Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 24 April 2017

Cerita Silat Menggairahkan : To Liong To 2

Cerita Silat Menggairahkan : To Liong To 2 Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Menggairahkan : To Liong To 2
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat Menggairahkan : To Liong To 2
Pukulan kedua tangan itu menyambar bagaikan gunung
roboh. Dengan hati mencelos Kouw tie Siansoe buru2
membalik tangannya untuk menangkis, tapi sudah tak
keburu lagi Dengan satu suara "buk !", tulang lengan kiri
dan empat tulang dadanya patah ! Semua pendata kaget dan
bingung dengan serentak mereka memburu untuk memberi
pertolongan. Tapi Kouw tie yang sudah terluka berat, hanya
tersengal2 napasnya dan tidak dapat mengeluarkan sepatah
kata lagi. Malam itu ia menutup mata.
Selagi seluruh Siauwlim sie diliputi kedukaan basar,
malam itu siauw-To diam-diam menyatroni dam
membinasakan sipendeta pemilik dapur serta lima pendeta
yang mepunyai ganjelan dengannya.
Kejadian itu menerbitkan kegemparan dan kegusaran
yang tiada taranya dalam sejarah Siauw-lim sie. Pendeta
pimpinan lantas saja mengirim puluhan pendeta yang
berkepandaian tinggi untuk membekuk Tauw to kejam itu,
tapi sesudah mencari sana sini diseluruluh Kang-lam, dan
Kang-pak(daerah sebelah selatan dan utara Sungai Besar),
usaha mereka tidak berhasil.
Dan akibat dari peristiwa itu, dalam Siauw lim sie
belakangan muncul gelombang yang merupakan perebutan
kekuasaan dan saling salah menyalahi. Dalam gusarnya,
pemimpin La han tong, Kouw hoei Sian soe, telah pergi di
See ek dimana ia kemudian membentuk sebuah cabang
Siauw lim pay. Phoa Thian Keng dan kedua saudara
seperguruannya adalah murid2 Kouw hoei Sian soe.
Demikian bunyi catetan dalam buku tipis itu, yang
103
kebetulan dapat dibaca oleh Kak wan.
Sesudah itu, ilmu silat Siauw lim sie merosot banyak.
Untuk mencegah terulangnya kejadian itu, para pemimpin
lalu mengadakan peraturan, bahwa setiap murid Siauw lim
sie hanya boleh belajar silat dibawah pimpinan guru dan
bahwa siapa pun juga tidak boleh mencari belajar, orang
yang melanggar diancam dengan hukuman sangat berat
paling berat hukuman masih paling enteng diputuskan
tulang dan uratnya, supaya dia orang barcacat. Selama
puluhan tahun, peraturan itu dipertahankan dengan
kerasnya dan tak pernah terjadi lagi peristiwa mencari
belajar silat. Sesudah lewat banyak tahun, per-lahan2
orang2 mulai melupakan kejadian hebat itu.
Si pendeta tua anggota Sim sian tong itu, adalah salah
seorang murid Kouw tie Sian soe. Selama puluhan tahun, ia
tak pernah melupakan kebinasaan gurunya yang sangat
menyedihkan. Maka itulah, begitu tahu Thio Koen Po
memiliki ilmusilat tinggi tanpa mempunyai guru, kejadian
yang sudah lampau kembali terbayang didepan matanya
dan rasa sedih dan gusar me-luap2 dalam hatinya.
Mengingat apa yang telah dibacanya, tanpa merasa Kak
wan mengeluarkan keringat dingin "Loo hong thio!"
teriaknya. "Ini .... Koen Po...."
Belum habis perkataan itu, Boe siang Siansoe sudah
membentak. "Murid2 Tat mo tong! Majulah! Bekuk dia!"
Hampir berbareng dengan perintah itu, delapan belas
murid Tat mo tong segera mdlompat maju untuk
mengurung Kak wan dan muridnya. Karena mereka
membuat lingkaran besar, Kwee Siang pun turut terkurung
di dalamnya.
"Murid2 Lo han tong! Mengapa kau belum mau maju?"
seru si pendeta Sim sian tong. Semua murid Lo ham tong
104
segera bergerak serentak dan membuat tiga lingkaran lain
diluar lingkaran murid2 Tat mo tong,
Thio Koen Po jadi bingung bukan main, Apakah dengan
mengalahkan Ho Ciok Too, ia telah melanggar peraturan
kuil ! "Soehoe!" teriaknya. "Aku... aku... "
Kurang lebih sepuluh tahun, Kak wan telah hidup bersama2
muridnya dan kecintaan mereka tiada bedanya
seperti kecintaan antara ayah dan anak. Ia tahu, bahwa jika
Koen Po sampai kena ditangkap, biarpun tidak mati, ia
bakal jadi orang bercacad.
"Kalau tak mau turun tangan sekarang, mau tunggu
sampai kapan lagi?" tiba2 terdengar bentakan Boe siang
Sian soe.
Delapan belas murid Tat mo tong lantas saja mendesak
dengan hebataya. Tanpa memikir lagi, Kak wan memutar
sepasang tahang besi yang bembuat sebuah lingkaran,
disertai dengan tenaga Lweekangnya yang sangat dahsyat,
sehingga semua pendeta-pendeta itu tidak bisa maju.
Bagaikan senjatanya itu sepasang bandringan, kedua tahang
besi itu ter-putar2 dan untuk menyelamatkan diri, murid2
Tat mo tong terpaksa melompat kebelakang. Sesudah
semua penyerang terpukul mundur, tiba2 Kak wan
menyapu dengan kedua tahangnya dan Kwee Siang masuk
ketahang kiri dan Koen Po masuk ketahang kanan. Sesudah
itu, bagaikan terbang, ia turun gunung dengan memikul
kedua orang muda itu. Semakin lama suara berkerincingnya
rantai jadi semakin jauh dan beberapa saat kemudian, tidak
kedengaran lagi.
Karena peraturan Siauw lim-sie selalu dijalankan dengan
keras. Maka, sesudah Sioe-co Tat mo-tong mangeluarkan
perintah untuk menangkap Thio Koen Po, biarpun tahu tak
bisa menyandak, semua murid Tat mo-tong lantas saja
105
mengubar. Dalam pengejaran itu, terlihatlah siapa yang
berkepandaian lebih rendah dan mengentengkan badannya
masih agak cetek, lantas saja ketinggalan dibelakang.
Sesudah siang terganti malam, hanya lima orang saja yang
masih mengejar terus. Tiba2 jalanan terpecah jadi beberapa
cagak. Mereka jadi bingung sebab tak tahu, jalanan mana
yang diambil Kak wan. Demikianlah, mau tak mau dengan
masgul mereka kembali kekuil untuk mendengar perintah
jauh.
Sesudah kabur seratus li lebih, barulah Kak wan berani
menghentikan tindakannya. Ternyata, ia sudah masuk
kedalam sebuah gunung yang sepi. Meskipun memiliki
Lweekang yang sangat tinggi, tapi sesudah lari begitu lama
dengan pikulan yang begitu berat, ia tidak bertenaga lagi,
Kwee Siang dan Koen Po lanas saja melompat keluar
dari tahang yang separuhnya masih penuh air. Mereka
basah kuyup dan sesudah mangalami kekagetan hebat,
paras maka mereka masih kelihatan pucat. "Soehoe," kata
Koen Po. "Kau mengaso dulu disisi, aku mau pergi cari
makanan"
Tapi dalam gunung yang sepi, dimana ia mancari
makanan? Sesudah pergi beberapa jam, ia kembali dengan
hanya membawa buah buahan hutan. Sesudah menangsal
perut mereka mengaso dengan menyender dibatu2.
"Toahweeshio," kata Kwee Siang. "Para pendata Siauw
lim-sie kelihatannya aneh-aneh."
Kak wan tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan suara
"hemm"
"Benar2 gila," kata pula si nona. "Dalam kuil itu tak
seorangpun yang bisa melawan Koen loen Sam seng Ho
Ciok Too, yang hanya dapat dipukul mundur dengan
mengandalkan tenaga kalian berdua. Tapi sebaliknya dari
106
berterima kasih, mereka berbalik mau menangkap saudara
Thio. Benar2 gila! Mereka agaknya tak bisa membedakan
yang mana hitam, yang mana putih."
Kak wan menghela napas. "Dalam hal ini kita tidak
dapat menyalahkan Loo hong thie dan Boe siang soeheng"
katanya. "Dalam Siauw lim sie terdapat sebuah peraturan .
.. " Ia tak bisa meneruskan perkataannya karena lantas
batuk tak henti2nya.
"Toahweeshia, kau terlalu letih" kata Kwee Siang seraya
me-mukul2 punggung sipendeta "Besok saja baru kau
ceritakan
."
Kak wan menghela napas, "Benar aku terlalu capai."
katanya.
Thio Koen Po segera mengumpulkan cabang kering dan
membuat perapian untuk mengeringkan pakaian Kwee
Siang dan pakaian nya sendiri. Sesudah itu mereka bertiga
lalu tidur dibawah satu pohon besar.
Ditengah malam sinona tersadar. Tiba2 ia medengar Kak
wan bicara seorang diri, seperti juga sedang menghafat kitab
suci. Antara lain ia berkata: "... Tenang dia merintangi kulit
dan buluku, niatku sudah masuk ketulang dia. Dan tangan
saling bartahan. Hawa menembus. Yang dikiri berat, yang
pikiran kosong, sedang yang dikanan sudah pergi. Yang
kanan berat, yang kanan kosong, yang kiri sudah pergi . . . "
Sekarang Kwee Siang mendapat kepastian, bahwa apa
yang dihafal si pendeta adalah kitab ilmu silat .
"Toahweahsio tidak mengerti ilmu silat, tapi ia seorang
kutu buku yang membaca dan menghafal segala apa yang
dihadapinya," katanya didalam hati. "Beberapa tahun
berselang, dalam pertempuran pertama dipuncak Hwa san.
107
la telah memberitahukan, bahwa disamping kitab Leng keh
keng, Tat mo Loo couw juga menulis sebuah kitab iImu
silat yaag dinamakan Kioe yang Cin keng. Ia mengatakan
bahwa pelajaran dalam kitab itu dapat menguatkan dan
menyehatkan badan. Tapi sesudan berlatih menurut
petunjuk2 kitab itu, tanpa marasa guru dan murid itu sudah
memanjat tingkatan yang sangat tinggi dalam dunia
persilatan. Hari itu, waktu diserang olah musuhnya Siauw
Siang Coe, dengan sekali membalas saja, ia berhasil
melukakan penyerangnya. Kepandaian yang setinggi itu
belum tentu dimiliki Thia-thia atau Toakoko. Cara Thio
Koen Po merobohkan Ho Ciok Too lebih2 mengagumkan.
Apakah itu semua bukan berkat pelajaran Kioe yang Cin
keng? Apakah yang barusan dijajalnya bukan Kioe yang
Cin keng?"
Mengingat begitu, perlahan-lahan supaya tidak
mengagetkan sipendeta, ia bangun dan duduk. Ia
memasang kuping terang terang dan mengingat ingat apa
yang di katakan Kakwan "Kalau benar apa yang dihafal
Toa hwe shio adalah Cioe yang Cin keng, aku tentu tidak
bisa menyelami artinya dalam tempo cepat, pikirnya.
"Biarlah besok aka minta petunjuknya."
Sesaat kemudian, Kak wan berkata kata pula: "... Lebih
dulu dengan menggunakan hati memerintahkan badan,
mengikuti orang lain, tidak mengikuti kemauan sendiri.
Belakangan badan bisa mengikuti kemauan hati. Menurut
kemauan hati dengan tetap mengikuti orang. Mengikuti
kemauan sendiri artinya mandek, mengikuti orang lain
artinya hidup. Dengan mengikuti kemauan orang lain, kita
bisa mengukur besar kecilnya tenaga orang itu, bisa
mengenal panjang pendeknya lawan. Dengan adanya
pengetahuan itu, bisa maju dan bisa mundur dengan
leluasa."
108
Mendengar sampai di situ. Kwee Siang menggeleng2kan
kepala. "Tak benar, tak benar." katanya didalam hati.
"Ayah dan ibu sering mengatakan, bahwa jika berhadapan
dengan lawan kita harus lebih dulu mengusai lawan dan
sangat sampai diri kita kita dikuasai lawan. Apa yaag
dikatakan Toa hweshio tak benar."
Selagi sinona memikir perkataan Kak wan, si pendeta
sudah berkata lagi. "Lawan tidak bergerak, kita tidak
bergerak. Lawan bergerak sedikit, kita mendului. Tenaga
seperti juga longgar, tapi tidak longgar, hampir dikeluarkan,
tapi belum dikeluarkan. Tenaga putus, pikiran putus....."
Semakin mendengari Kwee Siang jadi semakin bingung.
Semenjak kecil, ia telah dididik bahwa "orang yang
bergerak lebih dulu mengusai lawan, sedang yang terlambat
gerakannya dikuasai lawan. Dengan lain perkataan, pokok
dasari lmu silatnya yalah 'mendului lawan'. Tapi Kak wan
mengatakan, bahwa mengikuti kemauan sendiri artinya
mandek, mengikuti kemauan orang lain artinya hidup. Dan
itu semua adalah sangat bertentangan dengan apa yang
telah dipelajarinya.
"Jika aku berhadapan dengan musuh dan pada saat
penting, aku mengikuti kemauan musuh2 mau ketimur aku
ketimur musuh mau kebarat aku kebarat bukankah
demikian, aku seolah olah cari penggebak sendiri?" kata nya
di dalam hati.
Ilmu silat yg berpokok dasar. "Menguasai lawan dengan
bergerak belakangan" baru dihargai orang pada jaman
kerajaan Beng, pada jaman makmurnya partai Boe ciang
pay. Maka dapatlah di mengerti, bahwa di waktu itu buntut
kerajaan Song perkataan Kak wan membingungkan sangat
hatinya Kwee Siang.
Dengan adanya kesangsian itu, banyak perkataan si
109
pendeta tidak dapat ditangkap Kwee Siang. Ketika melirik,
ia lihat Thio Koen Po sedang bersila dan mendengari
perkataan gurunya dengan sepenuh perhatian. "Biarlah, tak
perduli ia benar atau salah, aku mendengari saja," pikirnya.
"Dengan mataku sendiri, aku menyaksikan Toa hwashio
melukakan Siauw Siang Coe dan mengusir Ho Ciok Too.
Sebagai orang yang memiliki kepandaian begitu tinggi, apa
yang dikatakannya tentu mempunyai alasan kuat." Memikir
begitu, ia lantas saja memusatkan pikirannya dan
mendengari setiap perkataan yang diucapkan si pendeta.
Kak wan menghafal terus dan kadang2 dalam kata2nya
terselip bagian2 dari kitab Leng-ka-keng. Hal ini sudah
terjadi karena Kioe Yang Cin ken sebenarnya ditulis
diantara huruf2 kitab Leng-ka-keng, sehingga si pendeta,
yang sifatnya agak tolol, dalam menghafal Kioe-yan Cin
keng, sudah menyelipkan kata2 dari kitab itu. Tentu saja
Kwee Siang jadi makin bingung. Tapi berkat kecerdasan
otaknya, ia berhasil juga menangkap sebagian dari apa yahg
didengarnya.
Rembulan mendoyong kebarat dan makin lama suara
sipendeta jadi makin perlahan. "Teahweeshio" kata si nona
dengan suara membujuk. "Kau sudah sangat capai, tidurlah
lagi"
Tapi Kak wan sepzrti juga tidak mendengarnya dan
berkata pula dengan suara terlebih keras.
" ...Tenaga dipinjam dari orang. Hawa dikeluarkan dari
tulang punggung. Dari kedua pundak masuk di tulang
punggung dan berkumpul di pinggang. Inilah hawa yang
dari atas turun kebawah dan dinamakan "Hap" (MenutuP).
Kemudian, dari pinggang hawa itu naik ketulang punggung
dan dari tulang punggung meluas sampai di lengan dan
bahu tangan. Inilah hawa yang naik dari bawah keatas dan
dinamakan "Kay" (Membuka). "Hap" berarti
110
mengumpulkan, sedang "Kay" berarti melepaskan. Siapa
yang Paham akan artinya "Hap" dan "Kay" akan mengerti
juga artinya Im-Yang (negatif dan positif). . . ."
Suaranya semakin perlahan dan akhirnya tidak terdengar
lagi, seperti orang sudah pulas. Kwee Siang dan Thio Koen
Po tidak berani mengganggu dan hanya mengingat apa
yang barusan didengar.
Tak lama kemudian, bintang2 mulia menghilang,
rembulan menyilam kebarat dan sesudah cuaca berubah
gelap untuk kira2 semakanan nasi, disebelah timur mulai
kelihatan sinar terang.
Kak wan masih tetap bersila sambil meramkan kedua
matanya, sedang badannya tidak bergerak dan pada
bibirnya tersungging satu senyuman. "Kwee Kauwnio, apa
kau tidak lapar?" bisik Koen Po. "Aku mau pergi sebentaran
untuk cari bebuahan. Ketika menengok, tiba2 ia lihat
berkelebatnya satu bayangan manusia dibelakang pohon
dan samar2, orang itu seperti juga mengenakan jubah
petapaan warna kuning. Ia tersiap dan membentak: "Siapa
?" Seorang pendeta tua yang bertubuh jangkung muncul
dari belakang pohon dan pendeta itu bukan lain daripada
pemimpin Lo han tong, Boe sek Siansoe.
Kwee Siang kaget tercampur girang. "Toahweeshio,"
tegurnya. "Mengapa kau terus membuntut? Apakah kau
mau menangkap juga guru dan murid ini ?"
"Biar bagaimana juga, loo ceng (aku sipendeta tua) masih
bisa melihat apa yang benar dan apa yang salah," jawabnya
dengan paras muka sungguh2. "Aku bukan seorang yang
tak tau peraturan. Sudah lama sekali loo ceng tiba disili dan
jika mau turuh tangan, loo ceng tentu tidak menunggu
sampai sekarang. Kak wan soeteee, Boe siang Sian soe dan
murid2 "Tat mo tong mengejar kejurusan timur. Lekas
111
kalian lari kesebelah barat."
Tapi pendeta itu terus bersila dan sedikit pun tidak
bergerak. Koen Po mendekati seraya memanggil. "Soe hoe,
bangunlah ! Lo han tong Sioe co ingin bicara denganmu."
Kak wan bersila terus. Dengan jantung memukul keras,
Koen Po menyentuh pipi gurunya yang dingin bagaikan es.
Ternyata, Kak wan sudah meniggalkan dunia yang fana ini.
Simurid munubruk dan memeluk gurunya sambil
mengeluarkan teriakan menyayat hati. "Soehoe ! Soehoe !"
teriaknya sambil menangis tersedu-sedu.
Boe sek Siauseo merangkap kedua tangannya dan
berkata dengan suara perlahan : "dilangit tak ada awan,
ditempat penjuru terang benderang angin membawa bau
harum, seluruh gunung sunyi senyap. Hari ini bertemu
dengan kegirangan besar. Bebas dari bahaya dan bebas pula
dari segala penderitaan. Apa tak pantas untuk diberi
selamat ?" Sehabis berdoa, orang beribadat itu segera berlalu
tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi.
Bukan saja Koen Po tapi Kwee Siangpun mengucurkan
tidak sedikit air mata. Sesuai dengan agama mereka jenazah
semua pendata Siauw lim sie yang meninggal dunia
diperabukan. Maka itu mereka lalu mengumpulkan kayu
dan cabang2 kering dan kemudian membakar jenazah Kak
wan.
Sesudah bares, Kwee Siang berkata dengan suara
terharu. "Saudara Thio, kurasa pendeta2 Siauw lim sie akan
terus berusaha untuk menangkap kau. Maka itu kau harus
berlaku hati-hati. Disini saja kita berpisahan dan di hari
kemudian, kita tentu akan mendapat ke sempatan untuk
bertemu lagi."
"Air mata sipemuda itu mengalir turun kedua pipinya.
112
"Kwee Kouwnio katanya dengan suara parau." Kemana
saja kau pergi, aku mau mengikut."
Mendengar jawaban itu, sinona merasa pilu bukan main
dan ia berkata dengan suara gemetar. "Aku adalah orang
yang tengah menjelajah dunia dan aku sendiripun tak tahu
kemana aka bakal menuju." Ia berdiam sejenak dan lula
berkata pula. "Saudara Thio berusia sangat muda dan tak
punya pengalaman dalam dunia Kang ouw, disamping itu
pendata pendeta Siauw lim sie tentu bakal terus menerus
manguber kau. Begini saja." Seraya berkata begitu, ia
meloloskan gelang emas dari pergelangan tangannya dan
lalu menyerahkannya kepada pamuda itu. "Bawahlah
gelang ini kekota Siang yang dan minta bertemu dengan
ayah ibuku," katanya lagi. "Mereka pasti akan
memperlakukan kau dengan baik. Begitu lantas kau sudah
barada dibawah perlindungan kedua orang tuaku para
pendata Siauw lim sia pasti tak akan menyukarkan kaulagi."
Dengan air mata berlinang linang, Koen Pa menyambuti
gelang mas itu.
Sesaat kemudian Kwee Siang berkata pula dengan suara
gerak. "Beritahukanlah kedua orang tuaku, bahwa aku tak
kurang suatu apapun dan aku harap mereka tidak memikiri
diriku. Ayahku paling suka dengan pemuda yang gagah dan
sesudah bertemu dengan kau mungkin sekali ia akan
mengambil kau sebagai murid. Adikku sederhana dan polos
dan aku merasa pasti ia bisa bergaul rapat denganmu.
Hanya Ciecieku yang agak sombong dan jika kalau ada
orang yang punya salah sedikit saja, ia lalu menyemprotnya
tanpa sungkan2lagi. Tapi asal kau bisa mengalah, kurasa
tak bakal terjadi apa-apa yaag tidak diingini." Sehabis
berkata ia memutar badan dan terus berjalan pergi.
Dapat dibayangkan bagaimana besar kedukaan Thio
Koen Po pada waktu itu. Dengan berlalunya Kwee Siang ia
113
betul merasa, bahwa ia hidup sebatang kara dalam dunia
yang leba. Lama, lama sekali ia berdiri bengong didepan
tumpukan sisa kayu dan abu bekas membakar guranya.
Sesudah kenyang memeras air mata, perlahan-lahan,
dengan hati seperti diris-iris, ia berjalan pergi. Tapi baru
saja belasan tombak, ia kembali lagi dan lalu mengambil
pukulan serta sepasang tahang besi, peninggalan mendiang
gurunya. Sesudah itu, barulah ia meninggalkan tempat itu
dengan tindakan lumbung, dengan kesepian dan dengan
kedukaan besar.
Berselang kurang lebih setengah bulan, ia tiba didaerah
Ouwpak dan sudah tak jauh lagi dari kota Siang yang.
Untung juga, berkat pertolongan Boe sek Siang soe, dalam
perjalanan itu ia tidak bertemu dengan pengejar
pengejarnya.
Hari itu, diwaktu lohor, ia berada dikaki sebuah gunung
yang besar. Waktu tanya seorang dusun, baru ia tahu,
bahwa gunung itu guanung Boe tong atau Boe tong san,
yang bukan saja besar dan angker, dengan hutan2 lebat
serta tebing2 curam, tapi juga sangat indah pemandangan
alamnya.
Selagi enak berjalan sambil memandang keindahan alam,
tiba2 ia dilewati oleh dua orang pemuda dan pemudi dusun
yang berjalan sambil berendeng pundak. Dilihat gerak
geriknya tak bisa salah lagi mereka suami istri.
Dengan kupingnya yang sangat tajam, Koen po dapat
menangkap perkataan si isteri yang sedang ngomeli
suaminya. "Kau satu laki2 sejati, tapi sebaliknya dari
mendirikan rumah tangga dengan tenaga sendiri, kau selalu
mengandal kepada Ciecie dan Ciehoemu, sehingga
akhirnya kau dihina. Kita berdua masih punya tangan dan
kaki dan kita pasti bisa cari makan sendiri. Andaikata kita
mesti hidup miskin dengan menanam sayur, tapi kita hidup
114
dengan merdeka. Kau lelaki yang tak punya tulang
punggung dan sungguh percuma kau hidup dalam dunia.
Orang sering kata, kecuali mati, tak ada urusan besar. Apa
kau tidak bisa hidup tanpa mengadai kepada orang lain?"
Sang suami tak berani menjawab mukanya berwarna
ungu, seperti juga hati babi. Tanpa disengaja, perkataan
wanita itu mengenakan jantung ati Koen Po. "Kau satu
laki2 sejati, tapi sebaliknya dari mendirikan rumah tangga
dengan tenaga sendiri, kau selalu mengandal pada Cieciee
dan Ciehoemu, sehingga akhirnya kau dihina. Apa kau
tidak bisa hidup tanpa mnegandal kepada orang lain?" Ia
berdiri terlongong memikir kata2 itu. Dilain saat, sang
suami mengucapkan bebera perkataan yang tidak dapat
didengar oleh nya. Sesudah itu, mereka tertawa
berkakakan. Rupanya silelaki sudah mengambil putusan
untuk berdiri sendiri dan isterinya jadi girang sekali.
"Kwee Kouwhio mengatakan, bahwa Cie-cie nya beradat
jelek dan biasa menyemprot orang tanpa sungkan? sehingga
aku harus selalu mengalah," pikirnya. "Aku adalah seorang
laki2 sejati, perlu apa aku mesti menunduk begitu rupa
didepan orang hanya untuk bisa hidup dengan selamat?
Kedua suami istri dusun itu masih mempunyai semangat
untuk berdiri diatas kaki sendiri. Masa aku, Thio Koen Po,
mesti selalu bernaung dibawah atas orang dan hidup
dengan memperhatikan sorot mata tuan rumah?"
Sesudah berpikir beberapa lama, ia segera mengambil
putusan gagah. Dengan memikul kedua tahang besi, ia
segera mendaki Boe tong san. Mulai waktu itu, ia minum
air gunung makan buah2an dan melatih diri berdasarkan
Kioe yang Ci keng yang didapat dari gurunya. Berkat
kecerdasan dan juga karena apa
yang dipelajari ialah sebuah kitab luar biasa dalam dunia
persilatan, maka dalam tempo belasan tahun Lweekangnya
115
sudah mencapai tingkatan tinggi. Pada suatu hari, selagi
jalan2 digunung itu, ia menyaksikan pertarungan sengit
antara seekor ular dan seekor burung. Dengan segala
kegesitannya burung itu meyerang dari berbagai jurusan,
tapi ia masih kalah setingkat dari ular itu, hingga akhirnya
dia terpaksa melarikan diri. Tiba2 saja Koen Po mendapat
serupa ingatan dan tujuh malam, ia merenungkan ingatan
itu dalam guha. Mendadak ia tersadar, kedua matanya,
seolah menembus suatu tabir rahasia. Ia sekarang dapat
memahami suatu pokok dasar yang luar biasa dalam dunia
persilatan, yaitu: Dengan "Joe" (kelembekan) melawan
"Kong” (kekerasan).
Tanpa merasa ia dongak dan tertawa terbahak-bahak.
Tertawa kegirangan itu berarti muncul sutiu Tay cong soe
(guru besar) baru dalam Rimba persilatan. Dan ilmu yang
didapatnya sendiri, digabung dengan Lweekang
berdasarkan Kioe yang Cin keng, ia telah menggubah
semacam ilmu silat yang belakangan dikenal sebagai
ilmu silat Boe tong sedang muridnya telah bersatu dalam
suatu "partai" persilatan baru yang dinamakan Boe tong
pay. Sesudah lewat lagi sekian tahun, pada waktu berkelana
di Tiongkok Urara, ia telah bertemu dengan tiga puncak
gunung (Sam Hong) yang luar biasa dan oleh karenanya ia
lalu menggunakan gelar Sam Hong untuk dirinya sendiri
dan luar biasa dalam sejarah persilatan di Tiongkok.
Bagaimana dengan Kwee Siang? Puluhan tahun
lamanya, sinoana berkelana diempat penjuru untuk mencari
Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Demi kecintaan yang suci
murni dari muda sampai tua ia men-cari2 tanpa rasa
menyesal sedikitpun juga. Tapi Yo Ko dan Siauw Liong Lie
telah melenyapkan diri dan tak muncul lagi dalam dunia
pergaulan. Waktu mencapai usia enampuluh tahun, tiba2
Kwee Siang terbuka matanya dan ia tersadar, akan
116
kemudian mencukur rambut dan hidup sebagai pendeta
perempuan dipuncak gunung Go bie san. Disitulah, dengan
tekun ia melatih diri dam mempelajari ilmu silat,sehingga
kian lama kepandaiannya jadi kian tinggi. Belakangan ia
juga menerima murid dan serta cucu muridnya
mempersatukan diri kedalam satu partai persilatan yang
dikenal kedalam partai persilatan yang dikenal sebagai Go
bie pay.
Dilain pihak, sesudah menderita kekalahan didepan kuil
SiauW lim, Koen Loen Sam Seng Ho Ciok Too pulang
kedaerah barat dan sesusai dengan sumpahnya selama
hidup ia tak pernah menginjak lagi wilayah Tiong Goan.
Sesudah berusia lanjut, barulah ia mengambil seorang
murid yang mewarisi seni memetik Khim, ilmu main catur,
dan ilmu silat pedangnya. Itulah sebabnya mengapa, walau
pun bersumber didaerah Barat yang jauh, akan tetapi
murid2 Koen-loen-pay rata rata boen
boecoan cay (mahir dalam ilmu surat dan dan ilmu
pedang).
Dikemudian hari, partai rimba persilatan yang paling
tersohor ialah Siauw Lim, Boe tong, Go bie dan Koen loen.
Dalam keempat partai tersebut banyak sekali orang pandai
yang memiliki kepandaian tinggi,
Pada hari itu, waktu Kak wan Taysoe menghafal Kioe
yang Cin keng, sebelum ia meninggal dunia ada tiga orang
yang mendengarnya yaitu Boe sek Siansoe, Kwee Siang dan
Thio Koen Po. Oleh karena pengetahuan padat dan
kecerdasan ketiga orang itu berbeda-beda maka apa yang
didapati merekapun berbeda-beda pula. Dengan begitu
pelajaran ilmu silat Siauw lim Go bie dan Boe tong banyak
sekali perbedaanya dan sedikit persamaanya.
Kwee Siang adalah putri ahli2 silat kelas utama dan
117
pelajarannyapun beraneka warna. Maka itu ilmu silat Go
bie banyak sekali corak ragamnya dan satu saja dapat
dipahami sampai kedasar2nya, sudah cukup untuk
membuat orang itu mendapat nama besar.
Mengenai Boe sek Siansoe, pada waktu mendengari Kioe
yang Cin keng, ia sendiri memang sudah menjadi seorang
ahli kenamaan. Didapatinya Kioe yang Cin keng hanyalah
mempertiggi kepandaiannya, tapi pada dasar pokoknya ia
tidak menarik keuntungan apapun juga.
Diantara ketiga orang itu, yang menarik ke untungan
paling banyak ialah Thio Koen Po. Pada waktu itu, kecuali
empat jurus ilmu silat yang ia dapat dari Yo Ko dan
beberapa macam pukulan Lo han koen, belum pernah ia
belajar ilmu silat. Maka itu ia telah menarik pelajaran2 yang
paling murni dari kitab Kioe yang Cin keng. Akan tetapi,
oleh karena ia memang tidak pernah belajar dibawah
pimpinan guru yang pandai, maka ia kekurangan dasar2
ilmu silat, sehingga banyak sekali bagian Kioe yang Cin
keng yang tidak begitu dimengerti olehnya. Belakangan,
sesudah mempelajari pertarungan antara ular dan burung,
barulah ia tersadar akan seluk beluknya iimu silat. Akan
tetapi kejadian itu telah lama dilupakan, sehingga banyak
bagian dalam kitab Kioe yang Cin keng sudan tidak diingat
lagi olehnya.
Dengan demikian ilmu silat Siauw Lim, Boe tong dan
Go bie masing2 mempunyai keunggulan sendiri2 dan
kekurangannya2. Ketiga guru besar partai partai itu samasama
memetik bagian-bagian dari Kioe yang Cin keng dan
berdasarkan bakat serta kecerdasan masing-masing, mereka
mempelajari, memperbaiki dan lalu menggubah imu-ilmu
silat yang luar biasa.
Sebagaimana diketahui kerajaan Goan adalah kerajaan
bangsa Mongol yang berkuasa di Tiongkok. Selama jaman
118
penjajahan itu, ilmu surat tidak lagi begitu diperhatikan
lagi, karena para penyinta negeri ber-lomba2 belajar ilmu
silat. Pada jaman itu, dalam dunia Kang ouw banyak
muncul orang2 luar
biasa yang berkepandaian luar biasa pula. Jumlah
mereka lebih besar dan kepandaian mereka lebih tinggi dari
pada orang2 dijaman buntutnya kerajaan Song, yaitu pada
jaman Kwee Ceng, Oey Yong, Yo Ko, Siauw-Liong Lie pay
sebagainya. Orang2 gagah yg muncul didaerah Barat
kebanyakan murid2 dari Koen-loen-pay, sedang jago2 di
wilayah Tiong goan, sebagian besar adalah orang2 Siauw-
Lim, Boe-tong dan Go-bie. Disamping itu, masih ada
ratusan malahan ribuan partai partai lain yang lebih kecil.
Demikianlah sedikit pendahuluan dari kisah Membunuh
Naga atau Ie-thian To-liong-kie.
TAHUN itu adalah tahun kedua dari Kaizar Goan-soentee.
Robohnya Kerajaan Song sudah genap enam puluh
tahun.
Waktu itu bulan Shagwee (Bulan Ketiga) Cong soe
(orang gagah) yang berusia kira kira tigapuluh tahun,
mengenakan baju biru itu dan pakai sepatu rumput,
kelihatan berjalan di jalan raya dengan tindakan lebar. Di
kedua pinggir jalanan itu, buah tho yang merah dan pohon
Hoe yang hijau memperlihat kan keindahannya, tapi orang
itu tidak memperhatikan sedikitpun jua.
"Hari ini Shagwee Jie Tie ( Bulan Ketiga tanggal 24)"
katanya didalam hati. "Sampai Sie gwee Ceekauw (Bulan
Keempat tanggal 9 ) masih ada empat belas hari. Dengan
tidak mem-buang2 tempo barulah aku bisa tiba pada
waktunya di Giok-hie-kiong, Boetong-san untuk memberi
selamat ulang tahun ke sembilan puluh pada In-soe (guru)."
Orang gagah itu she Jie, bernama Thay Giam, murid
119
ketiga dari Thio Sam Hong (Thio Koen Po), Couw soe Boetong-
pay. Sesudah berusia tujuh puluh tahun, ialah sesudah
ilmu silatnya mencapai tingkatan sangat tinggi, barulah
Thio Sam Hong menerima murid. Maka itu biarpun sendiri
sudah berusia sembilan puluh tahun, tapi tujuh muridnya
masih muda. Murid kepala, Song Wan Kiauw belum cukup
empat puluh lahun. Sedang murid yang paling kecil, Boh
Kok Seng,baru berusia belasan tahun.
Tapi meskipun begitu, meskipun murid2 itu masih
berusia muda, mereka sudah melakukan pekerjaan2 yang
menggemparkan dunia Kang ouw. Kalau menyebutkan
nama mereka, orang2 Rimba Persilatan selalu
mengacungkan jempol. Boe-tong Cit-hiap ( Tujuh
Pendaikar dari Boe tong) adalah pendekar2 dari sebuah
partai yang lurus bersih." kata mereka
Pada permulaan tahun itu, Jie Thay Giam mendapat
titan gurunya untuk pergi ke propinsi Hokkian guna
membinasakan seorang penjahat besar yang sangat
menindas rakyat jelata. Penjahat itu bukan saja
berkepandaian tinggi, tapi juga licin luar biasa. Sesudah
menyelidiki dua bulan lebih, barulah ia berhasil mencari
sarang penjhat itu, yang lalu ditantang olehnya. Dalam
pertempuran yang sangat hebat, ia telah membinasakan
musuh nya dangan pukulan kesebelas dari Thay kek koen
Hian-hian Tohoat. Manurut perhitungan, ia bisa
menyelesaikan tugasnya dalam tempo sepuluh hari, tapi
diluar dugaan ia memerlukan waktu lebih dari dua bulan.
Saat manghitung2, hari ulang tahun kesembilan puluh
gurunya ternyata sudah dekat sekali sehingga oleh
karenanya, ia buru2 berangkat pulang dari kota Lang lam.
Makin lama jalannya jadi makin sempit dan sisi kanan
jalanan itu berdampingan dengan pantai laut. Tiba2 ia lihat
tanah datar yang licin mengkilap bagaikan kaca dan dibagi
120
jadi petakan2 yang luasnya kira-kira 7-8 tombak persegi.
Sebagai orang yang sering berkelana disebelah selatan dan
utara Sungai besar, Thay Giam mempunyai banyak
pengalaman, tapi belum pernah ia melihat tanah yang
begitu luar biasa. Sesudah menanya seorang penduduk
pribumi, baru ia tahu, bahwa petakan2 itu bukan lain
daripada sawah garam Untuk membuat garam, penduduk
disitu memasukkan air laut kedalam sawah tersebut. Setelah
kering, mereka keruk tanah yang mengandung garam yang
kemudian dimasak dan dijemur lagi sampai menjadi garam
yang putih bersih.
"Sudah tigapuluh tahun aku makan garam, tapi baru
sekarang kutahu bagaimana sukarnya membuat garam,"
katanya didalam hati.
Selagi enak berjalan, se,-konyong2 ia melihat 30 orang
lebih yang deagan memikul piKulan, mendatangi dengau
cepat dari jalanan Kecil disebelah barat. Mereka itu
mengenakan pakaian seragam baja dan celana pendek
warna hijau, dan kepala mereka ditutup dengan tudung
lebar. Sekelebatan saja, ia bisa menebak, bahwa isi pikulan
itu ialah garam.
Ia tahu, bahwa pembesar disepanjang pantai biasanya
sangat kejam dan rakus dan biasa memungut bea Cukai
garam yang sangat berat. Maka itu, walaupun bertempat
tinggal ditepi lautan, rakyat tidak kuat makan garam resmi,
dan terpaksa membeli garam gelap. Dilihat potongan badan
dan gerakan orang2 itu hampir boleh dipastikan, bahwa apa
yang diangkat mereka adalah garam gelap. Hal ini
sedikitpun tak mengherankan. Yang mengherankan adalah
pikulan mereka. Setiap pikulan bukan bambu dan juga
bukan kayu berwarna hitam dan tak mempunyai sifat
melenting (membal), sehingga bisa diduga, bahwa pemikul2
itu terbuat dari besi. Apa yang lebih mengherankan lagi,
121
ialah, walaupun saban orang mikul barang yang beratnya
tak kurang dari tigaratus kati, tapi tindakan mereka cepat
luar biasa, seolah tidak menginjak tanah dan dalam sekejap
mereka sudah melewati Jie Thay Giam.
"Kawanan pengusaha garam gelap ini memang juga
terdiri dari jago2," katanya dida lam hati. "Sudah lama aku
dengar, bahWa Hay see pay (Partei Pasir laut) di Kanglam
yang jual bell garam gelap, mempunyai pengaruh yang
sangat besar dan anggauta yang berkepandaian tinggi. Akan
tetapi, adalah sangat luar biasa, jika duapuluh lebih ahli
silat beramai-ramai memikul garam.°
Jie Thay Giam adalah seorang yang gemar menyelidiki
hal2 aneh. Diwaktu biasa, ia tentu akan mencari tahu
kejadian yang luar biasa itu. Tapi Sekarang , mengingat hari
ulang tahun gurunya, ia sungkan membuang tempo dan
sambil mengempos, ia lalu menyusul dan melewati
pemikul2 garam itu, yang jadi heran melihat tindakan Jie
Thay Clam yang begitu enteng.
Lewat magrib Jie Thay Giam tiba diSebuah kota kecil
dan dari keterangan seorang penduduk, ia mengetahui,
bahwa kota itu adalah Am tong tin dalam wilayah Cie
yauw koan. Dari situ, sesudan menyeberang sungai Cian
tong kang ia akan tiba di Lim an dan dengan membelok
kejurusan barat laut, sesudan melewati propinsi Kang say
dan Ouw lam, barulah ia tiba di Boe-tong. Malam itu,
karena tak ada perahu untuk menyeberang sungai, ia
terpaksa menginap disebelah rumah penginapan kecil di
Am tong tin.
Sesudah makan malam, baru saja mencuci kaki untuk
naik keranjang, tiba2 ia dengar suara ribut-ribut dari
sejumlah orang yang mau menumpang nginap. Mendengar
lidah Ciat kang timar dan suara yang nyaring luar biasa, ia
melongok keluar dan ternyata, bahwa orang2 itu bukan lain
122
daripada kawan pemikul garam yang ia bertemu tadi.
Menurut kebiasaan, orang2 dari perdagangan garam gelap
adalah kaum kasar yang suka sekali minum arak dan makan
minum seperti setan kelaparan. Tapi berbeda dengan yang
lain, mereka hanya minta disediakan nasi, sayur-sayur dan
tauw hu.
Sesudah bersantap, tanpa minum setetes arak, mereka
lalu pergi tidur. Jie Thay Ciam sendiri lantas saja
bersamadhi dan melatih lweekang untuk beberapa lama
sesudah itu, ia segera merebahkan badan diatas
pembaringan.
Kira2 tengah malam, dikamar sebelah sekonyong
konyong terdengar suara keresekan. Pada waktu itu, Jie
Thay Giam sudah menyelami ilnu silat Boe tong pay dan ia
sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi, sehingga,
biarpun sedang pulas nyenyak, suara keresekan itu sudah
cukup untuk menyadarkannya.
Tiba2 ia dengar suara orang berbisik. "Perlahan2. Jangan
mengageti tamu dikamar sebelah supaya tidak
menimbulkan banyak urusan". Pintu kamar dibuka per
lahan lahan dan duapuluh orang lebih itu lantas keluar
kedalam pekarangan penginepan. Jie Thay Giam mengitip
dijendela. Sambil memikul pikulan, mereka semua keluar
dangan melompati tembok, Walaupun tembok itu tidak
tinggi, tapi bahwa mareka bisa melompatinya sambil
memikul barang yang begitu berat, merupakan bukti, bahwa
kepandaian mereka tak boleh di pandang enteng.
"Ilmu Silat mereka belum bisa menandingi aku, tapi dua
puluh orang lebih yang rata2 memiliki kepandaian tinggi,
bukan kejadian yang sering ditemui," kata Jia Thay Giam
didalam hati. Untuk beberapa saat ia berdiri bengong
dengan perasaan sangsi. Kata2 orang itu "jangan mengageti
tamu dikamar sebelah supaya tidak menimbalkan banyak
123
urusan?" sangat mengganggu pikirannya. Jika ia tidak
dengar perkataan itu, biarpun terbiasa, ia tentu sungkan
memperdulikan urusan orang.
Tapi kata2 itu sudah lantas membangunkan rasa
kesatriannya. "Kejahatan apa yang mau dilakukan mereka
tanyanya didalam hati.
"Sesudah berpapasan denganku, tak bisa tidak aku mesti
mencampuri. Jika aku bisa menolong satu dua orang,
meskipun tidak keburu hadir dalam peringatan hari ulang
tahun In-soe, In-soe tentu tak akan gusari aku."
Jie Tay Giam sudah memikir begitu, olah karena setiap
kali menerima murid baru, paling dulu Thio Sam Hong
menasehati, bahwa sesudah berhasil dalam mempelajari
ilmu silat, si murid harus mengutamakan sifat2 kesatria dan
selalu bersedia menolong sesama manusia yang
memerlukan pertolongan. Itulah sebabnya mengapa nama
Boe-tong Cit-hiap tersohor bukan main. Mereka tersohor
bukan saja sebab berkepandaian tinggi, tapi juga sebab
sepak terjangnya sangat mulia.
Demikianlah, pada saat itu, dengan mengingat nasehat
gurunya, Jie Thay Giam segera menyoren golok dan
membekal kantong senjata rahasia, akan kemudian
melompat keluar dari jendela dan tembok.
Begitu berada di luar rumah penginapan, ia dengar suara
tindakan kaki kejurusan timur laut. Buru2 ia mengempos
semangat dan mengejar dengan menggunakan ilmu
mengentengkan badan.
Malam itu malam tak berbintang, langit gelap gulita,
ditutup awan awan tebal. Melihat tindakan orang orang itu
yang cepat liar biasa, seolah olah mereka tidak merasakan
tindihan pikulan yang sangat berat, Jie Thay Giam jadi
semakin heran. "Penjual garam gelap berjalan ditengah
124
malam buta adalah kejadian yang biasa saja," pikirnya.
"Apa yang luar biasa adalah kepandaian orang2 itu.
Dengan memiliki ilmu silat yang begitu tinggi, kalau benar2
mereka mau berbuat jahat, jangankan merampok rumah
hartawan, sedangkan sekalipun menggarong gudang
pemerintah, mereka masih dapat melakukan tanpa bisa
dicegah oleh opas2 atau tentara dikota ini. Mengapa
mereka mau memikul garam ditengah malam buta untuk
mendapatkan keuntungan yang sangat kecil? Tak bisa jadi.
Dalam hal ini pasti terselip latar belakang yang luar biasa."
Memikir begitu ia terus menguntit.
Berselang kurang lebih setengah jam, kawanan penjual
garam gelap itu sudah melalui dua puluh li lebih. Sedikipun
mereka tak merasa dibuntuti orang, karena ia berjalan
dengan terburu-buru dan juga sebab yang menguntit
mempunyai ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi.
Tak lama kemudian, mereka tiba dijalanan yang
berdampingan dengan pantai laut dimana gelombang demi
gelombang menerjang ketepi dengan mengeluarkan suara
keras.
Selagi enak berjalan, mendadak salah seorang yang
rupanya jadi pemimpin rombongan mengeluarkan seruan
perlahan dan semua kawannya segera menghentikan
tindakan. "Siapa?" bentak si pemimpin.
"Apa sahabat2 dari Tiga Pinggir Air?" Balas tanya
seorang yang berada di tempat gelap.
"Benar, siapa tuan?" tanya pula si pemimpin.
Jie Thay Giam bingung. "Apa itu, sahabat sahabat dari
Tiga Pinggir Air?" tanya didalam hati. Tapi dilain saat ia
mandusin dan dapat menebak bahwa "Tiga Pinggir Air"
berarti "Hay-see-pay" terdapat huruf "Air".
125
"Aku menasehati supaya kamu jangan campur-campur
urusan To liong to," kata pula orang yang berada ditempat
gelap. ( To-Liong to Golok membunuh naga ).
Si pemimpin terkejut. "Apa tuan juga datang urusan To
liong-to?" tanyanya.
"Hu hu hu " orang itu tertawa dingin. Dia tidak memberi
jawaban.
Mendengar suara tertawa itu, jantung Jie Thay Giam
memukul keras. Suara itu aneh tak mungkin dilukiskan
bagaimana anehnya dan begitu masuk kedalam kuping,
pikiran orang yang mendengarnya lantas kalang kabut, se
akan akan belasan ular bulu merayap ditulang punggung.
Dengan perasaan sangat heran indap indap ia maju
kedepan.
Dengan matanya yang terlatih, segera juga ia melihat,
bahwa ditengah jalan menghadang seorang lelaki yang
tubuhnya kurus dan kecil. Karena gelap gulita, ia tak dapat
melihat tegas muka orang itu. Apa yang dapat di lihatnya
ialah orang itu mencekal sebatang tongkat, sedang pada
pakaiannya terdapat titik titik sinar yang berkeredepan,
sehingga ia menarik kesimpulan bahwa orang itu
mengenakan jubah sulam.
"To Liong to adalah mustika partai kami," kata pula si
pemimpin Hey see pay. "Golok itu telah di curi orang dan
adalah sewajarnya saja jika kami berusaha untuk
mendapatkan nya kembali."
Sikurus lagi-lagi tertawa dingin dan tetap menghadang di
tengah jalan.
Mendadak, seorang yang berdiri dibelakang si pemimpin,
membentak dengan suara keras "Minggir! Dengan
mencegat kami, kau hanya mencari mampus..."
126
Belum habis perkataannya, ia sudah mengeluarkan
teriakan menyayat hati dan jatuh kebelakang. Semua
kawannya terkesiap. Hampir berbareng, sinar berkeradepan
di jubah sikurus kering bergoyang goyang beberapa kali dan
dia menghilang dari pemandangan.
Para anggauta Hay see pay kaget tercampur gusar,
karena kawan ia yang baru jatuh sudah putus napasnya dan
badannya meringkuk beberapa antaranya sudah melepaskan
pikulan untuk mengejar sikurus. Tapi musuh itu yang
gerakannya cepat bagaikan kilat sudah tak kelihatan
bayang2annya lagi.
Jie Thay Giam heran bukan main. "Senjata rahasia apa
yang digunakan oleh sijubah sulam?" tanyanya didalam
hati. "Cara bagaimana ia dapat membinasakan orang
dengan tangan dan badan tidak bergerak? Aku berdiri cukup
dekat, tapi tak bisa lihat gerakan apapun juga." la terus
bersembunyi dibelakang batu besar, supaya tidak dilihat
oleh orang2 Hey see pay yang sedang gusar.
"Biarlah kita tinggalkan jenazah Loo sie di tempat ini
untuk sementara waktu," demikian terdengar lagi suara
pemimpin. "Kita harus membereskan dulu urusan yang
lebih penting. Sebentar, sesudah selesai urusan kita, baru
kita merawat jenazah Loo sio. Kitapun harus nyelidiki siapa
adanya musuh itu. Semua kawannya mengiakan dan segera
berlalu sambil memikul pikulan mereka.
Sesudah mereka pergi jauh barulah Jie Thay Giam keluar
dari tempat sembunyi dan mendekati jenazah. Orang itu
mati dengan badan meringkuk seperti seekor udang dan
dari tanda tandanya kebinasaannya disebabkan racun yang
sangat hebat. Sebab takut kena racun, ia tak berani
menyentuh mayat itu. Ia jadi sangsi dan sesudah berpikir
beberapa saat, ia lalu mengempos semangat dan menyusul
kawanan Hay soe pay yang sudah pergi agak jauh.
127
Sesudah melalui beberapa li si pemimpin rombongan
tiba-tiba mengeluarkan seruan perlahan dan semua
kawannya segera berpencaran dan mendekati sebuah
gedung disebelah timur laut dengan tindakan perlahan.
"Apakah golok To liong to berada dalam rumah itu?"
tanya Jie Thay Giam dalam hati.
Diatas gedung besar itu terdapat sebuah lubang asap,
darimana terus mengepul asap hitam yang dalam tempo
lama berkumpul ditengah udara, tanpa mau buyar.
Kawanan penjual garam gelap itu segera menaruh pikulan
ditanah dan setiap orang lalu mengeluarkan sendok kayu
yang digunakan untuk menyendok semacam benda dari
dalam keranjang mereka. Benda itu lalu ditaburkan
diseputar gedung. Melihat warna yang putih bagaikan salju,
Jie Thay Giam merasa pasti, bahwa benda tu ialah
semacam garam.
"Apa yang disaksikan olehku pada malam ini sungguh
luar biasa," pikirnya. "Jika diceritakan kepada In soe belum
tentu ia mau percaya."
Waktu menyebarkan garam itu, orang2 Hay see pay
kelihatan sangat ber hati2 seperti juga kuatir benda itu
menyentuh badan mereka. Sebagai seorang yang sudah
kawakan dalam dunia Kang ouw, Jie Thay Giam lantas
saja mengerti bahwa garam itu mengandung racun hebat
untuk mencelakakan penghuni gedung itu. Jiwa kesatrianya
lantas saja terbangun. "Siapa salah, siapa benar, aku tak
tahu, " pikirnya."Tapi perbuatan orang Hay soe pay terlalu
rendah. Biar bagaimanapun juga, aku harus
memberitahukan penghuni rumah itu, supaya dia jangan
sampai celaka dalam tangan manusia2 rendah," Melihat
orang2 itu belum menyebar kan garam dibagian belakang
rumah, buru2 ia mengmbil jalan mutar kebelakang gedung
dan lain melompat masuk kedalam tembok pekarangan.
128
Dalam pekarangan yang sangat luas berdiri lima buah
bangunan dengan tigapuluh atau empatpuluh kamar dan
apa yang mengheran kan, seluruh gedung itu gelap gulita,
tidak terlihat sinar lampu atau lilin. "Dirumah tengah, dari
mana mengepul asap hitam, pasti ada manusianya, pikir-Jie
Thay Glam. Karena kuatir penghuni runah menganggapnya
sebagai musuh, ia lalu mengambil sebatang cabang kering,
menyalakan api dan lalu menyulutnya. Sambil mengangkat
obor itu tinggi2 ia berkata."Murid Boe-tong-pay. Jie Thay
Giam, datang berkunjung untuk memberitahukan satu
rahasia. Aku tidak mengandung maksud kurang baik, harap
kalian jangan curiga," Walau perlahan suaranya tajam dan
jauh, sehingga menurut perhitungan, setiap perkataannya
bisa didengar oleh penghuni dalam lima rumah itu. Tapi
sesudah mengulangi perkataannya dua kali, ia masih juga
belum mendapat jawaban.
Jie Thay Giam adalah seorang pendekar dari sebuah
partai kenamaan dan tentu saja nyalinya labih besar dari
manusia biasa. Biarpun gedung itu menyeramkan, ia
sungkan memperlihatkan kelemahan. Tanpa menghunus
golok dan dengan hanya mengempos semangat supaya
panca indranya jadi lebih tajam, ia segera bertindak masuk
kedalam rumah yang mangeluarkan asap hitam.
Setelah melewati sebuah cim chee, ia tiba diruangan
belakang. Mendadak ia berdiri terpaku, sebab dipinggir
ruang itu menggeletak dua mayat, yang satu mengenakan
pakaian too jin (imam), sedang yang lain memakai pakaian
petani. Usia kedua orang itu sudah lanjut dan mukanya
menyeramkan, seperti juga kesakitan hebat sebelum
menghembuskan napas yang penghabisan. Tapi dibadan
mereka sedikitpun tidak terlihat tanda-tanda luka barang
tajam.
Jie Thay Giam berjalan terus untuk menyelidiki keadaan
129
rumah itu. Ia mendapat kenyataan bahwa setiap pintu
terbuka lebar tapi semua kamar gelap gulita, sehingga ia tak
bisa lihat apa yang terdapat dalam kamar-kamar itu.
Kecuali obor yang dibawanya, tidak terdapat lain
penerangan seluruh rumah yang luas itu. Meskipun bernyali
besar, mau tak mau hatinya berdebar juga.
Dari situ, ia terus pergi keruangan samping, dimana ia
melihat pemandangan yang lebih hebat lagi. Dalam
ruangan itu, menggeletak mayat dua puluh orang lebih
dengan senjata2 mereka. Dilihat dari muka mayat2 itu,
sebagian sudah mati lama juga sebagaian lagi baru saja
mati. "Dari senjatanya, diantara mereka terdapat orang2
pandai." katanya didalam hati. "Senjata untuk menotok
jalan darah, roda Ngo-heng-loen, Poan-koan pit dan
sebagainya. Jika orang2 itu tidak mahir dalam ilmu
menotok jalan darah, mereka tentu tidak menggunakan
senjata itu. Mengapa mereka mati disini? Mengapa ?"
Semula ia masuk gedung itu dengan sikap sembarangan.
Tapi sekarang sesudah melihat mayatnya begitu banyak
jago-jago, ia lantas saja berhati-hati. "Murid Boe-tong-pay
Jie Thay Giam minta bertemu dengan Cianpwee untak
melaporkan suatu urusan," teriaknya kembali. Jawaban
tetap tidak ada, tapi diruangan tengah terdengar suara orang
meniup api dan suara merontoknya perapian. Dengan
tindakan hati-hati, ia lalu menghampiri suara itu dan
sesudah melewati tembok dan sekosol, tibalah ia di ruangan
tengah.
Ia terkejut sebab merasakan menyambarnya hawa yang
sangat panas. Ditengah-tengah ruangan terdapat sebuah
dapur besar yang terbuat dari batu dan api di dalam dapur
itu menjilat-jilat keatas. Diseputar dapur berdiri tiga orang
yang sedang meniup dengan menggunakan tenaga
Lweekang, sedang diatas dapur menggeletak melintang
130
sedatang pedang yang panjangnya kira-kira empat kaki.
Sebab panasnya, dari merah sinar api berubah hijau dan
dari hijau berubah merah, tapi sinar golok tersebut masih
tetap berkeredepan dan sedikitpun tidak melumer atau
rusak karena panas api.
Ketiga orang rata2 berusia kurang lebih enampuluh
tahun dan mereka semua mengenakan jubah hijau. Muka
mereka penuh debu dan jubah mereka banyak berlubang
akibat peletikan api, diatas kepala mereka mengepul uap
putih dan saraya mengempos semangat, perlahan2 mereka
meniup api. Setiap kali ditiup, api itu menjilat keatas kira2
lima kaki tingginya dan menggulung golok yang
berkeredepan itu. Jie Thay Giam mengerti, bahWa ketiga
orang tua itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.
Dengan berdiri ditempat yang berapa tombak jauhnya dari
perapian itu, ia sudah merasakan hebatnya hawa panas,
sehingga dapatlah dibayangkan panasnya hawa yang
menyambar ketiga kakek itu, yang berdiri dipinggir dapur.
Tapi aneh sungguh, biarpun digulung api yang bersinar
hijau, golok itu masih tetap utuh dan Warna nya tidak
berubah sama sekali.
Mendadak diatas genteng terdengar suara menyeramkan
"Berhenti! Marah golok mustika itu adalah kedosaan besar."
Jantung Je Thay Giam memukul keras, karena ia
mengenali, bahwa suara itu adalah suara si jubah sulam.
Tapi ketiga kakek itu tidak menghiraukannya dan malahan
meniup semakin hebat. Mendadak hampir berbareng
dengan terdengar nya suara tertawa dingin, satu bayangan
yang bersinar emas berkelebatan dan bagaikan jatuhnya
selembar daun, sijubah sulam sudah berdiri ditengah-tengah
ruangan. Dengan bantuan sinar api, Jie Thay Giam bisa
lihat tegas romannya orang itu, yang ternyata adalah
seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih duapuluh
131
tahun, dengan muka yang tampan, tapi pucat dan bersorot
hijau. Sulaman benang emas dijubahnya yang sangat indah
dan mewah, merupakan gambar-gambar harimau, singa
bunga-bunga. Dengan sikap tenang dan tanpa membawa
senjata, ia berkata dengan suara dingin "Tiang pek sam
khim, mengapa kau akan merusakkan senjata mustika itu ?
"Seraya berkata, begitu ia maju setindak.
Sikakek yang berdiri disebelah barat mendadak
mementang lima jari tangannya yang, terus menyambar
kemuka orang. Sijubah sulam mengempas dan maju lagi
setindak. Kakek yang berdiri disebelah timur dengan cepat
meagambil satu martil yang terletak di pinggir dapur dan
lalu menghantam kepala orang. Tapi gerakan pemuda itu
gesit luar biasa. Dengan sekali miringkan badan, ia kermbali
bisa meloloskan diri dari serangan kedua Martil itu
menghantam tempat kosong dan jatuh dilantai dengan
muncratnya lelatu api. Ternyata batu lantai bukan biasa,
tapi batu gunung yang sangat keras.
Sikakek yang disebelah barat lantas saja bantu
menyerang dengan kedua tangan yang jari2nya dipentang
seperti cakar ayam. Ia menyerang secara nekat2an dengan
pukulan-pukulan yang membinasakan, sehingga Jie Thay
Giam jadi merasa sangat heran, "Sakit hati apa yang
didendam orang-orang ini, sehingga mereka berkelahi
dengan menggunakan pukulan pukulan yang kejam itu?"
tanyanya didalam hati.
Tapi kepandaian si jubah sulam benar-benar luar biasa.
Walaupun diserang oleh kedua kakek itu, ia masih
bersenyum senyum dan melayani dengan sikap acuh tak
acuh. Sesudah bertempur beberapa jurus, si kakek yang ber
senjata martil membentak: "Siapa tuan ? Biar maui golok
mustika, tuan harus lebih dulu memberitahukan she dan
namamu,"
132
Tapi si jubah sulam tidak menjawab, ia hanya tertawa
dingin, mendadak ia memutar badan, disusul dengan suara
"krak-krek" dari sikakek yang disebelah timur, terbang
menghantam dan menjebloskan atap rumah, akan
kemudian jatuh dipekarangan gedung !
Kakek yang martilnya terbang, dapat berpikir cepat. Ia
tahu, bahwa mereka tengah menghadapi musuh yang satu,
pihaknya dan meskipun tiga lawan satu, pihaknya pasti
bakal dapat dirobohkan. Maka itu, buru2 ia mengambil satu
jepitan api untuk menjepit golok To Liong to.
Pada waktu itu si kakek yang berdiri disebelah selatan,
sudah siap sedia dengan senjata rahasianya dan menunggu
kesempatan untuk menimpuk si jubah sulam. Akan tetapi
karena gerakan pemuda itu gesit luar biasa, maka sedari
tadi ia belum mendapatkan lowongan untuk menyerang.
Sekarang, begitu lihat sikakek disebelah timur menangkat
jepitan untuk menjepit To-Liong to hatinya terkesiap. Ia
yakin, begitu lekas golok mustika itu jatuh kedalam tangan
orang lain, ia sukar mendapatkannya kembali. Sesudah
sikakek memiliki To liong to, mana mampu ia
melawannya? Dalam bingungnya, ia jadi nekad dan
bagaikan kilat, tangannya menyambar kedapur dan
mencekel gagang golok.
Meskipun tidak sampai lumer sebagai,akibat dari
pembakaran yang sangat hebat itu, golok itu panas luar
biasa. Begitu tangan sikakek mencekel gagang golok, uap
putih mengepul keatas dan semua orang mengendus bau
daging dibakar. Tapi ia seperti juga tidak merasa sakit dan
membelatak, ia tetap mencekel gagang golok itu. Karena
kaget, pertempuran terhenti dan semua orang berdiri
terpaku. Dilain saat, kakek itu sudah melompat kebelakang
dan kemudian, sambil menenteng To-liong-to, bagaikan
seorang edan, ia kabur dari ruangan itu.
133
Sijubah sulam tertawa dingin "Mana bisa begitu mudah?"
katanya seraya turut melompat dan menjabret punggung
sikakek yang lalu digentak kebelakang. Orang tua itu
membalik tangannya dan To-Liong-to manyambar.
Sebelum mata golok tiba, hawa panas sudah menyambar
muka sijubah sulam, sehingga rambut dan alisnya lantas
jadi hangus.
Pemuda itu terkejut dan tak berani menyambut dengan
tangannya. Cepat bagaikan kilat, kedua tangannya
mendorong kedepan dan tubuh sikakek terbang kearah
mulut dapur!"
Jie Tay Giam yang sadari tadi menonton pertempuran
itu sebenarnya tak ingin mencampuri sebab persoalan golok
mustika tidak bersangkut paut dengan dirinya. Tapi pada
detik jiwa sikakek terancam kebinasaan tanpa memikir
panjang2 lagi, ia mengempos semangat dan melompat.
Sedang badannya masih berada ditengah udara ia
menjambret rambut orang tua itu law mengangkatnya
keatas dan kemudian, dengan gerakan yang sangat indah ia
hinggap diatas lantai. Lompatan itu yang merupakan ilmu
mengentengkan badan paling tinggi dalam Rimba Persilatan
dinamakan Tee in ciong "Lompatan awan tangga".
Si jubah sulat dan Tiang-Pek-Sam-khim yang tadinya
tidak memperhatikan padanya jadi kaget bukan main.
"Bukankah lompatan itu Tee in ciong yang kesohor
dikolong langit?" tanya pemuda itu.
Mendengar orang menyebutkan nama ilmunya. Jie Thay
Giam bermula merasa kaget, tapi kemudian ia girang
karena mendapat pujian, "ilmu yang cetek itu tiada artinya
untuk di-sebut2", jawabnya dengan suara merendah.
"Apakah aku bisa mendapat tahu she dan nama tuan yang
mulia?"
134
"Bagus! Bagus!" katanya, tanpa menjawab pertanyaan
orang. "Orang mengatakan, bahwa ilmu mengentengkan
badan Boe tong pay tiada keduanya dalam dunia. Perkataan
itu ternyata ada benarnya juga". Walaupun kata2nya
memberi pujian, tapi suaranya bernada sombong, se olah2
seorang Cianpwee orang yang tingkatannya lebih tinggi
sedang memuji kepandaian seorang Hoanpwee orang yang
tingkatannya lebih bawah.
Jie Thay Giam mendongkol tapi ia menahan sabar.
"Dengan sekali bergerak tuan sudah membinasakan seorang
jago Hay see pay, katanya kepandaian tuan sungguh2 tak
bisa diukur bagaimana tingginya."
Si baju sulam kaget. "Eeh, dia lihat aku, tapi aku sendiri
tak lihat dia," katanya didalam hati. "Dimana bocah itu
bersembunyi?"
Ia tersenyum tawar dan berkata dengan suara yang tawar
pula. "Benar ilmu itu sukar dimengerti oleh orang luar.
Jangankan tuan, sedangkan Ciang boen jin Boe tong pay
sendiripun belum tentu bisa mengerti."
Jie Thay Giam adalah seorang yang sangat sabar tapi
mendengar hinaan terhadap gurunya, darahnya naik juga.
Baik juga ia masih bisa menguasai dirinya dan merasa tidak
perlu untuk menambah musuh karena beberapa perkataan
kurang ajar itu ia bersenyum seraya berkata. "Dalam dunia
persilatan memang terdapat banyak sekali ilmu2 yang
murni dan yang sesat Boe tong pay hanya memiliki
sekelumit ilmu dari lautan ilmu yang dalam dan luas. Ilmu
yang dimiliki tuan memang juga tidak dipunyai oleh
guruku." Jawabnya yang sungkan itu mengandung duri dan
ia seperti juga mau mengatakan bahwa Boe tong pay
memang tidak mengerti segala ilmu sesat dan
menyeleweng.
135
Sementara itu, sikakek yang mencekal golok mendadak
memutar To Liong to dan lari menerjang keluar.
Jie Thay Giam yang berdiri paling dekat, paling dulu
menerima serangan. Tiba2 ia merasakan sambaran angin
hebat kearah pinggangnya. Sesudah menolong jiwa orang
tua itu, sedikitpun ia tidak duga, bahwa dirinya bakal
diserang cara begitu. Pada saat yang sangat berbahaya, ia
menotol lantai dengan kakinya dan badannya lantas saja
melesat keatas. Kakek itu sendiri terus lari keluar sambil
menyabetkan To liong to secara membabi buta.
Si jubah sulam dan dua kakek lainnya tidak berani
merintangi dengan kekerasar dan seraya ber-teriak2, mereka
lalu mengumbar dari belakang.
Jie Thay Giam pun lantas turut mengudak. Berkat ilmu
mengentengkan badannya yang sangat tinggi, biarpun
mengubar belakangan, ia lebih dulu menyandak kakek itu,
yang lari dengan tindakkan limbung dan kedua tangan
mencekel To liong to, seperti juga tidak kuat menentengnya
dengan satu tangan.
Begitu tahu dicandak orang, sambil mangeluarkan
teriakan keras, ia melompat jauh dengan menggunakan
seantero tenaga dan badannya lantas saja melesat keluar
pintu depan. Heran sungguh, begitu kedua kakinya hinggap
di tanah, ia terguling dan berteriak kesakitan seperti juga
terluka berat.
Si jubah sulam dan kedua kakek lainnya menyusul dan
coba merebut To liong to. Tapi dengan serentak merekapun
turut2 robah dan mengeluarkan teriakan menyayat hati,
seolah2 dipagut ular atau lain binatang berbisa. Sijubah
sulam yang ilmunya paling tinggi dengan cepat melompat
bangun dan lantas kabur sekeras2nya. Tapi ketiga kakek itu
terus bergulingan dan tak bisa bangun lagi.
136
Melihat kejadian luar biasa itu Jie Thay Ciam segera
bergerak untuk memberi pertolongan. Mendadak ia kaget
sendiri sebab tiba2 saja ia ingat garam beracun yang disebar
oleh orang2 Hay see pay. Melihat akibatnya terhadap
Tiang-pek Sam khim dan sijubah sulam, racun itu mestinya
hebat luar biasa ia tahu bahwa seputar gedung itu telah
dikurung dengan garam beracun sehingga ia sendiripun tak
tahu bagaimana harus meloloskan diri.
Ia berdiri diam dan mengasah otak. Sekonyong konyong
ia lihat dua kursi tinggi dikedua samping pintu dan
mendadak ia dapat pikiran baik. Buru2 ia membalik kedua
kursi itu dan sambil menggaetkan kakinya dikursi ia
berjalan seperti orang main jangkungan.
Ketiga orang tua masih terus bergulingan diatas tanah
sambil mengeluarkan teriakan hebat. Thay Giam mengerti
bahwa ia sedang berada ditempat yang sangat berbahaya
cepat cepat ia merobek ujung bajunya dan dengan
menggunakannya sebagai alat ia men jambret punggung
sikakek yang mencekal To liong to dan sambil
menentengnya ia lari kejurusan timur se-cepat2nya.
Inilah kejadian yang tak di duga2 oleh orang Hay see
pang dengan serentak mereka melepaskan sejata rahasia.
Tapi Jie Thay Giam yang gerakannya cepat luar biasa
dalam sekejap sudah berada diluar jarak senjata rahasia.
orang2 Hay see pang tak mau mengerti dan terus mengejar
se-keras2nya.
Se konyong2, Jie Thay Giam melompat tinggi, sedang
kedua kakinya menendang kedua kursi itu lantas saja
terbang kebelakang dan menghantam beberapa
pengejarnya. Mereka berteriak kesakitan dan semua
kawannya terpaksa berhenti sejenak untuk melihat
keadaan mereka.
137
Dengan menggunakan kesempatan itu sambil
mengempos semangat, Jie Thay Giam mempercepat
tindakannya dan dalam sekejap ia sudah meninggalkan
pengejarnya jauh sekali.
Sesudah lari lagi beberrapa jauh, ia hanya mendengar
suara ombak laut dan suara kejaran musuh sudah tidak
terdengar lagi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
Sikakek tidak menjawab. Ia merintih kesakitan "Lebih
baik cuci badannya yang penuh garam beracun," pikir Thay
Giam. Ia segera membawa orang tua itu keair yang cetek
dan lalu melemparkannya keair itu, dengan menjaga supaya
air laut tidak mengenakan badannya sendiri. Beberapa saat
kemudian, kakek itu kelihatan tersadar, tapi belum bisa
bangun. Selagi Thay Giam mau mengangsurkan tangan
untuk menariknya, tiba2 menyambar gelombang besar yang
secara kebetulan, sudah melontarkan badan situa keatas
pasir.
"Sekarang kau sudah terlolos dari bahaya dan karena
mempunyai urusan panting aku tidak bisa menemani terus,
maka disini saja kita berpisahan." kata Thay Giam.
Sambil menekan pasir dengan kedua tangan nya si kakek
mengangkat badannya. "Kau kau...mengapa kau tidak
merampas golak mustika ini?" tanyanya dengan suara
heran.
Thay Giam tertawa. "Biarpun bagus, golok itu bukan
milikku," jawabnya. "Bagaimana aku bisa merampasnya?"
Si kakek jadi semakin heran. Ia tak percaya dalam dunia
ada orang begitu mulia. "Kau..,.kau...tipu busuk apa yang
dijalankan olehmu?" tanyanya. "Kau ingin menyiksa aku?"
"Kita sama sekali tidak bermusuhan, bagai mana aku
138
bisa menyiksa kau?" Thay Giam balas tanya seraya
tersenyum. "Malam ini, secara kebetulan kita bertemu dan
karena merasa tak tega melihat kau terluka, aku sudah
memberi pertolongan."
Orang tua itu menggeleng2kan kepalanya. "Jiwaku
berada dalam tanganmu, kalaukau mau ,bunuhlah
sekarang!" katanya dengan suara keras. Tapi jika kau
turunkan tangan beracun, sesudah mati aku akan jadi setan
penasaran dan akan terus me-ngubar2 kau."
Thay Giam tahu otak si tua masih kalang kabut dan ia
hanya bersenyum tanpa meladesi. Baru saja ia mau berlalu,
mendadak menyambar sebuah gelombang besar, sehingga
pakaiannya basah kuyup dan kakek sendiri mendekam
diatas pasir dengan badan gemetaran.
Dengan adanya kejadian itu, Thay Giam berubah
pikiran. "Jika menolong orang, kita harus menolong sampai
diakhirnya," pikirnya "kalau aku berlalu, mungkin sekali dia
akan mati didalam laut." Memikir begitu, ia lantas saja
menjambak punggung si kakek itu dan sambil
menentengnya, ia berjalan kearah sebuah bukit, ia
mengawasi keadaan diseputarnya dan melihat sebuah
rumah kecil yang bentuknya menyerupai kelenteng. Ia lalu
pergi kesitu dan benar saja rumah itu rumah berhala yang
didepannya terdapat huruf2 "Hay sin bia" Kelenteng
Malaikat Laut. Ia menolak pintu dan mendapat kenyataan
bahwa kelenteng yang sangat kecil itu hanya mempunyai
sebuah ruangan.
Sesudah meletakkan si kekak diatas meja sembahyang, ia
mengeluar bahan api, tapi tak dapat menggunakan karena
basah. Dalam gelap, ia meraba2 meja sembahyang dan
sungguh untung diatas meja terdapat bahan api yang
diperlukannya. Ia lalu menyalakan bahan api itu dan
menyulut lilin yang tinggal sepotong.
139
Dibawah sinar lilin ia lihat muka si kakek yang berwarna
hijau ungu sebagai tanda keracunan hebat. Dengan kaget ia
merogo saku dan mengeluarkan sebutir Thian sin Kay tok
tan atau pel pemunah racun. "Telanlah pel ini," katanya.
Si kakek membuka mataya. "Tidak," katanya dengan
suara gusar. "Aku lebih suka mati daripada makan pil
racunan."
Biar bagaimana sabarpun, Jie Thay Giam naik juga
darahnya. Sambil mengerutkan alis, ia berkata dengan suara
keras: "Kau anggap aku siapa? Walaupun Boe tong Cit hiap
bukan orang2 mulia, mereka sedikitnya bukan manusia2
yang gemar mencelakakan sesama manusia. Sebentar pel ini
adalah untuk memunahkan racun. Karena kau sudah kena
racun hebat, biarpun belum tentu bisa menolong jiwamu,
sedikitnya pel ini bisa memperpanjang usiamu selama tiga
hari. Paling benar kau menyerahkan To liong to kepada
Hay see pay dan menukarkannya dengan obat pemunah."
Mendadak kakek itu melompat bangun dan berteriak :
"Tidak . . . .! Tidak bisa !"
"Perlu apa golok mustika itu, kalau jiwamu sendiri sudah
melayang?" tanya Thay Giam.
"Jiwaku boleh melayang, tapi To liong to mesti tetap jadi
milikku" jawabnya dengan suara pasti seraya mencekal
golok itu erat2 dan menempelkannya dipipinya dengan
sikap sangat menyayang.
Jie Thay Giam jadi heran bukan main. Ia sebenarnya
ingin menanya, "apa kefaedahan golok tersebut sehingga
dicinta sampai begitu. Tapi melihat sorot mata si kakek
yang serakah dan ganas, ia jadi merasa muak dan sesudan
memutar badan, ia lantas saja berjalan pergi.
"Tahan! Mau kemana kau?" bentak orang tua itu.
140
Thay Giam tertawa. "Kemudian aku mau pergi, bukan
urusanmu," jawabnya sambil berjalan terus. Tapi baru ia
berjalan beberapa tindak, mendadak kakek itu menangis
keras seperti jeritan binatang yang terluka hebat yang penuh
kesakitan dan putus harapan.
Tangisan itu telah membangkitkan rasa kesatria Jie Thay
Giam. Ia balik kembali menanya: "Mengapa kau
menangis?"
"Sesudah mengalami banyak sekali penderitaan, barulah
aku memiliki golok mustika ini." jawabnya. "Tapi sekarang
aku tahu, dalam sekejap mata, jiwaku akan terpulang
kealam baka. Sesudah aku mati, perlu apa golok mustika ini
?"
"Hm....untuk menyelamatkan jiwamu tak ada jalan lain
dari pada menyerahkan golok itu kepada Hay see pay untuk
ditukar dengan obat pemunah" kata Jie Thay Giam.
Sikakek menangis meng gerung2. "Aku tak tega untuk
menyerahkannya! Tak tega untuk menyerahkan!" teriaknya
dengan nada pe
nuh keserakahan.
Thay Giam merasa geli melihat serakahnya orang tua itu
tapi dengan menyaksikan penderitaannya yang sangat hebat
ia tidak bisa tertawa pula, seorang ahli silat yang sejati
hanya mengandalkan kepandaiannya untuk mengalahkan
musuh dan dalam sepak terjang ia selalu berjalan lurus dan
bersedia untuk menolong sesama manusia supaya namanya
tetap harum turun temurun. "Golok atau pedang mustika
adalah benda2 yang berada diluar badan kita. Kalau
mendapatkannya kita tak usah bergirang, sedang kalau
kehilangan kita juga boleh tak usah merasa sedih. Maka itu,
perlu apa Lootiang mesti bersedih sampai begitu rupa?"
141
"Enak saja kau bicara!" bentak sikake! "Apa kau penuh
dengan kata2 seperti berikut."
"Boe lim cie coen, po to to liang, hauw leng thian hee
boh kam poet cong?" (Yang termulia dalam Rimba
Persilatan golok mustika membunuh naga perintahuya
dikolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut.)
Jie Thay Giam tertawa." Tenta saja aku pernah
mendengarnya," jawabnya. "Disebelah bawah parkataan itu
masih ada dua baris perkataan lain yang berbunyi:"Ie thian
poet coat, swee ie ceng hong?" Sepanjang tahuku, apa yang
dimaksudkan dengan ucapan itu ada lah suatu peristiwa
yang menggemparkan Rimba Persilatan pada beberapa
puluh tahun berselang dan sama sekali bukan
membicarakan golok mustika To Liong Ie thian berarti
mengandal kepada Langit atau Tuhan. Tapi disini Ie thian
adalah namanya sebatang pedang mustika. Maka itu, Ie
thian poet coat, swee ie ceng hong! Berarti: "Ie thian tidak
keluar siapa lagi yang melawan ketajamannya?
"Kejadian apa yang menggemparkan?" tanya sikakek.
"Coba kau ceritakan."
"Peristiwa itu diketahui oleh hampir setiap orang dalam
Rimba Persilatan," menerangkan Thay Giam. "Yang
dimaksudkan ialah peristiwa dibunuhnya kaisar Mongol
Hian cong, oleh Sintiauw Tay Hiap Yo Ko. Mulai dari
waktu itu setiap perintah yang dikeluarkan oleh Sintiauw
Tay hiap tidak pernah tidak diturut oleh segenap orang2
gagah dikolong langit. Dengan Liong, (naga) dimaksudkan
kaisar Mongol dan To liong berarti membunuh kaisar
Mongol. Apa kau kira dalam dunia ini benar2 ada naga?"
Si kakek tertawa dingin. "Aku minta tanya. Senjata ada
yang biasa digunakan oleh Yo Tay hiap ?" tanyanya.
Thay Giam agak terkejut: "Menurut katanya guruku, Yo
142
Tayhiap berlengan satu dan ia biasanya tidak menggunakan
senjata apapun juga," jawabnya. "Tapi pada hari waktu
bertempur melawan Kim Loen Hoan ong diluar kota Siang
yang, ia menggunakan senjata pedang"
"Senjata apa yang digunakan Yo Tay biap untuk
membinasakan kaisar Mongol?" tanya pula si kakek.
"Ia menimpuk Hian cong dengan sebutir batu dan
kejadian ini dilihat oleh semua orang." jawabnya.
Orang tua itu kelihatan girang. "Baiklah" katanya.
"Menurut katamu sendiri, Yo Tayhiap biasa menggunakan
saja tangannya atau tempo2 menggunakan pedang. Senjata
yang digunakanya sebutir batu. Dengan begitu, dari mana
datangnya perkataan po to to liong atau golok mustika
membunuh naga?"
Jie Thay Giam terperanjat dan untuk beberapa saat ia tak
dapat menjawab pertanyaan itu. "Ah! Kurasa itu hanya
kata2 yang ditemu kan se-enak2nya saja oleh orang2 Rimba
Persilatan," jawabnya sesudah selang beberapa saat. "Orang
tentu tidak bisa mengatakan 'batu membunuh naga'. Kata2
itu tak enak didengarnya."
Sekali lagi si kakek tertawa dingin. "Alasanmu adalah
alasan dibuat2 yang tak ada dasarnya sama sekali," katanya
dengan suara mengejek. "Aku mau tanya lagi, apa artinya
perkataan Ie thian poet-coet, wee ie ceng hong?"
Lagi2 Jie Thay Giam bungkam. Sesudah mengasah otak
beberapa lama, baru ia menjawab: "Mungkin sekali Ie thian
namanya orang. Sepanjang cerita, Yo Thayhiap belajar
ilmu silat dari istrinya. Bisa jadi Yo Hujin bernama Ie Thian
dan mungkin juga perkataan itu dimaksudkan Kwee Tay
hiap yang telah membela kota Siang yang mati2an."
"Hm !" si orang tua mengeluarkan suara hidung.
143
"Aku memang sudah duga, kau tak tahu apa artinya
perkataan itu. Sekarang kau dengarlah. To liong adalah
sebilah golok yaitu golok To Liong to yang sedang dicekal
olehku. Ie thian adalah namanya sebatang pedang. Pedang
itu dikenal sebagai Ie thian kiam. Makanya perkataan itu
berarti begini: Dalam Rimba Parsilatan, benda yang
termulia adalah golok To liong to Segala perintah dari
orang yang bisa memiliki golok itu, akan diturut oieh
segenap orang gagah dikolong langit. Asal saja Ie thian
kiam tidak muncul, maka senjata yang terlihay dalam dunia
adalah To liong to sendiri."
Thay Giam separoh percaya separoh tidak. "Boleh aku
lihat golok itu ?" tanyanya.
Sikakek memeluk To liong to erat2. "Kau kira aku bocah
usia 3 tahun?" katanya dengan suara gusar. "Jangan kau
harap bisa akali aku". sesudah kena racun ia sebenarnya
tidak bertenaga lagi, tapi setelah menelan pel yang di
berikan oleh Jie Thay Giam sebagian tenaga nya pulih
kembali dan dapat mengerahkgn Lweekang untuk memeluk
golok mustika.
Dilain saat sebagai akibat dari pengarahan tenaga dalam
itu napasnya ter sengal2.
"Kalau kau tidak mempermisikan, aku pun tidak ingin
memaksa," kata Thay Giant seraya tertawa. "Sekarang
sesudah kau memiliki golok mustika To Liong, siapakah
yang bersedia untuk menurut perintahmu? Apakah karena
melihat kau memeluk golok itu aku segera menurut segala
kemauanmu? Benar2 menggelikan menurut pendapatku,
kau adalah seorang yang baik tapi sebab percaya segala
omongan gila pada akhirnya akan mengorbankan jiwamu
sendiri. Hai! Malahan sampai dini detik kau masih belum
tersadar juga."
144
"Bahwa kau tidak bisa memerintah aku adalah suatu
bukti bahwa golok itu sebenar nya tidak luar biasa sama
sekali."
Sikakek bengong dan tidak bisa mengeluarkan sepatah
kata. "Lau tee," katanya sesudah berpikir beberapa lama.
"Sekarang kita mengadakan serupa perjanjian. Kau
menolong jiwa ku dan aku akan membuka sebagian rahasia
dari kebagusannya golok mustika ini. Apa kau mupakat?"
Jie Thay Giam tetawa terbahak2. "Looliang dengan
berkata begitu kau sungguh memandang rendah murid2
Boe tong," katanya.
"Menolong manusia yang harus ditolong adalah tugas
dari kami semua. Apakah kau kira dalam menolong orang
kami mengharapkan pembalasan budi? Kau kena garam
beracun, tapi aku sendiri tidak tahu racun apa adanya itu.
Maka itulah sebagaimana kukatakan jalan satu2nya adalah
meminta obat pemunah dari Hay see pay sendiri."
"Tak mungkin!" kata situa sambil menggelengkan kepala.
"Golok mustika ini telah dicuri dari dalam tangan Haysee-
pay. Mereka sangat membenci aku dan mereka pasti tak
akan sudi menolong."
"Dengan menyerahkan golok itu kepada mereka, segala
sakit hati akan menjadi hilang." kata Thay Giam. "Perlu
apa mereka mengambil jiwamu?"
Tapi sikakek tetap menggeleng2kan kepala, "Kulihat kau
mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan kau pasti
bisa mencuri obat pemunah dari Hay-see-pay." katanya.
"Pergilah curi obat itu dan tolonglah selembar jiwaku."
"Aku merasa menyesal tak dapat meluluskan
permintaanmu itu," kata Thay Giam. "Pertama, aku sendiri
mempunyai urusan penting dan tidak boleh berdiam terlalu
145
lama ditempat ini. Kedua, kau telah mencuri golok orang
dan dalam hal ini, kaulah. Mana bisa aku mengambil pihak
yang tidak benar? Lootian, lekaslah kau meminta
pertolongan pihak Haysee-pay. Jika terlambat aku khawatir
tidak keburu lagi."
Melihat Thay Giam memutar badan untuk segera
berlalu, si tua buru2 berkata "Sudahlah, tak apa jika kau tak
mau menolong. Tapi aku ingin ajukan sebuah pertanyaan
lagi. Pada waktu kau mengangkat tubuhku, apakah akan
ada merasakan apa2 yang luar biasa?"
"Benar, aku sendiri merasa sangat heran," jawabnya.
"Kau bertubuh kurus dan kecil tapi pada waktu aku
mengangkat badanmu aku merasa herat sekali, kira2 ada
duaratus kati, Kau tidak membawa barang berat, tapi
mengapa berat badanmu begitu hebat ?"
Orang tua itu segera menaruh To-liong to di atas tanah
dan berkata: "Nah, coba sekarang kau angkat lagi
badanku."
Thay Giam segera mencekal baju si kakek dan
mengangkatnya. Benar saja, dengan heran mendapat
kenyataan, bahwa berat badan orang tua itu hanya kira2
delapanpuluh kati. "Betul luar biasa," katanya. "Aku tak
nyata, berat golok itu ada seratus kati lebih." Sambil berkata
begitu, perlahan2 ia melepaskan tubuh si kakek diatas
tanah.
"Keanehan golok ini bukan hanya terpihak pada
beratnya saja." kata pula si kakek. "Lau-tee, kau she apa,
she Jie atau she Thio?"
"Aku she Jie, namaku Thay Giam, Lootiang bagaimana
kau bisa menebak begitu?"
Si kakek tertawa seraya berkata: "Diantara Boe-tong Cit146
hiap, Song Tayhiap berusia le bih tua dari padamu. In hiap
dan Boh hiap baru berusia kira2 duapuluh tahun. Jie hiap
dan Sam hiap kedua2nya she Jie. Sie hiap dan Ngo hiap
masing2 she Thio. Dalam Rimba persilatan, siapakah yang
tidak tahu itu? Lautee kalau begitu kau adalah Jie Samhiap.
Tak heran jika kau memiliki kepandaian yang begitu lihay.
Nama Boetong Cithiap menggemparkan seluruh dunia
persilatan dan kini hari, aku mendapat bukti, bahwa nama
besar itu benar2 bukan kosong."
Walaupun masih berusia muda, Jie Thay Giam sudah
kenyang makan asam garam dunia Kangouw. Ia mengerti
bahwa pujian itu mempunyai maksud untuk dapat
pertolongannya, sehingga oleh karenanya ia menjadi kheki
terhadap sikakek yang coba mengumpak dirinya.
"Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama Loo tiang
yang?" tanyanya.
"Aku she Tek, namaku Seng," sahutnya. "Sahabat2
diwilayah Liao tong memberi gelar Hay tong ceng
kepadaku." Hay tong ceng ada lah semacam burung elang
yang terdapat didaerah Liao tong. Burung itu ganas dan
buas dan biasa makan binatang2 kecil.
"Thay Giam segera merangkap kedua tangannya seraya
berkata. "Sudah lama sekali aku mendengar nama besar
Loo tiang. Aku merasa sangat beruntung bahwa dihari ini
bisa berkenalan dengan Loo tiang." Sehabis berkata begitu
ia dongak mengawasi langit.
Tek Sang mengerti bahwa pemuda itu akan segera
berangkat pergi. Ia menganggap bahwa untuk menahannya
ia harus memancing Thay Giam dengan keuntungan besar.
Maka itu, ia lantas saja berkata. "Dalam hal ini ada apa2
yang belum dimengerti olehmu.
Kata2 hauw len2 thian hee, boh kam po pang, pada
147
hakekatnya bukan berarti bahwa perintah orang yang
memiliki To Liong to, ia akan dituruti dengan begitu saja
oleh orang2 gagah dalam Rimba Persilatan. Bukan arti yang
sebenarnya bukan begitu."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berbisik: "Jie Lau tee,
didalam golok mustika itu tersimpan kitab rahasia ilmu
silat. Ada yang kata Kioe yang Cin keng, ada pula yang
kata Kioe im Cin keng. Asal saja orang bisa mengeluarkan
kitab tersebut dan beralih menurut petunjuk2nya, maka
orang itu akan memiliki kepandaian yang sedemikian
tinggi, sehingga semua orang tak akan berani membantah
segala perintahnya."
Cerita mengenai kedua kitab itu memang per nah
didengar oleh Jie Thay Giam dari gurunya. Dulu, pada
sebelum Kak wan Taysoe meninggal dunia, guru2 dari
Siauw-lim, Boe tong dan Gobie telah memetik beberapa
bagian dari Kioe yang Cin keng, tapi kitab itu, sendiri tak
diketahui lagi dimana adanya.
Mengenai Kioe im Cin keng, sudah beberapa tahun
orang tidak pernah me-nyebut2 lagi kitab itu, sehingga
dalam Rimba Persilatan, orang sangat menyangsika
kebenarannya cerita itu.
Melihat paras Jie'Thay Giam yang penuh rasa tidak
percaya Tek Seng lantas saja berkata lagi: "Sesudah
mendapat golok mustika ini, kami bertiga coba
mencairkannya dengan menggunakan api guna mengambil
kitab yang tersimpan didalamnya. Tapi rahasia itu bocor
dan sebelum berhasil, orang sudah datang mengganggu. Jie
Lau tee, sekarang aku ingin minta pertolonganmu untuk
mencuri pemunah racun. Sesudah aku sembuh, kita bisa
pergi ketempat yang sepi dan jauh dari manusia untuk
mencairkan To Hong to dan mengambil kitab itu. Dalam
beberapa tahun saja, kita berdua sudah bisa menjagoi
148
dikolong langit. Jie Lau tee, bagaimana pendapatmu?"
Thay Giam menggelengkan kepalanya. "Hal itu tidak
boleh terlalu dipercaya," katanya. "Jangankan dalam golok
itu memang tidak tersimpan kitab, sedangkan, sekalipun
benar ada kitabnya, pada sebelum golok itu menjadi cair
kitab tersebut tentu sudah menjadi abu."
"Golok itu keras luar biasa dan tak dapat dibuka dengan
pahat yang bagaimana tajam-Pun,." kata Tek Seng. "Jalan
satunya adalah mencairkannya dengan menggunakan api.
Bicara sampai disitu paras Jie Thay Giam mendadak
berubah dan dengan tangannya ia mengebut lilin2 yang
lantas padam. "Ada orang" bisiknya.
Tek Sen yang Lweekangnya masih kalah jauh dari
pemuda itu, tak dapat dengar apapun juga. Baru saja ia mau
menanya, disebelah kejauhan mendadak terdengar suara
seruan yang saling sambut. "Musuh mendatangi!" katanya
dengan suara kaget. "Mari kita kabur dari belakang
kelenteng."
"Dibelakang kelenteng juga sudah ada musuh," kata
Thay Giam.
"Celaka !" mengeluh Hay tong ceng.
"Tek Loo tiang," kata Thay Giam. "Yang datang adalah
orang Hay see pay. Dengan menggunakan kesempatan ini,
paling baik kau minta obat pemunah. Aku sendiri tak dapat
mencampuri urusanmu dan segala apa terserah atas putusan
Lootiong sendiri."
Sikakek ketakutan setengah mati dan ia mencekal tangan
Jie Sam hiap erat2. "Tidak, tidak... kau tidak boleh
meninggalkan aku....tak boleh meninggalkan aku..."
katanya dengan suara gemetar dan ter-putus2.
Thay Giam merasa jari tangan sikakek yang mencekal
149
pergelangan tangannya bagaikan jepitan besi, dingin seperti
es. Dengan sekali membalik tangan, ia melepaskan cekalan
itu dan berbalik mencengkeram lima jerijinya orang itu. Tek
Seng merasa tulang jerijinya seperti mau patah, tapi pada
saat itu ia yakin, bahwa orang satu2nya yang bisa menolong
jiwanya adalah pemuda itu. Untuk menyerahkan To-liong
to yang telah direbutnya dengan mempertaruhkan jiwa, ia
sungguh tak rela lebih tak rela daripada memotong dan
memberikan sepotong dagingnya sendiri.
Maka itu, se-konyong2 ia memeluk Thay Giam dengan
tangatnnya, secara nekat2an.
Dengan kaget pemuda itu menggoyang pundak untuk
melepaskan pelukan itu. Tapi mati2an sikakek memeluk
terus seperti orang kalelap diair. "Krek...krek..." demikian
terdengar suara berkekreknya tulang. Thay Giam mengerti,
bahwa jika ia mengerahkan Lwekang lagi, tulang kedua
lengan Tek Seng akan lantas menjadi patah. Hatinya tak
tega dan ia tidak mengeluarkan lagi tenaga dalamnya.
"Lepas!" bentaknya.
Sesaat itu, suara tindakan kaki sudah tiba di luar
kelenteng disusul dengan suara gedebrukan dan pintu
terpental karena ditendang orang Thay Giam terkesiap.
"Orang ini bukan lawan enteng." pikirnya. Hampir
berbareng ia mengendus bau amis dan didalam kegelapan
serupa benda dilontarkan kedalam.
Dengan sekali menggoyang badan, seperti seekor cacing
ia meloloskan diri dari pelukan Tek Sang dan dengan
kecepatan luar biasa, sebelum benda itu atau senjata rahasia
mengbantam, ia sudah melompat kebelakang patung
Malaikat laut. Hampir berbareng. ia dengar teriakan sikakek
yang lantas roboh bergulingan dilantai, sedang senjata
rahasia itu masih terus dilepaskan tak henti2nya.
150
Semakin lama bau amis jadi semakin hebat seolah2
ratusan ikan busuk dilemparkan kedalam kelenteng itu. Tek
Seng yang sudah bisa bangun kembali, melompat kesana
sini dengan tindakan limbung seperti orang mabuk tapi
karena ruangan itu sangat sempit dan juga sebab
keadaannya memang sudah payah, maka beruntun senjata2
rahasia itu mengenakan badannya dengan jitu.
Sesudah mendengar suara menyambarnya, Thay Giam
berkata dalam hatinya : "Senjata apa itu? pasir beracun?
Kalau pasir beracun, bagaimana Tek Seng bisa
mempertahankan diri begitu lama?" Dilain saat ia
mendusin. "Ah! Tak salah! Garam beracun dari Hay-seepay,"
pikirnya. Walaupun kepandaian tinggi, tapi karena
garam menyambar terus menerus mama mana ia berani
menerjang keluar? Sementara itu diatap kelenteng kembali
terdengar suara keras dan atap itu lantas saja berlubang di
susul dengan turunnya garam dari lubang tersebut.
Sampai disitu Jie Thay Giam yang bernyali besar keder
juga hatinya. "Celaka! Tak dinyana aku harus membuang
jiwa ditempat ini ia mengeluh. Ia ingat kejadian pada waktu
si jubah sulam dan Tiang pek Sam khim kena garam
beracun. Ketika kakek itu, sudah tak usah dikatakan lagi,
tapi malahan si Jubah sulam yang berkepandaian tinggi
masih tak tahan menghadapi garam itu. Ia merasa dadanya
menyesak dan hampir2 muntah karena bau amis itu dan ia
yakin bahwa dalam tempo cepat ia tak akan bisa terlolos
lagi dari racun yang menyambar dari depan dan turun dari
atas seperti hujan gerimis dalam bingungnya ia
menghantam punggung patung yang lantas saja berlubang
besar, melihat begitu hatinya girang dan buru2 masuk
kedalam perut patung. Dengan adanya aling2 itu garam itu
tak bisa mencelakakan dirinya lagi.
Karena bekerjanya racun garam agak lambat, maka
151
meskipun Tek Seng berteriak kesakitan ia masih
bergulingan.Sementara itu karena merasa jerih akan
kepandaian Jie Thay Giam orang2 Hay see pay belum
berani menerjang masuk dan masih terus menimpuk dengan
senjata rahasia mereka untuk menunggu sampai tak
berdayanya kedua musuh itu.
Menurut kebiasaan senjata rahasia beracun yang dikenal
dalam dunia Kang ouw, seperti jarum emas, pasir besi dan
sebagainya, mencelakakan manusia sesudah senjata itu
menancap ditubuh dan racunnya masuk kejalanan darah.
Tapi bekerjanya racun Hay see pay sedikit berbeda. Sesudah
garam itu menempel dikulit, racunnya masuk kedalam
badan manusia dengan per-lahan2 sampai sikorban binasa,
Jie Thay Giam mengerti bahwa dengan bersembunyi
didalam perut patung, ia tak akan bisa menghentikan
serangan Hay see pay. Tapi karena tak ada jalan yang lebih
baik ia harus menunggu sampai tumpukan garam itu
mereda dan barulah coba menerjang keluar dari lubang
asap.
Ia segera mengeluarkan pel pemunah racun yang lalu
ditelannya dan kemudian memusat ken semangat seraya
menjalankan pernapasannya. Beberapa saat kemudian
dadanya yang menyesak jadi lega kembali.
Sementara itu, orang2 Hay see pay yang berada diluar
kelenteng berdamai dengan suara perlahan.
"Tak ada suaranya lagi mungkin mereka sudah pingsan"
kata yang satu.
"Tunggulah sebentar. Pemuda itu lihay sekali kita tidak
boleh ter-gesa2" kata yang lain.
"Sekali ini kita mendapat hasil besar dan Toako pasti
akan memberi hadiah yang besar juga" kata orang ketiga.
152
Tiba2 terdengar bentakan keras: "Hei! Lebih baik kamu
menakluk supaya jangan membuang jiwa secara cuma2."
Bentakan itu disusul dengan teriakan komando dan
beberapa belas orang lantas saja menerjang masuk. Mereka
semua sudah memakai obat pemunah sehingga tak takuti
lagi garam beracun.
"Dengan Heng-see-pay aku tidak mempunyai ganjelan
apapun juga, sedang kedatanganku di sini juga bukan untuk
merebut o-liong- to," Sekarang paling benar aku munculkan
diri dan coba mendamaikan mereka." Tapi dilain saat ia
mendapat pikiran lain.
"Tidak bisa,tidak bisa aku berbuat begitu." pikirnya, "Boe
tong-pay adalah sebuah partai besar yang namanya
menggetarkan Rimba Persilatan. Jika aku ke luar dan coba
bicara baik2 dengan mereka, artinya seperti juga aku
menekuk lutut dan sikapku ini sangat memalukan guruku.''
Selagi ia bersangsi, ditempat yang jauh memdadak
terdengar serupa seruan. Seruan itu halus bagaikan benang
sutera. tapi tajam, dan menusuk kuping, sehingga orang
yang mendengarnya ber-debar2 hatinya. Dilain saat seruan
itu sudah terdengar didepan kelenteng, sehingga bukan
main kagetnya Thay Giam karena kecepatan yang sungguh
luar biasa. Pertama kali, seruan itu terdengar ditempat yang
jaraknya beberapa li dan dilain detik sudah tiba didepan
pintu.
Dalam dunia ini kecuali beberapa macam burung yang
terbangnya luar biasa cepat, baik manusia maupun binatang
tak akan mempunyai kecepatan yang begitu hebat. Lebih
aneh didengar dari suaranya seruan manusia.
Hampir berbareng dengan berhentinya seruan itu, Tek
Seng mengeluarkan teriakan ketakutan. "Kau....kau juga
maui To liong...Peh bie" Peh bie berarti Alis putih.
153
Mendadak diluar kelenteng terjadi perubahan luar biasa.
Puluhan orang Hay see pay tiba2 bungkam mulutnya.
Keadaan sunyi senyap se-olah2 puluhan manusia itu
berubah menjadi batu. Mereka seperti juga melihat sesuatu
yang sangat menakuti sehingga bahwa takutnya, tak dapat
mereka mengeluarkan suara lagi.
Beberapa saat kemudian kesunyian itu dipecahkan
dengan suara "bruk!" dan salah seorang roboh terguling.
Robohnya orang itu disusuri dengan teriakan yang
gemetar:" Peh bie!.... Lari. ayo lari!...." Teriakan itu putus
ditengah jalan. Mungkin sekali orang yang berteriak tak bisa
meneruskan teriakannya dan kawan2nya tak kuat lari lagi,
sebab sesuatu yang ditakuti sudah masuk kedalam klenteng.
Jie Thay Giam heran tak kepalang. "Apa itu Peh bie?"
tanyanya didalam hati. "Apa binatang buas atau manusia
yang lihay luar biasa, sehingga semua orang ketakutan
begitu rupa?"
Se-konyong2 terdengar suara seorang: "Kauw coe
Pemimpin Agama tanya kamu, dimana adanya To Liong
to. Lekas keluarkan. Kauw coe berhasil mulai dan akan
mengampuni kamu semua. Suara itu manis dan lemah
lembut, tapi mengandung keangkeran.
"Dia...dia yang curi," demikian terdengar jawaban
seorang Hay see pay. "Kami datang kemari justru untuk
coba merebut pulang Kauw coe.....Kauw coe....."
"
"Eh, mana golok mustika itu?" tanya suara yang manis
itu. Thay Giam tahu, orang itu menanya Tek Seng, Tapi
kakek itu tidak menjawab. Dilain saat terdengar robohnya
sesosok tubuh.
"Celaka! Tek Seng dibinasakan," pikir Thay Giam. Ia
154
yakin, bahwa dengan seorang diri, ia bukan tandingan
musuh. Tapi sesudah mencampuri urusan ini, ia merasa
malu untuk bersembunyi terus. "Mundur dada waktu
berbahaya, bukan perbuatan seorang lelaki," katanya
didalam hati. Baru saja ia mau melompat keluar, mendadak
terdengar suara yang dingin: "Dia sudah mati karena
ketakutan. Geledah badannya,"
Lain2 Thay Giam terkesiap. "Mati sebab ketakutan?"
tanya dalam hati. Sementara itu sudah terdengar suara
dirobeknya pakaian dan dibolak baliknya badan manusia.
"Melaporkan kepada Kauw coe, bahwa dibadan orang ini
tidak terdapat apapun juga," kata orang yang suaranya
lemah lembut.
Perkataan orang itu disusul dengan suara pemimpin Hay
see pay yang berkata dengan suara gemetar ; "Kauw coe ...
terang dia yang mencuri. Kami tak berani berdusta...." Ia
bicara dengan ketakutan sangat hebat, seperti juga nyalinya
hancur, sehingga bulu roma Jie Thay Giam bangun semua.
"Benar2 heran." Katanya didalam hati. "Golok mustika
itu memang dicekel Tek Seng. Ke mana perginya."
"Kamu mengatakan bahwa golok inustika itu dicuri
olehnya, tapi mengapa tak kedapatan?" tanya pula orang
yang suaranya manis. "Tak salah lagi kamulah yang
menyembunyikannya. Begini saja! Siapa yang bicara terus
terang, dialah yang diampuni jiwanya. Diantara kamu
hanya seorang yang boleh hidup terus. Siapa yang bicara
lebih du1u, dialah yang dapat pengampunan."
Keadaan sunyi senyap dan beberapa saat kemudian,
barulah si pemimpin Hay-see-pay berkata : "Dengan
sejujurnya kami melapor kan kepada Kauwcoe, bahwa
kami tidak tahu menahu tentang hilangnya golok mustika
itu. Tapi kami berjanji akan berusaha untuk menyelidiki
155
sampai se-terang2nya"
Kauwcoe itu tidak menjawab ia hanya mengeluarkan
suara dihidung.
Orang yang suaranya manja berkata lagi. "Siapa yang
bicara terus terang, dialah yang boleh hidup terus" Keadaan
kembali sunyi senyap.
Tiba2, kesunyian yang menakuti itu dipecahkan oleh
teriakan seorang. Dengan se-betul2nya kami sedang
mencari golok mustika itu, yang mendadak menghilang
secara luar biasa. Jika kau tetap tidak percaya, dari pada
mati konyol, lebih baik kami melawan mati2 an sampai
dimana kepandaian Peh bie Kauw..." Suara itu berhenti
ditengah jalan dan keadaan kembali sunyi senyap. Rupanya
dia sudah binasa dengan begitu saja.
"Tadi seorang lelaki yaag berusia kira? 30 tahun telah
menolong kakek itu," menerang kan Hay see pay. "Dia
mnemiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi.
Entah kemana perginya sekarang. Golok mustika itu pasti
dibawa lari olehnya,"
Kauw coe itu kembali mengeluarkan suara dihidung dan
kemudian berkata dengan suara dingin; "Ampuni jiwa
orang ini.." Hampir berbareng terdengar kesiuran angin dan
ia sudah keluar dari pintu kelenteng. Tiba2 terdengar pula
suara, nyaring ditempat yang jauhnya belasan tombak.
Jie Thay Giam tak bisa menahan sabar lagi seraya
melompat keluar dari perut patung ia berteriak "aku berada
disini jangan celakakan orang!"
Tapi keadaan lagi2 sunyi senyap. Thay Giam mengawasi
disekitarnya dan ia lihat semua orang berdiri seperti patung
ia heran bukan main dan buru2 menyulut lilin diatas meja
sembahyang. Mendadak ia mengeluarkan seruan tertahan
156
karena dua puluh lebih anggota Hay see pay berdiri tegak
tanpa bergerak seperti juga tertotok jalanan darahnya
sedang muka mereka mengunjuk rasa takut yang sangat
hebar dengan nyalinya yang besar dan pengalamannya yang
luas tak urung jantung Thay Giam memukul keras,
"Bagaimanakah lihaynya Kauw-coe Peh bie kauw it"?"
tanyanya didalam hati. "Orang2 Hay see pay bukan
sembarang orang tapi mengapa bertemu dengan Kauw coe,
mereka ketakutan sampai begini rupa ia mengangsurkan
tangannya dengan niatan menotok jalanan darah Hoa kay
hiat dari salah seorang itu untuk membuka jalanan
darahnya yang tertutup.
Tapi lagi2 ia kaget jerijinya menotok jalanan darah yang
sudah membekuk dan orang itu tetap tidak bergerak setelah
memeriksa pernapasannya baru dia tahu dia sudah binasa?
Kecuali seorang semua anggota Hay see pay sudah binasa
sebab totokan perjalanan darah yang membinasakan orang
yang masih hidup itu yaitu orang yang bicara paling
belakang sebab dilantas dengan napas ter-sengal2.
Rasa heran dan kagetnya Thay Giam sukar dilukiskan
benar ia tak mengerti bagaimana dalam sekejap mata,
Kauw coe itu bisa membinasakan dua puluh orang lebih
yang berkepandaian tinggi sambil mengangkat tubuh orang
itu ia bertanya: "Agama apa Peh bie kauw? Siapa Kauw coe
itu?" Orang itu tidak menjawab pertanyaannya yang
diulangi beberapa kali dia hanya mengawasi dengan mata
membelalak. Thay Giam memegang nadinya dan ternyata
aliran darah orang itu sudah kalang kabut sebagai tanda
bahwa beberapa uratnya telah diputuskan sehingga ia
menjadi gagu dan terganggu otaknya.
Darah Jie Thay Giam lantas saja meluap. "Apa itu Pehbie
kauw? Mengapa dia begitu kejam?" tanyanya didalam
hati dengan penuh kegusaran. Tapi ia tabu, bahwa ia bukan
157
tandingan orang itu. Sesaat itu juga, ia sudah menghitung2
tindakan yang akan diambilnya. Ia ingin segera berangkat
ke Boe tong san untuk melaporkan kejadian itu dan
menanyakan asal usul Peh bie kauw kepada gurunya. Ia
berniat mengajak semua saudara seperguruannya untuk
menyatroni manusia yang dinamakan Peh bie Kauwcoe. Ia
menganggap, bahwa walaupun Kauwcoe itu lihay luar
biasa Boe-tong Cithiap masih dapat menandinginya.
Melihat garam beracun yang tersebar diseputar kelenteng
itu, ia menghela napas panjang. "Orang2 Hay see pay juga
bukan manusia baik2, sehingga kebinasaannya yang begitu
rupa mungkin ada pantasnya juga," katanya didalam
kelenteng sangat tak pantas dan orang bisa celaka, jika
kebetulan datang disini."
Memikir begitu ia segera mangambil golok dan menggali
satu lubang besar didalam kebun sayur. Sesudah itu, dengan
hati2 ia mengangkat mayat2 itu yang lalu memasukkan
kedalam lubang. Sesudah memindahkan belasan mayat,
tiba2 ia terkejut, karena mayat itu berat luar biasa,
sedangkan badannya hanya berukuran sedang. Ia segera
memeriksa dan ternyata, dari pundak terus kepunggung
mayat itu terdapat luka besar yang sangat panjang. Begitu ia
meraba tangannya menyentuh benda yang keras dingin dan
setelah ditarik keluar benda itu bukan lain daripada To
liong-to yang diperebuti!
Secara kasar ia segera menebak apa yang sudah terjadi.
Rupanya, begitu melihat Peh-bie Kauwcu, Hay-tong ceng
Tek Seng hancur nyalinya dan ia mati ketakutan. Pada
waktu menghembuskan napasnya yang penghabisan golok
itu terlepas dari cekalannva dan jatuh dipunggung orang itu.
Karena berat dan tajam To Liong to amblas dibadan orang
itu.
Maka itu tidaklah heran jika pada waktu menggeledah
158
semua orang, kaki tangan Kauw coe tidak bisa
mendapatkan apapun juga.
Kalau dalam hati Jie Thay Giam tidak muncul rasa
kasihan mungkin sekali golok mustika yang
menggemparkan itu, akan hilang dari dunia persilatan.
"Golok ini adalah mustika dalam Rimba Persilatan,"
kata Thay Giam dan dalam hatinya "Akan tetapi, menurut
pendapatku, senjata ini bukan senjata yang mujur. Hay tong
ceng Tek Sang dan-puluhan orang Hay see pay binasa
karena gara2 To liong to. Sekarang paling benar aku
mempersembahkan senjata ini kepada Soehoe, untuk
meminta keputusan."
Sesudah selesai menguburkan semua mayat itu, karena
kuatir garam beracun mencelakakan rakyat, ia segera
mencari cabang2 kering yang lalu disulut untuk membakar
kelenteng tersebut. Dibawah sinar api itu ia lalu meneliti
golok mustika itu yang ternyata berwarna hitam bukan besi
dan juga bukan emas, entah dibuat dari logam apa. Dari
gagang sampai badannya samar2 terlihat garisan2 yang
berwarna biru. Dengan mata kepala sendiri, ia telah
menyaksikan dibakarnya golok itu, tapi sungguh aneh,
golok tersebut tidak rusak sedikitpun. "Bagaimana orang
bisa menggunakan golok yang begini berat?" tanyanya
didalam hati. "Dulu, Ceng liong Yan-goat to dari Kwan
Ong-ya, yang mempunyai tenaga malaikat, hanya delipan
puluh satu kati beratnya," Kwan Ong-ya, Kwan Kong dari
jaman samkok.
Ia segera me masukkan golok itu kedalam buntalannya
dan kemudian berkata dengan suara perlahan didepan
kuburan Tek Seng. "..Tek Loo tiang, bukan mau serakahi
golok ini. Tapi karena To liong to senjata luar biasa, maka
jika jatuh ketangan manusia jahat, bencananya bukan kecil.
Aku ingin menyerahkannya kepada Soehoe, seorarg adil
159
yang berhati mulia, yang tentu akan bisa
membereskan persoalan golok ini se-baiknya."
Sesudah berkata begitu, ia lalu menggendong
buntalannya dan meneruskan perjalanan kejurusan utara.
Sesudah berjalan kurang lebih setengah jam tibalah ia
ditepi sungai. Ketika itu ribuan bintang yang sinarnya sudah
suram masih berkelip kelip diatas sungai. Ia mengawasi
keberbagai jurusan tapi tak terlihat sebuah perahu pun. Ia
lalu berjalan disepanjang gili2 dan kira2 semakanan nasi, ia
lihat sinar lampu dari sebuan perahu penangkap ikan yang
terpisah kira2 belasan tombak dari tepi sungai.
"Toako penangkap ikan!" teriaknya. "Tolong
seberangkan aku?"
Karena perahu ikan itu terpisah terlalu jauh sipenangkap
ikan rupanya tidak mendengar teriakannya.
Thay Giam segera mengempos semangat dan berteriak
lagi. Terikan itu yang disertai dengan Lweekang yang sudah
dilatih kira2 dua puluh tahun nyaring dan sangat tajam.
Beberapa saat kemudian dari aliran sebelah atas muncul
sebuah perahu kecil yang menggunakan layar dan yang
perlahan2 menempel ditepi sungai. "Apa tuan mau
menyeberang" tanya si juru mudi.
"Benar, aku ingin minta pertolongan Toako untuk
menyeberangkan aku," jawabnya dengan girang.
"Sekali menyeberang ongkosnya satu tahil perak." kata
pula juru mudi itu.
Permintaan itu sebenarnya terlalu mahal tapi sebab ingin
buru2, Thay Giam tak rewel lagi. "Baiklah," katanya seraya
melompat turun kedalam perahu yang melesak kedalam air.
"Tuan, bawa apa kau ? Mengapa begitu berat," tanya
160
juru mudi itu dengan perasaan heran.
Jie Thay Giam segara mengangsurkan sepotong perak
dan menjawab sambil tertawa : "Tak apa2. Badanku berat.
Ayohlah"'
Si juru mudi kelihatannya bercuriga dan berulang kali
melirik buntalan Thay Giam. Sesaat kemudian, dengan
menuruti aliran air, perahu itu belayar dengan mengambil
arah timur laut. Sesudah melalui satu li lebih tiba2
terdengar suara gemuruh.
"Juru mudi, apa mau turun hujan?" tanya Thay Giam.
"Bukan." jawabnya seraya tertawa, "Guru itu suara air
pasang sungai Cian tong kang. Dengan mengikuti aliran air
pasang. dalam sekejap kita bisa sampai dilain tepi."
Thay Giam mengawasi kearah suara itu. Jauh2 ia lihat
sehelai garis putih yang mendatangi dengan ber-gulung2.
Suara itu kian lama kian menghebat dan gelombang juga
jadi makin besar. "Baru sekarang kutahu, bahwa diantara
langit dan bumi terdapat pemandangan yang seangker ini,"
katanya didalam itati. "Tidak cuma2 aku membuat
perjalanan ini." Dilain saat, ombak sungai sudah tiba dan
mendorong perahu dengan kekuatan luar biasa.
Selagi memandang dengan penuh perhatian se-konyong
Thay Giam mengeluarkan seruan tertahan, karena
dipuncak ombak terlihat sebuah perahu yang menerjang
kedepan menurut gerakan ombak itu. Apa yang luar biasa
ialah pada layar putih dari perahu itu terdapat lukisan yang
merupakan sebuah tangan berwarna merah dengan lima
jeriji yang terpentang lebar. Karena memiliki mata yang
sangat tajam, biarpun didalam kegelapan, dalam jarak
puluhan tombak ia sudah bisa lihat tangan berdarah itu.
Sijuru mudi sendiri baru bisa melihatnya sesudah perahu
161
itu datang terlebih dekat. Mendadak ia mengeluarkan
teriakkan ketaku tan:" Hiat chioe hoan." (Hiat chioe hoan
perahu layar Tangan berdarah).
"Apa itu Hiat chioe hoan?" tanya Thay Giam.
Sebaliknya dari menjawab ia menerjun ke dalam air!
Thay Giam terperanjat dengan gelombang yang sebear itu
biarpun pandai berenang, orang tak akan bisa bertahan
lama didalam air buru2 ia mengambil sebatang gala yang
lalu disodor keair tapi juru mudi itu menggoyangkan tangan
dengan paras muka ketakutan dan dilain saat ia masuk
kedalam gelombang untuk tidak keluar lagi.
Tanpa juru mudi begitu terpukul ombak, perahu itu
lantas saja terputar. Cepat2 Thay Giam pergi kebelakang
perahu untuk memegang kemudi pada saat itulah
mendadak terdengar suara "dak" dan perahu Hiat chioe
hoan membentur perahunya Thay Giam
Karena kepala Hiat chioe hoan dilapis besi begitu
terbentur, perahu Thay Giam lantas saja bocor dan air
menerobos masuk.
Bukan main gusarnya Thay Giam. "Perahu siapa yang
begitu kurang ajar?" bentaknya dengan suara keras. Melihat
perahunya sudah hampir tenggelam, dengan sekali menotol
ujung kaki, ia melompat keatas kepala perahu Hiat chioe
hoan. Pada yang bersamaan satu ombak besar menerjang,
sehingga Hiat chioe hoan "terbang" keatas, setombak lebih
tinggi nya. Kejadian itu terjadi pada sesaat badan Thay
Giam berada ditengah udara sehingga perhitungannya
meleset semua dan ia melayang jatuh kedalam air.
Pada detik yang sangat genting sambil mengempos
semangatnya ia menggoyang kedua pandaknya dan dengan
menggunakan gerakan Tee in ciang, tiba2 tubuhnya meleset
keatas lagi setombak lebih dan kedua kakinya hinggap
162
diatas kepala perahu Hiat-chioe-hoan.
"Ada orang tercebur diair! Lekas tolong !" teriak Thay
Giam. Ia mengulangi teriakannya beberapa kali. Tapi tidak
mendapat jawaban.
Dengan mendongkol ia menolak pintu gubuk perahu tapi
pintu itu yang terbuat dari besi, tidak bergeming. Seraya
menggerakkan Lweekang dikedua lengannya ia mendorong
sambil membentak keras. Pintu belum terbuka tapi sudah
berlobang karena menghubungkan gubuk dan pintu telah
putus dan jatuh dengan mengeluarkan suara
berkerincingan.
Tiba2 didalam gubuk terdengar suara orang "Tee in
ciong dan Tin san ciang (Pukulan menggetarkan gunung)
yang tersohor dari Boe tong pay sungguh bukan pujian
kosong. Jie Sam hiap serahkan To liong to yang berada
dalam buntalanmu dan kami akan mengantarkan kau
menyeberang sungai suara yang le mah lembut itu bukan
lain dari pada suara kaki tangan Peh bie Kauw coe yang
pernah didengarnya dikelenteng Hay sin bio. Sekarang baru
ia tahu bahwa perahu Hiat cioe hosn adalah milik Peh bie
Kauw coe sehingga tidak heran sijuru mudi jadi ketakutan
setengah mati.
Tapi ia tak mengerti bagimana orang itu tahu namanya
dan beradanya To liong to di dalam tangannya.
Sebelum ia menanya orang itu sudah berkata lagi:" Jie
Sam Hiap mungkin kau merasa heran mengapa kami tahu
she dan namamu bukankah begitu tapi sebenarnya kau tak
usah heran kecuali ahli silat Boe tong pay dalam dunia ini
siapa lagi yang memiliki lompatan Tee in ciong dan pululan
Tin san ciang? Tiga hari sebelum Jie Sam hiap menginjak
wilayah Ciat kang kami sudah mendapat warta. Hanya
sayang kami tidak keburu menyambut dari tempat jauh.
163
Thay Giam tak tahu bagaimana harus menjawab
perkataan orang itu tapi mengingat sijuru mudi yang
tercebur didalam air ia lantas saja berkata. "Hal lain dapat
ditunda paling dulu kita harus menolong jiwanya juri mudi
itu."
Orang itu tertawa ter-bahak2. "Jie Sam hiap hatimu
terlalu mulia katanya. "Juragan perahu itu mempunyai satu
gelaran yang sangat bagus yaitu Sauw cay Seei kwie (Setan
air yang menagih hutang) Disungai Ciang tong-kang entah
berapa banyak jiwa melayang didalam tangannya. Jie Sam
hiap adalah seorang yang berhati sangat mulia. Tapi setan
air itu sebenarnya sudah mengincar buntalanmu dan ingin
menagih hutang dari penitisan yang lain. Haha !"
Thay Giam sendiri sebelumnya sudah menaruh curiga,
karena-lihat lahat juru mudi itu yang seperti lagak bangsat.
Sekarang ia mendapat kenyataan, bahwa kecurigaannya
sangat beralasan. "Bolehkah aku mendapat tahu she dan
nama tuan yang besar dan apa boleh aku bertemu muka
denganmu?" tanya Thay Giam.
"Antara Peh bie kauw dan partai tuan sama sekali tidak
mendapat tali persahahatan atau permusuhan," jawabnya.
"Maka itu menurut pendapatku, lebih baik kita tak usah
bertemu muka. Jie Sam hiap taruh saja To liong to dikepala
perahu dan kami akan menyeberangkan kau ketepi."
Mendengar perkataan itu, darah Thay Giam lantas saja
naik. "Apakah To liong milik Peh bie kauw?" tanyanya
dengan suara kaku.
"Bukan," jawabnya. "Tapi golok itu adalah senjata
termulia dalam Rimba Persilatan, maka dapatlah
dimengerti, jika setiap ahli silat sangat ingin memilikinya."
"Kalau begitu, dengan sangat menyesal aku tak bisa
meluluskan permintaanmu," kata Thay Giam. "Golok ini
164
sudah jatuh kedalam tangan ku dan aku merasa
berkewajiban uniuk menyerahkan kepada guruku, supaya ia
bisa memberi keputusan. Aku masih berusia muda dan tak
dapat mengambil keputusan apa apa."
Orang itu kembali bicara, tapi suaranya sehalus bunyi
nyamuk, sehingga Thay Giam tak dapat menangkapnya.
"Apa kau kata?" tanyanya sambil maju beberapa tindak.
Sesaat itu, gelombang besar kembali menghantam,
sehingga perahu layar itu "terbang" keatas dan terombang
ambing ditengah2 ombak. Mendadak Jie Thay Giam
merasa sakit gatal didada dan pahanya, seperti digigit
nyamuk. Waktu itu adalah permulaan musim semi dan
biasanya tidak ada nyamuk.
Tapi ia tidak menghiraukan dan lalu menepuk beberapa
kali ditempat yang gatal. "Untuk merebut sebilah golok, Peh
bie kauw telah membinasakan tidak sedikit manusia,"
katanya dengan suara nyaring. "Dikelenteng Hay sin bio
saja, beberapa puluh orang telah melayang jiwanya.
Menurut pendapatku, tanganmu agak terlalu kejam."
"Kau salah," membunuh orang itu. "Dalam menurunkan
tangan, Peh bie kauw selalu membuat perbedaan. Terhadap
orang jahat, kami turunkan tangan yang berat, sedang
terhadap orang baik, kami turunkan tangan enteng. Jie Sam
hiap, namamu yang mulia telah menggetarkan dunia
Kangouw dan kami tentu tidak akan mengambil jiwamu.
Jika kau menyerahkan To Liong to, kami akan segera
memberikan obat pemunah jarum Boen sie ciam
kepadamu," Boen sie ciam Jarum kumis nyamuk.
Mendengar kata2 "Boen sie ciam," Thay Giam
terperanjat. Buru2 ia meraba dada, dibagian yang bekas
digigit nyamuk. Ia merasa gata12, tiada bedanya seperti
akibat gigitan nyamuk. Tapi sesudah memikir sejenak, ia
165
mengerti, bahwa rasa gatal itu tak mungkin akibat gigitan
nyamuk, karena pada waktu itu adalah musim semi,
apapula jika diingat, bahwa ia sedang berada diatas sungai.
Dari mana datangnya nyamuk? Mendadak ia mendusin.
"A-ha! Kalau begitu, ia sengaja bicara perlukan untuk
memancing supaya aku datang terlebih dekat, agar ia bisa
menimpuk dengan senjata rahasianya yang sangat halus,"
katanya didadalam hati. Mengingat ketakutannya Tek Seng
orang2 Hay-see-pay dan si juragan perahu, maka boleh
dipastikan, racun itu hebat luar biasa. Maka itu, jalan yang
terbaik adalah menangkap dan memaksanya untuk
mengeluar kan obat pemunah. Memikir begitu, sambil
membentak keras, ia melompat kedalam gubuk perahu itu.
Sebelum kedua kakinya hinggap dipapan perahu, angin
yang sangat tajam menyambar mukanya dan dalam
gusarnya, iapun segera menghantam dengan sekuat tenaga.
Begitu kedua tangan kebentrok, kedua lawan itu tetpental
kebelakang dengan berbareng Jie Thay Giam sendiri
terdorong keluar, tapi sukar, ia tak sampai roboh terguling
hanya telapak tangannya dirasakan sakit sekali ia mengerti
bahwa musuh telah menyembunyikan senjata dalam
tangannya sebab pada waktu kedua telapak tangan beradu
ia merasa tujuh batang jarum atau paku, menancap
ditelapak tangan nya. Dalam segebrakan itu ia sudah tahu
bahwa tenaga lawan kira2 setanding dengan tenaganya
sendiri.
"Racun Ciang sim Cit sang tengku hebat luar biasa"
demikian terdengar suara orang itu "Lweekang Jia Sam
hiap sungguh liehay dan aku merasa takluk. Ciang sim Cit
seng teng (Paku tujuh bintang) yang ditaruh ditelapak
tangan.
Jie Thay Giam yang sabar sekarang menjadi kalap is
meraba buntalannya dan lalu mencabut To liong to. Sambil
166
mencekal gagang golok dengan kedua lengan ia membacok.
"Trang!" pintu besi itu terbelah dua melihat tajamnya golok
itu semangatnya terbangun dan ia lalu membacok kalang
kabut sehinga gubuk itu yang terbuat dari pada besi lantas
menjadi hancur dan lembaran2 besi jatuh ke dalam air.
Orang yang berada didalam gubuk tak dapat
menyembunyikan dirinya lagi ia lalu melompat kebelakang
perahu seraya menbentak "kau sudah kena dua macam
racun, mau apa kau banyak lagak." Jie Thay Giam yang
sudah mata gelap tidak menghiraukannya dan terus
menerjang sampai memutar golok.
Melihat serangan kalap itu buru2 orang itu menangkis
dengan sebuah jangkar. "Trang" jangkar itu juga terbelah
dua dengan hati mencelos ia melompat kesamping dan
berteriak.
"Hei? Kau lebih sayang jiwa atau lebih sayang golok?"
Thay Giam berhenti menyerang. "Baiklah" katanya.
Serahkan obat pemunah aku akan menyerahkan golok ini
kepadamu. Sesaat itu merasa pahanya semakin gatal dan
sakit sebagai tanda bahwa racun sudah mulai bekerja.
Mengingat bahwa To liong to telah didapatinya secara
kebetulan dan sebab ia memang tak ingin memiliki harta
benda orang lain maka hilang hilangnya golok itu juga tidak
dirasakan berat olehnya. Dilain saat, ia sudah melemparkan
To Liong to diatas papan perahu.
Orang itu kegirangan dan buru2 menjemput nya, akan
kemudian meng-usap2 badan golok itu dengan sikap yang
sangat menyayang. Ia berdiri dengan membelakangi
rembulan, sehingga Thay Giam tak dapat lihat nyata
mukanya. Tapi dalam perhatiannya kepada golok itu, ia
rupanya lupa akan janjinya untumemberikan obat
pemunah.
167
Lewat beberapa saat, rasa sakit dan gatal didada dan
paha Thay Giam makin menghebat. "Eh, mana obat?"
tanyanya.
Orang itu tertawa berkakakan seperti juga mendengar
cerita lucu.
Tentu saja Thay Giam jadi gusar seka]i." Hei! Aku minta
obat yang dijanjikan olehmu," bentaknya. "Ada apa
lucunya ?"
Orang itu menuding muka Thay Giam dan berkata
seraya tertawa: "Hihihi ! Kau sungguh tolol ! Sebelum aku
mengeluarkan obat, kau sudah lebih menyerahkan golok ?"
"Perkataan seorang laki2 seperti juga larinya seekor
kuda," kata Thay Giam dengan amarah me-luap2. "Kita
sudah berjanji untuk menukar golok dengan obat, apa kau
lupa?"
Orang itu tertawa lagi. "Dengan golok dalam tanganmu,
aku masih jerih juga," katanya dengan suara mengejek,
"Adat kata kau tidak bisa menangkan aku, kau masih dapat
melemparkan golok itu kedalam sungai dan belum tentu
aku bisa mencarinya. Tapi sekarang, sesudah golok ini
berada dalam tanganku, apa kau masih mengharapkan obat
pemunahan ?"
Perkataan itu se-olah2 air dingin yang mengguyur kepala
Thay Giam. Mimpipun ia tidak pernah mimpi, bahwa
orang itu bisa berlaku begitu licik. Ia ingat, bahwa Boe-tongpay
tak mempunyai permusuhan apapun jugs dengan Peh
bie-kauw, sedang orang itupun memiliki kepandaian tinggi,
sehingga kedudukannya pasti bukan kedudukan rendah.
Tapi mengapa ia menjilat lagi ludah yang sudah dibuang?
"Jie Sam hiap," orang itu berkata pula. "Ada satu hal
yang harus diterangkan kepadamu. Racun dari Boen sie
168
ciam masih tidak begitu hebat tapi racun Cit-seng benar2
luar biasa. Dalam tempo dalam duapuluh empat jam semua
dagingmu akan copot dan jatuh ditanah. Dalam dunia
kecuali obat pemunah dari Peh bie kauw, jangankan
manusia, sedang dewapun tak akan bisa menolongnya.
Disamping itu andaikata sekarang aku memberikan obat
pemunah, obat itu hanya bisa menolong selembar jiwamu,
tapi ilmu silat Jie Sam-hiap yang tersohor dalam dunia
Kangouw tak akan bisa pulih kembali untuk se-lama2nya.
Perkataan itu dikeluarkan dengan suara manis dan lemah
lembut, se-olah2 manusia itu sedang bicara dengan sahabat
karibnya.
"Hidup atau mati adalah takdir," kata Thay Giam sambil
menahan amarah. "Selama hidup Jie Thay Giam belum
pernah melakukan apa2 yang tidak baik, sehingga ia boleh
tak usah merasa malu terhadap Langit dan bumi. Andaikata
sekarang aku binasa dalam tangan seorang rendah,
sedikitpun aku tidak merasa jerih."
Orang itu mengacungkan jempolnya. "Bagus!," ia
memuji. "Nama besarnya Boe tong Cithiap benar2 bukan
nama kosong. Orang gagah yang kenal Cit-seng-teng dan
Boe sie-ciam tak bisa dihitung berapa banyaknya. Kalau
bukan, meminta ampun, mereka yaitu orang2 yang
mempunyai tulang punggung tentu mencaci aku. Tapi
orang yang seperti Jie Sam-hiap, yang tidak menghiraukan
masih akan hidup, aku sungguh jarang menemui."
Thay Giam mengeluarkan suara dihidung "Tapi apakah
aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?"
tanyanya.
"Aku hanyalah seorang kecil dalam Peh-bie-kauw dan
jika Boe-tong-pay ingin membalas sakit hati adalah Kauw
coe yang akan melayaninya." jawabnya. "Malam ini, Jie
Sam hiap akan mati dengan diam2."
169
SEMENTARA itu, karena leher dan badannya tak bisa
bergerak, JieThay Giam hanya bisa melihat bendera piauw
yang tertancap dipot bunga. Untuk sejenak seluruh ruangan
sunyi senyap dan yang terdengar hanyalah bunyi laler yang
beterbangan kian kemari. Lain suara yang didengarnya
ialah suara nafas Touw Tay Kim yang ter-sengal2.
Walaupun tak melihat mukanya, ia bisa menebak, bahwa
Cong piauw tauw itu tengah mengawasi emas yang
berkredepan dengan mata membelalak.
Beberapa saat kemudian, barulah terdengar suara Touw
Tay Kim: "In Toa ya, piauw apa yang mau diantar?"
"Lebih dulu jawablah pertanyaanku," sahutnya. "Apakah
kau bisa memenuhi tiga syarat yang diajukan olehku.."
Touw Tay Kim menepuk lututnya seraya berkata: "In
Toa ya, sesudah kau memberi hadiah yang begitu besar,
biarlah aku mempertaruhkan jiwa untuk memenuhi segala
permintaanmu, Kapan aku bisa menerima piauw itu?"
"Piauw yang harus dilindungi dan diantar olehmu adalah
orang rebah dibalai2 itu," jawabnya dengan suara dingin.
Tanpa merasa, Touw Tay Kim mengeluarkan seruan
tertahan, bahkan herannya.
Jie Thay Giam terkesiap. Ia membuka mulut, tapi suara
yang mau dikeluarkan, tak bisa keluar.
Dengan menggunakan seantero tenaganya, is coba
melompat turun, tapi tubuhnya tak bisa bergerak
sedikitpun. Sekarang baru ia tahu, racun Cit seng teng
benar2 liehay.
"Apa ... apa .... benar tuan ini?" menegas Touw Tay Kim
dengan suara terputus2.
"Tak salah," jawabnya. "Kau sendiri yang harus
170
mengantarkannya. Kau bolah menukar orang. Dalam
sepuluh hari, kau sudah mesti tiba di Boe tong san, Siang
yang hoe, propinsi Ouw pak, dan menyerahkan orang itu
kepada Thio Sam Hong, Ciang coen Couw soe boe tong
pay."
"Boe tong pay?" menegas Touw Tay Kim. "Biarpun tak
mempunyai ganjela apa2 dengan Boe tong pay, tapi kami,
murid2 Siauw lim-sie jarang...jarang sekali berhubungan
dengan mereka ....Ia...."
"Jika gagal, kau tak akan dapat mengganti kerugian
dengan laksaan tail emas," kata si orang she In dengan
suara tawar.
"Katakan saja. Terima atau tidak. Mengapa sebagai seorang
laki2 kau begitu sukar mengambil keputusan?"
"Baiklah, dengan memandang muka In Toanya, Liongboan
Piauw-kiok menerima baik piauw ini," jawabnya.
Orang ini tersenyum. "Hari ini Sha gwe Jie kauw (Bulan
tiga tanggal 2?)," katanya. "Kalau pada Sie gwee Cee kauw
Ngosie (Bu1an Empat tanggai 9), tengah hari, kau belum
menyerahkan tuan ini kepada Ciong boen Couwsoe Boe
tong pay, aku akan membasmi besar kecil tujupuluh satu
orang di Liong baen Piauw kiok. Malah ayam dan
anjingpun tak akan diampuni olehku!" Ancaman itu disusul
dengan suara "trik trik" dan belasan jarum perak yang halus
menancap dipot bunga itu yang lantas saja hUncur jadi
puluhan keping yang jatuh berhamburan dilantai.
Timpukan senjata rahasia itu yang disertai dengan
Lwekang dahsyat, benar2 mengejutkan. Touw Tay Kim
mengeluarkan seruan kaget sedang Jie Thay Giam pun
terkesiap.
"Ayoh pulang!" bentak siorang she In. Dua tukang
171
gotong lalu saja menaruh balai2 diatas lantai dan segera
meninggalkan ruangan itu dengan ter-buru2.
Selang beberapa saat, sesudah dapat menentramkan hati
Touw Tay Kim menghampiri Jie Thay Giam seraya
menanya: "Bolehkah kutahu she dan nama tuan yang
mulia? Apa benar tuan dari Boe tong pay ?"
Thay Giam tak dapat berbicara, ia hanya mengawasi
Cong piauw tauw itu yang berusia kira2 limapuluh tahun,
badannya tinggi besar dengan otot2 lengan yang menonjol
keluar dan parasnya angker sekali. Melihat potongan badan
dan gera2kan orang itu, Thay Giam tahu bahwa ia adalah
seorang ahli ilmu silat Gwa kang(ilmu silat luar).
"In Toaya adalah seorang tampan yang lemah lembut
gerakannya," kata Touw Tay Kim. "Tak dinyana mereka
memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Orang dari partai
manakah dia?" Ia mengulangi pertanyaannya beberara kali
tapi Thay Giam tetap tidak menjawab dan terus
memeramkan kedua matanya.
Hati Cong-piauw tauw itu merasa sangat tidak enak. Ia
sendiri adalah seorang ahli melepaskan senjata rahasia
sehingga didalam dunia Kangouw, ia mendapat julukan Iepie-
him, tapi kepandaian siorang she In betul2 luar biasa.
Dengan sekali mengebas tangan bajunya belasan batang
jarum yang halus bagaikan bulu kerbau telah
menghancurkan sebuah pot kristal. Jika tak melihatnya
dengan mata kepala sendiri ia tentu tak akan percaya. Ia
membungkuk dan menjemput kepingan kristal yang jatuh
dilantai ternyata setiap jarum seperti juga terpantek masuk
dengan martil kedalam kristal itu. Lweekang yang
sedemikian hebat, ia sungguh belum pernah mendengarnya.
Sudah dua puluh tahun lebih Touw Tay Kim mengepalai
Liong boen Piauw kiok dan selama itu ia telah mengalami
172
tidak sedikit gelombang dari dunia Kang ouw. Tapi piauw
manusia hidup dengan ongkos dua ribu tahil emas bukan
saja belum pernah dialami olehnya, tapi juga belum pernah
terdengar dalam seluruh sejarah perusahaan piauw.
Sesudah menyimpan emas itu ia segera memerintahkan
orang untuk membawa Jie Thay Giam kesebuah kamar
yang sepi supaya sisakit bisa mengaso, kemudian dengan
cepat ia mengumpulkan para piauw tauw, menyiapkan
kuda kereta untuk berangkat pada hari itu juga.
Sebelum berangkat karena merasi tidak enak mendengar
ancaman siorang she In, Touw Tay kam lebih dulu
berdamai dengan dua orang piaum tauw yang berusia tinggi
sesudah menghitung2, mereka mendapat kenyataan bahwa
dari ibu Touw Tay Kiam sampai bayi Ciok Piauw tauw
yang berusia belum cukup sebulan keluarga Liong boen
Piauw kiok tepat berjumlah tujuh puluh satu orang yaitu
sesuai dengan jumlah yang disebutkan oleh siorang she In.
Mereka bertiga lantas saja saling mengawasi dengan hati
berdebar.
"Cong pauw touw," kata Piauw tauw she Ciok itu.
"Menurut pendapatku meskipun hadiahnya besar tugas ini
terlalu berbahaya, sehingga lebih baik kita menolak saja."
Piauw tauw yang satunya lagi seorang she Soe, lantas
saja berkata: "Ciok Sam ko sayang sungguh pendapatmu
diutarakan sesudah kasep. Piauw ini sudah diterima dan
apakah Liong boen Piauw kiok yang sudah mendapat nama
besar selama dua puluh tahun lebih harus
mengembalikannya lagi?"
"Soe Ngo tee," kata Ciok Piauw tauw dengan suara
mendongkol. "Kau menyayang nama besar Liong boen
Piauw kiok tapi apa kau tidak menyayangi jiwanya begitu
banyak orang? Menurut penglihatanku urusan ini sangat
173
mencurigakan dan mungkin sekali orang sedang memasang
jebakan untuk menjebak kita."
Soe Pauw tauw tertawa dingin seraya berkata "sesudah
makan dari perusahaan piauw, memang siang malam kita
hidup diujung senjata. Kalau Ciok Sam ko mau hidup
tenteram, kau harus berdiam saja dirumah sambil
mendukung bayimu dan jangan berkelana diluaran."
Kedua Piauw tauw itu lantas saja mulai bertengkar keras,
sehingga Touw Tay Kim harus datang disama tengah, "Jie
wie jangan tarik urat," katanya sambil tersenyum. "Piauw
sudah diterima dan kita memang tidak boleh mundur lagi,
Orang kata, musuh datang jenderal menyambut, air datang
tanah menguruk. Bahwa Ciok Sam ko memikiri So So istri
kakek lelaki dan anaknya, adalah kejadian yang sangat bisa
dimengerti. Sekarang begini saja, kita mengirim semua
orang tua, perempuan dan anak2 dari keluarga piauw hang
kesebuah kampung diluar kota Lim an. Tindakan ini bukan
sebab kita bernyali kecil, tapi hanya untuk menjaga akan
terjadinya segala kemungkinan.
Sehabis berkata begitu, ia segera memerintah kan
sejumlah pegawai piauw hang untuk segera mengantar
keluarga para piauw tauw ke sebuah dusun guna
menyingkirkan diri sementara waktu.
Semua orang yang bakal mengiring piauw istimewa itu,
lantas saja makan kenyang dan mempersiapkan bekalan
untuk disepanjang jalan. Sesudah beres, seorang pegawai
segera membawa bendera piauw dengan kedua tangannya
dan berjalan kepintu tengah dari gedung Liong boen Piauw
tok. Sambil membuka bendera itu, ia membentak: "Liong
boen sam yauw lee, Hie jie hoa wia long!" (Tiga ekor gabus
yang sedang melompat dari Liong boen, akan berubah
menjadi naga).
174
Sementara itu, macam2 pikiran masuk kedalam otak Jie
Thay Giam yang rebah dalam sebuah kereta. "Selama
berkelana dalam dunia Kangouw aku selalu memandang
rendah orang2 Phiauw hang, katanya didalam hati. "Tak
dinyana, selagi menghadapi bencana besar, aku harus
diangkut ke Boe tong san oleh mereka." Dilain saat, ia
bertanya pada dirinya sendiri "Siapakah sahabat she In itu
yang sudah menolong jiwaku? Didengar dari suaranya, ia
mestinya seorang perempuan dan menurut katanya Cong
piauw tauw, parasnya tampan dan ilmu silatmya tinggi.
Tapi cara2nya sungguh luar biasa. Hanya sayang, aku tak
dapat melihat wajahnya dan, juga tak bisa menghaturkan
terima kasih. Jika bisa terlolos dari kebinasaan. aku pasti
akan membalas budinya yang sangat besar itu."
Kereta berjalan terus dan waktu hampir tiba dipintu kota,
se-konyong2 terdengar teriakkan Touw Tay Kim:
"Mengapa kamu kembali? Aku sudah memesan, kamu tak
boleh balik ke Lim-an."
"Cong...cong-piauw- tauw," demikian terdengar jawaban
ter putus?. "Kami...kuping kami!"
"Siapa yang potong kupingmu?" teriak pula Touw Tay
Kim dengan suara gusar tercampur kaget.
"Selagi...mengantar...Loa tay tay (nyonya tua ibu Touw
Tay Kim) keluar kota, baru kira2 dua li, kami....dicegat
orang," menerangkan orang itu dengan suara gemetar:
"Pencegat2 itu bengis dan ganas sekali. Keluarga Liong
boen Piauw kiok tidak boleh meninggalkan kota Lim an,
kata satu diantaranya. Aku coba melawan dengan mulut,
tapi orang itu lantas saja menghunus golok dan memotong
kupingku! Kuping meraka... mereka berduapun telah
dipotong olehnya. Orang itu menyuruh aku beritahukan
Cong piauw tiauw, bahwa jika piauw yang harus diantar
tidak tiba pada temponya yang betul, maka...maka....ayam
175
dan anjing akan di basmi semua.
Touw Tay Kim menghela napas. Ia mengerti bahwa
setiap gerak gerik Liong boen Piauw kiauw sekarang
diawasi orang. Sambil mengebas tangan kanannya ia lantas
saja berkata. "Baiklah kamu pulang saja. Jaga baik2 semua
keluarga dan gedung Piauw kiok. Jangan keluar kalau tidak
terlalu perlu." Sehabis berkata begitu ia mencambuk kuda
dan rombongan itu lantas berangkat.
Dengan secepat2nya mereka menuju kejurusan barat.
Yang mengantar Jie Thay Giam, selain Touw Couw piauw
tauw Ciok dan Soe Piauw tauw, masih ada empat orang
piauw soe muda yang bertubuh kuat dan kekar. Mereka
semua menunggang kuda pilihan dan seperti yang
dikatakan siorang she In mereka menukar kereta, menukar
kuda2, tapi tidak diperbolehkan menukar orang2. Dengan
hati berdebar mereka meneruskan perjalanan siang hari dan
malam karena mereka tahu, bahwa jika terlambat bukan
saja jiwa mereka sendiri tapi jiwa semua keluarga Liong
boen Piauw kiok pun tak akan bisa ditolong lagi.
Waktu baru keluar dari kota Lim an, Touw Tay Kim
menduga, bahwa disepanjang jalan, ia akan harus mengadu
jiwa. Ia harus mengadu jiwa dalam pertempuran2 mati2an.
Tapi diluar dugaan, sesudah meniggalkan Ciat kang,
melewati An hoei dan kemudian masuk dalam propinsi
Ouw pak, dalam beberapa hari, mereka tak pernah
menemui rintangan apapun jugaa. Hari itu, telah mereka
lewati kota Hoan shia, Thay pang tiam, Sian jin touw,
Kong hwa koan. Dia kemudian sesudah menyeberang
sungai Han soei, tibalah mereka di Laoho kouw dari mana
mereka bisa mencapai Boe tong san dalam tempo sehari.
Sebelum Ngo sie, mereka sudah tiba di Song kengcoe
dan tak lama lagi akan tiba digunung Boetongsan. Biarpun
disepanjang jalan cepat lelah tapi mereka tiba pada waktu
176
yang tepat sehingga para piauw tauw jadi sangat girang.
Waktu itu adalah buntut musim semi dan permulaan
musim panas. Langit cerah, hawa hangat, pohon2 hijau,
dan bunga2 beraneka warna. Sambil memandang puncak
Thian coe hong yang menjulang kelangit dengan
cambuknya. Touw Tay Kim berkata: "Ciok Sam tee selama
beberapa tahun ini nama Boe tong bay jadi semakin
tersohor dan meskipun masih belum bisa menandingi Siauw
lim pay, sepak terjang Boe tong Cit hiap telah
menggetarkan dunia Kang ouw. Dengan melihat Thian coe
hong yang begitu angker, aku jadi ingat perkataan orang
bahwa jika manusianya jempol tanahnya pun keramat."
"Biarpun Boe tong pay telah mendapat nama besar tapi
dasarnya masih sangat cetek dan tak bisa dibandengkan
dengan Siauw lim pay yang mempunyai sejarah seribu
tahun lebih," kata Ciok Piauw tauw.
"Ambil saja contoh, Cong piauw-tauw sendiri, yang
memiliki Jie sie chioe Hang-mo-ciang (Pukulan takluki iblis
yang mempunyai duapuluh empat jalan) dan Liam coe
Kong-piauw yang bisa dilepaskan beruntun. Siapakah
diantara orang2 Boetong yang mempunyai ilmu yang
sangat tinggi itu."
"Benar", seru Soe Piauw tauw. "Omongan2 dalam
kalangan Kangouw kebanyakan tidak boleh dipercaya.
Nama Boe tong cit hiap memang cukup tersohor, tapi
bagaimana tinggi kepandaian mereka, kami belum pernah
menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mungkin sekali
pujian2 itu diberikan oleb orang2 kampung yang belum
pernah melihat luasnya dunia."
Touw Tay Kim hanya bersenyum. Sebagai seorang yang
mempunyai pengetahuan banyak lebih tinggi daripada
kedua Piauw-tauw itu, ia yakin, bahwa nama besarnya boe
177
tong pay bukan nama kosong dan Boe-tong Cit hiap pasti
memiliki kepandaian luar biasa. Akan tetapi karena selama
duapuluh tahun lebih ia memang jarang bertemu dengan
tandingan maka ia sangat percaya akan kepandaiannya
sendiri. Sudah ber-ulang2 ia mendengar umpakan kedua
piauw tauw itu dan sebagai manusia biasa, ia tetap merasa
girang setiap kali, mendengar pujian yang muluk.
Sembari ber-omong2 ketiga piauw tauw itu, berjalan
dangan rendengkan kuda mereka semakin lama jalanan
gunung semakin sempit, sehingga orang tidak bisa jalan
berendeng dan Soe Piauw tauw lalu menahan les kuda
untuk berjalan disebelah belakang.
"Cong piauw tauw kalau sebentar kita bertemu dengan
Thio Sam Hoag, peradatan apa yang dijalankan kita", tanya
Ciok piauw tauw.
"Kita bukan dari partai dan tak punya ikatan apupun
juga" jawabnya. "Akan tetapi Thio Sam Hong sudah beusia
sembilan puluh tahun dan dalam Rimba Persilatan dapat
dikatakan ialah yang merasa paling tua. Untuk
menghormati seorang Ciau pwee dari Rimba Persilatan
tidak halangannya jika kira berlutut dihadapannya."
"Menurut pendapatku, begitu bertemu kita berteriak:
"Thio Cinjin, Boanpwee memberi hormat dengan berlutut!"
ia tentu akan belaku sungkan dan coba mencegah", kata
Ciok Piau tauw, "dengan demikian kita boleh tidak usah
menjalankan peradatan yang besar itu.."
Touw Tay Kim tidak memberi jawaban. Ia hanya
bersenyum karena ia sedang coba menebak asal usul Jie
Thay Giam.
Selama sepuluh hari Thay Giam tidak pernah bergerak
dan juga tidak pernah mengeluar kan sepatah kata. Makan
minumnya dan segalanya harus ditolong oleh pegawai
178
piauw kiok. Sudah beberapa hari Tauw Tay Kim dan lain
piauw tauw coba men duga2 tapi mereka tetap tak bisa
menebak siapa adanya pemuda itu. Apa dia murid Boe tong
pay? Sahabat atau musuh Boe tong? Semakin mendekat Boe
tong san semakin besar rasa heran mereka. Tapi mereka
ingat bahwa begitu lekas bertemu dengan Thio Sam Hong
teka teki itu akan terpecah sendirinya. Hanya mereka tak
tahu apa pertemuan itu akan berbuntut dengan kecelakaan
atau keberuntungan.
Selagi Touw Tay Kim mengasah otak disebelah barat
tiba2 terdengar suara kaki kuda. Untuk menyelidiki Ciok
piauw tauw lantas saja mengebrak tunggangannya yang
segera kabur terlebih dulu. Beberapa saat kemudian ia
melihat enam penunggang kuda yang setelah berada dalam
jarak belasan tombak dari rombongan piauw mendadak
menahan les dan menghadang ditengah jalan. Tiga orang
terbaris didepan dan tiga orang disebelah belakang.
"Apakah bakal muncul rintangan dikaki Boe tong san?"
Touw Tay Kim bertanya didalam hati. Ia mendekati Soe
Piauw tauw dan ber bisik. "Hati2 jaga kereta."
Sementara itu seorang pegawai piauw kiok sudah menggoyang2
bendera ikan gabus sebagai satu pemberian
harmat, sedang Touw Tay Kim sendiri segera majukan
kudanya untuk menyambut keenam orang itu. "Liongboen
Piauw kiok numpang lewat ditempat sahabat dan jika kami
berlaku kurang hormat mohon sahabat sudi memaafkan"
katanya seraya membungkuk.
Diantara enam pemegat itu terdapa dua orang toosoe
"imam" yang memakai topi kuning sedang yang lainnya
adalah orang2 biasa. Mereka semua menyoren golok atau
pedang dan sikapnya angker sekali. Mendadak Touw Tay
Kim mendapat satu ingatan: "Apakah mereka bukan enam
pendekar dari Boe tong Cit hiap?" tanyanya didalam hati ia
179
segera menggebrak tunggangannya dan berkata sambil
merangkap kedua tangannya "aku adalah Touw Tay Kim
dari Liong boen Piauw kiok, bolehkah aku mendapat tahu
she dan nama saudara yang mulia?"
"Perlu apa Touw heng datang di Boe tong san", tanya
salah seorang yang berdiri disebelah kanan. Orang itu
bertubuh jangung sedang pada pipi kirinya terdapat sebuah
tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut yang panjang.
"Piauw kiok kami telah diminta membawa seorang yang
terluka berat ke Boe tong san untuk diserahkan kepada
Ciang boen dari partai saudara2. Thio Cinjin," jawabnya.
"Kami telah diminia oleh seorang she In untuk
membawa tuan itu kegunung ini," sahutnya. "Siapa adanya
tuan itu, bagaimana ia mendapat luka dan duduknya
persoalan semua tak diketahui oleh kami. Liong Boen
Piauw kiok hanya menerima permintaan orang dan
menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Mengenai soal
pribadi, kami selamanya belum pernah mencari tuan."
Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun bekerja
dalam perusahaan piauw. Touw Tay Kim punya
pengalaman luas. Dengan berkata begitu, ia mencuci bersih
segala kemungkinan yang bisa merembet kepada Liong
boen Piauw kiok. Baik Jie Thay Giam seorang sahabat,
maupun musuh Boe tong pay, keenam orang itu tak bisa
menjadi gusar terhadapnya.
Orang yang bertahi lalat menengok kepada dua
kawannya seraya berkata. "Orang she In? Siapa orang itu?"
"Ia adalah seorang pemuda yang berparas tampan dan
mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu melepaskan
senjata rahasia," menerangkan Touw Tay Kim.
"Apa kau pernah bertempur dengannya ?" tanya pula si
penyegat.
180
Touw Tay Kim jadi bingung dan menjawab dengan
gugup: "Tidak... tidak .. dia yang...."
Belum habis perkataannya salah seorang lain sudah
membentak: "Mana To liong to? Dalam tangan siapa golok
itu berada ?"
"Apa itu To liong to?" menegas Touw Tay Kim dengan
kaget. "Apakah Boe lim cie coen, Po to to liong ! yang
tersohor?"
Orang yang membentak ternyata beradat berangasan.
Tanpa banyak bicara lagi, ia segera melompat turun dari
tunggangannya meng hampiri kereta, membuka tirai lain
melongok kedalamnya.
Melihat gerakan orang itu yang gesit luar biasa, Tauw
Tay Kim jadi semakin bercuriga. "Apakah kalian bukan Boe
tong Cit hiap yang namanya tersohor dalam dunia
Kangouw ?' tanyanya. "Yang mana Song Tay hiap" Sudah
lama kudengar nama besarnya dan aku ingin sekali bertemu
muka."
"Nama itu hanya nama kosong belaka dan tidak-cukup
berharga untuk di-sebut2," kata orang vang bertahi lalat.
"Touw heng terlalu merendahkan diri."
Sesaat itu, si berangasan sudah melompat pula keatas
punggung kudanya. "Lukanya sangat berat dan harus segera
ditolong " katanya. "Biarlah kita saja yang membawanya."
Orang yang bertahi lalat lalu merangkap ke dua
tangannya seraya berkata dengan suara manis: "Untuk
capai lelah Touw heng yang dari jauh sudah mengantar
sampai disini, Siauwte menghaturkan banyak terima kasih."
Tauw Tay Kim segera membalas hormat dan
mengucapkan perkataan merendahkan diri.
181
"Saudara itu mendapat luka yang sangat berat, maka
biarlah kami saja yang membawanya keatas gunung untuk
segera ditolong." kata pula orang itu.
Toaw Tay Kim yang memang ingin melepas kan diri dari
tanggung jawab selekas mungkin lantas saja berkata:
"Biarlah. Kalau begitu di sini saja kami menyerahkan tuan
itu kepada Butong-pay."
"Touw heng jangan kuatir," kata orang itu. "Sekarang
Siauwte yang bertanggung jawab. Apakah ongkos piauw
sudah dibayar?"
"Sudah dibayar cukup," jawabnya.
Orang itu lalu mengeluarkan sepotong emas yang
beratnya kira2 seratus tahil dan berkata sambil
mengangsurkan kepada Touw tay Kim: "Ini untuk beli teh,
harap Touw heng suka mem-bagi2kan kepada saudara2
yang lain."
Cong piaw tauw itu menolak dengan keras. "Dua ribu
tahil emas sudah lebih daripada cukup." katanya. "Aku
bukan seorang temaha."
"Hm Dua tahil emas..." kata orang yang bertahi lalat itu.
Dua kawannya lantas saja majukan tunggangan mereka,
yang satu melompat keatas kereta, mengambil Ies dari
tangan kusir dan lalu menjalankan kereta itu sedang yang
satunya lagi mengikuti dari belakang.
Orang yang bertahi lalat mengayun tangan dan
melemparkan potongan emas itu kearah Touw Tay Kim.
"Touw heng jangan berlaku sungkan," katanya seraya
tertawa. "Kalian kem ball saja kekota Lim an."
Melihat potongan emas melayang kehadapan nya, Touw
Tay Kim terpaksa menyambutnya. Sebenarnya ia masih
ingin memulangkannya tapi orang itu sudah berlaku dengan
182
kaburkan tunggangannya.
Disebelah kejauhan ia lihat lima orang mengiring kereta
yang muat Jie Tay Giam dan sesudah membelok disuatu
tikungan mereka menghilang dari pemandangan. Dilain
saat melihat potongan emas yang dicekal dalam tangannya,
ia terkesiap karena terdapatnya sepuluh tapak jari yang
dalamnya kira2 setengah dim. Apa yang lebih luar biasa,
ialah, tapak jari2 itu, sampai urat2nya, terpeta nyata diatas
potongan emas itu. Walaupun emas lebih lembek dari pada
besi atau tembaga, tapi tenaga jari tangan itu, yang disertai
dengan Lweekang yang sangat dahsyat benar2
mengejutkan. Sambil mengawasi emas itu dengan mulut
ternganga, ia berkata dalam hatinya "Boe tong Cip hiap
sungguh2 lihay. Didalam Siau lim pay mungkin hanya satu
dua Soe siok yang mempelajari Kim kong cie, yang
mempunyai kepandaian seperti itu."
Melihat pemimpin mengawasi potongan emas itu dengan
bengong, Ciok Piauw tauw ber kata: "Cong piauw-tauw,
murid2 Boe tong agak tak tahu adat. Sesudah bertemu
muka, mereka sama sekali tidak memperkenalkan diri dan
juga tidak menanyakan she dan nama kita. Dari tempat
yang jauhnya ribuan kita datang kesini. Tapi mereka merasa
tak perlu untuk mengundang kita bersantap atau menginap
semalaman datam kuil mereka. Sebagai sesama orang
Rimba Persilatan, sikap mereka sangat tidak manis."
Didalam hati, memang Touw Tay Kim me rasa sangat
tak puas akan sikap orang2 itu, hanya ia tak mengatakan
terang2an. Maka itu mendengar perkataan rekannya, ia
seera berkata dengan suara tawar: "Dengan adanya mereka,
kita bisa menghemat tenaga. Baiklah ada baiknya juga?"
"Disamping itu, aku sebenarnya agak tak enak jika
orang2 Siauw-lim-pay mesti masuk kedalam kuil Boe tongpay.
Jie-wie Hiantee marilah kita berangkat pulang!"
183
Dalam perjalanan itu, meskipun tidak menemui,
halangan Liong boen Piauw-kiok telah dihina orang. Bahwa
Boe-tong Liok-hiap sudah tidak mamperkenalkan diri,
merupakan tanda bahwa mereka tak memandang sebelah
mata kepada Piauw kiok itu. Semakin memikir Touw Tay
Kim jadi semakin mendongkol dan diam2 ia menghitung
cara bagaimana sakit hati itu bisa dibalasnya.
Dalam perjalanan pulang itu sedang sipemimpin diliputi
dengan kemasgulan, para Piauw tiauw dan pegawai
bergirang2. Sesudah capai sepuluh hari dan sepuluh malam,
Liong boen Piauw-kiok bisa mengantongi duaribu tail emas
dan Cong piauw tiauw mereka yang terbuka tangannya,
sudah pasti akan memberi hadiah besar.
Diwaktu magrib, mereka sudah melewati Song kengcoe.
Melihat Touw Tay Kim masih berduka Ciok piauw-touw
berkata: "Cong-piauw, jangan kau terlalu jengkel. Gunung
tinggi dan air panjang dilain hari dalam dunia Kangouw,
kita pasti akan bisa berpapasan
lagi dengan mereka. Hm! Berapa lama Boe—tong Cithiap
bisa mempertahankannya ?"
Touw Tay kim menghela napas. Ciok Hiante katanya.
"Ada suatu hal yang sangat dibuat menyesal olehku."
"Hal apa ?" tanyanya.
Baru saja ia berkata begitu, disebelah belakang tiba2
terdengar suara kaki kuda. Tindak kuda itu tidak begitu
gencar, malah boleh di katakan perlahan, tapi heran
sungguh, semakin lama kedengarannya semakin dekat.
Semua orang lantas saja menengok kebelakang. Ternyata
kuda itu mempunyai kaki yang amat panjang sedang
bendanyapun kira2 dua kaki lebih tinggi daripada kuda
biasa, dengan kaki yang panjang langkahnya sangat lebar,
sehingga biarpun larinya tak terlalu cepat, jarak yang
184
dicapai lebih jauh daripada kuda biasa, bukan saja istimewa
tubuh dan kakinya, gerakannya angker sekali sedang
bulunya mengkilap seperti dipoles minyak.
"Bagus benar kuda itu!" memuji Ciok piauw tauw. Ia
terdiam sejenak dan kemudian berka ta : "..Cong pit tauw,
apakah kami berbuat sesuatu kesalahan?"
"Bukan, bukan kalian berbuat kesalahan," jawabnya
dengan suara duka. "Apa yang diingatkan adalah kejadian
pada duapuluh lima tahun berselang. Waktu itu, sudah dua
belas tahun aku belajar dalam Siauw lim sie dan sudah
memenuhi syarat2 sebagai murid yang lulus. Guruku Goanhiap
Sian soe coba membujuk supaya aku berdiam lagi lima
tahun guna belajar lima Tay kim kong ciang. Tapi sebagai
seorang pemuda yang pendek pikiran, aku menganggap,
bahwa kepandaian dimilikiku, sudah cukup untuk aku
malang melintang dalam dunia Kangouw. Maka itu,
ditambah lagi dengan rasa tak tahan untuk hidup menderita
terlebih lama didalam kuil, aku sudah menolak bujukan In
soe. Hai! Jika pada waktu itu aku belajar lagi lima tahun,
hari ini aku tentu tak akan dihina oleh murid2 oe tong..."
Baru berkata sampai disitu, orang yang menunggang kuda
jempolan itu, yang bulunya berwarna hijau putih, sudah
menyandak dan kemudian melewati rombongan piauw
hang. Selagi lewat, sipenunggang kuda melirik Touw Tay
Kim dan Ciok Ptauw tauw dengan paras muka heran.
Touw Tay Kim pun mengawasi orang itu yang ternyata
adalah seorang pemuda tampan yang berusia kira2 dua
puluh dua tahun dengan paras muka yang angker.
Dilihat sekelebatan ia seorang yang bertubuh kecil lemah
tapi sesudah diawasi dalam tubuh yang kecil itu terdapat
gerakan2 yang gesit,lincah dan mantep. Sambil merangkap
kedua tangannya, pemuda itu berseru: "Numpang lewat!
Numpang lewat!" Dalam sekejap, kuda itu sudah kabur
185
didepan rombongan piauw hang.
Sembari mengawasi byangan pemuda itu, Touw Tay
Kim bertanya: "Ciok Hian tee, bagaimana pendapatmu
mengenai orang muda itu ?"
"Dia turun dari atas gunung mungkin sekali salah
seorang murid Boe tong." jawabnya. Tapi ia tidak
membekal senjata dan badannyapun kelihatan lemah. Bisa
jadi juga ia seorang biasa saja dan bukan murid Boe tong."
Mendadak, pemuda itu memutar tunggangan nya dan
balik kembali. Jauh2 ia sudah memberi hormat seraya
berkata: "Maaf ! Siauwtee ingin ajukan satu pertanyaan,
harap kalian tidak jadi gusar."
Mendengar kata2 yang manis itu, Touw Tay Kim segera
menahan les dan balas menanya: "Pertanyaan apa ?"
Seraya melirik bendera ikan gabus yang dicekal oleh
seorang pegawai piauw hang, pemuda itu berkata. "Apakah
kalian dari Liong-boen Piauwkiok dikota Lim-an ?"
"Benar," jawab Ciok Piauw tauw.
°Boleh aku mendapat tahu she dan nama Sahabat2 yang
mulia?" tanya lagi pemuda itu "Apakah Touw Cong-piauwtauw
baik?"
Ciok-piauw-tauw merasa senang sekali melihat cara2
pemuda itu yang ramah tamah, tapi karena orang2 Kangouw
sangat sukar ditebak isi hatinya, maka ia belum berani
bicara terus terang. "Aku she Cok, siapakah sahabat?"
katanya. "Apakah sahabat men genal Cong-piauw tauw dari
piauw-kiok kami?"
Pemuda itu lantas saja melompat turun dari
tunggangannya dan maju beberapa tindak dengan satu
tangan menuntun kuda. "Aku she Thio, namaku Coei San,"
186
ia memperkenalkan diri. "Sudah lama kudengar nama besar
dari Cong piauw tauw hanya sayang aku belum bisa
berkenalan dengannya."
Begitu mendengar nama "Thio Coei San" Touw Tay
Kim dan yang lain2 terkejut bukan main. Nama Thio Coei
San "Touw tong Cit hiap" dan dalam beberapa tahun yang
terakhir namanya sangat terkenal dalam Rimba Persilatan.
Menurut katanya orang ia memiliki ilmu silat yang sangat
tinggi dan tidak dinyana, ia bukan saja masih berusia begitu
muda, tapi gerak geriknya juga menyerupai anak sekolah
yang lembut.
Dengan rasa sangsi Touw Tay Kim majukan kudanya
seraya berkata: "Aku yang rendah ialah Touw Tay Kim.
Apakah tuan bukan Gin kauw Tiat hoa Thio Ngo hiap?"
Muka pemuda itu lantas saja bersemu dadu "Pendekar
apa?" tanya dengan suara jengah. "Pujian Touw Cong
piauw-touw terlalu tinggi untuk diterima olehku. Sesudah
datang di Boe tong-san, mengapa kalian tidak mampir
ditempat kami? Hari ini adalah hari ulang tahun
kesembilanpuluh dari guru kami dan jika sekiranya tidak
menjadi halangan aku mengundang saudara2 naik
kegunung untuk minum arak panjang umur."
Senang sekali hati Touw Tay Kim dan yang lain,
"mengapa diantara Boe tong Cit hiap terdapat perbedaan
watak yang begitu besar?" Kata Ciong piauw tauw itu
didalam "Enam orang yang jadi begitu tak mengenal adat
tapi Thio Ngo hiap sedemikian tambah ramah. Ia lantas
saja melompat turun dari tunggangannya dan herkata:
"Dari Lim-an kami datang di Siangyang dan tujuan kami
sebenarnya adalah untuk menemui Thio Cinjin.
Hanya...hanya tidak membawa barang antaran, kami
merasa malu untuk mendaki gunung."
187
Thio Coei San tersenyum. "Kita semua sama dari
kalangan Rimba Persilatan," katanya dengan suara
halus,"Toaw Cong piauw tauw janganlah menganggap
kami sebagai orang luar. Guruku sering mengatakan bahwa
ilmu silat Boe tong pay bersumber dari Siauw lim dan ia
memesan bahwa jika bertemu dengan Cian pwee Siauw lim
pay kami harus menghormat nya sebagaimana mustinya
kalau guruku tahu rombongan Toaw Cong piauw tauw
lewat di-kaki gunung siang2 ia tentu sudah memerintahkan
kami menyambut dari tempat yang jauh."
Mendengar perkataan itu Touw Tay Kim jadi salah
mengerti, ia menduga Thio Coei San hanya ber-pura2 dan
dalam perkataan yang tajam. Ia tertawa dan berkat dengan
suara tawar. "Walaupun ilmu silat Boe tong dikatakan ter
sumber dari Siau lim sie akan tetapi bagaikan warna2 hijau
sebenarnya berasal dari warna biru tapi pada akhirnya hijau
mengalahkan biru. Thio Sian hiap yang masih berusia
muda memang sangat dikagumi orang. Tapi manusia yang
seperti aku dalam usia yang sudah lanjut ini kepalaku
seperti juga menempel di badan anjing."
"Ah, mengapa Cong piauw tauw", kata begitu Thio Coei
San. "Dalam kalangan Kang ouw, siapakah yang tidak
mengenal nama besar Lioag boen Piauw kiok? Dalam
Rimba Persilatan semua orang tabu liehaynya Jie cap sie
chioe Hong mo ciang dan Lian coe Kong piauw. Touw
Cong piauw tauw apakah kau boleh memperkenalkan
beberapa Toako ini ke padaku?"
Mendengar permintaan orang yang diajukan secara
pantas, Touw Tay Kim lantas saja memperkenalkan Ciok
dan Soe Piauw tauw kepada pemuda itu.
"Aku sungguh merasa beruntung bahwa dini hari bisa
berkenalan dengan saudara2 yang mempunyai nama besar
dalam Rimba Persilatan" kata pula pemuda itu. "Dulu Kim
188
to golok emas dari Ciok Piauw tauw telah merohohkan Ie
yang Ngo hiang (Lima Jago Ie yang) dijalankan Sin an
sedang ilmu silat toya Sam gie koen dari Soe Piau tauw juga
tidak kurang tersohornya."
Sebagai seorang murid yang sangat disayang oleh Thio
Sam Hong pemuda itu mempunyai pengetahuan yang
sangat luas mengenai didunia Kang ouw karena dia sering
mendengari cerita gurunya.
Dengan otak yang cerdas dan peringatan yang kuat apa
yang sudah didengarnya tidak terlupa lagi sebagai Couw
soe Boe tong pay yang sudah mencapai usia sembilan puluh
tahun dan mempunyai pergaulan luar, Thio Sam Hong
dapat dikatakan mengenal semua partai semua cabang
persilatan dan semua tokoh dan segala pengalamannya
serta pengetahuannya sering diceritahan kepada murid2nya.
Maka itu, begitu mendengar nama Ciok dan Soe Piaaw
tauw, Thio Coei San lantas saja bisa menyebutkan
kepandaian yang sering diandalkan dari kedua orang.
Bahwa pemuda itu mengenal kepandaian Touw Tay
Kim yang namanya sudah terkenal selama puluhan tahun,
bukan kejadian yang meng herankan. Tapi pengetahuannya
mengenai Ciok dan Soe Piauw tauw, yaitu ahli2 silat kelas
empat atau kelas lima, ada sedikit luar biasa. Tak usah
dikatakan lagi, pujian yang diucapkan dengan nada
sungguh2 itu, menggirang kan sangat hatinya ketiga
pemimpin piauw hang itu.
"Cong piauw tauw" kata Ciok piauw tauw. "Hari itu
secara kebetulan adalah hari ulang tahun orang tua itu.
Menurut pendapatku, memang pantas jika kita naik keatas
untuk menberi selamat panjang umur."
"Benar," kata Thio Coei San. "Sesudah kalian datang
kesini. kami harus memenuhi tugas sebagai tuan rumah.
189
Beberapa saudara seperuruanku adalah orang2 yang sangat
suka bergaul. Marilah, aku mengundang kalian menginap
semalam dua malam."
Sesudah mendengar pembicaraan itu, Touw Tay Kim
mendapat lain pikiran. "Bagaimana dia bisa tahu begitu
tegas mengenal Ciok dan Soe Piauw tauw?" tanya didalam
hati. Dalam hal ini mungkin terdapat lain latar belakang.
Apakah karena perbuatannya yang tak mengenal adat
keenam orang yang tadi sudah ditegur oleh gurunya yang
memerintahkan pemuda ini menghaturkan maaf dan
mengundang kita?" Memikir begitu, hatinya jadi lebih lega.
Ia tertawa seraya berkata: "Kalau saudara seperguruanmu
sama ramah tamahnya seperti Thio Ngo hiap, sedari tadi
kami sudah naik keatas gunung."
"Apa?" menegasi Coei San dengan suara heran. "Apakah
Cong piauw tauw sudah bertemu dengan saudara
seperguruanku? Yang mana?"
Touw Tay Kim kembali menduga pemuda itu ber-pura2.
"Hari ini, rejekimu sangat besar," jawabnya. "Dalam
seharian saja, aku su dah bertemu dengan hampir semua
anggauta dari Boe tong Cit hiap."
Pemuda itu jadi semakin heran dan mengawasi
pemimpin piauw hang itu dengan mata terbuka lebar.
"Apakah kau juga bertemu dengan Jie Sam ko?" tanyanya.
"Apa Jie Thay Giam Jie Sam hiap?" menegas Touw Tay
Kim. "Mereka merasa segan untuk memperkenalkan diri,
sehingga aku tak tahu, yang mana itu Jie Sam hiap. Aku
hanya bertemu dengan enam orang dan mungkin sekali Jie
Sam hiap terdapat diantara mereka.,"
"Enam orang?" seru pemuda itu dengan suara kaget.
"Sungguh mengherankan ! Siapa mereka ?"
190
"Mana aku tahu ? Saudara2 seperguruanmu sendiri yang
sungkan memperkenalkan diri," jawabnya. "Karena kau
adalah Thio Ngo hiap maka keenam orang iru mestinya
Song Tayhiap dan yang lain2". Waktu berkata begitu, ia
menekankan setiap perkataan "Hiap" dengan nada
mengejek tapi pemuda itu yang sedang ke bingungan tidak,
memperhatikan ejekan orang.
"Apa benar2 Cong piauw tauw telah betemu dengan
mereka?" menegas pula Thio Coei San.
"Bukan saja aku, tapi semua orang yang mengikut dalam
rombongan ini, juga telah lihat mereka," jawabnya.
Pemuda itu meng geleng2kan kepalanya. "Tak bisa jadi,"
katanya dengan suara pasti. "Hari ini, Song Soeko dan yang
lain2 sehari suntuk menemani Soehoe di Giok hie kiong
dan setindak pun mereka tak pernah berlalu dari samping
Soehoe. Melihat sampai tengah hari Jie Samko belum juga
datang, Soehoe telah memerintahkan siauw tee turun
gunung untuk menyambutnya. Cara bagaimana Cong
piauw tauw bisa bertemu dengan Song Soeko dan yang lain
lain ?"
"Apakah orang yang pada pipinya terdapat sebuah tahi
lalat dan pada tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut
bukan Song Tay hiap?" tanya Touw Tay Kim dengan hati
ber debar2.
Coei San terkesiap. "Diantara Soehengteeku tak
seorangpun yang bertahi lalat dipipinya," katanya.
Perkataan itu seperti air dingin yang menggusur kepala
Tauw tay Kim. "Keenam orang itu mengatakan mereka
adalah Boe tong Liokhiap," katanya dengan jantung
memukul keras. "Diantara mereka terdapat dua toojin yang
memakai topi kuning. Tentu saja kami...."
191
"Biarpun guruku seorang toojin, akan tetapi semua
muridnya adalah orang2 biasa yang tidak memeluk agama,"
kata pemuda itu. "Apa kah mereka benar2 memperkenalkan
diri sebagai Boe tong Liok hiap ?"
Touw Tay Kim mengeluarkan keringat dingin. Memang
juga orang2 itu tidak pernah memperkenalkan diri sebagai
Boe tong Liok hiap. Adalah ia sendiri yang menganggap
mereka sebagai enam pendekar Boe tong, kenyataan yang
sebenarnya ialah mereka tidak membantah pada waktu ia
mengutarakan anggapan begitu untuk beberapa saat ia
dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya mengawasi
kedua kawannya dengan paras muka pucat. "Kalau begitu
keenam orang itu mengandung maksud jahat", katanya
dengan mendadak, mari kita ubar!" Ia melompat keatas
punggung kudanya yang lalu dikaburkan keatas gunung.
Thio Coen San pun lantas saja menyusul dan kemudian
merendengkan kudanya dengan tunggangan Touw Tay
Kim. "Touw heng!" serunya "Perlu apa kita menguber
mereka? Tak apa2 jika mereka menggunakan nama kami."
"Dalam ini terselip lain hal", kata Touw Tay Kim.
"Bagaimana dengan orang itu? Kami sebetulnya ingin
menyerahkan orang ini kepada Thio Cinjin tapi enam orang
itu sudah mengabilnya dari tangan kami. Orang itu
mendapat luka berat. Celaka sungguh!"
Sambil membedel kudanya dengan suara ter-putus2, ia
menceritakan apa yang sudah terjadi.
"Siapa namanya orang itu? Bagaimana macamnya",
tanya Coei San dengan heran.
"Entahlah," jawabnya "ia terluka berat, tak bisa bicara
dan tak bisa bergerak sedang napasnya tinggal sekali2. Ia
berusia kurang lebih tigapuluh tahun." Sesudah berkata
begitu ia segera melukiskan roman dan potongan badan Jie
192
Thay Giam. "Celaka", teriak Coei San dengan hati
mencelus, "itulah Jie Samko!" Beberapa saat kemudian
sesudah dapat menentramkan hatinya dengan tangan kiri ia
manyentak les kuda Touw Tay Kim.
Binatang itu yang sedang lari keras berhenti dengan
mendadak sambil berbengar keras dan berjingkrak sedang
mulutnya mengeluarkan darah akibat dentakan itu.
Dengan kaget seraya menghunus golok Touw Tay Kim
metompat turun dari tungganganaya. Ia heran, cara
bagaimana pemuda yang badannya begitu kurus lemah bisa
mempunyai tenaga yang begitu besar.
"Touw Toako jangan salah mengerti" kata pe muda itu,
"dari tempat jauhnya ribuan li Toako telah mengantar Jie
Sam ko sampai disini dan untuk itu semua siauwtee merasa
sangat berterima kasih. Maka itu sedikitpun siauwtee tidak
mempunyai maksud yang kurang baik."
Touw Tay Kim segera masukkan goloknya kedalam
sarung tapi tangan kanannya mesih tetap mencekal gagang
senjata itu.
"Bagaiman Jie Samko mendapat luka? Siapa musuhnya?
Siapa yang minta Touw Toako mengantarkannya sampai
disini?" tanya Coei San.
Tapi antara tiga pertanyaan itu, satupun tak dapat
dijawab oleh Touw Tay Kim.
"Bagaimana macamnya keenam orang itu yang
mengambil Jie Samko?" tanya pemuda itu. Sebelum Toauw
Tay Kim keburu menjawab, Soe Piauw-tauw sudah
mendahului dan lalu melukiskan macamnya orang2 itu.
"Kalau begitu, biarlah Siauwtee coba mengubar mereka",
kata Thio Coei San seraya memberi hormat dan lalu
kaburkan tunggangannya sekeras-kerasnya.
193
Sebagai saudara seperguruan dan dengan bersama2
melakukan pekerjaan mulia, Boetong Cit hiap mencintai
satu sama lain seperti saudara kandung. Mendengar
kakaknya luka berat dan jatuh ketangan orang2 yang belum
di ketahui siapa adanya, bukan main bingung Coei San. Ia
membedal mencambuk kuda mustika itu, se-olah2 tidak
menghiraukan jika tidak tunggangannya yang disayang
mesti lantaran kecapaian. Dalam sekejap ia sudah tiba di
Co tiam, satu tempat dimana terdapat tiga cagak jalanan:
yang satu naik keatas gunung, sedang yang lain membelok
kejurusan timur laut sampai di kota In-yang.
"Kalau enam orang itu benar2 mengantar Jie Samko
keatas gunung, waktu turun gunung, aku pasti sudah
bertemu dengan mereka," katanya didalam hati. Memikir
begitu, ia lantas saja mengambil jalanan yang menjurus
ketimur laut.
Sesudah lari kurang lebih satu jam, meskipun bertenaga
kuat, per-lahan2 kuda itu menjadi lelah dan semakin
lambat. Siang sudah ter ganti dengan malam dan dijalanan
gunung yang memangnya sepi, sudah tidak terdapat lagi
manusiapun yang bisa diminta keterangannya. Sambil
mengubar, pemuda itu, mengaju kan macam2 pertanyaan
pada dirinya sendiri "Jie Samko memiliki kepandaian yang
sangat tinggi." Pikirnya. "Bagaimana ia bisa dilukakan
orang dengan begitu mudah? Tapi dilihat dari sikap dan
perkataan Touw Tay Kim tak bisa jadi ia mendusta."
Selagi mengasah otak, tiba2 kuda itu berbanger dan lari
kesebidang tanah lapang dimana terdapat beberapa
kuburan. Thio Coei San mengerti bahwa
penyelewengannya binatang itu pasti disebabkan oleh
sesuatu yang luar biasa. Dengan waspada ia mengawasi
tanah lapang itu. Sesaat kemudian ia mendapat kenyataan,
bahwa sebuah kereta roboh terguling di antara rumput yang
194
tinggi.
Setelah lihat seekor keledai rebah didepan kereta itu
dengan kepala hancur. Buru2 ia melompat turun dan
menyingkap tirai kereta, tapi didalamnya tidak terdapat
manusia. Ia menengok keseputarnya dan mendadak
matanya yang sangat jeli melihat seso sok tubuh manusia
rebah didalam gompolan rumput. Dengan jantung
memukul keras, ia menubruk dan mengangkat orang itu.
Dengan sekelebatan saja, ia sudah mengenal bahwa orang
itu bukan lain dari pada Soekonya yang sedang dicari.
Dalam kegelapan, samar2 ia lihat kedua mata kakak
seperguruan itu tertutup rapat, sedang mukanya pucat
bagaikan kertas. Bukan main kaget dan sakit hatinya.
Dengan tangan gemetar, ia mendukung sang Soeko dan
menempelkan mukanya sendiri dimuka yang pucar itu.
Tiba2, dalam hatinya yang duka timbul harapan, karena ia
merasakan sedikit hawa hangat dipipi Jie Thay Giam.
Buru2 ia meraba dada Soekonya dan ternyata jantung sang
kakak masih mengetuk dengan perlahan.
"Samko" teriaknya sambil mengucurkan air mata.
"Samko...mengapa kau? Aku Ngotee.. .Ngoteemu...." Dan
perlahan dan hati2 ia bangun berdiri. Sekali lagi,
jantungnya memukul keras, ke dua tangan danw kedua kaki
Jie Thay Giam kontal kantul kebawah. Ternyata
tulang2nya telah dipukul patah, sedang darah mengalir dari
jeriji pergelangan tangan lengan dan betis nya. Melihat
kekejaman musuh, Thio Coei San marasa dadanya mau
meledak, melihat luka itu ia tahu bahwa musuh belum pergi
jauh dan jika diubar ia masih bisa menyandaknya. Dalam
kalanya ia lantas saja melompat keatas punggung kuda
untuk mengejar, tapi dilain sa at ia mendapat lain pikiran
yang lebih jernih. "Luka Jie Samko berat luar biasa dan
perlu segera ditolong," pikirnya. "Jika seorang koencu mau
195
membalas sakit hati, sepuluh tahun masih belum
terlambat,"
Karena kuatir goncangan2 diatas kuda memperhebat
luka sang Soeko, maka, sesudah berpikir sejenak, ia segera
mendukung tubuh Jie Thay Giam dengan hedua tangannya
dan lain berjalan pulang dengan menggunakan ilmu
mengentengkan badan. Kuda jempolan itu, yang mungkin
merasa heran mengapa sang majikan tidak menunggunya,
mengikuti dari belakang.
==========================
HARI itu adalah hari ulang tahun kesembilan puluh dari
Couw-soe Boe-tong-pay Thio Sam Hong. Sedari pagi sekali,
Giak-hie-kiong sudah diliputi dengan suasana bersuka ria.
Dengan bergiliran, ke-6 muridnya memberi selamat panjang
umur dan berlutut. Hanya sayang diantara 7 murid itu
masih kurang seorang. Menurut perhitungan, sesudah
menjalankan tugas membunuh seorang penjahat besar di
Tiongkok Selatan. siang2 Jie Thay Giam sudah harus
kembali. Tapi ditunggu sampai tengah hari, ia belum juga
kelihatan mata hidungnya. "Semua orang
dibawah_gunung," kata Thio Coei San.
Tapi begitu pergi, Thio Coei San pun tak ada kabar
ceritanya. Dengan menunggang kuda istimewi, andaikata ia
pergi sampai di Lao ho kouw, iapun sudah mesti pulang
lebih siang, tapi ditunggu hingga Yoe sie dari jam 5 sore
sampai tujuh malam, ia belum juga kelihatan bayangan
bayangannya.
Di ruang tengah, meja perjamuan sudah di atur rapih,
sedang lilin merah sudah habis separuhnya. Semua orang
mulai bingung. Murid keenam In Lie Heng dan murid ke7
Boh Seng Kok sudah keluar masuk puluhan kali, sedang
saudaranya yang lainpun tak kurang bingungnya. Sebagai
196
seorang yang ilmu kebatinannya sudah sangat tinggi, Thio
Sam Hong tetap t nang. Tapi ia yakin, bahwa belum
pulangnya kedua murid itu mesti disebabkan oleh kejadian
sangat luar biasa. Ia kenal baik watak mereka. Jie Thay
Giam sangat ber-hati2 dan boleh diandalkan untuk
memegang pekerjaan penting sedang Thio Coei San seorang
pemuda yang cerdas dan selalu bisa bertindak dengan
mengimbangi jelatatan.
Serasa mengawasi lilin yang semakin pendek Song Wan
Kiauw berkata sambil tertawa "Soe hoe, Jie Samtee dan
Thio Ngotee tentulah juga bertemu dengan urusan ganjil
dan mereka lalu menggulung tangan baju untuk
mencampurinya, Soehoe selamanya menganjurkan kami
untuk melakukan perbuatan mulia dan hari ini, hari ulang
tahun Soehoe, kedua soetee menolong sesama manusia
sebagai hadiah ulang tahun."
Thio Sam Hong mengurut jenggotnya."Hm pada hari
ulang tahunku yang kedelapanpuluh kau telah menolong
seorang janda yang mem buang diri kedalam sumur"
katanya seraya tertawa, "perbuatanmu itu memang harus
dipuji akan tetapi jika dalam sepuluh tahun baru menolong
orang satu kali mereka yang perlu di tolong sungguh harus
menunggu dengan sangat tidak sabaran". Mendengar
perkataan guru mereka lima murid itu lantas saja tertawa
geli, tapi adatnya sangat terbuka dan sering sekali ia
berguyon dengan murid2nya "paling sedikit Soehoe akan
bisa hidup dua ratus tahun kata", Thio Siong Kee murid
keempat sambil bersenyum "jika setiap sepuluh tahun kami
melakukan sesuatu perbuatan baik ditambah jumlah nya
tidak sedikit."
Boh Seng Kek murid ketujuh tertawa nyaring "hanya
mungkin sekali kita tak bisa makan umur begitu panjang"
katanya.
197
Baru saja perkataan itu habis diucapkan, Song Wan
Kiauw dan Jie Liam Cioe, murid ke dua se konyong2
melompat keluar seraya ber teriak:" Apa Samtee!"
"Benar" jawab Thio Coei San dengan suara parau dilain
saat dengan kedua tangan pakaian berlepotan darah dan
penuh keringat ia bertindak masuk dengan tindakan
limbung dan lalu berlutut dihadapan Thio Sam Hong. "Soe
hoe...." katanya "Jie Samko.,..telah dibokong orang!"
Semua orang terkesip. Sehabis berkata begitu, badan
Thio Coei San bergoyang, dan ia roboh terjengkang karena
terlalu lelah dan duka.
Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe adalah orang2 yang
mempunyai pengalaman luas dan mereka tahu sebab
musabab dari pingsannya Thio Coei San. Mereka mengerti
bahwa apa yang penting adalah Jie Tay Giam. Maka itu
dengan berbareng mereka menubruk dan mengangkat tubuh
Jie Sam. Begitu meraba dada si adik, hati mereka mencelos
sebab napas Jie Thay Giam tinggal sekali.
Melihat muridnya yang disayang terluka begitu berat
tanpa mengeluarkan sepatah kata, Thio Sam Hong buru2
masuk kekamarnya dan keluar lagi dengan membawa pels
Pek houw Tok bang tan (pememulihkan jiwa yang
mulutnya ditutup dengan lilin putih)Untuk tidak
membuang tempo dengan dua jarinya ia mememijit peles
itu yang lantas saja menjadi hancur. Ia mengambil tiga butir
pel yang lalu dimasukkan kedalam mulut Jie Thay Giam.
Tapi gigi Jie Sam hiap terkancing dan mulutnyn tertutup
rapat.
Thian Sam Hong segera mengangkat kedua tangannya
dan dengan menggunakan jempol dan telunjuk, ia menotok
Liong yauw kiauw diujung kuping Jie Thay Giam dengan
tenaga Ho cweekin. Pada waktu itu kepandaian Thio Sam
198
Hong sudah sedemikian tinggi sehingga dengan Ho cweekin
Tiam Liong yauw kiauw, tenaga Ho cwee kin menotol
Liong yauw kiauw ia malahan dapat menyadarkan untuk
sementara waktu orang. Sesudah menotol dua puluh kali,
simurid masih juga tidak bergerak.
Sambil menghela napas, ia segera menengkurupkan
kedua telapak tangannya dan menotol jalanan darah Kian
kie hiat didagu muridnya, dengan menggunakan In cioe
atau telaga dingin. Sesudah itu, ia membalik kedua telapak
tangannya dan menotok pula dengan Yang cioe atau tenaga
panas, per-lahan2 mulut Jie Thay Giam terbuka dan ia lalu
menelan tiga butir pil itu.
Tapi otot2 leher Jie Sam hiap sudah menjadi kaku,
sehingga biarpun masuk kedalam tenggorokan pel itu tak
bisa turun terus sampai di perut. Guru besar itu segera
memerintahkan Thio Siong Kee mengurut leher Jie Thay
Giam sedang ia sendiri lalu menotok jalanan darah Kwat
poen dan Jie hoe dibagian pundak serta Yang koan dan
Beng Boen diujung tulang punggung, supaya sesudah
tersadar si murid jangan merasakan kesakitan yang terlalu
hebat.
Semenjak Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe berguru
biarpun menghadapi urusan yang bagai mana besar, sang
guru selalu bersikap tenang. Tapi sekarang tangan guru itu
bergemetar sedang paras mukanya mengunjuk rasa bingung
sehingga mereka mengerti, bahwa luka adik mereka luar
biasa berat.
Selang beberapa saat, Jie Thay Giam mulai tersadar.
"Soehoe," kata Thio Coei San dengan suara pilu.
"Apakah Jie San ko masih bisa ditolong jiwanya ?"
Thio Sam Hong tidak menjawab secara langsung. Ia
hanya berkata: "Dalam dunia ini siapa kah yang bisa hidup
199
untuk se-lama2nya ?"
Tiba2 terdengar suara tindakan orang. Seorang toojin
kecil masuk kedalam ruangan itu dan memberitahu, bahwa
Touw Tay Kim dan lain2 piauw tauw Liong boen Piouw
kiok datang berkunjung.
Paras muka Thio Coei San lantas saja berubah gusar.
"Ini semua gara2 kawanan manusia itu!" teriaknya seraya
melompat keluar. Dilain saat diluar kelenteng terdengar
suara jatuhnya senjata2 diatas tanah. Baru saja In Lie Heng
dan Boh Seng Kok ingin melompat keluar untuk membantu
Soehengnya, Thio Coei San sudah kelihatan berjalan masuk
dengan satu tangan menenteng seorang lelaki yang
badannya tinggi besar. Sambil melontarkannya keras2 di
atas lantai ia berseru: "Manusia inilah yang sudah merusak
urusan besar!"
Diantara Boe tong Cit hiap, In Lie Henglah yang beradat
paling berangasan. Mendengar orang itu yang
menyebabkan terlukanya sang Soeko, ia segera melompat
dan mengangkat kaki untuk menendang Touw Tay Kim.
"Lioktee! Tahan!" bentak Song Wan Kiauw.
"Hei! Orang2 Boetong memakai aturan atau tidak?"
demikian terdengar teriakan diluar kelenteng. "Kami adalah
tamu2 yang datang ber kunjung. Mengapa kau menghina
kami?"
Song Wan Kiauw mengerutkan alisnya. Ia menghampiri
Touw Tay Kim dan menepuk belakang kepala dan
punggung Cong-piauw-tauw itu, untuk membuka jalanan
darahnya. "Yang di luar harap jangan ribut," teriaknya,
"Tunggu sebentar". Suara itu angker dan nyaring luar biasa
dan orang2 Liong-boen Piauw-kiok yang menduga bahwa
teriakan itu adalah teriakan Thio Sam Hong, tak berani
banyak ribut lagi.
200
"Ngo-tee," kata Song Wan Kiauw. "Bagaimana Samtee
bisa mendapat luka begitu berat ? Ceritakanlah dengan
tenang."
Sesudah mengawasi Tauw Tay Kim dengan sorot mata
gusar, barulah Thio Coei San menerangkan, bagaimana
Liong boen Piauw-kiok telah diminta oleh seorang untuk
mengantarkan Jie Thay Giam ke Boetong-san dan bagai
mana saudara itu akhirnya diambil enam penjahat yang
menyamar sebagai murid2 Boetong. Sedari tadi, sesudah
lihat kepandaian Tay Kim, Song Wan Kiauw sudah tahu,
bahwa Cong piauw tauw itu bukan orang yang bisa
mencelakakan Soe-teenya. Begitu mendengar keterangan
Thia Coei San, paras mukanya lantas saja berubah sabar
dan dengan kata2 manis, ia segera bertanya kepada Tauw
Tay Kim hal ihwal peristiwa itu.
Touw Tay Kim lantas saja menceritakan segala kejadian
se-terang2nya. Pada akhirnya ia berkata dengan suara duka:
"Song Tayhiap, aku benar2 tolol dan karena kebodohanku,
Jie Samhiap mesti menderita begitu lebat. Kutahu bahwa
aku berdoa besar sekali dan pantas mendapat hukuman
mati. Nasib keluarga kami di Lim an juga belum tahu
bagaimana jadinya."
Selagi muridnya bicara dengan tamu itu, Thia Sam Hong
tidak mencampuri dan sambil mengempos semangat terus
menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Sincong
dan Lengtay untuk memberi bawa panas kepada Jie Thay
Giam, Tapi begitu lekas mendengar perkataan Tauw Tay
Kim yang berakhir ia segera berkata: "Lian Coe, bersama
Seng Kok sekarang juga kau harus berangkat ke Lim an
untuk melindungi keluaga Long boen Piauw kiok"
"Soehoe." kata Thio Coei San dengan suara penasaran.
"Orang she Touw itu terlalu gila dan karena gara2nya,
biarpun tidak disengaja Sam soeko mesti menderita begitu
201
hebat. Bahwa kita tidak membuat perhitungan dengannya,
dia sudah untung besar. Perlu apa melindungi anak isteri
dan keluarganya ?"
Sang guru tidak menjawab, ia hanya menggelengkan
kepala, sebagai tanda tidak setuju dengan pendapat si
murid.
"Ngo tee," kata Song Wan Kiauw. "Mengapa
pemandanganmu begitu sempit? Untuk siapa Tauw Cong
piauw tauw datang kemari dengan melalui perjalanan
ribuan li ?"
"Untuk mengantongi dua ribu tahil emas," jawabnya
sambil tertawa dingin. Mendengar perkataan itu, muka
Touw Tay Kim lantas saja berubah merah. Dalam hati
kecilnya ia juga mengakui, bahwa kesudiannya untuk
mengantar Jie Thay Giam memang sebab hadiah yang
besar itu.
"Ngo tee!" bentak Song Wan Kiauw. "Jangan kau kurang
ajar terhadap tamu kita ! Kau sudah terlalu capai pergilah
mengaso."
Dalam kalangan Boe tong pay kedudukan seorang
Soeheng sangat diindahkan dan disegani. Baik dalam ilmu
silat dan usia maupun dalam pribadi dan kemuliaan Song
Wan Kiauw lebih menang setingkat daripada semua
saudara seperguruannya. Maka itu dari Jie Lian Cioe
sampai Boh Seng Kok, tak seorangpun yang tidak
menghormatinya. Begitu dibentak Thio Coei San tidak
berani mengeluarkan suara lagi, tapi ia terus berdiri disitu
sebab sangat memikiri keadaan Jie Thay Giam.
"Jie tee," kata pula Song Wan Kiauw. "Menolong jiwa
orang seperti menolong bahaya kebakaran. Sesudah Soehoe
mengeluarkan perintah, kurasa lebih baik kau berangkat
malam ini juga ber-sama2 Cittee," Jie Lian Cioe dan Boh
202
Seng Kok lantas saja meninggalkan ruangan itu untuk
bebenah.
Melihat kedua pendekar itu ber-siap2 untuk pergi ke
Lim-an guna melindungi keluarga Liong boen Piauw kiok
bukan main rasa berterima kasihnya Touw Tay Kim. Tapi
rasa terima kasih itu bercampur dengan rasa malu yang
besar. "Thio Cinjin," katanya sambil memberi hormat
kepada Thio Sam Hong dengan merangkapkan kedua
tangannya. "Dalam urusan kami Boanpwee tidak berani
merepotkan Jie hiap dan Boan hiap. Sekarang saja kami
berpamit."
"Malam ini kalian menginap saja ditempat kami " kata
Song Wan Kiauw, "Kami masih ingin menanyakan
beberapa hal". Perkataan itu diucapkan dengan manis budi
mengandung pengaruh besar yang sukar ditolak, sehingga
tanpa membantah lagi Touw Tay Kim segera duduk
dipinggiran. Beberapa saat kemudian Jie Liam Cioe dan
Boh Seng Kok mengambil selamat berpisah dari gurunya
dan sesudah mengawasi Jie Thay Giam beberapa kali,
dengan perasaan tertindih mereka turun gunung untuk
menjalankan perintah sang guru. Bahwa mereka merasa
berat untuk meninggalkan saudara seperguruannya yang
terluka berat, sangat bisa dimengerti, karena masih
merupakan pertanyaan, apakah mereka akan bisa bertemu
muka lagi.
Seluruh ruangan sunyi senyap dan apa yang terdengar,
hanyalah suara nafas Thio Sam Hong yang ter-sengal2.
Diatas kepala guru besar itu kelihatan keluar semacan uap
panas, sebagai tanda bahwa Thio Sam Hong tengah
mengerahkan Lweekang yang sangat dahsyat. Berselang
kira2 setengah jam, se-konyong2 Jie Thay Giam
mengeluarkan teriakan menggeledek, sehingga ruangan itu
se-olah2 tergetar.
203
Touw Tay Kim terkesiap dan tanpa merasa, ia melompat
bangun dari kursinya. Ia melirik Thio Sam Hong dan dapat
kenyataan, paras muka orang itu mengunjuk rasa jengkel
atau rasa girang, sehingga sukar sekali ditebak apa artinya
teriakan Jie Thay Giam itu.
"Siong Kee, Lie Heng, bawalah Samkomu kedalam
kamar supaya ia bisa mengaso."
Sesudah menjalankan titah gurunya, mereka masuk lagi
kedalam ruangan itu, "Soehoe, apa ilmu silat Samko bisa
pulih lagi seperti biasa?" tanya In Lie Heng.
Thio Sam Hong menghela napas panjang. Selang
beberapa saat, barulah ia menjawab dengan suara perlahan:
"Apakah jiwanya bisa tertolong, masih harus menunggu
tempo sebulan. Urat2nya yang sudah rusak dan tulang2-nya
yang patah, tak bisa disambung lagi. Selama hidupnya...."
ia tak dapat meneruskan perkataannya dan hanya menggeleng2kan
kepalanya dengan paras berduka.
Mendengar jawaban itu, In Lie Heng tak bisa menahan
lagi rasa sedihnya, ia lantas saja menangis tersedu2.
Diantara saudara seperguruannya, biarpun sudah memiliki
kepandaian sebagai ahli silat kelas utama, hatinya paling
lembek dan mudah sekali menangis.
Melihat saudaranya menangis, Thio Coei San lantas
meluap darahnya. Dengan sekali me lompat, tangannya
melayang menggaplok muka Touw Tay Kim. Congpiauw
tauw ini coba menangkis, tapi tangan Thio Coei San
menyambar bagaikan kilat cepatnya dan pipinya sudah
kena digampar. Kena belum puas, Coei San lalu mengirim
tinju kepinggang Touw Tay Kim tapi untung sebelum
mengenakan sasarannya, Thio Siong Kee keburu men
dorong pundak saudaranya sehingga tinju itu jatuh
ditempat kosong. Saat itu, Touw Tay Kim pun coba
204
menolong diri dengan melomat kebelakang dan selagi ia
melompat tiba2 terdengar suara "trang" sepotong emas
jatuh dilantai dari sakunya.
Thio Coei San menjemput emas itu dan berkata dengan
suara dingin "manusia serakah begitu lihat berkredepnya
emas kau segera menyerahkan Jie Samko kepada orang...."
Tiba2 perkataannya putus ditengah jalan disusul dengan
seruan "ih".
"Toako" katanya sambil mengawasi potongan emas itu,
"lihatlah tapak jari2 ini adalah akibat ilmu Kim kong cie
dari Siauw lim pay"
Song Wan Kiauw meneliti potongan emas itu beberapa
lama dan kemudian menyerah kan kepada sang guru yang
lalu mengawasi dengan penuh perhatian dan membulak
balik nya beberapa kali tapi tidak berkata apa2.
"Soehoa" teriak Thio Coei San "tak bisa salah lagi itulah
ilmu Kim kong cie dari Siauw lim pay. Dalam dunia ini
tiada lain partai yang memiliki ilmu begitu, Soeboe
bukankah begitu?"
Pada saat itu didepan mata Thio Sam Hong kembali
terbayang kejadian dimasa lampau. Ia ingat bagaimana
diwaktu masih kecil ia melayani gurunya. Kak wan Tay Soe
yang bertugas dalam Cong keng kok, bagaimana mereka
telah merobohkan Koen loen Sam sang, bagaimana mereka
kabur dengan diuber oleh pendeta Siauw Him sie, dan
bagaimanaia akhirnya menetap digunung Boe tong san.
Melihat tapak jarak pada potongan emas itu memang tak
bisa dipungkir lagi itu semua adalah akibat perbuatan
seorang Siauw lim sie. Ilmu silat Boe tong pay
mengutamakan Lweekang dan tidak memperhatikan ilmu
keras untuk bisa menghancurkan batu dan sebagainya.
Dalam lain2 partai persilatan mempelajari ilmu Gwa kang
205
(ilmu silat luar) terdapat tenaga telapak tangan, tenaga tinju,
tenaga kaki dan sebagai nya yang hebat tapi tak satu
partaipun yang memiliki tenaga jari tangan yang begitu
dahsyat.
Maka itulah sesudah Thio Coei San menanya dua tiga
kali ia masih juga belum memberi jawaban. Jika ia bicara
terus muridnya tentu tak mau mengerti dan sebagai
akibatnya dua partai besar dalam Rimba Persilatan akan
saling bertempur.
Thio Coei San yang sangat cerdas lantas saja bisa
menebak jalan pikiran gurunya. "See-hoe", katanya pula.
"Apakah dalam Rimba Persilatan bisa muncul seorang luar
biasa, yang tanpa didikan guru, dapat memiliki ilmu Kim
kong cie?"
Thio Sam Hong menggelengkan kepalanya. "Tak
mungkin", jawabnya. "Kim-kongcie adalah hasil
pengalaman, bukan ilmu yang bisa digubah dalam tempo
pendek. Menurut pendapatku, seorang yang paling cerdas
otaknya tak akan bisa memiliki Kim kong cie, tanpa
pimpinan guru". Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata
pula: "Dulu, pada waktu berdiam dalam kuil Siauw lim sie,
aku pun tak tahu, bagaimana jari tangan manusia bisa
mempunyai kekuatan yang begitu luar biasa."
Sesaat itu pada kedua mata Song Wan Kiauw terlihat
sorot yang luar biasa "soehoe," katanya. Dilihat begini, urat
dan tulang sam tee juga dihancurkan dengan ilmu Kimkong
ci.
Mendengara perkataan sang Toako. InLie Hang
menangis pula.
Dilain pihak, Touw Tay Kim mendengar pembicaraan
antara guru dan murid itu dengan hati berdebar2. Beberapa
kali ia sudah membuka mulut, tapi mulutnya tak dapat
206
mengeluarkan suara. Akhirnya, sesudah menenteramkan
hati, ia dapat juga berkata: "Tidak! Tak mungkin orang
Siauw Lim-sie. Belasan tahun aku berdiam dalam kuil
Siauw lim sie tapi belum pernah aku bertemu dengan orang
itu."
Song Wan Kiauw mengawasi Cong piauwtauw itu
dengan sorot mata bersangsi. "Liok tee, antarlah tamu2 kita
keruangan belakang, supaya mereka bisa mengaso,"
katanya. "Bari tahukan Loo-ong supaya ia merawat baik2
semua tamu kita." In Lie Heng mengiakan dan lain
mengajak Touw Tay Kim dan yang lain2 pergi kebagian
belakang kelenteng itu.
Sesudah mengantarkan Piauw tauw dan pegawai Liong
boen Piauw kiak kekamar tamu, In Lie Heng pergi kekamar
Jie Thay Giam. Ia lihat kakak itu rebah dengan paras muka
seperti mayat, sedang napasnya pun terdengar lemah sekali,
"Samko!" serunya dengan suara menyayat hati dan
kemudian sambil menekap muka dengan kedua tangan,
Song Wan Kiauw dan lain2 saudara seperguruannya sedang
duduk diseputar guru mereka, maka iapun segera
mengambil tempat duduk disamping Thio Coei San.
Untuk beberapa lama dengan mata mendelong Thio Sam
Hong mengawasi pohon kwie yang, tumbuh ditengah
cemehe (Red: what is a cemehe?). Ia meng gelengkan
kepala dan berkata dengan suara duka: "Urusan ini sulit
sekali. Siong Kee, bagaimana pendapatmu?"
Diantara tujuh murid Boe tong. Thio Siong Keelah yang
paling berakal budi. Jika Boe tong pay menghadapi soal2
sulit, ialah yang jadi juru pemikir dan biasanya ia selalu
dapat memecahkan cengkeraman sukar. Tak usah
dikatakan lagi, sedari pulangnya Thio Coei San dengan
mendukung Jie Thay Giam yang luka berat, ia sudah
mengasah orak untuk menembus kabut yang meliputi
207
peristiwa itu. Mendengar pertanyaan gurunya, ia lantas saja
menjawab: "Menurut pendapat teecu, bencana ini bukan
bersumber pada Siauw lim-pay, tapi pada To liong to."
"Sie tee." kata Song Wan Kiauw. "Coba ceritakan
pendapatmu se-terang2nya, supaya bisa dipertimbangkan
Soehoe."
"Jie Sam ko adalah seorang yang sangat berhati2 dan
juga pandai bergaul, sehingga tak mungkin ia menanam
bibit permusuhan secara semberono." kata Siong Kee.
"Disamping itu, penjahat besar yang telah dibinasakan Sam
ko hanya memiliki ilmu silat kelas tiga dan sangat dibenci
oleh orang Rimba Persilatan. Maka itu, tak mungkin orang
Siauw lim-pay turunkan tangan jahat untuk membela
penjahat itu."
Thio Sam Hong manggut2kan kepalanya.
"Putusnya urat2 dan tulang2 Sam ko sudah terjadi
ditengah jalan." katanya pula. "sebelum berangkat dari Lim
an, Sam ko memang sudah kena racun yang sangat hebat,
sehingga menurut teecoe, jalan satu2nya bagi kita ialah
pergi ke Lim an untuk menyelidiki, bagaimana Sam ko
kena senjata beracun dan siapa yang melepaskan senjata
itu."
"Benar," kata sang guru. "Racun yang masuk kedalam
badan Thay Giam sangat luar biasa. Sampai sakarang, aku
belum tahu, racun apa adanya itu. Pada telapak tangannya
terdapat tujuh lubang kecil, seperti ditusuk jarum. Dalam
dunia Kangouw, belum pernah kudengar senjata rahasia
yang begitu aneh."
"Peristiwa ini memang aneh bukan main." kata Song
Wan Kiauw. "Menurut pantas, seorang yang bisa
melukakan Sam tee dengan senjata rahasia, mestinya
seorang ahli silat dari kelas satu. Tapi, seorang ahli silat
208
kelas satu biasanya sungkan menggunakan senjata rahasia
keracun."
Semua bungkam. Seluruh ruangan sunyi senyap,
sehingga suara nafas guru dan murid2 itu bisa terdengar
nyata. Selang beberapa saat, kesunyian itu, dipecahkan oleh
Thio Siong Kee "mengapa orang yang bertahi lalat itu
menghancurkan tulang Sam ko?" tanyanya "jika ia sakit hati
dengan sekali pukul saja ia bisa mengambil jiwa Sam ko.
Kalau mau menyiksa mengapa ia tidak menghantam tulang
punggung. Kurasa dipersakitinya Samko bertujuan untuk
mengorek keterangan dari mulut Samko. Keterangan apa
tentang To liong to? Bukankah Tauw Tay Kim memberi
tahukan bahwa salah seorang diantara mereka telah
menyebut To Liong to?"
"Perkataan Boe lim cie coat po to to liong, Ie thian poet
coat sweeie ceng hong sudah tersiar beberapa ratus tahun"
kata Song Wan Kiauw "apakah bisa jadi baru sekarang
benar muncul sebilah To liong to?"
"Bukan beberapa ratus tahun", membantah sang guru,
"perkataan itu baru tersiar pada kira2 tujuh puluh tahun
berselang.Waktu aku masih muda dalam kalangan Kang
ouw tidak pernah terdengar perkataan bagitu."
Sekonyong2 Thio Coei San bangun seraya berkata "apa
yang dikatan Sie ko sedikitpun tak salah. Orang yang
mencelakakan Sam ko mestinya berada didaerah Kanglam,
marilah kita sama2 cari manusia itu. Akan tetapi orang
Siauw lin pay yang sudah turunkan tangan begitu kejam
juga tidak boleh dibiarkan begitu saja."
"Wan Kiauw bagaimana kita harus menghadapi urusan
ini?" tanya Thio Sam Hong sambil menengok kepada
muridnya. Selama berapa tahun yang paling akhir segala
urusan besar dan kecil dalam Boe tong pay memang sudah
209
di serahkan kepada murid itu oleh sang guru. Sebagai
seorang yang pandai bekerja dan selalu bertindak dengan
hati2, sebegitu jauh Wan Kiauw belum pernah
mengecewakan pengharapan gurunya.
Mendengar pertanyaan itu ia lantas saja bangun berdiri
dan segera menjawab dengan sikap hormat, "Soehoe urusan
ini bukan hanya urusan membalas sakit hati Sam tee, tapi
juga bersangkut paut dengan keselamatan nama dan Boe
tong pay. Kalau kita bertindak salah sedikit saja akibatnya
bisa hebat sekali dan mungkin merupakan bencana besar
bagi seluruh rimba Persilatan. Maka itu dalam urusan yang
sangat besar ini tee coe memohon petunjuk dan keputusan
Soehoe sendiri."
"Baiklah", kata Thio Sam Hong "bersama Siauw Kee dan
Lie Heng kau pergi kekuil Siauw lim sie dan menyerahkan
suratku kepada Hong thio Hong hoat Sian soe serta
ceritakan juga se-terang2nya. Kau boleh tambah dengan
permintaan supaya Hong-hoat Siansoe suka memberi
petunjuk2. Dalam urusan Siawlim pay menurut hematku,
kita boleh tak usah mencampuri. Siauwlim pay adalah
sebuah partai persilatan yang memegang keras segala
peraturannya, sedang Hong hoat Siansoe pun seorang yang
sangat dihormati dalam Rimba per silatan. Maka itu, aku
merasa pasti, bahwa soal yang mengenakan Siauw lim pay
dapat di bereskan oleh mereka sendiri."
Ketiga murid itu lantas jaja mengiakan de ngan sikap
menghormat.
"Kalau hanya untuk mengirim sepacuk surat Liok Sietee
sendiri sudah lebih daripada cukup," pikir Thio Siong Kee.
"Mengapa Soehoe memerintahkan juga Toasoeko dan aku
sendiri untuk pergi bersama? Perintah ini pasti mempunyai
maksud yang lebih dalam. Mungkin sekali Soenoe kuatir
Siauw limpay akan rewel dan ingin supaya kita bertiga bisa
210
bertindak dengan mengimbangi selatan,"
Sesaat kemudian benar saja sang guru berkata pula:
"Perhubungan antara partai kita dan Siauw lira pay tidak
begitu erat. Aku adalah seorang murid Siauw lim sie yang
telah kabur dari tersebut. Mungkin sekali karena
memandang usiaku yang sudah lanjut, mereka tidak
menyatroni Boetong san dan menyeretku kembali ke Siauw
lim-sie. Tapi biar bagaimanapun jua, antara kedua partai
masih mempunyai sangkut paut." Ia tertawa dan kemudian
berkata pula. "Kalau sudah tiba di Siauw lim sie kau bertiga
harus bersikap hormat terhadap Hong boat Hong thio. Tapi
kamipun tak boleh bikin merosot derajatnya partai kita."
Ketiga murid itu manggut2kan kepala sebagai janji,
bahwa mereka akan memperhatikan segala pesanan sang
guru. Thio Sam Hong menengok kepada Thio Coei Sam
dan berkata pula: "Coei San, besok kau berangkat ke
Kanglam untuk menyelidiki urusan ini dan dalam segala
hal kau harus mendengar perkataan Jie soeko." Murid ia
lantas saja membungkuk dan mengiakan
"Malam ini perjamuan dibatalkan saja," kata lagi Thio
Sam Hoag. "Satu bulan kemudian kita berkumpul lagi
disini. Andaikata Thay Giam tak bisa disembuhkan, kamu
masih bisa bertemu lagi dengannya." Perkataan yang paling
akhir diucapkan dengan suara gemetar. Didalam hati orang
itu sangat berduka. dan ia tak nyana bahwa sesudah
mempunyai nama besar selama puluhan tahun, dalam usia
sembilan puluh, salah seoreng muridnya yang tercinta
mengalami bencana. In Lie Hong yang cetek air matanya
lantas saja menangis dengan perlahan.
"Pergi tidurlah," kata sang guru seraya mengebas tangan
jubahnya.
"Soehoe," kata Song Wan Kiauw dengan suara
211
menghibur. "Samsoetee adalah seorang mulia yang selalu
menolong sesama manusia. Orang kata manusia yang baik
selalu dipayungi Tuhan Yang Maha Kuasa. Teecoe
percaya, Langit mempunyai Mata dan Samsoetee pasti
akan tertolong jiwanya...." berkata sampai di situ suaranya
parau dan air matanya mengalir turun.
Demikian pendekar2 itu yang biasa menghadapi bahaya
tanpa berkedip sekarang menangis ter-sedu2 karena rasa
duka dan penasaran yang sangat hebat.
Diantara saudara2 seperguruannya Jie Tay Giam dan In
Lie Henglah yang bergaul paling erat dengan Thio Coei
San. Maka itu Thio Coei Sanlah yang paling bergusar dan
kegusaran itu menyesak dalam dadanya sebab tak bisa
dilampiaskan. Sesudah kurang lebih satu jam rebah diatas
pembaringan dengan gelisah per-lahan2 ia bangun dan
berjalan keluar dari kamarnya dengan niatan mencari Touw
Tay Kim dan menghajar Cong piauw tauw itu untuk
melampiaskan kemendongkolannya. Karena kuatir ia
berlaku dengan hati-hati supaya tindakannya tidak didengar
orang.
Waktu tiba di ruangan itu sambil menggendong kedua
tangannya, orang yang bertubuh jangkung itu, bukan lain
dari pada gurunya sendiri. Ia berdiri terpaku dibelakang
satu tiang tanpa berani ber gerak. Ia tahu, bahwa jika
sekarang ia kembali kekamarnya, gerak geriknya pasti
diketahui sang guru. Kalau ia mengaku sejujurnya yaitu
hendak menghajar Tauw Tay Kim, ia pasti bakal dapat
teguran keras.
Beberapa saat kemudian, tiba2 Thio Sam Hong
mengangkat tangan kanannya dan menulis huruf2 ditengah
udara. Dengan memperhatikan gerak2an tangan itu, Coei
San mendapat kenyataan, bahwa yang ditulis gurunya
adalah dua huruf "Song loan" atau Kesedihan kekalutan.
212
Sesudah mengulangi beberapa kali sang guru menulis dua
huruf lain yaitu "To-tok" atau Penganiayaan hebat, diubrak
abrik. Melihat begitu, Thio Coei San lantas saja tahu,
bahwa gurunya sedang menulis "Song loan siap" dari Ong
Hie Cie.
Share:

Arsip Cersil

Cersil Keren

Cersil Terbaru

Pecinta Cersil