Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Jumat, 08 Juni 2018

Pedang Sinar Emas 7

======
baca juga
Keadaan Lam hai Lo mo dan tiga orang kawannya
terdesak hebat. Lam hai Lo mo memang curang dan licik.
Melihat keadaan fihaknya amat terancam dan muridnya
tidak mau membantu bahkan mengajukan pertanyaan yang
amat mengagetkan hatinya, ia lalu memutar tongkatnya
sedemikian rupa sehingga Siauw Yang terpaksa mundur.
Kesempatan ini dipergunakan olehnya untuk melompat
jauh dan melarikan diri sambil memaki Siang Cu.
“Siang Cu, kau murid durhaka, tidak mau membantu
gurumu. Percuma saja kudidik kau sampai bertahun
tahun!”
“Suhu, terangkan dulu siapa adanya Pangeran Kian
Tiong dan Puteri Luilee!” Siang Cu berteriak sambil
mengejar kakek buntung itu.
“Lam hai Lo mo, kau hendak lari ke mana?” bentak
Siauw Yang sambil mengejar juga. Dua orang gadis itu
seakan akan berlumba mengejar Lam hai Lo mo. Akan
tetapi harus diakui bahwa kakek ini sungguhpun kakinya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hanya tinggal sebelah, larinya bukan main cepatnya,
dibantu oleh tongkat bambunya yang seperti menggantikan
kedudukan kakinya yang sudah buntung.
Lam hai Lo mo mempunyai banyak tempat sembunyi di
dalam gua guanya dan karena ia maklum bahwa muridnya
sudah mengetahui semua persembunyian itu, ia lalu lari ke
sebuah gua yang semenjak dahulu ia rahasiakan dari
muridnya. Gua ini dari luar merupakan gua biasa saja, akan
tetapi begitu ia masuk ke dalamnya, sebuah pintu rahasia
dan batu besar menutup lubang masuk dari dalam secara
otomatis.
Dalam waktu yang sama Siauw Yang dan Siang Cu tiba
di depan gua. Dua orang gadis ini tanpa banyak cakap dan
tanpa berunding lebih dulu, segera menggunakan tenaga
mendorong batu besar yang menutup pintu gua. Dengan
pengerahan tenaga bersama, dua orang dara perkasa itu
berhasil mendorong batu besar itu menggelinding ke
samping. Akan tetapi berbareng dengan menggelindingnya
batu penutup lubang itu, terdengar suara keras dan dari
gunung di atas gua itu berhamburan jatuh batu batu yang
menggelinding dari atas!
Baiknya Siauw Yang dan Siang Cu amat gesit. Melihat
ancaman hebat ini mereka cepat melompat ke dalam gua
sehingga terhindarlah mereka dari timpaan batu yang
banyak itu. Akan tetapi, ternyata bahwa gua itu mempunyai
empat lorong atau terowongan yang amat gelap. Tanpa
banyak cakap lagi Siauw Yang mengejar melalui
terowongan sebelah kiri sedangkan Siang Cu yang belum
pernah memasuki gua persembunyian gurunya ini lalu
mengejar ke kanan.
Sementara itu, dengan bantuan isterinya, Bun Sam
dengan mudah membereskan tiga orang lawan nya, yakni
San thouw hud, Toat Beng sian, dan Koai kiam san. Tiga
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
orang kakek ini setelah ditinggalkan secara pengecut sekali
oleh Lam hai Lo mo, menjadi hilang semangat mereka.
Gerakan mereka menjadi lambat sekali dan pedang di
tangan Bun Sam bagaikan sinar kilat menyambar nyambar.
Terdengar pekik susul menyusul ketika tiga orang kakek itu
seorang demi seorang roboh terkena serangan pedang Oei
giok kiam yang dimainkan oleh Bun Sam secara istimewa
sekali. Nyawa mereka menyusul empat orang kawan yang
sudah pergi terlebih dulu. Dengan tewasnya tiga orang ini
maka seluruh pengurus Sam hiat ci pai yang sembilan orang
banyaknya itu hanya tinggal dua orang lagi, yakni Lam hai
Lo mo dan Tung hai Sian jin, sedangkan yang tujuh orang
telah tewas.
Akan tetapi, setelah berhasil merobohkan tiga orang
pengeroyoknya itu, Bun Sam mulai lemas dan pengaruh
luka luka di tubuhnya membuat matanya berkunang
kunang dan kepalanya pening.
“Syukur kau selamat.... katanya kepada Sian Hwa sambil
tersenyum, “akan tetapi, anak kita.... Tek Hgng....” dengan
tindakan limbung Raja Pedang ini menghampiri tubuh Tek
Hong yang masih menggeletak di atas pasir. Akan tetapi ia
telah lelah sekali dan tergulinglah Bun Sam di sebelah
puteranya dalam keadaan pingsan.
Sian Hwa menjadi bingung sekali. Apalagi ketika ia
melihat keadaan Tek Hong yang seperti sudah tak
bernyawa lagi.
“Siauw Yang.... !” teriaknya keras keras memanggil
puterinya yang tadi mengejar Lam hai Lo mo. Akan tetapi
yang datang bukan Siauw Yang, melainkan Siang Cu.
Kalau Siauw Yang masih penasaran dan mencari cari jejak
Lam hai Lo mo di dalam terowongan yang panjang itu
adalah Siang Cu yang lebih mengenal keadaan di situ, telah
dapat menduga bahwa suhunya itu telah berhasil melarikan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
diri keluar dari gua di balik bukit dan tentu suhunya itu
telah melarikan diri dengan perahu tanpa terlihat oleh
mereka. Maka Siang Cu keluar lebih dulu dari pada Siauw
Yang.
Melihat Siang Cu berlari mendatangi, Sian Hwa berkata
dengan suara bingung.
“Gwat Eng anakku yang baik, di mana adanya Siauw
Yang?”
“Aku tidak tahu ke mana perginya, akan tetapi suhu
sudah pergi jauh dari pulau ini. Dan harap jangan panggil
aku dengan lain nama karena namaku adalah Ong Siang
Cu,”
Mendengar jawaban yang ketus ini Sian Hwa
mengerutkan kening.
“Kau agaknya masih belum percaya kepadaku? Belum
percaya akan penuturanku bahwa kau adalah puteri dan
Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee? Tunggulah aku
mengambil surat peninggalan ayah mu....” Sian Hwa
tergopoh gopoh mengambil surat itu yang berada di saku
baju suaminya, ia perlu meyakinkan gadis ini karena kalau
sampai gadis ini ragu ragu dan kemudian membela suhunya
yang jahat sedangkan suaminya masih pingsan, benar benar
merupakan hal yang hebat.
Siang Cu menerima surat itu dan ketika ia membaca
surat peninggalan Pangeran Kian Tiong yang ditujukan
kepada Song Bun Sam, hatinya berdebar. Akan tetapi ia
segera memasukkan surat itu ke dalam saku bajunya sambil
berkata,
“Sebelum aku bicara dengan suhu, hatiku belum yakin
benar?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sian Hwa tercengang. Kekasaran sikap gadis ini melukai
perasaannya. “Kau benar benar tidak percaya kepada kami
keluarga Song?”
Siang Cu telah menghampiri Tek Hong dan berlutut di
dekat tubuh pemuda itu. Ia memeriksa keadaan Tek Hong
dengan penuh perhatian. Hanya dengan memandang ke
arah jidat dan wajah pemuda itu, tahulah dia bahwa
pemuda ini terkena racun ular merah yang amat berbahaya.
Akan tetapi mendengar seruan nyonya itu, ia memandang
dan berkata ketus,
“Bagaimana aku bisa percaya kepada keluarga yang
sudah begitu kejam menyiksa seorang tua sehingga suhuku
menjadi seorang yang bercacad seumur hidupnya?”
“Gwat Eng....! Kau salah duga....” kata Sian Hwa, akan
tetapi gadis baju merah itu telah memondong tubuh Tek
Hong dan membawanya melompat jauh.
“Tunggu, kau hendak membawa ke mana anakku itu?”
pertanyaan ini diajukan terdorong oleh rasa heran yang
jauh lebih besar daripada perasaan khawatir.
“Dia terluka parah, kalau tidak lekas mendapat obat
penawar racun, takkan tertolong jiwanya.”
“Jangan bawa dia pergi. Aku tidak percaya melihat
sikapmu yang kasar!” Sian Hwa melompat mengejar. Akan
tetapi gerakan Siang Cu lebih cepat dan dalam beberapa kau
lompatan saja ia telah pergi jauh.
“Percaya atau tidak bukan urusanku. Pendeknya aku
tidak bisa melihat Tek Hong tewas begitu saja. Aku harus
menolongnya.”
Sian Hwa hendak mengejar terus, akan tetapi teringat
akan suaminya, ia menjadi bingung dan tidak tega
meninggalkan suaminya seorang diri.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Nona, tunggu dulu!” teriaknya. “Mengapa kau lakukan
hal itu? Mengapa kau berkeras hendak menolong Tek
Hong?”
Dari jauh Siang Cu menjawab, “Aku cinta padanya!”
Jawaban yang keras dan terus terang ini benar benar
membuat Sian Hwa terpukul hatinya dan ia berdiri bengong
memandang ke arah gadis baju merah yang berlari cepat
sekali sambil memondong tubuh Tek Hong, ia merasa tidak
ada gunanya mengejar Siang Cu yang demikian cepat
larinya. Setelah tertegun sampai lama, nyonya ini lalu
berseru memanggil puterinya berkali kali.
“Siauw Yang.... ! Kau lekas kemarilah!”
Akan tetapi ketika Siauw Yang muncul keluar dari gua
setelah dengan sia sia mencari Lam hai Lo mo, Siang Cu
telah pergi jauh dengan Tek Hong mempergunakan sebuah
perahu.
“Siauw Yang, Tek Hong telah dibawa pergi oleh Gwat
Eng, dan ayahmu....” kata Sian Hwa dengan wajah pucat,
kelihatannya bingung sekali.
Siauw Yang terheran mendengar bahwa kakaknya
dibawa pergi oleh Siang Cu atau Gwat Eng, akan tetapi
lebih dulu ia berlutut mendekati ayahnya dan bersama
ibunya ia memeriksa keadaan ayahnya. Keduanya menjadi
lega ketika melihat bahwa Bun Sam pingsan terutama
karena lelah dan mengeluarkan banyak darah, sedangkan
luka lukanya, biarpun yang terjadi karena pukulan Sam hiat
ci hoat, tidak berbahaya. Semua ini berkat dari latihan yang
mendalam dari Raja Pedang itu sehingga tubuhnya amat
kuat dan tenaga lweekangnya telah sangat tinggi. Setelah
mendapat kenyataan bahwa keadaan ayahnya tidak
mengkhawatirkan, baru Siauw Yang bertanya kepada
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ibunya, akan tetapi lebih dulu ia memasukkan sebutir pel
pembersih darah dalam mulut ayahnya.
“Ibu, mengapa dia membawa pergi Hong ko ?”
“Entah.... dia bilang bahwa nyawa Hong ji amat
terancam oleh racun pukulan, dan takkan tertolong kalau
tidak lekas lekas diobati. Ia memaksa membawanya pergi
untuk mengobatinya.” Sian Hwa merasa tidak enak untuk
menceritakan tentang pengakuan cinta gadis baju merah itu
terhadap Tek Hong.
Mendengar penuturan ibunya, Siauw Yang menarik
napas panjang dan berkata, “Orang itu benar benar aneh
sekali. Ia ganas dan jahat, pantas menjadi murid Lam hai
Lo mo, akan tetapi ada sesuatu yang aneh padanya.”
“Dia ganas dan sikapnya kasar karena semenjak kecil
dididik oleh Lam hai Lo mo, akan tetapi gerak geriknya
gagah seperti ayah bundanya.”
“Apakah ibu yakin benar bahwa dia itu benar benar anak
Pangeran Kian Tiong yang diculik orang?”
“Tak salah lagi, tentu dia puteri Pangeran Kian Tiong.
Kasihan sekali nasib gadis itu....” kata Sian Hwa dan
kembali air matanya berlinang karena nyonya ini teringat
akan Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee yang baik hati
dan yang terbunuh oleh kakek buntung. Sekarang ia tidak
ragu ragu lagi bahwa pembunuh mereka itu bukan lain
tentulah Lamhai Lo mo.
“Yang mengherankan hatiku, bagaimana dia bisa
mengenal Hong ko dan mengapa pula dia begitu bersusah
payah hendak mengobati Hong ko....” kata Siauw Yang
sambil berpikir keras, kemudian katanya seperti kepada diri
sendiri, “tak dapat diragukan lagi bahwa dahulu mereka
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tentu pernah bertemu dan agaknya ada terjadi sesuatu di
antara mereka....”
Diam diam Sian Hwa memperhatikan puterinya, Hm,
kalau gadis puterinya ini sudah dapat menarik kesimpulan
sedemikian jauhnya, itu hanya berarti bahwa puterinya
inipun sudah pernah mengalami sesuatu yang mengesankan
hatinya, dan agaknya takkan jauh meleset dugaannya
bahwa puterinya inipun tentu “ada apa apanya” dengan
Liem Pun Hui.
Percakapan mereka terhenti ketika Bun Sam terdengar
mengeluh dan pendekar ini siuman dari pingsannya. Begitu
siuman, ia perlahan lahan bangkit, duduk dan bertanya,
“Bagaimana Lam hai Lo mo?”
“Dia dapat melarikan diri, ayah,” kata Siauw Yang.
“Dan di mana Tek Hong?” Bun Sam menengok ke
tempat di mana tadi ia meletakkan puteranya.
“Dia dibawa pergi oleh Siang Cu untuk diobati karena
lukanya amat berbahaya,” jawab Siauw Yang lagi.
“Siang Cu? Siapa dia?”
Siauw Yang lalu menuturkan pertemuannya dengan
murid Lam hai Lo mo itu dan menuturkan semua
pengalamannya di rumah Pangeran Ciong. Bun Sam
mendengarkan dengan penuh perhatian dan akhirnya ia
berkata,
“Sudah kuduga bahwa Pangeran Ciong itu tentu bukan
orang baik baik. Sudah semestinya ia binasa. Akan tetapi
tentang gadis itu.... benar benarkah dia Kian Gwat Eng
puteri Pangeran Kian Tiong dan Luilee?”
“Tidak salah lagi, aku Sudah yakin benar akan hal itu.”
Sian Hwa lalu menuturkan dengan jelas tentang Siang Cu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi ia segera menunda penuturannya ketika melihat
wajah suaminya berkerut dan pucat.
“Kau pucat sekali....”
Bun Sam menarik napas panjang. “Lam hai Lo mo lihai
dan jahat sekali. Bekas pukulan jari tangannya amat
berbahaya dan aku amat khawatir akan keadaan putera
kita. Aku sendiri yang terkena pukulan itu, kiraku
sedikitnya tiga hari aku harus beristirahat, mengatur napas
dan membersihkan darah di pulau ini. Aku tidak bisa
mencari Tek Hong...” Bun Sam nampak lelah sekali.
“Sudahlah, jangan kau banyak bicara dan banyak
berpikir. Tek Hong sudah dibawa oleh Gwat Eng dan aku
percaya bahwa gadis itu tentu mewarisi kemuliaan hati
orang tuanya. Kau beristirahatlah, biar kita tinggal tiga hari
di tempat ini!” Isteri yang setia dan mencintai ini lalu
membantu Bun Sam berdiri dan digandengnya suami yang
terluka ini menuju ke gua bekas tempat tinggal Lam hai Lo
mo di mana Bun Sam akan merawat dirinya.
Sian Hwa keluar kembali menemui puterinya. Ia melihat
Siauw Yang duduk termenung dengan sepasang alis
bersambung.
Ibu yang bijaksana ini dapat menduga mengapa
puterinya bermenung dengan wajah muram.
“Siauw Yang, ayahmu hendak beristirahat dan
memulihkan kesehatannya di Pulau Sam liong to ini. Biar
aku yang menjaganya di sini, kau boleh pergi untuk
menyelidiki keadaan Pun Hui. Kalau dia selamat,
syukurlah. Dan setelah kau berhasil, tak usah kau kembali
ke sini, terus saja kau kembali lebih dulu ke Tit le. Kamipun
akan segera kembali ke sana karena rumah sudah terlalu
lama kita tinggalkan.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Seketika itu juga, wajah cantik yang tadinya muram itu
menjadi terang berseri, seakan akan bayang bayang gelap
tertimpa sinar matahari.
“Baik, ibu. Aku akan mengerjakan perintahmu,”
jawabnya dengan nada suara seorang anak penurut. Diam
diam Sian Hwa menjadi geli melihat sikap Siauw Yang ini.
Biasanya, semenjak kecil, kalau disuruh apa apa, gadis ini
mengomel dan malas malasan, akan tetapi sekarang ia
demikian penurut! Sian Hwa memang suka melihat Pun
Hui, dan dia pernah mengalami buaian cinta kasih, maka
diam diam ia merasa amat terharu menyaksikan betapa
puterinya pada saat itu sama benar dengan keadaannya
ketika masih muda, ketika ia terpaksa berpisahan dengan
Bun Sam yang pada masa itu masih merupakan seorang
pemuda yang telah menempati ruang hatinya.
Setelah berpamit kepada ayah bundanya dan mendapat
ijin persetujuan mereka, berangkatlah Siauw Yang
meninggalkan Pulau Sam liong to, untuk mencari Pun Hui.
Ia tahu ke mana harus menyusul Bi sin tung Thio Leng Li,
gadis puteri Sin tung Lo kai Thio Houw yang secara aneh
sekali telah membawa lari Pun Hui. Diam diam ia merasa
heran, akan tetapi rasa khawatirnya lebih besar lagi, karena
memang peristiwa yang dilihatnya amat mengherankan dan
mencurigakan. Bagaimana Leng Li bisa merayakan
pernikahan dengan Pangeran Ciong, dan mengapa
kemudian puteri Ketua Pengemis itu menolong Pun Hui
dan membawanya lari? Dengan cepat Siauw Yang
melakukan perjalanan dan mendarat di pantai Tiongkok,
lalu menuju ke tempat di mana Perkumpulan Pengemis
Tongkat Sakti Merah berpusat, yakni di sebelah barat
saluran.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kita tinggalkan dulu Siauw Yang dan mari kita
mengikuti perjalanan Siang Cu yang membawa pergi Tek
Hong. Pemuda itu masih pingsan. Akibat pukulan Sam hiat
ci hoat yang dilakukan oleh Lam hai Lo mo tepat mengenai
jidatnya, meninggalkan tanda bekas jari tiga buah yang
merah warnanya. Kalau saja Tek Hong tidak
mempergunakan tenaga Kim kong ketika ia dahulu dipukul
oleh Lam hai Lo mo, tentu sekarang ia telah tewas. Pukulan
Sam hiat ci hoat memang amat jahat. Pukulan ini
mengandung hawa racun yang berasal dari ular ular merah.
Apalagi dilakukan oleh Lam hai Lo mo sendiri, pencipta
dari ilmu pukulan mengerikan itu, tentu saja jauh lebh hebat
dari pada apabila pukulan ini diakukan oleh anggauta
anggauta lain dari Sam hiai ci pai.
Biarpun Siang Cu sendiri belum pernah mempelajari
ilmu pukulan ini, namun ia pernah mendengar dari
suhunya tentang kelihaian racun ular merah. Pernah Lam
hai Lo mo menuturkan kepadanya bahwa racun ular merah
itu adalah racun yang pengaruhnya berbahaya sekali dan
yang tidak dapat disembuhkan oleh pengobatan apapun
juga kecuali oleh obat katak putih yang berada di daerah di
mana ular ulur merah itu hidup. Dan Siang Cu tahu di
mana daerah ular merah itu, yakni di daerah Tiongkok,
daerah dingin yang sering kali menjadi tempat penuh
dengan buku buku salju. Pernah satu kali ia diajak oleh
suhunya ke daerah ini di mana suhunya menangkap seekor
ular merah untuk diambil racunnya.
Akan tetapi, tetap saja hati Siang Cu ragu ragu dan
khawatir sekali. Selama dua hari di daerah itu dengan
suhunya, biarpun suhunya sudah mencari ke sana ke mari
dengan bantuannya, mereka tak dapat menemukan
seekorpun katak putih. Menurut penuturan suhunya, di
seluruh daerah bersalju itu, belum tentu ada tiga ekor katak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
putih paling banyak hanya sepasang dan itupun takkan
mudah didapatkan orang. Katak itu bersembunyi di bawah
salju dan berbeda dengan katak katak biasa, kalau bertelur,
di antara seribu telur, paling banyak hanya ada sepasang
atau dua ekor saja yang menetas.
Siang Cu memondong tubuh Tek Hong sambil berlari
cepat, ia telah berada di daerah itu dan pikirannya kusut,
tubuhnya lemas dan lelah. Telah sepekan lamanya ia
melakukan perjalanan sambil memondong tubuh Tek Hong
dan selama waktu ini ia lupa makan lupa tidur, pikirannya
penuh dengan kegelisahan melihat wajah pemuda yang
dikasihinya itu! Memang, perasaan yang paling agung dan
kuat di dunia ini adalah perasaan kasih sayang. Dengan
kasih sayang orang dapat melakukan apa saja, bahkan
dengan kasih sayang orang dapat melakukan hal hal yang
nampaknya tak mungkin. Orang yang biasa dianggap
sebadai seorang mulia karena cinta kasih dapat melakukan
hal yang serendah rendahnya, sebaliknya orang yang biasa
dianggap seorang rendah dapat melakukan hal yang
semulia mulianya karena kasih sayang.
Perasaan cinta kasih yang bersarang di dalam hati Siang
Cu membuat gadis ini sedemikian kuat sehingga ia tahan
untuk tidak makan dan tidak tidur selama sepekan, terus
menerus melakukan perjalanan sambil memondong tubuh
pemuda itu! Tentu saja hal ini takkan mungkin ia lakukan
kalau saja ia tidak dibikin kuat oleh kasih sayangnya
terhadap pemuda ini. Berkali kali terdengar ia mengeluh
dan menyebut nyebut nama pemuda itu dalam bisikan sayu.
“Tek Hong.... jangan khawatir, sayang.Mati atau hidup,
kau takkan kutinggalkan....”
Cinta kasihnya terhadap Tek Hong makin mendalam
setelah kini ia membuktikan sendiri betapa gagah dan mulia
adanya keluarga pemuda ini. Tentu saja ia percaya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sepenuhnya akan penuturan Sian Hwa dan kini ia tahu
betapa jahat adanya kakek buntung yang mengaku menjadi
gurunya dan yang berlaku seakan akan amat sayang
kepadanya, ia percaya bahwa gurunya itulah yang
pembunuh orang tuanya, karena orang seperti gurunya
dapat melakukan hal apapun juga. Ia hanya belum
mendapat keyakinan dan kepuasan kalau belum mendengar
pengakuan dari mulut kakek buntung itu sendiri.
Tiba tiba Siang Cu merasa pemuda itu bergerak gerak
dalam pondongannya. Bukan main girangnya ketika ia
melihat pemuda itu telah siuman dan membuka matanya
dengan penuh keheranan.
“Kau.... ?” Tek Hong berkata lemah. “Siang Cu….
apakah aku sudah mati dan bertemu dengan kau di sorga?”
Pemuda itu menggerakkan leher memandang ke kanan kiri
dan tidak amat menggelikan kalau ia mengira berada di
surga karena tempat itu memang luar biasa sekali. Belum
pernah ia menyaksikan tempat seperti daerah itu. Sana sini
putih belaka, apalagi tertimpa sinar matahari yang redup.
Pohon pohon terbungkus salju, demikian pula tanah dan
bukit bukit sehingga orang yang datang ke tempat itu akan
merasa seperti dalam mimpi.
“Tidak, Tek Hong Kita masih hidup. Sudah kuatkah kau
untuk turun?”
Tek Hong baru sadar bahwa masih di pondong oleh
gadis itu. Maka ia segera menggerakkan tubuh dan turun
dengan hati berdebar keras. Kini ia teringat akan semua
pengalamannya maka ia menjadi makin terheran heran,
“Siang Cu, aku ingat sekarang….” akan terapi ia haru
menghentikan kata katanya karena tiba tiba ia menjadi
limbung dan pandangan matanya berputar putar, tubuhnya
lemas sekali. Siang Cu sigap memeluknya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tek Hong, kau perlu beristirahat, kau terluka hebat.
Mari kita duduk….” Ia lalu menggandeng pemuda itu dan
mereka duduk di atas akar pohon besar yang tertutup salju.
Melihat tubuh pemuda itu masih lemas sekali. Siang Cu
tidak berani melepaskannya dan dengan lengan kiri
memeluk punggung Tek Hong, ia menahan tubuh pemuda
itu.
“Bagaimana rasanya? Peningkah kepalamu? Sakitkah?”
tanya SiangCu dengan gelisah sekali.
Tek Hong membuka matanya dan ia tersenyum lemah.
“Siang Cu, tidak ada penderitaan apapun juga yang akan
dapat mengurangi kebahagiaanku melihat kau sendiri yang
menolong dan merawatku, Terima kasih Siang Cu, terima
kasih. Tak salah pilihan hatiku, kaulah gadis termulia di
dunia ini.”
“Hush....” kata Siang Cu dan tanpa disadari nya, dua
titik air mata menetes dari sepasang matanya yang indah.
“Aku harus mencarikan obat untuk lukamu yang amat
berbahaya itu.... ”
Kembali Tek Hong tersenyum.
“Aku ingat Sekarang. Aku dan ayah dikepung oleh Lam
hai Lo mo dan kawan kawannya. Mereka lihai sekali, aku
terkena pukulan Lam hai Lo mo dan kepalaku serasa
dibakar.... Tiba tiba ia melompat bangun dan hampir roboh
kalau Siang Cu tidak cepat cepat menangkap lengannya dan
membujuknya untuk duduk kembali.
“Apa yang terjadi dengan ayahku?” Ia memegang lengan
Siung Cu erat erat, “Siang Cut bagaimana ayah.... ?? “
“Ayahmu selamat, hanya terluka ringan sekarang
bersama ibumu dan adikmu berada di Pulau Sam liong to....

TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mendengar ini. Tek Hong berseru girang dan
menjatuhkan diri berlutut di depan Siang Cu.
“Siang Cu, kau telah menolong ayah....”
Siang Cu mengangkat bangun pemuda itu dan mengelus
elus rambut Tek Hong yang menjadi putih terkena salju
ketika ia berlutut tadi.
“Tidak, Tek Hong. Bagaimana seorang rendah seperti
aku dapat menolong ayahmu? Dia terlampau gagah bagi
suhu dan kawan kawannya kemudian ibu dan adikmu
datang. Keluargamu memang orang orang luar biasa dan
kepandaian mereka bukan lawan suhu dan kawan
kawannya. Semua kawan suhu, kecuali suhu sendiri, Tung
hai Sian jin, dan puteranya, telah tewas di dalam tangan
ayah, ibu, dan adikmu!”
Tek Hong nampak bingung. Kepalanya terasa pening
sekali.
“Akan tetapi kau.... bagaimana kau dapat membawaku
ke sini.... ?” Ia terpaksa menghentikan kata katanya lagi dan
segera memegangi kepalanya yang serasa akan pecah.
“Bagaimana rasanya, Tek Hong? Sakitkah?”
Siang Cu segera memijit mijit kepala pemuda itu.
“Jangan kau terlalu banyak bicara, terlalu banyak
berpikir.... kau terluka hebat....”
“Ya, terluka oleh suhumu.... Siang Cut agaknya aku
takkan kuat menahan.... aduh....” Dengan lemas pemuda
itu berusaha memperkuat tubuhnya akan tetapi ia tidak
dapat menahan serangan rasa sakit yang hebat sehingga
sambil mengeluarkan keluhan panjang, kembali ia jatuh
pingsan dalam pelukan Siang Cu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Gadis ini menjadi bingung sekali dan menangis sambil
memanggil manggil nama pemuda itu. Akan tetapi ia segera
dapat mengatasi perasaannya. Dengan hati hati ia
merebahkan tubuh Tek Hong di atas tanah yang tertutup
salju. Cepat ia membuka mantelnya dan dibentangkan
mantel itu di atas salju, lalu ia memindahkan tubuh Tek
Hong di atas mantel itu. Tubuhnya terserang hawa dingin
ketika ia membuka mantel dan hanya memakai pakaian
yang tipis dan ringkas. Akan tetapi ia tidak memperdulikan
semua ini. Sambil mencabut pedangnya. Siang Cu lalu
mulai mencari katak putih yang akan menolong nyawa
kekasihnya.
Ia diberi tahu oleh suhunya bahwa ular ular merah yang
terdapat di daerah ini, bersarang di dalam lubang lubang itu
tertutup oleh salju, akan tetapi mudah dilihat karena
nampak kemerahan seakan akan di bawah salju terdapat
gumpalan darah. Itulah bisa dari ular yang dipasang di
sekitar mulut lubang untuk menghalau pergi musuh yang
hendak memasuki lubang sarang mereka. Dan untuk
mencari katak putih, demikian kata suhunya, harus dicari di
dekat sarang ular ular merah itu.
Karena di tempat sekitar itu ia tidak mendapatkan
lubang sarang ular ular merah. Siang Cu terpaksa
meninggalkan Tek Hong dan pergi agak jauh, memutari
sebuah bukit kecil yang tertutup salju. Akhirnya dengan
girang ia melihat tanda tanda merah di atas tanah bersalju,
tanda tanda bahwa di tempat itu terdapat ular ular merah.
Daerah ini penuh dengan bukit bukit salju kecil, merupakan
tempat yang amat indah seperti dalam mimpi, akan tetapi
sunyi sekali dan seperti mati, tidak ada pergerakan
sedikitpun juga. Angin yang bertiup hanya dapat dirasakan,
karena tidak ada benda yang dapat digerakkan oleh angin,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kecuali debu salju yang berhamburan seakan akan tepung
putih yang disebar dan atas.
Setelah mencari ke sana ke mari, tiba tiba Siang Cu
melihat tanda tanda merah di bawah sebatang pohon besar
yang sudah berobah menjadi pohon kecil karena tertutup
seluruhnya oleh salju. Siang Cu menjadi girang karena
itulah mulut lubang sarang ular ular merah. Cepat ia
menghempas hempaskan kedua kakinya sambil
mengerahkan tenaga di sekeliling lubang itu. Demikianlah
cara untuk memaksa ular ular itu keluar.
Betul saja, tak lama kemudian, lubang yang tertutup oleh
salju itu tiba tiba terbuka dan uap kemerahan mengebul
keluar dari lubang itu. Itulah hawa dari bisa ular yang sudah
mulai keluar, mengirim dulu bisanya untuk membinasakan
musuh. Kemudian, ular pertama keluar, disusul oleh kawan
kawannya yang jumlahnya semua ada enam ekor ular ular
merah. Ular ini kulitnya berkilat kemerahan, hanya di
bagian muka saja putih dan lidahnya juga putih. Akan
tetapi ketika ular ular ini mendesis, muka dan lidah berubah
menjadi merah seperti darah, jauh lebih merah dari pada
warna tubuhnya.
Siang Cu tahu dari suhunya bagaimana caranya untuk
mengetahui di mana gerangan adanya katak putih di sekitar
tempat itu. Kalau katak itu tempatnya berada di sebelah
utara lubang sarang ular, tentu ular ular itu tidak berani
maju ke utara demikian pula kalau berada di jurusan lain. Ia
berdiri di sebelah selatan lubang dan ular ular itu ketika
melihatnya, lalu serentak mengejar ke arahnya dengan
suara mendesis desis. Ular Ular yang panjangnya ada tiga
kaki itu berlenggak lenggok dan gerakan mereka cepat
sekali.
Siang Cu maklum sekali kena gigit saja, ia akan tewas.
Maka melihat ular ular itu berani menyerangnya dan ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berdiri di sebelah selatan lubang, ia tahu bahwa katak putih
tidak terdapat di sebelah selatan, ia cepat melompat ke
sebelah kanan atau sebelah timur lubang Namun ular ular
itu tetap mengejarnya Siang Cu lalu melompat lagi ke
kanan, kini berada di sebelah utara lubang.
Melihat betapa ular ular itu tetap saja mengejarnya,
tahulah dia bahwa di jurusan selatan, dan utara tidak
terdapat katak putih. Tentu di sebelah barat, pikirnya, akan
tetapi ia masih belum puas dan cepat melompat lagi ke
kanan, kini berdiri di sebelah barat lubang, ia menduga
bahwa ular ular itu seperti takut menghadapi sesuatu akan
mundur atau masuk kembali ke dalam lubang. Akan tetapi
bukan main heran dan kecewanya ketika melihat betapa
ular ular merah itu tetap saja mengejarnya dengan cepat
sekali.
Hal ini hanya boleh diartikan bahwa di sekitar tempat itu
tidak terdapat katak putih! Bukan main marah hati Siang
Cu.
“Ular ular bedebah!” makinya kecewa sekali. Pedangnya
berkelebat dan putuslah leher dua ekor ular yang terdekat
dengannya. Dengan marah Siang Cu bermaksud
membunuh semua ular itu, akan tetapi tiba tiba terdengar
orang berkata,
“Jangan bunuh.... ! Sayang bahan obat demikian
banyaknya dibuang sia sia!”
Siang Cu terkejut dan cepat membalikkan tubuh sambil
melompat menjauhi ular ular itu. Ia melihat seorang kakek
gemuk dengan potongan tubuh seperti patung Jilaihud,
berwajah ramah sehingga mulut dan matanya seperti
tertawa tawa. Kakek ini datang menghampiri ular ular itu
lalu mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya yang
penuh tambalan. Ternyata bahwa benda itu adalah seekor
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
katak berkulit putih. Sebelum Siang Cu hilang kaget dan
herannya, kekek itu melemparkan katak putih itu di tengah
tengah ular yang tinggal empat ekor banyaknya itu.
Untuk sesaat ular ular itu seperti bingung dan ketakutan,
akan tetapi setelah mereka mendapat kenyataan bahwa
katak putih itu tidak bergerak seperti mati, mereka lalu maju
menyerang dan menggigit! Kalau dibicarakan memang
aneh sekali. Empat ekor ular itu menggigit dan empat
jurusan, dalam waktu bersamaan dan kini mereka masih
menggigit katak putih itu. Akan tetapi setelah menggigit,
mereka tak dapat melepaskan gigitan lagi seakan akan gigi
gigi mereka menempel dan tak dapat dibuka kembali Tubuh
empat ekor ular itu berkelojotan dan sebentar saja mereka
tak dapat bergerak, lemas dan mati! Namun mulut mereka
masih menempel pada tubuh katak.
Siang Cu melihat katak putih itu, berdebar hatinya dan ia
melangkah maju hendak mengambil katak obat itu.
“Jangan ganggu! Biarkan racun mereka dihisap habis!”
kakek gemuk itu berkata mencegahnya sehingga Siang Cu
yang tidak mengerti menjadi ragu ragu dan menahan
langkahnya.
Tak lama Kemudian, kakek itu tertawa bergelak
melangkah maju dan melepaskan katak itu dari gigitan
empat ekor ular merah. Ternyata oleh Siang Cu bahwa ular
ular itu telah mati dengan tubuh kering seakan akan seluruh
darahnya telah dihisap oleh katak itu dan katak itu
sendiripun ternyata adalah katak yang sudah tak bernyawa
lagi.
“Ha, ha, ha! Bahan obat datang sendiri tanpa dicari!
Benar benar murah, tak usah membahayakan nyawa. Nona,
terima kasih, kau baik sekali. Telah lama aku mencari cari
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ular ular ini dan kalau mereka berada di dalam sarangnya,
bagaimana aku dapat memancing mereka keluar?”
“Mengapa kau membiarkan katak itu digigit?”
“Kau tidak tahu, nona Gigitan mereka itu membuat
semua bisa mereka dihisap oleh katak ini dan karenanya
khasiat katak ini lebih hebat lagi. Bisa itu setelah terkumpul
di dalam tubuh katak berobah menjadi obat. Sekarang,
khasiat katak itu cukup untuk mengobati sepuluh orang
yang tergigit oleh segala binatang berbisa. Ha, ha, ha, aku
beruntung sekali!”
Akan tetapi kakek itu terpaksa menghentikan ketawanya
ketika tiba tiba tubuh Siang Cu berkelebat dan tahu tahu
katak yang dipegangnya telah berpindah ke tangan gadis
berbaju merah itu. Kakek itu terkejut melihat gerakan gadis
itu yang luar biasa sekali cepatnya, sebaliknya Siang Cu
juga terkejut karena ternyata bahwa kakek itu sama sekali
tidak mengerti ilmu silat atau setidaknya amat lemah, benar
benar di luar dugaannya semula. Tadinya Siang Cu mengira
bahwa kakek ini tentulah seorang luar biasa yang
berkepandaian tinggi akan tetapi ternyata tidak demikian
sama sekali.
“Nona, ternyata kau seorang kang ouw yang tidak kenal
aturan!”
Siang Cu tertegun mendengar teguran ini.
“Apa katamu, orang tua? Mengapa kau menganggap aku
seorang kang ouw yang tidak kenal aturan?” tanya gadis itu
marah.
“Gerakanmu seperti kilat cepatnya, tanda bahwa kau
seorang ahli silat dan seorang kang ouw, akan tetapi kau
merampas barang milik seorang kakek yang lemah, itu
tanda bahwa kau seorang kang ouw tidak kenal aturan!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Merah wajah Siang Cu, akan tetapi ia adalah seorang
gadis yang keras hati, maka jawabnya,
“Kakek yang baik, di dalam dunia kang ouw terdapat
peraturan bahwa siapa yang kuat dialah yang berhak
memiliki benda yang diperebutkan. Kalau kau memang
kuat, cobalah kaurampas kembali benda ini dari tanganku.”
Kakek yang tubuhnya seperti patung Jilaihud itu tertawa,
lalu bernyanyi,
“Mengerti akan orang lain adalah waspada.
Mengerti akan diri sendiri lebih bijaksana.
Mengalahkan orang lain mengandalkan kekuatan belaka.
Mengalahkan diri sendiri barulah gagah perkasa.
Mengenal batas kecukupan berarti kaya bahagia.
Melakukan sesuatu dengan memaksa berarti nekadmembuat.”
ujar Nyanyian ini adalah sebagian daripada ujar Nabi
Locu. Akan tetapi Siang Cu tidak mau mengambil pusing
akan semua sindiran ini.
“Kakek, apapun yang hendak kaukatakan aku tidak
ambil perduli dan cukup kauketahui bahwa aku sengaja
merampas katak putih ini untuk mengobati seorang yang
terkena bisa ular merah. Kalau sudah selesai, benda ini
boleh kauambil kembali.”
Setelah berkata demikian. Siang Cu melompat pergi.
Akan tetapi kakek itu berseru, “He, nona baju merah! Apa
gunanya kau mengambil katak itu kalau tidak tahu cara
mempergunakannya?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siang Cu tersentak kaget dan kedua kakinya seperu
tertahan oleh sesuatu. Apalagi ketika ia mendengar kakek
itu berkata lagi sambil tertawa tawa.
“Katak itu sudah menghisap banyak sekali racun ular
merah. Penggunaan yang tepat merupakan obat mujijat,
akan tetapi penggunaan yang salah akan merupakan racun
yang tiada duanya di atas dunia! Bukankah itu sama halnya
dengan menolong si sakit dengan jalan merenggut nyawa
meninggalkan raganya?”
Mendengar ini, Siang Cu menjadi pucat. Memang
suhunya belum pernah menceritakan bagaimana cara
mengobati orang terkena bisa dengan katak putih ini.
Bagaimana kalau kata kata kakek ini benar dan ia tidak
berhasil menolong Tek Hong bahkan membunuhnya? Ia
bergidik dan cepat ia berlari kembali.
“Kakek yang baik, tolonglah aku! Kawanku terkena
pukulan yang mengandung racun ular merah dan
keadaannya amat berbahaya, nyawanya sewaktu waktu
dapat meninggalkan raganya. Tolonglah, kakek yang baik,
obatilah dia!”
“Ha, ha, ha, beginilah sifat orang muda. Bersikap
sombong tak mau kalah. Kalau aku meniru sikapmu dan
berkeras tidak mau menolong biarpun kau akan
membunuhku, apa dayamu?”
Siang Cu dapat menduga bahwa biarpun kakek ini tidak
pandai silat, namun melihat wataknya, tentulah kakek ini
seorang yang luar biasa. Orang orang seperti ini memang
tidak takut menghadapi maut. Mulai bingunglah gadis ini
karena ia teringat akan keadaan kekasihnya Dengan cepat
ia lalu melangkah maju dan berlutut di depan kakek itu
sambil menangis!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Eh, eh, kukira kau seorang dara perkasa yang berhati
baja dan keras melebihi laki laki. Tidak tahunya kau tetap
saja seorang perempuan, mudah tertawa mudah menangis!”
“Orang tua yang budiman, tolonglah kau obati dia yang
sedang sakit. Kalau aku sendiri yang sakit, aku tidak akan
menyusahkan engkau, bagiku mati tidak apa apa. Akan
tetapi dia, ah, kakek yang baik, dialah orang satu satunya di
dunia ini yang kucinta. Kematiannya akan lebih hebat
bagiku daripada kematianku sendiri.”
Mendengar ucapan Siang Cu ini, tiba tiba wajah kakek
gemuk yang tadi tertawa tawa jadi berobah dan ia mulai
menangis! Tangisnya mendadak dan keras seperti
ketawanya sehingga ia seperti seorang kanak kanak yang
menangis, berkaok kaok keras. Melihat ini, Siang Cu
tertegun.
“Aduh, nona yang gagah dan cantik. Kau membikin
hatiku sakit dan penuh iri hati. Kaulah orang berbahagia
sekali, mendapat kesempatan untuk mencurahkan isi
hatimu yang penuh kasih sayang kepada seseorang! Tidak
ada kebahagiaan di dunia ini melebihi perasaan kasih
sayang yang begitu murni seperti kasih sayangmu terhadap
orang itu. Tidak ada kasih sayang yang suci murni melebihi
kasih sayang yang diselimuti oleh kerelaan pengorbanan
sebesar yang kaunyatakan itu. Kau berani berkorban
melupakan kepentingan diri sendiri demi orang yang kau
cinta. Aku kagum dan iri kepadamu, nona. Aku bersedia
mengobati orang yang kau cintai itu. Bagaimana sakitnya?
Apakah dia digigit ular merah?”
Bukan main girangnya hati Siang Cu melihat bahwa ia
telah dapat menangkan hati kakek aneh ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tidak, ia tidak tergigit binatang berbisa melainkan
terkena pukulan Sam hiat ci hoat yang mengandung bisa
ular merah, terpukul pada jidatnya.”
“Ganas sekali pemukul itu! Bagaimana keadaannya?
Apakah kuku tangannya berwarna hitam ataukah putih?”
“Kuku tangannya putih, belum berubah hitam,” jawab
Siang Cu.
“Celaka! Bodoh kau! Kalau kuku tangannya berubah
hitam berami ia masih belum begitu berat keadaannya.
Kalau berwarna putih, tanda bahwa bisa itu telah
mengancam nyawanya! Di mana dia?”
Mendengar ini Siang Cu menjadi pucat dan bingung
sekali. Air matanya mengalir deras.
“Dia tidak jauh dari sini, mari kita pergi ke tempat dia
berbaring,” katanya cepat.
“Tak usah, membuang buang waktu saja. Biar aku
mengerjakan obat ini dan kau cepat cepat bawa dia ke mari.
Lekas!”
Kakek itu menerima katak putih dari Siang Cu dan gadis
ini tanpa bertanya tanya lagi lalu melompat cepat dan
lenyap dalam sekejap mata, membuat kakek itu menahan
napas penuh kekaguman.
Tek Hong masih rebah pingsan di atas mantel seperti
orang tidur, atau lebih tepat lagi, seperti mayat karena
mukanya pucat sekali. Siang Cu merasakan jantungnya
perih dan dengan penuh kegelisahan ia meraba lengan
pemuda itu. Hatinya lega merasa bahwa lengan itu masih
hangat, lalu ia menyelimutkan mantel tadi dan memondong
tubuh Tek Hong, membawanya lari menuju ke tempat
kakek gemuk yang diharapkan akan dapat menyembuhkan
pemuda ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, setelah tiba ditempat itu, Siang Cu merasa
semangatnya terbang meninggalkan tubuhnya ketika ia
melihat kakek itu telah rebah mandi darah dan tak
bernyawa lagi di atas salju dan sebagai gantinya, di situ
berdiri Tung hai Sian jin dan Bong Eng Kiat! Seperti biasa
Bong Eng Kiat memandang kepada Siang Cu dengan
tersenyum senyum dan sinar mata penuh gairah. Tung hai
Sian jin berdiri tenang dan tangan kanannya memainkan
katak putih yang tadi dipegang oleh kakek gemuk.
Sebetulnya, tadi ketika Siang Cu bercakap cakap dengan
kakek gemuk, Tung hai Sian jin dan puteranya telah tiba di
tempat itu dan mereka bersembunyi di balik bukit sambil
mengintai dan mendengarkan. Tanah yang tertutup salju
lunak itu membuat tindakan kaki dua orang yang memiliki
kepandaian tinggi ini tidak terdengar oleh Siang Cu. Setelah
Siang Cu pergi untuk mengambil Tek Hong, mereka
muncul dan sekali mengulur tangannya, Tung hai Sian jin
sudah dapat merampas katak putih itu.
Kakek gemuk itu hendak membuka mulut, akan tetapi
Bong Eng Kiat menotok pundaknya sehingga ia roboh
terguling.
“Hayo ceritakan kepada kami bagaimana caranya
mempergunakan katak putih ini!” kata Tung hai Sian jin
kepada korbannya yang memandang dengan mata
terbelalak.
“Hm, kalian ini sepasang iblis jahat jangan harap akan
membuka mulutku,” maki kakek gemuk dengan tegas.
Eng Kiat hendak mengayun tangan membunuhnya, akan
tetapi Tung hai San jin mencegahnya. Lalu kakek ini
membungkuk dan membebaskan kakek gemuk itu dari
totokan sehingga kakek ini dapat bangun duduk di atas
salju.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Mengapa kau keras kepala? Kami membutuhkan katak
putih ini bukan untuk mengobati siapapun juga melainkan
kami pernah mendengar bahwa katak putih ini dapat
dipergunakan sebagai obat penguat tubuh yang luar biasa.
Kau ceritakan kepada kami bagaimana caranya mengobati
orang atau kalau kau tidak suka, biarlah kau ceritakan saja
apakah benar benar katak putih ini dapat menjadi obat kuat
yang mujijat? Kalau kau mau bercerita, kami takkan
mengganggumu lagi.”
Kakek gemuk itu adalah seorang yang sudah banyak
merantau dan dia tahu betul bahwa orang orang seperti
yang sekarang ia hadapi ini tidak boleh dipercaya
omongannya. Dan ia merasa amat kasihan kepada nona
baju merah tadi. Pikiran dalam kepala yang besar dan bulat
itu bekerja keras, kemudian nampaklah senyumnya seperti
biasa.
