Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 15 Agustus 2017

Kho Ping Hoo Teranyar Jodoh Rajawali 6

Kho Ping Hoo Teranyar Jodoh Rajawali 6 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Kho Ping Hoo Teranyar Jodoh Rajawali 6
kumpulan cerita silat cersil online
-

Pangeran Liong Bian Cu cepat bangkit berdiri dan dengan suara yang amat ramah dan halus dia berkata
kepada dara itu, “Hwee Li, kekasihku, harap engkau tidak membuat ribut di sini. Kami sedang
membicarakan urusan besar, harap engkau suka mengajak Syanti Dewi ke taman, Sayang.”
Hwee Li merasa malu sekali melihat pangeran itu memperlihatkan sikap demikian ramah dan mesra
kepadanya di depan banyak orang. Dia ingin marah, akan tetapi dia takut kalau-kalau pangeran itu akan
makin bersikap mesra, maka dia lalu menggandeng tangan Syanti Dewi dan diajaknya pergi cepat-cepat
dari ruangan itu. Pangeran Liong Bian Cu tersenyum lebar, puas akan hasil dari kecerdikannya. Dia tahu
benar harus bersikap bagaimana untuk mengalahkan dara yang dicintanya itu.
“Maaf atas gangguan tadi, Kao-goanswe. Sungguh saya tidak mengira bahwa Syanti Dewi adalah anak
angkatmu. Dan gadis tadi adalah puteri Hek-tiauw Lo-mo locianpwe, atau tunangan saya.”
Diam-diam Kao Liang merasa heran dan juga terkejut. Dara cantik jelita tadi tunangan pangeran ini? Puteri
Hek-tiauw Lo-mo? Kini dia mengerti mengapa Hek-tiauw Lo-mo membantu pangeran ini. Dan biar pun dia
kagum akan kecantikan dan keberanian dara itu, namun diam-diam dia bergidik mengingat akan sikap dara
itu terhadap ayahnya! Dasar ayahnya seorang laki-laki iblis, anaknya pun sikapnya demikian kurang ajar
terhadap ayahnya sendiri! Akan tetapi, yang amat mengherankan hatinya, bagaimana Syanti Dewi yang
memiliki watak mulia dan lemah lembut itu kelihatan begitu akrab dengan dara iblis tadi?
“Kao-goanswe,” tiba-tiba Koksu Nepal berkata kepadanya dengan suaranya yang asing karena Ban Hwa
Sengjin memang seorang asli Nepal, sungguh pun dia telah berusaha mempelajari bahasa Han dengan
baik dan dapat bicara dengan lancar. “Kita sama sama adalah orang-orang yang tahu akan tata negara,
tahu akan kebijaksanaan dan kesetiaan terhadap pemerintah. Seorang bijaksana akan setia kepada tanah
air dan bangsa melalui kesetiaannya terhadap pemerintah. Akan tetapi, kalau melihat betapa pemerintah
dipimpin oleh orang-orang yang lemah dan tidak bijaksana, benarkah kalau dia mengekor saja dan berarti
menambah beban penderitaan rakyatnya? Tentu tidak, dan seorang bijaksana akan menentang
pemerintah yang demikian, demi kebaktiannya kepada rakyat dan tanah airnya.”
Kao Liang memandang wajah kakek botak itu dan sejenak mereka beradu pandang. Diam-diam bekas
jenderal itu terkejut melihat sinar mata yang tajam bersinar-sinar dan penuh wibawa itu, maklumlah dia
bahwa selain pandai, juga Koksu Nepal itu tentu bukan orang sembarangan dan memiliki ilmu kepandaian
yang amat tinggi. Kemarahan hebat yang tadi membakar dadanya kini sudah mereda setelah munculnya
Syanti Dewi yang tak disangka-sangkanya.
“Ban Hwa Sengjin, ke manakah tujuan kata-katamu itu?”
“Kao-goanswe, seperti yang dikatakan oleh Puteri Bhutan tadi, seorang bijaksana akan lebih dulu
mengutamakan keselamatan keluarganya dan dalam hal ini, Goanswe adalah seorang yang akan
menentukan mati hidupnya keluarga Goanswe, termasuk pula Syanti Dewi.”
“Hemmm, engkau hendak mengancam keselamatan mereka demi untuk memeras dan memaksaku,
Koksu?” bekas jenderal itu mengejek.
“Bukan ancaman kosong belaka, Kao-goanswe! Dengan sekali isyarat, saat ini pun aku sanggup menyuruh
algojo memenggal leher keluargamu di depan matamu!” Pangeran Liong Bian Cu berkata tenang dan
halus, namun isi kata-katanya itu penuh ancaman yang mengerikan sehingga pucatlah wajah Kok Tiong
mendengar ini.
“Bukan sekedar mengancam untuk memaksa, Jenderal Kao Liang!” kata pula Ban Hwa Sengjin dengan
sinar mata tajam. “Sebagai seorang ahli perang engkau tentu dapat mengetahui kalau keadaanmu sudah
tersudut dan kalah total. Engkau sudah kalah dan kami yang menang, karena itu kami menggunakan hak
kami sebagai pemenang dan sudah selayaknya kalau engkau tahu diri sebagai pihak yang kalah. Akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi, selain kenyataan ini aku ingin membuka mata dan kesadaranmu akan kenyataan lain, yaitu bahwa
engkau tidak mempunyai pilihan lain.”
Kao Liang menegakkan kepalanya dan mengangkat dadanya. “Bagiku, tetap saja ada pilihan, Koksu,
karena aku lebih menghargai kehormatan dari pada nyawa. Ancamanmu terhadap keluargaku, sama sekali
tidak akan membutakan mataku terhadap nilai kehormatan kami!”
Wajah koksu itu sudah menjadi merah karena dia marah sekali melihat kekerasan hati bekas jenderal ini.
Akan tetapi Liong Bian Cu memberi isyarat kepadanya dan orang muda yang cerdik ini lalu berkata,
“Jenderal Kao Liang, sikapmu yang tegas dan gagah itu amat mengagumkan hatiku. Akan tetapi engkau
lupa bahwa setiap perbuatan itu tentu ada dasarnya. Setiap pemberontakan ada pula yang menjadi
dasarnya. Ketika mendiang ayahku memberontak terhadap kaisar, apakah dasarnya? Karena kaisar terlalu
lemah dan membiarkan para pembesar melakukan korupsi dan maksiat besar besaran, memeras rakyat.
Ayah memberontak dan gagal, hal itu sudah biasa dan tidak perlu disesalkan. Yang patut disesalkan
adalah betapa kelaliman berlangsung terus. Engkau, yang ketika itu menjadi panglima, bahkan lalu
diangkat menjadi panglima besar, kini dapat melihat bukti kebenaran dasar yang membuat ayahku
memberontak, Jenderal Kao. Lihat, betapa lalimnya kaisar! Betapa kaisar memberi hati kepada para
thaikam dan pembesar-pembesar lalim dan jahat, sehingga banyak orang-orang yang benar-benar
merupakan pahlawan seperti engkau, malah disingkirkan dan dipecat. Orang-orang yang penjilat dan
pemeras rakyat, tukang korupsi besar malah dipakai dan memperoleh kekuasaan. Engkau yang dipecat
dan diusir secara halus oleh kaisar membuktikan bahwa engkau bukan termasuk pembesar penjilat dan
korup. Engkau tidak merasa sakit hati oleh tindakan lalim kaisar itu terhadapmu, itu membuktikan bahwa
engkau berjiwa pahlawan yang setia. Tetapi sebaliknya, engkau membiarkan kaisar dan kaki tangannya
melakukan kelaliman yang menyengsarakan rakyat, hal itu berarti bahwa engkau pun membantu kelaliman
mereka. Bukankah orang yang tahu kejahatan dan tinggal memeluk tangan saja berarti membantu
kejahatan itu pula?”
Kata-kata Liong Bian Cu merupakan ujung pedang tajam yang menusuk-nusuk hati bekas jenderal itu,
membuat dia menundukkan kepalanya dan mukanya menjadi agak pucat. Harus diakui bahwa di dalam
kata-kata itu terkandung kebenaran yang sukar untuk disangkal. Memang kaisar amat lemah, kaisar yang
sudah terlalu tua dan sakit sakitan itu seakan-akan menyerahkan kendali pemerintahan kepada para
thaikam yang korup dan lalim, dan memang kelaliman akan terus terjadi dan berlangsung tanpa ada yang
berani menentang.
“Saya... saya tidak mungkin mau memberontak, lebih baik mati sekeluarga dari pada memberontak...”
Akhirnya dia berkata dengan lirih dan memejamkan matanya.
“Ayah...!” Kok Tiong berkata dengan suara penuh duka dan dua butir air mata jatuh ke atas pipinya.
Membayangkan dia dan isterinya mati masih belum apa-apa, akan tetapi membayangkan ibunya dibunuh,
dan dua orang anaknya, benar-benar membuat dia hampir tidak kuat menahan.
“Hemmm, lihat betapa lemahnya jenderal yang terkenal ini! Lihat betapa kejam hati bekas panglima yang
disanjung-sanjung dan dipuji-puji orang sebagai pahlawan ini! Membiarkan keluarganya terancam kematian
padahal ia dapat menyelamatkan mereka, membiarkan rakyat tertekan kesengsaraan padahal dia dapat
pula berusaha untuk mengubah nasib mereka! Betapa lemahnya, dan hanya mementingkan diri sendiri,
kehormatan dan namanya sendiri saja!” kata Liong Bian Cu berkata lagi.
“Brakkkkk!”
Jenderal Kao menggebrak meja sampai tergetar dan cawan mangkok piring mencelat berkerontangan.
“Cukup!” bentaknya. “Baiklah, aku mau membantu kalian, akan tetapi hanya untuk memimpin lembah ini
yang akan dibangun sebagai benteng. Aku mau memimpin dan mengatur agar benteng ini tidak dapat
diduduki oleh musuh mana pun, akan tetapi hanya sekian saja, dan biar kalian mengancam bagaimana
pun, jangan harap dapat memaksaku memimpin pasukan menyerbu kerajaan!”
Liong Bian Cu tersenyum dan cepat bangkit berdiri dan menjura. “Terima kasih, Goanswe. Siapa yang
mengharapkan engkau menyerbu ke kota raja? Asal engkau dapat membuat lembah ini menjadi benteng
yang kuat, sudah cukuplah. Berjanjilah bahwa engkau akan mempertahankan benteng ini dengan sekuat
tenaga dan seluruh jiwa ragamu!”
“Hemmm, Liong-kongcu, lebih dulu berjanjilah demi nama nenek moyangmu bahwa engkau akan
menjamin keselamatan keluargaku dan Puteri Bhutan!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Baik, aku berjanji akan menjamin keselamatan keluargamu dan Puteri Bhutan, demi nama nenek
moyangku!” Liong Bian Cu berkata dengan sikap sungguh-sungguh.
“Dan aku berjanji akan mempertahankan lembah ini dengan jiwa ragaku, demi nama keluarga Kao!” kata
bekas jenderal itu.
Hidangan dan minuman lalu ditambah dan mereka merayakan persekutuan itu. Untuk melupakan
perasaannya yang tertindih, bekas jenderal itu minum arak tanpa batas sampai akhirnya dia mabuk dan
diantar oleh pengawal memasuki kamar keluarganya, bersama Kok Tiong. Terjadilah pertemuan yang
mengharukan dan hujan tangis terjadi.
Demikianlah, mulai hari itu, Kao Liang dengan sungguh hati lalu membangun lembah itu menjadi sebuah
benteng yang kokoh kuat. Pelaksanaannya dibantu oleh tukang-tukang dan tenaga dari Gubernur Ho-nan
dan semua rencana dan gambar yang dibuat oleh Jenderal Kao dilaksanakan sehingga tempat itu menjadi
sebuah benteng yang sukar sekali ditembus musuh. Sungai yang mengelilingi lembah itu diperdalam dan
diperlebar, ditambah air yang mengalir dari atas bukit ke dalam lembah. Di sekeliling lembah dibangun
tembok benteng yang tebal dan kokoh, dan dibuat pula banyak tempat-tempat jebakan yang amat
berbahaya.
Jenderal Kao dan seluruh keluarganya hidup bebas di tempat itu, bersama Hwee Li dan Puteri Syanti Dewi
yang seperti telah bergabung menjadi anggota keluarga jenderal itu. Akan tetapi biar pun mereka kelihatan
bebas, sesungguhnya mereka sama sekali tidak bebas! Jenderal Kao dan Kok Tiong memang dapat pergi
ke mana saja, akan tetapi selalu di situ terdapat anggota keluarga mereka menjadi sandera dan tidaklah
mungkin untuk mencoba-coba meloloskan diri beserta seluruh keluarga yang terdiri dari wanita wanita dan
anak-anak itu!
Dalam waktu beberapa pekan saja, rambut Jenderal Kao sudah berubah menjadi putih semua. Hal ini
terjadi karena memang batinnya amat tertekan dan dia melakukan semua itu demi menyelamatkan
keluarganya. Di dalam hatinya, dia merasa malu sekali kepada mendiang ayahnya, kakeknya dan nenek
moyangnya yang turun-temurun merupakan panglima-panglima besar yang setia…..
********************
“Satu-satunya sumber yang baik dan dapat dipercaya adalah Pangeran Yung Hwa,” kata Ceng Ceng
kepada suaminya setelah mereka tiba di kota raja dan bermalam di sebuah rumah penginapan. “Kalau
masih ada Puteri Milana yang terhitung bibi tiriku pula, tentu beliau dapat membantu. Akan tetapi kini Puteri
Milana sudah tidak ada di kota raja, tidak berada di istana, telah pergi entah ke mana semenjak lima tahun
yang lalu, maka satu-satunya orang di lingkungan istana yang dapat kupercaya adalah Pangeran Yung
Hwa.”
Kao Kok Cu menggunakan tangan kanan untuk meraba dagunya, kebiasaannya kalau dia sedang berpikir,
matanya memandang kepada isterinya penuh selidik. “Akan tetapi, bukankah dahulu pernah dia jatuh cinta
kepadamu seperti yang pernah kau ceritakan kepadaku? Dan kau sekarang hendak menemuinya?”
Ceng Ceng tersenyum, mendekati dan merangkul leher suaminya, dengan sikap manja. “Ihhh! Jangan kau
bilang bahwa engkau cemburu!”
Kao Kok Cu tertawa dan mencium isterinya. Semenjak putera mereka hilang, hanya kalau dia berada di
dekat isterinya sajalah maka hatinya terhibur dan sejenak dia atau mereka, dapat melupakan kedukaan
yang menindih hati. “Engkau salah duga, isteriku. Kau tahu betapa aku mencintamu, betapa kita saling
mencinta, dan cinta adalah kepercayaan. Seujung rambut pun tidak ada penyakit cemburu menyentuh
hatiku, aku hanya bertanya karena agaknya tidak tepatlah kalau engkau mencari keterangan dari seorang
pangeran yang telah patah hati terhadap dirimu. Pertemuan itu selain hanya akan menyakitkan hatinya,
membuat luka kembali kambuh, juga mana mungkin dia mau membantu kita?”
“Engkau belum mengenal siapa dia, suamiku. Pangeran Yung Hwa bukan sembarang pangeran yang
mabuk kekuasaan dan rusak oleh keangkuhan seperti biasanya para muda bangsawan. Sama sekali
bukan. Dia menuruni watak gagah, seperti juga Bibi Milana, hanya bedanya, pangeran itu tidak
mempelajari ilmu silat.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ceng Ceng lalu menceritakan sifat-sifat dan watak pangeran yang pernah jatuh cinta kepadanya itu.
Setelah mendengar penuturan Ceng Ceng, akhirnya Kok Cu percaya juga bahwa mungkin dari pangeran
itulah isterinya akan dapat menyelidiki rahasia dari sernua malapetaka yang menimpa keluarga ayahnya.
(baca cerita Kisah Sepasang Rajawali)
“Selain menyelidiki rahasia itu, juga aku ingin sekali menyampaikan rasa penyesalanku kepada kaisar
melalui Pangeran Yung Hwa atas peristiwa dipecatnya ayahmu.” Demikian Ceng Ceng berkata dan pada
keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah mencari istana Pangeran Yung Hwa dan menghadap
pangeran itu.
Pangeran Yung Hwa menyambut kedatangan Ceng Ceng yang mengunjunginya itu dengan perasaan
heran dan gembira. Begitu melihat siapa wanita yang menghadap dan memberi hormat kepadanya, dia
segera teringat kepada wanita perkasa itu.
“Ahhh... engkau...?” serunya dan mempersilakan nyonya muda itu duduk di atas kursi di depannya. “Aku
telah mendengar bahwa engkau menjadi menantu Jenderal Kao Liang! Bagaimana keadaanmu? Kuharap
baik-baik saja dan berbahagia.”
Melihat sikap pangeran itu yang ramah dan jujur, Ceng Ceng merasa terharu. “Terima kasih atas kebaikan
dan perhatian Paduka, Pangeran. Sesungguhnya saya cukup berbahagia kalau saja tidak timbul peristiwaperistiwa
yang menimpa keluarga kami, merupakan bencana yang didatangkan dari istana.”
Pangeran Yung Hwa mengerutkan alis. “Ehhh? Apa maksudmu? Istana mendatangkan bencana terhadap
keluargamu?”
Ceng Ceng lalu menceritakan tentang dipecatnya ayah mertuanya secara halus oleh kaisar. Kemudian
diceritakannya pula betapa ketika ayah mertuanya beserta seluruh keluarga melakukan perjalanan menuju
ke kampung halaman, di tengah jalan diganggu oleh berbagai golongan dan di antara gerombolan yang
mengganggu itu terdapat pengawal-pengawal istana! Kemudian diceritakan pula akan hilangnya puteranya
yang diduga ada hubungannya dengan malapetaka yang menimpa keluarga Jenderal Kao Liang.
“Coba Paduka pikir, siapa lagi yang menyuruh pengawal-pengawal itu menghadang dan mengganggu
keluarga Kao? Bukankah semua itu amat mencurigakan sekali?”
Pangeran Yung Hwa meraba dahinya dan berpikir, lalu dia memandang wanita yang pernah dicintanya itu,
bertanya, “Nyonya muda yang baik, apa maksudmu mengunjungi aku dan menceritakan semua ini
kepadaku?”
Ceng Ceng membalas pandang mata itu dan berkata terus terang, “Saya dan suami saya menduga keras
bahwa kunci semua peristiwa itu berada di istana, oleh karena itu kami datang ke kota raja untuk
melakukan penyelidikan. Mengingat bahwa Padukalah satu-satunya orang yang saya percaya sebagai
seorang keluarga istana yang adil dan bijaksana, maka saya sengaja menghadap untuk mohon
pertolongan Paduka sehingga saya dapat mengetahui ke mana putera saya dibawa dan di mana pula
adanya keluarga Kao yang terculik.”
Pangeran Yung Hwa menarik napas panjang. “Aihhhhh... kalau saja aku tahu, tentu sekarang juga aku
akan turun tangan membebaskan mereka dan mengembalikan puteramu. Akan tetapi, bagaimana mungkin
aku dapat menyelidikinya? Harus kuakui bahwa keadaan kaisar amat lemah, sudah tua dan tidak begitu
memperhatikan keadaan para pembantunya yang banyak melakukan hal-hal yang tidak baik. Aku memang
mendengar bahwa Jenderal Kao mengundurkan diri, akan tetapi kusangka tadinya bahwa hal itu terjadi
secara wajar sebagaimana biasanya pembesar yang sudah tua dan mengundurkan diri. Kelemahan kaisar
memang membuat para pembesar yang tidak jujur untuk bergerak demi keuntungan diri pribadi sehingga
terjadi banyak hal yang buruk. Biar pun aku tidak dapat membantumu secara langsung, akan tetapi
munculmu di sini menggerakkan hatiku dan mendorongku untuk bertindak, Nyonya Kao. Hari ini juga aku
akan menemui kakakku, Pangeran Mahkota, karena hanya beliau saja yang akan dapat turun tangan
membersihkan segala kekotoran yang menodai istana. Mudah mudahan saja dengan pembersihan yang
pasti akan dilakukan oleh kakakku, Pangeran Yung Ceng, urusanmu itu akan terbongkar pula dan engkau
dapat menemukan kembali puteramu dan keluarga Kao yang hilang. Hanya inilah yang dapat kulakukan.”
Tentu saja Ceng Ceng tidak merasa sangat puas dengan hasil ini, akan tetapi dia pun maklum bahwa
Pangeran Yung Hwa tidak berdaya menolongnya karena memang tidak tahu di mana adanya puteranya
atau keluarganya, tidak tahu pula siapa biang keladinya. Sudah jelas bahwa bukan kaisar yang melakukan
dunia-kangouw.blogspot.com
tindakan itu, melainkan pembesar lalim yang amat banyak terdapat di waktu itu. Terpaksa dia lalu berpamit
setelah menghaturkan terima kasih, pergi meninggalkan istana Pangeran Yung Hwa untuk segera
menemui suaminya dan menceritakan semua hasil pertemuannya dengan pangeran itu.
Sementara itu, Pangeran Yung Hwa juga tidak lama kemudian meninggalkan istananya. Dengan
menyamar pangeran ini lalu melakukan perjalanan menuju ke Kuil Siauw-lim-si untuk menemui kakaknya,
yaitu Pangeran Yung Ceng. Hal ini tentu menimbulkan perasaan heran bagi yang belum mengetahuinya.
Mengapa pangeran itu mencari kakaknya, Pangeran Yung Ceng atau Pangeran Mahkota, ke kuil Siauwlim?
Tidaklah mengherankan kalau diketahui bahwa Pangeran Yung Ceng memang menjadi murid Siauw-limpai!
Pangeran ini sejak kecil memang suka akan ilmu silat, apa lagi setelah dia diangkat menjadi Pangeran
Mahkota, dia makin tekun mempelajari ilmu silat karena dia berpendapat bahwa untuk dapat menjadi kaisar
yang baik, selain harus ahli dalam soal-soal bun yang meliputi juga soal-soal tata negara, harus mahir pula
dalam bu atau ilmu silat, juga ilmu perang. Maka dia lalu masuk ke Siauw-lim-si dan menjadi murid kuil
yang juga menjadi partai persilatan yang amat besar dan telah terkenal sebagai sumber ilmu silat yang
tinggi itu.
Pangeran Yung Hwa menjumpai kakaknya dan menceritakan akan segala yang terjadi selama kakaknya
tenggelam dalam pelajaran ilmu silat di kuil itu, akan penyelewengan para pembesar. Pangeran Yung Hwa
menceritakan pula tentang pemecatan-pemecatan yang dilakukan oleh kaisar karena bujukan pembesarpembesar
penjilat, pemecatan yang dilakukan terhadap pemimpin-pemimpin yang setia, jujur dan pandai,
bahkan menceritakan betapa Jenderal Kao Liang juga dipecat. Kemudian, Pangeran Yung Hwa
menceritakan pengalamannya ketika dia hampir tewas di Ho-nan.
“Kenapa kau tidak adukan semua itu kepada kaisar?” Pangeran Yung Ceng menegur adiknya. “Gubernur
Ho-nan yang memberontak itu harus ditindak!”
Pangeran Yung Hwa menarik napas panjang. “Itulah sebabnya mengapa aku terpaksa menyusulmu ke
sini. Kaisar sama sekali tidak mau mendengar laporanku, bahkan marah-marah dan kalau bukan aku yang
melapor, agaknya tentu sudah dihukum. Betapa banyaknya pembesar jujur yang sudah mencoba untuk
menyadarkan beliau, akan tetapi malah menerima hukuman. Pengaruh para thaikam (pembesar kebiri)
amat besar dan kaisar amat lemah, seperti bersikap masa bodoh.”
“Hemmm, sampai sekian jauhnya keadaan buruk itu?” tanya Pangeran Yung Ceng.
“Malah lebih lagi,” kata Yung Hwa. “Semenjak kakak kita, Puteri Milana tidak ada, dan engkau sendiri pergi
memperdalam ilmu silat di sini, tidak ada lagi orang kuat di dalam istana. Aku sendiri biar pun telah
terbebas dari cengkeraman Gubernur Ho-nan dan berkali-kali tertolong oleh orang-orang gagah, akan
tetapi tidak pernah terlepas dari pengawasan mereka. Bahkan aku percaya bahwa ketika aku menyamar
dan datang ke sini ada orang-orang yang diam-diam membayangiku.”
“Ahhh! Sampai begitu hebat?” Pangeran Yung Ceng mengepal tinjunya. “Yung Hwa, wajah kita mirip sekali
seperti saudara kembar, maka biarlah aku memakai pakaianmu dan keluar lebih dulu dari kuil ini. Engkau
boleh menyusul besok dengan dikawal oleh murid-murid Siauw-lim-pai. Hendak kulihat sendiri, sampai di
manakah kenekatan dan keberanian pengkhianat-pengkhianat itu!”
Dengan marah sekali Pangeran Mahkota Yung Ceng lalu mengenakan pakaian adiknya. Setelah berpamit
kepada para guru di kuil itu dan memesan agar besok adiknya dikawal ke kota raja, dia lalu meninggalkan
kuil. Memang wajah Pangeran Yung Ceng mirip sekali dengan wajah Pangeran Yung Hwa. Tentu saja,
kalau mereka berdua berbuka pakaian, nampak perbedaan yang menyolok karena kalau tubuh Pangeran
Yung Hwa halus lemah lembut, sebaliknya tubuh Pangeran Yung Ceng yang sejak kecil gemar berolah
raga itu kokoh dan kekar. Akan tetapi, kalau tubuh mereka disembunyikan dalam pakaian dari luar, nampak
serupa, bertubuh sedang dan berwajah tampan.
Hari telah mulai senja ketika Pangeran Yung Ceng memasuki kota Thian-cin di sebelah selatan kota raja.
Karena menyamar sebagai adiknya, pangeran ini tidak menggunakan kepandaiannya untuk berlari cepat
dan dia sengaja melakukan perjalanan lambat untuk melihat-lihat keadaan. Banyak sudah dia mendengar
percakapan di antara rakyat tentang penyelewengan para petugas, dan dia pun mendengar berita-berita
tentang sikap memberontak dari para pembesar di Ho-nan yang tentu saja mencontoh sikap gubernur
mereka. Dia juga tahu bahwa diam-diam dia selalu dibayangi orang seperti yang diceritakan oleh adiknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika malam hari itu Pangeran Yung Ceng memasuki salah sebuah restoran di kota Thian-cin. Dia tahu
bahwa ada lima orang laki-laki yang bertubuh kokoh kuat dan gerak geriknya menunjukkan bahwa mereka
adalah jagoan-jagoan, yang diam-diam sedang membayanginya dan mereka pun masuk pula di restoran
itu, mengambil tempat duduk di meja yang berdekatan dengan meja pangeran itu. Restoran itu tidak begitu
ramai dan banyak kursi yang kosong.
Ketika pangeran itu memesan masakan kepada seorang pelayan, tiba-tiba seorang di antara lima orang
yang duduk di meja yang berdekatan itu tampak bangkit berdiri dan menghampiri Pangeran Yung Ceng,
menjura dan berkata, “Harap maafkan! Kalau tidak salah lihat, bukankah Kongcu datang dari kota raja?”
Yung Ceng memandang dengan sikap tak acuh, lalu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Bukan,
saya memang hendak pergi ke kota raja, akan tetapi saya bukan dari kota raja, saya orang dari selatan.”
Orang itu berkata ‘maaf’ sambil tersenyum, kemudian kembali duduk di tempat teman temannya.
Percakapan pendek itu disaksikan oleh pelayan yang kini sudah pergi untuk mempersiapkan pesanan
Pangeran Yung Ceng.
“Ha-ha, memang mirip, akan tetapi dia tentu bukan pangeran pengecut itu,” tiba-tiba terdengar seorang di
antara lima orang itu berkata, kata-katanya cukup keras sehingga terdengar oleh Pangeran Yung Ceng.
“Kalau dia Pangeran Yung Hwa, sudah kuhancurkan kepalanya sejak tadi,” terdengar pula mereka bicara.
“Ha-ha-ha, yang ini hanyalah seorang sastrawan lemah, tidak ada harganya untuk dipandang. Dan kita
telah membayanginya sehari penuh. Sialan!”
“Karena gara-gara dia kita membuang tenaga sia-sia, sebaiknya kalau kita hajar kutu buku ini.”
“Akan tetapi, bagaimana kalau dia benar Pangeran Yung Hwa...?” terdengar suara lain, berbisik dan kalau
yang duduk di situ adalah Pangeran Yung Hwa, tentu tidak akan dapat mendengar bisikan itu. Akan tetapi,
Pangeran Yung Ceng telah mempelajari ilmu yang tinggi, sehingga panca inderanya lebih peka dan tajam
dari pada orang biasa. Dia mampu mendengarkan bisikan ini.
“Lebih baik lagi kalau begitu! Dan kita tak akan salah, karena bukankah dia menyangkal siapa dirinya?
Pelayan itu menjadi saksi.”
Sekarang maklumlah Pangeran Yung Ceng mengapa seorang di antara mereka tadi menegurnya. Kalau
dia sudah menyangkal sebagai pangeran, maka andai kata mereka itu membunuhnya, mereka kemudian
dapat menggunakan alasan bahwa mereka tidak mengenalnya sebagai pangeran, seperti disaksikan pula
oleh pelayan tadi.
Pelayan tadi datang membawa masakan, langsung menghampiri meja Pangeran Yung Ceng.
“Heeeii, itu pesanan kami!” teriak seorang di antara mereka sambil bangkit berdiri dan menghampiri meja
Pangeran Yung Ceng.
“Tidak, Sicu, ini adalah pesanan Kongcu ini!” bantah si pelayan.
“Setan! Kami juga memesan masakan seperti ini sejak tadi. Hayo berikan kepada kami. Apakah kau
hendak menjilat kutu buku ini?”
Pangeran Yung Ceng maklum bahwa orang yang berkumis tebal, seorang di antara mereka itu yang kini
bersikap kasar, memang sengaja hendak mencari keributan, maka dia berkata tenang, “Sobat, harap
jangan membikin ribut!”
Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Si Kumis Tebal itu. Dengan mata melotot dia segera menghampiri
Pangeran Yung Ceng, lalu menghardik, “Jika aku membikin ribut, engkau mau apa, cacing buku yang
busuk?”
Akan tetapi, biar pun Yung Ceng juga seorang kutu buku atau cacing buku, yaitu sebutan mengejek bagi
seorang sastrawan, dia bukanlah seorang yang lemah. Sama sekali bukan! Dia adalah seorang murid
Siauw-lim-pai yang tekun dan berbakat, bahkan telah diberi pelajaran istimewa oleh tokoh-tokoh Siauw-limpai
sehingga dia memiliki ilmu kepandaian tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak apa-apa,” jawab Pangeran Yung Ceng tenang. “Hanya kalau kau tidak segera pergi dari sini, aku
akan mencabuti kumismu!”
Sepasang mata itu terbelalak semakin lebar, mulutnya ternganga seakan-akan tidak percaya akan
pendengarannya sendiri. Benarkah si kutu buku ini sudah berani berkata demikian kepadanya?
“Keparat...!” teriaknya dan kepalan tangannya yang sebesar kepala anak kecil, yang keras dan terlatih
karena sering kali dilatih memukuli batu sampai remuk, sekarang menyambar ke arah kepala Pangeran
Yung Ceng.
Akan tetapi, dengan gerakan ringan dan tenang, pangeran itu miringkan kepalanya, membiarkan tangan
yang memukul itu lewat, kemudian secepat kilat jari-jari tangannya menyambar dan membetot.
“Auuwwhhhh...!” Si Kumis Tebal itu menjerit-jerit dan kedua tangannya menutupi bawah hidungnya yang
berdarah karena kumisnya telah dicabut dengan paksa oleh Pangeran Yung Ceng.
“Manusia bosan hidup!” terdengar teriakan dan empat orang lainnya sudah berloncatan dari kursi mereka
dan menerjang Pangeran Yung Ceng. Pelayan itu lari ketakutan dan kini pangeran itu bangkit berdiri,
wajahnya merah karena marah.
Empat orang itu menerjang dengan kepalan tangan mereka, dan dari gerakan mereka dapat diketahui
bahwa mereka memang bukan orang-orang sembarangan, melainkan jagoan-jagoan yang pandai ilmu
silat. Akan tetapi, yang mereka keroyok adalah murid Siauw-lim-pai yang sudah matang ilmu silatnya,
maka segera terdengar suara mereka mengaduh dan meja kursi berserakan ketika pangeran itu membagibagi
pukulan dan tendangan yang membuat mereka terlempar ke sana-sini.
Mengertilah lima orang itu sekarang bahwa pemuda tampan yang kelihatan lemah itu, yang mereka sangka
adalah Pangeran Yung Hwa, ternyata adalah seorang pemuda yang sama sekali tidak lemah, melainkan
seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi. Kemarahan mereka memuncak dan mereka berlima,
termasuk Si Kumis Tebal yang kini telah berubah menjadi Si Kumis Buntung karena masih ada sisa
kumisnya menempel di bawah hidung, segera mencabut senjata mereka berupa golok besar dan dengan
teriakan-teriakan ganas mereka kini menerjang pemuda itu.
Yung Ceng meraba pinggangnya dan nampaklah cahaya berkelebat ketika pangeran ini sudah mencabut
sebatang pedang pendek yang tadi disembunyikan di bawah baju sastrawannya. Pedang pendeknya itu
digerakkan dengan hebat, nampak gulungan sinar menyambar-nyambar dan terjadilah pertempuran yang
seru di dalam rumah makan itu. Para tamu sudah sejak tadi lari meninggalkan restoran itu, demikian pun
para pelayan ada yang lari, ada pula yang sembunyi dengan tubuh menggigil.
Dengan marah sekali Pangeran Yung Ceng menggerakkan pedangnya dan berturut turut terdengarlah
pekik mengerikan disusul robohnya lima orang pengeroyok itu, ada yang lehernya terpancung hampir
putus, ada yang perutnya robek dan ada pula yang dadanya berlubang. Pangeran Yung Ceng menyimpan
pedangnya dan melihat bahwa seorang di antara mereka masih belum tewas, yaitu yang tadi sengaja
hanya dia lukai pahanya, dia cepat mencengkeram pundak orang itu, lalu ditariknya naik dan dia
membentak, “Kalian telah membayangi aku dan sekarang sengaja menyerang, hayo katakan siapa yang
menyuruh kalian!”
Orang itu meringis kesakitan, mukanya pucat dan dia sangat ketakutan, menggeleng gelengkan kepala.
“Hayo mengaku! Kau tahu siapa aku? Aku adalah Pangeran Mahkota Yung Ceng!”
Orang itu terbelalak. “Am... ampunkan hamba... hamba hanya utusan... dari... dari...!”
Pada saat itu nampak sinar berkelebat menyambar. Pangeran Yung Ceng amat terkejut karena sinar itu
datangnya cepat bukan main, menyambar dari luar rumah makan. Karena tidak mungkin dapat mengelak
lagi, pangeran itu cepat mengangkat tubuh orang yang dicengkeram pundaknya itu, dipakai sebagai
perisai.
“Crottt...auggghhhhh...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang itu menjadi lemas dan melihat betapa tawanannya itu tewas, Pangeran Yung Ceng
melemparkannya ke atas lantai dan dia cepat meloncat ke pintu. Akan tetapi dia hanya melihat bayangan
penyerangnya itu berkelebat cepat dan sudah lenyap di antara banyak orang di jalan raya. Dia kembali lagi
dan melihat bahwa punggung orang tadi tertusuk jarum berwarna kehijauan yang menancap sampai hanya
kelihatan sedikit saja ujungnya. Tahulah dia bahwa penyerangnya adalah seorang yang mahir
menggunakan senjata rahasia jarum beracun. Dia merasa menyesal karena tawanan ini belum sempat
mengaku siapa yang menyuruh mereka.
Ketika pembesar setempat mendengar bahwa pangeran mahkota diserang orang di kotanya, dia tergopohgopoh
datang diiringkan oleh pasukan pengawal. Kiranya ketika Pangeran Yung Ceng tadi mengakui
dirinya untuk memaksa tawanannya mengaku, ada beberapa orang yang mendengar dan cepat mereka itu
melaporkan kepada para penjaga keamanan sehingga pembesar kepala daerah sendiri kini datang ke
restoran itu.
Pangeran Yung Ceng menerima penghormatan mereka yang berlutut dan dengan singkat dia lalu
memerintahkan untuk menyelidiki lima orang itu, kemudian dia minta seekor kuda dan melanjutkan
perjalanannya dengan cepat ke kota raja, menolak ketika hendak dikawal. Pangeran mahkota ini marah
sekali karena kini dia mendapatkan bukti sendiri betapa memang terjadi kekacauan sehingga ada penjahatpenjahat
yang menghendaki nyawa adiknya, yaitu Pangeran Yung Hwa. Dia dapat menduga bahwa lima
orang itu tentulah orang-orang yang diutus oleh Gubernur Ho-nan yang sudah memperlihatkan sikap
memberontak itu.
Setelah tiba di kota raja, pangeran mahkota yang sedang marah itu langsung saja menghadap ayahnya,
yaitu Kaisar Kang Hsi yang sudah tua dan pikun. Dengan tegas dia menceritakan keadaan yang amat
kacau karena tingkah polah para pembesar yang menyeleweng itu kepada kaisar.
Kaisar Kang Hsi adalah seorang kaisar yang tadinya amat terkenal karena pandai mengatur pemerintahan,
berwibawa dan juga bijaksana. Kerajaan Mancu berkembang dengan baiknya, dan harus diakui bahwa
dialah yang berjasa dalam menaikkan nama Dinasti Kerajaan Ceng-tiauw. Tetapi, setelah dia menjadi tua
dan pikun, dia menjadi tidak acuh dan malas. Kini, mendengar teguran puteranya yang telah dipilihnya
untuk kelak menggantikan dia menjadi kaisar, Kaisar Kang Hsi mendengarkan dengan sabar dan dengan
sikap tidak acuh, kemudian dia menggerakkan tangan dan berkata, “Puteraku yang baik, ayahmu ini sudah
tua dan sudah malas untuk mengurus segala macam hal yang memusingkan belaka. Di dalam tahun-tahun
terakhir dari usiaku ini, aku ingin hidup tenteram dan enak, ingin menikmati hidup ini, dan yang
kupentingkan adalah keuntungan bagi negeriku. Mengapa aku tidak boleh menikmati kehidupan di dalam
usia setua ini? Engkau saja yang harus rajin dan mematangkan dirimu agar kelak kalau kau menggantikan
aku, engkau sudah benar-benar cakap.”
“Maafkan hamba, bukan maksud hamba untuk membantah. Akan tetapi sudah lupakah Paduka akan Sri
Baginda Raja Liang Hwi Ong?”
Kaisar yang tua itu memandang puteranya sambil tersenyum. “Hemmm, maksudmu?”
Dengan tegas Pangeran Mahkota Yung Ceng lalu mengingatkan kaisar akan pelajaran dalam kitab Beng
Cu. Beng Cu adalah seorang murid Nabi Khong Cu yang bijaksana sekali dan banyaklah contoh-contoh
diambil dari Beng Cu ini sebagai pewaris pelajaran Nabi Khong Cu. Yang dimaksudkan oleh Pangeran
Yung Ceng dengan Raja Liang Hwi Ong adalah pelajaran Beng Cu yang menuturkan tentang pertemuan
antara Raja Hwi Ong dari Negeri Liang dengan Beng Cu.
Raja Hwi Ong bertanya kepada Beng Cu, ajaran apakah yang dapat membawa keuntungan bagi negerinya
di waktu itu. Mendengar pertanyaan ini, Beng Cu lalu menjawab. “Mengapa Baginda menanyakan
keuntungan? Yang saya bawa hanyalah cinta kasih dan kebenaran. Apa bila Paduka bertanya tentang
keuntungan bagi negeri Paduka, para pembesar tentu akan bertanya tentang keuntungan bagi keluarga
mereka, dan rakyat pun akan bertanya tentang keuntungan bagi diri sendiri. Apa bila yang berkedudukan
tinggi mau pun yang rendah hanya memperebutkan atau menginginkan keuntungan saja, negara tentu
akan berada dalam bahaya. Raja yang memiliki berlaksa kereta perang kalau sampai terbunuh tentu oleh
pangeran yang memiliki ribuan kereta perang, dan pangeran itu kalau sampai terbunuh tentu oleh keluarga
yang hanya memiliki seratus kereta perang. Apa bila yang memiliki selaksa kereta perang mengambil yang
seribu, tentu yang memiliki seribu mengambil yang seratus dan selanjutnya. Jumlah itu bukan kecil, akan
tetapi apa bila manusia membelakangi kebenaran dan mengutamakan keuntungan, pasti dia tidak puas
sebelum memperoleh seluruhnya. Sebaliknya, belum pernah ada seorang manusia yang mempunyai cinta
kasih menyia-nyiakan orang tuanya, dan belum pernah ada seorang manusia yang menjunjung kebenaran
dunia-kangouw.blogspot.com
membelakangi rakyatnya. Seharusnya Paduka bertanya tentang cinta kasih dan kebenaran. Untuk apa
bertanya tentang keuntungan?”
Demikianlah pelajaran dalam kitab Beng Cu yang kini dikemukakan oleh Pangeran Yung Ceng untuk
menyadarkan ayahnya, yaitu Kaisar Kang Hsi.
Kaisar Kang Hsi sudah amat tua dan sakit-sakitan tubuhnya, juga batinnya tidak sehat lagi semenjak dia
berduka atas kematian saudara-saudaranya yang telah memberontak. “Sudahlah, Yung Ceng, jangan
ganggu aku dengan segala isi kitab lama itu. Aku sudah lelah dan aku tidak ingin memusingkan keadaan di
luar kamarku.”
“Akan tetapi Paduka masih seorang kaisar, Paduka masih mempunyai tanggung jawab yang amat besar
terhadap rakyat jelata. Apakah Paduka masih belum tahu akan segala peristiwa di luaran? Apakah Paduka
tidak tahu betapa hampir saja Adik Yung Hwa terbunuh karena Gubernur Ho-nan hendak memberontak?
Betapa pembesar-pembesar jahat sekarang ini sudah bersekongkol dengan penjahat-penjahat dari dunia
hitam dan menanti saatnya saja untuk memberontak? Betapa para pembesar setia dan bijaksana Paduka
pecat oleh karena bujukan para pembesar palsu yang menjilat-jilat? Betapa kedudukan Paduka menjadi
lemah karena kekuasaan secara diam-diam diambil alih oleh mereka yang berpengaruh di dalam istana?”
“Sudahlah, Yung Ceng. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang tua seperti aku yang sudah bosan dengan
semua itu?”
“Paduka dapat turun tangan, Paduka dapat bertindak sekarang juga, dan pertama-tama Paduka
seyogianya dapat membebaskan diri dari pengaruh para thaikam...”
Pada saat itu, thaikam kepala yang bernama Kong Tek Jin dan yang hadir pula di situ, tiba-tiba berkata,
“Pangeran, harap jangan terlalu mendesak kepada Sri Baginda. Beliau sedang kurang sehat dan lelah...“
“Diam kau! Jangan mencampuri!” Yung Ceng membentak.
“Yung Ceng, tidak boleh kau bersikap begitu terhadap dia yang amat berjasa...” Kaisar mencela.
“Justeru dia inilah salah seorang di antara mereka yang jahat dan palsu, akan tetapi dia pandai menjilat!”
“Pangeran, tidak boleh Paduka berkata demikian...“
“Yung Ceng, Kong Tek Jin adalah seorang yang amat setia!”
Akan tetapi Yung Ceng sudah meloncat dan menyambar pundak thaikam itu, kemudian mengangkatnya
dan membantingnya ke atas lantai.
“Brukkkkk...!”
Thaikam yang gendut itu mengeluh dan ketika para pengawal dalam bergerak maju, Yung Ceng bertolak
pinggang dan membentak, “Kalian mundurlah! Berani melawan Pangeran Mahkota?”
Tentu saja para pengawal itu meragu dan mereka memandang ke arah Sri Baginda. Kalau Sri Baginda
memberi aba-aba atau isyarat, tentu tanpa ragu-ragu lagi mereka akan menerjang pangeran itu. Akan
tetapi Sri Baginda diam saja, hanya memandang kepada puteranya dan kembali Yung Ceng membentak,
“Kalian keluar dari sini, jaga di luar pintu kamar!” Kembali para pengawal memandang kepada kaisar.
Sekali ini kaisar mengangguk dan menggerakkan tangan memberi isyarat agar mereka keluar.
Setelah para pengawal keluar, Yung Ceng berkata kepada ayahnya, “Sekarang hamba akan membuktikan
siapa adanya manusia macam ini!”
Dia sudah mendekati Thaikam Kong Tek Jin, menggerakkan tangannya mencengkeram ke arah tengkuk
thaikam itu, kemudian menghardik. “Hayo kau mengaku sebenarnya! Bukankah seluruh keluargamu telah
kau datangkan ke sini dan kau angkat menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi? Hayo jawab,
kalau membohong akan kuhancurkan kepalamu sekarang juga?”
Sambil berkata demikian, Yung Ceng menggunakan tangannya mencengkeram jalan darah di tengkuk
yang menimbulkan rasa nyeri yang amat hebat. Thaikam itu ketakutan karena dia tahu bahwa pangeran ini
dunia-kangouw.blogspot.com
memang berilmu tinggi. Dia harus menyelamatkan diri dulu, baru kelak mencari jalan untuk melenyapkan
pangeran ini. Sekarang, dia benar-benar tidak berdaya dan kalau dia membohong, tentu dia benar-benar
akan dibunuh.
“Be... benar, Pangeran. Akan tetapi apakah salahnya hal itu? Tentu saja hamba ingin menolong keluarga
hamba...”
“Dan untuk itu kau memecat pejabat-pejabat lama? Dan engkau sudah menumpuk harta kekayaan
berlimpah-limpah? Engkau sudah makan sogokan dari pembesar-pembesar bawahan agar engkau suka
membujuk Kaisar demi keuntungan mereka, bukan?”
“Ini... ini...“
“Hayo katakan yang benar! Bukankah Gubernur Ho-nan telah mengirimkan seribu tail emas dan dua kereta
bertabur emas kepadamu baru-baru ini?” kata Yung Ceng yang mendengar ini semua dari Pangeran Yung
Hwa. “Dan dengan pemecatan Jenderal Kao Liang, engkau memperolah hadiah sepeti permata dari
Panglima Ciu yang diangkat menjadi panglima penggantinya? Dan engkau juga telah menyuruh orangorang
untuk membasmi keluarga Yauw, ketika pembesar Yauw bermaksud untuk membongkar
kepalsuanmu di depan Kaisar? Hayo jawab, tidak benarkah semua itu?”
“Ti... tidak... tidak...“
Yung Ceng mencabut pedang pendeknya.
“Crottt...!” Ujung pedang itu menusuk paha sampai beberapa senti dalamnya, dan dia mencengkeram otot
di punggung sehingga thaikam itu memekik-mekik seperti seekor babi disembelih saking nyerinya.
“Hayo kau menjawab, benarkah semua itu?”
“Ya... ya... benar...!” Thaikam Kong Tek Jin menangis, akan tetapi diam-diam dia sudah bersumpah untuk
membalas pangeran ini.
“Sekarang, katakan, bukankah engkau sudah tahu pula bahwa Gubernur Ho-nan akan memberontak?
Hayo jawab!”
Tubuh thaikam itu menggigil. “Hamba... hamba tidak ikut-ikut...“
“Tapi engkau tahu?”
“Ya... ya...”
Kaisar kini mengerutkan alisnya. “Kong Tek Jin! Engkau tahu ada gubernur hendak memberontak dan kau
tidak melaporkan kepada kami?”
“Hamba... hamba tidak berani... hamba...“
“Yung Ceng, kiranya benar pelaporanmu. Keadaan sudah demikian buruk, sama sekali tidak kusangka.
Suruh bawa dia pergi!”
Yung Ceng memanggil pengawal. “Seret dia ke dalam tahanan!”
Kini kaisar memandang puteranya dengan kagum. Kemudian dia mencabut pedangnya, pedang kerajaan
yang merupakan lambang kekuasaan, menyerahkannya kepada pangeran itu. “Terimalah ini dan kau wakili
aku melakukan pembersihan di dalam dan di luar istana. Aku sudah lelah, aku ingin beristirahat dan jangan
ganggu aku dengan tugasmu itu. Harus kau selesaikan seluruhnya dan kalau sudah selesai saja
melaporkan kepadaku.”
Pangeran Yung Ceng lalu menerima pedang pusaka itu sambil berlutut, menghaturkan terima kasih dan
cepat meninggalkan kamar ayahnya. Mulailah pangeran mahkota ini melakukan pembersihan.
Tindakannya yang pertama adalah menangkapi para thaikam yang menjadi kaki tangan Thaikam Kong Tek
Jin, menjatuhkan hukuman mati! Dan semua pembesar yang diangkat oleh para thaikam ini, para keluarga
dunia-kangouw.blogspot.com
thaikam dan sobat-sobat mereka, yang memperoleh kedudukan dengan jalan menyogok, dipecat dari
kedudukannya dan ada pula yang dijatuhi hukuman.
Kota raja geger! Para pembesar palsu yang kerjanya hanya korupsi dan menumpuk kekayaan pribadi
tanpa menghiraukan tugas-tugasnya menggigil. Mereka tidak enak makan tidak nyenyak tidur, dan dalam
keadaan seperti itu, sogok-menyogok makin menghebat karena mereka yang merasa terancam, kembali
mencari perlindungan dengan cara sogok sana sogok sini. Kalau dunianya para koruptor itu geger, adalah
para petugas yang setia dan jujur merasa bersyukur sekali. Mereka seolah-olah melihat cahaya terang,
melihat matahari muncul kembali di tengah-tengah kegelapanan yang ditimbulkan oleh awan tebal yang
sudah bertahun-tahun mengancam kerajaan.
Setelah pembersihan di dalam istana dilakukan, Yung Ceng melanjutkan tindakannya dengan segera
melakukan pembersihan-pembersihan di luar istana atas nama kaisar. Gubernur Ho-pei cepat menghadap
dan barulah sekarang dia berani melapor tentang sikap memberontak Gubernur Ho-nan. Sebelum ini, dia
sama sekali tidak berani melaporkan kepada kaisar, karena maklumlah gubernur ini bahwa melaporkan
akan percuma saja, sama sekali tidak akan diterima oleh kaisar, bahkan sebaliknya akan membahayakan
dia sekeluarganya karena yang dihadapi bukan kaisar melainkan para thaikam yang berkuasa seolah-olah
melebihi kaisar.
Ketika mendengar laporan Gubernur Ho-pei betapa pihak pemberontak, yaitu Gubernur Ho-nan diam-diam
telah bersekutu dengan kerajaan Nepal, bahkan mendirikan benteng di perbatasan propinsi, di lembah
Sungai Huang-ho, dia terkejut dan marah sekali. Dia maklum akan bahayanya perang saudara, maka
pangeran mahkota ini lalu teringat akan Puteri Milana. Dia segera menyebar orang-orang untuk mencari
Puteri Milana, karena dia tahu bahwa puteri itu adalah seorang yang paling boleh diandalkan untuk
menanggulangi ancaman bahaya pemberontakan itu. Dia tidak mau sembrono mengirim pasukan, karena
hal itu akan menimbulkan perang saudara yang akan membuat rakyat menderita sengsara.
Di dalam Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan bahwa Puteri Milana bersama Pendekar Sakti Gak
Bun Beng telah meninggalkan dunia ramai. Puteri Milana adalah puteri dari Pendekar Super Sakti Suma
Han majikan Pulau Es. Ibunya adalah Puteri Nirahai. Seperti telah diceritakan dalam Kisah Sepasang
Rajawali, Puteri Milana sudah pergi dari istana, minggat setelah suaminya, yaitu mendiang Panglima Han
Wi Kong, membunuh Pangeran Liong Bin Ong. Selain untuk membunuh seorang pemberontak dan
pengkhianat, pembunuhan atas diri pangeran ini dilakukan oleh Han Wi Kong sebagai cara untuk
membunuh diri karena dia ingin memberi kebebasan kepada Puteri Milana yang menjadi isterinya hanya
dalam nama saja. Dia tahu isterinya itu mencinta Gak Bun Beng, maka semenjak menikah, belum pernah
dia mendekati isterinya dan belum pernah mereka tidur bersama.
Demikianlah, Puteri Milana akhirnya bertemu dan berkumpul juga dengan pria yang dicintanya, satusatunya
pria yang pernah dicintanya, yaitu Gak Bun Beng. Akan tetapi, atas permintaan Gak Bun Beng
yang tidak ingin mendengar nama kekasihnya ini cemar dan tertimpa aib, sebagai janda bangsawan,
seorang puteri istana, menikah lagi dengan dia, maka dia mengajak kekasihnya yang menjadi isterinya itu
ke tempat sunyi, jauh dari dunia ramai. Mereka berdua meninggalkan segala kericuhan hidup di dunia
ramai dan tinggal di sebuah puncak, satu di antara puncak-puncak Pegunungan Beng-san, yaitu puncak
yang disebut puncak Telaga Mawar karena di situ terdapat sebuah telaga kecil yang penuh dengan pohon
bunga mawar.
Suami isteri ini seolah-olah hendak menebus segala kerinduan mereka bertahun-tahun yang lalu, belasan
tahun penuh kerinduan ketika mereka dahulu saling berpisah. Kini mereka itu seolah-olah tenggelam dan
berenang di dalam lautan madu asmara, mencurahkan seluruh perasaan cinta kasih satu kepada yang lain
di tempat sunyi di pondok mereka dekat telaga, di tengah-tengah suasana tenang dan hening yang diliputi
keharuman bunga-bunga mawar.
Dalam waktu satu tahun saja, Puteri Milana yang sudah berusia tiga puluh lima tahun itu melahirkan dua
orang anak kembar, dua orang anak laki-laki yang sehat dan tampan. Tentu saja mereka merasa bahagia
sekali, akan tetapi Puteri Milana menjadi repot juga karena tiba-tiba saja dia harus mengurus dua orang
anak! Padahal dia adalah seorang puteri istana yang lebih biasa bermain pedang dari pada mengurus
anak. Namun, karena Gak Bun Beng yang menjadi suaminya itu penuh kasih sayang kepadanya dan
membantunya, maka kedua orang itu mengurus anak-anak mereka dengan baik, dengan cara gotong
royong.
Gak Bun Beng adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali. Dia memiliki
bermacam-macam ilmu silat yang amat tinggi, di antaranya adalah ilmu ilmu silat dari Siauw-lim-pai, ilmudunia-
kangouw.blogspot.com
ilmu sinkang Swat-im Sin-kang dan Hwi-yang Sin-kang dari Pulau Es. Ilmu Silat Sam-po Cin-keng yang
mukjijat, tenaga sakti Inti Bumi yang didapatnya dari gembong Pulau Neraka yaitu Bu-tek Siauw-jin, dan dia
bahkan pernah menerima ilmu mukjijat dari Koai-lojin, yaitu Ilmu Lo-thian Kiam-sut yang sangat sukar
ditemukan tandingannya.
Akan tetapi Puteri Milana juga bukan orang sembarangan. Sebagai puteri dari Pendekar Super Sakti, tentu
saja dia mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari ayahnya dan ibunya, bahkan dia memiliki kelebihan dari
suaminya yang sakti itu dalam hal ilmu perang. Dia mewarisi ilmu perang dari ibunya, bahkan ilmu ini
diperdalamnya ketika dia berada di istana, dan ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh dua
orang pamannya, yaitu kedua orang Pangeran Liong, dia telah memimpin pasukan untuk membasmi
pemberontak-pemberontak di perbatasan utara itu (baca Kisah Sepasang Rajawali).
Memiliki ayah dan ibu seperti ini, sudah barang tentu kalau dua orang anak kembar itu semenjak kecil
menerima gemblengan dari ayah bundanya sehingga mereka pun tumbuh menjadi anak-anak yang luar
biasa. Selain menggembleng anak-anak mereka dengan dasar-dasar ilmu silat tinggi, juga pendekar Gak
Bun Beng dan Puteri Milana tidak lupa untuk memberi pelajaran ‘bun’ (sastra) kepada dua orang anak itu
agar mereka kelak tidak menjadi orang-orang buta huruf yang hanya akan mengandalkan kekuatan badan
dan menjadi orang-orang kasar.
Pondok mereka yang sederhana itu, bersama sebidang tanah yang kini telah mereka olah menjadi kebun
sayur dan bunga, berada di puncak, di tepi telaga dan terkurung oleh jurang dan bukit-bukit. Tempat ini
aman dan tenteram sekali, dan tidak mungkin didatangi orang dari jurusan lain kecuali melalui telaga.
Hanya dengan menyeberangi telaga itulah orang dari jurusan atau tempat lain di seberang telaga dapat
mengunjungi pondok suami isteri pendekar ini.
Oleh karena itu, jarang sekali ada orang datang ke tempat itu, dan hanya setelah dua orang anak kembar
mereka mulai besar dan mengerti, suami isteri ini kadang-kadang mengajak dua orang anak mereka untuk
mengunjungi dusun-dusun di seberang telaga agar mereka jangan sampai terasing dari hubungan antara
manusia. Para penghuni dusun-dusun di seberang telaga mengenal suami isteri dan dua orang anak
kembarnya ini, yang mereka anggap sebagai orang-orang luar biasa yang mengasingkan diri.
Setelah Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, nama dua orang anak kembar itu, berusia enam tahun, mereka
telah menjadi anak-anak luar biasa yang memiliki kepandaian jauh melebihi anak-anak biasa. Orang tua
mereka memberi nama dengan mengambil huruf Jit (Matahari) dan Goat (Bulan) untuk menunjukkan
kekembaran mereka.
Akan tetapi dua orang anak itu pun mulai mengerti keadaan dan mereka mulai merasa heran dan
penasaran, juga tidak puas melihat betapa mereka hidup terasing di tempat itu, padahal di dusun-dusun di
seberang telaga terdapat banyak manusia lain. Mereka telah pandai membaca dan dari kitab-kitab yang
mereka baca, mereka tahu bahwa yang hidup mengasingkan diri hanyalah pertapa-pertapa atau orangorang
jahat yang menjadi buronan. Padahal ayah bunda mereka bukan pertapa. Apakah ayah bunda
mereka buronan? Agaknya tidak mungkin.
Rasa penasaran ini membuat mereka pada suatu malam, sehabis makan malam, mengajukan pertanyaan
kepada ayah bunda mereka.
“Ayah, mengapa kita hidup di tempat sunyi dan terasing ini? Mengapa kita tidak tinggal di tempat yang
banyak ditinggali manusia lain seperti di dusun-dusun itu?” kata Jit Kong.
“Kenapa kita tidak pernah pergi melakukan perjalanan mengunjungi kota-kota besar dan kota raja seperti
yang sering Ibu ceritakan? Katanya Ibu adalah cucu kaisar, kenapa sekarang tinggal di tempat sunyi
begini?” Goat Kong menyambung. Karena Jit Kong lahir lebih dulu, maka Goat Kong ini terhitung adik,
akan tetapi dia tidak pernah mau menyebut kakak kepada Jit Kong.
Suami isteri itu saling pandang dan dalam pertemuan pandang mata ini Milana sudah menyerahkan
jawaban-jawaban itu kepada suaminya. Maka Gak Bun Beng kemudian memegang tangan kedua orang
puteranya, menarik mereka dan merangkul mereka, lalu berkata, “Ketahuilah, anak-anakku. Kita memang
sengaja tinggal di tempat sunyi, jauh dari keramaian. Bukankah tempat ini indah sekali dan kita hidup
bahagia? Di tempat-tempat ramai, terutama sekali di kota-kota besar, terdapat banyak keributan, terdapat
banyak orang-orang jahat yang suka mengganggu orang lain.”
“Akan tetapi kita tidak perlu takut!” Jit Kong berkata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benar, perlu apa kita belajar silat kalau takut orang jahat?” Goat Kong menyambung.
Gak Bun Beng tersenyum dan diam-diam dia bangga melihat sifat gagah itu ada pada diri dua orang
puteranya. “Sama sekali kita tidak takut, anak-anakku. Akan tetapi perlu apakah kita mendekati tempattempat
di mana orang-orang saling bermusuhan? Di sini kita hidup tenang dan damai.”
“Akan tetapi aku ingin melihat banyak orang di kota besar!” kata Jit Kong.
“Dan aku ingin melihat kaisar!” kata Goat Kong.
Melihat suaminya kewalahan menghadapi desakan dua orang anaknya, Milana lalu turun tangan
membantu dan berkata, “Jit Kong dan Goat Kong, kalian masih terlalu kecil untuk pergi ke tempat ramai
dan bertemu dengan orang-orang jahat. Belajarlah baik baik dan kalau kalian kelak sudah dewasa, sudah
memiliki kepandaian tinggi, baru tiba saatnya kalian boleh mengunjungi tempat-tempat ramai itu. Aku
sendiri yang akan membawa kalian ke kota raja dan menghadap kaisar.”
“Benar kata Ibumu,” Bun Beng menyambung dengan hati lega. “Dan ingatlah, di dunia ini banyak
berkeliaran manusia-manusia jahat. Oleh karena itu, kalian pun tidak boleh mengunjungi dusun-dusun di
seberang tanpa ayah ibumu. Mengertikah kalian?”
Dua orang anak itu mengangguk, tetapi saling lirik karena hati mereka sesungguhnya tidak merasa puas.
Betapa pun juga, janji ibu mereka itu amat menarik hati dan mereka makin rajin berlatih ilmu silat sehingga
ayah bunda itu merasa girang sekali.
Pada suatu pagi, seperti biasanya, Jit Kong dan Goat Kong bermain-main di telaga, mendayung sebuah
perahu kecil. Mereka seharusnya mencari ikan, akan tetapi karena semenjak pagi tadi mereka memancing
namun belum juga memperoleh hasil, mereka lalu bermain-main dan mandi di telaga. Mereka
menanggalkan pakaian mereka di atas perahu dan dari perahu itu mereka terjun ke air yang jernih,
berenang ke sana-sini sambil tertawa-tawa, berkejaran, menyelam dan saling siram dengan air.
“Hayo kita berlomba mengejar perahu kita!” Jit Kong berkata sambil tertawa-tawa dan mengusap air dari
mukanya.
“Baik, dan yang kalah nanti harus mendayung perahu sampai ke pinggir ketika pulang!” jawab Goat Kong.
Mereka lalu berenang ke arah perahu mereka, kemudian secara bersama-sama mereka mengerahkan
tenaga menggunakan tangan mereka mendorong perahu yang meluncur cepat ke tengah telaga. Mereka
lalu berenang secepatnya mengejar dan berlomba. Keduanya memang pandai renang, terlatih sejak masih
kecil. Akan tetapi, sejak kecil Jit Kong memang memiliki dasar tenaga lebih besar, akan tetapi Goat Kong
memiliki dasar gerakan yang lebih cepat, maka ketika berlomba mengejar perahu ini, gerakan Goat Kong
lebih cepat sehingga kakaknya tertinggal setengah badan ketika dia lebih dulu memegang perahu dan
meloncat ke dalamnya sambil berpegang kepada bibir perahu.
“Aku menang...!” soraknya, mentertawai Jit Kong.
“Kau berenang seperti ikan saja!” Jit Kong kini juga meloncat ke dalam perahu. Mereka tertawa-tawa.
Akan tetapi, tiba-tiba Goat Kong memegang tangan kakaknya. “Jit Kong, lihat! Ada perahu...!”
Jit Kong cepat memutar tubuh dan memandang. Benar saja. Ada sebuah perahu yang didayung cepat ke
tengah telaga, datang dari seberang dan agaknya menuju ke tempat tinggal mereka.
“Wah, lihat pakaian mereka!” Jit Kong berbisik.
Dua orang anak ini mendekam di atas perahu mereka dan memandang. Perahu itu ditumpangi oleh dua
orang yang berpakaian seperti tentara, bertubuh tinggi besar dan mereka mendayung perahu dengan kuat
sehingga perahu itu meluncur cepat sekali.
“Pakaian mereka seperti gambar tentara...,“ bisik Goat Kong.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Celaka, agaknya Ayah benar-benar seorang buruan dan mereka tentu datang hendak menangkap Ayah,”
kata Jit Kong. Dua orang anak itu saling pandang dengan mata terbelalak dan muka berubah pucat.
“Kita harus halangi mereka...,“ bisik Goat Kong. Kakaknya mengangguk dan bagaikan dua ekor ikan saja,
dua orang anak yang masih telanjang itu lalu meluncur ke dalam air dan berenang cepat menghadang
perahu yang meluncur dari depan itu. Ketika perahu meluncur dekat, keduanya cepat menyelam.
Dua orang yang berpakaian perwira itu mendayung perahu dan memandang ke arah perahu kecil itu
dengan heran. Perahu kecil itu kosong, tidak ada orangnya dan di dalam perahu terdapat tumpukan
pakaian!
“Eh, tadi seperti kulihat ada dua orang bocah di perahu itu,” kata perwira yang tua, yang rambutnya sudah
putih semua.
“Benar, Souw-ciangkun, saya tadi pun melihatnya. Entah di mana mereka sekarang,” kata perwira yang
lebih muda, yang bertubuh tinggi besar.
“Ehhh...!” “Heiiiii...!”
Mereka berdua berteriak dengan kaget karena tiba-tiba saja perahu mereka itu miring! Mereka berusaha
untuk menekan perahu, akan tetapi percuma saja karena tiba-tiba perahu itu terbalik dan mereka ikut
terjatuh ke dalam air.
“Tolooooonggg...!” Perwira tua yang disebut Souw-ciangkun tadi berteriak.
Dia adalah seorang perwira yang gagah perkasa, akan tetapi di darat. Kalau di air, dia sama sekali tidak
bisa apa-apa, karena berenang pun dia tidak mampu, maka tentu saja dia menjadi ketakutan dan
gelagapan, kedua tangannya meraih-raih udara kosong dan mulutnya berteriak minta tolong sebelum
kepalanya tenggelam.
Perwira tinggi besar itu dapat berenang, tetapi juga tidak ahli. Maka ketika dia berenang mendekati dan
mencoba untuk menolong temannya, perwira tua itu malah menangkap lengannya dengan panik dan hal ini
menghalangi temannya untuk berenang sehingga keduanya tenggelam!
Jit Kong dan Goat Kong yang sudah kembali ke perahu mereka, memandang ke arah dua orang yang
sedang bergumul itu dengan mata terbelalak.
“Kita tidak boleh membunuh orang,” kata Jit Kong.
“Ya, dan mereka itu tidak pandai renang,” sambung Goat Kong.
“Kalau dibiarkan, tentu mereka akan mati.”
“Karena itu, kita harus menolong mereka.”
Kedua orang anak itu lalu terjun ke air, menyelam dan berenang ke arah dua orang perwira yang sudah
mulai lemah gerakan-gerakan mereka itu, sebentar timbul sebentar tenggelam seperti dua ekor ayam
terjatuh ke air. Ketika kedua orang anak itu berhasil menjambak rambut mereka dan membawa mereka
berenang ke perahu kecil itu, mereka berdua sudah tidak bergerak lagi, perut mereka agak kembung dan
mereka tidak sadarkan diri.
Melihat mereka pingsan, Jit Kong dan Goat Kong terkejut dan amat ketakutan. “Celaka, mereka sudah
mati!” teriak Jit Kong.
“Hayo cepat bawa pulang, biar diobati Ayah!” kata Goat Kong.
“Tapi... tapi kita tentu akan mendapat marah. Kita telah membunuh orang!”
“Biar pun begitu, kita harus memberikan tanggung jawab. Seorang gagah selalu akan mempertanggung
jawabkan semua perbuatannya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua ucapan yang keluar dari mulut dua orang anak itu adalah hasil ajaran orang tua mereka. Maka,
biar pun mereka merasa sangat takut dan mengira bahwa dua orang itu telah mati sehingga mereka akan
menerima kemarahan ayah mereka, namun mereka tidak ragu-ragu lagi untuk cepat mendayung perahu
pulang dan setibanya di tepi telaga, Jit Kong sudah meloncat dan lari secepatnya menuju ke pondok,
sedangkan Goat Kong menjaga perahu di mana dua orang perwira itu masih menggeletak tak bergerak
dengan wajah pucat.
Tak lama kemudian Gak Bun Beng datang berlarian bersama isterinya, mengikuti Jit Kong yang datang
memberi tahu kepada mereka tentang dua orang perwira itu. Ketika melihat mereka menggeletak pingsan,
Bun Beng cepat menelungkupkan mereka dan memaksa air keluar dari dalam perut mereka, kemudian
mengurut dada dan punggung sampai mereka siuman kembali.
Begitu mereka siuman dan perwira yang sudah berusia lanjut dan rambutnya putih semua itu melihat
Milana, dia segera mengenalnya dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu. “Ahhh,
sungguh beruntung sekali hamba, akhirnya dapat bertemu dengan Paduka Puteri!”
Kakek ini memang merasa terkejut, terheran-heran dan juga girang bukan main karena sama sekali tidak
disangkanya bahwa dia akan dapat bertemu dengan orang yang dicari-carinya itu! Mereka berdua adalah
dua di antara para perwira yang diutus oleh Pangeran Yung Ceng untuk mencari Puteri Milana.
Dari para penghuni dusun di seberang mereka mendengar bahwa di tempat itu tinggal dua orang suami
isteri pertapa yang masih muda dan aneh, bersama dua orang anak mereka. Mendengar betapa suami
isteri ‘pertapa’ ini sudah mengasingkan diri selama beberapa tahun, dua orang utusan itu merasa heran
dan mereka lalu menggunakan sebuah perahu untuk pergi menyelidiki. Akan tetapi mereka bertemu
dengan Jit Kong dan Goat Kong sehingga hampir saja mereka mati tenggelam di telaga.
“Siapakah kalian?” Milana bertanya sambil mengerutkan alisnya, sama sekali tidak menyangka bahwa ada
orang yang akan mengenalnya sebagai puteri istana.
“Maaf, hamba telah berani datang mengganggu. Hamba adalah Souw Ciat, dan dia ini adalah Ciang Sim
To,” kata perwira tua sambil menunjuk kepada temannya yang juga sudah menjatuhkan diri berlutut ketika
mendengar ucapan Souw Ciat. Baru sekarang dia juga mengenal Milana yang berpakaian sederhana
seperti seorang wanita petani biasa itu.
“Hamba berdua adalah perwira-perwira pengawal dari istana, hamba diutus oleh sri baginda kaisar mencari
Paduka Puteri Milana yang mulia.”
Mendengar ini, Gak Bun Beng lalu berkata, “Sebaiknya mari kita ke pondok dan di sana kita dapat bicara
dengan baik.”
Dua orang perwira itu kini pun teringat kepada pendekar ini yang pernah menjadi tokoh terkenal di kota
raja, maka Souw-ciangkun lalu menjura, diikuti oleh temannya, kepada pendekar itu sambil berkata,
“Terima kasih atas kebaikan Taihiap.”
Mereka berempat diikuti oleh dua orang anak kembar, segera menuju ke pondok di mana Jit Kong dan
Goat Kong menyalakan perapian sehingga dua orang perwira itu dapat menghangatkan tubuh mereka dan
mengeringkan pakaian mereka. Kemudian, kedua orang anak kembar yang sudah biasa bekerja
membantu ibu mereka itu lalu menghidangkan arak kepada dua orang tamu itu yang memandang kepada
mereka berdua dengan sinar mata terheran-heran dan juga penuh curiga.
“Kalau tidak berkat pertolongan dua orang Kongcu ini, tentu kami telah tewas,” kata Ciang Sim To kepada
Bun Beng.
Pendekar itu menarik napas panjang. “Kami telah mendengar penuturan kedua orang putera kami, Ji-wi
Ciangkun, dan harap Ji-wi suka memaafkan mereka yang masih anak-anak sehingga belum dapat
membedakan orang. Mereka mengira bahwa Ji-wi datang dengan niat buruk, maka mereka telah lancang
menggulingkan perahu dan menangkap Ji-wi.”
“Jit Kong, Goat Kong, hayo cepat minta maaf kepada kedua Ciangkun ini!” Milana berkata kepada kedua
orang putera kembarnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Jit Kong dan Goat Kong cepat melangkah maju menghadap dua orang perwira itu, menjura dan
mengangkat kedua tangan di depan dada, membungkuk dan berkata, “Harap Ji-wi Ciangkun sudi
memaafkan kami berdua.” Mereka mengeluarkan kata-kata yang sama dan hampir berbareng, tanda
bahwa ucapan itu keluar dari hati mereka sendiri dan bukan saling mengikuti saja.
Souw-ciangkun dan temannya cepat membalas dan perwira tua ini berkata kagum, “Ah, sungguh hebat
sekali! Ji-wi Kongcu ini masih begini muda, akan tetapi telah memiliki kepandaian hebat sehingga kami dua
orang perwira bangkotan telah dibuat tidak berdaya! Haha-ha, betapa bahagianya hati hamba menyaksikan
putera-putera Paduka yang begini tampan dan gagah perkasa!”
“Ji-wi Ciangkun, sekarang ceritakanlah tentang tugas Ji-wi mencari aku, dan mengapa pula kaisar
mengutus Ji-wi,” kata Milana.
Pangeran Yung Ceng demikian bersemangat untuk menemukan dan memanggil Puteri Milana sehingga
setiap rombongan tentu dibawai surat untuk Sang Puteri. Demikian juga Souw-ciangkun tidak ketinggalan
membawa sepucuk surat. Untung bahwa surat itu disimpannya di dalam kantung kulit sehingga tidak basah
ketika dia terjatuh ke air telaga tadi.
Dengan sikap hormat dia menyerahkan surat itu kepada Milana yang segera membuka dan membacanya.
Tidak salah memang. Surat itu adalah surat dari pamannya, putera kaisar yang masih amat muda itu. Biar
pun Yung Ceng dan Yung Hwa jauh lebih muda dari pada Milana, namun dua orang pangeran muda ini
termasuk pamannya, karena mereka adalah putera-putera kaisar, sedangkan dia sendiri adalah cucu
kaisar. Di dalam surat itu, jelas Pangeran Yung Ceng mengharapkan kedatangannya di istana karena di
istana telah timbul hal-hal yang membutuhkan bantuan Puteri Milana untuk ditanggulangi.
Milana mengerutkan alisnya. “Yang mengutus Ji-wi bukan sri baginda kaisar, melainkan putera mahkota,”
tegurnya.
“Harap Paduka maafkan hamba berdua,” jawab Souw Ciat. “Karena sri baginda kaisar telah menyerahkan
pedang kekuasaan kepada pangeran mahkota, maka kekuasaan beliau tiada bedanya dengan kekuasaan
sri baginda kaisar, maka hamba menganggap bahwa yang mengutus hamba juga dari baginda kaisar
sendiri.”
“Hemmm, apakah yang terjadi di istana maka kaisar menyerahkan pedang kekuasaan kepada Paman
Pangeran Yung Ceng?”
Souw-ciangkun lalu menceritakan keadaan di kota raja dengan jelas. Sebagai seorang panglima pengawal
yang setia dia ikut merasa lega dan gembira atas tindakan pangeran mahkota itu maka dia dapat bercerita
dengan jelas tentang diberantasnya penyelewengan-penyelewengan oleh Pangeran Yung Ceng, betapa
para thaikam ditangkapi dan dihukum, dan banyak pula pembesar korup yang dihukum.
“Ah, mengapa terjadi hal demikian? Apakah kesalahan para thaikam itu?” tanya Milana dengan heran.
“Mereka telah menguasai istana dan selalu membujuk sri baginda kaisar melakukan pemecatanpemecatan
terhadap pembesar-pembesar yang setia. Bahkan Jenderal Kao Liang yang telah menjadi
panglima besar itu pun dipecat.”
“Ehhh...?!” berita ini amat mengejutkan hati Milana dan Bun Beng.
Mereka berdua mengenal siapa adanya Jenderal Kao Liang, seorang yang amat setia dan tangguh, yang
sangat besar jasanya terhadap kerajaan, yang sudah berkali-kali menyelamatkan kerajaan dari ancaman
pemberontakan-pemberontakan, bahkan yang terakhir, lima enam tahun yang lalu, juga menyelamatkan
negara dari pemberontakan dua orang Pangeran Liong.
“Dia dipecat?” Milana menegaskan dengan hati penasaran.
“Bukan dipecat begitu saja, melainkan dipensiun dan diperkenankan mengundurkan diri dan pulang ke
kampung halaman. Akan tetapi semua orang tahu belaka bahwa hal itu adalah merupakan pemecatan dan
pengusiran secara halus.” Souw-ciangkun memberi penjelasan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau Paman Pangeran Mahkota sudah melakukan tindakan tegas itu dan para pembesar lalim telah
dibasmi, perlu apa lagi menyuruh Ji-wi mencari aku?” tanya Milana yang merasa enggan untuk pergi ke
kota raja mencampuri urusan pemerintah.
Souw-ciangkun lalu menceritakan tentang ancaman pemberontakan yang agaknya akan dicetuskan oleh
Gubernur Ho-nan. “Maafkan hamba, sesungguhnya hamba tidak tahu jelas akan persoalannya, dan tentu
saja pangeran mahkota tidak menceritakan kepada hamba. Akan tetapi karena hamba melaksanakan
tugas mencari Paduka, maka hamba memperlengkapi diri dengan pengetahuan akan hal-hal itu sehingga
kalau Paduka bertanya hamba sudah dapat memberi penjelasan. Mengenai pemberontakan yang agaknya
akan dilakukan oleh Gubernur Ho-nan, dimulai ketika Pangeran Yung Hwa menjadi utusan kaisar
mengunjungi Propinsi Ho-nan.” Souw-ciangkun lalu menceritakan segala yang telah didengarnya tentang
peristiwa yang terjadi atas diri Pangeran Yung Hwa dan Gubernur Ho-pei. Sedangkan Milana dan Bun
Beng mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Malah akhir-akhir ini terdapat pula berita bahwa Gubernur Ho-nan agaknya hendak bersekutu dengan
mata-mata dari Nepal, dan mengumpulkan banyak orang pandai di lembah Sungai Huang-ho. Oleh karena
itulah agaknya maka pangeran mahkota hendak minta bantuan Paduka.”
Milana saling pandang dengan suaminya. Mereka maklum bahwa keadaan tentu amat gawat, maka
sampai Pangeran Yung Ceng mencari Milana. Meski mereka sekeluarga telah menjauhkan diri dan tidak
mau berurusan dengan persoalan dunia, akan tetapi mendengar adanya ancaman terhadap kerajaan,
tergerak juga hati Milana.
“Baiklah, Souw-ciangkun. Kalian berdua sudah berhasil menemukan aku dan sudah menyampaikan surat
Paman Pangeran Yung Ceng. Sekarang kembalilah kalian ke kota raja, dan permintaan dari istana itu akan
kami pertimbangkan.”
Souw-ciangkun memandang dengan wajah berseri, lalu bertanya, “Apakah Paduka tidak menitipkan surat
jawaban kepada pangeran mahkota melalui hamba?”
“Tidak usah. Sampaikan saja secara lisan bahwa aku telah menerima surat beliau dan bahwa permintaan
itu akan kami pertimbangkan. Begitu saja. Sekarang, harap kalian suka pergi meninggalkan tempat ini dan
jangan memberitahukan kepada orang lain kecuali pangeran mahkota tentang kami dan tempat tinggal
kami.”
Dua orang perwira pengawal itu memberi hormat, minta diri dan mereka diantar oleh Bun Beng sendiri
yang menggunakan perahunya karena perahu mereka tadi entah hanyut ke mana. Mereka diantar sampai
ke seberang telaga, lalu pendekar itu kembali pulang dan segera dia memperbincangkan persoalan
panggilan dari kota raja itu bersama isterinya.
Akhirnya, oleh karena Milana berkeras untuk membela kerajaan yang terancam bahaya sebagai puteri
istana, diambillah keputusan bahwa puteri itu akan berangkat sendiri ke kota raja melihat keadaan. Gak
Bun Beng tinggal di rumah bersama putera mereka. Pada keesokan harinya, berangkatlah Milana yang
berganti pakaian ringkas dan membawa pedangnya sehingga kini dia berubah dari seorang wanita petani
menjadi seorang pendekar wanita yang cantik dan gagah…..
********************
“Ohhh... hu-hu-huuuhhhhh...!”
Dia menangis menutupi matanya dengan kedua tangan, terisak-isak dan menjatuhkan dirinya di atas
rumput tebal di bawah pohon dalam hutan sunyi itu. Dia masih mengenakan pakaian pria, pakaian seorang
pemuda dan dengan pakaian itu dia telah menggunakan nama Kang Swi, memasuki sayembara dan
berhasil menjadi perwira pengawal Gubernur Ho-nan. Akan tetapi, sungguh dia tidak sangka bahwa
rahasianya terbuka secara demikian memalukan!
Dalam keadaan pingsan, pemuda yang bernama Siauw Hong itu telah meraba dadanya! Dia tahu bahwa
Siauw Hong telah menolongnya, telah menyembuhkannya dari luka berat. Akan tetapi dia tidak peduli.
Pemuda itu telah meraba dadanya! Dia harapkan pukulannya itu akan membunuh Siauw Hong! Kalau
tidak, percuma saja dia menyamar setelah rahasianya kini terbuka.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hu-hu-huuuhhhhh... sialan...!” Pemuda yang ternyata adalah seorang dara itu kembali menangis. Akan
tetapi, betapa pun keras dia menangis, di tempat sunyi itu siapa yang akan mendengarnya atau
menghiburnya?
Kita mengenal pemuda itu sebagai Kang Swi, pemuda royal yang melakukan perjalanan bersama Siluman
Kecil atau Kian Bu dan Siauw Hong ke kota raja Ho-nan dan bersama Siauw Hong memasuki sayembara
dan berhasil diangkat menjadi perwira pengawal Gubernur Ho-nan. Tetapi, ketika dia bertemu dengan Kim
Cui Yan yang menangkap Jenderal Kao Liang dan dia menolong jenderal itu, dia berkelahi melawan Kim
Cui Yan yang amat lihai dan terkena pukulan Swat-im Sin-ciang sehingga roboh pingsan. Lalu, ketika
Siauw Hong menolong bekas sahabatnya itu, Siauw Hong lalu mendapatkan kenyataan bahwa ‘pemuda’
royal itu adalah seorang wanita muda!
Memang demikianlah sesungguhnya. Kang Swi hanyalah merupakan satu di antara penyamaran gadis
yang selain pandai ilmu silatnya, juga ahli dalam hal ilmu menyamar dan ‘ilmu’ mencuri itu! Gadis ini bukan
lain adalah Ang-siocia (Si Nona Merah), julukan yang didapatnya karena dia suka berpakaian merah muda.
Seperti telah kita ketahui, Ang-siocia yang cantik ini adalah murid dari Hek-sin Touw-ong yang terkenal
sebagai raja pencuri yang tinggal di pantai Po-hai. Dan seperti telah kita ketahui pula, ketika Siluman Kecil
atau Kian Bu bertanding melawan Sin-siauw Sengjin, untuk menebus kekalahannya lima tahun yang lalu
dan akhirnya berhasil mengalahkan kakek itu, nona ini muncul dan kemudian mencuri barang-barang
pusaka peninggalan Suling Emas yang ditinggalkan oleh Sin-siauw Sengjin setelah dia mengakui
kekalahannya terhadap Siluman Kecil.
Gadis ini bukan hanya merupakan murid yang tersayang dari Hek-sin Touw-ong, akan tetapi juga anak
angkatnya yang amat dicinta oleh kakek raja maling itu. Oleh karena itu, maka hampir seluruh ilmu
kepandaian kakek itu diajarkan kepada Ang-siocia yang bernama Kang Swi Hwa itu. Oleh karena terlalu
disayang ini agaknya, maka setelah digembleng sejak kecil, Swi Hwa menjadi seorang gadis yang manja,
keras, bicaranya tajam, dan menonjolkan sifat kewanitaannya dengan berani sehingga kelihatannya agak
genit.
Namun dia cantik sekali dan amat cerdas otaknya sehingga semua pelajaran yang diterimanya dapat dia
kuasai, terutama sekali ilmu mencuri dan menyamar. Setelah menguasai ilmu penyamaran itu, di dalam
saku-saku bajunya tidak pernah tertinggal alat-alat menyamar sehingga dia dapat menyulap dirinya dalam
waktu singkat menjadi orang yang dikehendakinya, bahkan dengan mudahnya dia dapat menyamar
sebagai pria tanpa ada yang dapat menduganya.
Pada saat dia mewakili ayahnya menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Hek-hwa Lo-kwi di lembah
Sungai Huang-ho, kita telah mengenal kelihaian Kang Swi Hwa atau Ang-siocia ini. Biar pun belum selihai
gurunya atau ayah angkatnya, akan tetapi ilmu Kiam-to Sin-ciang yang dikuasainya amat dahsyatnya.
Dalam keadaannya itu, sebagai seorang dara yang berkepandaian tinggi, mempunyai seorang ayah angkat
atau guru yang amat sayang dan memanjakannya, memberinya kebebasan seluasnya sehingga dia
diperbolehkan pergi ke mana pun, dan tidak pernah kekurangan karena sebagai raja maling tentu saja
ayahnya mampu memberikan apa pun yang diinginkannya, dari perhiasan yang termahal sampai pakaian
terindah atau barang apa pun yang ada di dunia ini. Apa lagi setelah dia pandai, dia boleh mengandalkan
kepandaiannya sendiri untuk memiliki barang apa saja yang diinginkannya, dengan jalan mencurinya tentu
saja!
Akan tetapi, betapa pun juga Swi Hwa adalah seorang manusia biasa, seorang dara yang mulai dewasa.
Maka pada suatu saat perasaan wanita dan kedewasaannya ini bergerak dan membuat dia bertekuk lutut!
Saat itu adalah ketika dia melihat Kian Bu atau Siluman Kecil bertanding melawan Sin-siauw Sengjin.
Melihat pemuda berambut putih itu, melihat sepak terjangnya ketika mengalahkan Sin-siauw Sengjin yang
begitu lihai, Swi Hwa atau Ang-siocia menjadi tertarik sekali dan dia sendiri tidak tahu apakah itu yang
dinamakan cinta, akan tetapi yang jelas, dia merasa kagum dan tertarik dan ingin sekali dia berkenalan
dengan Siluman Kecil, mendekatinya dan mengenal pemuda luar biasa itu dari dekat!
Inilah sesungguhnya yang menyebabkan gadis ini mendahului Siluman Kecil, mencuri barang-barang
pusaka di dalam rumah Sin-siauw Sengjin! Dan dia maklum bahwa dia tidak akan mungkin melawan
Siluman Kecil, maka dia menggunakan nikouw tua itu untuk membuat Siluman Kecil tidak berdaya dan
tidak berani menyerangnya. Dia lalu menantang agar Siluman Kecil datang ke tempatnya, yaitu tempat
tinggal gurunya, di pantai Po-hai teluk sebelah utara. Maksudnya memancing Siluman Kecil ke sana adalah
selain hendak menguji kepandaian pemuda itu melawan gurunya, juga dia ingin sekali berkenalan dengan
pemuda itu berdua saja, tanpa ada banyak orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, karena dia tidak melihat Siluman Kecil tergesa-gesa mengejarnya ke pantai Po-hai, hatinya
kecewa dan dia menggunakan lain akal. Melihat Siluman Kecil atau Kian Bu melakukan perjalanan menuju
ke Ho-nan dan membawa uang, hal yang tidak mungkin terlepas dari ‘mata malingnya’ yang terlatih baik,
dia lalu menyamar sebagai nenek penjual sepatu!
Ang-siocia inilah sesungguhnya yang menjadi nenek penjual sepatu rumput dahulu itu! Penyamarannya
memang hebat sekali sehingga Kian Bu sama sekali tidak menyangka. Dan dengan ilmu mencurinya yang
luar biasa, dia berhasil mencopet uang dari dalam bungkusan Kian Bu tanpa diketahui oleh pendekar yang
memiliki kesaktian hebat dan berjuluk Siluman Kecil itu!
Kemudian, Ang-siocia atau Swi Hwa cepat mengubah penyamarannya dan sekali ini dia menyamar
sebagai seorang kongcu yang royal dan ramah. Tidak sukar penyamaran ini, karena sesuai dengan
sifatnya yang memang lincah dan ramah, pandai bicara dan jenaka. Dan giranglah hatinya bahwa dia
berhasil menarik hati Siluman Kecil sehingga dapat melakukan perjalanan bersama dengan pendekar itu
dan juga dengan Siauw Hong.
Akan tetapi, hatinya merasa amat kecewa ketika dia bertemu dengan Siluman Kecil sebagai musuh pada
waktu dia membantu pihak Gubernur Ho-nan memperebutkan Pangeran Yung Hwa. Dia memasuki
sayembara kemudian menjadi pengawal sekali-kali bukan karena dia memihak Gubernur Ho-nan,
melainkan karena pertama dia hendak mencari pengalaman dalam petualangannya meninggalkan tempat
tinggal gurunya, dan kedua karena dia ingin menarik perhatian Siluman Kecil dengan jalan memamerkan
kepandaiannya.
Setelah keributan itu di mana dia berada di pihak yang bermusuhan dengan Siluman Kecil, dengan hati
kecewa sekali dia lalu meninggalkan gubernuran, meninggalkan jabatannya tanpa pamit setelah dia
melihat Siauw Hong, Siluman Kecil, bahkan si Gagu yang aneh itu semua pergi. Dan ketika dia mencari
Kian Bu, dia bertemu dengan wanita baju hijau yang menawan Jenderal Kao Liang, kemudian dia dipukul
pingsan dan rahasianya bahwa dia adalah seorang wanita diketahui oleh Siauw Hong!
Kini Ang-siocia atau Swi Hwa telah berhenti menangis dan duduk termenung di bawah pohon. Entah
mengapa, semenjak dia ditolong oleh Siauw Hong dan ‘diraba’ dadanya ketika pemuda itu menolongnya
menyembuhkan lukanya dengan menyalurkan sinkang, terjadi keanehan di dalam hatinya terhadap Siauw
Hong, pemuda yang tadinya selalu dia anggap sebagai seorang bocah yang masih hijau itu!
Membayangkan wajah tampan pengemis muda itu, sikapnya yang sederhana dan pendiam, tubuhnya yang
agak tinggi, dia kini merasa malu. Semenjak Siauw Hong meraba dadanya, seolah-olah pemuda itu telah
berubah sama sekali dalam pandang matanya!
Sebetulnya, dara inilah yang dulu mencuri harta pusaka keluarga Jenderal Kao ketika terjadi perebutan.
Ketika itu, dia melihat betapa ada tiga rombongan atau golongan orang yang seolah-olah memperebutkan
pusaka itu dan menguasai keluarga Jenderal Kao, bahkan rombongan pertama yang terdiri dari pasukan
kota raja yang menyamar, berusaha keras untuk membasmi dan membunuhi keluarga Kao.
Akan tetapi di situ masih ada dua rombongan lain yang berebutan, dan bahkan seolah olah bermusuhan
sendiri, yaitu golongan dari Hek-eng-pang perkumpulan wanita-wanita liar dan Kui-liong-pang. Di dalam
pertempuran-pertempuran hebat itu di mana terjatuh banyak korban di kedua pihak, dia melihat pula
serombongan orang yang dipimpin oleh orang asing menculik dan melarikan semua keluarga Jenderal
Kao.
Dia mengenal pemimpin rombongan itu sebagai orang Nepal kaki tangan Liong Bian Cu, Pangeran Nepal
itu. Akan tetapi karena dia tidak mempunyai hubungan dengan semua itu, dia tidak mempedulikannya, dan
dia hanya mempergunakan kepandaiannya untuk mencuri harta pusaka Jenderal Kao. Hal ini dilakukannya
karena memang sebagai murid seorang ‘raja maling’ tentu saja dia tidak mau mendiamkan harta pusaka
dijadikan perebutan tanpa bertindak apa-apa, dan selain itu juga dia bermaksud untuk mengangkat nama.
Menang dalam perebutan di antara gerombolan-gerombolan itu berarti mengangkat nama gurunya dan
namanya sendiri.
Semakin dikenang, semakin berduka, kecewa dan penasaran rasa hati dara itu. Melihat Siluman Kecil yang
telah menarik perhatiannya itu tak mengejarnya langsung ke Po-hai, dia lalu berbalik membayangi
pendekar aneh itu, berkali-kali menyamar dan berusaha menarik perhatiannya. Akan tetapi Siluman Kecil
agaknya sama sekali tidak tertarik kepadanya, bahkan telah memukulnya dalam keributan itu sehingga dia
terluka. Dan kemudian, bukan saja dia tidak menarik perhatian pendekar itu sama sekali, bahkan akhirnya
‘menarik perhatian Siauw Hong yang mengetahui rahasianya!’
dunia-kangouw.blogspot.com
Yang menggemaskan, mengapa kini wajah Siauw Hong selalu terbayang di depan matanya? Setiap kali
dia mencoba membayangkan wajah Siluman Kecil yang amat dipujanya, wajah aneh tampan dengan
rambutnya yang putih dan matanya yang tajam bersinar-sinar itu, selalu saja wajah pendekar sakti ini
berubah menjadi wajah Siauw Hong!
Dengan hati penasaran Ang-siocia lalu mengambil keputusan untuk pulang ke Po-hai saja karena dia pun
sudah terlalu lama meninggalkan gurunya. Dia pulang membawa banyak hasil curiannya, antara lain harta
pusaka Jenderal Kao Liang, pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas, dan sekantung uang milik Siluman
Kecil. Bukan barang barang biasa, melainkan milik orang-orang ternama dan tentu suhu-nya akan merasa
gembira dan kagum serta bangga akan hasil karyanya itu…..
********************
Sudah terlalu lama kita meninggalkan Ang Tek Hoat sehingga tentu banyak pula yang bertanya-tanya apa
jadinya dengan tokoh yang hidupnya diombang-ambingkan oleh keadaan yang selalu berubah-ubah itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ang Tek Hoat yang patah hati dan dirundung kecewa, penasaran
dan berduka itu seolah-olah menjadi tidak peduli lagi akan hidupnya, tidak peduli lagi apakah yang dia
lakukan dalam hidup selanjutnya itu benar atau salah. Dia dipaksa berpisah dari kekasihnya di Bhutan,
kemudian kehancuran dan kepatahan hati ini ditambah lagi oleh pukulan amat hebat, yaitu kematian ibunya
yang belum juga dapat dia ketahui siapa pembunuhnya.
Rasa kecewa dan duka ini membuat dia mudah terseret ke dalam pergaulan yang tidak benar sehingga dia
tidak ragu-ragu untuk membantu orang-orang dari golongan sesat, bahkan dia telah membantu Hek-engpangcu
Yang-liu Nionio untuk menyerbu dan mencoba membasmi perkumpulan Kui-liong-pang yang
menjadi musuh Hek-eng-pang. Dan dalam usaha inilah maka dia bertemu dan terpaksa bekerja sama
dengan guru ketua Hek-eng-pang ini, yaitu Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, Siluman Kucing yang amat
lihai namun jahat seperti iblis betina di balik wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang menggairahkan biar
pun usianya sudah mendekati empat puluh tahun.
Tek Hoat tidak peduli lagi apa yang diperbuatnya itu, karena dia pun tidak mengenal Kui-liong-pang dan
tidak mau tahu akan permusuhan antara dua perkumpulan itu. Kalau dia membantu Hek-eng-pang adalah
karena dia mempunyai kepentingannya sendiri, yaitu hendak minta bantuan Hek-eng-pang yang terdiri dari
perkumpulan wanita untuk merampas kembali Syanti Dewi yang dia dengar terjatuh ke tangan Liong-simpang
di puncak Naga Api.
Seperti telah kita ketahui, usahanya yang dibantu oleh Hek-eng-pang itu gagal sama sekali. Syanti Dewi
lenyap entah ke mana diculik oleh orang lain dari tangan Hwa-i-kongcu, ketua Liong-sim-pang. Ketika dia
hendak meninggalkan Hek-eng-pang, dia terbujuk oleh Mauw Siauw Mo-li untuk mengadakan perjalanan
bersama mencari Syanti Dewi. Karena Siluman Kucing itu mengatakan bahwa dia mungkin mengetahui
jejak Syanti Dewi yang lenyap, terpaksa Tek Hoat mau melakukan perjalanan bersama wanita iblis yang
cantik itu, tidak tahu bahwa wanita itu tentu saja bukan sekali-kali ingin membantunya mendapatkan
kembali Syanti Dewi, melainkan karena merasa tertarik oleh ketampanannya, kemudaannya, dan
kegagahannya!
Memang Siluman Kucing itu tidak membohong ketika dia mengatakan bahwa dia melihat wanita yang
bertanya-tanya tentang seorang dara cantik yang dibawa dengan paksa oleh seseorang. Wanita muda
yang bertanya-tanya itu adalah Siang In. Maka dia pun mengajak Tek Hoat untuk mengikuti jejak Siang In.
Namun, penyelidikannya tidak berhasil dan hanya karena kecerdikan dan kepandaian Mauw Siauw Mo-li
dalam pembicaraan saja maka Tek Hoat masih percaya kepadanya dan tetap melanjutkan perjalanannya
bersama wanita cantik ini.
Akan tetapi, akhirnya dia mulai merasa curiga karena sampai berhari-hari mereka berdua melakukan
perjalanan, belum juga mereka berdua berhasil menemukan jejak Syanti Dewi yang hilang. Yang jelas
adalah sikap Mauw Siauw Mo-li yang selalu ingin menarik perhatiannya dan yang selalu membujuknya
dengan sikap dan kata-katanya untuk bermain cinta! Pengalaman mereka dalam rumah makan melawan
lima orang kasar itu pun jelas merupakan siasat Mauw Siauw Mo-li untuk menjebak Tek Hoat dalam umpan
dan pancingannya agar pemuda itu bangkit birahinya dan mau melayani hasrat nafsunya untuk bermain
cinta.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi sekali ini, Mauw Siauw Mo-li kecewa. Dahulu, lima enam tahun yang lalu, dia pernah berhasil
memikat dan menjatuhkan hati seorang pendekar muda putera majikan Pulau Es, yaitu Suma Kian Bu. Hal
itu terjadi bukan hanya karena Mauw Siauw Mo-li ketika itu masih belum tua benar dan lebih cantik
menarik, melainkan semata-mata karena Kian Bu merupakan seorang pemuda yang berwatak romantis
dan masih hijau dan bodoh sehingga dia seperti seekor lebah, terpikat dan melekat dalam perangkap
penuh madu.
Akan tetapi Tek Hoat lain lagi. Dia memang masih muda, akan tetapi pemuda ini pernah terjerumus ke
dalam dunia sesat, sudah banyak pengalaman dalam hal permainan cinta dan semenjak dia jatuh hati
kepada Syanti Dewi, pemuda ini tahu benar bahwa semua permainan cinta itu hanyalah pemuasan nafsu
belaka yang makin dituruti makin haus dan menghendaki lebih. Dia dapat membedakan antara cinta
kasihnya yang murni dan bersih terhadap Syanti Dewi dan ‘cinta’ yang bergelimang nafsu birahi dengan
wanita wanita lain, maka dia pun segera mengenal cinta kasih macam itu yang terkandung dalam hati
Mauw Siauw Mo-li terhadap dirinya. Karena itu, dia selalu menghindarkan diri dan setiap kali darah
mudanya bergelora oleh rayuan yang lihai dari wanita matang itu, dia menggunakan kekerasan hatinya
untuk menekan nafsu birahinya.
Telah diceritakan betapa semenjak peristiwa di rumah makan itu, sikap Tek Hoat lebih hati-hati lagi dan dia
mulai menaruh kecurigaan, tetapi karena dia sudah mendengar berita tentang Syanti Dewi, dia
mempertahankan perasaannya dan bersama Lauw Hong Kui, yaitu si Siluman Kucing, berangkatlah dia
menuju ke pantai Lautan Po-hai di timur.
Setelah tiba di pantai lautan itu pada suatu pagi, mereka berdiri di pantai yang sunyi dan memandang ke
teluk yang amat luas itu. “Pantai Teluk Po-hai begini luas, ke mana kita harus mencari mereka?” kata Tek
Hoat, nada suaranya penuh kegelisahan karena memang dia merasa gelisah sekali kalau memikirkan
kekasihnya.
Dia masih belum mengerti mengapa Syanti Dewi meninggalkan Bhutan dan terjatuh ke tangan ketua Liongsim-
pang dan mengapa pula sekarang diculik dan dilarikan orang. Gelisah dia memikirkan kekasihnya itu.
Dia dapat menduga bahwa tentu kekasihnya itu melarikan diri dari Bhutan untuk mencarinya. Kalau teringat
akan dugaan ini, hatinya menjadi terharu sekali dan cinta kasihnya terhadap Syanti Dewi makin mendalam,
akan tetapi segera dia dihimpit oleh rasa gelisah yang hebat.
Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan menoleh kepadanya, menatap wajah yang tampan itu, lalu dia berkata,
“Engkau tidak percuma melakukan perjalanan mencari puteri itu bersamaku, Tek Hoat.” Sudah lama dia
memanggil pemuda itu dan bicara dengan sikap ramah dan akrab, seolah-olah mereka telah menjadi
sahabat karib. Dan Tek Hoat pun tidak peduli akan sikap ini.
“Apa maksudmu? Tahukah engkau ke mana kita harus mencari?”
Lauw Hong Kui memperlebar senyumnya dan mengangguk, lalu membereskan anak rambut di dahinya
yang kusut dan melambai-lambai tertiup angin laut. Memang cantik sekali dia dan pandai dia menonjolkan
kecantikannya di saat yang tepat. “Tentu saja aku tahu, atau setidaknya dapat menduga dengan tepat. Aku
tidak asing di daerah ini, Tek Hoat. Kalau dugaanku tidak meleset, dan biasanya tidak, agaknya yang
melakukan penculikan itu tentulah si Raja Maling!”
“Raja Maling?” Tek Hoat bertanya, memandang wajah yang cantik dan terias baik-baik itu penuh perhatian.
“Lihat, angin begini besar dan membuat rambutku kusut. Rambutku awut-awutan, ya?” tanyanya sambil
mengatur rambut dengan jari-jari tangannya yang kecil dan panjang. Terpaksa Tek Hoat memandang
rambut itu dan memang indah sekali rambut yang panjang halus itu melambai-lambai tertiup angin.
“Katakan, siapa dia dan di mana tempatnya?” Dia berkata setelah sejenak dia tertegun. Mauw Siauw Mo-li
Lauw Hong Kui tersenyum manis sehingga deretan giginya yang putih dan kecil itu nampak berkilat.
“Engkau sungguh tidak menghargai kecantikan orang!” Dia menartk napas panjang. “Dia itu adalah Hek-sin
Touw-ong, si Raja Maling Sakti Hitam, seorang kakek yang amat sakti dan yang bertapa di pantai Po-hai
sebelah utara.”
Ang Tek Hoat mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa memang banyak terdapat manusia manusia yang
berilmu tinggi di dunia ini, maka walau pun dia sendiri belum pernah mendengar atau berjumpa dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
kakek raja maling itu, dia percaya bahwa tentu dia seorang yang sangat lihai. Tidak sembarang orang akan
dipuji kepandaiannya oleh Siluman Kucing ini, yang dia tahu juga lihai sekali.
“Bagaimana engkau dapat menyangka bahwa dialah yang menculik Syanti Dewi?” dia mendesak, tidak
mau percaya begitu saja.
Siluman Kucing bertolak pinggang dengan lagak dan gaya memikat sekali. Pinggangnya makin nampak
ramping kalau dia bertolak pinggang seperti itu, apa lagi angin yang nakal membuat bajunya tersingkapsingkap
agak terbuka. “Tentu saja aku menduga demikian, pemuda yang tampan! Menurut jejak yang kita
ikuti, puteri Bhutan itu dibawa lari seorang kakek dan larinya menuju ke pantai Po-hai, dan sampai di laut
lenyaplah jejaknya dan tidak ada orang yang tahu biar pun kita sudah bertanya-tanya sampai mulut terasa
lelah. Dan di pantai ini, hanya ada satu-satunya kakek yang berilmu tinggi, yaitu si Raja Maling. Jadi siapa
lagi kalau bukan dia yang melakukan penculikan itu? Melarikan seorang puteri dari dalam benteng Liongsim-
pang yang sangat kuat itu bukanlah hal mudah, bahkan engkau sendiri yang dibantu oleh muridku dan
anak buah Hek-eng-pang pun gagal. Akan tetapi kakek itu seorang diri saja mampu mencuri dan
menculiknya. Siapa lagi kalau bukan perbuatan si Raja Maling?”
Tek Hoat mengangguk-angguk, harapannya timbul kembali. “Kalau begitu, mari kita cepat mengejarnya ke
sana, Mo-li!”
“Hi-hi-hik, mengapa tergesa-gesa, Tek Hoat? Takkan lari gunung dikejar, perlu apa kau terburu-buru?”
“Mo-li, Raja Maling itu tentulah bukan gunung, melainkan seorang maling yang dapat bergerak dan lari, dan
aku khawatir kalau-kalau dia akan mengganggu Syanti Dewi!”
“Aihhh, Tek Hoat. Kau gelisah sekali seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita lain saja. Apakah aku bukan
wanita pula dan apakah aku tidak cantik?” Mauw Siauw Mo-li sudah mendesak dan merangkulkan kedua
lengannya yang panjang itu ke leher Tek Hoat. Kedua lengan itu melingkar-lingkar seperti seekor ular,
merayap ke atas dan membelai rambut di tengkuk Tek Hoat, lalu menjambaknya perlahan dengan gemas.
“Mo-li, jangan begitu...!” Tek Hoat berkata dengan alis berkerut.
Kalau dia tak membutuhkan bantuan wanita ini untuk menemukan kembali kekasihnya, tentu dia sudah
bersikap kasar dan mendorong wanita ini. Namun, Mauw Siauw Mo-li malah mendekapkan tubuhnya
sehingga melekat ke tubuh Tek Hoat, menggoyang goyang tubuhnya sehingga menggesek tubuh pemuda
itu dengan gaya memikat sekali, mukanya didekatkan ke mulut Tek Hoat.
Harus diakui bahwa Lauw Hong Kui adalah seorang wanita cantik yang bertubuh menggairahkan sekali.
Dia sudah matang dan pandai merayu pria. Dan biar pun Tek Hoat bukan seorang pemuda hijau seperti
Suma Kian Bu lima tahun yang lalu, namun tetap saja dia adalah seorang yang masih muda dan berdarah
panas dan biar pun dia tidak sudi membalas cinta seorang wanita seperti Siluman Kucing ini, namun
dipeluk seperti itu dan merasakan gesekan dan geseran tubuh yang hangat dan padat itu tidak urung
jantungnya berdebar juga.
Sebagai seorang wanita yang sudah banyak pengalaman, debar jantung di dalam dada pemuda itu
diketahui dan terasa oleh Hong Kui. Memang dia sengaja merapatkan dadanya ke dada pemuda itu untuk
menangkap tanda ini. Begitu dadanya merasa denyut jantung yang mengencang itu, cepat dia meraih
kepala pemuda itu, ditarik ke bawah karena Tek Hoat lebih tinggi dari pada dia sehingga muka mereka
bertemu dan Hong Kui lalu mencium mulut pemuda itu dengan bibirnya. Ciuman yang amat mesra, yang
dilakukan dengan gelora nafsu birahi dan sepenuh perasaannya, ciuman yang panas dengan napas yang
mendengus-dengus.
Tek Hoat terkejut sekali. Harus diakuinya bahwa wanita ini menyalakan sesuatu di dalam hatinya, akan
tetapi dia teringat bahwa tidak semestinya dia melayani wanita ini dan tidak menuruti gelora birahinya yang
dibangkitkan oleh Siluman Kucing yang amat pandai ini. Akan tetapi pada saat itu, mau tidak mau dia
menikmati dan merasakan ciuman hangat itu, merasa betapa sepasang bibir yang lunak itu bergerakgerak,
kemudian dia mendengar suara merintih seperti suara seekor kucing, dan terasa betapa lidah yang
lunak menjilat-jilat, seperti lidah seekor kucing yang manja!
Sejenak Tek Hoat terlena, akan tetapi ketika bayangan wajah Syanti Dewi berkelebat di depan matanya
yang dipejamkan, tiba-tiba saja dia merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan. Dengan muka pucat, mata
terbelalak, napas agak terengah, dia memandang wanita itu. Hong Kui juga memandangnya dengan mata
dunia-kangouw.blogspot.com
setengah terpejam, mulut agak terbuka, mulut yang basah merah dengan gigi putih mengintai di antara
ujung lidah meruncing, napasnya tersendat-sendat, senyumnya memikat, kedua lengan dibuka menantang.
“Tek Hoat... Tek Hoat... ke sinilah...“ Suaranya tergetar dan penuh dengan daya tarik.
“Mo-li! Aku tidak sudi memenuhi kehendakmu yang gila ini!” Tiba-tiba Tek Hoat yang sudah sadar itu
membentak marah.
Suara pemuda itu cukup untuk mengguncang Mauw Siauw Mo-li bahwa pemuda itu sudah tak lagi dapat
dikuasainya pada saat itu, maka dia pun tersadar dan memandang pemuda itu dengan sinar mata tajam.
“Tek Hoat, engkau sungguh tidak mengenal budi!” celanya. “Aku sudah payah membantumu mencari puteri
itu, bahkan sekarang pun aku yang mengetahui tempat kakek itu, tetapi engkau sedikit pun tidak mau
menyenangkan hatiku dan memberi air cinta untuk hatiku yang sedang dahaga. Engkau kejam! Dan kalau
engkau menolak cintaku, aku pun tidak sudi lagi menunjukkan tempat Raja Maling itu padamu!”
Tiba-tiba sinar mata Tek Hoat menjadi keras dan mengancam sehingga Mauw Siauw Mo-li sendiri menjadi
terkejut.
“Mauw Siauw Mo-li! Enak saja kau bicara. Kalau kini engkau tidak mau menunjukkan tempat itu, aku akan
memaksamu!”
“Ehhh...?” Wanita itu membelalakkan mata. “Aku sudah membantumu dan kau sekarang hendak
memaksa? Sungguh tidak tahu aturan engkau ini!”
“Mo-li, ingat. Siapa yang dulu membujuk aku untuk melakukan perjalanan bersamamu? Siapa yang berjanji
akan menemukan kembali Syanti Dewi? Engkau sudah membawa aku sampai di sini, dan kalau engkau
sekarang meninggalkan aku, berarti engkau telah menipuku! Dan aku bukan orang yang mudah saja ditipu
tanpa membalas!”
“Kau kira aku takut?”
Tek Hoat tersenyum mengejek. “Tentu saja tidak. Aku tahu siapa adanya Mauw Siauw Mo-li. Tetapi aku
yakin akan dapat menghajarmu, Mo-li. Senjata rahasia peledakmu itu tidak menakutkan Si Jari Maut!”
Sikap yang gagah, pandang mata yang tajam penuh ancaman, ditambah nama julukan Jari Maut itu
mengingatkan kepada Mauw Siauw Mo-li bahwa pemuda ini memang lihai bukan main, dan kalau sudah
marah, kekejamannya amat mengerikan sehingga dia mendapat julukan Si Jari Maut. Memang dia tidak
takut, tetapi dia melihat bahayanya kalau sampai memusuhi pemuda ini. Dan pula, dia masih belum putus
asa. Tadi, bukankah jantung pemuda perkasa ini berdebar dan bukankah ketika mulut mereka bertemu
tadi, terasa olehnya betapa bibir pemuda itu membalas kecupannya? Akan tiba saatnya pemuda yang
keras hati ini akan bertekuk lutut dan menyerahkan diri dalam pelukannya, dan betapa akan manis dan
nikmatnya penyerahan itu setelah berkali-kali ditolaknya. Maka dia pun tersenyum kembali dan sepasang
matanya kehilangan sinar kemarahannya.
“Hemmm, kita sudah lama bersahabat, sudah jauh melakukan perjalanan bersama. Akan luculah kalau
tiba-tiba kita berhadapan sebagai musuh. Baik, Tek Hoat, aku akan terus membantumu, dan kalau sampai
aku membantumu berhasil mendapatkan kembali puteri itu, bagaimana sikapmu kepadamu?”
“Aku akan menganggapmu sebagai seorang sahabat baik dan aku akan berterima kasih kepadamu, Mo-li.”
“Hanya itu saja? Apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan terima kasihmu?”
“Heemmm... aku tidak tahu. Mungkin aku akan membalasmu dan menolongmu kalau sewaktu-waktu kau
membutuhkan bantuan.”
“Aku hanya membutuhkan bantuanmu agar engkau suka bersikap manis kepadaku, Tek Hoat. Tak tahukah
engkau bahwa aku sangat suka kepadamu? Kalau sudah berhasil, kau balas saja dengan sikap manis dan
memenuhi hasrat cintaku, ya?”
Tek Hoat tidak sudi menjanjikan itu, akan tetapi dia tidak ingin banyak bicara tentang itu lagi, maka dia
menjawab, “Kita lihat saja nanti, Mo-li. Yang penting sekarang, hayo kau tunjukkan tempat tinggal Raja
Maling yang menculik Syanti Dewi.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nanti dulu, Tek Hoat. Engkau masih muda dan engkau sembrono. Biar pun engkau memiliki kepandaian
tinggi, akan tetapi dalam hal ini engkau sama sekali tidak boleh sembrono. Hek-sin Touw-ong adalah
seorang tua yang amat lihai. Aku sendiri sudah pernah menandinginya dan dalam hal kesaktian dia
agaknya tidak kalah olehmu. Bahkan dulu suheng-ku, Hek-tiauw Lo-mo, pernah bentrok dengan dia dan
suheng selalu memperingatkan kepada anak buahnya agar jangan sampai bentrok dengan Raja Maling itu.
Suheng sendiri merasa segan untuk bermusuhan dengan kakek sakti itu, maka dalam hal ini, kita tidak
boleh sembrono menyerbu ke sana begitu saja karena hal itu mungkin sekali membuat kita celaka dan
puteri itu tidak akan tertolong pula.”
“Hemmm, aku tidak takut. Habis kalau kita tidak menyerbu ke sana, bagaimana kita dapat menolong Syanti
Dewi?”
“Tentu kita tidak akan membiarkan saja, kita akan menyerbu ke sana. Akan tetapi tidak sekarang. Aku akan
mencari kawan-kawanku di pantai ini. Mereka akan membantu kita dan dengan bantuan mereka, maka aku
baru berani mengajakmu menyerbu. Bukankah ketika kau berusaha menolong puteri itu dari benteng
Liong-sim-pang, engkau pun membutuhkan bantuan Hek-eng-pang?”
“Ketika itu lain lagi keadaannya, Mo-li. Liong-sim-pang adalah benteng dan selain kuat, juga mempunyai
banyak anggota, maka aku membutuhkan bantuan Hek-eng-pang. Akan tetapi sekarang, kita hanya
menghadapi seorang kakek...“
“Hemmm, kau tidak tahu kakek macam apa yang kita hadapi. Kita harus menggunakan bantuan kawankawanku
itu agar mereka memancingnya keluar dari sarangnya hingga engkau akan mudah merampas
kembali puteri itu.”
Tek Hoat mengerutkan alisnya. Sebetulnya dia tidak menyukai cara yang curang ini, akan tetapi yang
terpenting baginya adalah menyelamatkan Syanti Dewi, maka dia tidak mau mengecewakan wanita iblis
yang hendak membantunya ini, maka dia tidak ingin membantah lagi.
“Mari kita mencari kawan-kawanku itu!”
“Siapakah mereka?”
“Siapakah mereka? Ha-ha-ha, mereka pun amat terkenal di wilayah ini, Tek Hoat, sungguh pun sama
sekali tidak boleh dibandingkan dengan Raja Maling. Mereka adalah raja-raja di perairan Teluk Po-hai!
Marilah!”
Ang Tek Hoat pergi mengikuti wanita itu menuju ke utara dan memasuki hutan di pantai Po-hai. Hutan itu
sunyi sekali dan tak nampak seorang pun manusia sehingga kelihatan menyeramkan sekali. Belum lama
mereka memasuki hutan itu, mendadak terdengar suitan-suitan nyaring di sana-sini. Suara-suara suitan itu
susul-menyusul dan agaknya saling menjawab, makin lama makin dekat sehingga akhirnya terdengar di
sekeliling mereka, dari depan, belakang, kanan dan kiri. Mereka telah dikepung oleh suara-suara itu. Tek
Hoat bersikap waspada, akan tetapi Mauw Siauw Mo-li tertawa-tawa saja.
“Lihat, betapa cepatnya mereka itu tahu akan kedatangan kita dan telah berkumpul mengurung. Bukankah
berguna sekali bantuan-bantuan seperti mereka itu?”
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring, “Berhenti kalian berdua yang berjalan dalam hutan! Kalian telah
memasuki daerah kami tanpa ijin!”
Mauw Siauw Mo-li dan Tek Hoat berhenti, dan wanita itu berseru nyaring, “Lo Kwa, bukankah engkau yang
bicara itu? Keluarlah, jangan main kucing-kucingan!”
Ucapan wanita ini diikuti suasana sunyi, agaknya semua orang yang mengurung tempat itu menjadi
terkejut dan heran. Lalu terdengar seruan yang mengandung keheranan dan juga kegembiraan, “Lauwlihiap...!”
Bermunculanlah kini belasan orang laki-laki dari empat penjuru, berloncatan keluar dari balik-balik pohon
dan semak-semak. Mereka itu rata-rata adalah laki-laki kasar dan tinggi besar, nampaknya kuat dan keras.
Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki yang usianya antara tiga puluh lima tahun, bertubuh tegap dan
berwajah tampan akan tetapi mukanya tertutup brewok.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lihiap...!” Pemimpin gerombolan ini melangkah maju dan menjura kepada Lauw Hang Kui sambil
tersenyum lebar.
Diam-diam Ang Tek Hoat terheran-heran melihat mereka itu menyebut lihiap (pendekar wanita) kepada
Siluman Kucing ini. Dia tidak tahu bahwa julukan itu hanyalah julukan yang diberikan oleh mereka yang
menganggap wanita ini sebagai iblis, akan tetapi gerombolan bajak-bajak laut dari Po-hai yang bersarang
di dalam hutan ini merupakan sahabat-sahabatnya yang tentu saja menganggapnya sebagai seorang
wanita perkasa yang patut disebut lihiap!
Lauw Hong Kui menghampiri laki-laki tampan itu, kemudian mengangkat tangan kirinya dan mengusap
dagu yang penuh jenggot itu. “Aihhh, Lo Kwa, hampir aku tidak dapat mengenalimu lagi. Ihhh, aku baru
mau bicara berdua denganmu kalau kau sudah membuang semua brewokmu yang menggelikan itu!”
katanya dengan sikap genit dan manja.
Orang she Kwa yang tadi disebut Lo Kwa (Kwa yang Tua) itu tertawa dan menangkap lengan Hong Kui,
ditariknya dan hendak dipeluknya wanita itu. Tetapi sambil tersenyum manja Hong Kui melepaskan dirinya
dan berkata, “Kau cukur dulu semua brewokmu!”
Orang she Kwa itu tertawa dan semua anak buahnya juga tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha, kedatanganmu mendatangkan cahaya kegembiraan di hutan yang gelap ini, Lauw-lihiap!” kata
orang she Kwa itu.
“Akan tetapi aku adalah Siluman Kucing, apakah kalian tidak takut?” Lauw Hong Kui berkata sambil
bertolak pinggang, senyumnya lebar dan dia kelihatan gembira sekali, merasa berada di antara temanteman
baiknya.
“Hidup Lauw-lihiap!”
“Selamat datang, Mauw Siauw Mo-li!”
“Biar besok pagi aku mampus, aku rela asal semalam suntuk boleh membelai kucing!”
“Aku pun bersedia!”
Riuh-rendah suara mereka dan pernyataan kagum mereka dinyatakan secara terang terangan, bahkan ada
yang mengeluarkan pernyataan kasar dan tidak sopan, akan tetapi semua itu agaknya sudah biasa di
antara mereka dan Lauw Hong Kui juga menyambutnya dengan tersenyum saja.
“Akan kulihat nanti siapa di antara kalian yang patut untuk menghiburku,” katanya.
Tek Hoat merasa muak juga, dan diam-diam dia merasa malu juga, kenapa dia pernah merasa tertarik dan
timbul birahinya terhadap wanita ini. Padahal wanita ini benar-benar merupakan siluman yang tak tahu
malu, seorang wanita yang biasa mempermainkan pria seperti kucing mempermainkan tikus lebih dulu
sebelum diterkam dan dibunuhnya!
“Lo Kwa, di mana para Ong-ya?”
Pertanyaan ini membuat Tek Hoat menjadi maklum bahwa orang she Kwa ini hanya seorang bawahan
saja, dan kini iblis betina ini menanyakan para ong-ya, yaitu para raja bajak!
“Semua sedang berada di sarang, Lihiap. Tentu mereka akan menjadi gembira sekali mendengar akan
kedatanganmu. Marilah kita ke sana, ataukah kita berdua bersenang senang dulu?” kata orang she Kwa itu
sambil memandang dengan mata mengandung penuh gairah.
“Hushhh, brewokmu itu menggelikan. Dan mungkin kelak kalau ada waktu bagiku, boleh kita bersenangsenang.
Mari antar aku kepada para Ong-ya.”
“Tapi, dia ini...?” Orang she Kwa itu menuding ke arah Tek Hoat dengan pandang mata tidak senang dan
penuh curiga.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Tek Hoat merasa mendongkol juga. Sejak tadi sama sekali tidak diacuhkan dan kini dicurigai.
Kalau tidak ingat akan kepentingannya, tentu sekali pukul dia sudah membunuh bajak-bajak ini.
Agaknya Hong Kui dapat mengerti juga akan kegemasan hati Tek Hoat dengan melihat wajah dan sinar
matanya, maka dia lalu berkata, “Dia ini adalah sahabatku yang akan menjadi tamu agung kalian. Jangan
kau main-main, Lo Kwa, dialah yang berjuluk Si Jari Maut!”
“Ahhhhh...?” Agaknya orang she Kwa ini sudah pernah mendengar julukan ini, maka dia memandang
dengan mata terbelalak dan mukanya berubah pucat.
“Maaf, kami tidak tahu...,“ katanya.
“Sudahlah, mari kita jalan,” kata Tek Hoat tidak sabar.
Di sepanjang perjalanan memasuki hutan itu, dengan ramahnya Hong Kui bercakap cakap dengan orang
she Kwa dan beberapa orang anak buah bajak yang muda-muda, beramah-tamah dan kadang-kadang
mereka berkelakar dengan omongan-omongan yang kotor sehingga Tek Hoat merasa makin muak.
Tibalah mereka kini di tengah hutan yang berada di tepi tebing yang agak tinggi. Dari sini nampak Teluk
Po-hai terbuka luas di depan. Memang tempat ini merupakan tempat yang paling indah dan juga paling
tepat untuk dijadikan sarang para bajak laut itu karena dari tepi tebing mereka dapat melihat keadaan di
seluruh Teluk Po-hai, melihat perahu-perahu yang seperti semut-semut kecil hitam di teluk itu. Dari sini
mereka dapat melihat dan mengenal kapal-kapal besar yang patut mereka hadang dan mereka bajak, juga
mereka dapat mengadakan pengawasan terhadap anak buah mereka. Tempat yang amat cocok untuk
menjadi sarang bajak laut.
Bajak laut itu terdiri dari tiga puluh orang lebih, dipimpin oleh dua orang kakak beradik yang disebut twaong
dan ji-ong sebagai ketua atau raja pertama dan kedua. Mereka itu bernama Ma Khong dan Ma Ti Lok,
dua orang kakak beradik yang bertubuh tinggi besar, kokoh kuat, dan memiliki ilmu golok yang cukup hebat
sehingga mereka sejak belasan tahun telah terkenal sebagai kepala-kepala bajak yang ditakuti dan
disegani. Kini mereka hanya mau membajak kapal-kapal asing, tidak mau mengganggu perahu perahu
nelayan dan pedagang pedalaman karena mereka tidak berani menghadapi hukuman pemerintah. Akan
tetapi hal ini malah menguntungkan mereka karena para pedagang dan nelayan tidak segan-segan untuk
‘membagi hasil keuntungan’ kepada mereka asal para bajak itu tidak mengganggu pekerjaan mereka itu.
Ketika melihat munculnya Hong Kui, Ma Khong dan Ma Ti Lok menjadi gembira bukan main, demikian pula
para anak buah mereka. Tek Hoat dapat mudah saja menduga bahwa di antara Hong Kui dan dua orang
kakak beradik yang gagah dan cukup tampan itu tentu terdapat hubungan gelap, dan juga dengan banyak
anak buah mereka termasuk orang she Kwa tadi.
Dugaan itu memang benar. Lauw Hong Kui adalah seorang wanita yang gila laki-laki, seorang wanita yang
diperhamba oleh nafsu birahinya sehingga menjadi tidak normal lagi. Dia merasa tersiksa kalau terlalu
lama tidak ditemani pria, maka ketika dia melakukan perjalanan bersama Tek Hoat yang tidak mau
melayaninya, dia merasa amat tersiksa.
Dan wanita yang seperti iblis betina ini memiliki kebiasaan yang mengerikan pula, yaitu dia akan
membunuh setiap orang pria yang sudah memuaskannya semalam suntuk, yaitu pria yang asing baginya
karena dia tidak mau kalau pria itu akan menceritakan semua pengalamannya dan membuat namanya
sebagai seorang wanita tercemar. Akan tetapi, tentu saja dia tidak akan membunuh pria-pria yang menjadi
sahabatnya, yang akan merahasiakan dan menjaga namanya seperti para bajak yang telah menjadi
teman-temannya sejak belasan tahun yang lalu ini.
Ada pula yang dibunuhnya secara tidak disengaja, yaitu kalau dia bertemu dengan seorang pria yang
benar-benar memuaskan hatinya dan amat menyenangkannya sehingga dia akan terus merayu pria ini,
dan memaksanya bermain cinta sampai pria itu tewas! Dan dengan ilmunya yang luar biasa, Siluman
Kucing ini bisa saja memaksa pria melayani dan memuaskan nafsunya yang tak kunjung padam itu sampai
pria itu mati.
Ketika Hong Kui memperkenalkan Ang Tek Hoat sebagai Si Jari Maut, dua orang kepala bajak itu bersikap
hormat kepada pemuda ini. Mereka kemudian mengadakan pesta perjamuan untuk menyambut
kedatangan Hong Kui dan Tek Hoat. Mereka makan minum dengan gembira dan beberapa kali Tek Hoat
dunia-kangouw.blogspot.com
memberi isyarat kepada Hong Kui untuk cepat menceritakan maksud kedatangan mereka. Akan tetapi
Hong Kui akhirnya berbisik kepadanya, “Tidak perlu tergesa-gesa, nanti setelah makan minum selesai.”
Tek Hoat merasa mendongkol, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat memaksa. Setelah ruangan itu
dibersihkan dan mereka duduk mengobrol, barulah Hong Kui berkata kepada dua orang kepala bajak itu,
“Twa-ong dan Ji-ong, sebetulnya kedatangan kami ini selain terdorong oleh rasa rindu hatiku terhadap
semua teman di sini, juga kami bermaksud minta bantuanmu untuk urusan sahabatku Si Jari Maut ini,
urusan yang amat penting.”
Ma Khong dan Ma Ti Lok memandang kepada Tek Hoat penuh perhatian. Pemuda sakti ini pun balas
memandang mereka. Ma Khong adalah seorang laki-laki bertubuh besar dan agak pendek, usianya kurang
lebih empat puluh tahun, matanya lebar dan memiliki kumis lebat. Adiknya, Ma Ti Lok, berusia tiga puluh
lima tahun, tubuhnya kekar dan jangkung, mukanya bersih tak ada brewoknya karena tercukur rapi,
rambutnya panjang dan hitam dijalin menjadi kuncir besar. Seperti juga kakaknya, tubuhnya berotot dan
nampaknya kuat sekali.
Di lain pihak, kedua orang kepala bajak itu memandang Tek Hoat dengan ragu-ragu, karena mereka
merasa sukar untuk percaya apakah pemuda yang kelihatan amat muda dan lemah ini benar-benar Si Jari
Maut yang demikian menggemparkan? Tentu saja mereka bukan tidak percaya bahwa mungkin saja
seorang pemuda yang kelihatan lemah memiliki kepandaian hebat, karena mereka tahu bahwa Lauw Hong
Kui, seorang wanita yang cantik jelita itu pun kepandaiannya hebat bukan main, masih jauh melebihi
kepandaian mereka sendiri.
“Urusan apakah itu, Lihiap?” tanya Ma Khong akhirnya sambil memandang wanita itu.
“Ketahuilah, Ang-taihiap ini mempunyai seorang sahabat baik, seorang wanita yang terculik dan karena
penculiknya membawanya ke daerah Po-hai, maka kami minta bantuan kalian untuk merampas kembali
sahabat Ang-taihiap ini.”
Dua orang kepala bajak itu saling pandang, lalu tersenyum lebar dan berkatalah Ma Khong. “Ahhh, itu
urusan kecil sekali, Lihiap. Tentu saja kami mau membantu. Siapakah penculik itu yang berani mati sekali,
berani mengganggu sahabat Si Jari Maut, padahal ada Lihiap pula di samping Si Jari Maut?”
“Jangan bilang bahwa urusan ini kecil, Twa-ong, sebelum kalian mengetahui siapa penculik itu.”
“Siapakah dia?” tiba-tiba Ma Ti Lok bertanya sambil memandang tajam penuh selidik.
“Kalau orang biasa, agaknya kami tidak perlu minta bantuan kalian. Menurut dugaanku, penculik itu bukan
laln adalah Hek-sin Touw-ong...“
“Ahhhhh...!” Dua orang Saudara Ma itu melonjak kaget dan bangkit berdiri dari bangku mereka dan muka
mereka berubah pucat. “Tidak mungkin...!”
“Apanya yang tidak mungkin? Dia yang menculik ataukah kalian yang membantu kami?” tanya Lauw Hong
Kui.
“Kedua-duanya...!” kata Ma Khong yang sudah duduk kembali dan dia belum pulih kembali ketenangannya
karena dia bersama adiknya benar-benar terkejut mendengar disebutnya nama Hek-sin Touw-ong Itu.
“Yang pertama, tidak mungkin Touw-ong sudi melakukan penculikan terhadap seorang wanita, dan
keduanya, andai kata benar dia yang melakukannya, tidak mungkin bagi kami untuk mencampurinya. Kami
selamanya tidak pernah dan tidak akan mencampuri urusan Touw-ongya karena locianpwe itu pun tidak
pernah mengganggu kami,” jelas bahwa Ma Khong kelihatan jeri sekali terhadap nama itu.
“Kalian tidak tahu siapa wanita yang diculiknya itu, Twa-ong dan Ji-ong. Dengarlah, wanita yang diculiknya
itu, sahabat dari Ang-taihiap ini, adalah seorang puteri dari Kerajaan Bhutan, bukan sembarang wanita
belaka. Baru-baru ini, puteri itu terjatuh ke tangan ketua Liong-sim-pang di puncak Naga Api di Lu-liangsan,
tempat yang amat kuat seperti benteng dan Liong-sim-pang dipimpin orang-orang pandai dan
mempunyai banyak sekali anak buah. Namun, seorang kakek mampu menculiknya dari tempat itu dan
jejaknya menuju ke pantai Po-hai. Siapa lagi kalau bukan Hek-sin Touw-ong yang melakukan penculikan
itu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ini, kedua orang kepala bajak itu saling pandang dan mengerutkan alis, berpikir keras.
“Agaknya tidak mungkin Touw-ong yang melakukan penculikan,” kata Ma Ti Lok. “Biar Touw-ongya dan
puterinya berilmu tinggi dan tentu saja bukan merupakan pantangan bagi mereka untuk mencuri apa saja
yang mereka sukai, namun agaknya tak masuk di akal kalau Touw-ongya menculik wanita, walau pun
wanita itu seorang puteri kerajaan sekali pun!”
“Benar,” kata pula Ma Khong. “Agaknya bukan dia...”
“Habis siapa lagi kalau bukan dia? Hanya dia seorang saja kakek berilmu tinggi yang berada di pantai Pohai,”
kata Hong Kui.
“Ah, bukan hanya dia,” kata Ma Khong. “Ada seorang lagi dan kurasa dia inilah yang melakukan
penculikan. Ya benar, tidak salah lagi. Tentu kakek aneh itu yang bertapa di tepi pantai sebelah ujung
utara, di tempat yang sangat sukar didatangi orang, yaitu di Goa Tengkorak.”
“Hemm, siapa dia?” tanya Hong Kui.
“Seorang kakek tua renta yang kabarnya aneh dan lihai bukan main, bahkan orang orang pernah melihat
dia menghilang seperti setan, dan... berjalan di atas air!”
“Bohong...!” kata Hong Kui.
“Mungkin bohong mereka itu, akan tetapi jelas bahwa kakek itu amat lihai, mungkin juga pandai bermain
sihir, dan karena kami pun tidak mengenal benar siapa dia dan orang macam apa adanya dia, maka besar
kemungkinan dialah yang melakukan penculikan,” kata Ma Khong.
“Kalian berdua tentu suka membantu kami, bukan? Kumaksudkan, membantu aku!” tanya Hong Kui sambil
mengerling tajam.
“Tentu... tentu...!” Mereka berdua menjawab serentak.
“Kalau begitu, harap kalian membawa anak buah dan mengantar kami mencari kakek aneh di Goa
Tengkorak itu untuk menyelidiki.”
“Baik,” jawab mereka.
“Dan jika kemudian ternyata bahwa bukan kakek aneh itu yang menculik Puteri Bhutan, kalian harus
membantu kami menyelidiki keadaan Hek-sin Touw-ong.”
“Akan tetapi... ini... ini...” Ma Khong dan Ma Ti Lok menjawab penuh keraguan dan jelas membayangkan
perasaan takut-takut.
“Kalian tak mau membantu aku?” Hong Kui mendesak dan kini senyumnya menantang.
“Kami tentu saja mau membantu Lihiap!” tiba-tiba Ma Ti Lok berkata.
“Benar, kami suka membantu Lihiap, dan harap Lihiap suka menghargai bantuan kami ini yang
sesungguhnya kami lakukan dengan nekat demi rasa sayang kami kepada Lihiap. Sungguh kami tidak
berani main-main terhadap Touw-ong, akan tetapi demi Lihiap... kami mau melakukan segalanya, asal
Lihiap tidak melupakan kami dan malam ini...“
Lauw Hong Kui tertawa. “Hi-hik, kalian sungguh bodoh! Pernahkah aku Lauw Hong Kui melupakan
kebaikan orang? Kalian adalah sahabat-sahabatku yang baik, dan aku sudah rindu kepada kalian. Akan
tetapi nanti kalau urusan ini sudah selesai dengan baik, tunggu saja dan lihatlah betapa aku adalah
seorang yang tahu terima kasih, yang mengenal budi dan kutanggung kalian berdua tidak akan menyesal
telah membantu aku. Akan tetapi nanti kalau sudah berhasil, karena malam ini... hemmm, aku ingin
dilayani oleh dia itu.” Tiba-tiba Lauw Hong Kui menuding ke arah seorang pelayan pria yang sejak tadi
memang menarik perhatiannya.
Tek Hoat ikut memandang bersama dua orang kepala bajak itu. Pria yang ditunjuk oleh Lauw Hong Kui itu
adalah seorang pria muda, usianya paling banyak enam belas tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar dan
wajahnya tidak tampan namun gagah dan membayangkan kejantanan. Dia berpakaian sederhana sebagai
dunia-kangouw.blogspot.com
seorang pelayan, namun kesederhanaan pakaiannya itu tidak menyembunyikan tubuhnya yang mulai
dewasa, kekar dan kuat. Sepasang matanya lembut dan sejak tadi dia memandang kepada Lauw Hong Kui
penuh kekaguman karena sudah banyak dia mendengar dari kawan-kawannya di tempat itu tentang
kehebatan wanita ini, hebat ilmu silatnya, hebat pula kepandaiannya merayu pria.
“Ah, si A-cun itu? Dia seorang yang baru di sini, baru belajar. Belum ada dua tahun dia ikut kami..., ehhh,
dia masih bodoh dan hijau...“
“Hi-hik, justeru kebodohan dan kehijauannya itu menarik hatiku dan malam ini dia akan melayani aku. Ada
pun kalian berdua, tunggu sampai selesai urusan yang kalian bantu, tentu kalian akan mendapatkan
bagian sepenuhnya.” Wanita itu lalu bangkit berdiri, menoleh kepada Tek Hoat dan berkata, “Tek Hoat, kau
bercakap-cakaplah dulu dengan mereka, aku akan pergi dan mengaso.” Dia lalu menghampiri pemuda
pelayan yang di sebut A-cun tadi, menggandeng tangannya dan berkata, “Marilah, kau tunjukkan aku di
mana bagian-bagian yang paling indah di daereh ini.”
Pelayan muda itu memandang dengan mata terbelalak, kelihatan bingung dan gugup, akan tetapi dia tidak
membantah ketika ditarik dan diajak pergi oleh Hong Kui, diikuti suara ketawa dua orang kepala bajak itu
yang memandang dengan mata mengandung iri.
Malam itu, Tek Hoat rebah di atas pembaringan dalam kamar tamu dengan hati gelisah memikirkan Syanti
Dewi. Benarkah kakek yang aneh seperti setan itu yang menculik kekasihnya? Ataukah si Raja Maling?
Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya ketika dia membayangkan keadaan Syanti Dewi yang menderita
bermacam kesengsaraan. Melakukan perjalanan jauh dari Bhutan, mungkin menyusulnya, dan tiba di
tangan orang-orang jahat, bahkan hampir dikawin oleh Hwa-i-kongcu secara paksa dan kini entah berada
di tangan siapa dan di mana dan bagaimana keadaannya. Semua ini terjadi karena ibunya yang muncul di
Bhutan!
Ahh, dia tidak akan menyalahkan ibunya yang telah meninggal. Ibunya yang meninggal dalam keadaan
demikian menyedihkan, terbunuh oleh orang dan sampai kini pun dia belum berhasil memecahkan rahasia
pembunuhan terhadap ibunya itu. Dia terpaksa menunda penyelidikannya ketika muncul persoalan Syanti
Dewi. Dia harus lebih dulu menyelamatkan kekasihnya itu, baru ia akan melanjutkan usahanya mencari
pembunuh ibunya.
Malam itu sunyi sekali di hutan itu. Akan tetapi bagi para anggota bajak yang beringas di malam hari itu
dan mengadakan penjagaan di sekitar sarang mereka, kadang-kadang mereka itu mendengar suara yang
aneh, suara seperti rintihan seekor kucing, yang terdengar jauh di luar hutan itu. Mereka hanya saling
berbisik-bisik dan tertawa, akan tetapi tidak berani mendekati tempat dari mana suara itu terdengar, karena
mereka maklum bahwa itulah suara Siluman Kucing yang sedang mempermainkan korbannya, yaitu A-cun
yang masih muda remaja itu.
Baru pada keesokan harinya, setelah mereka melihat Mauw Siauw Mo-li dengan wajah berseri dan segar,
rambut kusut dan bibir tersenyum datang menggandeng A-cun, mereka para penjaga itu, atas isyarat
wanita itu, menghampiri dan mereka memapah A-cun yang keadaannya payah, hampir pingsan, pucat dan
seperti orang mabuk itu. Mereka cepat menggotong pemuda remaja itu ke kamarnya dan membiarkan
pemuda remaja itu tidur setelah memaksa pemuda itu minum obat yang diberikan Mauw Siauw Mo-li.
Tek Hoat yang mendengar akan hal ini sama sekali tidak mengambil peduli. Begitu dia terbangun dan
membersihkan badan, dia lalu mencari dua orang kepala bajak itu dan bertanya tentang usaha mereka
menyelidiki ke Goa Tengkorak. Ternyata Hong Kui sudah siap pula bersama dua orang kepala bajak. Biar
pun semalam suntuk tidak tidur, wanita itu kelihatan segar dan wajahnya berseri, bibirnya tersenyum, dan
hanya mukanya agak pucat. Dia telah memperoleh kepuasan setelah berhari-hari melakukan perjalanan
bersama Tek Hoat, setelah banyak malam dilewatkan dengan gelisah sendirian tanpa kawan, dan ternyata
pemuda remaja anak buah bajak itu bukan hanya memenuhi harapannya, bahkan melampaui yang
diharapkannya sehingga dia merasa gembira dan puas.
Mereka melakukan perjalanan berempat dan agar dapat melakukan perjalanan cepat, Ma Khong dan Ma Ti
Lok mengajak mereka naik perahu dan menyusuri tepi pantai menuju ke utara. Ketika perahu itu melewati
tebing yang amat tinggi, Ma Khong menuding ke atas tebing dan berkata, “Di sanalah tempat tinggal Heksin
Touw-ong. Tidak kelihatan dari sini, di atas tebing itu terdapat sebuah rumah gedung yang menjadi
tempat tinggalnya. Terus terang saja, kami sendiri belum pernah pergi ke tempat itu. Siapa pula orangnya
yang berani mendekati tempat tinggal Touw-ongya? Mudah mudahan saja dugaan kami benar bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
kakek aneh di ujung pantai itu yang menculik Puteri Bhutan itu sehingga kita tidak perlu mendatangi Touwong.”
Setelah hari menjadi sore, baru mereka mendarat di ujung utara dari pantai teluk itu dan mereka menuju ke
daerah yang penuh dengan batu dan goa, daerah yang merupakan tebing dan pegunungan batu kapur.
Tidak lama kemudian, tibalah mereka di depan sebuah goa yang bentuknya memang seperti tengkorak
manusia, goa yang sangat menyeramkan. Akan tetapi sunyi saja di tempat itu dan ketika mereka
memasukinya, mereka mendapatkan goa itu kosong. Memang ada tanda-tanda bahwa goa itu pernah
ditinggali manusia, bahkan agaknya belum lama penghuninya meninggalkan tempat itu.
Mereka memeriksa Goa Tengkorak itu dan tiba-tiba Tek Hoat berdiri termenung di depan dinding goa
sebelah kiri, memandang dan membaca tulisan yang diukir dengan indahnya di dinding batu itu. Dia
melihat guratan-guratan huruf kecil-kecil itu dengan teliti dan diam-diam dia merasa kagum karena dari
bekasnya dia dapat menduga bahwa orang itu menggurat-guratkan jari tangannya untuk menuliskan hurufhuruf
itu! Dia membaca dengan hati tertarik.
‘Sayang, sungguh amat sayang…, belum pernah aku bertemu seseorang yang setelah melihat kesalahan
sendiri, lalu benar-benar menyesalkan kesalahannya itu dan benar benar memperbaiki dirinya sendiri!’
Tek Hoat membaca tulisan itu berkali-kali dan termenung. Dia merasa seperti pernah mendengar kata-kata
itu, akan tetapi karena pelajarannya tentang sastra memang tidak begitu mendalam, maka dia lupa lagi di
mana dan bilamana.
“Hi-hi-hik, orang tolol yang menuliskan itu. Mana di dunia ini ada orang yang mampu melihat kesalahan
sendiri?”
Akan tetapi Tek Hoat tidak mempedulikan ejekan Mauw Siauw Mo-li itu dan dia malah termenung. Keluhan
orang yang menuliskan kata-kata di dinding batu itu memang merupakan kenyataan. Adalah mudah
melihat kesalahan sendiri, akan tetapi sukarlah untuk memperbaiki diri sendiri sungguh pun dari
penglihatan itu selalu timbul penyesalan. Sesungguhnya, tulisan itu adalah petikan dari ujar-ujar dalam
kitab Lun Gi bagian kelima dan pasal kedua puluh tujuh, ujar-ujar dari Nabi Khong Cu dan kata-kata itu
berasal dari Nabi Khong Cu sendiri.
Memang sudah menjadi kebiasaan kita untuk merasa menyesal setelah kita melihat kesalahan sendiri.
Akan tetapi, biasanya penyesalan itu bukan datang karena benar benar kita menyadari akan kesalahan
sendiri, melainkan penyesalan yang timbul karena akibat buruk yang timbul karena kesalahan perbuatan
kita itu! Jadi, sama sekali bukan penyesalan akan perbuatan kita yang salah, melainkan penyesalan karena
kita dirugikan oleh perbuatan itu sebagai akibatnya.
Misalnya, kita melakukan sesuatu perbuatan yang salah, yaitu mencuri. Akibatnya, kita tertangkap dan
dihukum. Menyesallah kita, akan tetapi penyesalan ini timbul karena JATUHNYA HUKUMAN itulah atas diri
kita. Oleh karena keadaan seperti inilah maka di lain kesempatan, kita dapat saja mengulangi perbuatan itu
asal saja tidak terlihat ancaman hukumannya. Itulah sebabnya maka Nabi Khong Cu tidak pernah melihat
orang yang melihat kesalahan sendiri lalu benar-benar menyesalkan perbuatannya dan benar-benar
memperbaiki dirinya sendiri. Perbaikan diri sendiri yang dimaksudkan TIDAK MENGULANGI lagi
perbuatannya yang salah itu.
Mempelajari atau menghafal ayat-ayat suci saja sesungguhnya tidak ada artinya sama sekali bagi jalannya
kehidupan. Yang penting adalah menyelami sedalam-dalamnya segala hal yang berhubungan dengan
kahidupan kita. Kalau kita melakukan suatu kesalahan tidak hanya cukup untuk disesalkan saja, melainkan
kita hadapi secara menyeluruh. Kita selidiki diri kita sendiri mengapa kita melakukan kesalahan itu, apa
yang mendorongnya dan apa yang menimbulkan terjadinya hal itu. Kalau kita selalu waspada akan gerakgerik
diri sendiri setiap saat, maka akan timbul kesadaran yang menyeluruh, bukan kesadaran sepintas lalu
yang didapat dari membaca ayat.
Kesadaran membaca ayat hanya terbatas pada saat membaca ayat itu saja, untuk kemudian dilupakan lagi
sehingga di waktu kita memikirkan atau melakukan sesuatu menurut pikiran, ayat-ayat itu sama sekali
terpendam dan terlupa. Dan biasanya, ayat ayat itu yang kesemuanya amat muluk-muluk dan baik, hanya
teringat oleh kita kalau kita ingin menasehati orang lain saja, sebaliknya sama sekali terlupa kalau kita
melakukan segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Ayat-ayat itu seperti nyanyian-nyanyian
merdu yang hanya mampu menggerakkan hati nurani kita pada saat kita mendengarnya atau
dunia-kangouw.blogspot.com
membacanya, dan apakah artinya itu bagi kehidupan kita kalau hanya dinikmati sepintas lalu saja tanpa
adanya PENGHAYATAN DALAM HIDUP?
Mengetrapkan ayat-ayat suci di dalam kehidupan sehari-hari pun hanya merupakan kepalsuan yang
dipaksa-paksakan belaka, mungkin dengan tujuan agar kita dipuji, agar kita menjadi orang baik dan
sebaiknya. Kebaikan tidak mungkin dilatih, karena kalau kebaikan itu muncul karena dilatih, maka dia
bukan kebaikan lagi melainkan kepalsuan. Kebaikan adalah kewajaran, tidak dilatih tidak dibuat-buat, tidak
mencontoh ini atau itu, melainkan keadaan bebas dari kekotoran. Kalau kebusukan-kebusukan sudah tidak
ada maka muncullah kebaikan, wajar seperti kalau awan-awan gelap sudah sirna maka nampaklah sinar
matahari. Melatih kebaikan hanya akan menciptakan manusia-manusia munafik.
Yang penting, mengenal diri sendiri lahir batin, mengenal kekotoran-kekotoran dan kebusukan-kebusukan
diri sendiri dengan mengamatinya setiap saat, dengan waspada setiap saat akan segala gerak-gerik lahir
batin diri sendiri. Pengamatan seperti ini adalah tanpa pamrih sama sekali, tanpa pengejaran akan sesuatu,
tanpa ingin menjadi baik, tanpa adanya aku yang berpamrih, tanpa adanya aku yang mengejar dan
menginginkan apa pun. Yang ada hanya batin mengamati diri sendiri, gerak-geriknya setiap saat yang
menimbulkan segala macam perbuatan, tanpa ada keinginan mengubah, memperbaiki, mengendalikan,
dan keinginan-keinginan ini tentu tidak ada kalau YANG MENGAMATI tidak ada pula!
Sampai lama mereka berempat memeriksa keadaan di dalam goa Tengkorak, akan tetapi tetap saja
mereka tidak menemukan sesuatu. Tidak ada bekas-bekas yang menunjukkan bahwa Syanti Dewi pernah
berada di dalam goa itu.
“Jelas bahwa bukan penghuni goa ini yang menculiknya. Tentu Hek-sin Touw-ong!” kata Tek Hoat.
“Kalau begitu kita akan menyelidiki ke rumah Raja Maling itu,” kata Mauw Siauw Mo-li.
Dua orang Saudara Ma itu kelihatan gentar. “Kalau begitu kita sebaiknya pulang dulu, kami akan
mengerahkan anak buah kami.”
“Tidak perlu,” kata Tek Hoat sambil mengerutkan alisnya. “Kita berempat sudah cukup. Kalian hanya
menunjukkan saja jalan menuju ke gedung itu, setelah bertemu dengan Hek-sin Touw-ong, serahkan saja
kepadaku untuk menghadapinya.”
“Tapi... tapi dia amat sakti, dan puterinya juga amat lihai. Kami... kami tidak berani. Kalau engkau gagal,
Taihiap, kami pun tentu akan celaka.”
“Jangan takut, Twa-ong. Ang-taihiap cukup kuat untuk menghadapi Touw-ong, dan selain itu ada aku di
sini, bukan?” kata Hong Kui. Karena takut kepada wanita itu, akhirnya dua orang itu terpaksa menurut.
Malam itu mereka bermalam di dalam goa Tengkorak.
Hong Kui tidak mempedulikan dua orang kepala bajak yang membuat api unggun di dalam goa itu. Dia
mendekati Tek Hoat dan berusaha merayu pemuda ini. Akan tetapi Tek Hoat menjadi merah mukanya dan
marah. Hampir saja dia memukul wanita tak tahu malu itu dan akhirnya dia keluar, lebih suka tidur di luar
goa yang dingin dari pada di dalam goa di mana dia menghadapi godaan Hong Kui yang amat
mengganggunya.
Tak lama kemudian dia mendengar suara dua orang kepala bajak itu tertawa-tawa, dan menjelang tengah
malam, kembali dia mendengar rintihan suara kucing itu yang amat memuakkan hatinya. Dia pergi
menjauh dari goa, tidur di antara batu-batu karang, menerawang ke langit yang penuh bintang dan
mengenangkan semua kehidupannya yang telah lalu. Timbul perasaan malu di dalam hatinya.
Teringat akan tulisan di dinding batu, sekarang dia melihat betapa dia telah memenuhi kehidupan yang lalu
dengan segala hal yang amat memalukan dan jahat. Betapa dia dapat mengubah itu semua setelah dia
bertemu dengan Syanti Dewi, bahkan di Bhutan dia telah menjadi seorang terhormat, sebagai panglima
dan calon suami Syanti Dewi. Cinta kasihnya terhadap Syanti Dewi selain membuat dia hidup bahagia,
juga membuat dia hidup bersih, jauh dari pikiran kotor sama sekali. Bahkan dia mulai menganggap dirinya
berharga dan patut menjadi cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es dan menjadi calon suami Syanti
Dewi yang berbudi mulia.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi terjadi perubahan. Dia terusir dengan cara yang amat merendahkan dari Bhutan. Dia lalu
meninggalkan Syanti Dewi dan kebahagiaannya hancur, kehidupannya hancur dan hatinya juga remukredam.
Dia menjadi tidak peduli akan kehidupannya, apa lagi setelah melihat ibunya terbunuh. Dia tidak
peduli lagi apakah dia hidup melalui jalan kotor atau bersih. Dia tidak peduli!
Akan tetapi sekarang, kembali dia terombang-ambing antara kehancuran hidupnya dan pertemuannya
kembali dengan Syanti Dewi. Bagaimana jika mereka bertemu kembali? Apakah dia masih berharga untuk
puteri itu? Apakah puteri itu dapat mencintanya? Dia mulai merasa menyesal! Penyesalan yang timbul
karena kekhawatirannya akan kehilangan Syanti Dewi lagi! Dia telah melalui jalan kotor dan sesat!
Dengan hati gelisah, akhirnya dia dapat pulas juga dan dapat-lapat seperti dalam mimpi dia mendengar
rintihan suara kucing itu yang amat dibencinya. Dia sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan
dirinya diseret ke dalam lumpur kehinaan oleh Mauw Siauw Mo-li! Dia harus membuktikan bahwa dirinya
masih berharga untuk mencinta Syanti Dewi!
********************
“Suhu, lihat apa yang kudapatkan ini!” Ang-siocia atau Kang Swi Hwa berkata bangga di depan kakek itu
sambil membuka buntalan besar yang dibawanya masuk ke dalam gedung besar di tebing itu, buntalan
yang tadi diseret masuk oleh dua orang pelayan yang menyambut kedatangannya bersama beberapa
orang pelayan lain.
Rumah itu merupakan gedung besar dan sama sekali tidak pantas menjadi rumah seorang yang berjuluk
Raja Maling! Rumah itu teratur rapi, biar pun tidak terlalu mewah namun amat menyenangkan dengan
hiasan-hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan huruf-huruf indah. Pot-pot kembang kuno menghias di
sudut-sudut ruangan, lantainya bersih dan kesemuanya menunjukkan bahwa rumah itu terpelihara dan
penghuninya suka akan kebersihan.
Ada kurang lebih sepuluh orang pelayan bekerja di luar dan dalam rumah, kesemuanya walau pun
berpakaian pelayan namun sebetulnya adalah anak buah Hek-sin Touw-ong dan mereka terdiri dari orangorang
yang memiliki kepandaian silat tinggi dan ilmu mencuri yang lihai. Akan tetapi tentu saja sekarang
mereka tidak lagi mencuri, setelah menjadi anak buah dan pelayan dari Raja Maling itu.
Kakek yang berjuluk Hek-sin Touw-ong itu adalah seorang lakl-laki tua berusia enam puluh tahun lebih.
Mukanya hitam seperti dicat, sesuai dengan julukannya si Raja Maling Bermuka Hitam. Sebenarnya, sudah
sejak bertahun-tahun yang lalu kakek ini menjalankan pekerjaannya sebagai Raja Maling, yaitu ketika dia
masih beroperasi di perbatasan Ho-nan dan Ho-pei. Namanya amat terkenal di daerah itu dan semua
kaum pencuri tunduk kepadanya dan menganggapnya sebagai datuk atau raja.
Karena kepandaiannya yang hebat, dan oleh karena semua pencuri menganggapnya sebagai raja,
kemudian karena mukanya hitam, maka dia memperoleh julukan Hek-sin Touw-ong. Akan tetapi
sesungguhnya dia bukanlah maling sembarang maling! Dia hanya mau melakukan pencurian di dalam
istana-istana saja! Dan biar pun mukanya hitam, ternyata hatinya tidaklah sehitam mukanya.
Kakek yang terkenal dengan julukan Raja Maling ini terkenal dermawan dan suka menolong orang-orang
yang menderita kekurangan dan kesengsaraan. Pernah dia mencuri satu peti besar terisi ratusan tail uang
emas milik gubernur di Ho-nan dan menggunakan seluruh uang itu untuk membeli ratusan ton gandum
untuk dibagikan kepada rakyat yang kelaparan di daerah lembah Huang-ho di perbatasan antara Ho-nan
dan Ho-pei pada saat Sungai Huang-ho mengamuk dan membanjiri! Perbuatannya ini menimbulkan
kegemparan. Selain dia dimusuhi oleh para pembesar, juga perbuatannya itu menimbulkan rasa kagum
dalam hati para pendekar.
Ketika kakek itu mendengar akan kedatangan muridnya, dia cepat keluar menyambut di ruangan tengah
dengan wajah berseri-seri. Kakek ini amat sayang kepada muridnya, bahkan murid itu juga sekaligus
menjadi anak angkatnya, sungguh pun Swi Hwa masih belum dapat mengubah sebutan ‘suhu’ kepadanya.
Sudah berbulan-bulan muridnya pergi merantau, dan kini muridnya pulang dan membawa ‘oleh-oleh’ yang
demikian banyaknya. Ketika buntalan dibuka dan kakek itu melihat tumpukan perhiasan emas permata,
uang dan juga kitab-kitab, dia terbelalak dan menatap wajah muridnya dengan alis berkerut.
“Swi Hwa, apa yang telah kau lakukan? Dari mana engkau memperoleh semua benda berharga ini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun dia berjuluk Raja Maling, akan tetapi kakek ini selalu melarang muridnya untuk melakukan
pencurian, apa lagi pencurian kecil-kecilan yang akan merendahkan nama mereka, sungguh pun muridnya
sudah pandai sekali dalam hal ilmu mencuri dan ilmu menyamar.
Gadis itu tertawa. “Suhu, harap jangan mengira, bahwa aku sembarangan saja mencuri segala macam
benda. Benda-benda ini bukan benda-benda sembarangan, juga bukan milik orang-orang sembarangan
pula.”
“Hemmm, kantung itu terisi uang tidak berapa banyak dan kau bilang bahwa itu bukan benda
sembarangan?” Gurunya mencela dan menegur.
“Benar, Suhu. Hanya sekantung uang yang tidak berharga. Akan tetapi tahukah Suhu dari siapa aku
mengambil kantung ini? Hemmm, Suhu tentu tidak akan pernah dapat menerkanya. Kantung ini kuambil
dari buntalan yang dibawa oleh pendekar Siluman Kecil!”
“Wahhhhh...!” Suhu-nya terbelalak dan memandang kepada muridnya dengan heran.
Tentu saja dia sudah mendengar akan nama pendekar yang baru muncul dalam waktu beberapa tahun ini,
yang namanya amat terkenal di antara para tokoh besar dunia hitam, bahkan amat disegani. Dia pernah
mendengar betapa ilmu kepandaian pendekar Siluman Kecil itu amat hebat dan kini muridnya berani
mencopet kantung uangnya!
Melihat kekagetan dan keheranan suhu-nya, Swi Hwa menjadi bangga dan senang, maka dia lalu
menuding ke arah peti terbuka yang terisi barang-barang perhiasan emas permata.
“Dan Suhu lihat peti itu! Isinya adalah harta pusaka dari keluarga yang amat terkenal pula. Keluarga
panglima besar kota raja, Jenderal Kao Liang!”
“Ehhh...?” Sepasang mata Raja Maling itu semakin terbelalak lebar ketika mendengar laporan itu.
Nama Jenderal Kao malah lebih terkenal lagi dari pada nama Siluman Kecil. Siapa yang tidak mengenal
nama jenderal yang amat hebat itu? Baru mendengar namanya saja orang menjadi gentar dan segan, akan
tetapi muridnya ini berani mencuri harta pusaka keluarga jenderal itu!
Hati Swi Hwa semakin besar dan bangga. “Dan kitab-kitab ini, Suhu. Tentu Suhu tidak akan dapat menerka
dari mana aku mencurinya. Kitab-kitab ini adalah milik si tua renta yang amat lihai itu, Sin-siauw Sengjin...“
“Apa...?!” Sekali ini kakek itu hampir berteriak dan mukanya berubah, lalu tiba-tiba dia tertawa bergelak dan
membuka-buka kitab itu. “Ha-ha-ha-ha-ha! Lucu...! Lucu sekali! Muridku, anakku, hayo cepat kau ceritakan
bagaimana engkau dapat melakukan semua itu, terutama sekali kitab-kitab palsu ini!”
“Palsu?” Swi Hwa mengerutkan alisnya. “Bagaimana Suhu tahu bahwa ini palsu? Aku mengambilnya
langsung dari rumah Sin-siauw Sengjin sendiri setelah dia dikalahkan oleh Siluman Kecil.”
Kembali kakek itu terkejut. “Sin-Siauw Sengjin dikalahkan oleh Siluman Kecil? Bagai mana pula itu? Ahhh,
Swi Hwa, ceritakan... ceritakan...!”
Melihat kegembiraan gurunya, Swi Hwa lalu menceritakan semua pengalamannya. Mula-mula dia
menceritakan tentang keluarga Jenderal Kao Liang yang membawa keluarganya pulang ke kampung
halamannya di selatan, kemudian betapa muncul beberapa kelompok gerombolan yang hendak
membunuh dan hendak merampok keluarga itu. Dalam keributan ketika para kelompok gerombolan itu
saling bertempur sendiri, dia lalu menggunakan kesempatan itu untuk merampas peti terisi harta pusaka itu
dan melarikannya. Kemudian dia menceritakan tentang penyamarannya sebagai tukang penjual sepatu
dan berhasil mencopet kantung uang milik Siluman Kecil, dan akhirnya dia menceritakan pula bagaimana
dia telah mencuri kitab-kitab pusaka milik Sin-siauw Sengjin. Akan tetapi tentang dia masuk menjadi
pengawal Gubernur Ho-nan dan tentang rahasianya yang terbuka oleh Siauw Hong, dia sama sekali tidak
berani menceritakan kepada suhu-nya.
Kakek itu mendengarkan penuturan muridnya dan berkali-kali dia berseru kagum. Apa lagi ketika dia
mendengar tentang pertandingan antara Siluman Kecil dan Sin-siauw Sengjin sampai kakek Suling Sakti
itu kalah, berulang kali dia mengeluarkan suara heran dan memuji. “Hebat... hebat sekali orang muda yang
berjuluk Siluman Kecil itu. Tadinya kukira bahwa Sin-siauw Sengjin tidak ada lawannya. Kiranya dia kalah
dunia-kangouw.blogspot.com
oleh seorang pemuda. Ha-ha-ha-ha!” Kelihatan kakek ini girang sekali mendengar tentang kekalahan
Suling Sakti itu.
“Suhu, tadi Suhu mengatakan bahwa kitab-kitab ini palsu, padahal Suhu sendiri belum memeriksanya
dengan teliti. Benarkah itu?”
“Ha-ha, tentu saja, Swi Hwa. Aku sudah mengenal baik siapa kakek tua bangka itu! Kalau kitab-kitab
peninggalan Suling Emas dapat dicuri orang begitu saja, tentu ilmu ilmu itu tidak akan menjadi rahasia
sampai sekarang. Kau boleh bakar kitab-kitab itu, karena semua itu palsu, apa lagi kalau telah dia
tinggalkan begitu saja.”
“Betapa pun juga, aku telah merampasnya dari dalam rumahnya, Suhu.”
“Ha-ha-ha, itulah yang sangat menggirangkan hatiku. Kalau saja dia mendengar bahwa rumahnya
kemasukan maling dan maling itu adalah engkau, muridku, ha-ha-ha... ingin aku melihat mukanya, ha-haha!”
Kakek itu tertawa-tewa, akhirnya lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, “Muridku, anakku, apa
yang telah kau lakukan ini benar-benar hebat dan amat mengagumkan hatiku. Aku girang dan puas
mempunyai murid seperti engkau. Tetapi engkau telah bermain-main dengan api, anakku. Kurasa
perbuatanmu ini akan berekor dan siapa tahu akan ada orang-orang pandai yang mencarimu di sini untuk
merampas kembali benda-benda ini. Oleh karena itu, sebaiknya kalau kita segera menyembunyikan di
tempat aman.”
“Di goa rahasia di tebing?”
Kakek itu mengangguk dan mereka lalu membawa benda-benda itu ke tepi tebing, lalu mereka merayap
turun melalui tebing yang sangat curam itu dan menyembunyikan benda-benda itu di dalam sebuah goa di
tebing yang tertutup oleh batu dan tumbuh tumbuhan sehingga kalau bukan mereka yang sudah mengenal
tempat itu, kiranya tidak mungkin orang lain akan dapat mencari dan menemukan tempat itu.
Malam itu, di meja makan, Swi Hwa dengan hati-hati lalu menceritakan pengalamannya kepada gurunya.
Tanpa menyinggung perasaan hatinya yang mula-mula tertarik kepada Siluman Kecil, dia akhirnya
menceritakan juga tentang petualangannya saat memasuki sayembara di Ho-nan.
“Ehhh, Swi Hwa, apa yang kau lakukan itu? Mau apa engkau memasuki sayembara untuk menjadi
pengawal?” tegur gurunya.
Swi Hwa memang amat dimanja oleh gurunya ini dan sejak kecil dia menganggap gurunya sebagai ayah
sendiri. Oleh karena inilah, maka biar pun ketika datang tadi dia tidak berani bercerita tentang semua itu,
namun akhirnya dia bercerita juga karena dia tidak dapat menahan semua itu di dalam hatinya dan dia
tidak mempunyai orang lain untuk diajak bicara.
“Suhu, aku hanya ingin meluaskan pengalaman saja. Apa lagi aku terbawa oleh orang orang lain yang
melakukan perjalanan bersamaku. Dan Siluman Kecil juga melakukan perjalanan bersama, maka aku pun
ingin memperlihatkan kepandaian.”
“Hemmm... kau seorang wanita sungguh terlalu berani beraksi di depan umum.” Lalu dia memandang
tajam. “Apakah sebabnya maka kau ingin agar orang-orang mengetahui kepandaianmu?”
“Suhu, tentu saja dengan maksud untuk mengangkat nama Suhu!”
“Ehhh, bocah lancang! Apa kau mengaku bahwa kau muridku?”
Ditegur begitu oleh gurunya, Swi Hwa terkejut. “Aku... aku... hanya mengaku sebagai wakil Suhu dalam
pertemuan di lembah Huang-ho...“
“Itu memang atas kehendakku. Engkau kusuruh mewakili aku menghadiri pertemuan itu di sana. Akan
tetapi tidak di tempat umum!”
“Suhu, maafkan, aku... aku hanya mengakui nama dan nama Suhu di depan... ehhh, Siluman Kecil ketika
aku mengambil kitab-kitab Sin-siauw Sengjin.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Gurunya menarik napas panjang. “Kau sungguh mencari penyakit. Nah, karena sudah terlanjur, bagaimana
nanti sajalah, akibatnya kita hadapi bersama. Lanjutkan ceritamu.”
Setelah mulai menuturkan tentang sayembara itu, Swi Hwa tentu saja tidak dapat menutupi apa-apa lagi
dan kata-kata pun mulai lancar keluar dari mulutnya. Dibukanya segala peristiwa itu kepada suhu-nya.
Betapa dia terlibat dalam urusan perebutan Pangeran Yung Hwa yang ditawan oleh Gubernur Ho-nan,
betapa dia terpukul oleh Siluman Kecil.
“Ahhh, engkau benar-benar sembrono sekali, muridku. Untung engkau tidak sampai terpukul mati oleh
pendekar itu,” kata kakek itu dengan mata terbelalak, terheran-heran akan petualangan muridnya yang
berani itu.
Swi Hwa lalu menceritakan bahwa perkelahian itu membuat dia tidak suka lagi tinggal di gubernuran, apa
lagi karena teman-temannya telah pergi, yaitu si gagu yang ternyata adalah kakak sendiri dari Siluman
Kecil, Siauw Hong, Siluman Kecil dan seorang kakek gagah perkasa yang dia mendengar dari para
pengawal adalah seorang tokoh bernama Sai-cu Kai-ong yang memimpin pasukan untuk menyelamatkan
Pangeran Yung Hwa.
Mendengar nama ini, Hek-sin Touw-ong menjadi makin heran, matanya terbelalak dan dia berseru, “Sai-cu
Kaiong...? Ahhh... betapa aneh dan kebetulan...!”
”Apa maksudmu, Suhu?”
Gurunya menarik napas panjang. “Tidak apa-apa, aku kenal dengan tua bangka itu, kelak engkau pun
akan tahu sendiri. Teruskan, teruskan, ceritamu makin menarik.”
“Setelah aku pergi meninggalkan gubernuran Ho-nan oleh karena aku tidak ingin lagi melanjutkan sebagai
pengawal gubernur, setelah terjadi peristiwa perebutan Pangeran Yung Hwa itu, aku bertemu dengan
Jenderal Kao Liang yang sedang diserang oleh seorang wanita berpakaian hijau yang amat lihai. Melihat
jenderal yang sudah kudengar kegagahannya itu roboh, aku merasa kasihan dan aku lalu membantunya,
kuserang wanita baju hijau yang lihai itu, Suhu.”
Gurunya mengangguk-angguk. “Sekali ini kau benar, muridku. Pertama, karena engkau telah melakukan
kesalahan terhadap jenderal itu dengan mencuri harta pusakanya, maka sudah selayaknya engkau
menebusnya dengan membantunya, apa lagi engkau belum mengenal wanita penyerangnya itu.”
“Akan tetapi dia lihai bukan main, Suhu! Pukulan Kiam-to Sin-ciang yang kupergunakan tidak
merobohkannya...“
“Ahhh, ilmumu belum cukup tinggi untuk dapat menggunakan Kiam-to Sin-ciang dengan sempurna.”
“Pada saat itu, muncul pula Siluman Kecil dan Siauw Hong. Mereka melerai, akan tetapi aku sudah
terpukul oleh wanita baju hijau itu sehingga aku roboh pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi...”
”Ahhh, begitu hebat dia? Siapakah wanita itu?”
“Aku tidak tahu, Suhu. Usianya lebih tua dua tiga tahun dari pada aku, pakaiannya serba hijau, wajahnya
cantik dan sikapnya dingin. Pukulannya itu hebat bukan main, aku merasa betapa seluruh tubuhku seperti
dimasuki salju yang dinginnya menyusup tulang sumsum dan menyerang rongga dada sehingga aku tidak
kuat dan roboh tidak ingat apa-apa lagi.”
Kakek itu mengerutkan alisnya. “Dingin...? Hemmm, tentu dia memiliki ilmu pukulan berdasarkan tenaga Im
yang sangat kuat. Lalu bagaimana, Swi Hwa? Kemudian apa yang terjadi denganmu?”
Mendadak wajah gadis itu menjadi merah sekali. Dia sudah kepalang basah, sudah menceritakan segalagalanya
kepada gurunya, maka sukarlah untuk menyembunyikan peristiwa yang terjadi atas dirinya, apa
yang dilakukan oleh Siauw Hong itu. Teringat akan ini tiba-tiba saja gadis itu merasa amat malu dan
terhina, lalu menangis!
Tentu saja Hek-sin Touw-ong menjadi terkejut sekali. Dia memandang muridnya dengan sinar mata penuh
selidik, lalu dia bertanya, “Apakah yang menimpa dirimu, muridku? Mengapa engkau menangis?” Suaranya
dunia-kangouw.blogspot.com
mengandung kekhawatiran karena mendengar muridnya roboh pingsan lalu kini menangis itu, dia
menyangka bahwa jangan-jangan terjadi hal yang buruk atas diri muridnya.
Swi Hwa menyusut air matanya dan setelah tangisnya mereda dan hatinya mulai tenang kembali, dia
melanjutkan ceritanya, “Pukulan itu membuat aku pingsan, Suhu. Aku tidak tahu apa-apa lagi. Ketika aku
siuman kembali, aku telah berada di bawah pohon, di atas rumput terlentang dan... dan...“
“Ya? Bagaimana?” Gurunya bertanya dengan tangan terkepal karena hatinya tegang menanti lanjutan
cerita muridnya itu.
“Ketika aku siuman kembali, aku melihat dia duduk di dekatku dan... dan tangannya diletakkan di… di atas
dadaku, Suhu...“ Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
“Dia? Dia siapa?”
“Siauw Hong...“
“Keparat! Berani benar dia!” Kakek itu membentak marah.
“Suhu tentu mengerti betapa kaget dan malu rasanya hatiku. Tangannya itu meraba dadaku di balik
bajuku... maka aku kemudian bangkit dan memukulnya sekuat tenaga sehingga dia terlempar dan mungkin
dia mampus!”
“Bagus! Benar itu! Kalau dia belum mampus, biar aku yang akan mencarinya dan memukulnya sampai
mampus benar-benar! Laki-laki keparat dia itu! Siapa sih Siauw Hong itu?”
“Dia adalah pemuda yang melakukan perjalanan bersama aku dan Siluman Kecil, yang juga memasuki
sayembara dan diterima menjadi pengawal, akan tetapi ketika terjadi keributan perebutan Pangeran Yung
Hwa, dia membantu Siluman Kecil.”
“Hemmm, jadi dia memiliki kepandaian juga, ya? Orang macam apa dia berani berbuat kurang ajar seperti
itu?”
“Dia... dia masih muda, mungkin tidak lebih tua dari pada aku, Suhu, dan dia dikenal sebagai pangeran
pengemis...“
“Pengemis??” Gurunya makin penasaran. Anak angkatnya, muridnya yang tersayang itu diganggu oleh
seorang pemuda pengemis?
“Ya, dia seorang pengemis aneh, dan ternyata kemudian bahwa dia adalah murid dari kakek pengemis
aneh yang memimpin pasukan memperebutkan Pangeran Yung Hwa itu, Suhu.”
”Siapa? Murid siapa?” Muka kakek itu berubah.
Swi Hwa terkejut melihat perubahan muka gurunya. “Dia murid Sai-cu Kai-ong...“
“Ahhhhh...! Ya Tuhan...!”
“Ada apakah, Suhu? Mengapa Suhu demikian kaget?”
Kakek itu masih terbelalak, kemudian dia memegang lengan gadis itu dengan cepat sehingga gadis itu
menjadi kaget dan takut kalau-kalau gurunya marah. Belum pernah gurunya marah kepadanya, akan tetapi
sikapnya sekarang benar-benar mengagetkan hatinya.
“Hayo katakan, apakah dia melakukan hal itu, meraba dadamu, untuk berbuat kurang ajar dan melanggar
susila? Apakah dia berusaha... memperkosamu?”
Sekarang Swi Hwa yang memandang dengan mata terbelalak. “Memperkosa? Apa maksudmu, Suhu?
Sama sekali tidak! Dia meraba dadaku untuk menyembuhkan aku, terasa olehku dia menyalurkan sinkang
yang sangat kuat dan mengusir hawa dingin akibat pukulan gadis pakaian hijau itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahhh...!” Kakek itu tertegun dan menjadi melongo. “Jadi dia malah menolongmu? Kalau dia
menyelamatkanmu dengan mengobati lukamu, mengapa pula kau menghantamnya sampai... mungkin dia
mati?”
Wajah Swi Hwa menjadi merah dan dia menunduk. “Habis... habis dia... meraba dadaku dan aku malu
karena rahasiaku terbuka. Tadinya dia dan mereka semua mengira aku seorang pemuda sejati Suhu, aku
selalu menyamar. Ketika aku melihat dia meraba dadaku, di balik baju, tentu saja aku merasa malu dan
marah karena rahasiaku terbuka dan aku lalu memukulnya, kemudian aku melarikan diri, dan pulang ke
sini.”
Kakek itu menggaruk-garuk belakang telinganya yang tidak gatal. “Ahh, aku menjadi bingung, Swi Hwa.
Sebentar aku marah, sebentar aku khawatir, dan kemudian aku terheran dan bingung lagi. Jadi pemuda
yang mengobatimu dan juga yang berani meraba dadamu itu adalah murid Sai-cu Kai-ong?”
“Benar, Suhu.”
Kakek itu menarik napas panjang. “Aaahhhhh... kekuasaan Thian sungguh amat hebat dan luar biasa,
penuh rahasia ajaib...“
“Maksud Suhu?”
“Swi Hwa, engkau adalah seorang gadis yang sudah cukup umur. Sudah menjadi kewajibanku sebagai
guru dan ayah angkatmu untuk memikirkan perjodohanmu...“
“Ah, Suhu! Harap jangan bicara tentang itu!” Swi Hwa berseru dan mukanya menjadi merah sekali. Dia
teringat kepada Siluman Kecil, pemuda yang amat dikagumi itu, akan tetapi hatinya kecewa dan tawar
kembali melihat betapa Siluman Kecil sama sekali tidak memperhatikannya, bahkan memusuhinya!
“Swi Hwa, hanya ada tiga peristiwa dalam kehidupan manusia yang kuanggap penting, bahkan yang diakui
kepentingannya oleh semua orang, menjadi pusat perhatian dan didatangi sanak keluarga dan handaitaulan.
Pertama adalah kelahiran, kedua adalah pernikahan dan ketiga kematian. Usiamu sudah hampir
sembilan belas tahun, sudah cukup untuk memikirkan tentang jodoh. Dan setelah kau menceritakan
tentang pemuda murid Sai-cu Kai-ong itu, hemmm... timbul pikiranku untuk menyelidikinya lebih jauh dan
melihat kalau-kalau dia berjodoh denganmu.”
“Suhu...!”
“Swi Hwa, bagi seorang wanita terhormat dan bersusila, merupakan pantangan besar untuk membiarkan
tubuhnya diraba oleh laki-laki, kecuali oleh suaminya tentu saja! Siapa berani merabanya berarti telah
melakukan penghinaan dan hanya layak ditebus dengan nyawa. Oleh karena itu, pemuda bernama Siauw
Hong yang telah meraba tubuhmu itu pun hanya mempunyai dua pilihan, pertama menjadi jodohmu atau
kedua dia harus dibunuh!”
“Tapi... tapi... dia telah menolongku, Suhu, dia telah mengobatiku.”
“Nah, itulah sebabnya mengapa aku pun hendak menyelidiki dia. Aku pun lebih condong untuk
menjodohkan dia denganmu, apa lagi mengingat bahwa dia adalah murid seorang seperti Sai-cu Kai-ong
yang biar pun berkepala besar dan berhati baja, namun kurasa tentu dapat memilih seorang murid yang
baik.”
“Akan tetapi, Suhu, aku belum...!”
“Ssshhhhh...!” gurunya memberi isyarat agar muridnya diam dan dia lalu meloncat ke luar dari kamar itu,
diikuti oleh Swi Hwa yang juga mendengar suara ribut-ribut di luar rumah itu.
Ketika mereka tiba di luar rumah, mereka terkejut bukan main melihat para pelayan mereka telah
menggeletak di sana-sini dalam keadaan tertotok, pingsan atau terluka! Pelayan-pelayan mereka adalah
orang-orang yang cukup lihai, akan tetapi bagaimana dalam waktu singkat saja mereka roboh semua?
Hek-sin Touw-ong yang baru muncul itu mendadak meloncat ke samping ketika dia melihat bayangan
orang berkelebat dan sinar hijau menyambarnya. Dia mengelak dan memandang. Ternyata yang
dunia-kangouw.blogspot.com
menyerangnya adalah seorang wanita cantik yang pesolek, dari pakaiannya tersebar bau semerbak harum
dan pedangnya yang bersinar hijau itu lihai sekali.
Segera dia mengenal wanita ini dan dia berseru marah, “Mauw Siauw Mo-li, mau apa kau? Berani benar
kau mengacau di tempatku?”
“Tek Hoat, cepat...!” Mauw Siauw Mo-li sudah berseru;
Dan tanpa mempedulikan pertanyaan Hek-sin Touw-ong, dia sudah menerjang lagi dan mengirim
serangan-serangan kilat kepada lawannya. Hek-sin Touw-ong adalah seorang yang berilmu tinggi, akan
tetapi karena dia maklum bahwa adik seperguruan Hek-tiauw Lo-mo ini adalah seorang yang amat lihai
maka dia tidak berani sembrono menyambut serangan pedang itu, melainkan mengelak lagi dan mulai
membalas dengan tendangan kilat yang dapat dielakkan pula oleh wanita itu.
Sementara itu, Tek Hoat yang datang bersama Mauw Siauw Mo-li sudah berkelebat ke sebelah dalam
rumah. Dia melihat bayangan merah berkelebat dan di dalam keadaan remang-remang itu dia pun mengira
bahwa wanita itu adalah Syanti Dewi. Bukan main girang rasa hatinya.
“Syanti Dewi...!” Dia berseru dan meloncat menghampiri, hendak memeluk dara itu.
“Wuuuttttt... wirrrrr...!”
Tek Hoat terkejut bukan main karena dara yang dikira Syanti Dewi itu mengelak dan cepat
menghantamnya dengan tangan kiri yang mengandung hawa tajam dan kuat sekali. Dia cepat meloncat ke
belakang dan memandang. Kiranya dara itu sama sekali bukanlah Syanti Dewi, sungguh pun harus
diakuinya bahwa dara itu juga cantik jelita.
Dara itu adalah Ang-siocia atau Swi Hwa yang tentu saja menjadi marah sekali melihat pemuda ini datangdatang
hendak memeluknya. Dari tempat itu dia melihat suhu-nya telah bertanding melawan seorang
wanita cantik yang mainkan pedang bersinar hijau secara hebat sekali, dan dia dapat melihat pula para
pelayan suhu-nya telah rebah di sana-sini. Tahulah dia bahwa ada orang-orang jahat menyerbu, maka dia
lalu mencabut pedangnya dan menyerang Tek Hoat dengan sengit dan dahsyat.
Tek Hoat terkejut dan kagum juga menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis cantik ini, akan tetapi karena
dia sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat menemukan kembali Syanti Dewi yang disangkanya diculik
oleh Hek-sin Touw-ong dan disembunyikan di gedung itu, cepat mengerahkan kepandaiannya, memapaki
serangan Swi Hwa dengan dorongan tangan kirinya yang mengandung tenaga sakti Inti Bumi.
“Aihhh...!” Swi Hwa menjerit, ketika tubuhnya dilanda angin dahsyat yang amat kuat dan membuat dia
terjengkang, dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya telah ditotok secara luar biasa sekali dan dia
lantas menjadi lemas, tidak dapat berdaya lagi seperti kehilangan tenaganya.
“Hayo katakan, di mana adanya Syanti Dewi?” Tek Hoat menghardik. Akan tetapi gadis itu melotot
kepadanya penuh kemarahan.
“Tidak tahu!” Gadis itu menjawab dengan keras pula.
Dua bayangan berlari datang dan mereka itu adalah Ma Khong dan Ma Ti Lok. Kedua orang ini tadinya
gentar sekali ketika mendatangi rumah gedung milik Hek-sin Touw-ong itu, akan tetapi setelah mereka
melihat bagaimana dengan amat mudahnya Ang Tek Hoat dan Lauw Hong Kui merobohkan para penjaga
atau pengawal itu, kemudian melihat Lauw Hong Kui sudah bertempur dengan hebat lawan Hek-sin Touwong
sedangkan Tek Hoat dengan amat mudahnya merobohkan murid Raja Maling, hati mereka menjadi
besar dan mereka lalu berlari memasuki gedung itu.
Melihat mereka, Tek Hoat lalu berkata, “Hayo bantu aku mencari ke dalam gedung. Geledah semua kamar
sampai kalian mendapatkan puteri yang disembunyikan itu!” Setelah berkata demikian, dia sendiri sudah
mendahului mereka lari memasuki gedung untuk mencari Syanti Dewi.
Banyak sudah kamar dimasukinya, akan tetapi dia tidak juga menemukan Syanti Dewi.
“Syanti Dewi...! Syanti...! Ini aku, Tek Hoat...!” Dia berteriak-teriak akan tetapi tidak pernah ada jawaban.
Dia melihat pula kedua orang Saudara Ma itu ikut mencari-cari, namun belum juga berhasil.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba dia mendengar teriakan keras yang dikenalnya sebagai suara Hong Kui, “Tek Hoat...,
tolonggggg...!”
Cepat Tek Hoat berloncatan dan lari ke luar. Ternyata Hong Kui terdesak hebat oleh kakek bermuka hitam
yang benar-benar amat lihai itu. Bahkan pedang wanita itu telah terlempar ke atas lantai dan kini Hong Kui
terdesak mundur, setiap pukulan tangan kakek itu mengeluarkan bunyi mencicit nyaring dan biar pun Hong
Kui sudah mengelak ke sana-sini dengan cepat, namun tetap saja lengan kiri dan pundak kanannya
keserempet pukulan sakti itu sampai berdarah seperti terluka oleh pedang tajam. Itulah pukulan Kiam-to
Sin-ciang yang mukjijat!
“Wuuuttttt...!”
Tek Hoat sudah menghantam ketika dia tiba di tempat itu. Melihat ada sambaran angin dahsyat dari
samping, kakek itu meninggalkan Hong Kui dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan lengannya
sambil dikerahkannya tenaga Kiam-to Sin-ciang yang membuat kedua lengannya kuat dan mengandung
hawa tajam seperti pedang atau golok itu.
“Plakkkkk!”
Benturan dua tenaga mukjijat yang amat hebat itu membuat kakek itu terpelanting, akan tetapi Tek Hoat
kaget melihat kulit lengannya lecet berdarah!
“Ahhhhh...!” Hek-sin Touw-ong terkejut setengah mati.
Baru kali ini dia bertemu dengan seorang pemuda yang bukan hanya dapat menghadapi tenaga Kiam-to
Sin-ciang tanpa membuat lengannya terluka hebat, akan tetapi juga mampu membuat dia terpelanting dan
hampir roboh! Dengan marah dia lalu menerjang dan terjadilah perkelahian hebat antara Tek Hoat dan
kakek muka hitam itu. Hong Kui yang tadi terdesak hebat, kini sudah mengambil kembali pedangnya dan
dengan marah dia mengeroyok kakek itu untuk menebus kekalahannya dan membalas luka-luka yang
dideritanya di lengan dan pundak.
Kakek itu kini sudah kewalahan dan bingung menahan serangan yang mengandung tenaga Inti Bumi yang
dahsyat itu apa lagi ketika Tek Hoat mulai mempergunakan Ilmu Toat-beng-ci, melakukan totokan-totokan
dengan satu jari, dia terkejut bukan main dan teringat akan nama seorang muda yang menggemparkan
dunia kang-ouw.
“Si Jari Maut...!” teriaknya.
Tetapi pada saat itu pedang bersinar hijau di tangan Hong Kui telah menyambar ganas ke arah lehernya.
Cepat dia menghindarkan diri dengan mengelak dan merendahkan tubuhnya, akan tetapi karena pada saat
itu Tek Hoat juga sudah menyerangnya, maka sebuah totokan mengenai punggungnya dan kakek itu
mengeluh, roboh terguling dalam keadaan tidak mampu bergerak lagi. Kalau orang lain yang terkena
totokan Tek Hoat itu, tentu akan tewas seketika. Namun kakek itu cukup tangguh sehingga dia tidak tewas,
hanya tertotok dan lumpuh.
“Hek-sin Touw-ong, hayo katakan di mana adanya Syanti Dewi!” Tek Hoat mengancam dengan jari tangan
di atas ubun-ubun kepala kakek itu.
Hek-sin Touw-ong adalah seorang yang keras hati dan tidak takut mati. Dirobohkan oleh pemuda itu sudah
merupakan hal yang amat memalukan, maka dia menjawab dengan jengkel, “Mau bunuh, lekas bunuh,
tidak perlu banyak cakap!”
“Aku tidak akan membunuhmu, aku mencari Syanti Dewi. Kau tidak berhak menculiknya dan
menyembunyikannya. Hayo katakan, di mana Syanti Dewi? Di mana?!” Tek Hoat berteriak-teriak seperti
orang gila.
“Aku tidak tahu!” jawab kakek itu dan membuang muka dengan gerakan lemah karena kedua kaki
tangannya lumpuh.
Tek Hoat bangkit berdiri dan menarik napas panjang, memandang kepada Hong Kui. “Aku tidak melihat
Syanti Dewi di dalam,” katanya dengan hati kecewa bukan main.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hemmm, biar pun tidak ada Syanti Dewi, akan tetapi di dalam rumah maling ini tentu banyak barang
berharga. Sebaliknya kubunuh saja dia!”
Hong Kui lalu menggerakkan pedangnya membacok ke arah leher Hek-sin Touw-ong. Kakek itu
membelalakkan mata, menanti datangnya maut dengan mata terbuka.
“Wuuuttttt... tranggggg...!”
“Eh, Tek Hoat, mengapa kau?” Hong Kui meringis dan memegangi pergelangan tangan kanannya yang
terasa nyeri karena tadi terpukul oleh pemuda itu sehingga pedangnya terlempar dan berkerontangan di
atas lantai.
“Kau tidak boleh sembarangan membunuh, tidak boleh selagi aku di sini!” bentak Tek Hoat yang merasa
mendongkol sekali karena ternyata petunjuk dari wanita itu tidak menghasilkan dia menemukan kembali
Syanti Dewi. Dia merasa tertipu.
Pada saat itu, terdengar jerit wanita dari dalam. Mendengar ini, Tek Hoat cepat berlari masuk, diikuti oleh
Hong Kui yang sudah menyambar kembali pedangnya. Jantung pemuda itu berdebar tegang karena dia
mengira bahwa itu adalah suara jeritan Syanti Dewi.
Akan tetapi betapa kaget dan kecewanya, juga marah sekali, ketika dia tiba di tempat di mana dia tadi
meninggalkan Swi Hwa yang roboh tertotok, dia melihat Ma Khong dan Ma Ti Lok sedang hendak
menggagahi dara itu dan mereka telah merobek pakaiannya sehingga gadis itu tadi menjerit.
Terasa pening kepala Tek Hoat saking marahnya.
“Bedebah...!” Dia berseru dan tubuhnya meluncur ke depan. Dua kali jari tangannya bergerak dan dua
tubuh Ma Khong dan Ma Ti Lok terpelanting, berkelojotan dan tewas seketika dengan dahi mereka ada
tanda jari hitam!
“Tek Hoat, kau terlalu!” Hong Kui membentak marah. “Kau membunuh teman sendiri!”
“Mereka layak mampus! Engkau juga!” Tek Hoat menghardik dan memandang marah.
“Keparat kau, manusia tidak mengenal budi!” Lauw Hong Kui tidak lagi dapat menahan kemarahannya dan
dia menyerang dengan pedangnya.
Akan tetapi, dengan cepat Tek Hoat mengelak dan mendorong dengan tangan kirinya. Angin kuat
menyambar dan Hong Kui terhuyung ke belakang. Wanita ini makin marah dan meloncat keluar dari dalam
rumah.
“Keluarlah kau kalau jantan!” tantangnya.
Tek Hoat yang kecewa dan marah itu meloncat mengejar. Ketika tiba di luar, Hong Kui menggerakkan
tangannya dan sebuah benda hitam menyambar ke arah Tek Hoat. Pemuda ini maklum bahwa itulah
senjata rahasia yang paling ampuh dari Mauw Siauw Mo-li. Lawan yang kurang hati-hati dan berani
menangkis senjata rahasia ini, tentu akan celaka, setidaknya tentu akan terluka. Maka dia mengelak dan
membiarkan benda itu lewat.
“Darrr...!” Benda itu meledak ketika terbanting ke atas lantai dan dinding di dekatnya jebol.
Dua kali lagi Mauw Siauw Mo-li menyambitkan senjata-senjata rahasia peledaknya, namun semua
dielakkan oleh Tek Hoat dan pemuda ini secepat kilat telah mengirim serangan dengan hantaman kedua
tangannya dengan menggunakan tenaga dahsyat Inti Bumi. Mauw Siauw Mo-li berusaha mengelak, namun
tetap saja dia terhuyung dan sebelum dia dapat menyelamatkan dirinya, sebuah tendangan kaki Tek Hoat
mengenai pinggulnya.
“Bukkk! Aughhh!” Wanita itu menjerit dan tubuhnya terbanting ke atas lantai. Dia bangkit dan menggosokgosok
bukit pinggulnya yang terasa nyeri.
“Kau kejam sekali, Tek Hoat. Kubunuh kau kalau aku mendapat kesempatan!” teriaknya marah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mo-li, kalau aku tidak ingat bahwa engkau telah membantuku selama ini, jangan harap kau dapat pergi
dari sini dengan masih bernyawa. Sekarang, pergilah dan jangan berani memperlihatkan mukamu yang tak
tahu malu itu kepadaku lagi!” Tek Hoat berkata.
“Uhhh...!” Bedebah, manusia sombong kau!” Mauw Siauw Mo-li memaki, memandang dengan mata
mendelik, akan tetapi dia tidak berani bergerak menyerang. Akhirnya dia membalikkan tubuhnya dan lari
sambil berteriak melengking nyaring, semakin lama suaranya makin jauh sampai hanya terdengar seperti
suara kucing terpijak ekornya.
Semua ini terlihat oleh Hek-sin Touw-ong. Dia melihat pula betapa Tek Hoat cepat lari menghampiri
muridnya, menotok membebaskan gadis itu, lalu Tek Hoat menghampiri dia dan membebaskan pula
totokannya.
Hek-sin Touw-ong bangkit berdiri, mengurut kedua lengannya yang terasa kaku, lalu dia memandang
kepada pemuda itu dengan penuh keheranan.
“Kau... kau Si Jari Maut?” tanyanya.
Tek Hoat mengangguk. “Maafkan kalau aku telah mengganggumu, Touw-ong. Akan tetapi, tadinya aku
mengira bahwa engkau telah menculik Puteri Bhutan.”
“Puteri Bhutan?” Kakek itu berkata dan mengerutkan alisnya. “Sungguh aneh, betapa banyak orang
mencari Puteri Bhutan!”
“Apa maksudmu...?”
“Swi Hwa, jangan!” tiba-tiba kakek itu berteriak dan dengan tenang Tek Hoat miringkan tubuhnya,
membiarkan pedang yang ditusukkan oleh Swi Hwa itu lewat di samping tubuhnya, kemudian dia
menggunakan jari tangannya membabat ke bawah.
“Trakkk!” Pedang itu patah dan Swi Hwa menjerit karena tangannya terasa nyeri dan gagang pedang itu
terlepas.
“Swi Hwa, jangan sembrono kau!” kembali Touw-ong membentak. Gadis itu meloncat ke samping gurunya
sambil memegangi tangan kanannya dan memandang kepada Tek Hoat dengan mata berapi dan penuh
kemarahan.
“Hek-sin Touw-ong, apa maksudmu mengatakan bahwa banyak orang mencari Puteri Bhutan?”
“Baru-baru ini, See-thian Hoat-su kakek ajaib penghuni Goa Tengkorak juga datang ke sini dan
menanyakan apakah aku melihat Puteri Bhutan dilarikan orang. Ketika aku mengatakan bahwa aku tidak
melihatnya, dia lalu pergi. Dan sekarang, engkau dan Mauw Siauw Mo-li datang mencari Puteri Bhutan
pula.”
Hati Tek Hoat kecewa sekali. “Aku telah dibohongi oleh wanita jalang itu. Jadi engkau benar tidak pernah
melihat puteri itu, Touw-ong?”
“Guruku sudah bilang tidak melihatnya, mengapa banyak cerewet lagi?”
Tek Hoat menarik napas panjang. Dia maklum mengapa gadis ini marah-marah, karena betapa pun juga,
kedua orang Saudara Ma itu tadinya datang bersama dia sebagai kawan-kawannya.
“Sudahlah, maafkan aku kalau kalian tidak tahu!” Berkata demikian, sekali berkelebat Tek Hoat sudah
lenyap dari depan mereka.
“Jahat dia...!” Swi Hwa berkata.
“Sssttt...!” Gurunya memegang tangan muridnya agar jangan bergerak. Kemudian dia menoleh kepada
mayat kedua orang she Ma itu, menggelengkan kepala dan berkata, “Sungguh hebat sekali kepandaian Si
Jari Maut. Pantas saja dia terkenal sekali, kiranya memang dia amat hebat. Entah tenaga apa yang dia
dunia-kangouw.blogspot.com
pergunakan tadi sehingga aku sendiri kewalahan menghadapinya. Sayang ada wanita iblis tadi yang ikut
membantu, kalau tidak, aku ingin sekali bertanding dengan pemuda hebat itu.”
“Siapa sih Puteri Bhutan yang dicarinya itu, Suhu?”
“Entah. Ah, sungguh aneh sekali peristiwa ini, Swi Hwa. Engkau mencuri barang-barang dari tiga orang
sakti, akan tetapi yang datang bukannya Jenderal Kao, Siluman Kecil atau Sin-siauw Sengjin, melainkan Si
Jari Maut dan Mauw Siauw Mo-li! Untung masih baik kesudahannya. Ahhh, peristiwa ini semakin
mendorong hatiku untuk cepat-cepat menjumpai Saicu Kai-ong...“
Kakek itu lalu menolong para anak buahnya yang tertotok, pingsan dan ada pula yang terluka. Kemudian
mereka mengurus mayat dua orang penyerbu itu. Beberapa hari kemudian, Hek-sin Touw-ong bersiap-siap
untuk menghubungi Sai-cu Kai-ong, tokoh yang sebetulnya telah lama menjadi sahabatnya, akan tetapi
yang selama belasan tahun ini tidak pernah lagi berhubungan dengan dia…..
********************
Kita kembali melihat keadaan di lembah Huang-ho, di dalam markas besar perkumpulan Kui-liong-pang
yang kini dipergunakan oleh Pangeran Liong Bian Cu sebagai benteng. Telah diceritakan di bagian depan
betapa Jenderal Kao Liang sendiri telah berada di dalam cengkeraman Pangeran Liong Bian Cu, membuat
jenderal gagah perkasa itu tidak berdaya karena seluruh keluarganya berada di dalam tangan Pangeran
Nepal itu. Apa lagi ketika jenderal ini melihat betapa Puteri Bhutan, anak angkatnya, juga menjadi tawanan
di tempat itu. Terpaksa dia bekerja sungguh-sungguh dan membangun tempat itu menjadi sebuah benteng
yang amat kuat. Dia sudah berjanji dan sebagai seorang gagah dia akan memegang janjinya, yaitu
membuat tempat itu menjadi benteng yang tidak akan dapat dibobolkan musuh dan dia sendiri yang akan
mengatur penjagaan mempertahankan benteng itu di saat yang perlu!
Ketika benteng itu masih belum selesai benar dibangun di bawah pimpinan Jenderal Kao, tempat itu telah
mengalami serangan dan telah membuktikan kehebatan Jenderal Kao dalam mempertahankan tempat itu.
Serangan ini datang di waktu malam hari, terdiri dari lima puluh orang yang dipimpin tiga orang kakek yang
amat lihai.
Peristiwa itu terjadi di malam terang bulan dan biar pun benteng itu belum selesai dibangun, namun tali-tali
rahasia yang dipasang oleh Jenderal Kao telah membunyikan genta memberi tahu bahwa ada
serombongan orang datang dari utara menuju ke lembah itu! Tali-tali rahasia itu menjadi satu dengan akarakar
dan ranting-ranting pohon sehingga ketika dilanggar oleh rombongan orang itu, menggerakkan genta
di dalam benteng dan segera para penjaga bersiap dan melakukan penjagaan ketat, diatur sendiri oleh
Jenderal Kao Liang yang sudah melatih anak buah Kui-liong-pang dan anak buah Pangeran Nepal itu
menjadi pasukan yang tangkas dan hebat! Semua ini ditonton dengan kagum oleh Liong Bian Cu, Hek-hwa
Lo-kwi, Hek-tiauw Lo-mo, Gitananda, dan Ban hwa Sengjin yang lebih banyak tinggal di dalam gedung,
bersikap tenang akan tetapi dia selalu menerima laporan dari Gitananda akan segala yang terjadi di luar
kamarnya.
Siapakah para penyerbu itu? Mereka ini bukan lain adalah para anggota Liong-sim-pang yang dipimpin
sendiri oleh Hwa-i-kongcu Tang Hun, dibantu oleh tiga orang kakek lihai, yaitu Hak Im Cu, Ban-kin-swi
Kwan Ok, dan Hai-liong-ong Ciok Gu To. Seperti kita ketahui Hwa-i-kongcu Tang Hun merasa amat
kecewa, penasaran dan marah sekali ketika Syanti Dewi yang akan menjadi isterinya itu tiba-tiba lenyap di
tengah-tengah pesta pernikahannya! Dia merasa kecewa karena kehilangan calon isteri yang cantik jelita,
akan tetapi yang lebih menyakitkan hatinya lagi, dia merasa malu.
Dia telah mengundang banyak tamu, di antaranya banyak tokoh-tokoh kang-ouw dan banyak pembesar
penting, dan ditengah pesta itu, pengantin wanitanya diculik orang begitu saja! Hal ini merupakan tamparan
hebat bagi mukanya, kehormatannya, dan dia tidak akan berhenti sebelum bisa mendapatkan kembali
pengantinnya. Oleh karena itu, dia mengerahkan seluruh anak buah Liong sim-pang untuk melakukan
penyelidikan dan pencarian. Bahkan dia mengandalkan harta bendanya yang besar untuk disebarkan di
antara orang-orang kang-ouw agar mereka suka membantunya dan tidak lupa dia menjanjikan hadiah yang
akan dapat membuat orang mendadak menjadi kaya raya kalau bisa menemukan jejak puteri itu!
Karena usahanya yang mati-matian ini, maka boleh dibilang semua orang kang-ouw tahu belaka bahwa
Hwa-ikongcu Tang Hun menjanjikan hadiah besar itu, maka semua orang memasang mata dan telinga
untuk ikut mencari. Akan tetapi, ketika Syanti Dewi berada bersama See-thian Hoat-su, lalu terampas oleh
Gitananda dan disembunyikan di tempat rahasia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya sehingga
dunia-kangouw.blogspot.com
sia-sia saja Tang Hun mencari dan mengerahkan banyak orang. Setelah puteri itu oleh Gitananda dibawa
ke lembah Huang-ho dan puteri itu kelihatan oleh semua anggota Kui-liong-pang dan para anak buah Hektiauw
Lo-mo dan Pangeran Nepal, ada saja yang kemudian membocorkan berita ini sehingga akhirnya
sampai juga ke telinga Hwa-i-kongcu Tang Hun.
Tentu saja Tang Hun menjadi marah sekali dan juga girang karena akhirnya dia tahu di mana adanya
pengantinnya itu. Mendengar bahwa Puteri Bhutan itu ditawan oleh perkumpulan Kui-liong-pang, dia lalu
mengumpulkan semua anak buahnya, dan dibantu oleh tiga orang kakek lihai itu dia memimpin sendiri
pasukannya menuju ke lembah Huang-ho dan malam itu dia menyerbu Kui-liong-pang. Sama sekali dia
tidak tahu bahwa tempat itu kini sedang dibangun sebagai benteng yang kokoh kuat oleh bekas panglima
besar Jenderal Kao, dan lebih lagi dia tidak menyangka bahwa kedatangan mereka telah diketahui dan
Jenderal Kao, yang merupakan seorang ahli perang amat pandai itu, dan yang telah mempersiapkan
sambutan hangat atas penyerbuannya!
Dengan hati-hati sekali tiga orang kakek lihai yang membantu Tang Hun itu memimpin pasukan memasuki
lembah dari utara. Hak Im Cu, kakek tosu, seorang di antara tiga pembantu itu, bertugas sebagai penunjuk
jalan, oleh karena tosu ini pernah datang mengunjungi lembah ketika di situ diadakan pertemuan antara
orang-orang kang-ouw. Tentu saja Hak Im Cu tidak dapat mengambil jalan rahasia, seperti pada waktu dia
mengunjungi tempat itu dulu, melainkan mengambil jalan liar yang telah diperhitungkan sebagai jalan
paling aman untuk menyerbu lembah itu. Satu-satunya halangan adalah sungai yang mengurung lembah
itu, sungai yang terjadi ketika .lembah itu dibanjiri air ketika diadakan pertemuan dahulu. Akan tetapi
mereka telah siap dengan alat-alat untuk berenang dan menyeberang.
Ketika mereka tiba di tepi sungai, giranglah hati mereka bahwa di situ tidak terdapat penjagaan sehingga
mereka dapat menyeberang dengan mudah, menggunakan perahu-perahu darurat. Dan betapa girang hati
mereka ketika melihat bahwa pagar tembok di seberang sungai itu ternyata masih baru dibangun dan
belum selesai sehingga tempat itu terbuka. Yang lebih menggirangkan lagi, tidak ada penjagaan di situ
sehingga setelah bersembunyi dan mengintai sampai lama, kemudian yakin bahwa tempat itu sunyi tidak
ada penjaga, mereka lalu bergerak merayap dan memasuki daerah lembah. Atas pimpinan Tang Hun
sendiri, mereka lalu berindap-indap dan memecah diri menjadi kelompok-kelompok terpisah menghampiri
rumah besar yang mereka kira tentu menjadi bangunan pusat di mana berdiam ketua Kui-liong-pang dan di
mana puteri itu dikeram!
Tang Hun telah mendengar bahwa ketua Kui-liong-pang adalah seorang kakek sakti berjuluk Hek-hwa Lokwi,
yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Akan tetapi, dengan adanya tiga orang
kakek sakti yang membantunya, tentu saja dia tidak merasa takut. Apa lagi setelah kini dia bersama
pasukannya mampu mengepung rumah besar itu, mempersiapkan anak panah dan api yang mereka
nyalakan secara serentak, merupakan obor-obor yang bernyala terang dan menerangi seluruh tempat itu,
Tang Hun merasa yakin bahwa dia akan dapat memaksa tuan rumah mengembalikan pengantinnya.
Dengan sikap garang dia berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, diapit oleh tiga orang kakek dan para
pengawalnya, menghadap ke pintu depan dari rumah besar itu lalu berteriak lantang, “Hek-hwa Lo-kwi,
ketua Kui-liong-pang! Keluarlah dan mari kita bicara!”
Di antara cahaya obor yang amat banyak dan amat terang, semua mata ditujukan ke arah daun pintu besar
itu dan tiba-tiba daun pintu terbuka dari dalam. Muncullah beberapa orang dari sebelah dalam pintu itu dan
Tang Hun memandang dengan terheran-heran ketika melihat bahwa yang memimpin rombongan orang itu
adalah seorang kakek botak berjubah merah yang bersikap penuh wibawa, berpakaian indah dan sikapnya
seperti seorang bangsawan tinggi.
Di kanan dan kiri kakek botak ini berjalan dua orang kakek lainnya yang keadaannya mengerikan dan
menyeramkan. Yang di sebelah kiri adalah kakek tinggi kurus bermuka tengkorak yang dia duga tentulah
Hek-hwa Lo-kwi karena dia sudah mendengar akan kakek yang berpakaian serba hitam, mukanya yang
seperti tengkorak itu putih seperti kapur. Sedangkan yang berada di sebelah kanan kakek botak itu adalah
seorang kakek raksasa yang amat buas kelihatannya. Dia tidak tahu bahwa itulah Hek-tiauw Lo-mo. Akan
tetapi dia segera mengenal kakek berkulit hitam, bersorban dan jenggotnya panjang sampai ke perut,
memegang sebatang tongkat itu. Itulah Gitananda, kakek Nepal yang dulu hadir pula di dalam pesta
pernikahannya. Gitananda berjalan di belakang kakek botak itu!
Tetapi Tang Hun tidak mempedulikan mereka semua itu dan dia hanya memandang kepada Hek-hwa Lokwi
dan sambil mengangkat dada dia berkata, “Hek-hwa Lo-kwi, karena engkau adalah ketua dari tempat
ini...“
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hwa-i-kongcu, biar pun aku adalah ketua dari Kui-liong-pang, akan tetapi pada saat ini yang memimpin
kami adalah Ban-hwa Sengjin, koksu dari Nepal ini, yang mewakili Pangeran Liong Bian Cu. Kau boleh
bicara dengan beliau!” kata Hek-hwa Lo-kwi sambil menunjuk ke arah kakek berkepala botak yang
bersikap dingin dan tenang itu.
Tang Hun mengerutkan alisnya, merasa bahwa belum apa-apa dia sudah keliru dan salah duga. Akan
tetapi mendengar itu, tentu saja perhatiannya kini beralih pada kakek botak yang kini juga bertanya
kepadanya, suaranya tenang dan jelas biar pun masih ada nada asing.
“Jadi engkau adalah Hwa-i-kongcu Tang Hun ketua dari Liong-sim-pang di puncak Naga Api di
Pegunungan Lu-liang-san? Selamat datang, Tang-kongcu, ada keperluan apakah engkau datang bersama
pasukanmu di waktu malam begini tanpa memberi tahu lebih dulu kepada kami?”
Tang Hun merasa serba salah. Kiranya kakek ini adalah koksu dari Nepal! Nama ini mulai terkenal akhirakhir
ini, bahkan ketika dia mengadakan pesta pernikahan, dia mengirim undangan kepada koksu itu yang
berada di gubernuran Ho-nan, dan koksu itu diwakili oleh kakek Gitananda. Juga ketika mendengar bahwa
kakek ini adalah Ban-hwa Sengjin koksu dari Nepal, tiga orang kakek yang mengiringkan Hwa-i-kongcu
menjadi kaget bukan main. Tetapi, karena sudah terlanjur menyerbu dan kini sudah mengurung rumah itu,
Hwa-i-kongcu Tang Hun yang ingin merampas kembali pengantinnya, tetap bersikap angkuh dan tidak mau
kalah wibawa.
Dia menjura dengan sikap hormat. “Ah, kiranya Ban-hwa Sengjin koksu dari Nepal yang memimpin tempat
ini? Sungguh kebetulan sekali! Sengjin tentu telah mengetahui akan peristiwa yang terjadi di tempat tinggal
saya pada waktu pesta pernikahan saya, karena kalau tidak salah, wakil Sengjin yang sekarang juga
berdiri di belakang Sengjin, yaitu Kakek Gitananda, pada waktu itu juga hadir. Terjadilah keributan pada
waktu itu dan pengantin wanita diculik orang.”
“Hemmm, kami sudah mendengar akan hal itu. Lalu mengapa?” tanya koksu itu dengan sikap tidak acuh.
Sikap itu membuat Tang Hun merasa tidak enak. Kalau koksu ini sudah tahu, tentu tahu pula bahwa dia
datang untuk menuntut dikembalikannya Syanti Dewi, akan tetapi koksu itu pura-pura tidak tahu saja!
“Maaf, Ban-hwa Sengjin,” katanya dan keangkuhannya mulai menurun karena dia benar-benar merasa
gentar menghadapi koksu yang berwibawa ini dan tempat itu terlalu sunyi sehingga mencurigakan. “Karena
saya mendengar bahwa pengantin saya berada di lembah ini, maka saya datang bersama teman-teman
saya untuk menjemput calon isteri saya itu. Harap saja Sengjin mengingat persahabatan antara kita dan
suka menyerahkan pengantin saya kepada saya.”
Ban-hwa Sengjin mengangkat mukanya, sikapnya makin angkuh dan dia berkata dengan suara yang
nadanya menantang, “Memang Puteri Bhutan berada di sini dan kami tak bersedia menyerahkan dia
kepadamu, Tang-kongcu. Sebaiknya Kongcu cepat membawa pasukan Kongcu pergi dari tempat ini!”
Tang Hun mengerutkan alis. Jantungnya berdebar tegang. Kiranya benar pengantinnya berada di tempat
ini! Hatinya girang akan tetapi juga tegang karena sikap Koksu Nepal ini agaknya hendak menentangnya!
“Ban-hwa Sengjin! Puteri itu adalah calon isteri saya, pengantin saya. Sudah sepatutnya kalau
dikembalikan kepada saya!”
“Kami tidak bersedia menyerahkan beliau kepadamu. Habis engkau mau apa?” Inilah tantangan!
Hwa-i-kongcu yang mengandalkan bantuan tiga orang kakek sakti dan anak buahnya, tentu saja mulai
menjadi marah. Biar pun kakek botak ini adalah Koksu Nepal yang kabarnya amat lihai dan berkuasa, akan
tetapi pada saat itu dialah yang berada dalam kedudukan menang. Tempat itu telah dikurungnya! Dan dia
pun masih mengandalkan gurunya yang biar pun tidak ikut di dalam pasukan itu, namun secara aneh dan
diam diam, gurunya tentu melindunginya pula!
“Ban-hwa Sengjin, harap suka memikirkan baik-baik. Ketahuilah bahwa kalian semua telah terkepung.
Lihat betapa pasukan kami telah siap dengan anak panah dan api, sekali saja saya memberi aba-aba,
rumah ini akan dibakar dan kalian semua akan dihujani anak panah. Saya tidak menghendaki hal itu
terjadi, maka sebaiknya supaya puteri itu cepat diserahkan kepada kami dan kami akan pergi sekarang
juga.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Benarkah itu? Apakah bukan engkau dan pasukanmu yarig sudah berada dalam kepungan kami? Tangkongcu,
tengoklah di belakang kalian dan di atas.” Kakek botak itu berkata sambil menudingkan jari
telunjuknya ke belakang pasukan Tang Hun dan ke atas genteng rumah dan pohon-pohon.
Hwa-i-kongcu Tang Hun cepat menengok, demikian pula tiga orang kakek pembantunya dan mereka
terkejut bukan main. Ternyata di belakang mereka terdapat pasukan yang lengkap dengan anak panah
yang sudah ditodongkan ke arah mereka, dan selain pasukan itu, juga kini muncul banyak orang-orang di
atas genteng dan di pohon-pohon sekitar tempat itu, semua mementang gendewa dan menodongkan anak
panah ke arah mereka. Karena mereka membawa obor, maka mereka merupakan sasaran empuk sekali
sedangkan pihak musuh yang bersembunyi itu memang amat sukar diserang!
Wajah Hwa-i-kongcu menjadi pucat sekali. “Bagaimana, Hwa-i-kongcu? Apakah masih akan dilanjutkan
persiapan pertempuran ini? Kalau kami memberi aba-aba, sekali serbu saja akan habislah anak buahmu.
Apakah tidak lebih baik kalau kita bicara sebagai sahabat?”
Hwa-i-kongcu memandang pada tiga orang kakek pembantunya. Mereka pun kelihatan gentar sekali, maka
tahulah pemuda ini bahwa dia benar-benar sudah kalah sebelum perang!
“Sudahlah, mari kita bicara sebagai sahabat, Sengjin!”
Mendengar ini, Hek-hwa Lo-kwi tertawa bergelak, dan Ban-hwa Sengjin berkata ke arah tempat gelap,
“Kao-goanswe, pihak lawan telah menjadi kawan, sebaiknya tarik mundur pasukanmu!”
Dari tempat gelap itu muncul seorang laki-laki tua yang tinggi tegap dan gagah sekali. Dengan gerakan
yang gagah dia mengangkat sebatang pedang ke atas dan tanpa bersuara, lenyaplah pasukan yang
mengepung tempat itu tadi, juga mereka yang muncul di atas genteng dan di pohon-pohon juga lenyap
dalam gelap.
Diam-diam Hwa-i-kongcu terkejut bukan main. Kiranya pihak musuh sudah siap sedia dan dia bersama
pasukannya benar-benar telah terjebak.
“Hwa-i-kongcu, kalau benar-benar kau datang sebagai sahabat, harap perintahkan anak buahmu untuk
melemparkan senjata mereka,” kata Ban-hwa Sengjin.
Hwa-i-kongcu Tang Hun tidak melihat jalan lain. Melawan berarti bunuh diri, karena mereka telah dikurung.
Maka dia lalu mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru lantang, “Buang senjata kalian semua! Kita
datang sebagai sahabat!”
Pasukannya tadi pun melihat bahwa merekalah yang terkepung, bukan mereka yang mengepung, maka
mereka tadi sudah merasa gentar sekali. Kini mendengar perintah majikan mereka, semua orang
membuang gendewa dan anak panah, bahkan banyak pula yang melolos pedang dan golok, lalu
melemparkannya ke atas tanah.
Melihat ini Ban-hwa Sengjin mengangguk-angguk puas. “Tang-kongcu, engkau sungguh dapat melihat
gelagat. Tidak tahukah engkau bahwa engkau telah berada di tepi jurang maut? Engkau belum mengenal
tempat ini dan tidak mengetahui keadaan kami, maka berani memandang rendah. Ketahuilah bahwa
pemimpin penjagaan benteng kami ialah Jenderal Kao Liang, bekas panglima besar kerajaan. Apakah kau
belum mendengar nama besarnya?”
Tang Hun mengangguk-angguk, hampir tidak percaya. Benarkah Jenderal Kao Liang kini berkerja sama
dengan mereka ini?
“Engkau sudah melihatnya namun masih belum percaya. Kau kira siapakah panglima yang menjebak dan
mengurungmu tadi? Marilah, mari kita bicara di ruangan tamu, dan kami akan memberi penjelasan agar
engkau tahu bahwa bersahabat dengan kami akan menguntungkan pihakmu.” Lalu dia memandang.
“Suruh pasukanmu beristirahat dan bermalam di dalam rumah ini. Mereka akan menerima hidangan
sekedarnya.”
Dengan perasaan yang makin terheran-heran Hwa-i-kongcu mendapatkan kenyataan bahwa rumah besar
yang di kurungnya itu adalah rumah kosong! Sama sekali bukanlah bangunan induk, tempat tinggal para
pimpinan tempat itu! Melainkan rumah besar yang berada di depan. Dengan mengiringkan rombongan tuan
rumah, diterangi oleh obor obor besar yang dipegang oleh barisan selosin orang, Hwa-i-kongcu dan tiga
dunia-kangouw.blogspot.com
orang kakek pembantunya lalu meninggalkan pekarangan rumah besar itu setelah menyuruh semua anak
buahnya menanti di situ.
Dan mereka kini masuk ke dalam lembah, melalui tembok yang tebal dan terjaga kuat, kemudian melewati
pagar-pagar tembok lain dan baru setelah melewati tujuh lapis pagar tembok yang semua terjaga dan
memiliki liku-liku yang aneh dan tidak mudah dilalui orang luar yang belum mengenal rahasia tempat itu,
mereka tiba di pusat lembah itu. Dan Tang Hun mengeluarkan seruan tertahan saking kagumnya. Di
tengah-tengah itu, barulah terdapat bangunan-bangunan seperti istana dan keadaan di situ terang
benderang karena banyaknya lampu penerangan yang dipasang di seluruh tempat.
Melalui barisan penjaga yang kelihatan gagah dan bertubuh tegap, mereka memasuki ruangan depan
sebuah rumah besar. Seorang yang berpakaian perwira menyambut rombongan ini dan setelah memberi
hormat kepada Ban-hwa Sengjin, dia berkata, “Pangeran menanti rombongan di ruangan tamu!”
Ban-hwa Sengjin menoleh kepada Tang Hun. “Hemmm, pangeran berkenan menerima Kongcu, hal ini baik
sekali! Silakan.”
Makin terbelalak mata Hwa-i-kongcu Tang Hun ketika dia memasuki ruangan tamu. Dia sendiri adalah
seorang kaya raya dan rumahnya seperti istana. Namun dibandingkan dengan keadaan rumah besar ini,
dia merasa iri. Mewah sekali keadaan di rumah ini dan ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang
besar, dia melihat seorang pemuda yang berpakaian indah telah duduk seorang diri di situ, di kepala
sebuah meja besar. Dia tidak mengenal pemuda itu, akan tetapi melihat kulitnya dan wajahnya, dia
menduga bahwa pemuda itu tentu seorang peranakan Nepal.
Ketika dia melihat Ban-hwa Sengjin memberi hormat dengan membungkuk, sedangkan Gitananda yang
semenjak tadi diam saja memberi hormat sambil berlutut, juga Hek-hwa Lo-kwi dan kakek raksasa yang
lain itu semua turut memberi hormat, sedangkan para pengawal juga memberi hormat dengan berlutut
sebelah kaki kemudian mundur dengan tertib, dia menduga bahwa tentu pemuda ini bukan orang
sembarangan dan agaknya dialah yang disebut pangeran oleh perwira tadi.
Hak Im Cu, tosu tinggi kurus, seorang di antara tiga orang pembantunya yang menjadi penunjuk jalan ke
lembah itu karena dia pernah mengunjungi lembah ini ketika di situ diadakan pertemuan, berbisik di
belakangnya, “Kongcu, beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Raja Nepal.”
Ban-hwa Sengjin mendengar bisikan itu, tersenyum dan berkata, “Benar, hendaknya Cu-wi ketahui bahwa
beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Sri Baginda Raja Nepal.”
Mendengar ini, Hwa-i-kongcu Tang Hun dan tiga orang pembantunya cepat-cepat maju memberi hormat
dengan menjura sampai dalam. Pangeran Liong Bian Cu tersenyum ramah dan mengangguk kemudian
menggerakkan lengan kanannya mempersilakan. “Duduklah, Tang-kongcu dan Sam-wi Lo-enghiong.
Duduklah sebagai tamu terhormat dan mari kita bicara sebagai sahabat-sahabat!”
Tang Hun dan tiga orang pembantunya segera duduk. Tiga orang pembantu Tang Hun itu bukanlah
sembarang orang. Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi dan sudah mengalami
banyak hal yang hebat. Namun keadaan di ruangan itu membuat mereka kagum dan juga berhati-hati,
karena belum pernah mereka menjadi tamu pangeran dan koksu dari negara Nepal yang serba asing.
Mereka memandang ke arah pangeran yang tampan namun aneh itu, dan kepada Ban-hwa Sengjin yang
duduk di sebelah kanan pangeran.
Gitananda yang matanya tajam seperti mata burung rajawali itu, dan sangat cekung, berdiri di belakang
Ban-hwa Sengjin seperti pengawal dan memang sesungguhnya, Gitananda bertugas sebagai pembantu
dan pengawal koksu itu. Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi duduk di sebelah kiri Pangeran Liong Bian
Cu, dan pada saat itu, dari luar datang seorang laki-laki tua yang melangkah lebar dengan gagah, setelah
tiba di dekat meja, dia langsung memberi hormat kepada Pangeran Liong dengan menjura dan
menganggukkan kepala, pemberian hormat yang singkat dan tidak terlalu merendah, kemudian dia
mengambil tempat duduk di kursi paling kiri, duduk diam seperti patung.
Itulah lenderal Kao Liang dan Hwa-i-kongcu melihat dengan pandang mata kagum akan tetapi juga
terheran-heran. Dia tentu saja sudah mendengar akan nama besar jenderal ini. Seorang panglima sejati
yang sejak turun-temurun sangat setia kepada kerajaan, gagah perkasa dan pandai, sudah membasmi
entah berapa banyak pemberontakan. Akan tetapi sekarang jenderal itu duduk semeja dengan seorang
Pangeran Nepal dan agaknya bekerja kepada pangeran ini!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, Pangeran Liong Bian Cu yang sudah mendengar semua laporan tentang penyerbuan Tang
Hun, kini sambil tersenyum memandangi empat orang tamunya satu demi satu. Dia melihat Tang Hun
sebagai seorang pemuda yang berwajah tampan, pesolek dan cerdik.
Pemuda ini usianya sudah tiga puluh tahun namun masih kelihatan amat muda, bajunya kembangkembang
indah, sepasang matanya tajam berpengaruh. Rambut kepalanya terhias sebuah hiasan rambut
seekor naga kecil dengan sepasang mata mutiara mencorong, juga di bajunya yang berkembang terhias
mainan emas terukir berbentuk naga yang sama. Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang
gagangnya terukir indah, terhias emas dan permata, sarungnya ukir-ukiran burung hong dan liong, ronce
roncenya merah dari bulu halus. Seorang kongcu yang hebat, pikir pangeran ini. Kalau saja kepandaiannya
sehebat keadaan lahiriahnya, dia dapat menjadi pembantu yang baik, pikirnya pula. Kemudian dia
melayangkan pandang matanya kepada tiga orang pembantu kongcu itu.
Tosu itu usianya kurang lebih enam puluh tahun. Wajahnya bengis tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya
sederhana dan pedangnya tergantung di punggung, gagangnya menonjol di belakang pundak kanan.
Kelihatannya sederhana saja, akan tetapi melihat sinar matanya dan gerak-gerik tubuhnya yang amat
ringan, dapat diduga bahwa tosu ini tentu pandai sekali ilmu silatnya. Dugaan itu memang benar karena
Hak Im Cu, tosu itu, memiliki kepandaian tinggi, terutama sekali ginkang-nya yang membuat dia dapat
bergerak seperti terbang saking ringan dan cepatnya.
Orang kedua ialah seorang kakek yang usianya juga sudah enam puluhan tahun, tinggi besar dengan
muka kehitaman. Gerak-geriknya kasar namun tubuhnya membayangkan tenaga yang amat kuat. Memang
Ban-kin-kwi Kwan Ok ini, sesuai dengan julukannya, yaitu Setan Bertenaga Selaksa Kati, adalah seorang
yang amat kuat dan mempunyai tenaga gajah. Dia pun seperti Hak Im Cu, menjadi pembantu Hwa-ikongcu
karena dia dapat bergelimang dalam kemewahaan dan kekayaan.
Ada pun pembantu ketiga adalah seorang kakek gundul pendek gemuk, namun melihat pakaiannya, biar
pun kepalanya gundul, dia bukanlah seorang hwesio. Kepalanya itu gundul karena penyakit kulit kepala,
bukan digundul. Kakek yang usianya juga sudah enam puluh tahun lebih ini juga bukan orang
sembarangan, melainkan seorang yang ahli dalam ilmu bermain di air, dan selain itu, juga dia memiliki
sinkang yang kuat, seorang ahli lweekeh yang tangguh.
Setelah puas memandangi empat orang tamunya, sementara itu pelayan mulai datang menyuguhkan arak
dan kue-kue. Atas isyarat Pangeran Nepal itu, seorang pelayan segera maju dan dengan sikap
menghormat pelayan ini lalu menuangkan arak di dalam cawan-cawan di depan rombongan tuan rumah
dan empat orang tamu itu.
“Silakan minum Tang-kongcu dan para Lo-enghiong!” kata Liong Bian Cu sambil mengangkat cawannya,
diikuti oleh Koksu Nepal, Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi dan Jenderal Kao Liang. Gitananda tidak
pernah minum arak, pula dia adalah seorang pengawal pribadi koksu, maka dia tentu saja tidak ikut
berpesta melainkan berdiri di belakang koksu itu dengan tenang dan sikap penuh kewaspadaan.
Setelah para tamunya minum arak, Pangeran Nepal itu kemudian memandang kepada Hwa-i-kongcu dan
bertanya, “Sekarang, harap Tang-kongcu suka mengatakan kepada kami dengan terus terang akan
maksud kunjungan Kongcu yang amat mendadak ini.”
Hwa-i-kongcu Tang Hun memandang pada pangeran itu. Pangeran Nepal itu demikian ramah sikapnya,
maka timbul kembali harapannya. Siapa tahu, pangeran yang ramah ini akan dapat memaklumi
keadaannya, maka cepat dia menjawab dengan sikap amat menghormat, “Harap Paduka suka memberi
maaf kepada kami bahwa kami berani datang berkunjung tanpa lebih dulu minta ijin Paduka.
Sesungguhnya, telah beberapa lama saya kehilangan calon isteri saya yang lenyap pada saat sedang
diadakan pesta pernikahan kami di tempat kediaman kami, yaitu di Puncak Naga Api. Kemudian kami
mendengar bahwa isteri saya itu berada di sini, oleh karena itu saya datang dengan rombongan,
bermaksud untuk menjemput pengantin saya.” Setelah berkata demikian, wajah pemuda yang tampan dan
pesolek itu memandang kepada Pangeran Nepal itu dengan penuh harapan.
Pangeran itu tersenyum dan bertanya, “Tang-kongcu, siapakah nama pengantinmu itu?”
“Namanya... Syanti Dewi...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendadak pandangan mata pangeran itu menjadi tajam sekali dan jantung Tang Hun berdebar. Pangeran
ini memiliki sepasang mata yang aneh, tajam dan menyeramkan. Sorbannya yang besar itu tengahnya, di
atas dahi, dihias dengan sebuah mutiara yang besar dan bercahaya, berkilau-kilauan agak kebiruan.
Mutiara yang amat besar dan amat jarang terdapat. Akan tetapi agaknya, dari dua buah mata yang
kehitaman itu mencorong sinar yang lebih menyilaukan dari pada mutiara itu.
“Tang-kongcu,” kini suara pangeran itu berbeda dengan tadi, tidak lagi ramah dan halus melainkan kaku
dan dingin, “Tahukah engkau siapa adanya Syanti Dewi?”
Mendengar pertanyaan itu Tang Hun terkejut dan kini dia baru melihat betapa ada tiga pasang mata yang
memandang dengan sinar mata tajam dan penuh ancaman, yaitu tiga pasang mata dari pangeran itu
sendiri, Koksu Nepal dan kakek Gitananda! Dengan gugup dia menjawab, “Saya... saya hanya mendengar
dia dari Bhutan dan...“
“Dia adalah Puteri Syanti Dewi, puteri tunggal dari Raja Bhutan! Dan tahukah kau apa artinya ini? Berarti
engkau hendak menghina Bhutan dan karena Bhutan serumpun dengan Nepal, maka engkau seolah-olah
hendak menghina Nepal!”
“Tidak... bukan begitu maksud saya,” Tang Hun berkata cepat. “Sebetulnya saya tidak tertarik oleh
kebangsaannya, melainkan oleh pribadinya, maka...“
“Cukup, Tang-kongcu!” Tiba-tiba terdengar suara Ban-hwa Sengjin, Koksu Nepal itu. “Hendaknya Tangkongcu
membuang jauh-jauh pikiran itu kalau Kongcu ingin selamat. Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan
Bhutan adalah menjadi tamu agung kami di sini, apakah Kongcu berani hendak menghina dan
mengganggu beliau?”
Tang Hun terkejut bukan main. Tidak pernah terpikir olehnya sedemikian jauhnya. Dia memang mendengar
bahwa Syanti Dewi berasal dari Bhutan dan kabarnya seorang puteri, akan tetapi hal itu tidak begitu
penting baginya, apa lagi karena bagi dia dan sebagian besar di antara bangsanya, bangsa-bangsa asing
di barat hanyalah bangsa bangsa yang derajatnya rendah! Baginya yang terpenting adalah kecantikan
Syanti Dewi yang membuatnya tergila-gila. Dia tidak peduli apakah dara itu puteri raja ataukah puteri
pengemis! Tetapi ternyata persoalannya tidaklah sesederhana yang disangkanya dan dia kini dianggap
melakukan penghinaan terhadap bangsa Bhutan dan Nepal!
“Ah, maafkan saya..., saya tidak tahu sama sekali akan hal itu... dan setelah mendengar penjelasan
Paduka Pangeran dan Koksu, tentu saja saya tahu diri dan tidak akan melanjutkan keinginan saya.”
“Bagus! Ternyata Tang-kongcu adalah seorang yang bijaksana dan dapat diajak bersahabat!” Pangeran
Liong Bian Cu berseru girang. “Kami pun jauh-jauh datang dari barat sekali-kali bukan mencari lawan,
melainkan mencari kawan untuk bersama-sama menghadapi Kerajaan Ceng. Bagaimana Tang-kongcu,
dapatkah kami mengharapkan bantuan Kongcu dan Liong-sim-pang?”
Wajah Tang Hun yang tadinya agak muram karena lenyapnya harapan hatinya untuk dapat memperisteri
Syanti Dewi, kini berseri. Dia melihat kesempatan yang baik sekali untuk mencari kedudukan dan tentu
saja menambah besarnya kekayaannya. Sekarang, biar pun kaya raya namun dia tidak memiliki
kedudukan, bukan bangsawan melainkan orang biasa. Agaknya hal inilah yang tidak memungkinkan dia
menikah dengan seorang puteri! Berbeda tentu kalau dia memiliki kedudukan tinggi di samping harta
kekayaan, kekuasaan dan kepandaiannya.
“Tentu saja saya merasa terhormat sekali dan suka membantu perjuangan Paduka Pangeran. Memang
telah lama saya mendengar betapa kaisar yang tua amat lemah, kekacauan terjadi di mana-mana dan
bahkan kabarnya Gubernur Ho-nan...“ Tiba-tiba dia berhenti dan memandang Jenderal Kao Liang yang
duduk sambil menundukkan mukanya seolah-olah sama sekali tidak ingin mencampuri percakapan itu dan
tidak ingin mendengarkan pula.
Melihat ini, Pangeran Nepal itu tertawa. “Lanjutkan, Tang-kongcu, dan jangan khawatir terhadap Jenderal
Kao karena dia pun menjadi korban kelaliman kaisar yang menjadi boneka di bawah pengaruh pembesarpembesar
jahat.”
Tang Hun menarik napas panjang. “Saya hanya mendengar desas-desus saja bahwa Gubernur Ho-nan
juga memperlihatkan sikap menentang kaisar dan banyak komandan di perbatasan yang tidak merasa
puas...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Berita itu memang benar, Kongcu. Bahkan kami juga telah mengadakan persekutuan dengan Gubernur
Ho-nan.”
“Ahh, bagus sekali...!”
“Kami hanya menanti saat yang tepat saja untuk mulai dengan gerakan kami, gerakan serentak dari
segenap penjuru untuk menyerbu kota raja. Maka kalau engkau suka membantu, Tang-kongcu, kami akan
menerima dengan kedua tangan terbuka.”
“Tentu saja saya akan membantu, akan tetapi… apakah imbalannya kelak?” Tang Hun adalah seorang
yang cerdik, maka melihat betapa pangeran ini sudah bersikap terbuka kepadanya, dia maklum bahwa dia
tidak akan dapat melepaskan diri dari pengaruh pangeran ini. Setelah dipercaya mendengarkan pengakuan
itu semua, tentu Pangeran Nepal itu tidak akan mau melepaskan dia begitu saja dalam keadaan hidup,
kecuali kalau dia menyatakan kesanggupannya untuk membantu, akan tetapi dia pun bersikap terbuka dan
lebih dulu menanyakan imbalan atau ganjarannya kelak!
Koksu Nepal mengangguk-angguk dan matanya melirik ke arah Tang Hun. “Hemmm, Tang-kongcu
memang seorang yang cerdik. Akan tetapi sekali lagi, jangan Kongcu mengharapkan diri Puteri Bhutan,
karena ketahuilah bahwa di samping beliau menjadi tamu agung kami, juga Puteri Bhutan adalah seorang
sandera yang tidak ternilai harganya. Melalui Sang Puteri itu kami bermaksud menundukkan Bhutan. Maka,
siapa pun yang mengganggu sandera kami itu, berarti menghalangi perjuangan kami.”
“Ahh, Koksu. Setelah mendengar penjelasan tadi, saya sudah membuang pikiran untuk mendapatkan Sang
Puteri itu.”
“Bagus, kalau begitu Tang-kongcu boleh melegakan hati. Jika perjuangan kita bersama ini berhasil baik
kelak, tentu kami tidak akan melupakan Kongcu dan andai kata Kongcu menghendaki kedudukan, Kongcu
tinggal memilih saja!” kata Pangeran Liong Bian Cu dengan suara dan wajah serius.
Tang Hun menjadi girang sekali dan menghaturkan terima kasih. Kemudian dia berkata, “Setelah saya
menjadi pembantu pergerakan Pangeran, tentu saja semua anak buah Liong-sim-pang juga ikut pula
membantu. Pangeran boleh mengandalkan mereka sebab mereka adalah orang-orang yang telah dilatih
dan masing-masing prajurit mempunyai kepandaian silat yang lumayan. Akan tetapi tiga orang pembantu
saya ini harap diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian mereka.”
Pangeran Nepal itu kini memandang kepada tiga orang kakek itu penuh selidik, lalu dia berkata dengan
suara dingin, “Sebagai pembantu-pembantu pribadi, harus dipilih orang yang benar-benar lihai seperti
Tang-kongcu sendiri. Segala orang yang hanya memilki kepandaian biasa saja cukup bergabung di dalam
pasukan Liong-sim-pang sebagai komandan-komandan pasukan. Kami khawatir gagal kalau dibantu oleh
sembarangan orang saja.”
“Ehh, harap Paduka jangan memandang rendah kepada mereka bertiga ini, Pangeran! Tingkat kepandaian
mereka tidak lebih rendah dari pada tingkat kemampuan saya sendiri!” Tang Hun berseru dengan khawatir.
Dia mengenal tiga orang pembantunya itu sebagai orang-orang kang-ouw yang mempunyai keangkuhan
hingga ucapan Pangeran Nepal itu tentu saja amat merendahkan dan menghina.
Akan tetapi, tiga orang pembantunya itu juga bukan orang-orang bodoh. Mereka adalah orang-orang
pengelana di dunia kang-ouw yang sudah makan asam garam di dunia kang-ouw, sudah banyak
pengalaman dan dapat menilai orang-orang pandai. Melihat keadaan Pangeran Nepal itu dan para
pembantunya, mereka maklum bahwa mereka berada di goa naga dan biar pun mereka merasa dipandang
rendah, namun mereka tidak menjadi marah karena mereka tahu bahwa sang pangeran ini belum
mengenal mereka!
“Apa yang dikatakan oleh Pangeran sungguh tepat. Pinto hanyalah seorang tosu miskin yang tidak bisa
apa-apa, hanya mengandalkan sebatang pedang untuk hidup, mana bisa diandalkan?” Setelah berkata
demikian, Hak Im Cu, tosu berwatak bengis bertubuh tinggi kurus itu mencabut pedangnya. Melihat ini,
Ban-hwa Sengjin dan Gitananda memandang dengan mata memancarkan sinar aneh, akan tetapi Hek-hwa
Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo, dua orang kakek iblis dari dunia hitam itu, hanya memandang tak acuh.
“Yaaah, pinto hanya dapat mengandalkan pedang untuk mencari sesuap nasi beserta lauk-pauknya!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pada saat itu, baru saja pelayan-pelayan datang menghidangkan nasi dan sayur mayur memenuhi meja
itu. Kini, begitu Hak Im Cu bangkit dan menggerakkan pedangnya, nampak sinar berkelebatan dan seolaholah
ada bayangan puluhan batang pedang menyambar-nyambar dan disusul dengan mulut tosu itu
mengganyang semua masakan yang ‘dipungut’ oleh ujung pedangnya!
Pedang-pedang itu digunakan seperti sebatang sumpit, ditusukkan ke dalam mangkok mangkok dan piringpiring
yang ada masakannya, demikian cepatnya sehingga pedang berubah menjadi bayangan puluhan
batang dan biar pun mangkok yang berdiri di ujung, yang agaknya menurut ukuran tak mungkin dapat
dicapai pedang, dapat juga dijumput! Tiba-tiba tosu itu menghentikan gerakannya dan sudah duduk
kembali, mulutnya masih mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
Ban-hwa Sengjin mengangguk-angguk dan Pangeran Liong Bian Cu bertepuk tangan memuji. “Bagus,
kepandaian Totiang hebat sekali dan patut menjadi pembantu kami!”
Memang demonstrasi tadi biar pun kelihatan sederhana namun sudah membuktikan bahwa tosu ini
memiliki ilmu pedang yang hebat dan ginkang yang luar biasa. Hanya dengan ginkang luar biasa saja dia
mampu bergerak sedemikian cepatnya sehingga seolah-olah dia tidak meninggalkan tempatnya ketika dia
bangkit berdiri, padahal tanpa bergerak dari situ tidak akan mungkin dia dapat mengambil makanan di
ujung meja yang terletak agak jauh. Cara dia menusuk setiap makanan dengan ujung pedang dan
membawanya ke mulut, demikian cepat, dan tidak ada sedikit pun kuah yang tercecer!
“Pinto Hak Im Cu hanya seorang biasa dan terima kasih atas kepercayaan Paduka,” Hak Im Cu berkata
sambil mengangguk.
Pangeran Liong Bian Cu tentu saja girang sekali melihat bahwa para pembantu Tang Hun itu ternyata
adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka dia menoleh kepada dua orang kakek lain yang
duduk di jajaran tamu itu. “Hak Im Cu totiang telah memperlihatkan kepandaian dan mengagumkan sekali,
harap Ji-wi Locianpwe jangan sungkan dan suka pula memperlihatkan kepandaian untuk menggembirakan
pertemuan ini.”
Ban-kin-kwi Kwan Ok yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam itu lalu bangkit berdiri dan menjura ke
arah Pangeran Nepal itu. “Saya Kwan Ok hanyalah seorang kasar dan bodoh, hanya mengandalkan
tenaga sehingga dijuluki orang Ban-kin-swi. Kalau Paduka memperkenankan, saya akan coba mengangkat
arca singa di sudut itu.”
Pangeran Liong Bian Cu memandang dengan mata terbelalak. Arca singa di sudut itu adalah arca yang
sangat berat, dan untuk mengangkatnya dibutuhkan tenaga gabungan paling sedikitnya enam orang lakilaki
dewasa yang kuat. Maka dia tersenyum sambil mengangguk dan kakek raksasa itu lalu menghampiri
arca singa, diikuti pandang mata semua orang. Hanya Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo yang cuma
melirik dan bersikap tidak peduli.
Setelah menghampiri arca, Ban-kin-swi Kwan Ok menyingsingkan dengan bajunya, kemudian
membungkuk dan kedua tangannya memegang arca itu, digoyang-goyang seperti hendak menaksir
beratnya. Kemudian tiba-tiba dia membentak keras dan hanya dengan tangan kanan memegang kaki
belakang arca itu, dia mengangkat arca itu naik ke atas kepalanya! Melihat ini, Pangeran Liong Bian Cu
kagum dan tahulah dia bahwa Ban-kin-swi benar-benar seorang yang memiliki tenaga gajah! Kakek itu kini
melempar lemparkan arca itu ke atas, dilempar, disambut lagi dan mempermainkan benda berat itu seolaholah
baginya hanya merupakan sebuah bola yang ringan saja. Kemudian dia menurunkan arca itu di
tempatnya dan menghampiri meja dengan napas dan muka biasa, hanya di dahinya terdapat sedikit peluh.
“Bagus...! Kini Pangeran Liong Bian Cu berseru memuji dan merasa gembira. Senang juga hatinya
memperoleh pembantu-pembantu yang sehebat ini. “Kwan-lo enghiong patut pula menjadi pembantu
kami.” Pangeran ini lalu menoleh kepada kakek ketiga, yaitu Hai-Liong-ong Ciok Gu To, kakek berkepala
gundul botak yang bertubuh gemuk pendek itu.
Kakek gundul yang suka tertawa ini tersenyum lebar, kemudian memandang kepada Hwa-i-kongcu Tang
Hun. “Heh-heh-heh, saya hanya seorang tua bangka nelayan yang hanya pandai berenang. Karena tak
memiliki kepandaian apa-apa, saya mengandalkan nasib ke tangan Tang-kongcu. Oleh karena itu
sekarang pun saya hanya turut kepada Tang-kongcu saja yang sudah menanam banyak budi dan kebaikan
terhadap saya. Tang-kongcu, saya menyerahkan urusan dengan Pangeran Liong ini kepada Kongcu dan
untuk itu, saya menghaturkan terima kasih dengan secawan arak!” Sambil berkata demikian, kakek gundul
dunia-kangouw.blogspot.com
gemuk ini lalu bangkit berdiri, menyambar guci arak di atas meja dengan tangan kanan, menyambar cawan
arak di depan Tang Hun dengan tangan kiri, kemudian dia menuangkan arak dari guci ke dalam cawan.
Semua orang memandang dan Pangeran Liong terkejut melihat betapa arak di cawan sudah penuh,
namun masih dituang juga sehingga arak itu terus menaik melebihi bibir cawan. Hebatnya, arak itu tidak
sampai meluber tumpah! Kelebihan arak di atas bibir cawan itu membulat seperti telur, bergoyang-goyang
namun tidak tumpah. Kini kakek itu menyerahkan cawan yang araknya terlalu penuh itu kepada Tang Hun.
“Ha-ha-ha, Hai-liong-ong Ciok Gu To lo-enghiong sungguh membikin saya merasa amat sungkan dan
malu!” Tang Hun juga bangkit berdiri dan menerima cawan itu dengan tangan kanan.
Semua orang memandang dengan tegang karena maklum bahwa Ciok Gu To telah mempergunakan
sinkang yang amat kuat untuk ‘menahan’ sehingga arak yang terlalu penuh itu tidak sampai meluber, maka
kalau sampai cawan itu berganti tangan, tentu araknya akan meluber tumpah dan mengotori lengan baju
Tang Hun.
Akan tetapi, sama sekali tidak terjadi hal seperti itu. Kalau Tang Hun menerima cawan itu dan Ciok Gu To
melepaskan tangannya, cawan itu berada tangan kanan Tang Hun dan araknya sama sekali tidak tumpah
bahkan kini Tang Hun sengaja memiringkan cawan itu dan arak di dalam cawan tetap saja tidak tumpah!
Padahal, arak itu sudah hampir keluar dari dalam cawan, seperti telur direbus lunak akan tetapi tertahan
oleh sesuatu. Pertunjukan ini saja sudah membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, pemuda pesolek
ini bahkan lebih kuat dari pada Hai-liong-ong Ciok Gu To!
“Biarlah arak ini saya minum demi keselamatan Pangeran!” kata Tang Hun sambil mengacungkan cawan,
kemudian sekali tenggak arak itu lenyap ke dalam perutnya.
Liong Bian Cu bertepuk tangan memuji. Hatinya girang bukan main dan dia merasa sudah puas dengan
semua demonstrasi ringan itu, karena sebagai seorang ahli dia pun sudah dapat menilai bahwa empat
orang itu jelas bukan orang-orang sembarangan dan akan merupakan pembantu-pembantu yang amat
baik. Maka dia lalu mempersilakan mereka semua makan minum dalam suasana yang amat gembira.
Selagi mereka berpesta gembira, dan hanya Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo saja yang bersikap
biasa dan sama sekali tidak menghormati tamu, juga Jenderal Kao Liang yang makan minum dengan sikap
tak peduli, muncullah kepala pengawal yang berlutut dan melapor kepada Pangeran Liong bahwa
rombongan orang Bhutan yang dipimpin oleh Panglima Mohinta mohon menghadap.
Pangeran Liong Bian Cu mengerutkan alisnya, saling memandang dengan Ban-hwa Sengjin, kemudian dia
berkata kepada Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo.
“Harap Ji-wi Locianpwe suka menemani para tamu bersama Jenderal Kao Liang. Kami bersama Koksu ada
kepentingan lain untuk menerima tamu.”
Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lomo mengangguk. Jenderal Kao Liang diam saja dan Liong Bian Cu lalu
bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu, didampingi koksu yang dikawal oleh Gitananda yang setia.
Panglima muda dari Bhutan, Mohinta itu, telah menanti di ruangan tamu bersama tujuh orang pengikutnya
yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi dari Bhutan. Bagaimana tokoh Bhutan
muda itu dapat tiba di tempat ini?
Seperti kita ketahui, setelah Syanti Dewi berhasil melarikan diri dari Bhutan bersama Siang In, panglima
muda yang mencinta Syanti Dewi dan mengharapkan puteri itu menjadi isterinya ini segera melakukan
pengejaran dan dia menyebar banyak sekali penyelidik. Dia melakukan pengejaran dengan para
penyelidiknya menuju ke timur dan dia selalu didampingi oleh tujuh orang pembantu yang semuanya
memiliki kepandaian cukup tinggi itu untuk mencari jejak Syanti Dewi.
Seperti yang dituturkan oleh Cui Ma, bekas pelayan Ang Siok Bi ibu dari Ang Tek Hoat kepada Kian Bu dan
Hwee Li, pelayan yang menjadi gila karena ketakutan dan karena duka itu, dalam pengejarannya mencari
jejak Syanti Dewi, akhirnya Mohinta malah menemukan tempat sembunyi Ang Siok Bi. Mengingat bahwa
Ang Siok Bi adalah ibu Ang Tek Hoat yang dibencinya, maka Mohinta lalu turun tangan membunuh wanita
yang malang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia terus melakukan penyelidikan, mendengar bahwa Syanti Dewi terjatuh ke tangan Hwa-i-kongcu Tang
Hun ketua Liong-sim-pang di Puncak Naga Api. Dia menyusul ke sana, akan tetapi terlambat karena
mendengar bahwa puteri yang dicarinya itu telah diculik orang lagi dari tempat itu. Mohinta mencari terus,
tanpa mengenal lelah. Dia bukan hanya mencinta puteri yang memang amat cantik jelita itu, akan tetapi di
samping cintanya ini terdapat pula keinginan yang mendorong dia berusaha memperisteri Syanti Dewi,
yaitu kalau dia dapat menjadi mantu raja, tentu kelak dia mempunyai harapan besar untuk menjadi Raja
Bhutan! Ambisi inilah yang membuat dia tidak mengenal lelah mencari Syanti Dewi dan tidak akan berhenti
sebelum puteri itu terdapat olehnya.
Setelah mencari-cari siang malam dan mengerahkan seluruh pembantunya yang banyak tersebar di
daerah Ho-pei dan Ho-nan, di mana untuk terakhir kalinya dia mendengar akan jejak Syanti Dewi, akhirnya
dia mendengar bahwa puteri itu telah tertawan oleh Pangeran Bharuhendra dari Nepal! Berita ini
mengejutkan hati Mohinta! Tertawannya Puteri Syanti Dewi oleh pangeran cucu Raja Nepal itu benar-benar
amat mengejutkan dan mengkhawatirkan hatinya.
Dia maklum siapa adanya Pangeran Bharuhendra yang juga bernama Liong Bian Cu itu, seorang
Pangeran Nepal yang berilmu tinggi dan berkuasa besar. Bahkan dia mendengar bahwa pangeran itu
ditemani oleh guru negara, yaitu pendeta Lakshapadma yang juga disebut Ban-hwa Sengjin, bahkan
kabarnya Gitananda, pendeta yang amat lihai itu pun menemani Sang Pangeran Nepal. Hilanglah
harapannya untuk merampas Syanti Dewi dengan menggunakan kekerasan.
Akan tetapi Mohinta adalah seorang muda yang cerdik dan dia segera memperoleh akal yang amat baik,
bukan hanya untuk mendapatkan kembali puteri cantik yang sudah membuatnya tergila-gila itu, akan tetapi
bahkan mendapatkan jalan untuk menguasai Bhutan mengandalkan bantuan Nepal yang selama ini
menjadi musuh Bhutan!
Ketika Pangeran Bharuhendra yang kita kenal sebagai Liang Bian Cu itu muncul bersama pendeta
Lakshapadma yaitu Ban-hwa Sengjin, Koksu Nepal dan diikuti oleh Gitananda, Mohinta dan tujuh orang
pengikutnya cepat menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat. Kemudian Mohinta bangkit sebagai
seorang militer dan berkata, “Harap Paduka sudi memaafkan kalau hamba dan para pengikut berani
mengganggu Paduka di tengah malam begini.”
Pangeran Liong Bian Cu memandang dengan penuh perhatian, lalu berkata, “Duduklah dan ceritakan
siapa engkau, serta apa pula yang menjadi maksudmu datang kepadaku. Harap bicara secara jujur dan
terbuka karena kalau tidak demikian, saat ini juga kami akan menyuruh pengawal membunuh kalian.”
Mohinta lalu menceritakan niatnya, yaitu bahwa dia disuruh oleh Raja Bhutan untuk mencari Syanti Dewi
dan bahwa dia tahu di mana adanya puteri itu. Akan tetapi dia siap untuk membantu Pangeran Nepal untuk
menguasai Bhutan dengan menggunakan Puteri Syanti Dewi sebagai sandera.
“Dengan adanya puteri itu di tangan kita, Paduka tidak perlu mengerahkan bala tentara untuk menyerbu
Bhutan. Cukup hamba yang akan menggulingkan raja dengan bantuan Paduka dan selanjutnya, hamba
yang tanggung bahwa Bhutan akan tunduk terhadap Nepal dan memenuhi segala tuntutan dan perintah
dari Nepal.” Demikian antara lain Mohinta berkata.
Semua penuturannya didengarkan oleh Pangeran Liong Bian Cu dan Ban-hwa Sengjin. Kemudian Koksu
Nepal itu berkata dengan suara tenang, dalam bahasa Nepal yang dimengerti oleh Mohinta karena ada
persamaan bahasa antara mereka.
“Mohinta, engkau sudah bersiap untuk mengkhianati rajamu sendiri! Engkau sudah berniat hendak
membantu kami yang selama ini dianggap musuh oleh Kerajaan Bhutan. Tentu ada pamrih tertentu
tersembunyi di dalam pengkhianatanmu ini. Apakah pamrih itu? Apakah yang kau inginkan dalam
persekutuan antara engkau dan kami?”
Wajah Mohinta menjadi merah, jantungnya berdebar tegang. Akan tetapi dia maklum akan kelihaian dan
kecerdikan Koksu Nepal itu, maka dia tahu pula bahwa membohongi terhadap mereka amatlah berbahaya.
Menghadapi orang-orang Nepal yang amat kuat ini, jalan satu-satunya hanyalah mendekati, bukan
memusuhi.
“Maaf, Koksu. Sudah tentu dalam setiap tindakan terdapat pamrih yang mendorongnya. Benarlah wawasan
Koksu bahwa ada pamrih dalam hati saya jika saya menawarkan diri untuk membantu Nepal
menggulingkan Raja Bhutan. Pertama, saya ingin memperoleh Puteri Syanti Dewi sebagai isteri saya kalau
dunia-kangouw.blogspot.com
kita berhasil. Kedua, saya mengharapkan kebijaksanaan dan ganjaran dari Raja Nepal agar saya dapat
menggantikan kedudukan raja di Bhutan.”
Pangeran Liong Bian Cu tersenyum. “Hemmm, besar sekali ambisimu, orang muda. Lalu, untuk semua
anugerah yang kau harapkan itu, apa saja yang dapat kau berikan kepada kami?”
“Ayah hamba adalah kepala panglima di Bhutan. Biar pun ayah hamba tidak akan mencampuri urusan
pemberontakan, bahkan mungkin menentang, akan tetapi hamba dapat menguasai sebagian besar dari
bala tentara yang dipimpin oleh ayah. Dan hamba adalah seorang kepercayaan dari raja, maka kalau
hamba yang berkuasa di Bhutan, tentu hamba dapat membantu Paduka untuk menghadapi Kaisar Ceng,
Tibet, dan lain lain.”
Tiba-tiba Ban-hwa Sengjin mengangkat tangan memberi isyarat kepada mereka semua untuk diam, lalu
sekali berkelebat kakek ini telah meloncat ke jendela, membuka daun jendela. Akan tetapi tidak ada siapa
pun di balik jendela itu, maka dia lalu menutupkan lagi daun jendela dan kembali ke ruangan.
“Aman,” katanya, “Tadinya saya kira mendengar suara sesuatu yang mencurigakan.”
Mereka lalu melanjutkan perundingan. Mereka tidak tahu bahwa pada saat itu, Hwee Li berbisik-bisik di
dekat telinga Puteri Syanti Dewi di dalam kamar puteri itu dan Syanti Dewi mendengarkan dengan wajah
pucat. Tadi memang Hwee Li yang mencuri dengar ketika Liong Bian Cu mengadakan perundingan
dengan Mohinta, dan karena dara ini mengerti bahasa mereka, maka dia dapat mendengar kesanggupan
Mohinta untuk menggulingkan Raja Bhutan dan bersekongkol dengan Pangeran Nepal itu. Mendengar
penuturan yang dibisikkan oleh Hwee Li, Syanti Dewi terkejut dan marah sekali. Akan tetapi apa yang kini
dapat dilakukannya terhadap Mohinta? Dia sendiri berada di situ sebagai seorang tawanan.
“Bibi Syanti Dewi, apakah kau ingin agar aku memukul remuk kepala Mohinta itu?” tanya Hwee Li ketika
dia melihat wajah puteri itu pucat dan tubuhnya agak menggigil.
“Jangan, Hwee Li. Hal itu berbahaya sekali. Kau sendiri seorang tawanan.”
“Aku yakin mudah saja bagiku untuk membunuh pengkhianat itu, Bibi. Dan kalau Liong Bian Cu menjadi
marah kepadaku, biarlah, malah kebetulan, biar dia benci padaku dan mengurungkan niatnya yang gila
untuk menikah dengan aku!”
Syanti Dewi merangkulnya. “Tenanglah, Hwee Li. Kita semua berada di dalam keadaan yang amat gawat.
Lihat betapa Jenderal Kao Liang sendiri tidak berdaya, keluarganya masih ditawan di sini semua. Lihat
betapa benteng ini dibuat amat kuatnya dan Liong Bian Cu mengumpulkan banyak orang pandai. Bahkan
orang-orang Liong-sim-pang itu pun menjadi sahabat mereka! Akan ada peristiwa besar, kegegeran besar
dan ancaman berbahaya bagi kerajaan bangsamu. Jangan pikirkan urusanku, urusan kecil saja. Baik sekali
engkau telah mendengarkan tadi sehingga aku tahu akan isi perut pengkhianat Mohinta itu. Kalau tiba
saatnya Bhutan terancam, aku dapat bertindak dengan tepat. Yang penting, kita harus dapat lolos dari sini,
Hwee Lee, itulah yang penting, bukan membunuh orang rendah macam Mohinta itu.”
Hwee Li mengangguk dan berbisik, “Ahhh, kalau tidak terjadi sesuatu yang mukjijat, bagaimana mungkin
kita dapat lolos? Penjagaan terlampau ketat, orang-orang sakti terlampau banyak di sini dan setelah
benteng ini selesai dibangun oleh Jenderal Kao yang amat ahli dalam hal itu, lenyaplah harapan kita untuk
dapat lolos dan keluar dari dalam benteng.”
“Kita tidak boleh putus harapan. Banyak sekali teman-teman kita yang gagah perkasa di luar benteng. Aku
yakin bahwa sewaktu-waktu mereka tentu akan muncul, seperti pada waktu yang sudah-sudah. Mereka
tidak akan membiarkan kita celaka.”
“Hemmm, mereka siapa?” tanya Hwee Li.
“Pertama-tama tentulah Siang In yang cantik dan cerdik, dan... Tek Hoat...“
“Dan Siluman Kecil! Juga Suma Kian Lee! Ah, kenapa aku lupa bahwa mereka itu tentu tidak akan diam
saja melihat kita ditawan orang-orang jahat?”
“Dan di sana masih ada pula adikku, Candra Dewi atau Ceng Ceng, dan suaminya yang amat sakti...”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ahh, kenapa aku pun lupa kepada Subo dan Suhu? Hi-hik, betapa tolol aku. Tentu saja Subo dan Suhu
akan dengan mudah mengobrak-obrik mereka semua ini!”
“Dan masih ada lagi Bibi Puteri Milana! Dan pendekar sakti Paman Gak Bun Beng, dan keluarga Pulau
Es...“
“Wah-wah, kita mengharap terlampau jauh dan terlalu banyak, Bibi. Bagaimana kalau tidak ada seorang
pun di antara mereka yang mempedulikan kita dan tidak ada yang datang menolong?”
“Mustahil... akan tetapi... setidaknya harapan itu menghibur hati kita...,“ jawab Syanti Dewi sambil menarik
napas panjang lalu duduk termenung, ditemani oleh Hwee Li yang di tempat itu menjadi temannya yang
paling baik, paling akrab sehingga dapat saling menghibur.
Memang benar seperti yang dikatakan oleh dua orang dara itu. Setelah Liong-sim-pang bersekutu dengan
Pangeran Liong Bian Cu, pembangunan benteng itu menjadi makin lancar karena anak buah Liong-simpang
ikut dikerahkan pula untuk membantunya. Dan juga Hwa-i-kongcu Tang Hun tidak sayang-sayang
atau segan-segan untuk membantu dengan keuangan, membeli bahan-bahan bangunan secara royal.
Mohinta dan para pengawalnya juga tinggal di benteng lembah itu, akan tetapi dia selalu bersembunyi dan
tidak mau bertemu dengan Syanti Dewi karena dia menganggap belum waktunya untuk bicara dengan
puteri itu, sungguh pun hatinya merasa amat rindu terhadap dara yang dianggapnya pasti akan menjadi
isterinya itu. Rencananya bersama Pangeran Nepal untuk memberontak dan menggulingkan Raja Bhutan,
yaitu ayah dari Puteri Syanti Dewi, membuat dia merasa tidak enak untuk bertemu dan bicara dengan
Syanti Dewi karena puteri yang menjadi tawanan itu tentu akan merasa heran dan akan mendesaknya
dengan pertanyaan-pertanyaan yang sukar dijawabnya, di antaranya mengapa dia justeru berada di situ
dan menjadi teman dari Pangeran Nepal dan yang menawan puteri itu.
Hwee Li adalah seorang dara yang amat cerdik. Setelah usahanya yang gagal untuk membunuh Liong
Bian Cu, dan melihat betapa pangeran itu tidak mendendam dan tetap mencintanya, dia tahu bahwa
usahanya telah mencapai puncak dan jalan buntu. Dia tidak boleh mencoba lagi karena kalau sampai dia
menimbulkan rasa benci dalam hati pangeran itu, dia tidak akan tertolong lagi. Kalau hanya dibunuh saja
bukan apa-apa baginya, tetapi dia merasa ngeri kalau membayangkan betapa dengan kekuasaannya,
pangeran itu bisa saja memaksanya dan memperkosanya.
Dia kini mengandalkan cinta kasih pangeran itu untuk berada dalam keadaan aman dan tidak terancam
keselamatannya. Dia yakin bahwa karena cintanya, pangeran itu tidak akan memaksanya menyerahkan
diri sebelum menikah, dan sebagai seorang pangeran negara besar, tentu pangeran itu akan
melaksanakan pernikahannya di negerinya, di Nepal. Maka masih banyak waktu baginya dan masih
banyak harapan untuk meloloskan diri, asal dia pandai membawa diri dan tidak memancing kebencian
pangeran itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak boleh bersikap terlalu manis karena kalau sampai pangeran
itu memuncak rindu dan birahinya terhadap dia, bisa berabe dan berbahaya!
Karena sikap Hwee Li yang tidak memberontak lagi, juga Syanti Dewi bersikap tenang dan sabar, maka
kini mereka diperbolehkan untuk mengunjungi keluarga Jenderal Kao Liang di dalam rumah tahanan
mereka. Pertemuan yang amat akrab dan mengharukan dan kini pertemuan-pertemuan itu merupakan
hiburan besar bagi kedua pihak.
Kao Kok Tiong sering kali nampak termenung di rumah tahanan itu, diam-diam dia amat mengkhawatirkan
keadaan ayahnya. Jenderal ini tidak boleh menemui keluarganya, hanya diperbolehkan melihat dari jauh
bahwa keluarganya selamat dan diperlakukan dengan baik. Kok Tiong maklum betapa hati ayahnya
tersiksa hebat. Ayahnya terpaksa membantu pemberontak! Demi keselamatan keluarganya!
Dia tahu bahwa andai kata ayahnya belum dipecat dan kini masih menjadi Panglima Kerajaan Ceng,
sampai mati pun ayahnya tidak akan tunduk kepada pemberontak. Biar andai kata seluruh keluarganya
disiksa dan dibunuh di depan hidungnya, ayahnya pasti takkan sudi untuk membantu pemberontak. Dan
sekarang, karena dia bukan Panglima Ceng lagi, dia terpaksa tunduk, untuk menyelamatkan keluarganya,
akan tetapi tentu saja dengan batin tersiksa. Kok Tiong sendiri sangat dicurigai oleh Pangeran Nepal
sehingga dia dimasukkan dalam rumah tahanan keluarganya, tidak diperkenankan keluar dan bicara
dengan ayahnya.
Keadaan seperti itu lewat sampai berbulan-bulan dan benteng besar yang dibangun atas petunjuk Jenderal
Kao Liang itu, yang dikerjakan siang malam, mulai mendekati kesempurnaannya. Hati para tawanan itu jadi
dunia-kangouw.blogspot.com
semakin gelisah, harapan mereka untuk memperoleh pertolongan dari luar semakin menipis, sungguh pun
belum habis sama sekali. Selama waktu-waktu itu, untuk menghibur diri, Syanti Dewi memperdalam ilmu
silatnya dari Hwee Li, sebaliknya, Hwee Li mempelajari banyak hal dari sang puteri, dari menyulam,
melukis, menari dan bernyanyi…..
********************
Pelayan rumah penginapan itu buruk sekali mukanya. Tek Hoat sendiri sampai merasa heran dan kasihan
mengapa ada seorang pria demikian buruk mukanya, rusak oleh penyakit cacar. Selain muka itu hitam dan
bopeng, berlubang-lubang seperti kulit pohon dimakan rayap, juga matanya besar sebelah, hidungnya
berbentuk besar dan melengkung, bibirnya tebal sekali dan basah, dahinya sempit seperti dahi monyet.
Pendeknya, muka yang sama sekali tidak ada manisnya, biar pun tidak menakutkan, namun sukar
menimbulkan rasa suka di hati, apa lagi karena sepasang mata itu mempunyai sinar yang liar seperti mata
seekor anjing kelaparan.
Akan tetapi pelayan itu ternyata ramah sekali. Setelah Tek Hoat membayar uang sewa kamar di meja
pengurus, peraturan yang harus ditaati semua tamu, yaitu pembayaran di muka, pelayan itu lalu mendapat
tugas untuk mengantar Tek Hoat di kamar yang disewanya dan melayaninya. Setelah pelayan itu sambil
menyeringai dan membungkuk bungkuk mempersilakan dia mengikutinya, baru diketahui oleh Tek Hoat
bahwa pelayan itu pincang kakinya dan ketika dia memperhatikan, ternyata kaki kirinya cacat, ada luka
yang sudah mulai mengering di dekat tumit sehingga dia tidak dapat memakai sepatu, melainkan memakai
sandal kayu yang mengeluarkan bunyi teklak-teklik ketika dia berjalan timpang.
“Heh-heh, di sinilah kamar Kongcu. Sunyi, karena kebetulan malam ini kurang tamu, Kongcu. Lihat, kamar
di kanan kiri Kongcu juga kosong, jadi... heh-heh, aman deh!”
Tek Hoat yang memasuki kamar itu, yaitu sebuah kamar sederhana dengan sebuah pembaringan cukup
besar untuk seorang saja, sebuah meja dan tempat air untuk cuci muka, cepat menengok dan memandang
muka buruk itu ketika mendengar ucapan itu.
“Cukup aman? Apa pula maksudmu?” tanyanya sambil menaksir usia orang. Sukar menaksir usia wajah
yang buruk itu. Mungkin tiga puluh, mungkin pula sudah lima puluh tahun lebih.
“Heh-heh-heh, aman, tidak akan ada yang mengganggu atau mendengar suara dari dalam kamar ini.”
“Suara? Suara apa yang kau maksudkan?” Tek Hoat bertanya lagi sambil mengerutkan alisnya.
Kembali orang itu menyeringai, lalu mengambil baskom tempat air yang berwarna biru itu. Dia berjalan ke
pintu membawa baskom itu, lalu menoleh dan menyeringai sambil tertawa. “Tentu saja orang yang
berpacaran mengeluarkan suara, bukan? Dan tentu akan merasa sungkan kalau di sebelah ada orang lain
yang ikut mendengarkan.”
Tek Hoat hendak membantah, akan tetapi pelayan itu sudah keluar sambil berkata, “Saya akan
mengambilkan air hangat untuk Kongcu.”
Tek Hoat menjatuhkan diri duduk di atas pembaringan dan termenung. Hatinya masih terasa kesal dan
mengkal karena sampai saat itu dia belum berhasil menemukan jejak kekasihnya, yaitu Syanti Dewi. Makin
terasalah kini betapa dia amat mencinta Syanti Dewi, betapa sebetulnya dia hanya mempunyai semangat
hidup karena puteri itulah.
“Heh-heh-heh...!” Suara ketawa yang jelek ini menggugahnya dari lamunan dan pelayan itu sudah masuk
lagi ke kamarnya membawa sebaskom air yang masih mengepulkan uap.
Melihat air ini, Tek Hoat segera menghampiri baskom yang tadi telah diletakkan di atas bangku, lalu
mengeluarkan sebuah saputangan lebar dari buntalannya dan mencuci mukanya. Terasa segar sekali air
hangat itu ketika dia menggosok-gosokkan air di muka dan lehernya. Lenyaplah semua kemuraman yang
amat mengganggunya tadi.
“Heh-heh-heh, Kongcu tampan sekali, sungguh cocok kalau berpacaran...“
Tek Hoat mengusap mukanya dengan keras, menggosok-gosok kulit mukanya sampai berwarna merah
sekali. Setelah pikirannya kosong, setelah semua kenangan tentang Syanti Dewi lenyap oleh air panas dan
dunia-kangouw.blogspot.com
oleh gosokan keras pada mukanya, dia merasa betapa segala sesuatu yang dihadapinya menjadi lebih
menarik. Dia biasanya tidak pedulian, tidak mengacuhkan segala hal dan orang lain. Akan tetapi baru dia
merasa betapa pelayan ini amat menarik hatinya dan menimbulkan ingin tahunya.
“Paman pelayan, jangan kau bicara yang bukan-bukan tentang suara pacaran dan lain lain itu. Aku berada
di dalam kamar ini sendirian tanpa kawan.”
“Heh-heh, karena itulah Kongcu, maka saya menganggap bahwa sayang sekali seorang pemuda tampan
seperti Kongcu sendirian saja di kamar ini untuk melewatkan malam yang dingin.”
“Hemmm, aku memang sendirian. Habis bagaimana?”
“Ahhh, si Teratai Emas itu tentu merupakan lawan dan kawan yang amat cocok bagi Kongcu! Cantik jelita
dan harum dia! Dan tidak sembarangan mau diajak orang, akan tetapi kalau Kongcu yang mengajaknya...
hemmm, ditanggung puas!”
Sepasang mata Tek Hoat terbelalak. “Apa maksudmu?”
Dia amat rindu kepada Syanti Dewi dan sekarang ditawari wanita untuk menemaninya! Padahal, bujukan
dan rayuan seorang wanita cantik seperti Mauw Siauw Mo-li itu pun ditolaknya mentah-mentah!
“Maksud saya? Heh-heh, maksud saya... Kongcu muda dan tampan, malam ini di kamar sendiri, dan
kamar-kamar di sekitar kamar ini kosong... heh-heh, dan Teratai Emas itu sungguh cantik... tentu akan
mesra sekali...“
Tek Hoat sekarang mengerti dan dia cepat memberikan beberapa potong uang kepada pelayan itu.
“Pergilah!” katanya singkat karena dia tidak ingin diganggu lagi.
Dia tidak melihat betapa pelayan buruk rupa itu memandang ke arah tangannya yang menerima uang itu
dengan girang sekali, mengangguk-angguk lalu pergi dari situ. Tek Hoat lalu menutupkan daun pintunya.
Tubuhnya terasa enak setelah dia mencuci muka, leher, kedua lengan dengan dengan air hangat. Dia
sudah makan tadi, dan tubuhnya lelah. Kini terasa segar dan nyaman, membuat dia merasa mengantuk
sekali.
Direbahkannya tubuhnya di atas pembaringan, terlentang dan menerawang langit-langit kamar itu yang
berwarna putih. Wajah Syanti Dewi membayang! Makin dipandang, makin rindulah hatinya. Cuaca mulai
gelap karena matahari mulai tenggelam sehingga sinarnya tidak menerangi kamar itu melalui lubang
jendela. Akan tetapi dia merasa malas untuk bangkit dan menyalakan lilin, membiarkan saja kamar itu
menjadi makin remang-remang gelap.
“Tok! Tok! Tok!”
Tek Hoat tergugah lagi dari keadaan yang hampir pulas. Sialan, pikirnya, siapa lagi yang mengganggu?
“Siapa?” tanyanya, memandang ke arah daun pintu yang hampir tidak kelihatan karena kamar itu sudah
mulai gelap.
“Saya, Kongcu...“
Si pelayan buruk rupa sialan lagi!
“Ada apa lagi?”
“Ssssst, penting Kongcu. Sudah datang...!”
Tek Hoat yang masih setengah sadar setengah layap-layap itu tidak ingat apa-apa lagi tentang sore tadi.
Dia merasa heran dan ingin tahu. “Masuklah, daun pintunya tidak terpalang,” katanya.
Bunyi daun pintu berderit ketika dibuka dari luar. Nampak dua sosok tubuh sebagai bayangan memasuki
kamar itu. Yang satu adalah bayangan tubuh pelayan muka buruk, dan yang satu lagi bayangan tubuh
yang kecil ramping. Tek Hoat menjadi curiga dan biar pun dia masih rebah terlentang, namun dia siap
siaga.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aih, begini gelapnya, Kongcu. Kenapa lilin yang tersedia di atas meja tidak dinyalakan? Biar saya
nyalakan!” Pelayan itu menyalakan api dan lilin dinyalakan. Cuaca remang-remang mulai terusir dan
dengan mata terbelalak Tek Hoat memandang dan melihat bahwa orang yang kedua itu adalah seorang
wanita muda yang amat cantik! Pantas saja ada bau harum ketika pintu kamarnya tadi dibuka.
“Kongcu, inilah dia, Kim Lian (Teratai Emas)... heh-heh!” Pelayan itu bergegas keluar dan menutupkan
daun pintu dari luar.
Wanita itu mengambil tempat lilin, menaruhnya di sudut meja dekat pembaringan, lalu memutar tubuh
menghadapi Tek Hoat. Begitu dia melihat wajah Tek Hoat, sepasang matanya yang indah itu terbelalak
dan dia cepat menghampiri.
“Aihhhhh... kiranya Kongcu benar-benar tampan sekali...! Girang hatiku mempercayai omongan A-khiu
bahwa Kongcu amat tampan!” Wanita itu kemudian duduk di tepi pembaringan, memandang wajah Tek
Hoat, lalu tubuh atas pemuda itu yang telanjang, kemudian sambil tersenyum wanita itu menjatuhkan
dirinya di atas dada Tek Hoat dan mendekatkan mulutnya hendak mencium bibir pemuda itu. Bau harum
menyesak hidung pemuda itu.
Tek Hoat miringkan mukanya dan mendorong kedua pundak wanita itu sehingga hampir saja gadis itu
terjengkang. “Perempuan tak tahu malu! Perempuan tak mengenal susila!” bentaknya marah sambil
menyambar bajunya, terus dipakainya baju itu dan dia loncat turun ke atas lantai, pandang matanya keras
dan muak.
Gadis itu menundukkan mukanya. Seorang gadis yang cantik sekali, usianya paling banyak dua puluh
tahun, rambutnya digelung indah mengkilap, terhias bunga teratai dari emas, tubuhnya ramping dan lemah
gemulai gerak-geriknya, wajah dan tubuh yang terpelihara baik-baik, terbungkus pakaian dari sutera merah
muda yang berkembang, menambah kecantikannya. Kemudian dia mengangkat mukanya yang menjadi
merah.
“Kongcu, perlukah seorang wanita seperti saya untuk merasa malu? Haruskah seorang wanita seperti saya
untuk mengenal susila?” tanyanya dengan suara halus bernada menegur sehingga Tek Hoat tertegun.
Akan tetapi lalu pemuda ini dapat menduga ke adaan wanita itu, maka dia menjatuhkan diri duduk di atas
kursi sambil bersungut sungut.
“Huh, kiranya seorang pelacur! Sampah masyarakat!”
Sepasang mata yang bening indah itu mengeluarkan sinar. Tarikan muka yang manis itu membayangkan
rasa penasaran seperti orang yang tersinggung kehormatannya, dan mulut yang bibirnya berbentuk indah
itu berkata, suaranya halus tapi terdengar dingin, “Kongcu, saya memang seorang pelacur, akan tetapi
bukan sampah masyarakat.”
Hati Tek Hoat mulai diserang kemurungan lagi dan dia menjadi kesal. Dengan kasar dia menoleh dan
memandang wajah cantik itu, kecantikan yang makin membuat dia marah karena wajah cantik itu ternyata
diobral kepada siapa saja yang mampu membayar!
“Bukan sampah masyarakat? Huh, perbuatanmu sangat kotor dan hina! Engkau adalah perempuan
perusak rumah tangga, perusak pria, penyebar penyakit, engkau adalah perempuan terkutuk, lebih kotor
dari pada sampah!”
Sepasang mata itu masih terbelalak, akan tetapi perlahan-lahan tanpa berkedip, dari bawah mata itu
menetes-netes turun beberapa butir air mata yang berkilauan tertimpa cahaya api lilin, menimpa sepasang
pipi yang halus kemerahan dan mengalir ke bawah. Mata itu masih terbelalak menentang wajah Tek Hoat.
“Kongcu... engkau boleh tidak senang kepada saya... akan tetapi... mengapa engkau menghina saya?
Apakah dosaku kepadamu? Apakah salahku kepada kaum pria? Hak apakah yang ada pada Kongcu untuk
menghina saya seperti itu, untuk menusuk-nusuk perasaan hati saya dengan kata-kata keji itu?”
Tek Hoat menjadi bengong. Wajah yang cantik itu tetap halus, mengingatkan dia akan wajah lembut Syanti
Dewi! Betapa miripnya dara ini dengan Syanti Dewi! Sama muda, sama cantik, dan apakah bedanya?
Mungkin berbeda karena Syanti Dewi adalah puteri raja dan seorang wanita bangsawan, apa lagi wanita
yang amat dicintanya. Sedangkan wanita ini adalah seorang yang pekerjaannya sebagai pelacur. Namun
dunia-kangouw.blogspot.com
keduanya juga wanita, juga perempuan. Ada perasaan malu dan menyesal mengapa dia tadi bersikap
demikian menghina. Melihat wanita ini menangis tanpa dibuat-buat, sepasang mata yang terbelalak seperti
mata seekor kelinci yang tak berdaya itu, tiba-tiba saja Tek Hoat merasa kasihan sekali. Di depannya ini
adalah seorang wanita! Sama dengan Syanti Dewi, sama dengan mendiang ibunya, seorang manusia!
“Ehhh... hemmm... maafkan aku...“
Pelacur itu mencoba untuk tersenyum sambil menghapus air matanya dengan sehelai saputangan, lalu dia
berkata, “Tidak apa-apa, Kongcu. Aku sudah biasa dihina orang, dan agaknya aku dapat mengerti bahwa
tentu Kongcu pernah dibikin sakit hati oleh wanita, oleh pelacur, maka sekarang menumpahkan kemarahan
dan dendam Kongcu kepada diriku.”
Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang, menunduk sebentar lalu mengangkat kembali
mukanya, akan tetapi dia tidak memandang kepada wanita itu. Dia teringat akan Siluman Kucing dan
agaknya iblis betina itulah yang membuat dia tadi marah dan menghina wanita ini. Iblis betina itu lebih jahat
lagi dari pada pelacur ini! Lalu dia memandang wanita itu yang juga memandangnya. Harus diakuinya
bahwa wanita muda ini amat cantik, tidak kalah cantiknya kalau dibandingkan dengan Siluman Kucing.
“Namamu Kim Lian?” akhirnya dia bertanya.
Wanita itu mengangguk. “Nama asliku telah kupendam di antara kehinaan yang sudah menguruk diriku,
Kongcu. Karena aku suka memakai hiasan teratai emas ini, maka aku dipanggil Kim Lian oleh mereka.”
Lalu dia menunduk. Dagunya nampak meruncing halus kalau dia menunduk, manis sekali.
“Kim Lian, engkau menjadi pelacur tentu karena ingin memperoleh uang, bukan?”
“Satu di antaranya alasan itulah.”
Tek Hoat mengeluarkan beberapa keping uang perak dari buntalannya, kemudian melemparkan perak itu
di atas pembaringan dekat pelacur itu. “Nah, ambillah uang ini sebagai pembayaran biar pun aku tidak
akan menyentuhmu.”
Kim Lian kelihatan terkejut, menoleh kepada uang itu kemudian kepada Tek Hoat, lalu kepada uang itu lagi
dan kepada Tek Hoat. Air matanya makin banyak bercucuran, akhirnya dia turun dari pembaringan dan
menjatuhkan diri, berlutut di depan kaki pemuda itu sambil menangis!
“Kongcu... engkau menghancurkan hatiku dengan sikap ini... lebih baik kau maki saja aku..., Kongcu... kau
maki dan pukul aku saja...“
Tek Hoat makin bengong. Dia merasa heran sekali mengapa hatinya tersentuh oleh sikap wanita ini.
Seorang pelacur! Mungkin karena dia merasa yakin bahwa pelacur yang satu ini tidak berpura-pura dalam
semua sikapnya! Ketika memuji ketampanannya tadi, ketika marah dan ketika berduka sekarang ini, semua
adalah wajar dan tidak dibuat-buat. Itulah mungkin yang menggerakkan hatinya sehingga dia merasa
kasihan sekali.
“Bangkitlah!” katanya sambil memegang kedua pundak pelacur itu, menariknya berdiri.
Pelacur itu bangkit berdiri dan Tek Hoat juga turut berdiri. Pelacur itu hanya setinggi dagunya. Mereka
saling pandang. Pelacur itu masih terisak ketika memandangnya.
“Sudah, jangan menangis, aku hanya ingin bertanya-tanya, dan kuharap engkau suka menjawabnya. Uang
itu sebagai pembayaran jawaban-jawabanmu.”
“Kongcu... Kongcu tidak memandangku dengan hina lagi?” Wanita itu terisak.
Tek Hoat merasa makin tertusuk. Betapa tidak berdayanya wanita ini, berdiri sendiri di dunia yang kejam,
tidak ada yang melindunginya dari penghinaan semua orang! Hatinya merasa terharu dan dia
mendekatkan mukanya, mencium dahi perempuan itu, ciuman karena iba, bukan ciuman sayang, bukan
pula ciuman birahi, lalu dia perlahan-lahan mendorong wanita itu sehingga terduduk kembali di atas
pembaringan. Dia sendiri lalu duduk di atas bangku di depan pembaringan.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Nah, Kim Lian, kita bicara sebagai dua orang sahabat. Aku kasihan kepadamu dan harap kau suka
menjawab sejujurnya. Kenapa engkau menjadi pelacur? Siapa yang memaksamu menjadi seorang
pelacur, melakukan pekerjaan yang rendah dan hina ini?”
Agaknya Kim Lian sudah dapat menguasai dirinya kembali dan ciuman pada dahinya tadi menyentuh
hatinya, membuat dia percaya kepada pemuda aneh ini yang sikapnya amat luar biasa terhadap dirinya,
sikap yang selama ini belum pernah dia lihat di antara para langganannya yang tak terhitung banyaknya
itu. Maka dia pun tahu bahwa pemuda ini adalah seorang pemuda luar biasa yang amat baik hatinya
terhadap dirinya, dan dia mengambil keputusan untuk bersikap jujur dan untuk menumpahkan seluruh isi
hatinya kepada pemuda ini.
“Kongcu, pertanyaan Kongcu itu banyak sekali jawabannya. Mengapa aku menjadi pelacur? Mungkin
karena keadaan karena terpaksa atau juga karena kusengaja! Yang memaksaku adalah kaum pria dan
mungkin juga diriku sendiri.”
“Hemmm, jawabanmu merupakan teka-teki, Kim Lian.”
“Bukan, Kongcu, melainkan jawaban sejujurnya. Adalah kaum pria yang mendorongku untuk menjadi
pelacur ini dan untuk itu sebaiknya Kongcu mendengar riwayatku secara singkat. Aku adalah anak
keluarga miskin. Ibu kandungku mati ketika aku masih kecil. Ayah kawin lagi dan dalam keadaan miskin itu,
atas desakan ibu tiriku untuk menyelamatkan mereka dan anak-anak lain dari bahaya kelaparan, aku dijual
kepada seorang kaya. Sejak kecil aku menjadi pelayan dalam rumah keluarga kaya itu sampai aku mulai
dewasa dan majikanku, laki-laki tua itu, pada suatu malam memaksa aku, memperkosa aku dengan
ancaman dan dengan ganjaran. Aku tidak berdaya. Sampai aku mengandung dan majikan perempuan
marah-marah lalu menghadiahkan aku kepada seorang pegawai pria dari mereka. Aku menjadi isteri
pegawai itu, akan tetapi sering kali majikan laki-laki tua itu masih datang untuk menikmati tubuhku setahu
suamiku! Setelah aku melahirkan seorang anak yang mati ketika lahir, majikan laki-laki itu pun meninggal
dunia dan suamiku mulai bersikap kasar kepadaku. Aku sering dipukul, dan aku dipaksa untuk melacurkan
diri. Aku lari minggat meninggalkan dia. Kemudian aku terjatuh ke tangan beberapa orang pria yang pada
pertemuan pertama kelihatan amat mencinta, akan tetapi setelah mereka puas menikmati tubuhku dan
menjadi bosan, aku dicampakkan begitu saja! Entah berapa kali aku merasa sakit hati kepada pria,
Kongcu. Akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita tua bekas pelacur, aku mendapat nasehat dari
padanya untuk membalas kaum pria, untuk menyerahkan badan bukan hati dan untuk menikmati hidup
sambil memperoleh hasil yang mudah. Nah, mulai hari itu aku menjadi pelacur sampai sekarang, terkenal
dengan nama Kim Lian.”
Tek Hoat berdiam diri saja mendengarkan penuturan singkat itu. Dia merasa kasihan, dan setelah gadis
pelacur itu mengakhiri penuturannya, dia menarik napas panjang dan berkata, “Kim Lian, di antara segala
pekerjaan di dunia ini yang begitu banyak, kenapa engkau memilih pekerjaan pelacur?”
“Kongcu, pekerjaan apa lagi yang dapat dilakukan oleh seorang wanita lemah dan tidak terpelajar seperti
aku ini? Yang kumiliki hanyalah kewanitaanku, kecantikan dan kemudaanku! Menjadi pelayan rumah
tangga orang? Sudah kulakukan beberapa kali, akan tetapi hasilnya hanyalah gangguan dari majikan lakilaki,
tua mau pun muda! Dan dalam pekerjaan sebagai pelacur ini, aku memperoleh dua hal, pertama,
uang yang banyak dan mudah. Kedua, kebutuhan nafsu badan sebagai seorang wanita muda yang sehat
dan normal.”
Tek Hoat mengerutkan alisnya. “Apa artinya uang yang didapatkan dengan jalan hina? Dan untuk
kebutuhan kedua, mengapa engkau tidak berumah tangga saja, menikah dengan seorang pria dan hidup
sebagai ibu rumah tangga yang terhormat?”
Sepasang mata itu memandang dengan penasaran. “Kongcu, bagaimana mungkin ada seorang wanita
berumah tangga dan menikah kalau tidak ada seorang pria pun yang menghendakinya? Dan pria manakah
yang sudi menikah dengan aku? Tidak mungkin wanita memilih pria lalu melamar sebagai suaminya,
seperti yang mudah saja dilakukan oleh pria! Dunia ini memang berat sebelah dan tidak adil, Kongcu,
engkau pun tentu mengetahui akan hal itu!”
Makin lama dia bicara dengan pelacur muda ini, makin tertariklah hati Tek Hoat. Banyak kenyataan terbuka
di depan matanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Akan tetapi, pekerjaanmu ini merupakan dosa besar. Engkau berdosa karena engkau menggoda kaum
pria, menyeret mereka ke dalam perbuatan hina, hubungan gelap yang membuat mereka mengkhianati
kesetiaan suami isteri, dan engkau juga merusak orang muda yang belum beristeri.”
Tiba-tiba gadis itu tertawa dan suara ketawanya membuat Tek Hoat merasa tertusuk jantungnya, karena
sukar dibedakan apakah suara itu merupakan tawa ataukah tangis! Kemudian gadis itu berkata, suaranya
lantang, “Kongcu yang baik, bicara tentang godaan, siapakah yang menggoda dalam hal ini? Priakah atau
wanita semacam kami? Siapa yang menyeret ke dalam perbuatan hina? Siapakah yang khianatmengkhianati
dalam hubungan antara kami dengan pria-pria itu? Kongcu, kami dan kaum pria sama sama
membutuhkan, akan tetapi kebutuhan kami jauh lebih suci dari pada kebutuhan mereka! Kami
membutuhkan uang untuk hidup, membutuhkan kepuasan birahi sebagai mana patutnya. Berilah kami
seorang suami yang baik dan uang untuk hidup, tidak akan ada seorang wanita pun yang menjadi pelacur,
kecuali kalau dia gila! Akan tetapi kaum pria itu, sudah mempunyai isteri, bahkkan sudah mempunyai selirselir,
masih saja melacur! Siapakah yang hina? Siapakah yang rendah? Mereka itu membutuhkan kami,
membutuhkan hiburan yang ada pada diri kami, sedangkan kami membutuhkan kesenangan dan uang.
Mereka membeli dan kami menjual. Coba tidak ada kaum pria yang mengejar-ngejar dan mencari-cari kami
untuk membeli, mana mungkin pula kami menjual diri?”
“Tapi, Kim Lian, kenyataan dalam hidup adalah bahwa semua orang pria mau pun wanita memandang
rendah dan hina kepada pekerjaanmu ini.”
“Biarlah! Akan tetapi buktinya, kami kaum pelacur tidak pernah mengkhianati siapa pun, kami bebas
bermain cinta dengan laki-laki mana pun juga yang menghendaki kami tanpa paksaan, tanpa sembunyisembunyi
karena kami tidak mengkhianati siapa-siapa. Merekalah, kaum prialah yang mengkhianati isteriisteri
mereka, yang mencari kami dengan sembunyi-sembunyi dan berani membayar berapa saja kalau
sudah tergila-gila kepada kami.” Gadis pelacur itu berhenti sebentar, lalu berkata lagi, “Seluruh pria tentu
ingin melihat agar semua wanita di dunia ini, kecuali ibunya, isterinya, atau pun anak perempuannya dan
keluarga perempuannya, menjadi pelacur semua! Supaya semua wanita suka melayaninya di atas
pembaringan, agar semua wanita bersedia dan mau memuaskan nafsu birahi mereka. Betapa palsu, licik
dan munafiknya kaum pria!”
Tek Hoat melongo. Benarkah ini? Dia pun seorang pria. Benarkah apa yang dikatakan oleh pelacur ini?
Bahwa semua pria menghendaki semua wanita, kecuali orang-orang tertentu, yaitu keluarganya, bersikap
bagai pelacur? Hatinya condong mengatakan ‘ya’ kalau dia berani memandang diri sendiri, memandang
sampai ke sudut tergelap dari batinnya. Akan tetapi dia merasa ‘ngeri’ untuk mengakui ini.
“Kim Lian, kata-katamu terlalu keras, agaknya karena dendam sakit hati kepada kaum pria. Tetapi,
bukankah pekerjaanmu melacur ini mencemarkan kaum wanita? Bukankah pekerjaanmu ini dikutuk oleh
kaum wanita?”
Kembali Kim Lian tertawa, suara ketawa yang aneh, setengah menangis dan setengah ketawa, lalu dia
berkata lagi, suaranya lebih halus, penuh kepahitan, “Mungkin sekali, Kongcu. Dan biarlah mereka itu
mengutuk dan mencemoohkan kami kaum pelacur. Kami tahu mengapa mereka mengutuk kami, dan kami
kasihan kepada mereka.”
“Ehh, apa pula ini? Engkau kasihan kepada mereka yang mengutukmu dan kau tahu mengapa?”
“Memang ruwet lika-likunya, Kongcu. Akan tetapi aku, yang telah matang digembleng oleh hidup, yang
telah direbus oleh api kepahitan, aku dapat melihatnya. Wanita-wanita itu mengutuk kami karena mereka
merasa dirugikan...“
“Dirugikan?”
“Ya, dirugikan karena suami, anak mereka, keluarga mereka yang pria lari kepada kami dan menjauhi
mereka. Karena kami dianggap mencemarkan dan memalukan mereka. Kemudian karena mereka merasa
iri kepada kami.”
“Iri?” Tek Hoat berseru kaget. “Kaum wanita baik-baik bisa iri kepada pelacur? Apakah maksudmu?”
“Benar, iri hati! Mungkin di bawah sadar mereka, akan tetapi jelas ada perasaan iri hati yang tidak mereka
sadari sendiri itu. Lihatlah, wanita mana yang tidak suka bersolek, yang tidak suka mempercantik diri?
Mereka mempercantik diri karena dua sebab, pertama agar dipuji oleh umum, terutama sekali oleh kaum
dunia-kangouw.blogspot.com
pria dan diiri hatikan kaum wanita lainnya. Mereka itu, di luar sadarnya berusaha untuk menarik hati kaum
pria sebanyaknya! Makin banyak pria yang kagum dan tergila-gila kepadanya, maka makin senanglah
hatinya.”
“Ah, masa...?”
“Keadaan membuktikan demikian dan mungkin itu sudah merupakan naluri wanita, Kongcu. Setiap mahluk
betina selalu akan berlagak di depan jantan, tentu karena naluri untuk menarik perhatian. Karena itu,
melihat betapa kami kaum pelacur dapat menarik perhatian banyak pria, bahkan dapat menghibur mereka
dalam permainan cinta, bahkan menerima perhatian pria yang rela memberi hadiah dan uang di samping
perlakuan cinta, tanpa disadari mereka itu, kaum wanita merasa iri dan karena iri ini tidak dapat dinyatakan
secara terbuka, maka perasaan iri itu berubah menjadi benci! Dan lalu muncullah penghinaan mereka
terhadap kami! Tentu saja selain itu, juga mereka mendendam karena kami dianggap merusak nama baik
kaum wanita pada umumnya.”
Tek Hoat memandang penuh perhatian dan makin terheran-heran. “Kim Lian, engkau seorang pelacur,
engkau seorang yang buta huruf, akan tetapi heran sekali, kurasa jarang ada orang pandai yang dapat dan
berani berpandangan seperti yang baru kau nyatakan itu. Sekarang ada satu hal lagi, Kim Lian. Sebagai
pelacur, engkau dan kaummu dianggap sebagai penyebar penyakit kotor! Hal ini mau tidak mau harus kau
akui dan tidak dapat kau sangkal lagi!”
Sejenak gadis pelacur yang cantik itu menarik napas panjang. “Memang, hukum rimba mengatakan bahwa
segala macam sebab kesalahan selalu ditimpakan kepada mereka yang lemah dan yang kalah! Kaum pria
mau mencari enaknya sendiri saja, benarnya sendiri saja! Penyakit itu hanya merupakan akibat, Kongcu.
Sebabnya adalah hubungan-hubungan gelap itu. Dan siapakah yang mulai dengan pelacuran? Sudah
kukatakan tadi, kalau tidak ada pria yang hendak melacur, apakah di dunia ini ada pelacur? Dan tentang
penyakit, siapakah yang menularkan dan siapa yang ditularkan? Dari siapakah pelacur terserang penyakit
kalau tidak ketularan oleh seorang langganannya, yaitu seorang pria? Ahhh, Kongcu, persoalan penyakit
ini sama saja dengan persoalan siapa yang keluar lebih dulu, telur ataukah ayamnya!”
Tek Hoat bungkam. Beberapa kali dia hendak berkata, akan tetapi tidak dapat keluar dan akhirnya dia
hanya dapat menelan ludah. Baru sekarang ini dia mendengar hal-hal seperti itu. Sungguh berlainan
dengan segala macam filsafat yang pernah dibacanya tentang susila, tentang kejahatan dan kebaikan dan
lain-lain. Kini dia dihadapkan dengan keadaan yang telanjang, tanpa aling-aling lagi, tanpa pulasan dan dia
melihat ketelanjangan yang murni, melihat baik buruknya. Dan dia terpesona, juga... bingung! Dirogohnya
buntalannya, diambilnya beberapa keping uang lagi dan ditambahkan pada uang di atas pembaringan.
“Ambiliah semua uang itu, Kim Lian. Dan pulanglah engkau. Terima kasih atas segala keteranganmu.
Percakapan kita membuka mataku dan aku tak berani lagi memandang rendah kepada kaum pelacur
karena aku mulai melihat apakah diriku ini tidak lebih rendah dari pada engkau, Kim Lian.”
Kim Lian turun dari pembaringan, mengambil semua uang itu dari atas pembaringan, menghampiri Tek
Hoat yang sudah berdiri dan meletakkan uang itu di atas meja. “Aku tidak bisa menerima uangmu, Kongcu.
Bukan karena aku tidak melayanimu seperti mestinya di atas pembaringan. Biar pun tidak melayanimu,
kalau engkau menghinaku, memandang rendah kepadaku, tentu akan kuperas kau sampai habis uangmu
dengan akal bagai mana pun juga. Akan tetapi, engkau begitu jujur, dan percakapan ini telah melegakan
dadaku, aku telah menumpahkan segala beban hatiku kepadamu. Engkau telah memberi aku sesuatu
yang jauh lebih berharga dari pada uang ini ditambah sepuluh kali lipat, Kongcu. Aku akan pergi, Kongcu,
hanya... kalau boleh..., aku ingin menyatakan terima kasihku kepadamu dengan caraku sendiri.”
Ang Tek Hoat makin terharu. Benar-benar bukan gadis sembarangan dia ini, pikirnya, “Silakan, Kim Lian,
sungguh pun yang patut berterima kasih adalah aku kepadamu.”
Kim Lian menghampiri makin dekat, lalu merangkul leher Tek Hoat, menarik leher itu sehingga kepala Tek
Hoat menunduk, lalu dia berdiri di atas ujung jari-jari kakinya dengan mengangkat tumitnya sehingga
bibirnya bertemu dengan bibir Tek Hoat ketika dia mencium mulut pemuda itu. Ciuman yang amat mesra,
yang dilakukan dengan sepenuh perasaannya, kecupan seorang wanita yang menyerahkan diri sebulatnya
kepada seorang pria, ciuman yang selama hidupnya baru satu kali itu dilakukan oleh Kim Lian terhadap
seorang pria!
Terdengar suara isak naik dari dada Kim Lian, dia melepaskan ciumannya lalu berlari ke pintu, membuka
daun pintu, lalu berhenti, menoleh dengan air mata membasahi pipi sambil berkata, “Pria seperti engkau
dunia-kangouw.blogspot.com
inilah yang menjunjung tinggi martabat wanita, Kongcu, patut dibanggakan oleh ibumu, oleh semua wanita,
patut menerima cinta kasih wanita. Aku selamanya tidak akan dapat melupakan wajahmu, Kongcu.
Selamat tinggal.” Dan daun pintu itu ditutup kembali, lalu terdengar langkah-langkah kaki yang diseret dan
ringan dari pelacur itu yang pergi setengah berlari.
Tek Hoat menjatuhkan diri di atas bangku, duduk termenung. Dia pria seperti itu? Menjunjung tinggi
martabat wanita? Patut dibanggakan oleh ibunya dan semua wanita? Dia? Terbayang kembali segala
perbuatannya di waktu dahulu, penyelewengannya, perjinaannya dengan isteri orang. (baca Kisah
Sepasang Rajawali)
“Ahhh...!” Dia menutupi kedua matanya dengan tangannya, memejamkan mata dan telinganya terusmenerus,
mendengar pujian Kim Lian.
“Tidak...!” Kini kedua tangan itu pindah ke telinganya. Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya dan kalau
saja hatinya tidak sudah membeku atau membaja, tentu Tek Hoat akan menangis menggerung-gerung di
saat itu. Dia merasa dirinya kotor sekali, hina dan jauh lebih rendah dari pada Kim Lian si pelacur!
“Kongcu... heh-heh-heh...”
Tek Hoat tergugah dan dia menoleh. Wajah buruk pelayan itu menyeringai.
“Kongcu, saya bertemu dengan Kim Lian, dia menangis dan tidak mau bicara. Ahh, dan Kongcu duduk
sendiri dengan pakaian lengkap. Apakah Kongcu tidak suka dengan dia? Begitu cantik dan manis, begitu
menggairahkan, seperti buah apel yang sudah masak... hemmmmm...“ Dan si buruk rupa itu menjilat-jilat
bibirnya seperti orang yang mengilar! “Kalau saya semuda dan setampan Kongcu, dan beruang, hemmm,
kalau saya diberi kesempatan... heh-heh...“
Tek Hoat melemparkan beberapa potong uang kepada pelayan itu. Uang itu jatuh ke atas lantai dan
dipunguti oleh si pelayan. “Pergilah! Pergilah cepat, kalau tidak, kubunuh kau!”
Pelayan itu terkejut, memandang dengan muka ketakutan, lalu dia mengangguk dan lari keluar, lupa
menutupkan pintu kamar itu saking kaget dan takutnya. Tek Hoat tidak peduli dan kembali duduk dengan
kedua tangan menopang dahi di kanan kiri, matanya dipejamkan.
“Tek Hoat...!”
Pada saat itu, Ang Tek Hoat sedang membayangkan wajah Syanti Dewi dan timbul keraguan di dalam
hatinya, apakah orang semacam dia itu patut menjadi suami Puteri Bhutan itu. Maka begitu saat
mendengar suara lembut ini, jantungnya seperti berhenti berdetak.
“Syanti...!” Dia berbisik dan mutar tubuhnya.
Seorang wanita berdiri di pintu kamarnya, wanita cantik yang bertubuh ramping. Akan tetapi bukan Syanti
Dewi, melainkan... Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, si Siluman Kucing! Dan anehnya, kedua mata
Siluman Kucing itu merah dan basah oleh air mata!
“Mo-li...!” Tek Hoat berkata lirih dan dia agak terkejut melihat kehadiran siluman betina ini dalam saat yang
sama sekali tidak disangka-sangkanya.
Siluman Kucing menutupkan daun pintu, kemudian dia melangkah maju dan tiba-tiba dia menjatuhkan
dirinya berlutut di depan kaki Tek Hoat! Pemuda ini terbelalak dan siap siaga, karena dia maklum akan
kelihaian dan kelicikan siluman ini. Akan tetapi dia terheran-heran karena Lauw Hong Kui kini benar-benar
menangis di depan kakinya!
“Tek Hoat... maafkan aku... ahhh, betapa aku kagum melihatmu, Tek Hoat. Gadis itu demikian cantik, akan
tetapi engkau tidak mengganggunya dan memberi uang. Engkau benar-benar seorang pria yang jantan,
Tek Hoat. Betapa aku rindu kepadamu. Setelah kau pergi meninggalkan aku, baru terasa olehku, dunia
seperti kosong, sunyi... ahhh, engkau boleh memukulku, Tek Hoat, engkau boleh membunuhku, akan
tetapi jangan kau benci padaku, jangan kau tinggalkan aku... aku haus akan cintamu, Tek Hoat, kau
kasihanlah kepadaku...“
dunia-kangouw.blogspot.com
Tek Hoat menahan senyumnya. Perempuan memang mahluk yang aneh, pikirnya dan dia teringat akan
semua percakapannya dengan Kim Lian tadi. Benarkah Mauw Siauw Mo-li haus akan cintanya? Benarkah
seorang wanita seperti iblis ini mengenal apa artinya cinta? Ataukah hanya menjadi budak nafsu belaka?
Ingin dia tertawa, mentertawakan Mauw Siauw Mo-li, akan tetapi teringat akan kata-kata Kim Lian, dia
merasa tidak tega. Biar pun iblis, Mauw Siauw Mo-li ini juga seorang wanita! Sama dengan Kim Lian!
Seorang manusia yang berperasaan!
Mungkin karena biasanya dapat menundukkan pria dengan mudah, maka setelah bertemu dengan dia dan
justeru karena dia tidak dapat ditundukkannya, maka Mauw Siauw Mo-li menjadi tergila-gila dan jatuh cinta!
Mungkin tersinggung perasaannya karena ucapan Kim Lian tadi, semua wanita ingin digilai laki-laki,
sungguh pun hal ini bukan berarti bahwa wanita itu gila laki-laki. Akan tetapi ingin digilai, ingin dipuji, ingin
dikagumi laki-laki mana pun juga. Dan karena dia tidak tergila-gila kepada Mauw Siauw Mo-li, hal ini justeru
malah membuat wanita ini tersinggung perasaannya dan merasa tidak puas, dan baru akan merasa
senang kalau Tek Hoat yang kokoh kuat dan angkuh itu bertekuk lutut. Demikiankah?
“Mo-li, bangkitlah dan jangan seperti anak kecil. Mari kita duduk dan bicara. Aku maafkan segala kesalah
pahaman antara kita. Betapa pun juga, engkau sudah banyak membantuku dan kita sudah melakukan
perjalanan bersama cukup lama hingga boleh dibilang kita adalah sahabat.”
“Ahhh, terima kasih, Tek Hoat!”
Mauw Siauw Mo-li bangkit berdiri dan duduk di atas pembaringan, karena di situ hanya terdapat sebuah
saja bangku yang diduduki Tek Hoat. Sejenak mereka berpandangan. Di bawah sinar api lilin yang
kemerahan, memang harus diakui oleh Tek Hoat bahwa Mauw Siauw Mo-li memang cantik. Mungkin Kim
Lian tadi lebih manis, akan tetapi Mauw Siauw Mo-li lebih matang!
“Mo-li, kenapa engkau menyusulku sampai di sini?” Akhirnya Tek Hoat bertanya karena tidak tahan melihat
sinar mata wanita itu yang seolah-olah akan membakarnya dengan nafsu membara, sepasang mata yang
seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.
“Kenapa? Ahhh, engkau tidak tahu betapa aku hampir mati tersiksa hatiku setelah engkau pergi. Aku
merasa kesepian dan dunia ini serasa hampa setelah kepergianmu, Tek Hoat. Tidak pernah aku
menyangka bahwa aku akan tergila-gila kepadamu. Tidak pernah aku membayangkan betapa cinta dapat
begini menyiksa. Apa lagi ketika aku teringat betapa kita berpisah sebagai musuh. Ah, tidak, Tek Hoat, aku
tidak tahan maka aku menyusulmu.”
“Hemmm, Mo-li, siapa bisa percaya akan rayuanmu? Engkau terkenal sebagai seorang wanita yang bisa
mendapatkan pria mana pun yang kau inginkan. Seorang wanita seperti engkau ini, mana mungkin bisa
jatuh cinta dengan sungguh-sungguh? Engkau hanyalah menjadi hamba nafsu birahimu sendiri...“
“Cukup, harap jangan lanjutkan, Tek Hoat. Aku mengaku bahwa memang hidupku yang lalu penuh dengan
petualangan dan aku sudah biasa memandang rendah kaum pria yang kuanggap sebagai permainanku.
Akan tetapi sekarang baru aku merasa bahwa aku sesungguhnya seorang manusia biasa, seorang wanita
yang juga mempunyai hati dan perasaan. Aku cinta padamu, Tek Hoat, dan aku tersiksa sekali ketika kita
saling berpisah.”
Tek Hoat tidak tahu apakah dia merasa terharu ataukah geli mendengar kata-kata wanita ini. Siluman
Kucing yang biasa mempermainkan pria sampai pria itu tewas, entah sudah berapa banyaknya pria ini
yang tewas olehnya, diajaknya bermain cinta dan sekaligus dibunuhnya, wanita yang seperti iblis betina
cantik ini, jatuh cinta kepadanya? Sungguh menggelikan dan sukar untuk dipercaya. Akan tetapi, dia pun
tahu bahwa Mauw Siauw Mo-li adalah seorang wanita berkepandaian tinggi yang telah merupakan seorang
tokoh di dunia kaum sesat sehingga memiliki keangkuhan besar, maka kiranya tidak mungkin mau
merendahkan diri dengan pengakuan cinta dan kelemahannya itu kalau tidak ada kesungguhan di baliknya.
Apa lagi bahwa wanita ini sudah mengaku sendiri betapa biasanya dia menganggap kaum pria sebagai
permainannya dan baru sekarang perasaan wanitanya membisikkan bahwa dia jatuh cinta!
“Mo-li, kita hanya sahabat biasa, bahkan itu pun bukan, hanya kenalan yang kebetulan bertemu di tempat
Yang-liu Nionio, ketua Hek-eng-pang yang menjadi muridmu itu. Ada waktunya bertemu, berkumpul, tentu
ada waktunya pula untuk berpisah. Kita hanya bersimpang jalan dan jalan hidup kita tidak sama.”
Mauw Siauw Mo-li mengangguk, akan tetapi pandang matanya masih terus menatap wajah pemuda itu
seolah-olah dia hendak menyihirnya. “Aku pun mengerti bahwa ada waktunya bertemu ada pula waktunya
dunia-kangouw.blogspot.com
berpisah, Tek Hoat. Akan tetapi aku akan terus menderita kalau harus berpisah denganmu seperti itu,
sebagai musuh!”
“Aku telah memaafkan segala kesalah pahaman antara kita, Mo-li. Kita bukan musuh…“
“Akan tetapi aku ingin berpisah denganmu sebagai seorang kekasih, Tek Hoat.” Dan wanita itu kembali
menjatuhkan diri berlutut di depan Tek Hoat, merangkul pinggang pemuda itu dan membenamkan
mukanya di atas pangkuan Tek Hoat! Kembali dia menangis! “Tek Hoat, kasihanilah aku... bersikaplah
sedikit manis kepadaku untuk dapat kujadikan kenangan selama hidupku...“
Sikap dan kata-kata wanita itu menyentuh perasaan Tek Hoat. Kedua lengan yang merangkul pinggangnya
itu begitu mesra, mengusap punggungnya, dan wajah cantik yang tadi bersembunyi di atas pangkuannya
itu kini diangkat tengadah, memandangnya dari bawah, dengan sepasang mata agak berair dan sayu
mesra, cuping hidungnya agak kembang-kempis, bibirnya tergetar, rambutnya yang hitam panjang awutawutan,
sebagian anak rambut menutup dahi dan telinganya. Dari tubuhnya keluar bau khas wanita, bau
betina yang merangsang dan di bagian tubuh yang tersentuh oleh tubuh wanita itu terasa panas dan
tergetar. Seorang wanita yang cantik dan masak.
Tek Hoat menunduk, memandang wajah itu, nampak jelas rambut alis itu yang tumbuh dengan indahnya,
seperti rumput yang teratur sekali, seperti lukisan yang amat tepat dan bagus. Mata itu, hidung itu, mulut
itu!
“Engkau memang seorang wanita yang cantik sekali, Mo-li...,“ akhirnya dia berkata, ucapan yang bukan
pujian kosong belaka melainkan pengakuan yang keluar dari lubuk hatinya.
Sepasang mata itu terbelalak seperti orang heran, kemudian bersinar-sinar dan wajah yang berkulit putih
kemerahan dan halus itu berseri. “Aihhh... benarkah itu? Tek Hoat, kuminta kepadamu, dalam saat seperti
ini... aku bersungguh-sungguh, jangan kau goda aku, jangan kau permainkan aku, benarkah kata-katamu
itu?”
“Kau memang cantik sekali.”
“Akan tetapi, orang menyebutku iblis betina...!
“Mungkin kau iblis betina, akan tetapi iblis betina yang cantik,” Ang Tek Hoat membelai rambut panjang
yang sanggulnya terlepas itu, “Dan rambutmu amat halus mengkilap dan panjang.”
Makin berseri wajah itu dan bibir yang memang bentuknya manis itu tersenyum. “Ahhh, Tek Hoat, jangan
mempermainkan aku...! Aku lebih tua darimu, aku sudah tua sekali, sudah hampir nenek-nenek...“
Tek Hoat juga tersenyum. Dalam percakapan seperti ini, dia menemukan dalam diri Mauw Siauw Mo-li itu
seorang manusia wanita biasa! Sama sekali bukan wanita iblis yang jahat dan keji, melainkan seorang
wanita yang kalau dipuji oleh pria lalu menjadi bahagia hatinya, menjadi manja dan memancing pujianpujian
berikutnya!
“Usia tidak penting, yang nyata engkau adalah seorang wanita cantik yang kelihatannya tidak lebih dari dua
puluh tahun usianya...“
Rangkulan kedua lengan itu mengetat di pinggang Tek Hoat. “Benarkah itu? Tek Hoat..., ahhh, benarkah
bahwa akhirnya ada pula rasa sayang di dalam hatimu terhadapku? Benarkah bahwa kau juga... cinta
kepadaku, Tek Hoat? Ahhh, betapa hatiku menanti jawabanmu seperti rumput kering menantikan turunnya
hujan...“
Tek Hoat tersenyum dalam hatinya. Teringat dia akan perasaan hatinya terhadap Syanti Dewi! Tiap kali dia
berhadapan dengan kekasihnya itu dan bercakap-cakap, terus saja timbul sifat romantisnya, timbul pula
keinginannya untuk bernyanyi, bersajak atau setidaknya menggunakan kata-kata yang indah-indah! Kini
Mauw Siauw Mo-li agaknya pun tidak terluput dari dorongan suasana hati itu. Kata-katanya mulai indahindah
dan muluk-muluk!
“Mo-li, terus terang saja, aku hanya mencinta seorang di dunia ini. Akan tetapi aku suka kepadamu, Mo-li,
dan aku tidak berbohong ketika kukatakan bahwa engkau seorang wanita yang cantik sekali.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tangan kanan wanita itu melepaskan rangkulan di pinggang dan kini mengusap dagu Tek Hoat dengan
mesra dan manja. “Aku masih belum percaya benar... apanya yang cantik pada diriku yang telah tua ini...?”
Jelas bahwa wanita ini yang sedang dibuai cinta memancing-mancing pujian lebih banyak lagi!
“Wajahmu, alismu, matamu, hidungmu, mulutmu dan... hemmm, bentuk tubuhmu juga amat indah
menggairahkan...“
“Hi-hik...!” Mauw Siauw Mo-li meloncat berdiri dan menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan gerakan
lemah gemulai seperti orang menari. “Engkau menduga-duga saja, untuk menyenangkan hatiku. Engkau
kejam, Tek Hoat, engkau hanya mengejek dan mempermainkan aku yang benar-benar tergila-gila
kepadamu, yang mencintamu seperti yang belum pernah kurasakan terhadap pria yang mana pun!” Dalam
hatinya, Lauw Hong Kui merasa bahwa dia berbohong karena sebelum ini pernah dia merasakan cinta
yang sama seperti ini, yaitu terhadap Suma Kian Bu (baca Kisah Sepasang Rajawali).
“Tidak, aku tidak mempermainkanmu ketika aku memuji kecantikanmu, Mo-li.”
“Dan tubuhku?”
“Hemmm... dan tubuhmu.”
“Menggairahkan katamu?”
Wajah Tek Hoat menjadi merah, akan tetapi dia mengangguk. “Ya, menggairahkan.”
Mauw Siauw Mo-li tertawa. Memang manis dia kalau tersenyum atau tertawa, sekilas pandang
memperlihatkan giginya yang rata dan putih, akan tetapi suara ketawanya menyeramkan, dengan suara
tenggorokan yang ditahan.
“Hi-hik! Engkau hanya menduga-duga saja. Engkau belum pernah melihat tubuhku, bagaimana bisa
mengatakan bahwa bentuk tubuhku indah menggairahkan?”
Wajah Tek Hoat makin menjadi merah. “Mudah dilihat dan diduga...” Dia menjawab juga.
Mauw Siauw Mo-li melangkah maju, memegang kedua tangan pemuda itu, menariknya perlahan sehingga
Tek Hoat juga berdiri. Mauw Siauw Mo-li lalu merangkulkan kedua lengannya pada leher pemuda itu,
mendekatkan mukanya sampai napasnya terasa oleh pipi Tek Hoat dan dia berbisik setelah mengeluarkan
suara erangan kecil seperti kucing diusap kepalanya, “Tek Hoat, aku ingin kau tidak menduga-duga,
melainkan melihatnya sendiri bentuk tubuhku. Kau bukalah...“
Akan tetapi Tek Hoat yang mulai terseret oleh rayuan dan suasana romantis yang ditimbulkan oleh sikap
dan kata-kata Mauw Siauw Mo-li, menggeleng kepala sungguh pun dia masih tersenyum.
“Hi-hi-hik, kau malu-malu? Engkau memang seorang pemuda hebat. Keras, angkuh, berkuasa, berwibawa,
tidak mudah tunduk, mau menang selalu, dan kadang-kadang amat lembut seperti sekarang ini! Dan
engkau tidak mudah terayu oleh wanita! Ahhh, betapa hebat dan kagum sekali hatiku, Tek Hoat. Baiklah,
biar aku sendiri yang akan membuka pakaian ini, agar engkau tidak hanya menduga-duga saja dalam
menilai tubuhku.” Mauw Siauw Mo-li lalu mendorong tubuh pemuda itu dengan lembut sehingga Tek Hoat
terduduk di atas pembaringan. Pemuda ini memandang dan jantungnya lalu berdebar tegang.
Mauw Siauw Mo-li adalah seorang wanita cantik yang sudah mahir sekali berlagak dan bergaya untuk
memikat hati pria. Dia sudah mengenal betul sifat-sifat pria pada umumnya dan dengan mudah dia dapat
pula menjajagi perasaan hati Tek Hoat. Dengan gerakan yang lemah gemulai, genit namun tidak
menjemukan, mulailah wanita ini melepaskan kancing bajunya satu demi satu, gerakannya lambat, raguragu,
dengan jari-jari tangan gemetar buatan, dengan kerling mata dan senyum bibir malu-malu seperti
seorang perawan yang baru pertama kalinya berhadapan dengan pria.
Tek Hoat benar-benar menghadapi rayuan maut yang amat hebat. Jantungnya berdebar tak karuan saat
dia melihat pakaian itu tanggal satu persatu dengan cara penanggalan demikian memikat, setiap potong
pakaian diloloskan dari tubuh secara perlahan, sedikit demi sedikit sampai akhirnya Mauw Siauw Mo-li
berdiri tanpa penutup tubuh sama sekali bermandikan sinar api lilin yang kemerahan dan bergoyanggoyang
membentuk bayang-bayang aneh di dinding.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ihhh... hi-hi-hik, matamu seperti mengeluarkan api, Tek Hoat...,“ bisiknya halus.
Wanita ini lalu mengangkat kedua lengannya ke atas, menggunakan jari-jari tangannya untuk
membereskan rambut di kepalanya yang awut-awutan. Gerakan ini benar-benar merupakan gerakan khas
wanita di bagian mana pun di dunia ini dan pengangkatan kedua lengan ke atas itu menonjolkan keindahan
bentuk tubuh wanita, dadanya makin menonjol, kerampingannya makin nampak dan tubuhnya makin polos,
dan terbuka.
Ang Tek Hoat adalah seorang pemuda normal yang biasa saja. Menyaksikan semua pertunjukan ini,
napasnya agak memburu dan mukanya merah sekali.
“Hi-hik, kau kenapa, Tek Hoat?” Mauw Siauw Mo-li lalu melangkah maju, langkahnya perlahan dan seperti
orang menari, kemudian tahu-tahu dia telah duduk di pangkuan pemuda itu, merangkulkan kedua
lengannya ke leher Tek Hoat dan tahu-tahu pula Tek Hoat merasa betapa mulutnya dicium oleh bibir yang
panas dan lembut.
Belum pernah selama hidupnya dia dicium wanita seperti ini! Semua bagian mulut wanita itu hidup dan
membelai mulutnya. Tek Hoat hanyut dan terseret oleh gelombang nafsu yang ditimbulkan oleh Mauw
Siauw Mo-li secara hebat itu dan hampir Tek Hoat tenggelam. Seluruh perasaannya terpusat pada ciuman
wanita itu dan belaian tangan Mauw Siauw Mo-li yang mulai menggerayangi tubuhnya dan jari-jari tangan
wanita itu mulai menyentuh kancing-kancing bajunya.
Share:

Cersil Keren

Pecinta Cersil