tetap saja makin merapat, Ciang Le
menggerakkan kaki tangannya dan kembali robohlah empat
orang pengeroyok sambil mengaduh aduh. Pemuda itu
masih dapat mengendalikan perasaannya, maka yang roboh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu hanya terluka ringan saja, tidak sampai membahayakan
jiwanya.
Mendadak terdengar bentakan nyaring, “Mundur
semua!” Dan aneh, baik para pengemis maupun penjaga
kota yang sedang mengeroyok Ciang Le, ketika mendengar
bentakan ini, tiba tiba menahan senjata masing masing dan
cepat melompat mundur. Mereka kini berdiri dengan penuh
hormat dan ada pula sebagian yang menolong kawan
kawan mereka dan membawa pergi dari tempat itu. Kini
Ciang Le berdiri di tengah tengah, dikurung oleh banyak
orang dan di tempat pertempuran tadi yang nampak
sekarang hanyalah bekas bekas darah di atas tanah saja.
Pemuda itu sendiri biarpun masih tenang dan napasnya
masih biasa saja, namun wajahnya yang tampan nampak
kemerahan dan beberapa butir peluh membasahi jidatnya.
Sebelum ia mengerti mengapa orang orang yang
mengeroyoknya mundur dan siapa yang mengeluarkan
bentakan tadi, terdengar angin meniup dari balik orang
orang itu melompat masuk tiga orang yang aneh sekali
keadaannya. Tiga orang inipun berpakaian sebagai
pengemis, akan tetapi kantong yang menghiasi baju mereka
hanya sebuah saja, tanda bahwa mereka bertiga adalah
tokoh tokoh Hek kin kaipang kelas satu!
Ciang Le benar benar terkejut melihat tiga orang ini.
Orang pertama adalah seorang kakek yang sukar sekali
diduga berapa usianya. Tubuhnya kecil dan bongkok
sehingga tubuh itu hampir melingkar bulat seperti tubuh
trenggiling. Kalau diperhatikan sungguh menggelikan
karena tinggi kakek ini hanya setengah orang saja dan
bagian tubuh yang paling tinggi bukanlah kepalanya
melainkan punggungnya yang berpunuk seperti onta itu!
Kepalanya tergantung di depan perut, dan kini ia berdongak
memandang kepada Ciang Le dengan sepasang matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang kecil akan tetapi bersinar tajam. Kedua kakinya
telanjang dan nampak jari jari kaki yang mekar seperti cakar
bebek. Ia memegang sebatang tongkat hitam yang
panjangnya hanya tiga kaki. Kakek ini memandang kepada
Ciang Le sambil mengeluarkan suara ketawa seperti burung
kakatua.
Orang kedua adalah seorang nenek, seorang pengemis
wanita yang usianya paling sedikit enam puluh tahun.
Pakaiannya yang tambal tambalan itu berkembang
kembang sehingga nampak lucu sekali. Wajahnya sangat
putih, kepucat pucatan dan seluruh air mukanya
membayangkan kekecewaan dan kedukaan hati. Yang
menarik hati adalah bekas luka di sekeliling lehernya,
seakan akan leher itu pernah dipotong lalu disambung lagi.
Nenek ini tidak memegang tongkat seperti pengemis
pengemis lain, melainkan membawa siang kiam (sepasang
pedang) yang gagangnya nampak tersembul di balik
punggungnya sebelah kiri. Juga nenek ini memandang
kepada Ciang Le dengan mata tajam, dan mulutnya makin
mewek seperti mau menangis.
“Dia pantas sekali untuk siocia !” kata nenek ini
mengangguk angguk dan matanya memandang kepada
Ciang Le seperti seorang pembeli sedang menaksir sebuah
barang yang menarik. Pemuda ini merasa jengah juga
menerima pandangan mata seperti itu. Ia melirik ke arah
orang ke tiga yang juga aneh. Orang ke tiga ini seorang
pengemis tua berambut putih dan wajahnya biarpun sudah
tua, masih membayangkan ketampanan. Sayangnya kakek
tua yang kelihatan tampan dan gagah ini hanya mempunyai
kaki kanan saja, adapun kaki kirinya sebatas lutut telah
hilang. Kakek ke tiga ini memegang dua batang tongkat
yang sama panjangnya, kira kira empat kaki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Masih kurang pantas. Ia tidak setampan aku ketika
muda!” kakek ke tiga ini berkata sambil menarik bibirnya
mengejek.
Ciang Le maklum bahwa ia berhadapan dengan tokoh
tokoh tertinggi dari Hek kin kai pang, maka cepat ia
memberi hormat dengan mengangkat tangan yang
dirangkap di depan dada sambil membungkuk.
“Sam wi pangcu, aku merasa menyesal sekali bahwa
telah terjadi keributan antara aku dan anak buahmu. Semua
ini bukan karena aku yang muda sengaja hendak mencari
permusuhan, sama sekali tidak. Sebetulnya soalnya kecil
saja yakni ditimbulkan oleh dua orang anak buahmu yang
memukuli seorang siucai. Aku menegur dan akibatnya aku
dikeroyok. Oleh karena itu, harap saja sam wi yang lebih
luas pertimbangannya, suka menghabiskan urusan ini.”
Kakek yang bongkok itu tertawa cekikikan, “Heh heh,
dia menyebut kita pangcu (ketua). Heh heh heh!”