“Ada orang yang perlu ditolong, bagaimana bicara
tentang obat penguat tubuh? Kalau kalian mau
mempergunakan katak ini untuk mengobati teman nona
tadi, barulah aku mau memberi tahu cara mempergunakan
katak ini sebagai obat penguat tubuh.”
“Baik, aku berjanji akan mengobati kawan nona tadi,”
kata Tung tui Sian jin. “Lekas kau ceritakan bagaimana
caranya.”
“Lebih dulu kau genggam bagian kepala katak ini sampai
mulutnya tertutup rapat, lalu kau pencet perutnya perlahan
lahan sehingga dari lubang tubuh belakangnya keluar darah
berwarna putih yang menetes. Lima belas tetes darah ini
dapat dipergunakan untuk diminum oleh si sakit.
Kemudian, tubuh katak ini boleh digosok osokkan di atas
luka orang yang sakit untuk mengisap keluar semua bisa.
Akan tetapi cara menggosoknya harus mempergunakan
bagian perut katak ini. Setelah luka yang tadinya berwarna
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merah atau kebiruan atau hitam menjadi putih kembali,
baralah penggosokan dihentikan dan korban itu akan
sembuh kembali.”
“Cukup, aku sudah mengerti. Sekarang bagaimana kalau
dipergunakan untuk memperkuat tubuh ?” tanya Tung hai
Sian jin dengan penuh gairah karena hal inilah baginya
yang terpenting.
Kakek gendut itu terseryum. “Tidak ada manusia di
dunia ini yang mengenal cukup, dia yang mengenal cukup,
barulah seorang yang kaya dan berbahagia, yang tidak
mengenal cukup akan hancur dalam kekecewaan, diburu
oleh nafsunya sendiri.”
“Jangan ngaco belo, lekas katakan bagaimana caranya!”
bentak Eng Kiat yang ingin pula mendapatkan khasiat obat
itu.
“Kalian hendak memperkuat tubuh? Sampai bagaimana
kuatnya? Tetap saja takkan dapat melawan maut.... “
“Apa kau ingin kami kehilangan kesabaran dan
memecahkan kepalamu?” bentak Tung hai Sian jin marah.
“Baiklah, baiklah, bukan aku yang menghendaki, akan
tetapi kalian sendiri. Pencetlah katak itu dari belakang
sehingga keluar darah merah dari mulutnya Nah, darah ini
kalau diminum mendatangkan kekuatan yang luar biasa,
akan tetapi jangan banyak banyak, setetespun cukuplah.”
“Kau tidak bohong?”
“Siapa berani bohong? Aku berani membuktikannya.”
Tung hai Sian jin menggerakkan tangan mengetuk
pundak kakek gendut ini sehingga tertotoklah jalan
darahnya dan akibatnya seluruh tubuh kakek ini seperti
lumpuh, lenyap sama sekali tenaganya, Tung hai Sian jin
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lalu memencet belakang tubuh katak putih itu dan benar
saja, dari mulut yang terbuka itu menetes darah merah.
Dengan memaksa membuka mulut kakek gendut, Tung hai
Sian jin meneteskan setitik darah ke dalam mulut kakek itu.
Ajaib! Sudah terang bahwa kakek gendut itu tidak
mempunyai tenaga lweekang dan takkan mungkin
membebaskan diri dari pengaruh totokan. Akan tetapi,
begitu tetesan darah merah itu tertelan olehnya, tiba tiba ia
dapat menggerakkan tubuhnya kembali, tanda bahwa
totokan Tung hai Sian jin tadi buyar!
“Bagus, kau tidak membohong!” serunya keras akan
tetapi berbareng kakek kejam ini menggerakkan tongkatnya
ke arah kepala kakek itu.
“Prak!” Tanpa dapat bersambat lagi kakek gendut itu
roboh dengan kepala pecah!
Pada saat itu, muncullah Siang Cu yang memondong
tubuh Tek Hong. Melihat nona ini, Tung hai Sian jin
menjadi marah, akan tetapi sebaliknya, Eng Kiat cengar
cengir dengan sikap menjemukan sekali.
“Nona, kau benar benar amat memalukan. Bagaimana
kau mati matian membela pemuda ini dan hendak
mencarikan obat untuknya sedangkan kau tentu tahu bahwa
pemuda ini adalah musuh besar suhumu, putera dan Thian
te Kiam ong? Seharusnya kau membunuhnya!” tegur Tung
hai Sian jin dengan suara marah.
“Kau calon isteriku mengapa memondong mondong
seorang pemuda? Siang Cu, lemparkan dia di jurang!” kata
Eng Kiat dengan sikap ceriwis sekali.
Siang Cu merasa dadanya panas. Ingin ia mengamuk
dan menyerang dua orang ini. Akan tetapi ia bukan seorang
gadis bodoh, ia maklum bahwa hal itu tidak akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menguntungkan, pertama tama ia takkan menang
menghadapi dua orang ini seorang diri saja, kedua kalinya
obat katak putih itu telah terjatuh ke dalam tangan mereka,
sedangkan ia amat membutuhkannya untuk menolong Tek
Hong.
“Tung hai Sian jin, harap kau mengingat
perikemanusiaan dan berikanlah obat katak putih itu
kepadaku agar aku dapat mengobati Tek Hong.”
“Hm, kau tidak tahu bagaimana cara
mempergunakannya, bagaimana kau dapat mengobatinya?
Kalau salah pengobatan itu, dia takkan sembuh bahkan
sebaliknya akan mempercepat kematiannya.”
Mendengar ucapan ini Siang Cu yang cerdik tahu bahwa
tentu kakek yang licik dan kejam ini sudah dapat
mengetahui cara pengobatannya sebelum membunuh kakek
gemuk yang bernasib malang itu. Maka ia lalu bersikap
halus dan berkata,
“Tung hai Sian jin, mengingat akan hubungan antara
kau dan suhu, tolonglah aku dan obatilah Tek Hong.”
“Satu permintaan yang aneh. Tek Hong ini adalah putera
dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam musuh besar kita,
bagaimana kini kau murid Lam hai Lo mo minta aku
mengobatinya? Bahkan kalau aku harus mengingat akan
hubunganku dengan suhumu, pemuda ini harus kubunuh
sekarang juga!” Setelah berhenti sebentar Tung hai Sian jin
memandang tajam tajam kepada Siang Cu lalu bertanya.
“Sebetulnya apakah yang membuat kau begitu
memperhatikan pemuda ini dan ingin melihat dia sembuh?”
Sambil menahan perasaan hatinya yang jengah dan
malu. Siang Cu mengeraskan hati dan menjawab dengan
suara gagah, “Aku cinta padanya! Aku suka berkurban apa
saja asal dia dapat disembuhkan. Orang macam aku tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
apa mati, akan tetapi dia adalah seorang mulia dan tidak
selayaknya mari muda.”
“Kau tak tahu malu!” bentak Tung hai Sian jin marah
sekali dan tongkatnya sudah menggetar di dalam kedua
tangannya yang menggigil, ia marah sekali dan ingin ia
membunuh SiangCu dan TekHong di saat itu juga.
Akan tetapi Eng Kiat yang sudah mengetahui watak
ayahnya dan sudah merasa khawatir sekali kalau kalau
ayahnya menjadi marah dan membunuh Siang Cu, segera
maju dan berkata,
“Ayah, jangan mengganggu calon menantumu sendiri.”
“Mantu apa? Siapa sudi mempunyai mantu tak kenal
malu seperti dia ini? Dunia masih lebar, masih banyak
wanita yang lebih cantik dari padanya. Kau akan kucarikan
puteri yang jauh lebih cantik. Jangan khawatir, Eng Kiat,
sebutkan saja gadis mana yang kaukehendaki, biar puteri
pangeran akan dapat kauambil untukmu.”
“Hanya satu, ayah, yakni Siang Cu inilah kuharapkan
menjadi isteriku. Karena itu, harap ayah jangan
membunuhnya,”
“Tung hai Sian jin, lekaslah kau mengobati Tek Hong!”
Siang Cu yang tidak memperdulikan percakapan mereka,
mendesak dan membujuk, ia tidak berani mempergunakan
kekerasan karena maklum bahwa hal itu percuma saja.
“Hm, kau benar benar ingin melihat dia sembuh?”
“Tentu saja!”
“Dan kau rela berkurban apa saja untuknya?” tanya pula
Tung hai Sian jin.
“Biarpun harus menebus nyawanya dengan nyawaku,
aku rela!” jawab nona itu tegas.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Eng Kiat, aku menyerahkan syaratnya kepadamu. Aku
akan mengobati pemuda ini asalkan Siang Cu memenuhi
syarat yang kau ajukan,” kata Tung hai Sianjin yang sudah
merasa bohwat (tak berdaya) menghadapi puteranya yang
tergila gila kepada Siang Cu ini. Ia maklum bahwa
puteranya hanya suka betul betul kepada dua orang gadis,
yakni Siang Cu dan Siauw Yang puteri Thian te Kiam ong.
Hal ini tidak mengherankan, karena di dunia ini agaknya
sukar dicari gadis gadis seperti kedua orang nona ini, tidak
saja cantik jelita, akan tetapi juga memiliki kepandaian yang
luar biasa dan mengagumkan.
Mendengar kata kata ayahnya, Eng Kiat maju mendekati
Siang Cu dan berkata, “Syaratnya ringan saja, yakni kau
harus bersumpah bahwa kau suka menjadi isteriku.”
Siang Cu merasa kepalanya pening, jantungnya berdebar
kera dan ia menahan nahan nafsunya yang hendak meluap
dan menekan kedua tangannya yang seakan akan ingin
bergerak sendiri untuk menampar muka pemuda yang amat
dibencinya itu. Akan tetapi kalau ia menengok ke bawah, ia
melihat wajah Tek Hong yang pucat seperti mayat, maka ia
tak dapat menahan lagi jatuhnya air matanya, ia tak dapat
menjawab hanya mengangguk anggukkan kepalanya
kepada Eng Kiat sambil menurunkan tubuh Tek Hong ke
atas salju.
“Obatilah dia.... sembuhkanlah dia.... !” katanya di
antara isaknya.
“Kau bersumpahlah dulu seperti yang diminta oleh Eng
Kiat, bersumpah bahwa kau akan suka menjalani upacara
pernikahan dengan dia, menjadi isterinya,” kata Tung hai
Sian jin.
“Aku bersumpah untuk.... menjalankan upacara
pernikahan dengan Eng Kiat dan menjadi.... isterinya,” kata
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siang Cu dengan hati hancur. “Lekas obati dia, takut kalau
kalau terlambat. Akan tetapi sumpahku ini hanya berlaku
kalau Tek Hong kausembuhkan.”
“Bagus,” Eng Kiat bersorak girang. “Ayah, kau obatilah
dia ini. Siang Cu sudah menjadi calon isteriku benar benar!
Aduh senangnya. Bidadariku yang manis, kau seakan akan
telah memberi hadiah bulan purnama kepadaku. Ke sinilah,
adinda yang tercinta, sini duduk dengan kanda.”
Bukan main mendongkol dan marahnya hati Siang Cu,
Gadis ini sudah lelah sekali dan dalam waktu sepekan tidak
tidur dan tidak makan. Kemudian ia menghadapi
goncangan goncangan batin yang hebat, sekarang ditambah
pula oleh nafsu amarah yang tertahan tahan, maka sambil
memandang penuh kebencian kepada Eng Kiat, ia menjerit
dan roboh pingsan di dekat TekHong.
Eng Kiat menjadi bingung sekali, ia membanting banting
kedua kakinya dan hampir menangis. Sambil mewek
mewek ia berkata kepada ayahnya, “Ayah, lekas
sembuhkan dia! Aduh bagaimana ini? Ayah jangan
perdulikan Tek Hong, lekas obati dia lebih dulu, bagaimana
pengantinku menjadi begini?” Eng Kiat menggoyang
goyang pundak Siang Cu sambil mewek mewek dan
memanggil namanya. “Dinda Siang Cu.... dindaku yang
manis, bangunlah.... !”
“Minggirlah!” Tung hai Sian jin membentak marah
kepada puteranya. Kemudian ia memegang nadi
pergelangan tangan SiangCu lalu tertawa terbahak bahak.
“Dia kurang tidur dan lapar sekali. Hayo keluarkan bekal
makanan dan arak!”
Tanpa menanti perintah kedua kalinya, Eng Kiat lalu
menurunkan gendongan buntalannya, mengeluarkan kue
kering dan dengan amat telaten dan penuh cinta kasih.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah memasukkan beberapa potong kue dan memberi
minum arak kepada Siang Cu, mulailah gadis itu siuman
kembali. Akan tetapi begitu melihat bahwa ia sedang
disuapi oleh Eng Kiat, ia cepat cepat melompat bangun
dengan muka merah. Eng Kiat tertawa.
“Ha, ha, ha, tadi kau sambil meram makan kue dengan
enaknya. Marilah kaumakan lagi manis!”
Akan tetapi Siang Cu tidak mau memperdulikan lagi dan
ketika ia menengok ke arah Tek Hong, ia segera berkata,
“Kenapa dia belum diobati? Hayo lekas obati dia, Tung hai
Sian jin. Bukankah aku sudah mengucapkan sumpahku?”
Tung hai Sian jin terkenal akan kelicikannya, kini
melihat sikap Siang Cu tentu saja ia tidak percaya begitu
saja.
“Untuk mengobati pemuda ini, adalah hal yang mudah.
Akan tetapi makan waktu lama. Aku sudah
mempelajarinya dan kakek itu. Sedikitnya makan waktu
tiga hari. Akan tetapi aku bertanggung jawab bahwa dia
pasti akan sembuh. Sementara itu kau harus pergi dengan
Eng Kiat dan merayakan pernikahan di kampungku, yakni
di rumah adikku, seorang piauwsu (pengantar barang
ekspidisi) di dusun Tiang kwan.”
“Kau licik!” Siang Cu membentak marah, akan tetapi ia
segera menahan marahnya dan berpikir cepat. “Kita harus
atur seadil adilnya. Boleh aku meninggalkan Tek Hong di
sini bersamamu, dan aku memang sudah bersumpah untuk
menjalankan upacara pernikahan dengan anakmu. Akan
tetapi, semua itu hanya dengan satu syarat bahwa aku harus
melihat dulu kesembuhan Tek Hong dan bahwa aku baru
mau menikah kalau Tek Hong sudah sembuh Sementara
itu, jangan harap Eig Kiat akan berlaku kurang ajar. Sekali
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
saja melakukan hal kurang ajar, aku anggap sumpahku tak
berlaku!”
Jilid XXX
TUNG HAI SIAN JIN sudah mengenal kekerasan hati
Siang Cu, akan tetapi iapun tahu bahwa gadis ini betapapun
juga pasti tidak akan sudi melanggar sumpah sendiri. Oleh
karena itu ia berkata,
“Baiklah, kau akan melihat dia sembuh. Sekarang
pergilah kau dengan Eng Kiat ke dusun Tiang kwan. Eng
Kiat, kau beri tahukan kepada pamanmu untuk
mempersiapkan pesta pernikahan. Pernikahan harus
dilangsungkan seminggu setelah kalian tiba di sana. Dan
aku berjanji bahwa dalam saat pesta pernikahan
dilangsungkan Tek Hong akan kubawa ke sana dalam
keadaan sembuh. Akan tetapi, nona, jangan sekali kali kau
berani melanggar sumpah sendiri karena tidak sukar bagiku
untuk membunuh pemuda ini kalau kau melanggar
sumpah.”
Dengan air mata bercucuran SiangCu menjawab tegas,
“Kaukira aku orang apakah? Ludah yang sudah keluar
takkan kujilat lagi. Biar aku mampus kalau aku melanggar
sumpahku!”
“Bagus, berangkatlah kalian !”
Siang Cu menubruk Tek Hong memeluk lehernya
dengan mesra sambil menangis.
“Tek Hong, selamat tinggal. Ketahuilah bahwa semua
ini kulakukan demi keselamatanmu. Di dunia kita tak
berjodoh, biar di akhirat kita bertemu kembali.” Setelah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berkata demikian, ia mengibaskan tangan Eng Kiat yang
hendak membangunkannya.
“Mari kita pergi!” katanya kasar dan mendahului
pemuda itu berlari turun dari tempat itu. Eng Kiat
mengikutinya dengan senyum lebar.
Setelah dua orang muda itu pergi, Tung hai Sian jin juga
tertawa tawa.
“Kau boleh kusembuhkan, kubawa ke Tiang kwan agar
kau dapat menyaksikan pernikahan anakku dengan Siang
Cu, itupun merupakan hukuman berat bagimu. Dan pula,
setelah kau sembuh dan anakku sudah menikah, lalu
kemudian membunuhmu apa sukarnya? Ha, ha, ha!”
Tadi ia memang membohong kepada Siang Cu, karena
sebetulnya untuk menyembuhkan pemuda itu, cukup
memerlukan waktu sehari saja. Ia lalu memencet katak
putih di bagian mulutnya dan benar saja, keluarlah darah
berwarna putih dari lubang di belakang tubuh katak itu.
Tung hai Sian jin mengambil cawan arak dan bungkusnya,
menghitung tetesan darah sebanyak lima belas tetes.
Kemudian ia menotok jalan darah di bagian pundak Tek
Hong untuk menjaga agar pemuda ini tidak memberontak
setelah sembuh, lalu diminumkannya obat itu ke dalam
mulut TekHong.
Setelah itu, Tung hai Sian jin mempergunakan perut
katak putih, digosok gosokkan pada jidat Tek Hong yang
ada tanda bekas tiga jari tangan merah. Benar saja, tak lama
kemudian tanda itu perlahan lahan lenyap dan terdengar
pemuda itu mengeluh perlahan.
Seperti tadi ketika memeriksa Siang Cu kini Tung hai
Sian jin juga mengerti bahwa pemuda ini lapar sekali,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hampir mati kelaparan! Dengan kasar Tung hai Sian jin lalu
menjejalkan kue kering di mulut Tek Hong dan memberi
minum arak. Tak lama kemudian Tek Hong membuka
kedua matanya.
Pemuda ini setelah melihat wajah kakek yang duduk di
dekatnya, terkejut sekali dan tahulah dia bahwa dia terjatuh
ke dalam tangan musuh, ia mencoba menggerakkan
tubuhnya dan tahu pula bahwa dia berada dalam keadaan
tertotok. Ia melihat pula katak putih ditangan Tung hai Sian
jin maka dengan heran ia bertanya,
“Tung hai Sian jin, kau menyembuhkan aku dengan
katak itu, dengan maksud apakah? Di mana Siang Cu? Kau
apakan dia?”
Tung hai Sian jin tertawa bergelak, nampaknya senang
sekali. Baru sekarang ia dapat membalas dendamnya
setelah berkali kali dibikin sakit hati oleh keluarga Song Bun
Sam.
“Setan, kalau aku mau, sekarang juga aku dapat
memukul kepalamu sampai hancur. Akan tetapi aku
kasihan kepadamu, kasihan melihat nasibmu!”
Tentu saja Tek Hong tidak dapat mempercayai omongan
ini dan ia berkata,
“Tung hai Sian jin, tak perlu berkelakar dan berpura
pura. Bagaimana orang seperti engkau bisa menaruh hati
kasihan kepadaku? Apa yang telah terjadi? Mana Siang
Cu?”
“Murid Lam hai Lo mo itu setelah melihat kau
menggeletak seperti mayat, tak berdaya dan kelihatan buruk
sekali, mana ia dapat mencintamu lagi? Ia bertemu dengan
puteraku dan ia telah menyatakan setuju menjadi isterinya.
Sekarang dia dan Eng Kiat sedang menuju ke Tiang kwan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
untuk merayakan pernikahan mereka. Aku melihat kau
disia siakan dan dipatahkan hatimu olehnya, menjadi tidak
tega untuk membiarkan kau mampus, maka aku
menyembuhkanmu.”
Tek Hong adalah seorang pemuda yang cerdik, maka di
dalam ketidakpercayaannya terhadap kakek ini, ia melirik
ke sekelilingnya yang sunyi sekali, terlihat olehnya tubuh
kakek gemuk menggeletak tak bernyawa dengan kepala
pecah, maka ia berpikir pikir apakah gerangan yang terjadi.
Tak salah lagi bahwa tentu Siang Cu telah tertawan oleh
kakek ini dan entah bagaimana nasibnya. Kemudian ia
teringat bahwa di dalam keadaan seperti tadi, sangat boleh
jadi Siang Cu terjepit dan terdesak oleh Tung hai Sian jin,
sehingga meluluskan permintaan apa saja asal ia dapat
disembuhkan. Mengingat itu, Tek Hong menarik napas
panjang dan mengeluh.
“Siang Cu.... mungkinkah kau berkorban untukku.... ?”
“Apa maksudmu? Siapa berkurban? Siang Cu telah
menerima pinangan Eng Kiat dan sekarang mereka sedang
menuju ke tempat perayaan pernikahan mereka.”
“Aku tidak percaya!” kata Tek Hong dengan suara
disengaja keras menunjukkan ketidakpercayaannya. Hal ini
ia lakukan untuk memancing agar kakek itu mau
membawanya ke sana.
“Sabar, orang muda. Memang aku bermaksud
membawamu ke sana agar kau dapat melihat sendiri betapa
gadis itu melakukan upacara pernikahan dengan puteraku.
Ha, ha, ha! Akan tetapi tunggulah sebentar, aku hendak
menambah kekuatanku dengan obat ini. Menghadapi
engkau saja tak perlu aku khawatir, akan tetapi kalau gadis
itu hendak melakukan khianat, aku perlu menambah
kekuatanku untuk menghadapi kalian berdua. Setelah aku
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
minum obat ini, biar ayahmu sendiri aku sanggup
menghadapinya!”
Tek Hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh
kakek itu, akan tetapi ia diam saja dan hanya memandang
dengan penuh perhatian.
Tung hai Sian jin lalu memegang katak itu di bagian
belakang tubuhnya dan menggenggam nya erat erat.
Menitiklah darah merah dari mulut katak itu, suatu hal
yang benar benar amat mengherankan. Bagaimanakah
seekor katak yang sudah mati masih mengandung darah?
Sebenarnya darah itu adalah darah ular ular merah yang
telah dihisap oleh tubuh katak yang aneh itu, dan setelah
darah itu berada di dalam tubuh katak, memang setitik
darah dapat mendatangkan tenaga yang luar biasa di dalam
tubuh manusia.
Akan tetapi Tung hai Sian jin bukanlah Tung hai Sian jin
yang sudah terkenal akan ketamakan dan kelicikannya
kalau ia cukup puas dengan setitik darah merah itu saja. Ia
tadi sudah membuktikan bahwa darah itu memang benar
mendatangkan tenaga luar biasa pada kakek gendut. Baru
setetes saja sudah dapat membuat kakek gendut itu terlepas
dari pengaruh totokan, apalagi kalau secawan banyaknya!
Maka ia terus memencet katak itu sampai habis darahnya,
memenuhi setengah cawan. arak. Kemudian diminumnya
darah merah setengah cawan itu!
Tek Hong memandang saja dan ia amat tertarik dan
menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Akibatnya hebat
sekali. Wajah Tung hai Sian jin menjadi merah sekali dan
matanya melotot lebar. Kakek ini merasa betapa seluruh
tubuhnya menjadi panas dan tulang tulangnya berbunyi
berkerotokan. Kemudian ia merasa seluruh tubuhnya gatal
gatal dan bukan main girangnya ketika ia merasa tubuhnya
amat ringan dan hawa dari dalam pusarnya naik ke dada.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ha, ha, ha, tenagaku menjadi berlipat ganda. Aku harus
berlatih untuk menguji tenagaku!” Bagaikan seorang gila ia
mencak mencak dan melompat ke sana ke mari. Sebatang
pohon yang tak berdaun lagi dan seluruhnya diliputi oleh
salju berada di dekat situ. Batang pohon ini besarnya dua
kali besar tubuh orang. Tung hai Sian jin melompat ke
dekat pohon dan memukul batang pohon itu dengan tangan
kanannya. Terdengar suara keras dan batang pohon itu
patah di tengah tengah, tumbang mengeluarkan suara
berisik. Tung hai Sian jin tertawa bergelak, mengungkai
pohon itu dan melontarkannya jauh jauh. Kemudian ia
melompat ke kiri, memukul sebuah balu besar yang tertutup
salju. Debu salju berhamburan ketika terdengar suara keras
dan batu itu pecah!
Diam diam Tek Hong terkejut sekali melihat hal ini.
Batu itu adalah batu karang yang beratnya ribuan kati,
bagaimana dengan sekali pukul saja kakek ini dapat
memecahkannya? Ia maklum bahwa ayahnya sendiripun
tak mungkin dapat melakukan hal ini. Bukan main
hebatnya tenaga dari kakek ini. Benar benarkah obat yang
diminumnya telah mendatangkan tenaga yang berlipat
ganda?
Tung hai Sian jin makin menggila. Sambil mengeluarkan
suara tertawa yang terdengar bukan seperti suara manusia,
ia memukuli batu batu di sekitar tempat itu sehingga batu
batu itu pecah pecah dan menumbangkan pohon pohon
bagaikan seekor gajah yang mengamuk. Makin lama
mukanya menjadi makin merah dan ia merasa seluruh
tubuhnya makin gatal gatal dan panas. Kemudian sambil
berjingkrak jingkrak seperti orang gila, ia menghampiri Tek
Hong.
“Ha, ha, ha, sudah kaulihat, anak muda? Sekarang kau
tak perlu kutakuti, juga ayahmu bukan apa apa bagiku. Kau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dan ayahmu mampu berbuat apa kepadaku? Ha, ha, ha !”
Ia lalu menepuk nepuk pundak Tek Hong untuk
membebaskan totokannya ladi. “Hayo kau ikut aku
menyaksikan upacara pernikahan Siang Cu dan Eng Kiat.”
Tek Hong terbebas dari totokan dan setelah mengatur
pernapasan memulihkan perjalanan darahnya, ia lalu
meloncat bangun. Tung hai Sian jin tertawa tawa dan
mendorongnya. Tek Hong mengelak, akan tetapi ia terkejut
bukan main karena bawa dorongan itu masih saja
mendatangkan kekuatan luar biasa sehingga ia terhuyung
huyung ke belakang!
“Ha, ha, ha, kau sudah merasakan betapa hebat
tenagaku, bukan? Ha, ha, kepandaianmu tiada artinya
bagiku.” Kembali ia mendorong beberapa kali sehingga
pemuda itu terhuyung huyung ke sana ke mari seperti daun
kering tertiup angin puyuh. Tek Hong menjadi mendongkol
dan marah, maka ia membalas dorongan orang yang
mengganggunya, ia mempergunakan tenaga Kim kong dan
mendorong dengan kedua tangannya. Akan tetapi apa yang
terjadi? Kakek itu menerima dorongannya dengan dadanya
dan bukan kakek itu yang terdorong, melainkan Tek Hong
yang merasa ada tenaga raksasa menolak dorongannya dan
membuat tubuhnya terjungkal ke belakang!
“Ha, ha, ha, Kim kong Pek lek jiu tidak berarti apa apa
lagi bagiku, ha, ha!”
Tek Hong benar benar heran dan terkejut. Tokoh
persilatan yang bagaimana tinggi ilmu silatnyapun tidak
akan kuat menerima dorongannya tadi tanpa menangkis
atau mengelak, akan tetapi kakek ini menerimanya begitu
saja dengan dada terbuka! Benar benar Tung hai Sian jin
telah memiliki tenaga yang luar biasa sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Adapun Tung hai Sian jin lalu menubruk maju dan
sebelum Tek Hong dapat menghindarkan diri ia telah kena
dipegang tanpa dapat bergerak lagi.
“Hayo kau ikut ke Tiang kwan!” katanya sambil
menyeret tangan pemuda itu. Mereka berlari larian cepat
sekali dan Tek Hong terpaksa mengikutinya karena tidak
berdaya untuk melepaskan pegangan yang amat kuat itu.
Akan tetapi, tiba tiba Tung hai Sian jin berteriak keras
sekali dan melepaskan pegangannya kepada Tek Hong
karena ia mempergunakan kedua tangan untuk memegang
lehernya.
“Aduh.... aku tak dapat bernapas.... aduh.... !” Sambil
berkata demikian, kakek ini mencekik lehernya sendiri,
sakan akan hendak menghancurkan sesuatu yang
mengganjal kerongkongannya.
“Hm, darah katak putih telah meracunimu sendiri, Tung
hai Sian jin,” kata Tek Hong sambil memandang penuh
perhatian dan dengan perasaan tegang. Muka kakek itu
menjadi merah sekali dan warna merah menjalar terus
sampai di seluruh tubuhnya.
Teringatlah Tung hai Sian jin akan kata kata kakek
gendut pemilik katak putih. Kakek itu sudah menyatakan
bahwa tidak boleh terlalu banyak minum darah katak putih,
cukup setetes saja. Akan tetapi ia telah minum setengah
cawan banyaknya.Mulai timbul rasa takut dalam hatinya.
“Aku akan mati.....? Kalau begitu, kau lebih dulu harus
mampus!” serunya tiba tiba dan dengan menggerakkan
kedua lengan memukul Tek Hong, ia menerjang maju.
Baiknya Tek Hong sudah siap sedia dan cepat ia
mengelak sambil melompat ke kiri. Akan tetapi, bukan itu
saja serangan itu cepat dan hebat, akan tetapi terutama
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sekali tenaga pukulannya yang luar biasa. Memang Tek
Hong berhasil mengelak, akan tetapi hawa pukulan kedua
tangan itu menyambarnya dan ia melempar sampai lima
kaki lebih dan merasa betapa dadanya sakit! Cepat ia duduk
bersila dan mengatur napas untuk menolak pengaruh hawa
pukulan yang akan dapat mengakibatkan luka di dalam
dadanya itu.
Sementara itu Tung hai Sian jin kelihatan terputar putar
di atas ke dua kakinya, mukanya menjadi makin merah dan
kedua tangan yang memegangi leher lagi juga menjadi amat
merah. Kemudian sambil berteriak ngeri Tung hai Sian jin
roboh terlentang tak bergerak lagi. Tubuhnya kaku dan
nyawanya melayang meninggalkan raganya! Ia telah
menjadi korban daripada hawa nafsu ketamakannya
sendiri. Darah ular merah yang berada di dalam katak putih
itu memang merupakan obat penguat tubuh luar biasa, akan
tetapi karena terlampau banyak ia meminumnya, kekuatan
yang luar biasa itu merusak darahnya sendiri dan
memutuskan urat urat di seluruh tubuhnya.
Setelah Tek Hong merasa bahwa kesehatannya pulih
kembali, ia membuka matanya, ia melihat tubuh Tung hai
Sian jin menggeletak di atas tanah, maka cepat ia melompat
bangun dan menghampirinya. Bergidik ia ketika melihat
betapa kakek itu telah kaku seperti sebatang balok, dengan
mata mendelik dan lidah keluar, seluruh muka dan
tubuhnya merah seperti kepiting direbus. Bukan main
ngerinya hati Tek Hong menyaksikan pemandangan ini
maka ia menarik napas panjang dan teringatlah ia akan ujar
ujar Nabi Locu yang menyatakan bahwa,
“Nama dan tubuh, manakah yang lebih dekat?
Tubuh dan barang, manakah yang lebih
berharga?
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mendapat dan kehilangan, mana lebih
merugikan?
Karena itu :
Terlalu kikir pasti mengakibatkan
pemborosan besar,
Banyak menimbun pasti mengakibatkan
kehilangan besar!
Yang tahu akan cukup takkan sampai
pada kehinaan.
Yang tahu takkan sampai pada bahaya.
Dia akan dapat bertahan lama!”
Tek Hong tidak sampai hati untuk meninggalkan jenazah
Tung hai Sian jin begitu saja. Dia seorang keturunan
pendekar besar yang berhati mulia dan bijaksana, maka
sebagai seorang manusia yang penuh rasa perikemanusiaan,
pemuda ini lalu menggali lubang di bawah salju dan
mengubur jenazah itu secara sederhana. Juga ia berlari
kembali ke tempat dimana tadi ia melihat jenazah seorang
kakek gendut dan jenazah inipun dikuburkan baik baik.
Kemudian, tanpa mengenal lelah, ia cepat cepat pergi
menuju ke dusun Tiang kwan untuk mencari Siang Cu,
kekasihnya.
“Nona Leng Li, terus terang saja kukatakan bahwa aku
mencinta Siauw Yang, puteri dari Thian te Kiam ong dan
apapun juga yang terjadi, aku akan tetap setia kepadanya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Maafkan aku banyak banyak, nona. Aku tahu bahwa kau
adalah seorang gadis yang bijaksana dan gagah dan pemuda
yang manapun juga akan berbahagia sekali kalau bisa
menjadi suamimu. Kau telah menolongku terlepas dan
bahaya maut, dan sekarang, aku... sebaliknya
mengecewakan hatimu. Maafkanlah.” Demikian kata kata
Pun Hui yang diucapkan kepada Leng Li. Nona ini duduk
di atas batu di taman bunga sambil mengusap usap air
matanya yang membasahi pipinya.
“Liem siucai, aku dapat memaklumi isi hatimu. Akupun
bukan seorang gadis tak tahu malu yang akan memaksa hati
orang menyukaiku. Sejak dahulu kau telah menolak
kehendak ayah yang memaksa hendak menjodohkan kau,
dan aku tahu bahwa kau..... kau tidak suka kepadaku. Akan
tetapi....”
“Nanti dulu, nona. Siapa bilang aku tidak suka
kepadamu? Aku bahkan akan berbahagia sekali kalau boleh
mengaku sebagai kakakmu,” bantah Pun Hui.
Tiba tiba wajah Leng Li yang manis menjadi terang
berseri, sepasang matanya memandang dengan sinar
gembira.
“Ah, itulah jalannya! Kau tahu bahwa aku tidak ingin
menikah dengan si apapun juga dan penolakanmu itu sama
sekali tidak menyusahkan hatiku, sungguhpun membuat
aku merasa rendah.”
“Maaf.... !”
“Jangan ulangi lagi persoalan maaf, Liem siucai.
Sekarang mari kita mencari jalan bagaimana baiknya. Yang
kususahkan adalah watak ayah. Dia menghendaki agar kita
berjodoh dan wataknya yang keras membuat aku tak
berdaya. Kalau kau menolak, dia tentu akan
membunuhmu.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kalau begitu kehendaknya, biarlah. Kematian hanyalah
merupakan pembebasan daripada derita hidup,” jawab Pun
Hui dengan sikap gagah, sikap yang telah menarik banyak
wanita, di antaranya Leng Li, Siang Cu, dan Siauw Yang.
“Bukan begitu, Liem siucai. Aku percaya akan
keteguhan hatimu, akan tetapi bukankah kau tadi
menyatakan bahwa kau mencinta Song lihiap? Kalau rela
mati begitu saja, bagaimana gerangan dengan perasaan
hatimu terhadap Song lihiap? Bukankah itu berani bahwa
kau memutuskan hubungan cinta kasih?”
Mendengar ini, wajah Pun Hui menjadi pucat dan sedih.
Memang, hal ini merupakan pukulan yang melemahkan
hatinya dan menghancurkan semangatnya. Laki laki
manakah yang takkan menjadi lemah semangat apabila
terpengaruh oleh asmara?
“Habis, apakah dayaku? Menuruti kehendak ayahmu,
aku tidak mungkin dapat melakukannya. Menolak berarti
aku akan dibunuhnya dan aku mana bisa menghindarkan
diri dari ayahmu yang berkepandaian tinggi?”
“Liem siucai, kau tadi menyatakan bahwa kau suka
menjadi kakakku, betul betulkah?” tanya Leng Li sambil
memandang tajam.
Pun Hui berkata sungguh sungguh, “Aku hidup
sebatangkara di dunia ini. Kau seorang gadis yang baik hati
dan gagah perkasa, mendapat seorang adik seperti engkau
merupakan kehormatan yang besar sekali bagiku. Mengapa
aku tidak bersungguh sungguh?”
“Nah, itulah jalan satu satunya supaya kau dapat
menghindarkan diri dari paksaan ayah. Kau harus menjadi
kakak beradik!” kata Leng Li girang.
“Apa maksudmu?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kita dapat melakukan upacara sembahyang dan
mengangkat saudara!”
Pun Hui berseri wajahnya. Benar juga, hal inilah satu
satunya jalan untuk menghindarkan diri dari paksaan.
Kalau sudah mengangkat saudara dengan bersumpah di
meja sembahyang, berarti mereka telah menjadi kakak
beradik dan tidak mungkin lagi dijodohkan!
Dua orang muda itu tengah bercakap cakap di taman
bunga di sebelah belakang gedung besar tempat tinggal Sin
tung Lo kai Thio Houw. Adapun kakek ini sendiri sedang
sibuk mengatur rumah yang hendak dihiasnya, karena
dengan berkeras kakek ini memaksa Leng Li dan Pun Hui
untuk segera merayakan pernikahan!
Selagi Sin tung Lo kai memberi petunjuk petunjuk
kepada para anak buahnya, yakni pengemis pengemis
bertongkat merah memberes bereskan rumahnya, tiba tiba
seorang pelayan datang kepadanya dan berkata, “Lo
enghiong, nona dan Lim siucai di taman bunga sedang
melakukan upacara sembahyang.”
Sin tung Lo kai terkejut dan memandang penuh
keheranan.
“Apa? Apakah mereka melakukan upacara pernikahan
sendiri dengan diam diam? Gila mereka itu.” Dengan
langkah lebar ia lalu menuju ke belakang rumah dan
memang benar, di tengah tengah taman bunga ia melihat
puterinya dan Pun Hui sedang berlutut di depan meja
sembahyang sambil memegang hio di tangan masing
masing. Agaknya mereka telah selesai sembahyang, karena
kini mereka berdiri, menancapkan hio di hioluw dan
memberi hormat sekali lagi kepada meja sembahyang lalu
membalikkan tubuh menghadapi Sin tung Lo kai.
“Ayah.,...!” kata Leng Li dengan wajah berseri.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ayah.....!” kata pula Pun Hui yang cepat menjatuhkan
diri berlutut di dpan pengemis tua yang sakti itu.
Semua ini adalah akal daripada Leng Li. Dialah yang
menyuruh pelayan memberitahukan ayahnya dan dia pula
yang mengatur agar upacara sembahyang mereka selesai
begitu ayahnya tiba di situ. Dan kini Pun Hui menyebut
“ayah” sambil berlutut, sesuai pula dengan akal yang
direncanakan oleh gadis yang cerdik itu.
Sin tung Lo kai Thio Houw tertegun melihat wajah
puterinya berseri seri, ayah yang mencinta puterinya dan
ingin melihat anaknya berbahagia itu menegur sambil
tertawa,
“Hm, apakah kalian sudah begitu tidak sabar menanti
sehingga melakukan upacara pernikahan sendiri? Dan kau
ini anak mantuku, mengapa menyebut ayah? Seharusnya
menyebut ayah mertua!”
Leng Li melangkah maju menghadapi ayahnya.
“Ayah, aku dan Hui ko (kakak Hui) tidak melakukan
upacara sembahyang untuk pernikahan.”
“Apa? Jangan kalian main main!” Sin tung Lo kai
membentak dan sepasang alisnya telah berdiri.
Leng Li menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, di
sebelah Pun Hui yang masih berlutut. Gadis ini telah
melihat ayahnya hendak marah, maka cepat cepat ia
mendahului ayahnya dan berkata, “Ayah, harap ayah saka
mendengarkan dengan sabar. Tadi memang aku dan Hui ko
bersembahyang, akan tetapi untuk bersumpah mengangkat
saudara.”
“Kau gila!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tidak, ayah. Semua ini untuk kebaikan kita bersama.
Aku dan Hui ko memang sudah menganggap seperti
saudara sendiri dan kebetulan kami berdua tidak
mempunyai saudara. Kami berdua amat berterima kasih
atas kehendak ayah yang amat baik, akan tetapi kalau hal
itu dipaksakan, akan banyak mendatangkan hal hal yang
tidak menyenangkan, ayah.”
“Bicaralah yang jelas!” kata Sin tsng Lo kai yang masih
belum padam api kemarahannya.
“Pertama tama, anak sendiri memang belum ingin
menikah.”
“Anak bandel!”
“Kedua kalinya, Hui ko telah bertunangan dengan nona
Siauw Yang, puteri dari Thian te Kiam ong. Oleh karena itu
kalau ayah memaksa kami menikah, tidak saja ayah berarti
akan menyusahkan hatiku, juga ayah akan menanam bibit
permusuhan dengan keluarga Thian te Kiam ong.”
“Aku tidak takut.” Sin tung Lo kai berkeras kepala.
“Aku percaya bahwa ayah takkan takut. Akan tetapi,
bukankah maksud ayah menikahkan aku hanya karena
ayah hendak melihat anakmu hidup berbahagia? Aku tidak
ingin menikah, kalau ayah memaksaku dan kemudian
timbul permusuhan yang tiada habisnya, bagaimana aku
berbahagia? Sekarang aku berbahagia. Aku tidak usah
menikah, mendapat saudara tua yang amat baik seperti Hui
ko, dan dengan keluarga Song kita semua mempunyai
bubungan amat baik.”
Sin tung Lo kai termenung dan merasa dikalahkan oleh
puterinya sendiri, ia mengangkat bangun puterinya dan
memegang kedua pundak Leng Li, menatap wajah
puterinya dengan tajam. Leng Li yang melihat tarikan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
muka ayahnya, menjadi terharu dan dua titik air mata
melompat keluar dari sepasang matanya.
“Leng Li, apakah kau tidak membohong? Apakah kau
tidak melakukan semua ini untuk berkorban? Apakah hati
mu tidak merasa sakit dan terluka? Bukankah kau suka
kepada Pun Hui?”
Dengan air mata mengalir akan tetapi bibir tersenyum,
gadis itu mengangguk anggukkan kepalanya. “Tentu saja
aku suka padanya, ayah. Kalau tidak masa aku mau
menjadi adik angkatnya? Tentang jodohku, kelak Hui ko
tentu akan dapat mencarikan untukku, bukan begitu, Hui
ko?”
“Aku bersumpah untuk menjaga dan membela adik Leng
Li seperti adik kandungku sendiri, ayah,” kata Pun Hui
dengan suara bersungguh sungguh.
Sin tung Lo kai merasa terharu dan ia lalu mengangkat
bangun pemuda itu, dipeluknya bersama Leng Li di kanan
kiri.
“Bagus, aku mendapat seorang putera! Akan tetapi mulai
sekarang kau harus belajar silat, tidak suka aku mempunyai
putera yang lemah!”
Demikianlah, Pun Hui telah tertolong dari keadaannya
yang sulit sekali berkat kecerdikan Leng Li. Leng Li
khawatir kalau kalau ayahnya menjadi curiga dan mengerti
bahwa pengangkatan saudara itu hanya sebagai akal belaka,
maka ia membujuk kepada Pun Hui supaya untuk
sementara waktu mau tinggal di situ dan menurut saja
mempelajari ilmu silat.
Pun Hui pernah mendapat petunjuk tentang ilmu silat
dari Siauw Yang. Pengetahuannya tentang kauwkoat (teori
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ilmu silat) sudah mendalam sehingga ketika Leng Li
mengajarnya, gadis ini menjadi tercengang.
“Pengertianmu sudah luas sekali tentang pokok pokok
ilmu silat!” kata gadis ini sambil membelalakkan matanya
yang bening.
Pun Hui tersenyum. “Aku hanyalah seorang kutu buku
dan seorang terpelajar, pengetahuanku itu hanya sampai di
dalam otak saja, tidak mendarah daging.”
Leng Li lalu memberi pelajaran praktek kepada pemuda
ini dan ternyata bahwa Pun Hui dapat melatih ilmu silat
dengan cepat.
Beberapa hari kemudian, pada suatu senja Sin tung Lo
kai sendiri perkenan mengajar ilmu silat kepada Pun Hui
Kakek ini sikapnya biasa dan ia mulai merasa suka kepada
pemuda yang pandai membawa diri ini.
“Leng Li berbakat, akan tetapi ia tidak cukup kuat untuk
mewarisi seluruh kepandaianku. Kulihat kau berbakat baik
dan kau masih mempunyai darah dan pikiran yang bersih.
Juga semangatmu besar, maka kaulah kelak yang akan
mewarisi kepandaianku,” kata kakek ini kepada Pun Hui.
Kemudian ia mulai memberi petunjuk tentang
kedudukan kaki dan tubuh dalam bersilat dan mainkan
ilmu tongkatnya yang istimewa. Dengan taat, sungguhpun
ia tidak begitu suka mempelajari ilmu silat, Pun Hui
memperhatikan dan mencontoh petunjuk petunjuk itu.
Selagi mereka bermain silat di taman bunga tiba tiba
terdengar suara nyaring.
“Liem suheng, mari kita pergi dari sini!” Maka
melayanglah seorang gadis bertubuh langsing memasuki
taman itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kau ...?” Pun Hui berseru dan semua kegirangan dan
kerinduan terkandung dalam suara ini.
“Song lihiap!” kata Leng Li ketika melihat gadis yang
datang ini.
Adapun Sin tung Lo kai tersenyum mengejek dan
berkata, “Hm, kiranya nona Song yang datang tanpa
diundang. Apakah kehendakmu?”
Siauw Yang, gadis yang baru datang itu memandang
dengan tajam dan dan pandangan matanya. Pun Hui
maklum bahwa gadis ini penuh kemarahan dan kecurigaan.
“Aku datang untuk mengajak Liem suheng pergi dari
sini.Mengapa mesti menunggu undangan?”
“Nona, kau kurang ajar sekali! Mengherankan sekali
kalau ayahmu tidak akan marah kepadamu kalau dia
melihat sikapmu sekarang ini. Kau hendak mempergunakan
paksaan membawa pergi Pun Hui dari sini?” Tanya Sin
tung Lo kai yang kelihatan marah juga sehingga diam diam
Leng Li merasa amat khawatir dan gelisah.
“Siapa mulai mempergunakan kekerasan? Suhengku ini
dengan paksa diculik pergi oleh puterimu, kalau aku
sekararg bersikap keras pula membawanya kembali, kau
mau apa?” Sambil berkata demikian, Siauw Yang karena
merasa amat panas hati dan penuh cemburu terhadap Leng
Li, melirik ke arah Leng Li sambil mencabut pedang Kim
kong kiam.
Muka Leng Li menjadi merah sekali ketika ia mendengar
ini dan sambil menundukkan mukanya ia berkata lirih,
“Song lihiap, harap kau jangan salah duga. Aku hanya
menolongnya dari bahaya ketika kami diserbu oleh anak
buah Pangeran Ciong, lalu membawanya ke sini. Baiknya
di tengah jalan kami bertemu dengan ayah dan mendapat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pertolongannya. Harap kau jangan menyangka yang tidak
tidak.”
“Siapa menyangka yang tidak tidak? Aku hanya bicara
sebetulnya saja. Bukankah kau memang membawa pergi
Liem suheng secara paksa dan tidak membawanya kembali
ke tempat semula? Marilah, Liem suheng, kita pergi dan
sini dan jangan menanti keributan yang hanya akan
menyebalkan saja.” Sambil berkata demikian, Siauw Yang
memandang kepada Pun Hui.
Pemuda ini menjadi bingung sekali. Ia girang bukan
main melihat Siauw Yang masih selamat dan dapat
bertemu di sini, akan tetapi suasana panas yang di bawa
datang oleh Siauw Yang membuatnya gelisah.
“Baiklah, sumoi, memang akupun tentu akan
mencarimu. Akan tetapi marilah kau bicara baik baik lebih
dulu dengan kami. Perlu ada penjelasan penjelasan agar di
antara kita tidak ada perasaan tidak enak.”
“Apa kau bilang?” Sin tung Lo kai membentak marah
kepada Pun Hui dan menggerak gerakkan tongkatnya.
“Kau hendak pergi begitu saja? Kau adalah puteraku dan
kau harus taat kepadaku! Kalau kau harus pergi, hanya ada
satu keputusan yakni bahwa kepalamu harus pecah lebih
dulu oleh tongkatku! Hendak melihat siapa orangnya berani
mencegah aku menghajar puteraku sendiri.” Sambil berkata
demikian, Sin tung Lo kai melirik ke arah Siauw Yang
dengan sikap menantang.
Tentu saja Siauw Yang menjadi heran dan marah. Akan
tetapi kemarahannya jauh lebih besar daripada
keheranannya, maka tanpa bertanya ia telah memegang
gagang pedangnya erat erat dan matanya bernyala nyala
ditujukan kepada Sin tung Lo kai.
“Sumoi, sabar dulu.... !” kata Pun Hui.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kau benar benar hendak menjadi seorang anak yang
tidak berbakti dan berkhianat?” Sin tung Lo kai membentak
dan melangkah maju. Siauw Yang juga melangkah maju,
siap untuk melindungi pemuda itu.
“Tidak sama sekali, ayah, aku hanya hendak memberi
penjelasan kepadanya,” kata Pun Hui. Kemudian ia
berpaling kepada Siauw Yang dn berkata, “Sumoi,
ketahuilah bahwa aku telah menjadi anak angkat dan Sin
tung Lo kai dan Leng Li adik angkatku.”
“Nah, sekarang akan kutanya apakah kau masih hendak
mencampuri urusan rumah tangga kami? Aku melarang
puteraku pergi, dan kau mau apa?” kata Sin tung Lo kai
kepada Siauw Yang dengan sikap mengejek.
Merah bukan main muka Siauw Yang demi mendengar
ini ia marah, akan tetapi ia lebih heran dan menyesal
mendengar pengakuan Pun Hai.
“Orang tua, kalau memang dia itu sudah menjadi
puteramu, akupun tidak sudi mencampuri nya lagi. Aku
bukanlah orang yang tidak tahu aturan.” Akan tetapi baru
sampai di sini kata kata Siauw Yang, Sin tung Lo kai yang
merasa menang kedudukan dan mendapat angin, lalu
memotong nya,
“Kalau sudah begitu, tidak lekas pergi dari sini mau
tunggu apa lagi?”
Bukan main mendongkolnya hati Siauw Yang. Ia telah
merasa amat kecewa kepada Pun Hui dan sekarang ia
dihina pula oleh kakek itu. Sambil membanting banting
kaki dan hampir menangis ia membentak,
“Orang tua, kita sudah tidak ada urusan apa apa
mengenai diri orang muda ini. Akan tatapi kalau kau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menghendaki pertempuran, mari kita keluar mengadu
kepandaian sampai seribu jurus!”
“Siapa takut padamu, bocah sombong? Kau
berkepandaian karena puteri Thian te Kiam ong, akan
tetapi kau perlu diberi ajaran sopan santun!” Sin tung Lo
kai sudah memuiar tongkatnya. Akan tetapi sebelum dua
orang jagoan ini bertanding, Pun Hui sudah menjatuhkan
diri berlutut di depan ayah angkatnya,
“Ayah, mohon jangan angkat tangan bertempur dengan
dia.Maafkanlah dia ayah....”
“Kau mintakan maaf untuk seorang yang berlaku kurang
ajar kepada ayahmu?”
“Ayah, jangan bertempur dengan dia. Aku... aku cinta
padanya, ayah....”
Semua orang, kecuali Leng Li, tertegun mendengar ini.
Dan Siauw Yang dengan perlahan menengok kepada Pun
Hui, kemudian menahan jatuhnya air mata dan sekali
berkelebat ia lenyap dari situ.
“Siauw Yang.... !” Pun Hui memanggil, akan tetapi gadis
itu sudah pergi jauh dengan cepat sekali.
Sin tung Lo kai tertawa bergelak. “Ha, ha, ha, ha! Leng
Li keras kepala, akan tetapi kau lebih keras kepala lagi.
Akan tetapi, aku suka pada anak anak yang keras hati dan
bersemangat. Dan kau dapat membawaku menjadi besan
dari Thian te Kian ong. Tidak jelek, tidak jelek, ha, ha, ha!”
“Ayah, harap jangan mengharap hal ini sebagai main
main belaka. Siauw Yang sudah marah dan kalau sampai
aku terpisah selamanya dari Siauw Yang, hidupku akan
menderita sengsara,” kata Pun Hui.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Anak bodoh! Soal perjodohan, kau dan dia tahu apa?
Aku masih hidup, dan Thian te Kiam ong masih hidup
pula. Biarkan dia datang membicarakan urusan ini, baru
aku akan dapat mengangkat namaku. Bagus sekali!”
Pun Hui tak berani membantah lebih jauh karena ia
mendapat isarat kerlingan mata dari Leng Li, maka pemuda
ini yang sudah percaya akan kecerdikan adik angkatnya,
lalu menutup mulut, ia tahu bahwa dalam hal urusannya
dengan Siauw Yang, ia boleh mengharapkan bantuan dari
Leng Li.
Sebagaimana telah ditularkan d bagian depan, Ong Siang
Cu ikut pergi dengan Bong Eng Kiat menuju ke dusun
Tiang kwan, di mana di rencanakan akan dilakukan
upacara pernikahan mereka. Dapat dibayangkan betapa
hancurnya hati Siang Cu ketika ia melakukan perjalanan di
samping pemuda yang dibencinya itu.
Ia telah rela berkurban demi keselamatan Tek Hong,
pemuda yang dicintainya, ia telah bersumpah mau menjadi
isteri Eng Kiat dan ia tahu bahwa sumpah ini hanya berarti
bahwa dia pasti mati. Dia tidak akan sudi diperisteri oleh
Eng Kiat atau siapapun juga kecuali Tek Hong, maka ia
lebih baik membunuh diri daripada menjadi jodoh Eng
Kiat. Ia akan menghabiskan nyawanya setelah ia melihat
betul bahwa kekasihnya itu benar benar telah disembuhkan
oleh Tung hai Sian jin. Tentu saja ia bisa melanggar
sumpahnya, akan tetapi hal inipun tidak akan ia lakukan.
Jalan satu satunya hanya menghabiskan nyawa sendiri,
dengan demikian, Tek Hong tertolong dan iapun terbebas
dari pada sumpahnya menjadi isteri Eng Kiat.
Akan tetapi masih ada yang mengganjal hatinya, yakni
urusan gurunya, Lam hai Lo mo. Telah berkali kali ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membaca surat Pangeran Kiam Tiong kepada Song Bun
Sam yang sampai sekarang masih berada di saku bajunya.
Kalau ia mati sebelum dapat menanyakan hal itu kepada
Lam hai Lo mo ia akan mati dalam penasaran.
“Adik Siang Cu, mengapa kau melamun dan nampak
berduka saja?” tiba tiba Eng Kiat yang semenjak tadi
memandangnya, bertanya dengan suara halus penuh kasih
sayang. Suara ini lebih menyebalkan hati Siang Cu daripada
kalau pemuda itu bicara kasar.
“Siapa melamun? Siapa berduka? Perduli apa kau
dengan semua urusan? Tak usah kau memperhatikan aku!”
katanya ketus. Hening sesaat dan pada saat itu. Siang Cu
terbenam dalam renungannya sendiri, karena ia sedang
memikirkan sesuatu yang tiba tiba memasuki otaknya.
“Bagaimana aku tidak harus perduli? Aku cinta padamu,
adik Siang Cu yang manis.”
Akan tetapi kata kata yang halus dari Eng Kiat ini
hampir tidak terdengar oleh Siang Cu yang sedang
melamun dan tiba tiba gadis ini berpaling padanya sambil
menahan tindakan kakinya.
“Eng Kiat, betul betulkah kau suka padaku?”
“Aku bersumpah, demi langit dan….”
“Cukup! Kalau kau suka padaku, tentu kau mau
menceriterakan terus terang segala yang ingin kuketahui?”
“Tentu, tentu!”
“Sudah lama kau mengenal Lam hai Lo mo suhuku?”
“Semenjak aku kecil! Akan tetapi tentu saja yang lebih
mengetahui keadaannya adalah ayahku, mereka semenjak
dahulu sudah saling tahu.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hm, kalau begitu, ceritakan padaku tentang halnya
dengan sepasang suami isteri bangsawan, yakni Pangeran
Kian Tiong dan Puteri Luilee.”
Berobah air muka Eng Kiai ketikjt ia mendengar ini.
Sampai lama ia tidak dapat menjawab dan memandang
kepada gadis itu dengan penuh keraguan.
“Kau.... sudah tahukah tentang…. tentang mereka?” kata
pemuda itu gagap dan matanya memandang dengan mata
terbuka lebar lebar.
Melihat sikap dan mendengar kata kata pemuda itu,
Siang Cu yang cerdik sekali dapat menduga bahwa pemuda
itu tentu tahu akan peristiwa yang terjadi antara kedua
suami isteri bangsawan itu dengan Lam hai Lo mo dan
bahwa pemuda ini hanya takut untuk menceritakan hal itu
kepada lain orang.Maka ia lalu berkata,
“Tentu saja aku tahu. Mereka itu adalah ayah bundaku
dan aku dibawa oleh suhu dari kerajaan. Akan tetapi
pengetahuanku ini baru suram suram saja, maka berlakulah
baik kepadaku seperti janjimu tadi bahwa kau akan
menceriterakan segala yang kau ingin tahu. Aku ingin kau
menuturkan tentang kedua orang tuaku itu dan tentang
kematian mereka di tangan Lam hai Lo mo suhuku.”
Eng Kiat menjadi bengong. “Jadi selama ini kau telah
tahu akan hal itu? Adikku Siang Cu, memang akupun tahu
baik akan hal itu! akan tetapi biarpun terhadap kau sendiri,
tadinya aku sama sekali tidak membuka mulut karena Lam
hai Lo mo telah berkata bahwa siapa saja yang
membocorkan hal yang ia rahasiakan itu, pasti akan
dibunuhnya! Jangankan aku, bahkan ayahku sendiripun
takkan mau membocorkan rahasia itu. Akan tetapi,
sekarang ternyata kau sendiri telah mengetahuinya, tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ada salahnya lagi kalau aku menuturkan hal itu. Apalagi,
bukankah kau calon isteriku yang tercinta?”
“Cukup semua itu, lekas ceritakan!” Siang Cu mendesak
sambil menahan perasaannya yang menegang.
“Sebetulnya tidak banyak yang dapat kuceritakan.
Ayahmu seorang pangeran berkedudukan tinggi di kota
raja, bahkan ada desas desus bahwa ayahmu itulah yang
tadinya akan menggantikan singgasana kaisar. Adapun
ibumu, pernah ketika aku masih kecil aku melihatnya,
seorang yang amat cantik jelita, sama benar dengan engkau,
hanya matanya berwarna biru dan indah sekali. Ibumu
adalah puteri kepala suku bangsa Semu yang amat ternama
pula. Hal hal lain aku tidak tahu, hanya yang aku ketahui
bahwa ketika kau masih kecil, ayah bundamu itu didatangi
oleh seorang kakek pincang yang membunuh mereka dan
membawamu pergi. Ayah melihat ketika kakek pincang itu
membawamu ke Sam liong to, oleh karena itu, Lam hai Lo
mo mengancam ayah dan aku jangan sampai membocorkan
rahasia itu. Nah. hanya itu yang kuketahui. Siang Cu, tidak
penting bagimu karena kaupun sudah mengetahuinya.”
Dengan kata kata ini sambil berpaling ke kanan kiri, seakan
akan Eng Kiat hendak menghihur hatinya yang ketakutan
bahwa bukan dia yang membocorkan rahasia Lam hai Lo
mo itu.
Siang Cu tersenyum mengejek menyaksikan sikap ini,
akan tetapi di dalam hatinya, Siang Cu merasa terharu
sekali. Ternyata betullah semua yang ia dengar dari Thian
te Kiam ong sekeluarga, bahwa pembunuh orang tuanya
bahkan suhunya sendiri.
“Akan tetapi, mengapa suhu melakukan pembunuhan itu
semua? Tentu ada sebab sebabnya maka kedua orang tuaku
dibunuhnya.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Semua adalah kesalahan Thian te Kiam ong belaka!
Memang orang itu selalu mengandalkan kepandaiannya
sendiri melakukan pengacauan di mana mana, membikin
hidup orang lain tidak bisa tenteram. Aku mendengar dan
ayah bahwa dahulu Lam hai lo mo membantu kerajaan.
bersama dengan Pat jiu Giam ong yang menjadi jenderal.
Akan tetapi kedudukan Lam hai Lo mo yang amat baik itu
dirusak oleh Thian te Kiam ong yang memusuhinya,
bahkan akhirnya baik Pat jiu Giam ong maupun suhumu
telah dikalahkan oleh Thian te Kiam ong secara curang.
Kabarnya dikeroyok oleh Thian te Kiam ong dan guru
gurunya. Adapun ayahmu, Pangeran Kian Tiong itu,
bersahabat baik sekali dengan Thian te Kiam ong. Tentu
saja suhumu yang menaruh hati dendam kepada Thian te
Kiam ong, juga menganggap kawan kawan baik Thian te
sebagai musuhnya pula.”
Siang Cu mengangguk angguk. Pikirannya bekerja keras.
Ia dapat membayangkan dengan amat mudahnya mengapa
Thian te Kiam ong sampai bermusuhan dengan Lam hai Lo
mo. Sudah bukan rahasia lagi baginya bahwa watak dari
suhunya itu memang amat jahat dan keji, sebaliknya watak
dari keluarga Song adalah watak orang orang gagah yang
amat mengagumkan hatinya, ia sudah kenal baik watak Tek
Hong pemuda pujaan kalbunya, ia membuktikan sendiri
kegagahan Seng Bun Sam atau Thian te Kiam ong, raja
pedang yang luar biasa itu. Ia telah tahu pula akan
kehebatan sepak terjang Song Siauw Yang dan ibunya yang
halus dan ramah tamah. Oleh karena itu, biarpun tidak tahu
apa yang menjadi sebab sebab permusuhan antara suhunya
dan keluarga Song. Siang Cu dapat menduga bahwa
kesalahan tentu berada di pihak Lam hai Lo mo.
Semua pemikiran ini membuat hati Siang Cu tidak
karuan rasanya. Kini sudah terang bahwa Lam hai Lo mo
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pembunuh ayah bundanya, jadi ia boleh menganggap kakek
itu sebagai musuh besarnya yang harus dibalas. Akan tetapi
di samping itu gadis ini tidak lupa pula betapa kakek itu
telah memelihara dan mendidiknya semenjak ia masih kecil
dengan penuh kasih sayang. Jadi boleh dibilang ia telah
berhutang budi yang tak dapat dibayangkan besarnya
kepada kakek yang menjadi gurunya itu. Mengapa
demikian? Mengapa suhunya membunuh ayah bundanya
secara kejam kemudaan memelihara dan mendidiknya
menjadi murid? Apa yang dikehendaki oleh kakek yang
aneh itu?
Tiba tiba terkilas dalam bayangan pikiran Siang Cu hal
hal yang telah terjadi ketika ia masih kecil. Sering kali
gurunya itu sambil menimang nimangnya dan tertawa
berkikikan berkata kepadanya,
“Siang Cu, muridku yang manis, muridku yang pandai,
muridku yang baik. Kaulah orangnya yang kelak akan
mewarisi semua kepandaianku, bahkan kau akan menjadi
lebih lihai daripadaku. Kaulah, ya kaulah orangnya yang
kelak akan membalaskan sakit hatiku terhadap semua
musuh musuhku! Ha, ha, ha, kaulah anak manis yang kelak
akan membasmi seluruh musuh besar Lam hai Lo mo.”
Teringat akan semua ini, diam diam Siang Cu bergidik.
Mukanya menjadi merah sekali, ia merasa ngeri dan marah
sekali karena matanya telah terbuka kini akan kekejian
kakek yang menjadi gurunya itu. Demikian besar kebencian
Lam hai Lo mo terhadap Thian te Kiam ong dan Pangeran
Kian Tiong sehingga tidak saja kakek ini membunuh
pangeran dan isterinya, akan tetapi bahkan mendidik puteri
mereka untuk kelak memusuhi Thian te Kiam ong, sahabat
baik pangeran itu.
“Keparat jahanam!” Tak terasa mulut gadis itu memaki
gurunya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Memang betul, Thian te Kiam ong itu keparat jahanam
yang mengacaukan segala hal.” Bong Eng Kiat salah
sangka mengira gadis itu memaki Song Bun Sam. “Akan
tetapi sudahlah, adikku yang manis, untuk apa kita
memikirkan dia? Begitu sesudah kita menikah, kita tidak
mau mencampur semua urusan itu. Kita menjadi suami
isteri yang bahagia menjauhkan diri dan aku akan
berdagang, di mana kita tidak lagi menghadapi permusuhan
permusuhan.”
Siang Cu gemas sekali, akan tetapi kata kata ini menarik
hatinya, ia memandang dengan penuh selidik.
“Kau tidak hendak mencari dan memusuhi keluarga
Song itu?” tanyanya.
Eng Kiat menggeleng kepala dan tersenyum lalu
mengulur tangan hendak menangkap lengan Siang Cu akan
tetapi gadis itu cepat mengelak sehingga Eng Kiat
menangkap angin.
“Siang Cu, apa kaukira aku seorang yang haus darah?
Cita citaku adalah mencari kebahagiaan hidup, dan dengan
kau di sampingku sebagai isteri terkasih, aku akan hidup
bahagia, menjadi ayah dan beberapa orang anak....”
“Oh, tutup mulutmu!” bentak Siang Cu dengan muka
merah. Akan tetapi timbul pandangan lain baginya
terhadap pemuda ini. Pemuda ini betapapun juga mata
keranjang dan ceriwisnya, namun tidak sejahat ayahnya
dan jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan Lam hai
Lo mo. Ia percaya bahwa seorang pemuda beriman lemah
seperti Eng Kiat, apabila mendapat bimbingan dari seorang
yang penuh kasih sayang besar kemugkinan akan menjadi
orang baik baik. Akan tetapi, tentu saja ia tidak sudi
menjadi isteri Eng Kiat atau isteri siapapun juga kecuali Tek
Hong.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Perjalanan dilanjutkan dengan cepat menuju ke Tiang
kwan, dan di dalam perjalanan, Siang Cu jarang sekali
membuka mulut lagi. Jawaban jawabannya yang ia
ucapkan atas pertanyaan dan senda gurau Eng Kiat hanya
singkat saja, bahkan tidak jarang ia tidak menjawab sama
sekali oleh karena itu, Eng Kiat ingin cepat cepat tiba di
tempat tujuan. Sebelum pernikahan dilangsungkan, hatinya
masih terap gelisah, karena siapa tahu akan perobahan hati
gadis yang aneh wataknya ini.
Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di pinggir
sebuah hutan di lereng pegunungan. Karena sudah
melakukan perjalanan jauh, merela lalu mengaso di bawah
sebatang pohon besar. Siang Cu mempergunakan
saputangan untuk menghapus peluh di dahinya dan dengan
sikap manja. Eng Kiat lalu mengeluarkan kipasnya dan
mengipasi gadis itu untuk mengusir hawa panas.
Terharu juga hati Siang Cu melihat pemuda ini. Makin
lama sikap Eng Kiat makin baik dan mengambil ambil
hatinya, padahal ia selalu bersikap tidak mengacuhkan.
Seringkali di waktu bermalam di dalam hutan, setelah Siang
Cu tertidur, Eng Kiat mempergunakan mantelnya untuk
menyelimuti tubuh gadis itu dan ia berjaga semalam suntuk
untuk mengusir nyamuk yang hendak menggigit kulit yang
halus dan putih dari kekasihnya.
“Eng Kiat, kau tahu bahwa aku tidak suka padamu.
Mengapa kau mati matian hendak mengawiniku?” Siang
Cu bertanya dengan nada suara mengandung iba hati.
Eng Kiat tersenyum pahit. “Bagaimana seorang kasar
dan bodoh seperti aku dapat mengharapkan cinta seorang
seperti kau, Siang Cu? Mendapat kesempatan untuk
mencintamu itu saja sudah merupakan kebahagiaan paling
besar di dalam hidupku.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Akan tetapi, kau tahu bahwa aku hanya mau menikah
padamu karena terpaksa, karena cinta kasihku kepada Tek
Hong, karena aku tidak ingin melihat ia mati. Aku lakukan
ini sebagai pengorbananku terhadap Tek Hong. Adakah hal
ini tidak menyakitkan hatimu?”
“Akan tetapi, kalau sampai Tek Hong tidak tertolong
oleh ayahmu dan tidak dapat hadir ketika perayaan
pernikahan dilangsungkan, tidak saja aku takkan sudi
melakukan upacara itu, bahkan kau akan kubinasakan, Eng
Kiat!” Siang Cu memandang tajam penuh ancaman.
Eng Kiat tertawa, “Aku percaya akan kesayangan ayah
padaku. Dia pasti akan menyembuhkan pemuda itu.”
“Akan tetapi masih ada sebuah syarat lagi, Eng Kiai.
Sebelum upacara itu dilakukun lebih dulu aku harus
bertemu dengan Lamhai Lo mo.”
Eng Kiat terkejut. “Untuk apa kau akan bertemu dengan
kakek buntung itu?”
“Untuk mendapat kepastian daripadanya apakah benar
benar dia telah membunuh orang tuaku dan kalau benar
demikian, hendak menuntut keterangan mengapa ia
melakukan hal yang keji itu.”
Eng Kiat tak dapat menjawab dan pada saat itu,
terdengar suara ketawa terkekeh kekeh disusul oleh suara
yang parau.
“Ha, ha, ha, bohong! Bohong benar ucapan itu. Siapa
yang membunuh orang tuamu?”
Mendengar suara ini, serentak Siang Cu melompat
bangun dan di lain saat pedangnya Cheng hong kiam sudah
tercabut dan berada di tangan kanannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bayangan kakek berkaki buntung sebelah melayang
turun dari atas pohon besar dan Lam hai Lo mo berdiri di
depan dua orang muda itu sambil mempermainkan
tongkatnya.
“Siang Cu, kau tadi bicara tidak karuan. Kalau kau mau
tahu, yang membunuh orang tuamu adalah Thian te Kiam
ong ong Bun Sam! Sedangkan akulah yang menolongmu
sehingga kau terbebas dari bahaya maut di tangan penjahat
itu.”
“Lam hai Lo mo, kau bohong, kau jahanam besar!” seru
Siang Cu yang tak dapat mengendalikan hawa nafu
kemarahannya lagi.
“Siang Cu, kau kurang ajar! Mana ada murid berani
mengatakan bohong kepada suhunya?”
“Memang kau pembohong besar! Kau memutarbalikkan
kenyataan. Kaulah yang membunuh mati ayah bundaku
lalu menculikku. Apakah kau begitu pengecut tidak berani
mengakui perbuatanmu?”
“Siapa bilang? Hayo katakan, siapa bilang?”
“Eng Kiat yang menjadi saksi, Eng Kiat dan ayahnya!”
Merah muka Lam hai Lo mo seperti kepiting direbus.
Dengan muka mengancam ia menoleh kepada Eng Kiat
dan memaki,
“Anjing busuk! Kau yang membuka rahasia?” Kau dan
ayahmu? Kalau begitu kepalamu akan pecah, begitupun
kepala ayahmu!”
Melihat betapa wajah Eng Kiat menjadi pucat sekali dan
pemuda itu melangkah mundur ketakutan. Siang Cu
menjadi kasihan dan ia teringat bahwa tidak seharusnya ia
mengatakan bahwa Eng Kiat yang membuka rahasia itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Maka ia melompat maju di depan Lam hai Lo mo sambil
membentak,
“Lam hai Lo mo, tak usah kau membelokkan persoalan!
Kau pembunuh orang tuaku, maka sekarang aku harus
mengadu nyawa denganmu!” Setelah berkata demikian,
Siang Cu terus saja menyerang dengan pedangnya menusuk
kearah dada bekas guunya itu secepat kilat.
Kakek yang buntung sebelah kakinya itu cepat melompat
dan mengelak sumbil membentur pedang bekas muridnya
dengan tongkat di tangannya. Lalu ia mengeluarkan suara
yang aneh, terdengar seperti suara tertawa dan menangis
campur aduk.
“Alangkah buruknya nasibku! Seagala kepandaian yang
kuajarkan kepadamu, ternyata sekarang dipergunakan
untuk menyerangku sendiri.”
Tertikam hati Siang Cu mendengar ini dan mukanya
menjadi merah. Akan tetapi sambil mengertak giginya ia
berkata.
“Kebaktian terhadap orang tua jauh lebih berharga
daripada kebaktian terhadap guru. Kau haru menebus
dosamu terhadap ayah bundaku.” Lagi lagi ia menyerang,
kini dengan sabetan pedang nya ke arah kakek itu.
Sebagai orang yang memberi pelajaran ilmu pedang
kepada Siang Cu tentu saja Lam hai Lo mo tahu
sepenuhnya segala macam sifat penyerangan pedang gadis
itu, maka kembali ia dapat mengelak dengan baiknya. Akan
tetapi dengan gerakan yang lebih ganas lagi Siang Cu
menyerang untuk ke tiga kalinya. Lam hai Lo mo
menangkis dan timbullah marahnya.
“Kau sudah bosan hidup dan hendak menyusul kedua
orang tuamu? Baik, kuantarkan kau menjumpai mereka!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tongkatnya lalu begerak cepat dan kini bekas guru dan
murid itu saling gempur dengan hebatnya.
Siang Cu memiliki gerakan yang luar biasa cepatnya, dan
boleh dibilang kecepatan gerakannya sudah mengatasi
suhunya. Hal ini karena memang ia berbakat baik sekali
dan jauh lebih muda serta memiliki tubuh yang lemas dan
gesit. Akan tetapi semua gerakan pedangnya telah dipahami
baik oleh Lam hai Lo mo, sebaliknya penyerangan tongkat
di tangan kakek itu memiliki banyak gerakan yang belum
dimengerti oleh Siang Cu. Oleh karena ini, sebentar saja
gadis itu terdesak hebat.
“Jangan bunuh isteriku........ jangan bunuh dia!” Berkali
kali Eng Kiat menjerit jerit dengan hati gelisah, akan tetapi
pemuda itu sama sekali tidak berani menggerakkan
tangannya untuk membantu Siang Cu.Memang, biarpun ia
telah memiliki kepandaian yang tinggi, namun sifat
pengecutnya masih ada. Tidak ada kepandaian yang dapat
melenyapkan sifat seseorang dan Eng Kiat memang amat
takut terhadap kakek buntung ini.
Dengan tongkat Lam hai Lo mo masih belum dapat
membobolkan pertahanan pedang di tangan Siang Cu.
Agaknya kalau hanya mengandalkan tongkatnya, kakek
buntung ini akan sukar sekali atau setidaknya akan lama
sekali untuk dapat merobohkan bekas muridnya. Maka
dengan gemas sekali ia lalu mulai mainkan tangan kirinya,
melakukan pukulan pukulan Sam hiat ci hoat.
Siang Cu terkejut sekali. Belum pernah ia mempelajari
ilmu pukulan ini sungguhpun dahulu ia telah mendengar
dari suhunya itu ketika Lam hai Lo mo tengah menciptakan
ilmu pukulan yang hebat ini. Keadaan Siang Cu makin
terdepak dan dalam jurus ke limapuluh lebih, tiba tiba
ketika sepasang senjata bertemu dan saling menempel, jari
jari tangan kiri kakek itu melayang dan menyentuh jidat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siang Cu yang berkulit putih halus. Gadis itu mengeluh,
pedangnya terlepas dan tubuhnya terhuyung huyung lalu
roboh. Wajahnya yang putih kemerahan berubah menjadi
kebiruan dan jidatnya nampak tanda tiga buah jari merah.
Setelah merobohkan bekas muridnya, Lam hai Lo mo
berdiri bagaikan patung, memandang kepada tubuh yang
menggeletak itu dan butiran butiran air mata mengalir turun
dari matanya. Teringat ia betapa dahulu ketika masih kecil,
Siang Cu ia timang timang dengan penuh kasih sayang.
Kemudian ia teringat kepada Eng Kiat yang berdiri sambil
menangis keras.
“Kau.... anjing busuk, kaulah biang keladi semua ini....
!” kata Lam hai Lo mo yang melangkah maju menghampiri
Eng Kiat dengan tindakan lambat.
“Tidak.... tidak.... aku tidak bersalah....” Eng Kiat
mundur dengan muka pucat, menggoyang goyangkan
kedua tangannya dan tubuhnya gemetar.
“Kau harus mampus!” berkali kali Lam hai Lo mo
menggumamdan terus mengikuti pemuda itu.
Saking takutnya, Eng Kiat lalu membalikkan tubuhnya
dan lari. Akan tetapi, baru beberapa langkah ia berlari, tiba
tiba ia merasa pundak kanannya sakit sekali dan ternyata
bahwa tongkat kakek itu telah dilontarkan dan menembus
pundak tepat di bawah tulang pundaknya. Sakitnya bukan
main sehingga tubuh Eng Kiat terhuyung huyung dan
matanya menjadi berkunang kunang. Ia lebih mempercepat
larinya, akan tetapi karena ia sudah pening dan pandang
matanya gelap, ia lupa bahwa tadi dalam terputar putar, ia
menghadapi Lam hai Lo mo sehingga ketika ia lari cepat ia
bukan menjauhkan diri, sebaliknya menghampiri kakek itu.
Ia mendapatkan kenyataan ini setelah terlambat, ia hanya
mendengar suara kakek itu tertawa menyeramkan dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ketika ia membuka mata lebar lebar, kakek itu telah berada
di depannya dan pada waktu tangan kanan kakek itu
meluncur ke depan, terdengar suara “krek!” dan robohlah
tubuh Eng Kiat setelah tersentak ke belakang. Jidatnya telah
terkena pukulan Sam hiat ci hoat dengan hebatnya sehingga
biarpun kulit jidatnya tidak rusak, namun seluruh isi
kepalanya telah hancur. Ia menggeletak tak bernyawa lagi
dengan seluruh kepala menjadi hitam dan jidatnya terhias
tanda tiga buah jari merah.
Lam hai Lo mo mencabut tongkatnya dari pundak Eng
Kiat, lalu memandang tubuh Siang Cu beberapa lama.
Kemudian ia pergi, bicara seorang diri di dalam perjalanan.
Suara penuh ancaman.
“Bun Sam, kau sekeluarga mu harus mampus….”
Pada saat itu terdengar jerit mengerikan.
“Siang Cu.... !”
Ketika Lam hai Lo mo menengok wajahnya berobah
seram, ia melihat seorang pemuda tegap, dan tampan
memeluk tubuh Siang Cu sambil menangis. Ternyata
bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tek Hong, putera dan
Thian te Kiam ong Song Bun Sam! Sebagaimana telah
dituturkan di bagian depan, setelah meninggalkan Tung hai
Sian jin yang tewas karena ketamakannya sendiri, Tek
Hong cepat cepat mengejar Siang Cu yang pergi bersama
Eng Kiat. Pemuda ini amat khawatir akan keselamatan
kekasihnya, maka ia melakukan perjalanan cepat sekali
tanpa menunda nunda. Oleh karena itulah maka ia dapat
menyusul Siang Cu dan Eng Kiat. Namun sayang sekali, ia
terlambat sedikit sehingga ketika tiba di dekat hutan itu, ia
mendapatkan dua tubuh menggeletak di atas tanah. Ketika
melihat bahwa yang menggeletak itu adalah Siang Cu dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Eng Kiat, ia cepat menubruk Siang Cu dan memeluknya
sambil menangis.
“Siang Cu.... kau, kenapakah.... ?”
Gadis itu belum tewas. Pukulan Sam hiat ci hoat yang
mengenai jidat Eng Kiat jauh lebih hebat sehingga pemuda
itu tewas pada saat itu juga. Akan tetapi pukulan yang
ditujukan kepada Siang Cu, biarpun amat hebat namun
belum cukup kuat untuk menewaskan gadis itu seketika.
Siang Cu membuka matanya dan ketika melihat wajah
Tek Hong dekat dengan wajahnya, ia tersenyum dan
sepasang mata yang tadinya sudah menyuram itu bersinar
kembali untuk beberapa lama.
“Tek Hong.... sampai akhir.... aku tetap setia.... pada
cintaku....”
Tek Hong mendekap kepala di pangkuannya itu ke dada,
seakan akan takut kalau kalau gadis itu akan lenyap dari
depannya.
“Siang Cu.... Siang Cu, kau jangan meninggalkan
aku....”
“Aku akan menantimu....” kata kata Siang Cu makin
lemah dan tiba tiba sepasang mata gadis itu terbuka lebar
lalu ia menjerit, “Tek Hong, awas belakang! Hati hatilah!”
Lalu ia terkulai, dan tak dapat bergerak lagi.
Tek Hong cepat melompat sambil melepaskan tubuh
Siang Cu karena ia merasa ada sambaran angin dari
belakang. Sambil mempergunakan gerak tipu It ho hoan sin
(Burung Ho Membalikkan Tubuh) ia membalik sambil
mencabut pedangnya. Baiknya ia berlaku cepat karena
sebatang tongkat menyambar cepat sekali ke arah kepalanya
dan mendatangkan angin yang dingin.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Lam hai Lo mo, siluman tua. Kiranya kau yang telah
menewaskan SiangCu. Rasakan pembalasanku!” Tek Houg
menyerang tanpa banyak cakap lagi. Pemuda ini
menyerang dengan penuh semangat. Memang ilmu
pedangnya Tee coan Liok kiam sut luar biasa hebatnya, kini
ditambah oleh dendam yang menggelora karena kematian
Siang Cu, maka serangannya menjadi jauh lebih ganas dan
berbahaya daripada biasanya.
Lam hai Lo mo juga tidak banyak komentar lagi ia
maklum bahwa pemuda ini mencinta bekas muridnya dan
maklum pula bahwa betapapun juga, putera Thian te Kiam
ong ini tentu takkan mau menyerah begitu saja sebelum
mengadu nyawa. Maka kakek inipun lalu mengeluarkan
kepandaiannya dan kini pertempuran menjadi lebih hebat
daripada tadi ketika Lam hai Lo mo menghadapi Siang Cu.
Diam diam Lam hai Lo mo mengeluh karena menghadapi
ilmu pedang pemuda ini mengingatkan dia akan ilmu
pedang yang dimainkan oleh Sang Bun Sam, begitu
tangguh dan kuatnya. Biarpun ia telah mengerahkan tenaga
dan memutar tongkatnya dengan ilmu silatnya yang penuh
keganasan dan kecurangan, namun tetap saja sinar pedang
lawannya mengurungnya dan membuatnya menjadi
bingung dan cepat lelah.
Tek Hong yang mengerahkan seluruh tenaga dan
kepandaian disertai kenekatan yang meluap luap, tetap
waspada, ia sudah maklum bahwa tangan kiri kakek
buntung itu lihai sekali dalam mempergunakan ilmu
pukulan Sam hiat ci hoat. Hal ini tidak memungkinkan
Lam hai Lo mo untuk mempergunakan ilmu pukulan yang
mematikan itu karena tiap kali tangan kirinya bergerak,
selalu ia didahului oleh Tek Hong yang mempergunakan
ilmu pukulan Kim kong pek lek jiu untuk menyerang
tangan kiri lawan itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, pemuda ini tentu saja kalah pengalaman
dan ia lupa bahwa yang dihadapinya adalah Lam hai Lo
mo, seorang tokoh jalan hitam yang di waktu dahulu
sebelum ia lahir, sudah merupakan seorang tokoh yang
amat berbahaya.
Tiba tiba Lam hai Lo mo memperlambat gerakannya,
sepasang matanya memandang tajam seakan akan
mengeluarkan cahaya berapi, bibirnya kemak kemik
membaca mantera dan dengan mendadak ia berkata,
suaranya dalam dan amat berpengaruh,
“Anak muda, Siang Cu memanggilmu apakah kau tidak
dengar? Coba dengarkan baik baik ia memanggil dan minta
petolongamu!”
Tek Hong tertarik dan merasa amat heran. Ia tahu bahwa
tadi gadis itu telah menghembuskan napas terakhir, maka
kini mendengar ucapan Lam hai Lo mo cepat ia melompat,
membalikkan tubuh dan memandang ke arah gadis itu.
Sungguh luar biasa sekali. Tek Hong hampir tidak
percaya akan penglihatannya sendiri. Ia melihat Siang Cu
telah bangun duduk, membetulkan rambutnya dengan gaya
yang amat menggairahkan hatinya.
“Tek Hong, kesinilah....” Suara Siang Cu berbisik sayu.
“Tek Hong, ke sinilah....” Akan tetapi pada saat itu, Tek
Hong masih dapat mengelak cepat untuk menghindarkan
diri dari sambaran tongkat Lam hai Lo mo. Pemuda ini lalu
membalas serangan lawan dan kembali mereka bertempur
ramai dan seru.
“Dengar, dia memanggil manggilmu!” Berkali kali Lam
hai Lo mo berkata dengan suaranya yang berpengaruh.
Benar saja dalam menghadapi serangan serangan kakek itu,
Tek Hong mendengar suara Siang Cu merayu rayu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tek Hong kemarilah.... ! Tidak kasihankah kau
kepadaku? Tolonglah....”
Tek Hong melompat sambil menangkis serangan tongkat
Lam hai Lo mo dan sekali melompat ia telah berada di
dekat Siang Cu. Akan tetapi ketika ia menengok, ia melihat
gadis itu telah rebah kembali tak bergerak sedikitpun,
dengan muka kebiru biruan dan pada jidatnya nampak
tanda tiga jari tangan merah yang mengerikan itu.
“Siang Cu....!” dengan hati hancur Tek Hong
menggunakan tangan kiri menggoyang goyangkan tubuh
kekasihnya, akan tetapi ia segera menarik kembali
tangannya ketika jari jarinya menyentuh kulit tubuh yang
dingin seperti tubuh seorang yang telah mati! Teringatlah ia
kini akan penuturan ayahnya bahwa Lam hai Lo mo adalah
seorang ahli hoat sut (ahli sihir) yang memiliki ilmu hitam
yang mujijat.
“Celaka!” pikirnya ketika ia merasa ada sambaran angin
pukulan yang amat hebat dari belakang. Ternyata bahwa
tadi dalam kebingungannya menghadapi ketangguhan
pemuda itu, Lam hai Lo mo telah mempergunakan hoat sut
sehingga dalam pandangan Tek Hong, Siang Cu kelihatan
bangun duduk sedangkan telinganya seolah olah
mendengar gadis itu memanggilnya dengan suara merayu.
Dan pada saat pemuda itu mencurahkan perhatiaannya
kepada gadis itu, Lam hai Lo mo segera mengirim pukulan
pukulan mematikan!
Tek Hong cepat mengangkat pedang menangkis pukulan
tongkat, akan tetapi ia tidak berhasil menghindarkan
bahaya yang datang dan pukulan tangan kiri Lam hai Lo
mo. Jidatnya terkena pukulan Sam hiat ci hoat dan
tergulinglah tubuh pemuda itu, bergelimpangan di dekat
tubuh Siang Cu!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Memang tadi Tek Hong sedang terkejut sekali ketika
menjamah tubuh kekasihnya yang dingin, maka untuk
seketika itu, perhatiannya terbagi dan ia tidak mungkin
dapat menangkis dua macam serangan dari Lam hai Lo mo
yang sangat ganas dan keji.
Pukulan Sam htat ci hoat yang mengenai jidat Tek Hong
amat hebat dan pemuda ini biarpun telah mengerahkan
tenaga dalam dan sudah pula mendapatkan sari pengobatan
katak mujijat, tetap saja menjadi pening dan otaknya
terluka hebat. Namun dalam keadaan hampir mati itu, Tek
Hong masih sempat mempergunakan tenaga terakhir,
melontarkan pedangnya ke arah Lam hai Lo mo dengan
gerak tipu Kim coa jip te (Ular Emas Masuk Ke Dalam
Tanah). Pedangnya berobah menjadi sinar yang cepat
menyambar ke arah perut Lam hai Lo mo yang sedang
tertawa bergelak melihat hasil dan kemenangannya. Bukan
main kagetnya Lam hai Lo mo melihat datangnya
sambaran pedang. Ia tidak mempunyai jalan lain kecuali
melompat ke atas. Namun gerakannya kurang cepat karena
tadi ia tertawa gembira sehingga perhatiannya berkurang,
maka pedang itu masih berhasil menyerempet pahanya
yang tinggal sebelah.
“Aduh....” jeritnya dan kulit pahanya terobek pedang
sehingga mengeluarkan banyak sekali darah berceceran di
atas tanah. Lam hai Lo mo menyumpah nyumpah dan lari
masuk ke dalam hutan terpincang pincang.
Tek Hong makin pening dan pemuda ini lalu
menghampiri tubuh kekasihnya, menubruk dan memeluk
Siang Cu lalu roboh miring dengan tangan masih memeluk
leher kekasihnya. Sebentar saja mukanya menjadi biru dan
jidatnya terdapat tanda tiga buah jari tangan merah!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Dengan hati tidak karuan rasa, Siauw Yang berlari lari
meninggalkan Sin tung Lo kai, mendongkol, kecewa,
berduka dan banyak lagi perasaan tidak enak tercampur
aduk di dalam hatinya. Juga ia merasa malu kepada diri
sendiri, seakan akan telah menerima tamparan dari
keluarga Thio dan dari Pun Hui, pemuda yang selalu
menjadi buah kenangannya.
Berkali kali ia menggigit bibir dan menghapus air
matanya. Dan tujuan perjalanannya hanya satu, yakni
menyusul orang tuanya yang masih berada di Sam liong to.
Pada suatu hari ia memasuki sebuah dusun pegunungan
yang banyak hutannya, ia melihat orang orang dusun
bersimpang siur dan kelihatan ada terjadi sesuatu yang luar
biasa.
“Lopeh, ada terjadi apakah maka kalian begitu sibuk dan
bingung?” tanyanya kepada seorang tua petani yang
kebetulan lewat di dekatnya.
Petani itu menoleh dan memandang kepadanya dengan
sinar mata bercuriga dan ragu ragu.
“Aku paling tidak suka melihat orang berpedang atau
bergolok. Sejak muda aku tidak suka melihatnya!”
jawabnya ketus dan bersungut sungut.
Siauw Yang memang sedang mendongkol, maka
jawaban yang langsung menyindirnya yang berpedang itu,
membuatnya marah.
“Orang jahat terdapat di manapun juga.” jawabnya,
“bukan hanya dengan golok dan pedang orang dapat
berbuat jahat, bahkan dengan sebatang paculpun orang
dapat berbuat jahat. Lebih lebih lagi dengan mulutnya yang
tidak dapat ditahan orangpun dapat menyakiti hati orang
lain!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kakek itu tadinya hendak melanjutkan perjalanannya,
akan tetapi jawaban Siauw Yang ini membuat ia menahan
kakinya dan memandang lebih tajam.
“Eh, kau lain lagi dengan orang orang kang ouw biasa
yang kasar, nona. Aku tadi katakan bahwa aku tidak suka
kepada orang bersenjata memang beralasan, karena mereka
itu selalu mendatangkan keonaran. Dan sekarang, kembali
terjadi hal yang membikin ribut. Di luar dusun ini, di dekat
hutan terdapat tiga mayat orang menggeletak dalam
keadaan mati mengerikan sekali. Sayang.... yang dua orang
masih pemuda pemuda teruna yang gagah dan tampan, dan
yang seorang adalah gadis remaja yang amat cantik jelita.
Semua ini gara gara pedang dan golok, bukankah itu tepat
sekali kalau kukatakan bahwa aku tidak suka melihat orang
orang berpedang atau bergolok?”
Siauw Yang tertarik hatinya. Memang ia tidak ingin
melihat jenazah tiga orang yang menggeletak di luar dusun,
akan tetapi penuturan tentang keadaan orang orang yang
masih muda itu sedikitnya membuat ia bertanya lebih
lanjut,
“Apanya yang mengerikan, lopeh? Apakah mereka itu
terluka hebat oleh bacokan pedang dan golok?”
“Kalau terluka hebat masih tidak berapa mengerikan.
Yang bikin orang takut adalah muka mereka itu semuanya
menjadi hitam dan di jidat mereka terdapat tanda tiga jari
yang merah.... ah, bergidik aku kalau mengingatnya.”
Tanpa banyak cakap lagi, begitu mendengar keterangan
ini, Siauw Yang berkelebat dan dalam sekejap mata saja ia
lenyap dari hadapan kakek itu yang tentu saja menjadi
melongo seperti orang melihat setan di tengah hari.
“Orang orang kang ouw memang aneh sekali.... “ Ia
menggerutu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Dengan hati berdebar cemas, Siauw Yang lari keluar dan
dusun menuju ke tempat di mana dikabarkan orang
terdapat mayat tiga orang muda itu.
“Tentu korban dari Lam hai Lo mo si keparat....” pikir
Siauw Yang, karena di antara para anggauta Sam hiat ci
pai, yang masih hidup hanya Lam hai Lo mo dan Tung hai
Sian jin saja. Akan tetapi ia tidak ragu ragu lagi akan
kekejaman Lam hai Lo mo yang tidak segan segan
mencabut nyawa orang sambil tertawa bergelak.
Setelah tiba di tempat itu, Siauw Yang melihat beberapa
orang dusun merubung sesuatu, cepat ia mendorong mereka
ke kanan kiri sehingga orang orang itu terhuyung mundur
dan memberi jalan kepada nona cantik yang kedua
lengannya kuat seperti jepitan baja itu.
“Thian Yang Agung....!” Siauw Yang menjerit ketika
melihat kakaknya menggeletak dan memeluk Siang Cu.
Gadis ini cepat berlutut dan menangis. Akan tetapi tiba tiba
matanya menjadi beringas ketika ia melihat darah merah
berceceran di atas tanah.
“Mundur kalian semua! Biarkan aku memeriksa jejak
ini....!” bentaknya kepada para petani yang menonton.
Ternyata mata Siauw Yang amat tajam dan dengan cepat
ia dapat mengikuti jejak yang dibuat oleh Lam hai Lo mo.
Seperti sudah diceritakan di bagian depan, kakek jahat ini
terluka pahanya dan luka itu mencucurkan banyak darah.
Maka ketika ia masuk ke dalam hutan terpincang pincang,
darah menetes dari pahanya dan meninggalkan jejak yang
mudah diikuti oleh seorang yang cerdik dan awas
pandangannya seperti Siauw Yang.
Gadis ini setelah mendapat kepastian bahwa ceceran
darah itu membawanya ke hutan, lalu mengadakan
penyelidikan dengan cepat. Benar saja dugaannya, ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
melihat seorang kakek duduk di bawah pohon sambil
membalut pahanya yang tinggal sebelah lagi, dan kakek itu
duduk membalut paha sambil menangis!
“Siang Cu.... kau mengecewakan hatiku ! Ah, makin tua
makin buruk nasibku....” Demikian Lam hai Lo mo
mengeluh sambil menangis dan ia nampaknya demikian
berduka sehingga tidak mendengar kedatangan Siauw Yang
yang memandang gemas dan mencabut pedang.
“Lam hai Lo mo iblis tua yang keji! Kau telah
menewaskan kakakku, rasakan pembalasanku!” Sambil
berkata demikian. Siauw Yang menubruk dan langsung
menyerang dengan pedangnya.
Lam hai Lo mo terkejut sekali dan cepat melempar
tubuhnya ke samping lalu menggelundung dengan gerak
tipu Trenggiling Menggelinding Dari Puncak. Berkat
kecepatan gerakannya, baru ia terlolos dari pada bahaya
maut karena serangan yang dilakukan oleh Siauw Yang tadi
memang berbahaya sekali, penuh kegemasan dan
keganasan.
Berapi api sepasang mata kakek itu ketika melihat siapa
orangnya yang datang menyerang. Kemudian ia tertawa
bergelak dan mukanya berobah girang.
“Ha, ha, ha, bagus! Masih baik nasibku sehingga tanpa
dipanggil kau datang! Memang aku harus membasmi
keluarga Song keparat! Keluargamu yang selalu
mendatangkan malapetaka bagiku. Ha, ha, ha!”
“Tutup mulut dan mampuslah!” bentak Siauw Yang dan
gadis ini cepat menyerang lagi sambil mengerahkan seluruh
kepandaiannya serta tenaganya. Pedangnya menjadi enam
gulung sinar yang menyilaukan mata dan mengurung lawan
dari segala jurusan. Setiap serangan membawa tangan maut
karena kali ini Siauw Yang benar benar marah dan berhati
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hati dalam menggerakkan pedangnya, ia tidak mau
mainkan jurus yang biasa, melainkan mengeluarkan jurus
jurus dari Tee coan Liok kiam sut yang paling hebat.
Kalau dibandingkan dengan kepandaian Tek Hong, ilmu
pedang dan Siauw Yang masih lebih berbahaya lagi.
Kecepatan gerak dan kegesitannya luar biasa, laksana
seekor burung walet dan getaran angin yang terbawa oleh
sambaran pedangnya membuat daun daun pohon di atas
menjadi bergerak melambai lambai Lam hai Lo mo sibuk
sekali. Tadi telah merasai kelihaian Tek Hong yang amat
sukar dikalahkannya, kini menghadapi Siauw Yang yang
lebih gesit dan yang sedang marah sekali, sebentar saja ia
terkurung sinar pedang dan menjadi terdesak hebat. Apalagi
pahanya yang tinggal sebelah itu terasa sakit dan perih
sekali. Tiba tiba kakek buntung ini tertawa bergelak dengan
suara yang amat menyeramkan, lalu ia membentak,
“Ha, ha, ha, bocah cilik, apa kaukira bisa menangkan
Lam hai Lo mo yang lihai?”
Siauw Yang terkejut selengah mati. Suara ketawa yang
dikeluarkan oleh kakek itu demikian aneh dan nyaring
sehingga ia merasa tidak saja anak telinganya, bahkan
jantungnya juga tergetar hebat. Gadis ini maklum bahwa
lawannya ini menurut ayahnya, memiliki ilmu hitam yang
amat jahat dan berbahaya, maka ia cepat mengerahkan
semangat, menahan napas dan menolak getaran yang
seakan akan melumpuhkan semangatnya itu.
“Ha, ha, ha, bagaimana kau dapat melawan ku dengan
sebatang pedang buntung?” kembali Lam hai Lo mo
membentak dengan suara mengandung penuh pengaruh
ilmu hitam. Otomatis Siauw Yang memandang ke arah
pedangnya dan bukan main kagetnya ketika melihat betapa
pedangnya benar benar tinggal sepotong! Namun, ia
mengerahkan semangatnya dan dengan perlawanan sengit
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dari batinnya, pedang di tangannya itu berubah ubah
kadang kadang kelihaian buntung kadang kadang tidak!
Namun, tentu saja gangguan ini melelahkan dan
mengacaukan permainan pedangnya. Sedangkan tongkat di
tangan Lam hai Lo mo makin lihai saja sehingga kini
keadaan menjadi berbalik, bukan kakek itu yang terdesak,
melainkan Siauw Yang.
“Ha, ha, ha, kau akan roboh! Kedua kakimu sudah
lemas, dan tubuhmu gemetar. Kau roboh, roboh.... roboh!”
Lam hai Lo mo mengerahkan tenaga batinnya,
mempergunakan hoat sut sepenuhnya.
Siauw Yang adalah seorang nona muda yang belum
banyak pengalaman, bagaimana ia dapat bertahan
menghadapi kekuatan ilmu hitam kakek ini? Dahulu
ayahnya sendiripun ketika bertempur melawan Lam hai Lo
mo, apabila tidak dibantu oleh Kim Kong Taisu agaknya
akan roboh oleh ilmu hitam dari Lam hai Lo mo yang
curang.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 31
UCAPAN terakhir dari Lam hai Lo mo itu benar benar
membuat kedua kakinya lemas dan tubuhnya gemetar
sehingga kedudukan kakinya lemah dan terhuyung huyung.
Namun nona perkasa ini masih mencoba untuk
menguatkan hatinya. Memang ia berhasil mengusir
perasaan itu, akan tetapi terlambat baginya karena tiba tiba
tongkat di tangan Lam hai Lo mo sudah menyambar dan
menotok jalan darah di lambungnya. Siauw Yang terlempar
dan tak dapat bergerak lagi!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Lam hai Lo mo berjingkrak jingkrak seperti orang gila, ia
menari nari sambil melompat lompat di sekitar tubuh Siauw
Yang, tertawa tawa dan mengoceh kegirangan.
“Ha, ha, ha, ha, ha! mereka roboh semua, musuh musuh
besarku. Ha ha ha! Aku dapat menyembelihmu, dapat
menghancurkan kepalamu dengan Samhiat ci hoat.” Kakek
itu memungut pedang yang terlempar dari tangan Siauw
Yang, menggerak gerakkan pedang itu di dekat leher Siauw
Yang untuk menakut nakuti gadis yang jalan pikirannya
masih sadar itu. Namun tidak ada tanda sedikitpun di
wajah yang cantik itu menyatakan bahwa gadis itu merasa
ngeri atau takut. Kemudian Lam hai Lo mo menggerakkan
tangannya hendak memberi pukulan Sam hiat ci hoat pada
muka yang berkulit putih halus itu.
Akan tetapi, melihat wajah dan mata gadis itu, tiba tiba
Lam hai Lo mo menurunkan tangannya yang hendak
memukul.
“Sayang kalau kau mati begitu saja,” katanya
mengerutkan kening, lalu ia tertawa tawa karena
mendapatkan sebuah pikiran yang dianggapnya amat baik.
“Aku akan memotong urat sarafmu yang menuju ke otak
sehingga kau akan kehilangan ingatan, lupa akan
keadaanmu sendiri. Sesudah itu, dengan hoat sut (ilmu
sihir) kau akan kujadikan boneka hidup dan kau akan
kusuruh mencarinya dan membunuh Song Bun Sam dan
isterinya. Ha, ha, ha, ini bagus sekali. Satu kali pukul
mendapat tiga ekor tikus!” Kakek itu tertawa tawa dan
menari nari kegirangan dan kali ini benar benar Siauw Yang
merasa takut dan gelisah sekali, ia percaya bahwa kakek
yang seperti siluman ini memang bisa membuktikan
omongannya dan kalau sampat terjadi begitu, alangkah
ngerinya! Ia dapat membayangkan betapa ia sebagai
seorang yang kehilangan ingatan dan menjadi boneka hidup
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang bergerak atas kehendak kakek itu, mencari dan
membunuh ayah bundanya sendiri di luar kesadarannya!
Sambil terkekeh kekeh Lam hai Lo mo mulai memegang
megang dan meraba raba kepala Siauw Yang, mencari cari
urat saraf yang akan dipotongnya. Jari jari tangan kiri
meraba raba jidat dan tengkuk sedangkan tangan kanan
memegang pedang Kim kong kiam. Akhirnya ia
menemukan urat yang akan dipotongnya, lalu pedangnya
didekatkan pada kepala gadis itu. Akan tetapi gerakannya
di urungkan, dan kepada gadis itu ia berkata,
“Pedang ini akan melukai kulitmu dan orang tuamu
akan menaruh curiga. Lebih baik aku menggunakan senjata
yang lebih kecil agar jidatmu yang bagus itu tidak rusak
kulitnya.”
Sambil menyeringai kakek itu lalu mempergunakan
pedang untuk mengambil sepotong kulit dari tongkat
bambunya. Kemudian ia meruncingkan kulit bambu itu dan
tangannya siap bergerak memotong urat syaraf di kepala
Siauw Yang!
Kulit bambu diangkat, kepala dipegang dan…. Lam hai
Lo mo menggulingkan tubuhnya menggelundung pergi
menjauhi Siauw Yang. Hampir saja kepalanya tertembus
oleh sebatang pedang yang melayang bagaikan seekor ular
terbang yang menyambarnya.
“Lam hai Lo mo, keparat keji! Masih belum kapok kau
melakukan kekejaman di atas dunia ini?” Terdengar
bentakan nyaring dan bukan main kagetnya Lam hai Lo mo
karena ia melihat Thian te Kiam ong Song Bun Sam berdiri
mendekati Siauw Yang dan mengambil kembali pedangnya
yang menancap pada batang pohon setelah gagal
menembusi kepala Lam hai Lo mo.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bagaimana tiba tiba saja pendekar besar ini dapat datang
di situ? Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan,
Song Bun Sam yang terluka oleh pukulan Sam hiat ci hoat
beristirahat dan memulihkan kesehatannya di atas Pul au
Sam liong to, ditemani oleh isterinya. Tiga hari kemudian,
ia telah sembuh kembali. Ia amat mengkhawatirkan
keadaan Tek Hong, maka segera mengajak isterinya untuk
mencari puteranya yang dibawa pergi oleh Siang Cu.
Sebelum pergi mereka memeriksa keadaan di dalam gua
bekas tempat tinggal Lam hai Lo mo dan dengan girang
Bun Sam mendapatkan seekor katak putih yang sudah berisi
darah ular merah. Sebagai seorang yang banyak
pengalamannya di dunia kang ouw, tahulah Bun Sam
bahwa katak putih ini adalah obat penawar racun yang
paling jahat, maka dengan amat hati hati ia menyimpan
katak mati itu di dalam kantong bajunya.
Di dalam perjalanan, atas keterangan penduduk di
sepanjang perjalanan itu, mereka mendengar bahwa putera
mereka menuju Ke dusun Tiang kwan, maka cepat cepat
mereka mengejar ke jurusan itu. Tak lama setelah Siauw
Yang pergi mencari Lam hai Lo mo setelah melihat
kakaknya dan Siang Cu menggeletak di atas tanah,
datanglah Bun Sam dan isterinya. Yang menggeletak itu
adalah tubuh tiga orang muda yang sudah menggeletak
seperti tak bernyawa pula, yakni tubuh Tek Hong, Siang
Cu, dan Bong Eng Kiat.
“Tek Hong....” Sian Hwa meratap pilu sambil menubruk
dan memeluk tubuh Tek Hong. Ia merasa terharu sekail
melihat betapa puteranya itu masih dalam keadaan
merangkul leher Siang Cu dan merasa ngeri melihat wajah
sepasang orang muda ini menjadi kebiruan dan di jidat
mereka terdapat tanda tiga jari merah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam yang lebih tenang, segera menarik pergi
isterinya dan cepat berlutut memeriksa nadi dan dada Tek
Hong. Wajahnya berpeluh dan sepasang matanya sukar
dilukiskan, karena di situ terdapat bayangan gelisah, marah,
terharu dan juga penuh harapan.
“Bagaimana terjadinya semua ini?” tanya Bun Sam
tanpa menoleh kepada seorang petani yang terdekat.
“Entahlah, kami hanya melihat tahu tahu mereka bertiga
sudah menggeletak di sini. Akan tetapi baru saja seorang
gadis gagah juga melihat mereka dan gadis itu berlari masuk
ke dalam hutan seperti mengejar sesuatu!”
Pucat wajah Bun Sam mendengar ini. Segera
dikeluarkannya katak putih dari kantongnya.
“Sian Hwa, lekas kau mencoba menolong mereka
berdua. Tekan keras keras katak ini sampai keluar darah
putih dari tubuh belakang nya dan beri minum tigabelas
tetes kepada mereka!”
“Bukankah.... bukankah mereka sudah.... sudah....
mati?” tanya Sian Hwa.
“Mati atau hidup berada di tangan Thian. Kau boleh
mencoba. Aku tidak tahu berapa tetes seharusnya, akan
tetapi obat ini amat berbahaya, jangan lebih dari tigabelas
tetes. Aku haru mengejar gadis itu....”
“Siauw Yang.... ?”
Bun Sam mengangguk. “Siapa lagi kalau bukan dia?
Tentu Lam hai Lo mo tidak jauh dari sini.” Setelah berkata
demikian dan memberikan katak putih kepada isterinya,
Bun Sam melompat dan lenyap dari situ membuat para
petani yang berada di situ bengong.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah memasuki hutan, dengan tepat sekali Bun Sam
melihat betapa Lam hai Lo mo menari nari dan hendak
menusuk kepala Siauw Yang dengan sekerat kulit bambu.
Cepat sekali pendekar ini menghunus pedang, untuk
melompat tiada waktu lagi, maka ia lalu melemparkan
pedangnya, dan mengarah kepala Lam hai Lo mo dalam
usahanya untuk menolong puterinya.
Demikianlah, Lam hai Lo mo ternyata dapat mengelak
dari sambaran pedang dan kedatangan Song Bun Sam telah
menyelamatkan nyawa Siauw Yang dari bahaya yang
mengerikan sekali. Sekali totok saja Thian te Kiam ong
telah dapat membebaskan puterinya dari pengaruh tiam
hoat yang tadi dilakukan oleh Lam hai Lo mo dengan
tongkatnya.
“Ayah.... Hong ko telah....” kata Siauw Yang penama
kali ia dapat membuka mulutnya.
“Aku sudah tahu, kau lekas pergi membantu ibumu
menolong mereka!”
“Mereka sudah.... sudah mati, ayah....”
“Diam dan pergilah!” bentak Song Bun Sam dengan
penuh geram sambil berdiri dan menghadapi Lam hai Lo
mo. Raja Pedang ini marah bukan main kepada Lamhai Lo
mo sehingga ia sampai membentak bentak puterinya yang
tercinta. Adapun Siauw Yang tidak berani membantah
pula, cepat ia mengambil pedangnya yang tadi terlempar
dan diletakkan di atas tanah oleh Lam hai Lo mo,
kemudian ia meninggalkan ayahnya yang hendak
menghadapi kakek itu. Akan tetapi baru beberapa langkah,
ia berhenti dan berkata,
“Ayah, ini pedangmu!” Ia melemparkan pedang itu ke
arah ayahnya yang menyambutnya tanpa melihat pedang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
itu. Kemudian pendekar besar ini lalu melontarkan pedang
Oei giok kiam, yakni pedang isterinya, kepada Siauw Yang.
Gadis inipun menyambut pedang itu, lalu berlari cepat
meninggalkan hutan untuk membantu ibunya. Hatinya
berdebar girang karena melihat ayahnya, seakan akan
kakaknya dan Siang Cu masih akan dapat tertolong!
“Lam hai Lo mo, kau manusia ataukah iblis?
Kekejamanmu sudah melewati batas kekejian iblis sendiri!”
Saking marahnya, Thian te Kiam ong Song Bun Sam tidak
dapat mengeluarkan kata kata lebih panjang lagi.
“Ha, ha, hi hi hi! Song Bun Sam, puaskah kau sekarang?
Puteramu mampus, puterimu hampir saja gila. Ha, ha, ha!
Dan sekarang kaupun akan mampus!” Sambil berkata
demikian, tiba tiba kakek ini menyerang dengan
tongkatnya, ditusukkan ke leher Bun Sam sedangkan
tangan kirinya bergerak memukul dengan ilmu Sam hiat ci
hoat. Serangan ini ganas dan berbahaya sekali karena
mengetahui akan ketangguhan lawannya. Lam hai Lo mo
telah mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaganya.
Namun, dalam kemarahannya, Bun Sam tidak mengenal
kasihan lagi ia menggerakkan pedangnya, menangkis
tongkat itu dan begitu terbentur, tongkat bambu itu patah
menjadi dua, sedangkan pedang yang terbentur cepat
membalik memapaki tangan kiri lawan.
“Aduh....!” Lam hai Lo mo menjerit ketika pergelangan
tangannya terbabat putus oleh pedang Kim kong kiam. Dari
gerakan ini saja dapat di ukur kehebatan ilmu pedang Bun
Sam. Dalam segebrakan saja, ia telah dapat membabat
putus tangan Lam hai Lo mo yang terkenal memiliki
kepandaian hebat itu.
“Lam hai Lo mo, putusnya tanganmu itu menjadi bukti
akan keganasan dan kekejaman tanganmu yang sudah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merobohkan banyak orang yang tak berdosa. Sekarang aku
mengajukan penawaran padamu. Sembuhkan Tek Hong
dan Siang Cu, dan kau akan kuberi pembebasan!”
Lam hai Lo mo meringis ringis kesakitan dan cepat cepat
ia menggunakan tangan kanan yang sudah melempar jauh
tongkatnya yang terputus, untuk menotok jalan darah di
tangan kirinya sehingga aliran darah terhenti dan tidak lagi
darahnya mengucur keluar dari pergelangan tangan kiri
yang putus. Kemudian ia tertawa bergelak! Memang hebat
sekali kakek buntung ini. Dalam keadaan paha terluka dan
tangan kiri putus, ia masih dapat tertawa terbahak bahak
seperti iblis.
“Ha, ha, ha, hi, hi, hi, Thian te Kiam ong. Kau mau
menukar nyawaku dengan nyawa dua orang anak itu?
Murah sekali, aku yang rugi! Aku sudah tua dan bercacat,
sedangkan mereka masih muda belia!”
“Akan tetapi kau akan menerimanya karena kau masih
suka hidup,” kata Bum Sam.
“Tepat! Tepat sekali, memang aku harus hidup untuk
dapat membalas dendam atas sakit hati ini.”
“Kau gila karena hatimu diracuni dendam.”
“Manusia mana yang tidak gila? Ha, ha, ha! Hayo kita
ke sana, akan kucoba menyembuhkan mereka.”
Dengan didampingi oleh Lam hai Lo mo yang
terpincang pincang Bun Sam lalu pergi kembali ke tempat di
mana Tek Hong dan Siang Cu menggeletak. Mereka
mendapatkan Sian Hwa dan Siauw Yang masih sibuk
mengobati mereka. Besar hati ibu dan adik ini melihat Tek
Hong dan Siang Cu mulai dapat bernapas lagi, sungguhpun
wajah mereka masih kebiruan. Tadi ketika menolong
puteranya dan Siang Cu, hati Sian Hwa yang penuh welas
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
asih itu mendorongnya untuk menolong Eng Kiat pula.
Akan tetapi ternyata bahwa pemuda putera Tung hai Sian
jin ini remuk isi kepalanya dan sudah tidak bernyawa lagi.
Adapun Tek Hong dan Siang Cu, kalau sekiranya tidak
lekas lekas mendapat pengobatan katak putih, tentu takkan
tertolong pula. Obat di seluruh dunia takkan bisa
menyembuhkan mereka, karena akibat pukulan Sam hiat ci
hoat memang luar biasa hebatnya.
Biarpun Tek Hong dan Siang Cu sudah bernapas lagi
dan hati Sauw Yang sudah agak lega, namun mereka masih
menangis melihat dua orang muda itu diam tak bergerak
dan muka mereka masih kebiruan.
“Sudahlah, jangan kalian menangis.” Bun Sam menegur.
“Bagaimana tidak akan menangis melihat putera kita
berjuang antara hidup dan mati?” Sian Hwa mencela
suaminya yang dianggap kurang mencinta anak dengan
kata katanya tadi.
“Mati dan hidup di tangan Thian, mengapa kita harus
memusingkannya? Andakata dia mau, Hong ji hanya mati
raganya belaka, mengapa susah susah?” Bun Sam sengaja
berkata demikian agar Lam hai Lo mo tidak menjadi makin
girang dan menjual mahal. Kalau dia memperlihatkan
kesedihan terlau hebat, tentu kakek itu akan menggodanya
dan menjual mahal dalam mengobati Tek Hong.
Akan tetapi, Sian Hwa sebagai ibu yang sedang gelisah
melihat keadaan puteranya, menjadi marah dan berkata
gemas.
“Bagaimanakah kau ini? Andaikata kau tega kematian
anak kita, apakah kau tega melihat penderitaannya yang
demikian hebat?” Lam hai Lo mu sudah tertawa tawa dan
sepasang matanya berseri seri mendengar ucapan isteri dari
musuh besarnya itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Betapa beratpun penderitaannya, yang menderita
hanyalah raganya. Jiwanya takkan mati, takkan luka,
takkan merasakan sakit. Serahkan saja kepada Thian....”
Bun Sam menghibur.
“Enak saja kau bicara! Kita diamkan saja tanpa
mengusahakan kesembuhannya?” Sian Hwa berdiri dan
memandang kepada suaminya dengan mata bersinar sinar.
Dalam kemarahannya, nyonya ini sampai lupa akan
kehadiran Lam hai Lo mo di tempat itu yang sesungguhnya
merupakan hal yang amat ganjil.
Akan tetapi tidak demikian dengan Siauw Yang.Melihat
musuh besarnya datang bersama ayahnya dalam keadaan
masih hidup, gadis ini membentak keras dan segera
menyerang dengan pedangnya. Akan tetapi tangannya
tergetar dan pedangnya hampir terlepas dari pegangan
ketika ayahnya menangkis serangan ini.
“Sabar, Siauw Yang “ Kemudian Bun Sam menghadapi
isterinya. “Tentang ikhtiar penyembuhan, tentu saja
menjadi kewajiban kita untuk melakukannya. Kedatangan
Lam hai Lo mo ini adalah untuk mengobati mereka.”
Seketika itu Sian Hwa dan Siauw Yang tertegun dan tak
dapat berkata kata, hanya memandang ke arah Lam hai Lo
mo dengan mata terbuka lebar lebar. Benar benarkah kakek
siluman ini hendak menyembuhkan Tek Hong dan Siang
Cu?
Sambil tersenyum mengejek karena dalam suasana
sekarang ini dia menang, yakni menjadi orang yang amat
dibutuhkan pertolongannya, Lam hai Lo mo lalu berlutut
memeriksa Siang Cu dan Tek Hong.
“Hmm, dari mana kalian mencuri katak putih?” tegurnya
sambil berpaling kepada Bun Sam.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bukan mencuri, melainkan membawa dari guamu di
Sam liong to,” jawab Bun Samtenang.
“Ha, ha, ha, kalian pencuri!” Kenudian diperiksanya
sekali lagi jidat dua orang anak muda itu. “Akan tetapi
kalau kalian tadi tidak menolong mereka ini dengan katak
putih, biarpun aku sendiri takkan mungkin menyembuhkan
mereka.”
Sebagai orang yang menciptakan ilmu Pukulan Sam hiat
ci hoat, tentu saja Lam hai Lo mo selalu membawa obat
penawar racun pukulan itu. Ia mengeluarkan sebuah botol
berisi obat cair warna putih, yakni sari daripada darah putih
katak putih.
“Berapa teteskah mereka diberi minun darah putih dari
katak mujijat?” tanyanya.
“Masing masing tiga belas tetes,” jawab Sian Hwa,
suaranya halus karena pada saat itu, tidak ada kebencian
sedikupun juga di dalam hatinya terhadap Lam hai Lo mo.
“Hm, kurang dua tetes masing masing,” kata kakek itu
dan dengan cepat ia meneteskan dua tetes darah putih ke
dalam mulut Tek Hong dan Siang Cu. Kemudian ia minta
katak putih itu dari Sian Hwa dan mempergunakan perut
katak itu untuk digosok gosokkan pada luka di jidat dua
orang muda itu. Sebentar saja warna kebiruan yang
membayang pada muka itu menjadi hilang, demikian pula
tiga jari merah yang berbekas di jidat. Setelah itu, Lam hai
Lo mo lalu mengeluarkan enam butir pel hijau.
“Beri minum mereka itu masing masing tiga butir dan
semua darah berbisa akan lenyap dari tubuh mereka,”
Sian Hwa sambil bercucuran air mata berlutut di depan
kakek itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Lam hai Lo mo, banyak terima kasih atas
pertolonganmu kepada anakku dan Siang Cu.”
Lam hai Lo mo menjadi pucat.
“Eh, apa apaan ini? Aku.... aku.....”
Kakek itu menjadi makin terkejut ketika melihat Bun
Sam menjura pula kepadanya dan berkata dengan suara
terharu, “Lam hai Lo mo, istriku benar. Akupun
menghaturkan terima kasih kepadamu dan maafkanlah
semua kesalahanku yang sudah sudah. Mudah mudahan
semenjak saat ini kita akan menjadi sahabat yang baik dan
lenyaplah segala permusuhan yang tidak berarti.”
Lam hai Lo mo membanting banting kakinya seperti
orang gila.
“Kalian gila! Gila sehebat hebatnya! Akulah yang
melukai mereka ini. Aku yang tadinya hendak membunuh
mereka, dan aku pula yang sudah membunuh Eng Kiat itu!
Dan kalian sekarang menghaturkan terima kasih?”
Makin mencak mencak Lam hai Lo mo ketika melihat
Siauw Yang ikut berlutut pula di samping ibu nya.
“Pembunuhan yang belum terlaksana bukanlah
pembunuhan namanya. Akan tetapi penyembuhanmu telah
terbukti, maka sudah seharusnya kami berterima kasih,”
jawab Bun Sam.
Inilah pukulan batin yang amat hebat bagi Lam hai Lo
mo.
“Tidak bisa! Tak mungkin! Kalau musuh musuh besarku.
Aku akan bunuh kalian kalau bisa. Aku mengobati mereka
ini karena terpaksa! Song Bun Sam, kau dan sekeluargamu
akan kubunuh semua. Ha, ha, ha, biarpun kalian berlutut
memberi hormat, tetap akan kubunuh. Ha, ha, ha!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Mana mungkin, Lam hai Lo mo? Kau sudah
kehilangan sebelah kaki dan sebelah tangan. Hanya satu
tangan kananmu itu dapat dipergunakan untuk apakah?
Lebih baik kau merubah cara hidupmu, bertaubat dan
menjadi manusia baik baik, bertapa mensucikan diri
menebus dosa dosamu....” Bun Sam membujuk.
Lam hai Lo mo makin pucat, ia menunduk, memandang
ke arah kakinya yang buntung dan tangan kirinya yang
buntung pula. Kemudian ia tertawa terbahak bahak.
“Ha ha ha, hi hi hi! Kakiku hilang, tanganku hilang!
Tinggal tangan kanan ini untuk apakah? Aha, Thian te
Kiam ong, kaukira aku tidak bisa membunuhmu dengan
satu tangan? Lihat, aku bersumpah, disaksikan oleh jari
kelingkingku, dengan empat jari tangan kanan akan
kubunuh sekeluargamu!” Setelah berkata demikian, kakek
ini lalu menggigit putus jari kelingking kanannya dan
makan jari kelingking itu seperti orang makan kacang!
Ternyata bahwa sikap keluarga Song itu benar benar
merupakan tusukan batin yang lebih hebat daripada
tusukan pedang dan membuat kakek ini berobah
ingatannya!
Suara jari kelingking dimakan terdengar kletak kletuk
karena gigi kakek yang sudah ompong itu sukar untuk
meremukkan tulang tulang jari itu. Sian Hwa dan Siauw
Yang menjadi pucat saking merasa ngeri, sedangkan Bun
Sam menggeleng geleng kepalanya dengan muka
mengandung hati iba.
“Ha, ha, ha, keluarga Song. Lihat, jari tanganku tinggal
empat. Akan tetapi jangankan empat, tiga jari saja sudah
cukup! Ibu jariku tidak perlu, karena dengan tiga jari saja,
Sam hiat ci hoat akan menumpas seluruh keluarga Song!”
Setelah berkata demikian, kembali mulut kakek itu
menggigit ibu jarinya yang besar. Nampak mukanya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berkerut kerut, bibirnya merah karena darahnya sendiri dan
kini ibu jarinya telah putus pula, terus dimakannya seperti
anjing menggerogoti tulang keras!
“Lam hai Lo mo, ingatlah dan sebutlah nama Thian!”
kata Bun Sam penuh rasa haru.
“Bun Sam, anjing gila! Kau kira aku tidak ingat? Ha, ha,
lihat, tiga jari tanganku sanggup memecahkan batok
kepalamu!” Setelah berkata demikan, kakek itu maju
hendak mempergunakan ilmu Pukulan Sam hiat ci hoat
menyerang Bun Sam. Pendekar ini dengan tenang tidak
mundur selangkahpun dan memandang tajam.
Akan tetapi, tiba tiba tubuh kakek itu terguling dan ia
menjerit jerit kesakitan. Tangan kanan yang sudah buntung
dua jarinya dan tangan kiri yang sudah buntung sebatas
pergelangan itu menekan nekan perutnya, kakinya yang
belun buntung berkelojotan. Mukanya menjadi biru dan tak
lama lagi menghitam. Berhentilah kelojotan kakinya dan ia
rebah tertelungkup dalam keadaan tak bernyawa lagi.
“Mari kita tolong dia dengan katak putih.....” kata Sian
Hwa terharu.
“Tiada gunanya, ia telah makan jari jarinya sendiri
sedangkan jari jari tanganya itu penuh dengan racun untuk
melatih ilmu Pukulan Sam hiat ci hoat.” kata Bun Sam.
Benar saja, setelah diperiksa kakek yang jahat seperti
siluman itu telah tewas.
Tek Hong dan Siang Cu siuman kembali Mereka masih
lemah akan tetapi dapat bangun dan duduk. Dengan heran
mereka saling pandang, tersenyum dan ketika mereka
melihat Bun Sam, Sian Hwa dan Siauw Yang, keduanya
mengeluarkan seruan tertahan. Tadinya mereka mengira
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bahwa mereka telah berada di dalam alam baka dan
tersenyum karena merasa berbahagia mendapatkan kekasih
berada di dekatnya. Akan tetapi, kehadiran tiga orang itu
menjadi bukti bahwa mereka masih hidup!
“Tek Hong.... kau baru saja bangun dari kematian!” kata
Sian Hwa sambil merangkul anaknya dengan tangan kanan
dan merangkul Siang Cu dengan tangan kiri. “Aku sudah
tahu akan isi hati kalian. Sudah patut sekali kalian menjadi
jodoh, Gwat Eng, kau puteri sahabat sahabat kami,
Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee. Kalau orang tuamu
masih hidup.... ah, alangkah senang nya hati mereka....”
Merdengar ini, Siang Cu merangkul Sian Hwa sambil
menangis penuh keharuan hati.
“Menang mereka sudah sepatutnya menjadi suami
isteri,” kata Bun Sam. “Mari kita urus jenazah Lam hai Lo
mo dan Eng Kiat sepantasnya, dan cepat kembali ke Tit le.”
Dibantu oleh para petani dua jenazah itu di kubur,
dengan hati tenang Tek Hong dan Siang Cu mendengarkan
penuturan Siauw Yang tentang segala hal yang telah terjadi.
Siang Cu merasa amat bersukur. Lam hai Lo mo adalah
gurunya, maka biarpun kedua orang tuanya telah terbunuh
oleh kakek itu, namun ia selalu masih ragu ragu untuk
membalas dendam. Kini, Lam hai Lom mo tewas karena
perbuatan sendiri, musuh besarnya tewas dan ia tak usah
membunuh guru sendiri. Juga Eng Kiat telah tewas oleh
Lam hai Lo mo sehingga ia tidak usah melanggar
sumpahnya sendiri yang hendak melakukan pernikahan
dengan pemuda itu. Dan yang lebih membahagiakan
hatinya lagi, keluarga Song telah menerimanya dengan baik
baik sebagai calon isteri Tek Hong, pemuda yang memang
dicinta dengan seluruh hatinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah upacara penguburan jenazah jenazah itu beres,
Bun Sam berkata, “Sekarang marilah kita cepat cepat
pulang ke Tit le. Aku sudah mendengar tentang dibakarnya
rumah kita, akan tetapi apa artinya hal sekecil itu? Kita bsa
membuat lagi ramah kecil kecilan dan yang paling penting,
kita akan rayakan upacara perjodohan antara Tek Hong dan
Gwat Eng.”
Semua orang berseri wajahnya mendengar ini, apalagi
Siang Cu dan Tek Hong yang menjadi merah mukanya dan
tidak berani saling pandang secara langsung, melainkan
saling kerling dengan pandang mata penuh arti. .
Akan tetapi, tiba tiba Siauw Yang menangis dan
menutupi mukanya dengan kedua tangan. Bun Sam
mengangkat alisnya, demikian pula Tek Hong.
“Ah, adikku yang manis, mengapa kau menangis?”
tanya Tek Hong, Siauw Yang tidak menjawab, akan tetapi
tangisnya makin menjadi.
“Siauw Yang, jangan seperti anak kecil. Kau menangis
karena apakah?” tanya Bun Sam. Sampai lama barulah
Siauw Yang dapat menjawab, ia menurunkan kedua
tangannya, bibirnya dipaksa tersenyum akan tetapi
wajahnya pucat sekali.
“Tidak apa apa, ayah. Aku hanya terlalu girang
memikirkan bahwa Hong ko telah selamat dan musuh besar
kita telah tewas.”
Jawaban ini memuaskan hati Tek Hong dan Siang Cu,
akan tetapi meragukan hati Bun Sam dan menggelisahkan
hati Sian Hwa. Ibu yang berpemandangan tajam ini dapat
mengerti apa yang menjadi sebab maka puterinya
menangis. Maka ia lalu membawa Siauw Yang ke tempat
sunyi dan bertanya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Siauw Yang, bagaimana hasilnya dengan perjalananmu
mencari Liem siucai?”
Mendengar pertanyaan yang langsung mengenai hatinya
dan yang tepat sekali itu, Siauw Yang menangis lagi dan
merangkul ibunya. Sian Hwa mendekap kepala puterinya
ke dada, seperti dahulu kalau ia menghibur Siauw Yang
ketika masih kecil.
“Bilanglah terus terang kepada ibumu, anakku. Apakah
yang terjadi antara kau dan LiemSiucai?”
“Ibu.... dia.... dia menghinaku....”
Sian Hwa mengerutkan alisnya. “Apa? Dia menghina
anakku? Bagaimana seorang yang sopan santun dan halus
budi pekertinya seperti dia dapat menghinamu, Siauw
Yang?”
“Dia.... dia telah membikin malu padaku. Aku datang
untuk menolongnya dari Sin tung Lo kai, tidak tahunya
dia.... dia menjadi anak angkat dari orang tua itu....” Lalu
gadis ini menceritakan sejelasnya pada ibunya tentang
pengalamannya dengan Pun Hui di rumah Sin tung Lo kai.
Sian Hwa diam diam tersenyum dan dia tahu akan
kesusahan hati puterinya. Ia memang suka kepada pemuda
itu dan sudah merasa setuju kalau pemuda yang halus dan
sopan dan terpelajar itu menjadi mantunya. Diam dam ia
lalu merundingkan hal ini dengan suaminya setelah
menghibur hati Siauw Yang.
Bun Sam mengerutkan alisnya. “Sin tung Lo kai adalah
seorang tokoh kang ouw yang ternama dan iujur, akan
tetapi ia terkenal kasar dan tidak mau kalah. Bagaimana
Pun Hui menjad putera angkatnya? Habis, bagaimana
kehendakmu?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sudah jelas bahwa Siauw Yang mencintai pemuda itu,
demikian sebaliknya. Yang ji sudah menceritakan betapa
pemuda itu membelanya dan biarpun tiada kepandaian silat
namun berani mati membela Siauw Yang, itu sudah cukup
menunjukkan kesetiaan hatinya. Kalau mereka sudah saling
setuju dan kita tahu bahwa pemuda itu memang seorang
yang baik sekali, mengapa kau tidak datang ke tempat
tinggal Sin tung Lo kai untuk merundingkan soal
perjodohan itu?”
“Kau menyuruh aku pergi ke sana dan meminang Pun
Hui? Hm, itu amat merendahkan kita. Apalagi orang
sekasar Sin tung Lo kai itu, mana dia mau menerima begitu
saja? Pun Hui sudah menjadi puteranya dan kalau pemuda
itu memang suka kepada anak kita, mengapa tidak Sin tung
Lo kai sebagai ayah angkatnya datang meminang Siauw
Yang?”
“Suamiku, mengapa kau begitu kukuh? Sin tung Lo kai
sudah terang seorang yang kasar dan kaku, akan tetapi
bukankah kau bukan seperti dia? Benar bahwa Pun Hui
sudah menjadi anak angkatnya, akan tetapi, jangan lupa
bahwa lama sebelum siucai itu menjadi anak angkatnya, dia
sudah berhubungan dengan kita. Juga Liem siucai adalah
murid dari Yap Thian Giok, berarti dia masih murid
keponakan kita sendiri. Membicarakan soal perjodohan
diantara orang kita sendiri, masih pakai sungkan sungkan
apalagi? Terutama sekali, kau melakukan hal ini demi
kebahagiaan puteri kita.”
Melihat isterinya sudah menyerang dengan muka merah,
Bun Sam mengangkat pundak dan mengangguk angguk.
“Baiklah, baiklah, memang aku orang tua harus selalu
turun tangan sendiri, baru urusan orang orang muda dapat
dibereskan. Aah, begini kalau menjadi orang tua....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pendekar besar itu menghela napas berulang ulang dan
Sian Hwa diam diam mentertawakannya.
“Lo pangcu, di luar ada tamu hendak bicara dengan
pangcu,” seorang anggauta Ang sin tung Kai pang melapor
kepada Sin tung Lo kai Thio Houw yang sedang bercakap
cakap dengan puteri nya, yakni Bi sin tung Thio Leng Li
dan putera angkatnya, Liem Pun Hui di ruang belakang.
“Siapa dia?” tanya kakek itu kurang perhatian.
“Dia bukan orang biasa, lo pangcu, melainkan Thian te
Kiam ong Song Bun Sam sendiri,” anak buahnya melapor
dengan wajah berseri karena anggauta ini menganggap
bahwa kunjungan pendekar besar itu merupakan peristiwa
yang amat penting.
“Hm, biarpun Thian te Kiam ong sendiri, orang apakah
perlu disebut bukan orang biasa? Suruh dia menunggu di
luar!” kata Sin tung Lo kai ketus sehingga anggautanya itu
buru buru keluar lagi.
Lem Pun Hui ketika mendengar bahwa yang datang
adalah ayah Siauw Yang, otomatis berdiri dari bangkunya
dan hendak berlari keluar.
“Duduk saja kau!” Sin tung Lo kai membentak dan Pun
Hui yang melihat lirikan penuh arti dan Leng Li, lalu duduk
kembali.
“Ayah, tentu kedatangannya ada hubungannya dengan
perjodohan Song lihiap dengan toako,” kata Leng Li.
“Hm, habis mengapa? Dia bukan orang yang
pinangannya harus diterima oleh siapapun juga,” jawaban
dari kakek ini membuat muka Pun Hui menjadi pucat, akan
tetapi Leng Li tersenyum.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ayah, sekiranya dicari di dunia ini, tidak ada besan
bagimu yang lebih berharga daripada Thian te Kiam ong!
Akan tetapi, kita tak boleh merendahkan diri dan tidak
seharusnya menerima begitu saja usul perjodohannya, biar
ia seorang besar seperti Thian te Kiam ong sekalipun.”
Berseri wajah Sin tung Lo kai, akan tetapi Pun Hu
memandang kepada Leng Li dengan heran dan muka
muram.
“Kau benar, anakku! Mengapa kita harus merendah
rendah dan tunduk kepadanya? Hendak kulihat dia akan
berbuat apa kalau kita tidak menuruti kemauannya!”
“Bukan begitu ayah. Dalam jaman sekacau ini,
mempunyai hubungan keluarga dengan keluarga Song,
merupakan keuntungan besar bagi kita. Hal itu akan
menjunjung tinggi namamu dan juga orang orang lebih
memandang hormat dan segan kepada kita. Lagi pula,
toako sudah suka kepada Song lihiap yang kepandaiannya
kita sudah menyaksikannya. Akan tetapi, harus diadakan
syarat syaratnya.”
“Hm, siapa suka mempunyai mantu yang pernah
menghina dan menantangku?”
“Hal itu boleh dimaafkan, ayah, karena Song lihiap tidak
tahu bahwa kau adalah ayah angkat toako, dan dia masih
muda serta berdarah panas. Bagaimana kalau ayahnya
diharuskan minta maaf untuk puterinya?”
“Itu saja belum cukup mendinginkan hatiku,” jawab Sin
tung Lo kai, “Memang di samping itu harus ada syarat lain,
yakni dia harus diajak bertanding,” kata Leng Li dengan
kerling mata cerdik sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sin tung Lo kai mengerutkan kening. “Kepandaiannya
tinggi sekali, aku takkan menang.” Memang kakek ini jujur
sekali biarpun ia tidak suka mengaku kalah.
“Itulah syarat untuk memancingnya. Kalau ayah kalah
berarti kita mempunyai cukup alasan untuk menolak usul
perjodohannya. Ayah boleh minta waktu sampai ayah kelak
dapat menang daripadanya.”
“Hm, boleh juga. Hitung hitung menguji kepandaian
sendiri. Akan tetapi, bagaimana kalau dia yang kalah?”
“Kalau dia kalah, berarti ayah tidak takut padanya dan
tentu saja usul itu boleh diterima atau ditolak menurut
sekehendak hati ayah.”
Sin tung Lo kai diam untuk beberapa lama, lalu
mengangguk angguk. “Baik, mari kita keluar
menyambutnya.” Dengan langkah lebar kakek ini keluar,
diikuti oleh Leng Li yang tersenyum senyumdan yang tidak
memperdulikan pandang mata Pun Hui yang penuh sesal
kepadanya.
Dengan amat sabar dan tenang Song Bun Sam menanti
di ruang tamu dan ketika ia melihat tuan rumah, cepat
bangun berdiri dan memberi hormat selayaknya. Sekilas ia
mengerling ke arah Pun Hui dan Leng Li serta menerima
penghormatan mereka dengan anggukan kepala.
“Ah, tidak tahunya Thian te Kiam ong Si Raja Pedang
yang ternama besar mengunjungi tempatku yang buruk.
Tidak tahu ada urusan penting apakah?” tanya Sin tung Lo
kai dengan sikap angkuh.
Diam diam Bun Sam berdebar mendengar ucapan dan
melihat sikap tidak mengasih ini, akan tetapi ia tetap
berlaku tenang dan senyumdi bibirnya tidak mengurang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sin tung Lo kai, selain aku datang untuk berkunjung
karena sudah lama menghormati namamu yang besar juga
kedatanganku ini ada hubungannya dengan putera
angkatmu itu,”
“Ada apa dengan dia?”
“Kami sekeluarga sudah merundingkan hal ini dan
sudah sepakat untuk minta persetujuanmu agar puteramu
ini dijodohkan dengan puteri kami. Puteramu sudah kenal
baik dengan puteri kami dan mereka itu nampaknya
memang berjodoh.”
“Eh, eh, kau lucu sekali, Thian te Kiam ong. Mana ada
fihak wanita meminang laki laki?”
“Memang berat menjadi orang tua yang hendak
memenuhi keinginan hati anak muda,” jawab Bun Sam
tersenyum, akan tetapi mukanya berubah merah.
“Bukankah puterimu itu bernama Song Siauw Yang?”
“Benar begitu, agaknya kau sudah mengenalnya”
“Siapa tidak mengenalnya dia, nona yang berkepandaian
begitu tinggi sehingga berani menghina dan menantangku?”
Bun Sam terkejut, Siauw Yang tak pernah bercerita
kepadanya tentang hal ini. Juga Sian Hwa yang mendengar
penuturan puterinya, tidak berani menceritakan hal ini
kepada suaminya. Kalau Bun Sam mendengar hai ini, tentu
ia tidak mau datang mengunjungi kakek pengemis ini!
Untuk beberapa lama Bin Sam tak dapat berkata kata,
nampaknya bingung dan gugup.
“Kekeliruan tindak anaknya adalah kesalahan orang
tuanya, demikianlah orang orang jaman dahulu berkata,”
tiba tiba Leng Li berkata. “Song lihiap memang keras
kepala dan berwatak berani serta kasar.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam mengerling ke arah gadis itu dan tiba tiba ia
tersenyum.
“Cocok sekali perbilangan itu, Sin tung Lo kai, kalau
puteriku telah bersikap keliru kepadamu, biarlah aku
sebagai ayahnya memintakan maaf kepadamu.” Bun Sam
menjura dan Sin tung Lo kai menjadi bangga sekali. Thian
te Kiam ong menjura minta maaf kepadanya. Ah, kalau
saja orang orang kang ouw melihat akan hal ini.
“Sudahlah, hal itu tak perlu diperbincangkan lagi.
Tentang usul perjodohanmu, aku mempunyai cita cita
bahwa siapa yang menimang kedua anakku, harus
memenuhi syaratnya, yakni bertanding dulu dengan aku.
Bagaimana, apakah kau menerima usul ini?”
Song Bun Sam makin bingung. Bagaimanakah kakek ini?
Didatangi orang yang mengusulkan perjodohan, bahkan
diajak bertanding silat! Bukankah hal ini berbahaya sekali
dan dapat menjadikan bibit permusuhan?
“Kalau aku kalah, berarti bahwa yang menjadi calon
jodoh anakku adalah puteri seorang yang benar benar
gagah, jadi aku tidak ragu ragu lagi.”
“Hm, maksudmu, kalau kau kalah, kau akan menerima
usul perjodohan ini?” Bun Sam minta keterangan.
“Belum tentu begitu. Hal diterima atau tidak adalah soal
belakang, tak dapat dibicarakan sekarang. Pendeknya, mau
atau tidak kau memenuhi syarat itu dan bertanding
melawanku?”
“Kalau aku yang katah?”
“Kalau kau kalah? Aku akan menimbang nimbang
apakah puteraku sudah cukup patut menjadi mantu seorang
yang kepandaiannya lebih rendah daripadaku.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam menjadi bingung. Ia dihadapkan pada teka teki
yang ruwet. Kalau ia menang, tentu kakek yng keras kepala
ini akan sakit hati, dan kalau ia kalah, kakek yang sombong
ini akan memandang rendah kepadanya. Bagaimana
baiknya?
“Ayah, jangan kau sampai kalah olehnya. Kalau kau
kalah, aku akan belajar lebih giat lagi agar kelak aku dapat
menebus kekalahanmu itu. Pendeknya, kita akan berusaha
untuk mengalahkan Thian te Kiam ong pendekar yang tak
terkalahkan. Tidak percuma ayah terpilih menjadi ketua
Ang sin tung Kai pang!” tiba tiba Leng Li berkata dengan
penuh semangat.
Bun Sam yang amat cerdik tergerak hatinya mendengar
ucapan ini. Tadi gadis itupun secara rahasia telah memberi
nasehat padanya untuk minta maaf bagi kekalahan Siauw
Yang, kini kata kata gadis itu mempunyai arti yang lebih
dalam lagi.Maka ia tersenyum dan berkata,
“Kekalahan ayah akan merendahkan nama kami sebagai
pengurus Ang sin tung Kai pang yang besar!” kata pula
Leng Li dan Bun Sam menjadi lebih yakin lagi.
“Leng Li, tutup mulutmu!” Sin tung Lo kai yang kasar
itu membentak, sedikitpun tidak tahu akan isi daripada kata
kata puterinya. “Thian te Kiam ong, bagaimana
jawabanmu? Sanggupkah kau?”
“Tentu saja, sobat. Marilah kita main main sebentar!”
jawab Raja Pedang itu.
Sin tung Lo kai lalu mengeluarkan tongkat merahnya
yang ampuh, diputar putar di atas kepala sambil memasang
kuda kuda yang teguh.
Bun Sam tahu bahwa dengan bertangan kosong, belum
tentu ia akan kalah. Akan tetapi hal ini akan merupakan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
penghinaan terhadap tuan rumah, sedangkan ia telah
mengambil keputusan untuk melakukan kebijaksanaan
sehingga ia dapat memecahkan hal yang amat sulit ini.
Dengan tenang dicabutnya pedang Kim kong kiam, lalu ia
memasang kuda kuda seakan akan bersungguh sungguh
sambil berkata,
“Sin tung Lo kai, majulah!”
Kakek ketua pengemis itu tidak sungkan sungkan lagi,
lalu menerjang dengan tongkat merahnya. Bun Sam
menangkis dan tak lama kemudian mereka bertempur
dengan hebatnya. Pun Hui berdiri dengan muka pucat dan
hampir ia menangis. Bagaimanakah urusan menjadi begini
ruwet? Diam diam ia mengeluh dan menyesali nasib
sendiri.
Ilmu tongkat dari Sin tung Lo kai bukanlah ilmu tongkat
biasa dan mampunyai gerakan yang amat berbahaya.
Setelah bertempur beberapa belas jurus, tahulah Bun Sam
bahwa kepandaian lawannya benar benar tinggi, tidak jauh
bedanya dengan tingkat kepandaian Tung hai Sian jin,
sungguhpun masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan
kepandaian Lam hai Lo mo. Akan tetapi ia mengimbangi
kepandaian kakek ini dan tidak terlalu mendesak sehingga
pertempuran berjalan dengan amat serunya.
Ilmu Pedang Tee coan Liok kiam sut adalah raja ilmu
pedang, maka tentu saja tongkat merah di tangan Sin tung
Lo kai tidak berdaya menghadapinya. Hai ini semenjak tadi
sudah terasa oleh Sin tung Lo kai yang tiada habis
kagumnya menyaksikan gerakan pedang kuning emas
sinarnya itu. Namun ia memang pantang kalah dan terus
mendesak sambi mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Setelah bertempur enampuluh jurus lebih dan pedang
serta tongkat bergulung gulung seakan akan menjadi satu,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tiba tiba Bun Sam yang menghadapi gebukan tongkat pada
pinggangnya, sengaja melompat dan memberikan pahanya
digebuk.
“Buk!” Bun Sam melayang dan terhuyung huyung
dengan muka merah, lalu menyimpan pedangnya dan
menjura,
“Sin tung Lo kai, kau pantas menjadi ketua Ang sin tung
Kai pang, karena kepandaianmu benar benar luar biasa.
Aku Thian te Kiam ong mengaku kalah. Harap sebulan lagi
kau sudi datang ke gubukku di Tit le untuk merundingkan
urusan perjodohan anak kita.” Setelah menjura sekali lagi,
Bun Sam lalu melenggang pergi dari situ. Sedikitpun ia
tidak kelihatan terluka atau kesakitan.
Sin tung Lo kai berdiri dengan tangan kanan memegang
tongkat, akan tetapi tangan kirinya sejak tadi bertolak
pinggang saja. Bahkan ia tidak membalas penghormatan
Bun Sam, hanya berdiri memandang dengah muka berubah
pucat. Di dalam hatinya, ia tunduk betul kepada jago
pedang itu. Gebukannya tadi tidak tersangka sangka
olehnya karena kalau lawannya mau, tawannya itu masih
dapat menangkis, mengapa sengaja memberikan pahanya
untuk digebuk? Yang digebuk tidak apa apa, padahal
gebukannya tadi cukup keras untuk menghancurkan batu
karang, sebaliknya telapak kedua tangannya terasa panas
dan linu. Bukan itu saja, ketika lawannya itu terlempar, tiba
tiba tangan Bun Sam secepat kilat digerakkan ke arahnya
dan kakek ini merasa ada sesuatu yang terputus atau
terobek pada perutnya. Ketika ia meraba, ternyata bahwa
tali celananya telah putus, kena direnggut secara halus dan
tidak kentara oleh raja pedang itu!
“Hebat, hebat.... dia benar benar hebat!....” hanya
demikian kakek itu berkata sambil menghela napas berhati
kati, lalu menyeret tongkatnya sambil berjalan masuk. Pun
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hui berdiri bengong dan terheran heran karena melihat
kakek itu berjalan masuk sambil tangan kirinya masih
bertolak pinggang. Benar benar aneh sekali. Pertempuran
tadi aneh. Penyelesaiannya sudah aneh dan berakhir ganjil
pula. Sekarang kakek itu berjalan sambil bertolak pinggang,
benar benar ia tidak mengerti sama sekali.
Akan tetapi setelah kakek itu lenyap dari pandangan
mata, terdengar Leng Li tertawa cekikikan, nampaknya geli
hati sekali. Ketika Pun Hui menengok ke arahnya, pemuda
ini lebih heran lagi. Leng Li tertawa tawa ditahan, akan
tetapi kedua matanya mencucurkan air mata.
“Eh, eh, adik Leng Li, ada terjadi apakah semua ini?
Aku yang sudah menjadi gila ataukah kalian semua
bersikap aneh sekali?”
Leng Li menyusut air matanya, menahan geli hatinya
dan memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata
berseri.
“Selamat, selamat, kakakku yang baik. Perjodohanmu
sudah dapat ditentukan dengan tangan.”
“Eh, apa kau gila? Kelakuan kalian benar benar
merupakan teka teki bagiku.”
“Yang manakah yang membikin bingung padamu? Aku
bisa memberi penjelasan.”
“Pertama tama, bagaimana dengan pertempuran tadi?
Berjalan demikian cepatnya dan tahu tahu Thian te Kiam
ong pergi mengaku kalah. Benar benarkah dia kalah?”
“Dia memang kalah, akan tetapi kekalahan yang luar
biasa, karena ia sengaja mengalah! Ia memberikan pahanya
digebuk oleh tongkat ayah, bukan karena kalah pandai,
bahkan sebaliknya, untuk membuktikan bahwa
kepandaiainya memang jauh lebih tinggi daripada ayah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Digebuk tidak apa apa, bahkan aku berani bertaruh tentu
ayah merasa tangannya sakit sakit.”
“Hm, lihai sekali.” Pun Hui memuji girang karena
memang di dalam hati, ia berfihak kepada ayah Siauw
Yang. “Dan ke dua mengapa ayahmu berdiri saja bertolak
pinggang, bahkan berjalan masuk rumah sambil bertolak
pinggang pula? Apakah itu tandanya ia marah marah
besar?”
Leng Li tertawa cekikikan lagi karena pertanyaan ini
membangkitkan geli hatinya yang tadi sudah ditindasnya.
“Kasihan sekali ayah.... kau tidak tahu bahwa ia bertolak
pinggang karena terpaksa.”
“Mengapa terpaksa. .?” Pun Hui makin heran.
“Karena karena kalau tangannya ia lepaskan dari
pinggang....” Leng Li tidak dapat melanjutkan kata
katanya karena kembali ia tertawa.
“Kalau diepaskan mengapa?” Pun Hui terkejut, mengira
bahwa ayah angkatnya terluka hebat.
“Kalau dilepaskan, celananya akan merosot ke bawah!”
Leng Li memegangi perutnya menahan ketawanya, “Tali
celananya telah direnggut putus oleh Thian te Kiam ong.”
Pun Hui menggeleng geleng kepalanya. Ia tidak mengerti
ketakuan orang orang kang ouw itu.
“Itupun memperlihatkan bahwa Thian te Kiam ong
sepuluh kali lebih lihai daripada ayah, hanya pendekar
besar itu sengaja tidak mau membikin malu dan sengaja
mengalah. Apalagi yang kau tidak mengerti?”
“Kau tertawa geli aku dapat mengerti sekarang, akan
tetapi mengapa kau mencucurkan air mata? Biasanya tak
pernah kulihat kau tertawa sambil menangis.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kembali dua butir air mata bertitik dari mata gadis itu.
“Aku.... aku kasihan kepada ayah dan aku…. aku girang
karena soal perjodohanmu tentu akan beres.”
“Bagaimana kau bisa bilang begitu?” Pun Hui tidak
mengerti bahwa kali ini gadis itu membohong, bukan
karena berbahagia, melainkan karena terharu. Cinta hati
gadis itu terhadap Pun Hui membuat ia merasa perih hati
mengingat bahwa pemuda ini akan menjadi jodoh orang
lain.
“Karena aku tahu akan watak ayah. Ia telah ditundukkan
oleh Thian te Kiam ong, tanpa tersinggung kehormatannya.
Kalau Thian te Kiam ong merobohkan dia, kiraku akan
sukar bagimu untuk berjodoh dengan Song lihiap. Juga
lebih sulit lagi. Akan tetapi sekarang, Thian te. Kiam ong
telah berlaku demikian bijaksana untuk mengalah, sehingga
pada luarnya ia kelihatan telah dikalahkan oleh ayah, akan
tetapi diam diam ia menundukkan hati ayah karena
kelihaiannya. Aku berani pastikan bahwa sebulan lagi ayah
pasti akan pergi ke Tit le untuk meminang Song lihiap.
Ramalan Leng Li ini terbukti karena sebulan lagi, benar
saja Sin tung Lo kai mengajak Pun Hui dan Leng Li pergi
ke Tit le melakukan peminangan. Tentu saja pinangan
diterima dengan sukacita dan tak lama kemudian
dilangsungkanlah pernikahan antara Tek Hong dan Siang
Cu serta Pun Hui dan Siauw Yang.
Orang orang kang ouw dari seluruh penjuru dunia
datang menghadiri upacara pernikahan dan semua orang
bergembira ria. Juga Leng Li dapat menghibur hatinya
karena berkat bantuan Pun Hui, akhirrya ia mendapat
jodoh pula dengan seorang sasterawan muda kawan Pun
Hui, seorang sasterawan yang akhirnya menduduki pangkat
cukup tinggi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Belasan tahun lewat dengan cepatnya semenjak
pernikahan itu dirayakan. Pada suatu hari yang amat
meriah, karena itu adalah hari Tahun Baru. Di mana mana
bergema ucapan ucapan setamat!
“Sin chun, Kiong hi (Selamat Hari Raya Musim Semi)!”
“Kiong hi, kiong hi, thiam hok siu (Selamat, selamat,
panjang usia banyak rezeki).... !”
Di mana mana terdengar ucapan ini, saling sambut,
disertai wajah berseri, mata bercahaya, mulut tersenyum.
Suasananya gembira ria di setiap rumah penduduk kota Soa
couw. Bukan hanya di kota ini saja, bahkan di seluruh
daratan Tiongkok. Tidak, bahkan di seluruh daratan
permukaan bumi di dunia ini di mana terdapat orang orang
Tionghoa yang merayakan hari raya Musim Semi atau lebih
terkenal dengan hari raya Tahun Baru atau Sincia!
Segala apa nampak berseri dan serba baru. Karena segala
apa serba baru inilah kiranya yang menyebabkan Pesta
Musim Semi untuk menyambut datangnya musim semi
setelah musim kering yang panjang itu berlalu, berubah
sebutannya menjadi Pesta Tahun Baru. Segala apa serba
baru dan bersih. Jalan jalan sudah sejak kemarin
dibersihkan orang secara bergotong royong, selokan selokan
bersih. Rumah rumah diberi warna baru, pintu pintu dan
jendela jendela dicat, ditempeli kertas kertas merah tanda
bahagia. Huruf huruf kertas gunungan yang melukiskan Soa
soa mereka yakni sebagian besar huruf REZEKI atau
BAHAGIA memenuhi dinding dan pintu pintu.
Ini semua ditambah dengan hiruk pikuk yang luar biasa.
Tidak ada kegembiraan tanpa suara ribut ribut yang lain
daripada biasa terdengar sehari hari. Suara petasan petasan
berdar der dor gembira, antara tambur dan gembreng yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengiringi liong dan barongsai saling bersaing dengan
suara terompet dan tambur arak arakan.
Ada banyak sekali anak anak yang berlari larian di luar
rumah, dalam pakaian dan sepatu baru, tangan membawa
kue atau kembang gula atau mainan, mengikuti arak arakan
barongsai dan liong. Suara ketawa para wanita cekikikan
tertahan dari balik jendela loteng di mana mereka
berkumpul menonton arak arakan menjadi sasaran
pandangan mata kurang ajar kagum dari anak anak muda
di bawah jendela. Suara para engkong (nenek) yang
mendongeng di dalam rumah, di kelilingi oleh belasan,
bahkan ada yang puluhan orang cucu cucunya,
mendongeng tentang cerita rakyat yang berhubungan
dengan tahun baru. Pendeknya semua rumah nampak
kegembiraan besar. Bahkan rumah tangga yang miskinpun
tidak luput mengalami perobahan dihari hari itu ikut ikutan
menjadi gembira ria. Betapa tidak? Sungguhpun mereka
tidak mampu membeli pakaian dan sepatu baru, tidak
mampu memperbaiki atau menghias rumah, namun pada
hari itu banyak sekali orang orang baik! Agaknya semua
orang berlomba untuk “berbaik hati” di hari hari pesta ini.
Rumah orang orang miskin ini kebanjiran hadiah,
kebanjiran antaran antaran berupa makanan makanan enak
yang biasanya dalam mimpi sekalipun tak mereka jumpai
Terutama sekali, tentu saja, di rumah hartawan hartawan
dan bangsawan bangsawan yang banyak uangnya,
kegembiraan menjadi jadi. Arak wangi dan mahal
berlimpah limpah, daging takkan habis termakan, disertai
senda gurau mereka.
Di rumah keluarga Thio yang besar sekali itu tidak
ketinggalan. Bahkan lebib meriah daripada rumah rumah
lain karena bagi keluarga Thio membuang uang bagaikan
membuang pasir di hari baik itu, bukan apa apa. Seluruh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
rumah terhias indah. Dari pintu pekarangan depan yang
terhias dengan kertas berwarna dari sutera, sampai ke
taman belakang yang dihias kertas kertas berwarna pula,
menunjukkan betapa royalnya keluarga ini membuang
uang. Teng teng besar dari keras bergambar indah dan
berharga mahal tergantung di segala ruangan. Petasan
petasan dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi.
Semua penghuni rumah gembira dan merasa bahagia.
Semua?? Sayang tidak demikian adanya. Banyak sekali
orang orang yang bergembira ria ini, bahkan di balik wajah
wajah gembira itu banyak sekali terbayang kesedihan dan
kedukaan yang untuk sementara waktu, agaknya untuk
menghormati hari raya, ditunda dan coba dilupakan dengan
senyum dan tawa.
Bahkan ada suara tangis lapat lapat terdengar dari
ruangan belakang gedung tengah dan meriah dari keluarga
Thio itu. Tangis itu akan terdengar sejak pagi sampai sore,
kalau saja di luar tidak begitu riuh dan hiruk pikuk dengan
suara petasan dan tambur terompet gembreng canang.
Apakah yang terjadi? Siapakah yang menangis?
Perbuatan yang benar benar janggal dan ganjil sekali di
malam tahun baru seperti itu?
Keluarga Thio adalah keluarga yang dapat disebut
keluarga bangsawan, atau bekas bangsawan, karena Thio
loya (Tuan Besar Thio) adalah seorang bekas pejabat
pemerintah yang bertugas mengumpulkan pajak. Selama
tigapuluh tahun ia mengerjakan tugas ini dan setelah ia
merasa terlalu tua dan mengundurkan diri, ia telah berhasil
tidak saja mengumpulkan pajak untuk negara, akan tetap
terutama sekali mengumpulkan harta benda untuk sakunya
sendiri cukup banyak untuk ia dapat hidup menganggur
selama hidupnya secara berlimpah limpah dau mewah
mewahan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Thio loya atau nama lengkapnya Thio Kin sudah berusia
limapuluh tahun lebih, akan tetapi masih terkenal sebagai
seorang mata keranjang. Selain isterinya, yaitu Thio hujin
atau nyonya besar Thio yang hanya mempunyai seorang
putera, ia masih mempunyai tiga orang bini muda yang
menggembirakan hidup tuanya di rumah gedung itu. Sudah
tentu saja yang tua diantara bini bininya hanya Thio hujin
seorang sedangkan tiga orang selir ini masih muda muda,
patut menjadi anak anaknya. Di samping ini, ia masih tidak
malu malu dan tidak segan segan untuk mengganggu
pelayan pelayan wanita muda yang ada belasan orang
bekerja di dalam rumahnya, pelayan pelayan muda yang
boleh dibilang “miliknya” karena mereka ini dapat ia “beli”
dari tengkulak tengkulak manusia. Juga Thio loya masih
tidak segan segan untuk mengunjungi “rumah rumah
bunga” di kota Soa couw.Memang hal hal macam ini agak
janggal terdengarnya bagi kita, akan tetapi di jaman Thio
Kin hidup, hal seperti ini adalah biasa saja, sudah jamak.
Bahkan Thio Kin terhitung masih “alim” kalau
dibandingkan dengan hampir semua hartawan dan
bangsawan yang rata rata memiliki setir selir lebih dari
sepuluh orang.
“Kacang tidak meninggalkan lanjaran” demikian bunyi
pepatah kuno yang diartikan bahwa perangai sang anak
tidak jauh daripada perangai bapaknya. Maka tidak
mengherankan apabila putera tunggal Thio Kin yang
bernama Thio Sui, juga terkenal sebagai seorang pemuda
lacur. Thio Sui memiliki wajah seperti ibunya, maka ia
tampan sekali. Mukanya bulat dan kulitnya halus putih,
bentuk muka lembut seperti wanita Akan tetapi sayang
hatinya tidak selembut ibunya, melainkan sekeras dan
sematakeranjang ayahnya. Karena itu, di dalam rumah ia
seakan akan merupakan “saingan” dari ayahnya sendiri,
karena Thio Sui juga tidak melewatkan kesempatan untuk
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menggoda para pelayan yang cantik bersih. Dan diam diam
pemuda inipun mengadakan perhubungan rahasia dengan
dua orang ibu tirinya atau setir selir ayahnya yang usianya
sebaya atau lebih tua sedikit daripadanya. Tentu saja hal ini
tidak diketahui oleh ayahnya.
Pada suatu hari, Thio hujin membeli seorang gadis
pelayan dari seorang tengkulak manusia yang biasa
menawarkan dagangannya yang istimewa di gedung gedung
hartawan besar. Gadis itu pakaiannya compang camping
seperti pengemis. Dia ini adalah seorang pengungsi dari
dekat Lembah Sungai Kuning yang kembali mengamuk,
memusnahkan banyak kampung berikut rumah rumah dan
penghuninya, termasuk keluarga gadis she Liu ini. Gadis
berusia empatbeleas tahun ini terlunta lunta seperti seorang
pengemis. Ayah bundanya telah hanyut bersama gubuk
mereka menjadi mangsa iblis iblis Sungai Kuning yang
ganas. Baiknya Kui Lian, demikian nama gadis ini,
semenjak kecil biasa berenang di pinggir Sungai Hoang Ho,
maka ketika banjir mengamuk kampungnya, ia berhasil
menyelamatkan diri. Akan tetapi segera menyesali nasibnya
mengapa ia tidak ikut hanyut dan tewas saja bersama ayah
bunda dan rumahnya karena hidup seorang diri berarti
neraka baginya, ia terlunta tunta, wajahnya yang manis
tertutup air mata campur debu, sehingga tidak menarik
perhatian orang orang jahat. Akhirnya ia terjatuh ke dalam
tangan seorang tengkulak manusia yang pada masa itu
sekali berkeliaran di Tiongkok. Tengkulak manusia ini
memberinya makan dan dengan bujukan bujukan manis
akhirnya berhasil membawanya ke Soa couw dan
menjualnya kepada keluarga Thio untuk duapuluh lima tael
perak!
Nasib baik menimpa diri Kui Lan. Baiknya ia terjatuh ke
dalam tangan Thio hujin yang berhati mulia, kalau terjatuh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ke tangan keluarga lain, mungkin sebentar saja hidupnya
akan rusak, bagaikan setangkai bunga, dipetik dipuja
sampai layu lalu dibuang begitu saja, diinjak injak.
Thio hujin merasa kasihan dan sayang kepada gadis
pantai yang jujur ini, dan diambilnya gadis itu sebagai
pelayan. Dalam waktu satu tahun saja tinggal d gedung
keluarga Thio, Kui Lian nampak segar, sehat dan
kecantikannya yang dulu timbul bahkan lebih berseri. Ia
telah menjadi seorang gads berusia limabelas tahun yang
cantik dan menggairahkan, terutama menarik hati Thio
loya, bandot tua yang paling suka akan daun daun muda
itu. Akan tetapi oleh karena Thio hujin sudah maklum akan
gerak gerik suaminya, tahu pula akan penyakit lama
suaminya, muka Thio hujin yang sebetulnya sayang dan
kasihan kepada Kui Lian, telah memperingatkan Kui Lan
akan bahaya itu dan berusaha sedapat mungkin agar
pelayan muda ini jarang berpisah dari dekatnya. Inilah
sebabnya mengapa sebegitu jauh belum juga Thio loya
tercapai idam idamannya, yakni menjadikan pelayan baru
ini sebagai korbannya pula.
Akan tetapi, pada jaman seperti itu, bagaimana mungkin
bicara tentang nasib baik seorang pelayan? Pelayan pelayan
seperti Kui Lian tiada bedanya dengan binatang peliharaan,
nasibnya berada di tangan majikan majikannya, bahkan
mati hidupnya boleh dibilang berada dalam kekuasaan
mereka yang memberinya makan sehari hari. Bagaimana
dapat disebut bernasib baik bagi orang orang yang berhak
hidup namun tidak berhak menentukan nasib sendiri?
Biarpun bahaya yang datang dari pihakThio loya untuk
sementara dapat dibendung berkat kebijaksanaan dan
kemuliaan hati nyonya besar, namun datang bahaya lain
yang lebih berbahaya. Yaitu godaan dari Thio kongcu (tuan
muda Thio) sendiri. Godaan ini jauh lebih berbahaya kalau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dibandingkan dengan niat niat buruk Tho loya, karena
sebagai seorang gadis muda yang cantik tentu saja Kui Lian
sama sekali tidak ada hati untuk melayani kehendak
majikan tuanya. Akan tetapi dengan Thio Sui lain lagi
soalnya. Thio Sui adalah seorang pemuda yang tampan dan
ganteng, sikapnya halus, bicaranya manis, bujukannya
merayu kalbu. Apalagi bagi Kui Lian, Thio Sui adalah
majikan mudanya, masih jejaka lagi.
Kui Lian hanya seorang gadis dusun yang bodoh. Tak
mungkin ia dapat membaca isi hati orang. Dianggapnya
cinta kasih Thio Sui itu dari mulut terus ke hati.
Dianggapnya sumpah dan janji pemuda itu jujur dan
setulusnya. Ia jatuh menghadapi bujukan Thio Sui dan
sepasang orang muda itu membuat perhubungan di luar
tahu siapapun juga, kecuali mereka sendiri dan para dewata
yang setiap hari dimintai berkah oleh Kui Lian agar supaya
melindungi dia dan kekasihnya.
Dewata agaknya meluluskan permintaannya, buktinya
sampai berbulan bulan perhubungan mereka berlangsung
dengan lancar dan selamat tidak mendapat gangguan
siapapun juga. Demikian anggapan Kui Lian. Dia terlalu
bodoh untuk mengerti bahwa hal hal yang demikian tak
mungkin dilakukan orang tanpa diketahui akhirnya oleh
orang orang lain. Para penghuni rumah itu tahu belaka,
bahkan Thio hujin sendiri juga sudah tahu. Namun mereka
ini hanya menarik napas panjang, bahkan ada yang sambil
terkekeh kekeh membicarakan perhubungan ini di belakang
Kui Lian atau Thio Sui. Orang satu satunya yang tidak tahu
hanya Thio loya sendiri. Hal ini adalah karena Thio hujin
yang amat memanjakan puteranya memesan kepada semua
isi rumah agar jangan membocorkan rahasia orang orang
muda itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Segalanya akan berjalan baik dan tidak ada perubahan
kalau saja tidak terjadi perubahan dalam diri Kui Lian
sendiri ia mulai merasa pusing pusing dan badannya tidak
enak juga malas. Akhirnya ia tahu apa yang sedang terjedi
dengan dirinya. Dengan hati kebat kebit ia menyampaikan
hal ini kepada kekasihnya. Thio Sui menjadi kaget setengah
mati dan bingung. Terpaksa ia mengeluarkan isi hati
kekhawatirannya di depan ibunya.
Biarpun memiliki hati yang lembut dan budiman, Thio
hujin hanya seorang wantia kepala rumah tangga yang jalan
pikirannya dipengaruhi seluruhnya oleh hukum hukum
tradisi. Mendengar penuturan putera tunggalnya, ia hampir
pingsan.
“Perempuan hina dina itu berani sekali menggoaa
hatimu? Berani betul dia mempunyai kandungan darimu?
Celaka, hal ini akan menghancurkan nama baik kita, akan
mancemarkan nama baik seluruh keluarga Thio yang
dihormati orang karena semenjak nenek moyang kita
dahulu tidak pernah melakukan hal hal yang remeh.
Sekarang kau putera tunggal keluarga Thio akao menjadi
ayah dari anak seorang pelayan belian yang tidak diselir
secara sah! Ah, Thio Sui, kemana kita akan
menyembunyikan muka kita?”
“Ibu, tidak ada lain jalan lagi. Kita harus mencarikan
seorang suami untuknya. Kalau kita beri sedikit uang
modal, kiranya banyak laki laki dari luar yang suka
mengambil Kui Lian sebagai isterinya, dia masih muda lagi
tidak buruk mukanya,” kata pemuda yang pengecut dan
palsu hati ini. Setelah menghadapi akibat daripada
perbuatannya, ia bukan melindungi Kui Lian, bahkan
hendak mencuci tangan!
“Bodoh, apa kaukira semua pelayan tidak tahu akan
keadaan Kui Lian? Pula, suaminya juga akan tahu bahwa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dia sudah mengandung, apakah dia takkan menjual hal ini
secara murah di luaran?”
Ibu dan anak ini bicara kasak kusuk dan akhirnya
mereka menemukan jalan terbaik. Tiada jalan lain kecuali
menimpakan segala kesalahan ke pundak seorang pelayan
pria! Demikianlah, pada malaman tahun baru itu, tiba tiba
Gan Keng Ki dipanggil majikannya. Pelayan yang usianya
baru duapuluh lima tahun ini dengan wajah berseri dan hati
gembira datang menghadap di ruang tengah, mengira akan
mendapat hadiah Tahun Baru. Akan tetapi alangkah
herannya ketika berlutut di depan kursi Thio loya, ia
melihat wajah majikannya ini muram dan marah,
sedangkan Thio hujin, Thio kongcu dan para selir duduk di
situ tak bergerak seperti patung. Suasana demikian tegang
dan dingin, sama sekali tidak membayangkan kegembiran
tahun baru. Ada apakah? Hati Keng Ki mulai berdebar
debar tak enak. Apalagi ketika ia melihat Kui Lian yang
terisak isak sambil menutupi mukanya, duduk berlutut di
sudut ruangan. Sudah lama Keng Ki menaruh hati kepada
pelayan muda ini, akan tetapi segera mengusir perasaannya
karena dihadapannya duduk Thio Kongcu. Ia maklum
bahwa tak mungkin ia dapat bersaing dengan majikan
mudanya.
“Keng Ki, hayo akui semua dosamu agar hukumannya
agak ringan!” Thio loya mendamprat dengan bentakan
marah. Memang hartawan tua ini marah sekali ketika
mendengar bahwa Kui Lian telah mengandung karena
perhubungannya dengan seorang bujang, yaitu Gan Keng
Ki, orang kepercayaannya. Gila betul! Sudah lama ia
merindukan bunga cantik yang tumbuh di dalam tamannya.
Sebelum ia berhasil memetiknya, eh, tahu tahu sudah
didahului oleh bujangnya. Siapa takkan marah?
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Di lain pihak Keng Ki menjadi bingung dan melongo.
Kemudian setelah memeras otak mengingat ingat kesaahan
apa gerangan yang telah ia lakukan, ia mengangguk
anggukkan kepalanya sampai menyentuh lantai dan
menjawab,
“Hamba Gan Keng Ki menghaturkan Sin chun Kionghi,
hamba akan bersembahyang siang malam dengan doa
semoga Thio loya diberkahi usia panjang sampai ratusan
tahun, rezeki bertambah sampai kekurangan tempat untuk
menampung dan....”
“Tutup mulut!” bentak Thio loya marah sekali. Dalam
keadaan biasa, ucapan setamat dan pelayannya ini akan
memancing keluar uang hadiah, akan tetapi sekarang
sebaliknya, disangka sebagai sindiran dan ejekan.
Sebaliknya, Keng Ki menjadi pucat. Tadinya ia mengira
bahwa karena ia terlambat mengucapkan selamat, ia
dianggap bersalah dan tidak tahu adat, maka ia tadi buru
buru menghaturkan selamat. Tak tahunya malah dibentak
marah.
“Anjing betinanya sudah mengaku, apa kau anjing
jantannya masih berpura pura lagi? Kau bermain gila di
belakangku dengan Kui Lian, sampai gadis itu
mengandung. Tahukah kau apa artinya dosa itu? Kau telah
mengotori rumahku, telah mendatangkan kesialan, telah
mencemarkan nama baik kami, telah.... telah....” Saking
marah dan kecewanya melihat kembang idamannya
diserobot orang, Thio toya tak dapat mengeluarkan kata
kata lagi, hanya tangannya meruding nuding ke kanan ke
kiri menyuruh pelayan pelayan lain menangkap dan
memberi hukuman kepada Keng Ki.
“Tigapuluh kali cambukan!” akhirnya ia dapat juga
membentak dengan perintahnya setelah melihat Keng Ki
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dipaksa oleh delapan buah tangan untuk rebah telungkup di
depan majikannya yang sedang marah marah.
Segera terdengar suara suara aneh di malaman Tahun
Baru itu. Suara cambuk cambuk menghantam hantam
punggung disusul oleh rintihan memilukan juga tangis
perlahan dari Kui Lian tak pernah berhenti. Semenjak pagi
tadi menerima tuduhun yang bukan bukan, Kui Lian terus
menangis. Thio hujin dengan gamasnya menuduh ia
melakukan perhubungan dengan Gan Keng Ki! Apa yang ia
harus jawab? Tentu saja sampai mati ia tidak berani
mengaku bahwa yang menjadi ayah dari kandungannya
adalah Thio kongcu! Selain hal ini takkan dapat diterima
oleh keluarga Thio, juga akan membuat majikan
majikannya menjadi makin marah saja. Kui Lian hanya
mengharapkan campur tangan kekasihnya, mengharapkan
perlindungan, pembelaan dan penolongan Thio Sui. Akan
tetapi, alangkah perih hatinya ketika ia melihat pemuda itu
memandang acuh tak acuh, seakan akan dia orang yang
paling bersih di dunia.
Tidak sekalipun pemuda itu memandang kepadanya
sehingga payah Kui Lan mencoba untuk bertemu pandang
dan menyampatkan jerit jiwanya melalui pandang mata
kepada pemuda itu.
Setelah diberi hukuman tigapuluh kali cambukan yang
merobek robek kulit punggungnya, Thio loya berkata,
“Jahanam yang tidak tahu budi. Sejak kecil kau
kupelihara, kami beri makan dan pakatan secara berlebih
lebihan menolongmu dari kelaparan, akan tetapi balasmu
hanya memalukan nama baik kami saja. Sekarang katakan
apakah kau ingin kami ajukan ke depan pengadilan atau
akan menerima putusan hukuman kami sendiri?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Gan Keag Ki adalah orang kepercayaan Thio loya,
sudah sering kali disuruh mengantarkan ini itu dalam
hubungan Thio loya dengan para pejabat tinggi. Ia cukup
cerdik untuk mengerti bahwa hubungan majikannya dengan
para pembesar pengadilan amat eratnya, dan bahwa segala
perkara yang diadili di pegadilan keputusannya sama sekali
bukan berdasarkan keadilan, melainkan tergantung
daripada besar atau kecilnya uang sogokan yang diberikan
oleh mereka yang diperiksa kepada para petugas
pengadilan. Ia maklum pula bahwa kalau ia diserahkan
kepada pengadilan yang sudah makan uang sogokan
majikannya, nasibnya sudah dapat ditentukan, yakni siksa,
hukum dan buang.
“Hamba menerima segala keputusan loya....” akhirnya
ia berkata lemah.
Thio loya tersenyum. Ini berarti penghematan, tak perlu
dia mengirim beberapa puluh tael perak ke pengadialn, dan
dia dapat pula “mencuci muka” dan mempropagandakan
kebaikan hatinya.
“Baiknya aku kasihan kepadamu dan mengingat bahwa
kau sudah sebelas tahun bekerja disini, dan bahwa Kui Lian
juga bekas pelayan nyonya besar, keputusanku sekarang
supaya kau mengawini gadis itu dan pergi dari sini jangan
sekali kali berani menginjak pekarangan rumah kami. Dan
hati hati, kalau kau dan binimu sudah keluar dari sini
berarti kau bukan pelayan kami lagi, kau tidak ada
hubungan sama sekali dengan kami dan aku melarang kau
bicara sesuatu tentang diri kami.”
Dengan lemah Gan Keng Ki terpaksa menerima
hukuman itu. Ia diusir bersama Kui Lian di malam hari itu
juga. Ia menerima dengan kepala tunduk, kemudian pergi
ke kamarnya untuk mengumpulkan barang barang yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dipunyainya. Tidak banyak, hanya sebungkus pakaian, hasil
kerja selama sebelas tahun di situ.
Akan tetapi Kui Lian roboh pingsan mendengar
keputusan ini. Roboh pingsan sambil menjerit lirih ketika
melihat Thio Sui tersenyum puas dan meninggalkan
ruangan tanpa melirik seleretpun kepadanya.
Semua ini terjadi pada jaman itu. Tidak aneh kejadian
yang lebih hebat sekalipun bukan merupakan peristiwa
aneh. Apakah anehnya anjing dipukuli sampai mati oleh
majikannya? Apakah anehnya ayam dipotong. Kuda
diperas tenaganya untuk seikat rumput saja? Dan pelayan
belian di jaman itu tiada bedanya dengan anjing, ayam atau
kuda, kadang kadang lebih rendah lagi. Ya, jaman itu,
jaman di mana feodalisme masih merajlela, di mana derajat
manusia masih bertingkat tingkat. Yang kelaparan, si
miskin. Yang ditindas, si lemah. Yang terinjak injak, si
rendah.
“Kau.... perempuan sialan.... Kau perempuan rendah....
tak tahu malu! Kau perusak hidupku.... !” Keng Ki memaki
maki sambil menyeret tangan Kui Lian di sepanjang jalan
yang sunyi ditengah malam itu, malam tahun baru! Akan
tetapi yang dimaki maki, tidak menyahut, mendengarpun
tidak Kui Lian berjalan terhuyung huyung, setengah diseret
oleh Keng Ki wanita ini lebih banyak pingsan daripada
sadarnya. Seperti orang mabuk yang tidak ingat apa apa
lagi. Rintihan rintihan dan keluh kesah perlahan keluar dari
bibirnya, matanya setengah terpejam, tubuhnya lemah
lunglai.
“Kau perempuan hina dina.... kau main gila dengan
majikan muda, main gila lupa daratan, lupa diri, sampat
Thian mengutukmu, sampai kau mengandung. Dan aku
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
orangnya yang menerima hukuman untuk pebuatanmu
yang kotor itu!” Keng Ki tiada henti memaki maki. Yang
dimaki tetap tidak mendengar, bahkan Keng Ki merasa
tubuh itu menggelandot berat. Ketika ia melepaskan
pegangannya, tubuh itu terkulai dan terguling di atas tanah
dan rumput basah, pingsan.
“Terkutuk! Setan atas!” Keng Ki makin marah dan
mendokol. Kemudian ia duduk mengaso di atas tanah di
pinggir jalan itu, termenung dan tidak tahu apa yang akan
dilakukannya, apa yang akan diperbuatnya terhadap wanita
yang pingsan itu. Ia sudah terlalu lelah. Tubuhnya sakit
sakit dan lemas akibat hukuman yang ia terima tadi, panas
seluruh badan akibat nafsu amarah yang berkobar.
Akhirnya ia tak dapat menahan kelemasan tubuh, ia
berbaring dan tak lama kemudian tidur membuat ia lupa
akan kesedihannya, akan kemarahannya, akan nyeri nyeri
badannya.
Menjelang tubuh Keng Ki bangun dari tidurnya, ia sadar
kembali dan bersama kesadarannya, kembali pula
kesedihannya, kemarahannya, kemendongkolannya. Ia
melihat ke arah Kui Lian yang masih rebah miring di atas
tanah. Ketika didekatinya ternyata Kui Lian masih tidur.
Agaknya gadis ini setelah siuman kembali, saking lelahnya
tertidur juga.
Melihat gadis yang berwajah manis ini tidur miring
dalam keadaan menarik dan juga menimbulkan kasihan,
untuk sedetik kemarahan dan kekerasan hati Keng Ki
mencair. Teringat ia akan cinta kasihnya yang dulu diam
diam ia tahan untuk gadis ini, gadis yang pernah
dirindukannya siang malam. Akan tetapi tiba tiba perih dan
nyeri di punggungnya mengusir kelemahan ini dan
mengembahkan kemarahannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bangun! Perempuan sial!” bentaknya sambil melompat
berdiri dan mengguncang guncang tubuh Kui Lian dengan
kakinya.
Kut Lian mengeluh, membuka mata. Lalu bangkit cepat
cepat seakan akan orang baru sadar dari mimpi, terbelalak
memandang ke kanan kiri, kemudian kepada Keng Ki Lalu
menangis tersedu sedu. Bukan mimpi buruk, melainkan
kenyataan yang ia hadapi! Tadinya Kui Lian masih
mengharapkan bahwa kesemuanya itu mimpi belaka, akan
tetapi alangkah hancur hatinya ketika mendapat kenyataan
bahwa semua itu bukan mimpi, melainkan kenyataan pait.
“Diam! menangis lagi! Perempuan sial, kau tahu apa
yang telah kauperbuat terhadap aku? Sejak kecil aku berada
di gedung keluarga Thio, mendapat kepercayaan, disuka
dan sering mendapat hadiah. Hidupku senang sampai
belasan tahun. Kemudian iblis melemparkan kau ke tengah
tengah keluarga Thio. Kau siluman betina ini main gila.
menggoda kongcu sampai perutmu menjadi besar.
Kemudian kau menimpakan dosanya kepundakku. Aku
yang dituduh menjinaimu, aku yang dituduh menjadi bapak
anak haram di perutmu itu. Cih, tak tahu malu. Coba
kaukatakan, kapan aku pernah mendekatimu? Hayo
katakan, kapan?” Makin banyak bicara makin melonjak
marah di dada Keng Ki. Ia mencak mencak, membanting
banting kaki mengepal tinju.
“Gan twako, ampunkan aku.... biarpun aku tak pernah
memfitnahmu, biarpun aku bersumpah tak pernah
membawa bawa namamu di depan mereka, tetap saja....
aku telah bersalah.... karena perbuatankulah kau
menderita.... Twako, kalau tidak bisa mengampunkan
aku.... mengaca kau tidak...... tidak bunuh saja aku di sini?
Tidak akan ada orang tahu....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Lemas kedua tangan Keng Ki yang tadinya dikepal kepal
itu. Melihat gadis ini berlutut dengan kepala yang
rambutnya awut awutan itu menunduk, mendengarkan kata
kata yang lemah dan sayu diseling isak, lemaslah dia.
“Bunuh.... kau....?” ulang katanya gagap dengan
pandang mata bodoh.
“Ya, mergapa tidak? Untuk apa artinya hidup bagiku?
Aku telah tertipu....” ia tersedu sedu. “Aku tertipu oleh
perasaanku, kau benar, twako. Aku seorang perempuan
rendah, tak tahu malu, tak tahu menjaga kehormatan. Aku
patut kau bunuh saja, jangan menjadi bebanmu....” Dan
iapun menangis tersedu sedu.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXII
KENG KI berdiri terpaku Tangan kanannya tergantung
di belakang, tangan kiri menjambak jambak rambut, rasa
nyeri punggungnya berdenyut denyut. Lebih baik
kutinggalkan saja dia, ia termenung. Akan tetapi.... apa
jadinya kalau di tinggalkan? Dia akan kelaparan atau akan
terjatuh ke dalam tangan orang yang takkan membiarkan
saja wanita cantik ini tidak diganggu. Pula, ia sendiri sudah
tidak punya apa apa, diusir mentah mentah oleh keluarga
Thio, karena perempuan celaka ini, pikirnya. Tiba tiba ia
mendapat pikiran yang amat baik. Mengapa tidak? Aku
dapat membalasnya, juga menolongnya, dan menolong
diriku sendiri. Keng Ki tersenyum.
“Tidak, Kui Lian. Kau tidak seharusnya mati, kau masih
muda dan kau harus ingat akan.... anak di kandunganmu,”
katanya sambil menarik bangun Kui Lian dengan halus.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Lian merasa tertusuk hatinya diingatkan akan
kandungannya, maka ia menangis tersedu sedu.
“Sudahlah, mari kau ikut saja dengan aku, aku akan
mencarikan tempat tinggal yang baik untukmu,” Keng Ki
menghibur
“Gan twako, kalau aku tidak mengingat akan....
kandunganku ini.... aku lebih baik mati menyusul ayah
bundaku....”
“Hushh.... sudahlah, adikku yang baik. Jangan putus
asa, dunia masih terang, hidup masih panjang. Biadab
orang orang jahanam seperti keluarga Thio terutama sekali
Tho Sui pemuda keparat itu, cepat cepat mampus dimakan
iblis di hari tahun baru ini. Angkat muka, Kui Lian, musim
semi telah tiba, kau tidak boleh bermuram durja, rezeki
akan pergi menjauhi kita kalau kita tidak menyambutnya
dengan wajah berseri.”
Kui Lian merasa berterima kasih sekali. Alangkah
baiknya hati Keng Ki Sambil memegang tangan pemuda itu
erat erat, ia melangkah maju, penuh harapan untuk masa
depan.
“Gan twako, hidupku selanjutnya hanya mengandalkan
kepadamu saja,” katanya lemah. “Kau tertimpa bencana
oleh karena aku, dan kau tidak sakit hati malah kau bersiap
menolongku.... alangkah mulia hatimu....”
“Aah, jangan berkata demikian. Kita kan senasib? Asal
selanjutnya kau taat kepadaku, ku tanggung kau akan
mendapat tempat dan kedudukan yang baik.”
Maka berjalanlah dua orang itu, di hari tahun baru, di
tempat sunyi sepi, menuju ke timur ke arah matahari,
menyongsong terbitnya raja sehari.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Lian yang hatinya masih terluka oleh karena
dikecewakan kepercayaannya terhadap manusia itu,
kembali menerima pukulan batin yang hebat. Tadinya ia
percaya penuh kepada Keng Ki, menggantungkan
harapannya kepada pemuda ini yang ia anggap seorang
yang semulia mulianya. Akan tetapi apakah yang terjadi?
Ketika mereka tiba di kota Kun san, Keng Ki bilang
bahwa dia mempunyai seorang bibi di kota ini. Dengan
segala senang hati Kui Lian mengikuti Keng Ki mampir di
rumah bibinya itu. Ternyata bibi dan Keng Ki itu seorang
janda yang sudah setengah tua, ramah tamah sekali, agak
genit, rumahnya teratur rapi dan bersih, penuh bunga bunga
dan di situ Kui Lian bertemu dengan empat orang wanita
muda yang cantik cantik pulasan. Sikap mereka yang genit,
bedak dan gincu tebal itu membuat Kui Lian merasa tidak
enak dan tidak senang. Akan tetapi oleh karena bibi Keng
Ki itu menyatakan bahwa empat orang wanita itu adalah
anak anaknya, Kui Lian menelan kesebalannya dan
bersikap halus dan ramah.
Di luar pengetahuan Kui Dan, Keng Ki telah main mata
dengan perempuan setengah tua itu. Perempuan itu
tersenyum senyum, kemudian mempersilahkan Kui Lian
mengaso di ruangan dalam.
“Mengasolah dulu, adikku. Aku ada urusan penting
sekali di sebuah kantor di kota ini, urusan pembelian
rumah. Kalau sudah selesai, tentu aku akan datang
menjemputmu.”
Kui Lian yang sudah percaya penuh kepada pemuda ini,
tentu saja menurut, bahkan diam diam ia berdoa semoga
pemuda itu segera berhasil dalam usahanya mencari rumah
tinggal. Dan dia merasa senang diperbolehkan mengaso di
dalam sebuah kamar seorang diri, di mana ia baringkan
tubuhnya yang lelah dan sebentar saja ia tertidur nyenyak.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hari telah sore ketika Kui Lian terjaga dari tidurnya, ia
terjaga karena suara ribut ribut dan ketika ia membuka
matanya, ia melihat “bibi” tadi sudah berdiri di situ dan
nampak marah marah.
“Hayo bangun! Enak saja kau sedari pagi tidur sampat
sore. Jangan kira aku membelimu hanya untuk
memeliharamu dan kau boleh malas malasan di sini. Lekas
kau bersolek, itu bedak, itu yanci dan pakaianmu itu ganti
dengan ini. Sebentar lagi gelap dan tamu tamu mulai
datang.”
Karuan saja Kui Lian melongo. Dia adalah seorang
wanita berasal dari dusun, kemudian hidup di dalam rumah
keluarga Thio, tidak pernah keluar. Mana ia tahu bahwa ia
telah tersesat ke dalam rumah pelcuran? Mana ia dapat
menduga bahwa wanita wanita yang genit tadi adalah
pelacur pelacur dan bahwa bibi ini bukan lain adalah
seorang pedagang wanita? Mana ia tahu bahwa Keng Ki
telah menjualnya kepada “bibi” ini?
“Bibi, apa.... apa artinya ini....?” tanyanya gagap.
“Bibi. , bibi.... siapa bibimu? Mulai sekarang kau harus
menyebutku Cia ma, tahu? Dan kau jangan pura pura tarik
muka suci dan terheran heran. Aku membelimu dari orang
muda itu seharga tiga puluh tael perak bukan untuk main
main. Kau harus mulai melayani tamu malam ini juga!”
Kui Lian menjadi pucat sekali, matanya berkunang dan
ia tentu roboh kalau tidak lekas lekas memegang pinggiran
tempat tidur ia sekarang tahu, walaupun masih menduga
duga.
“Apa....? Apa artinya ini....? Mana Gan twako?
Bukankah dia mencari rumah dan sebentar akan datang ke
sini menjemputku?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Cia ma menjadi marah, ia melangkah maju dan menarik
tangan Kui Lian dengan paksa, menurunkannya.
“Jangan banyak tingkah! Apa betul betul kau masih
berpura pura lagi? Bukankah kau bisa melacur di rumah
keluarga hartawan? Masih berpura pura seperti seorang
gadis suci saja lagi. Lekas bereskan dirimu, lalu bereskan
pembaringan ini. Kau bikin kusut saja tidur sehari penuh.
Atau kau mau dicambuk atau kuseret ke pengadilan karena
hendak menipuku untuk tigapuluh tael perak?”
Benar benar Kui Lian terkejut dan bingung.
“Tidak!” katanya menggeleng geleng kepala, mukanya
pucat dan kedua tangan diangkat ke atas menahan mulut
yang hendak menjerit jerit. “Tidak.... aku tidak tahu.... apa
yang kaumaksudkan. Aku.... aku tidak mau tinggal di sini
lagi.... aku mau pergi.... mencari Gan twako. Kau
perempuan jahat!”
Melihat bahwa benar benar Kui Lian ketakutan dan
agaknya tidak berpura pura, Cia ma menjadi agak sabar.
Mungkin aku telah dibodohi oleh bangsat tadi. Ia membeli
diri Kui Lian untuk tigapuluh tael perak dan mendengar
dari Keng Ki bahwa Kui Lian adalah seorang bunga raja
kelas tinggi yang pernah mejadi rebutan di rumah seorang
hartawan besar sehingga gadis ini diserahkan kepadanya.
“Eh..... nona, benar benarkan kau tidak tahu urusannya?
Pemuda tadi telah menjual dirimu kepadaku. Ini suratnya!
Kau bisa baca? Nah, kau lihat sendiri, ini surat
penjualannya. Kau sudah menjadi milikku yang syah. Aku
membeli dirimu karena mendengar bahwa kau sudah biasa
dengan pekerjaan ini. Kau harus melayani tamu tamuku.”
“Tidak, aku.... tidak sudi, lebih baik kau bunuh aku.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Cia ma mengerutkan keningnya. “Eh, kenapa begitu?
Kalau kau tidak mau bekerja, mana kembalikan uangku
tigapuluh tael perak, ditambah sewa kamar untuk tidurmu
tadi!”
“Dari mana aku dapat uang tigapuluh tael perak?” kata
Kui Lian, hatinya berdarah, lukanya merekah lagi karena
baru sekarang terbuka matanya bahwa Keng Ki tidak tebth
baik danpada keluarga Thio!
“Kalau tidak punya uang, kau harus bekerja. Kau harus
mengerti. Aku berhak memaksamu dengan surat penjualan
ini dan tidak seorangpun di dunia ini dapat melarangku.”
Muka Cia ma kelihatan begitu beringas dan ganas sehingga
Kui Lian menjadi ketakutan.
“Nah, itu. Ada tamu tamu datang, lekas kau berhias!”
kata Cia ma menoleh ke arah pintu.
“Eh, Cia ma....! Di mana kau? Mana bunga baru yang
kau janjikan?” terdengar suara keras seorang pria dan
disusul oleh suara ketawa laki laki lain.
“Tunggu, Teng kongcu.... aku sudah dapat. Tunggu dan
duduklah sebentar!” kata Cia ma ke arah luar. Kemudian ia
menoleh kepada Kui Lian dan berbisik, “Lekas kau
berdandan. Rejeki nomplok! Yang datang itu adalah putera
tihu, Teng kongcu!”
Akas tetapi Kui Lian sudah begitu ketakutan sehingga
tiba tiba sambil terisak ia mendorong Cia ma ke samping,
kemudian melarikan diri keluar.
“Heii....tunggu.... tangkap dia.... penipu! Hayo
kembalikan uangku....!” Cia ma mengejar dari belakang.
Dua orang laki laki muda yang menanti di ruangan
depan, melihat seorang gadis cantik dengan rambut awut
awutan berlari keluar dikejar oleh Cia ma, menjadi tertarik.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pemuda tinggi kurus yang tadi bicara, yaitu Teng kongcu
putera tihu, cepat mengulur tangan dan menangkap lengan
Kui Lian yang berlari di depannya.
“Lepaskan aku....! Lepaskan aku….!” Kui Lian meronta
ronta. Akan tetapi oleh karena Cia ma berteriak teriak
supaya pemuda itu jangan melepaskannya, Teng kongcu
bahkan menarik dan memeluk tubuh Kui Lian sambil
tersenyum senyum.
“Cia ma, kembang mawar hutan yang liar ini baik
sekali!” Ia memuji.
Akan tetapi, sebelum Cia ma dapat menangkapnya tiba
tiba Kui Lian menggunakan giginya yang putih dan kuat
untuk menggigit tangan Teng kongcu sekuatnya.
“Aduuuhhh! Benar benar kuda betina liar....!” Pemuda
itu berteriak kesaktian dan terpaksa melepaskan
pelukannya, ditertawai oleh kawannya. Kui Lian berlari
terus keluar dan ke jalan. Cia ma mengejar ngejar sambil
memaki maki.
“Bangsat perempuan.... Tangkap, tangkap. Dia menipu
uangku.... Tolong bantu tangkap!” Beberapa orang
menghadang dan akhirnya Kui Lian tertangkap, dijambak
rambutnya yang terurai dan diseret seret oleh Cia ma.
“Aku beri dia tigapuluh tael perak dan dia hendak lari.
Banar benar penipu kecil!” Cia ma menerangkan kepada
orang orang yang menonton di pinggir jalan.
Kebetutan sekali pada saat itu dari selatan datang
seorang kakek yang amat aneh pakaiannya. Tambal
tambalan bermacam macam warna. Potongan pakaian dan
rambutnya seperti tosu. Tangan kanan memegang kebutan,
tangan kiri memegang tongkat dan sepanjang jalan ia
berteriak teriak.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Gwa mia....! Gwa mia....? Nasib manusia di tangan
Thian akan terapi usaha manusia dapat mengurangi
kesengsaraan dan menambah kebahagiaan! Gwa mia....
Gwa mia....!”
Ternyata ia seorang tosu tukang gwa mia, yaitu tukang
peramal nasib orang. Jenggotnya yang panjang putih itu
melambai lambai tertiup angin di depan dadanya, matanya
jernih dan tajam seperti mata kanak kanak, bibirnya selalu
tersenyum ramah.
Melihat ribut ribut antara Cia ma dan Kui Lian, tosu
tukang gwa mia ini menghentikan teriakan teriakannya
yang menawarkan pekerjaannya, lalu melangkah
menghampiri Cia ma yang masih menyeret nyeret rambut
Kui Lian.
“Heh, calon mayat busuk. Kau hidup tinggal tiga bulan
lagi, tidak mencari jalan terang, bahkan memupuk dosa!
Nyonya muda ini sedang mendapat kurnia Thian,
mengandung seorang anak laki laki, bagaimana kau berani
menyeret nyeretnya seperti itu?”
Biarpun suara ini halus dan mukanya tetap ramah, Cia
ma kaget setengah mati sehingga ia melepaskan jambakan
tangannya pada rambut Kut Lian yang hitam dan panjang.
Kui Lian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tosu itu
sambil menangis, Cia ma memandang kepada tosu dengan
mata melotot, kemudian ia bengong melihat wajah tosu ini,
mati kutunya ia tidak berani berlaku galak, karena wajah
kakek itu benar benar mempunyai pengaruh yang besar
sekali. Tubuh Cia ma mulai gemetar, apalagi kalau ia ingat
kata kata kakek ini bahwa usianya tinggal tiga bulan.
“Dia.... dia telah menipu uangku tigapuluh tael. Aku
membelinya akan tetapi ia hendak melarikan diri. Harap
totiang suka pertimbangkan. Orang seperti aku yang miskin
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ini kalau ditipu tigapuluh perak, bukankah akan menjadi
bangkrut?”
Tosu itu mengulurkan tangannya yang memegang
kebutan kepadaCia ma.
“Nah, ini terimalah kembali uangmu. Aku tebus nyonya
muda ini,” katanya.
Cia ma memandang dan dengan hati girang menerima
tiga potong perak dari sepuluh tael sebuah. Tadinya ia
sudah merasa jengkel dan khawatir sekali melihat keadaan
Kui Lian, takut kalau kalau kali ini ia rugi. Tentu saja ia
merasa girang mendapatkan uangnya kembali dan terlepas
dari gadis yang nekat itu.
“Terima kasih, totiang, terima kasih,” katanya
tersenyum senyum dan segera pergi dari situ, takut kalau
kalau tosu itu berubah ingatan dan minta kembali uangnya.
Akan tetapi tidak demikian dengan orang orang yang
berada di situ. Bukan kejadian biasa seorang tosu aneh
“membeli” kembali seorang gadis dari tangan tengkulak
pelacur. Bahkan peristiwa yang luar biasa, sejak manusia
tercipta sampai sekarang. Maka banyaklah orang di situ
berkumpul, hanya untuk melihat apa yang selanjutnya akan
terjadi dengan nona dan tosu itu. Cia ma sudah dilupakan
orang seperti seorang pelaku yang sudah menghilang di
balik layar.
“Anak, kau sudah bebas. Pulanglah kembali ke tempat
asalmu,” kata tosu itu sambil mengipas ngipas lehernya
dengan kebutan.
Mendengar kata kata ini, Kui Lian yang masih berlutut
itu tiba tiba menangis sedih.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Totiang, dari mana tempat asalku kalau bukan alam
baka? Kalau totiang menyuruh aku pulang kembali, bunuh
saja aku....”
“Eh, eh, payah aku....!” Tosu itu tertawa.
“Apa kati tidak punya rumah? Tidak punya orang tua
atau keluarga?”
Kui Lian menggeleng kepala. “Aku seorang yatim piatu,
ayahku kesengsaraan, ibuku penderitaan, totiang sudah
menebus dan membeli diriku berarti aku milik totiang,
terserah hendak totiang bawa ke mana.”
Tosu itu menggeleng geleng kepalanya.
“Anak baik, mari kau ikut padaku!” Tosu itu lalu
mengulurkan tongkatnya yang dipegang oleh Kui Lian.
Aneh sekali, begitu tangan gadis itu memegang ujung
tongkat, ia merasa tubuhnya kuat. Tadi ia merasa lemas
sekali, akan tetapi tongkat itu seakan akan mengalirkan
hawa hangat yang menggetarkan tubuhnya dan mengusir
kelelahan, sebaliknya mendatangkan tenaga. Tosu itu lalu
berjalan, diikuti oleh Kui Lian yang masih memegangi
tongkat.
“Bandot tua, kau yang sudah mau mampus ini masih
tidak tahu malu menginginkan diri seorang perempuan
muda? Gadis itu calon milikku!” Tiba tiba terdengar
bentakan dan dua orang muda tahu tahu sudah melompat
menghadang di depan tosu itu. Mereka ini bukan lain
adalah Teng kongcu dan kawannya, seorang tukang pukul
dan ahli silat di Kun san yang selalu berada di dekat Teng
kongcu sebagai pelindung dan pelaksana tugas tugas kasar.
Tukang pukul yang masih muda itu menyeringai dan
menghampiri tosu tukang gwa mia itu dengan sikap
mengancam, sedangkan Teng kongcu lalu menyambar
tangan Kui Lian, hendak ditariknya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Lian meronta dan membetot tangannya yang
terpegang, dan.... Teng kongcu berteriak, tubuhnya
terpelanting sampai jauh.
Melihat majikannya terpelanting dan terbanting di tanah
berteriak teriak mengaduh, tukang pukul itu menjadi marah
sekali, mengira bahwa Kui Lian telah memukul roboh
majikannya.
“Anjing betina liar, berani kau memukul kongcu?”
bentaknya dan tangan kanannya diulur untuk menjambak
rambut Kui Lian yang masih terurai dan awut awutan.
Karena ngeri dan takut menghadapi siksaan tukang pukul
yang marah marah itu, Kui Lian mengangkat tangan kiri
melindungi kepalanya, sedangkan tangan kanannya tetap
memegang ujung tongkat, karena ia tidak mau berpisah
dengan kakek penolongnya.
Tangan tukang pukul yang mencengkeram itu bertemu
dengan tengan yang halus dari Kui Lian dan.... terdengar
suara keras, “krak” lalu tubuh tukang pukul itu terlempar.
Sambil memegangi lengan kirinya yang ternyata patah
tulangnya, tukang pukul itu meringis ringis, akan tetapi kini
menjadi jerit menghadapi gadis yang sekali tangkis dapat
mematahkan lengan tangannya itu.
Kui Lan tidak mengerti, bahkan tidak mengira sama
sekali apa yang telah terjadi. Tidak mengerti mengapa Teng
kongcu dan tukang pukul nya terpelanting dan roboh
setelah menyentuhnya.
“Anak yang baik, mari kita pergi, di sini banyak lalat
busuk,” kata tosu itu perlahan lalu menarik tongkatnya dan
Kui Lian mengikutinya dari belakang, berpegang pda ujung
tongkat. Orang orang hanya memandang dengan mata
terbelalak dan kini semua orang memandang Kui Lan
dengan kagum, mengira bahwa gadis itu adalah seorang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang tiba. Karena ini tak seorang pun berani mengkuti
kakek dan gadis itu sehingga sebentar saja mereka telah
lenyap di satu tikungan jalan.
Tak lama kemudian, datang Cia ma berlari lari dan
memaki maki. “Celaka.... tosu siluman.... dia telah
menyihirku.”
Ketika semua orang datang bertanya, ia memperlihatkan
tiga gumpal tanah di tangannya sambil memberi penjelasan.
“Dia membeli gadis itu tiga puluh tael perak, akan tetapi
lihat! Ketika sampai di rumah potongan perak itu berubah
menjadi tanah. Mana orangnya? Tangkap! Aku harus
menyeretnya ke pengadilan.”
Akan tetapi ketika Cia ma mengejar, diikuti oleh banyak
orang yang ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,
kakek dan gadis itu sudah lenyap.
Kita tinggatkan dulu Kui Lian, gadis yatim piatu yang
selalu ditimpa kemalangan itu dan mari kita menengok ke
lain tempat, di kota Tit le.
Telah berpuluh tahun di kota ini tinggal keluarga Song
yang amat terkenal, apalagi di kalangan dunia kang ouw,
keluarga Song ini amat disegani. Siapakah orangnya yang
tidak mengenal kakek tua Song Bun Sam yang berjuluk
Thtan te Kiam ong (Raja Pedang Langit dan Bumi)? Naga
Sakti tentu berkeluarga naga sakti pula, demikian kata
kalangan kang ouw. Di rumah kakek sakti ini juga tinggal
orang orang yang berkepandaian tinggi. Mendiang isteri
kakek ini dulu juga seorang pendekar wanita gemblengan,
bernama Can Sian Hwa dan ilmu pedang serta ginkangnya
sudah tersohor di seluruh kolong langit!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sekarang yang singgah di rumah besar dari pendekar tua
ini adalah putera tunggalnya yang bernama Song Tek
Hong, juga seorang ahli pedang yang telah mewarisi
kepandaian ayahnya. Di samping putera ini tinggat pula
mantu perempuannya yang dalam hal kelihaiannya tidak
kalah oleh Song Tek Hong sendiri, karena mantu
perempuan ini adalah Ong Siang Cu, murid mendiang Lam
hai Lo mo Seng Jin Siansu, tokoh seperti iblis dari dunia
selatan. Ong Sang Cu ini sebetulnya adalah anak dari
Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee.
Selain anak dan mantu yang termasuk ahli ahli silat kelas
tinggi ini, masih ada lagi cucu tunggal dari Thian te Kiam
ong Song Bun Sam, yakni Song Bun Hui, puteri dari Song
Tek Hong. Suami isteri yang saling mecinta ini ternyata
hanya mempunyai seorang anak saja. Oleh karena itu tidak
mengherankan apabila ayah bundanya, juga kakeknya,
amat sayang kepadanya dan amat memanjakan sehingga Bi
Hui menjadi seorang anak yang manja sekali. Kini ia telah
berusia limabelas tahun, cantik jelita, periang dan keras hati
seperti ibunya, bagaikan setangkai bunga mawar hutan
yang bebas liar sukar didekati.
Selain puteranya Song Tek Hong, Thian te Kiam ong
Song Bun Sam masih mempunyai seorang puteri yang tidak
kalah lihainya. Puteri ini bernama Song Siauw Yang, sudah
menikah bahkan sudah mempunyai seorang putera yang
sudah hampir dewasa, sebaya dengan Bi Hui. Song Siauw
Yang menikah dengan seorang sasterawan bernama Liem
Pun Hui dan putera tunggal mereka ini diberi nama Liem
Kong Hwat, Keluarga Liem ini tinggal di kota Liok Can,
tak jauh dari Tit le.
Pada waktu itu, keluarga Liem juga berada di Tit le
karena mereka ini mendengar bahwa kakek Song menderita
sakit berat. Memang kakek Song Bun Sam yang gagah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
perkasa ini betapapun lihai dan saktinya, harus mengaku
kalah terhadap usia tua. Ia sudah berusia hampir
tujuhpuluh tahun. Melihat kakek ini menderita sakit, anak
cucunya datang menengok dan sampai sepekan keluarga
Liem tinggal di rumah besar di Tit le itu.
Pada suatu hari, keluarga besar ini sedang bercakap
cakap di luar sedangkan kakek Song beristirahat dan tidur
nyenyak sehingga para anak cucunya berkesempatan
mengobrol di luar, datanglah seorang kakek yang tua sekali,
pakaiannya tambal tambalan, tangan kanan memegang
tongkat, tangan kiri menuntun seorang bocah laki laki
berusia kurang lebih empat tahun. Di punggungnya terselip
sebatang hudtim (kebutan pertapa ) yaitu sebuah kebutan
yang dipergunakan sebagai alat pengusir lalat.
Yang sedang mengobrol di luar adalah Song Tek Hong
suami isteri, Liem Pun Hui suami isteri dan Song Bi Hui.
Liem Kong Hwat tidak nampak karena pemuda ini sedang
mendapat giliran menjaga kakeknya dengan para pelayan.
Pemuda ini memang amat sayang kepada kakek yang ia
kagumi lebih daripada ia mengagumi ayah bunda atau
orang orang lain.
Melihat kakek yang keadaannya seperti tosu ini, Song
Tek Hung, Song Siauw Yang, dan Ong Siang Cu terkejut.
Tiga orang gagah ini sudah kenyang akan pengalaman di
dunia kang ouw dan mereka sekali lihat saja dapat
membedakan antara orang biasa dan aneh. Dan keadaan
kakek yang datang ini benar benar aneh. Sukar sekali untuk
menaksir usianya karena wajahnya masih kemerah
merahan dan matanya seperti mata kanak kanak, akan
tetapi jenggotnya yang putih sudah sampai di perut
panjangnya.
Inilah kakek tukang gwa mia yang telah menolong Kui
Lian lima tahun yang lalu! Dia tersenyum senyum melihat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
orang orang setengah tua yang gagah gagah itu dan
memandang kagum kepada Bi Hui yang cantik jelita dan
juga membayangkan sifat gagah perkasa. Kemudian ia
mengangguk angguk.
“Hebat.... hebat.... di kolong langit ini mana ada
keluarga yang lebih hebat daripada keluarga Song?”
katanya seorang diri.
Song Tek Hong yang dapat menduga bahwa kakek ini
tentu seorang luar biasa, segera bangun dari duduknya,
menyambut kakek itu dengan sikap hormat, menjura dalam
lalu berkata,
“Boanpwe mohon tanya, siapakah locianpwe dan
kehormatan apakah yang locianpwe hendak berikan kepada
kami keluarga Song?”
Kakek itu tertawa bergelak, lalu menunduk memandang
kepada bocah yang digandengnya.
“Beng Han, kaulihat dan dengar, buka telinga dan mata
baik baik dan kau akan dapat membedakan orang gagah
dan orang busuk di dunia ini. Di depanmu berdiri
keturunan orang gagah yang patut dihormati, seorang
anggota keluarga hebat, maka kau kubawa ke sini.”
Bocah berusia empat tahun lebih itu mendengar kata
kata ini, menujukan pandang matanya kepada Song Tek
Hong dengan tajam penuh selidik, kemudian ia
menjatuhkan diri berlutut.
“Teecu Thio Beng Han yang bodoh mohon pimpinan lo
enghiong.....” suaranya kecil dan merdu akan tetapi nyaring
sekali.
Melihat ini, sekaligus timbul rasa suka di hati Song Tek
Hong. Dia tidak mempunyai putera, hanya seorang anak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
perempuan, maka melihat anak ini, ia merasa kagum sekali
diangkatnya anak itu berdiri.
“Anak baik, bangunlah.”
Sementara itu, kakek tua itu menghadapi Tek Hong dan
berkata, suaranya seperti wajahnya, ramah.
“Sicu, aku ingin sekali bertemu dengan Thian te Kiam
ong Song Bun Sam. Sampaikan bahwa aku Koai Thian Cu
tukang gwa mia dari selatan datang untuk menyampaikan
hormatku.”
Nama Koai Thian Cu sama sekali tidak terkenal.
Biarpun Song Tek Hong seorang yang sudah banyak
pengalaman dan amat terkenal di dunia kang ouw, namun
ia belum pernah mendengar nama Koai Thian Cu ini.Maka
ia mengerutkan keningnya dan menjawab,
“Maafkan, locianpwe. Ayah sidang menderita sakit oleh
karena itu kiranya tidak mungkin dapat menyambut tamu.
Harap locianpwe suka maafkan dan sudi datang lain kali
saja kalau ayah sudah sehat. Kecuali kalau locianpwe suka
boanpwe mewakili ayah menyambut locianpwe.”
“Mana bisa lain kali? Lain kali Thian te Kiam ong sudah
tidak berada di dunia lagi. Apakah kau tidak suka memberi
tahu tentang kedatanganku kepadanya?”
“Harap locianpwe sudi memaafkan. Ayah sedang tidur
dan boanpwe tidak berani mengganggu.”
“Kau betul, sicu. Bakti adalah dasar daripada segala
kebajikan di dunia ini. Akan tetapi, keperluanku ini penting
sekali dan bukan hanya penting untukku, bahkan penting
untuk ayahmu sendiri. Lihat, tak lama lagi tentu dia
mencariku!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Baru saja kata kata ini diucapkan, dari dalam muncul
Liem Kong Hwat. Pemuda ini berkata kepada TekHong,
“Paman, kong kong minta supaya tamu yang datang
dipersilahkan menghadap ke dalam, langsung ke
kamarnya.”
Karuan saja Tek Hong menjadi melongo dan ia makin
merasa kagum kepada kakek ini. Sambil membungkuk
bungkuk ia mempersilahkan Koai Thian Cu masuk, lalu
mengiringkannya ke kamar ayahnya. Koai Thian Cu
dengan sikap acuh tak acuh berjalan sambil menggandeng
tangan bocah yang bernama Thio Beng Han itu.
Di dalam kamarnya, kakek Song Bun Sam rebah
terlentang. Wajahnya yang masih nampak gagah itu pucat,
akan tetapi matanya masih bersinar tajam. Napasnya agak
berat akan tetapi tidak sediktpun wajahnya membayangkan
kesesalan hati, tanda bahwa ia menerima penderitaan
jasmaninya dengan rohani yang sehat. Pendengaran kakek
ini masih tajam sekali, ia mendengar kedatangan orang dan
menoleh pelahan, lalu tersenyum ketika melihat masuknya
seorang kakek aneh yang diikuti oleh puteranya.
“Sahabat, kepandaianmu coan in (mengirim suara)
mengingatkan aku kepada mendiang Lam hai Lo mo,” kata
kakek Song sambil bangun duduk dan memberi hormat.
Tosu itu tertawa, gema suaranya memenuhi kamar itu.
“Ha, ha, ha, Thian te Kiam ong, memang sudah dekat
sekali dugaanmu itu. Lam hai Lo mo adalah suhengku dan
aku sendiri bernama Koai Thian Cu.”
Dengan suara tegas dan sikap keren kakek yang sedang
sakit itu berkata kepada puteranya, “Tek Hong, bersihkan
lian bu thia (ruang main silat), biar aku menerima pelajaran
dari Koai Thian Cu taihiap.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ha, ha, ha, Thian te Kiam ong sudah tua masih berhati
muda, semangat bertempurnya masih berkobar kobar.
Sungguh mengagumkan! Akan tetapi biarpun aku sute dari
Lam hai Lo mo, aku bukan termasuk seorang lo mo (iblis
tua). Bukan, bukan, Thian te Kiam ong. Mana aku ada
harga untuk berpibu dengan raja pedang seperti engkau?
Aku hanya seorang tukang gwa mia biasa saja, juga seorang
tukang obat yang bodoh, hanya mengandalkan peruntungan
baik.”
Mendengar ini, kakek Song Bun Sam tersenyum dan
wajahnya yang tadi nampak keren dan sungguh sungguh itu
berubah terang dan ramah.
“Tek Hong, tinggalkan kamar ini. Biar aku bicara berdua
dengan tamu kita yang terhormat.”
Dengan taat Tek Hong mengundurkan diri diikuti oleh
semua pelayan hingga di lain saat kamar itu telah kosong.
Tak seorangpun berani mencoba coba untuk mendekati
kamar itu karena siapakah yang tidak maklum akan
kepandaian kakek Song yang sakti? Melihat ini, Koai Thian
Cu juga menyuruh bocah yang selalu digandengnya ini
untuk keluar.
“Beng Han, kau main main di depan sana, menanti aku
keluar.”
“Baik, kong kong,” kata anak itu yang segera keluar
dengan cepat. Di ruang luar ia bertemu dengan keluarga
Song yang segera mengajaknya duduk dan memberi
makanan kepada bocah yang ternyata pandai membawa diri
ini.
“Koai Thian Cu, sekarang katakan, apa maksud
kedatanganmu ini?” tanya kakek Song setelah semua orang
meninggalkan kamar.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Thian te Kiam ong, tadinya aku ingin main main
sebentar denganmu karena sudah lama sekali aku
mendengar nama besarmu. Akan tetapi ternyata Thian
mendahului aku. Aku bukan orang yang tak tahu malu dan
tidak tahu aturan untuk mengajak seseorang sakit berpibu,
apalagi karena kulihat bahwa kau takkan dapat melewati
dua bulan lagi. Lepas dari batas usia yang sudah ditentukan
oleh Thian. Kau terlalu banyak mencurahkan pikiran dan
perasaan mengenangkan isterimu dan kau sudah bosan
hidup, ingin lekas lekas menyusul isterimu.”
Kakek Song memandang kagum dan tersenyum. “Kau
patut jadi tukang gwa mia, Koai Thian Cu. Memang cocok
sekali dugaanmu itu. Tentang usia tinggal dua bulan lagi
terserah pada kekuasaan Thian. Akan tetapi baik sekali kau
beritahu hingga aku dapat membuat persiapan persiapan.
Memang sudah teralu lama aku mengawani Kim kong kiam
di dunia.” Kakek Song menuding ke arah pedang pusaka
Kim kong kiam yang tergantung di tembok, dekat
pembaringannya.
Tak terasa Koai Thian Cu menoleh ke arah pedang itu.
Matanya bersinar sinar.
“Pedang pusaka yang hebat! Seratus kali namanya lebih
terkenal daripada nama tukang gwa mia.”
Song Bun Sam tertawa. “Yang ternama itu berarti
banyak berlagak, sebaliknya yang pendiam yang selalu
menyembunyikan diri, bagaimana bisa ternama? Akan
tetapi, makin ternama, makin banyak kesukaran dihadapi
dan makin tidak ternama, makin aman!”
“Kau bijaksana sekali, Thian te Kiam ong. Pantas saja
Thian hendak buru buru membebaskanmu daripada
hukuman di dunia ini, kau beruntung sekali. Eh, bolehkah
aku melihat pedang pusaka Kim kong kiam itu?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tentu saja boleh. Hanya kau tahu, selama pemiliknya
masih hidup, pedang pusaka hanya boleh di pandang
pantang dipegang oleh orang lain,” kata kakek Song sambil
menyambar Kim kong kiam dan mencabut dari sarungnya.
Sinar keemasan berkeredep menyilaukan mata ketika
pedang itu sudah keluar dari sarungnya.
Tiba tiba wajah Koai Thian Cu berubah pucat, matanya
menatap pedang pusaka itu penuh perhatian.
“Celaka.... Celaka....”
“Ada apakah, Koai Thian Cu?” tanya Thian te Kiam ong
Song Bun Sam sambil menatap wajah tamunya dengan
penuh selidik.
Koai Thian Cu menarik napas berulang ulang sambil
menggeleng gelengkan kepalanya. Song Bun Sam merasa
makin tak enak ia melihat sikap kakek aneh itu, apalagi
karena ia mendapat kenyataan betapa jitu dan cocok
dugaan dugaan kakek itu tentang nasib dirinya.
“Koai Thian Cu, kau melihat apakah?”
“Pedang itu... ah, Thian te Kiam ong. Aku tahu bahwa
segala bujukanku takkan berhasil, dan hal itu tetap akan
terjadi....”
“Hal apakah? Ada apa dengan pedang ini?”
“Aku melihat darah.... darah mengalir oleh pedang
pusaka ini... ah, Kim kong kiam... ganas….”
“Tidak aneh Koai Thian Cu,” kakek Sang memotong
sambil tersenyum dan memandangi pedangnya penuh kasih
sayang, “sudah ratusan penjahat menjadi korbannya, darah
para penjahat itu mengalir oleh Kim kong kiam.”
“Bukan.... bukan....” Koai Thian Cu memandang
pedang, matanya terpejam, mukanya penuh keringat,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berkerut kerut, “bukan darah penjahat, bukan! Kim kong
kiam akan minum darah keluargamu, banyak sekali....
aduuh, bagaimana nasib keluarga mulia sampai menjadi
begitu..? Kim kong kiam jahat.... harus kau basmi sebelum
terlambat.... ah, sia sia, kau tak percaya!”
Biarpun mulutnya tersenyum, tak luput wajah Thian te
Kiam ong Song Bun Sam, pendekar besar yang tak pernah
gentar menghadapi penjahat penjahat keji ini, menjadi
pucat, ia segera memasukkan Kim kong kiam di sarung
pedang kembali, lalu berkata dengan suara mengejek,
“Koai Thian Cu, mengapa kau tidak bilang bahwa
pedang ini lebih baik kuserahkan kepadamu agar
selanjutnya tidak mengganggu keluargaku?”
Koai Thian Cu mengerti akan sindiran ini. Kembali ia
menarik napas panjang dan memandang kepada Song Bun
Sam dengan sinar mata tajam menentang.
“Aku tidak salahkan engkau, Thian te Kiam ong.
Memang sudah demikianlah garisnya, kau takkan percaya
kepadaku. Biarlah aku menyerahkan kepada
kebijaksanaanmu sendiri dan kepada kekuasaan Thian. Aku
tidak dapat membuka lebih lebar lagi karena rahasia Thian
tidak boleh dibuka begitu saja. Ada soal ke dua, dan hal ini
kuharapkan kau tidak akan menolak “
“Katakantah, Koai Thian Cu, aku tak pernah menolak
permintaan orang yang kiranya dapat kupenuhi.”
“Aku mohon kepadamu agar supaya kau sudi menerima
BengHan sebagai muridmu.”
“Bocah cilik yang datang bersamamu tadi?”
“Betul, dia bernama Thio Beng Han, seorang yang tidak
mengetahui siapa ayahnya dan tidak diakui oleh ibunya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Menurut penglihatanku, dia bertulang pendekar dan
kiranya hanya kau yang patut menjadi gurunya.”
Tiba tiba Thian te Kiam ong Song Bun Sam tertawa geli
dan membaringkan tubuhnya yang sudah terlalu lama
duduk, akan tetapi ia masih saja tertawa sambil berbaring.
“Bagaimana, Thian te Kiam ong? Apa kau mau
memenuhi permintaanku ini?”
“Koai Thian Cu, mendengar omongan omonganmu satu
kali, orang akan mengira kau seorang peramal jempolan.
Akan tetapi mendengar dua kali, orang akan menyangka
kau berotak miring. Ha, ha, ha!”
“Sesukamu kau menganggap aku bagaimana, akan
tetapi, apakah kau menerima permintaanku?”
“Tadi kau bilang bahwa usiaku tidak akan lewat dua
bulan, sekarang kau menyerahkan cucumu menjadi
muridku. Bagaimana ini?”
“Thio Beng Han bukan cucuku, akan tetapi akulah yang
memeliharanya semenjak lahir. Adapun tentang dia
menjadi muridmu, jangankan sampai dua bulan, baru
sepuluh hari saja sudah jauh lebih berharga daripada
menjadi murid orang lain selama sepuluh tahun.
Bagaimana Keputusanmu?” kembali ia mendesak.
Kakek Song menarik napas panjang. “Banyak sudah aku
menjumpai orang aneh, akan tetapi kau seakan akan
menjadi rajanya, raja orang aneh! Aku sudah berada di
ranjang kematian, bagaimana aku bisa menerima murid
seorang bocah cilik? Akan tetapi, kalau ada kata kata
tentang perbuatan baik, kiranya hanya memenuhi
permintaan inilah yang akan dapat kulakukan, sebagai
perbuatan terakhir meringankan dosa dosa yang lalu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Baiklah, tukang gwa mia, aku terima permintaanmu.
Panggil dia ke sini!”
Bukan main girangnya wajah Koai Thian Cu ia
menghadap keluar kamar, bibirnya bergerak gerak akan
tetapi tidak mengeluarkan suara apa apa. Akan tetapi, tak
lama kemudian datanglah bocah itu berlari larian.
“Kau panggil aku ada keperluan apakah, kong kong?”
tanyanya.
“Beng Han, aku telah beritahu padamu bahwa kau akan
kucarikan seorang guru yang baik. Nah, sekarang kau telah
berhadapan dengan gurumu, tidak lekas memberi hormat
mau tunggu kapan lagi?” Ia menunjuk ke arah kakek Song
yang rebah di atas pembaringan. Beng Han lalu cepat
memasuki kamar dan menjatuhkan diri berlutut di depan
pembaringan sambil mengangguk anggukkan kepala
delapan kali dan berkata,
“Suhu yang mulia, teecu Thio Beng Han menghaturkan
terima kasih atas budi suhu yang mulia, sudi menerima
teecu sebagai murid. Teecu bersumpah akan menjunjung
tinggi semua ajaran suhu dan akan menjaga nama baik suhu
sampai teecu mati.”
Thian te Kiam ong Song Bun Sam sampai melompat dan
bangun duduk saking kagetnya melihat semua ini. Pertama
tama ia kaget sekali melihat cara Koai Thian Cu memanggil
Beng Han yang diperlihatkan oleh kakek tukang gwa mia
tadi adalah demonstrasi lweekang yang tinggi sekali,
mengirim suara halus sehingga yang keluar dari mulut
bukan suara lagi melainkan getaran dan yang hanya dapat
ditangkap oleh orang yang sudah menerima latihan tinggi.
Akan tetapi anehnya, Beng Han dapat menerima panggilan
kong kongnya ini dan datang dengan cepat. Inilah hal
pertama yang mengagetkan hatinya, kaget dan heran. Hal
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ke dua hal yang amat aneh melihat bocah berusia paling
banyak lima tahun ini dapat bersikap baik, penuh sopan
santun, tahu aturan. Benar benar kakek Song kaget
bercampur girang sekali. Tidak rugi menerima seorang
murid seperti bocah aneh ini.
Koai Thian Cu segera berpamit pulang setelah dengan
muka girang ia menghaturkan terima kasih. Thio Beng Han
diterima di rumah keluarga pendekar itu, biarpun dengan
muka terheran heran oleh semua orang, namun dengan hati
rela dan senang.
Di lembah Sungai Wei ho yang berada di kaki Gunung
Cin ling san, terdapat banyak sekali gunung berkarang dan
di situ banyak pula terdapat gua gua yang besar dan
kelihatan menyeramkan. Menurut dongeng kuno, gua gua
ini dibuat oleh para dewa, akan tetapi lebih tepat kiranya
kalau air bah dari SungaiWei ho meluap sampai merendam
gunung gunung dan batu batu karang di tepi pantainya.
Dilihat dari jauh, batu batu karang ini bentuknya aneh
aneh menyerupai muka setan setan penjaga sungai yang
menakutkan. Gua gua besar yang kehitaman dengan pintu
ada yang menyerupai mulut naga, benar benar
menimbulkan dugaan menyeramkan bahwa sampai seperti
itu patutnya menjadi sarang para siluman dan iblis. Sudah
sepatutnya kalau gua gua itu mempunyai penghuni iblis
iblis yang menyeramkan.
Akan tetapi, di sebuah daripada gua gua besar itu, duduk
seorang wanita yang seolah olah sudah berubah menjadi
patung. Sama sekali tidak bergerak, bahkan napasnyapun
hampir tidak dapat dilihat, begitu halus dan panjang
panjang.Manusiakah dia atau ibliskah?
Kalau ia termasuk golongan iblis, tentulah ia sebangsa
siuman binatang yang indah, karena ia mempunyai bentuk
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
muka yang cantik manis dan tubuh yang indah. Tentu saja
ia sama sekali tidak bisa digolongkan dengan iblis yang
menyeramkan. Siapakah dia?
Wanita yang usianya duapuluh tahun lebih ini bukan
lain adalah Kui Lian! Seperti telah dituturkan di bagian
depan, Kui Lian yang bernasib malang ditolong oleh kakek
tukang gwa mia, yakni tosu yang sakti, Koai Thian Cu.
Dapat dibayangkan betapa lihainya dan saktinya Koai
Thian Cu ketika Kui Lian yang hendak ditangkap oleh
Teng kongcu dan tukang pukulnya, sekali gadis itu
menggerakkan tangannya dua orang itu terlempar, bahkan
si tukang pukul patah tulang lengannya. Tentu saja bukan
Kui Lian yang melakukan hai ini, melainkan Koai Thian
Cu yang mengeluarkan lweekangnya melalui tongkat yang
dipegang oleh Kui Lian sehingga di dalam lengan gadis ini
mengalir hawa lweekang yang luar biasa!
Koai Thian Cu merasa kasihan sekali kepada Kui Lian
dan melihat bahwa wanita muda itu ada jodoh dengannya,
jodoh untuk menjadi muridnya. Oleh kerena itu, tanpa ragu
ragu lagi kakek ini lalu membawa Kui Lian ke tempatnya
bertapa. yaitu di lembah SungaiWei ho, di dalam gua yang
menyeramkan tersebut. Di sinilah ia mulai menurunkan
ilmu ilmunya kepada Kui Lian.
Koai Thian Cu memang sute dari Lam has Lo mo Seng
Jin Siansu yang telah amat terkena, baik akan ketlihaiannya
maupun akan kejahatannya. Akan tetapi Koai Thian Cu
berlainan sekali dengan suhengnya itu. Dalam hal
kepandaian, juga amat berbeda. Kalau Lam hai Lo mo
lebih mengutamakan ilmu silat, sebaliknya Koai Thian Cu
lebih memperhatikan pelajaran ilmu hoat sut yang ia
pelajari dari guru mereka, seorang pendeta Buddha dari
tanah barat. Hal ini bukan berarti bahwa ilmu sitat Koai
Thian Cu rendah, sama sekali tidak. Kalau dibandingkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dengan Lam hai Lo mo, ia hanya kalah setingkat, akan
tetapi dalam hal ilmu hoat sut (sihir), benar benar Koai
Thian Cu telah mencapai tingkat tinggi. Bukan ini saja,
bahkan ia pandai menghitung nasib manusia dengan
perantaraan bintang dan ramalan ramalannya yang jitu.
Oleh karena maklum bahwa Kui Lian tidak mempunyai
bakat besar untuk menjadi ahli sitat, maka Koai Thian Cu
hanya memberi dasar dasar ilmu silat saja sambil memberi
pelajaran ginkang dan lweekang ringan. Akan tetapi ia
menurunkan ilmu ilmu sihirnya kepada Kui Lian dan
alangkah girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa
dalam hal ilmu ini, Kui Lian ternyata berjodoh dan
berbakat sekali. Dengan tekun Kui Lian bertapa,
menempuh segala macam percobaan kekuatan hatinya dan
mencurahkan seluruh perhatiannya untuk ilmu hoat sut ini.
Beberapa bulan kemudian Kui Lan melahirkan anaknya
yang dikandungnya, akan tetapi ia tidak mau
memperdulikan anaknya bahkan katanya kepada Koai
Thian Cu,
“Suhu, anak ini keturunan seorang yang rendah budinya,
maka teecu tidak mau mengakuinya.”
Koai Thian Cu melenggong. “Habis bagaimana? Siapa
yang akan memeliharanya?”
“Terserah kepada suhu. Pendeknya teecu tidak mau tahu
lagi, teecu ingin mempelajari ilmu dan bertapa untuk
menebus dosa dosa yang lalu.”
Koai Thian Cu yang telah waspada akan hukum karma
dan tahu bahwa hal ini tak dapat dicegah lagi, lalu berusaha
mencarikan pengasuh anak itu di sebuah dusun beberapa
puluh mil jauhnya dari situ. Akan tetapi ia merasa kasihan
dan sayang kepada bocah yang ia beri nama Thio Beng Han
itu, dan seringkali ia datang menengok, ia tahu bahwa ayah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
anak ini adalah Thio Sui seperti yang dulu pernah ia dengar
dari Kui Lian, maka ia memberi she Thio kepada Beng
Han.
Setelah anak itu dapat berjalan, ia sengaja membawanya
kepada ibunya. Akan tetapi tetap saja Kui Lian tidak mau
menoleh kepada bocah itu. Melihatpun tidak sudi, apalagi
mengaku. Akhirnya Koai Thian Cu mengalah dan
teringatlah ia akan Thian te Kiam ong Song Bun Sam yang
nama besarnya sudah menggetarkan langit selatan dan yang
sudah lama ia ingin jumpai. Memang datangnya Koai
Thian Cu di daerah ini, tadinya adalah karena ia bermaksud
mencari Thian te Kiam ong untuk menantang pibu. Akan
tetapi pertemuannya dengan Kui Lian membuat ia terpaksa
menunda niatnya itu dan membawa Kui Lian tinggal
bersama di tempat pertapaannya yang baru saja ia pilih
ketika ia tiba di daerah itu. Seperti telah dituturkan di
bagian depan. Koai Thian Cu yang memikirkan masa
depan Beng Han yang tidak diakui oleh ibunya itu
mengantar Beng Han kepada Thian te Kiam ong dan
berhasil membuat Beng Han di akui sebagai murid dan
ditinggalkan di Tit le. Hatinya sudah puas dan lega. Anak
yang dilihatnya bertulang baik itu telah di tangan keluarga
bijaksana, sungguhpun ia kadang kadang merasa khawatir
kalau mengingat akan pedang Kim kong kiam yang
dilihatnya akan menimbulkan bencana pada keluarga Song.
Ketika Koai Thian Cu kembali dari perjalanannya ke Tit
le, ia melihat Kui Lian bertapa. Wanita muda ini
berpakaian serba putih, rambutnya diurai menutupi pundak
dan punggung, duduk bersila di dalam gua tak bergerak
seperti patung.Mukanya yang cantik agak pucat akan tetapi
di sekeliling tubuhnya seakan akan memancarkan cahaya
sehingga dari jauh ia seperti Kwan Im Pouwsat sendiri
sedang duduk bersila! Melibat ke adaan Kui Lian ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kagetlah gurunya. Bukan mam anak ini, pikirnya. Cepat
sekali kemajuan kemajuan yang dicapainya dalam ilmu
hoat sut yang berdasarkan samadbi dan benapa, melakukan
segala pantangan. Kui Lian sudah sedemikian majunya
sehingga wanita muda ini kuat sekali bertapa, tidak makan
tidak tidur sebulan saja baginya bukan apa apa lagi. Akan
tetapi, kekuatan sihir yang dihimpun di dalam dirinya juga
amat hebat.
“Kui Lian, muridku. Bangunlah dari samadhimu,” kata
Koai Thian Cu dari mulut gua sambil duduk di atas sebuah
batu hitam yang berbentuk punggung kura kura.
Tidak ada jawaban dari dalam.
Koai Thian Cu terheran. Biasanya muridnya ini amat
cepat menyambutnya kalau ia datang dari perjalanan jauh.
Ia berdiri dan menjenguk ke dalam. Baru kagetlah ia ketika
melihat uap putih mengepul dari kepala Kui Lian. Uap ini
bergulung gulung naik makin tebal dan akhirnya
menyerupai bentuk, tak lama kemudian bentuk itu makin
terang dan terciptalah Kui Lian kedua yang segera bersilat
kian kemari dengan amat gesitnya.
Koai Thian Cu mendehem dan lenyaplah manusia uap
itu Kemudian ia tersenyum puas. Hebat betul muridnya ini.
“Ah, dia sudah begitu kuat menguasai keadaan di
sekelilingnya sehingga aku sendiri sampai terpengaruh.
Hebat, benar benar hebat..... bukan main kuatnya Kemauan
keras yang didorong oleh penderitaan rokhani,” katanya
dalam hati.
Karena maklum bahwa tak mungkin Kui Lian dibikin
“bangun” dengan perintah yang dikeluarkan dan mulut
saja, kakek ini lalu duduk kembali di atas batu, bersita dan
tak lama kemudian iapun sudah mengheningkan cipta,
seluruh tenaga dikerahkan untuk memanggil muridnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Lian menggerakkan lehernya, mengeluarkan
keluhan panjang, lalu bangkit berdiri, mengebut ngebutkan
pakaiannya dari tanah yang melekat, lalu berjalan keluar
dengan langkah halus. Ketika ia tiba di luar gua, nampaklah
bahwa Kui Lian masih cantik dan menarik, bahkan jauh
lebih cantik daripada dahulu. Sekarang ia telah menjadi
seorang wanita yang masak, nampak tenang sekali,
sepasang matanya bersinar sinar ganjil, mulutnya
tersenyum tenang dan tubuhnya tegak. Hanya muka itu
agak kepucatan karena kurang makan kurang tidur.
“Suhu sudah pulang? Maafkan teecu terlambat
menyambut,” katanya sambil berlutut di depan suhunya.
“Kui Lian, hari ini adalah hari terakhir dari pertemuan
kita. Aku sudah bertemu dengan Thian te Kiam ong, berarti
sudah tercapai pula maksud kedatanganku di daerah ini.
Aku akan kembali ke tempat asalku, ke selatan. Anu tidak
ingin badanku ini kelak dikubur di rantau orang, ingin aku
di kubur di tanah kelahiranku sana. Oleh karena itu, hari ini
juga aku akan berangkat ke selatan dan takkan kembali lagi.
Aku tidak perlu mengkhawatirkan perihal engkau, muridku.
Dengan kepandaian yang kaumiliki sekarang, kau takkan
terlantar. Juga kiranya takkan ada orang yang dapat
mengganggumu. Asal kau tidak salah jalan, kau akan
selamat. Terserah kepadamu, jalan mana yang kaupilih,
semoga Thian menuntunmu, Kui Lian. Hanya satu pesanku
kalau kau ada waktu, pergilah ke Tit le, dan tempat tinggal
keluarga Song. Keluarga itu mempunyai sebuah pedang,
namanya pedang pusaka Kim kong kiam. Kauambil pedang
itu dan simpanlah, atau musnahkan Aku menyuruhmu
melakukan hal ini untuk menolong mereka.”
“Suhu, teecu tak dapat berkata lain kecuali teecu
menghaturkan banyak banyak terima kasih kepada suhu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Teecu tidak dapat membalas budi Suhu, biarlah di lain
penjelmaan teecu menjadi anjing atau kuda suhu.”
“Kau tahu apa? Kiranya dalam penjelmaan yang dahulu
aku telah hutang budi kepadamu, maka yang sekarang ini
anggap saja bahwa aku sudah membayarmu. Kalau aku
tidak mempunyai anggapan bahwa aku harus membayar
hutang budi kepadamu, apa kau kira aku mau
membayarmu dengan semua ilmu itu? Aku akan berdosa
besar, Kui Lian. Ilmu Howe sut yang kau pelajari ini bukan
sembarang ilmu, amat berbahaya bagi orang lain kalau
disalsh gunakan. Akan tetapi mudah mudahan kau tidak
demikian. Nah, kau boleh mewarisi hudtim ini.”
Dengan sikap hormat Kui Lian menerima kebutan
suhunya dan berlutut kembali.
“Kui Lian, selamat berpisah.”
Inilah kata kata terakhir yang didengar oleh Kui Lian
sambil berlutut karena ketika ia mendongak, suhunya itu
telah lenyap dari situ, iapun berdirilah, seorang wanita
tinggi ramping yang tentu akan menarik hati semua kaum
pria, kalau saja sepasang matanya tidak begitu ganjil dan
terbayagg sinar membunuh di saat itu. Ia memandang jauh,
melalui jurang jurang jauh sekali, ke arah Kota Soa couw!
Kemudian, dengan senyum di bibirnya yang berbentuk
indah akan tetapi bayangan sinar membunuh masih
dimatanya, ia melenggang memasuki guanya. Lenggangnya
lemah gemulai seperti puteri istana, nampaknya ia begitu
lemah lembut, ketika ia berjalan memasuki gua untuk
berkemas karena iapun harus meninggalkan tempat ini
cepat cepat!
Ramalan Koai Thian Cu bahwa usianya tinggal dua
bulan lagi tidak membikin hati kakek Song gelisah, bahkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
diam diam ia mengharapkan ramalan itu akan terbukti
karena ia sudah merasa rindu sekali kepada isterinya yang
sudah lebih dulu meninggalkannya ke alam baka. Akan
tetapi ramalan kedua tentang pedang pusaka Kim kong
kiam, bahwa pedang itu akan menimbulkan banjir darah di
keluarganya, benar benar membuat kakek ini merasa gelisah
sekali. Boleh saja ia tidak percaya kepada Koai Thian Cu
dan menganggap sebagai obrolan kosong seorang tukang
gwa mia penipu, tetapi kalau ia teringat bahwa Koai Thian
Cu adalah sute dari mendiang Lam hai Lo mo dan akan
tingginya ilmu kepandaian Lam hai Lo mo, mau tidak mau
Thian te Kiam ong Song Bun Sam menjadi gelisah juga.
Tadinya ia menaruh curiga juga terhadap diri Beng Han,
bocah yang telah diaku sebagai muridnya itu. Akan tetapi ia
segera mengusir pergi kecurigaannya setelah memanggil
bocah itu, diajak bercakap cakap dan dilihat tindak
tanduknya setiap hari, Beng Han benar benar seorang anak
kecil yang luar biasa.
“Beng Han, sebenarnya siapakah ayah bundanmu?”
tanya Thian te Kiam ong Song Bun Sam kepada bocah
yang semenjak ditinggalkan oleh Koai Thian Cu, tak pernah
pergi dari samping pembaringan kakek Song, merawat dan
melayani segala keperluan kakek yang menjadi suhunya ini
dengan penuh perhatian penuh kebaktian.
“Suhu, memang sebenarnya teecu tidak mempunyai
ayah bunda. Semenjak kecil teecu di pelihara oleh seorang
inang pengasuh atas perintah kong kong Koai Thian Cu.
satu satunya orang tua yang mengaku teecu sebagai cucu
angkatnya. Teecu tidak tahu siapa ayah teecu, juga menurut
kong kong, ibu teecu sudah tidak mau mengakui teecu lagi
sebagai anak semenjak teecu terlahir.” Suara anak itu
terdengar menggetar mengharukan, dan matanya yang lebar
dan tajam itu dikejap kejapkan menahan keluar air mata.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hmmm, aneh sekali. Apa kau tidak ingin mencari ayah
bundamu?” kakek Song memancing.
“Suhu, ayah bunda yang tidak sayang dan tidak
menghiraukan anaknya, bukan orang tua yang baik.
Sebaliknya, biar orang lain kalau melepas budi, kita boleh
menganggapnya seperti orang tua sendiri. Orang tua teecu
yang tidak sudi mengaku teecu sebagai anak, mengapa
harus teecu cari? Teecu sudah mendapat penggantinya,
tadinya kong kong Koai Thian Cu, sekarang suhu yang
harus teecu anggap sebagai guru dan orang tua sendiri.”
Kakek Song sampat melongo mendengar jawaban ini.
Bagaimana seorang bocah begini cilik dapat mengeluarkan
jawaban seperti itu. Seperti pikian orang dewasa saja!
“Eh, Beng Han. Dari siapakah kau mendapatkan pikiran
seperti itu?”
“Sejak kecil kong kong Koai Thian Cu telah mendidik
teecu dan teecu tidak berani melupakan segala apa yang
diajarkannya kepada teecu.”
Kemudian dalam tanya jawab ini tahulah kakek Song
hahwa bocah itu ternyata tidak saja memiliki pengertian
yang mendalam tentang hal hal di sekelilingnya, juga telah
mempelajari baca tulis dan dasar dasar ilmu silat tinggi dan
ilmu hoat sut! Sungguh luar biasa sekali hasil yang di capai
anak itu selama belajar satu tahun lamanya dari Koai Thian
Cu.Maka giranglah hati Thian te Kiam ong dan dia sendiri
sampai lupa diri akan usia tua dan mulai menurunkan ilmu
silat yang pelik pelik kepada anak itu untuk dihafal teorinya
untuk kelak dipelajari sendiri latihan prakteknya.
Sementara itu, diam diam kakek Song menuliskan ilmu
Pedang Kim kong kiam dalam sebuah kitab, dan menyuruh
seorang pandai besi yang biasa membuat pedang untuk
membuatkan sebuah pedang berselaput emas yang sama
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
benar dengan Kim kong kiam. Hal ini diakukan dengan
rahasia, bahkan Tek Hong sendiri tidak tahu akan
perbuatan ayahnya ini.
Song Tek Hong bertiga isteri dan puterinya juga Liem
Pun Hui bertiga isteri dan putranya, sama sekali tidak tahu
ramalan kakek aneh yang baru baru ini datang mengunjungi
ayah mereka, mereka juga tidak keberatan untuk menerima
Thio Beng Han, oleh karena bocah itu memang pandai
membawa diri dan menimbulkan rasa kasihan dan suka
kepada mereka. Hanya Song Bi Hui puteri Song Tek Hong
yang mengomel,
“Kong kong aneh sekali. Sudah sering kau aku minta
memberi pelajaran ilmu pedang tak pernah dipenuhi,
sebaliknya sekarang mengambil murid seorang anak kecil
dari luar. Apakah ini bukan berarti membocorkan
kepandaian keluarga sendiri?”
“Bi Hui, mengapa kau mengomel? Biarpun kong kong
tidak memberi petunjuk padamu, bukankah ayahmu dan
aku sendiri sudah memberi pelajaran? Ilmu pedang yang
kuajarkan kepadamu juga tidak terlalu jelek!” kata Ong
Siang Cu, ibunya dengan suara lembut menyembunyikan
ketidak senangan hatinya. Memang iapun merasa kurang
senang terhadap ayah mertuanya setelah mendengar kata
kata puterinya. Semenjak mudanya, nyonya Song Tek
Hong ini memang terkenal keras hati sekali.
Tek Hong mengerutkan keningnya mendengar kata kata
anak dan isterinya ini.
“Bi Hui, kau tidak boleh bilang begitu! Kau adalah
anakku, berarti cucu kong kongmu. Sudah ada aku yang
menurunkan kepandaian keturunan keluarga Song,
mengapa kau masih kurang puas dan minta kepada kong
kongmu sendiri? Ilmu kepandaian tidak ada batasnya, kalau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kong kongmu menurunkan semua kepandaiannya
kepadamu, apa kau kira kau akan mampu menerimanya?
Satu macam saja ilmu silat, kalau dipelajari sampai
sempurna betul, sudah cukuplah. Biar ada seratus macam
kepandaian, kalau semuanya setengah matang, takkan ada
gunanya.”
Bi Hui cemberut, bibirnya yang manis itu sampat
berkerut kerut. “Ayah, aku memang anak cerewet.Memang
sudah banyak aku menerima pelajaran dari ayah dan ibu,
akan tetapi.... masih saja aku belum diberi pelajaran Kim
kong Kiam sut secara lengkap!”
Tek Hong membanting banting kakinya. “Kau benar
benar tak tahu diri! Ayahmu sendiri biarpun sudah
membanting tulang mencurahkan seluruh perhatiannya,
masih belum dapat mempelajari Kim kong Kiam sut
seluruhnya, baru berhasil empat lima bagian saja. Kau kira
gampang menguasai Kim kong Kiam sut?”
“Ayah cuma mewarisi empat lima bagian. Kalau kelak
bocah bernama Beng Han itu mewarsi seluruhnya,
bukankah hal itu akan amat ganjil? Kim kong Kiam sut
adalah ilmu warisan yang paling dibanggakan oleh keluarga
kita, ayah sama halnya dengan pedang pusaka Kim kong
kiam.”
Tek Hong menarik napas panjang. Kalau dipikir pikir
betul juga kata kata anaknya.
“Tak mungkin kalau sampai begitu, itupun hanya
menjadi tanda bahwa keturunan ayah tidak ada cukup
berbakat dan kiranya bukan kesalahan Thio sute kalau
sampai dia berhasil mewarisi seluruhnya.”
Percakapan mereka terhenti dengan munculnya Liem
Pun Hui dan anak isterinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ah, agaknya sedang mengadakan perundingan besar
sekeluarga!” Song Siauw Yang menegur gembira. “Apakah
kami mengganggu?”
“Sama sekali tidak.” jawab kakaknya. “Kami hanya
sedang memberi nasehat nasehat kepada anak kita yang
cerewet ini!”
Siauw Yang menghampiri Bi Hui dan memeluknya.
“Twako jangan terlalu galak! Keponakkanku begini manis
bagaimana disebut cerewet?” mendengar ini, Bi Hui yang
manja lalu menangis dan masuk ke dalam kamarnya!
“Anak manja!” Tek Hong memaki.
“Sudahlah, twako. Jangan terlalu galak, Bi Hui kan
masih terlalu muda.” kembali Siauw Yang menyambar
kakaknya, sedangkan Siang Cu hanya diam saja, kening
berkerut dan pandang mata tidak puas. “Sebetulnya aku
hendak memberi tahu kepadamu bahwa kami bermaksud
hendak pulang ke Liok Can. Sudah terlalu lama
meninggalkan rumah dan sekarang ayah nampak sehat
bahkan agak gembira semenjak bocah itu berada di sini.”
“Kaumaksudkan Thio sute?” membetulkan Tek Hong
mendengar adiknya menyebut “bocah” kepada sutte kecil
itu.
Siauw Yang tersenyum. “Betul, siauw sute itulah.
Demikian rajin dan berbakti nampaknya”
“Memang dia rajin dan berbakti kepada ayah. Dia anak
baik, kalian ini orang orang perempuan memang banyak
cemburu dan curiga. Siauw Yang baru satu bulan saja
tinggal di sini, kau sudah hendak pulang. Moi hu (adik
ipar), mengapa tergesa gesa?”
Liem Pun Hui tersenyum, “Twako, kau tahu bahwa di
rumah sana aku menerima beberapa orang murid dalam
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ilmu sastera. Diantara mereka ada yang hendak menempuh
ujian kota raja, maka terpaksa aku harus pulang dulu.
Apalagi gak hu (ayah mertua) sudah nampak sehat kembali
seperti sediakala.”
“Baiklah kalan begitu. Apakah kalian sudah minta diri
kepada ayah?”
“Belum, sekarang juga kami akan berpamit.”
Akan tetapi, ketika Liem Pun Hui, Song Siauw Yang dan
putera meraka menghadap kakek Song dan menyatakan
keinginan mereka hendak pulang ke Liok Can, orang tua itu
menahan mereka.
“Jangan pulang dulu, masih belum habis rasa rinduku
Siauw Yang, kau dan suami serta anakmu tinggallah di sini
sedikitnya satu bulan lagi. Aku tidak mau kalian tinggalkan
sebelum lewat sebulan lagi.”
Tentu saja Pun Hui, Siauw Yang dan juga Kong Hwat
tidak berani membantah dan menghadapi permintaan kakek
itu dengan hati merasa berat. Dulu dulu belum pernah
Thian te Kiam ong Song Bun Sam menahan mereka sampai
satu bulan. Tentu saja mereka tidak tahu bahwa permintaan
kakek Song ini ada hubungannya dengan ramalan Koai
Thian Cu sebulan yang lalu bahwa hidup kakek Song
tinggal dua bulan lagi! Sebelum ramalan ini terbukti benar
atau keliru, kakek Song ingin selalu didekati anak cucunya.
Terpaksa Pun Hui dan Siauw Yang membatalkan kehendak
mereka, hanya Pun Hui mengirim seorang utusan ke Liok
can untuk memberi tahu kepada murid muridnya apabila
mereka hendak melakukan ujian di kota raja supaya
mampir di Tit le.
Beberapa hari kemudian, di waktu malam gelap gulita,
sedangkan semua penghuni rumah sudah tidur nyenyak, di
dalam kamarnya kakek Song sedang melatih muridnya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang baru, Thio Beng Han. Kakek Song tahu bahwa
andaikata ia tidak mati dalam waktu dua bulan seprrti telah
diramaikan oleh Koai Thian Cu, tetap saja usianya sudah
terlalu tua dan tidak ada waktu lagi untuk menurunkan
ilmu silatnya kepada Beng Han. Maka ia langsung
menurunkan ilmu yang tinggi, yaitu pelajaran samadhi dan
pernapasan untuk membersihkan darah dan hawa dalam
tubuh sehingga anak ini akan mempunyai ginkang yang
kuat kelak. Guru dan murid duduk bersila di dalam kamar
itu, kakek Song di atas pembaringan sedangkan Beng Han
bocah luar biasa itu, dalam waktu sebulan saja sudah dapat
menguasai cara berlatih lweekang dan samadhi yang hebat
ini. Ia sudah pandai mengatur napas sehingga gurunya amat
puas melihat kemajuannya
Tiba tiba Beng Han yang pendengarannya sudah tajam
berkat latihan samadhi ini, mendengar suara dari luar
jendela. Suara orang berbisik seperti membaca doa. Ia
membuka mata dan melirik ke arah gurunya. Kakek itu
tetap duduk bersamadhi seperti patung, seakan akan tidak
mendengar suara itu.
Tak lama kemudian, Beng Han merasa kepalanya pening
dan matanya mengantuk sekali, seakan akan ada tenaga
tidak kelihatan yang memaksanya supaya tidur. Akan tetapi
karena ia sedang berlatih lweekang dan pikirannya sedang
jernih, ia mengerahkan tenaga untuk melawan kekuatan
tidak kelihatan ini. Tetap saja ia tidak dapat melawannya
dan makin lama kedua matanya makin berat, pikirannya
hampir tak dapat dikuasai lagi. Teringatlah ia akan
pelajaran yang dahulu ia terima dan Koai Thian Cu. Cepat
ia mengerahkan tenaga terakhir, bibirnya komat kamit, lalu
ia menggunakan ibu jarinya untuk membasahi kedua
matanya dengan ludahnya sendiri. Benar saja, rasa
mengantuk lenyap, pikirannya terang kembali dan kini ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mendengar jelas suara orang diluar jendela, suara orang
berbisik bisik halus sekali. Ketika ia melirik, gurunya masih
saja duduk bersamadhi.
Di luar pintu kamar itu ia mendengar suara wanita
wanita menguap dan mengeluh, disusul suara orang roboh
di lantai. Beng Han merasa aneh sekali. Tadi memang lapat
lapat ia mendengar dua orang pelayan wanita yang menjaga
segala keperluan kakek Song, masih bercakap cakap
perlahan di luar kamar. Apakah mereka ini tadi menguap?
Hal ini amat mengherankan, oleh karenanya biasanya
mereka tidak mungkin berani berlaku begitu tak tahu sopan,
menguap dengan suara keras. Beng Han bangkit berdiri,
perlahan menghampiri pintu dan membuka sedikit untuk
melihat. Ia makin terkejut dan heran melihat dua orang
pelayan itu telah tertidur di atas lantai dalam keadaan tidak
karuan, bukan sewajarnya orang tidur, saling tindih.
Agaknya mereka tadi saking mengantuknya lalu roboh dan
tidur di situ seperti orang orang pingsan.
Melihat ini, Beng Han dapat menduga pasti terjadi hal
yang tidak sewajarnya. Akan tetapi karena melihat suhunya
tetap saja duduk bersamadi tak bergerak, ia tidak berani
mengganggu. Ditutupnya lagi pintu kamar dan iapun duduk
lagi bersila seperti tadi.
Tak lama kemudian, suara bisik bisik di luar jendela
berhenti, lalu terdengar suara orang ketawa, merdu nyaring
dan amat menyeramkan. Beng Han melirik ke arah
suhunya, masih saja suhunya tidak bergerak. Apakah
suhunya sudah tertidur pula seperti dua orang pelayan
wanita itu? Suara ketawa itu keras, mengapa orang orang di
dalam rumah tidak ada yang mendengarnya? Padahal di
dalam rumah itu berkumpul ahli ahli silat yang ia tahu
berkepandaian amat tinggi. Biasanya jangankan suara
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ketawa demikian kerasnya, suara sedikit saja yang
mencurigakan cukup membangunkan mereka dari tidur.
Jendela bergerak dan daun jendela terbuka sedikit demi
sedikit. Tanpa menggerakkan tubuhnya, Beng Han melirik
ke arah jendela ini. Jendela kamar suhunya ini menembus
ke taman bunga di samping kiri rumah, maka begitu jendela
terbuka terdengar suara jangkerik, belalang dan lain lain
binatang kecil. Akan tetapi Beng Han tidak memperhatikan
semua ini. Yang menarik perhatiannya adalah sebuah
lengan tangan yang mendorong daun jendela itu, lengan
tangan yang berkulit putih halus seperti tangan mayat
karena di bawah sinar suram suram dan sebuah lilin di
meja, tangan itu nampak pucat. Kemudian muncul sebuah
kepala seorang wanita dengan muka yang cantik tapi
menyeramkan, muka yang pucat dengan mulut tersenyum
kejam dan mata bersinar sinar sebagai mengeluarkan api.
Dengan tenangnya wanita yang masih muda dan cantik
itu melompati jendela dan masuk ke dalam. Gerakannya
cukup gesit dan ia menekankan tangan pada jendela ketika
melompat ke dalam kamar. Pakaiannya serba putih dan
bersih, potongan tubuhnya tinggi ramping.
Saking terkejut, heran, dan agak ngerinya, Beng Han
sampai tak dapat bergerak d tempat duduknya, ia kini
membelalakkan matanya, memandang penuh perhatian.
Apa yang hendak di lakukan oleh wanita aneh itu?
Silumankah ia atau manusia jahatkah? Anehnya suhunya
masih saja duduk bersila tak bergerak.
Wanita muda yang cantik dan aneh ini bukan lain adalah
Kui Lian. Seperti telah dituturkan, dia mendapat tugas dan
Koai Thian Cu untuk mencuri pedang Kim kong kiam dari
Thian te Kiam ong Song Bun Sam. Kui Lian sudah
mendengar dari suhunya tentang keluarga Song ini,
keluarga yang menurut suhunya adalah keluarga paling
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
gagah di kolong langit, ia sudah mendengar pula akan
kelihaian kakek Song, dan mendengar suhunya memuji
muji Kim kong kiam sebagai pedang pusaka yang luar
biasa, Kui Lian tidak saja mentaati pesan suhunya untuk
mencuri pedang itu agar bahaya ancaman pedang pada
keluarga Song terhindar akan tetapi terutama sekali karena
ia tertarik dan ingin memiliki pedang pusaka itu untuk
dirinya sendiri.
Dengan ilmu hoat sutnya, ia menyirep penghuni rumah
itu, kemudian memasuki kamar kakek Song dan tertawa
tawa bangga karena melihat seisi rumah tidak ada yang
bergerak, tanda bahwa mereka semua telah berada di bawah
pengaruh sihirnya. Ia melihat seorang kakek duduk bersila
di pembaringan, memandang tajam dan tertawa lagi.
Disambarnya dua batang lilin di atas meja dan dinyalakan
dua lilin itu. Kini ada tiga batang lilin yang bernyala di situ
sehingga keadaan d dalam kamar lebih terang lagi.
Kui Lian menghampiri kakek Song, menatap wajah
kakek yang oleh suhunya amat dipuji puji ini. Dengan
sedikit pengetahuannya tentang tanda tanda di wajah orang,
ia melihat pula akan tanda kematian di kening kakek Song
itu.
“Hi, hi, hi! Thian te Kiam ong Song Bun Sam Si Raja
Pedang? Hanya seorang kakek yang sudah mendekati
lubang kuburan? Hi, hi, hi!” Dengan bangga sekali karena
ia berhasil membuat seorang pendekar besar seperti Than te
Kiam ong tak berdaya oleh pengaruh hoat sutnya Kui Lian
bersikap keterlaluan ia mengulurkan jari tetunjuk nya yang
mungil untuk menyentuh jidat kakek Song yang licin itu,
hanya untuk main main, dengan lagak centil dan genit
sekali. Benar benar hebat perobahan yang terjadi pada diri
Kui Lian setelah enam tahun belajar hoat sut dan bertapa di
tepi Sungai Wei ho, yang memasuki dirinya sehingga gadis
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang tadinya lemah dan halus itu kini berobah genit dan
sombong.
“Ayaa....!” Kui Lian melompat mundur ke belakang
ketika ia merasa betapa jari telunjuknya seperti terbakar
ketika menyentuh jidat setengah botak dari kakek Song itu.
Akan tetapi ketika ia memandang, kakek itu tetap saja
duduk tak bergerak seperti patung, ia lalu mencari cari
dengan matanya, merasa tidak enak dan tidak berani lama
lama berada di kamar orang sakti ini. Dilihatnya pedang
Kim kong kiam tergantung di dinding dekat pembaringan.
Ia menjadi girang dan cepat ia mengambil pedang itu,
mencabut dari sarungnya dan melihat pedang dengan mata
bersinar sinar.
“Memang pedang pusaka yang hebat....” katanya.
Tiba tiba terdengar bentakan nyaring.
“Siluman wanita jangan mencuri pedang!”
Kui Lan kaget setengah mati. Tak pernah disangka
sangkanya ada orang yang dapat menahan sihirnya. Akan
tetap ketika ia memutar tubuh dan melihat bahwa yang
berteriak itu hanya seorang bocah laki laki berusia lima
tahun, ia tersenyum mengejek.
Beng Han memang sejak tadi memperhatikan gerak gerik
wanita itu. Gemas bukan main hatinya melihat wanita itu
mengejek suhunya dan kemarahannya tak dapat dikekang
lagi ketika melihat wanita itu mengambil Kim kong kiam,
pedang pusaka suhunya. Melupakan bahaya, anak itu
melompat dan menyerang Kui Lian dengan pukulan tangan
kanan, sedangkan tangan kiri berusaha merampas pedang.
Akan tetapi, tentu saja ia bukan lawan wanita itu. Sebuah
tendangan membuat tubuh Beng Han terpental dan
bergulingan ke tempatnya semula.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi Beng Han bukanlah disebut bocah luar biasa
kalau ia gentar dan kapok mengalami tendangan ini.
Dengan amat sigap ia melompat kembali dan melihat
wanita itu hendak pergi dari jendela membawa Kim kong
kiam. Ia menubruk dari belakang dan memeluk kedua kaki
wanita itu.
“Siluman jangan lari,” teriak bocah itu.
Beng Han tidak merasa lagi betapa pipinya yang sebetah
kiri tergurat ujung pedang Kim kong kiam yang berada di
tangan kiri wantia itu. Darah mengucur membasahi pipi
dan lehernya, namun ia tidak merasa dan tidak tahu.
Di lain pihak, Kui Lian menjadi marah sekali. Dengan
menggoyangkan tubuh, kembali ia membikin Beng Han
terpental menubruk tembok. Ketika bocah itu dengan nekad
kembali menubruk, ia menjadi mata gelap dan pedang Kim
kong kiam ditusukkan, memapaki datangnya tubuh bocah
yang tabah itu.
“Mampus kau, tikus kecil...!”
Pada saat ujung pedang itu sudah hampir menyentuh
kulit dada Beng Han, tiba tiba pedang itu terpental dan Kui
Lian melompat ke belakang sambi berseru kaget. Ternyata
yang menolong Beng Han adalah kakek Song yang dari
tempat duduknya dapat menangkis pedang itu dengan
pukulan jarak jauh mengandalkan lweekangnya yang hebat.
Kini kakek Song ini sudah terjaga, sepasang matanya
memandang wanita itu dengan tajam.
Kui Lian marah bukan main melihat serangannya gagal,
apalagi digagalkan dengan cara yang demikian mudahnya.
Ia menerjang maju, menyerang kakek itu dengan tusukan ke
arah dadanya. Kakek Song sama sekali tidak mau
mengelak, hanya tersenyum memandang seperti seorang
tua memandang seorang anak nakal.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Dapat dibayangkan betapa terkejutnya hati Kui Lian
ketika ujung pedangaya menusuk dada, ia merasa
tangannya tergetar dan ujung pedang itu sama sekali tidak
dapat menembus atau melukai dada, seakan akan menusuk
sebuah benda yang keras dan ulet, meleset dan terpental
kembali. Di lain saat, tangan kakek Song bergerak dan
pedang itu sudah terampas.
Baru Kui Lian insyaf bahwa nama besar kakak ini bukan
kosong belaka, bahwa pujian pujian gurunya bukan main
main dan kakek Song ini memang benar benar seorang yang
sakti sekali. Ia maklum bahwa dalam hal ilmu silat, ia
seperti tanah melawan baja menghadapi kakek ini. Cepat
melangkah mundur tiga tindak, sepasang matanya seperti
dua buah bintang berkeredap memandang dengan sinar
mata menyambar wajah kakek Song, bibirnya yang
berbentuk indah itu berkemak kemik, sepuluh buah jari
tangannya melakukan gerakan gerakan mistik, sinar
matanya makin tajam.
“Perempuan siluman....” kakek Song berkata lirih, “kau
siapakah dan apa kehendakmu?”
Kui Lan hanya tertawa haha hihi, lalu berkata
menantang,
“Thian te Kiam ong, kau mengandalkan kepandaian
untuk merebut pedang. Apa kau kira akupun tidak ada
kepandaian?”
Tiba tiba dalam pandangan kakek Song, wanita di
depannya itu perlahan lahan berobah menjadi asap dan di
lain saat sudah lenyap dari pandangannya! Dan tak lama
kemudian, pedang di tangannya itu ditarik tarik oleh tangan
yang tidak kelihatan! Akan tetapi, dengan pengerahan
tenaga lweekangnya, tangan tidak kelihatan yang hendak
merampas pedang itu tidak berhasil. Kemudian kakek Song
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merasa ada sambaran angin dari tangan yang memukulnya.
Dia tersenyum saja karena sambaran ini baginya amat
lemah. Benar saja, kepalan yang lunak menghantamnya
beberapa kali di dada, leher dan mukanya.
Beng Han sudah bangun kembali. Baru sekarang ia
melihat darah mengalir dari pipinya yang tergurat pedang.
Lukanya dalam juga hingga darahnya banyak. Akan tetapi
tidak sempat memperhatikan diri sendiri karena melihat
pemandangan yang amat aneh. Ilmu sihir yang dikerahkan
oleh Kui Lian hanya mempengaruhi kakek Song sehingga
dalam pandangan kakek itu, ia tidak kelihatan lagi. Akan
tetapi Beng Han masih dapat melihatnya. Wanita itu tadi
mengerahkan sihir dengan pengaruh matanya, dan karena
matanya tadi hanya memandang kepada kakek Song dan
tidak memandang kepada Beng Han, maka anak itu
terluput dari pengaruh sihir. Dan Beng Han melihat hal
aneh. Ia melihat betapa wanita itu melangkah maju,
membetot betot dan menarik narik pedang Kim kong kiam,
berusaha untuk merampasnya tanpa hasil. Kemudian ia
melihat wanita itu marah marah dan nemukuli tubuh dan
muka kakek Song, sedangkan gurunya hanya diam saja,
bahkan seakan akan tidak melihat adanya wanita itu.
“Siluman kurang ajar, jangan menghina guruku!” Beng
Han berseru marah dan biarpun tubuhnya sudah sakit sakit
karena beberapa kali terbanting, ia menyerbu dan memukul
wanita itu dari belakang. Kui Lian marah, membalikkan
tubuh dan mengirim pukulan ke arah kepala Beng Han.
Akan tetapi, tiba tiba lengan tangannya terasa sakit sekali
bertemu dengan jari kakek Song! Biar pun matanya tak
dapat melihat wanita itu, namun Thian te Kiam ong masih
lihai untuk mendengar desir hawa pukulan mengancam
kepala Beng Han, maka ia dapat menangkis dengan tepat
sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Siluman wanita, pergi kau dari sini! Kalau tidak,
terpaksa aku akan memukul roboh padamu!” bentakan
yang dikeluarkan oleh kakek Song ini disertai lweekang
yang hebat sehingga Kui Lian merasa tergetar jantungnya.
Merasa tidak berdaya menghadapi kakek sakti ini, ia lalu
melarikan diri, melompat keluar dari jendela dan terus
kabur di matam gelap!
“Tak lama lagi setelah kau mampus, baru aku datang
mengambil pedang itu,” katanya perlahan menghibur
kekecewaannya.
Setelah Kui Lian pergi, kakek Song menarik napas dan
segara mengobati pipi Beng Han yang terluka. Ia menjadi
makin sayang kepada bocah ini yang sekarang telah
membuktikan ketabahannya dan kesetiaannya.
“Beng Han, aku mempunyai dugaan bahwa siluman
wanita tadi tentu ada hubungannya dengan Koai Thian Cu
.”
“Akan tetapi kong kong tidak jahat, suhu. Wanita tadi
jahat sekali.”
Song Bun Sam menghela napas “Mungkin juga
dugaanku keliru. Beng Han, andaikata.... ini andaikata saja,
kelak ternyata olehmu bahwa Koai Thian Cu yang
kauanggap sebagai kong kongnu sendiri itu benar seorang
jahat yang bermaksud menipuku dan menyuruh orangnya
mencuri pedang pusakaku, apa yang akan kaulakukan?”
Anak kecil itu mengerutkan keningnya, kemudian
berkata,
“Kalau benar demikian, maka hal itu luar biasa anehnya,
suhu. Kong kong sering kali memberi nasihat nasihat baik
kepada teecu dan dalam mengajar teecu membaca telah
menyuruh teecu menghafal isi kitab kitab Su si Ngo keng.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, apabila ternyata kong kong jahat seperti yang
suhu khawatirkan itu, biarpun dia itu teecu anggap sebagai
kong kong sendiri, akan teeeu lawan. Siapapun orangnya,
kalau jahat, pasti teeeu akan berusaha membasminya. Akan
tetapi mudah mudahan tidak demikian, karena kalau teecu
sampai bermusuh dengan dia, teecu akan merasa berduka
dan sengsara. Dia seorang baik, suhu.”
Girang sekali hati Thian te Kiam ong mendengar ini Ah,
pikirnya, tidak salah aku menerima anak ini sebagai murid.
“Beng Han,” katanya lirih, “ingatlah baik baik, aku
hendak memesan sesuatu yang amat penting kepadamu.
Akan tetapi kau harus berjanji dulu akan menyimpan
rahasia ini baik baik dan tidak akan memberitahukan
kepada lain orang.”
Beng Han berlutut di depan pembaringan gurunya dan
suaranya terdengar sungguh sungguh ketika ia berkata,
“Teecu bersumpah akan menjunjung tinggi pesan suhu dan
kalau teecu melanggarnya, biarlah teecu binasa di bawah
ujung Kim kong kiam!”
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXIII
“BAGUS! Tepat sekali sumpahmu ini, karena memang
pesanku ini terutama sekali mengenai Kim kong kiam. Kau
tahu, pedang ini sesungguhnya bukanlah Kim kong kiam
yang aseli, ini hanya tiruan. Adapun pedangku yang aseli
bersama kitab Kim kong Kiam sut yang kutulis, sengaja
kusembunyikan di puncak menara Kim Hud tah di Gunung
Kui san. Kelak, apabila kau benar benar memerlukan dua
benda itu, kaulah orangnya yang kubolehkan mewarisinya,
dan kau akan dapat mengambilnya dengan mempelihatkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
suratku ini.” Sambil berkata demikian, kakek Song
menyerahkan sebuah surat yang memang sudah dibuatnya
sebelumnya. Surat itu menerangkan bahwa pembawanya
boleh mengambil dua benda yang ia simpan di tempat itu.
Beng Han menerima surat bersampul itu sambil
bercucuran air mata.
“Eh, mengapa kau menangis?”
“Suhu, mengapakah teecu yang suhu warisi semua ini?
Apakah kelak tidak akan menimbulkan kemarahan dari
pihak keturunan suhu sendiri? Kim kong kiam adalah
pedang pusaka keluarga Song, demikian pula ilmu silat
pedang dari suhu adalah ilmu silat keturunan, bagaimana
justeru teecu seorang luar yang suhu percaya?”
Diam diam kakek Song makin kagum kepada muridnya
ini dan hatinya makin mantap. “Bukan karena aku benci
kepada anak cucuku, Beng Han. Sama sekali bukan
Bahkan, terus terang saja, aku sengaja melakukan ini
untuk.... kalau dapat, menolong dan menjaga keselamatan
mereka. Sudahlah, kau tak perlu banyak bertanya dan
penuhi saja pesanku. Andaikata kau betul betul telah
memerlukan dua benda tersebut dan ingin mewarisinya,
kau naiklah ke Kim Hud tah (Menara Bhuddha Emas) dan
jangan kau turun kembali sebelum kau mempelajari ilmu
pedang itu sampai sempurna betul. Kalau kau mengambil
begitu saja dan membawa turun, kau akan celaka.”
Beng Han mencatat dalam otaknya segala pesan suhunya
ini dan menyatakan kesanggupannya untuk mentaati semua
perintah kakek Song.
Hampir sebulan kemudian, dengan amat tiba tiba,
penyakit yang diderita oleh kakek Song kambuh kembali
secara hebat! Napasnya menjadi sesak, kepala berat, tubuh
lemas dan kedua kaki lumpuh!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Melihat hal ini, orang seisi rumah kaget sekali dan air
mata mulai bercucuran. Akan tetapi kakek Song sendiri
tersenyum.
“Beng Han, kong kongmu itu memang orang luar biasa
pandainya,” katanya teringat akan ramalan Koai Thian Cu.
Semenjak tukang gwamia itu datang, dua bulan hanya
kurang tiga hari lagi! Tinggal tiga harikah usianya?
Thian te Kiam ong Song Bun Sam mengumpulkan anak
cucunya. Di dalam kamarnya yang besar itu penuh dengan
orang, semua memperlihatkan wajah muram dan berduka,
kecuali si sakit sendiri! Di situ berkumpul Song Tek Hong
dan isterinya, Ong Siang Cu serta puteri mereka, Song Bi
Hui. Juga Song Siauw Yang dan suaminya Liem Pun Hui
serta putera mereka, Liem Kong Hwat hadir. Tadinya Beng
Han hendak meninggalkan kamar demi kesopanan tanpa
diminta oleh siapa pun sehingga Tek Hong menjadi kagum
dan memandangnya dengan terima kasih, akan tetapi kakek
Song menahannya.
“Beng Han, kau juga muridku. Guru dan orang tua
sederajat, murid dan anak juga setingkat. Maka kau tinggat
saja disini mendengarkan pesan pesanku agar ketak kalau
anak cucuku ada yang lupa, kau dapat mengingatkan
mereka.” Kakek Song berhenti sebentar untuk mengatur
napasnya yang amat sukar keluarnya.
“Tek Hong, kau kelak yang mewakili aku mengawasi
dan menjaga ketenteraman semua keluarga kita. Kau tahu
bahwa dahulu aku telah banyak menanam permusuhan
dengan orang orang kalangan hitam (penjahat). Tentu di
antara mereka dan keturunan mereka banyak yang
mendendam sakit hati. Oleh karena itu, kau dan semua
kekeluarga harus selalu waspada dan hati hati. Ketahuilah
bahwa Kim kong kiam juga selalu diincar incar orang, oleh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
karena itu, aku minta supaya pedang Kim kong kiam ini
disimpan saja di Liok can, di rumah Siauw Yang,”
Kembali ia mengatur napas dan semua yang
mendengarkan menjadi makin berduka.
“Aku tahu, ilmu kepandaian dari mantuku Siang Cu
amat lihai. Alangkah baiknya kalau kalian mengadakan
tukar menukar kepandaian sehingga kepandaian Bi Hui dan
Kong Gwat bertambah, sungguhpun semacam saja kalau
dipelajari dengan sempurna akan mengalahkan seratus
macam yang tidak dipelajari secara baik. Sayang.... sayang
aku tak dapat menyaksikan cucu cucuku menikah....”
Kata kata ini memancing isak tangis dari Siauw Yang,
Siang Cu, dan Bi Hui.
“Jangan menangis, manusia mana yang tidak akan mati?
Kiranya aku masih akan dapat tahan kalau dua tiga hari
lagi. Bahkan lucunya.... kalau sampai empat hari aku tidak
mati, berarti aku akan hidup beberapa tahun lagi! Ha, ha,
ia!”
Ssmua orang yang tidak tahu akan ramalan Koai Thian
Cu, mendengar kata kata ini menjad bengong dan mengira
bahwa kakek Song telah bicara kacau karena sakitnya.
“Tek Hong, muridku Beng Han ini jangan kau sia sia.
Kau pelihara dia baik baik, kau beri pelajaran ilmu silat
sebaik baiknya, kau mewakili aku mengajarnya. Kelak ia
akan berguna sekali untuk keluarga Song. Kalau dia ingin
belajar sastera, biar dia belajar dari mantuku Pun Hui. Dia
anak yatim piatu, tak boleh disia sia, harus ditolong. Amat
tidak baik menghina seorang anak yatim piatu.”
Beng Han menggigit bibirnya untuk menahan isak
tangisnya Hanya sepasang matanya saja tak dapat menahan
dan air mata turun bercucuran di sepanjang pipinya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
melalui luka di pipi kiri yang masih membekas karena ujung
pedang yang dipegang oleh Kui Lian dahulu.
Setelah banyak banyak memesan kepada semua anak
cucunya, kakek Song tertidur saking lelahnya. Anak
cucunya menjaga secara bergiliran, akan tetapi Beng Han
tak mau meninggalkan lantai di depan pembaringan
suhunya. Biarpun beberapa kali Tek Hong menyuruh ia
mengaso, ia menyatakan tidak lelah dan ingin menjaga
terus suhunya sehingga Tek Hong menjadi terharu melihat
kebaktian anak ini dan menyetujui permintaannya.
0odwo0
Kita tinggalkan dulu keluarga Song yang sedang prihatin
dan diliputi suasana muram karena kakek Song menderita
sakit itu dan marilah kita mengikuti perjalanan Kui Lian.
Biarpun ilmu silatnya tidak berapa tinggi, namun dengan
bekal ilmu hoat sut yang ia pelajari secara mendalam
sehingga ia memiliki kepandaian luar biasa dalam ilmu ini,
Kui Lian menjadi amat tabah. Di bagian depan sudah
diceritakan betapa ia sampai berani menyerbu ke rumah
keluarga Song yang terkenal sebagai sarang naga dan
harimau. Akan tetapi, biarpun ia dapat menghilang di
depan mata Thian ie Kiam ong Song Bun Sam, namun ia
dibikin tidak berdaya oleh kakek sakti itu. Terpaksa ia pergi
dengan tangan kosong mengambil putusan untuk kelak
datang mencuri pedang kalau kakek itu sudah mati. Dengan
sedikit ilmu melihat tanda tanda di muka orang, ia telah
melihat tanda kematian yang sudah dekat dari kakek Song,
maka terhiburlah hatinya.
Kini Kui Lian menujukan tindakan kakinya ke Soa
couw, tempat yang selama ini selalu muncul di dalam alam
mimpinya, untuk melakukan idam idamannya yang telah
lama ia tahan di hati selama beberapa tahun. Ke Soa couw,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ke rumah keluarga Thio. Membalas dendam, menagih
perhitungan lama. Dengan senyum manis akan tetapi
menyeramkan dan sinar matanya membayangkan kekejian,
Kui Lian melakukan perjalanan itu dan kalau
membayangkan betapa ia akan melakukan pembalasan
dendam, ia tertawa bergelak gelak, ketawa yang nyaring
dan merdu, akan tetapi mengandung suara seperti bukan
suara manusia lagi.
Kui Lian sengaja memilih hari menjelang tahun baru
untuk mendatangi Soa couw. Ia sengaja menanti di luar
kota sampai lima hari agar dapat memasuki kota itu tepat di
hari malaman Sinchia. Ia sengaja melakukan hal ini untuk
memperingati pengalamannya yang luar biasa sengsaranya
di malaman Sinchia enam tahun yang lalu.
Kota Soa couw masih sama dengan dulu. Cara
penduduknya merayakan malaman Sinchia, masih tidak
berubah, sama benar dengan dulu dulu. Rumah rumah
dihias indah dicat baru. Orang orang hilir mudik dengan
wajah gembira. Di mana mana terdengar orang orang
merayakan hari raya itu, tetabuan dibunyikan, mercon
mercon membikin bising dan gembira. Semua masih sama
dengan enam tahun yang lalu. Akan tetapi, alangkah
bedanya Kui Lun sekarang dengan Kui Lian enam tahun
yang talu. Enam tahun yang lalu, Kui Lian diseret seret
keluar kota, mengalami penghinaan sebesarnya, diusir di
tengah malam dan menangis sampai matanya hampir
berdarah. Kui Lian enam tahun yang lalu meninggalkan
kota Soa couw dengan perasaan perih dan hati remuk
redam.
Akan tetapi Kui Lian sekarang memasuki Soa couw
dengan senyum manis di bibir, mata bercahaya cahaya
penuh kegembiraan hendak tercapai cita cita membalas
dendam, menebus sakit hati enam tahun yang lalu. Di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sepanjang jalan, ketika pada senja hari Kui Lian memasuki
kota Soa couw, orang orang memberi hormat dan
menyapanya dengan manis budi dan ramah. Siapa yang tak
senang melihat seorang wanita muda cantik jelita yang
melihat pakaiannya dan kebutan di tangannya tak salah lagi
tentu seorang tokouw (pendeta wanita)? Terutama para
pemudanya. Biarpun mulut mereka tentu saja tidak berani
kurang ajar terhadap seorang tokouw namun sinar mata
mereka lebih kurang ajar dari pada andaikata, mereka
berani bicara tak pantas. Memang Kui Lian manis dan
cantik, lebih manis dari dulu, lebih cantik. Kerling mata dan
senyum bibirnya manis dan matang, pendeknya memenuhi
selera setiap laki laki yang memandangnya. Tak seorangpun
yang akan dapat mengenal tokouw ini sebagai Kui Lian
yang dahulu. Dulu usianya baru enambelas tahun ketika ia
terusir, biarpun ia telah mengandung, namun sebenarnya
dia masih kanak kanak. Sekarang usianya sudah duapuluh
tahun lebih, tubuhnya lebih berisi, sifat kekanak kanakan
pada muka dan tubunya sudah lenyap, terganti sifat wanita
sepenuhnya.
Di depan gedung keluarga Thio ia berhenti. Biarpun ia
terlatih, tetap saja dadanya berdebar keras dan darahnya
berdenyar kencang ketika ia melihat rumah gedung ini.
Indah dan dihias seperti dahulu pula. Teringat ia betapa
dahulu sebelum dijatuhi fitnah dan hukum, beberapa hari di
muka ia ikut pula menghias ruangan depan, ikut pula
bergembira ria menyambut datangnya Sinchia yang hampir
tiba. Sampai lama ia berdiri saja di depan pintu pekarangan
depan, matanya tak pernah berkedip, seakan akan hendak
menembus rumah itu, dan kadang kadang mata itu
bercahaya seperti hendak membakar rumah gedung beserta
sekalian isinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Suthai hendak mencari siapakah?” teguran tiba tiba ini
membuat Kui Lian sadar dari lamunannya. Ia cepat
tersenyum manis dan ramah kepada seorang laki laki yang
berpakaian seperti pelayan itu. Saking dalamnya ia
melamun tadi, sampai ia tidak melihat munculnya pelayan
ini.
“Eh, pinto ingin sekali bertemu dengan tuan rumah. Ada
urusan yang amat penting sekali. Sukakah kau memberi
tahu kepada majikanmu bahwa seorang tokouw dari kuil
Cai im tang di luar kota mohon bertemu?”
Pelayan baru yang tidak di kenal oleh Kui Lian. Dia ini
seorang mata keranjang yang segera tertarik sekali oleh
tokouw yang muda dan cantik manis ini. Maka mendengar
permintaan Kui Lian yang diucapkan dengan suara halus
dan ramah, timbul kekurangajarannya untuk mengganggu.
Memang pada masa itu, bukan jarang terdapat pendeta
pendeta laki laki atau wanita yang berlaku nyeleweng,
menggunakan pakaian pendeta hanya untuk kedok saja,
maka banyak orang yang memandang rendah dan berani
menggoda para tokouw atau nikouw. Pelayan itupun timbul
kekurangajarannya melihat seorang tokouw muda yang
cantik, apalagi ia yang telah pengalaman dalam hal ini
melihat senyum dan kerling mata yang genit itu.
“Suthai yang baik. Pada saat seperti ini, loya dan
keluarganya tak boleh diganggu. Kalau suthai hendak ikut
berpesta gembira, marilah bergembira dan berpesta dengan
aku saja. Aku baru mendapat hadiah sepuluh tael dari
majikanku,” ia menepuk sakunya di mana terdapat uang
hadiah itu.
Kui Lian mendongkol. Digerakkannya hud tim di
tangannya, menuding muka pelayan itu dan katanya ketus.
“Orang macam engkau ini mana punya uang?” Pelayan itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merogoh sakunya dan... uang sepuluh tael perak yang ia
baru saja dapat dari Thio loya, benar benar telah lenyap!
Selagi ia melongo dan pucat, Kui Lian berkata, “Hayo
sampaikan pesanku tadi kepada majikanmu!” Pelayan itu
tiba tiba nampak kaku dan bagaikan sebuah boneka yang
dapat berjalan, ia memutar tubuh dan masuk ke dalam
rumah ia telah bergerak bukan karena kehendak sendiri,
akan tetapi seluruh kemauannya telah dikuasai oleh
pengaruh sihir dari Kui Lian!
Pelayan itu langsung memasuki ruangan dalam di mana
Thio Kin sedang makan minum dilayani oleh selir selirnya.
Nyonya Thio duduk menemani suaminya. Semua orang
memandang pelayan ini dengan heran, dan Thio Kin
memandang marah. Akan tetapi pelayan yang masuk bukan
atas kehendaknya sendiri dan dalam keadaan tidak sadar
itu, tidak perduli, terus saja melangkah maju menghadapi
Thio Kin dan berkata tantang,
“Loya, diluar ada seorang tokouw dari kuil Cui im tang
hendak bertemu dengan loya untuk urusan yang sangat
penting.” Baru saja kata kata ini habis dikeluarkan, iapun
terguling dan roboh dalam keadaan pingsan, kaku!
Thio Kin terkejut melihat kejadian ini dan menjadi
curiga. Dipanggilnya para pengawalnya yang tetap saja
menjaga di malaman tahun baru itu, di ruang belakang
sedang minum minumdan main judi. Lima orang pengawal
berlari datang kemudian mengikuti rombongan Thio loya
yang menuju ke luar untuk melihat tokouw siapakah yang
datang itu.
Ketika Thio Kin dan semua orang tiba di luar, mereka
tertegun. Apalagi Thio Kin, begitu melihat tokouw itu,
melihat matanya seperti tertarik oleh sesuatu yang luar
biasa. Di dalam pandang matanya, tokouw itu manis dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
cantik sekali, dan selalu bermain mata dengan kerling
memikat disertai senyum menantang yang manis sekali.
“Suthai hendak bertemu dengan siapakah? Dan ada
keperluan apa?” tanya thio Kin.
Dengan sikap agung dan suara keren Kui Lian berkata,
“Ketika tadi aku lewat di depan, aku melihat hawa
siluman di atas rumah ini maka aku menjadi kasihan
kepada penghuni rumah dan hendak mengusir setan.”
Semua orang kaget, akan tetapi Thio Kin dapat
melenyapkan rasa kagetnya dan bertanya, “Suthai, apakah
tandanya bahwa di dalam rumah ada siluman?”
Kui Lian menunjuk dengan kebutannya ke atas rumah
dan berkata, “Kalian lihatlah, di atas rumah itu ada uap
kehitaman seperti mega, itulah hawa siluman!”
Thio Kin dan semua orang memandang ke atas dan....
betul saja, mereka melihat uap hitam mengebul tebal di atas
wuwungan rumah!
“Celaka....” Thio Kin mengeluh dan cepat ia menjura
kepada pendeta wanita yang catik lagi muda itu sambil
berkata, “Mohon pertolongan suthai.... tolonglah nyawa
kami sekeluarga.” Suaranya menggigil ketakutan,
sedangkan para selir sudah sejak tadi saling peluk dengan
tubuh menggigil. Hanya Thio hujin yang agak bersikap
tenang. Ia memandang tajam kepada tokouw muda ini,
sama sekali tidak tahu bahwa ia berhadapan dengan Kui
Lian bekas pelayan pribadinya.
“Suthai, tadinya tidak terjadi sesuatu, tidak ada apa apa
yang buruk di rumah kami. Mengapa sekarang tiba tiba ada
siluman? Dan mengapa pelayan kami tadi begitu melapor
tentang kedatanganmu lalu roboh pingsan?” Nyonya ini
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berkata sambil memandang tajam kepada wajah cantik
yang serasa pernah dikenalnya ini.
“Toanio, memang siluman itu baru saja datang. Agaknya
sengaja datang di waktu malaman Sinchia, entah mengapa
harus kuselidiki lebih dahulu. Adapun pelayan yang
pingsan, tentu telah terkena gangguan siluman itu, aku
sanggup untuk menyembuhkannya setelah aku memeriksa
orangnya.”
Mendengar ini Thio Kin lalu mengajak tokouw itu
masuk ke dalam rumah sambil tiada hentinya menyatakan
pengharapannya agar tokouw itu cepat cepat mengusir
siluman itu dari rumahnya. Pelayan yang pingsan kaku itu
masih dalam keadaan seperti tadi, tak dapat siuman
kembali biarpun banyak kawannya sudah berusaha
membetot betot urat urat tubuhnya dan mengguyur
kepalanya dengan air dingin.
Tokouw itu berdiri dan memandang kepada pelayan itu.
Lalu katanya, “Dia betul terganggu siluman yang berada di
atas rumah. Ambil kotoran manusia dan jejalkan ke dalam
mulutnya. Hanya itulah obatnya, dia akan sembuh
kembali.”
Biarpun terheran heran akan “obat” aneh ini, Thio Kin
menyuruh pelayan pelayannya untuk mentaati perintah
tokouw itu. Kasihan sekali pelayan tadi, karena
kelancangan mulutnya terhadap Kui Lian sekarang terpaksa
merasa dijejali kotoran mulutnya! Akan tetapi benar saja,
setelah mulut pelayan yang pingsan kaku itu dipaksa
terbuka dan dijejali kotoran manusia, ia siuman kembaii
sambil mengeluh, kemudan muntah muntah dan lari ke
kamar mandi untuk membersihkan mulutnya! Semua
orang, biarpun ketakutan dan merasa ngeri, mau tak mau
tertawa melihat hal lucu ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kuharap semua penghuni rumah ini berkumpul agar
menyaksikan aku menangkap siluman. Harus lengkap
semua keluarga dan pelayan, tidak boleh ada yang
ketinggalan serorangpun. Terutama sekali tuan dan nyonya
rumah bersama anak anak mereka.” Tentu saja Kui Lian
mengharapkan munculnya Thio Sui yang sejak tadi tidak
kelihatan di stiu.
“Semua sudah berkumpul,” kata Thio Kin, “kecuali anak
kami Thio Sui yang berada di kota raja untuk menghormat
calon mertuanya di sana.”
“Dan tiga orang pelayan yang pulang ke kampung
menjelang tahun baru,” sambung Thio hujin.
Tokouw muda itu mengeratkan alisnya yang hitam
panjang dan melengkung. “Bagi tiga orang pelayan masih
tidak apa, akan tetapi kongcu harus dibersihkan dari hawa
siluman. Biarlah, tidak apa, asal saja aku diberi tahu di
mana ia tinggal di kota raja, aku dapat mengusir hawa
siluman yang mengikutinya itu dari jauh.”
“Calon mertuanya adalah seorang pembesar berpangkat
siupi she Ma. Di kota raja semua orang mengenalMa siupi,
dan putera kami setelah lulus dalam ujian dan menjadi
tiong goan akan melangsungkan pernikahannya di sana dua
bulan lagi.”
Kui Lian mengangguk angguk. “Cukuplah, aku dapat
mengurusnya dari jauh.” Kemudian ia menyuruh semua
orang diam dan berkatalah dia, dengan suara amat
berpengaruh sehingga semua mata memandangnya, penuh
perhatian, “Semua orang lihatlah kepadaku!” Ia lalu
berjalan mundar mandir di dalam ruangan tengah itu,
semua mata mengikut gerak geriknya tanpa berkedip.
Kemudlan tokouw itu duduk bersila di atas lantai, di tengah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tengah ruangan, mulutnya berkemak kemik, tiba tiba ia
berkata lantang, “Siluman sudah datang.... !”
Semua orang, termasuk Thio Kin dan lima orang
pengawalnya yang biasanya tabah dan sombong, menjadi
gemetar dan para wanita hampir pingsan ketika tiba tiba
mereka melihat uap hitam bergulung gulung dari atas turun
ke bawah dan berputar putar di depan Kui Lian! Semua tak
berani bergerak dan memandang kepada Kui Lian yang
menggerak gerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara,
seperti sedang bercakap cakap dengan “siluman” berupa
uap hitam bergulung gulung di depannya itu. Tak lama
kemudian uap hitam menghilang. Semua orang merasa lega
hatinya, dan tokouw itu berkata.
“Siluman sudah takluk kepadaku dan bersedia untuk
meninggalkan rumah ini. Dia itu adalah roh dari seorang
pelayan wanita yang dulu diusir dan sini dalam keadaan
mengandung.”
“Kui Lian....!” terdengar Thio hujin mengeluh.
Biarpnn sengaja mempermainkan mereka, namun
hatinya berdebar ketika mendengar bekas nyonya
majikannya itu menyebut namanya.
“Apakah dia dulu pernah menerima penghinaan dari
rumah ini?” tanyanya.
Thio Kin hanya menundukkan mukanya, dan Thio hujin
yang menjawah lemah, “Ya, ya.... mungkin dia sakit
hati....”
“Habis dia mencemarkan nama baik keluarga kami,”
tiba tiba Thio Kin membela nama keluarganya dan sama
sekali sidak melihat betapa tokouw itu memandangnya
dengan mata tajam menusuk.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Lian mengangguk angguk, lalu berkata lagi, “Tentu
saja roh nya ingin membalas dendam kepada orang orang
yang pernah mengganggunya dahulu. Oleh karena itu,
penghuni rumah ini yang pernah merasa menjadi
musuhnya, yang pernah secara diam diam membencinya,
dan merasa senang atas kesengsaraannya dahulu, supaya
sekarang berkumpul di sini untuk dibersihkan dan
dimintakan maaf. Yang lain lain yang tak pernah
mengenalnya, atau yang dulu ada hubungan baik dengan
dia, tak usah khawatir, dia takkan mengganggunya dan
boleh meninggalkan ruangan ini. Hanya mereka yang
pernah membencinya, baik berterang maupun secara diam
diam, diharuskan berkumpul di sini bersama loya dan
hujin.”
Para pelayan itu memang tentu saja ada yang dulu
bergirang melihat nasib buruk Kui Lian, yaitu mereka yang
iri hati melihat Kui Lian disayang oleh majikan
majikannya, apalagi melihat Kui Lian dikasihi oleh Thio
kongcu. Mereka yang pernah merasa benci kepada Kui
Lian, tentu ingin sekali dirinya “dibersihkan” dan
dibebaskan dari pengaruh dendam siluman itu. Pada masa
itu, tidak ada orang yang tidak percaya akan adanya
siluman siluman dan dewata dewata, maka tentu saja bagi
Kui Lian yang memiliki kepandaian hoat sut yang tinggi,
mudah saja melakukan peranannya.
Setelah semua orang yang tidak ada sangkut pautnya
dengan Kui Lian meninggalkan ruangan itu, di situ yang
tinggal hanya Thio Kin, Thio hujin, dua orang selir dan tiga
orang pelayan wanita. Dua orang selir itu diam diam
membenci Kui Lian karena gadis itu menjadi kekasih Thio
kocgcu yang secara rahasia mengadakan perhubungan
dengan mereka pula. Adapun tiga orang pelayan itu,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membenci Kui Lian karena pelayan baru itu dijadikan
kepercayaan dan menjadi pelayan pribadi Thio hujin.
Setelah melihat orang orang yang menjadi musuhnya
berkumpul di depannya, tiba tiba tokouw itu tertawa,
dengan suara ketawanya yang menyeramkan bulu tengkuk.
Kemudian ia membuka tutup kepalanya dan membiarkan
rambutnya terurai. Rambut yang panjang dan hitam itu
berombak ombak menutupi pundak dan punggungnya,
sebagian ke depan menutupi dadanya yang berombak
karena kemarahannya timbul menghadapi musuh
musuhnya ini.
Dalam pandangan wanita wanita di situ, ia kelihatan
mengerikan dan menakutkan. Akan tetapi dalam
pandangan Thio Kin yang biarpun sudah tua tetap masih
mata keranjang itu. Ia kelihatan begitu cantik menarik
sehingga mata si bandot tua ini melongo menatapi wajah
dan rambutnya! Tetap saja tak seorang di antara mereka
yang mengenalnya, biarpun kini mereka merasa seperti
pernah ketemu dengan tokouw pengusir siluman ini
Kemudian, terdengarlah suara Kui Lian, suara yang
nyaring menusuk, diiringi pandang mata bersinar sinar
penuh kekejaman, dan senyum menyeringai setengah
mengejek.
“Benar benarkah kalian tidak mengenal aku lagi....? Thio
loya hujin, dan yang lain lain? Apakah mata kalian sudah
buta semua dan tidak mengenal aku, orang yang dulu kalian
hina dan kalian tertawakan....? Ha, ha, ha, tidak hanya
perasaan dan hati kalian yang buta, juga mata kalian sudah
hampir buta! Lihat baik baik, loya. Lihatan baik baik
dengan matamu yang berminyak itu. Ha, ha, kambing tua
tak tahu malu. Dan juga, hujin, kau yang bermuka palsu,
pura pura berbudi mulia akan tetapi curang. Kalian berdua
tidak memperbaiki perbuatan putera kalian, malahan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyalahkan kepada pelayan yang sudah ditimpa
kemalangan!”
“Kui Lian.... kau.... kau Kui Lian....!” Kini Thio hujin
yang mengenalnya, dan mendengar ini, semua orang
terbuka matanya. Para selir kaget, juga para pelayan dan
mereka hendak buru buru angkat kaki dari tempat itu.
“Berhenti! Kalian tak dapat bergerak! Semua tak kuasa
berkutik dan tidak bisa berteriak!” Kedua lengan Kui Lian
diangkat, jari jari tangannya dikembangkan, sepasang
matanya memancarkan pengaruh yang dahyat dan.... tujuh
orang itu benar benar tak dapat bergerak! Thio Kin yang
ingin berteriak rnemanggil pengawal pengawalnya juga tak
dapat mangeluarkan suara. Mereka semua telah jatuh ke
dalam pengaruh ilmu sihir yang memancar keluar dari
sepuluh jari tangan yang dikembangkan dan dari pandang
mata yang mengerikan itu.
Dahulunya Kui Lian bukan searang yang berhati kejam.
Dia seorang gadis temah lembut yang baik hati. Akan
tetapi, iblis memang tidak berjauhan dengan manusia.
Sedikit saja mendapat kesempatan, iblis akan menempatkan
diri dalam hati manusia. Kesempatan ini terbuka ketika Kui
Lian merasa dibikin sakti hati, ketika gadis itu menaruh
dendam kepada orang orang yang membikin dia sengsara.
Dendam ini menimbulkan sifat sifat kejam padanya, ingin
ia melihat musuh musuhnya tersiksa, menderita seperti dia
dahulu, bahkan lebih lagi.
Knt Lian menghadapi Thio Kin dan isterinya. “Kalian
yang menjadi biang keladii kesengsaraan dan
penderitaanku, kalian tak berhak hidup lebih tama lagi.
Thio Kin, kau dan isterimu tak boleh menyaksikan
pernikahan anak kalian. Berdoalah minta ampun kepada
nenek moyangmu!” Setelah berkata demikian, kebutan di
tangan Kui Lian menyambar mengenai kepala bagaian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
belakang dari Thio hujin. Hud tim itu menotok jalan darah
di belakang kepala dan Thio hujin roboh tak berkutik iagi.
Nyawanya melayang tanpa ia sempat mengeluarkan suara.
Thio Kin ketakutan, mukanya pucat, matanya terbelalak
dan keringat dingin memenuhi mukanya. Ia ingin minta
ampun, ingin berlutut, ingin pula melawan dan memanggil
pengawalnya, akan tetapi ia tidak dapat bergerak, tak dapat
berteriak, hanya dapat memandang Kui Lian dengan mata
melotot. Kemudian datanglah hud tim itu menyambar leher
dan dadanya dua kali.
Thio Kin terguling dari kursinya dan dalam keadaan
hampir mati terlepaslah ia dari pengaruh sihir, ia menjerit
ngeri dan panjang lalu tubuhnya berkelojotan! Kui Lian
tertawa bergelak gelak dan air matanya mengucur keluar
dari sepasang mata yang sudah kelihatan merah
menyeramkan itu “Hi, hi. Hi, hi, mampus kau! Mampus
kau!” teriaknya dengan suara parau seperti bukan suaranya
sendiri.
Dapat dibayangkan betapa takutnya dua orang selir dan
tiga orang pelayan itu. Boleh dibilang semangat mereka
sudah setengahnya terbang keluar meninggalkan badan
saking takut mereka menghadapi peristiwa mengerikan ini,
tanpa dapat bergerak atau berteriak.
Tentu saja jerit yang dikeluarkan oleh Thio Kin dan
suara ketawa dari Kui Lian ini terdengar oleh mereka yang
berada di luar ruangan itu. Akan tetapi karena mereka ini
menduga bahwa di dalam sedang terjadi hal hal yang
menyeramkan untuk mengalahkan siluman, hal ini bahkan
membikin mereka seram dan takut. Para wanita bahkan
sudah lari menjauhkan diri, dan hanya lima orang pengawai
itu saja yang berani mendekat dengan golok dicabut. Akan
tetapi merekapun tidak berani melongok ke dalam, takut
kalau kalau siluman akan mencabut nyawa mereka.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sementara itu, di dalam ruangan itu Kui Lian
menghadapi dua orang selir yang memandangnya dengan
muka tak berdarah.
“Kalian benci kepadaku, ya? Kalian anjing anjing betina
yang tak tahu malu, kalian membenci padaku karena
menganggap aku merampas kekasih kalian, Thio Sui.
Anjing betina yang bermain gila dengan anak tiri sendiri,
kalian tidak tahu malu dan semenjak sekarang, kalian akan
kehabisan rasa malu. Seperti anjing anjing rendah kalian
takkan malu melakukan apapun juga!” Dua kali hud tim itu
berkelebat dan ujungnya mencambuk kening dua orang selir
itu. Tiba tiba mereka berdua itu menjambak jambak rambut
sendiri, merasa kepala mereka sakit sakit dan gatal gatal
hingga saking tidak tahan lagi, keduanya sampai merenggut
pakaian mereka terlepas, bergulingan sambil menangis.
Kui Lian tertawa lagi dengan buas, lalu menghadapi tiga
orang pelayan perempuan yang menjadi makin ketakutan
melihat semua itu. “Kalian bertiga juga membenci aku?
Hmm, benar benar tak punya otak, sama sama pelayan
membenci. Daripada punya sedikit otak tak mampu
mempergunakannya, lebih baik sama sekali tak punya otak.
Kau tidak akan ingat apa apa lagi selama hidupmu!
Kembali hud tim itu bergerak gerak memecut kepala tiga
orang wanita pelayan itu dan di lain saat tiga orang pelayan
ini sudah kehilangan ingatan mereka. Ketika Kui Lian
tertawa bergelak, tiga orang wanita ini ikut pula tertawa
terkekeh kekeh sehingga suara yang terdengar dari dalam
ruangan itu besar benar menegakkan bulu tengkuk.
Lima orang pengawal menjadi kaget dan heran sekali.
Dengan memberanikan diri mereka menyerbu masuk
karena mendapat firasat yang tidak enak. Alangkah
kagetnya ketika mereka berlima melihat keadaan di dalam
ruangan itu. Thio loya dan isterinya menggeletak tak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bernyawa lagi di atas lantai, dua orang selir dengan
telanjang bulat bergulingan di atas lantai sambil menangis
dan tiga orang pelayan berjingkrak jingkrak tertawa tawa
dengan mata terputar putar. Sedangkan tokouw yang
katanya hendak mengusir siluman, berdiri di sudut dengan
senyum mengejek. Hud timnya digerak gerakkan secara
rahasia untuk menambah pengaruhnya membikin gila lima
orang wanita itu!
Ketika seorang di antara para pengawal membungkuk
dan memeriksa keadaan Thio Kin dan tahu bahwa
majikannya telah tewas, bukan main marahnya.
“Tokouw siluman, apa yang telah kau lakukan?”
Bentaknya dengan golok siap di tangan. Kawan kawannya
juga siap menghadapi Kui Lian.
Tokouw muda yang rambutnya riap riapan itu tersenyum
manis sekali, lalu melangkah maju menghampiri mereka.
“Aku bunuh mereka, dan bikin gila lima anjing ini.
Kalian mau bunuh aku? Mari, silahkan. Bunuhlah, hi hi
hi.” Kui Lian melenggang maju dengan langkah dan gaya
memikat, sepasang matanya memandang tajam, bibirnya
tersenyum manis dan kedua tangannya membuka rambut
yang menutupi lehernya, memperlihatkan kulit lehernya
yang halus dan putih. Sikapnya menantang sekali.
Di dalam gerakan gerakan ini tersembunyi tenaga yang
luar biasa dari ilmu hoat sut sehingga lima orang itu hanya
berdiri melongo, golok mereka yang terpegang tergantung
ke bawah dan mereka menjadi lemas Dalam pandangan
mata mereka, Kui Lian demikian cantik dan jelitanya
sehingga mereda tak kuasa menggerakkan tangan, apalagi
menggunakan golok membacok leher yang halus putih itu!
Sambil masih mengerling dan tersenyum senyum, Kui Lian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berjalan melalui mereka, keluar dari ruangan menuju ke
depan.
Lima orang pengawal itu teringat bahwa majikan mereka
telah tewas, maka berkatalah seorang yang tertua, “Kita
harus tangkap dia! Dia pembunuh!”
Serentak mereka mengejar dan mengurang Kui Lian. Kui
Lian mengangkat kedua tangannya ke depan sambil
menatap mata mereka dan...... lenyaplah dia dari kepungan.
“Aku di sini, kalian hendak menangkap akukah?” tiba
tiba mereka mendengar suara dan ternyata wanita itu telah
berdiri di sudut, di luar kepungan sambil berjalan tersenyum
senyum menghampiri mereka.
“Kepung! Tangkap!” teriak yang tertua dan kembali
mereka mengepung Kui Lian. Akan tetapi seperti tadi,
sebentar saja wanita itu lenyap dari pandang mata. Ketika
mereka mencari cari, mereka melihat berkelebatnya
bayangan wanita itu di pekarangan luar. Mereka berteriak
teriak sambil mengejar dan di pekarangan luar kembali
mereka mengepung. Kini seorang di antara mereka yang
termuda dan berani, cepat sekali menubruk dan
memeluknya dari belakang.
“Siluman perempuan, hendak lari kemana?” bentaknya
sambil mempererat pelukannya. Wanita itu meronta ronta
sehingga kawan kawannya terpaksa membantu, ada yang
memegarg tangan, ada yang memeluk pinggang dan
menjambak rambut. Keadaan menjadi ribut sekali.
Tiba tiba mereka mendengar suara ketawa dari belakang
mereka, suara yang membuat mereka tetkejut sekali dan
menengok ke belakang. Benar saja, wanita itu telah berdiri
di belakang mereka sambil tertawa tawa dan ketika mereka
melihat orang tangkapan itu.... terryata adalah pengawal
yang tertua yang menyumpah nyumpah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Gila! Buta! Mengapa aku yang kalian keroyok?”
bentaknya berkali kali. Tahulah mereka kini bahwa mereka
menghadapi seorang wanita yang pandai seperti siluman.
Dengan golok terangkat kelima orang pewgawal ini lalu
menyerbu, kini hendak menyerang sungguh sungguh. Akan
tetapi, sekelebatan saja lenyaplah Kui Lian, meninggalkan
suara ketawa yang mengerikan di malam hari itu.
Keadaan menjadi geger. Lima orang pengawal itu
berteriak terteriak, “Ada siluman.... ada siuman....”
Sebentar saja di situ penuh dengan orang orang yang
datang karena teriakan teriakan ini dan ramailah rumah
gedung keluarga Thio, penuh orang orang yang hendak
menonton korban siluman. Keadaan menjadi lebih gaduh
dan ribut lagi ketika lima orang wanita yang telah gila
sambil berteriak teriak, menangis dan tertawa, berlari lari
keluar dari rumah! Kota Soa couw bertambah lima orang
gila lagi yang berkeliaran di jalan jalan, yang berturut turut
dalam beberapa bulan kemudian mati di pinggir jalan
karena kelaparan! Kui Lian telah menagih hutang dan
kekejaman enam tahun yang lalu terjadi di rumah keluarga
Thio itu sekarang harus ditebus secara mahal sekali.
0odwo0
Keaadaan Thian te Kiam ong Song Bun Sam bertambah
payah dan dua hari kemudian semenjak kakek Song ini
meninggalkan pesanan pesanan kepada anak cucuknya, ia
sudah tak dapat bicara lagi! Anak anak dan cucu cucunya
menjaga di dekat pembaringan dan pelahan lahan terdengar
isak tangis dari Song Siauw Yang, Ong Siang Cu, dan Song
Bi Hui.
Tiba tiba kakek Song membuka matanya, menarik napas
panjang seperti mengumpulkan kekuatan terakhir dan
hebat, dia dapat bangun dan duduk! Benar benar luar biasa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sekali kakek ini. Biarpun dalam keadaan sudah hampir
mati, ia masih berhasil mengumpulkan tenaga dan bangun
duduk, kemudian dengan tangannya memberi isyarat
supaya orang mengambilkan alat tulis. Tek Hong cepat
cepat mengambilkan kertas dan tinta pensil dan kakek yang
sudah tidak dapat bicara lagi ini mulai menulis huruf huruf
yang jelas dan kuat goresannya. Anak cucunya dengan
penuh perhatian membaca huruf huruf itu.
Pesanku Terakhir, Bi Hui harus dijodohkan
Dengan cucu laki laki Sin tung Lo Kai.
Juga Kong Hwat harus dijodohkan dengan
Cucu perempuan Sin tung Lo Kai.
Demikian bunyi tulisan sebagai pesan terakhir dari kakek
Song. Tek Hong suami isteri dan Pun Hui suami isteri
berlutut di depan pembaringan, menyatakan hendak
mentaati perintah kakek Song ini. Tak seorangpun tahu
betapa Bi Hui dan Kong Hwat saling bertukar pandang dan
muka mereka menjadi pucat sekali.
Pada malam harinya, dengan tenang Thian te Kiam ong
Song Bun Sam, pendekar pedang yang tiada keduanya
sehingga mendapat julukan Si Raja Pedang meninggal
dunia, di antar oleh tangis anak cucunya. Anehnya, tangis
yang paling hebat di lakukan oleh Bi Hui dan Kong Hwat.
Orang orang hanya mengira bahwa dua orang muda itu
saking besar cintanya kepada kong kong mereka maka amat
berduka, padahal di dalam kedukaan mereka ini terselip
rahasia pribadi. Dua orang muda, atau misan ini ternyata
telah saling menukar hati, saling mencinta! Maka dapat
dibayangkan betapa kecewa dan berduka hati mereka ketika
membaca pesan terakhir dari kong kong mereka bahwa
mereka berdua harus dijodohkan dengan cucu cucu dari Sin
tung Lo kai. Oleh karena keluarga Song tidak mempunyai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sanak saudara yang tinggal di tempat jauh, dan anak
cucunya sudah berkumpul di situ, maka jenazah tidak
ditahan terlalu lama dan segera dimakamkan dengan
upacara yang cukup ramai karena boleh dibilang semua
penduduk Tit le tidak ada yang keluar mengantar.
Sedikitnya dari satu rumah tentu keluar seorang anggota
keluarga yang mengantar rombongan jenazah pendekar
besar itu.
Setelah peti jenazah itu dikubur dan makam itu
disembahyangi, tiba tiba terdengar suara orang berteriak
teriak kecewa, “Terlambat....! Terlambat....” Dan dari
bawah berlari lari naiklah beberapa orang ke tempat
pemakaman yang merupakan pegunungan kecil itu. Semua
orang memandang dan ternyata yang berlari lari naik itu
adalah tiga orang. Yang berteriak teriak kecewa tadi adalah
seorang kakek berusia limapuluh tahun lebih, dari
pakaiannya ternyata bahwa ia seorang tosu, jubahnya
kuning, topinya juga kuning, mukanya panjang kurus dan
sepasang matanya tajam setengah terkatup. Dua orang di
kanan kirinya adalah dua orang laki laki yang usianya
kurang lebih tigapuluh tahun, berperawakan kekar dan di
pinggang mereka tergantung pedang.
Agak jauh di belakang mereka nampak seorang pengemis
tua terpincang pincang, dibantu sebatang tongkat bambu,
juga sedang menaiki jalan tanjakan, agaknya menonton
upacara pemakaman atau hendak mencari sisa sisa
makanan sembahyang. Akan tetapi tak seorangpun
memperhatikan pengemis pincang ini karena semua orang
tertarik oleh tiga orang yang berlari lari naik. Tosu itu tanpa
banyak cakap lagi lalu menghampiri makam dan menjura di
situ. Sama sekali tidak menperdulikan orang lain. Dua
orang laki laki yang nampak kuat itu mencontoh perbuatan
tosu dan tetap berdiri di kanan kirinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Thian te Kiam ong, kau benar benar orang yang
bernasib baik. Atau aku Pat pi Lo cu yang bernasib buruk?
Jauh jauh dari See thian (dunia barat) aku datang untuk
mencabut julukanmu Raja Pedang, eh, tahu tahunya kau
sembunyi di balik peti mati untuk menghindari aku.
Terlambat, terlambat....!” Sambil berkata demikian, ia
meraih sebatang sumpit yang terletak di depan bongpai
(batu nisan) yang tadinya disediakan untuk
memperlengkapi alat alat sembahyang, kemudian sekali
tangannya menyentil, sumpit itu meluncur mengenai batu
nisan, terus amblas dan tembus sampai ke dalam kuburan.
Agaknya sumpit itu terus menembus peti mati, karena
terdengar suara di dalam tanah belakang bongpai!
“Tosu siluman jangan ganggu makam suhu!” Tiba tiba
Beng Han, bocah yang semenjak suhunya meninggal tak
pernah terpisah dari jenazah suhunya sampai jenazah itu
dimasukkan.peti dan dikubur, melompat marah dan
menyerang tosu itu kalang kabut! Anak berusia enam tahun
ini mengalami kedukaan besar karena kematian suhunya
yang amat ia sayang. Sebagai seorang murid baru yang
merasa dirinya terpisah dari keluarga Song, merasa dirinya
sebagai “orang luar” yang sebetulnya tidak berhak, ia tidak
berani mencampurkan diri ikut berkabung dengan anak
cucu kakek Song. Akaa tetapi selama kakek itu meninggal
sampai dikuburnya, bocah ini tidak tidur dan hampir tidak
mau makan kalau tidak dipaksa karena malu hati kepada
Tek Hong yang menjadi orang satu satunya yang suka
memperhatikan bocah ini. Mukanya menjadi pucat dan
nampak kurus, akan tetapi sepasang matanya bersinar sinar
penuh kebencian dan kemarahan ketika ia menyerbu tosu
yang menyerang makam suhunya dengan sumpit itu.
Tosu yang mengaku berjutuk Pat pi Locu (Nabi Locu
Bertangan Delapan) ini tertegun ketika melihat bocah yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengaku sebagai murid Thian te Kiam ong ini. Bagaimana
kakek Song itu dapat mempunyai seorang murid yang
usianya baru enam tahunan? Dan ia melihat betapa
serangan bocah itu sama sekali tidak ada artinya,
sungguhpun gerakan gerakannya merupakan dasar gerakan
ilmu silat tinggi, namun jelas ternyata bahwa bocah ini
belum memiliki kepandaian, akan tetapi dasar dasar
gerakan yang baik sekali ditambah ketabahan dan semangat
besar itu membuat Pat pi Lo cu memuji kagum.
“Kemala belum digosok! Anak baik sekali!” Ia tidak
menghiraukan pukulan pukulan kedua tangan Beng Han
yang diarahkan ke perut dan bagian tubuh mana saja yang
dapat dipukul. Bing Han merasa seperti memukul gunung
batu karang kedua kepalan tangannya sakit sakit, akan tetap
dengan nekat ia memukuli terus, sambil tiada hentinya
memaki, “Tosu jahat, jangan ganggu makamsuhu!”
“Beng Han, mundur!” Tek Hong membentak sutenya
yang dianggapnya lancang itu. Kemudian ia menarik
tangan bocah itu sehingga Beng Han terhuyung ke belakang
dan jatuh terduduk. Bocah itu masih mengepal kedua
tinjunya dan matanya masih melotot terus menatap tosu
itu. Dengan tenang Song Tek Hong mengambil sumpit
kedua dari depan bongpai, lalu berkata.
“Totiang, kau datang datang menyerang makam ayahku,
terpaksa aku membalas perbuatanmu dengan serangan yang
sama!” Setelah berkata demikian, sumpit di tangannya itu
melayang dengan cepat sekali, meluncur bagaikan anak
panah menuju ke dada tosu jubah kuning itu. Dengan
mengeluarkan suara “bret!” sumpit itu menembusi jubah
dan menancap pada dada Pat pi Locu, menancap hampir
setengahnya seperti anak panah tenartcap di batang pohon
saja. Akan tetapi tosu itu tidak roboh malahan tertawa
sambil mengangguk angguk.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tidak jelek, tidak jelek....! Tenagamu cukup hebat.”
Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan
tubuhnya dan... sumpit yang menancap pada dadanya itu
meluncur keras dan jatuh di tempat yang jauh, tidak kurang
dari lima tombak dari tempat ia berdiri. Jubah pada
dadanya masih berlubang akan tetapi tidak adanya darah
sedikit pun juga membuktikan bahwa ia tidak terluka,
Melihat itu, tahulah Tek Hong dan yang lain lain bahwa
mereka berhadapan dengan seorang yang lweekangnya
sudah mencapai tingkat tinggi daripada tingkat mereka.
Maka mereka bersikap hati hati.
“Bagus, bagus, jadi sicu ini putera Thian te Kiam ong?”
kembali tosu itu berkata sambil memandang Tek Hong
dengan penuh perhatian.
“Betul aku adalah Song Tek Hong dan Thian te Kiam
ong adalah ayahku. Totiang siapakah dan apa artinya
semua perbuatan totiang yang tidak pada tempatnya ini?”
Tosu itu tertawa terbahak bahak sambil berdongak ke
udara.
“Aku orang sial, kalau dua hari sebelum ayahmu mati
aku datang, tentu akan terlaksana idam idaman hatiku. Aku
dipanggil orang Pat pi Locu dari barat. Karena sudah
puluhan tahun aku mendengar betapa tokoh tokoh dari
barat terutama dari Tibet, roboh oleh pedang ayahmu yang
disebut Kim kong kiam, maka sengaja aku datang jauh jauh
dari tempat yang ribuan mil jauhnya, hanya untuk mencoba
ilmu pedang dari Raja Pedang. Tidak tahunya Si Raja
Pedang telah mati. Di dunia ini mana ada Raja Pedang ke
dua? Kecuali....” Tosu itu memandang kepada Tek Hong
dengan meragukan, “kecuali kalau ada di antara anak
cucunya yang telah mewarisi ilmu pedangnya. Hmm,
sekiranya ada, boleh juga dia itu mewakili Thian te Kiam
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ong, hendak kubuktikan apakah kepandaian Raja Pedang
itu dapat menahan ilmu pedangku selama duapuluh jurus.”
Kata kata ini merupakan tantangan dan hinaan terhadap
nama besar Thian te Kiam ong. Beng Han berteriak,
“Tosu bau! Tunggulah kau sepuluh tahun lagi! Aku Thio
Beng Han akan mewakili suhu dan memberi hajaran
kepada kau ini manusia sombong! Suhu ketika hidupnya
memang seorang pendekar besar yang patut disebut Raja
Pedang, siapa yang tidak tahu akan hal ini? Kecuali kau,
tosu bau yang sombong!”
“Beng Han, diam!” kembali Tek Hong membentak. Ia
maju selangkah, memberi hormat kepada tosu itu.
“Totiang, kau tentu tahu bahwa kami keluarga Song sedang
berkabung dan diliputi kedukaan. Kau seorang beragama
apakah tidak dapat merasai hal ini dan tidak mau
menghormat perkabungan? Dalam keadaan seperti ini,
kami menysal tak dapat melayani kehendakmu yang
mencari cari keributan. Datanglah tiga tahun lagi setelah
kami melepaskan perkabungan.”
“Ha, ha, ha, aku hanya hendak menguji ilmu pedang
dari Thian te Kiam ong. Siapa meghendaki keributan? Aku
mau membuktikan apakah betul betul ilmu pedang Thian te
Kiam ong tidak terkalahkan. Kalau diantara kalian tidak
ada yang menuruni Thian te kiam ong dan tidak becus
mainkan pedang, sudahlah, memang nasibku yang sial.”
Baru saja ia menutup kata katanya, terdengar “sreet!”
dibarengi sinar berkilauan dan di lain saat Song Tek Hong,
Ong Siang Cu, Song Siauw Yang, Liem Pun Hui, Song Bu
Hui dan Liem Kong Hwat enam orang telah mencabut
pedang masing masing hampir berbareng dan
menodongkan ujung pedang pada tosu itu. Gerakan
mereka, kecuali Liem Pun Hui seorang yang ilmu silatnya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
masih rendah adalah amat cepat dan luar basa sehingga Pat
pi Lo cu menjadi tercengang.
“Aduh.... aduh.... hebat. Pantas sekali kalau disebut
bahwa keluarga Song adalah keluarga pendekar pedang
besar. Akan tetapi, apakah kalian enam orang ini hendak
mengeroyok aku seorang?Ha, ha, ha!”
“Tosu sombong, untuk memukul anjing saja mengapa
harus menggunakan tongkat besar? Tak perlu orang orang
tua yang maju, aku seorangpun cukup untuk melayanimu.
Kau majulah!” Yang berkata demikian ini adalah Song Bi
Hui. Gadis ini memang berdarah panas dan berwatak keras
seperti ibunya, lagi pula ia berani sekali. Sejak tadi ia sudah
mendongkol sekali melihat lagak tosu ini, hanya ia tahan
tahankan hatinya karena ia takut kepada ayahnya.
Sekarang, dengan pedang di tangan ia menantang tosu itu
secara terang terangan.
Tantangan sudah terlanjur dikeluarkan, Tek Hong dan
yang lain lain tidak dapat menarik kembali untuk menjaga
nama besar keluarga mereka Hanya Tek Hong dan Siang
Cu merasa gelisah sekali karena mereka maklum benar
bahwa puteri mereka sama sekali bukan lawan tosu yang
lihai itu. Agar jangan disangka hendak mengeroyok
terpaksa yang lain lain mengundurkan diri, kecuali Liem
Kong Hwat. Ketika Song Siauw Yang menyuruh puteranya
mundur, pemuda ini berkata. “Ibu, biarkan aku membantu
adik Bi Hui menghadapi mereka!”
“Ha, ha, ha! Apakah ini juga anak anak murid dan Thian
te Kiam ong?” tosu itu bertanya.
“Kami berdua adalah cucu dari Thian te Kiam ong. Tak
perlu orang tua kami maju, kami berdua cukup untuk
mengusir kau, tosu jahat!” sahut Bi Hui dengan pedang
melintang di dada, sikapnya garang dan gagah sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Suhu, sudah jauh jauh ikut dengan suhu, berilah teecu
berdua kesempatan untuk main main dengan ilmu pedang
dan Thian te Kiam ong juga. Kalau teecu berdua kalah,
baru suhu yang melayani mereka,” kata seorang di antara
dua orang laki laki yang sejak tadi mendampingi Pat pi Lo
cu. Mereka ini adalah murid murid dan Pat pi Lo cu.
Keduanya orang orang berbangsa Mongol yang sudah sejak
kecil berada di Tibet dan nama mereka adalah Ma Thian
dan Ma Kian. Sebagai murid murid dari Pat pi Lo cu yang
tersayang, mereka ini memang gagah perkasa dan berilmu
tinggi.
Ketika Pat pi Lo cu sambil tersenyum mengangggukkan
kepala dan melompat mundur, dua saudara kembar she Ma
ini lalu mencabut pedang dan menghadapi Bi Hui dan
Kong Hwat.
“Kami berdua saudara Ma mohon dari ji wi siauwhiap
(kedua pendekar muda)!” Memang mereka adalah kakak
beradik kembar yang amat terkenal di dunia barat dengan
nama julukan mereka See thian Siang cu (Sepasang Mustika
dari Barat). Mereka ini sebetulnya Lo cu dan sejak tadi
orang sudah tertarik melihat persamaan itu.
Bi Hui yang tidak sabaran tidak mau berlaku sungkan
sungkan lagi. Pedangnya berkelebat cepat melakukan
serangan kilat bertubi tubi, disusul oleh Kong Hwat yang
tidak mau ketinggalan. Dibandingkan dengan Kong Hwat,
ilmu pedang dari Bi Hui biarpun dari satu cabang, namun
lebih banyak ragamnya, serta lebih berkembang kembang.
Dasarnya memang Kim kong Kiam sut, akan tetapi ilmu
pedang ini tidak sembarangan dapat ditatih oleh semua
orang. Amat sukar dan dilihat dan latihan latihannya saja,
agak membosankan dan seperti tidak ada gunanya. Oleh
karena itu jarang orang yang dapat melatih diri sampai
sempurna betul. Bahkan Tek Hong dan Siauw yang sendiri
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang menerima langsung dari kakek Song, masih belum
dapat memetik setengahnya dari ilmu pedang ayah mereka.
Oleh karena inilah maka Bi Hui mencampur pelajaran
ilmu pedang ayahnya dengan ilmu pedang dari ibunya yang
memiliki ilmu pedang yang amat ganas dan tangkas,
warisan dari ilmu kepandaian Lam hai Lo mo. Dalam ilmu
pedang, di antara dua orang cucu Thian te Kiam ong ini. Bi
Hui lebih ungggul dan berbahaya. Akan tetapi, Kong Hwat
lebih tenang dan memiliki keuletan serta tenaga lweetang
yang lebih besar.
Akan tetapi, dua orang muda yang biasanya amat
bangga akan kepandaian mereka yang memang sudah amat
tinggi kalau dibandingkan dengan orang orang muda
sebaya, kali ini menemui tandingan setimpal. Sepasang
saudara kembar itu ternyata memiliki ilmu pedang yang
kuat dan cepat, juga tenaga mereka besar. Yang lebih
membingungkan adalah karena mereka itu tidak saja
bermuka sama, berpakaian sama. akan tetapi juga gerakan
ilmu pedang mereka serupa benar dan mereka bertempur
secara berganti ganti, sebentar seorang melayani Bi Hui,
lalu dengan gerakan teratur dan cepat ia telah berganti
lawan, menghadapi Kong Hwat. Di “kocok” seperti ini oleh
sepasang saudara kembar yang cocok dalam kerja samanya,
Bi Hui dan Kong Hwat menjadi bingung juga. Akan tetapi
dua orang muda ini adalah keturunan pendekar pendekar
besar, ilmu silat mereka mempunyai dasar yang ampuh dan
hebat, maka dua orang saudara kembar itu masih belum
dapat dikatakan menang, sungguhpun tak dapat disangkal
pula mereka berada di pihak yang menekan.
Limapuluh jurus berlalu dengan cepatnya dan
pertempuran di makam pendekar pedang besar Thian te
Kiam ong masih berlangsung terus dengan hebat. Benar
benar luar biasa sekali Thian te Kiam ong Song Bun Sam.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tidak saja di waktu hdupnya terkenal sebagai Raja Pedang
dan tokoh kang ouw yang terkenal, bahkan untuk
“merayakan” hari pemakamannya saja di tanah
kuburannya dilakukan pertempuran pedang yang hebat!
Benar benar merupakan “penghormatan” istimewa bagi
makam kakek Song Si Raja Pedang.
Tiba tiba berkelebat bayangan kuning di dahului oleh
sinar pedang putih yang menyerbu masuk ke dalam
kalangan pertempuran.
“Cring cring cring cring....!” Empat batang pedang dari
Bi Hui, Kong Hwat, dan kedua orang lawannya terpental
oleh sinar pedang putih itu dan empat orang ini dengan
cepat melompat ke belakang. Ternyata bahwa yang
menolak empat pedang itu adalah Pat pi Lo cu yang kini
telah berdiri di tengah dengan pedang di tangan dan
tersenyum senyum.
“Cukup! Dapat menghadapi murid muridku selama
limapuluh jurus, tanda bahwa kedatanganku tidak sia sia!
Cucunya begini lihai, tentu anak dari Thian te Kian ong
cukup berharga untuk memberi pelajaran kepadaku Song
sicu, majulah mewakili ayahmu, mari kita main main saling
menukar siasat ilmu pedang, hitung hitung ukuran sampai
di mana tingginya Kim kong Kiam sut dan Tee coan Liok
kiam sut!”
Pat pi Lo cu agaknya tidak tahu bahwa dahulu kakek
Song telah mempelajari ilmu pedang dari Bu tek Kiam ong
dan ia telah berhasil menggabung semua ilmu pedang yang
pernah ia pelajari menjadi semacam ilmu pedang yang luar
biasa, dan biarpun tetap ilmu pedang itu diberi nama Kim
kong Kiam sut sesuai dengan nama pedang yang
dipergunakannya, namun sudah jauh bedanya dengan Kim
kong Kiam sut yang di pelajarinya dari Kim Kong Taisu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mendengar tantangan Pat pi Lo cu ini, Song Tek Hong
dan Song Siauw Yang melompat maju, keduanya sudah
membawa pedang di tangan.
“Apakah niocu juga anak dan Thian te Kiam ong?”
tanya Pat pi Lo cu sambil memandang kepada Siauw Yang
yang bersikap gagah “Betul! Kami berdua adalah keturunan
dari Thian te Kiam ong. Kau ini tosu tak tahu adat berani
sekali menghina makam ayah, benar benar sudah bosan
hidup!”
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:

Best Cersil

Pecinta Cersil