Jumat, 20 April 2018

Pendekar Penyebar Maut 3

------
“Tasssss!”
Dua buah lengan yang sama-sama penuh berisi tenaga
sakti berbenturan dengan amat kuatnya dan keduanya samasama
tergetar mundur beberapa tindak. Tapi sekali lagi
tampak kalau tenaga Tung hai Nung-jin masih belum dapat
mengimbangi Soa-hu-sin-kang Tong Ciak Cu-si.
"Setan ……!" Tung-hai Nung-jin menggeram marah.
Kemudian pacul itu ia lintangkan di depan dada dan sambil
memasang kuda-kuda yang amat rendah ia mengerahkan
seluruh tenaga saktinya. "Hah!” Dan tiba tiba… brol! Dari
seluruh pori-pori kulitnya menetes air keringat yang amat
banyak. Semakin lama semakin banyak sehingga akhirnya air
keringat itu mengucur menetes netes bagai air hujan yang
mengalir dari atas genting!
Dan begitu orang itu bergerak, maka air keringat yang
berbau kecut itu berhamburan memercik ke mana-mana.
Sungguh menjijikkan ! Tapi justru itulah salah satu dari
keistimewaan ilmu Silat Ban-seng-kun, andalan Tung-hai
Nung-jin!
Jangan dikira butiran-butiran air keringat itu tidak ada
gunanya. Malah butiran-butiran air keringat itulah yang sering
membuat pusing lawan. Selain baunya yang kecut menjijikkan,
butiran air keringat itu terlepas dari badan karena terdorong
oleh sinkang yang tinggi. Maka tidaklah mengherankan apabila
tetesan air keringat itu mampu melobangi baju dan kulit
musuh.
Tong Ciak Cu si yang baru sekali ini melihat keanehan
seperti itu segera melangkah ke samping untuk mengambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jarak, agar supaya ia punya kesempatan untuk menilai
gerakan lawan apabila lawan menyerang dengan mendadak.
"Hmm, jadi inilah sebabnya, mengapa ia melepas
bajunya.... Tapi kalau cuma soal keringat itu, aku tak perlu
merasa khawatir. Toh aku punya Soa-hu-sin-kang yang
mempunyai sifat menolak. Asal aku mengerahkan sin-kang itu
sekuat tenaga niscaya tetesan keringat itu takkan sampai
mengenai tubuhku. Yang harus aku perhatikan justru
senjatanya yang aneh itu, siapa tahu ada rahasia tersembunyi
di dalamnya." Tong Ciak Cu-si berkata di dalam hati.
Demikianlah, kedua-duanya telah menyadari kehebatan
masing-masing. Oleh karena itu masing-masing tidak mau
bertindak ceroboh. Masing-masing terlalu hati hati sekali,
sehingga pertempuran mereka kali ini tentulah merupakan
sebuah pertempuran yang alot dan lama.
Benarlah! Begitu mereka saling gebrak, maka cara mereka
menyerang maupun mengelak sedemikian hati-hatinya
sehingga meskipun beberapa jurus telah berlalu, mereka tetap
belum dapat melepaskan serangan yang berarti.
Baru setelah pertempuran mereka menginjak pada jurus ke
sepuluh, masing-masing sudah sedikit mengenal gaya
pertempuran lawan, sehingga pada jurus-jurus selanjutnya
pertempuran itu menjadi semakin hidup dan berbahaya.
Luncuran luncuran mata pacul yang berkelebat kesana kemari
mengejar nyawa itu tampak semakin cepat dan mengerikan.
Dilihat dari luar arena seperti bayangan bianglala yang saling
berbelit di atas permukaan air laut. Sementara tetesan air
keringat yang berhamburan dari badannya tampak
gemerlapan ditimpa sinar mentari pagi.
Tapi gerakan Tong Ciak juga tidak kalah hebatnya.
Meskipun tidak memakai senjata, tapi kedua pasang lengan
dan kakinya yang pendek-pendek itu bergerak seperti balingbaling
cepatnya sehingga sambaran pacul Tung-hai Nung-jin
yang berkelebatan di kanan kirinya itu tak pernah bisa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyentuh ujung bajunya. Begitu pula dengan percikan air
keringat yang mengucur tak henti-hentinya itu, tak tetetespun
yang dapat mengenai kulit maupun pakaiannya. Semuanya
tersapu buyar dihembus Soa-hu-sin-kang sebelum butiranbutiran
air menjijikkan itu mampu mendekati tubuhnya.
Duapuluh juruspun telah berlalu lagi dan biarpun sudah
memegang senjata ternyata Tung-hai Nung-jin tetap tak bisa
merebut kemenangan. Semakin lama justru semakin tampak
permainan paculnya banyak mengalami hambatan. Beberapa
kali gerakan paculnya terputus dan terhambat oleh cegatancegatan
tangan Tong Ciak yang menerobos cepat bagai kilat.
Bagaimanapun juga Soa-hu-sin-kang yang diciptakan oleh
Kim-mou Sai-ong berdasarkan lembaran kulit domba itu masih
jauh lebih tinggi mutunya dari pada Ban-seng-kun (Pukulan
Selaksa Bintang) Tung-hai Nung-jin.
Toat-beng-jin dan para pengikut Im-yang kauw yang lain
melihat pula keadaan yang menguntungkan bagi Kauw Cu-si
mereka itu. Dengan hati tegang tapi gembira mereka
menonton pertempuran tingkat tinggi yang jarang bisa mereka
saksikan selama hidup. Diam-diam mereka juga semakin
mantap dan bangga terhadap Im-yang-kun yang mereka
pelajari, biarpun yang mereka ketahui dan mereka terima
sekarang baru bagian kulitnya saja.
Sedang Toat-beng-jin yang selama ini juga telah berusaha
mendalami ilmu itu menurut keyakinannya sendiri, sesekali
tampak mengangguk anggukkan kepalanya pula. Orang tua
itu mengagumi gerakan-gerakan Tong Ciak dalam memainkan
Soa-hu lian ciang. Biarpun belum pernah melihat gerakangerakan
itu tetapi orang tua itu seakan-akan sudah sangat
mengenalnya, sebab bagaimana pun juga ilmu itu tercipta dari
sumber yang sama dengan ilmunya, yaitu lagu yang tertulis
padu gulungan kulit domba itu !
Begitulah, beberapa saat kemudian pertempuran itu
semakin tampak berat sebelah. Meskipun bertangan kosong,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ternyata sepasang tangan Tong Ciak yang gesit itu secara
pasti dapat mengurung gerak pacul lawan yang ganas.
Sehingga tanpa dapat dicegah lagi gerakan gerakan pacul itu
semakin lama semakin ngawur dan tidak terkontrol lagi.
Pada suatu saat, ketika Tong Ciak meloncat keatas untuk
menghindari serangan pacul yang menghantam ke arah
kakinya, Tung-hai Nung jin memburunya dengan sabetan
yang berbahaya ke arah perut. Sementara itu butiran-butiran
keringat orang itu juga melesat bagai peluru-peluru kecil yang
mengikuti lajunya mata pacul tersebut.
Para penonton menahan napas, begitu pula Toat-beng-jin!
Serangan itu benar-benar sangat berbahaya ! Sungguh tak
mereka sangka, dalam keadaan terdesak orang bertubuh
kurus itu mampu membalas dengan serangan yang begitu
bagus. Maka dengan hati berdebar dan mata melotot mereka
memandang ke arah Tong Cu si, mereka ingin menyaksikan
cara bagaimana jago mereka itu menghindarinya.
Tapi semuanya menjadi pucat ketika Tong Ciak sama sekali
tidak berusaha menghindar dari sambaran pacul yang tinggal
sejengkal lagi dari perutnya itu. Seolah-olah tidak sadar akan
bahaya yang mengancamnya, Tong Ciak justru mengayunkan
sisi telapak tangannya ke arah kepala lawan.
Sekejap orang menjadi bertanya-tanya, apa sebenarnya
maksud tokoh bertubuh pendek tersebut. Benarkah dia tidak
menyadari bahaya itu? Ataukah dia memang ingin mengadu
jiwa? Atau ada maksud lain yang tersembunyi?
Tapi sungguh janggal rasanya kalau tokoh sakti seperti dia
sampai tidak tahu kalau ada bahaya yang mengancamnya.
Dan semakin janggal lagi rasanya kalau tokoh itu mempunyai
kehendak untuk mengadu jiwa, toh dia sudah berada di atas
angin saat itu. Oleh karena itu satu satunya kemungkinan
terakhir, yaitu memang ada sesuatu maksud tersembunyi di
balik segala keanehan yang dia lakukan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Agaknya Tung-hai Nung jin juga berpikir demikian.
Nalurinya yang telah ditempa oleh berbagai macam
pengalaman merasakan pula adanya keanehan itu, sehingga
mata pacul yang telah menembus pakaian lawan itu cepatcepat
ia lepaskan begitu saja. Lalu dengan tergesa ia
membuang tubuhnya ke belakang untuk menghindari pukulan
yang tertuju ke arah kepalanya. Kemudian dengan gerak tipu
Trenggiling Turun Gunung ia menjauhi lawannya.
"Brett....."
Mata pacul yang tajam itu benar-benar membabat perut
Tong Ciak dengan dahsyatnya. Apalagi ketika tangan Tung-hai
Nung jin telah melepaskan pegangannya, daya luncur dari
senjata itu semakin tampak menggiriskan. Dengan disertai
suara kain robek senjata itu melayang jauh keluar halaman
kuil, meninggalkan serpihan-serpihan kain yang berhamburan
di udara.
Sementara itu, Tong Ciak Cu-si yang ternyata tidak
mengalami luka sedikitpun tampak menggeliat di udara,
kemudian tubuhnya meluncur turun mengejar ke arah larinya
Tung hai Nung-jin. Semua gerakan yang ia perlihatkan itu ia
lakukan selama berada di udara, sedikitpun tak menyentuh
tanah, sehingga Toat-beng jin yang sedari tadi selalu
mengikuti semua gerakannya menjadi melongo.
"Ohh .... sungguh-sungguh hebat! Ini…. ini tentulah jurus
yang tertera pada lembar kedua belas atau ketiga belas! Aku...
aku sama sekali tak mengenalnya!" kakek itu bergumam
dengan terbata bata.
Sesungguhnyalah, karena ingin lekas-lekas mengakhiri
pertempuran itu, Tong Ciak telah mengeluarkan jurus Berasa
Mabuk di Atas Awan yaitu jurus yang dipetik dari syair lagu
pada lembar yang kedua belas. Itulah sebabnya Toat-beng jin
yang baru sampai pada lembar kesebelas sama sekali tidak
mengenalnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tung-hai Nung jin yang berguling-guling menjauh untuk
menghindari serangan lawan tampaknya semakin terpojok.
Tak ada kesempatan lagi baginya untuk memperbaiki
kedudukannya. Kedua tangan Tong Ciak seperti berubah
menjadi ribuan banyaknya dan semuanya tampak mengurung
dan memburu dia. Sehingga sekejap kemudian salah satu dari
bayangan tangan itu dapat memasuki pertahanannya dan
menghajar dadanya.
“Dukkkk !"
“Huaaaak!"
Tung hai Nung jin terpental dan roboh di samping
keponakannya. Dari mulutnya mengalir darah segar.
"Pamannn......" gadis cantik itu lekas-lekas berjongkok di
sampingnya dengan wajah pucat.
"Jangan khawatir, lukaku tidak parah ! Berdirilah !” Tung
hai Nung Jin membesarkan hati keponakannya, lalu dengan
tertatih tatih ia juga bangkit sambil menyeka darah yang
menempel di sudul bibirnya. Kemudian dengan berpegangan
pada lengan gadis itu, Tung-hai Nung jin menghadapi Tong
Ciak.
"Baiklah, kali ini aku mengaku kalah. Biarlah, pada lain
kesempatan aku akan menemui tuan kembali....." katanya
dengan meringis karena menahan sakit. "Nona Li Ing, marilah
kita pergi...!"
“Bagaimana dengan potongan emas itu, paman? Nanti
ayah marah....."
“Biarlah! Lain kali saja kita kembali ..."
Tung-hai Nung jin membalikkan tubuhnya, lalu dengan
diikuti oleh keponakannya ia melangkah pergi meninggalkan
tempat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toat-beng-jin segera meloncat menghampiri Tong Ciak Cusi.
"Hebat! Tong-hiante, kau benar-benar hebat! Eh, apakah
jurusmu yang terakhir tadi adalah jurus yang kauambil dari
kulit domba itu juga?"
Tong Ciak tersenyum kemalu-maluan. "Ah, Lo-jin-ong
terlalu memuji. Jurus tadi memang berasal dari lembar yang
ke duabelas, yaitu dari syair lagu bait pertama baris kedua
yang berbunyi Berasa mabuk di atas awan.... Tapi aku
sebenarnya belum merasa puas pada gerakanku tadi.
Seharusnya aku benar benar mematikan perasaan tatkala
menggeliat di udara, sehingga bagaikan orang yang sedang
mabuk aku benar-benar tidak mengacuhkan segala sesuatu
yang berada di sekitarku. Tapi saat itu ternyata aku masih
merasa takut pada ayunan cangkul Tung-hai Nung-jin,
menyebabkan gerakan selanjutnya menjadi tersendat.
Akibatnya, hampir saja orang itu lolos dari tanganku ...,"
Demikianlah, kedua tokoh Im-yang kauw itu segera
memerintahkan anak buahnya untuk membenahi tempat yang
rusak akibat pertempuran tadi. Kemudian sementara Toatbeng-
jin ikut bekerja, Tong Ciak menaiki tangga yang menuju
ke tempat patung perunggu. Dengan hormat sekali tokoh
bertubuh pendek itu berlutut di depan patung. "Kim mou Saiong
su-couw, terimalah hormat dari cucu muridmu.....Mogamoga
semua jurus Soa-hu lian-ciang yang kubawakan tadi
tidak mengecewakan su-couw....,” katanya menunduk.
"Tong-hiante, marilah kita masuk kembali kedalam kuil!"
terdengar suara Toat-beng-jin dari bawah.
Matahari merangkak semakin tinggi, sehingga panas yang
dimuntahkan juga terasa semakin menyengat. Toat-beng-jin
bersama sama Tong Ciak Cu si memasuki kamar yang
dipergunakan untuk merawat Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lo-jin ong, luka dalam pemuda ini benar benar parah
sekarang..... Eh, kenapa dia tadi sampai berada di halaman
samping itu? Apakah ia bermaksud melarikan diri dari kuil ini
?” Tong Ciak berbisik ketika telah berada di depan
pembaringan Yang Kun.
Toat beng jin menghela napas dan mengangguk.
"Ya.,, dia merasa tersinggung oleh perbuatan aku, sehingga
dia bermaksud meninggalkan kuil kita. Sebenarnya aku telah
meminta maaf padanya, tapi ia telah berketetapan hati untuk
pergi dari sini. Dan..... aku tak bisa lagi menahannya !
Akhirnya terjadilah peristiwa itu....”
Kedua orang tokoh Im-yang-kauw itu mengawasi Yang Kun
yang masih belum siuman dari pingsannya. Tampak oleh
mereka wajah pemuda itu amat pucat, pernapasannyapun
tidak teratur, malah terkadang kelihatan tersengal-sengal.
"Tong-hiante, pemuda ini mempunyai watak yang keras
hati. Jika kita menunggu dia siuman, kemungkinan besar kita
justru tidak akan dapat mengobatinya. Dia tentu akan
menolak maksud kita untuk mengobatinya. Oleh karena itu
lebih baik kita berusaha mengobatinya sekarang juga. Dengan
tenaga kita berdua kukira hasilnya akan lebih baik, tapi......"
Toat beng-jin menghentikan perkataannya sebentar, lalu, " . .
tapi kita harus berhati hati terhadap darahnya yang
mengandung racun mematikan!"
"Hah. ..!” Tong Cu-si terlonjak. Toat-beng-jin tersenyum.
“Tong-hiante.. ketahuilah........! Pemuda yang kita cari ini
mempunyai banyak keanehan pada tubuhnya. Pertama,
pemuda ini mempunyai lwee kang yang sangat tinggi,
melebihi Iwee-kang seorang ahli silat yang telah belajar
selama seratus tahun. Kedua, tanpa ia sadari ia hapal akan isi
gulungan kulit domba kita di luar kepala. Ketiga, darah yang
mengalir dalam tubuhnya ternyata mengandung racun ganas.
Tapi anehnya, sedikitpun ia tak terpengaruh oleh keadaan itu.
Seakan-akan ia telah kebal terhadap racun, atau... agaknya ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memang beracun sejak lahir seperti halnya binatang ular dan
kelabang !"
"Bagaimana Lo jin ong mengetahui semua itu ?..... Oh,
maaf! Pikun benar aku ini......! Tentu saja dengan Lin cui Sui
hoat (ilmu Tidur di Atas Permukaan Air), Lo-jin ong akan
mengetahui segalanya.....”
"Tong hiante, engkau jangan beranggapan seperti itu,
karena anggapan seperti itu benar benar salah sama sekali !
Mahir Lin cui Sui-hoat itu bukan berarti mengetahui segalanya.
Di kemudian hari Tong hiante akan kecewa apabila masih
mempunyai anggapan demikian, apalagi jika Tong-hiante juga
berniat mempelajarinya."
Tong Ciak berdiri diam tak bersuara, hanya kepalanya saja
yang mengangguk angguk mendengar keterangan Toat beng
jin itu.
“Sudahlah, Tong hiante...... lo-hu mengetahui semuanya
tentang pemuda ini bukan karena lo-hu mahir Lin-cui Sui hoat,
tapi karena lo-hu sudah mengikutinya sejak tiga hari yang lalu,
yakni dari tempat pengungsian orang-orang Hi-san-cung. Di
dusun itu pemuda ini telah membunuh tiga orang pengikut
Tiat-tung Kai-pang dan melukai dua orang gadis pembantu
Keh sim Siauw hiap dari Pulau Meng to. Kemudian di dekat
mata air baru yang muncul di seberang dusun Hok-cung ia
melukai Hek-eng cu pula. Sehingga ketika pemuda ini
menyelinap ke tengah-tengah para perampok yang menduduki
dusun Hok-cung, Io-hu mendahului langkahnya, menotok
pingsan para penjaga yang akan dilaluinya, agar supaya tidak
banyak kurban yang jatuh akibat pukulan beracunnya. Tapi
tak kusangka ketika berhadapan dengan pemimpin perampok,
pemuda ini justru mendapat luka yang parah malah !"
"Ohh.!" Tong Ciak terlongong-longong.
Tokoh Im-yang-kauw bertubuh pendek ini memang tidak
menyangka sama sekali kalau pemuda itu sedemikian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hebatnya. Membunuh pengikut Tiat-tung Kai-pang, lalu
melukai pembantu Keh-sim Siauw-hiap terus melukai lagi Hekeng
cu ! Sungguh menakjubkan, padahal semuanya adalah
orang-orang kuat dan telah punya nama di dunia persilatan.
Terutama Keh-sim Siauw hiap dan Hek-eng-cu!
Kedua buah nama yang terakhir itu adalah dua di antara
tiga nama yang sangat populer dan menjadi buah bibir kaum
persilatan selama lima tahun terakhir ini. Seperti telah
diketahui, sejak selesainya perang besar yang menumbangkan
kekuasaan Kaisar Chin lima tahun yang lalu, di dunia
persilatan muncul tiga orang jago muda yang kepandaiannya
benar benar amat menakjubkan. Ketiganya malang melintang
di dunia kang-ouw seperti malaikat saja karena kesaktiannya
yang hebat seperti dewa, sehingga selama ini belum pernah
terdengar mereka menemukan tanding. Mereka itu adalah
Hong gi hiap Souw Thian Hai, Keh-sim Siauw-hiap dan Hekeng
cu. Ketiga buah nama ini selalu menjadi pembicaraan
orang dan sangat ditakuti dimanapun mereka. Ketenaran
nama mereka benar benar menghapus dan mengungguli
ketenaran jago-jago tua yang selama ini hanya terdengar
namanya saja, karena jago-jago tua itu tak pernah
menampakkan diri mereka di dunia kang-ouw. Mereka Iebih
suka menyepi di tempat pertapaannya atau mengurung diri di
tempat tinggaInya yang terpencil.
"Pemuda ini telah melabrak para pembantu Keh-sim Siauwhiap
dan melukai Hek eng cu, tapi kenapa pemimpin
perampok yang menduduki desa Hok cung bisa melukainya ?
Apakah pemimpin perampok itu lebih lihai dari pada Hek engcu
?” Tong Ciak akhirnya bertanya kepada Toat beng jin.
"Sebab pemimpin perampok itu mempunyai seorang
pengawal yang hebat!”
"Heh? Siapakah dia.....?”
"Hong-gi hiap Souw Thian Hai!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hah…..?!?" Tong Ciak terperanjat.
"Entahlah, aku pun tak tahu, apakah sebabnya pendekar
muda itu sampai menjadi anggota perampok." Toat beng-jin
menerangkan.
"Apakah mungkin ingatannya terganggu kembali?"
"Terganggu? Eh, Tong-hiante .... apakah Tong-hiante
pernah bertemu atau mengenal dia sebelumnya?"
Tong Ciak bangkit dari kursinya. Sambil memeluk dada ia
melangkah berputar putar di dalam kamar. Matanya menatap
langit-langit sementara ingatannya tampak melayang layang
ke masa lalu. "Lo-jin-ong.... lo-jin-ong tentu belum lupa akan
cerita masa laluku sebelum aku kembali diterima sebagai
warga Im-yang-kauw," katanya dengan menghela napas
panjang sekali. "Dahulu aku adalah seorang Kepala Pengawal
Istana yang mendapat kepercayaan penuh dari Kaisar Chin Si
Hong-te untuk menjaga keamanan seluruh kompleks istana
beserta semua isi dan keluarga kerajaan yang berada di
dalamnya. Bersama Beng Tian Goan-swe (Jendral Beng Tian)
sebagai panglima balatentara kerajaan, aku dikenal sebagai
Sepasang Singa dan Harimau Kerajaan," tokoh bertubuh
pendek itu menghentikan lagi ceritanya, seakan-akan ingin
mengenang kembali masa kejayaannya dahulu. "Suatu saat
aku mendapat perintah yang tak akan pernah aku lupakan
seumur hidupku, yaitu perintah untuk mengawal seorang
tawanan penting keluar kota raja. Sebelum berangkat Baginda
Kaisar memesan dengan sangat agar aku melindungi tawanan
itu baik-baik, karena Baginda telah memperoleh khabar bahwa
Barisan Para Pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang (Kaisar
Han sekarang) akan berusaha membebaskan tawanan itu......"
“Bukankah tawanan itu adalah Menteri Ho Ki Liong?'' Toat
beng-jin menyela.
Tong Ciak terbelalak sebentar lalu mengangguk. "Benar!
..... Nah, ternyata peringatan yang diberikan oleh Baginda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
benar benar terjadi di tengah perjalanan. Barisan kami dicegat
oleh sekawanan pendekar yang dipimpin oleh murid wanita Liu
Pang yang bernama Ho Pek Lian. Tapi dengan mudah para
perajuritku mengalahkan mereka. Hampir saja kawanan
pencegat itu tertangkap semua ketika secara tak terduga kusir
kereta yang membawa tawanan kami itu memberontak dan
mengamuk. Bagai orang gila kusir itu menghajar siapa saja
yang berada di depannya, termasuk aku sendiri....." Tong Ciak
tidak meneruskan ceritanya, lalu matanya yang lebar itu
memandang ke arah Toat-beng jin. "Lo jin-ong tahukah Lo jinong....
siapakah kusir yang mengamuk itu?"
"Tentu saja Hong-gi hiap Souw Thian Hai!" Toat-beng-jin
menjawab cepat.
"Eh, mengapa Lo-jin-ong dapat menerka begitu tepat?"
"Haha.. . hal itu bukanlah suatu teka-teki yang sulit ! Dan
yang terang tidak perlu menggunakan Lin cui Sui-hoat segala.
Haha..... bukankah Tong-hiante hendak bercerita tentang
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai tadi ? Nah, mengapa aku harus
mencari jawaban yang lain.....?”
"Oh, iya! Lo jin ong benar juga."
Kemudian kedua tokoh tinggi Im-yang-kauw itu terdiam
dan tenggelam dalam arus pikiran masing masing.
“Sudahlah ! Kita tak usah bersusah-susah memikirkan
orang lain. Pendekar sakti seperti Souw Thian Hai, apalagi
sudah terkenal dengan julukannya Hong-gi-hiap (Pendekar
Gila Yang Berbudi), tentulah seorang yang mempunyai watak
yang aneh-aneh." Toat beng jin akhirnya berkata. "Tentu ada
maksudnya mengapa ia sampai bergabung dengan para
perampok seperti itu. Seperti juga yang hiante ceritakan tadi,
setiap orang juga tidak tahu apa sebabnya ia menyamar
sebagai kusir kereta.....Tong hiante, sekarang marilah kita
lekas-lekas mengobati pemuda ini saja, nanti keburu dia
siuman kembali!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, Lo jin ong benar....! Marilah !" Tong Ciak tergagap
seperti orang yang baru saja diingatkan pada sesuatu yang
sangat penting.
Demikianlah, dengan hati-hati agar mereka berdua tidak
terkena racun yang berada di dalam darah Yang Kun, kedua
tokoh Im-yang kauw itu berusaha mengobati luka si pemuda
dengan Im-yang kang mereka.
Sementara itu, tanpa mereka ketahui di luar kuil telah
terjadi pula suatu keributan yang mengakibatkan beberapa
orang mereka menjadi kurban lagi.
Telah diceritakan sebelumnya bahwa Tung hai Nung-jin
bersama keponakannya telah pergi meninggalkan kuil dengan
menanggung kekalahan yang memalukan. Tokoh bajak laut
yang semula amat yakin dengan kemenangannya karena
selama ini ilmunya hampir tak pernah mendapatkan lawan
yang berarti, ternyata dalam langkah pertamanya di daratan
Tiongkok kali ini sudah membentur batu karang yang amat
keras. Tokoh dari Lautan Timur itu melangkah lemas, diikuti
oleh keponakannya yang cantik tapi berwatak ganas itu.
"Kekalahan seperti itu saja mengapa mesti disesali !" tiba
tiba terdengar suara orang menegur dari pinggir jalan.
Tung hai Nung-jin dan keponakannya cepat berbalik
dengan tangan telah berada di atas tangkai senjata masingmasing.
Dengan tajam mereka memandang ke arah laki-laki
muda berpakaian putih-putih dan laki laki bertubuh besar
berjenggot lebat yang berdiri tenang di bawah pohon siong
tua di pinggir jalan. Mereka belum begitu jauh dari bangunan
kuil.
"Saudara berbicara dengan kami ?" Tung-hai Nung jin
menggeram menahan marah. Agaknya pengalamannya tadi
membuat tokoh ini bersikap lebih hati hati sekarang.
"Hmm, tidak keliru ! Merasa tersinggung?" laki-laki yang
berbaju putih menjawab seenaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gila! Tokoh bajak laut yang garang itu kini benar-benar
mengumpat di dalam hati. Jantungnya seolah-olah terbakar
dengan mendadak! Biasanya dialah yang selalu bersikap
demikian terhadap orang lain. Sungguh tidak ia sangka
kekalahan yang dideritanya tadi seakan-akan menjadi titik
tolak dari keruntuhannya, sehingga semua orang seperti
meremehkan dirinya.
"Kau memang bosan hidup!" teriaknya keras menyertai
paculnya yang melayang ke depan ke arah muka lawan.
"Pamannn . .!” keponakannya berusaha mencegah, tapi
mana mau orang yang sedang marah itu berhenti?
"Hahaha .... gadis cantik, jangan khawatir ! Pamanmu yang
sudah lemah ini tidak akan kubunuh, asalkan….." laki-laki
berbaju putih yang tidak lain adalah Song-bun kwi Kwa Sun
Tek itu tidak meneruskan kata-katanya.
"Bangsat ! Laki laki ceriwis! Kau ingin berlaku kurang ajar
kepadaku?" gadis cantik itu melotot. ''Jangan bermimpi! Kipas
besiku ini akan mengirim nyawamu ke alam baka......"
"Hahaha. .. Wan - locianpwe, lihatlah gadis ini ! Sungguh
cantik dan garang! Sayang kita sedang mengemban tugas dari
Ong-ya, kalau tidak .... wah,, enak juga rasanya bermain main
dengan nona yang begini cantik." Song-bun-kwi berseru
sambil mengelak dari sambaran pacul.
"Ah, Kwa sicu ini sungguh suka sekali bergurau. Mana mau
gadis demikian manisnya bergaul dengan orang tua seperti
aku? Kalau aku sih lebih suka meminta potongan emas yang
disimpan oleh pamannya itu, hehe…..”
"Tentu saja, Wan-locianpwe! Kita ke sini kan juga untuk
benda tersebut."
Pacul Tung hai Nung jin menyambar-nyambar bagai elang
mencuri mangsa, meski begitu Song-bun kwi tampak masih
enak-enakan. Laki-laki muda berbaju putih itu mengelak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kesana kemari sambil mengobrol, seakan serangan lawannya
yang bertubi-tubi itu tak berbahaya sama sekali baginya. Baru
setelah mata pacul yang tajam itu menggores lengan bajunya
hingga sobek, Song bun-kwi terkejut.
"Huh ! Tak kusangka engkau mempunyai kepandaian juga
barang sedikit. Tak heran tokoh Im-yang-kauw yang berbadan
pendek tadi mengalami kesukaran untuk menundukkanmu."
Song bun kwi menggeram pelan sambil mengamat amati
lengan bajunya yang sobek. "Tetapi hati hatilah,, kini engkau
berhadapan dengan orang Tai-bong-pai. Sekali saja engkau
salah langkah, maka nyawalah taruhannya .,...!"
"Cuh!” Tung hai Nung jin meludah, untuk menunjukkan
kepada lawan bahwa dia juga tidak merasa gemetar atau
takut sedikitpun. Baju luarnya yang longgar itu ia lepaskan
perlahan-lahan.
"Paman, kau baru saja terluka." gadis cantik itu sekali lagi
menahan tangannya. "Biarlah keponakanmu saja yang
menghadapinya..,”
"Li Ing, kau minggirlah ! Kaulihat saja pamanmu…..!”
Melihat lawannya telah melepaskan bajunya, Song bun kwi
tidak berani bermain-main pula. Tadi secara sembunyi
sembunyi telah ia saksikan kepandaian orang itu ketika
melawan tokoh Im yang-kauw yang bernama Tong Ciak. Maka
iapun segera melepaskan ikat pinggang yang melilit perutnya.
Sebuah ikat pinggang yang terbuat dari kulit ular yang ulet, di
mana pada ujungnya dipajangi alat pengikat yang terbuat dari
besi baja!
Dan sesaat kemudian pagi yang indah itu telah diributkan
pula dengan suara pertempuran mereka yang sangat seru.
Masing-masing menampilkan kepandaian mereka yang hebat
dan dahsyat.
Seperti ketika melawan Tong Ciak Cu-si, Tung hai Nung-jin
mengayun paculnya dalam ilmu Ban-seng-kun yang luar biasa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu. Senjata panjang itu berkelebat cepat di udara dan
bergerak gesit di segala tempat, sehingga dari jauh seperti
bintang berekor yang beralih tempat dari sudut ke sudut
langit.
Sedang Song bun-kwi Kwa Sun Tek juga bersilat dengan
tidak kalah garangnya. Ikat pinggang kecil yang lemas itu
dalam tangannya menjadi senjata pembunuh yang amat
mengerikan. Alat pengikat yang terbuat dari besi baja itu
tampak menyambar nyambar ganas disertai suara mengaung
yang menggiriskan. Jangankan hanya manusia yang terdiri
dari kulit dan daging, sedang batu karang yang keraspun
hancur tersabet oleh ikat pinggang itu.
Pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya sehingga
debu di sekitar mereka menjadi berhamburan, mengepul
tinggi di udara, membuat kaget beberapa orang pengikut Imyang-
kauw yang mau pergi ke sungai untuk mencari air.
Dengan tergesa-gesa empat orang Im yang-kauw berlari ke
tempat pertempuran. Masing-masing menyiapkan tongkat
pemikul airnya, kalau - kalau diperlukan nanti.
"Hei ! Hei ! Berhenti ! Jangan berkelahi di tempat suci
ini.....!" teriak mereka beramai-ramai.
Tapi pertempuran itu mana mungkin dapat dihentikan lagi
sebelum salah seorang dari mereka terkalahkan. Masingmasing
tentu tidak mau menarik diri dan menghentikan
serangannya, karena hal itu berarti memberi kesempatan
kepada lawan untuk menyerang dirinya secara mudah.
"Hahaha .... sudahlah! Biarkanlah mereka bertempur
sampai selesai !" orang yang dipanggil dengan nama Wanlocianpwe
itu tertawa.
“Tapi tempat ini adalah tempat suci dan masih termasuk
wilayah kuil kami........" salah seorang penganut Im yangkauw
itu menerangkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ah, kalian lebih baik melihat saja di sini bersama aku.. .!
Jangan membuat jengkel kami !” Wan locianpwe mengerutkan
keningnya.
"Kurang ajar! Kalian ini memang orang-orang liar yang tak
tahu kesopanan !" kata pengikut Im-yang-kauw itu. Tongkat
yang dipegangnya meluncur deras ke arah pertempuran,
maksudnya untuk memisahkan kedua jago yang sedang
berkelahi itu.
"Hei ! Telah kukatakan tadi, jangan ganggu mereka !
Mengapa kalian tetap tidak mau mengindahkan perkataanku
itu?" orang she Wan yang datang bersama dengan Song-bunkwi
itu berseru marah. Lengannya yang besar dan berbulu
lebat itu memukul dengan tangan terbuka ke arah tongkat
yang meluncur. Terdengar suara hembusan angin yang kuat,
yang meluncur keluar dari telapak tangan yang terbuka itu.
Dan di Iain saat terdengar suara letupan kecil yang
mengakibatkan patahnya batang tongkat itu menjadi beberapa
bagian.
"Krek! Krakk!"
Pelempar tongkat itu dan teman temannya melongo
menyaksikan hebatnya pukulan lawan. Orang bertubuh besar
itu hampir tidak menggerakkan kakinya dan jarak antara dia
dengan tongkat itu masih terpaut sekitar sepuluh langkah, tapi
hawa pukulannya ternyata sudah mampu mematahkan
tongkat pemikul air. Maka dapat dibayangkan betapa tingginya
ilmu silat orang itu.
Tetapi mengingat mereka masih berada di kandang sendiri,
apalagi terdiri dari banyak orang, maka keempat orang Imyang
kauw itu segera menghapus rasa ketakutan di hati
mereka. Dengan garang salah seorang dari mereka melangkah
maju.
"Kurang ajar! Bagaimanapun hebatnya kepandaianmu, tapi
sekarang kau sedang berada di wilayah kami. Kau tidak dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertindak sesuka hatimu sendiri..... Nah, sekarang hentikan
pertempuran mereka ! Kalau tidak kami akan bertindak sesuai
dengan peraturan yang berlaku di sini."
"Hmmh!” orang she Wan itu menggeram semakin marah.
"Orang bermata buta ! Meski pun kini aku sedang berada di
wilayah kalian, tetapi kalian juga harus tahu siapa pula aku ini
.. !"
“Kami tidak peduli pada siapa pun ... !”
"Kalian sama sekali juga tidak peduli kalau aku dan
kawanku itu orang Bing-kauw?" orang bertubuh besar itu
mulai memasang aksi.
Benar juga. Ucapan orang itu yang mengaku sebagai
anggota Aliran Bing-kauw, benar-benar mengejutkan empat
orang Im yang-kauw tersebut. Peristiwa menyedihkan yang
mengakibatkan matinya salah seorang dari kawan mereka
pada hari kemarin masih sangat membekas di dalam hati
mereka. Untung pada saat itu secara kebetulan Toat-beng jin
segera tiba di kuil mereka, sehingga luapan kemarahan
mereka dapat segera dibendung oleh pemimpin mereka itu.
Coba kalau tidak, mungkin mereka telah pergi meluruk ke
pusat perkumpulan Aliran Bing kauw dan mengamuk di sana.
Kini secara tiba-tiba ada orang yang bersikap sombong
yang mengaku sebagai anggota Aliran Bing-kauw di depan
mereka, maka dari itu tidak heran kalau kemarahan mereka
tiba-tiba saja juga meledak tanpa dapat dikendalikan lagi.
Hampir berbareng keempat orang tersebut melesat menerkam
ke arah laki laki yang mengaku sebagai orang Bing-kauw
tersebut.
"Bangsat! Kemarin kawanmu sudah berani membunuh
pimpinan kuil kami, sekarang kalian masih berani berkeliaran
di sini.....Lihat serangan!"
"Hahahe..... kerucuk-kerucuk (orang dari tingkat rendahan)
macam kalian ini masih juga berani berlagak di depanku... .”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sungguh mengagumkan sekali gerakan orang yang
bertubuh besar itu. Demikian berat badannya tapi gerakannya
ternyata gesit sekali. Sekali menjejakkan kaki tubuh yang
sebesar gajah itu melesat ke atas, melampaui kepala lawanlawannya,
lalu dengan enteng serta tidak mengeluarkan suara
kakinya mendarat di belakang para penyerangnya. Kemudian
dari tempat itu ia membalas serangan lawan dengan jari
jarinya yang terbuka seperti tadi. "Wuuuuuuus…..”
Keempat orang Im-yang kauw terkejut setengah mati,
mereka tidak mengira kalau gerakan lawan begitu enteng dan
gesit. Oleh karena itu mereka menjadi kelabakan begitu
musuh telah berada di-belakang mereka dan kini justru sudah
mengirim pukulan jarinya yang menggiriskan itu.
Dan kelalaian mereka ini sungguh mencelakakan diri
mereka. Tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk
mengelakkannya. Orang itu hanya berjarak kurang lima
langkah dari tempat mereka berdiri, sedang batang tongkat
yang berjarak sepuluh langkahpun telah hancur dilanda
pukulan orang itu. Satu-satunya jalan hanya mengerahkan
tenaga sakti mereka masing-masing untuk bertahan.
"Hah! Sss,… ouughhh.. !" Jari jari orang she Wan itu tidak
sampai menyentuh punggung lawannya, tapi keempat orang
lm-yang-kauw itu merasa seperti disodok oleh benda tumpul
yang amat keras, sehingga pemusatan tenaga mereka menjadi
buyar dan tersungkur ke depan tak berdaya. Blukk!! Tak
ampun lagi mereka berempat terjerembab ke atas tanah dan
tak bisa bangun kembali. Dari mata, telinga, hidung dan mulut
mereka mengeluarkan darah. Hanya seorang saja yang
agaknya masih diberi kesempatan untuk hidup oleh orang
yang mengaku datang dari Bing kauw tersebut.
"Ohh ..... kau,.,. kau be - berani membunuh ka-kami.....?"
orang yang masih bernapas itu merintih.
"Hahaha….. mengapa tidak berani? Tak seorangpun yang
kami takuti di dunia ini, apalagi seperti kalian.....! Bukankah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedua orangku kemarin telah datang pula ke tempat ini untuk
mengobrak-abrik kuilmu ? Haha, kini kau pun masih kuberi
kesempatan untuk melaporkan kejadian ini. Nah, pergilah !”
"B baik-lah......! Kau...... kau jangan pergi dahulu!
Kebetulan Lo.... Lo-jin-ong..... a ada di...sini, ka-kalian akan ttahu
rasa,.. nanti! Ough .. ..!?!" dengan lemah orang itu
merangkak pulang ke kuilnya.
“Hahahaha..... kaulaporkan kepada setan manapun aku
tidak peduli. Kepada Lo jin ong atau kepada Siauw jin ong.
terserah ... ha ha…!'' orang she Wan itu tertawa gelak gelak.
Sementara itu pertempuran antara Tung hai Nung-jin
dengan Song-bun-kwi sudah mencapai titik puncaknya. Kedua
tokoh silat berkepandaian tinggi itu telah mengeluarkan segala
macam ilmu silat andalan mereka. Masing masing telah
mengeluarkan semua kemampuannya, karena masing-masing
juga tahu bahwa lawan yang mereka hadapi kali ini benar
benar bukan lawan sembarangan. Sayang karena Tung-hai
Nung jin sudah mengalami luka terlebih dahulu, maka lambat
laun tenaganya mulai terganggu. Pada setiap benturan tenaga
yang terjadi, rasanya luka yang dideritanya tampak semakin
bertambah parah.
Keadaan itu dilihat pula oleh Tiauw Li Ing, keponakan Tung
hai Nung jin yang berwajah molek tapi berwatak sadis itu.
Dengan cepat gadis itu menyembuyikan sepasang kipas
besinya di balik ujung lengan bajunya yang lebar, lalu
perlahan-lahan ia melangkah mendekati pertempuran.
"Dukkk!”
Kedua buah lengan mereka kembali saling beradu di udara,
dan sekali ini Tung-hai Nung-jin tampak terhuyung-huyung
mau jatuh. Wajahnya kelihatan pucat sekali. Dan meskipun
keringat maut yang keluar dari tubuhnya masih saja mengalir
dengan derasnya, tapi warna keringat itu telah berubah
menjadi kemerahan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Phang su-siok (paman Phang)..... !" Li lng berlari
mendekati.
"Gila ! Setan ! Ilmu orang ini benar-benar tidak boleh
dipandang enteng. Perguruan Tai bong pai memang hebat!
Sayang aku sudah terluka lebih dahulu, kalau tidak... huh
jangan harap Pukulan Pengisap Darahnya dapat melukai diriku
!" katanya sambil melepaskan tangan Tiauw Li Ing yang
memegang lengannya. "Li Ing, kau minggirlah!”
“Paman, lukamu.,..."
"Ha-ha ha ha...., asal kalian berikan potongan emas itu
kepada kami, kami akan mengampuni nyawamu," sekali lagi
orang she Wan itu tertawa gelak-gelak.
"Bangsat busuk majulah kalian berbareng, Tung hai Nung
jin tidak akan mundur selangkah-pun ! Dan...... dengarlah,
aku tidak akan menyerahkan benda itu kepada kalian ! Cuh !!"
Tung hai Nung-jin tak mau kalah teriak. Kemudian tanpa
memberi peringatan lagi paculnya menyambar ke depan
dengan dahsyatnya.
Tapi Song-bun kwi juga telah bersiap-siap sejak tadi. Maka
begitu terlihat olehnya tangkai pacul itu bergerak ke arahnya,
iapun segera melejit ke samping dengan gesitnya. Dan
sebelum lawannya menyusuli lagi serangannya, putera ketua
Tai-bong-pai itu telah mengubah cara bersilatnya.
Kalau semula tokoh Tai-bong pai itu bersilat dengan
gerakan-gerakan yang kuat dan mantap, kali ini gerakannya
berubah menjadi sebaliknya. Tubuhnya yang berdiri tegak itu
bergerak kaku seperti boneka wayang di atas panggung,
kadang-kadang malah bergoyang-goyang seperti mau jatuh
terjerembab ke atas tanah.
Ilmu silat Tung - hai Nung - jin sendiri adalah ilmu silat
yang aneh dan mengerikan, tapi melihat ilmu silat Song-bun
kwi tokoh bajak laut itu tetap saja merasa seram di dalam
hatinya. Dengan dahi berkerut jago dari Lautan Timur itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengamat-amati ilmu silat Song-bun kwi tanpa berkedip "Hiiiiii
....."
Tiba-tiba tubuh yang bergerak kaku itu meluncur ke arah
Tung hai Nung jin dengan kepala terlebih dahulu. Tentu saja
gerakan yang mendadak ini benar-benar sangat mengejutkan
tokoh bajak laut tersebut. Apalagi serangan dengan kepala
seperti itu benar-benar amat aneh dan baru kali ini dilihatnya.
Selain terasa aneh rasanya juga membingungkan pula !
Tapi Jago silat dari Lautan Timur itu tak mempunyai banyak
waktu untuk menduga-duga maksud gerakan lawan, karena
sekejap kemudian serangan itu telah berada di depan
matanya. Otomatis pacuI yang telah siap di atas kepala itu
diayun ke depan untuk menghantam kepala yang meluncur
datang.
"Wuut !" pacul itu membelah udara dengan derasnya.
"Duukk !" pacul tersebut menghantam dengan kuat sekali !
Tetapi bukan kepala lawan yang terkena mata pacul,
melainkan tanah yang berada di depan Tung hai Nung-jin
sendiri.
"Gila!" Tung-hai Nung jin mengumpat. Matanya nyalang
mencari kepala lawan yang lenyap secara mendadak.
"Hi-hi-hi..... jangan bingung! Aku ada di sini!” tiba tiba
terdengar suara Song-bun-kwi di belakangnya.
Tanpa menoleh lagi Tung hai Nung jin menyabetkan
paculnya ke belakang. Tapi sekali lagi pacul itu menemui
tempat kosong, karena lawannya dengan sigap telah
menjatuhkan diri dengan terlentang di atas tanah seperti
sesosok mayat yang terkapar di pekuburan!
Sekali lagi Tung-hai Nung-jin terperanjat menyaksikan
keanehan dan kehebatan ilmu lawan. Kembali paculnya
menghantam ke arah tubuh yang tergeletak kaku tersebut.
"Dukk!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tubuh itu menggelinding ke kanan dengan cepat sehingga
sekali lagi pacul itu menghantam tanah. Debu berhamburan
menggelapkan udara di sekitar tempat itu. Dan di lain saat,
sebelum asap debu itu lenyap disapu angin, tiba-tiba
terdengar suara teriakan Tung hai Nung-jin yang menyayat
hati.
"Aaaaaaaa....... !"
“Phang su-siok..... !" Tiauw Li Ing melesat ke depan
menyongsong tubuh pamannya.
"Li Ing..... lu-lukaku b-benar parah sekarang....Sayang
benda itu terpaksa harus kita... kita be... berikan…" Tung-hai
Nung jin menatap keponakannya dengan terengah-engah.
Tangannya merogoh dan mengeluarkan potongan emas dari
saku celananya. "Nih ! Kau…. Kaube….berikan kepadanya...!"
“Tidak ! Biarlah aku yang menghadapinya sekarang!" gadis
itu berkata tegas. Perlahan lahan kepala pamannya ia letakkan
di atas rumput.
Tapi Tung-hai Nung jin lekas-lekas menyambar lengan
gadis itu.
"Li Ing, kau jangan terlalu sembrono ! Dia bukan lawanmu,
apalagi dia masih ada kawannya. biarlah kita mengalah saja
hari ini. Lain kali kita datang lagi dengan ayahmu beserta
seluruh kekuatan kita....heh heh ..."
"Tapi..." gadis itu masih penasaran.
"Sudahlah! Be-berikanlah saja benda ini ….!"
"Hahaha.... bagus, pamanmu itu memang benar. Mari,
berikan benda itu kepada kami ! Dan..., kami akan menepati
janji, kalian boleh pergi dengan bebas!" Song-bun kwi yang
hamper tidak pernah tertawa itu ikut membujuk.
Gadis itu berdiri termangu mangu sambil memegang
potongan emas itu erat-erat. Barulah sesaat kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepalanya yang molek itu mengangguk. "Baiklah! Kuberikan
benda ini kepadamu.... Tapi ingat! Sebulan lagi kami akan
mencari kalian untuk mengambilnya kembali!"
Dengan sebat gadis itu melemparkan potongan emas
tersebut ke batu karang yang berada di depannya. Kraash!
Potongan emas yang lunak itu menancap ke batu karang
dengan kuatnya. "Ambillah......!" geramnya.
"Wan Locianpwe, kita harus cepat cepat meninggalkan
tempat ini pula. Jangan sampai siasat yang kita lakukan ini
keburu ketahuan orang-orang Im-yang-kauw.” Song bun kwi
mengajak kawannya, setelah kedua korbannya tadi lenyap
dari pandangan mereka. Dengan tangkas tubuhnya yang
kurus itu melesat menghampiri batu karang. Lalu mencabut
potongan emas yang tertancap di sana dengan dua buah
jarinya saja. "Hahaha… Ong-ya kita benar-benar beruntung.
tanpa diduga telah memperoleh dua buah potongan emas
yang berisi peta tempat penyimpanan harta karun. Agaknya
perjuangan kita kali ini memang benar-benar akan berhasil !"
"Tentu saja, Kwe-hiante! Hahaha.... marilah kita segera
pergi dari sini ! Sebentar lagi para penghuni kuil itu tentu akan
berdatangan kemari, dan pemuda bekas majikanku itu bisa
menggagalkan rencana kita kalau dia melihat serta
mengenalku nanti."
"Ah, dia tentu berbaring saja di tempat tidurnya. Bukankah
ia telah terluka parah oleh pukulan Tung hai Nung jin tadi?
Nah, sudahlah... marilah ouugh, aduuhh...!" tiba-tiba Songbun-
kwi berteriak tinggi sambil membanting potongan emas
yang dipegangnya.
"Kwa sicu, ada apakah...?” kawannya tersentak kaget.
"Setan busuk iblis kuntianak…..!" Song-bun-kwi
mengumpat-umpat dengan kasar sekali. Tangannya dengan
cekatan mengambil pisau, lalu memotong kedua buah jarinya
yang tadi memegang potongan emas itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan mata melotot orang she Wan itu melihat potongan
jari kawannya yang jatuh di atas tanah. Potongan jari tersebut
warnanya sudah berubah menjadi kebiru-biruan, sedang
tulang yang berada di dalamnya sudah remuk bagai tepung.
"Gila! Racun apa pula itu?" katanya serak, "Wan Locianpwe.
lihat....! Hampir saja tulang-tulangku remuk menjadi tepung
kalau aku tidak cepat cepat memotong jari tanganku !
Sungguh ganas sekali gadis itu !" Song-bun-kwi menggerutu
sambil membalut lukanya. Beberapa kali ia mengamati-amati
jari tangan kanannya yang kini tinggal tiga buah jari saja.
"Sudahlah, Kwa-sicu…. Kau tak usah terlalu menyesali jari
tanganmu itu. Anggap saja sebagai pengorbanan terhadap
perjuangan kita. Lihat! Jari-jari tangankupun sudah tidak utuh
pula lagi ! Semuanya kukorbankan demi suksesnya sandiwara
yang diperintahkan oleh ongya kita, yaitu untuk memancing
pengakuan dari mulut Chin Yang Kun tentang Cap Kerajaan
itu. Ah... Kwa-sicu, engkau tentu belum melupakan peristiwa
yang terjadi di gedung Si Ciangkun setahun yang lalu, bukan ?
Yaitu ketika pertemuan kita itu diketahui oleh pasukan
pemerintah, sehingga kita lalu dikepung oleh Yap Tai-ciangkun
?"
"Wan Lo-cianpwe memang benar,., ! Marilah kita segera
meninggalkan tempat ini !" Song-bun-kwi mengiyakan. Lalu
dengan saputangan diambilnya potongan emas yang ia
banting tadi. Dan sekejap kemudian mereka telah lenyap
diantara rimbunnya pepohonan yang tumbuh di lereng bukit
tersebut.
Sementara itu kedatangan orang Im-yang kauw yang
terluka parah itu sungguh-sungguh sangat mengagetkan
semua penghuni kuil lainnya. Orang-orang yang kebetulan
berada di pendapa segera berlarian menolong dan
mengangkatnya masuk. Beberapa orang diantara mereka
segera berlari ke dalam, melaporkan hal itu kepada Toatbeng-
jin dan Tong Cu-si.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua tokoh Im yang-kauw yang baru saja selesai
mengobati Chin Yang Kun itu bergegas pula mengikuti anak
buahnya, setelah lebih dahulu menyuruh salah seorang untuk
menunggu Yang Kun. Dengan berlari lari kecil mereka
melintasi halaman tengah lalu meloncat ke pendapa di mana
orang yang terluka parah itu dibaringkan.
Salah seorang yang berada di tempat itu segera memberi
laporan, bagaimana mereka melihat dan menolong kawan
mereka yang terluka itu serta membawanya ke pendapa.
Sayang karena lukanya amat parah, sampai kini orang itu
belum bisa memberi keterangan apa apa.
Sambil mengangguk-angguk Toat beng-jin dan Tong Ciak
Cu-si memeriksa luka yang diderita oleh anak buahnya
tersebut. Begitu selesai keduanya tampak saling memandang
dengan dahi berkerut.
“Lagi lagi korban pukulan tenaga sakti yang ampuh.... "
Tong Ciak Cu si bergumam.
“Benar... semacam Pek-khong ciang (Pukulan Udara
Kosong)," Toat beng jin mengangguk. "Hanya entah..... tokoh
sakti mana yang telah berbuat ini ?”
Maka begitu orang itu dapat membuka kembali matanya
dan dapat diajak berbicara kembali, Toat beng jin bergegas
menanyakan seluruh persoalannya. Dan meskipun dengan
tersendat-sendat orang itu akhirnya bisa juga menceriterakan
semua kejadian yang telah ia alami bersama ketiga kawannya.
"Kurang ajar! Biarlah aku yang pergi ke sana untuk
melabrak mereka !" tiba-tiba Tong Ciak melesat keluar
pendapa dan berlari menuruni bukit.
"Tong hiante. tunggu.....!" Toat-beng-jin melesat keluar
pula. " .., Kita berangkat ke tempat itu bersama - sama......!"
Bagaikan sepasang burung walet yang sedang mandi
cahaya matahari pagi, kedua jago Im-yang-kauw tingkat atas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu berkejaran, menuruni lereng dan jurang yang curam
dengan ginkang mereka yang hebat. Mereka sengaja
mengambil jalan memintas sekalipun daerah yang mereka lalui
sangat terjal dan berbahaya.
Tapi tempat itu telah sepi. Tak seorangpun yang tampak di
sana selain ketiga sosok mayat dari anak buah mereka yang
mati itu. Mereka memang melihat bekas-bekas dari
pertempuran tersebut, tapi orangnya sudah tidak tampak lagi
di sana.
"Iblis pengecut!" Tong Ciak Cu-si memaki dengan hati
kesal.
“Tong-hiante.. sudahlah ! Mari kita urus mayat mayat
kawan kita ini dahulu!"
"Sebentar, Lo jin-ong... ! Belum puas rasanya kalau belum
menemukan orang itu!" Tong Ciak menyahut penasaran, lalu
tubuhnya yang pendek itu melesat lagi ke depan dan
menghilang di balik rimbunnya daun.
Toat beng-jin hanya mengawasi saja kepergian kawannya
dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tong Cu-si ini
memang bersemangat sekali ! Agaknya dia benar-benar
merasa penasaran dan marah., . "
Sambil menyeret dan mengumpulkan mayat-mayat itu,
Toat-beng-jin mengamat-amati bekas-bekas pertempuran di
sekitarnya. Tampak oleh orang tua itu bekas-bekas sepatu
yang melesak dalam ke dalam tanah, suatu tanda bahwa
lwee-kang dari orang orang yang bertempur tadi sangatlah
tingginya. Selain itu tampak beberapa bongkah batu karang
yang pecah atau terbelah akibat gempuran senjata. Begitu
pula semak-semak dan tanaman yang tumbuh di tempat itu,
semuanya rusak, seperti baru saja dilanda angin topan yang
maha dahsyat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Huh, kurang ajar benar!" terdengar suara umpatan. Dan
sesaat kemudian bayangan Tong Ciak Cu-si telah berkelebat
tiba.
''Ketemu?" Toat-beng-jin menyapa.
Tong Ciak mengepalkan tinjunya kuat kuat, sehingga bukubuku
tangannya mengeluarkan suara gemeretak. "Tidak!
Pengecut-pengecut itu telah melarikan diri, ..!" ia menggeram
dan menggeleng keras keras. "Lo jin-ong, menurut pendapat
Lo-jin-ong..... apakah mereka sungguh-sungguh orang Bing
kauw?"
Toat-beng jin berdiri tegak. Matanya yang hampir tertutup
oleh alis yang berjurai panjang keputihan itu, menatap ke
puncak bukit dengan pandang mata kosong. Lalu dengan
diikuti oleh tarikan napasnya yang berat orang tua itu
menjawab pelan.
"Entahlah! Aku tidak bisa menerkanya ... Hanya dalam hati
aku merasa bahwa kita harus berhati-hati dan tidak boleh
gegabah dalam mengurus persoalan ini.”
"Lalu ... bagaimana kita akan menyelesaikan persoalan
yang semakin meruncing ini? Belum juga orang kita yang
terbunuh kemarin dimakamkan, sekarang orang.....Bing kauw
telah membunuh lagi."
Toat-beng-jin kelihatan resah juga hatinya. Beberapa kali ia
mengusap-usap jenggotnya yang panjang.
"Menurut penuturan orang kita yang terluka parah itu,
lawan dari Tung-hai Nung-jin adalah seorang yang bertubuh
kurus dan berpakaian putih-putih. Sedangkan orang yang
melukai dia dan membunuh kawan-kawannya adalah seorang
laki-laki tinggi besar berbulu lebat pada lengan dan dadanya.
Hmmm..... Tong-hiante, pernahkah engkau mendengar atau
melihat tokoh Bing kauw yang berperawakan seperti itu?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tong Ciak mengerutkan dahinya untuk mengingat-ingat,
tapi rasa-rasanya ia memang belum pernah melihat tokoh
Bing-kauw yang mempunyai ciri badan seperti itu.
"Aku belum pernah berkenalan dengan tokoh tokoh Bing
kauw sampai sekarang," jawabnya pelan. ". . Meskipun begitu
selama ini rasanya aku belum pernah mendengar seorang
tokoh Bing- kauw yang mempunyai ciri demikian. Tapi....?"
"Tapi..... apa, Tong-hiante?"
"Tapi siapa tahu orang itu baru saja masuk menjadi
anggota Aliran Bing kauw dan menjadi tokoh baru di sana?"
Toat-beng jin membanting pandangannya ke tanah.
Dengan lesu ia mengangguk-angguk.
"Mungkin juga ! Orang aneh seperti Put ceng li Lo jin
memang sukar diduga maksud dan perbuatannya. Apalagi ia
seorang tokoh yang tidak pernah mengindahkan segala
peraturan umum….”
"Memang benar." Tong Ciak mengangguk pula
membenarkan. "Orang tua itu memang selalu melakukan
perbuatan yang berlawanan dengan adat-istiadat
umum.....Berita terakhir yang aku dengar, kakek yang sudah
mau masuk ke liang kubur itu kini kawin lagi dengan seorang
gadis remaja dan mempunyai seorang anak.”
Toat-beng jin tersenyum geli, sehingga matanya yang sipit
itu semakin hilang tersembunyi dalam kerumunan bulu mata
dan alisnya yang lebat.
"Kalau aku tak salah umur Put-ceng li Lo jin itu sembabat
dengan umurku..... Tapi kemauan manusia memang tidak
sama satu sama lain dan umur bukanlah merupakan
ukurannya……!" orang tua itu memberi komentar.
“Lo jin ong.....! Tong Cu-si......!" dari jauh tiba tiba
terdengar suara anak buah mereka yang ikut pula mengejar
ke tempat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Oh, mereka telah datang! Sungguh kebetulan, biarlah
mereka membawa mayat mayat ini ke kuil...." Toat beng jin
berdesah lega.
Kemudian mereka berdua segera meninggalkan tempat itu,
setelah lebih dahulu menyongsong kedatangan orang-orang
tersebut.
"Kami tidak mendapatkan lagi pembunuh-pembunuh itu di
tempat ini. Mereka telah pergi melarikan diri. Kami hanya
menemukan mayat-mayat kawan kita...... Nah, bawalah
pulang mayat-mayat itu ! Kami akan berangkat lebih dahulu.”
Demikianlah, Toat-beng-jin dan Tong Ciak merundingkan
persoalan yang menimpa perkumpulan agama mereka
bersama sama. Apa yang harus mereka lakukan dan mereka
tempuh sehubungan dengan musibah yang menimpa kuil
cabang mereka di Bukit Delapan Dewa tersebut!
"Tong hiante! Baiklah, semuanya ternyata masih sangat
gelap bagi kita. Oleh karena itu kita lebih baik pulang ke
Gedung Pusat terlebih dahulu dan mengadakan musyawarah
dengan Tai-si-ong dan para Penasehat Agama yang lain......”
Tokoh bertubuh pendek itu tampak kecewa bukan main.
Sebenarnya ia bermaksud untuk secara langsung menemui Put
ceng-li Lo-jin dan menanyakan tentang persoalan itu
kepadanya. Tapi karena Toat-beng jin telah memutuskan
demikian, ia sebagai orang yang mempunyai kedudukan lebih
rendah terpaksa harus menurut. Dalam Aliran Im-yang-kauw,
jabatan Lojin-ong (Ketua Agama Yang Sangat Dihormati) yang
kini diduduki oleh Toat beng jin, adalah jabatan yang paling
tinggi dan paling disegani oleh semua pengikutnya. Sebab
dengan kedudukan itu Toat beng jin berhak menghukum siapa
saja dari para anggota Im-yang kauw yang dirasakan
bersalah. Itulah sebabnya mengapa di dunia persilatan Toatbeng-
jin dikenali sebagai Algojo dari Aliran im-yang-kauw!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lalu bagaimana dengan sepasang remaja yang sedang
kita rawat lukanya itu?" akhirnya tokoh yang bertubuh pendek
itu bertanya kepada Toat-beng jin.
"Yaaahh.... oleh karena kita belum selesai secara
menyeluruh dalam mengobati mereka, kita terpaksa harus
membawanya pula... Bagaimana pendapat Tong hiante ?"
"Ah, saya sih hanya menurut perintah Lo jin ong saja.,.”
"Baiklah kalau begitu. Hari ini dan malam nanti kita
beristirahat ! Besok pagi kita pulang kembali ke Gedung
Pusat!” Toat-beng-jin berkata tegas.
'"Dan...... mayat-mayat anggota kita itu?”
"Kita pasrahkan saja kepada mereka sendiri untuk
mengurusnya."
Mereka berdua lalu pergi ke kamar masing-masing untuk
beristirahat. Mereka bersila dan bersemadi untuk memulihkan
kekuatan mereka, agar tenaga mereka menjadi segar kembali.
Ketika matahari telah terbenam dan bulan yang penuh itu
menggantikannya di angkasa. Yang Kun merasa bahwa
lukanya telah menjadi ringan. Perlahan-lahan pemuda itu
turun dari pembaringannya. Dibukanya jendela kamarnya,
sehingga sinar bulan yang terang benderang itu menyegarkan
isi kamarnya dan melapangkan seluruh urat urat di dadanya.
"Uuuuuhhh....... betapa segarnya! Agaknya lukaku sudah
menjadi baik kembali!" desaknya lega.
Ketika pemuda itu membuka pintu dan bermaksud keluar,
seorang penjaga yang berdiri tak jauh dari kamarnya segera
menghampiri.
"Saudara Yang. Tong Cu si berpesan bahwa kau belum
boleh pergi ke mana-mana, sebab luka itu masih harus diobati
dua tiga kali lagi......" katanya halus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hah, sekarang kau tidak memanggilku dengan Lo-jin-ong
lagi!" pemuda itu berkata di dalam hati. Oleh karena itu ia
menjawab dengan tersenyum pula. "Jangan khawatir ! Aku
tidak akan pergi terlalu jauh dari kamarku. Aku hanya ingin
menikmati indahnya sinar bulan yang cemerlang ini... Emm,
boleh bukan ?"
Penjaga itu ikut tersenyum pula, "Ah...... kelihatannya
Yang-sicu ini suka benar pada bulan purnama. Kemarin
malam......"
"Hmmm, tentu saja aku menyukai bulan, karena aku
dilahirkan persis pada saat bulan sedang bersinar dengan
cemerlang." Yang Kun memotong. Lalu, " .... Dan sejak zaman
purba, sinar bulan yang gilang gemilang itu selalu membuat
cerita-cerita indah, yang sukar dilupakan... eh, benar,...
mengapa ketika aku selesai meniup suling kemarin, semua
penghuni kuil ini berlutut kepadaku?" tiba-tiba pemuda itu
membelokkan percakapan itu.
Orang itu tampak berdesah perlahan. Mukanya yang bersih
dan belum terlalu tua itu tengadah ke arah bulan, seakan ingin
turut pula menikmati semua keindahan yang dikatakan oleh
pemuda yang berada di hadapannya.
"Yang-sicu, kata para leluhur kami, orang terakhir yang bisa
menyanyikan lagu itu adalah Kim-mou Sai-ong Su-couw, yang
patungnya telah kau lihat kemarin itu. Maka tak heran kalau
kami semua berlutut kepadamu ketika engkau dapat
menyanyikan lagu itu pula. Seakan-akan engkau memang
telah dikirim oleh Su-couw kepada kami untuk mengajarkan
nada lagu tersebut."
"Eh. ... bukankah Tong Cu-si kalian itu masih cucu murid
dari Kim mou Sai-ong? Apakah beliau juga tidak bisa
menyanyikan lagu tersebut?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 13
“TIDAK!" penjaga itu menggeleng keras-keras. "Kim mou
Sai-ong Su couw telah berbuat suatu kesalahan yang
menyebabkan beliau diusir oleh gurunya dari kuil Im-yang
kauw. Dan untuk seterusnya Kim mou Sai ong Su couw tidak
boleh mempergunakan atau menurunkan ilmu yang
didapatkan dari kuiI kami. Nah, karena Kim-mou Sai ong Su
couw baru menerima murid setelah keluar dari Im yang kauw
maka tak seorangpun muridnya yang mendapatkan iImu yang
beliau dapatkan dari kuil kami.''
"Oh, begitu !”
"Benar! Maka betapa heran dan kagetnya kami ketika Yang
sicu dapat,.. eh Yang si-cu, dari mana engkau bisa
menyanyikan lagu tersebut? Maksudku, siapakah yang
mengajarkannya kepadamu ?” tiba tiba orang itu menangkap
lengan Yang Kun serta mengguncangnya dengan keras. Baru
setelah pemuda itu meringis, orang itu menjadi sadar bahwa
Yang Kun masih sakit dan telah mengguncangnya terlalu
keras. "Oh, maaf !" katanya meminta maaf.
"Apanya yang aneh sehingga semua orang menjadi kaget
ketika aku menyanyikan lagu tersebut? Bukankah itu hanya
lagu biasa, maksudku lagu yang biasa dinyanyikan oleh para
gembala dan para penduduk kampung yang jauh dari kota?
Nenekku mengatakan demikian ketika mengajarkannya
kepadaku ..." akhirnya Yang Kun berkata.
"Nenekmu?.... Ma-maaf, Yang sicu, si-siapakah nenekmu
itu... ?” orang itu menjadi tegang hatinya, sehingga kini
berganti Yang Kun yang melongo keheranan melihat
kegugupan penjaga tersebut.
Beberapa saat lamanya pemuda itu justru berdiam diri saja.
Pikirannya kembali melayang kepada nenek buyutnya yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
telah mati, Lambat laun perasaannya merasakan keanehan itu
pula. Mengapa neneknya dapat pula menyanyikan lagu
tersebut? Adakah neneknya itu kenal pada Kim mou Sai-ong?
Tiba-tiba teringat oleh pemuda itu akan pesan yang diberikan
oleh nenek buyutnya sebelum meninggal.
"Saudara ...., apakah bukit ini bernama Bukit Delapan
Dewa ?” Yang Kun bertanya, tangannya mencengkeram
lengan penjaga itu.
“Betul!” orang itu menjawab heran.
"Oh ! Lalu di manakah dusun Ho-ma-cun itu?"
"Eh, mengapa Yang sicu menanyakan dusun di dekat
sungai itu? Kau punya kenalan di sana?”
"Ohh!” Yang Kun semakin tegang hatinya. "Benar!
Kenalkah saudara kepada seorang gembala tampan yang
sangat terkenal pada sekitar seratus tahun yang lalu?
Namanya adalah Piao Liang !"
"Piao Liang…..? Hei ! Itu adalah nama dari Kim-mou Saiong
Su-couw!" penjaga itu mengerutkan dahinya.
"Hah? Jadi......?" Yang Kun tersentak kaget.
Penjaga itu turun ke halaman, lalu melangkah ke halaman
samping, sehingga pemandangan di bawah bukit yang indah
itu terlihat dengan nyata. Yang Kun melangkah pula
mengikutinya.
"Yang sicu, lihat ! Dusun yang berada di paling ujung itulah
yang dinamakan dusun Ho-ma-cun. Di sanalah Kim-mou Saiong
su couw dilahirkan dan sekarang di sana pula beliau
dimakamkan. ltulah sebabnya patung perunggu itu tidak
ditaruh di Gedung Pusat Selain beliau adalah orang yang
pernah bersalah terhadap agama, memang patung itu lebih
cocok kalau didirikan di dekat tempat kelahirannya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun berdiri diam tak bergerak di tempatnya. Matanya
memandang sayu ke arah dusun Ho ma-cun yang telah
ditunjukkan oleh penjaganya itu. Beberapa buah lampu
tampak berkelap-kelip dari rumah penduduk yang belum
menutup pintunya.
"Hmm, aku telah mendapatkan tempat tinggal gembala
tampan yang dimaksudkan oleh nenek buyut. Selanjutnya aku
tinggal membawa abu nenek itu kemari untuk disemayamkan
di samping makam kakek Piao Liang........" pemuda itu
bergumam di dalam hati.
"Yang sicu, apa yang sedang kaupikirkan ? Eh, mengapa
secara tiba-tiba kau bertanya tentang su-couw dan dusun
kelahirannya? Apa...... apakah engkau mempunyai hubungan
keluarga dengan su-couw?" penjaga itu bertanya lantang,
sehingga mengejutkan Yang Kun dari lamunannya.
"Ah...... tidak !” pemuda itu menjawab sedikit gugup.
"Seorang kawan wanita dari mendiang Kim-mou Sai-Ong telah
titip pesan kepadaku....."
"Seorang kawan wanita dari mendiang Kim mou Sai ong Su
Couw......? Apa......?" penjaga itu terbelalak tak percaya.
Orang itu menatap Yang Kun dengan mata tak berkedip.
Berkali kali kepalanya menggeleng tak percaya. Bagaimana
mungkin seorang kawan wanita dari mendiang su-couwnya
yang hidup lebih dari seratus tahun yang Ialu bisa bertemu
dengan pemuda itu? Masakan ada seorang manusia yang
berusia lebig dari satu setengah abad? Lalu macam apa pula
wujud dari orang itu?
Yang Kun tidak memperdulikan keheranan penjaga itu.
Dengan tenang ia melanjutkan Iamunannya yang terputus
tadi. Matanya memandang ke bawah, ke arah lembah yang
bermandikan cahaya bulan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Si-siapakah .... kawan wanita dari mendiang su-couw itu?
A-apa..... pesannya?" penjaga itu akhirnya dapat membuka
mulutnya.
Yang Kun menoleh sekilas. Setelah berdiam diri beberapa
saat lamanya, baru ia menjawab pertanyaan tersebut.
"Wanita itu adalah….. nenekku! Nah, sekarang saudara
tentu tidak akan heran lagi, bukan ? Mengapa aku sampai
dapat menyanyikan lagu keramat itu?" pemuda itu tersenyum.
"Ohh!" penjaga itu melangkah mundur. "Nenek dari Yang
sicu. .? Lalu .. siapakah nama beliau itu?"
"Beliau she Chin dan namanya adalah Hoa!" tiba-tiba
terdengar suara Tong Ciak Cu-si di belakang mereka. "....
Yang hiante, benar bukan?"
'"Ohh.... Tong Cu si kiranya…..!” Yang Kun dan penjaga itu
menyapa hampir berbareng. "Marilah ! Agaknya Tong Cu si
juga ingin menikmati segarnya sinar bulan ini….."
"Ah..... tidak !" tokoh sakti bertubuh pendek itu tersenyum.
“Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik pada suasana
malam yang gemerlapan ini, karena pikiranku lagi sibuk
memikirkan persoalan-persoalan yang menimpa Im-yangkauw,
tapi percakapan kalian yang telah menyangkut nama
kakek guruku itulah yang menarik langkahku kemari....," tokoh
itu berhenti sejenak, lalu, "Eh, Yang hiante .... apakah pesan
Chin Hoa Locianpwe itu kepadamu? Bolehkah aku
mengetahuinya juga?"
Yang Kun tampak berpikir sebentar. Sebenarnya ia agak
ragu-ragu untuk mengatakan hal itu kepada orang lain, tapi
begitu teringat bahwa tokoh sakti di depannya itu adalah ahli
waris langsung dari kakek Piao Liang dan tidak seharusnya dia
menyembunyikan persoalan tersebut dari padanya, maka
Yang Kun akhirnya mengatakan pula apa isi pesan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nah, Tong Locianpwe... begitulah pesan nenek Chin Hoa
itu kepadaku. Oleh karena itu perbolehkanlah pada suatu hari
nanti aku menanam abunya di samping makam kakek Piao
Liang."
"Ah, Yang-hiante.. untunglah dengan masuknya aku
kembali ke dalam Im-yang kauw, maka semua
kesalahpahaman dan semua kedukaan yang telah diperbuat
oleh mendiang kakek guruku itu telah dibersihkan kembali.
Sehingga apabila pada saat ini Yang hiante ingin
melaksanakan pesan tersebut, maka sudah tidak akan ada
rintangannya lagi."
Yang Kun menatap Tong Ciak dengan bingung, ia tak
begitu bisa menangkap maksud dari perkataan itu. "Mengapa
demikian ?" tanyanya.
Tong Ciak Cu si tampak berkerut-kerut dahinya. "Apakah
Yang-hiante tidak diberi tahu oleh nenekmu?”
"Tidak !”
Tokoh sakti itu justru terdiam begitu mendengar jawaban
pemuda tersebut. Matanya merenung ke arah wajah bulan
yang bulat besar itu, sedang jari-jari tangannya tampak
mengelus-elus jenggot pendeknya yang terawat rapi.
"Yang-hiante....., kukatakan tadi bahwa engkau sangat
beruntung karena aku telah berada di Im-yang kauw kembali,
karena apabila hal ini terjadi sebelumnya..... hm... jangan
harap orang-orang Im-yang-kauw akan menyetujui maksudmu
itu. Mereka tentu akan merintangi keinginanmu itu habishabisan,
sebab. . nenek Chin Hoa itulah yang menyebabkan
kakek guruku diusir oleh gurunya !"
''Hah?!?'' pemuda itu terlonjak saking kagetnya.
"Begitulah! Tapi semuanya telah berlalu, tak perlu kita
mengungkat-ungkat peristiwa itu lagi! Nah, YangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
hiante.....marilah kita masuk ke kamar! Udara tampak semakin
dingin, dan hal itu tak baik bagi kesehatanmu. Marilah ....!”
Kemudian mereka bertiga masuk kembali ke dalam rumah.
Tak seorangpun di antara mereka bertiga yang tahu kalau
sebenarnya mereka sedang diintai oleh sesosok bayangan
yang kini masih bertengger di atas bubungan rumah. Dan
begitu semuanya telah hilang di balik pintu, bayangan yang
berpakaian hitam hitam itu tampak meloncat turun tanpa
menimbulkan suara gemerisik sedikitpun.
"Kukira memang kuil inilah yang dimaksud oleh Put gi ho
dan Put chih to. Baiklah, aku akan masuk dan menyelidikinya
!" bayangan hitam itu bergumam.
Tubuh yang kecil ramping itu segera melenting kembali ke
depan dengan cepatnya dan di lain saat ia telah berindap
indap di halaman samping. Beberapa kali bayangan itu
melongok ke dalam setiap melewati sebuah kamar, agaknya
ada sesuatu yang dicarinya. Tetapi beberapa kali pula kepala
yang berbentuk kecil berambut hitam panjang itu selalu
menggeleng dan berdesah kecewa.
Ketika sampai di luar ruang tempat menyimpan mayat tiba
tiba bayangan ini bergegas menyelinap ke dalam semak lebat
yang tumbuh di bawah jendela. Selain di dalam kamar banyak
orang, dari arah belakangpun terdengar suara percakapan
orang yang sedang menuju ke tempat itu pula.
Bayangan itu menjadi berdebar-debar begitu melihat siapa
yang datang. Otomatis ia menahan napas dan mengerahkan
ginkangnya agar tidak mengeluarkan suara atau gerakan yang
mencurigakan, karena yang datang ternyata adalah orang
bertubuh pendek yang tadi telah ia lihat ketika memasuki
halaman kuil ini. Di samping orang pendek itu tampak
melangkah dengan tenang seorang kakek tua berjenggot putih
panjang sampai ke dada.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lo jin ong, mengapa baru sekarang Lo-jin-ong,
mengatakan hal itu kepadaku? Mengapa tidak kemarin malam
begitu siauw te tiba dari Gedung Pusat? Bukankah siauw te
bisa menangkap gadis kejam itu untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya yang mencuri
mutiara ya beng-cu dan membunuh Mo tung Li Bin dan
kawan-kawan ? Kini gadis itu telah lolos dari tangan kita,
bagaimana kita harus mencarinya lagi?" orang bertubuh
pendek itu terdengar berkata dengan penuh penasaran.
Orang tua yang tidak lain adalah Toat-beng-jin itu berhenti
melangkah. Dengan wajah berseri seri ia memandang
temannya yang sedang marah dan penasaran. Jari-jarinya
mengelus jenggotnya. Mereka hanya beberapa langkah saja
dari tempat di mana bayangan hitam tadi bersembunyi.
"Tong hiante…. sungguh beruntung sekali lm-yang kauw
mempunyai anggota yang sangat bersemangat seperti
engkau." kata orang tua itu pelan. “Tapi entah mengapa
dalam hal yang menyangkut diri gadis itu, aku seperti
mempunyai suatu perasaan yang aneh, sehingga aku takut
menceritakan kepada Tong-hiante kemarin..... Aku takut Tong
hiante akan mentertawakan diriku ! Seperti juga apa yang
kurasakan pada saat ini. Saat ini aku merasa seperti dimatamatai
oleh seseorang, sehingga rasanya hatiku ini menjadi
khawatir dan was-was......”
"Ah, Lo jin ong ini terlalu mengada-ada saja, haha... Siapa
orangnya yang berani memata-matai Toat-beng jin?
Hahaha...... perasaan Lo jin-ong yang telah dipengaruhi oleh
Lin cui sui hoat sungguh tidak bisa membuat hati tenteram
saja !"
"Nah, apa kataku ! Tong-hiante tentu tidak akan percaya
dan akan mentertawakan kata-kataku!” orang tua itu
menghela napas sambil melangkah kembali. "Padahal
perasaanku benar-benar mengatakan demikian! Ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seseorang yang sedang mengintai kita. Tapi aku tak tahu,
siapakah dia dan di mana ia berada....!”
Bayangan hitam yang bersembunyi di bawah jendela
menjadi gemetar begitu tahu siapa sebenarnya orang yang
baru saja lewat di depannya itu. Gila, orang tua itu benar
benar berilmu iblis, umpatnya di dalam hati.
"Sudahlah, Lo-jin-ong ..... Kalau memang apa yang
dirasakan oleh Lo jin ong itu benar, kita juga tidak takut. Nah,
kita telah sampai di ruangan samping. Silahkan Lo jin-ong
masuk!”
Bayangan hitam di bawah jendela itu mengawasi terus
kedua orang yang masuk ke ruang mayat itu, lalu perlahan
lahan dan hati-hati sekali bayangan itu melongok pula ke
dalam melalui lobang kecil yang berada di jendela.
"Hei ! Mengapa ada empat mayat di sana ?" bayangan itu
melongok lebih dekat lagi, sehingga sinar lampu dari dalam
sempat menerangi wajahnya yang cantik bagai bulan
purnama.
"Tetapi mengapa Put gi-ho dan Put chih-to mengatakan
hanya melukai seorang saja? Lalu mayat-mayat siapakah yang
lain itu?" gumamnya dalam hati.
Belasan orang yang berada di dalam ruangan itu segera
berdiri dan menjura begitu kedua tokoh pimpinan Im-yangkauw
pusat tersebut memasuki ruangan.
""Lo-Jin-ong !"
“Tong Cu-si !"
Kedua orang itu segera mengambil tempat duduk di antara
mereka, sementara Toat-beng jin cepat mengedarkan
pandangannya di antara orang orang yang sedang berada di
tempat tersebut. "Dimanakah saudara Ciong Hu Ki.......?”
orang tua itu bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang laki-laki setengah baya tampak melangkah maju
dan menjura kepada dua orang itu. "Lo jin-ong memerlukan
saya?" sahutnya lantang.
"Begini, Ciong-sicu .... Ternyata perkembangan dari
peristiwa ini menjadi sedemikian cepatnya, sehingga urusan
yang semula akan saya atasi sendiri dengan Tong Cu-si, kini
tak berani lagi kami putuskan sendiri. Kami besok pagi akan
pulang kembali ke Gedung Pusat untuk merundingkan
musibah ini dengan Para Penasehat dan Tai-si-ong.” orang tua
itu berhenti sejenak. "Kalau semula peristiwa ini hanya diawali
karena kesalahpahaman, kecil yang mengakibatkan kematian
pimpinan kuil di sini, sekarang suasana agaknya telah berubah
menjadi lain. Kelihatannya ada pihak lain yang memanfaatkan
keadaan ini demi kepentingan golongan mereka. Tegasnya,
ada suatu pihak yang mengail di air keruh….!"
"Mengail di air keruh ? Apa maksud Lo-jin-ong? Bukankah
semuanya telah jelas bahwa orang-orang Bing kauw telah
mengumumkan perang dengan kaum kita? Kemarin mereka
telah membunuh pimpinan kuil di sini dan sekarang belum
juga urusan itu kita selesaikan mereka telah membunuh tiga
orang kita lagi. Nah, bukankah itu sudah jelas? Apa yang
mesti kita rundingkan lagi? Hancurkan saja mereka! Tunggu
apa lagi?" wakil pimpinan kuil yang bernama Ciong Hu Ki itu
memotong ucapan Toat-beng jin dengan berapi api.
Toat beng-jin mengangkat tangannya ke atas sambil
tersenyum kecut.
"Ciong sicu, sabarlah .... ! Aku tahu perasaan kalian, tapi
berilah kami waktu untuk mengurusnya lebih dahulu. Masih
banyak waktu bagi kita untuk menggilas mereka kalau dalam
penyelidikan kami nanti mereka memang benar-benar
bersalah."
"Ada tiga orang lagi yang terbunuh?" gadis yang
bersembunyi di bawah jendela itu berdesah perlahan. "Ah
apakah Put gi-ho dan Put-chih to telah bentrok lagi dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka, sehingga korban telah bertambah pula lagi? Ahh,
rasanya...... tak mungkin ! Aku baru saja berjumpa dengan
Put-gi-ho dan Put-chih to kemarin sore."
Dengan hati hati gadis cantik itu melangkah mundur dan
pergi meninggalkan tempat persembunyiannya. Melalui tempat
tempat yang gelap ia bergeser ke depan, ke arah pendapa!
Dan di bagian pojok pendapa yang gelap yang tidak
terjangkau oleh Iampu dan yang terlindung dari sorot sinar
rembulan, gadis ini menjejakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya
yang kecil ramping itu melambung tinggi ke udara dan di lain
saat telah hinggap di atas genting pendapa yang terlindung
oleh rimbunnya daun cemara.
Gadis itu membuka sebuah genting dan mengintai ke
dalam. Beberapa orang kelihatan sedang duduk-duduk santai
sambil berbincang bincang.
"Orang Bing kauw yang membunuh tiga orang teman kita
tentu seorang tokoh Bing-kauw yang berkedudukan tinggi.
Orang itu mampu mengalahkan Tung hai Nung-jin. Padahal
kita sudah menyaksikan sendiri kesaktian bajak laut dari
Lautan Timur itu ketika melawan Tong Cu-si. Kepandaiannya
hanya sedikit di bawah Tong Cu-si kita ! Maka paling tidak
orang Bing kauw tersebut tentu pembantu pembantu utama
dari Put ceng-li Lo jin sendiri....." salah seorang dari orang
yang duduk di pendapa itu membuka mulutnya.
"Katanya kedua orang itu mudah sekali dikenal. Yang satu
berperawakan kurus tinggi berpakaian sutera putih, sedang
yang lain berperawakan tinggi besar dengan bulu-bulu yang
tumbuh lebat pada lengan dan mukanya. Nah, adakah salah
seorang dari kalian yang pernah melihat atau mengenalnya?”
temannya ikut pula mengambil suara.
Terdengar suara menggeremeng yang tak jelas di antara
mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tinggi kurus dan gemuk besar...?" gadis yang berada di
bawah jendela itu bergumam sendirian. "Kelihatannya
memang seperti Put-gi-ho dan Put-chih-to. Tapi ... Put gi-ho
tak pernah mengenakan baju putih, apalagi yang dari kain
sutera mahal. Dan Put-chih-to itu biarpun gemuk tapi tidak
dapat dikatakan tinggi besar. Kurang ajar! Agaknya memang
ada orang yang ingin mengail di air keruh. Tapi. . siapa?
Apakah orang orang dari Aliran Mo-kauw lagi?” gadis itu
berpikir dengan keras.
Seperti telah diceriterakan di bagian depan bahwa antara
ketiga aliran kepercayaan yaitu lm-yang kauw, Bing kauw dan
Mo-kauw sering terjadi perselisihan dan persengketaan yang
kadang kadang juga disertai dengan perkelahian dan
pertempuran di antara para anggotanya. Terutama antara
penganut Bing kauw dan Mo-kauw !
"Hmm, aku harus lekas lekas pulang dan melaporkan hal ini
kepada suhu. Suhu harus segera bersiap-siap apabila orang
orang Im-yang-kauw ini benar benar akan mendatangi Rumah
Suci (Pusat Aliran Bing kauw).” gadis cantik itu bergumam lalu
perlahan sambil melangkah mundur dan melayang turun dari
atas genting.
Gadis itu menyelinap di balik pohon cemara dan bersiapsiap
untuk meninggalkan tempat itu ketika tiba-tiba pintu
halaman kuil tersebut diketuk orang dari luar. Lalu belasan
orang yang tadi duduk-duduk di dalam pendapa tampak
bergegas keluar diikuti pula oleh orang-orang yang berada di
luar pendapa, sehingga otomatis gadis cantik itu tidak berani
keluar melalui halaman depan.
Oleh karena itu dengan mengendap-endap gadis itu
menyusup kembali ke belakang kuil melalui jalan yang
dilaluinya tadi. Di ruangan yang dipakai untuk menyimpan
mayat tadi masih kelihatan banyak orang, cuma dua orang
tokoh Im-yang-kauw pusat saja yang kini sudah tidak
kelihatan di antara mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa mengurangi kewaspadaan gadis itu melesat
menyeberangi tanaman rumput yang memisahkan ujung
bangunan samping dan bangunan belakang, lalu dengan gesit
tubuhnya melambung kembali ke atas genting yang gelap.
Tapi belum juga kakinya dapat berdiri tegak, dari bayangbayang
daun yang menjorok di atas genting terdengar desah
suara wanita yang menyapa kedatangannya.
"Nona mencari siapa...?”
Gadis cantik berbaju hitam itu menoleh dengan cepat. Dan
hatinya menjadi tegang ketika melihat seorang gadis yang
cantik sekali melangkah keluar dari bayang-bayang daun.
Sinar bulan yang terang benderang itu menerangi tubuhnya
yang tinggi semampai. Matanya yang redup tapi berkilat tajam
itu menatap dalam-dalam kepadanya, membuat hati menjadi
bergetar juga rasanya.
"Nona siapa?" gadis berbaju hitam itu bertanya kaget,
apalagi serentak dilihatnya lengan kanan gadis yang berada di
depannya tersebut buntung.
Agaknya gadis buntung itu telah terbiasa melihat kekagetan
setiap orang yang mengetahui cacatnya. Oleh karena itu
sedikitpun ia tidak menjadi tersinggung apalagi menjadi
marah. "Maaf, akulah yang bertempat tinggal di tempat ini,
maka sudah sewajarnyalah jika aku pula yang bertanya
terlebih dahulu kepada nona…" gadis buntung itu menjawab
tenang.
Tak enak juga rasanya bagi gadis berbaju hitam itu
menghadapi ketenangan lawannya. Tapi untuk berterus terang
mengatakan siapa dirinya, rasanya juga kurang pada
tempatnya pula. Suasana kuil pada saat itu sedang dilanda
permusuhan terhadap Bing-kauw, apalah jadinya nanti apabila
dia murid Put-ceng-li Lo-jin dari Bing-kauw?
Maka seolah-olah tidak mendengar pertanyaan itu, ia
menjura dengan tergesa, kemudian meloncat ke bawah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembali dengan cepat. "Maaf, aku sangat terburu-buru!
Biarkanlah aku pergi.....!" serunya perlahan.
"Eeit! Nanti dulu... !" gadis bertangan buntung itu
mencegah. Lengan kanannya yang masih utuh itu tampak
melayang ke depan dengan cepat, meraih ujung pakaian gadis
berbaju hitam yang mencurigakan tersebut.
Tapi dengan gerakan yang sangat aneh gadis berbaju
hitam itu mengelak. Tubuhnya yang ramping itu melejit lebih
cepat ke depan seperti kuda yang dilecut pada punggungnya,
begitu tangan Iawannya hampir mencapai ujung bajunya!
Padahal gerakan tersebut dia lakukan ketika tubuhnya masih
melayang di udara, jadi tak ada sesuatu benda atau
barangpun yang bisa dipakai sebagai landasan kakinya.
Sekejap gadis buntung itu menjadi termangu oleh
kehebatan lawannya, sehingga ia sedikit terlambat ketika
menyadari bahwa lawannya telah menginjakkan kakinya di
atas tanah. Terburu-buru ia mengejar. Tapi belum juga ia
meloncat turun dari atas genting, dari bawah tiba-tiba
meluncur belasan jarum-jarum kecil yang mengarah kepada
dirinya.
Terpaksa gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengejar.
Lebih dahulu ia mengelak dan mengebut serangan jarum itu
dengan saputangannya yang lebar. Baru setelah jarum jarum
tersebut dapat ia runtuhkan semuanya, ia melayang turun dari
atas genting.
Tapi bayangan gadis yang mahir berloncatan di udara itu
telah lenyap. Di bawah ia justru menjumpai Toat-beng-jin dan
Tong Ciak Cu-si.
"Oh, nona Souw! Engkau belum tidur juga?" Dengan
terkejut orang tua itu menegur. Lalu dengan dahi berkerut ia
melanjutkan, "Apakah yang terjadi? Bukankah kesehatan nona
belum pulih kembali?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Maafkan siauwte, Lo cianpwe.....! Bukannya siauwte mau
melalaikan nasehat Lo-cianpwe, tapi aku menjadi tidak enak
hati ketika mataku secara tak sengaja melihat berkelebatnya
seorang asing di halaman samping dari kuil ini. Maka aku
lantas menyongsongnya! Tak kusangka orang itu lihai sekali,
sehingga siauwte kehilangan jejaknya." Souw Lian Cu
menerangkan.
"Hah?!?” Toat-beng jin terperanjat, kemudian menoleh
kepada Tong Ciak yang berada di sampingnya. "Tong-hiante,
bagaimana....? Perasaanku benar, bukan? Ada seseorang yang
datang ke kuil ini mengintai kita !"
Tong Ciak mengangguk-angguk. "Nona Souw,..... lalu ke
mana larinya orang itu?" tanyanya kemudian.
“Dia meloncat turun dari atas genting ketika kukejar, tapi
ternyata aku tidak bisa menemukannya kembali....."
“Hmm, kalau begitu..,., marilah kita berpencar
mencarinya!" Toat-beng-jin berkata.
“Marilah ! Tapi kuharap nona Souw lebih berhati-hati bila
mendapatkannya, kesehatan nona belum mengijinkan bila
dipakai untuk bertempur mati-matian." Tong Ciak menyahut.
"Baiklah, terima kasih!"
Mereka lantas berpencar. Dan agar supaya keadaan tidak
menjadi ribut dan gaduh, sehingga akan lebih menyukarkan
pencarian mereka, maka mereka menyusup kesana kemari
tanpa menimbulkan kecurigaan penghuni kuil lainnya.
Tapi meskipun sudah berusaha dengan keras, gadis
berbaju hitam yang dipergoki oleh Souw Lian Cu tadi ternyata
tidak mereka ketemukan. Gadis itu seperti lenyap ditelan
bumi. Ketika mereka melayangkan pandangan mereka ke
sekitar kuil, mereka juga tidak melihat sebuah bayanganpun
yang melintasi tanah berumput di sana.
“Gila! Ke manakah orang itu ? Tak mungkin rasanya….."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lo-jin-ong! Tong Cu-si! Di depan kuil ada tamu dari Mo
kauw yang ingin bertemu...” tiba tiba dari arah pendapa
terdengar suara orang mencari mereka.
"Huh! Ada apa pula dengan orang Mo kauw itu malam
malam kemari?" Tong Ciak yang sedang penasaran itu
menggeram. "Aku benar-benar bisa membunuh orang hari
ini......!”
"Tong-hiante! Kau bersabarlah! Kau jangan terpancing oleh
situasi yang belum jelas seperti ini! Salah salah kau bisa
menyesal nanti !" Toat beng-jin memperingatkan rekannya
yang agak pemarah itu.
Tong Ciak menatap orang tua yang berada di sampingnya
itu, dan begitu dilihatnya orang tua tersebut berbicara dengan
serius dan juga balas memandang pada dirinya dengan tajam
berwibawa, maka hatinya bagai tersentuh dengan tiba-tiba.
Ah, benar juga, ia berpikir di dalam hati. Orang tua ini
mempunyai mata batin yang sangat tajam, siapa tahu dia
memang telah mendapatkan gambaran yang lebih jelas
tentang peristiwa ini.
Maka dengan menghela napas berat tokoh bertubuh
pendek itu mengangguk.
“Maafkan aku, Lo-jin-ong! Aku memang terlalu mudah
marah.....”
“Tidak apa, Tong-hiante. Kau memang masih muda, itu
sudah biasa dan wajar. Nah, marilah kita ke depan untuk
menemui mereka! Marilah, nona Souw! Kaupun boleh ikut
bersama kami, siapa tahu orang itu Pek-i Liong-ong yang
melukai dirimu?”
"Terima kasih, Locianpwe." Gadis itu menjawab dengan
bersemangat.
Ketiga orang itu lalu berlari ke depan, sehingga tempat itu
menjadi sepi kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mereka sudah pergi ke depan. Biarlah aku pergi pula
meloloskan diri melalui pintu belakang. Terima kasih atas
bantuanmu!" tiba-tiba terdengar suara lirih dari kamar Chin
Yang Kun. Suara gadis berbaju hitam tadi!
Dan beberapa saat kemudian pintu kamar Chin Yang Kun
tampak terkuak sedikit, dan di lain saat dari dalam kamar
tampak sesosok bayangan hitam melesat keluar dengan cepat
sekali. Bayangan itu dengan gesit menerobos semak-semak
yang tumbuh di halaman belakang dan sebentar kemudian
telah terlihat melompat tembok pagar. Lalu hilang di dalam
keremangan malam.
Bagaimana gadis itu sampai berada di kamar Chin Yang
Kun? Apakah gadis yang lihai dan cerdik itu telah
memanfaatkan keadaan Yang Kun yang belum segar benar itu
untuk menyembunyikan diri dari kejaran tokoh-tokoh sakti itu?
Setelah melepaskan jarum-jarumnya yang lihai untuk
menahan kejaran Souw Lian Cu, gadis itu menyelinap melalui
lorong yang berada di muka kamar Chin Yang Kun. Tak
terduga dari halaman samping muncul Toat beng-jin dan Tong
Ciak, agaknya juga bermaksud ke ruangan belakang, sehingga
langkah gadis itu menjadi terhenti. Untung mereka belum
melihatnya.
Oleh karena tak ada tempat yang baik untuk berlindung di
sekitarnya, maka dengan nekad gadis itu membuka pintu
kamar yang berada di sampingnya, dan cepat ia menerobos
masuk!
Ternyata kamar tersebut adalah kamar Chin Yang Kun! Dan
pemuda yang baru saja memasuki kamarnya itu masih tampak
duduk di tepi pembaringannya. Melamun. Tentu saja
kedatangan gadis asing sangat mengagetkannya. Apalagi
ketika dengan tergesa-gesa gadis itu menaruh jari telunjuknya
yang runcing itu di muka mulutnya.
“Ssst!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lalu selagi Yang Kun masih juga terlongong-longong oleh
kejadian yang mendadak tersebut, gadis itu telah meloncat ke
atas pembaringannya, kemudian dengan kasar menyentakkan
lengannya, sehingga tanpa dapat ditahan lagi tubuh Yang Kun
terlentang di atas kasur. Selanjutnya, sebelum Yang Kun
tersadar juga dari keterkejutannya yang membingungkan itu,
si gadis telah memeluk dan menyelimuti tubuh mereka berdua
dengan selimut yang tersedia. Hanya bedanya, gadis itu
menyelimuti seluruh badannya, sementara Yang Kun masih
kelihatan kepalanya.
“Jangan kurang ajar dan berpikir yang bukan-bukan,
apalagi mempunyai pikiran kotor! Awas, pisauku telah
menempel di ulu hatimu! Sekali engkau bergerak yang
mencurigakan nyawamu akan melayang!” bibir merah yang
bersuara merdu itu berbisik di telinganya.
Sebenarnya pemuda itu agak merasa tersinggung, apalagi
ketika pisau yang ditekan pada ulu hatinya itu terasa
menggores kulitnya. Hampir saja, dia bergerak untuk
melawan! Tapi niat itu segera batal ketika dilihatnya wajah
yang hampir menyentuh ujung hidungnya itu memandang
kepadanya dengan muka polos. Sekilas pemuda itu seperti
menatap bulan purnama yang sedang memancarkan sinarnya
yang gilang-gemilang, sehingga untuk sejenak dia menjadi
terpesona dan terhanyut oleh tatapan mata yang indah
berpendar-pendar itu. Apalagi ketika tubuh yang lembut dan
hangat itu terasa menempel ketat di badannya. Seperti
terkena oleh aliran magnit yang sangat kuat, tubuhnya
menjadi gemetar dan darahnya terasa semakin cepat mengalir
di dalam urat-uratnya. Otomatis tangannya bergerak ke depan
dan mengelus pinggul yang membusung di sampingnya.
"Plaak!" tiba tiba telapak tangan gadis itu menampar pipi
Yang Kun.
"Kurang ajar! Engkau mau apa? Lepaskan tanganmu !"
gadis itu berbisik marah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku.„ . aku......" pemuda itu tergagap kaget dan sadar dari
keadaannya penuh gairah tadi, lalu,”Gila! Kau juga cantik
sekali, sih.. ..!” gumamnya mendongkol sambil mengusap
pipinya yang kemerah-merahan. Kemudian dengan gusar ia
bangkit dari tempat tidurnya.
“Berhenti !" gadis itu menarik lengan Yang Kun, sehingga
yang belakangan ini terjatuh kembali di atas pembaringan.
"Apa maumu sebenarnya?” Yang Kun menjadi marah juga
akhirnya.
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki menuju kamar
mereka.
"Diam! Ada orang datang! Tetaplah engkau berbaring di
sini ! Kalau nanti ada orang masuk dan bertanya kepadamu,
katakanlah bahwa engkau tidak melihat apapun di sini. Awas !
Kau ingatlah baik baik! Jangan berbuat sesuatu yang
mencurigakan ! Nah.....!" gadis itu menghardik seraya
menyelimuti dirinya kembali seperti tadi. Pisaunya menempel
pula di ulu hati Yang Kun.
“Tok ! Tok ! Tok !"
"Siapa.....?" Yang Kun segera menyapa ketika pisau
tersebut menekan dadanya.
Pintu itu segera dibuka dari luar. Gadis cantik bertangan
buntung itu tampak berdiri di muka pintu, sehingga Yang Kun
yang tidak menduganya benar-benar menjadi terkejut sekali!
Coba kalau gadis yang berada di bawah selimutnya itu tidak
mencengkeram lengannya, ia pasti sudah melompat
menyongsongnya.
"Nona Souw....... apa...... apa maksudmu kemari ?" ia
bertanya dengan gugup.
"Huh !” Souw Lian Cu melengos, agaknya ganjalan hatinya
terhadap Yang Kun tak pernah bisa hilang dari benaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apakah kau melihat seorang gadis berpakaian hitam-hitam
masuk ke mari?"
Hening sejenak. Yang Kun tidak mampu menjawab
pertanyaan tersebut. Kedatangan gadis buntung yang sangat
menarik hatinya itu memang tidak terduga sama sekali
olehnya, apa lagi dalam keadaan kikuk seperti itu. Oleh karena
itu tidak heran bila jawaban-jawaban yang telah dipersiapkan
tadi menjadi hilang lenyap dari otaknya.
Beberapa saat lamanya Yang Kun hanya melotot tertegun
mengawasi Souw Lian Cu. Hatinya menjadi bingung, apa yang
mesti diperbuatnya. Menunjukkan gadis yang berada di bawah
selimutnya itu apa tidak ! Sesaat terbesit pikirannya untuk
menghukum gadis, "kurang ajar" yang kini sedang memeluk
dirinya itu. Tapi di lain pikiran lalu berkelebat untuk
melarangnya, bukankah hal itu akan berarti membuat gadis
buntung tersebut menjadi semakin benci padanya? Bagaimana
tanggapan gadis itu apabila melihat dirinya berpeluk-pelukan
dengan seorang gadis di atas tempat tidur? Bukankah gadis
itu akan benar-benar mencap dirinya sebagai seorang laki-laki
yang suka tidur dengan wanita yang bukan isterinya?
Tapi kesempatan untuk membalas dendam atas perlakuan
gadis kurang ajar ini tak boleh disia-siakan. Maka ketika Souw
Lian Cu membentak lagi karena ia tidak segera menjawab
pertanyaannya, Yang Kun berlagak kaget. Dengan tenang
pemuda itu bangkit perlahan lahan, lalu duduk di atas
pembaringannya, sehingga otomatis gadis yang berada di
dalam selimutnya terpaksa ikut-ikutan bergeser mengikutinya.
Tubuh indah itu meringkuk seperti udang di belakang
pantatnya. Dan ketika secara sambil lalu pemuda itu melirik,
tampak paha dan pinggul si gadis binal tersebut menjulang
tinggi di sampingnya. Dan meskipun tertutup oleh selimut
yang rapat, tapi pemandangan itu sungguh amat
mempesonakannya. Gila, pemuda itu mengumpat dalam hati,
gadis ini memang benar benar hebat!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Gadis berbaju hitam......? Sebentar......akan kuingat-ingat
dahulu......" pemuda itu berlagak dengan memegangi
kepalanya, sehingga gadis dalam selimut itu menjadi
mendongkol bukan main.
"Kurang ajar! Apa maumu....?” gadis itu menggeram
perlahan. "Kubunuh engkau nanti!"
"Kau bilang apa? Katakan yang jelas! Jangan pringaspringis!"
Souw Lian Cu melotot.
“Kumaksudkan......aku seperti mendengar langkahnya.....
dan sekilas aku juga seperti melihat bayangannya." Yang Kun
segera menyahut. Tangannya dengan tenang mengelus-elus
bukit dan lereng yang tersembul di sampingnya, seolah-olah
mengelus-elus pinggul dan pahanya sendiri. Entahlah,
mendadak saja timbul niatnya untuk menggoda gadis itu.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan gadis yang
melingkar dalam pengapnya selimut itu. Rasa kesal, gemas,
mengkal dan mungkin banyak perasaan yang lain lagi. Apalagi
ketika dirasakannya tangan pemuda itu mulai menggerayangi
paha, pinggul tanpa ia dapat berbuat apa-apa untuk
mengelakkannya.
“Sungguh? Lalu kemana bayangan itu berkelebat pergi?”
Souw Lian Cu menegaskan. Sedikitpun gadis ini tidak sadar
kalau sedang dipermainkan oleh Yang Kun.
"Ehmmm ... berkelebat ke arah belakang" Yang Kun
menjawab sekenanya.
"Bagus! Terima kasih !" gadis cantik bertangan buntung itu
berseru sambil menutup pintu kembali dan berkelebat lenyap
ke halaman belakang.
"Plak! Plak! Plok!"
Yang Kun menerima tiga kali tamparan lagi begitu Souw
Lian Cu telah lenyap dari depan pintu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bandot tua berotak cabul! Berani benar kau
mempergunakan kesempatan untuk meraba-raba pinggul dan
pahaku, yaa..,? Berani benar kau...?"
"Eh! Gadis buntung itu datang kembali.,. !"
Yang Kun berpura-pura menoleh ke arah pintu dengan
kaget, sehingga tanpa berpikir panjang lagi gadis binal itu
menyusup kembali ke dalam selimutnya.
Tapi setelah sekian lama dinanti, tak seorang yang muncul
di depan kamar, apalagi ketika diintipnya pemuda itu tampak
tersenyum-senyum sendirian, yakinlah gadis itu bahwa sekali
lagi ia telah dipermainkan orang.
"Plak! Plak!"
Lagi lagi Yang Kun memperoleh hadiah tamparan. Cuma
kali ini tidak di atas pipi, tapi diatas dada dan bahunya.
“Pemuda cabul! Pemuda kurang ajar! Pemuda tidak tahu
aturan! Tidak sopan.....!” gadis itu mencecar dengan umpatan
dan makiannya.
Yang Kun mengelak, lalu meloncat turun dari tempat
tidurnya. Bisa hancur badannya kalau dia tidak lekas-lekas
menghentikan ulah gadis yang tidak tahu aturan itu.
“Berhenti! Enak saja kau menyakiti tubuhku. Lihat! Siapa
yang kurang ajar? Siapa yang tidak tahu aturan? Siapa yang
tidak sopan?” Yang Kun berdesis marah. “.....kau atau aku?”
ternyata gadis itu tidak kalah gertak. Dengan ringan
tubuhnya yang indah itu mencelat ke hadapan Yang Kun. Lalu
sambil bertolak pinggang telunjuk jari tangan kanannya
menuding-nuding muka pemuda dihadapannya. Bibirnya yang
mungil lancip itu berkicau tak henti-hentinya, sehingga Yang
Kun yang sedianya mau marah itu justru tidak kebagian
tempat malah !
"Kurang ajar! Apa katamu? Kaubilang aku tidak tahu
aturan? Kaubilang aku tidak sopan santun? Begitu? Wah, jaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mulutmu! Jangan kau biarkan dia mengeluarkan kata-kata
yang menyakiti hatiku ! Salah-salah aku bisa sungguh
sungguh membunuh kamu nanti...."
"Hei, gadis tak......"
“Hah?!? Masih mau membantah? Apakah ingin kutampar
lagi mukamu yang jelek itu? Atau kupatahkan dulu lehermu
sehingga kau tidak dapat berkutik pula? Atau……?”
"Kurang ajar! Gadis gi........."
“Apa? Kau masih saja memaki aku kurang ajar? Kapan aku
kurang ajar terhadap nenek moyangmu? Bukankah kau yang
kurang ajar mengelus-elus pahaku ? Kini mulutmu yang
berbau jengkol itu malah menuduhku yang bukan-bukan.
Minta ditampar lagi, yaaa......"
"Gadis tak tahu aturan......!"
“Tak tahu aturan...... hidungmu !! Kaulah yang tidak tahu
aturan sama sekali ! Ada seorang wanita mendapat kesukaran,
kau justru malah menggoda dan menghinanya! Aturan mana
itu?"
“Kau…..?”
“Seharusnya kau sebagai laki-laki justru harus
menolongnya, tidak mengambil kesempatan untuk
menggerayangi malah…… Huh! Laki-laki apa itu? Enak yaa….
Pegang-pegang tubuh orang?”
“Aku…….” Yang Kun termangu-mangu seperti orang bisu.
“Apa lagi? Masih penasaran? Kurang ajar! Seharusnya
akulah yang masih penasaran atas kekurangajaranmu……enak
saja mengelus pinggul orang!”
“Bukankah…..bukankah kau sendiri yang memulai……?”
“Bandot tua bermulut lancang! Kau malah menuduhku yang
memulainya? Engkau menuduh aku yang mulai merayumu?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Engkau….menuduh aku menggerayangi lebih dulu tubuhmu
yang berkeringat menjijikkan itu? Huh, pemuda yang tak
mengenal sopan santun! Pemuda yang tak tahu diri……!”
dapat dibayangkan betapa mendongkolnya pemuda itu.
“Diam! Awas, kalau engkau tidak diam, aku akan berteriak
keras-keras sehingga semua orang akan datang ke tempat
ini!” akhirnya Yang Kun memuntahkan kekesalannya.
Benar juga! Gadis yang menggemaskan itu segera
menghentikan kicauannya dengan rasa gusar. Ancaman
tersebut benar-benar merisaukannya.
“Baiklah….baiklah! aku akan pergi dari sini. Terimakasih
atas bantuanmu.” Gadis itu beranjak dari tempatnya, lalu
keluar meloloskan diri dari tempat tersebut.
Yang Kun menghempaskan dirinya ke tempat tidur kembali.
Kali ini benar-benar merasa mendongkol bukan main hatinya.
“Gadis cantik tapi tak punya aturan sama sekali…..!” geramnya
agak keras.
Tapi bukan main terperanjatnya dia ketika dari jauh
terdengar suara lapat-lapat jawaban gadis itu dalam ilmu
mengirim suara dari tempat jauh (coan-im jib-bit).
“Memangnya kau tahu siapa aku? Aku adalah murid dari
seorang tua yang tak pernah memperdulikan segala macam
aturan di dunia ini. Orang kang-ouw menyebut diriku Put-sia
Nio-cu (Perawan Yang Tak Tahu Adat)….!”
“Ooh…..lagi-lagi orang dari aliran Bing kauw!” Yang Kun
menghela napas.
Demikianlah malam semakin larut dan pemuda itu segera
merebahkan diri pula di atas tempat tidurnya. Beberapa saat
lamanya ia masih membayangkan bahwa baru saja tadi
disampingnya tergolek gadis cantik yang memeluk dirinya
dengan ketat. Kasur serta selimut yang dipakainya masih
terasa hangat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Orang orang dari kalangan persilatan memang anehaneh......”
pemuda itu membatin. “Gadis itu demikian
cantiknya.....tapi karena menjadi murid Put-ceng-li Lo-jin,
wataknya menjadi aneh dan tidak mengenal sopan santun dan
adat-istiadat umum. Hmm, enak saja masuk ke kamar orang.
Naik ke tempat tidur dan memeluk laki-laki penghuninya
malah.....!! aturan dari mana itu?”
Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Apalagi
ketika teringat bagaimana gadis itu tidak mau mengakui atau
menyadari kesalahannya, tapi sebaliknya malah menjadi
marah dan menyalahkan orang lain. Sungguh amat sayang
sekali!
Sementara Yang Kun sibuk dengan pikirannya ternyata di
pendapa depan kuil itu telah terjadi sesuatu pula yang tak
kalah tegangnya. Tamu yang datang ternyata adalah tokohtokoh
pimpinan Aliran Mo-kauw sendiri. Mereka terdiri dari
orang tua berseragam hitam-hitam ringkas, tapi di luarnya
mereka menggunakan jubah hitam pula yang sangat tebal dan
lebar.
Di belakang kedua orang itu mengiringkan seorang laki-laki
berusia setengah baya, dengan seragam ringkas berwarna
coklat-coklat serta menutup pula dengan jubah lebar berwarna
coklat tua. Sementara di belakangnya lagi berdiri tiga orang
berseragam biru-biru, berjubah biru dan usianya juga lebih
muda lagi.
Mereka berenam tampak terperanjat sekali ketika Toatbeng-
jin dan Tong Ciak Cu-si keluar menemui mereka.
"Oh, Toat beng-jin dan Tong Cu-Si ada disini kiranya..„."
Salah seorang dari orang yang berjubah hitam itu menyapa.
“Hei ! Tumben benar saudara Bhong Kim Cu dan saudara
Leng Siau datang ke kuil kami yang sepi ini. Mari..... mari,
silahkan duduk!" Toat-beng-jin yang agaknya telah mengenal
mereka menyahut dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Terima kasih! Wah, kami hanya merepotkan tuan rumah
saja, malam malam berkunjung kemari......" orang yang
dipanggil dengan nama Bhong Kim Cu itu berbasa-basi.
Seperti telah diketahui bahwa Aliran Mo ini muncul lebih
kurang dua atau tigaratus tahun sebelum cerita ini terjadi,
yaitu sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Adapun guru besar
mereka yang pertama adaIah Mo Ti, yang hidup antara tahun
490-403 sebelum Masehi. Dengan meminjam nama guru besar
mereka itulah para penganut aliran itu menamakan aliran
kepercayaan mereka dengan sebutan Mo kauw.
Biarpun antara kedua aliran itu, yaitu antara aliran Im
yang-kauw dan Aliran Mo kauw, sebenarnya boleh dikatakan
sejalan dalam ajaran ajarannya, tapi dalam praktek
penyebarannya ternyata terdapat perbedaan yang menyolok
di antara mereka.
Kedua buah aliran kepercayaan ini sama sama
mengajarkan dan menuntun manusia ke arah kebahagiaan
dan kesempurnaan hidup manusia di alam semesta yang
maha luas ini. Hanya bedanya, kalau Aliran Im-yang-kauw
dalam praktek sehari-harinya banyak bergulat dengan dunia
mistik dan hal hal aneh yang sering terjadi di alam semesta,
Aliran Mo kauw lebih bersifat kenyataan dan berdasarkan
logika-logika yang masuk akal.
"Eh, angin apakah kiranya yang meniup Lo-heng berdua
sampai kemari? Tentu bukan untuk mencari aku dan Tong Cu
si, bukan…..?”
"Sebenarnya memang tidak.. Tapi dengan adanya Toat
beng-jin dan Tong Cu-si disini sungguh suatu kebetulan sekali
bagi kami…. Kami berdua dengan para murid ini tidak usah
jauh jauh pergi ke Gedung Pusat Im-yang-kauw untuk
menemui saudara berdua…..” Bhong Kim Cu tersenyum.
"Maaf . . ada urusan apakah kiranya?" Tong Ciak ikut ambil
suara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua tokoh Mo-kauw berjubah hitam itu saling
memandang satu sama lain, lalu seperti mendapatkan sebuah
aba-aba keduanya menghela napas bersama-sama. Yang
bernama Leng Siau yang sejak kedatangannya tadi belum
pernah mengeluarkan suara tampak beringsut maju.
“Jiwi Lo-heng (saudara berdua), sebenarnya urusan ini
adalah urusan yang sangat sepele. Tapi karena kami rasa
kalau tidak lekas lekas diselesaikan akan bisa berkembang
menjadi besar dan berlarut-larut, maka kami berdua terpaksa
mewakili Mo cu (Ketua Aliran Mo) untuk menyelesaikannya."
orang she Leng itu berkata.
"ah, kami menjadi semakin tidak sabaran untuk
mendengarkannya. Leng Lo-heng, silahkan cepat cepat
mengatakannya kepada kami....!" Tong Ciak mendesak.
Kemudian jago Im yang kauw yang terkenal keras dan
pemarah ini melirik ke samping, di mana Souw Lian Cu
tampak berdiri di antara para penghuni kuil lainnya. Jangan
jangan urusan itu adalah urusan yang menyangkut diri gadis
buntung itu, pikirnya.
Sementara itu Souw Lian Cu masih tetap berdiri tenang di
tempatnya. Tadi begitu melihat bahwa yang datang bukan
Pek-i Liong-ong sendiri, hatinya sudah menjadi tenang dan
tidak merasa tegang lagi. Meskipun begitu karena yang datang
itu ternyata juga bukan tokoh rendahan, maka gadis itu tetap
berminat untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi.
"Karena kurangnya pengertian dan kurangnya mereka
mendalami ajaran agama yang diperolehnya, maka banyak di
antara para pengikut kami bentrok dan berselisih dengan para
pengikut dari aliran lain. Perselisihan itu terutama sering
terjadi antara para pengikut kami dengan para penganut
Aliran Bing kauw. Hanya kadang-kala saja sering juga kami
dengar persengketaan mereka dengan para pengikut Im-yang
kauw.....” Leng Siau memulai ceritanya. Matanya yang berkilat
tajam sebagai tanda bahwa lwee-kangnya benar-benar sangat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tinggi tampak beredar mengawasi pihak tuan rumah. Lalu
setelah beberapa kali mengedarkan pandangannya, tokoh
sakti dari Aliran Mo-kauw tersebut meneruskan penuturannya.
"Perselisihan-perselisihan seperti itu terang tidak baik dan
sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran yang kita
kumandangkan selama ini ...... Oleh sebab itulah pihak kami
selalu menahan diri dan berusaha mengalah sebisa-bisanya.
Beberapa kali orang Bing-kauw selalu membuat gara gara,
dan. .. beberapa kali pula kami selalu menghindar dan
mengalah, sehingga biarpun sering bentrok tetapi semua itu
hanya terbatas pada perselisihan-perselisihan yang kecil dan
ringan saja. Tak pernah perselisihan itu menjadi berlarut larut,
apalagi sampai terjadi korban. Tapi........" sekali lagi Leng Siau
menghentikan perkataannya, matanya dengan tenang
menatap Tong Ciak dan Toat beng-jin lekat-lekat. Beberapa
saat lamanya dia berdiam diri sehingga Tong Ciak menjadi
semakin tidak sabar menunggunya.
"Tapi.... bagaimana, Leng Loheng?” desaknya. Leng Siau
mengalihkan pandangannya ke atas ke arah langit langit
pendapa yang tinggi dan terbuat dari kayu pilihan itu, seolaholah
ia ingin mencari pegangan untuk mengeluarkan isi
hatinya.
"Maaf! Mungkin ji-wi Lo-heng benar-benar belum
mengetahui peristiwanya...." tokoh Mo kauw itu lekas-lekas
menambahkan melihat kekagetan tuan rumah.
“Leng Lo-heng, jangan berbelit belit lagi ! Lekas katakan,
apa yang mengejutkan kaljan itu!" Toat-beng-jin yang
biasanya sangat tenang itu menjadi tegang pula.
"Ji wi Loheng....., silahkan duduk dan menenangkan hati
dahulu agar kita tidak menjadi saling bersalah paham nanti.
Tentu akan lo-hu ceritakan peristiwa yang sangat melukai
perasaan kami itu. Tapi marilah kita bicarakan secara
perlahan-lahan !" Bhong Kim Cu ikut menenangkan hati kedua
tokoh Im yang-kauw tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ahh…..!”
Akhirnya kedua tokoh Im-yang-kauw itu duduk pula
kembali dengan menghela napas berat, ketenangan yang
diperlihatkan oleh kedua orang tamunya itu bagai air dingin
yang menyejukkan hati mereka, sehingga ketegangan yang
menggantung di dada mereka seperti larut pula karenanya.
"Nah, silahkan Bhong Lo-heng dan Leng Loheng
menceritakannya kepada kami......!" Toat-beng jin menatap
penuh perhatian.
“Baiklah! Kami akan bercerita....." Bhong Kim Cu
mengangguk.
Kemudian berceriteralah kedua tokoh Mo-kauw itu
bergantian. Mereka saling melengkapi keterangan temannya,
sehingga cerita yang mereka paparkan menjadi semakin
lengkap dan jelas. Begitu pandainya mereka bercerita
sehingga Tong Ciak yang biasanya selalu mengumbar
perasaan, kali ini tampak diam saja terpaku di tempatnya.
Sejak munculnya aliran kepercayaan Mo-kauw di Tiongkok
pada abad kelima sebelum Masehi hingga sekarang, para
pengikut dan penganut aliran ini belum pernah bersatu dalam
suatu wadah atau organisasi yang teratur. Orang-orang
mereka yang berjumlah jutaan dan tersebar di seluruh daerah
Tiongkok itu masing masing berdiri sendiri-sendiri dalam
melakukan kegiatannya. Hanya di beberapa tempat saja
terbentuk perkumpulan-perkumpulan, itupun hanya sebuah
perkumpulan kecil yang didirikan oleh satu dua orang
penganut yang sedikit punya pengaruh diantara temantemannya.
Dan diantara masing-masing perkumpulan kecil
tersebut juga tidak ada hubungan pula satu sama lain,
masing-masing berdiri sendiri.
Dan diantara perkumpulan-perkumpulan kecil itu yang
paling terkenal dan punya anggota banyak adalah Liong-Ipang
(Perkumpulan Jubah Naga) pimpinan Ouwyang Kwan Ek,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
murid kedua mendiang Bu-eng Sin-yok-ong. Oleh karena itu
tidaklah mengherankan ketika beberapa tahun yang lalu
diadakan pertemuan besar para penganut Mo-kauw di seluruh
negeri. Tokoh-tokoh Liong-I-pang banyak yang dipilih sebagai
tenaga pengurus dalam persatuan yang mereka bentuk. Ketua
Liong-i pang Ouwyang Kwan Ek yang bergelar Pek-i Liong-ong
malah terpilih sebagai Mo cu (Ketua Aliran Mo-kauw) yang
pertama. Sedang kedua murid utamanya, Bhong Kim Cu dan
Leng Siau, diangkat sebagai Siang-Shih-kauw (Sepasang
Utusan Agama) yaitu orang yang bertanggung jawab untuk
menyebarluaskan pengaruh aliran kepercayaan Mo-kauw di
dalam masyarakat.
Demikianlah, bertahun-tahun mereka hidup dengan aman
dan damai. Biarpun sering berselisih dengan aliran lain, tapi
perselisihan itu bukan perselisihan yang berarti. Semuanya
dapat mereka atasi dengan musyawarah. Belum pernah
sekalipun persengketaan yang telah terjadi itu sampai
menimbulkan korban benda ataupun manusia.
Tapi peristiwa yang terjadi di pusat perkumpulan mereka
beberapa hari yang lalu justru benar-benar diluar dugaan
mereka. Sekelompok pendatang yang mengaku dari Kuil Bukit
Delapan Dewa, yaitu kuil dari penganut aliran Im-yang-kauw
telah membuat keributan dan keonaran yang sangat melukai
hati mereka. Padahal saat itu di pusat perkumpulan mereka
sedang dalam keadaan kosong. Artinya Pek-I Liong-ong dan
semua orang wakilnya sedang pergi meninggalkan Gedung
perkumpulan mereka. Yang ada di gedung mereka hanyalah
para anggota dan pengurus harian, yang kepandaiannya
masih sangat rendah, sehingga tidak ada yang mampu
menghadapi para pendatang tersebut.
Kelompok pendatang tadi masuk ke gedung dengan paksa,
membunuh belasan penjaga yang ada di sana dan merusak
bangunan yang mereka cintai dan mereka hormati! Tidak
hanya itu saja. Ada yang sangat melukai hati dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memerahkan telinga mereka. Orang-orang itu menurunkan
papan nama yang mereka pasang di halaman depan dan
menghancurkannya. Kemudian yang paling brutal adalah
pengrusakan yang mereka lakukan terhadap ruang
sembahyang, di mana abu cikal-bakal pendiri aliran Mo-kauw
disimpan !
"Nah, begitulah ceriteranya....." kedua tokoh Mo kauw
tersebut mengakhiri penuturannya. Tak ada sedikitpun tandatanda
kemarahan yang masih membekas di wajah mereka
berkenaan dengan peristiwa memalukan yang menimpa
perkumpulan mereka tersebut. Pembawaan mereka tetap
sabar tenang, benar-benar seperti sedang menghadapi sebuah
masalah yang ringan dan sepele saja.
Tapi kesan seperti itu justru amat mendebarkan bagi jagojago
tingkat atas seperti Toat-beng jin dan Tong Ciak !
Karena hanya orang-orang yang sudah betul betul dapat
dikatakan mencapai kesempurnaan saja yang bisa bersikap
seperti itu. Kalau misalnya peristiwa serupa menimpa Imyang-
kauw, mungkin mereka sudah tidak tahan lagi, terutama
Tong Ciak Cu-si.
"Oleh karena itu ji-wi Lo heng tentu sudah bisa
memakluminya sekarang, kenapa malam-malam begini kami
terpaksa datang merepotkan Kuil Delapan Dewa ini..... Kami
hanya ingin meminta keterangan dari pemimpin kuil di sini,
saudara Han Su Sing dan Hu Ki, yang memimpin para
pendatang dan perusak gedung perkumpulan kami itu !" Leng
Siauw mengakhiri ucapannya dengan tandas dan tegas.
“Hei ?!? Apa?! Aku……?” tiba-tiba Ciong Hu Ki yang duduk
di belakang Toat beng-jin mencelat berdiri. "Heh, pembohong!
Enak saja menuduh orang! Kapan aku dan Han suheng pergi
ke sana?" Lalu dengan wajah tak percaya ia menghadap ke
arah Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si. "Lo-jin-ong... Tong
Cu-si ! lni .... ini bagaimana ? Ini... terang fitnah! Aku dan
Han-suheng tak…. tak pernah meninggalkan kuil kita ini,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
apalagi sampai ke gedung perkumpulan Mo-kauw yang jauh
itu. Lo-jin-ong dapat bertanya kepada semua penghuni kuil
ini."
Leng Siau dan Bhong Kim Cu saling memandang dan
mengerutkan keningnya.
"Ah, maaf..... kami belum mengenal saudara. Bolehkah
kami mengetahui gelar saudara ?” Bhong Kim Cu bertanya.
"Dialah salah seorang yang namanya telah Loheng
sebutkan tadi." Tong Ciak menyahut.
"Oh! Siapa. . ?"
“Ciong Hu Ki! Wakil pimpinan kuil Delapan Dewa ini.”
“Ohhh.....!” kedua tokoh Mo-kauw itu membuang napas
hampir berbareng. Mata mereka yang bersorot tajam itu
tampak berkilat sekejap, membuat hati Toat-beng-jin dan
Tong Ciak kembali bergetar.
Bhong Kim Cu tampak menggeser duduknya, lalu menoleh
ke belakang, kearah para pengikutnya yang sedari tadi hanya
berdiam diri saja di tempat masing-masing.
"Coba katakan, Hwa Siu! Saudara inikah yang dahulu
memimpin para pendatang itu ?” Salah seorang pengikutnya
yang berjubah hijau tampak berdiri dari kursinya. Dengan
suara ragu ia menjawab pertanyaan Bhong Kim Cu tadi.
“Maafkan siauw-te, Bhong Tai-shih (Utusan Bhong).
Peristiwa itu terjadi pada waktu tengah malam, sehingga kami
tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tapi perawakan
salah seorang dari mereka memang tinggi kurus seperti
saudara ini.....cuma pada saat itu pakaian yang dipakai tidak
kelabu seperti ini, tetapi putih bersih dan mengkilap seperti
sutera.”
“Tinggi kurus berpakaian sutera putih bersih....” tanpa
terasa Toat beng-jin bergumam. Begitu juga dengan Tong
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciak. Keduanya segera teringat penuturan anak buahnya yang
dilukai orang dilereng bukit siang tadi.
“Maaf, Lo-heng mengatakan apa?” Bhong Kim Cu yang
tidak begitu jelas mendengar perkataan yang digumamkan
oleh Toat-beng-jin itu menegas.
Orang tua itu tidak segera menjawab, sebaliknya ia malah
bertanya kepada tamunya.
“Bhong Lo-heng, apakah pimpinan para pendatang yang
mengaku sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki itu yang satu
mempunyai bentuk tubuh tinggi kurus seperti dia......" Toatbeng-
jin memandang ke arah Ciong Hu Ki. “.....dan yang lain
tinggi besar berbulu lebat pada tangan dan mukanya ?"
"Benar„.„.!" Bhong Kim Cu mengangguk. Lalu matanya
melirik ke arah rombongan tuan rumah yang tersebar di dalam
pendapa itu, tapi tak dilihatnya seorang bertubuh tinggi besar
berbulu lebat di antara mereka. “Ah! Mengapa kami tak
melihat saudara Han Su Sing disini? Apakah ia sedang pergi?”
Toat-beng-jin menarik napas dalam dalam. "Bhong Loheng...
Leng Lo-heng, saudara berdua sungguh bijaksana
sekali dalam mengurus persoalan ini. Meskipun dada saudara
hampir terbakar oleh kemarahan, tapi saudara berdua tak
pernah mengungkapkannya di hadapan kami, sehingga kami
menjadi kagum dan malu terhadap saudara." Tokoh Mo kauw
itu menatap Toat beng-jin dengan dahi berkerut, sedikitpun
tak tahu apa yang dimaksudkan jago Im-yang-kauw dengan
kata pujian itu. “Apakah maksud Lo-heng?” tanyanya pelan.
Toat-beng-jin bangkit dari kursinya, lalu diikuti oleh Tong
Ciak dan yang lain-lain.
“Marilah Bhong Lo-heng dan Leng Lo-heng. Mari kita lihat
saudara Han Su Sing! Dia ada di ruangan samping.” Ajak
orang itu kepada tamunya. “Marilah! Bukankah ji-wi ingin
bertemu dengan dia?” katanya lagi begitu melihat tamunya
masih ragu-ragu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Biarlah kami berada disini saja.” Leng Siau mewakili
teman-temannya. “Kalau saudara Han Su Sing merasa
keberatan untuk menemui kami, biarlah kami tak usah
menemuinya. Dengan adanya ji-wi disini kukira sudah lebih
dari cukup bagi kami.”
Agaknya Toat-beng-jin melihat keragu-raguan dan
kecurigaan tamunya, dan hal itu tentu saja dapat ia maklumi.
Oleh karena itu ia menoleh ke arah Tong Ciak yang berdiri di
sampingnya. Dan ketika pengurus agama itu menganggukkan
kepalanya, diapun segera duduk kembali di tempatnya.
“Ciong Hu Ki! Ajaklah beberapa orang kawanmu untuk
membawa Han Su Sing kemari!” perintahnya kepada wakil
kepala kuil itu.
“Lo-jin-ong?!? Ja-jangan.....!” orang itu menjadi pucat
mukanya.
“Lo-heng, sudahlah...! tak usah repot.....” Leng Siau
menjura.
Tapi Toat beng jin tetap menyuruh Ciong Hu Ki pergi
mengambil Han Su Sing.
"Bhong Lo heng! Leng Lo heng! Biarlah! Masalah ini bukan
masalah kecil. Masalah yang terjadi ini kalau tidak kita
selesaikan sampai jernih tentu akan menjadi berlarut-larut.
Karena ji-wi Lo-heng tidak mau kubawa ke ruangan samping,
biarlah kami saja yang membawanya ke pendapa ini. Akan aku
tunjukkan kepada saudara berdua kejanggalan-kejanggalan
yang terjadi dalam peristiwa ini.”
“Kejanggalan.....? Jadi maksud Lo-heng ada orang lain
yang......?” Bhong Kim Cu tidak melanjutkan perkataannya.
“Begitulah!” Toat-beng-jin mengangguk.
Lalu sambil menanti Ciong Hu Ki yang pergi mengambil Han
Su Sing, orang tua itu bercerita tentang peristiwa yang baru
saja menimpa anak buah kuil Delapan Dewa di siang hari tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagaimana dua orang asing yang bertubuh tinggi kurus
berbaju putih serta kawannya yang tinggi besar berbulu lebat
telah menganiaya dan membunuh tiga orang anggota Imyang-
kauw.
“Kedua orang itu mengaku sebagai penganut aliran Bing
kauw! Tapi kukira pengakuan mereka itupun juga tidak benar.
Mereka tentu berbohong. Tampaknya mereka itu sengaja ingin
mengadu domba kita.” Toat-beng-jin menutup ceritanya. “Nah
sekarang akan saya buktikan bahwa para pendatang yang
merusak gedung Mo-kauw itu telah berbohong pula.....”
“Lo-jin-ong.....!” tiba-tiba dari ruang dalam terdengar suara
Ciong Hu Ki.
“Nah.....Han Su Sing telah tiba!” Toat-beng-jin menoleh ke
arah pintu.
Tapi orang-orang Mo-kauw yang berada di pendapa itu
menjadi terkejut bukan main ketika melihat yang keluar dari
pintu dalam tersebut ternyata bukanlah orang besar berbulu
lebat, tetapi.....sebuah peti mati besar yang digotong oleh
Ciong Hu Ki dan kawan-kawannya!
Peti mati itu oleh Ciong Hu Ki diletakkan di tengah-tengah
pendapa, persis di depan meja tamu. Kemudian tutupnya ia
buka sehingga mayat Han Su Sing yang gemuk pendek itu
terlihat jelas oleh semua orang yang hadir.
"Toat-beng-jin Lo-heng! Permainan apakah yang
kaupertunjukkan di hadapan kami ini...?” Bhong Kim Cu dan
Leng Siau cepat berdiri dengan kening berkerut. Matanya
melirik ke sekitarnya dengan rasa curiga.
"Leng Lo-heng! Bhong Lo-heng! Lihatlah! Mayat yang
berada di depan kita ini adalah Han Su Sing, ketua kuil
Delapan Dewa. Biarpun gemuk dan besar tetapi tubuhnya
sangat pendek serta tidak berbulu.......! Nah, bukankah orang
yang datang serta merusak gedung Mo-kauw itu hanya
berbohong dan mengaku-aku saja?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hmh!” kedua tokoh Mo-kauw itu menggeram berbareng.
Sepasang mata mereka yang berkilat-kilat itu masih tampak
curiga dan tidak percaya pada keterangan lawannya. Mereka
bercuriga jangan-jangan pihak tuan rumah Cuma sedang
memasang sebuah siasat saja.
Sekali lagi Toat beng jin seperti dapat menebak apa yang
sedang dipikirkan oleh tamunya. Maka dengan lantang iapun
berdiri di depan mereka.
“Bhong Lo-heng! Leng Lo-heng! Sebenarnya aku tidak ingin
memperlihatkan mayat orang kami ini. Karena seperti juga
yang terjadi di gedung perkumpulan kalian, di tempat kami
sendiripun telah terjadi musibah yang amat memalukan kami
pula. Tapi karena kami ingin lekas-lekas menjernihkan
masalah ini agar tidak semakin menambah beban kami, maka
kami memaksa diri untuk memperlihatkan mayat ini kepada jiwi.
Kami berharap dengan menunjukkan mayat Han Su Sing
ini, kalian akan segera memaklumi bahwa kalian telah tertipu
oleh orang yang menyamar sebagai orang-orang kami.”
Leng Siau melangkah ke depan mendekati peti mati. Tanpa
meninggalkan kewaspadaan dia membungkuk dan mengamatamati
mayat yang berada di dalam peti.
“Hm, benarkah orang ini yang bernama Han Su Sing?” ia
menegaskan.
Kecurigaan dan ketidakpercayaan tamunya itu benar-benar
memanaskan perut Tong Ciak. Tanpa menghiraukan isyarat
yang diberikan oleh Toat-beng jin, tokoh Im-yang-kauw yang
bertubuh pendek kekar itu telah meloncat maju.
"Maaf Leng Lo heng….." katanya dengan muka kemerahan.
"Mengapa kami mesti berbohong ? Apakah Im yang kauw
sudah sedemikian lemahnya sehingga tokoh-tokohnya telah
berubah menjadi penakut dan pengecut yang tidak berani
beradu dada dengan orang lain?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kauw Cu-si dari Im-yang-kauw itu menghentikan katakatanya
sebentar untuk mengambil napas. Ternyata hatinya
yang tersinggung itu telah mulai membara dan menyesakkan
dadanya, sehingga rasanya terlalu sukar untuk mengeluarkan
isi yang terkandung di dalamnya.
“Semuanya ini kami lakukan di hadapan Lo-heng, karena
kami sangat menghargai dan mengagumi cara-cara Lo-heng
dalam menangani masalah yang menimpa perkumpulan Loheng
itu. Biarpun dari rumah ji-wi Lo-heng telah membawa
bara api kemarahan di dalam dada, tapi sejak menginjakkan
kaki di kuil kami, ji-wi Lo-heng selalu bersikap tenang dan
sabar. Sedikitpun ji-wi Lo-heng tidak pernah memercikkan
bara-bara api itu ke dada kami, yang akan membuat kami ikut
terbakar pula..... jadi apa yang kami lakukan ini benar-benar
bersih. Tapi bila hal yang seperti ini masih Lo-heng anggap
tidak benar.....yah apa boleh buat! Tong Ciak bukanlah
seorang pengecut yang mudah dihina!”
"Ahh..... Tong Cu-Si, harap bersabar dahulu!” dengan
gugup Bhong Kim Cu mencelat pula ke depan, berdiri di antara
Leng Siau dan Tong Ciak. “Maafkanlah Leng-sute! Dia tidak
bermaksud menghina siapapun juga. Dengarlah! Kami semua
memang belum pernah melihat ataupun mengenal saudara
Han Su Sing, maka sudah sewajarnya kalau kami bercuriga
dalam hal ini. Coba, kalau hal seperti ini terjadi pula pada
Tong Cu-si, kukira Tong Cu si juga tidak akan percaya begitu
saja terhadap omongan kami."
Toat beng jin menyentuh tangan Tong Cu-si dari belakang.
"Tong- hiante, kata kata yang diucapkan oleh Bhong Lo-heng
itu benar belaka…..” bisiknya perlahan.
"Benar, saudara Tong..... maafkanlah aku. Aku tidak
bermaksud untuk menuduh atau menghina siapapun juga. Aku
hanya benar-benar ingin memastikan apakah mayat yang
berada di dalam peti mati itu sungguh-sungguh mayat dari
saudara Su Sing. Sebab kami memang benar-benar belum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pernah melihat ataupun mengenal orang itu sebelumnya."
Leng Siaupun ikut menjura kepada Tong Ciak. Sikapnya tidak
berubah, tetap tenang dan tegas seperti semula. Sedikitpun
juga tidak tampak terpengaruh oleh kemarahan Tong Ciak Cusi!
Sikapnya benar-benar sikap seorang pendekar yang telah
begitu yakin terhadap dirinya. Sehingga untuk yang ketiga
kalinya perasaan Toat-beng-jin menjadi tergetar karenanya.
“Kedua orang ini adalah orang ke dua setelah Pek i Liong
ong dalam urusan tingkat jabatan Mo-kauw, tentu saja
kesaktiannya tidak boleh dipandang ringan. Tentu saja mereka
merupakan pasang lawan yang sangat berat bagi Im-yangkauw
apabila mereka sampai berselisih jalan." orang tua itu
berpikir di daIam hati.
Akhirnya Tong Ciak mau juga duduk kembali, mereka lalu
meneruskan kembali pembicaraan yang hampir saja membuat
mereka bentrok satu sama lain itu. Dan Toat beng jin bercerita
pula tentang peristiwa yang sedang dihadapi Im yang-kauw
saat ini, Toat beng jin juga mengatakan kecurigaankecurigaannya
tentang dua orang yang mengaku sebagai Han
Su Sing dan Ciong Hu Ki tersebut.
“Aku percaya bahwa yang menyamar sebagai Han Su Sing
dan Ciong Hu Ki itu tentulah orang yang telah menyaru pula
sebagai orang Bing kauw membunuh orang-orang kami."
Toat-beng-jin mengeluarkan pendapatnya.
“Tapi, .. apa maksudnya mereka mengadu domba kita?
Sebelum terjadi perusakan terhadap gedung perkumpulan
kami, Mo cu kami juga telah bentrok dengan orang-orang
Bing-kauw yang dibantu oleh seorang gadis buntung......”
Bhong Kim Cu berkata pula.
“Hmm, agaknya memang benar apa yang diduga oleh Toat
beng Jin Lo-heng tadi. Kejadian-kejadian beruntun yang
menimpa Mo-kauw dan Im yang-kauw dalam beberapa hari ini
rasanya memang sangat aneh. Kelihatannya peristiwaperistiwa
itu memang berkaitan satu sama lain dan agaknya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga dikendalikan oleh orang yang sama pula. Agaknya ada
orang yang menginginkan terjadinya pertumpahan darah
antara Mo-kauw, Bing kauw dan Im-yang kauw!” Leng Siau
ikut mengutarakan pendapatnya pula.
"Lalu..... siapakah orang itu?" Tong Ciak bergumam.
“Itulah yang harus kita selidiki dan kita cari bersamasama,..!”
Toat beng-jin menjawab dengan tersenyum.
"Betul! Kunci dari masalah adu domba ini hanya terletak
pada orang berbaju putih dan orang berperawakan tinggi
besar berbulu lebat. Oleh karena itu…. Asal kita bisa
meringkus kedua orang misterius itu, semuanya akan menjadi
beres.” Leng Siau melanjutkan.
“Dan….. kita akan segera mengetahui, apa yang menjadi
latar belakangnya sehingga tiga buah aliran itu mereka adu
domba.” Bhong Kim Cu mengangguk-angguk.
Sementara itu Souw Lian Cu yang berdiri di antara para
penghuni kuil lainnya, tampak sedikit gelisah ketika namanya
disebut sebut dalam pembicaraan itu. Untunglah tidak
seorangpun diantara para tamu tersebut yang
memperhatikannya.
Dan agaknya Toat beng-jin, Tong Ciak dan orang-orang
Im-yang kauw lainnya juga tidak mau repot-repot mengatakan
tentang beradanya gadis buntung tersebut di kuil mereka.
Mungkin mereka tidak ingin memperburuk lagi suasana yang
telah menjadi baik itu.
Demikianlah, pertemuan malam itu diakhiri dengan
pulangnya para tokoh Mo-kauw dari kuil Delapan Dewa
tersebut, dengan suatu tugas bersama untuk mencari
keterangan, siapakah sebenarnya kedua orang yang
menyamar sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki itu.
Udara malam terasa semakin dingin menyentuh kulit. Angin
malam yang bertiup Iemah itu juga terasa lembab, sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tanaman yang memenuhi halaman tengah kuil itu tampak
mengkilap basah ditimpa sinar bulan yang condong ke barat.
Ujung-ujung daun yang bergantungan itu terasa menggigilkan
ketika menyentuh wajah dan lengan.
Toat beng-jin dan Tong Ciak tampak berjalan perlahan,
menerobos pohon-pohon bunga yang tumbuh lebat di
halaman tersebut. Di belakang mereka tampak Souw Lian Cu
mengikuti dengan kepala tertunduk. Beberapa kali mereka
harus menunduk atau menyingkirkan ranting pohon yang
menghalangi jalan mereka.
"Nona Souw....." Toat-beng-jin yang berjalan paling depan
membuka suara.
“Yaa? Locianpwe memanggil saya?" gadis buntung itu
mengangkat mukanya.
"Nona Souw. maaf.... bolehkah kami bertanya sesuatu
kepadamu?”
“Tentu saja ! Mengapa locianpwe masih.....menaruh
sungkan pula kepadaku?"
"Ah, bukan begitu nona Souw...... Soalnya kami sebenarnya
tidak ingin mencampuri urusan pribadi nona. Seperti juga
telah nona ketahui, sampai saat ini kami tak pernah bertanya
siapa sebenarnya nona ini. Dari mana, murid siapa...atau
puteri siapa? Dan sampai sekarangpun kami tetap tidak peduli
! Nona membutuhkan pertolongan kami..... dan karena kami
merasa mampu menolong maka kamipun segera memberi
pertolongan. Itu saja !” orang tua itu berkata tegas. "Tetapi
... kali ini kami terpaksa mau bertanya sedikit kepada nona....
Sebab hal yang akan kami tanyakan kepada nona ini agaknya
mempunyai sangkut paut pula dengan masalah penting yang
sedang kami hadapi.”
Souw Lian Cu menghentikan langkahnya, sehingga
otomatis Toat-beng jin dan Tong Ciak turut berhenti pula.
Mereka berdiri berhadapan dibawah pohon cemara yang besar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan berdaun rimbun. Meskipun demikian karena bulan
bersinar dengan amat terangnya, maka ketiga-tiganya dapat
saling memandang dengan jelas sekali.
“Locianpwe, apakah…..apakah yang ingin locianpwe
tanyakan?” gadis itu menatap orang tua itu dengan wajah
tegang.
Toat-beng-jin menarik napas dalam-dalam, seolah-olah
ingin mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan isi
hatinya. Lalu sambil menatap gadis cantik yang berada di
depannya, ia mengatakan apa yang ingin diketahuinya.
"Nona Souw, ketika Put gi ho dan Put-chih to membawamu
kemari, mereka mengatakan bahwa nona terluka oleh pukulan
Pek-i Liong ong. Kedua orang Bing kauw itu mengatakan
bahwa nona membantu mereka ketika terjadi pertempuran
antara mereka dengan para pengikut Mo-kauw. Sekarang
yang ingin kami ketahui ialah. ... apakah nona mengetahui
sebab sebab dari perselisihan mereka itu? Maaf, aku
mengajukan pertanyaan ini karena kami curiga, jangan-jangan
penyebab dari perselisihan mereka juga karena ulah dua
orang yang menyaru sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki
itu!"
Souw Lian Cu menundukkan kepalanya kembali, sehingga
gumpalan rambut yang gemuk hitam diatas kening jatuh
menutupi dahinya yang licin. Sepasang matanya yang bulat
lebar itu tampak mengejap-ngejap, mengakibatkan bulu mata
yang lentik itu kelihatan bergetar dalam gemilang sinar bulan.
"Entahlah, locianpwe…. Sesungguhnya aku memang belum
pernah mengenal masing-masing dari mereka. Hanya karena
aku kasihan melihat orang-orang itu dikeroyok oleh banyak
orang, maka aku berusaha menolong mereka. Ternyata lawan
mereka adalah orang-orang Mo-kauw, sehingga saya terpaksa
berhadapan dengan ketuanya. Untunglah saya….eh,
sebentar……saya ingat sesuatu! Betul! Sebelum saya pingsan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
salah seorang dari orang Bing kauw yang kutolong tersebut
sempat menyebut tentang dua orang…..”
“Apa….apa katanya?” Tong Ciak menegasi.
“Nona Souw, apa yang dikatakannya.....?” Toat beng-jin
menjadi tegang pula.
“Mereka seperti menyebut tentang dua orang misterius
yang berusaha menculik isteri Kauwcu (Ketua Agama)
mereka…..”
“Dan dua orang itu bertubuh tinggi kurus berbaju putih dan
tinggi besar berbulu lebat?” Toat beng-jin mendesak.
Souw Lian Cu menggeleng. “Mereka tidak
menjelaskannya….”
“Ah….aku yakin, tentu orang itu pula!” Tong Ciak
menggeram.
“Mungkin juga……!” Toat beng-jin mengangguk.
“Baiklah, kita selidiki nanti!” Ketiga orang itu lalu
melangkah kembali ke belakang menuju kamar masing-masing
untuk beristirahat. Sebelum berpisah Toat-beng-jin berpesan
kepada Souw Lian Cu.
"Nona, lukamu masih membutuhkan satu kali pengobatan
lagi. Padahal sebelum terang tanah aku dan Tong Cu-si harus
berangkat pulang ke Gedung Pusat. Hmm, bagaimana kalau
engkau turut kami kesana? Setelah melaporkan semua
kejadian ini ke sidang agama nanti, aku dan Tong Cu-si
bermaksud akan menyelesaikan pengobatan itu."
Gadis itu tampak ragu ragu sebentar. "Terima kasih,
locianpwe. Ji-wi locianpwe sangat sibuk sekarang. Maka saya
tak berani mengganggu pula lagi. Biarlah saya…..”
"Eeee,.. nanti dulu! Jangan tergesa-gesa mengambil
keputusan. Dengarlah, nona! Kami berdua sebenarnya telah
mengambil keputusan untuk membawa nona tadi. Sebab kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tetap akan merasa penasaran sebelum dapat mengobati nona
sampai sembuh betul. Tapi keinginan kami itu tentu saja tak
dapat dilaksanakan begitu saja tanpa mendapatkan
persetujuan dari nona sendiri. Oleh sebab itulah kami
menanyakan pendapatmu tadi.”
Ketika Souw Lian Cu masih tampak sungkan untuk
menjawab, biarpun dalam hati sudah tidak mempunyai
keberatan lagi, Toat beng-jin segera menepuk bahunya.
“Sudahlah! Besok pagi kita berangkat bersama-sama!
Sekarang beristirahatlah!”
Gadis itu mengangguk, Ialu pergi meninggalkan tempat itu.
Sebelum menaiki tangga, lebih dahulu matanya mengamati
keadaan di sekitarnya. Semua pintu telah tertutup, kecuali
pintu kamar Yang Kun. Agaknya pemuda itu belum tidur pula.
Pintu tersebut tampak bergoyang-goyang hampir tertutup
ketika angin bertiup sedikit keras.
Dengan cepat Souw Lian Cu berjalan melewati pintu
tersebut. Sekejap ia menoleh ke dalam. Tampak pemuda itu
melingkar memeluk bantal di pembaringannya. Mukanya yang
tampan itu keIihatan tersenyum-senyum menghadap ke arah
pintu sehingga sepintas lalu seperti mengajak senyum
padanya.
"Hmm, tanggal lima bulan depan tinggal berapa pekan Iagi
! Awas, akan kuberi hajaran di Meng-to nanti !” gadis itu
menggigit bibir dengan gemas.
Sesungguhnyalah, Yang Kun memang belum tidur sama
sekali. Bayangan gadis cantik yang baru saja memeluk dirinya
masih selalu menggoda pikirannya. Oleh karena itu ia masih
mendengar pula ketika Souw Lian Cu melewati kamarnya.
Ketika terdengar suara ayam berkokok pertama kalinya,
Toat-beng jin dan Tong Ciak telah mengajak kedua orang
muda-mudi itu berangkat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Eh, mengapa Yang hiante belum juga kelihatan?” Toatbeng-
jin yang telah siap untuk berangkat itu bertanya heran.
“Lo jin-ong, bukankah kita kemarin belum memberitahukan
rencana keberangkatan kita kepadanya? Wah, benar .. !” Tong
Ciak berseru, kemudian dengan tergesa-gesa melangkah ke
kamar Yang Kun.
"Yang-hiante! Kau sudah bangun......?”
"Oh! Tong Locianpwe mau pergi ke mana ?" Yang Kun
bergegas membuka pintunya yang tidak terkunci, lalu dengan
heran pemuda itu memandang kepada Tong Ciak, Toat bengjin
dan Souw Lian Cu yang telah bersiap-siap di depan
kamarnya. Masing-masing tampak menjinjing buntalan
mereka.
"Yang-hiante. Kami lupa memberitahukan kepadamu
kemarin, bahwa kami ingin membawa engkau beserta kami ke
Gedung Pusat pagi ini. Ada sesuatu hal yang harus kami
laporkan kepada Dewan Penasehat Agama dan Tai-si ong
dengan segera. Padahal kami belum selesai mengobatimu.
Oleh karena itu lo-hu dan Lo-jin-ong memutuskan untuk
mengajak engkau saja ke sana pagi ini. Nanti setelah segala
urusan itu sudah selesai, kami berdua dengan mudah mau
menyelesaikan pengobatan yang belum rampung tersebut.
Bagaimana….?” Tong Ciak mengutarakan maksudnya.
"Kami berdua belum merasa puas bila belum dapat
menyembuhkan luka dalammu itu. Kami baru akan
mengijinkan kau pergi apabila luka itu telah lenyap dari
tubuhmu.” Toat-beng-jin ikut menekankan.
“Baik, locianpwe….” Yang Kun mengangguk setelah lebih
dahulu melirik kearah gadis bunting yang sangat menarik
hatinya itu.
Tapi Souw Lian Cu dengan tak acuh memalingkan mukanya
ke halaman, kearah Ciong Hu Kid an anak buahnya yang juga
telah bersiap-siap untuk melepas keberangkatan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Nah, kalau begitu lekaslah engkau bersiap!” Tong Ciak
berkata.
Kemudian dengan diantar oleh Ciong Hu Ki sampai di pintu
gerbang rombongan kecil tersebut berangkat menuruni bukit,
menuju kearah dusun di pinggir sungai yang terlihat oleh Yang
Kun kemarin.
Demikianlah, dengan sisa-sisa sinar bulan yang masih
bergantung di puncak-puncak pohon, rombongan kecil yang
terdiri dari empat orang berkepandaian tinggi itu turun dengan
hati-hati kearah lembah. Mereka bermaksud mengitari jajaran
kelompok Bukit Delapan Dewa itu dahulu sebelum menuju
kearah Utara. Memang jalan yang mereka tempuh tersebut
akan lebih panjang dan lebih jauh akan tetapi jalan itu adalah
jalan yang terbaik serta mudah dilalui. Selain melalui tanahtanah
datar jalan tersebut juga selalu melintasi perkampungan
penduduk yang padat, sehingga apabila mereka
membutuhkan sesuatu mereka dengan mudah akan
mendapatkannya dengan segera. Apalagi jika diingat bahwa
dua orang diantara mereka masih menderita sakit.
Ternyata bekas-bekas amukan gempa bumi itu masih
terlibat di sepanjang jalan yang mereka lalui. Tanah-tanah
yang retak, longsor, maupun pohon-pohon besar yang
tumbang, banyak mereka jumpai di lereng-lereng bukit
tersebut. Bahkan kadang-kadang mereka juga menjumpai
gubug-gubug kosong yang telah roboh dan ditinggalkan
penghuninya.
“Sungguh mengherankan sekali! Getaran gempa itu
demikian dahsyatnya di daerah yang terpencil ini, tapi
mengapa kuil kita tadi masih tetap utuh seperti tak pernah
dijangkau oleh getaran gempa tersebut? Seharusnya kuil kita
yang bertengger di samping bukit tersebut mendapat
goncangan yang lebih kuat dari pada yang berada di tanah
datar.” Toat beng-jin bergumam diantara langkahnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benar, Lo-jin-ong! Lo-hu juga heran. Gedung Pusat kita
yang besar dan megah itu juga hanya mengalami kerusakan
ringan pula. Padahal bangunan lain disekitarnya pada roboh
dan hancur dalam sekejap mata.” Tong Ciak menyahut pula.
“Mungkin ini merupakan perlambang bagi kejayaan Imyang-
kauw kita.” Orang tua berjenggot putih itu berkata lagi.
Matanya yang hampir tertutup oleh alisnya yang lebat itu
menoleh sekejap kearah Chin Yang Kun, pemuda yang mereka
incar selama ini. Pemuda yang menurut pengamatan mereka
mempunyai peruntungan bagus bagi kejayaan aliran
kepercayaan mereka.
"Agaknya memang demikian halnya......" Tong Ciak
menengadahkan kepalanya dengan muka berseri-seri.
Jilid 14
DEMIKIANLAH, bersama dengan semakin tipisnya cahaya
bulan yang menerangi bumi, di ufuk timur telah mulai
berkembang sinar matahari yang hangat kemerah-merahan.
Mula-mula cuma seperti bara api yang membakar gumpalan
awan yang menutupinya. tapi lambat laun bara itu semakin
bertambah besar sehingga sinarnya secara perlahan-lahan
pula mampu mengusir kegelapan yang mencekam bumi.
Sedikit demi sedikit cahayanya yang kemerah-merahan itu
membakar ujung-ujung daun yang paling tinggi, lalu perlahanlahan
merambat ke bawah sehingga akhirnya seluruhnya
bagai tersepuh oleh kilauan emas yang kemerah-merahan.
Butiran-butiran embun yang semula membuka di setiap
ujung-ujungnya tampak mulai mencair, kemudian menguap
bersama-sama ke atas, sehingga lambat laun pohon-pohon
tersebut seperti terbungkus oleh kabut tipis yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyilaukan. Semakin tinggi matahari meninggalkan
cakrawala, semakin tebal pula kabut yang menutupi
permukaan bumi. Apalagi ketika rumput-rumput yang basah
dengan embun itu mulai terjamah pula oleh jangkauan
sinarnya.
Keempat orang itu sudah mencapai lembah sungai dan
berjalan di antara rumah penduduk yang padat. Seorang
wanita tua yang telah turun dari rumah untuk menyapu
halaman memandang mereka dengan heran. Begitu pula
beberapa orang penduduk yang pergi ke ladang masingmasing.
Orang-orang itu menatap rombongan kecil tersebut
tanpa berkedip,
“Heran ! Orang-orang itu memandang kita seperti belum
pernah melibat orang sebelumnya. Agaknya bencana alam
yang hampir memusnahkan seluruh milik mereka itu telah
membuat mereka tidak bersahabat lagi" Tong Ciak berdesah
di antara langkahnya.
Toat-beng jin menarik napas panjang, “biarlah! Kita tak
usah memperhatikannya! Nanti kita menyewa perahu saja di
desa Ho-ma-cun, biar tidak terlalu menarik perhatian
orang......”
"Desa Ho-ma-cun.....?” tiba-tiba Yang Kun menukas.
"Benar! Ada apa ...?” Si Pendek Tong Ciak terheran heran.
"Kakek Piao Liang....."
"Ohh...... itu!" Tong Ciak tersenyum. "Kakek guruku
memang berasal dari dusun itu, biarlah nanti kuperlihatkan
bekas tempat tinggalnya. Toh kita akan melewatinya juga.
Apalagi rumahnya persis di pinggir jalan besar yang menuju ke
arah sungai.”
Toat-beng-jin dan Souw Lian Cu memandang Tong Ciak
dan Yang Kun dengan heran, tapi keduanya tidak bertanya
lebih lanjut. Mereka meneruskan langkahnya tanpa berbicara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lagi. Toat-beng-jin paling depan, kemudian Tong Ciak Cu-si,
baru kedua orang remaja yang tidak pernah berbicara satu
sama lain itu.
Sebenarnya ingin juga rasanya pemuda itu mengajak
omong Souw Lian Cu. Tapi melihat gadis tersebut berwajah
keruh, apalagi tampaknya sangat membenci dirinya, Yang Kun
terpaksa menutup mulutnya. Hanya sesekali ia melirik ke arah
gadis ayu yang melangkah tak jauh darinya itu. Dalam hati
pemuda itu berharap kalau-kalau si gadis mau menyapa
dirinya.
Tapi harapan itu tak pernah terlaksana. Jangankan
menyapa, sedang menolehpun hampir tak pernah
dilakukannya. Mata yang indah itu selalu menatap tajam ke
depan, sekejappun tak pernah menoleh ke samping atau ke
belakang, seakan-akan Yang Kun yang berada di dekatnya itu
tak pernah ada. Kalau toh gadis itu membuka mulutnya, katakata
yang keluar tentu hanya ditujukan kepada Toat beng-jin
atau Tong Ciak Cu si.
"Ah, sudahlah....!" akhirnya Yang Kun berdesah di dalam
hati. "Setiap orang tentu saja berhak untuk bersikap
sekehendak hatinya sendiri. Kenapa aku mesti penasaran?
Membuang-buang waktu saja !”
Kemudian pemuda itu memperlambat langkahnya, sehingga
beberapa saat kemudian dirinya sudah sedikit jauh tertinggal
di belakang. Sambil menggendong tangannya di belakang
mulutnya bersiul-siul ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang
menikmati cerahnya pagi bersama-sama dengan burungburung
yang mulai beterbangan di sekeliling mereka. Sesekali
dengan wajah gembira ia melempar burung kecil yang
bertengger di atas dahan dengan batu.
Ternyata gadis ayu itulah yang kini menjadi penasaran.
Ingin rasanya ia menoleh untuk melihat apa saja yang
dikerjakan oleh pemuda itu sehingga lagaknya demikian
riangnya. Suara siulan yang semakin lama semakin jauh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tertinggal di belakang itu benar-benar membuat perasaannya
menjadi kesal. Tapi sungguh malu rasanya kalau ia harus
memalingkan kepalanya.
Kedua orang tua yang berjalan di depan itu asyik berbicara
satu sama lain. Sedikitpun tidak mengetahui apa yang sedang
bergejolak di dalam hati kedua remaja yang berjalan di
belakang mereka. Mereka cuma memperingatkan ketika
mereka ketahui Yang Kun sedikit jauh tertinggal di belakang
mereka.
“Yang-hiante.,..! Jangan terlalu jauh di belakang kami! Kau
bisa sesat jalan nanti!"
"Ah.. ji-wi locianpwe tidak usah khawatir. Aku tidak akan
pergi ke mana mana., "
Akhirnya rombongan itu sampai juga di desa Ho-ma cun,
yaitu sebuah desa yang berada di paling ujung dari lembah
tersebut. Matahari telah mulai menyengat punggung mereka.
Dan dusun besar yang menjadi pangkalan perahu perahu
nelayan tersebut tampak hidup di pagi hari itu. Orang-orang
tampak hilir-mudik di jalan besar membawa barang bawaan
mereka masing masing. Ada yang membawa peralatan perahu
dan jala, ada yang kembali menjinjing keranjang ikan.
Beberapa buah warung makanan dan minuman juga
tampak sibuk dengan langganannya, sementara belasan orang
penjaja makanan kecil juga kelihatan bertebaran di tepi jalan.
Pagar kecil yang berada di simpang jalan menuju ke sungai
juga tampak ramai para pedagang dan pembelinya.
“Nah, rumah kecil yang berada di sana itulah rumah
mendiang Kim-mou Sai-ong Su-couw atau kakek Piao
Liang.....!" Tong Ciak menunjuk ke sudut jalan.
Chin Yang Kun memandang ke depan. Di atas sebuah
pekarangan luas dan tak terurus ia melihat sebuah rumah kecil
berbentuk kuno. Semua pintu dan jendelanya tampak tertutup
rapat dan banyak yang telah dimakan rayap. Serambi bagian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
depan malah sudah penuh dengan tanam tanaman menjalar.
Halamannyapun telah penuh dengan semak-semak berduri.
"Apakah sudah tidak ada seorangpun yang tinggal di sana?"
Yang Kun bertanya dengan dahi berkerut.
"Lo hu menaruh seorang penjaga sebenarnya......" tokoh
Im-yang-kauw bertubuh pendek itu menghela napas berat.
“...tapi oleh karena orang tersebut sudah amat tua, apalagi
hanya sendirian, dia tak mempunyai kemampuan lagi untuk
mengurusi rumah dan halaman yang begitu luasnya.
Lihatlah.....!"
Tong Ciak menunjuk ke arah belakang rumah, di mana
berdiri sebuah kandang domba yang telah dirombak menjadi
tempat tinggaI. Biarpun rumah itu juga tidak bersih, tetapi
dapat dilihat kalau di sana tentu ada penghuninya. Apalagi
ketika dari belakang rumah terlihat asap mengepul dari selasela
gentingnya.
"Hmm, Tong-hiante terkenang pada Kim-mou Sai-ong Sucouw
rupanya....." Toat-beng-jin tersenyum.
“Benar, Lo-jin-ong! Apakah tidak lebih baik kita singgah
sebentar untuk makan pagi di sana?"
“Tentu saja. Tapi aku takut membikin orang tua itu menjadi
sibuk karenanya. Sungguh kasihan. Lebih baik kita makan saja
di warung, baru setelah itu kita pergi ke sana untuk menengok
dia.....!”
"Begitu juga baik. Ayoh, kita masuk ke warung bubur Hao
Chi kalau begitu ! Biarpun harus antri, tapi buburnya sungguh
enak.....” Tong Ciak tertawa.
"Marilah....."
Mereka berempat memasuki warung Hao Chi yang berada
di pojok pasar. Warung itu sebenarnya cukup luas, mungkin
dapat menampung sekitar tigapuluh orang pembeli. Meski
begitu ketika mereka masuk ternyata semua kursi telah terisi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wah ! Kita terlambat datang agaknya….." Tong Ciak
mengeluh.
"Kita mencari warung bubur yang lain saja..." Toat-beng-jin
berkata.
"Aduuhh..... Tong Tai-ciangkun kiranya ! Mari ! Mari
silahkan masuk! Di dalam masih ada kursi," tiba tiba seorang
lelaki gemuk berwajah riang keluar menyambut mereka.
"Husss! Hoa Chi.. ! Aku kan tidak menjabat Tai-ciangkun
lagi !” Tong Ciak mengawasi pemilik warung yang sudah amat
dikenalnya itu.
"Oh. maaf.... maaf ! Marilah masuk Tong......Tong Taihiap!"
"Hmm, masih juga pakai taihiap segala !" Tong Ciak
melangkah masuk mengikuti pemilik warung. "Marilah, Lo-jinong!
Mari nona Souw...... Yang-hiante!”
“Hai ! Hai ! Hao Chi ! Mengapa orang - orang itu masih
memperoleh kursi juga ? Kau bilang bahwa tempatmu telah
penuh sehingga kami harus duduk di atas bangku seperti ini !”
mendadak dari sudut ruangan berdiri seorang lelaki tinggi
besar berteriak teriak ke arah pemilik warung bubur.
"Lam sicu..... ini..... ini....." pemilik warung itu menjadi
pucat dan gemetar.
"Berikan kursimu itu kepada kami! Biarlah orang yang baru
datang ini ganti duduk di bangku kami!" orang tinggi besar itu
berteriak kembali. Kawan-kawannya yang semula juga ikut
duduk di bangku tersebut turut berdiri pula di sampingnya.
Puluhan orang yang sedang makan minum di tempat itu
menonton peristiwa tersebut dengan tegang.
"Tapi... tapi...." Hao Chi semakin gugup.
Tong Ciak melangkah maju. Kemudian dengan tenang
tokoh im yang-kauw yang berkepandaian sangat tinggi itu
menepuk bahu si pemilik warung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tenanglah, Hao Chi. Luluskan saja permintaan mereka!
Biarlah kami duduk di bangku mereka. Tidak apa-apa. Jangan
takut !"
"Tong-hiante benar.. .! Biarlah kami duduk saja di bangku
mereka." Toat beng-jin tersenyum. Tokoh tua ini tersenyum
melihat kesabaran Tong Cu-sinya kali ini.
"Tapi..... tapi ... mana aku berani... "
''Sudahlah! Biarlah kami semua duduk di bangku mereka.''
Tong Ciak menukas, lalu melangkah menuju ke tempat si
tinggi besar, diikuti Toat-beng jin dan sepasang remaja itu.
Ternyata hal itu justru sangat mengagetkan si tinggi besar
dan kawan-kawannya. Mereka benar-benar tak mengira kalau
orang-orang yang baru datang itu demikian mudahnya mereka
kuasai. Mereka menjadi salah tingkah malah ketika keempat
orang yang baru datang tersebut mendatangi ke tempatnya.
Tapi si tinggi besar dan kawan-kawannya itu tentu saja tak
mau kalah gertak. Dengan senyum memandang rendah
mereka bertolak pinggang.
"Nah, begitu ! Kalian datang belakangan. Sudah seharusnya
kalau harus duduk pula di sini menggantikan kami....." si tinggi
besar membuka mulut dangan nada sinis.
Ketika nona Souw dan Yang Kun melangkah ke depan,
Tong Ciak cepat-cepat menahan lengan mereka. Orang tua itu
mengisyaratkan kepada muda-mudi itu agar bersabar.
Kemudian dengan penuh hormat tokoh Im-yang kauw
bertubuh pendek itu menjura.
"Si-cu benar......! Memang kamilah yang seharusnya duduk
di bangku itu.. Maafkanlah Hao Chi ...... Eh! Anu..... bolehkah
kami berkenalan dengan cu-wi semua?" ucapnya halus.
"Tuan-tuan ini adalah para..... pengawal Tan-wangwe
(hartawan Tan), pemilik separuh dari perahu yang tertambat
di atas sungai itu." Hao Chi membisiki Tong Ciak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
''Benar ! Kami adalah orang-orang kepercayaan Tan
wangwe." orang she Lam yang tinggi besar itu membenarkan
ucapan Hao Chi. "Namaku adalah Lam Hui, tapi orang-orang
di daerah ini biasa memanggilku Houw ho (Si Harimau Air).
Sedang kawan-kawanku ini juga bukan orang sembarangan.
Mereka adalah Ngo-kui sui (Lima Siluman Air), dahulu adalah
orang kepercayaan Sin-go Mo Kai Ci, datuk para bajak
sungai!"
Agaknya selain Hao Chi memang tidak ada seorangpun di
warung itu yang mengenal Tong Ciak, apalagi Toat-beng jin !
Sebaliknya, semua orang yang berada di warung itu amat
mengenal siapa keenam orang kepercayaan Tan-wangwe
tersebut. Tetapi hal itu memang tidak aneh! Selain kedua
tokoh Im-yang-kauw itu jarang sekali berkunjung ke daerah
mereka, para penduduk di lembah itupun jarang sekali yang
pernah bepergian jauh dari lembah mereka itu. Selama ini
yang mereka kenal hanya para jagoan Tan wangwe yang ratarata
memang mempunyai kepandaian yang melebihi manusia
biasa.
"Tapi Lam-sicu...., beliau ini adalah...”
"Sudahlah Hao Chi, kau tidak usah menyombongkan
namaku! Sekarang aku juga seorang rakyat biasa seperti
kalian," Tong Ciak lekas-lekas memotong perkataan Hao Chi.
Tokoh bertubuh pendek ini memang tidak ingin dikenal orang.
"Kini lekaslah kauantar tamumu ini ke dalam ! Aku dan kawan
kawanku sudah lapar sekali...."
"Baik, Tong...... Tong Tai....... Tong sicu! Marilah,
tuan......!"
“Eh, sebentar.....! Aku juga ingin mengenal namanya."
orang she Lam itu curiga. "Siapakah nama mereka?"
"Ah, namaku Ciak dari marga Tong! Sedang orang tua di
sampingku ini adalah pamanku. Dan kedua muda-mudi ini
adalah kemenakanku. Kami baru saja berkunjung ke kuil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Delapan Dewa yang berada di atas bukit itu." Tong Ciak cepat
menjawab. "Sekarang kami sedang dalam perjalanan pulang
kembali ke Liang yang."
"Apa maksud kalian mengunjungi kuil Im-yang-kauw itu?"
Yang Kun mengerutkan keningnya. Hatinya mulai tidak
sabar. Tapi Tong Ciak segera melangkah menengahinya.
"Kami semua adalah penganut lm-yang kauw..." Tong Ciak
pura-pura merasa tidak senang atas pertanyaan Lam Hui
tersebut. "........ tentu saja kami berbicara dan berunding
tentang agama kami."
"Ahh, ternyata kalian adalah pendeta pendeta dari Imyang-
kauw!" sekali lagi Lam Hui tersenyum meremehkan,
kecurigaannyapun lenyap. “Tak heran sikapmu demikian
tenang dan berani. Para penganut Aliran Im-yang-kauw ratarata
memang mempunyai bekal iImu yang lumayan. Aku kenal
baik dengan Han Su Sing, kepala kuil di atas bukit itu...”
“Ohh......" Tong Ciak menjura lagi, seolah-olah sikapnya
semakin mengindahkan lawannya. Dan hal ini membuat orang
she Lam itu semakin besar kepala.
"Sudahlah! Sekarang kalian duduk saja di sini
menggantikan kami. kami akan duduk di dalam !” dengan
lagak seorang jagoan Lam Hui melangkah pergi diikuti kawankawannya.
"Eh! O iya...... tolong salamku kepada Tai-si-ong
dan Lo jin-ongmu apabila kalian nanti menghadap pimpinan
kalian itu."
"Hei, tuan sudah mengenal pimpinan pusat kami itu?" Tong
Ciak bertanya heran. Matanya saling memandang dengan
Toat-beng-jin.
"Tentu saja. Memang ada apa? Hoho, kalian tidak usah
takut!" orang she Lam itu menoleh dan membelalakkan
matanya. "Aku takkan melaporkan kejadian ini kepada
mereka."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saking herannya mendengar 'ucapan' itu, Tong Ciak dan
Toat-beng-jin justru hanya tertegun saja di tempatnya.
Terlebih-lebih Lo-jin ong atau Toat-beng-jin! Mereka benarbenar
tidak menyangka akan ditakut- takuti oleh seseorang
dengan nama mereka sendiri! Benar-benar konyol!
"Lo jin ong mengenal mereka ?" akhirnya Tong Ciak
bertanya kepada Toat beng-jin. Orang tua itu menggeleng.
Bibirnya yang tertutup kumis itu tersenyum masam.
"Dia takkan sekurang ajar itu kalau sudah benar-benar
mengenal aku,....." desahnya mendongkol.
"Hehe. ... orang sombong itu hanya bermaksud
menggertak kita. Tapi kali ini gertakannya benar-benar tidak
lucu!” Yang Kun tertawa lirih.
Semuanya ikut tersenyum, cuma Souw Lian Cu yang tidak
! Gadis itu diam saja di tempatnya. Matanya yang bulat besar
penuh pesona itu melayang jauh ke luar halaman, seakan
menghindar dari tatapan mata Yang Kun yang tidak
disukainya.
"Sudahlah ! Biarlah orang itu merasa puas atas
kesombongannya. Kita tidak perlu melayaninya. Marilah kita
duduk dan melanjutkan niat kita sendiri untuk melahap bubur
panas di sini !" Toat-beng-jin berkata seraya melangkah ke
bangku panjang yang ditinggalkan oleh para pengawal Tan
wangwe tadi.
Bangku yang mereka duduki sebenarnya tidak terlalu
pendek, tapi karena mereka berempat, apalagi salah seorang
di antara mereka adalah wanita, maka bangku itu terasa amat
sempit bagi mereka. Hampir saja Souw Lian Cu tidak jadi
meletakkan pantatnya ketika ia harus duduk bersebelahan
dengan Chin Yang Kun. Tapi oleh karena tidak ada tempat
yang lain lagi, maka dengan hati berat ia terpaksa duduk juga
di sana. la berusaha mengambil jarak sejauh mungkin,
sehingga hanya separuh saja pantatnya yang berada di atas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pinggir bangku. Meskipun begitu, karena tempatnya memang
sangat terbatas, lengan mereka terpaksa bersinggungan juga.
Gadis itu mengumpat di dalam hati ! Apalagi ketika dilihatnya
Yang Kun tidak berusaha bergeser barang sedikitpun juga!
pemuda itu justru senyum-senyum seperti orang putus lotere.
Hao Chi mengantarkan sendiri bubur pesanan mereka.
Dengan terbungkuk-bungkuk pemilik warung tersebut
meminta maaf berulang-ulang. Tentu saja kelakuannya itu
sangat mengherankan orang-orang yang berada di tempat itu.
Apalagi orang yang telah lama mengenalnya. Tidak biasanya
Hao Chi gendut bersikap demikian takut dan menghormat
kepada seseorang.
"Wah, kini semua orang memperhatikan kita…" Tong Ciak
berdesah. "....... bubur ini menjadi liat rasanya dalam mulutku.
Sukar benar kutelan.....!"
"Ah....... Tong-hiante, kau ini ada-ada saja ! Ayohlah! Cepat
habiskan mangkukmu! Kalau terlambat, kau tidak akan
sempat lagi menghabiskannya.....!" Toat beng Jin menukas.
"Benar.....! Hatiku rasanya kok tidak enak..." Yang Kun
tiba-tiba menyela, seolab tahu dan merasakan pula perasaan
kakek yang pintar meramal itu.
Belum juga pemuda itu menyelesaikan kata-katanya tiba
tiba Souw Lian Cu menuding ke arah jalan.
"Lo cianpwe, lihat.... ! Ada orang datang lagi!"
Semuanya menoleh ke halaman. Tampak enam-tujuh orang
berkuda memasuki halaman warung dan menambatkan kuda
masing-masing di pagar samping. Orang-orang itu bersamasama
kudanya tampak lusuh dan kotor, seakan-akan baru saja
datang dari perjalanan yang jauh dan panjang. Dengan
langkah lesu dan gontai mereka berjalan memasuki warung
tersebut. Tak seorangpun yang berbicara. Semua diam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seluruh tamu yang sedang makan minum di warung Hao
Chi mengawasi kedatangan orang-orang asing tersebut,
termasuk Hao Chi pula. Malah beberapa orang diantara
mereka telah mulai dijalari perasaan khawatir melihat
tampang para pendatang yang seram dan galak-galak itu.
Apalagi ketika orang-orang itu mulai berdesakan di muka pintu
mengawasi mereka. Mata yang liar dan kemerah-merahan itu
seakan-akan mau menelan mereka.
“Hmm ! Di mana pemilik warung ini ?" salah seorang
diantara orang orang itu berseru dengan suara serak. Dengan
sigap orang itu meloncat melangkah di depan temantemannya.
Tubuhnya yang gemuk bulat dengan kepala yang
gundul kelimis itu seperti sebuah bola yang menggelinding ke
depan. Kulitnya yang pucat kehijau-hijauan semakin
menambah keseraman wajahnya.
"Ah, lo-jin-ong benar....!" Tong Ciak berbisik setelah
mengetahui siapa yang datang. "Warung kecil ini benar-benar
dalam bahaya bila Hao Chi tidak bisa melayani mereka."
"Tonghiante mengetahui siapa mereka?" Toat-beng-jin
berbisik pula.
“Lo jin-ong adalah seorang tokoh yang sangat ternama.
Setiap orang kang-ouw tentu pernah mendengar nama toat
beng jin. Sayang Lo-jin-ong tidak pernah keluar ke dunia
persilatan, sehingga Lo-jin-ong tidak pernah berkenalan
dengan tokoh-tokoh kang ouw...„." Tong Ciak menjawab.
"Sebenarnya orang berkepala gundul ini bukan tokoh
sembarangan pula. Dia adalah salah seorang dari Tujuh Iblis
Ban-kwi-to yang bergelar Ceng-ya-kang. Kepandaiannya
sangat tinggi, terutama racun kelabangnya......!”
"Eh! Dia.... ? Tong hiante, biarpun aku tak pernah
keluyuran di dunia kang ouw tapi aku pernah pula mendengar
nama itu," kakek itu menukas cepat. "Wah, kenapa orang itu
keluyuran sampai kemari ? Hati-hatilah, kudengar semburan
ludahnya mampu membunuh lawan seketika !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun belum pernah mengenal orang berkepala gundul
itu. Tapi ia pernah mendengar nama tersebut dari Chu Seng
Kun. Sahabatnya itu pernah mengikuti perjalanan Hek-eng-cu
yang dikawal oleh para pembantunya. Dan salah seorang di
antara pengawal tersebut adalah si Gundul itu. Yang pernah
dikenal dan dilihat oleh Yang Kun adalah Tee-tok ci dan Jengbin
Siang-kwi, saudara seperguruan si Gundul.
Mengingat nama Tee-tok-ci, perasaan Yang Kun sedikit
bergolak. Teringat ketika tokoh beracun itu berpura-pura
menjadi tabib palsu untuk menjebak dirinya. Lalu teringat pula
ketika iblis tersebut menyiksa dirinya dengan tikus-tikusnya
yang buas.
Agaknya perubahan dari wajah Yang Kun itu dilihat oleh
Toat-beng Jin.
"Biarkanlah ! Kita tidak usah turut campur dengan urusan
orang lain. Kita ke sini hanya untuk mengisi perut.
Dan.....urusan kita sendiri sudah sangat banyak dan sangat
mendesak. Kita tak perlu menambah urusan itu dengan
masalah-masalah yang lain....." orang tua itu memberi
peringatan kepada kawan-kawannya seraya menunduk lebih
dalam, agar tidak mudah dikenali orang.
Sementara itu Hao Chi tampak bergegas keluar menemui
orang-orang itu. Melihat tampang tamunya yang galak dan
seram, ia segera menyadari dengan siapa ia sedang
berhadapan. Dengan sikap yang menghormat serta wajah
yang penuh dengan senyuman ia mempersilahkan mereka
masuk.
"Aduh, celaka,,..! Kami benar benar tidak tahu kalau hari ini
tuan-tuan mau berkunjung ke warungku, sehingga kami tidak
mempersiapkan kursi yang cukup….”
"Huh! Tak usah berbasa-basi! Lekas siapkan meja dan kursi
buat aku dan kawan-kawanku ! Potonglah ayam sebanyakbanyaknya,
dan hidangkan kepada kami ! Jangan membantah!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kami semua sangat lapar, oleh karena itu kami tak segansegan
untuk membunuh siapa saja yang menghalang halangi
kami." Ceng ya Kang berteriak memotong perkataan Hao Chi.
“Tapi......"
"Apa katamu? Mau membantah?"
"Kami hanya menjual bubur. Kami tidak.........kami tidak
punya ayam. Bagaimana kami dapat menghidangkannya......?"
Hao Chi menjawab terbata-bata.
"Tidak perduli! Lekas kerjakan!"
Beberapa orang tamu tampak mulai meninggalkan meja
mereka. Melalui pintu samping mereka keluar meninggalkan
warung itu.
"Tuan ... ! Sungguh mati kami tidak mempunyai persediaan
daging ayam...." Hao Chi mulai ketakutan.
"Apaaa. .??"
"Aku..... eh, kami.... tidak.....”
"Kurang ajar! Nih rasakan! Cuh…. !” Ceng ya kang
meludah.
"Aduhh..... ohh! Mati aku!"
Ludah yang hanya segumpal itu melayang cepat menembus
leher Hao Chi, sehingga pemilik warung itu terjengkang ke
belakang dengan leher berlubang seperti terkena pisau. Darah
merah yang agak bercampur kehijau-hijauan tampak
menyembur dari luka yang menganga tersebut. Sementara
tubuh yang gemuk itu berkelojotan seperti ayam disembelih,
lalu diam tak bergerak. Mati.
Para tamu menjadi gempar. Mereka lari berserabutan
meninggalkan mejanya. Tinggal beberapa orang saja yang
tinggal, termasuk rombongan Chin Yang Kun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para pembantu Hao Chi hanya tertegun saja di tempat
masing-masing. Dengan mulut ternganga mereka mengawasi
majikan mereka yang telah terbujur menjadi mayat. Tubuh itu
berwarna kehijau-hijauan. Mulutnya tertarik ke samping
seperti orang mau tersenyum atau tertawa.
Hampir saja Souw Lian Cu tidak bisa mengendalikan
hatinya. Tangannya yang tinggal sebelah itu telah bergerak
untuk melabrak mereka, tapi dari samping Toat-beng-Jin
memberi isyarat agar bersabar lebih dahulu. Agaknya ada
sesuatu yang dinantikan oleh jago tua yang amat sakti itu.
Terpaksa gadis itu mengekang kemarahannya.
Tapi tidak demikian halnya dengan Chin Yang Kun ! Mayat
Hao Chi yang tergolek kehijau-hijauan dengan muka yang
seakan-akan tersenyum itu mengingatkan dia pada ibu dan
adik-adiknya. Masih jelas terbayang di kepalanya seluruh
peristiwa di hutan lebat yang tumbuh di lereng Bukit Ular itu.
Keadaan mayat ibu dan adiknya persis mayat Hao Chi yang
kini terlentang di depannya.
Dengan wajah kaku Yang Kun berdiri. Isyarat dari Toatbeng-
jin tidak diacuhkannya. Buku-buku tangannya gemeratak
menahan arus Liong-cu-i kang dan rasa sakit pada lukanya
juga tidak diacuhkannya. Yang terbayang di depan matanya
hanya mayat ibunya yang amat sangat dicintainya.
Tentu saja keadaan pemuda itu sangat mengagetkan
teman-temannya, Otomatis Tong Ciak dan Toat-beng-jin
bangkit pula dari duduknya.
Tapi sebelum pemuda itu melangkah lebih lanjut, tiba-tiba
dari ruang dalam muncul kelima orang pengawal Tan-wangwe
tadi. Dengan muka merah seperti orang yang lagi diganggu
kesenangannya mereka mendekati Ceng-ya-kang. Wajah itu
semakin meradang ketika melihat mayat Hao Chi yang
menggeletak di atas lantai.
“Ha, siapa membuat ribut di sini?" geram Lam Hui.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ceng-ya kang melangkah maju. Matanya yang bulat agak
kehijau-hijauan itu memandang Lam Hui tak kalah galaknya.
"Kau menanyakan aku ?" jawab iblis itu tak kalah
dinginnya.
"Bangsat! Siapakah kau? Berani benar kau membikin rusuh
di daerah kami?"
Dengan wajah kelam penuh nafsu membunuh Ceng-yakang
maju lagi selangkah, sehingga Lam Hui terpaksa surut
pula ke belakang. Kawan-kawan Ceng-ya kang yang berada di
belakang tampak menyebar ke samping diikuti oleh anak buah
Lam Hui. Kedua pihak tampaknya sudah mulai bersiap-siap
untuk menjaga segala kemungkinan.
Melihat situasi demikian seakan Toat-beng jin mendapat
jalan untuk menahan Chin Yang Kun. Dengan sigap orang tua
itu melangkah di depan Yang Kun.
"Yang-hiante, ada apa ? Mengapa sikapmu tiba-tiba
menjadi aneh ? Apakah kau mengenal para pendatang itu?"
Yang Kun menggertakkan giginya untuk menahan perasaan
sakit yang menyengat lukanya. Wajahnya masih tetap tegang
ketika menjawab pertanyaan Toat beng jin.
"Lo Cianpwe, seluruh keluargaku dibunuh orang! Namun
pembunuhnya aku tidak tahu. Tapi mayat ibu serta adikadikku
keadaannya persis mayat pemilik warung itu. Kulit
tubuh mereka juga kehijau-hijauan seperti kulit mayat itu.
Mulutnyapun juga tersenyum seperti itu. Nah, siapa tahu
orang itu adalah pembunuh ibuku?"
"Huh ??”
Hampir berbareng Toat-beng jin, Tong Ciak dan Souw Lian
Cu berseru kaget. Ketiga-tiganya memandang wajah Yang Kun
yang kelam. Memang, bagi mereka keadaan dan asal usul
pemuda itu masih sangat gelap. Meski begitu mereka benarbenar
tidak menyangka kalau pemuda di hadapan mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersebut telah sebatangkara. Ingin benar rasanya mereka
mengetahui lebih lanjut riwayat pemuda itu. Tapi karena Yang
Kun tidak mau berbicara lagi, maka merekapun terpaksa diam
pula.
“Lalu apa yang akan hiante kerjakan?” Tong Ciak menyela.
"Siauw-te akan bertanya kepada orang gundul itu ! Jika dia
memang benar orang yang membunuh ibuku... huh, akan
kucincang dia sampai lumat !" ancam pemuda itu penuh
dendam.
"Tapi engkau masih belum sembuh. Padahal orang itu
bukan orang sembarangan. Kehebatannya mempergunakan
racun telah engkau lihat sendiri. Dengan segumpal ludah saja
ia mampu membinasakan Hao Chi." Toat beng-jin
memperingatkan.
"Siauw-te tidak perduli!"
“Tapi itu konyol namanya !" tiba-tiba Souw Lian Cu berkata
tandas. “Apa gunanya membalas dendam kalau tidak berhasil
dan jiwa sendiri malah menjadi kurban? Apa kata leluhurmu
yang telah mati nanti ? Dan siapa pula yang akan
melampiaskan dendam yang belum terlaksana itu ? Siapa?
Huh, jangan bertindak bodoh! Pergunakanlah otakmu !”
Entah mengapa gadis itu seperti mau marah-marah melihat
Yang Kun yang sakit tersebut akan maju menghadapi Ceng ya
kang yang amat berbahaya itu. Agaknya perasaannya telah
tersentuh sehingga kebenciannya terhadap pemuda itu
menjadi agak berkurang begitu mendengar riwayatnya yang
menyedihkan. Riwayat pemuda itu hampir-hampir seperti
riwayatnya sendiri. Ibunya juga dibunuh orang secara kejam.
Untung ayahnya telah membalaskan sakit hati itu.
Agaknya kata kata Souw Lian Cu yang pedas itu justru
sangat mengena di hati Yang Kun. Buktinya pemuda itu
mengendorkan lagi urat uratnya. Dengan menghela napas
berat ia menatap gadis yang ia tahu sangat tidak menyukainya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu. Dan kesempatan ini benar-benar tidak disia-siakan oleh
Toat beng-jin untuk menasehati.
"Nona Souw benar....! Yang hiante tidak boleh terlalu
memperturutkan hati yang panas karena salah-salah
urusanmu justru menjadi runyam malah. Iblis gundul itu
mempunyai kepandaian tinggi. Biarpun kemungkinan tidak
setinggi kepandaianmu, tapi kini engkau sedang terluka. Ya
kalau engkau menang. Kalau kalah ? Itupun kalau dia
memang benar-benar pembunuh keluargamu, kalau bukan?
Apakah urusan tidak bertambah menjadi berbelit lagi ? Yang
hiante…"
“Yang-hiante........" Tong Ciak ikut berbicara.
"Iblis gundul itu sangat terkenal di dunia kang ouw. Kalau
engkau sudah sembuh, sangat mudah bagimu untuk
menyelidiki dan mencari dia......”
Sementara itu antara rombongan Ceng-ya-kang dan Lam
Hui ternyata telah terlibat dalam sebuah pertempuran yang
sengit. Masing-masing memperoleh lawan sendiri-sendiri.
Tetapi oleh karena rombongan Ceng-ya-kang terdiri dari tujuh
orang, maka Ceng-ya kang sendiri tampak berdiri bebas di
pinggir, menonton serta berjaga-jaga apabila kawankawannya
membutuhkan pertolongan.
Lam Hui tampak bertempur dengan seorang tinggi kurus
berambut panjang. Mereka sama sama mempergunakan
golok, dan ilmu golok mereka juga sama-sama ganasnya.
Masing-masing lebih menitikberatkan pada kekuatan tenaga
dari pada keindahan jurusnya. Sehingga sepintas lalu
pertempuran itu dapat diibaratkan sebagai dua ekor kerbau
yang berlaga dari pada dua orang jago silat yang bertempur.
Suara langkah dan napas mereka seperti akan merobohkan
warung itu. Dan setiap senjata mereka beradu, suaranya
berdentang memekakkan telinga. Tapi kekuatan mereka
benar-benar seimbang, dalam tempo singkat amat sukar
untuk menentukan siapa yang akan kalah atau menang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sedangkan anak buah Lam Hui, yaitu kelima anggota Ngokui-
shui tampak berpencar melawan musuh masing-masing.
Mereka berlima bersenjatakan ruyung (penggada) bersegi
delapan, sementara kelima lawannya memegang beraneka
macam senjata. Kelima pasangan itu juga bertempur dengan
kekuatan seimbang. Masing-masing pasangan seperti mau
berlomba untuk lekas-lekas membereskan lawannya dan
membantu temannya yang lain. Tapi karena kemampuan
mereka rata-rata seimbang maka pertempuran mereka benarbenar
sengit bukan main. Mereka saling tindih-menindih
berganti-ganti.
Setelah yakin bahwa kawan-kawannya tidak mungkin
dikalahkan, Ceng-ya-kang sambil meringis mendekati para
pelayan warung yang sejak tadi berdiri membisu bagai
kawanan patung batu.
"Hei, mengapa kalian masih tetap berdiri di sini? Ingin
kubunuh juga seperti kawanan itu?"
Bagai sedang menghadapi buntu para pelayan itu menggigil
ketakutan. Salah seorang di antaranya malah sudah
bersimpuh di lantai, kakinya yang gemetaran sudah tak kuat
lagi menyangga tubuhnya yang gemuk.
“Ampun tuan....! Ampunilah kami! Anakku amat
banyak.....masih kecil-kecil pula....”
“Nah! Kalau begitu mengapa kalian tidak lekas-lekas
mengerjakan perintahku tadi?”
“Pe-perintah .....yang....yang mana, tuan.....?”
“Menyembelih ayam, kataku! Goblog!!” Ceng-ya kang
berteriak, sehingga pelayan gemuk yang bersimpuh tadi
menjadi pingsan saking kagetnya. Dengan ketakutan terpaksa
kawan-kawannya menggotong dia pergi.
“Awas! Kalau dalam seperempat jam kalian tidak datang
membawa ayam, kubunuh seisi dusun ini! Mengerti?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Mengerti, tu-tuan....”
Iblis gundul itu tersenyum puas. Ditariknya sebuah kursi,
lalu duduk menonton pertempuran. Entah dimana ia
mengambil, tahu-tahu tangannya telah memegang sebuah
guci arak. Sambil menyaksikan teman-temannya yang
berkelahi sesekali ia menuangkan isi guci itu ke dalam
mulutnya.
Pertempuran semakin bertambah hebat dan kacau,
sehingga para tamu yang masih berada di dalam ruangan
itupun terpaksa keluar pula. Toat-beng-jin dan kawankawannya
terpaksa keluar pula untuk menghindar. Mereka
mencampurkan diri dengan para penonton yang lain.
“Hmm! Meski kaisar telah berganti, ternyata keadaan masih
juga demikian rusuhnya. Kesewenang-wenangan masih
meraja-lela dimana-mana.....” Tong Ciak yang bekas pengawal
kaisar itu bergumam.
'"Tentu saja, Tong-hiante. Selama masig ada manusia yang
mengumbar nafsunya, dunia ini tak mungkin menjadi aman
dan damai." Toat beng jin yang berdiri di sebelahnya
menyahut.
"Jika demikian halnya, mengapa kita ini tidak berusaha
membantu terciptanya dunia yang aman dan damai seperti itu
?” tiba- tiba Souw Lian Cu ikut berbicara.
"Maksud nona.....?" Toat beng jin mengerutkan keningnya.
"Mengapa kita semua hanya diam saja menyaksikan
kesewenang-wenangan yang terjadi di depan kita ? Mengapa
Io cianpwe mencegah siauw-te untuk turun tangan membantu
pemilik warung itu?"
Tong Ciak tampak tersenyum melihat semangat gadis
cantik yang baru menginjak masa remaja tersebut. Sedang
Yang Kun tampak mengangguk-anggukkan kepalanya,
agaknya pendapatnya sama dengan pendapat gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lalu aku mesti harus berbuat bagaimana, nona ?
Menghajar mereka ? Haha, agaknya nona melupakan sesuatu,
meskipun lo hu mempunyai jabatan sebagai Algojo di Imyang-
kauw, tapi lo-hu adalah seorang tokoh agama penganjur
kebaikan dan kesucian ! Apa jadinya kalau aku sendiri selalu
berbuat kekerasan? Apa bedanya perbuatanku itu dengan
perbuatan mereka?" orang tua yang bergelar Toat-beng jin itu
menegaskan dengan panjang lebar.
“Tetapi,...... bukankah maksud dan tujuan kita baik? Kukira
kekerasan yang kita lakukan berbeda sifatnya dengan
kekerasan yang mereka perbuat." Yang Kun ikut
mengeluarkan pendapatnya.
Kakek sakti itu menatap Yang Kun sejenak, kemudian
tertawa lirih.
"Aha, agaknya Yang-hiante mempunyai pendirian yang
sama dengan nona Souw.......”
“Aku.......aku..... maksudku, sikap lo-cianpwe itu benarbenar
sangat membuat penasaran di hati kami." Yang Kun
membela diri dengan muka berubah merah.
"Alaa,,,. Sudahlah, Yang hiante," Tong Ciak Cu-si
menengahi mereka. "Kalau berbicara soal kebenaran,
kesalahan atau kesewenang-wenangan, apalagi tentang mana
yang salah atau yang benar, bisa lekas tua kita nanti.
Pengertian tentang itu sangatlah dalam dan luas, tak selesai
dalam dua-tiga hari bila kita perbincangkan. Pendapat nona
Souw serta Yang hiante untuk memberantas atau
menghancurkan tindak kesewenang-wenangan di dunia ini
memang benar. Tapi dalam hal ini pendapat Lo-jin-ong juga
tidak salah. Soalnya setiap orang mempunyai keyakinan dan
cara yang berbeda dalam melaksanakannya. Ibarat orang mau
membunuh ular, ada yang memakai tongkat pemukul, ada
yang memakai perangkap, tapi ada juga yang hanya memakai
tangan kosong belaka. Jadi, mestikah hal seperti itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diperdebatkan? Bukankah setiap orang bebas untuk memilih
cara masing masing?”
"Tapi......." Souw Lian Cu masih mau membantah.
"Sudahlah, nona......! Nanti kalau kita punya waktu, kita
berbicara lagi mengenai soal ini. Lihatlah ! Pertempuran
mereka telah mencapai saat-saat yang menentukan !" Toatbeng-
jin memandang ke arah pertempuran.
Benarlah. Pertempuran sengit yang melibatkan beberapa
jago silat tersebut ternyata telah menuju pada titik titik
penyelesaian. Selain Lam Hui yang masih bertempur satu
lawan satu dengan lawannya, yang lain ternyata telah
mengelompokkan diri dan bertempur dalam satu barisan.
Ngo kui-shui yang semula berkelahi secara perseorangan
ternyata sekarang telah berkumpul menjadi satu dalam suatu
barisan yang kuat. Kemampuan perseorangan di antara
mereka ternyata masih di bawah dari rata-rata kepandaian
lawannya, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk
bertempur secara bersama-sama. Memang benar, setelah
mereka berlima bertempur dalam satu barisan, mereka dapat
saling membantu dan menyerang musuh dengan lebih teratur.
Mereka menyerang dan bertahan secara rapi.
Akibatnya sungguh berat bagi kelima lawannya. Pertahanan
bersama Ngo-kui-shui sekarang benar-benar sukar ditembus.
Padabal serangan bersama yang dilakukan oleh Lima Siluman
Air itu semakin gencar dan berbahaya. Maka beberapa jurus
kemudian orang-orang yang datang bersama Ceng-ya-kang itu
menjadi repot dan terdesak dengan hebat. Beberapa orang di
antara mereka malah sudah menderita luka tersabet ruyung
lawannya.
Sementara itu Lam Hui yang bertubuh lebih besar dan
kekar dari pada lawannya, ternyata secara pasti juga dapat
menindih musuhnya. Ayunan goloknya yang kuat dan keras itu
semakin tak dapat ditahan oleh lawannya. Beberapa kali
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tampak si Tinggi Kurus terhuyung-huyung bila beradu tenaga.
Sehingga tak lama kemudian anak buah Ceng-ya-kang itupun
terjatuh di bawah angin.
Ceng-ya-kang yang menonton di tepi arena menjadi marah
bukan main. Kulit mukanya yang pucat kehijau-hijauan itu
semakin tampak hijau gelap. Tubuhnya yang tambun gemuk
tampak bergetar. Lalu sambil membanting guci araknya yang
telah kosong hingga berkeping-keping, ia bangkit dari
kursinya. Dengan mata menyala ia mendekat ke arah
pertempuran.
Yang Kun dan Souw Lian Cu menjadi tegang sekali.
Beberapa kali kedua remaja itu menoleh ke arah Toat-bengjin,
seolah menunggu reaksi atau perintah orang tua sakti itu.
Tapi Toat-beng-jin seakan tak mengacuhkan keadaan di
sekitarnya. Dengan tenang matanya masih mengawasi
langkah iblis berkepala gundul itu.
Sedikitpun tak ada tanda tanda kalau dia ingin membantu
para pengawal Tan wangwe, atau paling tidak mencegah iblis
beracun itu membunuh lawan-lawannya.
“Lo cianpwe.....!” dengan bibir bergetar saking tegangnya
Yang Kun mendesak maju, diikuti Souw Lian Cu.
Tanpa menoleh orang tua sakti itu menempelkan jari
telunjuknya di atas bibir.
"Ssst! Jangan tergesa-gesa ! Orang itu takkan membunuh
Lam Hui dan kawan-kawannya. Tunggulah ! Sebentar lagi
akan tiba seorang yang akan mencegah perbuatannya,......"
bisiknya perlahan.
Memang benar. Belum lagi Ceng-ya-kang melangkah lebih
jauh, dari arah ujung jalan desa terdengar suara langkah kaki
kuda berderap mendekati tempat itu. Iblis berkepala gundul
itu tampak tertegun sebentar, kepalanya menoleh ke arah
pintu halaman. LaIu setelah meneliti suara itu sejenak, iblis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tersebut kemudian berteriak ke arah kawan-kawannya yang
sedang bertempur.
"Awas, hati-hati! Anjing kaisar itu datang lagi!" Tong Ciak
dan Toat-beng-jin saling memandang dengan wajah penuh
tanda tanya.
"Anjing kaisar? Siapakah yang dimaksudkannya?" pengurus
Agama bertubuh pendek itu berbisik perlahan.
"Entahlah........!" Toat - beng jin menggeleng.
Kawan-kawan Ceng ya-kang tampak berloncatan mundur
menjauhi lawannya. Mereka berkumpul di samping Ceng-yakang
tanpa mengurangi kewaspadaan masing-masing. Senjata
mereka tetap teracung ke arah lawan mereka.
“Huh ! Bangsat perusuh! Jangan lari!" sambil berteriak Lam
Hui melangkah memburu lawan-lawannya.
"Berhenti !" tiba-tiba Ceng ya-kang balas berteriak pula.
"Apakah engkau ingin menjadi mayat seperti orang itu?”
sambungnya sambil menunjuk ke arah mayat Hao Chi.
Lam Hui berhenti tepat di atas mayat Hao Chi. Matanya
melotot mengawasi mayat yang berwarna kehijau-hijauan itu.
Makin lama dia seperti mengenali ciri ciri kematian seperti
yang kini berada di hadapannya. Mulut tersenyum mau
tertawa dengan kulit tubuh yang tetap segar berwarna
kehijau-hijauan !
Kemudian Lam Hui kembali menatap ke arah Ceng-yakang.
Hatinya mendadak seperti tersiram air dingin ketika
lapat-lapat seperti mengenal orang berkepala gundul di
hadapannya itu.
"Tuan..... apakah tuan berasal dari Ban-kwi to.....?"
gumamnya tak jelas.
Ceng ya kang mendengus dengan angkuhnya. Tanpa
memperdulikan lagi pada Lam Hui dan kawan kawannya, iblis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke lima dari Ban-kwi-to itu memberi perintah kepada anak
buahnya.
“Buanglah mayat ini keluar ! Kemudian aturlah kembali
meja dan kursi yang berserakan itu ke tempat semula! Biarlah
kutemui anjing kaisar itu di sini....."
Dipandang rendah begitu rupa oleh lawannya, Lam Hui
menjadi tersinggung. Tapi nama Ban-kwi-to (Pulau Selaksa
Setan) benar-benar membuat hatinya berkerut. Apalagi ketika
tiba-tiba ia melihat seorang anak buah si Gundul sendiri
berteriak setinggi Iangit dan menggelepar di atas lantai begitu
menyentuh mayat Hao Chi.
"Goblok! Dia terkena racun Kelabang Hijauku! Mengapa
kalian tidak memakai alas tangan?" Ceng ya-kang berteriak
nyaring, sehingga anak buahnya yang lain mundur ketakutan.
Begitu pula Lam Hui dan teman-temannya. Tak terasa mereka
mundur keluar pintu.
Orang itu hanya menggelepar sebentar di atas lantai,
kemudian mati. Perlahan-lahan kulit tubuhnya berubah
menjadi kehijau-hijauan. Bibirnya tertarik ke samping seperti
orang mau tersenyum atau tertawa, seolah-olah pada saatsaat
terakhir nyawanya akan keluar, ia melihat bidadari yang
datang menjemputnya.
Sekali Iagi dada Yang Kun seperti berdentang dengan
keras. Bayangan wajah para pemikul tandu ibunya yang
berkelojotan di atas tanah yang becek kembali menggoda
hatinya ! Kematian para pemikul tandu itu benar-benar ia
saksikan dengan jelas. Persis kematian orang ini!
"Huh!" Yang Kun menggeram tanpa terasa, seakan ingin
mengeluarkan semua rasa geram, marah, serta lega yang
menghimpit jantungnya. Kejadian yang baru saja berlangsung
di depan matanya tadi membuat Yang Kun merasa yakin
bahwa racun si Kelabang Hijau inilah yang membunuh ibu
serta adik adiknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hmm, keparat! Kubunuh kau!" desah pemuda itu hampir
tak terdengar saking tegang hatinya.
Ternyata semua gerak-gerik Yang Kun tersebut tak pernah
terlepas dari pengawasan teman-temannya. Oleh karena itu
begitu terlihat dia melangkah maju dengan tangan terkepal,
Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu si segera menahannya.
"Yang hiante, bersabarlah. ...! Mengapa engkau tidak bisa
mengendalikan diri lagi ? Tadi sudah kami katakan bahwa saat
ini belum waktunya engkau mengumbar kemarahanmu,
apapun alasannya ! Kalau kau paksa juga, kemungkinan besar
justru akan gagal dan kau malah kehilangan kesempatan
untuk membalaskan sakit hatimu.'' Tong Ciak membujuk.
"Tapi sekarang siauw-te telah yakin seyakin-yakinnya, pasti
orang itu yang membasmi keluargaku! Racun itulah yang
membunuh ibuku! Dan seperti yang telah kita saksikan tadi,
dialah si empunya racun aneh tersebut!”
''Benar! Memang benar dialah yang mempunyai racun inti
kelabang hijau itu ! Tapi„... siapa tahu bukan dia yang berbuat
? Siapa tahu ada orang lain yang meminjam racunnya untuk
membasmi ...... membasmi keluargamu?"
"Oleh karena itu siauw te ingin menanyakannya….”
Tong Ciak menghembuskan napasnya kuat kuat, seolaholah
ingin menutupi rasa dongkolnya. "Itulah yang kami
khawatirkan sejak tadi ! Kesehatanmu belum mengijinkan kau
berhadapan dengan orang itu ! Dalam keadaan sehat kami
tidak perduli apa yang akan kaulakukan !” "Ohh......!"
Bagai tersiram air dingin, api kemarahan yang berada di
dalam dada Yang Kun surut kembali, kesadarannya menjadi
pulih seperti sedia kala. Benar, hatinya berkata. Paman
bungsunya pernah berkata, bahwa musuh keluarganya tidak
hanya satu orang. Mereka terdiri dari banyak orang ! Nah,
mengapa sekarang ia harus tergesa-gesa terhadap orang ini ?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bukankah lebih baik ia mempergunakan orang ini sebagai
umpan untuk memancing musuh-musuhnya yang lain?
"Baiklah." pemuda itu berjanji di dalam hati, “Aku akan
bersabar demi terlaksananya tugas yang diberikan oleh ayah
dan paman. Ceng-ya-kang. ...! Hmm, aku tidak boleh lupa
kepada nama ini, Ceng-ya-kang dari Ban kwi-to! Akan kucari
kelak nama ini, biar sampai di ujung langit sekalipun.”
Memperoleh keputusan demikian Yang Kun menjadi lega
dan tenang kembali. Perlahan-lahan ia mundur kembali ke
tempat semula. Meskipun demikian matanya tetap
memandang dingin ke dalam warung, di mana iblis beracun itu
sedang duduk dikelilingi kelima anak buahnya yang masih
hidup.
"A-a..... anu t-tuan, ma .... maafkanlah kami!” tiba-tiba dari
arah belakang warung muncul lagi para pelayan pembantu
Hao Chi, yang tadi diancam oleh Ceng ya kang untuk
membuat masakan ayam. Dengan tergesa dan ketakutan
orang-orang itu membawa nampan-nampan berisi gorengan
daging ayam ke meja iblis Gundul tersebut. "Maaf kami. ..
kami agak terlambat, sebab..... sebab kami harus.... kami
harus mencarinya dahulu di rumah tetangga .. sebab..... kami
tidak punya ayam sendiri !"
Iblis dari Ban-kwi-to itu tampak tertegun sebentar.
Sebenarnya ia telah melupakannya, tapi melihat gorengan
ayam yang masih mengepul itu air liurnya otomatis menetes.
Dengan wajah gembira ia mengangguk dan menyuruh para
pelayan tersebut pergi dari sana.
"Hehehe..... bagus! Bagus! Biarlah masakan ini kupakai
untuk menjamu anjing kaisar itu," katanya sambil menyambar
sepotong paha ayam serta melahapnya.
Para penonton yang masih berdiri di halaman menoleh
dengan serentak ke jalan, ketika seorang penunggang kuda
tampak berhenti di pintu halaman. Seorang lelaki muda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berbadan tegap gagah dan berwajah keren, turun dari
punggung kudanya yang juga tegap perkasa.
Lelaki tersebut kelihatan tertegun sebentar. Matanya yang
mencorong tajam itu menatap nyalang ke arah orang-orang
yang berdiri bergerombol di halaman warung, agaknya ia
merasa heran melihat banyak orang yang berdiri di sana. Tapi
serentak ia melihat Ceng ya kang sedang duduk di dalam
warung bersama-sama anak buahnya, ia tampak tersenyum
maklum.
Dengan langkah tenang, setelah menambatkan kudanya,
lelaki gagah itu berjalan menuju warung. Tak ada kesan
apapun pada wajahnya yang putih bersih itu.
"Hehehe... selamat bertemu lagi, Hong-lui kun Yap Kiong
Lee !”
"Hem, kau berada di sini. Ceng ya kang !”
"Hehe..... benar! Aku memang menunggumu di tempat ini.
Sudah kusiapkan makanan untuk menjamu engkau.
Marilah.....!”
"Terima kasih !" Hong-lui-kun menarik sebuah kursi dan
duduk di depan Ceng-ya kang. " .... Tapi biarlah aku memesan
makananku sendiri. Tak usah kau.. ."
"Heheheh ... tidak usah repot-repot lagi. Kau tak mungkin
bisa memesan masakan lain lagi selain ini. Pemilik warung ini
telah kubunuh, heheh…..”
Mata lelaki muda itu tampak berkilat sekejap, sehingga
senyum di bibir Ceng-ya kang juga ikut terhenti untuk
beberapa saat. Tapi lelaki itu segera tersenyum kembali.
"Sudah kuduga. Dimanapun kau dan saudara-saudaramu
dari Ban-kwi to berada, di situ tentu segera terjadi kerusuhan
atau pembunuhan! Kalian memang kumpulan iblis yang tidak
berwatak manusia! Kalian lebih brutal dan lebih keji dari pada
binatang!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Iblis Gundul itu tidak marah dicaci maki seperti itu.
Tangannya yang gemuk itu justru menyambar lagi daging
ayam di hadapannya. “Hehheh. . ayoh, makanlah! Nanti masih
banyak waktu kalau kita ingin saling memaki," katanya sambil
tertawa serak.
Sementara itu Toat beng-jin dan Tong Ciak Cu-si yang
berada tak jauh dan tempat itu kelihatan saling memandang
satu sama lain.
"Tong hiante! Kau mengenai pemuda yang baru datang itu
?"
“Ya! Aku mengenal dia dan keluarganya dengan baik.
Bersama-sama dengan ayah dan adiknya yang kini menjadi
panglima besar kepercayaan Kaisar Han, pemuda itu sering
pergi ke kota raja, ketika lo-hu masih menjabat sebagai
Panglima Pasukan Pengawal Istana, Siang-houw Nio nio, ibu
pemuda itu, juga bukan orang sembarangan pula. Beliau
masih terhitung bibi dari mendiang Kaisar Chin Si Hongte......"
"Ohh......!”
Toat beng jin dan Chin Yang Kun mengeluarkan suara
kaget hampir berbareng, meski kekagetan mereka mempunyai
dasar yang berbeda.
Tokoh lm yang-kauw itu agak kaget karena tak mengira
bahwa pemuda gagah yang ia taksir tentu berkepandaian
sangat tinggi itu, mempunyai latar belakang keluarga demikian
hebat. Sementara di dalam hati kakek itu juga merasa heran,
kalau benar ibu pemuda itu masih keluarga kaisar lama,
mengapa kini pemuda itu bersama adiknya malah menjadi
pembantu dari Kaisar Han?
Sedangkan kekagetan Chin Yang Kun lebih dititikberatkan
pada kenyataan bahwa pemuda itu masih mempunyai
hubungan keluarga dengan Kaisar Chin Si, sehingga berarti
masih ada hubungan keluarga puIa dengan dirinya. Tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seperti juga dengan Toat-beng-jin, pemuda ini juga merasa
heran, apa sebabnya pemuda gagah itu dikatakan sebagai
"anjing kaisar" oleh Ceng-ya-kang? Apakah pemuda gagah itu
mengkhianati keluarga ibunya dan membantu pihak musuh,
yaitu pihak Kaisar Han?
Tiba-tiba Hong lui-kun Yap Kiong Lee tampak bangkit dari
kursinya dengan tiba-tiba. Wajahnya berubah menjadi dingin
dan kaku ketika matanya menatap Iblis Gundul yang sedang
menikmati ayam gorengnya.
"Ayohlah Ceng ya-kang! Dimana saudara-saudaramu yang
lain?"
lblis Gundul itu berhenti mengunyah. Matanya yang Iicik
berwarna kehijau-hijauan itu mendelik seperti mata ular
sanca. Lalu dengan geram ia berdiri dan membanting sisa
tulang yang dipegangnya ke atas meja.
"Bah ! Jadi..... engkaulah orang yang selalu membayang
bayangi kami itu !" desahnya.
"Benar! Aku tahu bahwa kau dan saudara-saudaramu
menginginkan pula Cap Kerajaan itu ! Kalian telah aku curigai
sejak kalian ikut menguber-uber keluarga Chin setahun yang
IaIu. Hanya yang belum aku ketahui sampai sekarang, untuk
siapa kalian bekerja kali ini. Aku cuma mendengar bahwa kau
dan saudara-saudaramu selalu bersama-sama dengan orang
aneh yang selalu menutupi mukanya dengan kerudung. Orang
aneh itu bergelar Hek-eng-cu…..!"
Tak terasa jari-jari Yang Kun mencengkeram lengan Toat
beng jin yang berdiri di sampingnya. Setiap perkataan yang
diucapkan oleh Hong lui kun Yap Kiong Lee tadi bagai suara
petir yang menggetarkan dadanya. Dan getaran getaran itu
seakan-akan membuka simpul kegelapan yang selama ini
menutupi rahasia kehancuran keluarganya. “Jadi....benarbenar
tidak salah lagi ! Iblis Gundul ini adalah salah seorang
dari para pembunuh yang selama berbulan bulan telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menguber uber keluarga itu." Yang Kun bergumam di dalam
hati. Dan pemuda ini semakin yakin kalau pembunuh ibu, adik
dan para pemikul tandu itu tentulah iblis ini pula !
Tapi lapat lapat Yang Kun masih teringat akan kata-kata
pamannya, bahwa musuh keluarganya tidak hanya satu
golongan saja. Musuh yang menginginkan Cap Kerajaan
tersebut lebih dari satu kelompok.
"Hmm. Kini semakin terang bagiku….Secara tak sengaja
aku bisa memperoleh kepastian bahwa orang berkerudung itu
benar-benar terlibat dalam peristiwa keji tersebut," Yang Kun
menggeram.
"Yang hiante, kau....... kau kenapa?" Toat-beng-jin yang
merasa dicengkeram oleh Yang Kun tersebut berbisik perlahan
di kuping pemuda itu.
Tapi Yang Kun seperti tidak mendengar bisikan tersebut.
Matanya yang dingin itu kini beralih menatap Hong lui kun Yap
Kiong Lee. Mulutnya berkemak kemik, seakan-akan mau
mengucapkan sesuatu, tapi tak jadi sehingga yang terdengar
hanyalah suara gumam yang tak jelas.
"Dan pemuda gagah yang disebut sebagai anjing kaisar
oleh Ceng-ya-kang ini tentulah dari kelompok lain yang
menjadi saingan kelompok Hek eng cu. Hmh!!" geramnya.
Sebenarnyalah, secara tak sengaja kabut gelap yang
semula menutupi rahasia pembantaian keluarga Chin Yang
Kun mulai terungkap di muka pemuda itu sendiri. Yang terang,
motif atau latar belakang semua kejadian itu hanya berkisar
pada perebutan "Cap Kerajaan". Semua pihak berbondong
bondong mendesak keluarga Chin Yang Kun, karena keluarga
itulah yang selama ini memegang kunci rahasia dari benda
pusaka tersebut. Hanya yang masih harus diselidiki oleh
pemuda itu sekarang adalah siapa atau kelompok mana yang
telah membunuh paman bungsu, ayah serta pamannya yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lain itu ? Kelompok Hek eng-cu ataukah kelompok Hong lui
kun? Ataukah masih ada kelompok yang lain lagi ?
"Heh-heh heh... !" Ceng ya-kang tiba-tiba terdengar
tertawa panjang,
"Apa yang kautertawakan?'' Hong-lui-kun membentak.
"Heh heh, selama ini kami memang telah menduga bahwa
orang she Liu itu (Kaisar Han) tentu menghendaki pula benda
pusaka tersebut. Tanpa memegang Cap Pusaka Kerajaan itu
kedudukannya tidak akan abadi. Maka begitu aku melihat Kimsute
(Yap Tai-ciangkun) ikut mengintai para pelarian keluarga
Chin setahun yang lalu, aku juga sudah yakin kalau Liu Pang
telah mengirimkan pula orang-orangnya....... heh heh.....Tapi
kalau sekarang kalian masih membayang bayangi kami dan
beranggapan bahwa kami telah memperoleh benda pusaka
itu...... heh-heh…. Kalian benar-benar salah besar!" Ceng-yakang
tertawa lagi terkekeh-kekeh.
Tak terduga Hong-Iui-kun tetap tenang dan tidak
tersinggung oleh ejekan iblis gundul tersebut. Wajahnya tetap
tak berubah. Dingin dan kaku.
“Kami juga telah lama mengetahui, bahwa kalian belum
menemukan Cap Kerajaan itu ! Begitu pula para peminat yang
lain ! Kalau toh dalam beberapa hari ini aku selalu
membayang bayangi kalian, hal itu disebabkan karena harta
karun yang disembunyikan oleh bekas Perdana Mentri Li Su
itu.....! Siapa tahu cap yang hilang itu ikut terbawa dan
tercampur menjadi satu dengan harta karun yang telah kalian
temukan petanya itu ?”
"Hah ? Apa?" Ceng ya kang berseru kaget. Jari-jarinya yang
berkuku panjang itu mencengkeram pinggiran meja sehingga
hancur. “…..Dari mana kau tahu rahasia itu ?"
Memang tidak mengherankan jikalau iblis gundul itu
tersentak kaget dan tercengang mendengar ucapan Hong lui
kun yang terakhir tadi. Tak seorangpun tahu bahwa secara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak sengaja mereka mendapatkan peta yang tergambar pada
potongan emas itu. Potongan yang pertama mereka dapatkan
secara tak sengaja dari saku Chin Yang Kun, ketika pemuda
itu dapat mereka jebak di kota Tie-kwan setahun yang lalu.
Sedang potongan yang lain, yaitu potongan kedua, baru
mereka dapatkan........ sehari yang lalu ! Maka sungguh
sangat mengherankan sekali jika rahasia itu sudah dapat
dicium oleh orang.
Dan agaknya Hong Iui Kun sangat puas melihat keheranan
lawannya. Sambil mempermainkan jari-jari tangannya ia
memandang ke atas, ke arah atap bangunan warung yang
kecil itu.
“Janganlah heran ! Secara kebetulan aku melihat apa yang
dikerjakan oleh kedua temanmu ketika merampas barang itu
dari tangan Tung hai Nung jin. Aku menjadi curiga saat itu,
karena salah seorang dari temanmu itu pandai
mempergunakan Ilmu Silat Mayat Mabuk, ilmu mana pernah
kulihat di gedung Si Ciangkun di kota Tie-kwan setahun yang
lalu, yaitu ketika aku bersama Yap Tai Ciangkun menggerebeg
gedung tersebut, karena Si Ciangkun telah terbukti mau
berkhianat terhadap Kaisar Han !"
"Oh ! Jadi kau melihatnya……”
"Benar ! Dan selanjutnya akupun dapat mengintai
pertemuan antara kalian itu. Aha, sungguh suatu pertemuan
yang lengkap, sehingga aku dapat melihat semuanya.” Honglui
kun Yap Kiong Lee menjawab. Sekejap matanya yang
berkilat tajam itu menatap Ceng ya-kang untuk mencari
kesan. Lalu sekejap kemudian ia melanjutkan keterangannya,
“…..Dan penemuanku sekali ini benar-benar amat berharga
sekali ! Setelah setahun aku bersama Yap Tai-ciangkun
berusaha mencari biang keladi kerusuhan di gedung Si
Ciangkun itu baru kali inilah peristiwa itu agaknya mulai akan
terungkap. Hmm, sayang aku hanya seorang diri…."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Jadi ... jadi kau sudah mengetahui semuanya ?” Dengan
bibir agak tersenyum Hong-lui kun menggelengkan kepalanya.
"Tahu semuanya sih…. belum ! Tapi setidaknya aku sudah
dapat mengira-ira, hubungan apakah yang ada antara
pengkhianatan Si Ciangkun yang kalian dalangi tersebut
dengan kubu kalian mencari Cap Kerajaan. Semuanya tentu
berkisar soal tahta singgasana kerajaan! Dan kini secara
kebetulan kalian mendapatkan peta harta karun yang
disembunyikan oleh mendiang Perdana Menteri Li Su……”
"Bangsat ! Kalau begitu engkau harus kubunuh lebih
dahulu...!!” tiba-tiba Ceng ya-kang meloncat menerkam Hong
lui kun Yap Kiong Lee.
"Ha. . kau bermaksud membungkam mulutku, agar aku
tidak membocorkan rahasia ini? Hmm, jangan harap kau bisa!
Biar inti ludah kelabang hijaumu sudah mencapai
kesempurnaan, tapi ilmu itu takkan dapat mengalahkanku.”
Hong-Iui-kun meloncat ke samping dengan sigap. Lengan
bajunya yang sebelah kiri ia pakai untuk mengebut ke depan,
sehingga hawa beracun yang menyertai pukulan Ceng ya-kang
tersapu ke samping.
“Huh! Boleh kaucoba! Cuh! Cuh! Cuh!”
Ceng ya-kang yang gagal dalam serangan pertamanya itu
berputar ke sebelah kiri, lalu tangan kanannya dengan jari-jari
terbuka menghantam ke depan. Wuut!! Angin pukulan yang
mengandung racun ular hijau berhembus menerjang Hong-lui
kun. Dari sela sela bibirnya melesat gumpalan-gumpalan air
ludahnya yang terkenal, Ludah Inti Kelabang Beracun!
Anak buah Iblis Gundul itu saling berloncatan keluar
menyelamatkan diri. Mereka tidak ingin mati konyol seperti
temannya tadi. Begitu pula para penonton yang berada di luar
warung. Tak terasa mereka juga melangkah surut, seakan
akan takut kena percikan ludah yang ampuh luar biasa itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata Hong-lui kun sendiri juga tidak berani
memandang rendah percikan ludah beracun yang melesat
bagai peluru itu. Dengan lincah dan gesit tubuhnya melayang
kesana kemari menghindarinya. Gerakannya cepat luar biasa,
sementara ujung lengan bajunya yang longgar itu mengebut
beberapa kali menghalau hawa beracun yang menyerangnya.
Pertempuran antara dua tokoh persilatan itu makin lama
makin seru. Masing-masing mengeluarkan ilmunya yang hebat
dan langka, melesat kesana kemari, berputar putar di antara
meja dan kursi, sehingga rasa-rasanya warung yang kecil itu
tidak bisa memuat lagi untuk pertarungan mereka.
Mereka hanya berdua, tapi pertempuran yang mereka
lakukan rasa rasanya lebih dahsyat dan lebih hebat dari
pertempuran beberapa orang tadi.
Yang amat mengherankan ialah meskipun mereka berputar
putar dan melesat kesana kemari serta disertai angin pukulan
yang menderu-deru, ternyata tak sebuah meja, bangku
ataupun kursi yang berpindah dari tempatnya. Pukulan
maupun tendangan mereka seolah-olah tak mengandung
tenaga. Padahal Lam Hui dan kawan-kawannya yang berada
di luar pintu melihat dengan jelas betapa gumpalan-gumpalan
ludah beracun itu melesat menghantam meja, tiang rumah
dan dinding hingga berlubang. Sementara hawa pukulan
beracun yang luput tampak mengotori udara di dalamnya.
Tapi sudah sekian lamanya mereka berkelahi, Hong lui-kun
masih saja bertahan dan belum terlihat serangan serangannya
yang berarti. Anak murid keturunan Sin-kun Bu-tek yang
sangat terkenal itu hanya melejit saja kian kemari dengan gin
kangnya yang amat hebat!
"Lelaki gundul itu memang hebat ! Demikian sempurnanya
dia mengatur dan mengontrol tenaga dalamnya, sehingga
racun dalam setiap pukulannya dapat ia atur dan ia hemat
dengan cermat sesuai dengan kebutuhan yang ia kehendaki.
Dengan cara demikian ia tidak menghambur-hamburkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
begitu saja tenaga racunnya!" Toat-beng jin menggelenggelengkan
kepalanya saking kagum. "……Dan caranya dia
menghimpun racun inti Kelabang Hijau dalam kelenjar
ludahnya benar-benar tidak masuk akal ! Begitu sempurna,
sehingga tidak membahayakan dirinya sendiri. Padahal racun
itu demikian ganas dan mematikan ! Coba lihat, Tong-hiante !
Serangga dan semut yang berada di jendela dan tiang itu !
Mereka semua mati hanya karena di dekat mereka ada
percikan ludah lelaki gundul itu. Padahal sedikitpun mereka
tidak terkena air ludah tersebut ..."
Tong Ciak tersenyum mengiyakan. "Lo-jin ong benar……!
Tapi meskipun begitu iblis itu takkan dapat mengalahkan
pemuda itu. Khabarnya mereka sudah beberapa kali bertemu
dan berkelahi ., tapi belum pernah satu kalipun iblis gundul
tersebut keluar sebagai pemenang! Jangankan baru Ceng-ya
kang sendiri, sedang kakak kakak seperguruannya seperti Tee
tok-ci dan mendiang Tiat-siang-kwi saja takkan menang
melawan pemuda itu."
Toat-beng-jin mengerutkan dahinya, sehingga alisnya yang
putih tebal berjuntai itu bertemu satu sama lain.
"Benarkah....? Mengapa gerakan pemuda itu tampak biasa
biasa saja ?"
"Ah, dia sama sekali belum merasa perlu untuk unjuk gigi !
Boleh Lo jin ong lihat, kalau dia nanti mengeluarkan ilmu silat
andalan keluarganya......! Kutanggung tidak lebih dari sepuluh
jurus, iblis gundul itu sudah akan lari terbirit-birit.”
"Hah ?!?"
"Lo-jin-ong tak percaya ?”
"Ah, tentu saja lo-hu percaya!" Toat beng jin tersenyum
tersipu-sipu. "Aku percaya, kalau sampai Tong Cu-si berkata
begitu....hal itu tentu benar adanya!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siauw te memang tidak berbohong. Silahkan saja nanti Lojin-
ong melihatnya! Siauw-te percaya, begitu Lo-jin-ong
melihat…. Lo-jin-ong tentu akan segera berpikir, bahwa Im
yang-kun kita yang tertulis dalam lembaran kulit domba itu
bukan satu-satunya ilmu yang tidak terlawan di dunia ini!"
"Ah, Tong hiante ini bisa saja.... Dari dulupun aku tak
pernah mempunyai pendapat seperti itu."
Pertempuran kedua orang itu semakin lama semakin seru,
Ceng-ya kang yang merasa telah mengeluarkan semua
pukulan beracunnya dan ternyata belum dapat juga
menundukkan lawannya, menjadi marah sekali. Tiba-tiba
tangannya merogoh buntalan yang berada di balik bajunya
yang longgar dan sekejap kemudian ia telah memegang
bumbung bambu berwarna hijau.
Belum juga Hong-lui kun dapat menebak apa isi dari
bumbung bambu tersebut, mendadak benda itu telah
dilemparkan oleh Ceng ya kang kepadanya. Selain kaget,
Hong-lui-kun menjadi curiga sekali ! Tak berani ia menangkis,
apalagi menerimanya. Dengan tangkas ia melejit ke samping
untuk menghindari.
Tak terduga bumbung bambu itu meledak tepat di
sebelahnya. Bummmm! Asap hijau tebal bergulung gulung
menerjang dirinya. Baunya amis memuakkan !
Sedetik kemudian kepala Hong-lui-kun Yap Kiong Lee
terasa pusing.
"Kurang ajar!" umpat pemuda gagah itu sambil melompat
jauh ke belakang.
Tapi bersamaan dengan saat kakinya menginjak tanah di
luar rumah, sekali lagi sepotong bumbung bambu yang lain
meledak pula di dekatnya. Bumm! Sekali lagi tubuh pemuda
itu seakan-akan terbungkus asap hijau.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ceng ya-kang meloncat pula keluar memburu lawannya.
Para penonton yang sebagian besar adalah penduduk di
sekitar tempat itu menjadi ketakutan dan berlari cerai-berai
menyelamatkan diri. Sehingga sekejap kemudian hanya
tinggal Yang Kun berempat saja yang masih berada di sana.
"Gila!” Hong lui kun mengumpat sambil terhuyung-huyung
keluar dari gumpalan asap tebal tersebut.
Tetapi belum juga kaki pemuda itu dapat berdiri tegak,
Ceng-ya-kang telah keburu datang dengan pukulan
berikutnya. Suara pukulan itu mencicit tajam, pertanda bahwa
pukulan itu mengandung kekuatan lwee-kang yang maha
dahsyat! Apalagi di antara hawa pukulan yang meluncur tiba
tersebut lapat-lapat tercium bau amis yang memuakkan!
Hong Iui-kun sekali lagi mengumpat. Kepalanya terasa
berat sekali. Semua yang dilihatnya seperti bergoyanggoyang.
Dan kakinya seperti lengket dengan tanah dan sukar
untuk melangkah. Padahal serangan lawan telah datang
kembali dengan dahsyatnya!
"Hiyaaaat!!!"
Hong lui-kun berteriak dan meloncat tinggi ke atas,
mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk
meloloskan diri dari pengaruh racun lawan. Dengan kecepatan
yang mengagumkan tubuhnya melenting tinggi bagai
jengkerik raksasa yang marah. Meskipun begitu ternyata ia
belum dapat juga menghindari pukulan Ceng-ya-kang yang
menerjang tiba.
"Desss!"
“Ouwghhh!!”
Tubuh yang tegap gagah itu meluncur semakin cepat dan
terlontar sampai sepuluh tombak jauhnya. Berjumpalitan
sebentar di udara, lalu mendarat dengan kaki terlebih dahulu
di atas tanah. Ternyata biarpun terkena pukulan lawan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda lihai itu masih bisa menunjukkan bahwa ia memang
bukan tokoh sembarangan.
Beberapa kali Hong lui kun menggoyang-goyangkan
kepalanya kekiri dan kekanan seolah-olah ingin
menghilangkan sisa sisa rasa pening yang menggayuti dirinya.
Setelah itu diambilnya sebutir obat anti racun yang selalu
dibawanya dan ia telan dengan cepat, biarpun dia tahu
obatnya itu hanya sekedar dapat menunda pengaruh racun
lawan. Sebab racun-racun hebat hasil ramuan jago racun
seperti iblis-iblis Ban-kwi to itu tentu hanya bisa diobati oleh
mereka sendiri dengan obat-obat penangkal khusus buatan
mereka pula.
Sementara itu Ceng ya-kang tampak sangat puas atas
kemenangannya, meskipun di dalam hati ada terselip juga
sedikit perasaan heran dan kagum atas kekuatan lawannya.
Pemuda yang sejak dahulu selalu menjadi musuh
bebuyutannya itu telah terkena Pukulan Kelabang Hijaunya,
sehingga Iapisan baju bagian dadanya telah berlobang dan
kelihatan kulit dadanya yang bertanda telapak tangan
berwarna hijau.
Tetapi tidak seperti kebanyakan para korban pukulannya,
tubuh pemuda itu tidak berubah menjadi kehijau-hijauan.
Tubuh yang tegap itu masih tetap tampak bersih dan segar.
Hanya noda bekas pukulan itu saja yang berwarna kehijauhijauan.
Malah kulit muka pemuda itu tampak semakin
menjadi merah, sejalan dengan kemarahan yang agaknya
sudah mulai terangkat didalam dadanya.
"Heh heh-heh ,.. jangan harap kau bisa mengobati pukulan
beracunku dengan segala obat obatan yang kaumiliki! Di dunia
ini hanya aku sendiri yang mempunyai obat pemunah racun
kelabang hijau. heh he.....! Kautunggulah, sebentar lagi kau
akan mati perlahan lahan dengan bibir tersenyum....." Iblis
Gundul itu tertawa terkekeh-kekeh untuk menutupi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kekhawatirannya melihat Hong lui kun tidak segera binasa
oleh racun yang diandalkannya itu.
“Wah, Tong-hiante kali ini salah perhitungan rupanya….!”
Toat-beng-jin yang melihat hasil pertempuran itu menggamit
kawannya. "Lihat! Pemuda yang hiante jagoi itu telah terkena
pukulan Ceng-ya-kang!”
“Ah, Lo-jin ong jangan buru-buru menilai duIu! Pemuda itu
kan masih berdiri tegak di tempatnya."
"Yaa.... tapi....”
“Alaaa..... Io jin ong ini suka benar berolok-olok! Pura pura
tak mengetahui hal yang sebenarnya,” Tong Ciak Cu-si lekas
lekas memotong.
"Waah !?!” orang tua itu tersenyum kecut. Sebenarnyalah,
dengan luka yang dideritanya itu hati Hong-lui kun Yap Kiong
Lee tampak mulai panas. Apalagi begitu mengetahui obatnya
tidak mungkin bisa menolong dirinya. Satu-satunya jalan yang
harus dilakukannya hanyalah merebut obat pemunah lawan.
Dan usaha tersebut harus cepat-cepat ia laksanakan, sebelum
racun yang mengeram dalam tubuhnya bobol dan
melumpuhkan seluruh urat-uratnya.
“Ceng ya-kang! Kauligatlah yang jelas! Seperti yang terjadi
sejak dahulu, pukulan beracunmu tidak pernah bisa
membinasakanku. Sekarang kau bersiaplah ! Tumpahkanlah
segala ilmu kepandaianmu, keluarkanlah semua racunmu! Kini
giliranku untuk membunuh engkau….!"
Terdengar suara gemeretak tulang beradu ketika Hong-lui
kun mengerahkan Iwee kangnya melalui urat-urat di
tubuhnya. Kedua lengan yang bergantung bebas di samping
tubuh itu perlahan-lahan diangkat ke depan, sejajar dengan
tulang pundak, lalu lengan yang sebelah kanan ditarik ke
belakang hingga menempel pundak. Kemudian, dengan
disertai hentakan yang keras penuh tenaga, lengan itu kembali
lurus ke depan, sementara lengan yang sebelah kiri ganti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditarik ke belakang. Dua buah kepalan tampak bergetaran di
udara, dan……terdengar suara letupan kecil yang disertai
kilatan cahaya terang, seakan-akan ada kilatan petir yang
meledak di sana !
"Ohh ? Apa itu ?” Yang Kun dan Souw Lian Cu berseru
hampir berbareng. Begitu pula dengan Toat-beng jin. Orang
tua itu tampak takjub pula melihatnya.
"Itulah Thian lui-gong-ciang ! Karena ilmu itu pulalah
pemuda itu memperoleh julukan Hong-lui kun (Si Tinju Petir
dan Badai) !" Tong Ciak cepat menerangkan.
Ceng ya kang melangkah mundur dua tindak. Agaknya iblis
berkepala gundul itu menyadari pula kehebatan Thian-luigong-
ciang. Dengan badan sedikit terbungkuk ke depan, iblis
itu menyiapkan pula ilmu simpanannya.
Sekejap kemudian keduanya telah bertempur dengan
hebatnya, Hong lui kun yang telah menyiapkan seluruh tenaga
dalamnya itu meluncur ke depan dengan dahsyatnya. Mula
mula gerakan pemuda itu sangat cepat, tapi lambat laun
menjadi lambat. Tetapi sejalan dengan menurunnya
kecepatan itu ternyata disertai meningkatnya kekuatan tenaga
dalam yang tersalur pada setiap gerakan, sehingga Yang Kun
dan ketiga orang temannya yang berada lima enam tombak
jauhnya dari tempat itu ikut pula merasakan angin pukulan itu.
Tapi untuk beberapa saat Iblis Gundul dari Ban-kwi to itu
tampak masih bisa mengimbangi ilmu silat lawannya. Dengan
gerakan gerakan aneh, seperti layaknya seekor kelabang yang
sedang marah, iblis itu berguling, melejit, meringkuk dan
berlenggak-lenggok di atas tanah ! Sepasang kaki dan
tangannya bergantian menyerang dan melontarkan segala
macam racun untuk membunuh lawannya. Kadang-kadang
dari sela sela bibirnya yang tebal itu meluncur gumpalangumpalan
air ludah beracun yang sangat mematikan. Dilihat
sepintas lalu ilmu kepandaian iblis gundul tersebut memang
sangat hebat dan mengerikan. Halaman depan warung yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak begitu luas itu kini penuh dengan bermacam-macam
racun yang bertebaran di mana-mana, sehingga Yang Kun dan
teman-temannya terpaksa menyingkir pula ke halaman
samping di mana kuda orang-orang yang sedang bertempur
tersebut ditambatkan.
"Wah, untuk beberapa waktu lamanya warung ini akan
menjadi tempat yang berbahaya!" Toat-beng jin bergumam.
"Benar! Racun yang berceceran itu dapat membunuh orang
jika terinjak." Tong Ciak menyahut.
“Duuaaaar!!"
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras yang sangat
mengagetkan, dan jambangan besar, tempat menyimpan air
di dekat pintu masuk warung pecah berantakan terkena angin
pukulan Thian lui-gong ciang Hong-lui-kun Yap Kiong Lee !
Airnya sampai berhamburan membasahi dan menggenangi
sekitarnya. Ceng-ya-kang yang sebenarnya menjadi sasaran
pukulan sakti tersebut, tampak basah kuyup pula meskipun
lolos dari bahaya.
Iblis berkepala gundul itu berguling guling menjauh dengan
pakaian kotor penuh debu dan lumpur. Dan,., hal ini benar
benar membuat iblis itu naik pitam! Kedua tangannya
merogoh saku celananya dan keduanya telah menggenggam
berpuluh-puluh ..... kelabang hijau ! Lalu dengan menjerit
keras iblis tersebut menggelundung cepat ke arah lawannya.
Dan dua tiga langkah dari tempat lawan, tubuh gemuk bulat
itu melenting tinggi bagaikan katak menerkam lalat.
Hong lui kun tidak tinggal diam pula. Melihat lawan telah
menyerbu ke arah dirinya, tangannya segera menyongsong ke
depan. Serangkum udara panas meluncur dari telapak
tangannya yang terbuka, menerjang ke arah tubuh Ceng yakang
!
Dalam keadaan kritis ternyata ilmu Silat Kelabang Hijau dari
tokoh kelima Ban-kwi to itu menunjukkan pula kehebatannya !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Merasakan angin pukulan lawan menerjang ke arah perutnya,
iblis itu segera menggeliat di udara beberapa kali. Sehingga
dari bawah gerak tubuh yang dia perlihatkan itu seperti
gerakan seekor kelabang yang terkena sentuhan api panas !
Dan gerakan itu ternyata dapat membebaskan dia dari
serangan Thian-Iui gong ciang ! Malah justru dalam saat yang
demikian itu ia mampu membalas serangan tersebut dengan
taburan kelabang hijau yang berada di telapak tangannya !
Bagai hujan lebat binatang melata berkaki banyak itu
menyerbu ke arah Hong lui-kun Yap Kiong Lee. Bau amis yang
amat keras membuat pemuda tegap itu semakin merasakan
pening yang amat sangat. Tapi untuk menarik lengan dan
sekali lagi melepaskan Thian lui-gong ciangnya sudah tidak
ada waktu lagi. Satu satunya jalan hanyalah mengerahkan
Iwee-kangnya yang kuat untuk menahan dan sekaligus
mengatasi serangan tersebut.
Seperti juga Ceng ya kang tadi, dalam keadaan kritis
seorang jago silat berkepandaian tinggi secara otomatis tentu
mengeluarkan kehebatannya ! Begitu pula halnya dengan
Hong lui kun Yap Kiong Lee! Karena tak punya kesempatan
lagi untuk melepaskan pukulannya yang ampuh, maka dengan
dilandasi oleh tenaga dalamnya yang kuat tubuhnya berputar
seperti gasing dalam jurus Koai hong-hok tee (Angin Aneh
Menaklukkan Bumi), yaitu salah satu jurus dari Tai hong ciang
hoat (Ilmu Silat Angin Puyuh) ciptaan Sin-kun Bu tek.
Tubuh tegap itu berdiri dengan satu kaki, yaitu bertumpu
pada tumit kaki kanannya. Lalu sekejap kemudian berputar
cepat sekali seperti gasing ! Dan secara tiba-tiba dari badan
yang berpusing bagai kitiran itu keluar angin pusaran yang
amat kuat, yang menghembus balik semua kelabang hijau
tadi.
Bukan hanya itu saja !
Demikian kuatnya angin pusaran yang ditimbulkan oleh
ilmu sakti tersebut sehingga bukan hanya binatang binatang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kecil itu saja yang terdorong pergi, tapi tubuh gemuk dari
Ceng-ya kang itu pun tampik terpental ke samping dengan
kerasnya. Dan sebelum iblis gundul itu dapat memperbaiki
posisinya, Hong lui kun telah menyusuIi dengan pukulan Thian
lui gong ciangnya.
“Bummm!!!”
"Aduhh.....!"
Ceng ya-kang tampak terjengkang dan berguling guling
sambil mendekap dadanya. Dari mulutnya, menetes darah
segar.
"Bangsat! Cacing busuk.....!" Iblis itu mengumpat tak habishabisnya.
"Nah ! Apa kataku ! Kau masih tetap bukan lawanku......!
Sekarang berikan obat pemunah racun kelabang hijaumu !"
Hong-lui kun membentak. Tangan kanannya masih tetap
bersiap siaga untuk melepaskan pukulan Thian lui gong ciang
ke arah muka lawannya.
“Heh heh heh ...! Kaukira aku anak kecil yang mudah
dibujuk? Huh, jangan kau harap! Lebih baik mati dari pada
memberikan obat itu kepadamu. Kaupun akan mati bersamaku
... "
“Ooh .... itu yang kauinginkan ? Baik! Kaukira aku tidak bisa
mencari seorang tabib sakti yang dapat mengobati pengaruh
racunmu ini? Hmm, agaknya kau tidak mengetahui kalau aku
dengan mudah dapat menghubungi ahli waris Bu eng sin Yok
ong dan minta obat pemunah racunmu ini." Hong Iui kun
tersenyum penuh kemenangan. “…Dan sementara itu kau
telah kubunuh. Sehingga Hek-eng cu, saudara-saudara
seperguruanmu, serta kawan kawanmu yang lain, tidak usah
membagi harta karun serta kedudukan yang mereka peroleh
denganmu. Haha... Sebab kau telah mati."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hong lui-kun Yap Kiong Lee mengangkat tangan kanannya
tinggi tinggi. Siap untuk melancarkan pukulan Thian-lui-gongciangnya
yang ampuh! Matanya yang tajam mencorong
seperti mata harimau marah itu menatap buas ke arah Cengyang-
kang!
"Tunggu ,.!" Iblis Gundul itu tiba-tiba mengangkat
tangannya tanda menyerah.
“Huh, kau merubah pendirianmu? Engkau mau
menyerahkan obat pemunah itu?" Hong-lui-kun menggeram
sambil menurunkan kembali tangannya.
"Benar! Asal kau melepaskan aku pergi dari sini ...."
Memang, sebenarnya tak ada maksud sedikitpun di dalam
hati Hong-lui-kun untuk membinasakan lawannya itu. Kalau
semula pendekar itu mengancam dengan geram untuk
membunuh Ceng ya kang, hal itu hanyalah sebagai taktik saja
agar iblis tersebut menyerahkan obatnya.
Dan taktik itu tampaknya benar-benar berhasil. Terbukti
iblis tersebut lalu menyerahkan obat pemunahnya. Agaknya
kata-kata Hong-lui kun yang terakhir, yang menyinggung soal
harta karun dan kedudukan tadi benar-benar tepat mengenai
Iubuk hati Ceng-ya-kang! Bagi seorang Iblis yang serakah dan
gila kedudukan seperti Ceng-ya-kang itu, kenikmatan duniawi
adalah di atas segala galanya. Semuanya itulah yang selalu ia
kejar selama ini. Oleh karena itu apalah gunanya jerih
payahnya selama ini jikalau ia harus mati dalam
mempertahankan obat pemunahnya itu.
"Bagaimana?" Iblis Gundul itu menegaskan lagi.
"Baik! Lekas kauserahkan obat itu....!"
Ceng ya-kang mengerahkan sebuah pundi pundi kecil dari
balik bajunya yang sebelah dalam. Dengan hati-hati ia lalu
mengambil sebotol pil berwarna putih dan menyerahkannya
kepada Hong-lui kun Yap Kiong Lee.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kebetulan isi botol ini persis tinggal tiga butir saja.
Telanlah satu persatu setiap tiga jam dan racun yang
mengeram di dalam tubuhmu akan lenyap." Ceng ya-kang
menerangkan.
Hong-lui-kun menerima botol itu dan menelitinya beberapa
saat lamanya sebelum memasukkannya ke dalam kantong
bajunya.
Ceng ya kang yang sudah akan beranjak pergi itu tampak
mengerutkan keningnya. “Mengapa tidak segera kautelan agar
racun dalam tubuhmu lekas lenyap?" tanyanya ragu-ragu.
"Kenapa mesti harus terburu-buru? Toh racunmu ini takkan
bisa membunuhku sampai besok pagi....." Hong-lui-kun
menjadi curiga malah.
"Yaa..... kau telah menelan pil buatanmu sendiri. Tapi siapa
tahu.....?"
"Ha ha....... siapa tahu obat yang kau berikan ini adalah
palsu? Dan kau berharap agar aku lekas lekas menelannya
sehingga racun yang kutelan justru bertambah banyak dan.....
aku cepat mati? Hehe....." Pendekar gagah itu tersenyum
cerdik.
"Ceng-ya kang..... akupun bukan anak kecil yang lekaslekas
percaya kepada ucapan seorang iblis dari Ban kwi to
seperti engkau ini."
''Lalu..... lalu a-apa maksudmu.. .?” Iblis Gundul itu
kelihatan pucat dan takut.
"Jangan cepat-cepat pergi dari tempat ini ! Akupun akan
melukai tubuhmu dulu dengan jarum ulatku....."
"Jarum ulat...... ? Apakah itu?" Ceng-ya-kang berbisik tak
mengerti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 15
"YA, Jarum ulat! Aku mempunyai Jarum yang sangat
lembut. Ayahku memberi nama jarum ulat, karena bentuknya
yang melengkung kecil seperti ulat. Besarnya tak lebih dari
pada ujung duri bunga mawar, tapi kemampuannya benarbenar
hebat! Jarum lembut itu akan kumasukkan ke dalam
salah sebuah dari urat darahmu. Karena bentuknya yang
lentur dan melengkung, jarum tersebut akan bergerak
mengikuti aliran darahmu menuju ke jantung. Semakin banyak
dan keras engkau bergerak, semakin cepat pula jarum
tersebut tiba di pusat jantungmu ! Dan itu berarti saat
kematianmu telah tiba. Tapi….”
".. .„ Tapi…..bagaimana. .. ?” Ceng-ya-kang ketakutan,
seakan akan jarum yang mengerikan itu telah menyusup di
daIam aliran darahnya.
Sekali lagi Hong lui kun tertawa.
“Tapi pada saat yang tepat aku dapat mengambilnya
kembali !" akhirnya pendekar muda itu meneruskan.
“Asalkan.....ah, sudahlah ! Bersiaplah sekarang ! Aku akan
menyerangmu dengan jarum itu......"
"Tungguu.........!!” Ceng-ya-kang menjerit.
"Baiklah! Akan kuberikan obat pemunah yang asli !"
Dengan tergesa-gesa iblis itu mengeluarkan pundi pundinya
lagi dan mengambil sepotong akar kering sebesar jari tangan,
warnanya putih bersih.
"Rebuslah akar ini dengan segelas air sampai mendidih, lalu
minumlah ! Ulangi lagi hal itu setiap hari, sampai yang ke lima,
dan racun itu akan lenyap !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hong-lui kun menerima potongan akar obat itu sambil
berkata, "Terima kasih ! Tapi aku tetap meminta maaf
kepadamu, sebab..... besok pagi jam enam persis aku tetap
meminta padamu untuk menemui aku di tempat ini,
karena...... jarum ulatku itu telah terlanjur kumasukkan ke
dalam pembuluh darahmu !”
"Hah? Kau .... ! Bangsat! Kapan kau. .„?" Ceng-ya kang
berjingkrak kaget.
Hong lui kun Yap Kiong Lee mengebut ngebutkan lengan
bajunya yang longgar. Dengan sikap acuh tak acuh ia berkata,
"Lihatlah pergelangan tangan kirimu ! Ingatkah kau ketika
engkau menangkis pukulan Thian lui gong-ciangku tadi ?”
Tergesa-gesa Ceng ya kang menyingsingkan lengan
bajunya dan meneliti pergelangan tangannya dengan cermat.
Bukan main kagetnya ketika ia melihat setitik noda berwarna
merah, tepat di atas pembuluh nadinya !
"Kau….? Bangsat kejam!" Iblis Gundul itu naik pitam.
Tubuhnya yang gemuk tambun menerjang ke arah Hong lui
kun. Tapi dengan mudah pendekar gagah itu
mengelakkannya.
“Sabarr.... ! Apakah kau ingin agar jarum itu lekas lekas
sampai di jantungmu?" Hong lui-kun berteriak
memperingatkan.
Sambil menggeram marah iblis itu menghentikan
gerakannya. Dengan mata menyala menahan geram ia
menatap ke arah lawannya. "Apa.... apa maksudmu ?"
tanyanya serak.
"Jangan panik ! Asal aku masih hidup besok, jiwamu juga
akan tertolong."
"Kau masih tidak percaya kalau aku telah memberi obat
pemunah yang asli ?"
Lagi-lagi Hong lui-kun tersenyum penuh arti.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tentu saja, bung ! Setiap orang memang harus berhati
hati apabila berhadapan dengan penghuni Ban kwi to. Tapi ,„
jangan khawatir ! Akupun takkan mengingkari janji ! Asal aku
masih bisa kemari besok pagi, kau tentu juga akan selamat."
“Hmmmh!!"
"Nah, sekarang kalian pergilah dari tempat ini dicium para
penduduk itu melampiaskan kemarahannya kepadamu!”
"Baiklah ! Besok pagi jam enam aku akan menunggu
engkau di tempat ini."
Dengan tertatih-tatih Iblis Gundul itu mengajak anak
buahnya pergi meninggalkan warung bubur yang porak
poranda itu.
Sepeninggal kawanan iblis itu Hong-Iui-kun kembali
meneliti akar obat yang diperolehnya. "Kukira iblis gundul itu
takkan berani main main denganku kali ini." gumamnya pelan.
Lalu dimasukannya akar itu ke dalam saku bajunya.
Sambil menghela napas Hong-lui kun Yap Kiong Lee
menatap ke sekelilingnya. Dipandangnya para penduduk yang
menonton dengan takut-takut di luar halaman. Lalu matanya
menebar lagi ke samping warung dan di tempat itu matanya
bentrok dengan beberapa pasang mata tajam yang tidak lain
adalah Chin Yang Kun dan kawan-kawannya. Sekejap dahi
Hong lui-kun tampak berkerut. Salah seorang dari orang itu
seperti pernah dikenalnya, tapi ia lupa!
Oleh karena orang itu, yang tidak lain adalah Tong Ciak Cusi,
diam saja tak bereaksi, maka Hong-lui kun juga tidak
memikirkannya lagi. Ah ..... mungkin aku salah mengenali
orang, gumamnya dalam hati.
Dengan hati hati Hong Iui kun melangkah kembali ke dalam
warung. Di mana mana terlihat sisa-sisa racun yang
berceceran. Racun yang tadi telah dipergunakan oleh Cengya-
kang ketika bertempur melawan dirinya. Kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pendekar itu mendekati mayat Hao Chi dan anak buah Ceng
ya-kang yang masih terlentang di atas lantai. Kedua sosok
mayat itu telah mulai membusuk.
Perlahan lahan kedua mayat itu ditarik dan diseret keluar
dengan tali, lalu dibawa ke tempat yang bebas dari tebaran
racun. Seorang kakek tua berperawakan gagah tampak
memasuki halaman diiringi oleh empat orang pembantunya.
Hong-lui-kun segera dapat menerka, bahwa orang tua
tersebut tentulah salah seorang pemimpin desa itu. Dan
ternyata dugaannya memang benar!
“Maaf, tai-hiap! Lo-hu adalah kepala dusun ini ! Bolehkah lo
hu bertanya sedikit?"
"Oh .... tentu saja." Hong lui-kun menjawab tak kalah
sopannya.
"Apakah yang telah terjadi di tempat ini? Dan...... itu mayat
siapakah? Hei! itu mayat Hao Chi, pemilik warung ini!” kakek
tua itu kaget sekali.
"Maaf, cung-cu (kepala kampung) ! Saya tak bermaksud
membuat keonaran di tempat ini. Saya sebenarnya kemari
hanya untuk makan bubur, tapi ... begitu datang kulihat telah
terjadi suatu pembunuhan di warung ini. Seorang penjahat
berkepala gundul telak membunuh si pemilik warung ini dan
berkelahi dengan tamu lainnya. Terpaksa aku turun tangan
untuk mengenyahkan orang itu." pendekar itu memberi
keterangan. "Tanyalah kepada para penduduk yang
menyaksikan peristiwa tadi!"
Kepala kampung itu mengangguk-angguk, percaya karena
ia juga telah mendapat laporan dari para pembantunya.
"Kalau begitu kami sangat berterima kasih kepada taihiap.
Biarlah kami yang akan menyelesaikan kedua mayat itu…."
"Terima kasih, cung-cu. Tapi perbolehkan aku memberi
pesan sedikit. Yaitu, tutuplah tempat ini barang satu bulan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jangan sekali kali diperbolehkan penduduk masuk pekarangan
ini, karena tempat ini telah penuh dengan racun racun yang
berbahaya. Dan…. apabila membawa kedua mayat ini nanti,
lakukanlah seperti yang telah kulakukan ini. Jangan sekali-kali
menyentuh tubuh mayat ini .... Nah, aku akan meneruskan
perjalananku."
"Taihiap, tunggu dulu.....! Mengapa taihiap begitu tergesagesa?
Kami persilahkan taihiap untuk singgah lebih dahulu di
rumahku.....”
Hong lui kun menyatakan rasa terima kasihnya sambil
meminta maaf karena ia tak dapat menerima undangan
tersebut. Pemuda itu mengatakan bahwa ia masih mempunyai
banyak urusan lain yang harus ia selesaikan. Lalu sambil
menjura pemuda itu berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Dengan tenang ia mengambil kudanya dan pergi ke arah
barat.
Setelah kuda beserta penunggangnya itu telah lenyap di
kelokan jalan, kepala dusun tersebut segera memerintahkan
anak buahnya untuk menyeret kedua sosok mayat itu ke jalan
raya. Kemudian dengan suara lantang orang tua itu
memperingatkan penduduknya, agar untuk sementara waktu
tidak menginjakkan kaki mereka di halaman tersebut. Kepada
para keluarga Hao Chi dan pelayannya dipersilahkan untuk
mengosongkan warung itu, dan mengungsi ke rumah saudara
atau tetangga mereka. Rumah dan pekarangan itu dinyatakan
sebagai daerah berbahaya dan terlarang, sampai pengaruh
racun yang berceceran di tempat tersebut dianggap telah
hilang.
Sementara itu Toat-beng-jin dan teman-temannya diamdiam
keluar halaman, lalu meninggalkan tempat itu. Sambil
melangkah Tong Ciak Cu-si menggerutu tak habis-habisnya.
"Wah, hampir saja Hong-lui-kun tadi mengenal aku. Untung
perawakan serta caraku berpakaian sudah banyak sekali
perubahannya, sehingga ia tak mengenalku lagi."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi kulihat dia tadi memandang Tonghiante agak lama,"
Toat-beng-jin menyahut.
"Kelihatannya memang demikian. Agaknya orang itu seperti
mengenali Tong-lo-cianpwe, hanya mungkin dia belum bisa
memastikan siapa sebenarnya Tong-lo-cianpwe ini......" Souw
Lian Cu ikut menyatakan pendapatnya.
"Yaa......tapi omong-omong kali ini akulah yang paling sial
!"
"Eh, mengapa lo-cianpwe bilang paling sial ?" Yang Kun
bertanya.
"Habis, kalian semua sudah dapat menghabiskan bubur
panas itu...... sedang aku belum ! Jadi sekarang perutku masih
keroncongan, nih !”
Yang lain tersenyum menahan geli.
"Eh, omong-omong.,.. mau ke mana kita sekarang?" Toatbeng
jin mengalihkan pembicaraan.
"Tadi Tong-lo-cianpwe telah berjanji akan ke tempat
mendiang kakek Piao-Liang !" Yang Kun mengingatkan.
“.....ya, tapi yang aku butuhkan sekarang adalah pengisi
perut terlebih dahulu,” Tong Ciak Cu-si masih menggerutu "….
Kalian telah melahap satu mangkuk bubur, sedang aku tidak !
Padahal jatahku setiap pagi harus lima mangkok bubur...."
"Wah, Tong-hiante ini yang dipikirkan cuma makan saja.
..!" Toat beng jin berkelakar.
"Tentu saja ! Itu kan sumber tenaga buat kita,.." jago Imyang-
kauw itu membela diri. "Dengan perut kosong,
bagaimana kita bisa memainkan lm-yang kun.... ?"
"Wah, kalau begitu kita harus masuk rumah makan lagi, nih
!" Souw Lian Cu yang sudah merasa kenyang itu
memberengut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Toat beng jin tertawa, sementara Yang Kun hanya
tersenyum saja melihat hal itu.
"Ha-ha ha... kelihatannya Tong hiante ingin makan gratis
lagi, ya? Tadi di warung Hao Chi kita belum sempat
membayar, sekarang sudah mau masuk restoran lagi! Wah!"
"Eh, benar ! Kita tadi belum membayar harga bubur yang
kita makan...." Souw Lian Cu terkejut.
"Benar ! Tapi keadaan demikian ributnya. Kepada siapa kita
harus membayarnya,..,,,.?" tak terasa Chin Yang Kun
menyahut. Sesaat ia lupa bahwa ia dan gadis itu masih dalam
keadaan "perang dingin"! Baru setelah Souw Lian Cu
mengerling tajam kepadanya, Yang Kun menyadari
ketelanjurannya. Otomatis muIutnya menjadi terdiam kembali,
mukanya merah.
Di tikungan jalan mereka melihat rumah makan yang agak
besar. Meskipun hanya sebuah dusun, karena mempunyai
bandar air sungai yang ramai, tempat itu tak ubahnya seperti
sebuah kota kecil saja keadaannya. Ada penginapan, pasar
dan toko-toko kelontong yang berjajar-jajar di sepanjang jalan
utamanya.
"Nah, sekarang lo-hu benar-benar mau makan di sini..."
Tong Ciak membelok ke arah rumah makan itu.
Toat-beng-jin tersenyum mengikuti. "Coba, ingin kulihat !
Apakah Tong-hiante dapat melaksanakan niat itu, hehehe,, "
Tokoh sakti bertubuh pendek itu berhenti melangkah.
"Wah! Apakah Lo jin-ong bermaksud bahwa di tempat
inipun akan terjadi keributan sehingga aku tak bisa makan
pula kembali?"
“Ah, siapa tahu….? Kesialan itu sering kali datang dengan
beruntun. Kalau sudah mendapatkan satu, yang lain segera
menyusul......" Toat-beng jin tersenyum lebar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tong Cu-si tampak termangu-mangu sebentar. Tapi sesaat
kemudian dengan dada tengadah ia telah melangkah kembali
ke restoran itu.
"Uh ! Uh ! Perduli amat! Biarlah kalau mau sial lagi ..,..
Lebih baik kuhabiskan saja sekalian semua kesialan itu pada
hari ini. Itu lebih baik dari pada harus menunggu sampai lain
hari," ucapnya keras.
Dan tanpa mengucapkan permisi lagi tokoh sakti bertubuh
pendek itu melompati tangga yang berada di depan pintu,
terus menerobos masuk. Tapi belum juga selangkah ia
masuk........
"Siiiing! Siuttt !"
Sebatang tombak dengan mata yang berkilau saking
tajamnya, tiba-tiba tampak melesat ke arah dadanya. Begitu
kuat dan cepat daya luncurnya, membuat jago sakti dari Imyang-
kauw itu terkejut bukan main.
Untunglah, sebagai seorang jago silat berkepandaian tinggi,
Tong Ciak tak pernah kehilangan ketenangannya. Apalagi
sepanjang hidupnya, selama ini tokoh itu telah kenyang
dengan segala macam pengalaman yang hebat-hebat. Jadi
biarpun merasa terkejut, tapi rasa terkejut itu tidak terlalu
lama. Hanya dalam waktu sedetik tokoh itu telah bereaksi
dengan hebatnya.
Dengan sedikit merendahkan tubuhnya, Tong Ciak bergeser
ke kiri, sementara tenaga sakti Soa-hu-sin kang yang berada
di dalam tubuhnya secara otomatis bergerak melindungi
badan. Kemudian dengan jari-jari terbuka telapak tangan
kanannya menepis ujung tombak yang telah berada di depan
hidungnya!
"Taasss !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
KepaIa tombak itu patah seketika dan tangkainya terlempar
ke atas dengan kekuatan yang bertambah menjadi berlipat
ganda !
"Braaaak ! Gedubraaaaak ! Brooooll!!"
Tangkai tombak yang terbuat dari besi pilihan itu
menghajar tiang penglari yang menyangga genting dan atap
restoran bahagian depan. Terdengar suara kayu patah dan
sekejap kemudian bangunan depan yang kokoh kuat itu
runtuh ke bawah dengan hebatnya. Padahal di sana
berdiri....... Toat-beng jin, Chin Yang Kun dan Souw Lian Cu !
"Yang hiante! Souw kouw-nio....! Awasss.... !" Toat-bengjin
berteriak memperingatkan kedua orang temannya itu.
Bencana itu datang begitu mendadak, sehingga orang tua
tersebut tidak sempat untuk memikirkan keselamatan mereka.
Beberapa orang penduduk yang saat itu kebetulan lewat
atau kebetulan berada di sekitar tempat itu serentak menjerit
panik. Mereka ngeri membayangkan nasib ketiga orang asing
yang hampir tertimpa reruntuhan atap tersebut! Tak ayal lagi
mereka tentu akan menyaksikan tubuh-tubuh berserakan yang
tertimbun oleh remukan bangunan yang runtuh itu.
“Gempa bumi lagi......!" seorang nenek tua menjerit ngeri
sambil menutupi mukanya. Agaknya perasaan ngeri yang dia
alami ketika terjadi gempa bumi beberapa waktu yang lampau
masih sangat membekas dalam hatinya.
Tetapi sekejap kemudian rasa kaget dan ngeri yang ada di
dalam benak orang orang itu menjadi lenyap seketika dan
diganti oleh perasaan kagum dan tak percaya. Ternyata ketiga
orang yang mereka khawatirkan itu dalam waktu yang hampir
bersamaan mampu meloloskan diri dari bencana tersebut.
Orang pertama yang mereka sangka tentu akan menjadi
korban reruntuhan itu, yaitu Toat beng jin, ternyata.... justru
menjadi orang pertama yang bisa lolos dari bencana itu
malah! Ternyata kakek tua renta tersebut bukan main
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangkasnya. Bagaikan mempunyai sepasang per baja di bawah
telapak kakinya, orang tua yang mereka anggap jompo itu
melenting mundur dengan cepat sekali. Begitu cepat gerak
refleks kakinya, sehingga tubuh tuanya yang kurus kecil itu
dalam tempo singkat telah berada dua-tiga tombak jauhnya
dari tempat semula.
Sedang orang kedua yang mereka khawatirkan adalah
Souw Lian Cu. Selain Souw Lian Cu adalah seorang wanita,
gadis itu ternyata telah cacat tangannya. Ternyata
kekhawatiran mereka kali inipun telah salah pula. Gadis cantik
yang buntung lengannya itu ternyata mampu bergerak lincah
seperti burung camar di lautan. Dengan tangkas gadis itu
menjatuhkan diri pada telapak tangannya, dan di lain saat
sepasang kakinya melenting ke atas cepat sekali, sehingga
sekejap kemudian tubuhnya berputar menjauh seperti kincir
angin yang tersapu badai !
Orang ketiga, Chin Yang Kun yang mereka anggap paling
kuat, sehingga tentu dapat bergerak paling tangkas, ternyata
justru tidak bisa bergerak dari tempatnya malah! Luka dalam
yang diderita oleh pemuda itu ternyata sangat mengganggu
gerakannya, sehingga berbeda dengan kedua temannya yang
bergerak gesit meloloskan diri, pemuda itu justru hanya bisa
berdiri diam saja di tempatnya.
Tapi apa yang dipertunjukkan oleh Yang Kun selanjutnya
benar-benar membuat semua orang ternganga dan tak habis
mengerti !
Karena tak bisa berbuat lain selain bertahan, pemuda itu
dengan nekad mengerahkan tenaga sakti Liong-cu-i-kangnya!
Ia tak menghiraukan lagi rasa sakit di dadanya. Sedetik
kemudian terasa berhembus angin dingin yang memancar dari
badannya, dan di lain saat baju longgar yang dikenakan oleh
pemuda tersebut menggembung seperti balon yang mau
meletus. Pada saat itu pula atap gedung yang runtuh itu jatuh
menimpa tubuhnya. Suaranya menggelegar mengerikan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Debu, pasir dan patahan-patahan kayu berhamburan
memenuhi tempat itu sehingga untuk sesaat udara menjadi
gelap!
“Yang-hiante.....!" Toat-beng-jin dan Tong Ciak berseru
hampir berbareng.
''Yang Kunnnn. . !" tak terasa Souw Lian Cu ikut berteriak
khawatir.
Baru beberapa saat kemudian debu yang memenuhi tempat
reruntuhan itu hilang ditiup angin. Dan..... semua orang yang
tadi merasa khawatir, kini menjadi ternganga mulutnya !
Suatu pemandangan yang sungguh-sungguh tidak masuk akal
telah terjadi di depan mata mereka!
Di depan mereka, di tengah-tengah tumpukan kayu dan
genting yang menggunung, mereka melihat Chin Yang Kun
masih berdiri tegak seperti semula. Tak sebutir kotoran
maupun sepotong kayupun yang mengotori pakaiannya! Dari
sepatu sampai ujung rambutnya tampak bersih dan Iicin
seperti semula.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sesungguhnyalah, tenaga
sakti Liong-cu-i kang yang dikerahkan oleh Chin Yang Kun tadi
memang bukan main hebatnya ! Buktinya, pakaian yang
dikenakan oleh pemuda itu sampai menggembung seperti
balon yang ditiup karena ikut terisi oleh Liong-cu-i kang!
Begitu ampuhnya tenaga sakti itu sehingga tubuh pemuda
tersebut seperti ulat yang terlindung dalam kepompongnya!
"Yang-hiante, kau tidak apa-apa, bukan....?” Toat-beng jin
bertanya sambil menarik si pemuda keluar dari reruntuhan itu.
"Siauw te tidak apa-apa....... Cuma, lukaku mungkin telah
terbuka kembali....." Yang Kun menjawab agak tersipu.
Sekejap matanya melirik ke arah Souw Lian Cu. Dalam
suasana yang hiruk-pikuk tadi ia masih dapat mendengar
teriakan khawatir dari gadis yang cantik tersebut. Tapi ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menjadi sangat kecewa ketika gadis itu tampak acuh tak acuh
kembali.
"Sesungguhnya Yang-hiante memang belum boleh
menggunakan tenaga terlalu besar. Tapi tak apalah.....! Yang
terpenting Yang-hiante sekarang selamat. Tentang luka dalam
itu.,... biarlah kami yang mengurusnya nanti." Toat-beng jin
menghibur.
Sementara itu tanpa memperdulikan para penduduk yang
datang ke tempat itu, Tong Ciak mendahului kawan-kawannya
memasuki restoran. Dengan mata merah tokoh sakti dari lm
yang-kauw tersebut mencari orang yang melepas tombak
maut tadi.
Ternyata Tong Ciak tidak mendapatkan kesukaran untuk
mencarinya. Begitu masuk tokoh itu telah dihadang oleh
belasan orang lelaki di depan pintu. Mereka berpakaian
ringkas dan bersenjata lengkap, seperti layaknya jago-jago
silat dari dunia kang ouw. Salah seorang di antaranya, yang
berdiri di tengah, tampak memegang tombak panjang yang
bentuk dan bahannya persis dengan tombak yang tadi hampir
saja membunuh dia.
“Atas nama Tuan Tan kami mengucapkan selamat datang
kepada cu wi semua.....!" orang bertombak panjang itu
menjura, diikuti oleh kawan-kawannya yang lain.
Tong Ciak cuma mengangguk dingin. Sebentar dia
menoleh, melirik ke arah teman temannya yang mengikutinya
masuk, setelah itu matanya kembali menatap ke depan
dengan kaku. Peristiwa yang baru saja terjadi, yang hampir
saja membunuh dia dan kawan kawannya, benar-benar
membuat hatinya marah bukan main.
Beberapa orang tamu tampak bergegas meninggalkan
kursinya. Dengan tergesa-gesa mereka membayar
makanannya dan keluar dari pintu samping. Mereka seakanakan
sudah mencium bahaya yang akan terjadi di restoran itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
! Sudah beberapa kali mereka menyaksikan peristiwa
perkelahian antara orang-orang asing yang baru datang di
dusun mereka dengan para pengawal Tan wangwe.
Melihat lawannya cuma berdiri diam dan tidak menjawab
ucapan selamat datangnya, orang bertombak panjang itu
menyeringai. Sekali lagi ia memberi hormat, seolah-olah tidak
terpengaruh oleh sikap lawannya.
"Ah, maafkanlah kami......! Mungkin tata cara kami dalam
menyambut tuan tadi agak sedikit keterlaluan ! Tapi..... itu
memang tata cara kami. Kami hanya bermaksud untuk
mengetahui dan membuktikan, dengan siapa kami sekarang
sedang berhadapan. Sehingga untuk selanjutnya kami dapat
bersikap serta menempatkan diri di hadapan tamu kami....."
"Huh !" Tong Ciak mendengus dan masih tetap berdiam
diri.
Tokoh sakti dari Im-yang kauw itu menatap kaku ke arah
lawan lawannya. Dipandangnya mereka satu persatu,
bagaikan seekor ayam jago yang sedang menilai kekuatan
lawan sebelum bertanding di medan laga.
Lelaki bertombak panjang, yang tadi mengucapkan kata
selamat datang, berusia sekitar empatpuluhan tahun.
Berperawakan sedang, berkumis dan berjenggot tipis serta
mengenakan baju longgar berkembang-kembang. Dilihat dari
sikapnya sejak tadi, dapat diduga kalau dialah yang memimpin
rombongan itu.
Di sebelah kanan dan kirinya berdiri dua orang yang
wajahnya sangat mirip satu sama lain. Sama-sama berwajah
bengis dan kejam. Hanya kulit tubuh mereka yang agak
berbeda, yang satu lebih gelap dari pada yang lain. Mereka
berdua sama-sama membawa sebuah tongkat besi yang diberi
kaitan baja di sebelah ujungnya.
Lalu di sebelah kiri dari ketiga orang itu tampak berdiri
seorang laki laki gundul tak berbaju, sehingga otot-otot kekar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang bertonjolan di badannya kelihatan dengan nyata.
Sepasang mata yang terlindung oleg alis mata yang tebal dan
lebat itu kelihatan hampir terpejam saking sipitnya. Sementara
bentuk tulang pipi dan rahangnya yang kokoh persegi itu
mengingatkan orang pada bentuk tulang pipi Bangsa Mongol
atau Manchu, jari jari tangannya yang kokoh seperti penjepit
baja itu memegang cambuk dari kulit ular. Dilihat sepintas lalu
dapat diduga bahwa raksasa gundul ini adalah jago gwa kang
yang sangat kuat!
Sedangkan belasan orang yang berdiri menebar di belakang
keempat jagoan itu adalah pembantu-pembantu yang mereka
bawa. Tak ada yang kelihatan menonjol di antara orang orang
tersebut, biarpun wajah mereka rata-rata tampak ganas dan
kejam.
Beberapa saat kemudian Tong Ciak kelihatan mengambil
napas panjang sekali, lali menghembuskannya kembali kuatkuat.
Setelah itu dengan wajah sedikit lebih cerah, ia
mengangguk.
"Baiklah ! Selamat berjumpa!" akhirnya tokoh Im yang
kauw yang amat sakti itu menjawab.
“Tapi........ terus terang saja, kami berempat ini belum
merasa mengenal cu wi semua. Oleh karena itu dapatkah cu
wi mengatakannya kepada kami? Siapakah cu-wi ini? Dan
siapakah Tuan Tan yang cu-wi sebut tadi?"
Orang bertombak itu saling berpandangan dengan kawankawannya,
seolah olah merasa aneh mendengar pernyataan
Tong Ciak tersebut. Tapi beberapa saat kemudian orang
bertombak itu tersenyum geli.
"Ah, tuan tak perlu berpura-pura di depan kami. Mungkin
tuan memang benar-benar belum mengenal kami semua
secara pribadi, tapi mengenal Tuan Tan..„. dan apakah
kedudukan kami di dusun ini, kukira tuan telah bisa
menebak..„."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tuan Tan.......? Menebak.......? Apakah maksudmu......?”
Tong Ciak semakin tak mengerti kata-kata lawannya. Dengan
dahi berkerut jago sakti bertubuh pendek ini menoleh ke arah
Toat beng-jin yang berdiri di belakangnya.
Toat-beng-jin juga mengangkat pundaknya tanda tak
mengerti pula.
"Mungkin orang-orang ini telah salah mengenali kita,"
bisiknya perlahan.
"Baiklah, kami akan memperkenalkan diri kepada cu-wi.....
" akhirnya orang bertombak itu memutuskan, setelah
beberapa saat lamanya pihak Tong Ciak Cu-si tetap belum
mau mengakui kalau mengenal mereka.
“Silahkan.......! Kami akan mendengarkannya dengan baik.”
“Kami semua ini adalah para pembantu Tuan Tan yang
menjadi penguasa tak resmi di dusun Ho-ma-cun ini….saya
adalah Tu Seng…..” orang bertombak itu memperkenalkan
diri.
"Ah, Hui chio (Si Tombak Terbang) kiranya.... !” Tong Ciak
yang mempunyai banyak pengalaman itu berseru.
"Benar! Agaknya tuan sudah pula mendengar gelar yang
diberikan oleh teman-teman kepadaku."
“Tentu saja. Nama saudara pernah menggetarkan kota Kiciu
ketika saudara masih menjabat sebagai Kepala Pasukan
Kerajaan di kota itu.” Tong Ciak yang dahulu adalah Kepala
Pasukan Pengawal Istana itu mengenali orang tersebut.
“Heh?!?” Hui Chiu Tu Seng tersentak kaget. “Tuan siapa?
Mengapa tuan mengenal masa laluku?”
“Sudahlah! Saudara belum memperkenalkan nama temanteman
saudara yang lain kepada kami...” Tong Ciak Cu-si
memotong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baik! Tapi setelah itu kami juga ingin mengetahui nama
tuan yang terhormat....” Tong Ciak tersenyum dan saling
pandang dengan Toat-beng-jin.
“Yang berada di sampingku ini adalah dua orang
bersaudara dari lembah sungai Hoang-ho. Kalangan persilatan
menyebut mereka Huang-ho Heng te (Dua Saudara dari
Sungai Huang-ho). Sedang kawanku yang gundul ini datang
dari daerah Mongol, namanya Togu. Dia biasa membunuh
beruang hanya dengan memuntir kepalanya, maka orang kang
ouw memanggilnya Si Pembunuh Beruang !" Tu Seng
memperkenalkan semua pembantu-pembantunya. Kemudian
dengan rasa ingin tahu ia melanjutkan, "Nah, sekarang
beritahukan kepada kami! Siapakah nama serta gelar tuan?
Siapa pula teman-teman tuan itu?"
"Hei! Saudara ini aneh benar! Saudara telah menyambut
kami di sini. Tentu saja saudara sudah mengenal kami dengan
baik....” Tong Ciak balik berkata kepada Tu Seng.
“Ya, tapi.....” orang bertombak itu menjawab dengan
gagap.
“Sudahlah...! apa sih sebenarnya maksud kalian menanti
dan menyambut kami disini? Kita toh belum saling mengenal
dan berhubungan satu sama lain?” akhirnya Toat-beng-jin ikut
pula berbicara.
Tu Seng berpaling dan menatap Toat-beng-jin dengan dahi
berkerut.
“Siapa pula tuan ini?” tanyanya penasaran.
“Meski kusebutkan namaku, kalian juga takkan mengerti!
Lebih baik katakan saja maksud kalian yang
sebenarnya....atau....kita tak usah saling mengurus
kepentingan kita masing-masing.”
“Huh!” tiba-tiba raksasa Mongol yang bernama Togu itu
menggeram. “Saudara Tu, tak usah bicara berbelit-belit
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan mereka! Membuang waktu saja ! Tuan Tan sudah
memberi wewenang kepada kita, jikalau mereka datang, kita
diperintahkan untuk menyuruh mereka pulang ! Kalau mereka
membangkang dan tetap ingin mengganggu keluarga Tuan
Tan, kita diperbolehkan menyikat mereka !"
"Saudara Tugu benar! Lenyapkan saja orang orang ini!
Habis perkara!" salah seorang dari Huang-ho Heng te yang
berkulit gelap ikut berteriak.
"Baiklah ! Tapi biarlah mereka memilih, melanjutkan
maksud mereka atau membatalkan niat mereka....dan
meninggalkan tempat ini.” Tu Seng cepat-cepat menenangkan
kawan-kawannya yang mulai marah itu.
Lalu dengan wajah kaku Tu Seng berkata ke arah Tong
Ciak. Suaranya keras dan penuh ancaman.
“Nah! Tuan telah melihat sendiri kemarahan temantemanku.
Oleh karena itu untuk menyingkat waktu, kami
takkan bertanya lagi tentang cu-wi semua. Kami tak perduli
lagi...! tapi demi keselamatan cu-wi, kuminta cu-wi segera
meninggalkan dusun kami ini!”
“Dan....ingatlah! jangan sekali-kali kalian menampakkan diri
di hadapan kami! Sekali lagi aku melihat kalian....huh! jangan
harap kaitan di ujung tongkatku ini mau mengampuni jiwa
kalian!” salah seorang dari Huang-ho Heng-te turut
membentak.
“Lekas pergi! Mau tunggu apa lagi?” Togu berteriak pula
sambil melangkah maju.
Sepasang alis Tong Ciak berkerut sehingga bertemu satu
sama lain. Begitu pula dengan Yang Kun dan Lian Cu!
Malahan....kedua remaja itu telah menjadi merah padam
mukanya! Mereka benar-benar tersinggung karena mendapat
perlakuan seperti itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Eh! Ada apa pula ini? Sabar....! sabarlah....!” Toat-beng-jin
melangkah maju, berusaha mendinginkan suasana yang telah
meruncing itu.
Tapi maksudnya yang baik itu ternyata telah diartikan salah
oleh lawannya. Togu menyangka bahwa orang tua itu
bermaksud untuk melawannya. Maka kedatangannya langsung
disambut oleh raksasa gundul tersebut dengan ayunan
lengannya yang sebesar paha orang itu.
“Whuuut!”
“Eeit! Lhoh? Bagaimana, nih.....? Sabarrrr.....!"
Toat-beng jin mengangkat kedua lengannya ke depan
dengan telapak tangan terbuka untuk memberi tahu kepada
Togu bahwa dia tak ingin berkelahi.
Tapi dengan tangkas raksasa Mongol itu berputar ke
samping,lalu cambuk yang dipegangnya sejak tadi ia sabetkan
ke arah lengan yang terjuIur ke depan itu. Lagi-lagi raksasa ini
telah salah mengartikan maksud Toat-beng Jin ! Raksasa ini
mengira lawannya telah melancarkan pukulan jarak jauh
kepadanya!
"Wuuuttt ! Thaaar !"
Cambuk yang digerakkan dengan tenaga raksasa itu
menghantam, lalu membelit sepasang lengan Toat-beng jin
yang kurus. Suara ledakan ujung cambuk itu sangat keras
sekali, sehingga gedung itu seperti bergetar karenanya. Dan di
lain saat tubuh Toat-beng-jin yang kecil itu tampak terangkat
dari tempatnya. Kemudian seperti anak panah yang terlepas
dari busurnya, tubuh kecil kurus yang terlontar oleh daya
sentak ujung cambuk itu terlempar ke atas dan ....
menghantam genting dengan dahsyatnya !
"Brraak!!”
Genting itu jebol dan berlobang besar sekali sedang tubuh
Toat-beng-jin yang menabraknya terus meluncur keluar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lubang dengan derasnya. Pecahan kayu dan genting
berhamburan ke bawah membuat beberapa orang di antara
anak buah Tu Seng berloncatan menghindar.
“Lo cianpwe !”
"Lo-cianpwe.... !"
Yang Kun dan Souw Lian Cu berteriak hampir berbareng.
Hampir saja mereka meloncat pula ke arah genting yang
berlobang itu untuk menolong Toat-beng-jin yang lenyap dari
pandang mata mereka.
Tapi dengan tangkas Tong Ciak segera menahan lengan
mereka.
“Yang-hiante! Souw-kouwnio! Biarlah! Jangan hiraukan Lojin
ong! Beliau tidak apa-apa....." Pengurus Agama itu berbisik
di dekat telinga mereka. "Marilah kita layani saja orang-orang
ini....!”
Togu tampak amat puas dengan apa yang baru saja ia
lakukan itu. Dengan tertawa lebar ia memandang Tong Ciak
yang masih tertegun mengawasi lobang genting di atas
ruangan itu.
"Nah ! Sudah kalian lihat nasib tua bangka yang bermaksud
melawanku itu, bukan? Memang amat kasihan sekali !
Tubuhnya tentu sudah remuk dan sukar dikenal lagi apabila
mayatnya kita ambil dari atas genting itu....."
"Haha....." Yang Kun terpaksa tertawa perlahan, tak kuasa
menahan kegelian hatinya.
"Kurang ajarr.....!!" raksasa itu mengumpat keras sekali.
"Monyet kecil, apa yang kau tertawakan?"
Selanjutnya tanpa memberikan suatu peringatan lagi Togu
menerjang ke arah Chin Yang Kun dengan ganasnya. Kepalan
tangannya yang sebesar periuk nasi itu menghajar ke arah
mulut yang mentertawakan dirinya tersebut. Terdengar suara
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengaung akibat kerasnya kepalan itu terayun. Tong Ciak dan
Souw Lian Cu cepat-cepat meIoncat ke samping untuk
menjaga agar tidak ikut terkena sasaran pukulan itu.
"Awas, Yang-hiante! Hati-hatilah sedikit dalam
mengerahkan tenaga saktimu! Jangan sampai kekuatanmu
yang aneh itu membunuhnya.....!" tokoh bertubuh pendek itu
berteriak keras. Tokoh Im-yang-kauw itu ternyata tidak
mengkhawatirkan kesehatan Yang Kun, tetapi justru khawatir
kalau pemuda itu sampai kesalahan tangan membunuh
lawannya malah!
Tapi Yang Kun hampir tidak mendengar seruan itu. Dia
yang masih belum sembuh dari sakitnya itu sedang berusaha
keras menghindari pukulan lawan. Kakinya yang panjang itu
menjejak lantai, sehingga tubuhnya yang jangkung terlontar
ke atas dengan cepatnya.
Pukulan Togu lewat dengan deras di bawah kaki Yang Kun,
sehingga tubuh raksasa itu nyelonong lewat pula. Keadaan itu
benar-benar tidak disia-siakan oleh Yang Kun. Dengan
memutar badannya di atas udara Yang Kun berbalik
mengulurkan tangan ke arah tubuh Togu yang lewat di
bawahnya. Hawa yang sangat dingin terasa memancar dari
lengan yang terulur itu, sementara lapat-lapat terdengar suara
mendesis dari bibir diatasnya.
“Cuuuusssss…..!”
“Yang-hiante, jangan…..!” Tong Ciak berseru kaget.
“Saudara Togu…..awas dibelakangmu!” Huang-ho Heng-te
berteriak bersama-sama, dan di lain saat tubuh dua
bersaudara itu tampak melesat ke arena pula.
Ternyata Togu sendiri telah mencium bahaya itu pula. Maka
tanpa menoleh lagi, ia mengayunkan cambuknya ke belakang
dengan kekuatan penuh.
“Wuuutt! Thaaarr!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun buru-buru menarik tangannya, ia takkan
membiarkan cambuk itu membelit lengannya seperti Toatbeng-
jin tadi. Kemudian sambil mengerahkan Liong cu I-kang
ke arah lengan kiri, Yang Kun melompat ke depan lagi untuk
memburu lawannya.
Tapi pada saat itu pula sepasang tongkat berkait dari
Huang-ho Heng-te telah datang menyerbu, dari belakang.
Tongkat itu memukul ke arah pangkal lengannya, sementara
kaitan baja yang dipasang pada ujungnya itu kelihatan
meringis seperti taring yang siap menggigit pundaknya.
Sedang tongkat yang kedua datang beberapa detik lebih
lambat. Tongkat itu menyapu ke arah pinggang dari arah
samping. Keduanya digerakkan oleh tenaga dalam yang amat
kuat. Sebenarnya kalau Yang Kun mau meneruskan
serangannya, yang ia tujukan ke arah Togu, dia pasti berhasil.
Tapi jikalau hal itu ia lakukan, ia tentu akan mendapat
kesukaran dalam mengelakkan serangan Huang-ho Heng-te.
Oleh karena itu dengan amat terpaksa pemuda itu
mengurungkan serangannya. Lengan kirinya yang telah terulur
ke depan itu ia tarik kembali, kemudian sambil bergeser ke
samping dia memainkan Panglima Yi Po Mengatur Barisan,
jurus ke tujuhbelas dari Hok-te Ciang-hoat!
Sambil menarik lengan kirinya tadi, Yang Kun
menundukkan tubuhnya, sehingga ayunan tongkat yang
pertama melayang lewat di atas kepalanya. Setelah itu
tubuhnya bergeser ke samping dengan cepat sekali, sehingga
tongkat yang kedua juga lewat di depan perutnya. Tapi ketika
badannya mau tegak kembali, tiba-tiba luka di dalam dadanya
terasa menyengat kembali dengan hebatnya.
“Oouwghh......!” pemuda itu berdesah sambil
mencengkeram dadanya.
Kejadian di atas, sejak penyerangan Togu ke arah Yang
Kun sampai kedua orang bersaudara Huang-ho Heng-te
menyerbu dengan tongkatnya berlangsung dalam tempo yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sangat cepat sekali. Sehingga dipandang sepintas lalu, seolaholah
serangan tongkat Huang-ho Heng-te tadi dapat mengenai
sasarannya.
“Yang Kun.....!” tanpa terasa Souw Lian Cu berdesah
perlahan.
“Hei?!?” Tong Ciak Cu-si tersentak kaget pula. Tokoh itu
merasa kalau Yang Kun tadi bisa menghindari seranganserangan
lawannya dengan baik, tapi kenapa pemuda itu kini
mengaduh kesakitan? Apakah pemuda itu terkena serangan
gelap dari salah seorang musuhnya?
Hampir berbareng Tong Ciak dan Souw Lian Cu melesat
datang menghampiri Chin Yang Kun. Tetapi pemuda itu
segera menolak ketika tokoh Im-yang-kauw tersebut
bermaksud menolong dia. Dengan air muka kesakitan, tetapi
sinar matanya menunjukkan perasaan bahagia pemuda itu
mengawasi Souw Lian Cu yang ikut datang di dekatnya. Sudah
dua kali gadis yang amat membencinya itu menunjukkan
perasaan khawatir terhadap keselamatannya.
Sementara itu Souw Lian Cu yang tidak merasa kalau
sedang diperhatikan oleh Chin Yang Kun, masih melihat
dengan sibuk ke arah dada dan perut Yang Kun, mencari cari
bagian mana dari tubuh pemuda itu yang terluka. Tampaknya
gadis itu amat bernafsu sekali untuk mengetahui dan
memeriksa badan Yang Kun, tapi terhalang oleh perasaan
malu di hatinya. Oleh karena itu dengan tegang gadis tersebut
hanya bisa meremas-remas tangannya sambil berulang-ulang
menoleh kepada Tong Ciak Cu-si.
“Yang hiante, apakah engkau terluka?" Tong Ciak bertanya.
"Hahahaha...... anak ingusan ! Kau tahu sekarang bahwa
tidak mudah melawan kami," salah seorang dari Huang ho
Heng-te tertawa menghina. "Pulang saja kembali ke pangkuan
ibumu! Lihatlah ! Kawan-kawanmu juga amat
mengkhawatirkan keselamatanmu !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun menoleh dengan cepat. Serasa ada bara api di
dalam bola matanya yang mencorong bagai mata harimau itu.
Kulit mukanya yang putih juga berubah menjadi kemerahmerahan.
Kehadiran Souw Lian Cu di dekatnya membuat ia
cepat sekali tersinggung oleh olok-olok tersebut. Maka ketika
sekali lagi Tong Ciak mengulurkan tangnnya untuk menolong
dia, Yang Kun segera menolaknya dengan tegas.
"Tong Lo-cianpwe, siauw-te tidak terluka oleh senjata
monyet-monyet itu! Sungguh !"
"Lalu........ apakah luka dalam itu terasa sakit lagi?”
Chin Yang Kun mengangguk. "Tapi sekarang sudah tidak
terasa lagi…. " sambung pemuda itu sambil melirik Souw Lian
Cu.
"Kalau begitu kau beristirahatlah saja agar luka itu tidak
semakin parah! Biarlah aku dan Souw kouwnio yang akan
mengurus orang-orang itu.....”
“Tidak ! Saya tidak akan mundur. Monyet itu telah
menghina aku.......”
"Babi busuk yang mau mampus!" tiba-tiba Togu memaki
keras sekali. Raksasa ini benar-benar tak tahan melihat
pemuda yang tadi sudah hampir termakan oleh cambuknya itu
masih dapat membual dan sangat meremehkan dia dan
kawan-kawannya. Apalagi kata makian "monyet" itu benarbenar
menyinggung perasaannya.
“Anak ini memang ingin lekas-lekas menghadap Giam-loong
(Dewa Kematian)!” Huang-ho Heng-te berteriak.
Sepasang tongkat berkaitnya menyambar ke depan disertai
hembusan angina yang kuat, suatu tanda kalau tenaga yang
mereka pergunakan juga bukan tenaga sembarangan.
“Tong-Locianpwe! Souw kouwnio! Silahkan minggir! Biar
kuhadapi sendiri orang-orang ini!” Chin Yang Kun berseru.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam sekejap pemuda itu telah mengerahkan Liong-cu-ikangnya
yang ampuh. Kemudian sambil meloncat ke samping
pemuda itu mengibaskan lengannya yang penuh terisi tenaga
sakti. “Whuuussss!!” hembusan udara dingin yang bukan main
kuatnya menerpa kearah lawan, sehingga senjata Huang-ho
Heng-te yang terayun ke depan tadi melenceng ke samping
dibuatnya. Sementara kedua orang bersaudara itu tampak
gelagapan seperti anak kecil yang terbenam di dalam air.
Ternyata bukan hanya para pengawal Tan wangwe itu saja
yang terpengaruh oleh keampuhan Liong-cu-i-kang! Ternyata
Tong Ciak Cu-si dan Souw Lian Cu yang berada di dekatnya
juga merasakan kehebatan tenaga sakti tersebut.
Tong Ciak yang bermaksud mendekati Chin Yang Kun juga
merasakan hembusan angin dingin yang mendorong ke arah
tubuhnya, sehingga tokoh sakti itu menjadi terkejut sekali.
Otomatis Soa-hu-sin-kangnya menebar melindungi tubuh.
Udara yang sama-sama dinginnya keluar dari badan Tong Ciak
Cu-si, menyongsong hembusan udara dingin yang berasal dari
tangan Chin Yang Kun!
“Cesssss!”
Untuk sesaat Souw Lian Cu yang juga ikut terdorong oleh
tenaga Yang Kun tampak menggigil menahan dingin.
Pertemuan antara Liong-cu-i-kang dan Soa-hu-sin-kang yang
sama-sama bersifat dingin itu menciptakan suasana yang luar
biasa dinginnya, sehingga gadis yang belum sembuh dari
sakitnya itu sangat menderita karenanya. Untunglah keadaan
itu hanya berlangsung dalam sekejap mata saja. Bersamaan
dengan tergempurnya kuda-kuda Tong Ciak Cu-si, serangan
hawa dingin itu lenyap pula.
Tanpa terasa Tong Ciak dan Souw Lian Cu telah terdorong
mundur beberapa langkah ke belakang! Begitu sadar, tokoh
sakti dari Im-yang-kauw itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hatinya kagum bukan main! Biarpun tokoh sakti itu juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belum mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi pemuda itu
juga belum pulih kesehatannya.
Sedang Souw Lian Cu yang terpaksa tidak dapat bertahan
dari kekuatan yang dikeluarkan oleh Chin Yang Kun, menjadi
semakin tidak senang dengan pemuda itu. Dalam hati ia
menganggap Yang Kun terlalu sombong dan bermaksud
memamerkan kehebatannya! Oleh karena itu sambil menggigit
bibirnya keras-keras, gadis itu menatap ke depan dengan
wajah keruh.
Sementara itu Huang-ho Heng-te tampak berdiri termangumangu
di tempatnya. Mereka hampir tidak mengerti apa
sebenarnya yang telah terjadi. Tahu-tahu tongkatnya seperti
terdorong ke samping dengan kuatnya. Seolah-olah baru saja
ada badai setan yang melanda mereka berdua.
Tapi beberapa saat kemudian, setelah kedua orang
bersaudara itu menyadari apa sebenarnya yang terjadi,
mereka menjadi pucat dan gemetar. Sekarang mereka baru
memaklumi bahwa terhindarnya pemuda itu dari reruntuhan
tadi bukanlah sekedar hanya suatu kebetulan saja, tapi
memang disebabkan oleh kepandaian dan kesaktian pemuda
itu pula! Mendadak saja keberanian mereka menjadi surut,
apalagi ketika Yang Kun memandang mereka dengan bengis.
Serasa ada jilatan api dalam bola mata itu yang akan
membakar mereka.
Togu dan Hui chio Tu Seng tercekat pula di dalam hati
mereka. Seperti juga dengan Huang ho Heng-te, sekarang
mereka menyadari bahwa lawan yang mereka hadapi
sekarang bukanlah lawan yang enteng! Tanpa terasa mereka
menatap kedua orang kawan si pemuda yang berdiri tenang di
pinggir. Rasa-rasanya mereka mengenal orang tua bertubuh
pendek kekar itu pula!
Tapi mereka berjumlah banyak, dan hal ini membangkitkan
kembali keberanian mereka. Apalagi mereka berada di
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kandang sendiri. Masih banyak teman-teman mereka yang
akan menolong apabila mereka mendapat kesukaran.
"Tangkap mereka….!” Hui-chio Tu Seng akhirnya berteriak
ke arah anak buahnya.
Belasan orang bersenjata itu serentak berloncatan
menyerang Yang Kun dan kawan-kawannya. Ruangan
restoran yang tidak begitu luas itu menjadi sesak dan riuh oleh
perkelahian mereka yang tidak beraturan. Segala macam
senjata tajam yang berkilat-kilat saking tajamnya, tampak
bersiutan mencari mangsa di antara keributan itu.
Hui-chio Tu Seng segera menghambur kearah Tong Ciak.
Tombaknya yang tajam itu meluncur ke depan, seolah terbang
dari pegangannya. Dia memilih Tong Ciak sebagai lawannya
karena ia menganggap bahwa orang tua itulah yang terlihai
diantara ketiga orang lawannya. Dan di dalam hati ia juga
ingin mengetahui siapa sebenarnya orang itu.
Tong Ciak menghindar dengan cepat ke kiri, lalu membalas
pula dengan tidak kalah hebatnya! Sepasang lengannya yang
kuat itu berkelebat cepat menyerang dan menangkis gerakan
tombak Tu Seng yang lincah dan cepat itu.
Di tempat lain Souw Lian Cu tampak bertempur melawan
lima orang anak buah Tu Seng. Meskipun kelima orang itu
berkelahi dengan bersemangat dan ganas, apalagi mereka
berlomba-lomba untuk segera mengakhiri perlawanan si gadis,
tapi tampak dengan jelas bahwa mereka bukan lawan yang
seimbang bagi gadis cantik tersebut. Biarpun hanya berlengan
sebelah, tapi lengan yang putih mulus itu ternyata mampu
melayani mereka dengan baik. Malahan kadang-kadang
lengan itu mampu menangkis senjata tajam lawannya.
Yang paling hebat dan seru adalah arena dimana Chin Yang
Kun berkelahi! Seluruh anak buah Tu Seng yang masih tersisa
menghambur semua kearah pemuda itu. Selain Togu dan
Huang-ho Heng-te, ternyata lebih dari duabelas orang lagi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyerbu dan mengeroyoknya. Terpaksa pemuda itu
menggerakkan lagi segala kekuatannya untuk melayani
mereka. Beberapa kali tampak pemuda itu berdesis dan
mendekap dadanya, terutama bila ia terpaksa harus
menangkis senjata lawannya.
Luka yang diderita oleh Yang Kun itu memang sangat
mengganggu perlawanannya. Beberapa kali pemuda itu harus
menarik atau mengurungkan serangannya hanya karena luka
itu tiba-tiba saja terasa menyengat dadanya. Atau kadangkadang
tenaga yang telah ia persiapkan menjadi buyar ketika
harus melewati daerah yang terluka. Atau kadang-kadang
pemuda itu harus mengurungkan serangannya, karena apabila
ia teruskan justru akan sangat berbahaya bagi kesehatannya.
Oleh karena itu, biarpun berkepandaian sangat tinggi, Yang
Kun kali ini benar-benar mengalami kerepotan. Padahal
musuh yang mengeroyoknya demikian banyaknya ! Untuk
meminta tolong kepada Souw Lian Cu atau Tong Ciak,
pemuda ini merasa malu. Apalagi tadi ia sudah menolak ketika
Tong Ciak bermaksud menolong dia.
Dalam keadaan terpepet Yang Kun menjadi nekad ! Tanpa
memperdulikan lagi pada mati hidupnya, ia mengerahkan
tenaga sakti Liong-cu-i-kang sepenuh penuhnya ! Dan
bersamaan dengan suara desis ular dari bibirnya, badannya
memancarkan gelombang udara yang luar biasa dinginnya.
Begitu dingin sehingga untuk sekejap lawan lawannya seperti
membeku tak bisa bergerak di tempat masing-masing !
Tapi sekejap kemudian Togu dan Huang-ho Heng te segera
dapat melepaskan diri dari pengaruh itu. Selanjutnya, dengan
berseru keras mereka melompat ke depan, menerjang Yang
Kun dengan hebatnya. Sepasang tongkat berkait dari dua
bersaudara itu menghantam ke arah Yang Kun dengan
kekuatan penuh. Sedangkan Togu juga tidak mau kalah
dengan temannya, cambuk kulit ularnya tampak melayang ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
arah pinggang Yang Kun dengan ganas sekali. Suaranya
mengaung bagaikan suara angin topan bertiup.
Yang Kun memang sudah tidak memikirkan lagi mati
hidupnya ! Ia telah merasa bahwa kekuatannya takkan dapat
bertahan untuk beberapa lama lagi. Oleh karena itu sebelum
kekuatan itu habis ia ingin melumpuhkan dahulu lawanlawannya
!
Selagi yang lain belum mampu mengatasi pengaruh Liongcu-
i-kangnya, Yang Kun mengumpulkan seluruh kekuatan
tenaga saktinya ke arah lengan! Dan berbareng dengan
datangnya serangan Togu dan Huang ho Heng-te, pemuda itu
melontarkan serangan ke depan. Badai angin beracun yang
luar biasa hebatnya terasa menghantam ke arah lawanlawannya!
Suaranya menderu menggiriskan !
"Wuuuussss !!"
"Dheeesss !"
“Huuaaaakk!”
"Aduuuuuh !"
Seperti diterjang oleh hembusan badai topan yang ganas,
belasan anak buah Tu Seng yang mengeroyok Chin Yang Kun
terpental kesana kemari. Sekejap mereka berkelojotan sambil
menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal, lalu mati!
Tapi Yang Kun juga tidak bisa mengelakkan serangan Togu
dan Huang ho Heng te yang menghantam tubuhnya ! Dengan
disertai suara keras tiga buah senjata itu menghajar dengan
telak pada tubuhnya, sehingga di lain saat dari mulutnya
tampak menyembur darah segar yang berwarna kehitamhitaman!
Dan......Huang ho Heng te yang berada di dekatnya
tak mampu menghindarkan diri lagi dari semburan darah
tersebut. Leher dan dadanya basah oleh darah Yang Kun!
"Waduh! ToIonnggg....!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sambil mencengkeram leher dan dadanya Huang-ho Hengte
berguling-guling di atas lantai. Jari jarinya sibuk mencakarcakar
kulitnya yang terkena darah beracun dari Chin Yang
Kun. Akhirnya setelah kulit itu terkoyak-koyak, keduanya mati
dengan wajah mengerikan !
Togu yang berada di sebelah belakang Yang Kun terbelalak
ngeri menyaksikan nasib kawan-kawannya itu. Dengan tubuh
gemetar raksasa yang biasanya sangat pemberani itu
melepaskan tangkai cambuknya yang membelit pinggang
Yang Kun kemudian dengan wajah ketakutan raksasa Mongol
itu meloncat melarikan diri!
Yang Kun yang telah terluka parah itu menggeram. Ia tak
mau kehilangan musuhnya itu. Tapi kakinya terasa kaku dan
sukar untuk bergerak lagi. Oleh karena itu dengan
kekuatannya yang terakhir ia mengerahkan ilmu
pamungkasnya, Kim-coa-ih-hoat !
“Hiyaaat!”
Sambil membalikkan tubuh pemuda itu mengulurkan
lengannya ke arah lawan yang telah berlari sejauh tiga meter
dari tempatnya berdiri.
“Aughh....!!” raksasa itu berteriak mengerikan. Badan yang
sebesar kerbau itu tertarik kembali ke belakang dan di lain
saat terlontar ke atas ke arah lobang genting yang tadi dibuat
oleh tubuh Toat-beng-jin !
“Hei ! mengapa kau menyusul aku di ke sini?” tiba-tiba
Toat-beng-jin muncul dari lobang itu seraya menangkap tubuh
Togu, lalu dengan ringan orang tua itu melayang turun sambil
membawa Togu ke bawah.
“Ohh......kau!?! K-kau belum m......mati? Auwghh......!”
raksasa itu terbelalak begitu melihat siapa yang
memondongnya, tapi sesaat kemudian tubuhnya tampak
meronta, lalu mati. Cengkeraman jari tangan Yang Kun tadi
ternyata telah mematahkan tulang lehernya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi pada saat yang bersamaan Yang Kun juga jatuh
terkulai dan menggeletak pingsan di atas lantai. Dari mulutnya
masih mengalir darahnya yang berbahaya itu.
“Yang-hiante !”
“Oh, Yang Kun.....!”
Tong Ciak dan Souw Lian Cu menjerit berbareng. Keduanya
bergegas datang, dan lawan yang mereka hadapi mereka
tinggalkan begitu saja.
“Awasss! Jangan sentuh darahnya !!” Toat-beng-jin
berteriak memperingatkan kedua orang itu.
Toat-beng-jin lalu bergegas menotok beberapa jalan darah
di badan Yang Kun dengan sebatang ranting, sehingga tidak
berapa lama kemudian darah yang mengalir keluar itu
berhenti. Lalu bersama dengan Tong Ciak Cu-si, orang tua itu
menyalurkan tenaga sakti yang mereka miliki ke tubuh Yang
Kun. Dan lima menit kemudian Yang Kun telah siuman
kembali.
Sementara itu Tu Seng yang telah kehilangan banyak
teman itu cepat-cepat meninggalkan restoran tersebut
bersama anak buahnya yang tersisa. Ia bermaksud
melaporkan kejadian itu kepada Tuan Tan dan
memperingatkan majikannya agar berhati-hati. Ternyata
lawan yang mereka tunggu adalah lawan yang sangat
berbahaya. Tu Seng tidak tahu bahwa dia telah salah alamat
kali ini.
Sepeninggal Tu Seng dan kawan-kawannya, Toat-beng-jin
memanggil pemilik restoran dan meminta tolong agar
mengurus mayat-mayat yang berserakan di tempat itu.
"….. saudara telah menyaksikan sendiri, bahwa orang
orang yang mengaku sebagai pembantu Tuan Tan itulah yang
memulai peristiwa ini. Untunglah kami semua tak kurang
suatu apa. Oleh karena itu, kalau saudara tidak terima dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keadaan restoran yang rusak ini, saudara harap meminta ganti
rugi kepada Tuan Tan.......”
“…… dan jangan sekali-kali kau menyentuh darah itu !”
Tong Ciak menyambung perkataan Toat-beng jin seraya
menunjuk ke arah ceceran darah yang tadi keluar dari mulut
Yang Kun.
Kemudian bersama-sama Souw Lian Cu dan Chin Yang Kun,
kedua tokoh Im yang kauw itu keluar meninggaIkan tempat
berdarah tersebut.
“Sekarang kita langsung ke rumah mendiang Su-couw
saja.” Tong Ciak bersungut-sungut.
“Lo-hu memang benar-benar sial hari ini. Ingin menikmati
sarapan pagi saja tidak kesampaian….”
“Hahaha.... apa kataku! Kesialan itu memang sering datang
dengan beruntun....” Toat-beng-jin tertawa. “Ini saja tentu
belum selesai. Aku percaya sebentar lagi Tuan Tan tentu akan
menemui kita bersama seluruh kekuatannya....”
“Heh?!?” Tong Ciak berhenti melangkah. “Ah, biar sajalah!
Kuhabiskan sekalian mereka kalau berani datang.”
“Ah !” Toat-beng-jin berdesah, tapi tak berkata lebih lanjut.
Rumah kuno itu benar-benar sangat menyedihkan
keadaannya. Selain kotor bangunan itu sudah banyak yang
rusak. Genting dan dindingnya banyak yang telah pecah dan
longsor. Begitu pula dengan kayu-kayunya, telah banyak yang
lapuk dan patah. Bagian yang agak utuh hanyalah bangunan
yang berdiri di pojok halaman belakang, yaitu bangunan yang
dahulu merupakan bangunan yang diperuntukkan sebagai
gudang, dapur maupun kandang binatang piaraan.
Biarpun juga tidak boleh dikatakan bersih, tapi bangunan
yang disebut belakangan ini sedikit tampak kalau sering
dijamah orang. Daerah di sekitarnya tampak bekas-bekas
tangan manusia yang menjamahnya. Bekas-bekas goresan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sapu tampak di atas tanah di sekitarnya, sementara di
samping bangunan itu tampak terlihat sebuah lobang tempat
sampah yang besar. Malahan pada saat itu gundukan sampah
kering yang berada di dalamnya tampak mengeluarkan asap
tipis, agaknya baru saja dibakar orang.
Di depan rumah terdapat tali panjang yang direntang dari
pohon kecil ke tiang kayu yang berada di pojok bangunan.
Beberapa buah baju dan celana tua tampak tergantung di
atasnya. Sedang di halaman sumur terlihat sebuah jambangan
penuh terisi air, sementara ember untuk mengambil air yang
terletak di dekatnya masih basah bekas dipakai orang.
“Hmm.......sepi benar kelihatannya.” Tong Ciak Cu-si
bergumam di antara langkahnya. “Kemanakah kakek Kam
itu......?”
“Mungkin sedang menyiapkan makanan di belakang. Lihat
dapurnya berasap!” Toat-beng-jin menunjuk ke arah dapur.
Dengan diikuti oleh ketiga orang kawannya Tong Ciak
menyeberangi halaman tengah yang amat luas itu, menuju ke
bangunan belakang, dimana kakek penunggu rumah tersebut
tinggal. Mereka melewati pohon-pohon rindang yang banyak
bertebaran tak terurus di tempat itu. Mereka langsung menuju
ke arah dapur, dimana tadi mereka telah melihat asap yang
mengepul di sana.
Tiba tiba mereka berhenti melangkah. Ada sesuatu yang
membuat hati mereka merasa curiga. Mereka seperti
mendengar suara orang bertempur di tempat itu.
“Lo jin ong.... ! Apakah Lo-jin ong mendengar suara itu?”
Tong Ciak menoleh.
Toat-beng-jin mengangguk. "Yaa .,. .. seperti orang
bertempur dengan tangan kosong."
Tiba-tiba…... "Braaak! Bluk!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Salah satu sisi dari dinding dapur yang terbuat dari
anyaman bambu itu terlepas dari tempatnya, dan dari dalam
melayang sesosok tubuh terjatuh keluar. Tapi dengan sigap
orang itu melenting tegak kembali, sebelum beberapa orang
tampak berloncatan keluar dari lobang dinding dan
mengepungnya.
“Hong-lui-kun Yap Kiong Lee….!” Tong Ciak berseru
tertahan begitu melihat siapa yang terjatuh keluar itu tadi.
“Tiat-tung Lo-kai !” Souw Lian Cu tanpa terasa juga
menjerit lirih begitu matanya memandang kearah orang-orang
yang mengepung pemuda itu.
Tapi meskipun perlahan, ternyata seruan mereka itu telah
terdengar oleh orang-orang yang sedang berkelahi tersebut.
Bergegas mereka menoleh kearah rombongan Toat-beng-jin
yang baru tiba.
Hong-lui-kun menatap dengan pandang mata asing, karena
pemuda itu telah lupa sama sekali dengan Tong Ciak. Telah
lebih dari lima tahun mereka tidak saling bertemu, apalagi
Tong Ciak sekarang memelihara kumis dan jenggot pula.
Sementara itu salah seorang dari para pengepung Hong-luikun
yang berbadan bongkok dan memegang tongkat besi,
tampak terkejut ketika melihat Souw Lian Cu. Orang tua yang
kira-kira berumur enampuluh tahun itu mengibaskan lengan
bajunya yang penuh tambalan.
“Hei, Souw kouwnio !” sapanya ramah, meskipun matanya
masih tetap tegang melirik ke arah Hong-lui-kun Yap Kiong
Lee.
Souw Lian Cu melangkah tiga tindak ke depan. Dengan
wajah heran gadis itu memandang kakek pengemis yang ia
panggil Tiat-tung Lo-kai (Pengemis Tua Bertongkat Besi).
“Lo-cianpwe….. ada apa ini? Mengapa lo-cianpwe
mengepung dia?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Souw kouwnio, kau beristirahat sajalah di pinggir! Biarlah
orang ini kubereskan terlebih dahulu. Dia berani menghalanghalangi
perintah Keh sim Siauw-hiap....."
"Omong kosong! Kalian hanya berbohong didepanku. Tak
mungkin seorang pendekar ternama seperti Keh sim Siauwhiap
memberi perintah untuk merampok harta benda orang
lain." Hong lui kun Yap Kiong Lee menangkis tuduhan
tersebut.
"Huh ! Kau tahu apa tentang perjuangan kami!" Tiat tung
Lo-kai membentak.
“Perjuangan?” Hong-lui-kun tersenyum. “Ah, kalian ini
benar-benar sudah terbalik jalan pikirannya. Perjuangan
macam apa perbuatan merampok milik orang-orang lain itu?”
“Persetan! Kau memang mau menghina kami…..!” Tiat tung
Lo-kai berteriak.
Tongkat besi yang mengkilap kehitam-hitaman itu terayun
ke depan dengan derasnya, lalu diikuti oleh para pengepung
yang lain. Mereka menyerang dengan senjata mereka masingmasing,
yaitu tongkat besi yang bentuk maupun warnanya
sama dengan kepunyaan Tiat tung Lo-kai! Hanya besar
kecilnya yang berbeda. Mungkin hal itu untuk menunjukkan
tinggi rendahnya kedudukan mereka masing-masing di dalam
perkumpulan. Dan tongkat Tiat tung Lo kai yang lebih kecil
dan lebih pendek dari tongkat kawan-kawannya itu
menunjukkan bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada
kedudukan mereka.
Hong lui-kun menghindar dengan cepat, lalu tanpa sungkan
ia membalas pula dengan tak kalah kerasnya. Sehingga
beberapa saat kemudian di halaman kosong yang sepi itu
terjadi pertarungan yang hebat. Masing-masing tak mau
mengalah, meskipun masing masing menyadari bahwa lawan
yang mereka hadapi kali ini adalah lawan yang amat sakti.
Baik Hong-lui-kun maupun Tiat tung Lo kai dan kawan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kawannya sama-sama terkejut di dalam hati, masing-masing
tidak menyangka bahwa lawan yang berada di depan mereka
demikian kuatnya !
Terutama bagi Tiat tung Lo-kai dan kawan-kawannya !
Mereka sungguh terkejut setengah mati ketika menyadari
betapa hebatnya kepandaian pemuda yang berani
menghalangi rencana mereka itu. Tiat tung Lo kai yang
menjabat sebagai ketua Tiat tung Kai pang itu hamper tidak
mau mengerti kenapa dirinya yang telah dibantu oleh empat
orang pembantu utamanya belum juga bisa menundukkan
lawan yang hanya seorang itu? Mungkinkah kesaktian pemuda
tersebut melebihi kesaktian Keh sim Siauw hiap yang pernah
mengalahkan mereka?
Sedang rasa terkejut di hati Hong-lui-kun lebih
dititikberatkan kepada bayangannya tentang tokoh yang
bergelar Keh-sim Siauw hiap, yang mampu mengendalikan
jago-jago sakti seperti kelima pengemis yang mengepungnya
itu. Kalau untuk menundukkan kelima orang yang menjadi
anak buahnya saja demikian sukarnya, bagaimana pula
kehebatan orang yang disebut dengan Keh-sim Siauw-hiap
itu?
Sementara itu Toat-beng-jin dan kawan-kawannya hanya
dapat berdiri diam saja di tempat masing-masing. Mereka
tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, karena keduaduanya
tidak mereka kenal. Dan persoalan yang mereka
perdebatkanpun juga tidak mereka ketahui.
“Souw kouwnio….! Kau mengenal para pengemis itu?”
akhirnya Tong Ciak membuka mulut untuk bertanya kepada
Souw Lian Cu.
“I-i-i….ya!” gadis itu mengangguk dengan gugup.
“Siapakah mereka?”
“Aaa…..mereka adalah sahabat-sahabat Keh-sim Siauwhiap.
Mereka adalah orang-orang dari Tiat-tung Kai-pang!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Orang Tiat-tung Kai-pang?” Yang Kun menyela dengan
kaget, sehingga Tong Ciak dan Toat-beng-jin menatapnya
dengan tajam.
Yang Kun memang amat kaget. Ia menjadi teringat
peristiwa di tempat pengungsian dulu, ketika ia secara tidak
sengaja membunuh tiga orang Tiat-tung Kai-pang yang
bermusuhan dengan orang Kim-liong Piauw-kok. Pemuda ini
selalu teringat akan peristiwa itu, karena pada saat itu pulalah
ia bertemu dengan Souw Lian Cu untuk pertama kalinya dan
pada saat itu pulalah ia menyadari kehebatan ilmu yang
diturunkan oleh nenek buyutnya.
“Wah, urusannya tentu akan bertambah runyam kalau
orang-orang ini mengetahui kalau aku yang telah membunuh
teman-temannya…..” pemuda itu membatin.
Tak terasa Yang Kun menoleh kearah Souw Lian Cu.
Kebetulan gadis cantik itu juga baru memandang Chin Yang
Kun sehingga kedua pasang mata mereka bentrok satu sama
lain dan …..keduanya buru-buru memalingkan mukanya
dengan cepat.
Sementara itu Tong Ciak dan Toat-beng-jin yang sedari tadi
mengawasi Souw Lian Cu tampak melangkah maju dengan
tegang.
"Sahabat-sahabat Keh-sim Siauw-hiap…..? Eh, jadi.......
Souw-kouwnio, kau..... apakah kau juga datang dari Meng
to?" Tong Ciak bertanya.
Souw Lian Cu melirik sekejap kepada Yang Kun, kemudian
mengangguk.
"Ooh !" Tong Ciak dan Toat beng jin berdesah perlahan.
Di dalam arena, pertempuran semakin bertambah seru.
Hong-lui kun yang dikeroyok lima orang tokoh pimpinan Tiattung
Kai pang itu tidak menjadi kendor, bahkan semakin
tampak bertambah garang malah! Beberapa kali gerakan kaki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan tangannya yang selalu diikuti oleh tiupan angin yang
menderu-deru itu membobol kepungan lawan yang rapat,
meskipun sesaat kemudian kepungan itu menjadi rapat pula
kembali. Kelima tokoh puncak Tiat tung Kai-pang itu memang
bukan tokoh tokoh sembarangan.
Diantara banyak perkumpulan pengemis yang tumbuh di
dunia persilatan, perkumpulan pengemis Tiat tung Kai pang
adalah perkumpulan yang paling tersohor dan paling banyak
pengikutnya. Mereka tersebar di mana-mana, di seluruh kota
kota besar, baik di daerah selatan yang padat penduduknya
maupun di daerah utara yang dingin dan kering tanahnya.
Begitu hebat dan besarnya, perkumpulan itu sehingga untuk
mengurusnya terpaksa dibagi menjadi dua daerah, yaitu
daerah selatan dan daerah utara. Tiat tung Kai pang daerah
selatan diketuai oleh Tiat tung Lo kai yang kini sedang
bertempur itu sedangkan daerah utara diketuai oleh Tiat tung
Hong-kai (Pengemis Sinting Bertongkat Besi) !
Masing-masing daerah mempunyai jago-jago yang
berkepandaian tinggi. Seperti keempat tokoh yang kini
membantu Tiat tung Lo-kai tersebut! Mereka adalah para
pembantu utama dari Tiat-tung Lo kai, pengurus harian
perkumpulan Tiat tung Kai pang daerah selatan. Keempat
orang itu lebih dikenal orang dengan sebutan Tiat-tung Su-lo
(Empat orang tua dari perkumpulan tongkat besi). Setiap
orang dari Tiat-tung Su lo mempunyai kepandaian sangat
tinggi dan hanya berselisih sedikit dengan ketuanya, Tiat tung
Lo-kai !
Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa hebatnya
kepandaian Hong-lui kun Yap Kiong Lee yang mampu
melayani keroyokan kelima tokoh sakti tersebut, tanpa
sedikitpun kelihatan lelah ataupun terdesak!
"Gila! Sungguh gila ! Pemuda ini memang keturunan
iblis...!” Tiat tung Lo-kai mengumpat-umpat di antara ayunan
tongkatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sekali lagi tongkat besi dari kakek bongkok tersebut
menyabet ke arah kaki Hong-Iui kun dalam Jurus Mengorek
Sampah Mencari Tulang, sebuah jurus yang selalu dibanggabanggakan
oleh orang tua itu karena sangat luar biasa
keampuhannya. Selama hidupnya belum pernah ada seorang
tokohpun yang mampu menghadapi jurus tersebut selain Kehsim
Siauw-hiap! Tongkat itu bergetar seolah-olah menjadi
beberapa buah tongkat saking kuatnya tangan yang
menggerakkannya. Lalu setelah sampai pada sasarannya,
tongkat tersebut berputar dengan kencang dalam genggaman,
seakan-akan tongkat itu benar-benar mengorek sampah untuk
mencari tulang yang tertimbun di dalamnya.
Kali ini Hong-lui kun agaknya tak mungkin bisa mengelak
lagi, apalagi ketika keempat tongkat Tiat tung Su-lo ikut
menghantam ke arah dada dan kepalanya. Semua jalan untuk
menghindar telah ditutup oleh tongkat lawan ! Dan kelima
orang jago Tiat tung Kai-pang itu sudah mulai
mengembangkan senyumnya, mereka telah membayangkan
lawan yang ulet itu jatuh terkapar di depan kaki mereka.
"Nah, sekarang hatimu tentu menyesal sekali...... mengapa
dirimu sampai ikut campur dalam urusan ini, haha.... Tapi
penyesalan itu takkan berguna lagi! Sebentar lagi tubuhmu
akan tergeletak di atas tanah tak berdaya." Tiat tung Lo-kai
tertawa gembira.
"Huh! Jangan bermimpi! Kaulihatlah baik-baik .. hiyaaat !"
tiba tiba Hong Iui-kun menggeram bagai singa marah.
Entah dari mana pemuda itu mengambilnya, tahu tahu
tangannya telah menghunus sepasang pedang pendek. Dan
cara memegangnyapun sangat aneh! Tangkai pedang itu
dipegang secara terbalik, sehingga mata pedang yang tajam
itu melengket sejajar dengan lengannya dan terlindung oleh
lengan bajunya yang lebar. Cara memegangnya persis orang
memegang belati! Sepintas lalu seperti tak memegang apaapa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di lain saat pemuda itu meloncat ke atas, menghindari
sabetan tongkat Tiat-tung Lo kai, sambil mengerahkan tenaga
untuk menangkis keempat tongkat lainnya yang menerjang ke
arah tubuh atasnya. Terdengar suara gemerincing yang amat
keras ketika sepasang pedang yang terlindung di balik lengan
baju itu menghantam tongkat lawan, sehingga keempat
tongkat itu terpental lepas dari genggaman para pemiliknya.
"Traaaang....!!!”
"Ochh.... ?!"
“Ahhh ....?!?"
Keempat Tiat-tung Su-lo itu terbelalak seperti orang
kehilangan akal. Kejadian itu benar-benar mengejutkan
mereka dan sedikitpun tidak terlintas dalam pikiran mereka
bahwa kemenangan yang telah berada di depan mata tersebut
berubah menjadi kekalahan yang amat memalukan. Tenaga
gabungan empat orang Tiat-tung Sulo yang selama ini amat
ditakuti orang, kini ternyata telah ditaklukkan oleh seorang
pemuda!
Bergegas keempat orang pengurus Tiat tung Kai-pang
daerah selatan itu meloncat mundur. Dengan mulut melongo
mereka mengawasi tongkat mereka yang jatuh berserakan di
atas tanah.
Di pihak lain, Tiat-tung Lo kai yang telah kehilangan
sasaran tongkatnya, menjadi marah bukan main. Tongkat
yang berputar dalam genggamannya itu segera meluncur
keatas mengejar lawan. Gerakannya sangat enteng dan
sederhana, tapi ternyata mengandung tenaga yang hebat
sekali. Itulah jurus Mencongkel Tanah Mencari Sisa-sisa
Makanan yang ampuh!
Tapi Hong-lui-kun yang berada di atas dan baru saja
mementalkan tongkat lawan itu tak berdiam diri begitu saja !
la tak ingin selangkangannya dihajar ujung tongkat Tiat tung
Lo kai! Maka sebelum senjata itu menyentuh pakaiannya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hong Iui kun cepat berjumpalitan dan menukik ke bawah.
Sepasang pedang yang dipegangnya terayun menyilang,
memapaki tongkat Tiat-tung Lo kai!
"Traanng !”
Tubuh bongkok dari Tiat tung Lo kai terpental dan
terjerembab ke depan, sedang Hong-lui-kun tampak
terhuyung-huyung sedikit setelah mendarat di atas tanah. Dan
di dekat mereka tampak potongan ujung tongkat besi Tiattung
Lo-kai yang baru saja tergunting oleh sepasang pedang
Hong-lui kun Yap Kiong Lee.
Lagi-lagi semua orang dikejutkan oleh kehebatan ilmu silat
pedang warisan Sin-kun Bu tek yang jarang diketahui orang,
tak terkecuali Toat-beng-jin dan Tong Ciak ! Yang mereka
ketahui selama ini, Sin-kun Bu-tek sangat terkenal dengan
tangan kosongnya. Dan tokoh sakti itu tak pernah
mempergunakan senjata selama hidupnya !
"Tong-hiante, agaknya selain mempelajari ilmu warisan
leluhurnya, pemuda itu juga belajar kepada orang lain....."
Toat-beng jin bergumam.
"Mungkin..... juga."
Setelah dapat mengalahkan lawannya, Hong lui-kun segera
menyarungkan pedang pendeknya kembali. Ternyata pedang
itu disembunyikan di bawah lengan bajunya.
"Nah ! Apa kata kalian sekarang?" katanya datar.
"Hmh! jangan sombong dahulu ! Kami memang mengaku
kalah sekarang. Tapi bagaimanapun juga kami tidak akan
mengurungkan rencana kami semula. Kami tidak datang
sendirian ke desa ini. Keh-sim Siauw-hiap telah mengirim
beberapa orang untuk mengawani kami. Tunggulah.....!" Tiattung
Lo kai menjawab dengan penasaran. Kemudian dengan
terbungkuk-bungkuk orang tua itu mengajak Tiat-tung Su lo
meninggalkan tempat tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lo-cianpwe....,." Souw Lian Cu berlari mendekati ketua
pengemis itu.
"Ooh....iya! Souw-kouwnio!" Tiat-tung Lo-kai menghentikan
langkahnya. Ia benar benar telah lupa bahwa di situ ada Souw
Lian Cu, gadis yang selama ini sering kali ia lihat di Pulau
Meng-to. Gadis yang ia tahu sangat lihai dan sangat dekat
hubungannya dengan Keh-sim Siauw-hiap.
Tapi kakek bongkok itu segera mengerutkan dahinya.
"Souw kouwnio, pemuda itu telah menghina kita. Dan ia
telah berusaha menggagalkan rencana Keh-sim Siauw hiap.....
Mengapa engkau berdiam diri dan tak mau membantu kami?"
Souw Lian Cu tersentak kaget. la tak menyangka
mendapatkan pertanyaan demikian.
“Lo- lo – cianpwe.... aku..... aku sedang terluka dalam ....."
katanya gagap.
"Oh ??!" kini orang tua itu yang terkejut. "Luka
dalam........? Mengapa nona tidak lekas-lekas pulang untuk
berobat?"
"Lukaku bukan luka biasa. Hanya beberapa orang tertentu
yang bisa mengobatinya. Dan di antaranya adalah kedua
orang yang datang bersama aku itu......" Souw Lian Cu
menunjuk ke arah Toat beng-jin dan Tong Ciak. “Mereka
adalah tokoh-tokoh tingkat atas dari Im-yang kauw !”
"Im.... yang...... kauw ?" kakek itu semakin kaget,
kemudian bergegas meninggalkan Souw Lian Cu dengan
tergesa-gesa.
Souw Lian Cu menghela napas berat, lalu berjalan kembali
ketempatnya semula.
"Nona, apa katanya? Rencana apakah sebenarnya yang
akan dilakukan oleb Keh sim Siauw hiap di sini?" Tong Ciak
menyongsong Souw Lian Cu. "Merampok Tan wangwe !" tiba
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tiba Hong-lui- kun menjawab pertanyaan tersebut. "Tapi aku
tak mempercayainya. Tak mungkin pendekar ternama seperti
Keh sim Siauw-hiap mempunyai rencana seperti itu."
Ketika semuanya memandang dirinya, Hong-lui kun segera
tersadar bahwa ia belum saling mengenal dengan mereka.
"Oh, maaf ... Cu wi ini siapa ? Apa keperluan cu-wi datang
ke tempat kakek Kam ini?" tanyanya agak tersipu.
Chin Yang Kun yang sangat mengagumi sepak-terjang
Hong-lui-kun sejak melihatnya pertama kali di warung Hao Chi
itu cepat melangkah ke depan. Dengan tenang pemuda itu
menunjuk ke arah Tong Ciak Cu-si.
"Beliau itu adalah pemilik dari rumah dan pekarangan
peninggalan Kim-mou Sai-ong ini. Oleh karena kebetulan
sedang lewat di dusun ini, maka beliau bermaksud singgah
sebentar untuk menemui penjaganya."
"Pemilik rumah ini.....? Benarkah? Si-siapa....? hei, Tong Tai
ciangkun rupanya!" tiba-tiba pemuda itu memekik kaget
serentak mengenali wajah Tong Ciak Cu-si.
"Yap-kongcu......!" Tong Ciak terpaksa balas menyapa pula.
"Ah, Tong Tai ciangkun. Siauw te benar-benar tak
mengenalmu tadi. Coba saudara ini tak mengatakan bahwa
engkau adalah pemilik rumah, aku sungguh takkan
menyangkanya..... Oh! Mari silahkan masuk ! Kam-Lo-jin
(kakek Kam) sedang keluar mencari obat untuk mengobati
racun yang mengeram dalam badanku... ." dengan amat
ramah pendekar muda itu mempersilahkan mereka masuk
ruangan dapur yang jebol dindingnya tersebut.
"Ah, Yap-kongcu....... lo-hu sekarang tidak menjabat
sebagai Tai ciangkun lagi." Tong Ciak membetulkan sebutan
yang diucapkan oleh Hong lui kun kepadanya.
"Ah, benar.,... maaf...... maaf!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karena tak ada kursi yang dapat mereka gunakan untuk
duduk, maka masing masing mencari tempat duduk sendiri
seadanya. Sementara Hong-lui-kun sambil membersihkan
bekas-bekas dinding dapur yang jebol, mempersilakan Tong
Ciak beserta teman temannya untuk duduk menunggu Kam Lo
jin.
"Silahkan duduk.....! Kukira sebentar lagi Kam Lojin tentu
akan segera datang. Biarlah kubersihkan dahulu tempat
ini......”
"Ah, Yap-kongcu kuperkenalkan dulu dengan kawan
kawanku ini !" Tong Ciak menarik lengan pemuda tersebut.
"Wah, siauw-te menjadi tidak enak hati terhadap Tong Lo
cianpwe. Siauw-te telah menyebabkan dinding bambu ini
roboh....."
"Alaa.... biarlah, Yap-kongcu tak perlu merasa sungkan.
Toh bangunan rumah ini memang sudah lapuk."
Kemudian tokoh Im-yang kauw bertubuh pendek itu
memperkenalkan teman-temannya kepada pemuda ahli waris
Sin kun Bu-tek tersebut. MuIa mula Souw Lian Cu, lalu Chin
Yang Kun dan kemudian yang terakhir Toat-beng-jin!
"Oh.... jadi Lo-cianpwee yang berada di mukaku ini adalah
Algojo dari perkumpulan Im-yang kauw yang sangat terkenal
itu? Ah, Lo cianpwe.....siauw-te sungguh amat beruntung
sekali dapat berkenalan dengan Lo cianpwe.” Hong lui-kun
cepat-cepat menjura dengan hormat. “Nama besar lo-cianpwe
sudah lama terdengar sampai di kota raja."
"Ah, penghormatan Siauw taihiap ini justru membuat lo-hu
menjadi malu malah. Seharusnya aku yang tua inilah yang
harus mengagumimu. Siauw-taihiap masih sangat muda tetapi
telah mempunyai nama yang demikian cemerlang. Setiap
orang mengatakan bahwa Kaisar Han sekarang mempunyai
pembantu seekor singa yang garang. Tak sebuah kekuatanpun
di dunia ini yang mampu meruntuhkan kekuasaan Kaisar Han
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selama singa itu masih hidup. Dan kata orang singa itu adalah
.....Yap Kongcu !”
"Hahahah...... khabar itu juga terlalu dibesar-besarkan pula.
Seekor singa yang garang? Haha…. dahsyat benar ! Mana kuat
aku mengenakan nama sehebat itu?” pemuda sakti itu tertawa
terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lo-cianpwe.....” tiba-tiba Hong-lui-kun menghentikan
tertawanya, wajahnya menjadi serius. "Lo-cianpwe tahu? Apa
sebabnya siauwte berada di sini.....?"
Dahi Toat-beng jin tampak berkerut sebentar dan matanya
yang tajam menatap secara aneh. Tapi sesaat kemudian
kepalanya mengangguk tegas, bibirnya tersenyum.
"Tahu! Mau berobat, bukan?"
“Hei ! Lo cianpwe sudah tahu?”
“Haha…..bukankah Yap Kongcu tadi pernah mengatakan
bahwa Kam Lojin sedang pergi mencari obat untuk mengobati
badannya yang keracunan?” Tong Ciak menyela. “Kenapa Yap
Kongcu terkejut?”
“Wah, pikun benar aku ini.” Hong lui-kun mengetuk-ngetuk
jidatnya dengan jari. Lalu sambil membuang napas berat
pemuda sakti itu melanjutkan perkataannya. “Benar! Siauw-te
memang terkena racun. Dan Siauwte kemari ini mau berobat
kepada Kam Lojin…..Nah….siapa bilang siauwte tak
terkalahkan? Siapa bilang siauwte ini seekor singa yang
garang? Hehe…..bukankah berita tersebut terlalu dibesarbesarkan
orang? Lo-cianpwe….”
Lalu tanpa diminta lagi Hong lui-kun Yap Kiong Lee
menceritakan semua kejadian yang baru saja dia alami, yang
sebagian diantaranya juga telah disaksikan sendiri sendiri oleh
Toat-beng-jin dan kawan-kawannya.
ooOoo
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kaisar Han yang
cerdik itu telah memerintahkan orang-orang kepercayaannya
untuk mencari cap kerajaan yang hilang. Selain itu Baginda
juga menyebar para anggota Sha cap-miwi yang terkenal
kehebatannya, untuk mengadakan penyelidikan ke seluruh
negara. Sejak peristiwa penangkapan Si Ciang kun di kota Tie
kwan setahun yang lalu, dimana telah terbukti bahwa ada
kekuatan tersembunyi yang bermaksud memberontak
terhadap negara. Apalagi ketika sebulan yang lalu terjadi
serbuan besar-besaran ke istana kaisar, yang hampir saja
berhasil menguasai kota raja, Baginda semakin yakin bahwa di
dalam negara masih banyak golongan yang tidak menyukai
kekuasaannya.
Kaisar Han sebenarnya bukanlah seorang yang haus
kekuasaan ataupun kehormatan. Kaisar Han yang dahulu
adalah seorang petani dusun itu juga bukan seorang yang
berambisi besar untuk menjadi seorang raja diraja. Kaisar Han
adalah seorang manusia yang sangat sederhana, dan tak suka
pada sesuatu yang berbau gemerlapan. Baginda hampir tak
pernah mengenakan pakaian-pakaian kebesaran yang indah,
dan selama lima-enam tahun ia berkuasa belum pernah
baginda memakai mahkota intan berlian yang disediakan. Baju
yang dipakai baginda sehari hari tak bedanya dengan baju
yang ia pakai sebelum ia menjadi kaisar, yaitu pakaian
seorang pendekar persilatan atau pakaian seorang petani
dusun yang sederhana.
Dalam kehidupan sehari-harinya, baginda juga melarang
para punggawa atau hamba sahayanya bersikap terlalu
berlebih lebihan dalam menghormatinya. Tak jarang seorang
penjaga atau seorang dayang istana hanya mengangguk atau
tersenyum menundukkan kepala saja apabila berpapasan
dengan baginda.
Tapi di dalam tubuh yang amat sangat sederhana itu
ternyata berakar watak ksatria dan cinta tanah air yang hebat!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di dalam jiwa yang lemah lembut itu ternyata berisi tanggung
jawab yang besar terhadap negaranya. Dan rasa tanggung
jawab yang amat besar terhadap kelangsungan hidup
bangsanya inilah agaknya yang membuat dia mau duduk di
atas singgasana! Kaisar yang amat sederhana tapi berjiwa
besar ini tak rela bila negaranya diperintah oleh seorang raja
yang kejam dan lalim. Dia rela terbelenggu di dalam
lingkungan istana dan meninggalkan kehidupan bebasnya
demi rakyat kecil yang dicintainya!
Begitulah. Karena rasa kagum terhadap kebesaran jiwa
Kaisar Han itulah Hong-lui-kun tanpa diperintah ikut pula
berkelana mencari cap pusaka yang hilang! Dan demi Yap
Kim, adiknya, Yap Kiong Lee turut pula mencari kaum perusuh
yang berniat memberontak!
Bersama para anggota Sha cap-mi-wi, pemuda sakti itu
berkelana mencari berita ke seluruh pelosok negara. Setiap
bulan atau setiap saat yang telah ditentukan mereka pulang
kembali ke kota raja untuk melaporkan hasil yang mereka
peroleh, serta menentukan langkah langkah yang akan
mereka tempuh selanjutnya.
Tapi hampir setahun lebih pendekar muda itu berkelana,
berita tentang cap kerajaan itu belum juga mereka peroleh.
Yang mereka dapatkan dalam jangka waktu yang cukup
panjang tersebut hanyalah berita tentang kaum perusuh yang
berusaha menumbangkan kekuasaan Kaisar Han! Itupun tidak
banyak! Mereka hanya tahu tentang pemusatan-pemusatan
pasukan liar di beberapa daerah! Celakanya, ketika kaum
perusuh menyusup ke kota raja diantara kaum pengungsi,
mereka tidak ada yang tahu sama sekali. Hampir saja kota
raja yang baru saja dilanda gempa bumi itu digilas rata oleh
pasukan perusuh. Untunglah para anggota Sha cap mi-wi
kebetulan sedang pulang semua ke kota raja, sehingga kaum
perusuh yang sudah hampir dapat menguasai istana itu
dipukul mundur kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Beberapa hari setelah usaha pemberontakan yang gagal
tersebut, Hong-lui-kun Yap Kiong Lee kembali berkelana
mencari cap kerajaan lagi. Dia naik gunung turun gunung,
masuk kota menjelajah desa, tanpa mengenal lelah.
Akhirnya jerih-payahnya itu memperoleh hasil pula,
meskipun belum seperti yang ia harapkan.
Jilid 16
HONG LUI-KUN Yap Kiong Lee berjalan dari kota raja ke
arah timur, sekalian mengikuti pasukan adiknya yang
beberapa hari sebelumnya dikerahkan ke sana untuk mengejar
sisa-sisa pasukan perusuh yang mundur ke arah timur. Tapi di
sebuah desa yang bernama Hok-cung, Yap Kiong Lee
mendapatkan pasukan adiknya telah dapat memusnahkan
pasukan lawannya. Meskipun adiknya itu tidak dapat
menangkap pimpinannya, sebab khabarnya pimpinan
pemberontak itu telah diselamatkan terlebih dahulu oleh
pengawal pribadinya yang lihai.
Dari Hok-cung, Yap Kiong Lee berjalan ke selatan, melewati
jajaran pegunungan kecil yang membujur ke arah pantai
timur. Dia mendaki Bukit Delapan Dewa yang terkenal karena
bangunan Kuil Im-yang kauw-nya itu, lalu bermaksud
menyusuri sungai yang berada di kakinya.
Tapi di lereng bukit itulah dia dengan tidak sengaja melihat
musuh lamanya, yaitu Song bun kwi Kwa Sun Tek ! Pemuda
lihai putera ketua Tai-bong-pai itu bersama seorang temannya
tampak sedang mempermainkan empat orang pengikut lmyang
kauw. Yang tiga orang malahan telah dibunuhnya,
sementara yang seorang lagi ia lepaskan supaya dapat
memberi laporan kepada pemimpinnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bukan main gembiranya Yap Kiong Lee ! Ternyata di
tempat yang sunyi sepi itu ia malah dapat menemukan orang
yang selama ini ia curigai sebagai pimpinan kaum
pemberontak. Padahal sudah setahun lamanya ia berusaha
menemukan orang itu untuk menyelidiki keterlibatannya dalam
kerusuhan yang terjadi di kota Tie-kwan tempo hari. Di mana
dalam pertempuran dengan kaum perusuh di gedung Si
Ciangkun itu, ia melihat adiknya bertempur satu lawan satu
dengan seorang musuh, yang mahir ilmu silat Tai-bong-pai !
Meskipun saat itu orang tersebut menutupi wajahnya dengan
saputangan, tapi Hong lui kun Yap Kiong Lee yakin bahwa
orang tersebut tentulah Song bun-kwi Kwa Sun Tek. Musuh
lama dari Kaisar Han!
Maka ketika ia menyanggupi permintaan tolong Kaisar Han
untuk ikut mencari siapa sebenarnya tokoh yang
menggerakkan kaum perusuh itu, Hong-lui-Kun segera
memusatkan pencariannya kepada Song-bun-kwi Kwa Sun
Tek! Tetapi pemuda iblis itu ternyata sukar sekali dicari.
Bagaikan hantu orang itu menghilang dan tak pernah
kelihatan lagi ! Malah di gedung pusat Tai-bong-pai sendiri
orang telah melupakannya. Biarpun putera ketua mereka
sendiri, tapi Song-bun-kwi telah lama diusir oleh ayahnya,
sehingga anggota perguruannya sendiri juga tak
mempedulikannya lagi.
Setelah membunuh tiga orang anggota Im-yang-kauw,
Song-bun-kwi dan temannya lalu pergi meninggalkan Bukit
Delapan Dewa. Mereka melintasi bukit-bukit yang berada di
sebelahnya, lalu turun ke lembah, dan akhirnya menuju ke
tepian sungai yang mengalir di tempat itu.
Dengan sangat berhati-hati, Hong-lui kun mengikuti saja ke
mana mereka pergi. Begitu pula ketika dua orang itu
mendekati beberapa buah perahu yang berlabuh di tepi sungai
tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang yang amat sangat dikenal oleh Yap Kiong Lee
keluar dari sebuah perahu yang ditambatkan agak ke tengah.
Kedua orang itu berdiri di atas geladak, menyongsong Song
bun kwi yang baru saja datang.
"Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang...!" Hong-lui-kun bergumam
perlahan. "Ahh.....jadi benar juga dugaanku selama ini. Si
Ciangkun telah diperalat oleh Song-bun-kwi dan orang-orang
Ban-kwi-to!”
Yap Kiong Lee menoleh kesana kemari, mencari jalan agar
dapat mendekati perahu tersebut. Tapi perahu itu jauh
terpisah dari perahu-perahu yang lain, sehingga sukar untuk
mendekatinya tanpa terlihat oleh mereka.
"Satu-satunya jalan hanyalah menyelam dan berenang ke
sana. Tapi apakah arus sungai ini tidak besar? Walaupun bisa,
tapi aku tidak mahir dalam berenang......”
Tapi karena hanya dengan jalan itu ia bisa mendekati
lawannya, maka Hong-lui-kun nekad untuk menyelami sungai
yang lumayan besarnya itu. Berhati-hati ia beringsut ke hilir.
Lalu tempat yang terlindung oleh semak-semak, ia turun ke
dalam air dan.... menyelam!
Tiba tiba dilihatnya perahu tersebut melepaskan ikatannya
dan bergerak untuk berangkat. Perlahan-lahan perahu itu
berputar, kemudian hanyut ke hilir. Seorang tukang perahu
tampak berdiri di buritan mengendalikannya.
Hong-lui Kun tidak jadi berenang. Sambil memegang
patahan ranting berdaun rimbun di atas kepalanya, ia menanti
lewatnya perahu tersebut di tempatnya. Kemudian dengan
hati-hati ia 'menempel' pada dinding perahu. Ranting berdaun
lebat yang dibawanya ia pakai untuk menutupi kepalanya yang
tersembul di atas air.
Beberapa saat lamanya perahu itu berjalan, tapi Yap Kiong
Lee belum juga mendengar percakapan mereka. Suasana di
dalam perahu masih tetap sunyi. Tak ada suara sedikitpun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selain suara kecipaknya air sungai yang menjilat dinding
perahu.
Satu jam telah berlalu. Yap Kiong Lee sudah mulai bosan
dan kedinginan.
"Kurang ajar ! Apa yang diperbuat orang orang itu?
Mengapa diam saja sejak tadi." pemuda itu menggerutu di
dalam hati. Lalu dengan penasaran diraihnya tali yang
tergulung di atasnya, yang terikat kuat pada pagar perahu. Ia
bermaksud menjenguk ke dalam.
Tetapi belum juga tali itu terjangkau oleh jarinya, tiba-tiba
dari arah depan muncul sebuah perahu lain. Perahu tersebut
dengan cepat menyongsong perahu yang 'ditempelnya’,
Beberapa orang pendayung tampak bersemangat sekali dalam
mengayunkan dayungnya.
"Ong-ya datang.......!" mendadak Hong-lui-kun mendengar
suara serak dari dalam perahu. Agaknya suara orang tinggi
besar yang datang bersama dengan Song-bun kwi tadi.
Yap Kiong Lie mengurungkan niatnya. Dia justru semakin
membenamkan tubuhnya. Dari balik daun-daun yang
menutupi kepalanya, ia mengintip ke arah perahu yang
datang.
Beberapa puluh meter sebelum kedua perahu tersebut
berpapasan, perahu yang datang dari depan tadi tampak
berputar berbalik haluan, kemudian berhenti menantikan
perahu yang dinaiki Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Lalu
keduanya berlayar berdampingan.
Yap Kiong Lee yang kebetulan berada di antara dua dinding
perahu yang sedang berdempetan, dengan leluasa dapat
mendengarkan percakapan mereka.
“Ongya......! Apakah ongya sudah terlalu lama menunggu,
sehingga terpaksa menyusul kami kemari ?" Song-bun kwi
yang cuma terlihat kepalanya saja dari tempat persembunyian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yap Kiong Lee itu membuka suara, menyambut seorang lakilaki
misterius di atas perahu yang baru saja tiba.
"Uh ! Uh! Uh !”
Grobyag!! Tiba tiba dari dalam perahu orang misterius
tersebut terdengar suara berisik yang disertai suara manusia
yang ditutup mulutnya dengan paksa.
Song-bun-kwi kelihatan tertegun di tempatnya. Begitu pula
Tee-tok-ci, Ceng ya-kang dan orang bertubuh tinggi besar
yang berdiri di belakangnya! Hong-Iui-kun yang berada di
dalam airpun ikut tegang dan berdebar-debar. "Permainan apa
sebenarnya yang sedang dilakukan oleh orang-orang ini?
Song-bun-kwi yang telah diusir oleh perguruannya, iblis-iblis
Ban-kwi-to yang biasa membuat kerusuhan dan…… orang
bertopeng yang selalu menyembunyikan wajahnya di balik
kerudung hitamnya !!" pemuda itu menduga-duga di dalam
hatinya.
".Uh . uh !" sekali lagi terdengar suara berbisik itu.
"Hmh! Kau mau diam atau tidak ?” orang berkerudung itu
menoleh ke dalam perahu dan menghardik.
"Ongya, siapakah dia ?” orang bertubuh tinggi besar itu
bertanya.
"Dia adalah murid Si Tua Bangka dari Bing-kauw yang
kurang ajar itu !”
"Oh ! Mengapa ongya menawannya..?"
"Hmh !" orang berkerudung itu mendengus tak menjawab.
Lalu badan yang terbungkus oleh mantel hitam tersebut
tampak melayang, menyeberang ke perahu yang ditumpangi
Song-bun-kwi dan kawan kawannya. Dengan mengangguk
hormat Song- bun kwi segera mempersilahkan orang itu ke
dalam perahunya.
"Silahkan duduk, ongya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Terima kasih !" orang misterius yang dipanggil dengan
sebutan ongya itu mengangguk. Lalu katanya kemudian.
"Kwa-heng, Wan-heng, Tee-tok-ci dan..... Ceng-ya-kang!
Marilah kalian kupersilahkan pula duduk bersamaku di sini !
Banyak yang hendak kubicarakan dengan cu-wi semua....."
Dari tempat persembunyiannya Hong-lui-kun mendengar
suara kursi yang ditarik oleh orang-orang tersebut. Agaknya
mereka duduk dalam satu meja.
"Hm, siapa pula orang ini? Kelihatannya semua orang
sangat menghormatinya. Apakah dia yang memimpin
kelompok perusuh itu?" pemuda ahli waris Sin-kun Bu-tek itu
sibuk menduga-duga di dalam hati. "Kuharap aku tidak salah
tebak! Dan ... kuharap aku benar benar telah menemukan
buruanku itu sekarang!"
Dengan perasaan tegang Hong-lui-kun Yap Kiong Lee
mendengarkan percakapan mereka.
"Kwa-heng...? Bagaimana dengan rencana yang hendak
Kwa-heng lakukan bersama Wan-heng dulu itu? Apakah Kwaheng
sudah melaksanakannya? Bagaimana pula
perkembangannya?" orang misterius itu terdengar memulai
percakapan mereka.
Terdengar suara tertawa dari dua orang yang baru saja
disebut namanya itu.
"Hahaha.,.. ! Ongya, semuanya benar-benar berjalan sesuai
dengan apa yang kita harapkan dahulu. Dunia persilatan
sudah mulai panas! Seluruh rencana yang telah kita
laksanakan, sekarang sudah mulai membawa hasil. Masingmasing
perguruan dan golongan yang kita maksudkan telah
mulai saling cakar dan saling curiga-mencurigai satu sama
lain." Orang she Wan yang datang bersama Song-bun-kwi tadi
menjawab pertanyaan itu.
"Apakah para pemimpin mereka telah bertempur satu sama
lain?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Belum, ongya ! Tapi hamba kira hal itu segera akan terjadi
takkan lama lagi....." Song-bun kwi menerangkan. "Masingmasing
telah terbakar hatinya, sehingga mereka telah saling
mempersiapkan diri....."
"Bagus! Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih! Kwaheng
dan Wan-heng memang hebat sekali! Jadi sekarang kita
tinggal menanti saja......saat yang tepat ! Kita bersama-sama
akan bergerak, dan.... eh, lalu bagaimana dengan cap
kerajaan itu? Apakah kalian semua telah mencium jejaknya ?"
tiba-tiba orang berkerudung itu mengalihkan pembicaraannya.
Hong-lui kun yang masih berada di bawah perahu itu
menjadi tegang bukan main. Cap kerajaan ! Mereka ternyata
juga mencari benda keramat itu ! Maka dengan hati berdegup
keras, pemuda itu menempelkan telinganya lekat-lekat ke
dinding perahu, agar dapat lebih jelas mendengarkan
perkataan mereka.
Hening sejenak. Semuanya terdengar menghela napas
panjang.
"Maaf, ongya…. Mengenai hal yang satu ini kami semua
masih menghadapi kegelapan. Tak seorangpun dari kami yang
bisa mendapatkan berita tentang benda ini. Yang dapat kami
ketahui hanyalah siapa-siapa yang saat ini juga sedang
memburu benda keramat itu !" orang she Wan itu kembali
menundukkan kepalanya.
"Hmm, siapakah selain kita yang menginginkan benda
tersebut?"
"Kaisar Han dan...... bekas Putera Mahkota Wangsa Chin!"
"Hah? Apa?!!" orang berkerudung itu terlonjak kaget,
sehingga yang lain ikut-ikutan terperanjat pula.
"Ongya ? Mengapa.....? Ada yang salah ?" Song bun-kwi
segera berlutut di atas lantai perahu, kemudian diikuti pula
oleh yang lain-lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, tidak ! Tidak ! Tidak apa-apa ! Silahkan kalian duduk
kembali.....! Aku hanya tidak mengira kalau ternyata kelompok
lain yang memburu cap kerajaan itu adalah bekas Putera
Mahkota itu ! Hmm... jadi orang itu belum mati juga."
"Memang belum mati ! Malah hamba dengar justru bekas
Putera Mahkota itulah yang memimpin penyerbuan yang
berkedok pengungsi ke kota raja beberapa hari yang lalu."
Song-bun kwi menyahut dengan perasaan sedikit aneh.
Orang berkerudung yang tidak lain adalah Hek-eng-cu,
yaitu seorang tokoh misterius yang mempunyai ambisi untuk
menjadi raja dengan cara menghancurkan kekuasaan Kaisar
Han itu, tidak berkata lebih lanjut. Orang itu kelihatan
termenung dan termangu mangu, sehingga para
pembantunya menjadi semakin merasa heran. Tak biasanya
pemimpin mereka itu bersikap demikian. Tapi untuk bertanya
mereka tak berani, apalagi mereka tak bisa mengetahui apa
yang tersirat dalam wajah yang tertutup kain kerudung itu.
"Ongya...! Tak perlu Ongya merasa khawatir, apalagi
bersedih hati. Walaupun kami belum bisa mendapatkan cap
kerajaan itu, tetapi kami telah memperoleh mustika yang tak
kalah berharganya pula......" Song-bun-kwi yang tidak tahan
melihat keadaan tuannya itu segera mendekati.
Hek-eng-cu menoleh dengan cepat. Wajah yang terlindung
oleh topi dan kerudung hitam tersebut tampak menegang
sebentar.
"Oh ! Apa yang Kwa-heng maksudkan ?" tanyanya singkat.
"Ongya!" orang she Wan yang berada di belakang Songbun-
kwi itu ikut mendekat pula. "Apakah Ongya masih ingat
ketika kita mendapatkan potongan emas yang berbentuk aneh
di saku baju Chin Yang Kun dahulu itu? Ketika hamba dan
Tee-tok-ci berhasil menjebak pemuda itu di kota Tie-kwan dan
membawanya ke gedung Si Ciangkun ?”
"Ya, aku ingat....! Lalu maksud Wan-heng?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata goresan-goresan yang terpahat pada potongan
emas itu menunjukkan sebuah peta penyimpanan harta karun
mendiang Perdana Menteri Li Su yang bukan main besarnya !”
"Hah??" sekali lagi Hek-eng-cu tampak terkejut sekali.
"Benarkah.....? Tapi kulihat goresan peta yang terlukis di situ
seperti terpotong-potong dan..... tidak lengkap !"
"Ong-ya benar. Potongan emas itu memang terdiri dari dua
bagian sebenarnya...... Yang sepotong telah Ongya bawa.
Sedangkan yang sepotong lagi......" Orang berbadan gemuk
besar itu tidak melanjutkan perkataannya.
“Yang sepotong lagi .....?” Hek-eng-cu menegaskan.
"Yang sepotong lagi baru saja hamba peroleh dari tangan
Tung hai Nung jin pagi tadi !" Song bun kwi menyambung
perkataan kawannya.
"Heh, coba kulihat!"
Song-bun kwi merogoh saku bajunya, lalu menyerahkan
potongan emas yang telah banyak membawa kurban itu.
"Inilah benda itu, Ongya. .”
Orang berkerudung itu segera menyambar potongan emas
yang berada di telapak tangan Song-bun kwi, lalu ditelitinya
dengan seksama. Lalu dengan tergesa gesa tangannya
merogoh ke balik jubah hitamnya, dan di lain saat tangannya
telah memegang potongan emas yang rupa dan bentuknya
persis dengan potongan emas yang baru saja diberikan oleh
pembantunya.
Dua buah potongan emas itu dilekatkan satu sama lain
dan…. persis benar !
"Ah! Benar! Kwa-heng ! Wan heng! Tee-tok-ci! Ceng ya
kang ... ! Lihatlah! Peta itu benar-benar lengkap sekarang!"
katanya sambil meletakkan potongan emas itu di atas meja
sehingga semua orang bisa menyaksikannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei ! Aku tahu tempat ini!" tiba tiba Ceng-ya-kang
menjerit.
"Hah ? Benarkah? Lekas kausebutkan, Ngo-sute!" Tee-tokci
mencengkeram lengan adik seperguruannya.
"Benar, Ngo-sicu! Kalau engkau tahu, lekas katakan......!"
Orang she Wan itu ikut mendesak.
Semuanya menatap dan menanti perkataan yang akan
diucapkan oleh orang kelima dari Ban-kwi to itu. Termasuk
juga Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, yang mendengarkan
percakapan itu sejak tadi!
"Goresan ini bukan gambar peta…., tapi lukisan Pantai
Karang di sebelah selatan Laut Po hai !" Iblis gundul itu
berkata tegas.
"Pantai Karang? Pantai tempat penyeberangan ke Pulau
Meng-to itu?" Tee-tok-ci dan Song bun-kwi bertanya hampir
berbareng.
"Betul ! Lihatlah . .! Bukankah di sebelah kiri ini adalah
lukisan Batu Kepala Naga yang menjorok ke tengah laut itu !
Dan........ yang ini ! Bukankah ini gambar Batu Kilin Mandi
yang terkenal itu?"
"Hah, benar! Jadi....... gambar garis-garis ini dimaksudkan
sebagai laut, bukan kode-kode sandi atau yang lain. Dan
coretan coretan ini adalah lukisan-lukisan batu karang yang
berada di tempat itu. Lalu..... ah, Ngo-sute..... kau benar ! Lohu
sering juga lewat di sana !” Tee-tok-ci berteriak gembira.
"Hmm, untunglah aku mempunyai pembantu Tee-tok-ci
dan Ceng-ya-kang, yang telah biasa mengarungi pantai-pantai
sebelah timur. Coba kalau tidak ! Siapa yang akan dapat
mengenal gambar ini?” Hek-eng cu mengangguk-angguk
senang. "Sekarang tinggal terserah kepada kita, kapan kita
akan berangkat mengambil harta karun itu."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
'Wah..,., semakin cepat kita berangkat, hamba kira akan
semakin baik. Dalam urusan mencari rejeki ini, berlaku
pepatah: Siapa cepat akan dapat ! Siapa tahu sudah ada
orang lain pula yang mengetahui rahasia ini?" Song-bun kwi
memberi saran.
"Kwa-heng benar......! Tapi kita tidak boleh berangkat ke
sana bersama-sama......”
"Eh? Maksud Ongya......!" semuanya menatap Hek-eng-cu
tak mengerti.
Agaknya orang berkerudung hitam itu sudah mengira kalau
akan mendapat pertanyaan seperti itu.
"Cu-wi tidak usah kaget. Dalam saat-saat seperti sekarang
ini, di mana terompet sangkakala sudah dekat untuk kita
bunyikan, kita tidak boleh selalu menggerombol bersamasama!
Kita semua sudah tahu bahwa pihak lawan juga
mempunyai orang-orang pilihan, yang tersebar di mana-mana.
Oleh karena itu kita mulai sekarang harus berhati-hati. Siapa
tahu salah seorang dari kita, entah cu-wi entah aku, telah
dicurigai atau diikuti oleh mereka ! Andaikata benar demikian,
jangan sampai sekali tepuk mereka dapat menangkap kita
semua!"
Semuanya menundukkan kepala. Sadar bahwa perkataan
pemimpin mereka itu memang benar adanya. Apa gunanya
jerih payah mereka selama ini, kalau semuanya telah
tertangkap musuh?
“Cu wi semua........, kukira tak seorangpun diantara kita
yang belum mengetahui tempat yang disebutkan oleh Cengya-
kang Lo-heng tadi. Setiap orang sudah tahu tempat
penyeberangan ke Pulau Meng to itu. Maka dari sini kita
berpisah dulu. Masing-masing mencari jalan sendiri-sendiri ke
Pantai Karang itu. Dan...... dua hari lagi, tepat di waktu
tengah malam kita berkumpul lagi di tempat itu ! Setuju...... ?"
"Baik, Ongya.....!" semuanya menjawab hampir berbareng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sungguh sukar untuk digambarkan, bagaimana perasaan
Hong-lui kun yang dapat mendengarkan pembicaraan mereka
sejak tadi. Ada perasaan puas, senang dapat menemukan
buruannya, sekaligus mengetahui rencana mereka. Tetapi
ada juga perasaan takut dan khawatir melihat perkembangan
ternyata sudah sedemikian jauhnya. Selain itu hatinya merasa
tegang juga mendengar rencana orang-orang itu untuk
mengambil harta karun di Pantai Karang!
"Wah, repot! Mana yang harus kukerjakan terlebih dahulu?
Melapor kepada Hong siang, mengikuti salah seorang dari
mereka, atau……mencari bala bantuan yang terdekat untuk
menghadapi mereka ?” pemuda sakti itu kebingungan.
"Ongyaa..... di depan ada perahu yang menghalangi jalan
kita!” tiba-tiba orang yang bertugas di atas geladak berteriak
keras.
Hek-eng cu beserta para pembantunya bergegas naik ke
atas geladak.
"Ingat! Kita berpencar dan berjumpa kembali di Pantai
Karang dua hari lagi." orang berkerudung itu menegaskan
kembali.
Di depan kedua buah perahu mereka tampak sebuah
perahu besar berhenti di tengah-tengah sampai dalam posisi
melintang. Melihat keadaannya, mudah diduga bahwa perahu
besar tersebut sedang bermaksud menghadang mereka.
Belasan orang laki-laki berpakaian ringkas tampak berjejerjejer
di atas geladaknya yang luas.
"Orang Bing-kauw....." Hek-eng-cu bergumam perlahan.
Song-bun-kwi saling memandang dengan orang she Wan
yang berdiri di sampingnya, begitu pula Tee-tok-ci dan Cengya-
kang !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ongya, apakah maksudnya mereka menghadang kita?
Adakah mereka sudah mengetahui kalau kita yang mengadu
domba mereka ?" Song-bun-kwi mengerutkan keningnya.
" …. Atau mereka ingin memiliki pula peta harta karun itu?"
Ceng-ya-kang ikut menduga-duga pula.
Sementara itu Hong-lui-kun Yap Kiong Lee ikut berdebardebar
pula hatinya.
"Uhh! Uhh! Uhhhh !"
Tiba-tiba suara aneh dari dalam perahu yang sebelah
kanan tadi terdengar lagi oleh Hong-lui-kun. Malah sekarang
terdengar lebih keras dari pada tadi
Ternyata yang lain-lainpun mendengar suara itu pula,
sehingga otomatis semuanya menoleh ke arah Hek-eng cu.
"Ah, benar..... Aku belum sempat menceritakannya kepada
kalian semua," orang berkerudung itu menerangkan.
"Ongya.....?”
"Aku telah menangkap seorang anak murid Bing-kauw
kemarin sore. Bocah itu secara tak sengaja telah melihat dan
mendengarkan pembicaraanku dengan Tan-wangwe dari
dusun Ho ma cun. Aku takut anak itu membocorkan
keterlibatan Tan-wangwe dalam perjuangan kita ini kepada
orang-orangnya Liu Pang, maka kutangkap dia.....! Semula
aku tak menduga kalau dia murid Put-ceng-li Lo-jin...." Hekeng-
cu berhenti sebentar. Suaranya ketika menyebut nama
Put-ceng li Lo jin terdengar sangat geram, menandakan kalau
dia betul-betul amat membenci pada nama itu !
"..... Tapi ketika beberapa orang Bing kauw datang dan
berusaha membebaskan anak itu, aku baru tahu kalau dia
adalah murid tua bangka yang tak mengenal aturan itu. Aku
tak mau membuang-buang waktu melayani mereka, maka
kubawa anak itu kemari. Tak kusangka orang- orang Bingkauw
itu masih saja membuntuti aku.....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Oh ... kalau begitu kita gempur saja mereka sekarang!"
Tee-tok-ci yang selalu haus darah itu menyeringai buas.
"Benar, Ongya! Kita sikat mereka agar tahu rasa!” Ceng-yakang
mendukung usul kakak seperguruannya.
"Tidak !” Hek-eng-cu berkata tegas. "Kita tidak perlu
melayani mereka! Apa gunanya rencana yang telah kita buat
itu kalau kita membunuh mereka di sini? Biarlah kekuatan
mereka itu mereka pergunakan untuk saling baku hantam
dengan Im-yang kauw dan Mo-kauw besok!"
"Ah, maaf .... kami benar-benar amat bodoh! Apa yang
Ongya katakan itu memang betul sekali…” Tee tok-ci dan
Ceng-ya-kang mengangguk-angguk.
"Oleh karena itu janganlah lupa.....! Kita menyebar dari
tempat ini, dan..... bertemu kembali dua hari yang akan
datang !"
"Baik, Ongya...." semuanya mengiyakan.
Kedua buah perahu yang ditumpangi Hek eng-cu dan para
pembantunya itu tampak semakin dekat dengan perahu
orang-orang Bing kauw. Hek-eng cu tidak berusaha untuk
memberi perintah kepada pendayung-pendayung perahunya
agar menghentikan dayungan mereka, sehingga kedua buah
perahu itu masih tetap melaju dengan pesat. Agaknya tokoh
pemberontak itu memang sengaja mau membentur perahu
lawan!
"Jangan takut! Biarpun perahu mereka lebih besar dari
pada perahu kita, tapi perahu mereka dalam posisi melintang.
Perahu itu takkan tahan menghadapi gempuran dua buah
perahu kita........! Nah, dalam keributan yang disebabkan oleh
benturan kapal kita nanti, kita harus berpencar dan berusaha
menyelamatkan diri kita masing-masing ! Jangan melawan
kalau tidak terpaksa....... ! Nah, marilah kita bersiap diri!" Hekeng-
cu berteriak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu Hong Iui-kun menjadi terkejut setengah mati
begitu tahu maksud orang berkerudung yang ingin
membenturkan perahu yang ditempelnya itu ke perahu lawan!
Tanpa membuang waktu lagi ia meraih gulungan tali yang
terikat pada dinding perahu di atas kepalanya, lalu menariknya
kuat-kuat, sehingga tubuhnya yang berada di dalam air itu
terlontar ke dalam perahu. Tepat di samping orang Bing-kauw
yang ditawan oleh orang berkerundung itu!
"Penyelundup......! Awas musuh!" salah seorang anak buah
Hek-eng-cu yang melihat kedatangan Hong-Iui-kun tiba-tiba
berteriak.
Bagaikan sebuah bayangan Hek-eng-cu terbang kembali ke
perahunya. Ketika dilihatnya ada seorang pemuda berada di
dekat tawanannya, tanpa pikir panjang lagi ia melontarkan
pukulan Pat-hong-sin-ciangnya yang ampuh bukan alang
kepalang !
Sekejap Hong-lui-kun merasa bagai digencet oleh kekuatan
yang tak kelihatan dari segala arah. Dan ketika matanya
menatap ke arah mata lawan yang sedang terbang ke
tempatnya, pemuda itu seperti melihat sinar matahari yang
mencorong ganas, seolah-olah mau membakar tubuhnya !
Tapi herannya, angin yang tertiup ke arah tubuhnya demikian
dingin membekukan!
ltulah pukulan Pat hong-sin ciang (Pukulan Sakti Delapan
Penjuru), yang dahulu merupakan ilmu andalan Bit-bo-ong!
Ilmu yang sangat menggiriskan ini adalah gabungan antara
tenaga dalam dan ilmu sihir ! Siapa saja yang menjadi sasaran
dari ilmu ini akan menjadi kaku kedinginan dan sukar bergerak
seperti orang tergencet dalam lumpur tanah liat!
Tapi Hong-lui kun segera menyadari keadaannya yang
gawat. Dengan segala kemampuan yang ia dapatkan selama
ini, ia meronta dan menghentakkan seluruh kekuatan ilmunya
! Whuuaaah ! Kemudian setelah berhasil membebaskan diri
dari himpitan ilmu lawan, Hong-lui-kun segera mengayunkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lengannya ke depan, menyongsong pukulan Hek-eng-cu !
Kedua-duanya mengerahkan seluruh kemampuannya! Dan
pertemuan antara dua kekuatan raksasa itu bersamaan
waktunya dengan membenturnya dua buah perahu Hek-eng
cu ke arah perahu Bing-kauw !
"Kkrrroaaaakk !"
"Dhuuuuaar !"
"Hwaduuh ! Tolong......!"
Perahu Bing-kauw yang besar itu terbelah dengan suara
yang menggiriskan menjadi tiga bagian ! Para penumpangnya
terlempar berhamburan ke dalam sungai. Dan sebentar
kemudian terdengar jeritan ngeri dari orang-orang yang tidak
bisa berenang.
Tapi kedua buah perahu kecil yang menabraknya ternyata
juga tidak kalah parah keadaannya. Begitu membentur, kedua
perahu itu langsung terbalik dan menumpahkan seluruh isinya,
kecuali Hek-eng-cu dan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee !
Ternyata sebelum benturan tersebut terjadi, kedua tubuh
mereka telah lebih dahulu terlempar ke udara akibat
pertemuan tenaga pukulan mereka sendiri ! Keduanya
tercebur ke dalam air dan hanyut bersama dengan yang lain !
Rasa sakit dan linu-linu membuat Hong lui-kun untuk
beberapa saat menjadi permainan gelombang sungai. Tapi
sesaat kemudian setelah ia sadar bahwa ia dalam keadaan
bahaya, pemuda itu segera mengerahkan semua sisa-sisa
kekuatannya untuk berenang ke pinggir.
Tak terduga tubuh pemuda itu melanggar sesosok tubuh
yang terikat kaki tangannya, hingga tentu saja orang tersebut
tidak bisa menggerakkan badannya untuk berenang. Ah,
orang ini tentulah orang yang ditawan oleh orang misterius
tadi, Hong-lui-kun berkata di dalam hatinya. Melihat orang itu
sudah pingsan, tanpa berpikir lebih lanjut Hong-lui-kun segera
menyeretnya pula ke tepian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu tirai senja telah mulai turun menutupi daerah
sekitar tempat kedua orang itu mendarat. Dengan susah
payah Hong-lui-kun yang kepayahan itu menyeret orang yang
pingsan tersebut di atas pasir. Lalu dengan mata yang
berkunang kunang serta badan yang semakin lemas pemuda
itu menggendong orang yang ditolongnya ke tempat yang
aman. Kakinya tersaruk-saruk menaiki tebing sungai yang
tidak begitu tinggi lagi kemudian menjatuhkan dirinya di atas
rumput tebal.
"Perawakan orang ini tidak begitu besar......Tapi tubuhnya
kok berat nian, uhh...... kiranya dagingnya demikian gemuk !”
Hong-Iui-kun menggerutu diantara sadar dan tidak sadar.
Meskipun tidak sampai merenggut nyawanya, tetapi
ternyata pukulan Hek-eng cu tadi membuat tubuh Hong-lui
kun menjadi lemah sekali. Selain pukulan Pat hong-sin-Ciang
lawan memang agak sedikit lebih unggul dari pada pukulan
Thian-lui-gong ciangnya, kedudukan Hek-eng-cu yang
menyerang dari atas tadi memang lebih menguntungkan
posisinya ! Seakan-akan pukulan lawan menjadi berlipat
ganda, karena ditunjang oleh berat badannya.
Dengan mata hampir terpejam, Hong-lui-kun masih ingat
untuk mengendurkan ikat pinggang dan melepaskan bajunya.
Dan sebelum ia benar-benar menjadi pingsan, ia juga masih
berusaha untuk melepas tali yang mengikat kaki tangan orang
itu, sekalian melepas pula baju basah yang dikenakannya.
Tapi pemuda itu menjadi terkejut bukan main.......!
Suatu pemandangan yang belum pernah ia lihat selama
hidupnya tampak terpampang di balik baju yang baru saja
dibukanya ! Tapi pemandangan yang hebat itu tak dapat ia
nikmati sampai puas, karena sesaat kemudian ia telah jatuh
pingsan !
"Pe- perempuann......?!?" keluhnya terputus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sudah selayaknya kalau Hong-lui-kun menjadi amat
terkejut begitu mengetahui siapa sebenarnya tawanan Hek
eng cu yang baru saja ia selamatkan itu. Keadaan tubuhnya
yang sangat lemah itu menyebabkan Hong-lui kun tak bisa
mempergunakan panca inderanya dengan baik. Pemuda itu
benar benar tak mengira kalau orang yang ia tolong tersebut
adalah seorang gadis yang sangat cantik. Dan Hong-lui-kun
yang kini pingsan semakin tidak mengira ataupun
membayangkan, bahwa seseorang telah datang ke tempat itu
selagi ia pingsan. Dan orang itu adalah.......
"Uhhh….. benar-benar gila ! Untunglah aku mengerahkan
seluruh tenaga dalamku, kalau tidak .......hmm, bisa-bisa aku
sudah tidak ada lagi di dunia ini ! Tak kusangka bocah itu
memiliki tenaga dalam demikian kuatnya. Hmmh, siapa
sebenarnya bocah itu ? Adakah ia orang Bing-kauw pula ?"
tiba-tiba Hek-eng cu keluar dari permukaan air dan kemudian
berjalan tersaruk-saruk ke atas tebing.
Orang itu terbelalak kaget ! Tergesa gesa ia membetulkan
letak topi dan kerudungnya ketika tiba-tiba ia melihat dua
sosok tubuh tergolek di hadapannya ! Dan hatinya semakin
terkejut sekali ketika mengenali wajah Hong lui kun yang
pingsan ! Tapi rasa kaget itu segera lenyap begitu melihat
pemandangan lain yang menyentuh nafsu birahinya. Hek-eng
cu benar-benar tidak menyangka bahwa gadis yang semalam
telah ditangkapnya itu memiliki tubuh yang demikian indahnya
!
Semakin dipandang tubuh molek itu semakin
mempesonakan Hek eng cu sehingga tanpa terasa darahnya
mulai terbakar. Pelan pelan kakinya melangkah mendekati.
Lalu sepasang tangannya mulai menggerayangi tubuh
setengah polos itu dan jari-jarinya yang gemetar berusaha
melepas pakaian yang masih tertinggal. Dan sesaat kemudian
terjadilah perbuatan yang sangat tercela dan terkutuk di atas
tebing sungai itu.....!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Entah berapa lama hal itu berlangsung, tapi gadis cantik
yang merasa kesakitan itu tiba-tiba tersadar dari pingsannya.
Dan bisa dibayangkan betapa terperanjatnya dia begitu tahu
ada orang yang sedang menindih dan memperkosanya !
Mungkin seribu letusan petirpun takkan bisa mengagetkannya
seperti rasa kagetnya saat itu !
"Arrghhh .. !!” gadis itu meronta dan menjerit sejadi
jadinya. Tangannya mencakar muka lawannya sehingga
kerudung beserta topi Hek-eng-cu terlepas dari tempatnya.
Hek-eng cu cepat cepat menutupi mukanya dan meloncat
pergi dengan cepat sekali ! Orang berkerudung itu sudah tidak
mempedulikan lagi, bagaimana sepeninggalnya gadis yang
telah ia gagahi itu jatuh pingsan kembali. Gadis itu pingsan
lagi gara-gara tak kuat menanggung hantaman batin yang
demikian beratnya !
Senja yang menyedihkan itu berangsur-angsur menjadi
gelap dan bintang-bintang di langitpun mulai bermunculan.
Suasana benar benar sunyi dan sepi. Pohon pohon yang
rindang itu berdiri kaku tak bergerak. Daun-daunnyapun
tergantung diam di kelopaknya, seolah-olah tak ada angin
yang berhembus di tempat itu. Suara belalang dan cengkerik
yang biasa meramaikan tepian sungai itu belum juga
menampakkan lagunya. Sedangkan gelombang air sungai
yang biasa berkecipak menjilati tebing-tebing batu itu kini juga
tampak mengalun tenang sekali. Hampir-hampir tidak beriak
sama sekali.
Suasana pada saat itu benar-benar lain dari kebiasaannya.
Seolah-olah alam ikut berduka cita atas musibah yang
menimpa diri gadis cantik murid Put ceng-li Lo jin tersebut.
Perlahan-lahan Yap Kiong Lee membuka matanya. Pemuda
itu sedikit terperanjat begitu menyadari hari telah menjadi
malam. Bintang-bintang telah bertaburan memenuhi angkasa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ohh..... lama benar aku tak sadarkan diri,” katanya
perlahan.
Untuk beberapa saat pemuda itu masih tetap saja
berbaring di tempatnya. Badannya masih terasa kaku dan
lemas. Terbayang dalam benaknya, peristiwa yang terjadi di
gedung Si Ciang kun setahun yang lalu. Yaitu ketika ia
menemani adiknya menggerebeg rumah perwira yang
bersekongkol dengan kaum perusuh itu.
Ketika adiknya hampir berhasil menangkap Song bun kwi,
tiba-tiba saja datang orang berkerudung meloncat ke atas
tembok, dan menolong putera ketua Tai-bong-pai tersebut.
Orang itu mengenakan mantel hitam yang kebal terhadap
senjata dan orang itu mahir memainkan Bu eng Hwe-teng dan
Pat hong-sin ciang warisan Bit bo-ong!
"Ah, sekarang sudah mulai terang bagiku, siapa sebenarnya
tokoh-tokoh pemberontak yang ingin meruntuhkan kekuasaan
Kaisar Han. Hanya yang belum dapat kuketahui ialah siapa
tokoh misterius yang selalu berlindung di balik kedok hitam itu
! Yang terang, orang itu telah mewarisi kesaktian mendiang
Bit-bo-ong yang maha hebat."
"Ahhh.... aduuuh …. !!”
Yap Kiong Lee meloncat berdiri dengan cepat. Semua otot
tubuhnya menegang, sehingga tubuh atasnya yang terbuka itu
semakin tampak jantan dan gagah. Matanya terbelalak
menatap ke tubuh telanjang yang tergolek tak jauh dari
tempatnya berdiri. Sedang wajahnya yang tampan itu menjadi
pucat sekali begitu melihat cairan darah yang mengalir di atas
paha putih mulus itu!
"Aduuuh... ohh..... keparat busuk!" gadis itu merintih
kembali.
"Nonaaaa. . .?!?" Yap Kiong Lee meloncat menghampiri
gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba tiba gadis itu terbelalak ngeri menatap Yap Kiong Lee !
Lalu wajah itu berubah menjadi buas !
"Bangsat keji ! Kubunuh kau!! Keparaaaat...." gadis itu
menjerit histeris.
Jari jari yang berkuku runcing itu mencakar dengan ganas
ke arah muka Yap Kiong Lee. Sepasang kakinya yang
berbentuk bagus itupun tak tinggal diam ! Beberapa kali tumit
yang bulat kecil berwarna merah jambu itu nyaris
menghantam muka dan dada Yap Kiong Lee ! Untunglah
pemuda itu tak pernah kehilangan ketangkasannya.
Dengan gerakan-gerakan yang cepat dan manis ia selalu
bisa lolos dan serangan si gadis yang membabi-buta. Malah
akhirnya pemuda itu dapat meringkus si gadis yang malang
tersebut.
“Nona... nona.... kau sadarlah! Jangan membabi buta
begitu.... !"
"Lepaskan! Iblis keji.......! Lepaskan!!” gadis itu menjerit
jerit, kemudian pingsan lagi dalam pelukan Yap Kiong Lee.
Dengan sangat berhati-hati sekali Yap Kiong Lee
membaringkan tubuh telanjang itu di atas pasir yang kering.
Lalu dengan gemetar ia mencoba mengembalikan pakaian si
gadis yang berserakan di atas rumput. Hanya pemuda itu agak
mendapatkan sedikit kesukaran ketika harus memasukkan
lengan baju yang sebelah kiri, sebab jari-jari tangan kiri gadis
itu mencengkeram sebuah topi berkerudung dengan amat
kuatnya. Meski dalam keadaan pingsan, ternyata jari jari itu
tak dapat dibuka dengan paksa, seolah-olah tangan itu telah
menjadi beku !
"Ahh... .!" Yap Kiong Lee tertegun. Pemuda itu menatap
dengan tajam kerudung hitam yang amat dikenalnya itu. Lalu
perlahan-lahan pandangannya beralih ke bawah ke arah paha
putih mulus yang ternoda oleh darah itu. Dan sesaat
kemudian Yap Kiong Lee telah dapat menduga, apa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sebenarnya yang terjadi di tempat itu sewaktu dia pingsan.
Keparat Hek-eng-cu itu telah datang ke tempat tersebut,
kemudian mempergunakan kesempatan untuk memperkosa
gadis itu selagi dia tidak sadarkan diri.
"Bangsat benar orang itu….!” Yap Kiong Lee lalu duduk
terpekur di samping tubuh molek itu. Dipandangnya wajah
cantik tersebut dengan seksama. Meski sudah pingsan, wajah
itu masih tetap juga menampakkan kesedihan dan
penderitaan batinnya yang hebat! Tanpa terasa Yap Kiong Lee
menghela napas panjang sekali. Hatinya benar-benar
tersentuh. Dan diam diam hatinya merasa menyesal dan ikut
bersalah pula. Tak seharusnya ia membawa gadis itu kemari,
dan tak seharusnya pula ia membuka pakaian gadis itu
sebelumnya. Sekarang dia sendirilah yang menerima getahnya
! Gadis itu menyangka bahwa dialah yang telah
memperkosanya.........!
"Oh, Tuhan....... bunuh sajalah aku ! Uh....hu.... huu ... !"
begitu sadar lagi gadis itu meratap dan menangis
sesenggukan. Suaranya sangat memilukan, sehingga hati Yap
Kiong Lee bagai dicopot rasanya. Otomatis timbul rasa
bencinya terhadap Hek-eng-cu !
"Bangsat keji !" pemuda itu menggeram marah. "Kubunuh
kau bila bertemu denganku.....!”
“Hah.....?!? Kau....? Keparat, kubunuh kauuu ... .!" gadis itu
bangkit dengan wajah buas, lalu sambil menjerit ia menubruk
Yap Kiong Lee. Sekali lagi gadis itu menyerang membabi buta
!
“Nona....... tahan ! Kau telah salah sangka.. .Aku tidak
pernah berbuat buruk terhadapmu !" Yap Kiong Lee berteriak
pula, mencoba memberi keterangan.
Gadis itu tampak tertegun sebentar, tapi serentak melihat
lagi tubuh atas Yap Kiong Lee yang telanjang, wajahnya
kembali beringas pula. Apalagi ketika sadar bahwa badannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang tadi telanjang bulat itu kini telah tertutup pakaian
kembali, kemarahannya semakin tambah berkobar kobar!
“Setan ! Iblis ! Ohh.....kubunuh kau !"
Yap Kiong Lee terpaksa melayaninya dengan sungguhsungguh
! Bagaimanapun juga ilmu silat gadis itu tidak boleh
dianggap rendah. Pukulan dan tendangan kakinya amat kuat
dan mantap, apalagi ditunjang oleh Iwee-kang yang tinggi
pula. Malah beberapa kali Yap Kiong Lee sempat dibuat
bingung oleh jurus-jurus si gadis yang aneh dan
membingungkan ! Kalau tidak waspada, salah-salah dirinya
bisa terjungkal malah !
Untunglah ilmu yang dimiliki Yap Kiong Lee masih sedikit
lebih matang dan lebih tinggi tingkatnya, apalagi gadis itu
bersilat dengan kemarahan yang tak terkendalikan, sehingga
bagaimanapun juga gerakan-gerakannya tidak terkontrol
dengan baik lagi. Oleh karena itu setelah Yap Kiong Lee yakin
bahwa kata-katanya tak mungkin bisa menyadarkan lawannya,
ia mulai membalas serangan-serangan yang ditujukan
kepadanya. Dan serangan-serangan balasannya itu benarbenar
merepotkan lawannya. Akhirnya gadis itu tertotok roboh
oleh jari-jari Yap Kiong Lee yang ampuh !
Bertepatan dengan saat itu di atas tebing kelihatan
beberapa sosok bayangan berdiri berjejer-jejer mengawasi
Yap Kiong Lee dengan mata menyala. Salah seorang di
antaranya adalah wanita, yang dalam keremangan malam
tidak begitu jelas raut wajahnya.
"Nah, apa kataku..... bukankah Siau Put-sia berada di sini?
Telah kudengar jeritannya tadi…" wanita itu menunjuk ke
bawah. Tubuhnya yang tinggi ramping itu bergoyang-goyang
seperti pohon yang-liu (cemara) tertiup angin, sehingga Yap
Kiong Lee menjadi terpesona dibuatnya.
"Hong-cici.... !!" lawan Yap Kiong Lee yang disebut dengan
nama Siau Put-sia itu menjerit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang orang yang berada di atas tebing itu segera
berloncatan turun dan berpencar dalam posisi mengepung.
Dua orang di antaranya bergegas lari menghampiri Siau Putsia,
untuk membebaskannya dari totokan Yap Kiong Lee.
"Siau-sumoi... !"
"Ji-suheng! Sam-suheng....." mata Siau Put-sia merah
berkaca-kaca, siap untuk meledakkan tangisnya.
Benarlah, begitu bebas, gadis itu segera menubruk dan
membenamkan kepalanya di dada wanita ayu tersebut.
Tangisnya benar-benar meledak tak terbendung Iagi! Begitu
sedihnya tangis itu sehingga semuanya menjadi heran dan
curiga. Tak biasanya gadis cantik yang amat lincah dan bengal
itu menangis demikian memilukan!
“Put-sia, ada apa...? Kenapa kau menangis demikian
sedihnya?” alis yang sangat indah itu berkerut. Jari jarinya
yang halus itu juga membelai rambut Siau Put sia, sehingga
gadis malang itu semakin menjadi-jadi tangisnya.
Sementara itu bagaikan sebuah patung batu, Yap Kiong Lee
berdiri tertegun di tempatnya. Matanya terbelalak memandang
wanita yang luar biasa cantiknya itu. Semakin lama ia
memandang, semakin yakin pula hatinya, bahwa wanita itu
pernah dilihat dan dikenalnya !
Sebaliknya, wanita tersebut tidak menyadari kalau dirinya
sedang diperhatikan oleh Yap Kiong Lee. Ia sedang sibuk
memusatkan perhatiannya kepada gadis yang menangis di
dadanya. Wanita itu menduga, tentu ada terjadi sesuatu yang
hebat yang menimpa diri gadis ini sehingga menangis
demikian sengsaranya.
"Put-sia... kau kenapa? Ayoh, katakan saja! Apakah laki-laki
itu telah menggodamu...?" tanyanya dengan suara gemetar,
seolah olah wanita itu sudah dapat menebak apa yang telah
terjadi. "Put sia...??"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi yang ditanya tidak menjawab, tangisnya justru
semakin bertambah hebat.
"Kurang ajar.....! Kauapakan sumoiku?" tiba-tiba salah
seorang suhengnya yang tadi memunahkan totokan Yap Kiong
Lee, melompat ke depan dengan garangnya. Tangannya
terayun deras ke arah kepala pemuda itu. Suaranya tajam
mengaung, sehingga diam-diam Yap Kiong Lee tercekat di
dalam hatinya, ia benar-benar berhadapan dengan lawan
berat sekarang !
"Tunggu.....!!!" pemuda itu mengelak dengan tidak kalah
gesitnya. "Jangan sembarangan menuduh orang! Aku benarbenar
tidak tahu apa yang terjadi. Malah akulah yang
menolong gadis itu ..”
"Bohong.... !" orang yang menyerangnya berteriak pula.
"Lihat keadaan dirimu itu? Kenapa kaubuka pakaianmu kalau
kau tak bermaksud kurang ajar terhadap sumoiku? Huh!
Jangan harap kau bisa menyelamatkan diri dari hukuman
kami!"
"Plaaaak !"
Kedua tangan mereka yang penuh tenaga itu saling
bertemu satu sama lain. Yap Kiong Lee tergetar mundur dua
langkah, sementara lawannya tampak terhuyung huyung
beberapa langkah ke belakang dan hampir jatuh.
"Sam-te (adik ketiga) ......" seorang lagi yang tadi juga
menolong Siau Put-sia, datang memeluk orang itu.
Tapi orang itu segera melepaskan pelukan kakak
seperguruannya.
"Aku belum apa-apa, ji-suheng! Aku terlalu memandang
remeh kekuatannya, sehingga aku cuma mengerahkan
separuh bagian dari tenaga dalamku. Kauminggirlah. Biarlah
adikmu saja yang menghajar dia, agar dia tidak berani mainmain
lagi dengan Bing-kauw.....!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi kau berhati-hatilah......! Kulihat orang itu memang
berkepandaian tinggi."
"Jangan khawatir, Ji-suheng, percayalah kepadaku !"
adiknya berkata mantap. “Bagaimanapun perkasanya dia, tak
mungkin mengalahkan kebijaksanaan! Ibarat besi, meski kuat
dan keras, akan tetap mencair melawan api......”
"Bagus. Samte! Tapi kebijaksanaan itu tidak cuma milik
satu orang saja di dunia ini. Kalau dia membawa air, apipun
tak ada gunanya lagi ..."
"Ah, Jisuheng! Bukankah banyak tanah di tempat ini?"
"Ya ! Tapi kau lupa bahwa dia... adalah besi!"
"Ohh....?!” adik seperguruannya terdiam. "Lalu
bagaimana.....?"
Kakak seperguruannya tersenyum. "Ikuti sajalah aliran
sungai.....!"
"Baik !” su-tenya mengangguk.
Kemudian dengan langkah perlahan orang itu maju ke
depan Hong lui kun lagi. Wajahnya sudah tidak merah padam
seperti tadi. Kini orang itu bersikap lebih sabar dan tenang.
tidak Kasar dan berangasan seperti sikapnya semula. Orang
itu benar-benar menuruti dan mengindahkan nasihat
suhengnya.
Kini justru ganti Yap Kiong Lee yang menjadi bingung dan
serba salah! Selain merasa serba salah karena tidak dapat
membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, pemuda itu juga
bingung mendengar percakapan kedua orang yang aneh-aneh
dan seperti berbau filsafat itu. Dia memang sering mendengar
dan membaca filsafat filsafat kuno, biarpun tidak pernah
mempelajarinya secara bersungguh-sungguh. Apalagi sampai
mendalaminya. Meskipun demikian, paling tidak ia bisa
berfilsafat serba sedikit. Tapi mendengar percakapan mereka
tadi sungguh-sungguh merasa pening! Cara mereka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengungkapkan kata-kata filsafat yang seenaknya sendiri itu
benar-benar memusingkan orang !
Yap Kiong Lee memang sudah pernah mendengar serba
sedikit tentang Aliran Bing-kauw. Baik tentang ajaran
ajarannya maupun tentang ciri dan keanehan para
penganutnya. Pemuda itu juga tahu bahwa di dalam Aliran
Bing kauw banyak berkumpul tokoh-tokoh sakti yang jarang
ada tandingannya di dunia kang-ouw. Oleh karena itu dia
mulai berpikir, apa yang sebaiknya ia lakukan dalam peristiwa
seperti ini.
Sementara mereka saling bersitegang, wanita ayu itu
membawa Siau Putsia ke tempat yang agak lapang dan bersih.
Tangis dara itupun sudah mulai reda, sehingga di antara
isaknya sudah dapat diajak berbicara.
"Siau Put-sia. .. ? Apakah sebenarnya yang terjadi padamu
? Apakah pemuda yang bertelanjang dada itu benar-benar
telah mengganggu engkau ? Ayolah, anak manis........
kaujawablah pertanyaan cicimu ini! Benarkah dugaan cicimu
itu ? Benar… ?" wanita ayu itu mendesak dengan suara yang
halus dan lembut.
Gadis itu mulai tersedu-sedu kembali. Sukar benar rasanya
menjawab pertanyaan yang sangat menyedihkan hatinya itu.
Oleh karena itu ia hanya mengangguk-angguk saja ketika
cicinya terus mendesak juga.
“Hah ?!? Jadi kau benar-benar di. . di....? Oh, manusia keji
!"
“Ciciii.... Uh-huuuu..... uh-huuuuuu......” gadis itu kembali
menangis keras keras.
Wajah cantik dari wanita ayu itu berubah menjadi pucat
seperti kertas. Matanya yang bulat cemerlang itu terbelalak ke
depan, memandang ke arah pertempuran antara kawannya
dengan laki-laki keparat yang telah memperkosa adiknya itu.
Lalu perlahan-lahan wajah itu berubah kemerah-merahan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sementara mulutnya yang berbentuk indah itu tampak
merapat sehingga giginya terdengar saling beradu dan
menimbulkan suara gemeretuk.
"Iblis keji ! Hmm ... BUNUH DIA!!" tiba-tiba bibir yang tipis
itu berteriak dengan suara bergetar, tangannya menunjuk ke
arah Yap Kiong Lee !
Bagaikan mendapatkan aba-aba, orang-orang Bing-kauw
yang berada di tempat itu segera maju menyerang Yap Kiong
Lee ! Dengan kemarahan yang meluap-luap mereka
mengeroyok untuk segera dapat membunuh pemuda kurang
ajar itu.
Tentu saja Yap Kong Lee menjadi repot bukan main. Baru
melawan dua orang kakak beradik seperguruan itu tadi saja
belum tentu menang, kini harus pula melawan yang lainlainnya.
Oleh karena itu hanya dalam tempo yang singkat ia
telah terdesak dengan hebat ! Ilmu silat Aliran Bing kauw yang
sangat aneh aneh itu, benar-benar membingungkannya.
Untunglah ilmu yang ia pelajari sudah demikian mantap, serta
pengalamannya pun sudah matang, sehingga bagaimana pun
juga sulitnya ia masih bisa mempertahankan diri.
Sementara itu Siau Put-sia belum reda juga tangisnya.
Dengan sedih gadis itu masih terisak-isak di dalam dekapan
wanita ayu tersebut. Malahan dari sepasang mata cicinya itu
kini tampak mengalir pula air matanya yang bening.
"Sudahlah, Put-sia... .! Berhentilah menangis! Aku tahu
betapa sedihnya hatimu...... cici juga pernah...." wanita itu
menghentikan kata-katanya dan menghela napas berat sekali.
Siau Put-sia cepat-cepat melepaskan pelukannya. Dengan
wajah sendu serta muka berurai air mata ia menatap cicinya
yang cantik bagai bidadari itu. "Cici, kau...... kau tidak marah
kepadaku ? Kau...... kau dapat memahami kesengsaraanku?
Kau,,,. kau.... oh, tapi bagaimana dengan suhu nanti?" gadis
itu mulai mau menangis lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wanita ayu itu cepat meraih Siau Put sia serta memeluknya
lagi.
"Jangan takut ! Apakah kaukira suhumu itu seorang yang
bengis dan kejam ?" wanita itu membujuk. "Dengarlah.....!
Dahulu akupun mengalami juga perlakuan seperti yang
kaualami ini. Padahal saat itu aku juga masih remaja puteri
seperti engkau sekarang ini. Coba bayangkan, betapa
sedihnya hatiku pada saat itu ! Begitu sedihnya sehingga
cicimu memutuskan untuk bunuh diri saja. Untunglah suhumu
datang menolong. Dengan penuh kelembutan dan kasih
sayang beliau membimbing tanganku agar dapat tegak
kembali dan menikmati lembutnya sinar matahari setiap
pagi..."
"Cici..... kau..... kau?" Siau Put-sia terbelalak mengawasi
cicinya. "Jadi kau..... dahulu itu.., juga diperkosa orang?"
"Benar! Memang demikian. Tapi kaulihat sekarang cicimu
masih bisa berbahagia dan menjadi orang tua yang baik,
bukan... .?"
"Ah, cici....! Kau ini berbicara seperti seorang nenek-nenek
saja. Bukankah usia cici terpaut tidak banyak denganku?
Bukankah suhu membawamu pulang baru dua tahun yang
lalu.....? Cici ini bisa saja....." gadis itu mulai kelihatan cerah
mukanya.
"Ya.... tapi aku akan menjadi isteri suhumu sekarang!
Dipandang dari jalur tingkatannya, aku sekarang akan menjadi
orang tua.... orang tua yang amat berbahagia....." wanita itu
tersenyum sambil mengusap air mata yang tadi membasahi
pipinya.
"Benarkah cici merasa berbahagia di samping suhu? Ah, cici
tentu berbohong kepadaku." Siau Put-sia menengadahkan
mukanya. "Aku sering melihat cici duduk melamun,,,.."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wanita ayu itu tersentak kaget. Sekejap wajah yang molek
itu tampak murung, tapi sesaat kemudian kelihatan berseriseri
pula kembali.
"Ah, kau ini aneh-aneh saja. Tentu saja aku sering
melamun, karena aku pun sering teringat keluargaku. Aku.....
eh, Put-sia, apa yang kaubawa itu ?” wanita itu terkejut ketika
melihat topi berkerudung hitam yang masih dalam
cengkeraman Siau Put-sia.
“Ohh... ini.... Ini.... ini topi orang itu! Saya cengkeram dan
lepas dari kepalanya ketika ia,,.,, memper.... memperkosa
aku." gadis itu kembali gemetar mau menangis. Topi yang
aneh itu buru-buru ia lepaskan, seolah-olah terpegang oleh
gadis itu sebuah barang yang sangat menjijikkan.
Tapi lain halnya dengan wanita ayu tersebut.
Topi yang aneh itu cepat dipungutnya, kemudian dengan
teliti dipandanginya benda tersebut dari segala arah.
Wajahnya berubah menjadi merah padam secara mendadak !
"Put-sia ! Benarkah lelaki itu tadi mengenakan topi dan
kerudung ini ?” serunya dengan tegang. Wajah yang biasanya
lembut dan tenang itu tampak menjadi ganas dan kejam,
sehingga Put-sia menjadi ketakutan. Belum pernah gadis itu
melihat cicinya berwajah demikian!
"Be....... benar !”
"Bangsat keji ! Akhirnya kujumpai juga engkau .....!"
Jarak antara tempat mereka dan arena pertempuran
mungkin lebih dari pada lima tombak, tapi meskipun begitu
hanya dengan sekali lompat saja wanita ayu itu sudah dapat
mencapainya ! Benar-benar membuat semua orang yang
melihatnya menjadi kagum bukan main!
Dan begitu sampai, wanita itu Iangsung menghantamkan
ujung sepatunya ke arah tengkuk Yap Kiong Lee ! Suaranya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terdengar mencicit tajam, suatu tanda bahwa lwee-kang
wanita ayu tersebut benar-benar sangat tinggi.
Padahal keadaan Yap Kiong Lee saat itu sudah amat parah.
Beberapa kali pemuda itu terpaksa jatuh berguling-guling
karena harus menahan serangan lawannya yang bertubi-tubi,
terutama serangan dua orang laki-laki yang menolong Siau
Put sia tadi ! Ilmu silat kedua orang itu benar-benar sangat
tinggi, mungkin tidak kalah dengan ilmu silat adiknya Yap Tai
ciangkun.
Maka ketika ujung sepatu tersebut datang menghunjam ke
arah tengkuknya, Yap Kiong Lee sudah tak bisa berkutik lagi.
Seluruh anggota badannya sudah ia pergunakan untuk
melayani para pengeroyoknya. Yang dapat ia usahakan,
hanyalah menggeser posisi tubuh saja, sehingga ujung tumit
itu tidak jadi menghantam tengkuk tapi mengenai bahu
kanannya !
"Dhieeek !!"
Tubuh yang sangat perkasa itu terlempar jauh dan
berguling-guling. Tapi sedetik kemudian tubuh tersebut sudah
berdiri tegak kembali. Ternyata tendangan yang amat keras
itu tidak sampai membuatnya luka. Dengan menggeram kuat
pemuda itu telah bersiap-siap pula kembali.
"Kau.......?” sapanya, begitu tahu siapa yang datang.
"Benar! Kau masih ingat aku...? Gadis yang pernah kaubuat
sengsara ini?"
Yap Kiong Lee mengusap usap matanya dengan punggung
tangan, seakan-akan tak percaya lagi pada penglihatannya.
Seorang gadis yang pernah ia buat sengsara ? Rasanya ia
memang pernah mengenal gadis yang amat cantik ini, tapi......
membuatnya sengsara ? Ah, selama hidupnya seperti belum
pernah menyengsarakan seorang gadis. Apalagi gadis yang
luar biasa cantiknya seperti ini!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi....... tunggu ! Benar! ingat dia sekarang ! Tujuh atau
delapan tahun yang lalu ketika ia bersama ayahnya pergi ke
sarang Iblis Ban kwi-to untuk membebaskan adiknya Yap Kim
yang saat itu ditawan oleh Ceng-ya-kang, ia berjumpa dengan
beberapa orang muda-mudi berkepandaian silat tinggi,
sahabat dari Kaisar Han sekarang. Dan salah seorang di
antaranya adalah wanita yang kini berada di hadapannya itu !
Malah kalau ia tak salah, wanita ayu ini adalah sahabat karib
Ho Pek Lian, murid dari Kaisar Han itu !
Tapi hanya itu yang dia ingat. Setelah peristiwa tersebut,
rasanya ia tak pernah berjumpa lagi dengan gadis itu. Oleh
karena itu ia benar-benar bingung dan penasaran mendengar
tuduhan yang tak masuk akal tersebut. Menyengsarakannya ?
Gila, sungguh gila, pemuda itu menggeram di dalam hatinya.
"Nah, kau sudah mengingatnya...?" tiba-tiba wanita itu
mengagetkan Yap Kiong Lee dari lamunannya.
“Tunggu, nona.....!"
"Nyonya!" wanita itu menghardik. "Aku sekarang adalah
isteri Ketua Bing kauw !"
"Ohh.......... maaf!" Yap Kiong Lee mengangguk. "Tapi......
tapi aku.. aku benar benar tak mengerti apa yang nyonya
tuduhkan itu. Menyengsarakan..........? Menyengsarakan yang
bagaimana ?"
"Kurang ajar ! Pengecut ! Lupakah kau pada peristiwa yang
telah kaulakukan dua tahun yang lalu? Ketika kau
membohongi aku dengan mengatakan bahwa temanku telah
terluka parah ? Tapi ternyata aku hanya kauperalat untuk
memeras kawanku itu. Sehingga peti pusakanya dapat
kaurampas. Meskipun begitu engkau tetap belum puas.
Engkau masih juga membunuh dia dan.,.. dan…. dan
menyengsarakan kehidupanku! Kau benar-benar manusia
berhati iblis !”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nona... eh, nyonya. . apa apa yang kaukatakan itu? Aku
benar-benar tak mengerti!" Yap Kiong Lee menoleh kesana
kemari dengan perasaan bingung.
"Huh, pengecut besar! Kau tidak usah mungkir! Lihatlah
ini!" wanita itu membentak sambil membanting topi
berkerudung hitam yang tadi dibawa oleh Siau Put sia. "Nah,
milik siapakah benda itu? Jawab !"
“Ohh!?” Yap Kiong Lee terbelalak.
Hmm, benar-benar celaka pemuda itu menggerutu dalam
hati ! Ternyata wanita itu juga pernah menjadi korban orang
berkerudung itu. Celakanya dia yang tak mengetahui apa-apa
malah dituduh sebagai pelakunya. Tapi untuk menjelaskan
kepada mereka sekarang, apa sebenarnya yang telah terjadi,
tentu takkan mereka percaya begitu saja. Wanita itu sudah
sangat yakin bahwa dialah yang telah menyamar sebagai
orang berkerudung itu. Oleh karena itu jalan satu-satunya
hanyalah melarikan diri dulu untuk sementara dari hadapan
mereka. Dan selanjutnya ia harus bisa membuktikan bahwa
bukan dirinyalah yang berbuat itu. Atau paling tidak dia harus
bisa mempertemukan orang-orang ini dengan orang
berkerudung yang sesungguhnya.
Begitulah ! Setelah memperoleh keputusan demikian, Yap
Kiong Lee segera bersiap siap untuk lolos dari tempat itu.
Selurub tenaga dalamnya ia kerahkan sepenuh penuhnya,
sementara kaki dan tangannya telah siaga untuk memainkan
ilmu Silat Angin Puyuh kebanggaannya!
Melihat gelagat tersebut si wanita ayu segera memberi aba
aba kepada kawan-kawannya.
“Bunuh orang ini ! Jangan biarkan dia lolos!" Tanpa diulang
lagi, orang-orang itu segera menyerang Yap Kiong Lee ! Tapi
pemuda sakti yang telah bersiap siaga ini segera menyambut
pula dengan hangat. Sepasang tangannya tampak meluncur
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ke depan dalam pukulan Thian-lui gong-ciang yang maha
dahsyat !
"Buuuumm! Buuuuumm….!" Bagaikan kilatan petir yang
meledak, pukulan jarak jauh itu menyambar para
pengeroyoknya. Tapi ternyata orang-orang Bing kauw tersebut
juga tidak kalah cerdiknya. Mereka sadar bahwa kekuatan
perorangan mereka masih jauh di bawah Yap Kiong Lee. Maka
dari itu mereka enggan untuk beradu tangan seorang lawan
seorang. Dengan cerdik mereka menyongsong setiap pukulan
lawan secara bersama-sama ! Akibatnya, pukulan Yap- Kiong
Lee yang amat dahsyat itu menjadi pudar dan sedikitpun tak
mempunyai pengaruh apa apa terhadap lawannya.
“Gila! Orang-orang ini kelihatannya sudah biasa terlatih
untuk bertempur secara bersama-sama. Mereka dengan cepat
bisa saling menyesuaikan diri dan saling melindungi !” pemuda
ahli waris Sin kun Bu-tek itu menggerutu tak habis-habisnya.
Begitu juga keadaannya ketika pemuda itu memainkan ilmu
Silat Angin Puyuhnya. Dua orang kakak beradik seperguruan
yang sejak semula sudah bertempur dengan dia itu segera
merubah pula cara bersilat mereka. Bagaikan orang tidak
waras kedua orang itu mulutnya berceloteh tidak keruan
sementara tingkahnya dalam bersilatpun bukan main anehnya
!
Dalam tiupan angin yang membadai akibat kedahsyatan
Ilmu Silat Angin Puyuh Yap Kiong Lee, kedua orang itu tampak
terhuyung-huyung dan berjingkrak jingkrak bagaikan orang
gila !
"Ada kuda sedang bunting, haha hihi.. ! Tapi... meski
bunting, tak ada anaknya!" yang muda tertawa terkekeh
kekeh. Sambil tertawa ia menirukan jalannya seekor kuda
yang sedang bunting. Cuma ketika lewat di samping Yap
Kiong Lee, sepasang kakinya benar-benar menyepak ke arah
kepala pemuda itu dengan ganas. Untunglah pemuda itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cukup waspada. Hampir saja kepalanya benar-benar terlepas
kena sepakan kuda yang menggelikan tersebut.
Ketika Yap Kiong Lee segera membalas sepakan kuda itu
dengan jurus Kan-seng-kai-pei (Memandang Bintang
Menghaturkan Cawan), orang itu buru-buru meloncat mundur
sambil berteriak-teriak ketakutan.
“Tolong - tolong ! Dia mau membelejeti celana dalamku!
Hoa..... hoaaa.....!”
Orang itu mundur sambil memegangi tali celananya,
sementara kedua lututnya diangkatnya bergantian. Hanya
anehnya, setiap lutut itu diangkat, tentulah persis dan
bertepatan dengan datangnya pukulan Yap Kiong Lee.
Sehingga seperti tidak disengaja, gerakan lutut itu selalu
memunahkan serangan lawan !
"Hihihi haaaha, ... kuda bunting! Hohoho.....! Lihat!" tiba
tiba kakak seperguruan orang itu berjingkat-jingkat pula
mendekati. "Kuda jantan yang membuntingimu telah datang,
he-hehehe…!”
Sambil berjingkat hidungnya mendengus-dengus,
pantatnya megal-megol. Dari arah samping gayanya itu persis
seekor kuda jantan yang sedang mabuk birahi. Anehnya,
setiap pantat itu tertuju kearahnya, Yap Kiong Lee merasakan
hembusan angin tajam yang amat kuat melanda dirinya !
Begitu kuatnya sehingga dapat menahan angin pukulan Thianlui
gong ciang!
"Gila! Benar-benar dunia sudah gila! Ilmu silat apa pula
ini.....?” Yap Kiong Lee kebingungan.
Pemuda itu tidak tahu bahwa kedua orang lawannya ini
adalah murid langsung dari ketua Bing-kauw sendiri, Putcengli
Lo-jin ! Oleh karena itu tidaklah heran kalau mereka
sangat lihai dan mewarisi ilmu-ilmu aneh dari alirannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Put-ceng-li Lo-jin mempunyai empat orang murid, dan
semuanya telah mewarisi seluruh ilmunya yang aneh-aneh!
Muridnya yang pertama adalah Put sim-sian (Dewa Tak
Berperasaan), seorang jago silat yang tak pernah keluar dari
pintu perguruannya, oleh karena itu sering mewakili tugastugas
gurunya bila sedang berhalangan. Murid kedua dan
ketiga adalah orang-orang yang kini sedang bertempur
melawan Yap Kiong Lee. Mereka adalah Put-swi-hui (Hantu
Tak Berdosa) dan Put ming-mo (Setan Tak Bernyawa). Sedang
murid yang terakhir adalah Put-sia Nio-cu atau gadis yang
dipanggil dengan sebutan Siau Put-sia itu tadi. Selain mereka,
Aliran Bing-kauw masih mempunyai seorang "sesepuh" yang
hampir tak pernah keluar dari gua pertapaannya. Dia adalah
Put chien-kang Cin-jin (Pendeta Yang Tidak Waras), kakak
seperguruan Put ceng-li Lo-jin sendiri. Dan Pendeta Yang
Tidak Waras ini juga mempunyai seorang murid yang tidak
kalah gilanya dengan dia sendiri, namanya Put-pai siu Hong jin
(Si Gila Yang Tak Punya Malu) !
"Hehe.... seekor kuda ingin membuntingi singa ! Hoho,...
bisa tidak, yaa..,?" Put-swi-kui yang megal-megol itu tertawa
pringas-pringis (Hong-lui-kun yang perkasa itu mereka
ibaratkan seekor singa).
Tiba-tiba tubuh yang megaI megol itu melesat ke atas dan
menubruk ke arah punggung Yap Kiong Lee. Gerakan itu
dilakukan seperti hanya sambarangan saja dan kelihatannya
cuma main-main belaka ! Tapi bukan main terperanjatnya Yap
Kiong Lee ketika mendadak sepasang kaki dan tangan orang
itu mencakar ke arah pelipisnya dan menendang ke arah
pinggangnya ! Gerakannya cepat bukan kepalang dan
kekuatannyapun benar-benar susah diukur. Tahu-tahu
serangan orang itu telah menempel pada kulitnya !
Repotnya lagi, bersamaan dengan datangnya serangan Putswi-
kui tersebut, Si Kuda Bunting Put-ming-mo juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melancarkan cengkeraman maut ke arah ulu hati Yap Kiong
Lee. Sambil menyerang tak lupa mulutnya berceloteh.
"Hihi - ha ha..... mengapa kawin saja tak bisa ? Apa
salahnya kuda mengawini singa? Toh sama-sama
binatangnya? Hihi…! Ayolah kubantu ! Hahahhah.. Si Kuda
Bunting membantu jantannya untuk kawin lagi ! Haha-hoho ..
rusak! Rusak ! Dunia benar-benar sudah rusak !”
Dapat dibayangkan, betapa gawatnya keadaan Yap Kiong
Lee saat itu. Serangan Put swi-kui sudah menempel pada
kulitnya ! Padahal tanpa diduga-duga Put-ming-mo juga
menyerang ulu hatinya ! Dan yang terang pemuda itu sudah
tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak. Oleh karena itu
satu-satunya jalan cuma bertahan dan berusaha melindungi
diri dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ! Selain
itu, guna menghindari akibat yang lebih parah, Yap Kiong Lee
menggeliatkan tubuhnya sedikit agar serangan lawan tidak
langsung mengenai pelipis dan ulu hatinya.
"Hhhilee !!"
"Heeek !"
Yap Kiong Lee terjerembab dan berguling-guling di atas
tanah. Sekejap ia meringis kesakitan, kepalanya terasa pening
dan dadanya terasa ngilu ! Celakanya, belum juga dia sempat
berdiri, lawan-lawannya yang lain telah datang pula
menggempurnya.
"Bangsat ! Orang-orang tidak waras ini benar-benar telah
memaksa aku untuk mempergunakan pedang…."
Dan sesaat kemudian, sebat dan cepat bagaikan kilat, Yap
Kiong Lee menghunus sepasang pedang pendeknya, lalu
menyongsong gempuran orang-orang tersebut keras lawan
keras!
"Breees ! Croooot !”
"Hwuaah! Aduuuuh!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ohhh..... kantung nasiku!"
"Lhuh? Ke mana lenganku.....?"
Sekali lagi Yap Kiong Lee terlempar berguling-guling ke tepi
sungai ! Tapi di lain pihak para pengeroyoknyapun tampak
jatuh bergelimpangan tergores pedang pendeknya. Sepasang
pedang pendek yang tersembunyi di balik lengan baju itu
sungguh tak diduga oleh lawan-lawannya. Untunglah pemuda
itu tak bermaksud membunuh mereka.
Dan dalam kesempatan selagi mereka terpukau oleh
kejadian tersebut, Yap Kiong Lee cepat-cepat menghambur ke
dalam sungai. Byuuur ! Selamatlah dia.....
"Kejar dia..,. !" wanita ayu itu menjerit.
Tapi dengan sangat tangkas Yap Kiong Lee segera
menyelam dan berenang ke seberang. Kemahirannya bermain
dalam air sejak kecil sungguh amat menguntungkannya.
(Sejak kecil hingga dewasa, Yap Kiong Lee dan adiknya tinggal
di tengah-tengah telaga bersama ayahnya. Malah bekas
gedung perkumpulan Thian-kiam pang yang dipimpin oleh Yap
Cu Kiat, ayahnya, juga didirikan di tengah-tengah telaga
tersebut.)
Beberapa saat kemudian pemuda itu telah mendarat di
seberang. Sambil melambai-lambaikan tangannya ia berteriak
ke arah lawan-lawannya yang berdiri mendongkol di tepinya
yang lain.
"Kalau ingin mengejar aku, pergilah ke Pantai Karang dua
hari lagi! Kutunggu kalian di sana, tepat di waktu tengah
malam.....!"
Ada beberapa orang Bing kauw yang mencoba untuk
berenang pula ke seberang, tapi baru beberapa langkah sudah
kembali lagi. Sungai yang dalam dan lebar itu terlalu deras
arusnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kurang ajar!" wanita ayu itu menghentak-hentakkan
kakinya ke tanah, hatinya mendongkol sekali. Untunglah
kedua orang murid suaminya, Put swi-kui dan Put-ming-mo
segera membujuknya.
"Sudahlah, subo..... Biarlah dia lolos kali ini. Lain kali kita
takkan lengah lagi. Kalau kata-katanya benar, dua hari lagi
kita dapat menangkapnya di Pantai Karang. Cuma kita harus
waspada dan hati hati menghadapinya. Kalau dia sampai
berani menantang kita seperti itu, tentu dia sangat yakin
bahwa dia akan menang. Mungkin dia akan mempersiapkan
teman-temannya untuk menghadapi kita.” Put-swi-kui, yang
ketika bertempur dengan Yap Kiong Lee tadi bersikap seperti
orang gila, kini ternyata dapat mengeluarkan ucapan yang
baik dan urut.
"Benar! Toh Siauw-sumoi juga sudah dapat kita selamatkan
..." Put-ming mo menambahkan. Orang ini benar-benar tidak
menyangka bahwa persoalannya tidak hanya sesederhana itu !
Wanita itu tampak kesal bukan main.
“Cici........” tiba-tiba Put-sia Nio cu menyentuh lengannya.
"Oh, Put-sia…..”
Wanita ayu itu memeluk Put-sia Nio-cu, demikian pula
sebaliknya. Keduanya, saling berpelukan untuk beberapa saat
lamanya, seakan-akan mereka ingin saling menghibur
kedukaan hati masing-masing.
Tapi sikap mereka tersebut membuat yang lain menjadi
bingung dan tak habis mengerti. Semuanya mengerutkan dahi
dengan mulut meringis. Mereka sungguh tak habis pikir, apa
sih yang ditangisi oleh perempuan-perempuan itu?
Huh, dasar wanita...., gerutu mereka di dalam hati ! Cuma
persoalan begitu saja dipikir sampai mendalam. Pakai
menangis pula lagi. Kenapa sih? Toh ... Siau Put-sia telah
selamat? Apalagi yang mesti dipikirkan?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kalau toh misalkan perbuatan orang itu mereka anggap
suatu penghinaan, mengapa mesti susah-susah juga ? Cari
saja pemuda kurang ajar itu dan...... bunuh ! Habis perkara!
“Ci-ci….? Apakah dia.....?" Put-sia Nio-cu melepaskan
pelukan kakaknya. Wajahnya yang cantik tapi sendu itu
menatap dengan penuh pertanyaan.
Lama juga wanita itu tak menjawab. Tapi ketika wajah
sendu yang berada di hadapannya itu terus mendesak, ia
mengangguk pula akhirnya. Air mata yang semula hanya
menggenangi pelupuk mata, menetes turun di atas pipinya
yang licin.
"Benar, Put-sia.....! Laki-laki berkerudung itu pulalah yang
menodaiku......" ucapnya Iirih.
Put-swi-kui dan adik seperguruannya Put ming-mo
mengajak kawan-kawannya untuk mengurus yang terluka.
Yang hanya terluka kecil mereka obati dengan obat bubuk
atau mereka olesi dengan cairan obat, sedang yang terluka
agak parah mereka balut dan digotong oleh teman-temannya
yang lain. Kemudian mereka naik kembali ke atas tebing dan
selanjutnya pergi meninggalkan tempat itu.
"Put-swi-kui dan Put-ming-mo ikut aku ke Pantai Karang !
Yang lain boleh pulang membawa yang luka dan melapor
kepada Put-ceng-li Lo jin......!" Wanita ayu itu memberi abaaba.
Tempat itu kembali sepi. Malam semakin terasa dingin.
Anginpun seakan-akan juga bertiup lebih kencang, sehingga
kabutpun seolah-olah juga dipaksa untuk turun lebih cepat
pula.
Yap Kiong Lee yang basah kuyup dan tak berbaju itu juga
merasa dingin. Sambil terbungkuk-bungkuk memeluk dada ia
melangkah mengikuti derasnya aliran sungai itu. Ketika terlihat
olehnya secercah sinar api di kejauhan, ia menjadi gembira
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bukan main. Dengan berlari-lari kecil, kakinya melangkah
mendekati.
Api itu kelihatannya amat dekat, tapi sudah sekian lamanya
ia berlari ternyata belum juga sampai. Baru setelah naik turun
jurang dan bukit kecil, sumber api itu kelihatan dengan nyata.
Dan kenyataan itu benar-benar sangat menggembirakan
hatinya.
Sebuah dusun kecil tampak ramai dan terang benderang
dengan obor-obor yang menyala di segala tempat. Suara
tambur dan gembreng terdengar menggema memeriahkan
suasana malam yang dingin. Terdengar suara sorak-sorai
gembira di antara riuhnya suara tambur dan gembreng yang
ditabuh.
"Ah, ada keramaian di sana......" Yap Kiong Lee tersenyum
gembira, Iangkahnya menjadi lebih cepat.
Tapi Iangkahnya berhenti dengan mendadak. Lapat-lapat ia
mendengar suara orang bertempur tidak jauh dari tempat itu.
Malah di antara dencingnya suara senjata ia mendengar suara
tertawa yang dikenalnya.
"Oh, suara Ceng-ya kang..... "
Berindap-indap Yap Kiong Lee mendekati tempat itu,
sebuah padang rumput, terletak di antara sungai dan dusun
tersebut. Dari jauh ia telah melihat beberapa orang bertempur
dengan seru. Dalam keremangan malam bayangan mereka
tampak berkelebatan seperti ayam berlaga. Sesekali teriakan
mereka menguak memecahkan kesepian malam.
Tapi belum juga Yap Kiong Lee dapat datang terlebih
dekat, terdengar suara mengaduh beberapa orang yang
kesakitan, kemudian....... sepi ! Dan begitu Yap Kiong Lee tiba
di tempat itu, yang ia dapatkan hanyalah mayat-mayat
bergelimpangan sementara di kejauhan didengarnya suara
derap kaki kuda yang berlari pergi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Uh ! Uh !”
"Hei ! Ada yang masih hidup......" Yap Kiong Lee berdesah.
Pemuda itu melompat datang. Bau amis yang amat keras
merangsang hidungnya, membuat pemuda itu semakin
berhati-hati dalam setiap langkahnya. Apalagi ketika dilihatnya
mayat-mayat itu berwarna kehijau-hijauan.
"Uh ! Uh !”
Yap Kiong Lee berjongkok. Dalam keremangan malam ia
melihat orang tersebut merintih sambil mendekap dadanya.
Dari sela-sela jari tangannya tampak mengalir darah. Tidak
seperti mayat-mayat yang lain, kulit orang itu tidak berwarna
kehijau-hijauan.
“Coba kulihat lukamu......" Yap Kiong Lee membungkuk.
"Sia….siapakah tu.....tuan..,..? Oh, to.... longlah aku !
Bawalah aku ke rumah ! Biarlah Kam Lo-jin yang mengobati
lukaku.....”
Yap Kiong Lee menotok beberapa jalan darah di sekeliling
luka itu, sehingga darah yang mengalir menjadi berhenti.
Kemudian sambil memanggul tubuh itu Yap Kiong Lee
bertanya, "Dimana rumahmu ?"
"Di pinggir dusun itu…..Rumah bes.... besar bercat
kuning...."
Yap Kiong Lee berlari menyeberangi padang berumput
tebal itu. Beberapa kali ia berpapasan dengan kelompok kuda
yang sedang memakan rumput. Kelihatannya tempat itu
merupakan sebuah peternakan kuda.
Yap Kiong Lee melihat sebuah rumah besar bercat kuning
di pinggir dusun. Rumah itu dikelilingi kandang-kandang kuda
yang amat banyak. Rumah itu sebenarnya merupakan rumah
yang amat besar dan bagus, sayang di bagian samping dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
belakang tampak retak-retak, mungkin diakibatkan oleh
gempa bumi yang terjadi beberapa waktu berselang.
Empat orang lelaki yang berjaga-jaga di depan rumah
menyuruh Kiong Lee berhenti.
"Siapa....?" salah seorang di antaranya bertanya. "Lo Sam
... aku! Aku.... aku terluka!" orang yang berada di atas pundak
Kiong Lee menjawab.
"Hei.....? Twa-ko? Kenapa engkau?" tiba-tiba keempat
orang itu kaget. Berebutan mereka menolong orang yang
terluka itu, sehingga hampir melupakan Yap Kiong Lee.
"Eh, sahabat... . marilah masuk!" salah seorang yang
mendadak teringat kepada pemuda itu segera
mempersilahkannya masuk.
Rumah itu menjadi gempar seketika. Beberapa orang
segera berlari ke belakang, memberi tahu pemilik rumah. Yap
Kiong Lee duduk diam di tempatnya. Matanya mengawasi
hiasan hiasan dari kertas yang dipasang di pendapa rumah
tersebut. Beberapa orang perempuan tampak sibuk di beranda
tengah. Kelihatannya mereka sedang merayakan sesuatu di
rumah besar ini.
Seorang pelayan datang memberi seperangkat pakaian
kepada Yap Kiong Lee, dan tentu saja diterima dengan senang
hati oleh pemuda tersebut. Bergegas ia mengganti pakaiannya
yang basah dan bersamaan dengan itu dari dalam rumah
keluar pemilik rumah yang mengenakan pakaian yang
gemerlapan. Di sampingnya mengikuti seorang tua yang
membuat Kiong Lee mengejap-ngejapkan matanya karena tak
percaya apa yang dilihatnya. "Kam Lo-cianpwe.,...!" desahnya
perlahan.
“Eh? Yap Siauw-hiap (Pendekar Muda Yap)..." orang tua itu
tak kalah kagetnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang tua yang tak lain adalah Kam Siong Ki, murid bungsu
mendiang Bu eng Sin-yok ong itu segera datang mendekati
Yap Kiong Lee. Sambil menggandeng lengan, kakek sakti itu
berbisik di telinga Yap Kiong Lee, "Eh, Yap Siauw-hiap .....!
Jangan panggil aku Kam Lo-cianpwe ! Aku cuma dikenal
sebagai orang tua yang bisa mengobati orang di daerah ini.
Dan aku tak ingin orang-orang di sini mengetahui siapa
sebenarnya aku ini. Biarlah mereka tetap menyangka
demikian...."
Sekali lagi kakek sakti yang tak ingin dikenal orang itu
menatap muka Yap Kiong Lee, lalu perlahan-lahan tangannya
menarik lengan pemuda ke depan, menghampiri pembaringan
yang dipergunakan untuk menidurkan orang yang terluka tadi.
Orang yang ada di tempat itu segera menyisih memberi jalan.
Dan si pemilik rumah yang ikut memeriksa orang yang terluka
itu bangkit menyongsong pula.
"Kam lo jin (Kakek Kam), dia baru saja berkelahi dengan
para pencuri kuda di dekat sungai. Keenam orang kawannya
telah tewas terkena racun pencuri-pencuri itu." pemilik rumah
itu memberi keterangan.
"Biarlah aku periksa lukanya....." Kakek Kam menyahut dan
memperkenalkan Yap Kiong Lee sebagai keponakannya.
"Ah, sungguh kebetulan sekali saudara Yap yang menolong
orangku. Kam Lo jin ini sudah kami anggap sebagai keluarga
sendiri. Itulah sebabnya beliau kami undang ke sini untuk
menghadiri pernikahan anak lelakiku malam ini. Sungguh tak
kusangka pencuri pencuri kuda itu mempergunakan
kesempatan selagi kami sekeluarga sedang sibuk
mempersiapkan perayaan ini."
Yap Kiong Lee membalas penghormatan tuan rumah tapi
dia tidak berkata sepatahpun. Pemuda itu tak ingin menakutnakuti
tuan rumah dengan mengatakan bahwa yang mencuri
kuda mereka bukanlah pencuri biasa, melainkan seorang iblis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari Ban-kwi-to. Hanya kepada Kam Song Ki pemuda itu
mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Kam Lo jin memeriksa luka orang itu dan mengobatinya.
Biarpun banyak mengeluarkan darah, tapi luka itu tidaklah
berbahaya. Hanya merupakan luka luar saja. Oleh karena itu
setelah diberi obat dan dibalut, Kam Lo Jin hanya
menyuruhnya beristirahat saja untuk beberapa hari.
"Lo-ya, utusan dari pihak pengantin perempuan telah tiba."
tiba-tiba seorang pelayan masuk memberi laporan. "Katanya
pengantin laki laki telah ditunggu kedatangannya....,.!”
“Hah? Mana mereka ? Wah, celaka...... aku belum siap."
pemilik rumah itu gugup.
Sekali lagi rumah itu menjadi ribut. Mereka bergegas
mempersiapkan pengantin lelaki dengan segala upacaranya,
sehingga semuanya melupakan kehadiran Yap Kiong Lee di
tempat itu. Kakek Kam yang ikut menjadi wakil pihak
pengantin lelaki juga tak punya waktu lagi untuk
mendampinginya. Tapi Yap Kiong Lee menyadari kesibukan
mereka. Sedikitpun pemuda sakti itu tidak berkecil hati
karenanya.
"Ayoh! Kau ikut sekalian dalam rombongan pengantin
ini...,!" Kam Song Ki mengajak Kiong Lee sebelum iring-iringan
itu berangkat.
“Ah, terima kasih Lo..... eh, Lo-jin!" Pemuda itu menolak.
“Wah, kalau begitu kau mampirlah di rumahku kalau ada
waktu. Kaucarilah aku di dusun Ho-ma cun..... sepuluh lie dari
tempat ini."
"Baik !"
Begitu rombongan pengantin itu berangkat, Yap Kiong Lee
juga berpamit untuk meneruskan perjalanannya. Mula mula
orang yang berada di dalam rumah itu melarangnya, begitu
juga orang yang ditolongnya itu. Tapi karena Yap Kiong Lee
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bersikeras juga untuk berangkat, mereka terpaksa
melepaskannya.
Yap Kiong Lee berjalan menyusuri jalan besar yang
membelah dusun kecil itu. Ia bermaksud menengok keramaian
itu pula. Beberapa orang laki perempuan tampak berbondongbondong
bersama anak-anak mereka. Tampaknya mereka
juga ingin menonton keramaian yang diadakan oleh Kepala
Kampung mereka, sehubungan dengan hajatnya
mengawinkan anak perempuannya yang sulung. Keramaian itu
tentulah sebuah keramaian yang diadakan secara besarbesaran,
mengingat besannya adalah Lo-wangwe, peternak
kaya di dusun mereka.
Rumah kepala kampung itu persis berada di perempatan
jalan, dan tempat tersebut telah padat dengan penonton yang
ingin menyaksikan pertunjukan wayang. Karena panggung
tempat pertunjukan itu didirikan di pinggir jalan, maka praktis
para penontonnya menjadi tersebar memenuhi jalan raya.
Sementara para pedagang kecil memanfaatkan keramaian itu
dengan menjajakan dagangannya di tepian jalan.
Yap Kiong Lee membaurkan dirinya di antara penonton
yang bertebaran di tengah jalan. Sambil menyilangkan kedua
lengannya di dada, pemuda itu bersandar pada gerobag kecil
yang diparkir di tepi jalan. Gerobag itu tertutup semua pintu
dan jendelanya, mungkin pemiliknya ikut pula bercampur di
antara penonton. Sedangkan kedua ekor keledai penariknya
dibiarkan mengorek-ngorek kotak tempat makanan yang
disediakan di depannya. Upacara perkawinan telah selesai
dilakukan. Sepasang pengantinnya telah dipersandingkan di
atas kursi yang disediakan. Para tamu mulai menikmati
makanan yang disuguhkan, sementara di ruangan depan juga
telah dimulai dipertunjukkan tari tarian rakyat yang amat
mempesonakan. Pihak tuan rumah memang sengaja
mendatangkan para penari itu dari kota.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semakin malam penonton semakin banyak, apalagi ketika
acara tari-tarian sudah selesai dan pertunjukan wayang telah
mulai dipertontonkan. Para penonton mulai berdesak-desakan
berebut tempat di depan panggung sehingga suasana menjadi
hingar-bingar dan ramai bukan main! Apalagi ketika para
pemain wayangnya telah mulai mempertunjukkan
kebolehannya di atas panggung, para penonton mulai bersuitsuit
dan bertepuk tangan dengan riuhnya.
Yap Kiong Lee tetap saja bersandar pada gerobag itu. Ia
enggan untuk ikut berdesakan di antara mereka. Sambil
menonton, sesekali ia memperhatikan orang-orang yang
berlalu-lalang di dekatnya. Siapa tahu ia berjumpa dengan
seseorang yang telah dikenalnya.
Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget. Sekilas matanya
melihat Tee-tok-ci dan Ceng-ya kang di antara kerumunan
orang di depannya. Tapi ketika ia menegaskan lagi, kedua
orang itu telah hilang dan tak kelihatan lagi bayangannya.
Jilid 17
SESAAT Yap Kiong Lee menjadi termangu-mangu.
Benarkah apa yang dilihatnya tadi? Ataukah semuanya itu
hanya karena bayangannya sendiri saja ? Ingin benar rasanya
dia mencari serta membuktikannya. Tapi bagaimana mungkin?
Kedua orang itu dapat bergerak gesit dan cepat seperti iblis,
padahal di situ berjubel demikian banyak orang !
Dan misalkan orang itu benar-benar ada di antara mereka,
akibatnya justru akan sangat berbahaya. Karena kalau kedua
iblis itu menjadi marah dan merasa terganggu kebebasannya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keduanya bisa menjadi pembunuh-pembunuh yang sadis. Bisa
saja keramaian yang demikian meriahnya ini berubah menjadi
arena berdarah yang mengerikan !
“Uh..... uh!"
Mendadak gerobak yang dipakai untuk bersandar Yap Kiong
Lee itu bergoyang-goyang. Dari dalam terdengar suara
keluhan lirih wanita, yang nada suaranya persis seperti orang
yang baru bangun dari tidur. Setelah itu terdengar pula suara
laki laki yang menyahut dengan perlahan pula. Dan beberapa
saat kemudian kedua buah suara itu terlibat dalam bisikan
mesra yang amat panas, sehingga Yap Kiong Lee yang
mendengarkannya menjadi merah padam mukanya.
Gerobak itu bergoyang semakin lama semakin keras serta
disertai suara tertawa yang semakin lama juga semakin keras,
sehingga akhirnya para penonton yang berada di sekitarnya
menjadi heran dan merinding. Beberapa orang di antaranya
mulai menyingkir dengan takut-takut. Mereka takut kalaukalau
dari dalam gerobak itu tiba-tiba muncul sesosok hantu
yang menakutkan.
Mendadak suara tertawa itu berhenti dengan tiba-tiba dan
sekejap kemudian terdengar suara gedubrakan yang keras,
disertai suara maki-makian kotor yang mendirikan bulu roma!
Dan sesaat kemudian terdengar perang mulut yang seru
diikuti dengan suara gedebag gedebug orang berkelahi.
Semua penonton yang berada di dekat gerobak itu segera
menyingkir ketakutan. Tinggal Yap Kiong Lee yang masih
tertegun di tempatnya. Dengan sikap waspada pemuda itu
bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi.
"Grobyaak! Bluuuk.....!"
Pintu gerobak itu jebol. Daun pintunya yang terbuat dari
kayu tebal terlempar dengan keras ke depan, menimpa keledai
penariknya ! Tentu saja binatang itu menjadi kaget dan
kesakitan, sehingga otomatis kakinya meloncat ke depan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sekuat kuatnya ! Bagai dihentak oleh tenaga raksasa, gerobak
kecil itu melayang ke depan, menerjang kerumunan penonton
yang memadati jalan raya tersebut.
Belasan orang penonton langsung menggeletak, terkapar
luka parah ! Sebagian besar anak-anak dan wanita !
Penonton-penonton lainnya langsung berlari cerai berai,
berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Beberapa orang wanita dan anak-anak kembali menjadi
korban lagi, mereka jatuh terinjak-injak penonton lainnya.
Teriakan-teriakan ketakutan, jeritan-jeritan putus asa dan
panik, serta tangisan anak-anak yang terlepas dari orang
tuanya, berkumandang bersahutan, mengalahkan ributnya
suara tambur dan gembreng yang ditabuh oleh para pemain
wayang ! Suasana yang kacau itu membuat si keledai semakin
menggila. Bersama dengan gerobak yang dihelanya, binatang
itu berputar-putar menerjang kemana saja, menceraiberaikan
para penduduk yang memadati jalan raya tersebut. Korban
bergelimpangan, baik yang disebabkan oleh amukan keledai
tersebut, ataupun yang disebabkan karena terinjak-injak
penonton lainnya ! Dan suasana menjadi makin kacau dan
mengerikan ketika dari dalam gerobak yang terguncangguncang
itu berjatuhan segala macam botol-botol, bumbung
bambu, guci-guci, kantong kulit dan sebagainya ! Bendabenda
tersebut pecah begitu jatuh atau terinjak, dan dari
dalamnya keluar segala macam binatang beracun seperti ular,
kalajengking, kelabang, lebah, ulat dan lain-lainnya !
Binatang-binalang itu langsung menyerang dan menggigit pula
karena kaget dan takut ! Korbanpun berjatuhan pula lagi!
Apalagi ketika beberapa buah di antara guci-guci itu ternyata
berisi bubuk-bubuk atau cairan-cairan beracun yang
mematikan! Benda-benda berbahaya itu menyiram tanah
memercik ke mana-mana, mengenai orang-orang yang
menginjaknya !
Bau amis, bacin dan busuk bertebaran menyelimuti seluruh
tempat pertunjukan itu. Belasan penonton Iangsung tergeletak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
begitu menyedot hawa atau udara beracun tersebut ! Mayatmayat
bergelimpangan, berserakan memenuhi arena
pertunjukan!
Para tamu yang berada di halaman rumah Kepala Kampung
juga tak luput dari musibah tersebut, ketika gerobak maut itu
menabrak pagar dan berputar-putar di antara jajaran kursi
yang tersedia. Tapi sebelum gerobak itu sempat menerobos
pagar, dua sosok bayangan lelaki perempuan tampak
melayang keluar dari gerobak. Keduanya berkejaran, meloncat
ke sana ke mari sambil sesekali berhenti untuk saling
mengadu kepalan. Mulutnya yang kotor itu tetap saling
mencaci dan memaki juga. Dan bersamaan dengan saat
gerobak maut itu mengobrak-abrik para tamu, sepasang iblis
lelaki perempuan itu juga meloncat kearah panggung wayang,
dan membubarkan para pemainnya.
“Lelaki busuk! Lelaki lemah tak berdaya! Kurus
berpenyakitan…..! Kubunuh kau!”
“Huh! Perempuan tua! Perempuan gembrot seperti kerbau!
Perempuan jelek….!”
“Oh, kau berani berkata begitu….? Suami macam apa itu?
Awas, akan kukuliti kulitmu dan akan kumakan jantungmu!”
“Hei, siapa sudi jadi suamimu? Kapan kita menikah? Huh,
enaknya.....!”
“Bangsattt……! Kubunuh kau! Kubunuh kaaauuuu……!”
Si iblis wanita yang bertubuh gemuk besar itu menyerang
kalang-kabut! Jari-jari tangannya yang berkuku panjang itu
menaburkan pasir beracun yang ganas. Akibatnya beberapa
orang pemain wayang yang belum sempat pergi menjadi
korban pula.
“Wah, suami isteri Im-kan Siang-mo (Sepasang Iblis dari
Neraka) dari Ban-kwi to….” Yap Kiong Lee bergumam marah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda itu terpaksa bertengger di atas pohon di pinggir
jalan untuk menghindari arus penonton yang kacau balau tadi.
Dari tempat itu ia dapat melihat dengan jelas amukan gerobak
yang ditarik keledai tersebut. Gemetar sudah tangannya untuk
menghentikan gerobak tersebut, tapi mengingat arena itu
sudah penuh dengan racun dan binatang-binatang berbahaya,
apalagi selain Im-kang Sian-mo tampak juga adanya Tee-tokci
dan Ceng-ya-kang pula, maka ia mengurungkan niatnya
untuk sementara. Terlalu berbahaya baginya!
Sebentar saja tempat pesta yang amat meriah itu berubah
menjadi arena berdarah yang sangat mengerikan!
Mengingatkan orang pada zaman peperangan besar beberapa
tahun yang Ialu. Mayat bergelimpangan di jalan, jerit tangis
memilukan dan suasana yang porak-poranda !
Yang amat mengherankan Yap Kiong Lee ialah mengapa
tak seorangpun dari pihak tuan rumah maupun besannya,
yang keluar untuk turun tangan mengatasi huru-hara tadi.
Sampai pada Kakek Kam yang ia tahu sangat sakti itupun juga
tidak kelihatan batang hidungnya. Baru setelah gerobak
beserta keledainya terjerumus di dalam parit dalam dan
Sepasang Iblis Im-kan Siang-mo berkelebat pergi, orang tua
itu tampak berlari-lari keluar rumah.
“Awas! Semua orang jangan menyentuh benda-benda yang
terkena racun iblis tadi ! Tanah, pohon, kayu, kursi, meja dan
sebagainya.....!" kakek itu memperingatkan semua orang yang
masih selamat.
Sementara itu melihat Kam Song Ki sudah keluar, Yap
Kiong Lee segera berkelebat pergi, menyusul Sepasang Iblis
Neraka tadi.
Hampir saja pemuda itu kehilangan jejak buruannya.
Sepasang iblis itu lenyap ditelan kegelapan malam ketika tiba
di tepian sungai. Kedua orang itu bagaikan hantu yang secara
tiba-tiba menghilang begitu saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tepian sungai itu banyak ditumbuhi semak-semak lebat
yang menjorok sampai ke tebingnya. Oleh karena itu Yap
Kiong Lee menyelusurinya dengan hati-hati sekali, siapa tahu
kedua tokoh Ban-kwi to tersebut bersembunyi di dalamnya.
Dan ternyata dugaannya memang benar. Sepasang telinganya
segera menangkap gemerisiknya daun yang diinjak orang.
Seorang laki-laki gemuk berkepala gundul tampak melintas
di hadapannya. Ceng-ya-kang! Hm, iblis itu lagi. Yap Kiong
Lee menggeram di dalam hati. Bukankah iblis gundul itu telah
membawa pergi kuda-kuda curian itu? Mengapa sekarang dia
berada di tempat ini lagi? Mengapa orang itu tidak lekas-lekas
pergi ke Pantai Karang? Ada urusan apa dia disini?
Yap Kiong Lee semakin meningkatkan kewaspadaannya.
Untunglah baju pemberian peternak kuda tadi berwarna agak
gelap, sehingga sangat menolong dia dalam kegelapan malam
itu. Dengan leluasa dia menyusup-nyusup mengikuti iblis Bankwi
to tersebut.
Tiba-tiba Ceng-ya-kang berhenti di bawah pohon siong tua
yang berada di dekat tebing yang menjorok ke tengah sungai.
Sekejap kemudian dari atas pohon meluncur turun seorang
kakek bertubuh kecil, yang tidak lain adalah Tee-tok-ci.
Mereka saling berbisik satu sama lain, sehingga Yap Kiong Lee
tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
Sementara itu Yap Kiong Lee malah mendengar suara cacimaki
Im-kan Siang-mo di atas tebing yang menjorok ke
tengah sungai itu.
“Nah! Bagaimana sekarang….perempuan busuk? Kendaraan
kita telah tiada. Benda-benda kesayangan kita yang kita
kumpulkan selama bertahun-tahun ikut lenyap pula.” Bouw
Mo-ko memarahi isterinya.
“Hei? Mengapa engkau malah menyalahkan saya?
Bukankah engkau kusirnya? Kalau gerobak sampai tak bisa
dikendalikan dan menabrak kesana kemari, bukankah itu
karena kegoblogan si kusir?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benar memang…..! tapi bagaimana aku bisa
mengendalikan gerobak, kalau engkau terus-menerus
memukul dan mau membunuh aku?”
“Nah! Itulah kegobloganmu....! laki-laki kurus....lemah!
mengapa engkau tidak bisa berkelahi sambil mengendalikan
gerobak?”
“Bangsat! Apa kau juga bisa? Huh, perempuan jelek yang
mau menang sendiri saja!”
“Apa katamu? Keparat! Kubunuh kauuuuu.....!”
Sepasang suami isteri itu saling berbaku hantam kembali.
Kali ini malah lebih seru lagi dari pada tadi. Kalau semula
perkelahian mereka Cuma sesaat-sesaat, yaitu mereka
lakukan sambil berlari-lari, sekarang mereka benar-benar
saling berhadapan beradu dada. Mereka tidak berlari-lari.
Mereka sungguh-sungguh bertempur habis-habisan sekarang!
“Hei! Hei! Berhenti.....!” Tee-tok ci dan Ceng-ya kang
berteriak berbareng.
Tapi mana mau kedua manusia sinting itu berhenti? Mereka
hanya melirik sekejap, lalu melanjutkan pertempuran mereka
lagi. Biarpun mereka tahu bahwa yang datang adalah kedua
orang suhengnya sendiri, tapi kedua orang itu tetap tidak
ambil pusing! Tentu saja Tee-tok ci dan Ceng-ya kang menjadi
marah dan merasa diremehkan sekali. Maka tanpa berpikir
panjang lagi keduanya langsung terjun ke arena dan ikut
bertempur diantara mereka. Tee-tok ci menghadapi Hoan Moli,
sedangkan Ceng-ya kang menahan Bouw Mo-ko!
“Kurang ajar! Toa-suheng, menyingkirlah….! Jangan
kauhalang-halangi aku! Akan kubunuh suamiku itu!”
“Huh! Bunuh saja perempuan jelek itu, Toa suheng! Jangan
sungkan-sungkan lagi! Aku sudah bosan mendengar
ocehannya.....” Bouw Mo-ko tak mau kalah suara.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Diam kau, cacing kurus!” Ceng-ya kang membentak sambil
menangkis serangan Bouw Mo-ko. “Kalau tak mau diam akan
kuludahi mukamu yang tak sedap itu!”
“Heh! Kalian berdua ini benar-benar seperti anak kecil yang
tak tahu diri saja. Kalau kalian memang tidak cocok dan saling
membenci satu sama lain..... huh, mengapa kalian tidak
bercerai saja?” Tee-tok ci ikut pula menghardik.
“Nah…..itu dia! Aku setuju!” Bouw Mo-ko berteriak.
“Diammm…..! kau memang ingin mencoba ludahku, yaa….?
Hmm, cuh…..cuh!” Ceng-ya kang menyemburkan ludah inti
racunnya.
Dengan tergesa-gesa Bouw Mo-ko memiringkan mukanya.
Meskipun begitu ternyata gerakannya itu belum dapat
membebaskannya dari serangan suhengnya. Gumpalan ludah
yang meluncur kearah wajah itu memang dapat ia hindari, tapi
percikan-percikan yang mengikutinya ternyata masih
bertaburan mengenai topinya. Terdengar suara berkeratak
seperti suara hujan yang menimpa genting, ketika topi itu
terlempar ke atas dengan lobang-lobang kecil pada setiap
permukaannya. Dengan wajah pucat Bouw Mo-ko meloncat
mundur.
Dan sebelum bentrokan diantara mereka berlangsung
kembali, Tee-tok ci tampak mengeluarkan alat tiupnya yang
terkenal itu.
“Semuanya berhenti…..! kalau tidak, peluitku ini akan
kubunyikan….dan kalian semua akan menjadi santapan tikustikus
sungai.” Ancamnya serius.
“Kalian semua ini memang benar-benar tak tahu diri!
Saudara seperguruan yang hanya tinggal enam orang
saja…..tak mau rukun juga. Mana bisa dihargai orang?” tibatiba
terdengar suara wanita yang datang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yap Kiong Lee yang berada di tempat persembunyiannya
terkejut pula di dalam hati. Dari tempat gelap, cuma beberapa
langkah saja dari persembunyiannya, muncul sepasang wanita
kembar yang dandanannya sangat menyolok dan berlebihlebihan.
“Wah, lengkap sudah mereka kali ini. Tadi Tee-tok ci, lalu
Ceng-ya kang, kemudian….Im-kan Siang-mo, sekarang….
Jeng-bin Siang-kwi! Sayang iblis yang nomer dua, Tiat-siangkwi,
sudah meninggalkan dunia…..”
“Sam sumoi dan Su sumoi.....” Tee-tok ci menyapa
perlahan.
“Kalian semua ini benar-benar teledor dan tak berhati-hati!
Sudah sekian lamanya diintai musuh tidak juga merasakan….!”
Jeng-bin Sam-ni mengomel marah.
“Hah?”
"Apa? Diintai musuh... .?"
Semuanya terkejut bukan main. Tak terkecuali Tee-tok ci,
orang tertua dan terlihai di antara berenam saudara
seperguruan itu. Mereka memandang tak percaya kepada
Jeng-bin Siang-kwi yang kembar tersebut. Tapi melihat
kesungguhan nada suara sepasang wanita itu mereka toh
menjadi berdebar-debar pula akhirnya. Dengan mata mendelik
mereka memandang ke sekeliling tempat tersebut.
Sementara itu Yap Kiong Lee yang berada di tempat
persembunyiannya ternyata tidak kalah terperanjatnya dari
pada mereka. Otomatis tenaga saktinya menyebar ke seluruh
urat-urat darahnya, siap untuk dikerahkan sewaktu waktu.
Tapi sebelum pemuda itu keluar dari tempat
persembunyiannya, dari bawah tebing tiba-tiba muncul lima
orang tua berseragam pengemis. Mereka rata-rata berusia
lima atau enampuluh tahun dan masjng-masing memegang
sebuah tongkat besi sepanjang lengan mereka sendiri. Biarpun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengenakan baju lusuh dan penuh tambalan, tetapi sikap dan
wajah mereka sedikitpun tidak mencerminkan wajah seorang
peminta minta.
Dan bersamaan dengan munculnya kelima orang pengemis
tersebut dari arah pobon siong dimana Tee-tok Ci tadi
bersembunyi, mendadak juga muncul dua orang gadis cantik
pula. Kedua orang gadis cantik itu mendaratkan kaki mereka
dengan manis di depan keenam iblis Ban-kwi-to tersebut.
Yang satu berwajah cerah dan bersanggul tinggi, sementara
yang lain agak kurus serta pucat ! Umur mereka sekitar
duapuluh tiga atau duapuluh empat tahun dan..... sama-sama
cantiknya !
Sekali lagi Yap Kiong Lee dibuat terkejut oleh kedatangan
mereka. Tapi bukan karena kecantikan mereka yang
mempesonakan itu yang mengagetkannya, tapi kenyataan
bahwa ia telah mengenal merekalah yang membuatnya
terperanjat. Yang berwajah cerah dan amat cantik itu adalah
Ho Pek Lian, murid dari Kaisar Han. Sedangkan yang berwajah
pucat dan kurus, tapi berbau wangi, adalah Kwa Siok Eng,
puteri ketua Tai-bong-pai !
Setahun yang lalu kedua orang gadis itu bersama dengan
Chu Seng Kun, telah pergi berkelana untuk mencari Chu Bwe
Hong yang Ienyap diculik orang !
“Hah?!?" tiba-tiba Yap Kiong Lee menepuk dahinya. "Ingat
aku sekarang! Wanita ayu .... wanita ayu yang bersama-sama
dengan orang Bing-kauw itu..... hah, bukankah…. bukankah
dia adalah Chu Bwe Hong? Wah, benar! Masa aku sampai lupa
juga?" pemuda itu sibuk sendiri dengan pikirannya.
Sementara itu suasana tegang dan mencekam telah
menyelimuti perjumpaan yang tak disangka-sangka tersebut.
Tee-tok-ci segera membelalakkan matanya begitu melihat
siapa yang datang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hoho hihi.... selamat berjumpa nona-nona cantik ! Lo-hu
sungguh tak mengira sama sekali kalau dapat bertemu dengan
musuh-musuh lama di sini. Haha, nona dulu sungguh
beruntung dapat lolos dari lorong jebakan di bawah tanahku
... "
"Ya.....! Dan sekarang giliran kami untuk membalas
perlakuanmu itu." Ho Pek Lian menjawab.
“Hihi-hohoho..... mau membalas? Ooo.....jangan harap!
Dulu kalian selamat karena ada Yap Lo-cianpwe dan puteranya
yang sakti (Yap Kiong Lee). Tapi kini kalian cuma ditemani
pengemis-pengemis kelaparan seperti ini. Hihi hahaah. ..!”
"Bangsat!” tiba-tiba salah seorang dari pengemis itu
membentak. "Kami tidak ada hubungannya sama sekali
dengan kedua orang nona ini....! Kami adalah utusan utusan
dari Keh-sim Siauw-hiap. Jangan ngawur....!"
“Ohh, begitu! Wah....jika demikian bakalan ramai, nih! Tiga
pihak saling berhadapan dan sebentar lagi kita bisa main
bunuh-bunuhan, eh-eh-eh….! Bukankah begitu, koko…..?”
Hoan Mo-li yang tadi baru saja berhantam dengan suaminya,
kini menggelendot manja.
“hmm, tentu saja…..kita dapat saling berlomba nanti siapa
yang paling banyak membunuh orang di tempat ini.” Bouw
Mo-ko tersenyum senang.
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng juga saling pandang dengan
bibir tersenyum, sedikitpun mereka tidak gentar menghadapi
tokoh-tokoh iblis dari Ban-kwi-to yang berdiri lengkap di depan
mereka.
Ho Pek Lian tampak menghunus pedangnya, sementara
Kwa Siok Eng mengeluarkan ikat pinggangnya yang panjang.
“Tee-tok ci! Ayuh! Apakah kita akan langsung saja
menyelesaikan hutang-piutang kita itu disini .....?” Kwa Siok
Eng yang kelihatan pucat dan lemah lembut itu menantang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Eh? Oh.....hoho, tentu saja !” kakek berperawakan kecil itu
sedikit tertegun malah, melihat keberanian si gadis, “Tapi.....
eh, tunggu sebentar ! Aku akan bertanya terlebih dahulu
kepada para tukang korek sampah itu...."
"Manusia bermuka tikus yang menjijikkan ! biarpun kami
seorang pengemis tapi tak pernah mengorek sampah seperti
katamu itu. Kami justru sudah terbiasa memberi ampun
kepada musuh-musuh kami. Hanya sekali ini….mungkin kami
tidak akan memberikannya kepadamu.” Salah seorang dari
pengemis itu menggeram marah.
“Heh? Oh ... hohoho, agaknya kalian juga mempunyai
keberanian pula. Tapi agaknya kalian belum mengenal siapa
kami ini, heheh..... heheh !”
“Persetan! Siapapun adanya kalian, kami kaum Tiat-tung
Kai-pang tidak pernah takut!”
“Wah, celaka….! Kali ini korban kita benar-benar Cuma
seorang pengemis! Dan.....hanya dari Tiat-tung Kai-pang pula!
Huh! Rugi....benar-benar rugi!” Hoan Mo-li yang sangat
cerewet itu membuka mulutnya lagi.
“Babi kurang ajarrrr.....! kalian sungguh menghina Tiattung
Lo-kai!” pengemis yang marah tadi meloncat maju.
“Lo-cianpwe, hati-hati…..” Ho Pek Lian memperingatkan
orang itu. “Mereka adalah iblis-iblis dari Ban-kwi to!”
“Ooh!” pengemis itu berhenti melangkah. Ternyata nama
Ban-kwi to itu sedikit menggetarkan dadanya juga.
Tee-tok ci tertawa melihat keragu-raguan orang.
“Nah! Mengapa kalian mengintai dan memata-matai kami,
hah?” tanyanya keras.
“Siapa….siapa memata-matai kalian? Huh! Kamilah yang
lebih dahulu berada di tempat ini, baru kemudian…..kalian!
lihat sampan-sampan kami di tepi sungai itu! Kalau kami
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang belakangan, bukankah kalian akan mendengar suara
kami?” jawab Tiat-tung Lo-kai marah, biarpun tidak segarang
tadi. Bagaimanapun juga nama Ban-kwi to tetap mengecutkan
hatinya. Bukan kepandaian atau kesaktiannya yang
menakutkan dia tetapi kehebatan racun mereka!
“Kami tidak peduli, kau datang lebih dulu atau datang
belakangan. Tapi yang jelas kalian telah mengintai kami.
Untunglah aku melihatnya……” Jeng-bin Su-nio mendengus.
“Dan…..hal itu sudah merupakan alasan bagi kami untuk
membunuh kalian secepatnya.” Jeng-bin Sam-ni
menambahkan.
"Benar ! Benar sekali......!” suami isteri Im-kan Siang mo
bertepuk gembira.
“Nah! Apa yang mesti kalian tunggu lagi? Ayoh, siapa yang
ingin mati duluan? Cuh! Cuh!” Ceng-ya kang yang sejak
semula hanya berdiam diri itu tiba-tiba meluncur ke depan,
menyerang Tiat-tung Lo-kai dengan semburan ludahnya yang
ampuh!
Tiat-tung Lo-kai mengelak sambil memutar tongkatnya di
depan dada, untuk menghalau percikan ludah itu. Tokoh ini
sering mendengar bahwa salah seorang dari iblis Ban-kwi to
ada yang gemar mempergunakan air ludah untuk membunuh
lawannya.
“Hai! Hai! Ngo-suheng…..!” Hoan Mo-li meloncat ke depan
sambil menjerit, diikuti oleh Bouw Mo-ko, suaminya. “Biar aku
dulu yang membunuh dia…..!”
“Eh, enaknya….! Aku dulu, dong…..!” Bouw Mo-ko segera
menyela tak mau kalah. “Ngo-suheng, berikan saja dia
padaku!”
“Kurang ajar, kau mau berebut lagi denganku? Baik!
Marilah kita tentukan dulu, siapa yang lebih jago diantara
kita…..! Heiitt!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua orang suami isteri itu kembali berkelahi lagi. Tapi
Tee-tok ci segera meniup peluitnya, sehingga kedua orang itu
segera menghentikan perkelahian mereka pula.
“Huh, manusia sinting! Kenapa kalian lanjutkan juga
perselisihan itu?” kakek bertubuh kecil itu membentak marah.
“Habis kami tak punya lawan yang lain lagi, sih…! Satusatunya
lawan kita telah diambil oleh Ngo-suheng." Hoan Mo-li
yang gendeng itu menjawab sekenanya.
"Hah, kalian benar-benar buta ! Tidakkah kalian lihat di tepi
sungai itu masih ada empat ekor tukang korek sampah yang
lain?"
"Apa? Masih... hei, benar! Koko, lihatlah ! Disana masih ada
yang lain.....!” Hoan Mo-li bersorak gembira.
Sepasang iblis itu langsung berebutan menghambur ke
arah lawan, yaitu empat orang pengemis yang tidak lain
adalah Tiat-tung Su-lo! Mereka segera terlibat dalam
pertempuran yang seru dan kasar.
“Wah, terus bagaimana dengan kita ini,cici...?” Ho Pek Lian
saling pandang dengan Kwa Siok Eng.
"Kenapa mesti bingung? Marilah kita yang sama-sama
wanita ini bermain-main berpasangan !” Jeng-bin Sam-ni dan
adiknya Jeng-bin Su-nio melangkah ke depan sambil
tersenyum.
Ho Pek Lian juga tersenyum. Tapi senyumnya mendadak
hilang ketika tiba-tiba dilihatnya sepasang iblis kembar itu
menaburkan sesuatu dari tempat bedaknya. Baunya sangat
harum dan bubuk lembut berwarna putih itu melayang tertiup
angin!
Belum juga Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng dapat menduga
apa sebenarnya maksud sepasang iblis kembar itu
menaburkan bedaknya, kedua tokoh Ban-kwi to tersebut
sudah menyusuli gerakannya dengan mengayunkan kaki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka ke depan. Kaki Jeng-bin Sam-ni terarah ke pusar Ho
Pek Lian, sedangkan kaki Jeng-bin Su-nio tertuju ke ulu hati
Kwa Siok Eng!
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng tidak mau mendesak
lawannya, maka tendangan itu sengaja tidak dielakkan oleh
mereka berdua. Dengan mengerahkan lwee-kang ke
lengannya, mereka menyongsong tendangan-tendangan
tersebut dengan pukulan!
“Dhuuukkk! Dhuuuukk!”
“Ciiiitt! Ciiittt!”
“Auuuuuuhgh….!”
Sepasang iblis kembar itu terpental ke belakang, kemudian
jatuh berguling-guling. Sebaliknya Ho Pek Lian dan Kwa Siok
Eng tampak terdorong mundur sambil memekik kesakitan.
Sambil menyeringai menahan sakit keduanya berusaha
mencabut jarum-jarum kecil yang menembus lengan mereka.
Sungguh tak disangka sama sekali oleh mereka, bahwa
bersamaan dengan beradunya kepalan tadi, dari ujung sepatu
lawan meluncur jarum rahasia yang mengenai lengan mereka.
Serangan itu demikian mengejutkan, sehingga keduanya tak
mampu lagi untuk mengelak.
Sementara itu Jeng-bin Siang-kwi segera bangkit kembali
dengan tangkas. Meskipun terpental keduanya ternyata tidak
mengalami luka apa-apa. Melihat senjata rahasianya dapat
mengenai sasaran hatinya gembira bukan main. Dengan
tertawa gembira keduanya meloncat ke depan dan menyerang
lawannya yang sudah tidak berdaya itu.
Yap Kiong Lee tertegun seperti patung batu ditempatnya.
Pemuda itu sungguh tak mengira kalau Ho Pek Lian dan Kwa
Siok Eng dapat terkecoh demikian mudahnya. Terluka pada
gebrakan pertama ! Sungguh tak masuk di akal !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Padahal sebagai murid Kaisar Han, Ho Pek Lian tentu
mempunyai kepandaian sangat tinggi. Begitu juga dengan
Kwa Siok Eng. Gadis puteri Ketua Tai-bong-pai itu malah
memiliki kesaktian yang lebih hebat lagi malah. Tapi hanya
dalam satu gebrakan mereka telah dapat dilukai oleh Jeng-bin
Siang-kwi. Malahan sekarang jiwa mereka justru terancam
oleh lawannya. Betapa mengherankan !
Sementara itu pertempuran antara Im-kan Siang-mo dan
Tiat-tung Su-lo, benar-benar merupakan sebuah pertempuran
yang sangat acak-acakan tapi juga sangat mengerikan! Dua
orang melawan empat orang ! Lazimnya, karena melawan
empat orang musuh, suami isteri itu masing-masing tentulah
mengambil dua orang sebagai lawannya. Atau kalau lawan
terlalu kuat, mereka tentu memilih berpasangan untuk
melawan keempat orang musuhnya sekaligus. Itu yang lazim!
Tapi pertempuran yang terlihat kali ini benar-benar lain dari
pada yang lain.
Ternyata suami isteri yang tak pernah akur setiap harinya
itu masih saja meneruskan persaingan dan perselisihan
mereka dalam pertempuran ini. Dasar orang-orang dari
golongan sesat, bukannya mereka saling melindungi atau
saling menolong, tapi justru saling berebut dan saling
menjatuhkan malah. Suami isteri itu berlomba-lomba untuk
dapat membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu
mereka saling berebut lawan, masing-masing ingin melawan
sendiri keempat orang musuh mereka. Kalau yang satu
hamper dapat membunuh lawannya, yang lain justru
merintanginya. Kalau perlu justru menyerang suami atau
isterinya malah! Oleh karena itu pertempuran mereka tersebut
amat tepat kalau dikatakan sangat acak-acakan, tapi juga
sangat mengerikan! Untung bagi Tiat-tung Su-lo, persediaan
racun dan binatang-binatang piaraan kedua suami isteri itu
kini amat terbatas, sebab seluruh harta benda mereka hilang
dan hancur bersama gerobak mereka. Coba kalau tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
demikian, mereka tentu sudah mengalami kesukaran sejak
tadi.
Tee-tok ci yang menonton di pinggir arena tampak
tersenyum lega. Semua saudaranya berada di atas angin.
Ceng-ya kang yang bertempur melawan ketua Tiat-tung Kaipang
daerah selatan juga telah dapat mengurung lawannya.
Tongkat besi yang dipegang oleh Tiat-tung Lo-kai tidak dapat
menahan lagi semburan-semburan ludah Ceng-ya kang
sepenuhnya. Beberapa kali pengemis tua itu jatuh bergulingguling
menghindari serangan lawannya.
Hampir seluruh batang jarum itu terbenam ke dalam
daging, sehingga sukar sekali rasanya bagi Ho Pek Lian dan
Kwa Siok Eng untuk mencabutnya. Apalagi mereka tidak
mempunyai banyak waktu ! Belum juga mereka sempat
mencabutnya barang sebatang, Jeng-bin Siang-kwi telah
datang menyerang lagi. Kali ini sepasang iblis kembar itu
menyerang dengan kuku-kukunya yang panjang seperti cakar.
Kuku yang tajam meruncing tersebut mencakar ke arah leher
dan muka. Lapat-lapat tercium bau harum semerbak, seperti
bau bunga mawar yang sedang mekar.
“Awas, Pek Lian! Kukunya mengandung racun mawar
hitam....!” Kwa Siok Eng berteriak.
Tanpa mempedulikan lagi pada jarum-jarum yang
menancap pada lengannya Ho Pek Lian meloncat ke belakang
mengikuti Kwa Siok Eng, sehingga kuku-kuku yang mencakar
ke arah dirinya menjadi luput. Lalu dengan gesit kakinya
melangkah ke samping, dan pedang yang berada di tangannya
ia tusukkan ke depan, mengarah ke pinggang Jeng-bin Samni.
Sementara ia lihat Kwa Siok Eng juga sedang menyabetkan
ikat pinggangnya kearah leher Jeng-bin Su-nio.
Tapi tiba-tiba Ho Pek Lian menjadi bingung. Mendadak
lawannya, Jeng-bin Sam-ni, berubah menjadi dua, sehingga
tusukan pedangnya ia hentikan pula dengan mendadak.
Matanya ia kejap-kejapkan, tapi pandangannya tetap tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berubah. Malah sekarang tidak Cuma Jeng-bin Sam-ni yang
berjumlah dua orang, tapi semua benda yang dilihatnya juga
berubah menjadi dua buah pula. Ia lihat kawannya, Kwa Siok
Eng, juga berubah menjadi dua!
Ternyata keanehan yang membingungkan itu menimpa
pula pada Kwa Siok Eng. Puteri ketua Tai-bong-pai itu juga
mengalami keadaan yang sama dengan Ho Pek Lian. Semua
benda yang dilihatnya seperti berubah menjadi dua pula,
sehingga otomatis serangan ikat pinggangnya juga berhenti di
tengah jalan. Kedua gadis itu belum menyadari, bahwa semua
itu adalah karena pengaruh bedak wangi yang tadi ditebarkan
oleh Jeng-bin Siang-kwi.
Bedak wangi itu dinamakan Seribu Wajah. Apabila
seseorang menyedotnya melalui lobang pernapasan, maka
racunnya akan mengganggu system urat syaraf pada mata
orang itu, sehingga pandang matanya menjadi terganggu.
Semakin banyak racun yang disedot, semakin parah pula
gangguan yang diakibatkan. Bedak ini pulalah yang
mengangkat nama Jeng-bin Siang-kwi di dunia persilatan
selama ini. Dan senjata andalan mereka terburu-buru mereka
keluarkan, karena mereka tahu dengan siapa kini mereka
berhadapan. Kalau cuma berkelahi secara wajar, tak mungkin
mereka dapat menang melawan kedua orang gadis lihai
tersebut. Untuk melawan puteri ketua Tai-bong-pai itu saja
mungkin mereka berdua akan mengalami kesukaran.
“Hi-hi-hi…. Kalian berdua telah terkena dua macam racun
kami. Bedak seribu wajah dan jarum bulu merak! Bukankah
kepala kalian terasa pening sekarang? Nah, sebentar lagi
lengan kalian yang terkena jarum itu juga akan lumpuh!”
Jeng-bin Sam-ni tertawa gembira.
“Kurang ajar! Wanita keji!” Ho Pek Lian menjerit marah.
Gadis itu tak mempedulikan lagi rasa pening di kepalanya.
Dengan sekuat tenaga ia menabas salah satu dari bentuk Jeng
bin Sam-ni dengan pedangnya. Wuuuut! Dan wanita iblis itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tak berusaha untuk mengelakkannya, sehingga pedang
dengan telak memotong pinggangnya !
“Lhoh…..?”
Ho Pek Lian membelalakkan matanya. Tadi ia merasa
bahwa pedangnya benar-benar telah mengenai pinggang
lawan, tapi..... mengapa tubuh yang terpotong itu masih tetap
berdiri utuh di depannya?
“Hi-hi-hi….ayohh! seranglah kami sepuasmu!” Jeng-bin
Sam-ni tertawa mengejek.
“Cici…..? bagaimana ini…..?” Ho Pek Lian berteriak bingung.
“Adik Lian! Kau hanya menyerang bayangannya!” Kwa Siok
Eng yang cerdas itu menerangkan. “Kalau ingin
mengenai…..tabaslah semuanya!”
Sambil menerangkan Kwa Siok Eng sendiri juga menyerang
Jeng-bin Su-nio. Ikat pinggangnya yang panjang itu melecut
kearah dua bayangan Jeng-bin Su-nio sekaligus! Bau dupa
yang sangat wangi keluar dari tubuhnya, menyertai tenaga
sakti Hio-yan Sin-kang yang ia kerahkan!
Benar juga! Kedua bentuk bayangan itu meloncat
menghindarkan diri, dan kemudian secara berbareng
membalas serangan Kwa Siok Eng. Sekejap kemudian mereka
telah terlibat kembali dalam pertempuran yang sangat seru.
Kwa Siok Eng dengan ikat pinggangnya melawan dua buah
bayangan Jeng-bin Su-nio dengan racun-racunnya! Oleh
karena setiap menyerang harus mengenai kedua buah
bayangan itu sekaligus, maka sebentar saja Kwa Siok Eng
menjadi mandi keringat.
Demikian juga halnya dengan Ho Pek Lian. Murid dari
Kaisar Han ini terpaksa harus mengerahkan tenaga dua kali
lipat untuk melawan Jeng-bin Sam-ni. Celakanya, tenaga
dalamnya tidak setinggi Kwa Siok Eng, sehingga sebentar saja
kepalanya semakin menjadi pening, dan….. bayangan tubuh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lawan tiba-tiba tampak bertambah banyak. Tidak hanya
dua….tiga…atau empat, tetapi….belasan! lebih celaka lagi,
lengan kirinya yang terkena jarum tadi mendadak tak bisa
digerakkan sama sekali. Lumpuh! Tak lama kemudian Kwa
Siok Eng menyusul pula, lengannya juga tak dapat digerakkan!
Dalam keadaan gawat bagi semua orang itu tiba-tiba
terdengar bentakan yang menggeledek menulikan telinga. Dan
mendadak saja, tanpa seorangpun tahu dari mana datangnya,
di depan Tee-tok ci telah berdiri membelakangi pertempuran,
seorang pria gagah berjubah abu-abu! Pakaiannya sangat
bersih dan baik seperti potongan seorang terpelajar (siucai).
Cuma karena membelakangi pertempuran, wajahnya tak
dapat dilihat oleh Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng.
“Keh-sim Siauw-hiap!” Tiat-tung Lo-kai dan Tiat-tung Su-lo
tiba-tiba menjura.
Otomatis pertempuran menjadi terhenti.
“Lo-kai! Su-lo! Kalian lanjutkan tugas kalian. Biarlah orangorang
ini aku yang mengurusnya….” Keh-sim Siauw hiap
memberi perintah kepada para pengemis itu.
Tiat-tung Lo-kai dan keempat pembantunya membungkuk
kembali dengan hormat, lalu melangkah pergi kearah sampan
mereka. “Baik, Siauw hiap.....!”
Tapi Hoan Mo-li menjadi penasaran sekali. Tak rela rasanya
melepas mangsa yang telah berada di depan mulutnya itu.
Tubuhnya yang gendut itu berkelebat menghadang mereka.
“Hei! Berhenti.....!” bentaknya.
“Lo-kai! Su-lo! Berjalanlah terus! Jangan hiraukan dia!”
Keh-sim Siauw-hiap berseru.
“Huh! Coba saja menerobos aku kalau bisa.....” wanita
gendut itu bersiap-siap. Sesaat kemudian suaminya juga
datang mendampinginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba....ya, tiba-tiba saja, karena seperti juga tadi, tak
seorangpun mengetahui bagaimana pendekar muda itu
bergerak, tahu-tahu pendekar tersebut telah berada di depan
Im-kan Siang-mo! Sepasang tangannya yang sedari tadi selalu
terlipat di atas dadanya, mendadak meluncur ke depan
dengan luar biasa cepatnya.
“Dhees! Dhieess!”
Sepasang Iblis Neraka itu terlempar ketika berusaha
menangkisnya. Setelah itu dengan cepat pula pendekar muda
tersebut kembali ke depan Tee-tok ci dan ……tetap
membelakangi arena! Sedangkan kelima orang pengemis itu
dengan tenang melanjutkan langkah mereka, seolah-olah tak
pernah terjadi apa-apa di depan mereka. Mereka naik ke atas
sampan dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Yap Kiong Lee menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya
kagum bukan main melihat kehebatan gin-kang orang itu.
"Bukan main cepatnya.......! Kiranya Bu-eng Hwe-teng
bukanlah satu-satunya gin-kang nomer wahid di dunia ini….."
desahnya di dalam hati.
Ternyata Tee-tok-ci dan saudara-saudaranya merasa kecut
juga di dalam hati. Selama hidup belum pernah mereka
menyaksikan ilmu gin-kang demikian sempurnanya. Seperti
siluman saja.
"Nah, Tee-tok-ci.... Bawalah semua saudaramu pergi
meninggalkan tempat ini! Dan jangan coba-coba kalian
mengganggu orangku lagi!”
“Keparat!”
Ceng-ya kang yang berada dibelakang Keh-sim Siauw-hiap
tiba-tiba menerjang. Tanpa memberi peringatan lebih dahulu,
tokoh kelima dari Ban-kwi to itu menyerang dengan senjata
rahasianya. Tujuh buah paku baja yang mengandung racun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kelabang hijau melesat dari tangannya, menuju ke tujuh jalan
darah terpenting di punggung Keh-sim Siauw-hiap.
Melihat Ceng-ya kang sudah memulai, Tee-tok ci dan Jengbin
Siang-kwi juga tidak mau kalah. Mereka menyerang Kehsim
Siauw-hiap dari segala jurusan. Tee-tok ci yang secara
tiba-tiba telah memegang sebatang cambuk, tampak
menyabetkan cambuknya ke arah leher lawan. Sedangkan
Jeng-bin Siang-kwi tampak menyerang ke arah perut dan
pinggang dengan kuku-kuku mereka.
Yap Kiong Lee membelalakkan matanya, takut tak bisa
melihat dengan jelas gerakan-gerakan mereka.
“Tai-hiap.....awasss!” Ho Pek Lian yang masih berkunangkunang
itu menjerit tanpa terasa.
“Traak! Dhug! Tesss!”
"Oohh.....!?!?"
Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu Keh-sim Siauwhiap
telah lolos dari kepungan iblis-iblis Bun-kwi-to itu.
Dengan membelakangi mereka, pendekar muda tersebut telah
berdiri di pinggir tebing sungai, tiga tombak dari tempatnya
semula. Kedua tangannya tampak memegang tujuh buah paku
dan potongan ujung cambuk! Perlahan-lahan benda-benda itu
dibuangnya ke tengah sungai.
Tee-tok ci saling pandang dengan adik-adiknya. Dengan
wajah pucat dan tubuh gemetar mereka mengawasi punggung
Keh-sim Siauw-hiap. Kemudian masing-masing menunduk,
melihat senjata yang mereka pergunakan. Tee-tok ci melihat
ujung cambuknya yang telah putus, Jeng-bin Siang-kwi
memandang kuku-kukunya yang patah ujungnya dan Ceng-ya
kang menatap paku-pakunya yang belum sempat ia lontarkan!
Mereka benar-benar terantuk batu kali ini.
"Kalian belum juga pergi dari tempat ini ?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hmm, baiklah..... Kami mengaku kalah kali ini. Tapi suatu
saat kami akan mencari tuan untuk membalas kekalahan ini.”
Tee-tok ci menggeram.
“Jangan khawatir. Aku tak pernah lari dari orang-orang
yang mencariku. Pergilah ke Meng-to sepuluh hari lagi! Aku
akan menjamu semua musuh-musuhku pada hari itu.”
“Baik! Kami akan kesana untuk minta pengajaran…..” Cengya
kang menjawab mewakili saudara-saudaranya.
Tee-tok ci melesat pergi diikuti saudara-saudaranya,
termasuk Im-kan Siang-mo yang terluka. Yap Kiong Lee
menjadi gugup dan kelabakan. Di suatu pihak dia ingin terus
mengikuti para iblis itu, tapi di lain pihak ia juga ingin bertemu
dengan gadis-gadis itu barang sebentar. Dan belum juga ia
dapat mengambil keputusan, Keh-sim Siauw-hiap tiba-tiba
terbang ke depan melintasi sungai meninggalkan mereka.
“Tai-hiap….!” Ho Pek Lian berseru memanggil. Tapi yang
dipanggil tetap berjalan terus seolah tak mendengarnya.
Kakinya melangkah enteng di atas permukaan air, seakanakan
diatas sungai itu terhampar permadani yang tak
kelihatan.
"Bukan main! Bukan main.....! Hanya dengan beralaskan
papan kecil ia mampu berjalan di atas permukaan air.
Siapakah sebenarnya dia ?" Yap Kiong Lee sekali lagi
menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saudara Yap, beritahukanlah kepada gadis-gadis itu
bahwa racun yang masuk ke dalam tubuh mereka akan punah
apabila diobati dengan cairan merah yang selalu dibawa oleh
nona Kwa Siok Eng.” Tiba-tiba telinga Yap Kiong Lee
mendengar suara Keh-sim Siauw-hiap yang dikirim melalui
ilmu Coan-im-jib-hit.
“Gila!” Yap Kiong Lee tersentak kaget. Ternyata orang itu
tahu pula kalau dia bersembunyi disana. “Hmm, siapakah dia?
Mengapa sudah tahu namaku pula?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Cici, lengan kiriku tak bisa digerakkan lagi. Lumpuh.
Padahal kepalaku semakin terasa pening, mataku berkunangkunang,
sehingga engkau menjadi berpuluh buah banyaknya
bila kupandang. Oh, cici……kita keracunan.”
“Benar, Lian-moi….kita memang terkena racun iblis-iblis itu.
Sayang kita bukan seorang ahli pengobatan. Oh, coba kalau
Seng Kun toa-ko ada disini…. Oh, Tuhan…..masih hidupkah
dia?”
“Nona Ho…..! Nona Kwa…..! maaf, aku yang datang…..”
Yap Kiong Lee keluar dari persembunyiannya, dan
melangkah mendekati kedua gadis yang kena racun itu. Tentu
saja kedatangannya benar-benar amat mengejutkan mereka.
“Yap toako…..!” Ho Pek Lian berseru.
“Yap kongcu…..!” Kwa Siok Eng ikut pula menyapa.
"Yap Toako! Sungguh kebetulan sekali. Mengapa engkau
sampai pula di tempat ini? Oh, Tuhan…. terimakasih….
terimakasih! Engkau agaknya memang belum menghendaki
jiwa kami.” Ho Pek Lian menengadahkan mukanya ke langit
dengan wajah gembira.
"Sudahlah, nona ... Panjang sekali kalau diceritakan. Yang
paling perlu sekarang adalah mengobati racun yang masuk ke
dalam tubuh nona dulu.”
"Apakah Yap-kongcu mempunyai obatnya?” Kwa Siok Eng
bertanya ragu.
"Eh, benar.... Apakah toako mempunyai obat
pemunahnya?” Ho Pek Lian kembali merasa khawatir.
"Oo.... tentu saja ! Hmm, nona Kwa.... dimana botol kecil
yang berisi cairan merah itu? Botol yang nona peroleh ketika
nona memasuki sarang Tee-tok-ci beberapa tahun yang lalu?”
"Hei, benar! Mengapa aku sampai melupakannya? Yapkongcu,
engkau benar! Inilah dia botol itu! Aku tak pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meninggalkan dia barang sekejappun. Heran, mengapa aku
sampai melupakannya?” Kwa Siok Eng mengeluarkan sebuah
botol kecil dari dalam saku bajunya.
"Nah, itu dia ! Sekarang lebih dahulu hirup udara yang
keluar dari dalam botol ini !” Yap Kiong Lee mengambil botol
itu dari tangan Kwa Siok Eng dan membuka tutupnya, lalu
mendekatkan mulut botol tersebut ke hidung pemiliknya.
Setelah Kwa Siok Eng mengisapnya berkali-kali, Yap Kiong Lee
ganti membawa botol itu ke hidung Pek Lian.
"Nah, sekarang rasa pening itu sudah hilang, bukan? Kini
tinggal mengobati tangan yang lumpuh...."
Yap Kiong Lee menyingkap lengan baju Kwa Siok Eng,
sehingga jarum-jarum yang menembus pada kulit gadis itu
kelihatan dengan nyata. Kemudian dengan hati-hati Yap Kiong
Lee mencabutnya satu-persatu, baru setelah itu bekasnya
diolesi dengan cairan merah yang berada di dalam botol.
Begitu pula yang dilakukan oleh Yap Kiong Lee terhadap Ho
Pek Lian, sehingga akhirnya kedua-duanya terbebas dari
maut.
“Terimakasih, Yap toako.”
“Terimakasih, Yap kongcu.”
“Sebentar, nona....aku tidak mempunyai banyak waktu
disini. Aku harus lekas-lekas mengikuti para iblis Ban-kwi to
tadi. Ada sebuah tugas dari Baginda Kaisar yang harus aku
selesaikan, yang berhubungan dengan para iblis tersebut.”
Yap Kiong Lee segera berkata, ketika dilihatnya kedua gadis
itu mau mengajaknya mengobrol.
“Tapi.....”
"Sudahlah! Lain kali saja kita mengobrol ! Sekarang
dengarkan saja omonganku!” pemuda itu berhenti sebentar
untuk mengambil napas. "Nona Kwa! Bukankah setahun yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lalu nona bersama dengan nona Ho dan saudara Chu, pergi
mencari nona Bwe Hong yang hilang?"
"Be-benar, Yap Kongcu ! Apa.... apakah kau melihatnya ?"
"Eh?Jadi nona belum dapat menemukan dia?" Yap Kiong
Lee ganti bertanya.
''Be-belum !" tiba-tiba gadis itu menunduk sedih. "Kami
malah telah kehilangan Chu Toako pula.....”
"Berbulan-bulan kami mencarinya, kami serasa telah putus
asa, tapi mereka tak pernah kami ketemukan juga." Ho Pek
Lian menyambung perkataan temannya.
Yap Kiong Lee seperti ikut pula merasakan kesedihan
mereka itu.
"Dengarlah, nona ... ! Aku memang benar-benar telah
bertemu dengan nona Bwe Hong !”
"Hah?”
"Hei? Betulkah?”
Kedua orang gadis itu mencengkeram lengan Yap Kiong
Lee erat-erat, seakan-akan mematahkannya. Mata yang indah
itu terbelalak seakan tak percaya.
“Nona itu katanya telah menjadi isteri Put ceng-li Lo-jin dari
Bing-kauw sekarang. Aku secara tak sengaja telah bertemu
dengan dia beberapa jam yang lalu, dan pada mulanya aku
benar-benar tak mengenalnya…. Kini dia beserta
rombongannya sedang menuju ke Pantai Karang di dekat teluk
Po-hai.”
“lsteri Put-cengli Lo-jin.....?" Kedua gadis itu menyela
dengan mulut ternganga. “Apakah dia sudah gila?"
Yap Kiong Lee melepaskan pegangan gadis-gadis itu, lalu
menjura memberi hormat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Nah, aku pergi sekarang! Aku takut tak bisa menemukan
jejak para iblis itu lagi.”
Sekali berkelebat Yap Kiong Lee lenyap dari hadapan Ho
Pek Lian dan Kwa Siok Eng. Pemuda itu berlari-lari ke arah
mana iblis tadi menghilang. Kini tinggal kedua orang gadis itu
yang saling memandang satu sama lain, seolah-olah tak
percaya pada apa yang mereka alami.
“Enci Bwe Hong kawin dengan Tua Bangka yang Tak Tahu
Aturan itu? Ohh….cici, benarkah itu? Ah, tidak mungkin! Enci
Bwe Hong cantik seperti bidadari….huh, apakah dia menjadi
gila dan dunia ini sudah tidak ada lelaki lain lagi?” Ho Pek Lian
mengguncang-guncang lengan Kwa Siok Eng dengan hati
penasaran.
Kwa Siok Eng tidak segera menjawab. Beberapa kali ia
menghela napas berat.
“Lian-moi, dalam hati aku juga tidak mempercayainya. Aku
sudah sangat mengenal calon iparku itu luar dalam. Tak
mungkin rasanya dia berbuat seperti itu….tapi, rasa-rasanya
Yap kongcu juga tak mungkin membohongi kita pula. Yap
kongcu adalah seorang pendekar besar, kepercayaan Kaisar
pula serta kakak dari Yap Tai ciangkun pula. Tak mungkin dia
omong sembarangan…..”
“Lalu……bagaimana cici?”
“Marilah kita buktikan kebenarannya! Kita pergi ke Pantai
Karang sekarang!”
“Ayoh!” Ho Pek Lian menjawab tak sabar.
Sementara itu di tempat lain, Yap Kiong Lee sedang sibuk
berputar-putar mencari jejak buruannya. Ternyata waktu yang
hanya sebentar tadi telah membuat dia kehilangan jejak
mereka. Hampir saja pemuda itu berputus asa, ketika tiba-tiba
ia mendengar suara telapak kaki kuda di arah peternakan
kuda itu. Bergegas Yap Kiong Lee berlari kesana dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ternyata….benar juga! Di atas padang rumput itu dilihatnya
Ceng-ya kang bersama enam orang kawannya, sedang
memacu kuda masing-masing.
Tidak ada jalan lain bagi Yap Kiong Lee untuk dapat
mengejar mereka selain turut mencuri seekor kuda pula
seperti mereka. Dan diatas tanah peternakan tersebut
memang amat banyak kuda-kuda yang berkeliaran. Yap Kiong
Lee memilih seekor yang tegap dan gagah, kemudian
menaikinya. Sambil berjanji di dalam hati, bahwa pada suatu
saat ia akan mengembalikannya kepada yang empunya, Yap
Kiong Lee memacu kuda tersebut untuk mengejar Ceng-yakang.
Semalam suntuk mereka berkuda naik gunung turun bukit,
menyusuri aliran sungai, menuju ke arah timur laut. Dalam
perjalanan Yap Kiong Lee selalu mengambil jarak agar tidak
diketahui oleh orang-orang yang dibuntutinya, sementara di
dalam hatinya selalu bertanya-tanya, dimana sebenarnya para
iblis Ban-kwi to yang lain? Ternyata yang sedang ia buntuti
sekarang hanyalah Ceng-ya kang dan anak buahnya yang tadi
mendayung perahu. Tee-tok ci dan yang lain-lain tak kelihatan
sama sekali.
Pada saat fajar mulai menyingsing, mereka memasuki
dusun Ho-ma-cun. Dusun yang dikatakan oleh kakek Kam
Song Ki sebagai desa tempat tinggalnya. Yap Kiong Lee
bertanya kepada salah seorang petani yang sedang
mengerjakan sawahnya, dimana gerangan rumah kakek Kam
atau yang lebih dikenal dengan Kam Lo-jin itu? Dan begitu
tahu bahwa rumah tersebut tidak demikian jauh lagi dari
tempat itu, Yap Kiong Lee tidak segera meninggalkan
tempatnya berdiri. Sambil beristirahat ia menonton petani itu
mengayunkan cangkulnya.
“Ah…..pagi yang segar!” pemuda itu merentangkan
lengannya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“Biarlah aku beristirahat disini sebentar. Kukira mereka juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
takkan segera melanjutkan perjalanan ini. Mereka tentu
mampir di warung untuk mencari sarapan pagi.”
Petani itu meletakkan cangkulnya. Dengan heran ia
mengawasi Yap Kiong Lee yang tidak segera meninggalkan
tempat itu.
“Tuan mau kemana….?” Tanyanya ingin tahu.
“Oh! Aku adalah keponakan Kam Lo-jin yang ingin
menjenguk dia. Tapi hari masih demikian pagi, lebih baik aku
melepaskan lelah dahulu disini. Boleh, bukan?”
“Ah, tentu….tentu saja boleh.” Petani itu menjawab dengan
tersipu-sipu. “Tapi….tapi harap tuan berhati-hati di dusun
kami. Banyak orang di tempat kami yang tak suka kepada
orang asing, terutama para anak buah Tan wangwe,” lanjut
orang itu polos.
“Hei, begitukah? Ah, biarlah. Asal aku baik-baik membawa
diri, tak mungkin mereka mengganggu aku.” Yap Kiong Lee
tersenyum. “Hei, mengapa paman berhenti mencangkul?
Silahkan paman bekerja! Atau…..apakah beradanya aku disini
telah mengganggu pekerjaan paman?”
“Ah, tidak…..tidak!” petani itu segera mengambil
cangkulnya kembali dan mengayunkannya ke tanah.
Yap Kiong Lee tersenyum melihat betapa tanah yang
gembur itu amat mudah sekali dicangkul.
“Wah, tanah paman sungguh subur sekali….” Pemuda itu
memuji.
"Oo .... bukan..... bukan! sawah ini bukan kepunyaanku!
Tak seorangpun di seluruh lembah yang mempunyai sawah
sendiri. Sejak kedatangan Tan-wangwe di dusun Ho-ma-cun,
seluruh daerah yang ada di lembah sungai ini jatuh dalam
cengkeramannya. Eh....... eh, maaf....... maksudku
….maksudku, daerah ini telah dibeli semuanya!" dengan wajah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketakutan petani itu memperbaiki kata-katanya yang
"terlanjur" lepas dari mulutnya tadi.
"Eh ? Ada apa paman? Jangan takut, aku bukan kerabat
Tan wangwe. Aku benar-benar orang asing disini, aku datang
dari kota raja.”
“Ohh.....anu....eh....bukan.....bukan itu.....!” petani itu
terbelalak, memandang ke arah seberang jalan dengan wajah
pucat.
Yap Kiong Lee menoleh dan .....matanya ikut terbelalak!
Tampak Tiat-tung Lo-kai dan Tiat-tung Su-lo berjalan tergesagesa
ke arah mereka. Dan ketika pemuda itu memandang
kepada si petani lagi, keheranannya semakin tambah
memuncak. Petani itu membuang paculnya dan lari terbiritbirit.
“Tidak! Tidak....! aku tidak apa-apa....!” jeritnya ketakutan.
Belum juga Yap Kiong Lee tahu apa yang sebenarnya
terjadi, tiba-tiba dilihatnya Tiat-tung Lo-kai dan Tiat-tung Su-lo
telah berkelebat mengejar petani itu.
“Tangkap dia! Dia tentu mata-mata Tan-wangwe yang mau
melaporkan kedatangan kita.” Ketua Tiat-tung Kai-pang
daerah selatan itu berteriak.
Apa dayanya seorang petani dusun biasa melawan jago
silat seperti mereka. Belum juga ada sepuluh meter ia berlari,
para pengemis itu telah datang menangkapnya. Petani itu
menggeliat-geliat dan melonjak-lonjak ketakutan, mengira
bahwa dia telah ditangkap oleh para pengawal Tan-wangwe.
“Lepaskan dia!” tiba-tiba Yap Kiong Lee membentak.
Agaknya Tiat-tung Lo-kai telah menduga sebelumnya,
bahwa Yap Kiong Lee tentu akan membantu petani itu. Dari
jauh mereka telah melihat kedua orang itu saling berbincang
dan bercakap-cakap sebelum mereka datang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Pegang dulu orang ini!” orang tua itu mendorong si petani
kearah Tiat-tung Su-lo. “Biar kuhadapi temannya yang
sombong itu.”
Tiat-tung Lo-kai berdiri menghadapi Yap Kiong Lee.
"Anak muda, kelihatannya kau mempunyai bekal
kepandaian juga, sehingga berani membentak kami. Tapi
engkau benar-benar akan menyesal nanti, kalau tahu siapa
sebenarnya yang kauhadapi kali ini.”
“Menyesal? Eh, mengapa saya mesti menyesal? Saya hanya
ingin mencegah, agar Lo-cianpwe tidak menyakiti petani yang
tidak tahu apa-apa itu. Aku tahu bahwa Lo-cianpwe adalah
Tiat-tung Lo-kai yang terkenal itu.”
“Ho..... jadi kau sudah tahu siapa aku? Kalau begitu kau
memang benar-benar bernyali besar. Tapi aku tahu,
keberanianmu itu tentu disebabkan oleh karena kau merasa
berada di daerah sendiri, hingga sewaktu-waktu kau dapat
meminta bantuan teman-temanmu yang berkumpul di tempat
Tan wangwe.”
“Maksud Lo-cianpwe....?”
“Maksud kami? He-he....maksud kami tetap akan kami
laksanakan. Pihak kami juga tidak takut menghadapi kawankawanmu
yang banyak itu. Harta benda Tan wangwe yang
tidak halal itu akan tetap kami ambil dan akan kami bagikan
kepada para penduduk yang membutuhkan. Nah, kau mau
apa?”
“Tapi….tak mungkin rasanya kalau Keh-sim Siauw-hiap
memberi perintah seperti itu.” Yap Kiong Lee menatap tak
percaya.
“Huh, kau tahu apa tentang Keh-sim Siauw-hiap?”
Yap Kiong Lee mengusap dagunya yang licin, sementara
sepasang matanya menatap kosong ke depan. Benar, ia
membatin. Ia memang belum mengenal pendekar itu. Yang ia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kenal dan ia ketahui barulah ceritera tentang kesaktian dan
sepak-terjang pendekar itu di dunia persilatan. Meskipun
khabarnya pendekar itu suka mengganggu harta benda para
hartawan, tapi semuanya dilakukan demi menolong rakyat
miskin. Jadi tak mungkin rasanya kalau pendekar itu sampai
memerintahkan anak buahnya untuk merampok. Masih
terngiang-ngiang di dalam telinganya, pesan-pesan yang
bernada bersahabat dari pendekar itu tadi malam.
“Ah, Lo-cianpwe.....sudahlah! aku takkan mencampuri
urusan Keh-sim Siauw-hiap dan Tan wangwe. Tapi aku minta
dengan sangat agar petani itu dilepaskan!” akhirnya pemuda
itu mengambil keputusan.
"Kurang ajar ! Kau bilang tidak akan mencampuri urusan
kami, tapi kau meminta agar kami melepaskan tawanan kami.
Huh, apa bedanya itu?" Tiat-tung Lo-kai berteriak sambil
mempersiapkan tongkat besinya.
Tapi Yap Kiong Lee telah berketetapan hati untuk
membebaskan petani tersebut, meskipun dalam hati
sebenarnya ia tak ingin bentrok dengan mereka. Apalagi iapun
tak ingin berlama-lama di tempat itu. Maka dia segera
mengerahkan segenap kemampuannya, dan sekejap
kemudian ia telah bergerak mendahului lawannya!
Tubuhnya yang tegap gagah itu mendadak melenting tinggi
ke atas, melampaui kepala Tiat-tung Lo-kai dengan cepat
sekali. Dan sebelum ia mendaratkan kakinya di dekat Tiat-tung
Su-lo yang menjaga si petani, Yap Kiong Lee melontarkan
pukulan Thian-lui-gong-ciangnya!
“Bummmm!”
Tanpa ampun lagi keempat orang itu terjengkang ke
belakang, dan sebelum semuanya menyadari apa yang terjadi,
Yap Kiong Lee telah menyambar si petani dan membawanya
ke atas punggung kudanya, dan di lain saat kuda tersebut
sudah melompat pergi meninggalkan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kejar dia!” begitu sadar Tiat-tung Lo-kai berteriak marah.
Tapi sebentar saja kuda itu telah hilang dari pandangan
mereka, membuat mereka semakin marah dan mendongkol.
Yap Kiong Lee memperlambat langkah kudanya. Mereka
telah memasuki jalan besar yang menjadi jalan utama dusun
Ho-ma-cun.
"Tuan.,,... biarlah aku turun di sini saja. Rumahku sudah
tidak jauh lagi dari sini," pinta petani itu dengan suara
gemetar. Peristiwa tadi benar-benar amat menakutkan bagi
dirinya.
“Baiklah, paman, kau pulanglah! Ingatlah, kau tidak perlu
takut kepada siapapun! Para pengemis yang menangkapmu
tadi bukanlah anak buah Tan wangwe, tapi justru orang-orang
dari pihak lawan Tan wangwe."
Petani itu mengangguk-angguk sambil mengucapkan terima
kasih, lalu melangkah pulang dengan cepat sedangkan Yap
Kiong Lee segera meneruskan perjalanannya pula. Perlahanlahan
ia mengendarai kudanya memasuki jantung dusun yang
amat ramai itu. Dilihatnya orang-orang yang berlalu lalang di
pinggir jalan dengan seksama, siapa tahu Ceng-ya kang dan
kawan-kawannya berada diantara mereka? Toko-toko dan
warung-warung makanan telah mulai ramai pula dengan
pembelinya, sehingga pemuda itu juga harus menambah lagi
kewaspadaannya.
Tiba-tiba di depan warung bubur Yap Kiong Lee melihat
banyak orang berkerumun. Oleh karena sangat tertarik, ia
membelokkan kudanya kesana. Siapa tahu orang-orang Bankwi
to yang biasa membikin keributan itu ada disana.
Ternyata dugaannya betul. Begitu masuk ke halaman
warung, semua orang telah memperhatikannya. Dan di dalam
warung itu sendiri ia melihat Ceng-ya kang beserta anak
buahnya telah duduk menunggu dia. Karena sudah terlanjur,
maka Yap Kiong Lee juga tidak mau kalah gertak. Dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenang ia memasuki warung tersebut, dan duduk di hadapan
Ceng-ya kang.
Oo0oo
“Sudahlah, Yap kongcu. Cerita selanjutnya telah kami
saksikan sendiri tadi pagi. Tak usah engkau
melanjutkannya…..!” Tong Ciak memotong ceritera yang
dituturkan oleh Yap Kiong Lee.
“Hei, dimana Lo-cianpwe menyaksikannya?” Hong-lui-kun
Yap Kiong Lee mengerutkan dahinya.
“Ha-ha-ha….! Kami semua berada di halaman warung itu
pula, bercampur dengan para penonton yang lain.” Toat-bengjin
tertawa. “Oleh karenanya kami dapat menyaksikan sepak
terjang Yap Siauwhiap dari awal hingga akhir.”
“Cuma yang kami herankan ialah mengapa Yap kongcu
tidak segera menghentikan perlawanan Ceng-ya kang,
sehingga akibatnya justru Yap kongcu sendiri yang menderita
rugi. Soalnya menghadapi iblis-iblis beracun yang suka
mengobral racun seperti mereka, kita harus lekas-lekas
melumpuhkannya. Kalau tidak….nah, justru kita sendirilah
yang termakan oleh racun mereka!” Tong Ciak memberi
komentar lagi.
Yap Kiong Lee mengangguk. “Memang benar perkataan Locianpwe
tadi. Tapi....selain iblis itu memang lihai, siauwte
memang juga tidak tega untuk membunuhnya. Bagaimanapun
juga iblis itu dahulu adalah sahabat dari Kim-sute.”
“Eh.....ya! lalu bagaimana dengan jam enam pagi besok?
Apakah Yap kongcu benar-benar akan menemui dia di warung
bubur itu lagi?”
Yap Kiong Lee tertawa terbahak-bahak, sehingga Chin Yang
Kun dan Souw Lian Cu yang sedari tadi selalu merengut saja
menjadi ikut-ikutan tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ha-ha-ha....mungkin Lo-cianpwe sudah menduga sejak
semula, bahwa perbuatanku itu sebenarnya hanya gertak
sambal belaka, agar iblis itu sungguh-sungguh memberikan
obat pemunah racunnya yang asli, ha-ha-ha....”
“lalu....?” Tong Ciak menegaskan.
“Lo-cianpwe! Guruku tak pernah mempunyai jarum Ulat,
apalagi memberikannya kepadaku. Semuanya itu hanyalah
karanganku saja, agar dia ketakutan dan benar-benar
memberikan obatnya yang asli kepadaku. Ternyata tipu
muslihatnya itu memang benar-benar berhasil. Hal itu dapat
dibuktikan ketika akar obat yang diberikan kepadaku itu
siauwte serahkan kepada Kam Lo-cianpwe....untuk diperiksa.”
“Wah, celaka!" tiba-tiba Tong Ciak memekik dengan nada
sesal, sehingga sangat mengagetkan teman-temannya yang
lain. "Jadi.... jadi Kam Lo-jin yang selama lebih dari lima tahun
kusuruh menunggu rumah ini, sesungguhnya...., adalah Song
Ki Lo-cianpwe yang terkenal itu? Sungguh bodoh dan berdosa
sekali aku ! Mataku benar-benar buta, tak bisa melihat
permata di depan hidungku......."
"Lo-ya..." terdengar suara halus dan tahu-tahu di ambang
pintu telah berdiri seorang kakek tua renta menjinjing
keranjang obat-obatan. Biarpun sudah amat tua, tetapi
badannya masih kelihatan kuat dan kokoh. Dengan pandang
mata heran orang tua itu mengawasi tamu-tamunya yang
memenuhi ruangan kecil itu. Lalu dengan hormat kakek sakti
itu menjura kepada Tong Ciak, majikannya.
"Lo-ya......!" sapanya sekali lagi.
Semuanya bergegas berdiri, tak terkecuali Tong Ciak Cu-si.
Dengan khidmat mereka menghormat kepada orang tua itu,
sehingga Kakek Kam yang belum menyadari keadaannya
menjadi kaget dan bingung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Kam Lo-cianpwe.....! Maaf kami mengganggu ketenangan
rumah ini." Toat-beng-jin yang sudah tua itu membuka suara
mewakili teman-temannya.
Kakek tua itu tidak segera menjawab. Matanya yang sipit
tertutup keriput itu berkilat-kilat memandang ke arah Yap
Kiong Lee.
Pemuda ahli waris dari perguruan Sin-kun Bu-tek itu segera
maju dengan tersipu-sipu.
"Maaf, Lo-cianpwe. Siauw-te sudah menceriterakan
semuanya kepada mereka."
"Ohh...." akhirnya Kam Song Ki menunduk, lalu dengan
halus mempersilahkan para tamunya untuk duduk kembali.
"Silahkan! Silahkan cuwi semua duduk! Silahkan Tong lo-ya!
Maaf, aku tak mempunyai tempat duduk yang baik...!"
“Kam Lo-cianpwe, jangan membuatku malu di depan begini
banyak orang. Sekarang siauwte sudah tahu, siapa
sebenarnya Lo-cianpwe. Dan hal itu benar benar membuat
siauwte merasa amat malu dan berdosa sekali. Oleh karena itu
sekarang tidak ada lagi sebutan Lo-ya atau pelayan penunggu
rumah lagi. Yang ada sekarang adalah Tong Ciak dan Kam Locianpwe!”
pengurus bagian keagamaan dari lm-yang-kauw
itu menyesali kebodohannya.
"Baiklah... baiklah! Sekarang memang sudah saatnya
bagiku untuk meninggalkan dunia ini dan mengembara lagi
entah ke mana. Sudah terlalu lama aku beristirahat."
"Kam Lo-cianpwe....!” Tong Ciak berseru.
"Maaf, Tong sicu. Aku memang sudah merencanakan hal ini
berbulan-bulan yang lalu, bukan karena apa-apa. Sungguh
kebetulan Tong sicu berkunjung kemari, sehingga aku tak
perlu mencarimu untuk menyerahkan kembali rumah ini. Dan
aku sungguh amat berterima kasih sekali atas kemurahan hati
Tong sicu memberi tempat berteduh padaku."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kam Lo-cianpwe.....!”
"Sudahlah, Tong-sicu. Marilah, lebih baik kau perkenalkan
tamu-tamuku ini kepadaku !“
“Ba-baik, Kam Lo-cianpwe !”
Karena merasa tak mungkin dapat lagi menahan maksud
orang tua itu, maka Tong Ciak tak ingin mempersulit pula.
Satu-persatu ia memperkenalkan teman temannya. Ketika ia
menyebutkan nama Toat-beng-jin, Kam Song Ki segera
menjura dan memotong.
“Ah, kiranya Toat-beng-jin Loheng adanya.... Kudengar
dalam Aliran Im-yang-kauw terdapat sebuah ilmu yang ditulis
dalam lembaran kulit domba, namanya Im-yang Kun-hoat,
benarkah?”
“Ah, pengetahuan Lo-cianpwe sungguh luas sekali. Apa
yang Lo-cianpwe dengar itu memang benar. Tapi ilmu
tersebut bukanlah sebuah ilmu yang sangat baik, apalagi jika
diperbandingkan dengan Kim-hong Kun-hoat warisan Bu eng
yok-ong.” Toat-beng-jin berkata merendah.
"Ah, Toat-beng-jin Lo-heng terlalu merendahkan diri.
Padahal mendiang Kim-mou-Sai-ong juga mengakui kehebatan
ilmu tersebut. Malah katanya ilmu yang dipelajari oleh datuk
besar itu juga bersumber pada lembaran kulit domba tersebut.
Bukankah begitu, Tong-sicu?” Kam Song Ki menoleh dan
menanyakan hal itu kepada Tong Ciak.
“Be-benar!” terpaksa tokoh bertubuh pendek itu
mengiyakan.
“Nah, marilah.... ! Sebelum aku pergi, aku akan mengobati
Yap kongcu dahulu.”
Tapi ketika terpandang oleh orang tua itu wajah Chin Yang
Kun yang pucat, ia menjadi tertegun. Tergesa gesa ia
melangkah mendekati si pemuda. "Eh, kelihatannya Siauw sicu
ini sedang menderita luka dalam....”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hei! Benar! Mengapa kita sampai melupakannya?" sekali
lagi Tong Ciak berteriak mengagetkan teman-temannya.
“Wah! Tong Lo-cianpwe ini mengejutkan orang saja! Ada
apa,sih....?" Souw Lian Cu menggerutu. "Ah, maaf.... maaf!
Anu... maksudku...., mengapa kita sampai melupakan bahwa
Kam Lo cianpwe ini adalah murid mendiang Hu-eng Sin-yokong?
Mengapa kita tidak meminta tolong sekalian, agar beliau
mau mengobati luka nona Souw dan luka Yang hiante?
bukankah luka itu akan segera sembuh dan tidak usah berteletele
lagi seperti sekarang?”
“Hmm, betul juga.” Toat beng-jin mengangguk
membenarkan. Lalu tokoh sakti dari Im yang kauw ini segera
mengatakan hal itu kepada Kam Song Ki.
Kam Song Ki juga tidak berkeberatan. Tapi ketika orang tua
itu mencari tahu, siapa yang melukai kedua muda-mudi
tersebut, ia menjadi kaget setengah mati. Jawaban yang ia
terima dari Toat beng jin sungguh membuatnya tertegun.
Tapi perasaan kaget itu ternyata tidak hanya dimonopoli
oleh Kam Song Ki saja. Diam-diam Souw Lian Cu sendiri juga
menjadi terkejut bukan main. Sebelumnya gadis itu memang
tidak tahu atau lebih tepatnya, gadis itu tidak pernah
mempedulikan siapa yang melukai pemuda yang dipandang
sangat sombong itu.
"Yang melukai saudara ini Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?
Hah? Dan yang melukai nona itu Pek-i Liong-ong dari Mo
kauw?” Kam Song Ki berseru kaget.
"Benar, Lo-cianpwe. Mengapa...?" Tong Ciak menjawab
dengan tergesa-gesa.
Kam Song Ki menundukkan kepalanya. Beberapa saat
kemudian barulah ia menjawab pertanyaan yang ditujukan
kepadanya.
"Pek-i Liong-ong itu adalah suheng-ku….” jawabnya pelan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ohh. ... !?!" Souw Lian Cu yang baru menderita kaget itu
tertunduk kehilangan semangat. Harapan yang semula telah
mekar di dalam hatinya kembali hilang begitu tahu si kakek itu
adalah sute dari Pek-I Liong-ong sendiri.
Agaknya Kam Song Ki melihat juga kekecewaan yang
tersimpul pada wajah gadis cantik itu. Maka kakek tua itu
segera melanjutkan ucapannya, “Baiklah! Kalau yang melukai
Nona Souw itu memang benar suhengku sendiri, malah
menjadi kewajibanku untuk mengobatinya. Anggap saja
pertolonganku ini sebagai tebusan dari kesalahan suhengku
itu.”
Demikianlah, hari itu Kam Song Ki benar-benar sibuk sekali.
Seorang diri ia harus mengobati Yap Kiong Lee, Chin Yang Kun
dan Souw Lian Cu. Biarpun tidak semahir gurunya, Bu-eng
Sin-yok-ong, tapi kalau Cuma mengobati luka dalam seperti itu
ia masih bisa juga. Ketika senja telah mulai turun, semuanya
telah dapat ia selesaikan. Yang Kun dan Souw Lian Cu masih
harus beristirahat di atas pembaringan sampai besok pagi,
sementara Yap Kiong Lee sudah bebas untuk pergi kemanamana.
Malam itu semuanya terpaksa menginap di dalam rumah
induk serta membersihkannya. Lumayan buat tidur mereka.
“Tadi malam aku seperti mendapat firasat bahwa Tong sicu
akan berkunjung kemari. Itulah sebabnya setelah ikut
membantu membereskan akibat kerusuhan di pesta
pengantin, aku langsung pulang kemari. Untung badan yang
telah rapuh ini masih kuat juga untuk berlari.” Kam Song Ki
berceritera sebelum mereka berangkat tidur.
“Ah, Lo-cianpwe ini suka benar bergurau." Tong Ciak
segera memotong perkataan kakek itu. "Siapakah orangnya di
dunia ini yang mampu berlari lebih kencang daripada
Locianpwe? Sedangkan Bit-bo-ong yang mahir Bu eng Hweteng
saja tak mampu mengejar, apalagi yang lain!"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Benar….! Siauwte yang berangkat lebih dulu dan......naik
kuda, toh masih tetap kalah cepat juga." Yap Kiong Lee
tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wah, Yap Kongcu sih...... anak muda, suka mampirmampir
!" Kam Song Ki membantah dengan nada bergurau.
Semuanya tertawa, sampai cangkir teh yang dipegang oleh
Toat beng jin miring tak terasa, dan isinya tumpah membasahi
jenggotnya putih panjang itu.
“Eeeh ?!" tiba tiba Kam Song Ki menjadi bersungguhsungguh.
“Toat beng jin Lo-heng, siapa sebenarnya kedua
anak muda itu? Maksudku asal usulnya......?"
“Maksud Lo cianpwe ,....... kedua anak muda yang terluka
dalam itu? Ah, mengapa Lo cianpwe bertanya demikian?
Apakah Locianpwe sudah mengenal mereka?"
Kam Song Ki menggeleng dengan cepat. “Bukan ! Bukan itu
yang kumaksudkan,... "
"Lalu....? Ooh.... maaf Io-cianpwe. Kalau Lo-cianpwe
bertanya tentang asal usul kedua anak muda itu.., hem...
sungguh menyesal kami juga tidak tahu. Mereka selalu
menyembunyikan keadaan mereka selama ini."
"Uh, heran! Mengherankan benar!" Kam Song Ki mengetukngetuk
dahinya.
"Kam Locianpwe? Ada apa dengan mereka?" Yap Kiong Lee
menjadi heran juga melihat kelakuan orang tua itu.
"Begini. Tadi ketika aku memeriksa denyut nadi Nona
Souw, aku menemukan suatu keanehan pada sistim peredaran
darahnya. Bahagian kanan dan bahagian kiri dari tubuhnya
sama sekali berbeda tekanannya. Bahagian kanan, tekanan
darahnya Iebih kuat dan alirannya juga lebih cepat dari pada
yang sebelah kiri. Sehingga ketika kusuruh mengerahkan
tenaga, anggota badannya yang sebelah kanan amat panas,
sementara yang sebelah kiri amat dingin. Ketika secara sambil
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lalu kutanyakan asal usulnya, dia diam saja dan.....
meneteskan air mata!" kakek itu menghentikan kata-katanya
sebentar untuk melihat kesan para pendengarnya, sesaat
kemudian baru ia melanjutkan perkataannya.
"Lo-heng, Tong sicu..... kelihatannya gadis itu memendam
sebuah rahasia tentang kesedihan yang sangat mendukakan
hatinya. Padahal kalau melihat tenaga dalamnya yang aneh
tadi, terang kalau dia bukan orang sembarangan. Paling tidak
tentu keturunan atau anak murid orang sakti !"
"Menurut penuturannya sendiri tadi pagi, dia tinggal
bersama Keh sim Siauw-hiap di Pulau Meng-to. Mungkin juga
dia adalah murid atau keluarga dari pendekar yang amat
terkenal itu?" Tong Ciak menduga-duga.
"Mungkin betul juga dugaan Tong Lo-cianpwe itu." Yap
Kiong Lee mengangguk angguk. "Apakah Lo cianpwe tidak
memperhatikannya ketika aku sedang bercerita panjang lebar
pagi tadi? Hmm .., kulihat wajahnya berubah hebat ketika
siauwte mulai menyebut nama Pantai Karang yang merupakan
pintu gerbang penyeberangan ke Pulau Meng-to. Beberapa
kali kulirik wajah gadis itu kelihatan sedih mendengarkan
ceritaku."
Kam Song Ki cepat-cepat mengangkat dan menggerakgerakkan
tangannya tanda tak setuju. “Tidak! Tidak ! Eh ...
anu, maksudku dia bukan murid atau keluarga dari Keh-sim
Siauw-hiap. Bukan.... " katanya sedikit ragu-ragu.
"Maksud Kam Locianpwe? Apakah Lo-cianpwe mengenal
Keh-sim Siauw-hiap dan keluarganya?" Yap Kiong Lee
bertanya heran.
"Ya.... ya.. aku sangat mengenalnya."
"Hah? Tapi gadis itu memang benar-benar mengenal anak
buah Keh-sim Siauw hiap. Tadi pagi dia saling menyapa
dengan Tiat-tung Lo-kai...Dari pembicaraan mereka dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditarik kesimpulan bahwa gadis itu memang tinggal di pulau
itu."
"Entahlah ! Tapi aku yakin bahwa Keh-sim Siauw-hiap tak
punya hubungan apa-apa dengan gadis itu." Kam Song Ki juga
merasa heran.
Hening sejenak. Masing-masing berpikir dan menduga-duga
di dalam hati sendiri.
"Hmm. kalau begitu memang penuh rahasia dan sangat
aneh asal-usul gadis itu." Toat beng-jin menghela napas.
"Jadi..... jadi hal itukah yang membebani perasaan Kam Locianpwe
tadi?"
"Benar! Tapi tidak cuma itu saja.....”
"Maksud Lo-cianpwe?"
"Seperti sudah kita ketahui tadi bahwa keadaan gadis itu
sangat aneh dan penuh rahasia, bukan? Tapi ternyata.....
pemuda itu jauh lebih aneh dan mengerikan lagi dari pada
keadaan gadis itu !"
"Maksud Lo-cianpwe..... saudara Yang Kun?"
"Ya!..... Keadaan tubuh pemuda itu benar-benar sangat
aneh dan mengerikan. Darahnya sangat beracun. Racun asli
dari tubuhnya, bukan karena terkena racun dari luar! Aneh
sekali, bukan ? Masa ada manusia beracun di dunia ini?" orang
tua itu kelihatan sangat heran dan penasaran. “Padahal ketika
kuperiksa..... tenaga saktinya hebat bukan main! Mungkin
orang-orang tua seperti kita yang telah bergelut dengan ilmu
silat selama puluhan tahun, masih harus pikir pikir dulu kalau
bentrok dengan dia ! Sungguh !"
"Apakah Lo-cianpwe juga menanyakan pada dia tentang
asal-usulnya?'' Tong Ciak yang sedikit banyak telah mengenal
keadaan Yang Kun itu bertanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ya! Tapi seperti juga dengan gadis itu, ia tidak mau
mengatakannya. Dia cuma mengatakan bahwa dia sudah tak
mempunyai keluarga lagi. Seluruh keluarga dan kerabatnya
telah habis dibantai orang.”
"Memang demikian juga yang dia katakan kepada kita....."
Toat beng-jin mengiyakan.
Semuanya terdiam kembali. Masing-masing sibuk dengan
pikirannya sendiri-sendiri. Yap Kiong Lee tampaknya ingin
bertanya tentang sesuatu hal kepada Kam Song Ki, tapi
melihat orang tua itu seperti sedang memikirkan sesuatu,
hatinya menjadi ragu-ragu.
Sebenarnya Yap Kiong Lee ingin menanyakan, siapa
sebenarnya Keh-sim Siauw-hiap itu. Mengapa pendekar itu
kelihatannya telah mengenal dia? Apakah hubungannya
pendekar itu dengan Kam Song Ki? Tapi semua pertanyaan itu
tak kunjung keluar dari mulutnya, sehingga pertemuan itu
bubar cuma bergulung-gulung saja dalam hatinya.
"Besok saja kalau ada waktu Iuang akan kutanyakan....."
pemuda itu berkata di dalam hati.
Tapi esok paginya orang tua itu telah pergi ! Di atas
pembaringannya dia meninggalkan pesan bahwa ia akan
berkelana kembali menurutkan langkah kakinya.
“Orang seperti Kam Lo cianpwe itu memang takkan betah
tinggal terlalu lama di suatu tempat. Padahal usianya sudah
lebih dari delapanpuluh tahun. Tapi karena pandai ilmu
pengobatan dan kepandaiannya sangat tinggi, maka tubuhnya
masih kokoh kuat untuk berkelana kemana saja." Tong Ciak
berkata seperti kepada dirinya sendiri.
Toat-beng-jin dan Yap Kiong Lee yang berada di
sampingnya tidak menyahut. Keduanya hanya berdiam diri
saja, seolah menyesalkan kepergian orang tua yang terlalu
cepat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lalu.... apa rencana kita sekarang, Tong Cusi?” Algojo tua
dari Im-yang kauw itu akhirnya membuka mulut.
"Tentu saja pulang ke Gedung Pusat. Masalahnya sekarang
cuma kedua anak muda itu ikut kita lagi atau tidak? Mereka
sudah sembuh dan tidak membutuhkan pertolongan kita lagi,"
Tong Ciak menjawab.
"Lalu bagaimana dengan rencana kita untuk menarik dia ke
perkumpulan kita itu?"
Tong Ciak menghela napas. "Lo-jin-ong, apa gunanya kita
memaksa kalau dia sendiri tak mempunyai minat sama sekali
kepada aliran kita? Kita tak usah tergesa gesa. Biarlah dia
berpikir dan menentukan pilihannya sendiri. Sekarang hatinya
masih diliputi dendam, sehingga tak mempunyai waktu untuk
memikirkan masalah yang lain. Kita nantikan saja
perkembangannya kelak setelah hatinya menjadi dingin
kembali. Pokoknya kita berdua telah menanamkan pengertian
dalam dadanya, macam apa Aliran Im-yang kauw kita."
"Wah, Tong Cusi benar. Memang tak ada gunanya kita
memaksakan kehendak kita!"
Kedua orang tokoh lm-yang-kauw itu lalu mempersiapkan
segala sesuatunya sebelum mereka berangkat. Sementara Yap
Kiong Lee juga bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu
bersama kudanya.
"Yap-kongcu hendak pergi kemana?" Tong Ciak mendekati
Yap Kiong Lee yang sedang sibuk membenahi kudanya.
"Menemui Ceng-ya kang dulu di warung Hao Chi."
"Hahaha......!" Tong Ciak yang jarang-jarang tertawa itu
terkekeh kekeh geli. "Maksudku.... setelah Yap-kongcu
menemui dia?"
"Entahlah, Lo-cianpwe. Mungkin ke Pantai Karang...."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya Yap Kiong Lee berangkat mendahului yang lain.
Kudanya yang tegar itu melangkah pelan ke jalan besar,
menuju ke bekas Warung Hao Chi.
"Tong Lo-cianpwe....., pergi ke manakah Yap toako tadi?"
tiba-tiba Souw Lian Cu keluar dan mendekati Tong Ciak Cu-si.
"Ooh, Nona Souw.....Sudah baikkah kesehatanmu ?
Syukurlah! Anu.....Yap kongcu telah berangkat meneruskan
perjalanannya." tokoh bertubuh pendek itu menerangkan.
Matanya yang tajam itu menatap wajah gadis di depannya
lekat-lekat, agaknya ingin menjenguk isi hati gadis yang
sangat misterius itu.
Souw Lian Cu tidak menyadari kalau sedang diperhatikan
orang. Matanya yang bulat indah itu menatap redup dan
kosong ke depan, ke arah mana Yap Kiong Lee tadi pergi.
Wajahnya pucat dan rambutnya kusut. Meskipun demikian
kecantikannya yang khas dan masih asli itu ternyata tidak
menjadi surut, tapi justru semakin tampak menonjol malah.
"Lo-cianpwe, di manakah Kam Lo-cianpwe ? Apakah dia
masih tidur?"
"Dia sudah pergi, nona. Dia meninggalkan rumah ini
sebelum kita semua bangun." Toat-beng-jin keluar
menghampiri mereka. Tangannya menjinjing buntalan.
“Ooh.....?!" gadis itu terhenyak. "Siauw-te belum
mengucapkan terima kasih padanya."
"Ah. ... tak perlu, nona. Bagi Kam Lo cianpwe mengobati
orang itu sudah ia anggap sebagai kewajibannya." Toatbengjin
tersenyum. "Lalu apa rencana nona sekarang ? Pulang
atau terus ikut kami ? Sekarang kami tidak bisa memaksa lagi,
karena nona sekarang sudah sembuh."
"Benar, Nona Souw..... Engkau sudah sembuh sekarang,
dan tidak memerlukan lagi pengobatan kami. Nona kini bebas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk menentukan tujuan nona..." Tong Ciak ikut memberi
keterangan.
“Baik, Lo-cianpwe! Siauw-te memang bermaksud untuk
pergi pula sekarang. Siauw-te ingin lekas-lekas pulang ke
Pulau Meng-to. Tapi lebih dulu terimalah rasa terima kasih
siauw-te yang sebesar-besarnya atas budi baik Locianpwe
berdua, yang sudi merawat siauwte sehingga siauwte masih
bisa hidup sampai sekarang." gadis itu menekuk kedua
kakinya dan berlutut di depan Tong Ciak dan Toat-beng-jin.
"Hai! Hai ! Bangunlah.... !” tergopoh-gopoh Tong Ciak
membangunkan si gadis.
"Terima kasih Ji-wi Locianpwe, siauw-te mohon permisi....."
Tanpa menantikan keluarnya Chin Yang Kun lagi, Souw
Lian Cu meninggalkan rumah bersejarah tersebut. Toat-bengjin
dan Tong Ciak mengawasinya sampai hilang dari
pandangan mereka. Sebenarnya banyak hal-hal yang ingin
mereka ketahui dari gadis itu, tapi keduanya enggan untuk
menanyakannya, khawatir akan melukai perasaan gadis yang
sangat aneh tersebut.
"Seorang gadis yang aneh ! Siapakah sebenarnya dia ?"
Tong Ciak bergumam.
Sementara itu Chin Yang Kun juga sudah bangun pula.
Sambil mengucak-ucak matanya pemuda itu melompat dari
tempat tidurnya. Tubuhnya terasa amat enteng dan segar.
Dadanya tak terasa sesak dan sakit lagi. Dan ketika ia
mencoba mengerahkan tenaga saktinya, semuanya berjalan
baik dan lancar. Malah rasanya lebih baik lagi dari pada
dahulu.
Sinar matahari telah menerobos lobang-lobang jendelanya.
Di atas meja kecil di dekat pembaringan telah tersedia pula
secangkir teh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wah..... terlambat bangun aku rupanya!" Yang Kun
berkata perlahan.
Chin Yang Kun berdiri tegak di tengah ruangan. Kedua
lengannya ia silangkan di depan dada. Berkonsentrasi. Dia
ingin mencoba Liong cu-i-kang dan Kim-coa ih-hoatnya!
Apakah semuanya sudah lancar kembali seperti dahulu?
Sekejap kemudian mulutnya berdesis seperti ular merah.
Dan sesaat kemudian hawa dingin meniup dari dalam
perutnya, menebar memenuhi ruang tidur yang besar itu.
Makin lama udara dingin itu semakin bertambah menggigilkan,
sehingga cangkir teh yang berada di atas meja itu seperti
bergetar dan menguapkan asap.
"Ah, ternyata tenagaku benar-benar sudah pulih kembali.
Kini akan kucoba mengerahkan kim coa ih-hoat.....!"
Yang Kun menarik kaki kirinya lurus ke belakang,
sementara kaki kanannya tetap berada di tempatnya. Cuma
kaki kanan itu ia tekuk ke bawah, agar lebih kuat untuk
menyangga tubuhnya. Kedua lengannya tetap ia silangkan di
depan dada.
Kemudian matanya yang telah berubah tajam mencorong
itu menatap ke depan, ke arah jendela yang jaraknya sekitar
tiga meter dari tempatnya berkonsentrasi.
Tiba-tiba.....
"Hiyaaaaaat!"
Telapak tangan kiri pemuda itu tiba-tiba terayun deras ke
depan, menimbulkan desiran suara angin yang mendesis.
Wuuuuusss….! Tapi anehnya, meski lengan itu telah terulur
penuh ke muka, telapak tangan itu masih tetap saja meluncur
jauh ke depan, menjangkau kancing jendela serta
membukanya. Padahal jarak jendela itu tidak kurang dari tiga
meter jauhnya !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 18
"OH… bukan main segarnya udara pagi....!" Yang Kun
berseru sambil menghirup udara segar yang masuk dari
jendela yang baru saja dibukanya.
"Wah ..... dan bukan main pula hebatnya ilmu Yang Hiante
tadi!” Toat beng-jin dan Tong Ciak Cu si yang telah berdiri di
ambang pintu itu memuji."Sudah sehat benarkah kau, Yang
Hiante?"
"Ah, Ji-wi Lo cianpwe ! Ji-wi tentu telah menyaksikan
permainan siauw-te yang jelek tadi, bukan ?"
"Hei ! Siapa berani bilang jelek ? Oh, kalau ilmu seperti itu
masih juga dikatakan jelek .....hmm, orang itu tentu buta !
Hehehe......" Toat-beng jin menggoyang-goyangkan
tangannya.
"Lo-cianpwe ..,? Mana yang lain?" Yang Kun mengalihkan
pembicaraan yang tak mengenakkan hatinya itu.
"Sudah berangkat semua. Tinggal kita ini......" Tong Ciak
tersenyum.
Tapi Chin Yang Kun tidak ikut tersenyum. Pemuda itu
justeru tertegun. Tiba-tiba seperti ada yang hilang di dalam
dadanya. Bergegas tubuhnya meloncat keluar, menjenguk ke
setiap kamar yang malam tadi dipakai oleh Kam Song Ki, Yap
Kiong Lee dan ..., Souw Lian Cu ! Di kamar yang terakhir ini ia
terpaku untuk beberapa lama, seolah-olah dunia ini menjadi
sunyi dengan mendadak.
"Yang-hiante, engkau mencari siapa? Ada apa….?" Toatbeng-
jin yang tua itu datang menghampiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, Lo-cianpwe...... mengapa mereka tak pamit kepadaku
?” desah Yang Kun lesu.
"Pamit ? Eh..... oh...... anu, mungkin mereka segan untuk
membangunkan Yang-hiante." orang tua itu memandang
heran. Mengapa mesti pamit segala ? Bukankah mereka samasama
tamu di rumah itu ? Dan bukankah mereka itu bukan
saudara atau sahabat akrab satu sama lain? Mengapa pemuda
ini merasa kecewa tak dipamiti oleh mereka ? Sungguh aneh
sekali !
Dipandang begitu rupa oleh Toat-beng-jin, membuat Chin
Yang Kun segera sadar akan kejanggalan dirinya. Maka
dengan kikuk pemuda itu cepat cepat memperbaiki
kekeliruannya.
"Anu...,, eh, maksud siauwte….siauw-te belum sempat
berterima kasih kepada..... kepada Kam Lo-cianpwe,” katanya
gagap.
“Ooh, tak usahlah. Mungkin bagi Kam Lo-cianpwe hal
seperti itu cuma dia anggap sebagai kewajiban saja." Toatbeng-
jin membesarkan hati Yang Kun.
"Tapi...... siauw-te juga akan berangkat saja sekarang.
Terima kasih atas bantuan dan budi Ji-wi Lo-cianpwe, yang
mau bersusah susah merawat siauwte sehingga siauw-te
sekarang dapat sehat kembali. Pada suatu saat nanti siauwte
akan berkunjung ke tempat Lo cianpwe untuk minta sedikit
ilmu kepandaian."
"Ah, jangan bergurau ! Mana mampu harimau memberi
pelajaran kepada naga. Tapi meskipun demikian aku selalu
berharap akan kedatangan Yang-hiante di Gedung Pusat
kami."
"Tong Locianpwe! Toat-beng-jin Lo-cianpwe ! Siauwte
mohon diri......"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Chin Yang Kun berlutut di depan mereka sebentar, untuk
menyatakan rasa terima kasihnya. Dan sebelum kedua tokoh
Im-yang kauw itu datang membangunkannya, Chin Yang Kun
telah melesat pergi dengan cepat sekali. Sebentar saja telah
lenyap dari pandang mata orang tua itu.
"Anak-anak muda sekarang banyak yang berwatak aneh!"
sekali lagi Tong Ciak bergumam.
Toat-beng-jin tersenyum. "Mungkin watak Tong Cu-si dulu
juga takkan kalah anehnya!" orang tua itu memberi komentar
sambil pergi membawa buntalannya.
ooOoo
Seperti orang bingung Chin Yang Kun berjalan bolak-balik
mengitari dusun Ho-ma cun yang besar dan ramai itu. Di
dalam hatinya Chin Yang Kun berharap semoga dapat
berjumpa dengan Souw Lian Cu. Tetapi sampai matahari naik
sepenggalan, gadis yang dia harapkan itu tetap tak
diketemukannya. "Betul-betul goblog! Mengapa aku tadi lupa
bertanya kepada Tong Cu-si, kemana sebenarnya tujuan gadis
itu?" sesal Chin Yang Kun di dalam hati.
Akhirnya bosan juga Chin Yang Kun berjalan kian kemari.
Dengan tubuh Iemas dan pikiran lesu, pemuda itu
menjatuhkan dirinya di bawah pohon Pek yang tumbuh lebat
di pinggir sungai. Dipilihnya sebuah batu besar yang bagian
bawahnya terendam aliran sungai. Sambil merenungi
bayangan wajahnya yang terpantul di atas permukaan air,
Chin Yang Kun mencoba untuk mengenang kembali saat-saat
dia berkumpul dengan Souw Lian Cu.
Perkenalan mereka belumlah dapat dikatakan lama, kalau
toh hubungan mereka selama itu boleh disebut berkenalan.
Soalnya, meskipun mereka setiap hari selalu makan minum
bersama, berjalan bersama dan menghadapi bahaya bersamasama,
tetapi mereka tak pernah berbicara atau saling
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyapa satu sama lain. Mereka berdua lebih cenderung
untuk saling menghindari dan saling membenci.
Tapi sebenarnya Chin Yang Kun tidak merasa membenci
Souw Lian Cu. Di dalam hati kecilnya, pemuda itu justru
merasa suka dan bersimpati.
Tetapi… gadis itulah yang membenci Chin Yang Kun dan
selalu menghindarinya ! Sehingga lambat laun timbul juga
perasaan tak puas di hati Yang Kun. Akibatnya, pemuda itu
sering kali balas menggoda dan membuat dongkol Souw Lian
Cu. Tapi sebenarnya hal itu dilakukan oleh Chin Yang Kun
hanya sekedar untuk membalas perlakuan Souw Lian Cu
kepadanya.
"Ah ! Gila ! Tak seharusnya aku terlalu memikirkan gadis
cacat itu. Aku bertemu dengan dia baru beberapa hari yang
lalu. Aku belum mengenalnya dengan baik. Ya kalau dia orang
baik-baik, kalau tidak ? Ya kalau dia masih perawan, kalau
sudah bersuami atau bertunangan? Aaaah….!” Chin Yang Kun
berdesah berulang-ulang.
Chin Yang Kun bangkit berdiri. Dilihatnya matahari telah
naik tinggi. Beberapa buah perahu nelayan telah mulai
berdatangan kembali dari tempat pekerjaan mereka. Mereka
merapat kembali ke bandar mereka untuk beristirahat siang.
"Hah, aku harus dapat melupakannya. Harus ! Urusanku
sendiri masih sangat banyak, tugas yang diberikan oleh
mendiang ayah dan paman-pamanku masih bertumpuk. Aku
harus segera menyelesaikannya!" akhirnya Chin Yang Kun
menetapkan keputusannya. Dibuangnya segala macam pikiran
yang memberatkan dirinya itu jauh-jauh.
Kini dengan dada sedikit lapang Chin Yang Kun berjalan
menyusuri sungai itu. Sambil melangkah pemuda itu membuat
rencana. Pertama tama ia harus mencari para pembunuh
keluarganya. Yang kedua, ia harus mencari Cap Kerajaan yang
ternyata diperebutkan oleh banyak orang pula. Ketiga, dan ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang paling memberatkan perasaan hati Yang Kun, yaitu
menegakkan kembali Dinasti Chin !
Tugas yang ketiga ini yang selalu ditekankan oleh ayahnya
dan juga kemudian oleh nenek buyutnya, benar-benar sangat
berat untuk dilaksanakan oleh Chin Yang Kun. Pemuda itu
sedikitpun tak mempunyai minat untuk menjadi penguasa,
apalagi menjadi raja. Sejarah keluarganya yang bergelimang
dalam kancah permusuhan, perebutan pengaruh dan
kekuasaan, yang akhirnya justru memusnahkan mereka
sendiri itu benar-benar sangat dibencinya. Pemuda itu lebih
suka hidup tentram dan damai sebagai rakyat biasa.
"Ah, tugas yang terakhir itu biar kupikir nanti sajalah...."
pemuda itu menghela napas. “Sekarang yang mula-mula harus
kulakukan adalah mencari para pembunuh itu! Dan lobang
yang harus aku masuki, agar dapat bertemu dan
mendapatkan mereka adalah .. Ceng ya kang! lblis itulah satusatunya
petunjuk yang kuperoleh."
Mengingat nama Ceng-ya-kang pemuda itu Iantas teringat
pada ceritera Yap Kiong Lee. Dan begitu mengingat ceritera
Yap Kiong Lee, Yang Kun juga lantas teringat pula ceritera
sahabatnya, Chu Seng Kun !
Menurut ceritera Yap Kiong Lee kemarin, iblis gundul itu
menjadi anggota sebuah kelompok yang bermaksud akan
menggulingkan kekuasaan Kaisar Han. Kelompok itu dipimpin
oleh seorang aneh bernama Hek-eng-cu. Dan menurut cerita
dari Chu Seng Kun, orang berkerudung hitam ini sudah
bersiap diri menyusun sebuah kekuatan besar yang
ditempatkan di mana-mana. Dalam ambisinya untuk menjadi
kaisar, tokoh misterius itu juga telah berusaha untuk
mendapatkan pusaka Cap Kerajaan.
Jadi kemungkinan besar memang kelompok itulah yang
dimaksudkan oleh ayah dan paman-pamannya. Sebuah
kekuatan besar yang memusuhi keluarganya dan mau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merampas Cap Kerajaan, Chin Yang Kun berkata di dalam
hati.
"Kini sudah terang bagiku, siapa lawan yang mesti
kuhadapi." Yang Kun melangkah sambil menggeram.
Tangannya meraih sebatang ranting kemudian meremasnya
hingga hancur, lalu dibuangnya ke sungai.
"Kecopakk !"
"Eeii.... kurang ajar! Mengintip orang sedang mandi, kau
yaa„...?"
''Haah?!??" Chin Yang Kun terperangah, lalu cepat-cepat
menghindar ketika dilihatnya seorang wanita muda sedang
merendam diri di tepian sungai yang dangkal.
Tapi belum juga pemuda itu sempat melangkah lebih jauh
lagi, dari atas pohon tiba tiba meloncat turun seorang Iaki-laki
tampan menghadang di depannya. Pakaian orang itu sangat
baik dan bersih, sementara wajahnya yang tampan itu juga
dirawat dengan baik. Terlalu baik malah, sehingga berkesan
sebagai seorang yang sangat pesolek. Usianya sudah tidak
muda lagi, tapi matanya masih bersinar nakal dan genit.
"Ahaa.... pengintip perempuan yang goblog ! Tidak begitu
caranya mengintip wanita yang sedang mandi! Hahaha.... kau
ini benar-benar pemuda canggung yang masih ingusan!"
datang-datang orang itu sudah mengolok-olok Chin Yang Kun.
Tentu, saja Chin Yang Kun menjadi marah. "Aku tidak
mengintip!" bentaknya keras.
Tapi orang itu justru tertawa semakin terpingkal-pingkal.
Apalagi ketika tampak olehnya wajah Chin Yang Kun yang
merah padam. "Hoho, tidak usah malu. Aku dulu juga begitu.
Ketika mengintip yang pertama kalinya, aku juga ketahuan
tetanggaku, hoho .... Aku menjadi malu bukan main, saking
maluku, aku jadi mata gelap! Kubunuh tetanggaku yang sial
itu !"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Keparat! Aku tidak sekotor pikiranmu !" Chin Yang Kun
benar-benar naik pitam. Tangannya diulur ke depan untuk
mencengkeram baju orang bermulut kotor itu.
Ternyata orang itu juga gesit sekali. Tubuhnya berputar
tiga kali ke kanan, dan serangan Yang Kun menemui tempat
kosong, "Hohoho...ternyata engkau juga kalap seperti aku
dulu. Hanya sayang yang kau ketemukan sekarang bukan
tetanggaku itu, tapi seorang hantu pencabut nyawa,
hehe.......!”
"Aku tidak peduli hantu atau bukan, tapi kalau kau tak
mencabut kata-katamu yang kotor itu, kau akan kulempar ke
dalam sungai !” Yang Kun memukul dengan tangan kiri ke
arah kepala.
Lagi-lagi orang itu mengelak dengan berjongkok. Cuma kali
ini dia tidak tinggal diam dan membiarkan dirinya diserang
terus-menerus oleh Yang Kun. Mendadak dari bawah orang itu
menotok jalan darah tia-teng-hiat di ketiak Yang Kun.
Bersamaan dengan itu dari mulutnya juga menyembur asap
putih bergulung gulung, persis seorang perokok yang
menyemburkan asap dari pipanya.
Chin Yang Kun meloncat ke belakang, sehingga totokan
dan semburan asap itu luput dan tak mengenai dirinya.
Meskipun demikian hati pemuda itu menjadi kaget juga.
Ternyata lawannya seorang yang berwatak licik dan
berbahaya. Sekilas tercium bau yang memabokkan pada asap
tadi.
Orang itu tidak mengejar Chin Yang Kun. Sambil tertawa
dia menimang-nimang sebuah hun-cwe (pipa tembakau)
panjang yang berasap pada ujungnya. "Haa.... kau terkejut?"
katanya. Sikapnya sangat memandang rendah sekali.
Diam-diam Chin Yang Kun mengerahkan Liong-cu i-kangnya,
sehingga tulang-tulang di badannya terdengar
berkerotokan. Sekejap orang yang memegang huncwe itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengerutkan dahinya, lalu melangkah setindak ke belakang
ketika tiba-tiba dirasakannya ada hawa dingin yang
menghembus ke arah dirinya. Senyumnya hilang. Dengan
perasaan tegang ia menatap Chin Yang Kun.
“Hah !" sambil membentak Yang Kun memukul ke perut
lawan. la mengerahkan sepertiga dari seluruh tenaga saktinya.
Perbawanya sungguh menggiriskan.
Untunglah orang itu telah bercuriga sejak tadi. Maka begitu
Chin Yang Kun memukul dengan disertai hembusan angin
dingin, cepat-cepat ia menjejakkan kakinya ke atas tanah.
Tubuhnya segera melayang tinggi keatas melewati kepala Chin
Yang Kun. Sambil melayang tak lupa orang itu menyedot pipa
huncwenya, dan kemudian sebelum kakinya turun di belakang
Chin Yang Kun, pipa tembakau yang panjang itu menyabet ke
arah tengkuk lawannya.
"Wuuut!”
Chin Yang Kun melangkah setindak ke depan, sehingga
sabetan pipa itu melayang lewat, kemudian tubuhnya berputar
dengan cepat. Berbareng dengan mendaratnya kaki lawan di
atas tanah, Chin Yang Kun mengirim pukulan lagi ke arah
pinggang ! Sekali lagi pemuda itu cuma mengerahkan
sepertiga dari tenaga saktinya.
Sebenarnya orang itu dapat mematahkan serangan Chin
Yang Kun dengan menarik sikunya ke belakang. Tapi orang itu
ternyata tak mau melakukannya. Sekali lagi dia tak mau adu
tenaga dengan membenturkan siku itu ke arah pukulan Yang
Kun. Orang itu benar-benar berhati hati sekali, sehingga
akhirnya justru Chin Yang Kun yang menjadi kesal dan tak
sabar. Maka ketika dengan tubuh miring orang itu meloncat
menjauh, Yang Kun cepat mengerahkan Kim-coa-ih-hoatnya.
"Haiiit !"
Lengan itu bertambah panjang sejengkal jauhnya, sehingga
lawan yang merasa telah terbebas dari jangkauan Yang Kun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu menjadi kaget setengah mati ! Ternyata pukulan yang
telah dihindari itu masih saja mengejarnya ! Dengan muka
pucat orang itu bergegas melangkah Iagi ke belakang. Tapi
sungguh hampir pingsan rasanya ketika lengan itu masih saja
mengikutinya !
Hampir saja orang yang bersenjata huncwe itu berteriak.
Tapi sebelum ada suara yang keluar dari mulutnya, tubuhnya
telah terangkat ke atas, dan di lain saat badannya telah
terlempar ke dalam sungai.
"Byuuuur!”
“Hei, ada apa di sini? Apakah yang terlempar ke arah
sungai tadi? Apakah..... oohh, kau ! Tukang ngintip.. ... !" tibatiba
seorang wanita bermuka cantik dan manis datang
menghampiri Chin Yang Kun. Pakaiannya berwarna hitam,
rambutnya disanggul tinggi seperti seorang puteri Istana.
Usianya mungkin sudah lebih daripada tigapuluh tahun, tapi
oleh karena selalu dirawat dengan baik, maka kelihatannya
seperti seorang gadis remaja saja.
Chin Yang Kun mengenali wanita yang baru saja tiba itu
sebagai wanita yang tadi dilihatnya sedang berendam di dalam
sungai. Mengingat wanita itu yang membikin gara-gara hingga
ia sampai berkelahi dengan seseorang, maka Chin Yang Kun
segan untuk melayani. Tanpa mengeluarkan perkataan
sepatahpun ia melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"Tunggu !"
Wanita ini berkelebat cepat mendahului Chin Yang Kun dan
menghadang di mukanya. Terpaksa pemuda itu berhenti
melangkah. Ditatapnya wanita cantik itu dengan seksama.
"Maaf, apa maumu ? Mengapa menghentikan langkahku?"
Yang Kun bertanya dengan suara kaku.
"Hei, mengapa malahan engkau yang menjadi marah?
Seharusnya akulah yang menjadi marah. Engkau mengintip
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aku, lalu kawanku yang menegurmu kaulemparkan ke dalam
sungai, bagaimana ini ? Apakah kau mau main pukul dan ingin
mau menang sendiri ?"
"Huh ! Siapa yarg mengintip engkau? Jangan terlalu
sombong dan besar perasaan !"
"Apa? Kau maki aku sombong? Kau maki aku besar
perasaan? Kurang ajar! Kau memang layak diberi
pelajaran.......!" wanita itu berseru marah. Telapak tangannya
menampar ke arah pipi Chin Yang Kun.
Tapi dengan mudah pemuda itu mengelakkannya, lalu
tubuhnya melejit ke samping dan berusaha lari meninggalkan
tempat itu. Tapi wanita itu tak mau melepaskannya begitu
saja. Dengan lincah ia mengejar. Lalu dari belakang, tangan
kanannya menghantam ke arah punggung Chin Yang Kun.
Chin Yang Kun terpaksa meloncat ke kiri. Tapi secara tak
terduga kaki lawannya melayang ke atas, menghantam ke
selangkangannya, sehingga akibatnya Chin Yang Kun terpaksa
berjungkir balik ke belakang lagi. Dan belum juga kakinya
berdiri tegak, wanita itu sudah mengejar pula dengan
tendangan berantainya. Mau tak mau Chin Yang Kun terpaksa
mengelak mundur lagi. Repotnya bukan main !
Kini Chin Yang Kun benar-benar hilang kesabarannya!
"Berhenti ! Atau..... kulempar pula kau ke sungai !" pemuda
itu menghardik.
"Eee, mengancam ...? Coba saja kalau mampu !"
“Siau-kwi.....! Berhenti !” tiba-tiba orang yang tercebur ke
dalam sungai tadi muncul dan berteriak ke arah wanita itu.
Wanita cantik yang dipanggil dengan nama Siau kwi itu
benar-benar mematuhi perintah tersebut. "Ada apa? Mengapa
kau melarang aku membunuh dia ?” protesnya penasaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan gegabah! Dialah yang telah membunuh Togu dan
Huang-ho Heng te......" orang itu berseru sambil mengebutngebutkan
bajunya yang basah. Pipa tembakaunya yang
panjang itu ia ketuk-ketukkan pada pahanya supaya kering.
"Haah ?" Siau-kwi terbelalak. "Kau tidak main-main ?”
"Aku tidak main-main, Pek pi Siau kwi (Hantu Cantik
Berlengan Seratus)…."
"Bagaimana kau mengetahuinya ?"
"Sudahlah ! Kau turut saja kata kataku !" laki-laki
bersenjata huncwe itu menarik lengan Pek-pi Siau kwi.
"Saudara, maafkan kekasaran kami tadi. Kami cuma
bermaksud … mencoba orang yang telah mampu membunuh
dua orang jago kami. Ternyata saudara memang lihai sekali.
Ooh, ya....bolehkah kami mengetahui nama dan gelar saudara
?"
Chin Yang Kun mengendorkan urat-uratnya yang tegang.
Namun demikian ia tetap selalu waspada. Bagaimanapun juga
ia belum mengenal mereka dengan baik. Apalagi mereka
ternyata adalah kawan dari orang yang terbunuh di restoran
itu. Kalau sekarang mereka bersikap halus dan mau mengalah,
hal itu cuma disebabkan karena mereka takut atau segan pada
kepandaiannya. Lain tidak! Maka dia harus tetap berhati-hati.
"Jadi... ji-wi ini kawan-kawan dari orang yang terbunuh
itu?" Chin Yang Kun menegaskan. "Maaf, aku terpaksa
membunuh mereka, karena merekalah yang mengepung aku
dan mendesakku ! Tentang nama..... panggil saja aku Yang
Kun ! Tak punya gelar atau nama besar yang lain ! Apakah
kalian mau membalas dendam ?”
"Ah, tidak ! Tidak ! Mana aku berani? Kami justru ingin
berkenalan atau… bersahabat, kalau boleh!” orang yang
bersenjata huncwe itu berkata hati-hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hai, kau ini bagaimana sih? Sudab gila kau barangkali?
Kawan sendiri telah dibunuh, kau malah mengajaknya
bersahabat....." Pek-pi Siau-kwi menarik lengan kawannya.
“Kaulah yang gila dan buta! Apa gunanya melawan orang
yang berkepandaian melebihi kita? Ingin bunuh diri ? Sudahlah
kauturut saja aku..." laki-laki itu mencubit tangan kawannya.
"Dan lagi kawan-kawan kita sendirilah yang membuat
kesalahan, bukan saudara ini….."
"Sudahlah, kalian jangan bercekcok. Temanmu yang mati
itu memang telah salah mengenali aku dan kawan kawanku.
Temanmu menyangka kami akan menyerang Tan wangwe,
padahal sama sekali tidak ! Buat apa kami menyerang orang
yang tak kami kenal?"
"Wah, kaudengar itu? Saudara Yang ini bukan anggota
rombongan Keh-sim Siauw hiap.” laki-laki itu menoleh kepada
Pek-pi Siau-kwi.
"Ooo, tahu aku sekarang. Jadi kalian ini sedang menunggu
rombongan Keh-sim Siauw hiap. Oleh karena itu ketika teman
kalian melihat rombonganku, mereka menyangka bahwa
rombongan Keh-sim Siauw hiap telah tiba. Begitukah?"
"Betul!” laki-laki bersenjata huncwe itu mengangguk.
"Ahh.... kalau begitu kasihan sekali kematian orang-orang
itu. Mereka mati karena kesalahpahaman. Aku sungguh
berdosa sekali…." Chin Yang Kun menyesali diri.
"Ah, Yang sicu tidak bersalah. Kawan-kawankulah yang
terlaIu bodoh dan buta."
“Terima kasih. Tetapi akupun ikut bersalah dalam hal ini.
Coba aku lebih sabar sedikit dan merundingkannya dengan
baik, kukira kesalahpahaman itu takkan sampai terjadi."
Ketiga orang itu berdiam diri untuk beberapa saat, seolaholah
mengenangkan nasib orang yang telah meninggal dunia
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Yang-sicu ..!'' akhirnya laki laki bersenjata huncwe itu
menyapa perlahan. “Maukah Yang-sicu kubawa ke tempat
kawan-kawanku? Marilah kita jernihkan kesalahpahaman
antara kita ini di sana! Biarlah mereka mengetahui atau
menyadari kesalahan mereka dan biarlah mereka meminta
maaf kepada Yang sicu..”
"Benar, saudara Yang,.., Kalau saudara Yang mau ke
tempat kami dan menerangkan sendiri kesalahpahaman ini,
kukira semuanya akan menjadi beres. Tak ada lagi dendam
mendendam di antara kita." Pek-pi Siau-kwi ikut membujuk
Chin Yang Kun.
Urat-urat Chin Yang Kun kembali tegang untuk sesaat. Ada
dua kemauan yang saling bertentangan di dalam hatinya.
Keinginan untuk meluluskan permintaan orang itu, dan
membereskan semua kesalahpahaman mereka, serta
keengganan untuk mendatangi tempat yang berbahaya itu,
demi keselamatan dirinya.
Agaknya laki laki itu dapat membaca pikiran Chin Yang Kun.
Oleh karena itu dengan lantang ia berkata. "Apakah Yang-sicu
belum mempercayai aku? Kalau umpamanya Yang-sicu
memang tidak percaya kepadaku, lalu apa yang harus
ditakutkan pada diriku ini? Tadi aku baru saja saudara
kalahkan. Padahal aku adalah kepala dari semua pengawal
Tan-wangwe. Nah, kalau kepalanya saja dapat saudara
tundukkan, lalu apa yang mesti ditakuti pada anak buahnya ?”
"Bagaimana saudara Yang.....?” Pek-pi Siau-kwi ikut
mendesak.
“Baiklah! Mari kita berangkat!" Chin Yang Kun mengangguk
dengan dada tengadah.
"Terima kasih!" Pek pi Siau-kwi dan laki laki itu saling
melirik, kemudian sambiI tersenyum penuh arti mereka
menyatakan rasa terima kasih.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bertiga mereka berjalan menyusuri tepian sungai itu ke
arah bandar yang berada di pinggir dusun. Orang orang di
atas perahu yang lewat ataupun para pejalan kaki yang
kebetulan berpapasan dengan mereka, tentu menyapa dan
memberi hormat kepada Pek pi Siau-kwi dan lelaki pemegang
huncwe itu.
“Ji-wi sangat dihormati orang di dusun ini. Hmm, siapakah
sebenarnya ji-wi ini? Siapa pula Tan wangwe itu? Mengapa
saudara sampai bentrok dengan Keh-sim Siauwhiap yang
terkenal itu?" sambil berjalan Chin Yang Kun bertanya tentang
mereka.
Laki-laki itu tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan
tersebut secara langsung, "Ah..... mengapa terburu-buru?
Sebentar lagi saudara tentu akan mengerti sendiri.”
Mereka melewati bandar tempat menambat perahu di
pinggir dusun. Tempat itu sangat ramai dan penuh dengan
sampan dan perahu. Beberapa orang pengawal atau tukang
pukul yang bersenjata golok tampak menyongsong mereka.
Salah seorang dari mereka segera membungkuk.
"Tan-wangwe telah menunggu tuan berdua sejak tadi,"
katanya memberi Iaporan.
"Apakah rombongan Keh-sim Siauw-hiap telah tiba?"
"Belum....."
Beberapa waktu kemudian mereka sampai ke sebuah
rumah yang besar, luas, indah dan sangat megah. Bangunan
itu didirikan menghadap ke arah sungai, sehingga kesan
kemegahannya sungguh amat menonjol dengan ruang
pandangan yang sangat luas. Pagar temboknya disusun dari
bata merah setinggi dua meter lebih, meskipun begitu toh
tetap tidak bisa menutupi bangunan gedungnya yang tinggi.
Di pintu gerbang masuk mereka disongsong pula oleh para
penjaga yang berseragam lengkap, lalu diantar melalui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
halaman depannya yang amat luas. Para penjaga itu berhenti
di bawah tangga pendapa dan mempersilahkan mereka naik
ke atas.
Laki Iaki bersenjata huncwe itu mendahului naik tangga,
diikuti oleh Pek pi Siau kwi dan Chin Yang Kun. Di atas
pendapa mereka telah dinantikan oleh para jagoan pengawal
yang dikumpulkan Tan-wangwe, di antaranya Hui-chio Tu
Seng, Houw-ho Lam-hui dan Ngo kui-shui! Ketika orang-orang
itu melihat kedatangan Chin Yang Kun, mereka langsung
berpencar dan menghunus senjata masing masing.
“Berhenti ! tidak ada lawan di sini, semuanya adalah kawan
! Kalian mundurlah….!" Laki-laki berhuncwe itu meloncat ke
depan dan berteriak keras.
"Jai-hwa Toat beng-kwi (Hantu Cabul Pencabut
Nyawa)......! Pek pi Siau-kwi! Itulah pemuda yang telah
membunuh kawan kawan kita......!” Hui-chio Tu Seng balas
berteriak.
"Kalian keliru ! Duduklah ! Mari kita bicarakan dengan hati
dingin!" orang bersenjata huncwe yang dipanggil dengan
sebutan Jai-hwa Toat-beng-kwi itu menarik lengan Hui-chio Tu
Seng dan kawan kawannya ke kursi. Lalu sambil berbisik lirih
Jai-hwa Toat-beng kwi menepuk bahu Hui chio agar menuruti
saja segala perintahnya.
Sementara itu Lam Hui menatap Chin Yang Kun dengan
rasa tak keruan. Menurut Hui chio, pemuda itulah yang telah
membunuh Togu dan Huang ho Heng te dengan ilmu yang
amat mengerikan. Sebuah ilmu siluman yang bisa
memanjangkan dan memendekkan anggota badan!
Padahal kepandaiannya masih berada di bawah ketiga
orang yang telah mati itu. Oleh karena itu betapa kecut
hatinya bila ia teringat akan lagaknya dulu ketika bertemu
dengan pemuda itu di warung Hao Chi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Mari ! Marilah duduk, Yang sicu.....!” Jai-hwa Toat-beng
kwi mempersilahkan Chin Yang Kun.
Dengan wajah tenang tanpa perasaan khawatir sedikitpun
Chin Yang Kun duduk di atas kursi yang disediakan untuknya.
Lalu dengan tenang pula, pemuda itu menatap orang-orang
yang berada di sekitarnya satu persatu. Ketika pandangannya
jatuh pada Lam Hui, orang bertubuh tinggi besar yang semula
sangat garang itu tiba-tiba menggigil. Rasanya mata itu
mencorong menyilaukan bagi Lam Hui, seperti sorot matahari
yang menimpa mukanya.
"Saudara Tu Seng, Lam Hui dan Ngo kui shui...,,,” Jai-hwa
Toat-beng-kwi berdiri dan mengawasi kawan-kawannya.
"Sekarang aku mau bertanya kepada kalian...... siapa
sebenarnya lawan yang sedang kita tunggu tunggu itu?"
Hui chio Tu Seng, Houw-kho Lam Hui dan Ngo kui-shui
saling memandang dengan bingung. Mereka benar benar tak
mengerti, apa maksud Jai-hwa Toat-beng-kwi bertanya
tentang hal yang telah mereka ketahui bersama itu ?
Bukankah semua sudah tahu bahwa mereka sedang
menantikan kedatangan Keh-sim Siauw hiap ?
"Ayoh, katakan ! Mengapa diam saja ? Katakan, siapa
lawan yang kita tunggu tunggu itu!”
"Jai hwa Toat-beng-kwi, kau ini aneh benar. Bukankah kau
juga sudah tahu kalau kita sedang menantikan Keh-sim Siauwhiap?"
Tu Seng menjawab.
"Nah, ternyata kalian masih ingat juga. Lalu, apa yang akan
kalian perbuat kalau ada rombongan lain yang bukan
rombongan Keh sim Siauw hiap lewat di dusun ini ? Hanya
sekedar lewat saja! Apakah rombongan itu akan kalian hantam
juga?”
"Huh, apa gunanya kita menghantam mereka? Cuma
mencari kesulitan sendiri saja. Baru berhadapan dengan Kehsim
Siauw hiap saja kita sudah kehilangan kawan, mengapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kita harus menambahnya dengan musuh-musuh yang lain?"
Hui-chio Tu Seng menjawab tegas.
Jai hwa Toat beng-kwi tersenyum, lalu melangkah
mendekati Tu Seng. Matanya menatap jago tombak itu lekat
lekat. "Lalu.... mengapa kau menyerang juga rombongan Yang
sicu ini? Apakah kalian sudah yakin kalau mereka itu
rombongan dari Keh-sim Siauw hiap ?"
"Ini ….ini….. aku tak tahu ...!” Tu Seng menjawab dengan
gagap.
"Nah, ketahuilah sekarang. Yang sicu ini bukan orangnya
Keh-sim Siauw-hiap! Jadi kalian kemarin telah keliru
sangka....,"
"Tapi…. tapi... apa buktinya kalau dia bukan orangnya Kehsim
Siauw-hiap?”
"Naah, ternyata kalian masih dapat berpikir juga sekarang.
Tapi mengapa kemarin kalian tak punya pikiran untuk
membuktikan terlebih dahulu, siapa sebenarnya dia ? Kalian
langsung main labrak saja, dan akibatnya.... kalian sendiri
yang rugi. Ternyata yang kalian tabrak adalah gunung
karang.......”
Jai-hwa Toat-beng kwi kembali ke kursinya. Meskipun
banyak yang belum puas, tapi tak seorangpun yang berani
bersuara. Mereka memendam saja perasaannya, hanya
kadang-kadang saja mereka melirik ke arah Chin Yang Kun.
Akhirnya tak enak juga perasaan pemuda itu kalau cuma
berdiam diri saja. Perlahan-lahan ia bangkit dari tempat
duduknya.
"Cu wi sekalian.......! Aku tahu bahwa cu-wi belum percaya
kepadaku. Tapi sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Jaihwa
Toat-beng-kwi tadi, aku bukan anak buah Keh sim Siauw
hiap. Aku memang tidak mempunyai bukti. Tapi aku dapat
membuktikannya bila Keh-sim Siauw-hiap berada di sini. Nah,
sekarang terserah kepada cu-wi semua. Percaya atau tidak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tidak percayapun aku juga tidak peduli. Aku siap menghadapi
siapa saja!"
Tak seorangpun berani berkutik, Ngo kui-shui memandang
Lam Hui, Lam hui yang tinggi besar itu memandaug Hui-chio
dan Jai-hwa Toat-beng-kwi. Tapi dua orang pentolan
pengawal ini juga diam saja menundukkan muka,
"Nah.......memang sebaiknya begitu !" tiba-tiba Pek-pi Siaukwi
memecahkan kesunyian tersebut, "Memang sebaiknya
Yang-sicu berada di tempat ini dahulu untuk membuktikan
bahwa dia bukan anak buah Keh-sim Siauw-hiap. Nanti
setelah Keh-sim Siauw-hiap datang. Yang-sicu dapat pergi....
dengan bebas."
"Hahaha..... benar ! Benar ! Aku sepakat !" Jai-hwa Toatbeng-
kwi bersorak.
"Hei! Hei! Ini....... aku.....” Chin Yang Kun berusaha untuk
mencegah keputusan itu.
"Sudahlah, Yang-sicu. Duduk sajalah yang baik, kami akan
menjamu Yang-sicu seperti kami menjamu tamu kehormatan
kami...... Hei, pelayan ! Keluarkan meja jamuan selengkaplengkapnya
!" Jai-hwa Toat-beng-kwi berteriak ke dalam.
"Ah !” Chin Yang Kun berdesah kikuk. Dan seperti telah
dipersiapkan sebelumnya, dari dalam lantas terlihat beberapa
orang gadis keluar membawa nampan berisi segala macam
makanan. Dengan cekatan mereka menata meja itu tanpa
bersuara. Sekejap saja semuanya telah siap.
"Bagus! Bagus…..! Ada tamu agung rupanya ! Marilah.....
kalau begitu aku Tan Hok akan ikut menikmati jamuan ini..."
dari dalam tiba-tiba muncul seorang lelaki gagah berpakaian
sangat indah. Usianya sekitar empatpuluh lima tahun. Rambut
di atas pelipisnya telah memutih. Begitu juga yang berada di
atas ubun-ubunnya. Sebatang pedang panjang tergantung
pada pinggangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tan wangwe .,.,!” semuanya berdiri menyambut orang itu.
"Silahkan! Silahkan.....! Jangan sungkan-sungkan ! Ah,
siapakah tamu kita kali ini ?"
Jai hwa Toat-beng-kwi menyongsong Tan-wangwe dan
membawanya ke dekat Chin Yang Kun, lalu
memperkenalkannya satu sama lain.
"Yang-sicu, beliau ini adalah pemilik rumah ini. Beliau
bernama Tan Hok atau Tan wangwe .. "
Chin Yang Kun membungkuk sambil merangkapkan kedua
belah telapak tangannya di depan dada, tapi mulutnya tetap
diam tak bersuara. Sebaliknya ketika namanya disebut oleh
Jai-hwa Toat-beng kwi dan diperkenalkan kepada tamu
rumah, Tan-wangwe menyambutnya dengan sangat hormat
dan gembira sekali.
"Ooh, Yang Siauw-hiap rupanya....! Aku telah mendengar
tentang kehebatanmu dari Hui-chio Tu Seng kemarin. Katanya
seorang diri engkau dapat mengalahkan dan membunuh Togu
dan Huang ho Heng te. Aku benar-benar sangat kagum
kepadamu. Ilmu kepandaianmu tentu tinggi sekali..”
"Dan.... Tan wangwe paling suka berteman dengan jago
silat yang berkepandaian tinggi !" Pek-pi Siau-kwi yang sedari
tadi cuma diam saja, tiba-tiba menyahut.
“Benar. Aku memang sangat senang dan menghargai
orang-orang yang hebat..... seperti Yang Siauw-hiap ini pula !
Maka dari itu aku akan bergembira pula hari ini apabila dapat
bersahabat dengan Yang Siauw-hiap!"
"Hei, mengapa pula sampai tak bisa! Marilah kita makan
dan minum untuk merayakan persahabatan kita ini.....!" Jaihwa
Toat-beng-kwi segera berseru sambil menyambar cawan
arak yang berada di depannya. Yang Iain-lain segera
mengikutinya pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terpaksa Chin Yang Kun melayani kegembiraan mereka.
Apalagi sejak kemarin ia memang belum makan sama sekali.
Ia menerima saja setiap mereka menawari makanan dan
minuman, sehingga akhirnya ia menjadi mabuk dan
kekenyangan.
Pemuda itu bangkit dari kursinya, lalu dengan
sempoyongan ia berjalan ke dalam rumah.
“Marilah kubantu pergi ke kamarmu, Yang-sicu....." Pek-pi
Siau-kwi meloncat mendekati.
Tangannya meraih ke arah pinggang Chin Yang Kun!
Meskipun sedang dalam keadaan mabuk ternyata pemuda itu
tetap sulit sekali untuk didekati orang. Beberapa kali Pek-pi
Siau kwi berusaha menyambar lengan atau pinggang Chin
Yang Kun, untuk membantunya pergi ke kamar, tapi selalu tak
berhasil. Biarpun sempoyongan, gerakan kaki dan tangannya
masih sangat gesit dan cepat bukan main!
“Ja-jangan dekati a-aku! Aku mau..... mau tidur sesebentar.
Si-siapa y-yang mendekati aku akan kubunuh
seperti...... seperti ini! Hiaaat !”
Pemuda itu mencengkeram ke arah ubun-ubun Pek-pi Siaukwi
tapi karena sempoyongan sasarannya menjadi berubah ke
arah pundak. Meski pun demikian serangan tersebut juga
tidak kalah berbahayanya dengan sasaran semula. Kalau kena,
tak pelak lagi wanita cantik itu tentu akan menjadi cacat
badan seumur hidupnya. Oleh karena itu Pek-pi Siau kwi juga
tidak berani sembrono melayani serangan itu.
Wanita itu mengerahkan segala kemampuannya, lalu
dengan cepat memiringkan tubuhnya ke kanan sehingga
cengkeraman Chin Yang Kun mengenal tempat kosong.
Kemudian sebelum pemuda itu sempat menarik lengannya,
Pek pi Siau kwi bergegas menabas lengan tersebut dengan sisi
telapak tangannya. Tapi entah karena sedang mabuk atau
karena memang sudah tak sempat lagi, Chin Yang Kun tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berusaha mengelakkan serangan tersebut. Sebaliknya pemuda
itu justru membarenginya dengan sapuan kakinya ke arah
kuda-kuda lawan.
Pek pi Siau kwi menyangka bahwa Chin Yang Kun memang
benar-benar sudah mabuk, maka hatinya menjadi gembira
bukan main. Wanita itu sudah membayangkan bahwa sekejap
lagi pergelangan tangan Chin Yang Kun akan terlepas
persendiannya dan selagi pemuda itu merasakan kesakitan, ia
akan segera mencengkeram lengan tersebut dan kemudian
membantingnya ke atas lantai! Blug! Dan semuanya akan
bertepuk tangan untuknya.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat
wanita itu hampir pingsan karenanya. Pada benturan pertama,
bukanlah Chin Yang Kun yang terlepas persendian tulangnya,
tapi Pek pi Siau-kwi sendirilah yang menjerit setinggi langit.
Serasa remuk seluruh tulang lengan wanita itu ketika
membentur lengan Chin Yang Kun yang keras bagai besi baja.
Dan selagi rasa sakit itu masih mencengkam tubuhnya, wanita
itu menjerit pula sekali lagi ketika mendadak tubuhnya
terangkat ke atas, kemudian terbanting kembali ke lantai
dengan kerasnya ! Serasa ada seribu bintang yang tiba-tiba
datang mengerumuninya. Pusing !
Selesai menyapu kaki lawan Chin Yang Kun sendiri lalu
sempoyongan menabrak meja, sehingga meja yang penuh
terisi makanan dan minuman itu terguling jatuh
menumpahkan seluruh isinya. Seguci arak yang masih penuh
terlontar dari meja itu dan pecah ketika menimpa kepala Chin
Yang Kun. Isinya tumpah membasahi tubuh Chin Yang Kun
dari ujung rambut sampai ke dalam sepatunya.
“Heheh... segar! Segar sekali ! Mmm ... mandi arak wangi
memang segar sekali !" pemuda itu tertawa terkekeh-kekeh
sambil menjilati arak yang mengalir di atas bibirnya. Kaki yang
belum dapat berdiri tegak itu tiba-tiba melangkah kembali ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tempat Pek-pi Siau-kwi masih terbaring kesakitan. Tangannya
terkepal, siap untuk memberi pukulan terakhir.
Jai-hwa Toat-beng kwi dan kawan-kawannya terlonjak
kaget dari kursinya melihat bahaya yang akan menimpa
sekutu mereka itu. Seperti mendapat aba-aba mereka melesat
bersama-sama ke arah Pek-pi Siau kwi. Jai-hwa Toat-beng-kwi
yang tak pernah lekang dari huncwenya, melemparkan senjata
andalannya itu ke arah Chin Yang Kun. Begitu juga yang
dilakukan oleh Hui-chio Tu Seng ! Orang yang sangat terkenal
karena tombak terbangnya itu melontarkan senjatanya
berbareng dengan Jai-hwa Toat-beng-kwi. Dan kedua senjata
tersebut melesat bagai kilat, menyongsong langkah Chin Yang
Kun.
"Siuuuuuuut! Siuuuuuuut!"
"Ceeep ! Ceeep !”
Semuanya ternganga. Dua buah senjata yang melesat
dengan dahsyat itu ternyata disambar dengan amat mudah
oleh Chin Yang Kun, seakan-akan benda berbahaya itu cuma
barang mainan baginya. Hanya karena kakinya memang
sempoyongan sejak tadi, maka begitu berhasil menangkap
senjata yang terlontar dengan kekuatan tinggi itu, Chin Yang
Kun langsung terjengkang dan berguling-guling di atas Iantai.
Tapi itupun hanya sekejap, karena sesaat kemudian tubuh
pemuda itu telah melenting ke atas, terus menerkam ke arah
orang-orang yang mendatanginya.
Dan orang-orang yang mau menolong Pek-pi Siau kwi itu
juga bersiap-siap menghadapi pula.
"Wuuuut ! Siuuuut ! Plak!"
“Blug! Blug !”
Tujuh orang pengawal pilihan dari Tan-wangwe itu
berjatuhan bagaikan buah kelapa yang dipungut dari
tangkainya. Mereka terkapar bergelimpangan di lantai dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mulut mengaduh-aduh kesakitan. Sungguh menakjubkan!
Seorang diri, sedang mabuk pula..... tapi dalam satu gebrakan
telah mampu menjatuhkan semua musuh-musuhnya.
"Nah ! lni.....hik hik, ini cuma peringatan sa-saja untuk kkalian,
hik ! Lain kali.. jjj-jangan dekati aku lagi ! Eh, Tanwangwe....
ayoh antarkan aku ke kamarmu!"
"Ba-baik ! Baik !" Tan Hok tersentak kaget. Wajahnya
pucat, seolah-olah tak percaya pada kejadian itu. Orang orang
yang dia kumpulkan untuk menghadapi Keh-sim Siauw-hiap
ternyata telah disikat oleh pemuda itu dalam satu gebrakan.
Sungguh tak masuk di akal.
Setelah mengantar Chin Yang Kun ke kamarnya, Tan Hok
bergegas keluar kembali menemui para pengawalnya. Orang
orang itu segera ditolongnya. Ngo-kui shui yang lwee-kangnya
paling rendah terpaksa harus minum obat, karena pukulan
Chin Yang Kun ternyata mengandung racun.
“Gila! Anak itu kepandaiannya sungguh dahsyat !" Tan Hok
berkata heran.
"Aku juga merasa heran. Dulu ayahnya tak sehebat dia.
Maka ketika kemarin Tuan Tan menugaskan aku untuk
membawanya kemari, aku menjadi salah hitung. Tadi siang
tubuhku telah dilemparkannya ke dalam sungai seperti ini
tadi.” Jai-hwa Toat-beng-kwi bersungut-sungut.
"Baiklah ! Sekarang kita teruskan rencana kita itu. Kita
harus bisa mempergunakan kelihaiannya itu untuk melawan
Keh-sim Siauw-hiap. Sekarang biarlah aku sendiri yang
membujuknya." Tan Hok berbisik ke telinga Jai-hwa Toatbeng-
kwi.
Tan Hok lalu berlari kembali ke dalam rumah. Ia melayani
sendiri keperluan Chin Yang Kun. Dengan tekun hartawan itu
menunggui sendiri di dekat pembaringan Chin Yang Kun.
Kemudian diajaknya berbicara dan mengobrol. Oleh karena
Chin Yang Kun masih dalam keadaan mabuk, maka kata-kata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang keluar dari mulutnyapun juga tak beraturan dan asal
bicara saja. Apa yang terpikir langsung keluar dari mulutnya.
Sama sekali pemuda itu tak memikirkan, di mana dia kini
sedang berada. Di tempat kawan atau lawan, berbahaya bagi
keseIamatannya atau tidak. Yang dirasakan oleh Chin Yang
Kun pada saat itu cuma tubuhnya terasa enteng dan ringan
sekali, seakan-akan ia mau terbang dibawa angin.
“Tan Hok, kau benar-benar kaya sekali..... hik." pemuda itu
memanggil nama si tuan rumah dengan enaknya, seolah-olah
memanggil pelayannya saja. "Rumahmu..... hik...rumahmu
bagus sekali, perabotannyapun bukan main indahnya.
Semuanya terbuat dari emas....Tapi...hik.... kenapa sepi
sekali? Di mana keluargamu? Maksudku......isteri dan anakanakmu?
Yang kulihat sedari tadi cuma para pelayan dan ...
hik,. . para pengawalmu saja."
Tiba-tiba terdengar suara Tan Hok menghela napas berat.
Beberapa saat lamanya orang kaya itu tak menjawab
pertanyaan Chin Yang Kun, sehingga Chin Yang Kun yang
belum sadar dari mabuknya itu menjadi heran.
“Eh, kau kenapa? Mengapa diam saja? Ooh,kau sedang
sedih hahaha..... hik! Ayoh..... dong, jawab,.,..! Takut dengan
Keh-sim Siauw-hiap? Haha.... jangan khawatir! Asal aku....
hik-hik.... masih berada di sini semuanya tanggung beres."
Sekejap air muka Tan Hok tampak berseri gembira, tapi
sekejap kemudian kembali sedih pula lagi. Perlahan-lahan
orang tua itu bangkit berdiri, lalu melangkah ke arah gambar
yang tergantung pada dinding kamar. Diambilnya gambar itu
dan dibawa ke pembaringan Chin Yang Kun, dan diperlihatkan
kepada pemuda tersebut.
"Keluargaku telah meninggal semua. Mertuaku, isteriku,
anak-anakku dan para pelayan dari keluargaku ! Inilah gambar
mereka...." katanya sedih. Chin Yang Kun menerima gambar
itu serta melihatnya dengan teliti. Tampak Tan Hok bersama
isterinya berdiri di belakang sepasang orang tua, yang duduk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di atas kursi mewah. Di samping mereka berdiri empat orang
anak kecil berpakaian indah dan anggun. Gambar itu diambil
di depan sebuah gedung yang sangat indah mirip istana.
"Ahh, kelihatannya tuan memang keturunan orang kaya
atau keturunan bangsawan." Chin Yang Kun memberi
komentar setelah puas melihat gambar itu. “Rumah yang ada
di dalam gambar ini tentulah sebuah istana atau semacamnya
itu."
''Saudara Yang sungguh sangat teliti. Benar. Gedung yang
ada di dalam gambar itu memang sebuah istana kecil tempat
tinggal mendiang Perdana Menteri Li Su."
"Oh, kalau begitu tuan Tan ini masih kerabat dari Perdana
Menteri itu? Haha, aku..... hik hik .... aku tahu sekarang.
Keluarga tuan tentu dibunuh oleh pasukan Liu Pang, bukan?”
Tan Hok menggeleng. ''Bukan ....!" jawabnya tegas.
"Hei? Bukan? Ah, lalu siapa kalau bukan mereka? Keh-Sim
Siauw-hiap?" Chin Yang Kun yang sudah agak sembuh dari
mabuknya itu merasa heran.
"Ah, panjang sekali ceritanya,.,,." Tan Hok tertunduk lesu
sambil menghela napas berulang-ulang. "Kematian keluargaku
sungguh amat sengsara sekali. Kematian mereka cuma
disebabkan oleh perebutan pusaka warisan keluarga. Aku
mempunyai warisan pusaka yang ternyata juga diinginkan
oleh banyak orang, di antaranya adalah Keh-sim Siauw-hiap.
Tapi semuanya dapat kutanggulangi, selain......eh, panjang
sekali ceritanya,”
“Ohh? Bolehkah aku mendengarkan ceritamu itu?
Tampaknya Tuan Tan mempunyai nasib yang sama dengan
nasib keluargaku." Chin Yang Kun bertanya dengan nada sedih
pula. Mendadak pemuda itu juga teringat kepada ayah, ibu
dan paman-pamannya yang terbunuh pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah, nanti aku ceritakan kepada Yang Siauw-hiap. Tapi
marilah kita minum-minum dahulu, agar Yang Siauw-hiap
merasa lebih segar lagi!" Tan Hok berkata sambil menuangkan
arak ke atas cawan, "Lihat! Matahari sudah hampir terbenam
dan sebentar lagi bulan segera akan muncul. Siapa tahu
malam ini Keh-sim Siauw hiap benar-benar datang, sehingga
kita tak mempunyai kesempatan lagi untuk minum bersama."
"Baik ! Marilah ..., !" Chin Yang Kun yang mulai tertarik dan
bersimpati kepada Tan Hok itu segera menyambar cawan
yang disuguhkan kepadanya.
Mereka lalu makan minum lagi sepuas-puasnya, sehingga
rasa pusing yang semula telah hilang dari kepala Chin Yang
Kun kini kembali menggayuti kepala pemuda itu lagi.
"Nah, kau...... kau berceritalah ! Matahari telah ber..... hik,,
bersembunyi sekarang. Bulan s-segera mmm...... muncul, hik !
Nanti tak ada kesempatan I-lagi kalau Keh-sim Siauw-hiap
ddd..,„ datang." Chin Yang Kun yang telah mabuk lagi itu
mengguncang-guncang lengan Tan Hok. Mulutnya yang
berbau arak keras itu berkata serak dan gagap.
"Baiklah, Yang Siauw-hiap…. Aku akan bercerita.." Tan Hok
yang ternyata tidak ikut mabuk itu berdiri perlahan. Kemudian
sambil melipat lengannya di bawah punggung dia mulai
berceritera.
Sebelum para pemberontak sampai ke kota raja, Perdana
Menteri Li Su telah berusaha menyelamatkan seluruh harta
dan keluarganya dengan berbagai cara. Selain menyuruh
belasan orang anak cucunya pergi meninggalkan kota raja
dengan menyamar dan membawa harta sebanyak-banyaknya,
Perdana Menteri Li Su juga menyelundupkan seluruh harta
karun yang tak ternilai banyaknya. Harta karun itu
diselundupkan melalui iring-iringan pengungsi yang terdiri dari
wanita dan anak anak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ternyata iring-iringan pengungsi itu tak pernah mencapai
tujuannya. Mereka hilang entah di mana, seperti juga anak
cucu Perdana Menteri Li Su yang lain. Semuanya tidak ada
yang bisa menerobos kebuasan para pemberontak yang telah
menguasai hampir seluruh negeri itu. Semua anak cucu
Perdana Menteri Li Su yang menyamar telah dibantai habis
dan seluruh harta yang dibawanya juga habis untuk rebutan.
Hanya seorang yang tidak mengalami perlakuan seperti itu,
yaitu Tan Hok dan keluarga yang dibawanya. Menantu
Perdana Menteri Li Su itu dapat menyelamatkan diri bersama
keluarganya, dan hidup mengasingkan diri di daerah padang
ilalang yang sunyi. Dengan harta yang mereka bawa itu
mereka membangun sebuah rumah di tempat terpencil
tersebut. Mereka hidup bebas di tempat terasing itu selama
bertahun-tahun tanpa mengalami gangguan dari siapapun.
Malapetaka mengerikan yang menghabiskan seluruh
keluarga itu justru karena ulah Tan Hok sendiri. Ternyata
biarpun sudah mendapatkan harta kekayaan yang sangat
banyak dari mertuanya, Tan Hok masih selalu teringat pada
harta karun yang diselundupkan oleh mendiang mertuanya itu.
Beberapa kali ia keluar dari tempat persembunyiannya,
mengembara seperti seorang pendekar untuk mencari berita
tentang harta karun yang hilang itu.
Berbulan-bulan, bertahun tahun Tan Hok mencari, tapi tak
didapatkan juga harta itu. Berkali-kali Tan Hok menyusuri
daerah pantai sebelah timur, karena khabarnya iring-iringan
pengungsi itu mengambil jalan menyusuri pantai timur.
Sehingga di daerah yang sering ia kunjungi itu namanya
menjadi terkenal dan disegani orang.
Akhirnya setelah kira-kira tiga tahun ia berkelana, Tan Hok
bisa memperoleh berita tentang harta karun itu. Salah seorang
prajurit yang mengawal iring-iringan itu ternyata masih hidup,
biarpun tubuhnya cacat. Prajurit itu sebelum mati telah
membuat sebuah peta pada sepotong emas yang ia dapatkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari tumpukan harta karun tersebut. Peta itu ia wariskan
kepada anak laki-laki yang bekerja sebagai nelayan.
Nah, pada suatu hari nelayan muda itu diketemukan oleh
Tan Hok di tepi pantai bersama perahu dan teman-temannya.
Perahu mereka baru saja dirampok ketika berlabuh di tempat
itu. Para perampok tersebut mengambil semua harta mereka,
termasuk hasil jerih payah mereka di laut. Yang paling
disayangkan oleh nelayan muda itu ialah terbawanya sebagian
dari benda warisan ayahnya yang berada di dalam
buntalannya.
Tan Hok menjadi curiga dan merasa aneh ketika
mengetahui bahwa benda warisan yang dimaksudkan oleh
nelayan itu adalah potongan emas. Sungguh mengherankan
bila nelayan miskin seperti mereka mempunyai emas, apalagi
berupa potongan yang cukup besar pula. Oleh karena itu
malam harinya Tan Hok menculik nelayan muda tersebut serta
memaksanya untuk bercerita tentang potongan emas yang
dibawa oleh perampok itu.
Karena takut nelayan itu mengatakan apa adanya, juga sisa
potongan emas yang masih tertinggal di rumahnya. Akhirnya
Tan Hok membeli potongan emas itu dari tangan si nelayan
dan membawanya pulang. Potongan emas yang ada gambar
petanya itu ia simpan dengan baik. Sekarang tinggal mencari
potongannya yang lain.
Ternyata rahasia penemuannya itu tidak tersimpan dengan
baik. Entah bagaimana, ternyata Keh-sim Siauw hiap yang
tinggalnya di atas pulau yang tak jauh dari pantai tersebut,
tahu pula tentang rahasia itu. Keh-sim Siauw-hiap yang
mempunyai kegemaran mencari harta lalu membagi-bagikan
kepada fakir miskin itu segera mencari Tan Hok. Dan itulah
awal permusuhan antara mereka.
Pertama tama Keh-sim Siauw-hiap mengirim orangorangnya
untuk menggeledah seisi rumah Tan Hok. Biarpun
mereka tak mendapatkan benda yang mereka cari, tapi orangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
orang Keh-sim Siauw hiap itu mengambil apa saja yang
mereka ketemukan di rumah Tan Hok. Padahal pada saat itu
Tan Hok sedang mengembara, mencari potongan emas
lainnya. Baru setahun kemudian Tan Hok pulang. Hatinya
marah sekali melihat rumahnya telah dirampok orang.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Postingan Cersil Terbaru