Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 24 April 2018

Pendekar Pedang Pelangi 5

-----
"Para pendeta kuil itu memang tidak pernah
mengganggu penduduk kampung ini. Tapi kami
sering bertanya-tanya di dalam hati kalau kebetulan
banyak tamu asing yang datang. Logat bicara mereka
seperti orang-orang dari luar Tembok Besar." Salah
seorang penduduk itu bercerita.
"Benar. Dandanan mereka pun lain dengan
dandanan orang-orang di sini. Sikap mereka pun
kasar-kasar. Pernah beberapa orang diantara mereka
berkelahi dengan pemuda kami. Untung para pendeta
kuil itu cepat melerai." Yang lain ikut berbicara pula.
"Yaaaah, akhirnya ketahuan juga bahwa kuil itu
dipergunakan oleh para perusuh dari utara." Pemilik
rumah yang dipakai untuk merawat Liu Wan dan
kawan-kawannya berkata pelan.
"Siapa yang mengatakan itu?" Lo-jin ong bertanya.
"Para pengemis itu." Orang-orang itu menjawab
serentak.
Lo-jin-ong tersenyum. "Apakah pengemispengemis
itu tidak berbohong? Jangan-jangan mereka
hanya memfitnah saja, karena permintaan derma
mereka ditolak oleh para pendeta kuil itu."
"Wah, Loheng ini ada-ada saja. Kau belum tahu
siapa mereka. Pengemis-pengemis itu adalah anggota
796
Tiat-tung Kai-pang, yang sangat terkenal di daerah
selatan ini. Mereka bukan pengemis-pengemis biasa.
Mereka memiliki kepandaian silat tinggi. Segala
sepak-terjang mereka juga diatur dan diawasi oleh
perkumpulannya."
"Wah, hebat sekali...!" Lo-jin-ong pura-pura
kagum.
Beberapa orang lalu bertanya tentang kebakaran di
rumah Tabib Ciok. Mereka juga menanyakan Tabib
Ciok dan pembantunya.
Lo-jin-ong menjadi bingung juga untuk menjawab.
Apalagi ketika ia melirik ke arah Liu Wan. Pemuda
yang menyamar sebagai Tabib Ciok itu masih tampak
lemah tak berdaya. Tentu ada sesuatu yang
disembunyikan pemuda itu, dan ia tak ingin
mencampurinya. Selain mereka belum pernah saling
mengenal, hati tuanya merasakan bahwa pemuda itu
tak bermaksud jahat. Oleh karena itu ia menjawab
pertanyaan orang-orang itu sesuai dengan apa yang
dialaminya, tanpa menyinggung atau melibatkan Liu
Wan.
"Entahlah. Semula kami hanya ingin mencari
tempat aman untuk mengobati luka, karena kami baru
saja bertempur dengan perampok di jalan. Eeeeh, tak
tahunya para perampok itu masih tetap mengejar
kami. Nah, di dalam pondok itulah kami bertempur
lagi. Mereka berjumlah banyak, sehingga kami
kewalahan. Kami diringkus dan diikat menjadi satu,
lalu dibakar bersama-sama pondok kayu itu."
797
"Oh, begitu. Lalu... apakah Loheng tidak bertemu
dengan Tabib Ciok, pemilik rumah itu?"
Lo-jin-ong menggelengkan kepalanya. "Ketika
kami datang, rumah itu kosong tidak ada
penghuninya."
"Ah, kalau begitu Tabib Ciok masih hidup." Orangorang
itu tersenyum gembira. Tampaknya mereka
sangat hormat dan suka kepada tabib itu.
Sekali lagi Lo-jin-ong melirik ke arah Liu Wan.
Ketika dilihatnya pemuda itu mulai bisa
menggerakkan tangan dan kakinya, dia segera
menghampiri.
"Wah, tampaknya kau sudah bisa membebaskan
diri dari pengaruh totokan itu. Bukan main. Orang
muda zaman sekarang memang hebat-hebat." Ia
berbisik di telinga Liu Wan.
Liu Wan tersenyum kikuk. Orang tua itu seperti
tahu segalanya. Oleh karena itu ia segera mengalihkan
pembicaraan.
"Wah, Locianpwe kejam sekali. Membiarkan kami
semua lemas tak berdaya."
Lo-jin-ong tersenyum maklum. "Ah, tidak mudah
memunahkan totokan itu. Terus terang aku tak
mampu melakukannya. Dibutuhkan seorang yang
memiliki tenaga dalam sempurna untuk dapat
memunahkan totokan itu. Bocah kejam itu benarbenar
hebat sekali. Semuda itu usianya, ternyata ilmu
silatnya sudah mendekati kesempurnaan. "Lohu (aku)
yang telah belajar dan mendalami ilmu silat lebih dari
798
tiga perempat abad, rasanya cuma sedikit saja di
atasnya. Bahkan Ilmu Memindah Jalan Darah, yang
telah kupelajari selama puluhan tahun sama sekali
tidak dapat menangkal kekuatan jarinya. Yah, apa
boleh buat... kita terpaksa harus menunggu totokan itu
punah sendiri."
Lo-jin-ong tidak melanjutkan kata-katanya, karena
orang-orang kampung itu segera mendekati Liu Wan
pula. Mereka bertanya macam-macam, yang dijawab
seadanya oleh pemuda itu.
Demikianlah, beberapa saat kemudian Giam Pit
Seng dan Tan Sin Lun juga bisa bergerak kembali.
Giam Pit Seng segera mengucapkan terima kasih
kepada para penolongnya. Sedangkan Liu Wan
bergegas mendekati Tan Sin Lun yang pernah
berkunjung ke pondoknya. Dengan berbisik Liu Wan
minta agar penyamarannya tidak dibeberkan kepada
penduduk itu.
Setelah berbicara panjang lebar dengan orang-orang
kampung itu, Liu Wan lalu memberitahukan keadaan
Tio Ciu In dan Tio Siau In kepada Giam Pit Seng. Dia
juga bercerita tentang kepergian Tio Ciu In ke markas
Tiat-tung Kai-pang ketika mereka berpisah.
"Anak muda! Siapakah tokoh Tiat-tung Kai-pang
yang berada di Hang-ciu sekarang? Kudengar Tiattung
Hong-kai dan Tiat-tung Lo-kai sudah lama
meninggal?" Lo-jin-ong berbisik kepada Liu Wan.
799
"Entahlah, Locianpwe. Tapi pimpinan Tiat-tung
Kai-pang yang ada di Hang-ciu sekarang adalah Jengbin
Lo-kai."
Ternyata berita itu sangat mencemaskan hati Giam
Pit Seng. Dengan suara agak gemetar ia meminta
pendapat Lo-jin-ong.
"Bagaimana kalau kita segera menjumpai anak itu,
Lo-jin-ong? Siapa tahu anak itu butuh pertolongan?
Dia telah kehilangan adiknya, tentu pikirannya sangat
kacau."
"Mungkin kita tak perlu ke markas Tiat-tung Kaipang,
Locianpwe. Hari sudan malam, mungkin Nona
Tio sudah kembali ke penginapan. Kita tengok dulu di
sana." Liu Wan memotong.
"Baiklah. Kita pergi ke penginapan dulu. Kalau
belum kembali, kita pergi ke markas Tiat-tung Kaipang.
Ayoh, sekarang kita berpamitan dulu kepada
para penolong kita!" Lo-jin-ong mengangguk-angguk,
lalu melangkah ke depan untuk meminta diri kepada
tuan rumah.
Demikianlah, malam itu juga mereka mencari Tio
Ciu In. Tan Sin Lun yang sangat mengkhawatirkan
keadaan sumoi-nya, tampak sangat tegang di
sepanjang jalan. Dan sikap pemuda pendiam itu tak
pernah lepas dari penglihatan Liu Wan.
"Tampaknya memang ada perhatian khusus dari
pemuda ini untuk Tio Ciu In." Katanya di dalam hati.
Sampai di penginapan mereka mendapat keterangan
bahwa Tio Ciu In belum kembali. Tentu saja
800
semuanya menjadi heran dan khawatir. Bahkan Tan
Sin Lun mulai berpikir yang bukan-bukan. Janganjangan
sumoinya mendapat kesulitan di markas Tiattung
Kai-pang.
Lalu dengan tergesa-gesa mereka menuju keluar
kota, ke markas Tiat-tung Kai-pang. Namun di tempat
itu mereka benar-benar memperoleh berita yang
mengejutkan. Tio Ciu In hilang diculik Yok Si Ki dan
Ho Bing!
"Yok Si Ki...? Gila...! Mengapa iblis itu sampai di
Pantai Timur ini? Apa yang sedang dicarinya?" Giam
Pit Seng tersentak kaget. Nama Yok Si Ki memang
menyeramkan dan sangat ditakuti orang di manamana.
"Siapakah Yok Si Ki itu, Suhu?" Tan Sin Lun
bertanya.
Lo-jin-ong kelihatan kesal pula. "Manusia iblis itu
bukan tokoh sembarangan. Dia adalah Ketua Partai
Tai-bong-pai. Ilmu silatnya sangat hebat. Terkenal
karena kekejamannya dan kesukaannya
mempermainkan wanita. Siapapun juga harus berhatihati
bila bertemu dengan orang itu."
Tan Sin Lun semakin kelabakan mendengar
keterangan itu. "Lalu.,, lalu apa yang mesti kita
lakukan, Suhu?" Teriaknya ketakutan.
Giam Pit Seng juga tidak kalah khawatirnya.
Namun demikian dia masih dapat mengendalikan
dirinya. Dia segera meminta pendapat Lo-jin-ong,
orang yang amat dihormatinya.
801
Sesepuh aliran Im-yang-kau itu mengelus-elus
jenggotnya. Sebelum menjawab ia bertanya lebih dulu
kepada Jeng bin Lo-kai.
"Lo-heng, benarkah anak itu dibawa oleh Yok Si
Ki?"
"Lo-hu tidak tahu pasti, siapa sebenarnya yang
membawa Nona Tio. Seingatku Si Tongkat Bocor Ho
Bing tidak pernah berkawan dengan ketua Tai-bongpai.
Tapi kenyataannya mereka berdua memang
berkomplot untuk menculik gadis itu. Lo-hu
menyaksikan sendiri mereka membawa masuk Nona
Tio ke dalam rumah. Ketika Lo-hu bersama kawankawan
yang lain mengepung dan mengejar mereka,
mereka telah hilang tidak tentu rimbanya. Kami lalu
menggeledah rumah itu. Tapi kami tetap tak bisa
mendapatkan mereka. Kedua orang itu benar-benar
hilang...."
"Kau tidak menyelidiki rumah itu dengan teliti?
Siapa tahu mereka lewat pintu rahasia?"
Jeng-bin Lo-kai mengangguk. "Benar. Kami
memang curiga, jangan-jangan mereka lari lewat pintu
rahasia. Celakanya, kami tidak pernah bisa
menemukan pintu rahasia itu. Akhirnya kami
memutuskan untuk mencari mereka di rawa-rawa itu.
Tetapi mereka tetap tidak dapat kami temukan...."
Jeng-bin Lo-kai memberi keterangan.
"Benar. Tidak biasanya Yok Si Ki berkawan
dengan orang lain. Dia selalu bertindak sendirian. Dia
terlalu percaya pada kemampuannya sendiri. Tentu
802
ada sesuatu yang membuat mereka saling
membutuhkan." Lo-jin-ong menduga-duga.
"Lalu... apa yang akan kita perbuat, Lo-jin-ong?"
Giam Pit Seng mendesak.
"Yah, sebaiknya kita melihat rumah di tengah rawa
itu lagi. Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk di
sana?"
"Benar, Lo-jin-ong." Jeng-bin Lo-kai mengiyakan.
"Satu-satunya petunjuk yang bisa kita cari memang
hanya di tempat itu. Marilah... akan kutunjukkan
tempatnya."
"Wah, kami cuma mengganggu Jeng-bin Lokai
saja..."Giam Pit Seng berdesah kikuk.
"Ah, Saudara Giam... jangan terlalu sungkan.
Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling
membantu. Apalagi musibah itu disebabkan oleh
keinginan Nona Tio untuk mengunjungi markas
kami." Pengemis tua itu menjawab dengan suara
ikhlas.
Demikianlah, mereka lalu pergi bersama-sama ke
pondok Ho Bing. Hari benar-benar telah menjadi
gelap ketika mereka sampai di daerah rawa-rawa itu.
"Itulah rumahnya...!" Jeng-bin Lo-kai menunjuk ke
sebuah pondok kecil agak menjorok ke tengah rawa.
Mereka meniti jembatan bambu, melangkah
menuju halaman pondok. Rumah itu masih tetap
terbuka pintunya. Bahkan lampunya juga belum
dinyalakan, sehingga dari luar tampak gelap gulita.
Tampaknya Ho Bing belum kembali, atau
803
kemungkinan memang benar-benar sudah menghilang
dari tempat itu.
"Bagaimana, Lo-jin-ong? Kita langsung masuk ke
dalam atau kita ketuk dulu pintunya?" Giam Pit Seng
meminta pendapat pimpinannya.
Lo-jin-ong mengerahkan tiga bagian dari seluruh
tenaga saktinya, kemudian melangkah mendekati
pintu.
"Tampaknya penghuni rumah ini memang belum
pulang. Tetapi kita tidak boleh lengah. Siapa tahu ada
orang lain di dalam? Atau mungkin juga ada...
jebakan?"
"Benar! Kalau begitu... biarlah lo-hu yang masuk
lebih dahulu!" Jeng-bin Lokai berkata lantang.
Lalu tanpa persetujuan kawan-kawannya Jeng-bin
Lo-kai masuk. Lo-jin-ong dan Giam Pit Seng cepat
mengikuti di belakangnya. Begitu pula dengan yang
lain. Mereka masuk ke pondok itu dalam keadaan siap
tempur.
Pondok kecil itu mempunyai lima buah ruangan,
yaitu ruang depan, ruang tengah, ruang samping dan
ruang belakang. Mereka memeriksa ruangan tersebut
satu persatu dengan teliti.
Bangkai serigala masih berserakan di segala
tempat, sementara bau anyir juga masih tercium di
dalam pondok itu.
"Semuanya belum berubah. Keadaannya masih
tetap seperti siang tadi...." Jeng-bin Lo-kai bergumam
perlahan.
804
"Bagus! Kalau begitu tempat ini belum dijamah
orang lain selain kita sendiri. Nah, sekarang... di
manakah tempat menghilangnya Yok Si Ki dan Ho
Bing?" Lo-jin-ong berbisik.
"Kami tidak tahu pasti. Mereka menghilang setelah
masuk ke Ruang Belakang. Padahal ada tiga buah
pintu di dalam ruangan itu. Kami tidak bisa
menentukan, pintu mana yang dipakai oleh mereka.
Tapi yang jelas semua pintu dapat mereka pergunakan
untuk melarikan diri, karena semuanya menuju ke
halaman belakang."
Mereka berdiri di ruang belakang. Giam Pit Seng
menyalakan lampu yang tergantung di dekat pintu
keluar menuju dapur. Di dalam keremangan lampu
minyak, suasana di dalam pondok itu sungguh
menyeramkan.
"Lihat...! Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan
adanya pintu rahasia di tempat ini. Kesimpulannya...
mereka memang benar-benar lari lewat halaman
belakang, menerobos semak-semak, kemudian
menyeberangi rawa-rawa. Kami tidak bisa mengikuti
mereka, karena mereka lebih paham dan lebih kenal
tempat ini."
Lo-jin-ong, Giam Pit Seng dan yang lain, mencoba
meneliti seluruh perabot yang ada di dalam ruangan
itu. Mereka mencoba mendapatkan pintu rahasia yang
mungkin digunakan oleh Yok Si Ki. Namun ternyata
tak seorang pun menemukannya. Pintu itu benar-benar
tersembunyi.
805
Demikianlah, mereka lalu keluar ke halaman
belakang. Dalam temaramnya cahaya bulan yang
tampak hanyalah rawa dan semak belukar. Begitu
luasnya rawa itu sehingga batasnya pun tidak
kelihatan oleh mereka. Suasananya tampak lengang,
sunyi, serta mengerikan!
"Lihat...! Rawa ini sudah memakan banyak korban.
Baik penduduk di sekitarnya, maupun para pendatang
yang belum paham seluk beluk rawa ini." Jeng-bin
Lo-kai menerangkan.
"Lalu... sampai di mana para anggota Tiat-tung-kaipang
tadi menyusuri rawa ini?" Lo-jin-ong bertanya.
Jeng-bin Lo-kai tersenyum malu. "Wah,
maafkanlah kami. Kami hanya sampai pada jarak satu
lie dari sini. Kami terpaksa kembali karena keadaan
rawa semakin berbahaya dan sulit dilalui. Di malam
hari semua binatang melata akan keluar dari
sarangnya. Padahal sebagian besar dari binatang itu
memiliki racun yang sangat berbahaya. Terutama
racun ular rawa berjengger merah. Sekali patuk
racunnya akan membuat orang menjadi buta dan gila."
"Oh... sedemikian berbahayanya? Wah, benar-benar
mengerikan!" Giam Pit Seng mengerutkan dahinya.
"Baiklah! Kalau begitu biarlah kami menunggu di
sini sampai besok pagi. Kami akan mencoba sekali
lagi menyusuri rawa ini pada siang hari. Siapa tahu
kami dapat menemukan orang-orang itu. Nah, terima
kasih atas bantuan Jeng-bin Lo-kai. Untuk
selanjutnya, biarlah kami yang menangani sendiri.
806
Kami tidak berani terus-terusan mengganggu para
sahabat dari Kai-pang..." Lo-jin-ong berkata pelan.
Tiba-tiba wajah pengemis tua itu berubah. "Apa
yang kaukatakan itu, Lo-jin-ong? Jangan katakan
bahwa kami para pengemis ini adalah orang-orang
yang takut mati. Kalau tadi kami harus menunda
pencarian di dalam rawa, hal itu bukan karena kami
takut. Tapi semua itu kami lakukan demi keselamatan
orang-orang kami pula. Kami tak ingin asal berani
saja. Kami juga harus memperhitungkan keselamatan
kami sendiri pula."
"Ah, maafkan kami! Maafkan...! Kami tidak
bermaksud begitu. Kami benar-benar tidak ingin
mengganggumu. Itu saja, lain tidak!" Lo-jin-ong
cepat-cepat menjelaskan.
"Benar, Locianpwe. Kami sangat berterima kasih
sekali atas bantuanmu. Namun demikian kami juga
sangat sungkan kalau harus selalu merepotkan
orang...." Giam Pit Seng ikut berbicara.
"Tidak! Lo-hu tidak merasa terganggu sama sekali.
Oleh karena itu kami akan tetap tinggal pula sampai
besok." Jeng-bin Lo-kai berkata tegas.
Mereka lalu masuk ke dalam pondok lagi. Lo-jinong
dan Jeng-bin Lo-kai segera bersila dan
bersamadhi di pojok ruangan. Begitu pula dengan
Giam Pit Seng, setelah mengatur penjagaan ia lalu
bersamadi pula di belakang sesepuhnya itu.
807
Sementara itu Liu Wan dan Tan Sin Lun merasa
kegerahan di dalam pondok. Keduanya melangkah
keluar mencari udara segar.
"Nona Tio juga datang ke pondokku beberapa hari
yang lalu." Liu Wan membuka percakapan.
Tan Sin Lun menoleh. Matanya memandang Liu
Wan, kemudian menghela napas panjang. "Dia juga
menanyakan Siau In, adiknya?"
Liu Wan mengangguk. "Benar. Dan jawabku sama
dengan jawaban yang kuberikan kepada Tan-heng.
Nona Siau In memang tidak pernah dibawa ke
tempatku."
Sin Lun berdesah panjang. Sambil memandang
bintang-bintang di langit ia bergumam.
"Heran. Ke mana sebenarnya anak itu? Apabila
tidak ada apa-apa, tentunya sudah kembali menemui
Suhu."
"Yah, kita hanya bisa berdoa, mudah-mudahan
tidak terjadi sesuatu yang jelek padanya." Liu Wan
mencoba membesarkan hati pemuda itu.
Keduanya lalu berbincang-bincang sambil berjaga.
Semakin lama Liu Wan semakin yakin bahwa pemuda
itu memang amat mencintai Tio Ciu In. Dan entah
mengapa, kenyataan itu benar-benar sangat memukul
hatinya.
Malam semakin larut. Udara pun terasa semakin
dingin pula. Rasa kantuk mulai menyerang Liu Wan
dan Tan Sin Lun, sehingga untuk menghilangkannya
808
Liu Wan lalu berdiri dan berjalan menuju ke halaman
depan.
"Mau ke mana...?" Tan Sin Lun bertanya.
"Berjalan-jalan saja. Mataku mengantuk sekali.
Aku...? Hei, awas! Aku seperti melihat bayangan di
jembatan!" Tiba-tiba Liu Wan berbisik dan berlindung
di bawah rimbunnya dedaunan.
"S-s-siapa...?" Tan Sin Lun tergagap kaget.
"Entahlah! Tolong kauberitahu yang lain bahwa ada
orang datang ke tempat ini! Aku akan mengawasi
orang itu...."
Tanpa membantah Tan Sin Lun menyelinap masuk,
kemudian melaporkan kecurigaan Liu Wan itu kepada
gurunya.
Sementara itu Liu Wan mencoba memotong gerak
bayangan itu.
"Berhenti...!" Liu Wan menghardik begitu
bayangan tersebut kelihatan lagi.
Bayangan itu tersentak kaget dan berhenti dengan
tiba-tiba. Di dalam kegelapan malam tampak
bayangan mengkilap panjang terpegang di dalam
tangannya.
"Kau siapa? Mengapa berkeliaran di sini? Apa yang
kaucari?" Tak terduga bayangan itu justru membentak
Liu Wan.
"Gila! Aku yang bertanya kepadamu! Jawab dulu!"
Liu Wan berseru marah.
"Persetan! Kau... yang gila! Enak saja memaksa
orang! Kau pikir ini rumahmu, heh?"
809
Ternyata bayangan itu menjadi berang pula.
Bahkan sambil berteriak dia menyerang dengan benda
mengkilap itu. Wuuuuuut! Terdengar suara mencicit
ketika benda yang tidak lain adalah sebatang tongkat
besi itu menerjang ke arah ulu hati Liu Wan!
Traaaaaang!
Liu Wan
menangkis
dengan kursi
yang ada di
dekatnya,
sehingga kursi
itu pecah
berantakan!
Liu Wan
melompat
mundur. Dia
tetap tak bisa
mengenali
lawannya.
Malam memang
terlalu gelap
untuk melihat
wajah orang. Tetapi yang jelas orang itu bersenjatakan
tongkat besi seperti halnya kaum pengemis.
Begitulah, karena tak ada yang mau mengalah,
maka mereka berdua segera terlibat dalam
pertempuran sengit. Bayangan itu menyerang Liu
810
Wan dengan ganas. Tongkatnya menyambar-nyambar
seperti burung elang melihat mangsa.
Begitu cepat dan kuat ayunannya sehingga Liu Wan
dibuat repot untuk menghindarinya.
Liu Wan terpaksa mengurai sabuknya, sebuah
sabuk terbuat dari kulit ular berbandul perak. Sabuk
itu segera dia pergunakan untuk melayani lawannya.
Siiiuuut! Traaaaaang! Thiiiiing...!
Berkali-kali kedua macam senjata itu berbenturan
di udara. Bunga api memercik ke mana-mana.
Semakin lama semakin sering, sehingga lengan
mereka menjadi kesemutan dibuatnya.
"Bagus! Ternyata orang ini boleh juga! Siapa
dia...?" Liu Wan berkata di dalam hati.
Sebaliknya orang itu benar-benar kaget melihat
kemampuan Liu Wan. Permainan tongkatnya yang
selama ini sangat disegani orang, ternyata mendapat
perlawanan sengit dari sabuk kulit lawannya.
Sementara itu Lo-jin-ong dan Jen-bin Lo-kai telah
berlari ke halaman depan. Giam Pit Seng dan Tan Sin
Lun mengikut di belakang mereka. Melihat Liu Wan
telah bertarung dengan seseorang, mereka berempat
segera bersiap-siap untuk membantu.
Melihat lawan berjumlah banyak, Orang itu diamdiam
menjadi keder juga hatinya.
"Kurang ajar! Ternyata kau membawa banyak
orang untuk merampok rumahku!" Orang itu berteriak
geram.
811
"Rumahmu...? Kau? Kau... Si Tongkat Bocor Ho
Bing?" Liu Wan berseru kaget.
Orang itu tertawa panjang. "Hehehe... tampaknya
kau terkejut mendengar namaku, ya? Bagaimana?
Masih mau merampok juga?"
Tiba-tiba Jeng-bin Lo-kai melangkah ke depan.
"Kami para pengemis Tiat-tung Kai-pang tidak pernah
menjadi perampok! Bahkan menjadi penipu atau
pembohong pun belum pernah! Nah, Ho Bing...
katanya kau juga menjadi anggota kami pula!
Benarkah...?"
Bukan main terkejutnya Ho Bing. Dia berbohong
ketika berhadapan dengan Liu Wan dan Tio Ciu In
pagi tadi. Semua itu dia lakukan hanya untuk
menjebak Tio Ciu In. Tak terduga tokoh Tiat-tung
Kai-pang yang ia catut namanya itu sekarang berada
di depannya.
Sekejap timbul maksud Ho Bing untuk melarikan
diri. Tetapi keinginannya menjadi batal ketika Jengbin
Lo-kai dan pengawalnya bergerak mengepungnya.
"Bagus!" Ho Bing justru menggertak. "Aku
memang bukan orang Tiat-tung Kai-pang! Aku... Ho
Bing Si Tongkat Bocor!"
Jeng-bin Lo-kai tertawa mengejek. "Ho Bing! Kau
jangan terlalu sombong di depanku. Meskipun ilmu
silatmu terkenal hebat, tapi tenaga murnimu kau
hambur-hamburkan di segala tempat. Kau hanya
seperti harimau kertas, tampaknya saja garang, dan
menakutkan, tapi sebenarnya kropos tak berdaya.
812
Menghadapi lawan bertenaga dalam tinggi, kau
takkan bisa berbuat apa-apa."
Ucapan pengemis tua itu laksana peluru meriam
yang menghantam dada Ho Bing. Dia memang
merasa lemah dalam hal tenaga dalam. Melawan
Jeng-bin Lo-kai dia tidak takut, tapi yang perlu dia
perhitungkan justru pemuda yang baru saja bertempur
dengan dirinya tadi. Terasa olehnya pemuda itu belum
mengeluarkan semua kepandaiannya.
"Sayang Yok Si Ki sudah pergi...."
"Hei! Mengapa kau diam saja? Ayoh, katakan... di
mana sumoiku? Jawab!" Tan Sin Lun berteriak tak
sabar.
Ho Bing mendelik. "Bangsat! Kau... siapa?" ,
"Aku kakak seperguruan Tio Ciu In! Ayoh, cepat
katakan!"
Sambil menjerit Tan Sin Lun menyerang Ho Bing.
Pemuda itu tidak bisa mengekang hatinya lagi.
Kekhawatirannya terhadap keselamatan Tio Ciu In
membuatnya mata gelap.
"Tan-heng, jangan...!" Liu Wan yang sudah
merasakan kehebatan tongkat Ho Bing berseru.
Terlambat. Hanya dengan miringkan tubuhnya, Ho
Bing mampu meloloskan diri dari serangan Tan Sin
Lun. Sebaliknya, pada saat yang hampir bersamaan
tongkat Ho Bing menusuk ke arah dada Tan Sin Lun
dengan cepatnya.
Wajah Giam Pit Seng menjadi pucat seketika.
Muridnya yang belum berpengalaman itu benar-benar
813
dalam bahaya. Untuk menolong jelas tidak bisa.
Jaraknya terlalu jauh. Sesuatu yang dapat ia lakukan
hanyalah menyerang Ho Bing dengan bintang
terbangnya!
Siiiiiing! Taaaaassh! Tuuuk! Gedubrak! Bruk!
Ternyata tidak hanya Giam Pit Seng yang kaget
atas serangan Ho Bing tadi. Dalam kagetnya ternyata
Lo-jin-ong dan Liu Wan juga menyerang pula.
Masing-masing dengan ilmu andalannya. Lo-jin-ong
dengan Ilmu Silat Kulit Dombanya, melempar
tongkatnya ke lengan Ho Bing. Sedang Liu Wan
dengan Hong-lui-kun-hoat juga berusaha menghalau
tongkat pengemis hidung belang itu.
Ketika serangan itu datang pada saat yang sama.
Mula-mula tongkat Ho Bing yang sudah menyentuh
baju Tan Sin Lun itu tergetar hebat, akibat tangan
yang memegangnya tak mampu mengelakkan
terjangan tongkat Lo-jin-ong. Namun pada saat itu
juga jari Ho Bing sudah memencet tombol rahasianya,
sehingga asap tebal berwarna kuning menyambar ke
wajah Tan Sin Lun.
Tapi pada saat asap kuning itu menyembur keluar,
maka pukulan petir Liu Wan juga persis datang
menyambar tongkat itu. Terdengar sebuah letupan
kecil ketika tongkat tersebut terpental dari tangan Ho
Bing. Namun demikian tongkat itu sempat merobek
baju Tan Sin Lun dan menggores kulit dadanya.
Bahkan asap kuning itu sudah terhisap pula oleh
hidung Tan Sin Lun.
814
Bruuuuk! Tubuh Tan Sin Lun terbanting pingsan di
atas tanah! Sementara itu senjata rahasia bintang
terbang milik Giam Pit Seng juga mengenai punggung
Ho Bing dengan telak, bahkan persis pada jalan darah
Tai-hung-hiat di bawah pundak. Akibatnya tubuh
pengemis hidung belang itu juga tersungkur pula di
samping Tan Sin Lun.
Giam Pit Seng segera menghambur ke depan untuk
menolong muridnya. Kedua jari telunjuknya cepat
menotok di beberapa tempat. Kemudian tangannya
bergegas mengambil beberapa ramuan obat serta
memasukkannya ke dalam mulut Tan Sin Lun.
"Bagaimana? Lukanya parah?" Lo-jin-ong bertanya
khawatir.
"Lukanya memang tidak seberapa, karena tongkat
itu hanya menggores sedikit saja. Tapi asap kuning
itulah yang berbahaya. Anak ini terlanjur
menghisapnya, walaupun tidak banyak."
Mereka lalu membawa Tan Sin Lun ke dalam
pondok dan meletakkannya di atas lantai. Liu Wan
dan Jeng-bin Lo-kai juga meringkus Ho Bing yang
sudah terluka itu dan membawanya ke dalam rumah
pula.
"Kurang ajar! Lepaskan aku...!" Pengemis hidung
belang itu mengumpat-umpat.
"Jangan khawatir! Aku akan melepaskanmu kalau
kau sudah mengatakan di mana Tio Ciu In berada...."
Liu Wan menggeram dengan suara kesal.
"Persetan! Perempuan hina itu sudah mati!"
815
Plok! Plok! Telapak tangan Liu Wan menampar
pipi Ho Bing beberapa kali, meskipun tidak sampai
merontokkan giginya.
"Aduh....! Bangsat! Keparat! Lepaskan tanganku!"
Ho Bing menjerit-jerit.
Setelah mengobati Tan Sin Lun, Giam Pit Seng
menghampiri Ho Bing. Dengan suara tertahan
pendekar Aliran Im-yang-kau itu bertanya tentang
murid perempuannya. Dari sikap dan roman mukanya,
kelihatan sekali kalau dia menahan rasa marahnya.
"Aku tidak tahu! Tanyakan sendiri kepada Yok Si
Ki! Orang itu yang membawa muridmu!"
Liu Wan menyambar leher baju Ho Bing. "Jangan
coba-coba melibatkan orang lain! Aku tahu sendiri,
kaulah yang membawa gadis itu! Kau ingat Tabib
Ciok yang datang bersama gadis itu? Akulah tabib
itu!"
Ho Bing terperanjat. Matanya terbelalak
memandang Liu Wan. Tiba-tiba mulutnya berdesis.
"Kau... siapa?"
"Namaku Liu Wan. Tapi banyak yang menyebutku
Bun-bu Siu-cai. Tabib Ciok adalah penyamaranku di
kota Hang-ciu ini...."
Jawaban itu benar-benar mengejutkan Ho Bing.
Bahkan tidak cuma Ho Bing, tapi juga semua tokoh
yang ada di situ. Nama Bun-bu Siu-cai sangat terkenal
di pantai timur Tiong-kok. Namun demikian tak
seorangpun di antara mereka yang pernah melihat
wajahnya.
816
Lo-jin-ong mengangguk-anggukkan kepalanya.
Bayangan wajah Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, orang
yang pernah dikenalnya, kembali terbayang di depan
matanya. Dan dia semakin yakin, bahwa pemuda ini
tentu mempunyai hubungan dengan orang itu.
"Oh, jadi kaulah pendekar ternama itu? Bagus!
Kalau begitu, siapa orang tua bongkok ini? Gurumu?"
Ho Bing berkata lantang. Sama sekali tidak kelihatan
takut menghadapi lawan banyak.
Liu Wan tersenyum. "Hari ini nasibmu memang
kurang beruntung. Locianpwe ini adalah tokoh paling
tinggi di dalam aliran Im-yang-kauw saat ini. Beliau
adalah Lo-jin-ong atau Toat-beng-jin!"
Ho Bing mengerutkan keningnya, kemudian
tertawa panjang. "Kau benar, Liu Wan. Nasibku
memang kurang baik hari ini. Begitu mendapat lawan,
sekaligus dapat tokoh-tokoh ternama dari dunia
persilatan. Hohoho, baiklah. Rasanya aku tidak perlu
berbelit-belit lagi sekarang. Akan kukatakan apa yang
kalian inginkan...."
"Jangan bertele-tele! Cepat katakan! Di mana Nona
Tio sekarang?" Jeng-bin Lo-kai membentak.
"Sabarlah, Hu-pangcu! Aku akan bercerita...."
Begitulah, Ho Bing lalu bercerita apa adanya.
Bagaimana ia dan Yok Si Ki meloloskan diri melalui
pintu rahasia dan kemudian bertemu pendekar
bermata buta di dalam Gua Seribu Jalan.
817
"Bohong! Dia tentu berbohong, Suhu!" Tan Sin
Lun yang sudah berangsur baik dan ikut
mendengarkan cerita Ho Bing, tiba-tiba berteriak.
"Huh! Terserah kalian... mau percaya atau tidak!
Kalau kalian ingin mencoba kesaktian Pendekar Buta
itu, aku pun bersedia mengantarnya. Tapi... jangan
salahkan aku, bila kalian mendapat celaka nanti!
Harap tahu saja, pendekar itu mampu meruntuhkan
atap gua... hanya dengan getaran suaranya! Kau
dengar! Hanya dengan getaran suaranya!" Ho Bing
berteriak pula dengan suara mendongkol.
Semuanya terdiam di tempatnya. Mereka tahu
bahwa Ho Bing tidak berbohong atau ingin menakutnakuti
mereka. Dari roman mukanya dapat dilihat
bahwa pengemis hidung belang itu juga ketakutan
pula ketika bercerita.
"Baiklah, antarkan kami ke gua itu! Kami juga
ingin berkenalan dengan Pendekar Buta itu. Siapa
tahu dia masih hidup dan dapat menyelamatkan Tio
Ciu In? Kukira orang yang memiliki kemampuan
meruntuhkan atap gua dengan getaran suaranya, tentu
dapat pula mengatasi bencana yang terjadi...."
Akhirnya Lo-ji-ong berkata pelan.
"Aku sependapat dengan ucapan Lo jin-ong. Ho
Bing, cepat...antarkan kami ke gua itu!" Seru Liu Wan
tidak sabar.
"Baik, kalian mau lewat mana? Lewat pintu
rahasia... atau lewat rawa-rawa di belakang itu?"
818
Jeng-bin Lokai mendengus dengan suara di hidung.
"Huh! Aku tahu rencanamu. Manusia licik seperti
kamu tentu mempunyai rencana-rencana busuk untuk
mencelakakan kami dalam usahamu meloloskan diri.
Bagimu, lewat terowongan di bawah tanah ataupun
lewat rawa-rawa, sama saja. Kau akan berusaha
menyesatkan kami, bahkan menjebloskan kami ke
tempat-tempat berbahaya, kemudian menyelinap pergi
meninggalkan kami. Begitu, bukan? Hoho... jangan
harap kau bisa mengelabuhi aku! Aku akan
menjagamu seperti seorang ibu menjaga bayinya!"
Ho Bing menyeringai senang, seolah-olah tidak
peduli dengan ucapan Jeng-bin Lo-kai.
"Bagaimana? Kalian pilih lewat mana......?"
Giam Pit Seng mendekati Lo-jin-ong. "Sebaiknya
kita lewat rawa-rawa saja, Lo-jin-ong. Lebih aman
serta lebih cepat sampai, karena kita selalu tahu di
mana kita berada. Di dalam terowongan kita sulit
menentukan arah." Dia berbisik perlahan.
"Baiklah! Saudara Ho, kami ingin lewat rawa-rawa
saja." Lo-jin-ong memberi kepastian.
Demikianlah, Giam Pit Seng lalu mengatur rencana
keberangkatan mereka. Tan Sin Lun tidak
diperkenankan ikut. Pemuda itu tetap tinggal bersama
para pengawal Jeng-bin Lo-kai di rumah itu.
Sementara itu karena sampan yang tersedia hanya
dua buah, maka Jeng-bin Lo-kai dan Lo-jin-ong
berada satu sampan dengan Ho Bing. Sedang Liu Wan
dan Giam Pit Seng berada dalam sampan yang lain.
819
Untuk menjaga agar Ho Bing tidak lari, Jeng-bin
Lo-kai sengaja menotok beberapa jalan darah di
pangkal paha pengemis palsu itu. Bahkan demi
keamanan mereka, Ho Bing ditempatkan di tengahtengah.
Malam semakin larut, sementara bintang di langit
telah jauh bergeser ke arah barat. Kedua sampan kecil
itu bergeser perlahan di antara semak-semak belukar
yang banyak terdapat di tengah rawa itu. Selain
berpedoman pada bintang-bintang, mereka juga
mengandalkan pengalaman dan daya ingat Ho Bing,
yang telah biasa bertualang di tempat itu.
Rawa itu seperti tidak ada ujungnya. Semakin jauh
sampan mereka melaju, maka semakin bingung pula
mereka menentukan arah. Rasanya sampan itu hanya
berputar-putar saja di antara gerumbul perdu dan
alang-alang.
Tapi dengan tenang dan penuh keyakinan, Ho Bing
menunjukkan jalan yang harus mereka lalui. Dengan
berpedoman pada letak bintang di langit, Ho Bing
membawa rombongan itu ke arah yang benar.
Akhirnya ketika sinar kemerahan mulai semburat di
ufuk timur, rombongan tersebut sampai juga di
seberang. Mereka menyembunyikan sampan mereka,
kemudian naik ke daratan. Lo-jin-ong kembali
membebaskan totokan Ho Bing.
Sementara itu udara bertiup dengan kencang
menerpa tubuh mereka, sebagai bukti bahwa mereka
telah berada di dekat pantai.
820
"Bagus Ho Bing! Tampaknya kau memang benarbenar
tahu cara melintasi rawa-rawa ini. Kata orang,
rawa ini penuh dengan binatang-binatang berbahaya,
yang setiap saat bisa membunuh orang. Tapi sejak
berangkat tadi, kita tidak menemuinya sama sekali.
Bagaimana kau bisa menghindari mereka? Apakah
cerita tentang binatang - binatang berbahaya itu hanya
bohong belaka?" Jeng-bin Lo-kai bertanya sambil
berdecak kagum.
Tiba-tiba Ho Bing tertawa. "Kalau kukatakan apa
yang ada di tengah perjalanan tadi, mungkin kita
belum sampai di tempat ini."
"Apa katamu...?" Liu Wan tersentak tak paham.
"Sebenarnya kita baru saja lolos dari dua kali
kematian. Pertama, kita lolos dari keroyokan ular
berjengger merah. Ke dua, kita lolos dari pusaran
maut."
Semuanya mengerutkan dahi. "Jangan berbelitbelit!
Jelaskan kata-katamu!" Mereka berdesis hampir
berbareng.
Ho Bing kembali tertawa. "Ketahuilah, ular rawa
bercengger merah itu hidup di tempat yang banyak
ditumbuhi pohon bunga. Turun temurun ular itu selalu
beristirahat pada saat pohon bunga sedang mekar. Dan
waktunya tidak lama. Mungkin cuma sepeminuman
teh saja. Setelah itu mereka akan keluar lagi...."
"Oh, begitukah...? Sungguh berbahaya sekali!
Untung kita tidak ribut selama berada di tempat itu...."
Jeng-bin Lo-kai berdesah ngeri.
821
"Benar, Hu-pangcu. Sedikit saja kita
membangunkan mereka, hohoho... tempat itu akan
penuh dengan ular bercengger merah! Dan bila sudah
demikian keadaannya, maka cuma manusia bersayap
saja yang mampu keluar dari tempat itu."
Liu Wan menarik napas lega. "Lalu... di mana
bahaya kematian yang ke dua itu berada? Kami tidak
melihat pusaran air itu."
Ho Bing menatap pemuda tampan itu dengan
perasaan puas. Puas karena memiliki pengalaman
lebih baik daripada mereka.
"Liu-heng, kau masih ingat ketika hendak
mengayuh sampan... ke daerah yang terbuka tadi?"
"Maksudmu... bagian yang tidak ada tumbuhtumbuhan
dan semak-belukar itu? Airnya sangat
dalam?"
Sekali lagi pengemis hidung belang itu tertawa
lepas. "Jadi Liu-heng berpendapat demikian? Oho...
untunglah aku cepat-cepat membawa Liu-heng
menghindari tempat itu. Kalau tidak... wah, kau dan
Giam Locianpwe sudah bertemu dengan Giam-lo-ong
(Dewa Kematian) sekarang."
"Mengapa begitu, Saudara Ho?" Lo-jin-ong yang
jarang sekali berbicara itu mendesak menyela
pembicaraan mereka.
"Ah, Locianpwe.... biasanya orang yang belum tahu
tentang rawa ini, cenderung memilih lewat di tempat
yang terbuka. Selain tidak ada tumbuh-tumbuhan
yang menghalangi pandangan, bahaya yang datang
822
pun segera bisa dilihat. Namun... justru di sanalah
tempat yang paling berbahaya pada rawa-rawa ini."
"Paling berbahaya? Mengapa?" Karena memang
belum tahu, Lo-jin-ong minta penjelasan.
"Seharusnya orang merasa curiga. Paling tidak...
berpikir tentang keanehan itu. Mengapa di tempat itu
tidak ada tanaman, sementara di perairan di sekitarnya
penuh dengan semak belukar?"
"Yaya.. cepat katakan! Apanya yang berbahaya?
Heh?!" Jeng-bin Lo-kai membentak tak sabar.
Tapi dengan tenang Ho Bing melanjutkan
keterangannya. Sama sekali tak terpengaruh oleh
bentakan Jeng-bin Lo-kai.
"Seperti yang diduga oleh Saudara Liu tempat itu
memang dalam airnya. Tapi bukan itu yang ditakuti
orang. Yang ditakuti adalah... pusaran airnya! Pada
waktu-waktu tertentu terjadi pusaran air yang dahsyat,
yang akan menelan benda apa saja ke dalam dasarnya.
Apabila sampan kita berada di sana, kemudian
muncul pusaran air tersebut, maka kita semua akan
tersedot ke bawah, dan hilang entah ke mana. Kata
orang di dasar rawa itu terdapat lobang, yang
berhubungan dengan sungai di bawah tanah."
Semuanya termangu-mangu mendengar keterangan
pengemis hidung belang itu.
"Tapi... mengapa baru sekarang hal itu kaukatakan?
Mengapa tak kauberitahukan pada saat kita berada di
sana?" Jeng-bin Lo-kai mendongkol.
823
"Oh-oh, aku tak ingin mati bersamamu, Lo-kai.
Kau tidak mungkin percaya kepadaku. Kalau saat itu
aku berkata demikian, engkau akan menuduhku
bohong. Kau tentu berprasangka bahwa aku hanya
merancang jalan untuk melarikan diri. Dan yang
paling kutakutkan, ketidak percayaanmu itu akan
membuahkan keputusan untuk memaksa lewat di
tempat itu. Bukankah hal itu sangat mengerikan?"
"Sudahlah, Saudara Ho. Mari kita lanjutkan
perjalanan kita!" Lo-jin-ong menghentikan
pembicaraan mereka.
Demikianlah bersamaan dengan terbitnya matahari,
mereka menjejakkan kaki mereka di pantai Gua
Seribu. Sorot matahari yang merah kekuningan itu
seolah-olah melapis permukaan laut dengan hamparan
emas berkilauan. Kebetulan pula angin yang bertiup
tidak begitu kencang, sehingga gelombang pun tidak
segarang biasanya.
"Itulah gua-gua itu!" Ho Bing menunjuk ke tebing
pantai yang memanjang jauh ke selatan, di mana
lubang-lubang gua itu bertaburan bagai sarang tawon.
Begitu banyaknya, sehingga sulit untuk menghitung,
apalagi mencari lubang gua yang dikehendaki.
"Ah! Bagaimana kau mencari lubang gua di mana
kau berada tadi malam?" Giam Pit Seng mulai ragu.
Ho Bing melangkah maju, diikuti oleh Jeng-bin Lokai
yang tak pernah lekang barang seujung rambut
pun.
824
"Tidak sulit, Lo-kai. Kita tak usah mencari lubang
gua yang berada di tebing atas, Kita cari saja lubang
gua yang sejajar dengan permukaan laut, karena
lubang gua yang kita cari itu merupakan muara
sebuah sungai bawah tanah. Nah, setelah itu kita lihat
di dalamnya. Bila di situ terdapat bekas reruntuhan
tadi malam, maka lubang itulah gua yang kita cari...."
Liu Wan mengangguk-angguk. "Baik! Marilah kita
mulai mencarinya...!"
Meskipun lubang gua yang berada di bawah sangat
banyak, dan setiap saat harus melongok ke dalam,
namun lubang gua yang mereka cari akhirnya ketemu
juga. Bahkan jejak-jejak sepatu Ho Bing dan Yok Si
Ki banyak terdapat di sana.
"Nah, lihatlah! Reruntuhanya masih baru...." Ho
Bing berkata lantang.
Semua berebut masuk. Mereka melihat batu-batu
besar berserakan di mana-mana. Dari pecahanpecahan
batu yang ada, mereka percaya bahwa
kejadiannya memang belum lama. Bahkan batu-batu
itu banyak yang runtuh begitu tersentuh tangan
mereka.
Semakin dalam mereka masuk, keadaannya
semakin porak poranda. Rasanya tidak mungkin kalau
hal itu disebabkan oleh getaran suara manusia.
Kerusakan itu lebih pantas disebabkan oleh
goncangan gempa yang hebat.
"Bukan main! Benarkah semua ini disebabkan oleh
kekuatan seorang manusia? Hmm, jangan-jangan
825
hanya kebetulan saja...." Lo-jin-ong tak henti-hentinya
berdecak heran.
"Apa maksud Locianpwe?" Liu Wan bertanya tak
mengerti.
"Hmm... jangan-jangan memang ada gempa bumi
di tempat ini. Atau... mungkin keadaan gua ini
memang sudah rapuh sebelumnya, sehingga getaran
sedikit saja sudah membuat batu-batu di atas
berguguran ke bawah. Hal seperti itu memang banyak
terjadi di gua-gua berusia ribuan tahun." Lo-jin-ong
menerangkan.
"Benar, Lo-jin-ong. Aku berpikir demikian.
Rasanya sulit dipercaya kalau hal ini diakibatkan oleh
manusia." Giam Pit Seng memberikan tanggapannya
pula.
Jeng-bin Lo-kai menyentuh batu yang melekat di
dinding gua. Ketika tangannya mencoba mendorong,
batu tersebut tak bergerak sedikit pun. Begitu pula
ketika ia mencoba menggoyang batu lainnya.
"Tapi batu-batu di gua ini tampak kokoh kuat...."
Dia bergumam kurang percaya.
Liu Wan menoleh. Ketika matanya tak melihat Ho
Bing, ia berteriak. "He...? Di mana Ho Bing tadi?"
Semuanya tersentak kaget. Pengemis hidung belang
itu benar-benar tidak ada di antara mereka.
"Kurang ajar...! Sekejap saja aku berpaling, orang
itu sudah menghilang!" Jeng-bin Lo-kai mengumpatumpat.
826
"Jangan-jangan dia juga berbohong tentang semua
ini. Mungkin Tio Ciu In tak pernah dibawa ke sini.
Dia hanya mencari jalan untuk melepaskan diri dari
kita." Giam Pit Seng semakin ragu.
Tiba-tiba Liu
Wan meloncat
ke depan dan
mendorong
sebongkah batu
besar. Dengan
sebat tangannya
menarik sesuatu
dari bawah batu
tersebut.
"Locianpwe,
lihat...!
Bukankah ini
sepatu Tio Ciu
In?" Pemuda itu
berseru keras
sekali.
Lo-jin-ong
dan Giam Pit Seng bergegas melihat sepatu itu.
"Benar. Sepatu ini memang milik Tio Ciu In. Anak
itu sendiri yang membuatnya setiap kali
menyelesaikan latihan silatnya...." Giam Pit Seng
mengangguk-angguk. Matanya berkaca-k'aca.
"Ciu In......!! " Lo-jin-ong berseru dengan kekuatan
tenaga dalammya. Suaranya bergema, bergulung827
gulung, menembus lorong-lorong gua itu. Begitu kuat
getarannya sehingga lapisan tanah dan bongkahan
batu kecil yang masih tersisa di atap gua berguguran
ke bawah.
"Lo-jin-ong, awaaaas...! Susunan batu di dalam gua
ini masih belum mantap benar. Semuanya masih
mudah runtuh." Liu Wan memperingatkan.
"Benar. Aku memang kurang
memperhitungkannya. Aku terlalu khawatir terhadap
keselamatan Tio Ciu In."
Mereka lalu masuk lebih ke dalam lagi. Ketika
mereka mendapatkan lubang-lubang yang lain,
mereka mulai bingung. Apalagi ketika mereka masuk
ke dalam salah satu lubang di antaranya, mereka
kembali mendapatkan sebuah gua besar yang
memiliki beberapa buah lubang terowongan lagi.
"Awassss...! Gua ini memiliki terowongan yang
berbelit-belit seperti sarang laba-laba! Sebelum kita
berjalan lebih dalam dan kehilangan arah, kita harus
mencari cara agar tidak tersesat. Kita tidak boleh
kehilangan jalan untuk kembali ke gua besar tadi.
Nah, bagaimana pendapatmu... Jeng-bin Lokai?" Lojin-
ong menghentikan langkahnya dan bertanya
kepada wakil ketua Tiat-tung Kai-pang.
"Kau benar, Lo-jin-ong. Sekali kita kehilangan
arah, maka kita semua akan berputar-putar di dalam
gua-gua ini sampai mati. Sudah banyak cerita yang
kudengar tentang hal itu. Hemmmmm, menurut
828
pendapatku... kita harus memberi tanda setiap
memasuki lubang gua yang lain. Bagaimana...?"
"Baiklah. Mari kita mencobanya...."
Kemudian setiap kali berbelok dan masuk ke dalam
gua yang lain mereka memberi tanda dengan goresangoresan
pada dindingnya. Mereka melakukannya
berkali-kali, hingga suatu saat mereka menjadi kaget
ketika tiba-tiba telah berada di tempat semula.
Padahal mereka yakin bahwa mereka tidak merasa
berputar atau berbalik arah.
"Gila! Gua ini benar-benar membingungkan.
Bagaimana kita bisa kembali ke tempat ini? Bukankah
kita tadi maju terus ke dalam tanpa mengambil jalan
ke kiri atau ke kanan?" Liu Wan bingung.
"Benar, Liu-heng. Tapi kita keluar dari lubang yang
lain lagi. Jadi benar dugaan Lo-jin-ong, bahwa lubang
terowongan di dalam tanah ini berbelit-belit seperti
sarang laba-laba." Giam Pit Seng membenarkan.
Lo-jin-ong mendekati mereka. Sambil menepuk
pundak Liu Wan dia mengajak keluar dari gua
tersebut.
"Sebaiknya kita keluar dulu. Kita rundingkan cara
yang baik untuk mengatasi hal ini. Selain daripada itu
kita perlu makan pula, bukan? Nah, mari kita
keluar...!"
Ternyata matahari telah sepenggalah tingginya.
Panasnya memancar, mengusap dinding-dinding
karang yang tinggi, seolah-olah mau menghangatkan
suasana yang kaku di siang hari itu. Mereka mencoba
829
mencari ikan apa saja untuk mengisi perut. Sungaisungai
di bawah tanah itu memang menyediakan ikan
yang biasa mereka ambil.
Demikianlah, selama enam hari mereka mencoba
terus mencari Tio Ciu In. Pada hari ke tiga Giam Pit
Seng menemukan tali rambut muridnya itu, sehingga
mereka menjadi bersemangat kembali. Tapi
penemuan itu ternyata merupakan petunjuk mereka
yang terakhir. Selanjutnya mereka tak pernah
menemukan apa-apa lagi. Hingga pada hari yang ke
tujuh mereka mulai putus asa.
"Bagaimana menurut pendapat Lo-jin-ong? Apakah
Tio Ciu In masih hidup atau mati?" Giam Pit Seng
bertanya kepada sesepuhnya.
"Entahlah, Pit Seng. Sama sekali tak ada gambaran
yang dapat menjadi petunjuk untuk meramalkan hal
itu. Pikiran dan perasaanku serasa gelap dan buntu.
Tetapi kecil rasanya kemungkinan untuk hidup bagi
anak itu...."
"Hmmh, Si Keparat Ho Bing itu juga tidak muncul
pula. Dialah yang menjadi gara-gara semua ini. Ah,
Locianpwe... apa yang harus kita kerjakan sekarang?"
Liu Wan berdesah dengan suara tersendat-sendat.
"Apa boleh buat, kita telah berusaha selama enam
hari di sini. Kami terpaksa pulang."
Liu Wan duduk termangu-mangu. Semua bayangan
Tio Ciu In selama ini kembali terbayang di depan
matanya. Senyumnya. Cara bicaranya.
830
Demikianlah, seperti apa yang dikatakan oleh Lojin-
ong, walaupun sangat berat mereka terpaksa
meninggalkan tempat itu. Mereka harus kembali,
karena banyak tugas yang harus mereka lakukan
selain itu.
Liu Wan sendiri selama hampir sebulan masih tetap
mondar-mandir di pantai tersebut. Pemuda itu masih
berharap dapat bertemu kembali dengan Tio Ciu In.
Tapi setelah sekian lamanya tidak juga bersua,
akhirnya pupus juga harapannya. Dengan sedih dia
pergi melanjutkan pengembaraannya. Kenangan
tentang gadis ayu itu dibawanya ke mana pun dia
pergi.
-- o0d-w0o --
LIMA TAHUN kemudian....
Waktu lima tahun memang tidak terlalu lama.
Namun selama kurun waktu yang tidak terlalu lama
itu ternyata telah banyak sekali perubahan yang terjadi
di negeri Tiongkok. Pasukan Mo Tan dengan
panglima-panglimanya yang gagah berani telah
banyak menyusup ke selatan. Mereka melewati
Tembok Besar, kemudian menyerang dan menguasai
beberapa kota kecil di sepanjang Sungai Ho-ang-ho.
Sementara itu pemberontakan suku-suku kecil di hulu
Sungai Yang-tse juga semakin merajalela.
Begitulah, hanya dalam waktu lima tahun semenjak
Au-yang Goanswe memperoleh kepercayaan penuh
831
dari Permaisuri Li, maka suasana di dalam negeri pun
mulai berubah buruk. Cita-cita untuk mencapai negeri
yang aman dan nyaman, yang telah dirintis oleh
Permaisuri Li semenjak wafatnya Kaisar Liu Pang,
mulai goyah dan siap untuk runtuh kembali.
Dengan kekuasaannya yang besar, Au-yang
Goanswe menguasai para menteri dan penasehat
kerajaan. Dengan siasat dan kelicikannya pula, Auyang
Goanswe memfitnah Panglima Besar Yap Kim,
sehingga pahlawan yang berjasa besar terhadap
negara itu justru dibuang dan dipenjarakan oleh
Permaisuri Li.
Oleh karena secara diam-diam di kotaraja sendiri
terjadi persaingan dan permusuhan di antara para
penguasanya, maka di daerah pun suasananya juga
semakin jelek dan rusuh. Para Gubernur atau Raja
Muda yang berkuasa di luar kota raja, seolah-olah
tidak terkendali lagi. Dengan longgarnya pengawasan
dari pusat, maka kekuasaan mereka benar-benar
melebihi kaisar sendiri.
Penjahat merajalela, sementara para penguasa di
daerah pun tidak kalah buruknya daripada mereka.
Rakyat kecil menjadi ketakutan, karena merekalah
yang akhirnya menjadi korban kebrutalan itu.
Para petani tidak berani sembarangan turun ke
sawah. Selain banyak penjahat yang mengancam
mereka, hasil sawah mereka pun belum tentu dapat
mereka nikmati dengan baik. Kalau bukan perampok
yang menjarah-rayah hasil panenan mereka itu, para
832
penguasa lalim pun sering mengambilnya dengan
dalih untuk negara. Begitulah, mereka yang bermandi
keringat, tetapi orang lain yang berpesta pora. Bagi
mereka cukup diberi jatah sebagian kecil saja dari
hasil sawah ladang mereka itu.
Suasana negeri yang demikian itu juga
menimbulkan pelecehan terhadap wanita secara
semena-mena. Penculikan, perkosaan, dan segala
tindak kekerasan terhadap wanita terjadi di manamana.
Tentu saja keadaan itu menimbulkan gelombang
kemarahan dari para pendekar persilatan. Muncullah
dewa-dewa penyelamat yang berusaha melindungi
rakyat banyak. Meraka secara sendiri-sendiri atau
berkelompok, memburu para penjahat itu dan
berusaha untuk mengenyahkan mereka.
Maka bentrokan pun tidak bisa dielakkan lagi.
Dunia persilatan menjadi gempar oleh pertempuranpertempuran
mereka. Korban segera berjatuhan di
antara dua golongan itu. Mereka tidak mengindahkan
peraturan dan hukum negara lagi. Hanya hukum alam
yang berlaku di kalangan mereka. Siapa yang lebih
kuat, dialah yang menang.
-- o0d-w0o --
SEMENTARA itu suasana prihatin terasa
mengambang di seluruh negeri. Ibu Suri Li, yang pada
tahun-tahun pertama memegang kekuasaan sangat
833
disukai rakyat, kini sedang menderita sakit. Oleh
karena Pangeran Mahkota Liu Wan Ti, yang
seharusnya menggantikan kedudukannya belum juga
ditemukan, maka untuk sementara waktu kekuasaan
negeri terpaksa dilimpahkan kepada Tujuh Menteri.
Mereka dibantu oleh Dewan Penasehat Kerajaan yang
terdiri dari sepuluh orang.
Aturan yang berlaku memang tertulis demikian.
Namun di antara aturan yang tertulis dan kenyataan
yang ada ternyata sangat berlainan. Resminya saja
kekuasaan ada pada Tujuh Menteri dan Sepuluh
Dewan Penasehat Kerajaan, tapi kenyataannya
mereka sama sekali tidak punya kekuatan apa-apa.
Au-yang Goanswe yang sekarang memiliki
kekuatan sangat besar, justru lebih berkuasa daripada
Tujuh Menteri itu. Dengan dukungan Pasuka,n Kim-iwi
dan Gin-i-wi, ditambah lagi dengan bantuan
sebagian besar Panglima Kerajaan yang terbujuk oleh
rayuannya, maka kekuasaannya justru lebih
menentukan daripada mereka.
Sebagai seorang pembesar yang mendapat
kepercayaan dari Ibu Suri atau bekas Permaisuri Li,
apalagi kini memiliki kedudukan sebagai Panglima
Besar Bala Tentara Kerajaan, maka Jenderal Au-yang
merupakan orang terkuat di kota raja. Dan semua
yang didapatnya tersebut memang merupakan citacitanya
semenjak dulu.
Melalui jalan yang sangat panjang, disertai dengan
segala macam cara dan tipu daya, jenderal yang
834
menyimpan dendam kesumat terhadap Dinasti Han
itu, akhirnya berhasil menyingkirkan hampir semua
lawannya. Impian dan cita-citanya untuk
mengembalikan pamor Keluarga Beng, serta
melampiaskan dendam ayahnya terhadap Keluarga
Kaisar Liu Pang, tinggal beberapa langkah lagi.
Dua puluh tahun lalu, pada permulaan langkahnya,
Au-yang Goanswe berhasil menyingkirkan Pangeran
Liu Yang Kun dari lingkungan istana. Walaupun tidak
dapat membunuh pangeran mahkota yang tersohor
sangat sakti mandraguna itu, namun dengan segala
tipu dayanya Au-yang Goanswe mampu
menyingkirkannya, bahkan juga sekalian
melenyapkan seluruh keluarganya.
Setelah langkah pertama itu terlaksana, Au-yang
Goanswe lalu mengincar Pangeran Liu Wan Ti, adik
Pangeran Liu Yang Kun. Tetapi sebelum rencana
tersebut dilaksanakan, pangeran muda itu sudah
keburu meloloskan diri dari istana. Pergi entah ke
mana.
-- o0d-w0o --
835
JILID XX
AMUN kepergian Pengeran Liu Wan Ti
tidak mempengaruhi kelangsungan
rencana Au-yang Goanswe selanjutnya.
Jendral tua yang sudah teracuni dendam
kesumat itu segera meneruskan
rencananya. Dan langkah berikutnya,
langkah yang paling berat dan sulit dilakukan, yaitu
menyingkirkan Panglima Besar Bala Tentara
Kerajaan, Panglima Yap Kim beserta para perwira
kepercayaannya. Namun sekali lagi dengan tipu daya
dan kelicikannya, Au-yang Goanswe juga berhasil
menjatuhkan dan menyingkirkan mereka pula.
Bahkan salah seorang di antara perwira tinggi yang
ikut tersingkir bersama Panglima Yap Kim itu adalah
Kong-sun Goanswe, Komandan Pasukan Rahasia
Kerajaan, yang menjadi saingan beratnya selama ini.
Panglima Yap Kim dituduh berkhianat dan
dianggap bersalah terhadap kerajaan, sehingga Ibu
Suri Li lalu mencopot jabatannya dan membuangnya
ke Benteng Langit, yaitu sebuah bangunan kuno yang
didirikan di atas pulau karang kecil di tengah-tengah
aliran Sungai Huang-ho. Ketika Liu Pang naik tahta,
bangunan kokoh kuat seperti benteng tersebut diubah
fungsinya menjadi sebuah penjara.
Sedangkan Jenderal Kong-sun yang sebelumnya
merupakan Komandan Pasukan Rahasia Kerajaan,
yang juga dianggap bersalah karena tidak mengetahui
N
836
pengkhianatan. Panglima Yap Kim, dipindah
ditugaskan ke daerah perbatasan bagian utara.
Jenderal Kong-sun yang mahir ilmu perang itu hanya
ditugaskan sebagai komandan pasukan kecil yang
mengawasi suku bangsa liar di luar Tembok Besar.
Dan selama lima tahun itu pula, Au-yang Goanswe
masih selalu menyelenggarakan Perlombaan
Mengangkat Arca di setiap peringatan Tahun Baru.
Dengan cara yang sangat rahasia ia masih tetap
mencari pemuda bertatto naga, yang dicurigai sebagai
keturunan Pangeran Liu Yang Kun. Semua anak
keturunan Kaisar Liu Pang harus dilenyapkan. Namun
demikian dengan dalih perlombaan tersebut dia juga
berhasil mengumpulkan jago-jago silat kelas tinggi
untuk diangkat menjadi pengawalnya.
Persahabatan rahasia dengan Raja Mo Tan juga
masih tetap dilakukan oleh Au-yang Goanswe.
Meskipun persahabatan tersebut terasa mulai
mengendor setelah Au-yang Goanswe merasa dirinya
kuat dan tidak memerlukan bantuan lagi.
Demikianlah, setelah semua lawannya tersingkir,
maka perjalanan cita-cita Au-yang Goanswe tinggal
beberapa langkah lagi.
Rencananya sekarang adalah menunggu kematian
Ibu Suri Li. Setelah Pemangku Kekuasaan Negeri
yang sedang sakit berat itu meninggal dunia, maka
Au-yang Goanswe merencanakan untuk mengangkat
dirinya menjadi Wali Kerajaan. Dengan kekuasaan
dan dukungan para pengikutnya, Jenderal Au-yang
837
yakin bahwa rencananya itu akan mudah
dilaksanakan. Kemudian pada suatu saat yang tepat
nanti, ia akan mengangkat dirinya sendiri menjadi
Kaisar. Dan pada saat itu dia akan menggunakan
nama marga Beng kembali.
Begitulah, dalam suasana penuh keprihatinan itu,
Au-yang Goanswe beserta para pendukungnya justru
tidak sabar lagi dalam menunggu berita kematian dari
istana. Di dalam istananya yang besar dan megah,
yang dibangun di atas puing-puing reruntuhan istana
Pangeran Liu Yang Kun, Au-yang Goanswe terus
mengikuti semua perkembangan di istana Kaisar.
Tiba-tiba seorang prajurit kelihatan berlari
melintasi halaman istananya. Prajurit itu berlari ke
gardu jaga dan melaporkan maksudnya kepada
perwira yang berada di sana. Perwira tua itu
mengerutkan keningnya, lalu bergegas masuk ke
ruang dalam.
"Goanswe...! Ada berita dari istana bahwa Menteri
Si Sun Ong dan Kui Hua Sin memasuki Ruang
Pertemuan. Bahkan di ruang itu juga sudah siap pula
beberapa orang dari Dewan Penasehat Kerajaan. Beng
Goanswe menduga, mereka akan membicarakan
sesuatu yang sangat penting...." Perwira tua itu
melapor.
Au-yang Goanswe yang sedang minum teh bersama
para pembantu dekatnya, cepat meletakkan
cangkirnya. Wajahnya berseri-seri.
838
"Bagaimana dengan... Ibu Suri? Apakah... sudah
ada kabar tentang dia?" Au-yang Goanswe berdiri dan
bertanya penuh semangat.
Perwira tua itu memberi hormat dengan cepat.
"Sama sekali belum ada berita, Goanswe."
Jenderal Au-yang menggeram dengan suara kesal.
"Lalu... apa maksud pertemuan mereka? Apakah
mereka ingin menyusun rencana untuk melawan aku,
heh? Lao Cing, pergilah ke istana menemui Beng
Cun! Selidiki, apa maksud pertemuan itu!"
Seorang perwira Kim-i-wi yang sedang tidak
berdinas dan sedari tadi berada di dekat Au-yang
Goanswe, segera berdiri dan bergegas meninggalkan
tempat itu!
Di luar pendapa perwira Kim-i-wi itu memanggil
para pengawalnya, kemudian bersama-sama
meninggalkan istana itu dengan naik kuda.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang
perwira berseragam lusuh, naik kuda diiringkan
sekelompok prajurit penjaga pintu gerbang kota.
Perwira itu tampak sangat kusut dan kelelahan. Baju
seragamnya tampak kotor penuh debu, sementara topi
kebesarannya hanya digantungkan pula di belakang
punggungnya. Rambutnya yang tebal dibiarkan lepas
tertiup angin.
Dilihat dari penampilannya bisa diduga bahwa usia
perwira itu tentu belum ada empat puluh tahun.
Namun kalau dilihat dari sikap dan penampilannya,
maka dapat ditebak bahwa perwira itu tentu telah
839
banyak mengarungi ganasnya medan pertempuran.
Apalagi kalau dilihat dari beberapa luka yang tergores
di wajah dan tangannya.
"Siapa perwira yang datang berpapasan dengan kita
itu, Prajurit?" Perwira berpakaian lusuh itu bertanya
kepada prajurit yang mengawalnya.
"Beliau... Jendral Lao Cing, Wakil Komandan
Pasukan Kim-i-wi, Yo Ciang-kun!"
"Jendral Lao Cing? Ah, sudah belasan tahun aku di
perbatasan sehingga tak mengenal lagi rekan-rekanku
di kota raja. Hmm! Semua sudah berubah. Dia telah
menjadi jendral sekarang."
"Ciangkun pernah bertemu dengan Lao Goanswe?"
Prajurit itu bertanya pula.
Yo Ciangkun yang berseragam lusuh itu tersenyum
kecut, kemudian menggebrak kudanya agar berjalan
lebih cepat. Ketika berpapasan dengan rombongan
Lao Goanswe, Yo Ciangkun cepat mengangkat
tangannya. Karena terlalu lama di perbatasan, maka
sopan-santun keprajuritannya juga tidak sekuat dulu
lagi. Apalagi yang dia jumpai adalah bekas teman
dekatnya. Tangannya tetap teracung untuk memberi
hormat, namun mulutnya berkata seenaknya.
"Wah, Saudara Lao! Apa khabar? Tidak kusangka
kita bisa bertemu lagi...!"
Jendral Lao kelihatan tersentak di atas kudanya.
Pandangan matanya berkilat tegang, sementara
dahinya berkerut melihat ke arah Yo Ciangkun.
Melihat sikapnya mudah diduga bahwa hatinya
840
merasa kurang senang menyaksikan kelancangan Yo
Ciangkun.
Mereka berhadapan dalam jarak yang amat dekat.
Dan baru beberapa saat kemudian Jendral Lao dapat
mengingat wajah Yo Ciangkun. Namun wajah jendral
itu tidak berubah ketika membalas sapaan Yo
Ciangkun. Bahkan suaranya berkesan acuh dan
dingin.
"Ah, kau... Yo Keng? Mengapa kamu berada di
sini?"
Yo Ciangkun terkesiap. Namun demikian dia
segara menyadari kekeliruannya. Kini semuanya telah
berubah dan keadaannya tidak seperti dulu lagi.
Sekarang Lao Cing telah menjadi jendral, bahkan elah
menjadi Wakil Komandan Pasukan :Kim-i-wi yang
termashur itu. Tentu saja dia bukan apa-apa
dibandingkan Lao Goanswe. Apakah arti seorang
perwira rendah dari daerah perbatasan seperti dia?
"Aaah, celaka! Bodoh benar aku!" Geramnya
menyesali diri.
Yo Keng cepat turun dari kudanya. Sambil
membungkuk dia memberi hormat. "Maafkan aku,
Lao Goanswe. Terimalah hormatku." Ucapnya tergesa
untuk memperbaiki kekeliruannya.
Wajah Lao Goanswe justru semakin keruh. Apa
yang dilakukan Yo Keng tersebut malah berkesan
meledek atau mengolok-olok dirinya.
841
"Yo Keng, jangan bergurau! Katakan saja apa
keperluanmu di tempat yang bukan menjadi daerah
tugasmu ini?"
Sekarang ganti Yo Keng yang kaget. Tidak terduga
langkah pertamanya di kota raja justru jatuh di bara
api yang berbahaya. Padahal kedatangannya ke kota
raja membawa persoalan penting bagi pasukannya di
perbatasan.
"Aku... ah,
maafkanlah aku.
Aku menjadi
gugup sekali,
karena aku harus
segera menemui
Menteri Kui Hua
Sin." Yo Keng
menjadi bingung
dan salah tingkah.
Lao Cing tetap
berada di atas
punggung
kudanya. Sama
sekali ia tak mau
turun menyambut
kedatangan
teman dekatnya itu.
"Mengapa harus menemui Menteri Kui Hua Sin?
Apakah tidak dapat disampaikan kepada orang lain?"
842
"Ah, bukan begitu maksudku." Yo Keng buru-buru
menjelaskan. "Persoalan yang kubawa ini bukan
persoalan biasa. Tapi menyangkut persoalan negara.
Aku akan dianggap bersalah, bahkan bisa \dianggap
membocorkan rahasia kerajaan, kalau persoalan yang
kubawa ini kukatakan kepada orang lain. Jadi, hanya
kepada Pemangku Kekuasaan Negeri saja hal ini
harus kukatakan. Maafkanlah aku... "
Mata Jendral Lao Cing yang sipit itu tampak
berkilat-kilat lagi. Namun kali ini mengandung sinar
keji dan licik. Hal itu dapat dilihat dari sikapnya yang
mendadak berubah ramah dan bersahabat.
"Baiklah. Aku takkan mencampuri urusanmu. Tapi
ketahuilah, hari ini Menteri Kui Hua Sin dan Menterimenteri
lainnya sedang mengadakan pertemuan di
istana. Bahkan mereka sedang mengadakan
pertemuan dengan Dewan Penasehat Kerajaan. Lebih
baik kau datang nanti sore saja. Percuma kau datang
ke sana. Tak seorang pun diperbolehkan masuk ke
istana...."
Yo Keng semakin bingung. "Tapi... apa yang harus
kuperbuat? Laporan itu tidak boleh ditunda-tunda lagi.
Kong-sun Goanswe akan marah sekali kalau laporan
itu sampai terlambat."
"Yaa, kalau begitu... kau bisa mencobanya. Mudahmudahan
Beng Goanswe mengijinkan niatmu. Nah,
selamat jalan. Kuharap kita bisa bertemu lagi."
Selesai berbicara, Lao Goanswe menghentakkan
tali kudanya, sehingga kudanya melompat ke depan
843
dengan garangnya. Para pengawal cepat memacu kuda
mereka pula, takut ketinggalan.
"Lao Goanswe...!!!" Yo Keng berseru gugup, tapi
Lao Cing dan anak buahnya tak ada yang peduli lagi.
Mereka tetap memacu kuda dengan kencang.
Yo Keng menundukkan mukanya. Sekarang dia
benar-benar memaklumi ucapan Kong-sun Goanswe
tentang keadaan di kota raja. Kota raja sekarang
memang sudah berubah dan amat berbeda dengan
keadaan lima atau enam tahun lalu. Orang tidak dapat
lagi membedakan mana kawan dan mana lawan.
Istana Kaisar penuh dengan serigala-serigala berbulu
angsa, yang setiap saat bisa berubah wujud untuk
menikam kawan sendiri dari belakang.
"Benar juga kata-kata Kong-sun Goan swe.
Semuanya sudah berubah. Ternyata aku pun tak bisa
mengenali kawanku pula. Sungguh tak kusangka.
Padahal aku benar-benar mengenalnya di masa-masa
yang lalu. Hemmmm....!"
"Yo Ciangkun, kau tidak apa-apa bukan? Mengapa
Yo Ciangkun tidak sekalian minta tolong kepada
Jendral Lao? Dia dapat membawa Yo Ciangkun
masuk ke istana...." Tiba-tiba Yo Keng terkejut
mendengar suara prajurit pengawalnya.
Yo Keng menghela napas panjang. "Kau benar,
Prajurit. Bagaimana aku bisa lupa bahwa dia adalah
Wakil Komandan Pasukan Pengawal Istana? Tentu
saja dia dapat memasukkan siapa saja ke istana."
844
"Lalu... apa yang akan Yo Ciangkun lakukan
sekarang?"
"Apa boleh buat. Aku terpaksa ke istana untuk
menemui Lao Goanswe lagi. Biarlah aku akan sedikit
mengalah kepadanya. Dalam keadaan begini,
kepentingan negara di atas segala-galanya."
"Kalau begitu kami akan mengantar Yo Ciangkun
ke istana." Prajurit itu berkata pula.
Demikianlah, Yo Keng lalu meneruskan
perjalanannya ke istana. Prajurit-prajurit penjaga
Pintu Gerbang Kota itu mengantarnya sampai di
depan pintu halaman istana. Di sana mereka diterima
oleh para pengawal istana berbaju emas, yang biasa
disebut pasukan Kim-i-wi (Pasukan Baju Emas).
"Aku Yo Keng, perwira dari pasukan ke tiga di
perbatasan utara. Aku diperintahkan Kong-sun
Goanswe untuk menghadap Menteri Kui Hua Sin,
yang saat ini sedang mengadakan pertemuan dengan
Dewan Penasehat Kerajaan. Antarkan aku menghadap
Beliau. Penting sekali. Inilah tanda pengenalku dari
Pasukan Perbatasan."
Yo Keng mengeluarkan selembar perak sebesar
tapak tangan bertuliskan huruf "SENG" dari emas,
yang merupakan tanda kebesaran pasukan Kong-sun
Goanswe di perbatasan.
"Baiklah, Ciangkun. Kami akan melaporkan
masalah ini ke atasan kami. Kebetulan Beng Goanswe
sedang berbincang-bincang dengan Lao Goanswe di
Gedung Bendera."
845
"Tunggu! Mengapa aku tidak kalian bawa langsung
ke Ruang Pertemuan itu? Laporan yang hendak
kusampaikan kepada Menteri Kui Hua Sin ini tidak
boleh terlambat. Tolonglah...!"
"Maaf, kami tidak bisa, Ciangkun. Pada saat-saat
seperti ini tak seorang pun boleh masuk ke tempat itu.
Hanya Beng Goanswe dan Lao Goanswe yang berhak
mengijinkan orang ke sana."
Yo Keng berdesah. Hatinya mulai kecewa dan ragu.
Ragu akan keberhasilan tugasnya. Sebelum dia
berangkat, Kong Sun Goanswe sudah mengatakan
bahwa tugasnya ini akan banyak menghadapi
rintangan. Terutama dari orang-orang yang kini
berkuasa, yang pada lima tahun lalu telah memfitnah
Panglima Yap Kim dan Kong-sun Goanswe. Dan
ramalan itu ternyata benar. Kini hidungnya sudah
mulai mencium bahaya yang akan tiba.
"Baiklah. Sekali lagi aku akan mencoba untuk
membujuk dan memberi pengertian kepada Beng
Goanswe dan Lao Goanswe. Kalau mereka masih
tetap tidak memberikan ijin, yaaaa... aku terpaksa
nekad masuk ke dalam, walaupun taruhannya adalah
nyawa." Sambil menunggu Yo Keng bergumam di
dalam hati.
Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh di luar
dugaan Yo Keng. Utusan Jendral Kong-sun itu
melihat Jendral Beng sendiri yang keluar
menemuinya. Sedang Lao Goanswe, yang dikatakan
sedang berbicara dengan jendral itu, tidak tampak
846
batang hidungnya. Mungkin menunggu di ruangan
dalam.
"Yo Ciangkun...? Ayoh, masuklah!" Dengan ramah
Beng Goanswe mempersilakan Yo Keng masuk.
Yo Keng dibawa Beng Goanswe ke Ruang
Bendera. Beberapa orang prajurit Kim-i-wi tampak
berjaga-jaga di dalam ruangan itu. Namun demikian
Yo Keng tidak melihat Lao Goanswe di sana.
"Yo Ciangkun, duduklah! Jangan khawatir!
Sebentar lagi kau akan diantar ke Ruang Pertemuan.
Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk
memberitahukankan kedatanganmu kepada Menteri
Kui. Sekarang bersihkan dulu badanmu, agar
penampilanmu tidak memalukan di hadapan
Beliau...!"
Yo Keng tidak dapat menolak sambutan yang
ramah tersebut. Dia menurut saja ketika dibawa ke
Ruangan Belakang dan diberi sepasang pakaian
bersih. Bahkan dia juga tidak bisa menghindar pula
ketika diajak minum teh lebih dahulu.
Sama sekali Yo Keng tidak menyadari akan tipu
muslihat dan kelicikan lawan-lawannya. Begitu teh di
dalam cangkirnya habis, tiba-tiba kepalanya terasa
berputar. Semakin cepat, sehingga tubuhnya seperti
mengambang di udara. Dan sebentar kemudian semua
yang dilihatnya menjadi gelap.
"Bagus! Nah, prajurit... geledah tubuhnya!" Tibatiba
Lao Goanswe muncul dari ruangan dalam dan
memberi perintah kepada para prajurit pengawalnya.
847
"Kau yakin dia membawa surat rahasia Kong-sun
Goanswe?" Beng Goanswe bertanya kepada Lao
Goanswe, wakilnya.
Lao Goanswe mengangguk. "Ya! Lihatlah sarung
pedangnya itu! Aku yakin dia menyembunyikan
sesuatu di sana. Sejak bertemu di jalan tadi, kulihat
dia tak pernah melepaskan benda itu."
"Benar, Goanswe. Ada surat di sini." Prajurit yang
menggeledah Yo Keng tiba-tiba berseru sambil
memperlihatkan gulungan kain berwarna putih.
"Apa isinya?" Beng Goanswe yang tidak sabar
menunggu cepat mendesak.
Lao Cing memberikan gulungan kertas itu setelah
membaca isinya. Dia tampak puas walaupun masih
kelihatan tegang.
"Nah, Beng Goanswe... dugaanku benar, bukan?
Aku mengenal Yo Keng sudah puluhan tahun
lamanya. Aku tahu betul siapa dia. Turun-temurun
keluarganya adalah prajurit. Jangan harap bisa
mempengaruhi atau memaksa dia. Orang seperti dia
bersedia mati atau berkorban apa saja demi
keyakinannya. Dan prajurit tangguh seperti dia, selalu
mempersiapkan tindakannya dengan cermat dan
teliti.Tampaknya saja dia sendirian, tapi sebenarnya
tidak. Aku yakin beberapa orang pengawalnya
berkeliaran mengawasinya dari jauh. Kalau tadi kita
bersikap keras dan main paksa kepadanya, yaah...
jangan harap surat ini bisa jatuh ke tangan kita.
Sebelum kita dapat meringkusnya, dia akan memberi
848
isyarat kepada kawan-kawannya. Dan sebelum kita
menggeledahnya, dia akan lebih dulu menghancurkan
surat ini dengan pedangnya...."
Beng Goanswe mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau benar. Yo Keng membawa berita buruk bagi
kita. Kong-sun Goanswe melaporkan bahwa Pangeran
Liu Wan Ti sudah ditemukan, dan sekarang berada
dalam lingkungan pasukannya. Wah, gawat!
Seharusnya orang itu kita buang saja sejak dulu,
sehingga tidak menimbulkan kesulitan seperti
sekarang. Hmmm, kita harus cepat-cepat
memberitahukan hal ini kepada Au-yang Goanswe.
Berita ini sangat berbahaya bila sampai di tangan
Dewan Penasehat Kerajaan. Lao Goanswe... apa
rencana kita selanjutnya?"
"Tenang, Beng Goanswe. Jangan panik. Jangan
berbuat sesuatu yang menimbulkan kecurigaan orang
di sekitar kita. Ingat...! Siapa tahu ada kawan Yo
Keng berada di tengah-tengah kita?"
"Tidak mungkin!" Beng Goanswe melotot.
Tapi Lao Goanswe cepat menyentuh lengan
rekannya. "Goanswe, jangan memandang enteng
lawan. Apalagi orang seperti Kong-sun Goanswe dan
Yo Ciangkun ini."
Beng Goanswe terdiam. "Baiklah. Lalu ... apa
tindakan kita selanjutnya?"
Lao Goanswe berbisik di telinga atasannya. "Kita
berbuat seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Anggap
saja Yo Keng tertidur sekejap karena terlalu lelah.
849
Sementara itu isi surat itu kita ubah isinya.
Bagaimana?"
Beng Goanswe menatap wakilnya dengan gembira.
"Jadi Yo Keng tetap kita biarkan menghadap Menteri
Kui Hua Sin, tapi... dengan membawa surat yang telah
diubah isinya? Wah, kau benar-benar hebat dan cerdik
luar biasa! Bagus! Mari kita laksanakan! Tapi... apa
yang harus kita tulis di dalam surat itu?"
Lao Cing tersenyum licik. "Mudah saja. Kita tulis
saja, seakan-akan Kong Sun Goanswe minta prajurit
untuk memperkuat pasukannya, karena mendapat
gempuran pasukan Mo Tan. Kini pasukannya dalam
keadaan porak poranda."
Beng Goanswe menepuk pundak rekannya. "Yah,
benar. Dengan demikian akan terjadi salah pengertian
di antara mereka. Menteri Kui setelah membaca surat
itu tentu minta kepada Au-yang Goanswe untuk
mengirimkan pasukan, sementara Yo Keng
menerimanya sebagai bantuan untuk Pangeran Liu
Wan Ti nanti. Padahal pasukan itu justru akan
membereskan Pangeran Liu Wan Ti di sana. Bagus!
Tapi kita harus berusaha agar Yo Keng tidak
berbicara langsung dengan Menteri Kui Hua Sin."
Katanya gembira.
"Tentu saja. Suasana tegang dalam pertemuan ini
justru membuat Menteri Kui tidak punya waktu untuk
menemui Yo Keng. Paling-paling dia hanya
memanggil Beng Goanswe untuk menyampaikan
pesannya kepada Au-yang Goanswe."
850
Demikianlah ketika Yo Keng sadar kembali, Beng
Goanswe seakan-akan menggoyang-goyang
lengannya.
"Yo Ciangkun! Yo Ciangkun! Wah, tampaknya kau
lelah sekali! Masa berbicara sambil memejamkan
mata! Marilah, Menteri Kui telah memanggilmu!"
Yo Keng terkejut. Matanya menatap tajam ke
sekitarnya. Dan diam-diam tangannya meraba sarung
pedangnya. Perasaannya menjadi lega melihat benda
itu masih tetap di tempatnya.
"Beng Goanswe...? Apakah aku tertidur tadi?"
"Tertidur sih... tidak! Hanya tampaknya kau sangat
lelah, sehingga berbicara sambil terantuk-antuk."
Beng Cun berbohong.
"Aaaah......!"
"Ayolah, Yo Ciangkun! Menteri Kui Hua Sin telah
menunggumu. Mari, kuantar kau ke sana...!"
"Sekarang...? Beng Goanswe sendiri yang akan
mengantarku? Ah, jangan! Biarlah prajuritmu saja,
atau... di manakah Lao Goanswe sebenarnya? Tadi
aku bertemu dia di jalan. Dia mengatakan bahwa
hendak ke mari pula...."
Beng Goanswe berdiri dan menarik lengan Yo
Ciangkun. "Marilah, kebetulan aku juga akan ke
Ruang Pertemuan. Kau tentu bertemu dengan Lao
Goanswe di sana. Dia memeriksa semua pos
penjagaan istana setiap hari. Ayoh...!"
Tanpa menyadari kelicikan orang, Yo Ciangkun
menurut saja ketika dibawa masuk halaman dalam
851
istana. Mereka menuju ke Ruang Pertemuan, di mana
sepanjang jalan Yo Keng tak habis-habisnya
mengagumi keindahan bangunan istana. Walaupun
dia seorang perwira, tapi selama hidupnya Yo Keng
belum pernah menginjakkan kakinya di halaman
istana.
Sementara itu Lao Goanswe buru-buru
mengirimkan surat pemberitahuan kepada Auyang
Goanswe. Lalu memberi pesan kepada para perajurit
jaga, dia segera berangkat menuju ke Ruang
Pertemuan pula. Dia harus mendampingi Beng
Goanswe agar rencananya berjalan dengan baik.
Dan memang benar pula, bahwa pada saat itu
Menteri Kui Hua Sin sedang mengadakan pertemuan
dengan menteri menteri lainnya. Bahkan Menteri Kui
Hua Sin juga mengundang seluruh anggota Dewan
Penasehat Kerajaan pula, karena kali ini Menteri Kui
Hua Sin benar-benar ingin membicarakan keadaan
negeri mereka.
Hal itu dilakukan Menteri Kui karena keadaan di
luar tembok kora raja benar-benar semakin
memburuk. Menteri Kui menerima banyak laporan
tentang situasi di daerah. Baik laporan tentang
masuknya pasukan Mo Tan ke selatan, maupun
laporan tentang kerusuhan dan ketidak amanan di
seluruh pelosok negeri. Bahkan Menteri Kui juga
menerima laporan tentang semakin jauhnya wibawa
dan pengaruh kerajaan atas propinsi dan daerahnya.
Terutama propinsi-propinsi yang jauh dari kota raja.
852
Dan semua itu sangat menyedihkan hati Menteri Kui.
Dia bersama enam menteri lainnya hampir tak bisa
berbuat apa-apa semenjak mendapatkan mandat itu.
Sekarang Menteri Kui sudah nekad. Dia harus
menyelamatkan kerajaan, sebelum terlambat.
"Apabila keadaan ini kita biarkan berlarut-larut,
niscaya negeri ini akan runtuh. Lebih celaka lagi kalau
Mo Tan menguasai negeri kita. Kita semua akan
dijadikan budak-budaknya. Harta dan kekayaan kita
akan dijarah rayah dan dirampok. Lalu... apa jadinya
dengan anak keturunan kita nanti?" Menteri Kui
membuka pertemuan itu dengan suara lantang.
"Benar. Tahun ini sudah ada empat kota yang jatuh
ke tangan Mo Tan. Dan sekarang pasukannya sudah
mulai mengalir ke arah selatan. Menurut laporan,
mereka mulai menuju ke perbatasan Se-cuan, Kangsu,
dan Cing-hai. Kalau kita tidak segera mengambil
tindakan, maka pasukan Mo Tan akan segera
menguasai Propinsi Si-kang. Apabila hal itu benarbenar
terjadi, maka jalan perdagangan kita ke barat
akan putus, suatu yang sangat berbahaya bagi
kelangsungan hidup negeri kita." Menteri Si Sun Ong
yang duduk di sebelah Kui Hua Sin tak terduga juga
berkata pula dengan berani.
Sekejap para menteri dan para Penasehat Kerajaan
lainnya, terpaku diam di tempat masing-masing.
Diam-diam semuanya melirik ke arah pintu dan
jendela Ruang Pertemuan yang tertutup rapat. Mereka
tahu bahwa di luar ruangan banyak prajurit Kim-i-wi,
853
anak buah Au-yang Goanswe, sementara masalah
yang mereka bicarakan itu adalah tanggung jawab Auyang
Goanswe sebagai Panglima Bala Tentara
Kerajaan.
"Baiklah, semua ini memang menjadi tugas Bala
Bantuan Kerajaan. Namun kita sebagai penerima
mandat dari Ibu Suri, berhak pula meminta
pertanggungjawaban Panglima Bala Tentara Kerajaan.
Panglima Kerajaan harus bisa mengatasi masalah ini.
Apa jadinya kalau serbuan Mo Tan itu tidak
secepatnya ditanggulangi?" Akhirnya Menteri Kui
memecah kesunyian mereka.
"Memang benar apa yang diucapkan oleh Menteri
Kui. Kita tidak boleh diam saja melihat hal ini. Kita
wajib menanyakan kepada Panglima Kerajaan. Sampai
di mana tindakan yang telah dilakukannya untuk
menangani masalah itu?" Lagi-lagi Menteri Si Sun
Ong memberi dukungan kepada rekannya.
"Tapi...?" Menteri Go Hak tiba-tiba menyela,
namun segera terdiam kembali. Wajahnya tampak
pucat.
Go Hak adalah Menteri Bendahara Kerajaan.
Sebagai menteri yang bertanggung jawab atas
kekayaan dan harta benda kerajaan, dia paling sering
berurusan dengan petugas-petugas Kerajaan
Dan dalam masalah yang mereka bicarakan itu, dia
pula yang paling banyak mendapat tekanan dari Auyang
Goanswe.
854
"Apakah yang ingin kaukatakan, Menteri Go?
Maksudmu terlalu berbahaya bagi kita untuk
menanyakan hal tersebut kepada Au-yang Goanswe.
Begitukah?" Menteri Kui mendesak dengan suara
gemas.
"Bukan! Bukan itu! Kukira... kalau kita hanya
menghubungi panglima saja, tidak segera
menyelesaikan masalah ini. Kita perlu mengusahakan
jalan lain selain hal itu. Misalnya... kita perlu segera
menemukan kembali Pangeran Liu Wan Ti atau...
Pangeran Liu Yang Kun! Saat ini kita membutuhkan
sosok penguasa yang berwibawa serta disegani orang
untuk membangkitkan kekuatan rakyat!"
"Benar. Aku sependapat dengan Menteri Go. Pada
saat-saat seperti ini baru kita ingat akan kebutuhan
seorang kaisar yang kuat dan bijaksana." Menteri
Liang Wei memberikan suaranya. Sebagai Menteri
Urusan Hukum dan Keadilan Liang Wei memang
selalu mendambakan sandaran yang kuat.
Kui Hua Sin dan Si Sun Ong terperangah. "Bagus.
Pendapat kalian memang benar sekali. Rasanya kami
berdua juga sependapat pula dengan kalian." Menteri
Kui makin bersemangat.
"Ada saran yang lain?" Menteri Si Sun Ong
memandang Menteri Gan Jit Kong dan Kiat Peng To
yang belum mengeluarkan pendapatnya sejak tadi.
"Aku pribadi juga setuju dengan pendapat Menteri
Go. Tapi bagaimana kita harus melaksanakan hal itu?
Kita semua tahu, bahwa selama ini sudah diusahakan
855
untuk mencari Pangeran Liu Wan Ti. Namun selama
itu pula kita tidak dapat menemukannya. Lalu...
tindakan apalagi yang harus kita usahakan?" Menteri
Gan Jit Kong berkata pelan.
"Benar. Selama ini kita sudah menyebar petugas
rahasia ke seluruh negeri, bahkan juga sudah
menghubungi para Kepala Daerah pula. Tapi ternyata
Pangeran Liu Wan Ti tetap belum ditemukan. Oleh
karena itu kita harus mencari jalan lain. Eemm... aku
punya usul. Bagaimana kalau kita menawarkan hadiah
besar bagi orang yang bisa memberi petunjuk tempat
tinggal Pangeran Liu Wan Ti...?" Menteri Kiat Peng
To mengajukan sarannya.
"Usulmu memang bagus. Tapi... apakah hal itu
tidak membikin malu kita sendiri? Bagaimana bisa
terjadi seorang putera mahkota sampai hilang dari
istana?" Menteri Gan Jit Kong memotong ucapan
Menteri Kiat Peng To.
Menteri Kiat Peng To tersenyum. "Menteri Gan,
kukira kita tidak perlu merasa malu lagi. Penduduk di
seluruh pelosok negeri ini rasanya sudah tahu semua
akan hilangnya Pangeran Mahkota. Kita tidak dapat
menutup-nutupi lagi. Kita justru harus bisa segera
menemukannya, karena hal seperti ini akan
meresahkan rakyat banyak. Bagaimana, Menteri
Kui?"
Menteri Kui Hua Sin mengerutkan dahinya.
Pendapat Menteri Kiat Peng To memang masuk akal
856
juga. Bahkan usul itu tampaknya memang paling
mengena.
Tapi karena usul tersebut berkaitan dengan
kehormatan negara, Menteri Kui tidak bisa
memutuskan begitu saja.
"Bagaimana menurut pendapat para menteri yang
lain?"
Demikianlah, karena semua juga sependapat
dengan usul Menteri Kiat Peng To, maka Menteri Kui
Hua Sin lalu meminta nasehat serta pendapat sepuluh
anggota Dewan Penasehat Kerajaan. Dan akhirnya
para anggota dewan itu menyetujui niat mereka.
Kemudian Menteri Kui membagi tugas yang harus
mereka kerjakan. Menteri Go Hak diminta untuk
menyiapkan hadiahnya, sedangkan Menteri Liang
Wei diminta untuk menyiapkan orang yang bertugas
menyiarkan pengumuman itu ke seluruh negeri.
Menteri Gan Jit Kong dan Kiat Peng To bertugas
menyiapkan orang yang akan melihat dan meneliti
propinsi-propinsi mana yang perlu dicurigai.
Sementara Menteri Kui dan Si Sun Ong akan
menghubungi Au-yang Goanswe.
Di tengah kesibukan pertemuan itu, tiba-tiba pintu
ruangan diketuk dari luar. Beng Goanswe masuk
disertai Yo Ciangkun. Mereka berdiri di dekat pintu.
Untuk sesaat semua menteri terkejut. Mereka baru
saja membicarakan Au-yang Goanswe, kini tahu-tahu
tangan kanan jendral yang sangat berpengaruh itu
telah berada di depan mereka.
857
"Beng Goanswe, ada perlu apa?" Menteri Kui cepat
menyapa.
"Maaf, Kui Taijin. Yo Ciangkun dari perbatasan
utara ingin menghadapmu. Dia membawa berita dari
Kong-sun Goan-swe."
Menteri Kui Hua Sin terkesiap. "Silakan masuk!
Apa yang hendak kaulaporkan kepadaku?"
Yo Keng cepat mengambil surat rahasia yang dia
sembunyikan di dalam sarung pedangnya. Surat itu
buru-buru diberikan kepada Beng Goanswe untuk
dihantarkan ke tangan Menteri Kui. Setelah itu dia
kembali berdiri tunduk di tempatnya.
Menteri Kui menerima surat tersebut dan
membukanya. Wajahnya sedikit berubah. Yo Keng
berdebar-debar ketika tidak melihat sinar kegembiraan
di wajah menteri tua itu. Apakah penemuan Pangeran
Liu Wan Ti itu tidak disukai mereka?
Surat itu dibaca secara bergilir oleh para menteri.
Dan rata-rata wajah mereka menjadi masam dan
kurang gembira malah. Yo Keng semakin bingung
dan penasaran. Jangan-jangan semua pejabat di kota
raja memang telah berubah pikiran.
"Bagaimana, Taijin?" Yo Keng tak kuasa menahan
hatinya.
"Baiklah, Yo Ciangkun. Kami telah mengerti
kesulitan Kongsun Goanswe. Kami akan
memikirkannya. Jangan khawatir. Biarlah kami
berbicara dulu dengan Panglima Kerajaan. Nah, Beng
Goanswe...! Tolong kirimkan prajurit untuk
858
mengundang Au-yang Goanswe ke mari! Kami ingin
merundingkan situasi negara dengan dia...." Menteri
Kui menghela napas panjang.
"Tapi Taijin, Kong-sun Goanswe...." Yo Keng
mencoba melaporkan maksud kedatangannya.
Tapi entah sejak kapan Lao Goanswe datang, tahutahu
ia telah berada di samping Yo Keng.
"Sudahlah, Yo Keng. Menteri Kui akan berbicara
dulu dengan Au-yang Goanswe. Kita tunggu
keputusannya di luar. Ayolah...!" Wakil Komandan
Kim-i-wi . itu cepat-cepat menarik lengan Yo Keng
keluar dari ruangan itu.
Yo Keng tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia terpaksa
menurut saja apa yang diperintahkan Lao Goanswe.
Bahkan dia juga tak dapat menolak pula ketika
dibawa ke istana Au-yang Goanswe. Sebagai seorang
prajurit dia tidak bisa membantah perintah atasannya.
Demikianlah Yo Keng terpaksa menunggu di istana
Au-yang Goanswe. Ketika sampai malam hari jendral
itu juga belum kembali dari istana, Yo Keng terpaksa
menginap pula. Dia baru merasa curiga ketika esok
harinya dipanggil Au-yang Goanswe ke pendapa.
Ketika menerima tugas dari Kong-sun Goanswe,
Yo Keng telah dipesan dengan sungguh-sungguh agar
menghadap langsung kepada Menteri Kui Hua Sin.
Dia tidak boleh percaya kepada siapapun juga selain
kepada menteri itu. Dan dia harus berhati-hati bila
berhadapan dengan Au-yang Goanswe beserta anak
buahnya. Termasuk di antaranya adalah para anggota
859
Pasukan Kim-i-wi dan Gin-i-wi, karena merekalah
sebenarnya yang berkhianat terhadap kerajaan, dan
kemudian memfitnah Panglima Yap Kim ke dalam
penjara. ,
Tapi apa dayanya sekarang. Dia justru berada di
dalam cengkeraman Au-yang Goanswe begitu datang
di kota raja. Sebagai perajurit dia tak bisa
menolaknya.
"Selamat pagi, Goanswe...!" Yo Keng menyapa
dengan cara dan sikap seorang prajurit.
"Aha, kaukah... perwira yang datang dari
perbatasan itu? Bagus. Mari kita minum teh dulu.
Setelah itu aku akan menyampaikan kehendak dan
perintah Menteri Kui Hua Sin kepadamu."
"Terima kasih, Goanswe."
"Yo Keng! Aku mendapat perintah dari Menteri
Kui Hua Sin untuk mengirim empat ribu orang
prajurit ke benteng Kong-sun Goanswe. Tapi aku
tidak diberitahu maksudnya. Nah, sekarang katakan
padaku... apa sebenarnya yang terjadi di sana?
Apakah Raja Mo Tan menyerang bentengmu?" Auyang
Goanswe bertanya dengan suara menyelidik.
Yo Keng terkejut. Sekejap matanya berkilat ke arah
jendral itu. Dan dalam sekejap itu pula pikirannya
menjadi tegang. Pertanyaan itu memojokkan dirinya
dan mengandung bisa yang sangat berbahaya. Begitu
jawabannya salah, jiwanya tak mungkin tertolong
lagi.
860
"Bagaimana Yo Keng? Mengapa kau diam saja?"
Au-yang Goanswe mendesak. Matanya mulai
kemerahan.
Sebagai prajurit yang biasa bertempur di medan
perang, maka naluri keprajuritan Yo Keng segera
timbul. Dalam situasi demikian, otaknya segera
bekerja, menghitung untung-ruginya.
"Tampaknya dia belum tahu isi surat itu dan
sekarang ingin mengorek keterangan dari aku. Kalau
aku mengatakan apa adanya, bahwa Pangeran Liu
berada di dalam benteng, maka dia bisa kalap dan
mengirimkan pasukan sandinya untuk membunuh
Pangeran Liu. Tapi kalau aku berbohong dan tepat
pada sasarannya, dia akan menjadi penasaran,
sehingga... kematianku dapat tertunda."
Sama sekali Yo Keng tidak menyangka bahwa
jendral itu telah tahu semuanya. Kalaupun sekarang
dia pura-pura dia tidak tahu dan bertanya kepada Yo
Keng, hal itu hanya untuk mengetahui hasil dari pada
tipu daya Jendral Lao Cing. Sekalian juga untuk
mengetahui, kepada siapa saja berita tentang Pangeran
Liu itu disampaikan.
"Yo Keng! Kau dengar pertanyaanku?" Au-yang
Goanswe membentak, sehingga prajurit yang bertugas
di halaman istana itu terkejut mengawasi mereka.
"Ah! Maaf, Goanswe! Aku... aku memang sulit
untuk menjawab pertanyaan Goanswe itu!" Tiba-tiba
Yo Keng mendapatkan jalan.
861
Benar juga. Au-yang Goanswe menjadi penasaran.
"Kenapa mesti sulit, heh? Kau mau merahasiakan
sesuatu dari aku?"
"Bukan! Bukan begitu, Goanswe! Bukan...!
Goanswe tentu tahu bahwa pasukan di daerah
perbatasan tidak selalu terkumpul menjadi satu.
Mereka terdiri dari beberapa kelompok besar yang
selalu berkeliling dan berpindah tempat di sepanjang
perbatasan itu. Hanya Kong-sun Goanswe saja yang
secara resmi selalu berkedudukan di dalam benteng,
meskipun pada kenyataannya beliau juga selalu
berkeliling pula...."
"Ayoh, jawab saja pertanyaanku! Jangan
melingkar-lingkar!"
"Baik! Baik, Goanswe! Terus terang saja aku... aku
sebenarnya tidak begitu tahu apa yang terjadi di dalam
benteng. Kebetulan... kebetulan kami sudah lebih dari
tujuh bulan meninggalkan benteng itu. Dan selama itu
pula kami tidak pernah bertemu dengan Kong-sun
Goanswe. Oleh karena itu kami kaget sekali ketika
seorang kurir Kong-sun Goanswe tiba-tiba datang ke
tempat kami. Ternyata dia membawa surat yang harus
kuantar sendiri kepada Menteri Kui. Tugasku adalah
tugas rahasia, yang tak seorang pun boleh tahu. Dan
lagi... surat itu hanya boleh kuserahkan kepada
Menteri Kui." Akhirnya Yo Keng dapat juga
berbohong.
Au-yang Goanswe memandang Yo Keng dengan
tajamnya. Roman mukanya kelihatan lega.
862
Tampaknya dia percaya apa yang dituturkan Yo
Keng. Tapi sebaliknya Yo Keng sendiri justru tidak
menyadari bahwa ceritanya semakin menguatkan niat
jendral itu untuk menyingkirkan dia.
"Mumpung berita tentang keberadaan Pangeran Liu
Wan Ti di benteng Kong-sun Goanswe belum tersebar
ke mana-mana, aku harus cepat-cepat melenyapkan
dia! Besok akan kukirim pula sepuluh ribu orang
prajurit, secara terpisah dari beberapa tempat, untuk
menghancurkan Pangeran Liu Wan Ti dan Kong-sun
Goanswe! Akan kubuat seolah-olah benteng itu telah
diduduki musuh. Biarlah Lao Goanswe yang
menghubungi Raja Mo Tan." Au-yang Goanswe
membuat rencana di dalam hatinya.
Kemudian seolah-olah memahami penuturan Yo
Keng, Au-yang Goanswe mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, bersiaplah! Pasukan akan berangkat
besok pagi. Kau bisa berjalan bersama mereka"
Yo Keng cepat-cepat membungkukkan badannya.
"Terima kasih, Goanswe! Tapi... bersama sebuah
pasukan besar akan menghambat perjalananku.
Sementara itu kedatanganku akan sangat dinantikan
oleh Kong Sun Goanswe. Oleh karena itu, Goanswe...
biarlah aku berangkat lebih dulu."
Diam-diam wajah Au-yang Goanswe menjadi
gembira. Dengan berjalan seorang diri justru lebih
mudah untuk membunuh Yo Keng.
Demikianlah, pada hari itu juga Yo Keng berangkat
meninggalkan kota raja, Au-yang Goanswe
863
memberinya bekal dan pakaian karena ia harus
berjalan selama tiga hari penuh untuk mencapai
benteng Kong-sun Goanswe. Sama sekali tidak
disadari oleh Yo Keng bahwa Au-yang Goanswe telah
mempersiapkan lubang kuburan bagi dirinya. Jendral
tua itu telah memerintahkan Beng Goanswe untuk
mengirim pasukan rahasia untuk membunuhnya. Yo
Keng harus mati sebelum tiba di perbatasan.
Ketika matahari mulai condong ke barat, perlahan
Yo Keng sudah mendekati kota An-yang. Sejak dari
kota raja sampai di An-yang, Yo Keng selalu memberi
tanda di tempat-tempat yang mudah terlihat. Seperti
dugaan Lao Goanswe, kepergiannya ke kota raja
memang selalu diawasi oleh beberapa orang
pengawalnya.
Tapi Yo Keng tidak ingin singgah di kota An-yang.
Selain kota itu penuh dengan prajurit kerajaan, Yo
Keng juga tak mau berjumpa dengan banyak orang.
Dia justru ingin lewat di jalan sepi, karena dia harus
tetap waspada terhadap siapa saja, termasuk kepada
Au-yang Goanswe dan anak buahnya. Menurut
penuturan Kong-sun Goanswe, jendral tua itu sangat
licik dan berbahaya.
Yo Keng mengambil jalan kecil ke arah barat. Ia
ingin lewat di bagian selatan Propinsi Sian-su,
menyusuri daerah perbukitan di sebelah kota Lia-feng,
dan selanjutnya meneruskan perjalanan menuju kota
kecil Leng-fu di tepian Sungai Huang-ho. Dan jika
tidak ada hambatan atau rintangan, dia akan sampai di
864
kota itu menjelang matahari terbenam. Dan menurut
rencana ia akan berjumpa dengan para pengawalnya
di sana.
Kuda Yo Keng memang kuda pilihan. Kuda itu
tahan berlari disegala medan. Selama tiga hari
berjalan menuju ke
kota raja kemarin,
Yo Keng hanya
sempat memberi
istirahat kudanya
itu pada malam
hari. Sementara
pagi sampai sore
terus mereka
berjalan tanpa
mengenal lelah.
Tiba-tiba kuda
tunggangan itu
berhenti dan
mengangkat kaki
depannya tinggitinggi.
Yo Keng
mencabut
pedangnya. Kuda itu memberi firasat bahwa ada
orang di sekitar tempat itu.
Benar saja. Dari balik semak pepohonan
sekonyong-konyong muncul belasan orang bertopeng
menghadang di tengah jalan. Ketika Yo Keng
menoleh, ternyata di belakangnya pun telah
865
berloncatan pula orang-orang yang sama. Dia telah
dikepung dari segala jurusan.
Tanpa bertanya lagi Yo Keng menghentakkan tali
kekang kudanya, sehingga kuda itu menerjang ke
depan dengan garangnya. Pedangnya berkelebat
melindungi badannya.
"Berhentiiiii...!"
Traaang...! Traaaang! Traaaaaang!
Orang-orang bertopeng itu beramai-ramai
menyerang Yo Keng yang bertahan di atas pungung
kudanya. Dan pertempuran brutal pun segera
berlangsung dengan sengitnya. Orang-orang
bertopeng itu mengeroyok dengan senjata mereka.
Beberapa orang di antara mereka mulai terluka
akibat sabetan pedang Yo Keng. Perwira dari
perbatasan itu memang tidak bisa dianggap enteng.
Pengalamannya dalam pertempuran sangat banyak.
Dan tampaknya orang-orang itu hanyalah
perampok-perampok jalanan. Mereka berkeliaran
akibat situasi keamanan yang buruk. Kini menghadapi
Yo Keng, seorang perwira yang biasa berlaga di
medan pertempuran, mereka tidak dapat berbuat
banyak. Walaupun mereka berjumlah banyak, tetapi
Yo Keng sendiri hampir tak bisa disentuh. Di atas
punggung kuda yang biasa membawanya dalam setiap
pertempuran, Yo Keng benar-benar seperti garuda
yang terbang di atas awan. Sesekali dia menyambar ke
kanan dan ke kiri untuk merobohkan mangsanya.
866
Beberapa saat kemudian para perampok mulai
tampak kebingungan. Kuda perang yang dinaiki Yo
Keng itu semakin garang mengobrak-abrik mereka.
Korban mulai berjatuhan, Bukan karena pedang Yo
Keng, tapi karena tendangan kaki kuda gila itu.
Akhirnya mereka tak tahan lagi. Mereka lalu lari
berserabutan menyelamatkan diri. Mereka lari sambil
membawa teman-temannya yang terluka.
"Gila! Siang hari bolong begini ada juga perampok
berkeliaran! Kurang ajar!" Begitu musuh-musuhnya
hilang, Yo Keng menggeram kesal.
Ketika sampai di sebuah sungai kecil Yo Keng
turun dari kuda, dan dibiarkannya kudanya itu
beristirahat. Dia sendiri lalu duduk di bawah pohon
rindang.
Hembusan angin segar hampir membuatnya terlena,
kalau tiba-tiba tidak terdengar suara. jeritan meminta
tolong. Yo Keng bangkit dengan cepat. Kudanya juga
kaget dan melompat keluar dari dalam air.
Kemudian Yo Keng bergegas memanjat pohon.
Matanya nyalang mencari asal suara tadi. Tiba-tiba
matanya melihat serombongan wanita berlarian
dikejar oleh belasan lelaki kasar. Mereka berkejaran
di pinggir hutan.
"Gila! Tampaknya ada perampok lagi! Benar-benar
rusak negeri ini!" Yo Keng menggeram marah.
Tanpa memikirkan rasa lelahnya lagi Yo Keng
memacu kudanya untuk menolong wanita-wanita itu.
Tapi ketika sampai di pinggir hutan itu, semuanya
867
sudah hilang. Orang-orang itu tidak kelihatan lagi.
Bahkan di atas tanah juga tidak ada bekas-bekasnya
pula.
"Eh, ke mana mereka? Masa mereka bisa
menghilang?"
Tapi Yo Keng tidak segera menyerah. Dia malah
menjadi penasaran, sehingga tempat itu justru
diaduknya dengan teliti. Tidak sejengkal tanah pun
luput dari pengamatannya. Dan akhirnya ia dapatkan
juga apa yang dia inginkan.
Tepat di tengah-tengah semak belukar, tak jauh dari
tempat itu, Yo Keng menemukan sebuah lubang gua.
Tidak begitu besar, tapi manusia dapat masuk dengan
mudah. Dan dari bekas-bekas yang ada, Yo Keng
yakin bahwa orang-orang itu benar-benar lewat
melalui lubang tersebut.
Setelah mengikat kudanya di tempat yang
tersembunyi, Yo Keng nekad masuk ke dalam lubang
itu. Sungguh menakjubkan. Beberapa saat kemudian
ujung terowongan itu menembus ke lereng tebing
curam, di mana di bawahnya mengalir sungai deras.
"Ah, sungai di bawah itu tentu merupakan
kepanjangan dari sungai tempat aku beristirahat tadi.
Tapi... ke mana orang-orang itu tadi? Apa ada jalan
setapak ke bawah?"
Ketika Yo Keng melongok ke bawah, di bawah
tebing tampak belasan buah tenda didirikan berjajar di
tepian sungai. Puluhan lelaki bertubuh tegap tampak
berjalan hilir-mudik di antara tenda-tenda itu. Sepintas
868
lalu mereka kelihatan seperti kawanan perampok yang
membangun sarang di lembah sempit itu.
Tempat itu memang strategis sekali. Selain
tersembunyi, juga sulit dijangkau orang. Jalan
keluarnya pun hampir tidak ada pula. Bagian samping
dibatasi oleh tebing yang tinggi, sementara di bagian
depan dan belakang merupakan aliran sungai yang
terjal bertingkat-tingkat. Sehingga satu-satunya jalan
hanya dari lubang gua itu.
"Tempat ini memang sangat baik untuk
bersembunyi, tapi berbahaya untuk sebuah pasukan.
Memang sulit untuk ditemukan, namun mudah
diserang dan dihancurkan lawan. Heran, siapakah
mereka?"
Yo Keng lalu mencari akal untuk menuruni tebing
itu. Tapi belum juga cara itu dia temukan, telinganya
mendengar langkah orang memasuki terowongan itu.
Cepat dia bersembunyi di tempat gelap.
Tujuh orang lelaki lewat di depannya. Masingmasing
membawa perempuan dipundaknya. Mereka
kelihatan tergesa-gesa sehingga tidak memperhatikan
keadaan di sekeliling mereka. Mereka melangkah
dengan terburu-buru. Begitu pula ketika menuruni
tebing itu.
Kebetulan lelaki yang paling belakang agak sedikit
ketinggalan dari kawan-kawannya. Dan kesempatan
itu tak disia-siakan oleh Yo Keng. Sekali sodok
dengan sarung pedangnya, lelaki itu roboh tak
berkutik. Dan perempuan yang ada dalam pelukan
869
orang itu cepat disambarnya serta ditaruh pula di atas
pundaknya.
Lalu dengan cekatan orang itu diseretnya ke tempat
yang tersembunyi. Selanjutnya, seperti tak pernah
terjadi apa-apa, ia berjalan di belakang rombongan
tersebut. Dia sengaja memperlambat langkahnya.
Kemudian buru-buru menyelinap pergi, begitu
rombongan tersebut menginjakkan kaki di bawah
tebing. Yo Keng menyuruk ke dalam semak-semak.
"Hei, mau apa sebenarnya kau? Kenapa
kaugantikan orang itu dengan kekerasan? Kau...
siapa?" Tiba-tiba terdengar bisikan di belakang Yo
Keng. Suaranya kecil.
Bukan main kagetnya Yo Keng! Otomatis tubuhnya
berbalik, sehingga perempuan di atas pundaknya itu
hampir saja terjatuh.
"Sia-siapakah... kau?" Mata Yo Keng jelalatan
mencari lawannya. Tapi tak seorang pun di sekitarnya.
"Celaka...! Bagaimana kau ini? Kau sekarang
sedang menggendong aku! Wah, gobloknya!" Suara
itu terdengar kembali, bahkan lebih keras dan
berkesan jenaka. Suaranya berubah besar seperti suara
lelaki.
Yo Keng terkejut. Dan lebih kaget ketika jalan
darah tong-tie-hiat di lehernya telah dicengkeram oleh
perempuan itu.
"Hei, awas! Jangan dibanting! Nanti suaranya akan
terdengar oleh mereka!" Suara itu lagi-lagi
memperingatkan.
870
Yo Keng menggeram. Dia tidak bisa berbuat apaapa.
Orang yang menyamar menjadi wanita itu telah
mencengkeram jalan darah kematian di lehernya.
"Si-siapa kau...? Mengapa kau menyamar menjadi
perempuan dan membiarkan diri dibawa oleh lelaki
kasar itu?" Yo Keng menggeram dengan suara
tertahan.
"Wah, jangan bertanya sekarang! Nanti saja setelah
kita benar-benar aman. Kini turunkanhah aku dulu
dan jangan banyak bicara!"
Untunglah kedatangan rombongan itu tidak begitu
diperhatikan oleh yang lain, sehingga penyusupan Yo
Keng berjalan dengan mulus. Hanya seorang saja di
antara ketujuh lelaki tadi yang berteriak mencarinya.
"Hei...? Ke mana Ogilai tadi? Apakah ia masih di
atas?"
"Aaa, sudahlah! Biarkan saja ia berbuat sekehendak
hatinya. Paling-paling ia berada di antara semaksemak
itu! Hehehehe!"
SEMENTARA itu di kota raja, Au-yang Goan-swe
sudah mengirimkan pasukan rahasianya untuk
mengejar Yo Keng. Pasukan yang amat terlatih itu
menyamar seperti rombongan penduduk biasa.
Mereka bergerak di dalam beberapa kelompok.
Semula mereka bermaksud menghadang Yo Keng
di kota Lia-feng. Namun rencana mereka berubah lagi
karena Yo Keng tidak menuju ke kota itu. Mereka lalu
menuju ke kota berikutnya, yaitu kota Leng-fu di
871
tepian Sungai Huang-ho. Untuk itu mereka membagi
rombongan menjadi dua bagian. Sebagian melewati
perbukitan di selatan Lia-feng, dan sebagian lagi
menerobos terus ke barat melalui Tai-bong-sui, daerah
rawa-rawa berbahaya.
Demikianlah, pada saat matahari mulai bergeser
turun ke barat, beberapa kelompok di antara pasukan
itu telah tiba di kota Leng-fu. Mereka segera
berkumpul di luar pintu gerbang kota bagian selatan.
Mereka dipimpin oleh Tongkat Bocor Ho Bing, yang
kini telah berhasil menjadi orang kepercayaan Auyang
Goan-swe.
""Heran! Mengapa Ciang Ciangkun belum juga
datang? Dia seharusnya tiba di sini. Jarak yang
mereka tempuh lebih pendek daripada kita." Lelaki
bermuka kelimis itu menggerutu, karena Ciang Kwan
Sit, pemimpin rombongan mereka, belum juga tiba di
tempat itu. Padahal rombongan Ciang Kwan Sit lewat
Tai-bong-sui.
"Biarlah kita bersabar sedikit." Salah seorang di
antara temannya yang berkepala gundul
mendinginkan hatinya.
"Tapi... kita tidak mempunyai banyak waktu, Tiattou
(Kepala Besi)! Sebentar lagi Yo Ciangkun akan
tiba. Kita belum mengatur rencana untuk
menghadapinya...."
"Kalau begitu, mengapa tidak kau saja yang
menyusun rencana? Bukankah Ciang Ciangkun telah
872
memberi wewenang kepadamu?" Si Gundul itu
menjawab enteng.
"Hei, mengapa aku...?" Ho Bing berteriak.
"Mengapa...? Hehehee, sudah kukatakan, selain
lebih cerdik dan lebih banyak akal, kau sudah diberi
wewenang oleh Ciang Ciangkun. Mau apa lagi?
Ayolah...!"
"Tapi ilmu silat kalian banyak yang lebih tinggi
daripada ilmu silatku."
"Waah... itu tidak menjadi soal. Sekarang yang
penting adalah rencananya, bukan pertempurannya.
Ayolah!"
Ho Bing tidak dapat menolak lagi. Terpaksa dia
mengambil alih pimpinan rombongan itu. Dia lalu
membagi rombongan tersebut menjadi tiga kelompok
kecil. Kelompok pertama dipimpin oleh Tiat-tou, dan
tetap berada di tempat itu. Kelompok ke dua,
dipimpin Siang-kim-eng (Sepasang Elang Emas),
menunggu di pintu gerbang kota sebelah timur.
Sedang Ho Bing bersama lima orang sisanya, masuk
ke dalam kota. Mereka bersiap-siap untuk membantu
kelompok yang nanti berhadapan dengan Yo Keng.
"Dengan pembagian kelompok seperti ini kita
berharap tidak akan kehilangan buruan kita.
Kelompok yang menerima kedatangan Yo Keng harus
segera memberi tanda kepada yang lain. Bagaimana?"
"Baiklah... kita semua sependapat. Mari kita
berangkat!" Tiat-tou mewakili teman-temannya.
873
Demikianlah mereka lalu berpencar bersama
kelompok mereka masing-masing Mereka tidak
sempat lagi menunggu kedatangan rombongan Ciang
Kwan Sit.
Sama sekali mereka tidak menyangka kalau
rombongan Ciang Kwan Sit mendapat rintangan di
tengah jalan. Begitu melewati rawa-rawa Tai-bongsui,
rombongan itu bertemu dengan sebagian kecil
dari iring-iringan pasukan Raja Mo Tan yang
menyusup ke Propinsi Siangsi. Dan tanpa berbasabasi
lagi pasukan itu mengepung dan menyerang
rombongan Ciang Kwan Sit.
Kelompok kecil pasukan Raja Mo Tan yang tidak
mengenakan seragam perajurit itu dipimpin oleh
Sogudai, seorang keturunan Mongol yang mengabdi
kepada Raja Mo Tan. Rombongan itu merupakan
sebagian dari pasukan besar Raja Mo Tan yang mulai
menyusup ke wilayah Tiong-goan.
Ternyata berita tentang Pangeran Liu Wan Ti itu
telah diketahui pula oleh Raja Mo Tan. Bahkan raja
dari berbagai suku bangsa liar di luar Tembok Besar
itu sudah menyusun rencana untuk menyerbu
Kerajaan Han.
Demikianlah, selagi Jenderal Au-yang sendiri sibuk
dengan rencana pengkhianatannya, Raja Mo Tan
justru mulai menabuh genderang perangnya. Panglima
Solinga dengan pasukan besarnya telah berangkat
menuju ke benteng Kong-sun Goanswe. Sedangkan
panglima-panglima Raja Mo Tan yang lain, seperti
874
Panglima Yeh Sui dan Huang Yin, berangkat ke timur
dan ke selatan. Mereka berdua diperintahkan untuk
memotong bala bantuan yang datang dari Tiong-goan.
Dan di dalam rombongan pasukan yang menuju ke
timur itulah kelompok pasukan Sogudai berada.
Seperti halnya Panglima Solinga, Panglima Yeh
Sui dan Panglima Huang Yin merupakan jago-jago
yang handal. Bahkan seperti halnya Panglima Solinga,
mereka berdua juga memiliki kesaktian yang hebat
pula. Perbedaan mereka hanyalah dalam usia.
Panglima Yeh Sui dan Huang Yin adalah jago-jago
tua yang berusia lebih dari lima puluh tahun,
sementara Panglima Solinga yang anak keturunan
suku Mongol itu masih sangat muda.
Di dalam perjalanannya ini Panglima Yeh Sui
membawa lima ribu orang perajurit. Dan untuk
mengurangi kesan sebagai sebuah barisan besar
ataupun arak-arakan prajurit, Panglima Yeh Sui
membagi pasukannya menjadi kelompok-kelompok
kecil. Setiap kelompok terdiri dari empat puluh atau
lima puluh orang, dan dipimpin oleh seorang
pemimpin kelompok. Mereka sengaja menyamar
seperti rakyat biasa, agar perjalanan itu tidak terlalu
menarik perhatian orang. Mereka berjalan
berombongan, kelompok demi kelompok, seakanakan
rombongan pengungsi yang melarikan diri dari
daerah perbatasan.
Namun di sepanjang jalan pasukan itu banyak
membuat kesengsaraan penduduk. Apalagi tingkah
875
laku mereka sering tidak terkendali. Mereka
merampas dan menjarah rayah persediaan pangan
penduduk. Bahkan mereka berlaku kasar terhadap
wanita, sehingga acapkali timbul kerusuhan diantara
mereka dengan penduduk setempat. Dan kadangkala
kerusuhan yang mereka timbulkan itu berkembang
menjadi pertempuran-pertempuran kecil di sepanjang
perjalanan mereka. Akibatnya bisa diduga, banyak
penduduk yang tidak tahu memegang senjata menjadi
korban kebrutalan mereka.
Penduduk desa menganggap pasukan itu sebagai
gerombolan pengungsi yang bertindak brutal karena
kelaparan. Mereka menjadi perampok karena
terpaksa. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa
gerombolan itu adalah pasukan asing yang hendak
menduduki negeri mereka.
Akhirnya situasi seperti itu mengundang simpati
para pendekar di seluruh negeri. Tanpa diundang
mereka datang dari Propinsi Kiang-su, Siang-si, Ho
Pak, San-tung dan sekitarnya. Mereka mencoba
membantu penduduk mengatasi gerombolan tersebut.
Bahkan beberapa waktu kemudian muncul
beberapa kelompok kekuatan, yang lebih tersusun
rapi, dan memiliki pandangan lain terhadap kemelut
di daerah itu. Mereka terdiri dari kelompok para
pendekar yang dipimpin oleh pendekar-pendekar yang
dianggap mampu memimpin mereka.
Demikianlah, belasan orang dari rombongan Ciang
Kwan Sit itu harus menghadapi pasukan Sogudai yang
876
berlipat ganda banyaknya. Meskipun demikian,
karena mereka rata-rata memiliki ilmu silat tinggi,
maka untuk sementara mereka dapat bertahan dengan
baik. Mereka tetap melawan dengan semangat tinggi.
Tapi bagaimanapun juga jumlah mereka terlalu
sedikit. Satu banding empat dalam sebuah
pertempuran, tetap merupakan masalah yang serius.
Walaupun mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang
baik, namun di pihak Sogudai terdapat pula jago-jago
gulat yang tangguh. Bahkan beberapa saat kemudian
Sogudai dan dua orang pengawalnya telah
menunjukkan keunggulannya. Beberapa orang anak
buah Ciang Kwan Sit terlempar dari arena
pertempuran.
Peristiwa itu semakin membesarkan hati anak buah
Sogudai. Mereka lalu mengamuk dan berkelahi seperti
serigala haus darah. Apalagi sebagai suku-suku liar
dari padang rumput, mereka memang sangat mahir
berkelahi dalam kelompok. Di daerah mereka, mereka
sudah terbiasa bertarung dalam kelompok melawan
harimau ataupun kuda-kuda liar. Dan kini mereka
mulai bersikap seperti itu pula. Mereka berkelahi
seperti kawanan serigala yang sedang mengepung
binatang mangsanya.
877
Ciang Kwan
Sit menjadi
marah. Di
kalangan
keprajuritan dia
merupakan
seorang perwira
menengah yang
disegani. Ilmu
cambuknya tidak
ada duanya di
jajaran pasukan
rahasia. Kini
melihat anak
buahnya
terdesak,
kemarahannya tak bisa ditahan lagi. Tangannya segera
mengurai cambuk baja yang terbelit di pinggangnya.
Lalu dengan garang it menghentakkan ujungnya!
Thaaaaaar! Taaaaar....!
Dua orang anak buah Sogudai terjungkal roboh!
"Gila! Kubunuh kau...!" Sogudai menjerit marah.
Tubuh Sogudai yang tinggi besar itu meloncat ke
atas melampaui kepala anak buahnya. Dari ujung
lengan bajunya melesat sebuah belati ke arah Ciang
Kwan Sit! Siiiiiing!
Sekali lagi Ciang Kwan Sit menghentakkan
cambuknya. Kini ditujukan ke arah datangnya belati.
878
Taaaas! Ujung cambuknya menghantam badan belati
tersebut sehingga arahnya melenceng ke kanan.
-- o0d-w0o --
JILID XXI
ELANJUTNYA kedua orang itu
berhadapan muka seperti ayam aduan. Dan
tampaknya mereka tak ingin saling berbicara
lagi, karena kemudian senjata mereka
ternyata lebih bersemangat daripada mulut
mereka.
Ciang Kwan Sit tetap memegang cambuk,
sementara tangan Sogudai telah memegang belati
besar sepanjang siku tangannya. Belati itu bersinar
biru karena tajamnya. Dan di tangan Sogudai benda
itu benar-benar mengerikan.
Mereka segera terlibat dalam pertemuran yang
sengit. Sogudai yang kasar dan kuat itu berkelahi
dengan liar dan ganas. Belati besarnya melayanglayang
mengejar lawan. Sementara Ciang Kwan Sit
menghadapinya dengan tenang, namun penuh dengan
perhitungan. Dia sama sekali tidak melayani
kegarangan Sogudai. Dia lebih banyak menghindar
dan menjauhi lawannya. Bahkan untuk menahan
desakan Sogudai, ia sering melecutkan ujung
cambuknya keras-keras.
S
879
Beberapa kali senjata mereka beradu di. udara. Dan
dengan sifatnya masing-masing, kedua senjata itu
berusaha untuk menekan lawannya. Ciang Kwan Sit
dengan cambuknya yang lemas dan panjang itu selalu
mencoba memotong dan menahan gerakan lawan.
Sementara Sogudai dengan belati besarnya, tetap merangsak
ke depan dengan kekuatan besarnya.
Keduanya memang bukan orang sem-barangan.
Seperti halnya keturunan suku Mongol lainnya,
Sogudai memiliki tubuh yang kokoh dan kuat.
Ditambah dengan ilmu silatnya yang tinggi, maka
kekuatannya semakin menjadi dahsyat sekali.
Sebaliknya Ciang Kwan Sit juga mempunyai ilmu
silat yang hebat pula. Di kalangan Pasukan Rahasia
ilmu cambuknya sangat terkenal. Rekan
sepasukannya, mendiang Su Hiat Hong dan Lim Kok
Liang, amat segan terhadap ilmu cambuknya.
Begitulah, semakin lama pertempuran mereka
menjadi semakin seru. Demikian sengitnya, sehingga
masing-masing tidak ada waktu lagi untuk melihat
sekelilingnya. Mereka tidak sempat pula melihat anak
buah mereka. Apalagi arena pertempuran semakin
menebar ke segala penjuru. Bahkan sebagian dari
mereka kembali memasuki rawa-rawa.
Tapi jumlah mereka memang tidak seimbang.
Pasukan Sogudai berlipat lebih banyak, sehingga
dengan menebarnya arena itu semakin membuat
pasukan Ciang Kwan Sit terpecah-belah. Akhirnya
setiap prajurit Ciang Kwan Sit harus melawan enam
880
atau tujuh orang lawan. Akibatnya bisa diduga. Satu
persatu mereka mati terbunuh.
"Lihat! Teman-temanmu sudah mati semua!
Mengapa kau tidak menyerah saja?" Sogudai berseru
gembira melihat lawannya tinggal Ciang Kwan Sit
seorang.
Ciang Kwan Sit menggerakkan giginya. "Bangsat!
Dari mana kau mendapatkan pasukan sedemikian
banyaknya, heh? Kau tentu bukan gerombolan
perampok biasa! Anak buahmu amat terlatih dalam
pertempuran! Jangan-jangan kau mau memberontak,
ya?"
"Gerombolan perampok? Kurang ajar ...! Kaukira
kami siapa, heh? Jangankan cuma kau dan kawankawanmu
itu, bala tentara dari negerimu pun takkan
mampu melawan pasukan kami, hohohehe!"
"Hei, kalian...? Jadi kalian ini ... pasukan asing?"
Ciang Kwan Sit tersentak kaget, sehingga
pertahanannya sedikit mengendor.
Akibatnya belati Sogudai menyerempet bahunya.
Membuat bahu itu tergores dalam dan hampir
memutuskan uratnya. Darah mengucur membasahi
pakaian Ciang Kwan Sit. Dan lengan itu terasa lemas
dan sulit digerakkan.
"Gila! Kau benar-benar gila!" Ciang Kwan Sit
mengumpat.
Tapi Sogudai tidak meladeni sumpah serapah Ciang
Kwan Sit. Melihat lawannya terluka, sepak-terjangnya
justru semakin ganas. Matanya melotot penuh hawa
881
pembunuhan, membuat Ciang Kwan Sit semakin
turun semangat tempurnya.
"Aduuuuh...!" Sekali lagi Ciang Kwan Sit menjerit
ketika belati besar itu menghunjam lengannya.
Otomatis cambuknya terlepas dari pegangan.
"Mati kau sekarang...!" Sogudai bersorak
kegirangan. Belatinya menyambar ke arah
tenggorokan.
Traaaaang! Tiba-tiba belati besar itu terlempar ke
udara! Sebutir kerikil menghantam badan belati
tersebut! Namun pada saat terakhir ujung belati itu
masih sempat menyayat leher Ciang Kwan Sit!
Perwira itu terjungkal pingsan dengan darah mengalir
dari luka barunya!
"Aaaah!" Sogudai juga menggeram kesakitan.
Dengan muka merah padam Sogudai melihat ke
sekelilingnya, mencari orang yang telah mengganggu
perkelahiannya. Dan di tepi rawa, di atas sebuah
cabang pohon, dilihatnya seorang lelaki setengah baya
tertawa ke arahnya. Sogudai tidak segera
mengenalnya. Tetapi suara tertawa itu cepat
mengingatkannya kembali kepada musuh
bebuyutannya selama ini, Bun-bu Siu-cai (Si Pelajar
Serba Bisa) Liu Wan. Dan seperti halnya lima tahun
lalu, pemuda itu masih juga menyamar sebagai tabib
keliling. Bahkan pakaian dan buntalan obatnya juga
masih memakai yang dulu pula.
882
"Sogudai! Kau masih ingat kepadaku?" Pemuda itu
menyapa, dan sama sekali tidak peduli pada kawankawan
Sogudai yang mengepung di bawah pohonnya.
"Bun-bu Siu-cai!" Sogudai berdesah dengan suara
gemetar.
"Hahaha, Sogudai... ternyata kecurigaanku selama
ini memang benar. Kedatanganmu ke Tiong-goan
dulu adalah untuk mencari jalan bagi pasukan Raja
Mo Tan. Kini saat untuk menyerbu tampaknya sudah
tiba. Kau benar-benar dikirim bersama pasukan
perangmu menyeberangi Tembok Besar!" Pemuda
yang tidak lain adalah Liu Wan itu berseru dari atas
.pohon.
"Bunuh dia....!" Sogudai berteriak marah.
Belasan anak panah melesat menuju ke tempat Liu
Wan berada. Namun dengan cepat pemuda itu
melompat ke cabang yang lain, kemudian
berjumpalitan ke bawah, sehingga anak panah itu
gagal memburunya.
Begitu berdiri di atas tanah, Liu Wan tidak segera
melayani Sogudai dan anak buahnya. Sebaliknya
dengan tenang pemuda itu menghampiri tubuh Ciang
Kwan Sit, dan memeriksa luka-lukanya. Baru setelah
yakin Ciang Kwan Sit masih hidup, dia berdiri
menghadapi lawannya.
"Sogudai! Kembalilah sebelum terlambat! Katakan
kepada Rajamu, bahwa kami telah mencium
maksudnya! Katakan pula, bahwa bangsa Han tidak
akan membiarkan tanah ini diinjak oleh orang seperti
883
dia! Para pendekar telah besatu, menyusun kekuatan
untuk menghadapi serbuannya. Lihatlah...! Pasukan
para pendekar telah siap bertempur denganmu!" Kata
Liu Wan berapi-api. Telunjuknya menuding ke tengah
rawa, di mana puluhan kepala tersembul di antara
semak dan alang-alang.
"Gila! Sejak dulu kau selalu merintangi jalanku!"
Liu Wan tertawa panjang. "Sudah kukatakan dari
dulu, bahwa aku paling tidak suka melihat orang asing
menginjak-injak dan merusak negeriku!"
"Bagus!
Tampaknya kau
memang telah
menunggu
kedatangan kami.
Nah, mari kita
selesaikan saja
secepatnya! Prajurit,
cepat lepaskan panah
berapi! Kita undang
pasukan yang lain ke
tempat ini!"
Liu Wan terkejut.
Otomatis otaknya
bekerja. Kalau
Sogudai benar-benar
mengundang bantuan, berarti kekuatan mereka akan
bertambah. Dan bila jumlah bantuan itu sama
banyaknya dengan jumlah kekuatan Sogudai
884
sekarang, berarti para pendekar persilatan yang
dibawanya takkan menang melawan mereka.
Liu Wan cepat memanggil tiga orang kawannya
yang bersembunyi di dalam semak di pinggir rawa.
Salah seorang di antara mereka berbadan kecil, namun
lengannya tampak lebih panjang dari ukurannya.
Orang itu berjalan seperti kera. Tapi ketika sebuah
anak panah melesat ke arahnya, tiba-tiba tubuhnya
melenting ke udara dengan gesitnya. Dan di lain saat
anak panah itu telah berada dalam cengkeraman
jarinya.
"Si Pencuri Sakti Ang Jit Kun!" Sogudai yang
sudah terbiasa berkeliaran di Tiong-goan itu segera
mengenali orang berbadan kecil itu.
"Ang-heng, pilihlah lima orang berkepandaian
tinggi di antara teman-teman kita! Bawalah mereka ke
belakang untuk menjaga jalan mundur ke dalam rawa!
Kita tidak tahu persis, berapa jumlah musuh yang
akan tiba nanti. Kita harus siap untuk mundur bila
diperlukan!" Liu Wan berbisik kepada Ang Jit Kun.
"Baik, Ciok-heng!" Pencuri Sakti itu lalu berkelebat
cepat memasuki rawa-rawa kembali. Gerakannya
cepat bukan main.
"Ciok-heng! Apa yang harus kami kerjakan?" Dua
orang yang datang bersama Ang Jit Kun tadi bertanya
kepada Liu Wan.
"Saudara Un dan Saudara Lo, kita bertiga tetap di
sini. Kita pimpin rekan-rekan kita menghadapi
mereka! Tapi ingat...! Kita harus tetap menjaga, agar
885
kawan-kawan kita tidak keluar dari garis
pertempuran! Kita tidak boleh menerobos ke dalam
lingkungan musuh! Kita harus tetap berada dalam satu
baris tempur."
Un Kao dan Lo Su Ti, dua pendekar yang
tampaknya merupakan pembantu utama Liu Wan,
menganggukkan kepala.
"Baik, kami tahu maksud Ciok-heng. Kita harus
segera bisa menyelamatkan diri kalau terdesak.
Tetapi, sebelum bala bantuan mereka datang, kita
harus secepatnya mengurangi jumlah mereka. Siapa
tahu bala bantuan mereka tidak banyak, sehingga kita
bisa menumpasnya? Begitu bukan?"
Liu Wan mengangkat ibu jarinya. "Bagus! Jiwi
memang berpandangan tajam! Marilah! Mereka sudah
tidak sabar lagi!"
Demikianlah pertempuran tak bisa dielakkan lagi.
Masing-masing berusaha membunuh lawan sebanyakbanyaknya.
Anak buah Sogudai menyerang dengan ganas dan
penuh semangat, sementara para pendekar yang
dipimpin oleh Liu Wan pun melayani mereka dengan
penuh semangat pula.
Meski secara perorangan para pendekar itu
memiliki kepandaian lebih tinggi, tapi dalam
pertempuran besar mereka tetap harus waspada dan
dapat menempatkan diri dalam kelompoknya. Sekejap
saja dia terlepas dan kelompoknya dan terjebak dalam
kepungan lawan, maka akan sangat sulit untuk
886
meloloskan djri. Betapapun lihai ilmu silat seorang
perajurit, namun siasat dan cara bertempur tetap
diperlukan dalam setiap arena.
Walaupun demikian kemampuan perorangan juga
tak bisa diabaikan. Seorang jago silat tetap lebih
berbahaya daripada prajurit biasa. Tanpa senjatapun
mereka masih lebih berbahaya daripada prajurit
bersenjata.
Korban mulai berjatuhan, sehingga jumlah mereka
semakin berkurang pula. Tempat yang licin berlumut
itu kini mulai tampak kemerahan. Sogudai yang
sedang berhadapan dengan Liu Wan juga mulai
gelisah pula. Bantuan belum datang, sementara anak
buahnya banyak yang telah menjadi korban.
Tapi wajah itu segera berseri kembali ketika tibatiba
terdengar sorak-sorai mendatangi. Benar juga,
dari balik pepohonan tiba-tiba muncul belasan orang
bersenjata yang segera menceburkan diri ke dalam
pertempuran.
Datangnya bala bantuan yang tidak kecil itu
membuat perubahan kekuatan di arena. Pasukan
Sogudai yang tadi terdesak, kini berbalik mendesak
lawan. Apalagi bala bantuan yang datang masih tetap
bermunculan tiada putusnya. Mereka langsung
menggempur pasukan pimpinan Liu Wan.
Liu Wan cepat memberi isyarat kepada Un Kao dan
Lo Su Ti. Perlahan-lahan mereka mundur sambil
membawa teman mereka yang terluka. Ang Jit Kun
bersama lima orang kawannya segera menebar
887
membuka jalan. Karena mereka memang tak pernah
meninggalkan jalan masuk ke dalam rawa, maka
pasukan para pendekar itu dengan mudah dapat
meloloskan diri. Pasukan Sogudai yang tidak tahu
keganasan rawa itu mencoba mengejar mereka.
Namun beberapa orang di antara mereka segera
tenggelam ke dalam lumpur.
"Jangan masuk ke dalam rawa! Hujani mereka
dengan panah!" Sogudai berteriak.
Berpuluh-puluh anak panah meluncur mengejar
para pendekar itu. Tapi sudah terlambat. Selain
gerakan para pendekar itu sangat cepat, kondisi rawarawa
itu benar-benar sangat membantu mereka.
Sebentar saja mereka telah lenyap ke dalam
rimbunnya semak belukar. Dan di lain saat
rombongan para pendekar itu telah menaiki sampan
masing-masing dan pergi dari tempat itu.
Sogudai berteriak marah. Musuh lama yang telah
berada dalam genggaman, ternyata lepas begitu saja.
-- o0d-w0o --
Sementara itu Liu Wan membawa kawankawannya
ke kota Lau-ying, sebuah kota kecil di
sebelah utara Tai-bong-sui. Mereka langsung menuju,
ke markas darurat mereka, di sebuah kuil kosong di
luar kota. Kedatangan mereka disambut oleh kawankawan
mereka yang lain.
888
"Ciok-heng, kita mendapat tamu dari kota Ling-fu.
Sekarang ia berada di dalam bersama kawan-kawan."
Seorang lelaki bersenjata golok memberi laporan.
Liu Wan mengangguk. Setelah mengatur dan
menugaskan beberapa orang kawannya untuk
mengurusi yang luka, Liu Wan mengajak Si Pencuri
Sakti Ang Jit Kun ke dalam untuk menemui tamunya.
"Ahh...?" Liu Wan berdesah ketika melihat
tamunya. Tapi rasa kaget itu cepat disembunyikannya.
Dia sedang menyamar sebagai Tabib Ciok sekarang.
"Selamat bertemu, Ciok Sin-she! Perkenalkan... aku
yang rendah bernama Tan Sin Lun, dari Aliran Imyang-
kau. Mungkin Sin-she masih ingat padaku,
karena aku pernah datang mengunjungi pondokmu di
kota Hang-ciu lima tahun lalu...." Tamu itu
memperkenalkan diri.
"Ah, tentu saja.... Tan Siau-heng. Meskipun sudah
tua ingatanku masih tetap baik. Hemm, apakah
sumoimu yang hilang itu sudah kautemukan?"
Liu Wan tetap berusaha bersikap wajar, walaupun
hatinya tetap berdebar-debar. Bagaimanapun juga ia
harus berhati-hati, sebab sebagai Liu Wan maupun
sebagai Tabib Ciok ia sama-sama telah mengenal Tan
Sin Lun. Ia harus pandai membawakan perannya.
Tan Sin Lun menghela napas panjang. "Belum.
Malah aku juga kehilangan kakaknya pula. Dan
sampai sekarang... kedua sumoiku itu tak pernah
kembali."
889
Mereka lalu duduk di ruangan tengah. Sebelum
menanyakan maksud kedatangan tamunya, Liu Wan
memperkenalkan kawan-kawannya. Setelah itu baru
dia menanyakan keperluan Tan Sin Lun.
"Ciok Sin-she, rasanya kita semua sudah tahu
bahwa suku bangsa Hun bermaksud mencaplok negeri
kita. Bertahun-tahun mereka mempersiapkan diri. Dan
tampaknya niat itu benar-benar mereka laksanakan
sekarang. Mereka melintasi Tembok Besar secara
diam-diam!"
Liu Wan tidak segera menyahut. Dia tetap berdiam
diri menunggu habisnya ucapan Tan Sin Lun.
"Tapi... gerakan mereka tetap saja tercium oleh para
pendekar persilatan. Banyak tokoh-tokoh persilatan
yang datang ke daerah ini. Semuanya ingin
menghadapi para penyerbu itu. Dan kami dengar...
Ciok Sin-she berhasil mempersatukan para pendekar
itu." Tan Sin Lun melanjutkan kata-katanya.
"Ah, hanya sebagian kecil saja. Di kota-kota lain
juga banyak perkumpulan-perkumpulan seperti ini."
Liu Wan merendah.
"Benar, Ciok Sin-she. Di kota Leng-fu, kami juga
mendirikan perkumpulan seperti ini. Kami memberi
nama Pek-lian-eng (Pendekar Teratai Putih)." Tan Sin
Lun melanjutkan kata-katanya.
"Ya, kami juga sudah mendengarnya, Tan-heng.
Bahkan kami pernah bertemu pimpinannya, Huang-ho
Siang-kiam Ma Sing."
890
Tan Sin Lun tersenyum gembira. "Nah, Ciok Sinshe...
kedatanganku ke sini justru atas perintah Ma Susiok
itu. Beliau mengharapkan bantuan Ciok Sin-she."
"Bantuan? Bantuan apa?" Liu Wan mengerutkan
keningnya.
"Tan Siau-hiap...! Selain memimpin Pek-lian-eng,
Ma Tai-hiap adalah ketua cabang Aliran Im-yang-kau
di bagian utara. Ilmu silat Ma Tai-hiap jauh lebih
tinggi di atas kami. Lalu... bantuan apa lagi yang
dapat kami berikan kepadanya?" Ang Jit Kun ikut
berbicara.
Tan Sin Lun memperbaiki letak duduknya,
kemudian merogoh saku dan mengeluarkan segulung
kain putih selebar saputangan.
"Ciok Sin-she...! Sekarang Pangeran Liu Wan Ti
berada di dalam benteng Kong-sun Goan-swe. Di
mana Pangeran Liu mencoba mengajak para pendekar
untuk memerangi Raja Mo Tan. Beliau mulai
mengumpulkan orang-orang yang betul-betul dapat
dipercaya untuk mewujudkan maksudnya itu. Dan
kebetulan Ma Su-siok terpilih sebagai salah seorang
yang mendapat kepercayaan tersebut. Sekarang Ma
Susiok juga mulai mengumpulkan kawan-kawan pula.
Nah, salah seorang yang sangat dipercaya oleh Ma
Su-siok adalah... Ciok Sinshe! Dan kedatangan kami
ke mari untuk menyerahkan undangan dari Ma Susiok
kepada Ciok Sin-she. Silakan diterima...!"
Liu Wan menerima kain yang disodorkan Tan Sin
Lun dan membacanya. Isinya antara lain mengajak
891
Ciok Sin-she dan kelompoknya untuk bergabung
dengan barisan Pangeran Liu. Dan dalam waktu dekat
Pangeran Liu ingin merundingkan cara mewujudkan
rencana mereka.
Selesai membaca Liu Wan meminta pendapat
rekan-rekannya. Terutama kepada Si Pencuri Sakti
Ang Jit Kun.
"Kalau memang benar demikian maksud Pangeran
Liu, maka tidak ada masalahnya kita bergabung
dengan mereka. Semakin besar dan terarah, maka
kekuatan kita akan semakin kokoh pula. Rasanya
Pangeran Liu memang cocok untuk memimpin kita."
"Baiklah, Tan-heng. Rasanya kami juga tidak
keberatan untuk bergabung. Katakan kepada Ma Taihiap,
bahwa kami semua siap bergabung dengan
Pangeran Liu!" Akhirnya Liu Wan menjawab.
Tan Sin Lun bangkit dan merangkapkan kedua
tangannya. "Terima kasih, Ciok Sin-she. Ma Susiok
tentu akan senang sekali mendengarnya."
Matahari mulai terbenam. Mereka makan minum
sekedarnya. Ketika akhirnya Tan Sin Lun meminta
diri, maka matahari benar-benar sudah tenggelam.
Sebelum berangkat pemuda itu masih sempat
bercerita pula tentang utusan Kong-sun Goanswe
yang telah sebulan lamanya belum kembali. Utusan
itu bernama Yo Keng, seorang perwira, diutus ke kota
raja untuk menghadap Menteri Kui Hua Sin.
892
"Utusan itu belum juga kembali?" Liu Wan
mengerutkan dahinya. "Ah, mungkin dia mendapat
kesulitan di kota raja...."
"Tampaknya memang demikian. Semua orang
memang harus berhati-hati di kota raja. Kata orang
suasana di sana sudah tidak sehat lagi. Ibu Suri dalam
keadaan sakit, sementara keluarga Kaisar yang lain
juga tidak ada yang dapat diharapkan lagi. Bahkan
para pejabat kerajaan juga tidak ada yang peduli pula.
Mereka saling mencari kepuasannya sendiri."
"Benar. Oleh karena itu dengan munculnya
Pangeran Liu Wan Ti, rasanya kita semua harus
bergembira...." Ang Jit Kun berkata pelan.
Setelah Tan Sin Lun pergi, Liu Wan memanggil Si
Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
"Saudara Ang, tampaknya situasi semakin gawat.
Aku akan pergi dalam beberapa hari. Tolong
kaupimpin kawan-kawan kita. Apabila saat bulan
purnama aku belum datang, bawalah kawan-kawan
kita ke rawa Tai-bong-sui. Para pendekar akan
mengadakan pertemuan di tempat itu. Mereka akan
merundingkan jalan yang hendak kita tempuh
bersama. Aku akan pergi ke kota raja untuk melihat
keadaan. Siapa tahu aku mendapatkan sesuatu yang
penting bagi perjuangan kita."
"Ciok Sin-she akan berangkat malam ini juga?"
Ang Jit Kun bertanya kaget.
"Benar. Situasi sudah semakin gawat. Pasukan
asing sudah masuk ke negeri kita, sementara di kota
893
raja malah saling cakar-cakaran sendiri. Kita harus
segera berbuat sesuatu."
"Ciok Sin-she hendak berbuat apa...?" Ang Jit Kun
berdesah tak mengerti.
Tapi Liu Wan tak menjawab. Selesai membenahi
bekalnya ia segera berangkat meninggalkan tempat
itu. Dia berkuda ke arah timur.
Dua hari kemudian Liu Wan sudah melewati kota
An-yang. Ia terkejut ketika berjumpa dengan barisan
prajurit dari kota raja. Demikian panjang barisan itu
sehingga Liu Wan terpaksa menyelinap ke dalam
hutan dan kebun untuk menghindari mereka.
"Ah! Tampaknya Au-yang Goanswe sudah
mencium juga kedatangan pasukan Mo Tan. Pasukan
ini sangat lengkap dan dipersiapkan untuk perang
yang panjang."
Hampir setengah hari barisan prajurit itu baru
habis. Liu Wan menyeka debu dan keringat yang
mengotori wajahnya. Sambil meneruskan perjalanan
ia sibuk berpikir. Dua atau tiga hari lagi perang besar
akan berkecamuk di sepanjang aliran Sungai Huangho.
Dan perang itu akan membuat penderitaan dan
kesengsaraan rakyat kecil.
Malam itu Liu Wan menginap di kota An-sing,
sebuah kota kecil di sebelah tenggara An-yang.
Walaupun kecil tapi kota itu sangat ramai. Anak
Sungai Huang-ho di bagian selatan kota, memberi
banyak kesuburan pada sawah ladang, sehingga
894
daerah itu tampak lebih makmur daripada daerah
sekitarnya.
Tapi barisan prajurit yang lewat di kota itu telah
meresahkan hati mereka. Bagaimanapun juga perang
tidak pernah mereka sukai.
"Maaf, Tuan... meja ini sudah dipesan orang.
Sebentar lagi mereka datang. Kalau Tuan ingin
makan, Tuan dapat pergi ke rumah makan sebelah. Di
sana masih banyak tempat kosong...." Pelayan
memberi tahu ketika Liu Wan bermaksud duduk di
ruangan makan penginapan itu.
Liu Wan menarik napas kecewa. Tapi ketika
hendak berbalik, seorang lelaki berseru kepadanya.
"Ciok-heng, marilah kita duduk bersama...! Masih
ada kursi kosong di mejaku!"
Liu Wan menoleh. Dilihatnya seorang lelaki tua
berpakaian sederhana duduk di dekat jendela. Ketika
Liu Wan memperhatikan, dia segera mengingatnya.
Orang itu adalah Ui Tiam Lok, kepala kampung Uithian-
cung di Hang-ciu. Orang tua itu duduk bersama
dua orang puteranya, Ui Kong Tee dan Ui Kong Lam,
yang pandai bermain barongsai itu. Sebagai penduduk
yang pernah tinggal satu kota tentu saja mereka
mengenal satu sama lain.
"Ah, apakah aku yang sudah tua ini bertemu
dengan keluarga Ui dari Ui-thian-cung...?" Liu Wan
menyapa ramah.
895
Ui Tiam Lok berdiri sambil merangkapkan kedua
tangannya di depan dada. Begitu pula dengan kedua
puteranya. Mereka saling memberi hormat.
Liu Wan menerima undangan mereka.
Mereka lalu saling menanyakan kabar dan
pengalaman masing-masing. Dan akhirnya mereka
juga saling menanyakan keperluan masing-masing di
tempat itu.
"Ciok Sin-she...! Kau tentu masih ingat peristiwa
lima tahun yang lalu, bukan? Pada waktu itu muncul
beberapa tokoh aneh di dunia persilatan, yang
memperkenalkan diri sebagai utusan dari Pondok
Pelangi. Kepandaian mereka begitu tinggi, sehingga
tokoh-tokoh besar seperti Hong-gi-hiap Souw Thian
Hai dan Keh-sim Thai-hiap Kwe Tiong Li pun tidak
mampu menandingi mereka. Bahkan keduanya
ditaklukkan dengan mudah, kemudian dibawa pergi
entah ke mana. Dan sampai sekarang mereka berdua
belum kembali. Usaha kaum persilatan untuk mencari
mereka juga tidak pernah berhasil. Tidak seorang pun
tahu, di mana Pondok Pelangi itu berada." Ui Tiam
Lok bercerita perlahan.
Liu Wan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Matanya menerawang jauh keluar jendela. Peristiwa
di dunia persilatan pada lima tahun lalu memang tidak
dapat dilupakan begitu saja. Terutama bagi dirinya
sendiri.
Banyak peristiwa mengesankan yang tidak
mungkin bisa dia lupakan, Kedatangan anak-anak
896
Raja Mo Tan yang memiliki kesaktian seperti iblis di
daerah Tiong-goan. Kemudian lenyapnya Tio Ciu In,
gadis yang baru saja dikenalnya, namun telah mampu
mengusik hatinya. Dan yang terakhir adalah
munculnya beberapa orang tokoh Pondok Pelangi
yang sempat membikin geger dunia persilatan.
Lima tahun telah berlalu, namun semua peristiwa
itu seperti masih terbayang di pelupuk mata.
"Yaaah, tentu saja aku masih ingat, Ui-heng.
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan peristiwa
itu? Ilmu silat yang telah kupelajari selama puluhan
tahun ini ternyata tidak berarti apa-apa dibandingkan
ilmu silat mereka. Cuma dengan tiga jurus, orangorang
dan Pondok Pelangi itu telah mengalahkan aku.
Aku benar-benar kecewa dan malu sekali pada waktu
itu."
Ui Tiam Lok tersenyum arif. Usianya yang sudah
mencapai tujuh puluh lima tahun itu membuatnya
matang luar dalam.
"Ciok-heng, kau tak perlu merasa malu dan patah
semangat. Tidak hanya kau yang mengalami hal
itu...."
"Yah, tapi.... rasanya mengganjal juga di dalam
hati. Apalagi mereka datang dan pergi begitu saja,
seolah-olah tidak ada seorang manusia pun di Tionggoan
ini yang mampu mengusik mereka. Rasa-rasanya
kita ini seperti anak-anak yang tak bisa berbuat apaapa.
Benar-benar sebuah mimpi buruk dalam
kehidupan kita...."
897
Pelayan yang mengusir Liu Wan tadi datang
membawa makanan yang mereka pesan. Dengan sikap
sopan dan ramah pelayan itu menaruh makanan di
atas meja. Gerakannya sangat cekatan. Beberapa kali
tangan itu menyambar dan meletakkan mangkok kuah
ke atas meja. Dan yang sangat mengherankan, kuah
yang ada di dalam mangkok itu sama sekali tidak
bergetar, apalagi memercik. Padahal cara
meletakkannya pun secara sembarangan pula.
Tak seorang .pun melihat keanehan itu. Liu Wan
juga baru menyadari ketika pelayan tersebut sudah
meninggalkan mereka.
"Eh....???"
"Ciok-heng, ada apa?" Ui Tiam Lok bagai tersengat
lebah.
Liu Wan memandang kembali mangkok kuah di
depannya. Tak ada getaran. Tak ada percikan.
"Ah, tidak apa-apa... Ui-heng. Aku hanya sedikit
terkejut. Rasa-rasanya pernah melihat pelayan itu.
Tapi aku lupa di mana?" Liu Wan cepat mengalihkan
pembicaraan. Dia tak ingin dianggap terlalu
berprasangka dan curiga.
Sambil makan mereka lalu berbicara lagi. Ui Tiam
Lok bercerita tentang beberapa kejadian yang
menimpa keluarganya, yang akhirnya membuat dia
keluar dari kampungnya.
"Ciok-heng.... Dalam satu bulan ini beberapa orang
nelayanku telah empat kali melihat orang-orang
898
misterius itu. Mereka naik sampan kecil terbuat dari
tulang-tulang ikan paus."
"Orang-orang dari Pondok Pelangi...?"
Ui Tiam Lok mengangguk. "Aku sudah
memberitahukan hal itu kepada tokoh-tokoh persilatan
yang kukenal, agar mereka bersiap-siap menghadapi
kedatangan mereka. Siapa tahu mereka ingin
menculik beberapa orang di antara kita lagi?"
Liu Wan menghela napas panjang. "Perang besar
akan segera meletus. Pasukan Raja Mo Tan telah
menyeberangi Tembok Besar. Tapi, dunia persilatan
justru bergolak sendiri...."
"Ciok-heng, kau benar.... Tampaknya perang besar
memang segera meletus. Aku juga sudah melihatnya.
Bahkan pasukan yang dikirim dari kota raja sudah
melewati kota ini pula."
"Tapi bukan itu yang kuprihatinkan. Sebenarnya
kita dapat mengusir musuh bila bersatu. Baik prajurit,
rakyat, maupun para pendekar persilatan. Tapi
tampaknya Mo Tan memang tahu kelemahan kita.
Sudah beberapa tahun ini rakyat hidup dalam
kerusuhan dan ketidak-adilan. Di istana pun para
pejabat saling berebut pengaruh. Kini para pendekar
juga diteror pula oleh kemunculan orang-orang
Pondok Pelangi. Nah... lengkap sudah!"
"Oh...?!" Ui Tiam Lok seakan-akan baru terjaga
dari tidurnya. "Benar! Jangan-jangan semua itu
memang berkaitan satu sama lain. Nah, Ciok-heng!
Apa yang sebaiknya kita lakukan?"
899
Mata Liu Wan berkilat-kilat. "Tentu saja yang
terpenting adalah... mempersatukan semua kekuatan
kita! Mereka harus kita galang menjadi satu kekuatan
untuk menghadapi pasukan Mo Tan!"
Ui Tiam Lok tersenyum. "Ya, tapi... bagaimana
caranya?"
Liu Wan melirik ke sekitarnya. Setelah yakin tak
seorang pun memperhatikan mereka, ia berbisik
perlahan.
"Mudah. Kita harus dapat mencari seorang
pemimpin yang benar-benar mampu menguasai semua
kekuatan itu. Seorang pemimpin yang sangat disegani
dan dihormati oleh kekuatan kita itu!"
"Siapa...?" Ui Tiam Lok menatap tajam.
Sekali lagi Liu Wan mengedarkan pandangannya.
"Ada dua tokoh! Mereka adalah.... Pangeran Liu Yang
Kun dan bekas Panglima Besar Yap Kim! Menurut
pendapatku hanya mereka berdua yang mampu
mempersatukan kekuatan itu!"
Mata Ui Tiam Lok yang sudah berkeriput itu
terbelalak. Namun sinar kegembiraan tampak di
dalamnya.
"Benar, Ciok-heng. Aku sependapat denganmu.
Tapi rasanya.... hanya tokoh ke dua saja yang bisa
diharapkan. Itu pun harus ada yang dapat
membebaskan dia dari Benteng Langit."
"Bagaimana dengan Pangeran Liu Yang Kun...?"
Ui Thian Lok menggelengkan kepalanya. "Aku tak
yakin beliau masih hidup. Dua puluh tahun bukanlah
900
waktu yang pendek. Kalau masih hidup, tidak
mungkin dia melupakan keluarganya."
"Bukankah isteri dan anak-anaknya telah mati
semua?"
"Ya, tapi masih ada adik-adiknya. Bukankah
mereka juga keluarganya?"
Liu Wan menghela napas dalam sekali. Wajahnya
yang tertutup kumis dan jenggot palsu itu tampak
gelap.
"Kau benar. Memang akulah yang terlalu
berharap." Akhirnya Liu Wan bergumam seperti
ditujukan kepada dirinya sendiri.
Ui Tiam Lok memandang tamunya. "Maaf, Ciokheng.
Bukannya aku merendahkan nama Pangeran Liu
Yang Kun, tetapi kita memang tidak mungkin
mengharapkannya lagi. Kita harus berpijak pada
kenyataan. Dan kenyataannya, Pangeran Liu Yang
Kun sudah tidak mungkin diharapkan lagi. Kini
tinggal Panglima Besar Yap Kim saja yang dapat kita
harapkan. Sayang sekali... beliau terkurung dalam
penjara. Apa daya kita...?"
Wajah Liu Wan yang tertutup cambang itu tiba-tiba
menjadi cerah kembali. "Ui-heng, aku punya
rencana...!"
"Rencana...? Rencana apa?"
"Ah, nanti saja! Belum saatnya dikatakan...."
Liu Wan tidak meneruskan ucapannya, karena
pelayan yang menghidangkan kuah tadi datang
kembali. Dan Liu Wan baru menyadari, betapa
901
gagahnya pelayan itu. Tubuhnya tinggi dan besar.
Raut mukanya yang keras dan penuh keyakinan itu
membuat usianya kelihatan lebih dewasa.
Penampilannya sama sekali tidak sesuai dengan
seragam kacungnya.
"Maaf, Tuan. Tuan Muda yang duduk di pojok
ruangan itu ingin mengundang Cu-wi semua. Apakah
Cu-wi bersedia...?"
Liu Wan dan Ui Tiam Lok melihat ke pojok
ruangan. Mereka melihat seorang pemuda berpakaian
pelajar duduk sendirian di mejanya. Bajunya yang
longgar berwarna putih, sementara topinya berwarna
hitam seperti
rambutnya.
Kumis tipis
menempel di atas
bibirnya,
membuat pemuda
itu kelihatan
ganteng sekali.
Liu Wan saling
pandang dengan
Ui Tiam Lok.
Masing-masing
mengangkat
pundaknya.
Keduanya tidak
mengenal
pemuda itu.
902
"Siapa dia? Mengapa dia mengundang kami?"
"Tuan Muda itu mengaku saudara Pangeran Liu
Yang Kun dari istana kaisar. Apakah Cu-wi belum
mengenalnya?"
Tidak hanya Liu Wan yang kaget mendengar
jawaban itu, tapi juga Ui Tiam Lok beserta puteraputeranya.
Bagaimana tidak? Mereka baru saja
berbicara tentang Pangeran Liu Yang Kun, kini tibatiba
saja ada orang yang mengaku sebagai saudara
pangeran itu.
Liu Wan dan Ui Tiam Lok berembug sebentar.
"Baiklah, kami tidak berkeberatan." Mereka lalu
berdiri mengikuti pelayan itu.
Pemuda ganteng itu menyambut kedatangan
mereka. "Oh, terima kasih atas kesediaan Cu-wi
memenuhi undanganku. Perkenalkanlah, aku bernama
Souw Hong Lam. Silakan duduk...!"
Mereka lalu saling memperkenalkan diri. Meskipun
demikian Liu Wan dan Ui Tiam Lok tetap berhatihati.
"Maaf...! Siau-te telah berani mengganggu
ketenangan Cu-wi berempat. Cu-wi tentu merasa
kaget, curiga, dan bingung. Kita memang belum
pernah saling mengenal sebelumnya. Tapi, apa boleh
buat.... tidak ada cara lain. Siau-te ingin sekali
berbicara tentang orang-orang Pondok Pelangi itu
dengan Cu-wi berempat. Kudengar Cu-wi baru saja
bercerita tentang mereka." Souw Hong Lam berkata
panjang lebar.
903
Liu Wan maupun Ui Tiam Lok terkejut. Jarak
antara meja mereka dengan meja pemuda itu sangat
jauh, bahkan di selingi oleh beberapa meja yang
penuh tamu pula. Bagaimana pemuda itu dapat
mendengarkan percakapan mereka?
Liu Wan saling pandang dengan Ui Tiam Lok.
Mereka semakin berhati-hati. Kalau memang benar
apa yang diucapkan pemuda itu, berarti pemuda itu
memiliki tenaga dalam yang hebat.
"Maaf, Souw-heng. Kata pelayan rumah makan ini,
kau masih memiliki hubungan keluarga dengan
Pangeran Liu Yang Kun. Hmm, benarkah...?" Liu
Wan bertanya hati-hati.
Pemuda itu tertawa. Dan Liu Wan harus mengakui
bahwa pemuda itu benar-benar tampan sekali. Giginya
tersusun rapi, sementara bibirnya yang tertutup kumis
tipis itu merekah seperti bibir wanita.
"Ah! Kalau mau dianggap masih keluarga, yah...
bisa saja, karena salah seorang keluargaku adalah
menantu Kaisar Liu Pang. Tapi kalau hal itu dianggap
bukan keluarga, yaaa... memang bukan apa-apa!"
Liu Wan tersentak. Putera Kaisar Liu Pang yang
sudah menikah hanya Pangeran Liu Yang Kun. Dan
kedua isteri pangeran itu adalah Souw Lian Cu dan
Han Tui Lan.
"Salah seorang isteri Pangeran Liu Yang Kun
adalah puteri pendekar Souw Thian Hai. Apakah
Saudara dari keluarga pendekar ternama itu?" Liu
Wan bertanya kaget.
904
"Benar. Tapi aku tidak berani mengaku terlalu
dekat dengan mereka. Aku hanya keluarga jauh.
Namun demikian kepergianku ini juga untuk mencari
Pendekar Souw Thian Hai. Kata orang dia diculik
utusan dari Pondok Pelangi. Nah, apakah Ji-wi
Locianpwe tahu letak Pondok Pelangi itu?"
Ui Tiam Lok menelan ludah. Sambil bergeser di
tempat duduknya, ia berkata pelan. "Souw-heng...!
Kami memang baru saja membicarakan orang-orang
dari Pondok Pelangi itu. Aku mengatakan kepada
Ciok Sin-she ini, bahwa beberapa orang nelayan di
kampungku telah melihat lagi kedatangan mereka di
Laut Utara. Tapi para nelayan itu tidak ada yang tahu
dari mana mereka datang...."
"Laut Utara....? Oh! Apakah mereka datang dari
seberang lautan?. Bukan dari daratan kita ini?" Souw
Hong Lam bergumam.
"Dugaan Tuan memang benar...." Tiba-tiba pelayan
muda itu datang lagi membawa botol arak pesanan
Souw Hong Lam. Bibirnya tersenyum kepada Souw
Hong Lam.
Tentu saja ucapan pelayan itu sangat mengejutkan
mereka. Bahkan Liu Wan yang sudah bercuriga sejak
tadi sampai melongo mendengarnya.
Tapi pelayan muda itu dengan tenang melanjutkan
kata-katanya. "Maaf. Bukan maksudku untuk
mencampuri pembicaraan Tuan. Tapi, orang-orang
dari Pondok Pelangi itu memang bertempat tinggal
jauh di seberang lautan sana. Siaute pernah
905
berkunjung ke tempat itu. Pada musim panas begini,
tempat tinggal mereka memang sangat indah. Tapi
pada musim dingin, seluruh tanah mereka diselimuti
oleh salju. Bahkan permukaan laut di sekitar tanah
mereka pun dilapisi oleh es pula.
Liu Wan cepat berdiri sambil merangkapkan
tangannya. "Maaf, bolehkah kami tahu nama Saudara?
Sejak tadi aku memang tidak percaya bahwa Saudara
adalah seorang pelayan biasa."
"Wah, Sin-she salah duga. Siau-te memang seorang
pelayan. Sudah lima hari Siaute bekerja di sini. Siaute
bernama A Liong. Dan Siaute memang berasal dari
Lautan Es itu...."
Tiba-tiba tangan Souw Hong Lam menyambar ke
depan, ke arah pergelangan tangan A Liong.
Gerakannya cepat bukan main, sehingga mata Liu
Wan hampir tidak bisa mengikutinya.
Tapi A Liong sekarang bukanlah A Liong lima
tahun lalu. Gerak tangannya ternyata jauh lebih cepat
daripada gerakan Souw Hong Lam! Bagaikan main
sulap, lengan pemuda itu tiba-tiba lenyap dari
tempatnya. Dan tangan Souw Hong Lam hanya
mampu meraup asap tipis yang tiba-tiba mengepul di
tempat lengan A Liong tadi berada. Asap itu segera
buyar tertiup angin, meninggalkan bau amis
menyentak hidung.
"Gila...!" Liu Wan mengumpat di dalam hati.
"Pelayan ini jelas lihai sekali! Jikalau aku yang
mendapat serangan itu, aku tidak mungkin bisa
906
mengelakkannya. Paling-paling aku hanya bisa
mengadu tenaga!"
Ternyata Souw Hong Lam sendiri juga tidak kalah
kagetnya. Dia tidak meneruskan gerakannya. Matanya
yang jernih dan tajam itu menatap lawan lekat-lekat.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyerang, Saudara.
Aku hanya ingin mengetahui, siapakah .saudara ini
sebenarnya...."
A Liong tersenyum. "Ah, tidak apa-apa. Siaute
hanya bergurau pula. Siaute ingat, waktu masih kecil
dahulu sering bermain "tangkap tangan" dengan
teman-temanku. Melihat gerakan tangan Tuan tadi,
otomatis tanganku menghindar."
"Tapi.... asap itu?" Liu Wan menyela.
Lagi-lagi A Liong tersenyum. "Ah, bukankah asap
itu keluar dari arak yang kubawa? Arak itu baru saja
dipanaskan!"
"Tapi baunya amis sekali...."
A Liong tidak menjawab. Dia cepat
membungkukkan badan dan melangkah mundur untuk
kembali ke tempatnya.
"Tunggu...!" Souw Hong Lam berseru.
Tapi A Liong tetap melangkah ke dalam, sehingga
Souw Hong Lam terpaksa bangkit dan mengejarnya.
Liu Wan dan keluarga Ui mengikut di belakangnya.
Namun mereka tidak menemukan A Liong. Pelayan
lainnya mengatakan bahwa A Liong baru saja keluar
untuk membeli daging.
907
Tampaknya Souw Hong Lam tidak mau
kehilangan. Setelah membayar semua makanan, ia
berlari keluar. Liu Wan dan keluarga Ui tidak mau
ketinggalan pula.
Mereka berlari-lari kecil di jalan raya. "Ah! cepat
sekali dia menghilang! Padahal kita hanya terlambat
beberapa langkah saja di belakangnya...!" Souw Hong
Lam bersungut-sungut.
Mereka berdiri di perempatan jalan. Ui Tiam Lok
tiba-tiba menunjuk ke sebuah kereta yang berjalan
lambat dari arah selatan. Dua orang petugas keamanan
tampak berdiri di atas kereta, sementara beberapa
petugas lain membunyikan tambur untuk menarik
perhatian orang. Dua petugas itu meneriakkan sebuah
seruan tentang hadiah bagi siapa saja yang dapat
menemukan Pangeran Liu Wan Ti.
"Eh, katanya Pangeran Liu berada di Benteng
Kong-sun Goanswe. Mengapa para petugas itu
meneriakkan pengumuman itu? Apakah berita itu
belum didengar oleh pemerintah?" Ui Tiam Lok
berbisik.
Souw Hong Lam menoleh. Dahinya berkerut.
"Apa...? Pangeran Mahkota itu masih hidup?"
Liu Wan mengangkat pundaknya. "Berita yang
terdengar memang begitu. Malah kabarnya beliau
sekarang sedang mengumpulkan kekuatan untuk
melawan Raja Mo Tan di benteng Kong-sun
Goanswe."
908
"Lhoh? Mo Tan menyerang Tiong-goan?" Lagi-lagi
Souw Hong Lam berseru tak percaya.
"Wah, Siau-ya benar-benar ketinggalan jaman!"
Entah dari mana datangnya tiba-tiba A Liong telah
berada di belakang mereka.
"Kau....???" Semuanya berdesah kaget.
"Oh, maaf! Siau-te telah mengagetkan Cu-wi
sekalian! Siau-te dari pasar untuk membeli daging,
tapi ternyata sudah habis. Jadi, siau-te terpaksa... eh,
mengapa Cu-wi berada di sini? Bukankah Cu-wi
sedang minum arak?" A Liong pura-pura terkejut.
Souw Hong Lam menelan ludah. "Maaf, kami
memang mencari Saudara. Kami bersungguh-sungguh
tentang Pondok Pelangi itu sehingga kami
menginginkan beberapa keterangan lagi dari
Saudara."
"Oh, ya-ya...! Tapi sekarang siau-te sedang sibuk.
Bagaimana kalau kita bertemu saja di kuil San-hongbio
besok pagi?"
"Baiklah, Saudara.... A Liong. Kami akan
menunggu di depan Kuil San-hong-bio besok pagi."
Liu Wan mengiyakan ketika dilihatnya Souw Hong
Lam tidak segera menjawab.
Entah mengapa, tapi pelayan itu benar-benar
menarik perhatian Liu Wan. Ada sesuatu yang
disembunyikan oleh pemuda gagah itu. Sikapnya
sangat aneh. Sama anehnya dengan Souw Hong Lam,
yang juga baru dikenalnya itu. Diam-diam Liu Wan
ingin tahu, siapa sebenarnya mereka itu.
909
Demikianlah hari berikutnya mereka bertemu di
halaman San-hong-bio. Liu Wan tetap dalam
penyamaran sebagai Tabib Ciok, sementara A Liong
tidak berpakaian seperti pelayan lagi. Pemuda itu
datang dengan pakaian longgar berwarna biru tua. Di
atas pungungnya terikat sebuah bungkusan kain.
"Maaf, hari ini siau-te akan pergi ke suatu tempat,
sehingga tak dapat menemani Cu-wi terlalu lama. Kita
langsung saja berbicara tentang Pondok Pelangi itu...."
Begitu datang A Liong berkata lantang.
Souw Hong Lam maju ke depan. "Aku sependapat
denganmu, Saudara A Liong! Aku juga tidak ingin
berbelit-belit. Kedatanganku ke mari adalah untuk
mengajakmu pergi ke Pondok Pelangi."
"Ke Pondok Pelangi? Mau apa Siau-ya ke sana?" A
Liong kaget.
"Saudara A Liong! Jangan panggil aku... Siau-ya!
Kau bukan seorang pelayan lagi! Panggil saja aku
Hong Lam! Dan aku memanggilmu A Liong! Kita tak
perlu berbasa-basi."
"Baiklah...!" Tak terduga A Liong mengiyakan.
"Nah, A Liong.... aku ingin mencari Souw Thian
Hai! Dia masih keluargaku. Kata orang dia bersama
isterinya dibawa oleh utusan dari Pondok Pelangi lima
tahun lalu."
"Souw Thian Hai dan isterinya? Dia bertubuh
tinggi besar berambut putih? Dan usianya kira-kira
sama dengan.... Ui-locianpwe ini?" Mendadak A
Liong berteriak gembira.
910
"A Liong! Apa maksudmu?"
Cepat bagai kilat A Liong menyambar lengan Souw
Hong Lam. Dan pemuda ganteng itu mengelak. Tapi
sia-sia. Jari tangan A Liong yang kokoh kuat itu lebih
dulu mencengkeram pergelangan tangannya.
Souw Hong Lam berontak. Asap tipis berwarna
kemerahan tiba-tiba mengepul di atas topinya. Dan
kekuatan yang maha besar segera menghentakkan
tangannya dari cengkeraman A Liong. Demikian
besar kekuatan tersebut, sehingga getaran anginnya
dapat dirasakan oleh Liu Wan maupun Ui Tiam Lok.
A Liong melepaskan tangannya. Bibirnya
tersenyum. "Bagus! Kau memang dari keluarga Souw.
Ketahuilah, Souw Tai-hiap memang berada di Pondok
Pelangi selama lima tahun ini. Tapi beliau sudah
kembali ke Tiong-goan sebulan lalu."
"Benarkah...?" Souw Hong Lam berseru gembira.
"Lalu ke manakah mereka sekarang?"
A Liong mengangkat pundaknya. "Entahlah, aku
tidak tahu. Aku cuma berjumpa saja di perjalanan.
Mungkin dia langsung kembali ke kampungnya...."
"Ke rumahnya? Ah, tidak! Aku baru saja dari sana!
Eh.... mengapa kau tahu benar keadaannya? Apakah
kau dari.... Pondok Pelangi juga?" Tiba-tiba mata
Souw Hong Lam terbelalak.
A Liong kembali tersenyum. "Benar, aku memang
datang dari daerah itu. Walaupun bukan dari Pondok
Pelangi."
911
Liu Wan dan Ui Tiam Lok terkejut. Otomatis
mereka bersiaga. Namun dengan tenang A Liong
menerangkan bahwa dia bukanlah orang Pondok
Pelangi. Seperti halnya pendekar Souw dan isterinya,
dia juga seorang pendatang pula di tempat itu.
"Ah, tampaknya misteri tentang orang-orang dari
Pondok Pelangi akan segera terkuak...." Tak terasa
Liu Wan berdesah perlahan.
"Wah, kalau begitu... orang yang dilihat oleh para
nelayan itu tidak lain adalah Hong-gi-hiap Souw
Thian Hai.
Bahkan kemungkinan juga malah... Saudara A
Liong ini." Ui Tiam Lok tiba-tiba berseru.
A Liong tertawa. "Mungkin juga, Ui-locianpwe.
Sebab banyak juga nelayan yang kutemui di
perjalanan. Rata-rata mereka merasa aneh melihat
perahuku yang terbuat dari tulang-tulang ikan paus."
"A Liong, menurut pendapatmu ke mana kira-kira
tujuan pendekar Souw Thian Hai?" Souw Hong Lam
mendesak.
A Liong tidak menjawab. Pemuda itu memang
tidak tahu arah dan tujuan Souw Thian Hai beserta
isterinya.
Tiba-tiba Ui Tiam Lok memegang tangan Souw
Hong Lam. "Souw-heng, rasanya Saudara A Liong ini
memang benar-benar tidak tahu! Tapi Souw-heng
juga tidak perlu khawatir! Pendekar Souw sangat
terkenal di dunia persilatan. Semua orang tahu dia.
Maka kedatangannya kali ini tentu tidak akan lepas
912
dari perhatian banyak orang. Sebaiknya kita berangkat
ke Tai-bong-sui saja. Tempat itu akan menjadi ajang
pertemuan para pendekar persilatan. Aku yakin kita
akan mendapatkan keterangan dari sana.
Bagaimana...?"
"Bagus, Ui-locianpwe! Pendapat Locianpwe benar
sekali. Di sana akan berkumpul para pendekar dari
segala penjuru. Siapa tahu ada salah seorang yang
pernah melihat Souw-taihiap? Kebetulan sekali aku
juga hendak ke sana pula." A Liong bersorak gembira.
Demikianlah, dua hari kemudian para pendekar
persilatan yang berdiam di sekitar aliran Sungai
Huang-ho, berkumpul di tengah rawa Tai-bong-sui.
Mereka datang secara rahasia. Dan undangan hanya
diberikan kepada orang yang sudah dikenal dan
dipercaya. Namun demikian tamu yang datang
ternyata lebih banyak dari yang diperkirakan. Mereka
berkumpul di sebuah pulau gundul di tengah rawa.
Tempat itu sangat cocok sekali untuk berkumpul.
Selain tempatnya lapang, kebetulan pula air di
sekitarnya amat lebar dan dalam.
Ketika rombongan Liu Wan datang, tempat itu
telah ramai sekali. Ada rombongan dari Pek-lian-eng,
Sin-hou-pang, Kong-sim-pang, Liong-gi-eng dan
banyak pendekar lainnya. Rata-rata mereka datang
dari daerah sekitar aliran Sungai Huang-ho. Termasuk
pula perkumpulan para pendekar yang didirikan oleh
Liu Wan. Mereka dipimpin Si Pencuri Sakti Ang Jit
Kun.
913
Sebagai Tuan rumah adalah Perkumpulan Pek-lianeng,
karena mereka pula yang mendapat kepercayaan
dari Pangeran Liu Wan Ti. Maka tidak mengherankan
bila anggota mereka banyak yang tersebar di
sekeliling arena itu. Mereka mengawasi dan meneliti
semua undangan yang datang. Mereka juga meronda
dengan sampan-sampan kecil di rawa-rawa itu.
Mereka juga menyiapkan petugas-petugas rahasia di
tempat-tempat tersembunyi, seperti di semak-semak,
pepohonan dan sebagainya. Bahkan beberapa orang di
antaranya ada juga yang berbaur dengan tamu-tamu
yang datang.
Liu Wan dan rombongannya segera bergabung
dengan rombongan Si Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
Setelah saling berkenalan, Liu Wan bertanya tentang
Souw Thian Hai.
"Ah! Benarkah pendekar itu sudah muncul lagi?
Wah, kalau begitu benar juga ucapan Huang-ho
Siang-kiam. Dia tadi mengatakan bahwa salah
seorang anak buahnya telah melihat suami-isteri Souw
Thian Hai menyeberangi Sungai Huang-ho di kota
Liang-an."
"Di kota Liang-an...?" Souw Hong Lam bergumam
lirih.
Liang-an adalah kota kecil di Propinsi San-tung.
Sebuah kota pelabuhan sungai yang cukup ramai,
sehingga penduduknya cukup padat dan sibuk.
914
"Jangan khawatir, Souw-heng! Nanti kubantu
mencarinya. Kebetulan aku juga hendak ke San-tung
setelah pertemuan ini." Liu Wan berkata pelan.
"Ah, aku tak berani merepotkan Lo-cianpwe...."
Ketika bulan purnama menyibak kabut yang
menggenang di tengah rawa itu, Huang-ho Siangkiam
Ma Sing tampil di tengah arena. Ketua Cabang
Im-yang-kau bagian utara itu diapit oleh dua orang
murid utamanya. Meskipun usianya telah mencapai
enam puluh lima tahun, namun orang tua itu masih
tampak gesit dan lincah.
Setelah mengucapkan rasa terima kasih dan selamat
datang kepada tamu-tamunya, Ma Sing lalu
menjelaskan maksud dan arti daripada pertemuan itu.
Maksudnya yang utama adalah membentuk wadah
bersama dalam menanggulangi kekuatan Raja Mo
Tan.
"Wadah ini akan membuat kekuatan kita menjadi
satu kesatuan yang kokoh kuat. Di dalam satu wadah
dan satu perintah, kekuatan kita tidak akan terpecahbelah.
Aku telah berbicara dengan Pangeran Liu Wan
Ti. Beliau setuju dengan niat tersebut, tapi beliau
tidak ingin terlalu turut campur. Sebagai pangeran
mahkota beliau tidak ingin terjun langsung dalam
gerakan seperti ini. Beliau khawatir hal itu akan
berbuntut jelek di kemudian hari. Beliau tidak ingin
ada yang menyalah-tafsirkan keterlibatannya itu.
Siapa tahu ada yang berprasangka jelek dan
menuduhnya yang bukan-bukan. Karena
915
mengumpulkan kekuatan besar di kalangan rakyat
dapat dianggap sebagai pemberontak yang hendak
merongrong kekuatan kaisar."
Ma Sing berhenti untuk mengambil napas.
Kemudian lanjutnya dengan kata-kata yang tegas dan
berwibawa.
"Tapi saya harap saudara jangan salah sangka.
Ucapanku ini bukan lalu berarti bahwa aku... ingin
menggantikannya menjadi ketua. Sama sekali aku
tidak bermaksud demikian. Aku hanya ingin
mempersatukan seluruh kekuatan di daerah utara ini.
Tentang ketuanya, silakan saudara pilih saja yang
lain!"
Semuanya menyambut baik gagasan Ma Sing itu.
Tapi banyak juga yang memprotes karena Ma Sing
tidak bersedia menjadi ketua. Bahkan sebagian dari
mereka justru ingin memilihnya.
"Sekali lagi aku mohon maaf. Keputusanku tidak
dapat diubah lagi. Di sini banyak tokoh yang lebih
patut menyandang kedudukan itu. Biarlah aku yang
tua ini berdiri sebagai penopangnya saja." Ma Sing
menegaskan lagi.
"Wah, aku tidak setuju!" Ang Jit Kun tiba-tiba
berseru.
Ang Jit Kun berkata sambil berdiri, sehingga semua
orang dapat melihat dia.
"Perkumpulan kita berdiri di atas keadilan bagi
seluruh anggotanya. Tidak ada yang diistimewakan
ataupun dibedakan dari yang lain. Ma-taihiap juga
916
memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita
semua. Bukankah demikian, saudara-saudara?" Ang
Jit Kun melanjutkan lagi.
Semuanya bertepuk tangan. Mereka sependapat
dengan ucapan Si Pencuri Sakti Ang Jit Kun.
Akibatnya Ma Sing tidak dapat menghindar atau
menolak lagi. Namun demikian Ma Sing tetap
berkeberatan bila menjadi calon tunggal. Dia ingin
agar semua ketua perkumpulan yang hadir dicalonkan
pula untuk dipilih.
"Hahaha, baiklah.... kami juga tidak keberatan. Tapi
bagaimanapun juga kami sudah sepakat untuk
memilih Ma-taihiap. Hahahahahaha...!" Ang-bin
Kuai-jin, Ketua Perkumpulan Sin-hou-pang
menanggapi permintaan itu dengan tertawa
menggelegar.
"Yah, benar...! Sebenarnya kita tak perlu lagi
mengadakan pemilihan. Namun Huang-ho Siang-kiam
sudah lebih dari cukup bagi kita semua." Go-bi Samci
dari Kong-sim-pang berseru pula dari tempat
duduknya. Anak buahnya segera bertepuk tangan
tanda setuju.
Ketua rombongan Liong-gi-eng bangkit dari tempat
duduknya. Pendekar bertubuh tinggi besar
bercambang lebat itu tampak lebih menyeramkan
dengan kulitnya berbercak-bercak putih bekas luka
bakar.
"Ayolah, kita tidak usah bertele-tele lagi! Kita
mulai saja pemilihan ketua ini! Nah, Ma-taihiap....
917
cara manakah yang paling sesuai kita pergunakan?"
Pendekar yang dijuluki orang Harimau Putih atau Pek
Hou itu berteriak lantang.
Belum juga pertanyaan itu dijawab oleh Ma Sing,
tiba-tiba sesosok bayangan kecil meloncat ke tengah
arena. Geraknnya lincah dan cepat luar biasa, seperti
belalang yang melenting dari pucuk-pucuk ilalang.
Sekejap saja bayangan itu telah berdiri tegak di tengah
arena.
Semua tamu yang hadir segera membelalakkan
matanya. Bayangan yang bergerak lincah seperti
belalang itu ternyata seorang perempuan muda,
berkulit hitam-legam bak pantat kuali. Begitu
hitamnya, sehingga wajah itu tak dapat dilihat dengan
jelas dalam keremangan malam. Di bawah redupnya
sinar rembulan hanya bola matanya saja yang
kelihatan.
"Nanti dulu! Rasanya kurang adil kalau calon yang
dipilih hanya dari kalangan lelaki. Seharusnya kaum
wanita pun diberi hak untuk dipilih pula. Bukankah di
sini juga banyak pendekar wanita yang hadir?"
Perempuan muda itu berseru nyaring. "Selain
daripada itu, acara dalam pertemuan ini rasanya juga
terlalu tergesa-gesa! Eh, maaf...! Aku tidak
bermaksud mengacau atau mau membikin onar
pertemuan ini. Tapi ketika dibuka tadi, Ma-taihiap
belum berembug dengan kita semua tentang
pembentukan wadah perkumpulan itu. Kita langsung
saja berbicara tentang siapa ketuanya. Seharusnya kita
918
bicarakan dulu niat tersebut dengan para tamu yang
datang. Maksudku... apakah tidak perlu ditanyakan
dulu pendapat para pendekar yang hadir di sini? Yah,
siapa tahu, mungkin ada yang kurang setuju, atau....
mungkin justru mempunyai pendapat yang berbeda?"
Semua tertegun. Ucapan wanita berkulit hitam itu
seperti dentang lonceng di tengah malam.
Mengejutkan, tapi juga menyadarkan hati dan pikiran
mereka. Mereka mengakui kebenaran ucapan itu,
walaupun terasa kurang enak di dalam hati.
"Wanita itu memiliki tenaga dalam yang tinggi!"
Souw Hong Lam bergumam perlahan.
"Ya, benar! Tapi.... rasanya kulit itu bukanlah kulit
aslinya." Liu Wan menganggukkan kepalanya.
"Maksud Sin-she....? "Ang Jit Kun tertegun.
"Tampaknya wanita muda itu berusaha untuk
menyamar...."
"He, benarkah?" A Liong berdesah pendek.
Wanita berkulit hitam itu bertepuk tangan. "Nah,
bagaimana dengan pendapat Cu-wi semua?"
"Benar! Benar! Ucapan Lihiap memang benar!"
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba serombongan
lelaki kasar telah berdiri di pinggir arena. Mereka
berseru dan bertepuk tangan menanggapi ucapan
wanita tersebut.
Terdengar suara menggerutu di sana-sini. Apa yang
dikatakan perempuan itu memang mengandung
kebenaran, namun karena ucapan tersebut keluar dari
919
mulut seorang perempuan muda, maka rasanya
menjadi kurang menyenangkan bagi para pendekar.
Ma Sing berdiri seraya mengangkat kedua
tangannya. "Baiklah! Ucapan Lihiap memang benar.
Kami memang terlalu tergesa-gesa. Maafkanlah...!
Nah, saudara-saudara...! Adakah di antara Saudara
yang kurang sependapat dengan pembentukan
perkumpulan ini? Atau... ada di antara Saudara yang
mempunyai pendapat lebih baik?"
Tak ada yang menyahut. Semuanya diam. Namun
sebaliknya, mereka bersorak dan bertepuk tangan
gembira tatkala Ma Sing menawarkan pembentukan
sebuah wadah perkumpulan bagi kegiatan mereka.
"Nah, Lihiap.... tampaknya semua orang memang
mennginginkan perkumpulan itu. Kalau begitu tinggal
melaksanakan usul Lihiap yang ke dua tadi, calon dari
kalangan pendekar wanita! Nah, kira-kira.... siapakah
pendekar wanita yang pantas dicalonkan dalam
pertemuan ini? Mungkin.... Lihiap sendiri?"
"Yayaya, kami setuju! Biarlah Lihiap itu yang
mewakili kaumnya! Hehehehe he....!" Rombongan
lelaki kasar tadi kembali berteriak-teriak dan bertepuk
tangan.
Akhirnya Liu Wan bangkit pula dari tempat
duduknya. Dengan hati-hati ia berkata kepada
perempuan berkulit hitam itu.
"Lihiap, maafkanlah kami! Rasanya kami belum
pernah melihat Lihiap, atau mendengar nama Li-hiap
di dunia persilatan. Selain daripada itu kami juga
920
merasa heran, bagaimana Li-hiap dapat hadir dalam
pertemuan rahasia ini. Apakah Lihiap mewakili
Gurumu, atau mewakili ketua perkumpulanmu?"
Perempuan muda itu membalikkan tubuhnya.
Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Liu Wan.
Dan matanya yang bulat lebar itu menatap Liu Wan
dengan tajamnya.
"Oh, tampaknya Locianpwe menaruh curiga
kepadaku! Baiklah, namaku... Tiau Hek Hoa! Aku
mewakili Ketua Aliran Beng-kau."
Thuuuuuuuuoooot....! Tiba-tiba terdengar suara
kentut keras sekali. Sekejap pertemuan itu menjadi
gaduh. Banyak yang tertawa, tapi ada pula yang
menggeram dan mengumpat-umpat.
Perempuan itu kelihatan mendongkol pula, biarpun
dia telah berusaha meredamnya. Bagaimanapun juga
dia tak ingin memancing keributan, yang akibatnya
akan menyulitkan dirinya sendiri.
"Tampaknya ada yang tidak menyukai
kehadiranku...." Katanya perlahan sambil menarik
napas panjang.
Tak seorang pun menjawab keluhan itu. Orang
yang kentut pun ternyata juga tidak mau keluar untuk
memperlihatkan diri. Sekali lagi perempuan itu
menghela napas panjang, lalu kembali menghadapi
Liu Wan.
Sebaliknya Liu Wan justru sedang berusaha
memeras otaknya. Ternyata setelah berhadapan
langsung' dengan perempuan itu, Liu Wan seperti
921
pernah melihat wajahnya. Namun dia lupa siapa dan
di mana.
"Nah, Locianpwe.... aku sudah mengatakan asalusulku.
Apakah Locianpwe masih mencurigaiku?
Apakah kedatanganku ini tidak diinginkan." Tiau Hek
Hoa bertanya dengan suara bergetar.
"Ah, jadi Li-hiap mewakili Aliran Beng-kau yang
besar itu? Wah! Tapi rasanya.... kami tidak
mengundang Aliran Bengkau." Liu Wan tidak
menjawab secara langsung.
Perempuan itu terdiam. Tapi sesaat kemudian
bibirnya yang hitam kebiruan itu berkata pula.
"Memang! Aku tidak mempunyai undangan! Namun
demikian sebagai orang Han, aku juga berhak untuk
ikut mempertahankan tanah ini. Apalagi sejak dulu
Aliran Bengkau selalu berjuang untuk menegakkan
keadilan di negeri ini. Nah, apakah kedatanganku
tidak diterima?"
-- o0d-w0o --
JILID XXII
H, tentu saja kami terima dengan
senang hati. Siapa pun akan bergembira
menerima kunjungan tokoh Beng kau.
Bukankah demikian, Ma-taihiap?" Liu
Wan menyahut dengan nada yang semakin
berhati-hati.
A
922
"Benar, Ciok Sinshe." Ma Sing yang dapat
merasakan keraguan sahabatnya itu mengangguk
sambil mengedipkan matanya.
"Terima kasih! Emm, tapi... aku tidak melihat
kehadiran Pangeran Liu Wan di tempat ini. Apakah
Beliau tidak datang?" Tiau Hek Hoa merangkapkan
kedua tangannya.
"Tentu saja tidak, Li-hiap. Perkumpulan ini
merupakan keinginan kami sendiri dan tidak
melibatkan Pangeran Liu...." Huang-ho Siang-kiam
Ma Sing menjawab dengan berhati-hati pula.
"He, Ma-taihiap!" Tiba-tiba terdengar teriakan Pek
Hou. "Kapan pemilihan akan dimulai? Sudah hampir
pagi, nih!"
Terdengar suara tertawa di sana-sini. Ma Sing
kembali mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Baiklah. Pemilihan akan kita mulai. Supaya bisa
adil maka setiap perkumpulan hanya memilih satu
suara. Demikian pula dengan kelompok saudarasaudara
kita yang mencalonkan Tai-hiap tadi.
Sehingga akan ada enam suara yang berhak memilih
nanti. Nah, sekarang.... silakan setiap perkumpulan
mengirimkan wakilnya ke depan!"
Enam orang maju ke depan. Mereka adalah wakil
dari Pek-lian-eng, Sin-hou-pang, Kong-sim-pang,
Liong-gi-eng, Bu-lim-eng, dan kelompok lelaki kasar
tadi.
923
Ma Sing lalu menancapkan lima batang kayu di
tengah-tengah arena. Setiap kayu diberi tulisan nama
para calon ketua yang hendak mereka pilih.
"Nah, Saudara berenam! Saudara tentu telah
mendapatkan pesan dari kelompok saudara. Sekarang
pilihlah batang kayu yang sudah diberi nama para
calon ketua itu! Dan pemenangnya adalah calon yang
paling banyak pemilihnya! Dia berhak diangkat
menjadi ketua perkumpulan kita!"
Enam orang itu bergegas memilih kayu yang
diinginkan. Ternyata hampir semuanya memilih kayu
bertuliskan nama Ma Sing! Hanya seorang yang
memegang kayu bertuliskan Tiau Hek Hoa, yaitu
wakil dari rombongan lelaki kasar tadi.
Semuanya bersorak gembira. Ma Sing tidak bisa
menolak lagi. Ketua Pek-lian-eng itu kini resmi
menjadi Ketua Perkumpulan Pendekar di sepanjang
Sungai Huang-ho!
"Sekarang kita rayakan penobatan ketua kita ini
dengan berpesta seadanya! Setuju...?" Go-bi Sam-ci
berseru dari tempat duduknya.
"Setujuuuuuu...!"
"He! Nanti dulu...! Kita masih melupakan sesuatu!
Kita belum memberi nama perkumpulan kita!" Tibatiba
Tiau Hek Hoa berteriak melengking.
Semuanya .terdiam. Lagi-lagi gadis berkulit hitam
itu menyadarkan mereka. Tetapi keadaan itu tidak
berlangsung lama. Seseorang berteriak dari bagian
belakang.
924
"Mudah saja! Kita namakan.... Huang-ho Enghiong!
Bukankah kita berasal dari daerah sepanjang
aliran Sungai Huang-ho?"
"Setuju! Setujuuuuuu...!" "Setujjjuuuuu....!"
Demikianlah sisa malam itu mereka pergunakan
untuk berpesta pora. Masing-masing dengan gaya dan
cara mereka sendiri. Ada yang bergerombol sambil
minum arak yang telah mereka sediakan. Ada pula
yang bersantap-ria membakar daging buruan atau
daging ikan yang banyak terdapat di tempat itu.
Ma Sing bersama dengan bekas ketua-ketua
perkumpulan lama saling berbicara di sekeliling api
unggun. Ikut duduk di antara mereka itu, Si Pencuri
Sakti Ang Jit Kun, Ui Tiam Lok, A Liong, dan Souw
Hong Lam.
"Kita harus segera membuat rencana bagi
perkumpulan kita. Kita tidak boleh terlambat. Pasukan
Mo Tan sudah menyusup ke selatan...." Go-bi Sam-ci
berkata dengan suara bergetar.
"Benar, Ma Taihiap! Mari kita susun rencana kita!
Mumpung kita masih berkumpul di sini...." Pek Hou
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ma Sing menghela napas panjang. Matanya yang
kecil namun tajam luar biasa itu memandang ke kanan
dan ke kiri. Dan pandangannya. segera berhenti pada
wajah hitam legam yang saat itu sedang
mengawasinya pula.
Ma Sing menarik napas panjang. Ternyata Tiau
Hek Hoa duduk tidak jauh dari tempat itu. Bahkan
925
mata Ma Sing juga melihat seorang pemuda jangkung
berdiri tak jauh dari gadis itu. Pemuda itu sebentarsebentar
memandangi gadis itu.
"Ahhh....!" Ma Sing berdesah sambil memalingkan
mukanya. "Sebenarnya aku sudah mempunyai
rencana. Tapi.... aku tidak berani mengatakan.
Rencana itu sangat berbahaya bagi perkumpulan kita."
"Cepat katakan, Ma-taihiap! Apa rencanamu? Kita
bisa mengaturnya nanti...." Ang-bin Kuai-jin yang
tidak sabaran itu mendesak.
Ui Thian Lok menggamit Liu Wan. Sambil
mendekatkan bibirnya dia berbisik di telinga pemuda
itu. "Ciok Sin-she, kau juga punya rencana yang
belum jadi kau beritahukan kepadaku!"
Liu Wan tersenyum. Seolah-olah ingin bercanda
pemuda itu juga berbisik di telinga Ui Tiam Lok. "Ah,
mudah saja kalau begitu. Akan kukatakan sekarang
juga. Heem, kalau aku menjadi ketua perkumpulam
ini, aku akan membawa para pendekar ke Benteng
Langit untuk membebaskan Yap Tai-ciangkun! Hehehehe...!"
Ui Tiam Lok terbelalak, namun segera tersenyum
pula. Dia tahu Ciok Sin-she yang dikenalnya itu
sedang bercanda.
Sementara itu Ma Sing juga menjawab desakan
rekannya. "Kita tak akan berhasil menghalau pasukan
Mo Tan tanpa seorang ahli siasat perang di antarakita.
Kita membutuhkan seorang ahli perang seperti.... Yap
Tai-ciangkun!"
926
"Hah....???" Semuanya terkejut. Tak terkecuali Liu
Wan dan Ui Tiam Lok sendiri yang baru saja
menyebut nama itu.
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing memandang wajah
rekan-rekannya. "Memang, rencanaku ini sangat tidak
masuk akal dan amat berbahaya! Kita dapat dituduh
sebagai pemberontak! Tapi apa boleh buat, memang
tidak ada jalan yang lain lagi! Di medan perang
memang butuh seorang jendral yang baik! Tanpa
pimpinan seorang ahli perang, maka ribuan atau
laksaan prajurit takkan dapat berbuat banyak!"
Tak seorang pun memberi komentar. Apa yang
diucapkan oleh Huang-ho Siang-kiam Ma Sing itu
memang benar. Dan apa yang direncanakan itu
sebenarnya juga baik sekali. Cuma pelaksanaannya
saja yang sulit! Yap Tai-ciangkun adalah tawanan
pemerintah, bahkan dianggap sebagai pengkhianat
negara. Jadi membebaskan dia, berarti sama saja
memberontak terhadap negara!
"Ah, mudah saja! Kalau memang hanya itu jalan
keluarnya, kita lakukan saja rencana itu! .Kita tidak
perlu banyak berpikir tentang salah-benarnya! Kata
para cerdik-pandai, seorang budiman lebih banyak
menurutkan naluri dan perasaannya, daripada oleh
pikirannya! Kalau jalan itu kita anggap paling benar
bagi kita semua, yah.... kita laksanakan saja! Adapun
akibatnya, kita hadapi saja dengan dada terbuka!"
Tiba-tiba A Liong berkata tegas dan mantap.
927
Semuanya tertegun. Sebenarnya jawaban seperti itu
sudah bergema di hati mereka masing-masing. Namun
untuk mengucapkannya mereka tidak berani. Kini
melihat seorang pemuda berusia dua puluhan tahun
berani mengucapkannya, hati mereka terasa bergetar!
"Saudara kecil, boleh aku mengetahui namamu?"
Ang-bin Kuai-jin bertanya dengan suara bergetar pula.
"Aku yang sudah tua ini sebenarnya sependapat
denganmu. Cuma, hehehe.... bagaimana cara
melaksanakannya? Semua orang mengetahui, bahwa
Benteng Langit dijaga ketat oleh lebih dari seribu
orang prajurit pilihan. Selain itu Benteng Langit
merupakan bangunan besar, terdiri dari ratusan kamar
dan lorong bangunan. Bagaimana kita dapat
menemukan kamar penjara Yap Tai-ciangkun?" '
Go-bi Sam-ci menatap A Liong sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa yang
dikatakan Ang-bin Kuai-jin itu memang benar, Anak
Muda, Kita tak mungkin menyerbu benteng di atas
pulau karang itu dengan segenap kekuatan kita. Selain
kita tidak punya perahu, kedatangan kita pun akan
mudah mereka ketahui. Sebelum kita dapat memanjat
dinding tembok, kita akan dihujani panah dan
tombak!"
A Liong tersenyum. Setelah memperkenalkan diri,
pemuda itu menerangkan pendapatnya. Sama sekali
tidak ada kesan sombong pada sikap dan cara
berbicaranya.
928
"Tentu saja kita tak perlu mengerahkan pasukan
besar hanya untuk mengetahui di mana Yap Taiciangkun
itu ditawan, Locianpwe! Apalagi kita juga
belum tahu, apakah Beliau masih hidup atau tidak!"
"Jadi, bagaimana menurut saran Saudara A Liong?"
Liu Wan mulai tertarik mendengar cara berbicara
pemuda itu.
"Kita kirimkan beberapa orang petugas pilihan
untuk menyusup ke dalam benteng itu. Setelah kita
tahu tempat di mana Yap Tai-ciangkun ditawan, kita
baru dapat mengatur siasat yang tepat untuk
membebaskannya
!"
Mereka saling
pandang dengan
kening berkerut.
Saran itu
sebenarnya
sederhana sekali,
tapi sungguh
tepat dan bagus.
Untuk
membebaskan
Yap Tai-ciangkun
memang tidak
boleh dilakukan
secara terangterangan.
Apalagi
oleh perkumpulan para pendekar seperti mereka.
929
"Bagus! Nah, kalau begitu.... siapa kira-kira yang
harus pergi ke benteng itu?" Ma Sing menjadi tertarik
pula dengan rencana tersebut.
A Liong menunduk sambil memegangi dagunya.
"Tentu saja yang pergi adalah mereka yang memiliki
kepandaian tinggi. Tapi yang jelas mereka bukan....
Locianpwe sekalian! Locianpwe sekalian sudah
dikenal orang banyak, termasuk petugas kerajaan,
sehingga tugas itu sangat berbahaya bagi nama dan
martabat Locianpwe. Sungguh berbahaya dan sangat
tidak enak dituduh sebagai pemberontak."
Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa
yang diucapkan pemuda itu memang benar serta
masuk akal. Mereka memang tak berani menanggung
resiko dicap sebagai pemberontak, yang berakibat
akan selalu dikejar-kejar oleh petugas kerajaan.
"Lalu.... kalau bukan para ketua perkumpulan, siapa
lagi...?" Liu Wan bertanya lirih.
A Liong mengangkat wajahnya. "Locianpwe harus
memilih empat atau lima orang di antara para
pendekar yang hadir malam ini! Dan mereka itu harus
memiliki kepandaian tinggi! Paling tidak harus sejajar
atau syukur lebih tinggi dari Locianpwe sekalian!
Selain daripada itu mereka harus siap untuk mati demi
tugas ini!" ucapnya kemudian dengan suara tegas dan
bersemangat.
"Aaaaaah...!" Semuanya berdesah.
"Bagus! Aku setuju!" Tiba-tiba Tiau Hek Hoa
berseru seraya melangkah menghampiri tempat itu.
930
"Rencana Saudara A Liong itu sangat baik. Aku
mendukungnya."
"Hmmh...!" Pemuda jangkung yang berada di
belakang Tiau Hek Hoa tadi menggeram dan terbatukbatuk.
"Ah, Li-hiap juga mendengarkan percakapan
kami?" Huang-ho Siang-kiam Ma Sing berkata kaget.
Tiau Hek Hoa berdiri di depan A Liong. Sorot api
unggun menerpa wajahnya yang hitam legam bak
pantat kuali itu.
"Maaf, Ma-locianpwe. Saudara A Liong ini
berbicara dengan keras dan bersemangat sehingga
telingaku juga mendengarnya."
Ma Sing menarik napas panjang. "Baiklah, tidak
apa-apa. Semua orang memang boleh mendengarnya,
asal dapat menyimpan dan merahasiakannya. Nah,
bagaimana pendapat Cu-wi sekalian dengan rencana
Saudara A Liong tadi?" Katanya kemudian kepada
para ketua perkumpulan itu.
"Aku setuju!" Liu Wan dengan cepat menjawab.
"Lo-hu juga sependapat! Rencana itu memang
hebat! Kalau boleh.... Lo-hu juga mau berangkat!"
Ang-bin Kuai-jin yang berangasan itu berseru pula.
"Wah, tentu saja tidak boleh, Kuai-jin! Wajahmu
banyak dikenali orang. Begitu para perajurit kerajaan
itu tahu, maka seluruh anggota Huang-ho Eng-hiong
kita akan diburu dan dimusnahkan oleh bala tentara
kerajaan! Kita memang harus memilih orang seperti
931
yang diusulkan oleh Saudara A Liong tadi." Pek-hou
tertawa sambil mmengelus-elus jenggotnya.
"Sudahlah! Cepat kita pilih orang yang akan
berangkat ke benteng itu! Nah, Ma Tai-hiap....
beberapa orang yang hendak kita pilih? Satu, dua,
atau.... sepuluh orang?" Go-bi Sam-ci menyela tak
sabar.
Setelah berpikir sebentar, Ma Sin&menjawab
perlahan. "Sebaiknya memang tidak boleh terlalu
banyak. Tetapi juga tidak boleh terlalu sedikit. Terlalu
banyak justru akan menyulitkan kerjasama mereka.
Tapi terlalu sedikit juga akan mengurangi
kemungkinan keberhasilan tugas itu. Yah, tampaknya
yang baik memang.... empat atau lima orang itu! Mudah
diatur, gampang menyusupnya, dan apabila
terlihat oleh lawan, maka salah seorang tentu dapat
menyelamatkan diri. Dan hal itu sudah cukup bagi
kita untuk mendapatkan keterangan."
"Bagus! Sekarang tinggal menentukan cara
memilihnya!"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing berdiri sambil
mengangkat tangannya. Sikapnya kelihatan serba
salah.
"Mencari orang terbaik berarti harus memilih calon
yang ada. Dan untuk menentukan pilihan, harus
dilihat dulu kemampuannya. Untuk melihat
kemampuan mereka, terpaksa harus diadu. Nah... ini
lah yang kurang kusukai!" Katanya sambil berpantun.
932
Hiruk-pikuk di tengah rawa terpencil itu tiba-tiba
berhenti! Semuanya memandang Huang-ho Siangkiam
Ma Sing. Mereka tidak tahu, apa yang sedang
dibicarakan oleh para pimpinan mereka. Namun yang
jelas Ma Sing baru saja berkata tentang pemilihan adu
silat.
Mereka berbisik satu sama lain. Dan sesaat
kemudian sorak-sorai pun kembali bergema di tempat
itu. Pengaruh arak telah membakar kegembiraan
mereka.
"Bagus! Bagus! Mari kita pilih jago kita malam
ini...!" Mereka bersorak dan berteriak kegirangan.
"Apa pendapatmu, Ciok-heng?" Ma Sing yang
tidak menyukai pertandingan silat itu meminta
pendapat Liu Wan.
"Waaah...! Repot juga!" Liu Wan bergumam
melihat kegembiraan para pendekar itu.
A Liong melangkah ke depan. Locian-pwe!
Bagaimana kalau diatur saja dengan cara yang lebih
aman? Para calon tidak perlu bertanding! Masingmasing
hanya diminta untuk menunjukkan
kemampuannya! Dan Locianpwe berlima yang akan
menjadi juri. Locianpwe tentu akan dapat memilih
jago yang dikehendaki!"
Ma Sing dan para ketua lainnya memandang A
Liong dan Liu Wan bergantian. Sejak semula mereka
memang tidak begitu memperhatikan A Liong.
Mereka percaya bahwa semua teman Ciok-Sin-she
adalah kawan seperjuangan mereka pula. Namun
933
sebenarnya mereka juga bertanya-tanya di dalam hati.
Apalagi anak yang masih sangat muda itu
kelihatannya amat disegani oleh yang lain.
Memang repot bagi Liu Wan untuk memberi
penjelasan. Di satu pihak dia sudah percaya penuh
kepada pemuda asing itu, tapi di lain pihak dia
memang tidak tahu banyak tentang asal-usulnya.
"Saudara A Liong.... semua orang mempunyai hak
untuk mengemukakan pendapatnya! Silakah! Siapa
tahu saranmu benar-benar memberi jalan keluar yang
baik?" Akhirnya Liu Wan berkata perlahan.
Ma Sing mengerutkan keningnya. "Tapi.... setiap
ilmu silat memiliki rahasia dan keistimewaannya
sendiri-sendiri. Kadang-kadang ilmu silat baru
menunjukkan kedahsyatannya setelah berhadapan
dengan lawan. Bagaimana mungkin kita bisa
menilainya?"
A Liong tersenyum pahit. "Benar, Locianpwe.
Usulku memang bukan yang terbaik, karena usul itu
hanya berpijak pada keinginan untuk menghindari
korban di antara kita. Sebab, apa yang kita perlukan
hanyalah memilih beberapa orang yang pantas
menerima tugas itu. Bukan mencari siapa yang paling
sakti di antara kita!"
"Ah, kau benar, Saudara A Liong! Maafkan aku...!"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing tergagap. Usul A
Liong itu sungguh tepat dan cocok dengan
keinginannya. Hilang semua kecurigaannya kepada
934
pemuda itu. Segera dimintanya pemuda itu
menjelaskan usulnya lebih lanjut.
A Liong menunjuk ke sebuah batu karang besar
yang tersembul di tengah-tengah rawa. Tempat itu
kira-kira sepuluh tombak jauhnya dari tempat itu. Air
tak terlalu dalam. Paling hanya sepuluh lutut orang
dewasa.
Persis di bagian atas batu karang itu terdapat
pecahan karang sebesar kambing. Berwarna hijau
lumut. Entah sudah berapa ratus tahun batu itu
bertengger di sana. Namun yang jelas, guyuran air
hujan serta hembusan angin di setiap musim, belum
mampu menggesernya dari tempat itu.
"Bagaimana kalau masing-masing calon diminta
untuk mengambil batu karang itu dan membawanya
ke sini, tanpa harus mempergunakan perahu atau
sampan?" A Liong mengutarakan pendapatnya.
Para ketua perkumpulan itu memandang A Liong
dengan wajah tak mengerti. "Maaf, aku kurang paham
maksud Saudara A Liong. Bukankah mudah sekali
untuk membawa batu itu ke mari? Walaupun besar,
tapi setiap pendekar tentu dapat mengangkatnya.
Apalagi air rawa ini juga tidak terlalu dalam." Go-bi
Sam-ci berkata perlahan.
"Ah, bukan begitu maksudku." A Liong buru-buru
menerangkan. "Mereka tidak boleh masuk ke dalam
air. Mereka harus berloncatan di atas lima buah patok
kayu, yang akan kita tancapkan di dalam rawa. Nah,
935
selanjutnya.... tinggal para penguji yang menilai
kemampuan mereka."
Pek-hou dan Ang-bin Kuai-jin bertepuk tangan.
Mereka berdua merasa bahwa ujian itu benar-benar
berat. Bahkan mereka sendiri belum tentu dapat
melakukannya.
"Bagus! Rencana yang bagus sekali! Kita akan
menyaksikan kehebatan ilmu silat para anggota
perkumpulam kita."
Akhirnya semua orang menyetujui usul itu. Liu
Wan dan Ma Sing tersenyum sambil menganggukanggukkan
kepala mereka. Bahkan Liu Wan segera
menggamit lengan A Liong.
"Kau juga ikut bukan?"
"Harus! Dia yang mengusulkan, maka dia harus
dapat pula melakukannya!" Para ketua perkumpulan
itu menyahut berbareng.
"Lhoh? Ini.... ini...?" A Liong gelagapan.
Demikianlah, Ma Sing lalu mengumumkan niatnya
untuk memilih lima orang jago silat di antara mereka.
Dikatakan pula bahwa para jago yang terpilih nanti
akan mendapatkan tugas penting dari perkumpulan
mereka.
Para pendekar itu kembali bersorak gembira.
Walaupun syarat .atau ujian itu sangat berat, tetapi
pertandingan itu akan benar-benar menyemarakkan
suasana. Bagi mereka tiada kegembiraan lain selain
pertandingan silat.
936
Begitu Ma Sing memberi tanda, maka beberapa
orang segera maju ke depan. Bergantian mereka
mencoba menyeberangi rawa tersebut. Dan orang pun
segera tergelak-gelak ketika satu persatu mereka
terjungkal ke dalam air. Tak seorang pun yang mampu
mencapai seberang. Meski berkepandaian tinggi,
tetapi mereka tidak biasa berloncatan di atas patok
kayu.
Semakin malam suasana pertandingan menjadi
semakin seru. Ada beberapa pendekar yang memiliki
ginkang tinggi, sehingga dapat mencapai seberang.
Tapi mereka segera tenggelam begitu kembali dengan
batu karang itu. Ada yang terpeleset, tetapi ada pula
yang langsung tercebur ke dalam rawa. Dan mereka
harus segera mengembalikan batu tersebut ke asalnya.
"Ang-heng, cobalah...!" Pek-hou yang mengetahui
kehebatan ginkang Ang Jit Kun mencoba
mendesaknya.
"Yaaaah, kalau tidak membawa beban apa-apa....
memang mudah berlompatan di atas kayu itu! Tapi
kalau harus membawa beban berat, waaah.... ya sulit!"
Si Pencuri Sakti Ang Jit Kun menggerutu.
"Waduh! Kalau saja kau tidak mampu, lalu... siapa
lagi yang akan dapat melakukannya?" Ketua Lionggi-
eng itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ang Jit Kun melirik ke arah Liu Wan. Sebagai
pembantu dekat, tokoh itu tahu banyak tentang tingkat
kesaktian Liu Wan.
937
Tapi Liu Wan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ah! Aku juga tidak dapat melakukannya, Ang-heng!
Perguruanku lebih mengutamakan lweekang daripada
ginkang. Kalau aku dapat membawa batu itu ke mari,
maka cara yang kupergunaka tidak akan memenuhi
syarat."
"Apa maksud Ciok-heng?" Go-bi Sam-ci bertanya
bingung.
"Ah, lihatlah.... ada yang ingin mencoba lagi!" Liu
Wan buru-buru mengalihkan perhatian.
Di tepi rawa telah berdiri seorang pemuda jangkung
kurus, berpakaian serba hitam. Dan Ma Sing segera
mengenalnya sebagai pemuda asing, yang tadi berdiri
tidak jauh di belakang Tiau Hek Hoa. Wajahnya
tampan, namun kelihatan muram dan tidak gembira.
Bahkan sorot matanya berkesan dingin menakutkan,
seperti mata serigala di kegelapan malam.
Setelah diam sejenak, pemuda itu lalu melompat
tinggi ke udara. Patok kayu pertama dilewatinya.
Tubuhnya tetap melayang ke depan. Pada saat
melayang turun ke patok berikutnya, ia berjungkir
balik beberapa kali untuk mengurangi berat tubuhnya.
Ternyata pada patok kayu yang ke dua, pemuda itu
juga tidak mendaratkan kakinya. Pada saat tubuhnya
melayang turun, pemuda itu dengan tenang justru
mencopot ikat pinggangnya! Sebuah ikat pinggang
terbuat dari kain putih sepanjang satu tombak lebih.
Taaaar...! Tiba-tiba pemuda itu menyabetkan ujung
ikat pinggangnya ke patok kayu! Dan.... huuuup!
938
Tubuh yang hampir menyentuh air itu sekonyongkonyong
melenting ke atas lagi seperti bola karet!
Bahkan daya luncurnya menjadi lebih cepat lagi,
sehingga patok kayu yang ke tiga pun terlewati pula!
Ketika tubuhnya mulai menukik ke patok yang ke
empat, pemuda itu bergegas mengayun kembali ikat
pinggangnya ke bawah!
Taaaarrrr...! Pemuda itu kembali melenting ke
depan, menuju ke patok yang ke lima, dan selanjutnya
dengan tumpuan patok kayu tersebut dia melesat ke
batu karang!
Tidak terasa semuanya menahan napas. Ilmu
meringankan tubuh pemuda itu sungguh hebat sekali.
Jauh lebih baik dari ginkang para ketua perkumpulan
mereka. Maka tak mengherankan kalau sesaat
kemudian terdengar suara gemuruh tepuk tangan dan
teriakan mereka! "Huuuuraaaa! Hurrra...!" Tak
seorang pun yang tidak takjub melihat gerakan itu.
Bagi mereka, pemuda itu tak ubahnya seekor burung
elang yang terbang rendah di atas air. Di mana pada
saat-saat tertentu kukunya menghunjam ke dalam air
untuk menyambar ikan.
"Bukan main!" Para ketua perkumpulan itu
berdesah kagum.
"Siapakah dia...?" Ma Sing hampir tidak percaya
pula.
Belum juga pertanyaan tersebut terjawab, soraksorai
di tempat itu terhenti! Ternyata pemuda itu telah
mulai memperlihatkan kesaktiannya lagi! Batu karang
939
yang diperlombakan itu telah berada di dalam
pelukannya.
Ketika semua orang masih menduga-duga, apa
yang hendak dilakukan oleh pemuda itu, ternyata
pemuda tersebut sudah lebih dulu melemparkan batu
karang itu ke patok kayu yang terdekat. Wus...! Dan
pemuda itu bergegas mengejarnya!
Namun dengan mengerahkan segala
kemampuannya, ternyata pemuda itu bergerak jauh
lebih gesit dan lebih cepat dari pada batunya. Ternyata
pemuda itu lebih dulu mendaratkan kakinya di patok
kayu. Kemudian
sebelum batu itu
menimpa
kepalanya,
pemuda itu lebih
dulu
menyongsongnya
dengan sabetan
tali ikat
pinggangnya!
Srrrt! Batu
karang itu terbelit
ujung ikat
pinggang!
Selanjutnya
dengan sekali
hentak, maka batu
940
tersebut kembali terlempar ke atas melewati
kepalanya!
Pemuda itu cepat berbalik dan melesat
mengejarnya. Dan seperti tadi, maka dia pun lebih
dulu mendarat di patok kayu berikutnya. Kemudian
dia mengulangi pula caranya tadi. Dan beberapa saat
kemudian dia telah berhasil membawa batu karang itu
ke depan Huang-ho Siang-kiam Ma Sing!
Sekali lagi tempat itu gemuruh dengan suara tepuk
tangan!
Go-bi Sam-ci melesat ke depan. Sambil
merangkapkan kedua telapak tangannya bekas ketua
Kong-sim-pang itu mengawasi tamunya.
"Tampaknya Saudara telah berhasil lulus dari ujian
ini. Namun demikian kami perlu mengetahui asal-usul
Saudara dulu, sebelum kami berlima menetapkan
sebagai pemenang...."
Pemuda jangkung kurus itu tidak segera menjawab.
Sebaliknya dari balik kerumunan tamu yang datang,
tiba-tiba muncul seorang lelaki separuh baya yang
berlari ke arah mereka. Lelaki itu mengenakan
pakaian sederhana, yang biasa dipakai oleh orangorang
di daerah pedalaman. Meskipun demikian Go-bi
Sam-ci maupun para ketua yang lain segera mengenal
orang itu, karena dia tidak lain adalah Yo Keng,
utusan Kong-sun Goan-swe!
"Yo-ciangkun...!" Semua orang yang hadir di
tempat itu bergumam pendek.
941
"Go-bi Sam-ci, jangan khawatir! Aku yang
membawa pemuda ini. Kita semua dapat
mempercayainya!" Yo Keng berkata lantang.
Kemudian Yo Keng mendekati Ma Sing. "Maheng,
kau juga tidak perlu meragukan pemuda ini. Dia
seorang pendekar pengembara. Namanya Chin Tong
Sia. Dia telah menyelamatkan aku dari keganasan
pasukan Mo Tan. Bahkan dia juga telah
menyelamatkan, aku dari perangkap Si Tongkat Bocor
Ho Bing di kota Leng-fu!"
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing tersentak kaget. "Si
Tongkat Bocor Ho Bing? Bukankah dia sering terlihat
di istana Au-yang Goanswe? Mengapa pengemis itu
ingin menangkap Yo-ciangkun? Apakah dia mau
memberontak?"
"Ah, entahlah, Ma-taihiap. Tampaknya memang
ada sesuatu yang tak beres di kota raja. Suasananya
tidak seperti dulu lagi. Pengaruh Au-yang Goanswe
terasa di mana-mana. Tidak hanya di kalangan prajurit
pengawal istana, tapi di kalangan para pejabat
kerajaan pun pengaruhnya sangat kuat. Aah....
tampaknya kecurigaan Kong-sun Goanswe selama ini
memang benar. Kota raja telah dikuasai para pengikut
Au-yang Goanswe!"
Para ketua partai persilatan itu menghela napas.
Huang-ho Siang-kiam Ma Sing menganggukkan
kepalanya.
"Baiklah, Yo Ciang-kun. Nanti kita bicarakan lebih
lanjut masalah itu. Sekarang kita lihat dulu
942
kemampuan para pendekar muda kita. Saudara Chin,
silakan beristirahat dulu! Kau kami nyatakan
berhasil...."
"Bagus! Kalau begitu aku juga ingin mencobanya!
Hih...!" Tiba-tiba Tiau Hek Hoa berseru nyaring.
Tubuhnya yang mungil itu melesat ke depan, lalu
menyambar batu karang hijau di tengah arena.
Sebelum semuanya mengetahui apa yang terjadi,
gadis berkulit hitam itu telah terbang ke dalam rawa!
Gerakan gadis itu memang lebih teat disebut
terbang daripada melompat. Dengan memeluk batu
karang tersebut di dadanya, dia berloncatan di atas
patok kayu, laksana seekor lebah betina yang pulang
membawa hasil buruannya!
Sekejap saja batu karang itu telah bertengger
kembali di tempatnya semula! Maka tidaklah
mengherankan kalau sedetik kemudian tempat itu
seperti diguncang oleh suara riuh tepuk-tangan para
pendekar yang hadir!
Pemuda jangkung yang tidak lain adalah Put-tongsia
atau Chin Tong Sia dari Beng-kau itu merah
padam melihatnya. Hampir saja ia melompat dan
menerjang gadis yang berani mengaku orang dari
Beng-kau itu. Untunglah dia segera dapat meredam
perasaannya.
"Lebih baik kubiarkan saja ia ikut ke Benteng
Langit. Akan kuselidiki apa maksud dan tujuannya ia
menyamar sebagai orang Beng-kau ...." Put-tong-sia
berkata di dalam hatinya.
943
Tampaknya kehebatan ilmu silat Put-tong-sia dan
Tiau Hek Hoa tadi sangat menggelitik hati Souw
Hong Lam pula. Terbukti pemuda ganteng itu cepat
berdiri begitu Tiau Hek Hoa kembali ke tempatnya!
Liu Wan dan A Liong menoleh. Terlambat! Mereka
hanya melihat bayangan Souw Hong Lam berkelebat.
Di lain saat pemuda ganteng itu telah melayang di atas
permukaan air. Mantel hitamnya yang lebar itu
berkibar indah di belakangnya. Sepintas lalu bagaikan
sayap burung rajawali yang berkepak melawan angin.
Dia hanya memanfaatkan sebuah patok saja di antara
lima buah patok kayu itu. Jarak sejauh itu hanya
ditempuh dalam dua kali lompatan!
Sebelum orang-orang di tempat itu sadar apa yang
terjadi, Souw Hong Lam telah berada di seberang.
Dan ketika semuanya tersentak kaget melihat ulahnya,
Souw Hong Lam telah melesat kembali dengan batu
karang di dalam pelukannya. Tubuhnya melayang
seperti induk rajawali pulang ke sarangnya. Batu
besar itu seakan-akan tak berbobot sama sekali di
tangannya.
Kedatangan Souw Hong Lam disambut lebih
meriah daripada Chin Tong Sia maupun Tiau Hek
Hoa. Mereka merasa telah mendapatkan seorang jago
sakti lagi.
Sementara itu para ketua perkumpulan tampak
saling lirik lagi. Mereka merasa heran karena tak
terduga hari itu muncul jago-jago muda yang
berkepandaian sangat tinggi. Bahkan mereka merasa
944
bahwa ginkang ketiga anak muda itu boleh dikatakan
di atas mereka.
"Heran! Rasanya hanya Ketua Pusat Im-yang-kau
saja yang mampu berbuat seperti itu!" Huang-ho
Siang-kiam Ma Sing yang juga Ketua Cabang Imyang-
kau bagian utara itu bergumam pelan.
Liu Wan bertepuk tangan pula. "Bagus! Sudah tiga
jago yang kita dapatkan Nah, Saudara A Liong....
sekarang giliranmu!"
"Benar! Ayoh, Saudara A Liong...! Kau yang
memilin permainan ini! Kau yang harus
menyelesaikannya!" Pek Hou berteriak keras, diikuti
pula oleh yang lain.
"Ayolah, Saudara A Liong!" Ma Sing ikut
mendesak pula.
A Liong tidak dapat menghindar lagi. Menolak
permintaan mereka berarti mengecewakan banyak
orang. Terpaksa dia melangkah ke rawa.
Sebenarnya berloncatan di atas patok kayu itu
merupakan pekerjaan mudah bagi A Liong. Bersama
kedua gurunya, Soat Ban Ong dan Bok Kek Ong, dia
sudah biasa bermain-main di atas ombak hanya
dengan alas kaki dari tulang ikan paus. Tapi sekarang,
di depan para pendekar persilatan, dia tak mau
menyombongkan diri. Dia akan menyeberang dan
mengembalikan batu itu ke tempatnya, tapi dengan
cara biasa. Tanpa mengeluarkan ilmunya yang anehaneh.
945
A Liong bersiap-siap. Setelah mengerahkan
sebagian dari tenaga saktinya, dia mengangkat batu
karang yang dibawa Souw Hong Lam tadi ke
pundaknya. Gerakannya berkesan lamban dan kurang
bertenaga. Bahkan ketika berloncatan di atas patok
kayu, tubuhnya tampak limbung serta nyaris jatuh ke
dalam air.
Namun demikian sampai juga pemuda itu ke
seberang dengan selamat.
Kembalinya lebih mudah daripada perginya. Tanpa
beban batu karang itu, A Liong dengan cepat
menyeberang dan kembali di tempat semula. Dan
kedatangannya disambut dengan tepuk tangan riuh.
"Bagus...!" Walaupun kurang puas dengan
penampilan A Liong, tapi Ma Sing tetap gembira
dengan hasilnya.
Karena jago yang diinginkan baru empat orang,
padahal yang dibutuhkan lima orang, maka ujian terus
dilaksanakan. Namun hingga bulan melorot ke barat,
tiada lagi orang yang mampu menyeberangkan batu
karang itu. Ang Jit Kun, yang terkenal memiliki ginkang
tinggi, ternyata juga gagal menyelesaikan
permainan tersebut. Kakinya tergelincir pada saat
membawa batu karang.
"Sudahlah. Tampaknya tiada lagi yang dapat
menyeberangkan batu itu. Bagaimana pendapatmu,
Ciok-heng?" Huang-ho Siang-kiam Ma Sing meminta
pendapat Liu Wan.
946
"Kalau memang demikian, yaaa.... apa boleh buat!
Rasanya empat orang pun sudah dapat berjalan pula.
Bagaimana pendapat rekan-rekan yang lain?"
"Aku mempunyai usul! Bagaimana kalau Ciok Sinshe
ikut dalam rombongan itu...?" Ang-bin Kuai-jin
yang sejak tadi jarang sekali bersuara, tiba-tiba
memotong.
"Maksud Kuai-jin...?" Pek Hou dan Go-bi Sam-ci
bertanya hampir bersamaan.
Ang-bin Kuai-jin menarik napas sambil mengawasi
jago-jago muda yang baru saja terpilih itu.
"Maaf! Lo-hu tidak bermaksud memandang rendah
kemampuan para pendekar muda ini. Tapi kurasa....
mereka perlu seorang pendamping yang memiliki
pengalaman dan wawasan luas. Lo-hu percaya, ilmu
silat mereka, sulit dicari bandingannya. Tapi untuk
menghadapi rintangan dan jebakan di dalam benteng
itu perlu adanya seorang pendamping yang
berpengalaman."
"Bagus. Lo-hu juga sependapat. Tapi.... mengapa
harus Ciok Sin-she, dan bukan yang lain?" Pek Hou
menyela.
"Ah, rasanya aku bisa menebak jalan pikiran Angbin
Kuai-jin.. Selain banyak pengalaman, Ciok Sinshe
juga mahir ilmu pengobatan. Eeee, siapa tahu ada
yang terluka dalam tugas itu nanti?" Huang-ho Siangkiam
Ma Sing memotong.
"Waaaah...!" Liu Wan pura-pura mengeluh, padahal
di dalam hati dia memang ingin berangkat pula.
947
Demikianlah Ma Sing lalu melakukan perundingan
rahasia dengan para pembantu dekatnya. Dan pada
malam itu juga rombongan penyelidik ke Benteng
Langit diberangkatkan. Mereka terdiri atas Chin Tong
Sia, Tiau Hek Hoa, Souw Hong Lam, A Liong, dan
Liu Wan!
Rombongan itu berangkat secara diam-diam.
Mereka menggunakan dua buah sampan kecil. A
Liong bertiga dengan Chin Tong Sia dan Tiau Hek
Hoa, sedangkan Liu Wan berdua dengan Souw Hong
Lam.
Ketika fajar mulai menyingsing mereka telah
meninggalkan rawa Tai-bong-sui itu. Sekarang
mereka berada di perbatasan Propinsi Shan-si dan Honan.
Mereka berjalan ke selatan, menyusuri hutan
cemara yang terbentang luas sampai di Sungai Huangho.
Di sepanjang jalan Liu Wan mengakrabkan jalinan
persaudaraan mereka. Tapi usahanya agak sedikit
mengalami kesulitan. Mereka terdiri dari anak-anak
muda yang belum saling mengenal sebelumnya. Maka
tak mengherankan kalau mereka masih saling curigamencurigai.
Hanya A Liong saja yang kelihatan santai
dan acuh.
Mereka berhenti ketika matahari mulai
memperlihatkan kekuatannya. Kebetulan mereka
berada di sebuah kota kecil yang cukup ramai. Bahkan
mereka melihat banyak toko dan warung makan di
pinggir jalan.
948
"Ciok Sin-she, sebaiknya kita makan dahulu di kota
ini. Atau paling tidak kita singgah sebentar untuk
mencari bekal. Perjalanan kita masih panjang, dan
rasanya kita takkan dapat lagi menemukan tempat
seperti ini." Tiau Hek Hoa berkata kepada Liu Wan.
"Kau benar, Lihiap. Aku juga pernah melewati
jalan ini. Perjalanan selanjutnya memang hanya lewat
di hutan dan tanah gersang. Padahal kita masih
membutuhkan waktu dua hari lagi untuk mencapai
Sungai Huang-ho...."
Demikianlah, mereka lalu masuk ke sebuah warung
kecil yang hanya menyediakan empat buah meja. Di
mana salah satu mejanya telah terisi oleh tiga orang
tamu lain.
Kulit Tiau Hek Hoa yang hitam itu segera menarik
perhatian mereka. Kulit gadis itu memang terlalu
hitam, sehingga tidak mengherankan bila orang
merasa aneh melihatnya.
Sebaliknya Tiau Hek Hoa sendiri seperti tidak
peduli terhadap mereka. Dia justru mendahului
kawan-kawannya untuk memilih meja.
Liu Wan, Souw Hong Lam, Chin Tong Sia, dan A
Liong juga tidak peduli pula. Mereka berempat
berjalan dengan tenang di belakang Tiau Hek Hoa.
Meskipun demikian perhatian Chin Tong Sia tak
pernah lepas dari sekelilingnya.
"Silakan masuk...!" Pemilik warung menyambut
kedatangan mereka sambil melirik ke wajah Tiau Hek
Hoa.
949
Tiau Hek Hoa tetap acuh. Sambil melangkah ia
melemparkan beberapa keping uang tembaga ke atas
nampan si pemilik warung itu.
"Hidangkan masakan yang paling enak untuk kami
berlima! Uang itu sebagai ongkos pelayananmu!
Cepatlah...!" Gadis itu berkata datar tanpa
memalingkan mukanya.
Pemilik warung itu terbelalak. Tapi sekejap
kemudian wajahnya berubah menjadi gembira bukan
main. Seperti orang yang baru mendapatkan lotere, ia
bergegas ke dapur untuk menyiapkan hidangan.
"Lihiap...?" Liu Wan mengerutkan dahinya melihat
keroyalan gadis itu.
Tapi Tiau Hek Hoa cepat merangkapkan kedua
tangannya di depan dada. "Maaf, Ciok Sin-she.
Biarlah aku yang membayar makanan. Tampaknya
orang itu lebih menghormati uang daripada
perempuan jelek seperti aku ini."
"Tiau-lihiap...! Jangan berprasangka begitu...!" Liu
Wan berkata kikuk.
"Waduh perutku sudah keroncongan. Ciok Sin-she,
Tiau-lihiap, ayolah...! Kita duduk sambil berbicara
tentang rencana kita nanti!" A Liong tiba-tiba
menyela untuk menghilangkan suasana yang kurang
menyenangkan itu.
Ternyata Souw Hong Lam dan Chin Tong Sia juga
sependapat dengan ucapan A Liong. Mereka segera
duduk mengitari meja. A Liong lalu mengangguk
950
kepada Liu Wan, yang mereka anggap sebagai
pimpinan rombongan itu.
"Nah, Ciok Sin-she. Bagaimana rencana kita?
Berilah kami keterangan dan penjelasan, agar semua
tindakan kita selalu terpadu dan tidak bertindak
menurut keinginan masing-masing."
Liu Wan tertegun sebentar, lalu tersenyum. Dia
benar-benar kagum melihat sikap dan penampilan
pemuda bertubuh kekar itu. Usianya masih amat
muda, tapi pikiran dan pembawaannya sungguh
sangat tenang dan matang.
"Kau benar, Saudara A Liong! Kita memang harus
merundingkan dulu rencana kita...." Liu Wan
mengangguk.
Demikianlah, sambil menantikan hidangan, Liu
Wan lalu memberitahukan rencana perjalanan mereka
nanti. Pertama, mereka menuju ke desa Luang-cung di
tepi Sungai Huang-ho. Dari sana mereka akan
menempuh perjalanan melalui sungai. Mereka akan
berperahu menyusuri Sungai Huang-ho sampai ke
Benteng Langit.
"Nanti kita rundingkan lagi cara memasuki benteng
itu setelah kita dapat melihat dan mengetahui
keadaannya...." Liu Wan mengakhiri keterangannya.
Sementara itu makanan telah dihidangkan. Mereka
lalu bersantap bersama. Dan A Liong yang tidak
pernah belajar tata cara makan bersama itu segera
menyerbu hidangan tanpa malu-malu lagi. Sejak kecil
sampai berada di bawah bimbingan kedua gurunya
951
pemuda itu tidak pernah belajar tata krama. Dia hahya
tahu tentang baik buruk, serta menghormati orang
lain, terutama orang yang lebih tua. Tetapi pemuda itu
tak pernah belajar tentang cara berprilaku dan
bertatakrama dalam menghadapi orang lain.
Cara makan A Liong yang bebas dan seenaknya itu
memang sedikit mengganggu Tiau Hek Hoa. Kaki A
Liong yang diangkat ke atas kursi serta cara melahap
makanan dengan jari tangan itu, berkesan liar dan
urakan. Sebagai gadis terpelajar dan terhormat, gadis
itu merasa risih juga melihatnya.
Tapi apa boleh buat, A Liong sendiri seperti tidak
pernah merasa bersalah atau peduli dengan sikapnya.
Begitu pula dengan anggota rombongan lainnya.
Semuanya juga bersikap acuh saja melihat cara makan
A Liong, sehingga Tiau Hek Hoa terpaksa berdiam
diri pula.
Sikap A Liong sungguh amat berbeda dengan Souw
Hong Lam. Pemuda ganteng itu bersikap halus,
tenang, sopan, dan penuh tatakrama. Caranya makan
pun amat sopan dan berhati-hati. Bahkan terlihat lebih
sopan daripada Tiau Hek Hoa.
Ketika pemilik warung itu lewat di dekat mereka,
Tiau Hek Hoa menghentikannya.
"Paman....! Di mana kami dapat membeli kuda?"
"Kuda....? Apakah Cu-wi hendak membeli kuda?
Wah, banyak sekali pedagang kuda di sini. Kebetulan
sekali daerah ini memang daerah peternakan kuda.
952
Tetapi kalau Nona menginginkan kuda yang bagus,
sebaiknya pergi saja ke peternakan Kim Wan-gwe!"
"Kim Wan-gwe...? di mana tempatnya?"
"Peternakannya berada di sebelah selatan kota ini.
Tapi hati-hati dengan para centengnya, Mereka galakgalak.
Apalagi Kim Wan-gwe jarang berada di
rumahnya. Dia lebih sering berada di kota."
"Di kota Lu-fan maksudmu?"
Pemilik warung itu mengangguk.
Liu Wan memandang Tiau Hek Hoa. "Lihiap
hendak membeli kuda? Tapi.... kita tidak boleh
berangkat sendiri-sendiri. Rombongan ini harus selalu
bersama-sama!"
Gadis itu balik menatap wajah Liu Wan yang
tertutup oleh penyamarannya. "Sin-she, aku tidak
bermaksud berangkat sendiri. Kebetulan aku ada
uang. Aku akan membeli lima ekor kuda sekaligus
untuk kita."
"Ah, maafkan aku. Tapi rasanya Lihiap tak perlu
membuang-buang uang sebanyak itu. Harga kuda
terlalu mahal. Apalagi harus membeli lima ekor...."
"Benar. Kita berjalan kaki saja. Aku tak biasa naik
kuda. Malah repot nanti...." A Liong yang belum
pernah naik kuda itu juga berseru. Mulutnya masih
penuh dengan makanan.
Tiba-tiba salah seorang dari tiga tamu yang duduk
di dekat mereka bangkit berdiri. Dia memberi hormat
kepada Tiau Hek Hoa.
953
"Maaf. Nona hendak membeli kuda? Kami, eh....
kami kebetulan juga mau menjual kuda. Mungkin
Nona berminat membelinya?"
Tiau Hek Hoa bangkit pula dari tempat duduknya.
Tanpa rasa curiga ia membalas penghormatan orang
itu. "Cu-wi ingin menjual kuda? Bagus! Boleh aku
melihatnya dulu...?"
Ketiga orang tamu itu cepat membayar
makanannya, lalu mengajak Tiau Hek Hoa keluar.
Dan tanpa sungkan-sungkan lagi gadis itu segera
mengikuti pula.
"Ciok Sinshe, aku akan melihat kuda mereka.
Sebentar saja!" Gadis itu berkata kepada Liu Wan.
"Nona, kau belum selesai makan, bukan? Mengapa
tidak kau habiskan dulu?" Pemilik warung itu tibatiba
berseru dari mejanya. Wajahnya kelihatan pucat.
Tiau Hek Hoa tidak menjawab. Dia tetap
melangkah keluar mengikuti pedagang kuda itu.
Chin Tong Sia mengerutkan keningnya. Dia tak
mau kehilangan gadis itu. Dia harus tahu siapa gadis
yang mengaku anggota Aliran Beng-kau tersebut.
"Nona Tiau, kubantu kau memilih kuda. Aku
mempunyai banyak pengalaman soal kuda...." Chin
Tong Sia berseru dan bangkit pula dari kursinya.
Tiau Hek Hoa menoleh, tapi tidak mengatakan apaapa.
Dia juga tidak peduli ketika Chin Tong Sia
mengikutinya. Wajah yang hitam itu benar-benar sulit
ditebak hatinya.
954
Mereka masuk ke dalam pasar. Dan kebetulan hari
itu merupakan hari besar, sehingga pedagang dari luar
kota pun datang membanjiri pasar itu. Maka tidak
mengherankan kalau tempat itu menjadi ramai sekali.
Begitu berjejalnya sehingga Chin Tong Sia mendapat
kesulitan mengikuti langkah Tiau Hek Hoa. Malah
sebentar kemudian bayangan gadis berkulit hitam itu
telah hilang bersama tiga orang yang diikutinya.
"Wah, cepat benar! Ke mana mereka tadi?"
Karena kehilangan jejak maka Chin Tong Sia lalu
berjalan sekenanya. Matanya tajam mengawasi orangorang
di sekelilingnya. Namun bayangan Tiau Hek
Hoa dan para pedagang kuda itu sama sekali tak
kelihatan.
Demikianlah setelah berputaran ke sana ke mari
tanpa hasil, Chin Tong Sia Lalu keluar dari pasar.
Perlahan-lahan dia melangkah kembali ke tempat di
mana kawan-kawannya menunggu. Sambil berjalan
matanya masih tetap melirik ke sana ke mari, mencari
gadis bermuka hitam itu.
Tiba-tiba matanya terbelalak. Jauh di ujung jalan
matanya menangkap berkelebatnya bayangan Tiau
Hek Hoa di antara para pejalan kaki yang lain. Gadis
itu berjalan bersama seorang pemuda. Ketika Chin
Tong Sia mencoba melongok lebih jelas lagi,
bayangan gadis itu telah berbelok ke sebuah gang
kecil.
Chin Tong Sia berlari secepatnya, sehingga orangorang
di sekitarnya hanya melihat bayangan hitam dan
955
hembusan angin yang amat kuat melewati mereka.
Namun demikian, ketika Chin Tong Sia sampai di
gang kecil itu, bayangan Tiau Hek Hoa telah hilang
pula.
"Gila! Permainan apa yang sedang ia lakukan?
Jelas tadi aku melihatnya berjalan bersama seorang
lelaki di sini? Ke mana dia?"
Sambil menggeram Chin Tong Sia masuk ke dalam
gang kecil itu. Di depan sebuah rumah besar bercat
putih dan berhalaman luas dia berhenti. Pintu gerbang
halaman rumah itu masih terbuka sedikit, seakan-akan
baru saja dibuka orang.
Chin Tong Sia melongok ke dalam. Dan ia segera
melihat lelaki yang berjalan bersama Tiau Hek Hoa
itu di sana. Lelaki itu berdiri di halaman bersama tiga
orang temannya.
"Hei? Tiga orang itu...? Bukankah mereka para
pedagang kuda itu? Bagus! Jadi.... aku memang tidak
salah masuk!"
Tanpa berpikir dua kali Chin Tong sia segera
menerobos masuk. Dan tanpa berbasa-basi pula ia
menghadapi lelaki muda itu. Sebagai orang Beng-kau,
Chin Tong Sia memang tidak pernah mempedulikan
aturan dan sopan santun.
. "Maaf, aku sedang mencari temanku. Kulihat dia
masuk ke sini. Di mana dia?" .
Namun sungguh mengherankan. Keempat orang itu
sama sekali tidak kaget melihat kedatangan Chin
Tong Sia. Bahkan mereka kelihatan tenang sekali,
956
seolah-olah memang sedang menantikan Chin Tong
Sia.
"Orang inikah yang telah mempecundangimu, Ho
Bing?" Lelaki yang ternyata masih sebaya A Liong itu
menoleh ke pendapa.
Chin Tong Sia melihat ke pendapa. Hatinya
berdegup keras. Si Tongkat Bocor Ho Bing yang telah
gagal menghadang Yo Keng dan dirinya di kota Lufeng
itu tampak berdiri geram memandangnya. Di
sebelahnya juga berdiri Tiat-tou dan Siang-kim-eng,
pembantunya.
"Benar, Kongcu. Dialah orangnya! Huh! Di mana
perwira yang kaulindungi itu?" Ho Bing menghardik
ke arah Chin Tong Sia.
Chin Tong Sia sadar bahwa dia telah terperangkap
dalam sarang musuh. Dan melihat sikap Ho Bing yang
garang, dia yakin orang itu telah memiliki sandaran
kokoh di tempat tersebut.
Chin Tong Sia bersiap-siap. Perasaannya
mengatakan bahwa pemuda tampan di depannya
itulah yang menjadi sandaran Ho Bing. Dan dari
sikapnya Chin Tong Sia yakin, bahwa pemuda itu
merupakan lawan yang tangguh. Bahkan dari getaran
suaranya, Chin Tong Sia juga yakin bahwa pemuda
itu memiliki tenaga dalam amat sempurna.
"Anak muda berpakaian bagus ini tentu lihai
sekali...." Chin Tong Sia berkata di dalam hatinya.
957
Pemuda tampan itu melangkah mendekati Chin
Tong Sia. "Bagus. Kalau begitu orang ini harus
dibunuh karena telah berani mengganggu tugasmu."
"Tahan! Siapa kau ini? Apakah kau seorang
pangeran dari kota raja? Atau.... kau masih keluarga
dari Au-yang Goanswe?" Melihat pemuda itu datang
bersama Ho Bing, maka Chin Tong Sia menyangka
lawannya itu berasal dari kota raja.
"Au-yang Goanswe? Huh! Tak ada sangkut pautnya
aku dengan manusia tamak dan licik itu! Aku adalah
Mo Hou, putera Mo Tan, raja suku bangsa Hun yang
besar!"
Bukan main terkejutnya Chin Tong Sia. Tak
disangka-sangka dia berjumpa dengan putera Raja Mo
Tan di tempat itu. Otomatis seluruh urat-urat Chin
Tong Sia menegang. Dia sering mendengar bahwa
putera-puteri Mo Tan memiliki ilmu silat yang tinggi
sekali.
"Oh, jangan-jangan Tiau Hek Hoa itu juga.... puteri
Mo Tan!" Tiba-tiba Chin Tong Sia membatin.
Tapi sebelum pemuda itu bertanya lebih lanjut, Mo
Hou telah lebih dahulu menyerang. Mo Hou
mengibaskan lengan kirinya ke depan, menyerang
wajah Chin Tong Sia.
"Ho Bing mengatakan bahwa kau bernama Chin
Tong Sia atau Put-tong-sia, dan berasal dari aliran
Beng-kau! Orang selalu bercerita bahwa ilmu silat
aliran Beng-kau sangat tinggi! Tapi, aku tidak
percaya! Coba, kauperlihatkan ilmumu kepadaku!"
958
Angin tajam menyambar kepala Chin Tong Sia.
Tapi dengan sigap Chin Tong Sia menarik kepalanya
ke belakang. Kemudian dalam waktu yang hampir
bersamaan dia bergeser ke kanan sambil melontarkan
pukulan lurus ke belakang kepala Mo Hou. Chin Tong
Sia tak mau berbasa-basi pula. Tiga perempat dari
tenaga saktinya membanjir keluar mendorong
pukulannya. Perbawanya sungguh menggetarkan hati.
Mo Hou kaget bukan main. Putera Raja Mo Tan
yang terlalu percaya akan kehebatan ilmunya itu sama
sekali tidak percaya kalau lawannya memiliki
kecepatan dan tenaga dalam sedahsyat itu.
Pukulan itu hampir saja mengenai kepala Mo Hou.
Untunglah pada saat-saat terakhir pemuda itu masih
dapat menghindarinya. Namun demikian tali pengikat
rambutnya tetap saja terlepas bersama beberapa helai
rambutnya, sehingga rambut yang panjang itu terurai
lepas menutupi bahu. Bahkan butir-butir mutiara yang
menghias tali pengikat rambut itu juga ikut terlempar
entah ke mana.
Wajah Mo Hou menjadi merah padam. Karena
terlalu memandang rendah lawan, hampir saja dia
kehilangan kepalanya. Sementara itu ketiga orang
kawan Mo Hou tadi telah berpencar di sekeliling
mereka.
"Gila! Kubunuh kau....!" Mo Hou berteriak marah.
"Kong-cu, biarlah kami bertiga yang menangani
bocah ini!" Seorang dari ketiga teman Mo Hou
melompat ke depan sambil melepaskan pukulan.
959
Mo Hou terpaksa menunda kemarahannya. Sambil
mendengus ia melangkah mundur. "Bayan Tanu, hatihati!
Ucapan Ho Bing memang benar. Orang ini tidak
boleh dipandang ringan. Engkau bertiga belum tentu
dapat mengatasinya."
"Chin Tong Sia mengelakkan pukulan Bayan Tanu
dengan mudah. Dalam keadaan marah pemuda itu
masih tetap mempergunakan akal sehatnya, dia cuma
sendirian di rumah itu, sementara lawannya berjumlah
banyak. Dia tidak boleh gegabah mengumbar tenaga.
Dia harus mampu keluar dan menyelamatkan diri dari
halaman tersebut.
Tampaknya Mo Hou mengetahui maksud Chin
Tong Sia. Sambil menggeram pemuda tampan itu
bertepuk tangan, dan beberapa saat kemudian belasan
orang segera muncul dari segala penjuru rumah itu.
Mereka mengepung halaman itu dengan senjata
lengkap. Ho Bing yang tadi berdiri di atas pendapa
juga turun bersama para pembantunya.
"Kau harus mati!" Ho Bing yang telah
dipermalukan oleh Chin Tong Sia di kota Leng-fu itu
berseru marah.
"Bagus! Tampaknya kau telah bersekongkol
dengan kekuatan musuh untuk menghadapi aku!"
"Huh! Akulah lawanmu! Bukan dia!" Bayan Tanu
yang telah siaga di depan Chin Tong Sia itu tiba-tiba
berteriak sambil menerjang.
"Wuuuuuuuush....!"
960
Tentu saja Chin Tong Sia tidak ingin terjungkal
pada jurus-jurus pertama. Dengan gin-kangnya yang
hebat dia melenting ke samping, kemudian sambil
membalikkan badannya dia mengayunkan tangannya
dengan jari-jari terbuka. Tujuannya adalah
tenggorokan Bayan Tanu. Serangan ini hanya
mempergunakan separuh dari tenaga dalamnya.
Namun demikian pengaruhnya telah mengejutkan
lawan-lawannya.
Bayan Tanu menangkis dengan sisi tangannya.
Duuuug! Dua buah kepalan bertemu di udara,
menyebabkan keduanya terpental ke belakang. Chin
Tong Sia terdorong mundur selangkah ke samping,
sementara Bayan Tanu terhuyung mau jatuh.
Orang kepercayaan Mo Hou itu marah sekali.
Sebagai orang Mongol, yang ilmu silatnya lebih
banyak bertumpu pada ilmu gulat, ia memiliki otototot
yang kuat dan liat. Meskipun tenaganya juga
lebih terpusatkan pada tenaga luar (gwa-kang), namun
kecepatan tangan juga tidak dapat dipandang ringan.
Orang seperti Bayan Tanu dengan mudah dapat
menangkap lalat yang terbang di sekitarnya.
Benturan kedua tangan itu sama sekali tak
menyakitkan Bayan Tanu. Bahkan dengan
kelincahannya Bayan Tanu kembali menerjang Chin
Tong Sia. Kali ini dengan kekuatan kakinya.
Demikianlah, kedua orang itu segera terlibat dalam
pertempuran seru. Chin Tong Sia dengan tenang dan
santai melayani Bayan Tanu yang marah dan ingin
961
segera memperoleh kemenangan. Dan pertarungan itu
semakin lama semakin cepat. Saling memukul dan
menangkis, sehingga halaman yang luas itu bagaikan
sebuah ajang pertarungan silat yang menegangkan.
Tapi beberapa
jurus kemudian
segera terlihat
siapa yang lebih
unggul di antara
mereka. Napas
Bayan Tanu yang
lincah dan kuat
itu mulai
tersengal-sengal,
sementara napas
Chin Tong Sia
masih kelihatan
teratur seperti
sedia kala.
"Merasa kalah
dalam hal tenaga,
Bayan Tanu
segera mengurai senjatanya yang selalu melingkar di
pinggangnya. Yaitu sebuah rantai baja sepanjang satusetengah
depa dengan mata tombak di salah satu
ujungnya. Begitu diputar maka rantai baja itu
mengeluarkan suara mengaung panjang. Dan Chin
Tong Sia terpaksa harus berloncatan ke sana ke mari
untuk menghindarinya.
962
Debu mengepul tinggi ketika beberapa kali rantai
itu menghantam tanah, sehingga Mo Hou dan para
pembantunya terpaksa mundur sampai ke tangga
pendapa. Dari tempat itu mereka harus menyaksikan,
bagaimana sulitnya Bayan Tanu menyentuh
lawannya.
Sebagai jago silat yang memiliki gin-kang hampir
sempurna, Mo Hou dapat melihat, betapa jauh
perbedaan ilmu meringankan tubuh mereka. Bayan
Tanu yang hanya mengandalkan kelincahan dan
kekuatan otot-ototnya, sama sekali tidak mampu
mengejar kecepatan gerak Chin Tong Sia. Ilmu
meringankan tubuh murid aliran Beng-kau itu benarbenar
sudah mendekati puncaknya, sehingga ia sendiri
sering tersilap dan terlambat mengikutinya.
"Tidak heran kalau Ho Bing kalah. Sepuluh orang
Ho Bing pun belum tentu dapat menundukkannya.
Mungkin hanya Mo Goat atau Panglima Solinga yang
dapat menandingi dia."
Semakin lama gerakan rantai Bayan Tanu semakin
melemah. Serangan ujung tombaknya juga tidak
akurat lagi. Sementara gerakan Chin Tong Sia masih
tetap lincah dan tegar seperti sedia kala. Tampaknya
pemuda itu memang mengulur-ulur waktu untuk
mencari kesempatan meloloskan diri.
"Ho Bing, Tiat-tou, Siang-kim-eng, majulah...!
Bantu Bayan Tanu!" Akhirnya Mo Hou berteriak
tidak sabar lagi,
963
Tanpa diulang lagi perintah Mo Hou tersebut segera
dilaksanakan oleh Ho Bing dan kawan-kawannya.
Ketiganya segera terjun ke arena dengan senjata
masing-masing. Begitu masuk mereka segera
menyerang Chin Tong Sia tanpa ampun.
Sekarang Chin Tong Sia terpaksa harus
bersungguh-sungguh. Sekaligus menghadapi empat
orang jago silat berkepandaian tinggi, bukanlah
pekerjaan enteng. Meskipun dia telah menguasai
hampir seluruh ilmu silat aliran Beng-kau, namun dia
juga merasa bahwa dia belum sampai pada
puncaknya.
Sementara itu di pihak lain ternyata Mo Hou sendiri
memang bermaksud melihat dan menjajagi ilmu silat
Chin Tong Sia. Peristiwa lima tahun lalu di pantai
timur Hang-ciu ternyata masih amat membekas di hati
Mo Hou. Betapa dahsyatnya ilmu silat Put-pai-siu
Hong-jin sehingga dia harus digotong pulang oleh
Lok-kui-tin (Barisan Enam Hantu).
-- o0d-w0o --
964
JILID XXIII
ENURUT penuturan Ho Bing, Chin
Tong Sia adalah adik seperguruan Putpai-
siu Hong-jin. Sementara Mo Goat,
yang kini sedang menyamar sebagai
Tiau Hek Hoa, juga mengatakan bahwa
Chin Tong Sia memiliki ilmu silat yang
tidak kalah dengan tingkatan mereka.
"Tampaknya pemuda ini memang benar-benar
berbahaya. Kemampuannya sama dengan sepuluh
orang panglima ayahku. Sayang sekali dia belum
dapat disingkirkan sekarang. Nyawanya merupakan
jaminan bagi keselamatan Mo Goat." Mo Hou
berdesah di dalam hati melihat kehebatan Chin Tong
Sia.
Memang benar juga kekhawatiran Mo Hou.
Sepuluh orang panglima suku bangsa Hun belum
tentu dapat menandingi kesaktian Chin Tong Sia. Apa
lagi hanya tokoh semacam Ho Bing dan Bayan Tanu.
"Kisah lucu Si Kera Bodoh,
Ingin menangkap Burung Kenari.
Walau Kenari lemah dan kecil,
Kera Bodoh tetap tak berdaya."
Sambil bertempur sesekali Chin Tong Sia
menyelipkan senandung kesukaannya. Bagi anggota
Aliran Beng-kau berkelahi sambil mengoceh
M
965
merupakan sebuah ciri tersendiri. Turun-temurun
mereka telah terbiasa bernyanyi dan berpantun dalam
menjalankan agamanya. Sampai pada saat berlatih
silat pun mereka juga latah melantunkan pantunnya.
Dan kelatahan tersebut semakin parah pada saat
mereka memainkan Ilmu Silat Cou-mo-ciang (Tangan
Menangkap Setan)!
Tentu saja ocehan "ngawur" itu membuat Ho Bing
dan Bayan Tanu menjadi berang sekali.
"Tutup mulutmu! Kau anggap kami kera besar?
Kurang ajar!" Bayan Tanu menjerit marah.
"Lihat Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah)...!" Ho
Bing berteriak pula sambil memencet tongkatnya.
Tapi Chin Tong Sia merupakan tokoh paling
berbakat di antara angkatan muda Beng-kauw.
Sebagai murid bungsu Put-ceng-li Lojin (Orang Tua
yang Tidak Tahu Aturan), yaitu mendiang ketua
Beng-kau lama, ilmu silatnya justru lebih hebat dari
semua kakak seperguruannya. Bahkan selapis lebih
tinggi daripada Put-sim-sian (Si Dewa Tak Punya
Perasaan), kakak seperguruannya yang kini menjabat
sebagai Ketua Beng-kau. Oleh karena itu tidaklah
mengherankan kalau serangan Bayan Tanu dan Ho
Bing sama sekali tidak menyulitkan dia. Hanya
dengan mengandalkan kecepatan tangan dan kekuatan
lweekangnya, mata tombak Bayan Tanu dengan
mudah disambarnya. Bahkan semua itu dilakukan
sambil meraup jarum Ho Bing ke dalam lengan
bajunya.
966
Dan pada saat itu pula, tiba-tiba pintu halaman
depan terbuka dari luar. Enam orang penunggang
kuda menerobos masuk.
Chin Tong Sia melihat peluang yang baik untuk
meloloskan diri. Cepat ia melompat ke belakang.
Mata tombak Bayan Tanu yang ada di tangannya
segera ia lemparkan ke arah Mo Hou. Sementara
kumpulan jarum yang ada di dalam lengan bajunya
diayunkan pula ke arah musuhnya itu.
Ternyata kedua macam senjata itu menjadi lebih
dahsyat dalam tangan Chin Tong Sia. Demikian cepat
dan kuatnya ayunan mata tombak itu, sehingga Bayan
Tanu yang tetap masih memegangi ujung rantainya,
ikut terlempar pula ke arah Mo Hou. Demikian pula
halnya dengan jarum-jarum Ho Bing. Benda kecil itu
melesat bagai curah hujan ke tubuh Mo Hou.
"Bangsat...!" Mo Hou mengumpat kasar.
Putera Raja Mo-tan itu menghindar dengan cepat.
Begitu cepatnya sehingga tubuhnya seperti hilang
begitu saja. Tahu-tahu pemuda itu telah berada di atas
pendapa.
Chin Tong Sia benar-benar kaget menyaksikan
kegesitan lawan. Terlintas dalam ingatannya, cerita
yang pernah dikatakan oleh suhengnya. Put-pai-siu
Hong-jin pernah bercerita tentang seorang pemuda
yang mampu bergerak seperti angin. Lima tahun yang
lalu suhengnya berkelahi dengan pemuda itu, dan
hampir saja dikalahkan. Untunglah Put-pai-siu Hong967
jin dapat meloloskan diri dengan cara menceburkan
diri ke dalam laut.
"Saat itu Suheng dalam keadaan mabuk. Oh!
Jangan-jangan pemuda yang dia maksudkan itu
adalah.... Mo- Hou, putera Raja Mo Tan ini!" Chin
Tong Sia berkata di dalam hati.
Tapi Chin Tong Sia tak ingin kehilangan
kesempatan. Sebelum mereka sadar apa yang terjadi,
dia cepat-cepat melesat ke pintu halaman. Wuuuuuus!
Tubuhnya melejit seperti kijang cepatnya! Hampirhampir
seperti gerakan Mo Hou!
"Lok-kui-tin! Tangkap dia!" Sambil mengelak Mo
Hou masih sempat berteriak kepada penunggang kuda
yang baru saja datang itu.
"Baik, Kong-cu!" Dua di antara enam orang
penunggang kuda itu melompat turun untuk
menyongsong kedatangan Chin Tong Sia.
"Awaaaas! Jangan sembrono...,!" Mo Hou berteriak
memperingatkan mereka.
Terlambat. Pek-kui dan Ang-kui, yang tidak
menyadari akan kehebatan ilmu silat Chin Tong Sia,
sudah terlanjur mengayunkan tangannya,
menyongsong kedatangan pemuda tersebut.
Dhuuuuuuar....!!
"Aaaarrgghh....!"
Terdengar Ang-kui dan Pek-kui mengeluh pendek.
Mereka terbanting ke tanah dengan mata terbelalak.
Terpantul perasaan tak percaya di mata mereka.
968
Tetapi Chin Tong Sia juga tidak lolos dari pengaruh
benturan itu. Tubuhnya tergetar mundur dengan
kuatnya. Dia merasa seperti menerjang tembok besi.
Begitu kuatnya sehingga dalam sekejap aliran
darahnya terasa kacau. Bahkan dari dalam mulutnya
mengalir darah segar.
Anggota Liok-kui-tin memang bukan tokoh
sembarangan. Mereka berenam merupakan tokohtokoh
persilatan yang sangat ditakuti di luar Tembok
Besar. Kekuatan mereka berenam bagaikan kekuatan
sepuluh ekor gajah menjadi satu.
Chin Tong Sia cepat mengatur pernapasannya
kembali. Percikan darah yang menetes di bawah
dagunya, dia bersihkan dengan lengan bajunya.
Perasaannya mulai ragu.
"Gila! Siapa pula orang-orang ini?" Pemuda itu
menggeram.
Demikianlah, ternyata Chin Tong Sia tak mampu
memanfaatkan kesempatan itu. Kini Mo Hou dan
Lok-kui-tin telah berdiri mengelilinginya. Mo Hou
kelihatan geram sekali.
"Baru saja aku berteriak untuk memperingatkan
kalian! Tapi kalian main gempur saja! Untunglah
nyawa kalian masih ada! Kaukira siapa lawan kalian
itu? Ketahuilah, dia adalah adik seperguruan Put-paisiu
Hong-jin!" Mo Hou memarahi pengawalpengawal
ayahnya itu.
969
"Aaaah...!" Semuanya tersentak kaget. Termasuk
pula Chin Tong Sia yang menyangka telah dikenal
oleh lawan-lawannya.
"Hek-kui! Bawa Ang-kui dan Pek-kui ke pendapa!
Biarlah aku yang menangkap bocah ini!" Akhirnya
Mo Hou memberi perintah.
Chin Tong Sia kembali mengerahkan segala
kekuatannya. Dia merasa bahwa tingkatan ilmu silat
lawannya, tidak jauh berbeda dengan dirinya. Bahkan
ilmu silat Mo Hou kelihatan lebih matang dan lebih
sempurna dari dugaannya.
Cing-kui, Ci-kui dan Ui-kui melangkah ke depan.
Ui-kui memberi hormat. "Kongcu, biarlah kami
bertiga yang membereskan pemuda ini. Belum
saatnya Kongcu turun tangan sendiri. Kekalahan Angkui
dan Pek-kui merupakan kesalahan mereka sendiri.
Mereka kurang waspada melihat kekuatan lawan.
Bahkan kami semua juga lengah akibat kegembiraan
yang berlebihan. Tugas untuk menangkap Hong-gihiap
Souw Thian Hai dan isterinya, telah kami
laksanakan dengan baik."
"Bagus! Kalian berhasil meringkus pendekar itu?
Lalu di mana mereka sekarang...?"
"Kami kurung di ruang bawah tanah."
Diam-diam hati Chin Tong Sia bergetar juga. Dia
memang belum pernah berjumpa dengan Souw Thian
Hai, tapi kesaktian tokoh besar itu sudah sering ia
dengar sejak kecil. Benarkah mereka mengalahkan
pendekar ternama itu?
970
"Baik, kalau begitu.... ringkuslah pemuda ini!
Jangan dibunuh! Aku ingin mengorek keterangan dari
mulutnya." Akhirnya Mo Hou memberikan
perintahnya.
Selesai berkata pemuda itu melesat pergi
meninggalkan halaman tersebut. Ia kelihatan begitu
percaya pada kemampuan anak buahnya.
Hek-kui memapah Ang-kui dan Pek-kui ke
pendapa, sementara Ui-kui, Ci-kui dan Cing-kui
menghadapi Chin Tong Sia.
"Bagus! Jadi, kau... adik seperguruan Orang Gila
itu? Siapa namamu?" Ui-kui yang berbaju kuning itu
membentak Chin Tong Sia yang sedang berusaha
memulihkan aliran darahnya.
"Hmmh...! Apa perlunya namaku bagi kalian?
Sebentar lagi kita akan saling membunuh di sini! Kita
tak perlu tahu nama masing-masing! Kalian atau aku
yang mati! Habis perkara!" Chin Tong Sia yang
mudah tersinggung itu balas menggertak.
"Hohoho, agaknya namamu yang aneh dan lucu itu
takut ditertawakan orang, heh?" Cing-kui yang
berbaju hijau mengejek.
Wajah Chin Tong Sia menjadi merah. Nama orang
Beng-kauw memang aneh dan terasa lucu di telinga
orang kebanyakan.
"Kurang ajar! Kaukira namamu lebih bagus
daripada namaku? Dengar, Boneka Katak Hijau!
Namaku... Chin Tong Sia, atau Put-tong-sia! Dan aku
971
akan membunuhmu lebih dulu daripada kawankawanmu
yang lain!" Chin Tong Sia menjerit marah.
Lalu tanpa menanti jawaban lagi, Chin Tong Sia
menerjang Cing-kui! Kedua telapak tangannya
mendorong dengan kekuatan penuh!
Sekarang tak seorangpun dari ketiga orang itu yang
berani menyongsong pukulan Chin Tong Sia. Dalam
keadaan belum bersiaga penuh, lebih baik mereka
menghindari pukulan pemuda itu. Demikian pula yang
mereka lakukan sekarang.
Mereka cepat mengelak, lalu berpencar
mengelilingi Chin Tong Sia. Secara berbareng mereka
menyerang. Wuuush!
Chin Tong Sia melambung tinggi ke udara,
kemudian berjumpalitan mendekati Cing-kui. Dengan
tubuh masih menggeliat di udara, jari-jari tangan
kanannya mencakar ke wajah Hantu Berbaju Hijau
tersebut. Terdengar suara mendesis ketika jari tangan
itu mengeluarkan asap tipis!
"Awaaaas, Cing-kui!" Ui-kui berseru sambil
memukul punggung Chin Tong Sia dengan kedua
kepalannya. Terdengar suara mencicit ketika kepalan
itu menerjang menuju sasarannya.
Ternyata sejak dini Chin Tong Sia telah menyadari
kedudukannya. Orang-orang yang sedang dia hadapi
adalah jago-jago silat kelas satu. Satu lawan satu, dia
yakin bisa menang. Satu lawan dua, mungkin dia
masih bisa bertahan.
972
Tetapi kalau harus menghadapi tiga orang
sekaligus, jelas ia akan kewalahan. Oleh karena itu
begitu menyerang dia langsung mengeluarkan jurus
Cuo-mo-ciangnya. Siapa tahu lawan kembali
terkecoh, sehingga dalam gebrakan pertama dia dapat
mengurangi satu lawan lagi.
Tetapi ternyata Lok-kui-tin tidak dapat dijebak
untuk yang kedua kali. Begitu Chin Tong Sia
mencakar ke wajah Cing-kui, Ui-kui cepat
membokong punggung pemuda itu dengan pukulan
ganasnya.
Terpaksa Chin Tong Sia berbalik sambil
menyambut pukulan itu! Dan kali ini masing-masing
benar-benar telah bersiap dengan segala kekuatannya!
Thuuaaaas....! Plak!
Tubuh Chin Tong Sia yang masih terapung di udara
itu terlempar ke samping, sementara Ui-kui jatuh
terduduk di atas tanah. Ternyata selisih kekuatan
mereka memang tidak terpaut banyak. Mungkin cuma
selapis saja.
Setelah berjumpalitan beberapa kali, Chin Tong Sia
mendaratkan kakinya di luar kepungan. Beberapa saat
masih terasa getaran pukulan Ui-kui di dalam
dadanya, sehingga ia semakin yakin akan kemampuan
lawan-lawannya.
Demikianlah halaman itu kembali disibukkan oleh
pertempuran yang amat seru. Satu lawan tiga.
Memang pertempuran yang tidak seimbang, karena
973
kekuatan dari masing-masing anggota Lok-kui-tin itu
hampir sejajar dengan Chin Tong Sia.
Semakin lama Chin Tong Sia semakin dipaksa
untuk memeras keringatnya. Ketiga hantu itu benarbenar
lihai bukan main. Bahkan mereka bertiga mulai
mendesaknya. Mereka mengambil keuntungan dengan
kelebihan jumlah kekuatan mereka. Mereka
memancing Chin Tong Sia untuk beradu tenaga secara
bergantian, sehingga kekuatan pemuda itu semakin
cepat surut.
"Gila! Mereka benar-benar licik! Aku .... aaaah!"
Karena kurang cepat, sebuah tendangan dari Ui-kui
telah mengenai pundak Chin Tong Sia. Begitu
kuatnya sehingga lengan kanan pemuda itu serasa
lumpuh dan sulit digerakkan.
Dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh ketiga
lawannya. Mereka cepat mengejar dan
memberondong pukulan secara berbareng. Mereka
ingin meringkus Chin Tong Sia dalam satu gebrakan.
Tapi dengan cepat Chin Tong Sia menjatuhkan diri
ke tanah, kemudian berputar seperti baling-baling.
Pemuda itu tidak memikirkan lagi kalau pakaiannya
menjadi kotor oleh debu.
Meski dihempas badai!
Digulung ombak!
Dihantam petir!
Digilas karang!
Namun,
974
Batu dan pasir tetap bertahan!
Hancur satu, muncul seribu.........'
Sambil berputar tidak lupa pemuda itu berpantun
dengan suara tinggi. Bahkan sangat bersemangat!
Ternyata dalam keadaan sulit, pemuda itu justru
mengeluarkan gerakan yang aneh, yaitu Menggali
Liang Ubur-ubur! Salah satu dari jurus Cuo-mociangnya
yang aneh dan membingungkan!
Sekejap ketiga lawannya benar-benar menjadi
bingung. Otomatis mereka melompat menjauhi Chin
Tong Sia. Namun betapa kagetnya mereka ketika
baling-baling itu mendesak melenting ke arah Cingkui
Si Hantu Hijau! Cepat bukan main! Bagaikan
baling-baling patah yang terhempas ke udara! Lebih
cepat dari kilatan halilintar!
Deessss!
Tubuh Cing-kui terlempar bagaikan layang-layang
putus. Dan dia tentu akan terbanting ke tanah, apabila
Hek-kui yang baru saja keluar dari dalam gedung
tidak segera menyambarnya!
Demikianlah, dalam waktu yang tidak terlalu lama,
separuh dari barisan Lok-kui-tin telah menjadi korban
keganasan Cuo-mo-ciang! Walau tidak terlalu berat,
namun mereka harus segera dirawat, sehingga untuk
sementara mereka tidak dapat berkelahi lagi.
Setelah membawa Cing-kui ke pinggir, Hek-kui
melangkah ke dalam arena. Wajahnya tampak merah
padam menahan marah.
975
"Ui-kui! Ci-kui! Ayoh kita ringkus bocah ini!"
Chin Tong Sia bersiap siaga kembali menghadapi
segala kemungkinan. Dia sadar bahwa lawannya
memiliki ilmu yang dahsyat. Meskipun Cuo-mo-ciang
merupakan ilmu yang mentakjubkan, namun
kemenangan-kemenangannya tadi lebih banyak
disebabkan oleh faktor keberuntungan!
Mendadak pemuda itu bergetar dengan hebat.
Perasaan ngeri tiba-tiba mencekam hatinya. Dia
melihat bola mata lawannya seolah-olah
mengeluarkan sinar cahaya kemerahan, bagaikan mata
iblis yang hendak membakar dirinya.
"Kami bertiga adalah utusan Iblis Neraka. Kau
menyerahlah!" Tiba-tiba Hek-kwi menggeram dengan
suara berat seakan-akan suaranya itu datang dari liang
kubur.
Getaran magis seperti membelenggu jiwa dan
pikiran Chin Tong Sia. Sekejap kesadaran pemuda itu
terusik.
"B-ba-baik, a-aku.... mmm-menyerah!" Tak terasa
bibirnya bergetar.
"Bagus! Nah, sekarang acungkan kedua lenganmu
ke depan! Kami akan mengikatmu...." Hek-kui
memberi perintah.
"Ya-ya, eh-oh....? Apa pula ini? Kurang ajar!"
Ternyata Chin Tong Sia cepat menyadari keadaannya.
Lweekangnya yang sangat tinggi itu segera bertahan
dan melawan gempuran kekuatan sihir tersebut.
976
Dalam keadaan kaget pemuda itu menyerang Hekkui!
Kedua tangan yang teracung ke depan itu
sekonyong-konyong berputar dan menyambar dada
Hek-kui dengan jari-jari terbuka. Wuuut! Seperti
bermain sulap, jari tangan itu sudah menyentuh
pakaian Hek-kui.
"Aaaaaaaa....??" Hek-kui menjerit ketika kain
bajunya yang tersentuh jari Chin Tong Sia itu hancur
berkeping-keping.
"Kurang ajar! Bocah ini memang pantas dibunuh!"
Si Hantu Hitam Hek-kui memberi aba-aba, dan
mereka berpencar mengelilingi Chin Tong Sia.
Mereka dalam keadaan siaga penuh, sehingga Chin
Tong Sia tidak berani sembarangan menyerang salah
seorang dari mereka. Begitu dia berani menerjang
salah seorang dari mereka, maka yang lain akan
segera menggempur dirinya habis-habisan. Dan hal itu
sangat berbahaya sekali.
Chin Tong Sia tetap saja menunggu, ketika
lawannya berputaran di sekelilingnya. Semakin lama
langkah mereka semakin cepat. Namun ketika Chin
Tong Sia mulai bersiap hendak menyerang, langkah
mereka tiba-tiba berubah pelan. Semakin pelan.
Namun sejalan dengan itu, Chin Tong Sia
merasakan adanya perubahan yang mengejutkan.
Ototnya terasa kaku dan berat untuk bergerak.
Sementara udara terasa semakin tebal dan kental,
sehingga paru-parunya terasa sulit untuk bernapas.
"Gila! Ilmu apa lagi, nih?" Chin Tong Sia terkesiap.
977
Pemuda itu bergegas mengerahkan lweekangnya
untuk melawan pengaruh ilmu silat lawannya yang
aneh itu. Sambil menghentakkan tenaga saktinya,
Chin Tong Sia menerjang Hek-kui yang berada di
depannya. Kedua tangannya mendorong dengan
kekuatan penuh. Whhhuuuuuuaaas!
Dalam keadaan biasa dorongan tangan Chin Tong
Sia yang penuh tenaga sakti itu akan dapat
merubuhkan seekor kerbau jantan. Tapi dalam
pengaruh ilmu yang aneh dari ketiga lawannya itu,
ternyata kekuatannya menjadi hambar. Kekuatan yang
dahsyat itu seperti tertahan oleh kepadatan udara yang
berputar di sekelilingnya.
Tentu saja Hek-kui mengelak dengan mudah.
Bahkan Hantu Hitam itu memberi isyarat kepada
kawan-kawannya untuk menambah kekuatan ilmu
mereka.
Chin Tong Sia semakin sulit bergerak. Pemuda itu
seperti berenang dalam lumpur yang kenyal. Dan
dalam keadaan yang sulit itu tiba-tiba matanya
terbelalak. Dilihatnya kepala Hek-kui, Ci-kui dan Uikui
berubah menjadi kepala singa yang menakutkan.
"Ah, aku tidak boleh terpengaruh. Mereka cuma
menciptakan bentuk-bentuk semu. Tidak mungkin
seorang manusia berkepala singa. Mereka hanya mau
mengelabuhi penglihatanku. Mereka ingin
mempengaruhi perasaanku."
Sambil bertempur Chin Tong Sia mencoba
melawan pengaruh aneh itu dengan segala
978
kemampuannya. Tetapi semakin dilawan, pengaruh
aneh itu menjadi semakin kuat mencekam pikiran dan
perasaannya. Bahkan ia semakin menjadi bingung
pula ketika lawannya mulai berputar mengelilinginya.
Ketiga orang berkepala singa itu tiba-tiba seperti
berubah menjadi banyak sekali. Mereka berputaran di
sekitarnya.
"Gila...! Aduh!"
Chin Tong Sia mengumpat keras sekali ketika jalan
darah "tia-ping-hiat" di bawah punggungnya disambar
siku Hek-kui! Begitu kuatnya sehingga separuh
badannya menjadi lumpuh seketika! Maka tiada
ampun lagi tubuh Chin Tong Sia terjerembab ke
tanah!
Pemuda itu bangkit lagi. Tapi sebuah pukulan
kembali menghajar perutnya. Dan kali ini benar-benar
telak, sehingga dia tak dapat bangun pula. Pingsan.
"Hebat sekali kepandaiannya. Baru sekali ini Lokkui-
tin dibikin kalang kabut oleh seorang pemuda tak
ternama. Hmmh....! Ayoh, kita bawa dia ke ruang
bawah tanah!" Hek-kui menggeram.
Chin Tong Sia dibawa masuk ke dalam gedung.
Mereka langsung membawanya ke ruang bawah
tanah. Dan majikan mereka, Mo Hou, ternyata sudah
berada di sana pula.
"Bagus! Akhirnya kalian dapat juga
meringkusnya....!"
"Ucapan Kongcu benar. Anak ini memang hebat
sekali. Walaupun berhadapan dengan kami bertiga,
979
dia masih dapat melukai Cing-kui. Orang ini
sebaiknya dibunuh saja. Dia dapat merepotkan kita di
kemudian hari...."
Mo Hou tersendat kaget. "Cing-kui terluka? Jadi....
tiga di antara Barisan Lok-kui-tin yang tersohor itu....
terjungkal olehnya? Sungguh memalukan! Bagaimana
kita akan dapat menaklukkan negeri ini, kalau orangorang
kita gampang dikalahkan oleh bocah ingusan
seperti dia?" Mo Hou mendengus marah.
"Maafkan kami, Kong-cu. Kami sudah berusaha
dengan baik. Tetapi bocah ini memang memiliki ilmu
silat yang amat tinggi."
"Sudahlah! Rantai kaki dan tangannya! Kurung di
ruang Pendekar Souw dan isterinya!"
-- o0d-w0o --
SEMENTARA itu di rumah makan, Liu Wan dan
yang lain-lain masih tetap menunggu kedatangan Tiau
Hek Hua. Mereka menjadi lega ketika gadis berkulit
hitam itu datang membawa empat ekor kuda.
"Eh, mengapa datang sendirian? Di mana Saudara
Chin tadi?" A Liong menyambutnya dengan tergesagesa.
Mo Goat yang sedang menyamar itu turun dari
kudanya. Air muka tampak kesal sekali. "Kita tak
usah memikirkannya lagi. Dia telah berangkat lebih
dulu. Katanya dia tahu jalan yang lebih cepat. Huh!"
980
"Begitukah....?!?" Liu Wan berdesah. Wajahnya
menampilkan rasa kurang percaya. Ditatapnya wajah
Tiau Hek Hoa yang hitam itu tanpa berkedip.
"Apakah Sin-she tidak percaya kepadaku?" Gadis
itu berteriak kesal.
Liu Wan berpaling ke arah Souw Hong Lam.
"Bagaimana pendapatmu, Saudara Souw? Lohu sama
sekali tidak menyangka kalau Saudara Chin pergi
mendahului kita...."
Souw Hong Lam mengangkat pundaknya.
"Kemanakah Tiau Lihiap dan Saudara Chin tadi?
Apakah para penjual kuda itu anak buah Kim Wangwe?
Jangan-jangan Saudara Chin dipengaruhi
tengkulak kuda itu...."
"Mereka memang anak buah Kim Wang-we. Kudakuda
ini memang dari peternakannya. Tapi semua itu
tak ada hubungannya dengan kepergian Saudara Chin.
Dia pergi begitu saja, setelah mendapatkan kuda. Huh,
sudahlah....! Terserah kalau kalian tetap ingin
menunggu dia. Aku akan berangkat lebih dulu..."
Tiau Hek Hoa melompat ke atas punggung kudanya
dan melangkah meninggalkan teman-temannya.
"Nona Tiau, tunggu....! Aku percaya padamu!"
Souw Hong Lam memilih salah seekor dari kuda itu
dan mengendarainya di belakang Tiau Hek Hoa.
A Liong memandang Liu Wan yang ia anggap
sebagai pimpinan rombongan mereka. "Bagaimana,
Ciok Sinshe? Rombongan ini bisa terpecah belah
sebelum tiba di tempat tujuan."
981
"B-baiklah....! Sementara waktu kita lupakan saja
keadaan Saudara Chin. Apa boleh buat. Mari.... kita
berangkat bersama mereka! Hemmmm...." Liu Wan
berkata dengan suara berat.
Liu Wan segera naik ke punggung kuda dan
mengejar Tiau Hek Hoa. Tapi sungguh celaka bagi A
Liong. Sejak kecil pemuda itu tak pernah mengenal
kuda. Jangankan harus menaikinya, menuntun-pun dia
belum pernah. Lebih celaka lagi, dia justru
mendapatkan kuda yang paling besar dan paling liar.
"Locianpwe! Ini.... ini, wah.... bagaimana aku harus
menaikinya?" Ia berteriak gugup.
Tapi semuanya telah hilang dari pandangan.
Mereka telah berbelok ke jalan yang lebih besar.
Dalam keadaan bingung pemuda itu terpaksa nekad
melompat ke punggung kuda.
Hupp! Karena terlalu kasar, kuda itu menjadi kaget.
Otomatis kedua kaki depannya terangkat tinggi ke
atas sambil meringkik keras sekali! Tentu saja A
Liong terlempar ke udara. Dan orang-orang yang
berada di jalan itu tertawa melihatnya.
A Liong menjadi malu sekali. Meskipun dengan
ginkangnya dia tidak terbanting ke tanah, tapi
keadaannya memang sangat menggelikan bagi setiap
orang.
Sambil meringis A Liong kembali melompat ke
punggung kuda. Kali ini ia mengerahkan ginkangnya.
Namun karena gugup dan malu, dia lupa bagaimana
harus menaikinya. Bukan pantatnya yang mendarat di
982
atas pelana, tapi.... kakinya! Sehingga dia
mengendarai kuda itu dengan berdiri, seperti pemain
akrobat yang sedang menunjukkan kebolehannya!
Dan kuda itu berlari kencang meninggalkan orangorang
yang kini berubah takjub menyaksikan
kelihaian pemuda itu.
Di sebuah tikungan jalan, A Liong berhasil
mengejar rombongannya. Tetapi mereka menjadi
heran dan geli melihat cara berkuda A Liong. Apalagi
ketika di tikungan kuda itu berlari tanpa
mengendorkan langkahnya. A Liong seperti
dilemparkan dari punggung kudanya!
"Hehehe! Saudara Liong! Apa-apaan kau ini? Masa
naik kuda seperti itu" Liu Wan terkekeh.
Souw Hong Lam juga tersenyum. Tapi pemuda
tampan itu tak berkata apa-apa. Justru Tiau Hek Hoa
atau Mo Goat yang berdesis agak kurang senang.
"Tampaknya bisul di pantatnya sedang kumat,
sehingga tidak dapat duduk dengan baik!"
Tidak terduga A Liong berteriak marah! Sambil
menyambar rambut kudanya, dia berjumpalitan di
udara, kemudian kembali mendaratkan kakinya di atas
pelana!
"Siapa bilang aku bisulan? Sudah kukatakan bahwa
aku tak dapat naik kuda!"
Pertunjukan ginkang pemuda itu sepintas lalu tidak
mengesankan kehebatannya. Tapi ketika kemudian
mereka melihat sepatu pemuda itu seolah-olah lengket
983
di atas pelana yang licin, mereka baru merasa kaget
sekali!
"Hmmh, tampaknya kerbau dungu ini memiliki
tenaga dalam yang cukup hebat! Aku harus berhatihati
terhadapnya!" Tiau Hek Hoa atau Mo Goat
mencatat di dalam hati.
Akhirnya A Liong dapat juga menguasai kudanya.
Dia duduk seperti kawan-kawannya, walaupun masih
terasa kaku.
Mereka menerobos hutan dan bukit-bukit gundul
yang jarang dilalui orang, sehingga malam harinya
mereka sudah sampai di tepian Sungai Huangho.
Mereka langsung menuju ke dusun Luan-cung.
Dusun itu bagaikan sebuah kota kecil saja
ramainya. Walau hari telah menjadi gelap, namun
suasana di pinggiran sungai itu masih ramai dengan
para nelayan, pedagang, maupun penduduk yang
mencari nafkah di tempat tersebut.
Warung-warung minum ataupun warung-warung
makan juga penuh dengan para pembeli. Mereka ratarata
adalah para pekerja atau para nelayan yang
kelelahan setelah sehari penuh bekerja keras.
Tiau Hek Hoa mengajak Liu Wan ke tempat
penitipan kuda.
"Ciok-locianpwe....! Kita langsung mencari
tumpangan perahu, atau.... istirahat dulu di tempat
ini?"
984
Liu Wan menoleh ke arah Souw Hong Lam dan A
Liong untuk meminta pendapat mereka. Tapi kedua
pemuda itu menyerahkan keputusan kepada Liu Wan.
"Baiklah. Tampaknya kita harus bermalam di
tempat ini. Selain kita harus mencari perahu yang
baik, berlayar dalam gelap juga sangat berbahaya bagi
keselamatan perahu kita. Marilah kita mencari
penginapan dulu!"
Dusun itu memang menyediakan banyak
penginapan. Dari yang sangat sederhana sampai yang
cukup baik. Setelah mendapatkan tempat menginap,
mereka lalu keluar mencari tempat untuk menyewa
perahu.
"Silakan Anda bertiga mencari tempat makan
dahulu, sementara lo-hu akan ke tempat penyewaan
perahu." Liu Wan berkata sambil menunjuk ke arah
timur.
"Ah, mengapa kita tidak pergi bersama-sama? Kita
tinggal empat orang lagi. Bagaimana kalau Cioksinshe
nanti kabur pula?" A Liong bergurau sambil
tertawa.
"Hehehe! Lohu sudah tua. Langkah Lo-hu gampang
dikejar oleh anak-anak muda seperti kalian...." Liu
Wan tertawa pula.
Tapi di tempat penyewaan perahu mereka menjadi
kecewa. Mereka hanya mendapatkan perahu yang
sudah agak tua. Kata pemilik perahu telah ada
beberapa rombongan yang lebih dulu menyewa
perahunya.
985
"Oh, siapakah mereka itu? Ke mana tujuan
mereka....?" Liu Wan berdesah kaget.
"Entahlah. Tampaknya mereka orang-orang dari
rimba persilatan pula seperti Cuwi sekalian.
Semuanya menuju ke hilir. Ada empat rombongan
yang menyewa perahu di sini. Lainnya menyewa di
tempat Lou Pai...."
"Heran. Tampaknya ada yang tak beres. Janganjangan...."
Liu Wan mengerutkan keningnya. "Eeh,
apakah Saudara tahu.... atau mengingat salah seorang
dari mereka?"
Pemilik perahu itu mengusap rambut kepalanya
yang mulai memutih, lalu menggeleng. "Aku belum
pernah melihat mereka sebelumnya. Tapi mereka
benar-benar garang dan suka berkelahi. Hanya satu
rombongan yang masih kuingat dengan baik, yaitu
seorang lelaki tua bersama puterinya. Orang itu
menggeser perahu besar hanya dengan tongkat
kecilnya....."
"Orang tua? Siapa dia....?" Tiau Hek Hoa berdesah
pendek. Matanya yang tajam itu menerawang jauh.
"Baiklah. Terima kasih atas keteranganmu. Kami
jadi menyewa perahu ini besok pagi. Sekali lagi
terima kasih." Liu Wan berterima kasih, kemudian
mengajak kawan-kawannya pergi.
"Menggeser perahu hanya dengan sebatang tongkat
kecil. Amboi! Sungguh sakti sekali." A Liong
bergumam pelan.
986
"Huh! Apa anehnya menggeser perahu di atas
pasir?" Tiau Hek Hoa mencibirkan bibirnya.
A Liong tertawa. Meskipun kini telah tumbuh
menjadi seorang pemuda gagah perkasa, namun
wataknya yang lugas dan suka bergurau itu masih
tetap melekat pada diri pemuda yatim piatu tersebut.
"Apakah kau juga mampu? Kalau begitu... biarlah
kau yang menjadi tukang kemudinya besok pagi.
Setuju....?"
Tiba-tiba wajah hitam itu menjadi beringas. "Setan!
Kaukira semua orang takut pada badanmu yang besar
seperti raksasa itu? Huh, walaupun kecil... aku bisa
membantingmu sampai lumat! Lihatlah!" Gadis itu
menjerit marah.
Entah bagaimana caranya bergerak, tapi tahu-tahu
gadis itu sudah bergeser di belakang A Liong. Cepat
bukan main. Bahkan bayangan gadis itu rasanya
masih tertinggal di tempat semula.
Weeesssh! Siiiing.... siiing... siiiing!
Dan dalam jarak yang begitu dekat, tiba-tiba gadis
itu membokong dengan lemparan pisau terbangnya!
Bahkan dengan tiga buah pisau sekaligus!
"Oh...!?" Semua terpekik kaget.
Liu Wan menjadi pucat. A Liong tentu akan binasa,
karena tidak seorang pun di dunia ini yang akan
mampu menyelamatkan diri dari serangan seperti itu.
Kecuali dia mengenakan baju besi.
"Hei, kau....?" A Liong berteriak keras sekali.
987
Ternyata A Liong sama sekali juga tidak menduga
kalau Tiau Hek Hoa bisa seganas itu. Namun dalam
keadaan yang tidak memungkinkan seperti itu, A
Liong masih sempat menggeliatkan tubuhnya. Dan
selanjutnya terdengar suara kain robek, disertai
denting pisau tiga kali pula.
Brett...! Ting! Ting! Tiiiing....!
Kali ini semua orang melongo! Mereka tidak tahu
apa yang terjadi. Semuanya berlangsung dengan
begitu cepatnya!
Mereka hanya bisa melihat pisau-pisau itu sudah
berserakan di atas pasir. Dan dalam sekejap tadi
mereka juga masih dapat menyaksikan, asap tipis
berwarna-warni, menghilang dari tubuh A Liong.
Kini di depan kaki A Liong terlihat sebilah pedang
pendek, tergeletak utuh, dan masih tetap berada di
dalam sarungnya. Dan pemuda itu dengan cepat
memungutnya, kemudian menyelipkan kembali ke
dalam bajunya. Baju yang kini tampak menganga
lebar akibat terpotong di bagian perutnya.
"Kau....!!?" Tiau Hek Hoa memekik berang. Siap
untuk menyerang lagi.
"Tahan...!" Liu Wan berseru sambil meloncat di
tengah-tengah mereka.
"Akan kubunuh bocah ini!" Gadis bermuka hitam
itu tetap menjerit-jerit. Tapi Souw Hong Lam dengan
tangkas menghalanginya.
"Sabar, Lihiap! Bersabarlah...!" Pemuda ganteng itu
membujuk.
988
Liu Wan segera membujuk pula. Dengan panjang
lebar pemuda itu mengingatkan tugas penting mereka.
Rombongan itu tinggal empat orang lagi.
Selanjutnya tidak boleh berkurang pula. Tiga orang
tidak akan cukup untuk memasuki Benteng Langit.
Mereka akan gagal tanpa keikutsertaan salah seorang
dari mereka.
Demikianlah, mereka lalu kembali ke penginapan
setelah melihat keadaan perahu yang mereka sewa.
Sama sekali mereka tidak menduga bahwa gerakgerik
mereka tadi selalu diikuti oleh seseorang.
Keesokan harinya mereka sudah berlayar mengikuti
arus sungai. Tiau Hek Hoa masih kelihatan geram
terhadap A Liong, walaupun A Liong sendiri seperti
sudah melupakan peristiwa kemarin.
Justru Liu Wan dan Souw Hong Lam yang diamdiam
masih sibuk memikirkan peristiwa kemarin.
Semalaman dua orang itu memeras otak untuk
mengetahui cara bagaimana A Liong meloloskan diri
dari pisau terbang Tiau Hek Hoa! Dan dari mana
munculnya pedang pendek yang sarungnya tampak
kuno itu? Benarkah pedang tersebut milik A Liong?
Tapi sejak kapan pemuda itu mengeluarkannya?
"Pemuda itu hanya menggeliatkan pinggangnya.
Kedua tangannya sama sekali tak ada kesempatan
untuk menangkis ataupun menghindarkan diri.
Apalagi harus mencabut senjata." Souw Hong Lam
tak habis pikir.
989
Sebaliknya, selain berpikir tentang hal itu, Liu Wan
juga mulai curiga kepada Tiau Hek Hoa. Pemuda
yang sedang menyamar sebagai tabib tua itu, merasa
pernah melihat gerakan melempar pisau Tiau Hek
Hoa. Tapi dia tidak dapat mengingatnya lagi.
Sungai Huang-ho mengalir dengan tenang. Begitu
tenang dan luasnya sehingga orang sulit menduga,
berapa dalam dasar sungai itu. Sinar matahari
menyorot menembus kabut, dan mulai menggapai
ujung layar mereka.
"Lihat...! Indah sekali! Sedemikian banyaknya
perahu berlayar di sungai ini, sehingga dari jauh
seperti barisan semut yang sedang berbaris menuju ke
liangnya." Liu Wan yang suka keindahan alam itu
mulai berpantun.
Souw Hong Lam tersenyum. Perlahan-lahan
tangannya mengambil suling dari balik mantelnya,
kemudian meniupnya dengan halus. Suaranya
mengalun panjang, semakin lama semakin nyaring.
Dan Liu Wan pun tak tahan untuk tidak bernyanyi.
Walaupun harus membuat suaranya seolah-olah
sedikit serak, tapi nyanyiannya terasa sedap didengar
telinga.
A Liong mengetuk-ngetukkan jarinya di pagar
perahu. Meskipun tidak mengerti irama, apalagi soal
pantun dan musik, namun pemuda itu bisa merasakan
kenikmatan lagunya.
990
Hanya Tiau Hek Hoa yang masih tetap diam di
tempatnya. Air mukanya juga masih gelap, sementara
bibirnya yang hitam itu tetap merengut pula.
"Awan berarak ke selatan,
Mengalir ke Bukit Kun-lun,
Menebar pasir dari Gurun Go-bi,
Merata bagai tikar dari Parsi."
Para penumpang perahu yang lain pun kelihatan
menikmati pula alunan suara suling dan nyanyian Liu
Wan. Beberapa orang nelayan sampai melongokkan
kepalanya ke arah mereka.
Sebuah perahu mendekati mereka. Seorang kakek
tinggi kurus dengan rambut putih menganggukkan
kepalanya ke arah mereka. Kakek itu memegang
sebatang suling pula.
"Tiupan sulingmu sungguh bagus, Anak muda.
Bolehkah Lo-hu turut menyemarakkannya?" Tiba-tiba
terdengar suara halus di telinga mereka. Suara yang di
dorong oleh tenaga dalam yang sangat tinggi.
Meskipun kaget, Souw Hong Lam tidak
menolaknya. Sambil mengangguk pemuda itu mulai
meniup sulingnya lebih keras lagi. Kali ini nadanya
tambah renyah dan gembira.
Ternyata kakek berambut putih itu tidak mau kalah
pula. Dengan nada tinggi sulingnya mengikuti irama
Souw Hong Lam. Nada dan suaranya terasa serasi dan
991
nyaman di telinga, membuat duet seruling mereka
terdengar nikmat dan menyenangkan.
Akhirnya perahu kakek berambut putih itu
berendeng dengan perahu mereka.
"Bukan main...! Saudara masih muda, tapi suara
sulingmu sudah mampu menggetarkan awan di langit!
Bukan main! Saudara muda, bolehkah Lohu yang tua
ini mengenal namamu?"
Souw Hong Lam menggosok-gosok sulingnya
dengan ujung bajunya. "Siau-te bernama... Souw
Hong Lam, Locian-pwe. Maaf, siauwte juga belum
mengenal Locianpwe pula...."
Mata yang tajam berkilat itu tertegun sebentar, lalu
kembali bersinar seperti semula. "Hohoho, lohu
memang tidak pernah menginjak daerah ini. Lohu
biasa berkeliaran di sepanjang pantai timur Propinsi
Shantung. Lohu bernama Kwe Tiong Li...."
"Kwe Tiong Li...?" Liu Wan berdesah kaget. Nama
itu sangat terkenal puluhan tahun lalu. Sebuah nama
yang dikaitkan dengan julukan yang menyedihkan.
Keh-sim Tai-hiap atau Pendekar Patah Hati.
"Ciok Sinshe mengenal namanya?" A Liong
bertanya ketika melihat kegugupan Liu Wan.
"Yah! Dia seorang pendekar ternama yang
kemudian mengasingkan diri di Pulau Meng-to. Lohu
juga kenal puteranya yang gagah perkasa, Kwe Tek
Hun. Tapi beberapa tahun yang lalu Keh-sim Tai-hiap
dikhabarkan pergi ke Pondok Pelangi. Entah benar
atau tidak."
992
"Oh, jadi beliau yang bernama Keh-sim Tai-hiap?"
A Liong tersentak kaget.
"Kau pernah mendengar namanya?"
A Liong tidak menjawab. Dia hanya menganggukanggukkan
kepalanya seraya menatap orang tua gagah
itu tanpa berkedip.
Ternyata bukan hanya Liu Wan dan A Liong yang
terkejut mendengar nama Kwe Tiong Li. Souw Hong
Lam pun ternyata juga kaget pula. Terbukti matanya
yang tajam itu terbelalak lebar.
"Ah, Kwe Tai-hiap rupanya. Nama Locianpwe
terkenal di mana-mana. Setiap orang kang-ouw tentu
mengenalnya. Sayang siaute baru dapat bertemu
sekarang..." Souw Hong Lam berkata sambil memberi
hormat.
"Ah, sudah lama lohu mengasingkan diri. Sungguh
tidak kusangka kini banyak tumbuh jago-jago muda di
kalangan persilatan. Dan caramu meniup suling
mengingatkan aku kepada seseorang. Hmmm, apakah
Saudara mempunyai hubungan darah dengan Honggi-
hiap Souw Thian Hai?"
Sekali lagi Souw Hong Lam terkejut. Orang tua itu
benar-benar awas dan lihai sekali. Hanya dengan
mendengarkan caranya meniup suling, dia sudah
dapat menebak asal usulnya.
"B-benar, Locianpwe. Siaute memang masih
mempunyai pertalian darah dengan Souw Tai-hiap.
Sayang sekali siaute jarang dapat berjumpa dengan
beliau."
993
"Benarkah? Oh, ternyata masih baik juga telingaku
ini."
Aliran sungai itu mulai mendekati belokan yang
tajam. Arus juga mulai terasa kuat menggoyang
perahu mereka. Liu Wan yang sedianya hendak
memperkenalkan diri menjadi batal. Dengan tangkas
pemuda itu meraih dayung untuk ikut menjaga ,
keseimbangan perahu.
"Tiau Li-hiap! Saudara A Liong! Awas...! Jangan
sampai perahu kita bersenggolan dengan perahu Kwe
Taihiap! Ombak sungai ini dapat menenggelamkan
perahu yang saling berbenturan!" Liu Wan berteriak
sambil membelokkan kemudinya.
"Benar! Kita tidak boleh terlalu berdekatan!" Kwe
Tiong Li berseru pula dari atas perahunya. Dan kakek
gagah itu bergegas mengayunkan dayungnya ke
dalam air.
A Liong, Tiau Hek Hoa dan Souw Hong Lam
bekerja sama mengendalikan perahu. Dengan
kesaktian mereka, perahu itu mudah saja mereka
kuasai. Terutama A Liong. Pemuda itu telah terbiasa
mengarungi lautan ganas hanya dengan sampan kecil
dari tulang ikan hiu. Baginya, ayunan ombak sungai
itu belum seberapa bila dibandingkan dengan
keganasan arus Pusaran Maut di Laut Utara!
Apabila kawan-kawannya tampak tegang dalam
usaha melawan ombak arus sungai, maka tidak
demikian dengan A Liong. Pemuda itu kelihatan
tenang saja berdiri di ujung perahu. Matanya tak
994
pernah lepas dari arus air di bawahnya. Sebentarsebentar
dayungnya dihentakkan ke dalam air untuk
menggeser arah perahu.
Tak seorang pun menyadari perbuatan A Liong.
Semuanya baru sadar setelah beberapa kali perahu
mereka lolos dari terjangan ombak. Setiap arus datang
dari samping, tahu-tahu ujung perahu mereka telah
berbalik menyongsong arus. Mereka baru sadar bahwa
semua itu adalah hasil perbuatan A Liong!
"Ooooiiii...! Anak muda! Kau sungguh
hebat...!"Kwee Tiong Li berseru dari perahunya.
Suaranya tertelan oleh deru angin dan ombak. Kakek
tua yang sudah terbiasa mengarungi lautan itu
gampang saja mengendalikan perahunya.
Perahu-perahu yang lain bergulat pula seperti
mereka. Walaupun sulit tapi tak sebuah perahu pun
yang terbalik atau tenggelam. Semua orang memang
sudah tahu keganasan tempat itu, sehingga mereka
pun telah berjaga-jaga sebelumnya. Hanya orang yang
pandai mengemudikan perahu, berani melewati
tikungan tersebut.
Selepas dari tikungan itu aliran sungai kembali
bergelombang seperti biasa. Hanya arusnya saja yang
masih terasa deras. Tetapi sebagai gantinya deru angin
bercampur debu mulai terasa meniup dari arah utara.
"Di manakah perahu Kwe Taihiap tadi?" Liu Wan
melongok ke sana ke mari, tapi perahu yang dimaksud
sudah tak kelihatan lagi.
995
"Perahunya lebih kecil. Mungkin sudah meluncur
lebih dulu." A Liong menjawab.
"Eh, lihat...! Orang-orang itu seperti mau
berpindah. Apakah mereka juga mau mengungsi
seperti penduduk di sepanjang Tembok Besar?" Tibatiba
Souw Hong Lam mengacungkan tangannya ke
daratan.
"Benar. Tampaknya pasukan Mo Tan sudah ada
yang menyusup sampai ke daerah ini. Gawat!
Sungguh gawat!" Liu Wan berdesah cemas.
A Liong yang tidak begitu paham soal negara
hanya diam saja di tempatnya. Dia yang sejak kecil
hidup menderita di kolong-kolong jembatan, tak
begitu acuh pada persoalan-persoalan pemerintahan.
Ia hanya tahu, peperangan membuat kehidupan
menjadi sulit. Terutama bagi rakyat kecil. Di masa
perang seorang pengemis pun akan sulit mencari sisasisa
makanan. Dia sendiri pernah mengalaminya.
"Heran. Mengapa orang suka benar berperang?"
Tak terasa pemuda itu bergumam perlahan.
"Ciok Sin-she! Kita harus lekas-lekas
membebaskan Yap Tai-ciangkun! Kita tidak boleh
terlambat!" Souw Hong Lam berkata.
"Benar, Hian-te. Marilah...!"
Mereka semakin bersemangat mendayung perahu.
Beberapa kali mereka melewati dusun-dusun kecil
yang sudah ditinggalkan penghuninya. Seharian
mereka mendayung perahu tanpa mengenal lelah.
Terik matahari tidak menghalangi semangat mereka.
996
Apalagi kalau mereka menyaksikan para penduduk
yang berbondong-bondong meninggalkan sawah
ladangnya.
"Eh, Locianpwe. Rasa-rasanya orang di perahu itu
selalu mengawasi kita. Mencurigakan benar...." Tibatiba
A Liong menggamit Liu Wan.
"Perahu mana...?"
"Empat
perahu besar di
belakang kita
itu! Seharusnya
perahu mereka
lebih cepat dari
perahu ini.
Layar mereka
juga lebih besar
dan lebih lebar.
Tapi,
tampaknya
mereka
memang
sengaja tidak
memasang
layar
sepenuhnya.
Mereka memang memperlambat perahu mereka."
"O, perahu itu! Apakah mereka bukan pengungsi
pula? Hemmm, jangan-jangan mereka malah
mencurigai kita. Siapa tahu mereka justru
997
menganggap kita perampok?" Souw Hong Lam yang
ikut mendengar percakapan mereka tertawa lirih.
"Benar. Dalam keadaan seperti ini, setiap orang
tentu akan saling curiga-mencurigai. Sulit untuk
menentukan, siapa kawan siapa lawan." Sekonyongkonyong
Tiau Hek Hoa mendengus.
A Liong tertawa lebar. "Ah, aku hanya omong
sekenanya saja. Kau juga tak perlu marah-marah."
"Siapa yang marah? Marah pun juga percuma
melihat tampangmu yang bodoh seperti kerbau ini!"
"Nah! Nah...! Kalau tidak merasa marah, jangan
mengumpat-umpat begitu! Tenang saja...!" A Liong
yang tidak mudah marah itu tersenyum menggoda.
"Bangsat kecil...!" Tiau Hek Hoa menjerit.
Mendadak kedua tangannya terayun ke depan.
Sing! Sing! Sing! Belasan buah paku kecil melesat
ke tubuh A Liong. Semuanya menuju ke jalan darah
kematian!
"Tiau Lihiap!" Liu Wan berseru. Begitu pula
dengan Souw Hong Lam. Serangan itu sungguh amat
ganas dan keji. Sama sekali tidak memberi
kesempatan atau peringatan kepada lawannya.
Perahu itu tidak begitu besar. Paling-paling hanya
dua tombak panjangnya, sehingga jarak antara Tiau
Hek Hoa dan A Liong juga tidak lebih dari sepanjang
dua lengan mereka. Maka dapat dibayangkan bahwa
serangan paku itu tidak mungkin dapat dihindari lagi.
Kalaupun A Liong sempat menangkis, maka tak
mungkin dapat ditangkis semuanya.
998
"Gila...!" A Liong mengumpat lirih.
Kemudian dengan gerakan yang mentakjubkan,
tubuh pemuda itu meliuk ke kanan dan ke kiri sambil
menggeser ke samping, sehingga badannya yang
kekar itu terperosok keluar perahu.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil