Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 18 September 2017

Cersil Sip Si Bangau Merah 3

Cersil Sip Si Bangau Merah 3 Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Sip Si Bangau Merah 3
kumpulan cerita silat cersil online
-
"Tentu saja aku kembali, Suhu. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Suhu seorang diri di sini? Kalau
Suhu mau keluar bersamaku, baru aku akan meninggalkan sumur ini."
"Hemm, terlalu berbahaya, Yo Han. Dalam keadaanmu sekarang, kalau kita keluar dan bertemu lawan,
tentu kau akan celaka. Aku sendiri tidak sudi menjadi tontonan orang. Tidak, engkau harus mewarisi
semua ilmuku lebih dahulu, terutama Bu-kek Hoat-keng, baru engkau boleh meninggalkan sumur ini."
"Sekali lagi kutekankan, Suhu, bahwa aku tidak mau mempelajari ilmu silat, tidak mau mempelajari ilmu
berkelahi dan ilmu memukul dan membunuh orang!" Yo Han berkata dengan nada suara yang terdengar
tegas dan mantap.
Kakek itu menghentikan minumnya, meletakkan kembali guci arak ke atas tanah setelah menutup gucinya,
dan dia memandang muridnya dengan mata penuh selidik. "Muridku yang baik, apakah yang baru kau
ucapkan itu sudah keluar dari hati nuranimu? Sudah kau pikirkan masak-masak dan engkau tidak akan
keliru lagi?"
"Tentu saja, Suhu. Sejak kecil, mendiang kedua orang tuaku selalu menasehatiku agar aku hidup melewati
jalan yang benar, selalu menjauhi segala macam bentuk kekerasan, terutama sekali jangan mempelajari
ilmu silat karena kehidupan seorang ahli silat penuh dengan pertentangan, permusuhan, perkelahian dan
saling bunuh serta saling dendam. Orang tuaku sendiri tewas karena ibuku seorang ahli silat. Andai kata
sejak kecil ibuku tidak pandai silat seperti ayahku, tentu mereka kini masih hidup sebagai petani-petani
yang bahagia dan aku tidak menjadi yatim piatu. Tidak, Suhu, aku tidak suka ilmu silat, aku benci ilmu
silat!"
"Ha-ha-ha-ha! Sebaliknya, muridku. Jika ibu dan ayahmu memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, tak
mungkin mereka akan terbunuh. Kalau mereka tewas, itu adalah karena ilmu silat mereka kurang tinggi,
sehingga mereka tak mampu membela diri dengan baik. Kalau mereka tidak pandai ilmu silat, lalu siapa
yang melindungi mereka? Kalau engkau membenci ilmu silat, siapa yang akan melindungimu?"
Pemuda remaja itu menentang pandang mata gurunya dengan berani dan bersungguh-sungguh. "Kenapa
takut, Suhu? Kita hidup ada yang menghidupkan, mati pun ada yang mematikan, kita ada karena
diciptakan Tuhan. Tuhan merupakan pelindung utama dan kalau Tuhan melindungi kita, siapa yang akan
mampu mengganggu kita?”
"Bagus! Benar sekali itu, Yo Han. Bila Tuhan tidak menghendaki kita mati, tentu Tuhan akan melindungi
kita dan tak ada seorang pun di dunia ini akan mampu membunuh kita. Akan tetapi bagaimana kalau
Tuhan sudah menghendaki kita mati? Punya ilmu silat atau tidak, bisa saja kita mati dibunuh orang kalau
memang Tuhan sudah menghendaki kita mati. Bahkan tanpa ada yang mengganggu pun ia akan mati
sendiri, ha-ha-ha!"
Yo Han tertegun mendengar ucapan kakek itu. Di dalam hatinya dia tidak mampu lagi membantah
kebenaran itu.
“Ayah ibumu memang tewas dalam perkelahian, akan tetapi tentu saja mereka itu tewas hanya karena
Tuhan telah menghendaki mereka mati. Andai Tuhan tidak menghendaki, mereka tentu tak akan mati.
Hanya Tuhan yang menentukan mati hidupnya seseorang, Tuhan Maha Kuasa!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi hanya sebentar dia termangu, lalu dia menggeleng kepala. "Bagaimana pun juga, aku tidak
suka belajar ilmu silat, Suhu. Ilmu silat adalah jahat!"
"Jahat? Ha-ha-ha, Yo Han, kau tahu apa tentang jahat dan baik? Lihat, barang-barang yang kau bawa
turun itu! Lihatlah barang-barang itu, kapak, gunting, jarum, pisau, catut dan martil. Apakah semua itu tidak
jahat sekali?"
Yo Han memandang gurunya dengan heran dan dia cepat menjawab. "Tentu saja tidak jahat, Suhu!
Barang-barang itu baik dan berguna sekali. Kapak itu bisa kita pergunakan untuk memotong kayu atau
menggali tanah padas ini, gunting itu untuk menggunting kain, jarum dan benang untuk menjahit, pisau itu
untuk menyayat roti dan daging, catut dan martil untuk membuat perabot dari kayu dan sebagainya."
Kembali kakek itu tertawa. "Lalu bagaimana dengan kedua tanganmu itu? Jahat atau baikkah kedua
tanganmu itu?"
Yo Han memandang kedua tangannya dan kembali menatap wajah gurunya. "Tentu saja baik, Suhu,
karena dengan kedua tangan ini teecu (murid) dapat melakukan semua pekerjaan yang bermanfaat itu."
"Sekarang dengar baik-baik! Bagaimana kalau kapak itu dipergunakan untuk mengapak kepala orang, lalu
gunting itu untuk menusuk perut orang, pisau untuk menyayat leher orang, dan jarum untuk disambitkan
menyerang lawan, juga catut dan martil itu untuk menyerang orang lain. Apakah semua itu masih dapat
dinamakan barang yang baik dan berguna?"
Yo Han terbelalak. Tak pernah tergambar dalam benaknya bahwa benda-benda itu akan ada yang
menggunakan untuk kejahatan seperti itu. "Tapi... tapi..."
"Dan bagaimana pula dengan kedua tanganmu itu, Yo Han? Kalau kedua tanganmu itu kau pergunakan
untuk mencekik leher orang lain, untuk memukul dan menyiksa, apakah kedua tangan itu masih kau
katakan baik dan tidak jahat?"
"Wah, wah, itu tidak mungkin, Suhu!" kata Yo Han kaget.
"Nah, itulah! Yang mengatakan tidak mungkin itulah yang menentukan, Yo Han. Kalau engkau mengatakan
tidak mungkin, maka kejahatan itu pun takkan terjadi. Jika engkau mengatakan mungkin saja, maka
kejahatan itu akan terjadi. Jadi bukan benda-benda itu yang menentukan, melainkan batin orangnya!
Seseorang dapat menggunakan api untuk memasak dan membuat lampu penerangan, akan tetapi dapat
pula orang menggunakan api untuk membakar rumah orang lain! Jadi, Si Api itu sendiri tidak baik dan tidak
jahat, baru dinamakan jahat atau baik bila sudah dipergunakan. Yang jahat dan baik itu adalah apa yang
disembunyikan di balik perbuatan itu, Yo Han, yaitu pamrih yang mendorong dilakukannya perbuatan itu.
Seperti tanganmu, dapat digunakan untuk menolong orang dan itu dikatakan baik, juga bisa digunakan
untuk membunuh orang, dan itu dinamakan jahat. Tidak benarkah ini?"
Yo Han mengangguk, tak dapat berbuat lain. Memang demikianlah kenyataannya. "Kini aku mengerti,
Suhu. Jadi yang mendatangkan kejahatan atau kebaikan adalah apa yang berada di dalam diri manusia,
dalam batin manusia itu yang menentukan. Ada pun ini hanyalah alat, bukankah demikian, Suhu?"
"Benar sekali! Karena itu, yang perlu dibersihkan adalah batinnya! Kalau batinnya bersih dan baik, maka
alat apa pun yang dipergunakan, tentu demi kebenaran dan kebajikan. Sebaliknya jika batinnya sudah
kotor dan jahat, alat apa pun yang dipergunakan dalam perbuatan, condong ke arah kejahatan."
"Teecu (murid) mengerti! Dan memang apa yang Suhu katakan itu benar sekali!"
"Nah, sekarang kita kembali pada ilmu silat. Baik atau jahatkah ilmu silat? Sama seperti semua benda itu
tadi, Yo Han. Tidak baik dan tidak jahat. Jika ilmu silat tidak digunakan, maka tidak ada jahat atau baik
yang ditimbulkan oleh ilmu itu. Tetapi setelah digunakan, barulah timbul baik atau jahat, sesuai dengan
cara orang itu mempergunakannya. Kalau ilmu silat digunakan untuk melakukan kejahatan, merampok,
membunuh, memaksakan kehendak sendiri untuk menang, jelas ilmu itu menjadi alat berbuat kejahatan.
Akan tetapi kalau Si Orang mempergunakannya seperti yang dilakukan para pendekar, untuk menentang
mereka yang jahat, untuk melindungi mereka yang lemah tertindas, untuk membela diri terhadap ancaman
bahaya dari luar, apakah kita dapat menamakan ilmu silat itu jahat? Ingat, muridku. Kau tahu harimau?
Mengapa Tuhan menciptakan harimau dengan diberi kuku dan taring? Kenapa lembu bertanduk? Ular
berbisa? Ulat berbulu gatal? Semua itu merupakan alat bagi mereka untuk bertahan hidup, untuk
dunia-kangouw.blogspot.com
melindungi diri sendiri. Manusia merupakan makhluk paling lemah, tanpa kuku, tanpa taring, tanpa tanduk
untuk menjaga diri. Tetapi manusia memiliki kelebihan, yaitu akal budi. Dengan akal budi inilah manusia
mengadakan segala macam alat untuk bertahan hidup, untuk melindungi dirinya dari bahaya. Dan ilmu silat
termasuk hasil garapan akal budi manusia untuk melindungi diri terhadap ancaman dari luar tubuh, selain
itu juga untuk menjaga kesehatan dan melepaskan naluri kesenian melalui gerakan silat. Ilmu silat
merupakan gerakan manusia yang mengandung unsur kesenian, kesehatan, bela diri, juga untuk membela
mereka yang lemah tertindas. Nah, betapa luhur dan indahnya ilmu silat, kalau dikuasai oleh orang yang
memiliki batin bersih!”
Mendengar semua itu, Yo Han termenung sampai lama sekali. Teringat ia akan nasehat ayah ibunya yang
melarangnya belajar silat. Terbayang kembali semua peristiwa dan pengalamannya ketika ilmu silat
dipergunakan orang jahat untuk melakukan kejahatan.
Akan tetapi juga ilmu silat dipegunakan oleh para pendekar seperti suhu dan subo-nya yang pertama kali,
yaitu pendekar Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li. Teringat pula dia akan Tan Siang Li, puteri suhu
dan subo-nya itu. Suhu dan subo-nya berkeras hendak mengajarkan ilmu silat kepada Sian Li, dan takut
kalau Sian Li sampai terbawa olehnya, membenci ilmu silat.
Dia membayangkan Sian Li sebagai seorang gadis lemah yang tentu akan menghadapi banyak ancaman
gangguan, lalu membayangkan Sian Li sebagai seorang gadis yang pandai ilmu silat, gagah perkasa.
Bukan hanya pandai dan kuat membela diri sendiri, tetapi juga dapat membela orang lain yang tertindas
dan menjadi korban kejahatan, menentang para penjahat dan menjadi seorang pendekar wanita.
Tiba-tiba Yo Han menyadari itu semua dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kakek buntung itu.
“Suhu benar, teecu sekarang mengerti bahwa baik buruknya bukan terletak pada ilmu silat, melainkan
dalam batin orang yang menguasainya.”
"Bagus sekali, Yo Han. Jadi, sejak saat ini engkau mau belajar ilmu silat dariku, bukan? Terutama sekali
Bu-kek Hoat-keng?"
Yo Han mengangguk. "Mudah-mudahan kelak teecu akan mendapat bimbingan Tuhan sehingga semua
ilmu itu hanya akan teecu pergunakan untuk membela kebenaran dan bukan untuk mencari permusuhan
dan membunuh orang."
"Aku yakin akan hal itu, Yo Han. Engkau bukan seorang calon penjahat. Engkau telah dikaruniai bakat
yang amat luar biasa. Tuhan amat mengasihimu, Yo Han."
Demikianlah, mulai saat itu, Yo Han menerima pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi dari kakek Ciu Lam Hok.
Tentu saja kakek itu sama sekali tidak dapat memberi contoh gerakan. Dia hanya menerangkan dan minta
Yo Han melakukan gerakannya, dan kalau keliru, dia menjelaskan. Untuk melatihnya, dia mengajak Yo
Han untuk bertanding dan biar pun dia hanya menggunakan pundak, rambut dan tabrakan tubuhnya, sukar
sekali bagi Yo Han untuk dapat bertahan.
Namun Yo Han belajar terus dengan penuh semangat di dalam sumur itu sehingga dia memperoleh
kemajuan pesat. Apa lagi sebelumnya dia telah menguasai ilmu-ilmu ‘tari’ dan ‘senam’ yang sebenarnya
mengandung dasar-dasar ilmu silat tinggi dari Thian-te Tok-ong. Juga sebelum itu dia sudah hafal akan
dasar-dasar ilmu silat dari suhu dan subo-nya, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, walau pun pengetahuannya
hanya sampai batas teori dan hafalan saja…..
********************
Kita tinggalkan dulu Yo Han yang dengan tekun berlatih ilmu digembleng kakek Ciu Lam Hok dalam sumur
dan kita tengok keadaan di luar sumur.
Meski pun lenyapnya Yo Han yang mereka sangka tentu sudah mati bersama kakek Ciu Lam Hok di dalam
sumur membuat para tokoh Thian-li-pang merasa agak kecewa, oleh karena mereka tadinya
mengharapkan anak luar biasa itu kelak akan bisa memperkuat Thian-li-pang, akan tetapi mereka
mempunyai urusan yang lebih penting dan segera melupakan anak dan kakek itu yang mereka anggap
sudah mati.
Pada saat Yo Han memasuki sumur pertama, para pimpinan Thian-li-pang mengadakan pertemuan
penting, bahkan Thian-te Tok-ong dan Ban-tok Mo-ko juga turut hadir dalam pertemuan puncak itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdapat pula wakil dari Pek-lian-kauw, bukan saja Ang-I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw yang
selama ini memang telah bekerja sama dengan mereka, yaitu Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, bahkan
ada seorang tosu tingkat tinggi dari Pek-lian-kauw datang pula, yaitu Pek Hong Siansu, seorang tokoh
kelas dua dari Pek-lian-kauw yang mewakili pimpinan perkumpulan itu.
Mereka membicarakan tentang surat yang mereka terima dari kaki tangan Thian-li-pang yang telah mereka
sebar sebagai mata-mata untuk melihat perkembangan permusuhan antara empat partai persilatan besar
yang sudah mereka adu domba. Pembunuhan atas diri Thian Kwan Hwesio di kuil Pao-teng juga adalah
perbuatan para tokoh Thian-li-pang untuk memperuncing permusuhan akibat adu domba itu.
Dan surat yang mereka terima adalah surat laporan dari mata-mata mereka. Isinya amat mengecewakan
hati para pimpinan Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw. Laporan itu terang menyatakan bahwa kini
permusuhan di antara partai-partai persilatan itu telah mereda, dan tidak pernah terjadi bentrokan lagi.
Semua itu akibat usaha bekas panglima Kao Cin Liong dan keluarga keturunan Pendekar Naga Sakti
Gurun Pasir bersama keturunan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.
Belum lama ini Kao Cin Liong mengadakan perayaan ulang tahun yang ke enam puluh empat, dan
keluarga para pendekar itu mengundang para tokoh dari dunia persilatan sebagai tamunya, termasuk pula
empat partai besar, yaitu Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai serta Go-bi-pai. Dalam pertemuan itu, di
mana suasananya ramah karena semua tamu amat menghormati tuan rumah, Kao Cin Liong dan
keluarganya mengajak empat partai besar yang mengirim wakil-wakilnya untuk bicara secara terbuka dan
dari hati ke hati.
Kao Cin Liong menceritakan tentang pembunuhan yang dilakukan terhadap Thian Kwan Hwesio, bahkan
dia sendiri dan isterinya sempat terluka ketika membela hwesio itu. Biar pun sebelum meninggal Thian
Kwan Hwesio mengatakan bahwa yang menyerangnya adalah orang-orang Bu-tong-pai, namun dia
merasa curiga dan tidak percaya. Apa lagi ketika para pimpinan Bu-tong-pai menyangkal.
Kao Cin Liong bercerita mengenai luka beracun akibat racun ular hitam yang biasanya hanya digunakan
tokoh-tokoh sesat. Keterangan Kao Cin Liong yang dihormati semua utusan partai persilatan besar itu
mendatangkan kesan mendalam, apa lagi ketika Suma Ceng Liong yang namanya sudah sangat terkenal
dan amat disegani semua orang turut menyatakan pendapatnya, semua orang mendengarkan dengan
penuh perhatian.
"Cuwi adalah orang-orang yang selalu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, serta bersikap gagah
dan bijaksana. Karena itulah, mengingat bahwa empat partai persilatan Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Butong-
pai dan Go-bi-pai adalah partai-partai besar yang namanya selalu harum, memiliki murid-murid
pendekar, maka tidak semestinya kalau para pimpinan empat partai itu hanya menuruti dendam dan
kemarahan belaka. Saya sudah mendengar tentang peristiwa aneh di Gunung Naga. Tentu Cuwi (Anda
Sekalian) juga sependapat dengan saya bahwa peristiwa itu sungguh patut dicurigai. Amat mudah
dimengerti bahwa tentu ada pihak ke tiga yang agaknya sengaja ingin mengadu domba! Saya condong
berpendapat bahwa pelaku-pelaku kejahatan itu, baik para pembunuh yang beraksi di Gunung Naga, mau
pun pembunuh Losuhu Thian Kwan Hwesio, sudah pasti pihak ke tiga yang hendak mengadu domba
antara Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai! Oleh karena itu, apa bila Cuwi tidak menghentikan permusuhan
antara saudara sendiri, itu berarti Cuwi dengan mudah dapat dipermainkan oleh pihak ke tiga yang
mengadu domba."
Semua orang mengangguk, mereka menyatakan setuju dengan pendapat dari pendekar yang sangat
mereka hormati itu. Diam-diam mereka pun menduga-duga, siapa kiranya yang amat berani melakukan
pembunuhan-pembunuhan untuk mengadu domba antara partai-partai persilatan.
Ada di antara mereka yang menduga bahwa pihak ketiga itu mungkin saja pemerintah Kerajaan Mancu
yang tentu ingin melihat partai-partai persilatan itu saling bermusuhan dan menjadi hancur atau lemah
sendiri supaya tidak membahayakan pemerintah lagi. Akan tetapi Kao Cin Liong menggelengkan kepala.
"Bukan karena saya pernah menjadi panglima Kerajaan Mancu maka saya terpaksa tidak menyetujui
dugaan itu. Kita semua tahu bahwa Kaisar Kian Liong, walau pun dia seorang Mancu dan sebagai manusia
biasa tentu saja memiliki kelemahan-kelemahan, sejak muda dia sudah bergaul akrab dengan para
pendekar. Dia seorang yang selalu bersikap bijaksana dan ingin bersahabat dengan partai-partai persilatan
besar. Dia pun sangat cerdik, maka saya tidak percaya bahwa dia akan melakukan suatu kebodohan
dengan memusuhi para partai persilatan besar dan menjadikan mereka sebagai musuh. Hal itu hanya akan
dunia-kangouw.blogspot.com
membuat kedudukannya lemah. Tidak, saya yakin bahwa pihak ke tiga itu bukan pemerintah. Perbuatan itu
bukan menolong pemerintah, melainkan malah membahayakannya."
Semua orang setuju dengan pendapat bekas panglima itu. Akan tetapi mereka menjadi semakin bingung.
Lalu siapa lagi yang patut dicurigai dan dituduh menjadi pihak ke tiga yang mengadu dombakan mereka?
Akhirnya Kao Cin Liong yang memberi usul.
"Yang terpenting lebih dulu adalah persatuan di antara kita semua. Setelah kita yakin bahwa ada pihak ke
tiga yang mengadu domba, maka para pimpinan masing-masing harus menjaga sekuatnya agar tidak ada
anak buah atau murid yang saling bermusuhan lagi. Semua murid harus diberi tahu bahwa permusuhan itu
timbul karena adu domba, dan semua bentrokan yang pernah ada agar dianggap selesai saja. Tidak ada
dendam, tiada permusuhan sehingga dengan sikap demikian kita mendapatkan dua keuntungan. Pertama,
kita telah menggagalkan niat busuk pihak ke tiga itu. Ke dua suasana menjadi tenteram dan dalam
keadaan tenteram itu, kita semua bekerja sama untuk melakukan penyelidikan agar pihak ke tiga itu dapat
kita ketahui siapa dan kelak kita bersama-sama mengambil tindakan terhadap mereka."
Kembali semua orang setuju dan pertemuan itu lalu benar-benar menjadi sebuah pesta yang
menggembirakan di mana para wakil empat partai persilatan itu dapat berbincang-bincang dengan hati
lega karena semua perasaan dendam telah dihapus dengan penuh pengertian bahwa mereka semua
menjadi korban fitnah dan adu domba.
Demikianlah, para mata-mata Thian-li-pang kini melaporkan semua peristiwa itu kepada pimpinan Thian-lipang
dan Pek-lian-kauw. Tentu saja para pimpinan itu menjadi sangat kecewa.
"Ini kesalahan Si Keparat Thian Kwan Hwesio itu!" kata Ouw Ban, Ketua Thian-li-pang sambil mengepal
tinju. "Dia dapat melarikan diri ke atas rumah keluarga Kao Cin Liong sehingga melibatkan keluarga itu.
Dan sekarang, keluarga itu pula yang menggagalkan siasat yang telah kita atur sebaiknya."
"Memang. itu suatu kesialan," kata gurunya, yaitu Ban-tok Mo-ko. "Kita atur semua itu dengan tujuan agar
empat partai persilatan saling bermusuhan. Tetapi kini mereka tidak saling bermusuhan lagi, bahkan
menyadari bahwa ada pihak ke tiga yang mengadu domba. Semua ini adalah akibat ikut campurnya
keluarga Kao Cin Liong."
"Kita sikat saja mereka! Kita basmi Kao Cin Liong dan keluarganya!" kata pula Lauw Kang Hui, wakil ketua
Thian-li-pang dengan muka merah.
"Hemmm, usul yang bodoh sekali itu!" tiba-tiba Thian-te Tok-ong yang sejak tadi diam saja, kini berkata
dan semua orang memandang kakek itu.
Semua orang di situ takut dan menghormati kakek yang hampir tidak pernah keluar dari dalam goa tempat
pertapaannya itu. Hanya untuk urusan yang amat penting saja dia mau bertemu dengan pimpinan Thian-lipang
seperti sekarang ini.
"Apakah kalian belum tahu siapa Kao Cin Liong itu? Dia keturunan Naga Sakti Gurun Pasir, dan isterinya
adalah keturunan Pendekar Super Sakti Pulau Es. Jadi, kalau kita memusuhi mereka, kedua keluarga itu
akan dapat mendatangkan kegagalan pada kita, bahkan mungkin kehancuran. Kita akan membentur batu
karang jika memusuhi mereka. Dan pula, apa untungnya memusuhi mereka? Tujuan kita hanya satu,
menghancurkan pemerintah Kerajaan Mancu!"
Semua orang saling pandang dan berdiam diri. Memang tepat apa yang dikatakan datuk dari Thian-li-pang
itu.
"Siancai...!" Pek Hong Siansu, tokoh Pek-lian-kauw itu tiba-tiba berseru, "Agaknya jalan satu-satunya
haruslah menyalakan api pertentangan antara empat partai itu dengan kerajaan! Oleh karena itu, sekarang
kita harus berusaha membujuk Kaisar Mancu untuk memusuhi mereka."
Semua orang mengangguk-angguk menyatakan persetujuan mereka.
"Sayang sekali hubungan baik yang sudah kita rintis dengan Siang Hong-houw kini telah putus," kata Ouw
Ban Ketua Thian-li-pang. "Bahkan kita sudah kehilangan murid kita yang terbaik, Ciang Sun yang tewas
karena gagal membunuh Kaisar Kian Liong."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Muridmu itu tergesa-gesa," kata pula Thian-te Tok-ong. "Membunuh Kaisar dan para pangeran yang dapat
menggantikannya harus dilakukan dengan cara halus. Kita dapat menggunakan racun. Akan tetapi harus
mencari kesempatan yang baik dan untuk itu kita harus bersabar dan menggunakan waktu. Juga hubungan
dengan Pangeran Kian Ban Kok harus lebih dipererat agar kalau sudah tiba masanya, dia tidak akan
menolak. Sebaiknya kita dekati lagi Siang Hong-houw dan kita menyelundupkan orang ke istana. Walau
pun harus menunggu bertahun-tahun, akan tetapi kita harus bersabar dan sekali bergerak harus berhasil."
"Bagus sekali! Apa yang dikatakan oleh Locianpwe Thian-te Tok-ong itu memang tepat. Kami dari Pek-liankauw
amat menyetujuinya. Kami juga akan menyusun kekuatan dan siap bergerak kalau sudah mendapat
kesempatan baik. Untuk sementara ini, sebaiknya kita dari Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang menahan
kesabaran agar jangan melakukan gerakan yang kasar dulu, agar tidak mengejutkan pihak lawan sehingga
mereka dapat siap siaga," kata Pek Hok Siansu dari Pek-lian-kauw.
Demikianlah, para pemberontak ini akhirnya bersepakat bahwa untuk sementara tidak akan melakukan
gerakan keluar, tidak menggunakan kekerasan, tetapi menggunakan siasat halus untuk menyusup ke
dalam istana, menghubungi kembali Siang Hong-houw dan Pangeran Kian Ban Kok, dan menyusun
kekuatan…..
********************
Anak perempuan berusia dua belas tahun itu mungil dan cantik manis sekali. Ia bersilat dengan gaya yang
indah tetapi gagah. Rambutnya yang hitam panjang dikuncir menjadi dua dan bergantungan di kanan kiri,
diikat dengan pita warna kuning. Ketika ia bersilat, sepasang kuncir itu bergerak-gerak seperti dua ekor ular
hitam, kadang di depan dada, kadang di belakang punggung. Kalau kepala itu digerakkan dengan cepat,
kedua utas kuncir itu pun ikut bergerak meluncur seperti sepasang senjata. Kalau tubuh itu tiba-tiba
merendah, sepasang kuncir itu seperti terbang ke atas kepala.
Gerakan kaki tangannya mantap dan indah, bagaikan gerakan seekor burung bangau merah. Dia adalah
Tan Sian Li yang sedang berlatih di kebun belakang rumah, diamati ayahnya, Tan Sin Hong yang berdiri
menonton sambil bertolak pinggang.
Tan Sian Li kini telah menjadi seorang anak berusia dua belas tahun yang cantik jelita, manis, dan lincah
sekali. Wajahnya yang berkulit putih itu berbentuk bulat telur dengan sepasang mata yang lebar dan jeli,
hidung mancung dan mulutnya yang manis itu selalu mengandung senyum mengejek sehingga sepasang
lesung di pipinya selalu nampak.
Ia sedang memainkan ilmu silat Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Burung Bangau Putih), ilmu silat ayahnya yang
amat lihai. Akan tetapi, karena usianya baru dua belas tahun, maka Tan Sin Hong hanya mengajarkan
gerakannya saja, belum ‘mengisi’ tubuh anaknya dengan tenaga sakti ilmu itu.
Anaknya masih terlalu muda sehingga akan membahayakan kalau tubuhnya menerima kekuatan yang
amat dahsyat itu. Sekarang, anaknya hanya mempelajari dan menguasai gerakannya saja, dan kelak kalau
sudah dewasa, baru akan diisi dengan tenaga sakti sehingga ilmunya itu akan menjadi lengkap.
Selain ilmu silat yang merupakan ilmu simpanan itu, juga Sin Hong mengajarkan semua gerakan dasar
ilmu tinggi yang menjadi dasar ilmu silat Sin-liong Ciang-hoat, ilmu dari Naga Sakti Gurun Pasir yang
menjadi seorang di antara guru-gurunya. Dia juga sudah mengajarkan dasar-dasar dari ilmu yang pernah
dipelajarinya dari dua orang gurunya yang lain, yaitu mendiang nenek Wan Ceng dan kakek Tiong Khi
Hwesio atau Wan Tek Hoat, Si Jari Maut.
Biar pun usianya baru dua belas tahun, namun Sian Li telah menjadi seorang anak yang luar biasa. Ilmu
silatnya sudah hebat bukan main. Jarang ada orang dewasa yang akan mampu menandinginya.
Ketika dia menyelesaikan gerakan terakhir dari Pek-ho Sin-kun, tiba-tiba muncul ibunya, Kao Hong Li. "Ada
tamu yang datang, kalian hentikan dahulu latihan itu, dan mari keluar menyambut tamu!"
Sian Li menghentikan latihannya dan Sin Hong menghampiri isterinya. "Siapakah yang datang
berkunjung?"
"Seorang utusan dari Paman Suma Ceng Liong."
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka segera memasuki rumah dan menuju ke ruangan depan di mana tadi tamu itu dipersilakan duduk.
Saat mereka tiba di ruangan depan, Tan Sin Hong melihat seorang laki-laki yang usianya sekitar empat
puluh tahun dan berjenggot panjang bangkit berdiri dari kursinya. Dia tidak mengenal orang itu, akan tetapi
melihat sikapnya dapat diketahui bahwa orang itu memiliki kegagahan.
Orang itu sudah mengangkat kedua tangan di depan dada untuk menghormati tuan dan nyonya rumah. Sin
Hong dan Kao Hong Li cepat membalas penghormatan itu kemudian mempersilakan tamunya duduk.
"Sian Li, engkau masuklah dulu, mandi dan tukar pakaian. Jangan lupa, suruh pelayan mengeluarkan
minuman untuk tamu kita."
Tamu itu cepat menggerakkan tangannya. "Saya kira Siocia tidak perlu masuk, karena urusan ini justru
menyangkut diri Siocia (Nona)."
Sin Hong memandang tamu itu dan dia pun mengerti. Kalau tamu ini utusan pamannya, Suma Ceng Liong,
dan mengatakan urusan itu menyangkut diri Sian Li, maka tidak salah lagi. Tentu pamannya itu menyuruh
utusan ini untuk menjemput puterinya karena dulu mereka pernah berjanji bahwa kalau sudah tiba
waktunya, Sian Li akan digembleng ilmu oleh paman dan bibinya itu. Walau pun dia sendiri dan isterinya
sudah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, namun tentu saja paman dan bibinya itu mempunyai ilmu-ilmu
yang khas dan amat menguntungkan kalau Sian Li mendapat bimbingan mereka.
Melihat tuan rumah memandang kepadanya, tamu itu lalu mengeluarkan sesampul surat dan menyerahkan
surat itu kepada Sin Hong yang segera menerima dan mengambil suratnya lalu dibaca bersama isterinya
yang berdiri di belakangnya. Mereka membaca surat dari Suma Ceng Liong dan tepat seperti yang diduga
oleh Sin Hong, di dalam surat itu pamannya minta agar Sian Li diperkenankan ikut utusan itu ke Hong-cun.
Dia dan isterinya ingin memenuhi janji mereka dan mulai mengajarkan ilmu mereka kepada Sian Li.
Membaca surat itu, Hong Li mengerutkan alisnya dan menyentuh pundak suaminya. "Ahh, bagaimana kita
dapat melepaskan anak kita begini tiba-tiba?"
Sin Hong lalu memandang kepada tamu itu dan berkata, "Terima kasih atas jerih payah Toako yang telah
mengantarkan surat Paman Suma Ceng Liong kepada kami," katanya dengan amat ramah. "Harap
sampaikan saja pada Paman Suma Ceng Liong dan Bibi, bahwa anak kami Tan Sian Li akan kami
antarkan sendiri ke Hong-cun. Tetapi sebelum ke sana, kami akan mengunjungi dulu kota raja."
Tamu itu dijamu oleh Sin Hong sekeluarga, kemudian tamu itu meninggalkan mereka untuk kembali ke
Hong-cun dan menyampaikan pesan mereka. Hong Li merasa puas, karena kalau Sian Li dibawa begitu
saja oleh utusan yang tidak mereka kenal, tentu saja ia tidak akan merasa tenteram hatinya.
Sian Li sendiri tadinya hampir menolak ketika diberi tahu bahwa ia akan diberi pelajaran silat oleh paman
dan bibi orang tuanya. Akan tetapi setelah diberi penjelasan oleh ayah ibunya, apa lagi ketika mendengar
bahwa dia akan diantar sendiri oleh mereka dan sebelum ke Hong-cun akan diajak pesiar ke kota raja, ia
pun merasa terhibur dan tidak membantah lagi.
Tiga hari kemudian, ayah ibu dan anak ini berangkat meninggalkan rumah mereka di kota Ta-tung menuju
ke kota raja Peking yang berada di sebelah timur. Untuk pergi ke dusun Hong-cun akan makan waktu yang
lama sekali karena dusun itu terletak di dekat kota Cin-an di Propinsi Shantung, di lembah Sungai Huangho.
Peking merupakan kota yang memang akan mereka lewati kalau mereka pergi ke Shantung, jadi
perjalanan itu tidak memutar.
Pada suatu senja, tibalah mereka di sebuah kota yang letaknya dekat dengan Peking, di sebelah barat
selatan kota raja itu. Kota ini disebut kota Heng-tai dan merupakan kota yang cukup ramai karena banyak
pengunjung kota raja yang kemalaman tentu akan bermalam di kota ini.
Karena banyaknya tamu dari luar daerah yang hendak berkunjung ke kota raja berhenti dan bermalam di
kota Heng-tai, maka kota ini tentu saja berkembang menjadi ramai dan di situ banyak orang mendirikan
rumah penginapan, rumah makan dan toko-toko. Tanpa adanya tiga perusahaan ini, sebuah kota tidak
akan menjadi ramai karena ketiganya memenuhi kebutuhan pokok manusia, yaitu tempat tinggal, makan,
dan pakaian berikut segala keperluan hidup sehari-hari.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika pada senja hari itu Tan Sin Hong, Kao Hong Li dan Tan Sian Li memasuki kota Heng-tai, kota itu
sedang ramai-ramainya dan semua rumah penginapan sudah penuh tamu! Sin Hong dan anak isterinya
mencari kamar dari satu ke lain penginapan tanpa hasil.
"Ahh, kita sudah penat sekali. Apa kita harus bermalam di kuil kosong?" Sian Li mulai mengomel setelah
belasan kali keluar masuk rumah penginapan tanpa hasil. Semua pengurus rumah penginapan terpaksa
menolak mereka karena semua kamar memang sudah penuh.
"Tidak perlu kita harus bermalam di kuil kosong kalau semua rumah penginapan telah penuh," kata Kao
Hong Li. "Kalau perlu kita juga dapat menumpang di rumah seorang penduduk dengan membayar sewa
kamar."
"Mari kita coba hotel yang di sana itu. Nampaknya besar dan paling mewah, mungkin masih ada kamar di
sana," kata Sin Hong.
Mereka lalu menuju ke hotel yang nampak besar dan mewah itu dan membaca papan nama hotel yang
tergantung di depan. Hotel itu bernama ‘Thai Li-koan’ (Hotel Besar). Nampak kesibukan di hotel itu, seolah
ada suatu peristiwa penting terjadi di sana. Ketika mereka hendak menaiki anak tangga di depan hotel,
seorang pelayan menghampiri mereka dan sebelum mereka bicara, pelayan itu sudah mendahului mereka.
"Maaf, Tuan, semua kamar sudah penuh. Malam ini semua kamar sudah diborong oleh Ouw-ciangkun dari
kota raja."
"Bukankah hotel ini besar sekali dan kamarnya tentu amat banyak? Untuk apa panglima Ouw itu
memborong semua kamar? Begitu banyakkah rombongannya?" tanya Hong Li penasaran.
Pelayan itu mengangguk. "Rombongannya tidak banyak sekali, akan tetapi dia hendak menerima tamu,
dan dia tidak mau diganggu, maka semua kamar di bagian dalam, yaitu kamar-kamar besar sudah
diborongnya bahkan tidak ada orang diperbolehkan masuk ruangan dalam kalau tidak diberi ijin. Semua
pintu depan dan belakang dijaga prajurit pengawal."
"Tapi, yang disewa kan hanya kamar besar dan kamar-kamar bagian dalam?" Tiba-tiba Sian Li berkata.
"Kan masih ada banyak kamar-kamar yang lebih kecil di kanan kiri dan belakang?"
Pelayan itu memandang kepada Sian Li dan wajahnya tersenyum. Anak perempuan yang berpakaian
serba merah ini memang manis sekali.
"Memang ada, Nona, tapi... ahhh, banyak yang sudah pesan lebih dulu..."
Hong Li yang amat cerdik dapat melihat sikap pelayan itu, maka ia pun segera berkata, "Berilah kami
sebuah kamar samping atau belakang, maka kami akan memberi imbalan secukupnya!" Ia mengeluarkan
sepotong perak yang cukup besar.
Melihat mengkilapnya perak itu, sikap Si Pelayan berubah amat ramah. Dia melirik ke kanan kiri, lalu
menyambar perak itu dari tangan Hong Li dan membungkuk-bungkuk, menyembunyikan perak itu ke dalam
saku bajunya.
"Marilah, Sam-wi masih beruntung tidak terlambat. Biar pun sudah banyak pemesan, akan tetapi melihat
Nona kecil ini, aku merasa kasihan dan biarlah kuberikan kepada kalian."
Mereka memasuki rumah penginapan besar itu melalui pintu samping, dan Si Pelayan lalu mengantar
mereka ke sebuah kamar di belakang yang cukup besar untuk mereka bertiga. Dia menerima uang
sewanya untuk semalam dan memesan agar mereka itu jangan sekali-kali keluar masuk melalui pintu
depan, jangan memasuki ruangan dalam dan selalu menggunakan pintu samping saja untuk keluar masuk.
Ketika mereka masuk, mereka melihat ada banyak prajurit pengawal yang berjaga-jaga di sekitar hotel itu,
dan bahkan ada prajurit yang sempat menahan Si Pelayan dan baru membolehkan mereka lewat setelah
pelayan mengatakan bahwa tiga orang itu adalah tamu-tamu yang sudah mendapatkan kamar di belakang.
"Ingat, selama di sini malam ini, kalian tidak boleh menerima tamu, dan juga tidak boleh memasukkan
orang asing ke sini," kata Si Prajurit pengawal kepada mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah mendapat kamar, Sin Hong, Hong Li dan Sian Li lalu membersihkan diri dengan air hangat yang
disediakan pelayan untuk mereka. Hotel itu memang hotel besar, sewa kamarnya pun mahal, akan tetapi
pelayannya juga baik, tidak seperti di rumah-rumah penginapan biasa.
Setelah berganti pakaian, Hong Li yang sudah selesai lebih dahulu, keluar dari kamar bersama Sian Li.
Mereka hendak berjalan-jalan di taman sebelah belakang hotel itu sambil menanti selesainya Sin Hong
yang mandi paling akhir.
Walau pun malam telah tiba, akan tetapi taman bunga itu masih tetap indah dan dapat dinikmati karena di
sana-sini dipasangi lampu beraneka warna dan saat itu, kembang-kembang di taman sedang mekar
semerbak. Sian Li gembira sekali melihat keindahan taman bunga itu, dan ia pun berlari-lari di dalam
taman.
"Sian Li, jangan berlari-lari...!" kata ibunya sambil mengejar.
Tiba-tiba Hong Li mendengar teriakan puterinya. "Ibu, tolonggg...!"
Hong Li terkejut sekali, dan dengan beberapa lompatan ia sudah tiba di balik pohon itu. Ia melihat puterinya
tengah didekap seorang laki-laki tinggi besar yang bermuka hitam. Puterinya meronta-ronta, akan tetapi
agaknya laki-laki itu sangat kuat sehingga Sian Li tidak mampu melepaskan diri. Hong Li lantas maklum
bahwa laki-laki itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, jika tidak, bagaimana puterinya yang sudah
memiliki kelincahan dan ilmu yang lumayan itu demikian mudah ditangkap?
"Lepaskan anakku!" bentak Hong Li dan tubuhnya melayang ke depan laki-laki tinggi besar muka hitam.
Laki-laki itu memandang wajah Hong Li dan kalau tadi dia menyeringai, kini dia tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya
ibunya malah lebih cantik lagi! Aku baru menyayangkan bahwa gadis ini masih terlalu kecil, dan sekarang
muncul yang sudah dewasa dan matang. Marilah, manis, kulepaskan anakmu, akan tetapi engkau harus
menjadi penggantinya."
"Jahanam busuk...!" Hong Li membentak marah.
Begitu orang itu melepaskan Sian Li dan mendorong gadis remaja itu ke samping, Hong Li sudah
menerjang ke depan dan dia pun menyerang dengan pukulan kedua tangan secara bertubi. Karena ia tak
ingin mencari keributan, dan tidak ingin membunuh orang, tapi hanya ingin menghajarnya saja, maka
nyonya muda ini tidak menggunakan pukulan maut seperti Ban-tok-ciang, melainkan mempergunakan
jurus dari Sin-liong Ciang-hoat. Bahkan ia tidak mengerahkan seluruh tenaga saktinya.
Melihat nyonya muda yang cantik itu menyerangnya, Si Tinggi Besar bermuka hitam menyambut dengan
tangkisan sambil menyeringai, bahkan mencoba untuk menangkap lengan Hong Li.
"Plak-plak-dukk...!"
Tangkisan terakhir membuat keduanya mengadu tenaga melalui telapak tangan yang didorongkan.
Akibatnya, tubuh tinggi besar itu terhuyung ke belakang.
Si Muka Hitam itu terkejut karena dia merasa betapa telapak tangannya amat nyeri dan tadi, ketika telapak
tangannya bertemu dengan lengan lawan, seluruh tubuhnya tergetar dan dia sampai terdorong ke
belakang. Marahlah dia. Segera dia mencabut golok dari pinggangnya.
"Berani engkau menyerangku?" bentak Si Muka Hitam dan dia sudah memutar golok di atas kepalanya.
Kao Hong Li sudah siap siaga menghadapinya. Pada saat itu, nampak seorang wanita muncul di pintu
belakang.
"Hek-bin (Muka Hitam), jangan bikin ribut di situ. Masuklah!" teriak wanita itu, suaranya lembut namun
penuh wibawa.
Aneh sekali. Mendengar teriakan lembut ini, Si Muka Hitam yang tinggi besar itu segera menyimpan
kembali goloknya, lalu memutar tubuh sambil menjawab, suaranya penuh kepatuhan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baik..., baik... maafkan saya." Dan dia pun melangkah lebar menuju ke pintu belakang itu dan menghilang
ke dalam bersama wanita yang tadi memanggilnya.
Kao Hong Li terbelalak. Wanita tadi kebetulan sekali berdiri di bawah lampu gantung di atas pintu dan
wajahnya nampak jelas olehnya. Ang-I Moli! Dia masih mengenal wanita yang pakaiannya serba merah itu!
Ang-I Moli di situ. Mau apa iblis betina itu? Dan di mana adanya Yo Han? Apakah masih bersama iblis
betina itu? Hong Li merasa betapa jantungnya berdebar-debar penuh ketegangan. Ia sudah melupakan
laki-laki kurang ajar bermuka hitam tadi dan yang memenuhi pikirannya sekarang hanyalah Ang-I Moli.
"Ibu, perempuan itu adalah Ang-I Moli!" Tiba-tiba suara puterinya menyadarkannya dari lamunan. "Mari kita
kejar Ibu!"
Anak itu sudah berlari menuju ke pintu, akan tetapi ibunya menyambar pundaknya.
"Sstt, jangan, Sian Li."
"Ehh? Kenapa, Ibu? Pertama, laki-laki tadi harus Ibu beri hajaran, supaya dia bertobat. Dan Ang-I Moli juga
tidak boleh dilepaskan. Bukankah ia yang membawa pergi Suheng Yo Han? Ibu harus merebut Yo Suheng
kembali dari tangan iblis betina itu!"
"Ssttt, ini urusan gawat, Sian Li. Mari kita beri tahu ayah, engkau jangan membuat ribut. Ingat, mereka itu
mempunyai banyak kawan, bahkan ada pula seorang panglima yang mempunyai banyak prajurit." Hong Li
lalu menggandeng tangan anaknya dan mereka pun kembali ke kamar mereka.
Sin Hong memandang heran ketika melihat wajah dan sikap isteri dan puterinya yang demikian tegang.
"Ada terjadi apakah?" tanyanya.
"Ayah, Ang-I Moli berada di hotel ini!" kata Sian Li.
Tentu saja ayahnya terkejut mendengar pemberi tahuan ini. Tetapi Hong Li memberi isyarat agar puterinya
menutup mulut, kemudian dengan suara lirih ia pun menceritakan apa yang baru saja ia alami di dalam
taman. Betapa di taman muncul seorang laki-laki tinggi besar muka hitam yang bersikap kurang ajar dan
ketika ia hendak menghajarnya, muncul Ang-I Moli yang memanggil Si Muka Hitam itu.
Tan Sin Hong meraba-raba dagunya yang tak berjenggot, alisnya berkerut. "Hemmm, kalau iblis betina itu
muncul di sini, tentu ada sesuatu yang amat penting di sini. Dan aku heran, apakah Yo Han juga berada di
sini?"
"Kita harus menyelidikinya," kata Hong Li. "Bukankah menurut pelayan tadi, pembesar yang disebut Ouwciangkun
(Komandan Ouw) hendak menjamu tamu-tamunya malam ini? Dan Ang-I Moli berada di dalam
hotel, berarti ia menjadi tamu pula."
"Atau mungkin juga ia anak buah panglima she Ouw itu," kata Sin Hong, "Yang penting apakah Yo Han
juga ikut dengannya di sini? Kita harus menyelidikinya. Aku selama ini merasa berdosa kepada mendiang
ayah ibunya..."
"Malam ini kita menyelidiki mereka," kata Hong Li dan suaminya mengangguk.
"Aku ikut!" kata Sian Li penuh semangat.
"Tidak boleh, Sian Li," berkata ibunya. "Pekerjaan kami berbahaya sekali. Engkau lihat, baru Si Muka
Hitam tadi saja sudah lihai, apa lagi Ang-I Moli dan kita belum tahu siapa lagi yang berada di sana. Kami
hanya akan menyelidiki apa yang mereka lakukan."
"Dan menyelidiki apakah Yo Han berada pula di hotel ini," sambung ayahnya.
Walau pun hatinya merasa kecewa, namun Sian Li adalah seorang gadis remaja yang cukup cerdik. Ia
maklum bahwa bahayanya memang besar sekali. Laki-laki muka hitam yang ditemuinya di taman tadi saja
sudah amat lihai sehingga dalam waktu singkat ia sudah dapat ditangkap dan dibuat tidak berdaya. Kalau
ia nekat ikut dan ia membuat ayah dan ibunya gagal dalam penyelidikan mereka, ia sendiri akan merasa
menyesal sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Apa lagi jika suheng-nya, Yo Han, juga berada di hotel itu. Orang tuanya harus mampu membebaskan
suheng-nya! Ia tidak boleh mengganggu pekerjaan mereka dan ia akan menungggu di kamar.
Dari depan kamar mereka yang berada di bagian belakang, Sin Hong dan anak isterinya dapat melihat
kesibukan di ruangan dalam hotel itu. Agaknya orang-orang itu sedang mengadakan pesta.
"Sian Li, engkau tinggal saja di dalam kamar, ya? Jangan keluar, apa lagi meninggalkan bagian belakang
ini. Kami hendak mulai melakukan penyelidikan."
"Baik, Ayah," kata Sian Li.
"Hati-hati, Sian Li. Di sini engkau tidak boleh bertindak sembarangan. Bisa berbahaya sekali. Dan jangan
sekali-kali engkau mendekati ruangan dalam hotel di mana terdapat penjagaan para prajurit pengawal,"
pesan ibunya.
Sian Li mengangguk. Di dalam dada anak ini terjadi ketegangan yang hebat. Munculnya Ang-I Moli
mengingatkan ia akan semua peristiwa yang dialaminya ketika ia masih kecil, delapan tahun yang lalu. Dan
sekaligus mengingatkan ia kepada suheng-nya, Yo Han yang pernah membuat ia menangis dan rewel
ketika suheng-nya itu pergi meninggalkan keluarga ayahnya karena dibawa oleh wanita iblis itu.
Tentu saja kini ia hampir melupakan wajah suheng-nya itu. Sang waktu telah menelan segalanya, juga
kedukaannya karena ditinggalkan suheng-nya. Akan tetapi, yang jelas masih teringat olehnya adalah
bahwa suheng-nya itu amat baik kepadanya, bagaikan seorang kakak kandungnya sendiri.
Sementara itu, Tan Sin Hong bersama Kao Hong Li sudah menyelinap keluar. Dengan perlindungan
kegelapan malam, mereka berhasil menyusup ke bagian yang gelap dari kebun di samping rumah,
kemudian dengan gerakan yang ringan bagaikan dua ekor burung walet, mereka melompat ke atas pohon
dan setelah mengintai dari pohon dan tidak melihat adanya penjaga di bawahnya, mereka lalu melompat
ke atas genteng.
Gerakan mereka begitu ringan sehingga tak menimbulkan suara dan begitu tiba di atas wuwungan rumah
penginapan itu, keduanya mendekam dan dengan hati-hati mereka memandang ke sekeliling. Hati mereka
amat lega melihat bahwa para prajurit pengawal hanya menjaga di sekitar rumah itu, di bawah. Tentu saja
tak ada yang mengira bahwa akan ada orang berani mengganggu kehadiran seorang panglima kerajaan di
hotel itu!
Ruangan tengah hotel itu dikepung prajurit pengawal dan keadaan di sana terang sekali. Hal ini menarik
perhatian suami isteri pendekar itu. Berdebar rasa jantung mereka dan terdapat suatu kegembiraan yang
sudah lama tidak mereka rasakan. Jiwa petualang mereka bangkit.
Sudah terlalu lama mereka tidak mengalami hal-hal yang menegangkan seperti ini, dan pengalaman ini
mengingatkan mereka akan masa lalu mereka, ketika mereka masih bertualang sebagai pendekar dan
sering kali menghadapi lawan-lawan tangguh dalam keadaan yang menegangkan seperti sekarang.
Dengan hati-hati mereka bergerak di atas genteng sampai mereka tiba di atas ruangan tengah itu.
Kemudian mereka menuruni wuwungan, lalu merayap pada genteng di atas ruangan itu dan mengintai ke
bawah. Mereka terlindung oleh wuwungan di kanan kiri yang lebih tinggi sehingga dengan rebah
menelungkup, mereka dapat mengintai ke dalam ruangan itu dengan leluasa. Bukan saja mereka dapat
melihat semua dengan jelas, juga mereka dapat mendengarkan percakapan mereka yang berada di
bawah.
Ruangan itu cukup luas dan terang sekali karena sudah diberi tambahan penerangan. Terdapat beberapa
buah meja yang diatur di tengah ruangan, berderet memanjang. Di kepala meja duduklah seorang
berpakaian panglima.
Dia masih muda, tidak lebih dari dua puluh tiga tahun usianya, berwajah tampan dan gagah, pakaian
panglimanya mentereng dan mewah. Di kanan kiri meja duduk berderet banyak orang, akan tetapi
sebagian besar di antara mereka berpakaian seperti tosu.
Tentu saja hal ini amat mengherankan hati Tan Sin Hong dan Kao Hong Li, apa lagi pada waktu mereka
mengenal adanya Ang-I Moli di antara mereka, dan mengenal pula bahwa para pendeta itu sebagian besar
dunia-kangouw.blogspot.com
adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan orang-orang Thian-li-pang. Suami isteri ini menduga bahwa tentu
panglima muda itu yang bernama Ouw Ciangkun. Mereka merasa heran bukan main.
Sepanjang pengetahuan mereka, Pek-lian-kauw adalah perkumpulan orang sesat yang selalu menentang
dan memusuhi Kerajaan Mancu. Juga Thian-li-pang, meski terkenal sebagai perkumpulan orang-orang
gagah, namanya tidaklah terlalu bersih. Akan tetapi Thian-li-pang juga terkenal sebagai kaum pemberontak
terhadap Kerajaan Mancu. Lalu, bagaimana mungkin sekarang para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang
berkumpul di situ dan agaknya menjadi tamu dari seorang panglima kerajaan?
"Aku tidak melihat adanya Yo Han di sana..." bisik Hong Li dan suaminya memberi isyarat agar isterinya
tidak mengeluarkan suara. Hong Li mengerti dan mengangguk.
Mereka tahu bahwa di bawah berkumpul orang-orang lihai. Menghadapi belasan orang tokoh Peklian-kauw
dan Thian-li-pang bukanlah hal yang dapat dipandang rendah. Baru Ang-I Moli seorang saja sudah bukan
merupakan lawan yang ringan, apa lagi masih ada para pendeta Pek-lian-kauw itu, dan orang-orang Thianli-
pang juga terkenal tangguh.
Sin Hong mengenal Lauw Kang Hui di situ. Tokoh yang tinggi besar bermuka merah ini adalah wakil ketua
Thian-li-pang. Kalau wakil ketuanya sampai ikut hadir juga, berarti pertemuan itu tentu penting sekali, pikir
Sin Hong. Keingin tahuannya untuk mencari Yo Han pun menipis, tertutup oleh perhatiannya untuk
mengetahui apa maksudnya para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang kini sedang dijamu oleh seorang
panglima muda Kerajaan Mancu!
Dia dan isterinya harus berhati-hati. Kalau sampai terjadi bentrokan dengan mereka, sungguh berbahaya.
Apa lagi di situ masih terdapat pasukan anak buah panglima itu. Dan mereka berdua pun melakukan
perjalanan bersama puteri mereka yang tentunya membutuhkan perlindungan.
"Ciangkun, sebelum kita mulai dengan percakapan kita, apakah engkau sudah yakin benar bahwa tempat
ini terjaga dengan baik dan tidak ada orang luar yang dapat ikut mendengarkan?" kata Lauw Kang Hui,
wakil ketua Thian-li-pang kepada panglima itu.
Panglima itu tertawa. "Aihh, Susiok (Paman Guru), kenapa masih meragukan ketatnya penjagaan kami?
Harap Lauw-susiok jangan khawatir. Hotel ini sudah kami borong dan para tamu yang berada di pinggir
dan belakang sudah didaftar semua dan diawasi, juga sekeliling ruangan ini, bahkan sekitar rumah
penginapan sudah diblok dan dijaga oleh pasukanku. Tidak ada yang begitu gila untuk berani mendekati
tempat ini!"
Tan Sin Hong dan Kao Hong Li saling pandang. Kiranya panglima muda itu ialah murid keponakan dari
adik ketua Thian-li-pang! Suami isteri yang berpengalaman ini segera dapat menduga apa yang telah
terjadi.
Kiranya Thian-li-pang kini telah berhasil menyelundupkan seorang anggotanya ke dalam kerajaan, bahkan
ke dalam istana sebab melihat pakaiannya, panglima dan pasukannya itu termasuk pasukan pengawal
istana Kaisar! Sungguh keadaan yang berbahaya sekali bagi keselamatan istana kalau begitu!
Memang dugaan mereka besar. Yang menjadi panglima itu bukan lain adalah Ouw Cun Ki, putera Ketua
Thian-li-pang, Ouw Ban. Ouw Cun Ki yang berusia dua puluh tiga tahun itu adalah seorang pemuda yang
telah mewarisi ilmu-ilmu kepandaian ayahnya, seorang yang gagah dan berani, juga cerdik sekali.
Saat Thian-li-pang gagal mengadu domba empat partai persilatan besar karena campur tangan keluarga
Kao Cin Liong yang mendamaikan dan menyadarkan para pimpinan dari empat partai besar, Thian-li-pang
lalu berunding dengan Pek-lian-kauw dan mereka mencari jalan lain. Kembali mereka menghubungi Siang
Hong-houw (Permaisuri Harum) dan berhasil membujuk permaisuri itu untuk membantu mereka hingga
memungkinkan mereka untuk menyelundupkan Ouw Cun Ki menjadi seorang panglima muda pasukan
pengawal istana!
Siang Hong-houw masih mendendam pada Kerajaan Mancu yang telah menghancurkan suku bangsanya,
dengan senang hati membantu perjuangan Thian-li-pang, dengan janji bahwa Thian-li-pang tidak akan
menggunakan kekerasan membunuh suaminya, Kaisar Kian Liong, seperti yang dahulu pernah terjadi
ketika ada orang Thian-li-pang berusaha membunuh Kaisar itu tetapi dapat digagalkan. Pihak Thian-li-pang
menyanggupi, hanya mengatakan bahwa penyelundupan orang-orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian-li-pang ke istana bukan untuk membunuh Kaisar, melainkan untuk memata-matai semua siasat dan
pertahanan sehingga akan memudahkan gerakan mereka apa bila tiba waktunya untuk menumbangkan
kekuasaan pemerintah Mancu.
Demikianlah, karena kepandaiannya membawa diri, Ouw Cun Ki yang dikenal dengan sebutan Ouw
Ciangkun itu sebentar saja memperoleh kepercayaan dari para panglima lainnya yang lebih tinggi
kedudukannya. Bahkan dengan siasat yang telah diatur oleh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, beberapa
kali Ouw Ciangkun sudah ‘membuat jasa’ dengan membasmi gerombolan penjahat yang seakan-akan
sengaja diumpankan oleh dua perkumpulan pemberontak itu. Karena jasa-jasanya itulah maka Kaisar Kian
Liong sendiri, mendengar laporan Siang Hong-houw dan para panglima, berkenan menaikkan kedudukan
Ouw Ciangkun.
Karena sudah mendapatkan kepercayaan sebagai seorang panglima muda yang setia, Ouw Can Ki
mendapatkan kebebasan bergerak dan setelah demikian, mulailah ia berani mengadakan kontak dengan
Thian-li-pang.
Demikianlah, pada malam hari itu, dengan dalih berpesiar ke kota Heng-tai, Ouw Cun Ki mengadakan
pertemuan rahasia di hotel besar itu dengan orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw untuk mengatur
siasat selunjutnya. Meski pun yang hadir di ruangan dalam hotel itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw dan
Thian-li-pang yang berilmu tinggi, tapi karena mereka merasa yakin bahwa tidak mungkin ada orang berani
mengganggu pertemuan itu, maka mereka menjadi teledor dan kurang teliti. Mereka tidak tahu bahwa ada
dua pasang mata dan dua pasang telinga ikut melihat dan mendengarkan apa yang terjadi di dalam
ruangan itu!
"Saya mengumpulkan dan mengundang para Locianpwe ke sini untuk merundingkan kelanjutan siasat
yang sudah kita rencanakan semula. Saya hendak melaporkan bahwa segalanya berjalan dengan lancar
dan sekarang sudah terbuka kesempatan yang amat baik bagi kita untuk bertindak, untuk menyingkirkan
semua pangeran yang kini menjadi saingan bagi Pangeran Kian Ban Kok," kata Ouw Ciangkun.
"Coba jelaskan, bagaimana kesempatan itu? Kita harus bertindak hati-hati dan sekali ini, begitu bertindak
kita harus berhasil," kata Ang-I Moli.
Ang-I Moli bersama dua orang tosu itu, yaitu Kwan Thian-cu dan Kwi Thian-cu menjadi utusan Pek-liankauw.
Mendengar pertanyaan Ang-I Moli ini, semua orang memandang kepada Ouw Ciangkun karena
semua orang juga ingin sekali mendengar jawabannya.
"Kesempatan ini memang sudah saya tunggu-tunggu selama berbulan-bulan ini," kata Ouw Ciangkun.
"Dan akhirnya tiba juga kesempatan yang amat baik. Nanti pada tanggal lima belas bulan ini, tepat pada
bulan purnama. Siang Hong-houw hendak menjamu semua pangeran dalam sebuah pesta taman untuk
merayakan hari ulang tahunnya dan menikmati musim bunga dalam bulan purnama. Nah, pada
kesempatan itulah seluruh pangeran berkumpul di sana dan mereka akan berpesta pada saat yang sama."
"Bagus!" Lauw Kang Hui berseru girang. "Kalau semua lalat itu sudah berkumpul, sekali tepuk kita akan
dapat membunuh mereka semua!"
"Lauw-pangcu, engkau hendak menggunakan kekerasan dan menyerang ke taman itu?" Ang-I Moli
bertanya sambil mengerutkan alisnya.
Lauw Kang Hui tertawa. "Ha-ha-ha, jangan salah sangka, Moli. Kami tidak begitu bodoh untuk
mempergunakan jalan kekerasan. Kami sudah berjanji kepada Siang Hong-houw untuk tidak
menggunakan kekerasan dan kami tentu harus menjaga benar tindakan kami agar supaya jangan
melanggar janji. Lagi pula, biar pun Ouw Cun Ki telah berhasil menghimpun satu regu pasukan pengawal
pribadinya yang terdiri dari orang-orang kita sendiri, akan tetapi apa artinya seregu pasukan dalam istana
jika menghadapi pasukan pengawal yang sangat besar jumlahnya? Tidak, kami akan mempergunakan
jalan yang paling halus, dan untuk ini, tentu saja kami mengharapkan bantuan dari para saudara di Peklian-
kauw."
"Hemm, Lauw Pangcu, apa yang dapat kami bantu?" berkata Kwi Thian-cu. "Bukankah Pangcu akan
menggunakan racun untuk meracuni para pangeran itu melalui hidangan? Nah, kalau mengenai racun,
siapa yang akan mampu menandingi para Locianpwe di Thian-li-pang seperti Ban-tok Mo-ko (Iblis Selaksa
Racun) dan Thian-te Tok-ong (Raja Racun Langit Bumi)? Apa pula yang dapat kami lakukan untuk
membantu kalian?”
dunia-kangouw.blogspot.com
"Totiang (Bapak Pendeta) harap jangan salah menyangka. Memang kami sendiri sudah mempersiapkan
racun yang sangat kuat. Racun itu tidak ada rasanya bila dicampurkan arak. Akan tetapi, untuk
melaksanakannya, kami membutuhkan bantuan seorang wanita yang cerdik dan lihai. Dan kami kira hanya
seorang Ang-I Moli saja yang akan mampu melakukannya, yaitu menjadi kepala pelayan dari Siang Honghouw,
membantu dalam pesta itu, bahkan yang bertugas menuangkan arak dalam cawan para pangeran.
Nah, pada kesempatan menuangkan arak itulah dapat digunakan Moli untuk mencampurkan racun kami.
Siapa lagi yang akan mampu melakukannya kalau bukan Ang-I Moli?"
"Aihh, Lauw Pangcu. Bagaimana mungkin aku dapat melakukan tugas yang berbahaya sekali itu? Baru
saja memasuki istana, aku pasti akan diketahui dan ditangkap. Bagai mana aku akan mampu melawan
para jagoan istana yang amat banyak?"
Lauw Kang Hui tertawa. "Ha-ha, apakah Ang-I Moli yang terkenal amat pandai dan lihai itu sekarang
merasa takut?"
"Lauw Pangcu, harap jangan bicara sembarangan! Aku tidak pernah takut kepada siapa pun juga! Akan
tetapi, aku pun bukan seorang tolol yang tidak memakai perhitungan, dengan mata terpejam saja
memasuki sarang singa dan mati konyol!" bantah Ang-I Moli dengan muka menjadi merah.
Ouw Cun Ki segera menengahi dan berkata. "Harap Bibi Ang-I Moli tidak menyalah artikan maksud Lauwsusiok
(Paman Guru Lauw)! Semua memang sudah kami atur dan rencanakan sebelumnya. Ketahuilah
bahwa saya sendiri yang akan mengaturkan, agar Siang Hong-houw suka menerima Bibi menjadi kepala
pelayan sehingga Bibi tidak akan dicurigai siapa pun juga ketika melayani penuangan arak untuk para
pangeran. Selain itu, juga saya akan mengerahkan pengawal untuk berjaga di taman itu, yang sebetulnya
merupakan pengepungan untuk mencegah campur tangannya pihak luar. Rencana kita sudah masak dan
takkan gagal, hanya membutuhkan bantuan kecekatan dan kelihaian Bibi untuk mencampurkan bubuk
racun itu ke dalam cawan para pangeran, kecuali cawan Pangeran Kian Ban Kok. Selain bantuan Bibi, juga
kami membutuhkan bantuan para Locianpwe dari Pek-lian-kauw untuk suka menyamar menjadi anak buah
pasukan pengawal saya, dan pada saat pesta itu terjadi, agar para Locianpwe dari Pek-lian-kauw bisa
mengarahkan kekuatan sihir mereka untuk mempengaruhi para pangeran sehingga mereka akan tunduk
dan akan minum arak mereka tanpa banyak bercuriga."
Ang-I Moli mengangguk-angguk. "Nah, kalau begitu tentu saja kami suka bekerja sama. Sebaiknya diatur
dari sekarang. Tanggal lima belas tinggal tiga hari lagi."
"Sebab itulah maka saya mengundang Cuwi (Anda Sekalian) mengadakan perundingan di sini. Memang
sebaiknya jika besok pagi Bibi sudah dapat saya selundupkan ke istana dan diterima oleh Siang Honghouw.
Ada pun para Locianpwe yang akan menyamar sebagai anggota pengawal saya, lebih mudah
dilakukan. Malam ini pun bisa saja."
Mendengar percakapan itu, tentu saja Tan Sin Hong dan isterinya, Kao Hong Li menjadi terkejut bukan
main. Kiranya komplotan itu bermaksud membunuh para pangeran dalam sebuah pesta tiga hari lagi di
taman istana! Sin Hong memberi isyarat kepada isterinya dan mereka pun meninggalkan tempat
pengintaian itu dan kembali ke kamar mereka di belakang. Ternyata Sian Li masih belum tidur dan masih
menunggu kembalinya ayah bundanya.
"Bagaimana, Ayah? Apakah Yo-suheng (Kakak Seperguruan Yo) juga berada di dalam sana?" Sian Li
bertanya kepada ayahnya dengan suara penuh harap.
Sin Hong menggeleng kepalanya dan melihat sikap ibunya yang demikian serius, Sian Li segera bertanya,
"Ibu, ada terjadi apakah?"
Sin Hong dan Hong Li sudah sepakat untuk memberi tahu puteri mereka. Sian Li bukan anak kecil lagi.
Walau usianya baru dua belas tahun, namun anak ini cerdik dan sudah dapat mengetahui keadaan.
“Sian Li, telah terjadi hal yang amat penting.” Hong Li lalu menceritakan dengan suara lirih tentang segala
yang telah mereka lihat dan dengar tadi. Mendengar cerita ibunya, Sian Li mengerutkan alisnya.
“Aih, kalau begitu, para pangeran itu terancam bahaya maut!” serunya khawatir. “Lalu apa yang akan
dilakukan Ayah dan Ibu?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Engkau tahu betapa gawatnya keadaan, Sian Li,” kata Sin Hong dengan sikap serius.
“Ibu dan ayahmu harus cepat melakukan usaha untuk mencegah terjadinya kejahatan di istana itu. Maka,
sebaiknya kalau engkau tinggal di kamar ini lebih dahulu, agar gerakan kami tidak terhalang dan leluasa.
Engkau tahu, kami menghadapi lawan-lawan yang amat jahat dan berbahaya, juga lihai. Lebih aman
bagimu kalau engkau bersembunyi dulu di sini sampai kami kembali.”
Sian Li mengangguk-angguk. Ia maklum bahwa kalau ia ikut, tentu ayah dan ibunya tak akan leluasa
bergerak. Apa lagi kalau sampai terjadi bentrokan, dia tidak akan dapat membantu bahkan menjadi beban
perlindungan orang tuanya. Pihak lawan amat lihai, merupakan datuk-datuk sesat. Ilmu kepandaiannya
masih jauh untuk dapat membantu orang tuanya.
“Akan tetapi, sebaiknya engkau bersembunyi saja di kamar, anakku. Dan kalau engkau membutuhkan
makan minum, pesan saja kepada pelayan agar dibelikan dan dibawa ke sini. Jangan engkau bepergian
keluar.”
“Baiklah, Ibu. Akan tetapi, apakah Ibu dan Ayah akan pergi malam-malam begini?”
“Benar, kami harus pergi sekarang juga. Tanggal lima belas tinggal tiga hari lagi. Bagai mana pun juga,
besok pagi-pagi kami tentu sudah pulang,” kata Sin Hong.
“Andai kata urusan ini belum selesai pun kami tentu akan kembali ke sini dahulu untuk menjengukmu, Sian
Li,” kata Hong Li.
“Baiklah, Ayah dan Ibu. Aku akan menanti di sini sampai Ayah dan Ibu kembali.”
Setelah sekali lagi memesan kepada anak mereka agar berhati-hati dan jangan keluar dari kamar, suami
isteri pendekar itu kemudian pergi meninggalkan rumah penginapan, menggunakan kepandaian mereka
sehingga tidak ada orang lain yang melihat mereka meninggalkan tempat itu…..
********************
Tentu saja para prajurit yang menjaga di gardu penjagaan depan rumah gedung tempat tinggal Panglima
Liu merasa curiga ketika Sin Hong dan Hong Li minta agar mereka melapor kepada panglima itu bahwa
suami isteri itu minta menghadap Liu Tai-ciangkun, Malam sudah larut. Bagaimana mungkin mereka berani
mengganggu atasan mereka yang sedang tidur?
Liu Tai-ciangkun adalah seorang panglima tua, berusia enam puluh tiga tahun, dan yang dikenal oleh
hampir semua pendekar. Panglima ini terkenal sebagai seorang panglima yang setia dan adil. Juga dia
dapat menghargai para pendekar, bahkan sering kali dia mengulurkan tangan mengajak kerja sama
dengan para pendekar untuk mengamankan negara dari gangguan para penjahat.
Karena hal inilah maka Sin Hong mengajak isterinya untuk malam-malam menghadap panglima itu.
Kiranya hanya panglima itu yang dapat mereka harapkan untuk mengatasi kemelut di istana itu, untuk
menghadapi Ouw Ciangkun, murid keponakan wakil ketua Thian-li-pang yang berhasil menyelundup
menjadi perwira pasukan pengawal istana.
Akan tetapi, mereka kini berhadapan dengan lima orang prajurit penjaga yang berkeras tidak dapat
menerima tamu pada malam-malam begitu.
“Kalau memang Jiwi (Kalian Berdua) mempunyai kepentingan dengan Liu Tai-ciangkun, sebaiknya supaya
Jiwi kembali besok saja. Malam-malam begini, bagaimana panglima dapat menerima tamu? Beliau tentu
sudah tidur dan kami tidak berani lancang untuk mengganggunya,” kata kepala jaga.
“Hemm, kalian tidak mengenal kami,” bentak Hong Li yang berwatak keras. “Kalau Liu Tai-ciangkun
mendengar bahwa kami yang datang, dia tentu akan cepat-cepat keluar menyambut!”
Para penjaga mengerutkan alisnya, dan Sin Hong yang selalu berwatak sabar dan lemah lembut, cepat
maju memberi hormat kepada mereka. “Harap saudara sekalian memaafkan isteriku. Tetapi sungguh, kami
mempunyai urusan yang teramat penting yang harus kami sampaikan kepada Liu Tai-ciangkun sekarang
juga.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Para penjaga itu sudah merasa tidak senang dengan sikap keras Kao Hong Li tadi, maka kepala jaga itu
sambil memandang kepada nyonya muda yang cantik dan galak itu, bertanya, “Sebetulnya, siapakah Jiwi?
Kami sama sekali tidak mengenal Jiwi, dan apa keperluannya? Karena kami belum mengenal Jiwi,
bagaimana kami dapat percaya kepada Jiwi?”
“Hemm, kalian ingin mengenal kami? Nah, jagalah baik-baik!” kata Hong Li dan sebelum suaminya
mencegah, nyonya muda itu sudah bergerak cepat sekali menyerang dengan totokan-totokan. Tangannya
bergerak cepat bukan main dan tubuhnya berkelebatan di antara lima orang penjaga itu.
Para penjaga tentu saja berusaha untuk mengelak, menangkis, bahkan balas memukul. Namun, tanpa
mereka ketahui bagaimana, tiba-tiba saja tubuh mereka menjadi lemas dan mereka terkulai roboh satu
demi satu tanpa mampu bangkit kembali!
“Nah, kalian lihatlah. Apa sukarnya bagi kami untuk langsung saja mencari sendiri Liu Tai-ciangkun ke
dalam? Akan tetapi kami tidak mau melakukan itu. Kami menggunakan tata cara dan sopan santun, akan
tetapi kalian malah menolak kami! Kalian mau tahu siapa kami? Katakan saja pada Liu Tai-ciangkun bahwa
yang datang adalah Pendekar Bangau Putih dan isterinya, puteri pendekar Kao Cin Liong!”
Setelah berkata demikian, dengan gerakan yang cepat sekali, tangan Hong Li bergerak membebaskan
totokannya kepada lima orang penjaga itu.
Kini lima orang itu yang tadi terkejut, tidak banyak tingkah lagi. Mereka bukan saja berkenalan dengan
kelihaian nyonya muda itu, akan tetapi mendengar nama Pendekar Bangau Putih dan puteri bekas
Jenderal Kao Cin Liong, mereka sudah menjadi tunduk dan tanpa banyak cakap lagi, kepala jaga cepatcepat
berlari masuk untuk melapor, biar pun untuk itu terpaksa dia harus mengetuk pintu kamar tidur Sang
Panglima, suatu hal yang dalam keadaan biasa, biar bagaimana pun juga takkan berani dia melakukannya!
Tak lama kemudian kepala jaga itu kembali. Dengan sikap hormat dia mempersilakan suami isteri
pendekar itu untuk memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri bangunan.
Pada saat Sin Hong dan Hong Li tiba di rumah yang lebar itu, mereka mendapatkan Liu Tai-ciangkun
sudah duduk menanti. Nampak panglima tua itu baru bangun tidur, bahkan agaknya dia mengenakan
pakaian pengganti baju tidur secara tergesa-gesa, rambutnya juga nampak kusut.
Mereka saling memberi hormat, dan panglima itu bangkit dengan wajah berseri-seri.
“Tai-ciangkun, mohon maaf sebesarnya kalau kami sudah mengganggu Ciangkun dari tidur,” kata Sin
Hong dengan sikap hormat.
“Ah, tidak apa-apa, Taihiap dan Lihiap. Silakan duduk!” kata panglima itu dengan ramah sambil
mempersilakan mereka untuk duduk di kursi-kursi yang sudah diatur berhadapan dengan dia, hanya
terhalang meja besar. “Kalau Jiwi malam-malam begini menemuiku, sudah pasti Jiwi membawa urusan
yang teramat penting. Nah, para pengawal sengaja kularang mendekat. Kita hanya bertiga saja.
Katakanlah apa kepentingan itu!” Sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang pembesar tinggi militer,
Liu Ciangkun bersikap tegas.
Sin Hong kemudian menceritakan dengan sejelasnya apa yang telah dialaminya dengan isterinya ketika
mereka mengintai dan mendengarkan percakapan di antara para tokoh dari Pek-lian-kauw dan Thian-lipang
yang dijamu oleh Ouw Ciangkun, perwira pasukan pengawal istana.
Mendengar laporan yang jelas itu, muka Liu Tai-ciangkun berubah merah dan dia marah bukan main, di
samping juga sangat terkejut. “Aku sudah meragukan perwira muda itu! Dia terlalu cepat mendapat
kenaikan pangkat, dan itu atas perintah Sri Baginda sendiri! Kiranya para pemberontak itu diam-diam
mempergunakan pengaruh Siang Hong-houw. Sungguh berbahaya sekali. Sekarang juga aku harus
mengerahkan satu pasukan untuk menangkap semua pengkhianat dan pemberontak itu!” Panglima itu
bangkit berdiri.
“Maaf, Tai-ciangkun. Kukira itu bukanlah tindakan yang tepat dan bijaksana!” kata Kao Hong Li.
Panglima itu mengerutkan alisnya, kemudian menghadapi wanita itu dengan sinar mata penasaran. “Aku
hendak mengerahkan pasukan menangkapi para pemberontak itu dan Lihiap mengatakan tidak tepat dan
tidak bijaksana? Apa maksud Lihiap?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tai-ciangkun, mereka kini berada di rumah penginapan umum di kota Heng-tai. Kalau Ciangkun
mengerahkan pasukan ke sana, tentu makan waktu lama dan setelah malam lewat, tentu mereka sudah
tidak lagi mengadakan rapat di sana. Ciangkun pasti akan terlambat,” kata Hong Li.
“Pula, di tempat terbuka mereka akan dapat melakukan perlawanan dengan baik. Ingat, mereka memiliki
banyak orang yang lihai!” kata pula Sin Hong.
“Andai kata Ciangkun tidak terlambat dan dapat menangkap mereka, lalu apa alasan Ciangkun untuk
menuntut mereka semua? Tak ada bukti sama sekali. Ciangkun hanya mendengar laporan kami. Kalau
Ouw-ciangkun itu menyangkal, apa yang akan dijadikan bukti? Ingat, Ouw-ciangkun dekat dengan Siang
Hong-houw. Kalau terjadi perdebatan tanpa bukti, apakah Ciangkun mampu melawan pengaruh Siang
Hong-houw yang tentu akan melindungi Ouw-ciangkun?”
Mendengarkan ucapan suami isteri itu, Liu Tai-ciangkun mengerutkan alisnya, meraba-raba jenggotnya
dan dia pun mengangguk-angguk. “Benar sekali apa yang Jiwi katakan. Untung Jiwi mengingatkan aku
sehingga tidak bertindak secara tergesa dan gegabah. Akan tetapi, lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Maaf, Ciangkun,” kata Hong Li. “Mereka bersiasat, sebaiknya kita hadapi dengan siasat pula. Ciangkun
pura-pura tidak tahu akan rencana jahat mereka, agar mereka lengah. Namun diam-diam Ciangkun
mengatur siasat pula untuk menghadapi rencana mereka itu, untuk menggagalkan rencana jahat mereka.
Tanggal lima belas kurang tiga hari lagi, masih ada waktu bagi Ciangkun untuk bersiap-siap mengatur
siasat.”
“Kalau Ciangkun dapat menyergap mereka di taman istana, akan ada dua keuntungan. Pertama, Ciangkun
dapat menangkap basah dengan bukti-bukti bahwa orang-orang Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang
menyusup ke dalam pasukan pengawal yang dipimpin Ouw-ciangkun di samping menangkap Ang-I Moli
yang hendak meracuni cawan para pangeran. Dan ke dua, penyergapan itu pasti berhasil baik karena
penjahat-penjahat itu telah terkurung di lingkungan istana, bagaimana mereka akan mampu lolos?” kata
Sin Hong.
Panglima itu mengangguk-angguk “Bagus! Jiwi sungguh berjasa besar. Usul Jiwi baik sekali!”
Panglima itu lalu berunding dengan mereka. Dia akan mengerahkan pasukan yang kuat untuk diam-diam
mengepung taman itu pada waktu pesta ulang tahun Siang Hong-houw berlangsung sehingga seluruh
pasukan pengawal bersama Ouw-ciangkun akan dapat tertangkap semua.
“Akan tetapi, kami sangat membutuhkan bantuan Jiwi. Permainan ini terlalu berbahaya. Keselamatan
nyawa para pangeran terancam dan menurut keterangan Jiwi sendiri tadi, Ang-I Moli yang akan bertindak
sebagai kepala pelayan itu yang akan meracuni cawan arak para pangeran. Oleh karena itu, sebaiknya
kalau Jiwi yang membantu kami untuk melindungi para pangeran dan mencegah perbuatan Ang-I Moli itu.
Demi kepentingan negara, kami mohon Jiwi tidak menolak dan jangan kepalang membantu kami dalam
menyelamatkan para pangeran dan mencegah terjadinya perbuatan yang amat keji dan jahat.”
Suami isteri itu saling pandang. Memang tidak semestinya kalau mereka membantu setengah-setengah.
Apa lagi mereka tahu bahwa bantuan mereka bukan berarti mereka berpihak kepada Kerajaan Mancu
semata, tetapi terutama sekali menentang golongan sesat yang hendak melakukan kejahatan besar.
“Baiklah, Tai-ciangkun,” kata Sin Hong dan isterinya juga mengangguk setuju. “Kami akan membantumu,
akan tetapi karena kami datang ke kota Heng-tai bersama puteri kami yang sekarang masih berada di
kamar rumah penginapan itu, maka kami akan menjemputnya lebih dahulu dan kalau kami membantu
Ciangkun, kami ingin menitipkan anak kami di rumah Ciangkun agar keselamatannya terjamin.”
“Ah, kenapa tidak Jiwi bawa sekalian sejak tadi? Baiklah, saya tunggu kedatangan Jiwi bersama puteri
Jiwi.”
Sin Hong dan Hong Li segera berpamit untuk kembali ke Heng-tai yang jauhnya belasan li dari benteng
pasukan di mana Liu Ciangkun tinggal di gedungnya itu. Panglima itu lalu mengantar mereka sampai di
pintu gerbang dan ketika melihat betapa panglima itu amat menghormati mereka, para prajurit penjaga juga
memberi hormat secara militer seolah suami isteri itu merupakan dua orang yang berpangkat tinggi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Malam telah berganti pagi ketika Sin Hong dan Hong Li tiba kembali di kota Heng-tai. Mereka langsung
saja menuju ke rumah penginapan yang kini nampak sudah sunyi walau pun masih ada prajurit pengawal
yang menjaga. Agaknya rapat itu sudah selesai dan kini para tokoh sesat itu entah bersembunyi di mana.
Sin Hong dan Hong Li segera menyelinap dan bersembunyi ketika tiba di belakang hotel itu dan dapat
melihat kesibukan di antara para prajurit pengawal. Kiranya Ouw Ciangkun sudah bersiap-siap
meninggalkan rumah penginapan itu.
Ketika Sin Hong dan Hong Li kembali ke kamar mereka, suami isteri ini mendapatkan pintu kamar itu tidak
terkunci. Mereka mendorong daun pintu kamar terbuka dan tidak melihat puteri mereka di dalam kamar!
Mereka mencari-cari di sekitar kamar, namun tak nampak bayangan Sian Li! Mulailah mereka merasa
khawatir, apa lagi ketika mereka meneliti tempat tidur anak itu dan mendapat kenyataan bahwa tempat
tidur itu masih rapi, tidak ada bekas ditiduri anak mereka.
Mereka cepat-cepat memanggil pelayan yang kemarin memberi kamar kepada mereka. Dengan sinar mata
penuh ancaman, Hong Li mendorong pelayan itu masuk kamar dan mencengkeram pundaknya.
“Hayo katakan di mana anak perempuan kami!”
Pelayan itu meringis kesakitan dan kedua lututnya menggigil. “Saya... saya tidak tahu..., apa... apa yang
telah terjadi maka Jiwi marah kepada saya?”
“Malam tadi kami meninggalkan anak kami seorang diri di kamar ini, tetapi sekarang ia tidak ada. Apakah
engkau melihatnya semalam? Hayo katakan, kalau engkau tidak mau mengaku atau berbohong, kami akan
membunuhmu!” Sin Hong yang biasanya tenang dan lembut itu, kini terpaksa menghardik dan mengancam
karena dia pun mulai gelisah sekali.
“Sungguh mati Taihiap dan Lihiap, sungguh mati saya tidak tahu. Semalam kami semua sibuk sekali
melayani semua perintah Ouw Ciangkun sehingga kami sama sekali tidak sempat mengurus hal-hal
lainnya. Kami semua tidak pernah melihat puteri Jiwi... tidak nampak Siocia keluar kamar. Sungguh mati
saya tidak tahu...”
Suami isteri itu saling pandang.
“Sudahlah,” akhirnya Sin Hong berkata. “Kalau engkau benar tidak tahu, tidak mengapa dan pergilah. Akan
tetapi awas, kalau engkau berbohong, kelak masih belum terlambat bagi kami untuk menghukummu!”
“Terima kasih, Taihiap, terima kasih, Lihiap... nanti kalau saya melihat atau mendengar tentang Siocia,
tentu akan segera saya laporkan kepada Jiwi...”
Hong Li mengangguk dan pelayan yang sudah menggigil ketakutan dengan muka pucat itu, kini bagaikan
seekor tikus yang baru saja lolos dari cengkeraman kucing, dia berlari keluar.
“Heran, ke mana Sian Li pergi?” Sin Hong berkata lirih.
“Tentu ada hal yang tidak beres! Akan kuserbu saja ke dalam dan akan paksa mereka mengaku di mana
anak kita!” kata Hong Li.
Akan tetapi Sin Hong memegang lengannya. “Sssttt, perlahan dulu. Tidak ada gunanya menggunakan
kekerasan. Kita berhadapan dengan perwira yang mempunyai pasukan! Tidak bisa kita menuduh mereka
begitu saja tanpa bukti. Sebaiknya kita mengamati kepergian mereka. Kalau jelas Sian Li berada dengan
mereka, baru kita turun tangan menyelamatkan puteri kita. Kalau tidak ada, kita harus mencari jalan lain.”
Hong Li menurut, akan tetapi ia nampak agak pucat dan gelisah. “Kalau Ang-I Moli yang melakukan
penculikan terhadap Sian Li, kali ini aku akan mengadu nyawa dengannya!”
“Yang penting, kita harus dapat menemukan dulu di mana adanya Sian Li, dan melihat anak kita itu dalam
keadaan selamat,” kata Sin Hong.
“Tidak ada kemungkinan lainnya,” berkata Hong Li. “Lenyapnya anak kita itu pasti ada hubungannya
dengan komplotan pemberontak yang semalam mengadakan rapat di sini. Tentu orang-orang Pek-liankauw,
Thian-li-pang dan para pemberontak itu yang harus bertanggung jawab.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Karena itu, kita amati saja mereka. Dan kita pun akan menghadapi mereka di istana. Di sana kita lebih
banyak mendapat kesempatan untuk menangkap Ang-I Moli, kemudian memaksanya mengaku untuk
mengembalikan anak kita.”
Setelah mencari-cari tanpa hasil, kemudian mengintai keberangkatan Ouw Ciangkun dan pasukannya dan
tidak melihat adanya Sian Li di sana bersama pasukan itu, juga mereka berdua tidak melihat adanya Ang-I
Moli beserta para tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, terpaksa, meski dengan hati berat, Sin Hong dan
Hong Li segera berlari ke benteng Liu Tai-ciangkun.
Panglima itu terkejut bukan main mendengar bahwa puteri sepasang pendekar itu telah lenyap dari kamar
rumah penginapan. “Jangan khawatir, Taihiap dan Lihiap, kami akan menyebar penyelidik untuk mencari
keterangan tentang puteri Jiwi (Kalian) itu.”
Dan seketika itu juga panglima Liu menyebar anak buahnya yang ahli untuk melakukan penyelidikan ke
kota Heng-tai dan sekitarnya, mencari jejak nona Tan Sian Li, gadis cilik berusia dua belas tahun itu.
Ada pun suami isteri itu sendiri oleh Liu Tai-ciangkun kemudian diselundupkan ke dalam istana. Mereka
menyamar sebagai pengawal-pengawal yang tergabung dalam pasukan pengawal istana bagian luar.
Dengan memegang tanda perintah khusus dari Liu Tai-ciangkun dan seorang perwira pasukan pengawal
yang menjadi sahabat panglima itu, Sin Hong serta Hong Li dapat bergerak bebas dalam istana itu tanpa
dicurigai orang. Tetapi, sepasang suami isteri ini hanya menyembunyikan diri sambil menanti datangnya
saat yang ditentukan, yaitu pada malam bulan purnama di taman besar, di mana Siang Hong-houw hendak
mengadakan pesta ulang tahunnya, dan dihadiri oleh semua pangeran…..
********************
Penanggalan Imlek dibuat menurut peredaran bulan mengelilingi bumi. Oleh karena itu, setiap tanggal lima
belas dapat dipastikan bahwa bulan purnama sebulat-bulatnya dan seterang-terangnya.
Malam itu bulan purnama amat cerahnya karena di langit tidak ada awan menghalang. Dan kemulusan
bulan ini menambah meriahnya pesta di taman istana yang amat indah. Lampu-lampu gantung beraneka
bentuk dan warna menambah indah suasana, seolah-olah menggantikan bintang-bintang yang tidak
nampak di langit karena sinarnya ditelan cahaya bulan purnama. Bunga-bunga di taman itu sedang mekar
semerbak, menambah keindahan malam itu.
Siang Hong-houw sudah berusia empat puluh tahun lebih. Akan tetapi, permaisuri ini masih nampak
anggun dan jauh lebih muda dari usia yang sesungguhnya. Sanggulnya tinggi dan dihias emas permata,
pakaiannya juga gemerlapan dan semua itu ditambah kecantikannya dan senyumnya yang tidak pernah
meninggalkan bibirnya, membuat dia nampak cantik jelita dan menarik sekali. Para pangeran yang hadir
adalah putera-putera tirinya, dan semua pangeran menyayang Siang Hong-houw yang selalu bersikap
manis terhadap mereka.
Pesta berjalan dengan meriah. Delapan orang pangeran dan enam belas orang puteri hadir. Mereka
semua adalah saudara-saudara seayah berlainan ibu. Kaisar sendiri tidak hadir, juga tidak ada selir lainnya
yang hadir. Hal ini memang dikehendaki Siang Hong-houw yang ingin berpesta dengan anak-anak tirinya
saja untuk menghibur hatinya.
Untuk membuat pesta bertambah meriah, serombongan besar pemusik, penyanyi dan penari menyajikan
hiburan-hiburan yang bermutu. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin Hong dan Hong Li, tentu saja atas
usaha Liu Tai-ciangkun, untuk berbaur dengan rombongan seniman dan seniwati itu agar mereka dapat
hadir lebih dekat dengan para pangeran. Kalau mereka menyamar menjadi pengawal, maka kehadiran
mereka tentu dalam jarak yang jauh dan sukar bagi mereka untuk melindungi para pangeran.
Taman itu sendiri dijaga oleh tiga puluh lebih orang pengawal yang merupakan pasukan istimewa dan yang
dipimpin oleh Ouw-ciangkun.
Biar pun mereka berada di antara para seniman, Sin Hong dan Hong Li selalu waspada mengamati
keadaan di sekeliling. Terutama sekali mereka memperhatikan para prajurit yang berjaga di situ karena
mereka tahu bahwa di antara para prajurit itu tentu terdapat para tokoh sesat yang menyelundup. Mereka
dunia-kangouw.blogspot.com
melihat betapa Ouw-ciangkun sendiri turun tangan melakukan perondaan di dalam taman itu, seakan-akan
hendak menjaga dan melindungi semua orang yang sedang berpesta di dalam taman.
Tempat pesta itu sendiri berada di tengah taman, di mana terdapat sebuah kolam ikan yang dikelilingi
petak rumput yang luas. Di atas petak rumput inilah dipasangi kursi-kursi dan meja yang mengelilingi kolam
ikan. Suasana sungguh meriah dan gembira, walau pun yang sedang berpesta tidak terlalu banyak.
Ketika Sin Hong dan Hong Li melayangkan pandang mata mereka ke arah mereka yang sedang berpesta,
kedua orang suami isteri ini terkejut bukan main. Terkejut, heran dan juga amat girang karena mereka
melihat seorang kakek yang gagah, yang mereka kenal karena kakek itu bukan lain adalah Suma Ciang
Bun!
Dan di dekat kakek itu duduk seorang wanita setengah tua yang nampak asing, namun wanita ini masih
nampak cantik dan juga sikapnya gagah sekali. Sin Hong dan Hong Li tidak mengenal wanita itu, akan
tetapi kehadiran Suma Ciang Bun di tempat itu sungguh membuat mereka heran akan tetapi juga girang.
Bagaimana Suma Ciang Bun dapat berada di taman itu dan menjadi seorang di antara mereka yang ikut
berpesta? Seperti kita ketahui, Suma Ciang Bun dan nenek Gangga Dewi melakukan perjalanan bersama
untuk mencari Yo Han yang diculik Ang-I Moli. Mereka terus membayangi Ang-I Moli selama bertahuntahun,
namun akhirnya mereka kehilangan jejak iblis betina itu.
Setelah mencari dengan sia-sia, akhirnya mereka berdua terpaksa menghentikan usaha mereka mencari
Yo Han. Mereka telah bergaul dengan akrab dan mudah bagi mereka untuk menyadari bahwa api yang
puluhan tahun lalu membakar hati mereka ternyata masih belum padam. Mereka masih saling mencinta!
Dan pada suatu hari yang baik, Gangga Dewi yang lebih tegas dan berani dibandingkan Suma Ciang Bun,
menyatakan perasaannya itu kepada Suma Ciang Bun. Pendekar ini menyambutnya dengan terharu dan
gembira sampai tak tertahan lagi Suma Ciang Bun menangis!
Akhirnya, Suma Ciang Bun mengajak Gangga Dewi untuk berkunjung ke sebuah kuil. Kepala kuil itu
adalah seorang sahabatnya, seorang pendeta Agama To. Tosu itulah yang mengatur upacara pernikahan
antara Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, tanpa dihadiri seorang pun tamu, hanya disaksikan oleh
delapan orang tosu lainnya. Namun, secara hukum agama pernikahan itu sudah sah dan sejak saat itu,
Suma Ciang Bun hidup bersama Gangga Dewi sebagai suami isteri!
Dalam perjalanan mereka melakukan perantauan, keduanya hidup dengan rukun saling mencinta dan
saling menghormat. Dalam banyak hal, Gangga Dewi bersikap kejantanan dan menjadi pemimpin,
sedangkan Suma Ciang Bun lebih kewanitaan dan lebih banyak menyetujui apa yang diputuskan oleh
isterinya.
Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi mengunjungi keluarga pendekar itu. Mereka sudah berkunjung ke
rumah Kao Cin Liong dan Suma Hui kakak perempuannya, juga sudah mengunjungi rumah Suma Ceng
Liong. Dua orang saudaranya ini menerima mereka dengan gembira sekali. Mereka itu semua menyatakan
perasaan sukur bahwa akhirnya Suma Ciang Bun menemukan jodohnya, walau pun sudah agak terlambat.
Apa lagi yang dipilihnya adalah bekas kekasihnya dahulu, dan puteri dari mendiang Wan Tek Hoat pula.
Masih ada hubungan yang tidak jauh!
Demikianlah, pada saat mereka berdua merantau sampai ke kota raja, Gangga Dewi teringat kepada Siang
Hong-houw yang sudah dikenalnya sebelum menjadi selir Kaisar, ketika masih tinggal di barat dahulu.
Karena pengawal istana melaporkan kepada Siang Hong-houw bahwa ada seorang wanita yang bernama
Gangga Dewi dari Bhutan datang berkunjung bersama suaminya, permaisuri itu menjadi gembira bukan
main. Cepat dia menyambut dan ketika bertemu, kedua orang wanita itu saling rangkul dengan akrab
sekali.
Demikian girangnya hati Siang Hong-houw bisa bertemu dengan sahabat lamanya yang mendatangkan
kenangan lama sebelum dia menjadi selir Kaisar, sehingga dia menahan Gangga Dewi dan Suma Ciang
Bun supaya tinggal di istana sebagai tamunya, tamu kehormatan dan agar dapat turut menghadiri pesta
ulang tahunnya yang diadakan pada tanggal lima belas.
Gangga Dewi yang berpengalaman itu dapat melihat betapa sesungguhnya sahabatnya itu menderita
tekanan batin walau pun hidup di dalam gemerlapnya kemewahan dan kemuliaan, maka ia merasa amat
kasihan kepada sahabatnya itu. Dibandingkan dengan sahabatnya yang hidup sebagai seorang permaisuri
dunia-kangouw.blogspot.com
yang mulia, ia merasa berbahagia sekali dan merasa jauh lebih beruntung biar pun ia bersama suaminya
hidup sederhana, bahkan selama ini hidup sebagai perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Oleh
karena itu, ia membujuk suaminya untuk memenuhi permintaan Siang Hong-houw dan tinggal di istana
sampai tiba saatnya pesta ulang tahun itu.
Ketika akhirnya pesta pada malam hari itu tiba, diam-diam mereka pun merasa heran mengapa Siang
Hong-houw merayakan ulang tahunnya secara demikian sederhana, tidak dihadiri Kaisar, tidak pula
dihadiri oleh para selir lain atau pejabat tinggi, melainkan dihadiri oleh semua pangeran dan puteri, anakanak
tiri Siang Hong-houw.
Suma Ciang Bun sama sekali tidak pernah menduga bahwa di antara para seniman dan seniwati yang
menghibur di pesta itu, terdapat Tan Sin Hong dan Kao Hong Li! Tentu saja Suma Ciang Bun tidak
mengenal kedua orang itu karena Sin Hong dan Hong Li mengenakan bedak yang tebal dan mengubah
corak wajah mereka.
Sementara itu Ang-I Moli berpakaian sebagai pelayan kepala. Dia pun memakai riasan penyamaran
supaya jangan dikenal orang. Ketika Ouw Ciangkun menyarankan kepada Siang Hong-houw agar Ang-I
Moli bisa diterima sebagai kepala pelayan, dengan alasan bahwa keamanan di situ harus dijaga ketat,
Siang Hong-houw yang tidak menyangka buruk menerimanya begitu saja. Dapat dibayangkan betapa
kagetnya rasa hati Ang-I Moli ketika ia mengenal Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.
Sungguh tidak dinyana sama sekali bahwa dua orang yang amat lihai itu berada pula di situ sebagai tamu!
Tentu saja Ang-I Moli menjadi bingung. Apakah artinya itu? Apakah Siang Hong-houw sudah menduga
akan sesuatu dan sengaja mendatangkan dua orang lihai itu untuk menjamin keamanan di situ?
Beberapa kali Ang-I Moli mencari-cari Ouw Ciangkun dengan pandang matanya. Akan tetapi ia tidak
memiliki kesempatan lagi untuk berunding dengan perwira itu. Munculnya Suma Ciang Bun dan Gangga
Dewi demikian mendadak dan tidak tersangka-sangka sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk berunding
dengan sekutunya lagi. Bagaimana pun juga, rencana semula harus dilanjutkan!
Ang-I Moli sama sekali tidak tahu bahwa kejutan baginya bukan hanya munculnya Suma Ciang Bun dan
Gangga Dewi. Ia tidak tahu bahwa di antara para seniman itu terdapat pula dua orang yang ditakutinya,
yaitu Tan Sin Hong dan Kao Hong Li. Ia tidak dapat mengenal mereka, akan tetapi suami isteri itu dapat
segera mengenalnya.
Hal ini bukan karena penyamarannya kurang baik. Sama sekali tidak. Andai kata suami isteri itu belum tahu
bahwa dia akan menyamar sebagai kepala pelayan dan bertugas memberi racun pada cawan arak para
pangeran, agaknya belum tentu suami isteri pendekar itu akan mengenalnya.
Akan tetapi, di luar tahunya, Sin Hong dan Hong Li segera dapat mengenali kepala pelayan setengah tua
yang cantik dan lembut itu, dan mereka sudah siap siaga dan mengamati gerak-gerik Ang-I Moli dengan
seksama. Suami isteri pendekar ini maklum bahwa pada saat itu, Liu Tai-ciangkun tentu juga sudah
mengerahkan pasukan untuk mengepung taman itu dan memblokir semua jalan keluar dari dalam istana.
Sejak tadi, nampak Ang-I Moli mengatur para pelayan, gadis-gadis manis yang cekatan, untuk
mengeluarkan hidangan dan keadaan berjalan lancar tanpa ada sesuatu hal yang mencurigakan.
Kemudian, tibalah saat menegangkan yang dinanti-nanti oleh Sin Hong dan Hong Li.
Permaisuri itu memberi isyarat pada pelayan pribadinya yang datang membawa sebuah guci arak yang
bentuknya asing dan indah, yang terbuat dari emas murni. Dengan sikap lembut dan ramah, Siang Honghouw
mengangkat guci itu ke atas, memperlihatkannya kepada anak-anak tirinya, juga kepada Suma
Ciang Bun dan Gangga Dewi, kemudian berkata,
“Aku masih menyimpan seguci anggur buatan bangsaku Uighur yang amat baik, sudah puluhan tahun
umurnya. Selain amat manis dan lezat, juga kasiatnya dapat membuat badan sehat dan semangat tinggi.”
Para pangeran bersorak gembira, sedangkan para puteri tersenyum-senyum. Gangga Dewi menyentuh
lengan suaminya. “Anggur Uighur yang sudah puluhan tahun umurnya memang amat hebat.”
Ang-I Moli menghampiri Siang Hong-houw, kemudian dia berkata dengan penuh hormat dan halus,
“Perkenankan hamba sendiri yang mewakili Paduka menuangkan anggur ke dalam cawan para tamu yang
mulia.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Oleh karena sejak pertama kali Ang-I Moli bersikap halus, ramah dan sopan sehingga menyenangkan hati
Siang Hong-houw, maka dia pun mengangguk dan menyerahkan guci anggur itu kepada kepala pelayan
baru yang cekatan itu.
Ang-I Moli dengan sikapnya yang menarik dan lembut, segera menuangkan anggur dari guci itu ke dalam
cawan di depan Siang Hong-houw, kemudian ke dalam cawan arak di depan Gangga Dewi dan Suma
Ciang Bun yang sama sekali tidak mencurigai sesuatu. Kemudian, dengan teliti dan tahu peraturan, kepala
pelayan itu menuangkan anggur ke dalam cawan para pangeran, mulai dari yang paling tua sampai yang
paling muda, baru menuangkan anggur ke dalam cawan para puteri.
Semua hal itu dilakukan dengan tepat dan cermat, tidak ada setetes pun anggur yang menetes keluar
sehingga semua orang merasa senang. Juga tidak ada yang menduga bahwa ketika menuangkan anggur
untuk para pangeran, kecuali untuk Pangeran Kian Ban Kok, kuku jari telunjuk kiri wanita itu sempat
menjentik keluar bubuk racun yang sebelumnya sudah dipersiapkan, menempel di ujung lengan baju
sehingga di setiap cawan arak itu terpecik bubuk racun halus yang tidak kelihatan orang lain.
Sin Hong dan Hong Li sendiri akan sukar dapat mengetahui gerakan ini, akan tetapi sebelumnya mereka
sudah tahu, tentu saja perhatian mereka tercurah ke arah tangan wanita itu dan mereka tahu bahwa bubuk
racun telah disebar dan dibagi. Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sendiri, yang lihai dan berpengalaman,
tidak tahu akan hal itu karena mereka tidak menyangka buruk.
Ketika semua cawan telah terisi dan Siang Hong-houw mendahului mengangkat cawan dan
mempersilakan semua orang minum, dan semua orang telah mengangkat cawan masing-masing dengan
wajah amat gembira penuh senyum, tiba-tiba terdengar seruan nyaring.
“Tahan semua cawan! Harap Paduka sekalian jangan minum anggur itu!”
Tentu saja semua orang, termasuk Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi, terkejut dan heran mendengar
teriakan itu dan semua orang memandang ketika Kao Hong Li keluar dari rombongan seniman seniwati
yang sejak tadi menghibur para tamu dengan musik, nyanyian dan tarian mereka.
Karena tidak ingin gagal, Hong Li cepat menyambung teriakannya tadi sambil memberi hormat kepada
semua orang yang merupakan keluarga agung Kaisar. “Harap Paduka semua jangan minum anggur itu
karena semua cawan sudah diracuni, kecuali cawan para puteri dan Pangeran Kian Ban Kok. Semua
cawan pangeran lain telah diracuni dan siapa yang minum anggur itu akan tewas!”
Tentu saja semua orang terkejut bukan main mendengar ini dan otomatis semua orang meletakkan cawan
masing-masing di atas meja dan memandang cawan itu dengan hati ngeri.
Melihat ini, Pangeran Kian Ban Kok bangkit berdiri dengan muka merah karena marah. Tadi wanita itu
mengatakan bahwa semua pangeran diberi racun, kecuali dia. Ini sama saja dengan menuduh bahwa
kalau benar ada yang meracuni para pangeran, maka pelaku itu bersekongkol dengan dia karena dia
sendiri tidak diracuni.
“Perempuan rendah! Engkau hanya seorang wanita penghibur! Sungguh lancang sekali mulutmu menuduh
Ibu Permaisuri hendak meracuni para pangeran! Engkau berbohong dan akan kubuktikan.”
Pangeran Kian Ban Kok yang sungguh tidak tahu bahwa diam-diam dia dipilih oleh para pemberontak
untuk menjadi pangeran tunggal karena ibunya ialah seorang wanita Han, cepat menyambar cawan anggur
di depan pangeran yang duduk di sebelah kanannya, kemudian sekali tuang, isi cawan itu memasuki
tenggorokannya.
“Nah, aku sudah minum dari cawan seorang pangeran lain! Apa engkau masih berani mengatakan bahwa
cawan semua pangeran, kecuali aku, sudah diberi racun?!” bentak Pangeran Kian Ban Kok.
Akan tetapi semua orang terbelalak memandang pangeran ini karena melihat betapa wajah pangeran ini
berubah kehijauan, lalu menghitam dan tiba-tiba dia mengeluarkan teriakan melengking dan terjungkal
roboh. Dia tewas seketika! Terdengar jeritan-jeritan para puteri dan teriakan para pangeran yang menjadi
panik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat keadaan yang kacau ini, Ang-I Moli terkejut bukan main. Ia lantas tahu bahwa rahasianya diketahui
wanita anggota rombongan pemusik itu dan akibatnya sungguh hebat. Pangeran Kian Ban Kok yang
seharusnya menjadi satu-satunya pangeran yang tidak terbunuh, kini malah keracunan dan tewas. Maklum
bahwa keadaannya di situ berbahaya, ia pun menjadi bingung.
Tiba-tiba terdengar bunyi suitan. Itu merupakan tanda dan teringatlah Ang-I Moli bahwa menurut rencana
mereka, kalau sampai usaha mereka meracuni para pangeran itu gagal, maka jalan satu-satunya hanyalah
mempergunakan kekerasan membunuhi para pangeran! Maka, tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan ia
sudah memegang pedang yang tadi ia sembunyikan di balik bajunya.
Akan tetapi, tiba-tiba wanita anggota pemusik yang tadi berteriak, sudah meloncat ke depannya dan wanita
itu berseru, “Ang-I Moli, sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!”
Wanita itu sudah menggosok mukanya yang tertutup bedak tebal, kemudian menoleh ke arah Suma Ciang
Bun dan berteriak, “Paman Suma Ciang Bun, aku Kao Hong Li. Cepat lindungi para pangeran! Ada
komplotan pombunuh!”
Pada saat itu pula, Ang-I Moli yang terkejut ketika mendengar pengakuan Kao Hong Li, telah
menyerangnya dengan tusukan pedang. Tapi Kao Hong Li sudah cepat mengelak dan membalas dengan
tamparan tangan kiri yang mengandung hawa beracun karena ia menggunakan ilmu pukulan Ban-tokciang.
Sementara itu, Sin Hong sudah pula meloncat dari rombongan pemusik dan pada saat itu, dua orang
prajurit pengawal yang memegang pedang terhunus sudah berloncatan untuk menyerang para pangeran.
Dengan hantaman tangan dan tendangan kaki, dia membuat dua orang anggota Thian-li-pang yang
menyamar sebagai prajurit pengawal itu terjengkang dan terpelanting.
“Paman Suma Ciang Bun, cepat selamatkan para pangeran!” teriak pula Sin Hong.
Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi sudah berloncatan ke depan. Mereka tadinya amat bingung, akan
tetapi begitu tadi mendengar suara Kao Hong Li, Ciang Bun terkejut dan juga girang. Apa lagi ketika
melihat munculnya Sin Hong. Mendengar seruan Sin Hong, dia lalu menyambar lengan isterinya.
“Mari kita lindungi mereka!”
Suami isteri ini berloncatan melindungi para pangeran yang terlihat sangat bingung dan ketakutan. Ketika
ada prajurit-prajurit pengawal dengan senjata di tangan menyerbu ke arah para pangeran. Suma Ciang
Bun dan Gangga Dewi menggerakkan tangan kaki dan robohlah empat orang penyerbu.
Sementara itu, wajah Siang Hong-houw menjadi pucat sekali pada waktu tadi ia melihat betapa Pangeran
Kian Ban Kok roboh dan tewas begitu minum arak dari cawan seorang pangeran lain. Permaisuri Kaisar ini
sama sekali tak tahu tentang rencana pembunuhan keji terhadap para pangeran itu dan begitu kini telah
jatuh korban, tentu saja ia menjadi terkejut dan gelisah.
Apa lagi saat para prajurit pengawal yang seharusnya bertugas melindungi keselamatan keluarga Kaisar,
kini berbalik malah hendak membunuh para pangeran. Dan dia sudah melibatkan diri dengan pembunuhpembunuh
itu!
Kalau ia mau bekerja sama dengan Thian-li-pang, hal itu ia kerjakan karena ia melihat Thian-li-pang
sebagai pejuang untuk mengusir penjajah Mancu. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa sekutu itu
akan bertindak demikian nekatnya, meracuni dan hendak membunuh para pangeran. Padahal, sebelumnya
ia sudah mendapatkan janji mereka bahwa mereka tidak akan menggunakan kekerasan di dalam istana.
Ia merasa telah ditipu dan dibohongi, dan tahu bahwa ia ikut bertanggung jawab karena dialah yang
menerima masuknya orang-orang Thian-li-pang seperti Ouw Cun Ki yang dijadikan panglima pasukan
pengawal, bahkan baru saja ia menerima pula wanita cantik sebagai kepala pelayan dalam pesta itu!
Melihat munculnya seorang wanita beserta seorang pria dari rombongan pemusik yang menentang usaha
pembunuhan para pangeran, bahkan ketika melihat dua orang tamu agungnya, yaitu Gangga Dewi dan
suaminya juga sudah berloncatan melindungi para pangeran, Siang Hong-houw cepat bertindak.
“Mari cepat menyingkir ke dalam!” katanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia bersama para pangeran dan puteri meninggalkan tempat yang kini menjadi medan pertempuran itu,
kembali ke istana, dikawal oleh Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi. Setelah semua pangeran dan puteri
memasuki istana bersama Siang Hong-houw, dan jenazah Pangeran Kian Ban Kok diangkut masuk pula,
barulah suami isteri itu kembali ke taman dan ikut membantu pasukan menghadapi anak buah gerombolan
yang terdiri dari tokoh-tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw itu.
Pasukan pengawal yang dipimpin Ouw Ciangkun yang bukan lain adalah Ouw Cun Ki putera Ketua Thianli-
pang sendiri, yaitu Ouw Ban, bukan semua anggota Thian-li-pang. Anggota Thian-li-pang dan Pek-liankauw
yang diselundupkan oleh Ouw Cun Ki menjadi prajurit pasukan pengawal hanya ada dua puluh orang
lebih. Selebihnya adalah prajurit pengawal asli.
Oleh karena itu, ketika para prajurit asli melihat bahwa pasukan mereka dikepung oleh pasukan besar
pimpinan Panglima Liu, mereka terkejut dan heran. Akan tetapi, melihat adegan di taman itu, dan
mendengar betapa pemimpin mereka ternyata adalah seorang pemberontak yang hendak membunuh para
pangeran, tentu saja sikap mereka segera membalik dan turut menyerang orang-orang Thian-li-pang dan
Pek-lian-kauw. Terjadilah pertempuran yang berat sebelah karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-liankauw,
biar pun rata-rata pandai ilmu silat, dikeroyok banyak sekali lawan.
Melihat betapa keadaan amat tidak menguntungkannya, Ouw Cun Ki melompat hendak melarikan diri.
Akan tetapi, nampaklah bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pria gagah dengan pakaian serba
putih telah berdiri tepat di depannya. Orang ini bukan lain adalah Tan Sin Hong yang sudah menanggalkan
jubahnya sebagai pemain musik dan kini mengenakan pakaian putihnya yang ringkas.
“Ouw Cun Ki, engkau hendak lari ke mana? Engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu!” kata
Sin Hong.
“Penjilat busuk, anjing penjajah Mancu!” teriak Ouw Cun Ki. Dia sudah mempergunakan pedangnya untuk
menusuk ke arah dada Sin Hong.
Muka Sin Hong berubah merah ketika menerima makian ini, akan tetapi karena dia tahu bahwa Thian-lipang
adalah perkumpulan orang jahat dan sudah bersekongkol dengan Pek-lian-kauw yang berkedok
perjuangan namun diam-diam menyembunyikan pamrih yang mementingkan diri sendiri, maka dia tahu
bahwa dia bukan berhadapan dengan para pahlawan pejuang, melainkan dengan para penjahat.
“Jahanam, orang macam engkau ini yang mengotorkan perjuangan!” bentaknya sambil mengelak dan
membalas dengan tendangan yang biar pun dapat dihindarkan Ouw Cun Ki, namun tetap saja membuat
putera Ketua Thian-li-pang itu terhuyung.
Ouw Cun Ki putera Ouw Ban Ketua Thian-li-pang ini baru berusia dua puluh tiga tahun, tampan gagah dan
telah mewarisi ilmu kepandaian ayahnya. Tentu saja dia lihai sekali dan termasuk seorang tokoh Thian-lipang
yang berkedudukan penting.
Akan tetapi, kali ini dia berhadapan dengan Pendekar Bangau Putih Tan Sin Hong yang sudah
menggunakan ilmu andalannya, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih). Maka, walau pun pemuda
itu memegang pedang dan menyerang dengan nekat, dalam beberapa gebrakan saja dia sudah terdesak
oleh pukulan, totokan dan tendangan Sin Hong yang membuat dia terus mundur dan kadang terhuyung.
Sementara itu, pertandingan antara Kao Hong Li melawan Ang-I Moli berlangsung seru. Kepandaian kedua
orang wanita ini lebih seimbang dibandingkan kepandaian antara Sin Hong dan Ouw Cun Ki.
Ang-I Moli kini telah menguasai ilmu barunya, yaitu Toat-beng Tok-hiat (Darah beracun Pencabut Nyawa)
yang amat hebat. Ilmu ini dilatih secara menyeramkan karena telah puluhan orang anak laki-laki
dikorbankan untuk mematangkannya. Dan kini Ang-I Moli telah menguasai ilmu itu, bahkan telah dapat
membuat obat penawar pukulan beracun itu yang dipelajarinya dari Thian-te Tok-ong.
Melihat betapa lihainya Kao Hong Li, Ang-I Moli yang menggunakan pedang di tangan kanan itu, lalu
menyelingi serangannya dengan dorongan tangan kiri yang mengandung pukulan beracun yang amat jahat
itu.
Ketika pertama kali Ang-I Moli menyerang dengan dorongan telapak tangan kiri yang mengeluarkan
semacam uap putih dan yang juga membawa bau yang busuk seperti bau mayat, Hong Li maklum bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
dia menghadapi pukulan beracun yang berbahaya. Maka, ia pun cepat-cepat mengerahkan tenaga dari
ilmu Ban-tok-ciang (Tangan Racun Selaksa) yang juga merupakan ilmu pukulan yang mengandung hawa
beracun. Biar pun tidak sejahat Toat-beng Tok-hiat, akan tetapi juga tidak kalah ampuhnya.
“Plakkk!”
Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, tubuh kedua orang wanita itu terdorong ke belakang.
Keduanya terkejut, akan tetapi yang merasa lebih penasaran adalah Ang-I Moli. Setelah berhasil
menguasai Toat-beng-tok-hiat, ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada ilmu pukulan yang dapat
menandingi ilmunya itu!
Sebelum kedua orang wanita ini kembali saling terjang, mendadak nampak bayangan berkelebat dan
Gangga Dewi telah berhadapan dengan Ang-I Moli.
“Iblis betina Ang-I Moli, sekarang aku mengenalmu! Di mana kau sembunyikan Yo Han? Hayo cepat beri
tahu atau terpaksa aku akan menyiksamu untuk mengaku!” bentakan Gangga Dewi ini selain sangat
mengejutkan hati Ang-I Moli, juga membuat Kao Hong Li memandang heran. Ia tidak mengenal wanita
cantik yang tadi dia lihat duduk di sebelah pamannya, Suma Ciang Bun. Dan sekarang wanita ini mengenal
Ang-I Moli, bahkan menyebut-nyebut nama Yo Han!
Ang-I Moli sudah pernah bertemu dan bertanding dengan Gangga Dewi dan dia tahu akan kelihaian wanita
Bhutan itu. Tak disangkanya bahwa wanita itu dapat mengenal ia yang sudah menyamar.
“Mampuslah!” bentaknya dan ia pun menggerakkan pedangnya menusuk.
Gangga Dewi memiliki ginkang yang hebat dan dia mampu bergerak cepat bukan main. Serangan pedang
itu dapat dielakkannya dengan amat mudah dan begitu tangan kirinya bergerak, nampaklah gulungan sinar
putih mengkilat yang panjang seperti seekor ular menyambar. Kiranya Gangga Dewi telah membalas pula
dengan serangan sabuk sutera putihnya. SabĪ¼k itu meluncur kaku bagaikan berubah menjadi tongkat
menotok ke arah dada Ang-I Moli.
Ang-I Moli menangkis dengan pedangnya, dan tangan kirinya mendorong dengan ilmu yang
diandalkannya, yaitu Toat-beng Tok-hiat. Serangkum uap putih yang berbau busuk menyambar dan
Gangga Dewi cepat meloncat ke belakang, maklum bahwa lawannya itu menggunakan pukulan beracun
yang amat jahat.
“Bibi, biar aku yang menghalau iblis betina ini!” Kao Hong Li membentak.
Hong Li menerjang maju, sekali ini menggunakan jurus-jurus Sin-liong Ciang-hoat dari Istana Gurun Pasir.
Demikian hebatnya daya serang ilmu ini sehingga Ang-I Moli yang memegang pedang itu tidak berani
menyambut dan terhuyung ke belakang.
Gangga Dewi sudah mendapat bisikan dari suaminya siapa adanya Kao Hong Li, yaitu keponakan
suaminya, puteri dari Kao Cin Liong dan Suma Hui, maka ia pun memutar sabuk suteranya dan berseru.
“Kao Hong Li, aku adalah isteri pamanmu Suma Ciang Bun. Namaku Gangga Dewi dari Bhutan.”
Mendengar ini, Hong Li merasa heran akan tetapi juga gembira. Ia pernah mendengar akan keadaan
pamannya, Suma Ciang Bun yang mempunyai kelainan, tidak menyukai wanita karenanya tidak mau
menikah. Dan kini tahu-tahu dia mempunyai seorang isteri yang cantik, seorang wanita Bhutan. Dan ia pun
teringat bahwa ayah dan ibunya pernah bercerita tentang seorang puteri Bhutan bernama Syanti Dewi
yang menikah dengan pendekar Wan Tek hoat, saudara tiri dari neneknya, yaitu mendiang nenek, Wan
Ceng!
“Apakah engkau puteri dari kakek Wan Tek Hoat, Bibi?” katanya sambil mengelak dari sambaran pedang
Ang-I Moli yang sudah membalas serangannya.
“Benar! Mari kita tundukkan iblis ini, Hong Li!”
Kao Hong Li semakin gembira dan kedua orang wanita ini mendesak Ang-I Moli yang menjadi sibuk sekali.
Menghadapi seorang di antara mereka saja, amat sukar baginya untuk mendapatkan kemenangan. Kini
mereka maju bersama mengeroyoknya. Tentu saja ia kewalahan dan terus mundur.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Singgg...!”
Dengan nekat Ang-I Moli membacokkan pedang ke arah kepala Gangga Dewi. Wanita Bhutan ini
mengelebatkan sabuknya yang kini menjadi lemas dan sabuk itu menyambut pedang, terus melibatnya
dengan kuat.
Ang-I Moli terkejut dan berusaha menarik lepas pedangnya, namun sia-sia saja karena sabuk sutera putih
itu sudah melibat pedang dengan amat kuatnya. Ketika dia sedang bersitegang dan menarik-narik
pedangnya supaya terlepas, Hong Li sudah meloncat ke depan. Sekali jari tangannya meluncur dan
menotok, Ang-I Moli roboh terkulai dengan lemas.
Hong Li menginjak perut Ang-I Moli. Melihat ini, Gangga Dewi berseru, “Jangan bunuh dulu!”
Hong Li memandang wanita Bhutan itu sambil tersenyum. “Bibi, tentu aku tidak ingin membunuhnya. Akan
kuserahkan kepada Liu Tai-ciangkun. Akan tetapi, dia harus lebih dahulu mengatakan di mana dia
menyembunyikan puteriku. Hayo, Moli, tiada gunanya engkau melawan lagi. Aku dapat membunuhmu,
menyiksamu. Katakan di mana engkau menyembunyikan puteriku, dan aku tidak akan menyiksamu,
melainkan menyerahkan engkau kepada Liu Ciangkun.”
“Aku tidak tahu, aku tak pernah melihat puterimu,” jawab Ang-I Moli dengan sikap acuh. Ia tahu bahwa ia
telah kalah dan tertawan, akan tetapi wanita sesat yang lihai dan cerdik ini tidak merasa gentar. Selama dia
masih hidup, ia tidak akan pernah putus asa dan menyerah.
“Bohong! Puteriku yang kami tinggalkan di rumah penginapan itu telah hilang. Siapa lagi kalau bukan
engkau dan kawan-kawanmu yang sudah manculiknya? Hayo katakan, di mana dia!”
“Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu. Terserah engkau mau percaya atau tidak,” jawab Ang-I Moli acuh.
“Iblis busuk, engkau benar-benar patut dihajar!” Hong Li yang sangat mengkhawatirkan puterinya,
mengangkat tangan hendak memukul. Akan tetapi Gangga Dewi menyentuh pundaknya.
“Nanti dulu, Hong Li. Ia harus memberi tahu dulu di mana adanya Yo Han. Ang-I Moli, engkau dan dua
orang tosu itu melarikan Yo Han. Beberapa tahun yang lalu aku pernah mengejarmu dan mencarimu, tetapi
gagal. Nah, katakan di mana Yo Han sekarang?”
Ang-I Moli tersenyum mengejek. “Yo Han sudah menjadi murid pimpinan Thian-li-pang dan dia sudah
menjadi orang Thian-li-pang. Kalau engkau hendak mencarinya, carilah di Thian-li-pang.”
Karena dapat menduga bahwa dalam keadaan seperti itu, Ang-I Moli kiranya tidak ada perlunya lagi
membohong. Hong Li tidak mendesaknya lagi melainkan menyerahkan wanita itu kepada seorang perwira
untuk dibelenggu dan dijadikan tawanan.
“Bibi, kita tangkap yang lain dan paksa mereka mengaku di mana anakku Sian Li dan di mana pula adanya
Yo Han,” kata Hong Li dan kedua orang wanita ini lalu terjun lagi ke dalam pertempuran.
Sementara itu, Sin Hong yang juga sudah berhasil menundukkan dan merobohkan Ouw Cun Ki tanpa
membunuhnya. Bekas perwira pasukan pengawal hasil selundupan orang Thian-li-pang ini dibelenggu dan
menjadi tawanan. Melihat betapa isterinya dan wanita Bhutan itu mengamuk, membantu Suma Ciang Bun,
Sin Hong juga membantu mereka dan keadaan para tokoh Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw semakin
terdesak. Akhirnya belasan orang dapat ditawan dan beberapa orang tewas.
Kaisar Kian Liong marah sekali mendengar bahwa Ouw Cun Ki yang dipercaya dan diberi anugerah
pangkat tinggi itu ternyata ialah mata-mata pemberontak Thian-li-pang yang diselundupkan ke istana. Dia
memerintahkan para panglimanya untuk menghukum berat kepada para pemberontak itu, yaitu hukuman
buang dan hukum mati bagi para pemimpinnya.
Meski tiada bukti bahwa Siang Hong-houw terlibat langsung dengan para pemberontak, namun permaisuri
itulah yang memberi angin dan yang memperkenalkan Ouw Cun Ki kepada Kaisar. Akan tetapi ketika
Kaisar yang merasa tidak enak hati dan tidak senang mengunjungi permaisurinya, dia mendapatkan bahwa
Siang Hong-houw sedang rebah dan dalam keadaan sakit keras.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat keadaan Siang Hong-houw, Kaisar tidak tega lagi untuk menegur atau bertanya. Dan memang
penyakit permaisuri itu cukup payah, bahkan pertolongan para tabib tidak mampu mengurangi
penderitaannya. Permaisuri ini merasa amat berduka dan kecewa karena telah dibohongi untuk kedua
kalinya oleh orang-orang Thian-li-pang.
Hampir saja semua pangeran tewas keracunan, dan kalau hal itu sampai terjadi, maka ialah yang
bertanggung jawab. Bahkan kematian Pangeran Kian Ban Kok juga membuat ia merasa bersalah besar. Ia
merasa bahwa kematian itu tidak akan terjadi kalau saja ia tidak memasukkan Ouw Cun Ki ke dalam
istana! Hal itu berarti bahwa ialah pembunuh pangeran itu dan perasaan ini membuat ia berduka dan
menyesal bukan main.
Ia memang amat mendendam terhadap pemerintah Mancu yang telah menghancurkan kehidupan
keluarganya. Akan tetapi, harus diakuinya bahwa Kaisar Kian Liong amat menyayangnya dan bersikap
amat baik kepadanya sehingga kalau ia sebagai seorang isteri yang dicinta sampai melakukan kejahatan
terhadap Kaisar dan keluarganya, maka ialah yang berdosa besar.
Perasaan bersalah ini mendatangkan penyesalan yang membuat Siang Hong-houw lalu jatuh sakit parah.
Demikian parah sakitnya sehingga beberapa bulan kemudian, Siang Hong-houw atau Permaisuri Harum ini
meninggal dunia karena sakitnya.
Setelah merobohkan banyak orang tokoh Pek-lian-kauw dan Thian-li-pang, Sin Hong, Hong Li, dibantu
Suma Ciang Bun serta Gangga Dewi, mencoba mencari keterangan tentang Sian Li dan Yo Han kepada
mereka. Akan tetapi, ternyata tak ada seorang pun di antara mereka tahu mengenai dua orang itu.
Akhirnya, setelah menyerahkan semua tawanan kepada Liu Ciangkun, empat orang itu meninggalkan
istana tanpa mengharap balas jasa sama sekali.
Mereka berempat keluar dari istana kemudian saling menceritakan pengalaman masing-masing. Suma
Ciang Bun dan Gangga Dewi menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Yo Han yang diculik dan
dilarikan Ang-I Moli dan dua orang tosu Pek-lian-kauw.
“Menurut pengakuan Ang-I Moli tadi, Yo Han diserahkan kepada pimpinan Thian-li-pang dan menjadi murid
mereka. Aku harus pergi mencarinya di sarang Thian-li-pang!” kata Gangga Dewi.
“Hemm, kukira tidak mudah untuk menentang Thian-li-pang. Perkumpulan pemberontak itu selain
mempunyai anak buah yang ribuan orang banyaknya, juga bersekutu dengan Pek-lian-kauw sehingga
mereka itu kuat sekali. Kita harus berhati-hati dalam melakukan penyelidikan.”
“Benar sekali apa yang dikatakan oleh Paman Suma Ciang Bun,” berkata Tan Sin Hong. “Pasukan
pemerintah pun sulit sekali membasmi perkumpulan Thian-li-pang yang selalu merahasiakan tempat yang
menjadi sarang mereka. Di mana-mana mereka mempunyai cabang, bahkan banyak orang gagah yang
membantu mereka karena mereka itu selalu melakukan gerakan menentang pemerintah Mancu.”
“Bagi kami, yang paling penting adalah mencari anak kami. Sian Li lenyap dari rumah penginapan di mana
orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw mengadakan rapat,” kata Hong Li dengan nada suara
mengandung kegelisahan.
“Hemm, memang amat mencurigakan,” kata Suma Ciang Bun. “Siapa lagi kalau bukan mereka yang
menculik anakmu? Akan tetapi, tiada seorang pun di antara mereka yang kita robohkan mengakui melihat
anak itu. Sebaiknya kalau kita mencari keterangan di rumah penginapan itu lagi.”
Mereka berempat lalu pergi ke rumah penginapan itu dan melakukan penyelidikan lagi. Akhirnya, dari
seorang tukang masak di rumah penginapan itu, mereka mendengar bahwa pada saat lenyapnya Sian Li,
seperti biasanya di depan dapur berkumpul banyak pengemis dan di antaranya terdapat seorang pengemis
tua yang asing.
Ketika Sian Li melihat para pengemis meminta makanan sisa, tukang masak itu melihat betapa pengemis
asing itu menghampiri Sian Li dan minta sumbangan dari nona kecil itu. Oleh Sian Li, pengemis itu diberi
sepotong uang perak dan pengemis itu pun pergi, tidak jadi minta makanan sisa.
Keterangan itu sebenarnya tidak begitu berarti, namun cukup menjadi bahan pemikiran Sin Hong dan
isterinya, juga Suma Ciang Bun dan Gangga Dewi.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dalam keadaan seperti itu, setiap kemungkinan dapat saja terjadi, dan tiap orang asing patut dicurigai,”
kata Gangga Dewi. Mereka kemudian minta pada tukang masak untuk menggambarkan keadaan
pengemis itu.
“Dia sudah berusia enam puluh tahun, tinggi kurus dengan punggung bongkok seperti udang. Dia
memegang tongkat butut dan suaranya seperti orang dari daerah selatan. Matanya juling.” Demikian
keterangan yang mereka peroleh.
Empat orang pendekar itu lalu berpencar, mencari pengemis-pengemis di kota Heng-tai. Kepada setiap
pengemis, mereka memberi hadiah dan bertanya mengenai pengemis seperti yang digambarkan tukang
masak tadi.
Sin Hong sendiri yang akhirnya mendapatkan keterangan, setelah para pengemis lain hanya mengaku
bahwa mereka pun baru hari itu melihat pengemis bongkok itu. Salah seorang di antara mereka
menerangkan bahwa pengemis tua bongkok itu datang dari selatan dan merupakan seorang pengemis
yang jahat. Si Bongkok itu lihai sekali dan sering berlaku sewenang-wenang terhadap para pengemis lain.
Bahkan Phoa-pangcu, yaitu ketua para pengemis di kota Heng-tai, pernah dipukul babak-belur ketika
menegur pengemis bongkok yang bersikap sewenang-wenang itu.
“Kau tahu siapa dia?” Sin Hong bertanya.
“Dia hanya mengaku berjuluk Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat Hitam),” jawab pengemis itu.
“Dan engkau melihat dia bersama seorang anak perempuan berusia dua belas tahun yang berpakaian
serba merah?” Sin Hong mendesak.
Pengemis itu tidak melihatnya. Sin Hong menjadi putus asa, apa lagi ketika ia bertemu kembali dengan
isterinya dan dengan Suma Ciang Bun bersama Gangga Dewi, ketiga orang itu pun sama sekali tidak
menemukan jejak Sian Li.
“Sebaiknya kalian melanjutkan perjalanan ke Cin-an dan ceritakan peristiwa kehilangan anak itu kepada
Adik Suma Ceng Liong,” berkata Suma Ciang Bun. “Dengan demikian maka dia pun akan dapat membantu
kalian mencari jejak. Sedangkan kami sendiri akan melanjutkan usaha kami mencari jejak Sian Li.”
Karena tidak melihat jalan lain yang lebih baik, Sin Hong dan Hong Li setuju dan dua pasangan itu saling
berpisah. Sin Hong dan isterinya pergi ke Cin-an untuk mengunjungi Suma Ceng Liong, sedangkan Suma
Ciang Bun dan Gangga Dewi akan melanjutkan usaha mereka mencari jejak Sian Li.
Juga diam-diam mereka hendak menyelidiki Thian-li-pang karena menurut pengakuan Ang-I Moli, Yo Han
kini berada di perkumpulan pemberontak itu…..
********************
Ke manakah perginya Sian Li? Ketika anak ini ditinggal pergi ayah ibunya, diam-diam ia merasa kesal
untuk berdiam diri di kamarnya saja. Maka, setelah menanti dua jam di kamarnya dan tidak melihat ayah
ibunya pulang, Sian Li keluar dari dalam kamarnya dengan maksud untuk berjalan-jalan menghilangkan
kekesalannya.
Gadis kecil ini tidak tahu bahwa sejak ia keluar dari dalam kamarnya, sepasang mata sudah mengikutinya,
sepasang mata yang nampak kemerahan dan kejam. Pemilik mata ini bukan lain adalah Hek-bin-houw
(Harimau Muka Hitam), pria empat puluh tahunan yang bertubuh tinggi besar, bermuka hitam dan yang
pernah mengganggu Sian Li di taman.
Dia adalah seorang di antara anak buah Ang-I Moli yang bertugas jaga di luar ruangan rapat. Sejak tadi,
dia mendendam kepada ibu gadis cilik berpakaian merah itu karena selain dia terpaksa harus melepaskan
gadis cilik yang manis itu, juga dia merasa malu karena dikalahkan ibu gadis itu. Hanya karena takut
kepada Ang-I Moli saja dia pergi meninggalkan mereka ibu dan anak. Dan kini, selagi dia bertugas jaga, dia
melihat anak perempuan berpakaian merah yang manis itu keluar dari dalam kamarnya, seorang diri pula.
Hek-bin-houw mengikuti Sian Li dan dia berpikir bahwa penjagaan di situ sudah cukup kuat. Jika dia
tinggalkan sebentar tidak akan ada yang tahu dan juga tidak mengurangi kekuatan penjagaan. Dia harus
dapat membalas rasa penasaran dan dendamnya tadi, sekaligus bersenang-senang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah mendapat pikiran kotor ini, Hek-bin-houw yang memang selamanya menjadi seorang yang
berwatak buruk dan jahat sekali, segera meloncat keluar ketika Sian Li tiba di tempat gelap dan sunyi, di
samping bangunan rumah penginapan.
Sian Li terkejut ketika ada orang meloncat ke depannya, apa lagi ketika dia mengenal orang itu sebagai Si
Muka Hitam tinggi besar yang pernah bersikap kurang ajar di taman terhadap dirinya dan mendapat
hajaran dari ibunya. Akan tetapi sebelum ia sempat lari atau berteriak, Hek-bin-houw telah menubruk dan
menyergapnya bagai seekor harimau menubruk kambing, dan sebelum Sian Li mengeluarkan suara, Si
Tinggi Besar muka hitam itu telah menotok jalan darah di pundak dan tengkuknya, membuat gadis cilik itu
terkulai lemas dan tidak mampu mengeluarkan suara lagi.
Sambil terkekeh girang Hek-bin-houw lalu memanggul tubuh anak perempuan yang tak lagi mampu
meronta itu dan membawanya loncat ke dalam taman, untuk dibawa keluar dari taman itu. Dia tahu bahwa
tak jauh dari situ terdapat sebuah kuil tua yang kosong. Tempat itu merupakan tempat yang baik sekali dan
tersembunyi. Ke sanalah dia lari sambil memanggul tubuh Sian Li yang sudah tidak mampu bergerak.
“Heh-heh, tadi engkau dan ibumu menghinaku. Sekarang aku akan membalas dendam kepadamu, dan
kelak kepada ibumu!" kata Hek-bin-houw ketika dia sudah menyelinap masuk ke dalam kuil kosong itu.
Dengan kasar dia melemparkan tubuh Sian Li ke atas lantai kuil yang tidak terpelihara dan kotor. Tempat
itu biasanya hanya menjadi tempat bermalam bagi para gelandangan yang tidak mempunyai rumah tinggal.
Mendadak nampak sinar yang biar pun hanya kecil, akan tetapi karena munculnya tiba-tiba dan di tempat
yang amat gelap itu, maka sinar ini menerangi seluruh ruangan dan mengejutkan, juga sangat menyilaukan
mata. Hek-bin-houw terkejut dan menoleh.
Kiranya sinar itu adalah nyala api sebatang lilin yang dinyalakan seorang kakek jembel. Sekarang lilin itu
diletakkan di sudut, di dekat kakek jembel yang duduk bersila sambil memandang kepada Hek-bin-houw
dan Sian Li dengan sinar mata penuh selidik.
"Ha-ha-ha, kiranya seekor anjing yang datang menggangguku," kata kakek jembel itu.
Tentu saja Hek-bin-houw marah bukan main. Pertama, dia merasa terganggu, ke dua, dia dimaki anjing!
"Keparat! Engkau tidak tahu siapa aku? Aku adalah Hek-bin-houw, mengerti? Ayo cepat menggelinding
pergi dari sini, atau akan kubunuh kau!" Hek-bin-houw mencabut golok dari pinggangnya dengan sikap
mengancam.
Kakek jembel itu terkekeh, lalu dia bangkit berdiri. Ternyata tubuhnya kurus jangkung, akan tetapi
punggungnya bongkok dan dia memegang sebatang tongkat hitam.
"Ha-ha-ha, engkau berjuluk Hek-bin-kauw (Anjing Bermuka Hitam), ya? Ha-ha, memang tepat, engkau
memang persis anjing bermuka hitam. Dan aku berjuluk Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti Tongkat
Hitam), tongkat hitamku ini tepat sekali untuk memukul anjing muka hitam."
Tentu saja Hek-bin-houw marah bukan main. Sudah jelas julukannya harimau, sengaja diubah menjadi
anjing oleh Si Cebol ini.
"Jahanam busuk, rupanya engkau sudah bosan hidup!" bentaknya dan goloknya sudah menyambar
dahsyat ke arah leher pengemis bongkok itu. Akan tetapi, dengan gerakan tenang sekali, Si Bongkok itu
lalu menggerakkan tongkat bututnya yang berwarna hitam untuk menangkis.
"Trakkkk...!"
Harimau Muka Hitam itu terhuyung ke belakang dan dia terkejut sekali karena golok di tangannya hampir
saja terlepas. Bukan main besarnya tenaga yang terkandung dalam tongkat hitam itu pada waktu
menangkisnya tadi.
Akan tetapi, dasar orang yang selalu mengandalkan tenaga dan kepandaiannya sendiri untuk memaksakan
kehendaknya, yang selalu memandang rendah terhadap orang lain, Hek-bin-houw masih belum mau
menyadari bahwa dia berhadapan dengan orang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Dia bahkan
dunia-kangouw.blogspot.com
menjadi semakin marah dan penasaran. Dia tidak percaya bahwa seorang kakek jembel yang bongkok
dapat menandinginya.
"Mampuslah!" bentaknya dan kini dia pun menyerang lebih hebat lagi, goloknya berubah menjadi sinar
yang menyambar ke arah kepala pengemis itu.
"Manusia tidak tahu diri!"
Pengemis itu terkekeh dan kini tongkatnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang bukan saja
menangkis golok, akan tetapi tangkisan itu membuat tongkatnya membalik dan menotok ke arah
pergelangan tangan.
Hek-bin-houw berteriak nyaring dan goloknya terlepas karena lengan kanannya tiba-tiba menjadi lumpuh.
Sebelum dia tahu apa yang terjadi, ujung tongkat hitam telah menotok dua kali ke arah ulu hati dan
tenggorokannya. Hek-bin-houw lantas terkulai roboh dan tidak dapat bangun kembali!
"Heh-heh-heh-heh, ada saja jalan bagi orang yang sudah bosan hidup!" kata pengemis bongkok itu.
Dia pun menghampiri Sian Li yang masih telentang tak mampu bergerak. Gadis kecil itu memandang
kepada pengemis yang berdiri mengamatinya dengan mata terbelalak, tapi sama sekali tidak kelihatan
takut.
"Heh-heh-heh, engkau memang anak yang manis sekali. Pantas saja anjing hitam itu menculikmu. Akan
tetapi engkau terlalu manis untuk anjing macam dia. Engkau ikut saja denganku, anak manis!" Sekali
tongkatnya bergerak dengan amat cepat, kakek jembel itu telah membebaskan totokan dari tubuh Sian Li.
Anak ini meloncat berdiri, agak terhuyung karena tubuhnya masih terasa kaku setelah beberapa lamanya
dalam keadaan tertotok. Akan tetapi dia segera dapat berdiri tegak dan dengan sikap tegas dia berkata,
"Aku tidak mau ikut denganmu atau dengan siapa pun."
"Ehh? Baru saja engkau kubebaskan dari tangan anjing hitam ini! Apakah engkau lebih suka ikut dengan
dia?" Tongkat hitamnya menuding ke arah muka Hek-bin-houw yang sudah tak bernyawa lagi.
"Aku tidak sudi ikut dengan dia, juga tidak mau ikut denganmu. Aku hanya ikut Ayah dan Ibuku!"
"Tapi, engkau telah kutolong!"
"Aku tidak pernah minta pertolonganmu."
"Huh, engkau manis tetapi tak kenal budi. Pantas ditawan anjing hitam ini, dan sekarang engkau harus ikut
dengan aku, mau atau tidak!"
"Aku tidak mau!" kata Sian Li dan ia pun sudah siap untuk melawan.
Melihat gadis cilik ini memasang kuda-kuda dengan sikap yang indah sekali, diam-diam pengemis itu
terkejut. Ia mengenal dasar silat yang amat hebat, akan tetapi tahu bahwa anak itu belum memiliki tenaga
sinkang yang kuat, maka ilmu yang hebat pun tidak ada artinya tanpa didukung tenaga sinkang yang
mendatangkan kecepatan dan kekuatan.
"Hayo ikut!" katanya dan tangan kirinya menyambar.
Sian Li tidak dapat mengelak lagi dan ia pun membuat gerakan menangkis. Akan tetapi, karena tenaganya
memang belum kuat, maka tangkisan itu membuat tangannya bahkan ditangkap Si Pengemis yang
terkekeh dan di lain saat, Sian Li telah tertotok kembali dan sekali tarik, tubuhnya melayang naik dan
hinggap di pundak pengemis bongkok itu yang segera meloncat keluar dari kuil dan berlari cepat di dalam
kegelapan malam.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali kakek pengemis bongkok itu telah keluar dari kota Heng-tai
sambil memanggul tubuh Sian Li di pundak kiri, dan dia berjalan perlahan-lahan di luar kota yang masih
sunyi itu. Hawa udara pagi itu sejuk sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siapakah pengemis bongkok yang amat lihai itu? Dia adalah seorang tokoh persilatan yang terkenal,
namun dia termasuk tokoh sesat yang suka mengandalkan kepandaian untuk memaksakan keinginannya
dan tak pantang melakukan tindakan yang jahat. Oleh karena itu, Hek-pang Sin-kai (Pengemis Sakti
Tongkat Hitam) termasuk seorang tokoh sesat walau pun di selatan dia mempunyai perkumpulan yang
terkenal, yaitu Hek-pang Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) di mana ia menjadi ketuanya.
Karena dia seorang petualang yang suka berkelana, maka perkumpulan itu sering ditinggalkan olehnya
dan dia serahkan kepada para wakilnya untuk mengurusnya.
Ketika Hek-pang Sin-kai menolong Sian Li dari tangan Hek-bin-houw, perbuatan itu dia lakukan bukan
karena dia memang suka menolong orang. Dia turun tangan membunuh Hek-bin-houw hanya karena Si
Muka Hitam itu berani menentang dan menyerangnya. Akan tetapi, pada saat melihat Sian Li yang manis
dan mungil, timbul rasa suka di hati kakek jembel itu dan dia ingin mengambil anak itu sebagai seorang
muridnya.
Saking lelahnya, pada waktu dibawa lari dari kuil, Sian Li tertidur atau tak ingat diri di panggulan pundak
kakek itu. Akan tetapi udara pagi yang dingin itu menyadarkannya dan kini, biar pun tubuhnya tak tampak
bergerak, ia dapat bersuara dan berulang-ulang minta agar kakek itu melepaskan dirinya. Akan tetapi, Hekpang
Sin-kai hanya terkekeh dan tidak mempedulikannya.
Pagi itu amat sunyi dan Sian Li sudah hampir putus asa. Suaranya sudah parau karena sejak tadi ia
berseru minta dilepaskan dan kini ia berdiam diri. Percuma saja bicara, pikirnya. Saat itu masih pagi sekali
dan di sepanjang jalan tidak pernah bertemu orang. Nanti saja kalau ada orang, ia akan menjerit minta
tolong.
Tiba-tiba ia melihat seorang nenek datang dari arah kiri di sebuah jalan persimpangan. Melihat ada orang,
Sian Li lalu bicara lagi, kini ia bahkan mengerahkan tenaga supaya suaranya terdengar lantang.
"Kakek jahat, lepaskan aku!" teriaknya dan karena kepalanya tergantung di belakang pundak kakek itu,
Sian Li dapat melihat betapa nenek yang datang dari jalan simpangan itu menengok, lalu nenek itu pun
membelok dan mengikuti penculiknya dari belakang.
Melihat ini, Sian Li berkata lagi.
"Kakek jahat, lepaskan aku. Engkau sungguh berani mati menculikku. Kalau Ayah Ibuku mengetahui,
engkau tentu akan mereka bunuh!"
"Heh-heh-heh, aku tidak takut kepada ayah ibumu, anak manis!" kata Hek-pang Sin-kai, terkekeh
mendengar bahwa ayah ibu anak itu akan membunuhnya.
"Engkau tertawa karena tidak mengetahui siapa Ayah Ibuku. Kalau engkau tahu, engkau akan mati berdiri!"
kata pula Sian Li.
Sian Li melihat betapa nenek yang berjalan di belakang itu mempercepat langkahnya sehingga jaraknya
semakin dekat, hanya sepuluh meter saja di belakangnya.
Kembali kakek jembel itu tertawa bergelak ketika mendengar ancaman Sian Li yang dianggapnya hanya
gertakan belaka.
"Ayahku adalah Tan Sin Hong yang berjuluk Si Bangau Putih! Sedangkan ibuku adalah keturunan Istana
Gurun Pasir dan Istana Pulau Es!" kata pula Sian Li dan sekali ini, benar saja ia merasa betapa tubuh yang
memanggulnya itu menegang.
"Hemm, engkau hanya membual!" kata kakek jembel itu, akan tetapi kini tawanya hilang karena dia benarbenar
amat terkejut mendengar ucapan Sian Li.
"Siapa membual? Ibuku itu bernama Kao Hong Li. Kakek Kao Cin Liong adalah putera Naga Sakti Istana
Gurun Pasir, sedangkan nenekku Suma Hui adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Istana Pulau Es!"
Sekarang Hek-pang Sin-kai tak dapat berpura-pura lagi. Dia memang kaget bukan main mendengar
ucapan itu. Ia tahu bahwa anak ini tak mungkin membual karena dari mana anak ini dapat mengenal namanama
besar itu? Akan tetapi, di samping kekagetannya, dia bahkan menjadi semakin gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus! Kalau begitu, engkau keturunan para pendekar sakti. Engkau pantas menjadi muridku!" katanya
gembira dan bangga. Kalau dia dapat mengambil murid keturunan Istana Gurun Pasir dan Istana Pulau Es,
namanya tentu akan terangkat tinggi sekali!
Tiba-tiba kakek jembel itu terkejut sekali ketika ada angin dahsyat menyambar ke arah kepala dan dadanya
yang datang dari sebelah kanan. Dia mengenal serangan ampuh, maka cepat dia membalik ke kanan dan
menggerakkan tongkat serta tangan kirinya untuk menangkis dan balas menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba
ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh Sian Li yang dipanggul di atas pundak kanannya, sudah
dirampas orang!
Pada saat dia membalik, dia melihat seorang wanita tua sudah menurunkan Sian Li dan bahkan telah
membebaskan totokan atas diri gadis cilik itu.
"Anak yang baik, engkau minggirlah, biar kubereskan jembel busuk ini!" kata nenek tadi sambil mendorong
Sian Li dengan lembut ke samping.
Sian Li menurut dan anak itu pun menjauh, berdiri di pinggir jalan yang masih sunyi itu sambil memandang
kepada dua orang tua yang sudah saling berhadapan itu dengan hati tegang. Ia masih belum tahu siapa
nenek itu dan orang macam apa. Kalau nenek itu seorang penjahat pula seperti kakek jembel, ia pun tidak
akan sudi ditolong dan ikut dengannya.
Dengan muka merah karena marah. Hek-pang Sin-kai menudingkan tongkat hitamnya ke arah muka nenek
itu. "Nenek tua bangka, apakah engkau sudah bosan hidup maka berani menentang Hek-pang Sin-kai?"
Nenek itu tersenyum dan sungguh amat mengagumkan. Nenek yang usianya sedikitnya enam puluh tujuh
tahun itu, yang seluruh rambutnya sudah hampir putih semua, begitu tersenyum, nampak jauh lebih muda
karena giginya masih berderet rapi! Mudah diduga bahwa nenek ini pada waktu mudanya tentu cantik
manis. Bahkan dalam usia sekian tuanya, tubuhnya masih ramping padat.
Memang dia bukanlah wanita sembarangan. Dia adalah nenek Bu Ci Sian, isteri dari pendekar Kam Hong
yang dahulu terkenal sebagai Pendekar Suling Emas! Nenek ini, di samping sebagai isteri pendekar itu,
juga terhitung sumoi-nya (adik seperguruan) dan sudah menguasai ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang
Suling Emas) serta Kim-kong Sin-im (Tiupan Suling Sakti Sinar Emas).
Di samping ilmu-ilmu yang khas sebagai pewaris Suling Emas, juga nenek ini seorang pawang ular yang
ahli. Bahkan ia pernah menerima pelajaran sinkang gabungan Im dan Yang dari mendiang Suma Kian Bu
yang berjuluk Siluman Kecil, putera dari mendiang Pendekar Super Sakti!
"Bagus! Kiranya engkau yang berjuluk Hek-pang Sin-kai? Sudah lama aku mendengar akan nama
busukmu. Kebetulan sekali, tidak perlu aku pergi jauh-jauh mencarimu untuk menghajarmu sampai engkau
bertobat dan tidak melakukan kejahatan lagi!"
"Nenek sombong! Katakanlah siapa engkau sebelum tongkatku ini menamatkan riwayat hidupmu.”
Senyum itu masih belum hilang dari wajah nenek yang pakaiannya serba putih seperti orang berkabung,
namun sangat rapi dan bersih itu.
"Pengemis jahat, orang macam engkau tidak pantas mengenal siapa namaku."
"Bagus! Kalau begitu, mampuslah tanpa nama!" bentak Hek-pang Sin-kai dan dia pun sudah menerjang
dengan tongkatnya.
Dari cara nenek itu tadi merampas Sian Li dari pundaknya saja ia sudah dapat menduga bahwa nenek ini
merupakan seorang lawan yang tidak boleh dipandang ringan, maka begitu menyerang, dia sudah
mempergunakan tongkatnya tanpa peduli bahwa nenek itu bertangan kosong. Dia pun menyerang dengan
jurus-jurus maut dari ilmu tongkatnya.
Tongkat hitam itu seperti seekor ular hidup, meluncur ke depan dan membuat gerakan memutar seperti
hendak melingkari leher lawan. Ketika nenek itu melangkah mundur untuk menghindarkan diri dari
serangan ke arah leher itu, ujung tongkat terus meluncur ke depan karena pengemis itu pun sudah
melangkah maju dan kini ujung tongkatnya membuat gerakan serangan menotok bertubi-tubi ke arah jalandunia-
kangouw.blogspot.com
jalan darah terpenting di bagian depan tubuh! Serangan itu sungguh dahsyat dan merupakan serangan
maut.
"Hemm, kejam sungguh!" Nenek Bu Ci Sian berseru lirih.
Pengemis itu tidak pernah bermusuhan dengannya, akan tetapi kini agaknya berusaha sungguh-sungguh
untuk membunuhnya! Ia menggunakan kelincahan gerakannya yang masih gesit untuk mengelak dengan
loncatan-loncatan. Namun, totokan berikutnya terus mengancam dirinya sehingga dengan terpaksa nenek
itu mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.
Segera nampak sinar keemasan dibarengi suara meraung nyaring dan tinggi sehingga mengejutkan hati
Hek-pang Sin-kai. Suara melengking yang keluar dari suling yang digerakkan itu seperti menusuk
telinganya dan menyerang jantungnya! Dia terkejut dan cepat mengerahkan tenaga sinkang untuk
melindungi dirinya dari suara itu, akan tetapi serangannya menjadi gagal.
Dengan penasaran dan marah, dia pun mengatur serangkaian serangan berikutnya. Akan tetapi, kini dia
mengalami hari naas bertemu dengan nenek yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi darinya!
Begitu nenek Bu Ci Sian memainkan sulingnya, nampak sinar emas bergulung-gulung menyilaukan mata
dan pengemis itu menjadi terkejut dan bingung sebab selain gerakan tongkatnya selalu menemui tembok
sinar keemasan yang menahan gerak serangannya, juga dia merasa terkurung oleh sinar emas itu yang
selain menyambar-nyambar dengan ancaman dahsyat, juga selalu mengeluarkan bunyi yang menusuknusuk
telinganya! Tentu saja kakek jembel itu kewalahan karena nenek Bu Ci Sian telah memainkan ilmu
Kim-siauw Kiam-sut yang pernah menggetarkan dunia persilatan.
Nenek Bu Ci Sian bukanlah seorang yang kejam, walau pun dahulu di waktu mudanya dia terkenal sebagai
seorang pendekar wanita yang galak dan tidak mengenal ampun terhadap para penjahat. Setelah menjadi
isteri suheng-nya sendiri, yaitu pewaris Suling Emas, ia menjadi lembut dan tidak kejam untuk melakukan
pembunuhan.
Walau pun ia tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang jahat, namun ia tidak tega untuk
membunuhnya. Kalau ia menghendaki, dalam waktu dua puluh jurus saja ia akan dapat merobohkan dan
menewaskan Hek-pang Sin-kai. Akan tetapi, sekarang ia hanya mempergunakan sulingnya untuk
mengepung dengan sinar yang bergulung-gulung, dan kadang-kadang memukul tak terlalu keras ke arah
pundak, punggung, lengan sehingga kakek jembel itu seperti anak nakal yang digebuki ibunya!
Maklum bahwa dia tak akan mampu menandingi nenek itu. Hek-pang Sin-kai kemudian meloncat jauh ke
belakang dan tiba-tiba ia melontarkan tongkatnya. Itulah ilmunya yang terakhir, yang diandalkan dan
dilakukan di waktu dia telah tersudut dan kalah. Selain untuk dapat menyerang dan membunuh lawan
secara tiba-tiba, juga lontaran tongkat itu digunakan untuk melarikan diri, agar lawan tidak dapat
melakukan pengejaran.
Tongkat meluncur dengan kecepatan bagai anak panah terlepas dari busurnya, menuju ke dada nenek Bu
Ci Sian.
"Hemmm...!"
Nenek itu menggerakkan suling emas di tangannya menyambut tongkat itu, dan begitu tongkat yang
meluncur itu bertemu suling, suling diputar sehingga tongkat itu berputaran menempel pada suling.
"Hyaaattt...!"
Nenek Bu Ci Sian menggerakkan sulingnya dan tongkat yang tadi sudah terputar-putar melekat pada
suling itu sekarang tiba-tiba meluncur balik ke arah pemiliknya yang telah melarikan diri! Tetapi, nenek itu
mencari sasaran yang tidak mematikan dan tongkat itu dengan tepat menancap dan menembus paha kiri
Hek-pang Sin-kai dari belakang!
Kakek jembel itu mengeluarkan teriakan kesakitan. Akan tetapi saking takut jika dikejar dan dibunuh, ia
tetap berloncatan lari sambil terpincang-pincang, membawa lari tongkat yang menembus paha kirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sejak tadi, Sian Li mengikuti pertandingan itu dan diam-diam ia merasa girang bahwa nenek itu dapat
mengalahkan kakek jembel yang jahat. Akan tetapi, ia merasa kecewa melihat nenek itu membiarkan Si
Bongkok jahat itu pergi.
"Nek, kenapa tidak kau bunuh saja kakek jembel jahat itu?"
Mendengar ucapan ini, nenek Bu Ci Sian menghampiri Sian Li dengan alisnya berkerut. "Kenapa harus
dibunuh?" tanyanya.
"Dia jahat. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau sudah membebaskan mereka yang akan menjadi
korbannya di kemudian hari. Sekarang engkau malah membiarkan dia pergi. Tentu dia akan mencelakai
banyak orang lagi dan kalau hal itu terjadi, berarti engkau pun ikut bersalah, Nek."
Nenek Bu Ci Sian terbelalak. Anak ini sungguh cerdik, akan tetapi juga galak dan tak kenal ampun
terhadap orang jahat. Ia pun tersenyum, teringat akan wataknya sendiri di waktu muda.
"Anak baik, benarkah engkau cucu Kao Cin Liong dan Suma Hui?”
Sian Li memandang tajam, “Apakah kau kira aku ini seorang yang suka berbohong?"
“Kalau benar, berarti kita ini bukan orang lain, anak yang baik. Engkau mengenal Suma Ceng Liong?"
"Tentu saja!" kata anak itu, "Dia masih keluarga nenekku, adik nenekku, bahkan dia calon guruku."
"Ehh?" Tentu saja nenek Bu Ci Sian menjadi heran mendengar pengakuan itu.
"Engkau menjadi muridnya? Bagaimana pula ini?"
"Sebelum aku menceritakan hal itu, aku ingin tanya lebih dulu. Siapakah engkau, Nek?"
Nenek Bu Ci Sian kembali tersenyum. Anak ini memang cerdik dan sangat berhati-hati. ”Engkau sudah
mengenal Suma Ceng Liong, tentu mengenal pula isterinya.”
"Tentu saja. Nenek Kam Bi Eng amat baik kepadaku ketika berkunjung ke rumah Kakek Kao Cin Liong dan
kami bertemu di sana.”
"Nah, aku adalah nenek buyutmu, aku adalah ibu dari nenekmu Kam Bi Eng itulah."
"Aihhh, kiranya Nenek Buyut Bu Ci Sian!" berkata Sian Li sambil cepat memberi hormat sambil berlutut.
Nenek itu girang sekali, lalu mengangkat bangun anak itu dan memeluknya. "Engkau bahkan sudah
mengenal namaku?"
"Tentu saja. Sejak aku kecil Ayah dan Ibu sudah mendongeng kepadaku tentang Kakek Buyut Kam Hong
yang berjulukan Pendekar Suling Emas, juga tentang Nenek Buyut. Sekarang baru aku bisa melihat sendiri
bahwa Nenek Buyut memang lihai bukan main, dengan mudah mengalahkan Hek-pang Sin-kai yang lihai
dan jahat tadi."
"Sekarang ceritakan bagaimana kau dapat terculik pengemis itu, dan di mana adanya ayah ibumu?"
Sian Li menceritakan tentang pengalamannya dan ayah ibunya di kota Heng-tai, tentang persekutuan di
antara Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang mengadakan persekutuan jahat. Karena Sian Li memang
cerdik dan ia telah mendengar dari ayah ibunya, ia dapat bercerita dengan jelas dan mendengar itu, wajah
nenek Bu Ci Sian berubah tegang.
"Aihh, kalau begitu, ayah ibumu kini tengah menghadapi urusan besar yang menyangkut keselamatan
keluarga Kaisar. Pantas saja engkau diculik orang dan tidak kebetulan, yang menolongmu juga seorang
tokoh sesat macam Hek-pang Sin-kai. Untung sekali agaknya Tuhan yang menuntunku pagi-pagi ini lewat
di sini sehingga dapat melihat engkau dalam tawanan penjahat itu. Akan tetapi, apa artinya engkau tadi
mengatakan bahwa Suma Ceng Liong akan menjadi calon gurumu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sebetulnya, aku bersama Ayah dan Ibu meninggalkan rumah sedang menuju ke Cin-an karena sudah tiba
saatnya aku harus belajar ilmu dari Kakek Suma Ceng Liong seperti yang telah dijanjikan antara dia dan
Ayah. Sebelum ke sana, Ayah dan Ibu mengajak aku berpesiar ke kota raja. Akan tetapi ketika tiba di kota
Heng-tai, terjadi peristiwa itu."
"Aih, begitukah? Bagus sekali jika begitu. Aku sendiri sedang dalam perjalanan menuju ke rumah anak dan
mantuku itu."
"Akan tetapi, Ayah dan Ibu akan mencari-cariku, Nek. Mereka akan menjadi bingung. Sebaiknya kalau kita
kembali dulu ke Heng-tai dan..."
"Berbahaya sekali, cucuku. Seperti ceritamu tadi, di sana penuh dengan orang-orang Thian-li-pang dan
Pek-lian-kauw. Kalau sampai mereka melihatmu, kemudian mereka mengeroyokku, bagaimana aku akan
mampu melindungimu?"
"Aku tidak takut, Nek."
"Ini bukan soal takut atau tidak takut, cucuku. Akan tetapi, setelah kini engkau terbebas dari bahaya,
apakah kita harus kembali mendatangi bahaya dan membiarkan engkau tertawan musuh? Kalau begitu,
ayah dan ibumu tentu akan gelisah sekali. Sebaiknya, marilah kuantar engkau ke Cin-an. Aku yakin ayah
dan ibumu akan pergi ke sana pula. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mencari mereka ke Heng-tai,
kemudian ke kota raja, dan kalau perlu aku akan berkunjung ke Ta-tung untuk memberi tahu mereka
bahwa engkau telah berada di Cin-an."
Akhirnya Sian Li menurut karena bagaimana pun juga, oleh ayah dan ibunya ia memang akan diantarkan
ke Cin-an. Berangkatlah mereka berdua ke Cin-an dan mereka diterima dengan penuh kegembiraan oleh
Suma Ceng Liong dan isterinya, Kam Bi Eng.
"Ibu, kenapa Ayah tidak ikut?" Kam Bi Eng bertanya.
Ditanya demikian, tiba-tiba wajah nenek itu menjadi murung. Inilah yang ia khawatirkan, namun sejak tadi
ditahan-tahannya. Ia adalah seorang wanita yang tabah, akan tetapi ia khawatir bahwa anaknya yang akan
menderita duka.
"Ibu, apa yang terjadi?" Kam Bi Eng merangkul ibunya begitu melihat wajah ibunya menjadi murung
setelah ia bertanya tentang ayahnya.
Nenek itu menghela napas panjang. "Engkau ingat berapa usia ayahmu tahun ini?"
"Sudah lebih dari delapan puluh tahun, Ibu. Bukankah dua tahun yang lalu beramai-ramai kita
memperingati ulang tahunnya yang ke delapan puluh?" berkata Kam Bi Eng, masih mengamati wajah
ibunya dengan khawatir.
"Engkau benar. Usianya memang sudah delapan puluh dua dan dia telah meninggalkan kita dengan
tenang sebulan yang lalu..."
"Ibuuuu...!" Kam Bi Eng menjerit sambil merangkul ibunya dan pecahlah tangisnya. "Ibu, kenapa...?
Kenapa Ibu diam saja? Kenapa aku tidak diberi tahu?" Ia bertanya di antara ratap tangisnya.
Nenek itu tidak ikut menangis, melainkan tersenyum lembut sehingga anaknya merasa heran
memandangnya. Juga Suma Ceng Liong memandang kepada ibu mertuanya, lalu bertanya dengan hatihati,
"Akan tetapi, Ibu, mengapa kami tidak diberi tahu mengenai kematian Ayah?"
Nenek Bu Ci Sian mengusap kepala puterinya. ”Tenangkan hatimu, hentikan tangismu. Ini semua
kehendak ayahmu. Dia sudah memesan supaya begitu dia menghembuskan napas terakhir, aku segera
mengurus jenazahnya yang harus dikebumikan pada hari kematiannya. Ini adalah pesan ayahmu, dan juga
dia berpesan agar perlahan-lahan aku memberitakan kematiannya kepadamu setelah lewat satu bulan."
"Tapi... tapi mengapa...?" Kam Bi Eng mencoba untuk menahan tangisnya.
"Engkau mengenal ayahmu. Kadang aku sendiri sukar mengikuti jalan pikirannya. Dia tak ingin jenazahnya
dibiarkan berminggu-minggu atau berhari-hari membusuk sebelum dikubur. Dia juga tidak ingin ditangisi,
dunia-kangouw.blogspot.com
diratapi karena menurut pendapatnya, orang yang meratapi yang mati sebenarnya hanya menangisi diri
sendiri. Dapat dibayangkan betapa sedihku saat terpaksa memenuhi permintaan terakhirnya itu,
menguburkan jenazahnya tanpa dihadiri kalian dan kerabat dekat, hanya dihadiri oleh para tetangga saja.
Sampai matinya, ayahmu ingin sederhana, memperlihatkan kerendahan hatinya dengan tidak mau
menonjolkan diri."
Mendengar suara yang mengandung kebanggaan itu, Kam Bi Eng merasa tidak tega untuk menangis lagi.
Ia merangkul Ibunya. "Baiklah, Ibu. Kalau begitu, kami akan pergi ke makam Ayah untuk bersembahyang."
Kemudian ia merangkul Sian Li dan bertanya kepada ibunya. "Bagaimana tahu-tahu Sian Li dapat datang
bersama Ibu? Apakah Ibu yang singgah di rumah Sin Hong dan Hong Li, dan mengajak anak ini ke sini?"
"Panjang ceritanya," kata nenek itu. "Secara kebetulan saja aku bertemu dengan Sian Li dan mendengar
bahwa ia memang sedang diantar oleh ayah ibunya ke sini, maka aku lalu mengajaknya."
Nenek itu lalu menceritakan apa yang terjadi.
Mendengar cerita itu, Suma Ceng Liong berseru, "Aih, sungguh berbahaya sekali kalau Thian-li-pang dan
Pek-lian-kauw sampai berhasil menyusup ke dalam istana! Sin Hong dan Hong Li tentu menghadapi
bahaya sangat besar karena orang-orang Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw banyak yang lihai."
"Hemm, apakah engkau ingin kita pergi ke kota raja dan menentang mereka?" tanya Bi Eng sambil
memandang suaminya dengan penuh selidik.
Ceng Liong mengenal sinar mata isterinya dan dia pun menggeleng sambil menghela napas panjang. "Kita
tidak berkewajiban untuk melindungi Kaisar penjajah Mancu, akan tetapi bagaimana kita dapat tinggal diam
saja kalau Sin Hong dan Hong Li terancam bahaya?"
"Tentu saja tidak. Kalau begitu, marilah kita berangkat sekarang juga untuk mencari mereka," kata isterinya
penuh semangat.
"Tidak usah kalian sibuk," kata nenek Bu Ci Sian. "Aku yang akan mencari mereka. Aku memang sengaja
mengantar Sian Li ke sini, kemudian aku akan kembali ke kota raja dan mencari mereka."
"Aih, Ibu sudah tua dan baru saja datang setelah melakukan perjalanan jauh. Biar Ibu beristirahat di sini
ditemani Sian Li dan Sian Lun. Kami yang akan mencari mereka."
"Sian Lun? O ya, cucu muridku itu, di mana dia?" Nenek itu bertanya dan memandang ke kanan kiri.
Hampir ia lupa bahwa puteri dan mantunya mempunyai seorang murid, dan dia sendiri sayang kepada
murid yang sudah dianggap sebagai anak angkat oleh Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng itu.
Suami isteri itu agaknya baru teringat dan Bi Eng lalu menoleh ke arah dalam, lalu berteriak, "Sian Lun...!
Di mana engkau? Kesinilah, nenekmu datang!”
Dari arah belakang terdengar jawaban. "Teecu datang, Subo!”
Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda remaja yang gagah perkasa. Pemuda ini walau pun baru
berusia lima belas tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar seperti seorang dewasa. Wajahnya yang
tampan itu cerah, sepasang matanya bersinar-sinar dan mulutnya membayangkan senyum, akan tetapi dia
pendiam dan sopan. Begitu tiba di situ, dia memberi hormat sambil berlutut ke arah nenek Bu Ci Sian.
"Nenek, selamat datang dan terimalah hormat saya."
Nenek itu memandang dengan wajah berseri, lalu menyentuh pundak anak muda itu dan menyuruhnya
bangun berdiri. "Cukup, Sian Lun. Wah, engkau kini sudah kelihatan dewasa!"
"Terima kasih, Nek." Pemuda itu lalu memberi hormat kepada suhu dan subo-nya. "Harap Suhu dan Subo
maafkan teecu. Karena melihat nenek datang bersama tamu, maka teecu tidak berani ke luar, takut
mengganggu pembicaraan penting."
"Ah, tamu ini bukan orang lain, Sian Lun," kata Kam Bi Eng. "Ia bernama Tan Sian Li. Puteri keponakan
kami Tan Sin Hong dan Kao Hong Li di Ta-tung. Sian Li, perkenalkan, ini murid kami bernama Liem Sian
Lun.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang remaja itu berdiri dan saling pandang. Sian Lun mengangkat kedua tangan di depan dada
sebagai penghormatan, dibalas oleh Sian Li dan gadis cilik ini memandang kepada Suma Ceng Liong, lalu
berkata dengan suaranya yang nyaring.
"Ku-kong (Paman Kakek), aku harus menyebut dia bagaimana? Mengingat dia murid Kakek dan Nenek,
sepatutnya aku menyebutnya Susiok (Paman Guru)..."
Suma Ceng Liong tertawa. "Memang harusnya engkau menyebut dia paman, mengingat bahwa dia murid
kami dan engkau cucu kami. Akan tetapi, karena engkau juga akan belajar ilmu dari kami, maka berarti
engkau menjadi murid kami pula dan kalian adalah saudara seperguruan."
Wajah Sian Li berseri-seri. "Aihh, kalau begitu aku boleh menyebutnya Suheng (Kakak Seperguruan)!
Memang aku jauh lebih senang menyebutnya Suheng, karena dia hanya sedikit lebih tua dari padaku.
Kami lebih pantas menjadi saudara seperguruan dari pada menjadi paman dan keponakan murid. Suheng,
terimalah hormatku!" Katanya sambil menghadapi Sian Lun. Semua orang lalu tersenyum dan Sian Lun
dengan sikap tersipu membalas penghormatan itu.
"Sumoi...," katanya lirih.
Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng lalu menekankan lagi keinginan mereka kepada nenek Bu Ci Sian.
Akhirnya nenek ini setuju bahwa suami isteri itu yang akan mencari Tan Sin Hong dan Kao Hong Li ke kota
raja dan membantu mereka menghadapi para penjahat kalau diperlukan, sedangkan nenek itu tinggal di
rumah bersama Sian Li dan Sian Lun.
Karena Sian Li selalu mengkhawatirkan keselamatan ayah ibunya, maka hari itu juga Suma Ceng Liong
dan Kam Bi Eng berangkat meninggalkan rumah mereka, menuju ke kota raja, melakukan perjalanan
secepatnya. Akan tetapi, tiga hari kemudian, mereka telah kembali bersama Sin Hong dan Hong Li!
Tentu saja Sian Li gembira bukan main melihat ayah ibunya datang. Juga suami isteri itu gembira melihat
Sian Li yang tadinya mereka khawatirkan karena anak itu lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Kiranya, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li setelah selesai urusan di istana, juga sedang melakukan
perjalanan menuju ke Cin-an karena tidak berhasil menemukan jejak anak mereka. Di dalam perjalanan,
mereka bertemu dengan Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Tentu saja kedua pihak merasa gembira,
terutama sekali Sin Hong dan Hong Li yang mendengar bahwa anak mereka dalam keadaan selamat dan
kini berada di rumah paman mereka itu. Pertemuan yang membahagiakan itu mereka rayakan dengan
pesta keluarga, walau pun berita tentang meninggalnya kakek Kam Hong sempat membuat mereka
termenung dan berduka.
Demikianlah, setelah beberapa hari tinggal di rumah Suma Ceng Liong, pada suatu hari mereka semua,
termasuk Sian Li dan Sian Lun, pergi ke puncak Bukit Nelayan di mana berdiri Istana Kuno Khong-sim Kaipang.
Mereka ke sini untuk bersembahyang di depan makam mendiang pendekar sakti Kam Hong yang
dikubur di taman belakang istana kuno itu.
Kam Bi Eng membujuk ibunya yang sudah berusia enam puluh tujuh tahun untuk turut dengannya tinggal
di Cin-an. Akan tetapi nenek itu menolak sambil tersenyum.
"Bi Eng, tidak tahukah engkau betapa ibumu ini tidak mungkin berpisah dari mendiang ayahmu? Sekarang
ayahmu hanya tinggal menjadi segunduk tanah di taman belakang. Biarlah aku tinggal di sini
menghabiskan sisa hidupku dan kelak kalau aku mati, aku ingin dikubur di sebelah makam ayahmu."
Biar pun hatinya merasa berat, terpaksa Kam Bi Eng meninggalkan ibunya seorang diri di istana kuno itu,
hanya ditemani oleh seorang pelayan wanita. Dia kembali ke Cin-an bersama suaminya, Suma Ceng
Liong, dan kedua orang anak remaja itu, Sian Lun dan Sian Li.
Ada pun Tan Sin Hong dan Kao Hong Li juga berpamit dan berpisah dari anak mereka setelah menitipkan
anak itu kepada paman dan bibi mereka untuk dididik ilmu. Mereka kembali ke Ta-tung setelah mereka
berjanji kepada anak mereka bahwa selama lima tahun anak itu belajar ilmu di Cin-an, pada setiap tahun
baru mereka pasti akan datang berkunjung…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
"Suhu, bagaimana keadaan Suhu?" pemuda itu bersila di dekat tubuh yang tergolek di atas lantai tanah
keras dan dia meletakkan telapak tangan kirinya di atas dada itu.
Kakek itu menghela napas panjang. "Kini telah tiba bagiku saat terbebas dari segala penderitaan hidup.
Tidak ada obat di seluruh dunia ini yang akan dapat memperpanjang usia manusia yang sudah tiba di garis
akhirnya."
"Tapi, Suhu...!"
"Hushhh! Tidak senangkah hatimu melihat gurumu, satu-satunya orang di dunia ini yang mencintamu,
sekarang terbebas dari hukuman yang membuat hidupnya amat sengsara ini? Inginkah engkau melihat
hukuman dan siksaan terhadap gurumu diperpanjang lebih lama lagi?"
Pemuda itu menunduk. Dia seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang bertubuh sedang namun tegap.
Wajahnya lonjong dengan dagu meruncing dan berlekuk, alisnya tebal berbentuk golok, dahinya lebar,
hidung mancung dan mulutnya membayangkan keramahan dan kelembutan meski dagu yang berlekuk itu
membayangkan ketabahan tanpa batas,
Pakaiannya sederhana seperti pakaian petani namun bersih, dan ikat pinggang yang diikatkan kuat-kuat itu
memperlihatkan bentuk pinggang yang ramping. Tubuhnya padat walau tidak memperlihatkan kekuatan
otot. Rambutnya hitam dan panjang, diikat secara sederhana saja dan dibiarkan tergantung di belakang
punggung.
Dilihat sepintas lalu, dia seorang pemuda biasa saja, seperti seorang di antara ribuan pemuda seperti dia di
perkampungan, pemuda petani atau pemuda yang bekerja kasar. Bukan seorang pemuda hartawan atau
pemuda bangsawan, apa lagi terpelajar. Tetapi kalau orang melihat dengan perhatian, akan nampak
bahwa sinar matanya mencorong namun lembut, dan dalam setiap gerak-geriknya terdapat ketenangan
dan kemantapan yang mengagumkan.
Kalau pemuda itu nampak seperti pemuda dusun biasa, kakek yang rebah telentang itu sama sekali tidak
dapat dibilang seperti kakek biasa, bahkan juga tidak seperti manusia biasa pada umumnya. Kakek itu
hanya terdiri dari kepala, leher dan badan saja. Tanpa kaki tanpa tangan! Rambutnya yang putih panjang
itu lebih panjang dari badannya dan kini menyelimutinya seperti sehelai selimut kapas.
Mereka berdua pun bukan berada di sebuah pondok atau rumah, melainkan berada di dasar sumur!
Pemuda itu bukan lain adalah Yo Han, sedangkan kakek buntung kaki dan lengannya itu adalah kakek Ciu
Lam Hok, kakek sakti dalam sumur yang menjadi guru terakhir Yo Han.
Pada waktu pertama kali memasuki sumur di dalam goa di sebelah belakang sarang Thian-li-pang di mana
Thian-te Tok-ong, tokoh besar Thian-li-pang bertapa, Yo Han berusia lima belas tahun. Kini dia telah
berusia dua puluh tahun. Ini berarti bahwa dia telah tinggal di dalam sumur itu selama lima tahun.
Setiap hari dia digembleng ilmu yang aneh-aneh oleh kakek yang buntung lengan dan kakinya itu sehingga
tanpa disadarinya sendiri, Yo Han telah menguasai ilmu yang amat hebat. Dia kini sudah menyadari bahwa
dia dilatih ilmu silat yang amat hebat.
Karena dia mulai dapat melihat bahwa baik buruknya ilmu tergantung dari manusia yang
menggunakannya, maka dia tidak lagi menolak dan bahkan mempelajari ilmu-ilmu yang diajarkan gurunya
dengan tekun dan penuh semangat. Dia hanya akan menggunakan ilmu-ilmu itu demi kebaikan, bukan
untuk mencelakai orang.
Dalam waktu empat tahun, Yo Han sudah menguasai ilmu-ilmu yang menjadi dasar, bahkan kini dia dapat
melihat betapa apa yang tadinya dianggap ilmu ‘tari’ dan ‘senam’ yang dipelajarinya dari Thian-te Tok-ong,
sesungguhnya adalah ilmu silat yang hebat. Dan di bawah bimbingan kakek buntung, semua ilmu itu telah
dapat dilatihnya dan di perdalam sehingga matang.
Lalu, satu tahun yang lalu, selama setahun penuh kakek aneh itu menurunkan ilmunya yang dikatakan
sebagai ilmu segala ilmu silat tinggi, diberi nama Bu-kek Hoat-keng yang pernah diperebutkan oleh seluruh
tokoh dunia persilatan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bahkan karena ilmu ini pulalah aku disiksa oleh dua orang Suheng-ku. Mereka begitu menginginkan ilmu
Bu-kek Hoat-keng ini sehingga mereka tega untuk membuntungi kaki tanganku, dan menyiksaku di dalam
sumur. Kini, ilmu itu telah kuwariskan kepadamu Yo Han. Hatiku lega sudah dan kuharap, dengan ilmu ini
engkau akan memulihkan nama baik Thian-li-pang, bisa mencuci bersih Thian-li-pang dari unsur-unsur
jahat, menjadikan perkumpulan itu sebagai perkumpulan para pahlawan yang berjuang demi tanah air dan
bangsa."
Demikianlah katanya setelah dia mengajarkan seluruh ilmu itu kepada Yo Han. Selama setahun kemudian
barulah Yo Han dapat menguasai ilmu itu dengan baik, hanya tinggal mematangkannya melalui latihan
saja.
Dan semenjak menurunkan ilmu itu kesehatan kakek Ciu Lam Hok mundur sekali. Dia jatuh sakit dan biar
pun Yo Han sudah membantunya dengan penggunaan ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dapat pula
dipergunakan untuk melancarkan jalan darah dengan cara menyalurkan tenaga sakti dari ilmu itu yang
amat dahsyat itu. Namun karena usia tua ditambah penderitaan dari siksaan yang luar biasa, kakek itu
tetap saja menjadi lemah dan sakit-sakitan.
Penderitaan yang ditanggung kakek Ciu Lam Hok memang luar biasa. Kalau bukan dia yang sudah
menguasai ilmu Bu-kek Hoat-keng, kiranya tidak mungkin dapat bertahan sampai sepuluh tahun lebih di
dalam sumur itu!
Demikianlah, pada hari itu, Yo Han merasa bersedih melihat keadaan gurunya semakin payah. Ketika dia
menempelkan telapak tangannya di dada gurunya, tahulah dia bahwa jantung gurunya bekerja lemah
sekali. Sungguh amat mengherankan.
Ketika gurunya melatih Bu-kek Hoat-keng, gurunya demikian penuh semangat dan tidak mengenal lelah.
Kini, seolah-olah tenaganya habis setelah setahun penuh melatih ilmu itu. Ketika dia mendengar ucapan
gurunya yang terakhir dia pun menunduk.
"Suhu memang berkata benar. Akan tetapi, Suhu, hidup kita ini sudah dicengkeram dan dipengaruhi oleh
peradaban serta tata susila yang sudah diterima oleh semua orang. Bagaimana mungkin teecu
mengemukakan kata hati melalui mulut, mengatakan bahwa teecu akan lebih senang melihat Suhu
terbebas dari siksaan melalui kematian? Seluruh dunia akan mengutuk teecu kalau teecu berani
mengatakan hal seperti itu."
Mendengar ini, kakek itu masih dapat tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, sejak dahulu aku sudah tahu bahwa
engkau hebat, muridku. Matamu yang ketiga selalu terbuka sehingga engkau lebih awas dan lebih
waspada dari pada orang biasa. Engkau melihat segalanya seolah menembus dan engkau dapat melihat
intinya. Engkau melihat segala kepalsuan yang dilakukan manusia! Ha-ha-ha, dibandingkan engkau, aku
ini bukan apa-apa. Kalau engkau sudah tahu, aku akan mati dengan mata terpejam dan tidak ada rasa
penasaran apa pun. Ya, Tuhan, hamba telah siap!" kata kakek itu dan kembali dia tertawa bergelak. Akan
tetapi, suara ketawanya itu makin lama semakin surut dan akhirnya berhenti sama sekali. Kedua matanya
terpejam.
Yo Han cepat meraba dada gurunya kembali, dan tahulah dia bahwa tubuh itu sudah menjadi mayat. Dia
menunduk dengan sikap amat hormat untuk menghormati jenazah suhu-nya. Dia tidak menangis, tak perlu
berpura-pura karena di situ tidak ada orang lain. Juga karena suhu-nya ini, walau pun kaki tangannya
buntung, namun kewaspadaannya tidak buntung dan suhu-nya tahu bahwa andai kata dia menangisi
kematian suhu-nya, maka tangisnya itu palsu.
Tangisnya itu bukan bersedih untuk suhu-nya, melainkan bersedih untuk dirinya sendiri, karena
ditinggalkan, karena kehilangan. Bahkan mungkin tangisnya terdorong perasaan agar tidak menganggap
diri sendiri keterlaluan, tak mengenal budi!
Dia tidak menangis karena memang tak ada hal yang perlu ditangisi, tidak ada hal yang perlu disedihkan.
Bahkan kalau dia mau jujur, ada perasaan lega dalam hatinya bahwa gurunya, yang diam-diam amat
dikasihinya itu, kini bebas dari penderitaan. Selain itu, dengan meninggalnya kakek itu, berarti dia bebas
pula untuk meninggalkan sumur itu!
Gurunya pernah berpesan agar kalau dia mati, jenazahnya supaya diletakkan di lantai kamar yang kecil
dan yang terlindung atasnya, merupakan goa batu di dalam sumur itu. "Engkau tahu, tempat itu sangat
dunia-kangouw.blogspot.com
kusukai. Setiap kali melakukan siu-lian (semedhi) aku selalu menggunakan kamar itu. Biarlah kelak aku
beristirahat di kamar itu selamanya, maksudku, badanku," demikian pesannya.
Dengan hati dipenuhi rasa iba terhadap kakek yang meninggal di tempat terasing itu, tanpa ada yang
berkabung, tanpa disembahyangi, tanpa dijenguk keluarga mau pun kawan, Yo Han memondong tubuh
tanpa kaki tanpa lengan itu dan membawanya ke dalam goa, lalu merebahkannya di dalam goa itu.
Kemudian dia mengumpulkan semua bahan yang masih ada, roti dan daging kering, dan beberapa potong
pakaian. Dia tidak lupa mengambil beberapa potong batu emas dari dinding sumur dan memasukkan
semua itu di dalam buntalan. Kemudian, dia pun mengikatkan buntalan di punggungnya, dan memasuki
goa, berlutut di depan jenazah gurunya.
"Suhu, sesuai dengan pesan terakhir Suhu, teecu membaringkan jenazah Suhu di sini, dan sesuai pula
dengan perintah Suhu, teecu segera meninggalkan tempat ini untuk melaksanakan pesan Suhu. Suhu,
untuk terakhir kalinya, teecu menghaturkan terima kasih melalui ucapan yang keluar dari sanubari teecu."
Dia memberi hormat delapan kali di dekat jenazah gurunya, kemudian dia keluar dari dalam goa kecil.
Sekali lagi dia meneliti di sepanjang dinding sumur dan terowongan. Setelah yakin bahwa tidak ada sisa
coretan dan lukisan yang dibuat suhu-nya dengan sepotong besi yang digigitnya, untuk menggambarkan
pelajaran Bu-kek Hoat-keng yang amat sulit, baru Yo Han menuju ke dasar sumur dan merayap naik.
Dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, mudah saja dia merayap naik, seperti orang mendaki
tangga saja. Dengan cepat tibalah dia di dalam goa di atas tanah, goa yang menjadi jalan masuk ke sumur
itu. Dari dalam goa yang tertutup semak-semak yang rimbun dan penuh duri itu, lapat-lapat dia mendengar
suara orang. Maka, dia pun menanti di goa itu, duduk dengan santai sambil melamun. Dia mengingat
kembali pesan terakhir dari gurunya.
Pertama-tama, dia sudah dipesan untuk pergi mencari keluarga gurunya. Menurut kakek Ciu Lam Hok, dia
berasal dari keluarga kerajaan! Ayahnya seorang panglima yang dulu membantu perkembangan kerajaan
baru Mancu. Karena dia gagah perkasa dan berjasa besar, maka dia menerima hadiah yang besar,
diangkat menjadi panglima, bahkan lalu dinikahkan dengan seorang puteri adik Kaisar Kang Hsi.
Akan tetapi karena dia melihat bangsa Mancu yang tadinya berjanji akan memperbaiki nasib rakyat
melanggar janji, banyak di antara pejabatnya yang bahkan menindas rakyat dan menghina rakyat Han,
maka Ciu Wan-gwe, Jenderal Ciu Kwan menjadi marah dan memberanikan diri untuk mengajukan protes
keras. Melihat ini, Kaisar marah dan dia pun ditangkap, dituduh memberontak dan dihukum mati.
Ciu Kwan yang beristeri seorang puteri Mancu itu mempunyai dua orang anak. Yang pertama adalah Ciu
Lam Hok, sedangkan yang ke dua seorang wanita bersama Ciu Ceng. Sejak muda, Ciu Lam Hok mewarisi
watak ayahnya, yaitu berdarah pendekar dan pembela rakyat.
Meski pun ibunya dan dia bersama adik perempuannya diampuni Kaisar dan tidak ikut dihukum, tetapi
diam-diam Ciu Lam Hok mendendam kepada Kerajaan Mancu. Dia pun pergi meninggalkan ibunya yang
masih tinggal di istana, karena puteri adik Kaisar itu diampuni dan masih dianggap keluarga istana. Ciu
Lam Hok sangat mencinta adiknya, akan tetapi terpaksa dia meninggalkan ibu dan adiknya karena dia
tidak sudi tinggal di dalam istana, bahkan dia menaruh dendam atas kematian ayahnya yang dianggapnya
sebagai seorang pahlawan besar.
Demikianlah, setelah puluhan tahun lamanya mempelajari ilmu silat dengan amat tekun, bersama dua
orang suheng-nya Ciu Lam Hok mendirikan Thian-li-pang yang bertujuan untuk menentang kekuasaan
pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi, seperti pernah diceritakan oleh kakek sakti itu kepada muridnya,
dua orang suheng-nya setelah bergaul dengan orang-orang Pek-lian-kauw yang menamakan diri mereka
pejuang pula, mulai menyeleweng ke jalan sesat. Dia menentang mereka sehingga akhirnya dia disiksa
dan menderita selama bertahun-tahun di dalam sumur.
Sering kali kakek buntung itu mengenang keluarganya. Dia merasa rindu sekali kepada ibunya, terutama
sekali adik perempuannya karena dia dapat menduga bahwa ibunya tentu telah amat tua dan telah
meninggal dunia. Karena perasaan rindunya ini, maka dia membebankan tugas di pundak muridnya
supaya sesudah muridnya keluar dari dalam sumur, pertama-tama Yo Han harus mencari adiknya yang
bernama Ciu Ceng, seorang puteri di istana dan mengenal keluarga adiknya itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bahkan dia meninggalkan pesan bahwa Yo Han harus melakukan sesuatu yang baik bagi keluarga Ciu
Ceng sebagai tanda kasih sayang kakek Ciu kepada adiknya. Kalau perlu, Yo Han harus melindungi
keluarga Ciu Ceng dengan taruhan nyawa!
"Pesanku ini merupakan tanda kasih sayangku yang terakhir buat adikku, yaitu saudara kandungku yang
tunggal itu, maka aku sungguh mengharapkan agar engkau akan bisa melaksanakannya dengan baik, Yo
Han," demikian kakek itu menutup pesannya yang pertama.
Pesan ke dua dari gurunya adalah bahwa setelah dia menyelesaikan tugas pertama, dia harus pergi
mencari Mutiara Hitam, yaitu sebuah pusaka berupa mutiara yang berwarna hitam dan yang mempunyai
khasiat yang amat hebat. Mutiara itu pernah dimiliki kakek Ciu, akan tetapi dalam perebutan dengan tokohtokoh
dunia persilatan, benda mustika itu lenyap dan kabarnya dikuasai oleh seorang kepala suku Miao di
selatan.
Yo Han mendapat tugas untuk mencari dan merampas kembali benda itu yang bukan saja sangat penting
karena khasiatnya, juga hal ini untuk mengangkat kembali nama besar Ciu Lam Hok sebagai seorang
tokoh besar dunia persilatan.
Ada pun pesan ke tiga dari gurunya adalah supaya dia membersihkan Thian-li-pang dari tangan-tangan
kotor, kemudian mengembalikan kedudukan Thian-li-pang sebagai suatu perkumpulan orang-orang gagah
yang ingin membebaskan rakyat dari tangan penjajah Mancu berdasarkan kebenaran serta keadilan,
bukannya dibawa menyeleweng seperti sekarang ini.
"Aku tahu bahwa kedua suheng-ku itu menyeleweng sesudah mereka bergaul dengan orang-orang Peklian-
kauw. Karena itulah Thian-li-pang harus dibersihkan dari pengaruh Pek-lian-kauw dan menjadi
perkumpulan para pahlawan, para patriot kembali. Di antara para murid Thian-li-pang masih banyak yang
bersih, hanya saja mereka takut kepada pimpinan mereka yang sudah dicengkeram pengaruh Pek-liankauw.
Engkau bersihkan Thian-li-pang, muridku. Sesungguhnya untuk Thian-li-pang maka aku menderita
seperti ini. Kalau engkau berhasil membersihkan Thian-li-pang, berarti semua penderitaanku ini tidak siasia."
Yo Han mengepal tinjunya. Dia harus melaksanakan pesan ini terlebih dahulu. Apa pun resikonya, dia
harus dapat dan mampu membersihkan Thian-li-pang. Apa lagi kini dia memang berada di daerah Thian-lipang,
maka untuk sementara dia harus melupakan dua tugas yang lain, dan berusaha melaksanakan tugas
membersihkan Thian-li-pang dari pengaruh jahat.
Setelah orang-orang Thian-li-pang yang lewat di depan goa itu pergi menjauh, dia pun menyelinap keluar
dari goa. Dari balik semak-semak dia melihat betapa Thian-li-pang agaknya tengah melakukan suatu
kegiatan sebab para anggotanya terlihat berbondong-bondong menuju ke pekarangan rumah induk.
Dia sudah mengenal baik tempat itu dan tahu bahwa tentu akan ada pertemuan besar di pekarangan.
Hanya pada saat ada rapat besar yang melibatkan seluruh anggota, maka pertemuan itu diadakan di
pekarangan yang luas di depan rumah induk. Dia pun mulai menyusup mendekat dan kemudian mengintai.
Memang benar dugaan Yo Han. Pada hari itu sedang diadakan pertemuan penting di Thian-li-pang. Semua
anggota yang berada di pusat, yang jumlahnya tidak kurang dari dua ratus orang, berkumpul di pekarangan
yang luas itu.
Anggota Thian-li-pang tersebar di banyak tempat, puluhan ribu orang jumlahnya, terbagi dalam cabangcabang
dan ranting-ranting. Kini yang hadir dalam rapat itu adalah ketua-ketua cabang, kepala-kepala
ranting, dan para anggota di pusat.
Pertemuan itu amat penting. Selain dihadiri oleh ketuanya, yaitu Ouw Ban dan wakilnya, yaitu Lauw Kang
Hui, juga dihadiri pula oleh dua orang kakek yang selama ini jarang muncul dan mereka menjadi penasehat
dan pujaan para pimpinan Thian-li-pang, yaitu Ban-tok Mo-ko guru ketua dan wakil ketua, serta suhengnya,
yaitu Thian-te Tok-ong yang selama bertahun-tahun bersembunyi dan bertapa di dalam goa. Kalau
dua orang ini sampai muncul di dalam rapat itu, tentu rapat itu istimewa sekali. Dan hadir pula di situ dua
orang tokoh Pek-lian-kauw sebagai tamu undangan, yaitu Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, dua orang
yang sudah lama bekerja sama dengan Thian-li-pang bersama Ang-I Moli.
Sesudah semua orang hadir lengkap, Ouw Ban sebagai Ketua Thian-li-pang bercerita secara singkat akan
gagalnya usaha mereka untuk membunuh para pengeran di istana. Bahkan dalam usaha itu, puteranya,
dunia-kangouw.blogspot.com
Ouw Cun Ki, dan Ang-I Moli tokoh Pek-lian-kauw, ditangkap dan dihukum mati bersama banyak anggota
Thian-li-pang dan Pek-lian-kauw yang menyusup sebagai anak buah Ouw Cun Ki.
"Kita tidak boleh membiarkan saja kejadian itu!" Ouw Ban berseru dengan suara keras karena hatinya
diliputi kemarahan dan kedukaan akibat kematian puteranya. "Kita akan mengumpulkan semua kekuatan
dan kita serbu istana, kita bunuh Kaisar serta seluruh keluarganya!"
Ucapan yang penuh semangat itu disambut sorakan gegap gempita oleh para anggota Thian-li-pang. Juga
dua orang tosu Pek-lian-kauw bertepuk tangan gembira dan setelah sorakan itu mereda.
Kwan Thian-cu yang bertubuh gendut itu tertawa, "Ha-ha-ha, Pangcu dari Thian-li-pang sungguh gagah
sekali! Memang pendapatnya itu tepat sekali. Perjuangan kita tak akan berhasil sebelum kita membunuh
Kaisar Kian Liong dan para pangeran. Kalau mereka terbunuh, tentu pemerintahan mereka akan kacau
balau dan kita gunakan kesempatan itu untuk mengerahkan pasukan menghancurkan mereka!"
Kembali ucapan ini disambut sorakan. "Hancurkan penjajah Mancu!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Diam...!"
Semua orang terdiam, lalu memandang orang yang mengeluarkan bentakan nyaring itu. Yang membentak
adalah Ban-tok Mo-ko. Meski pun kakek yang usianya sudah delapan puluh tiga tahun ini biasanya halus
dan ramah, akan tetapi bentakannya mengandung getaran yang amat kuat sehingga semua orang
langsung terdiam dan suasana menjadi hening sehingga suaranya terdengar cukup jelas walau pun suara
itu bernada lembut.
"Ouw Ban," berkata Ban-tok Mo-ko dengan suara yang berpengaruh. "Sebelum engkau mengemukakan
usul baru, sebaiknya kalau kita membicarakan mengenai kedudukanmu sebagai ketua. Tahukah engkau
kenapa kali ini aku sampai ikut menghadiri pertemuan ini, bahkan Suheng Thian-te Tok-ong juga keluar
dari goanya?"
Ouw Ban memandang wajah gurunya dengan alis yang berkerut dan sinar mata penuh pertanyaan. "Teecu
tidak mengerti apa yang Suhu maksudkan."
"Ouw Ban, apakah engkau masih juga belum menyadari kesalahanmu? Sebagai ketua engkau tidak becus!
Semua langkah yang kau ambil sudah gagal, bahkan merugikan Thian-li-pang yang telah kehilangan
banyak murid. Dan sekarang engkau malah hendak membunuh lebih banyak murid Thian-li-pang lagi
dengan menyuruh mereka menyerbu istana?"
Ouw Ban nampak penasaran sekali. "Akan tetapi, Suhu. Semua ini teecu lakukan demi perjuangan!"
"Hemmm, perjuangan bukan sekedar menuruti dendam dan kemarahan. Harus dengan perhitungan. Akan
tetapi sepak terjangmu amat ngawur. Sejak engkau menyelundupkan Ciang Sun ke istana, menghubungi
Siang Hong-houw, engkau telah banyak melakukan kesalahan yang amat merugikan perjuangan kita. Dan
sekarang engkau akan menyuruh banyak murid bunuh diri dengan menyerbu istana yang terjaga kuat
sekali? Ouw Ban, karena engkau muridku, aku menjadi sangat malu. Engkau tidak patut menjadi Ketua
Thian-li-pang!"
Wajah Ouw Ban menjadi merah. Ia sedang berduka karena kematian putera tunggalnya, karena kegagalan
usahanya membunuh para pangeran, dan sekarang gurunya bahkan mamarahinya di depan semua ketua
cabang dan kepala ranting, bahkan di depan dua orang tokoh Pek-lian-kauw!
Dia segera ingat bahwa dialah Ketua Thian-li-pang sehingga di dalam perkumpulan itu, dia orang pertama
yang paling tinggi kedudukannya, bahkan lebih tinggi dari kedudukan gurunya dan supek-nya yang hanya
merupakan penasehat!
"Suhu lupa bahwa akulah Ketua Thian-li-pang!" katanya. Suaranya kini kasar dan penuh kemarahan. "Aku
berhak memutuskan apa yang harus dilakukan oleh Thian-li-pang, dan aku sudah mengambil keputusan
untuk menyerbu istana, membunuh Kaisar Kian Liong! Tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi
rencanaku ini!"
Semua orang menjadi terkejut dan memandang dengan hati tegang melihat timbulnya pertentangan antara
guru dan murid ini. Ouw Ban memandang kepada gurunya dengan mata bersinar-sinar.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ouw Ban, engkau hanya menuruti perasaan hatimu yang penuh dendam dan sakit hati karena kematian
anakmu! Engkau sudah bertindak demi kepentingan diri pribadi, bukan lagi untuk kepentingan Thian-lipang!"
"Ha-ha-ha-ha, Sute Ban-tok Mo-ko, muridmu ini memang sudah tidak patut lagi menjadi Ketua Thian-lipang.
Singkirkan saja dia dan kita ganti dengan murid lain!" kata Thian-te Tok-ong.
Mendengar ini, Ouw Ban menjadi semakin marah. Biar pun dia menghormati suhu dan supek-nya, tetapi
sekarang dia adalah seorang ayah yang mendendam karena kematian puteranya.
Dia memang maklum akan kelihaian suhu dan supek-nya, dan takut kepada mereka. Tapi sekarang,
melihat keinginannya membalas dendam kematian puteranya dihalangi, bahkan kedudukannya sebagai
Ketua Thian-li-pang akan digeser, dia pun tak mengenal takut lagi. Apa pula suhu dan supek-nya adalah
dua orang kakek yang sudah tua renta, betapa pun lihainya, tentu sekarang sudah lemah, pikirnya.
Bangkitlah dia dari tempat duduknya dan dia menghadapi suhu dan supek-nya.
"Dahulu aku diangkat menjadi Ketua Thian-li-pang oleh semua ketua cabang dan kepala ranting, juga oleh
semua anggota setelah aku menunjukkan bahwa akulah yang paling kuat dan paling tepat menjadi ketua.
Kalau sekarang ada yang ingin mencopot aku dari kedudukan ketua, siapa pun juga dia, harus dapat
mengalahkan dan merobohkan aku!"
"Heh-heh-heh-heh, muridmu ini memang bejat, Sute! Biar aku yang menghajarnya!"
Wajah Ban-tok Mo-ko menjadi pucat, lalu merah sekali. Dia adalah seorang datuk yang biasanya bersikap
halus dan ramah, akan tetapi saat ini dia benar-benar sangat marah. Dia melangkah maju menghadapi
muridnya dan berkata kepada suheng-nya,
"Suheng, dia muridku, maka akulah yang bertanggung jawab atas penyelewengannya. Aku yang harus
menghajarnya. Ouw Ban, engkau murid murtad, cepatlah berlutut dan menerima hukuman!"
Akan tetapi Ouw Ban yang sudah marah sekali itu tidak mau berlutut, bahkan menatap wajah suhu-nya
dengan berani. Suhu-nya sudah berusia delapan puluh tiga, tubuhnya sudah nampak kurus dan lemah
sehingga dia sama sekali tidak merasa gentar. Apa lagi dia tahu bahwa hampir seluruh ilmu yang dikuasai
suhu-nya sudah dipelajarinya.
"Memang, aku adalah murid Suhu, akan tetapi di Thian-li-pang, bahkan Suhu pun harus tunduk terhadap
perintah Ketua Thian-li-pang!"
"Ouw Ban, berani engkau menentang dan melawan gurumu?!" sekali lagi Ban-tok Mo-ko membentak.
"Bila terpaksa, siapa pun juga akan kulawan. Aku harus mempertahankan kedudukanku sebagai ketua
dengan taruhan nyawa!"
"Kalau begitu, engkau akan mati di tanganku sendiri, Ouw Ban!" kata kakek itu.
Tiba-tiba dia menyerang dengan tamparan tangan kirinya. Ouw Ban memang telah siap siaga, maka dia
pun menangkis dan langsung balas menyerang pula!
Semua orang memandang dengan hati tegang. Tiada seorang pun berani mencampuri atau melerai karena
kedua orang itu adalah guru dan murid, bahkan Ketua Thian-li-pang dan seorang tokoh tua perkumpulan
itu. Namun, jelas nampak bahwa usia tua membuat Ban-tok Mo-ko kewalahan menghadapi muridnya.
Muridnya itu pun sudah tua. Usia Ouw Ban sudah tujuh puluh tiga, akan tetapi gurunya tetap sepuluh tahun
lebih tua. Dan kalau Ouw Ban masih giat bergerak dan berlatih silat, Ban-tok Mo-ko lebih banyak
bersemedhi dan tak pernah berlatih. Oleh karena itu, meski dalam hal tenaga sinkang Ban-tok Mo-ko
masih kuat, tetapi dia kehilangan kegesitannya dan kalah cepat oleh muridnya sehingga tak lama
kemudian dia terdesak oleh muridnya itu!
Pada saat untuk kesekian kalinya Ban-tok Mo-ko meloncat ke belakang menghindar dari desakan
muridnya, Ouw Ban mengeluarkan bentakan nyaring. Dua tangannya berubah merah dan dia pun memukul
dunia-kangouw.blogspot.com
ke depan dengan dorongan kedua tangan terbuka. Itulah ilmu pukulan Ang-tok-ciang (Tangan Racun
Merah) yang amat dahsyat!
Melihat hal ini, Ban-tok Mo-ko juga mengerahkan sinkang-nya dan menggunakan ilmu pukulan yang sama,
menyambut dorongan, kedua tangan itu.
"Plakkk!"
Dua pasang tangan itu saling bertemu dan telapak tangan mereka lalu saling melekat. Keduanya
mengerahkan tenaga sinkang, saling dorong dan sebentar saja nampak uap mengepul dari kepala mereka,
tanda bahwa mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sinkang mereka. Suasana menjadi semakin
tegang karena semua orang tahu bahwa guru dan murid ini sedang mati-matian mengadu sinkang yang
berarti mereka mengadu nyawa. Yang kalah kuat akan roboh den tewas!
Akan tetapi tiba-tiba Thian-te Tok-ong bergerak ke depan dan tangan kirinya menepuk punggung sute-nya.
"Murid macam itu tidak perlu diampuni lagi!"
Begitu punggung Ban-tok Mo-ko kena ditepuk tangan kiri Thian-te Tok-ong, serangkum tenaga dahsyat
membantu kedua telapak tangan Ban-tok Mo-ko dan tiba-tiba saja tubuh Ouw Ban terlempar ke belakang
dibarengi gerengannya dan dia pun roboh terbanting dan muntah darah, matanya mendelik dan nyawanya
putus seketika!
Ban-tok Mo-ko memejamkan dua matanya, kemudian duduk bersila dan menarik napas panjang beberapa
kali untuk memulihkan tenaganya. Sementara itu, Thian-te Tok-ong tertawa dan berkata kepada para murid
Thian-li-pang, "Singkirkan mayat murid murtad itu agar kita dapat bicara dengan tenang."
Beberapa orang murid maju dan mengangkat mayat Ouw Ban, lalu dibawa ke belakang. Jenazahnya akan
dikubur tanpa banyak upacara lagi karena dia telah dianggap sebagai seorang murid murtad.
Ban-tok Moko lalu berkata kepada semua orang dengan suaranya yang lembut. “Para anggota Thian-lipang,
murid-murid yang setia. Oleh karena Ouw Ban telah murtad dan disingkirkan, maka sekarang yang
berhak memimpin pertemuan ini adalah wakil ketua, yaitu Lauw Kang Hui. Kang Hui, kau pimpin
pertemuan ini dan sebaiknya jika diadakan pemilihan ketua baru lebih dulu, baru kita akan mengambil
langkah-langkah berikutnya.”
Lauw Kang Hui memberi hormat kepada suhu-nya dan supek-nya, lalu dia menghadapi semua orang.
“Saya merasa menyesal sekali dengan sikap terakhir yang diambil mendiang Suheng Ouw Ban.
Hendaknya peristiwa ini bisa dijadikan contoh bagi semua murid Thian-li-pang supaya jangan ada lagi yang
mementingkan urusan pribadi di atas urusan perkumpulan. Sekarang, saya persilakan saudara-saudara
sekalian untuk mengajukan usul-usul bagai mana sebaiknya untuk memilih seorang ketua baru.”
Ramailah sambutan para ketua cabang dan kepala ranting. Banyak yang mengusulkan agar masingmasing
kelompok besar mengajukan seorang calon ketua baru, kemudian diadakan pemilihan di antara
para calon itu.
Akan tetapi, Lauw Kang Hui merasa tidak setuju. Dia mengangkat kedua tangan ke atas dan menggeleng
kepalanya. “Saudara sekalian, kurasa perkumpulan kita Thian-li-pang memerlukan bimbingan orang yang
berpengalaman dan berilmu tinggi. Jika diserahkan kepada yang muda-muda, aku khawatir akan terjadi
penyelewengan yang kelak akan melemahkan perkumpulan kita. Maka, aku mengusulkan supaya
pimpinan Thian-li-pang kita persembahkan saja kepada tokoh-tokoh utama yang kita junjung tinggi, yaitu
Supek Thian-te Tok-ong atau Suhu Ban-tok Mo-ko!”
Semua orang yang berada di sana menyambut usul ini dengan sorak-sorai gembira. Memang, mereka
akan merasa lega kalau yang memimpin langsung adalah dua orang kakek yang sakti itu. Hal itu akan
membuat mereka berbesar hati.
Dua orang kakek itu saling pandang dan mereka menggeleng kepala. Ban-tok Mo-ko dapat membaca isi
hati suheng-nya maka dia pun bangkit dan berkata, “Kami berdua adalah orang-orang tua renta yang
sudah tidak ada semangat lagi untuk merepotkan diri mengurus hal-hal yang memusingkan. Tugas kami
hanya mengawasi agar semua murid melakukan tugasnya dengan baik. Kami berdua tidak dapat
menerima kedudukan ketua karena kami merasa sudah terlalu tua. Oleh karena itu, kami mempunyai usul
dunia-kangouw.blogspot.com
supaya jabatan ketua dipegang oleh murid kami Lauw Kang Hui. Dia boleh memilih wakilnya dan para
pembantunya. Apakah semua setuju?”
Tepuk tangan dan sorakan menyambut usul ini sebagai tanda bahwa sebagian besar dari para anggota
Thian-li-pang bisa menyetujui pengangkatan Lauw Kang Hui sebagai ketua. Selama ini, sebagai wakil
ketua, Lauw Kang Hui telah menunjukkan jasa-jasanya, bahkan untuk urusan luar yang mengandung
bahaya, dia jauh lebih aktip dibandingkan suheng-nya Ouw Ban yang telah tewas itu.
Akan tetapi, tiba-tiba semua orang merasa heran melihat Lauw Kang Hui mengangkat kedua tangannya ke
atas, memberi isyarat kepada semua orang untuk tenang. Setelah semua orang menjadi tenang kembali,
Lauw Kang Hui kemudian berkata dengan suara lantang, sambil memberi hormat lalu berdiri menghadap
ke arah suhu dan supek-nya.
“Harap Suhu dan Supek suka memaafkan teecu. Semua yang akan teecu katakan ini bukan berarti bahwa
teecu tidak mentaati perintah Jiwi (Anda Berdua), melainkan untuk mengeluarkan semua perasaan
penasaran yang telah lama menekan hati teecu.”
“Lauw Kang Hui, dalam pertemuan besar seperti ini, memang sebaiknya jika kita bicara secara jujur,
mengeluarkan semua isi hati kita. Bicaralah!” kata Ban-tok Mo-ko.
Lauw Kang Hui lalu menghadapi semua anggota yang mencurahkan seluruh perhatian kepadanya.
“Saudara-saudara sekalian. Terima kasih bahwa Cuwi (Anda Sekalian) telah menerima saya sebagai ketua
baru. Akan tetapi untuk menerima kedudukan itu, saya mempunyai satu syarat, yaitu agar semua sepak
terjang Thian-li-pang kita tentukan sendiri. Selama ini, sepak terjang Thian-li-pang seolah-olah sudah
dikendalikan oleh Pek-lian-kauw, dan ternyata banyak kegagalan yang kita alami. Oleh karena itu, saya
hanya mau memimpin Thian-li-pang sebagai ketua kalau mulai saat ini juga kerja sama dengan Pek-liankauw
ditiadakan. Biarlah Thian-li-pang mengenal Pek-lian-kauw sebagai rekan seperjuangan melawan
penjajah Mancu, akan tetapi kita mengambil jalan dan cara masing-masing, tidak saling mencampuri.”
Kini terjadi perpecahan di antara para murid Thian-li-pang. Ada sebagian yang setuju dengan pendapat
Lauw Kang Hui, ada pula yang tidak setuju. Mereka yang tidak setuju itu tentu saja para murid yang sudah
menikmati keuntungan akibat kerja sama mereka dengan Pek-lian-kauw. Ada para anggota yang
menganggap bahwa kerja sama dengan Pek-lian-kauw itu baik, ada pula yang sebaliknya.
Tentu saja pendapat baik atau buruk ini timbul karena adanya penilaian, dan penilaian selalu berdasarkan
kepentingan diri sendiri. Apa saja yang menguntungkan diri sendiri akan dinilai baik, sedangkan yang
merugikan akan dinilai buruk. Oleh karena itu maka timbul pertentangan, yang diuntungkan menganggap
baik dan yang tidak diuntungkan menganggap buruk.
Dua orang tokoh dari Pek-lian-kauw yang hadir sebagai tamu tentu saja saling pandang dengan alis
berkerut saat mendengar ucapan calon ketua baru itu. Kwan Thian-cu yang gendut dan pandai bicara
segera bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang.
“Siancai...! Pendapat dari Lauw-pangcu (Ketua Lauw) sungguh membuat kami merasa penasaran sekali!
Bukankah selama ini Pek-lian-kauw merupakan kawan seperjuangan yang setia? Ingat, kami pun sudah
mengorbankan banyak anak buah dalam membantu Thian-li-pang. Bahkan sekarang kami pun siap
membantu apa bila Thian-li-pang hendak menyerbu istana dan membunuh Kaisar Mancu! Mengapa tibatiba
saja Lauw-pangcu bisa mengatakan bahwa pihak kami hanya menggagalkan sepak terjang Thian-lipang?
Sungguh penasaran sekali dan kami tidak dapat menerimanya.”
“Hemm, Kwan Thian-cu Totiang (Pendeta) harap tenang dan suka mempertimbangkan ucapan kami.
Selama ini, mendiang Suheng Ouw Ban selalu mendengarkan nasehat pihak Pek-lian-kauw, bahkan
kegagalan yang baru saja kami alami juga atas prakarsa Pek-lian-kauw. Kami hanya minta agar Pek-liankauw
tidak mencampuri urusan kami dan mengenai perjuangan, biarlah kita mengambil jalan dan cara
masing-masing tanpa saling mencampuri. Oleh karena itu, mengingat bahwa pertemuan ini adalah
pertemuan pribadi perkumpulan kami, maka dengan hormat kami harap supaya jiwi Totiang (Anda Berdua
Pendeta) suka meninggalkan pertemuan ini.”
Dua orang pendeta dari Pek-lian-kauw itu menjadi marah bukan main. Mereka baru saja kehilangan Ang-I
Moli yang merupakan andalan mereka. Wanita itu telah dihukum mati sebagai akibat kegagalan kerja sama
dunia-kangouw.blogspot.com
mereka ketika hendak membunuh para pangeran. Dan sekarang, mereka diusir begitu saja oleh ketua baru
Thian-li-pang.
“Sungguh keterlaluan sekali! Thian-li-pang tak mengenal budi,” teriak Kui Thian-cu yang bertubuh kecil
kurus dan pendek. Mukanya yang keriputan itu nampak semakin tua.
Banyak anggota Thian-li-pang yang mendukung kerja sama dengan Pek-lian-kauw juga nampak gelisah
dan penasaran sekali sehingga nampak sikap permusuhan antara dua kelompok yang mendukung sikap
Lauw Kang Hui dengan mereka yang menentang.
“Hemmm, agaknya ketua yang baru sekarang hendak membawa Thian-li-pang menjadi pengkhianat, ingin
membantu pemerintah penjajah untuk memusuhi Pek-lian-kauw yang selamanya anti penjajah?” teriak pula
Kwan Thian-cu, sikapnya sudah amat menantang.
“Jiwi Totiang! Kalian hanyalah tamu, apakah hendak menantang tuan rumah?!” bentak Lauw Kang Hui
yang sudah marah.
Agaknya perkelahian tak akan dapat dihindarkan lagi, sedangkan dua orang kakek sakti dari Thian-li-pang
yang masih duduk, hanya menonton saja dengan sikap tenang.
Pada saat yang gawat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di antara mereka berdiri
seorang pemuda yang bermata tajam mencorong dan sikapnya tenang namun lembut. Tubuhnya yang
sedang tapi tegap itu mengenakan pakaian yang bersih namun sederhana. Pemuda ini bukan lain adalah
Yo Han!
Agaknya, Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong masih mengenal pemuda itu, demikian pula Lauw Kang
Hui. Thian-te Tok-ong terbelalak dan berseru, “Heii, bukankah engkau Yo Han...?!”
Yo Han menghampiri Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tok-ong, memberi hormat dengan merangkap kedua
tangan di depan dada dan membungkuk sambil berkata, “Jiwi Supek (Kedua Uwa Guru), saya Yo Han
memberi hormat, dan harap maafkan karena melihat keadaan, terpaksa saya ingin ikut bicara sedikit.”
Tanpa menanti jawaban kedua orang kakek yang memandang bengong itu, segera Yo Han menghadapi
semua orang Thian-li-pang. Kedua orang kakek itu bengong karena merasa terheran-heran. Bukankah Yo
Han telah tewas di dalam sumur bersama Ciu Lam Hok? Bagaimana mungkin anak itu kini muncul kembali
sebagai seorang pemuda yang tampan dan gagah, dengan pakaian yang pantas pula?
Suara Yo Han terdengar lantang ketika dia bicara.
“Saudara-saudara sekalian, para murid dan anggota Thian-li-pang, dengarkan baik-baik. Seluruh dunia
kang-ouw tahu belaka bahwa dahulu Thian-li-pang adalah perkumpulan orang-orang gagah yang selain
menentang kejahatan dan menentang penjajahan, juga menegakkan kebenaran dan keadilan. Tetapi akhirakhir
ini, semua orang tahu belaka bahwa telah terjadi penyelewengan-penyelewengan dan penyimpangan
dari jalan benar yang dilakukan Thian-li-pang. Nama baik Thian-li-pang tercemar dan terkenal sebagai
perkumpulan yang menentang pemerintah penjajah akan tetapi juga yang suka berbuat jahat! Langkah
yang diambil Thian-li-pang mengikuti jejak langkah Pek-lian-kauw yang sejak dulu terkenal menyeleweng
dari pada kebenaran dan banyak orang Pek-lian-kauw melakukan kejahatan dengan dalih perjuangan.
Betapa pun mulia cita-citanya, namun kalau pelaksanaan atau cara mengejar cita-cita itu kotor, maka
hasilnya akan menjadi kotor pula. Yang penting sekali adalah pelaksanaannya. Kalau pelaksanaannya
bersih, maka yang dicapai juga bersih. Pelaksanaan adalah benihnya, dan tiada benih buruk
mendatangkan buah yang baik. Saya menghormati dan setuju sekali pendapat Suheng Lauw Kang Hui
tadi, yang bertekad untuk menegakkan kembali Thian-li-pang sebagai perkumpulan orang-orang gagah,
perkumpulan pendekar pahlawan!”
Mereka yang tadi mendukung Lauw Kang Hui, bersorak menyambut ucapan ini, walau pun mereka
sekarang juga terheran-heran mengenal Yo Han, yang lima tahun yang lalu pernah mereka lihat sebagai
seorang anak yang diambil murid oleh Thian-te Tok-ong. Lauw Kang Hui sendiri pun terheran, akan tetapi
karena ucapan Yo Han sejalan dengan pendapatnya, dia pun diam saja dan hendak melhat perkembangan
selanjutnya.
Kwan Thian-cu dan Kui Thian-cu, dua orang tosu Pek-lian-kauw itu, segera mengenal Yo Han sebagai
anak laki-laki yang pernah mereka tawan pada saat mereka membantu Ang-I Moli. Melihat sikap dan
dunia-kangouw.blogspot.com
mendengar ucapan Yo Han, kedua orang tosu ini marah bukan main. Keduanya sudah melangkah maju
sambil memandang kepada Yo Han dengan mata melotot. Mereka ingat bahwa anak ini dahulu kebal
terhadap sihir, maka mereka pun tidak mau mempergunakan ilmu sihir.
“Pemuda sombong! Berani engkau menjelek-jelekkan Pek-lian-kauw seperti itu? Siapa pun yang berani
menghina Pek-lian-kauw, tak berhak hidup. Kami akan membunuhmu sekarang juga!”
Dua orang tosu itu sudah siap untuk menyerang Yo Han. Pemuda itu bersikap tenang saja dan dia
menatap kedua orang tosu itu secara bergantian.
“Jiwi Totiang (Kalian Berdua Pendeta) mengaku sebagai pendeta-pendeta, berjubah dan berpakaian
sebagai pendeta. Namun, baik buruknya seseorang bukan tergantung dari pakaian atau sikapnya,
melainkan dari perbuatannya. Jiwi Totiang sudah banyak melakukan kejahatan, maka jubah dan sikap Jiwi
sebagai pendeta itu hanyalah kedok belaka. Apa yang saya katakan tadi adalah kebenaran, dan bukan
bermaksud menjelek-jelekkan atau menghina siapa pun.”
“Keparat, kau makin kurang ajar saja! Rasakan pukulanku!” bentak Kwan Thian-cu yang marah sekali dan
tiba-tiba tokoh Pek-lian-kauw yang gendut ini telah menerjang dengan pukulan maut dari kedua telapak
tangannya.
“Desss...!”
Pukulan kedua tangan tosu Pek-lian-kauw yang gendut itu disambut oleh kedua tangan Lauw Kang Hui
yang meloncat ke depan melindungi Yo Han. Dua pasang tangan itu bertemu dengan tenaga sinkang
sepenuhnya, dan akibatnya, Kwan Thian-cu yang kalah kuat terdorong, terjengkang dan tubuh yang gendut
itu terguling-guling sampai beberapa meter jauhnya.
Kui Thian-cu cepat menghampiri saudaranya dan membantunya bangkit. Masih untung bagi Kwan Thiancu
bahwa Lauw Kang Hui tak berniat membunuhnya, maka tadi ketika menangkis, tidak menggunakan
serangan balasan. Namun karena tosu Pek-lian-kauw itu memang kalah kuat, begitu kedua tangannya
bertemu dengan tangan calon ketua baru Thian-li-pang, tubuhnya seperti diterjang gajah dan terjengkang
ke belakang.
“Totiang, jika kami tidak memandang Pek-lian-kauw sebagai rekan seperjuangan, tentu saat ini engkau
sudah tak bernyawa lagi. Kami hanya menghendaki agar Pek-lian-kauw tidak mencampuri urusan rumah
tangga kami. Silakan meninggalkan tempat ini,” kata Lauw Kang Hui dengan tegas.
Kedua orang tosu itu bangkit, memberi hormat dan pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka
merasa malu, tetapi juga maklum bahwa melawan pun tiada gunanya. Mereka tahu pula bahwa para
pimpinan Pek-lian-kauw pasti tidak menghendaki mereka mencari permusuhan dengan Thian-li-pang yang
jelas menentang pemerintah penjajah.
Setelah dua orang tosu itu pergi dan tidak kelihatan lagi bayangannya, Thian-te Tok-ong berkata dengan
nada suara yang penuh kemarahan. “Yo Han, engkau ini anak masih ingusan sudah berani berlagak di
Thian-li-pang! Di sini ada aku, ada sute, ada pula Lauw Kang Hui, dan engkau membikin malu kami dengan
sepak terjangmu seolah-olah engkau yang paling hebat di sini!”
“Maaf, sebelumnya teecu sudah minta maaf kepada Jiwi Susiok (Uwa Guru Berdua),” kata Yo Han sambil
menghadapi dua orang kakek itu dan memberi hormat.
“Bocah lancang, engkau berani memandang rendah kepada kami, ya?” Ban-tok Mo-ko juga membentak.
“Tanpa perintah kami, engkau telah berani mencari gara-gara dengan Pek-lian-kauw atas nama Thian-lipang.
Engkau tidak berhak untuk bertindak atas nama Thian-li-pang. Kelancanganmu ini meremehkan
kami dan harus kuhukum kau!”
Setelah berkata demikian Ban-tok Mo-ko menerjang maju menyerang Yo Han. Melihat serangan gurunya
itu, Lauw Kang Hui terkejut. Gurunya sudah melancarkan serangan pukulan maut kepada Yo Han. Biar pun
dia membenarkan tindakan Yo Han tadi, namun karena Yo Han bukanlah apa-apa baginya, dia tidak berani
lancang melindunginya dari serangan gurunya yang hebat itu. Dia hanya memandang dengan mata
terbelalak, juga semua anggota Thian-li-pang memandang dan mereka semua merasa yakin bahwa Yo
Han pasti akan roboh tewas karena mereka semua mengenal kesaktian Ban-tok Mo-ko yang merupakan
seorang sesepuh atau locianpwe dari Thian-li-pang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Maaf, Supek!” kata Yo Han.
Ketika Yo Han melihat serangan yang mendatangkan angin pukulan dahsyat itu datang menyambar
dirinya, ia pun menggerakkan dua tangannya yang mula-mula menyembah ke atas, terus turun ke bawah
melalui depan dahi, hidung, mulut terus ke ulu hati, lalu kedua lengan dikembangkan dan tangan ke kanan
kiri, terus ke arah bawah membentuk lingkaran, lalu bertemu di bawah dalam keadaan menyembah lagi
dan kedua tangan ini dengan kedua telapak tangan terbuka kemudian menghadap ke depan dan
lengannya diluruskan.
Tiada hawa pukulan keluar dari kedua tangan Yo Han ini, akan tetapi tiba-tiba Ban-tok Mo-ko
mengeluarkan seruan kaget karena dia merasakan betapa hawa pukulan kedua tangannya membalik dan
biar pun dia sudah bertahan, tetap saja dia terpelanting oleh kuatnya hawa pukulannya sendiri yang
membalik!
“Ho-ho, anak ini memang perlu dihajar!” kata Thian-te Tok-ong, kaget dan juga tertarik sekali melihat
betapa sute-nya yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian yang hanya di bawah tingkatnya, sampai
terpelanting jatuh.
Dia pun mengebutkan lengan baju kanannya. Dia memukul dari jauh, mempergunakan hawa pukulan yang
amat dahsyat, lalu tongkat di tangan kirinya menyusul, menotok ke arah pusar Yo Han.
“Maaf, Supek!” kata pula Yo Han.
Yo Han tahu betapa dahsyatnya serangan ini, maka kembali dia menggerakkan kedua tangannya sesuai
dengan ilmu yang baru saja dilatih di bawah petunjuk kakek Ciu Lam Hok, yaitu ilmu yang disebut Bu-kek
Hoat-keng.
Begitu dua tangan Yo Han membuat gerakan memutar dan menyambut tamparan dan totokan tongkat,
seperti yang terjadi pada Ban-tok Mo-ko tadi, tiba-tiba Thian-te Tok-ong juga berseru kaget dan biar pun
dia tidak terpelanting seperti sute-nya, akan tetapi dia terhuyung ke belakang dan dua serangannya tadi
membalik, tangan kanan menampar kepalanya sendiri dan tongkatnya membalik ke arah pusarnya sendiri!
“Hemmm, Bu-kek Hoat-keng...!” seru kakek bertubuh pendek kecil ini sesudah mampu mengembalikan
keseimbangannya, mukanya agak pucat karena dia tadi merasa kaget bukan main ketika kedua
serangannya membalik secara aneh sekali
“Yo Han!” bentak Ban-tok Mo-ko. “Betapa beraninya engkau mencampuri urusan pribadi Thian-li-pang?”
Yo Han memberi hormat kepada dua orang kakek itu. “Jiwi Supek (Uwa Guru Berdua), harap maafkan
saya. Sebagai murid Suhu Ciu Lam Hok, maka saya pun mempunyai hak mencampuri urusan Thian-lipang
dan semua yang saya lakukan ini adalah untuk memenuhi pesan dari Suhu. Semenjak dahulu Thianli-
pang adalah perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot. Akan tetapi sejak Thian-li-pang dibawa
bersekutu dan bersahabat dengan Pek-lian-kauw, apa jadinya? Thian-li-pang melupakan sumbernya, dan
anak buahnya banyak yang mengikuti jejak Pek-lian-kauw, tidak segan melakukan kejahatan dengan
kedok perjuangan. Suhu pesan kepada saya untuk mengembalikan Thian-li-pang ke jalan yang benar.”
“Ciu Lam Hok itu... di mana dia sekarang? Engkau dapat keluar, tentu dia pun dapat. Katakan, di mana Ciu
Lam Hok?” Thian-te Tok-ong bertanya.
Yo Han menarik napas panjang, teringat betapa suhu-nya itu hidup menderita karena perbuatan dua orang
kakek yang menjadi supek-nya ini.
“Suhu telah meninggal dunia dalam keadaan tubuh menderita namun batinnya bahagia.”
“Ahhhh...!” Thian-te Tok-ong berseru, juga Ban-tok Mo-ko mengeluarkan seruan kaget.
“Jiwi Supek yang membuat Suhu hidup tersiksa!” berkata pula Yo Han dengan suara mengandung teguran
dan memandang tajam kepada dua orang kakek itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua orang kakek itu menundukkan muka. Agaknya baru mereka kini melihat betapa kejam mereka
terhadap sute sendiri. Mereka telah menyiksa sute mereka dan berlaku curang hanya karena iri hati dan
ingin menguasai ilmu sute mereka yang lebih tinggi dari pada ilmu mereka.
Entah bagaimana, ketika Ciu Lam Hok masih hidup dan merana di dalam sumur, dua orang kakek ini sama
sekali tidak pernah menyesali perbuatan mereka, bahkan raungan dan teriakan Ciu Lam Hok yang mereka
dengar, membuat mereka semakin penasaran dan membenci karena sute itu tidak mau membagi ilmuilmunya
kepada mereka.
Akan tetapi kini mendengar bahwa sute itu sudah meninggal dunia, mendadak mereka kehilangan, dan
merasa menyesal. Karena tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan ilmu-ilmu dari orang yang sudah
mati, maka sekarang seolah-olah yang teringat hanya perbuatan mereka terhadap sute itu, dan betapa
mereka bertiga merupakan pendiri Thian-li-pang yang dahulu hidup rukun dan saling setia.
“Aihhh, Sute, kami sudah berdosa kepadamu...” Tiba-tiba saja Thian-te Tok-ong berseru dan kakek ini
menangis! Dan Ban-tok Mo-ko juga menangis.
Melihat dua orang kakek yang menjadi sesepuh Thian-li-pang itu menangis seperti anak kecil, semua
anggota Thian-li-pang terheran-heran, dan Lauw Kang Hui menundukkan kepalanya. Wakil ketua ini pun
menyadari betapa Thian-li-pang memang sudah jauh menyeleweng, anak buahnya banyak yang tak
segan-segan melakukan perbuatan jahat bersama anak buah Pek-lian-kauw yang dalam hal
penyelewengan sudah menjadi guru mereka.
Tiba-tiba Ban-tok Mo-ko maju menghampiri suheng-nya dan menudingkan telunjuknya ke arah muka
suheng-nya.
“Suheng, semua ini gara-gara engkau! Engkau sudah membuntungi kaki tangannya, engkau telah berlaku
kejam kepada Sute! Kini Sute sudah meninggal, tentu arwahnya akan menuntut kepada kita! Suheng,
engkaulah penyebab semua ini. Aihhhh, Sute... maafkan aku, Sute. Semua ini Suheng kita yang menjadi
biang keladinya!”
Thian-te Tok-ong menghentikan tangisnya dan dia pun menghadapi sute-nya dengan mata berkilat dan alis
berkerut.
“Apa kau bilang? Sute, jangan seenaknya saja kau bicara. Engkaulah yang memberi siasat itu kepadaku!
Engkau yang menganjurkan aku untuk turun tangan terhadap Sute Ciu Lam Hok! Dan aku menyesal telah
menuruti kemauanmu. Sute Ciu Lam Hok, inilah orangnya yang menjadi penyebab kematianmu, bukan
aku!”
“Suheng, Jangan menyangkal! Engkau melakukan kekejaman terhadap Ciu Sute karena engkau murka,
karena engkau menghendaki ilmunya, terutama ilmu Bu-kek Hoat-keng. Engkaulah yang menanggung
dosa terbesar, Suheng!”
“Keparat, engkau pun berdosa besar, bahkan aku tertarik oleh bujukanmu!”
“Bohong!”
“Engkau pengecut, tak berani bertanggung jawab. Aku memang berdosa terhadap Sute Ciu Lam Hok, akan
tetapi engkau pun lebih berdosa lagi!”
“Engkau biang keladinya!”
Dua orang kakek, yang satu gendut yang satu kurus itu, saling maki dan akhirnya, tanpa dapat dicegah
lagi, saling serang dengan penuh kemarahan! Suheng dan sute ini sama-sama merasa menyesal, merasa
berdosa terhadap sute mereka yang sekarang sudah meninggal dunia.
Karena saling menyalahkan, duka dan menyesal, mereka lupa diri dan akhirnya saling serang dengan
hebatnya. Karena keduanya merupakan orang-orang sakti, maka tidak ada anggota Thian-li-pang yang
berani melerai. Maju melerai berarti membahayakan nyawa sendiri. Di seputar kedua orang itu, angin
pukulan menyambar-nyambar dengan dahsyatnya sehingga Lauw Kang Hui sendiri terpaksa mundur
menjauh supaya tidak sampai terkena serangan hawa pukulan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pertandingan antara dua orang tokoh yang sakti dan yang usianya sudah sangat tua, tidak lagi
mengandalkan kecepatan gerakan, tidak mau membuang waktu dan mereka segera mengeluarkan ilmu
simpanan masing-masing, dan mengerahkan sinkang untuk mengalahkan lawan.
Di lain saat, setelah lewat belasan jurus saja, keduanya sudah berdiri dengan dua kaki terpentang, kedua
tangan saling tempel dan saling dorong dengan pengerahan tenaga sinkang. Uap mengepul dari kepala
mereka dan semua orang tahu bahwa pertandingan ini merupakan pergulatan mati hidup.
Lauw Kang Hui mengerti pula dan dia menjadi sangat khawatir. Dia pun tahu bahwa gurunya, Ban-tok Moko,
masih kalah kuat dibandingkan supek-nya, dan bahwa gurunya terancam maut. Namun, tentu saja dia
tidak berani mencampuri, tidak berani melerai. Dia tadi teringat akan Yo Han yang telah mampu
merobohkan suhu-nya dan supek-nya, maka timbul harapannya.
Cepat dia menghampiri Yo Han dan dengan suara sungguh-sungguh dia berkata, “Sute Yo Han, tolonglah
mereka. Cepat pisahkan mereka agar jangan sampai saling bunuh.”
Yo Han yang sejak tadi menonton, menoleh kepadanya dan menggelengkan kepalanya. “Kurasa tidak ada
gunanya lagi, Suheng. Mereka sudah saling serang mati-matian dan andai kata aku dapat memisahkan
mereka pun, tentu mereka telah terluka dalam...“
Lauw Kang Hui memandang kepada dua orang kakek itu. Dia merasa gelisah melihat betapa dari ujung
bibir gurunya sudah mengalir darah dari dalam mulut, tanda bahwa gurunya telah menderita luka dalam.
Dan walau pun di bibir Thian-te Tok-ong belum nampak darah, akan tetapi wajah kakek yang kecil pendek
itu pucat sekali.
“Mereka sudah terluka, akan tetapi setidaknya, jangan mereka itu tewas selagi mengadu tenaga. Sute,
tolonglah, pisahkan mereka, biar pun mereka sudah terluka.”
Yo Han menarik napas panjang. Dia sudah melihat betapa keadaan dua orang kakek itu sudah payah
sekali, dan jika dia memisahkan mereka, dia harus menggunakan sinkang untuk mematahkan dua tenaga
yang sudah saling lekat itu. Bukan pekerjaan mudah, bahkan berbahaya baginya, akan tetapi dia pun tidak
dapat menolak karena dia tidak dapat membiarkan mereka itu mengadu tenaga sampai seorang di antara
mereka mati di tempat.
“Jiwi Supek, maafkan saya!” katanya dan dia pun meloncat mendekati dua orang kakek itu.
Kedua tangannya bergerak-gerak membentuk lingkaran dan tiba-tiba, dengan bentakan nyaring sehingga
terdengar suara melengking, dia mendorongkan kedua tangannya ke tengah-tengah antara dua pasang
tangan yang sedang melekat itu.
Dua orang kakek itu mengeluarkan suara keras, kemudian tubuh mereka terdorong ke belakang. Ban-tok
Mo-ko roboh terguling dan Thian-te Tok-ong terhuyung-huyung, lalu dia cepat duduk bersila sambil
memejamkan mata. Ban-tok Mo-ko juga bangkit duduk dengan susah payah, kemudian bersila pula. Wajah
keduanya pucat dan napas mereka terengah-engah.
Yo Han memeriksa dengan menempelkan tangan di punggung mereka, dan diam-diam dia pun terkejut.
Kiranya, kedua orang kakek itu menderita luka dalam yang jauh lebih parah dari pada yang disangkanya.
Ban-tok Mo-ko yang kalah kuat oleh suheng-nya, telah menderita parah sekali dan sukar diselamatkan.
Akan tetapi ketika Yo Han memeriksa keadaan Thian-te Tok-ong, dia pun amat terkejut. Kakek ini memang
memiliki tenaga yang lebih kuat, akan tetapi agaknya usianya yang sudah delapan puluh delapan tahun itu
membuat tubuhnya lemah dan karena itu, ia pun menderita luka hebat!
Ban-tok Mo-ko yang membuka mata lebih dulu, mata yang sayu dan ia pun memandang kepada Thian-te
Tok-ong yang masih duduk bersila dan terdengar suaranya yang lemah gemetar.
“Suheng, aku girang dapat mati di tanganmu...” kemudian dia memandang ke angkasa, terbatuk dan
gumpalan darah keluar lebih banyak lagi dari dalam mulutnya. “Sute, aku telah siap menerima
pembalasanmu...” Kakek itu memejamkan kembali kedua matanya dan kepalanya menunduk.
Thian-te Tok-ong membuka matanya dan dari kedua matanya itu mengalir air mata. “Aku telah membunuh
Sute Ciu Lam Hok, dan aku pula yang membunuh Sute Ban-tok Mo-ko. Kedua adikku, tunggulah aku...!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan dia pun memejamkan kedua matanya dan menundukkan kepala. Dua orang kakek itu tak bergerak
lagi.
Yo Han berbisik kepada Lauw Kang Hui. “Lauw-suheng, kedua orang Supek kini telah tewas...!”
“Haaa...?!”
Lauw Kang Hui cepat menghampiri gurunya dan menyentuh pundak gurunya. Disentuh sedikit saja, tubuh
yang tadinya duduk bersila itu terguling roboh. Demikian pula tubuh kakek Thian-te Tok-ong.
Lauw Kang Hui menangis di depan makam gurunya dan supek-nya, juga para murid tingkat tinggi Thian-lipang
menangisi kematian dua orang tua yang menjadi sesepuh Thian-li-pang itu.
Yo Han ikut pula dalam upacara sembahyangan dan dalam kesempatan itu dia berkata kepada Lauw Kang
Hui dan para murid lainnya.
“Karena saya telah menjadi murid mendiang Suhu Ciu Lam Hok, bahkan juga pernah berguru pada Supek
Thian-te Tok-ong, maka sedikit banyak saya mengenal hubungan dekat dengan Thian-li-pang. Saya harap
peristiwa ini dapat menjadi cermin bagi kita semua. Tiga orang sesepuh Thian-li-pang itu dahulu yang
mendirikan Thian-li-pang, dan sejak berdiri, Thian-li-pang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar
yang berjiwa patriot. Namun, sayang sekali, agaknya mendiang Supek Ban-tok Mo-ko dan Thian-te Tokong
terseret oleh arus duniawi yang membuat mereka melakukan penyelewengan. Apa lagi pada saat
Thian-li-pang dipimpin mendiang Suheng Ouw Ban, hubungan baik dengan Pek-lian-kauw membuat
banyak murid yang ikut melakukan perbuatan yang tak sesuai dengan jiwa perkumpulan kita. Hendaknya
kita semua selalu ingat bahwa musuh yang paling besar, paling berbahaya dan paling tangguh adalah
dirinya sendiri. Sekali kita mampu menundukkan napsu sendiri, maka batin kita menjadi kokoh kuat dan
tidak mudah terseret ke dalam kesesatan. Seperti berlayar di tengah samudera, yang paling penting adalah
memiliki perahu yang kokoh kuat sehingga tidak khawatir menghadapi badai dan taufan. Kepandaian tinggi
bahkan dapat mencelakakan kalau tidak disertai batin yang kuat dan bersih, karena kepandaian itu bahkan
dapat kita pergunakan untuk melakukan kejahatan.”
Lauw Kang Hui memandang kepada pemuda itu. “Yo Sute, terima kasih atas nasehatmu itu. Kami sudah
mengalami cukup banyak kepahitan sebagai akibat dari penyelewengan yang sudah kami lakukan. Aku
berjanji akan mengembalikan Thian-li-pang ke jalan yang benar, akan bertindak disiplin dan tegas sehingga
Thian-li-pang akan kembali menjadi perkumpulan pendekar yang bukan saja memusuhi penjajah tanah air,
akan tetapi juga memusuhi perbuatan jahat yang dapat mencelakai orang lain demi kesenangan diri dan
pemuasan nafsu sendiri.”
“Bagus, aku girang sekali mendengar ini, Lauw-suheng. Aku hanya akan menjadi saksi bahwa pesan
terakhir Suhu Ciu Lam Hok akan terlaksana dengan baik.”
Yo Han lalu berpamit dari semua murid Thian-li-pang, meninggalkan tempat itu dengan hati lapang. Satu di
antara pesan suhu-nya telah dapat dia laksanakan dengan baik. Kini dia akan melaksanakan tugas kedua
yaitu mencari keluarga mendiang suhu-nya, yaitu adik suhu-nya yang bernama Ciu Ceng atau keluarganya
karena tentu adik suhu-nya itu sudah menjadi seorang nenek yang sudah tua sekali.
Dia pun meninggalkan Thian-li-pang dan menuju ke kota raja…..
********************
Mendiang kakek Ciu Lam Hok memang mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Ciu Ceng.
Ketika dia sendiri pergi meninggalkan kota raja, adiknya itu masih seorang gadis yang cantik dan tinggal
bersama ibunya di lingkungan istana.
Kemudian, Ciu Ceng menikah dengan seorang panglima muda she Gan. Pernikahan ini membuahi
seorang anak laki-laki yang diberi nama Gan Seng. Panglima Gan sendiri gugur ketika memimpin pasukan
membasmi gerombolan pemberontak. Gan Seng yang mendapatkan pendidikan tinggi, telah mendapat
pangkat yang lumayan, yaitu sebagai pejabat yang mengelola gedung pusaka istana. Jabatan ini penting
sekali karena hanya orang yang dipercaya sepenuhnya oleh Kaisar saja yang dapat menduduki pangkat
ini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gan Seng, putera Ciu Ceng itu, kini telah berusia lima puluh tahun dan dia hidup serba kecukupan dengan
isterinya dan puteri tunggalnya yang bernama Gan Bi Kim dan yang pada waktu itu berusia tujuh belas
tahun. Juga nenek Ciu Ceng yang sudah tua tinggal bersama puteranya dan keluarga ini hidup cukup
berbahagia.
Tak begitu sulit bagi Yo Han untuk menyelidiki dan mendengar tentang nenek Ciu Ceng ini. Girang hatinya
ketika dia mendapat keterangan bahwa nenek itu tinggal bersama puteranya yang menjadi kepala gedung
pusaka istana, dan keluarga Gan itu tinggal di luar istana, walau pun Gan Seng bertugas di lingkungan
istana, yaitu di gedung pusaka.
Maka, pada hari itu, pagi-pagi dia meninggalkan rumah penginapan dan mendatangi rumah gedung tempat
tinggal Gan Seng. Untuk memenuhi pesan mendiang suhu-nya, dia harus berkunjung dan menceritakan
mengenai meninggalnya kakek Ciu Lam Hok kepada nenek Ciu Ceng dan memastikan bahwa keluarga itu
dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Baru kemudian dia akan melaksanakan tugas ke tiga, tugas yang
paling sukar, yaitu mencari dan merampas kembali mustika mutiara hitam di daerah barat.
Akan tetapi, alangkah herannya ketika dia tiba di rumah gedung itu. Dia melihat suasana yang amat sunyi
dan ketika seorang pelayan keluar untuk menyapanya, pelayan tua itu nampak seperti orang yang berduka
sekali.
“Saya kira Kongcu datang berkunjung pada saat yang kurang tepat,” kata pelayan itu. “Gan-taijin
sekeluarga sedang dalam keadaan prihatin dan tidak akan suka menerima tamu, bahkan memesan kepada
saya untuk menolak setiap orang tamu yang datang berkunjung.”
Tentu saja Yo Han merasa heran bukan main. Gurunya berpesan agar dia mengunjungi nenek Ciu Ceng
dan membela nenek itu sekeluarganya, kalau perlu dengan taruhan nyawa, karena dirinya ingin
membuktikan rasa sayangnya kepada adiknya itu melalui muridnya.
“Paman yang baik, tolong sampaikan bahwa aku datang mohon menghadap Nyonya Besar Ciu Ceng, ibu
dari Gan-taijin. Katakan bahwa aku membawa kabar yang penting sekali dari kakak nyonya besar yang
bernama Ciu Lam Hok. Kalau laporanmu itu tidak mendapat tanggapan, aku tidak akan mendesak lagi.”
“Tapi... tapi... Nyonya Besar Tua sedang menderita sakit...”
“Ahh...!” Yo Han terkejut. “Kalau begitu, lebih penting lagi berita itu. Mungkin laporanmu tentang kakaknya
akan dapat menyembuhkan sakitnya dan engkau akan berjasa besar, Paman.”
“Benarkah?” Pelayan itu meragu, kemudian berkata, “Baik, engkau tunggulah sebentar, Kongcu (Tuan
Muda), aku akan melapor ke dalam.”
Yo Han menunggu dengan sabar, akan tetapi hatinya gelisah juga mendengar bahwa orang yang dicarinya
itu, adik mendiang gurunya yang bernama Ciu Ceng, sedang menderita sakit. Karena panyakitnya itukah
maka keluarga Gan dalam keadaan prihatin seperti yang dikatakan pelayan tadi?
Tentu saja akan mudah baginya untuk melakukan penyelidikan sendiri pada malam hari. Namun dia
menghormati adik mendiang suhu-nya dan tidak mau menggunakan cara seperti seorang pencuri untuk
menyelidiki keadaan nenek itu, kecuali bila dia tidak dapat menghadap secara berterang.
Tidak lama kemudian, pelayan itu sudah datang lagi dan sekali ini wajahnya berseri. “Kongcu, dugaanmu
tadi amat tepat! Aku memberanikan diri untuk menghadap Nyonya Besar Tua dan begitu ia mendengar
bahwa Kongcu datang membawa berita tentang kakaknya, ia seketika bangkit dan wajahnya gembira,
bahkan ia minta kepada Kongcu untuk segera menghadap ke dalam kamarnya!”
Bukan main girangnya hati Yo Han mendengar ini. Dia pun segera mengikuti pelayan itu memasuki rumah,
gedung yang besar. Setelah melalui beberapa ruangan besar serta lorong berliku-liku, pelayan itu lalu
mengantarnya masuk ke dalam sebuah kamar yang besar. Dua orang pelayan wanita muda segera
mundur ketika melihat ada tamu pria yang masuk.
Ketika memasuki kamar itu, Yo Han memandang ke arah pembaringan di mana rebah seorang nenek yang
sudah tua. Nenek itu rebah telentang dan nampak kurus dan pucat. Ketika Yo Han masuk, ia menoleh dan
memandang kepada pemuda itu, lalu terdengar suaranya lemah.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Orang muda, siapakah engkau dan berita apa yang kau bawa mengenai kakakku Ciu Lam Hok?”
Yo Han menjatuhkan dirinya berlutut menghadap ke arah nenek yang masih rebah di atas pembaringan itu.
“Saya bernama Yo Han dan saya muridnya.”
Nenek itu mengeluarkan seruan girang dan dia pun bangkit duduk. Dua orang pelayan wanita cepat-cepat
menghampiri dan membantunya duduk. Setelah duduk, nenek itu memandang kepada pemuda yang masih
berlutut.
“Bangkitlah dan duduklah, Yo Han. Lekas ambilkan kursi untuk pemuda itu,” perintahnya kepada pelayan
yang segera mengambilkan sebuah kursi dan Yo Han lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan nenek
Ciu Ceng yang wajahnya nampak berseri.
“Engkau ini muridnya? Ahhh, bagaimana dengan kakakku? Dan mengapa engkau yang datang ke sini,
bukan dia sendiri? Betapa rinduku kepada kakakku itu!”
Yo Han melihat bahwa nenek yang sudah tua itu dalam keadaan sakit dan lemah, maka dia pun tidak
berani mengabarkan tentang kematian gurunya.
“Saya datang untuk memenuhi pesan dari Suhu Ciu Lam Hok. Saya disuruh mencari adiknya yang
bernama Ciu Ceng, dan saya disuruh menyelidiki keadaan keluarganya dan diharuskan membantu kalau
keluarga itu membutuhkan bantuan.”
“Aihh, kalau saja kakakku sendiri berada di sini, tentu dia akan dapat menolong kami. Akan tetapi engkau
muridnya, engkau hanya seorang yang masih muda begini, bagai mana akan mampu menolong kami?
Kami sedang dilanda mala petaka.”
“Harap suka memberi tahukan kepada saya, dan saya akan membantu sekuat tenaga, walau pun dengan
taruhan nyawa, demi memenuhi perintah Suhu!” kata Yo Han dengan sikap tenang dan suara bersungguhsungguh.
“Benarkah itu?” Nenek itu berseru dan suaranya mengandung harapan.
Akan tetapi pada saat itu, beberapa orang memasuki kamarnya. Mereka itu ternyata adalah puteranya,
Gan Seng, menantunya, dan cucu perempuannya, Gan Bi Kim yang cantik.
Melihat betapa ibunya yang sedang sakit itu duduk di atas pembaringan dan bercakap-cakap dengan
seorang pemuda asing, tentu saja Gan Seng menjadi heran sekali. Tadi dia menerima laporan dari seorang
pelayan bahwa ibunya kedatangan seorang tamu, maka dia bersama isteri dan puterinya yang merasa
khawatir akan kesehatan ibunya, segera pergi ke kamar ibunya. Kini tahu-tahu ibunya sudah duduk dan
bercakap-cakap dengan seorang pemuda.
“Siapakah pemuda ini?” tanya Gan Seng dengan alis berkerut karena dia menganggap pemuda itu
mengganggu ibunya yang perlu beristirahat.
Akan tetapi, melihat keluarganya memasuki kamarnya, nenek itu lalu memperkenalkan dengan wajah
berseri, “Anakku, pemuda ini adalah Yo Han, dia murid pamanmu Ciu Lam Hok yang sering kuceritakan
kepada kalian.”
“Ah, begitukah?” Gan Seng tertegun dan merasa heran mengapa pamannya yang tentu sudah tua sekali,
mempunyai murid yang masih begini muda.
Yo Han sendiri cepat bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Gan Seng, isterinya, dan juga kepada
gadis cantik itu. Nenek Ciu Ceng segera memperkenalkan mereka kepadanya.
“Yo Han, ini adalah puteraku Gan Seng, ini mantuku, dan itu cucuku Gan Bi Kim!”
Sambil memberi hormat, Yo Han berkata kepada Gan Seng. ”Mohon maaf sebanyaknya kepada Taijin
bahwa saya telah berani lancang mengganggu. Saya hanya memenuhi perintah Suhu, untuk mencari adik
Suhu...”
Gan Seng menggelengkan kepala. “Tidak mengapa, tidak mengapa, hanya...”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia mengerutkan alisnya karena memang pada waktu itu dia sedang menghadapi hal yang amat
memusingkan, bahkan ibunya sampai jatuh sakit karena mala petaka yang menimpa dirinya itu.
“Seng-ji (Anak Seng), Yo Han ini diutus oleh gurunya untuk datang berkunjung dan dia mewakili gurunya
untuk menolong kita dari kesukaran! Siapa tahu, dia akan mampu mengangkat kita keluar dari kesulitan
ini!”
“Ibu, mana mungkin...?” kata Gan Seng meragu.
Melihat sikap mereka, Yo Han kembali memberi hormat. “Harap Taijin suka memberi tahu pada saya,
kesulitan apa yang dihadapi keluarga Taijin. Saya telah berjanji kepada Suhu untuk membantu keluarga
adik Suhu kalau menghadapi kesulitan, dan saya akan mentaati perintah Suhu, membantu keluarga Taijin,
kalau perlu dengan taruhan nyawa.”
“Ceritakanlah kepadanya, Seng-ji. Siapa tahu justru pemuda inilah yang akan mampu membebaskan kita
dari kesulitan ini,” bujuk nenek tua itu.
“Baiklah, Ibu. Sekarang Ibu beristirahatlah, dan mari Yo Han, kita bicara di ruangan dalam,” kata Gan
Seng.
Yo Han menoleh kepada nenek Ciu Ceng. “Harap Paduka beristirahat dan saya ingin menyampaikan
pesan Guru saya bahwa Suhu mengutus saya membantu keluarga Paduka untuk membuktikan bahwa
Suhu sayang kepada Paduka.”
Mendengar ini, nenek Ciu Ceng menangis dan merebahkan dirinya. Tetapi suaranya terdengar gembira
bercampur haru ketika ia berkata, “Ahhh, Hok-koko (Kakak Hok), ternyata engkau masih teringat kepada
adikmu ini! Kakakku yang baik, aku pun selalu terkenang kepadamu dan aku sayang kepadamu...” Ia
menangis dan tertawa sekaligus dan berita yang diucapkan Yo Han ini merupakan obat yang mujarab bagi
nenek itu.
Dengan hati lega Gan Seng lalu menggandeng tangan Yo Han, diajaknya keluar dari kamar itu, diikuti oleh
isterinya dan oleh Gan Bi Kim.
Setelah mereka semua duduk mengelilingi sebuah meja besar, Gan Seng yang masih meragu dan belum
yakin benar bahwa pemuda yang usianya paling banyak dua puluh tahun, bersikap sederhana itu akan
mampu menolong keluarganya dari mala petaka yang menimpa, segera mengajukan pertanyaanpertanyaan
tentang dirinya.
“Sebelum kami menceritakan persoalan yang menyulitkan keluarga kami, terlebih dulu kami ingin
mendengar keteranganmu tentang Paman Tuaku itu dan bagaimana engkau yang masih muda ini akan
mampu menolong kami. Nah, ceritakan di mana adanya Paman Tuaku itu.”
Kalau terhadap nenek Ciu Ceng yang sedang sakit Yo Han belum berani berterus terang tentang kematian
suhu-nya, terhadap keluarga ini dia merasa lebih baik untuk berterus terang. “Taijin...”
“Nanti dulu, Yo Han. Kalau engkau benar murid pamanku, tidak semestinya engkau menyebut aku taijin
(orang besar). Usiamu masih amat muda. Kau pantas menjadi keponakanku, maka sebut saja paman
kepadaku, agar lebih enak kita bicara. Namaku Gan Seng dan engkau boleh menyebut aku paman, dan
menyebut isteriku bibi. Nah, lanjutkan ceritamu.”
Wajah Yo Han berubah merah. Tentu saja dia merasa canggung sekali. Yang dia hadapi adalah seorang
yang berkedudukan tinggi, bagaimana dia dapat menyebut mereka demikian akrab? Akan tetapi, dia pun
tidak berani membantah.
“Terima kasih atas keramahan Paman dan Bibi. Sesungguhnya di depan Nyonya Besar Gan...”
“Ahhh, kalau engkau menyebut aku paman, maka engkau sebut saja nenek kepada Ibuku.” Pembesar itu
memotong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Yo Han kagum. Keluarga suhu-nya ini memang orang-orang bijaksana. Biar pun berkedudukan
tinggi namun tidak angkuh. “Begini, Paman. Di depan Nenek, saya tidak berani berterus terang karena
melihat beliau sedang sakit. Sebetulnya, Suhu Ciu Lam Hok telah meninggal dunia...”
“Hemm, bagaimana meninggalnya?” Gan Seng bertanya.
Yo Han merasa tidak ada perlunya menceritakan apa adanya. Kalau dia menceritakan bagaimana suhunya
disiksa oleh dua orang suheng dari suhu-nya yang juga sudah tewas, maka ceritanya yang terus
terang itu hanya akan mendatangkan penyesalan dan sakit hati. Tidak ada perlu dan gunanya.
“Suhu meninggal dunia dengan baik, karena sudah tua. Dan sebelum meninggal, Suhu meninggalkan
pesan kepada saya supaya saya mencari adik Suhu yang bernama Ciu Ceng, dan supaya saya membantu
keluarga adik Suhu itu dengan segala kemampuan saya. Karena itulah maka saya datang menghadap dan
menawarkan bantuan. Apa lagi kalau Paman sedang menghadapi kesulitan. Katakan apa kesulitan itu,
Paman, dan saya, demi pesan Suhu, akan membantu sekuat tenagaku.”
“Akan tetapi, kesulitan kami ini amat hebat dan sukar diatasi. Bagaimana seorang muda seperti engkau
akan mampu menolong kami? Bahkan pasukan penyelidik yang sudah kami kerahkan juga tidak berhasil
menolong kami, apa lagi engkau? Apa yang telah kau pelajari dari mendiang Paman Tua?”
“Mendiang Suhu sudah mewariskan ilmu-ilmu silatnya kepada saya, Paman, dan saya akan mengerahkan
segala kemampuan saya untuk membantu Paman, tentu saja kalau Paman percaya kepada saya dan suka
menceritakan kesulitan yang Paman hadapi itu kepada saya.”
“Sebaiknya ceritakan saja kepada Yo Han,” desak isteri pembesar itu kepada suaminya. “Biar pun para
komandan yang bersahabat telah mengerahkan pasukan mereka untuk melakukan penyelidikan, tidak ada
salahnya kalau Yo Han mencoba untuk menyelidiki pula. Semakin banyak yang menyelidiki dan mencaricari
pusaka yang hilang, semakin baik pula.”
Gan Seng menarik napas panjang, lalu mengangguk-angguk. “Dengarkan baik-baik, Yo Han, siapa tahu,
Tuhan mengutusmu datang ke sini untuk mengangkat kami dari mala petaka ini.” Pembesar itu lalu
bercerita.
Dia menjadi pembesar yang bertanggung jawab akan semua pusaka milik istana, dan dia diserahi
mengurus gudang pusaka. Selama bertahun-tahun dia bertugas, dibantu pasukan penjaga yang kuat, tidak
pernah terjadi sesuatu.
Akan tetapi, dua minggu yang lalu, dua buah pusaka lenyap dari dalam gudang pusaka itu. Dua buah
pusaka yang amat penting, yaitu sebuah cap kebesaran Kaisar Kang Hsi, kakek dari Kaisar Kian Liong
yang sekarang, dan sebuah bendera lambang kekuasaan Kaisar pertama Kerajaan Mancu, telah hilang!
Gegerlah istana karena kedua benda itu merupakan pusaka yang amat penting sekali, sebagai tanda
kebesaran Kerajaan Ceng-tiauw. Dan sebagai penanggung jawab, tentu saja Gan Seng segera
dihadapkan Kaisar untuk mempertanggung jawabkan kehilangan itu.
Gan Seng menjadi sibuk sekali karena Kaisar memberi waktu sebulan kepadanya untuk menemukan
kembali dua buah pusaka yang hilang. Gan Seng sudah memerintahkan para komandan jaga untuk
melakukan penyelidikan dan pemeriksaan, namun setelah lewat dua minggu, hasilnya tetap sia-sia belaka.
Pencuri itu memasuki gudang tanpa merusak kunci atau jendela, bahkan tidak ada genteng yang pecah.
Dua buah pusaka itu lenyap secara aneh sekali, tidak meninggalkan bekas!
Gan Seng tahu bahwa mala petaka akan menimpa keluarganya kalau dua buah benda itu tidak
diketemukan. Dia akan dihukum berat, bahkan keluarganya mungkin akan turut tersangkut.
“Demikianlah mala petaka yang menimpa kami, Yo Han. Semua usaha sudah kami lakukan, akan tetapi
sampai hari ini tidak ada hasilnya. Padahal, waktu yang diberikan Kaisar tinggal dua minggu lagi! Ibuku
jatuh sakit karena memikirkan keadaan kami. Nah, bagaimana engkau akan dapat menolong kami, Yo
Han? Pasukan keamanan sudah dikerahkan tanpa hasil,” kata pembesar itu dengan nada kesal dan putus
asa menutup ceritanya.
Yo Han mengerutkan alisnya. Memang tidak mudah mencari pusaka yang hilang dari dalam gudang
pusaka, tanpa diketahui siapa yang mengambilnya! Jika para komandan pasukan, yang lebih hafal akan
dunia-kangouw.blogspot.com
keadaan di kota raja tidak mampu menemukan dua buah pusaka itu, apa lagi dia yang sama sekali asing
dengan keadaan di situ!
Akan tetapi, dia akan mencoba, dia tidak putus asa. Dia yakin bahwa Tuhan pasti akan menolongnya,
seperti yang sudah-sudah. Ia akan menyerahkan segalanya pada Tuhan, dan dengan penyerahan secara
total, maka semua tindakannya tentu akan dibimbing oleh kekuasaanNya.
Bila Tuhan menghendaki, apa sih sukarnya menemukan kembali dua buah benda yang hilang? Tetapi jika
tidak dikehendaki Tuhan, apa pun yang dilakukan, benda-benda itu tidak akan dapat ditemukan kembali.
Tuhan Maha Kuasa. Segala kehendak Tuhan pun jadilah! Demikian bisik hatinya.
“Maaf, Paman dan Bibi, apakah sama sekali tidak ditemukan jejak ke mana lenyapnya dua buah benda
pusaka itu?”
Gan Taijin menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
Share:

Cersil Keren

Pecinta Cersil