“Apakah kau yang disebut Hwa I Eng hiong?” kakek ke
tiga bertanya.
Ciang Le mengangguk. “Aku yang rendah memang
dijuluki orang demikian, sungguh tidak sesuai dengan
kepandaianku yang rendah.”
Kini nenek itu melangkah maju. “Benar benar kau Hwa I
Enghiong?” tanyanya. Ketika Ciang Le mengangguk, nenek
itu lalu tersenyum dan berkata, “Kalau begitu aku harus
memberi selamat kepadamu!” setelah berkata demikian, ia
lalu menjura dan merangkap kedua tangan di dada sambil
mem ungkukkar tubuhnya.
Ciang Le terkejut sekali karena ia menduga bahwa
gerakan ini adalah semacam pukulan gelap yang dilakukan
dengan tenaga lweekang yang tinggi. Benar saja dugaannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika ia merasa ada angin menyambar dari kedua kepalan
tangan nenek itu ke arah dadanya. Baiknya ia tadi telah
menaruh hati curiga, maka kini ia cepat mengangkat kedua
tangan ke depan dada dan mendorongnya ke depan sambil
mengerahkan lweekangnya pula.
Akibatnya membuat pemuda dan nenek itu keduanya
terkejut. Benturan tenaga lweekang ini membuat Ciang Le
terpaksa mundur dua langkah. Adapun nenek itu menjadi
terhuyung ke belakang sampai tiga tindak! Ini saja sudah
membuat nenek itu kagum sekali, sebaliknya Ciang Le
diam diam terkejut. Ia tahu bahwa tenaga lweekang dari
nenek ini hanya berbeda sedikit saja dari padanya, padahal
ia telah digembleng secara hebat oleh Thian Lo mo, tokoh
bear ahli lweekeh itu. Baru nenek ini saja sudah demikian
lihai, apalagi dua orang kakek yang aneh ini.
Tiba tiba kakek bongkok itu mengulur tangan dan
sebelum Ciang Le dapat mengelak, tangannya telah
terpegang oleh tangan kakek itu yang sambil terkekeh kekeh
berkata. “Bukan di sini tempat bicara. Hayo kau ikut
dengan kami!” Setelah berkata demikian, ia melompat cepat
dengan tangan masih memegangi tangan Ciang Le. Pemuda
ini merasakan tarikan yang kuat sekali. Ia tidak mau
mempergunakan kekerasan, maka iapun lalu menggenjot
kakinya dan mengikuti kakek ini melompati kepala orang
orang yang tadi mengelilinginya. Nenek itu dan kakek
buntung juga melompat sehingga dalam sekejap mata saja
empat orang ini lenyap dari tempat itu. Jalan raya yang
tadinya penuh sesak itu kini menjadi biasa kembali,
ditinggalkan oleh para penonton yang berjubel di situ.
Ciang Le berlari cepat di sebelah kakek bongkok. Ia
merasa betapa cengkeraman tangan kakek ini benar benar
kuat. Baiknya ia sendiri memiliki ilmu lari cepat yang sudah
mencapai tingkat tinggi sehingga ia dapat mengimbangi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kecepatan si bongkok. Kalau tidak, tentu ia akan terseret
dan tangannya akan terasa sakit.
Setelah berlari lari beberapa lama akhirnya kakek
bongkok itu berhenti di depan sebuah rumah gedung yang
penuh tanaman kembang di halaman depan. Rumah
gedung itu tidak terlalu besar, akan tetapi benar benar
mungil dan cantik sekali. Nampak demikian bersih
terpelihara.
Ketika kakek bongkok itu hendak memasuki halaman
gedung ini, Ciang Le merasa sangsi dan berkuatir kalau
kalau ia akan terjebak. Sambil mempergunakan Ilmu Sia
kut hoat, ia membetot tangannya dan sekali tarik, saja
tangannya yang digenggam oleh kakek bongkok telah
terlepas! Si bongkok memandangnya dengan kagum dan
perlahan lakan mukanya menjadi merah. Ia telah kena
dipermainkan oleh pemuda ini. Melihat bahwa pemuda ini
pandai Ilmu Sia kut hoat, kalau tadi tadi pemuda ini
menghendaki tentu sudah dapat melepaskan tangannya
yang terpegang!
“Hwa I Enghiong, apakah kau takut memasuki rumah
kami?” tanya nenek yang sudah berada dibelakang mereka
pula bersama, kakek buntung.
Ciang Le tertegun. Tidak saja ia mendapat kenyataan
bahwa nenek dan kakek buntung itupun memiliki ilmu lari
cepat yang hebat juga ia merasa aneh melihat betapa tiga
orang ketua Hek kin kaipang ini dapat tinggal di dalam
sebuah gedung yang demikian indah yang agaknya hanya
patut ditinggali seorang bangsawan tinggi! Akan tetapi,
karena nenek itu menyangkanya takut, ia menjadi panas
hati. Betapapun tiaggi kepandaian tiga orang aneh ini belum
cukup untuk mendatangkan rasa takut dalam hatinya! Ia
menjawab dengan gagah, “Mengapa aku harus takut?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hanya orang bersalah saja yang dapat takut dan dalam hal
ini, aku tidak merasa bersalah.”
Kemudian dengan langkah tenang dan dada terangkat,
Ciang Le mengikuti mereka memasuki rumah indah itu.
Seorang pelayan dengan pakaian bersih dan sikap sopan
sekali membuka pintu dan membungkuk dengan hormat
sekali seakan akan yang datang bukanlah seorang pemuda
dan tiga orang pengemis, melainkan orang orang
bangsawan agung !
Tiga orang tua itu membawanya menuju ke sebuah
ruangan di bagian kiri gedung, sebuah ruangan yang amat
luas. Melihat betapa keadaan ruangan ini berlantai bersih
dan datar juga bangku bangkunya dan meja terletak di
sudut sehingga di bagian tengah kosong, Ciang Le dapat
menduga bahwa ini tentulah ruang bermain silat.
Pada saat itu, tiba tiba Ciang Le mendengar suara kim (
alat musik bertali ) yang dipukul dengan merdunya.
Kembali ia tertegun karena suara ini memang amat pantas
terdengar dari sebuah gedung indah, tanda bahwa
penghuninya adalah seorang seniman terpelajar. Akan
tetapi mengapa tiga orang pengemis tua ini bersikap seakan
akan mereka yang menjadi tuan rumah? Selagi ia
menikmati suara kim yang merdu itu, tiba tiba terdengar
suara lain, suara yang jauh berlainan dengan suara
tetabuhan itu. Kali ini yang terdengar datang dari arah
belakang, yakni suara orang orang berkeluh kesah,
menangis, mengerang, pendeknya suara banyak orang
sedang menderita sedih dan sakit! Akan tetapi, suara kim
yang terdengar dari sebelah kanan gedung itu masih saja
berbunyi, seakan akan mengiringi tangis dan keluh kesah itu
yang dianggap oleh penabuh kim sebagai nyanyian yang
enak didengar agaknya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat keheranan Ciang Le, nenek itu tertawa terkekeh
kekeh. “Anak muda, kau menjadi tamu agung kami, dan
agaknya kau tertarik oleh bunyi dan suara itu. Apakah kau
ingin menyaksikan dengan mata sendiri ?”
Biarpun ia tidak suka dianggap sebagai seorang yang
lancang dan ingin mengetahui keadaan rumah orang,
namun tangis dan keluh kesah itu membuat Ciang Le curiga
kalau kalau di dalam rumah ini terjadi kejahatan, maka ia
lalu menganggukkan kepalanya.
Kakek bongkok dan kakek buntung itu agaknya tidak
setuju kemudian menggerakkan tangannya akan tetapi
mereka itu dibantah oleh nenek tadi dengan kata kata,
“Sebagai seorang calon pasangan pangcu, tentu saja berhak
mengetahui segalanya.” Kemudian ia lalu mendahului dan
mengajak Ciang Le masuk ke ruangan belakang. Ciang Le
mengikuti nenek ini dan di belakangnya, dua orang kekek
itupun berjalan sehingga ia seakan akan dikurung di tengah
tengah. Biarpun mereka bertiga tidak memperlihatkan sikap
yang mencurigakan, diam diam Ciang Le maklum bahwa
dia dijaga keras oleh tiga orang aneh ini.
Setibanya di belakang, nenek itu lalu melompat ke atas
dinding tembok. Ciang Le ikut melompat pula dan di
belakang tembok itu ia menyaksikan pemandangan yang
aneh dan juga menawan hati. Di belakang dinding itu
ternyata merupakan sebuah taman yang cukup indah dan
luas sekali. Banyak macam bunga bunga mekar semerbak di
situ. Akan tetapi yang amat aneh adalah banyaknya orang
orang yang bekerja di situ. Biasanya untuk sebuah taman
bunga, dua atau tiga orang tukang kebun saja sudah cukup.
Akan tetapi di dalam taman ini nampak orang orang yang
jumlahnya sampai tiga puluh orang lebih! Mereka ini
bekerja mengurus taman bunga dan ketika Ciang Le
memperhatikan, ternyata bahwa keadaan mereka amat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sengsara. Pakaian mereka pecah pecah dan tambal
tambalan, dan biarpun ada yang pakaiannya cukup baik,
namun rata rata mereka itu pucat pucat bahkan ada
beberapa orang yang menderita luka tanpa diobati !
Ketika orang orang itu melihat nenek dan dua orang
kakek tadi berdiri di atas dinding tembok bersama seorang
pemuda, tiba tiba saja semua tangis dan keluh kesah itu
lenyap dan berhenti. Semua orang lalu sibuk bekerja,
nampaknya mereka takut sekali menghadapi tiga orang tua
itu !
“He, orang she Kwe! Kau kembali menangis, ya? Awas,
sekali lagi kumendengar kau meraung raung seperti anjing
hukumanmu akan kutambah sepuluh tahun lagi! Ini,
rasakan untuk peringatan!” nenek itu berseru keras dan
tangan kirinya bergerak kearah seorang yang sedang berdiri
di dekat sebatang pohon bunga sambil membuangi daun
daun kering. Ciang Le melihat sinar hitam melayang dari
tangan nenek itu dan orang tadi terjungkal. Sebatang touw
kut teng (paku penembus tulang) telah menancap pada
pundak orang itu yang biarpun meringis meringis kesakitan
sambil memegangi pundaknya, namun sama sekali tidak
berani menangis atau mengeluarkan suara!
Ciang Le terkejut dan marah sekali. “Kau kejam sekali!”
teriaknya, akan tetapi nenek itu memandang kepadanya
dengan mata mendelik dan menudingkan jari tangan ke
arah lehernya.
“Kejam? Apakah artinya pundak tertancap paku dengan
luka di leherku ini? Tahukah kau bahwa luka ini
ditimbulkan oleh guratan golok sehingga leherku hampir
putus?”
Ciang Le tertegun karena ia tidak mengerti apakah
artinya semua ini. Tiga orang tua itu melompat turun ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tempat tadi dan terpaksa Ciang Le ikut melompat turun
pula. Ia tadi telah melihat bahwa air muka orang orang
yang berada di dalam taman bunga itu menunjukkan watak
orang orang yang kurang baik kelakuannya. Akan tetapi
tetap saja ia merasa penasaran mengapa orang orang itu
disiksa seperti itu dan mengapa pula mereka dikumpulkan
di tempat itu. Lagi pula, di antara orang orang itu ia juga
melihat pengemis pengemis berikat pinggang hitam,
anggauta anggauta Hek kin kaipang.
“Sam wi pangcu (tiga saudara ketua), apakah artinya
pemandangan itu? Siapakah mereka dan mengapa mereka
berada di tempat itu?” tanya Ciang Le karena pemuda itu
tak dapat menahan hatinya lagi.
“Mereka itu orang orang hukuman!” jawab nenek itu
sambil menyeringai.
“Orang orang hukuman? Apa kesalahan mereka dan
mengapa dihukum di sini?”
“Hwa I Enghiong, dari siapakah kau belajar menyelidik
keadaan dalam rumah tangga lain orang?” Si bongkok tiba
tiba menegurnya dan merahlah wajah Ciang Le.
Sesungguhnya, taman bunga itu masih menjadi bagian dari
gedung ini dan apa yang terjadi di dalam taman Itu masih
merupakan peristiwa dalam rumah tangga lain orang
“Sekarang marilah kau menyaksikan dengan mata sendiri
suara lain yang datang dari bangunan sebelah kanan itu,”
kata nenek itu pula. Memang suara kim yang ditabuh itu
masih terdengar dengan nyaring dan amat merdunya. Ciang
Le mengikuti tiga orang itu menuju ke arah datangnya
suara.
Mereka tiba di sebuah ruangan yang luas akan tetapi
pintu yang lebar terbuka itu tertutup oleh tirai yang halus
sehingga dari luar orang dapat melihat bayangan di sebelah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam. Tercenganglah Ciang Le ketika melihat keadaan
bagian ini. Ruangan itu amat indah dan bersih, dihias
dengan perabot perabot rumah yang serba indah dan mahal.
Juga dari tirai halus itu semerbak bau yang amat harum.
Ketika ia memandang ke dalam, tiba tiba matanya terpaku
pada sebuah pemandangan yang amat menarik hati. Di
sudut ruangan itu, duduk di atas lantai yang ditilami kasur
beralaskan sutera merah muda, nampak seorang gadis yang
cantik jelita. Gadis ini kelihatan seperti seorang bidadari
saja dari luar tirai, berpakaian hijau berkembang yang indah
sekali dan cara duduknya amat luwes dan. menarik hati. Di
depannya terletak sebuah alat tetabuhan kim yang
dimainkannya dengan asyik. Sepuluh jari tangannya yang
runeing bergerak gerak dan mukanya tunduk memandang
alat tetabuhan itu.
Tiba tiba gadis itu mengangkat muka, seakan akan
pandang mata yang penuh kekaguman dari Ciang Le terasa
olehnya. Sepasang mata yang lebar dan jeli menatap ke
arah tirai dan Ciang Le segera menundukkan mukanya
yang berobah merah. Benar benar ia merasa malu karena
sungguh tidak sopan memandang seorang gadis di dalam
kamarnya ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi
dari pintu, diikuti oleh tiga orang pengemis tua itu yang
tersenyum senyum.
“Dia cantik jelita bukan? Pernahkah kau melihat seorang
gadis yang secantik dia?” tanya nenek itu.
“Siapakah dia ??” tanya Ciang Le.
Nenek itu tertawa cekikikan. “Heh heh, kau tergila gila
kepadanya bukan? Heh heh heh, laki laki mana yang takkan
tergila gila melihat dia? Kau boleh menyebut dia pangcu,
Siocia atau Sianli (Ketua, Nona, atau Dewi)!”
“Pangcu? Nona itu ketua dari apakah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kini si buntung tertawa geli. “Anak bodoh, dialah
pangcu dari perkumpulan kami!”
Bukan main herannya hati Ciang Le mendengar ini.
Nona pemain kim tadi ketua dari Hek kin kaipang?
Sungguh sukar untuk dapat dipercaya!
Sementara itu, mereka telah tiba kembali di ruang
pertama, yakni ruang lian bu thia. Nenek itu lalu berkata.
“Sekarang bersiaplah kau, orang muda. Tidak sembarangan
orang boleh memasuki rumah ini. Dalam pandangan kami,
kau cukup memenuhi syarat, kecuali sebuah lagi, yakni kau
harus dapat menghadapi kami bertiga selama lima puluh
jurus lebih!”
Ciang Le mengerutkan kening. “Apakah artinya ini? Aku
datang atas undangan cuwi, bukan kehendakku sendiri dan
aku sama sekali tidak hendak mencari permusuhan dan
pertempuran.”
“Ha ha ha, kau takut ?” tanya si kakek buntung.
“Siapa bilang aku takut? Aku hanya hendak mencegah
pertempuran tanpa alasan.”
“Tanpa alasan katamu?” si bongkok membentak, “Kau
telah mengacau kota Taigoan telah merobohkan banyak
anak buah kami dan para penjaga kota, dan kau bilang
tanpa alasan? Anak muda, kami masih belum
membunuhmu boleh dibilang sudah cukup baik dan sabar.
Kalau tidak Bi Mo Ii (Setan Wanita Cantik) ini yang
membuat gara gara hendak menjadi comblang, sudah
semenjak tadi kau mampus! Hayo kau boleh
memperlihatkan kepandaianmu!” Setelah berkata demikian,
si bongkok ini lalu menggerakkan tongkat pendeknya untuk
menyerang dengan sebuah totokan ke arah ulu hati pemuda
itu. Berbareng pada saat itu, sambil tertawa tawa, nenek
itupun telah menyerang dengan siang kiam (sepasang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang) dan si kakek buntung telah menggerakkan kedua
tongkatnya!
Ciang Le terkejut bukan main. Ia cepat menggerakkan
tangan ke arah punggungnya dan tiba tiba berkelebat sinar
emas ketika Kim kong kiam berada di tangannya dan cepat
ia menggerakkan pedang itu untuk menangkis senjata
lawan. Terdengar suara nyaring diikuti oleh bunga api
berpijar. Tiga orang pengemis tua itu mengeluarkan seruan
kaget dan mereka menahan senjata masing masing.
“Kau pernah apa dengan Thian Te Siang mo ??” teriak
nenek itu dengan wajah pucat.
“Thian Te Siang mo adalah guruku,” jawab Ciang Le
dengan tenang dan diam diam ia merasa girang karena
agaknya, seperti kakek pemelihara ular itu, tiga orang tua
ini sudah pernah bertemu dengan kedua orang suhunya dan
agaknya jerih menghadapi pedangnya yang dahulu menjadi
senjata dari Te Lo mo, gurunya ke dua. Akan tetapi rasa
girang ini berobah menjadi gelisah ketika ia melihat sikap
nenek itu. Tiba tiba saja nenek ini memaki maki.
“Thian Te Siang mo, keparat terkutuk! Sekarang aku
mendapat kesempatan untuk mencincang hancur tubah
muridmu!” Setelah berkata demikian, sepasang pedangnya
bergerak dengan ganas dan cepatnya, dibantu pula oleh dua
orang kakek itu.
Terpaksa Ciang Le melayani mereka dan sebentar saja ia
terkurung rapat rapat. Pemuda ini harus mainkan Kim kong
Kiam sut dengan cepat dan sungguh sungguh, karena,
serangan serangan tiga orang lawannya ini benar benar
hebat dan lihai. Diam diam ia memikir dengan heran
siapakah mereka ini dan mengapa agaknya nenek itu
membenci kedua orang gurunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seperti telah disebutkan di bagian depan, tiga orang tua
ini adalah pemimpin pemimpin Hek sin kaipang tingkat
satu, yakni tingkat tertinggi. Nenek itu berjuluk Bi Mo li
(Setan Wanita Cantik), kakek bongkok itu berjuluk Beng
san kui (Setan Ganung Sakti), dan kakek yang buntung kaki
kirinya itu berjuluk Siang tung him (Biruang Bertongkat
Dua).
Melihat cara tiga orang tua itu menyerangnya, Ciang Le
diam diam menjadi sibuk juga. Tiga orang tua itu kini
bukan lagi hendak mencoba kepandaian, melainkan
menyerang dengan mati matian! Agaknya karena ia murid
Thian Te Siang mo, tiga orang ini menjadi benci kepadanya
dan hendak membunuhnya, terutama sekali nenek yang
lihai itu. Ilmu pedang dari nenek itu benar benar lihai sekali
dan ditambah pula dengan permainan tongkat si bongkok
dan sepasang tongkat si buntung, benar benar Ciang Le
terdesak hebat. Pemuda ini tidak mau mengalah begitu saja,
tadinya memang ia terdesak karena ia memang tidak
membalas serangan serangan mereka dengan sungguh
sungguh, kuatir kalau kalau melukai mereka. Sekarang
melihat betapa tiga orang tua itu menyerangnya dengan
sungguh sungguh dan mati matian, terpaksa iapun
membalas dengan serangan yang amat lihai dari Ilmu
Pedang Kim kong Kiam sut.
Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut yang ia pelajari dari Te
Lo mo ini memang benar benar luar biasa sekali. Pedang di
tangannya lenyap berobah menjadi segulungan cahaya
kekuningan seperti emas dan merupakan benteng kuat
sekali yang melindungi seluruh tubuhnya dari serangan
senjata senjata lawannya. Bahkan kadang kadang gulungan
sinar pedang itu mendesak hebat sekali sehingga setiap kali
senjata lawan terbentur, lawan lawannya mengeluarkan
suara kaget! karena merasa telapak tangannya tergetar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hebat! Kalau sekiranya tidak dikeroyok tiga, sudah dapat
dipastikan bahwa Ciang Le tentu akan dapat dirobohkan
lawannya Biarpun dalam hal lweekang dan ginkang tidak
boleh dikatakan kepandaian dan tingkatnya lebih tinggi,
namun dengan Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut, ternyata
ia menjadi lebih unggul dari pada semua lawannya.
Akan tetapi, karena tenaga dan kepandaian tiga orang
pengemis tua yang aneh itu tergabung dan mereka ternyata
dapat bekerja sama dengan baik dan teratur sekali, maka
Ciang Le akhirnya menjadi kewalahan dan terdesak hebat !
Betapapun juga, berkat daya tahan Kim kong Kiam sut
yang rapat dan kuat, ia masih dapat mempertahankan diri
dan agaknya tidak akan mudah bagi tiga orang tua itu
untuk mengalahkannya. Berbeda dengan mereka yang
sudah tua sekali, Cian Le masih muda dan tenaga serta
napasnya kuat.
Seratus jurus telah lewat dan tiga orang tua itu menjadi
penasaran sekali. Kalau saja pemuda ini tidak mengaku
sebagai murid Thian Le Siang mo, agaknya nenek itu
menjadi makin kagum dan suka kepada pemuda ini yang
dianggapnya betul betul berharga menjadi jodoh Siocianya.
Tiba tiba bayangan hijau melayang keluar dari pintu
kanan, dan terdengar bentakan halus akan tetapi nyaring
dan amat berpengaruh,
“Kalian bertiga mundurlah!”
Sungguh mengherankan Ciang Le, karena tiga orang tua
itu bagaikan tentara tentara mendengar perintah seorang
atasan yang berpangkat tinggi, serentak lalu melompat
mundur dan menahan senjata mereka. Kemudian mereka
bertiga memandang ke arah orang yang baru muncul ini
dengan sikap penuh hormat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adapun Ciang Le ketika melihat siapa orangnya yang
datang mukanya menjadi merah dan iapun memandang
dengan kagum. Ternyata bahwa orang itu adalah nona
berbaju hijau berkembang yang tadi menabuh kim di dalam
kamar bertirai itu, nona yang kini nampak lebih cantik dari
pada tadi. Nona ini bertubuh ramping dan berisi, kini
memakai pakaian yang ringkas. Rambutnya yang hitam dan
panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan pengikat
rambut terbuat daripada permata yang berkilauan. Di
belakang pundaknya nampak gagang siang to (sepasang
golok) terbuat daripada emas yang terhias permata hijau
pula. Sepatunya yeng tinggi berwarna hitam. Bukan main
gagah dan cantiknya nona ini, dan kulit mukanya yang
putih kemerah merahan itu demikian halus sehingga seakan
akan amat tipis. Diam diam Ciang Le harus akui bahwa
selama hidupnya belum pernah ia melihat seorang gadis
yang lebih cantik dari pada nona ini. Karena ia teringat
akan penuturan nenek tadi bahwa nona manis ini adalah
ketua dari Hek kin kaipang, maka cepat Ciang Le menjura
kepada nona itu dengan hormat setelah menyimpan
pedangnya.
“Pangcu (ketua), harap kau suka maafkan padaku telah
berani datang ke rumahmu yang indah dan membikin
ribut. Percayalah aku hanya terpaksa oleh tiga orang tua
yang berkepala batu ini!”
Nona itu tersenyum dan sepasang matanya berseri
gembira, Ciang Le melihat sederetan gigi yang putih
bagaikan batu kemala di lingkungan bibir yang berbentuk
manis dan berwarna merah.
“Hwa I Enghiong, aku paling benci disebut ketua,
sungguhpun aku memang menjadi pemimpin Hek kin
kaipang. Namaku Kiang Cun Eng, bukankah lebih sedap
didengar kalau kau menyebut namaku saja tanpa segala
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebutan sungkan dan pangcu pangcuan?” Kembali ia
tersenyum manis sekali dengan lesung pipit di pipi
kanannya, sedangkan sepasang matanya yang lihai itu
mengerling melebihi tajamnya pedang Kim kong kiam!
Melihat gerak bibir, lirikan mata, dan gerak gerik wajah
nona ini, yakinlah Ciang Le bahwa benar benar ia
berhadapan dengan seorang gadis yang luar biasa
cantiknya. Akan tetapi cara gadis itu mainkan bibir dan
mata mendatangkan rasa jengah dan tidak enak dalam hati
Ciang Le dan berbareng menimbulkan rasa tidak suka.
Gadis ini memiliki sifat tidak baik dan genit, pikir Ciang Le,
dan sekaligus berkuranglah kekagumannya.
Akan tetapi ketika ia memandang kepada gagang golok
di belakang pundak gadis itu, teringatlah ia akan sesuatu
dan diam diam ia menjadi gelisah. Baru menghadapi
keroyokan tiga orang pemimpin tingkat satu tadi saja ia
sudah kewalahan. Gadis cantik ini sebagai ketua sudah
tentu saja memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada
kepandaian tiga orang pengemis tua itu. Kalau saja harus
menghadapi gadis ini saja, ia boleh mengerahkan seluruh
kepandaiannya dan mustahil kalau ia akan kalah. Akan
tetapi bagaimana kalau dikeroyok empat?
Kemudian gadis itu yang melihat Ciang Le diam saja,
lalu berkata kepada tiga orang pembantunya, “Bi Mo li,
bersihkan kamar tamu sebelah barat! Beng san kui,
perintahkan kepada restoran yang paling besar untuk
mengirim hidangan hidangan yang paling baik, dan kau,
Siang tung him beritahukan kepala daerah bahwa urusan
dengan Hwa I Enghiong sudah beres dan malam ini
diadakan perjamuan untuk menghormatinya di sini, minta
dia datang!”
Tidak saja Ciang Le yang menjadi tercengang
mendengar ini, bahkan tiga orang pembantunya itupun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi tertegun. Apalagi nenek itu, ia kelihatan tidak
senang sekali.
“Nona, ketahuilah bahwa orang ini adalah murid Thian
Te Siang mo musuh musuh besar kita!” kata nenek itu.
Akan tetapi Beng san kui dan Siang tung bini tidak
membantah perintah nona ini.
“Baik, pangcu!” jawab Beng san kui.
Aku pergi, nona.” kata Siang tung him dan dua orang
kakek ini sekali berkelebat saja sudah melompat keluar dari
ruangan itu Kini Kiang Cun Eng, ketua Hek kin kai pang
itu menoleh kepada Bi Mo li dan pandangan matanya yang
tadinya lunak dan mesra itu berobah menjadi ganas.
“Bi Mo li, sudah berapakali kau selalu membantah
perintahku? Apakah kau ingin melihat golokku bergerak
lebih keras lagi ? Hwa I Enghiong adalah tamu agung
bagiku yang harus kuhormati. Aku suka padanya tidak
perduli ia putera siapa dan murid siapa! Hayo lekas
jalankan perintahku!”
Bi Mo li masih mengerutkan keningnya dan memandang
kepada Ciang Le dengan mata berapi, akan tetapi sekali saja
Kiang Cun Eng menggerakkan kedua tangannya
kebelakang, tahu tahu sepasang golok yang putih berkilauan
saking tajamnya telah berada di kedua tangan yang kecil
halus itu!
“Bi Mo li, lekas pergi! Jangan tunggu sampai tanganku
melakukan gerakan ke dua!”
Kini Ciang Le melihat betapa Bi Mo li menjadi pucat
mukanya, dan setelah mengerling sekali lagi ke arahnya
dengan penuh kebencian, nenek itu lalu pergi terhuyung
huyung ke belakang, untuk melakukan perintah ketua yang
cantik itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciang Le benar benar merasa terkejut dan heran.
Alangkah besar kekuasaan dan pengaruh nona ini Tiga
orang tua yang memiliki kepandaian demikian tinggi seakan
akan tiga ekor anjing peliharaan saja yang merangkak
rangkak ketakutan di depan kakinya.
“Pangcu….”
Muka manis yang tadinya berubah seram dan ganas, kini
melembut dan pandangan matanya mesra lagi ketika
ditujukan kepada wajah Ciang Le yang tampan.
“Hwa I Enghiong, ingat namaku Kiang Cun Eng.”
“Kiang pangcu (ketua Kiang)....”
“Jangan menyebutku ketua!”
Ciang Le menghela napas. Nona ini benar benar aneh,
“Kiang siocia (nona Kiang),” katanya kewalahan, “harap
kau jangan berlaku sungkan. Aku bukanlah tamu agung dan
aku tidak ingin tinggal lama lama di rumahmu dan
mengganggu kalian. Sudahlah, biarkan aku pergi saja. Lain
kali aku akan menghaturkan terima kasih atas
kemurahanmu terhadapku.”
Kiang Cun Eng menggeleng geleng kepalanya. “Tidak
bisa, tidak bisa! Apakah kau ingin menghinaku? Kau datang
dan kuanggap sebagai tamuku, hidangan sudah disiapkan,
bahkan kepala daerah Taigoan sudah kupanggil. Jangan
kau membikin malu aku, Hwa I Enghiong. Apa akan kata
orang kalau mendengar bahwa undangan yang ramah
tamah dan penuh sikap persahabatan dari ketua Hek kin
kaipang ditolak mentah mentah oleh Hwa I Enghiong?”
Ciang Le beripikir cepat. Memang tidak baik kalau ia
memaksa meningagalkan dan menolak undangan itu. Ketua
ini telah berlaku manis padanya. Melihat betapa ketua ini
dapat memanggil kepala daerah dan betapa tadi ketika ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertempur menghadapi anggauta anggauta Hek kin kaipang
para penjaga kota juga membantu perkumpulan pengemis
itu, tahulah dia bahwa perkumpulan ini mendapat
dukungan dari pemerintah setempat! Hal ini benar benar
amat aneh dan ia harus dapat menyelidikinya. Apa lagi
tentang orang orang yang berada di taman bunga di
belakang gedung ini.
“Baiklah, nona. Aku tidak berani mengecewakan
hatimu, sungguhpun aku terlampau dihormati dan merasa
sungkan sekali “
Gadis itu tertawa dengan manis sekali. Ia nampak girang
bukan main dan seperti seorang anak kecil, tangannya
menyambar dan memegang tangan Ciang Le. Gerakan ini
cepat sekali sehingga sebelum pemuda itu dapat mengelak,
tangannya sudah terpegang dan ditarik tarik.
“Hwa I Enghiong, hayo ikut aku. Aku akan mainkan
kim dan bernyanyi untukmu.” Dengan gaya menarik, genit
dan manja sekali nona cantik itu membetot betot tangan
Ciang Le.
Tentu saja wajah Ciang Le menjadi merah seperti
kepiting direbus! Ia merasa betapa jari jari tangan yang
halus menekan tangannya dengan mesra dan wajah gadis
itu menatapnya berseri seri dan sinar matanya penuh arti!
Untuk melenyapkan rasa jengahnya, Hwa I Enghiong
tersenyum dan berkata, “Kiang siocia, aku sudah mendapat
kehormatan mendengarkan kau mainkan kim yang benar
benar merdu sekali tadi ketika aku dibawa datang oleh tiga
orang tua itu.”
“Aku tahu, akan tetapi yang kumainkan tadi adalah lagu
sedih. Lagu dari seorang puteri kaisar yang meratapi
nasibnya karena tak dapat mendekati pemuda ksatria yang
menjadi idaman hatinya! Sekarang aku hendak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyanyikan kisah pertemuan kedua teruna remaja itu,
lagu yang gembira!” Sambil berkata demikian, ia terus
menarik tangan Ciang Le ke arah ruang di sebelah barat
yang tertutup tirai halus itu.
Ciang Le benar benar merasa amat jengah, sungkan, dan
serba salah. Ia tadi telah mengerahkan lweekangnya agar
tangannya yang dipegang itu dapat terlepas tanpa
menyinggung nona itu, akan tetapi ia merasa betapa jari jari
tangan itupun mengerahkan lweekang yang tinggi sehingga
mereka bahkan seperti saling menekan dengan mesra! Oleh
karena ia melihat mata nona itu memandangnya dengan
penuh arti seakan akan menegur “kenakalannya”, ia tidak
berani lagi menarik tangannya dan membiarkan saja dirinya
dituntun seperti kerbau ke dalam kamar yang menyiarkan
bau harum itu.
Kamar itu selain semerbak harum, ternyata juga indah
sekali. Ciang Le berdiri seperti seorang murid bodoh yang
dihukum oleh guru sekolah dan disuruh berdiri di muka
kelas. Ia merasa bingung, malu dan tidak enak. Kalau ia
menggunakan kekerasan, pergi dari tempat itu, Sebentar
saja ia tentu akan dikeroyok dan amat tidak enak
menanamkan bibit permusuhan dengan perkumpulan yang
kuat ini hanya karena ia merasa malu berada di dalam
kamar seorang gadis cantik.
“Silakan duduk, eh, siapa pula namamu?” tanya Kiang
Cun Eng sambil tertawa dan gadis ini dengan gaya menarik,
lalu menjatuhkan diri duduk di atas lantai yang di tilami
kasur dan bersih.
Ciang Le terpaksa mengambil tempat duduk pula di atas
lantai bertilam itu, sejauh mungkin dari nona rumah dan
duduknya amat tidak leluasa, seakan akan kasur bertilam
sutera yang empuk itu adalah arang membara!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku she Go bernama Ciang Le.” Demikian katanya
singkat sambil melayangkan pandang kepada dinding
kamar yang terhias lukisan lukisan indah dan sajak sajak
terkenal. Hem, selain cantik dan gagah, gadis ini agaknya
ahli pula dalam hal kesusasteraan, pikirnya dan diam diam
ia merasa kagum. Sukarlah mencari seorang gadis seperti
ini, sayang sekali ia demikian genit dan manja.
Ketua Hek kin kaipang itu yang sudah mengambil alat
tetabuhannya lalu mulai membunyikannya dan berkata,
“Go enghiong, sekarang dengarkanlah aku bernyanyi
untukmu.” Suaranya diucapkan dengan lagak dibuat buat
dan matanya mengerling penuh arti. Kemudian, diiringi
suara kim yang indah bernyanyilah gadis itu. Kembali
Ciang Le tertegun dan kagum karena suara gadis ini benar
benar merdu sekali.
Akan tetapi ketika ia mendengar kata kata dalam
nyanyian itu, wajahnya yang sudah merah menjadi makin
merah dan Ciang Le tidak berani memandang gadis itu.
Gadis in bernyanyi tentang pertemuan seorang puteri
dengan kekasihnya, memuji muji kecantikan puteri itu,
memuji muji ketampanan wajah pemuda kekasihnya,
kemudian tentang pertemuan yang mesra dan romantis itu
dengar kata kata yang tidak kenal malu lagi! Kalau saja
bukan Ciang Le yang mendengar nyanyian ini keluar dari
mulut seorang gadis yang demikian menggiurkan dan
cantik, kalau saja pemuda pemuda biasa yang
mendengarnya, tentu hatinya akan jatuh dan akan
berlututlah dia di depan kaki Kiang Cun Eng memohon
belas kasihan dan cinta kasih. Tentu akan berkobarlah api
nafsu birahi dalam dada pemuda yang mendengarnya
bagaikan api disiram minyak. Akan tetapi Ciang Le adalah
keturunan seorang pahlawan sejati, keturunan Go Sik An
seorang bun bu cwan jai yang terpelajar dan gagah perkasa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pula dia adalah murid dari sepasang manusia kembar yang
sakti, murid dari Thian Te Siang mo yang sudah
menggemblengnya semenjak ia masih Kecil sehingga
pemuda ini memiliki kekuatan batin yang cukup teguh.
Maka biarpun mukanya menjadi makin merah sampai ke
telinganya karena ia merasa jengah dan malu, namun di
dalam hatinya terasa kemuakan dan kejemuan mendengar
nyanyian yang tidak kenal kesopanan dan melanggar susila
itu.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil