Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 03 Juni 2018

Pedang Keramat Thian Hong Kiam

=====
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
1
Pada tahun 870 sampai 873 rakyat Tiongkok menderita hebat sekali karena buruknya
pemerintah yang dipegang oleh Dinasti Tang. Pembesar-pembesar dari yang terkecil sampai
yang terbesar, dari yang terendah sampai yang tertinggi, semua melakukan korupsi besarbesaran,
hingga tenaga dan harta benda rakyat diperas habis-habisan.
Di antara sekalian pembesar-pembesar koruptor tinggi, kaum Thaikam (orang kebiri) yang
paling hebat menjalankan peranan. Mereka ini tidak saja berpengaruh di dalam istana
kaisar, tapi meluas sampai keluar hingga boleh dibilang, semua pembesar militer dan sipil
berada dalam genggaman tangan mereka. Lebih dari setengah bagian dari pada seluruh
tanah di ibukota dikuasai oleh para Thaikam ini.
Para petani, atau lebih tepat disebut buruh tani, bekerja di atas tanah tuan-tuan besar ini
melebihi kerja seekor kerbau. Sedangkan para petani yang memiliki sedikit tanah,
dikenakan pajak yang sangat tinggi. Untuk tiap mou sawah, seorang petani harus membayar
pajak dari 50 sampai 100 kati gandum.
Tentu saja ini merupakan delapan bagian dari pada hasil tanah mereka. Apalagi ketika
dalam tahun 873 di daerah Shantung dan Honan terserang musim kering yang hebat,
sedangkan pajak yang telah ditetapkan itu sama sekali tidak berubah atau dikurangi.
Celakalah nasib kaum tani. Siapa yang tidak kuat membayar pajak sebagaimana yang telah
ditetapkan, dihukum berat.
Hukuman yang paling ringan adalah hukum cambuk lima puluh kali. Tapi hukuman yang
disebut paling ringan inipun sering mengantar nyawa seseorang ke alam baka, karena
siapakah yang kuat menahan pukulan cambuk besar sampai lima puluh kali, sedangkan
tubuh yang dicambuk itu telah begitu kurus kering karena kurang makan?
Ada nasehat-nasehat kuno yang menyatakan bahwa rakyat jelata akan tunduk dan menurut
apabila perut mereka kenyang, maka kenyangkanlah dulu rakyat jelata jika menghendaki
Negara tenteram dan aman. Pada tahun 874, terbuktilah betapa tepatnya kata-kata itu.
Para petani yang terjepit dan menderita dengan perut kosong, tak dapat bertahan lagi dan
menjadi nekad. Maka pecahlah pemberontakan pertama di Cang-yuang (Shantung) yang
dipimpin oleh Ong Sien Ci, dan pemberontakan ini didukung oleh hampir seluruh rakyat
kecil. Pada tahun berikutnya, rakyat di Coa-chau memberontak pula, dipimpin oleh seorang
patriot bernama Oey Couw.
Empat tahun kemudian, Ong Sien Ci tewas dalam sebuah pertempuran melawan tentara
kerajaan Tang di Hupeh. Akan tetapi dalam sesuatu revolusi suci, tewasnya seorang dua
orang, bahkan ratusan atau ribuan orang, tak menjadi soal dan sama sekali takkan
memadamkan api revolusi yang menggelora. Mati satu maju dua, gugur seratus maju
seribu.
Demikianlah, setelah Ong Sien Ci tewas, Oey Couw segera menggantikan dan memegang
pimpinan atas barisan pemberontak yang berjumlah tidak kurang dari enam puluh laksa
orang. Oey Couw yang gagah perkasa menjalankan taktik gerilya di sepanjang propinsi
Hupeh, Kiangsi, Cekiang dan An hwei lalu memutar dan kembali ke Honan, hingga dalam
operasinya ini, Oey Couw telah melakukan semacam “long march” yang jauhnya sepuluh
ribu li lebih.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
2
Akhirnya, berkat semangat para tentara rakyat yang gigih melawan tentara Tang yang hanya
pandai menerima suapan dan sogokan serta merampok harta benda dan mengganggu anak
bini orang itu dapat dipukul hancur.
Kaisar Tang melarikan diri mengungsi ke Secuan dan pasukan petani memasuki ibukota
Cang-an, disambut oleh penduduk dengan gembira dan penuh harapan.
******
Untuk beberapa hari semenjak tentara petani berhasil mengalahkan kerajaan Tang, di
kampung-kampung dan dusun-dusun orang mengadakan perayaan dengan tari-tarian,
hingga keadaannya di mana-mana meriah seperti di waktu orang merayakan hari tahun
baru. Para petani kini bebas mengerjakan sawahnya tanpa kuatir membayar pajak yang tidak
semestinya itu. Para buruh juga mendapat harapan baik, tenaga mereka tidak diperas
seperti kerbau.
Pada suatu pagi, di antara banyak orang yang kesemuanya adalah orang biasa yang
mengenakan pakaian petani dan pengemis, tanda dari buruk dan miskinnya keadaan rakyat
jelata pada waktu yang lalu, nampak dua orang keluar dari pintu gerbang ibukota Cang-an.
Seorang di antara mereka ini telah berusia lima puluh tahun lebih, berjenggot panjang dan
terpelihara baik-baik, dan wajahnya nampak merah dan sehat. Orang kedua adalah seorang
pemuda yang berusia paling banyak tujuh belas tahun dan berwajah tampan sekali.
Keduanya mengenakan pakaian petani dan kepala mereka terlindung oleh caping (topi
petani yang lebar dan terbuat dari pada bambu).
Di punggung yang tua terikat sebuah bungkusan bundar besar, sedangkan yang muda
memanggul sebuah bungkusan kecil panjang dari sutera kuning. Tak seorangpun
memperhatikan kedua orang petani ini, kecuali, orang-orang perempuan yang kebetulan
melihat mereka karena tertarik dan kagum akan kegantengan pemuda petani itu.
Orang-orang sedikit pun tak menyangka bahwa mereka ini bukanlah sembarangan orang,
akan tetapi adalah seorang Pangeran dan anaknya. Orang tua itu adalah Pangeran Liu Mo
Kong yang tadinya menjabat pangkat kepala bagian perbendaharaan kaisar.
Berbeda dengan pembesar-pembesar lain, Pangeran yang menjadi ahli kesusasteraan dan
juga memiliki kepandaian silat tinggi ini, tidak ikut menggila seperti yang lain dan hatinya
tetap bersih. Bahkan diam-diam ia merasa tidak senang melihat keburukan-keburukan yang
terjadi di lingkungan istana. Akan tetapi, ia seorang diri tentu saja tidak berani menentang
para Thaikam yang sangat berpengaruh itu.
Selain memiliki kepandaian sastera yang tinggi, Liu Mo Kong juga memiliki kesabaran dan
kekuatan batin yang sungguh-sungguh luar biasa. Hal ini terbukti ketika terjadi peristiwa
yang sangat ganjil dan memalukan.
Beberapa belas tahun yang lalu, ketika isteri Liu Mo Kong mengunjungi permaisuri, kaisar
telah melihatnya dan jatuh cinta kepada isteri Pangeran ini. Ketika itu, isteri Liu Mo Kong
telah setahun lebih melahirkan seorang anak dan nyonya Liu ini memang sangat cantik lagi
masih muda, belum lebih dari pada dua puluh tahun usianya. Sedangkan Liu Mo Kong ketika
itu telah berusia tiga puluh lima tahun.
Nyonya Liu ini adalah puteri seorang hartawan dari selatan dan terkenal sekali karena
kecantikannya. Dan pertemuan ini lalu disambung dengan pertemuan lain, karena kaisar
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
3
memang masih muda dan mata keranjang. Dengan bujukan-bujukan halus maka runtuhlah
iman nyonya Liu hingga ia mengadakan perhubungan gelap dengan kaisar lalim itu.
Ketika Pangeran Liu Mo Kong mendengar tentang ketidak setiaan isterinya, biarpun di dalam
hatinya ia merasa malu, marah, dan kecewa tercampur sedih yang menghancurkan hatinya,
namun ia dapat menekan perasaannya itu dan bahkan lalu menceraikannya.
Semua pembesar mengetahui hal ini, akan tetapi tak seorangpun yang berani membuka
mulut. Tidak saja mereka takut kepada kaisar, akan tetapi juga takut untuk menyinggung
perasaan dan kehormatan Liu Mo Kong yang perkasa.
Anak tunggal Liu Mo Kong adalah seorang wanita dan diberi nama Liu Yang Giok. Anak ini
semenjak berusia satu tahun lebih telah ditinggalkan ibunya, akan tetapi karena sayangnya
kepada anak ini, Liu Mo Kong tidak mau kawin lagi dan tinggal menduda sampai Yang Giok
menjadi dewasa. Ia memberi pelajaran kesusasteraan dan ilmu silat yang tinggi kepada
puterinya ini.
Pada waktu tentara kaum tani menyerbu dan menduduki ibukota, Liu Mo Kong mengajak
puterinya pergi meninggalkan istana. Biarpun dia menjadi kepala bagian bendahara raja,
namun ia tidak mau membawa barang-barang istana, kecuali sebatang pedang, karena
menurut kepercayaan keturunan raja-raja dulu, pedang inilah yang menjadi bukti dan yang
mengesahkan kedudukan raja yang memerintah di daratan Tiongkok, di antara pusakapusaka
keraton lain. Pedang ini adalah pedang Thian Hong Kiam.
Demikian, maka pada hari itu, Liu Mo Kong menyamar sebagai petani dan puterinya yang
telah menjadi gadis remaja itulah yang menyamar dan berpakaian sebagai seorang pemuda
tani tampan. Yang Giok memanggul bungkusan pakaiannya, sedang pedang Thian Hong
Kiam juga berada dalam bungkusan itu. Dan ayahnya memanggul barang-barang berharga
milik mereka sendiri.
Karena ayah dan anak ini tidak mempunyai keluarga lain, maka mereka meninggalkan istana
dengan hati lapang. Mereka sengaja tidak mau ikut kaisar melarikan diri ke Secuan, dan
ketika kaisar dan sekalian hambanya melarikan diri dengan tergesa-gesa ke Secuan, Liu Mo
Kong mengajak anaknya bersembunyi, setelah berhasil mencuri pedang pusaka Thian Hong
Kiam.
Kedua ayah dan anak itu keluar dari pintu gerbang ibukota tanpa mendapat gangguan. Akan
mereka tidak tahu bahwa di istana terjadi keributan karena Oey Couw pemimpin
pemberontakan itu telah mengetahui bahwa pedang Thian Hong Kiam telah lenyap.
Dari para penyelidiknya ia mendengar bahwa Pangeran Liu Mo Kong tidak ikut pergi
mengungsi dengan kaisar dan menjadi orang terakhir yang meninggalkan istana itu. Maka ia
segera memerintahkan seorang panglimanya membawa barisan mengejar Pangeran Liu Mo
Kong itu.
Sementara itu, Liu Mo Kong dan Liu Yang Giok telah pergi jauh meninggalkan kota raja.
Yang Giok bernapas lega dan berkata,
“Ah, untung tak seorangpun mengenal kita, ayah.”
Akan tetapi, Liu Mo Kong menggeleng-gelengkan kepala, “Betapapun juga, kita harus
berlaku hati-hati. Ingat, anakku, apabila sampai terjadi sesuatu, jangan kau hiraukan aku
bawalah pedang itu pergi jauh-jauh dan kau harus pergi ke selatan.”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
4
“Takkan terjadi sesuatu kepadamu, ayah.”
“Mudah-mudahan begitu, akan tetapi, kita harus berhati-hati. Kau tentu masih ingat
pesanku kemaren?”
Gadis itu mengangguk. “Aku harus pergi ke kota Siu-bi-koan di propinsi Honan.”
“Benar, di sana carilah keluarga Nyo Seng Hwat dan tuturkan semua kepada keluarga Nyo.”
Tiba-tiba wajah yang cantik itu memerah. Memang semenjak kecil ia telah dipertunangkan
dengan putera Nyo yang bernama Nyo Liong. Akan tetapi ia belum pernah bertemu muka
dengan pemuda tunangannya itu.
Ketika ayah dan anak ini berjalan cepat menjahui kota raja, tiba-tiba dari belakang
terdengar suara kaki kuda mendatangi arah mereka.
“Hati-hati, Yang Giok, dan ingat pesanku.” Kata Liu Mo Kong kepada anaknya. Yang Giok
mengangguk dan dadanya berdebar.
Barisan berkuda itu datang menimbulkan debu tebal. Tiba-tiba pemimpinnya berhenti dan
memerintahkan anak buahnya berhenti pula. Ia adalah seorang panglima setengah tua yang
nampak sangat gagah. Ketika melihat dua orang petani itu berdiri memandang mereka,
panglima ini segera menghampiri dan bertanya dengan suara manis budi.
“Maaf lopeh. Apakah kau pernah melihat seorang Pangeran tua dengan puterinya lewat di
sini?” Sambil berkata demikian, sepasang mata panglima itu dengan tajam menatap wajah
mereka.
Liu Mo Kong menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba panglima itu berkata, “Jangan kau marah, lopeh, terpaksa aku akan memeriksa
buntalan-buntalan kalian itu, karena aku mendapat tugas mencari dua orang yang
melarikan diri. Siapa tahu kalau-kalau mereka itu menyamar sebagai petani-petani.”
“Kami petani-petani biasa, apa perlunya ciangkun mengganggu?” kata Liu Mo Kong dengan
berani. “Bukankah kita sama-sama petani dan rakyat kecil?”
Kata-kata ini membuat panglima itu tertegun dan ia tidak dapat segera melakukan niatnya
karena merasa ragu-ragu. Akan tetapi, ketika Liu Mo Kong berbicara sambil menggerakgerakkan
tangannya, panglima yang berpemandangan tajam itu melihat betapa telapak
tangan Liu Mo Kong berkulit putih bersih dan halus, sama sekali bukan tangan seorang
petani yang seharusnya kasar dan berkulit tebal. Maka ia segera memberi perintah,
“Tangkap mereka ini!”
Karena tahu bahwa rahasianya terbuka, Liu Mo Kong lalu mencabut pedangnya yang
disembunyikan di bawah jubahnya yang panjang, lalu berteriak kepada Yang Giok.
“Pergilah kau, tunggu apa lagi?”
“Ayah ....” gadis itu ragu-ragu tidak tega meninggalkan ayahnya.
Sementara itu panglima yang memimpin barisan itu dengan girang berkata, “Bagus kalian
tentu Pangeran dengan puterinya itu! Hayo tangkap!” Ia sendiri lalu mencabut goloknya dan
menyerbu.
Liu Mo Kong memutar pedangnya dan menghadapi keroyokan yang dilakukan oleh beberapa
belas orang tentara yang memiliki kepandaian lumayan juga. Yang Giok hendak membantu,
akan tetapi ayahnya membentak,
“Lekas pergi! Kau hendak membantah??”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
5
Dengan mengucurkan airmata, Yang Giok terpaksa melompat mundur kembali dan
melarikan kakinya secepat mungkin.
“He ...........tahan .....jangan lari!” Panglima itu berteriak dan hendak mengejar, akan tetapi
pedang Liu Mo Kong menghalanginya dan karena gerakan pedang Pangeran itu hebat dan
cepat, maka terpaksa panglima itu mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Pangeran tua
ini.
Lima orang perajurit lalu memacu kuda mengejar Yang Giok. Akan tetapi, sambil berlari
Yang Giok mengayunkan tangannya dan dua orang pengejarnya roboh karena piauw
(senjata rahasia yang disambitkan) gadis yang jitu itu. Tiga orang pengejar lainnya berlaku
hati-hati hingga ketika piauw dari Yang Giok menyambar lagi, mereka dapat
mengelakkannya dengan membungkuk rendah-rendah di atas punggung kuda mereka.
Setelah mereka tiba di dekat Yang Giok, ketiganya lalu meloncat turun dan mengepung
dengan senjata masing-masing. Akan tetapi Yang Giok memiliki gerakan yang cepat dan
gesit sekali. Ia menyambut seorang pengeroyok dengan sebuah tendangan kilat hingga
orang itu kena tendang lututnya dan roboh sambil meringis-ringis dan tak kuasa bangun
lagi.
Ketika dua orang yang lain maju menyambar dengan golok mereka, Yang Giok mengelak
dengan sebuah lompatan jauh dan sebelum kedua orang itu dapat mengejar, tahu-tahu
gadis itu telah meloncat ke atas seekor kuda mereka dan melarikan binatang itu cepatcepat.
Sambil berteriak-teriak kedua orang itu menaiki kuda mereka dan mengejar, akan tetapi
Yang Giok yang sengaja memilih kuda terbaik sudah pergi jauh sekali, hingga akhirnya
kedua pengejar ini terpaksa kembali ke tempat di mana Liu Mo Kong dikeroyok.
Pangeran tua ini memang gagah perkasa dan memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi dia
tak mau menjatuhkan tangan kejam kepada para perajurit yang mengeroyoknya. Karena
maksudnya hanya hendak menghalangi mereka mengejar Yang Giok. Ketika melihat bahwa
para perajurit yang mengejar Yang Giok itu kembali dengan tangan kosong, Liu Mo Kong
lalu berkata kepada panglima tadi.
“Sudahlah, aku menyerahkan diri! Kini tangkaplah!” Ia lalu melempar senjatanya dan iapun
segera diikat kedua tangannya. Orang tua ini dengan bungkusannya yang besar lalu dibawa
kembali ke kota raja dan dihadapkan kepada Oey Couw.
Oey Couw adalah seorang perwira yang tahu juga bahwa Pangeran tua ini berbeda dari pada
kebanyakan pembesar yang korup, maka ia lalu membuka sendiri belenggu yang mengikat
tangan Liu Mo Kong.
“Maafkan kalau kawan-kawanku berlaku kasar kepadamu, Pangeran Liu,” katanya.
Liu Mo Kong memandang kepada pemimpin besar ini dengan kagum. Akan tetapi ia tidak
berkata apa-apa, kecuali.
“Oey sicu, aku merasa kagum akan pergerakanmu yang berhasil ini. Harus ku akui bahwa
pemerintah Tang kurang bijaksana dan tidak pandai memerintah rakyat, oleh karena itu, tak
heran bahwa ia kehilangan kedudukannya. Akan tetapi, betapapun juga aku adalah seorang
anggauta kerajaan Tang dan sekarang aku telah tertangkap, kini terserah kepadamu!”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
6
Oey Couw tersenyum. “Kami tidak bermaksud buruk terhadapmu, karena kamipun bukanlah
orang-orang buta yang tak dapat membedakan mana lawan mana kawan. Kami hanya
mohon supaya kau suka mengembalikan pedang pusaka Thian Hong Kiam, karena pedang
itu harus disimpan di dalam istana ini.”
Liu Mo Kong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu apa-apa tentang pedang
itu.”
Oey Couw maklum bahwa Pangeran tua ini masih bersikap kukuh dan percaya akan tradisi
lama, maka ia tidak mendesak lebih jauh.
“Biarlah, kalau kau menghendaki pedang itu, kami tidak membutuhkannya. Bukan segala
macam pusaka yang mendatangkan kebaikan kepada sesuatu pemerintah, akan tetapi
kebijaksanaan para pelaksananya. Sekarang kami harap tuan suka tetap tinggal di sini dan
menjadi penasehat kami karena betapapun juga, kau lebih tahu akan segala peraturan
pemerintah.”
“Terima kasih, sicu. Kau memang benar pahlawan dan berpemandangan luas. Akan tetapi,
biarpun pemerintah yang lalu buruk dan tidak mampu, aku tetap adalah seorang hamba
yang setia hingga tak pantas bagiku untuk membantu kalian yang betapa pun juga adalah
pemberontak!”
Oey Couw tidak menjadi marah, akan tetapi sikapnya berubah dingin. “Kalau begitu, kau
yang menentukan nasibmu sendiri Pangeran!” Pemimpin ini lalu memerintahkan amak
buahnya untuk memasukkan Pangeran Liu dalam penjara, dengan pesan supaya mereka
melayani Pangeran tua ini baik-baik dan jangan mengganggunya.
Demikianlah, mulai hari itu, Pangeran Liu menjadi seorang tahanan yang istimewa hingga
diam-diam Pangeran ini kagum sekali akan kebijaksanaan Oey Couw. Ia kini hanya
melakukan samadhi di dalam penjaranya dan menuliskan sebuah buku catatan yang kelak
akan menjadi semacam catatan sejarah yang penting artinya bagi ahli-ahli sejarah.
******
Dengan hati bingung dan sedih karena teringat akan nasib ayahnya, Yang Giok melarikan
kudanya dengan secepat mungkin. Setelah melihat bahwa tidak ada musuh yang
mengejarnya, ia merasa lega dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Propinsi Honan.
Biarpun sebagian besar barang-barang berharga berada di dalam bungkusan yang dibawa
oleh ayahnya, akan tetapi di dalam bungkusan pakaiannya ia membawa perhiasanperhiasannya
sendiri yang terbuat dari pada emas dan batu permata, hingga untuk biaya
perjalanan dan makan selanjutnya ia tak perlu kuatir lagi.
Tiga hari kemudian ia tiba di kota Lun-tien dan bermalam di dalam sebuah rumah
penginapan yang besar. Ia tetap mengenakan pakaian sebagai seorang pemuda, akan tetapi
karena ia membawa barang-barang berharga, agaknya akan menimbulkan kecurigaan
apabila ia mengenakan pakaian yang sederhana. Oleh karena itu, ia kini menyamar sebagai
seorang siucai (sasterawan).
Ia tetap mnggunakan nama Yang Giok, karena nama inipun dapat digunakan oleh seorang
pria. Hanya shenya saja ia ganti, bukan she Liu lagi, akan tetapi she Kwee.
Kota Lun-tien cukup ramai dan indah, hingga sore hari itu Yang Giok merasa perlu keluar
dari kamarnya untuk melihat-lihat kota. Ia meninggalkan bungkusannya, akan tetapi ia
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
7
cukup berhati-hati untuk meninggalkan pedang Thian Hong Kiam yang dibawanya. Ia
sembunyikan pedang itu di pinggang, tertutup oleh baju sasterawan yang lebar dan
membawanya ke mana saja ia pergi.
Ketika ia kembali dari berjalan-jalan dan memasuki kamarnya, ia terkejut sekali karena
melihat bahwa kamarnya telah dimasuki orang yang telah membongkar bungkusannya dan
membalik-balikkan kasur pembaringannya seakan-akan pencuri itu mencari-cari sesuatu.
Yang Giok merasa kuatir. Kemudian ia mengadakan pemeriksaan. Ternyata semua barang
berharga berupa perhiasan yang berada di dalam buntalan pakaiannya itu masih lengkap
dan tidak sebuahpun lenyap.
Ia merasa lega, akan tetapi seketika ia merasa makin kuatir. Kalau saja perhiasannya lenyap,
maka terang bahwa yang datang itu tentu seorang pencuri biasa dan ia tak perlu ambil
pusing pula. Akan tetapi, karena barang-barangnya masih lengkap, maka terang yang
datang itu bukanlah pencuri biasa, tentu mereka itu mencari-cari sesuatu, yakni pedangnya.
Hati Yang Giok berdebar.
Apalagi ketika ia memeriksa ternyata baik pintu maupun jendela kamarnya tidak ada tanda
bekas dibongkar. Ia dapat menduga bahwa yang telah memasuki kamarnya tadi tentulah
seorang yang memiliki kepandaian silat yang tinggi dan memasuki kamar itu dari atas
genteng.
Malam itu Yang Giok tidak berani tidur dan ia menyembunyikan pedang Thian Hong Kiam di
bawah bantal kepalanya, sedangkan pedangnya sendiri yang juga adalah sebuah pedang
pusaka bernama Pek-lian-kiam, siap sedia di atas pembaringannya. Setelah menjelang
tengah malam dan matanya mulai mengantuk, tiba-tiba ia mendengar suara perlahan di
atas genteng. Yang Giok cepat memegang pedangnya dan duduk di atas pembaringan.
Ia mencurahkan perhatian dan pendengarannya ke arah suara itu. Akan tetapi suara itu
hilang lagi, dan ia menduga bahwa itu tentu suara kucing atau tikus, karena kalau suara
orang berjalan di atas genteng, tidak mungkin demikian perlahan suaranya. Karena hatinya
masih berdebar, Yang Giok lalu bersila dan mengatur pernapasan untuk menenteramkan
hatinya dan untuk mencegah kantuknya.
Tiba-tiba terdengar genteng dibuka orang dan tahu-tahu dari atas melayang turun
bayangan orang ke dalam kamarnya. Bukan main hebatnya gerakan orang itu dan diamdiam
Yang Giok merasa khawatir sekali. Orang ini memiliki kepandaian yang demikian luar
biasa hingga tidak saja tindakan kakinya tidak terdengar, bahkan gerakannya ketika
melompat masuk ke kamarnya tidak beda seperti melayangnya seekor burung. Yang hebat
sekali ialah ketika orang itu melompat turun, di tangan kirinya memegang sebuah obor
hingga kamar itu menjadi terang sekali.
Yang Giok melihat wajah seorang laki-laki setengah tua yang bertubuh kate, akan tetapi
gadis ini tidak sempat memperhatikan lebih jauh, karena ia segera menggerakkan pedang
Pek-lian-kiam untuk menyerang. Orang kate itu mengelak dan sebagai serangan balasan ia
majukan obornya ke arah muka Yang Giok yang cepat sekali melompat mundur. Saat itu
digunakan oleh lawannya untuk menubruk maju dan sekali tangan kanannya bergerak ke
arah pembaringan, maka pedang pusaka Thian Hong Kiam telah berada di tangannya.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
8
“Aku hanya perlu dengan pedang ini!” orang itu berkata sambil tertawa dan suaranya parau
dan besar.
“Kembalikan pedangku!” Yang Giok membentak marah dan ia mengirim serangan kilat
dengan pedangnya ke arah punggung orang yang hendak melarikan diri itu. Serangan Yang
Giok ini dilakukan dengan penuh kemarahan dan ia menggunakan gerak tipu Chong-engkim-
touw atau Garuda Menyambar Kelinci, maka serangan ini benar-benar hebat dan
berbahaya.
Akan tetapi, orang itu lebih cepat lagi. Sekali tiup saja ia telah memadamkan obor di tangan
kirinya dan keadaannya menjadi gelap gulita. Bersamaan dengan itu, ia menghindarkan diri
dari tusukan Yang Giok dengan sebuah loncatan indah dan cepat ke arah jendela kamar
Yang Giok yang masih tertutup. Dengan menendang kaki, orang itu berhasil menendang
pecah daun jendela dan langsung melompat keluar sambil tertawa. Terdengar kata-katanya
mengejek,
“Anak muda, kau seorang yang lemah tidak pantas memegang pedang pusaka ini!”
Yang Giok merasa sangat gemas dan marah sekali, hingga tiba-tiba timbul keberaniannya
ketika mendengar orang itu menyebutnya anak muda dan siucai, tanda bahwa pencuri itu
belum tahu bahwa ia adalah seorang wanita dan puteri Pangeran Liu Mo Kong.
“Bangsat pencuri hina dina jangan lari!” dengan gerak loncat Rajawali Menyambar Ikan, ia
melompat keluar dari jendela itu pula sambil memutar-mutar pedangnya.
Ketika ia tiba di luar, ia masih sempat melihat pencuri pedang itu melompat ke arah
genteng, maka segera ia melompat pula menyusul. Yang Giok telah mempelajari ilmu silat
semenjak kecil di bawah pimpinan ayahnya yang hebat, hingga dara ini memiliki ginkang
yang tidak rendah.
Melihat kegesitan Yang Giok yang mengejarnya, pencuri itu tiada bernafsu untuk melayani.
Maka ia lalu mempercepat larinya dan sekali lompat saja ia telah berada di wuwungan
rumah lain. Yang Giok terkejut sekali melihat lompatan indah dan hebat ini, maka iapun lari
mengejar dengan cepat. Ia maklum bahwa kepandaian orang itu lebih tinggi dari pada
kepandaiannya sendiri, akan tetapi ia tidak akan melepaskan orang yang mencuri Thian
Hong Kiam itu begitu saja.
Tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan orang lain datang dari jurusan lain dan langsung
menyerang pencuri itu. Yang Giok cepat mengejar dan di bawah sinar bulan purnama ia
dapat melihat bahwa yang datang menyerang pencuri itu adalah seorang perwira dari kaisar
yang bernama Khu Lok.
Khu lok ini adalah seorang di antara banyak perwira yang berkepandaian tinggi dan yang
menjadi perwira istana sebelum kerajaan Tang jatuh ke dalam tangan pemberontak. Telah
beberapa kali Khu Lok datang ke rumah ayahnya, maka Yang Giok mengenal pula orang itu.
Akan tetapi karena ia melihat bahwa Khu Lok mengenakan pakaian biasa, dan juga karena ia
ingat bahwa iapun sedang menyamar sebagai seorang pemuda, maka ia tidak mau
menegurnya, hanya diam-diam lalu maju mengeroyok pencuri itu.
Tapi rupanya Khu lok kenal kepadanya dan sambil tersenyum ia berkata, “Ha, ha, ha pencuri
kecil kecurian. Hayo kita bereskan pencuri besar ini dulu, baru aku dapat memberi ampun
kepadamu!”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
9
Yang Giok maklum bahwa Khu Lok telah mengenalnya dan ia menjadi marah karena dimaki
sebagai pencuri kecil. Memang, ayahnya telah mencuri pedang kerajaan itu karena menurut
anggapan ayahnya, pedang itu tidak pantas berada di tangan kaisar yang lalim dan hendak
disimpan untuk kelak dipersembahkan kepada kaisar yang lebih baik dan yang berhak. Akan
tetapi, karena keadaan pedang itu sedang dalam bahaya tercuri oleh orang lain, ia tidak
berkata sesuatu hanya memperhebat gerakan pedangnya mengepung pencuri itu.
“Ha, ha! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau adalah utusan dari kaisar yang telah jatuh
dan melarikan diri itu? Jangan harap kau dapat mengambil pedang ini!”
Pencuri Kate itu mengejek dan melayani keroyokan itu dengan hebat pula. Ternyata
kepandaian si Kate ini benar-benar tinggi karena dengan sabetan ujung baju ia telah dapat
menggetarkan tangan Yang Giok yang memegang pedang. Akan tetapi, Khu Lok yang
terkenal sebagai ahli lweekeh dan ia telah banyak punya pengalaman bertempur, maka
pedangnya lalu membuat gerakan mengurung hingga pencuri yang bertangan kosong itu
terdesak juga.
Pada suatu kesempatan yang baik, pedang Khu Lok telah berhasil membabat ujung lengan
baju pencuri itu hingga terpotong dan ketika pencuri itu karena kagetnya berlaku lambat,
Khu Lok mengulur tangan kirinya dan berhasil merampas pedang itu.
“Anjing kaisar rasakan pembalasanku!” teriak pencuri itu dan ia lalu melepaskan jubah
luarnya dan menggunakan sebagai sebuah senjata. Biarpun hanya baju dari kain biasa, akan
tetapi dalam tangannya, baju itu berubah menjadi senjata yang ampuh, dan hal ini
menyatakan betapa tingginya tenaga lweekang dari pencuri itu. Segera ia bertempur dengan
dengan hebat sekali melawan Khu Lok dan Yang Giok akan tetapi Yang Giok yang tadinya
membantu Khu Lok, sekarang tiba-tiba saja ia menujukan pedangnya untuk berbalik
menyerang perwira itu.
“Eh, eh, anak kecil! Apakah kau mau berkhianat?” Khu Lok membentak kaget, akan tetapi
Yang Giok hanya menjawab, “Kembalikan pedangku!” lalu menyerang lebih keras. Kini Khu
Lok yang dikeroyok hingga perwira itu terdesak hebat.
Khu Lok merasa gemas sekali akan tetapi ia mendapat sebuah pikiran. Kalau pedang itu
terjatuh ke dalam tangan pencuri yang berilmu tinggi ini, sukarlah untuk merampasnya atau
mencarinya kembali. Sebaliknya, ilmu kepandaian Yang Giok tak berapa aneh, maka lebih
baik pedang itu biar untuk sementara waktu berada di dalam tangan gadis itu agar mudah
baginya untuk merampasnya kembali kelak. Karena pikiran inilah, maka Khu Lok tiba-tiba
berkata.
“Nah, kalau kau tetap menghendaki pedang ini, ambillah!” Ia lalu melemparkan pedang
Thian Hong Kiam kepada Yang Giok yang menyambutnya dengan heran dan girang. Ia lalu
memegangi erat-erat dan melompat pergi ke arah kamarnya. Si Pencuri hendak mengejar,
akan tetapi pedang Khu Lok menghalanginya hingga terpaksa pencuri itu melayani perwira
ini sambil memaki-maki.
Sementara itu, Yang Giok segera mengumpulkan buntalan dan barang-barangnya, lalu
malam itu juga ia pacu kudanya secepat-cepatnya. Sampai keesokan harinya setelah
matahari timbul, ia tidak menghentikan kudanya dan berlari terus. Sambil melarikan
kudanya, dara ini merasa heran sekali. Ia tidak mengerti bagaimana pencuri itu tahu bahwa
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
10
ia membawa Thian Hong Kiam dan tidak tahu pula bagaimana Khu Lok tiba-tiba bisa di situ
pula.
Sebenarnya pencuri itu adalah seorang anggauta dari sebuah perserikatan pencuri dan
pencopet yang bernama Jian-jiu-pai atau Perkumpulan Tangan Seribu. Perkumpulan ini
telah terkenal sekali dan mempunyai cabang-cabang yang meluas sampai di mana-mana
dan hampir di tiap kota dalam propinsi Honan terdapat cabangnya.
Oleh karena perkumpulan ini mempunyai banyak sekali mata-mata yang tajam sekali
pandangan dan pendengarannya, maka tidak heran bahwa mereka mengetahui adanya
seorang pemuda sasterawan membawa-bawa sebatang pedang kerajaan yang sangat
berharga. Maka seorang yang dianggap cukup tinggi kepandaiannya, yakni si Kate yang
bernama Tan Kok dan berjuluk Malaikat Kate, mendapat tugas untuk mencuri pedang itu.
Juga di pihak kaisar yang telah mengungsi ke Secuan, tidak tinggal diam karena hilangnya
pedang pusaka Thian Hong Kiam, maka kaisar mengutus beberapa orang perwira yang
pandai untuk mencari dan merampas kembali Thian Hong Kiam. Para perwira ini telah
mendengar akan tertawannya Liu Mo Kong dan kaburnya Yang Giok, maka mereka dapat
menduga bahwa pedang itu tentu dibawa oleh gadis puteri Pangeran itu.
Akhirnya mata Khu Lok yang tajam dapat melihat Yang Giok di kota Lun-tien. Diam-diam
ketika Yang Giok berjalan-jalan, ia lalu memasuki kamar gadis itu dan menggeledah, akan
tetapi ia tidak mendapatkan pedang itu. Dengan sabar ia menanti dan ketika pada malam
hari itu ia hendak menyerbu ke kamar Yang Giok, ternyata ia telah didahului oleh si Kate
Tan Kok hingga mereka lalu bertempur.
Setelah melihat betapa pedang itu terjatuh ke dalam tangan Yang Giok kembali Tan Kok
juga berpikir bahwa mudah baginya untuk mencuri pedang itu kembali dari tangan Yang
Giok dari pada dari tangan perwira yang tangguh ini, maka iapun lalu melompat pergi
karena ia anggap tidak ada perlunya bertempur lebih lama dengan perwira itu karena
barang yang diperebutkan telah dibawa pergi orang lain.
Demikianlah pedang Thian Hong Kiam masih dapat berada dalam tangan Yang Giok, dalam
hal ini adalah karena kebetulan saja. Kalau saja Tan Kok dan Khu Lok tidak datang pada
waktu yang sama, tentu Yang Giok takkan mampu mempertahankan pedang itu, karena baik
Tan Kok maupun Khu Lok, keduanya memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari padanya.
Tanpa berhenti, kecuali kalau kudanya sudah lelah sekali atau kalau rasa lapar di perutnya
sudah tak dapat ditahan lagi, Yang Giok memacu kudanya menuju kota Siu-bi-koan untuk
mencari keluarga Nyo Seng Hwat.
******
Nyo Seng Hwat adalah seorang hartawan besar di kota Siu-bi-koan. Dahulu Nyo-wangwe
(hartawan Nyo) ini pernah tinggal di ibukota, maka ia mempunyai banyak kenalan para
pembesar di situ, dan di antaranya, yang paling akrab adalah Pangeran Liu Mo Kong.
Kedua orang ini saling mengenal dengan baik dan pergaulan mereka demikian akrab hingga
akhirnya mereka lalu mempertunangkan anak tunggal mereka yang ketika itu masih kecil.
Liu Mo Kong hanya mempunyai seorang anak perempuan, yakni Liu Yang Giok, sedangkan
Nyo wan-gwe pun hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Nyo Liong.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
11
Nyo Liong lebih tua setahun dari Yang Giok dan pemuda ini berbadan tegap dan gagah serta
bermuka tampan. Semenjak kecil, Nyo Liong telah mempelajari ilmu kesusasteraan hingga
dalam usia lima belas tahun sebelum kerajaan Tang roboh, ia telah berhasil menempuh
ujian yang diadakan di kota raja dan telah lulus dengan hasil baik sekali.
Akan tetapi Nyo Liong tidak suka memegang jabatan, bahkan setelah lulus dari ujian itu ia
tidak pulang ke rumah orang tuanya dan hanya memerintahkan pelayan tua yang
mengantarnya untuk pulang terlebih dahulu ke Siu-bi-koan sedangkan ia sendiri pergi
merantau.
Lebih dari tiga tahun Nyo Liong pergi merantau hingga kedua orang tuanya merasa sangat
kuatir dan bersedih karena anak itu tidak mengirim berita apa-apa.
Tiba-tiba saja, pada suatu pagi, Nyo Liong datang dan tubuh anak muda ini bertambah
tegap dan mukanya kini nampak selalu berseri, akan tetapi sikapnya lemah lembut seperti
dulu. Tentu saja kedua orang tuanya merasa girang sekali dan kedatangan pemuda ini
disambut dengan sebuah pesta yang meriah.
Nyo Liong memiliki pengertian sastera yang luas dan pemuda ini paling suka membaca
buku-buku sejarah para kesatria di zaman dahulu. Semenjak kecil ia suka sekali membaca
buku-buku kuno seperti Sam Kok, See Yu, Hong Sin, dan buku-buku lain lagi.
Oleh karena Nyo wan-gwe sangat sayang kepada puteranya dan suka melihat puteranya
membaca buku-buku untuk menambah pengetahuannya, maka orang tua ini telah membeli
banyak sekali buku-buku kuno hingga semenjak kecil Nyo Liong sudah biasa membaca
kitab-kitab sejarah dan filsafat kuno yang jarang dimiliki atau dibaca orang. Di dalam kamar
anak muda ini terdapat berpeti-peti buku-buku kuno yang tak ternilai harganya.
Di antara kitab-kitab kuno yang sudah lapuk dan kuning itu, terdapat sebuah kitab kuno
yang dibeli oleh Nyo wan-gwe dengan perantaraan seorang pelayan dari dalam sebuah kuil.
Oleh karena hwesio pengurus kuil itu tidak dapat membaca kitab yang memuat tulisantulisan
kuno yang sukar dipahami itu, maka buku itu dapat dibeli dengan harga murah.
Nyo wan-gwe sendiri biarpun telah banyak mempelajari sastera, akan tetapi ia tidak dapat
mengerti isi kitab itu. Bahkan baru membaca beberapa kalimat saja, kepalanya sudah
menjadi pusing dan ia lalu memberikan buku itu kepada Nyo Liong.
Buku itu pada sampulnya ditulis dengan tulisan yang bergaya seperti naga-naga menari dan
berbunyi “Pat Kwa Im Yang Coan Si” dan isi buku menerangkan tentang rahasia-rahasia Patkwa
dan tenaga-tenaga Im dan Yang (negatif dan positif) yang menguasai alam raya. Oleh
karena ini, baru membaca sedikit saja, Nyo Seng Hwat sudah merasa pusing.
Tidak demikian dengan Nyo Liong. Pemuda ini, biarpun ketika itu baru berusia paling
banyak tiga belas tahun, ketika membaca kitab ini, nampaknya menjadi tertarik sekali.
Memang mula-mula sangat sukar baginya untuk mengerti arti tulisan kuno itu, akan tetapi
berkat ketekunan dan kerajinannya, sedikit demi sedikit, dapat juga ia menangkap artinya.
Dan semenjak ia membaca kitab itu, kedua orang tuanya merasa adanya perubahan yang
luar biasa pada anak mereka. Karena Nyo Liong lalu menjadi pendiam sekali, akan tetapi
otaknya menjadi luar biasa terangnya karena segala macam pelajaran dengan sekali
menghafal saja telah melekat di dalam ingatannya. Adapun buku kuno itu telah dilupakan
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
12
oleh Nyo Seng Hwat, karena ia tidak melihatnya lagi. Ia tidak tahu bahwa Nyo Liong telah
menyembunyikan buku itu dan sama sekali.
Ia tak pernah menyangka bahwa tiap malam, setelah semua orang tidur pulas, anak itu
mengeluarkan kitab kuno yang lapuk itu dan membacanya sampai lewat tengah malam. Ia
sama sekali tak pernah menyangka bahwa kitab “Pat Kwa Im Yang Coan Si” sebetulnya
adalah sebuah kitab pelajaran yang sangat hebat.
Kitab ini adalah peninggalan seorang sakti di zaman dahulu yang menuliskan semua
kepandaiannya di dalam kitab ini. Di situ terdapat pelajaran-pelajaran ilmu silat yang tinggi
sekali juga terdapat cara-cara berlatih lweekang serta siulan (samadhi) yang dapat
mengumpulkan tenaga batin dan dapat membersihkan darah dan menyehatkan otak.
Inilah yang menyebabkan mengapa Nyo Liong yang masih kecil itu tiba-tiba menjadi
pendiam. Ketika ia membaca kitab itu, karena di antara pelajaran di dalam kitab itu, berkalikali
disebutkan bahwa siapa yang ingin memelihara kekuatan batin, ia harus banyak
berdiam dan jangan sembarangan mengeluarkan kata-kata. Dan juga, sebetulnya Nyo Liong
menjadi pendiam bukan hanya karena taat kepada pesan dalam kitab ini, akan tetapi juga ia
merasa kecewa dan bingung sekali.
Ingin benar ia mengerti isi kitab ini, akan tetapi terlampau sukar baginya hingga banyak
bagian yang tidak dimengertinya. Maklumlah, semenjak kecil ia tak pernah diberi pelajaran
silat, maka tentu saja kini menghadapi sebuah pelajaran persilatan yang sangat tinggi dan
sukar tanpa ada yang memimpinnya. Ia merasa bingung dan tidak mengerti.
Ia tidak berani memberitahukan hal ini kepada ayahnya, karena selain ayahnya tidak pandai
ilmu silat, juga ia kuatir kalau-kalau ayahnya akan merampas kitab itu dan melarang
membacanya. Oleh karena ini, ia tinggal diam, bahkan untuk membaca kitab itu ia selalu
melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.
Bertahun-tahun Nyo Liong membaca dan mempelajari isi kitab itu, dan pada waktu malam
ia mencoba untuk mempraktekkan pelajaran itu. Ia mulai melatih napas dan bersamadhi
menurut petunjuk di dalam kitab dan heran sekali, baru beberapa bulan saja ia belajar, ia
rasakan tubuhnya menjadi segar, dan ingatannya kuat sekali. Oleh karena itu, ia makin
tekun mempelajari kitab “Pat Kwa Im Yang Coan Si”. Ketika ia pergi ke kota raja untuk
menempuh ujian, kitab itu diam-diam dibawanya pula.
Setelah ia berhasil dalam menempuh ujiannya, tiba-tiba timbul sebuah pikiran dalam
hatinya. Untuk dapat mempelajari kitab itu dengan sempurna, ia harus mencari seorang
guru yang pandai. Maka, ia lalu menyuruh pelayannya pulang dan ia sendiri lalu merantau
ke barat, karena ia tahu dari buku-bukunya bahwa di daerah barat banyak terdapat orang
pandai.
Jodoh dan nasib baik membawa ia ke propinsi Cing-hai dan membawanya ke sebuah
pegunungan, yakni pegunungan Ceng-liong-san. Dan di lereng bukit Ceng-liong-san,
dalam sebuah kuil tua, ia bertemu dengan seorang pertapa tua yang tidak lain adalah Li Lo
Kun, seorang pendekar tua, yang kenamaan dan yang telah mengasingkan diri di bukit itu.
Melihat sikap pemuda yang baik dan yang berbakat untuk memiliki ilmu kepandaian tinggi
itu, Li Lo Kun tertarik sekali.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
13
Alangkah terkejutnya ketika pada malam hari, dari kamar pemuda itu ia mendengar
pernapasan yang teratur dan ditarik secara luar biasa hingga menerbitkan angin bersiutan.
Ia cepat mengintai dari atas genteng dan aneh sekali, tiba-tiba Nyo Liong yang
pendengarannya telah maju hebat di luar tahunya sendiri karena melatih diri menurut
petunjuk kitabnya, dapat mendengar tindakan kakinya dan pemuda yang sedang berlatih
napas itu berkata.
“Tuan yang berada di atas genteng, jika mempunyai keperluan, silakan turun saja!”
Li Lo Kun merasa kagum dan terkejut sekali. Ia telah merantau puluhan tahun lamanya dan
kepandaian ginkangnya telah terkenal hingga jarang ada orang yang demikian tajam
pendengarannya hingga bisa mendengar tindakan kakinya di atas genteng.
Akan tetapi, pemuda yang nampaknya seperti bodoh dan hijau ini, telah dapat mengetahui
dan mendengarnya. Maka buru-buru Li Lo Kun melompat turun dan dengan heran ia
bertanya,
“Anak muda yang luar biasa. Kau belajar dari siapa maka pendengaranmu sehebat ini?”
Karena tahu bahwa yang berdiri dihadapannya adalah seorang berilmu, Nyo Liong lalu
menjatuhkan diri berlutut .
“Suhu, teecu yang bodoh mana ada harga untuk dipuji. Mohon suhu sudi memberi petunjuk
dan jika suhu tidak keberatan, mohon suka menerima teecu sebagai murid.”
Li Lo Kun makin merasa heran. Pemuda ini telah memiliki kepandaian tinggi, mengapa
masih hendak berguru kepadanya? Nyo Liong lalu menuturkan dengan terus terang bahwa
ia melatih diri menurut petunjuk dari sebuah kitab kuno.
Li Lo Kun terbelalak heran dan minta melihat kitab itu, akan tetapi karena ia hanya sedikit
mempelajari ilmu surat, tentu saja tak dapat mengerti sama sekali, dan orang tua ini hanya
menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata,
“Kongcu, kau benar-benar telah berjodoh untuk menjadi murid orang sakti yang menulis
buku ini. Kalau untuk menjadi suhumu, aku tidak berani karena ilmu yang terdapat di dalam
kitab ini jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaianku. Akan tetapi, kalau kau ingin supaya
aku membantumu dalam mempelajari kitab ini, yakni pada bagian-bagian pergerakan kaki
tangan, tentu saja aku akan suka sekali membantu.”
Nyo Liong merasa girang sekali dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menganggukanggukan
kepala berkali-kali sambil menyebut “Suhu!” demikianlah, semenjak hari itu, tiga
tahun lamanya Nyo Liong berdiam di kuil itu dan mempelajari isi kitab di bawah pimpinan Li
Lo Kun yang menerangkan bagian-bagian ilmu silatnya. Dan benar-benar ilmu silat yang
terkandung oleh kitab itu luar biasa sekali. Di dalam kitab itu terdapat dua macam ilmu silat
tangan kosong dan ilmu silat pedang.
Li Lo Kun merasa kagum sekali karena benar-benar ilmu silat yang terdapat dalam kitab itu
luar biasa gerakan-gerakannya. Dan dengan membantu Nyo Liong belajar saja, orang tua ini
telah mendapat kemajuan hebat dalam kepandaiannya karena terbukalah banyak rahasiarahasia
ilmu silat yang rumit-rumit.
Apalagi Nyo Liong yang dapat belajar sambil membaca, tentu saja kemajuan dan kepandaian
yang didapat oleh anak muda ini mengagumkan sekali. Setelah mempelajari kitab itu untuk
tiga tahun lamanya, Li Lo Kun dengan kagum dan girang sekali berkata,
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
14
“Nyo Liong, kitab ini sungguh-sungguh telah ditulis oleh seorang dewa yang sakti. Kalau
kau melatih dirimu baik-baik dalam waktu setahun atau dua tahun lagi saja, ilmu silatmu
takkan ada keduanya di dunia ini.”
Nyo Liong sambil berlutut berkata, “Ini semua berkat bantuan suhu yang berbudi.”
Li Lo Kun merasa girang sekali. Walaupun pengetahuan pemuda ini dalam ilmu silat telah
tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri, namun pemuda ini ternyata
dapat membawa diri dan bersikap sopan dan merendah, hingga sukar sekali dapat
ditemukan seorang pemuda sebaik ini.
Oleh karena itu, maka dengan sepenuh hatinya Li Lo Kun lalu menurunkan kepandaiannya
sendiri kepada muridnya ini, dan karena Nyo Liong telah mempunyai dasar-dasar yang tebal
karena pelajarannya dari kitab itu, maka dalam waktu beberapa bulan saja, ilmu kepandaian
Li Lo Kun yang terhebat telah dapat ia warisi.
Demikianlah, kurang lebih tiga setengah tahun semenjak ia pergi merantau, Nyo Liong lalu
kembali ke tempat tinggal orang tuanya dan disambut dengan girang dan meriah oleh Nyo
wan-gwe.
Semenjak kembali ke rumah orang tuanya, biarpun Nyo Liong selalu bersikap biasa dan
setiap hari membantu pekerjaan dagang ayahnya sambil membaca-baca buku-buku yang
selalu menjadi kesukaannya, akan tetapi diam-diam pada waktu malam anak muda ini
merobah dirinya menjadi seorang pendekar rahasia yang pergi melakukan tugasnya
membela orang-orang tertindas dan membasmi para penjahat.
Semenjak ia kembali dalam beberapa bulan saja bersihlah kota Siu-bi-koan dari pada para
penjahat dan perampok. Dan ketika terjadi pemberontakan terhadap terhadap pemerintah
dinasti Tang, Nyo Liong juga tidak tinggal diam dan membantu dengan sepenuh tenaga.
Bahkan ia berhasil membongkar sebuah goa kuno dan menggali harta terpendam,
memperebutkannya dengan kawanan kang-ouw yang menginginkan harta tersebut, lalu
berhasil membawa harta itu kepada Oey Couw, pemimpin besar pemberontak itu.
Dalam semua sepak terjangnya Nyo Liong selalu mengenakan sebuah topeng hitam hingga
ia mendapat julukan Sasterawan Topeng Hitam.
Semua pekerjaan yang dilakukannya dan yang telah menggemparkan dunia kang-ouw ini,
dilakukan tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya dan Nyo wan-gwe suami isteri hanya
menganggap bahwa puteranya kini seringkali pergi berpesiar untuk beberapa hari lamanya.
******
Ketika tiba di kota Siu-bi-koan, dengan mudah sekali Yang Giok dapat mencari gedung
keluarga Nyo atau calon mertuanya itu, karena siapakah yang tak mengenal Nyo wan-gwe?
Biarpun hatinya tabah dan biasa menghadapi orang-orang besar, namun ketika memasuki
halaman muka dari gedung Nyo wan-gwe, mau tidak mau Yang Giok merasa gugup sekali.
Dengan tangan kirinya ia tuntun kudanya dan tangan kanannya tiada hentinya
membereskan pakaian dan rambutnya, lupa bahwa sebenarnya ia masih menyamar sebagai
seorang pemuda.
Berkat sinar matahari yang tiap hari menimpa dan membakar kulit muka dan tangannya,
maka kulitnya agak hitam kemerah-merahan hingga tak seorangpun akan dapat menyangka
ia seorang wanita. Ia telah mengambil keputusan untuk tidak mengaku bahwa ia adalah
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
15
puteri Liu Mo Kong, karena ia hendak menyelidiki lebih dulu keadaan tunangannya, dan juga
selama pedang Thian Hong Kiam berada di tangannya dan belum diterimakan kepada orang
yang berhak menerimanya, ia takkan merubah diri menjadi seorang gadis.
Seorang pelayan menyambutnya dengan hormat, dan pelayan lain lalu menyambut kudanya
untuk dibawa ke kandang kuda. Mereka berlaku hormat kepada Yang Giok, dan pelayan tua
sambil menjura bertanya,
“Kongcu dari mana dan hendak bertemu dengan siapa?”
“Tolong beritahukan kepada Nyo wan-gwe bahwa aku seorang she Kwee dari ibukota datang
membawa berita penting.”
Mendengar bahwa pemuda itu datang dari kota raja, pelayan itu lalu bergegas memberi
laporan ke dalam setelah mempersilahkan Yang Giok menanti di ruang tamu. Tak lama
kemudian, Yang Giok melihat seorang laki-laki setengah tua yang berwajah peramah keluar
menyambut.
Di belakang laki-laki ini terdapat seorang pemuda berpakaian sasterawan. Mereka berdua
lalu memandangnya dengan mata heran karena mereka tidak mengenal kepadanya. Yang
Giok buru-buru menjura memberi hormat dan berkata,
“Mohon dimaafkan jika saya mengganggu. Sesungguhnya saya membawa berita penting dari
Pangeran Liu Mo Kong.”
Mendengar ini, Nyo wan-gwe lalu cepat-cepat berkata,
“Ah, kau datang membawa berita dari Pangeran Liu? Silakan masuk saja, anak muda!”
Yang Giok lalu diantar masuk ke dalam dan dibawa ke ruang belakang, karena Nyo wan-gwe
maklum bahwa pemuda ini tentu membawa berita penting sekali. Setelah mereka duduk
mengitari sebuah meja yang terukir indah, Nyo Seng Hwat lalu bertanya,
“Kau siapa, hiante? Dan pernah apakah dengan Pangeran Liu?”
Saya bernama Kwee Yang Giok dan Pangeran Liu adalah pamanku, karena Liu hujin (nyonya
Liu) adalah bibiku.”
Nyo Seng Hwat lalu memperkenalkan dirinya dan sambil menunjuk kepada pemuda yang
bersamanya itu, ia berkata, “Dan ini adalah puteraku bernama Nyo Liong.”
Yang Giok merasa betapa mukanya menjadi panas dan untuk menyembunyikan warna
merah yang menjalar pada mukanya, ia gunakan ujung lengan baju untuk pura-pura
menyeka peluhnya. Ia diam-diam memperhatikan pemuda itu.
Tak disangkal bahwa Nyo Liong adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, sedangkan
tubuhnya tinggi tegap, akan tetapi sayang sekali, dalam pandangan Yang Giok, pemuda ini
terlampau lemah dan begitu sopan santun dan pendiam hingga sama sekali tidak nampak
sifat-sifat gagah, bahkan agak bodoh nampaknya.
Oleh karena ini, diam-diam hatinya merasa kecewa sekali. Ia adalah seorang gadis yang
memiliki kepandaian bun (kesusasteraan) dan bu (keperwiraan), maka tentu saja iapun
menginginkan seorang pasangan yang selain pandai ilmu sastera, juga pandai ilmu silat
pula agar sesuai dengan kepandaiannya sendiri. Dengan seorang pemuda kutu buku macam
ini, apakah keselamatan hidupnya kelak akan terjamin?
“Sekarang ceritakanlah, Kwee hiante, bagaimana keadaan Pangeran Liu setelah kota raja
jatuh ke dalam tangan pemberontak,” tanya Nyo wan-gwe.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
16
Yang Giok menghela napas dan wajahnya menjadi berduka. “Kaisar dan pembesarpembesar
lain mengungsi ke Secuan, akan tetapi pamgeran Liu yang semenjak dulu tidak
suka dengan kelaliman kaisar, telah mengambil jalan sendiri. Tadinya Pangeran Liu hendak
melarikan diri ke sini, akan tetapi malang baginya, di tengah jalan beliau telah tertangkap
oleh perajurit-perajurit tani dan ditawan.”
Nyo wan-gwe menjadi pucat mendengar ini dan ia mengeluh, akan tetapi tiba-tiba Nyo
Liong berkata, “Ayah, tak perlu dikhawatirkan nasib Pangeran Liu. Ia terkenal sebagai
seorang Pangeran yang jujur dan tidak menjalankan kecurangan-kecurangan seperti
pembesar lain, bahkan terang-terangan ia menentang kelaliman kaisar, maka kurasa ia akan
selamat. Bukankah sepanjang pendengaran kita, kaum pemberontak tidak memusuhi
mereka yang memang jujur dan melakukan tugas kewajibannya dengan baik? Yang dibasmi
adalah para penindas rakyat.”
Yang Giok merasa heran juga mendengar ucapan ini dan mulailah ia menaruh perhatian
kepada “tunangannya” itu, karena ternyata bahwa pemuda ini tidak sebodoh yang ia sangka.
Akan tetapi Nyo wan-gwe menghela napas dan berkata.
“Mudah-mudahan saja begitu. Dan bagaimanakah dengan keadaan puterinya?” tanyanya
kemudian kepada Yang Giok.
“Liu siocia juga telah melarikan diri dan berpisah dengan ayahnya, akan tetapi saya sendiri
tidak tahu ke mana perginya.”
Nyo wan-gwe menggeleng-gelengkan kepala dan mukanya menyatakan bahwa ia ikut
berduka dan bingung hingga melihat keadaannya ini, diam-diam Yang Giok merasa suka
kepada “calon mertua” ini.
Akan tetapi, ia mendongkol sekali melihat betapa Nyo Liong agaknya tidak ambil perduli
sama sekali, bahkan tidak bertanya sesuatunya tentang diri puteri Pangeran Liu, bahkan
sebaliknya, cuma mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang penyerangan yang terjadi di
kota raja.
“Saudara Kwee,” katanya sambil memandang tajam, “kau datang dari kota raja, tentu kau
tahu tentang terjadinya penyerbuan barisan tani yang dipimpin oleh Oey Couw itu.
Bagaimanakah? Apakah tentara kerajaan melakukan perlawanan? Dan bagaimana sepak
terjang barisan tani itu?”
Dengan mendongkol Yang Giok menjawab. “Mereka itu buas sekali dan rata-rata bertempur
dengan nekat hingga tentara kerajaan terpukul mundur. Kaisar dan para panglimanya tiap
hari kerjanya hanya bersenang-senang saja dan sama sekali tidak melatih tentaranya, mana
bisa para gentong nasi itu melakukan perlawanan terhadap musuh yang menyerbu? Boleh
dikata bahwa pintu kota raja dibuka begitu saja untuk para penyerbu, dan kaisar sendiri
bersama panglima dan pembesar lain siang-siang sudah melarikan diri. Aku tidak tahu
banyak tentang pertempuran itu, karena setelah tentara musuh menyerbu masuk, aku
bergegas melarikan diri dan sekarang aku berada seorang diri, sebatang kara tak tentu arah
tujuan dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.”
“Kwee hiante, jangan kau kuatir. Karena kau adalah keponakan sendiri dari Pangeran Liu,
maka berarti bahwa kaupun adalah keluarga kami sendiri. Kuharap kau suka tinggal saja di
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
17
sini sambil menanti berita dari Pangeran Liu yang tertawan itu, atau aku akan menyuruh
orang mencari tahu tentang nasib Liu siocia.”
Yang Giok berdiri sambil menjura. “Kau ternyata baik sekali, Nyo wan-gwe, dan aku yang
muda berterima kasih sekali atas kebijakanmu ini.”
“Ah, kita adalah orang-orang sekeluarga, janganlah berlaku terlalu hormat, Kwee hiante,
dan jangan menggunakan sebutan wan-gwe, panggil saja lopeh (paman) kepadaku,” kata
Nyo Seng Hwat yang baik hati.
Nyo wan-gwe lalu memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar untuk Yang
Giok dan gadis ini lalu tinggal di dalam gedung calon mertuanya dengan aman. Karena
semua orang menyangka bahwa ia adalah seorang pemuda sasterawan, maka ia dapat
bergaul bebas dengan Nyo Liong dan pemuda ini tiap hari mengajaknya membaca buku,
menulis sajak, atau bermain thioki.
Juga seringkali Nyo Liong bertanya tentang keadaan di kota raja, hingga Yang Giok benarbenar
menyangka bahwa pemuda ini adalah seorang kutu buku yang betul-betul tidak
mengerti ilmu silat. Hanya dalam permainan thioki atau catur ia selalu dikalahkan oleh Nyo
Liong, dan juga dalam kepandaian menulis, pemuda ini benar-benar mengagumkan.
Kalau saja Nyo Liong pandai ilmu silat tentu Yang Giok akan merasa puas sekali melihat
tunangannya ini, akan tetapi karena gadis itu menyangka bahwa Nyo Liong adalah seorang
yang buta silat, maka tetap saja hatinya merasa kecewa.
******
Tiga hari berikutnya, pada waktu tengah malam yang gelap gulita, ketika seisi keluarga Nyo
dan tidur nyenyak, tiba-tiba di atas genteng gedung besar itu berkelebat tiga bayangan
orang-orang yang gesit sekali. Mereka ini tidak lain ialah anggauta-anggauta Jian-jiu-pai
atau Perkumpulan Tangan Seribu. Seorang di antara mereka terdapat si Kate Tan Kok yang
hebat.
Setelah mengadakan kontak dengan para penyelidik mereka yang berada di kota Siu-bikoan,
akhirnya perkumpulan itu dapat mengetahui bahwa pemuda sasterawan yang
membawa pedang Thian Hong Kiam berada di rumah Nyo wan-gwe, hingga malam itu Tan
Kok dan dua orang kawan lain sengaja datang hendak mencuri pedang itu.
Dengan secara cerdik sekali mereka telah dapat mencari keterangan di mana letak kamar
Yang Giok dan setelah melompat turun, mereka dengan mudah dapat membongkar daun
jendela kamar Yang Giok.
Akan tetapi, semenjak tinggal di gedung itu, Yang Giok selalu berlaku hati-hati dan
waspada, maka iapun dapat mendengar ketika jendela kamarnya dibongkar orang. Dengan
pedang di tangan, ketika daun jendelanya terbuka, gadis ini melompat dan menerjang
melalui jendela sambil memutar pedangnya dan berseru.
“Maling hina, kau datang mencari mampus!”
Melihat bahwa “pemuda sasterawan” itu telah mengetahui kedatangan mereka, maka ketiga
maling itu lalu mencabut senjata masing-masing dan maju mengeroyok. Tan Kok yang
memiliki kepandaian hebat itu kini bersenjata sebatang ruyung lemas sedangkan kedua
kawannya bersenjata golok. Gerakan-gerakan mereka cukup hebat hingga baru beberapa
jurus saja Yang Giok telah terdesak hebat.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
18
Tan Kok maklum bahwa kedua kawannya cukup tangguh menghadapi Yang Giok, maka ia
lalu melompat masuk ke dalam kamar itu. Yang Giok yang tahu akan maksud Tan Kok,
hendak maju menghalangi, akan tetapi kedua lawannya mendesak hebat dengan golok
mereka hingga ia tidak berdaya dan terpaksa menghadapi mereka ini sambil memutarmutar
pedangnya dengan gemas.
Karena bingung dan kuatir sekali kalau-kalau pedang Thian Hong Kiam akan tercuri, Yang
Giok lau berteriak-teriak.
“Tolong, tolong, ...... maling ....!!”
Akan tetapi, Tan Kok sudah berhasil mendapatkan pedang Thian Hong Kiam yang
disembunyikan dalam buntalan pakaian Yang Giok dan maling kate ini nampak telah
melompat keluar dari jendela sambil membawa pedang itu.
“Kawan-kawan, pergi!!” katanya kepada kedua kawannya sambil melompat naik ke atas
genteng. Kedua kawannya lalu meninggalkan Yang Giok dan ikut melompat naik.
Sementara itu, teriakan Yang Giok telah membangunkan tuan rumah dan para pelayan akan
tetapi mereka ini hanya memandang dengan takut dan bingung, karena tidak berdaya
menghadapi penjahat-penjahat yang dapat loncat naik ke atas genteng demikian gesitnya
bagaikan seekor kucing layaknya.
Mereka ini hanya dapat ikut berteriak-teriak, bahkan Nyo Liong juga datang ke tempat itu
ikut berteriak-teriak, “maling, maling!” Kemudian pemuda ini lalu berlari menyembunyikan
diri ke dalam kamarnya.
Yang Giok merasa gemas dan mendongkol sekali. Dari orang-orang lemah yang mendiami
gedung ini ia tak dapat mengharapkan bantuan apa-apa, maka iapun lalu nekad dan
melompat naik ke atas genteng mengejar ketiga orang pencuri itu.
Alangkah heran dan girangnya ketika mendapat kenyataan bahwa ketiga pencuri itu kini
sedang mengeroyok seorang yang berkedok sutera hitam. Si Kedok Hitam itu bertangan
kosong, akan tetapi pedang Thian Hong Kiam telah berada ditangannya.
Ia melayani tiga orang pencuri itu dengan kegesitannya yang luar biasa akan tetapi sama
sekali ketiga orang pengeroyoknya tidak berdaya menghadapinya. Bahkan ketika Yang Giok
tiba di situ, seorang maling telah dapat tertendang pergelangan tangannya hingga goloknya
terlempar ke atas genteng.
Bukan main kagetnya Tan Kok menghadapi orang aneh yang hebat ini. Ketika ia tadi
melompat ke atas genteng tahu-tahu ada bayangan hitam berkelebat cepat dan tahu-tahu
pedang Thian Hong Kiam di tangannya telah kena dirampas. Ia lalu maju mengeroyok
dengan sengit sekali, akan tetapi baru beberapa jurus saja, si Kedok Hitam yang bertangan
kosong itu telah dapat merobohkan seorang kawannya.
Maka ia lalu teringat dan maklum bahwa yang berada dihadapannya adalah si “Sasterawan
Kedok Hitam” yang kesohor karena kehebatannya. Ia lalu memberi isyarat dan mereka
bertiga dengan cepat lalu melarikan diri dalam gelap, diikuti suara ketawa si Kedok Hitam
yang berseru,
“Hah, maling-maling kecil hina dina. Jangan sekali-kali kau berani lagi mengacau kota Siubi-
koan, karena lain kali aku takkan mau memberi ampun pula.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
19
Yang Giok berdiri memandang dengan bengong dan kagum sekali. Belum pernah selama
hidupnya ia melihat kehebatan seperti itu. Ia sendiri yang memiliki kepandaian dan ilmu
pedang cukup tinggi, merasa terdesak menghadapi pengeroyok tadi, bahkan harus ia akui
bahwa kepandaian si Kate Tan Kok lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.
Akan tetapi si Kedok Hitam yang aneh ini dapat menghadapi keroyokan mereka bertiga
dengan bertangan kosong saja, bahkan dengan seenaknya dan mudah saja menjatuhkan
seorang di antara mereka. Ia belum pernah mendengar tentang nama Sasterawan Kedok
Hitam, maka ia kini berdiri memandang dengan tercengang.
Si Kedok Hitam menghampiri Yang Giok dan menyodorkan pedang Thian Hong Kiam sambil
berkata, “Pedangmukah ini saudara?”
Yang Giok mengangguk dan menerima pedang itu lalu ia menjura sambil berkata, “Sungguh
siauwte merasa berterima kasih sekali atas budi pertolonganmu, dan siauwte merasa kagum
sekali melihat kepandaianmu yang tinggi. Bolehkah kiranya siauwte mengetahui nama
enghiong yang mulia dan gagah perkasa?”
Si Kedok Hitam itu tertawa gelak-gelak lalu berkata, “Kepandaianmu sendiri hebat dan di
luar persangkaan orang karena kau bersikap seperti seorang sasterawan, apa perlunya
memuji-mujiku? Dan sedikit bantuan tadi perlu apa disebut-sebut? Saudara Kwee jangan
kau terlalu berhormat!”
Yang Giok terkejut. “Kau telah mengenal namaku?”
Orang itu tertawa lagi. “Siu-bi-koan adalah kotaku bagaimana aku takkan tahu akan
kedatangan seorang dari luar seperti kau?”
“Betapapun juga terimalah ucapan terima kasihku. Kau tidak tahu sahabat, betapa besar
artinya pertolonganmu tadi. Pedang yang hendak mereka curi ini bukanlah pedang
sembarangan.”
Yang Giok merasa heran mengapa ia tiba-tiba merasa begitu tertarik dan percaya penuh
kepada si Kedok Hitam ini hingga tanpa ragu-ragu lagi ia membongkar rahasia pedang
Thian Hong Kiam. Sebaliknya, si Kedok Hitam juga merasa tertarik dan sambil melihat
pedang yang dipegang oleh Yang Giok, ia bertanya, “Pedang pusaka apakah itu, dan
mengapa mereka ingin mencarinya?”
Entah perasaan apakah yang menyebabkan Yang Giok tiba-tiba merasa sangat percaya
kepada orang yang tidak kelihatan mukanya itu. Entah suaranya yang lembut, entah sinar
matanya yang tajam dan halus dan yang mengintai dari dua lubang di sutera hitam itu, akan
tetapi tiba-tiba ia merasa tertarik dan percaya penuh kepada si kedok hitam yang tinggi
sekali ilmu silatnya ini. Ia lalu bercerita tentang pedang itu.
“Pedang ini adalah pedang pusaka kerajaan yang bernama Thian Hong Kiam dan yang
dianggap sebagai lambang jayanya kerajaan. Karena itulah agaknya maka banyak pihak
yang menginginkan pedang ini, dan yang tadi mencoba untuk merampas pedang ini adalah
pihak perkumpulan Jian-jiu-pai. Masih ada lagi pihak yang kuat dan yang juga pernah
mencoba merampas pedang ini, yakni para perwira utusan kaisar yang mengungsi ke
Secuan ini.”
Si Kedok Hitam itu nampak tertarik sekali. “Kalau begitu, kau berada dalam bahaya selalu
saudara,” katanya. “Lebih baik diatur begini. Aku tahu bahwa Nyo wan-gwe mempunyai
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
20
seorang putera yang terkenal sebagai seorang siucai, dan karenanya, ia takkan dicurigai
orang. Kalau kau titipkan pedang ini kepadanya, maka takkan ada orang yang dapat
menduga bahwa siucai ini menyimpan pedang pusaka Thian Hong Kiam.”
“Apakah siucai bodoh itu dapat dipercaya?” tanya Yang Giok dengan memperlihatkan muka
sangsi.
“Tadi baru melihat datangnya penjahat saja ia sudah lari terbirit-birit dan menyembunyikan
dirinya!”
Si Kedok Hitam tertawa. Itulah yang kumaksudkan! Dia seorang lemah dan tak mungkin
orang seperti dia menyimpan pedang ini hingga takkan ada yang mencurigai ataupun
menduganya. Dia dapat dipercaya sepenuhnya, karena aku mendengar bahwa dia adalah
seorang yang jujur.”
Setelah berpikir-pikir sesaat lamanya, akhirnya Yang Giok berkata,
“Baiklah, aku akan menurut nasehatmu ini.”
“Nah, kalau begitu selamat berpisah, saudara Kwee yang gagah!”
Si Kedok Hitam itu hendak pergi, akan tetapi Yang Giok menahannya dan bertanya.
“Nanti dulu, Saudara!” Kau belum memberitahukan namamu!”
“Ah, apakah perlunya? Sebut saja aku si Kedok Hitam seperti orang-orang lain menyebutku!”
Sehabis berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, si Kedok Hitam itu berkelebat
dan lenyap.
Yang Giok menghela napas. Alangkah gagah dan berbudi orang itu. Ia lalu melayang turun
dan disambut oleh Nyo wan-gwe dengan seruan heran.
“Kwee hiante, tak kusangka bahwa kau adalah seorang pemuda yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Bagaimana hiante? Mencuri apakah penjahat-penjahat itu?”
Yang Giok lalu minta supaya semua pelayan mengundurkan diri sebelum memberi
keterangan. Kemudian ia mengajak orang tua itu memasuki ruang belakang. Sebelum ia
menceritakan keadaannya kepada Nyo wan-gwe, muncullah Nyo Liong. Pemuda ini dengan
takut-takut lalu bertanya,
“Sudah pergikah penjahat-penjahat tadi? Heran sekali, mereka itu datang hendak mencuri
apa? Ayah, barang apakah yang mereka curi?”
Melihat munculnya pemuda tunangannya ini, diam-diam Yang Giok membandingkannya
dengan si Kedok Hitam, dan seballah melihat Nyo Liong yang tiada gunanya ini. Ia tidak
memperdulikan pemuda itu dan mulai menceritakan kepada Nyo wan-gwe tentang pedang
Thian Hong Kiam.
“Menurut pesan Pangeran Liu, pedang ini harus disembunyikan dan jangan sampai terjatuh
ke dalam tangan siapapun, karena pedang ini hanya boleh diberikan kepada seorang yang
kelak akan menjadi kaisar yang bijak di negeri kita. Banyak sekali pihak yang hendak
merampasnya, bahkan ada utusan dari kaisar yang menghendaki kembalinya pedang ini,
akan tetapi Pangeran Liu mempunyai anggapan bahwa pedang itu tidak pantas berada di
dalam tangan kaisar lalim itu.”
“Itu benar! Benar dan tepat sekali! Memang Pangeran Liu seorang yang bijaksana dan baik!”
tiba-tiba Nyo Liong berkata dan mau tidak mau Yang Giok merasa senang juga mendengar
betapa pemuda itu memuji-muji ayahnya.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
21
“Habis pedang yang menimbulkan perebutan ini harus diserahkan kepada siapa?” tanya Nyo
wan-gwe yang merasa kuatir kalau-kalau akan ada banyak orang jahat yang datang
menyerbu gedungnya.
“Paling tepat harus diserahkan kepada pemimpin besar Oey Couw!” kata Nyo Liong.
“Mengapa demikian pikiranmu?” tiba-tiba Yang Giok bertanya sambil memandang kepada
Nyo Liong dengan mata tajam hingga Nyo Liong terkejut melihat pandangan mata ini.
“Karena .... karena ......bukankah sekarang dia yang menjadi pemimpin dan menduduki
istana kerajaan?” katanya gagap.
“Biarpun Oey Couw telah menduduki istana, namun dia bukanlah seorang yang mengerti
tentang pemerintahan. Mungkin ia adalah seorang pemimpin pemberontak yang cakap dan
mungkin ia pandai tentang ilmu perang, akan tetapi aku merasa sangsi apakah ia juga
pandai tentang ilmu tata negara!”
“Habis, kalau menurut pikiranmu, saudara Kwee, pedang ini harus diberikan kepada siapa?
Apakah kepadaku?” Nyo Liong berkelakar.
Nyo Seng Hwat menegur puteranya, “Liong jangan kau main-main!”
Akan tetapi, alangkah herannya orang tua ini ketika Yang Giok berkata sambil menganggukangguk
dan memandang kepada Nyo Liong, “Ya, pedang ini hendak kuberikan kepadamu!”
“Kwee hiante, jangan main-main dalam perkara besar ini!” Nyo wan-gwe menegur Yang
Giok.
“Saudara Yang Giok, jangan kau memperolok-olok aku!” kata Nyo Liong.
“Aku tidak main-main, memang untuk sementara waktu ini kuharap saudara Nyo Liong suka
menyimpan pedang ini untukku. Kau adalah seorang sasterawan, saudara Nyo Liong, dan
takkan ada orang yang akan menduga bahwa pedang ini berada di tanganmu. Kalau aku
yang membawanya, maka tentu aku selalu akan dikejar-kejar dan akhirnya pedang pusaka
ini takkan dapat kupertahankan lagi. Demi kepentingan kerajaan dan demi memenuhi pesan
Pangeran Liu, kuharap kau tidak menolaknya.”
“Tapi ..... bukankah itu berbahaya sekali bagi keselamatannya?” tanya Nyo wan-gwe dengan
kuatir.
“Jangan takut, lopeh. Ada aku yang menjaga di sini, dan pula masih ada seorang kawan
baikku yang gagah perkasa dan yang ikut menjaganya dengan diam-diam.”
“Aku sudah menyaksikan kepandaianmu ketika kau melompat naik ke atas genteng tadi,
saudara Yang Giok, akan tetapi tidak tahu bagaimanakah kepandaian kawanmu ini, dan
siapakah dia?” tanya Nyo Liong.
“Kepandaian kawanku ini jauh lebih tinggi dari pada kepandaianku sendiri, dan ia tidak lain
adalah si Kedok Hitam!”
Nyo Seng Hwat terkejut sekali. “Apa? Kau maksudkan Sasterawan Kedok Hitam yang
tersohor itu yang menjadi kawanmu? Ah, hiante, mengapa kau datang dari kota raja ternyata
selain memiliki kepandaian bu yang tinggi juga bergaul dengan segala orang kasar dari
dunia kang-ouw ? Ah, celaka ..... celaka .... Kalau aku tahu akan begini jadinya .... ah .....
Tak enak sekali hati Yang Giok mendengar ucapan “calon mertuanya” ini, maka ia segera
menjawab.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
22
“Nyo lopeh, jangan kau kuatir tentang hal ini, karena sesungguhnya aku hanya ikut mondok
di sini untuk bersembunyi sementara waktu saja. Akan tetapi, karena sekarang orang-orang
yang mengejar Thian Hong Kiam telah mengetahui tempat tinggalku di sini, tiada gunanya
lagi aku berdiam lebih lama di sini. Aku hendak pergi mencari tempat kediaman sucouw
(kakek guru) dan menyerahkan pedang ini kepada sucouw agar untuk sementara waktu ini
Thian Hong Kiam disimpan dengan aman oleh sucouw dan takkan dapat diganggu atau
dirampas oleh orang-orang yang menginginkannya.”
“Itu baik sekali Kwee hiante,” jawab Nyo Seng Hwat cepat-cepat, sambil memandang wajah
Yang Giok dengan mata tajam, “memang, pedang pusaka yang sangat berharga ini
seharusnya berada di bawah perlindungan seorang yang berilmu tinggi hingga orang lain
tidak berani mengganggunya. Bukan aku tidak suka kau tinggal di sini, akan tetapi dengan
adanya pedang ini, maka aku yang bertubuh lemah dan telah tua ini, akan selalu merasa
kuatir dan takut akan serangan penjahat seperti yang telah terjadi malam tadi.”
“Dimanakah tempat tinggal sucouwmu itu, saudara Yang Giok?” Nyo Liong bertanya.
“Beliau adalah Kok Kong Hosiang yang bertapa di puncak Go-bi-san di sebuah kuil yang
disebut Thian-hok-si. Sucouw adalah guru dari Pangeran Liu sendiri.”
“Eh, eh kalau begitu kau adalah murid Pangeran Liu?”
Yang Giok mengangguk. “Ya, Ie-thio (paman) juga suhuku.”
“Saudara Yang Giok orang-orang yang mengejarmu telah tahu bahwa kau membawa pedang
Thian Hong Kiam, maka apakah tidak berbahaya kalau kau membawa-bawa pedang itu ke
Go-bi-san?”
Yang Giok menghela napas. “Apa boleh buat, aku harus berani menghadapi bahaya itu.”
“Kalau begitu, aku ikut pergi dengan kau!” kata Nyo Liong dengan suara tetap hingga baik
Yang Giok maupun Nyo Seng Hwat memandang heran.
“Liong, orang selemah kau ini akan dapat membantu apa kepada Kwee hiante? Kau hanya
akan menyukarkan saja, dan pula, apa perlumu ikut pergi ke tempat yang sangat jauh itu?”
kata ayahnya.
“Saudara Nyo Liong, biarpun maksudmu itu baik sekali, akan tetapi kata-kata ayahmu betul
juga. Biarlah aku sendiri menghadapi bahaya itu karena akulah yang bertugas, bukan kau,”
sambung Yang Giok.
Nyo Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Agaknya kau lupa, saudara Yang Giok bahwa
aku sebagai seorang sasterawan lemah justeru takkan diganggu oleh mereka itu dan jika
pedang kusembunyikan di bawah pakaianku, siapakah yang akan tahu?”
Kemudian Nyo Liong berkata kepada ayahnya dengan suara memohon.
“Ayah, perkenankanlah anakmu pergi. Telah lama aku mendengar tentang keindahan
pengunungan Go-bi, maka sekarang kebetulan ada kawan yang gagah perkasa, biarlah aku
sekalian berpesiar ke sana meluaskan pemandangan. Jangan kuatir, ayah, aku bukan
seorang gadis yang perlu dikuatirkan, dan aku tentu akan dapat menjaga diri baik-baik.”
Setelah membujuk-bujuk ayahnya dan Yang Giok, akhirnya Nyo Liong diperkenankan juga,
dan diam-diam Yang Giok merasa senang juga melihat keberanian Nyo Liong yang biarpun
telah tahu akan banyaknya bahaya jika berjalan bersamanya, namun tetap hendak
mengawaninya ke Go-bi-san. Pula, siapa tahu kalau-kalau sucouwnya akan memberi
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
23
bimbingan ilmu silat kepada pemuda tunangannya ini agar ia kelak menjadi seorang
pemuda yang sedikitnya tidak begitu lemah.
Begitulah, setelah mendapat pesan banyak-banyak dari orang tuanya dan menerima uang
dan pakaian, dengan naik dua ekor kuda bagus yang disiapkan oleh Nyo wan-gwe, Nyo
Liong dan Yang Giok pada keesokan harinya mulai dengan perjalanan mereka ke Go-bi-san.
******
Di luar dugaan Yang Giok, ternyata Nyo Liong pemuda sasterawan yang kelihatan lemah itu
pandai sekali menunggang kuda. Dan bukan itu saja, bahkan pemuda ini agaknya kenal baik
jalan yang menuju ke Go-bi-san. Oleh karena itu, Yang Giok sendiri masih asing sekali
dengan daerah itu, maka Nyo Liong yang menjadi petunjuk jalan dan gadis itu terpaksa
menurut saja ke mana Nyo Liong membawanya.
Beberapa hari telah lewat tanpa ada gangguan dari pihak-pihak yang hendak merampas
Thian Hong Kiam, hingga mereka bernapas lega. Di dalam perjalanan ini, mau tidak mau,
Yang Giok selalu merasa curiga dan berkuatir kalau-kalau musuh-musuhnya dapat
mengejarnya, akan tetapi ia merasa mendongkol melihat betapa Nyo Liong agaknya enakenakan
saja biarpun pedang itu berada di bawah jubahnya, tergantung di pinggang dan
tertutup oleh jubahnya yang panjang.
Pemuda ini sama sekali tak pernah bicara tentang hal pedang dan orang-orang yang
mungkin datang mengejar atau menghadang di jalan. Akan tetapi dengan sikap gembira ia
selalu bercakap-cakap tentang pemandangan alam yang permai dan menceritakan segala
macam dongeng dan sejarah yang mempunyai hubungan dengan tempat-tempat yang
mereka lewati. Kalau saja hati Yang Giok tak sedang kuatir karena tugasnya itu, tentu ia
akan merasa senang melakukan perjalanan bersama pemuda ini.
Sepekan kemudian, pada suatu pagi ketika mereka tiba di sebuah hutan pohon cemara yang
indah, tiba-tiba dari jurusan lain mendatangi dua orang penunggang kuda yang berpakaian
seperti ahli-ahli silat dengan gagang pedang nampak di belakang punggung mereka. Kedua
orang ini telah berusia tiga puluh tahun lebih dan nampak sangat gagah, sedangkan dua
ekor kuda tunggangan mereka juga tinggi besar dan baik.
Karena di tempat itu sunyi sekali maka pertemuan ini tentu saja menarik perhatian kedua
pihak hingga mereka saling pandang dengan penuh perhatian. Bagi Nyo Liong dan Yang
Giok, kedua orang itu tidak pernah mereka jumpai, akan tetapi seorang di antara mereka
melihat Yang Giok, segera berseru,
“Hai, sahabat-sahabat muda, berhenti dulu!”
Nyo Liong dan Yang Giok menahan kendali kuda mereka dan orang yang menegur itu lalu
mendekatkan kudanya sambil memandang wajah Yang Giok dengan mata tajam.
“Anak muda, ada hubungan apa engkau dengan penjahat Liu Mo Kong?” tiba-tiba orang itu
bertanya kepada Yang Giok sambil menuding dengan jari telunjuknya.
Mendapat pertanyaan yang tiba-tiba ini, berdebarlah hati Yang Giok, akan tetapi ia dapat
menetapkan hatinya dan menjawab,
“Eh, tuan, apakah maksud pertanyaanmu yang kurang ajar ini?”
Orang itu menyengir dan memandang rendah. “Mukamu hampir sama dengan seorang yang
bernama Liu Mo Kong, dan kau patut menjadi puteranya. Akan tetapi orang itu tidak
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
24
mempunyai putera, maka kalau kau masih keluarganya, tentu kau adalah kemenakannya.
Katakanlah terus terang, masih ada hubungan apa kau dengan Liu Mo Kong?”
Yang Giok tak dapat menjawab, karena ia tidak sudi mengaku dan tak mau pula
menyangkal. Nyo Liong tahu bahwa mereka berdua ini tentu bukan orang-orang yang
mempunyai maksud baik, maka ia lalu bertanya.
“Jiwi, sebetulnya kami tidak mengerti ucapanmu itu. Siapakah adanya Liu Mo Kong yang jiwi
sebutkan tadi dan mengapa kalian menyangka bahwa sobatku she Kwee ini keluarganya?”
Orang itu memandang tajam kepada Nyo Liong, kemudian ia berkata. “Memang muka
pemuda ini hampir sama dengan Pangeran Liu Mo Kong.”
“Kalau begitu, Pangeran Liu itu tentu berwajah tampan?” kata Nyo Liong tersenyum.
“Pangeran Liu Mo Kong adalah seorang pengkhianat, pencuri, dan penjahat besar!” kata
orang itu dengan mata terbelalak merah.
Sepasang mata Yang Giok yang bagus itu mengeluarkan cahaya marah mendengar ini. “Apa
maksudmu mengucapkan makian-makian kotor di depan kami?” tegurnya.
“Kau peduli apa? Memang Pangeran bangsat she Liu itu bukan orang baik-baik dan kalau
saja aku dapat bertemu dengan dia, tentu dia akan kupenggal kepalanya, kubeset kulitnya
dan kuinjak-injak kepalanya!”
“Bangsat rendah!” Yang Giok memaki karena tak dapat menahan sabarnya pula. “Mulutmu
yang kotor itu bawa pergi jauh-jauh dari kami!”
“Ha, ha, ha! Kenapa kau marah? Kalau kau bukan keluarganya, mengapa marah mendengar
aku memaki-makinya?” orang itu lalu memandang tajam dan sikapnya mengancam sekali.
Sebelum Yang Giok menjawab, Nyo Liong cepat berkata. “Sobat, bukankah kau tadi
mengatakan bahwa wajah kawanku ini serupa benar dengan wajah Pangeran Liu? Nah, tentu
saja ia marah kalau kau maki-maki seorang yang berwajah hampir sama dengannya!”
“Kalau memang ia bukan keluarganya, perduli apa? Aku memaki dangan mulutku sendiri
dan sama sekali tidak menyinggung-nyinggungnya!” kata orang itu dengan marah.
Akan tetapi Yang Giok berkata keras, “Pendeknya kau tak usah memamerkan kepandaianmu
memaki dan bermulut kotor di depanku dan lekas pergi dari sini! Mari, Liong-ko, kita
pergi!”
Akan tetapi sebelum ia dan Nyo Liong dapat memajukan kudanya, orang itu mendahului dan
menghadang mereka.
“Anak muda, mukamu mencurigakan, biarlah kami menggeledahmu lebih dulu. Turunlah
dari kuda dan biarkan kami memeriksa barang-barangmu!”
“Eh, kalian ini orang-orang apa dan ada hak apakah memeriksa barang-barang kami?
Apakah kalian ini hendak merampok?” Yang Giok membentak.
“Jangan banyak cakap!” Orang itu berkata marah. “Ketahuilah, kami adalah perwira-perwira
kerajaan yang sedang menjalankan tugas. Lekas kamu berdua turun dari kuda!” Perwira itu
dan kawannya lalu mendahului turun dari kuda dan mereka menambatkan kuda mereka
pada sebatang pohon. Yang Giok memberi tanda dan isyarat mata kepada Nyo Liong,
kemudian sambil mencabut pedang, Yang Giok melompat turun.
“Bangsat-bangsat rampok, sebelum kalian menyentuh barang-barangku lebih dulu
hadapilah pedang ini!”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
25
“Ha, ha! Kau galak benar, anak muda. Baiklah, mari kita main-main sebentar!” Perwira itu
bersama kawannya sambil tertawa mengejek lalu mencabut pedang dan maju bersamasama.
Akan tetapi, Nyo Liong lalu berkata, “Tahan dulu!”
Setelah turun dari kuda pemuda ini lalu membawa sebuah bungkusan kecil yang dikeluarkan
dari buntalan pakaiannya, kemudian ia membawa bungkusan itu kepada mereka. Sambil
membuka bungkusan kecil yang berisi emas dan permata mahal itu, ia berkata,
“Kalian berdua seharusnya malu untuk maju mengeroyok kawanku ini. Lihatlah, barangbarang
ini kujadikan taruhan. Kalian boleh maju seorang demi seorang, jangan main
keroyokan. Kalau di antara kalian ada yang mampu mengalahkan kawanku ini, barangbarangku
ini boleh kalian ambil. Akan tetapi, kalau kalian kalah, kalian anggap saja sebagai
pelajaran agar lain kali jangan suka mengganggu orang.”
Bukan main marah kedua orang perwira itu. Yang tadi bicara dengan Yang Giok lalu berkata
dengan suara keras, “Anak muda, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Aku
adalah Ciu Gin Hok dan kawanku ini adalah suteku Thio Sam, dan kami adalah perwiraperwira
kerajaan yang berkedudukan tinggi, bukan bangsa rampok. Akan tetapi karena kau
sendiri yang mengajak bertaruh, jangan kau anggap kami curang kalau nanti kawanmu ini
kalah dan barang taruhanmu kami ambil.”
“Tentu saja, dan sekarang kau mulailah. Hadapilah kawanku she Kwee ini seorang demi
seorang.”
Perwira kedua yang bernama Thio Sam segera maju dengan pedang di tangan karena ia
hendak mendahului suhengnya mengalahkan Yang Giok agar barang taruhan yang mahal itu
dapat ia miliki.
“Majulah anak muda,” katanya sambil memutar-mutar pedangnya.
Biarpun merasa mendongkol sekali kepada Nyo Liong yang menganggapnya sebagai domba
aduan untuk bertaruh, namun Yang Giok tak berkata apa-apa dan segera memutar
pedangnya menyerang Thio Sam. Gerakan pedangnya cepat dan lincah. Karena hatinya
gemas sekali terhadap para perwira yang memaki-maki ayahnya itu, Yang Giok lalu
menyerang dengan sengit. Akan tetapi Thio Sam adalah seorang perwira kerajaan yang
berkepandaian tinggi hingga ia dapat menangkis serangan Yang Giok dan balas menyerang
tak kalah serunya.
Kiam-hoat (ilmu pedang) Yang Giok memang bagus dan hebat, dan biarpun terhadap Thio
Sam ia kalah tenaga, akan tetapi ia menang gesit dan ginkangnya lebih tinggi, maka dengan
geraka-gerakan tubuh yang cepat serta gerakan-gerakan pedang yang tak terduga, ia dapat
mengurung lawannya. Setelah bertempur kira-kira tiga puluh jurus, Thio Sam mulai
terdesak hebat dan keadaannya berbahaya sekali.
Melihat keadaan sutenya, Ciu Gin Hok lalu berseru, “Sute, mundurlah kau!” Dan ia lalu
menyerbu dan menangkis pedang Yang Giok. Thio Sam terpaksa melompat ke belakang dan
berdiri sambil terengah-engah dan heran karena tak disangkanya sama sekali bahwa kiamhoat
pemuda sasterawan yang tampan itu demikian hebat.
“Bagus, saudara Kwee! Seorang telah dapat dikalahkan! Ha, ha!” Nyo Liong bertepuk tangan
memuji hingga Thio Sam merasa mendongkol sekali. Akan tetapi ia tak dapat membalas
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
26
ejekan ini, dan ia hanya melihat pertempuran yang berlangsung antara suhengnya dan
pemuda itu dengan harap-harap cemas.
Ternyata bahwa ilmu pedang orang she Ciu itu biarpun sejalan dengan ilmu pedang Thio
Sam, akan tetapi gerakannya jauh lebih cepat dan kuat. Yang Giok terkejut sekali dan ia
mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, akan tetapi Ciu Gin Hok menerjang
dengan serangan-serangan berbahaya. Yang Giok diam-diam mengeluh dan merasa
khawatir sekali. Lagi-lagi ia merasa kecewa karena Nyo Liong tak dapat membantunya dan
“tunangan” yang lemah itu hanya bisa bertaruh dan menonton.
Setelah mempertahankan diri selama lima puluh jurus lebih, Yang Giok mulai lelah dan
kegesitannya berkurang. Lawannya menggunakan ilmu pedang dari cabang Kun-lun untuk
mendesaknya dan kini Yang Giok hanya dapat menangkis saja sambil mundur.
“Sudahlah, sudahlah! Kami mengaku kalah !” Nyo Liong berkata, sambil maju menghampiri
mereka dan membawa bungkusannya.
Ciu Gin Hok tertawa gelak-gelak dan menyambar bungkusan di tangan Nyo Liong.
“Sekarang kau baru ketahui kehebatanku!” katanya sambil tertawa-tawa lalu mengajak Thio
Sam pergi dari situ.
Yang Giok memandang kepada Nyo Liong dengan gemas dan marah.
“Bagus, bagus, kau tidak membantuku bahkan enak-enak bertaruh dan menganggap aku
sebagai ayam aduan!” ia mengomel.
“Saudara Yang Giok, kulakukan hal itu untuk menyimpangkan perhatian mereka agar
pedang kita jangan sampai terampas oleh mereka.” Nyo Liong membela diri.
Yang Giok terpaksa membenarkan ucapan ini. “Marilah kita lanjutkan perjalanan kita,”
katanya dengan merengut.
Nyo Liong tersenyum dan melanjutkan perjalanan dengan masih tersenyum-senyum, hingga
beberapa kali Yang Giok memandang kepadanya dengan heran dan mendongkol.
“Kau agaknya senang sekali melihat aku kalah oleh perwira itu!” katanya.
“Bukan begitu, aku hanya geli memikirkan betapa mereka akan sangat marah kalau
membuka bungkusan barang-barang taruhan tadi. Kau cukup gagah berani, sahabatku.
Tentu saja tadi kau kalah karena kau lelah setelah mengalahkan Thio Sam.
Yang Giok diam saja, lalu ia mempercepat jalan kudanya hingga Nyo Liong terpaksa
mengejarnya. Ah, celaka benar, pikir Yang Giok. Pemuda tunangannya ini benar-benar tidak
tahu apa-apa tentang persilatan. Tadi ia kalah oleh Ciu Gin Hok karena memang kalah
tinggi kepandaiannya, bukan karena lelah seperti yang diduga Nyo Liong.
Akan tetapi, apa gunanya menerangkannya? Biarpun tunangannya itu tidak tahu siapa dia
sebenarnya, namun diam-diam Yang Giok merasa malu dan kecewa karena ia dikalahkan
orang di depan mata Nyo Liong.
Tiba-tiba Nyo Liong berkata kepada Yang Giok. “Saudara Kwee, mari kita bersembunyi.
Cepat!!”
Tanpa menanti jawaban, ia lalu memegang lengan Yang Giok dengan tangan kanan dan
dengan tangan kiri ia kendalikan kudanya membelok ke kiri dan bersembunyi di balik
tetumbuhan yang tebal dan gelap. Yang Giok heran sekali akan tetapi ia tidak membantah
dan ikut bersembunyi. Mereka turun dari kuda dan sambil mengelus-elus leher kudanya.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
27
Nyo Liong berkata, “Mudah-mudahan kuda kita tidak akan mengeluarkan ringkikan.” Iapun
mengelus-elus leher kuda Yang Giok.
Baru saja Yang Giok hendak bertanya, tiba-tiba telinganya dapat menangkap suara kuda
yang dilarikan cepat dari belakang dan tak lama kemudian tampaklah kedua perwira tadi
dengan muka marah sekali memacu kuda mereka lewat di jalan yang mereka lalui tadi.
Setelah mereka pergi jauh, Yang Giok hendak bertanya, akan tetapi Nyo Liong menggunakan
jari tangan untuk memberi isyarat di depan mulut hingga Yang Giok menunda maksudnya.
Mereka bersembunyi untuk beberapa lama lagi, sampai tak lama kemudian, terdengar pula
suara kaki kuda dilarikan perlahan.
Kedua perwira itu ternyata telah kembali dan terdengar mereka bercakap-cakap dengan
suara mendongkol. Ketika mereka lewat di situ, Yang Giok dapat menangkap suara
percakapan mereka.
“Kurang ajar benar! Pemuda baju biru itu telah menipu kita! Kalau aku dapat membekuk
batang lehernya, tentu akan kupenggal kepalanya!” terdengar Thio Sam berkata.
“Hm, akan kubeset kulit mukanya!” Ciu Gin Hok bersungut-sungut.
Yang Giok memandang kepada Nyo Liong dengan muka heran dan ia menduga-duga
mengapa kedua orang itu marah kepada Nyo Liong, karena yang dimaksudkan dengan
pemuda baju biru tentulah Nyo Liong. Setelah kedua perwira itu pergi jauh, barulah Nyo
Liong tertawa dengan senang hingga tubuhnya tergoncang-goncang.
“Eh, sebenarnya apakah yang terjadi? Mengapa mereka begitu marah?” tanya Yang Giok.
“Ha, ha! Tentu saja mereka marah karena isi bungkusan yang kuberikan kepada mereka tadi
hanya berisi batu-batu hitam saja. Ha, ha!”
Yang Giok ikut tertawa dan diam-diam ia memuji kecerdikan pemuda ini karena ia
menyangka bahwa ketika ia sedang bertempur tadi, tentu dengan diam-diam Nyo Liong
telah mengganti isi bungkusan dengan batu-batu kecil.
Dengan gembira mereka melanjutkan perjalanan.
Pada suatu hari, Yang Giok dan Nyo Liong tiba di kota Tiang-hu. Mereka bermalam di
sebuah rumah penginapan yang terbesar di kota itu dan seperti biasa apabila bermalam di
rumah penginapan, Yang Giok minta dua kamar untuk mereka. Hal ini berkali-kali telah
membuat Nyo Liong merasa mendongkol sekali. Kali ini ia marah-marah ketika ia berkata.
“Saudara Yang Giok, kau ini benar-benar aneh! Mengapa kita harus berpisah kamar?
Bukankah lebih enak kalau kita berdua bermalam dalam satu kamar hingga kita dapat
bercakap-cakap?”
Hampir saja Yang Giok lupa akan keadaan dirinya dan memaki, akan tetapi ia segera ingat
bahwa pada saat itu ia adalah seorang pemuda maka ia hanya berkata, “Liong-ko sudah
berkali-kali aku berkata padamu bahwa aku tidak bisa tidur berdua. Kalau ada orang lain
tidur di pembaringanku, aku takkan dapat tidur nyenyak.
“Aneh kau ini, seperti seorang perempuan saja. Kalau kita sekamar, bukanlah akan lebih
aman dan kita dapat saling menjaga? Pula sebelum tidur kita dapat bermain thioki lebih
dulu.”
“Sudahlah, Liong-ko, perlu apa meributkan soal kecil ini? Kalau kau ingin main catur, akan
kulayani sampai kita mengantuk dan pergi tidur.”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
28
Nyo Liong masih hendak mengomel, akan tetapi Yang Giok menyetopnya sambil berkata,
“Liong-ko, aku pernah dengar dari Liu-ithio, bahwa kau telah dipertunangkan dengan Liu
siocia. Pernahkah kau bertemu dengan dia?”
Wajah Nyo Liong memerah. “Belum pernah, dan takkan pernah bertemu,” jawabnya singkat.
Yang Giok memandang heran. “Takkan pernah bertemu? Apa maksudmu? Bukankah kelak
akan bertemu juga?”
Nyo Liong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak mau bertemu dengan dia!”
“Loh! Kau agaknya marah dan benci kepadanya, mengapa?”
“Tidak ada yang marah atau membenci. Aku belum pernah bertemu muka dengannya,
bagaimana aku bisa marah atau benci? Soalnya ialah, aku dipertunangkan dengan seorang
gadis yang belum pernah ku lihat.”
“Jadi kau menolak ikatan jodoh yang dilakukan oleh orang tuamu itu?”
“Menolak terang-terangan sih tidak berani, akan tetapi ...... ah, untuk apa kita bicarakan
soal ini? Apakah kau sudah pernah melihatnya, saudara Yang Giok?”
“Melihat siapa? Kau maksudkan melihat Liu-siocia? Tentu saja sudah.”
“Apakah ia ..... cantik?”
Yang Giok menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak, tidak cantik malah menurut pendapatku,
ia buruk sekali.”
Nyo Liong menghela napas, “Mengapa orang tuaku begitu bodoh? Dasar aku yang bernasib
buruk, harus dijodohkan dengan seorang gadis buruk pula!”
Diam-diam Yang Giok tertawa geli di dalam hati.
Tiba-tiba Nyo Liong teringat akan sesuatu dan ia bertanya, “Serupa siapakah gadis she Liu
itu? Apakah serupa dengan ayahnya?”
Yang Giok yang tidak menyangka sesuatu lalu mengangguk dan berserilah wajahnya Nyo
Liong. “Kalau begitu, kau bohong! Kalau ia serupa ayahnya, tentu ia cantik!”
Yang Giok terkejut. “Eh, eh ..... bagaimana kau bisa menyangka begitu?”
Nyo Liong tertawa senang. “Lupakah kau akan ucapan perwira dulu itu? Sebelum bertempur,
bukanlah ia katakan bahwa kau serupa benar dengan Pangeran Liu Mo Kong ? Nah, kalau
Liu-siocia serupa ayahnya, itu berarti bahwa ia serupa dengan kau, dan kalau ia serupa
dengan kau, tak dapat tidak tentu ia cantik!”
Wajah Yang Giok memerah. Ia merasa lega karena Nyo Liong tidak mengetahui rahasianya
seperti yang ia kuatirkan tadi, akan tetapi ia merasa bangga karena pujian pemuda itu
langsung tertuju kepada dirinya.
“Hm, kau ini aneh-aneh saja, Liong-ko!” Hanya itu kata-katanya dan selanjutnya ia tak
banyak bercakap-cakap karena hatinya masih berdebar mendengar pujian pemuda ini.
“Saudara Yang Giok, kalau kau tidur di kamar lain, harap kau berhati-hati, karena betapapun
juga, pihak lawan tentu takkan tinggal diam saja. Kalau terjadi apa-apa, harap kau suka
berteriak agar aku dapat mendengarnya.”
Yang Giok diam-diam merasa girang karena biarpun lemah ternyata pemuda ini berhati baik
dan ingin sekali menolongnya, maka ia berkata dengan sungguh-sungguh, “Liong-ko, kau
sungguh baik hati. Aku akan berlaku sangat hati-hati, jangan kau khawatir.”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
29
“Pedang sudah berada padaku, tentu mereka itu tidak akan menduga sesuatu, akan tetapi
yang aku khawatirkan adalah keselamatanmu. Kalau mereka tak bisa mendapatkan pedang
itu dan karenanya marah padamu hingga mereka mencelakakan kau, aku takkan memberi
ampun kepada mereka!” Kata-kata Nyo Liong bersemangat sekali hingga Yang Giok merasa
makin terharu.
“Liong-ko, mengapa kau begini baik dan sangat memperhatikan keselamatanku?” tak terasa
lagi ia bertanya.
Pemuda itu memandangnya tajam dan berkata dengan suara sungguh-sungguh pula.
“Saudaraku yang baik, terus terang saja, aku sangat suka kepadamu dan menganggap kau
sebagai kawan terbaik. Dan pula, jangan kau lupa, mukamu serupa benar dengan
tunanganku bukan?” ia tambahkan dengan jenaka hingga lagi-lagi wajah Yang Giok
memerah, maka ia lalu pergi meninggalkan pemuda itu ke dalam kamarnya.
Malam hari itu sunyi sekali karena habis turun hujan. Hawa di luar rumah dingin dan orangorang
yang berada di dalam rumah sore-sore telah tidur nyenyak di bawah selimut. Akan
tetapi dua orang di dalam kamar terpisah dalam penginapan itu tak dapat tidur.
Nyo Liong tak dapat tidur karena ia merasa kuatir akan datangnya musuh-musuh yang
mengejar mereka, sedangkan Yang Giok tak dapat tidur karena memikirkan Nyo Liong.
Pemuda itu baik sekali dan ia mulai merasa suka kepadanya. Ternyata bahwa pemuda itu
juga suka sekali kepadanya, walaupun ia tidak tahu bahwa pemuda yang menjadi kawannya
itu sebetulnya tunangannya sendiri.
Yang Giok dapat membayangkan bahwa kalau Nyo Liong tahu akan penyamaran itu, tentu
pemuda itu akan merasa makin suka. Hal ini dapat ia pastikan dan karenanya membuat
hatinya berdebar girang dan malu. Akan tetapi, masih terdapat sedikit kekecewaan di dalam
dadanya kalau ia memikirkan bahwa pemuda itu hanyalah seorang sasterawan yang lemah.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara kaki menginjak genteng di atas kamarnya. Cepat ia
memadamkan api lilin yang masih bernyala di kamar itu dan sambil membawa pedangnya,
ia diam-diam membuka daun jendela. Dengan penuh perhatian ia mendengarkan dan tahu
bahwa di atas genteng itu sedikitnya terdapat empat atau lima orang, maka hatinya
berdebar keras.
Dengan tindakan perlahan ia lalu keluar dari pintu kamarnya dan menghampiri kamar Nyo
Liong. Ia ketuk-ketuk pintu pemuda itu dengan perlahan, akan tetapi tak terdengar
jawaban. Akhirnya ia meninggalkan pintu kamar itu dan langsung menuju ke belakang.
Setelah tiba di pekarangan belakang ia lalu melompat naik ke atas genteng dan benar saja,
di atas rumah penginapan itu berdiri lima orang dengan senjata di tangan.
“Ah, baik sekali kau sudah mengetahui kedatangan kami, anak muda!” terdengar seorang di
antara mereka berkata ketika melihat kedatangan Yang Giok. Ternyata yang bicara ini
adalah si Kate Tan Kok yang hebat dan yang dulu pernah mencuri Thian Hong Kiam. Diamdiam
Yang Giok merasa terkejut sekali, karena baru menghadapi si Kate seorang ini saja
sudah sangat berat baginya, apalagi kalau si Kate ini masih dibantu oleh empat orang lain.
Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kejerihannya dan berkata dengan suara lantang.
“Orang she Tan! Kau mengejar-ngejarku sampai ke sini dengan maksud apa? Kita tak
pernah bermusuhan, mengapa kau terus mendesak?”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
30
“Ha, ha, ha ! Coba lihat kawan-kawan! Alangkah berani dan tabahnya anak muda ini! He,
anak muda, ketahuilah, kami dari Jian-jiu-pai selamanya tidak mau bekerja kepalang
tanggung. Kami telah mengambil keputusan hendak mendapatkan pedang Thian Hong Kiam
dan sebelum usaha kami ini berhasil, kami takkan tinggal diam. Lekas serahkan pedang itu
dan jangan banyak membantah, karena kau sudah mengetahui sendiri kehebatanku,
bukan?”
Yang Giok merasa heran juga mengapa mereka ini demikian berdungguh-sungguh hendak
merampas pedang pusaka kerajaan Tang itu, maka ia bertanya. “Pedang itu adalah pedang
kerajaan yang tidak banyak harganya, mengapa kalian ini bangsa ya-heng jin (orang jalan
malam atau maling-maling) bersusah payah hendak mendapatkannya?”
“Ha, ha, agar jangan kau merasa kecewa, biarlah kuceritakan kepadamu sebab-sebabnya.
Ada seorang Pangeran yang ingin sekali mendapatkan pedang itu dan bersedia menebus
sebanyak dua puluh lima ribu tail perak jika kami bisa mendapatkan pedang itu!”
Terkejutlah Yang Giok. “Siapa Pangeran itu? Dan untuk apa ia menghendaki Thian Hong
Kiam?”
Tan Kok tertawa menyeringai, “Jangan kau hendak permainkan aku, anak muda. Aku
tidaklah begitu bodoh seperti yang kau kira. Kalau kau kuberitahu nama orang itu, tentu
kau sendiri akan pergi ke sana dan menerima hadiah itu, ha, ha, ha!”
“Tan-ko, perlu apa banyak cakap dengan boca ini?” seorang kawannya menegur.
“Anak muda, lihat, kawan-kawanku sudah tak sabar lagi. Lekas serahkan pedang itu kepada
kami.”
Yang Giok menggeleng-gelengkan kepala, “Pedang itu tidak berada ditanganku lagi.”
Muka Tan Kok menjadi merah. “Jangan kau main-main anak muda. Aku sudah cukup sabar
dan jangan bikin aku marah. Di mana pedang itu?”
Yang Giok mengangkat pundak dan bersiap sedia dengan pedangnya. “Kalau kalian tidak
percaya, boleh kalian periksa sendiri kamarku, dan kalian juga dapat melihat bahwa pedang
itu tidak kubawa.”
Dengan marah sekali Tan Kok memberi tanda dan tiga orang kawannya melayang turun
memasuki kamar Yang Giok melalui jendela. Mereka mengadakan pemeriksaan dengan
teliti, akan tetapi pedang itu tak mereka temukan. Tak lama kemudian mereka melayang
naik kembali untuk memberi laporan kepada Tan Kok. Dari gerakan-gerakan mereka, Yang
Giok maklum bahwa kepandaian kawan-kawan Tan Kok ini benar-benar hebat hingga ia
menghela napas berat.
Bukan main marah Tan Kok. Ia lalu menanggalkan baju luar yang merupakan senjata ampuh
dan berkata, “Anak muda, kalau kau tidak lekas memberitahu di mana adanya pedang itu,
malam ini jangan harap kau akan dapat terlepas dari tanganku lagi. Lekas katakan, di mana
adanya pedang itu?”
Akan tetapi, Yang Giok tidak menjawab dan hanya berdiri dengan memasang kuda-kuda
untuk menghadapi serangan mereka. Melihat kebandelan Yang Giok, Tan Kok marah sekali.
Sambil berseru keras ia menggerakan jubahnya dan menyerang dengan hebat. Yang Giok
melompat dan mengelakkan serangan itu, lalu balas menyerang dengan nekad. Akan tetapi
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
31
empat orang kawan Tan Kok tidak tinggal diam dan ikut menyerbu hingga keadaan Yang
Giok berbahaya sekali.
Pada saat itu, berkelebat bayangan orang yang gerakannya gesit sekali dan tahu-tahu
sebatang pedang yang berkilau menahan serangan lima orang anggauta Jian-jiu-pai itu.
Semua orang, termasuk Yang Giok, memandang dan hampir bersamaan Yang Giok dan
musuh-musuhnya berseru.
“Sasterawan Kedok Hitam”
Si Kedok Hitam itu tertawa nyaring. “Kalian ini benar-benar panjang tangan, dan kerjanya
hanya mencuri saja. Akan tetapi sebelum mengulurkan tangan, lihatlah dahulu baik-baik,
barang apa yang kalian hendak curi dan lebih-lebih perhatikan dulu apakah tidak ada orang
yang melihatnya. Aku berada di sini, apakah kalian kutu-kutu busuk ini masih hendak
berani berlaku kurang ajar?”
Tan Kok marah sekali dan menjawab, “Biarpun namamu sudah tersohor sebagai seorang
gagah perkasa, akan tetapi apa kau kira kami dari Jian-jiu-pai takut kepadamu? Bagi kami
kau tak lain hanyalah seorang pengecut!”
Sepasang mata yang bersembunyi di balik kedok dan mengintai melalui dua lubang itu
memancarkan sinar tajam.
“Apa katamu, anjing pendek? Aku pengecut?”
“Hanya seorang pengecutlah yang tidak berani berlaku terang-terangan. Kau
menyembunyikan mukamu di balik kedok, apakah itu dapat dianggap laki-laki sejati dan
jantan? Kalau kau tidak bersifat pengecut, bukalah kedokmu!”
“Ha, ha, ha! Ini hanyalah akal bulus yang licik untuk mengetahui rahasia orang. Eh, orang
kate. Majulah bersama kawan-kawanmu, dan kalau aku sampai kalah, barulah kau akan
dapat melihat dan mengenal siapakah aku sebenarnya.”
Sementara itu, Yang Giok mendapat kesempatan ketika si Kedok Hitam berbantah dengan
kawanan maling itu, untuk memperhatikan kesatria perkasa ini baik-baik. Dan ia berdebar
dengan hati penuh dugaan. Biarpun suaranya agak berlainan, karena suara orang ini gagah
dan keras, sedangkan suara Nyo Liong lemah lembut, akan tetapi suara ketawanya dan
potongan tubuhnya benar-benar mirip dengan Nyo Liong. Nyo Liongkah orang ini? Ah, tak
mungkin sekali.
Pada saat itu, kelima orang anggauta Jian-jiu-pai itu telah maju menyerbu dan segera
terjadi pertempuran ramai dan seru sekali. Yang Giok sekali lagi menjadi kagum melihat
permainan pedang si Kedok Hitam. Dulu ia telah menyaksikan betapa dengan tangan
kosong si Kedok Hitam dapat melayani Tan Kok dan dua orang kawannya.
Akan tetapi, kini lebih-lebih ia merasa kagum sekali melihat ilmu silat pedang yang luar
biasa sekali gerakan-gerakannya. Juga Tan Kok merasa sangat gemas karena telah dua kali
si Kedok Hitam ini menghalang-halangi maksudnya dan menggagalkan usahanya yang
hampir berhasil. Maka ia berlaku nekad dan menyerang dengan hebat.
Setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba si Kedok Hitam berseru keras dan
panjang dan tahu-tahu semua senjata kelima orang itu telah terpental dan tangan mereka
yang tadi memegang senjata telah mendapat luka dan mengucurkan darah. Mereka
berteriak-teriak kesakitan dan tanpa diberi komando lagi, kelimanya lalu melompat turun
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
32
dari atas genteng dan lari dalam gelap, diikuti suara ketawa yang nyaring dari si Kedok
Hitam.
Yang Giok menghampiri penolongnya dan menjura. “lagi-lagi in-kong (tuan penolong) telah
menolongku dari pada bahaya. Sungguh kau berbudi sekali dan tidak tahu bagaimanakah
aku dapat membalas budi itu,” kata Yang Giok.
Si Kedok Hitam tersenyum. “Tak perlu bicara tentang budi kalau hendak membalas budi, kau
jagalah pedang itu baik-baik !”
Yang Giok menghela napas dan tiba-tiba ia mendapat pikiran baik.
“In-kong, inilah yang menyusahkan hatiku. Kepandaianku masih rendah sekali, mana aku
dapat menjaga pedang itu dengan baik? Dan kawan seperjalananku demikian bodoh dan
lemah hingga berkawan dengan dia dalam melakukan perjalanan berbahaya ini, tidak ada
faedahnya sama sekali. Kalau saja kau sudi menolongku, maka perbolehkanlah aku berjalan
bersama-sama denganmu, agar aku tak usah merasa kuatir lagi tentang gangguan segala
penjahat itu.”
Sambil berkata begini Yang Giok memandang dengan penuh harapan. Alangkah akan
senangnya kalau ia bisa melakukan perjalanan dengan seorang seperti si Kedok Hitam ini,
sebagai pengganti Nyo Liong yang bodoh dan lemah.
Akan tetapi si Kedok Hitam malahan tertawa geli mendengar permintaan itu. “Saudara Kwee
yang baik, kalau kau tinggalkan Nyo kongcu dan pergi dengan aku, bukankah itu akan
melukai perasaan Nyo kongcu dan mungkin membuat dia berduka?”
“Biarlah, hal itu adalah tanggung jawabku!” jawab Yang Giok, dan pula, jika ia tidak ikut aku
pergi melakukan perjalanan ini, keselamatannya takkan terancam. Aku selalu merasa kuatir,
karena kalau sampai terjadi sesuatu, ia takkan berdaya dan kalau sampai ia mendapat luka
celaka, bagaimana aku harus mempertanggung jawabkannya di depan Nyo wan-gwe?”
Sekali lagi si Kedok Hitam tertawa, “Kau tidak tahu, saudara Kwee bahwa sebenarnya Nyo
kongcu adalah seorang sahabat baikku, maka aku tak sampai hati membuat ia berduka.
Belajarlah kau berlaku sabar dan tenang. Nah, selamat tinggal!” Setelah berkata demikian, si
Kedok Hitam lalu berkelebat dan lenyap dari situ.
Yang Giok merasa kecewa sekali, akan tetapi ia teringat akan kecurigaannya tadi dan akan
dugaannya bahwa si Kedok Hitam ini mirip-mirip Nyo Liong. Maka cepat-cepat ia melompat
turun dan menghampiri kamar pemuda itu. Ia dorong-dorong pintunya, akan tetapi agaknya
terkunci dari dalam, maka dengan jalan memutar ia berhasil melompat masuk ke dalam
kamar dari lubang jendela.
Dan apa yang ia lihat membuat ia menggertakkan gigi karena mendongkol. Nyo Liong
sambil berselimut nampak tidur nyenyak dan mendengkur.
Ketika Yang Giok hendak meninggalkan kamar itu, tiba-tiba Nyo Liong menggeliat dan
terjaga dari tidurnya. Ia serentak bangun dan duduk sambil memandang kepada Yang Giok
dengan mata masih mengantuk. “Eh, saudara Yang Giok. Kau di sini ....?? Dari mana,
bagaimana kau bisa masuk?” Ia lalu memandang ke arah jendela yang terbuka.
“Eh, tidak ada apa-apa, Liong-ko. Aku hanya hendak melihat kalau-kalau ada penjahat
memasuki kamarmu!”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
33
“Ah, kau baik sekali,” kata Nyo Liong. Akan tetapi Yang Giok dengan mendongkol telah
melompat keluar dan langsung memasuki kamarnya sendiri. Hatinya kecewa karena tidak
mungkin si Kedok Hitam yang menarik hati dan gagah perkasa itu dengan Nyo Liong yang
malas dan lemah adalah satu orang! Tak mungkin! Tapi benarkah bahwa si Kedok Hitam itu
adalah sahabat Nyo Liong? Orang itu telah mengakui dan dari Nyo Liong ia mungkin akan
dapat mengetahui siapa adanya si Kedok Hitam sebenarnya. Kalau saja ia dapat berkenalan
dengan dia ....?
Pada keesokan harinya, Yang Giok menuturkan pengalamannya semalam, dan Nyo Liong
hanya berkata, “Untung sekali ada si Kedok Hitam yang menolong!”
“Apakah kau kenal kepadanya?” Yang Giok bertanya dengan pandangan tajam.
Nyo Liong termenung sejenak, lalu berkata, “Sebetulnya hal ini adalah rahasia, akan tetapi
kepadamu baiklah aku berterus terang bahwa dia memang seorang kawan baikku,”
“Siapakah dia sebenarnya dan siapa pula namanya? Apakah kau tahu di mana tempat
tinggalnya?”
“Eh, eh, agaknya kau tertarik sekali kepadanya, kawanku?” tanya Nyo Liong dan tiba-tiba
saja tak dapat dicegah lagi, wajah Yang Giok berubah marah.
“Siapa tertarik? Aku telah dua kali ditolong olehnya, bukanlah wajar kalau aku hendak
mengetahui nama dan tempat tinggalnya?” jawabnya bersungguh-sungguh.
Melihat Yang Giok menjadi marah, Nyo Liong tersenyum dan berkata, “Aku sendiripun hanya
kenal dia sebagai si Kedok Hitam saja. Sudahlah, jangan kita bicarakan lagi halnya, lebih
baik kita percepat perjalanan ini agar segera sampai di tempat tujuan kita.”
“Masih jauhkah puncak Go-bi-san yang kita tuju itu?” tanya Yang Giok.
“Kalau melalui jalan raya, paling cepat memakan waktu sebulan. Akan tetapi, aku
mengetahui sebuah jalan yang lebih dekat, Cuma saja, jalan ini karena bukan jalan umum,
agak sukar dan melalui hutan-hutan lebat.”
“Tidak apa, lebih baik kita ambil jalan terdekat,” kata Yang Giok.
******
Beberapa hari kemudian, Nyo Liong dan Yang Giok tiba di luar desa Bi-siang-lun. Ketika
metreka hendak memasuki pintu dusun yang terbuat dari pada pagar bambu, tiba-tiba dari
depan mendatangi serombongan orang dan ternyata orang-orang itu sengaja menghadang
di tengah jalan hingga Nyo Liong dan Yang Giok terpaksa menahan kuda mereka. Setelah
dekat, Yang Giok terkejut sekali karena orang-orang ini tidak lain ialah Tan Kok si Maling
Kate bersama kawan-kawannya.
Yang Giok mendahului meloncat turun dari kudanya dan menghadapi mereka dengan tabah.
Si Kate Tan Kok kembali menjadi wakil pembicara dan kini si kate itu bersungguh-sungguh,
bahkan ia menjura dan memberi hormat kepada Yang Giok dan Nyo Liong.
“Jiwi, sudah lama kami menanti di sini.”
“Orang she Tan, kembali kau menghadang dan menahan kami. Apakah kehendakmu kali
ini?”
“Kwee-kongcu, kali ini kami sengaja mengambil jalan terang-terangan, kami telah
mengambil keputusan untuk mengundang kau bersama kawanmu itu berkunjung ke tempat
kami, yakni di cabang kami dalam desa Bi-siang-lun ini. Kami mengundang kau dan
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
34
kawanmu untuk berpibu, yakni jika kau berani. Kami hendak menebus kekalahan kami yang
berkali-kali itu.”
“Orang she Tan, sudah ku katakan kepadamu bahwa pedang itu tidak berada padaku,
mengapa kau tetap mendesakku?” Yang Giok mencoba mencegah.
“Ha, ha, Kwee kongcu, kami tidak percuma menjadi anggauta-anggauta Jian-jiu-pai yang
tidak saja mempunyai seribu tangan, tapi juga seribu mata. Pedang itu belum kau berikan
kepada orang lain, maka sekarang kami minta kau memberi sedikit pelajaran kepada kami.
Kalau ternyata kau memang seorang gagah perkasa dan dapat mengalahkan jago yang kami
ajukan, kami mengaku kalah dan takkan mengganggumu lagi. Sebaliknya jika kau atau si
Kedok Hitam itu kalah, bagaimanapun kau harus memberikan pedang itu kepada kami.
Kecuali jika kau takut dan tidak berani menerima undangan kami, maka kami akan
menganggap kau seorang pengecut.”
Bukan main marahnya Yang Giok mendengar ini hingga wajahnya berubah merah. Biarpun ia
tahu bahwa kepandaiannya masih belum mencukupi untuk menghadapi anggauta-anggauta
Jian-jiu-pai yang hebat itu. Akan tetapi, ia lebih baik binasa dari pada dianggap seorang
pengecut. Akan tetapi, sebelum ia sempat menjawab, Nyo Liong telah mendahuluinya dan
berkata dengan suara lantang,
“Eh, eh kau berani sekali menganggap kawanku ini pengecut. Dia adalah seorang gagah
yang tidak takut menghadapi cacing-cacing seperti kalian ini. Saudaraku yang baik
terimalah tantangan mereka dan aku akan menjadi wasit dan saksi agar dalam pibu ini tidak
terjadi kecurangan.”
Semua orang memandang kepada Nyo Liong dan Tan Kok tersenyum menghina, “Siapa yang
akan main curang? Marilah kalau kalian memang benar-benar lelaki!”
Dengan hati panas Yang Giok dan Nyo Liong mengikuti mereka menuju ke desa Bi-sianglun.
Di sepanjang jalan rombongan maling yang ditakuti penduduk dan sudah terkenal
sebagai orang-orang yang berkepandaian tinggi itu memberitahu kepada para penduduk
bahwa di rumah perkumpulan mereka akan diadakan pibu, maka banyaklah orang
mengikuti mereka hendak menonton orang mengadu kepandaian.
Gedung perkumpulan Jian-jiu-pai cukup besar dan mempunyai pekarangan depan yang
luas. Agaknya para maling itu telah mengetahui dari para penyelidik mereka bahwa kedua
pemuda itu akan lewat di situ, maka mereka telah siap sedia dan di pekarangan itu telah
dibangun sebuah luitai. Mereka dapat menduga bahwa diam-diam si Kedok Hitam tentu
melindungi pemuda she Kwee itu, maka mereka sengaja memancing agar si Kedok Hitam
muncul di waktu siang sehingga mereka akan dapat mengetahui siapa adanya si Kedok
Hitam itu.
Untuk menghadapi si Kedok Hitam, mereka sengaja mendatangkan tiga orang jago mereka
yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada Tan Kok. Dan telah mereka rencanakan
bahwa apabila ketiga jago itu akhirnya takkan dapat melawan si Kedok Hitam, mereka akan
mengeroyok.
Yang Giok dan Nyo Liong mendapat tempat kehormatan yang sengaja diadakan di kepala
panggung luitai hingga tempat duduk mereka dapat terlihat dari segenap penjuru dan dari
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
35
luar. Setelah dengan tabah kedua anak muda itu duduk di tempat yang disediakan untuk
mereka, maka tak heran apabila keduanya merasa menjadi tontonan orang.
Sebentar saja semua penduduk yang datang hendak menonton tahu bahwa kedua anak
muda itulah yang hendak berpibu melawan rombongan anggauta Jian-jiu-pai, maka diamdiam
mereka merasa heran dan kuatir. Kedua pemuda itu kelihatan begitu pendiam, lemah
lembut dan tak bertenaga. Bagaimana mereka ini hendak mengadu kepandaian melawan
orang-orang Jian-jiu-pai yang kasar dan bertenaga besar serta berkepandaian silat tinggi?
Kemudian Tan Kok menghampiri kedua pemuda itu dan berkata kepada Yang Giok, “Kwee
kongcu, karena kalian datang berdua, maka kamipun hendak mengajukan dua orang jago.
Sekarang, di antara jiwi, siapakah yang hendak maju terlebih dahulu?” Sambil berkata
demikian, Tan Kok si pendek ini tersenyum mengejek, karena ia memandang rendah sekali
kepada pemuda tamunya ini.
Yang Giok segera berdiri dan berkata, “Aku sendirilah yang hendak maju melayani kalian,
sedangkan kawanku ini tidak tahu apa-apa dan tidak ikut campur. Dalam hal pibu yang
kalian adakan ini, kalah atau menang adalah menjadi tanggung jawabku sendiri dan kuharap
kawanku yang lemah ini jangan sekali-kali diganggu.”
Memang Yang Giok sudah dapat menduga bahwa kali ini kawanan maling itu tentu tidak
mau melepaskannya dan karenanya ia hendak berlaku nekad dan melawan mati-matian.
Akan tetapi ia tidak ingin melihat Nyo Liong diganggu, pertama karena pemuda ini lemah
tak berdaya, kedua karena pedang Thian Hong Kiam telah dititipkan kepada pemuda ini.
Akan tetapi, dengan bersemangat Nyo Liong juga berdiri dan berkata, “Tidak, tidak begitu.
Karena kami datang berdua, maka pertandingan boleh dilakukan dua kali. Saudara Kwee ini
maju terlebih dulu dan aku maju di bagian kedua. Tapi ingat, pertandingan yang diadakan
ini hanyalah sekedar pibu yakni untuk mengukur kepandaian belaka, maka tidak boleh
sekali-kali sampai mempertaruhkan jiwa.”
Tan Kok tertawa gelak-gelak. “Bagus, kau agaknya pemberani juga, anak muda. Bukankah
kau ini Nyo kongcu yang terkenal karena dalam usia muda telah merebut ijazah dan lulus
dalam ujian? Rupanya, selain cerdik pandai, kau juga gagah berani. Boleh, boleh memang
seharusnya diatur demikian. Sekarang kami persilakan Kwee Kongcu maju untuk
menghadapi seorang jago kami.”
Tanpa ragu-ragu, biarpun sambil mengerling ke arah Nyo Liong dengan heran dan kuatir,
Yang Giok menuju ke panggung dan dari pihak tuan rumah muncullah seorang tinggi besar
bermuka hitam. Orang itu menjura kepada Yang Giok dan berkata dengan suaranya yang
besar dan parau. “Saya sudah mendengar dari kawan-kawan tentang kehebatan Kwee-sicu,
maka beruntung sekali hari ini aku mendapat kesempatan untuk mengenalmu.”
Yang Giok memandang muka orang itu dan bertanya. “Sebetulnya aku tidak mempunyai
kepandaian apa-apa akan tetapi pihakmu yang mendesak dan memaksa. Siapakah tuan?”
“Aku adalah Gan Sin Kun, suheng dari Tan Kok.”
Diam-diam Yang Giok terkejut karena baru melawan Tan Kok saja ia tak dapat menang,
apalagi harus menghadapi suhengnya. Akan tetapi, memang pada dasarnya Yang Giok
berhati tabah dan bersemangat baja, hingga sedikitpun ia tidak memperlihatkan perasaan
takut.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
36
“Gan enghiong, marilah kita mulai,” ia mengajak dan memasang kuda-kuda.
“Harap kau berlaku murah hati, Kwee sicu,” jawab orang bermuka hitam itu yang lalu maju
menyerang. Yang Giok tahu bahwa ia kalah tenaga menghadapi orang ini, maka ia hanya
menggunakan kegesitannya untuk menjaga diri dan membalas serangan lawannya.
Sebaliknya, Gan Sin Kun memang sudah tahu dari sutenya, Tan Kok, bahwa kepandaian
Yang Giok tidak seberapa hebat, maka ia tidak merasa kuatir dan bertempur seenaknya saja.
Biarpun ia bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam menyeramkan, akan tetapi orang she
Gan ini mempunyai hati yang halus dan lemah. Begitu melihat muka Yang Giok yang tampan
sekali dan kulitnya yang lemas itu, hatinya telah menaruh rasa kasihan dan ia tidak tega
untuk mencelakakan atau melukainya, apalagi kalau ia ingat bahwa permusuhan di antara
golongannya dengan pemuda ini bukanlah permusuhan besar dan soal yang timbul di
antara mereka hanyalah merupakan perebutan sebuah benda belaka. Oleh karena itu, ia
hanya akan mendesak kepada Yang Giok agar pemuda itu mengaku kalah tanpa melukainya.
Karena Gan Sin Kun mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat dan bertenaga besar, maka
benar saja, Yang Giok segera terdesak dan hanya mampu mengelak serta kadang-kadang
menangkis saja. Bahkan tiap kali menangkis ia merasa betapa lengan tangannya sakit dan
pedas. Orang-orang yang menonton pertandingan ini menahan napas dan merasa kuatir
sekali melihat betapa Yang Giok terdesak dan hanya dapat mengelak sambil mundur.
Ketika Nyo Liong melihat betapa kawannya terdesak, diam-diam ia merasa gelisah sekali.
Kalau ia bertindak, tentu akan terbuka rahasianya, akan tetapi untuk berdiam diri saja, juga
tak benar karena Yang Giok berada dalam bahaya. Ia gelisah dan merasa serba susah.
Akhirnya, karena tidak tega melihat Yang Giok terdesak terus dan melihat peluh memenuhi
wajah Yang Giok yang keras hati dan tetap melawan tak mau menyerah kalah itu, Nyo Liong
lalu berdiri dan dengan berlari ia menghampiri ke atas panggung. Dengan menggerakgerakkan
kedua tangannya ia mencegah dilanjutkannya pertempuran sambil berkata,
“Sudah, sudah! He, muka hitam, sudahilah!” Nyo Liong dengan gerakan kacau menyerbu di
antara mereka hingga Gan Sin Kun terpaksa mundur karena ia tidak mau salah tangan
memukul kepada anak muda yang hanya bermaksud menghentikan pertempuran itu. Yang
Giok berdiri dengan muka merah karena malu dan memandang kepada Nyo Liong dengan
mata melotot karena marahnya.
“Liong-ko, mengapa kau bertindak setolol ini? Apa kau kira aku takut mati? Biarkan orang
she Gan itu menyerangku, walaupun kepandaianku kalah tinggi, akan tetapi aku tidak takut
sama sekali!”
Mendengar ucapan Yang Giok ini, Gan Sin Kun merasa kagum akan ketabahan dan
kekerasan hati anak muda itu, maka ia lalu berkata.
“Kwee sicu telah berlaku murah hati dan mengalah.”
Sebaliknya sambil tersenyum Nyo Liong menghadapi Yang Giok dan berkata, “Saudaraku
yang baik, ini hanyalah pibu yang biasa saja, mengapa harus berlaku nekad dan matimatian
? Duduklah di sana dan biarkan aku merasai kehebatan orang-orang Jian-jiu-pai.”
“Apa kau mabok?” Yang Giok membentak. ”Bagaimana kau hendak menghadapi mereka
yang hebat?”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
37
Akan tetapi Nyo Liong tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya
kepada Yang Giok. Apa boleh buat, dengan mengangkat kedua pundaknya, Yang Giok
kembali ke tempat duduknya dan melihat ke arah Nyo Liong dengan hati berdebar.
Nyo Liong menjura kepada Gan Sin Kun, “Tuan muka hitam yang gagah, berilah aku sedikit
pelajaran ilmu silat seperti yang telah kau berikan kepada kawanku tadi.”
Akan tetapi, sebelum Gan Sin Kun menjawab, tiba-tiba Tan Kok si pendek naik ke atas
panggung. Ia tidak mau jika semua pahala direbut oleh suhengnya, maka ia berkata, “Gan
suheng, harap kau suka mundur. Biarlah sute yang melayani pemuda ini.” Gan Sin Kun
memang tidak suka melayani segala pemuda lemah, maka ia lalu mengundurkan diri dan
duduk menjadi penonton.
Sementara itu, Tan Kok sambil tertawa berkata kepada Nyo Liong.
“Anak muda, kau tadi telah mendengar sendiri perjanjian kita. Sekarang kawanmu she Kwee
itu sudah kalah dan sebentar lagi kalau kau telah kujatuhkan, maka kau dan kawanmu itu
harus segera mengeluarkan benda yang kami inginkan?”
“Jadi kau hendak menjatuhkan aku?” Nyo Liong bertanya tanpa memperdulikan bicara
lawannya tentang pedang itu.
Tidak saja Tan Kok yang tersenyum geli mendengar pertanyaan ini, bahkan dari pihak
penonton ada juga yang tertawa terkekeh-kekeh mendengar pertanyaan Nyo Liong tadi.
“Sudah tentu aku akan menjatuhkan kau!” jawab Tan Kok. “Memang di dalam pibu, orang
yang bertanding harus berusaha untuk menjatuhkan lawannya.”
“Oh, begitu? Jadi siapa yang terjatuh, maka ia dianggap kalah?” tanya Nyo Liong.
“Ya, begitulah,” jawab Tan Kok dan pada saat itu juga Nyo Liong cepat menggunakan
kakinya menjegal dan tangan mendorong tubuh si Kate hingga Tan Kok yang sama sekali
tidak menyangka pemuda ini akan melakukan serangan aneh ini, tidak dapat
mempertahankan diri dan jatuh terguling. Para penonton tertawa geli dan bahkan ada yang
bersorak, akan tetapi diam-diam Yang Giok mengeluh karena gerakan Nyo Liong adalah
akal kanak-kanak yang digunakan pada waktu mereka berkelahi.
Sementara itu, melihat bahwa Tan Kok telah jatuh, Nyo Liong dengan wajah berseri lalu
berkata lantang. “Nah, orang she Tan. Kau harus mengaku kalah. Kau telah terjatuh!!”
Bukan main marahnya Tan Kok mendengar ini. Ia melompat berdiri dengan muka merah.
“Bangsat rendah dan curang!” bentaknya.
“Eh, eh, mengapa kau marah-marah? Bukankah kau sudah kujatuhkan? Ingatlah perjanjian
kita!”
“Apa, kau kira aku ini anak kecil!” bentak Tan Kok. Yang dimaksudkan dengan terjatuh di
atas panggung luitai adalah jatuh karena dikalahkan dalam perkelahian. Hayo kau siap dan
jaga datangnya seranganku!” Sambil berkata begitu Tan Kok lalu maju menyerang dengan
kepalan tangannya. Serangan ini hebat sekali dan ditujukan ke arah dada Nyo Liong dengan
sekuat tenaga.
Tak terasa lagi Yang Giok menjerit. Untung ia masih dapat menahan suara jeritannya dan
karena pada saat itu terdengar banyak suara para penonton yang ramai membicarakan sikap
Nyo Liong, ada yang pro dan ada yang kontra, maka suara jeritannya tak terdengar orang.
Kalau sampai terdengar, tentu orang akan merasa heran mengapa pemuda ini mengeluarkan
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
38
suara jeritan seperti suara perempuan. Akan tetapi karena hatinya benar-benar merasa
cemas melihat serangan itu tak terasa lagi Yang Giok berteriak, “Awas, Liong-ko!” dan ia
memejamkan mata karena tak tahan melihat betapa pemuda tunangannya itu akan terpukul
jatuh dengan menderita luka berat. Akan tetapi, ketika mendengar suara teriakan Yang
Giok, Nyo Liong bahkan berpaling dan memandang dengan tersenyum, sama sekali tidak
memperdulikan datangnya kepalan lawan ke arah dadanya.
Yang Giok membuka mata dan masih sempat melihat, betapa setelah serangan itu hampir
mengenai dada Nyo Liong, tiba-tiba pemuda itu seperti terjengkang ke belakang dengan
gerakan yang canggung dan lucu. Akan tetapi justru karena gerakan itu ia terhindar dari
serangan Tan Kok. Yang Giok melebarkan matanya dan hampir tak dapat percaya kepada
matanya sendiri. Luar biasa benar gerakan mengelak tadi. Kebetulan sajakah atau memang
Nyo Liong memiliki kepandaian tinggi?
Sementara itu, ketika melihat betapa serangan pertama yang hampir berhasil itu akhirnya
gagal, Tan Kok makin marah dan terus menyerang dengan hebat. Ia tidak memperdulikan
lagi apakah lawannya yang bersikap lemah itu akan terluka hebat atau akan mati sekalipun
terkena serangannya karena amarah telah memenuhi dadanya dan menutupi hati nuraninya.
Akan tetapi, kini semua penonton bersorak riuh rendah dan Yang Giok tak terasa lagi
bangun berdiri dari kursinya dan memandang dengan mata terbelalak heran. Ketika
diserang secara bertubi-tubi oleh Tan Kok, Nyo Liong lalu bergerak ke sana ke mari dengan
lincah sekali. Semua gerakan mengelak dari pemuda ini nampaknya kacau balau dan
kakinyapun tak teratur, akan tetapi tak sebuahpun pukulan Tan Kok mengenainya. Bahkan
ketika mendapat kesempatan, Nyo Liong berhasil menangkap ujung baju Tan Kok dan
menariknya sekuat tenaga. Tan Kok mempertahankan diri karena ia merasa betapa tenaga
tarikan itu kuat sekali, dan dalam adu tenaga ini, tiba-tiba terdengar suara “Brett!!” dan
sobeklah baju Tan Kok. Tan Kok terhuyung-huyung ke belakang, terbawa oleh tenaga
mempertahankan yang kini dilepas secara tiba-tiba. Akan tetapi ia dapat mempertahankan
diri dan dengan muka merah ia bertanya.
“Anak muda, siapa kau sebenarnya? Mengakulah! Apa hubunganmu dengan si Kedok
Hitam?”
Juga Yang Giok ingin sekali mendengar jawaban Nyo Liong karena diam-diam iapun
menyangka bahwa Nyo Liong mungkin sekali adalah si Kedok Hitam sendiri. Akan tetapi,
Nyo Liong hanya tersenyum dan menjawab.
“Eh, orang kate. Kau hendak bertanding kepandaian atau bertanding lidah? Kalau bertanding
lidah, bukan di sini tempatnya!”
Tanpa berpikir panjang Tan Kok bertanya, “Di mana?”
“Di sekeliling meja yang penuh hidangan dan arak wangi!” Mendengar kata-kata yang jelas
mempermainkan Tan Kok ini para penonton tertawa geli, juga Yang Giok tersenyum. Entah
mengapa, ketika melihat bahwa Nyo Liong ternyata bukanlah seorang lemah seperti yang
selama ini ia sangka dan yang selalu mendatangkan rasa kecewa di dalam hatinya. Yang
Giok merasa sesuatu yang mesra dan yang menimbulkan perasaan girang dan bahagia
meresap ke dalam hatinya dan yang membuatnya tiba-tiba memerah muka dan merasa
bangga ketika memandang wajah Nyo Liong.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
39
Tan Kok merasa bahwa ia dipermainkan segera melepaskan jubahnya yang sudah sobek itu,
lalu sambil memutar-mutar jubahnya ia berkata, “Kalau begitu, hayo kita lanjutkan
pertandingan ini dan kau boleh mempergunakan senjatamu!”
“Aku tidak bisa memegang senjata, dan kalau senjatamu hanya pakaian tua yang tak
berharga lagi , sudah sobek ini, biarlah aku melayanimu dengan tangan kosong.”
Tan Kok terkenal sekali karena kepandaiannya memainkan jubahnya sebagai senjata karena
dengan ilmu lweekangnya yang sudah tinggi, jubah itu dapat berubah menjadi sebuah
senjata yang sangat ampuh di dalam tangannya. Tentu saja ia menjadi marah sekali
mendengar betapa pemuda ini hendak menghadapinya dengan tangan kosong. Juga Yang
Giok yang sudah mengenal kehebatan senjata aneh di tangan si Kate ini, tak terasa berseru
lagi.
“Liong-ko, kau pakai pedangku ini!”
Nyo Liong berpaling lagi dan tersenyum sambil berkata,
“Saudaraku, jangan kau memperolok-olokan, kau tahu bahwa aku tidak becus memegang
senjata tajam!” Kemudian ia menghadapi Tan Kok kembali dan berkata, “Orang kate jangan
banyak membuang waktu, hayo lekas memperlihatkan kehebatanmu!”
“Bangsat, kau mencari mampus sendiri!” Tan Kok membentak dan jubahnya menyambar
menimbulkan angin hebat.
Melihat gerakan ini, Nyo Liong yang juga sudah tahu akan kehebatan Tan Kok, tidak mau
bermain-main lagi. Ia segera memperlihatkan kegesitannya dan mengelak ke kiri, sebelum
Tan Kok dapat menyerang lagi, Nyo Liong sudah mendahuluinya dan menotok ke arah iga
kanannya. Tan Kok terkejut sekali karena serangan ini benar-benar merupakan gerakan
yang sangat cepat dan hebat, maka ia cepat mengelak dan mencurahkan perhatiannya
kepada serangan lawan ini, akan tetapi celaka baginya karena serangan ini sebetulnya
hanyalah gertak belaka dan tahu-tahu tangan kiri Nyo Liong telah meluncur dan menotok
sambungan sikunya yang memegang jubah. Tan Kok berteriak kesakitan dan jubahnya
terlepas dari tangannya. Saat itu digunakan oleh Nyo Liong untuk mempergunakan akal
kanak-kanak yang tadi telah diperlihatkan, yakni dengan kakinya menjegal kaki lawan ia
mendorong sekerasnya hingga Tan Kok terjungkal.
Bukan main riuh rendahnya para penonton melihat hal ini. Juga pihak Jian-jiu-pai merasa
heran sekali. Sungguh sukar dipercaya bahwa dalam dua jurus saja, Tan Kok yang
mempergunakan senjatanya yang ampuh itu dapat dirobohkan oleh seorang pemuda yang
bertangan kosong. Bukan Main!
Yang Giok kini tidak ragu-ragu lagi. Nyo Liong tentu tidak lain ialah si Kedok Hitam sendiri.
Kalau tidak demikian, mana mungkin pemuda itu dapat memiliki kepandaian sehebat ini?
Maka hampir saja ia ikut bersorak, akan tetapi ia dapat menahan perasaannya dan hanya
bersorak sorai di dalam hati dengan perasaan girang dan bahagia. Kini Tan Kok merasa
bahwa pemuda yang luar biasa ini benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi sekali,
maka ia hanya dapat memandang dengan bengong sambil merintih-rintih karena
sambungan sikunya telah terlepas. Sementara itu para kawanan Jian-jiu-pai ketika melihat
betapa pemuda she Nyo itu hebat sekali, mereka serentak mencabut senjata dan maju
mengepung Nyo Liong dan Yang Giok yang sementara itu telah melompat mendekati Nyo
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
40
Liong. Yang Giok cepat mencabut pedangnya menghadapi segala kemungkinan, sedangkan
Nyo Liong tiba-tiba mengubah sikapnya yang tadi bermain-main. Ia cabut sebatang pedang
dari pinggangnya hingga baik Yang Giok sendiri maupun para kawanan Jian-jiu-pai berdiri
bengong ketika melihat bahwa pemuda itu telah mencabut pedang Thian Hong Kiam yang
diperebutkan.
“Kawanan perampok. Kalian menghendaki pedang ini? Baiklah, kalian maju semua dan
hendak kulihat siapa di antara kamu sekalian yang sanggup merampas pedang ini dari
tanganku.”
Untuk sejenak kawanan maling ini berdiri terpaku akan tetapi mereka segera maju
menggerakkan senjata dan mengeroyok. Akan tetapi, pada saat itu Nyo Liong berseru keras
dan tahu-tahu tubuhnya telah lenyap, berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan yang
menyambar ke sana ke mari. Ternyata ia telah mengeluarkan ilmu silat pedang Pat-kwa Im
Yang Kiamsut. Terdengar teriakan-teriakan yang dikeluarkan oleh para anggauta Jian-jiupai
yang menjadi panik karena mereka tidak melihat penyerang mereka dan tahu-tahu
senjata mereka terbabat putus dan tangan mereka terkena ujung pedang Thian Hong Kiam
hingga mengalirkan darah.
Akhirnya semua anggauta Jian-jiu-pai menjatuhkan diri berlutut, sedangkan semua
penonton lari bubar karena takut. Gan Sin Kun sendiri terluput dari pada serangan Nyo
Liong karena pemuda ini suka kepada orang yang tadi berlaku murah kepada Yang Giok,
maka orang she Gan ini lalu berkata,
“Nyo taihiap, kau sungguh perkasa. Patut sekali pedang Thian Hong Kiam berada di
tanganmu. Bolehkah kami mengetahui, apakah taihiap ini Sasterawan Berkedok Hitam?”
Nyo Liong menyimpan pedangnya dan sambil bertolak pinggang ia berkata, “Kalian tak perlu
tahu tentang Sasterawan Berkedok Hitam. Dia adalah kawan baikku, dan jika kalian masih
mengganas, maka ia tentu takkan memberi ampun!”
Setelah berkata demikian, dengan tenang Nyo Liong lalu mengajak Yang Giok pergi
meninggalkan tempat itu dan menunggangi kuda mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Semua kawanan Jian-jiu-pai tak berani menghalangi mereka lagi.
******
“Liong-ko, kau sungguh terlalu. Pandai sekali berpura-pura bodoh dan telah
mempermainkan aku,” berkata Yang Giok di tengah perjalanan ketika mereka duduk
beristirahat di bawah sebatang pohon besar untuk memberi kesempatan kepada kuda
mereka makan rumput.
Nyo Liong memandangnya. “Siapa yang mempermainkan engkau, saudara Yang Giok? Aku
hanya mempunyai sedikit kemampuan yang tidak ada artinya.”
“Telah berkali-kali kau menolongku, akan tetapi kau berpura-pura tidak mengenalku.
Mengapa kau menyembunyikan diri dan tidak mau mengaku bahwa kau sebenarnya adalah
tuan penolongku?”
“Kau ini aneh sekali adikku. Aku belum pernah menolongmu.”
“Liong-ko, untuk apa kau berpura-pura lebih lanjut? Bukankah kau sebenarnya Sasterawan
Berkedok Hitam?”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
41
Nyo Liong menggeleng-gelengkan kepala. “Dia adalah kawanku dan sedikit kepandaian
yang kumiliki dapat kupelajari dari dia!”
Yang Giok mengerutkan jidat. Benarkah ini? Ia masih ragu-ragu dan kebandelan Nyo Liong
ini membuatnya kecewa dan mendongkol. Awas kau, pikirnya, pada suatu waktu tentu akan
kubuka rahasiamu.
Malam harinya mereka bermalam di sebuah kuil tua dan pada keesokan harinya, mereka
melanjutkan perjalanan menuju ke Go-bi-san.
Benar sebagaimana ucapan Nyo Liong dahulu, dengan mengambil jalan menerobos hutanhutan,
dalam waktu dua puluh hari mereka telah tiba di daerah Go-bi-san yang luas.
Mereka lalu mencari keterangan kepada penduduk pegunungan dan mendapat tahu bahwa
kuil Thian-hok-si berada di lereng gunung dan di luar dusun Cun-leng-koan.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di susun Cun-leng-koan, akan tetapi karena hari telah
malam, mereka tidak melanjutkan perjalanan ke kuil Thian-hok-si, akan tetapi bermalam di
dalam sebuah rumah penginapan yang sederhana. Karena rumah penginapan ini hanya
mempunyai tiga buah kamar dan yang dua buah sudah ditempati orang, terpaksa Nyo Liong
dan Yang Giok menyewa kamar ketiga. Di dalam dusun itu tidak terdapat rumah penginapan
lain.
“Nah, akhirnya kita terpaksa bermalam sekamar,” kata Nyo Liong menggoda hingga wajah
Yang Giok menjadi merah.
“Cis, tak tahu malu!” katanya sambil mendelik.
Nyo Liong tertawa, Yang Giok, kau .... lucu sekali kalau sudah bersikap seperti ini.”
“Biar aku tidur di luar saja.”
“He? Di luar? Apakah kau tidak takut masuk angin?”
“Tidak, lebih baik duduk di luar dari pada tidur sekamar dengan orang yang suka
mendengkur, “kata Yang Giok.
“Eh, eh, saudara Yang Giok, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku mendengkur dalam
tidurku?”
Akan tetapi Yang Giok tidak menjawab, dan dengan merengut ia benar-benar membawa
selimut keluar dan mengambil keputusan hendak duduk di luar kamar semalam itu.
Menjelang tengah malam terdengar suara Nyo Liong mendengkur perlahan, tanda bahwa ia
telah tidur pulas. Yang Giok menganggap bahwa saatnya telah tiba untuk ia mencoba
membongkar rahasia anak muda itu. Karena pintu kamar memang tidak terkunci, ia lalu
masuk dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Dengan meraba-raba ia menghampiri buntalan
pakaian Nyo Liong dan hendak memeriksa dan mencari-cari kalau-kalau ia akan berhasil
mendapatkan kedok hitam yang biasa digunakan oleh Sasterawan Berkedok Hitam. Akhirnya
ia berhasil dan sebuah kedok hitam terpegang olehnya. Yang Giok cepat mengambil kedok
hitam itu dan ia tidak merasa kuatir karena dengkur Nyo Liong masih tetap terdengar dan
tidak berubah, tanda bahwa pemuda itu masih tidur.
Akan tetapi, ketika ia hendak keluar dari kamar itu dengan kedok di tangan, tiba-tiba
terdengar angin menyambar dan tahu-tahu kedua tangannya telah dipegang kuat-kuat dari
belakang oleh Nyo Liong.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
42
“Liong-ko, lepaskan tanganku!” katanya lirih sambil mencoba untuk memberontak. Akan
tetapi pegangan itu kuat sekali.
“Tidak,” jawab Nyo Liong, “Takkan ku lepaskan sebelum kau mengaku terus terang siapa
sebenarnya engkau ini!”
“Liong-ko, kau mimpi. Bukankah kau sudah tahu bahwa aku adalah Kwee Yang Giok?”
“Hm, kau kira hanya kau seorang saja yang cerdik dan dapat menduga siapa sebenarnya aku
ini? Kau kira aku tidak tahu dan mataku buta bahwa kau adalah seorang ..... gadis muda?”
Yang Giok terkejut sekali dan ia memberontak hingga pegangan tangan Nyo Liong terlepas.
“Apa ...... apa maksudmu?” tanyanya gagap.
“Gadis, kalau kau anggap aku keterlaluan karena menyembunyikan diriku yang sebenarnya,
kau lebih terlalu lagi! Kau seorang gadis muda yang tabah, berani luar biasa, keras hati, dan
nakal. Siapakah kau dan apa hubunganmu dengan Pangeran Liu dan puterinya?”
“Kau ......kau selidiki sendiri!” jawab Yang Giok, dan Nyo Liong dapat mendengar suara yang
menggetar itu. Ketika Yang Giok hendak melompat keluar kamar, cepat sekali Nyo Liong
sudah dapat menangkap sebelah tangannya lagi. Nyo Liong lalu menggunakan sebelah
tangan untuk membesarkan sumbu lampu yang masih menyala kecil di atas meja hingga
keadaan menjadi terang. Ia melihat betapa gadis itu menjadi merah mukanya dan
nampaknya bingung sekali.
“Kau sudah mengetahui rahasiaku, maka aku takkan melepaskanmu sebelum kau mengaku
siapa sebenarnya dirimu!”
“Aku ...... aku .....ah ....,” Yang Giok tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ketika dengan
sia-sia ia hendak menarik tangannya, tak terasa pula kedua matanya mengucurkan air mata.
Melihat ini Nyo Liong menjadi tidak tega lalu melepaskan pegangannya.
“Nona,” katanya dengan halus, “tidak salahkah dugaanku bahwa kau .....kau adalah .....
puteri Pangeran Liu sendiri? Tidak salahkah terkaan ku bahwa kau adalah .....Liu siocia
sendiri?”
Ketika Yang Giok tidak menjawab, Nyo Liong lalu berkata pula dengan suara tetap halus.
“Nona, kalau kau benar-benar Liu siocia, mengapa kau permainkan aku ..... tunanganmu
sendiri? Apakah sebenarnya yang telah kau alami dengan ayahmu .....?”
“Semua yang kuceritakan dulu itu memang sebenarnya,” jawab Yang Giok sambil tunduk,
“hanya mengenai diriku ....... ah, bukankah kau .... kau membenci tunanganmu yang buruk
.......?”
“Aku membenci tunanganku, akan tetapi aku tidak membenci kau !” jawab Nyo Liong, “kau
tahu betul akan hal ini!”
Yang Giok tidak menjawab, akan tetapi dengan bangga dan malu ia lalu berlari keluar
sambil mengeluarkan suara isak tercampur tawa karena hati hatinya merasa tidak keruan di
saat itu.
“Moi-moi, tidurlah di dalam, biar aku yang menjaga di luar!” kata Nyo Liong sambil
mengejar keluar. Ia mendapatkan Yang Giok duduk di bangku luar, maka iapun lalu duduk
di dekat gadis itu. Untuk beberapa lamanya mereka hanya duduk tak bergerak, hanya
kadang-kadang saling lirik dan main senyum.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
43
“Adikku, sebenarnya siapa namamu? Alangkah baiknya kalau namamu tetap Yang Giok,
karena nama ini manis dan sesuai benar dengan orangnya,” akhirnya Nyo Liong berkata.
Yang Giok mengerling tajam dan tersenyum malu. “Ah kau memang suka sekali menggoda
orang!” katanya. “Memang namaku Yang Giok, habis mau dirobah apa lagi?”
Keduanya lalu bercakap-cakap dan saling menuturkan pengalaman masing-masing, hingga
malam itu mereka lewatkan dengan bercakap-cakap mesra dan lupa akan tidur hingga
tahu-tahu fajar telah menyingsing dibarengi suara ayam jantan berkokok.
Ko-ko bagaimana kau bisa menduga bahwa aku adalah seorang wanita?” tanya Yang Giok.
“Mudah saja, pertama karena tak mungkin seorang pemuda mempunyai gerak-gerik sehalus
gerak-gerikmu, dan watakmu yang keras dan manja menimbulkan dugaan bahwa kau
adalah seorang gadis manja dan cantik. Kemudian, ketika diam-diam aku memeriksa
pakaianmu dan mendapatkan barang-barang perhiasan wanita dan di antaranya terdapat
satu stel pakaian wanita, maka tak salah lagi bahwa kau tentu seorang gadis. Hanya aku
masih belum yakin betul siapa sebenarnya dirimu, hanya ada dugaan bahwa kau tentu
puteri Pangeran Liu Mo Kong, karena Pangeran itu adalah seorang gagah perkasa, maka tak
heran bahwa puterinya pun demikian pula.”
“Ah, kau mengejek! Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa, hanya kaulah yang
berkepandaian benar-benar tinggi. Lain kali aku harus menambah pengertian ilmu silat
yang kau miliki.”
Setelah saling mengetahui rahasia masing-masing, perasaan kedua anak muda itu makin
mesra dan tanpa mengucapkan kata-kata mereka dapat mengetahui hati masing-masing
yang saling mengasihi hingga mereka berbahagia sekali.
Ketika telah berganti pakaian, Nyo Liong yang menanti di luar kamar berdiri bengong dan
memandang ke arah gadis yang keluar dari kamar dengan mata terbelalak dan mulut
ternganga. Ternyata bahwa Yang Giok telah mengenakan pakaian wanita yang memang
telah tersedia di dalam buntalan pakaiannya. Setelah mengenakan pakaian wanita nampak
demikian cantik jelita hingga Nyo Liong menjadi merasa seakan-akan berada dalam mimpi.
“Moi-moi ....” hanya demikian mulutnya dapat mengeluarkan kata-kata, sedangkan matanya
menyatakan pujian dan kekaguman yang lebih berarti daripada seribu kata.
“Liong-ko, jangan kau pandang aku demikian rupa!”
“Mengapa, adikku yang manis?”
“Aku .....aku malu!” Yang Giok benar-benar merasa malu dan seluruh mukanya menjadi
kemerah-merahan.
Nyo Liong tertawa gembira dan keduanya lalu tertawa sambil saling pandang dengan penuh
hati mencinta.
Pada saat itu terdengar suara kaki kuda di depan rumah penginapan dan ketika keduanya
memandang, ternyata yang datang itu adalah serombongan orang-orang yang berpakaian
sebagai petani, tetapi nampak sangat gagah dan di punggung mereka nampak gagang
pedang hingga Nyo Liong dan Yang Giok dapat menduga bahwa mereka ini tentu bukan
petani-petani biasa. Akan tetapi rombongan ini tidak berhenti, hanya memandang ke arah
Nyo Liong dengan mata tajam, kemudian mereka melanjutkan perjalanan dan kaki kuda
mereka menimbulkan debu mengebul di pagi hari itu.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
44
Kalu tidak salah, mereka adalah perwira-perwira kerajaan,” Nyo Liong berbisik.
“Mereka tentu tak bermaksud baik,” kata Yang Giok khawatir.
Mendengar suara gadis itu yang mengandung kekhawatiran, Nyo Liong berkata, “Jangan
khawatir, moi-moi, betapapun juga, kita berdua akan dapat melawan mereka.”
Dengan tabah dan tenang Nyo Liong lalu mengajak Yang Giok melanjutkan perjalanan
setelah membayar uang sewa kamar. Mereka tidak memperdulikan pandangan pengurus
rumah penginapan yang merasa heran dan kagum melihat Yang Giok. Ia tak pernah
menyangka bahwa pemuda yang kemaren itu kini telah berubah menjadi seorang gadis luar
biasa cantiknya.
Kuil Thian-hok-si berada di luar dusun itu dan hanya terpisah paling banyak sepuluh lie,
maka mereka lalu menjalankan kuda dengan perlahan. Akan tetapi, setelah berada di luar
dusun, benar saja mereka melihat rombongan petani yang mencurigakan tadi telah berdiri
menghadang di tengah jalan. Mereka berjumlah delapan orang dan kuda mereka dilepas di
pinggir jalan dan sedang makan rumput sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
Nyo Liong dan Yang Giok menahan kuda mereka dan dengan tenang turun dari kuda.
Karena Yang Giok telah menjadi seorang gadis, maka yang menghadapi mereka adalah Nyo
Liong, sedangkan gadis itu lalu membawa kuda mereka ke sebuah pohon dan mengikatkan
kendali pada pohon itu.
“Cuwi sekalian menghadang di tengah jalan ada keperluan apa?” tanya Nyo Liong dengan
halus.
Tiba-tiba di antara orang itu maju seorang yang bertubuh tinggi kurus dan sambil
menuding kepada Nyo Liong, ia berkata. “Kawan-kawan, benar, inilah Sasterawan Kedok
Hitam yang dulu membantu para pemberontak. Tangkap pemberontak ini!”
Sambil berkata demikian, si kurus itu mencabut pedangnya, diikuti oleh tujuh orang
kawannya. Akan tetapi Nyo Liong masih bersikap tenang. “Kalian ini bukankah para perwira
istana yang telah kalah? Mengapa masih berani menjual lagak? Aku memang benar
Sasterawan Berkedok Hitam, dan kalian mau apa?”
Tiba-tiba seorang perwira lain memandang Yang Giok dan berseru, “Eh, bukankah kau ini
Liu siocia, puteri dari Pangeran Liu Mo Kong?”
Yang Giok yang mendengar bahwa Nyo Liong dianggap pemberontak menjadi heran dan
terkejut sekali, sekarang setelah seorang perwira mengenalnya, ia makin bingung. Ia tidak
menjawab pertanyaan perwira tadi, hanya memandang ke arah Nyo Liong dengan wajah
mengandung pertanyaan. Benarkah tunangannya ini membantu pihak pemberontak?
“Harap kalian jangan mengganggu kami,” terdengar Nyo Liong menjawab pertanyaan
perwira tadi. “Dia memang Liu siocia, akan tetapi sekarang tidak mempunyai hubungan pula
dengan segala perwira kerajaan yang telah terjatuh dan kalah. Berilah jalan dan jangan
mencari penyakit sendiri!”
“Kawan, inilah mereka yang kita cari!” Si kurus tadi berseru lagi. “Pedang yang dicari ada
padanya dan sekarang sekali pukul kita akan dapat dua pahala. Merampas kembali Thian
Hong Kiam dan membalas dendam kawan-kawan kita yang telah terjatuh dalam tangan
pemberontak!”
Tanpa banyak cakap lagi kedelapan orang itu maju menyerang Nyo Liong.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
45
“kalian mencari bencana sendiri!” Nyo Liong berseru dan ia lalu mencabut keluar Thian Hong
Kiam yang tergantung di pinggang dan yang selalu tertutup oleh baju sasterawannya yang
panjang.
“Nah, itu dia pedang yang kita cari!” Seorang perwira berseru ketika ia mengenali pedang
pusaka itu di tangan Nyo Liong.
Nyo Liong tersenyum. “Ha, ha, bukankah sekarang lebih mudah lagi? Pedang dan orang yang
kau cari telah berada di sini dan menjadi satu, kalian majulah!”
Maka terjadilah pertempuran yang hebat. Perwira-perwira ini adalah jagoan-jagoan kelas
satu dari kerajaan dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi, dan sekarang mereka maju
berbareng, dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan mereka. Juga senjata-senjata yang
berada di tangan mereka bukanlah senjata sembarangan karena hampir semua perwira
kerajaan memiliki senjata yang ampuh dan tajam. Dari gerakan mereka ketika menyerang,
Yang Giok dapat mengetahui bahwa kepandaian mereka rata-rata lebih tinggi dari pada
kepandaiannya sendiri, maka tentu saja ia diam-diam merasa gelisah dan cemas. Ia merasa
serba salah. Hendak membantu, kepandaiannya terlampau rendah. Tidak membantu,
hatinya tidak puas dan tidak tenteram. Maka ia hanya berdiri dengan dada berdebar
menonton pertempuran yang hebat itu.
Pertempuran yang terjadi kali ini berbeda dengan ketika Nyo Liong dikeroyok oleh kawanan
Jian-jiu-pai, karena para perwira ini memang sengaja datang mencari Nyo Liong dan mereka
tahu bahwa selain harus menghadapi Sasterawan Berkedok Hitam yang hebat, juga masih
ada pihak Jian-jiu-pai yang hendak merampas pedang, maka di pihak mereka lalu
mengutus delapan orang yang berkepandaian tinggi dan merupakan jago-jago pilihan dari
istana.
Akan tetapi, ilmu silat Pat-kwa Im-yang yang telah dipelajari oleh Nyo Liong itu benarbenar
hebat dan luar biasa sekali. Biarpun dikeroyok oleh delapan orang jago-jago pilihan
dari istana, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak terdesak, bahkan dengan pedangnya
yang juga merupakan senjata ampuh dan pusaka tua, ia dapat membuat delapan orang
lawannya bermain silat dengan kacau karena pergerakannya sungguh cepat dan luar biasa.
Dengan menggunakan ilmu silat pedangnya yang istimewa, Nyo Liong dapat bergerak
sedemikian rupa hingga delapan orang itu tidak mendapat kesempatan untuk maju
berbareng. Gerakan Nyo Liong lincah sekali dan sinar yang ditimbulkan oleh putaran
pedangnya sangat kuat dan sukar diduga perubahan dan gerakannya.
Yang Giok benar-benar merasa kagum sekali. Baru sekali ini ia mendapat kesempatan untuk
melihat kepandaian Nyo Liong yang sangat hebat itu. Ia menghela napas dan harus ia akui
bahwa ilmu kepandaian tunangannya ini jauh lebih tinggi dari pada kepandaian ayahnya
sendiri. Akan tetapi ada sedikit perasaan kecewa dan ragu-ragu di dalam hatinya, karena
bukankah para perwira tadi mengatakan bahwa pemuda ini adalah seorang pembantu
pemberontak?
Di antara kedelapan orang perwira itu terdapat tiga orang saudara seperguruan yang
memiliki kepandaian paling tinggi. Mereka ini dijuluki Bu-tong Sam-houw atau Tiga Macan
dari Bu-tong, karena mereka ini memang anak murid Bu-tong-san. Ketika melihat betapa
hebatnya Nyo Liong, mereka lalu berpencar menjadi segi tiga dan maju menyerang Nyo
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
46
Liong dari tiga jurusan. Mereka tidak mau merobah kedudukan dan tetap menyerang dari
tiga jurusan hingga tidak dapat dibikin kacau oleh perubahan gerakan Nyo Liong.
Menghadapi tiga orang ini, diam-diam Nyo Liong berlaku hati-hati karena ia maklum bahwa
apabila lawan-lawannya tidak terkacau oleh ilmu silatnya, maka berarti bahwa ia harus
menghadapi lawan yang berat dan berbahaya, karena mereka ini rata-rata memiliki
kepandaian tinggi dan dapat mempertahankan diri dengan baik, maka kalau ia harus
bertahan mengadu tenaga dan keuletan, mana ia dapat melawan delapan orang?
Oleh karena itu, Nyo Liong lalu mengerahkan semangat dan tenaganya dan ia lalu
mencampur gerakan silatnya dengan pelajaran dari Li Lo Kun, hingga pedangnya bergerak
makin ganas dan hebat. Benar saja, serbuannya ini membuat semua pengeroyoknya terkejut
dan mereka mempertahankan diri sambil mundur. Nyo Liong mengerti bahwa kalau ia tidak
mau menurunkan tangan kejam dan berlaku terlalu hati-hati dan kasihan, maka
pertempuran ini akan berjalan lama sekali dan akhirnya ia akan kalah karena kehabisan
tenaga. Maka ia maju terus mendesak dengan hebat dan sengaja menyerang bertubi-tubi
kepada dua orang perwira yang agak berlaku lambat hingga terdengar pekik kesakitan dan
dua orang perwira itu roboh, pundak dan lengan mereka luka.
Para pengeroyok itu terkejut sekali dan mereka berpencar menjauhi Nyo Liong, dan pada
saat itu terdengar suara yang nyaring tapi halus. “Hebat sekali!”
Ketika semua orang memandang, tahu-tahu di tengah medan pertempuran itu telah berdiri
seorang tua yang berjubah biru. Tosu ini kurus dan tinggi, kulit mukanya putih dan halus
seperti muka anak-anak.
Ketika ketiga harimau dari Bu-tong melihat tosu ini, dengan girang lalu maju berlutut dan
berkata, “Suhu!”
Ternyata bahwa pendeta tua ini tidak lain ialah Kim Kong Tosu seorang tokoh Bu-tong-pai
kenamaan karena ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Tosu ini adalah guru dari pada Ketiga
Harimau dari Bu-tong-pai, maka tentu saja semua perwira girang sekali melihat
kedatangannya.
Ketika melihat gerakan tosu yang cepat itu Nyo Liong maklum bahwa ia sedang berhadapan
dengan seorang pendeta yang berilmu tinggi, maka dengan hormat sekali ia menjura.
Sebaliknya, Kim Kong Tojin memandang Nyo Liong dengan kagum sekali, lalu katanya “Anak
muda yang gagah perkasa, siapa kau dan dari manakah kau memperoleh ilmu kepandaian
yang hebat itu?”
“Teecu bernama Nyo Liong dan suhu adalah Li Lo Kun. Tidak tahu siapakah losuhu yang
telah menahan teecu dan dengan maksud apa losuhu menghalangi teecu menempur semua
perwira ini?”
Tosu itu memandang heran. “Kau murid Li Lo Kun? Ah, kalau begitu, ternyata Li Lo Kun telah
maju pesat sekali kepandaiannya. Kalau muridnya sudah sehebat ini, tentu ia telah
mencapai tingkat tinggi sekali. Aneh, aneh! Ketahuilah, anak muda, pinto adalah Kim Kong
Tojin dari Bu-tong-pai. Ketiga orang perwira yang bodoh itu adalah murid-muridku, dan
mengapakah kau bertempur dengan mereka?”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
47
“Suhu, dia adalah Sasterawan Kedok Hitam yang membantu pemberontak. Bahkan sekarang
ia telah berani membela pencuri pedang kerajaan, Thian Hong Kiam!” berkata seorang dari
pada Harimau Bu-tong itu.
Pandangan mata Kim Kong Tosu menjadi dingin ketika mendengar laporan muridnya ini.
“Ah, kiranya kau adalah seorang anggauta pemberontak, Sayang, sayang sekali!”
Nyo Liong juga merasa tidak senang mendengar ucapan ini, maka ia membantah, “Losuhu,
sungguh heran bahwa kau tidak mengetahui betapa buruknya kerajaan Tang memerintah
negeri kita. Sudah selayaknya kalau rakyat memberontak dan menghancurkan pemerintah
yang pandainya hanya memeras rakyat jelata itu, dan sudah menjadi kewajibanku sebagai
putera ibu pertiwi untuk membela bangsa!”
“Hm, kau anak kecil hendak memberi pelajaran kepada pinto?” jawab Kim Kong Tojin tidak
senang. “Dengarlah anak muda. Kaisar adalah seorang yang telah mendapat anugerah
dewata dan sudah ditakdirkan menjadi orang yang tertinggi kedudukannya dan yang harus
ditaati oleh semua rakyat. Tidak sembarang orang bisa menjadi kaisar, dan kewajiban kita
sebagai rakyat hanyalah taat dan menghormat semua perintahnya. Kalau kau memberontak
terhadap kaisar, itu berarti bahwa kau memberontak melawan takdir. Daripada kau
memberontak dan mengambil jalan sesat, lebih baik kau membantu usaha kaisar untuk
mengusir pemberontak dan memulihkan kembali keamanan di dalam negeri untuk menebus
dosamu. Kita tidak boleh menyimpang dari pada tugas sebagai rakyat dan tidak boleh
menjadi hakim sendiri atas kesalahan seseorang. Andaikata benar bahwa kaisar telah
melalaikan tugasnya dan melakukan kesalahan, tidak semestinya kalau rakyat bertindak
sendiri melakukan hukuman.”
Mendengar ucapan yang penuh nafsu ini, Nyo Liong tersenyum.
“Maaf, losuhu, jadi kalau menurut pendapatmu, rakyat harus tinggal diam dan menerima
saja diperas, ditindas, dan dicekik lehernya? Jadi rakyat harus bersabar saja dan menerima
hidup penuh sengsara dan derita sedangkan kaisar dan semua pembesar durjanah hidup
serba mewah dan penuh kesenangan?”
“Kalau memang demikian halnya, tentu dewata yang adil tidak akan tinggal diam, dan siapa
bersalah akan mendapat bagiannya. Ini adalah hukum alam yang tak dapat dielakkan lagi,”
kata Kim Kong Tojin.
“Kalau begitu, pandanganmu masih picik sekali, losuhu. Aku yang muda terpaksa tidak
dapat menyetujui dan aku tetap membenarkan pemberontakan yang terdorong oleh
kesengsaraan rakyat,” jawab Nyo Liong.
Kim Kong Tojin berkata kepada murid-muridnya, “Yang manakah yang kau katakan pencuri
pedang tadi?”
Murid-muridnya menuding ke arah Yang Giok. “Nona itu adalah puteri dari Liu Mo Kong dan
Pangeran itu serta puterinya yang mencuri pedang kerajaan. Sekarang Pangeran Liu itu juga
bersekutu dengan para pemberontak di kota raja!”
“Bohong! Ayahku tidak pernah bersekutu!” jawab Yang Giok marah. “Ayah telah tertawan
ketika hendak melarikan diri bersamaku!”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
48
Kim Kong Tojin memandang kepada Yang Giok dan berkata dengan senyum sindir. “Nona,
kau adalah puteri bangsawan, mengapa sekarang kau bersahabat dengan seorang
pemberontak?”
“Aku .... aku tidak tahu bahwa ia seorang pemberontak!” jawab Yang Giok gagah.
“Dan pedang Thian Hong Kiam pun kau berikan kepadanya. Sekarang kembalikan pedang
milik kaisar itu!”
“Tidak! Biarpun ayahku bukan seorang pemberontak, namun beliau tidak suka melihat
pedang itu kembali ke tangan kaisar yang lalim! Kaisar tidak berhak memegang pedang itu!”
“Eh, eh, kalau begitu kau juga seorang pemberontak! Walaupun lain sifatnya dengan
pemberontak barisan jembel dan tani itu!” kata Kim Kong Tojin marah.
“Tutup mulutmu, tosu kurang ajar!” Yang Giok balas membentak karena gadis ini sedikitpun
tidak takut kepada tosu itu dan hatinya yang keras tidak mengizinkan ia disebut
pemberontak tanpa balas membentak.
“Kau harus dilenyapkan dulu!” kata Kim Kong Tojin dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah
berkelebat dan tahu-tahu sebatang pedang telah berada di tangan dan digunakan untuk
menyerang Yang Giok.
Gadis ini tidak berdaya menghadapi serangan Kim Kong Tojin yang memiliki gerakan cepat,
maka ia hanya memejamkan mata menanti datangnya serangan. Pedang Kim Kong Tojin
berkelebat ke arah leher Yang Giok dan “trang!” terdengar suara nyaring karena pedang tosu
itu telah beradu dengan sebatang pedang lain. Pertemuan tenaga ini demikian hebat hingga
bunga api memercik keluar, sedangkan Kim Kong Tojin sendiri terhuyung ke belakang.
Ternyata Nyo Liong dengan cepat dan tepat sekali telah berhasil menolong Yang Giok dari
pada bahaya maut.
Kim Kong Tojin adalah seorang tokoh besar dari Bu-tong-pai, maka tenaga dan
kepandaiannya telah mencapai tingkat tinggi. Maka tidak heran bila ia merasa gemas dan
marah sekali.
“Bagus, anak muda, mari kita main-main sebentar!” ia berkata halus karena berusaha
menekan perasaannya yang menggelora. Orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi
maklum bahwa nafsu amarah mempunyai pengaruh melemahkan dan berbahaya sekali
apabila menghadapi seorang lawan tangguh dalam keadaan marah. Oleh karena itu,
seberapa dapat ia menahan nafsunya untuk menghadapi pemuda yang berkepandaian tinggi
ini.
Akan tetapi Nyo Liong tinggal berdiri dengan tenang dan menjawab. “Ingat, losuhu, bukan
aku yang menghendaki pertempuran ini. Kalau kau orang tua tetap hendak turun tangan
mengganggu, silakan!”
Sebetulnya kalau ia tidak sedang dipengaruhi oleh rasa dendam dan marah, Kim Kong Tojin
tentu dapat melihat sikap mengalah dan tenang dari pemuda ini dan maklum bahwa
sebenarnya pemuda ini memiliki kepandaian tinggi dan sedikitpun tidak jerih terhadapnya.
Akan tetapi, karena ia merasa kecewa dan malu, apalagi di situ terdapat tiga orang
muridnya dan perwira-perwira lain yang menjadi saksi, ia menjadi nekad dan lupa akan
kewaspadaan.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
49
“Baik, kalau begitu, waspadalah terhadap pedangku!” Tosu ini lalu menyerang bagaikan kilat
menyambar. Ia mengeluarkan ilmu pedang Bu-tong-pai yang hebat dan ganas. Nyo Liong
tidak mau berlaku semberono dan ia menghadapinya dengan tenang dan hati-hati sekali.
Berkat ilmu pedang yang dipelajarinya dari kitab Pat-kwa Im-yang Coan-si memang sebuah
ilmu silat yang jarang terdapat di dunia ini, maka ia dapat melawan serangan tosu itu
dengan baiknya, bahkan ia masih dapat membalas dengan serangan yang tidak kalah
hebatnya.
Mengetahui bahwa ia sama sekali tidak dapat mendesak pemuda itu dengan pedangnya,
Kim Kong Tojin menjadi heran dan kagum sekali. Belum pernah seumur hidupnya ia
menyaksikan ilmu pedang seperti ini, padahal ia telah mengalami banyak sekali
pertempuran dan boleh dibilang ia telah mengenal semua gerakan ilmu pedang. Akan tetapi
kali ini benar merasa malu karena ia sama sekali tidak mengenal ilmu pedang Nyo Liong.
Menghadapi ilmu pedang yang sama sekali gelap baginya, tentu saja ia menjadi bingung,
apalagi kalau yang memainkan memiliki kepandaian khikang dan ginkang sehebat Nyo
Liong.
Sebenarnya Nyo Liong telah banyak mengalah dan sengaja tidak mau mempergunakan
kesempatan-kesempatan baik untuk merobohkan lawan karena ia tidak mau menjatuhkan
namanya di depan murid-muridnya. Kalau saja Kim Kong Tojin tidak begitu gemas dan
marah, tentu ia akan tahu pula akan hal ini dan menyudahi pertempuran. Akan tetapi tosu
ini bahkan menjadi murka sekali dan menyerang dengan nekad.
Menghadapi serangan yang dilakukan secara mati-matian oleh Kim Kong Tojin yang
berkepandaian tinggi, terpaksa Nyo Liong tak dapat tinggal bertahan saja, karena kalau ia
bertahan terus, tentu ia akan mendapat celaka. Maka ia segera merobah gerakan pedangnya
dan kini gerakannya menjadi ganas dan cepat sekali hingga dalam beberapa jurus sajaKim
Kong Tojin terdesak hebat. Mereka telah bertempur seratus jurus lebih dan sekarang
mereka tidak menjadi lambat, bahkan makin cepat hingga merupakan dua gulung sinar
yang saling menyambar.
Beberapa puluh jurus lagi telah berlalu dan tiba-tiba pedang tosu itu terpental ke udara
hingga terputar-putar tinggi sekali dan ketika pedang itu meluncur turun, Kim Kong Tojin
melompat dan menyambutnya dengan tangan. Wajahnya pucat sekali dan mulutnya
tersenyum pahit.
“Anak muda she Nyo, kau benar-benar hebat sekali.”
Nyo Liong menjura. “Totiang, kaulah yang hebat dan telah mengalah terhadap aku yang
muda.”
“Anak muda, kalau kau suka memandang mukaku dalam tiga hari lagi aku hendak bertemu
kembali denganmu.”
Nyo Liong maklum bahwa tosu yang keras kepala ini masih belum mau mengaku kalah dan
masih mengandung dendam, maka ia merasa mendongkol sekali. Akan tetapi, terpaksa ia
menjawab juga.
“Totiang, yang memulai adalah kau sendiri, maka selanjutnya terserah kepadamu untuk
memutuskan. Aku yang muda tak dapat menanti lebih lama lagi karena aku hendak pergi
bersama kawanku ini ke kuil Thian-Hok-si.”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
50
“Apa? Kau hendak pergi menemui Kok Kong Hwesio di Thian-hok-si? Ada hubungan apakah
kau dengan Kok Kong Hwesio?” tanya Kim Kong Tojin.
“Dia adalah sucouwku!” jawab Yang Giok.
Kim Kong Tojin mengerling ke arah gadis itu. “Hm, jadi Pangeran Liu adalah murid Kok Kong
Hwesio? Pantas, pantas! Gurunya berjiwa pemberontak, tentu muridnya sama saja! Baiklah,
anak muda she Nyo, tiga hari lagi, aku akan datang mencarimu di Thian-hok-si!” Setelah
berkata demikian, Kim Kong Tojin lalu mengajak murid-muridnya dan perwira lain untuk
pergi meninggalkan tempat itu.
Nyo Liong menyimpan pedang Thian Hong Kiam dan menghela napas lega. Akan tetapi,
alangkah terkejutnya ketika ia melihat betapa Yang Giok agaknya tidak senang melihat
kemenangannya, karena gadis itu berdiri memandangnya dengan sinar mata dingin.
“Eh, moi-moi kau kenapa?” tanya Nyo Liong sambil menghampiri Yang Giok.
“Kau .... benarkah kau seorang anggauta pemberontak?” tanya gadis itu dengan suara
lemah.
Nyo Liong memandang tajam. “Bukan menjadi anggauta, akan tetapi aku memang selalu
membantu perjuangan mereka karena kuanggap perjuangan mereka itu suci dan baik.”
“Kalau begitu kau anggap Oey Couw itu patut menjadi kaisar?” tanya Yang Giok kecewa.
“Aku tidak mengerti tentang itu, dan aku tidak perduli siapa yang akan menjadi kaisar,
asalkan pemerintah dapat menjalankan tugas secara bijaksana dan dapat memperhatikan
nasib rakyat kecil tidak seperti kaisar yang lalu. Aku kenal baik kepada Oey Couw dan aku
anggap dia seorang pemimpin besar yang patut dihargai.”
Yang Giok makin marah. “Kau tidak tahu betapa kejamnya barisan pemberontak yang
menyerbu ke kota raja. Banyak Pangeran dan pembesar mereka bunuh sampai habis
sekeluarganya. Dan kau .. kau yang kuanggap seorang perkasa dan orang baik, ternyata ....
menjadi pembantu mereka!”
“Yang Giok, jangan kau menuduh yang bukan-bukan?!” kata Nyo Liong, “tentang
pembunuhan itu, mungkin karena memang pembesar yang dibunuh itu dulu berlaku
sewenang-wenang dan kejahatannya telah menimbulkan kebencian hebat, dan mungkin
juga bahwa di antara anggauta barisan petani terdapat orang-orang yang kejam dan jahat,
karena tidak semua orang baik, juga tidak semua orang jahat belaka. Akan tetapi, yang
kumusuhi adalah peraturan yang dijalankan oleh pemerintah kaisar Tang yang demikian
lalim dan hanya tahu mencari kesenangan sendiri saja. Perjuangan pemberontak kaum tani
adalah suci dan baik!”
“Jadi pedang Thian Hong Kiam itu patut berada di tangan Oey Couw?” tanya Yang Giok
marah.
“Dulu pernah kukatakan pada pertemuan kita yang pertama kali bahwa pedang ini memang
pantas berada di tangannya.”
Yang Giok membanting-banting kakinya dengan gemas. “Kalau begitu, apakah kau hendak
memberikan pedang itu kepadanya sebagai persembahan untuk mencari pahala?”
Melihat betapa kemarahan gadis yang berhati keras itu memuncak, Nyo Liong menjadi sabar
kembali dan ia memperlihatkan senyumnya. “Moi-moi mengapa kau menjadi marah benar.
Jangan begitu, adikku. Aku tidak berhak atas pedang ini. Ingat bahwa kaulah yang
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
51
membawa pedang ini dan aku hanyalah mengawani kau pergi ke sini. Bagiku, pedang ini
tidak banyak artinya, baik dipegang oleh siapapun. Kau lebih berharga seribu kali dari
pedang ini!”
Di dalam hatinya, Yang Giok sebenarnya merasa girang mendengar pernyataan ini, akan
tetapi ia tetap merasa kecewa karena tunangannya yang sangat dibanggakannya itu ternyata
anggauta pemberontak. Sebagai seorang gadis bangsawan betapapun juga sebutan
pemberontak yang menghancurkan kota raja menimbulkan pandangan rendah dalam
hatinya. Maka, ia tak dapat lagi menahan kecewa dan marahnya, lalu ia menangis sambil
membanting-banting kaki. “Kau ..... kau pemberontak .... alangkah akan sedihnya hati ayah
....” Padahal yang bersedih adalah hatinya sendiri, dan pada saat itu ia sama sekali tidak
perduli apa kata ayahnya tentang hal ini.
“Sudahlah, moi-moi, jangan kau sedihkan hal yang tak berarti ini. Sekarang marilah kita
pergi ke kuil Thian-hok-si dan menanyakan pikiran sucouwmu.”
Mendengar ucapan ini, Yang Giok menahan tangisnya dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu
menuju ke tempat kudanya. Nyo Liong yang dapat meraba isi hati tunangannya yang kecewa
itu, juga tidak mau banyak bicara karena ia maklum bahwa pada saat hati Yang Giok masih
panas, percakapan hanya akan membuat gadis keras hati ini menjadi makin marah.
Kelenteng Thian-hok-si adalah sebuah kelenteng tua yang masih kokoh kuat karena
dibangun dari kayu-kayu gunung yang keras dan kuat serta mempunyai tiang yang besar.
Ukiran-ukiran dan lukisan-lukisan yang terdapat di sekitar dinding kelenteng itu telah
luntur warnanya akan tetapi masih dapat dikagumi keindahan dan mutu seninya.
Di pegunungan Go-bi-san memang banyak terdapat lereng-lereng dan puncak bukit yang
indah pemandangannya dan yang mempunyai kuil-kuil besar dan indah. Banyak pula di
antara kuil-kuil itu yang telah bobrok dan roboh. Oleh karena banyaknya tempat-tempat
indh di daerah pegunungan Go-bi-san, maka banyak pula pertapa-pertapa yang datang ke
tempat itu. Di antara para pertapa ini banyak terdapat orang-orang sakti dan berilmu tinggi,
maka pegunungan Go-bi terkenal sebagai tempat yang menghasilkan banyak anak murid
yang pandai. Oleh karena banyaknya guru-guru yang pandai dan yang datang dari berbagai
tempat, maka cabang persilatan Go-bi banyak sekali macamnya.
Di antara pertapa-pertapa yang bertapa di situ, terdapat seorang hwesio yang
berkepandaian tinggi dan yang menuntut penghidupan suci. Dia ini adalah Kok Kong Hwesio
yang memilih kuil Thian-hok-si sebagai tempat pertapaannya. Kok Kong Hwesio ini
sebenarnya adalah putera seorang menteri di zaman Raja Hauan Tsung yang melarikan diri
ke Go-bi-san ketika pemberontakan Tartar yang bernama An Lu San memukul kerajaan.
Dan menteri ini lalu mengasingkan diri dan bertapa di pegunungan itu. Puteranya, yakni Kok
Kong, menjadi murid seorang pandai di Go-bi dan sampai tua Kok Kong menuntut
penghidupan sebagai seorang pendeta yang menganut agama Buddha.
Kok Kong hwesio tak pernah menerima murid, kecuali Pangeran Liu Mo Kong, karena ia
melihat betapa Pangeran ini berjiwa bersih dan jujur. Ketika pada waktu mudanya, Pangeran
Liu berkelana meluaskan pengetahuan, maka ia bertemu dengan Kok Kong Hwesio dan
menjadi muridnya.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
52
Dengan hati sedih, pendeta yang berketurunan bangsawan pula ini melihat betapa kerajaan
dipegang oleh kaisar yang lalim dan hatinya hancur melihat kemelaratan dan kesengsaraan
rakyat jelata. Akan tetapi apakah dayanya? Sebagai seorang suci yang tidak suka
mencampuri urusan dunia, ia hanya memuja saja kepada para dewata agar keadaan yang
buruk itu akan berubah menjadi baik. Akhirnya terjadilah pemberontakan kaum tani yang
berhasil, dan diam-diam Kok Kong Hwesio berdoa sambil menghaturkan terima kasih serta
mengharapkan perubahan yang baik terhadap nasib seluruh umat manusia, terutama
golongan rakyat kecil yang selalu hidup di tingkat terendah dan terpijak.
Diam-diam pendeta tua inipun memikirkan keadaan muridnya yang menjadi Pangeran dan
memegang jabatan sebagai kepala bagian perbendaharaan. Ia maklum bahwa muridnya
berjiwa bersih dan tidak ikut menjadi pemeras rakyat, maka ia maklum pula bahwa
muridnya itu tentu akan mengambil tindakan bijaksana dalam peristiwa pemberontakan itu.
Ingin sekali ia mendengar tentang nasib muridnya sekeluarga.
Oleh karena itu, ketika seorang hwesio kecil yang menjadi murid dan pelayannya
memberitahu bahwa di luar datang dua orang tamu muda, seorang pemuda dan seorang
gadis, yang katanya datang dari kota raja dan membawa berita dari Pangeran Liu, ia menjadi
girang sekali dan mempersilakan mereka itu datang menghadap.
Nyo Liong dan Yang Giok memasuki ruang dalam dan mereka segera berlutut di depan
pendeta tua yang duduk bersila di atas bangku bundar yang bertilamkan bantal terisi daundaun
kering.
“Sucouw, teecu Liu Yang Giok datang menghadap,” kata Yang Giok.
Kok Kong Hwesio memandang gadis itu dengan matanya yang lebar dan tajam. Ia dapat
menduga bahwa gadis ini tentulah puteri muridnya, maka ia berkata,
“Anak, bagaimanakah kabar ayahmu? Dan siapakah kawanmu ini? Coba seritakan semua
yang jelas!”
Yang Giok lalu menuturkan dengan singkat dan jelas tanpa merahasiakan sesuatu kepada
orang suci itu, bahkan ia memberitahu pula bahwa Nyo Liong adalah pemuda tunangannya
yang mengantarnya sampai ke Go-bi-san.
Sebagai penutup penuturannya, gadis itu berkata, “Sucouw, karena teecu merasa bingung
dan selalu dikejar oleh pihak-pihak yang menghendaki pedang Thian Hong Kiam, maka
akhirnya teecu mengambil keputusan untuk menyerahkan pedang ini kepada Sucouw dan
minta nasehat selanjutnya.” Sambil berkata demikian, Yang Giok menyerahkan pedang itu
kepada sucouwnya.
Akan tetapi, Kok Kong Hwesio tidak mau menerima pedang itu dan berkata, “Yang Giok,
mengapa pedang itu kau berikan kepadaku? Pinceng sudah mencuci tangan dari pada segala
urusan dunia, bagaimana pinceng hendak diserahi pedang ini? Yang Giok, mengapa kau
sendiri tidak bisa memilih orang yang patut diserahi pedang ini? Kulihat kawanmu itu
bukanlah seorang yang lemah, mengapa dia tidak mau membantumu?”
Nyo Liong terkejut, karena baru melihat negitu saja, orang tua ini dapat mengetahui bahwa
ia memiliki kepandaian.
“Sucouw,” kata Yang Giok dengan suara manja. “Liong-ko ini telah cukup membantuku,
kalau tidak ada dia, tentu pedang ini telah terampas oleh pihak lain.” Kemudian ia
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
53
menceritakan sepak terjang Nyo Liong dalam membelanya dan membela pedang Thian
Hong Kiam, hingga hwesio itu mengangguk-angguk dengan sinar mata kagum.
“Akan tetapi, sucouw, antara Liong-ko dan teecu, terdapat perselisihan paham yang besar
sekali. Menurut teecu yang hanya mentaati pendirian ayah, pedang ini sepatutnya
diserahkan ke dalam tangan seorang calon kaisar pengganti kaisar yang telah lari itu, dan
calon ini haruslah seorang yang benar-benar bijaksana dan patut menjadi seorang
pemimpin besar. Teecu anggap bahwa pedang ini tidak pantas diserahkan kepada kaisar
yang telah dikalahkan oleh pemberontak. Akan tetapi, Liong-ko, menganggap bahwa sudah
seharusnya pedang ini diberikan kepada pemimpin pemberontak Oey Couw. Bahkan ....
bahkan Liong-ko telah pula membantu pergerakan para pemberontak.” Setelah berkata
sampai di sini, tak tertahan lagi Yang Giok menangis.
Tiba-tiba Kok Kong Hwesio tertawa bergelak-gelak. “ha,ha! Kau memang patut menjadi
puteri Mo Kong! Kau sama-sama keras hati dan kukuh seperti ayahmu. He, Yang Giok,
dengarlah! Pendirianmu itu keliru, dan seharusnya kau menurut kata-kata Nyo enghiong ini
karena dialah yang benar!”
Seketika itu juga terhentilah tangis Yang Giok dan ia memandang kepada sucouwnya
dengan mata terbelalak.
Hwesio itu mengangguk-angguk, “Yang Giok kau masih muda dan tidak dapat mengikuti
kekuasaan alam yang sewaktu-waktu memang mengadakan perubahan terhadap keadaan
dunia dengan tiba-tiba dan tidak terduga. Ketahuilah, memang pergerakan orang-orang she
Oey itu patut dipuji dan itupun telah menjadi kehendak alam. Kalau tidak, bagaimana ia bisa
menumbangkan kekuasaan kaisar? Pedang pusaka ini sudah semestinya berada dalam
tangan orang yang memegang tampuk kekuasaan di kota raja, dan sekarang yang menjadi
pemimpin besar adalah orang she Oey itu, maka dia seoranglah yang berhak memiliki Thian
Hong Kiam.”
Yang Giok tak dapat berkata-kata hanya mendengarkan dengan hati tidak karuan. Akhirnya
ternyata juga bahwa tunangannya yang betul. Ketika ia mengerling ke arah Nyo Liong, ia
melihat pemuda itu justeru sedang memandang kepadanya sambil tersenyum, maka ia
menjadi makin malu kepada diri sendiri.
“Nyo enghiong, sukakah kau memberitahukan siapa sebenarnya suhumu yang mulia?
Barangkali saja pinceng kenal.”
Nyo Liong lalu menceritakan riwayatnya secara singkat dan ketika ia menyebut tentang kitab
Pat-kwa Im Yang Coan-si, pendeta itu nampak terkejut dan kagum.
“Aya ...... kitab itu telah terjatuh ke dalam tanganmu? Ah, sicu, kalau begitu, benar-benar
kau seorang pemuda yang berbahagia sekali. Ketahuilah, di zaman ayahku masih menjadi
menteri, kitab itu telah menjadi perebutan di antara seluruh orang pandai di dunia ini, akan
tetapi kitab itu secara tiba-tiba telah lenyap tak meninggalkan bekas hingga tak seorangpun
dapat mewarisi kepandaian yang hebat itu. Sekarang ternyata dewata telah memperlihatkan
keadilannya hingga kitab itu terjatuh ke tanganmu hingga dapat kaupergunakan untuk
membela perjuangan rakyat.”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
54
“Locianpwe, sebenarnya karena teecu hanya mempelajari dari kitab dan berkat petunjuk dari
Li Lo Kun suhu, maka teecu hanyalah dapat memetik sedikit saja pelajaran dari kitab itu.
Dan selanjutnya teecu masih mengharapkan banyak petunjuk dari Locianpwe.”
“Ha, ha, anak muda. Dalam hal kepandaian, di manakah batas-batasnya? Tahukah kau
bahwa makin pandai seseorang, akan makin jelas terasa dan tampak olehnya betapa bodoh
dia itu. Orang yang dapat mengetahui kebodohan dirinya sendiri, barulah pantas disebut
orang pandai. Aku adalah seorang yang sudah tua dan dalam hal kepandaian silat, tentu aku
tak dapat melawan yang muda-muda!”
“Sucouw,” kata Yang Giok, “dalam perjalanan teecu berdua telah bertemu dengan seorang
tosu dari Bu-tong-san bernama Kim Kong Tojin yang hendak datang untuk mencari Liongko
ke sini untuk diajak pibu.” Kemudian dengan panjang lebar Yang Giok menuturkan
pengalaman mereka ketika bertemu dengan para perwira yang dibantu oleh Kim Kong Tojin
dan hendak merampas pedang Thian Hong Kiam.
Mendengar itu Kok Kong Hwesio mengangguk-angguk dan tersenyum.
“Hm, Kim Kong Tojin memang seperti seorang anak kecil yang kukuh dan tidak mau kalah.
Beberapa pekan yang lalu ia pernah ke sini dan bercakap-cakap dengan pinceng tentang
keadaan kerajaan dewasa ini. Maksudnya hendak menarik tenagaku untuk membantu kaisar
memukul kembali para pejuang tani dan merampas kembali kerajaan. Ia mengemukakan
bahwa sebagai keturunan seorang menteri sudah sepatutnya kalau pinceng membela kaisar.
Oleh karena kami mempunyai pendirian berlainan, maka segera terjadilah perdebatan antara
kami dan dia agaknya pergi dengan marah. Tidak tahunya dia bertemu dengan Nyo sicu dan
dapat dikalahkan. Ah, biarlah dia datang, hendak pinceng lihat sampai di mana ia berani
berlaku kurang ajar. Nyo sicu, kau dan Yang Giok boleh berdiam di sini selama tiga hari
sambil menanti kedatangan mereka itu, kemudian kau bersama Yang Giok harus
mengantarkan pedang Thian Hong Kiam ke kota raja dan memberikan pusaka itu kepada
Oey Couw dan sekalian membebaskan Liu Mo Kong muridku.”
Sebagai persiapan menghadapi rombongan Bu-tong-san yang hendak datang ke situ, Kok
Kong Hwesio minta supaya Nyo Liong memperlihatkan kepandaiannya. Oleh karena maksud
hwesio ini selain memiliki kepandaian tinggi juga mempunyai pandangan yang luas sekali,
Nyo Liong tidak berlaku segan-segan lagi dan ia mulai bersilat. Mula-mula dengan tangan
kosong, kemudian mempergunakan senjata pedang.
Kok Kong Hwesio merasa kagum sekali dan diam-diam dia memperhatikan untuk meneliti
di mana adanya kelemahan-kelemahan dalam permainan anak muda itu. Setelah Nyo Liong
selesai bersilat ia berkata,
“Nyo sicu, kepandaianmu sebenarnya sudah hebat sekali. Jarang aku melihat kepandaian
yang lebih bagus dari pada ini dan benar-benar kitab Pat-kwa Im-yang Coan-si itu
mengandung pelajaran yang luar biasa. Pinceng tidak sanggup melebihi kepandaian ini,
hanya pinceng dapat memberi sedikit petunjuk untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan
yang mungkin terjadi karena kurang pengalaman.”
Kemudian, dengan telaten sekali hwesio tua itu memberi petunjuk-petunjuk kepada Nyo
Liong dan minta supaya pemuda itu mengulangi permainan silatnya pada bagian-bagian
yang dianggap lemah. Kemudian mereka berdua bersama-sama memecahkan dan
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
55
memperbaiki gerakan yang dianggap lemah itu hingga kepandaian Nyo Liong makin
meningkat. Selain itu, juga Kok Kong Hwesio menurunkan beberapa jurus ilmu silatnya
kepada pemuda itu hingga Nyo Liong menjadi girang sekali lalu menghaturkan terima kasih
sambil berlutut.
Tiga hari kemudian, benar saja nampak Kim Kong Tojin beserta dua orang tosu lain naik ke
puncak itu mengunjungi kuil Thian-hok-si. Kedatangan mereka disambut oleh Kok Kong
Hwesio sendiri bersama Nyo Liong dan Yang Giok. Yang datang bersama Kim Kong Tojin
adalah Kim Bok Tojin dan Kim Huo Tojin, keduanya adalah kakak seperguruan Kim Kong
Tojin sendiri.
Setelah saling memberi hormat, Kim Kong Tojin berkata kepada Kok Kong Hwesio. “Kok
Kong suhu, kedatangan kami ini tak lain selain hendak menengok kesehatanmu, juga kami
ingin sekali menyaksikan kehebatan anak muda she Nyo yang menjadi tamumu ini, dan juga
hendak minta kembali pedang Thian Hong Kiam yang dibawanya, karena pedang itu harus
kembali kepada pemilik aslinya.”
Kok Kong Hwesio tersenyum. “Kim Kong Toyu, pinceng telah tahu akan maksudmu. Jika kau
hendak mengajak pibu kepada Nyo sicu silakan, mataku yang tua agaknya memang
bernasib baik sekali hingga akan dapat menyaksikan ilmu pedang Bu-tong-pai.” Dalam
ucapannya yang halus ini, hwesio tua itu diam-diam telah mengeluarkan sindiran hingga
Kim Kong Tojin memerah muka.
“Totiang, kalau kau masih kecewa dan hendak memberi pelajaran kepadaku, silahkan!”
berkata Nyo Liong yang sebenarnya merupakan sebuah tantangan.
Mereka lalu menuju ke pelataran depan yang lebar dan sunyi.
Kim Kong Tojin telah mencabut keluar pedangnya dan tangan kirinya mengeluarkan
sebatang cabang kecil dari pohon Liu.
“Eh, rupanya Kim Kong toyu hendak memperlihatkan kehebatan Bu-tong-Kiam-Tung-hwat,
dan kabarnya ranting kecil itu lebih berbahaya dari pada pedangnya. Hebat, hebat!” kata Kok
Kong Hwesio hingga diam-diam Kim Kong Tojin merasa mendongkol sekali karena katakata
ini secara tidak langsung merupakan peringatan kepada Nyo Liong bahwa pemuda itu
harus berhati-hati terhadap ranting kecil dari pohon Liu yang kelihatannya tidak berarti itu..
“Kalau tamu mudamu merasa jerih, boleh juga tuan rumahnya mewakili,” kata Kim Kong
Tojin kepada Kok Kong Hwesio secara menyindir, akan tetapi yang disindir hanya tersenyum
saja dan berkata kepada Nyo Liong.
“Nyo sicu, apakah benar-benar kau jerih menghadapi jago dari Bu-tong-pai ini?”
Sebagai jawaban, Nyo Liong mencabut Thian Hong Kiam dari pinggangnya dan menghadapi
Kim Kong Tojin sambil menyilangkan pedangnya di atas dada.
“Totiang, silakan maju,” katanya.
Kim Kong Tojin lalu berseru keras dan mengirim serangan cepat sekali dengan pedangnya.
Nyo Liong menangkis tahu-tahu ranting itu menyambar menuju ke leher Nyo Liong dalam
sebuah totokan kilat yang berbahaya sekali, jauh lebih berbahaya dari pada serangan
pedang tadi. Nyo Liong cepat mengelak dan sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri, tahutahu
pedangnya menyambar dari kanan. Inilah hebatnya ilmu pedang Pat-kwa Im-yang.
Kedudukan kaki Nyo Liong bergerak-gerak menurut garis-garis dan peraturan Pat-kwa,
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
56
sedangkan tubuh dan pedangnya bergerak-gerak secara berlawanan menurut peraturan im
dan yang, hingga selalu pedang di tangannya menyerang secara berlawanan dengan apa
yang tampak. Akan tetapi, karena pada tiga hari yang lalu Kim Kong Tojin pernah merasai
kehebatan Pat-kwa Im-yang Kiamsut, maka kini ia dapat berlaku hati-hati dan tidak mudah
terpedaya.
Demikianlah, mereka berdua saling serang dengan seru sekali dan kedua suheng dari pada
Kim Kong Tojin itu hanya berdiri memandang dengan sikap tenang. Akan tetapi di dalam
hati mereka merasa terkejut dan kagum sekali karena kini mereka baru percaya akan cerita
sutenya bahwa pemuda ini benar-benar hebat ilmu pedangnya.
Karena kini Kim Kong Tojin menambah senjatanya dengan sebatang ranting pohon Liu yang
digunakan untuk menotok jalan darah, maka ketangguhannya lebih hebat dari pada tiga
hari yang lalu, apalagi karena tosu ini kini sedikit banyak telah tahu akan ilmu pedang Nyo
Liong. Baiknya sebelum menghadapi tosu ini, Nyo Liong telah mendapat petunjuk-petunjuk
dari Kok Kong Hwesio hingga kelemahan-kelemahan yang masih ada pada gerakgerakannya
kini telah lenyap. Hal inipun mengejutkan Kim Kong Tojin, karena kelemahankelemahan
yang kemarin dulu ia lihat pada ilmu silat pemuda itu, kini telah lenyap bahkan
telah berganti dengan jurus-jurus ilmu pedang cabang Go-bi yang berbahaya dan ganas.
Setelah bertewmpur dua ratus jurus lebih, perlahan-lahan dengan ilmu silatnya yang hebat
itu Nyo Liong dapat mendesak mundur lawannya. Pada suatu kesempatan yang baik, ujung
pedang Thian Hong Kiam berhasil membabat putus ranting pohon Liu di tangan Kim Kong
Tojin hingga terpaksa tosu itu melayani Nyo Liong dengan pedangnya saja. Kini ia terdesak
hebat dan sewaktu-waktu tentu akan kena dirobohkan.
Melihat keadaan sutenya, Kim Bok Tojin merasa khawatir. Ia lalu berseru keras, “Sute,
mundurlah!” Dan tubuhnya lalu melayang ketengah-tengah kedua orang yang asyik
bertempur itu sambil menggoyang-goyangkan senjatanya yang luar biasa sehelai sabuk
yang panjangnya empat kaki lebih.
Kim Kong Tojin segera melompat mundur, juga Nyo Liong hendak mundur, akan tetapi Kim
Bok Tojin berseru, “Anak muda, mari kita main-main sebentar!”
Sambil berkata demikian, ang-kin (sabuk merah) yang berada di tangannya menyambar dan
ujung sabuk itu bagaikan kepala ular meluncur bagaikan hidup menotok ke arah jalan darah
kwe-hian-hiat. Nyo Liong terkejut sekali dan mengelak sambil melompat mundur lalu
menyabetkan pedangnya untuk membabat sabuk itu. Akan tetapi sungguh mengherankan,
ketika pedangnya beradu dengan sabuk, sabuk itu berubah menjadi lemas dan ringan
hingga tak mungkin terbabat karena baru tersambar angin pedang saja sudah melayang
menjauh.
Nyo Liong tahu bahwa lawannya mempergunakan tenaga lweekang yang tinggi, maka ia
berlaku hati-hati sekali dan berjaga diri dengan tenang dan waspada. Sabuk di tangan Kim
Bok Tojin itu benar-benar berbahaya sekali karena dengan tenaga lweekangnya yang sudah
terlatih sempurna, kain merah itu dapat menjadi keras, menegang atau lemas dan ulet
menurut kemauan pemegangnya. Dengan tenaga keras, sabuk merah itu dapat digunakan
untuk menotok jalan darah dan dalam keadaan lemas dan ulet, senjata istimewa ini dapat
digunakan untuk menyabet atau membelit pedang.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
57
Kali ini Nyo Liong benar-benar menghadapi seorang lawan yang tangguh dan berbahaya
sekali. Biarpun ilmu silatnya luar biasa, akan tetapi senjata lawan yang memiliki tenaga
keras dan lemas itu dapat mengimbangi permainannya yang berdasarkan tenaga im dan
yang atau tenaga lemas dan keras. Terpaksa ia harus mengerahkan seluruh perhatian,
tenaga, dan kepandaiannya agar jangan sampai terkalahkan.
Pada suatu saat Nyo Liong menyerang dengan pedangnya yang ditusukkan ke arah leher
lawannya. Ketika Kim Bok Tojin memiringkan kepala mengelak tusukan itu, Nyo Liong
meneruskan senjatanya membabat leher lawan. Kim Bok Tosu terkejut sekali. Memang
semenjak tadi ia sering dikejutkan oleh gerakan-gerakan yang susul menyusul yang
digunakan Nyo Liong dalam serangannya. Ia cepat menangkis dengan sabuk merahnya dan
menggunakan tenaga lemas hingga sabuk itu tepat sekali membelit pedang. Nyo Liong
menggunakan tangan kiri menghantam ke bawah untuk memukul ke arah pusar lawan dan
membuyarkan tenaga lweekang lawan yang berpusat di pusar, akan tetapi Kim Bok Tosu
juga melayangkan tangan kirinya hingga kedua tangan itu bertemu. Telapak kedua tangan
itu saling menempel dan tak dapat lepas lagi, seakan-akan menjadi lengket.
Kini terjadi adu tenaga lweekang yang mendebarkan dan menegangkan. Pedang dan sabuk
telah menjadi satu dan kedua tangan kiripun telah menempel pula. Kedua-duanya
mengerahkan tenaga khikang dan lweekang untuk menjatuhkan lawan.
Adu tenaga ini berjalan lama karena siapa yang berani melepaskan sebuah tangan akan
mendapat celaka. Bibir Nyo Liong menggigil dalam mempertahankan tenaganya, sedangkan
pada jidat Kim Bok Tosu telah nampak peluh keluar sebesar kacang. Semua orang yang
berada di situ maklum bahwa keadaan kedua orang itu berbahaya sekali, dan banyak
kemungkinan seorang di antara mereka akan terluka hebat. Akan tetapi untuk membantu
juga sangat berbahaya, karena tidak mungkin lagi kedua orang itu dipisahkan tanpa
membahayakan keselamatan mereka. Baik di pihak Bu-tong-pai, maupun di pihak Kok Kong
Hwesio, memandang pergulatan hebat dan mati-matian itu dengan dada berdebar dan
hampir tidak berani bernapas. Terutama Yang Giok yang biarpun belum memiliki
kepandaian tinggi akan tetapi telah mengetahui keadaan yang menegangkan itu. Ia
menggigit bibirnya dan memandang ke arah tunangannya dengan muka pucat. Tak terasa
pula air matanya mengalir membasahi pipinya. Bagaimana kalau Nyo Liong terkena celaka
atau binasa?
Akan tetapi, tidak percuma Nyo Liong melatih diri menurut petunjuk kitab Pat-kwa Im-yang
Coan-si yang sakti itu. Latihan lweekangnya biarpun belum lama, akan tetapi berkat caracara
berlatih yang sangat luar biasa dari pelajaran di dalam kitab itu, ia memperoleh tenaga
lweekang yang tidak kalah dibandingkan dengan latihan orang yang berpuluh tahun
lamanya menurut cara biasa. Oleh karena ini, ia dapat mengimbangi tenaga Kim Bok Tojin
yang terkenal sebagai ahli lweekeh yang kenamaan.
Melihat betapa lawannya yang masih muda sekali ini dapat mengimbangi kekuatan
lweekangnya, Kim Bok Tojin merasa gemas dan marah sekali. Dan inilah kekeliruannya. Di
dalam hal tenaga dalam, pantangan terbesar adalah nafsu marah, karena nafsu ini akan
menyerang perjalanan darah dan oleh karenanya akan mengacaukan jalan darah yang telah
teratur oleh pernapasan dalam menggerakkan tenaga lweekang. Maka begitu nafsu itu
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
58
menyerang ke dalam hatinya, Nyo Liong dapat meradsakan betapa telapak tangan lawannya
menjadi panas dan libatan sabuk pada pedangnya agak mengendur. Pemuda yang cerdik ini
dapat menduga, maka ia lalu memandang lawannya dan mengeluarkan senyum mengejek.
Melihat senyum ini, makin marahlah Kim Bok Tojin dan makin lemah pulalah pemusatan
tenaganya hingga pada saat yang tepat sekali Nyo Liong mengumpulkan pernapasannya dan
mengerahkan seluruh tenaga, tangan kiri mendorong dan tangan kanan yang memegang
pedang menarik sambil berseru, “Ahhh!!”
Kim Bok Tojin tak kuat menahan serangan hebat ini. Ia merasa betapa dari telapak tangan
kiri Nyo Liong mengalir hawa dingin yang menusuk dan menyerang terus ke jantungnya. Ia
merasa dadanya panas sekali dan tiba-tiba saja pedang Thian Hong Kiam yang ditarik oleh
Nyo Liong berhasil memutuskan sabuknya dan ia lalu terhuyung ke belakang, lalu berteriak
ngeri dan roboh. Dari mulutnya memancar darah merah dan ia lalu rebah pingsan. Kim Huo
Tojin cepat menotok kedua pundak sutenya dan mengurut-urut dadanya hingga biarpun
menderita luka dalam yang hebat, jiwa Kim Bok Tojin dapat tertolong.,
Sementara itu, Nyo Liong masih tetap berdiri bagaikan patung. Pengerahan tenaga yang
hebat itu telah membuat tubuhnya kaku dan untuk beberapa lama ia tidak dapat
menggerakkan tubuhnya hingga tangan kanannya masih memegang pedang yang
diacungkan ke atas dan tangan kirinya masih saja dalam posisi mendorong lawan. Yang
Giok dengan isak tangis lari menghampiri dan hampir lupa akan keadaan dirinya dan
hendak memeluk tubuh Nyo Liong, akan tetapi tiba-tiba lengan tangannya ditarik orang
dengan kuat. Ketika ia menengok, ternyata yang menariknya itu adalah Kok Kong Hwesio
atau sucouwnya, yang berkata.
“Yang Giok, tenanglah hatimu. Nyo sicu tidak apa-apa, hanya saja ia tidak boleh diganggu
pada saat ini!”
Tak lama kemudian, Nyo Liong yang telah mengatur kembali pernapasannya dan telah
merasa betapa tenaganya telah normal kembali, lalu memasukkan pedang ke sarung
pedangnya dan ia menjura ke arah ketiga tosu itu. “Aku yang muda telah berlaku kurang
ajar, harap sam-wi totiang sudi memaafkan.”
Dengan hati panas Kim Huo Tojin lalu maju dan berkata. “Anak muda, kau benar-benar luar
biasa. Mari-mari, majulah dan layani aku. Kalau aku kalah olehmu, kami bertiga takkan
banyak cakap lagi dan selamanya takkan mau mengganggumu lagi!”
Nyo Liong maklum bahwa tenaganya sudah banyak berkurang dan ia merasa lelah sekali,
akan tetapi kalau ia tidak berani melayani tosu ini, apa akan dianggap mereka? Pada saat
itu, Kok Kong Hwesio berkata sambil tersenyum lebar.
“Hm, ketiga kawan dari Bu-tong-san, tidak malukah menyerang seorang pemuda dengan
bergantian? Apakah hal ini tidak akan menjadi buah tertawaan orang-orang kang-ouw
apabila mereka mendengar betapa tiga orang tokoh terbesar dari Bu-tong-pai secara
berturut-turut mengeroyok seorang pemuda yang masih muda sekali?”
Merahlah seluruh muka Kim Huo Tojin mendengar sindiran ini. Memang, kalau dipikir-pikir,
pihaknya telah berlaku tidak pantas, karena seharusnya ia mengerti bahwa pemuda itu telah
mengeluarkan banyak tenaga dan kalau sekarang diharuskan bertempur lagi, maka
andaikata ia akan mendapat kemenangan, akan tetapi kemenangan dari seorang lawan yang
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
59
telah lelah takkan mengharumkan namanya. Maka, untuk menebus kekalahan pihaknya dan
untuk membikin terang muka karena kekalahan dua kali berturut-turut itu, ia lalu berkata
kepada Kok Kong Hwesio.
“Kok Kong suhu, bagi pinto siapa saja yang hendak maju anak muda she Nyo ini maupun
kau sendiri tiada bedanya. Kalau pemuda ini hendak beristirahat dan kau mau mewakilinya
pun boleh. Aku tidak akan memilih lawan!”
Kok Kong Hwesio tertawa. “Ha, ha, Kim Huo Toyu, kau harus malu. Kakek-kakek tua renta
yang hampir mampus seperti kita ini harus berkelahi seperti dua orang anak-anak kecil? Ha,
ha, aku malu kepada bayanganku sendiri.”
Kim Huo Tojin cemberut. Hwesio tua, kau pandai sekali bicara dan mencari alasan. Kalau
kau takut, katakanlah saja terus terang, pinto juga takkan memaksamu berkelahi.”
“Kim Huo Toyu, apakah artinya takut? Apakah artinya menang atau kalah? Kau sungguh
seperti anak kecil saja. Akan tetapi, pada saat ini kau adalah tamu, sedangkan pinceng
adalah tuan rumah, maka sudah menjadi keharusan umum bahwa tuan rumah harus
melayani tamu baik-baik. Tentu saja permintaanmu itu tak dapat kutolak, akan tetapi, oleh
karena kita tidak menaruh permusuhan apa-apa, sedangkan nafsumu yang mendesakmu
itupun hanya terbatas pada nafsu tidak puas dan ingin menguji kepandaian belaka, maka
marilah kita mengadu kepandaian dengan baik-baik sesuai dengan kedudukan kita sebagai
ketua cabang persilatan.”
Sambil berkata demikian, Kok Kong Hwesio lalu mencabut sebatang tiang kecil yang
terpasang dan tertancap di pelataran itu untuk tempat ikatan tali jemuran pakaian, lalu
dengan sebelah tangan ia mematahkan tiang itu menjadi dua potong. Kemudian ia
tancapkan dua batang tongkat itu ke dalam tanah, agak berjauhan, kira-kira berpisah satu
tombak jauhnya.
“Nah, Kim Huo Toyu, marilah kita adu cio-hwat di atas patok ini!”
Sambil berkata demikian, Kok Kong Hwesio melompat ke atas sebatang patok itu dan berdiri
di atas sebelah kaki kiri, sedangkan kaki kanannya di angkat ke belakang dan kedua lengan
dikembangkan ke kanan kiri. Kok Kong Hwesio bertubuh tinggi besar, akan tetapi dengan
ringan sekali ia dapat melompat dan berdiri di atas patok tanpa bergoyang sedikitpun, maka
dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu ginkang dari hwesio tua ini.
Kim Huo Tojin tersenyum dan iapun lalu melompat ke patok kedua. Ia berdiri dengan ujung
kakinya, agak merendah dan kaki kedua diluruskan ke depan, tangan kanan bertolak
pinggang dan tangan kiri merupakan kepalan menempel di pinggang. Juga gerakan tosu ini
ringan sekali hingga semua menjadi kagum.
“hwesio tua, kau berhati-hati sekali. Baiklah, kita mengadu kepandaian di sini saja.
Bagaimana peraturan selanjutnya?”
Melihat gerakan lawan ini Kok Kong Hwesio tersenyum. “Toyu, kau hebat sekali. Marilah kita
gunakan angin pukulan untuk saling mendorong, dan siapa yang terpaksa melompat turun
dari atas patok dianggap kurang hati-hati dan selanjutnya tidak boleh banyak cakap lagi!”
“Baik-baik dan bersiaplah!” kata Kim Huo Tojin yang lalu mulai menggerakkan tangan
kirinya memukul ke depan. Kok Kong Hwesio lalu mengembangkan tangannya dan
mendorong ke depan, menahan angin pukulan lawannya. Demikianlah, kedua orang tua itu
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
60
saling memukul dan mendorong hingga nampaknya mereka itu berkelahi melawan angin
akan tetapi kalau orang berdiri di antara mereka, barulah orang itu akan mengetahui betapa
dari kedua pihak datang angin pukulan yang luar biasa hebatnya, karena biarpun angin
pukulan yang dilancarkan itu tidak melukai kulit, akan tetapi dapat melukai paru-paru dan
jantung serta segala isi perut, mendatangkan luka dalam yang membawa maut. Inilah
hebatnya tenaga khikang yang disalurkan melalui pergerakan tangan mereka.
Nyo Liong dan Yang Giok sambil saling berpegang tangan menonton pertandingan luar
biasa dan menegangkan ini, dan diam-diam mereka hanya berdoa suapaya Kok Kong
Hwesio jangan sampai kalah. Nyo Liong diam-diam mengagumi hwesio tua itu, karena
dalam hal tenaga khikang dan kepandaian ginkang, terus terang saja ia harus mengaku
kalah kepada kedua orang tua ini.
Adu tenaga khikang ini berlangsung lama karena agaknya kedua kakek itu sama tangguhnya
dan tiap-tiap serangan lawan selalu dapat ditahan atau dikembalikan dengan tenaga
mereka. Akhirnya Kim Huo Tojin mendapat akal licik dan tiba-tiba saja ia merobah gerakan
tangannya, kini ia tidak memukul ke arah lawannya, akan tetapi ke arah patok yang diinjak
oleh Kok Kong Hwesio.
Terdengar suara “krak” dan patok itu patah. Kok Kong Hwesio berseru keras lalu tubuhnya
melompat ke atas, berjungkir balik beberapa kali baru ia turun di atas kedua kakinya sambil
tertawa bergelak.
“To-yu, kau cerdik sekali. Sayang agaknya kau terlalu banyak menggunakan tenaga hingga
jubahmu yang menutup iga kiri menjadi rusak.”
Kim Huo Tojin cepat melompat turun dan ia meraba jubahnya. Betul saja, jubah itu telah
terobek lebar hingga angin gunung menghembus membuat kulit iganya terasa dingin. Ia
menjadi pucat karena maklum bahwa dalam adu tenaga tadi, hwesio tua itu telah
menggunakan pukulan Pek-kong-ciang yang tidak mendatangkan angin, akan tetapi cukup
hebat hingga kalau hwesio itu berhati jahat, tentu ia telah menderita luka dalam, dan bukan
hanya jubahnya yang terobek. Cepat ia menjura dan berkata,
“Pinto telah berkenalan dengan Pek-kong-ciang yang hebat dan telah berkenalan pula
dengan hatimu yang welas asih. Terima kasih, terima kasih!” Setelah berkata demikian, Kim
Huo Tojin lalu mengajak kedua sutenya meninggalkan tempat itu tanpa berani banyak cakap
lagi. Sebagai seorang tokoh persilatan yang berkedudukan tinggi. Ia harus memegang janji
dan secara laki-laki ia telah mengaku salah terhadap hwesio tua itu.
Kok Kong Hwesio menghela napas lega. “Untunglah mereka itu masih ingat bahwa mereka
adalah pendeta-pendeta yang harus memegang teguh kebersihan batin. Sekarang tidak ada
bahaya lagi, kalian berdua hari ini juga boleh berangkat ke kota raja dan serahkan pedang
itu kepada pemimpin besar, kemudian mintalah agar supaya Liu Mo Kong dibebaskan.”
Nyo Liong dan Yang Giok menghaturkan terima kasih kepada Hwesio tua yang baik hati ini
dan mereka lalu berangkat secepatnya ke kota raja.
******
Ketika tiba di kota raja, Oey Couw menyambut kedatangan mereka dengan gembira sekali,
karena ia telah kenal dan pernah bertemu dengan Nyo Liong yang banyak membantu
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
61
pergerakannya. Ia menerima pedang Thian Hong Kiam dan mencabutnya dari sarung
pedang untuk diperiksa.
“Pedang baik, pusaka bagus. Akan tetapi, apakah artinya pedang ini jika dipegang oleh
seorang yang berhati jahat?” Ia lalu menggantungkan pedang pusaka itu pada pinggangnya
dan semenjak itu ia tak pernah berpisah lagi dengan pedang Thian Hong Kiam itu.
Dengan senang hati Oey Couw membebaskan Liu Mo Kong yang memang mendapat
kebebasan penuh walaupun tinggal di dalam penjara, dan pertemuan antara Liu Mo Kong
dan puterinya terjadi sangat mengharukan.
Nyo Liong lalu mengajak tunangan dan calon mertuanya untuk pergi ke rumah orang
tuanya, di mana mereka disambut oleh Nyo wan-gwe dengan gembira.
“Oey Couw memang seorang gagah perkasa yang berbudi luhur,” kata Pangeran Liu, “akan
tetapi sayang sekali, ia tidak pandai memegang pemerintahan, hingga aku sangat kuatir
kalau-kalau kekuasaannya takkan bertahan lama.”
Kemudian atas persetujuan kedua pihak, perkawinan antara Nyo Liong dan Yang Giok
dilangsungkan dengan meriah dan kedua mempelai hidup penuh kebahagiaan.
Ramalan dan kekuatiran Pangeran Liu Mo Kong ternyata terbukti. Tak lama kemudian terjadi
rebutan kursi di antara para pembesar yang ingin memperoleh pahala dalam perjuangan
yang lalu. Perebutan kekuasaan inilah yang kemudian melemahkan kedudukan mereka.
Sementara itu, kaisar yang melarikan diri ke Secuan tidak tinggal diam. Ia bersekutu dengan
tentara Turki Barat yang disebut Shato dan dibawah pimpinan Li Ke Yung. Empat tahun
kemudian, barisan Turki dengan sisa barisan kaisar bergerak maju dan menyerang Tiangan.
Pasukan tani yang kini telah menjadi lemah akibat perebutan kekuasaan itu, terpukul
hancur hingga kota raja dapat direbut kembali oleh kaisar atas bantuan Li Ke Yung dan
barisan Turkinya.
Oey Couw dan sisa anak buahnya lalu melarikan diri ke Honan, kemudian lari terus ke
propinsi Shantung. Kemudian, di puncak gunung Tai-san, Oey Couw yang gagah perkasa ini
karena merasa sedih dan kecewa oleh gagalnya perjuangannya yang telah mengurbankan
banyak jiwa rakyat dan harta benda itu, lalu berdiri seorang diri dengan pedang Thian Hong
Kiam terhunus dan terpegang dalam tangannya. Angin pegunungan yang sejuk meniup dan
dan membuat ikat kepalanya terlepas hingga rambutnya terurai ke pundak dan berkibar
tertiup angin, bersaing dengan ikat pinggangnya yang juga berkibar bagaikan bendera
megah.
Ia menegadah memandang awan yang berarak lalu, dan berkata dengan suara nyaring,
“Kaisar lalim! Biarpun perjuangan kami gagal, biarpun laksaan petani dan rakyat kecil
terbunuh di ujung pedang, biarpun aku Oey Couw akhirnya harus melarikan diri karena
kalah dan gagal, akan tetapi ingatlah “Jiwa perjuangan suci takkan pernah hancur, takkan
pernah mati. Para pejuang dan pahlawan rakyat boleh mati, mayat boleh bertumpuktumpuk,
akan tetapi jiwa dan api perjuangan yang timbul dari pada derita rakyat yang
tertindas oleh kaummu yang sewenang-wenang, takkan padam dan selamanya akan
berkobar lagi. Kalian lihat dan tunggu saja, akan datang saatnya api ini berkobar dan
bernyala hebat dan akan membakar semua penindas dan pemeras, dan akhirnya rakyat yang
akan menang. Hidup perjuangan rakyat tertindas.”
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Pedang Keramat Thian Hong Kiam
62
Setelah berkata demikian, pahlawan yang gagah ini lalu menggunakan pedang Thian Hong
Kiam untuk menusuk dada kirinya hingga ujung pedang itu masuk sampai menembus
jantungnya. Ia roboh terlentang dengan mata terbelalak, tak berkutik lagi, sedangkan
pedang Thian Hong Kiam terpancang di atas dadanya. Angin bertiup lalu sepoi-sepoi .....
TAMAT
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil