Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 22 April 2018

Memburu Iblis 1 Lanjutan Pendekar Penjebar Maut

----
Memburu Iblis
Lanjutan Pendekar Penyebar Maut
Karya : Sriwidjono
Sumber djvu : Dimhader
Ebook oleh : Hendra & Dewi KZ
TIRAIKASIH WEBSITE
http://kangzusi.com/ & http://dewi-kz.info/
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Daftar Isi :
Memburu Iblis_____________________________________ 1
Daftar Isi :________________________________________ 2
Jilid 1 ___________________________________________ 4
Jilid 2 ___________________________________________ 36
Jilid 3 ___________________________________________ 68
Jilid 4 __________________________________________ 101
Jilid 5 __________________________________________ 134
Jilid 6 __________________________________________ 167
Jilid 7 __________________________________________ 199
Jilid 8 __________________________________________ 232
Jilid 9 __________________________________________ 265
Jilid 10 _________________________________________ 298
Jilid 11 _________________________________________ 331
Jilid 12 _________________________________________ 365
Jilid 13 _________________________________________ 398
Jilid 14 _________________________________________ 431
Jilid 15 _________________________________________ 465
Jilid 16 _________________________________________ 498
Jilid 17 _________________________________________ 532
Jilid 18 _________________________________________ 563
Jilid 19 _________________________________________ 596
Jilid 20 _________________________________________ 630
Jilid 21 _________________________________________ 664
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 22 _________________________________________ 697
Jilid 23 _________________________________________ 730
Jilid 24 _________________________________________ 763
Jilid 25 _________________________________________ 797
Jilid 26 _________________________________________ 830
Jilid 27 _________________________________________ 863
Jilid 28 _________________________________________ 897
Jilid 29 _________________________________________ 932
Jilid 30 _________________________________________ 965
Jilid 31 _________________________________________ 998
Jilid 32 ________________________________________ 1031
Jilid 33 ________________________________________ 1068
Jilid 34 ________________________________________ 1103
Jilid 35 ________________________________________ 1139
Jilid 36 ________________________________________ 1174
Jilid 37 Tamat __________________________________ 1209
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 1
Kang Lam,
Di saat-saat gunung-gunungmu berselimutkan kembang,
Di kala lembah-lembahmu bertaburkan biji-biji mutiara,
Aku tak mampu berbuat apa-apa !
Rasa haru dan bangga
Membuat aku hanya bisa berdiri melelehkan air-mata..
Oh, Kang Lam !
Tak terasa rambutku telah menjadi putih !
Syair di atas selalu bergema dan didendangkan orang di
daerah Kang Lam. Di mana saja orang selalu menyanyikan
lagu itu sebagai ungkapan rasa kagum serta bangga mereka
terhadap keindahan dan kemolekan tanah itu. Mereka sama
sekali tidak peduli siapa yang menggubah dan menciptakan
syair lagu itu, sebab mereka juga hanya memperolehnya dari
orang-orang tua mereka pula.
Kang Lam !
Kang Lam memang sebuah daerah yang sangat indah
mentakjubkan! Terletak di bagian selatan dari Negeri Tiongkok
yang besar. Daerahnya amat luas, tanahnya subur dan
airnyapun melimpah-ruah pula. Di beberapa tempat mengalir
sungai-sungai kecil yang bening airnya. Penduduknya padat,
namun karena tanahnya amat subur maka hasil
pertaniannyapun lebih dari cukup untuk menghidupi mereka.
Apalagi matahari hampir selalu bersinar di sepanjang tahun.
Kang Lam diperintah oleh seorang Kepala Daerah, yang
pada saat cerita ini terjadi, yaitu pada waktu Kaisar Han
pertama berkuasa(Kaisar Liu Pang), dijabat oleh Cui Kok Teng,
seorang bekas jendral di masa peperangan dulu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan dalam mengatur roda pemerintahan daerahnya, bekas
jendral yang sangat terkenal itu berkedudukan di Kota Sohciu.
Soh-ciu sendiri merupakan sebuah kota yang sangat besar.
Selain menjadi kota dagang yang ramai, kota Soh-ciu juga
merupakan kota impian bagi orang-orang berduit. Kota itu
menyediakan hampir segala macam sarana untuk bergembira
dan bersenang-senang. Berbagai macam hiburan dan
pertunjukan yang menarik, sampai dengan tempat-tempat
terlarang seperti tempat judi dan tempat pelesiran yang
sangat istimewapun tersedia pula di kota itu. Apalagi Soh-ciu
terkenal sebagai gudang wanita cantik di seluruh daratan
Tiongkok, sehingga tidak mengherankan pula apabila kota itu
menjadi semakin menarik saja di mata para pendatang.
Namun pada permulaan tahun ke sebelas setelah Kaisar
Han berkuasa, daerah yang sangat mempesonakan itu
mendadak berubah menjadi resah dan menakutkan. Daerah
yang semula aman dan damai itu tiba-tiba digemparkan oleh
munculnya seorang penjahat berkepandaian sangat tinggi,
yang selalu mengganggu ketenteraman penduduknya. Dengan
kesaktiannya yang seperti iblis, penjahat itu meraja-lela tanpa
lawan. Kota demi kota dalam daerah itu dirusak dan
diganggunya tanpa pandang bulu. Hampir setiap hari tentu
terdengar berita tentang keganasan iblis itu. Terutama berita
tentang kebiadabannya terhadap wanita atau gadis-gadis
cantik yang diculiknya !
Celakanya selama itu pula tak seorangpun yang bisa
mengungkapkan siapa sebenarnya iblis itu. Hal itu disebabkan
oleh karena iblis itu selain berkepandaian sangat tinggi juga
selalu membunuh mati semua korbannya. Bahkan orang-orang
yang pernah melihat atau memergoki perbuatannyapun telah
ikut dibunuhnya pula.
Maka tidak mengherankan kalau hari demi hari jumlah
korban kebiadaban iblis itupun semakin menumpuk pula. Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
akhirnya iblis itu berani pula memasuki kota Soh-ciu yang
terjaga kuat. Seolah-olah tidak mempunyai perasaan takut
terhadap para perajurit yang mondar-mandir di segala tempat,
iblis itu mulai menyebar maut pula di kota itu. Akibatnya
penduduk menjadi gelisah dan ketakutan. Semua orang tidak
berani keluar terlalu jauh dari rumahnya, terutama para
wanita dan gadisnya. Dan bila malam telah datang, kota itu
menjadi sepi luar biasa. Semuanya merasa takut menjadi
korban berikutnya dari Si Iblis Penyebar Maut itu!
Tentu saja berita tentang mengganasnya Si iblis Penyebar
Maut di kota itu benar-benar sangat memerahkan telinga
Kepala Daerah Gui Kok Teng! Dengan kemarahan yang
meluap-luap Kepala Daerah itu memimpin sendiri para
perajuritnya mencari penjahat yang sangat berani itu. Tapi
usahanya itu tentu saja tidak membawa hasil, sebab tak
seorangpun diantara mereka yang pernah melihat wajah
buruan itu. Mereka bagaikan berburu hantu yang belum
pernah mereka ketahui bentuk dan rupanya.
Sementara itu para pendekar persilatan di daerah itu juga
tidak mau ketinggalan pula. Dengan bekal ilmu yang mereka
miliki mereka ikut mencari iblis yang mengganggu daerah
mereka itu. Namun seluruh kepandaian mereka itu ternyata
juga tak mampu untuk menandingi kesaktian Si Iblis Penyebar
Maut. Meskipun pada suatu saat mereka mendapat
kesempatan untuk memergoki perbuatan iblis itu, tapi tak
seorangpun di antara mereka yang mampu mengikuti
bayangan iblis tersebut. Bahkan Kang Lam Koai-hiap
(Pendekar Aneh dari Kang lam), tokoh yang paling disegani di
daerah itupun tak berdaya pula menghadapi kesaktian Iblis
itu. Orang tua itu terpaksa digotong pulang tanpa mendapat
kesempatan sedikitpun untuk melihat wajah lawannya.
Demikianlah berita tentang keganasan si Iblis Penyebar
Maut itupun akhirnya tersebar ke seluruh negeri bahkan
sampai menyusup pula ke dalam tembok Istana di Kota-raja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Malahan khabarnya Kaisar Han sendiri juga teIah mengirimkan
pula utusannya untuk membuktikan kebenaran berita itu.
Tetapi utusan yang sangat diharap-harapkan oleh penduduk
Kang Lam itu ternyata tidak pernah sampai di kota Soh-ciu.
Utusan yang membawa lima-ratus orang perajurit pilihan itu
seolah-olah telah hilang lenyap di dalam perjalanannya.
Sementara itu Si Iblis Penyebar Maut justru semakin
bertambah brutal dan meraja-lela tindakannya. Bagaikan
sesosok hantu yang tak pernah dapat dilihat oleh siapapun
juga, iblis itu selalu gentayangan setiap malam mencari
korbannya. Dan korban kebiadabannya sudah tidak dapat
dihitung lagi, sehingga kota Soh-ciu dan sekitarnya benarbenar
telah berubah menjadi neraka yang mengerikan bagi
para penghuninya. Akibatnya hampir separuh dari
penduduknya, terutama para wanitanya, terpaksa mengungsi
ke tempat lain dan kota Soh ciu yang indah itu akhirnya
menjadi sepi.
Keadaan itu sungguh sangat memprihatinkan dan sekaligus
juga membuat penasaran hati Gui Kok Teng. Tapi apalah
dayanya, segala macam cara juga telah dia tempuh. Namun
nyatanya ribuan orang perajuritnya itu juga tidak berdaya
menangkap iblis itu. Rasanya memang lebih mudah bagi para
perajuritnya itu untuk menghadapi ribuan musuh di medan
laga dari pada harus melawan sesosok hantu yang tidak
keruan rupa, bentuk dan tempat tinggalnya itu.
Begitulah, tampaknya keadaan itu akan terus berlarut-larut,
tanpa sebuah kekuatanpun yang mampu mencegah si Iblis
Penyebar Maut melakukan aksinya. Sampai beberapa waktu
kemudian, kira-kira pada pertengahan tahun ke sebelas itu
pula, tiba-tiba dunia persilatan digemparkan oleh sebuah
seruan atau ajakan yang ditujukan kepada para pendekar
persilatan untuk bersama-sama memburu Si Iblis Penyebar
Maut dan membinasakannya. Dan seruan atau ajakan tersebut
disampaikan secara beranting, dari mulut ke mulut, tanpa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorangpun yang mengetahui dari mana asal-mula dari ajakan
atau seruan itu.
Namun yang pasti, pada saat yang telah ditentukan, kota
Soh-ciu tiba-tiba dibanjiri oleh tokoh-tokoh persilatan dari
segala penjuru daratan Tiongkok! Mereka itu datang untuk
memburu dan membinasakan Si Iblis Penyebar Maut yang
telah menggegerkan negeri mereka itu!
Dan dari sinilah cerita ini bermula !
(Oo-dwkz-hen-oO)
Matahari telah jauh menukik ke arah barat. Senja telah
menyelimuti kota Soh-ciu dan sekitarnya. Dan sisa-sisa sinar
matahari yang kuning keemasan itu masih menjamah padang
rumput di kaki bukit, sehingga hamparan rumput itu laksana
beludru yang terhampar di kaki langit. Indahnya bukan main.
Namun semua keindahan itu terasa dingin dan
mengecutkan hati ! Suasana yang sepi dan lengang, di tempat
yang begitu luas, remang-remang pula, benar benar
menimbulkan khayalan yang bukan bukan. Apalagi bila
teringat bahwa Si Iblis Penyebar Maut itu tentu telah bersiapsiap
untuk keluar dari sarangnya. Maka sungguh amat
mengherankan sekali apabila di saat seperti itu ternyata masih
ada juga orang yang berani lewat di sana, perempuan pula
lagi !
"Ketepak! Ketipak! Ketepak! Ketipak !"
Dengan melenggut di atas punggung keledai, dua orang
wanita tampak melintasi padang rumput itu ke arah Soh-cia.
Yang seorang sudah tua, kira-kira berusia empatpuluh tahun,
berpakaian seperti pendeta, sementara yang lain masih mudabelia
dan mengenakan pakaian model terakhir. Mereka
berjalan beriringan. Perempuan tua itu berada di depan dan
gadis belia itu mengikuti di belakangnya. Meskipun cerita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tentang Iblis Penyebar Maut itu tidak menakutkan hati
mereka, namun wajah perempuan tua itu tampak tegang dan
pucat. Sungguh sangat berbeda dengan si Gadis yang acuh
dan santai.
Gadis itu berusia sekitar tujuh belasan tahun. Tubuhnya
kecil ramping. Wajahnya sangat menarik, cerah dan penuh
kedamaian. Matanya yang bening itu berbinar-binar
mengawasi bintang-bintang yang mulai bermunculan di atas
langit, sementara bibirnya yang merah tipis itu sesekali
tampak merekah, mengagumi keindahan alam di sekitarnya.
"Tui Lan…! Cepatlah! Jangan bermalas-malas begitu! Kita
sudah terlambat dua hari! Jangan-jangan para pendekar itu
sudah mendahului kita..!" perempuan berpakaian pendeta itu
menoleh seraya berteriak.
Gadis yang dipanggil dengan nama Tui Lan itu menatap
perempuan tua itu sekejab, mulutnya cemberut, lalu dengan
sikap acuh matanya kembali menatap bintang-bintang di atas
langit.
"Tui Lan!"
"Aah Su-bo! Kenapa Su-bo selalu terburu-buru saja?
Lihat…! Suasana di sini demikian indahnya!” Tui Lan atau
gadis cantik itu merajuk.
'Anak bandel! Huh ! Kau tahu apa maksud kita datang
kemari ini, he?"
“Ah, su-bo menyinggung perkara itu lagi. Apa sih
sebenarnya hubungan orang itu dengan Si Iblis Penyebar Maut
ini?”
"Sungguh bodoh benar kau ini ! Bukankah selama ini kita
selalu mencari-cari bangsat itu? Nah, siapa tahu kalau bangsat
itu juga Si Iblis Penyebar Maut ini pula? Bukankah keduanya
memiliki ciri-ciri yang sama yaitu suka membunuh dan
menculik wanita?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis cantik itu menghentikan keledainya. Dengan wajah
merengut ia menatap perempuan tua itu. “Setiap kali su-bo
tentu mencurigai orang, dan setiap kali pula Su-bo selalu
kesalahan tangan membunuhnya. Ahh… lalu apa bedanya
tindakan su-bo ini dengan penjahat yang kita cari-cari itu?"
Perempuan tua itu menghentikan keledainya pula lalu
berbalik dengan cepat. “Apa katamu ?” bentaknya keras.
"Su-bo ! Tee-cu sudah bosan berkelana kesana-kemari
mencari orang yang tidak tentu tempat tinggalnya. Dan tee-cu
juga sudah bosan melihat su-bo selalu kesalahan tangan
membunuh orang, hanya karena su-bo mencurigainya sebagai
penjahat yang sedang kita cari-cari itu. Su-bo ......! Marilah
kita pulang kembali ke Teluk Po-hai dan hidup tenteram
seperti semula! Su-bo mengurus kuil, tee-cu mencari ikan ke
laut bersama para nelayan.....,”
Mata perempuan tua itu tiba-tiba bergetar penuh
kemarahan. “Anak gila. Anak durhaka! Apa katamu.....?
Kembali ke rumah dan melupakan semua dendam kesumat
itu, heh? Kurang ajar...!"
Wajah Tui Lan tiba-tiba menjadi pucat. Gadis itu sama
sekali tidak menyangka kalau kata-katanya akan menyinggung
perasaan gurunya. Dan gadis itu sama sekali juga tidak
mengira kalau gurunya akan menjadi marah sedemikian rupa.
Apalagi sampai memaki-makinya seperti itu.
Sebenarnya perempuan tua itu adalah bekas ketua kuil Im-
Yang-kauw cabang Teluk Po-hai yang berkedudukan di desa
Ban-cung. Tapi karena sifatnya yang keras, kejam dan suka
membunuh orang, maka perempuan tua itu lalu dipecat dari
kedudukannya sebagai ketua cabang. Namun perempuan tua
itu masih tetap menganggap dirinya sebagai pendeta Aliran
lm-Yang-kauw dan selalu berpakaian seperti pendeta pula.
Oleh karena itu di dunia kang-ouw perempuan tua itu lalu
digelari orang dengan nama Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun demikian perempuan tua itu benar-benar amat
menyayangi Tui Lan, muridnya.
"Su-bo, ma..maafkan tee-cu......!"
Tui Lan buru-buru minta maaf dengan suara gagap.
Melihat Tui Lan gemetar di atas keledainya, perempuan tua
itu lalu menghela napas panjang. Matanya yang berkilat-kilat
marah tadi lalu meredup kembali. Dan wajah yang telah mulai
berkeriput itu kelihatan menyesal karena telah membuat kaget
hati muridnya.
"Sudahlah! Marilah kita berangkat .....I" desah Si Pendeta
Palsu Teluk Po-hai itu dengan suara berat.
Gadis itu mengangguk, lalu menggerakkan keledainya
kembali mengikuti perempuan tua itu. Beberapa saat lamanya
mereka berdiam diri serta tidak berbicara satu sama lain.
Sementara itu hari benar-benar telah menjadi gelap. Matahari
mulai tenggelam di balik cakrawala. Tinggal suramnya sinar
bintang yang kini menerangi padang rumput luas itu.
"Tui Lan........ ! Kau tahu mengapa aku tadi marah
kepadamu?" tiba-tiba si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu
menyingkap tabir kebisuan diantara mereka.
Tui Lan mengangguk dan berusaha menahan sedu-sedan
yang menyekak di dalam dadanya.
"Ya! Tee-cu..... tee-cu. ...telah membuat kecewa hati Subo.
Tapi ... tapi ........."
"Sudahlah! Sebenarnya kau ini sudah harus menyadari
keadaan kita ini sejak dahulu. Sebab apa yang telah kita
tempuh selama ini sebenarnya hanya demi kepentinganmu
belaka, dan dalam perkara ini, sebenarnya aku hanya
bertindak sebagai pembantu atau penolong dalam
melaksanakan cita-citamu itu. Aku mengajarimu ilmu silat dan
membawamu berkelana kemana saja, agar supaya kau bisa
menemukan iblis yang membunuh ayah-ibumu dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membalaskan sakit hati mereka. Tapi..... Mengapa sekarang
kau tiba-tiba menjadi kendor dan mau mengurungkan niatmu
itu?"
'Maafkan tee-cu, su-bo ......" Tui Lan tak bisa menjawab.
"Dahulu kau kutemukan di tengah-tengah hutan, di dalam
gendongan ibumu yang terluka parah. Sebelum mati ibumu
sempat bercerita bahwa seorang penjahat yang belum pernah
dikenalnya telah membunuh ayahmu, kemudian menculik
ibumu yang sedang menggendong kau dan dan ...
menganiayanya hingga terluka parah! Ibumu lalu
menyerahkan dirimu kepadaku, dan titip pesan agar kelak kau
membalaskan dendam kesumat keluargamu ini.''
Diingatkan kembali pada sejarah hidupnya, Tui Lan benarbenar
tak kuasa membendung air-matanya. Gadis itu
menangis tersedu-sedu dan perempuan tua itu tersenyum di
dalam hati. Dibiarkannya saja gadis itu mengingat dendam
dan sakit-hati keluarganya.
Sementara itu padang rumput yang mereka lalui semakin
menipis. Kini tanahnya mulai keras bercampur padas, dengan
batu batu besar bertonjolan di sana-sini. Mereka telah
mencapai kaki bukit yang mengelilingi kota Soh-ciu. Bukit
yang tinggi terjal dengan jurang-jurangnya yang dalam.
"Su-bo........!” Tui Lan berkata diantara isaknya. '"Entah apa
sebabnya selama beberapa bulan ini hati tee-cu selalu resah
dan bingung bila memikirkan dendam-kesumat itu. Dahulu
tee-cu memang merasa dendam kepada penjahat itu.
Tapi....... tapi setelah tee-cu menjadi dewasa dan…dan banyak
membaca buku-buku keagamaan lm-Yang-kaw milik Su-bo,
entah…entah mengapa.. perasaan dendam itu secara
berangsur-angsur menjadi larut, sehingga ....... sehingga
akhirnya lenyap dari hati tee-cu. Ouuuugh..maafkanlah tee-cu,
su-bo ..,........uh-huuuu, .............I"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya Tui Lan tidak bisa menahan tangisnya. Gadis itu
menangis tersedu-sedu. Perempuan tua itu tersentak kaget.
Senyum yang tadi sudah teralas di atas bibirnya hilang
seketika. Wajah perempuan tua itu kembali keras dan kaku.
Giginya terdengar gemeretak menahan geram.
“Lalu .. apa maumu sekarang ?" bentak perempuan itu
dengan suara berat.
“Su-bo, ma-marilah kita…kita lupakan saja dendam
kesumat itu! Marilah kita membangun kembali kehidupan yang
tenteram dan damai di rumah kita ! Kita ....... kita........"
"Jadi? Bagaimana dengan dendam kesumat keluargamu
itu?” Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menggeram menahan
marah.
Tui Lan menunduk semakin dalam dan tubuhnya semakin
keras terguncang oleh sedu-sedannya. Namun dengan segala
kekuatan hatinya gadis itu menjawab pertanyaan gurunya.
"Bi-biarlah...kita kita serahkan saja semuanya i-itu kepada
Thian. Karena Dia-lah yang berhak mengatur seluruh
kehidupan alam-semesta ini. Ki-kita.......tak perlu dan malah
berdosa besar bila ....bila berani mencampuriNya. Kewajiban
kita justru men-menjaga dan melestarikan semua ciptaan-Nya,
dan ..... bukan merusak atau memusnahkannya !"
Betapa marahnya perempuan tua itu kepada Tui Lan! Rasarasanya
ia ingin meloncat dan menghantam remuk kepala
muridnya yang tertunduk itu! Tapi niat itu segera luntur begitu
menyaksikan wajah yang pucat-pasi itu seolah-olah
memancarkan sinar kedamaian yang menyejukkan hati. Larut
semua kemarahannya! Dan mendadak timbul kembali rasa
sayangnya kepada gadis itu.
Namun demikian masih ada juga perasaan kecewa yang
mengganjal di hati perempuan tua itu.
“Hatimu memang terlalu lemah. Tui Lan." Si Pendeta Palsu
Dari Teluk Po-hai itu berdesah kecewa. "Dan hal itu sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kuketahui sejak dahulu. Perasaanmu demikian halusnya
sehingga menyakiti seekor semutpun kau tak tega. Tetapi aku
selalu berusaha membangkitkan semangatmu, dengan
mengajarimu ilmu silat dan memberimu contoh-contoh
kekerasan agar supaya hatimu terusik dan bisa tumbuh
menjadi seorang pendekar wanita yang gagah berani. Dan
dengan demikian cita-cita ibumu dahulu bisa terlaksana, yaitu
membalaskan dendam keluargamu!”
Tangis yang hampir mereda itu jebol kembali. Gadis itu
merasa sangat berdosa karena telah mengecewakan harapan
gurunya, dan juga harapan mendiang orang tuanya.
“Tapi… tapi entahlah, Su-bo benar-benar tidak tahu apa
yang telah terjadi pada diri tee-cu. Tee-cu… tee-cu selalu tidak
tahan melihat kekerasan berlangsung di depan mata tee-cu
oooohh…!” Tui Lab merintih dan terisak-isak.
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menghela napas
panjang. “Baiklah…! Baiklah…! Kau jangan menangis lagi!
Kalau engkau tak kuasa melakukannya, biarlah aku saja yang
mewakilimu membalaskan dendam itu.”
“Su-bo…!” Tui Lan menjerit dengan air mata bercucuran.
“Sudahlah! Kau jangan cengeng begitu. Malu aku
melihatnya! Lihat…! Kita harus mendaki bukit terjal dengan
keledai kita! Berhati-hatilah! Kita telah mendekati kota Sohciu.
Siapa tahu si Iblis Penyebar Maut itu bersembunyi di bukit
ini…” Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu memberi peringatan
lalu mengeprak keledainya menaiki jalan setapak yang
membubung ke atas bukit.
Binatang kecil itu mengerahkan seluruh kekuatannya.
Dibawanya beban yang sangat berat itu ke atas bukit.Keempat
buah kakinya yang pendek namun sangat kokoh itu menjejaki
tanah berpadas dengan kuatnya. Peluh tampak mengucur
membasahi bulu-bulunya yang panjang dan tebal. Dan keledai
itu melaju terus menaiki jalan yang terjal itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu tersenyum di dalam
hati. Itulah sebabnya dia memilih keledai dari pada kuda.
Meskipun kecil dan tidak bisa berlari kencang, namun keledai
lebih tahan di medan yang berat dari pada kuda. Di rawarawa,
di atas perbukitan atau di padang pasir, keledai lebih
dapat diandalkan daripada kuda.
Tapi begitu menoleh ke arah Tui Lan, senyum di bibir
perempuan tua itu segera hilang. Sebaliknya kerut-merut di
atas dahinya menjadi semakin banyak. "Gila benar anak itu!"
desahnya seraya memandang Tui Lan yang menuntun
keledainya sambil menjinjing perbekalannya. Keringat tampak
mengalir dari kening dan leher gadis itu.
Rasa gemas dan kesal karena menyaksikan tingkah
muridnya membuat perempuan tua itu memacu keledainya
lebih keras lagi. Dan keledai kecil ternyata juga tidak
mengecewakan tuannya. Dengan segala kekuatannya
binatang kecil itu menggerakkan kakinya lebih cepat lagi
sehingga beberapa saat kemudian ia telah mencapai bukit itu.
Tetapi............
Tiba-tiba keledai itu meringkik ketakutan dan melangkah
mundur dengan tergesa-gesa, sehingga Pendeta Palsu Dari
Teluk Po-hai itu hampir saja terjatuh ke dalam jurang. Dengan
tangkas perempuan tua itu melenting ke atas, berjumpalitan
beberapa kali di udara, lalu meluncur kembali ke atas tanah.
Seluruh gerakan itu dilakukan dengan sangat manis, enteng
dan cepat luar-biasa. Benar-benar suatu pameran gin-kang
yang hebat sekali.
"Ah ... !! Ang-leng-coa (Ular Lampu Merah)!" Pendeta Palsu
Dari Teluk Po-hai itu menjerit kaget begitu melihat dua ekor
ular melintas di depan kakinya.
Kedua ekor ular berbisa itu saling berkejaran. Tubuhnya
yang hampir satu setengah meter panjangnya itu menjalar
dan meliuk-liuk kesana-kemari. Daging kecil yang tumbuh di
antara kedua matanya Itu kelihatan berpijar di dalam gelap,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga dari kejauhan seperti lampu yang bergerak kesanakemari.
Pantas saja mereka mengagetkan keledai Si Pendeta
Palsu Dari Teluk Po-hai!
''Tenanglah, manis.......I" perempuan tua itu membujuk
keledainya seraya mengelus-elus leher binatang itu.
Namun mata perempuan tua itu segera terbelalak ketika di
dalam keremangan malam itu tampak belasan lampu yang lain
bergerak kesana-kemari diantara semak dan batu-batuan. Dan
perempuan tua itu segera merasakan sesuatu yang tak beres
dengan hadirnya ular-ular itu disana. Dan tiba-tiba saja
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu teringat pula akan sebuah
dongeng tentang ular-ular tersebut.
“Ang Leng coa ini merupakan jenis ular yang langka di
dunia. Mereka biasa hidup di gua-gua gelap atau di sungaisungai
dibawah tanah. Selain bisanya sangat tajam, binatang
ini juga sangat kuat kulitnya, sehingga khabarnya ular ini
kebal terhadap senjata tajam. Dan menurut dongeng yang
pernah kudengar, ular-ular itu sering terlihat di Lembah Angleng-
kok di Pegunungan Kun-lun-san. Maka sungguh sangat
mengherankan sekali kalau binatang berbisa ini dapat sampai
di tempat ini...”
Perlahan-lahan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu
menuntun keledainya kembali melalui jalan semula. Sambil
berjalan mundur perempuan tua itu menoleh kembali ke
bawah atau ke belakang untuk memberi peringatan kepada
Tui Lan. Namun betapa kagetnya perempuan tua itu tatkala
Tui Lan tidak ada di sana. Gadis itu lenyap bersama binatang
tunggangannya!
“Tui Laaaaaaaaaaan.. !” dengan cemas perempuan tua itu
memanggil.
Tak ada jawaban. Dan perempuan tua itu semakin cemas
hatinya. Ditinggalkannya keledainya, lalu berlari-lari kesanaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kemari mencari murid kesayangannya itu. Tapi gadis itu
benar-benar hilang lenyap tak berbekas.
"Tui Laanaaaan .. . !”
"Tui Laaaaaaaaasaan .... !''
"Su-bo, aku di sini!” tiba-tiba terdengar jawaban dari atas
puncak.
Lega benar rasanya hati perempuan tua itu ! Namun
kelegaan itu segera berubah menjadi kecemasan kembali
tatkala dilihatnya muridnya itu berada di atas puncak.
"Eh! Tui Lan ....! Hati-hati! Di situ banyak ular berbisa!"
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu berseru.
Tapi terlambat sudah! Belum juga gaung suara perempuan
itu hilang, Tui Lan telah menjerit
kesakitan! Dan bersamaan
dengan itu pula, tiba-tiba
terdengar suara gemuruh disertai
suara ringkikan keledai yang
menyayat hati, ketika binatang
tunggangan gadis itu terjerumus
ke dalam jurang yang dalam!
"Tui Laaaan!"
Bagaikan terbang cepatnya
perempuan tua itu meluncur ke
atas bukit! Perasaan cemas dan
khawatir akan keselamatan muridnya, membuat perempuan
tua itu mengerahkan segala kemampuannya! Wuuus .....!
Sekejap saja Si Pendeta Palsu itu telah berada di samping Tui
Lan!
“Keledaiku! Keledaiku… !” gadis itu menangis sambil
mencengkeram seekor Ang-leng-coa yang masih menanamkan
taringnya di kaki gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi perempuan tua itu tak mempedulikan tangisan
muridnya. Dengan cepat ia menyambar ular itu dan
membantingnya ke atas batu. Blug.... ! Batu itu pecah
berantakan dan ..... ular itu tidak apa-apa. Ular itu cuma
menggeliat sebentar seperti sedang menghilangkan rasa gatal,
lalu menggeleser pergi.
"Su-bo! Jangan bunuh ular itu! Dia tidak bersalah! Teeculah
yang telah menginjaknya.....!" Tui Lan tiba-tiba menjerit
seraya memegang lengan gurunya. Gadis itu sama sekali tidak
menyadari 'keajaiban" yang baru saja terjadi di depannya.
Sementara itu Si Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai kelihatan
termangu-mangu di tempatnya. Perempuan tua itu
memandang kepergian ular itu seolah-olah tak percaya.
Kekuatan tangannya yang mampu memecahkan kepala gajah
itu ternyata tak mampu meremukkan seekor ular kecil.
Namun rasa heran itu segera tertutup oleh rasa cemas
terhadap nasib Tui Lan yang digigit oleh Ang-leng-coa itu tadi.
"Tui Lan......! Lihat kakimu. Oh Thian......!" teriaknya gugup
seraya menyingsingkan celana gadis itu.
Darah merah nampak merembes keluar dari dua buah luka
kecil di kaki gadis itu. Tapi gadis itu sendiri seperti tak
mempedulikannya. Gadis itu masih saja meratapi keledainya
yang terjatuh ke dalam jurang. Sebaliknya Si pendeta Palsu
Dari Teluk Po hai itulah yang justru kelabakan melihat luka
tersebut. Bolak-balik tangannya merogoh ke dalam saku
jubahnya, namun obat luka yang dicarinya tak kunjung
ketemu.
"Ini..... eh...... anu! Wah. ! Semua obat itu ada di dalam
buntalan pakaian,.....!” serunya kesal seraya menengok ke
bawah tebing di mana keledainya tadi ia tinggalkan.
"Tui Lan! Tunggu disini ! Jangan bergerak! Aku akan
mengambil obat itu! Mengerti?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa menunggu jawaban lagi perempuan tua itu melesat
ke bawah, menuruni lereng untuk mencari keledainya. Tapi
meski telah berputar kesana-kemari perempuan tua itu tidak
menemukan juga binatang itu. Tampaknya binatang itu telah
pergi ketika ditinggalkan tadi. Keringat dingin membasahi
jubah perempuan tua itu.
"Keledai celaka.....! Ohh ....di mana dia?" perempuan tua
itu mengumpat-umpat. Lalu dengan suara yang semakin
gugup dan cemas perempuan itu berteriak ke atas. ”Tui
Lan.....? Kau tidak apa-apa, bukan?" Tiada jawaban. Dan
perempuan tua itu menjadi pucat.
“Tui Laann,.. .. .??” panggilnya cemas. Lalu dengan
tergesa-gesa perempuan tua itu “terbang" kembali ke puncak
bukit. Sementara itu tanpa mempedulikan gigitan ular di
kakinya, Tui Lan merayap turun ke dalam jurang untuk
menengok keledainya. Dengan gin-kang dan lwee-kangnya
yang cukup tinggi gadis itu menuruni tebing terjal yang sangat
dalam itu. Berkali-kali kakinya hampir terpeleset ketika
menginjak batu berlumut yang licin.
“Tuiii Laaannn…!” di atas bukit gurunya memanggil-manggil
namanya. Tapi Tui Lan tidak mengacuhkan panggilan itu.
Gadis itu lebih memikirkan keledainya yang mengalami
kecelakaan itu daripada yang lain. Sementara itu malam
semakin gelap, dan bulan yang cuma sesisir itu ternyata tak
mampu melemparkan sinarnya yang suram ke dalam jurang,
apalagi ke dasarnya. Oleh karena itu seperti orang buta Tui
Lan merayap perlahan, dari batu ke batu, dengan hanya
mengandalkan perasaannya saja. Sesekali gadis itu berhenti
sejenak untuk melihat-lihat atau mendengarkan keadaan di
sekitarnya.
Demikianlah beberapa waktu kemudian gadis itu telah
menginjakkan kakinya di dasar jurang. Begitu dalamnya
jurang itu sehingga teriakan Si Pendeta Palsu dari Teluk po-hai
itu tidak terdengar sampai ke bawah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah menenangkan hati dan menata perasaannya, Tui
Lan meraba kesana-kemari mencari keledainya. Dan usahanya
itu tidak terlalu sukar dilaksanakan, karena dasar jurang itu
berbentuk seperti sungai kering. Sempit dan memanjang,
melingkari bukit, dengan dinding-dinding tebingnya yang
tinggi mencakar langit.
Keledai itu terkapar mati dengan tulang berpatahan. Dan
Tui Lan segera bersimpuh meratapinya. Keledai itu tidak
hanya sebagai binatang tunggangan bagi Tui Lan, tetapi juga
sebagai sahabat yang telah mengalami suka-duka bersama.
Begitu dalam rasa kasih-sayangnya sehingga Tui Lan tidak
pernah berlaku kasar terhadap keledai itu. Seperti tadi, untuk
menaikinya ke atas bukit saja gadis itu tidak sampai hati.
Gadis itu malah mengambil semua beban, kemudian
menuntun keledai itu perlahan-lahan ke atas. Dan gadis itu
tidak mengikuti jalan terjal yang diambil gurunya, tapi
mengambil jalan melingkar yang lebih landai dan lebih mudah.
Namun takdir tampaknya telah memisahkan mereka.
Tui Lan lalu mengeluarkan sebatang lilin dan
menyalakannya. Bau busuk tiba-tiba menyentuh hidungnya!
“Ah! Cepat benar membusuknya?” Gadis itu bergumam
kaget seraya memandangi bangkai keledainya. Tapi dengan
cepat pula bau itu menghilang. Tui Lan lalu mendekatkan
hidungnya. “Ehh…!?!” serunya pula ketika hidungnya
mendadak mencium bau wangi yang sangat keras.
Otomatis Tui Lan meloncat mundur. Perasaannya segera
menjadi curiga dan berdebar-debar. Ada sesuatu yang aneh
dirasakannya. Maka lilin itu lalu diangkatnya tinggi-tinggi.
Ditatapnya kepekatan malam yang melingkupi tempat itu,
dan.., tiba-tiba saja jantungnya seperti berhenti berdenyut,
sehingga lilin itu hampir saja terjatuh dari tangannya!
“Han…. hantu... !?"' gadis itu menjerit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setombak jauhnya dari bangkai keledai itu, T ui Lan melihat
seorang laki-laki tua berbaring di atas batu besar. Lelaki itu
mempunyai kulit yang amat pucat seperti mayat, sementara
kulit mukanya tampak kaku seperti topeng dari kayu.
Tubuhnya tidak begitu tinggi dan sangat kurus kering,
sehingga sepintas lalu benar-benar seperti mayat atau hantu!
Tapi semua itu belumlah seberapa. Yang lebih mengerikan
lagi adalah matanya yang mencorong buas seperti mata
harimau di dalam kegelapan! Dan mata itu menatap Tui Lan
tanpa berkedip, seakan-akan orang itu merasa heran melihat
kedatangan Tui Lan!
Maka sudah sepantasnyalah kalau Tui Lan menjadi
ketakutan dan menyangkanya sebagai hantu. Gadis itu baru
sadar kalau dirinya sedang berhadapan dengan manusia biasa
setelah beberapa saat lamanya “hantu” itu tetap saja di
tempatnya, dan tidak mau hilang dari pandangannya. Tapi
gadis itu cepat menyadari pula bahwa orang yang ada di
depannya tersebut tentu bukan orang sembarangan.
“Kau .. kau . . siapa ." tanyanya gemetar.
Orang tua itu menghela napas berat, kemudian terbatukbatuk.
Tampak benar kalau dia sedang menderita sakit keras.
Namun demikian, nada suaranya masih terdengar garang
ketika menjawab pertanyaan Tui Lan. "K-kau sendiri siapa ?
Kulihat tubuhmu kebal terhadap racun-racun berbahaya.
Apakah kau mempunyai hubungan keluarga dengan ketujuh
orang bekas muridku itu? Ataukah mungkin kau murid
mereka? Huk-huk-huk . !"
“Aku…aku…. Ah, aku tidak tahu yang kaumaksudkan! Siapa
ketujuh orang bekas muridmu itu?”
Mata itu tampak berputar-putar menakutkan. “Apakah kau
belum mengenal tujuh orang ahli racun yang tinggal di Bankwi-
to itu?” kakek itu menggeram.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tui Lan terkejut bukan main. Siapakah yang tidak
mengenal mendiang Tujuh Iblis dari Ban-kwi-to itu? (baca :
Pendekar Penyebar Maut).
"Oh... lo-cianpwe… lo-cianpwe maksudkan mendiang Teetok-
ci tujuh bersaudara itu? Ahh ! Kalau begitu ..... aku.....eh,
siau-te tidak mempunyai sangkut-paut dengan mereka." Tui
Lan menjawab sambil mundur-mundur.
Mata orang itu melotot mengerikan. "Mendiang......? Siapa
bilang mereka sudah mati, hah? huk-huk-hukk..!” orang itu
terbatuk-batuk.
“Me-mereka ….. mereka memang sudah mati! Kata…kata
Su-bo, mereka itu mati dalam kepungan pasukan kerajaan di
Pantai Karang!” Tui Lan menjawab ketakutan.
Perlahan-lahan orang tua itu bangun dari tidurnya, lalu
duduk di atas batu. Gerakannya persis seperti mayat yang
bangun dari kuburnya. Dan Tui Lan yang amat ketakutan itu
buru-buru melangkah mundur pula. Tapi “mayat” itu tiba-tiba
menggerakkan tangannya dan…. Entah bagaimana caranya,
tiba-tiba gadis itu merasa lemas seluruh badannya! Dan
sebelum tubuh gadis itu jatuh ke tanah, orang itu
menggerakkan tangannya sekali lagi dan seperti sebuah
permainan sulap saja tubuh Tui Lan tersedot ke dalam
pangkuan orang itu!
Dapat dibayangkan betapa "ngerinya" gadis itu ! Apalagi
ketika orang itu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Aduh! Lo-cian-pwe..... lo-cianpwe…..... lepaskan! Lepaskan
……!” Tui Lan menjerit ketakutan dan hampir menangis. Tapi
gadis itu tak kuasa berbuat apa-apa.
“Ha-aha-ha .... huk-huk! Tampaknya Giam-lo-ong (Dewa
Maut) masih merasa kasihan kepadaku. Buktinya di saat
kematianku tiba, beliau masih mengirimkan engkau kesini
untuk menyambung umurku, hehe-heh…..!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selesai berkata orang itu menggigit urat nadi di
pergelangan tangan Tui Lan, sehingga darah gadis itu
mengalir keluar dengan derasnya. Kemudian orang itu
menggigit pula urat-nadinya sendiri dan menempelkan kedua
buah bekas gigitan itu sama lain. Sama sekali orang itu tak
mempedulikan korbannya yang hampir pingsan karena
perbuatannya.
“Apa.... apa yang hendak lo-cian-pwe . , lo-cian-pwe
lakukan terhadapku?”
“Hehe…..dengarlah, kelinci malang! Dua-puluh-lima tahun
yang lalu Tee-tok-ci dan keenam saudara seperguruannya
telah bersekongkol untuk mencelakai aku, gurunya. Mereka
bermaksud untuk mengambil Im-Yang Tok-keng (Buku Racun
Im Yang) dan po-tok-cu (Pusaka Mustika Racun)
kepunyaanku. Tapi mereka tidak berani berhadapan
denganku. Mereka menggunakan akal licik. Setiap Jeng-bin
Siang-kwi (Sepasang Hantu Berwajah Seribu), dua orang
murid perempuanku yang cantik itu melayani aku, diam-diam
minumanku dicampur dengan sedikit Hok-hiat-tok (Racun
Penumpas Darah), sehingga aku tak merasakannya. Aku
hanya merasakan semakin lama mukaku semakin pucat dan
tubuhku semakin hari semakin lemah. Dan akhirnya aku
menjadi kaget sekali ketika setahun kemudian aku sudah tak
kuasa lagi mengerahkan sin-kangku (tenaga saktiku). Saat itu
aku baru sadar kalau aku telah terkena Hok-hiat-tok. Namun
semuanya sudah terlambat. Racun itu telah merasuk ke dalam
darah dan telah mengisap lebih dari separuh jumlah darahku,
sehingga aku menderita penyakit kekurangan darah. Tahu
kalau siasatnya telah kuketahui, murid-murid murtad itu lalu
mengeroyokku. Untunglah aku bisa meloloskan diri. Sebagai
orang yang tak pernah menaruh percaya kepada orang lain,
aku sudah menyiapkan sebuah jalan rahasia di bawah
rumahku. Hanya celakanya, mulut jalan rahasia itu lalu ditutup
dan ditimbun batu karang oleh mereka.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang tua itu berhenti bercerita, tampaknya dia baru
mengingat-ingat kejadian masa lalunya itu. Tapi tiba-tiba Tui
Lan menjadi kaget sekali ketika dari lengan orang itu keluar
daya sedot yang amat kuat, sehingga darahnya membanjir
keluar melalui luka bekas gigitan di pergelangan tangannya.
Darah itu mengalir masuk ke dalam tubuh orang itu melalui
lukanya pula, yang disengaja ditempelkan pada luka Tui Lan
tersebut.
"Lo-cian-pwe, ...... apa ....apa yang kaulakukan?"
“Diamlah, anak malang! Aku harus mengambil darahmu,
agar aku dapat hidup setahun lagi. Hehe.. ketahuilah…akibat
Hok-hiat-tok itu aku harus mengisap darah orang lain setiap
tahunnya. Hanya biasanya aku meneliti dan memeriksa lebih
dahulu darah orang itu sebelum memindahkannya ke dalam
tubuhku. Sebab orang yang hendak kuisap darahnya itu harus
dari kalangan orang berdarah-bening sendiri, dan darahnya
juga harus cocok dengan darahku pula. Tapi karena sekarang
aku tidak mempunyai waktu lagi, apalagi yang ada didepanku
hanya engkau saja, maka secara untung-untungan aku
mengambil darahmu. Sukurlah kalau cocok. Kalau tidakpun
aku juga akan sama-sama mati pula.”
“Jadi…jadi…? Lo-cian-pwe hendak membunuhku?” Tui Lan
berseru putus asa.
Orang itu tak mengacuhkan rintihan Tui Lan. Matanya
memandang nyala liIin yang jatuh dari tangan Tui Lan dengan
geram. “Kurang ajar! Bangsat benar murid-murid murtad itu!
Belum juga aku dapat menghukum mereka, mereka sudah
keburu mati! Huh ...!" mulutnya mengumpat-umpat kasar.
“Tahu begini aku.... tak...... adouuuuh !"
Tiba-tiba orang tua itu mengaduh menyeringai kesakitan.
Kedua tangannya cepat memeluk perut dan dadanya,
sehingga otomatis Tui Lan terbebas dari daya sedot itu.
Kemudian orang itu mencoba untuk berdiri, tapi tak berhasil.
Tubuhnya terjungkal ke depan menimpa tubuh Tui Lan!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Brug...! Dan secara kebetulan siku tangan yang lancip dari
orang itu persis menghantam sam-ki-hiat di dada kiri Tui Lan!
Maka punahlah totokan yang membuat lemas gadis itu tadi !
Tui Lan segera mendorong tubuh yang menimpanya itu dan
bergegas berdiri. Luka di pergelangan tangannya itu cepatcepat
dibalutnya, lalu tergesa-gesa pergi dari tempat yang
mengerikan itu. Tapi baru sepuluh langkah ia berjalan….
"Uhh!" tiba-tiba terdengar orang tua itu mengeluh.
Tui Lan menoleh. Dan betapa terkejutnya gadis itu, ketika
dilihatnya pakaian orang tua tersebut telah terbakar karena
terjilat api lilinnya!
Lupa sudah api permusuhan di dada gadis itu! Lupa pula
semua perasaan takut dan ngeri yang tadi mencengkam
hatinya! Yang ada di dalam hati gadis itu kini hanya perasaan
ingin menolong seorang yang hendak terbakar tubuhnya itu
saja!
Maka tanpa menghiraukan dirinya lagi Tui Lan cepat
berbalik kembali untuk memadamkan api yang telah
membakar pakaian orang tua itu.
Akhirnya api itu padam juga. Meskipun demikian karena api
itu telah membakar hampir separuh dari pakaian orang tua itu,
maka kulit di bawah pakaian tersebut sudah terlanjur melepuh
dan gosong! Orang tua itu merintih menahan sakit.
“Lo-cian-pwe, bertahanlah…! Siau-te akan berusaha
mengobatimu…” Tui Lan membesarkan hati orang tua itu.
Tui Lan lalu mengeluarkan obat luka yang selalu
dibawanya. Tapi karena luka itu tidak begitu kelihatan di
dalam gelap, maka Tui Lan lalu menyalakan empat batang lilin
lagi. Kemudian dengan pertolongan sinar lilin itu Tui Lan lalu
memoleskan obatnya. Sama sekali gadis itu sudah tidak ingat
lagi kebuasan orang yang hendak membunuhnya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya, orang yang terluka itu kini tampak memandang
Tui Lan tanpa berkedip. Mata yang tadi tampak liar
menakutkan itu kini menatap termangu-mangu, seakan-akan
tak percaya bahwa di dunia ini ternyata ada juga seorang
manusia yang begitu baik, tulus dan berbudi luhur seperti
gadis itu. Padahal, sejak kedatangannya tadi, gadis itu telah
berkali-kali hendak dibunuhnya. Pertama, meskipun tidak ia
sengaja, gadis itu telah terkena gigitan Ang-leng-coa, ular
peliharaannya. Lalu yang kedua, gadis itu telah diserangnya
dengan bubuk beracun Keh-hiat-tok (Racun Pemutus Urat)
dan Chi-shui-tok (Racun Pengantar Tidur) yang berbau busuk
dan wangi itu. Dan kemudian yang terakhir, gadis itu telah ia
sedot darahnya. Meskipun yang terakhir ini juga gagal, karena
dia keburu pingsan tadi. Tapi yang terang semuanya itu telah
menunjukkan bahwa dia memang benar-benar bermaksud
membunuh gadis itu.
Tetapi… apa yang dikerjakan gadis itu sekarang?
Ternyata semua itu tidak menimbulkan dendam di hati
gadis cantik itu. Di dalam situasi yang berbalik seperti
sekarang, ternyata gadis itu tidak memanfaatkannya untuk
membalas dendam. Gadis itu ternyata justru merawat dan
mengurusnya penuh perhatian. Padahal kalau mau gadis itu
bisa meninggalkannya begitu saja. Oleh karena itu, siapakah
orangnya yang tidak merasa terketuk hatinya mengalami hal
seperti itu? Biarpun orang yang terkena itu seorang penjahat
berhati kejam seperti orang tua itu?
Mata yang selama ini selalu memancarkan watak keras,
buas dan kejam itu tiba-tiba menitikkan air mata. Di saat saat
terakhir hidupnya orang itu ternyata memperoleh sinar terang
yang mampu membuka pintu batinnya.
"Anak baik......! Kau tak perlu bersusah-payah mengobati
aku lagi ! Sudah tidak ada gunanya lagi...” orang tua itu
berkata serak karena terharu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kenapa lo-cian-pwe berkata begitu? Apakah Io-cian-pwe
berputus-asa karena gagal mengambil darahku? Ahh... lo-cianpwe…
! Jika lo-cian-pwe memang sangat membutuhkan
darahku, sebenarnya akupun rela pula memberikannya. Tapi
tentu saja jangan semuanya ! Yang penting kita berdua bisa
selamat. Misalnya darahku ini dibagi dua, Lo-cian-pwe separuh
aku separuh. Bagaimana.......?”
Tui Lan membuka kembali balutan lukanya. Tapi orang tua
itu cepat mencegahnya.
"Jangan… !”
"Lo-cian-pwe.....? Mengapa?"
"Anak baik, ketahuilah… ! Didalam darahmu memang
mengalir ciri-ciri khusus perguruanku, yaitu berdarah bening,
yang membuat kita semua kebal terhadap semua racun. Tapi
sayang darahmu itu ternyata tidak cocok bila bercampur
dengan darahku, sehingga seperti yang telah kaulihat tadi,
aku menjadi pingsan karenanya. Malahan percampuran itu
justru mempercepat saat kematianku. Oleh karena itu sebelum
mati aku akan meninggalkan pesan kepadamu.”
“Lo-cian-pwe…..”
“Sudahlah! Jangan banyak bicara lagi! Waktuku tinggal
beberapa saat saja. Dengarlah…!” orang tua itu memotong
perkataan Tui Lan. Kemudain sambil mengeluarkan sebuah
buku kumal dari kantong celananya, orang tua itu
melanjutkan,”inilah buku Im-Yang Tok-keng itu! Untunglah dia
tidak termakan api tadi. Sekarang kauterimalah buku ini !
Kuwariskan dia kepadamu. Rawatlah baik-baik! Jangan sampai
terlihat orang lain, karena buku ini banyak yang
mengincarnya."
"Lo-cian-pwe......"
“Dan mustika ini juga kuwariskan kepadamu!" orang tua itu
meneruskan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian orang itu menggigit benjolan daging yang
tumbuh di tengah-tengah telapak tangannya, dan
dikeluarkannya sebutir mutiara putih yang berlepotan darah
dari dalamnya. "Mustika ini sengaja kutanam di dalam daging
agar tidak dapat terlepas dari tanganku. Mustika ini
dinamakan orang Po-tok-cu. Khasiatnya bisa menawarkan
segala macam racun. Betapapun hebatnya sebuah racun, dia
akan segera tawar bila tersentuh mutiara ini.”
"Kalau mustika itu bisa menawarkan racun, mengapa locian-
pwe masih juga terkena Hok-hiat-tok?" sela Tui Lan.
Orang tua itu menghela napas. "Aku belum memilikinya
ketika murid-muridku itu meracuni aku. Dan ketika pusaka ini
berada di tanganku, hati dan jantungku sudah terlanjur rusak
oleh Hok-hiat-tok."
"Tapi.... lo-cian-pwe tadi bilang bahwa orang-orang dari
kalangan berdarah bening itu kebal terhadap racun........."
"Ya! Tapi tidak semuanya. Kita tetap tidak akan tahan
melawan racun, sejenis Hok-hiat-tok.....” orang itu
menerangkan seraya memberikan mustika yang dipegangnya
itu kepada Tui Lan. Tui Lan menerima mutiara itu dan
memasukkannya ke dalam saku.
"Hati-hati! Jangan sampai hilang…! Dan… eh,
sepeninggalku nanti kalau ada seorang kakek berambut hitam
legam datang, kauberitahukan saja kalau aku sudah mati,
Niscaya dia takkan mengganggumu.........."
"Kakek berambut hitam? Siapakah dia ......?”
“Bangsat itu adalah guruku!” orang yang mau mati itu
menggeram penuh dendam.
Tui Lan tercengang. Sungguh aneh benar orang-orang
yang ia hadapi kali ini. Guru mendiang iblis-iblis Ban-kwi-to ini
ternyata masih mempunyai guru. Dan seperti halnya iblis-iblis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ban-kwi-to itu pula, sang guru ini ternyata juga bermusuhan
dengan gurunya. Betapa anehnya perguruan mereka!
Orang tua itu meringis kecut. “Kau jangan heran! Guruku
itu memang tidak layak untuk dihormati. Meskipun sudah tua
bangka dia suka main perempuan. Sampai isteriku, isteri
muridnya sendiri dilahapnya pula tanpa malu. Gila tidak
itu…..?”
“Ahh…….!” Tui Lan berdesah dengan pipi merah padam.
Tapi tiba-tiba gadis itu tersentak kaget. Guru orang tua ini
mahir menggunakan racun, berkepandaian tinggi dan senang
main perempuan pula. Mungkinkah guru orang tua ini adalah
si Iblis Penyebar Maut itu ?
Tui Lan mencengkeram lengan orang. Tapi betapa
terkejutnya dia tatkala dilihatnya orang itu sudah mulai
tersengal-sengal pernapasannya. "lo-cian-pwe! Lo-cian-pwe,
tunggu.... Apakah guru lo-cian-pwe itu bergelar Si Iblis
Penyebar Maut?" teriaknya keras sambil mengguncangguncang
lengan orang tua itu.
Orang tua yang sudah mau mati itu berusaha membuka
matanya, namun tak berhasil. Tampaknya urat-uratnya sudah
mulai kaku. "A-apa ka-katamu heh? Aku,.... a-aku t-t-ttidak......
mende.......... mendengarmu." Gumamnya tak jelas.
"Apakah guru lo-cian-pwe itu bergelar…. bergelar Si Iblis
Penyebar Maut.......?" Tui Lan berteriak sekali lagi.
"Aaapa.......? Dia....... d-dia.. Ouhhhhhh, se-se-selamat
ting-tinggal….!” Orang tua itu mencoba bertahan, tapi gagal.
Kepalanya tersentak kemudian terkulai di atas bahunya.
"Lo-cian-pwe! Lo-cian-pwe ! Aah ...”
Gadis itu menghela napas panjang. Orang tua itu telah
pergi. Dan keberangkatannya tadi tampaknya telah
dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan kedamaian hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan gadis itu juga merasa bangga pula, karena kedamaian itu
tampaknya berasal atau bersumber dari dirinya.
“Inilah yang tidak disadari oleh Su-bo atau orang-orang lain
di dunia ini. Ketentraman dan kedamaian dunia itu sebetulnya
terletak di dalam diri pribadi masing-masing orang. Apabila
orang itu dengan tulus ikhlas dan penuh kasih sayang mau
berjalan di atas rel kebenaran, niscaya hidupnya akan selalu
damai, tentram dan sejahtera. Apa yang kualami ini tadi
merupakan bukti yang tak dapat dibantah lagi. Betapapun
buas dan kejamnya guru Tee-tok-ci ini, tapi dia tetap seorang
manusia juga. Dia bukan hewan atau binatang yang tak punya
budi dan pikiran. Kasih sayang dan ketulusan hati yang
kuperlihatkan kepadanya ternyata masih dapat dilihat pula
oleh mata batinnya,” gadis itu berkata di dalam hatinya.
Iseng-iseng Tui Lan membuka
buku pemberian orang tua itu. Di
halaman pertama tertulis huruf :
IM-YANG- TO KENG. Dan
dibawahnya tertera nama
penulisnya atau penyusunnya,
yaitu " GIOK BIN TOK-ONG
(RAJA RACUN BERWAJAH
TAMPAN).
Tui Lan lalu membuka
halaman selanjutnya. Di sana
tertulis segala macam hal
tentang racun. Mengenai
macamnya, bentuknya, rupanya, warnanya, dan lain
sebagainya. Di dalam buku itu juga diterangkan cara
bagaimana mengenalinya, memperolehnya, dan bagaimana
cara penggunaannya, serta bagaimana cara menghindari atau
mengobatinya. Di halaman terakhir diterangkan pula cara
bagaimana semua racun-racun ini dipergunakan oleh seorang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
jago silat untuk menambah kesaktian atau kedahsyatan
ilmunya.
Semakin banyak gadis itu membaca isi buku itu, semakin
bergidik dan ngeri hatinya. Di dalam buku itu banyak
disebutkan macam-macam racun yang khasiatnya benar-benar
mendirikan bulu-romanya. Akhirnya gadis itu tidak tahan
membacanya. Buku itu lekas-lekas ditutupnya dan
dimasukkannya ke dalam sakunya.
Kalau menuruti kata hatinya ingln benar rasanya Tui Lan
memusnahkan buku itu. Tapi bila mengingat betapa susahpayahnya
Giok-bin Tok-ong tersebut menyusunnya, hatinya
menjadi tak tega. Untuk menyimpan atau
menyembunyikannya di suatu tempat, Tui Lan juga tak berani.
Siapa tahu buku itu diketemukan atau diambil oleh orangorang
yang tak bertanggung-jawab nanti?
"Biarlah buku ini kusimpan di dalam saku bajuku bersamasama
dengan mutiara anti racun itu, gadis itu berkata di dalam
hatinya.
Tak terasa larut malam telah lewat. Embun pagi telah mulai
turun membasahi jurang itu. Keempat lilin juga telah terbakar
sampai di pangkalnya. Tui Lan bergegas menggantinya
dengan yang baru, karena dia harus menggali tanah untuk
menguburkan mayat dan bangkai keledainya.
Karena tak ada pacul, Tui Lan terpaksa mempergunakan
pedangnya untuk menggali tanah. Celakanya, tak ada tanah
yang empuk di dasar jurang itu. Semuanya terdiri dari padas
dan karang. Oleh karena itu mayat dan bangkai keledai itu
terpaksa ditanam dalam lubang yang tak terlalu dalam. Dan
pekerjaan itupun telah menyita waktu sampai fajar
menyingsing.
Tui Lan menyeka keringatnya, kemudian merebahkan diri di
atas batu besar untuk melepaskan lelah. Usapan udara pagi
yang disertai kabut dingin dari atas bukit itu akhirnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membawa gadis itu terlelap ke dalam impian. Dan
mataharipun merangkak semakin tinggi ke angkasa seolaholah
ingin segera dapat menghangati tubuh si gadis yang
lembut hati itu.
Gadis itu baru terbangun ketika dirasakannya ada
seseorang di dekatnya, dan gadis itu bangkit dengan cepat,
ketika di dekat kakinya benar benar ada seorang kakek yang
sedang berdiri mengawasinya.
"Kau…. kau siapa?" Tui Lan berseru tertahan.
Kakek itu tersenyum, sehingga wajahnya yang masih
tampak muda itu kelihatan segar dan tampan sekali. Alis dan
kumisnya yang panjang berjuntai kebawah berwarna putih
bersih dan diatur rapi sekali. Sementara rambut di kepalanya,
biarpun tidak lebat lagi, tapi masih berwarna hitam legam dan
digelung ke atas seperti anak muda. Matanya sangat tajam
dan kocak, sedang punggungnya sudah sedikit bongkok
karena umurnya. Namun demikian, pakaiannya sungguh amat
bagus dan rapi bukan main.
"Jangan takut, anak manis! Lo-hu (aku s i orang tua) bukan
orang jahat. Lo-hu tidak sengaja melihatmu tidur disini. Lo-hu
kesini untuk menjumpai seseorang, hi-hi-hi-hi….” Kakek
tampan itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang
mendirikan bulu-roma.
“Menjumpai seseorang? Si-siapa yang hendak lo-cian-pwe
jumpai?” Tui Lan memberanikan dirinya.
“Ang-leng Kok-jin (Manusia Dari lembah Lampu Merah)!
Kau melihat dia?"
'Ang-leng Kok-jin...? Apakah yang lo-cian-pwe maksudkan
itu guru para iblis dari Ban-kwi-to itu? Orangnya sudah tua,
pucat dan kurus seperti mayat......?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Betul! Dan biasanya kemana-mana dia selalu diiringkan
oleh ular-ularnya. Eh… jadi kau melihat dia?" kakek tampan itu
mendesak.
"Ular ......?"
“Ya ! Ular Ang-leng-coa…. "
“Ah? Siau-te tidak melihat dia membawa ular. Tapi di atas
bukit ini memang banyak ular Ang-leng-coa berkeliaran. Siaute........”
"Hei! Lekas katakan! Dimana orang itu?” kakek tampan itu
berseru tak sabar.
“Kalau orang tua kurus dan pucat itu yang lo-cian-pwe
maksudkan, dia sudah meninggal. Dan kini sudah
kumakamkan di dekat tebing itu…..!”
Tui Lan mengacungkan jarinya ke arah makam yang telah
dibuatnya tadi. Tapi gadis itu membelalakkan matanya
serentak melihat belasan ekor Ang-leng-coa tampak
berkumpul mengitari gundukan makam Ang-leng Kok-jin itu.
Kakek tampan itu juga tidak kalah pula rasa terkejutnya.
"Hei, bocah itu sudah mati? Masakan dia… ? Apakah dia tidak
memperoleh darah yang cocok untuk menyambung
hidupnya?” serunya tak percaya.
Lalu tanpa dapat diketahui bagaimana cara bergeraknya,
tahu-tahu kakek itu telah berada di depan makam Ang-leng
Kok-jin. Dan kedatangannya kesana segera disambut dengan
kemarahan oleh pasukan Ang-leng-coa itu. Tapi dengan
bengis kakek tampan itu membunuh mereka. Ular-ular yang
kebal terhadap senjata tajam itu segera berkelojotan begitu
terkena taburan serbuk putih dari tangan si kakek.
“Lo-cianpwe…..!” Tui Lan menjerit melihat kekejaman
kakek itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kakek itu seolah tak mendengar jeritan Tui Lan. Begitu
melihat ular-ular itu sudah mati, kakek itu langsung saja
membongkar kuburan Ang-leng Kok-jin. Kalau tadi
menggunakan pedang saja Tui Lan mengalami kesukaran
dalam menggalinya, kini ternyata kakek itu enak saja
mempergunakan tangannya.
Tapi perbuatan kakek itu tentu saja sangat mengejutkan
Tui Lan!
"Lo-cianpwe! Mengapa lo-cian-pwe tega membongkar
makam orang?”
"Hei! Siapakah yang membongkar makam orang? Katamu
orang yang tertanam di dalam ini adalah Ang-leng Kok-jin.
Lalu apa salahnya aku membongkar makam muridku sendiri?"
kakek itu menyahut tanpa menghentikan pekerjaannya.
Ketika Tui Lan hendak membantah lagi, ternyata kakek itu
telah selesai menggali tanah itu. Dan sesaat kemudian mayat
Ang-leng Kok-jin telah disongkel keluar dari liangnya.
Kemudian dengan penuh kewaspadaan dan kecurigaan, kakek
itu berputar-putar menyelidiki mayat muridnya itu. Sekejappun
kakek itu tak berani terlalu dekat, apalagi sampai menyentuh
mayat tersebut. Baru beberapa waktu kemudian kakek itu
dengan sebatang ranting pendek berani menyingkap dan
membalikkan tubuh mayat itu. Namun tiba-tiba ….
Dhoooocooooooor..
Mayat itu meledak dengan dahsyatnya dan hancur
bertaburan ke segala penjuru. Kakek tampan yang hanya
selangkah dari mayat itu ikut terpental tinggi ke udara,
kemudian jatuh berdebam kembali ke atas tanah. Namun
anehnya, sekejap kemudian kakek itu telah bangkit pula
kembali seperti tak pernah terjadi apa-apa. Padahal bagian
depan bajunya tampak hancur tercabik-cabik akibat ledakan
itu. Dan begitu bangun kakek itu segera berkeliling mencari
sesuatu diantara sisa-sisa tubuh Ang-leng Kok-jin yang
bertebaran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu Tui Lan yang ikut pula terhempas ke tanah,
meskipun dia berdiri jauh dari ledakan tersebut, masih duduk
juga termangu-mangu di tempatnya. Gadis itu masih tampak
bingung dan tak habis mengerti, kenapa mayat yang sudah ia
kuburkan itu bisa meledak begitu dahsyatnya. Dan gadis itu
juga tak habis mengerti, bagaimana pula kakek itu bisa
menyelamatkan dirinya dari ledakan itu? Padahal dia yang
berdiri sejauh lima tombak saja masih merasa seperti rontok
seluruh isi dadanya? Tui Lan tergagap kaget ketika Kakek itu
datang dan menegurnya.
''Anak manis, kau tak apa-apa, bukan? Huh! Bangsat benar
bocah itu! Sudah matipun dia masih juga memasang
perangkap! Untunglah sejak dulu aku sudah mengenal sifatsifatnya.
Coba kalau tidak….! Badanku bisa tercerai-berai pula
tadi! Hmmmh!”
“Memasang perangkap? Masakan murid lo-cianpwe berani
memasang perangkap untuk mencelakakan gurunya?” Tui Lan
bertanya semakin bingung menghadapi persoalan itu.
"Kenapa tak berani? Sejak kecilpun dia sudah berani
melawan aku. Malahan semenjak kematian isterinya, dia selalu
menentang aku di tempat ini. Kedatanganku kemari
sebenarnya juga untuk mengadu ilmu dengannya," kakek itu
memberi keterangan.
"Mengadu ilmu... ? Kalian guru dan murid….. berkelahi
sendiri. Lalu......... lalu apa penyebabnya?"
Tui Lan yang sejak kecil selalu terdidik dengan baik itu
semakin pusing mendengar kata-kata kakek itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 2
“Haha-hihihi .. . ! Tentu saja banyak penyebabnya, Anak
manis. Dan salah satu diantaranya adalah masalah
perempuan, hihihihi... !" kakek itu menjawab tanpa malumalu.
Matanya semakin kocak dan nakal memandang Tui Lan,
seakan-akan masalah perempuan antara ia dan muridnya itu
bukan suatu hal yang memalukan baginya.
Justru Tui Lan yang masih ingusan itulah yang menjadi
malu mendengarnya. Gadis itu menjadi merah-padam
mukanya! Sementara di dalam hatinya gadis itu tak habis
pikir, bagaimana di dunia ini ada seorang yang bejat moralnya
seperti kakek itu padahal kalau dilihat keadaan tubuhnya,
meskipun pintar bersolek, kakek itu tentu lebih dari delapan
puluh tahun umurnya. Tapi gaya dan sikapnya sungguh amat
genit seperti bujang sedang birahi.
Oleh sebab itu terasa berkurang juga rasa hormat Tui Lan
kepada kakek itu.
“Hmmm..... Kalau begitu benar juga perkataan Ang-leng
Kok-jin tadi. Jadi Lo-cianpwe dulu pernah mengganggu isteri
Ang-leng Kok-Jin. Benarkah. .?”
Tapi kakek itu tiba-tiba memelototkan matanya. "Siapa
bilang aku mengganggu isterinya? Huh ! Kurang ajar… Justru
bocah gila itulah yang menyuruh isterinya untuk menggodaku!
Mereka bersekongkol untuk mencuri Im-Yang Tok-Keng dan
Po-tok-cu milikku........!” serunya berapi-api.
“Apa......? Ang-leng Kok-Jin menyuruh isterinya sendiri
untuk menggoda…eh, mencuri pusaka milik Locianpwe?
Jadi..... jadi ?"
Tui Lan tak mampu melanjutkan kata-katanya. Gadis itu
benar-benar pusing memikirkan urusan orang yang selain
amat memalukan juga sangat ruwet itu. Sungguh amat sulit
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagi gadis itu untuk menentukan, siapa yang telah berbohong
kepadanya dalam hal ini.
Ternyata kakek itu merasakan pula keragu-raguan Tui Lan
terhadapnya. Maka dengan geram dan penasaran ia berkata,
”Huh….kau tak percaya kepadaku? Kau lebih mempercayai
Ang-leng Kok-jin daripada gurunya, si Giok bin Tok Ong ini,
heh…?”
Kini giliran Tui Lan yang sangat kaget mendengar nama
kakek itu! Giok Bin Tok-ong adalah nama yang tertera di
dalam buku Im-Yang Tok-keng. Benarkah kakek yang genit
dan tampak kurang ajar ini si Giok-bin Tok-ong, penyusun Im-
Yang Tok-keng itu? Ataukah kakek ini hanya membual dan
mengaku-aku saja untuk menakut-nakutinya?
Tiba-tiba Tui Lan teringat akan kecurigaannya kepada
orang tua itu. Tadi malam dia telah mencoba bertanya kepada
Ang-leng Kok-jin, sebelum orang tua itu menghembuskan
napasnya yang penghabisan. Tapi Ang-leng Kok-jin tidak
sempat memberi jawaban. Kini dia ingin bertanya langsung
kepada kakek itu.
“Lo-cianpwe....? Apakah lo-cianpwe ini….si Penyebar Maut
yang sangat terkenal itu?” tanyanya hati-hati.
Gadis itu sengaja membuang kata-kata “Iblis” di depan
sebutan itu, agar supaya kakek tersebut tidak tersinggung dan
menjadi marah karenanya. Tapi kakek genit itu ternyata masih
tetap marah juga.
“Kurang ajar! Kau bocah kemarin sore berani menghina
aku, ya? Kau persamakan aku dengan pencuri kampungan
macam si Iblis Penyebar Maut itu, heh? Bangsat…! Cuh!” tak
disangka-sangka kakek itu mengumpat-umpat kasar dan sama
sekali tak peduli kalau yang ia hadapi itu seorang gadis.
Tui Lan sangat tersinggung dan merah padam mukanya.
Apalagi melihat kakek itu meludah seenaknya di depannya
sampai-sampai airnya memercik mengenai sepatunya. Namun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemarahan itu terpaksa dipendamnya di dalam hati, karena ia
menyadari kelemahannya di hadapan kakek sakti itu.
Kakek itu hendak mengumpat lagi namun dari atas tebing
tiba-tiba terdengar suara orang memanggil. Suara wanita…!
“Tui Laaaannn…!” suara itu bergema di dalam jurang.
“Eh! Itu suara su-boku……!” Tui Lan berseru kaget.
“Siapakah su-bomu itu, heh?” Kakek itu memotong dengan
suara geram.
“Su-boku biasa disebut orang dengan gelar…. Si Pendeta
Palsu dari teluk Po-hai!” Tui Lan yang sedang merasa kesal itu
menjawab ketus, membanggakan nama gurunya.
“Apa? Dia bekas pendeta Im-Yang-kauw di desa Ban-cung
di Teluk Po-hai........?" kakek yang sangat memandang remeh
Si Iblis Penyebar Maut itu tiba-tiba berseru dan
membelalakkan matanya.
“Ya!”
Mendadak kakek itu menjadi pucat dan tampak ketakutan.
Sikapnya sungguh bertolak-belakang dengan kegarangannya
tadi. “Wah, kalau yang satu ini, .. yang satu ini….. lebih baik
aku pergi saja!” gumamnya dengan suara gemetar, lalu
melesat pergi dengan tergesa-gesa. Sekejap saja
bayangannya telah hilang dari pandangan Tui Lan.
Tentu saja Tui Lan melongo keheranan. Gadis itu tak tahu
apa yang menyebabkan Giok-bin Tok-ong yang lihai itu
menjadi ketakutan mendengar nama gurunya! Mungkinkah
kepandaian gurunya itu lebih tinggi daripada Giok-bin Tokong?
“Tui Laaannn!”
“Su-bo, teecu disini……” gadis itu berteriak pula menjawab
panggilan gurunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis itu memandang keatas tebing. Dilihatnya gurunya
merayap turun dengan cepatnya. Dan sebentar kemudian
perempuan tua itu telah memeluk dirinya sambil menangis
lega.
"Anak nakal….! Kemana saja kau semalaman tadi? Habis
sudah harapanku untuk bisa bertemu lagi denganmu.
Kukira….kukira kau telah berjumpa dengan Iblis itu.
Ooohhh….!” Perempuan tua itu berkata tersendat-sendat.
Diam-diam Tui Lan juga meneteskan air mata. Baru kali ini
ia melihat gurunya yang terkenal keras dan kejam itu
menangis mengkhawatirkan dirinya. Hampir-hampir ia tak
percaya melihatnya.
“Su-bo….! Teecu sehat-sehat saja. Teecu tidak sampai hati
membiarkan keledai itu jatuh ke jurang. Teecu….teecu
terpaksa turun melihatnya. Su-bo….maafkanlah teecu.”
Akhirnya perempuan tua itu sadar kembali akan
keadaannya. Sambil menyeka sisa-sisa air matanya,
perempuan tua itu menghela napas panjang. "Lalu….. di mana
keledai itu?" tanyanya perlahan.
“Dia…dia sudah kukuburkan disana!” Tui Lan menjawab
perlahan pula seraya menundukkan kepalanya.
"Hmm ... Lalu bagaimana dengan gigitan ular di kakimu
itu?"
“Seperti yang su-bo lihat sekarang, tee-cu tidak apa-apa!
Racun ular itu tak berpengaruh apa-apa terhadap tubuh teecu.......!”
Tui Lan menjawab tegas.
“Heran! Sungguh mengherankan sekali! Memang sejak kecil
keadaan tubuhmu sangat berbeda sekali dengan anak-anak
yang lain, tapi aku tak menyangka kalau tubuhmu kebal
terhadap racun. Padahal ular itu adalah sejenis ular yang amat
berbahaya sekali. Akupun takkan tahan bila terkena
gigitannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kedua orang guru dan murid itu lalu berdiam diri. Masingmasing
sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Tapi perempuan
tua itu terkejut bukan main ketika melihat bekas ledakan dan
sisa-sisa tulang manusia berserakan di dekat tebing.
“Itu .. . itu .... eh, apa yang telah terjadi di sini?"
Perempuan tua itu bertanya dengan mata melotot.
Tui Lan terpaksa menceritakan semuanya. Tak satupun
yang terlewatkan kecuali tentang buku dan mustika pemberian
Ang-leng Kok-jin itu. Tui Lan ingin menepati janjinya untuk
tidak memperlihatkan benda-benda itu kepada orang lain,
biarpun kepada gurunya sekalipun. Kepada gurunya, Tui Lan
juga menuturkan kecurigaannya terhadap Giok-bin Tok-ong
yang ketakutan mendengar nama gurunya itu.
"Giok-bin Tok-ong? Dia mengaku sebagai kakek-guru para
iblis ternama dari Ban-kwi-to itu? Ah… yang benar saja!
Berapa kira-kira umurnya sekarang ….?”
“Entahlah, su-bo. Kakek itu masih suka berdandan dan
mematut-matut dirinya sehingga masih kelihatan muda. Tapi
kalau melihat kumis dan jenggotnya yang putih, serta
punggungnya yang sudah membungkuk, dia tentu berusia
lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh tahun."
“Delapan puluh tahunan? Ah, kalau begitu pengakuannya
itu mungkin benar juga. Mendiang Tee-tok-ci itu kira-kira
berumur empat puluh lima tahun. Jikalau Ang-leng Kok-jin itu
berusia enam puluhan tahun, maka kira-kira memang wajar
kalau Giok-bin Tok-ong berusia delapanpuluhan tahun. Di
kalangan mereka memang sudah biasa mengambil murid
selagi masih muda. Tapi, mengapa Giok-bin Tok-ong itu takut
kepadaku? Rasa-rasanya aku belum pernah mengenalnya.
Mendengar namanya pun baru sekali ini. Lain halnya dengan
cucu-cucu muridnya yang sangat terkenal itu……” Pendeta
Palsu dari teluk Po-hai itu berpikir keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Su-bo……kemana saja su-bo mencari teecu tadi malam?
Kenapa su-bo baru menuruni jurang ini sekarang?”
“Anak nakal! Su-bomu mengira kau diculik si Iblis Penyebar
Maut itu, sehingga su-bomu terpaksa mencari kau di kota Sohciu
dan sekitarnya. Dan ketika su-bomu sudah hampir putus
asa, barulah su-bomu teringat akan jurang yang dalam.”
Demikianlah, kedua wanita itu mendaki tebing jurang itu
kembali. Berkali-kali si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai itu
harus membantu muridnya agar mereka dapat segera berada
di atas jurang kembali.
"Tadi malam aku telah menemui Kang-lam Koai-hiap yang
belum sembuh dari luka-lukanya di kota Soh-ciu. Su-bomu
terpaksa menjumpai dia dan para pendekar yang berkumpul di
rumahnya untuk meminta pertolongan mereka mencarikan
kau.” perempuan tua itu berkata kepada Tui Lan setelah
mereka berada di atas jurang kembali.
“Apakah sudah banyak pendekar yang berkumpul di sana,
su-bo?”
"Bukan main banyaknya. Itu saja belum termasuk dengan
para pendekar yang berkeliaran di dalam kota. Dan juga
belum termasuk para pendekar sakti yang datang secara
diam-diam, karena mereka ingin bergerak sendiri-sendiri.”
“Ah…..kalau begitu sungguh kasihan sekali s i Iblis Penyebar
Maut itu,” bibir Tui Lan bergumam tanpa terasa.
“Apa? Tui Lan, kau bilang apa..?” Pendeta Palsu dari teluk
Po-hai tiba-tiba membentak Tui Lan. Matanya mendelik
menahan kesal dan marah.
Gadis itu cepat menundukkan mukanya dengan ketakutan.
Bibirnya yang mungil itu sampai gemetaran ketika menjawab,
”M-m-maaf su-bo…. Tee-cu tidak sadar m-memengatakannya.
T-teecu…. tee-cu…..”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Anak cengeng! Lalu… apa maksudmu berkata demikian
itu? Jawab!” perempuan tua itu menghardik lagi semakin
marah.
Tui Lan menatap gurunya dengan wajah pucat dan hampir
menangis. Air matanya mulai berlinang-linang. "Tee-cu…..Teecu
tidak bermaksud apa-apa. Sungguh. Entah apa
sebabnya….. entah apa sebabnya.... tiba-tiba saja tee-cu
teringat akan ujar atau kata-kata para arif bijaksana zaman
dulu…..yang mengatakan …… yang mengatakan bahwa....... di
empat penjuru lautan itu semua manusia bersaudara! Dan..
dan bayi manusia yang dilahirkan di dunia itu......semua putih
bersih. Tiada cacat—celanya tanpa noda dan dosa. Kalau
toh…kalau toh akhirnya setelah bayi itu menjadi dewasa,
masing-masing mempunyai ‘warna hati’ dan ‘warna kehidupan’
yang berbeda, hal itu…. Hal itu bukan salah mereka. Mereka
terdidik dan terpengaruh oleh lingkungan dan keadaan di
sekitar mereka! Begitu pula halnya dengan …….dengan si Iblis
Penyebar Maut itu! Tentu ada alasannya, kenapa dia sampai
berbuat demikian. Sebab….. sebab diapun juga seorang
manusia pula seperti kita... ,” gadis itu berkata tersendatsendat.
Dapat dibayangkan betapa kesal dan mendongkolnya
perempuan tua itu. Baru saja mereka bertemu lagi, gadis itu
sudah mulai dengan khotbahnya yang menjengkelkan.
"Kurang ajar! Kau ini anak kecil tahu apa tentang
kehidupan? Berapa usiamu sekarang? Berapa banyak
pengalaman hidup yang kau peroleh? Sungguh lancang….!
Kau ini benar-benar seekor anak ayam yang belum mengenal
kerasnya kehidupan, kejamnya dunia, tapi sudah berani
berbicara tentang kehidupan manusia! Jangan kau
persamakan 'dunia Angan-angan’ yang kauperoleh dari dalam
buku itu dengan 'dunia nyata’ yang selalu kita hadapi setiap
hari ini !” perempuan tua itu berteriak-teriak saking marahnya.
“Tapi ......tapi.....” Tui Lan masih juga mau membantah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Diam! Jangan berbicara lagi yang bukan-bukan! Mari kita
sekarang berangkat ke kota Soh-ciu.......I"
Tui Lan tak berani menyanggah lagi. Sambil menyeka air
matanya, gadis itu melangkahkan kakinya mengikuti gurunya.
Mereka menuruni bukit itu dan menyusuri jalan besar yang
membelah dusun-dusun di bawah bukit.
Beberapa orang petani tampak sedang menggarap sawah
ladang mereka, tapi sepanjang jalan itu Tui Lan dan gurunya
tak menjumpai seorang wanita atau gadis sekalipun. Yang
mereka jumpai selalu laki-laki atau anak kecil seakan-akan
dusun-dusun yang mereka lalui itu cuma dihuni oleh laki-laki
dan anak-anak.
Dan suasananyapun tampak aneh, penduduk Kang lam
yang biasa ramah itu kini tampak pendiam dan acuh. Kalau
toh mereka berpapasan, mereka tentu melengos atau purapura
tidak tahu. Anak-anak kecilpun akan segera lari
bersembunyi apabila mereka lewat.
“Lihatlah…..! Penduduk Kang lam yang terkenal ramahtamah
itu kini menjadi gelisah dan ketakutan setiap dilihat
orang asing. Dan tanahnya yang subur makmur itupun kini
menjadi terbengkalai akibat ditinggalkan pemiliknya. Dusundusunnya
yang dulu bersih dan rapi itu kini juga menjadi rusak
dan kotor pula. Nah! Coba kaurenungkan ! Siapa yang
menyebabkan semua itu? Siapa ……?”
“Si Iblis Penyebar Maut….” Tui Lan menjawab seret.
“Nah! Itulah …….!”
“Tapi…… tapi iblis itu belum tentu orang yang telah
membunuh kedua orang tua teecu.”
"Ya, benar. Tapi apa bedanya? Menjadi kewajiban kita
untuk menyingkirkan para perusuh dan penjahat yang
mengganggu rakyat. Seorang pendekar haruslah…..”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi tee-cu bukanlah seorang pendekar....." Tui Lan
memotong.
"Gila! Ya .. sudah! Sudah!” perempuan tua itu berseru kesal
dan jengkel, lalu melangkahkan kakinya lebih cepat lagi
sehingga gadis itu terpaksa berlari-lari kecil mengejarnya.
"Su-bo.!”
Perempuan tua itu berjalan terus tanpa mempedulikan
panggilan muridnya. Tapi langkahnya mendadak terhenti
ketika dari arah depan muncul lima orang lelaki berjalan
tergesa ke arahnya. Dan perempuan tua itu segera memegang
lengan Tui Lan yang menyusul tiba.
"Hati-hati !" perempuan tua itu memperingatkan muridnya.
Kelima orang lelaki itu dengan cepat telah berada di depan
mereka. Langkah kaki kelima orang itu sungguh mantap dan
gesit, dan hampir tidak menimbulkan debu sama sekali,
sehingga sekali pandang saja setiap orang akan tahu bahwa
mereka adalah tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi.
''Ah, kiranya Kong-tong Ngo-hiap (Lima Pendekar Dari Kong
tong) yang datang .. !” Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu
menyambut kedatangan orang-orang itu dengan gembira.
"Bagaimana khabarnya pertemuan di lembah itu tadi malam?
Apakah kita telah mendapatkan cara untuk menangkap iblis
itu?"
"Hei! Rupanya lo-ni (pendeta wanita) telah menemukan
kembali anak gadis yang hilang itu!" orang tertua dari Kongtong
Ngo-hiap itu menyapa pula dengan ramahnya. Matanya
menatap Tui Lan dari ujung kepala sampai keujung kaki,
seolah-olah ingin bertanya, kemana saja gadis itu tadi malam
sehingga gurunya sampai kebingungan setengah mati.
“Dia berada di dalam jurang dibawah bukit itu !”
perempuan tua itu cepat menerangkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kong-tong Ngo-hiap itu saling berpandangan satu sama
lain, kelihatannya ada sesuatu yang mereka pikirkan. Kelima
orang itu adalah kakak beradik seperguruan dari Aliran kong
tong-pai di Kong-tong-san. Dan secara kebetulan pula mereka
berlima adalah saudara sekandung. Masing-masing berusia
antara tiga puluh lima sampai empat puluh lima tahun. Dan
mereka itu adalah putera sekaligus murid-murid utama dari
Kong-tong Cin jin atau Ketua Kong-tong-pai sekarang. "jadi
….jadi… lo-ni yang berada di jurang itu pagi tadi?"
“Eh…. ataukah masih ada orang yang lain lagi di sana?
Hmm…..begini, lo-ni. Jangan kaget..! Tadi pagi salah seorang
dari para pendekar telah mendengar suara letusan di dalam
jurang itu. Ketika ia mencoba turun ke sana, dia melihat
bayangan seseorang di tempat yang gelap itu. Dia tak berani
melihat sendiri, oleh karena itu ia melaporkannya kepada Kang
Lam Koai-hiap. Kemudian Kang Lam Koai-hiap memerintahkan
ayahku untuk memeriksanya. Dan ayahpun lalu mengerahkan
kami semua…. Dan itulah sebabnya kami berada disini
sekarang.” Ji Tai lm, orang tertua dari Kong-tong Ngo-hiap itu
berkata lagi.
"Kang Lam koai-hiap…..? Dia memberi perintah kepada
Kong-tong Cin Jin….?” Si Pendeta Palsu dari Teluk po-hai
memotong tak mengerti.
"Ah, maaf ... kami belum memberitahukan hasil dari
pertemuan kita tadi malam kepada lo-ni.” tiba-tiba Ji Tai Jiang,
orang kedua yang bersuara lantang dan keras, menyela
percakapan tersebut. ''Sam-te (Adik ketiga), coba kauceritakan
sekali lagi kepada lo-ni tentang pertemuan kita tadi malam
agar beliau ini tidak bingung!” sambungnya lagi seraya
menoleh ke arah Ji Tai Song, pendekar yang paling pandai
dan berbakat di dalam Kong-tong Ngo-hiap.
Ji Tai Song, yang berusia empat-puluh tahun dan berbadan
tegap itu tersenyum menganggukkan kepalanya. “Lo-ni ! Di
dalam pertemuan malam tadi telah diputuskan untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengangkat Kang Lam Koai-hiap sebagai pemimpin umum di
dalam perburuan ini. Meski Kang Lam Koai-hiap bukanlah
orang terpandai atau yang tertua diantara kita, apalagi dia
belum sembuh dari lukanya namun semua pendekar telah
satu-padu dan bersepakat untuk mengangkatnya sebagai
pemimpin. Hal itu kita lakukan demi untuk menghormatinya
dan menghargainya sebagai tuan rumah yang paling
berkepentingan di dalam urusan ini. Semula orang tua itu
memang menolaknya. Tapi kami semua segera mendaulatnya,
sehingga dengan berat hati dia terpaksa menerimanya pula,"
katanya halus dan teratur.
"Oh...... jadi itukah sebabnya dia berani memberi perintah
kepada Kong-tong Cin-jin yang berkedudukan tinggi itu?” Si
Pendeta Palsu Dari teluk Po-hai tersenyum maklum.
"Tidak cuma ayahku yang harus tunduk oleh perintahnya.
Masih ada ketua partai persilatan lagi yang bernasib sama
dengan ayahku. Namun kami semua itu memang sudah kami
kehendaki sendiri, semuanya tidak menjadi sakit hati
karenanya…..” Ji Tai song tersenyum pula diikuti oleh saudarasaudaranya.
"Tiga ketua partai persilatan? Siapa sajakah mereka itu?”
Pendeta Palsu Dari Teluk po-hai menegaskan.
"Mereka itu adalah ketua-ketua partai persilatan Tai-khekpai,
Ngo-bi-pai dan Tiam-jong-pai."
''Hei? Ketua Tiam-jong-pai .... hek-pian-hok Bi bun Ting (Si
Kelelawar Hitam) itu juga datang?” Pendeta Palsu dari Teluk
Po-hai itu berseru girang.
"Benar. Beliau datang bersama-sama dengan ketua Ngo-bipai,
Ang-kin Siu Li (Bidadari Berselendang Merah)."
“Oh ... dia juga datang?" tiba-tiba wajah Pendeta Palsu itu
menjadi gelap kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kong-tong Ngo-hiap merasa sangat heran melihat
perubahan wajah lawannya. Tapi, mereka berlima tidak ingin
mencampuri urusan pribadi orang lain. Oleh karena itu mereka
berlima tidak mau menanyakan terlebih lanjut. Sebaliknya, Ji-
Tai Song malah meneruskan ceritanya.
"Lo-ni......! Oleh Kang Lam Koai Hiap kita semua dibagi
menjadi lima rombongan, agar supaya para pendekar yang
banyak jumlahnya dan belum saling mengenal itu tidak
menjadi ribut atau saling gasak sendiri di dalam menjalankan
tugasnya nanti. Dan setiap rombongan itu juga telah
memperoleh daerah-daerah sendiri dalam tugasnya.
Sementara di dalam operasinya nanti, setiap rombongan itu
masih dibagi-bagi lagi menjadi beberapa kelompok, dimana
masing-masing pemimpin kelompok itu harus sudah saling
mengenal satu sama lain.”
“Ah…… begitu rapinya!” si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai
berdecak kagum.
“Tentu saja, lo-ni. Selain itu setiap rombongan dan setiap
kelompok juga memiliki tanda pengenal dan kata-kata sandi
tersendiri, sehingga bentrokan dan salah tangkap diantara kita
sendiri dapat dihindari.”
“Wah…..kalau begitu aku masuk rombongan yang mana?"
Si Pendeta PaIsu dari Teluk Po-hai bertanya bingung.
"Sebaiknya lo-ni menghubungi sahabatmu dari kelima
rombongan itu. Lo-ni bisa menghubungi pimpinannya.
Rombongan pertama dipimpin sendiri oleh Kang Lam Koaihiap.
Rombongan kedua dipimpin oleh Ketua Tai-khek-pai
Ouw Yang Su. Rombongan ketiga dipimpin oleh Ketua Tiamjong-
pai, Hek-pian hok Li Bun Ting. rombongan ke empat
dipimpin oleh Ketua Ngo-bi-pai, Ang kin Siu-li Siauw Hong Li.
Dan rombongan terakhir dipimpin oleh ayahku sendiri, Kongtong
Cin-jin." Ji Tai Im memberikan pandangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tetapi.....yang lebih baik lo-ni menghubungi Kang Lam
Koai-hiap saja. Sebab selain dia itu menjabat sebagai
pimpinan umum, dia bisa mencarikan rombongan yang cocok
buat lo-ni nanti.” Ji Tai Song yang cerdik itu menyela.
“Ya! Agaknya pendapat adikku tadi memang benar,” Ji Tai
Im cepat mengiakan kata-kata adiknya.
“Dimana aku bisa menemui Kang lam Koai-hiap?”
''Dia berada di dalam kota, di rumah muridnya, yang kini
telah disulap menjadi 'markas' para pendekar....”
“Baiklah! Kalau begitu kami mohon diri untuk menemui
Kang lam Koai-hiap,” Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai
memberi hormat dan menarik lengan Tui Lan untuk pergi
meninggalkan tempat itu.
Demikianlah guru dan murid kembali menyusuri jalan yang
menuju ke kota Soh-ciu. Semakin dekat dengan kota. semakin
sering pula mereka berjumpa dengan para pendekar yang
mengambil bagian dalam "perburuan' itu.
"Su-bo, demikian banyaknya pendekar-pendekar persilatan
yang hadir, tapi kenapa tak satupun terdengar para pemimpin
Im-Yang-kauw kita?” Tui Lan tiba-tiba bertanya kepada
gurunya. "Bukankah dahulu su-bo pernah bercerita bahwa di
kuil Pusat kita terdapat tokoh-tokoh sakti yang mempunyai
kesaktian seperti dewa?''
"Wah, engkau ini benar-benar ceroboh sekali! Tentu saja
beliau-beliau itu tidak mempunyai minat sama sekali terhadap
urusan-urusan seperti ini. Beliau-beliau itu cuma memikirkan
masalah keagamaan saja setiap harinya. Lain tidak …..”
"Tapi su-bo pernah bercerita, bahwa beberapa orang
diantara mereka itu pernah menggegerkan persilatan
beberapa tahun yang lalu. Misalnya . … sesepuh kita yang
bergelar Lo-Jin-ong atau Toat-beng-jin (Manusia Pencabut
Nyawa) itu! kata su-bo, beliau itu bersama dengan Kauw-cu-si
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
(Pengurus Keagamaan Pusat) yang bernama Tong Ciak,
pernah malang-melintang di dunia kang-ow tanpa lawan.…..”
"Ah, itu kan dulu ! beliau itu keluar kuil karena masalah
agama atau urusan kita. Beliau itu terpaksa keluar oleh karena
telah terjadi bentrokan antara pengikut aliran kita dengan para
pengikut aliran Beng kauw dan Mo-kauw!”
Tui Lan mengerutkan keningnya. “Su-bo, apakah kedua
aliran kepercayaan itu juga mempunyai tokoh-tokoh sakti pula
sehingga mereka itu berani melawan kita?"
"Kau ini bodoh benar! Tentu saja mereka itu mempunyai
tokoh-tokoh sakti pula. Kalau tidak, masakan mereka berani
bentrok dengan kita?"
"Siapa sajakah mereka itu, su-bo ?” gadis itu mendesak
dengan nada sedikit memaksa.
"Aaaah .….kau ini mau apa bertanya tentang mereka? Mau
mengajak berkelahi? Jangan mengada-ada!" Si Pendeta Palsu
Dari Teluk Po-hai itu membentak Tui Lan, namun bibirnya
tampak sedikit tersenyum.
"Bukan begitu, su-bo….” Gadis itu merajuk dengan mulut
cemberut. "Tee-cu memang tidak suka berkelahi tapi tee-cu
sangat mengagumi keperwiraan dan kesaktian seseorang,
yang digunakan untuk mencipta kebalkan dan kedamaian
dunia seperti beliau-beliau itu..........."
"Omong kosong! Siapakah yang mencipta kedamaian dan
kebaikan melalui bentrokan dan perkelahian yang membawa
korban jiwa? Siapa.......?”
“Ah ….. semua itu hanya karena salah paham saja! Tak
sebuahpun agama yang menganjurkan pertumpahan darah di
dunia ini. Apalagi beliau-beliau itu adalah penganut dan
pengurus agama yang tekun. Tak mungkin rasanya kalau
mereka itu menjadi lalai dan terhanyut ke dalam arus buruk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang tak mereka kehendaki sendiri." Tui Lan cepat
menyanggah.
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu terperangah,”Nah!
Kau sudah mulai dengan khotbahmu lagi!" hardiknya kaku.
Tui Lan menjadi kaget pula. "Oh, maafkan tee-cu, su-bo!”
pintanya cepat.
Mereka lalu berdiam diri. Perempuan tua itu mempercepat
langkahnya, sehingga Tui Lan terpaksa mengikutinya pula.
Dan gadis itu sudah tidak berani pula untuk bertanya-tanya
lagi. Keinginannya untuk mengetahui tokoh-tokoh tingkat
tinggi itu dipendamnya saja didalam hati.
Beberapa waktu kemudian tembok kota Soh-ciu telah
terlihat di depan mata mereka. Bangunannya yang tinggikokoh
mengelilingi kota itu tampak megah dan perkasa,
meskipun dinding-dindingnya telah berwarna kehitaman
dimakan jamur. Pintu gerbangnya yang luar biasa besar itu
dicat dengan warna merah tua, meskipun di beberapa tempat
juga telah luntur dimakan usia tua pula. Parit dalam dan lebar
yang digali mengelilingi tembok itu tampak penuh dengan air,
sehingga sepintas lalu bagaikan sebuah sungai yang mengalir
mengitari kota Soh-ciu.
Tui Lan dan gurunya melintasi jembatan gantung yang
melintang di atas parit itu. Banyak orang lalu-lalang melewati
jembatan itu, namun tak seorang wanitapun yang mereka lihat
selain mereka sendiri, sehingga kedatangan mereka itu benarbenar
menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka,
apalagi wajah Tui Lan yang cantik menarik itu benar-benar
merupakan sebuah pemandangan yang menyegarkan mata.
Pintu gerbang itu dijaga oleh enam orang perajurit
bersenjata tombak, mata mereka segera melotot begitu
melihat Tui Lan datang. Empat orang diantara mereka segera
mencegat langkah gadis itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Berhenti sebentar! Nona siapa dan datang dari mana?
Apakah nona tidak tahu kalau kota ini sedang dilanda
kerusuhan? Mengapa nona datang kemari?” salah seorang
bertanya. Wajahnya yang kasar itu tampak berkeringat,
sementara tombaknya yang panjang itu dilintangkan di depan
Tui Lan.
Tui Lan berhenti dan melirik ke arah gurunya yang berdiri
tak jauh darinya.
“Terima kasih! Cu-wi tak usah mengkhawatirkan nasib kami
berdua. Kedatangan kami kemari sekali ini justru hendak
menengok atau melihat-lihat kerusuhan itu. Kami berdua ingin
melihat macam apa Si Iblis Penyebar Maut yang ditakuti orang
itu. Nah .... bolehkah kami lewat sekarang?" gadis itu berkata
dengan tenang dan halus.
Para penjaga itu tersentak kaget. Begitu pula dengan
orang-orang yang tanpa sengaja berhenti memperhatikan
mereka. Semua orang malah menjadi gelagapan melihat
ketenangan gadis cantik itu dan semua orang itu baru menjadi
sadar tatkala gadis dan gurunya itu tiba-tiba telah lenyap dari
tempat mereka!
Para penjaga itu melongo dan membalikkan badan mereka.
Dan mereka melihat gadis cantik itu telah melangkah
memasuki kota bersama perempuan tua itu. Semuanya benarbenar
tidak tahu cara bagaimana kedua wanita itu lewat dari
depan mereka. Semuanya hanya melihat perempuan tua itu
berkelebat cepat ke depan, seperti menyambar ke arah gadis
cantik itu, dan kemudian hilang lenyap dari pandangan
mereka.
"Uh! Ternyata…. ternyata mereka berkepandaian tinggi!''
penjaga itu bergumam kecewa malah, karena tak bisa
menggoda gadis yang sangat menarik hatinya itu.
“Ya! Untunglah gadis itu tidak menjadi marah…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Itulah kalau kita melupakan pesan pimpinan. Bukankah
Han Cian-bu kemarin telah memperingatkan kita semua, agar
berhati-hati menghadapi orang-orang yang berdatangan ke
kota kita? Dalam beberapa hari ini kota Soh-ciu dibanjiri para
pendekar dari seluruh negeri. Kita tidak boleh sembrono
menghadapi mereka."
"Ya. Tapi siapa yang tak terpikat dengan gadis secantik
dia? Sudah beberapa hari kita cuma melihat lelaki melulu…. "
penjaga yang pertama tadi membela diri.
Sementara itu Tui Lan dan gurunya telah jauh
meninggalkan mereka.
“Su-bo, kemanakah kita sekarang?” gadis itu bertanya
kepada gurunya setelah beberapa saat lamanya mereka
berjalan di dalam kota.
“Kita makan dahulu. Nah, di seberang jalan itu ada
restoran! Mari kita ke sana!"
Sekali lagi kedatangan mereka didalam restoran itu telah
menarik perhatian semua orang. Selain Tui Lan itu memang
sangat cantik, di dalam ruangan yang penuh pengunjung itu
memang tiada wanita lain selain mereka berdua. Namun
demikian perempuan tua itu tenang-tenang saja ketika
mengajak Tui Lan duduk di kursi yang tersedia.
Tui Lan melirik ke sekitarnya. Dilihatnya semua mata
memandang ke arah dirinya, sehingga diam-diam ia menjadi
kikuk juga.
“Su-bo, semua orang memandang ke arah kita,” bisiknya
perlahan kepada gurunya.
“Siapa bilang? Lihat ke belakangmu! Pemuda itu sama
sekali tak menggerakkan kepalanya meskipun kita duduk di
dekatnya.” Pendeta Palsu dari teluk Po-hai itu mencibirkan
mulutnya ke arah belakang Tui Lan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tui Lan menoleh sekejap. Tapi waktu yang hanya sekejap
itu telah lebih dari cukup bagi Tui Lan untuk mengetahui s iapa
yang duduk di belakang dirinya. Seorang pemuda tinggi kurus,
sangat kurus sekali malah, tampak sedang menghadapi cawan
kecil yang penuh berisi arak hangat. Di atas mejanya terletak
dua guci arak yang kelihatannya telah habis isinya.
Sebenarnya wajah pemuda itu sangat tampan. Namun
karena terlalu kurus serta kurang terawat dengan baik, maka
wajah itu tampak pucat seperti orang yang baru menderita
penyakit berat. Apalagi kulit di sekitar matanya yang tajam
luar biasa itu tampak kehitam-hitaman, seakan-akan pemuda
itu tidak pernah tidur selama berhari-hari. Dan pemuda itu
hanya duduk sendirian di mejanya.
Pelayan rumah makan itu datang mendekati Tui Lan dan
mencatat masakan yang dipesan oleh gadis itu dan gurunya.
"Nona, rombongan pemuda yang ada di dekat pintu itu
mengundang nona untuk makan bersama kalau mau...."
pelayan itu tiba-tiba berbisik kepada Tui Lan. Jari tangannya
menunjuk ke arah pintu dimana empat orang pemuda yang
sedang memandang dan tersenyum ke arah mereka.
“Hmm, kurang ajar ….!” Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai
menggeram namun cepat-cepat ditahan oleh Tui Lan.
"Su-bo jangan lekas marah! Kita tak perlu melayani
kekurang-ajaran mereka.” gadis itu membujuk gurunya seraya
tersenyum.
"Tapi orang itu terlalu menghinamu! Dikiranya kau ini gadis
apa? Huh!” Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu tetap
mengomel.
“Sudahlah, Su-bo! Bersabarlah. Kita tak perlu melayani
segala macam lelaki seperti mereka! Itu hanya akan
merendahkan martabat kita sendiri nanti. Tujuan kita kemari
adalah untuk makan lalu mencari Kang Lam Koai-hiap. Yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lain tak usah kita pikirkan!" Tui Lan terus saja menenangkan
hati gurunya.
Gadis itu lalu berkata kepada pelayan yang masih berdiri
gemetar di dekatnya. "Nah, katakan kepada mereka bahwa
aku sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk melayani kelakar
mereka ! Begitu! Dan…. eh, ya ….kau tahu rumah Kang Lam
Koai-hiap di kota ini?”
"Ya ......... ya, saya tahu, kouw-nio (nona). Rumahnya
berada di ujung jalan ini! Apakah kouw-nio ini keluarganya?”
pelayan itu bertanya semakin ketakutan.
Tui Lan tidak mengacuhkan pertanyaan pelayan itu.
Sebaliknya gadis itu merogoh sekeping uang tembaga dari
dalam sakunya, dan memberikannya kepada pelayan itu.
"Nah, kau pergilah sekarang.... !” perintahnya halus.
"Terima kasih! Terima kasih!" pelayan itu mengucapkan
terima kasih dengan membungkukkan tubuhnya berulangulang,
lalu cepat-cepat pergi meninggalkan Tui Lan dan
gurunya yang galak itu. Di dekat pintu pelayan itu berhenti
lalu mengatakan pesan Tui Lan tadi kepada rombongan
pemuda yang telah menunggunya. Dan pelayan itu segera
pergi ketika tamu-tamunya itu menjadi marah.
“Siapa yang berkelakar? Kurang ajar.... !" salah seorang di
antaranya berdiri sambil menggebrak meja. “Kami
mengundangnya secara baik-baik! Siapa bilang para pendekar
Tai-khek-pai suka berkelakar?" serunya penasaran.
Klinting.....! klinting….klinting ..,.... !
Selagi para tamu di dekat pintu itu menjadi ribut melihat
ulah pendekar Tai-khek-pai tersebut, tiba-tiba di luar halaman
terdengar kelintingan kuda mendatangi. Dan sebentar
kemudian seorang pemuda tampan berpakaian bagus dan
mahal memasuki restoran tersebut. Seorang bocah tanggung
berpakaian sederhana, yang agaknya adalah seorang pelayan
atau kacung, tampak membuntuti di belakangnya. Dua buah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangannya menjinjing barang-barang bawaan pemuda tampan
tersebut.
Pemuda itu menoleh kesana-kemari mencari tempat duduk.
Pelayan restoran cepat menyambutnya. Tapi serentak terlihat
oleh pemuda itu wajah Tui Lan yang cantik kakinya segera
melangkah mendekati.
“A Cang….Beli meja ini!" pemuda itu berbisik kepada
kacungnya seraya menunjuk meja pemuda kurus tadi.
Bocah tanggung itu cepat menghubungi pelayan restoran
yang menyambutnya tadi. Dikeluarkannya uang setengah tail
perak dari kantung uang yang dibawanya.
“Nih, uang setengah tail! Terimalah,... ! Tapi tolong
kaukosongkan meja di belakang gadis cantik itu karena
majikanku hendak memakainya! Cepat!'' katanya berlagak
seperti orang besar.
Tentu saja pelayan restoran itu melongo melihat uang
sebanyak itu. Uang sebanyak itu bisa untuk makan tiga atau
empat orang di restorannya. Tapi perintah itu sungguh sulit
dilaksanakan. Bagaimanapun juga tak mungkin ia mengusir
tamu yang belum selesai menikmati makanannya.
"Ini........ ini .... oh, bagaimana ini..?” pelayan itu berdesah
gugup seraya memandangi uang perak yang ada di telapak
tangannya.
Kacung itu tersenyum acuh, lalu mendekati tuannya
kembali. Dan pemuda tampan itu sendiri tampak sedang
pasang aksi di belakang Tui Lan. Sambil mengipasi tubuhnya
dengan kipas sutera yang mahal, pemuda kaya itu sebentar
sebentar mematut-matut pakaian yang dikenakannya. Berkalikali
matanya melirik kepada Tui Lan.
"Brengsek benar anak-anak muda sekarang!" Si Pendeta
Palsu Dari Teluk Po-hai ini mengomel lagi dengan kesal
melihat lagak s i kaya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu si pelayan restoran masih tetap salah tingkah
dan kebingungan. Sambil mendekati pemuda kurus yang
sedang menikmati araknya itu ia mengeluh panjang-pendek.
"Ini...., ini…... wah, bagaimana ini? Aku......... aku......"
Tiba-tiba si pemuda kurus itu berdiri dari kursinya. Sekilas
matanya menyambar ke arah Tui Lan dan pemuda kaya itu.
Kemudian mulutnya yang sejak tadi diam itu berkata kepada si
pelayan restoran,”Jangan bingung menerima uang sebanyak
itu! Kebetulan aku juga sudah tidak berselera lagi untuk
meneruskan minumku. Aku akan pergi. Nih, akupun dapat
memberimu uang pula! Terimalah !"
Pemuda kurus itu melangkah pergi. Tangannya
melemparkan uang setengah tail pula kepada pelayan itu.
Bukan perak, tapi ….emas!
"Hah? Ini........? Tuan, ini……?" pelayan itu terbelalak, lalu
pingsan. Tangannya masih tetap mencengkeram uang emas
itu! Uang emas yang nilainya dapat untuk membayari semua
tamu yang sedang makan-minum saat itu!
Untuk beberapa saat tempat itu menjadi ribut. Para pelayan
yang lain segera berdatangan menolong pelayan itu. Mereka
menggotongnya ke ruangan dalam, sementara para tamu
yang lain segera duduk kembali di tempat masing-masing.
Dan si pemuda kaya itu mempergunakan kesempatan tersebut
untuk mengambil alih meja si pemuda kurus tadi.
"Hei ! Hei.. . ! Enak saja duduk di tempat orang! Kami telah
menungguinya sejak tadi. Ayoh! Sllahkan mencari meja yang
lain!” mendadak para tamu itu dikejutkan lagi oleh suara
bentak orang.
Semua mata tertuju ke bekas meja si kurus lagi. Di sana
terlihat si pemuda kaya itu telah dikepung oleh empat orang
Pendekar Tai-khek-pai tadi. Tapi pemuda itu sendiri masih
tampak tenang-tenang saja di kursinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sungguh menyebalkan!" Si Pendeta Palsu Dari Teluk Pohai
yang menyaksikan ulah anak-anak muda di depannya itu
menggerutu kesal.
Tui Lan menundukkan mukanya yang kemerah-merahan.
Namun di dalam hatinya ada juga perasaan bangga, karena
dirinya menjadi pusat perhatian orang orang itu, bahkan
secara tidak langsung menjadi rebutan malah. Mereka
berlomba-lomba mendekatinya dan berlomba-lomba menarik
perhatiannya.
Sementara itu "perang dingin" yang terjadi di belakang
dirinya semakin menjadi panas juga! Rombongan pemuda
yang mengaku sebagai pendekar-pendekar dari Tai-khek-pai
itu sudah mulai membentak dan menggebrak meja lawannya!
Meskipun demikian si pemuda kaya dan kacungnya itu
ternyata masih tetap tenang-tenang saja di tempatnya.
“Anak manis! Kau jangan mentang-mentang mengandalkan
uangmu yang banyak itu untuk berbuat seenakmu di sini. Ini
bukan rumah nenekmu! Ini tempat umum, tahu?”
Si pemuda kaya itu akhirnya mengerutkan dahinya.
Lambat-laun ia menjadi risih dan marah juga. Namun
demikian tampaknya ia masih belum mau melayani para
pengganggunya. Sambil menghela napas ia menoleh kepada
kacungnya.
"A Cang! Aku baru enggan berbicara dengan orang lain.
Wakililah aku melayani orang-orang dari hutan ini! Terserah
kepadamu, apa yang hendak kaulakukan terhadap mereka!
Kaulempar ke halamanpun juga boleh!”
"Baik, siauw-ya (tuan muda)... " Bisa dibayangkan,
bagaimana marahnya keempat pendekar Tai-khek-pai itu.
Mereka adalah murid-murid utama Ouw-yang Su, pendekar
kenamaan yang kini menjabat sebagai Ketua Tai-khek-pai di
Siong-san. Belum pernah mereka menerima hinaan serupa itu.
“Bangsat keparat! Kau sudah bosan hidup rupanya!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Salah seorang dari empat pendekar Tai-khek-pai itu yang
sejak tadi selalu mengumpat-umpat dan marah-marah tibatiba
menendangkan kakinya ke arah meja si pemuda kaya itu!
Tapi bersamaan dengan itu si kacung juga melintangkan
kakinya di depan meja tersebut. Maka tak dapat dicegah lagi
kedua kaki mereka lantas beradu satu sama lain! Bresssss !
“Aduuuuuuuuuh!” pendekar Tai-khek pai itu berteriak
setinggi langit. Tubuhnya berputar-putar sambil terpincangpincang
sementara kedua tangannya berusaha memegangi
kakinya yang sakit.
Sebaliknya kacung yang
bernama A Cang itu kelihatan
tersenyum simpul ditempatnya.
Dengan lagak yang kocak ia
membungkuk, lalu menyibakkan
pipa celananya. Dan semua
orang segera melihat sarung
pedang yang terbuat dari besi
terselip di sana. Benda itulah
yang membikin pendekar Taikhek-
pai tadi melolong-lolong
kesakitan.
"Kurang ajar! Kau anak kecil bermain curang!" pendekar
Tai-khek-pai yang lain segera melabrak kacung itu.
"Hei! Hei! Kenapa kalian mengeroyokku? Sungguh tidak
punya malu! Kalau berani …..satu lawan satu, dong!'' kacung
itu menjerit-jerit seraya mengelak dan berputaran mengelilingi
tuannya.
“Sam-wi su-heng (su-heng bertiga) lepaskan monyet itu
untukku. Biar aku saja yang meremukkan tempurung
kepalanya!" pendekar yang kesakitan kakinya tadi berteriak.
“Cap-sute(adik ke sepuluh), berhati-hatilah .. ! Bocah ini
ternyata berisi juga!” ketiga orang Tai-khek-pai yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengejar-ngejar A Cang itu berteriak pula, lalu berhenti. Dan
dibiarkannya saja kacung itu berhadapan sendiri dengan adik
seperguruan mereka.
Sementara itu mereka bertiga lalu mengepung si pemuda
kaya, yang masih enak-enakan duduk di kursinya. Suasana
menjadi tegang. Para tamu yang duduk berdekatan dengan
tempat itu segera menyingkir, termasuk Tui Lan dan gurunya.
Perempuan tua itu hampir saja tidak bisa mengendalikan
kemarahannya. Untunglah Tui Lan dengan cepat bisa
mengekangnya.
"Su-bo, marilah kita mencari kursi yang lain saja di pojok
sana!" Gadis itu membujuk seraya menarik lengan gurunya.
"Hitung-hitung kita menonton sebuah pertandingan silat
secara gratis........"
"Hmm.... mau menonton atau ingin menghindari
kekerasan? Kalau ingin menonton........ ya, di sini dong!
Dekat!” perempuan tua itu mengikuti langkah muridnya seraya
mengejek.
"Ah, su-bo ini .......sudah tua senangnya cuma bertengkar
melulu!" Tui Lan menggerutu.
Tapi sebelum pertempuran itu benar-benar meletus, dari
ruangan dalam tiba-tiba muncul si pemilik restoran sambil
menjerit-jerit.
“Tahan! Jangan berkelahi! Jangan berkelahi! Jangan
rusakkan rumah makanku! Silahkan cu-wi keluar saja kalau
ingin berkelahi….!”
Tubuh yang gemuk itu menghambur keluar dan menerjang
ke arah arena. Namun dengan sigap si pemuda kaya itu
bangkit menahannya. Kemudian pemuda itu mengeluarkan
uang satu tail emas dari sakunya.
"Sssst! Jangan ganggu permainan ini ! Aku sudah terlanjur
berminat untuk menikmatinya. Nih, uang satu tail emas! Uang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini dua kali lipat pemberian si kurus yang sombong tadi bukan
? Simpanlah. Tapi biarkanlah pertunjukan ini terus
berlangsung, kukira uang itu lebih dari cukup untuk mengganti
seluruh perabotan rumah-makan ini. Bagaimana ...?”
'Oh, terima-kasih! Terima kasih.. !” pemilik rumah makan
itu tiba-tiba tertawa kemudian melangkah mundur dengan
mengangguk-angguk.
"Nah, A Cang ...... teruskan permainanmu! Lemparkan
orang hutan itu keluar halaman!" si pemuda kaya itu lalu
berseru ke arah kacungnya.
"Baik, siauw-ya.......!” A Cang menjawab gembira.
“Keparat! Kubunuh kau, haram jadah !” lawan si A Cang
menggeram dan menyerang.
Orang itu adalah murid termuda dari Ouw-yang Su yang
berjumlah sepuluh orang. Wataknya berangasan dan suka
berkelahi. Sebenarnya sebagal murid ketua partai persilatan
terkemuka, kepandaiannya cukup tinggi. Namun karena terlalu
sering bertindak sembrono dan kurang waspada, maka dia
sering memperoleh kesulitan apabila berhadapan dengan
musuh yang setingkat atau lebih tinggi kepandaiannya.
Begitu pula halnya dengan ketiga su-hengnya yang kini
sedang mengepung si pemuda kaya itu. Sebagai murid Ouwyang
Su yang nomer tujuh, delapan dan sembilan, kepandaian
mereka itu juga cukup tinggi. Lebih tinggi dari pada murid
yang kesepuluh itu malah. Namun karena mereka bertiga itu
juga masih terlalu muda pula, apalagi mereka itu juga terlalu
membanggakan kesohoran guru mereka maka keadaan
mereka juga tidak berbeda dengan adik seperguruan mereka
itu.
Sebaliknya, kacung itu meskipun masih sangat muda, tapi
sikap dan pembawaannya ternyata lebih tenang dan berhatihati
dibandingkan lawannya. Oleh karena itu biarpun ilmu silat
yang dikeluarkannya itu biasa-biasa saja tapi kenyataannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia bisa melayani semua gebrakan lawannya dengan baik.
Malahan sering kali dengan ketenangannya itu dia bisa
mencuri kesempatan untuk mendahului musuhnya. Akibatnya
bisa diduga, murid ke sepuluh dari Tai-khek-pai itu sering
kecolongan sebuah pukulan atau tendangan. Memang tidak
begitu telak, namun hal itu sudah membikin pendekar Taikhek-
pai itu semakin marah dan penasaran!
Tentu saja ketiga su-hengnya semakin terbakar melihat
keadaan itu !
“Bangsat! Siapakah sebenarnya kau ini?” murid yang ke
tujuh menggeram dan membentak ke arah lawannya, si
pemuda kaya itu. "Kulihat kau tidak mengenakan tanda-tanda
yang diberikan oleh Kang Lam Koai-hiap, Apakah engkau Si
Iblis Penyebar Maut itu hah?”
Pemuda kaya itu tiba-tiba tertawa panjang.
“Hahaha .... siasat kuno! Kau sungguh cerdik sekali! Melihat
keadaan adikmu yang tidak menguntungkan itu kau lantas
menuduh orang seenaknya untuk mencari dukungan orang
luar, haha..........!”
“Diam! Kalau kau memang bukan Si Iblis Penyebar Maut
itu, hayo..... katakan kepada kami! Siapakah kalian ini?"
“Nah , pertanyaan itu baru patut untuk dijawab. Tapi........
benahilah dulu hatimu sebelum mendengarkan jawabanku,
agar engkau tidak menjadi kaget atau ….ketakutan. Hahahaha
….!"
"Bangsat sombong! Lekas katakan !”
Pemuda kaya itu tertawa lagi dengan pongahnya. Lalu
serunya kepada A Cang yang sedang bertempur melawan
musuhnya,”A Cang.......! Coba sebutkan namaku di depan
mereka!"
Kacung itu juga tertawa seperti tuannya. Kemudian untuk
sesaat ia mendesak lawannya dengan pukulan dan tendangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berganda, sehingga pendekar Tai khek-pai itu terpaksa
meloncat mundur menjauhi. Dan kesempatan itu
dipergunakan oleh A Cang untuk melaksanakan perintah
tuannya.
'Majikanku ini putera keluarga Tiauw dari Lautan Timur!
Beliau bernama..... Kiat Su! Di dunia kang-ouw beliau digelari
orang Kim-mou-eng (Rajawali Berbulu Emas) !" teriaknya
keras sekali.
Untuk beberapa saat nama itu memang sangat
mengejutkan para pengunjung rumah-makan itu, terutama
jago-jago dari Tai-khek-pai tersebut. Namun bukan nama si
pemuda itu yang mengejutkan mereka, melainkan
disebutkannya nama Keluarga Tiauw dari Lautan Timur itulah
yang sangat mengagetkan mereka !
Nama Keluarga Tiauw sangat tersohor di dunia kang-ouw,
terutama di pantai laut Timur, karena nama itu adalah nama
keluarga raja perompak, yang ditakuti dan berkuasa di seluruh
Lautan Timur. Tidak seorangpun yang tidak mengenal nama
Tung-hai-tiauw (Rajawali Laut Timur) yang sangat ganas dan
kejam itu!
"Kau.... kau she Tiauw? Apakah kau masih mempunyai
hubungan keluarga dengan Tung-hai-tiauw?” Salah seorang
dari pendekar Tai-Khek itu menegaskan, suaranya mulai
goyah.
“Beliau adalah ayahku!" Tiauw Kiat Su menjawab dengan
suara galak. Lalu katanya lagi dengan nada mengejek, ”nah
..., apa kataku! Kalian mulai ketakutan, bukan?”
"Kurang ajar! Siapa yang takut kepadamu? Sam-wi suheng,
bunuh bocah sombong itu!” lawan A Cang berteriak
berang, kemudian menyerang kacung itu lagi.
"Bagus! Siapa takut kepada sampah masyarakat seperti
ayahmu? Lihat serangan!” pendekar ke tujuh dari Tai-khek-pai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membentak, lalu menyerang Tiauw Kiat Su. Otomatis kedua
adik seperguruannya ikut menyerang juga.
Demikianlah, pertempuran itupun tak dapat dielakkan lagi.
A Cang menghadapi murid termuda dari Tai-khek-pai
sementara Tiauw Kiat Su melawan keroyokan tiga orang suhengnya.
Dalam gebrakan pertama itu masing-masing pihak
belum mempergunakan senjata mereka. Masing-masing baru
mempergunakan ilmu silat tangan kosong mereka.
Tai-khek-pai mengandalkan Tai-khek-kun mereka yang
terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Yaitu suatu ilmu pukulan
yang didasarkan atas keuletan dan kedalaman Iwee-kang
pemiliknya. Semakin tinggi dan semakin dalam lwee-kang
pemiliknya, maka semakin dahsyat pula pengaruh ilmu itu atas
lawannya. Gerakan-gerakannya sangat halus dan selalu
diawali dengan gerakan orang bersemadi, sehingga ilmu itu
mempunyai pengaruh yang kuat dan menghanyutkan
lawannya.
Sebaliknya ilmu silat Tiauw Kiat Su dan Kacungnya tampak
sangat kasar dan buas, seolah-olah semua gerakannya hanya
bertujuan membunuh atau membikin cacat lawannya. Jurusjurusnyapun
penuh dengan jebakan atau tipuan yang
mematikan lawan, sehingga rasa-rasanya ilmu itu sangat
brutal dan tak berperikemanusiaan ! Memang ilmu itu sungguh
amat cocok untuk para perompak atau bajak-laut yang
mengandalkan hidupnya di dunia kekerasan dan kekejaman.
Duapuluh jurus telah berlalu. A Cang telah mulai mendesak
lawannya, begitu pula dengan Tiauw Kiat Su, tuannya.
Meskipun dikeroyok tiga, putera Tung-hai-tiauw itu dengan
mudah dapat menguasai lawan-lawannya. Ilmu silatnya yang
kasar dan ganas, apalagi dengan lwee-kang dan gin-kangnya
yang jauh lebih tinggi dari pada lawan-lawannya itu, membuat
dia seperti algojo yang sedang mengejar-ngejar binatang
buruannya.
Srrrrt!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba seperti diberi komando saja, keempat pendekar
Tai-khek-pai itu mencabut senjata mereka secara berbareng!
Senjata yang dapat dilipat dan disembunyikan di bawah baju
itu, ternyata adalah sebuah tombak pendek, sepanjang lengan
pemiliknya, dengan mata tombak bercagak di kedua ujungnya!
Dan mereka memegang tombak itu tepat di tengahtengahnya,
dimana terdapat lobang sebesar ibu jari tempat
untuk memutar-mutarkan senjata itu bila diperlukan.
Melihat lawan mereka telah mengeluarkan senjata Tiauw
Kiat Su dan kacungnya juga tidak mau ketinggalan pula.
Pemuda itu cepat-cepat mengeluarkan kipasnya. Namun yang
ia keluarkan bukanlah kipas suteranya tadi, tapi yang dia
keluarkan adalah kipas khusus yang terbuat dari lembaranlembaran
baja tipis. Sedangkan A Cang dengan tangkas juga
mencabut pedang pendeknya pula, yang tadi ia selipkan di
dalam kain celananya.
Maka merekapun lalu bertempur pula lagi dengan
sengitnya. Dengan pedang di tangannya, A Cang yang masih
sangat muda itu bertempur semakin keras dan liar. Sebaliknya
dengan tombak kebanggaannya, lawannya yang berwatak
berangasan itu juga melayaninya dengan brutal pula. Alhasil
mereka berdua berkelahi bagaikan binatang buas yang
kesetanan. Sehingga mereka itu rasa-rasanya bukan bermain
silat, tetapi sedang mengadu otot melalui ayunan senjata
mereka. Terdengar gemuruh dentang senjata mereka, bila
kedua senjata mereka saling bertemu di udara.
Akibatnya para pengunjung restoran itu terpaksa tidak bisa
menikmati makanan mereka. Pertempuran sengit tersebut
memaksa mereka untuk pergi meninggalkan meja mereka.
Mereka berkumpul berdesakan di pinggir arena, menyaksikan
pertempuran itu. Termasuk pula diantara mereka itu adalah
Tui Lan dan gurunya. Namun berbeda dengan gurunya yang
amat asyik menonton pertandingan itu, T ui Lan yang tak suka
kekerasan itu justru menoleh kesana-kemari, mencari pemuda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kurus yang tadi duduk di belakang dirinya. Namun sampai
lelah matanya mencari, si pemuda kurus itu tetap tak
diketemukannya juga. Tampaknya pemuda itu telah pergi
meninggalkan halaman restoran tersebut.
Sementara itu pertempuran antara Tiauw Kiat Su melawan
tiga orang pengeroyoknya ternyata juga tidak kalah pula
dahsyatnya dari pada pertempuran kacungnya itu. Hanya saja
cara perkelahian mereka sungguh amat jauh berbeda dengan
cara kacungnya itu. Meskipun jurus-jurus yang dikeluarkan
oleh pemuda itu juga amat kasar dan keji, namun cara
membawakannya ternyata amat berlainan. Pemuda itu lebih
menitik-beratkan lwee-kang dan gin-kangnya dari pada beradu
tenaga menonjolkan gwa-kangnya.
Bagaikan seekor lebah beracun Tiauw Kiat Su berterbangan
kesana-kemari mengelilingi lawan-lawannya, untuk kemudian
sesekali tampak menyengat lawan apabila mereka lengah.
Ternyata dengan modal lwee-kang dan gin-kangnya yang
lebih tinggi dari pada lawan-lawannya, pemuda itu tetap bisa
menguasai pertempuran. Malah beberapa waktu kemudian
kipas besinya mampu mengoyak kulit para pengeroyoknya
pula.
"Heh he he, monyet-monyet malang! Sekarang kalau kalian
hendak meminta ampun kepadaku, jangan harap aku akan
mengabulkannya. Apapun yang akan terjadi, kalian tetap akan
kubunuh, hehehe! Tapi kalau kalian mau memilih cara
kematian yang kalian ingini, aku masih
mempertimbangkannya. Hmm, apakah kalian ingin mati ...
dengan kepala terpisah dari tubuh kalian? Atau…., kalian ingin
dipotong dulu tangan dan kaki kalian, sebelum isi perut kalian
nanti kukorek keluar seluruhnya? Coba, mana yang kalian
pilih?" pemuda itu mengejek dengan kata-katanya yang
sangat menyakitkan.
"Kurang ajari Bajak laut keji adooouh!!" pendekar yang ke
tujuh dari Tai-khek-pai itu tiba-tiba memekik, lalu roboh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terguling-guling di atas lantai. Darah segar tampak
menyembur bagai pancuran dari lengan kirinya yang putus
tersabet kipas lawan.
"Jit-suheng...........!" ketiga orang su-tenya menjerit pilu.
Untuk sesaat ketiga orang itu menjadi lengah. Dan
kesempatan ini tentu saja tak disia-siakan oleh Tiauw Kiat Su
dan kacungnya yang kejam itu. Dengan amat licik mereka
menyerang dari belakang.
Srrrrt! Srrirrrrrtl
"Auwgh……!” lawan A Cang dan pendekar ke delapan dari
Tai-khek-pai yang berada di depan Tiauw Kiat Su menjerit
berbareng. Keduanya lantas jatuh berkelojotan di atas lantai.
Pinggang mereka benar-benar terbuka lebar sehingga isi
perutnya juga benar-benar tertumpah keluar seperti kata-kata
Tiauw Kiat Su tadi.
“Oooooooooh !" semua penonton berdesah ngeri.
Sebaliknya Tiauw Kiat Su dan kacungnya tertawa tergelak
gelak!
"Wah....... ternyata kalian berdua memilih kematian yang
nomor dua! Hahaha….!” pemuda itu mencemooh lawannya
itu.
“Su-bo.. . !” Tui Lan menjerit lirih seraya memeluk gurunya.
Tak tahan melihat pemandangan yang mengerikan itu.
"Tidak apa-apa, anakku. Itulah akibatnya kalau mempunyai
ilmu silat terlalu rendah. Dengan gampang ia akan dihina dan
dipermainkan oleh yang kuat," dengan tenang gurunya
berkata.
“Su-bo! Marilah kita pergi dari tempat ini!” Tui Lan
memohon kepada gurunya.
"Sebentar! Lihatlah! Ada dua orang wanita memasuki arena
……!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tahaaaaaan.…. !” dua orang gadis manis tiba-tiba
meloncat ke dalam arena seraya berseru nyaring.
Kedua gadis yang baru datang itu masih amat muda pula.
Usia mereka sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun.
Masing-masing membawa selendang berwarna kuning dan
putih di pundaknya.
Gadis yang berselendang kuning cepat menghampiri
pendekar Tai-khek-pai yang putus tangan kirinya tadi. dengan
cekatan ia mengobati dan membalut lengan yang putus
tersebut. Sedangkan gadis yang berselendang putih segera
menghadapi Tiauw Kiat Su dan kacungnya. Sementara
pendekar Tai-khek-pai yang masih sehat, yaitu pendekar yang
ke sembilan, tampak menangisi kematian su-heng dan sutenya.
'Ah ! Ini dia datang lagi dua gadis manis. Hemm, ternyata
banyak juga gadis yang masih tertinggal di kota ini. Tapi
kenapa sejak kemarin aku tak melihatnya?" dengan sikap
congkak Tiauw Kiat Su menyambut kedatangan dua orang
gadis manis itu. Sambil berkata pemuda itu menoleh kesanakemari
mencari Tui Lan.
“Pemuda kejam, siapakah kau?” gadis berselendang putih
itu membentak.
“Hati-hati, ci-ci! Dia putera kesayangan Tung-hai-tiauw dari
Lautan Timur . !" pendekar ke sembilan dari Tai-khek-pai itu
cepat memberitahu. "Lebih baik ci-ci pergi saja meninggalkan
tempat ini dan memberitahukan keadaan di sini kepada
gurumu, Ang-kin Sian-li! atau ci-ci menolong aku untuk
memberitahukan keadaan kami ini kepada guruku !”
"Kukira kita tak perlu repot-repot, twa-ko. Biar kucoba saja
dahulu kepandaian pemuda ini......!" gadis berselendang putih,
yang ternyata adalah murid Ang-kin Sian-li Siauw Hong Li itu
menjawab tenang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis itu tersenyum membesarkan hati pendekar Tai-Khekpai
tersebut. Perlahan-lahan gadis itu melolos gelang emas
yang melingkar di kedua pergelangan tangannya, lalu
mengikatnya di ujung selendangnya. Dan sementara itu
saudara seperguruannya yang tadi mengobati pendekar ke
tujuh dari Tai-khek pai, juga telah selesai membalut lengan
pendekar itu.
'Twa-suci (kakak seperguruan tertua), berhati-hatilah !
Senjata mereka mengandung racun," katanya seraya
mendekati gadis berselendang putih itu.
Dan seperti kakak seperguruannya yang berselendang putih
itu gadis yang memakai selendang kuning tersebut juga
mengikatkan gelang emasnya di ujung selendangnya.
'Wah! Wah! Nanti dulu, nona manis. Aku tidak bermusuhan
dengan kalian berdua, aku dan kacungku ini tak pernah
bermusuhan dengan wanita. Sungguh! Marilah kita berbicara
baik-baik!” Tiauw Kiat Su yang tak dapat menemukan Tui Lan
itu cepat-cepat menyambut dengan suara manis kepada
murid-murid Ngo-bi-pai itu.
Jilid 3
"Tak perlu bermanis muka di depan kami. Kalian telah
membunuh dua orang kawan kami. Dan hal itu sudah berarti
tidak ada perdamaian diantara kita. Sekarang kalian tinggal
memilih ikut bersama-sama kami menghadap Kang Lam Koai
hiap atau bertanding mengadu jiwa di s ini!”
“Oho........sombongnya! Lihat, A Cang! Kita berdua disuruh
menakluk kepada mereka. Maukah kau?” Tiauw Kiat Su
tertawa menyeringai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Siauw-ya disuruh menyerah kepada mereka? Uh ? ..
enaknya! Dari pada begitu, lebih baik kita membunuh saja
mereka! Habis perkara!" pemuda tanggung itu menjawab
seenaknya.
“Bagus! Kalau begitu bersiaplah!”
“Tampaknya kedua gadis ini agak berbeda dengan orangorang
Hutan itu!"
Kedua orang gadis Ngo-bi-pai itu segera menyiapkan
senjata selendangnya. Mula-mula ujung selendang itu di
putar-putarkannya seperti baling-baling. Semakin lama
semakin besar, sehingga akhirnya putaran selendang itu
menyerupai sebuah payung yang dapat digerakkan di
sekeliling tubuh mereka.
“A Cang! Awas .. Mereka bukan pemain akrobat keliling
yang sedang memamerkan kemahirannya! Jangan terlena oleh
keindahan 'payung-payung' itu. Siapkan pedangmu!" tiba-tiba
Tiauw Kiat Su memperingatkan kacungnya yang kelihatan
tertegun melihat permainan selendang lawannya itu.
"'Wah, bukan main indahnya! Tapi tentu akan lebih indah
lagi bila warnanya tidak cuma kuning dan putih saja........." A
Cang menyahut perkataan tuannya.
"Tentu saja, goblog! Tapi kalau mereka nanti memainkan
Ngo-yen-si-tin (Barisan Lima Warna) dari Ngo-bi-pai yang
terkenal itu, kau tentu akan lari terbirit-birit!"
Kacung itu menatap tuannya seolah tak percaya.
Sebaliknya dua orang gadis Ngo-bi-pai itu kelihatan kaget
mendengar ucapan Tiauw Kiat Su. Diam-diam keduanya saling
pandang dan memberi tanda agar masing-masing lebih berhati
hati menghadapi lawan mereka. Tampaknya pemuda sombong
itu sudah amat mengenal perguruan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lihat serangan!" gadis berselendang putih itu berseru,
kemudian menyerang Tiauw Kiat Su. Dan gadis yang lain
segera menyusul pula, menyerang Si A Cang.
Payung yang ada di tangan kedua gadis itu tiba-tiba
"terbang” melayang ke arah Tiauw Kiat Su dan kacungnya.
Karena ujung yang lain tetap di dalam pegangan gadis
tersebut, maka semakin jauh atau semakin mendekati lawan
mereka payung itu semakin menyusut menjadi kecil pula.
Tiauw Kiat Su segera meloncat menghindar. Sebaliknya si A
Cang yang sembrono itu mencoba menangkisnya dengan
pedang. Traaaaaang! Kacung itu terhuyung-huyung hampir
jatuh! Malah tidak hanya itu saja. Payung yang dibenturnya
tadi mendadak terurai, jatuh melibat ke arah pedangnya!
Hup…! Mendadak saja pedangnya telah terlepas dari
tangannya dan......... berpindah ke tangan lawannya!
"Siauw-ya … .!" pemuda tanggung itu berteriak kaget,
seraya berlindung di belakang tuannya.
“Nah! Apa kataku tadi? Jangan disamakan gadis-gadis ini
dengan orang orang Tai-khek-pai itu! Huh, kau menepi sajalah
ke sana! Biar kulayani sendiri murid-murid dari Ang-kin Sian-li
ini ..." Tiauw Kiat Su membentak kacungnya.
Pemuda itu lalu menyimpan kembali kipasnya dan
mengambil kipas yang lebih besar lagi dari bawah baju
luarnya. Kipas itu demikian besarnya sehingga luasnya hampir
menyamai sebuah payung hujan. Dan kipas tersebut juga
terbuat dari lembaran-lembaran baja tipis pula, sehingga
bobotnya luar biasa beratnya. Namun demikian, di tangan
pemuda itu kipas tersebut tampak ringan sekali.
"Apakah Siauw-ya hendak mempergunakan golok juga?”
tiba-tiba A Cang berseru dari tepi arena.
Tiauw Kiat Su tersenyum. “Tidak usah!” jawabnya lantang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lalu secara mendadak dan tanpa memberi peringatan
terlebih dahulu, pemuda itu menyerang lawannya! Whusss..!
Kipas besar itu menyodok ke depan, lalu menyambar ke
samping mengarah ke pinggang lawan-lawannya! Sekali
serang pemuda itu ingin melukai kedua orang musuhnya.
“Ah!" kedua gadis manis itu memekik perlahan dan
bergegas mengelakkan dirinya. Mereka benar-benar tidak
menduga kalau lawannya mau berbuat licik seperti itu.
Dan begitu terbebas dari bokongan Tiauw Kiat Su, kedua
gadis itu lantas membalas pula. Secara berbareng mereka
menyabetkan selendang mereka ke bagian atas dan ke bagian
bawah pemuda sekaligus. Dan gelang yang terikat di ujung
selendang itu melesat dengan kecepatan kilat ke arah jalanjalan
darah yang mematikan.
Siiiing! Trang!
Pemuda itu melenting ke atas sambil menangkis ujung
selendang yang menuju ke arah matanya! Kipasnya tergetar,
sementara gelang emas itu juga terpental balik ke arah
pemiliknya. Namun demikian pemuda itu tidak mengurangi
kewaspadaannya. Dan sikapnya itu ternyata sangat
menguntungkan. Sebab tanpa terduga sama sekali, tiba-tiba
gelang lawan yang membalik tadi lalu melingkar kembali
dengan kecepatan yang susah diukur! Padahal bersamaan
dengan itu, selendang dari gadis yang satunya juga meluncur
ke arah perutnya pula!
“Bukan main ilmu silat Selendang dari Ngo-bi-pai memang
hebat sekali!" Tiauw Kiat Su memuji sambil berjumpalitan
kesana-kemari menghindari serangan selendang yang
berseliweran di sekitar tubuhnya itu.
Kemudian sambil menghentakkan tenaganya pemuda itu
sekali lagi membenturkan kipasnya ke gelang lawannya! Tapi
kali ini pemuda itu membarenginya dengan memencet tombol
kecil di pangkal kipasnya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Trrrrrang! Seeer! Seeeer!
Belasan, bahkan puluhan Jarum kecil berbisa melesat
keluar dari lobang lobang rahasia yang terdapat di ujungujung
kipas itu! Jarum jarum itu melesat dengan deras bagai
hujan gerimis ke arah gadis-gadis itu!
Kedua orang pendekar wanita dari Ngo-bi-pai itu cepat
menghentakkan selendang mereka. Dan selendang itu secara
otomatis segera berputar seperti baling-baling tertiup angin.
Akibatnya jarum-jarum kecil itu segera menyibak atau
terpental jatuh sebelum mengenai sasarannya.
"Bagus! sekarang kalian terimalah jurusku ini! Tapi hatihatilah,
di sini ada tipuannya yang amat berbahaya!
Awaaass......!” Tiauw Kiat Su dengan suara amat sombong
seakan-akan sangat yakin dengan kemampuannya, memberi
peringatan kepada lawan-lawannya.
Tapi kedua gadis itu memang tak pernah melepaskan
kewaspadaan mereka. Mereka sangat menyadari dengan siapa
mereka sekarang berhadapan. Oleh karena itu begitu melihat
pemuda itu menyabetkan kipas besarnya dari atas ke bawah,
mereka berdua segera menyingkir ke kanan dan ke kiri. Sama
sekali mereka tak berniat untuk menangkis kipas itu, Mereka
takut senjata itu akan mengeluarkan jarum-jarum beracun
atau benda-benda gelap yang lain lagi.
Tapi dengan demikian kedua gadis itu justru benar-benar
terjebak dalam perangkap yang dikatakan oleh Tiauw Kiat Su
tadi. Pemuda Itu memang bermaksud memisahkan mereka.
Sebab dengan terpisahnya mereka, kekuatan mereka menjadi
berkurang. Dan keduanya juga akan mengalami kesulitan
untuk saling membantu.
Tiauw Kiat Su cepat mengejar gadis berselendang kuning
yang berada di sebelah kirinya, kipasnya yang besar itu
terayun ke samping dengan derasnya seakan-akan hendak
membelah kepala gadis itu dalam sekali tebasan. Dan kali ini
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiauw Kiat Su benar-benar mengerahkan seluruh gin-kang dan
lwee-kangnya, sehingga tidak mengherankan bila gadis itu
menjadi kaget dan tak punya kesempatan untuk menghindar
lagi! Dan satu-satunya jalan cuma menangkisnya!
Sementara itu gadis yang lain tidak kalah pula kagetnya.
Sekejap gadis itu menyadari juga jebakan lawannya. Namun
apa daya, ia tak dapat segera menolong kawannya, karena ia
terhalang oleh lawan yang memisahkan mereka itu. Meskipun
demikian, untuk mengurangi tekanan pemuda itu terhadap
kawannya, gadis berselendang putih itu mencoba menyerang
lawannya. Selendangnya ia putar di atas kepala untuk
membentuk sebuah payung kecil, dan kemudian melemparkan
payung itu ke arah lawannya.
Tapi gadis itu menjadi gelagapan setengah mati ketika
lawannya yang lihai itu membarenginya dengan taburan
jarum-jarum kecil ke arahnya. Dalam kegugupannya gadis itu
cepat-cepat menghentakkan selendangnya untuk menangkis
sergapan jarum-jarum beracun tersebut.
Begitulah, kedua murid Ang-kin Sian-li Siauw Hong Li itu
secara berbareng menggerakkan senjata mereka untuk
menahan serangan lawan. Gadis berselendang kuning itu
menyongsong serangan kipas dengan sabetan gelang di ujung
selendangnya, sementara gadis yang berselendang putih itu
menghentakkan selendangnya untuk menangkis derasnya
hujan jarum yang menyerbu ke arahnya!
Traaaaaang! Busss! Cep! Jep Cep!
“Aughhhhhh.....!"
"Aaaaaahhhhh.......!'"
Semuanya berlangsung dengan cepat dan tak terduga!
Kipas Tiauw Kiat Su yang ditangkis dengan sabetan gelang di
ujung selendang itu hancur berantakan. Dan pecahannya
seluruhnya 'menyerbu' kearah si gadis, sehingga dengan
jeritan memilukan gadis berselendang kuning itu roboh mandi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
darah. Tubuhnya penuh dengan hunjaman baja tipis yang
terlepas dari kipas itu!
Sebaliknya, nasib Si Gadis Berselendang Putihpun ternyata
tidak jauh berbeda dengan temannya itu. Entah apa yang
telah terjadi, namun tiba-tiba saja pergelangan tangan
kanannya telah terbabat putus oleh senjata lawannya. Dan
ketika gadis itu memandang terbelalak ke depan, hampirhampir
ia tak percaya melihat pemuda itu telah menggenggam
sebilah golok tipis yang berlepotan darah. Gadis itu lalu
menjerit sambil menubruk potongan lengannya yang tergolek
di atas tanah!
“Oooooh….!” sekali lagi para penonton berdesah ngeri.
Tapi sebaliknya Tiauw Kiat Su terdengar tertawa lagi
dengan pongahnya, Dan pemuda itu semakin tampak puas
dan gembira ketika melihat korbannya. Si gadis Berselendang
Kuning itu berkelojotan menanti maut.
“Hahaha! Selamat jalan, gadis manis!” salamnya penuh
kekejaman.
"Ah, Su-bo! Hentikan kekejaman itu! Tee-cu tak tahan
melihatnya…..” Tui Lan merintih di dada gurunya.
"Hmm! Menghentikan mereka? Apa perlunya? Aku tak
berurusan dengan mereka! Apa gunanya aku mencari garagara
sendiri! Heh....... kau tahu apa akibatnya bila aku
bermusuhan dengan anak itu? Tung-hai-tiauw akan marah
kepadaku! Dan apa akibatnya bila raja bajak laut itu marah
kepada kita ? Seluruh penduduk dan nelayan di Teluk Po-hai
akan terancam jiwanya! Mereka akan menyerang dan
mengobrak-abrik teluk itu!"
"Tapi........"
'"Sudahlah! Kita tak perlu ikut campur dengah urusan
mereka! Marilah kita sekarang pergi dari sini! Kita mencari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
makan di tempat lain saja,'' Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai
itu berkata perlahan.
"Nah! Siapa mau coba kemampuanku lagi? Silahkan maju!
Tapi kalau sudah tidak ada lagi.......marilah kalian lanjutkan
makan dan minum kalian semua!" terdengar Tiauw Kiat Su
berteriak lagi dengan sombongnya.
Semuanya terdiam. Tak seorangpun dari sekian banyak
pengunjung itu yang berani menjawab atau mengeluarkan
suara. Kepandaian dan kekejaman pemuda itu benar-benar
mencekam hati dan perasaan mereka. Namun ketika pemuda
itu mencari kursi dan hendak duduk kembali mendadak dari
luar melayang masuk sesosok bayangan dengan cepat sekali.
Seorang lelaki kurus kecil berpakaian sangat mewah berdiri
di depan Tiauw Kiat Su. Usianya sudah lebih dari setengah
abad, sehingga rambut dan kumisnya sudah bercampur
dengan putih! Wajahnya tampak merah kehitaman seperti
terbakar oleh sinar matahari.
"Paman.......!” tiba-tiba Tiauw Kiat Su berseru dan
menyongsong kedatangan orang itu.
"Kiat Su! Aku sudah menduga kau tentu ada di sini. Kapan
kau tiba di kota ini? Apakah kau telah memperoleh khabar
tentang adikmu Tiauw Li Ing…?!” dengan suara kecil nyaring
orang yang baru tiba itu bertanya kepada Kiat Su. Wajah
pemuda itu berubah gelap.
Dengan suara kesal dan tak senang pemuda itu
menjawab,”Sejak kecil gadis itu memang selalu sukar diurus.
Sudah berapa kali ia minggat dari Hai-ong-hu (Istana Raja
Laut) dan membikin repot kita?"
"Ah, jangan mengumpati adikmu! Kaupun tidak lebih baik
dari pada dia. Hmm, jadi kau juga belum bisa
menemukannya?” orang tua itu berkata sambil memandang
korban-korban keganasan keponakannya tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pemuda itu menggeleng. “Kalau begitu, mari kita lekas
lekas meninggalkan tempat ini sebelum para pendekar yang
berkumpul di kota ini mencincangmu!”
"Aku tidak takut!" Tiauw Kiat Su menjawab dengan mata
menyala.
Orang tua itu menyeringai,"Jangan takabur! Sendirian kau
takkan dapat melawan mereka semua. Apalagi kota ini
semakin menjadi gawat sekarang," tegurnya keras.
"Gawat? Maksud paman?" Tiauw Kiat Su bertanya tak
mengerti.
"Hmm....... kau harus sangat berhati-hati mulai sekarang.
Selain para pendekar dari partai-partai persilatan itu, sekarang
terlihat pula jago-jago kerajaan dari kota raja. Kau masih ingat
akan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dan jago-jago pengawalrahasia
kaisar yang tergabung dalam Sha cap-mi-wi (Tiga
puluh Pengawal Rahasia Kaisar) itu?”
'"Hong-lui-kun (Si Tinju Petir dan Badai)........?" terdengar
suara Tiauw Kiat Su mulai merendah.
Orang tua itu menyambar lengan Kiat Su dan
menggandengnya ke luar halaman.
''Betul. Itu saja belum. Tadi pagi aku malahan mendengar
berita yang lebih gawat lagi!" paman Tiauw Kiat Su itu berbisik
seraya mempercepat langkahnya, sehingga sebentar saja
bayangan mereka dan si A Cang itu lenyap dari pandangan
para pengunjung restoran tersebut.
Setelah berada di tempat sepi di luar kota, paman Tiauw
Kiat Su itu berkata, ”Ketahuilah, Kiat Su. Selain urusan Si Iblis
Penyebar Maut itu, dunia persilatan sekarang telah
dihebohkan pula oleh berita tentang munculnya sebuah 'Buku
Rahasia' yang dicari dan diperebutkan oleh tokoh-tokoh sakti
yang selama ini tak pernah keluar dari pertapaannya. Tokohtokoh
sakti itu dikatakan orang mempunyai kesaktian yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak lumrah manusia, sehingga orang-orang yang pernah
melihatnya malah menjadi ragu, apakah yang mereka lihat itu
manusia sungguh-sungguh atau bukan?"
Tiauw Kiat Su tersenyum melihat kekhawatiran pamannya
itu. “Ah, paman ini terlalu memuji orang. Bagaimana sih
paman ini? paman sendiri juga memiliki kesaktian yang tidak
lumrah manusia pula. Sedangkan aku meskipun tidak setinggi
paman, tapi kepandaianku juga jarang menemui tanding. Lalu,
apa anehnya itu ? Bukankah kita juga bisa menakut-nakuti
orang dusun dengan kepandaian kita, sehingga mereka juga
menyangka bahwa kita ini bukan manusia biasa?"
“Wah. Kau ini bandel amat. Apakah yang pernah melihat itu
seorang ketua partai persilatan semacan Hek-pian hok Ui Bun
Ting dan Kong--tong Cin-jin itu dapat kita sebut sebagai orang
dusun? Heh?"
Senyum di wajah Kiat Su itu tiba tiba menghilang. “Hekpian-
hok Ui Bun-Ting dan Kong-tong Cin-jin? Apakah paman
tidak berkelakar?”
"Kapan aku pernah berkelakar denganmu? Nah, sekarang
kaurenungkan lagi! Kalau orang macam Ui Bun Ting dan
Kong-tong Cin-jin saja dapat mereka taklukkan dalam satu
jurus, lalu macam bagaimana kesaktian mereka itu?"
“Hanya dalam satu jurus?" Tiauw Kiat Su berseru tak
percaya. “Siapa…. siapakah yang bercerita kepada paman?
Apakah Ketua Kong-tong-pai dan Tiam-Jong-pai itu sendiri?"
“Wah! Cuma dalam satu jurus saja?" A Cang yang sejak
tadi hanya diam saja dan tidak berani berlaku sembrono di
depan orang tua itu, tiba-tiba berseru pula saking kagetnya.
Orang tua itu melirik sekejap kepada A Cang. Kemudian
ucapnya perlahan yang ditujukan kepada keponakannya,
Tiauw Kiat Su. “Kiat Su ...! Aku memang mendengarnya
sendiri dari ketua Kong-tong-pai dan Tiam-jong-pai itu.
Ketahuilah...! Sebelum aku pergi ke restauran itu tadi, aku
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebih dulu telah menyusup ke dalam rumah Kang Lam Koaihiap
untuk mencari Tiauw Li Ing di sana. Aku menyamar
sebagai pendekar yang hendak ikut memburu Si Iblis
Penyebar Maut pula, sehingga aku bisa turut mendengarkan
pembicaraan mereka. Dan secara kebetulan pula mereka
sedang ribut menolong ketua Kong-tong-pai dan Tiam-Jongpai
yang baru saja dilukai oleh manusia sakti itu...."
"Buku Rahasia ...?” Tiauw Kiat Su bergumam perlahan.
Dahinya berkerut. “Buku apakah itu? Mengapa sampai
diperebutkan oleh para pertapa sakti yang sebelumnya tak
pernah mau keluar dari tempat pertapaannya?"
"Nah! Itulah sebabnya aku tadi lekas-lekas menyeretmu
pergi dari restoran itu. Kota ini sekarang baru penuh dengan
manusia-manusia sakti serta tokoh-tokoh persilatan klas
tinggi. Cobalah kaupikirkan ….! Kalau kebetulan di restoran
tadi ada hadir salah seorang dari mereka itu, apa jadinya
dengan engkau? Apakah engkau mampu melawan orang yang
dapat mengalahkan Kong-tong Cin-jin dalam sekali pukul itu?”
"Baiklah, paman ... aku mohon maaf,” akhirnya Tiauw Kiat
Su mengakui kesembronoannya. "Tapi, paman .... buku apa
sebenarnya yang diperebutkan oleh manusia-manusia sakti
itu? Mengapa ia sampai bisa mengusik hati para pertapa sakti
yang sebelumnya tak ada keinginan untuk keluar dari
pertapaannya itu? Demikian hebatkah buku itu?”
Orang tua itu menengadahkan kepalanya. “Entahlah! Tak
seorangpun yang mengetahuinya…. Ah, sudahlah! Lebih baik
kita memikirkan urusan kita sendiri saja!”
Tiauw Kiat Su menghela nafas panjang. “Lalu… apa yang
hendak kita lakukan sekarang, paman?” pemuda itu minta
pendapat pamannya.
“Tentu saja kita meneruskan tugas yang diberikan oleh
ayahmu! Kita mencari adikmu sampai dapat. Hmm…. Di kota
Liang-yang aku mendengar adikmu pergi bersama-sama kakek
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
buta. Tapi ketika kutanyakan tak seorangpun tahu siapakah
orang buta itu…”
“Ahh, gadis itu sungguh menyebalkan!” Tiauw Kiat Su
menggerutu.
Sementara itu sepeninggal mereka, restoran itu lalu
menjadi sibuk luar biasa. Korban keganasan Tiauw Kiat Su tadi
segera diberi pertolongan oleh para pengunjung restoran itu.
Malah beberapa orang diantara mereka segera berlari pergi ke
rumah Kang Lam Koai-hiap untuk mengabarkan kejadian
tersebut.
"Tui Lan! Untunglah aku tadi tidak memenuhi
permintaanmu untuk menolong murid-murid Tai-khek-pai itu.
Tahukah kau, siapa paman pemuda itu tadi ? Dia adalah orang
kedua setelah Tung-hai-tiauw, namanya Tung-hai Nung jin
(Petani Dari Lautan Timur)....! Orang tua itu jauh lebih lihai
dan lebih licik dari pada keponakannya itu!"
"Tung-hai Nung-jin....? Su-bo, rasa-rasanya tee-cu pernah
mendengar nama itu sebelumnya."
"Aku memang pernah bercerita kepadamu tentang orang
itu. Dahulu Tung-hai Nung-jin itu pernah berhadapan dengan
Kauw-cu-si(Pengurus pusat Keagamaan) kita, Tong Ciak, di
Kuil Delapan Dewa. Mereka mempunyai kesaktian yang hampir
berimbang. Baru Setelah Tong Ciak Lo-cian-pwe itu
mengeluarkan ilmu Silat Kulit Domba, tokoh bajak laut
tersebut dapat dikalahkan."
"Ya, su-bo pernah menceritakan hal itu.... Eh! Su-bo lihat!
Ada yang datang lagi.....!" tiba tiba Tui Lan berbisik kepada
gurunya.
Dari luar halaman masuk seorang laki-laki tinggi tegap
bersama seorang wanita separuh baya berpakaian anggun.
Mereka berusia sekitar lima puluhan tahun namun demikian
wanita itu masih kelihatan gesit dan menarik. Apalagi dengan
selendang merah yang melilit pinggangnya itu!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dia adalah ketua Tai-khek-pai!" Si Pendeta Palsu Dari
Teluk Po-hai berbisik pula kepada Tui Lan. “Namanya.....Ouwyang
Su!"
"Wanita cantik itu ?” Tui Lan bertanya seraya menunjuk ke
arah perempuan separuh baya itu.
Mendadak Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu
menggeram. "Huh! Kuntilanak itu ? Dia adalah ketua Ngo-bipai.
Namanya Siauw Hong Li. Dan kesukaannya adalah
merebut kekasih dan suami orang....!”
Tui Lan cepat berpaling ke arah gurunya. Pipinya bersemu
merah, namun matanya menatap gurunya penuh tanda tanya.
"Ah, subo ....!" desahnya,"Kenapa su-bo tampaknya tidak
menyukai wanita itu ?"
"Ssssst, diamlah! Lihat apa yang hendak mereka kerjakan!”
Selesai memeriksa mayat-mayat murid mereka, kedua
tokoh persilatan itu menggeram dan mengepalkan tinjunya.
Mereka menatap berkeliling ke arah pengunjung yang berada
di dalam restoran itu.
"Kemana para bajak laut itu sekarang ?" Siauw Hong Li
yang telah kehilangan seorang muridnya itu bertanya. Lalu
ketika tiba-tiba terpandang olehnya wajah Si Pendeta Palsu
Dari Teluk Po-hai diantara penonton itu, seketika air mukanya
menjadi gelap! “Huh! Ternyata kaki tangan para pengecut itu
masih berada di sini!"
"Siapa.....?" Ouw-yang Su menegaskan.
"Itu dia!" Siauw Hong Li berseru seraya menuding Si
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai.
"Perempuan kotor!" Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai
mengumpat kasar saking marahnya, lalu tubuhnya melesat ke
depan menyerang Siauw Hong Li.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hai!" Ouw-yang Su berseru kaget dan menghindar ke
samping.
Sebaliknya, seperti seekor kucing yang berjumpa dengan
musuh lamanya, Siauw Hong Li segera menyongsong
serangan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu! Tiba-tiba saja
ujung selendangnya telah meletus di udara!
Taaaar.....!
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berjumpalitan di udara,
lalu melesat ke kiri dengan tangkasnya, sehingga letusan itu
tidak mengenai dirinya. Dan begitu kakinya menginjak lantai,
tangannya tahu-tahu sudah menggenggam sebilah pedang
panjang. Dan sedetik kemudian, dengan kemarahan yang
meluap-luap perempuan tua itu telah melesat kembali
menyerang lawannya! Pedangnya menusuk ke bawah,
kemudian melengkung ke atas dalam jurus Memegang Pena
melukis Bulan!
Tapi Siauw Hong Li juga tidak mau berdiam diri saja
menantikan serangan itu. Dengan cepat selendangnya
berputar di atas kepalanya. Lalu dengan mengerahkan seluruh
tenaganya, ujung selendang yang melingkar-lingkar itu ia
dorong ke atas menyongsong kedatangan senjata lawan.
Taaar!
Ujung pedang yang melingkar ke arah kepala itu
membentur ujung selendang yang digantungi gelang! Dan
sekejap kemudian selendang itu membelit mata pedang
dengan eratnya! Untuk sesaat kedua orang lawan itu saling
mempertahankan senjata mereka masing-masing. Tapi ketika
Siau Hong Li menghentakkan seluruh tenaga saktinya, maka Si
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai tidak bisa bertahan lagi.
Namun demikian perempuan tua itu tetap tak mau
melepaskan pedangnya. Akibatnya ia ikut terlempar tinggi ke
udara!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siauw Hong Li tersenyum. Tapi senyum itu segera hilang
ketika lawannya yang terlempar tinggi ke udara itu tiba-tiba
melemparkan belasan pisau kecil ke arahnya!
Siiiiiing! Siiiiiiing! Siiiing! Siauw Hong Li cepat melepaskan
lilitan selendangnya, kemudian mati-matian menghindarkan
diri dari sergapan pisau kecil yang menyerang dengan cepat
sekali itu. "Gila......!" umpatnya seraya membenahi kembali
bajunya yang kedodoran.
"Tahan.....!" Ouw-yang Su cepat melompat menengahi
perkelahian mereka. "Mengapa kalian lantas bertempur tanpa
sebab? Bukankah Lo-ni adalah Si Pendeta Palsu Dari Teluk Pohai
itu?"
Si Pendata Palsu Dari Teluk Po-hai mendengus marah.
“Dialah yang memulainya. Sejak semula aku toh hanya diam
saja! Dialah yang mulai dengan kata kata kotor dan
menyakitkan hati! Siapakah yang mau dihina oleh kuntilanak
macam dia?"
"Kurang ajar! Jaga mulutmu! Kaulah yang hina dan kotor!
Mana ada seorang pendeta pernah bunting selain kau! Huh!"
Siauw Hong Li yang dikatakan 'kuntilanak' itu menjerit marah.
“Bangsat! Kubunuh kau!” Si Pendeta Palsu Dari Teluk Pohai
berteriak marah pula.
Tapi Ouw-yang Su cepat melerai mereka. “Jangan berkelahi
sendiri!" teriaknya keras. “Kuasailah hati dan pikiran kalian!
Jangan nodai persatuan kita dengan pertumpahan darah
diantara kita sendiri! Simpanlah tenaga kalian untuk melawan
Si Iblis Penyebar Maut nanti!”
Meskipun dengan menahan geram, kedua wanita tua itu
terpaksa menuruti permintaan Ouw-yang Su. Dengan mata
masih melotot keduanya segera menyimpan senjata masingmasing.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Nah! Terima kasih....!" Ouw-yang Su berdesah lega. Lalu
katanya lebih lanjut kepada si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai.
“Lo-ni….! Apakah sebenarnya yang terjadi disini tadi?
Benarkah orang-orang Tung-hai-tiauw yang melukai dan
membunuh murid-murid kami itu?”
Dengan sikap yang masih tegang dan kaku si Pendeta Palsu
dari teluk Po-hai terpaksa menganggukkan kepalanya.
“Benar…! Tapi mereka bertanding secara jantan dan
berhadapan muka sehingga aku tak berani mencampurinya.”
“Bilang saja…..kau takut! Tak perlu mengajukan alasan
yang bukan-bukan…..!” Siauw Hong Li mengejek.
“Kuntilanak bermulut kotor! Majulah! Mari kita berkelahi
sampai mati! Jangan hanya berani membuka mulut saja!” si
Pendeta Palsu dari teluk Po-hai berteriak sengit.
“Sudah…..! sudah, ji-wi jangan berkelahi lagi! Siauw Hong
Li, mari kita bawa murid-murid kita ini ke rumah Kang Lam
Koai-hiap! Setelah itu kita rundingkan cara-cara menghadapi
Tung-hai-tiauw itu ....” Ouw-yang Su menengahi perselisihan
perempuan-perempuan tua itu lagi.
Demikianlah, kedua orang ketua partai persilatan itu lalu
membawa murid-muridnya pulang. Dan Si Pendeta Palsu Dari
Teluk Po-hai yang semula mau pergi menemui Kang Lam Koaihiap
itu, mendadak mengurungkan niatnya. Perselisihannya
dengan Ketua Ngo-bi-pai membuatnya enggan dan malas
untuk pergi ke sana lagi. Paling-paling dia akan berjumpa pula
dengan musuh bebuyutannya itu.
“Kemana kita sekarang, subo?” Tui Lan bertanya kepada
gurunya setelah mereka berada di jalan kembali.
"Kita tak usah bergabung dengan mereka. Kita cari sendiri
iblis itu.” Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menjawab.
“Sekarang marilah kita mencari penginapan dahulu, kemudian
meneruskan acara makan kita yang tertunda tadi." Tui Lan tak
berani bertanya lagi. Gadis itu tahu kalau gurunya amat benci
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada Ang-kin Sian-li Siauw Hong Li tadi. Hanya saja gadis
itu tak tahu apa yang menyebabkan kedua orang itu yang
tampaknya sudah saling mengenal sebelumnya itu demikian
membenci satu sama lain.
Begitulah, kedua orang guru dan murid itu akhirnya
memperoleh penginapan juga. Karena belum beristirahat sejak
kemarin, maka keduanya segera memasuki kamar masingmasing.
“Beristirahatlah yang banyak, karena nanti malam kita akan
berburu si Iblis Penyebar Maut!'' pesan perempuan tua itu
kepada Tui Lan.
"Ah, su-bo .... Kalau boleh….kalau boleh, tee-cu tak usah
ikut saja. Bi-biarlah tee-cu menunggu su-bo di penginapan
ini.” dengan suara takut takut Tui Lan berkata kepada
gurunya. “Nah, kau sudah hendak mulai lagi dengan
kecengenganmu! Lalu apa gunanya kalau hanya aku yang
berangkat! Bukankah semua ini urusanmu? Kau ini
bagaimana, sih?" perempuan tua itu membentak marah.
“Tapi....... baik.......baiklah, su-bo. Tee-cu akan ikut.”
"Nah begitu lebih baik! Sekarang beristirahatlah! Nanti akan
kupesan agar pelayan mengantar makanan ke kamarmu saja.
Dan kita tak perlu keluar pula lagi.”
Mereka lalu memasuki kamar masing masing. Setelah
membersihkan badan, berganti baju, dan makan makanan
yang diantar oleh pelayan, mereka lalu beristirahat hingga
sore hari.
Malamnya, Tui Lan dan gurunya baru keluar dari kamar
mereka. Keduanya telah berganti lagi dengan pakaian serba
gelap, agar lebih leluasa berjalan di malam hari. Dan demi
keselamatan atau keamanannya, Tui Lan sengaja berpakaian
secara laki-laki. Rambutnya yang panjang itu ia gelung ke
atas, kemudian ia tutup dengan sebuah topi sasterawan biru
tua. Bajunyapun ia memilih yang agak besar dan sedikit
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kedodoran untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang
ramping. Itupun dia masih mengenakan baju luar yang lebar
pula, sehingga orang yang bertemu dengan dia takkan
menyangka sedikitpun kalau dia seorang gadis. Apalagi gadis
itu telah mendandani wajahnya sedemikian rupa sehingga
kecantikannya yang alamiah itu tidak begitu merangsang
pandangan lagi. Namun demikian dengan dandanannya itu
tetap saja dia menjadi seorang pemuda yang tampan sekali.
Penginapan itu juga membuka sebuah restoran di ruang
depan. Tapi tempat itu kelihatan sepi ketika Tui Lan dan
gurunya masuk. Yang tampak disana hanya seorang pelayan
saja, yang duduk kelelahan di pojok ruangan. Namun pelayan
itu segera berdiri tergopoh-gopoh ketika mereka masuk.
'Mari silahkan duduk. Nyonya! Mari tuan muda …." dengan
sangat ramah pelayan itu menyambut kedatangan Tui Lan.
“Kenapa sepi sekali? Dimanakah para penghuni kamar yang
lain?" Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai bertanya kepada
pelayan itu.
"Semuanya telah pergi sejak sore tadi. Kami dengar ada
keributan di Lembah Dalam sana," pelayan itu menjawab
bersemangat. "Oh, ya....... nyonya dan tuan ingin pesan
makanan apa?"
“Keributan? Di Lembah Dalam? Eh ..... kau tahu? Keributan
apa itu? Dan ..... dimana lembah itu?" dengan suara kaget Si
Pendeta Dari Teluk Po-hai bertanya.
Mendadak wajah pelayan itu menampilkan rasa ngeri dan
ketakutan. "Entahlah.....! Saya...... saya tak mengetahuinya.
Orang-orang itu hanya mengatakan bahwa di lembah yang
angker itu telah terjadi pertempuran antara jin, setan, iblis
dan hantu! Makhluk-makhluk tersebut tidak satupun yang
kelihatan ujudnya. Para penonton hanya bisa melihat akibat
dari pertempuran mereka saja, yaitu debu yang mengepul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tinggi, batu-batu karang yang pecah berantakan, suara-suara
bentakan yang mendirikan bulu-roma dan lain sebagainya.”
Ketika Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai hendak bertanya
lagi, tiba-tiba dari sebuah kamar muncul seorang lelaki gagah,
berpakaian ringkas diiringkan lima orang lelaki berpakaian
ringkas pula. Mereka berjalan lewat di tempat tersebut dengan
amat tergesa-gesa. Dan lelaki gagah berusia sekitar tiga puluh
enam tahun itu hanya menoIeh sekejap kepada pelayan itu.
“Kami akan keluar dulu! Tolong kaubersihkan kamar kami!”
katanya pendek.
Si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai cepat menarik lengan Tui
Lan dan dibawanya pergi mengejar rombongan lelaki gagah
itu. Tentu saja pelayan restoran itu menjadi bingung melihat
ulah mereka. Sambil memandang kepergian Tui Lan dan
gurunya, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Ah, akhir-akhir ini banyak sekali iblis dan hantu yang
berkeliaran mengganggu manusia, sehingga banyak orang
yang menjadi linglung dan ketakutan dalam hidupnya."
Tui Lan berlari-lari kecil di belakang gurunya. Namun
langkahnya semakin lama menjadi semakin ketinggalan ketika
gurunya itu menjadi semakin cepat pula dalam mengejar
rombongan lelaki gagah itu. Apalagi ketika mereka telah
keluar dari pintu gerbang kota sebelah timur. Rombongan
lelaki gagah itu tampaknya benar-benar amat tergesa
sehingga begitu keluar dari pintu gerbang kota, mereka lantas
mengerahkan seluruh gin-kang mereka. Sebentar saja
bayangan mereka telah hilang ditelan kegelapan malam.
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menahan langkahnya,
lalu berjalan perlahan sambil menunggu kedatangan
muridnya.
“Uh-uh-uh.....! Su-bo, kemanakah mereka?" Tui Lan
dengan terengah-engah bertanya kepada gurunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Hmmmmh!" Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menghela
napas. "Mereka berlari cepat sekali! Sungguh amat suIit sekali
mengejar mereka di dalam kegelapan begini.......! Ah,
bagaimanapun juga jagoan-jagoan istana itu memang hebat
sekali!"
"Jagoan-jagoan istana? Su-bo maksudkan orang-orang
yang kita kejar tadi? Siapakah mereka itu, su-bo? Dan
mengapa tiba-tiba su-bo mengejar mereka?"
"Lelaki gagah itu adalah Jago silat nomer satu di istana. Dia
adalah kakak kandung Panglima Bala Tentara Kerajaan.
Namanya.........Hong-lui-kun yap Kiong Lee! Dan kelima orang
yang mengawalnya tadi tentulah jagoan-jagoan Sha-cap mi-wi
yang terkenal itu."
"Oh .. ?” Tui Lan berdesah kagum. "Tapi........ mengapa subo
mengejarnya? Apakah su-bo telah mengenal mereka?”
"Bodoh! Mana mereka kenal pada pendeta dusun seperti
aku? Aku mengejar mereka, karena aku yakin mereka akan
pergi ke Lembah Dalam itu. Nah, maksudku dari pada aku
sulit-sulit mencari tempat itu, bukankah lebih baik bila aku
mengikutinya?"
"Jadi...... jadi su-bo hendak melihat pertempuran para jin
dan setan itu?"
"Hush! Omong kosong …..! Mana ada jin dan setan di dunia
ini? Mereka tentu manusia-manusia juga seperti kita. Cuma
begitu tinggi kesaktian mereka, sehingga semua yang
dilakukan oleh mereka sangat menakjubkan orang-orang
bodoh seperti kita.”
“Ahh..... Su-bo juga memiliki kesaktian yang amat hebat
pula!"
"Ah....... kau ini benar-benar seperti katak di dalam
tempurung. Hanya gurumu saja yang kauketahui selama ini....
Sudahlah, mari kita mencari lembah itu sendiri!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tui Lan tersenyum kemalu-maluan. Namun wajahnya tibatiba
menjadi berseri-seri kembali ketika melihat sepetak sawah
yang baru selesai dibajak pemiliknya.
"Eh, Su-bo .....bukankah jalan ini adalah jalan yang kita
lalui pagi tadi?” katanya gembira.
"Benar! Dan........ itulah puncak bukit yang kita daki pagi
tadi!”
"Hei! Bila demikian…….bila demikian..... apakah Lembah
Dalam itu tempat tee-cu menguburkan Ang-leng Kok-jin itu?”
Tui Lan mengatakan dugaannya.
"Ah........ mungkin kau benar Tui Lan. Kalau begitu, marilah
kita kesana!”
Keduanya lalu berlari cepat mempergunakan gin-kang
mereka. Sebenarnya ilmu kepandaian Tui Lan tidak kalah
dengan murid-murid ketua partai persilatan yang kini ada di
kota Soh-ciu itu. Tapi karena jiwa Tui Lan yang cinta damai
dan tidak suka kekerasan itu, membuat dia kelihatan lemah
dan seperti orang bodoh.
Mereka menuruni jurang itu dari tempat yang sama pula.
Tapi ketika mereka sampai di tempat kuburan Ang-leng Kokjin
itu, mereka tidak melihat atau menemukan apa-apa.
Tempat itu sunyi dan sepi.
“Mungkin bukan ini yang mereka namakan Lembah Dalam."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berbisik kepada Tui Lan.
Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara bentakan dan
dencing senjata ke telinga mereka!
"Eh, Tui Lan! Kau mendengar sesuatu?”
“Ya, su-bo. Seperti suara pertempuran.”
Mereka lalu bergegas mencari arah suara itu. Lembah atau
dasar jurang itu bentuknya memanjang seperti dasar sungai
yang kering, berkelok-kelok mengitari bukit itu, sehingga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
suara itu kadang-kadang terdengar jelas, kadang-kadang
hilang.
"Su-bo..„.,.! Jurang ini makin lama makin dalam. Lihatlah
tembok tebing yang berlapis-lapis itu!"
“Hei! Benar katamu. Tui Lan! Lihat di depan ini! Dasar
jurang ini terputus di sini! Dan ........hai! Di depan masih ada
lagi palung yang dalam!'' Tui Lan berlari mendekati gurunya.
Dilihatnya gurunya duduk termangu-mangu di atas batu,
menatap ke depan, ke jurang yang lebih dalam lagi. Dan
ketika angin bertiup agak lebih kencang, tiba-tiba terdengar
sayup-sayup suara hiruk pikuk dari dalam palung yang dalam
itu.
"Eh, Su-bo.......! Di bawah sana terdengar suara
pertempuran! Mungkin palung inilah yang disebut Lembah
Dalam itu..." Tui Lan berseru.
"Mungkin, Marilah kita merayap ke sana!"
Dengan sangat hati-hati sekali guru dan murid itu kembali
merayapi tebing terjal yang licin dan berlumut. Dan makin ke
bawah, suara pertempuran itu semakin jelas terdengar. Tapi
bersamaan dengan itu pula, bau amis darah pun juga semakin
keras menusuk hidung pula, sehingga guru dan murid itu diam
diam menjadi berdebar-debar dan menduga-duga di dalam
hati, ada apa sebenarnya di dasar palung jurang itu.
"Su-bo....! Apakah kita tidak lebih baik kembali ke atas
saja? Lama-lama tee-cu merasa ngeri juga........"
Tui Lan yang berhati kecil itu berkata gemetar sambil
mengawasi kegelapan yang melingkupi dirinya.
"Rasanya.....rasanya kita ini hendak masuk ke dalam perut
bumi yang gelap dan penuh berisi kolam darah!”
"Tidak, Tui Lan! Lihat di bawah itu! Kaulihat obor-obor itu?”
mendadak perempuan tua itu memotong perkataan muridnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tui Lan memandang ke bawah. Dasar palung itu tinggal
sepuluh atau lima-belas tombak saja lagi. Dan dari tempat
mereka berada, pertempuran itu sudah kelihatan samarsamar,
dimana puluhan obor berseliweran, serta puluhan atau
bahkan malah ratusan orang bertempur mengeroyok
seseorang.
“Hei! Tampaknya Si Iblis Penyebar Maut telah dapat dijebak
di tempat ini.” Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berseru
gembira.
Keduanya lalu bergegas turun. Tapi setelah berada di
bawah, mereka malah tertegun di tempat masing-masing! Apa
yang mereka saksikan di dasar palung itu sungguh amat
mengerikan sekali! Tui Lan yang berhati lemah itu segera
membalikkan tubuh dan menutupi wajahnya!
Di depan mereka, diantara obor yang berceceran di segala
tempat, tampak mayat-mayat bergelimpangan tumpang tindih
tak beraturan! Ada yang masih mengerang kesakitan, ada pula
yang bergerak-gerak menghadapi sekaratul-maut! Darah
segar masih mengalir dan berceceran di mana-mana,
menandakan bahwa kematian mereka belumlah lama. Dan
tampaknya tempat tersebut bekas dipakai sebagai arena
pertempuran, yang kini telah bergeser menjauh dari tempat
itu.
"Tui Lan, jangan takut. Besarkanlah hatimu! Marilah kita
menuju ke tempat pertempuran itu!" Si Pendeta Palsu Dari
Teluk Po-hai menepuk bahu muridnya.
"Su-bo, tee-cu ....... tee-cu tidak tahan melihatnya.”
“Sudahlah! Marilah kauikuti aku! Tutup sajalah
matamu.........!"
Tapi mana bisa Tui Lan menutup matanya terus-menerus?
Gadis itu justru malah menjadi takut kalau kakinya nanti
menginjak kepala mayat-mayat itu. Oleh karena itu dengan
memberanikan hatinya, Tui Lan lalu membuka matanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan paksa. Ditatapnya mayat-mayat yang dilangkahinya
itu dengan hati tak keruan rasa.
"liih.......!" gadis itu menjerit lirih ketika melihat mayat salah
seorang anggota Kong-tong Ngo-hiap.
"Ahhh!" gadis itu memekik lagi ketika kakinya hampir
menginjak perut pendekar Tai-khek-pai yang tadi siang
bertempur dengan Tiauw Kiat Su itu.
"Jangan kauhiraukan semuanya itu! Tampaknya mereka
semua telah menjadi korban Si Iblis Penyebar Maut! Marilah
kita cepat ke sana! Kita jangan sampai ketinggalan." Si
Pendeta Palsu Dan Teluk Po-hai berteriak ke arah muridnya.
Palung yang berada di dasar jurang yang amat dalam itu
benar-benar seperti lobang kuburan saja layaknya. Setiap
empat atau lima langkah, kedua orang guru dan murid itu
tentu menemukan mayat para pendekar yang tergabung
dalam pimpinan Kang Lam Koai-hiap itu.
“Aih. Su-bo...... lihat! Bukankah mayat ini mayat ketua Taikhek-
pai itu ........!" tiba-tiba Tui Lan berteriak sambil
menuding sebuah mayat yang terkapar berpelukan dengan
sesosok mayat yang lain.
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berhenti pula dan
memeriksa mayat itu. Dibukanya pelukan mayat itu.
"Heh! Kurang ajar....! Ouw-yang Su dan Siauw Hong Li!
Hmmmm..... tampaknya kuntilanak yang haus lelaki ini telah
menjerat hati Ouw-yang Su pula. Huh, dasar......I" perempuan
tua itu mengumpat-umpat. Lalu bentaknya kepada Tui
Lan,"Biarkan saja! Mereka telah mendapatkan hukuman yang
setimpal. Marilah kita berjalan terus!"
Tapi baru sepuluh langkah mereka berjalan, tiba-tiba
perempuan tua itu membungkuk lagi ke sebuah mayat yang
lain. “Hei! Kang Lam Koai-hiap yang belum sembuh dari
lukanya itu juga ikut menjadi korban pula!” serunya keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Wah, kalau begitu pimpinan dari para pendekar itu tinggal
Kong-Tong Cin-jin dan Hek-pian-hok Ui Bun Ting saja, su-bo?”
Tui Lan yang ikut berjongkok di samping gurunya itu bertanya
gemetar.
“Ya......!” gurunya berbisik perlahan. Tampaknya kematian
Kang Lam Koai-hiap itu benar-benar telah mempengaruhi
hatinya yang keras. “Iblis itu kelihatannya memang tidak
terkalahkan oleh siapapun juga! Sekian banyaknya pendekar
yang datang, tapi ternyata tak satupun yang mampu
menangkapnya.” Desahnya kemudian.
“Su-bo, pertempuran itu telah kelihatan dari sini,” ucap Tui
Lan menyadarkan gurunya.
“Benar, marilah kita lihat macam apa Iblis Penyebar Maut
itu...........!”
Tapi perempuan tua itu menjadi bingung ketika dari
kejauhan ia melihat ada dua arena di dalam pertempuran itu.
"Eh, Tui Lan....! Mengapa ada dua buah arena di sana?
Apakah iblis itu mempunyai kawan?"
"Su-bo, marilah kita kesana melihatnya!" Tui Lan yang
sudah bisa menguasai kengeriannya itu berkata, lalu
mendahului berjalan.
"Tui Lan, tunggu….” Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai
memanggil muridnya, kemudian berlari mengejarnya.
Tapi lagi-lagi belum ada lima belas langkah perempuan tua
itu berjalan mendadak telinganya mendengar rintihan yang
amat mengejutkan hatinya!
"Sui Nio........! Kaukah itu?"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menghentikan
langkahnya dengan tiba-tiba pula! Ada seseorang yang telah
memanggil nama kecilnya! Dan orang itu tampak menggeletak
mandi darah di atas sebongkah batu besar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Siapakah kau? Kenapa kau tahu....nama kecilku? Apakah
kita pernah......hei, Bun Ting! Kaukah itu?"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu lantas menubruk
orang yang terluka parah itu. Sambil memangku kepala orang
itu, Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai membersihkan
gumpalan-gumpalan darah membeku yang melekat di
wajahnya.
"Bun Ting, apamu yang terluka? Katakanlah! Biarlah aku
mengobatimu!” perempuan tua itu berbisik di telinga ketua
Tiam-jong-pai itu seperti orang merintih.
"Sui Nio.......! Bertahun-tahun kita tak pernah berjumpa,
tapi aku tetap ingat pada suaramu. Kulit kita sudah samasama
berkeriput, tapi selama itu pula aku tak pernah dapat
melupakanmu.....!” Ui Bun Ting berdesah perlahan.
"Apakah kau tidak jadi kawin dengan Siauw Hong Li itu?"
perempuan tua itu berbisik pula dengan suara sedih.
"Ah, engkau telah salah paham. Aku tak pernah tertarik
kepadanya. Dialah yang mengejar-ngejarku. Engkau telah
terjebak dalam tipu muslihatnya, sehingga engkau menjadi
salah sangka terhadapku. Engkau lantas pergi jauh
meninggalkanku, membuat aku kelabakan mencarimu
kemana-mana dan aku tak pernah bisa menemukan engkau,
Sui Nio, kini aku telah menjumpaimu......sayang, Thian tak
merestui kita.....”
"Bun Ting, kau tidak boleh mati......!" Si Pendeta Palsu Dari
teluk Po-hai itu berdesah serak seraya memeluk kepala orang
itu.
"Jangan bersedih, Sui Nio! Aku takkan mati. Tapi
.....meskipun demikian, untuk selanjutnya aku akan menjadi
lelaki yang tak berguna lagi. Seluruh kepandaianku telah
musnah. Jangankan untuk berkelahi seperti dulu, untuk
membunuh ayampun sekarang rasanya sudah tak mampu
lagi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Oh, Bun Ting..... siapakah orangnya yang berani melukai
sedemikian parahnya? Apakah si Iblis Penyebar Maut itu?”
"Entahlah! Orang itu menyangkal ketika kami menuduhnya
sebagal Si Iblis Penyebar Maut. Tapi kepandaiannya, ciricirinya,
kata Kang Lam Koai-hiap memang mirip iblis itu, maka
kami semua yakin kalau dia tentu si Iblis Penyebar Maut itu!"
“Dimanakah dia sekarang?" Si Pendeta Palsu Dari Teluk pohai
menggeram marah. “Akan kubalaskan sakit hatimu ini!”
“Sui Nio, jangan......! Kepandaiannya benar-benar seperti
iblis. Kita semua bukanlah lawannya. Apalagi dia mempunyai
kawan yang kesaktiannya juga tidak kalah dari pada dia.
Jangan....Lihatlah di belakangmu! Lihat puluhan, bahkan
ratusan korban itu! Mereka semua bukanlah pendekarpendekar
sembarangan. Namun demikian mereka semua telah
dibabat habis oleh iblis-iblis itu hanya dalam empat atau lima
jurus saja…..”
"Tapi kulihat mereka sekarang tidak mampu lagi untuk
lekas-lekas membereskan para pengeroyoknya. Kemampuan
mereka tampaknya telah jauh menyusut….”
"Kau salah menduga lagi, Sui Nio. Mereka takkan pernah
susut tenaganya. Tapi mereka sekarang memang sedang
menghadapi keroyokan jago-jago silat kelas satu dari dunia
persilatan kita. Lihatlah ke arena yang di sebelah barat itu!
Kau tahu, siapakah yang berhadapan satu lawan satu dengan
teman si iblis itu? Dia adalah pendekar ternama Hong-gi-hiap
Souw Thian Hai! Dan siapakah yang menghadapi si iblis di
arena sebelah timur itu? Mereka tidak lain adalah jagoanjagoan
kerajaan, Hong lui-kun Yap Kiong Lee dan para
pengawalnya. Mereka itu telah bertempur lebih dari dua-puluh
jurus."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai memandang ke arah
pertempuran. Meskipun sangat samar-samar karena hanya
ada beberapa buah obor yang menerangi tempat itu, tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dengan matanya yang sudah amat terlatih, perempuan tua itu
dapat melihat betapa dahsyatnya pertempuran tersebut.
Gerakan mereka luar biasa cepatnya, sehingga kaki-kaki
mereka seperti tidak pernah menyentuh tanah sama sekali.
Sementara angin pukulan mereka terdengar berciutan
memekakkan telinga, dan sesekali malah terdengar
menggelegar bila menghantam bebatuan atau tebing palung
itu!
Diam-diam perempuan tua itu menggeleng-gelengkan
kepalanya, sadar bahwa kepandaiannya memang belum dapat
disejajarkan dengan mereka itu. Kalau toh dia memaksa juga
untuk terjun ke dalam arena itu, paling-paling dia juga hanya
bisa bertahan sejurus dua jurus pula seperti yang lain.
“Nah, bagaimana pendapatmu, Sui Nio? Kau takkan
menyia-nyiakan hidupmu, bukan? Biarlah Hong-gi-hiap dan
Hong-lui-kun itu saja yang membereskan mereka. Sekarang
kaukerahkan saja tenaga saktimu untuk mengobati luka
dalamku!”
“Tapi……”
Perempuan tua itu tampak ragu-ragu. Matanya
memandang lepas ke depan, seolah-olah ada yang
membebani hatinya. Tapi beberapa saat kemudian mata itu
kembali meredup pula lagi, dan selanjutnya kembali menatap
wajah Ui Bun Ting yang pucat seperti mayat.
“Baiklah, Bun Ting. Aku akan mengobati lukamu lebih dulu.
Marilah....!” akhirnya perempuan tua itu berkata sambil
menghela napas panjang.
“Terima kasih, Sui Nio.......”
Sementara itu tanpa disadari oleh gurunya, Tui Lan telah
berjalan semakin mendekati arena pertempuran. Biarpun
angin pukulan mereka itu menyambar-nyambar di
sekelilingnya, malah kadang-kadang meletus dan mengelepar
di dekatnya, Tui Lan tetap berjalan terus mendekati
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pertempuran dahsyat itu. Sesekali gadis itu tampak
terhuyung-huyung bila angin pukulan mereka menghembus
atau menyerempet tubuhnya.
Tapi semakin dekat dengan pertempuran itu, mata Tui Lan
justru semakin kabur melihatnya. Mereka bertempur cepat
bagai kilat, sehingga hanya bayang-bayang mereka saja yang
dapat dilihat oleh matanya. Namun demikian, setelah
beberapa waktu lamanya, gadis itu dapat juga mengenali
salah seorang diantara mereka.
“Kakek Giok-bin Tok-ong......!” gumamnya sedikit keras.
Kakek tampan yang kelihatannya sudah mulai dapat
menguasai Hong-lui-kun dan para pengawalnya itu, ternyata
mendengar juga gumam Tui Lan itu.
“Hei, gadis ayu! Kau masih berada di jurang ini juga?
Dimanakah gurumu itu?” teriaknya seraya melompat keluar
dari kepungan musuh-musuhnya, sehingga Hong-lui-kun dan
kawan-kawannya dapat bernafas lega kembali.
Namun Tui Lan tidak segera menjawab pertanyaan kakek
sakti itu, sebaliknya gadis itu malah mengajukan pertanyaan
pula,”Lo-cianpwe, benarkah Lo-cianpwe itu si Iblis Penyebar
Maut seperti dugaan semua orang ini?”
“Hussh, jangan banyak omong! Lekaslah menjawab
pertanyaanku tadi! Dimanakah si Pendeta Palsu gurumu itu,
heh?” kakek itu membentak marah.
Tui Lan menjadi ketakutan. "itulah dia ada di belakang!''
jawabnya cepat.
Sungguh mengherankan sekali! Begitu tahu Si Pendeta
Palsu Dari Teluk Po-hai juga berada di tempat itu, tiba-tiba
kakek sakti itu menjadi pucat wajahnya! Seperti kemarin
malam juga, tiba-tiba kakek itu lalu melesat pergi
meninggalkan tempat itu pula. Hanya saja sebelum lenyap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari pandangan,. kakek sakti itu sempat berteriak ke arah
temannya.
“Bu-tek Sin-tong (Anak Ajaib Tanpa Tanding), aku pergi
dulu! Kita bertemu lagi besok malam di Perut Naga untuk
melanjutkan urusan ‘Buku Rahasia’ itu…..!”
"Lo-cianpwe, tunggu….!'' Tui Lan berseru, lalu berusaha
mengejarnya.
Tempat dimana Giok-bin Tok-ong tadi lenyap adalah
tembok tebing palung itu. Dan ketika Tui Lan datang
mendekati, ternyata disitu ada sebuah lubang kecil sebesar
perut kerbau. Dengan agak ragu-ragu Tui Lan memandang
lobang hitam yang menganga di hadapannya itu, tapi di lain
saat hatinya menjadi bulat untuk memasukinya.
Sementara itu di arena pertempuran yang lain, lawan
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai yang bernama Bu-tek Sin-tong
itu terdengar mengumpat-umpat karena telah ditinggal pergi
oleh Giok-bin Tok-ong.
“Huh! Apa enaknya tetap tinggal disini kalau tidak ada kau,
monyet! Kau sudah mengakali aku untuk menghadapi bocah
lihai ini, huh! Dan kau Cuma melayani ayam-ayam kampung
itu! Kurang ajar…..! Sekarang kau malah minggat duluan!” Butek
Sin-tong yang tubuhnya kerdil seperti anak kecil itu
memaki-maki, kemudian ikut melompat keluar dari arena
meninggalkan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Rambutnya yang
putih dan panjang sampai di kakinya itu berkibaran ditiup
angin. Sementara badannya yang hampir telanjang sama
sekali itu tampak mengkilat karena keringat.
Setelah Bu-tek Sin-tong pergi, Hong-liu-kun Yap Kiong Lee
bergegas mendekati Hong-gi-hiap Souw Thian Hai yang telah
lama dikenalnya. (Baca pendekar Penyebar Maut).
“Selamat berjumpa lagi, saudara Souw! Apa khabar?"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pendekar yang namanya dikenal oleh setiap orang, bahkan
oleh Kaisar Han pula itu tersenyum menyambut kedatangan
Hong-lui-kun. "Wah, untung saudara Yap lekas-lekas datang.
Kalau tidak, hmm…. Jiwaku mungkin sudah melayang ke alam
baka. Kedua orang itu benar benar lihai bukan main! Sudah
kukuras seluruh kemampuanku, tapi tetap tak kuasa pula
menanggulangi kedahsyatan ilmu mereka,” katanya penuh
takjub dan heran. Kemudian lanjutnya pula," Padahal lawanku
tadi cuma seorang kakek kerdil yang agaknya juga kurang
waras pula….”
"Ah, kalau saudara Souw saja merasa kewalahan, apalagi
aku yang bodoh ini." Yap Kiong Lee menyesali pula
kekalahannya. "Begitu hebatnya kesaktian iblis tua itu,
sehingga aku yang telah dibantu oleh lima orang anggota Shacap-
mi-wi ini masih juga dibuat tak berdaya olehnya.”
Setelah saling menyapa, mereka lalu berusaha mencari
orang-orang yang perlu ditolong diantara ratusan korban yang
berceceran itu.
“Ah, ini benar-benar suatu bencana di dunia persilatan!
Dalam semalam saja ratusan pendekar persilatan telah
menemui ajalnya di tempat yang seram ini. Belum pernah
kudengar peristiwa seburuk ini selama hidupku. Dan
semuanya itu hanya karena seorang manusia iblis. Hm...
sungguh terkutuk sekali si Iblis Penyebar Maut itu!” Hong-luikun
Yap Kiong Lee menggeram sedih ketika tak seorangpun
diantara para korban itu yang masih hidup.
“Saudara Yap, lihat... disini masih ada yang bisa ditolong!”
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai berseru ketika mendapatkan si
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai sedang sibuk mengobati Ui
Bun Ting.
“Eh! Kalau tak salah yang terluka ini adalah Hek-pian-hok
Ui Bun Ting ketua Tiam-jong-pai!” Yap Kiong Lee yang
mempunyai hubungan erat dengan para ketua partai
persilatan itu berseru kaget.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Benar, Yap Tai-hiap. Orang ini memang Ui Bun Ting." Si
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menjawab perlahan.
Dan beberapa saat kemudian, lima anggota Sha-cap-mi-wi
itu berturut-turut menemukan mayat ketua Tai-khek-pai, Ngobi-
pai dan Kong-tong Ngo-hiap. Lima orang bersaudara dari
Kong-tong-pai itu mayatnya berserakan dan berjauhan satu
sama lain, suatu tanda bahwa mereka berlima benar-benar
berjuang sampai titik darah yang penghabisan.
“Oh..... lengkap sudah bencana besar ini! Seluruh partai
persilatan di daratan Tiongkok hancur lebur hidupnya dalam
satu malam!” Yap Kiong Lee lagi-lagi berdesah sedih melihat
kenyataan itu.
“Benar, Yap Tai-hiap. Semua telah hancur. Semuanya telah
musnah. Murid-muridkupun tak ada yang hidup lagi…..!” Ketua
Tiam-jong-pai yang terluka parah itu merintih perlahan.
"Ah! Dimana Tui Lan......?" tiba-tiba Si Pendeta Palsu Dari
Teluk Po-hai tersentak kaget.
"Tui Lan? Siapakah Tui Lan itu ?" Ui Bun Ting bertanya.
''Muridku! Dia Muridku...........!" perempuan tua itu
berteriak, lalu berlari kesana-kemari mencari Tui Lan seperti
orang gila.
“Tui Laaaaaaaan! Tui Laaan.....! Dimanakah kau?”
Tapi biarpun semua orang ikut mencarinya, gadis itu tetap
tidak bisa diketemukan. Gadis itu seakan-akan ikut lenyap
bersama dengan iblis-iblis tadi. Sampai-sampai semua mayat
dibolak-balik oleh perempuan tua itu, namun gadis itu tetap
tidak diketemukannya.
“Oh celaka! Dimanakah anak perempuan itu berada?''
perempuan tua itu menjerit lirih seakan mau menangis.
“Sudahlah, Sui Nio. Kita tunggu saja anak itu sampai terang
tanah nanti. Sekarang kau lebih baik membantu Souw Tai-hiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan Yap Tai-hiap, mengurus mayat mayat para pendekar itu.”
Ui Bun Ting menasehati bekas kekasihnya itu.
Demikianlah, sampai matahari muncul dan kemudian naik
terus ke punggung bukit, mereka menggali lobang dan
menguburkan semua mayat itu. Meskipun matahari tidak
langsung membakar punggung mereka, karena terhalang oleh
tebing jurang yang tinggi, namun tubuh mereka benar-benar
basah dengan keringat.
“Saudara Yap.....! jauh-jauh kau datang ke tempat terpencil
ini, meninggalkan kenikmatan istana, apakah hanya untuk
bekerja-bakti menguburkan mayat-mayat para pendekar ini?
Ataukah mungkin saudara Yap mempunyai tugas yang lain
dari Hong-siang?” sambil bekerja Souw Thian Hai menanyakan
maksud kedatangan Yap Kiong Lee di tempat itu.
Yap Kiong Lee tersenyum. “Kami memang mendapat tugas
khusus yang sifatnya agak rahasia dari Hong-siang. Kami
diperintahkan untuk mencari......”
“Jangan, saudara Yap! Kau tak usah menyebutkannya bila
tugas itu memang bersifat rahasia! Biarlah …….”
"Ah, tidak! Bukan begitu maksudku. Kami justru ingin
bertanya tentang hal itu kepada saudara Souw malah. Begini
saudara Souw.... Sebenarnya sudah hamper dua tahun ini
Hong-siang mencari putera tunggalnya. Dahulu Pangeran
Mahkota itu telah minta ijin kepada Hong-siang untuk
membereskan sesuatu urusan di dunia persilatan. Tapi sampai
tiga tahun lebih pangeran itu tidak juga ada khabar beritanya.
Tentu saja Hong-siang menjadi khawatir. Biarpun pangeran
muda itu memiliki ilmu yang dahsyat, namun bagaimanapun
juga waktu tiga tahun itu bukanlah waktu yang pendek. Hongsiang
mengkhawatirkan keselamatan beliau. Nah, setelah
berkali-kali utusan yang disebar oleh Hong-siang selalu pulang
kembali tanpa membawa hasil, maka Hong-siang lalu
mempercayakan tugas itu kepadaku...."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ya, aku memang sudah mendengar pula tentang hal itu.
Berita itu telah tersebar dan menjadi rahasia umum di
kalangan masyarakat. Kebetulan aku sendiri juga mengenal
baik Pangeran Yan Kun itu sehingga diam-diam aku juga
memasang mata dan telinga untuknya. Tapi selama ini pula
aku tak pernah mendengar beritanya. Padahal sudah setahun
ini pula aku selalu keluar dari rumah untuk berkeliling di dunia
kang ouw untuk mencari Souw Lian Cu, puteriku...” Souw
Thian Hai berkata pula.
Jilid 4
Yap Kiong Lee mengerutkan keningnya. Jagoan nomor satu
dari kota raja itu sudah mengenal pula gadis ayu yang lengan
kirinya buntung itu. Malah menurut cerita burung yang dibawa
angin, Pangeran Mahkota Yang Kun telah jatuh cinta pula
kepada gadis cantik itu. Tetapi entah apa sebabnya, keduanya
tak pernah bisa bersatu. (Baca Pendekar Penyebar Maut).
“Jadi..... nona Souw juga tidak ada di rumah? Wah .....!
Jangan-jangan..... jangan-jangan........" Yap Kiong Lee tidak
berani meneruskan dugaannya.
Souw Thian Hai tersenyum kecut. Ayah yang masih muda
ini juga mengetahui pula hubungan pangeran mahkota itu
dengan puterinya. Tapi menurut pengetahuannya, hubungan
tersebut selalu tampak tersendat-sendat, karena keduanya
mempunyai watak yang amat keras. Terlalu tinggi hati, suka
menutup diri, tidak mau saling terbuka dalam mengemukakan
cinta mereka. Terutama puteri sendiri, Souw Lian Cu!
Begitu ingat pada puterinya Souw Thian Hai menghela
napas panjang. Pendekar itu memang tidak bisa menyalahkan
puterinya. Gadis itu memang terlalu banyak menderita sejak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kecilnya, sehingga ia tak menjadi heran kalau watak dan
sifatnya menjadi sedemikian keras dan kakunya.
Usia enam tahun Souw Lian Cu telah ditinggal mati ibunya.
Gadis kecil itu lalu dibawa pergi oleh pengasuhnya karena
ayahnya, satu-satunya keluarga yang harus merawatnya telah
menjadi gila karena kematian ibunya itu. Dan gadis itu baru
diketemukan oleh Souw Thian Hai, ayahnya yang telah
sembuh kembali, ketika sudah berumur duabelas tahun.
Hamper saja gadis kecil itu tidak mengenal Souw Thian Hai
kembali. Gadis itu lalu hidup bersama ayahnya lagi.
Tapi empat tahun kemudian, Souw Lian Cu yang telah
menjadi gadis remaja itu kembali melarikan diri meninggalkan
ayahnya, karena ia tidak ingin ayahnya itu kawin lagi dengan
wanita lain. Dan gadis itu terlunta-lunta sendirian di dunia
yang ganas, sehingga akhirnya diketemukan oleh Keh-sim
Siauw hiap (Pendekar Patah Hati) yang sebenarnya juga masih
sahabat ayahnya sendiri. Oleh sahabat ayahnya itu, Souw Lian
Cu dibawa ke Pulau Meng-to. Dan diatas pulau itu Souw Lian
Cu dinasehati, dihibur dan diberi pelajaran bermacam-macam.
Namun hal itu telah diterima lain oleh gadis yang baru
menjelang dewasa tersebut. Souw Lian Cu jatuh cinta kepada
pendekar yang sudah patut menjadi pamannya itu. Tentu saja
Keh-sim Siauw-hiap tak mau melayani maksud gadis tersebut.
Akibatnya gadis muda itu menjadi malu dan minggat dari
pulau Meng-to.
Dalam pengembaraannya yang kedua inilah Souw Lian Cu
bertemu dengan pangeran Yang Kun. Dan pangeran yang
amat terkesan kepada gadis ayu berlengan sebelah itu
akhirnya jatuh cinta dan mengejar-ngejarnya. Tapi jiwa Souw
Lian Cu sudah terlanjur dingin dan kaku. Meskipun gadis itu
juga amat menyukai Pangeran Yang Kun, tapi ia sudah takut
berdekatan dengan laki-laki kembali. Begitulah akhirnya sang
pangeran itu juga menjadi putus asa pula. Keduanya lalu
berpisah tanpa bisa menemukan titik perpaduan yang dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempersatukan kedua hati mereka. Namun keduanya samasama
menderita karenanya.
Demikianlah, sampai menjelang lohor kedua pendekar itu
dengan dibantu lima orang anggota Sha-cap-mi-wi yang
mengiringkan Hong-lui-kun dari kota-raja, telah selesai
menguburkan ratusan mayat yang berserakan di dasar palung
jurang itu. Palung jurang yang dikenal orang dengan nama
Lembah Dalam.
Semula Si Pendeta Palsu Dari teluk Po-hai tidak mau
meninggalkan tempat itu. Perempuan tua itu ingin mencari Tui
Lan lagi sampai dapat. Tapi Souw Thian Hai dan Hong-lui-kun
Yap Kiang Lee segera menasehati agar gadis itu dicari saja di
tempat lain. Sebab kalau gadis itu memang benar-benar masih
berada di tempat itu, tentu sudah kembali kepada mereka. Ui
Bun Ting juga membujuk bekas kekasihnya itu, sehingga
akhirnya perempuan tua itu mau pula menuruti perkataan
mereka.
Lalu, kemanakah sebenarnya Tui Lan itu?
Begitu memasuki lobang kecil itu, Tui Lan yang berpakaian
laki-laki itu segera berada di dalam lorong yang gelap dan
pekat. Hampir saja gadis itu mengurungkan niatnya untuk
mencari Giok-bin Tok-ong. Tapi keinginannya untuk bertemu
dengan tokoh yang mampu membunuh para ketua partai
persilatan, namun ternyata sangat takut kepada gurunya itu,
membuat gadis itu menjadi bersemangat kembali. Gadis itu
benar-benar ingin mengetahui mengapa manusia sakti itu
sedemikian takutnya kepada gurunya. Mungkinkah orang tua
itu sungguh-sungguh telah membunuh ayah-ibunya? Benarkah
orang tua itu si Iblis Penyebar Maut yang ditakuti orang itu?
Gadis itu lalu mengeluarkan lilin dan menyalakannya.
Lobang sempit yang dari luar kelihatan buntu itu ternyata
melebar di dalamnya. Tui Lan tidak usah merangkak lagi. Dia
berjalan hati-hati melalui celah-celah batu padas yang
merekah membentuk lorong-lorong sempit di dalamnya. Tapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lorong-lorong itu kemudian terpecah-pecah menjadi beberapa
jurusan sehingga gadis itu menjadi bingung untuk melangkah
maju lagi.
Angin meniup perlahan di dalam lorong itu, sehingga
menggoyangkan nyala api lilin yang dipegang oleh Tui Lan.
Untuk sesaat udara segar terasa menghembus ke dalam paruparu
Tui Lan.
"Tentu ada lobang yang besar di dekat tempat ini. Dan aku
juga seperti membaui air pula....” gadis itu berkata di dalam
hati.
Tui Lan lalu menerobos ke dalam salah satu lorong yang
mengeluarkan udara segar dan uap air itu. Benarlah beberapa
saat kemudian sayup-sayup terdengar suara gemericiknya air
mengalir di dalam lorong yang dipilihnya itu dan setelah
membelok kesana-kemari melalui lorong yang semakin
menurun itu, maka Tui Lan lalu tiba di sebuah sungai di bawah
tanah.
Sungai itu ada lima atau enam tombak lebarnya. Tidak
begitu dalam, namun airnya mengalir dengan sangat
derasnya, sehingga suaranya terdengar gemuruh memenuhi
lorong-lorong yang sempit itu.
Krincing……….! Krincing…………….!
Hampir saja Tui Lan membentur batu padas diatasnya!
Suara gemerincing besi yang beradu satu sama lain, yang
datang dari arah kiri gadis itu menggema memenuhi lorong
tersebut, mengatasi gemuruhnya suara air sungai, hingga
mengagetkan hati Tui Lan! Kemudian dengan wajah dan
perasaan yang amat tegang gadis itu mencari sumber suara
tersebut.
Tui Lan merayap hati-hati di pinggir sungai bawah tanah.
Tiba-tiba ia mencium bau asap obor di balik sebongkah batu
besar. Gadis itu menjadi curiga! Lilin itu ditaruhnya di atas
batu kemudian dikerahkannya lwee-kangnya untuk menggeser
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
batu besar tersebut. Hup! Batu itu bergeser, dan secercah
sinar obor tampak menyeruak keluar. Ternyata sebuah lobang
kecil, sebesar tubuh manusia, menganga di belakang batu
besar tersebut.
Tui Lan menjadi berdebar-debar hatinya! Terang ada yang
menyalakan api obor di dalam lobang itu! Tapi, siapa dia?
Mungkinkah orang itu Giok-bin Tok-ong? Ataukah ada orang
yang lain lagi?
Tui Lan memaksa dirinya untuk melongok ke dalam. Ia
memang melihat obor-obor itu dipasang di dalam lobang itu,
lobang yang semakin ke dalam semakin besar, yang
membentuk sebuah ruangan atau rongga lebar di dalamnya.
Tapi gadis itu tak melihat seorangpun di sana. Di dalam gua
itu hanya tampak bongkah-bongkah batu karang besar yang
berdiri tegar menyentuh langit-langit gua. Tui Lan
memberanikan dirinya masuk lebih ke dalam lagi, sehingga
akhirnya dia berada di tengah-tengah ruangan gua tersebut.
Sebenarnya ada juga perasaan ngeri di dalam hati gadis itu
melihat bongkah-bongkah batu karang yang berdiri tegar di
sekelilingnya itu. Gadis itu takut, Jangan-jangan orang yang
menyalakan obor tersebut bersembunyi di balik batu-batu
karang itu.
Krinciiliing.........!
Suara besi itu kembali terdengar lagi dengan nyaringnya!
Dan tiba-tiba saja sebuah lengan yang diborgol dengan jalinan
rantai besi sebesar lengan itu sendiri, menyelonong keluar dari
balik sebongkah batu karang besar di depan gadis itu!Lengan
itu kemudian jatuh berdencing di atas tanah dan diam tak
bergerak. Selanjutnya Tui Lan mendengar suara napas yang
berat diselingi suara dengkur kecil orang tertidur.
Tui Lan yang semula hampir menjerit itu kemudian
menghela napas lega. Ternyata di balik batu karang besar itu
ada seorang lelaki yang diborgol lengannya, dan sedang
tertidur pulas. Dan ketika gadis itu memperhatikan dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lebih teliti lagi, maka ia melihat jalinan rantai besi yang
melingkar-lingkar pada batu karang tersebut.
“Ah! Rantai yang dipergunakan untuk memborgol orang itu
ternyata dililitkan pada batu karang, agar ia tidak bisa pergi
meninggalkan tempat ini. Hmm, tampaknya orang ini
sangatlah berbahaya sehingga ia diikat di gua ini. Tapi,
siapakah orangnya yang mampu mengikatnya itu? Apakah
Giok-bin Tok-ong juga? Baiklah aku akan melihatnya. Dengan
rantai yang mengikat lengannya itu kukira ia sudah tidak
berbahaya lagi ......" gadis itu berkata di dalam hati.
Krinciiing!
Sekali lagi orang itu bergerak dan kini yang muncul keluar
adalah kaki kirinya! Tui Lan menghentikan langkahnya.
Dilihatnya kaki orang itu juga diborgol pula!
“Oh, tampaknya orang ini telah diborgol semua tangan dan
kakinya.....” gadis itu membatin dengan perasaan yang
semakin lega, lalu kakinya melangkah lagi untuk mendekati.
Sesosok tubuh tinggi kurus sedikit demi sedikit dapat dilihat
oleh Tui Lan. Dan benar juga dugaan gadis itu, orang tersebut
diborgol semua kaki-tangannya. Malah tidak cuma itu saja!
Leher orang itupun ternyata juga dililiti borgol pula! Malahan
borgol itu tampaknya lebih tebal dan lebih kuat pula! Dan
borgol tersebut tampak sangat kokoh mencengkeram batang
leher itu sehingga rasa-rasanya orang itu sulit untuk
menggerakkan kepalanya.
Tapi ketika Tui Lan mencoba untuk menjenguk wajah orang
itu, tiba-tiba mulutnya ternganga. Tui Lan merasa kaget tapi
juga heran! Karena wajah itu adalah wajah si pemuda kurus
yang ia temui di restoran kemarin!
Pemuda itu tidur terlentang dengan pulasnya. Air mukanya
tampak polos dan damai, tidak pucat dan kaku seperti
kemarin, sehingga wajahnya yang amat tampan itu kelihatan
makin menarik dan bercahaya, diam-diam Tui Lan kagum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
juga. Baginya, pemuda itu kelihatan sangat lembut dan tidak
terlalu kasar.
Hanya yang sangat mengherankan adalah mengapa
pemuda itu diborgol kaki-tangannya? Apakah pemuda itu
berada dalam tawanan musuhnya? Apakah Giok-bin Tok-ong
yang menyanderanya?
Tui Lan lalu melangkah semakin dekat lagi. Dengan sangat
hati-hati dilihatnya rantai borgol yang dipakai untuk mengikat
pemuda itu.”Borgol-borgol ini dikunci dengan kuat sekali,”
katanya di dalam hati.
Krinciiiing!
Tiba-tiba pemuda itu membalikkan badannya, sehingga
rantai pengikat ikut bergerak dan berbunyi dengan ramainya.
Dalam kagetnya Tui Lan cepat-cepat bertiarap di lantai gua
dan tidak berani bergerak atau bersuara sedikitpun. Sambil
menempelkan kepalanya di atas lantai, gadis itu menunggu
beberapa saat lamanya.
Dalam suasana yang hening dan menegangkan tersebut,
mendadak gadis itu mendengar suara orang bercakap-cakap!
Dan suara itu terasa dekat sekali!
Tui Lan bangkit dengan cepat. Matanya nyalang mencari
sumber suara itu. Tapi suara itu mendadak juga lenyap begitu
ia bangun, dan di dalam gua tersebut tiada orang lain selain
dia dan pemuda itu.
Gadis itu menjadi penasaran sekali. Sekali lagi ia bertiarap
dan memasang telinganya baik-baik. Benar juga. Suara itu
kembali menggema di dalam telinganya. Namun suara
tersebut segera hilang bila ia bangkit berdiri.
Tui Lan menjadi curiga terhadap lantai gua itu. Dan ketika
ia memeriksanya, ia melihat lantai itu retak atau merekah
panjang, sehingga menimbulkan celah sempit selebar tiga jari
dan dari dalam celah sempit itulah suara tersebut terdengar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kelihatannya dibawah lantai gua ini ada ruangannya
pula…” gadis itu menduga-duga di dalam hatinya.
Lalu timbul keinginan Tui Lan untuk mendengarkan
percakapan orang yang berada di ruangan bawah itu.
Dipasangnya telinganya di tempat yang retak itu.
“Giok-bin Tok-ong….! Jadi lelaki muda yang dapat menahan
ilmuku tadi bernama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Pantas
aku agak mengalami kesulitan untuk menundukkannya! Bocah
itu memang sangat lihai, sehingga dia ikut tercatat pula di
dalam ‘Buku Rahasia’ itu….” Terdengar suara serak namun
sangat nyaring dari dalam celah itu.
"Buku Rahasia! Buku Rahasia...! Kau selalu saja menyebutnyebutkannya.
Bosan aku mendengarnya! Ayo, tunjukkan
kepadaku! Mana buku itu? Kenapa tidak lekas-lekas
kautunjukkan kepadaku, kalau buku itu memang ada?
Mengapa sedari tadi kau cuma membuka mulut saja tanpa
menunjukkan buktinya? Apakah kau ingin mempermainkan
aku, hah?" terdengar suara Giok-bin Tok-ong menyahut
perkataan orang yang pertama itu.
“Kau memang bebal dan berotak udang! Sudah berkali-kali
kukatakan bahwa aku tak membawanya, kau masih saja tak
percaya! Aku hanya pernah membacanya. Itupun cuma
sepintas lalu, yaitu ketika orang yang mengaku bernama Bok
Siang Ki itu memperlihatkannya kepadaku! Coba sekarang
kaupikirkan lagi dengan baik! Bagaimana aku dapat
mengenalmu dan mencarimu di tempat ini, padahal kita belum
pernah saling berkenalan sebelumnya, kalau bukan karena
buku itu? Bagaimana aku tahu tokoh-tokoh kang-ouw itu,
padahal aku tak pernah keluar dari lobang pertapaanku
selama seratus tahun, kalau bukan karena buku itu?" lawan
bicara Giok-bin Tok-ong itu menjawab gusar.
Hening sejenak. Kakek berwajah tampan itu tidak terdengar
lagi suaranya, sehingga Tui Lan menjadi tegang dan berdebarTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
debar. Sekilas gadis itu memandang ke arah si pemuda kurus
yang telah tertidur pulas itu.
''Baiklah!" akhirnya terdengar suara Giok-bin Tok-ong
kembali. "Tetapi aku tetap belum mempercayai kata-kata itu
sepenuhnya, sebelum aku melihat sendiri buku itu. Namun
demikian, aku ingin mendengar juga terlebih dahulu darimu.
Siapakah Bok Siang Ki itu? Bagaimana dia sampai
mendapatkan buku itu? Lalu apa saja isi buku celaka itu?”
"Bangsat! Bolak-balik kau tetap tak percaya juga
kepadaku.. !"
"Sudahlah! Jawab saja pertanyaanku itu!" Giok-bin Tok-ong
terdengar mendesak kembali.
“Bagaimana aku tahu orang yang bernama Bok Siang ki itu,
kalau aku juga belum pernah melihat sebelumnya. Dia
mendatangi gua pertapaanku yang sudah tertutup oleh semak
belukar di Telaga ouw (Telaga Besar) itu, dan membangunkan
aku, agar aku keluar menghentikan tapaku. Semula aku tak
mengacuhkan. Tapi ketika dia hendak meledakkan guaku, aku
menjadi marah. Aku menjebol dinding gua dan
menghadapinya. Kami lalu berkeIahi........”
“Dan .....kau kalah, bukan?" terdengar suara Giok-bin Tokong
mengejek.
"Kurang ajar! Siapa bilang aku kalah? Orang itu sangat licik,
sehingga aku ketinggalan satu jurus!'' lawan bicara Giok-bin
Tok-ong itu berteriak semakin gusar.
“Hei, Sin-tong! Jangan marah-marah begitu! Kalau memang
kalah akui saja kekalahan itu. Di dalam perkelahian, setiap
orang bebas untuk berbuat apa saja demi mendapatkan
kemenangan. Jadi, salahmu sendiri bila kau sampai terkecoh
oleh muslihat lawan itu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jangan panggil aku Sin-tong (Anak Ajaib)! Bisa
kuremukkan kepalamu nanti!" suara lawan berbicara Giok-bin
Tok-ong itu semakin keras dan berang.
"Habis tubuhmu demikian kecil, namun kesaktianmu begitu
dahsyat, sih…..!” Giok-bin Tok-ong terdengar menyahut
perkataan lawannya itu dengan tertawa. “Lalu........ kalau aku
tak boleh menyebutmu demikian, bagaimana aku harus
memanggilmu? Coba katakan kepadaku siapakah namamu
sebenarnya?”
"Ini……ini……Wah, aku sendiri sudah lupa pula pada
namaku sendiri.”
"Nah! Itulah sebabnya kau kupanggil Bu-tek s in-tong. yang
berarti... Seorang Anak Kecil Ajaib Yang Sukar dicari
Tandingannya, hehehe……!”
“Kurang ajar.........!"
"Sudahlah! Kau jangan mengumpat-umpat saja! Lebih baik
kauceritakan saja kepadaku, bagaimana kau bisa membaca
'Buku Rahasia' itu?" akhirnya terdengar suara Giok-bin Tokong
membujuk dan tidak mengolok-ngolok lagi.
"Huh! Setelah dia berbuat liehai sehingga dapat
memenangkan perkelahian itu, dia mengeluarkan sebuah buku
kumal dari dalam saku bajunya. Dia bilang bahwa
kedatangannya ke guaku itu atas petunjuk ‘Buku Rahasia’
tersebut. Di dalam buku itu, katanya tercantum ’DAFTAR
TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA’ pada waktu ini,
beserta tempat tinggalnya juga. Itulah sebabnya aku juga
mengetahui pula tempat tinggalmu, karena kau juga
tercantum dalam buku tersebut.” Bu-tek Sin-tong terdengar
memberi keterangan.
“Dan kaukatakan bahwa namamu tertulis pada urutan
ketiga dalam ‘DAFTAR TOKOH-TOKOH PERSILATAN
TERKEMUKA’ itu, sementara aku hanya pada urutan keempat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitukah? Jadi kau berada satu tingkat diatasku, begitu?
Huh, enaknya!”
“Hei! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Di dalam
buku yang diperlihatkan kepadaku itu, aku memang ditulis
pada nomer tiga, sedangkan kau nomer empat. Sementara
nomer yang kelima adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai .....”
“Hehehe.....! lalu siapakah yang berada di nomer satu dan
dua?”
“Nomer dua adalah Bok Siang Ki sendiri. Sedangkan yang
nomer satu adalah seorang sasterawan yang juga tidak
terkenal namanya, bertempat tinggal di puncak gunung Hoasan.
Dan menurut Bok Siang Ki, buku itu diambilnya dari
rumah sasterawan itu.....”
"Hmm..... lalu apa saja isi buku itu selain 'DAFTAR TOKOH
TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA' itu?"
"Entahlah! Aku bukan seorang terpelajar, sehingga aku tak
bisa memahami segala macam pantun dan syair yang tertulis
di dalam buku itu. Aku bisa meraba-raba sedikit saja.
Tampaknya buku itu berisikan ramalan-ramalan tentang
segala macam hal di dunia persilatan dan keadaan negeri
Tiongkok di masa yang akan datang."
"Ramalan…. ?" terdengar suara Giok-bin Tok-ong
mencemooh sambil tertawa seolah tak mempercayai
kebenaran ramalan yang baginya cuma omong-kosong itu.
“Ooh, kau tak percaya?"
“Ah, omong kosong dengan semua macam ramalan itu!"
“Tapi beberapa buah diantara ramalan itu telah terbukti
kebenarannya. Misalnya tentang jatuhnya Kaisar Chin Si Hongte
oleh Liu Peng itu. Dan bagaimana keadaan anak keturunan
bekas kaisar Chin itu sepeninggal Kaisar Chin Si Hong-te.
Semua itu telah dikisahkan dalam buku itu. Bunyinya kalau tak
salah begini :
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Si Naga Emas menjadi lengah
Sehingga dapat dibunuh oleh anak seorang petani lemah
Naga-naga kecil saling berebut diri
Namun mereka mati oleh api yang mereka buat sendiri.
Seekor Naga Kecil bersayap hitam
Mencoba terbang mencapai awan
Tapi gagal karena seekor ular.
Naga Emas itu diibaratkan sebagai Kaisar Chin Si Hong-te,
yang mati karena dibunuh oleh Liu Pang, anak seorang petani
yang kini menjadi Kaisar Han, sementara Naga-naga Kecil atau
anak-anak keturunan Kaisar Chin Si Hong-te justeru malah
saling berbunuhan sendiri karena saling berebut kekuasaan.
Kemudian ada seorang anak keturunan Kaisar Chin Si Hong-te
pula, yang diibaratkan sebagai 'Seekor Naga Kecil Bersayap
Hitam', yang ingin mengembalikan kekuasaan keluarganya,
tapi ternyata mengalami kegagalan karena ulah seekor ular
atau anak-buahnya sendiri….”
Hening lagi sejenak. Tampaknya Giok-bin Tok-ong
terpengaruh pula oleh keterangan Bu-tek Sin-tong yang
panjang lebar itu. Dan begitu pula halnya dengan Tui Lan
yang ikut mendengarkan percakapan tersebut melalui celah
sempit itu. Gadis itu semakin lama semakin tertarik pula
mendengar pembicaraan mereka itu.
''Lalu, siapakah yang dimaksudkan dengan ‘Naga Kecil
Bersayap Hitam’ itu?” tiba-tiba terdengar lagi suara Giok-bin
Tok-ong melalui celah itu.
“Hmm, apakah kau tidak pernah mendengar nama Hekeng-
cu, yang sangat terkenal di dunia persilatan pada tiga
tahun yang lalu? Tokoh sakti itu adalah keturunan Kaisar Chin
Si Hong-te pula. Dia bermaksud menegakkan kembali dinasti
keluarganya, tapi gagal. Dia terbunuh oleh keponakannya atau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
muridnya sendiri yang bernama Chin Yang Kun yang memiliki
Ilmu Kim-coa-ih-hoat (Baju Ular Emas).”
'Ohh! Lalu, kemanakah Chin Yang Kun itu sekarang?"
"Hei.... mana aku tahu? Kepandaiannya sangat tinggi, dan
usianya masih amat muda pula, apalagi ia juga tercantum
pada urutan ke tujuh dalam ‘DAFTAR TOKOH-TOKOH
PERSILATAN TERKEMUKA' itu.........."
"Eh, Sin-tong! Aku menjadi tertarik juga jadinya mendengar
ceritamu itu. Aku juga ingin melihat dan membaca ‘Buku
Rahasia' itu pula. Lalu, dimanakah orang yang bernama Bok
Siang Ki itu sekarang?"
"Sulit untuk mencarinya, karena dia bertempat tinggal di
tengah-tengah Gurun Go-bi yang maha luas itu. Dan meskipun
dapat ketemu juga, kau takkan bisa mengenalnya pula. Dia
sangat licik dan pandai sekali pian-hoa (beralih rupa).”
"Kaumaksudkan bahwa dia itu pandai menyamar?"
“Benar!"
“Hmm, kalau begitu aku akan menemui sasterawan yang
tinggal di puncak gunung Hoa-san itu saja. Selain lebih dekat,
kukira ia juga lebih mudah dicari pula.”
"Hei, aku juga ikut! Aku juga ingin bertemu dengan Jago
Silat Paling Terkemuka itu!" Bu-tek Sin-tong terdengar
berteriak.
Terdengar langkah kaki mereka meninggalkan ruangan
bawah itu.
Tui Lan menarik napas panjang, namun demikian hatinya
masih terasa tegang juga. Giok-bin Tok-ong yang sebenarnya
ingin ia jumpai itu kini telah pergi. Sebuah kesempatan yang
baik untuk menolong pemuda kurus itu dari borgolnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tapi kuncinya? Mana kuncinya? Tanpa kunci itu tak
mungkin borgol yang kokoh kuat itu dapat dibuka .. " gadis itu
berkata di dalam hatinya.
Gadis Itu lalu mencari kunci borgol itu. Namun sampai lelah
ia melongok dan mencari kesana-kemari, kunci tersebut tak
diketemukannya juga. Akhirnya gadis itu mengambil
keputusan untuk keluar dari tempat itu, dan melapor kepada
gurunya. Siapa tahu gurunya dapat membebaskan pemuda
itu? Mumpung Giok-bin Tok-ong pergi ke puncak gunung Hoasan!
Tui Lan lalu keluar melalui lorong-lorong gua itu kembali.
Sampai di luar ternyata hari sudah siang, malah matahari
sudah lewat di atas kepala. Dan di luar lobang itu telah
menjadi sepi. Gurunya sudah tiada lagi di tempat itu. Yang
tampak di Lembah Dalam itu sekarang hanyalah gundukan
tanah yang luar biasa banyaknya, yang hampir memenuhi
seluruh lembah itu sendiri.
Diam-diam bergidik juga hati Tui Lan menyaksikan kuburan
baru sekian banyaknya itu. Oleh karena itu Tui Lan cepatcepat
merayap menaiki tebing lembah yang sangat
mengerikan itu. Dan sampai di dasar jurang tersebut, Tui Lan
segera merayap pula lagi mendaki tebing jurang. Untunglah
siang itu kabut telah menghilang disapu panas mentari,
sehingga Tui Lan tidak mengalami kesulitan untuk mencapai
bibir jurang yang berada di puncak bukit itu.
Kedatangan Tui Lan di kota Soh-ciu disambut dengan
suasana duka cita para warga kota dan penduduk Kang Lam
berkenaan dengan terbunuhnya ratusan pendekar persilatan
yang bermaksud membela mereka dari keganasan Si Iblis
Penyebar Maut itu. Hampir tak seorangpun yang keluar di
jalan raya. Toko-toko dan warung-warung yang berada di
pinggir jalan juga menutup pintunya, sementara rumah-rumah
penduduk juga tampak lengang pula, sehingga kota itu rasarasanya
seperti sebuah kota mati saja layaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tui Lan langsung menuju ke penginapannya. Tapi
dilihatnya gurunya juga belum kembali. Kamarnya kosong dan
ketika ia memasuki kamarnya sendiri, pelayan penginapan itu
menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Siauw-ya......! Nyonya tua yang tinggal di kamar sebelah
tadi datang mencari s iauw-ya. Tapi setelah mengetahui siauwya
belum datang, beliau lalu pergi lagi." Lapornya kepada Tui
Lan yang masih mengenakan pakaian pria itu.
“Kau tahu kemanakah beliau pergi?" tanya Tui Lan seraya
memberi persen uang logam kepada pelayan itu.
"Saya tidak tahu, siauw-ya. Nyonya itu tidak meninggalkan
pesan apa-apa kepada saya....” jawab pelayan itu sambil
menerima uang pemberian gadis itu. Wajahnya menjadi
berseri-seri. "Baiklah! Biarlah aku menunggunya saja di sini."
"Apakah saudara mencari nyonya tua itu? Aku tahu kemana
dia pergi," tiba-tiba Tui Lan mendengar sebuah suara di
belakangnya.
Gadis itu terkejut dan membalikkan tubuhnya. Ternyata di
belakangnya telah berdiri s i A Cang, kacung dari Tiauw Kiat Su
itu. Tui Lan menjadi curiga dan meningkatkan
kewaspadaannya, karena ia merasakan sesuatu yang tidak
wajar melihat kedatangan bocah tanggung itu di tempat
penginapannya.
''Kau siapa?" Tui Lan pura-pura bertanya.
Tak terduga kacung itu tersenyum. "Siauw-ya belum tahu
namaku? Hehe. baiklah! Namaku...... si A Cang! Sederhana
sekali, bukan? Aku adalah pelayan dari Kim-mou-eng Tiauw
Kiat Su yang tersohor itu," katanya menyombongkan dirinya
sambil tertawa pringas-pringis.
Tapi Tui Lan tak melayani kekurang ajaran bocah tanggung
itu. Sambil menengadahkan dadanya ia berkata kaku, "Kalau
tak salah saudara tadi berkata bahwa saudara mengetahui
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemana nyonya tua itu pergi. Hmm, bolehkah aku tahu juga
ke mana beliau itu pergi?"
"Ah, mengapa terburu-buru? Tidak enak berbicara dengan
berdiri begini.. Eh, bolehkah aku masuk dan bercakap-cakap di
dalam kamar siauw-ya?" kacung itu semakin berani kurang
ajar.
Sekejap Tui Lan menjadi merah padam. "Apakah bocah ini
mengenali penyamaranku?" pikirnya keras. "Tetapi ..mustahil!
Aku telah berdandan dengan rapi sekali. Dan rasanya bocah
ini juga terlalu muda untuk dapat berbuat kurang ajar
terhadap wanita."
Namun demikian, tentu saja Tui Lan takkan mengijinkan
pemuda tanggung itu untuk memasuki kamarnya. Maka
dengan sabar ia berkata, 'Saudara dapat mengatakannya di
sini, atau..... biarlah aku menantinya saja kalau saudara
memang tak mau mengatakannya."
"Begitukah? Baiklah, karena siauw-ya ternyata berlaku
kurang ramah dan tampaknya juga tidak terlalu peduli pada
berita yang hendak kusampaikan itu, maka sebaiknya aku juga
tidak usah mengatakannya saja. Nah. permisi ....” kacung itu
berkata seraya pergi meninggalkan tempat itu. Secara sambil
lalu tangannya menepuk-nepuk pedang panjang yang
tergantung di pinggangnya.
Tiba-tiba Tui Lan membelalakkan matanya! Pedang yeng
tergantung di pinggang A Cang itu adalah pedang gurunya!
Kecurigaan Tui Lan semakin menjadi-jadi! Tampaknya telah
terjadi sesuatu terhadap gurunya! Dan bocah ini tampaknya
mengetahui segalanya.
Tui Lan mengerahkan gin-kangnya. Tubuhnya melesat ke
depan dan dengan sigapnya berdiri di muka pemuda tanggung
itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Berhenti! Kulihat kau mengenakan pedang guruku! Nah,
sekarang berkatalah yang sebenarnya! Dimanakah guruku itu
sekarang? Jangan berbelit-belit!" bentaknya keras.
Ternyata kacung itu masih juga menggoda. Dengan
berpura-pura kaget ia bertanya,"Guru siauw-ya? Siapakah
guru siauw-ya itu? Kulihat nyonya tua itu hanya mempunyai
seorang murid perempuan.”
Yakinlah Tui Lan sekarang bahwa pemuda itu telah
mengetahui penyamarannya.
“Sudahlah, jangan berbelit-belit! Kalau kau memang sudah
mengetahui semuanya, kenapa kau masih berpura-pura juga?"
Tui Lan membentak marah.
Kacung itu tertawa panjang. “Baiklah! Baiklah! Kalau
begitu, marilah nona mengikuti aku ke tempat guru nona itu
sekarang!" katanya penuh kemenangan.
Sesungguhnya Tui Lan amat kesal melihat kecongkakan
kacung itu. Namun apa daya, kekhawatirannya terhadap nasib
gurunya membuatnya harus menahan sabar untuk sementara
waktu. Oleh karena itu dibiarkannya saja kacung itu berbuat
sesuka hatinya, asal tidak berbuat kurang ajar saja
terhadapnya.
Kacung itu membawa Tui Lan ke restoran, tempat tuannya
membuat keributan kemarin. Di sepanjang jalan kacung itu tak
henti-hentinya membual dan menyombongkan kekayaan dan
kesaktian keluarga Tiauw di Lautan Timur. Meskipun Tui Lan
tidak menanggapi omongannya, kacung itu tetap saja
mengobral ceritanya.
Tiauw Kiat Su ternyata telah duduk di depan meja
menantikan kedatangan mereka. Dan di atas meja itu telah
tersedia segala macam masakan yang enak-enak dan mahalmahal.
Sementara di pinggir meja juga telah tersedia pula dua
guci anggur merah beserta cangkirnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Semula kaget juga pemuda itu melihat kedatangan A Cang,
yang tidak membawa gadis yang ia maksudkan, tapi
sebaliknya malah datang bersama seorang pemuda tampan
berpakaian sasterawan. Tetapi setelah A Cang menerangkan
siapa sebenarnya pemuda berpakaian sasterawan itu, Tiauw
Kiat Su lantas tertawa terbahak-bahak.
"Wah! Pandai juga nona menyamar menjadi seorang
pemuda, sehingga kami kehilangan jejak dan repot mencarimu
kemana-mana. Nah, sekarang silakan duduk, nona.......!"
pemuda itu menyambut kedatangan Tui Lan dengan
ramahnya.
Sesungguhnya Tui Lan ingin lekas lekas menanyakan
perihal gurunya. Namun melihat persiapan pemuda itu dalam
menyambut kedatangannya, maka gadis itu segera
mengurungkan niatnya. Tampaknya pemuda itu benar-benar
tertarik dan ingin sekali berkenalan dengan dirinya, sehingga
bagaimanapun juga ia mendesaknya, pemuda itu tentu tidak
akan segera memberitahukan keadaan gurunya. Pemuda itu
tentu akan mengulur-ulur waktu selama mungkin. Menghadapi
orang demikian, ia harus sabar dan pandai melihat keadaan.
Namun demikian, begitu duduk diatas kursinya Tui Lan
terpaksa berkata juga,"Maaf, saudara Tiauw, saya tidak
mempunyai banyak waktu. Oleh karena itu saya mohon
sudilah kiranya saudara Tiauw lekas-lekas memberitahukan
keadaan guruku itu kepadaku......."
"Eee, nanti dulu! Jangan tergesa-gesa! Guru nona tidak
apa-apa. Jangan khawatir! Marilah kita menikmati pertemuan
kita ini dahulu dengan makan dan minum sekedarnya! Pelayan
restoran ini sudah menyajikan sebuah masakan istimewa buat
kita berdua, hahaha........oh,ya....... kita belum berkenalan.
Namaku Tiauw Kiat Su. Ehm, bolehkah aku mengetahui nama
nona?” dengan lagak dan suara yang dibuat-buat Tiauw Kiat
Su mencoba menarik perhatian Tui Lan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sesungguhnya sebal juga rasanya hati Tui Lan melihat
lagak-lagu pemuda itu. Namun karena masih membutuhkan
keterangan tentang gurunya, maka sekali lagi ia menyabarkan
hatinya. Apalagi gadis itu telah menyadari pula betapa lihainya
pemuda di depannya itu. Pemuda itu harus dihadapi dengan
akal, bukan dengan kekerasan.
"Namaku .. ,. Han Tui Lan,” gadis itu menjawab pendek.
"Han Tui Lan? Wah, betapa bagusnya nama itu. Sungguh
sesuai sekali untuk nona." pemuda itu memuji. Lalu
sambungnya cepat, ”Mari....! Marilah nona Han! Silahkan
minum anggur merah dari Soh-ciu yang terkenal!"
Tanpa menunggu lagi reaksi tamunya, pemuda itu
langsung saja menyiapkan cangkir di depan Tui Lan dan
mengisinya dengan anggur merah yang telah tersedia di
dalam guci. Setelah itu ia berdiri mengisi pula cangkirnya
sampai penuh. Tapi ketika dilihatnya Tui Lan belum juga mau
mengangkat cangkirnya, pemuda itu lantas tertawa maklum.
"Hahaha......! Marilah! Nona Han tak perlu curiga. Anggur
ini tidak beracun. Lihatlah, saya hendak meminumnya lebih
dulu!" katanya sambil memuntahkan isi cangkirnya itu ke
dalam mulutnya. Setelah itu dia mendahului pula mengambil
makanan yang tersedia di atas meja. “Ayo, silakan!"
sambungnya pula seraya mengunyah makanan yang ada di
dalam mulutnya.
Tak enak juga rasanya hati Tui Lan kalau harus menolak
terus hidangan yang disajikan oleh lawannya. Apalagi pemuda
itu telah lebih dahulu mencicipi makanan dan minuman yang
disajikannya. Oleh karena itu dengan sedikit enggan gadis itu
terpaksa mengangkat juga cangkir yang berada di
hadapannya, Namun ketika gadis itu hendak meraih makanan
yang tersedia di atas meja, tiba-tiba matanya terbelalak
menatap pintu restoran.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Otomatis Tiauw Kiat Su menoleh pula ke arah pintu. Dan
pemuda itu segera mengerutkan dahinya dengan wajah
masam. Seorang pemuda tampan bertubuh tinggi kurus
tampak memasuki restoran itu dengan kepala tertunduk. Dan
Tiauw Kiat Su segera mengenalinya sebagai pemuda yang
kemarin telah menghinanya dengan cara menyaingi dia dalam
memberi hadiah uang kepada pelayan.
"Anak miskin yang berlagak banyak uang itu ternyata telah
berani datang lagi ke tempat ini." Tiauw Kiat Su menggeram
dengan suara dongkol.
Sebaliknya, kedatangan pemuda kurus itu benar-benar
amat mengejutkan hati Tui Lan! Sebab baru beberapa saat
yang lalu pemuda itu masih terborgol semua kaki-tangannya
di dalam lorong gua di Lembah Dalam itu. Kini pemuda itu
sudah bebas. Malahan sekarang berada di dalam kota pula
kembali. Lalu siapakah yang telah membebaskan pemuda itu
dari borgolnya?
Seorang pelayan segera menyongsong kedatangan pemuda
kurus itu. Dengan suara takut dan menyesal, pelayan itu yang
kebetulan juga pelayan yang kemarin diberi hadiah oleh
pemuda kurus itu, memberitahukan kepada pemuda itu bahwa
seluruh meja di restoran tersebut telah diborong oleh Tiauw
Kiat Su semua.
“Kulihat siang ini amat sepi. Dan tuan itu tampaknya juga
hanya menggunakan satu meja saja. Kenapa aku tak bisa
memakai sebuah meja saja yang pinggir itu?"' pemuda kurus
itu menggerutu.
"Tapi...... tapi tuan muda itu memang telah memborong
semuanya, tuan. Katanya…... katanya tuan muda itu hendak
menjamu seorang kenalan baiknya."
"Hmmh! Coba katakan kepada tuan muda itu, kalau boleh
aku akan meminjam sebuah saja diantara meja-mejanya.
Kalau perlu akupun bisa menggantinya dengan uang ... "
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Tapi.............." pelayan itu melirik ke arah Tiauw Kiat Su.
"Sudahlah! Tak usah takut! Katakan saja permintaanku tadi
kepada tuan muda itu......!" pemuda kurus itu mendesak.
Dengan agak takut-takut pelayan itu terpaksa menuruti
permintaan tamunya. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan,
ternyata A Cang sudah menghadangnya.
“Goblog! Mau kemana kau, huh? Ayo pergi! Jangan ganggu
tuan mudaku! Suruh pergi saja orang itu dari sini! Sekali
sudah diborong, ya diborong! Tak ada kecualinya lagi!" hardik
kacung sombong itu dengan suara menggeledek.
Namun baru saja mulut kacung itu terkatup kembali, tibatiba
tubuhnya terangkat ke atas. Kemudian terbanting ke
lantai tanpa menyadari apa yang telah terjadi! Tahu-tahu
kacung itu melihat si pemuda kurus tadi telah berdiri bertolakpinggang
di depannya!
Semua orang ternganga kaget dan heran! Tidak terkecuali
pula Tui Lan dan Tiauw Kiat Su! Sama sekali mereka tidak
melihat cara bagaimana pemuda kurus tersebut bergerak.
Padahal jarak antara A Cang dan pemuda itu tadi lebih dari
dua tombak jauhnya. Lagipula si A Cang juga bukan anak
bodoh yang tidak bisa apa-apa. Kemarin pemuda tanggung itu
justru dapat membunuh seorang pendekar dari Tai-khek-pai
pula.
Tapi semua itu memang telah terjadi. Pemuda kurus itu
telah mengangkat dan membanting A Cang dengan cara yang
tidak dapat diketahui oleh siapapun juga. Dan kini kacung itu
tergeletak kesakitan di atas lantai.
Tiauw Kiat Su tak dapat menahan kemarahannya. Tapi
sebelum pemuda itu bangkit dari kursinya, Tui Lan cepat
mencegahnya. Selain gadis itu amat tertarik dengan
penampilan si pemuda kurus tersebut, gadis itu juga tak ingin
urusan tentang gurunya itu menjadi tertunda pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Saudara Tiauw! Bukankah saudara ini menjamu aku?
Mengapa kini saudara justru hendak meninggalkan meja ini?
Biarkan saudara itu mengambil sebuah meja untuk makanminumnya.
Dia toh takkan mengganggu pembicaraan kita."
Tui Lan berkata dengan tegas.
Tiauw Kiat Su menjadi bimbang. Beberapa kali pemuda itu
menoleh ke arah kacungnya. Tampak benar bahwa pemuda
itu berusaha mengendalikan kemarahannya.
"Hmm! Baiklah! A Cang, mundurlah! Biarlah orang itu
memakai meja kita.......!" akhirnya pemuda itu berteriak ke
arah kacungnya yang masih kesakitan itu.
"Terima kasih, saudara ....!” pemuda kurus itu tersenyum
dan mengangguk ke arah Tui Lan, kemudian menarik sebuah
kursi dan duduk menghadapi sebuah meja.
Tui Lan tersenyum pula. Dan diam-diam gadis cantik itu
kembali mengagumi ketampanan pemuda tersebut. "Ah,
ternyata dia dapat juga tersenyum.........." desahnya di dalam
hati.
Sementara itu pemuda kurus itu telah memesan makanan
dan minuman kepada pelayan, dan kemudian sibuk dengan
urusannya sendiri. Sedikitpun tidak mengacuhkan lagi kepada
Tui Lan maupun Tiauw Kiat Su. Cuma ketika pelayan restoran
itu mengantarkan pesanannya, pemuda itu berkata," Kulihat
kota ini tidak ramai dan sibuk seperti kemarin. Apa yang telah
terjadi?"
“Ah! Mengapa tuan tidak tahu juga? Kemana saja tuan tadi
malam? Wah, tuan benar-benar ketinggalan jaman. Masakan
peristiwa besar yang sangat menggemparkan seperti itu tuan
tidak mendengarnya juga?" pelayan itu balik bertanya kepada
tamunya seolah-olah tak percaya.
Pemuda kurus itu mengerutkan alis matanya. "Peristiwa
besar? Peristiwa apa itu? Apakah tentang Si Iblis Penyebar
Maut lagi?" tanyanya dengan suara kaget dan tegang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Seluruh pendekar persilatan yang berkumpul di kota ini,
yang jumlahnya lebih dari limaratus orang itu, habis ludes,
dibasmi oleh Iblis itu tadi malam. Di antara empat orang ketua
partai persilatan yang ikut datang, hanya dua orang yang
selamat. Itupun karena salah seorang diantaranya, Kong Tong
Cin-jin, tidak ikut bersama-sama para pendekar itu karena
masih sakit. Hek-pian-hok Ui Bun Ting, ketua Tiam-jong-pai
yang terkenal itu digotong pulang dalam keadaan terluka
parah......." pelayan itu memberi keterangan dengan wajah
tegang pula.
“Ohh….! Jadi jadi begitukah?" pemuda itu mengeluh
dengan suara tersendat-sendat, seolah amat terpukul atau
sangat menyesal hatinya mendengar khabar itu. “Makanya
tadi kulihat banyak sekali kuburan di Lembah Dalam itu.
Apakah…. Apakah….?ohh!" sambungnya lagi seraya
memegang kepala dan menundukkannya dalam-dalam.
Pelayan itu juga menghela napas, menyangka kalau
tamunya tersebut sangat menyesal karena tak bisa ikut
berjuang bersama-sama temannya melawan Si Iblis Penyebar
Maut yang amat sakti itu.
"Bukankah kemarin tuan juga ada di tempat ini?
Kemanakah tuan tadi malam, sehingga tuan tertinggal oleh
para pendekar itu?" pelayan itu bertanya sambil
menyelesaikan hidangan yang ia sajikan.
Tui Lan yang ikut mendengarkan pula percakapan itu,
diam-diam menjadi tegang juga hatinya menantikan jawaban
pemuda itu.
"Aku........tertidur malam tadi." akhirnya pemuda kurus itu
menjawab pendek, sehingga Tui Lan menjadi kecewa
mendengar jawaban itu.
"Kelihatannya pemuda itu menyimpan rahasia. Terang dia
diborgol kaki-tangannya oleh kakek tampan itu, kenapa dia
bilang kalau tertidur tadi malam? Kenapa ia tak berterus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terang saja kalau dirinya sedang ditawan oleh iblis itu? Apakah
pemuda itu ingin melindungi iblis itu karena iblis itu tidak
membunuhnya? Ataukah mungkin pemuda itu mempunyai
hubungan khusus dengan iblis itu malah?" Bermacam-macam
pertanyaan mengganggu pikiran Tui Lan sehingga gadis itu
menjadi tersendat-sendat makannya.
"Ah, mengapa nona makan sedikit sekali? Ayolah, minum
lagi .......!"
Tiauw Kiat Su yang sedari tadi selalu memperhatikan gadis
itu tiba-tiba berkata.
"Terima kasih. Saya tidak begitu berselera hari ini.
Pikiranku selalu terbayang pada guruku.” Tui Lan berkilah,
sambil mencoba untuk membuka percakapan tentang
gurunya.
Tiauw Kiat Su tertawa perlahan. "Ah, kenapa nona tetap
kurang sabar juga.....? Selesai acara makan dan minum ini kita
akan segera pergi menemui orang tua itu. Marilah kita minum
secangkir lagi!" pemuda itu berkata seraya mengisi cangkir Tui
Lan dengan anggur merah itu sampai penuh.
Dengan kesal Tui Lan menatap mata lawannya. Hampir
saja gadis itu tak kuasa mengekang perasaannya lagi. Namun
bayangan wajah gurunya sekali lagi menyadarkan hatinya,
sehingga dengan amat berat gadis itu terpaksa menuruti
permintaan pemuda tersebut. Sekali tuang gadis itu
menghabiskan anggur itu.
“Nah, saudara Tiauw.....cangkirku telah kosong. Mau
tunggu apa lagi?"
Tampaknya Tiauw Kiat Su maklum juga kalau Tui Lan
sudah kehilangan kesabarannya. Maka, dengan sedikit enggan
pemuda itu terpaksa bangkit pula dari kursinya. "Baiklah,
nona........ marilah!" ucapnya perlahan, lalu mengajak
tamunya itu keluar restoran. A Cang yang sedari tadi menjadi
tidak banyak omong, cepat mengikuti tuannya. Ketika
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
melewati tempat duduk si pemuda kurus tadi, bocah itu masih
dapat mengancam juga. "Huhl Awas pembalasanku!"
Pemuda kurus itu menoleh sambil tersenyum. Katanya
kepada pelayan yang sedang berada di dekat
mejanya,"Siapakah tamu Tiauw Kiat Su tadi? Apakah dia
penduduk kota ini juga?”
“Ah yang tuan maksudkan anak muda yang sangat tampan
itu? Wah, entahlah, saya tidak tahu. Kami semua juga baru
melihatnya hari ini." pelayan itu menjawab polos. “Dan saya
kira dia bukanlah sahabat atau teman dari pemuda congkak
itu, sebab tampaknya hatinya sangat baik.”
"Ya! Namun kebaikannya itu kelihatannya hendak dibalas
dengan air tuba oleh Tiauw Kiat Su tadi."
"Dibalas dengan air tuba? Apakah maksud tuan?” pelayan
itu bertanya tak mengerti.
Pemuda kurus itu tersenyum. "Sudahlah! Cepat bereskan
semua rekeningku! Aku akan melihat kemana mereka tadi."
“Sudah, tuan. Uang tuan kemarin masih lebih dari cukup
untuk membayar makanan tuan hari ini.” pelayan itu menolak
dengan halus.
Pemuda kurus itu bangkit dari kursinya. Sambil meletakkan
uang logam diatas mejanya, ia berkata. “Jangan sebut-sebut
hal yang kemarin. Aku sudah memberikannya dengan ikhlas
kepadamu. Nih, berikan uang ini kepada majikanmu,
kelebihannya boleh kauambil.”
“Terima kasih, tuan! Terima kasih…!” Pelayan itu
mengangguk-angguk. Lalu sambungnya lagi dengan
bersemangat,"Tuan....? Bolehkah saya mengetahui nama
tuan?''
Di luar halaman pemuda kurus itu menoleh. “Sebut saja
aku......Yang Kun! Liu Yang Kun!" katanya perlahan namun
sudah cukup terdengar juga oleh pelayan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu di rumah Kang Lam Koai-hiap yang kini
kosong itu, tampak beberapa orang sedang berunding. Mereka
adalah Kong-tong Cin-jin yang masih sakit, Ui Bun Ting yang
terluka parah, dan kedua orang tamu mereka, yaitu Hong-gihiap
Souw Thian Hai dan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee. Selain
membicarakan duka cita yang menimpa diri para pendekar
persilatan, mereka juga berbicara tentang tokoh-tokoh sakti
yang secara tiba-tiba bermunculan di kota Soh-ciu.
“Bagaimana mula terjadinya sehingga musibah besar itu
dapat menimpa para pendekar persilatan yang berkumpul di
kota ini?" Hong-gi-hiap Souw Thian Hai bertanya kepada
Kong-tong Cin-jin, yang juga belum bisa bangkit dari kursinya.
Ketua Kong-tong-pai itu menarik napas panjang. Lalu
dengan suara berat dia menjawab,"Mula-mula salah seorang
dari para pendekar itu melaporkan bahwa dia melihat seorang
yang sangat mencurigakan di dasar jurang itu. Kang Lam
Koai-hiap lalu memberi perintah kepadaku untuk
menyelidikinya. Karena aku sendiri juga belum yakin terhadap
laporan tersebut, maka aku mewakilkan tugas itu kepada
anak-anakku, Kong-tong Ngo-hiap. Ternyata laporan itu
memang benar. Anak-anakku juga bisa melihatnya. Tapi anakanakku
tidak berani menghadapi orang yang sangat
mencurigakan yang mereka pastikan sebagai Si Iblis Penyebar
Maut itu, sebab orang tersebut memiliki gin-kang yang luar
biasa tingginya.”
Kong-tong Cin-jin mendongakkan kepalanya, seakan-akan
sedang berusaha mengumpulkan kembali ingatannya tentang
peristiwa yang terjadi kemarin.
"Maka, aku dan saudara Ui Bun Ting lalu menyusul ke
jurang itu. Benarlah, di tempat tersebut kami menjumpai
orang yang kami curigai itu, yaitu seorang kakek tampan yang
usianya jauh lebih tua dari umurku. Karena ciri-cirinya sesuai
dengan apa yang telah diceritakan oleh Kang Lam Koai-hiap,
maka kami berdua lantas mengeroyoknya. Sungguh tak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terduga kakek itu benar-benar lihai tak terkira. Hanya dengan
dua jurus, kami yang telah berani menjadi ketua sebuah partai
persilatan ini, ternyata sudah kalah dan terluka. Untunglah,
ketika iblis itu hendak membunuh kami, tiba-tiba datang
seorang tua bertubuh kerdil mencegahnya...”
"Ooo, orang kerdil yang bertempur melawan aku itu?"
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menyela.
"Benar, tai-hiap. Selagi mereka itu ribut dan bertengkar
sendiri tentang sebuah buku, yang mereka sebut sebagai Buku
Rahasia aku dan Saudara Ui lalu meloloskan diri dengan
dibantu oleh anak-anakku.”
“Buku Rahasia.....?" Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee
berdesah hampir berbareng.
"Sampai di rumah, kami lalu melaporkan kejadian tersebut
kepada Kang Lam Koai-hiap, yang menjabat sebagai pimpinan
dalam perburuan ini. Dan setelah berunding beberapa waktu
lamanya, Kang Lam Koai-hiap lalu memerintahkan kami semua
untuk mengepung Lembah Dalam itu. Demikianlah, ratusan
pendekar yang tergabung dalam lima kelompok itu lalu
berduyun-duyun menuju Lembah Dalam itu. Dan kemudian ..
terjadilah peristiwa atau bencana yang mengerikan itu!
Semuanya habis tumpas, tiada yang tersisa lagi, selain
saudara Ui Bun Ting! Oh, sungguh menyesal sekali aku!
Mengapa aku tak bisa ikut menjadi mayat bersama mereka,
bersama-sama dengan anak-anakku..........! Ooooh...!" Ketua
Kong-tong-pai itu mengakhiri ceritanya dengan suara serak.
"Memang sungguh mengherankan sekali. Belum pernah
selama hidupku menyaksikan orang sesakti mereka. Sudah
kukerahkan seluruh kemampuanku, namun tetap saja aku
kewalahan menghadapi orang tua kerdil itu.” Souw Thian Hai
berkata pula sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Akupun demikian juga, saudara Souw. Meskipun lima
orang anggota Sha-cap-mi-wi itu telah membantuku, ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
aku tetap hampir mati juga melawan kakek tampan itu.” Yap
Kiong Lee ikut mengiakan perkataan Souw Thian Hai.
“Meskipun demikian, kedua orang sakti itu ternyata masih
bertengkar juga tentang sebuah 'Buku Rahasia'! Lalu buku
macam apa pula lagi itu?” Ui Bun Ting yang sejak tadi hanya
diam saja, tiba-tiba ikut berbicara.
Namun semua orang yang berada di dalam ruangan itu
hanya saling-pandang saja satu sama lain, suatu tanda bahwa
tak seorangpun di antara mereka itu yang tahu tentang hal
itu.
Selagi mereka itu sibuk dengan pikiran masing-masing,
tiba-tiba seorang pembantu Hong-lui-kun Yap Kiong Lee
tampak memasuki ruangan dengan tergesa gesa.
"Yap tai-hiap.......! saya telah melihat seorang pemuda
yang wajahnya mirip sekali dengan Pangeran Yang Kun! Dan
kebetulan pula saya mendengar pemuda itu menyebutkan
namanya, yaitu Liu Yang Kun!" anggota Sha-cap-mi-wi yang
diperbantukan kepada Yan Kiong Lee itu melapor.
"Liu Yang Kun.......? Hei, dimana kau melihat pemuda itu?
Hong-siang memang she Liu, maka sudah sewajarnya kalau
pangeran itu bernama Liu Yang Kun!” Yap Kiong Lee berteriak
kegirangan.
Meskipun belum terbukti kebenarannya, namun berita itu
benar-benar meledakkan kegembiraan di hati Hong-lui-kun
Yap Kiong Lee. Sudah terbayang oleh pendekar itu, wajah
kaisar junjungannya yang selama ini selalu murung dan tak
pernah tersenyum berubah menjadi berseri-seri melihat
kedatangan puteranya.
“Hei! Dimana kau melihat pangeran itu?" Yap Kiong Lee
membentak pembantunya yang malahan menjadi gugup pula
melihat kegembiraan atasannya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Beliau.....beliau tadi berada di restoran dekat pasar itu!
Tapi sekarang pergi ke palung jurang di Lembah Dalam itu lagi
....!”
“Bagus! Panggil kawan-kawanmu! Marilah kita mengejarnya
ke sana!” Hong-lui-kun Yap Kiong Lee memberi perintah. Lalu
katanya pula kepada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. “Saudara
Souw, aku permisi dulu….!"
Souw Thian Hai cepat melangkah pula ke depan,"saudara
Yap, bolehkah aku ikut ?” serunya perlahan. "Kalau orang itu
benar-benar Pangeran Yang Kun aku juga ingin berbicara
sebentar dengannya."
"Hei, tentu saja! Marilah!" Yap Kiong Lee menjawab
gembira.
Kedua pendekar sakti itu lalu meminta diri kepada Kongtong
Cin-jin dan Ui Bun Ting. Sekejap saja bayangan mereka
telah lenyap dari depan ketua partai persilatan itu.
“Hmm, hanya kepada pendekar-pendekar seperti mereka
itulah nasib kita ini bergantung. Hanya merekalah yang bisa
membebaskan kita dari cengkeraman kuku Si Iblis Penyebar
Maut itu." Kong tong Cin-jin bergumam kepada Hek-bin-hok Ui
Bun Ting.
"Benar, Cin-jin. Orang-orang tua seperti kita ini yang di
kalangan kang-ouw sudah berada di tingkat atas, karena kita
telah menjabat sebagal ketua dari sebuah partai persilatan,
ternyata sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan
pendekar-pendekar muda seperti mereka itu.”
Selagi kedua orang tua itu menyesali kelemahan mereka,
Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai
telah memacu kuda mereka menuju ke pintu gerbang kota
sebelah timur. Tapi sebelum mereka mencapai pintu kota itu,
serombongan perajurit yang dipimpin oleh seorang perwira
berpangkat Cianbu, mencegat perjalanan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah saling menghentikan kuda tunggangan mereka,
perwira itu turun dari kudanya. Dengan amat hormat perwira
itu bertanya kepada Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.
"Apakah saya sekarang sedang berhadapan dengan Honglui-
kun Yap Kiong Lee?"
Yap Kiong Lee mengangguk. "Benar. Apakah Cian-bu diutus
oleh Gui Cong-tok (Kepala Daerah Gui) untuk menyambutku?"
pendekar dari kota raja itu bertanya.
"Ya, Maaf kami telah terlambat menyambut tai-hiap…”
"Hmm…. akupun juga meminta maaf pula karena tidak
langsung mengunjungi tempat kediaman Gui Cong-tok. Tapi
aku memang belum mempunyai kesempatan itu.
Kedatanganku ke sini tepat pada saat peristiwa berdarah di
Lembah Dalam itu terjadi." Yap Kiong Lee juga memberi
keterangan. Lalu sambungnya lagi,"Dan sekarangpun....
ternyata aku juga belum bisa memenuhi undangan Gui Congtok
pula. Kalian lihat, aku dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai ini
hendak pergi dulu ke luar kota untuk menyelidiki sesuatu yang
maha penting. Dan urusan ini tidak bisa kami tinggalkan,
karena menyangkut kepentingan Hong siang sendiri.”
"Oh! Kalau begitu, apa yang harus kita kerjakan?” perwira
itu tiba-tiba bertanya dengan kaget.
“Silahkan Cian-bu kembali dulu untuk memberi laporan
kepada Gui Cong-tok. Katakan bahwa aku sedang menyelidiki
atau mengurus hal yang sangat penting dan tak bisa ditunda
lagi. Baru setelah selesai dengan urusan ini, aku akan datang
mengunjungi Gui Cong-tok di rumah."
"Baik! Baik, tai-hiap....!” Kedua rombongan itu lantas
berpisah. Pasukan yang dipimpin oleh perwira itu kembali ke
gedung Kepala Daerah, sedangkan rombongan Hong-lui-kun
Yap Kiong Lee meneruskan perjalanan ke luar kota.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu jauh di depan mereka, sepasang muda-mudi,
Tiauw Kiat Su dan Tui Lan bersama A Cang yang selalu
mengikuti di belakang mereka, berjalan tergesa-gesa ke
jurang yang dalam itu. Semakin dekat dengan tempat yang
dituju, Tui Lan juga semakin berdebar-debar pula hatinya.
Meskipun Tiauw Kiat Su telah menjanjikan bahwa gurunya
tidak kurang suatu apa, namun hatinya tetap merasa khawatir
juga. Sebab pedang yang tergantung di pinggang A Cang itu
tak pernah terpisah dari s isi gurunya.
“Kata pelayan penginapan itu, guruku sudah kembali
pulang ke penginapan. Tapi kenapa sekarang beliau pergi ke
tempat itu lagi?” sambil berjalan Tui Lan bertanya kepada
Tiauw Kiat Su. “Wah, entahlah. Aku sendiri juga tidak
mengetahuinya, Nona Han. Kudengar dl Lembah Dalam tadi
malam terjadi bencana maha dahsyat yang membinasakan
hampir seluruh pendekar yang berkumpul di kota Soh-ciu ini.
Mungkin guru nona hendak melihat tempat yang mengerikan
itu."
"Tapi aku dan guruku juga berada di tempat itu pula malam
tadi.” Tui Lan cepat menyanggahnya. Kemudian sambil
menoleh ke belakang, yaitu ke arah A Cang yang berjalan
mengikuti mereka, Tui Lan berkata,"Hmmh, saudara Tiauw.
Mengapa saudara tidak segera berterus terang saja kepadaku?
Kalian apakan sebenarnya, guruku itu? Coba lihat pedang
yang dikenakan oleh kacungmu itu! Pedang itu adalah pedang
guruku!”
Tiauw Kiat Su kelihatan terkejut sekali. Matanya menatap
tajam ke arah kacungnya. Sebaliknya kacung kecil itu menjadi
ketakutan melihat tuannya.
Tapi sesaat kemudian air muka Tiauw Kiat Su itu cepat
menjadi biasa kembali. Dengan pintar pemuda itu
menerangkan,"Ah, jadi..... itukah yang membuat nona
mencurigai kami? Hahahaha....! Justru guru nonalah yang
memberikan pedang itu kepadaku, agar nona benar-benar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
percaya kepada kami, bahwa diantara kita telah terjalin suatu
persahabatan yang sangat mendalam.”
"Benar! Benar! Dan sayalah yang membawakan pedang itu,
karena Tiauw siauw-ya tidak mau membawanya sendiri....” A
Cang dengan cepat menambahkan dengan wajah berseri-seri,
seakan-akan terbebas dari belenggu ketakutan.
Tapi semua sandiwara itu tak lepas dari pandang Tui Lan.
Namun sekali lagi gadis itu menyabarkan hatinya. Pokoknya
dia ingin tahu lebih dulu keadaan gurunya. Setelah itu baru ia
akan memikirkan cara untuk menghadapi pemuda itu. Dan
misalnya pemuda itu membohonginya, sehingga
kedatangannya ke jurang itu hanya merupakan jebakan saja,
dia juga tidak takut. Pada saatnya yang tepat nanti ia akan
melawan pemuda itu sampai titik darah yang penghabisan.
Mereka mendaki bukit itu sehingga bibir jurang yang
menjadi jalan turun ke Lembah Dalam itu berada di depan
mereka. Dan sementara itu matahari telah mulai meredup dan
siap untuk memasuki peraduannya, sehingga suasana di atas
bukit itu juga sudah mulai remang-remang pula. Senja telah
tiba.
Entah mengapa, meremang juga bulu kuduk Tui Lan ketika
mengikuti Tiauw Kiat Su dan A Cang menuruni tebing itu.
Bayangan Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong yang telah
membunuh ratusan pendekar persilatan di Lembah Dalam itu,
kembali terbayang di depan matanya.
“Ah! Mengapa kita berhenti di sini. Mana guruku?” Tui Lan
tiba-tiba berseru ketika Tiauw Kiat Su berhenti di dekat
makam Ang-leng Kok-jin yang dibongkar oleh Giok-bin Tokong
itu.
Tiauw Kiat Su tidak menjawab. Sebaliknya pemuda itu
segera memandang berkeliling malah. Tampaknya ada
sesuatu yang dicarinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Lo-cianpwe.....! Adakah engkau sudah datang?” serunya
sedikit keras.
Tui Lan terperanjat. “Saudara Tiauw....! Kau mencari
siapa?" tanyanya.
Terdengar desir angin di dekat mereka dan tiba-tiba saja di
depan Tiauw Kiat Su telah berdiri seorang kakek tua yang
rambutnya masih hitam legam meskipun kumis dan
jenggotnya telah memutih. Dan Tui Lan benar-benar menjadi
terkejut melihatnya, karena kakek tersebut tidak lain adalah
Giok-bin Tok-ong, pembunuh berdarah dingin itu!
"Eh! Mengapa dia.....dia masih berada di sini? Bukankah dia
telah mengatakan bahwa dia hendak pergi ke puncak Hoasan?"
Tui Lan bertanya-tanya di dalam hatinya.
“Huh! Kenapa kau sudah kembali kemari? Mana gadis itu,
hah?" Giok-bin Tok-ong menghardik Tiauw Kiat Su.
"Itu.... itulah dia!” Tiauw Kiat Su menjawab dengan suara
gugup. Matanya melirik ke arah Tui Lan. Kelihatannya benar
kalau pemuda itu sangat takut menghadapi kakek tampan
tersebut.
"Hei... ? Apakah matamu sudah buta? Bocah yang
kumaksudkan itu seorang gadis, bukannya seorang pemuda,
tahu?” Giok-bin Tok-ong berteriak gusar.
"Lo-cianpwe, dia,.. dia seorang gadis, bukan pemuda! Dia ..
dia memang menyamar sebagai ........sebagai seorang
pemuda.” dengan cepat Tiauw Kiat Su memotong perkataan
iblis tua itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 5
"Hah? Apa katamu?" Giok-bin Tok-ong menegaskan dengan
suara tinggi. Lalu tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat ke arah
Tui Lan dan di lain saat topi yang dikenakan oleh gadis itu
telah terlepas, sehingga rambut yang panjang itu menjadi
terurai lepas kembali.
Kakek itu terbelalak, kemudian lalu tertawa terbahakbahak.
"Bangsat .....! Pandai benar kau melakukan
penyamaran! Hahaha........!”
Kakek yang gemar membunuh orang itu lalu melangkah
mendekati Tui Lan. Matanya yang tajam mengerikan itu
bergetaran seperti mata seekor serigala yang haus darah.
“Gadis kecil, kau tidak lupa kepadaku, bukan? Aku adalah
guru Ang-leng Kok jin yang kau kuburkan disana itu." kakek
itu berkata sambil menunjuk ke dalam lobang yang telah
terbuka itu. Lalu sambungnya lagi, ”Sekarang katakan dengan
terus terang kepadaku. Apakah muridku itu memberikan
sesuatu benda kepadamu? Maksudku..... sebuah buku dan
sebutir mutiara pusaka sebesar jagung, sebelum dia mati?”
Yakinlah Tui Lan sekarang bahwa Tiauw Kiat Su memang
sengaja menjebaknya ke tempat ini atas suruhan Giok-bin
Tok-ong. Hanya gadis itu tidak tahu, ada hubungan apa antara
pemuda itu dengan Giok-bin Tok-ong sehingga pemuda itu
rela melaksanakan perintah iblis tua tersebut?
“Saudara Tiauw! Di manakah guruku?" gadis itu tidak
menjawab pertanyaan Giok-bin Tok-ong, sebaliknya malah
bertanya kepada Tiauw Kiat Su.
"Hei ! Kau jangan menakut-nakuti aku dengan nama
gurumu, ya? Gurumu tidak berada di sini, hahaha. Ayoh,
sekarang jawab saja pertanyaanku tadi ! Apakah muridku itu
menitipkan sebuah buku dan mutiara pusaka kepadamu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Jawab dulu pertanyaanku! Dimanakah guruku?” Tui Lan
tetap tidak mengacuhkan pertanyaan Giok-bin Tok-ong, dan
tetap terus mendesak Tiauw Kiat Su. Entah mengapa, tiba-tiba
timbul keberanian gadis itu. Hilang semua ketakutan dan
kengeriannya terhadap Giok-bin Tok ong. Dan seperti yang
telah dikatakannya tadi, pada saat-saat terakhir ternyata ia
benar-benar hendak melawan semua lawannya sampai titik
darah yang penghabisan.
Melihat ketenangan gadis itu, ternyata Tiauw Kiat Su
menjadi terpengaruh juga. Kegugupannya menjadi hilang.
“Maaf, nona Han. Kau jangan terburu-buru marah dulu
kepadaku. Aku memang belum membawamu ke tempat
gurumu, karena gurumu itu telah berada jauh dari daerah ini
bersama dengan pamanku. Maksudku, sebelum kita
menempuh perjalanan yang amat jauh itu, lebih dulu aku
mengajakmu kesini untuk menemui lo-cianpwe ini. Lo-cianpwe
ini ingin sekali bertemu denganmu.”
“Guruku pergi bersama pamanmu yang bernama Tung-hai
Nung-jin itu? Kemana mereka pergi?"
“Pulang ke teluk Po-hai!”
“Kau bohong lagi?”
Tiauw Kiat Su tersenyum, sehingga menambah
ketampanannya. "Tidak, nona cantik. Aku berkata
sebenarnya......." katanya dengan suara manis.
“Hei! Hei! Berhenti! Jangan pacaran di depanku, tahu? Kau
bisa tidak kebagian nanti!” Giok-bin Tok-ong berteriak
menengahi pembicaraan mereka. Lalu kakek itu membentak
Tui Lan lagi.
“Hei, gadis kecil! Lekaslah kaujawab pertanyaanku tadi!
Apakah kau dititipkan sebuah buku dan sebutir mutiara oleh
muridku itu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tui Lan terdiam tak bisa menjawab. Timbul perang batin di
dalam hati gadis itu. Ada keinginan untuk mengembalikan saja
buku dan mutiara itu kepada yang empunya. Bukankah
benda-benda pusaka itu memang milik Giok-bin Tok-ong? Tapi
di lain pihak, bila teringat akan kejahatan dan kebengisan
kakek tampan itu terhadap sesama manusia, hati Tui Lan
menjadi tidak rela. Ingin rasanya memusnahkan saja buku itu,
biar berkurang ‘pegangan’ jago tua yang maha sakti itu.
“Hei! Kenapa kau diam saja? Apakah kau ingin digeledah
dan ditelanjangi di tempat ini, heh?” kakek tampan itu
berteriak lagi. Lalu ketika dilihatnya gadis itu tetap diam saja
tak menjawab, ia membentak kearah Tiauw Kiat Su. “Kiat Su!
Telanjangi dia!”
“Lo-cianpwe, ja-jangan….. kasihan dia….” Pemuda yang
biasanya juga senang bertindak brutal itu menolak.
“Goblok! Kalau begitu, biarlah aku sendiri yang
menelanjanginya!”
“Lo-cianpwe, jangannnn….!” Tiauw Kiat Su mencoba
menghalangi maksud orang tua itu.
Plaaak! Bluuung!
Hanya dengan satu gerakan kecil saja pemuda yang amat
lihai itu ternyata sudah terpental jatuh oleh gebrakan Giok-bin
Tok-ong. Selanjutnya, sekali saja tubuh kakek tampan itu
berkelebat, maka di lain saat baju luar dan sedikit baju dalam
dibagian punggung Tui Lan telah terlepas dengan paksa.
Sehingga sebagian dari punggung Tui Lan yang putih bersih
itu menjadi terbuka.
“Aaaiiih!" gadis itu menjerit, karena bagaimanapun juga ia
berusaha mengelak, tangan iblis tua itu tetap juga dapat
mengenainya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kurang ajar! Iblis tua yang tidak tahu malu!” tiba-tiba
terdengar suara makian disertai berkelebatnya seorang lelaki
muda mendatangi. Semuanya menoleh.
“Kau…. ?” Tui Lan dan Tiauw Kiat Su berdesah hampir
berbareng, begitu melihat pemuda kurus yang ada di restoran
tadi telah berada di depan mereka.
“Orang tua! Lepaskan gadis itu !” Pemuda kurus itu
menggeram ke arah Giok-bin Tok-ong.
Semula kakek tampan itu memang kaget melihat
kedatangan lawannya yang amat mendadak itu. Tapi begitu
menyaksikan bahwa yang datang cuma seorang pemuda
kurus, yang tampaknya belum tahu siapa dirinya, maka kakek
itu lantas tertawa menghina.
"Bocah tak tahu diri! Tampaknya kau tadi malam bisa
meloloskan diri dari tanganku di Lembah Dalam itu. hehe
.......! Dan sekarang kau kemari seorang diri hendak menuntut
balas atas kematian teman-temanmu itu, hah?”
"Iblis tua! Jadi kaukah yang membunuh ratusan pendekar
di palung jurang itu? Hmmh, lega benar hatiku sekarang.. ..."
tiba-tiba pemuda kurus itu menarik napas lega.
Tentu saja Giok-bin Tok-ong menjadi heran melihat sikap
pemuda itu. "Hei, kenapa kau? Mengapa kau menjadi lega
malah?" teriaknya tak mengerti.
"Aku menjadi lega karena ternyata bukan akulah
pembunuhnya.......!" pemuda itu berkata sambil
menengadahkan kepalanya ke atas. Wajahnya berseri-seri.
Giok bin Tok-ong mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke
arah Tui Lan dan Tiauw Kiat Su berganti-ganti. Kakek itu
tampaknya menjadi bingung dan tak mengerti akan sikap
pemuda itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ah, kau bisa meloloskan diri dari tanganku, tapi....... kini
kau tampaknya telah menjadi gila malah!" Giok bin Tok-ong
mencemooh.
Sementara itu Tui Lan juga menjadi bingung pula hatinya.
Dilihatnya kedua orang itu, si pemuda kurus dan Giok bin Tokong.
"Benar-benar belum saling mengenal sebelumnya. Kalau
begitu, siapakah yang memborgol pemuda kurus itu kemarin?”
"Wah, celaka! Malam-malam begini sudah ketemu orang
gila pula!" Giok bin Tok-ong menggerutu, lalu memutar
tubuhnya kembali ke arah Tui Lan dan tidak mengacuhkan lagi
kepada si pemuda kurus. “Ayoh . ! Mana benda-benda itu?"
hardiknya lagi kepada Tui Lan.
"Jangan hiraukan orang tua itu, nona ! Kau pergilah saja
dari tempat ini! Lekas! Biarlah kuhadapi sendiri iblis tua ini!"
Pemuda kurus itu tiba-tiba menyela kembali.
"Bocah gila! Pergilah kau dari sini! Aku paling pantang
membunuh orang gila!" Giok-bin Tok-ong berbalik lagi dan
berseru dengan gusarnya.
"Dia memang sudah gila, lo-cianpwe! Kalau tidak, masakan
dia berani berlaku sombong di depanku dan di depan locianpwe.
Hmmh, lo-cianpwe tak perlu turun tangan sendiri!
Biarlah siauw-te saja yang mengenyahkannya….” tiba-tiba
Tiauw Kiat Su berdiri dan melangkah ke depan pemuda kurus
itu.
“Bagus ! Bagus! Bolehkah aku ikut menghajarnya, tuan
muda?" A Cang yang sedari tadi diam saja mendadak juga ikut
berbicara pula. Matanya kelihatan geram memandang
lawannya itu.
“Nanti saja kalau dia sudah kulumpuhkan. Kau boleh
berbuat sesukamu terhadap dia." Tiauw Kiat Su menjawab
dengan suara yang amat memandang rendah kepada
lawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya pemuda kurus itu kelihatan mendongkol juga
menyaksikan kecongkakan Tiauw Kiat Su dan kacungnya.
“Hmmm, Tiauw Kiat Su ….. Meskipun kau belum pernah
mengenal aku, tapi aku sudah mengenal semua keluargamu.
Kau jangan coba-coba melawan aku, karena pamanmu si
Tung-hai Nung-jin itu saja tak menang menghadapi aku.
Pergilah !” katanya menahan geram.
Tiauw Kiat Su mengerutkan dahinya. “Kau jangan membual
dan mencoba menakut-nakuti aku. Huh, siapakah kau?"
bentaknya marah. Tangannya terkepal.
"Namaku Liu Yang Kun! Ayah dan pamanmu sudah tahu
siapa aku.” Pemuda kurus yang tidak lain memang Liu Yang
Kun itu menjawab tenang.
Pengakuan Liu Yang Kun itu ternyata benar-benar
mengejutkan Tiauw Kiat Su dan Giok-bin Tok-ong! Tiauw Kiat
Su kaget karena ia pernah diberitahu oleh ayah dan
pamannya, bahwa adiknya pernah berhubungan dengan
seorang pemuda yang bernama Yang Kun (baca: Pendekar
Penyebar Maut). Sedangkan Giok-bin Tok ong terperanjat
karena teringat akan cerita Bu-tek Sin-tong tentang seorang
pemuda bernama Chin Yang Kun, yang di dalam 'Buku
Rahasia' tercatat pada urutan yang ketujuh.
"Kurang ajar! Jadi engkaukah pemuda yang telah berani
menggoda dan memikat Tiauw Li Ing itu?" Tiauw Kiat Su
menggeram marah.
"Hei? Namamu Liu Yang Kun atau Chin Yang Kun?" Giokbin
Tok-ong menegaskan dengan suara tinggi.
Liu Yang Kun tidak mempedulikan kemarahan Tiauw Kiat
Su. Sebaliknya pemuda kurus itu lalu berdiri menghadapi Giokbin
Tok-ong. "Kau pernah mendengar namaku pula?" katanya
kepada kakek tampan itu. Lalu sambungnya lagi," Tentang
namaku, kau boleh menyebut yang mana saja. Bagiku she
Chin atau she Liu adalah sama saja. Sebab ayahku adalah she
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liu, tapi sejak kecil, aku telah menjadi anak angkat keluarga
Chin......."
“Oh, jadi engkaulah yang ditulis pada urutan ketujuh di
dalam Buku rahasia itu?"
Sekejap Liu Yang Kun tampak bingung. Tapi sesaat
kemudian pemuda itu lalu tersenyum dan menganggukanggukkan
kepalanya. “Ah, kelihatannya orang tua kerdil itu
telah mempengaruhimu pula dengan ceritanya yang anehaneh….”
"Jadi kau juga sudah ditemui pula oleh Bu-tek Sin-tong
itu?"
"Bu-tek Sin-tong? Siapakah dia?” Liu Yang Kun atau Chin
Yang Kun bertanya bingung.
"Orang tua kerdil itu ! Dia kunamakan Bu-tek Sin-tong,
karena bentuknya yang seperti anak-anak, namun kesaktian
dan kepandaiannya benar-benar tidak terlawan oleh anakanak
kecil yang manapun juga.”
“Oh, kalau orang tua itu yang kau maksudkan, aku
memang pernah bertemu dengannya. Tapi kejadian itu sudah
berlangsung tiga tahun yang lalu….”
“Ketika kau membunuh Hek-eng-cu?”
Tiba-tiba Liu Yang Kun menjadi tegang. Matanya seolaholah
menyala di dalam kegelapan malam yang telah
melingkupi jurang itu. Tampaknya pemuda tersebut tidak suka
peristiwa tentang Hek-eng-cu itu diungkat-ungkat kembali.
“Jangan sebut-sebut hal itu lagi!” pemuda itu membentak.
“Hei? Mengapa….? Mengapa aku tak boleh
menyebutkannya? Apakah karena Hek-eng-cu itu pamanmu
atau bekas gurumu sendiri? Kau tidak ingin disebut sebagai
anak durhaka, begitu!” Giok-bin Tok-ong berteriak pula
dengan tidak kalah garangnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bangsat! Tampaknya selain kejam, jahat dan suka
menghina wanita, kau memang layak untuk dibungkam
mulutmu sepanjang masa!” Liu Yang Kun menggeram marah,
lalu meloncat menerjang orang tua itu.
Tapi Tiauw Kiat Su yang sudah bersiap-siap itu segera
mencegatnya. Terdengar suara mendesing ketika kipas
besarnya secara mendadak menyambar ke arah perut Liu
Yang Kun!
“Kurang ajar! Sudah kuperingatkan tapi kau tetap juga
membandel! Kau memang patut diberi pelajaran supaya jera!"
Liu Yang Kun berseru, lalu tangan kanannya menyambar ke
depan, menyongsong kedatangan kipas itu.
Whuuusl Bress! Jari-jari tangan pemuda itu menghantam
kipas Kiat Su !
"Auugh.........!?!" Tiauw Kiat Su menjerit kesakitan ketika
tiba-tiba kipasnya ‘pecah' dan lempengan-lempengan baja tipis
itu membalik mengenai lengan dan pahanya.
Kontan pemuda congkak itu 'mendekam' di atas tanah dan
dari kedua buah pahanya mengalir darah segar dengan
derasnya! Untunglah lempengan-lempengan kipas itu tidak
mengenai perut dan dadanya, sehingga jiwanya masih dapat
ditolong.
“Siauw-ya ....... !" A Cang cepat menghambur untuk
menolongnya.
Tui Lan terbelalak. Demikian pula dengan Giok-bin Tokong.
Mereka sungguh tidak mengira kalau tenaga dalam Liu
Yang Kun ternyata sedemikian dahsyatnya. Tanpa
mengenakan alas apapun ternyata pemuda itu berani
membentur kipas baja yang amat tajam itu. Dan hasilnya,
justru kipas itulah yang hancur berantakan ketika bentrok
dengan jari-jarinya!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hei! Kau memang pantas menduduki urutan ke tujuh. Tapi
kau jangan lekas lekas bergembira dahulu, sebab yang akan
kauhadapi sekarang adalah aku, yang berada tiga tingkat di
atasmu, hehehe….” Giok-bin Tok-ong membuka mulutnya
sambil tertawa. Seperti halnya para ahli silat tinggi, kakek itu
menjadi amat gembira bila berjumpa dengan lawan yang
‘berat’.
“Persetan dengan Buku Rahasia itu! Aku tidak akan percaya
pada urut-urutan nama itu sebelum aku membuktikannya
sendiri! Dan aku juga tidak peduli apakah namaku tercantum
atau tidak di dalam buku itu. Yang penting adalah orangnya.
Meskipun namaku tidak tercantum di dalam buku itu, tapi
kalau aku bisa mengalahkanmu, apa mau dikata?" Liu Yang
Kun menyahut dengan suara tinggi.
“Bagus! Pendapat itu benar-benar cocok dengan hatiku.
Nah, kalau begitu kita tak perlu banyak omong lagi. Ayoh kita
tentukan, siapa yang lebih tinggi diantara kita ini!"
Selesai bicara iblis tua itu lalu menerjang Liu Yang Kun.
Dengan jari-jari terbuka seperti cakar garuda, orang tua itu
mencengkeram ke arah pundak dan serangkum udara berbau
amis ikut berhembus ke arah hidung Liu Yang Kun.
Dengar tangkas pemuda itu menghindar ke kiri. Kemudian
berbareng dengan itu tubuhnya berputar ke kanan, seraya
menjulurkan kaki kanannya ke depan dalam jurus Liong-ongsao-
tee (Raja Naga Menyapu Tanah). Kaki itu menyerang
kedua lutut lawannya!
Jurus itu sebetulnya tidak istimewa, namun kecepatan dan
kekuatannyalah yang sangat mendebarkan hati Giok-bin Tokong.
Kaki pemuda itu rasa-rasanya lalu berubah menjadi
puluhan banyaknya dan angin yang amat dingin tiba-tiba saja
terasa menebar, menyentuh kulit Giok-bin Tok-ong, sehingga
kakek itu hampir menggigil karenanya. Hembusan hawa amis
yang keluar dari tangan Giok bin Tok-ong tadi segera punah
dihantam gelombang udara dingin itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Bagus!” kakek tampan itu memuji, lalu menggeliat
menghindari kaki lawannya.
Tapi betapa kagetnya
kakek itu ketika kaki
lawannya itu menjadi
bertambah panjang dan tetap
mengejarnya! Tak ada jalan
lain lagi bagi kakek itu selain
menangkis serangan kaki
tersebut dengan siku
tangannya!
Bresssssssssss!
Liu Yang Kun terjengkang
dan kemudian jatuh
terduduk. Sedangkan Giokbin
Tok-ong yang mempunyai
posisi yang tidak atau kurang
menguntungkan itu terlempar
ke belakang, sehingga membentur dinding jurang! Keduanya
sama-sama terluka bagian dalam tubuhnya. Hanya saja
tampaknya kakek tampan itu lebih parah bila dibandingkan
dengan Liu Yang Kun.
“Bangsat kecil ….. ! Aku benar-benar telah berlaku
sembrono menghadapi engkau! Seharusnya sejak semula aku
menyadari bahwa kau adalah orang yang juga ikut terdaftar
dalam Buku Rahasia !” Giok-bin Tok-ong menggeram seraya
mengusap darah yang menetes dari mulutnya.
“Hmmh! Akupun tak menyangka orang setua kau masih
juga mampu menahan tendanganku, huk....." Liu Yang Kun
berkata pula sambil berludah. Ludah yang telah bercampur
dengan sedikit darah pula.
Sementara itu Tui Lan dan Tiauw Kiat Su benar-benar
bergetar hatinya menyaksikan gebrakan pertama yang sangat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendebarkan itu. Mereka sungguh merasa sangat kecil bila
diperbandingkan dengan kedua jago sakti itu. Dan bagi Tiauw
Kiat Su, apa yang telah dilihatnya itu benar-benar menggugah
kesadarannya. Ternyata semua yang dipelajarinya dan
dimilikinya selama ini belumlah apa apa bila dibandingkan
dengan kepandaian pemuda kurus itu.
Beberapa saat kemudian pertempuran antara Giok-bin Tokong
dan Liu Yang Kun itupun berlangsung pula dengan
sengitnya. Mula-mula mereka masih mengandalkan
ketangkasan dan ketrampilan kaki-tangan mereka, yang
dilandasi gin-kang serta lweekang mereka. Namun setelah
beberapa jurus lamanya mereka belum juga dapat mengatasi
lawannya, keduanya lalu meningkatkan kemampuan masingmasing
dengan ilmu andalannya.
Sambil memukul dan menyerang, berulang kali Giok-bin
Tok-ong membuka dan menutup telapak tangannya. Dan
didalam arena pertempuran itupun segera tersebar bau wangi,
busuk, kecut, amis dan lain sebagainya. Dan setiap bau
tersebut ternyata mempunyai pengaruh sendiri-sendiri. Ada
yang begitu terhisap membuat kepala menjadi pening. Ada
yang membikin mata menjadi mengantuk. Ada pula yang
mengakibatkan seluruh urat-urat di dalam tubuh menjadi
lemas. Malahan ada pula yang begitu terhisap membuat orang
menjadi hilang kesadarannya.
Sebaliknya dari bibir Liu Yang Kun yang terkatup rapat itu
tiba-tiba terdengar suara desis yang amat tajam, menyerupai
desis ular kobra yang sedang marah! Dan selanjutnya hawa
dingin yang tadi telah membuat Giok-bin Tok-ong kedinginan,
menjadi berlipat ganda lagi dinginnya! Begitu dinginnya arena
itu sehingga rasa-rasanya telah terjadi badai salju di dalam
jurang itu!
Tapi yang sangat menderita adalah Tui Lan, Tiauw Kiat Su
dan A Cang. Ketiga orang yang sebenarnya juga bukan orang
sembarangan itu ternyata tidak tahan menerima hantaman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gelombang udara dingin, yang bercampur dengan bau-bauan
berbahaya itu. Dengan tubuh dan perasaan yang tidak keruan,
mereka beringsut menjauhi arena pertempuran itu.
“Gila! Orang itu betul-betul gila! A Cang, ayolah gendong
aku keluar dari tempat ini!” Tiauw Kiat Su yang terluka
pahanya itu mengeluh. “Nanti kita kembali lagi setelah
pemuda itu dapat dijinakkan oleh Giok-bin Tok-ong.”
Demikianlah ketiga orang itu melihat pertempuran tersebut
dari kejauhan. Tui Lan agak lebih baik keadaannya dari pada
Tiauw Kiat Su dan A Cang. Dengan Po-tok-cu yang tersimpan
di dalam sakunya gadis itu terbebas dari pengaruh racun yang
disebar oleh Giok-bin Tok-ong. Namun demikian gadis itu tidak
terbebas dari pengaruh udara dingin yang menghembus dari
tubuh Liu Yang Kun.
Sementara itu pertempuran antara dua jago silat kelas
tinggi itu benar-benar semakin dahsyat dan mengerikan. Liu
Yang Kun yang masih muda itu telah mengeluarkan ilmu
andalannya, Kim-coa ih-hoat yaitu sebuah ilmu silat aneh dan
mengerikan. Dengan Liong-cu-i-kangnya yang sudah
mencapai tingkat kesempurnaan, pemuda itu mempermainkan
sendi-sendi tulangnya, sehingga pemuda itu dapat bergerak
lemas seperti sebuah boneka dari karet tangan dan kakinya
bisa memanjang dan memendek sesuka hatinya sementara
sambungan siku dan lututnya dapat ditekuk ke muka dan ke
belakang pula tanpa kesukaran.
Dapat dibayangkan betapa repotnnya Giok-bin Tok-ong
menghadapi ilmu lawannya yang masih sangat muda itu.
Tubuhnya terpaksa jatuh bangun menghindari gerakan lawan
yang luar biasa aneh dan tak lumrah manusia itu. Padahal
serangan udara dingin itu benar-benar amat melelahkan
tubuhnya, sehingga hampir saja kakek Iblis itu menjadi putus
asa karenanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untunglah ketika mendapatkan waktu untuk bernapas,
kakek itu memperoleh kesempatan untuk mengeluarkan
senjata andalannya.
Dhuaaaaaaaar .. .!
Sebuah ledakan yang maha dahsyat membuat Liu Yang
Kun terlempar jauh tinggi ke udara, untuk kemudian seperti
layang-layang putus pemuda itu jatuh kembali ke atas tanah.
Brrrug! Pemuda itu jatuh berdebam di atas tanah.
Tapi dengan tangkas pemuda itu bangkit kembali. Dari
sudut bibirnya menetes darah segar. Tubuhnya sedikit
terhuyung-huyung dan pakaiannya sekarang menjadi
compang-camping akibat ledakan itu. Namun demikian kulit
tubuhnya tetap utuh tak kurang suatu apa sehingga diamdiam
Giok-bin Tok-ong merasa heran dan takjub juga. Selama
ini tak seorangpun bisa hidup, apalagi masih utuh badannya,
terkena senjata pek lek-tan (peluru-petir) kepunyaannya itu.
“lblis tua.... ! Kau benar-benar keji dan licik luar biasa. Tak
heran ratusan pendekar persilatan itu telah mati di tanganmu.
Hmm.. untunglah aku yang terkena senjata peledakmu itu.
Kukira kalau orang lain akan hancur berserakan dihantam
pelurumu itu,” Liu Yang Kun menggeram dengan suara
terengah-engah. Bagaimana pun hebat dan kuat tenaga
dalamnya, namun ledakan peluru lawannya tadi benar benar
menggoncangkan tubuhnya dan melukai bagian dalam
badannya.
“Anak iblis! Anak setan! Tampaknya kau mempunyai ilmu
kebal Tiat-poh-san sehingga kulitmu menjadi liat dan
tulangmu menjadi keras seperti besi. Tapi pertempuran ini
belumlah selesai. Peluruku masih banyak dan aku tak percaya
ilmu kebalmu dapat bertahan terus terusan." Giok-bin Tok-ong
menantang dengan suara penasaran.
Sementara itu, melihat keadaan Liu Yang Kun itu, Tui Lan
menjadi terharu dan tak sampai hatinya. Bagaimana pun juga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itu datang untuk menolong dia. Maka tanpa
memikirkan keselamatan dirinya lagi, Tui Lan lalu berlari
menghampiri Liu Yang Kun.
“Tai-hiap ! Kau jangan mempertaruhkan jiwamu hanya
untuk menolong aku. Tinggalkan saja aku di sini! Biarlah
kakek itu membunuh aku…" gadis itu memohon dengan suara
sungguh-sungguh.
Liu Yang Kun terkejut melihat gadis yang hendak
diselamatkannya itu ternyata belum juga pergi meninggalkan
jurang itu. Kini dengan keadaan dirinya yang sudah terluka
dalam itu si gadis malah datang mendekati dia. Bagaimana
pula dia harus menyelamatkan gadis itu?
"Nona.. . ! Kenapa kau belum juga meninggalkan tempat
ini? Pergilah cepat selagi aku masih bisa menghalanginya!” Liu
Yang Kun membentak.
“Tidak! Aku tidak akan pergi kalau Liu Tai-hiap tidak mau
pergi."
"Hahaha......! Jangan bermimpi kalian bisa meninggalkan
aku! Kalian berdua harus mati di tempat ini. Nah,
bersiaplah......!” Giok-bin Tok-ong cepat menghentikan
perdebatan mereka, sementara tangannya telah
mempersiapkan sebutir peluru pek-lek-tan lagi.
"Nona! Cepatlah kau lari dari tempat ini! Cepat.......!" di
dalam kegelisahan dan kekhawatirannya Liu Yang Kun
berteriak ke arah Tui Lan.
"Tidaaaak! Aku tidak mau meninggalkan Liu Tai-hiap!"
sebaliknya Tui Lan juga menjerit dan kemudian malah
menghambur datang, serta memeluk badan pemuda yang
sedang mati-matian menolongnya itu. Dan gadis itu sama
sekali juga tidak peduli lagi kalau tubuh atasnya yang nyaris
terbuka itu akan terlihat oleh orang lain. Mendadak badan Liu
Yang Kun bergetar dengan hebatnya! Tenaga sakti Li-ong-cui-
kang yang berada di dalam tubuh pemuda itu tiba-tiba
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bergolak dengan dahsyatnya, sehingga pemuda itu sendiri
menjadi kewalahan mengendalikannya. Otomatis hawa dingin
yang melancar dari tubuh pemuda itupun semakin menjadi
berlipat-ganda pula dahsyatnya. Namun anehnya, darah yang
mengalir di dalam tubuh pemuda itu sebaliknya justru menjadi
panas malah! Begitu panasnya sehingga pemuda itu menjadi
kegerahan dibuatnya.
"Nona, kau ... kau pergilah! Ja-jangan peluk a-aku! Sangat
ber-ber-bahaya....... ! Kau ...... kau ooh!” seperti orang yang
sedang mabuk Liu Yang Kun mencoba menasehati Tui Lan
agar menjauhi dirinya. Matanya semakin lama semakin merah
dan hampir tak mau lekang dari leher yang jenjang serta
punggung yang mulus kepunyaan Tui Lan itu.
Tapi gadis itu sama sekali tak menyadari akan datangnya
bahaya yang lain' itu karena semakin tidak tahan menghadapi
hawa dingin yang melanda udara di sekitarnya, gadis itu justru
semakin melekatkan tubuhnya ke badan Liu Yang Kun yang
panas. Gadis itu baru menjadi kaget ketika Liu Yang Kun yang
dipeluknya itu tiba-tiba menggeram hebat, lalu….. balas
memeluk dirinya, dan ……menciumi leher serta punggungnya
yang terbuka itu dengan penuh nafsu!
“Ini….ini….. oh, Tai-hiap……kau……. Kau kenapa?” Tui Lan
menjerit dan meronta-ronta. Kulitnya merinding.
Namun seperti seekor binatang buas yang kelaparan, Liu
Yang Kun terus saja menerkam dan tak mau melepaskan
mangsanya, Tui Lan. Sifatnya yang halus dan suka menolong
tadi seketika menjadi hilang, dan tiba-tiba saja berubah
menjadi buas tak terkendalikan lagi.
Untunglah sebelum semuanya menjadi terlanjur, serangan
dari Giok-bin Tok-ong datang menyelamatkannya.
Siuuuutt….
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Serangkum angin beracun mendahului jari-jari Giok-bin
Tok-ong yang menotok kearah ubun-ubun Liu Yang Kun dan
bau busukpun segera menyebar menusuk hidung.
Meskipun sedang ‘lupa diri’, ternyata Liu Yang Kun tidak
lupa akan keselamatan dirinya. Melihat dirinya dalam ancaman
bahaya, otomatis tangannya melepaskan tubuh Tui Lan,
kemudian menyongsong serangan lawannya dengan kekuatan
penuh.
Phlaaaaaakh! Phlaananakh!
Kedua telapak tangan mereka yang penuh sin-kang itu
bertemu di udara! Suaranya nyaring menggetarkan udara
malam di dalam jurang itu! Dan akibatnya sungguh hebat
sekali! Masing-masing terpental balik dengan kuatnya,
bagaikan dua buah bola karet yang saling berbenturan di
udara, untuk kemudian jatuh bergulingan di atas tanah!
Meskipun tidak berada langsung pada garis pukulan kedua
orang sakti itu, namun karena Tui Lan tadi juga berada di
dalam arena pertempuran tersebut, maka dia juga ikut
terkena sambar angin pukulan mereka pula. Bahkan seperti
dihempaskan oleh hembusan badai yang amat kuat, tubuh
gadis itu ikut terlempar pula ke arah yang berbeda.
Walaupun demikian, ketika bangun kembali, dan melihat
tubuh Liu Yang Kun tergeletak tidak jauh dari tempatnya gadis
itu segera berlari menubruknya. Lupa sudah gadis itu akan
perangai Liu Yang Kun yang menakutkan dan mendirikan
bulu-roma tadi.
Kali ini keadaan Liu Yang Kun tampaknya benar-benar amat
parah. Dari mulut dan hidung itu tampak keluar darah. Tapi
dengan demikian 'kebuasan' yang tadi tampak dengan tibatiba
'menguasai’ jiwa pemuda itu justru menjadi lenyap malah!
Kini pemuda itu kelihatan normal kembali. Malah ketika
melihat Tui Lan datang menubruknya, pemuda itu segera
bangkit pula dengan tertatih-tatih. Kemudian ketika dilihatnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Giok-bin Tok-ong juga terkapar di atas dan sedang berusaha
untuk bangun pemuda itu bergegas menarik lengan Tui Lan
untuk dibawa pergi meninggalkan tempat itu. Pemuda itu
masih melihat bahaya yang mengancam jiwa mereka, karena
di telapak tangan iblis tua itu masih tergenggam peluru peklek-
tan itu. Dan secara tidak sengaja pemuda itu berjalan
menuju palung jurang yang dinamakan orang Lembah Dalam
itu.
Namun sungguh tidak beruntung bagi mereka, karena
malam itu langit amat cerah, bintang bertaburan, dan
bulanpun bersinar dengan terangnya, sehingga jurang itu
menjadi terang-benderang pula sampai ke sudut-sudutnya.
Apalagi saat itu tidak ada kabut yang melintas di dalam jurang
itu. Oleh karena itu, meskipun mereka berdua telah jauh
meninggalkan arena tersebut, tetap saja dapat dilihat oleh
Giok-bin Tok-ong yang juga sudah ‘siuman’ dari getaran
pukulan Liu Yang Kun. Dengan menahan geram iblis tua itu
mengumpat dan terhuyung-huyung mengejar mereka. Tangan
kanannya teracung keatas, siap untuk melontarkan Pek-lektan
yang tergenggam di dalam tangannya.
“Cepat, nona! Kita turun ke dalam palung jurang itu! Kita
bersembunyi di sana….” Liu Yang Kun berbisik dengan suara
tegang.
Biarpun dengan amat sukar, karena dua-duanya memang
telah menderita luka dalam, namun ternyata mereka dapat
juga menuruni tebing terjal itu. Tapi ketika mereka sudah
hampir mencapai dasar palung, tiba-tiba Tui Lan yang
keadaan tubuhnya agak lebih baik daripada Liu Yang Kun
melihat Giok-bin Tok-ong sudah mencapai puncak tebing itu
pula. Malah dari atas iblis tua itu melemparkan peluru Pek-lektan
yang ada ditangannya ke bawah, kearah mereka.
“Liu Tai-hiap, awaaasss…..!” gadis itu memekik kuat-kuat.
Liu Yang Kun juga melihat bahaya itu! Dengan sigap
lengannya menyambar pinggang Tui Lan, kemudian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghentakkan kakinya untuk meloncat sejauh-jauhnya ke
samping agar terhindar dari letusan peluru Pek-lek-tan
lawannya itu.
Wuuuttt! Bhhaaaaarr………..!
Peluru itu lewat di samping mereka kemudian jatuh ke
tanah di dasar palung itu dengan kerasnya! Terdengar suara
ledakan menggelegar yang mengguncangkan seluruh isi
palung jurang tersebut, sehingga batu-batu kecil tampak
berguguran ke bawah, seperti sebuah bukit yang mau runtuh
saja layaknya. Dan berbareng dengan itu tercium pula bau
busuk yang amat keras dari lobang bekas ledakan tersebut.
Dan bau tersebut benar-benar mengganggu pernapasan
mereka.
Biarpun telah meloncat menghindar namun hembusan
angina yang diakibatkan oleh ledakan itu tetap saja
melemparkan mereka sampai tiga tombak jauhnya dari tempat
mereka semula. Untunglah dasar palung jurang tersebut
sudah mereka capai tadi, sehingga mereka tidak terhempas
dari tempat yang tinggi ketika ledakan itu terjadi. Namun bau
busuk itu masih tetap saja membuat pening kepala mereka
berdua.
"Bangsat! Jangan lari kalian …. ! Ayoh, terimalah sebutir
Pek-lek-tan lagi!” melihat korbannya masih bisa lolos, Giok-bin
Tok-ong berteriak penasaran. Kemudian sambil mengeluarkan
sebutir Pek-lek-tan lagi, kakek itu bergegas menuruni tebing
mengejar kedua muda-mudi itu. Tapi karena kakek itu pun
juga sudah terluka pula, maka gerakannya juga tidak lebih
cepat daripada Liu Yang Kun maupun Tui Lan.
Liu Yang Kun dan Tui Lan berjalan tersaruk-saruk
melangkahi gundukan makam yang berpuluh-puluh banyaknya
itu sementara agak jauh di belakang mereka Giok-bin Tok-ong
dengan jalannya yang juga terhuyung-huyung itu, tampak
berusaha mengejar mereka. Namun karena Liu Yang Kun
harus melawan rasa peningnya, apalagi ia harus ‘setengah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyeret’ bebannya, yaitu Tui Lan, maka jarak diantara
merekapun juga semakin dekat pula. Sehingga ketika pemuda
itu telah berada di mulut gua yang dimasuki oleh Tui Lan
kemarin, jarak diantara mereka sudah cukup bagi Giok-bin
Tok-ong untuk melemparkan peluru mautnya.
“Liu…..Liu tai-hiap, dia……..dia telah berada di belakang
kita!” Tui Lan berdesah dengan suara serak karena gelisah
dan takutnya.
“Gila! Iblis tua itu benar-benar sulit dilawan, terutama
senjata peledaknya.......!” Liu Yang Kun berdesah khawatir
pula. Khawatir terhadap keselamatan Tui Lan.
“Hahaheheh......! Mau lari kemana lagi kalian sekarang?
Nih, terimalah sebutir Pek-lek-tan lagi untuk meledakkan
tubuh kalian berdua, hehehe....” kakek itu mengejek seraya
mengayunkan tangannya yang mencengkeram peluru
mautnya.
Ssssiiiiiinngg......!
Tapi pada saat yang bersamaan, tiba-tiba di depan Liu
Yang Kun dan Tui Lan berkelebat dua sosok bayangan, yang
dengan cepat berusaha melindungi mereka dari keganasan
peluru Pek-lek-tan itu. Dan dua sosok bayangan tersebut
adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Hong-liu-kun Yap
Kiong Lee. Masing-masing mengerahkan pukulan udara
kosongnya untuk mengembalikan senjata maut itu.
“Pangeran…..!” Yap Kiong Lee masih sempat menyapa Liu
Yang Kun, sementara Souw Thian Hai hanya melemparkan
senyumnya saja kepada pemuda itu.
“Aaah!” Liu Yang Kun memekik kecil begitu mengenali
kedua orang itu. Tapi di lain saat otaknya segera teringat
kembali akan bahaya yang mengancam mereka semua. Oleh
karena itu teriaknya kuat-kuat, ”Awaaas! Benda itu akan
meledak! Hindarilah dia jauh-jauh! Cepaaaattt……!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Peluru maut itu terpental balik terkena dorongan angin
pukulan Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee. Tapi hal itu justru
mempercepat ledakan peluru maut tersebut!
Dhuaaaar…….!
Sekali lagi tempat itu digetarkan oleh suara ledakan yang
maha dahsyat. Dan empat orang yang berada di dekat
ledakan itupun segera terlempar ke udara, untuk selanjutnya
jatuh kembali ke atas tanah dengan luka dalam yang cukup
parah. Untunglah dalam kesempatan yang amat mendesak
tadi Liu Yang Kun cepat mendorong tubuh Tui Lan sekuatnya,
sehingga waktu ledakan itu terjadi, Tui Lan telah terlempar
menjauhi arena. Meskipun demikian tubuh gadis itu masih
terguncang juga dengan hebatnya.
Souw Thian Hai yang terhempas oleh daya ledakan peluru
Pek-lek-tan itu jatuh ke tanah dalam posisi tetap berdiri!
Namun demikian seluruh pakaian yang ia kenakan telah
hancur compang-camping. Tidak ada luka yang menggores
kulit dan daging pendekar sakti itu, tapi dari sudut bibirnya
tampak menetes darah segar.
Sungguh amat berbeda dengan keadaan Yap Kiong Lee.
Jagoan nomer satu dari kota raja itu ternyata lebih parah
keadaannya daripada Souw Thian Hai. Selain terbanting ke
tanah dengan pakaian yang compang-camping, pendekar itu
ternyata terus tergeletak dan tak bisa bangun kembali. Dari
mulut dan hidungnya mengalir darah yang cukup banyak pula.
Tapi yang paling parah adalah Liu Yang Kun! Tiga kali
terhempas oleh ledakan Pek-lek-tan itu benar-benar
membuatnya tak berdaya. Pemuda sakti itu lalu pingsan
begitu tubuhnya terbanting di atas tanah.
Sebaliknya yang paling ringan adalah Tui Lan. Selain rasa
pening dan getaran yang mengguncangkan isi dadanya itu,
gadis itu hamper tidak mengalami luka dalam yang berarti.
Hanya saja hembusan angin ledakan itu ternyata juga masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mampu menyobek-nyobek pakaian yang masih tersisa di
badannya, meskipun juga tidak separah yang lain.
Tui Lan terhempas di dekat mulut gua itu bersama dengan
tubuh Liu Yang Kun. Dan ketika gadis itu bangkit berdiri,
terasa buku pemberian Ang-leng Kok-jin itu terjatuh dari
sakunya yang telah bolong. Gadis itu bergegas memungutnya.
Namun gadis itu menjadi heran melihat ada empat buah buku
di bawah kakinya! Dalam keadaan bingung dan tergesa-gesa,
gadis itu segera mengambil saja semuanya. Lalu dengan
maksud untuk segera menyelamatkan diri dari kejaran Giokbin
Tok-ong, gadis itu lalu buru-buru menyeret tubuh Liu Yang
Kun masuk ke dalam lobang gua itu.
“Bangsat! Jangan lari.....!" Giok-bin Tok-ong berseru dan
mempersiapkan sebutir Pek-lek-tan lagi.
Tapi dengan gagah perkasa Souw Thian Hai berdiri
menghalanginya. Sambil mengerahkan Ang-pek-sin-kang
(tenaga sakti Merah dan Putih) ke ujung jari-tangannya,
pendekar sakti itu mengayunkan tangannya menyilang ke
depan. Dan sekejap kemudian selarik sinar berwarna
kemerahan melesat dari ujung jari tangan tersebut, menuju
kearah perut Giok-bin Tok-ong!
Bukan main terkejutnya iblis tua itu! Meskipun tubuhnya
telah menderita luka dalam yang cukup parah, namun sebagai
orang yang memiliki kesaktian tinggi, orang tua itu dengan
cepat bisa melihat ilmu Souw Thian Hai yang berbahaya itu!
Orang tua itu berusaha mengelak sebisanya! Tapi karena dia
juga tidak ingin kehilangan Tui Lan dan Liu Yang Kun, maka
sedapat-dapatnya pula ia membidik lobang gua tersebut
dengan peluru Pek-lek-tan yang digenggamnya!
Maka dalam waktu yang hampir bersamaan, beberapa hal
telah berlangsung dengan cepatnya!
“Siiiiiinnng!” peluru maut itu meluncur kearah sasarannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Ssrrrrt!" sinar merah yang keluar dari ujung jari tangan
Souw Thian Hai itu 'memotong' ujung lengan baju Giok-bin
Tok-ong, kemudian 'mengiris' pula lembaran baju yang
menutup perut orang tua itu beserta sedikit kulit dagingnya
juga, sehingga yang terakhir ini tampak meringis kesakitan.
"Dhuuuuuaaaaaarr…..!" pek-lek-tan yang meluncur masuk
ke dalam lobang gua itu meledak dengan hebatnya.
Begitu dahsyatnya ledakan peluru Pek-lek-tan yang masuk
ke dalam lobang kecil itu, sehingga dinding tebing di mana
lobang gua itu berada tampak bergetar dengan hebatnya! Dan
sejenak kemudian terdengar suara gemuruh, ketika tembok
tebing yang tinggi itu longsor ke bawah !
Suasana di tempat itupun lantas seperti neraka! Debu
mengepul tinggi! Dan suara hiruk-pikuk yang memekakkan
telinga! Sementara batu-batuan sebesar gajah tampak
melayang berjatuhan ke bawah, bersama dengan ratusan ton
batu kerikil dan tanah!
Souw Thian Hai cepat menyambar tubuh Hong-liu-kun Yap
Kiong Lee dan membawanya lari dari tempat itu. Dengan
tangkas pendekar sakti itu berlari ke tebing yang lain,
kemudian merayap keluar dari Lembah Dalam yang amat
mengerikan itu.
Giok-bin Tok-ong yang tidak menyangka bahwa senjata
peledaknya bisa meruntuhkan dinding tebing tinggi itu,
menjadi ketakutan akhirnya. Dengan sekuat tenaga yang
masih tersisa pada dirinya, orang itu terpincang-pincang pula
melarikan diri. Sambil terbatuk-batuk akibat debu yang tebal
itu Giok-bin Tok-ong mati-matian merayapi tebing terjal
tersebut. Beberapa kali kakinya tergelincir, sehingga tubuhnya
kembali melorot turun. Namun demikian, orang tua itu tidak
menjadi putus-asa. Ketakutan akan terkubur hidup-hidup di
dasar palung itu membuatnya mampu menaiki tebing terjal
tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu neraka di dalam palung jurang itupun
berlangsung terus hingga selesai. Debu yang tersebar tampak
membubung tinggi mencapai awan. Dan akhirnya, hampir
separuh dari palung yang disebut orang dengan Lembah
Dalam, dimana ratusan pendekar persilatan menemui ajalnya
dan dikuburkan pula itu, kini tampak hampir rata dengan
dasar jurang itu.
Souw Thian Hai meletakkan tubuh Yap Kiong Lee di atas
sebuah batu besar, lalu menonton tebing longsor tersebut dari
kejauhan. Lima orang pengawal Yap Kiong Lee yang
menunggu di tempat itu cepat menyongsongnya. Semuanya
terperanjat melihat keadaan pemimpin mereka yang tergolek
diam diatas batu itu.
“Souw Tai-hiap! Ada apa dengan Yap Tai-hiap ini?” mereka
berseru dengan suara khawatir. Dan semuanya menatap
wajah Souw Thian Hai yang lusuh, kotor dan penuh debu itu
dengan pandang mata heran. Apalagi menyaksikan pakaian
Souw Thian Hai yang hancur itu.
“Saudara Yap menderita luka dalam karena terkena ledakan
senjata seseorang. Cepatlah kalian bantu memulihkan
tenaganya dengan saluran sin-kang saudara….” Souw Thian
Hai berkata datar serta agak sendu. Ada sepercik penyesalan
di dalam dada pendekar ini karena tak mampu menolong
Pangeran Liu Yang Kun tadi.
“Uuuhh…..! Saudara Souw, dimanakah Pangeran Yang Kun
tadi? Apakah beliau selamat?” tiba-tiba Yap Kiong Lee
menggeliat dan bertanya dengan suara serak.
Souw Thian Hai berpaling. Dipandangnya sahabatnya itu
dengan wajah penuh penyesalan. “Maaf, saudara Yap. Aku
gagal menyelamatkannya. Iblis tua itu benar-benar lihai sekali.
Aku tak mampu menjinakkan senjata peledaknya, sehingga
Pangeran Yang Kun.... terkubur di dasar palung itu bersama
teman gadisnya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aaah!” Yap Kiong Lee berseru kecewa sekali. Hilang sudah
bayangan kegembiraan Kaisar Han di hatinya. Sebaliknya
pendekar istana itu tak berani membayangkan, apa jadinya
bila berita itu nanti didengar oleh Baginda Kaisar Han.
“Pangeran Yang Kun terkubur di bawah reruntuhan tanah
longsor itu?” anggota Sha-cap-mi-wi yang siang tadi memberi
laporan tentang pangeran itu berseru kaget pula.
“Sudahlah.....! saudara Yap, kau tak perlu bersedih hati!
Semuanya memang diluar kemampuan kita. Lihat saja, kau
terluka parah dan akupun menjadi sedemikian rupa! Hancur
seluruh pakaianku…..eh?!” tiba-tiba Souw Thian Hai tersentak
kaget. Kedua tangannya sibuk mencari kesana-kemari antara
pakaiannya yang telah compang-camping.
“Kau kehilangan sesuatu, saudara Souw?” Yap Kiong Lee
bertanya dengan kening berkerut.
“Celaka…..! buku-buku itu telah hilang!” Souw Thian Hai
berseru tertahan.
“Buku-buku….? Buku apakah itu?”
Pendekar sakti itu menghela napas panjang. Matanya
memandang palung jurang yang kini telah hampir rata dengan
tanah itu. “Buku-buku pusaka peninggalan Bit-bo-ong (Si Raja
Kelelawar) almarhum, tampaknya telah terjatuh dari sakuku
dan ikut terkubur di dalam palung itu.....” katanya pasrah.
“Bit-bo-ong yang sangat terkenal pada ratusan tahun yang
lalu?” salah seorang dari anggota Sha-cap-mi-wi itu
menegaskan dengan kaget.
“Kau pernah mendengar nama itu?” Souw Thian Hai
menoleh dan bertanya.
“Tentu saja, Souw Tai-hiap. Siapakah yang tak pernah
mendengar nama tokoh hitam yang sangat terkenal itu?
Demikian termashurnya tokoh itu sehingga namanya telah
beberapa kali dipakai oleh anak muridnya untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menghidupkan kembali masa kejayaannya.” Orang itu
menjawab. “Hanya saja yang sangat membingungkan hati
kami adalah mengapa buku peninggalan iblis terkenal itu
berada pada Souw Tai-hiap?”
Souw Thian Hai menunduk lesu. Raut wajahnya tak
menunjukkan kegembiraan ketika menjawab pertanyaan itu.
“Iblis itu masih terhitung sebagai keluargaku, keluarga Souw.
Beliau adalah adik dari kakek buyutku sendiri. Itulah sebabnya
semua pusaka warisannya berada ditanganku. Tapi …. Bukubuku
itu telah hilang sekarang, sehingga tinggal pisau dan
mantel pusakanya saja yang tersisa.” Pendekar sakti itu
menerangkan seraya mengeluarkan lipatan mantel pusaka dan
pisau berdarah itu dari lipatan ikat pinggangnya, untuk
kemudian mengenakannya sekalian di tubuhnya agar tidak
hilang.
Semuanya melongo menyaksikan Souw Thian Hai yang
bertubuh tinggi besar itu. Pendekar sakti itu menjadi
sedemikian gagah dan kerennya setelah mengenakan mantel
lebar yang menutupi pundak dan seluruh tubuhnya itu.
Pakaiannya yang compang-camping itu kini telah tertutup oleh
warna hitam mengkilat dari mantel pusaka yang sangat
bersejarah tersebut. Dan ketika mantel itu sedikit tersingkap
oleh angin yang bertiup, tampaklah gagang pisau pusaka yang
dihias permata berlian itu berkeredep seperti belasan kunangkunang
di malam hari. Sekejap mereka tertegun. Entah
mengapa, tiba-tiba saja timbul rasa segan dan ngeri di hati
mereka melihat dandanan pendekar sakti itu. Dan entah apa
sebabnya pula tiba-tiba kegelapan malam di dalam jurang itu
menimbulkan perasaan takut di hati mereka.
"Agaknya memang sudah benar-benar saatnya aku
mengenakan ciri-ciri kebesaran keluargaku, untuk menghadapi
iblis yang mengganggu dunia persilatan seperti orang tua
yang membawa senjata peledak itu sekarang.” pendekar itu
berkata perlahan. Lalu sambungnya lagi, ”Dan juga…. Sekalian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk mengembalikan nama baik benda-benda pusaka ini,
yang semula memang dikenakan oleh pendekar besar
pembela keadilan!”
“Ini…… inikah mantel pusaka yang tidak mempan oleh
senjata tajam itu?” anggota Sha-cap-mi-wi tadi bertanya lagi
dengan suara gemetar.
Souw Thian Hai mengangguk. Namun yang kemudian
menjawab pertanyaan itu adalah Yap Kiong Lee sendiri, bukan
Souw Thian Hai.
“Tentu saja. Akupun pernah melihat benda itu sebelumnya.
Hmmh, apakah kau tidak percaya? Apakah kau ingin
mencobanya?” pendekar istana itu menegaskan sambil
tersenyum.
“Ah, mana kami berani? Misalkan kami berani mencobanya
juga, toh kami juga takkan bisa membuktikan kekebalan
mantel pusaka itu,” orang itu merendahkan dirinya.
“Hei, kenapa begitu?" Yap Kiong Lee bertanya tak
mengerti.
Sambil tersenyum orang itu menjawab,"Habis bagaimana
kami bisa membuktikannya kalau untuk mengenainya saja
kami tak mampu?”
“Ah, saudara ini bisa saja memuji orang dan merendahkan
diri sendiri. Siapakah yang tidak tahu kehebatan para anggota
Sha-cap-mi-wi? Kukira perbedaan kita hanya pada soal nama
saja. Tapi dalam hal kepandaian, kukira kita tidak berselisih
banyak. Aku berani bertaruh kepandaian saudara masih lebih
atas bila dibandingkan dengan jago-jago s ilat semacam Kongtong
Cin-jin dan Ui Bun Ting itu. Padahal mereka adalah
ketua-ketua partai persilatan yang terkenal.” Souw Thian Hai
menolak pujian itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Wahh, kalau sekarang...... jelas Souw Thian Hai yang
terlalu menaikkan kedudukan kami.” orang itu cepat-cepat
menyanggahnya.
Demikianlah, setelah cukup beristirahat dan yakin kalau
mereka sudah tidak mungkin lagi menolong Pangeran Yang
Kun, mereka lalu kembali pulang ke kota Soh-ciu. Yap Kiong
Lee yang terluka parah itu terpaksa mereka gotong bersamasama
secara bergantian. Dan kedatangan mereka di malam
buta itu ternyata sudah dinanti-nanti oleh para penduduk.
Ledakan dahsyat yang disertai oleh kepulan debu itu ternyata
dapat didengar dan dilihat juga oleh para penduduk kota.
Namun karena tempat kejadian tersebut berlangsung lagi di
Lembah Dalam itu, maka tak seorangpun dari mereka yang
berani menjenguknya.
Karena malam sudah terlalu larut maka rombongan itu
terpaksa menginap di rumah mendiang Kang Lam Koai-hiap.
Dan di dalam rumah itu ternyata sudah bertambah lagi
dengan para pendekar baru yang belum lama tiba di kota itu.
Meskipun terlambat mereka tetap akan membantu mencari
dan memburu Si iblis Penyebar Maut itu.
Kong-tong Cin-jin dan Ui Bun Ting sangat kaget melihat
Hong-liu-kun Yap Kiong Lee digotong dan terluka parah
seperti mereka.
“Apakah cu-wi telah berjumpa lagi dengan orang tua yang
kita curigai bagai Si Iblis Penyebar Maut itu?”Kong tong Cin-jin
segera menanyakan.
“Ah, mengapa Cin-jin masih segan-segan juga untuk
mengatakan bahwa iblis tua yang telah membunuh ratusan
saudara-saudara kita itu adalah Si Iblis Penyebar Maut?
Apakah Cin-jin masih sangsi?" Ui Bun Ting memotong
perkataan sahabatnya itu.
“Entahlah, saudara Ui. Hatiku menjadi agak ragu, sebab
mendiang Kang Lam Koai-hiap pernah menyebutkan, bahwa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Iblis Penyebar Maut itu bertubuh jangkung. Padahal seperti
telah kita lihat semua, orang tua yang ada di dalam lembah itu
bertubuh biasa saja dan tidak jangkung.”
“Ah, Kang Lam Koai-hiap bisa saja salah lihat. Orang yang
bergerak dengan kecepatan tinggi di dalam kegelapan malam,
bentuknya tentulah menjadi berbeda atau cenderung menjadi
agak lebih panjang.''
"Sudahlah, saudara Ui. Kita semua memang kurang
mendapatkan data-data mengenai ciri Si Iblis Penyebar Maut
itu. Sampai sekarang kita memang hanya bisa mencurigai saja
kepada seseorang, sebelum orang itu sendiri mengaku bahwa
memang dialah Si Iblis Penyebar Maut itu." Hong-gi-hiap Souw
Thian Hai menengahi. Lalu katanya lagi,”Namun yang terang
kami tadi memang telah jumpa lagi dengan orang tua itu.
Malah kami sempat bertempur pula, meski hanya sejurus.”
Kemudian serba sedikit Souw Thian Hai menceritakan
peristiwa yang terjadi di dalam jurang itu bersama Hong-luikun
Yap Kiong Lee. Tapi atas isyarat pendekar dari istana itu,
Souw Thian Hai tidak menceritakan tentang pertemuan
mereka dengan Pangeran Liu Yang Kun.
“Senjata peledak? Ah, ketika melawan ratusan pendekar
persilatan kemarin dia belum mengeluarkan benda mautnya
itu! Itupun dia sudah bisa membinasakan kita semua. Apalagi
kalau dia…. wah! Wah!” Kong-tong Cin-jin berdesah ngeri
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya! Benda itu hanya sebesar kepalan tangan, namun daya
ledaknya hebat bukan main! Rasa-rasanya bukitpun bisa
runtuh dihantamnya!" Yap Kiong menambahkan. “Meskipun
demikian orang itu dapat juga dilukai oleh Souw Tai-hiap
dengan Tai-lek Pek-khong-ciangnya yang maha dahsyat itu!”
“Ah, saudara Yap sungguh pandai sekali bergurau. Lukanya
itu bukan karena hebatnya pukulanku, tapi karena orang tua
itu kurang berhati-hati melawanku. Mungkin dia merasa sudah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terlalu sakti sehingga dia menjadi lengah sendiri, atau dia
memang sangat meremehkan pukulanku sehingga dia menjadi
lemah pertahanannya. Apalagi tampaknya orang itu sedang
terluka dan terpecah perhatiannya.” Souw Thian Hai cepat
menyangkal ucapan Yap Kiong Lee.
“Souw Tai-hiaplah yang pandai merendahkan diri.....” Ui
Bun Ting menyokong pendapat Yap Kiong Lee. “Siapakah di
dunia ini yang tak kenal Tai-lek-pek-khong-ciang, Tai-kek Sinciang
dan Ang-pek Sin-kang dari keluarga Souw yang
termashur itu?”
Ilmu silat keluarga Souw memang sudah amat tersohor di
dunia persilatan. Tenaga sakti Ang-pek Sin-kang yang hanya
bisa dipelajari oleh keturunan keluarga Souw sendiri itu
hampir tak ada lawannya di dunia kang-ouw. Sementara Tailek
Pek-khong-ciang yang dapat melukai lawan dari jarak jauh,
seperti tajamnya mata golok atau ujung pedang itu, juga
sangat ditakuti dan disegani orang. Belum lagi ilmu silat Taikhek
Sin-ciang yang aneh dan mengerikan itu, yang bila
dimainkan, bagian tubuh yang sebelah kiri dan sebelah kanan
akan bermain silat sendiri-sendiri, terpisah satu sama lain,
benar-benar belum ada duanya di dunia ini.
“Sudahlah! Sudahlah! Kita semua memang amat bersukur
sekali bahwa Souw Tai-hiap mau turun tangan dalam peristiwa
ini.....” akhirnya Kong-tong Cin-jin menghentikan perdebatan
mereka. "Marilah kita sekarang merundingkan saja cara yang
baik untuk menghadapi iblis sakti itu ..!"
Demikianlah, malam itu juga mereka merundingkan jalan
yang terbaik untuk menghadapi orang yang mereka curigai
sebagai Si Iblis Penyebar Maut tersebut. Biarpun telah
menelan korban yang tidak sedikit, tapi dengan adanya Honggi-
hiap Souw Thian Hai dan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee
diantara mereka, para pendekar menjadi besar hatinya.
(Oo-dwkz-hen-oO)
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Selagi para pendekar itu ramai berunding di rumah
mendiang Kang Lam Koai-hiap, maka di dasar palung jurang
itu Tui Lan dan Liu Yang Kun sedang berjuang melawan
kegelapan dan kepengapan yang menutupi lobang gua itu.
Dengan tertutupnya pintu masuk gua tersebut oleh timbunan
tanah yang longsor dari atas bukit itu, menyebabkan seluruh
lorong-lorong gua yang sempit itu menjadi gelap dan sangat
pengap.
Untunglah Tui Lan sudah pernah masuk sebelumnya,
sehingga sedikit banyak dia dapat mengenali jalan menuju
sungai di bawah tanah itu. Meskipun harus menyeret tubuh
Liu Yang Kun dan melawan kepulan debu yang menyesakkan
napasnya Tui Lan berjalan terus menerobos kepekatan di
sekelilingnya.
"Huk-huk-huk .....!” terdengar suara batuk Liu Yang Kun
yang telah siuman dari pingsannya. Pemuda itu tersedak dan
terbatuk-batuk karena terlalu banyak mengisap debu yang
memenuhi lorong-lorong gelap tersebut.
"Liu Tai-hiap ....? Kau sudah siuman?" Tui Lan berdesah
gembira, lalu berhenti melangkah untuk membiarkan pemuda
itu mendapatkan kejernihan pikirannya kembali. Sayang di
dalam kegelapan yang mencocok hidung itu dia tak bisa
melihat wajah pemuda yang telah berusaha menolong dirinya
secara mati-matian itu.
"Uuuh....uh, huk-huk-hukk! Aaaah, dimana aku ini? Oh,
kau.....nona! Dimanakah kita sekarang? Dimanakah iblis tua
itu? Dan …. dimanakah orang-orang yang menolong kita itu?
Apa.... ugh!" begitu siuman pemuda itu lalu melontarkan
pertanyaan-pertanyaan kepada Tui Lan, seakan-akan
kehitaman yang menyelimuti tempat itu tidak menghalangi
pandang matanya. Tapi ketika pemuda itu hendak bangkit dari
atas tanah, tubuhnya segera jatuh kembali. Bibirnya berdesis
menahan sakit di dalam dadanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya Tui Lan yang sama sekali tidak dapat melihat
keadaan pemuda itu menjadi bingung dan khawatir sekali.
Tangannya berusaha menggapai dan memegang Liu Yang Kun
yang berbaring di bawah kakinya, namun mendadak
tangannya segera ditariknya kembali karena jari-jarinya
menyentuh wajah pemuda itu.
''Liu Tai-hiap, kau.....kau kenapa? Apamukah yang terasa
sakit?” serunya penuh perhatian.
"Dadaku ….dadaku sakit sekali. Tampaknya lukaku benarbenar
parah sekali. Eh, nona.... kenapa kita sampai berada di
lorong gelap seperti ini? Dimanakah kita sekarang?"
“Kita berada di dalam gua di bawah tanah. Aku tadi telah
menyeretmu masuk ke dalam gua ini ketika Giok-bin Tok-ong
mengejar kita. Lalu iblis tua itu meledakkan mulut gua
sehingga tanah longsor menutupi pintu masuk gua ini dan
memisahkan kita dari orang-orang yang mau menolong kita
itu."
“Jadi....... jadi kita sekarang tertimbun di dalam rongga di
bawah tanah, begitukah? Oooh... !” Liu Yang Kun berkata
lemas.
“Marilah, Liu Tai-hiap. Kita tak perlu gelisah. Siapa tahu kita
bisa menemukan jalan keluar nanti? Yang penting kita bisa
menyelamatkan diri dahulu. Yang lain dapat kita pikirkan lagi
nanti." Tui Lan membesarkan hatinya.
Dengan tertatih-tatih pemuda itu lalu dituntun Tui Lan
menuju sungai bawah tanah itu. Benarlah, meskipun harus
dituntun dan sebentar-sebentar berhenti melangkah, namun
pemuda itu ternyata sungguh-sungguh dapat melihat dalam
gelap. Tentu saja Tui Lan menjadi sangat kagum akan
kehebatan pemuda itu.
"Apakah Liu Tai-hiap benar-benar bisa melihat di dalam
kegelapan seperti ini? Jangan-jangan Tai-hiap sudah pernah
masuk ke tempat ini, sehingga Tai-hiap sudah hapal semua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
lorong-lorong gua ini.” namun demikian gadis itu pura-pura
tidak mempercayainya untuk memancing atau mengorek
keterangan tentang terborgolnya pemuda tersebut di dalam
gua itu kemarin.
Terdengar pemuda itu menarik napas panjang. “Nona.....
eh, maaf. Sudah sekian lamanya kita bersama, tapi aku belum
juga tahu nama nona. Nona sudah tahu namaku. Bolehkah
aku mengetahui nama nona?"
“Namaku Han Tui Lan."
“Nona Han, sebenarnya mataku juga sama saja dengan
matamu. Kita sama-sama tidak mempergunakannya di dalam
kegelapan yang amat pekat ini."
“Tapi mengapa Liu Tai-hiap dapat mengetahui segalanya
sedangkan aku tidak?'' Tui Lan cepat memotong.
“Karena aku mengerahkan ..... atau sebut saja aku
menggunakan perasaan dan mata batinku sebaik-baiknya!”
Tiba-tiba Tui Lan terdiam. Gadis itu menjadi bingung dan
tak mengerti kata-kata Liu Yang Kun tersebut. “Menggunakan
perasaan dan mata batin? Apakah maksud Liu Tai-hiap?”
akhirnya gadis itu bertanya ragu.
Sekali lagi terdengar suara tarikan napas Liu Yang Kun
yang berat.
"Begini, nona Han. Di dunia ini ada ilmu yang disebut orang
dengan nama Lin-cui-sui-hoat (Ilmu Tidur Di Atas Permukaan
Air) yaitu semacam ilmu kebatinan yang mendasarkan ilmunya
pada ketajaman rasa dan batin manusia. Seorang yang telah
berhasil mempelajarinya dengan sempurna, ia akan bisa
mengetahui atau paling tidak bisa merasakan hal-hal yang
belum terjadi pada dirinya. Malahan kalau orang itu dapat
mempelajarinya sampai pada tingkat yang tertinggi, akan bisa
meramal dan mengetahui keadaan dunia di sekelilingnya pada
waktu yang akan datang.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dan….. Liu Tai-hiap mahir juga dengan ilmu Lin-cui-suihoat
itu?” Tui Lan bertanya dengan suara kagum.
“Aku pernah mempelajarinya secara tak sengaja. Oleh
karena itu, apa yang kudapatkan juga tidak seberapa banyak.
Namun apa yang telah kudapatkan itu juga sudah cukup
bagiku untuk sekedar merasakan apa yang ada di sekitarku,
tanpa harus menggunakan penglihatanku.” Liu Yang Kun
merendahkan dirinya.
“Meskipun demikian ilmu itu juga tidak mutlak menjamin
kebenarannya. Kadang-kadang atau sekali waktu, ilmu itu juga
membuat kesalahan pula, sehingga apa yang terasa di dalam
batin kadangkala juga tidak sesuai dengan kenyataannya.”
“Namun bagaimanapun juga ilmu itu telah membuat Liu
Tai-hiap menjadi lebih tinggi dan lebih hebat daripada orang
lain.” Tui Lan memuji.
“Ah! Kalau berbicara soal kehebatan dalam ilmu Lin-cui-suihoat
itu, tiada yang lebih hebat daripada tokoh-tokoh aliran
Im-Yang-kauw di dunia ini....”
"Tokoh Aliran Im-Yang-kauw? Eh, Liu Tai-hiap, akupun
adalah anggota Aliran Im-Yang-kauw pula, meskipun hanya
anggota biasa.” Tui Lan menyahut dengan cepat, lalu
menceritakan siapa dirinya sebenarnya.
"Maaf, aku memang belum mengenal guru nona. Yang
sudah kukenal dan kuketahui dalam aliran itu cuma Toat-beng
jin dan Kauw-cu-si Tok Ciak saja. Di dalam hal ini tokoh yang
bernama Toat beng-jin itulah yang kumaksudkan. Beliau
benar-benar mahir ilmu Lin-cui-sui hoat tersebut."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jilid 6
“Wah, beliau itu memang tokoh puncak di dalam aliran
kami."
Akhirnya kedua orang itu sampai juga di sungai di bawah
tanah itu. Sementara itu luka di dalam dada Liu Yang Kun
sudah agak membaik, biarpun untuk menjadi sembuh masih
memerlukan waktu dan pengobatan yang lama pula.
Di dalam lorong yang sempit itu suara air mengalir menjadi
luar biasa kerasnya. Suaranya terdengar gemuruh, sehingga di
dalam kegelapan tersebut suara itu terdengar sangat
menakutkan, seperti suara nyanyian setan dan hantu yang
sedang berpesta-pora.
"Nona Han... ! Kau tunggulah aku sebentar di sini! Aku
akan mencoba mencari obor untuk menerangi tempat ini. Tapi
kuharap kau jangan pergi kemana-mana, sebab air sungai itu
sangat dalam dan amat deras arusnya. Kalau kau nanti
tergelincir dan tak bisa berenang, tubuhmu akan segera
tersedot oleh pusaran air yang ganas,” tiba-tiba Liu Yang Kun
berbisik di telinga Tui Lan, sehingga napas pemuda itu seperti
menggelitik pipi Tui Lan.
"Liu Tai-hiap, aku ….. aku takut!" Tui Lan cepat
mencengkeram lengan Liu Yang Kun erat-erat dan berbisik
pula dengan suara gemetar.
Tak sadar lengan Liu Yang Kun yang lain lalu memeluk
badan Tui Lan. Sekejap mereka saling berpelukan, karena Tui
Lan juga merasa aman dalam pelukan pemuda itu. Tapi di lain
saat Liu Yang Kun segera melepaskan pelukannya, ketika
secara tak sengaja tersentuh pundak dan punggung Tui Lan
yang telanjang. Pemuda itu lalu mundur menjauhkan diri.
"Di sini aman, nona Han. Kau tidak perlu takut! Nah, aku
pergi dulu,” pemuda itu berkata sambil melangkah pergi
dengan terburu-buru seakan-akan takut dikejar setan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Liu Tai-hiap......!” Tui Lan menjerit dan mau mengejarnya,
tapi tak berani. Gadis itu takut tersesat atau tergelincir ke
dalam sungai.
Entah mengapa hati Tui Lan merasa ngeri dan takut sekali.
Padahal biasanya dia tak pernah mengenal takut. Kemarinpun
dia sudah masuk ke gua ini, sendirian malah. Tapi waktu itu
tak sepercikpun perasaan takut mewarnai hatinya. Tapi kini
sungguh lain, sehingga gadis itu menjadi heran pula
memikirkannya.
Selagi gadis itu berjuang melawan perasaan takut, tiba-tiba
dari sebuah lorong yang lain memancar secercah sinar,
menerangi tepian sungai itu, sehingga kepekatan yang
melingkupi tempat tersebut menjadi larut sedikit demi sedikit.
Dan beberapa saat kemudian muncullah Liu Yang Kun
membawa sebuah obor besar di tangannya.
Selain obor pemuda itu juga membawa seperangkat
pakaian untuk Tui Lan.
Sedangkan pemuda itu sendiri ternyata juga telah
mengganti pakaiannya pula.
“Wah, kita sungguh sangat beruntung sekali kali ini, nona
Han. Selain obor ini aku juga telah menemukan sejumlah
pakaian yang masih bersih di dalam lorong itu. Hanya sayang,
pakaian ini adalah pakaian pria. Tapi kukira ini juga lebih baik
daripada tidak ada pakaian sama sekali.”
Tui Lan tidak segera menyongsongnya. Gadis itu justru
termangu-mangu di tempatnya. Gadis itu merasa aneh,
karena pemuda yang menolongnya itu tampaknya selalu
berusaha menyembunyikan keadaannya.
Tui Lan berani bertaruh bahwa pemuda itu tentu telah
pergi ke lobang gua dimana dia diborgol kemarin. Dan gadis
itu juga berani bertaruh bahwa pakaian yang dijinjing itu
tentulah pakaian pemuda itu sendiri, mengapa sekarang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pemuda itu berbuat seolah-olah belum pernah menginjakkan
kakinya di tempat itu?
Tentu ada apa-apanya di balik semua sandiwara pemuda
itu. Tapi untuk sementara waktu Tui Lan tidak berani
menanyakannya. Gadis itu takut Liu Yang Kun akan menjadi
marah kepadanya. Siapa tahu rahasia itu menyangkut urusan
yang sangat pribadi, sehingga orang lain memang tidak boleh
mengetahuinya?
“Baiklah! Aku tidak perlu mengurusinya. Biarlah dia
menyimpan sendiri semua rahasianya. Toh dia bukan apaapaku,”
akhirnya Tui Lan memutuskan sendiri semua
pikirannya tentang pemuda itu. “bukan apa-apaku....?” tibatiba
gadis itu berpikir kembali dengan muka bersemu merah.
Lalu terbayang di benak gadis itu ketika Liu Yang Kun
menciumi pundak dan punggungnya dengan penuh nafsu
beberapa saat yang lalu. Kemudian terbayang pula ketika
mereka pelukan tadi. Mengapa semua yang dilakukan oleh
pemuda itu tidak membuatnya marah atau tersinggung?
“Aah.. .. !” mendadak Tui Lan berdesah dengan keras untuk
menghapus semua bayangan yang menggodanya itu.
“Nona Han....! kau kenapa? Mengapa kau tidak bergembira
dengan penemuanku ini? Apakah kau sakit?” Liu Yang Kun
tiba-tiba bertanya. Pemuda itu ternyata telah berada di
depannya.
Tui Lan terkejut. “A-a-aku tidak apa-apa! Aku masih merasa
ketakutan disini sendirian tadi. Eh, Liu Tai-hiap memperoleh
pakaian? Bagus! Biarlah aku mencobanya......” gadis itu cepat
menyahut untuk menghilangkan kesan yang tidak enak itu.
Karena yang sobek hanya bajunya saja, maka Tui Lan juga
hanya mencoba baju yang dibawa oleh Liu Yang Kun tersebut.
Dan ternyata baju itu terlalu besar untuk badannya. Namun
seperti apa yang diucapkan oleh Liu Yang Kun tadi, baju itu
sudah cukup baik untuk dipakai daripada tidak berpakaian
sama sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Eh, dimanakah Liu Tai-hiap menemukan obor dan pakaian
ini tadi? Sungguh aneh sekali! Tempat yang begini sunyi dan
terpencil seperti ini, ternyata pernah didatangi orang pula.”
Tui Lan bertanya sambil lalu, tanpa memandang kepada Liu
Yang Kun.
Pemuda itu kelihatan gugup. "Ini.... ini ... semua
kudapatkan secara kebetulan saja. Aku …. aku melihatnya
tergeletak di atas tanah."
Tui Lan tahu kalau pemuda itu berbohong kepadanya.
Namun ia tak peduli pula. Sambil lalu ia malah bertanya,”Liu
Tai-hiap.....! Bagaimana kalau minyak obor itu habis? Dari
mana kita akan memperoleh minyaknya?"
“Ah, jangan khawatir, nona Han. Obor ini masih penuh.
Minyak ini masih bisa bertahan sampai dua hari lagi. Dan
dalam dua hari itu kita harus membuat persediaannya."
"Membuat? Apa yang hendak kita buat menjadi minyak
obor?" Tui Lan berseru heran.
Liu Yang Kun tersenyum. “Di dalam sungai itu hidup seekor
belut panjang yang dapat menghasilkan minyak bila kita
rebus.” Ujarnya kalem. “Jadi selain dagingnya dapat kita
makan, minyaknya pun dapat kita pergunakan untuk
menyalakan obor.”
"Oh, begitukah.....?" Tui Lan berdesah lega.
“Sebenarnya hampir semua ikan yang hidup di dalam
sungai di bawah tanah ini mengandung banyak lemak di
badannya, tapi hanya belut panjang itulah yang paling banyak
mengeluarkan minyak.”
Sambil omong-omong mereka berjalan kesana-kemari
meneliti lorong-lorong gua itu. Mereka berharap dapat
menemukan jalan keluar ke alam bebas kembali. Tapi sampai
lelah mereka menerobos dan menyusuri setiap lorong yang
mereka jumpai, mereka selalu menemui jalan buntu. Dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ketika mereka berdua mencoba mengikuti aliran sungai
tersebut, baik kearah hulu maupun ke hilir, mereka juga
menemui jalan buntu pula. Di kedua ujung sungai tersebut
ternyata airnya menyusup ke dalam tanah, sehingga
permukaannya tertutup oleh atap gua.
"Oohhh, celaka! Tampaknya seumur hidup kita akan
terkurung di dalam gua yang gelap ini...” Tui Lan mengeluh
putus asa.
Gadis itu lalu membanting tubuhnya di tepian sungai
dengan wajah cemas. Saat itu mereka berada di hulu sungai
di bawah tanah itu. Keduanya memandang ke arah
permukaan air sungai yang bersatu dengan langit-langit gua
itu.
"Satu-satunya jalan keluar bagi kita cuma mengikuti aliran
sungai ini ....." Liu Yang Kun berkata lirih.
“Mana mungkin?" Tui Lan cepat menyela. “Kita bukanlah
ikan yang dapat bernapas di dalam air! Bagaimana mungkin
kita bisa terbenam terus-menerus di dalam air?”
"Tenanglah, nona Han! Kita belum tentu harus menyelam
terus-menerus. Siapa tahu di balik gua ini air sungai akan
tersembul kembali ke dalam lorong gua yang lain yang
mungkin memiliki jalan keluar ke atas permukaan tanah?”
“Tapi bagaimana kalau sungai ini tak melewati gua lagi
sampai di lautan timur sana? Apakah kita akan berenang terus
di bawah air berhari-hari lamanya tanpa mengambil napas?
Bisa meletus paru-paru kita!" Tui Lan berkata lagi dengan
nada yang semakin putus asa.
"Ya, tapi kita perlu berusaha, nona."
"Tapi usaha seperti itu sangatlah berbahaya. Lebih baik kita
mencoba kembali melalui jalan kita semula. Kita singkirkan
tanah yang menutupi mulut gua ini."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Baiklah, kalau memang jalan itu yang nona inginkan. Aku
menurut saja. Tapi perasaanku mengatakan, bahwa jalan itu
sudah tidak dapat kita bersihkan lagi. Namun demikian kitapun
juga perlu mencobanya pula.....” Liu Yang Kun berkata dengan
suara riang dan semangat, sehingga suasana kaku dan cemas
di hati Tui Lan menjadi agak reda.
Tui Lan lalu bangkit berdiri, tapi kakinya hampir saja
terpeleset oleh lembaran benda licin berlumut yang
menggeletak di depannya. “Huh, benda apakah ini? Licin
benar.....!" katanya seraya memungut benda itu dan
merentangkannya di depan Liu Yang Kun.
“Ah ! Itu potongan dari usus atau kantong perut!" Liu Yang
Kun berseru tertahan. ''Lihatlah! Lembaran ini adalah kulit
yang telah dimasak sehingga awet dan tidak berbau. Dan
lembaran ini merupakan gelembung atau kantong besar yang
telah kempes. Coba, mari kita tiupkan udara ke dalamnya!"
"Kotor......... ah!" Tui Lan menolak dan mengeryitkan
alisnya tanda jijik.
Liu Yang Kun tersenyum, lalu berlari ke sungai untuk
mencucinya. Setelah bersih pemuda itu lalu meniupnya
sendiri. Tangannya menutup lobang yang satu, sementara
mulutnya meniup lobang yang lain. Dan di lain saat benda
tersebut telah menggelembung seperti buah labu sebesar
perut kambing.
“Hei...... besar amat? Potongan usus binatang apa ini!
Kerbau? Gajah?” Tui Lan berseru kaget. “Ah, masakan ada
kerbau atau gajah di tempat seperti ini?”
“namanya saja sudah diawetkan, nona. Tentu saja barang
ini adalah milik seseorang yang dia bawa kemari. Mana ada
binatang memotong ususnya sendiri untuk diawetkan sendiri
pula? Haha……!” Liu Yang Kun tertawa melucu.
“Ah, kau!” Tui Lan mulai tersenyum juga oleh ketenangan
kawannya itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mereka lalu menyusuri lorong-lorong gua itu kembali ke
pintu atau lobang dimana mereka masuk tadi. Sambil
melangkah Liu Yang Kun mempermainkan gelembung usus
tersebut.
“Ah, kenapa masih kaubawa-bawa juga benda itu? Untuk
apa? Buang saja.” Tui Lan yang tanpa sadar sudah mulai
akrab dengan Liu Yang Kun itu berkata gemas melihat
kawannya selalu mempermainkan gelembung usus tersebut
sehingga menimbulkan suara dat-dut….dat-dut yang
merisihkan.
“Eeee…. Ada gunanya juga, nona. Benda ini bisa untuk
mengambil air atau menyimpan air kalau mau memasak,
haha…..”
“Huh! Siapa mau memasak? Apakah kau mau tinggal di
sini?" Tui Lan yang kini sudah tidak merasa sungkan-sungkan
lagi kepada Liu Yang Kun itu pura-pura membentak gusar.
"Ah, siapa tahu.....?” enak saja Liu Yang Kun menjawab.
Pemuda yang semula juga hanya mau menghibur dengan
kata-katanya yang santai itu ternyata juga menjadi latah
malah.
Ternyata mereka cepat menjadi akrab satu sama lain.
Tiba di lorong yang menghubungkan pinggir sungai itu
dengan lorong yang menuju ke lobang masuk gua, mereka
berdua terkejut setengah mati! Lorong sepanjang tigapuluh
atau empatpuluh tombak itu telah penuh dijejali longsoran
kerikil dan tanah! Jadi selama mereka tinggalkan menyusuri
lorong-lorong gua yang lain tadi, di tempat itu telah terjadi
tanah longsor kembali, sehingga tempat tersebut menjadi
tertutup sama sekali sekarang.
“Oooh.... !” Tui Lan berdesah seraya menutupi wajahnya.
Hilang sudah sekarang semua harapannya untuk kembali ke
dunia ramai.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sudahlah, nona. Bukankah beberapa saat yang lalu kau
menasehati aku agar bersikap tenang dan tidak gelisah? Siapa
tahu Thian akan memberi petunjuk atau jalan kepada kita?
Marilah kita mencari tempat yang baik untuk beristirahat ! dan
kita pikirkan cara bagaimana kita nanti melewatkan waktuwaktu
yang panjang tanpa matahari, tanpa penerangan, tanpa
siang dan malam sebelum Thian membebaskan kita dari
tempat ini.”
Dengan tubuh lemas Tui Lan terpaksa menuruti nasehat Liu
Yang Kun. Mereka berdua lalu mencari tempat yang sekiranya
dapat dipakai sebagai ‘kamar pribadi’ untuk Han Tui Lan.
Semula Tui Lan hampir saja menyebutkan ruangan tempat
pemuda itu diborgol, tapi ketika dirasakannya kawannya itu
selalu menolak atau menghalangi bila ia bermaksud pergi ke
sana, maka gadis itu lalu menjadi ingat kembali bahwa
temannya masih mempunyai rahasia pribadi.
Akhirnya mereka mendapatkan juga ‘kamar pribadi' itu.
Sebuah cekungan atau gua kecil, bertanah kering, dengan
panjang dua tombak dan lebar satu setengah tombak. Langitlangitnyapun
keras dan kering, tidak meneteskan air ke
bawah.
“Nah, kau bisa tidur disini untuk sementara waktu.” Liu
Yang Kun berkata setelah membersihkan ruangan itu.
'Dan...... kau tidur dimana?" Tui Lan bertanya. Dan tiba tiba
saja pipi gadis itu menjadi merah.
“Mudah. Aku bisa tidur dimana saja. Di pinggir sungai itu,
di lorong-lorong itu atau.... di dalam air!”
Liu Yang Kun menjawab dengan bergurau.
"Ah..... kau!” Tui Lan melirik sambil cemberut.
"Nah. sekarang kau beristirahatlah barang sejenak. Aku tak
tahu, saat ini di luar malam atau siang hari. Tapi aku juga
akan beristirahat pula untuk memulihkan tenaga dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengobati luka dalamku. Selamat tidur, nona!” Liu Yang Kun
tersenyum seraya membalikkan tubuhnya meninggalkan
ruangan itu.
Tapi di depan pintu ruangan pemuda itu menoleh. Dengan
senyum nakal pemuda itu menggoda. “Tapi, awaaas..... kau
tidak boleh menyusulku! Kalau kau berani menyusulku,
hmm.... kupeluk lagi kau!” godanya seraya berlalu. Obor yang
dipegangnya itu ditaruhnya di depan pintu ruangan.
“Ahh......... kau!”
Demikianlah, sepeninggal Liu Yang Kun gadis itu mencoba
untuk beristirahat. Mula-mula dicopotnya pedang pendek yang
selalu tergantung di pinggangnya. Kemudian dikeluarkannya
semua isi sakunya yang bermacam-macam itu. Saputangan,
alat-alat berhias, obat-obatan dan buku-buku yang
diterimanya dari Ang-leng Kok-jin itu.
"Hei! Dimanakah Po-tok-cu itu?” tiba-tiba gadis itu
tersentak kaget. Lalu gadis itu merogoh kesana-kemari
diantara saku-sakunya yang banyak itu. Dan ketika teraba
olehnya saku yang robek itu, hatinya menjadi lega kembali.
Mutiara itu melekat di pinggir sakunya yang telah bolong
tersebut. Darah Ang-leng Kok-jin yang kemarin masih melekat
ketika mengeluarkan mutiara itu dari telapak tangannya,
benar-benar menyelamatkan pusaka itu dari kehilangannya.
Karena darah yang menjadi kering di dalam saku itulah yang
membuat pusaka tersebut melekat di pojok saku yang bolong
itu.
“Mutiara ini memang terlalu kecil untuk disimpan, sehingga
sangat mudah sekali hilang. Memang paling baik disimpan
atau dimasukkan ke dalam daging seperti Ang-leng Kok-jin
itu.....” Tui Lan berpikir di dalam hatinya.
Gadis itu lalu mencabut pedangnya. Hati-hati diirisnya
sedikit daging dibawah ibu jarinya yang sebelah kiri dengan
ujung pedang itu. Setelah kira-kira cukup untuk memasukkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mutiara tersebut, Tui Lan lalu membubuhinya dengan obat.
Kemudian pelan-pelan gadis itu memasukkan mutiara
tersebut, lalu menutup irisan dagingnya dan selanjutnya
membalut telapak tangan itu dengan saputangannya.
“Nah, sepekan lagi luka ini tentu sudah akan menutup pula
kembali. Dan sapu tangan ini sudah dapat kulepas,” Tui Lan
berkata di dalam hatinya.
Kemudian Tui Lan bermaksud untuk membaca buku
pemberian Ang-leng Kok-jin itu. Tapi yang kemudian
terpegang oleh tangannya adalah buku yang lain, bukan Im-
Yang Tok-keng tapi .......... Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang
Tanpa Bayangan) ! Dan penyusun buku itu tidak tertulis nama
Giok-bin Tok-ong seperti yang pernah dilihatnya, tetapi........
Bit bo-ong (Si Raja Kelelawar).
Tui Lan terkejut. Benar-benar terkejut ! Bagi orang
persilatan seperti gadis itu, nama Bit-bo-ong bukanlah nama
yang asing lagi. Nama itu demikian tersohornya sejak seratus
tahun lalu sehingga sudah berkali-kali nama tersebut dicatut
dan dipergunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung
jawab untuk membuat kerusuhan dan mengacau dunia kangouw!
Dan Bu-eng Hwe teng itu adalah salah sebuah ilmu
kebanggaan tokoh termashur itu, disamping ilmunya yang
lain, seperti Kim-liong Sin-kun dan Pat-hong Sin-ciang!
Sekali lagi Tui Lan membolak-balik buku itu seakan-akan
tak percaya bahwa buku tersebut adalah buku pelajaran ginkang
milik Bit-bo-ong yang terkenal itu. Dirabanya dengan
ujung jarinya kain kasar yang dipakai untuk membuat buku
itu. Diperhatikannya dengan teliti semua tulisan dan gambargambar
yang menghiasi buku tersebut, dan yang terakhir
dicium atau dibauinya buku itu dengan hidungnya, seolah-olah
ingin meyakinkan bahwa buku tersebut memang sudah tua
dan kuno.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian gadis itu bergegas mengambil buku-buku yang
lain, karena ia merasa mendapatkan tiga buah buku lagi selain
buku milik Ang-leng Kok-jin itu.
“Aaah !" sekali lagi gadis itu menjerit kecil.
Tui Lan melihat dua buah buku yang lain itu bertuliskan
huruf Sin-liong sin-kun dan Pat-hong Sin ciang! Dan kedua
buah buku itu juga tampak sama kunonya dengan buku yang
pertama tadi.
Malahan di dalam lembaran-lembaran kedua buah buku itu
kelihatan bekas percikan-percikan darah kering, yang
membuktikan bahwa buku tersebut mempunyai sejarah yang
amat mengerikan!
"Ah, tampaknya... tampaknya buku-buku ini memang
sungguh-sungguh milik iblis yang sangat terkenal itu.
Tapi...tapi bagaimana buku-buku ini sampai berada di bawah
kakiku dan bercampur dengan buku Ang-leng Kok-jin yang
terjatuh dari sakuku itu?" gadis itu berpikir dengan hati
bingung.
Sambil lalu Tui Lan lalu mencoba membaca tulisan yang
tertera pada lembar pertama dari buku Pat-hong Sin ciang
(Tangan Sakti Delapan Penjuru Angin) itu. Di s itu tertulis caracara
bersemadi untuk menghimpun Pat-hong sin-kang atau
Tenaga Sakti dari Delapan-penjuru-angin, beserta dengan
gambar-gambarnya pula.
Tui Lan lalu membuka halaman-halaman selanjutnya. Dan
gadis itu semakin banyak menjumpai gambar-gambar orang
bersemadi dengan cara-cara yang semakin aneh pula, ada
yang jungkir balik dengan kaki di atas dan kepala dibawah.
Ada yang bergantung dengan tubuh terbalik pula di atas
sebuah dahan pohon, seperti layaknya seekor kelelawar
bergantung. Malahan ada pula yang sikap tubuhnya benarbenar
seperti sikap seekor kelelawar yang baru terbang di
angkasa, yaitu dengan cara mengaitkan kedua ujung kakinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di sebuah dahan sementara kedua tangannya menggapai
dahan lain yang berseberangan dengan dahan itu, sehingga
tubuhnya terpentang di udara, laksana burung atau kelelawar
terbang di angkasa.
"Hmmh, mengapa untuk mempelajari sin-kang saja harus
melakukan gerakan yang sulit-sulit begini?" Tui Lan membatin.
Lalu seperti petunjuk yang diberikan pada buku itu Tui Lan
mencoba melakukan gerakan yang pertama. Kakinya bersila,
sedangkan kedua telapak tangannya ia tumpuk di belakang
tengkuknya. Matanya menatap lepas ke depan, sementara
bibirnya terkatup rapat. Kemudian perlahan-lahan gadis itu
menyedot napas sebanyak-banyaknya, sehingga dadanya
terasa penuh sesak oleh udara.
Dan seperti yang ditulis di daIam buku itu, Tui Lan tetap
menahan udara yang tersimpan di dalam paru-parunya itu
untuk beberapa waktu lamanya sehingga udara yang
menggelembung penuh itu seakan-akan menjadi berdesakan
untuk mencari jalan keluar. Dan sesuai dengan petunjuk di
dalam buku itu pula Tui Lan lalu mempersatukan seluruh
tenaga yang dihasilkan oleh udara yang berdesakan tersebut,
untuk kemudian disalurkan ke bawah, menuju tan-tian
(pusat). Setelah itu udara yang memenuhi dadanya itu ia
keluarkan lagi perlahan-lahan.
Gadis itu lalu mengulangi sekali lagi gerakan tersebut dari
awal. Mendadak sedikit demi sedikit hawa yang agak panas
dan pengap di dalam goa itu terasa berubah menjadi sejuk
dan nyaman. Merasakan perubahan yang menyenangkan
tersebut, Tui Lan menjadi gembira, sehingga gadis itu selalu
mengulanginya setiap gerakan tersebut selesai.
Entah sudah berapa kali Tui Lan mengulangi gerakan
tersebut. Namun yang terang ia tak menyadari bahwa obor
yang berada di depan pintu itu, semakin lama semakin surut
apinya, sehingga beberapa saat kemudian api tersebut
menjadi padam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Barulah Tui Lan menjadi terkejut. Bergegas ia bangkit
untuk menyalakannya kembali. Tapi sekali lagi gadis itu
terkejut. Batu api yang ia taruh di dekatnya itu terasa dingin
bukan main, sehingga ujung jari gadis itu serasa menyentuh
batu es saja layaknya. Oleh karena itu Tui Lan menjadi
kesukaran ketika ingin meletikkan apinya. Batu api tersebut
melempem.
Tui Lan lalu mendekati obor yang hanya tiga langkah dari
tempatnya itu untuk sekedar memanaskan batu api tersebut.
Namun untuk ketiga kalinya gadis itu menjadi kaget. Batang
obor itu juga ikut dingin seperti es. Malahan gadis itu
merasakan batang obor tersebut sangat licin seperti
terbungkus embun.
Dalam kebingungannya gadis itu berusaha keras
menyalakan obor itu dengan batu apinya. Akhirnya usahanya
tersebut berhasil juga. Obor itu kembali menyala.
Tui Lan bernapas lega. Sambil menjungkirkan obor itu
supaya apinya menjadi lebih besar, Tui Lan melangkah keluar
dari 'ruangan pribadinya’ itu.
"Hei?" tiba-tiba gadis itu menjerit kecil.
Terasa hawa panas menerpa tubuhnya, sehingga dalam
kagetnya gadis itu kembali meloncat ke dalam ruangannya
lagi. Dan di dalam ruangan tersebut tubuhnya merasa sejuk
kembali. Karena penasaran gadis itu lalu melangkah keluar
lagi. Dan udara panas dan pengap kembali menyergapnya
pula.
“Eh! Mengapa tiba-tiba saja kamarku ini menjadi lebih
dingin daripada diluar itu?” gadis itu berdesah lirih ketika
sudah berada di dalam ruangannya lagi.
Tui Lan lalu teringat pula kembali tatkala tubuhnya terasa
sejuk dan nyaman ketika ia mula-mula menirukan gerakan di
dalam buku itu tadi. Dan semakin banyak ia mengulang
gerakan tersebut, rasa sejuk itu juga semakin terasa menusuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tulang-tulangnya, sehingga lambat-laun hawa panas dan
pengap dari ruangan yang sempit itu menjadi hilang musnah.
"Eh........! Apakah Pat-hong-sin-kang itu bisa menimbulkan
gelombang udara dingin? Anu.......anu, tampaknya memang
demikian......." gadis itu berpikir keras. “Ah, kalau begitu…..
kalau begitu ilmu itu benar-benar hebat sekali! Baru sebuah
gerakan saja sudah demikian dahsyat pengaruhnya, apalagi
kalau dipelajari semuanya! Hmmmmmh!”
Tui Lan lalu duduk kembali di tempatnya. Direnunginya
buku-buku itu untuk beberapa waktu lamanya. Namun rasa
kantuk membuat gadis itu segera menyimpan kembali bukubuku
tersebut di sakunya dan mencoba untuk berbaring. Dan
sebentar saja gadis itu telah tertidur pulas.
Entah sudah berapa lama Tui Lan tertidur, namun yang
terang gadis itu merasa amat nyenyak dan pulas sekali,
sehingga badannya justru terasa kaku dan pegal sekali malah.
Gadis itu lalu bangkit berdiri. Ruangan itu bukan main pengap
dan panasnya sehingga keringat terasa mengalir dengan
derasnya dari kening, leher dan punggungnya.
Tui Lan cepat keluar dari ruangan tersebut. Didengarnya
Liu Yang Kun juga sudah bangun pula, dan tampaknya kini
sedang mandi di pinggir sungai, karena terdengar pemuda itu
menyanyi sambil bermain-main dengan air. Tui Lan menjadi
ragu-ragu untuk menghampiri pemuda itu.
"Nona Han...! Kau sudah bangun? Kemarilah! Kita bisa
makan kenyang hari ini...... " tiba-tiba terdengar suara
pemuda itu memanggilnya.
Tui Lan terpaksa keluar dari 'sarangnya' dan menemui
pemuda itu. Ternyata pemuda itu hanya mengenakan celana
saja, dan merendam diri di dalam sungai itu. Di atas batu di
pinggir sungai bertumpuk belasan ekor belut panjang
berwarna kehitaman, bercampur dengan beberapa ekor ikan
kecil-kecil berwarna kebiruan. Tampaknya ikan-ikan itu adalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hasil buruan Liu Yang Kun. Dan di dekat batu tersebut tampak
sebuah obor yang lain, menyala menerangi tempat itu.
"Aku memperoleh sebuah obor lagi di lorong sana,"
pemuda itu menyambut kedatangan Tui Lan seraya keluar dari
dalam air. "Wah, panasnya bukan main di dalam gua ini
sekarang. Kelihatannya di luar sana matahari sedang
membakar bumi dengan hebatnya......!"
Tui Lan mengangguk. Ingin benar rasanya gadis itu
berendam seperti pemuda itu, namun tentu saja ia merasa
malu kalau ada pemuda itu.
"Nona ingin mandi juga? Silakanlah! Aku akan memasak
ikan-ikan itu !" pemuda itu seperti mengerti apa yang
dipikirkan Tui Lan, sehingga gadis itu merasa sangat berterima
kasih karenanya.
Namun apa yang sebenarnya disebut memasak oleh
pemuda itu tak lain hanyalah membakar ikan-ikan tersebut
dengan obor saja. Lain tidak. Apalagi dengan bumbu-bumbu
masak seperti garam, cabe, bawang dan sebagainya. Tapi
ketika Tui Lan selesai mandi dan mencicipinya bersama
dengan Liu Yang Kun, ikan tersebut terasa gurih dan enak
juga rasanya. Ternyata ikan sebanyak itu mereka lahap tanpa
sisa.
"Hari ini aku dapat mengumpulkan secangkir minyak ikan."
Liu Yang Kun berkata riang setelah selesai makan.
"Ya? Dimana minyak itu kausimpan?" Tui Lan menyahut
dengan suara gembira pula.
“Di dalam kantong itu..........!" Liu Yang Kun menjawab
seraya menunjuk 'potongan usus raksasa' yang mereka
ketemukan itu. Usus itu kini telah diberi sumbat di kedua
ujung lobangnya.
"Benar juga katamu. Benda itu berguna juga akhirnya."
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tui Lan berdiri, lalu melangkah perlahan-lahan menyusuri
lorong-lorong gua itu lagi. Liu Yang Kun melangkah pula
mengikuti. Gadis itu berharap memperoleh keajaiban,
sehingga tercipta jalan keluar untuk mereka.
"Hei!? Kenapa telapak tangan kirimu, nona? Mengapa
kaubalut?" tiba-tiba Liu Yang Kun bertanya ketika melihat
balutan di tangan kiri Tui Lan itu.
"Ah, cuma luka kecil karena tergores batu karang tadi.......”
gadis itu berbohong. ''Lalu ....... bagaimana dengan lukamu
sendiri?"
"Sudah lebih baik. Aku telah mengerahkan seluruh
kemampuanku untuk mengobatinya,'' Liu Yang Kun menjawab
pula. "Sepekan lagi kukira sudah pulih kembali seperti sedia
kala.”
“Demikian lamanya?" Tui Lan tersentak kaget.
"Tentu saja, nona. Tiga kali aku terhempas oleh ledakan
peluru pek-lek-tan itu. Untunglah peluru itu tidak langsung
mengenai badanku. Kalau demikian halnya, sebutir saja sudah
cukup untuk mengantarkan nyawaku ke alam baka.”
Mereka telah beberapa kali berputar-putar di seluruh sudut
gua itu, namun jalan untuk keluar dari tempat itu tetap tak
dapat mereka ketemukan. Tempat itu benar-benar buntu dan
tertutup rapat sama sekali.
"Satu-satunya jalan kukira memang hanya aliran sungai ini
..." Liu Yang Kun bergumam pelan seperti berbicara dengan
dirinya sendiri.
"Ah, lupakan saja itu!” Tui Lan yang menjadi cemas kembali
itu berkata kaku.
"Lalu.. .. . Jalan mana lagi yang akan kita tempuh? Nona
punya pendapat yang lain?" Liu Yang Kun berkata hati-hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Entahlah! Aku belum dapat memikirkannya. Tapi tentu ada
jalan yang lainnya. Biarlah aku kembali dulu ke kamarku untuk
memikirkannya.”
Tui Lan lalu meninggalkan Liu Yang Kun sendirian. Gadis itu
lalu berbaring dan melamun di kamarnya. Ditatapnya nyala api
obor yang bergoyang-goyang di depan pintunya itu. Udara di
dalam gua itu sudah tidak begitu gerah dan pengap lagi.
Mungkin matahari sudah lama terbenam, dan kini hari telah
berganti malam.
Gadis itu lalu mencoba untuk memicingkan mata lagi.
Namun baru saja mau terlelap, tiba-tiba luka di telapak
tangannya itu terasa berdenyut-denyut. Dan semakin lama
denyut itu semakin kuat rasanya, sehingga gadis itu merasa
kesakitan dibuatnya.
Mungkin telah terjadi reaksi yang keras di dalam tubuh Tui
Lan berkenaan dengan dipasangnya 'Po-tok-cu' itu di dalam
telapak tangannya. Dan denyut yang semakin menyakitkan
tersebut segera diikuti pula dengan panas badan yang
semakin meninggi. Tui Lan lalu menjadi bingung dan gelisah
sekali, karena lambat-laun badannya serasa berada di atas
tungku api yang sedang menyala.
Hampir saja gadis itu berteriak memanggil Liu Yang Kun.
Namun setelah ia sadar bahwa karena kepanasan atau
kegerahan tadi dia telah mencopoti pakaian luarnya, gadis itu
tidak jadi melaksanakan niatnya tersebut. Gadis itu mencoba
bertahan sekuat tenaganya, melawan rasa sakit dan rasa
panas yang menyerang dirinya itu. Peluh membanjir keluar
membasahi seluruh tubuhnya.
Dan akhirnya ketika gadis itu merasa bahwa dia sudah
tidak dapat bertahan lagi, tiba-tiba berkelebat bayangan ilmu
Pat-hong-sin-kang yang tertulis di dalam buku peninggalan
Bit-bo-ong itu. Bukankah gerakan-gerakan yang ditirunya itu
membuat dirinya merasa sejuk, dingin dan nyaman? Siapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahu rasa sakit dan panas atau gerah ini bisa ditanggulangi
dengan ilmu itu?
Demikianlah dalam keadaan terpepet dan tak tahu apa
yang harus ia kerjakan lagi, Tui Lan lalu mencoba melawan
rasa sakit dan rasa gerah tersebut dengan ilmu yang tertera di
dalam buku Pat-hong Sin-ciang itu. Dan tidak cuma sekali
gadis itu melakukannya, tapi berulang kali! Meskipun demikian
rasa sakit dan rasa gerah tersebut ternyata tidak kunjung
lenyap juga! Padahal nyala obor di depan pintu itu sudah
mulai tersendat-sendat mau padam.
Memang, setelah melakukan gerakan itu pernapasannya
menjadi lebih lancar. Tapi rasa sakit dan gerah itu tetap saja
bercokol di dalam tubuh Tui Lan. Saking kesalnya gadis itu lalu
membuka halaman berikutnya. Gadis itu bermaksud mencoba
gerakan yang selanjutnya.
Tui Lan lantas tidur telentang seperti gambar yang terlukis
di halaman yang kedua itu. Sambil menyedot napas sebanyakbanyaknya
gadis itu mengangkat kedua kaki dan tangannya ke
atas tegak lurus dengan tanah. Kemudian setelah
menyalurkan himpunan tenaga sakti yang tercipta itu ke
dalam tan-tian, maka udara di dalam paru-paru tersebut lalu
dikeluarkannya lagi secara perlahan-lahan. Demikianlah,
gerakan tersebut lalu diulanginya terus sehingga berkali-kali.
Begitulah. Entah karena pengaruh ilmu itu atau karena rasa
sakit itu sendiri yang telah hilang, namun yang terang tiba-tiba
tubuh Tui Lan telah pulih kembali seperti semula. Rasa gerah
dan rasa sakit yang hampir tak tertahankan lagi oleh gadis itu
mendadak hilang lenyap seketika, dan diganti dengan
perasaan enak dan nyaman luar biasa.
Namun ketika gadis itu membuka matanya, didapatinya
obor itu telah mati, dan ruangan sempit tersebut dalam
keadaan gelap gulita. Lebih dari pada itu, Tui Lan
mendapatkan ruangan yang dingin luar biasa, sehingga lantai
dan dinding-dinding gua itu rasanya menjadi lembab dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
basah semuanya. Tidak cuma itu saja. Bahkan pakaian yang
dipakainya terasa disaput oleh salju tipis yang segera mencair
begitu tersentuh tangannya. Malahan ketika gadis itu mencoba
menyalakan obornya kembali, ia mendapatkan minyak dalam
tangkai obor tersebut juga telah membeku seperti cairan
bubur kental.
Setelah obor itu menyala kembali, Tui Lan segera
membawanya keluar untuk mencari Liu Yang Kun. Sambil
berjalan gadis itu membenahi pakaiannya yang kedodoran
tadi. Lorong-lorong itu terasa pengap dan panas seperti
biasanya.
Gua itu memiliki lima buah lorong atau ruangan yang satu
sama lain saling berhubungan. Dan ruangan yang paling besar
adalah ruangan yang sebagian dari lantainya dialiri oleh sungai
di bawah tanah itu. Sedangkan ruangan yang paling kecil
adalah ruangan yang paling sulit dicapai, yaitu ruangan
dimana Tui Lan pernah melihat Liu Yang Kun diborgol kaki
tangannya itu. Ruangan tersebut hanya bisa dicapai dengan
merangkak melalui sebuah terowongan kecil sepanjang tiga
tombak.
Liu Yang Kun tidak dapat dijumpai Tui Lan di keempat
lorong gua itu. Tinggal satu lorong lagi yang belum dijenguk
oleh gadis itu, yaitu lorong terkecil. Namun ketika Tui Lan
melangkah ke sana, terowongan sempit yang menghubungkan
tempat tersebut dengan lorong yang lain telah disumbat
dengan batu karang sebesar gajah, sehingga lobang itu tidak
kelihatan sama sekali. Dan tentu saja Tui Lan tak kuat
memindahkannya.
"Eh........ dimanakah Liu Tai-hiap itu? Apakah dia berada di
ruangan ini? Tapi kenapa ia harus menutup lobang ini, kalau
dia ada di sini? Ataukah dia tidak berada di lorong ini? Lalu
dimana? Apakah masih ada ruangan lain yang dirahasiakannya
selain kelima lorong ini?" gadis itu bertanya-tanya di dalam
hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan langkah gontai dan pikiran penuh pertanyaan Tui
Lan kembali ke kamarnya lagi. Bayangan wajah Liu Yang Kun
yang kadang-kadang tampak riang dan penuh senyum, tapi
seringkali juga terlihat murung dan sayu itu benar-benar
membingungkan hati gadis itu.
"'Pemuda itu sangat baik kepadaku. Wajahnya tampan,
kepandaiannya sangat tinggi. Tanpa alasan dan sebab apapun
dia telah mempertaruhkan jiwanya untuk menolongku. Namun
demikian sungguh sulit bagiku untuk menerka apa yang
tersembunyi di dalam hatinya. Sikapnya kadang-kadang
sangat aneh dan sulit dimengerti. Siapa tahu dia justru......Si
Iblis Penyebar Maut itu malah?" dalam keragu-raguan dan
kebingungannya gadis itu mencoba berseloroh dengan dirinya
sendiri. Namun tiba-tiba hatinya menjadi kecut juga. "Ah,
masakan orang sebaik dia menjadi seorang iblis penyebar
maut!" sangkalnya kemudian.
“Tapi.........ah, sebaiknya aku memang harus berhati-hati
menghadapinya. Bagaimanapun juga dia baru saja kukenal,
dia adalah orang asing bagiku. Biarlah untuk selanjutnya aku
akan menyelidiki s iapa sebenarnya dia itu!”
Tui Lan justru tak pernah menanyakan dimana pemuda itu
beristirahat serta tidur setiap harinya. Tapi sejak itu Tui Lan
menjadi semakin ramah dan suka bicara dengan Liu Yang
Kun. Tui Lan mencoba untuk mengorek asal-usul dan keluarga
pemuda itu dengan cara yang amat halus dan tak kentara.
Meskipun demikian, pemuda itu ternyata juga sangat berhatihati
sekali berbicara tentang dirinya. Setiap menyinggung
keluarganya pemuda itu tentu segera mengelak dan
memindahkan percakapan mereka ke hal yang lain. Pemuda
itu hanya bercerita tentang pengalamannya, tentang dirinya,
dan tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia persilatan.
Pemuda itu tentu akan segera menjawab bila ditanyakan
tentang dirinya, ilmunya, dan tentang apa saja yang pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dialaminya. Tapi dia akan segera bungkam setiap kali
menjurus ke arah keluarganya.
"Ah........ jadi kau pernah menginap di istana kaisar pula?
Wah, pengalamanmu sungguh hebat sekali,” pada suatu hari
Tui Lan berseru mengagumi cerita yang dikisahkan oleh Liu
Yang Kun.
"Tentu saja, karena menginap di dalam istana itulah aku
akhirnya bisa bertemu dengan guruku yang kedua. Ketika aku
terbenam di dalam telaga di belakang istana itu, tubuhku
tersedot ke dalam sungai di bawah tanah seperti sekarang ini.
Di situ aku justru dapat bertemu dengan seorang wanita tua
yang memberi pelajaran ilmu silat tinggi kepadaku. Aku diajari
Liong-cu-i-kang (Tenaga Sakti Mustika Naga) dan Kim-coa-ihhoat
(Ilmu Baju Ular Emas), yang menjadi ilmu andalanku
selama ini......”
"Hmm, kalau begitu kau sudah dua kali hidup di dalam
ruang di bawah tanah seperti ini? Ah, makanya kau enakenakan
saja selama ini. Sama sekali tidak merasa gelisah
ataupun sedih." Tui Lan menggerutu kesal.
Liu Yang Kun tertawa gembira. "Bukan begitu, nona ... "
pemuda itu menyangkal. "Soalnya....”
"Uh! Mengapa kau masih juga memanggil dengan nonanonaan
terus?” Tui Lan memonyongkan bibirnya.
"Habis kau juga masih sering memanggilku Liu Tai-hiap,
sih.........."
Liu Yang Kun membela diri. Namun akhirnya pemuda itu
mengalah juga. “Baiklah ! Aku akan memanggilmu Lan-moi!
Tapi ingat, kaupun harus menyebutku twa ko! Bagaimana?"
"Baik. twa-ko.....!" Tui Lan mengangguk seraya
menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis.
Demikianlah, dari hari ke hari persahabatan mereka
menjadi semakin akrab. Tui Lan semakin mengenal pribadi Liu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang Kun, meskipun pemuda itu tetap bungkam tentang
masalah keluarganya, begitu juga sebaliknya, Liu Yang Kun
juga semakin mengenal diri Tui Lan. Cuma masih ada sebuah
hal yang tetap menjadi teka-teki bagi Tui Lan, yaitu masalah
'lorong gua' yang tertutup batu sebesar gajah itu. Selama ini
Liu Yang Kun tetap merahasiakan dan menutup-nutupinya.
Dan juga selama itu pula Tui Lan tak pernah mengetahui,
dimana pemuda itu tidur dan beristirahat. Namun seperti yang
telah diputuskannya sendiri, Tui Lan tak pernah mengungkatungkat
hal itu.
Sementara itu persoalan lain yang ternyata justru sangat
menyibukkan Tui Lan adalah serangan hawa panas di dalam
tubuhnya yang disebabkan oleh Po-tok-cu itu. Sejak benda
tersebut tertanam di dalam dagingnya, serangan hawa panas
itu selalu saja mengganggunya. Setiap hari gadis itu harus
bertarung untuk mengalahkan serangan hawa panas yang
membakar tubuhnya itu dengan gerakan-gerakan yang
terlukis di dalam buku Pat-hong Sin-ciang.
Celakanya, setiap kali datang menyerang, hawa panas itu
selalu saja bertambah dan berlipat ganda kekuatannya,
sehingga untuk menanggulanginya Tui Lan terpaksa harus
menambah pula gerakan-gerakannya dengan gerakan yang
terdapat di halaman berikutnya dari buku tersebut. Sehingga
tanpa dikehendaki sendiri oleh gadis itu, maka lembar demi
lembar isi buku Pat-hong Sin-ciang tersebut terpaksa
ditirukannya untuk melawan serta menaklukkan serangan
hawa panas itu.
Kadang-kadang Tui Lan merasa kewalahan pula, sehingga
sering kali ia bermaksud untuk mengeluarkan saja Po tok-cu
itu dari tangannya. Tapi bila terlihat oleh gadis bekas luka
yang telah merapat dan menutupi benda pusaka itu, maka
keinginannya tersebut segera hilang.
"Biarlah....,! Bila panas itu memang tak bisa kutahan lagi,
dan ilmu yang tertulis di dalam buku itu juga sudah tak dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengatasinya pula, maka mutiara itu terpaksa akan kucongkel
keluar." Tui Lan berkata di dalam hatinya.
Akibatnya, setengah bulan kemudian pelajaran dasar ilmu
bersemadi Pat-hong-sin-kang tersebut sudah habis dilahap Tui
Lan untuk melawan serangan hawa panas itu. Sehingga untuk
hari-hari selanjutnya, Tui Lan terpaksa pula melangkah ke
halaman berikutnya lagi, karena pelajaran dasar tersebut
sudah tidak kuasa lagi membendung serangan hawa panas
itu.
Demikianlah, pada hari yang ke enambelas, Tui Lan mulai
pula dengan halaman yang ke enambelas. Pada halaman
itulah buku tersebut benar-benar mulai mengajarkan cara-cara
menguasai dan menghimpun Tenaga Sakti Delapan-Penjuru
Angin atau Pat-hong-sin-kang! Dan mulai hari itu pulalah Tui
Lan dipaksa untuk melakukan gerakan-gerakan yang sulit dan
aneh-aneh. Sehingga untuk melakukannya Tui Lan terpaksa
pula mempersiapkannya sehari sebelumnya!
Untuk menirukan gerakan 'kelelawar tidur dengan
menggantungkan kakinya di atas dahan', Tui Lan terpaksa
membuat lobang kecil di langit-langit guanya untuk
mengaitkan ujung kakinya. Sementara untuk menirukan
gerakan 'kelelawar terbang', Tui Lan terpaksa pula mencari
dua dinding gua yang saling berdekatan, yang jaraknya sesuai
dengan panjang tubuhnya.
Ada delapan cara atau gerakan untuk menghimpun Pathong-
sin-kang. Masing-masing dengan cara dan aturanaturannya
sendiri dalam menyalurkan hawa sakti yang telah
terkumpul di tantian. Masing-masing juga disebutkan cara
untuk menembus tiap-tiap simpul jalan darah yang dilalui
hawa sakti tersebut, lengkap dengan ukuran dan uruturutannya
pula. Sungguh beruntung bagi Tui Lan, karena
sebelumnya dia telah memperoleh pendidikan tentang jalan
darah dari gurunya, sehingga apa yang tertulis di dalam buku
itu tidak membingungkannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan memang sungguh mengherankan sekali! Sekali saja
Tui Lan menyalurkan hawa sakti seperti yang diperintahkan
oleh buku itu, maka hawa panas itu segera lenyap seketika!
Tak perlu gadis itu mengulang-ulangnya lagi! Selain dari pada
itu Tui Lan merasakan suatu perubahan yang mendadak di
dalam dirinya. Tui Lan merasa badannya tiba-tiba menjadi
lebih segar, bersemangat dan ringan bukan main!
"Ajaib! Pat-hong-sin-kang benar-benar hebat sekali !
Dengan salah satu dari gerakannya saja, aku telah mampu
mengendalikan hawa panas itu!'' gadis itu berdesah gembira.
Tui Lan benar-benar mengagumi kehebatan ilmu yang baru
dipelajarinya itu. Maka dari itu dia tidak menjadi terpaksa lagi
sekarang. Sebaliknya gadis itu menjadi kecanduan malah.
Meskipun dengan gerakan yang pertama saja sebetulnya gadis
itu sudah mampu menjinakkan serangan hawa panas tersebut
namun karena ia sudah terlanjur kecanduan tadi, maka dia
tetap saja meneruskan pelajarannya. Satu persatu lembar
demi lembar, petunjuk tentang Pat-hong sin-kang itu
dipelajarinya hingga selesai.
Dan sebulan kemudian Pat-hong-sin kang itupun telah
habis dilahapnya pula. Sekarang tinggal separuh buku saja
lagi. Itupun bukan inti pelajaran lwee kang pula, tapi adalah
jurus-jurus ilmu Pat-hong Sin-ciang yang terkenal itu!
Namun sudah banyak kemajuan yang diperoleh Tui Lan
dalam waktu sebulan itu. Sekarang Tui Lan sudah dapat
melihat di dalam kegelapan tanpa harus menggunakan obor
lagi, meskipun jaraknya juga masih sangat terbatas pula. Dan
sekarang Tui Lan juga sudah bisa mengatur tenaga saktinya,
sehingga obor itu juga tidak menjadi padam lagi seperti dulu.
Dan dengan kepandaiannya mengatur hawa sakti itu, dindingdinding
di dalam guanya sudah tidak menjadi basah serta
mengembun lagi seperti dulu.
Sementara itu pergaulannya dengan Liu Yang Kun juga
semakin akrab pula. Setiap hari mereka mencari ikan dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membakarnya bersama-sama. Kadang-kadang mereka berlatih
silat pula dengan tekun. Atau kalau mereka sedang lelah,
mereka cuma berbincang-bincang saja sambil duduk-duduk di
tepi sungai itu. Namun selama itu pula mereka selalu menjaga
diri dan menjaga jarak diantara mereka, agar hubungan itu
tidak dikotori oleh nafsu-nafsu yang akan menyesatkan
mereka nanti. Begitu kuatnya mereka menjaga 'persahabatan'
itu sehingga masing-masing sangat menghormati dan
menjauhi daerah 'pribadi' sahabatnya.
Walaupun demikian, kadang-kadang Liu Yang Kun tampak
sedikit curiga juga menyaksikan kemajuan Tui Lan. Di
matanya sekarang, gadis itu kelihatan lebih tangkas dan
lincah, sedangkan sinar matanya tampak lebih tajam
berwibawa. Namun pemuda itu tetap tidak pernah bertanya,
apalagi mengurusnya. Tapi yang terang gadis itu selalu
tampak bertambah cantik saja setiap harinya.
"Lan-moi....... Kau benar-benar ..... cantik sekali!" pada
suatu hari pemuda itu memuji. Tampaknya pemuda itu sudah
tidak bisa menguasai perasaannya lagi.
Tentu saja pipi Tui Lan menjadi merah seketika. Gadis itu
sungguh tidak menyangka kalau Liu Yang Kun akan
memujinya seperti itu.
"Ah, twa-ko......... kau ini ada-ada saja! Bagaimana
mungkin wajah seperti ini bisa disebut cantik? Cermin tidak
ada, bersolekpun juga tidak pernah." Tui Lan cepat
menyanggahnya dengan kemalu-maluan. Namun sebenarnya
hatinya terasa membengkak sebesar bukit.
Bagaimana Tui Lan tidak menjadi berbangga dan berbesar
hatinya mendengar pujian itu? Sejak pertama kali melihat Liu
Yang Kun, gadis itu sudah merasa kagum dan tertarik hatinya.
Apa lagi ketika pemuda itu menyelamatkannya dari keganasan
Giok-bin Tok-ong, rasa kagum tersebut menjadi bertambah
pula dengan rasa hutang budi dan rasa terima kasih yang tak
terhingga. Dan rasa-rasanya perasaan itu menjadi semakin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendalam selama mereka berada di dalam gua itu. Namun
sebagai seorang gadis tentu saja Tui Lan selalu berusaha
untuk menahan diri dan mengendalikan perasaannya. Siapa
tahu perasaannya itu ternyata hanya bertepuk sebelah
tangan?
Maka sungguh tidak mengherankan bila kata-kata pujian
pemuda itu benar benar sangat mengejutkan, sekaligus juga
amat menggembirakan hati Tui Lan. Perasaan gadis itu
seolah-olah melayang-layang di atas langit.
“Benar, Lan-moi. Justru karena melihatmu tanpa berdandan
demikian itu aku lantas memujimu. Di kota-raja atau di kota
Soh-ciu ini aku sering menyaksikan gadis cantik dengan
dandanannya yang sangat anggun Tapi selama ini aku belum
pernah melihat seorang gadis bisa secantik kau tanpa
berdandan dan memoles wajahnya dengan alat-alat
kecantikan…..” Liu Yang Kun memuji lagi.
Apa yang bisa dikatakan lagi oleh Tui Lan selain diam
seribu bahasa? Gadis itu hanya bisu menundukkan mukanya,
untuk menyembunyikan kegembiraannya.
Tapi justru sejak itu Tui Lan jarang-jarang melihat Liu Yang
Kun. Kalau biasanya seharian mereka selalu bersama, kini
pemuda itu hanya muncul bila waktunya makan dan mencari
ikan. Dan Tui Lan melihat suatu perubahan yang aneh pada
wajah dan sikap pemuda itu.
Pemuda itu kelihatan sangat gelisah dan murung. Meskipun
pemuda itu selalu berusaha menyembunyikan keadaannya
tersebut dengan sikapnya yang riang, tapi Tui Lan tak bisa
dikelabuinya. Pemuda itu seperti sedang menanggung beban
batin yang amat berat. Dan setiap saat pemuda itu seperti
selalu menghindarinya. Dan kalau hal itu ditanyakannya,
pemuda itu akan menjadi gelagapan, dan semakin tampak
sangat menderita sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Badanku….. eh, aku agak kurang enak badan, Lan-moi!
Biarlah aku beristirahat dulu..." paling-paling pemuda itu akan
berkata demikian, dan kemudian meninggalkannya.
Tentu saja Tui Lan menjadi sedih sekali. Apalagi ketika
kadang-kadang sampai dua hari Liu Yang Kun tidak kelihatan
menemuinya. (Setelah sebulan mereka berada di dalam
kegelapan gua tersebut, mereka bisa mengira-ira, apakah hari
itu siang atau malam, dengan cara membedakan panasnya
udara di dalam gua itu). Akibatnya Tui Lan menjadi sulit tidur,
dan nafsunya untuk mempelajari jurus-jurus Pat-hong Sinciang-
pun juga menjadi kendor. Gadis itu lebih banyak
melewatkan waktunya dengan melamun.
Lambat laun Tui Lan tidak tahan juga menanggung beban
perasaan tersebut. Hatinya yang sudah terlanjur 'melekat'
pada pemuda itu benar-benar amat tersiksa menghadapi
keadaan seperti itu. Akhirnya Tui Lan memutuskan untuk
mencari tahu, apa yang menyebabkan kawannya bersikap
seperti itu.
Maka pada suatu hari, ketika sudah dua hari lamanya Liu
Yang Kun tidak muncul, Tui Lan segera mencarinya. Tui Lan
sudah tidak peduli lagi pada peringatan Liu Yang Kun dulu,
bahwa dia tidak sekali-kali diperbolehkan menyusul pemuda
itu di tempatnya.
Langsung saja Tui Lan ke lorong gua yang terkecil itu,
karena dia yakin kalau pemuda itu tentu berada di sana. Tapi
sampai di depan lobang terowongan itu Tui Lan menjadi
bingung. Bagaimana dia bisa masuk kalau menggeser batu
sebesar itu saja dia tak mampu?
''Aaah.....!" Tui Lan menghela napas kecewa, lalu
membalikkan badannya untuk kembali lagi ke kamarnya.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti! Telinganya yang
tajam itu mendengar suara geraman yang menggetarkan hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suara geraman yang pernah dia dengar sebelumnya, tapi ia
lupa entah dimana.
Tui Lan menjadi tegang, hatinya berdebar-debar. Kebetulan
gadis itu tidak membawa obornya. Dengan pandang matanya
yang bisa menembus kegelapan itu Tui Lan celingukan
kesana-kemari mencari asal suara tersebut. Dan ketika suara
geraman itu menggema kembali, Tui Lan segera mendekati
lobang terowongan yang tertutup batu besar tersebut.
"Suara itu benar-benar datang dari dalam lorong gua
ini........" Tui Lan membatin dengan hati semakin tegang.
“Kalau begitu........ kalau begitu, apakah Liu twa-ko yang
menggeram itu? Ah,,,..... benar! Aku ingat sekarang!"
Tui Lan lalu teringat kembali akan pengalamannya sebelum
dia tertimbun di dalam gua itu. Tatkala itu dia sedang
memeluk pinggang Liu Yang Kun yang sedang bertempur
melawan Giok-bin Tok-ong di luar gua. Pada waktu itulah dia
tiba-tiba mendengar Liu Yang Kun menggeram dan
kemudian......menciumi punggung dan lehernya!
Di dalam ketegangannya mendengar geraman Liu Yang
Kun itu, timbul pula perasaan khawatir di hati Tui Lan. Janganjangan
pemuda itu sedang menderita sakit atau sedang
mendapatkan kesukaran. Maka ketika sekali lagi geraman itu
terdengar oleh telinganya, Tui Lan segera melupakan
kelemahannya, batu sebesar gajah itu didorongnya dengan
sekuat tenaganya !
Rrrrrrrttttt! Batu itu tergeser dengan mudahnya!
Sejenak Tui Lan malah menjadi kaget! Matanya terbelalak,
mulutnya ternganga! Hampir saja gadis itu tidak percaya kalau
ia bisa mendorong batu itu!
“Apakah semua ini diakibatkan oleh Pat-hong-sin-kang itu?"
gadis itu menduga-duga di dalam hatinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah hilang kekagetannya, Tui Lan lalu merangkak
masuk ke dalam lobang terowongan itu. Hatinya merasa agak
tenang karena suara geraman tersebut sudah tidak terdengar
lagi.
Ruangan gua itu tampak terang benderang dengan sinar
obor yang ditaruh di tengah-tengah gua. Tapi karena ruangan
itu mempunyai banyak tiang-tiang batu karang yang
menghubungkan langit-langit gua itu dengan lantai di
bawahnya, maka bayang-bayangnya tampak hitam berjajarjajar
di dinding gua, bagaikan bayangan manusia yang
bergoyang goyang mengerikan!
Tui Lan menjulurkan lehernya ke dalam ruangan itu. Satupersatu
tiang-tiang batu karang yang amat besar tersebut
ditelitinya. Dicarinya Liu Yang Kun diantara puluhan bayangbayang
hitam itu.
Krinciiiiiiing......!
Tiba-tiba terdengar suara gemerincing besi yang amat
nyaring! Tentu saja Tui Lan menjadi kaget bukan main!
Terlintas kembali di dalam pikiran gadis itu tubuh Liu Yang
Kun yang diborgol kaki dan tangannya dua bulan yang lalu!
Siapakah yang kini bermain-main dengan rantai borgol itu?
Apakah Liu Yang Kun sendiri?
"Liu twa-ko !" Tui Lan menyapa perlahan.
Tiada jawaban. Tui Lan lalu melangkah masuk perlahanlahan.
Dihampirinya asal suara tadi. Dan…. Apa yang
dilihatnya kemudian benar-benar sangat mencengangkan
hatinya.
Di atas lantai tampak Liu Yang Kun sedang tertidur pulas.
Kedua buah tangan dan kakinya terjepit borgol besi yang amat
besar dan kuat! Malahan lehernya tampak dilingkari borgol
pula sekarang !
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"L-i-u t-w-a,....k-o?" Tui Lan menjerit. Namun tak ada suara
yang keluar dari kerongkongannya selain suara serak yang
hampir tak terdengar. Suaranya seolah-olah tertahan di dalam
kerongkongannya.
Lalu gadis itu
menggosok-gosok
kedua matanya seolah
tak percaya! Benarkah
orang yang diborgol
kaki tangannya ini Liu
Yang Kun? Ataukah
orang ini adalah orang
lain yang wajahnya
mirip dengan Liu Yang
Kun? Tapi kenapa baju
yang dipakai orang ini
juga persis dengan baju
yang dikenakan Liu
Yang Kun dua hari yang
lalu?
“Oooooouugh......!"
Tui Lan mengeluh
seraya memegangi
kepalanya.
Tiba-tiba gadis itu terhuyung-huyung mau jatuh. Namun
tangannya dengan cepat berpegangan pada dinding gua.
Kemudian perlahan-lahan gadis itu melangkah keluar dari
ruangan itu. Rasa pening membuat gadis itu merasa seolaholah
sedang berada di dalam ruangan yang berputar cepat
sekali !
Tanpa mengembalikan lagi batu besar itu ke tempatnya
semula, Tui Lan merayap menuju ke kamarnya sendiri. Sampai
di kamarnya gadis itu lalu membaringkan badannya dan
mencoba untuk tidur.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dan gadis itu memang tertidur dengan nyenyaknya.
Matanya baru terbuka kembali ketika udara panas di dalam
gua itu telah menyengatnya, di luar gua matahari telah
bersinar dengan teriknya.
''Aughhh........ !" Tui Lan menguap lebar, lalu duduk.
Namun bagai disengat lebah Tui Lan segera melompat
keluar kamarnya. Bergegas gadis itu berlari ke tempat Liu
Yang Kun diborgol malam tadi. Batu besar itu kelihatan sudah
tergeser semakin jauh dari lobangnya.
Tui Lan menjadi tegang, hatinya berdebar-debar.
Selangkah demi selangkah gadis itu merangkak melalui
terowongan itu. Tapi akhirnya gadis itu menjadi sangat
kecewa sekali. Ruangan tersebut telah kosong. Rantai borgol
itu sudah tidak ada lagi di sana. Dan pemuda itupun juga
sudah lenyap pula bersama borgol itu. Yang tertinggal di
dalam ruangan itu hanyalah obor. Obor yang sudah hampir
habis minyaknya!
Otomatis Tui Lan menjadi gelisah sekali. Kemanakah
pemuda itu? Pindah ke lorong gua yang lain? Tapi kenapa ?
Apa karena pemuda itu sudah mengerti kalau dia bayangbayangi?
Tui Lan cepat keluar kembali. Dengan amat tergesa-gesa
dia mengelilingi semua lorong-lorong gua itu. Tapi pemuda itu
tetap tak dijumpainya juga. Sekarang Tui Lan benar-benar
mengkhawatirkan nasib Liu Yang Kun.
Sekali lagi gadis itu berlari-lari mengelilingi lorong-lorong
gua itu. Bolak-balik kesana-kemari membawa obor yang
hampir habis minyaknya itu untuk memuaskan hatinya.
Setelah yakin bahwa Liu Yang Kun memang tidak dapat ia
ketemukan, maka Tui Lan lalu duduk termangu-mangu di
tepian sungai.
Dipandangnya air sungai yang gelap kehitamhitaman,"
Mungkinkah dia benar-benar dapat tidur di dalam air
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang dalam ini?” desahnya risau, teringat akan seloroh
pemuda itu tempo hari. "Ooooh.....!" rintihnya pula seraya
menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Kenapa aku tidak
menolongnya kemarin? Mengapa aku malahan
meninggalkannya? Oooooh......"
Hari itu Tui Lan terpaksa mencari ikan sendiri, membakar
sendiri, dan membikin minyak sendiri pula. Wajahnya amat
pucat. Hatinya tampak putus asa. Berkali-kali gadis itu berdiri
di tepi sungai yang hitam pekat itu sambil meneteskan air
mata.
"Liu twa-ko.......!" bisiknya berulang-ulang, seolah-olah
pemuda itu memang benar-benar berada di dasar sungai
tersebut.
Beberapa hari lamanya Tui Lan tidak makan dan tidak tidur.
Badannya menjadi sangat lemah. Namun demikian gadis itu
hampir tak pernah beranjak dari tepian sungai itu. Akibatnya
gadis itu menjadi sakit. Tubuhnya demam.
Pada hari yang ke lima Tui Lan sudah tidak bisa bangkit lagi
dari pembaringannya. Walaupun demikian gadis itu tetap
merangkak menuju pinggir sungai itu. Gadis itu ingin mati di
pinggir sungai, kalau Thian memang menghendaki ia mati di
dalam gua itu.
Tui Lan lalu duduk bersandar pada dinding gua dan
menghadap ke arah sungai. Pada saat-saat terakhirnya gadis
itu masih ingin melihat kalau-kalau pemuda yang dicintainya
itu muncul kembali. Ditatapnya tirai kegelapan yang mewarnai
udara di atas sungai itu. Sungai besar yang tidak ia ketahui
berapa lebarnya, karena sinar obor cuma mencapai dua atau
tiga tombak saja dari tepian.
“Mungkinkah di seberang sungai ini masih ada juga loronglorong
gua seperti ini?” tiba-tiba terbetik di dalam pikiran Tui
Lan suatu kemungkinan di seberang sungai itu, "Benar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mungkin memang benar. Kalau tidak, dimana lagi Liu twa-ko
itu berada?"
Bayangan itu benar-benar menumbuhkan semangat di
dalam dada Tui Lan. Tiba-tiba saja api kehidupan yang hampir
padam di dalam hatinya itu menyala kembali dengan
hebatnya. Gadis itu lalu mengerahkan Pat-hong-sin-kangnya.
Dan perlahan-lahan kekuatannya timbul kembali, meskipun
juga tidak pulih seperti biasanya. Kemudian jari-jarinya
memegang tangkai obornya erat-erat.
"Akan kulemparkan obor ini ke seberang agar supaya
kelihatan keadaan disana............" Tui Lan berkata di dalam
hatinya, lalu dengan sekuat tenaganya obor itu ia lemparkan
ke seberang.
Bagaikan sebatang anak panah obor itu meluncur di atas
permukaan sungai ! Biarpun sangat lemah, tapi sinarnya
cukup untuk menerangi buih-buih ombak yang berloncatan
menjilat udara. Sayang sekali, belum ada separuh jalan obor
itu telah habis kekuatannya. Obor itu padam ditelan
gelombang sungai yang amat besar. Meskipun demikian, apa
yang terlihat tadi sungguh-sungguh amat menggetarkan hati
Tui Lan!
Jilid 7
“Tak kusangka sungai ini demikian besarnya! Malahan kalau
melihat besarnya ombak tadi, kukira ini bukan sungai lagi.
Rasa-rasanya seperti sebuah telaga saja......." Tui Lan
berdesah lemah. Otomatis semangatnya musnah kembali. Dan
perasaan putus-asapun kembali menghantuinya pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi tiba-tiba Tui Lan membelalakkan matanya! Jauh di
seberang sungai mendadak terlihat setitik api naik ke atas
langit-langit gua. Lalu api itu bergerak perlahan-lahan
menghampiri tempatnya, sehingga api tersebut semakin lama
tampak menjadi semakin besar pula.
Sampai di atas kepala Tui Lan api itu jatuh ke bawah!
Bruuug! Tiba-tiba saja Liu Yang Kun telah berdiri di depan Tui
Lan dengan menggenggam obor di tangannya.
"Lan-moi.....,...!" dengan kaget pemuda itu berseru
memanggil Tui Lan.
"Ko-ko ......!" gadis itu menjerit pula dengan riangnya.
Rasa-rasanya kembali semua kekuatannya begitu melihat
wajah Liu Yang Kun.
Mereka berpelukan dengan eratnya, seolah-olah tak ingin
berpisah lagi. Tui Lan malahan menitikkan air mata saking
gembiranya. Tapi seperti sebuah pelita yang telah kehabisan
minyak, tiba-tiba tubuh Tui Lan menjadi lemas kembali. Gadis
itu pingsan di dalam pelukan Liu Yang Kun.
Yang Kun membawa tubuh Tui Lan ke tempat yang kering,
lalu membaringkannya di atas tanah. Pemuda itu semakin
kaget begitu tahu Tui Lan menderita sakit demam. Dengan
tangkas pemuda itu lalu menotok beberapa jalan-darah di
sekitar leher Tui Lan. Setelah itu dibukanya mulut gadis itu
dan dimasukkannya sebutir pel obat untuk menguatkan
badan.
"Lan-moi.......! Mengapa kau sampai menderita sakit
demam seperti ini .....? Beberapa hari kau tak makan dan tak
tidur?" Yang Kun segera berbisik di telinga Tui Lan, ketika
gadis itu sudah siuman kembali.
Tui Lan cepat memalingkan mukanya. Entah mengapa,
tiba-tiba timbul perasaan malu di hati gadis itu. Otomatis
pipinya menjadi merah, sehingga di mata Liu Yang Kun wajah
itu menjadi semakin cantik bukan main.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi kecantikan yang amat menawan tersebut justru sangat
merisaukan hati Yang Kun. Sambil memejamkan matanya
rapat-rapat bagaikan seorang yang sedang menahan rasa
sakit di dalam dadanya, pemuda itu mengeluh dan meratap
perlahan, seperti ditujukan kepada dirinya sendiri.
"Ya, Tuhanl Berilah aku kekuatanl Jangan Engkau rusakkan
persahabatan ini dengan kekotoran yang telah melekat di
dalam tubuhku!”
Sebaliknya, melihat pemuda yang dikasihinya itu tiba-tiba
seperti orang yang sedang mengerang kesakitan Tui Lan
menjadi kaget pula. Hilang perasaan malu yang membelit
hatinya, dan kemudian seperti mendapatkan tenaga baru dia
bangkit memeluk Liu Yang Kun.
"Ko-ko....... ! Kau......kau kenapa?" serunya khawatir.
Tapi diluar dugaan pemuda itu mendadak mendorong dada
Tui Lan dan meloncat menghindari. Namun begitu melihat
dorongannya itu membuat Tui Lan jatuh, Liu Yang Kun cepat
menyergapnya kembali ke dalam pelukannya.
“Lan-moi! Oh, Lan-moi…… maafkanlah aku!” pemuda itu
merintih memelas, seraya mendekap kepala Tui Lan.
Tui Lan mendorong badan Liu Yang Kun, kemudian
menatap wajah sendu itu dengan sinar mata penuh
pertanyaan.
“Ko-ko…..! katakanlah! Apa sebenarnya yang telah terjadi
kepadamu? Mengapa sikapmu akhir-akhir ini menjadi sangat
aneh dan membingungkan? Dimana saja kau beberapa hari
ini? Dan….. dari mana kau tadi? Ko-ko, ayolah…… ceritakan
semuanya kepadaku! Jangan kausiksa aku sedemikian rupa!”
Tui Lan segera memuntahkan seluruh kandungan hatinya
selama ini.
Liu Yang Kun tampak semakin kesakitan. Wajah yang
tampan itu tampak pucat dan layu.

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil