Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 20 Agustus 2018

CersilHangat Si Tangan Sakti 2 Tamat

=========


CersilHangat Si Tangan Sakti 2 Tamat

Bermacam perasaan mengaduk hati pangeran itu. Ada perasaan kaget, heran, namun juga kasihan dan
bahkan ada perasaan girang. Girang bahwa kekasihnya itu bukanlah anak kandung ketua Pao-beng-pai
dan isterinya!
"Akan tetapi... ke mana aku harus mencarinya, Bibi? Aku harus mencari dia sampai menemukannya. Aku
mencintanya dan akan mengambilnya sebagai isteriku!"
Cia Sun terkejut melihat wanita itu napasnya sudah empas-empis, dan agaknya sudah tidak mampu
menjawabnya, matanya sudah terpejam.
"Bibi...! Bibi...! Katakanlah, di mana Eng-moi?" Cia Sun mengguncang-guncang pundak wanita yang sudah
sekarat itu.
Wanita itu membuka matanya yang sudah sayu dan suaranya hanya bisik-bisik saja. "Suling Naga... itulah
ayah kandungnya... dia tinggal di Lok-yang...cari... cari ke sana..." Leher itu terkulai, mata itu terpejam dan
wanita itu pun mati.
Cia Sun bangkit berdiri, termenung. Sebutan ‘Suling Naga’ terngiang di telinganya. Dan dia tertegun. Dia
pernah mendengar nama besar Pendekar Suling Naga yang tinggal di Lok-yang. Kalau dia tak salah ingat,
namanya Sim Houw, seorang pendekar yang sakti, terkenal dengan ilmu pedangnya yang hebat luar biasa,
pedang yang berbentuk suling, pedang suling, atau suling pedang.
Jadi Eng Eng adalah puteri pendekar sakti itu! Ketika masih kecil diculik oleh Lauw Cu Si karena wanita itu
sebagai orang Beng-kauw menganggap pendekar itu sebagai musuh besar.
"Ahhh...!!" tiba-tiba dia terbelalak.
Dia teringat pada Yo Han. Bukankah Yo Han mencari puteri pendekar itu yang hilang? Kalau begitu, anak
yang dicari oleh Yo Han itu bukan lain adalah Eng Eng! Dia lalu mengingat-ingat. Yo Han, yang telah
menjadi saudara angkatnya ketika mereka berdua dikurung sebagai tahanan di sarang Pao-beng-pai,
pernah menceritakan bahwa anak yang dicari itu mempunyai ciri-ciri yang khas, dan ada noda merah
sebesar ibu jari kaki di tapak kaki kanannya.
Mendengar suara pertempuran di luar, Cia Sun khawatir kalau-kalau gadis itu kembali dan ikut pula
bertempur membela Pao-beng-pai melawan pasukan pemerintah. Cepat ia menyelinap keluar dan
mencari-cari.
Pertempuran sudah hampir usai. Pihak pemberontak tidak mampu menandingi pasukan yang jauh lebih
besar jumlahnya, apa lagi dipimpin oleh para jagoan istana. Bahkan Siangkoan Kok juga tidak nampak dan
ketika dia tanyakan kepada para perwira, mereka pun tidak tahu ke mana perginya ketua pemberontak itu.
Ternyata Siangkoan Kok telah meloloskan diri, tidak mempedulikan anak buahnya yang dibantai pasukan.
Setelah mencari keterangan dan merasa yakin bahwa Eng Eng tidak pernah kembali dan tidak terlibat
dalam pertempuran itu, Cia Sun segera meninggalkan tempat itu untuk pergi mencari kekasihnya. Banyak
anggota Pao-beng-pai yang tewas, sisanya ditawan. Gagallah gerakan Pao-beng-pai, seperti yang dialami
oleh banyak kelompok-kelompok pemberontak terdahulu…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis itu berdiri termenung di lereng itu. Dia memandang lurus ke depan, ke arah bukit menghitam yang
disebut orang Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan). Memang nampak menyeramkan dari lereng itu,
seolah-olah lembah itu memang sepantasnya dihuni oleh setan dan iblis.
Para penduduk dusun di sekitar kaki Bukit Setan itu menganggap Ban-kwi-kok sebagai lembah yang
keramat sehingga tiada seorang pun berani mendaki ke sana. Akan tetapi, menurut keterangan para
penghuni dusun, baru sebulan yang silam lembah itu diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya.
Kabar itu mengatakan bahwa terjadi pertempuran besar, kemudian pasukan pemerintah turun dan
membawa banyak tawanan, kemudian lembah itu nampak terbakar. Biar pun desas-desus mengatakan
bahwa gerombolan yang bersembunyi di lembah itu sudah terbasmi habis, dan lembah itu telah kosong,
perkampungan gerombolan pemberontak telah dibakar, namun masih saja tidak ada seorang pun yang
berani naik ke sana.
Gadis itu masih amat muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya. Cantik manis dan nampak gagah
dengan pakaiannya yang sederhana namun serasi dengan bentuk tubuhnya yang padat dan ramping, dan
pakaian itu bersih.
Wajahnya yang manis, dengan sepasang matanya yang indah dan bersinar tajam, juga sederhana, tanpa
dipoles bedak dan gincu. Akan tetapi, kulit mukanya memang sudah halus dan putih, dan kedua pipinya
kemerahan karena sehat, demikian pula sepasang bibirnya merah tanpa gincu.
Biar pun dia muda dan cantik manis, namun di sepanjang perjalanan tidak pernah atau jarang sekali ada
pria yang berani mengganggunya. Hal ini karena penampilannya yang pendiam dan gagah, dengan
sebatang pedang di punggungnya sehingga mudah diduga bahwa ia bukan wanita sembarangan yang
boleh diganggu begitu saja, tetapi seorang wanita kang-ouw, seorang pendekar wanita.
Dan memang dugaan itu benar. Gadis muda ini adalah Cu Kim Giok, puteri tunggal dari pendekar Cu Kun
Tek dan Pouw Li Sian.
Cu Kun Tek adalah pendekar yang merupakan keturunan para pendekar Cu, majikan Lembah Naga
Siluman. Cu Kun Tek terkenal mewarisi ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman).
Juga ilmu tangan kosongnya Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok) dan Pat-hong Sin-kun
(Ilmu Silat Sakti Delapan Penjuru Angin) hebat sekali.
Ada pun ibu gadis itu, yang bernama Pouw Li Sian, bahkan lebih lihai bila dibandingkan suaminya. Pouw Li
Sian ini adalah murid mendiang Bu Beng Lokai yang sakti.
Ketika Cu Kim Giok diajak oleh ayah ibunya menghadiri ulang tahun dan pertemuan tiga keluarga besar di
rumah Suma Ceng Liong, gadis ini merasa gembira bukan main. Dan bangkitlah keinginannya untuk
memperluas pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau seperti yang dilakukan para pendekar.
Ayah ibunya tidak merasa keberatan. Mereka sendiri adalah pendekar-pendekar yang dahulu di waktu
mudanya sudah biasa melakukan penjalanan merantau memperluas pengalaman. Pula, puteri mereka
sudah mewarisi ilmu kepandaian mereka dan tingkat kepandaian gadis itu hanya sedikit selisihnya dengan
tingkat mereka sehingga Kim Giok telah memiliki bekal yang cukup untuk melindungi dan menjaga diri
sendiri.
Tentu saja Kim Giok juga sangat tertarik dengan peristiwa yang terjadi di rumah Suma Ceng Liong, yaitu
munculnya seorang gadis cantik lihai yang mengaku sebagai seorang puteri tokoh Pao-beng-pai yang
memusuhi tiga keluarga besar. Oleh karena itulah, pada siang hari itu, ia tiba di Kwi-san dan sekarang
termangu berdiri di lereng itu setelah ia mendengar keterangan penduduk tentang penyerbuan pasukan
pemerintah yang sudah membasmi gerombolan Pao-beng-pai di Lembah Selaksa Setan.
Ahh, pikirnya, sayang aku datang terlambat. Andai kata tidak terlambat, tentu akan bisa menyaksikan
terbasminya gerombolan itu, dan kalau perlu ia akan membantu pasukan.
Bukan semata karena ia ingin membantu pemerintah. Ayah ibunya berpesan supaya ia tidak melibatkan
diri dengan pemerintah Mancu. Akan tetapi, ia dapat mempergunakan kesempatan selagi gerombolan itu
dunia-kangouw.blogspot.com
ditumpas, untuk bisa membalas sikap sombong dara gadis Pao-beng-pai itu terhadap tiga keluarga besar.
Ia lalu menduga-duga, bagaimana dengan nasib gadis cantik itu? Apakah ikut terbunuh? Atau tertawan?
Tidak ada gunanya lagi mendaki ke lembah yang sudah hancur itu. Tentu tidak ada lagi orang di sana. Cu
Kim Giok membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan lereng itu. Akan tetapi baru belasan langkah
ia berjalan, tiba-tiba pendengarannya yang tajam terlatih mendengar gerakan orang.
Ia berhenti melangkah dan memandang ke sekeliling penuh kewaspadaan dan tiba-tiba bermunculan lima
orang laki-laki yang nampak bengis. Mereka itu berloncatan dari balik semak belukar. Melihat bahwa
mereka berhadapan dengan seorang gadis yang cantik manis, mereka cengar-cengir dan menyeringai
dengan sikap kurang ajar, dengan mata yang liar dan bengis.
Kim Giok bersikap tenang, akan tetapi matanya yang indah tajam itu menyapu mereka. Lima orang itu
berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun. Tubuh mereka rata-rata kekar dan kuat. Pakaian
mereka butut dan kotor, tentu sudah lama tidak pernah berganti pakaian.
Melihat pakaian kotor itu seperti seragam abu-abu, teringatlah ia akan beberapa orang lelaki yang ikut
datang mengawal gadis Pao-beng-pai yang berkunjung ke rumah Suma Ceng Liong tempo hari. Agaknya
mereka ini sisa anggota Pao-beng-pai, pikir gadis yang cukup cerdik ini. Dan memang dugaannya benar.
Lima orang itu adalah mereka yang berhasil lolos dari penyerbuan pasukan pemerintah. Karena takut
muncul di tempat umum, lima orang ini bersembunyi saja di Kwi-san, tidak jauh dari bekas sarang Paobeng-
pai.
Mereka mengharapkan dapat bertemu dengan seorang di antara para pimpinan mereka karena mereka
tahu bahwa ketua mereka tidak tewas, juga tidak ikut tertawan. Hanya nyonya ketua mereka yang tewas.
Bahkan nona puteri ketua juga tidak ikut tertawan.
Ketika dari tempat persembunyian mereka nampak ada gadis yang datang ke tempat itu, mereka tadinya
mengira bahwa gadis itu tentulah Siangkoan Eng sehingga mereka merasa girang sekali. Akan tetapi
setelah mereka muncul, mereka melihat bahwa gadis itu sama sekali bukan puteri ketua mereka,
melainkan seorang gadis lain yang asing sama sekali, akan tetapi gadis itu cantik manis dan menarik.
Seorang di antara mereka, yang berhidung besar dan bermata lebar, agaknya menjadi pimpinan mereka,
melangkah maju sambil tertawa bergelak. Perutnya yang besar itu nampak karena bajunya kehilangan
kancing dan terbuka. Perut itu terguncang-guncang naik turun ketika dia tertawa.
"Ha-ha-ha-ha-ha, kawan-kawan, alangkah beruntungnya kita hari ini! Kita kedatangan seorang bidadari
yang cantik jelita, yang agaknya menaruh iba kepada kita dan datang untuk menghibur kita. Ha-ha-ha-haha!"
Teman-temannya ikut pula tertawa. Selama sebulan lebih mereka dicekam ketakutan, kekurangan dan
kedukaan. Dan hari ini, tiba-tiba saja, tanpa disangka-sangka, mereka berhadapan dengan seorang gadis
cantik! Tentu saja mereka bergembira.
Anak buah Pao-beng-pai terdiri dari bermacam-macam orang, akan tetapi kebanyakan dari mereka adalah
orang-orang yang berjiwa sesat. Kalau membutuhkan, mereka tidak segan untuk melakukan perampokan
dan berbagai kejahatan lainnya. Dan kini, melihat seorang gadis seorang diri di tempat sunyi itu, tentu saja
timbul gairah mereka, seperti lima ekor harimau kelaparan melihat munculnya seekor domba seorang diri.
"He-he-heh-heh, Nona manis, siapakah engkau, siapa namamu dan mengapa engkau berada di sini
seorang diri? Apakah engkau sengaja datang hendak menghibur kami berlima? Ha-ha-ha!" Si hidung besar
kembali berkata dan kini mereka berlima, sambil tersenyum menyeringai, sudah mengambil posisi
mengepung gadis itu agar tidak dapat melarikan diri.
Akan tetapi, sebetulnya lima orang itu harus tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang
bukan gadis sembarangan saja. Hal ini sebetulnya dapat dilihat dari sikap Kim Giok. Biar pun sudah
dikepung lima orang itu, ia bersikap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada sesuatu yang mengancam
dirinya, tidak ada sesuatu yang perlu ditakuti.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aneh... aneh sekali..." Kim Giok tidak menjawab pertanyaan, bahkan bergumam sambil menggelengkan
kepalanya.
"Apanya yang aneh, Nona manis? Kami bukan orang-orang aneh, kami adalah laki-laki sejati dan engkau
sebentar lagi akan membuktikannya sendiri, heh-heh!" kata si hidung besar sambil melangkah maju
mendekat.
"Aneh, kenapa masih ada sisa anak buah Pao-beng-pai? Kenapa kalian tidak mampus atau tertawan?"
kata Kim Giok, masih tenang saja.
Mendengar ucapan gadis itu, lima orang bekas anak buah Pao-beng-pai nampak sangat terkejut. Mereka
saling pandang dan kini mengepung lebih ketat dengan sikap bengis dan mengancam.
"Nona, siapakah engkau sebenarnya dan mau apa engkau datang ke tempat ini?" Suara si hidung besar
kini galak dan mengandung ancaman, tidak lagi menggoda seperti tadi.
"Namaku tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian. Juga aku tidak mempunyai sangkut paut dengan
pembasmian Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah. Aku hanya heran mengapa kalian tidak ikut mampus
atau tertawan. Nah, karena di antara kita tidak ada urusan, minggirlah dan biarkan aku lewat!" kata Kim
Giok.
Dia memang tidak ingin mencari keributan dengan bekas anak buah Pao-beng-pai yang sudah hancur itu.
Tapi kalau ia bertemu dengan gadis tokoh Pao-beng-pai yang pernah mengacau di rumah Suma Ceng
Liong, tentu akan lain lagi sikapnya.
Akan tetapi, ketika ia mulai melangkah, lima orang itu cepat menghadangnya dan tetap mengepungnya.
Bahkan kini sikap mereka kembali seperti tadi, dengan pandang mata yang tidak sopan.
"Hemmm, engkau tak boleh pergi sebelum menghibur kami, Nona manis!" Dan si hidung besar cepat
menggerakkan kedua lengannya yang panjang, jari-jari tangan yang besar panjang itu hendak merangkul.
"Wuuut... plakkk! Aughhh...!"
Tubuh tinggi besar si hidung besar itu terjengkang. Ternyata ketika kedua tangannya sudah hampir
menyentuh kedua pundak gadis itu untuk merangkul, gadis itu dengan gerakan cepat sekali menyelinap ke
samping sehingga tubrukan itu luput dan sekali Kim Giok menggerakkan tangan kiri menampar, leher di
bawah telinga si hidung besar kena ditampar dan orang itu pun terjengkang dan terbanting, melotot dan
meraba lehernya dengan mata terbelalak dan mulut mengaduh-aduh.
Empat orang temannya menjadi kaget dan marah. Mereka berempat cepat menyerbu, seolah-olah hendak
berlomba untuk lebih dulu dapat meringkus gadis manis itu. Namun, sekali ini mereka membentur karang.
Gerakan Kim Giok cepat bukan main, tangan dan kakinya menyambar-nyambar dan dalam segebrakan
saja, empat orang itu pun sudah terpelanting dan roboh oleh tamparan tangan atau tendangan kakinya!
Kelima orang itu mengaduh-ngaduh dan menyumpah-nyumpah. Dasar golongan kasar yang tidak tahu diri
dan yang selalu merasa diri mereka paling pandai, lima orang itu tidak melihat kenyataan bahwa mereka
sama sekali bukanlah lawan gadis manis yang mereka sangka domba itu. Mereka tidak menyadari bahwa
yang disangka domba itu sesungguhnya seekor singa betina yang amat tangguh!
Mereka merasa penasaran. Sekarang nafsu birahi mereka terbang lenyap, terganti oleh nafsu amarah
yang hanya bisa diredakan dengan darah! Mereka cepat mencabut golok mereka dan berloncatan berdiri.
Kim Giok sudah dapat menilai sampai di mana kemampuan lima orang lawannya, maka dia pun tidak mau
mencabut pedangnya, hanya berdiri tegak sambil tersenyum manis. Kelima orang itu sudah menggerakkan
golok mereka. Bagaikan binatang-binatang yang haus darah, mereka sudah menyerang Kim Giok,
serangan maut yang dimaksudkan untuk membunuh!
Akan tetapi, pandangan mata mereka menjadi kabur ketika gadis itu bergerak cepat dan lenyap bentuk
tubuhnya, hanya nampak bayangannya berkelebat menyambar-nyambar bagaikan seekor capung. Itulah
Pat-hong Sin-kun yang membuat tubuh gadis itu seolah-olah bergerak dari delapan penjuru angin!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan ketika kelima orang itu membacok-bacok secara membabi-buta ke arah bayangan tubuh gadis itu
tanpa hasil, Kim Giok kembali membagi tamparan dan tendangan. Kini ia menambah tenaganya hingga
lima orang lawan yang terkena tamparan atau tendangan, roboh untuk tidak dapat bangkit dengan cepat,
hanya mengaduh-aduh, ada yang patah tulang, ada yang nanar dan ada pula yang mendadak mulas
perutnya!
Kim Giok berdiri sambil bertolak pinggang, memandang kelima orang lawan yang masih mengeluh
kesakitan itu.
"Hemmm, pantas saja Pao-beng-pai terbasmi oleh pasukan pemerintah. Kiranya kalian ini hanya mengaku
sebagai pejuang, akan tetapi sesungguhnya hanyalah segerombolan penjahat kecil yang tidak tahu malu.
Perampok dan pengganggu wanita. Orang-orang macam kalian ini berani mengaku pejuang?"
"Nona, ucapanmu itu lancang sekali!" tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan dalam, juga amat
berwibawa karena Kim Giok merasa betapa isi dadanya tergetar oleh suara itu.
Ia terkejut dan cepat menoleh ke kanan, ke arah datangnya suara dan semakin kagetlah ia ketika melihat
bayangan mendaki lereng itu dari arah kanan. Kalau orang itu yang tadi mengeluarkan suara, alangkah
kuatnya khikang dari orang itu. Jelas bahwa dia mampu mengirim suara dari jauh dengan demikian
kuatnya, dan hal ini menunjukkan bahwa dia akan berhadapan dengan seorang yang amat lihai.
Gerakan orang itu pun cepat bukan main. Sebentar saja dia telah berada di situ, berdiri tegak berhadapan
dengan Kim Giok. Gadis ini memang penuh perhatian.
Seorang pria jantan berusia lima puluh lima tahun yang sangat gagah. Tubuhnya tinggi besar dan kokoh
kuat bagaikan batu karang. Mukanya persegi merah dan jenggotnya terpelihara rapi, di punggungnya
nampak gagang pedang dengan ronce merah.
"Pangcu...!" lima orang itu segera memaksa diri untuk memberi hormat dengan berlutut kepada orang yang
baru tiba ini.
Tahulah Kim Giok bahwa pria ini adalah ketua Pao-beng-pai! Tentu orang ini ayah dari gadis lihai yang
dulu pernah mengacau pesta pertemuan keluarga di rumah Suma Ceng Liong! Biar pun maklum bahwa ia
berhadapan dengan seorang yang amat lihai, namun puteri dari sepasang pendekar Lembah Naga
Siluman ini sedikit pun tak merasa gentar. Hanya ia bersikap waspada.
Pria itu menengok ke arah lima orang anggota Pao-beng-pai itu dan mendengus marah, lalu dia
menghadapi Kim Giok lagi. Pandang matanya yang sangat tajam mencorong itu mengamati Kim Giok
penuh selidik, dari kepala sampai ke kakinya.
Seperti sudah diceriterakan di bagian depan, pada waktu Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah,
Siangkoan Kok, ketua Pao-beng-pai ini, telah dikepung oleh belasan orang jagoan istana yang datang
bersama muridnya, Tio Sui Lan, murid utama yang kemudian dia paksa menjadi isterinya setelah dia
bercekcok dengan isterinya, Lauw Cu Si.
Dia berhasil membunuh Sui Lan dan melukai Cu Si, akan tetapi ketika dia menghadapi pengeroyokan
belasan orang jagoan istana yang membuatnya amat terdesak, kemudian mendengar keributan di luar
dengan adanya penyerbuan pasukan pemerintah, dia cepat meninggalkan para pengeroyoknya. Setelah
tiba di luar, dia melihat betapa tempat itu diserbu oleh pasukan yang besar sekali jumlahnya. Tahulah ia
bahwa semua usahanya telah gagal, gerakannya hancur.
Karena maklum bahwa melawan pasukan itu pun tidak akan ada gunanya dan akhirnya bahkan hanya
akan membahayakan diri sendiri, dia pun meninggalkan Ban-kwi-kok! Dia melarikan diri bukan karena
takut, melainkan karena maklum betapa akan sia-sianya melakukan perlawanan terus.
Sebagai seorang yang amat cerdik dan licik, dia tidak mau berlaku nekat yang akhirnya mengorbankan
dirinya sendiri. Tidak, demi cita-citanya, biar pun sekali ini kelompoknya dihancurkan, apa bila dia masih
hidup, dia dapat membentuk dan membangun kembali Pao-beng-pai, berjuang terus sampai dapat
menjatuhkan kerajaan Ceng, serta mengusir orang-orang Mancu dari tanah air!
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena dia ingin mengetahui keadaan bekas markas Pao-beng-pai yang telah dibasmi dan dibakar, maka
siang hari itu dia mendaki Kwi-san dan kebetulan dia melihat dan mendengar apa yang terjadi di lereng itu
biar pun dia masih jauh.
"Nona, siapakah engkau yang begitu lancang memaki dan menghina Pao-beng-pai?" bentaknya dengan
alis berkerut dan wajah bengis.
Kim Giok adalah seorang gadis yang sejak kecil telah dilatih ayah ibunya sendiri. Bukan hanya ilmu silat
tinggi, akan tetapi juga kebudayaan sehingga dia tahu sopan santun. Menghadapi seorang yang
kedudukannya tinggi seperti ketua Pao-beng-pai, ia memang ada menaruh hormat. Akan tetapi mengingat
betapa puteri orang ini pernah menghina dan mengacau dalam pertemuan tiga keluarga besar, ia merasa
tidak senang dan ia pun tidak memberi hormat.
"Kalau aku tidak salah duga, tentulah engkau ini ketua Pao-beng-pai yang telah dibasmi pasukan
pemerintah!" katanya, dan dia pun menentang pandang mata pria itu dengan penuh keberanian.
"Benar, akulah Siangkoan Kok. Sekarang katakan, siapa engkau dan kenapa engkau menghina Pao-bengpai!"
"Maaf, Pangcu. Aku sama sekali tak berniat menghina Pao-beng-pai. Bahkan aku akan menghormati Paobeng-
pai jika memang perkumpulan itu sungguh-sungguh merupakan perkumpulan para orang gagah yang
berjuang menentang penjajah Mancu. Akan tetapi, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya saja. Aku
mendengar tentang penyerbuan pasukan pemerintah terhadap Pao-beng-pai dan aku ingin melihat
keadaan di sini. Aku, Cu Kim Giok, ingin meluaskan pengalaman dan kesempatan ini tidak kulewatkan
begitu saja. Akan tetapi, apa yang kudapatkan? Lima orang itu muncul dan mengaku sebagai anggota Paobeng-
pai. Mereka bersikap sebagai penjahat-penjahat kecil yang hendak merampok dan mengganggu
wanita. Kalau memang para anggota Pao-beng-pai seperti itu, lalu apa yang harus kukatakan terhadap
Pao-beng-pai?"
Siangkoan Kok melirik ke arah anak buahnya yang kini telah bangkit berdiri bergerombol sambil
memandang penuh harapan, ingin melihat ketua mereka menundukkan gadis yang sudah menghajar
mereka itu. Lalu dia berkata, "Tidak sembarang orang boleh menilai kami. Nona, aku ingin melihat lebih
dulu sampai di mana kepandaianmu, baru aku akan mengambil keputusan, apa yang harus kulakukan
terhadap dirimu."
"Pangcu, kalau engkau membela mereka itu, aku berani mengatakan bahwa memang Pao-beng-pai
dipimpin oleh orang yang tidak baik!" kata Kim Giok berani.
"Kita bicara lagi setelah kita mengadu kepandaian. Nah, sambutlah seranganku ini!"
Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menggerakkan tangannya menampar ke arah kepala gadis itu.
Angin yang dahsyat menyambar, disusul angin yang menyambar dari samping karena tangannya yang
kedua sudah mengikuti serangan pertama itu dengan mencengkeram ke arah perut.
Kim Giok memang kurang pengalaman bertanding, namun dia sudah digembleng oleh ayah bundanya
sejak kecil, maka ia segera mengenal serangan yang berbahaya. Cepat dia pun mengerahkan ginkang-nya
dan tubuhnya sudah mencelat ke belakang untuk mengelak sehingga serangan kedua tangan Siangkoan
Kok yang beruntun itu luput.
Diam-diam Siangkoan Kok maklum bahwa gadis ini meski pun masih muda, memang cukup berisi,
agaknya tak kalah jika dibandingkan dengan mendiang Tio Sui Lan, murid pertamanya. Ia kembali
mendesak dengan pukulan-pukulan yang mendatangkan angin berpusing.
Kembali Kim Giok menggunakan ginkang dan mengelak dengan gerakan cepat sekali, membuat tubuhnya
hanya merupakan bayangan yang berkelebatan mengelak di antara hujan serangan lawan. Oleh karena
maklum bahwa lawannya benar-benar tangguh, Kim Giok cepat mencabut pedangnya. Nampaklah sinar
berkilat dan terdengar bunyi desing yang aneh, seperti gerengan binatang buas, bagaikan auman harimau.
Itulah Koai-liong Pokiam (Pedang Pusaka Naga Siluman), pedang milik ayahnya yang diberikan padanya
agar gadis itu dapat melindungi diri dengan baik.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat sinar pedang dan dengungnya yang menyeramkan itu, diam-diam Siangkoan Kok terkejut dan
kagum bukan main.
"Ahhh, po-kiam (pedang pusaka) yang hebat!" teriaknya.
Begitu Kim Giok memainkan pedangnya, dia pun semakin kaget dan cepat mencabut pedangnya sendiri.
Dia kaget karena dia maklum bahwa walau pun dia memiliki tingkat kepandaian tinggi, namun terlalu
berbahaya baginya kalau menghadapi pedang seperti itu dengan tangan kosong saja. Apa lagi gerakan
ilmu pedang gadis itu pun hebat dan dahsyat, bagaikan seekor naga yang mengamuk.
Segera terjadi pertandingan pedang yang amat seru.
Setelah lewat belasan jurus, mendadak Siangkoan Kok meloncat jauh ke belakang dan berseru, "Tahan
dulu!"
Kim Giok berdiri tegak, pedang juga tegak lurus di depan dadanya.
"Nona, bukankah itu Koai-liong Kiamsut (Ilmu Pedang Naga Siluman) yang barusan kau mainkan? Dan
tentu pedang itu Koai-liong Pokiam! Apa hubunganmu dengan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman?"
Kim Giok tersenyum. "Namaku Cu Kim Giok, tentu engkau bisa menduganya, Pangcu."
"Ahh, benar! Engkau tentu keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman! Sudah lama aku mendengar
tentang keluarga Cu yang gagah perkasa. Ah, sungguh beruntung hari ini dapat menguji kepandaian
seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman. Nah, kini sambutlah seranganku ini dan
keluarkan seluruh ilmu pedang Naga Siluman itu, Nona!"
Setelah berkata demikian, Siangkoan Kok menerjang ke depan dengan dahsyat karena dia tahu betapa
lihainya pedang dan ilmu pedang gadis muda itu. Dia memang sejak dahulu ingin sekali menguasai semua
ilmu silat tinggi di seluruh dunia, maka dia sejak dahulu memancing para tokoh persilatan untuk mengadu
ilmu dan dengan cara itu, dia dapat mempelajari ilmu mereka.
Kini, berhadapan dengan seorang keturunan keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja dia tidak
mau melewatkan kesempatan baik itu untuk memaksa Kim Giok memainkan ilmu pedang itu. Justru
kelihaian Siangkoan Kok terletak kepada kekuatan ingatannya sehingga sekali melihat, dia sudah hampir
dapat mengingat dan menguasai gerakan itu. Karena pengetahuannya yang luas tentang ilmu-ilmu dari
para tokoh besar, maka dia pun tentu saja menjadi lihai bukan main.
Karena didesak lawan yang lihai, tentu saja terpaksa Kim Giok memainkan Kaoi-liong Kiam-sut
sepenuhnya, bahkan ia mengerahkan seluruh tenaganya. Hebat memang ilmu pedang gadis ini.
Pedangnya langsung berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung dan mengeluarkan suara mengaung,
seolah-olah ada naga yang melayang-layang dan mengamuk.
Melihat hal ini, lima orang anak buah Pao-beng-pai itu diam-diam memaki diri mereka sendiri. Mereka
seperti buta, tak melihat bahwa gadis itu adalah seorang yang demikian lihainya. Bergidik mereka
membayangkan betapa tadi mereka berani hendak kurang ajar kepada gadis itu. Apa bila tadi gadis itu
mencabut pedangnya, mungkin sekarang mereka telah menjadi setan-setan tanpa kepala!
Betapa pun hebatnya ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut, namun ketangguhan seseorang bukan hanya
bergantung sepenuhnya pada ilmu silatnya, melainkan lebih banyak pada keadaan orang itu sendiri. Jika
dibandingkan Siangkoan Kok, tentu saja Kim Giok kalah segala-galanya, walau pun mungkin ilmu
pedangnya tidak kalah bila dibandingkan ilmu pedang lawan. Ia kalah tenaga, kalah pengalaman
bertanding, juga jauh kalah matang dalam gerakan ilmu pedang.
Setelah lewat seratus jurus, karena ditekan terus sehingga ia harus berulang-ulang kali memainkan ilmu
pedangnya, dia sudah mandi keringat dan napasnya mulai tersengal. Tahulah gadis ini bahwa kalau
dilanjutkan, akhirnya ia akan roboh oleh pedang lawan.
Namun, ia sudah dilatih ayah ibunya untuk tidak mengenal takut dan pantang menyerah kepada orang
yang jahat. Lebih baik mati dengan pedang di tangan dari pada menyerah kepada pada seorang yang jahat
dan yang tentu akan membuat ia lebih menderita dari pada kalau ia roboh dan tewas. Baru lima orang anak
dunia-kangouw.blogspot.com
buahnya saja sudah seperti itu, apa lagi ketuanya! Maka, ia pun terus menggerakkan pedangnya dengan
nekat, walau pun tenaganya sudah banyak berkurang.
Makin lama, semakin repotlah Kim Giok, hanya mampu mengelak dan menangkis saja, itu pun setiap kali
menangkis, pedangnya terpental dan lengannya tergetar hebat. Pada saat itu terdengar suara tertawa yang
aneh, tawa mengejek yang mengandung getaran yang membuat dua orang yang sedang bertanding itu
terpaksa menghentikan gerakan mereka karena mereka merasa betapa jantung mereka terguncang.
Menggunakan kesempatan terlepas dari desakan karena lawan menghentikan gerakan pedangnya, Kim
Giok segera melompat ke belakang dan menengok ke arah orang yang tertawa itu. Juga Siangkoan Kok
menoleh.
Yang tertawa itu adalah seorang laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh tiga tahun, gagah dan
tampan sekali. Alisnya hitam tebal dan panjang, matanya mencorong. Hidungnya mancung dan mulutnya
yang tersenyum itu manis. Dagunya juga kokoh dan mukanya bersih. Tubuhnya tegap berisi otot yang
membuat dia nampak gagah. Pakaian yang dikenakan pemuda itu tidak mewah, namun rapi dan bersih.
Pemuda itu sudah menghentikan tawanya dan kebetulan dia memandang kepada Kim Giok. Dua pasang
mata bertemu pandang, melekat, kemudian wajah Kim Giok berubah kemerahan dan ia pun menundukkan
mukanya. Hatinya berdebar aneh dan harus diakui bahwa ia merasa amat tertarik kepada pemuda yang
tampan dan gagah itu.
Akan tetapi, sebaliknya Siangkoan Kok mengerutkan alisnya, matanya melotot marah. Tentu saja dia
memandang rendah kepada pemuda yang tidak dikenalnya itu, yang berarti tidak terkenal pula.
"Heh siapa engkau berani mentertawakan aku dan mencampuri urusanku?"
Pemuda tampan itu bukan lain adalah Ouw Seng Bu yang belum lama ini telah berhasil menguasai Thianli-
pang dan menjadi ketuanya. Dia mendengar mengenai kehancuran Pao-beng-pai oleh pasukan
pemerintah. Dia ingin sekali melihat bagaimana keadaan Pao-beng-pai sekarang karena dia ingin
memperkuat Thian-li-pang dengan bersekutu dan bekerja sama dengan para perkumpulan lainnya yang
besar seperti Pek-lian-kauw, Pat-kwa-pai, dan Pao-beng-pai.
Biar pun dia sendiri belum pernah melihat Siangkoan Kok, namun dia sudah menyelidiki dan mendengar
bagaimana keadaan ketua Pao-beng-pai itu. Maka, ketika melihat pria setengah tua yang gagah perkasa
itu bertanding melawan seorang gadis yang juga lihai, akan tetapi gadis itu terdesak, Ouw Seng sengaja
mengeluarkan suara tawa yang dilakukan dengan pengerahan khikang sehingga kedua orang yang sedang
bertanding itu terkejut dan menghentikan pertandingan mereka.
Mendengar teguran dari Siangkoan Kok, Seng Bu yang datang untuk mencari kawan, tersenyum.
"Bukankah kini aku tengah berhadapan dengan Siangkoan Kok, pangcu dari Pao-beng-pai?" tanyanya, kini
sikapnya sopan dan ramah.
Siangkoan Kok mengamati pemuda itu. Dia seorang yang berpengalaman. Dari suara tawa pemuda itu tadi
saja, dia pun dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang lemah. Akan tetapi karena dia tidak
mengenalnya, maka dia memandang rendah.
"Engkau sudah tahu namaku, mengapa masih berani lancang mencampuri urusanku?!" bentaknya. "Siapa
engkau?!"
"Namaku Ouw Seng Bu dan seperti juga engkau, aku seorang pengcu (ketua) pula. Aku adalah pangcu
dari Thian-li-pang."
"Bohong!" Siangkoan Kok membentak marah.
Sementara itu, kelima orang bekas anak buahnya kini sudah memegang golok mereka masing-masing dan
siap untuk membantu ketua mereka kalau diperintahkan. Ada pun Kim Giok, walau pun tidak mengenal
siapa pemuda itu, akan tetapi di dalam hatinya ia sudah condong untuk berpihak kepadanya sehingga
kalau sampai pemuda itu terancam bahaya, tanpa diminta pun ia pasti akan membantunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, orang muda. Jangan engkau mencoba untuk membohongi aku. Kau kira aku tidak tahu siapa
ketua Thian-li-pang? Ketuanya adalah Lauw Kang Hui, dan pemimpin besarnya adalah Sin-ciang Taihiap
Yo Han. Bukankah begitu? Dan engkau ini, orang bernama Ouw Seng Bu tidak pernah dikenal sebagai
ketua Thian-li-pang!"
Seng Bu tersenyum dan menggeleng kepala. "Itu menandakan bahwa Pao-beng-pai yang telah hancur tak
lagi pandai meneliti keadaan di dunia kang-ouw. Engkau agaknya tidak tahu, Pangcu, bahwa Lauw Pangcu
dari Thian-li-pang telah tewas dan akulah yang menjadi penggantinya. Ada pun Yo Han, ahh, dia bukan
orang Thian-li-pang dan dia tak mempunyai urusan apa pun dengan Thian-li-pang."
Siangkoan Kok masih sangsi, akan tetapi karena dia memang tidak tahu perkembangan di dunia kangouw,
maka dia tidak membantah lagi.
"Walau engkau benar ketua Thian-li-pang, itu pun tidak memberi hak kepadamu untuk mencampuri
urusanku! Nah, mau apa engkau datang ke sini?"
"Pangcu, aku mendengar bahwa Pao-beng-pai diserbu pasukan pemerintah. Begitulah jadinya kalau kita
tidak mau bekerja sama antara perkumpulan pejuang. Aku datang hendak mengulurkan tangan kepadamu,
mengajakmu bekerja sama. Thian-li-pang sejak dahulu terkenal sebagai perkumpulan pejuang yang gigih.
Beberapa kali kami sudah menyusup ke istana dan biar pun belum berhasil, namun nama kami cukup
ditakuti. Akan tetapi setelah tiba di sini, markas Pao-beng-pai sudah hancur, dan aku melihat Pangcu
bahkan sedang bertanding melawan seorang gadis muda. Siapakah Nona ini dan mengapa pula
bertanding melawan Pangcu?"
"Huh, dia berani berkeliaran di sini dan memukul anak buahku!" kata Siangkoan Kok dengan singkat
karena dia tidak menghendaki orang luar mencampuri urusannya.
Akan tetapi Seng Bu yang amat tertarik kepada gadis cantik manis yang juga lihai ilmu pedangnya itu, kini
sudah menghadapi Kim Giok lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.
"Nona telah mengenal namaku. Aku Ouw Seng Bu, ketua Thian-li-pang dan kalau boleh aku bertanya,
siapakah Nona dan mengapa engkau bertanding melawan Pangcu dari Pao-beng-pai yang amat lihai?"
Kim Giok cepat membalas penghormatan itu dengan senyum ramah, lalu ia menjawab, "Namaku Cu Kim
Giok dan aku sedang merantau untuk meluaskan pengalaman. Ketika tiba di sini aku mendengar bahwa
Pao-beng-pai dibasmi pasukan pemerintah, maka aku sengaja hendak melihat bekas-bekasnya di sini.
Tiba-tiba muncul lima orang itu yang hendak merampok dan bersikap kurang ajar kepadaku. Aku
menghajar mereka. Lalu muncul Pangcu dari Pao-beng-pai ini yang memaksaku untuk bertanding."
Mendengar ini, Seng Bu kembali menghadapi Siangkoan Kok, "Aih, Pangcu semestinya malu terhadap Cusiocia
(nona Cu) ini. Anak buahmu yang bersalah, dan sepantasnya engkau yang minta maaf kepadanya
dan menghukum anak-anak buahmu, bukan malah menantang Cu-siocia untuk bertanding." katanya
mencela.
Wajah ketua Pao-beng-pai menjadi merah sekali dan matanya mencorong tajam. "Ouw Seng Bu, engkau
ini siapa berani berkata seperti itu kepadaku? Kalau engkau memang mengulurkan tangan ingin bekerja
sama dengan aku, setidaknya aku tentu harus tahu orang macam apa engkau ini dan apakah engkau
pantas duduk sejajar dengan aku!"
"Hemmm, sudah kudengar bahwa Siangkoan Kok adalah orang yang berwatak angkuh dan selalu
memandang rendah orang lain. Baiklah, akan tetapi bagaimana kalau aku mampu menandingi ilmu
silatmu?"
"Ouw Seng Bu, jika memang engkau dapat mengalahkan aku, barulah aku mau menjadi sekutumu, bahkan
aku akan membantu Thian-li-pang. Akan tetapi, kalau engkau tidak mampu menandingi aku, engkau harus
cepat berlutut minta ampun kepadaku dan tidak mencampuri urusanku lagi. Kalau engkau bukan ketua
Thian-li-pang, tentu engkau akan kubunuh."
"Bagus! Nah, aku sudah siap, Siangkoan Pangcu. Tetapi karena aku ingin bersahabat denganmu, bukan
bermusuhan, maka sebaiknya kita bertanding dengan tangan kosong saja."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baik, sambutlah seranganku ini, orang she Ouw!"
Setelah berkata begitu, Siangkoan Kok yang sudah menyimpan pedangnya, menerjang dengan
pukulannya yang mengandung tenaga sinkang yang dahsyat. Karena dia ingin cepat-cepat mengalahkan
lawannya, maka dia mengerahkan tenaganya yang disebut Kang-kin Tiat-kut (Otot Baja Tulang Besi) dan
begitu kedua tangan kakinya bergerak menggunakan ilmu ini, terdengar suara berkerotokan pada bukubuku
tulangnya!
Walau pun masih menderita nyeri, lima orang anak buah Pao-beng-pai kini memandang dengan wajah
gembira. Mereka merasa yakin sekali bahwa ketua mereka yang sakti akan dapat mengalahkan pemuda
itu pula.
Akan tetapi, Kim Giok memandang dengan sinar mata penuh khawatir. Pemuda itu jelas muncul dan
membantunya, bahkan dia berani menegur bekas ketua Pao-beng-pai untuk membelanya. Dan ia tahu
betapa lihainya Siangkoan Kok, apa lagi kini mengeluarkan ilmu yang demikian mengerikan.
Dia tidak dapat maju membantu, karena satu di antara pesan yang ditekankan ayah dan bundanya adalah
supaya dia menjadi seorang yang gagah dan pantang untuk bertindak curang. Dan maju melakukan
pengeroyokan merupakan suatu perbuatan yang curang dan ia tak mau melakukannya. Maka ia hanya
menjadi penonton yang risau, dan hanya siap untuk melindungi kalau pemuda she Ouw itu terancam maut.
Menghadapi serangan yang sangat dahsyat dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu juga maklum bahwa kalau
dia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Lauw Kang Hui saja, dia tak akan menang. Bahkan
mendiang gurunya itu, Lauw Kang Hui, masih kalah setingkat dibandingkan bekas ketua Pao-beng-pai ini.
Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa gentar. Dia sudah cepat mengeluarkan ilmu rahasianya, yaitu Bukek
Hoat-keng! Begitu kedua tangannya bergerak, terdengar bunyi aneh bersiutan dan angin pukulan dari
dua tangannya mendatangkan angin berpusing. Dengan mudah saja dia menangkis lima kali pukulan
lawan yang datang beruntun susul menyusul, kemudian dia pun membalas dengan cepat dan tak kalah
dahsyatnya!
Siangkoan Kok terkejut bukan main. Sedikit banyak, dia sudah mengenal ilmu andalan dari Lauw Kang Hui.
Walau pun dia belum dapat menirukan, namun dia sudah banyak mendengar dua ilmu andalan Thian-lipang,
yaitu Tok-jiauw-kang dan Kiam-ciang.
Dia sudah mengenali kedua ilmu ini. Dan karena mengenal, setidaknya dia akan lebih mudah menghadapi
dan melawannya. Akan tetapi, gerakan pemuda ini sama sekali tak dikenalnya! Dia hanya merasa ada
angin berpusing datang menyambar dan dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menyambutnya.
"Plak! Desss...!!"
Siangkoan Kok berjungkir balik ke belakang, dan setelah membuat salto tiga kali baru dia terbebas dari
dorongan tenaga yang tentu akan membuatnya terjengkang kalau saja dia tidak membuat salto tadi.
Seng Bu sendiri terkejut dan kagum melihat ginkang yang diperlihatkan lawan. Akan tetapi dia menyerang
terus dan sekali ini, Siangkoan Kok yang maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang mukjijat, tidak mau
mengadu tenaga secara langsung, melainkan menggunakan kecepatan gerakan untuk menghindar
kemudian membalas serangan itu dengan sepenuh tenaga.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat! Beberapa kali bila kedua tangan mereka saling bertemu,
keduanya terdorong mundur. Tanpa diketahui orang lain, terjadilah perubahan pada diri Seng Bu, seperti
biasa kalau dia memainkan ilmunya itu. Sepasang matanya berubah liar, senyumnya menjadi dingin
mengerikan dan beberapa kali ia mengeluarkan suara tawa yang aneh.
"Siangkoan Kok, engkau takkan menang melawanku!" beberapa kali dia mengeluarkan ucapan ini yang
didahului dan diakhiri suara tawa ha-ha-hi-hi-hi seperti orang gila.
Hal ini membuat Siangkoan Kok merasa amat penasaran dan semakin marah. Dia telah mengerahkan
semua jurus yang menjadi andalannya, tapi dia tidak mampu menembus benteng pertahanan lawan, meski
pun lawannya juga belum mampu merobohkan atau mendesaknya. Mereka memiliki tingkat yang
seimbang!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ouw Seng Bu, marilah kita bertanding dengan senjata!" bentaknya sambil meloncat ke belakang dan
mencabut pedangnya.
Seng Bu hanya terkekeh dan melihat pemuda itu agaknya tidak membawa senjata, Kim Giok cepat
menghampiri dan menyodorkan pedangnya.
"Kau pergunakanlah pedangku ini!"
Ouw Seng Bu memandang gadis itu dengan matanya yang mencorong liar hingga Kim Giok terkejut. Akan
tetapi pemuda itu menerima juga Koai-liong-kiam, lalu menghadap Siangkoan Kok sambil tertawa.
"He-he-heh, Siangkoan Kok. Apakah perlu diteruskan? Kalau aku membiarkan saja pun engkau akan
mampus. Lihat baik-baik kedua telapak tanganmu."
Mendengar ini, Siangkoan Kok cepat-cepat memeriksa kedua tangannya dan wajahnya berubah pucat.
Kedua telapak tangannya berwarna menghitam dan terasa panas bukan main!
"Kau...! Aku... keracunan...!" katanya.
"Ha-ha-ha, dalam waktu beberapa jam saja, kalau tidak kusedot kembali hawa beracun itu, engkau akan
mati. Perlukah dilanjutkan? Atau engkau mengaku kalah?"
Siangkoan Kok menarik napas panjang dan kembali menyarungkan pedangnya. Dia harus mengaku kalah,
kalau ingin hidup!
"Baiklah, Ouw-pangcu. Aku mengaku kalah. Akan tetapi sebelum kita bicara, punahkan dulu racun dari
kedua tanganku."
"Baik, duduklah bersila, Siangkoan Pangcu, dan acungkan kedua telapak tanganmu ke atas, menghadap
ke belakang," kata Seng Bu.
Siangkoan Kok duduk bersila, mengangkat kedua tangan ke atas dan menghadapkan kedua telapak
tangan yang menghitam itu ke belakang! Seng Bu yang telah menguasai Bu-kek Hoat-keng secara keliru,
memang telah mendapatkan suatu ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun.
Jika Siangkoan Kok tidak memiliki sinkang yang amat kuat, tentu ia telah tewas dengan tubuh hangus.
Untung bahwa ketua Pao-beng-pai itu mempunyai sinkang kuat sehingga hawa beracun itu hanya berhenti
sampai di pergelangan tangannya saja, dihambat oleh sinkang-nya.
Sekarang Seng Bu menjulurkan kedua tangannya dan ditempelkan pada kedua tangan Siangkoan Kok.
Sampai beberapa menit lamanya dia terus mengerahkan sinkang-nya sehingga tubuh kedua orang itu
menggigil. Perlahan-lahan, warna menghitam di kedua tangan Siangkoan Kok menjadi hilang, tersedot ke
dalam kedua tangan Seng Bu!
Setelah Seng Bu melepaskan kedua tangannya dan meloncat ke belakang, Siangkoan Kok memeriksa
kedua tangannya dan ternyata kedua telapak tangannya sudah bersih. Dia lalu memandang kepada Seng
Bu dengan kagum.
"Ouw-pangcu, sekarang aku percaya. Engkau masih muda akan tetapi lihai bukan main, dan aku akan
suka menjadi sekutumu. Karena Pao-beng-pai sudah terbasmi pasukan pemerintah penjajah, maka biarlah
aku membantumu untuk memperkuat Thian-li-pang dan kita bersama akan menjatuhkan pemerintah
kerajaan Mancu!"
"Nanti dulu, Siangkoan Pangcu. Urusan di sini harus dibereskan dulu. Sebaiknya kalau engkau minta maaf
kepada Nona Cu, dan memberi hukuman kepada lima orang bekas anak buahmu."
Siangkoan Kok menghela napas panjang. Dia maklum bahwa pemuda yang mengaku ketua Thian-li-pang
itu lihai bukan main, mempunyai ilmu pukulan yang amat aneh dan berbahaya. Dia akan melihat dulu
keadaan di Thian-li-pang. Kalau memang pantas dia bantu, apa salahnya? Baginya, yang penting adalah
dunia-kangouw.blogspot.com
menggulingkan pemerintah Mancu! Dan memang tidak menguntungkan kalau dia bermusuhan dengan
keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman.
"Nona Cu, maafkan sikapku tadi." Dia menjura kepada gadis itu. Tentu saja Kim Giok segera membalas
penghormatan ketua Pao-beng-pai itu.
"Tidak mengapa, Pangcu, hanya kesalah pahaman saja," katanya.
Sekarang Siangkoan Kok menoleh ke arah lima orang anak buahnya yang menyeringai. Ketika dia
melangkah maju menghampiri mereka, lima orang itu memandang dengan wajah pucat dan mata
ketakutan. Melihat sikap ketua mereka yang sudah amat mereka kenal, mereka ketakutan dan maklum
bahwa ketua mereka itu marah kepada mereka. Dengan kaki menggigil, mereka lalu menjatuhkan diri
berlutut.
Akan tetapi, Siangkoan Kok menggerakkan tangan kirinya lima kali dan lima orang itu pun terjengkang dan
tewas seketika! Melihat ini, terkejutlah Kim Giok. Lima orang itu memang jahat dan patut dihajar, akan
tetapi hukuman mati itu ia anggap terlalu keras. Akan tetapi karena yang membunuh adalah ketua mereka
sendiri, ia pun tidak dapat mencampuri.
Sementara itu, Seng Bu merasa sangat senang dan puas melihat cara Siangkoan Kok membuktikan
kesungguhan niat kerja sama dengan dia. Dia kini menghadapi Kim Giok dan berkata, sikapnya pun sudah
pulih, ramah dan sopan.
"Nona Cu, secara kebetulan kita saling bertemu dan berkenalan di sini. Mendengar tadi Nona berkata
bahwa Nona sedang merantau untuk meluaskan pengalaman, sudikah Nona menerima undanganku untuk
berkunjung ke Thian-li-pang bersama Siangkoan Pangcu ini? Pasti Nona akan mendapat pengalaman dan
pengetahuan lebih luas."
Karena memang merasa tertarik dan kagum sekali melihat pemuda yang ternyata mampu menundukkan
Siangkoan Kok, lagi pula ia pun tahu bahwa tanpa bantuan Ouw Seng Bu, mungkin ia sudah menderita
celaka di tangan ketua Pao-beng-pai dan anak buahnya, maka Kim Giok mengangguk dan mengucapkan
terima kasihnya.
Tetapi, Siangkoan Kok agaknya merasa tidak enak kalau harus melakukan perjalanan bersama mereka.
"Ouw-pangcu, aku bukan seorang yang suka mengingkari janji. Aku pasti akan datang berkunjung ke
Thian-li-pang, karena bukan hanya engkau yang membutuhkan bantuan dariku, tetapi juga aku sendiri
amat membutuhkan kerja sama dengan orang sepertimu. Memang engkau benar, tanpa adanya kerja
sama antara kekuatan-kekuatan yang ada, perjuangan kita menentang penjajah tidak akan berhasil. Nah,
silakan engkau dan Nona Cu pergi dulu, Ouw-pangcu, aku akan segera menyusul berkunjung ke sana."
Ketua Thian-li-pang itu setuju dan demikianlah, dia mengajak Cu Kim Giok untuk pergi lebih dahulu.
Setelah mereka pergi, Siangkoan Kok menjatuhkan diri duduk di atas batu, termenung memandang ke
arah mayat lima orang anak buahnya yang terbaring malang melintang. Dia mengerutkan alisnya.
Terpaksa dia membunuh mereka, untuk memuaskan hati Ouw Seng Bu.
Kini hatinya panas bukan main. Ketua Thian-li-pang itu memaksanya membunuh anak buahnya sendiri.
Dia, Siangkoan Kok, adalah keturunan kaisar kerajaan Beng, berdarah bangsawan tinggi. Bagaimana
mungkin dia begitu direndahkan untuk menjadi pembantu saja dari seorang pemuda ingusan macam Ouw
Seng Bu, betapa pun lihainya pemuda itu karena menguasai ilmu pukulan beracun yang hebat?
Tidak, dia harus menjadi kepala, dia harus menjadi pemimpin, dia harus menjadi yang nomor satu. Dia
akan mencari akal untuk mengalahkan dan menjatuhkan Ouw Seng Bu. Dia mengepal tinju, kemudian dia
melempar-lemparkan lima buah mayat itu ke dalam jurang yang dalam agar tidak kelihatan terlantar di
tempat itu…..
********************
Siangkoan Kok menuruni lembah Bukit Setan. Tiba di lembah terakhir dia berhenti dan memutar tubuhnya,
lalu memandang ke arah Ban-kwi-kok yang nampak menghitam dari situ. Selama bertahun-tahun ia
dunia-kangouw.blogspot.com
membangun kekuatan di tempat itu. Dan terpaksa kini ia harus meninggalkan tempat itu yang sudah
kosong dan hancur. Selama belasan tahun dia menghimpun tenaga para anak buahnya, hanya untuk
hancur dalam waktu sehari saja!
Dia merasa berduka dan menyesal sekali, maklum bahwa dia memang telah bersikap sangat bodoh. Dia
terlalu mengandalkan kekuatan perkumpulannya. Perkumpulan yang menentang pemerintah harusnya
menyembunyikan diri, menghimpun kekuatan secara diam-diam pula, tidak boleh memamerkan kekuatan
sehingga terbasmi sebelum sempat memberontak.
Ia harus mulai lagi dari permulaan, menghimpun pembantu-pembantu yang lebih cakap dari pada yang
sudah. Akan tetapi dia tahu betapa sukarnya hal itu tercapai. Yang jelas, dahulu dia dibantu oleh isterinya,
Lauw Cu Si yang selain setia juga amat lihai ilmunya, sebagai keturunan para pimpinan Beng-kauw. Tidak
mudah mencari seorang pengganti isteri seperti Lauw Cu Si yang pandai dan lihai.
Kemudian dia berhasil menggembleng Eng Eng yang dianggapnya seperti anak sendiri sehingga Eng Eng
yang tinggal bersamanya sejak berusia dua setengah tahun, menjadi seorang gadis yang mempunyai
kelihaian melebihi ibunya! Dua orang wanita itu tadinya merupakan pembantu-pembantu yang amat boleh
diandalkan, terutama Eng Eng.
Akan tetapi sekarang, semuanya telah hancur. Bahkan isterinya telah tewas, dan Eng Eng sudah lari. Dan
dia tahu bahwa sekarang Eng Eng bukan lagi anaknya, melainkan musuhnya! Dan semua pembantu yang
telah dididiknya, juga murid-muridnya, kini telah habis, entah tewas entah ditawan pasukan pemerintah. Dia
hanya seorang diri di dunia ini. Bahkan lima orang bekas anak buahnya tadi pun terpaksa dibunuhnya.
"Aku tak boleh putus asa," bisik Siangkoan Kok kepada dirinya sendiri sambil mengepal tinju. "Aku harus
mencari lagi pembantu-pembantu yang lebih kuat lagi."
Seandainya saja orang-orang seperti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok tadi dapat menjadi pembantupembantunya!
Jika tadi Ouw-pangcu tidak muncul, mungkin dia sudah dapat membujuk atau memaksa Cu
Kim Giok menjadi pembantunya yang baru, atau menjadi selirnya! Dia bukan tergila-gila karena kecantikan
dan kemudaan Kim Giok, melainkan ingin memiliki gadis itu agar dapat menjadi pembantunya yang setia.
Dengan keputusan hati yang penuh harapan, penuh semangat, kemudian pria perkasa ini melanjutkan
perjalanan, dengan langkah lebar dia menuruni lereng terakhir. Di dalam sakunya masih terdapat banyak
emas permata untuk bekal perjalanannya, walau pun hal ini tidak dipentingkan benar karena kalau dia
membutuhkan biaya, tak sukar baginya untuk mengambil dari rumah orang yang mana pun.
Ketika dia memasuki sebuah dusun yang cukup ramai di kaki Kwi-san, matahari telah condong ke barat
dan cuaca sudah mulai remang-remang. Karena itu Siangkoan Kok mengambil keputusan untuk
melewatkan malam di dusun itu.
Meski pun dia bekas ketua Pao-beng-pai yang bermarkas di Lembah Selaksa Setan, di lereng Bukit Setan
itu, namun penduduk dusun di kaki bukit ini tidak pernah melihatnya. Oleh karena itu, tak seorang pun
mengenal pria tinggi besar gagah perkasa yang pada senja hari itu memasuki dusun.
Akan tetapi, walau pun dia sendiri belum pernah memasuki dusun itu, Siangkoan Kok sudah mendengar
dari anak buahnya bahwa dusun itu cukup ramai, penduduknya hidup cukup makmur karena sawah dan
ladang di daerah itu amat subur, juga bahwa kepala dusunnya kaya raya.
So-chungcu (Kepala dusun So) bersama isterinya dan puterinya yang pada sore hari itu sedang duduk di
serambi depan, tidak menduga buruk ketika melihat seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun,
bertubuh tinggi besar, berpakaian cukup pantas seperti seorang kota yang pakaiannya dari kain sutera,
memasuki pekarangan rumah mereka. Bahkan Lurah So segera bangkit berdiri sambil memandang penuh
perhatian ketika orang itu datang menghampiri mereka. Akan tetapi dia merasa heran karena merasa tidak
mengenal tamu yang datang itu. Kalau seorang pejabat dari kota, kenapa datang tanpa pengawal?
Sekarang mereka berdiri berhadapan. Juga isteri Lurah So dan puterinya yang berusia delapan belas
tahun, bangkit berdiri dan memandang pada tamu itu. Oleh karena tamu pria itu sudah setengah tua, maka
dua orang wanita itu tidak merasa sungkan. Andai kata yang datang itu seorang laki-laki muda, tentu So
Biauw Hwa, puteri lurah itu, akan masuk ke dalam bersama ibunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Apakah engkau kepala dusun di sini?" kata tamu itu tiba-tiba, mendahului tuan rumah. Suaranya
menggelegar dan sikapnya berwibawa, namun sikapnya ini tidak menghormat si kepala dusun seperti sikap
penduduk dusun di situ pada umumnya.
Akan tetapi, So-chungcu tidak marah karena dia menduga bahwa tentu tamu ini seorang dari kota,
mungkin seorang pejabat atau pedagang. Dia hanya memandang sejenak lalu mengangguk. "Benar, saya
adalah kepala dusun di sini. Siapakah Saudara serta dari mana dan hendak ke mana? Ada keperluan apa
Saudara berkunjung ke rumah kami?"
Siangkoan Kok mengamati lurah itu. Seorang laki-laki yang sebaya dengannya, tinggi kurus. Isterinya
berusia empat puluhan tahun, masih cantik, dan puterinya yang berusia delapan belas tahun itu berwajah
manis dan matanya lebar indah seperti mata kelinci. Ruangan depan itu pun memiliki prabot rumah yang
cukup mewah, tanda bahwa lurah ini memang cukup keadaannya.
"Saya hanyalah orang yang kebetulan lewat di dusun ini dan karena kemalaman, saya ingin melewatkan
malam di sini, di rumah ini," kata Siangkoan Kok dengan sikap acuh, seolah-olah dia sudah merasa yakin
bahwa permintaannya itu pasti dikabulkan.
Mulailah Lurah So mengerutkan alisnya, juga isteri dan puterinya memandang dengan alis berkerut. Tamu
ini sungguh tidak sopan, dan permintaannya agak keterlaluan. Tidak mengenalkan nama, tidak
menceritakan maksud kedatangannya, namun datang-datang menyatakan ingin menginap di rumah itu,
bahkan tidak memohon agar diterima!
"Hemmm, kalau ada tamu kemalaman di sini, kami sudah menyediakan tempat umum untuk bermalam,
yaitu di balai dusun. Tetapi setiap tamu harus mendaftarkan namanya, tempat tinggalnya, supaya kami
tahu siapa yang datang bermalam. Nah, Saudara boleh pergi ke balai dusun, itu di sebelah kiri, rumah
ketiga dari sini, dan di sana sudah ada petugas yang akan melayanimu. Silakan!" kata tuan rumah itu,
mengusir dengan nada halus.
Tetapi, jawaban yang diberikan tamu itu sungguh membuat keluarga lurah itu menjadi terbelalak.
Siangkoan Kok berkata dengan nada suara marah.
"Lurah So, tak perlu banyak cakap lagi. Cepat sediakan sebuah kamar terbaik di rumah ini untukku!
Sediakan air hangat untuk mandi. Setelah itu, aku ingin makan malam yang enak. Karena itu sediakan
masakan yang lengkap, sembelih ayam dan bebek, dan aku ingin makan dilayanioleh wanita yang mudamuda
dan cantik-cantik!" berkata demikian, Siangkoan Kok mengerling ke arah isteri dan puteri lurah itu.
Dia bukan seorang mata keranjang, tapi dia hanya ingin memperlihatkan kekuasaannya, ingin dihormati
secara berlebihan. Kalau pun dia pernah memaksa muridnya, mendiang Tio Sui Lan, karena dia marah
kepada isterinya dan ingin mendapatkan ganti isterinya. Dan Sui Lan pada saat itu yang paling dekat
dengannya, maka dia mengambil murid itu sebagai isteri secara paksa.
Sebelum peristiwa itu, dia tidak pernah mengganggu wanita lain. Curahan nafsu dalam diri Siangkoan Kok
bukan kepada wanita cantik, tetapi kepada pengejaran cita-citanya, yaitu membangun kembali kerajaan
Beng dan dia yang menjadi kaisar!
Tentu saja Lurah So marah bukan main mendengar permintaan kurang ajar seperti itu. Seorang pejabat
tinggi dari kota pun tentu tidak akan mengajukan permintaan seperti itu secara langsung, seolah-olah dia
merupakan abdi dari orang itu!
Lurah So tidak mau banyak cakap lagi, lalu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah lima orang dari
samping rumah, membawa seekor anjing yang dirantai. Anjing itu besar dan nampaknya menyeramkan.
Lima orang itu adalah penjaga atau peronda yang malam itu akan bertugas jaga di dusun itu, melakukan
perondaan dan memang rumah samping Lurah So menjadi pusat penjagaan.
"Usir orang yang tidak sopan ini keluar dari dusun!" perintah Lurah So dengan geram sambil menunjuk ke
arah Siangkoan Kok.
Lima orang itu segera menghampiri dengan sikap bengis. Para petugas ronda di dusun itu memang dipilih
warga dusun yang bertubuh kuat dan masih muda. Biar pun mereka bukan tukang pukul, akan tetapi lima
orang itu yang merasa mendapat wewenang, lalu menghampiri Siangkoan Kok dengan sikap bengis
dunia-kangouw.blogspot.com
mengancam. Sementara itu, isteri dan puteri Lurah So yang merasa ketakutan, sudah lari masuk ke dalam
rumah.
"Hayo engkau cepat pergi dari sini!" kata seorang penjaga.
"Kalau tidak cepat pergi, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan!" bentak orang kedua.
Siangkoan Kok memandang kepada mereka dengan senyum mengejek. "Aku tidak mau pergi dan hendak
kulihat, kekerasan macam apa yang hendak kalian lakukan terhadap diriku!"
Mendengar kata-kata serta melihat sikap yang penuh tantangan ini, lima orang penjaga menjadi marah.
Mereka berlima maju dan mengulur tangan hendak menangkap orang setengah tua itu. Akan tetapi, begitu
Siangkoan Kok menggerakkan kedua tangannya, lima orang itu terdorong dan terjengkang, lalu tergulingguling
sampai beberapa meter jauhnya!
Anjing yang tadinya dipegang ujung rantainya oleh seorang dari mereka, kini terlepas. Dan anjing itu
menggonggong, lalu menubruk ke arah Siangkoan Kok dengan moncong dibuka lebar, memperlihatkan
gigi bertaring yang runcing.
Melihat serangan anjing besar itu, Siangkoan Kok menjadi marah. Dengan jari terbuka tangan kirinya
menyambut tubrukan anjing itu, menyambar dari samping ke arah kepala anjing.
"Krekkk!" Anjing itu terbanting roboh dan berkelojotan dengan kepala pecah.
Lima orang penjaga itu terkejut. Mereka sudah mencabut golok masing-masing sambil berloncatan berdiri.
Akan tetapi, saat Siangkoan Kok menggerakkan kakinya, tubuhnya berkelebat ke depan, kakinya dan
tangannya bergerak, maka segera lima batang golok itu beterbangan lepas dari tangan pemegangnya.
"Apakah kalian ingin mampus seperti anjing itu?!" bentaknya dan sekali tangan kirinya meraih, dia sudah
mencengkeram baju di tengkuk Lurah So.
"Kalau permintaanku yang pantas itu tidak dituruti, aku akan membunuh Lurah So serta keluarganya dan
membakar rumah ini. Jika ada penghuni dusun ini berani melawanku, akan kubunuh mereka semua!"
Dia melepaskan lagi cengkeramannya, dan Lurah So dengan muka pucat lalu menyuruh para penjaga itu
mundur. Lurah So kemudian membungkuk dan memberi hormat pada Siangkoan Kok.
"Maafkan kami... karena tidak tahu kami telah berani membangkang perintah Taihiap (Pendekar Besar)."
"Cukup sudah! Cepat sediakan yang kupinta tadi. Kamar terbaik, mandi air hangat, lalu makan malam yang
meriah dilayani wanita-wanita muda dan cantik!"
"Silakan, Taihiap... silakan, biar Taihiap mempergunakan kamar kami sendiri. Silakan!"
Dengan langkah lebar Siangkoan Kok memasuki rumah lurah itu, diiringkan Lurah So yang masih
ketakutan. Lima orang penjaga membawa pergi bangkai anjing dan dengan ketakutan mereka
menceritakan apa yang terjadi di rumah Lurah So kepada penghuni dusun. Semua orang dusun dicekam
ketakutan, akan tetapi mereka tidak berdaya, takut untuk melakukan sesuatu karena keselamatan keluarga
Lurah So telah dicengkeram oleh tamu aneh itu.
Terpaksa Lurah So melayani tamunya, memberikan kamarnya sendiri untuk Siangkoan Kok, menyuruh
pelayan menyediakan air hangat untuk mandi dan memerintahkan juru masak untuk menyembelih ayam
dan bebek, membuat masakan dan mempersiapkan makan malam sebaik mungkin untuk tamu aneh yang
amat ditakuti itu. Diam-diam dia menyuruh puterinya pergi meninggalkan rumah, mengungsi ke mana saja
agar jangan sampai diganggu tamu itu.
Sementara itu, pada sore hari itu juga, seorang gadis berusia delapan belas tahun lebih juga menuruni
lereng Kwi-san. Gadis ini cantik jelita, dengan wajahnya yang bulat telur dan kulit putih kemerahan.
Matanya lebar dengan sinar tajam, hidungnya mancung dan mulutnya selalu terhias senyum yang sangat
manis karena ujung bibirnya dimeriahkan lesung pipit.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dari pakaiannya yang serba merah, mudah diduga siapa adanya gadis jelita ini, apa lagi kalau nampak
sebatang suling berselaput emas terselip di pinggangnya. Dia adalah Si Bangau Merah Tan Sian Li!
Seperti telah kita ketahui, gadis perkasa ini hadir pula bersama ayah ibunya di dalam pesta ulang tahun
dan pertemuan keluarga di rumah Suma Ceng Liong. Diam-diam ia kecewa karena tidak melihat Yo Han di
sana, apa lagi kemudian terjadi pengacauan yang dilakukan Eng Eng dari Pao-beng-pai.
Hal ini dijadikan alasan oleh Sian Li untuk meninggalkan ayah ibunya dengan diam-diam di rumah Suma
Ceng Liong. Ia hanya meninggalkan surat untuk ayah ibunya bahwa dia pergi untuk membantu Yo Han
mencari puteri Sim Houw, yaitu Sim Hui Eng, dan juga untuk menyelidiki Pao-beng-pai yang memusuhi tiga
keluarga besar.
Karena tidak tahu ke mana Yo Han pergi, maka Sian Li mencari tanpa tujuan tertentu. Ke mana pun dia
pergi, dia bertanya-tanya mengenai pendekar yang berjuluk Sin-ciang Taihiap (Pendekar Tangan Sakti),
namun tidak pernah menemukan orang yang dapat menunjukkan di mana adanya pendekar yang dicarinya
itu.
Akhirnya, dia menuju ke Bukit Setan untuk menyelidiki Pao-beng-pai. Dalam perjalanan menuju ke sana
itulah dia mendengar akan penyerbuan pasukan pemerintah terhadap gerombolan pemberontak itu,
mendengar betapa Pao-beng-pai dibasmi oleh pasukan pemerintah. Namun ia tetap pergi ke sana dan
berhasil naik sampai ke Lembah Selaksa Setan, melihat betapa bekas sarang Pao-beng-pai telah menjadi
puing karena dibakar oleh pasukan pemerintah.
Sian Li sama sekali tidak tahu bahwa pada saat dia meninggalkan lembah itu, di lembah sebelah bawah
tengah terjadi perkelahian antara Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok yang kemudian dibantu oleh Ouw Seng
Bu. Hanya beberapa jam selisihnya ketika ia melewati lembah itu. Ia terus menuruni lembah dan ketika tiba
di kaki bukit, ia lantas menuju ke dusun yang tadi dilihatnya dari lembah terakhir.
Pada saat dia memasuki hutan kecil yang berada di kaki bukit, untuk menuju ke dusun di seberang hutan,
tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya.
"Nona Tan Sian Li...!"
Sian Li terkejut. Ia menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya memandang. Segera ia
mengenal pemuda yang datang berlari-lari menghampirinya itu.
"Twako (Kakak) Gak Ciang Hun...!" serunya girang dan juga heran sekali.
Terakhir ia berjumpa dengan pemuda itu di rumah Suma Ceng Liong ketika diadakan pertemuan antara
tiga keluarga besar. "Bagaimana engkau dapat berada di sini?"
Dengan wajah berseri-seri karena gembira dapat menemukan gadis itu, Ciang Hun lalu menjawab, "Aku
memang menyusul dan mencarimu setelah kami semua mengetahui kepergianmu."
Sian Li mengerutkan alisnya. "Kenapa, Gak-twako? Mau apa engkau menyusul dan mencariku?"
Ciang Hun menyadari kesalahannya. Hampir saja dia membuka rahasia hatinya. Tentu saja dia menyusul
Sian Li karena mengkhawatirkan gadis itu dan ingin membantunya. Semua ini terdorong oleh perasaan
cintanya kepada Sian Li! Akan tetapi, dia tidak berani menceritakan itu.
"Aku... aku pun ingin ikut mencari puteri paman Sim Houw yang hilang sejak kecil, aku ingin pula ikut
menyelidiki Pao-beng-pai. Aku sudah mendapat perkenan ibu, maka aku cepat-cepat pergi menyusulmu,
Nona. Kurasa, dengan tenaga kita berdua, akan lebih kuat dan..."
"Gak-twako, jangan menyebut aku nona. Engkau membuat aku merasa sungkan saja. Bagaimana pun
juga, di antara kita masih ada hubungan, baik hubungan keluarga atau perguruan. Nah, kalau aku
menyebutmu kakak, sudah sepatutnya kau menyebut aku adik, bukan?"
Wajah Ciang Hun menjadi kemerahan dan dia pun salah tingkah. Memang pemuda ini, walau pun sudah
berusia dua puluh sembilan tahun, akan tetapi belum berpengalaman dalam pergaulan dengan wanita,
maka dia merasa canggung dan rikuh.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baiklah, Siauw-moi. Aku memang mencarimu ke Kwi-san, karena engkau ingin pula menyelidiki Pao-bengpai.
Akan tetapi aku menjadi bingung ketika mendengar bahwa Pao-beng-pai telah dibasmi oleh pasukan
pemerintah. Maka aku hanya berkeliaran di sekitar kaki bukit sampai tadi kebetulan sekali aku melihatmu,
maka aku mengejarmu."
Siang Li yang merasa lelah, tidak begitu senang bila membayangkan dirinya melakukan perjalanan berdua
saja dengan Ciang Hun. Bukan Ciang Hun yang diharapkannya, tapi Yo Han! Dan dia mendapat kesan
bahwa pandang mata Gak Ciang Hun terhadapnya begitu penuh kagum, begitu mesra. Dan ini hanya
berarti bahwa pemuda perkasa ini agaknya menaruh hati kepadanya, hal yang sama sekali tidak ia
harapkan!
Sian Li adalah seorang gadis yang berwatak tegas dan keras. Ia lalu duduk di atas batu, di bawah pohon
yang rindang. Matahari sudah condong ke barat, namun sinarnya masih cukup panas dan duduk di tempat
teduh itu terasa sangat nyaman, apa lagi karena ia sudah melakukan perjalanan melelahkan menuruni
Lembah Selaksa Setan tadi.
"Gak-twako, sesungguhnya, perjalananku meninggalkan ayah ibu tempo hari terutama sekali untuk
mencari kanda Yo Han." Ia berkata dengan tekanan suara kepada nama pemuda itu, dan matanya
memandang tajam.
Ciang Hun mengerutkan alisnya. "Yo Han? Kau maksudkan, Pendekar Tangan Sakti?"
Sian Li mengangguk dan ia semakin yakin akan dugaannya melihat betapa sinar mata pemuda itu
menunduk dan alisnya berkerut, jelas nampak kalau dia terpukul. Sebaiknya aku berterus terang saja, pikir
gadis itu, dari pada membiarkan dia berlarut-larut hanyut dalam khayal.
"Benar, Gak-twako. Aku ingin mencari Han-koko. Dia bertekad untuk menemukan puteri Paman Sim Houw
yang hilang, maka aku akan mencarinya karena aku tidak ingin ikut ayah dan ibu ke kota raja."
Ciang Hun sudah dapat menguasai kekecewaan mendengar betapa gadis yang sejak pertemuannya
pertama kali sudah merampas semangatnya ini mencari-cari Yo Han. Dia menduga bahwa tentu ada
perhatian khusus dari gadis ini terhadap pendekar itu. Untuk mengalihkan perhatiannya sendiri, dia
bertanya, "Kenapa engkau tidak ingin ikut dengan orang tuamu ke kota raja, Nona... ehh, Siauw-moi?"
"Hemmm, orang tuaku hendak mengajak aku ke kota raja untuk membicarakan urusan perjodohanku. Aku
tidak suka itu. Aku hendak dijodohkan dengan putera Pangeran Cia Yan, bahkan ikatan itu sudah dilakukan
semenjak dahulu dan kini orang tuaku hendak mematangkan urusan itu. Aku tidak suka menjadi calon
mantu pangeran!"
Ciang Hun memandang wajah gadis itu yang nampak cemberut, namun tak mengurangi kecantikannya.
"Akan tetapi, kenapa, Siauw-moi? Bukankah menjadi mantu pangeran merupakan suatu penghormatan
yang besar? Engkau akan hidup mulia dan terhormat, dan kurasa putera pangeran itu pun seorang
pemuda yang baik maka sampai diterima oleh ayah ibumu..."
"Tidak peduli bagaimana pun baiknya, aku tidak sudi! Ah, Twako, kurasa tidak perlu lagi aku merahasiakan.
Hanya ada seorang saja pria yang aku inginkan menjadi suamiku, pria yang kucinta sejak dahulu, dia
adalah Han-koko..."
"Sin-ciang Taihiap Yo Han?" Ciang Hun bertanya. Dia tidak merasa heran karena hal ini sudah diduganya.
Gadis itu mengangguk, merasa puas karena ia memang ingin berterus terang agar Gak Ciang Hun tidak
lagi mengharapkannya.
"Ia memang seorang pendekar yang gagah perkasa. Aku pun kagum dan menghormati dia. Pilihan hatimu
tidak keliru, Siauw-moi. Akan tetapi bagaimana dengan pilihan orang tuamu, pangeran itu...?"
"Aku tidak mau! Ayah dan ibu harus dapat mengerti. Aku hanya mencinta Han-ko, aku akan mencarinya."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kalau begitu, aku akan membantumu, Siauw-moi. Aku akan membantumu mencari sampai kita dapat
menemukan Yo Han!" kata Ciang Hun penuh semangat.
Ciang Hun memang berjiwa pendekar. Meski pun baru saja harapannya hancur lebur, bahwa cintanya
kepada Sian Li tak akan mungkin terbalas, bahwa dia hanya bertepuk tangan sebelah, akan tetapi dia tidak
menjadi patah hati. Tidak, dia dapat menerima dan menghadapi kenyataan. Apa lagi mendengar bahwa
pilihan hati Sian Li adalah Yo Han, pendekar yang dia kagumi, dan dia tahu bahwa Yo Han jauh lebih baik
dari dirinya sendiri!
Dia tahu bahwa dia bukan jodoh Sian Li, akan tetapi hal ini bukan berarti dia membenci Sian Li. Tidak, dia
tetap menyayangnya, karena bagaimana pun juga, di antara mereka masih ada hubungan dan ikatan
antara tiga keluarga besar. Dia harus membantu gadis itu menemukan kekasihnya, calon suaminya,
menemukan kebahagiaannya.
Sian Li mengangkat muka memandang wajah yang menunduk itu. Diam-diam ia merasa terharu, dan juga
kagum. Seorang pria yang hebat, pikirnya. Betapa akan mudahnya jatuh cinta kepada pria ini, sekiranya di
sana tidak ada Yo Han! Ia mengulur tangan dan menyentuh lengan Ciang Hun.
"Benarkah, Twako? Aihhh, engkau memang baik hati sekali. Engkau dan ibumu selalu berbuat baik. Terima
kasih, Twako!"
Ciang Hun mengangkat muka dan tersenyum melihat Sian Li begitu gembira. Begitu kekanak-kenakan!
"Mari kita lanjutkan perjalanan, matahari sudah condong ke barat. Sebentar lagi gelap, dan kita harus dapat
melintasi hutan ini sebelum malam tiba."
"Marilah, Gak-twako. Tadi kulihat dari atas bahwa di seberang hutan kecil ini terdapat sebuah dusun. Kita
ke sana sebelum malam tiba, Twako."
Mereka memasuki hutan itu dengan langkah cepat. Akan tetapi ketika mereka hampir tiba di seberang,
mereka mendengar isak tangis seorang wanita. Mereka terkejut dan heran, bahkan sempat bulu tengkuk
mereka meremang karena di waktu senja ketika cuaca sudah hampir gelap, terdengar isak tangis di hutan.
Siapa lagi kalau bukan siluman atau iblis yang mengeluarkan suara seperti itu untuk menakut-nakuti
mereka? Memang mereka merasa ngeri, akan tetapi mereka adalah dua orang pendekar yang tidak mudah
lari ketakutan. Mereka menghentikan langkah dan memperhatikan. Suara tangis wanita itu ditanggapi
suara seorang wanita lain.
"Sudahlah jangan menangis. Tidak ada yang tahu bahwa kita bersembunyi di sini..."
Orang yang menangis itu berkata dengan suara ketakutan, "Tetapi... Ibu... bagaimana dengan ayah?
Bagaimana kalau dia dipukul atau dibunuh iblis jahat itu...?"
Mendengar percakapan ini, Sian Li cepat menghampiri, diikuti oleh Ciang Hun. Kedua orang wanita yang
sedang duduk di dalam gubuk kecil tempat para pemburu beristirahat itu, menahan jerit mereka ketika
mendadak muncul dua bayangan orang dalam cuaca yang sudah remang-remang itu. Akan tetapi mereka
tidak jadi menjerit ketika melihat bahwa yang muncul adalah seorang gadis cantik bersama seorang
pemuda tampan.
"Jangan takut, Bibi dan Cici, kami bukan orang jahat. Namaku Tan Sian Li dan ini kakak Gak Ciang Hun.
Kami kebetulan lewat di sini dan tadi mendengar percakapan kalian. Mengapa kalian bersembunyi di sini
dan siapa yang mengancam keselamatan suami Bibi?"
Melihat sikap Sian Li yang gagah, juga pemuda di dekatnya itu bersikap gagah, wanita itu lalu memberi
hormat dan berkata, "Aku adalah isteri Lurah So di dusun sana, dan ini So Biauw Hwa puteri kami. Baru
saja rumah kami didatangi seorang laki-laki yang amat kasar dan jahat. Dia dengan paksa hendak
bermalam di rumah kami, minta disediakan kamar terbaik, mandi air hangat, dan pesta-pesta, minta
dilayani wanita-wanita cantik. Dia memukul para penjaga, dan membunuh anjing kami. Dia menakutkan
sekali. Karena takut kalau anakku diganggu, maka ia kuajak melarikan diri dan bersembunyi di sini."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, apakah orang itu perampok dan mempunyai banyak teman?" tanya Sian Li penasaran dan
sudah marah kepada para perampok yang bertindak sewenang-wenang.
Akan tetapi nyonya itu menggeleng kepala. "Dia hanya seorang diri, dan lagaknya tidak seperti perampok.
Pakaiannya pantas, hanya sikapnya yang seperti raja memerintah kami. Ahh, kami takut sekali, khawatir
kalau sampai suamiku dicelakakan olehnya..."
"Siauw-moi, mari kita ke sana!" kata Gak Ciang Hun yang juga sudah marah mendengar kelakuan tamu
yang demikian kurang ajar.
"Mari, Bibi dan Cici, mari antar kami ke rumah kalian. Kami akan hajar dan usir tamu tak tahu diri itu!" kata
Sian Li.
Melihat sikap pemuda dan pemudi itu, ibu dan anak ini menjadi berani dan timbul pula harapan mereka
agar cepat terbebas dari ancaman tamu yang jahat itu.
Hari telah menjadi gelap pada saat mereka berempat memasuki dusun. Suasana dusun yang tadinya
ramai itu sekarang mendadak menjadi sepi sekali karena semua rumah menutupkan pintu dan jendelanya.
Tiada seorang pun berani menampakkan diri di luar rumah, mereka semua telah mendengar akan
munculnya seorang manusia yang jahat dan amat lihai di rumah kepala dusun.
Ketika mereka berempat tiba di rumah Lurah So, dari luar mereka sudah mendengar ribut-ribut. Suara itu
datangnya dari ruangan makan seperti yang diberi tahukan ibu dan anak itu, dan mereka semua langsung
menuju ke ruangan makan di sebelah belakang. Mereka melihat betapa laki-laki setengah tua yang tinggi
besar itu sedang bertanding melawan seorang gadis yang bersenjatakan siang-kiam (sepasang pedang).
Gadis itu berusia sekitar dua puluh tiga tahun, wajahnya bulat dengan dagu runcing dan rambutnya yang
hitam itu lebat dan panjang sekali, digelung dua di belakang kepala. Matanya bersinar lembut dan mulutnya
amat indah, dengan bibir yang kemerahan dan lekuknya amat menggairahkan. Tubuhnya ramping dan
gadis ini memang cantik manis. Juga ilmu sepasang pedangnya cukup lumayan. Jelas bahwa ia sedang
marah sekali, menyerang pria itu dengan mati-matian.
Akan tetapi, Ciang Hun dan Sian Li melihat betapa pria itu memang lihai bukan main, Biar pun hanya
menggunakan tangan kosong, namun pria itu sama sekali tidak terdesak oleh sepasang pedang lawannya,
bahkan dia menggulung lengan baju dan dengan lengan telanjang dia berani menangkis pedang, seolaholah
lengannya terbuat dari baja saja!
Sian Li dan Ciang Hun tidak mengenal wanita cantik manis yang meski pun melihat kehebatan lawan,
namun tidak nampak gentar dan terus menyerang itu. Karena mereka tidak tahu siapa gadis itu, juga ibu
dan anak itu tidak mengenalnya, maka Sian Li dan Ciang Hun meragu untuk turun tangan.
Gadis yang mulutnya menggairahkan itu adalah Gan Bi Kim! Para pembaca kisah Si Bangau Merah akan
mengenal Gan Bi Kim. Dia adalah puteri seorang pejabat tinggi, yaitu kepala gudang pusaka kerajaan dan
tinggal di kota raja, bernama Gan Seng.
Saat Yo Han telah tamat belajar ilmu silat dari kakek yang buntung lengan dan kakinya, yaitu mendiang Ciu
Lam Hok, sebelum mati kakek itu memesan kepada muridnya agar suka berkunjung kepada cici-nya yang
tinggal di kota raja. Cici dari kakek Ciu Lam Hok adalah nenek Ciu Cing, yaitu ibu kandung Gan Seng ayah
Bi Kim.
Ketika Yo Han berkunjung ke sana, nenek Ciu Cing menangisi kematian adiknya Ciu Lam Hok dan ketika
menyembahyangi arwah adiknya, di depan meja sembahyang itu nenek itu menjodohkan cucunya, Gan Bi
Kim, dengan murid adiknya, yaitu Yo Han. Dan kebetulan sekali Bi Kim jatuh cinta pula kepada Yo Han,
walau pun Yo Han sendiri tidak mencintanya karena semenjak remaja, Yo Han telah jatuh cinta kepada
Tan Sian Li, Si Bangau Merah!
Yo Han meninggalkan keluarga Gan di kota raja. Bi Kim merasa amat penasaran karena belum
mendapatkan kepastian dari Yo Han, maka ia pun lalu mendesak ayahnya untuk mengundang jagoanjagoan
istana dan mengajarkan ilmu silat kepadanya. Ternyata ia berbakat dan terutama sekali ia pandai
memainkan sepasang pedang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah ditunggu-tunggu tidak juga Yo Han datang, bahkan tidak ada berita, Gan Bi Kim merasa
penasaran. Dia merasa bahwa dia telah menguasai ilmu pedang dan pandai menjaga diri, maka pada
suatu hari, dia pun lolos dari gedung ayahnya, meninggalkan sepucuk surat dan menyatakan kepada ayah
ibunya bahwa dia pergi untuk mencari tunangannya, yaitu Yo Han!
Pada sore hari itu, kebetulan sekali ia pun tiba di dusun itu. Ia sudah lelah dan ingin bermalam di dusun itu.
Akan tetapi betapa herannya melihat semua rumah di dusun itu tertutup pintu dan jendelanya, bahkan di
jalan pun tidak nampak seorang pun manusia!
Akan tetapi, dia tahu benar bahwa dusun itu bukan dusun kosong. Pekarangan rumah bersih terpelihara,
juga sawah ladang dan tanaman di sekeliling perumahan dusun. Dan lebih dari itu, ia pun dapat
mendengar gerakan orang-orang di dalam rumah-rumah yang tertutup rapat dan yang tidak dipasangi
lampu walau pun senja telah mendatang.
Karena merasa heran dan penasaran, ketika mendengar tangis anak kecil dari sebuah rumah dan tangis
itu berhenti tiba-tiba seolah-olah mulut anak yang menangis itu sudah didekap tangan, ia tidak sabar lagi
dan mengetuk daun pintu rumah itu.
"Paman atau bibi, bukalah pintunya. Aku bukan orang jahat. Aku seorang gadis yang kebetulan kemalaman
dan ingin bermalam di dusun ini. Biarkan aku menginap semalam di rumah kalian, nanti akan kuberi
pengganti kerugian!"
Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan berteriak, akhirnya terdengar juga jawaban seorang wanita dari
dalam, tanpa membuka pintu. "Nona, maafkan kami... tempat kami penuh sesak... ehh, kalau Nona ingin
bermalam... datanglah ke rumah kepala dusun, di sebelah itu, sepuluh rumah dari sini."
Terpaksa Bi Kim meninggalkan rumah itu, menuju ke kanan sampai ia tiba di depan rumah kepala dusun.
Mudah saja menemukan rumah itu karena jauh lebih besar bila dibandingkan rumah-rumah lain. Dan
memang hanya rumah besar ini saja yang daun pintu sebelah depan terbuka, dan di dalam rumah itu
dipasangi lampu penerangan yang cukup banyak. Ketika Bi Kim memasuki pekarangan, beberapa orang
bermunculan dari tempat gelap, agaknya mereka ini pun ketakutan.
"Nona mencari siapakah?" seorang setengah tua bertanya dengan suara gemetar, juga tiga orang
temannya nampak ketakutan.
"Aku seorang yang kebetulan lewat dan kemalaman di dusun ini, aku hendak minta pertolongan lurah agar
suka menerimaku semalam ini."
Empat orang itu saling pandang, kemudian menengok ke arah dalam rumah dan orang setengah tua tadi
berbisik, "Nona, pergilah dari sini. Di rumah ini kedatangan seorang penjahat yang menakutkan. Dia
sedang memaksa lurah untuk menjamunya dengan pesta. Dia jahat sekali!"
Mendengar ini, Gan Bi Kim tersenyum dan meraba gagang siang-kiam yang tergantung di punggungnya,
"Aku tidak takut, bahkan kalau ada penjahat mengganggu rumah ini, aku akan mengusirnya."
Kembali empat orang itu saling pandang. "Kalau begitu, masuklah, pergilah ke ruangan belakang, ruangan
makan. Akan tetapi, kami tidak berani mengantarmu, Nona." kata mereka dan kembali mereka menyelinap
ke dalam bayangan-bayangan yang gelap.
Tentu saja Bi Kim merasa heran dan penasaran. Dengan langkah lebar ia memasuki rumah itu. Sunyi saja,
agaknya semua orang, seperti empat orang pria tadi, sudah lari menyingkir dan bersembunyi ketakutan.
Namun terdengar suara di ruangan belakang dan dia pun menuju ke sana.
Ruangan itu luas dan terang sekali. Sebuah meja makan besar penuh hidangan yang masih mengepulkan
uap berada di tengah ruangan. Seorang pria tinggi besar duduk makan minum seorang diri, dilayani oleh
tiga orang wanita muda. Seorang laki-laki lain berusia lima puluh tahun lebih, tinggi kurus, berdiri di sudut,
memandang dengan sikap takut-takut.
Mendengar langkah kaki, pria yang sedang makan itu menoleh dan ketika melihat Bi Kim, wajahnya
berseri, matanya memandang penuh selidik dan dengan suaranya yang parau berwibawa dia bertanya,
"Siapa kau? Mau apa kau masuk ke sini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena tidak tahu mana lurah yang dia cari, Bi Kim memandang kepada pria yang sedang makan itu,
bertanya, "Aku ingin bertemu dengan lurah dusun ini. Mana dia?"
"Aku... akulah Lurah So dari dusun ini, Nona..." Lurah So berkata dengan gagap.
Kini Bi Kim menoleh kepada pria tinggi besar yang bukan lain adalah Siangkoan Kok itu. "Hemmm, jadi
orang inikah yang datang mengacau?" Bi Kim bertanya sambil menoleh kepada Lurah So.
Akan tetapi lurah ini tidak berani mengeluarkan suara, bahkan menunduk karena takut membuat marah
tamunya. Juga tiga orang wanita muda itu tidak berani bergerak.
"Ha-ha-ha, engkau cantik manis, Nona. Engkau jauh lebih cantik dari pada tiga orang perempuan dusun ini.
Sayang puteri lurah ini telah melarikan diri. Biar engkau menjadi penggantinya menemaniku makan minum.
Mari, Nona, duduklah di sini, makan minum sepuasnya!"
"Hemmm, kiranya engkau ini jahanam busuk, manusia tak tahu diri, begitu datang ke rumah orang
bertindak sewenang-wenang. Setelah aku datang, jangan harap engkau akan dapat menjual lagak lagi.
Hayo pergilah cepat meninggalkan rumah ini, tinggalkan dusun ini, atau sepasang pedangku akan
membuat engkau menjadi setan tanpa kepala!" Berkata demikian, untuk menggertak, Bi Kim mencabut
sepasang pedangnya.
Sepasang pedang yang baik karena ayahnya mencarikan sepasang pedang pilihan untuk puterinya.
Nampak kilat menyambar pada waktu gadis itu mencabut sepasang pedangnya.
Akan tetapi, Siangkoan Kok tertawa dan sama sekali tidak kelihatan gentar.
"Ha-ha-ha, bagus sekali. Aku memang lebih senang kalau gadis cantik yang menemani aku makan minum
bukan seorang wanita lemah. Nah, sekarang kita bertaruh, Nona. Kalau aku kalah olehmu, biarlah aku
pergi tanpa banyak cakap lagi. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menemani aku makan
minum sampai mabuk. Bagai mana?"
Wajah Bi Kim berubah merah sekali, matanya mencorong penuh kemarahan. "Jahanam busuk!" katanya
melihat orang itu bangkit dan menghampirinya. "Engkau memang layak dibasmi!" Dan sepasang
pedangnya sudah menyambar ganas.
Akan tetapi Siangkoan Kok dapat mengelak dengan mudah dan dia segera mengenal bahwa ilmu pedang
nona ini bukan ilmu sembarangan, melainkan ilmu pedang yang tinggi nilainya. Hal ini tidak mengherankan
sebab Bi Kim telah dilatih oleh jagoan-jagoan istana yang lihai.
Maka, timbul penyakit lama Siangkoan Kok. Dia tidak segera mengalahkan gadis yang tingkatnya masih
jauh di bawahnya itu, bahkan dia menggulung kedua lengan bajunya agar tidak sampai robek,
menggunakan dua lengan untuk menangkis serangan pedang sambil memperhatikan jurus-jurus ilmu
pedang itu untuk menambah pengetahuannya yang sudah banyak.
Tentu saja Lurah So dan tiga orang gadis dusun yang dipaksa menjadi pelayan tadi merasa ketakutan. Apa
lagi melihat betapa tamu yang ditakuti itu mampu melawan si gadis yang berpedang hanya dengan tangan
kosong saja.
Juga Bi Kim sendiri terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa penjahat ini memang luar biasa, memiliki
kesaktian. Apa lagi dia, bahkan guru-gurunya belum tentu mampu menandingi kakek ini!
Pada saat pertandingan itu berlangsung, muncullah Sian Li dan Ciang Hun. Akan tetapi karena kedua
orang pendekar ini tidak mengenal Bi Kim, tentu saja mereka tidak dapat turun tangan membantu. Mereka
tidak tahu apa yang terjadi, siapa gadis ber-siang-kiam itu dan mengapa pula berkelahi melawan kakek
yang amat lihai itu.
Seperti yang mereka duga, kakek itu hanya mempermainkan lawannya dan setelah dia mengenal benar
ilmu pedang berpasangan dari Bi Kim, tiba-tiba saja Siangkoan Kok membentak nyaring dan tahu-tahu
sepasang pedang itu sudah berpindah tangan! Dia menyeringai ketika Bi Kim meloncat ke belakang
dengan kaget.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha, engkau telah kalah, Nona. Nah, engkau harus menemani aku makan minum sampai mabuk!"
"Tidak sudi! Sebelum mati aku tidak akan mengaku kalah!" bentak Bi Kim dan ia pun menerjang lagi, kini
dengan tangan kosong.
Kini Sian Li dan Ciang Hun tidak ragu-ragu lagi. Jelas bahwa gadis itu merupakan orang yang menentang
penjahat lihai itu, maka keduanya sudah melompat ke depan untuk mencegah Bi Kim bertindak nekat.
Dengan sepasang pedang saja bukan lawan kakek itu, apa lagi bertangan kosong.
"Tahan...!" kata Sian Li dan dari samping dia sudah menangkap pergelangan tangan Bi Kim dan
menariknya ke samping.
Bi Kim yang tertangkap pergelangan tangannya, merasa tenaganya lumpuh, maka ia terkejut sekali dan
menurut saja ditarik ke samping.
Siangkoan Kok mengerutkan alisnya, memandang pada Sian Li yang berpakaian merah dan Ciang Hun
yang gagah.
"Huh, siapa lagi kalian ini yang datang mengganggu kesenanganku!" katanya sambil melemparkan
sepasang pedang rampasan dari Bi Kim.
Biar pun hanya dilempar sambil lalu saja, namun sepasang pedang itu meluncur bagai anak panah ke arah
Sian Li dan Ciang Hun! Jelas bahwa kakek yang lihai itu sengaja hendak menguji kepandaian dua orang
muda yang baru muncul!
Dengan tenang Sian Li menangkap pedang yang meluncur ke arahnya dari samping, dengan jalan
menjepitnya di antara telunjuk dan ibu jarinya, persis seperti anak-anak menangkap capung pada ekornya.
Sedangkan Ciang Hun lebih repot lagi, mengelak ke samping lalu memutar tubuh dan menangkap pedang
itu pada gagangnya dari belakang! Dari cara menangkap pedang ini saja sudah dapat dinilai bahwa tingkat
kepandaian Si Bangau Merah lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Gak Ciang Hun!
Siangkoan Kok agak terkejut. Kiranya dua orang muda ini amat hebat! Sama sekali tidak boleh dipandang
ringan, tidak dapat disamakan dengan kepandaian Bi Kim.
Ciang Hun dan Sian Li menyerahkan sepasang pedang itu kembali kepada Bi Kim, kemudian Sian Li
menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Siangkoan Kok.
"Engkau ini orang tua yang kelihatan gagah perkasa, juga mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Sungguh
menjijikkan sikapmu di dusun ini, bertindak seperti perampok kecil saja!"
Wajah Siangkoan Kok berubah kemerahan.
"Bocah bermulut lancang!" Setelah berkata demikian, dia menubruk ke arah Sian Li dan mengirim
serangan kilat.
Namun, nampak bayangan merah berkelebat dan Sian Li sudah dapat mengelak dari serangan dahsyat itu.
Ketika tubuhnya turun di depan kakek itu, dia sudah memegang sebatang suling berselaput emas,
sikapnya gagah dan tenang sekali.
Siangkoan Kok terkejut sekali, apa lagi ketika melihat suling emas itu. Alisnya berkerut mengingat-ingat.
Pakaian merah! Tentu saja!
"Hemmm, apakah engkau ini yang berjuluk Si Bangau Merah?" tanya Siangkoan Kok sambil memandang
penuh selidik.
Sian Li menggerakkan sulingnya. Terdengar suara berdesing, disusul ucapannya yang lantang, "Memang
benar aku yang dijuluki Si Bangau Merah."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Bagus! Ha-ha-ha, hari ini aku sungguh beruntung, dapat bertemu dengan tokoh-tokoh muda dunia kangouw.
Dan engkau siapa orang muda?" tanyanya. "Tidak perlu engkau menjawab, biarkan aku menebak
siapa engkau!"
Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat. Tangannya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke
arah dada Ciang Hun. Pemuda ini sama sekali tidak menduga akan diserang, maka dia tidak sempat
mengelak lagi, lalu mengerahkan tenaga sinkang-nya dan menggerakkan kedua tangan terbuka
menyambut.
"Dukkkkk!" Keduanya terdorong ke belakang.
Ciang Hun sudah berjongkok dan berlutut dengan sebelah kakinya. Kedua tangannya di depan dada,
dengan kedua telapak tangannya menghadap ke atas.
Siangkoan Kok terbelalak. "Wah, apakah engkau memiliki sinkang yang disebut Tenaga Inti Bumi? Engkau
mengambil tenaga dari tanah?"
Diam-diam Gak Ciang Hun tertegun dan kagum. Sekali beradu tenaga yang membuat dia tadi terlempar
dan terpaksa memasang kuda-kuda Dewa Menyangga Bumi untuk memulihkan tenaga dan siap
menghadapi serangan lanjutan lawan, dan kakek itu sudah mengenal dasar ilmunya.
Memang dia tadi telah menggunakan tenaga yang menjadi ilmu warisan keluarga Gak. Bahkan mendiang
kakeknya, Bu-beng Lo-kai atau dahulu bernama Gak Bun Beng, sebelum meninggal dunia sudah
mengoperkan tenaga kepadanya sehingga meski pun bakatnya tidak sangat baik, namun dia telah dapat
menghimpun tenaga sinkang itu.
"Orang muda, apakah hubunganmu dengan mendiang Beng-san Siang-eng (Sepasang Garuda Bengsan)?"
tanyanya lagi.
Ciang Hun tak ingin menyombongkan dirinya, akan tetapi dia pun bangga dengan nama besar kedua
ayahnya. "Mereka adalah ayah kandungku!" jawabnya gagah, sama sekali tidak merasa sungkan mengaku
bahwa dia memiliki dua orang ayah kandung!
Memang suatu hal yang aneh dalam keluarga itu. Ayahnya adalah sepasang pendekar kembar yang
mencintai seorang wanita, maka keduanya menjadi suami wanita itu dan lahirlah Ciang Hun, anak dari
seorang ibu dan dua orang ayah.
"Ha-ha-ha-ha, pantas kalian berani mengganggu kesenanganku. Nah, mengingat bahwa kalian keturunan
orang-orang pandai, mari kuundang kalian makan minum denganku, Bangau Merah dari orang muda she
Gak! Dan engkau juga, Nona. Tadi permainan siang-kiam (sepasang pedang) darimu cukup lumayan,
membuktikan bahwa engkau pun sudah dilatih oleh guru yang pandai. Ha-ha-ha, marilah orang-orang
muda, kita mempererat perkenalan dengan makan minum!"
Siangkoan Kok tidak berpura-pura dengan keramahan ajakannya ini. Tadinya dia adalah majikan yang
dihormati bagai seorang raja kecil. Akan tetapi sekarang semua kemuliaan itu habislah sudah.
Anak buahnya dibasmi pasukan pemerintah, Ban-kwi-kok (Lembah Selaksa Setan) telah diobrak-abrik,
seluruh hartanya habis. Habislah sudah semuanya, bahkan ia kehilangan anak yang disayangnya walau
pun hanya anak tiri, juga kehilangan isteri yang dia bunuh sendiri, serta kehilangan murid tersayang yang
diambilnya secara paksa menjadi isteri, juga murid ini dia bunuh.
Sekarang dia sebatang kara, tidak memiliki apa-apa lagi. Karena itu, melihat tiga orang muda ini, yang
gagah perkasa dan juga dua orang di antaranya adalah gadis-gadis perkasa yang cantik, timbul keinginan
hatinya untuk bersahabat dengan mereka. Siapa tahu dia dapat menguasai mereka dan dengan bantuan
tiga orang muda seperti ini dia tentu akan mampu membangun lagi perkumpulannya yang terbasmi dan dia
akan jaya kembali.
Semenjak tadi Sian Li memperhatikan pria yang tinggi besar, gagah dan berwibawa itu. Pada waktu ia
melakukan perjalanan untuk menyelidiki Pao-beng-pai, ia telah mencari keterangan tentang perkumpulan
itu, tentang ketuanya dan tentang puteri ketua yang pernah datang mengacau pertemuan tiga keluarga
dunia-kangouw.blogspot.com
besar. Pao-beng-pai telah terbasmi dan di tempat yang tidak jauh dari bekas sarang Pao-beng-pai,
terdapat kakek yang lihai ini.
"Bukankah engkau yang bernama Siangkoan Kok, majikan di Ban-kwi-kok dan ketua Pao-beng-pai yang
telah hancur?"
Pertanyaan yang dilontarkan Sian Li ini sungguh amat mengejutkan hati semua orang. Bukan hanya Gak
Ciang Hun dan Bi Kim yang terkejut, juga Lurah So dan semua orang yang tadi sibuk melayani kakek
itu…..
Lurah So dan para pembantunya menjadi pucat mendengar bahwa kakek itu ternyata adalah ketua Paobeng-
pai, perkumpulan yang mereka takuti. Mereka semua sudah mendengar akan Pao-beng-pai. Juga
ketuanya, yaitu Siangkoan Kok majikan Lembah Selaksa Setan. Akan tetapi hanya namanya saja yang
mereka ketahui, belum pernah melihat orangnya.
"Ha-ha-ha, engkau hebat, Si Bangau Merah! Tidak percuma engkau mendapat julukan itu karena engkau
memang cerdik, lihai dan bermata tajam. Aku memang Siangkoan Kok!"
"Bagus! Kiranya benar engkaulah ketua Pao-beng-pai! Dan gadis siluman yang berani menantang keluarga
kami itu adalah puterimu. Suruh dia keluar untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya!" Sian Li
membentak.
"Sian-moi, kiranya tidak perlu bicara lagi dengan iblis seperti ini!" kata Ciang Hun yang sudah mencabut
pedangnya.
"Benar, jahanam ini iblis yang kejam dan jahat yang harus dibasmi!" kata pula Gan Bi Kim yang sudah siap
dengan sepasang pedangnya pula.
"Ha-ha-ha, kiranya kalian semua hanya pendekar-pendekar muda yang menjadi antek penjajah Mancu!"
bekas ketua Pao-beng-pai itu berkata dengan nada mengejek sambil menertawakan mereka.
Wajah Sian Li berubah merah. "Jahanam busuk! Kalau kami menentangmu, hal itu tidak ada sangkut
pautnya dengan pemerintah. Bagi kami, engkau bukanlah pejuang, tetapi penjahat busuk yang suka
mengganggu rakyat. Kini bersiaplah untuk mampus!"
Sian Li sudah menerjang dengan senjata sulingnya. Ciang Hun dan Bi Kim juga cepat menggerakkan
senjata mereka, mengeroyok.
Siangkoan Kok adalah seorang datuk yang lihai sekali. Akan tetapi, kini dia menghadapi pengeroyokan tiga
orang muda yang tangguh, terutama sekali Si Bangau Merah dan Gak Ciang Hun. Dua orang muda ini
adalah keturunan pendekar-pendekar lihai, maka dia tak berani memandang rendah dan kakek itu sudah
mencabut pedangnya, memutar senjata itu menyambut serangan para pengeroyoknya.
Apa bila ketiga orang muda itu menyerang dengan pengerahan seluruh kepandaian dan tenaga mereka,
menyerang dengan semangat besar, sebaliknya Siangkoan Kok hanya melindungi diri dengan gulungan
sinar pedang. Dia tidak bersemangat untuk berkelahi. Apa lagi mengingat bahwa dua orang di antara para
pengeroyoknya adalah keturunan keluarga pendekar yang tangguh.
Dia tidak ingin menambah lagi jumlah musuhnya di luar pasukan pemerintah yang telah membasmi
perkumpulannya. Bahkan mungkin dia ingin bekerja sama dengan kelompok lain untuk membalas dendam
kepada pemerintah penjajah Mancu, seperti yang sudah ia janjikan kepada ketua Thian-li-pang di Bukit
Setan. Selain itu, dia juga merasa gentar kalau-kalau Pendekar Bangau Putih, ayah Si Bangau Merah ini,
dan juga Pendekar Tangan Sakti Yo Han akan muncul.
Maka, setelah memutar pedangnya dengan dahsyat, membuat tiga orang pengeroyok itu dengan hati-hati
mundur menjaga jarak, mendadak saja Siangkoan Kok meloncat ke kiri. Dan sebelum tiga orang muda
yang mengeroyoknya sempat mencegah, dia sudah mencengkeram leher baju Lurah So serta
menempelkan pedangnya di leher lurah yang menjadi pucat ketakutan itu.
"Kalau ada yang menyerangku, terlebih dahulu aku akan menyembelih lurah ini!" bentak Siangkoan Kok
sambil mendorong tubuh lurah itu di depannya dan terus mendorongnya keluar rumah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ciang Hun, Sian Li, dan Bi Kim tentu saja tidak berani menyerang lagi. Bagaimana pun juga, mereka tidak
mau mengorbankan nyawa lurah yang tak berdosa itu. Mereka hanya mampu memandang ketika lurah itu
didorong keluar oleh Siangkoan Kok. Sian Li hanya dapat mengancam ketua Pao-beng-pai itu.
"Siangkoan Kok, kalau engkau membunuhnya, aku bersumpah untuk mengejarmu dan tidak akan berhenti
sampai aku dapat membunuhmu!"
Ketua Pao-beng-pai itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, aku sedang malas bertanding, Nona manis, dan
kini aku menangkap dia hanya untuk mencegah kalian mendesakku, bukan untuk membunuhnya. Lurah ini
telah begitu baik untuk melayaniku makan minum, tentu aku tidak akan membunuhnya."
Setelah tiba di luar rumah, Siangkoan Kok berlompatan jauh sambil tetap menggandeng Lurah So, dan
setelah tiba di tepi sebuah hutan dia baru melepaskan lurah itu kemudian menghilang ke dalam hutan. Sian
Li dan yang lain juga tidak mau mengejar, mengejar seorang seperti Siangkoan Kok yang melarikan diri ke
dalam hutan amatlah berbahaya.
Melihat tiga orang muda yang berhasil mengusir ketua Pao-beng-pai itu, Lurah So yang dilepaskan oleh
kakek itu tanpa dilukai sama sekali, segera menghampiri dan memberi hormat, menghaturkan terima kasih
kepada mereka dan memohon supaya malam itu mereka suka bermalam di rumahnya.
"Pertama, supaya kami sekeluarga sempat menghaturkan terima kasih kepada Sam-wi (Kalian Bertiga),
dan kedua, supaya hati kami sekeluarga merasa aman dan tenteram. Kalau Sam-wi pergi sekarang,
malam ini pasti kami tidak dapat tidur dan ketakutan membayangkan iblis itu kembali datang ke rumah
kami." Demikian antara lain Lurah So membujuk mereka. Karena alasan itu masuk akal juga, akhirnya
Ciang Hun, Sian Li dan Bi Kim menerima undangan itu.
Seluruh penghuni dusun itu bersuka ria karena lurah mereka telah bebas dari gangguan ketua Pao-bengpai
yang mereka takuti. Para penghuni itu ramai memuji-muji pemuda dan dua orang gadis perkasa itu.
Keluarga Lurah So juga menghaturkan terima kasih dan mengadakan pesta kecil untuk menyambut
mereka.
Sehabis makan minum, akhirnya tiga orang muda-mudi itu mendapat kesempatan untuk bicara bertiga saja
di ruangan belakang rumah Lurah So. Tiada anggota keluarga yang berani mengganggu mereka bertiga
yang sedang bercakap-cakap. Dalam kesempatan ini, Gan Bi Kim berkenalan dengan Gak Ciang Hun dan
Tan Sian Li.
"Aku berterima kasih sekali kepada Taihiap (Pendekar Besar) dan Lihiap (Pendekar Wanita)," kata Gan Bi
Kim. "Aku sungguh tidak tahu diri, dengan ilmu silatku yang masih rendah aku berani menentang ketua
Pao-beng-pai yang lihai itu. Kalau Ji-wi (Anda Berdua) tidak datang, entah bagaimana jadinya dengan
diriku," kata Bi Kim.
"Aihh, Nona, harap jangan merendahkan diri. Ilmu pedangmu sudah cukup hebat, hanya ilmu kepandaian
ketua Pao-beng-pai itu memang luar biasa. Hanya setelah kita bertiga maju bersama, barulah kita dapat
mengusirnya," kata Ciang Hun.
"Benar, Enci, di antara kita tidak perlu sungkan, kita adalah dari golongan yang sama, yaitu menentang
perbuatan jahat. Siapakah engkau, Enci, dan bagaimana engkau dapat tiba di tempat ini dan berkelahi
dengan ketua Pao-beng-pai itu?"
Gan Bi Kim menghela napas panjang. "Aku hanya orang biasa saja, adik yang gagah, tidak seperti engkau
yang berjulukan Si Bangau Merah dan kakak ini yang keturunan orang-orang sakti. Ketua Pao-beng-pai itu
sampai mengenal kalian dan merasa gentar. Aku bernama Gan Bi Kim, berasal dari kota raja dan aku
sedang melakukan perjalanan mengembara untuk meluaskan pengalaman setelah aku mempelajari sedikit
ilmu silat dari para guru di kota raja sebagai bekal untuk membela diri. Pada saat tiba di sini, aku
mendengar akan kejahatan kakek tadi yang menguasai rumah keluarga Lurah So, maka aku datang untuk
menegur dan mengusirnya, tidak tahu bahwa kakek itu adalah ketua Pao-beng-pai yang sangat lihai. Nah,
sekarang aku mengharapkan keterangan tentang kalian, karena aku hanya mendengar julukanmu, tidak
tahu siapa namamu dan nama kakak ini."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Namaku Tan Sian Li, enci Kim," kata Sian Li yang segera merasa akrab dengan gadis kota raja yang dari
sikapnya saja telah dapat diduga bahwa ia seorang gadis terpelajar, bahkan ada sikap agung dan anggun
seperti gadis pingitan atau gadis bangsawan.
"Dan namaku Gak Ciang Hun, nona Gan," Ciang Hun memperkenalkan diri.
Dia bagaikan terpesona memandang gadis itu. Ada sesuatu yang amat menarik hatinya pada gadis itu,
entah sinar matanya yang lembut, atau pun mulutnya yang memiliki bibir yang mempesonakan.
"Aihh, Gan-toako, kita orang segolongan dan aku sudah merasa akrab dengan enci Kim. Kiranya tidak
perlu bersungkan-sungkan menyebut ia nona segala!" kata Sian Li yang wataknya terbuka dan jujur.
Bi Kim tersenyum sambil memandang kepada pemuda itu. "Li-moi tadi berkata benar, Gak-toako. Aku pun
merasa seolah-olah aku sudah mengenal kalian selama bertahun-tahun."
Ciang Hun tersenyum girang. "Baiklah, Kim-moi (adik Kim)."
"Enci Kim, engkau seorang gadis kota raja, lembut dan pandai, kenapa bersusah payah bertualang seperti
gadis kang-ouw? Aku sendiri tentu lain lagi, karena memang aku dari keluarga petualang, aku seorang
gadis kang-ouw yang sudah biasa hidup berkelana. Tapi engkau..."
Bi Kim tersenyum dan memegang lengan Sian Li. "Aihh, janganlah berkata seperti itu, Li-moi. Engkau lebih
dalam segala-galanya dibandingkan aku, mengapa mesti memuji-muji aku? Engkau lebih lihai, engkau
lebih cantik, lebih muda! Aku mendengar dari para guruku di kota raja tentang dunia persilatan yang luas,
mendengar tentang tokoh-tokoh dunia persilatan, bahkan aku juga pernah mendengar nama besar Si
Bangau Putih dan puterinya, Si Bangau Merah. Sebab itu, aku tertarik dan ingin meluaskan pengalamanku
dengan merantau."
Tentu saja Bi Kim tidak mau menceritakan bahwa kepergiannya adalah untuk mencari Yo Han, pemuda
idamannya yang sudah ditunangkan dengannya oleh neneknya. "Dan engkau sendiri, dari mana hendak ke
mana, Li-moi? Dan juga engkau, Gak-toako?"
"Panjang ceritanya," kata Sian Li. "Beberapa pekan yang lalu, diadakan pertemuan dari tiga keluarga besar
Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Naga Siluman. Aku pun hadir dan dalam pertemuan itu, muncul puteri
ketua Pao-beng-pai yang menantang kami. Dia dapat dikalahkan dan kemudian pergi. Aku sendiri menjadi
sangat penasaran dan pergi hendak menyelidiki Pao-beng-pai..."
"Dan karena aku mengkhawatirkan keselamatan siauw-moi Tan Sian Li, maka aku lalu mengejarnya dan
berhasil, maka kami melakukan perjalanan bersama," sambung Ciang Hun.
"Tapi aku pernah mendengar berita bahwa Pao-beng-pai sudah dibasmi oleh pasukan pemerintah," kata Bi
Kim.
"Benar, kami terlambat dan kami tidak dapat bertemu dengan gadis iblis itu, tapi malah bertemu dengan
ayahnya di sini."
"Jadi kalian berdua saja berani datang untuk mencari puteri ketua Pao-beng-pai? Itu berbahaya sekali!
Baru ketuanya saja tadi sudah selihai itu. Apa lagi kalau perkumpulan itu belum terbasmi dan terdapat
banyak anak buahnya," kata Gan Bi Kim kagum akan keberanian dua orang itu.
"Aku bukan hanya hendak menyelidiki Pao-beng-pai, enci Kim. Sebetulnya, penyelidikan terhadap Paobeng-
pai hanya sambil lalu saja, yang terutama sekali kepergianku adalah untuk mencari Han-koko..." Sian
Li berhenti sebentar sambil memandang kepada Gak Ciang Hun yang nampak tenang saja karena pemuda
ini sudah mendengar pengakuan Si Bangau Merah.
"Han-koko? Siapa itu Han-koko?" tanya Bi Kim, tersenyum.
Sian Li baru ingat bahwa Bi Kim sama sekali tak mengenal kekasihnya itu, dan sebagai seorang gadis
yang tidak merasa perlu untuk merahasiakan hubungannya dengan Yo Han terhadap seorang sahabat
yang dipercayanya, dia pun tertawa.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aihh, aku sampai lupa bahwa engkau belum mengenal Han-ko, enci Kim. Dia berjuluk Sin-ciang Taihiap
(Pendekar Tangan Sakti) bernama Yo Han... ehhh, engkau kelihatan terkejut, apakah engkau sudah
mengenalnya, Enci?"
"Tentu saja aku terkejut," Bi Kim tersenyum, menahan debaran jantungnya, "Siapa yang tidak pernah
mendengar akan nama besar Sin-ciang Taihiap? Dan engkau menyebut dia Han-koko? Agaknya engkau
mempunyai hubungan yang erat dengan dia. Masih ada hubungan keluargakah, Li-moi?"
Sian Li tersenyum dan tiba-tiba saja kedua pipinya berubah menjadi kemerahan. Sambil menundukkan
mukanya dan dengan tersipu ia berkata, "Boleh dibilang begitulah karena dia... dan aku... kami saling
mencinta dan mengharapkan kelak menjadi suami isteri."
Karena mukanya ditundukkan ketika mengatakan itu, Sian Li tidak melihat betapa mata Bi Kim tiba-tiba
terbelalak, mukanya pucat dan napasnya terengah sejenak. Bahkan dia kemudian menunduk dan
mengusapkan tangannya ke arah kedua matanya untuk cepat mengusir dua titik air matanya.
Akan tetapi Ciang Hun yang semenjak tadi mengamatinya, dapat melihat perubahan ini. Diam-diam dia pun
merasa amat terkejut dan heran. Hatinya lalu menduga-duga.
Ketika Sian Li kembali mengangkat muka memandang kepada sahabat barunya itu, Bi Kim telah dapat
menguasai perasaan hatinya. Baru saja ia mengalami guncangan batin yang sangat hebat. Siapa orangnya
yang tidak merasa seperti ditikam jantungnya ketika mendengar pengakuan seorang gadis yang
dikaguminya bahwa gadis itu ternyata saling mencinta dengan laki-laki yang selama ini dicari dan
dirindukannya karena laki-laki itu adalah tunangannya!
Menurut gejolak hatinya, ingin sekali dia marah-marah kepada Sian Li. Tetapi dia lalu mengingat-ingat
kembali, membayangkan sikap Yo Han terhadap dirinya. Pemuda yang ditunangkan dengannya oleh
neneknya itu belum pernah menyatakan cinta kepadanya, bahkan minta waktu untuk dapat memberi
jawaban dan mengambil keputusan tentang niat neneknya menjodohkan mereka.
"Kau kenapakah, enci Kim? Engkau kelihatan termenung..." kata Sian Li.
Bi Kim mengangkat muka memandang kepadanya dan tersenyum manis! Kemudian dia menggelengkan
kepalanya.
"Tidak apa-apa, adik manis. Aku hanya merasa terharu mendengar bahwa pendekar wanita Bangau Merah
saling mencinta dengan Pendekar Tangan Sakti. Li-moi, melihat usiamu yang masih amat muda, tentu
belum lama engkau berkenalan dengan Pendekar Tangan Sakti."
Sian Li memandang Bi Kim dengan lucu dan tertawa terkekeh. "Hi-hi-hik, engkau keliru sama sekali, enci
Kim. Usiaku memang baru delapan belas tahun, akan tetapi aku telah berkenalan dan akrab dengan Hanko
sejak aku berusia empat tahun!"
Bi Kim terbelalak, memandang kepada Gak Ciang Hun, lalu menatap lagi wajah Sian Li. "Aku... aku tidak
mengerti..." katanya bingung.
Sian Li tersenyum dan memegang lengan Bi Kim. "Engkau tidak perlu heran, enci Kim. Ketahuilah, ketika
aku berusia empat tahun, Han-ko ikut orang tuaku, bahkan menjadi murid ayah dan ibu. Kemudian kami
berpisah dan baru belasan tahun kemudian kami kembali saling bertemu dan langsung kami saling jatuh
cinta kembali, maksudku... sejak kanak-kanak pun kami sudah saling mencinta, walau pun sifat cinta itu
berubah..."
Kembali sepasang pipi itu menjadi merah sekali, semerah warna pakaiannya.
Setelah mendengar semua keterangan itu, tahulah Bi Kim bahwa tidak mungkin ia dapat mengharapkan Yo
Han untuk menjadi calon jodohnya. Bukan Sian Li yang merampas tunangannya. Gadis ini dan Yo Han
sudah saling mencinta, bahkan sejak kecil! Kalau ia berkeras mempertahankan usul neneknya mengenai
perjodohan itu, berarti dialah yang merampas kekasih orang!
dunia-kangouw.blogspot.com
Keangkuhan yang timbul dari harga dirinya sebagai seorang dari keluarga bangsawan, membuat Bi Kim
dapat menekan perasaannya dan saat itu juga ia sudah mematahkan hubungan batinnya dengan Yo Han.
Dia tidak boleh dan tidak akan suka mencinta Yo Han yang telah menjadi kekasih si Bangau Merah!
Untuk mengalihkan perhatian dan melupakan rasa nyeri seperti ada pisau menikam ulu hatinya, Bi Kim lalu
bertanya dengan suara heran, "Adik manis, kenapa engkau mencari kekasihmu itu? Dan kenapa pula dia
meninggalkanmu?"
Pertanyaan yang wajar saja dari seorang gadis kepada gadis lain, meski sesungguhnya pertanyaan itu
mengandung keinginan untuk mengetahui lebih jelas tentang hubungan antara Sian Li dan Yo Han.
"Ahhh, banyak sekali yang menyebabkannya, Enci, dan sebenarnya hal ini merupakan rahasiaku..."
"Siauw-moi, aku mulai merasa lelah dan mengantuk. Bagaimana kalau engkau lanjutkan percakapanmu
dengan adik Bi Kim saja, dan aku beristirahat lebih dahulu?" kata Ciang Hun yang merasa tidak enak hati
karena agaknya kehadirannya hanya akan membuat canggung dua orang gadis itu bercakap-cakap secara
akrab.
Sian Li tersenyum dan mengangguk. Diam-diam dia merasa terharu dan juga senang karena pemuda itu
sungguh tahu diri dan dapat memaklumi keadaan dirinya. Dia selalu merasa tidak enak kepada Ciang Hun
kalau di depan pemuda itu harus menceritakan segala hal mengenai Yo Han, padahal Ciang Hun
mencintanya.
"Gak-toako ini seorang pemuda yang bijaksana dan baik sekali. Aku amat kagum dan menghormatinya,
apa lagi di antara dia dan aku masih ada hubungan kekeluargaan. Maksudku, dia masih keturunan
keluarga dari perguruan Pulau Es, sedangkan kakekku keturunan keluarga Gurun Pasir dan nenekku
keluarga Pulau Es," kata Sian Li kepada Bi Kim setelah mereka tinggal berdua saja.
"Aku pun kagum kepadanya. Dia seorang pemuda yang lihai, pendiam dan sopan," kata Bi Kim. "Akan
tetapi, kalau engkau enggan menceritakan tentang dirimu dan kekasihmu, aku pun tidak akan
memaksamu, Li-moi."
"Ahh, tidak sama sekali, Enci. Kepadamu aku tidak merasa sungkan atau enggan untuk menceritakan,
hanya kalau ada Gak-toako..., aku jadi tidak tega untuk banyak bercerita tentang Han-koko dan aku..."
"Tidak tega?" Bi Kim memandang penuh selidik, terheran-heran, "Kenapa tidak tega?"
"Karena dia mencintaku, enci Kim. Dan aku tentu saja tidak dapat membalas cintanya, walau pun aku suka
dan hormat sekali kepadanya. Aku sudah menceritakan mengenai hubunganku dengan Han-koko, dan
Gak-twako dapat menerima kenyataan itu dengan hati lapang. Dia bijaksana sekali! Dan aku tidak ingin
menyinggung perasaannya kalau banyak bercerita tentang Han-ko di depannya."
Bi Kim semakin terheran-heran dan kagum. Dara ini sungguh luar biasa, pikirnya. Begitu jujur, begitu
terbuka! "Aih, kasihan dia kalau begitu, Li-moi. Pahit sekali memang kalau orang bertepuk sebelah tangan
dalam soal asmara. Nah, sekarang ceritakan, kenapa engkau saling berpisah dengan kekasihmu?"
Sian Li lalu bercerita. Tanpa tedeng aling-aling lagi. Diceritakannya tentang ayah ibunya yang agaknya
tidak menyetujui hubungan cintanya dengan Yo Han, bahkan ayah ibunya telah memilihkan jodoh
untuknya, yaitu seorang pangeran!
"Akan tetapi aku tidak mau, Enci. Aku tidak sudi dijodohkan dengan pangeran itu, walau pun pangeran itu
terkenal gagah dan tampan, kabarnya pandai ilmu silat juga."
"Siapakah pangeran itu? Mungkin aku sudah tahu."
"Dia Pangeran Cia Sun."
Diam-diam Bi Kim semakin heran dan terkejut. Tentu saja dia tahu siapa pangeran itu. Seorang pangeran
yang menjadi pujaan hampir semua gadis di kota raja. Setiap orang gadis merindukannya dan
mengharapkan menjadi isterinya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Bahkan dia sendiri, sebelum ditunangkan dengan Yo Han, pernah beberapa kali melihat pangeran itu dan
dia sendiri pun merasa terpikat! Dan gadis ini... Si Bangau Merah ini, malah menolak dijodohkan dengan
Pangeran Cia Sun. Bukan main!
"Hemm, menurut penilaianku, dia seorang pangeran yang baik sekali, berbeda dengan para pangeran
lainnya. Dia tidak congkak, manis budi dan dekat dengan rakyat."
"Biar seratus kali lebih baik dari itu, aku tetap tidak sudi, Enci. Aku hanya mau berjodoh dengan Han-ko!
Nah, pada waktu ayah dan ibu mengajakku menghadiri pertemuan tiga keluarga besar, aku mengharapkan
dapat bertemu dengan Han-koko di sana. Namun ternyata dia tidak ada. Lalu muncul puteri ketua Paobeng-
pai membuat kekacauan dan menantang-nantang kami. Setelah ia dapat diusir pergi, aku lalu
meninggalkan ayah ibu secara diam-diam karena aku ingin mencari Han-koko dan menyelidiki Pao-bengpai.
Sebetulnya aku ingin membatalkan niat ayah dan ibu mempertemukan aku dengan pangeran itu di
kota raja, dan mencari Han-koko sampai dapat."
"Ke mana sih perginya kekasihmu itu, Li-moi?" tanya Bi Kim, diam-diam merasa heran dan geli juga melihat
betapa ada persamaan antara ia dan Si Bangau Merah ini.
Ia pun sedang mencari-cari Yo Han seperti yang dilakukan Sian Li. Hanya bedanya, ia mencari pemuda itu
sebagai tunangan, sedangkan Sian Li sebagai kekasih! Amat besar bedanya memang, dan kenyataan ini
menikam hatinya. Pertunangannya belum resmi itu atas kehendak neneknya, sedangkan saling mencinta
tentu saja atas kehendak mereka yang bersangkutan!
"Han-koko menerima tugas berat, yaitu mencari puteri Pendekar Suling Naga Sim Houw yang hilang diculik
orang sejak anak itu masih kecil sekali, baru dua tiga tahun usianya. Hingga kini, dua puluh tahun lebih
sudah berlalu dan tak pernah ada berita tentang anak itu. Semua usaha yang dilakukan oleh Pendekar
Suling Naga dan isterinya tak berhasil. Bahkan andai kata anak itu ditemukan juga, anak itu sudah tidak
mengenal orang tua kandungnya, dan sebaliknya suami isteri itu pun takkan dapat mengenal puteri
mereka. Dan Han-koko bertugas mencari anak yang hilang itu!"
"Aih, betapa sukarnya tugas itu. Bagaimana mungkin bisa mencarinya jika tidak pernah melihat anak yang
kini tentu telah menjadi seorang gadis dewasa itu?" kata Bi Kim.
Dia merasa ikut merasa prihatin mendengar betapa tunangannya, pria yang dicintanya akan tetapi yang
mencinta gadis lain itu dibebani tugas yang demikian sulitnya. Andai kata dapat menemukan gadis itu,
bagaimana dapat yakin bahwa dia adalah anak yang hilang itu?
"Memang ada ciri khasnya, Enci. Menurut keterangan orang tuanya, anak itu memiliki dua buah tanda yang
khas, yaitu sebuah tahi lalat hitam di pundak kirinya dan sebuah noda merah di telapak kaki kanannya.
Nah, kurasa di dunia ini tidak ada dua orang yang memiliki tanda-tanda yang serupa seperti itu!"
"Aku akan ingat ciri itu, Li-moi, agar aku dapat membantu mencarinya."
"Terima kasih, enci Kim. Engkau baik sekali. Kini aku merasa bingung harus ke mana mencari kekasihku
itu. Aku sangat merindukannya, Enci, dan dia tentu akan berbahagia sekali kalau dapat mencari gadis itu
bersamaku."
Tanpa disadari oleh Sian Li, ucapan itu menikam ulu hati Bi Kim yang segera berpamit untuk beristirahat di
kamarnya. Mereka bertiga mendapat masing-masing sebuah kamar di rumah keluarga Lurah So yang amat
menghormati tiga orang pendekar itu…..
********************
Bi Kim rebah di atas pembaringan kamarnya, menelungkup dan menangis menahan isak supaya jangan
sampai suara tangisnya terdengar oleh orang lain di luar kamar. Dia merasa hatinya bagai diremas-remas,
pedih dan perih bukan main rasanya. Ingatannya melayang-layang pada segala peristiwa yang lalu, ketika
untuk pertama kali ia bertemu dengan Yo Han.
Pertama kali Yo Han datang berkunjung ke rumah keluarga ayahnya sebagai murid dari mendiang paman
kakeknya Ciu Lam Hok. Ketika itu keluarga ayahnya sedang dilanda mala petaka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ayahnya yang menjadi penanggung jawab gedung pusaka kerajaan, diancam hukuman berat karena
banyak benda pusaka penting hilang dicuri orang. Yo Han menyelidiki dan ternyata yang melakukan
pencurian adalah Coan-ciangkun yang sengaja melakukan hal itu untuk memaksa keluarga Gan
menyerahkan ia untuk menjadi isteri panglima itu. Yo Han berhasil menyelamatkan Gan Seng, ayahnya.
Dan dalam keadaan berbahagia itu, neneknya yang bersembahyang di depan meja sembahyang paman
kakeknya, tiba-tiba menetapkan perjodohannya dengan Yo Han!
Semua itu terbayang kembali olehnya. Ikatan pertunangan itu pula yang mendorongnya untuk dengan
tekun tanpa mengenal waktu, melatih diri dengan ilmu silat dari guru-guru silat yang pandai dari istana atas
bantuan ayahnya, sehingga kini dia menguasai ilmu kepandaian silat yang lumayan.
Semua itu dilakukannya demi cintanya kepada Yo Han yang dianggap calon suaminya. Calon suaminya
seorang pendekar besar, maka akan janggallah kalau ia tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Kemudian,
karena merasa rindu kepada tunangannya itu yang tidak kunjung datang, dia lalu meninggalkan rumah
orang tuanya dan pergi mencari Yo Han!
Dan sekarang, Si Bangau Merah Tan Sian Li yang mengagumkan hatinya itu mengaku terus terang bahwa
Sian Li saling mencinta dengan Yo Han, bahkan hubungan mereka jauh lebih dahulu dari pada
pertemuannya dengan pemuda itu. Pantas saja Yo Han belum dapat menerima usul perjodohan yang
diajukan oleh neneknya! Kiranya pemuda itu telah mempunyai seorang kekasih!
Bi Kim terpaksa mendekap mukanya dengan bantal karena tangisnya semakin menjadi-jadi. Nafasnya
sampai terasa sesak karena dia menahan-nahan sekuatnya agar jangan sampai terdengar suara
tangisnya.
Segala macam perasaan yang mengandung susah dan senang ialah permainan nafsu. Nafsu memang
selalu memiliki satu arah tujuan, yaitu kesenangan yang dinikmati tubuh melalui panca indera. Jika
penyebab kesenangan itu lepas dari tangan, kesenangan itu dalam sekejap mata dapat berubah menjadi
kebalikannya, yaitu kesusahan.
Cinta asmara antara pria dan wanita merupakan suatu perasaan manusia yang paling rumit dan aneh.
Dalam perasaan yang ada pada tiap diri seorang manusia yang normal ini, yang agaknya memang telah
menjadi anugerah atau yang disertakan pada manusia sejak manusia itu dilahirkan, terkandung banyak
hal.
Ada pengaruh naluri daya tarik antara lawan jenis yang alami, naluri yang ada pada tiap makhluk ciptaan
Tuhan, yang bergerak mau pun yang tidak, daya tarik yang merupakan syarat mutlak bagi pengembang
biakan makhluk itu. Daya tarik alami ini yang membuat lawan jenis kelamin saling tertarik, lalu saling
mendekati sehingga terjadilah penyatuan yang melahirkan makhluk baru sebagai proses penciptaan yang
amat indah dan suci.
Di samping naluri yang sifatnya suci dan alami, masuk pula pengaruhi nafsu dan dalam cinta asmara,
nafsu memainkan peran sepenuhnya sehingga memberikan kesenangan selengkapnya kepada manusia
yang dilanda cinta. Kenikmatan akan dirasakan manusia melalui kesenangan yang terkandung dalam
panca indera. Bila orang sedang bercinta, mata akan melihat keindahan pada orang yang dicinta, telinga
mendengar kemerduan, hidung mencium keharuman. Segala macam perasaan, sentuhan dan apa saja
menjadi terasa teramat indah!
Namun, karena nafsu memegang peran yang begitu besarnya, maka seperti akibat dari pada permainan
nafsu, semua kesenangan itu setiap saat dapat saja berubah menjadi kesusahan. Tidak ada kesenangan
melebihi senangnya orang bercinta, dan tidak ada kesusahan hati melebihi orang gagal dalam bercinta!
Dunia seakan kiamat, harapan seakan-akan hancur lebur, hidup seakan-akan tiada artinya lagi!
Dalam saat seperti itu, betapa banyaknya orang yang kurang tabah dan kurang sadar lalu melakukan
perbuatan dungu seperti membunuh diri, atau membunuh orang yang menggagalkan cintanya termasuk
orang yang dicintanya itu sendiri! Dalam mabuk cinta, kita lupa bahwa segala kesenangan itu ada
batasnya, dan tidak abadi!
Jelas bahwa nafsu yang bermain-main di dalam cinta kasih tidak abadi pula. Yang abadi adalah sesuatu
yang datangnya bukan dari nafsu yang menggelimangi hati akal pikiran. Yang asli dan abadi adalah cinta
dunia-kangouw.blogspot.com
yang tidak dikotori nafsu dan cinta inilah yang menjadi dasar dari segala perasaan yang baik. Cinta ini yang
mungkin biasa kita namakan kasih sayang!
Kasih ini terdapat di dalam sinar matahari, di dalam titik-titik air hujan, dalam gelombang samudera, dalam
bersilirnya angin semilir, dalam merekahnya dan harumnya bunga-bunga, dalam senyum ranum dan
matangnya buah-buahan, di dalam air mata seorang ibu, di dalam belaian tangannya, di dalam pandang
mata seorang ayah, di dalam tangis seorang bayi dan masih banyak lagi.
Gan Bi Kim menjadi korban dari ulah nafsu itu. Ia merasa seolah-olah hidupnya hancur lebur. Dalam
keadaan seperti itu, ia tidak tahu bahwa kesusahan, seperti juga dengan kesenangan, tidak abadi, bahkan
tidak akan panjang umurnya, walau pun dibandingkan kesenangan, kesusahan lebih lama dirasakan
manusia.
Tidak mungkin senang terus tanpa kesusahan, seperti tidak mungkinnya susah terus tanpa ada
kesenangan. Bahkan di waktu siang hari pun tidak selalu terang benderang, kadang-kadang digelapkan
awan mendung, dan malam gelap gulita pun kadang-kadang diterangi bulan atau bintang-bintang!
Dalam keadaan senang, orang lupa bahwa kesusahan sudah berada di ambang pintu. Dalam keadaan
susah, seseorang seolah-olah merasa bahwa tak ada harapan lagi dan selalu dia akan menderita susah,
seperti sakit yang tak mungkin dapat diobati lagi!
Bi Kim merasa semakin tidak tahan. Berduka di dalam kamar yang asing, seorang diri digerogoti kenangan
lama, membuat ia merasa sumpek dan pengap. Malam telah tiba dan suasana sunyi. Ia membuka daun
pintu dan melangkah keluar, melalui gang masuk ke dalam taman bunga milik keluarga lurah itu. Agak lega
rasanya ketika ia berada di luar, di udara terbuka.
Ia melangkah terus. Malam tidak gelap benar karena ada banyak sekali bintang di langit, tidak terhitung
banyaknya karena langit cerah tanpa mendung sehingga hampir semua bintang bermunculan, ada yang
tersenyum, ada yang berkedip-kedip.
Bunga-bunga di taman itu banyak yang mekar indah, karena memang waktu itu musim bunga telah
berumur dua bulan sehingga suasana taman itu indah sekali, bermandikan cahaya bintang yang kehijauan.
Ditambah lagi suara jangkerik dan belalang laksana sekumpulan musik yang mendendangkan lagu malam
dalam irama yang bebas namun tidak kacau, bahkan serasi.
Tiba-tiba suasana itu, yang pada mulanya menghibur, sekarang bagaikan menyentuh perasaannya,
mendatangkan keharuan yang mendalam hingga ia terhuyung, menutupi muka dengan tangannya dan
menangis. Kini ia berada di luar rumah dan ia tidak begitu menahan isak tangisnya, dan terdengar rintihan
kalbunya keluar melalui mulutnya dalam bentuk tangis lirih dan sedu sedan.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa Gak Ciang Hun yang semenjak tadi duduk melamun seorang diri di dekat
kolam ikan, kini bangkit dan memandang kepadanya dari sebelah kiri. Pemuda itu menghela napas
panjang, dan alisnya berkerut.
Dia sudah melihat perubahan sikap gadis itu sejak Sian Li mengaku bahwa ia dan Yo Han saling mencinta.
Dia melihat betapa Gan Bi Kim terbelalak dengan muka pucat dan napasnya terengah-engah ketika
mendengar pengakuan Sian Li itu dan betapa gadis itu berusaha untuk menenangkan diri secepatnya. Dia
menduga-duga, akan tetapi dia tidak menemukan jawabannya.
Dan kini, selagi dia melamun seorang diri di dalam taman mengenangkan nasib dirinya yang menderita
penolakan cintanya terhadap Sian Li, atau lebih tepat lagi menderita putusnya cinta dikarenakan Sian Li
mengaku bahwa gadis itu hanya mencinta Yo Han, tiba-tiba saja dia melihat Bi Kim menangis sedih
seorang diri di dalam taman! Karena merasa terharu dan iba, bagaikan terkena pesona dan seperti tidak
disadarinya, Ciang Hun melangkah perlahan menghampiri. Setelah dekat, dia berkata lirih.
"Adik Bi Kim..."
Bi Kim tersentak kaget, seperti diseret dari dunia lamunan kembali ke dunia kenyataan yang pahit dan
membingungkan. Segera ia menghapus air mata dengan tangannya dan mengucek-ucek kedua matanya,
memaksa bibirnya tersenyum.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aihh, kiranya Gak-toako... kaget sekali aku karena tidak mengira di sini ada orang lain."
Hati Ciang Hun makin terharu. Gadis ini jelas sedang menderita batin yang membuatnya berduka, akan
tetapi masih berusaha untuk bersikap wajar yang sangat canggung. Dia pun tidak berpura-pura lagi karena
dia merasa kasihan dan ingin sekali dapat membantu gadis itu, kalau memang gadis itu membutuhkan
bantuan.
"Kim-moi, sejak tadi aku berada di sini, ingin menikmati malam musim bunga yang indah ini. Malam sangat
cerah, langit bersih terhias bintang-bintang. Mengapa engkau malah berduka dan menangis, Kim-moi?"
"Aku... aku tidak berduka, tidak menangis..." Bi Kim cepat membantah, tetapi suaranya membuktikan
bahwa ia memang habis menangis, bahkan masih terkandung sisa tangis di dalam getaran suaranya.
"Ahh, Kim-moi, biar pun kita baru berkenalan hari ini, akan tetapi tentu engkau juga telah merasakan
seperti yang kami rasakan, yaitu bahwa kita berasal dari satu golongan dan seperti keluarga sendiri. Di
antara saudara atau sahabat baik, kalau ada seorang yang mengalami kesulitan, sudah sepantasnya kalau
yang lain membantu, bukan? Andai kata aku yang mengalami kesusahan, apakah engkau tidak bersedia
untuk menolongku, Kim-moi?"
"Tentu saja, Toako! Engkau sendiri dan Li-moi tadi pun telah menolongku dari ancaman ketua Pao-bengpai.
Tentu aku pun akan mengulurkan tangan membantumu kalau aku bisa."
"Nah, begitu pula dengan aku, Kim-moi. Kini aku mengulurkan tangan dan aku bersedia membantu dirimu
mengatasi kesusahanmu. Nah, maukah engkau menceritakan kenapa engkau begini bersedih?"
Ditanya orang lain tentang kesedihannya dengan suara yang demikian penuh perhatian dan seakan turut
merasakan, keharuan memenuhi hati Bi Kim dan tak tertahankan lagi air matanya bercucuran. Akan tetapi
ia menggigit bibir dan tak mau mengeluarkan suara tangis. Ia menggelengkan kepala dan menghapus air
matanya dengan sapu tangannya yang sudah basah.
"Engkau... engkau atau siapa pun di dunia ini tidak akan dapat menolongku, Toako... memang sudah
ditakdirkan bahwa nasibku amat buruk..." kembali ia mengusapkan sapu tangan ke arah kedua matanya.
"Siauw-moi, tidak ada nasib buruk itu! Segala sesuatu yang terjadi menimpa diri kita sudah sewajarnya,
dan ada sebab akibatnya. Bukan nasib buruk, karena nasib buruk itu hanya pandangan orang yang kecil
hati dan tidak tabah menghadapi kenyataan hidup. Kenyataan hidup memang tidak selalu putih, ada
kalanya hitam, tidak selalu manis, ada kalanya pahit. Akan tetapi, manis atau pun pahit, kalau kita dapat
menerimanya sebagai suatu kenyataan hidup yang tidak terlepas dari hukum alam, maka kita akan mampu
menghadapinya dengan tabah. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi, asalkan kita tabah, tidak
meninggalkan daya ikhtiar dan didasari penyerahan kepada Yang Maha Kuasa, Kim-moi. Aku tadi sudah
melihat perubahan pada sikapmu. Pada waktu Li-moi bercerita dengan terus terang, memang wataknya
terbuka dan jujur, bahwa ia dan Yo Han saling mencinta, aku melihat engkau terbelalak kaget dan mukamu
pucat sekali. Kim-moi, aku yakin bahwa kedukaanmu tentu ada hubungannya dengan cerita Li-moi itu, atau
setidaknya, ada hubungannya dengan Yo Han. Benarkah dugaanku?"
Bi Kim menundukkan mukanya. Sampai lama ia tidak menjawab, hanya menarik napas panjang berulang
kali. Ia tahu bahwa ia tidak dapat mengelak lagi, dan kalau sampai Sian Li mengetahui hal ini, sungguh
amat tidak enak. Pemuda ini dapat dipercaya, dan dengan bantuan pemuda ini ia akan lebih mudah
menyembunyikan rahasianya dari Sian Li.
"Gak-toako," katanya sambil memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata tajam, "Kalau aku
berterus terang kepadamu, maukah engkau berjanji untuk merahasiakan ini dari adik Sian Li?"
"Aku berjanji demi kehormatanku, Kim-moi."
"Ketahuilah, Toako, bahwa guru dari Sin-ciang Taihiap Yo Han adalah adiknya nenekku. Pada suatu hari,
Yo-toako datang berkunjung ke kota raja dan dia berhasil menolong ayahku yang terancam mala petaka
karena lenyapnya beberapa buah pusaka istana, padahal ayahku menjabat sebagai pengatur gedung
pusaka itu. Karena rasa bersyukur, di depan meja sembahyang paman kakekku itu, nenekku lalu
menjodohkan aku dengan Yo-toako."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ahhh, begitukah...?" Gak Ciang Hun menggumam lirih.
"Ya begitulah, Toako. Biar pun perjodohan itu belum diresmikan, akan tetapi sejak saat itu, aku sudah
menganggap diriku sebagai calon isteri Yo Han. Dan tentu dapat kau bayangkan betapa kaget rasa hatiku
ketika tadi aku mendengar bahwa adik Tan Sian Li saling mencinta dengan Yo Han."
Ciang Hun mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya. "Apakah Yo Han juga sudah menyetujui ikatan
jodoh itu?"
Gadis itu menggeleng. "Belum, Toako. Bahkan dia minta supaya urusan perjodohan itu ditangguhkan
sampai dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Usul perjodohan itu datang dari nenek, dan dia belum
menyatakan setuju atau tidak setuju."
"Akan tetapi... maafkan pertanyaanku ini, apakah kalian sudah saling mencinta?"
Gadis itu menarik napas panjang. Wajahnya nampak memelas sekali walau pun tidak kelihatan jelas di
bawah sinar ribuan bintang yang lembut, akan tetapi tarikan muka itu membuat Ciang Hun maklum bahwa
pertanyaannya mendatangkan kepedihan hati.
"Terus terang saja, Toako, aku amat kagum padanya dan selama ini aku menganggap bahwa aku cinta
padanya. Akan tetapi... ahh, cinta sepihak tidak mungkin, bukan? Dia sudah saling mencinta dengan adik
Sian Li... aku akan memberi tahu kepada nenekku dan orang tuaku bahwa aku tidak mungkin berjodoh
dengannya."
Hening sejenak, kemudian Bi Kim tercengang melihat pemuda itu tertawa, akan tetapi suara tawanya
sumbang. "Haha-ha-heh-heh, alangkah lucunya! Betapa lucunya...!!"
Tentu saja Bi Kim mengerutkan alisnya. Wajahnya berubah merah, pandang matanya bersinar tajam
karena marah. Ia mengira bahwa pemuda itu mengejeknya! Padahal, ia telah mempercayainya dan
menceritakan rahasia hatinya yang sebetulnya tidak harus diceritakan kepada siapa pun.
"Toako, kau... kau mentertawakan aku...?!" bentaknya marah.
Ciang Hun menyadari sikapnya yang dapat menimbulkan kesalah pahaman itu, maka ia menghentikan
tawanya dan cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada meminta maaf.
"Maafkan aku, Siauw-moi. Aku sama sekali bukan mentertawakan engkau, melainkan mentertawakan
diriku sendiri karena sungguh amat lucu keadaan kita berdua!" Kembali dia tertawa, akan tetapi menahan
sehingga tawanya tidak bersuara.
Bi Kim masih mengerutkan alisnya. "Hemmm, apanya yang lucu dengan ceritaku tadi?"
"Dengarlah, Kim-moi. Sudah lama aku pun jatuh cinta kepada adik Tan Sian Li! Dan kau tahu, sebelum aku
sempat menyatakan cintaku padanya, ia mengaku kepadaku seperti yang diceritakan kepadamu tadi, yaitu
bahwa dia mencinta Yo Han dan hanya mau berjodoh dengan Yo Han. Kau tentu mengerti betapa
hancurnya perasaan hatiku, tetapi aku dapat menerima kenyataan pahit itu. Sama sekali tidak aku duga
bahwa engkau mengalami hal yang sama benar dengan aku, dan kita berdua sama-sama mendengar
keputusan yang menghancurkan itu dari mulut Li-moi. Hanya bedanya di antara kita, engkau mencinta
yang laki-laki, aku mencinta yang perempuan. Ha-ha-ha, bukankah lucu sekali?"
Ciang Hun tertawa-tawa lagi dan sekali ini, Bi Kim juga tertawa. Mereka berdua tertawa-tawa, akan tetapi
tawa mereka terasa sumbang dan semakin lama, suara tawa mereka semakin sumbang hingga akhirnya Bi
Kim menangis dan Ciang Hun juga mengeluh dan menahan tangisnya!
Dalam keadaan seperti itu keduanya dapat saling merasakan betapa sedih dan perihnya hati yang hampa
karena cinta sepihak. Perasaan yang mendatangkan iba diri karena diri serasa tiada harganya, tidak ada
yang menyayang! Dan timbullah perasaan iba yang mendalam satu lama lain.
"Kim-moi, kita harus dapat menerima kenyataan... Sudahlah, Kim-moi, jangan bersedih lagi..." karena
merasa iba sekali, Ciang Hun mendekat dan menyentuh lengan gadis itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bagaikan tanggul penahan air bah yang bobol, bendungan itu kini pecah dan setengah menjerit Bi Kim
menangis dan merangkul Ciang Hun, menangis di dada pemuda itu sampai mengguguk. Semua perasaan
pedih, perih dan duka yang semenjak tadi selalu ditahan-tahannya di dalam hati, sekarang dilepaskannya
semua melalui tangisnya yang meledak-ledak.
Ciang Hun mengelus rambut itu. Dia pun berdongak memandang langit yang dipenuhi bintang-bintang, dua
matanya sendiri basah. Dia maklum sekali bahwa gadis itu sedang ditekan perasaan yang amat berat,
maka jalan terbaik adalah membiarkannya menangis melarutkan semua tekanan batin yang dapat
menimbulkan penyakit luar dan dalam.
Setelah tangisnya itu agak mereda, bagai badai yang mereda, Ciang Hun berkata, "Ehh, Kim-moi, lihatlah
betapa bodohnya kita. Apakah dengan gagalnya cinta kasih kita, lalu dunia ini akan kiamat? Lihat di langit
itu, jutaan bintang mentertawakan kita yang lemah. Kita bukanlah orang lemah, kita harus mampu
menanggulangi semua tantangan hidup. Kegagalan hanya akan memperkuat batin kita, mematangkan kita.
Sama sekali keliru kalau kita putus asa dan membiarkan diri tenggelam dalam kecewa dan duka."
Bi Kim sadar dan ia pun seperti baru menyadari bahwa ia telah menangis di atas dada Ciang Hun. Ia
melepaskan rangkulannya dan tersipu. Ia menghapus sisa air matanya, memandang kepada pemuda itu,
mencoba untuk tersenyum.
"Engkau benar, Toako. Maafkan atas kelemahanku, dan maafkan kelakuanku tadi yang tidak pantas."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Siauw-moi, tidak ada yang tidak pantas. Aku mengerti perasaanmu dan
aku dapat merasakan pula kepahitan yang melanda hatimu. Bukankah kita sama-sama mengalaminya?
Akan tetapi, sama-sama pula kita dapat mengatasinya, bukan?"
"Terima kasih, Gak-toako."
Ciang Hun lalu menasehati agar gadis itu kembali ke kamarnya karena akan kurang baik dugaan orang
kalau ada yang melihat mereka berada di taman berdua saja pada waktu malam seperti itu. Bi Kim
menyetujui. Ia pun kembali ke kamarnya, meninggalkan Ciang Hun yang masih termenung seorang diri di
taman itu.
Mulai saat itu, tumbuhlah perasaan aneh di dalam hati kedua orang itu. Mereka saling merasa kasihan, dan
perasaan ini menumbuhkan suatu perasaan baru dari cinta kasih, ingin saling menghibur, ingin saling
membahagiakan!
Pohon cinta memang bisa tumbuh dengan perantaraan belas kasihan, atau kekaguman, senasib,
kesamaan pandangan, kesamaan selera dan banyak perasaan lain lagi. Dan sekali orang jatuh cinta, maka
segala yang ada pada diri orang yang dicintai nampak indah, segala yang dilakukan orang yang dicinta
selalu menyenangkan hati. Maka tidak terlalu berlebihan bila orang mengatakan bahwa cemberut seorang
yang dicinta menjadi pemanis, sebaliknya senyum seorang yang dibenci makin menyebalkan!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sian Li sudah bangun dan mandi. Ketika dia keluar dari dalam
kamarnya dengan mengenakan pakaian bersihnya, dan seperti biasa pakaiannya serba merah sehingga ia
nampak segar dan jelita seperti setangkai bunga mawar merah di waktu pagi hari, masih segar membasah
bermandikan embun pagi, ia melihat Gan Bi Kim dan Gak Ciang Hun juga sudah mandi. Mereka kemudian
duduk di ruangan dalam di luar kamar mereka.
Setelah mereka duduk bertiga, Sian Li lantas berkata. "Pagi ini aku akan melanjutkan perjalananku, dan
sebelum aku bertemu dengan Han-ko, aku tidak akan pulang."
"Memang, sebaiknya kalau kita bertiga pergi dari sini," kata Ciang Hun.
"Tidak enak kalau mengganggu keluarga Lurah So terlalu lama."
"Adik Sian Li, aku akan mencoba untuk membantumu, ikut mencarikan anak yang hilang itu. Siapa tahu
aku akan bertemu dengan gadis yang mempunyai tanda-tanda di pundak kiri dan kaki kanan itu. Siapa
namanya?"
"Namanya Sim Hui Eng," jawab Sian Li.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku pun akan membantumu mencari Yo Han, kalau jumpa akan kuberi tahu bahwa engkau mencarinya.
Paling lambat pada hari Sin-cia (Tahun Baru Imlek), berhasil atau tidak, aku akan memberi kabar
kepadamu, di rumah orang tuamu di Ta-tung," berkata Ciang Hun.
Sian Li tersenyum memandang kepada dua orang sahabatnya itu. "Terima kasih, kalian baik sekali. Karena
kita bertiga mencari orang, maka akan lebih besar harapannya akan berhasil kalau kita berpencar. Kita
mencari dengan berpencar dan berjanji saling jumpa lagi pada hari Sin-cia. Bagaimana pendapat kalian?"
"Setuju!" kata Ciang Hun. "Pada hari Sin-cia, aku akan berkunjung ke rumahmu, Li-moi.”
“Dan bagaimana dengan kau, Kim-cici? Di mana kita akan bertemu hari Sin-cia nanti?"
"Aku setuju dengan pendapat Gak-toako. Aku pun akan berkunjung ke rumahmu pada hari Sin-cia, Li-moi."
"Bagus! Aku akan menanti kunjungan kalian dengan hati gembira. Ayah dan ibu pasti juga akan
bergembira sekali bila menerima kunjungan kalian. Nah, mari sekarang kita berangkat!"
Tiga orang muda perkasa itu lalu berpamitan kepada Lurah So sekeluarga, kemudian meninggalkan rumah
dan dusun itu. Setelah tiba di perempatan jalan, mereka berpisah. Sian Li menuju ke utara, Ciang Hun ke
selatan dan Bi Kim ke timur…..
********************
Gadis itu duduk di bawah pohon, agak jauh dari jalan raya dan tidak nampak dari jalan karena tempat itu
agak tertutup oleh hutan kecil yang berada di luar tembok kota raja. Gadis yang usianya sekitar dua puluh
tiga tahun itu anggun dan cantik jelita.
Pakaiannya indah. Rambutnya digelung tinggi dan dihias tiara kecil. Melihat pakaiannya pantasnya ia
adalah seorang puteri bangsawan yang kaya raya. Namun sungguh aneh, ia berada seorang diri di tempat
sunyi itu, bahkan lebih aneh lagi, ia duduk termenung dengan air mata mengalir menuruni kedua pipinya.
Bila orang mengetahui sikap gadis itu, dia tentu akan semakin terheran-heran. Gadis itu adalah puteri
ketua Pao-beng-pai yang ketika itu disebut Sang Puteri atau Nona Dewi. Oleh semua anggota Pao-bengpai
dan bahkan di dunia kang-ouw, dia dikenal sebagai puteri ketua Pao-beng-pai Siangkoan Kok, dan
nama gadis itu adalah Siangkoan Eng atau biasa dipanggil ayah ibunya Eng Eng saja.
Akan tetapi, sudah terjadi peristiwa hebat yang mendatangkan perubahan besar dan yang membuat Eng
Eng kini duduk termenung di bawah pohon itu sambil mencucurkan air mata! Padahal, dahulu sebagai
puteri ketua Pao-beng-pai ia dikenal sebagai seorang wanita perkasa yang dingin dan keras, belum pernah
menangis! Jika orang yang pernah mengenalnya melihat ia kini duduk menangis, tentu orang itu akan
merasa terkejut dan heran bukan main.
Bagaimana ia tidak akan menangis? Setabah-tabahnya, sekeras-keras hatinya, saat itu Eng Eng dilanda
perasaan yang hancur lebur. Ia berduka, kecewa, penuh penasaran dan dendam. Karena membebaskan
Yo Han dan Cia Sun, ia hampir dibunuh ayahnya. Kemudian ayahnya menyakiti hati ibunya dengan
memaksa Tio Sui Lan, murid ayahnya dan sahabat baiknya, menjadi isteri pengganti ibunya. Sui Lan
diperkosa ayahnya tanpa ia dan ibunya dapat berbuat sesuatu!
Dan setelah dia terluka parah oleh pukulan ayahnya, terjadi hal yang lebih hebat lagi, yaitu ibunya
membuka rahasia bahwa ayahnya itu, Siangkoan Kok, sebetulnya hanyalah ayah tirinya! Dan pada saat ia
bertanya kepada ibunya, siapa ayah kandungnya, ibunya marah-marah dan mengatakan bahwa ibunya itu
amat membenci ayah kandungnya.
Semua peristiwa itu membuat dirinya merasa sedih bukan main. Orang yang selama ini dianggap ayahnya
sendiri, ternyata orang lain dan sangat kejam terhadap ibunya dan terhadap dirinya sendiri. Kemudian,
ibunya malah sangat membenci ayah kandungnya dan tidak mau memberi tahukan siapa nama ayah
kandungnya, masih hidup ataukah sudah mati.
Semua ini menghancurkan hatinya dan ia pun malam itu juga melarikan diri dari rumah, meninggalkan Paobeng-
pai dan bersembunyi di sebuah goa yang banyak terdapat di Ban-kwi-kok. Di Lembah Selaksa Setan
dunia-kangouw.blogspot.com
ini terdapat goa-goa besar yang ditakuti orang, yang menurut tahyul dijadikan tempat tinggal para setan
dan iblis. Karena itu, jangankan rakyat biasa, bahkan para anggota Ban-kwi-kok sendiri jarang ada yang
berani datang, apa lagi bermalam di goa-goa itu.
Dalam kedukaannya, Eng Eng tidak mengenal takut. Ia bersembunyi di sebuah goa dan setiap hari dan
malam dia hanya duduk bersemedhi, menghimpun tenaga sakti untuk mengobati luka dalam yang diderita
akibat pukulan ayah tirinya! Ayah tirinya amat jahat, hampir membunuhnya, memperkosa Sui Lan, dan
menurut ibunya, ayah kandungnya juga amat jahat sehingga dibenci ibunya. Dunia seperti hancur rasanya
bagi Eng Eng.
Pada keesokan hatinya, selagi bersemedhi, dia mendengar suara ribut-ribut. Agaknya terjadi pertempuran
di Ban-kwi-kok! Kalau saja ia tidak terluka, dan kalau saja ia belum bentrok dengan ayah tirinya, tentu ia
akan membela Pao-beng-pai dengan taruhan nyawa. Akan tetapi, sekali ini ia diam saja, tidak bergerak
dan tetap duduk bersila.
Ia masih belum pulih. Kalau ia bertempur melawan musuh yang agak tangguh saja, ia akan celaka. Selain
itu, ia tidak sudi membantu ayah tirinya lagi. Bahkan hatinya kini condong untuk menentang dan melawan!
Kalau saja ia tidak ingat betapa sejak kecil ia dididik dan digembleng oleh ayah tirinya yang ia tahu sayang
kepadanya, tentu kini dia sudah menganggap ayah tiri itu musuhnya!
Karena perasaan itu, dia pun diam saja dan tidak keluar dari dalam goa. Akan tetapi setelah pertempuran
itu berhenti, baru dia teringat akan ibunya! Betapa pun dia marah kepada ibunya yang mengatakan
membenci ayah kandungnya, tetap saja sekarang dia mengkhawatirkan ibunya.
Ayah kandungnya sakti, juga ibunya mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi sehingga mereka akan
mampu membela diri dengan baik. Akan tetapi, dia tidak tahu siapa yang melakukan penyerbuan ke Paobeng-
pai. Dia harus melihat bagaimana keadaan ibunya, agar supaya hatinya menjadi lega.
Karena keadaan sangat sunyi, maka dia pun keluar dari dalam goa dan pergi ke sarang Pao-beng-pai.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat para anggota Pao-beng-pai banyak yang tewas, sisanya
entah lari ke mana. Yang lebih mengejutkan hatinya lagi adalah ketika ia menemukan mayat ibunya dan
mayat Sui Lan!
Ia lalu menubruk dan menangisi mayat ibunya. Ketika dua orang anggota Pao-beng-pai yang melihat
munculnya nona mereka keluar dari tempat persembunyian mereka, Eng Eng bertanya apa yang telah
terjadi.
Dua orang anggota Pao-beng-pai itu lalu bercerita bahwa pasukan pemerintah datang menyerbu Paobeng-
pai. Tanpa bertanya lagi Eng Eng dengan sendirinya menganggap bahwa Sui Lan dan ibunya tewas
di tangan para penyerbu!
"Dan di mana Pangcu (Ketua)?" Ia tidak mau menyebut ayah.
"Kami tidak tahu, Nona. Melihat bahwa tidak ada jenazah Pangcu di sini, tentu beliau telah berhasil
menyelamatkan diri."
"Bagaimana pasukan pemerintah mampu naik ke tempat ini dan melalui semua jebakan rahasia?"
tanyanya penasaran.
"Kami sempat melihat bayangan Cia Ceng Sun yang pernah menjadi tawanan di sini, Nona. Tentu dialah
yang menjadi penunjuk jalan."
Eng Eng terkejut, bangkit berdiri dan dengan muka pucat dia mengepal tinju. Hatinya berteriak memaki Cia
Sun. Tahulah ia. Tentu pangeran Mancu itu yang telah membawa pasukan datang menyerbu! Pangeran itu
tentu dahulu datang sebagai mata-mata.
Laki-laki berhati palsu! Kelak aku akan membuat perhitungan denganmu, geramnya di dalam hati. Dibantu
dua orang anggota Pao-beng-pai itu, Eng Eng kemudian mengubur jenazah ibunya dan Sui Lan, di lereng
sebuah bukit yang bersih.
dunia-kangouw.blogspot.com
Demikianlah, kini ia berada di luar kota raja, bersembunyi di hutan itu dan menangis. Ia bukan seorang
wanita cengeng yang menangisi kematian ibunya berulang kali. Sudah cukup ia menangisi di depan
jenazah dan di depan makam sederhana ibunya. Kini ia mencucurkan air mata bukan karena teringat
kematian ibunya.
Ia menangis karena teringat akan Cia Sun! Ia akan mencari, menangkap dan menyiksa, lalu membunuh
Cia Sun! Akan tetapi, sukar membayangkan bagaimana ia akan dapat melakukan itu. Ia amat mencinta
pangeran itu! Mengenangkan sikap manis dan mesra pangeran itu, bagaimana mungkin tangan ini akan
mampu melukainya, menyakitinya, apa lagi membunuhnya? Inilah yang membuat ia bercucuran air mata
menangis!
Senja datang dan suasana semakin sepi. Eng Eng mengepal kedua tangannya.
"Cengeng! Lemah!" Ia memaki diri sendiri.
Bagaimana pun juga, dia adalah musuh besar. Dialah yang menyebabkan Pao-beng-pai runtuh dan habis
terbasmi, bahkan ia pula yang menyebabkan ibunya tewas! Dia bukan membalas dendam untuk Pao-bengpai,
bukan pula membalas dendam bagi Siangkoan Kok, tetapi ia harus membalas dendamnya atas
kematian Sui Lan dan ibunya, terutama ibunya. Pangeran Cia Sun harus membayar lunas hutangnya!
Sesudah menghapus air matanya dan mengeraskan hatinya, Eng Eng memasuki pintu gerbang kota raja
sebelah selatan. Karena ia nampak seperti seorang gadis bangsawan atau hartawan, tidak pula membawa
senjata sebab senjata istimewanya, yaitu sebatang hud-tim (kebutan) terselip di pinggang, di balik baju,
maka para penjaga di pintu gerbang hanya memandang kagum, tidak mengganggunya.
Malam itu gelap. Udara mendung. Gelap dan dingin karena angin malam meniupkan hawa yang lembab.
Karena gelap dan dingin, orang-orang lebih suka tinggal di dalam rumah mereka yang lebih hangat
dibandingkan hawa di luar.
Apa lagi di rumah kaum bangsawan dan hartawan, di mana terdapat perapian yang bisa mendatangkan
hawa hangat. Kalau tidak mempunyai keperluan yang penting sekali, tak ada yang mau meninggalkan
rumah. Sebab itu jalan-jalan raya juga sepi dari lalu lintas.
Kesepian itu amat membantu Eng Eng yang sudah mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya
digelung dan diikat ke belakang, tidak disanggul rapi seperti biasa, juga tak dihias tiara. Pakaiannya yang
serba hitam dan ringkas itu membuat gerakannya yang cepat sukar diikuti pandang mata.
Senjata kebutan yang berbulu merah dan bergagang emas terselip di pinggang depan, dengan bulunya
sudah digulung rapi, sedangkan pedang beronce merah tergantung di punggung. Sekuntum jarum hitam
juga tergantung di pinggang. Eng Eng kini membekali diri dengan senjata lengkap karena ia hendak
menangkap Pangeran Cia Sun di rumah gedung keluarga pangeran itu.
Sore tadi setelah memasuki kota raja, ia telah melakukan penyelidikan dan tidak sukar untuk mendapat
keterangan tentang rumah tinggal Pangeran Cia Sun. Sebuah gedung besar dan megah berdiri di sudut
kanan kota raja. Itulah tempat tinggal Pangeran Cia Sun dengan keluarga ayahnya, yaitu Pangeran Cia
Yan seorang di antara putera-putera Kaisar Kian Liong (1736 - 1796).
Seperti telah kita ketahui, biar pun secara resmi Pangeran Cia Yan adalah anak angkat Kaisar Kian Liong,
yaitu seorang keponakan yang diangkat menjadi putera, akan tetapi sesungguhnya, Pangeran Cia Yan
adalah putera kaisar itu sendiri, hasil hubungan gelap dengan kakak iparnya. Oleh karena itu, biar pun
resminya pangeran akuan, atau anak angkat, namun Kaisar Kian Liong menyayangnya seperti anaknya
sendiri. Pangeran Cia Yan tidak dapat diangkat menjadi putera mahkota, akan tetapi dia merupakan
seorang di antara para pangeran yang disayang oleh kaisar.
Malam itu, di sekitar gedung milik Pangeran Cia Yan juga sunyi. Karena dia sendiri tidak memegang
jabatan penting, juga tak merasa mempunyai musuh, maka gedung tempat tinggal keluarga Pangeran Cia
Yan ini tidak dijaga ketat seperti tempat kediaman para pangeran lain. Hanya ada enam orang yang
berjaga malam dan melakukan perondaan di sekitar gedung besar itu untuk menjaga keamanan.
Tentu saja amat mudah bagi Eng Eng untuk menyusup masuk dengan melompati pagar tembok tanpa
diketahui para penjaga. Ia melompat pagar tembok belakang dan masuk ke taman bunga yang terpelihara
dunia-kangouw.blogspot.com
rapi. Sambil menyelinap di antara pohon dan semak bunga, ia menghampiri bangunan besar dan beberapa
menit kemudian, ia sudah dapat meloncat ke atas genteng dan melakukan pengintaian dari atas.
Lampu-lampu di luar genteng sudah banyak yang dipadamkan sehingga gerakan Eng Eng tidak dapat
terlihat ketika ia berkelebatan di atas genteng. Dengan cara mengintai dari atas, akhirnya dia mendengar
percakapan di bawah yang dilakukan dengan suara keras. Jantungnya berdebar tegang saat ia mendengar
suara Pangeran Cia Sun! Suara yang lembut namun kuat.
"Ayah dan Ibu, sekali lagi saya mohon maaf, bukan sekali-kali saya ingin membantah dan tidak mau
mentaati perintah Ayah dan Ibu. Bukan sekali-kali saya menolak karena menganggap pilihan Ayah dan Ibu
itu kurang baik untuk saya. Sama sekali tidak! Saya sudah mendengar tentang Si Bangau Merah,
mendengar bahwa dia seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi, berwatak gagah perkasa serta
berbudi baik. Juga ia cantik jelita, keturunan keluarga pendekar sakti yang terkenal."
"Nah, kau mau apa lagi? Engkau sendiri bilang, ia keturunan pendekar besar, ia gagah perkasa, berbudi
baik dan cantik jelita. Apakah semua hal itu belum memenuhi syarat bagimu untuk menjadi isterimu?"
terdengar suara Pangeran Cia Yan, ayah pemuda itu, membentak.
"Benar sekali kata Ayahmu, anakku. Selain gadis itu amat baik bagimu, juga kami telah mengikat janji
dengan orang tuanya, yaitu Pendekar Bangau Putih dan isterinya. Masih kurang apakah Si Bangau Merah
itu, anakku?"
Kalau tadinya Eng Eng yang mendengar semua itu sudah merasa gemas dan ingin segera menangkap
orang yang menyebabkan kehancuran Pao-beng-pai dan terutama kematian ibunya, kini mendengar apa
yang dipercakapkan, dia tertarik sekali dan ingin ia mendengar apa yang akan dikatakan pangeran itu
tentang ikatan jodoh.
Ia sendiri tentu saja tadinya mencinta pangeran itu dan mengharapkan dapat menjadi isterinya, dan tentu ia
akan marah sekali kalau mendengar pangeran itu akan menikah dengan orang lain. Akan tetapi sekarang
keadaannya sudah berbeda. Ia tidak mungkin menjadi isteri Cia Sun, dan tidak semestinya mencintanya,
bahkan sudah sepatutnya ia membencinya karena pria yang tadinya menjadi kekasihnya itu sekarang telah
menjadi musuh besarnya.
Meski ia tidak peduli lagi apakah pangeran itu akan menikah dengan gadis lain ataukah tidak, tetap saja ia
tidak dapat membohongi hatinya sendiri. Ia ingin sekali mengetahui apa jawaban pangeran itu dan
bagaimana isi hatinya! Maka, dia pun mendengarkan dengan jantung berdebar tegang.
"Sebagai seorang gadis, memang harus saya akui bahwa Si Bangau Merah itu baik dan tidak ada
kekurangannya, Ayah dan Ibu. Akan tetapi untuk menjadi isteriku, ia memiliki kekurangan yang amat besar
artinya, yaitu ia tak memiliki cinta! Saya tidak mencintanya dan ia pun tidak mencintaku. Dan saya hanya
mau menikah dengan gadis yang saya cinta!"
Eng Eng merasa betapa kedua kakinya gemetar. Ia cepat mengerahkan tenaga untuk melawannya karena
ia tidak ingin gerakan tubuhnya terdengar orang. Ucapan pangeran itu terasa begitu nyaman di hatinya,
seolah-olah hatinya dibelai oleh tangan yang amat lembut. Dia musuh besarku, aku benci dia, demikian
dengan pengerahan tenaga Eng Eng melawan perasaan hatinya sendiri dan mendengarkan terus.
"Omong kosong!" kata sang ayah. "Kalau nanti kalian sudah saling bertemu dan saling bergaul, cinta itu
akan datang dengan sendirinya. Ia cantik dan engkau tampan, kalian sama-sama suka ilmu silat, kalau
kalian saling bergaul, pasti kalian akan saling jatuh cinta."
"Itu mungkin saja kalau saya belum jatuh cinta kepada orang lain, Ayah. Akan tetapi saya telah mencinta
seorang gadis lain, dan saya hanya mau menikah dengan gadis yang saya cinta itu."
Kini kedua kaki Eng Eng menggigil dan hampir saja dia tak mampu bertahan lagi. Dia memejamkan mata,
menahan napas dan dengan susah payah baru berhasil menguasai jantungnya yang melonjak-lonjak
mendengar pengakuan itu.
"Dia musuhku, aku benci padanya, dia musuhku!" demikian berulang-ulang dia melawan gejolak hatinya
sendiri. Dan dia mendengarkan terus.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jika engkau jatuh cinta kepada gadis lain, hal itu pun tidak menjadi persoalan. Engkau menikah dengan Si
Bangau Merah, dan gadis yang kau cinta itu menjadi selirmu..." kata sang ibu.
"Maaf, Ibu. Saya tidak mau mempunyai selir!"
"Hemmm, apa salahnya dengan hal itu?" bantah ayahnya. "Engkau seorang pangeran, sudah sepatutnya
mempunyai selir. Semua pangeran di sini memiliki selir, tidak hanya seorang malah."
"Akan tetapi saya berbeda, Ayah. Saya hanya mencinta gadis itu, dan saya tidak mau menikah dengan
wanita lain." Pangeran itu berkeras.
"Aihhh, engkau keras kepala, Cia Sun. Siapa sih gadis yang telah menjatuhkan hatimu seperti ini? Siapa
namanya?" tanya sang ibu.
Di atas genteng, di luar kehendaknya sendiri, Eng Eng menerawang. Matanya setengah terpejam,
mulutnya tersenyum simpul, hatinya senang sekali. Semua ucapan pangeran itu terdengar olehnya
bagaikan sebuah lagu yang amat merdu. Dan dia mendengarkan terus, siap untuk mengembangkan
senyum mendengar ibu pangeran itu menanyakan namanya!
"Ibu, gadis yang saya cinta itu, yang saya pilih untuk menjadi calon isteri saya, ia she (bermarga) Sim dan
namanya Hui Eng..."
Terdengar gerakan di atas genteng. Cia Sun dapat mendengar suara itu, akan tetapi dia mengira itu suara
kucing.
Saat mendengar disebutnya nama itu, seketika wajah Eng Eng yang tadinya tersenyum itu menjadi pucat.
Mulutnya yang tersenyum berubah menjadi ternganga, dan matanya terbelalak. Kemudian wajah yang
pucat itu berubah kemerahan ketika kedua tangannya dikepal.
"Jahanam keparat kau!" bentaknya di dalam hatinya. Kini kebenciannya terhadap Cia Sun memuncak.
"Engkau membohongi aku, engkau merayu dan menipuku!"
Sekarang dia pun mengerti. Cia Sun telah menyelundup ke dalam Pao-beng-pai untuk menyelidiki keadaan
perkumpulan itu. Ketika orang-orang mulai mencurigainya, dengan ketampanan dan kehalusan budinya,
pangeran itu merayunya dan menjatuhkan hatinya. Semua itu palsu! Semua itu hanya untuk berhasil dalam
tugasnya sebagai mata-mata. Pangeran itu telah mempunyai seorang kekasih yang akan dijadikan
isterinya. Namanya Sim Hui Eng! Keparat! Dan dia masih berani berpura-pura meminangku!
"Jahanam kau!"
Eng Eng tidak dapat menahan lagi kemarahannya dan beberapa kali loncatan membuat ia berada di luar
jendela ruangan di mana pangeran dan ayah ibunya bercakap-cakap. Ia mengerahkan tenaga dan
menerjang daun jendela.
"Brakkk...!"
Daun jendela pecah berantakan dan Eng Eng sudah berdiri di depan pangeran itu yang terbelalak
memandang kepadanya.
"Kau...!" seru Cia Sun.
Akan tetapi pada saat itu, dari jarak dekat sekali, selagi pangeran itu tertegun karena sama sekali tidak
pernah menyangka akan bertemu dalam keadaan seperti itu dengan kekasihnya, Eng Eng menggerakkan
tangan kirinya. Dua batang jarum hitam langsung menyambar cepat, mengenai kedua pundak Cia Sun.
"Ahhhhh...!" Pemuda itu mengeluh dan roboh terpelanting.
Sebelum tubuhnya terbanting, dengan cepat Eng Eng sudah menggerakkan tubuhnya. Lengan kirinya
mengempit tubuh Cia Sun yang terkulai lemas dan sekali meloncat, dia sudah keluar dari rongga jendela
yang berlubang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suami isteri yang tadinya terbelalak itu, baru sempat berteriak-teriak melihat betapa putera mereka diculik
seorang wanita yang cantik dan berpakaian serba hitam.
"Tolong...! Pangeran diculik...!" teriak isteri Pangeran Cia Yan.
"Tangkap penculik! Tangkap penjahat!" Pangeran Cia Yan juga berteriak-teriak. Suami isteri itu mencoba
untuk mengejar lewat pintu.
Akan tetapi, dua orang penjaga yang mencoba untuk menghalangi bayangan hitam yang mengempit tubuh
Pangeran Cia Sun, roboh oleh tendangan Eng Eng dan gadis itu pun menghilang di dalam kegelapan
malam.
Karena malam itu sunyi, gelap dan dingin, maka tidak sukar bagi Eng Eng untuk dapat melarikan Cia Sun
dari rumahnya. Sejenak pemuda itu sendiri tertegun dan bingung. Kedua pundaknya terasa panas sekali
dan tubuhnya lemas. Akan tetapi dia menahan rasa nyeri itu dan setelah gadis itu tidak berlari lagi, dia
berkata dengan heran.
"Bukankah engkau Eng-moi? Eng-moi, kenapa kau lakukan ini kepadaku?"
Eng Eng diam saja, tidak menjawab, ia sedang memikirkan bagaimana dapat membawa pangeran ini
keluar dari kota raja. Sebentar lagi, kota raja tentu akan penuh dengan pasukan yang melakukan
pengejaran dan pencarian. Untuk keluar begitu saja dari pintu gerbang sambil mengempit tubuh Pangeran
Cia Sun, tentu menimbulkan kecurigaan dan ia akan segera dikepung prajurit.
Sementara itu, Pangeran Cia Sun berpkir, apa yang membuat orang yang dicintainya dan yang dia tahu
juga amat mencintanya kini bersikap seperti ini, bahkan tega untuk melukainya dan menculiknya. Dan dia
pun teringat.
Ketika terjadi penyerbuan ke Pao-beng-pai oleh pasukan pemerintah, dia pun nampak di antara para
penyerbu. Tentu Eng Eng mengira bahwa dia yang membawa pasukan itu melakukan penyerbuan.
"Eng-moi, kini engkau hendak membalas dendam atas penyerbuan ke Pao-beng-pai? Eng-moi, bukan...
bukan aku yang melakukan. Engkau salah duga. Marilah kita bicara baik-baik dan kau dengarkan semua
keteranganku."
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Eng Eng mendapat akal untuk dapat membawa keluar pangeran ini dari
kota raja tanpa kesulitan. Dia harus dapat membawa pangeran ini keluar. Ia akan menyiksanya,
memaksanya mengakui dosanya dan ia akan membunuh pangeran ini di depan makam ibunya!
"Aku memang ingin bicara denganmu, tapi di luar kota raja. Kalau engkau membawaku keluar dari pintu
gerbang, aku mau berbicara denganmu di sana. Kalau tidak, aku akan membunuhmu di sini juga tanpa
banyak cakap lagi."
Cia Sun bergidik. Dia tidak takut mati. Meski dia seorang pangeran, namun dia berjiwa pendekar dan
kematian bukan sesuatu yang menakutkan baginya. Yang membuat dia merasa ngeri adalah sikap dan
suara gadis yang dicintanya itu. Begitu tak wajar, begitu dingin dan penuh ancaman maut! Dia dapat
menduga bahwa gadis itu tentu sedang dibakar api dendam dan kebencian.
"Baiklah, Eng-moi. Bebaskan totokanmu dan hentikan kenyerian ini agar tidak ada orang curiga. Aku akan
mencari dua ekor kuda untuk kita."
"Jangan mengira engkau akan dapat lari dariku. Sebelum kau lari, aku akan membunuh dirimu!" kata Eng
Eng.
Setelah membebaskan totokannya Eng Eng kemudian memberi sebuah pil merah untuk ditelan oleh Cia
Sun. Dan sesudah menelan pil itu, Cia Sun tidak begitu menderita lagi.
Kebetulan nampak serombongan penjaga keamanan kota terdiri dari enam orang yang menunggang kuda
sedang datang dari depan. Cia Sun segera memberi isyarat kepada rombongan berkuda. Pada waktu
mereka telah dekat dan melihat siapa yang menahan mereka, enam orang itu terkejut, lalu turun dari atas
kuda dan memberi hormat kepada Pangeran Cia Sun.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Kami membutuhkan dua ekor kuda, berikan dua ekor yang terbaik," kata pangeran itu.
Enam orang itu tergopoh memilihkan dua ekor kuda. Cia Sun segera mengajak Eng Eng untuk
menunggang kuda itu dan segera melarikan kuda ke pintu gerbang selatan seperti yang dikehendaki oleh
Eng Eng.
Satu jam kemudian, kota raja geger karena Pangeran Cia Yan minta bantuan pasukan keamanan untuk
menangkap penculik yang melarikan Pangeran Cia Sun. Terjadilah geger dan kekacauan, apa lagi ketika
ada prajurit yang melapor bahwa Pangeran Cia Sun tidak diculik, melainkan pergi dengan suka rela
bersama seorang yang berpakaian hitam. Bahkan pangeran itu sendiri yang meminta dua ekor kuda
kepada rombongan prajurit dan kemudian menunggang kuda keluar dari pintu gerbang selatan.
Tentu saja berita ini membuat para perwira yang memimpin pengejaran itu menjadi ragu dan bingung.
Bagaimana kalau Pangeran Cia Sun tidak diculik, melainkan pergi dengan suka rela? Tentu pangeran itu
akan marah kalau pasukan melakukan pengejaran.
Akibat kebingungan inilah maka pengejaran dilakukan setengah hati. Andai kata mereka dapat bertemu
Pangeran Cia Sun, tentu mereka tidak akan berani lancang menangkap gadis berpakaian hitam seperti
diperintahkan Pangeran Cia Yan. Mereka tentu akan melihat lebih dahulu bagaimana sikap Pangeran
Muda Cia Sun.
Karena memang sudah merencanakan lebih dulu, tanpa ragu-ragu Eng Eng mengajak pangeran itu
memasuki hutan kecil di mana tadi ia menangis. Mereka lalu turun dari atas kuda, menambatkan kuda dan
membiarkan saja dua ekor kuda itu makan rumput.
Karena tubuhnya masih terasa sakit akibat tusukan dua batang jarum di pundaknya, jarum-jarum hitam
yang mengandung racun, Cia Sun lalu menjatuhkan diri di atas rumput, memandang kepada gadis itu yang
berdiri memandangnya dengan sinar mata yang bernyala-nyala. Walau pun tempat itu gelap, namun Cia
Sun seakan-akan dapat melihat sepasang mata yang sedang memandang marah itu.
Malam masih teramat dingin, akan tetapi mendung telah tersapu angin dan langit kini nampak bersih
dengan sinar bulan sepotong sehingga mereka dapat saling melihat, biar pun hanya remang-remang.
"Nah, katakanlah, Eng-moi, apakah artinya semua ini? Benarkah dugaanku tadi bahwa engkau marah
kepadaku karena menyangka akulah yang memimpin pasukan menyerbu Pao-beng-pai?"
Sejak tadi Eng Eng menahan kemarahannya, terutama kemarahan karena mendengar percakapan antara
pangeran itu dan orang tuanya tadi. Kini, kemarahannya meledak!
"Engkau manusia paling busuk di dunia! Engkau manusia palsu, jahanam keparat yang berbudi rendah!"
"Silakan memaki dan mencaci, bahkan engkau boleh saja membunuhku, Eng-moi, akan tetapi, setidaknya
jelaskan dahulu mengapa engkau begini marah kepadaku, agar andai kata engkau membunuhku, aku tidak
akan mati penasaran.”
"Huh, tidak perlu engkau merayuku lagi dengan omonganmu yang seperti madu berbisa! Engkaulah yang
membuat banyak orang mati penasaran, termasuk ibuku dan Tio Sui Lan! Engkau menyamar, kemudian
menyelundup ke Pao-beng-pai untuk memata-matai Pao-beng-pai. Engkau bahkan merayuku sehingga
aku terbujuk dan membebaskanmu, mengkhianati Pao-beng-pai sendiri. Ternyata semua perbuatanmu
hanya palsu. Engkau mempermainkan aku, engkau memimpin pasukan membasmi Pao-beng-pai,
membunuh keluargaku! Engkau sungguh keji, kejam dan curang!" Suara Eng Eng terkandung isak tangis.
"Hemmm, kalau begitu tepat dugaanku. Engkau marah kepadaku karena mengira aku yang memimpin
pasukan menyerbu Pao-beng-pai. Semua itu tidak benar, Eng-moi! Aku tidak memimpin pasukan itu! Baru
sebentar aku pergi, bagaimana caranya aku dapat mengumpulkan pasukan besar untuk menyerbu Paobeng-
pai? Tidak, bukan aku yang mengerahkan pasukan itu. Aku mendengar bahwa ada pasukan yang
pergi menyerbu Pao-beng-pai, karena tempatnya telah diketahui. Pada saat Pao-beng-pai mengadakan
pertemuan itu, di antara para tamu terdapat orang-orang yang menentang. Merekalah yang memberi
laporan kepada pemerintah. Panglima Ciong yang memimpin pasukan itu menyerbu, dan aku cepat-cepat
menyusul untuk menyelamatkan engkau dan ibumu."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Omong kosong! Rayuan gombal! Siapa yang dapat percaya? Jika bukan engkau yang menjadi penunjuk
jalan, bagaimana mungkin pasukan itu dapat naik ke Lembah Selaksa Setan, dapat melampaui semua
jebakan dan membasmi Pao-beng-pai? Tidak perlu lagi engkau mencoba untuk membohongi aku!" Saking
marahnya, tubuh Eng Eng bergerak, tangannya menyambar ke arah dada Cia Sun.
"Bukkk!"
Pukulan tangan terbuka itu keras sekali sehingga tubuh Cia Sun langsung terjengkang dan terguling-guling.
Eng Eng lari mengejar dan kembali tangannya menampar ke arah kepala orang yang sudah rebah di atas
tanah itu. Akan tetapi tangan itu hanya tertahan di udara, tidak jadi memukul.
Cia Sun terbatuk-batuk, dadanya terasa sesak. Akan tetapi dia masih tersenyum ketika mengangkat kepala
memandang. "Kenapa tidak kau lanjutkan, Eng-moi? Pukullah, hajar dan siksalah aku, bunuhlah kalau hal
itu akan dapat meredakan kemarahanmu."
"Kenapa... kenapa engkau tidak melawan? Tidak mengelak atau menangkis?!” Bentak Eng Eng.
"Untuk apa? Aku rela mati di tanganmu kalau engkau menghendaki itu, Eng-moi. Hanya kuminta, sebelum
engkau membunuhku, dengarlah dulu keteranganku..."
"Huh, keterangan bohong! Penuh tipuan!"
"Andai kata benar aku berbohong sekali pun, kumohon padamu, lebih dahulu dengarlah kebohonganku
sebelum engkau membunuhku. Setelah aku memberi keterangan, nah, engkau boleh percaya atau tidak,
boleh membunuhku atau tidak, terserah padamu."
"Bohong! Kau penipu! Ahh, untuk kebohongan itu saja, aku dapat membunuhmu seratus kali!"
Dan kini Eng Eng kembali menampar, menendang dan menampar lagi sampai Cia Sun terguling-guling dan
tidak mampu bergerak lagi. Pingsan! Pada waktu Eng Eng hendak memberi pukulan terakhir, ia teringat
akan niat semula, yaitu membunuh pemuda itu di depan makam ibunya, maka ia pun menahan diri.
"Biar aku bersabar sampai besok. Engkau pasti akan mampus di depan makam ibuku, bedebah!" katanya.
Dia pun duduk di bawah pohon untuk bersemedhi. Akan tetapi, semedhinya tak pernah berhasil. Ia bahkan
amat gelisah dan beberapa kali mendekati Cia Sun, untuk mendapat kepastian bahwa pemuda itu belum
tewas.
Malam terganti pagi. Pagi yang amat indah. Sinar matahari pagi agaknya telah mengusir semua kegelapan,
kegelapan alam yang berpengaruh terhadap keadaan hati tiap insan. Sinar matahari mendatangkan
kehidupan. Burung-burung berkicau, sibuk menyiapkan diri untuk bekerja. Ayam jantan berkeruyuk saling
sahut. Semua nampak cerah gembira, bahkan daun-daun nampak berseri.
Seluruh makhluk seolah-olah menyambut munculnya sinar kehidupan dengan puja-puji kepada Yang Maha
Kasih. Sang Maha Pencipta melalui keharuman, melalui keindahan, melalui suara. Keharuman rumput dan
tanah basah, daun dan bunga, keharuman udara itu sendiri.
Eng Eng juga terpengaruh oleh semua keindahan itu. Sekarang hatinya terasa ringan dan perasaan
marahnya tidak terasa lagi olehnya. Namun, ketika ia menengok ke arah Pangeran Cia Sun, ia teringat
segalanya dan ia pun segera bangkit menghampiri.
Cia Sun sudah siuman, namun seluruh tubuhnya masih terasa nyeri. Melihat gadis itu menghampiri, dia
pun bangkit duduk, memandang kepada gadis itu dengan senyum sedih! Senyum itu seperti pisau
menusuk kalbu bagi Eng Eng.
"Eng-moi, kenapa bekerja kepalang tanggung? Mengapa engkau tidak membunuh aku semalam?" tanya
Cia Sun.
Eng Eng hampir tidak percaya. Pemuda bangsawan ini masih bersikap demikian manis kepadanya. Bukan,
bukan sikap yang terdorong rasa takut, namun sikap yang demikian wajar. Masih tersenyum, dan pandang
dunia-kangouw.blogspot.com
mata kepadanya itu demikian lembut dan mesra, jelas nampak sinar kasih sayang di dalamnya. Padahal,
dia sudah menyiksanya sampai pingsan, bahkan nyaris membunuhnya!
"Aku akan membunuhmu di depan makam ibuku!" katanya singkat.
"Eng-moi, arwah ibumu akan berduka jika engkau melakukan itu. Aku bukan pembunuh ibumu, aku bahkan
berusaha berusaha menyelamatkannya, dan ia meninggal dunia di dalam rangkulanku."
"Bohong!!"
"Eng-moi, untuk apa pula aku berbohong? Aku tidak takut mati, bahkan aku tidak akan penasaran mati di
tanganmu. Aku hanya tidak ingin melihat engkau salah tindakan dan menyesal di kemudian hari. aku hanya
ingin supaya engkau mengetahui dengan betul siapa sebetulnya dirimu. Aku telah mengetahui rahasia
besar tentang dirimu, Eng-moi, dan aku akan menceritakan semua itu, kalau engkau bersedia
mendengarkan. Memang semua akan kedengaran sangat aneh bagimu, dan mungkin engkau akan
menganggap aku berbohong, akan tetapi demi Tuhan, aku tidak berbohong."
Agaknya sinar matahari memang berpengaruh besar terhadap hati manusia, setidaknya terhadap Eng Eng.
Gadis itu merasa agak tenang dan ia bisa melihat kenyataan bahwa tidak ada ruginya mendengarkan apa
yang akan diceritakan oleh pemuda itu. Bohong atau tidak, pemuda itu memang berhak untuk membela
diri.
Dan melihat wajah yang tampan dan yang tadinya amat disayangnya itu agak bengkak-bengkak oleh
tamparannya semalam, timbul juga perasaan iba di dalam hatinya.
"Bicaralah, tapi aku tetap tak akan percaya padamu," katanya dengan sikap ketus yang dipaksakan.
Eng Eng bahkan tidak menatap langsung wajah yang bengkak-bengkak itu. Dia merasa tidak enak,
mengingatkan ia betapa ia telah bertindak kejam terhadap satu-satunya pria di dunia ini yang dicintanya.
Lega rasa hati Cia Sun. Dia sama sekali tidak akan menyesal kalau dia dibunuh wanita yang dicintanya ini,
hanya dia akan merasa menyesal karena perbuatan itu merupakan suatu perbuatan yang berdosa bagi
Eng Eng. Dia tidak ingin melihat kekasihnya ini menjadi seorang yang jahat.
"Eng-moi, setelah engkau membebaskan aku, aku lalu cepat pulang ke kota raja. Akan tetapi, setelah tiba
di sana, aku mendengar bahwa Panglima Ciong memimpin pasukan untuk menyerbu Pao-beng-pai. Aku
terkejut dan cepat aku kembali lagi ke sana untuk menyusul pasukan itu karena aku mengkhawatirkan
keselamatanmu dan keselamatan ibumu. Namun aku terlambat. Setelah tiba di Ban-kwi-kok, pasukan telah
menyerbu ke perkampungan Pao-beng-pai..."
"Tanpa adanya penunjuk jalan, tidak mungkin pasukan akan mudah memasuki daerah Pao-beng-pai yang
dipasangi banyak jebakan rahasia!" Eng Eng memotong dan kini sepasang matanya mengamati wajah
pemuda itu penuh selidik dan hatinya menuduh bahwa tentu pemuda itu yang menjadi penunjuk jalan.
"Dugaanmu memang benar, Eng-moi. Hal ini pun kuketahui kemudian dari perwira yang memimpin
penyerbuan itu. Memang ada penunjuk jalan yang memungkinkan pasukan itu dapat menyerbu dengan
mudah..."
"Engkaulah penunjuk jalan itu!" bentak Eng Eng.
Cia Sun tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Bukan, Eng-moi, bukan aku. Penunjuk jalan itu adalah
seorang gadis, murid Pao-beng-pai sendiri, bernama Tio Sui Lan..."
"Bohong! Tidak mungkin...!" teriak Eng Eng.
Akan tetapi teriakan mulutnya ini tidak sesuai dengan perasaan hatinya yang menjadi bimbang. Setelah
apa yang dilakukan Siangkoan Kok terhadap Sui Lan, memaksanya menjadi isteri dan memperkosanya,
bukan hal yang tidak mungkin kalau Sui Lan lalu berkhianat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pula, Sui Lan tentu saja mengenal semua jalan rahasia naik ke sarang Pao-beng-pai, sedangkan Cia Sun
tidak akan mengetahui banyak tentang jebakan-jebakan itu. Kalau Sui Lan yang menjadi penunjuk jalan,
tentu saja pasukan itu akan dapat menyerbu naik dengan mudah.
"Engkau mau percaya atau tidak, terserah kepadamu, Eng-moi. Aku hanya mendengar keterangan para
perwira. Ketika pasukan tiba di kaki bukit dan mulai mendaki, tiba-tiba muncul gadis itu yang kemudian
menawarkan diri menjadi penunjuk jalan. Saat pasukan menyerbu, Siangkoan Kok sedang berkelahi
dengan isterinya dan ibumu telah terdesak. Gadis yang mengkhianati gurunya itu kemudian menyerang
Siangkoan Kok, akan tetapi dengan mudah ia dirobohkan dan tewas di tangan gurunya sendiri!"
"Tapi ibuku...! Tentu ia terbunuh oleh pasukan pemerintah!" kata Eng Eng, mulai tertarik karena apa yang
diceritakan Cia Sun itu agaknya memang masuk akal. Ia sudah melihat mayat Sui Lan dan luka yang
mengakibatkan kematiannya memang luka beracun yang dikenalnya sebagai racun dari pedang Siangkoan
Kok!
Dengan sikap tenang Cia Sun menggeleng kepala. Kini senyumnya menghilang dan dia mengerutkan
alisnya, mengenang kembali peristiwa menyedihkan itu.
"Sudah kuceritakan tadi, ketika pasukan menyerbu, aku cepat ikut di barisan depan karena aku ingin
mencegah agar engkau dan ibumu tidak sampai ikut diserang. Ketika kami tiba di sana, kami melihat ibumu
berkelahi dengan ayahmu dan ibumu lalu roboh tertendang ayahmu. Aku cepat mencegah ketika pasukan
hendak menyerang ibumu yang sudah roboh, dan memerintahkan mereka mengejar ayahmu yang
melarikan diri. Aku kemudian memondong tubuh ibumu yang pingsan dan ternyata ia telah menderita lukaluka
parah, tentu ketika berkelahi melawan ayahmu…." Cia Sun berhenti sebentar untuk mengamati wajah
Eng Eng dan melihat bagaimana tanggapan dan sikap gadis itu terhadap ceritanya.
"Terus, lalu bagaimana?" Eng Eng mulai tertarik dan pada saat seperti itu, ia lupa akan kemarahan dan
kebenciannya terhadap Cia Sun.
"Aku membawa ibumu ke dalam rumah, kemudian kurebahkan di bangku panjang. Aku telah mencoba
untuk merawatnya, akan tetapi sia-sia. Ibumu hanya siuman untuk bicara sedikit kepadaku, meninggalkan
pesan-pesan dan akhirnya dia meninggal dunia dalam rangkulanku."
"Ibuku..., bagaimana aku bisa mempercayaimu? Engkau berbohong. Pada saat engkau merayuku, engkau
hanya pura-pura..."
"Tidak, Eng-moi. Langit dan Bumi menjadi saksi bahwa aku sungguh mencintamu, sejak pertama kali kita
bertemu, sampai sekarang..."
"Bohong! Pendusta!" Eng Eng kembali marah karena ia ingat akan percakapan antara pemuda ini dan
orang tuanya, tentang pengakuan Cia Sun kepada ayah ibunya bahwa pemuda itu telah mencinta seorang
gadis lain.
"Eng-moi, mengapa engkau tidak percaya kepadaku dan menuduhku berbohong?" Cia Sun bertanya.
Dia merasa kepalanya pening sekali, bumi seperti berputaran. Itu adalah akibat racun dari jarum Eng Eng,
juga karena dia mengalami tamparan-tamparan malam tadi. Tetapi dia mempertahankan diri agar tidak
jatuh pingsan lagi. Ia memandang gadis itu dengan sinar mata penuh permohonan.
Eng Eng melompat berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada pangeran itu dengan sinar mata
membakar. Makin diingat tentang percakapan keluarga pangeran itu, semakin panaslah hatinya.
"Bagaimana aku dapat percaya omongan perayu busuk macam engkau? Engkau telah mencinta seorang
gadis yang lain dan masih engkau berani mengatakan bahwa engkau mencintaku?"
Biar pun kepalanya sudah pening sekali, akan tetapi mendengar ucapan itu, Cia Sun membelalakkan
matanya dan berkata dengan suara mengandung penasaran. "Sekali ini, engkau yang berbohong, Engmoi!
Aku tidak pernah dan tidak akan mencinta gadis lain kecuali engkau seorang!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Pendusta besar! Kedua telingaku sendiri mendengar pengakuanmu kepada ayah dan ibumu bahwa
engkau mencinta gadis lain yang bernama Sim Hui Eng! Hayo sangkal kalau engkau berani! Kuhancurkan
mulutmu kalau engkau berdusta!"
Cia Sun mencoba untuk tersenyum, akan tetapi karena rasa nyeri berdenyut-denyut di kepalanya,
membuat kepalanya seperti akan pecah rasanya, senyumnya menjadi pahit sekali.
"Aku tidak berdusta, Eng-moi. Memang benarlah, aku mencinta Sim Hui Eng, semenjak pertama kali jumpa
sampai sekarang dan aku akan tetap mencintanya karena Sim Hui Eng adalah engkau sendiri, Eng-moi...
ahhh..." Cia Sun tidak dapat menahan lagi rasa nyeri di dada dan kepalanya. Dia pingsan lagi.
Cia Sun tidak tahu betapa Eng Eng memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Sampai lama Eng Eng mengamati wajah Cia Sun, pandang matanya meragu.
Ia bernama Sim Hui Eng? Apa pula artinya ini? Benarkah semua yang diceritakan Cia Sun? Dia harus tahu
apa artinya semua itu. Cia Sun mengaku kepada orang tuanya bahwa dia hanya mencinta gadis yang
bernama Sim Hui Eng, dan kini dia menjelaskan bahwa Sim Hui Eng adalah ia sendiri! Bagaimana pula ini?
Namanya seperti dikenal Cia Sun adalah Siangkoan Eng. Kemudian karena ibunya membuka rahasia
bahwa ia bukan puteri kandung Siangkoan Kok, ia pun tidak sudi lagi memakai nama keluarga Siangkoan,
lebih memilih marga ibunya, yaitu Lauw. Dan kini, tiba-tiba saja Pangeran Cia Sun mengatakan bahwa ia
she Sim, dan nama lengkapnya Hui Eng!
Jangan-jangan pangeran ini tidak bohong dan sudah mengenal ayah kandungnya. Ayah kandungnya!
Ibunya amat membenci ayah kandungnya. Benarkah ayah kandungnya she Sim? Benarkah semua cerita
Cia Sun? Sayang bahwa pemuda ini keburu jatuh pingsan sehingga tidak dapat melanjutkan
keterangannya.
Eng Eng berlutut di dekat tubuh Cia Sun. Hatinya sempat berdegup ketika dia berada begitu dekat dengan
pangeran itu, dan keharuan mulai menggigit perasaannya ketika ia melihat wajah yang tampan itu
bengkak-bengkak. Ia cepat mengeluarkan sebutir pil, lalu menggunakan bekal air minumnya untuk
memasukkan pil itu ke dalam mulut Cia Sun yang dibukanya dengan penekanan kepada rahang pemuda
itu.
Pil itu sukar ditelan, maka terpaksa dia mendekatkan mulutnya dan meniup ke dalam mulut pemuda itu
sehingga pil itu dapat tertelan karena ia telah menotok beberapa jalan darah, membuat pemuda itu hanya
setengah pingsan. Kemudian ia mengurut sana sini, mengobati luka-luka memar itu dengan semacam obat
gosok yang selalu dibawanya sebagai bekal. Lalu, ia menempelkan tangan kirinya ke dada pemuda itu,
menyalurkan sinkang untuk membantu pemuda itu terbebas dari luka di sebelah dalam tubuhnya.
Akhirnya Cia Sun membuka matanya dan dia tersenyum melihat gadis itu bersimpuh di dekatnya sedang
menempelkan telapak tangan ke dadanya. Terasa betapa lembutnya telapak tangan yang mengeluarkan
hawa panas itu.
"Ah, Eng-moi, engkau masih mau mengobati dan menolongku? Terima kasih..." katanya lembut dan wajah
yang kini hanya tinggal membiru karena bengkaknya sudah hilang itu tersenyum!
Senyum itulah yang menikam jantung Eng Eng. Kalau pangeran itu marah-marah dan memaki-makinya,
kiranya hatinya tak akan sesakit itu. Sejak ditangkapnya tadi, sampai disiksanya, pangeran itu tidak pernah
marah, bahkan selalu berbicara lembut, pandang matanya penuh kasih dan mulutnya tersenyum.
"Aku mengobatimu hanya supaya engkau tidak mampus sekarang," katanya, suaranya diketus-ketuskan.
"Hayo katakan, apa maksudmu dengan kata-katamu tadi bahwa aku bernama Sim Hui Eng! Jangan
mempermainkan aku kalau kau tidak ingin kusiksa lebih berat lagi!"
"Sejak tadi aku tidak pernah mempermainkanmu, tak pernah berdusta, Eng-moi. Engkau yang kurang
sabar mendengarkan keteranganku. Nah, sekarang aku lanjutkan ceritaku tadi. Sebelum ibumu meninggal
dunia dalam rangkulanku, ia sempat menceritakan satu rahasia yang amat mengejutkan hatiku, juga tentu
akan mengejutkan hatimu sehingga mungkin engkau semakin tak percaya kepadaku. Nah, sekarang sudah
siapkah engkau mendengarkan ceritaku tentang pengakuan ibumu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Eng Eng merasa betapa jantungnya berdebar penuh ketegangan. Kini ia hampir yakin bahwa pangeran ini
tidak pernah berbohong kepadanya! Tidak pernah berbohong dan ia sudah menculiknya, menyiksanya dan
bahkan nyaris membunuhnya. Kemungkinan ini membuat darahnya berdesir meninggalkan mukanya,
membuat wajahnya menjadi pucat sekali.
"Ceritakan semua!" perintahnya.
"Rahasia yang dibuka oleh bibi Lauw Cu Si ini seluruhnya mengenai dirimu, Eng-moi. Pertama-tama,
engkau bukanlah anak kandung Siangkoan Kok ketua Pao-beng-pai!"
Cia Sun mengira bahwa gadis itu akan terkejut sekali mendengar ini. Akan tetapi dia kecelik. Gadis itu
sedikit pun tidak kelihatan kaget atau heran, bahkan mulutnya seperti membentuk senyum mengejek.
"Aku sudah tahu. Dia adalah ayah tiriku," katanya pendek.
Cia Sun menggeleng kepalanya. "Bukan, Eng-moi. Sama sekali bukan ayah tirimu. Dia bukan apa-apamu."
Eng Eng terbelalak. "Apa... apa maksudmu? Aku dibawa ibu ketika masih kecil, berusia dua tiga tahun
ketika ibuku menikah dengan Siangkoan Kok! Kenapa kau katakan dia bukan ayah tiriku?"
"Inilah rahasia besar yang dibuka ibumu kepadaku, Eng-moi. Memang benar ketika bibi Lauw Cu Si itu
menikah dengan Siangkoan Kok, dia membawa seorang anak kecil dan anak itu adalah engkau, Eng-moi.
Akan tetapi, engkau bukan anak kandung bibi Lauw Cu Si!"
"Ehhh...?!!" Eng Eng berseru setengah menjerit. "Apa… apa maksudmu...?!" Tangan gadis itu menangkap
lengan Cia Sun kemudian mencengkeramnya, seluruh tubuhnya gemetar dan wajahnya semakin pucat.
"Aku mendengar dari Nyonya Siangkoan Kok, yaitu bibi Lauw Cu Si, Eng-moi. Agaknya karena tahu bahwa
dia akan tewas, maka dia membuka rahasia itu kepadaku. Engkau bukan anak kandungnya, engkau telah
dia culik dari orang tuamu ketika engkau masih kecil, kemudian diakui sebagai anaknya sendiri."
"Tapi... tidak mungkin! Apa buktinya? Bagaimana aku dapat mengetahui benar tidaknya ceritamu ini?"
"Sabar dan tenanglah, Eng-moi. Aku pun tadinya terkejut dan kalau bukan bibi Lauw Cu Si sendiri yang
bercerita, aku pun pasti tidak akan percaya. Akan tetapi, aku lalu teringat kepada Yo-toako! Engkau ingat
Sin-ciang Taihiap Yo Han?"
Eng Eng mengerutkan alisnya. Tentu saja dia teringat kepada pendekar yang amat lihai itu. "Apa
hubungannya dia dengan ceritamu itu?"
"Eng-moi, masih ingatkah engkau akan pengakuan Yo-toako bahwa dia sedang mencari seorang gadis
yang diculik orang semenjak kecil? Gadis itu bernama Sim Hui Eng dan Yo-toako bertugas untuk
mencarinya. Bahkan dia kemudian ditipu Siangkoan Kok yang menyuruh mendiang Tio Sui Lan untuk
memancingnya ke dalam goa lalu menjebak dan menangkapnya. Nah, gadis yang dicari-carinya itu adalah
engkau, Eng-moi. Engkaulah gadis yang ketika kecil diculik itu, dan penculiknya adalah bibi Lauw Cu Si
yang selama ini kau anggap sebagai ibumu sendiri."
Eng Eng masih terbelalak dan seperti berubah menjadi patung. Tentu saja dia masih diombang-ambingkan
kebimbangan.
"Tapi... tapi apa buktinya bahwa... ibuku meninggalkan pesan itu kepadamu, dan apa buktinya bahwa aku
benar-benar gadis yang bernama Sim Hui Eng itu? Tanpa bukti, bagaimana mungkin aku dapat
mempercayai ceritamu?"
Cia Sun menghela napas panjang. "Tentu saja aku tidak dapat membuktikan bahwa mendiang bibi Lauw
Cu Si membuka rahasia itu kepadaku, juga ketika kami bicara, tidak ada seorang pun saksinya. Dan dia
sudah meninggal dunia, jadi tidak mungkin lagi ditanyai. Akan tetapi, aku mempunyai suatu tanda rahasia
yang ada pada dirimu, seperti yang diceritakan Yo-toako kepadaku. Ketika Yo-toako menerima tugas
mencari anak yang hilang diculik itu, orang tua anak itu memberi tahukan kepadanya adanya dua tanda
rahasia di badan anak itu yang merupakan ciri-ciri khas atau tanda sejak lahir. Jika aku katakan tandadunia-
kangouw.blogspot.com
tanda itu dan kemudian ternyata cocok dengan keadaan dirimu, apakah engkau masih akan menganggap
aku pendusta yang patut kau siksa dan kau bunuh di depan makam bibi Lauw Cu Si?"
Tentu saja Eng Eng menjadi sangat bingung dan salah tingkah. Ia merasa ngeri kalau membayangkan
bahwa pangeran itu benar dan sama sekali tidak berdusta, sama sekali tidak menipunya, dan ia telah
menyiksanya seperti itu!
"Katakanlah, tanda-tanda apa yang terdapat pada anak yang diculik itu?" tanyanya, suaranya jelas
terdengar gemetar.
"Yo-toako hanya berpegang pada tanda-tanda itu saja untuk mencari anak yang hilang terculik itu, maka
tentu saja amat sukar karena tanda-tanda itu terdapat di bagian tubuh yang selalu tertutup..."
"Katakan cepat, tanda-tanda apa itu?" tanya Eng Eng dengan suara nyaring karena ia sudah tidak sabar
sekali.
"Pertama, anak itu mempunyai sebuah tahi lalat hitam di pundak kirinya, dan ke dua, ia pun mempunyai
sebuah noda merah sebesar ibu jari kaki di telapak kaki kanannya."
Eng Eng meloncat ke belakang. Matanya terbelalak dan seluruh tubuhnya menggigil…..
Melihat ini, Cia Sun menguatkan tubuhnya dan bangkit berdiri, menghampiri dengan pandang mata
khawatir.
"Kenapa, Eng-moi... dan be... benarkah ada tanda-tanda itu pada dirimu...? Benarkah bahwa engkau ini
Sim Hui Eng?" Suara pangeran itu juga gemetar karena dia merasa tegang, khawatir kalau-kalau gadis ini
bukan Sim Hui Eng seperti yang disangkanya.
Sampai lama Eng Eng tidak mampu bicara. Mukanya yang pucat kelihatan seperti mau menangis dan
ketika ia bertanya, suaranya hampir tidak dapat didengar, "Bagaimana... perasaanmu terhadap aku kalau
aku tidak mempunyai tanda-tanda itu, kalau aku bukan Sim Hui Eng?"
"Eng-moi, masihkah engkau meragukan cintaku kepadamu? Ketika aku jatuh cinta dan meminangmu,
engkau adalah puteri ketua Pao-beng-pai, bukan? Engkau tetap engkau bagiku, satu-satunya gadis yang
kucinta, baik engkau mempunyai tanda atau tidak, baik engkau puteri Siangkoan Kok atau bukan, atau
puteri siapa pun juga. Aku tetap cinta padamu, Eng-moi, biar engkau akan membunuhku sekali pun. Tapi...
untuk meyakinkan, benarkah engkau memiliki tanda-tanda itu?"
Tiba-tiba Eng Eng menjatuhkan diri berlutut kemudian menangis terisak-isak. Tentu saja pangeran itu
terkejut dan khawatir, lalu dia pun berlutut di depan gadis itu.
"Eng-moi, kenapa, Eng-moi...? Ahhh, maafkan jika aku sudah membuat hatimu berduka, Eng-moi. Lebih
baik aku melihat engkau marah-marah kepadaku seperti tadi dari pada melihat engkau bersedih seperti ini,
Eng-moi."
Ucapan itu membuat Eng Eng semakin mengguguk. Cia Sun merasa hatinya bagaikan ditusuk-tusuk
melihat keadaan kekasihnya itu dan dia pun menyentuh pundak gadis itu dengan lembut.
"Eng-moi, ada apakah...?"
Akhirnya Eng Eng dapat bicara tanpa menurunkan kedua tangannya dari muka, dan air mata mengalir
melalui celah-celah jari kedua tangannya.
"Kau... kau lihat sendiri... apakah... ada tanda-tanda itu..."
Ia lalu menyingkap baju di bagian pundak kiri dan melepas sepatu serta kaos kakinya yang kanan. Cia Sun
memandang pundak yang berkulit putih mulus itu dan di sana, jelas sekali nampak sebuah titik hitam,
sebuah tahi lalat. Dan pada telapak kaki yang putih kemerahan itu nampak pula noda merah.
"Kau... kau benar-benar Sim Hui Eng...!" serunya seperti bersorak gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
Eng Eng kini merangkul ke arah kaki Cia Sun, "Pangeran..., ampunkan aku... aku telah berbuat kejam dan
tidak adil padamu... aku... aku layak kau pukul. Balaslah, Pangeran, pukullah aku, siksalah aku, bunuhlah
aku... huuu-huhuuuuu...!"
Gadis itu tersedu-sedu, menangis dengan perasaan menyesal, malu, dan juga marah terhadap dirinya
sendiri dan sangat iba kepada pria yang dicintanya namun yang telah disiksanya tanpa salah itu. Bahkan
pangeran itu telah mencegah pasukan membunuh Lauw Cu Si sehingga ia merupakan satu-satunya orang
yang telah menemukan rahasia dirinya.
Pangeran ini telah berjasa kepadanya. Sebaliknya, ia menuduhnya sebagai pembunuh. Ia telah
menyiksanya dengan kata-kata, dengan perbuatan. Ingin ia menciumi sepatu pangeran itu untuk
menyatakan penyesalannya.
Melihat betapa gadis yang dicintanya itu merangkul kakinya dan mencium sepatunya, Cia Sun cepat-cepat
merangkul, menarik dan mendekap kepala itu, seolah-olah hendak membenamkannya ke dadanya untuk
disimpan di dalam dada dan tak akan dilepaskan lagi selamanya. Dia sendiri pun membenamkan mukanya
yang basah air mata ke dalam rambut itu.
Sampai beberapa lamanya mereka berpelukan dan bertangisan. Beberapa kali Eng Eng mengusap dan
membelai muka yang masih ada bekas-bekas tamparan tangannya itu dengan jari-jari gemetar.
Setelah gelora keharuan hati mereka mereda, Cia Sun membiarkan Eng Eng duduk bersandar di dadanya.
Dia membelai rambut yang kusut itu dan berbisik, "Sudahlah, Eng-moi, sudah cukup engkau menyesali diri.
Aku tidak akan menyalahkanmu. Memang batinmu mengalami guncangan yang hebat. Akhirnya semua
kegelapan lewat dan kini kita berdua tinggal menyongsong sinar kebahagiaan."
"Pangeran..."
Cia Sun menghentikan kata-kata itu dengan sentuhan bibirnya pada bibir Eng Eng. "Hushhh..., kalau kau
menyebutku pangeran, lalu apa bedanya dengan seluruh wanita yang menjadi kawula dan menyebutku
seperti itu. Engkau adalah calon isteriku, engkau tunanganku, engkau kekasihku, ingat?"
Eng Eng tersipu, akan tetapi tersenyum penuh bahagia. "Kakanda... Cia Sun..." Betapa merdunya
panggilan itu.
"Adinda Hui Eng..." Sang pangeran berbisik dan sebutan nama yang terdengar asing baginya itu
mengingatkan Eng Eng akan keadaan dirinya.
"Kakanda Pangeran, dengan hati berdebar penuh ketegangan, sekarang aku menunggu engkau memberi
tahu kepadaku, siapa sebenarnya orang tuaku? Apakah ayah ibuku masih hidup?"
"Engkau akan terkejut, berbahagia dan bangga sekali jika mendengar siapa ayah ibumu, Eng-moi. Pada
saat engkau masih kuanggap sebagai puteri Siangkoan Kok, aku sudah kagum dan cinta padamu. Ketika
aku mendengar dari bibi Lauw Cu Si siapa ayah dan ibumu, kekagumanku padamu bertambah-tambah.
Ketahuilah bahwa ayahmu bernama Sim Houw dan ibumu bernama Can Bi Lan. Ehhh, kenapa kau, Engmoi
(adinda Eng)?"
Mendengar disebutnya kedua nama itu sebagai ayah ibunya, Eng Eng sudah meloncat berdiri sehingga
terlepas dari rangkulan pangeran itu. Ia berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Ayahku... Pendekar Suling Naga dan ibuku Si Setan Kecil...! Aihhhh... Kakanda... sekali ini celakalah
aku..."
Cia Sun cepat bangkit dan merangkul gadis itu. "Tenanglah, Moi-moi, kenapa engkau berkata begitu?
Bukankah sepatutnya engkau berbangga? Ayah ibumu adalah suami isteri pendekar yang sakti dan nama
mereka terkenal sekali di dunia persilatan!"
"Aihh, engkau tidak tahu, Koko! Ahh, betapa malunya aku berhadapan dengan mereka. Ketahuilah, aku
pernah mewakili Pao-beng-pai mendatangi tiga keluarga besar para pendekar itu dan menantang mereka
mengadu kepandaian. Bahkan dalam peristiwa itu, Siauw-kwi Can Bi Lan, ibu kandungku itu maju untuk
menandingiku. Akan tetapi aku, si tinggi hati tak tahu diri ini, aku bahkan menghinanya dan menantang
dunia-kangouw.blogspot.com
Pendekar Suling Naga, ayahku sendiri untuk maju menandingiku! Aku telah bersikap sangat angkuh dan
menghina tiga keluarga besar, dan ternyata Pendekar Suling Naga itu adalah ayahku sendiri. Bagaimana
aku dapat berhadapan dengan mereka, Koko?" Dalam rangkulan Cia Sun, seluruh tubuh Eng Eng gemetar
seperti orang terserang demam.
"Jangan risaukan hal itu, Eng-moi. Engkau tidak dapat disalahkan. Ketika itu engkau mewakili Pao-bengpai
maka tentu saja engkau menganggap para pendekar itu sebagai musuh. Apa lagi engkau hanya
melaksanakan tugas, karena pada waktu itu engkau menganggap bahwa kau adalah puteri ketua Paobeng-
pai. Dan aku mengerti mengapa engkau mendapat tugas itu. Mungkin bibi Lauw Cu Si yang kau
angap sebagai ibumu itulah yang mempunyai peran penting, sengaja membujuk Siangkoan Kok agar
engkau melakukan penghinaan terhadap keluarga besar para pendekar itu."
Gadis itu menatap wajah Cia Sun. "Ehhh, kenapa begitu?"
"Aku sudah melakukan penyelidikan dan mengetahui siapa sebetulnya mendiang bibi Lauw Cu Si itu. Ia
adalah seorang keturunan pimpinan Beng-kauw yang telah hancur. Karena ia seorang tokoh sesat, tentu
saja ia memusuhi keluarga besar dari Pulau Es, Gurun Pasir, dan Lembah Siluman. Itu pula yang
menyebabkan ia menculikmu, yaitu untuk membalas dendam terhadap Pendekar Suling Naga dan isterinya
yang terkenal sebagai pendekar-pendekar yang menentang golongan sesat. Dengan mengadu dirimu
melawan keluarga pendekar itu, melawan golongan orang tuamu sendiri, agaknya bibi Lauw Cu Si
menemukan kepuasan tersendiri."
"Akan tetapi, Koko. Kalau orang tuaku itu Pendekar Suling Naga dan isterinya yang merupakan sepasang
suami isteri pendekar yang sakti, mengapa aku sampai dapat terculik? Dan kenapa pula mereka tidak
mencari si penculik dan merampasku kembali?"
"Pertanyaan seperti itu juga kuajukan kepada Yo-toako ketika kami membicarakan anak hilang itu. Menurut
keterangan Yo-toako, Pendekar Suling Naga dan isterinya sudah sejak kehilangan puteri mereka itu
berusaha sampai bertahun-tahun untuk menemukan anak mereka kembali. Akan tetapi semua usaha itu
sia-sia belaka. Agaknya si penculik, yaitu bibi Lauw Cu Si, dengan cerdik sekali sudah menghilang, yaitu
menjadi isteri Siangkoan Kok sehingga tidak seorang pun mengira bahwa engkau adalah anak yang diculik
itu. Semua orang, bahkan Siangkoan Kok sendiri, menganggap engkau adalah puteri bibi Lauw Cu Si."
Eng Eng mengangguk-angguk, semua rasa penasarannya hilang. Akan tetapi tetap saja ia mengerutkan
alisnya. Jika saja ia mendengar bahwa ayah ibunya adalah orang-orang biasa, bahkan petani miskin sekali
pun, dia tentu akan berbahagia sekali dan merasa rindu untuk segera dapat bertemu dengan orang tuanya
yang asli.
Akan tetapi, Pendekar Suling Naga?! Semua pengalamannya ketika dia menantang tiga keluarga besar itu
terkenang dan makin dikenang, semakin merah wajahnya karena ia merasa malu bukan main.
"Koko, aku... aku takut untuk bertemu dengan mereka, aku takut dan malu..."
Cia Sun merangkul pundaknya, dan mengajaknya menghampiri kuda mereka. Matahari telah naik tinggi
dan di jalan raya sana lalu lintas sudah mulai ramai.
"Eng-moi, buang saja semua perasaan itu. Percayalah, orang tuamu tak pernah berhenti memikirkanmu,
bahkan sekarang pun masih minta bantuan Yo-toako untuk mencarimu. Mereka tentu akan berbahagia
sekali kalau dapat menemukan anak mereka kembali. Dan mengenai kemunculanmu tempo hari, mereka
tentu akan dapat mengerti. Jangan khawatir, akulah yang akan menemanimu ke sana menghadap mereka,
dan aku yang tanggung bahwa mereka tentu akan menerima dengan bahagia dan tak akan ada yang
menyesalkan tindakanmu dahulu."
"Aihh, aku merasa ngeri sekali bertemu mereka, Koko. Bagaimana kalau aku tidak usah memperlihatkan
diri saja kepada mereka? Biarlah ini menjadi rahasia kita berdua saja. Aku... aku tidak mau membuat suami
isteri pendekar itu mendapat malu besar dan nama baik mereka tercemar karena mempunyai anak seperti
aku ..."
"Hushhhhh, jangan berkata begitu, Moi-moi. Coba jawab apakah engkau mencinta aku seperti aku
mencintamu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Apakah itu masih perlu ditanyakan lagi, Koko? Aku mencintamu, bahkan kekejamanku terhadapmu tadi
pun karena terdorong cintaku padamu, akibat hatiku panas mendengar engkau mencinta Sim Hui Eng yang
kukira gadis lain. Aku cinta padamu, Koko."
"Bagus, dan karena kita saling mencinta, apakah engkau mau menjadi isteriku?"
Gadis itu mengangguk. Sebagai puteri ketua Pao-beng-pai yang sejak kecil hidup dalam suasana
kekerasan, ia tidak canggung atau malu mengaku tentang perasaan cintanya, "Tentu saja aku mau, koko!"
"Nah, kalau begitu, karena aku seorang pangeran yang tak mungkin meninggalkan tata susila dan adatistiadat,
aku akan melamarmu dengan terhormat dan secara baik-baik. Dan untuk itu, engkau harus
mempunyai wali, mempunyai orang tua. Sekarang, mari kita pergi ke Lok-yang, ke rumah orang tuamu.
Setelah engkau diterima dengan baik, aku akan kembali ke kota raja, kemudian aku akan mengirim utusan
untuk meminangmu secara terhormat."
Gadis itu mengerutkan alis, akan tetapi begitu sinar matanya bertemu dengan pandang mata pangeran itu,
ia pun mengangguk dan menurut saja ketika digandeng ke arah dua ekor kuda mereka yang sedang
makan rumput. Tidak lama kemudian, sepasang orang muda yang berbahagia ini pun sudah melarikan
kuda, menuju ke Lok-yang.
Oleh karena Cia Sun merupakan seorang keluarga kaisar, bahkan cucu kaisar, seorang pangeran yang
pandai bergaul dan terkenal di kalangan para pejabat daerah, maka di sepanjang perjalanan itu dengan
mudah saja dia mendapatkan pelayanan yang penuh penghormatan, mendapat tempat bermalam di rumah
para kepala daerah, dijamu pesta dan dapat menukar kuda-kuda baru sehingga perjalanan ini cukup
menyenangkan bagi Eng Eng…..
********************
Yo Han mendaki lereng bukit itu. Bukit Naga. Thian-li-pang berada di lereng paling atas, dekat puncak.
Sudah hampir setengah tahun dia merantau, mencari Sim Hui Eng, puteri Pendekar Suling Naga. Namun,
usahanya sia-sia. Tak pernah dia berhasil mendengar keterangan tentang penculikan terhadap putri
pendekar sakti itu.
Dia sudah memasuki dunia kang-ouw, bahkan banyak menundukkan tokoh-tokoh sesat, hanya untuk
dimintai keterangan kalau-kalau ada yang mengetahui, siapa yang pernah menculik puteri Pendekar Suling
Naga dua puluh tahun yang lalu. Akan tetapi semua usahanya, dari bujukan halus sampai kekerasan, tidak
ada hasilnya.
Agaknya tidak ada seorang pun tahu siapa gerangan yang menculik puteri pendekar itu. Penculiknya
agaknya lihai dan cerdik bukan main sehingga setelah menculik anak itu, dia seperti menghilang ke dalam
bumi membawa anak culikannya!
Akhirnya Yo Han mengambil kesimpulan bahwa tanpa banyak tenaga pembantu, akan sukarlah
menemukan anak yang hilang itu. Dia teringat kepada Thian-li-pang. Dia telah dianggap sebagai pemimpin
besar Thian-li-pang dan anak buah Thian-li-pang adalah orang-orang yang berpengalaman dan memiliki
hubungan luas dalam dunia kang-ouw.
Mungkin para tokoh kang-ouw yang sudah ditanyainya, merasa enggan untuk membuka rahasia rekan
mereka sendiri yang melakukan penculikan, karena dia dianggap sebagai Pendekar Tangan Sakti, seorang
pendekar yang menentang kejahatan. Bila anak buah Thian-li-pang yang melakukan penyelidikan, mungkin
akan lebih mudah. Orang-orang kang-ouw tentu akan bersikap lebih terbuka di antara golongan sendiri.
Benar sekali, kenapa sejak dahulu dia tidak minta bantuan para anggota Thian-li-pang, pikirnya menyesali
diri sendiri. Paman Lauw Kang Hui tentu akan senang membantunya sehingga lebih besar harapannya
untuk dapat menemukan orang yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga!
Demikianlah, pada pagi hari itu, Yo Han mendaki lereng Bukit Naga. Dia sama sekali tidak tahu bahwa di
Thian-li-pang telah terjadi perubahan yang amat besar. Tidak tahu bahwa Lauw Kang Hui dan beberapa
orang tokoh Thian-li-pang sudah tewas, terbunuh oleh Ouw Seng Bu, yang kini menjadi ketua Thian-lipang…..
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Memang Thian-li-pang telah berubah sama sekali semenjak pimpinannya dipegang oleh Ouw Seng Bu.
Pemuda tampan yang telah menemukan ilmu silat yang amat hebat ini membiarkan para anggota Thian-lipang
berbuat apa saja dengan bebasnya. Bahkan dia menjalin hubungan lagi dengan Pek-lian-kauw dan
Pat-kwa-pai, seperti yang dahulu pernah dilakukan Thian-li-pang sebelum muncul Yo Han yang kemudian
membersihkan perkumpulan pejuang itu.
Ouw Seng Bu bahkan memiliki cita-cita untuk mempersatukan semua kelompok pejuang dengan dia yang
menjadi pemimpin besar. Kalau semua kekuatan kelompok pejuang sudah dipersatukan, baik itu dari
golongan pendekar mau pun golongan sesat, dan dia yang menjadi pemimpin besar, tentu perjuangan
untuk mengusir penjajah Mancu akan berhasil. Dan jika sudah berhasil, dia yang menjadi pemimpin besar,
tentu berhak untuk menjadi kaisar kerajaan baru! Besar sekali jangkauan cita-cita pemuda ini.
Setelah secara kebetulan bertemu dengan Cu Kim Giok di dekat Ban-kwi-kok, menolong gadis itu dari
ancaman Siangkoan Kok, dan berhasil pula menundukkan bekas ketua Pao-beng-pai yang lalu berjanji
untuk membantunya, Ouw Seng Bu mengajak, Kim Giok berkunjung ke Bukti Naga.
Kim Giok sudah mendengar tentang perkumpulan Thian-lipang yang di dunia kang-ouw (sungai telaga,
atau persilatan) dikenal sebagai sebuah perkumpulan para patriot yang berjuang untuk menggulingkan
pemerintah penjajah. Itulah sebabnya, ia merasa kagum dan tertarik sekali kepada Ouw Seng Bu, pemuda
tampan dan gagah yang mengaku sebagai ketua Thian-li-pang. Dan di sepanjang perjalanan menuju ke
Bukit Naga, Kim Giok melihat betapa sikap Seng Bu memang sangat baik. Pemuda itu pendiam, juga
sopan dan ramah terhadap dirinya.
Cu Kim Giok merupakan puteri tunggal suami isteri pendekar. Ayahnya, Cu Kun Tek, adalah pendekar
keturunan langsung dari keluarga Cu, majikan Lembah Naga Siluman. Ibunya tidak kalah lihai
dibandingkan ayahnya, karena ibunya adalah murid mendiang Bu Beng Lokai.
Sebagai anak tunggal, tentu saja Kim Giok telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah ibunya. Dan biar pun usianya
baru delapan belas tahun lebih, Kim Giok telah menjadi seorang pendekar wanita yang amat lihai.
Akan tetapi tentu saja ia kurang pengalaman karena ini merupakan yang pertama kali ia merantau seorang
diri untuk meluaskan pengalamannya. Meski pun demikian, ia sudah membawa banyak bekal nasehat dan
pesan kedua orang tuanya.
Andai kata Seng Bu bersikap ceriwis terhadapnya, terdapat kegenitan dalam pandang mata atau katakatanya
saja, tentu ia akan menjauhkan diri. Akan tetapi, sikap Seng Bu sungguh baik. Dia nampak seperti
seorang pemuda pendiam yang sopan dan berwatak pendekar sejati! Inilah sebabnya mengapa Kim Giok
merasa tertarik sekali, kagum dan merasa suka.
Rasa kagumnya semakin bertambah ketika Kim Giok dan Seng Bu tiba di Bukit Naga, di pusat
perkampungan Thian-li-pang. Para anggota Thian-li-pang rata-rata terlihat gagah perkasa dengan pakaian
yang rapi serta bersih, baik prianya mau pun wanitanya, dan mereka semua menyambut kedatangan Seng
Bu dengan sikap yang amat menghormat!
Masih begitu muda, akan tetapi telah menjadi ketua sebuah perkumpulan pejuang yang terkenal gagah
perkasa. Dan melihat perkampungan Thian-li-pang itu, Kim Giok dapat menaksir bahwa anggota
perkumpulan itu tidak kurang dari seratus orang banyaknya.
Akan tetapi, hati gadis itu merasa penasaran ketika pada keesokan harinya ia melihat lima orang tamu
yang datang menghadap ketua Thian-li-pang. Dua orang di antara tamu-tamu itu adalah dua orang tosu
(pendeta) berambut panjang yang pada baju di dadanya ada lukisan teratai putih. Orang-orang Pek-liankauw
(Agama Teratai Putih)! Ada lagi tiga orang pendeta lainnya mengenakan gambar pat-kwa (segi
delapan) pada dadanya. Ia pernah mendengar akan nama perkumpulan pemberontak yang namanya tidak
bersih di dunia kang-ouw sebab para anggotanya tidak pantang melakukan segala macam kejahatan!
Setelah kelima orang tamu itu meninggalkan perkampungan Thian-li-pang, barulah Kim Giok
memberanikan diri menemui ketua Thian-li-pang untuk melampiaskan penasaran dalam hatinya. Ia melihat
pemuda itu sedang duduk di ruangan rapat yang luas, sedang memberi perintah kepada belasan orang
pembantunya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat ini, Kim Giok yang sudah sampai di ambang pintu, mundur kembali. Akan tetapi Seng Bu telah
melihatnya dan ketua ini berseru dengan ramah.
"Nona Cu, masuk sajalah. Di antara kita orang sendiri tidak ada rahasia. Masuk dan silakan duduk."
Setelah gadis itu memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di sudut, agak jauh dari mereka yang
sedang melakukan perundingan, Seng Bu melanjutkan, "Harap suka menunggu sebentar, Nona,
pembicaraan kami sudah hampir selesai."
Kim Giok mengangguk dan pura-pura tidak melihat ke arah mereka. Akan tetapi Seng Bu tidak melirihkan
suaranya saat pemuda itu melanjutkan pengarahannya kepada para pembantunya.
"Kalian sudah tahu akan tugas-tugas kalian? Terserah kalian membagi tugas, tapi kalian harus ingat apa
yang terpenting dalam tugas kalian. Yang pertama menghubungi semua kelompok pejuang, membujuk
mereka agar suka bekerja sama dengan mengemukakan alasan seperti yang sudah kujelaskan tadi. Kalau
ada yang tidak bersedia bekerja sama, kalian selidiki keadaan mereka, siapa para pemimpinnya dan
sampai di mana tingkat kepandaian mereka agar aku bisa segera mengambil tindakan. Dan ke dua, selidiki
pula kelemahan-kelemahan yang ada di dalam keluarga kaisar, terutama orang-orang yang dekat
hubungannya dengan kaisar. Sudah mengerti semua?"
Belasan orang itu menyatakan bahwa mereka sudah mengerti, dan Seng Bu kemudian mempersilakan
mereka keluar. Sikap pemuda itu demikian tegas dan berwibawa hingga Kim Giok yang ikut mendengarkan
merasa kagum sekali.
Setelah belasan orang pembantunya keluar, Seng Bu menghampiri Kim Giok dan duduk berhadapan
dengan gadis itu. Sikapnya seperti biasa, amat sopan dan ramah, sangat menghormati gadis yang
dianggap sebagai seorang tamu agung di Thian-li-pang.
"Nona Cu, selamat pagi. Maafkan, bahwa tadi aku meninggalkanmu seorang diri karena kesibukanku
menerima tamu malam tadi dan memberi tugas kepada para pembantuku. Apakah semalam Nona enak
tidur, dan apakah pelayanan kepada Nona tidak ada yang mengecewakan?"
"Terima kasih, Pangcu (Ketua). Pelayanan cukup memuaskan dan aku merasa terlalu disanjung di sini.
Pangcu, aku sengaja datang mencarimu karena aku melihat sesuatu yang membuat hatiku merasa
penasaran sekali dan aku mengharapkan jawaban yang sejujurnya darimu."
Seng Bu menatap wajah gadis itu. Semenjak pertama kali berjumpa, ia telah terpesona. Dia bukanlah
seorang pria yang mudah terpikat kecantikan wanita. Akan tetapi, belum pernah dia bertemu dengan
seorang gadis muda seperti Kim Giok. Gadis ini manis sekali dan terutama yang membuat dia terpesona
adalah sepasang matanya. Mata itu demikian indahnya.
Selain ini, ilmu silat gadis itu pun cukup tinggi, dan sikapnya demikian pendiam dan gagah. Semua ini
ditambah lagi kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri pendekar dari Lembah Naga Siluman! Kiranya sukar
dicari keduanya gadis seperti ini.
Selama ini Seng Bu sibuk menggembleng diri dengan ilmu yang ditemukannya di dalam sumur maut, maka
dia pun tidak sempat memikirkan hal lain. Apa lagi, dia memang bukan tergolong pemuda yang suka
bergaul dengan gadis-gadis cantik. Dan baru sekarang dia merasa kagum dan tertarik kepada seorang
gadis.
"Nona Cu, aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu. Kalau ada hal yang membuat engkau merasa
penasaran, tanyakanlah dan aku akan menjawab sejujurnya."
Kim Giok juga menatap tajam sehingga dua pasang mata mereka bertaut, seperti saling menyelidik, hingga
kemudian Kim Giok berkata, "Pangcu, bukan aku sebagai tamu ingin mencampuri urusan tuan rumah.
Akan tetapi, aku suka menjadi tamu di Thian-li-pang karena aku merasa yakin bahwa perkumpulanmu ini
adalah perkumpulan orang-orang gagah yang merupakan pejuang-pejuang sejati, yang selalu menentang
kejahatan dan berpihak kepada kebenaran, seperti yang pernah kudengar dibicarakan orang di dunia kangouw.
Aku percaya itu, apa lagi setelah aku mengenalmu. Akan tetapi apa yang kulihat hari ini membuat aku
merasa penasaran bukan main. Aku melihat para pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai menjadi tamu
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian-li-pang! Bagaimana ini? Aku sudah mendengar bahwa kedua perkumpulan itu merupakan
perkumpulan jahat yang banyak ditentang oleh para pendekar!"
Seng Bu tersenyum, dengan berani menentang pandang mata gadis itu tanpa merasa canggung. "Ahh,
kiranya itu yang membuatmu penasaran, Nona. Hal ini membutuhkan penjelasan yang panjang lebar,
Nona. Akan tetapi, apakah Nona tertarik oleh urusan perjuangan? Lika-liku perjuangan amat rumit, Nona.
Dipandang sepintas lalu dari segi kependekaranmu, memang rasanya janggal jika melihat kami juga
berhubungan dengan orang-orang dari golongan yang ditentang oleh para pendekar. Tapi, dalam
perjuangan, kepentingan pribadi dan golongan terpaksa harus dikesampingkan. Yang paling penting
adalah urusan perjuangan, urusan usaha untuk membebaskan bangsa dan negara dari cengkeraman
penjajah Mancu."
"Maksudmu bagaimana, Pangcu?"
"Tentu engkau telah mengetahui, hampir satu setengah abad negara kita dijajah bangsa Mancu, dan
selama satu setengah abad itu semua usaha perjuangan rakyat untuk merebut kembali tanah air selalu
gagal. Mengapa begitu? Karena tidak ada persatuan di antara para kelompok yang berjuang! Bahkan
banyak kelompok perjuangan yang saling gempur sendiri, bersaing dan memperebutkan kebenaran demi
kepentingan pribadi atau golongan. Itulah penyebab utama dari kegagalan perjuangan selama ini, dan kami
dari Thian-li-pang melihat kekeliruan itu, maka kini kami berusaha untuk mengubahnya.”
"Caranya?"
"Mempersatukan semua golongan, tanpa membedakan mana golongan putih mana pula golongan hitam,
mana golongan pendekar atau mana yang dinamakan kaum sesat. Pendeknya, siapa saja, dari golongan
mana pun, apa pun pekerjaannya, bagaimana bentuk sepak terjangnya, asalkan dia itu menentang
pemerintah penjajah Mancu, dia adalah sekutu kita! Dengan cara ini, maka di seluruh negeri akan terdapat
persatuan yang kokoh dan kalau sudah tercapai persatuan itu, maka menggulingkan pemerintah penjajah
bukan merupakan masalah yang sukar lagi."
"Jadi pendirian itukah yang membuat Pangcu tidak memandang bulu dalam memilih sahabat, dan suka
menerima Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai sebagai sahabat pula?"
"Benar, Nona. Kalau misalnya Thian-li-pang, Pek-lian-kauw, bersama Pat-kwa-pai, yang ketiganya
merupakan perkumpulan para pejuang, bisa bersatu padu dan bersama-sama menentang penjajah,
bukankah itu akan jauh lebih kuat dari pada kalau kami berjuang sendiri-sendiri secara terpisah? Apa lagi
kalau seluruh kekuatan yang ada, baik dari golongan hitam mau pun putih, dapat bersatu padu!"
"Kebenaran pendapat itu tidak dapat disangkal, Pangcu. Akan tetapi kita kaum pendekar bagaimana
mungkin bekerja sama dengan kaum sesat? Justru tugas utama kita adalah untuk menentang segala
perbuatan jahat dari kaum sesat, serta membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat tetapi
jahat!”
Ketua yang masih muda itu tersenyum ramah. Dia bicara penuh semangat, akan tetapi tidak terbawa
perasaan, masih tetap tenang dan tersenyum sehingga membuat gadis itu pun tidak terbawa dan terseret
dalam perbantahan yang memperebutkan kebenaran masing-masing.
"Sudah kukatakan tadi bahwa dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan kepentingan golongan harus
disingkirkan lebih dahulu. Tanpa sikap seperti itu, bagaimana mungkin muncul persatuan, dan tanpa
persatuan bagaimana mungkin ada kekuatan? Buktinya, semua usaha perjuangan yang lalu selama ini,
baik dari golongan putih mau pun dari golongan hitam, gagal semua. Karena terpecah-pecah! Kalau kita
menuruti kepentingan pribadi dan golongan, misalnya kalau kita tidak mau bersatu dengan golongan sesat
dan memusuhi mereka, maka kita akan terpecah belah dan akibatnya akan melemahkan diri sendiri.
Dengan demikian, yang untung adalah pemerintah penjajah! Sudah mengertikah engkau, Nona?"
Cu Kim Giok bukan seorang gadis yang bodoh. Dia termenung dan menelan ucapan ketua itu dalam
hatinya, dan mulailah ia mengerti akan apa yang dimaksudkan Seng Bu.
"Aku mengerti, Pangcu. Akan tetapi karena sejak kecil orang tuaku menanamkan jiwa kependekaran di
dalam hatiku, rasanya sangat berat bagiku menerima kenyataan dari kebenaran pendapatmu tadi. Kalau
dunia-kangouw.blogspot.com
kita para pendekar tidak menentang golongan sesat, bukankah kehidupan rakyat akan menjadi semakin
parah dan sengsara, tertindas oleh kejahatan tanpa ada yang membela dan melindungi?"
"Tentu saja kita tidak hanya berdiam diri saja kalau terjadi kejahatan di depan mata kita, Nona. Kita wajib
melindungi orang yang menjadi korban kejahatan. Akan tetapi, urusan itu bukan merupakan urusan yang
diutamakan kepentingannya, lebih penting urusan perjuangan sehingga kalau pun kita menentang
kejahatan, harus dicegah agar jangan sampai menimbulkan keretakan persatuan antara golongan.
Ketahuilah, Nona, bahwa peristiwa kejahatan hanyalah merupakan akibat dari tidak sehatnya pemerintah.
Seperti sebuah penyakit, kejahatan, ketidak amanan, ketidak makmuran, bahkan kesengsaraan rakyat
hanya merupakan bintik-bintik kecil akibat penyakit itu. Bla kita memberantas dan mengobati bintikbintiknya
saja tak akan banyak manfaatnya karena bintik-bintik itu akan timbul lagi setelah diobati sebab
penyakit itu masih ada. Kita harus lebih mementingkan pengobatan penyakitnya, sumber penyakit itu
sendiri. Dalam hal ini, sumber penyakitnya terletak pada pemerintahan. Bangsa dan tanah air kita
dicengkeram penjajah Mancu, tentu saja pemerintahnya tidak sehat dan memeras rakyat jelata. Kalau
penjajahan itu dapat kita bongkar dan kita ganti dengan pemerintah bangsa sendiri, maka penyakit itu
sembuh pada sumbernya dan tidak akan timbul bintik-bintik berbahaya. Segala bentuk kejahatan akan
dapat kita tumpas. Penindasan yang dilakukan para penjahat itu tidak ada artinya kalau dibandingkan
dengan penindasan dan penghisapan yang dilakukan penjajah terhadap kita."
Kim Giok tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia kagum sekali dan sekarang ia dapat mengerti
sepenuhnya. "Sekarang aku mengerti, Pangcu, dan aku tidak penasaran lagi melihat Thian-li-pang
bersahabat dengan golongan sesat, jika maksudnya hanya untuk mempersatukan tenaga melawan
penjajah."
Sejak percakapan itu, Kim Giok semakin kagum dan tartarik kepada ketua Thian-li-pang itu, dan sebaliknya
Seng Bu juga telah jatuh hati kepada puteri Lembah Naga Siluman. Ketika Seng Bu minta agar gadis itu
tinggal di Thian-li-pang sebagai tamu kehormatan selama beberapa hari, Kim Giok tidak menolak.
Demikianlah, ketika pada pagi hari itu Yo Han mendaki Bukit Naga, Cu Kim Giok telah tinggal selama lima
hari di perkampungan Thian-li-pang. Hubungannya dengan Seng Bu semakin akrab namun ketua itu masih
tetap bersikap sopan dan tak pernah menyatakan perasaan hatinya.
Kim Giok sudah mendengar banyak dari Seng Bu tentang Thian-li-pang. Dan ia sudah mendengar pula
kisah yang aneh, peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, yaitu tentang pembunuhan
terhadap ketua Thian-li-pang yang dilakukan oleh seorang yang tadinya dianggap sebagai pemimpin
Thian-li-pang, yaitu Sin-ciang Taihiap Yo Han.
Ia sudah pernah mendengar nama itu, maka menyatakan keheranannya kepada Seng Bu mengapa Yo
Han yang dianggap sebagai pemimpin besar malah membunuh ketua Thian-li-pang. Dengan cerdik Seng
Bu menceritakan bahwa pembunuhan itu dilakukan Yo Han untuk membalas dendam atas kematian
gurunya yang bernama Ciu Lam Hok. Demikian pandainya Seng Bu bercerita sehingga Kim Giok percaya
dan gadis ini pun merasa tidak senang kepada pendekar yang di juluki Si Tangan Sakti itu…..
********************
Kita kembali kepada Yo Han yang sedang mendaki Bukit Naga dengan santai. Kembali ke tempat ini, di
mana selama bertahun-tahun dia hidup dalam sumur maut bersama gurunya, mendiang kakek Ciu Lam
Hok yang buntung kaki tangannya, mendatangkan segala macam kenangan lama padanya. Bahkan
kenangan itu berkembang sampai akhirnya dia terkenang kepada Tan Sian Li, satu-satunya wanita yang
pernah dicintanya sejak dia masih seorang pemuda remaja.
Akan tetapi, percakapannya dengan Cia Sun, setidaknya kembali menimbulkan harapan baru dalam
hatinya. Ketika dia meninggalkan Sian Li, di rumah orang tua gadis itu yang dulu pernah menjadi suhu dan
subo-nya pertama kali, harapannya sudah hancur luluh. Ia mendengar betapa suhu dan subo-nya hendak
menjodohkan Sian Li dengan seorang pangeran di kota raja!
Tentu saja seorang pangeran jauh lebih pantas menjadi suami seorang gadis seperti Si Bangau Merah itu
dari pada dia! Dia yatim piatu miskin dan papa, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap!
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, kebetulan dia bertemu dengan Pangeran Cia Sun, lalu bersahabat, bahkan pernah senasib
sependeritaan yang mendorong mereka mengangkat saudara. Dan dari adik angkatnya yang pangeran ini
dia mendengar bahwa ternyata adik angkatnya itulah pangeran yang hendak dijodohkan dengan Sian Li!
Akan tetapi, di samping berita mengejutkan itu, terdapat kenyataan yang membuat dia tumbuh lagi
semangatnya, timbul pula harapannya, yaitu bahwa Pangeran Cia Sun dan Tan Sian Li tidak saling
mencinta. Pangeran itu bahkan mencinta gadis lain, yaitu puteri ketua Pao-beng-pai!
Dalam perjalanannya menuju ke Thian-li-pang, dia pun sudah mendengar mengenai pembasmian Paobeng-
pai yang dilakukan oleh pasukan pemerintah. Ia mengira bahwa tentu adik angkatnya, Pangeran Cia
Sun, yang melakukan penyerbuan itu, walau pun ada kesangsian di hatinya apakah sang pangeran mau
melakukan hal itu mengingat akan cintanya terhadap Siangkoan Eng.
Tiba-tiba Yo Han menghentikan langkahnya dan mengerutkan alisnya. Dia mendengar suara orang
bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dan suara itu makin mendekat, tanda bahwa mereka yang bercakapcakap
itu sedang berjalan menuruni lereng. Yo Han menyelinap ke balik pohon besar.
Sudah lama dia meninggalkan Thian-li-pang dan dia tidak tahu bagaimana keadaannya. Walau pun dia
percaya sepenuhnya kepada Lauw Kang Hui yang diserahi pimpinan perkumpulan itu, akan tetapi
sebaiknya kalau dia menyelidiki keadaannya karena bagai mana pun juga, kalau sampai terjadi hal-hal
yang tidak benar di Thian-li-pang, dialah yang bertanggung jawab. Gurunya berpesan agar dia
menyelamatkan Thian-li-pang dari penyelewengan, maka biar pun tidak memimpin langsung, dia harus
selalu mengawasi.
Mereka yang tertawa-tawa tadi sekarang telah datang mendekat dan dari balik batang pohon, Yo Han
mengintai. Alisnya terangkat dan kemudian berkerut tidak senang ketika ia melihat dua orang anggota
Thian-li-pang sedang berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan dua orang pendeta muda
yang dari tanda gambar di dadanya bisa diketahuinya sebagai dua orang anggota Pat-kwa-pai!
Ia merasa heran bukan main. Bagaimana mungkin anggota Thian-li-pang bergaul begitu demikian
akrabnya dengan anggota Pat-kwa-pai yang terkenal sebagai golongan sesat yang menggunakan kedok
perjuangan, atau bisa juga dikatakan sebagai pemberontak-pemberontak yang tidak segan-segan
menggunakan kejahatan serta kekejaman dalam pemberontakan mereka?
Yo Han menahan diri, ingin tahu lebih banyak, maka dari jauh dia membayangi empat orang itu. Dia tidak
mengenal para anggota Thian-li-pang. Yang dikenalnya hanyalah Lauw Kang Hui dan pimpinannya,
bahkan dia tidak tahu nama para pimpinan mudanya satu demi satu. Akan tetapi, melihat sikap mereka,
siapa lagi mereka itu kalau bukan anggota Thian-li-pang?
Dan mereka telah berada di wilayah Thian-li-pang, maka kehadiran dua orang anggota Pat-kwa-pai itu
sungguh mencurigakan sekali. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Yo Han untuk
membayangi mereka, kadang malah demikian dekatnya sehingga dia dapat mendengarkan sebagian
percakapan mereka. Setelah mendengar percakapan itu dia pun yakin bahwa dua orang itu adalah
anggota Thian-li-pang.
"Kenapa kalian khawatir?" terdengar seorang di antara dua anggota Thian-li-pang itu berkata kepada dua
orang tosu itu. "Kalau hanya kami berdua yang menghilang dari tempat penjagaan, tidak akan kentara.
Pula siapa sih yang akan berani mendaki Bukit Naga dan mengganggu wilayah Thian-li-pang? Baru
mendengar nama Thian-li-pang saja, nyali mereka sudah terbang melayang!" Mereka tertawa-tawa.
"Pula, berapa lamanya untuk sekedar bersenang-senang dengan kalian di dusun bawah sana? Andai kata
para pimpinan mengetahui kalau kami pergi bersama kalian, tentu kita tidak akan dimarahi. Bukankah
Thian-li-pang kini bersahabat baik dengan Pat-kwa-pai?"
Kembali mereka tertawa-tawa. Mereka tidak tahu betapa Yo Han mengepal tinju ketika mendengarkan
percakapan itu.
Akhirnya empat orang itu tiba di dusun yang berada di kaki Bukit Naga. Di dusun itu terdapat sebuah kedai
arak dan ke sanalah mereka masuk. Yo Han yang memakai caping lebar, duduk pula dengan memilih
tempat jauh di sudut dan capingnya tidak dilepas sehingga mukanya tertutup. Ketika pelayan datang
menghampiri, dia memesan arak dan semangkuk bubur.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar ribut-ribut di meja empat orang itu. Agaknya pemilik kedai arak menghampiri mereka dan
menuntut supaya mereka lebih dahulu mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman yang
mereka pesan.
"Sudah terlalu sering teman-teman kalian makan minum di sini tanpa membayar! Aku tidak mau dirugikan
lagi, harap kalian suka membayar lebih dulu," kata pemilik kedai itu, seorang laki-laki berusia lima puluhan
tahun yang kurus agak bongkok.
Seorang anggota Thian-li-pang yang tinggi bermuka kuning bangkit, kemudian bertolak pinggang. "Apa
katamu tadi? Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Kami berdua adalah anggota
Thian-ii-pang dan kedua orang sahabat kami ini adalah anggota Pat-kwa-pai. Kami adalah pejuang! Kami
adalah pahlawan bangsa, pembela rakyat dan tanah air! Masa hanya mengeluarkan sedikit makanan dan
minuman saja bagi kami engkau tidak rela? Kami berjuang dengan taruhan nyawa dan engkau tidak mau
menjamu makan minum kepada kami?"
Seorang di antara dua orang tosu Pat-kwa-pai itu menggebrak meja dan dengan sikap bengis berkata,
"Hayo cepat keluarkan hidangan untuk kami atau engkau ingin kedaimu ini kami hancurkan?!"
"Kalian sungguh kejam!" Pemilik kedai itu membantah dan mempertahankan miliknya. "Jika hanya dua tiga
orang saja yang datang minta makan minum, kami pasti rela, akan tetapi kalau setiap hari datang dan
jumlah kalian sampai puluhan orang selalu minta makan dan minum dengan gratis, kami bisa bangkrut!
Kami pun mempunyai keluarga yang harus hidup dari hasil usaha kami yang kecil ini."
"Jahanam, masih banyak cakap? Engkau memang perlu dihajar!" bentak salah seorang anggota Thian-lipang
bermuka kuning tadi. Sekali kaki kanannya terayun menendang, pemilik kedai itu terpelanting keras.
"Penuhi permintaan kami tanpa banyak cakap lagi atau engkau akan kuhajar sampai mampus!" bentaknya.
"Ayah...!" Dari dalam berlari keluar seorang gadis berusia tujuh belas tahun. Dia segera menubruk ayahnya
yang sudah bangkit duduk sambil menyeringai kesakitan.
Melihat gadis itu, yang cukup manis, seorang di antara dua orang anggota Pat-kwa-pai tersenyum
menyeringai dan segera menangkap lengan gadis itu dan menariknya lalu memaksanya duduk di sebuah
bangku dekat meja mereka.
"Ha-ha-ha, tukang warung! Lekas keluarkan hidangan itu atau kami akan membawa pergi gadismu. Nona,
kau temani kami makan minum di sini dan cepat suruh pelayan mengeluarkan hidangan dan arak terbaik,"
katanya.
Gadis itu tidak berani meronta, bahkan membujuk ayahnya yang sudah bangkit berdiri. "Ayah, turuti saja
permintaan mereka."
Keempat orang itu tertawa bergelak melihat pemilik kedai dengan terhuyung memasuki dapur untuk
menyediakan hidangan bagi empat orang itu.
"Manis, engkau lebih bijaksana dari pada ayahmu. Untung engkau muncul, kalau tidak tentu ayahmu telah
menjadi mayat," kata si muka kuning sambil mencolek dagu gadis itu.
Gadis itu membuang muka dan berkata, "Kami sudah memenuhi permintaan kalian, menyuguhkan
hidangan, harap jangan ganggu aku lagi." Gadis itu bangkit berdiri.
"Duduk saja, engkau tidak boleh pergi," kata seorang tosu Pat-kwa-pai.
"Aku akan membantu ayah mempersiapkan hidangan untuk kalian," bantah gadis itu.
"Dan menaruh racun dalam hidangannya, ya? Ha-ha-ha, kami tidak sebodoh itu, Manis. Kami berempat
makan minum dan engkau harus menemani kami, ikut pula makan minum sehingga kalau hidangan itu
beracun, engkau yang akan lebih dulu keracunan!" Si muka kuning menekan pundak gadis itu sehingga ia
terduduk kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba terdengar suara lembut namun nadanya mengejek. "Ini rumah makan macam apa, membiarkan
empat ekor buaya darat mengotorinya! Sungguh mendatangkan bau yang busuk sekali, empat orang
maling kecil mengaku pejuang seperti empat ekor tikus mengaku harimau!"
Jelas sekali makna ucapan itu. Empat orang tadi tentu saja mengerti bahwa merekalah yang dimaki tikus
dan maling! Hampir mereka tidak percaya ada orang berani memaki mereka seperti itu. Mengatakan
mereka maling kecil dan tikus.
Tentu saja mereka terbelalak dan muka mereka berubah kemerahan pada saat mereka menoleh dan
memandang ke arah meja di sudut kanan, di mana duduk seorang laki-laki yang mengenakan sebuah
caping lebar sehingga muka dan kepala orang itu tertutup sama sekali…..
Akan tetapi tidak dapat diragukan lagi. Orang bercaping itulah yang tadi mengeluarkan ucapan menghina
karena ucapannya datang dari arah itu dan di sudut itu tak ada orang lain kecuali dia. Serentak empat
orang itu meninggalkan gadis puteri pemilik kedai dan dengan langkah lebar mereka menghampiri meja di
mana Yo Han duduk.
Yo Han bersikap tenang saja, bahkan kini menuangkan arak ke dalam cawannya yang telah kosong.
"Heiii, kaukah yang tadi mengeluarkan ucapan menghina kami?!" bentak salah seorang di antara mereka.
Yo Han mengangkat cawan araknya dan membawanya ke mulut.
"Heiii, apakah engkau tuli? Kalau benar engkau yang tadi bicara, coba ulangi ucapanmu kalau engkau
berani!" kata si muka kuning yang ingin mendapat kepastian bahwa orang bercaping ini yang tadi bicara.
Apa lagi melihat orang bercaping itu ternyata masih muda, maka dia agak merasa ragu-ragu apakah benar
pemuda itu berani mengeluarkan ucapan seperti itu.
"Kalian berempat memang maling kecil dan tikus-tikus busuk. Pergilah!" kata Yo Han, menahan
kemarahannya mengingat bahwa dua di antara mereka adalah termasuk anak buahnya sendiri, anggota
Thian-li-pang!
"Jahanam!"
"Keparat!"
Empat orang itu marah sekali dan menggerakkan tangan memukul dari depan belakang dan kanan kiri. Yo
Han menggerakkan tangannya yang memegang cawan arak ke arah sekelilingnya dan empat orang itu
berteriak dan terhuyung mundur karena muka mereka disiram arak. Biar pun hanya arak, dan tidak banyak
pula karena isi cawan itu dibagi empat, namun ketika mengenai muka, terutama mata, membuat mereka
sejenak tidak mampu membuka mata dan kulit muka terasa perih.
Setelah menggosok-gosok matanya dan dapat melihat lagi, empat orang itu mencabut golok mereka dan
serentak menyerang sambil memaki dengan kamarahan memuncak. Orang-orang yang sedang makan
minum di situ menjadi ketakutan dan berhamburan lari keluar. Juga pemilik kedai dan puterinya, beserta
para pelayan, sudah bersembunyi di balik meja dengan tubuh gemetar ketakutan.
Yo Han masih tetap duduk, akan tetapi kedua tangannya mengambil sepasang sumpit dan juga dua buah
mangkok yang kosong. Begitu empat orang dengan golok mereka menyerbu mendekat, kembali kedua
tangan Yo Han bergerak.
Dua sumpit menembus pundak kanan dua orang tosu sehingga golok mereka terlepas dan mereka
mengaduh-aduh, sedangkan dua buah mangkok menghantam muka dua orang anggota Thian-li-pang
dengan kerasnya. Dua orang Thian-li-pang itu terjengkang roboh dengan muka berdarah karena mangkok
yang menghantam muka mereka tadi pecah-pecah dan melukai mereka. Memang tidak sampai membunuh
mereka, namun mereka terjengkang roboh dengan muka berlumuran darah dan pingsan!
Dua orang tosu terbelalak dan tidak berani melawan lagi, bahkan melarikan diri keluar dari rumah makan
itu ketika Yo Han dengan sikap sembarangan saja mencengkeram baju di punggung kedua orang anggota
Thian-li-pang itu dan melempar tubuh mereka yang pingsan ke sudut ruangan itu di mana mereka rebah
bertumpuk. Kemudian, dia melanjutkan makan minum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemilik rumah makan bersama puterinya segera menghampiri Yo Han, mengucapkan terima kasih sambil
membungkuk-bungkuk.
"Terima kasih atas pertolongan Taihiap, akan tetapi... ahhh, bagaimana dengan nasib kami? Tentu mereka
akan datang lagi dan akan menghancurkan rumah kami, bahkan mungkin kami pun akan mereka bunuh..."
"Benar apa yang dikatakan Ayah, Taihiap," berkata gadis itu sambil menangis. "Harap Taihiap suka
melepaskan dua orang itu, karena sudah pasti kami yang akan menderita akibat pembalasan mereka."
"Paman dan Nona, harap jangan khawatir. Aku akan menunggu di sini sampai mereka semua datang. Aku
yang akan menanggung bahwa kalian tidak akan diganggu lagi oleh mereka. Kalian tenang saja. Nanti
akan kuganti semua kerugian karena kerusakan yang diakibatkan keributan ini. Sekarang, tolong
tambahkan arak seguci untukku. Aku akan menanti mereka datang semua."
Biar pun khawatir sekali, ayah anak itu tidak berani membantah lagi. Mereka tadi sudah melihat betapa
mudahnya pemuda bercaping ini mengalahkan empat orang pengacau. Akan tetapi mereka tahu belaka
betapa kuatnya Thian-li-pang dan kalau mereka semua itu datang, apakah pemuda itu akan mampu
menghadapi mereka seorang diri saja?
Dua orang tosu Pat-kwa-pai yang sedang bermain-main ke Thian-li-pang tadi, tentu saja tidak mau tinggal
diam. Mereka terluka dan masing-masing menderita kesakitan dengan sebatang sumpit masih menancap
dan menembusi pundak mematahkan tulang pundak, sedangkan dua orang teman mereka sudah ditawan.
Mereka cepat mendaki lereng Bukit Naga yang menjadi sarang Thian-li-pang dan sambil meringis
kesakitan mereka melapor kepada para anggota Thian-li-pang yang melakukan penjagaan di pintu gerbang
perkampungan perkumpulan itu.
Tentu saja para anggota Thian-li-pang menjadi gempar dan marah mendengar bahwa dua orang kawan
mereka dirobohkan seorang asing di dusun yang berada di kaki bukit. Mereka cepat melapor kepada
kepala jaga. Mereka menganggap urusan itu terlalu kecil untuk dilaporkan kepada ketua, bahkan mereka
tidak ingin ketua mendengar bahwa mereka tidak mampu membereskan urusan kecil itu.
"Di mana jahanam itu sekarang? tanya seorang murid yang tingkatnya lebih tinggi.
"Di dalam kedai arak dusun itu," kata dua orang tosu itu.
Murid yang termasuk tingkat atas dari Thian-li-pang itu lalu mengumpulkan empat orang saudara lain.
"Kalian tetap berjaga saja di sini, kami berlima yang akan menghajarnya," katanya dan lima orang yang
memiliki tingkat tiga di Thian-li-pang itu segera turun dari lereng bukit sambil berlari cepat.
Sekejap saja, lima orang murid Thian-li-pang yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun ini telah tiba di
depan kedai arak itu. Mereka melihat betapa kedai arak itu sepi sekali, dan ada beberapa orang yang
mengitai dari jauh dengan sikap ketakutan.
Dengan sikap gagah kelima orang itu memasuki kedai. Di dalam ruangan kedai yang biasanya penuh tamu
itu, ternyata sekarang kosong. Hanya ada seorang tamu sedang minum-minum seorang diri di sudut dan
mereka melihat orang itu mengenakan caping lebar sehingga tak nampak mukanya. Mereka melihat pula
dua orang adik seperguruan mereka duduk bersandar dinding di lantai sudut itu dengan muka berlumuran
darah!
Pada saat dua orang itu melihat lima orang kakak seperguruan mereka muncul di pintu rumah makan,
mereka segera bangkit.
"Suheng, tolonglah kami...," kata mereka setengah meratap.
Mereka hendak menghampiri kawan-kawan mereka, akan tetap begitu tangan Yo Han bergerak, dua butir
kacang menyambar dan mengenai dada kedua orang itu, membuat mereka mengeluh dan roboh kembali!
Melihat hal itu, lima orang yang baru datang tentu saja menjadi marah sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Jahanam busuk!" bentak salah seorang di antara mereka dan lima orang itu serentak menyerang Yo Han
dari sekelilingnya.
Yo Han masih tetap duduk di atas bangkunya. Kedua tangannya bergerak, juga kedua kakinya menyambar
dan empat orang pengeroyok lalu roboh terpelanting! Orang kelima yang melihat ini, terbelalak kaget dan
dengan jeri dia melangkah mundur.
Empat orang yang roboh itu mencoba untuk mencabut pedang dan kembali menyerang. Akan tetapi
sebelum mereka dapat melakukan serangan, kembali kaki tangan Yo Han bergerak tanpa dia turun dari
bangkunya. Akibatnya, keempat orang itu roboh kembali, pedang mereka terlepas berkerontangan dan
mereka tidak mampu bangkit.
Melihat ini orang ke lima segera meloncat keluar dan melarikan diri ketakutan. Dia tidak tahu bahwa
memang Yo Han sengaja melepasnya, dengan maksud supaya dia melapor kepada pimpinan Thian-lipang.
Dengan tenang ia turun dari bangkunya, lalu tangannya mencengkeram punggung baju mereka dan
melemparkan tubuh mereka satu demi satu ke sudut ruangan sehingga kini di situ berserakan dan
bertumpuk enam orang anggota Thian-li-pang.
Ketika melakukan hal ini, enam orang itu dapat sekilas melihat tampangnya dan dua di antara mereka
terbelalak.
"Sin... ciang... Taihiap..." Mereka berbisik dan jatuh pingsan saking kaget dan takutnya.
Tentu saja mereka sangat ketakutan karena mereka sudah melawan pemimpin besar Thian-li-pang! Apa
lagi mereka juga segera menyadari bahwa mereka sudah melakukan penyelewengan besar dari garis-garis
yang ditentukan pemimpin besar ini, menyadari bahwa Thian-li-pang telah berubah semenjak ketua Lauw
Kang Hui tewas dan pimpinan dipegang oleh Ouw Seng Bu.
Yo Han tidak peduli dan melanjutkan minum seorang diri. Dia harus meluruskan kembali Thian-li-pang
seperti pesan mendiang suhu-nya, yaitu kakek Ciu Lam Hok. Dia sengaja merobohkan para anggota
Thian-li-pang dan menumpuk tubuh mereka di sudut ruangan kedai itu untuk memancing kedatangan para
pimpinan Thian-li-pang ke situ, terutama sekali Lauw Kang Hui.
Dia tidak langsung datang ke Thian-li-pang karena maklum betapa besar bahayanya kalau dia melakukan
itu. Kalau benar para pemimpin Thian-li-pang sudah menyeleweng dan dia dimusuhi, maka mendatangi
pusat Thian-li-pang sama saja dengan menghadapi bahaya besar.
Thian-li-pang mempunyai anggota yang rata-rata kuat, juga para pemimpinnya lihai, di samping tempat itu
pun berbahaya dan penuh rahasia. Ia harus dapat memancing para pemimpinya keluar dan datang ke
rumah makan ini, agar lebih leluasa dia turun tangan menghajar mereka dan memaksa mereka untuk
kembali ke jalan yang benar seperti dikehendaki mendiang Ciu Lam Hok gurunya.
Sementara itu, anggota Thian-li-pang yang ketakutan dan lari pulang, membuat para anggota lainnya
menjadi gempar. Mereka tidak berani menganggap persoalan itu kecil lagi, apa lagi ketika rekan mereka
menceritakan betapa empat kawannya roboh dengan mudah sekali oleh si caping lebar yang aneh. Mereka
lalu berangkat untuk melaporkan peristiwa itu kepada ketua mereka.
Ketika itu, ketua Thian-li-pang yang baru, Ouw Seng Bu, sedang menjamu dua orang tamu yang
dihormatinya, yaitu Cu Kim Giok dan Siangkoan Kok. Seperti diceritakan di bagian depan, Cu Kim Giok
tertarik kepada Ouw Seng Bu dan menganggap pemuda itu seorang ketua perkumpulan besar Thian-lipang
yang amat tampan, gagah perkasa dan berjiwa patriot, membuat ia merasa tunduk dan kagum bukan
main.
Ada pun Siangkoan Kok, bekas ketua Pao-beng-pai, juga dapat ditundukkan Ouw Seng Bu dengan
ilmunya yang luar biasa sehingga kini Siankoan Kok yang perkumpulannya sudah hancur itu mau
menggabungkan diri untuk menentang pemerintah dan mencari kedudukan yang tinggi.
Demikian besar rasa kagum Cu Kim Giok kepada Ouw Seng Bu sehingga dia tidak berkeberatan untuk
makan bersama dua orang tosu wakil Pek-lian-kauw dan dua orang tosu wakil Pat-kwa-pai yang datang
sebagai tamu Thian-li-pang. Padahal, sejak kecil ia telah mendengar dari ayah ibunya bahwa Pek-liankauw
merupakan perkumpulan yang banyak melakukan kejahatan, walau pun perkumpulan itu terkenal
dunia-kangouw.blogspot.com
sebagai perkumpulan yang menentang pemerintah Mancu. Alasan yang dikemukakan Ouw Seng Bu
bahwa untuk menentang penjajah, semua kekuatan harus bersatu, tanpa membeda-bedakan antar
golongan putih atau hitam, dapat ia terima bahkan membenarkannya.
Demikianlah, pada saat itu, Ouw Seng Bu, sedang makan minum semeja dengan Cu Kim Giok, Siangkoan
Kok, dan empat orang tosu, yaitu dua tokoh Pat-kwa-pai dan dua orang tokoh Pek-lian-kauw.
Wakil Pat-kwa-pai yang tubuhnya tinggi kurus bernama Im Yang Ji, murid kepala ketua Pat-kwa-pai yang
lihai, yang datang bersama bersama adik seperguruannya. Ada pun wakil dari Pek-lian-kauw adalah Kui
Thiancu yang sudah kita kenal ketika dia mewakili Pek-lian-kauw dan hadir dalam pesta yang diadakan
Siangkoan Kok saat masih menjadi ketua Pao-beng-pai, yang datang bersama seorang adik
seperguruannya pula.
Ouw Seng Bu yang merasa bergembira sekali sudah mendapat dua sekutu yang boleh dibanggakan,
Siangkoan Kok yang selain amat lihai juga dapat diharapkan menghimpun banyak orang untuk menjadi
anak buah mereka, dan Cu Kim Giok. Gadis puteri majikan Lembah Naga Siluman ini tentu saja
merupakan seorang sekutu yang sangat besar artinya, karena tentu akan dapat menjadi jembatan agar
para tokoh kang-ouw lainnya suka bergabung dengan Thian-li-pang.
Selain itu, semenjak pertemuan yang pertama kalinya, hati Ouw Seng Bu sudah terjerat. Dia tahu bahwa
dia jatuh cinta kepada gadis yang bermata indah dan amat manis itu.
"Mari kita minum untuk persatuan di antara kita yang kokoh kuat untuk menumbangkan penjajah dan
mengusir mereka dari tanah air tercinta!" dengan penuh semangat Ouw Seng Bu berkata.
Enam orang lainnya yang duduk semeja itu menyambut dengan penuh semangat pula. Bahkan Cu Kim
Giok merasa bangga karena ia merasa yakin bahwa ayah ibunya tentu akan merasa bangga pula melihat
puteri mereka kini bersekutu dengan para pejuang yang hendak menumbangkan pemerintah penjajah
Mancu!
Baru saja mereka mengosongkan cawan, seorang anggota Thian-li-pang dengan sangat tergopoh-gopoh
memasuki ruangan itu. Dia adalah kepala jaga, dan biar pun dalam hal tingkatan, orang ini masih adik
seperguruan Ouw Seng Bu, yaitu murid mendiang Lauw Kang Hui, akan tetapi karena kini Ouw Seng Bu
telah menjadi ketua dan orang itu bukan lain hanya seorang anak buah, ketua Thian-li-pang yang masih
muda itu mengerutkan alisnya dan merasa terganggu.
"Hemmm, ada urusan apa hingga engkau berani datang mengganggu kami?" bentaknya dengan sikap
berwibawa.
"Harap maafkan kelancangan saya, Pangcu. Akan tetapi saya hendak melapor bahwa ada seseorang yang
telah merobohkan dan menawan enam orang anggota kita di kedai arak di dusun bawah sana."
Kerut di antara mata Seng Bu semakin mendalam dan matanya mencorong marah. "Hemmm, muncul
seorang pengacau saja kalian tidak mampu membereskannya sendiri dan masih melapor kepada kami?"
"Maaf, Pangcu. Mula-mula, dua orang anggota kita bersama seorang teman anggota Pat-kwa-pai dan
seorang anggota Pek-lian-kauw minum di kedai itu, bertemu dengan si pengacau yang merobohkan dua
orang anggota kita, akan tetapi hanya melukai dua orang tosu sahabat dan membiarkan mereka pergi. Dua
orang anggota Thian-li-pang itu ditawannya di kedai. Kemudian, lima orang saudara tua kami turun lereng,
bermaksud untuk memberi hajaran. Akan tetapi, empat orang di antara mereka roboh dan ditawan.
Seorang dapat melarikan diri melapor dan menurut laporannya, empat orang saudara tua itu dalam
segebrakan saja roboh oleh pengacau yang bercaping lebar itu."
"Hemmm...!" Ouw Seng Bu diam-diam terkejut.
Yang disebut saudara tua adalah para anggota yang tingkatnya sejajar dengan dirinya, yaitu murid atau
murid keponakan dari mendiang Lauw Kang Hui. Kalau empat orang di antara mereka roboh dengan
mudah oleh pengacau itu, dapat dibayangkan alangkah lihainya orang itu.
"Ahhh, siapa berani melukai anggota Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?" seru Im Yang Ji, tokoh Pat-kwa-pai
dengan marah. Dia sudah mulai mabuk, maka hatinya mudah sekali panas mendengar bahwa seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
anak buahnya sudah dilukai orang. "Toyu, kita harus menghajar orang itu!" katanya kepada dua orang tosu
Pek-lian-kauw.
Kui Thiancu mengangguk dan bangkit berdiri, memberi hormat kepada Seng Bu sambil berkata, "Pangcu,
biarlah kami berempat yang menghajar orang itu dan menyeretnya ke sini agar Pangcu dapat
menghukumnya. Pangcu tak perlu marah-marah dan terganggu makan minum. Sebaiknya, Pangcu, Nona
dan Siangkoan Locianpwe tetap melanjutkan makan minum. Kami berempat akan segera kembali sambil
menyeret si pengacau itu."
Ouw Seng Bu mengangguk dan bangkit berdiri membalas penghormatan empat orang tosu itu.
"Kalau Cuwi hendak menghajar si pengacau yang telah melukai anggota Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai,
silakan dan harap jangan membunuhnya karena saya ingin melihatnya dan menanyainya mengapa dia
berani memusuhi kita."
Empat orang tosu itu mengangguk dan ke luar dari ruangan itu dengan langkah lebar. Setelah mereka
pergi, Ouw Seng Bu menoleh kepada Cu Kim Giok sambil tersenyum.
"Aihh, ada-ada saja. Sayang sekali masih terdapat orang-orang yang tidak menghargai perjuangan kita
sehingga mereka itu bukan membantu kita, bahkan memusuhi kita dan lebih rela menjadi antek penjajah
Mancu. Siapa yang tidak akan merasa menyesal kalau orang-orang pandai yang termasuk golongan para
pendekar, seperti Sin-ciang Taihiap Yo Han itu, membiarkan dirinya menjadi anjing penjilat dan antek
penjajah Mancu."
"Sangat menyakitkan hati memang!" kata Siangkoan Kok sambil menuangkan arak dari cawan ke dalam
mulutnya. "Bahkan para pendekar dari keluarga pendekar terbesar di dunia persilatan, rela mengekor
kepada penjajah Mancu. Harap maafkan aku, nona Cu. Selama ini aku pun belum pernah mendengar
keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman menjadi antek Mancu, meski hubungan keluargamu dekat sekali
dengan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Dua keluarga pendekar itulah yang sejak dulu membantu
penjajah Mancu, sungguh mengecewakan sekali. Apakah mereka tak pernah tahu bahwa bangsa Mancu
adalah bangsa liar yang menjajah tanah air dan bangsa kita? Kita berjuang untuk membebaskan bangsa
dari cengkeraman penjajah, namun mereka tidak membantu kita dan malah memusuhi kita!"
Wajah Kim Giok berubah menjadi agak kemerahan. Selain pengaruh arak, juga hatinya tersentuh. Ia telah
jatuh cinta kepada Ouw Seng Bu dan merasa yakin akan kebenaran pemuda itu, akan kemurnian
perjuangan melawan penjajah.
Dia pun tahu bahwa di antara keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir, memang terdapat hubungan yang akrab
dengan kerajaan Mancu, bahkan ada pertalian hubungan darah. Walau pun ayah ibunya tidak pernah
memusuhi kerajaan Mancu secara berterang, akan tetapi juga mereka tidak pernah menjadi pembantu
langsung atau pejabat. Akan tetapi, harus diakui bahwa keluarga orang tuanya sangat dekat dengan
keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir.
Sekarang pandangannya terhadap Siangkoan Kok juga berubah. Kakek tua ini adalah seorang pejuang
sejati, pikirnya, seperti juga Seng Bu, meski kakek ini berwatak keras dan aneh, tidak seperti Seng Bu yang
halus dan tampan.
"Meski keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir tidak memusuhi kita secara terang-terangan, akan tetapi
mereka tidak mau bersatu dengan kita untuk menghancurkan penjajah. Kita harap saja nona Cu akan
dapat membujuk mereka dan membuka mata mereka betapa pentingnya perjuangan menentang penjajah.
Yang kukhawatirkan hanyalah satu orang saja, yaitu Sin-ciang Taihiap..."
"Hemmm, orang itu memang amat berbahaya dan dia pun telah menjadi antek penjajah. Bahkan dia
bergaul akrab sekali dengan seorang pangeran Mancu, yaitu Pangeran Cia Sun," kata Siangkoan Kok.
Dengan singkat Siangkoan Kok lalu menceritakan betapa Yo Han beserta Pangeran Cia Sun pernah
menyelundup ke dalam perkumpulannya, Pao-beng-pai sehingga berakibat perkumpulannya itu
dihancurkan pasukan pemerintah.
"Sudah jelas bahwa pasukan itu dibawa datang oleh Yo Han dan Cia Sun yang bekerja sebagai matamata,"
kata Siangkoan Kok mengakhiri ceritanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Yo Han memang harus dibasmi. Dia pun merupakan ancaman bagi Thian-li-pang pula, karena dulu dia
pernah diangkat oleh mendiang suhu Lauw Kang Hui sebagai pemimpin Thian-li-pang. Sewaktu-waktu dia
bisa muncul di sini, dan kemudian menggunakan hak kekuasaannya untuk mengubah Thian-li-pang dari
suatu perkumpulan pejuang menjadi perkumpulan pengekor kerajaan Mancu," kata Seng Bu penasaran.
"Biarkan saja dia datang, kita akan sambut dia dengan pedang. Aku akan membantumu menundukkannya,
Pangcu," berkata Siangkoan Kok yang masih merasa sakit hati kalau teringat kepada Yo Han dan Cia Sun
yang dianggapnya menjadi penyebab kehancuran Pao-beng-pai.
"Akan tetapi, dia lihai bukan main, paman Siangkoan," kata Seng Bu, "Sebaiknya kalau kita menggunakan
siasat untuk menundukkannya, dan kuharap Paman dan juga nona Cu suka membantuku untuk
menundukkannya kalau dia berani datang di sini."
"Tentu saja aku akan membantumu, Pangcu," kata Kim Giok tanpa ragu lagi.
Sin-ciang Taihiap adalah seorang yang jahat, pikirnya, telah mengkhianati Thian-li-pang, juga membunuh
ketua Thian-li-pang, bahkan dia bergaul dengan Pangeran Cia Sun dari kerajaan Mancu. Yo Han sudah
membunuh banyak tokoh Thian-li-pang dan orang yang sejahat itu memang harus ditentang.
"Kalau perlu, kita minta bantuan tenaga ketua Pek-lian-kauw dan ketua Pat-kwa-pai," kata Siangkoan Kok
yang diam-diam juga merasa jeri terhadap Sin-ciang Taihiap.
"Memang aku sudah mempunyai rencana, dan sudah mengirim surat kepada mereka," kata Seng Bu.
Mereka kemudian melanjutkan makan minum dan merasa yakin bahwa dua orang tosu Pek-lian-kauw
bersama dua orang tosu Pat-kwa-pai tadi akan mampu membereskan kerusuhan dan menyeret
pengacaunya ke markas Thian-li-pang…..
********************
Empat orang tosu itu memasuki rumah makan dengan hati-hati, dan di belakang mereka nampak dua belas
orang anggota Thian-li-pang tingkat tertinggi, siap dengan pedang di tangan. Pada waktu mereka
memasuki pintu depan rumah makan itu, Kui Thiancu tokoh Pek-lian-kauw yang memimpin rombongan,
memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti.
Tadi dia sudah merundingkan dengan Im Yang Ji serta dua orang tosu lainnya untuk mempermainkan
pengacau yang berada di rumah makan itu dengan mempergunakan kekuatan sihir. Sekarang mereka
berempat mengerahkan kekuatan sihir, menyatukan kekuatan mereka.
Mulut mereka berkemak-kemik membaca mantera, dan mata mereka memandang ke arah caping yang
menutupi kepala dan muka Yo Han, kemudian mereka menudingkan telunjuk kanan ke arah caping itu. Kui
Thiancu yang ditunjuk menjadi juru bicara mereka berempat, segera berkata dengan suara bergema dan
mengandung kekuatan sihir.
"Caping yang berada di atas kepala pengacau, terbanglah ke sini!"
Para anggota Thian-li-pang yang bergerombol di luar pintu rumah makan itu terbelalak heran dan kagum.
Mereka melihat betapa caping yang menutupi kepala orang yang duduk membelakangi mereka di sudut itu
tiba-tiba saja terbang melayang ke atas dan meninggalkan kepala itu.
Empat orang tosu itu sudah siap untuk mentertawakan Yo Han. Tetapi wajah mereka yang tadinya
menyeringai itu seketika berubah ketika caping yang melayang ke atas itu kini menyambar ke arah mereka
seperti peluru yang berputar-putar mengeluarkan suara berdesing! Tentu saja mereka terkejut bukan main
dan mereka cepat mengelak.
Caping itu bagaikan berubah menjadi seekor burung elang yang menyambar-nyambar kepala mereka
sehingga mereka sibuk berloncatan ke sana-sini. Akhirnya, setelah gagal memperoleh korban, caping itu
melayang kembali ke arah kepala pemiliknya, kemudian hinggap di atas kepala seperti burung terbang
kembali ke sarangnya!
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekarang empat orang tosu itu saling pandang. Mereka maklum bahwa pemilik caping itu sudah
mempermainkan mereka dan bahwa kekuatan sihir mereka tadi sama sekali tidak berhasil!
Kui Thiancu melihat betapa ruangan itu terlalu sempit dan banyak terhalang meja serta bangku sehingga
kawan-kawannya takkan dapat leluasa untuk mengeroyok lawan yang agaknya amat lihai ini. Karena itu
dia segera membentak, "Orang bercaping sombong! Engkau berani melukai para anggota Thian-li-pang,
Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw. Jika engkau memang berkepandaian dan bukan seorang pengecut,
keluarlah dan mari kita mengadu kepandaian di luar yang luas! Jika engkau tidak mau keluar, maka kami
akan membakar rumah ini!"
Setelah berkata demikian, Kui Thiancu memberi isyarat dan bersama teman-temannya, dia pun melangkah
keluar dan menanti di luar rumah makan.
Mendengar ucapan yang bernada mengancam itu, pemilik kedai dan puterinya menjadi ketakutan. Mereka
nekat keluar dari persembunyian mereka, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han.
"Taihiap... tolonglah... harap Taihiap keluar dari sini dan berkelahi diluar saja... jangan sampai rumah kami
dibakar...!"
Juga enam orang anggota Thian-li-pang yang masih meringkuk di sudut ruangan itu dan tetap tidak berani
bergerak, menjadi pucat ketakutan. Mereka sejak tadi takut pergi dari situ, takut kalau dirobohkan kembali
oleh si caping lebar yang amat lihai itu. Akan tetapi sekarang ada ancaman dari tosu tadi, kalau mereka
diam saja di situ, tentu mereka akan ikut terbakar!
Yo Han tentu saja tidak ingin merugikan si pemilik rumah makan. Tanpa menjawab dia pun menyambar
buntalan pakaiannya, menggendong buntalan itu, lantas mengeluarkan sepotong emas dan
melemparkannya ke atas meja.
"Ini untuk menggantikan semua kerugianmu, Paman," katanya sambil melangkah keluar perlahan-lahan.
Tentu saja ayah dan anak itu terkejut dan gembira bukan main. Pemberian itu puluhan kali lebih banyak
dari pada kerugian yang mereka derita.
Sementara itu, pada waktu si caping lebar melangkah lambat-lambat keluar dari rumah makan, empat
orang tosu serta selosin anggota Thian-li-pang memandang dengan hati tegang. Yo Han melangkah
dengan muka ditundukkan sehingga mereka masih belum bisa melihat wajahnya. Setelah sampai di depan
empat orang tosu itu, Yo Han berhenti melangkah.
"Heiii, orang asing!" bentak Kui Thiancu marah. "Siapa engkau dan apa pula sebabnya engkau melukai
para anggota Thian-li-pang, Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?"
Tanpa mengangkat mukanya yang menunduk dan tertutup caping, Yo Han menjawab, suaranya terdengar
sangat dingin, "Sejak dahulu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw adalah penjahat-penjahat yang berkedok
perjuangan, tidak aneh kalau hari ini mereka kembali melakukan kejahatan. Akan tetapi, Thian-li-pang
adalah perkumpulan pejuang-pejuang sejati, sekarang anak buahnya menyeleweng, patut disesalkan dan
dibuat penasaran!"
"Keparat, enak saja engkau membuka mulut! Perlihatkan mukamu, atau engkau begitu pengecut untuk
memperkenalkan diri?"
"Kui Thiancu, aku bukanlah orang asing bagimu," kata Yo Han dan kini dia mengangkat mukanya sehingga
sekilas nampak wajahnya, akan tetapi dia sudah menunduk kembali. Mereka yang sudah mengenalnya
terkejut, termasuk Kui Thiancu.
"Ahhh, kiranya Sin-ciang Taihiap? Semenjak kapan engkau memusuhi Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw?"
"Kui Thiancu, aku tak memusuhi siapa pun, akan tetapi akan menghajar siapa saja yang berbuat jahat.
Anak buah Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai melakukan kejahatan bersama anak buah Thian-li-pang yang
menyeleweng, maka aku menghajar mereka. Pergilah dan jangan mencampuri urusanku dengan Thian-lipang,
ini merupakan urusan dalam Thian-li-pang sendiri."
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi Kui Thiancu sudah marah sekali, apa lagi memang dia tahu bahwa ketua Thian-li-pang,
sekutunya, harus membunuh orang ini yang merupakan ancaman bagi perkumpulan itu.
"Serang dan bunuh dia!" bentaknya.
Ia pun telah menggerakkan pedangnya, diikuti Im Yang Ji dan dua tosu lain yang sudah mencabut pedang.
Kini Yo Han dikeroyok empat orang tosu! Yo Han bergerak cepat, tubuhnya berkelebat dan menyelinap di
antara gulungan sinar empat batang pedang itu.
Sementara itu, selosin anak buah Thian-li-pang tadi terkejut bukan main ketika melihat wajah Yo Han. Akan
tetapi, mereka semua telah menjadi anak buah Ouw Seng Bu dan mereka sudah ikut melakukan
penyelewengan, maka tentu saja kini mereka pun tidak menghendaki Yo Han yang berkuasa di Thian-lipang,
oleh karena hal itu akan berarti hilangnya semua kesenangan yang selama ini mereka peroleh sejak
Seng Bu menjadi ketua. Maka, mereka pun serentak ikut mengeroyok!
Seorang di antara mereka diam-diam sudah berlari naik ke lereng bukit untuk melapor kepada ketuanya.
Ketika dia tiba di pusat Thian-li-pang, Ouw Seng Bu yang menjamu Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok, baru
saja selesai makan minum.
"Celaka, Pangcu. Sin-ciang Taihiap Yo Han telah muncul. Dialah orang yang mengacau tadi!" anggota itu
melapor dengan suara gemetar.
Mendengar ini, Ouw Seng Bu meloncat bangkit. Dia nampak gugup. Akan tetapi, melihat Siangkoan Kok
dan Cu Kim Giok di situ, dia menenangkan diri.
"Di mana dia sekarang?"
"Dia kini berada di luar rumah makan, dikeroyok oleh keempat orang tosu dan sebelas orang anggota kita,
Pangcu. Saya lari pulang untuk melapor kepada Pangcu."
Ouw Seng Bu yang amat cerdik itu bertindak cepat sekali.
"Paman Siangkoan Kok, harap Paman tidak memperlihatkan diri kepada Yo Han dan bersembunyi di
dalam kamar Paman. Nona Cu, harap engkau juga beristirahat di dalam kamar sampai nanti aku memberi
tahukan segalanya kepadamu. Aku akan menghadapi Yo Han dan menerimanya dengan baik-baik untuk
mencegah jatuhnya banyak korban."
Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok mengangguk. Mereka pergi ke kamar masing-masing yang sudah
diberikan kepada mereka sejak mereka tiba di situ.
Ouw Seng Bu segera mengumpulkan anak buahnya dan dengan tegas memesan agar mereka semua
memperlihatkan sikap lunak dan takluk terhadap Yo Han, dan bersikap seperti dulu agar tidak
menimbulkan kecurigaan di dalam hati Pendekar Tangan Sakti. Kemudian, dia menuju ke kamar Cu Kim
Giok dan mengetuk daun pintunya.
Setelah Cu Kim Giok muncul, Ouw Seng Bu pun berkata, "Nona Cu, sekarang saatnya engkau bisa
membantuku. Aku ingin menaklukkan Yo Han tanpa mendatangkan banyak korban, karena itu aku akan
berpura-pura tidak tahu bahwa dia yang sudah menyebar pembunuhan di sini. Engkau bersikaplah sebagai
seorang tamuku, seorang sahabat baikku..."
"Tapi, apa manfaatnya kehadiranku..."
"Banyak sekali, Nona. Engkau akan menimbulkan kepercayaan di hatinya bahwa kita tak mempunyai
maksud tertentu terhadap dirinya. Bila melihat engkau sebagai tamuku, pasti dia akan percaya kepadaku.
Marilah, Nona, aku... sungguh aku membutuhkan pertolonganmu. Ataukah... engkau begitu tega tidak mau
membantuku?"
Ouw Seng Bu sudah dapat melihat selama dia bergaul dengan Kim Giok bahwa gadis itu pun membalas
perasaan hatinya, bahwa gadis itu pun jatuh cinta kepadanya, maka dia mempergunakan sikap lunak dan
menarik rasa iba gadis itu. Dia berhasil, karena Cu Kim Giok mengangguk.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Baiklah, Pangcu. Aku akan membantumu."
"Engkau tidak perlu bicara atau berbuat apa pun, hanya mengaku saja bahwa engkau menjadi sahabatku.
Nah, aku tidak ingin menyuruhmu berbuat jahat atau berbohong bukan?"
Mereka berdua segera berlari cepat menuruni lereng bukit dan ketika mereka memasuki dusun dan tiba di
depan kedai arak, mereka berdua tertegun. Apa yang telah terjadi?
Yo Han dikeroyok oleh empat orang tosu lihai dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, juga oleh sebelas orang
murid Thian-li-pang dari tingkat atas. Para pengeroyok itu semuanya menggunakan pedang, sedangkan Yo
Han bertangan kosong!
Akan tetapi, tubuhnya yang dapat dibuat ringan seperti bayangan itu berkelebatan di atas belasan batang
pedang dan setiap kali terbuka kesempatan, begitu tangan atau kakinya bergerak menyambar, tentu salah
seorang pengeroyok dapat dirobohkan! Dia mengenal gerakan silat orang-orang Thian-li-pang, mengenal
cakar beracun mereka, maka dengan mudah dia dapat mengenal bagian lemah mereka sehingga setiap
kali dia menggerakkan tangan atau kaki, seorang anggota Thian-li-pang terjungkal.
Yo Han tidak mau membunuh mereka, hanya merobohkan dan membuat mereka tak mampu bangkit
kembali karena patah tulang atau menotok mereka sehingga tak mampu bergerak kembali. Akhirnya,
sebelas orang Thian-li-pang itu pun roboh tak dapat bangkit kembali dan tinggal dua orang tosu Pek-liankauw
dan dua orang tosu Pat-kwa-pai saja yang masih terus mengeroyoknya dengan serangan membabi
buta karena sejak tadi serangan pedang mereka tidak pernah mengenai tubuh pemuda itu.
"Orang-orang Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, kalian pergilah. Aku tak ingin bermusuhan dengan kalian
dan jangan mencampuri urusan kami orang-orang Thian-li-pang!" dua kali Yo Han menegur dan menyuruh
mereka pergi.
Ketika empat orang itu terus mengamuk tanpa mempedulikan kata-katanya, Yo Han menjadi marah.
"Kalian ini orang-orang bandel yang pantas menerima hajaran!"
Dia pun bergerak cepat, menggunakan ilmu silat Bu-kek Hoat-keng. Segera timbul angin berpusing yang
cepat sekali, membuat empat orang tosu itu ikut terputar dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi,
pedang mereka beterbangan lepas dari tangan. Mereka pun seperti dilontarkan oleh tenaga yang sangat
kuat, terlempar dan terbanting sampai beberapa meter jauhnya! Agaknya Si Tangan Sakti itu memang
tidak ingin membunuh mereka sehingga mereka hanya terbanting keras tanpa menderita luka parah.
Pada saat mereka terbanting itulah, Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok menuruni lereng. Ouw Seng Bu
mengenal gerakan Yo Han itu. Dia pun merasa sanggup bergerak hingga menimbulkan angin berpusing
seperti itu seperti yang pernah dia pelajari dalam sumur!
Ketika melihat Seng Bu, empat orang tosu seperti mendapat hati. Mereka dengan muka meringis kesakitan
karena pinggul mereka tadi terbanting keras, bangkit menyongsong kedatangan Seng Bu.
"Pangcu...," kata mereka, akan tetapi Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat.
"Harap Totiang berempat suka memaafkan kami dan meninggalkan tempat ini. Biarkan kami
menyelesaikan urusan dalam Thian-li-pang."
Empat orang tosu itu merasa heran, akan tetapi karena mereka sudah maklum bahwa ketua baru itu tentu
akan menggunakan siasat. Mereka pun memberi hormat dan pergi dari tempat itu tanpa banyak cakap lagi.
Kini Seng Bu berdiri berhadapan dengan Yo Han dan keduanya saling pandang.
"Kiranya Sin-ciang Taihiap yang datang! Harap maafkan siauwte bersama para anggota Thian-li-pang yang
tidak tahu akan kedatangan Taihiap dan tidak sempat menyambut seperti mestinya." Dia memberi hormat.
Yo Han mengerutkan alis, memandang penuh selidik. Dia tadi mendengar Kui Thiancu menyebut ‘pangcu’
kepada pemuda tampan ini! Dengan sikap tenang namun suaranya tegas dan menyelidik, Yo Han berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
"Wajahmu tidak asing bagiku. Bukankah engkau seorang di antara para murid suheng Lauw Kang Hui?
Mengapa tosu tadi menyebutmu sebagai pangcu? Di mana suheng Lauw Kang Hui dan apa yang terjadi
dengan Thian-li-pang? Mengapa Thian-li-pang kini bersahabat dengan orang-orang Pek-lian-kauw dan Patkwa-
pai dan mengapa pula ada murid Thian-li-pang yang dapat melakukan kejahatan di dusun ini?"
Diberondong pertanyaan-pertanyaan itu, Seng Bu merasa laksana dihujani serangan yang berbahaya. Dia
memberi hormat lagi.
"Taihiap, banyak sekali hal-hal yang amat hebat telah terjadi di tempat kita. Suhu... suhu telah... mati
dibunuh orang... dan aku terpaksa untuk sementara mewakili dan diangkat menjadi pangcu karena tidak
ada orang lain lagi yang dapat memegang kedudukan itu sebagai pemimpin sementara. Suhu Lauw Kang
Hui dibunuh orang, demikian pula suci Lauw Sek, suheng Lauw Kin, susiok Su Kian dan susiok Thio Cu.
Semua tewas dibunuh orang..."
"Ahhh?!" Yo Han benar-benar merasa terkejut. "Siapakah yang membunuh mereka?"
"Panjang ceritanya, Taihiap. Marilah kita naik dulu ke tempat kita dan di sana nanti aku menceritakan
semuanya. Banyak sekali rahasia tersembunyi di balik semua peristiwa yang mengerikan itu, Taihiap."
Yo Han masih mengerutkan alisnya, akan tetapi dia mengangguk. Ketika mereka mulai mendaki bukit dan
melihat gadis manis yang datang bersama Ouw Seng Bu ikut pula mendaki, dia berhenti dan bertanya.
"Nanti dulu, siapakah Nona ini?"
"Taihiap, Nona ini adalah nona Cu Kim Giok. Dia seorang sahabat baikku dan sekarang menjadi tamu
terhormat di Thian-li-pang. Dia bukan gadis sembarangan, Taihiap. Aku yakin Taihiap pernah mendengar
tentang keluarga majikan Lembah Naga Siluman, yaitu keluarga Cu. Nah, Nona ini adalah puteri dari
pendekar besar Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman."
"Ahhh, kiranya Nona dari keluarga yang terkenal itu," berkata Yo Han sambil memberi hormat.
Kim Giok cepat membalas penghormatan itu.
"Harap Yo Taihiap tidak bersikap merendah. Sudah lama aku mendengar tentang nama besar Taihiap.
Sayang dalam pertemuan tiga keluarga besar di rumah Paman Suma Ceng Liong di Hong-cun, Taihiap
tidak ikut hadir."
Yo Han tersenyum. Ia sejenak memandang gadis itu penuh selidik. "Jadi engkau adalah sahabat baik
dari... ehhh, ketua Thian-li-pang ini?"
"Benar, dan baru beberapa hari aku menjadi tamu dari Thian-li-pang."
"Taihiap agaknya sudah lupa kepadaku. Aku murid termuda dari mendiang suhu Lauw Kang Hui, namaku
Ouw Seng Bu," ketua itu memperkenalkan diri.
Yo Han mengangguk-angguk. "Ya, aku sekarang teringat. Jadi semua murid tertua dari suheng Lauw Kang
Hui telah dibunuh orang?"
Diam-diam Cu Kim Giok mengerling dan mengamati wajah pendekar itu. Menurut cerita yang didengarnya
dari Seng Bu, orang inilah yang membunuh Lauw Kang Hui dan para muridnya. Apakah sekarang dia
sedang berpura-pura? Ataukah ada rahasia lain di balik pembunuhan itu dan pembunuhnya bukan Sinciang
Taihiap melainkan orang lain lagi? Sukar diduga apa yang terkandung dalam hati pemilik wajah
tampan dengan sinar mata tajam mencorong itu.
"Taihiap, nanti saja akan kuceritakan semua setelah kita tiba di rumah," kata Seng Bu.
Yo Han mengangguk. Mereka lalu mendaki lereng bukit dan ketika mereka tiba di pintu gerbang
perkampungan Thian-li-pang, dengan sikap meriah dan gembira para murid Thian-li-pang segera
menyambut mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Sin-ciang Taihiap datang! Sin-ciang Taihiap sudah datang!" demikian mereka berteriak dan bersorak
sambil memberi hormat.
Yo Han menerima sambutan itu dengan senyum, akan tetapi di dalam hatinya merasa heran bukan main.
Betapa jauh bedanya antara sikap para anggota Thian-li-pang yang berada di perkampungan ini dengan
mereka yang tadi berada di dusun! Seolah-olah tak wajar lagi!
Setelah mereka memasuki ruangan dalam, Seng Bu lalu berkata kepada Cu Kim Giok, "Nona Cu, maafkan
saya, harap Nona suka beristirahat dan meninggalkan kami berdua untuk membicarakan soal perkumpulan
kami."
Cu Kim Giok mengangguk dan meninggalkan ruangan itu. Seng Bu lalu menutup pintu ruangan itu,
kemudian dia pun mempersilakan Yo Han untuk duduk.
Yo Han duduk dan menghela napas panjang. "Nah, sekarang ceritakanlah semua. Apa yang telah terjadi di
sini? Ceritakan semua dengan jelas."
Tiba-tiba Ouw Seng Bu menjatuhkan diri berlutut di depan Yo Han sambil menangis! Yo Han mengerutkan
alisnya dan menegur dengan tegas.
"Ouw Seng Bu, sikapmu ini sungguh memalukan sekali! Engkau telah ditunjuk sebagai ketua, akan tetapi
anak buah Thian-li-pang menyeleweng, Thian-li-pang mengadakan persekutuan dengan partai-partai sesat
seperti Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, bahkan sekarang engkau menangis seperti anak kecil atau seperti
wanita lemah yang cengeng. Engkau tidak patut menjadi ketua Thian-li-pang!"
"Yo Taihiap, harap maafkan dan kasihanilah saya! Saya terpaksa menjadi ketua karena tidak ada orang
lainnya lagi. Hanya sayalah satu-satunya murid mendiang suhu yang dianggap paling kuat. Akan tetapi,
setelah suhu beserta para susiok dan suheng tewas, saya menjadi bingung dan tidak mampu lagi
mengendalikan semua murid, tidak dapat mencegah kalau ada yang melakukan penyelewengan. Mereka
semua condong untuk memberontak dan saya tak berdaya menghadapi mereka. Juga saya tak berani
menolak ketika Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw melakukan pendekatan, takut kalau-kalau mereka akan
memusuhi kami. Sekarang Taihiap telah pulang, maka saya menyerahkan kepada Taihiap untuk mengatur
kembali perkumpulan kita ini."
"Sudahlah, duduklah dan sekarang ceritakan apa yang terjadi dan bagaimana suheng Lauw Kang Hui dan
yang lain-lain sampai dibunuh orang, dan siapa pembunuh mereka itu."
Seng Bu duduk dan menghapus air matanya.
"Peristiwa yang terjadi itu amat mengerikan dan penuh rahasia, Yo Taihiap. Kami hanya melihat ada
bayangan hitam yang menangkap mereka seorang demi seorang kemudian membawa mereka masuk ke
dalam sumur tua itu. Dan setelah mereka dibawa masuk ke dalam sumur, sampai sekarang tidak ada
kabar ceritanya lagi sehingga kami semua menganggap bahwa mereka tentu telah tewas terbunuh."
"Hemmm, siapakah bayangan hitam itu?" Yo Han bertanya, alisnya berkerut, penasaran sekali.
"Itulah yang membuat kami semua penasaran, Taihiap. Tak ada yang dapat melihatnya, hanya melihat
bayangan hitam seperti setan, menangkap mereka dan membawa loncat ke dalam sumur. Tentu saja
peristiwa itu membuat semua anggota menjadi panik dan ketakutan. Karena itu, untuk meredakan
kepanikan mereka, maka terpaksa saya untuk sementara menggantikan kedudukan suhu dan memimpin
mereka."
"Akan tetapi, mengapa kalian tidak memasuki sumur itu untuk menyelidiki apa yang terjadi di sana? Siapa
tahu suheng Lauw Kang Hui dan yang lain-lain belum tewas?"
Seng Bu kelihatan terkejut dan ketakutan. "Maafkan kami, Yo Taihiap. Tentu saja kami juga berpikir
demikian, mengharapkan mereka belum tewas dan sewaktu-waktu akan muncul keluar. Akan tetapi, untuk
menyelidikinya, untuk memasuki sumur tua itu, siapa yang berani?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Tidak berani? Aihh, tak kusangka orang-orang Thian-li-pang berubah menjadi penakut dan pengecut!"
Lalu Yo Han melanjutkan sambil menatap tajam wajah Seng Bu, "Dan engkau sendiri, yang sudah
menerima menjadi ketua, mengapa engkau tidak memasuki sumur itu untuk menyelidikinya?"
Seng Bu menundukkan mukanya. "Maafkan kami semua, Yo Taihiap. Sebetulnya kami ingin sekali, akan
tetapi kami takut. Kalau suhu dan para susiok, suci dan suheng sendiri tak berdaya dibawa masuk ke
sumur oleh bayangan hitam itu, lalu bagaimana mungkin kami akan bisa menandinginya? Memasuki sumur
berarti mati konyol, dan kami semua, tidak berani."
Yo Han menghela napas panjang, teringat akan mendiang kakek Ciu Lam Hok. Gurunya itu adalah
seorang yang gagah perkasa, bahkan dua orang paman gurunya, mendiang Ban-tok Mo-ko dan Thian-te
Tok-ong, biar pun keduanya sudah menyeleweng dari jalan kebenaran, tetap saja mereka berdua adalah
orang-orang yang gagah perkasa. Begitu pula murid mereka, Lauw Kang Hui, memiliki keberanian dan
kegagahan.
Akan tetapi bagaimana sekarang para murid Thian-li-pang menjadi begitu penakut dan pengecut?
Sedangkan gurunya pernah berpesan agar dia mengawasi Thian-li-pang dan berusaha mengusahakan
agar Thian-li-pang pulih kembali menjadi perkumpulan besar yang berjiwa pahlawan pembela nusa
bangsa.
"Sudah berapa lamakah peristiwa hilangnya suheng Lauw Kang Hui ke dalam sumur tua itu terjadi?"
"Sudah kurang lebih tiga bulan, Yo Taihiap."
Yo Han merasa penasaran dan khawatir. Kalau sampai tiga bulan mereka tidak keluar dari dalam sumur
tua itu, kecil sekali harapannya mereka masih hidup. Akan tetapi, mati atau hidup mereka itu, dia harus
mengetahui dengan pasti.
"Baiklah, kalau begitu biar aku sendiri yang akan memasuki sumur itu dan melakukan penyelidikan," Yo
Han berkata.
Ouw Seng Bu memandang dengan mata terbelalak. "Akan tetapi, Taihiap. Itu berbahaya sekali!"
Yo Han tersenyum, "Seorang gagah tidak gentar menempuh bahaya, asal itu dilakukan demi kebaikan.
Lupakah engkau akan pelajaran kegagahan dari Thian-li-pang?"
"Be... benar, Taihiap. Akan tetapi... sumur tua itu penuh rahasia dan menyeramkan, tentu banyak iblis yang
menjadi penghuninya di sana sehingga tak seorang pun berani memasukinya. Saya takut kalau sampai
terjadi sesuatu atas diri Taihiap..."
"Mati hidup di tangan Tuhan. Aku tidak minta ditemani siapa pun kalau memang kalian takut. Biarlah aku
sendiri yang masuk dan kalian berjaga di luar sumur saja. Sediakan sehelai tali yang kuat dan panjang,
sekarang juga aku akan memasuki sumur itu untuk menyelidiki keadaan suheng Lauw Kang Hui dan yang
lain-lain."
"Baik, Taihiap."
"Dan mulai saat ini, Thian-li-pang harus memutuskan hubungan dengan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw.
Para murid dilarang bergaul dengan mereka, dan kalau ada yang melanggar, harus dihukum berat. Dua
orang anggota Thian-li-pang yang tadi membuat kerusuhan di rumah makan harus dihukum kurung selama
sepekan. Nah, laksanakan!"
"Baik, Taihiap."
Ouw Seng Bu membuka daun pintu dan berseru memanggil pembantunya. Para murid kelas tertinggi dari
Thian-li-pang datang berlarian dan berkumpul di luar pintu ruangan itu. Seng Bu lalu berkata dengan suara
lantang kepada mereka.
"Seluruh anggota agar bersiap-siap dan berkumpul di dekat sumur tua dan sediakan sehelai tambang yang
kuat dan panjang. Sin-ciang Taihiap sendiri akan turun ke dalam sumur melakukan penyelidikan sekarang
juga!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Terdengar seruan-seruan kaget di antara para anggota Thian-li-pang, namun mereka segera mentaati
perintah ketua mereka itu. Dengan diantar oleh Ouw Seng Bu, mereka semua lalu bergegas pergi ke
bagian belakang perkampungan Thian-li-pang dan tiba di dekat sumur tua…..
Sumur pertama yang pernah menjadi tempat tahanan kakek Ciu Lam Hok yang berada di tempat itu juga,
tidak terlalu jauh dari situ, telah ditutup dengan batu-batu sehingga tidak nampak lagi lubangnya. Sumur ke
dua ini lebih besar, juga amat dalam karena kalau dijenguk dari atas, tidak nampak dasarnya, hanya gelap
menghitam.
Sebetulnya, tanpa tambang sekali pun Yo Han akan mampu menuruni sumur itu dengan merayap, akan
tetapi lebih mudah menggunakan tali. Juga untuk naik kembali, akan jauh lebih mudah kalau ada talinya.
Hampir seratus orang anggota Thian-li-pang sudah berkumpul di tempat itu, mengelilingi sumur tua, wajah
mereka tegang. Seorang di antara mereka menyerahkan segulungan tali yang kuat dan panjang kepada
Ouw Seng Bu.
"Taihiap, apakah tali ini memenuhi syarat?" tanya Seng Bu sambil memperlihatkan tali itu kepada Yo Han.
Yo Han menerima gulungan tali, kemudian melepas ujungnya ke dalam sumur setelah ujung itu diikatkan
kepada sebongkah batu. Ternyata sumur itu dalam sekali dan sampai lama barulah batu di ujung tali tiba
pada dasar sumur.
Tali itu memang cukup panjang dan kuat. Setelah batu tiba pada dasar sumur dan tali mengendur, masih
ada sisa tiga empat meter. Yo Han lalu melibatkan sisa tali itu pada sebatang pohon dekat sumur, lalu
menyerahkan ujungnya kepada Seng Bu.
"Jaga dan pegangi ujung tali ini, aku akan segera turun ke bawah. Kalau aku sudah memberi tanda tarikan
tiga kali pada tali, maka kau boleh tarik aku keluar."
"Baik, Yo Taihiap. Harap Taihiap berhati-hati, siapa tahu di bawah sana ada bahaya mengintai," kata Seng
Bu.
"Jangan khawatir, aku sudah siap menghadapi apa saja," kata Yo Han.
Setelah berkata demikian, Yo Han menuruni sumur melalui tali yang ujungnya dipegang oleh Seng Bu.
Bagaikan seekor monyet saja, dengan cekatan dia menuruni tali itu, waspada memperhatikan ke bawah
karena dia maklum bahwa seperti yang dikatakan Ouw Seng Bu tadi, mungkin di bawah sana mengintai
bahaya yang bisa mengancam keselamatannya. Sama sekali Yo Han tidak pernah mengira bahwa bahaya
mengintai dari atas, bukan dari bawah!
Tadi dia telah menduga bahwa sumur itu menyerong, yaitu ketika dia mengulur tali yang ujungnya
digantungi batu. Batu itu tadi menyentuh dinding sumur dan menggelinding ke bawah, tidak lagi tergantung
bebas. Itu berarti bahwa sumur itu menyerong, tidak lurus ke bawah. Kini ternyata memang benar.
Tubuhnya menyentuh dinding sumur yang kasar dan dia merayap terus. Dan nampaklah sinar dari
samping, yang tidak nampak dari atas karena letaknya yang menyerong itu. Begitu kakinya menyentuh
lantai batu, dia pun melihat lima sosok mayat yang sudah tinggal tulang dibungkus pakaian yang robekrobek.
Lima orang!
Dia teringat akan keterangan Ouw Seng Bu yang menceritakan bahwa yang dibawa masuk ke dalam
sumur oleh bayangan hitam adalah Lauw Kang Hui, Su Kian, Thio Cu, Lauw Kin dan Lu Sek. Lima orang
tokoh Thian-li-pang itu benar-benar sudah tewas di dasar sumur! Akan tetapi Yo Han melihat satu
keanehan. Kedudukan lima sosok mayat itu bertumpuk, nampaknya seperti dilemparkan dari atas!
Dia menghampiri mayat-mayat itu. Sudah tak dapat dikenal lagi, apa lagi diselidiki sebab kematian mereka.
Juga tempat itu hanya remang-remang saja, terlalu gelap untuk dapat memeriksa dengan teliti. Dia harus
memeriksa ke dalam sana. Mungkin si pembunuh itu masih berada di dasar sumur yang ternyata dasarnya
merupakan terowongan berbatu-batu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia pun melepaskan tali yang tadi masih dipegangnya, lalu berindap-indap memasuki lorong penuh batubatu
besar itu. Kalau benar ada orangnya, mungkin bersembunyi di balik batu besar. Dia sudah siap kalaukalau
ada serangan gelap dari dalam.
Tidak ada penyerangan, tidak ada gerakan apa pun dari dalam. Akan tetapi mendadak terdengar suara
bersiutan dari atas. Yo Han terkejut melihat tali yang dipakai turun tadi kini menyambar turun seperti seekor
ular yang panjang sekali! Tali itu dilepas dari atas!
Sejenak dia tertegun karena heran dan kaget, akan tetapi cepat dia menarik tali itu karena dalam sekejap
mata dia yakin bahwa tali itu akan ada gunanya baginya. Dia masih belum dapat menduga mengapa Ouw
Seng Bu melepaskan tali itu.
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari atas yang bergema ke bawah dan dia terkejut. Itulah suara Ouw Seng
Bu. Dia tahu bahwa orang yang bisa melepas suara tawa mengandung khikang amat kuat seperti itu
tentulah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Suara tawa itu disusul sorak-sorai dan tiba-tiba saja terjadi hujan
batu dari atas sumur!
Yo Han melompat lebih dalam lagi dan cepat dia mendorong sebuah batu besar sekali ke depan
terowongan sehingga hujan batu itu tidak sampai menggelundung ke dalam terowongan, melainkan
tertahan oleh batu besar dan terus bertumpuk menutupi lubang sumur!
Kini mengertilah dia. Ouw Seng Bu dan para anggota Thian-li-pang telah berkhianat dan dia telah tertipu.
Ouw Seng Bu berhasil memancingnya memasuki sumur dan sumur itu lalu ditimbuni batu.
Yo Han pada dasarnya adalah seorang yang mempunyai iman yang kokoh kuat kepada Tuhan, karena itu
dia tidak menjadi gugup. Mati hidupnya sudah dia serahkan kepada kekuasaan Tuhan. Ia akan berusaha
sekuatnya mempertahankan hidupnya, akan tetapi berhasil atau gagalnya dia serahkan kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa.
Dia tahu bahwa tidak mungkin dapat keluar melalui sumur yang sudah tertutup banyak batu itu. Dia tidak
mati tertimpa batu karena batu besar tadi merupakan pengganjal dan penghalang batu-batu kecil
memasuki terowongan.
Dia tidak akan mati tertimbun batu. Juga agaknya dia tidak akan mati kehabisan napas karena masih ada
saluran udara segar di situ, mungkin masuk melalui celah-celah batu, seperti juga sinar matahari yang
dapat masuk ke situ. Dia tidak akan mati kehausan, karena dinding itu basah dan tidak sukar menampung
air dengan membuat lekukan pada dinding basah untuk menampung air. Dia akan mati kelaparan?
Mungkin, kalau dia tidak dapat keluar dan kalau di tempat itu tidak terdapat benda yang bisa dimakan.
Yo Han menggulung tali dan duduk di atas gulungan tali supaya tidak basah. Dia duduk bersila dan
membiarkan hati serta pikirannya tenang. Dia membutuhkan ketenangan. Dalam menghadapi bahaya, ia
harus dapat tenang agar akal pikirannya bisa digunakan sebaik-baiknya, dan di dalam ketenangan itu
kepasrahannya kepada kekuasaan Tuhan dapat lebih mendalam.
Sementara itu, di atas sumur, Ouw Seng Bu tertawa gembira ketika bersama para anak buah yang sudah
dipersiapkan sebelumnya, menimbun sumur tua itu dengan batu.
"Ha-ha-ha, Yo Han. Rasakan sekarang engkau, mampus di dalam sumur tua, menjadi setan penasaran!
Sin-ciang Taihiap, engkau tidak lagi menjadi penghalang bagiku."
Akan tetapi Ouw Beng Bu segera menghentikan tawanya pada saat dia melihat Cu Kim Giok datang
berlari-larian. Gadis itu mendengar sorak-sorai anak buah Thian-li-pang, merasa tertarik dan segera datang
ke tempat itu. Ia masih sempat melihat anak buah Thian-li-pang melempar-lemparkan batu ke dalam
sebuah sumur tua. Hal itu membuat ia merasa heran sekali.
"Ouw-pangcu, apakah yang telah terjadi?" tanya gadis itu heran sambil mendekati Seng Bu.
Seng Bu segera memasang wajah yang serius. "Aihhh, hampir saja aku pun celaka menjadi korban
kelihaian Yo Han, Nona. Mari kita bicara di dalam dan akan kuceritakan semua."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepada anak buahnya dia memesan agar sumur itu ditutup sampai tidak nampak lagi lubangnya.
Kemudian dia mengajak Kim Giok kembali ke bangunan induk yang menjadi pusat perkampungan Thian-lipang.
Setelah mereka duduk berdua di dalam kamar belakang, Kim Giok dengan hati tegang bertanya,
"Ceritakan, Pangcu. Apakah yang telah terjadi dan di mana adanya Sin-ciang Taihiap Yo Han?"
Seng Bu menghela napas dan tiba-tiba dia mengeluh. Wajahnya berubah pusat dan napasnya terengah.
"Aduhhh..." Seng Bu memejamkan matanya dan tangan kirinya menekan ke arah dada kanannya.
Tentu saja Kim Giok terkejut bukan main, cepat bangkit dan menghampiri pemuda itu. "Ouw-pangcu, ada
apakah? Engkau... terluka...?"
Sambil menekan dada kanan dengan telapak tangannya, wajah Seng Bu menyeringai kesakitan, napasnya
sesak, lalu dia menjawab terengah-engah, "Dia memang... lihai... sekali, dan... jahat kejam. Dia... dia tadi
tiba-tiba memukulku, di dekat sumur... dan aku nyaris terjungkal, akan tetapi... aku mampu bertahan, aku
terus melawan... dibantu oleh saudara-saudaraku... akhirnya kami berhasil... dia terjatuh ke dalam sumur,
akan tetapi aku... aku terkena pukulannya..."
"Ahhh!" Kim Giok terbelalak. "Dan kalian... tadi menimbun sumur itu dengan batu? Dia terkubur hiduphidup...
?" Gadis itu memandang ngeri.
"Aihh, Nona, engkau tidak tahu... dia amat kejam dan lihai... kalau berhasil lolos...kami semua tentu akan
dibunuhnya. Lihat, lihatlah bekas tangannya ini..." Seng Bu merobek baju di dadanya.
Mata yang indah itu semakin terbelalak kaget. Dada Seng Bu, di bagian kanan, terdapat bekas telapak
tangan dengan lima jarinya, menghitam!
"Ohhhhh...!" Kim Giok menahan teriakannya.
"Ini... pukulan... mautnya... untung aku sudah berjaga diri..., tapi nyeri bukan main... auhhh...!"
Seng Bu terkulai dan dia tentu akan terjatuh dari kursinya kalau saja Kim Giok tidak cepat-cepat
merangkulnya. Melihat Seng Bu pingsan, Kim Giok memondongnya dan merebahkannya di atas lantai. Ia
mengurut kedua pundak dan tengkuk pemuda itu, dan tidak beberapa lama kemudian Seng Bu membuka
mata kembali.
"Aduhhh...!"
"Bagai mana rasanya, Pangcu?"
"Nona, pukulan itu amat beracun, dan hawa beracun itu harus cepat dibersihkan dengan pengerahan
sinkang. Maukah... maukah engkau membantuku, Nona? Aku… aku lemah sekali...!"
"Tentu saja, Pangcu. Bagaimana aku dapat membantumu?"
"Tempelkan kedua telapak tanganmu di punggungku, kemudian kerahkan sinkang agar kekuatan kita dapat
bersatu mendorong keluar hawa beracun itu."
"Baik, Pangcu."
Melihat Seng Bu berusaha bangkit duduk dengan susah payah, tanpa ragu Kim Giok membantunya duduk
bersila. Ia membantu pula Seng Bu membuka bajunya sehingga punggungnya nampak. Ia pun lalu bersila
di belakang pemuda itu, menempelkan kedua telapak tangannya di punggung itu dan memejamkan mata,
mengerahkan sinkang untuk membantu pemuda itu ‘mengusir’ hawa beracun.
Diam-diam Seng Bu menggunakan tangan kiri mengusap dan menekan dada yang ada tanda telapak
tangan menghitam. Perlahan-lahan, tanda menghitam itu pun lenyap. Kim Giok yang kurang pengalaman
sama sekali tak menyangka bahwa noda hitam itu dibuat oleh Seng Bu sendiri ketika dia menekan dada
dunia-kangouw.blogspot.com
kanannya tadi. Dengan kepandaiannya yang aneh, pemuda itu dapat membuat kulit dadanya kehitaman
seperti terkena pukulan beracun.
Perlahan-lahan pernapasan Seng Bu menjadi normal kembali dan dia pun memutar tubuhnya, memegang
kedua tangan gadis itu dan menatapnya dengan pandang mata penuh kasih sayang. Kim Giok juga
menatapnya dan gadis itu menunduk malu.
"Giok-moi (adik Giok), terima kasih... engkau telah menyelamatkan nyawaku..."
Dengan tersipu Kim Giok menarik kedua tangannya, lalu bangkit berdiri dan memutar tubuh membelakangi
pemuda itu agar tidak kelihatan bahwa ia merasa malu sekali.
"Ihhhhh, Pangcu..."
"Kim Giok, setelah apa yang engkau lakukan kepadaku tadi, apakah kita masih harus bersungkansungkan?
Jangan menyebut pangcu kepadaku, sebutan itu terlampau kaku. Giok-moi, aku merasa engkau
bukan seperti seorang sahabat baru, melainkan seperti sudah bertahun-tahun kukenal. Jangan
menyebutku pangcu, aku akan merasa bahagia kalau engkau menyebut aku koko (kanda)."
"Bu-koko, engkau terlalu berlebihan. Apa yang kulakukan tadi hanya sekedar membantu engkau mengusir
hawa beracun. Apakah sekarang engkau sudah sembuh, sudah sehat kembali?"
"Lihatlah, Giok-moi. Tidak ada bekasnya lagi. Lihatlah!"
Kim Giok membalikkan tubuhnya dan sekilas memandang ke arah dada yang telanjang itu. Dada yang
bersih kulitnya, tak lagi nampak tanda telapak tangan menghitam seperti tadi. Dia merasa lega dan girang,
akan tetapi juga malu dan dia tersipu, menundukkan muka tidak mau memandang lagi.
"Bu-ko, pakailah pakaianmu. Engkau membuat aku merasa malu."
Seng Bu tertawa. "Ha-ha-ha, setelah kita menjadi sahabat baik seperti ini, perlukah kita merasa sungkan
dan malu, Moi-moi? Entah mengapa, aku sudah tidak merasa malu sama sekali terhadap dirimu, seolaholah
kita telah akrab selama bertahun-tahun." Seng Bu membetulkan bajunya yang robek di bagian dada
dan dia nampak senang sekali.
Memang hatinya amat gembira. Yo Han, orang yang paling ditakutinya, telah tiada. Dan sekarang dia bisa
melihat tanda-tanda bahwa Cu Kim Giok, gadis yang dicintanya, jelas memperlihatkan tanda-tanda suka
kepadanya. Setidaknya, gadis ini tadi sudah sangat mengkhawatirkan keadaannya dan tanpa malu-malu
suka membantu mengobati dirinya.
Sekarang mereka duduk berhadapan, hanya terhalang oleh meja kecil. Beberapa kali pandang mata
mereka bertemu dan dalam pandangan mata itu saja sudah terpancar perasaan hati masing-masing, meski
pun terkandang Kim Giok menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.
"Giok-moi, kenapa engkau menunduk dan kelihatan malu-malu?"
"Habis, engkau memandangku seperti itu!"
"Seperti apa?" Seng Bu menggoda.
"Pandang matamu membuat aku merasa canggung dan malu, Bu-ko."
Mendadak Seng Bu memegang kedua tangan gadis itu yang berada di atas meja dan menggenggam
tangan itu!
"Giok-moi, apakah aku masih perlu menjelaskan lagi apa artinya pandang mataku itu? Aku memandangmu
penuh kasih sayang. Aku cinta padamu, Giok-moi."
Kim Giok menundukkan mukanya yang sekarang menjadi merah sekali. "Bagaimana, Giok-moi? Marahkah
engkau akan kelancanganku ini?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Kim Giok menggelengkan kepala, masih tetap menunduk.
"Lalu, kenapa engkau hanya diam saja? Apakah engkau tidak sudi menerima perasaan cintaku?"
Kini gadis itu mengangkat mukanya yang kemerahan. "Bu-ko, aku pun kagum dan suka padamu. Akan
tetapi, kita tidak perlu tergesa-gesa membicarakan perasaan kita itu. Kita baru saja berkenalan dan jika kita
telah menjadi sahabat baik, itu sudah menyenangkan sekali, bukan?"
Seng Bu seorang yang cerdik. Ia memang benar-benar mencinta Kim Giok sepenuh hatinya. Dia tidak ingin
membuat gadis itu tidak senang atau menjadi rikuh. Dia bahkan rela melakukan apa saja untuk gadis yang
dicintanya itu.
"Baiklah, Giok-moi. Maafkan aku. Kita memang telah menjadi sahabat baik, dan biarlah urusan antara kita
itu kita bicarakan kelak seperti yang kau kehendaki. Aku hanya ingin agar engkau tahu betul bahwa
engkaulah satu-satunya wanita yang tinggal di dalam hatiku."
Lega rasa hati Kim Giok dan dia menjadi semakin suka kepada pemuda yang penuh pengertian itu.
"Terima kasih atas pengertianmu, Bu-ko. Sekarang mari kita bicara mengenai apa yang terjadi tadi. Aku
masih merasa amat heran kenapa Sin-ciang Taihiap hendak membunuh dirimu setelah dia juga
membunuhi banyak tokoh Thian-li-pang. Aku pernah mendengar namanya yang dipuji-puji oleh para
pendekar dari dua keluarga besar pendekar Istana Pulau Es dan Istana Gurun Pasir. Mereka menyatakan
bahwa Sin-ciang Taihiap adalah seorang pendekar yang budiman dan bijaksana. Akan tetapi kenapa di sini
dia menjadi begitu kejam dan jahat?"
Ouw Seng Bu menghela napas panjang. "Aku tidak heran dan sebaiknya engkau juga tidak perlu
mengherankan hal itu, Giok-moi. Kedudukan dan kekuasaan sering membuat orang lupa diri! Dia hendak
menguasai Thian-li-pang, hendak menonjolkan diri sendiri dan menguasai dunia lewat Thian-li-pang."
"Akan tetapi, aku mendengar bahwa dia telah diangkat menjadi pemimpin Thian-li-pang, hanya kedudukan
ketua lalu dia serahkan kepada mendiang Lauw Pangcu. Kenapa dia malah membunuh Lauw Pangcu dan
beberapa orang tokoh Thian-li-pang, dan sekarang hendak membunuhmu pula? Sungguh aku tidak
mengerti."
"Giok-moi, agaknya engkau hanya mengerti ekornya tidak mengerti kepalanya. Memang benar dia menjadi
pemimpin besar Thian-li-pang seperti dikehendaki oleh para tokoh tua Thian-li-pang. Namun sikapnya tidak
sejalan dengan sikap para pimpinan Thian-li-pang. Dia tidak suka Thian-li-pang menggunakan kekerasan
menentang pemerintah penjajah, bahkan dia tidak setuju bersama-sama berjuang mengusir penjajah
Mancu dari tanah air. Bahkan mungkin sekali dia hendak membawa Thian-li-pang supaya menjadi antek
penjajah. Itulah sebabnya dia membunuhi para pimpinan Thian-li-pang yang mempunyai pendirian tegastegas
menentang penjajah. Melihat betapa aku yang diangkat menjadi ketua sedang menghimpun tenaga,
bekerja sama dengan Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, juga dengan kelompok pejuang lain, dia menjadi
marah. Dengan berpura-pura hendak menyelidiki kematian para pimpinan Thian-li-pang di dekat sumur tua
itu, mendadak dia menyerangku dan hendak membunuhku dan melemparku ke sumur tua seperti yang dia
lakukan terhadap para pimpinan yang lain. Untung para dewa masih melindungiku dan sebaliknya dia yang
terlempar ke dalam sumur tua itu."
"Aihhh," Cu Kim Giok menghela napas panjang. "Ayah dan ibu juga pernah mengatakan bahwa kedudukan
memang suka membuat orang menjadi kejam. Kuharap saja engkau tidak ikut-ikutan mabuk kekuasaan,
Bu-ko."
"Tak mungkin, Giok-moi. Apa lagi kalau engkau suka membantuku dan selalu berada di sampingku. Sejak
Thian-li-pang berdiri, nenek moyangku adalah pejuang-pejuang yang gigih, yang rela mengorbankan
nyawa demi membela nusa bangsa. Aku melanjutkan cita-cita mereka, dan aku akan berjuang sematamata
demi membebaskan rakyat dan tanah air kita dari cengkeraman penjajah Mancu, bukan untuk
mencari kedudukan atau harta benda. Tentu engkau percaya kepadaku, bukan?"
"Tentu saja aku percaya padamu, Bu-ko. Kalau tidak percaya, tentu aku tidak akan suka membantumu.
Dan selanjutnya, langkah apa yang akan kau ambil?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku akan mengadakan perundingan dengan para pimpinan puncak Pat-kwa-pai serta Pek-lian-kauw, juga
kelompok pejuang yang lainnya. Seperti juga pendirian orang-orang sombong, macam Yo Han, masih
banyak tokoh dunia kang-ouw yang mengambil jalan sendiri, membeda-bedakan kelompok dan tak mau
bekerja sama untuk menghancurkan penjajah. Cara kerja sendiri-sendiri ini, apa lagi kalau disertai
persaingan, menimbulkan pertentangan di antara para pejuang sendiri. Hal ini hanya melemahkan
perjuangan dan memperkuat kedudukan pemerintah penjajah. Oleh karena itu, kita haruslah berusaha
untuk lebih dulu menundukkan para kelompok dan tokoh dunia persilatan. Kalau seluruh dunia kang-ouw
sudah dapat bekerja sama, kukira menggulingkan pemerintah penjajah Mancu bukan merupakan hal yang
sukar lagi."
Kim Giok yang sudah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda itu sangat tertarik dengan gaya bicara dan
sikap Seng Bu. Dia mengangguk-angguk dan merasa kagum karena ia menganggap bahwa pendapat
pemuda itu tepat. Sedikit banyak, ayah ibunya juga telah menanamkan perasaan cinta tanah air dan
bangsa kepadanya, juga telah menceritakan tentang kekuasaan bangsa Mancu yang menjajah bangsanya.
"Pendapatmu itu tepat sekali dan aku akan membantumu, Bu-koko!" katanya penuh semangat. Tentu saja
Seng Bu menjadi girang bukan main.
"Terima kasih, Giok-moi. Dengan adanya engkau di sampingku, bintang dan bulan di langit pun akan dapat
kuraih!"
Mereka saling pandang dengan senyum mesra dan ketika mereka mendengar suara gaduh kembalinya
anak buah Thian-li-pang, mereka pun keluar dari ruangan itu…..
********************
Atas bantuan yang sungguh-sungguh dari Siangkoan Kok, Ouw Seng Bu memperoleh kemajuan pesat
dalam menyatuan kekuatan. Siangkoan Kok yang sekarang dia angkat menjadi wakil ketua Thian-li-pang,
kemudian mendatangi banyak perkumpulan silat dan perguruan-perguruan silat yang terkenal.
Mula-mula dia membujuk mereka untuk bekerja sama dengan Thian-li-pang berjuang menentang
pemerintah Mancu. Kalau ada yang menolak, Siangkoan Kok mengalahkan dan menundukkan para
pimpinannya sehingga akhirnya perkumpulan itu menakluk juga karena takut dibasmi. Tentu saja dengan
mudah Siangkoan Kok pun mengajak mereka yang dahulunya memang sudah bersekutu dengan Paobeng-
pai agar kini bekerja sama dengan Thian-li-pang akibat Pao-beng-pai telah dihancurkan pasukan
pemerintah.
Hanya ada satu dua perkumpulan saja yang memiliki pimpinan yang terlampau kuat bagi Siangkoan Kok.
Untuk menalukkan pimpinan perkumpulan yang lihai ini, Ouw Seng Bu sebagai ketua Thian-li-pang turun
tangan sendiri dan selama ini, belum pernah ada yang mampu menandingi ilmunya yang aneh akan tetapi
juga dahsyat bukan main.
Thian-li-pang menjadi semakin besar dan berpengaruh. Melihat kemajuan yang dicapai kekasihnya, tentu
saja Kim Giok merasa gembira dan kagum sekali. Beberapa kali dia menawarkan diri untuk membujuk
kedua orang tuanya agar mau membantu perjuangan Thian-li-pang karena kalau ayah ibunya suka
membantu, tentu mereka itu akan dapat menarik perhatian para pendekar lainnya. Akan tetapi, Ouw Seng
Bu selalu menolak dengan halus.
"Belum tiba saatnya, Giok-moi. Ayah dan ibumu tentu akan merasa heran dan terkejut melihat hubungan
kita yang akrab. Hal itu saja sudah membutuhkan pendekatan yang lembut. Apa lagi jika ditambah dengan
bujukan supaya mereka membantu perjuangan. Biarlah, nanti kalau Thian-li-pang sudah kuat benar, aku
sendiri yang akan menghadap mereka untuk melamarmu, dan kalau kita sudah menjadi suami isteri, dan
orang tuamu menjadi mertuaku, tentu dengan sendirinya mereka akan membantu perjuangan kita."
Kim Giok tak membantah lagi. Sikap Seng Bu terhadap dirinya selalu lembut dan sopan, dan pemuda itu
memegang janji, tidak pernah lagi bicara tentang cinta mereka seperti yang pernah dijanjikannya. Hal ini
membuat ia menjadi semakin kagum dan suka, dan diam-diam ia pun sudah mengambil keputusan untuk
memilih pemuda ini sebagai calon suaminya.
Ouw Seng Bu memang cerdik luar biasa. Dia tahu bahwa latihan ilmu Bu-kek Hoat-keng yang
ditemukannya di dalam sumur membuat ia berubah dan merasa aneh. Karena itu, setiap kali berlatih ilmu
dunia-kangouw.blogspot.com
tersebut, dia selalu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, apa lagi setelah kini Kim Giok berada di
Thian-li-pang.
Juga, dia melarang keras anak buahnya untuk melakukan perbuatan yang akan menjadi celaan orang, dan
memerintahkan mereka agar bertindak seperti pejuang-pejuang yang gagah. Hal ini bertujuan untuk
menjaga nama baik Thian-li-pang dan untuk menarik hati para pendekar agar mau bergabung dengan
mereka.
Untuk biaya perkumpulannya, diam-diam, tanpa kekerasaan yang menyolok, mereka masih menguasai
semua tempat pelesir mau pun tempat judi. Juga dengan halus tetapi mengandung ancaman maut, mereka
bisa memeras para pedagang untuk setiap bulan menyerahkan uang sumbangan kepada Thian-li-pang!
Ada pula anggota yang tugasnya melakukan pencurian di rumah-rumah para hartawan dan bangsawan,
akan tetapi mereka yang bertugas mencuri adalah anggota yang ilmu kepandaiannya sudah tinggi dan tiap
kali melakukan pencurian, mereka selalu menutupi muka dengan kain hitam. Juga, mereka dipesan agar
sampai mati pun tidak mengakui bahwa mereka adalah orang Thian-li-pang, yaitu kalau mereka sampai
tertangkap ketika melakukan pencurian. Pesan ini harus mereka taati, karena Seng Bu mengancam akan
menyiksa dan membunuh seluruh keluarga anggota Thian-li-pang yang tidak mentaati pesan itu.
Demikianlah, dengan hasil yang cukup berlimpah, Seng Bu dapat semakin memperkuat Thian-li-pang
menjadi perkumpulan yang cukup mewah, walau pun kini tidak ada lagi anggota yang melakukan kejahatan
secara berterang.
Sebenarnya, semenjak kecil Ouw Seng Bu memang digembleng untuk menjadi seorang pendekar dan
patriot. Sebelum dia secara kebetulan menemukan ilmu di dalam sumur tua dan mempelajarinya, dia
adalah seorang murid Thian-li-pang yang baik dan gagah perkasa. Bahkan mendiang Lauw Kang Hui
menaruh harapan besar kepada muridnya ini.
Akan tetapi, sejak dia melatih diri dengan ilmu Bu-kek Hoat-keng secara keliru, terjadi kelainan pada
batinnya, seakan-akan dia mendapat gangguan jiwa. Dia menjadi aneh, ganas, kejam, licik dan haus akan
kekuasaan dan kemenangan!
Watak aneh ini memang tidak begitu kelihatan, tidak menonjol apabila dia tidak sedang berlatih ilmu itu,
akan tetapi telah menjadi watak kedua yang telah tenggelam di dasar hatinya dan sewaktu-waktu dapat
muncul secara tidak terduga, walau pun pada lahirnya dia nampak tetap sebagai seorang pendekar yang
gagah dan baik.
Pada suatu hari, Thian-li-pang menerima banyak tamu yang memang diundang, yaitu para pimpinan
perkumpulan yang sudah menakluk kepada Thian-li-pang, dan ada pula beberapa orang pimpinan
perkumpulan yang belum bekerja sama akan tetapi sengaja diundang dalam kesempatan itu untuk dibujuk
dan diajak bekerja sama. Tak kurang dari lima puluh orang tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir, sebagian
besar dari mereka yang telah mau bekerja sama dengan Thian-li-pang adalah mereka yang terdiri dari
golongan hitam.
Dalam pertemuan yang diadakan bagaikan dalam pesta ini, Cu Kim Giok dipersilakan hadir. Tentu saja ia
dianggap sebagai seorang tamu kehormatan dan kursinya berada di sebelah kanan kursi ketua Thian-lipang.
Ouw Seng Bu nampak tampan dan gagah pada hari itu, dengan pakaian yang baru dan wajahnya berseri
menyaksikan betapa semua undangan datang hadir. Ini membuktikan bahwa Thian-li-pang mulai dikenal
dan ditaati.
Siangkoan Kok yang juga nampak gagah dan berwibawa, duduk di sebelah kirinya, dan kehadiran tokoh
besar ketua Pao-beng-pai ini saja sebagai pembantunya, sebagai wakil ketua, sudah menambah
kewibawaan Ouw Seng Bu sebagai ketua Thian-li-pang. Kabar tentang kelihaian pemuda ini terdengar luas
di dunia kang-ouw.
Setelah semua tamu hadir dan disuguhi arak. Siangkoan Kok yang mewakili ketuanya, bangkit berdiri dan
mengucapkan selamat datang dengan mengangkat secawan arak, mengajak semua yang hadir minum.
Kemudian dia melanjutkan dengan suara lantang.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Cuwi (Anda sekalian) tentu sudah mengenal saya. Tentu Cuwi merasa heran mengapa saya sebagai
bekas ketua Pao-beng-pai yang sudah gagal dan hancur oleh pasukan pemerintah, sekarang bisa menjadi
wakil Thian-li-pang. Hendaknya Cuwi ketahui bahwa Thian-li-pang merupakan satu perkumpulan yang
sehaluan dengan Pao-beng-pai, yaitu perkumpulan para pejuang yang hendak merobohkan pemerintah
penjajahan, kemudian membebaskan rakyat dan tanah air dari belenggu penjajah bangsa Mancu. Oleh
karena itu, bagi Cuwi yang belum mengadakan perjanjian kerja sama dengan kami, diharapkan saat ini
juga menyatakan kesediaan untuk kerja sama itu, untuk membantu perjuangan kami, demi tanah air dan
bangsa."
Sambutan tepuk sorak menyatakan setuju dengan ucapan Siangkoan Kok itu. Dan para pemimpin
kelompok yang datang sebagai tamu undangan dan belum bersekutu dengan Thian-li-pang, segera
menyatakan kesediaan mereka.
Akan tetapi pada saat itu, para penjaga, yaitu murid-murid Thian-li-pang yang berada di luar ruangan
pertemuan, melaporkan dengan suara lantang.
"Rombongan pemimpin Bu-tong-pai datang berkunjung!"
Semua orang terkejut dan merasa heran, termasuk Ouw Seng Bu dan Siangkoan Kok. Bu-tong-pai
termasuk satu di antara partai-partai persilatan yang tidak dapat diharapkan untuk bekerja sama, yaitu
partai-partai seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan Hoa-san-pai yang menganggap diri mereka
sebagai partai ‘bersih’ dan yang tidak mau bergaul dengan kelompok lain yang mereka anggap kotor, hitam
atau sesat!
Bahkan dahulu Pao-beng-pai juga tidak berhasil menarik golongan itu sebagai kawan seperjuangan. Dan
sekarang, rombongan pemimpin Bu-tong-pai itu datang berkunjung?
Dengan tenang Seng Bu dari Siangkoan Kok bangkit menyambut ketika lima orang tosu itu memasuki
ruangan dengan sikap mereka yang tenang dan gagah. Mereka terdiri dari lima orang tosu yang berusia
antara lima puluh sampai enam puluh tahun, dipimpin oleh Thian Tocu, tosu yang berusia enam puluh
tahun, berjenggot panjang dan memegang sebatang tongkat.
Tosu ini adalah seorang ketua kuil yang menjadi cabang perguruan Bu-tong-pai di kota Hun-kiang, kurang
lebih lima puluh li dari Bukit Naga. Empat orang tosu lainnya adalah adik-adik seperguruannya. Lima orang
tosu ini rata-rata memiliki ilmu silat Bu-tong-pai yang telah tinggi tingkatnya. Jika Thian Tocu membawa
sebatang tongkat, empat orang sute-nya membawa pedang di punggung mereka. Pakaian mereka
sederhana, dengan jubah tosu yang lebar berwarna biru menyelimuti pakaian yang berwarna kuning muda,
dan rambut mereka digelung ke atas. Sikap mereka tenang dan lembut.
Siangkoan Kok mengenal Thian Tocu karena tokoh Bu-tong-pai ini pernah berkunjung ketika Pao-beng-pai
mengadakan pesta ulang tahun, maka cepat-cepat dia mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Ahh, kiranya Totiang Thian Tocu dan para Totiang tokoh Bu-tong-pai yang kini datang berkunjung." Ia
menoleh kepada Seng Bu, dan berkata, "Pangcu, mereka adalah Thian Tocu Totiang dan para tokoh Butong-
pai lainnya. Dan Cuwi Totiang (Bapak Pendeta Sekalian), ini adalah Ouw Pangcu, ketua Thian-li-pang
kami."
Ouw Seng Bu yang pandai membawa diri segera memberi hormat dan berkata, "Maaf, karena Cuwi
Totiang tidak memberi tahu terlebih dahulu akan kunjungan ini, maka kami terlambat menyambut. Silakan
Cuwi mengambil tempat duduk."
Lima orang tosu itu tidak mempedulikan Siangkoan Kok, dan sejak tadi mereka semua mengamati Ouw
Seng Bu dengan penuh perhatian. Mereka sudah mendengar banyak berita tentang ketua baru Thian-lipang
yang sepak terjangnya mengejutkan.
Kabarnya, ketua itu masih muda akan tetapi mempunyai ilmu kepandaian tinggi, bahkan menarik bekas
ketua Pao-beng-pai yang terkenal sebagai seorang datuk itu menjadi wakilnya. Juga bahwa kini Thian-lipang
sudah menaklukkan hampir semua kelompok dan kekuatan di dunia kang-ouw.
Melihat bahwa ketua itu memang masih muda, bersikap lembut dan sopan, mereka lalu mengangkat kedua
tangan depan dada.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siancai..." kata Thian Tocu sambil memandang kagum. "Kiranya Ouw-pangcu, ketua Thian-li-pang masih
amat muda, akan tetapi telah membuat nama besar. Terima kasih, kami datang hanya untuk melihat bukti
dan mengajukan beberapa pertanyaan, bukan untuk bertamu. Kami bahkan tak tahu bahwa pagi ini Thianli-
pang sedang mengadakan pertemuan dengan banyak tokoh kang-ouw."
Tosu itu memandang ke sekeliling dan mendapat kenyataan bahwa yang hadir adalah orang-orang kangouw
dari daerah itu. Sebagian besar di antara mereka ialah golongan hitam. Bahkan ada pendeta Pek-liankauw
dan Pat-kwa-pai hadir pula di situ.
Ouw Seng Bu mengerutkan alisnya, akan tetapi hanya sebentar dan wajahnya sudah cerah dan ramah
kembali. "Kalau begitu kehendak Totiang, silakan."
"Begini Ouw Pangcu. Sejak Sin-ciang Taihiap, yaitu Yo Taihiap yang menjadi pemimpin Thian-li-pang dan
kemudian kedudukan ketua diserahkan pada pangcu Lauw Kang Hui, Thian-li-pang terkenal sebagai
perkumpulan pejuang yang gagah berani dan bijaksana, bahkan berhubungan dekat dengan para
pendekar di dunia persilatan. Akan tetapi, tiba-tiba saja kami mendengar bahwa Thian-li-pang mengalami
perubahan. Kabarnya, para pemimpinnya terbunuh dan kedudukan ketua dipegang oleh Ouw Pangcu.
Yang lebih mengherankan lagi, menurut desas-desus itu, para pimpinan Thian-li-pang yang lama itu
dibunuh oleh Yo Taihiap! Kami semua merasa heran dan sama sekali tidak percaya, hanya karena urusan
itu merupakan urusan dalam Thian-li-pang, kami terpaksa berdiam diri. Tetapi, melihat sepak terjang Thianli-
pang akhir-akhir ini, terpaksa pinto dan adik-adik seperguruan memberanikan diri lancang berkunjung
untuk mengajukan pertanyaan kepada Pangcu."
"To-yu, kalau hendak bertanya, tanya saja. Mengapa berbelit-belit seperti itu?" Tiba-tiba Siangkoan Kok
berseru dengan suara lantang karena kakek ini sudah tidak sabar lagi mendengar ucapan tosu Bu-tong-pai
itu.
"Benar, Totiang, tanyalah, kami tidak menyembunyikan sesuatu," kata Seng Bu.
"Ouw Pangcu, kami melihat betapa Thian-li-pang sudah mengubah seluruh sikapnya. Thian-li-pang
menaklukkan hampir semua perkumpulan dan kelompok para pejuang, mengadakan hubungan dengan
semua pihak tanpa pilih bulu. Thian-li-pang menguasai pula semua tempat hiburan, tempat maksiat, dan
Thian-li-pang melakukan pemerasan kepada para hartawan. Padahal, semua ini tidak dilakukan ketika
Lauw Pangcu masih menjadi ketua. Kenapa setelah para pimpinan Thian-li-pang tewas secara rahasia,
tiba-tiba Ouw Pangcu yang menjadi ketua tanpa pengumuman kepada para kenalan, dan Ouw Pangcu
mengadakan perubahan yang berlawanan dengan sikap Thian-li-pang dulu? Kami melihat Thian-li-pang
telah menyimpang dari jalan benar, maka kami terus terang saja merasa curiga dengan perubahan ini.
Yang lebih mengejutkan kami, adanya desas-desus disebarkan oleh orang-orang Thian-li-pang bahwa
beberapa hari yang lalu, Ouw Pangcu telah membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han di sini! Nah, itulah
penasaran yang mendorong kami datang pada pagi ini, untuk minta penjelasan dari para pimpinan Thian-lipang!"
Siangkoan Kok bangkit berdiri dengan muka berubah merah dan mata melotot. "Tosu Bu-tong-pai, kalian
berani mencampuri urusan pribadi Thian-li-pang?!"
Ouw Seng Bu juga bangkit berdiri dan menyabarkannya. "Sudahlah, Paman. Biarkan aku yang
menghadapi mereka."
"Tapi, Pangcu. Mereka ini sungguh tidak tahu aturan!"
"Paman Siangkoan Kok, duduklah dan biarkan aku yang menangani urusan ini!" kata pula Seng Bu.
Nada suaranya mengandung sesuatu yang membuat Siangkoan Kok duduk kembali dengan muka
cemberut dan mata masih merah ketika dia memandang ke arah lima orang tosu Bu-tong-pai itu. Untuk
mendinginkan hatinya, dia pun menuangkan arak dari cawan ke dalam mulutnya.
Kini Ouw Seng Bu menghampiri lima orang tosu itu dan berhadapan dengan mereka, sikapnya masih
tenang saja. Cu Kim Giok yang sejak tadi hanya menjadi penonton yang berhati tegang, merasa kagum
akan sikap kekasihnya itu. Betapa tenang dan lembutnya pemuda yang menjadi ketua Thian-li-pang itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ngo-wi Totiang (Bapak Pendeta berlima), kami akan menjawab semua pertanyaan dari Totiang tadi. Tadi
Totiang Thian Tocu menyinggung mengenai terbunuhnya suhu Lauw Kang Hui dan beberapa orang
pimpinan kami. Memang hal itu benar, dan pembunuhnya adalah Sin-ciang Taihiap Yo Han. Hal ini bisa
kami ketahui dari luka yang terdapat pada mayat korban karena pukulan itu hanya dapat dilakukan oleh Yo
Han saja. Mengapa dia melakukan semua pembunuhan itu? Mungkin untuk membalaskan sakit hati
gurunya, kakek yang menjadi orang hukuman di sini karena menentang pimpinan. Mungkin juga dia
hendak menguasai Thian-li-pang dan memusuhi kami yang berlawanan pendapat dan sikap dengan dia.
Tentang perubahan yang terjadi di Thian-li-pang semenjak saya dipilih menjadi ketua, itu memang benar.
Kami menganggap bahwa perjuangan bukan monopoli golongan pendekar saja, melainkan menjadi tugas
setiap orang warga negara untuk menyelamatkan bangsa dari penjajah Mancu. Kami berkeyakinan bahwa
tanpa adanya persatuan dari semua pihak, perjuangan akan gagal. Oleh karena itulah, kami sengaja
mengadakan hubungan dengan semua pihak yang menentang pemerintah, dan kami akan menundukkan
dan memaksa golongan yang menjadi antek penjajah untuk membantu perjuangan kami. Ada pun
penguasaan atas semua tempat pelesiran dan meminta sumbangan dari kaum hartawan, memang hal itu
kami lakukan karena dari mana kami akan memperoleh biaya? Kalau tempat-tempat maksiat itu dibiarkan
tanpa pengontrolan kami, tentu akan menjadi sarang golongan penjahat. Juga, apa salahnya mengajak
para hartawan membantu perjuangan dengan menyumbangkan sedikit harta mereka? Bila kebijaksanaan
kami mengenai perjuangan bangsa ini tidak cocok dengan keinginan pihak Bu-tong-pai, maaf, hal itu sama
sekali tak ada sangkut pautnya dengan Bu-tong-pai. Selama ini kami sendiri pun belum pernah
mencampuri urusan dapur dan kamar Bu-tong-pai."
"Siancai... keterangan Ouw Pangcu masuk di akal sungguh pun belum meyakinkan kami tentang Sin-ciang
Taihiap. Lalu bagaimana dengan berita tentang tewasnya Sin-ciang Taihiap Yo Han di tangan Pangcu?
Benarkah itu, ataukah hanya berita isapan jempol belaka?"
Cu Kim Giok mengerutkan alisnya. Sikap tosu itu terlalu sombong, pikirnya, dan terlalu memandang rendah
kepada Ouw Seng Bu. Akan tetapi sikap ketua Thian-li-pang itu tetap tenang menghadapi ucapan yang
nadanya tidak percaya dan meremehkan itu.
"Totiang, Yo Han memang muncul di sini dan dia berusaha untuk membunuhku. Dia datang dan pura-pura
hendak menyelidiki kematian suhu dan yang lain-lain. Akan tetapi ketika berada di bagian belakang
perkampungan kami, dia lalu menyerangku dan nyaris membunuhku. Masih untung aku dapat
mempertahankan diri dan dengan bantuan para anggota Thian-li-pang, kami berhasil membuat dia jatuh
terjungkal ke dalam sumur tua dan tewas, walau pun aku sendiri harus menerima pukulan darinya."
"Siancai...! Sin-ciang Taihiap adalah seorang pendekar budiman, seorang yang memiliki ilmu kepandaian
tinggi. Bagaimana mungkin dia dapat dikalahkan demikian mudahnya? Cerita Pangcu itu sukar untuk
diterima begitu saja..."
Sepasang mata Seng Bu mencorong dan suaranya terdengar dingin sekali. "Totiang tak percaya pada
keteranganku?"
"Bagaimana kami dapat percaya?" kata Thian Tocu. "Jika kami sudah melihat buktinya, barulah kami dapat
percaya."
"Totiang adalah seorang tokoh besar dan pemimpin Bu-tong-pai, bagaimana kini dapat bersikap seperti
anak kecil begini?" tiba-tiba saja terdengar suara merdu dan lantang. "Akulah yang menjadi saksi akan
kebenaran keterangan Ouw Pangcu. Aku pula yang membantu dia mengobati luka di dadanya yang kena
pukulan tangan Sin-ciang Taihiap Yo Han!"
Semua orang memandang. Lima orang tosu Bu-tong-pai kini memperhatikan Kim Giok dengan pandang
mata penuh selidik. "Siancai, kalau boleh kami mengetahui, siapakah Nona dan apa hubungan Nona
dengan Ouw Pangcu?"
"Totiang, Nona ini adalah Nona Cu Kim Giok, puteri dari majikan Lembah Naga Siluman, pendekar Cu Kun
Tek. Dia keturunan keluarga Cu, penghuni Lembah Naga Siluman. Apakah Totiang juga meragukan
ucapannya dan tidak percaya?" kata Ouw Seng Bu.
Lima orang tosu itu nampak kaget, akan tetapi Thian Tocu mengerutkan alisnya dan pandang matanya
kepada gadis itu nampak ragu. Seorang gadis cantik manis bermata indah yang usianya paling banyak
dunia-kangouw.blogspot.com
baru delapan belas tahun! Kalau benar gadis itu puteri keluarga yang amat terkenal itu, bagaimana dapat
berada di Thian-li-pang?
"Maafkan kami, Nona. Kami belum pernah melihat Nona, walau pun kami sudah pernah mendengar akan
nama besar keluarga Lembah Naga Siluman. Bagaimana kami dapat yakin bahwa Nona adalah puteri
majikan Lembah Naga Siluman?"
"Singgg...!!"
Nampak sinar berkelebat menyilaukan mata dan Kim Giok sudah mencabut pedangnya. "Pendeta yang
sombong, lihatlah baik-baik, apakah engkau masih meragukan pedangku ini?" bentak Kim Giok.
Pedang Koai-liong Po-kiam nampak berkilat menyilaukan mata dan ketika dicabut tadi, suara berdesingnya
mengandung suara seperti harimau mengaum.
Melihat pedang itu, Thian Tocu amat terkejut dan cepat dia memberi hormat. "Koai-liong Po-kiam! Ahhh,
maafkan kami, nona Cu. Setelah Nona maju sebagai saksi, kami tidak meragukan kebenarannya. Akan
tetapi, yang membuat kami sulit untuk percaya adalah bagaimana mungkin Sin-ciang Taihiap dapat
dikalahkah oleh Ouw Pangcu yang murid mendiang Lauw Pangcu? Padahal, Lauw Pangcu sendiri,
gurunya, tidak akan mampu menandingi Sin-ciang Taihiap! Bukankah hal ini amat aneh dan sukar
dipercaya?"
"Ngo-wi Totiang," kata Ouw Seng Bu, suaranya terdengar dingin dan pandang matanya mencorong,
"Apakah seorang murid harus lebih lemah dibandingkan gurunya? Ingatlah, Totiang, orang muda memiliki
kesempatan yang jauh lebih banyak untuk memperoleh kemajuan dari pada gurunya yang sudah tua.
Kalau Ngo-wi masih belum percaya akan kemampuanku sehingga aku terpilih menjadi ketua Thian-li-pang
dan dapat menandingi Yo Han, silakan Totiang berlima maju dan menguji kemampuanku!"
Mendengar tantangan ini, lima orang tosu Bu-tong-pai saling pandang. Mereka adalah tokoh-tokoh Butong-
pai, dan kini mereka berlima ditantang untuk menghadapi seorang pemuda!
"Ha-ha-ha, aku berani mempertaruhkan kepalaku bahwa lima orang kakek Bu-tong-pai yang sombong ini
tidak akan mampu bertahan sampai tiga puluh jurus melawan Ouw Pangcu. Ha-ha-ha!" kata Siangkoan
Kok sambil tertawa mengejek dan minum araknya.
Itulah ejekan yang amat merendahkan lima orang tosu itu! Mempertaruhkan kepalanya! Akan tetapi ini
bukan sekedar bualan kosong belaka. Siangkoan Kok sudah mengenal lima orang tosu itu dan tahu akan
tingkat kepandaian mereka berlima. Dia sendiri pun akan mampu menandingi pengeroyokan lima orang
tosu itu, walau pun dia belum dapat memastikan bahwa dia akan berada di pihak pemenang.
Kalau lima orang itu tidak disatukan, hanya sebanding dengan tingkatnya. Maka tidak mungkin mereka
berlima mampu bertahan sampai tiga puluh jurus menghadapi pemuda ketua Thian-li-pang yang memiliki
ilmu kepandaian aneh namun dahsyat itu.
"Siancai! Thian-li-pang sungguh memandang rendah Bu-tong-pai, dan kami ingin sekali membuktikan
apakah ketua baru Thian-li-pang memang seorang sakti yang mampu menewaskan Sin-ciang Taihiap.
Ouw Pangcu, kami berlima mohon petunjuk!" berkata demikian, Thian Tocu melintangkan tongkatnya di
depan dada, sedangkan empat orang sute-nya juga sudah mencabut pedang masing-masing dan mereka
membuat suatu barisan ngo-heng-tin (barisan lima unsur).
Ouw Seng Bu maklum bahwa dia harus memperlihatkan kepandaiannya. Bukan saja untuk menundukkan
dan sekedar memberi hajaran kepada lima orang tosu yang sudah memandang rendah kepadanya itu,
melainkan juga untuk mendatangkan kesan kepada mereka yang belum mau bekerja sama atau tunduk
kepada Thian-li-pang.
Dia tahu bahwa peristiwa ini tentu akan disebar luaskan oleh mereka yang kini hadir, dan sebentar saja
dunia kang-ouw akan mendengar betapa ketua Thian-li-pang sudah mengalahkan lima orang tosu tokoh
Bu-tong-pai. Dia lalu maju dan menghadapi kelima orang tosu yang sudah memasang barisan di tengah
ruangan itu, di tempat yang cukup luas.
Semua tamu menonton dengan hati penuh ketegangan…..
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat Ouw Seng Bu menghadapi lima orang tosu itu dengan tangan kosong, padahal lima orang itu
memegang senjata dan mereka membentuk suatu barisan, hati Kim Giok menjadi resah.
"Ouw Pangcu, gunakan pedangku ini!" katanya dan dia pun sudah meloncat ke depan, mencabut pedang
Koai-liong Po-kiam dan menyerahkan pedang itu kepada Seng Bu.
Ouw Seng Bu merasa gembira bukan main. Dengan ilmunya yang ajaib, yaitu Bu-kek Hoat-keng, dia tidak
gentar menghadapi pengeroyokan lima orang tosu itu walau pun dia tidak memegang senjata. Akan tetapi,
sikap gadis itu yang menyerahkan pedangnya kepadanya, membuktikan bahwa Kim Giok benar-benar
sangat sayang kepadanya dan mengkhawatirkan keselamatannya. Dia pun menerima pedang itu.
"Terima kasih, sebetulnya tanpa pedang pun aku tidak gentar menghadapi lima orang tosu yang tinggi hati
ini."
"Ouw Pangcu, sambutlah serangan kami ini!" berkata Thian Tocu sambil menggerakkan tongkatnya
menyerang.
Seng Bu langsung menyambut dengan pedang Koai-liong Po-kiam dan terdengar suara mengaung
menyeramkan karena dia menggerakkan pedang itu dengan mengerahkan sinkang-nya.
Thian Tocu yang mengenal pedang ampuh, menarik kembali tongkatnya dan meloncat ke samping. Dua
orang tosu lain sudah menyerang dari kanan kiri, diikuti dua orang lain lagi yang juga telah siap-siap untuk
melakukan serangan sambung menyambung. Thian Tocu sendiri yang sudah menyelinap ke arah belakang
lawan juga telah bersiap dengan tongkatnya.
Seng Bu maklum bahwa lima orang tosu itu menjadi berbahaya sebab mereka bergerak mengikuti
kedudukan bintang Ngo-heng yang perubahannya otomatis dan kadang amat ganas itu. Seng Bu
mengerahkan tenaga Bu-kek Hoat-keng dan memutar pedangnya. Tubuhnya lenyap terbungkus gulungan
sinar pedang yang menyilaukan mata dan suara mengaung-ngaung itu sungguh menggetakkan hati para
pengeroyok.
Karena cara Seng Bu bergerak amatlah aneh, seperti kacau balau akan tetapi semua serangan senjata
lawan dapat digagalkan, lima orang tosu itu terseret oleh kekacauan gerakannya sehingga kerapian
gerakan barisan Ngo-heng-tin itu juga menjadi retak.
Tiba-tiba Seng Bu mengeluarkan teriakan melengking yang begitu nyaring mengerikan, sehingga bukan
saja membuat lima orang lawannya terkejut, juga semua orang yang berada di situ tergetar dan merasa
ngeri. Teriakan itu bukan seperti suara manusia, mengandung gaung yang aneh, yang seketika membuat
lima orang tosu itu bagaikan kehilangan kesadaran. Lalu terdengarlah suara keras lima kali berturut-turut,
dan empat batang pedang beserta sebatang tongkat sudah tersambar dan patah-patah oleh sinar pedang
Koai-liong Po-kiam!
Lima orang tosu itu berlompatan mundur. Hati mereka kaget bukan main. Dalam waktu belasan jurus saja,
senjata mereka telah patah-patah dan ini berarti bahwa mereka telah kalah. Ucapan Siangkoan Kok tadi
terbukti!
"Ha-ha-ha, sekawanan tosu sombong ini sekarang baru menyaksikan tingginya langit!" Siangkoan Kok
tertawa bergelak, diikuti pula oleh mereka yang memang sudah tunduk kepada Thian-li-pang.
Seng Bu yang tadinya seperti kesetanan, sekarang sudah tenang kembali. Dia pun lalu menghampiri Kim
Giok untuk mengembalikan pedang gadis itu.
Gadis itu masih duduk tercengang. Tadi dia melihat betapa pemuda pujaan itu seperti sudah berubah.
Gerakannya demikian aneh, seperti bukan orang bersilat, seperti orang gila atau binatang buas
mengamuk. Dan suaranya tadi! Juga matanya mencorong aneh dan mengerikan!
Akan tetapi, sekarang dia sudah kembali menjadi seorang pemuda yang tampan serta lembut seperti
biasanya, yang mengembalikan pedangnya dengan senyum yang manis sekali. Ia pun menerima pedang
itu dan menyarungkannya kembali, tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pemuda itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Terima kasih, Giok-moi," kata Seng Bu dan dia pun kembali menghadapi lima orang tosu yang masih
berdiri tertegun.
"Apakah Totiang berlima kini masih penasaran? Masih tidak percaya bahwa aku sudah mengalahkan Yo
Han yang hendak membunuhku dan sekarang ia telah tewas di dalam sumur tua?" tanyanya tersenyum,
akan tetapi senyumnya dingin dan pandang matanya mengejek dan merendahkan.
Lima orang tosu itu merasa penasaran sekali. Amat sukar bagi mereka untuk menerima kekalahan dari
seorang pemuda, padahal mereka tadi maju bersama.
"Ouw Pangcu, senjata kami rusak karena keampuhan pedang Koai-liong Pokiam, akan tetapi kami belum
merasa kalah," kata Thian Tocu.
"Lalu Totiang mau apa?" Seng Bu menantang.
"Kita lanjutkan pertandingan dengan tangan kosong agar kalah menang ditentukan oleh kepandaian, bukan
oleh keampuhan senjata."
"Baik, kalau Totiang masih penasaran, silakan!" Seng Bu menantang.
"Ha-ha-ha-ha, dasar tosu-tosu tolol, tidak tahu diri!" Siangkoan Kok mencela dari tempat duduknya.
"Semua orang tahu belaka bahwa orang-orang Bu-tong-pai mengandalkan ilmu pedangnya. Kalau
menggunakan pedang saja kalah, apa lagi bertangan kosong. Mencari penyakit saja, ha-ha-ha, para tosu
tolol yang mencari penyakit!" Bekas ketua Pao-beng-pai ini tertawa-tawa.
Mendengar ejekan Siangkoan Kok, lima orang tosu Bu-tong-pai menjadi marah. Mereka sudah memasang
kuda-kuda dan Thian Tocu berseru, "Ouw Pangcu, sambut serangan kami!"
Orang-orang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Cu Kim Giok, Siangkoan Kok dan beberapa
orang di antara tamu, terkejut melihat cara lima orang tosu itu membuka serangan mereka. Thian Tocu
berada di depan, empat orang sute-nya menempelkan telapak tangan di punggungnya. Jelas bahwa
mereka berlima itu menyatukan tenaga sakti mereka untuk mengalahkan Seng Bu.
Kim Giok terkejut sekali. Gadis ini maklum betapa kuatnya tenaga lima orang tosu yang dipersatukan itu.
Bahkan Siangkoan Kok sendiri mengerutkan kening dan memandang khawatir. Akan tetapi Kim Giok
menahan teriakannya yang ingin mencegah kekasihnya menyambut serangan itu karena memang sudah
terlambat.
Seng Bu sama sekali tidak mengelak, bahkan dia juga mendorong kedua telapak tangan ke depan untuk
menyambut serangan gabungan itu.
"Desss...!!"
Dua pasang telapak tangan bertemu dengan dahsyatnya dan akibatnya, lima orang tosu itu terjengkang
roboh!
Ilmu yang dikuasai Seng Bu memang hebat dan aneh. Biar pun dipelajarinya secara ngawur dan tidak
menurut aturan, namun tidak kehilangan keampuhannya, bahkan lebih aneh lagi dan mengandung racun
yang hebat.
Ilmu Bu-kek Hoat-keng yang asli, biar pun dahsyat akan tetapi dapat dikendalikan, dan memang memiliki
daya tolak atau mengembalikan kekuatan lawan yang menyerangnya. Akan tetapi, yang dikuasai Seng Bu
sudah berubah, tenaga dahsyat itu tidak dapat dikendalikannya dan mengandung racun hebat. Akan tetapi
daya tolaknya masih ampuh sehingga ketika lima orang tosu itu menyerangnya dengan tenaga gabungan
yang amat dahsyat, tenaga itu membalik dan memukul diri mereka sendiri!
Peristiwa robohnya lima orang tosu ini sangat mengejutkan semua orang, namun amat mengagumkan dan
melegakan hati Kim Giok. Bahkan Siangkoan Kok sendiri terkejut dan kagum bukan main, membuat dia
semakin yakin akan kelihaian ketua Thian-li-pang yang masih muda itu.
Lima orang tosu itu bangkit dengan muka pucat. Yang paling parah adalah Thian Tocu yang muntah darah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seng Bu memberi hormat dan berkata, "Totiang berlima sudah merasakan sendiri bukti ketanguhan kami.
Sebaiknya kalau Totiang membawa Bu-tong-pai agar bekerja sama dengan kami untuk berjuang bersama,
dan kalau pun Bu-tong-pai menolak, kami harap tidak lagi mengganggu kami."
"Maafkan kami yang tidak tahu diri, kami mengaku kalah," kata Thian Tocu dan dibantu empat orang sutenya,
dia pun meninggalkan tempat itu diikuti suara tawa Siangkoan Kok…..
********************
Thian Tocu dengan susah payah menuruni Bukit Naga, dibantu empat orang sute-nya yang juga menderita
luka guncangan dalam dada. Mereka terpukul oleh tenaga mereka sendiri yang membalik, akan tetapi yang
paling parah adalah Thian Tocu karena dia bukan saja terguncang hebat oleh pukulannya yang membalik,
juga dia dilanda hawa beracun yang membuat dadanya sesak dan warna kulit dadanya menghitam!
Setelah tiba di kaki bukit, Thian Tocu tidak tahan lagi dan roboh pingsan!
Pada saat empat orang tosu dengan bingung merubung suheng mereka dan berusaha menyadarkannya,
mereka mendengar suara seorang wanita yang bertanya, "Totiang sekalian, apakah yang terjadi dan
kenapa Totiang itu? Ehh, bukankah kalian tosu-tosu dari Bu-tongpai?"
Empat orang tosu itu menengok. Seorang gadis telah berdiri di situ. Gadis yang masih amat muda, belum
dua puluh tahun usianya. Cantik jelita dan gagah sekali sikapnya. Pakaiannya berwarna serba merah.
"Aihh, bukankah dia Thian Tocu Totiang dari Bu-tong-pai?" tanya gadis itu lagi dengan nada suara heran.
"Kenapa dia?"
Kini dua di antara empat orang tosu itu teringat bahwa gadis ini pernah satu kali singgah di kuil mereka.
"Kiranya Ang-ho Lihiap (Pendekar Wanita Bangau Merah)!" seorang di antara mereka berseru. "Kami
berlima baru turun dari bukit, sehabis berkunjung ke Thian-li-pang dan kami dilukai oleh ketuanya."
"Ahhh?!"
Gadis itu adalah Tan Sian Li, Si Bangau Merah. Tentu saja ia merasa heran bukan main mendengar bahwa
ketua Thian-li-pang melukai lima orang tosu Bu-tong-pai. Bukankah Thian-li-pang adalah perkumpulan para
patriot gagah perkasa? Bahkan Yo Han menjadi pemimpin besar mereka. Kenapa kini ketuanya memukul
orang-orang Bu-tong-pai? Jika ia tidak salah ingat, Yo Han pernah bercerita tentang Thian-li-pang dan
ketuanya adalah Lauw Kang Hui, seorang kakek yang gagah perkasa.
Tetapi yang lebih penting adalah menolong tosu yang terluka itu. Bu-tong-pai adalah perkumpulan orang
gagah, para muridnya pun banyak yang menjadi pendekar. Bahkan ayahnya amat menghormati Bu-tongpai,
maka sudah sepantasnya kalau ia mencoba menolong para tosu itu.
"Biarkan aku memeriksanya, siapa tahu aku akan dapat mengobati dan menyembuhkan dia," katanya.
Melihat sikap gadis muda itu yang tenang dan tegas, empat orang tosu itu mundur dan membiarkan Sian Li
melakukan pemeriksaan. Sian Li berjongkok dekat tubuh Thian Tocu yang masih pingsan, lalu memegang
pergelangan tangannya, merasakan denyut nadinya. Ia mengerutkan alisnya. Dari denyut nadi itu ia
maklum bahwa keadaan tosu itu cukup gawat dan dia menderita luka dalam yang mengandung hawa
beracun!
"Coba ceritakan, apa yang terjadi bagaimana dia sampai terluka dalam seperti ini," katanya.
Empat orang tosu itu lalu menceritakan mengenai perkelahian mereka melawan ketua Thian-li-pang,
tentang adu tenaga yang mengakibatkan mereka semua terluka.
Sian Li mengerutkan alisnya. "Hemmm, sungguh aneh. Aku harus memeriksa keadaan tubuhnya. Tolong
bukakan bajunya, aku ingin memeriksa dadanya."
Seorang tosu membuka baju yang menutupi dada Thian Tocu dan mereka terkejut melihat dada itu
kehitaman. Sian Li meraba dada itu dan mengangguk-angguk.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Dia telah terkena hawa beracun yang aneh sekali. Bagaimana mungkin seorang ketua Thian-li-pang dapat
melakukan pukulan sekeji ini?"
"Pemuda itu memang keji, aneh, seperti iblis!"
"Pemuda? Bukankah ketua Thian-lipang sudah tua?"
"Dia masih muda sekali, Lihiap, paling tua baru dua puluh empat tahun."
"Ahhh? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui dan sudah tua?"
"Bukan. Lauw Kang Hui sudah mati, dan dialah ketua baru yang penuh rahasia."
Sian Li merasa heran sekali. "Biarlah kucoba mengobati suheng kalian ini lebih dahulu," katanya.
Gadis murid Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini lantas mengeluarkan dua batang jarum emas.
Dia mengobati Thian Tocu dengan cara menusuk jarum. Tidak sampai setengah jam ia mengobati tosu tua
itu, warna hitam di dada pendeta itu lenyap dan tosu Bu-tong-pai itu siuman. Biar pun masih agak lemah,
dia telah mampu bangkit.
"Siancai..., kiranya Si Bangau Merah yang telah mengobatiku. Banyak terima kasih atas pertolonganmu,
Tan Lihiap," kata Thian Tocu.
"Totiang, apa sih yang telah terjadi di Thian-li-pang? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui, dan
bagaimana sekarang tiba-tiba muncul ketua baru yang masih muda dan memiliki ilmu pukulan keji itu? Aku
sendiri hendak naik ke sana dan mencari kalau-kalau Han-koko berada di sana."
"Siapakah Han-koko itu, Lihiap?" tanya Thian Tocu.
"Yang kumaksudkan adalah koko Yo Han, Sin-ciang Taihiap. Bukankah dia merupakan pemimpin besar
Thian-li-pang?"
Mendengar ini, Thian Tocu menghela napas panjang dan wajahnya berubah muram.
"Siancai..., suatu keanehan terjadi di atas sana, Lihiap." Dia memandang ke atas bukit. "Karena terjadinya
perubahan aneh di Thian-li-pang inilah maka kami berlima datang terkunjung untuk melakukan
penyelidikan dan meminta keterangan. Akan tetapi, kami dihadapkan kepada kenyataan pahit, bahkan
kami sampai terluka."
Tentu saja, Sian Li tertarik sekali. "Ceritakan, Totiang. Apa sih yang terjadi dengan Thian-li-pang?"
"Pada mulanya kami mendengar berita yang meresahkan hati, bahwa para pimpinan Thian-li-pang, yaitu
Lauw Kang Hui serta beberapa orang pembantunya sudah tewas. Kemudian terdengar berita lainnya
bahwa Thian-li-pang mempunyai seorang ketua baru dan sejak itu sepak terjang Thian-li-pang menjadi
aneh. Mereka menundukkan hampir semua perkumpulan silat dan tokoh kang-ouw di daerah ini, membujuk
atau memaksa mereka untuk bekerja sama. Bahkan dengan golongan sesat, bersekutu pula dengan
golongan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai. Sebetulnya, kami dari Bu-tong-pai tidak ingin mencampuri
urusan dalam, sampai adanya sebuah berita yang membuat kami merasa penasaran sekali dan memaksa
kami untuk datang berkunjung. Berita itu adalah bahwa para pemimpin Thian-li-pang itu dibunuh oleh Sinciang
Taihiap Yo Han."
"Ahhhh... tidak mungkin...!!" Sian Li berseru, kaget bukan main.
"Kami juga tidak percaya akan berita itu, Lihiap. Kami mengenal siapa adanya Sin-ciang Taihiap. Apa lagi
membunuh para pimpinan Thian-li-pang padahal dia pemimpin besar di sana, bahkan para penjahat pun
tiada yang dibunuhnya. Dia menundukkan penjahat dan menasehatinya, membujuknya sehingga banyak
penjahat kembali ke jalan benar. Akan tetapi, muncul berita lain lagi yang terlalu aneh, yang mendorong
kami melakukan penyelidikan, yaitu bahwa baru beberapa hari ini, Sin-ciang Taihiap dibunuh oleh ketua
baru Thian-li-pang!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ahhhhh...!!" Kini Sian Li meloncat berdiri dan mukanya berubah pucat sekali, matanya terbelalak. "Aku...
aku tidak percaya!"
"Kami juga tidak percaya akan keterangan yang diberikan ketua baru Thian-li-pang itu sehingga terjadi
bentrokan antara kami dan dia. Akan tetapi, dia ternyata amat lihai dan memiliki ilmu pukulan yang amat
keji. Kami kalah dan pergi dalam keadaan terluka."
"Kalau begitu, aku harus cepat menyelidiki ke sana. Selamat berpisah, Totiang!" Setelah berkata demikian,
nampak berkelebat bayangan merah dan Sian Li sudah lenyap dari depan para tosu itu.
Thian Tocu menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Sungguh berbahaya sekali, tapi mudah-mudahan Tan Lihiap akan mampu menandingi iblis itu," katanya.
Mereka berlima merasa prihatin sekali, akan tetapi juga tidak berdaya.
Dengan hati diliputi kegelisahan mendengar Yo Han dibunuh ketua baru Thian-li-pang yang kabarnya
masih muda itu, Sian Li berloncatan dan mempergunakan ilmu berlari cepat mendaki Bukit Naga.
"Berhenti!" tiba-tiba terdengar seruan.
Dari balik pohon dan semak belukar, berloncatan sepuluh orang anggota Thian-li-pang dan mereka
mengepung Sian Li. Ketika melihat bahwa yang datang tanpa diundang dan mereka kepung itu hanya
seorang gadis cantik berpakaian serba merah, sepuluh orang anggota Thian-li-pang itu tertegun lalu
mereka tertawa-tawa dan kembali menyarungkan golok mereka.
Mereka tentu saja memandang rendah seorang gadis cantik seperti Sian Li. Akan tetapi, biar pun mereka
kagum akan kecantikan Sian Li, mereka tidak berani bersikap kurang ajar. Ketua mereka memiliki
hubungan luas dengan dunia kang-ouw dan kalau ternyata gadis ini seorang sahabat ketua mereka, maka
kekurang ajaran mereka cukup untuk menjadi alasan mereka dihukum berat oleh ketua mereka.
"Nona, siapakah Nona dan ada keperluan apakah mendaki Bukit Naga? Apakah Nona seorang tamu dari
Thian-li-pang?"
Karena merasa amat khawatir akan keselamatan Yo Han yang kabarnya sudah dibunuh oleh ketua Thianli-
pang, Sian Li langsung saja bertanya, "Apakah kalian ini anak buah Thian-li-pang?"
"Benar, Nona. Siapakah Nona dan ada keperluan apa Nona datang berkunjung?"
"Siapakah nama ketua Thian-li-pang sekarang?" tanya Sian Li.
Orang-orang itu saling pandang. Mereka masih ragu-ragu karena belum tahu, apakah gadis ini teman
ataukah lawan.
“Ouw pangcu kami bernama Ouw Seng Bu," berkata pemimpin mereka, seorang yang bertubuh kurus
kering dan mukanya kuning.
"Katakan kepada Ouw-pangcu bahwa aku ingin bertemu. Namaku Tan Sian Li."
Mendengar bahwa gadis cantik ini hendak bertemu dengan ketua mereka, orang-orang Thian-li-pang itu
tidak berani bersikap lancang. Si kurus kering berkata, "Mari silakan mengikuti kami, Nona. Kami akan
melaporkan kepada ketua kami."
Sian Li mengikuti mereka memasuki perkampungan Thian-li-pang dan berhenti di depan gedung induk
yang menjadi tempat tinggal ketua Thian-li-pang. Si kurus kering segera masuk untuk melaporkan kepada
Ouw Seng Bu.
Pada saat itu, Ouw Seng Bu sedang bercakap-cakap dengan Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok. Siangkoan
Kok sedang melaporkan tentang hasil ia menaklukkan partai-partai persilatan dan perkumpulan besar di
dunia kang-ouw untuk bekerja sama mendukung perjuangan mereka menentang pemerintah penjajah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cu Kim Giok hanya sebagai pendengar saja. Gadis ini makin kagum kepada Ouw Seng Bu dan sekarang
tidak lagi memandang rendah kepada Siangkoan Kok atau para tokoh perkumpulan sesat yang telah
bergabung dengan Thian-li-pang. Ia menganggap bahwa dalam perjuangan menentang penjajah, memang
semua kekuatan harus dipersatukan, seperti yang dikatakan pemuda yang dicintanya itu.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa kadang-kadang kekasihnya itu bertindak kejam, tetapi ia lalu menghibur
hatinya yang merasa tidak cocok itu, bahwa memang demikianlah perjuangan. Ia menganggap kekasihnya
seorang pejuang sejati, seorang pahlawan dan pendekar. Dan sikap Ouw Seng Bu terhadap dirinya
demikian baik, sopan, ramah dan penuh perhatian, penuh kasih sayang!
Daun pintu ruangan itu diketuk orang. Ouw Seng Bu mengerutkan alisnya.
"Masuk!" katanya lantang.
Si kurus kering membuka daun pintu dan masuk, disambut bentakan Ouw Seng Bu. "Ada urusan apa
sampai engkau berani mengganggu kami?"
"Maaf, Pangcu. Kami mengadakan penjagaan di lereng dan bertemu dengan seorang gadis berpakaian
merah yang menanyakan Pangcu dan minta bertemu dengan Pangcu. Karena itu, kami mengajaknya
datang dan sekarang ia menanti di ruangan depan."
"Siapakah namanya dan apa keperluannya?"
"Ia tidak mengatakan keperluannya, hanya ingin bicara dengan Pangcu dan namanya Tan Sian Li..."
"Ahhh, ia Sian Li...!" seru Cu Kim Giok kaget, heran dan juga girang.
"Si Bangau Merah...!" seru pula Siangkoan Kok.
"Kalian sudah mengenalnya?" tanya Ouw Seng Bu dengan heran. "Siapakah gadis itu, Giok-moi?"
"Bu-koko, Tan Sian Li adalah puterinya Paman Tan Sin Hong," jawab Kim Giok. "Kami pernah saling
bertemu dalam pesta ulang tahun Paman Suma Ceng Liong."
"Dialah Si Bangau Merah. Ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih dan ibunya adalah keturunan keluarga
Istana Gurun Pasir," kata pula Siangkoan Kok.
"Ahhh...!" Ouw Seng Bu terkejut sekali. "Ada keperluan apa ia datang ke sini? Aku tidak mengenalnya."
Lalu kepada si kurus kering dia berkata, "Persilakan Nona Tan Sian Li untuk menunggu di ruangan tamu.
Aku segera menemuinya di sana."
Setelah si kurus kering pergi, dia lalu menoleh kepada Kim Giok. "Giok-moi, engkau mengenalnya dengan
baik. Apa yang harus kulakukan?"
"Terus terang aku agak khawatir, Koko, karena aku pernah mendengar bahwa Sian Li saling mencinta
dengan Yo Han. Jangan-jangan ia datang untuk..."
Wajah Ouw Seng Bu berubah. "Ahh, kalau begitu kita harus membuat persiapan untuk mengatasinya. Ia
merupakan ancaman bagi kita."
"Koko, harap engkau jangan mengganggu Sian Li. Kita harus mencari jalan agar ia tidak memusuhi kita,
bahkan membujuknya agar membantu perjuangan kita," kata Kim Giok.
"Engkau benar, Giok-moi. Akan tetapi bagaimana kalau ia tidak mau dan malah hendak membalas dendam
karena kematian Yo Han?"
"Kalau begitu, kita habisi gadis itu karena membahayakan kita!" kata Siangkoan Kok.
"Aku tidak setuju!" kata Cu Kim Giok tegas, "Aku tidak rela kalau ia dibunuh! Ia masih kerabat dekat orang
tuaku. Tidak mungkin aku membiarkan orang membunuhnya!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Giok-moi, apakah engkau membiarkan dia membalas dendam atas kematian Yo Han dan menghancurkan
Thian-li-pang kita? Apakah engkau rela kalau dia membunuhku? Kalau kita biarkan ia pergi, dan ia
mengajak ayahnya dan semua keluarga menyerang, kita akan celaka. Keluarga Suling Emas dan Gurun
Pasir merupakan kerabat dekat dan bagaimana kita dapat menanggulangi mereka yang memiliki banyak
orang sakti?"
"Tidak, aku tak ingin ia membunuhmu, akan tetapi juga tak ingin engkau membunuhnya. Kita mencari jalan
terbaik. Aku akan membujuknya supaya dia mau melihat kenyataan bahwa Yo Han tewas karena ulahnya
sendiri dan agar ia tidak memusuhi kita."
"Andai kata usahamu itu gagal?"
"Kalau begitu, terserah, akan tetapi aku tetap melarang dia dibunuh."
"Baiklah, Giok-moi. Kalau dia berkeras kita tangkap dan tawan saja dia sebagai tamu, agar dia melihat
sepak terjang kita dalam perjuangan."
Terdengar ketukan pada daun pintu diikuti suara si kurus kering tadi, "Lapor, Pangcu. Nona Tan sudah
menanti di ruangan tamu."
"Baik, kami segera datang. Mari, Giok-moi!"
Siangkoan Kok tidak ikut serta. Kalau dia muncul di depan Si Bangau Merah, tentu akan mengejutkan
gadis itu dan bisa mendatangkan kesan buruk pula karena mereka pernah bermusuhan dan bertanding.
Sian Li sudah menjadi tidak sabar akibat menanti terlalu lama, maka ketika mendengar langkah orang dari
dalam, dia sudah bangkit berdiri. Dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat bahwa yang
muncul adalah seorang pemuda tampan bersama seorang gadis yang dikenalnya sebagai Cu Kim Giok!
Akan tetapi, ia takut kalau salah lihat dan mungkin saja gadis itu orang lain yang hanya mirip Cu Kim Giok,
maka dia pun diam saja, hanya memandang penuh perhatian.
"Sian Li...!" Cu Kim Giok yang berseru sambil menghampiri Si Bangau Merah. "Kiranya engkau!"
"Jadi benar engkau Cu Kim Giok? Kim Giok, bagaimana engkau dapat berada di sini?"
"Panjang ceritanya, Sian Li. Perkenalkan lebih dulu, ia ini adalah Ouw Seng Bu, pangcu dari Thian-li-pang.
Silakan duduk!"
Sian Li masih keheranan, akan tetapi ia pun duduk berhadapan dengan mereka setelah membalas
penghormatan Ouw Seng Bu kepadanya. Dia melihat pangcu yang masih muda itu bersikap sopan dan
hormat sekali.
"Sungguh merupakan kehormatan besar menerima kunjunganmu ini, Nona. Bukankah Nona yang berjuluk
Si Bangau Merah? Sudah lama kami mengenal nama besar Nona di dunia kang-ouw," kata Ouw Seng Bu.
"Ouw-pangcu, aku datang ke sini untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Kuharap engkau
suka menjawab sejujurnya!"
"Sian Li, Ouw-pangcu adalah seorang pendekar gagah, seorang pahlawan bangsa yang sedang berjuang
untuk menentang penjajah Mancu. Sudah tentu dia akan menjawab semua dengan sejujurnya," kata Cu
Kim Giok.
"Kim Giok, aku berurusan dengan Ouw-pangcu, harap engkau tidak mencampuri," kata Sian Li.
Dia masih ragu dan heran melihat keakraban antara gadis itu dan ketua Thian-li-pang. Memang dia merasa
ingin tahu sekali bagaimana Kim Giok dapat berada di situ, akan tetapi dia mengesampingkan keinginan
tahu ini karena dia lebih mementingkan jawaban tentang Thian-li-pang, dan terutama tentang Yo Han
seperti yang didengarnya dari para tosu Bu-tong-pai.
"Tanyalah, Nona. Saya akan menjawab sejujurnya," kata Ouw Seng Bu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian Li berpikir, biar pun ia ingin sekali segera mendengar tentang Yo Han, akan tetapi ia ingin mengajukan
pertanyaan secara teratur.
"Ouw-pangcu, aku mendengar berita bahwa Thian-li-pang sudah menaklukkan banyak partai persilatan
dan memaksa para tokoh kang-ouw untuk mau bekerja sama dengan Thian-li-pang, bahkan Thian-li-pang
bersekutu dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai. Benarkah itu
dan mengapa demikian! Setahuku, Thian-li-pang adalah perkumpulan pejuang yang gagah perkasa dan
selalu menentang partai-partai sesat."
Ouw Seng Bu tersenyum. Sebelum pendekar wanita itu mengajukan pertanyaan, dia sudah dapat mengira
apa yang akan dipertanyakan, maka dia pun tentu saja sudah siap dengan jawabannya.
"Itulah pertanyaanmu, Nona? Memang kami akui bahwa Thian-li-pang telah mengubah siasat. Kami yakin
benar bahwa tanpa adanya persatuan, pengerahan seluruh tenaga yang ada di tanah air, mustahil akan
dapat mengenyahkan penjajah Mancu dari tanah air kita. Karena itulah, maka kami memang membujuk,
bahkan kalau perlu memaksa, menyadarkan semua pihak untuk mau bekerja sama dalam satu perjuangan
menentang penjajah dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. Karena itu, kami tidak
berpantang untuk bersekutu dengan pihak mana pun, termasuk dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai
yang kami anggap sebagai rekan-rekan seperjuangan."
"Aku setuju sekali dengan tindakan itu, Sian Li," kata Kim Giok.
"Begitukah, Kim Giok? Sekarang pertanyaan ke dua. Aku juga mendengar bahwa para pimpinan Thian-lipang,
termasuk pangcu Lauw Kang Hui, sudah tewas dibunuh orang. Benarkah itu, dan kalau benar, apa
yang terjadi dan siapa pelakunya?" Dengan jantung berdebar namun wajah tetap tenang, sepasang
matanya mencorong mengamati wajah ketua Thian-li-pang itu, Sian Li menanti jawaban.
Ouw Seng Bu menghela napas panjang sebelum menjawab. "Pertanyaan ini sangat menyedihkan hati
saya, akan tetapi selalu saja orang menanyakannya. Memang benar, Nona. Suhu Lauw Kang Hui, juga
suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin, susiok Su Kian dan susiok Thio Cu, mereka semua telah terbunuh.
Bagaimana terjadinya, kami semua tidak mengetahui jelas. Yang kami tahu adalah bahwa mereka itu
tewas dan dari tanda pukulan pada tubuh mereka, jelaslah bahwa pembunuhnya adalah Sin-ciang Taihiap
Yo Han."
"Tidak mungkin!" Sian Li berteriak. "Sin-ciang Taihiap Yo Han adalah seorang pendekar besar, bahkan dia
juga tokoh pimpinan dan kehormatan dari Thian-li-pang. Bagaimana mungkin dia membunuh para tokoh
Thian-li-pang sendiri?"
"Kami sendiri memang merasa heran dan berduka, Nona. Dahulunya Sin-ciang Taihiap Yo Han merupakan
pujaan kami semua, menjadi tokoh kami. Akan tetapi banyak sekali anggota Thian-li-pang yang
menyaksikan kematian para tokoh kami itu dan jelas bahwa mereka pun melihat bekas pukulan pada tubuh
mereka, pembunuhnya adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han."
"Hemmm, begitukah? Sekarang pertanyaan terakhir. Aku mendengar bahwa engkau, Ouw Seng Bu, sudah
membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han. Benarkah hal itu?" berkata demikian, Sian Li bangkit berdiri,
matanya mencorong dan suaranya terdengar lantang.
Ouw Seng Bu nampak tegang dan gelisah, lehernya basah oleh peluh. "Nona Tan Sian Li, sungguh hal ini
amat menyedihkan. Entah apa yang telah terjadi pada diri Sin-ciang Taihiap karena dia sudah berubah
sama sekali. Dia datang dan menyerang saya ketika saya berada di dekat sumur keramat di belakang
bukit. Saya terkena pukulannya yang ampuh sehingga hampir saja saya tewas. Akan tetapi, para saudara
di Thian-li-pang membela saya dan akhirnya Yo Taihiap tergelincir ke dalam sumur tua itu. Karena kami
semua takut kepadanya yang seakan-akan sudah berubah menjadi seorang yang kejam dan hendak
membunuhi kami, terpaksa kami gunakan batu-batu untuk menutup sumur itu."
"Tidak...! Bohong...! Aku tidak percaya! Kau kira aku tidak mengenal siapa Yo Han? Dia adalah kakak
angkatku, suheng-ku, dan orang yang paling kucinta di dunia ini. Aku amat mengenalnya dan tidak
mungkin dia melakukan semua itu. Bohong!"
"Maaf, Sian Li," kata Cu Kim Giok. "Terpaksa sekali ini aku turut mencampuri. Aku yang menanggung
bahwa keterangan Ouw pangcu tadi benar semua, sebab aku sendiri yang menjadi saksi. Aku yang
dunia-kangouw.blogspot.com
mengobati luka yang diderita oleh Ouw-pangcu akibat pukulan Yo Han! Dia terluka parah dan hampir saja
tewas, bagaimana engkau mengatakan dia berbohong?"
"Aku tidak mengerti kenapa orang seperti engkau dapat berada di sini dan membela ketua Thian-li-pang
yang baru ini, Kim Giok, akan tetapi aku tidak peduli. Siapa pun yang mengatakan bahwa Yo Han
melakukan itu semua, aku tetap tidak percaya kalau tidak melihat buktinya. Ouw Seng Bu, bawa aku ke
tempat sumur itu, di mana tadi kau katakan Yo Han tergelincir masuk!"
Ouw Seng Bu menghela napas panjang. "Sungguh, ini merupakan masalah yang selalu membuat kami
semua sangat berduka, Nona. Akan tetapi kalau itu yang kau kehendaki, marilah!"
Tanpa banyak cakap lagi, Sian Li mengikuti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok keluar dari ruangan tamu itu
dan menuju ke bagian belakang perkampungan Thian-li-pang, melalui sebuah bukit kecil. Dia tidak peduli
ketika melihat puluhan orang anggota Thian-li-pang mengikuti mereka dari jarak jauh.
Setelah tiba di sumur yang dimaksudkan, Ouw Seng Bu berhenti dan menunjuk ke arah sumur itu. "Di
situlah dia tergelincir masuk, Nona."
Mendengar bahwa kekasihnya tergelincir ke dalam sumur tua itu dan sudah ditimbuni oleh batu-batu, Sian
Li merasa jantungnya seperti diremas dan kedua kakinya menjadi limbung ketika dengan terhuyung ia
menghampiri sumur itu. Ketika ia tiba di tepi sumur dan melongok ke dalam, ingin rasanya dia menjerit
melihat betapa seluruh sumur telah tertutup batu. Memang tidak penuh sekali, akan tetapi dasarnya tidak
nampak karena tertutup batu-batuan.
Wajah Sian Li menjadi pucat. Matanya mencorong, akan tetapi basah air mata ketika ia membalikkan
tubuh. Ia melihat bahwa Seng Bu masih berdiri tegak dan di belakangnya nampak puluhan orang anak
buah Thian-li-pang. Kim Giok berdiri di samping Ouw Seng Bu dan kelihatan bingung dan gelisah.
"Ouw Seng Bu, cepat perintahkan anak buahmu untuk menggali sumur ini, mengangkat semua batu yang
telah ditimbunkan ke dalamnya!"
"Aih, Nona, bagaimana mungkin? Sumur ini merupakan sumur keramat bagi kami orang Thian-li-pang..."
“Aku tidak peduli! Batu-batu itu tadinya dilemparkan ke dalam sumur oleh orang-orang Thian-li-pang, maka
mereka pulalah yang harus mengangkatnya dari dalam sumur. Aku ingin melihat bukti dari keteranganmu
tadi. Aku ingin melihat... mayat... Han-koko. Kalau engkau tak mau menuruti permintaanku, berarti engkau
membohongi aku, dan aku akan membunuhmu!"
"Sian Li, kuharap engkau jangan bersikap seperti ini. Percayalah, kami tidak berbohong. Lebih baik kita
sekarang mengerahkan tenaga kita untuk membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah, itu lebih
mulia dari pada kita saling bentrok sendiri. Tidak ada yang membohongimu, Sian Li. Agaknya telah terjadi
sesuatu sehingga Yo Han menjadi berubah..."
"Tutup mulutmu, Kim Giok! Han-koko selamanya tidak berubah. Dia seorang pendekar dan orang gagah
sejati. Sedangkan Ouw Seng Bu ini orang macam apa? Kita tidak mengenal dia dengan baik, siapa tahu
semua ini hanya akal busuknya saja. Buktinya, dia telah bersekongkol dengan golongan sesat!"
Pada saat itu terdengar seruan keras dan para anggota Thian-li-pang otomatis membuat gerakan
mengepung sumur tua itu sehingga dengan sendirinya Sian Li juga berada di dalam kepungan! Dan dari
rombongan itu muncullah Siangkoan Kok bersama dua orang berjubah pendeta yang bukan lain adalah Im
Yang Ji tokoh Pat-kwa-pai dan Kui Thiancu tokoh Pek-lian-kauw.
Ouw Seng Bu kini melangkah maju dengan sikapnya yang gagah. Dengan suara yang dibuat menyesal dia
berkata, "Nona, semua ini adalah kesalahanmu sendiri. Engkau tak percaya kepada kami dan hendak
membongkar sumur keramat ini, berarti engkau telah menghina Thian-li-pang. Karena kami sedang
menghimpun tenaga untuk perjuangan, maka sikapmu yang bermusuhan ini tentu saja akan
membahayakan kami, misalnya engkau melapor kepada pemerintah penjajah. Karena itu, menyerahlah,
terpaksa kami akan menawanmu."
"Singgg...!” Nampak sinar emas mencorong dan di tangan gadis berpakaian merah itu telah terdapat
sebatang suling berselaput emas yang panjangnya seperti pedang.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Hemmm, dari sikapmu ini saja sudah menunjukkan dengan jelas bahwa engkau sudah berbohong! Aku
yakin bahwa engkau memutar balik kenyataan. Han-koko belum tewas, atau andai kata dia tewas pun
tentu engkau sengaja menjebaknya! Aku yakin akan hal itu. Kini engkau hendak menawanku dan
menyuruh aku menyerah? Jangan bermimpi! Si Bangau Merah tak mengenal kata menyerah. Sekarang
kalian hendak mengandalkan pengeroyokan? Boleh, boleh! Kulihat bekas ketua Pao-beng-pai, Siangkoan
Kok, sudah berada pula di sini dan dua orang tosu ini tentu juga merupakan orang-orang sesat!"
"Tangkap gadis sombong ini!" Ouw Seng Bu membentak.
Siangkoan Kok, dua orang tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, segera menggerakkan senjata mereka.
Ouw Seng Bu sendiri juga ikut menerjang maju dengan tangan kosong. Para anggota Thian-li-pang
mengepung ketat.
Menghadapi para pengeroyok yang mulai menyerangnya, Sian Li memutar sulingnya hingga nampaklah
gulungan sinar emas menyambar-nyambar di antara berkelebatnya bayangan merah. Gerakan gadis ini
cepat bukan main, juga amat indah. Gulungan sinar emas itu mengandung tenaga kuat sehingga dalam
beberapa gebrakan saja, beberapa batang senjata anak buah Thian-li-pang terlepas dari pegangan,
bahkan dua orang anggota perkumpulan itu roboh terkena sambaran sinar suling emas.
"Semua mundur, biarkan kami saja yang menghadapinya!" bentak Ouw Seng Bu yang maklum akan
kelihaian Si Bangau Merah itu.
Para anggota Thian-li-pang yang memang sudah merasa jeri segera mengendurkan pengepungan.
Sekarang yang menghadapi Sian Li hanya tinggal empat orang, yaitu Siangkoan Kok, Im Yang Ji, Kui
Thiancu dan Ouw Seng Bu sendiri.
Cu Kim Giok masih belum bergerak. Ia hanya menonton tiga orang sekutunya yang kini mulai
menggerakkan senjata masing-masing menyerang gadis berpakaian merah yang memegang suling emas
itu. Agaknya, Ouw Seng Bu masih tak percaya kalau tiga orang sekutunya yang merupakan tokoh-tokoh
kang-ouw yang sangat tangguh itu tidak akan mampu menundukkan Sian Li.
"Bu-koko, engkau tidak boleh membunuhnya. Aku akan marah sekali kepadamu kalau engkau
membunuhnya."
"Giok-moi, dia berbahaya sekali. Kalau sampai lolos, dia tentu akan melapor kepada pemerintah dan jika
pasukan besar pemerintah datang menyerbu, kita masih belum siap menghadapi mereka."
"Tangkap saja, tawan saja akan tetapi jangan dibunuh. Aku tidak rela kalau ia dibunuh. Kita adalah
pejuang-pejuang, tidak akan membunuhi kaum pendekar, Koko!"
Ouw Seng Bu mengangguk. Dia pun maklum bahwa membunuh Si Bangau Merah akan mendatangkan
akibat yang amat berbahaya. Jika sampai Pendekar Sakti Bangau Putih mendengar bahwa puterinya
terbunuh oleh Thian-li-pang, dan kemudian pendekar sakti itu mengerahkan kekuatan keluarga Pulau Es
beserta Gurun Pasir, bagaimana mungkin Thian-li-pang akan kuat bertahan?
"Paman Siangkoan Kok dan kedua Totiang, tangkap saja Si Bangau Merah ini, jangan dibunuh dan jangan
dilukai. Kami hanya ingin menawannya," serunya kepada tiga orang sekutunya.
Mendengar seruan ketua Thian-li-pang itu, tiga orang tokoh yang mengeroyok Sian Li mengubah gerakan
mereka. Siangkoan Kok mempergunakan pedangnya hanya untuk menangkis suling emas di tangan gadis
itu, sedangkan serangan dilakukan oleh tangan kirinya, dengan cengkeraman, tamparan atau totokan.
Demikian pula dengan dua orang tosu pengeroyok. Im Yang Ji, tokoh dari Pat-kwa-pai memutar pedang
hanya untuk mengurung gadis itu dengan sinar pedangnya dan yang menyerang adalah tangan kirinya
dengan ilmu totokan yang ampuh dari Pat-kwa-pai, dengan gerakan ilmu silat Pat-kwa-kun.
Juga Kui Thiancu, tokoh Pek-lian-kauw yang menyerang dengan ujung lengan bajunya yang kiri, menotok
untuk merobohkan Sian Li, sedangkan pedangnya juga hanya untuk membendung gerakan suling emas
yang dahsyat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Sian Li masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian
tokoh Pat-kwa-pai atau tokoh Pek-lian-kauw itu. Akan tetapi, bagai mana pun gadis yang usianya belum
genap dua puluh tahun itu masih ketinggalan kalau dibandingkan dengan kepandaian Siangkoan Kok,
datuk sesat yang mempunyai banyak pengalaman itu.
Menghadapi pengeroyokan tiga orang tokoh itu, tentu saja Sian Li merasa berat sekali. Dalam beberapa
gebrakan saja dia sudah merasa betapa tangannya yang memegang suling tergetar hebat. Dia pasti tidak
akan mampu bertahan terlalu lama kalau tiga orang pengeroyoknya itu menyerang dengan sungguhsungguh.
Akan tetapi ketika Ouw Seng Bu mencegah mereka agar tidak membunuhnya, maka hal itu membuat Sian
Li mampu bertahan lebih baik. Bahkan beberapa kali sambaran sinar sulingnya hampir saja mengenai
tubuh lawan.
Pada waktu melihat betapa tiga orang sekutunya yang biasanya dapat diandalkan untuk menundukkan
tokoh-tokoh kang-ouw yang tidak mau bekerja sama itu sampai sekian lamanya belum juga mampu
menundukkan Si Bangau Merah, Ouw Seng Bu menjadi tidak sabar lagi. Dia melompat ke dalam medan
perkelahian itu.
"Bu-koko, jangan bunuh atau lukai Sian Li!" Cu Kim Giok berteriak.
Ouw Seng Bu juga tidak bodoh untuk membunuh seorang tokoh semacam Si Bangau Merah, apa lagi bila
Cu Kim Giok yang dicintanya itu melarangnya. Dia sudah meloncat dan mengeluarkan ilmunya yang aneh,
yaitu Bu-kek Hoat-keng yang salah latihan. Akan tetapi dia menjaga supaya tangannya yang mengandung
racun ampuh itu tidak sampai membunuh gadis yang diserangnya.
Ketika ada angin pukulan yang amat dingin datang menerpanya, Sian Li yang memang sudah terdesak,
terkejut bukan main. Ia mengenal pukulan ampuh, dan untuk meloncat menghindar, tak ada jalan lagi.
Senjata tiga orang pengeroyoknya yang terdahulu sudah menutup semua jalan keluar dengan sinar
pedang mereka. Terpaksa dia mengerahkan sinkang dan menyambut pukulan itu.
"Desss...!"
Sian Li terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan Siangkoan Kok untuk melancarkan totokan jari
tangannya sehingga tubuh Sian Li yang terhuyung itu nyaris terkena totokan. Gadis yang memiliki ginkang
luar biasa ini cepat-cepat memutar sulingnya dan tubuh itu mencelat ke samping. Dalam keadaan yang
amat gawat itu ia masih dapat menghindar dari totokan! Akan tetapi, kini empat orang lihai itu sudah
mengepungnya.
Pada saat yang amat gawat bagi Sian Li itu muncullah dua orang yang tanpa banyak cakap lagi segera
terjun ke dalam perkelahian itu. Mereka itu adalah seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang bukan
lain adalah Pangeran Cia Sun dan Sim Hui Eng, atau tadinya bernama Siangkoan Eng!
Seperti kita ketahui, Pangeran Cia Sun ditawan oleh Sim Hui Eng yang mengira bahwa pangeran itu yang
sudah menyebabkan kematian ibunya dan kehancuran Pao-beng-pai. Kemudian pangeran itu membuka
rahasia Hui Eng sehingga gadis itu pun mengetahui bahwa ia bukanlah puteri Siangkoan Kok, bukan pula
puteri mendiang Lauw Cu Si yang selama ini dianggapnya sebagai ibu kandungnya. Dalam pertemuan itu,
mereka bahkan saling menemukan cinta mereka. Akhirnya Cia Sun mengajak Hui Eng untuk menemui
orang tua kandungnya yang asli, yaitu pendekar sakti Sim Houw dan Can Bi Lan.
Di dalam perjalanan, mereka mendengar tentang sepak terjang Thian-li-pang yang telah menaklukkan
banyak tokoh dan perkumpulan kang-ouw. Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan di hati Cia Sun.
Dia sudah menjadi saudara angkat Yo Han. Dia tahu pula bahwa Thian-li-pang adalah sebuah
perkumpulan pejuang, perkumpulan para pendekar gagah perkasa yang sedang berjuang bagi
kemerdekaan tanah air dan bangsanya. Bahkan saudara angkatnya itu, Si Tangan Sakti Yo Han, menjadi
ketua kehormatan perkumpulan itu.
Akan tetapi, apa yang didengarnya sekarang? Perkumpulan itu memaksa para tokoh kang-ouw untuk
tunduk, bahkan juga terdengar bahwa para anggota perkumpulan itu tidak segan melakukan kejahatan.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku harus datang ke sana, aku harus menegur kakakku Yo Han!" kata pangeran itu.
Sim Hui Eng siap membantu kekasihnya untuk menegur Yo Han supaya menghentikan sepak terjang
Thian-li-pang yang tidak baik itu. Demikianlah, mereka lalu membelokkan perjalanan dan menuju ke Bukit
Naga, pusat perkumpulan Thian-li-pang.
Ketika tiba di tempat itu dan melihat Sian Li tengah dikeroyok oleh empat orang, Sim Hui Eng berkata
kepada pangeran Cia Sun, "Koko, itu Si Bangau Merah Tan Sian Li yang dikeroyok!"
Cia Sun memandang dan merasa kagum. Gadis berpakaian serba merah itu memang lihai bukan main.
Begitu gagah dia memainkan suling emasnya, dan gadis itulah yang dijodohkan dengan dia! Jika saja tidak
ada Sim Hui Eng yang dicinta dan mencintanya, tentu akan berubah sikapnya terhadap pilihan orang
tuanya itu. Akan tetapi dia mencinta Sim Hui Eng, dan tidak ada seorang bidadari pun yang akan mampu
memisahkan dia dan Hui Eng.
"Kalau begitu, kita harus membantunya."
"Benar, kita harus membantunya. Lihatlah, para pengepungnya itu lihai, bahkan bekas ayahku yang jahat
itu pun ikut mengeroyoknya."
Dengan kemarahan meluap karena teringat akan perbuatan Siangkoan Kok yang amat jahat, karena
terbayang kembali betapa ia dihajar dan hampir dibunuh oleh bekas ketua Pao-beng-pai itu, serta apa yang
dilakukan orang yang bertahun-tahun ia anggap ayah kandungnya itu terhadap Tio Sui Lan, muridnya
sendiri, membuat ia marah dan ketika ia melompat dan menerjang ke arah Siangkoan Kok, serangannya
dahsyat bukan main. Pedang di tangan kanannya dan kebutan di tangan kirinya menyambar dahsyat
dengan jarum-jarum maut!
"Ehhh... kau...!??" Siangkoan Kok terkejut bukan main ketika mengenal penyerangnya.
Akan tetapi, Hui Eng tidak memberi dia banyak kesempatan. Gadis itu telah menyerang terus, membuat
Siangkoan Kok terpaksa melayaninya dengan sungguh-sungguh karena dia maklum bahwa tingkat
kepandaian bekas puterinya ini sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak banyak selisihnya dengan tingkat
kepandaiannya sendiri. Ada pun Cia Sun sudah memutar pedangnya pula membantu Sian Li sehingga Si
Bangau Merah itu kini mendapat keringanan, tidak lagi terdesak seperti tadi.
Sian Li sendiri terkejut dan heran melihat Sim Hui Eng. Ia masih mengenal gadis itu sebagai gadis Paobeng-
pai yang pernah datang mengacau dalam pesta keluarga di rumah pendekar Suma Ceng Liong. Dan
kini gadis itu membantunya, bahkan bertanding seru melawan bekas ketua Pao-beng-pai sendiri!
Juga ia tak mengenal siapa pemuda bertubuh tegap bermuka bundar putih dan tampan itu, yang datang
membantunya pula. Akan tetapi Si Bangau Merah segera bisa melihat kenyataan bahwa biar pun bantuan
mereka berdua itu telah menolongnya dari himpitan para pengeroyoknya, akan tetapi tingkat kepandaian
mereka belum cukup tinggi untuk mampu merebut kemenangan dari para pimpinan Thian-li-pang.
"Bu-koko, jangan bunuh mereka! Jangan!" kembali Cu Kini Giok berseru.
Melihat kesempatan setelah ia tidak lagi begitu terhimpit berkat pertolongan kedua orang itu, Sian Li segera
memutar sulingnya dan berkata, "Sobat, mari kita pergi!"
Ia memutar sulingnya dengan ilmu silat Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan tangan kirinya
masih meluncurkan pukulan jarak jauh sehingga dua orang tosu dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw
terpaksa harus mundur.
Cia Sun maklum bahwa kalau Si Bangau Merah berteriak mengajak mereka pergi, hal itu tentu berarti
bahwa pihak musuh terlampau kuat. Maka dia pun berseru, "Eng-moi, kita pergi!"
Tiga orang muda itu berloncatan dengan cepat untuk melarikan diri. Ketika Ouw Seng Bu hendak
mengejar, Kim Giok berseru, "Koko, jangan kejar mereka!"
Ouw Seng Bu meragu dan hal ini menguntungkan Sian Li, Cia Sun dan Hui Eng. Kecuali Ouw Seng Bu dan
Siangkoan Kok, tidak ada yang akan mampu menahan mereka pergi. Dan agaknya, oleh karena Ouw Seng
dunia-kangouw.blogspot.com
Bu ragu-ragu untuk melakukan pengejaran akibat pencegahan Cu Kim Giok, maka Siangkoan Kok juga jeri
untuk melakukan pengejaran sendiri.
Semua keraguan ini membuat Sian Li, Cia Sun dan Hui Eng dapat berlari cepat, pergi meninggalkan
sarang Thian-li-pang…..
Setelah mereka berlari sampai ke kaki bukit dan tidak ada yang kelihatan melakukan pengejaran, Sian Li
menghentikan langkahnya. Dengan sendirinya Cia Sun dan Hui Eng juga berhenti berlari. Dengan leher
basah oleh keringat, mereka saling memandang.
Akhirnya Sian Li yang lebih dulu bicara, suaranya agak ketus dan ucapannya ditujukan kepada Hui Eng.
"Sekarang boleh kau katakan kepadaku, apa artinya ini semua? Engkau yang pernah mengacau dan
memusuhi keluarga kami, mengapa sekarang mendadak membantuku? Bukankah engkau tokoh Paobeng-
pai dan Siangkoan Kok tadi ketua Pao-beng-pai?"
Sebelum Hui Eng menjawab, karena hal ini terasa sukar sekali baginya, Cia Sun yang mendahuluinya
memberi keterangan.
"Nona Tan Sian Li, memang sudah terjadi perubahan besar sekali atas diri Eng-moi ini. Jangankan engkau
atau orang lain, dia sendiri pun terheran-heran ketika mendengar tentang keadaan dirinya."
Sian Li mengerutkan alisnya dan kini dia mengamati wajah pemuda itu dengan penuh selidik. Sikapnya
masih dingin. "Hemmm, sebelum engkau bercerita, katakan dulu siapa engkau ini dan bagaimana engkau
dapat mengenal namaku!"
Wajah pangeran itu berubah menjadi kemerahan dan dia pun salah tingkah. "Ehhh... sebetulnya... yang
mengenalimu tadi bukanlah aku, melainkan Eng-moi ini, Nona. Aku bernama Cia Sun..."
"Cia...?" Sekarang Sian Li terbelalak memandang pemuda itu dan perlahan-lahan kedua pipinya berubah
kemerahan. "Cia Sun...? Kau... maksudkan pangeran...?"
"Benar, Nona. Aku adalah Pangeran Cia Sun yang oleh orang tua kita..." Cia Sun tidak melanjutkan katakatanya.
"Sudahlah, Pangeran. Harap engkau suka menceritakan tentang semuanya ini, tentang Enci ini, tentang
perubahan yang kau katakan tadi."
Sian Li memotong untuk mengalihkan pembicaraan karena ia menjadi rikuh sekali kalau harus bicara
tentang hubungan di antara mereka. Siapa yang tidak menjadi rikuh dan gugup kalau secara tiba-tiba
dihadapkan kepada seorang pemuda yang oleh ayah dan ibunya dicalonkan menjadi suaminya.
"Nona, ketika memusuhi keluargamu dan para pendekar, Eng-moi ini adalah seorang gadis yang bernama
Siangkoan Eng, puteri dari ketua Pao-beng-pai yang bernama Siangkoan Kok. Akan tetapi, sekarang Engmoi
bukan lagi puteri ketua Pao-beng-pai, bahkan musuh besarnya, karena Eng-moi ini sebenarnya adalah
puteri dari suami isteri pendekar Sim Houw dan Can Bi Lan, yang hilang ketika masih kecil."
Sian Li terbelalak. "Aihhh...! Jadi engkau... engkau inikah puteri Paman Sim Houw yang hilang itu? Engkau
yang dicari-cari semua pendekar, dicari oleh Han-koko dan aku pun ikut membantu mereka mencarimu?
Dan engkau bahkan pernah datang menemui kami sebagai seorang musuh yang sengaja menantang
kami?"
"Benar sekali, adik Sian Li. Ketika itu aku sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa aku bahkan anggota
keluarga dekat dengan keluarga yang kutantang, sama sekali tak tahu bahwa aku bukanlah anak kandung
Siangkoan Kok dan isterinya. Wanita yang sejak aku kecil mengaku sebagai ibu kandungku itu adalah
Lauw Cu Si, seorang keturunan Beng-kauw yang memusuhi keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir."
Kemudian, secara singkat namun jelas, diceritakanlah semua mengenai dirinya, tentang Siangkoan Kok
dan Lauw Cu Si kepada Sian Li yang mendengarkan dengan bengong. Cerita itu sungguh seperti dongeng
dan tentu saja dia tidak dapat menyalahkan Hui Eng atas sikapnya ketika memusuhi keluarganya dahulu.
Bahkan dia lalu memegang kedua tangan Hui Eng.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aihhh, enci Hui Eng. Sungguh malang nasibmu, sejak kecil dipisahkan dari ayah ibu kandung dan
dipelihara oleh orang-orang sesat. Akan tetapi dasar engkau keturunan suami isteri pendekar, maka biar
pun engkau mendapat didikan para tokoh sesat, tetap saja engkau setelah dewasa berjiwa pendekar dan
menentang kejahatan. Kemudian, bagaimana pula ceritanya, engkau dapat bertemu dan berkenalan
dengan... Pangeran Cia Sun ini dan kalian dapat datang tepat pada waktunya selagi aku terancam oleh
pengeroyokan mereka tadi?"
"Kami saling berkenalan ketika aku dan kakak angkatku Yo Han..."
"Kakak angkatmu, Pangeran?" Sian Li terbelalak.
"Benar, Nona Tan. Pendekar Tangan Sakti Yo Han dan aku sudah saling mengangkat saudara. Kami
bertemu di Pao-beng-pai, kemudian kami mengangkat saudara setelah kami menjadi tawanan di Paobeng-
pai. Untunglah ada adik Eng ini yang membebaskan kami. Lalu Pao-beng-pai diserbu oleh pasukan
pemerintah. Aku yang mengkhawatirkan nasib Eng-moi, lalu ikut pasukan untuk mencarinya. Akan tetapi
dia tidak ada dan aku malah sempat bertemu dengan isteri Siangkoan Kok yang tewas oleh suaminya
sendiri. Sebelum meninggal dunia, wanita itulah yang membuka rahasia Eng-moi kepadaku…"
Pangeran itu menghentikan kisahnya dan kini Hui Eng yang melanjutkan.
"Aku mengira bahwa Pangeran Cia Sun yang membawa pasukan dan menghancurkan Pao-beng-pai. Aku
tak peduli kalau Pao-beng-pai yang jahat itu hancur, akan tetapi aku mendendam karena wanita yang
tadinya kuanggap ibu kandungku itu tewas. Maka aku menyusul ia dan menawannya, dengan maksud
membunuhnya di depan makam ibuku. Akan tetapi, aku mendengar ceritanya dan aku mengetahui
keadaan diriku. Kami... kami lalu berbaik kembali, apa lagi setelah aku mendengar bahwa wanita yang
kuanggap ibu kandungku itu tewas di tangan Siangkoan Kok."
"Tapi, kenapa kalian dapat datang ke Thian-li-pang?" tanya Sian Li yang masih terkesan oleh kisah yang
terjadi antara kedua orang itu.
Pangeran Cia Sun yang mengambil keputusan untuk berterus terang, lalu menyambung cerita kekasihnya
tadi. "Nona, kita sama-sama mengetahui bahwa orang tua kita sudah menjodohkan kita, akan tetapi
sebaiknya aku berterus terang kepadamu, nona Tan Sian Li. Meski setelah bertemu denganmu aku
merasa bahwa orang tuaku telah melakukan pilihan yang tepat dan bahkan terlalu baik untukku, akan
tetapi aku sudah saling jatuh cinta dengan Eng-moi dan kami telah bersumpah untuk menjadi suami isteri.
Maafkan aku kalau menyinggung..."
Sian Li tersenyum! Senyum yang cerah dan sedikit pun tidak mengandung penyesalan sehingga
melegakan hati Cia Sun dan Hui Eng. "Aku bahkan merasa lega dan gembira dengan pernyataanmu ini,
Pangeran. Terus terang saja, aku sendiri pun sama sekali tak setuju dengan tindakan ayah dan ibuku yang
memilihkan seorang calon suami untukku, seorang yang sama sekali tidak kukenal dan tidak kuketahui
bagaimana orangnya. Nah, sekarang ceritakan bagaimana kalian dapat datang ke sini.”
"Aku hendak mengantar Eng-moi menghadap ayah dan ibu kandungnya yang tinggal di Lok-yang. Akan
tetapi dalam perjalanan itu kami mendengar akan sepak terjang orang-orang Thian-li-pang. Aku merasa
penasaran sekali kenapa Thian-li-pang dapat berubah menjadi perkumpulan yang menyeleweng, padahal,
kakak angkatku Yo Han itu menjadi ketua kehormatannya. Aku lalu mengajak Eng-moi untuk berkunjung,
dan kalau di sana ada Yo-toako, aku ingin menegurnya."
Sian Li kembali terheran-heran. "Pangeran, apakah engkau masih belum tahu bahwa Thian-li-pang adalah
perkumpulan para pejuang yang hendak membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah?! Dan engkau
sendiri seorang pangeran kerajaan Ceng..."
"Benar, Nona. Aku adalah seorang Pangeran Mancu, pemerintah penjajah. Akan tetapi aku sendiri tidak
menyetujui penjajahan dan menganggap bahwa perjuangan para orang gagah itu memang sudah benar
dan menjadi hak mereka. Aku tidak ingin mencampuri urusan itu. Aku bercita-cita untuk menjadi orang
biasa yang tidak mencampuri urusan pemerintahan. Bahkan kami sekeluarga pun tak mau memiliki ambisi
untuk memegang kedudukan. Sebab itu, selama perkumpulan pejuang benar-benar merupakan pahlawan
dan patriot sejati, aku menghormati mereka. Akan tetapi kalau mereka itu melakukan penyelewengan dan
dunia-kangouw.blogspot.com
menjadikan perjuangan sebagai kedok untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan, aku pasti akan
menentang mereka."
Sian Li mengangguk-angguk kagum dan dia memandang kepada Hui Eng.
"Aihh, enci Eng, engkau sudah mendapatkan seorang calon suami yang gagah perkasa. Sekarang tahulah
aku kenapa ayah dan ibu berkeras hendak menjodohkan aku dengan Pangeran Cia Sun! Harap kau
lanjutkan ceritamu, Pangeran."
Mendengar ucapan San Li yang begitu jujur dan terbuka, memuji pangeran itu begitu saja tanpa
disembunyikan, sepasang kekasih itu tersipu akan tetapi juga merasa suka dan kagum kepada Si Bangau
Merah.
"Kami segera mendaki Bukit Naga ini dan melihat engkau dikeroyok tadinya aku merasa ragu karena tidak
tahu urusannya. Tapi begitu Eng-moi mengenalmu dan menyebutkan namamu, kami berdua segera terjun
dan membantumu."
Sian Li menghela napas panjang. "Pertolongan Tuhan datang melalui apa saja, bahkan yang tidak pernah
terduga sekali pun. Siapa yang pernah menyangka bahwa aku akan diselamatkan oleh orang yang
ditunangkan denganku akan tetapi tak pernah kukenal dan akhirnya harus kutolak, dan oleh orang yang
tadinya jelas memusuhi keluargaku? Kalian datang pada saat yang tepat sekali, karena tadi aku sudah
hampir tidak tahan menghadapi mereka, terutama sekali Ouw-pangcu, ketua baru Thian-li-pang yang amat
lihai itu."
"Sekarang tiba giliranmu, Nona. Kami ingin sekali mengetahui bagaimana engkau dapat berada di sana
tadi dan dikeroyok banyak orang lihai?" tanya Cia Sun.
Ditanya begitu, Sian Li teringat akan Yo Han dan mendadak wajahnya menjadi muram. Kalau saja dia
bukan seorang gadis yang tabah dan berhati baja, tentu dia pun sudah menangis karena teringat bahwa
mungkin sekali pria yang dikasihinya itu telah tewas.
Cia Sun dan Hui Eng melihat perubahan muka Sian Li itu dan mereka saling pandang. Ketika beberapa kali
Sian Li hanya menghela napas panjang dan menunduk, alisnya berkerut, Cia Sun menjadi tidak sabar lagi.
"Nona, apakah yang telah terjadi? Apakah ada sesuatu yang membuat engkau enggan menceritakan
kepada kami? Kalau begitu, engkau tidak usah menceritakannya..."
"Tidak, Pangeran, bukan begitu, tetapi, ahhh, hatiku sangat risau dan gelisah. Maafkan kelemahanku ini
dan biarlah kuceritakan dari semula. Sebelum kuceritakan semuanya, sebaiknya kalau aku pun membuat
pengakuan padamu, pengakuan yang hanya dapat aku lakukan setelah engkau berterus terang tentang
hubunganmu dengan enci Hui Eng. Pangeran, aku dan kakak Yo Han... kami berdua... ehhh..."
Melihat keraguan Sian Li dan perubahan mukanya yang menjadi merah sekali, terlebih lagi bibirnya yang
mengulum senyum malu-malu, Cia Sun lalu tersenyum, "Kalian saling mencinta?"
Sian Li mengerling kepadanya dan mengangguk.
"Ha, sudah kuduga, Nona. Engkau memang pantas sekali menjadi calon isteri Yo-toako. Nah, teruskan
ceritamu."
"Pada waktu tiga orang keluarga besar berkumpul di rumah Paman Suma Ceng Liong, aku tidak melihat Yo
Han koko di sana. Aku tahu bahwa dia sedang membantu Paman Sim Houw untuk mencarikan puterinya
yang hilang. Oleh karena itu, aku lalu mengambil keputusan untuk membantunya mencarikan enci Hui
Eng."
Mendengar ini, Hui Eng lalu berkata. "Aihhh, kalian semua begitu baik, bersusah payah mencari aku, akan
tetapi aku sendiri malah sudah bertindak jahat, mengacau di sana..." Suaranya penuh penyesalan.
"Ahh, enci Eng. Seperti yang dikatakan Pangeran tadi, ketika itu engkau bukanlah enci Sim Hui Eng yang
sekarang, melainkan Siangkoan Eng puterinya ketua Pao-beng-pai. Yang sudah lewat anggap saja mimpi
buruk, Enci."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Engkau benar adik Sian Li. Teruskan ceritamu."
Sian Li kemudian menceritakan bahwa dalam perjalanannya, ia pun mendengar tentang kejahatan orangorang
Thian-li-pang, maka dia pun merasa penasaran dan ingin sekali menyelidiki. Akhirnya dia bertemu
dengan para tokoh Bu-tong-pai di lereng Bukit Naga dan mendengar penuturan mereka yang membuat
dirinya terkejut setengah mati, yaitu bahwa kabarnya, Yo Han tewas di tangan ketua Thian-li-pang yang
baru.
"Apa...?! Tidak mungkin itu!" Cia Sun berseru kaget setengah mati.
"Aku sendiri juga tidak percaya, Pangeran. Lebih tak percaya lagi ketika Ouw Seng Bu, ketua yang baru itu,
menceritakan bahwa Han-koko sudah membunuh para pimpinan Thian-li-pang, dan bahwa Han-koko
datang untuk membunuh dia. Dia melawan di dekat sumur tua dan akhirnya terluka oleh pukulan Han-koko,
akan tetapi para anak buahnya mengeroyok Han-koko yang katanya tergelincir masuk ke dalam sumur tua
itu. Dan... dan... mereka lalu menimbuni sumur tua itu dengan batu." Suara Sian Li terdengar lirih dan
penuh kegelisahan.
"Tetapi, aku tetap tidak percaya! Memang ketua baru Thian-li-pang itu lihai, akan tetapi tidak mungkin dia
mampu membuat Yo-toako terjatuh ke dalam sumur. Tidak mungkin Yo-toako tewas, aku tidak percaya!"
kata Cia Sun keras sambil mengepal tinju, namun suaranya mengandung isak tertahan, tanda bahwa dia
juga merasa gelisah sekali.
"Pangeran, biarlah adik Sian Li melanjutkan ceritanya. Lalu apa yang terjadi kemudian, Li-moi?"
"Aku menuntut kepada Ouw-pangcu agar anak buah Thian-li-pang menggali sumur itu dan menyingkirkan
timbunan batu-batu. Akan tetapi dia melarang dengan alasan sumur itu keramat bagi Thian-li-pang dan
tidak boleh diganggu. Kami bercekcok, lalu berkelahi dan aku dikeroyok oleh mereka."
"Aku tetap tidak percaya! Nona, apakah engkau percaya akan keterangan itu? Bohong, ketua Thian-li-pang
itu tentu orang jahat yang berhasil menguasai Thian-li-pang dengan ilmu kepandaiannya. Mungkin dialah
yang telah membunuh para pimpinan Thian-li-pang dan menjatuhkan fitnah kepada Yo-toako. Kita harus
menyelidiki hal ini!"
"Aku pun tidak percaya, Pangeran. Akan tetapi, satu hal yang sangat mencemaskan hatiku adalah
kesaksian yang diberikan oleh Cu Kim Giok."
"Cu Kim Giok? Siapakah itu?" tanda Sim Hui Eng dan Cia Sun hampir berbareng.
"Cu Kim Giok adalah puterinya Paman Cu Kun Tek dan Bibi Pouw Li Sian dari Lembah Naga Siluman. Dia
keturunan terakhir dari keluarga Lembah Naga Siluman dan masih terhitung kerabat yang ada hubungan
pertalian kekeluargaan denganku. Aku merasa heran bukan main melihat ia bisa berada di sana, bahkan
nampak akrab sekali dengan Ouw-pangcu itu. Kim Giok inilah yang memberi kesaksian bahwa Ouwpangcu
memang terluka parah oleh pukulan Han-koko. Kehadiran Kim Giok di sana bukan sembarangan
saja, pasti tersembunyi rahasia di balik itu semua."
"Aihh, jangan-jangan gadis itu sudah dipengaruhi oleh Ouw Seng Bu itu."
"Aku pun menduga begitu, Pangeran. Akan tetapi, jelas bahwa Kim Giok tidak menjadi jahat karenanya.
Buktinya, dia berkali-kali memperingatkan Ouw-pangcu supaya jangan membunuhku atau melukaiku.
Agaknya dia pun percaya bahwa Ouw-pangcu berada di pihak yang benar, bahwa ketua baru itu benar
seorang pejuang, seorang pendekar dan pahlawan, dan agaknya dia pun membenarkan Ouw-pangcu
dalam urusannya dengan Han-koko. Pasti ada apa-apanya di balik semua ini."
"Pangeran, adik Sian Li, kita semua sudah saling menceritakan apa yang kita alami. Kini tak ada gunanya
untuk menduga-duga dan berheran-heran. Yang terpenting, kita harus menyelidiki sumur tua itu. Kita harus
dapat melihat kenyataan apakah benar Yo Taihiap sudah tewas seperti dikatakan Ouw-pangcu itu. Dengan
demikian, kita tidak ragu lagi dan setelah itu baru kita putuskan, tindakan apa yang akan kita ambil."
"Tepat sekali apa yang dikatakan oleh dinda Hui Eng, Nona. Kita semua harus berusaha sekuat tenaga
untuk mencari bukti tentang keadaan Yo-toako. Karena bukan tidak ada sebabnya kalau orang-orang
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian-li-pang itu kemudian menimbuni sumur yang mereka anggap keramat itu dengan batu. Walau pun
kita tidak percaya akan berita tewasnya Yo-toako, namun kita harus mendapat kepastian."
Sian Li mengangguk. "Memang kalian benar, dan aku pun sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan
mau pergi dari sini sebelum mendapat kenyataan yang jelas tentang diri Han-koko."
Mereka bertiga lalu turun lagi untuk mencari pedusunan di mana mereka bisa membeli makanan. Setelah
membawa bekal makanan kering dan minuman, mereka bertiga lalu berangkat lagi mendaki Bukit Naga.
Mereka mencari jalan agar dapat memasuki daerah perkampungan Thian-li-pang dari belakang, langsung
menuju ke sumur tua yang berada di bagian belakang. Sumur yang dipisahkan oleh sebuah bukit kecil dari
perkampungan perkumpulan itu…..
********************
"Adik Gan Bi Kim, kau tunggu dulu...!"
Gan Bi Kim menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh. Dia melihat pemuda itu berlari cepat
menghampirinya. Wajah Bi Kim berseri gembira ketika mengenal bahwa pemuda itu adalah Gak Ciang
Hun, pemuda yang selalu terbayang di pelupuk matanya semenjak mereka bertemu lalu berpisah.
Dalam keadaan duka karena kasihnya yang gagal terhadap Yo Han, ia bertemu pemuda itu yang juga
mengalami derita patah hati karena kasihnya terhadap Si Bangau Merah tidak terbalas. Mereka seolaholah
merasa saling menemukan, saling menghibur serta saling mengisi kekosongan hati masing-masing.
Tetapi, pertemuan singkat itu segera diakhiri perpisahan, membuat Gan Bi Kim merasa kehilangan. Mereka
bertiga, dia, Gak Ciang Hun, dan Tan Sian Li, harus saling berpisah di jalan perempatan. Sian Li
melakukan perjalanan ke utara, Ciang Hun ke selatan, dan Bi Kim ke timur. Mereka bertiga bertujuan
sama, yaitu membantu pencarian terhadap puteri Sim Houw yang hilang sejak kecil, yaitu Sim Hui Eng.
"Gak-toako...!" Bi Kim berseru dan kini ia pun lari menghampiri, menyambut pemuda itu dengan hati
terbuka dan kedua tangan di julurkan ke depan. Sejak berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian,
kehilangan gairah dan semangat.
"Kim-moi (adik Kim)...!"
Kedua orang itu saling menjulurkan kedua tangan, saling tatap tanpa kata. Dua pasang mata itu bersinarsinar,
lalu mata Ciang Hun berkaca-kaca sedangkan Bi Kim yang berusaha keras menahan keras
guncangan hatinya, tidak urung meneteskan beberapa butir air mata saking merasa lega dan bahagia
dapat bertemu kembali dengan orang yang amat dikenangnya.
Ketika ada beberapa orang pejalan kaki mendatangi, Ciang Hun menggandeng tangan Bi Kim ke tepi jalan
dan mengajaknya duduk di atas batu besar. "Mari kita bicara di sini, Kim-moi," katanya.
Setelah duduk saling berhadapan di atas batu, Bi Kim berkata, "Toako, aku tadi merasa seperti dalam
mimpi ketika mendengar panggilanmu, kemudian melihat bahwa engkau benar-benar datang. Kiranya
bukan mimpi dan sekarang betapa bahagianya rasa hatiku melihatmu, Toako."
Ciang Hun menggenggam tangan yang masih digandengnya. Dari tangan mereka yang saling genggam itu
saja sudah terasa getaran hati mereka yang berbahagia.
"Kim-moi, aku gembira sekali bahwa engkau merasa berbahagia melihat aku mengejar dirimu. Tadinya aku
khawatir kalau-kalau engkau akan marah."
"Marah? Aihh, Toako, pada saat kita saling berpisah, aku merasa kehilangan pegangan, seolah hidupku
hampa. Tetapi, apakah yang menyebabkan engkau kembali kepadaku? Apakah ada sesuatu yang
penting?"
Ciang Hun tersenyum dan menggelengkan kepala, nampak agak tersipu. Akan tetapi dengan sejujurnya
dia berkata, "Kim-moi, setelah kita saling berpisah, entah mengapa, hatiku selalu terasa berat. Lalu kupikir
betapa besar bahaya yang mengancammu dalam perjalanan seorang diri. Apa lagi mengingat bahwa kita
sama-sama hendak membantu dan mencari Sim Hui Eng, maka apa salahnya kalau kita mencari
dunia-kangouw.blogspot.com
bersama? Dengan berdua, atau bertiga dengan Sian Li, kita akan lebih kuat menghadapi bahaya, bukan?
Nah, aku lalu berbalik mengejarmu."
Bi Kim tersenyum, "Kalau begitu pikiran kita sama. Aku pun senang sekali engkau akan menemaniku,
Toako. Marilah kita segera menyusul Sian Li ke utara."
"Aku pernah mendengar bahwa Yo Han menjadi pemimpin Thian-li-pang di Bukit Naga. Sian Li mungkin
sekali mencari Yo Han yang dicintanya itu untuk membantunya karena Yo Han sedang mencari Hui Eng.
Mari kita cari Sian Li ke sana, siapa tahu ia pergi ke Thian-li-pang di Bukit Naga."
Setelah Ciang Hun berada di sampingnya, tentu saja Bi Kim mengikuti saja ke mana pemuda itu pergi.
Mereka berdua melakukan perjalanan cepat ke utara dan kini mereka merasakan betapa perjalanan
mereka amat menyenangkan, tidak lagi merasa kesepian dan kehilangan…..
********************
Kita tinggalkan dulu kedua orang ini dan kita tengok keadaan Sian Li, Hui Eng, dan Cia Sun. Tiga orang ini
telah mengambil keputusan untuk menyelidiki sumur tua di belakang Thian-li-pang untuk mencari bukti
kebenaran bahwa Yo Han berada di dalam sumur dan ditimbuni batu-batu.
Setelah membuat persiapan secukupnya, tiga orang pendekar ini mendaki Bukit Naga dari arah belakang
Thian-li-pang. Mereka adalah orang-orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Maka biar pun
perjalanan pendakian itu amat sulit bagi orang biasa, tapi dalam waktu yang cukup singkat mereka dapat
juga sampai di belakang bukit yang memisahkan sumur itu dengan pusat Thian-li-pang.
Tempat ini memang merupakan tempat yang seolah terasing. Juga dianggap keramat oleh para murid
Thian-li-pang sehingga tanpa ijin ketua, tak seorang anggota pun berani memasuki daerah yang
menyeramkan itu.
Hari masih pagi sekali ketika mereka mulai mendaki bukit dan kini matahari sudah mulai menyengatkan
cahayanya setelah mereka tiba di dekat sumur yang ditimbuni batu-batu. Tempat itu nampak sunyi, tidak
nampak ada seorang pun anak buah Thian-li-pang.
Hal ini melegakan hati ketiga orang pendekar itu, membuat mereka lebih leluasa untuk melakukan
pemeriksaan. Andai kata di situ terdapat anak buah Thian-li-pang, mereka tentu harus merobohkan terlebih
dahulu sebelum dapat melakukan pemeriksaan.
Sian Li mengerutkan alisnya saat menjenguk ke dalam sumur tua itu. Sumur itu tertutup banyak batu-batu
dan rasanya tidak mungkin batu-batu itu dapat digali dan disingkirkan hanya oleh mereka bertiga. Tentu
akan memakan waktu berhari-hari!
"Ahhh, benarkah Yo-toako ditimbuni batu-batu itu di dalam sumur ini?" Aku sama sekali tidak dapat
percaya!"
Sim Hui Eng juga memandang ngeri ke dalam sumur itu. "Aihhh, adik Sian Li, bagai mana kita akan dapat
menyingkirkan batu-batu itu? Tidak tahu sampai berapa dalamnya sumur ini dan berapa banyaknya batu
yang menimbuninya."
"Bagaimana pun juga, kita harus membongkar batu-batu itu dan mengangkatnya keluar dari sumur. Kalau
tidak begitu, bagaimana kita akan dapat membuktikan bualan ketua baru Thian-li-pang itu?"
Tapi Sian Li berkata, "Nanti dulu, Pangeran. Coba engkau dan enci Eng menyerang dan mengeroyokku di
dekat sumur ini, aku ingin melihat kemungkinan Han-koko tergelincir ke dalam sumur. Mungkin atau tidak
hal itu terjadi kalau kita sedang dikeroyok. Harap kalian mengeroyok dengan sungguh-sungguh, karena
kalau benar Han-koko berkelahi melawan ketua Thian-li-pang itu, dan dikeroyok oleh para sekutunya,
berarti Han-koko menghadapi banyak lawan tangguh. Nah, mulailah."
Mengerti apa yang dimaksudkan Si Bangau Merah, Cia Sun dan Hui Eng mengangguk, kemudian
keduanya sudah menyerang gadis itu dari kanan kiri. Sian Li mengelak dan menangkis, dan membiarkan
dirinya terdesak sampai ke tepi sumur. Dengan cara tidak membalas, ia lalu terdesak mundur sampai ke
dunia-kangouw.blogspot.com
tepi sumur. Tiba-tiba, nampak bayangan merah berkelebat ke atas dan gadis itu sudah meloncati kedua
orang lawannya, seperti seekor burung bangau melayang, melampaui kepala mereka.
"Cukup sudah!" katanya. "Nah, kalian lihat sendiri. Dalam keadaan gawat menghadapi pengeroyokan, aku
saja kiranya mampu meloloskan diri dengan mengandalkan ginkang. Apa lagi Han-koko yang memiliki
tingkat ginkang jauh lebih tinggi dariku. Jadi, mustahil kalau sampai mereka itu dapat membuat Han-koko
tergelincir ke dalam sumur, bukan?"
"Tepat, Nona. Aku pun sama sekali tak percaya bahwa Yo-toako demikian bodoh untuk dapat dibuat
tergelincir ke dalam sumur yang bibirnya cukup tinggi ini," kata Pangeran Cia Sun sambil menyentuh bibir
sumur yang tingginya ada satu satu meter itu. "Dia pasti berbohong!"
"Adik Sian Li, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah tidak lebih baik kita serbu saja Thian-lipang,
menangkap ketuanya dan memaksanya untuk mengaku, atau memaksa dia mengerahkan anak
buahnya untuk membongkar batu-batu dalam sumur ini?" kata Hui Eng.
"Atau kalau kekuatan mereka terlampau besar bagi kita, biarlah aku mencari bantuan ke benteng pasukan
yang terdekat."
"Nanti dulu, Pangeran. Aku memang sangat mengkhawatirkan keselamatan Han-koko. Akan tetapi, andai
kata ia benar tewas, kurasa tentu bukan karena perkelahian melawan orang-orang jahat itu. Ia mungkin
saja tewas atau tertawan akibat dijebak, dan mungkin saja ia tidak berada di dalam sumur ini, melainkan
ditawan di suatu tempat rahasia di sarang Thian-li-pang."
"Ahhh, itu mungkin sekali!" kata Cia Sun.
"Bagaimana kalau kita bertiga mencari secara berpencaran? Dengan terpencar, selain lebih mudah
menyusup, juga pencarian dapat dilakukan lebih luas," kata Hui Eng.
Wajah Sian Li nampak berseri. "Demikianlah sebaiknya, enci Eng! Akan tetapi... ahhh, aku merasa tidak
enak sekali karena selain merepotkan kalian, juga menyeret kalian ke dalam bahaya besar mengingat
betapa lihainya mereka."
"Ihhh, nona Tan, mengapa engkau mengatakan demikian? Kakak Yo Han adalah kakak angkatku, karena
itu sudah sepatutnya kalau aku rela mengorbankan nyawa sekali pun untuk membelanya!" kata Cia Sun.
"Ucapan itu tepat sekali," sambung Hui Eng. "Adik Sian Li, bukankah keluarga orang tua kita sejak dulu
merupakan keluarga besar para pendekar? Aku telah terseret ke dalam dunia sesat, tetapi sekarang
tibalah saatnya aku menebus semua kekuranganku itu dan memperlihatkan kepada dunia bahwa aku
masih tetap keturunan keluarga pendekar!"
Sian Li memandang dengan haru. "Kalau begitu, semoga Tuhan melindungi kita semua. Aku akan
mengambil jalan dari sini ke kiri, dan engkau ke kanan, enci Eng. Pangeran sendiri melakukan penyelidikan
di sini dan terus ke bagian belakang Thian-li-pang."
"Dan kapan kita bertemu lagi? Di mana?"
"Di sini saja. Setelah kita melakukan penyelidikan, kita kembali ke sini dan siang atau sore ini kita harus
sudah kembali ke sini mengumpulkan hasil penyelidikan kita," kata Sian Li.
Setelah bersepakat, Sian Li berkelebat ke kiri dan Hui Eng meloncat ke kanan. Dalam sekejap mata saja
kedua orang gadis perkasa itu telah lenyap, meninggalkan Cia Sun seorang diri.
Pangeran ini termenung, hatinya diliputi penuh kekhawatiran. Pertama-tama tentu saja dia
mengkhawatirkan Hui Eng, gadis yang dicintanya, kemudian dia mengkhawatirkan Yo Han dan Sian Li.
Pihak musuh terlampau kuat, dan jumlah mereka terlalu banyak.
Dia memang tidak ingin mencampuri urusan pemerintah, juga tidak mencampuri urusan perjuangan atau
pemberontakan. Akan tetapi kali ini ia harus mencari bantuan pasukan pemerintah, bukan untuk
membasmi pemberontak, melainkan untuk melindungi kedua orang gadis itu dan mencari keterangan
tentang Yo Han.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biar pun dia tahu bahwa Hui Eng memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, bahkan belum tentu di bawah
tingkat kepandaian Si Bangau Merah, akan tetapi menghadapi Thian-li-pang yang mempunyai anak buah
ratusan orang banyaknya, belum lagi sekutu-sekutunya yang banyak dan lihai, apa yang dapat diperbuat
oleh dua orang gadis itu dibantu olehnya seorang diri?
Setelah berpikir keras, Cia Sun meninggalkan tempat itu, bukan untuk menyelidiki ke Thian-li-pang,
melainkan kembali menuruni bukit itu untuk memasuki dusun di mana tadi mereka membeli bekal
makanan. Dia tahu bahwa kurang lebih seratus li dari dusun itu terdapat benteng Siang-heng-koan di mana
terdapat pasukan pemerintah. Dia sendiri tidak mungkin pergi ke sana karena dia harus membantu dua
orang gadis itu.
Melihat seorang laki-laki sedang menggarap sawah di luar dusun itu, Cia Sun segera memanggilnya dari
pinggir sawah. Laki-laki itu bertubuh kuat berkat pekerjaan berat di sawah dan setiap hari mandi cahaya
matahari, usianya sekitar empat puluh tahun.
"Toako, kesinilah sebentar. Aku mempunyai urusan penting untuk dibicarakan!" kata Cia Sun.
Melihat seorang pemuda di tepi sawah memanggilnya, dan pemuda itu bukan seperti seorang pemuda
dusun, petani itu segera menghampiri. Tubuh atas yang telanjang itu nampak kekar, celananya yang hitam
penuh lumpur.
"Ada urusan apakah Kongcu memanggil aku?" tanya heran.
"Sobat, maukah engkau mendapat penghasilan yang lebih besar jumlahnya dari pada penghasilan
sawahmu selama beberapa tahun?"
"Ehhh? Apa maksudmu Kongcu? Aku tidak mengerti..."
Cia Sun mengeluarkan tiga potong besar emas dari sakunya dan memperlihatkannya kepada petani itu.
"Emas ini akan kuberikan kepadamu kalau engkau suka melakukan sesuatu untukku."
Sepasang mata itu terbelalak. Biar pun selama hidupnya belum pernah ia melihat emas sebanyak itu, apa
lagi memilikinya, akan tetapi ia pun cukup dewasa untuk mengetahui bahwa tiga potong besar emas itu
bukan saja sangat mahal harganya dan merupakan jumlah yang lebih besar dari pada hasil sepuluh tahun
bekerja di sawah, bahkan dengan emas itu dia akan mampu membeli sawah yang luas dan rumah tinggal
yang cukup baik!
"Apa yang harus kulakukan untuk Kongcu? Meski pun aku orang miskin, aku tidak mau kalau disuruh
mencuri atau membunuh orang, biar dibayar berapa banyaknya pun!"
"Aihhh, siapa suruh engkau melakukan kejahatan? Tugasmu hanya mudah saja, yaitu mengantarkan surat
ke benteng Siang-heng-koan."
"Benteng pasukan...? Ahhh, mana aku berani, Kongcu? Aku akan ditangkap!"
"Suratku akan membuka pintu benteng dan engkau akan diterima dengan kehormatan sebagai utusanku.
Katakan dulu, sanggupkah engkau?"
Karena hanya disuruh mengantar surat, dengan penuh semangat petani itu berkata, "Aku... ehhh, saya
sanggup, Kongcu!"
"Kalau begitu, mari kita ke rumahmu, akan kubuatkan surat itu."
Petani itu pun bergegas mencuci kaki tangannya, lalu mengenakan baju dan capingnya, memanggul
cangkulnya dan bersama Cia Sun dia pulang. Rumahnya di ujung dusun itu, sebuah rumah yang amat
sederhana, bahkan miskin. Mereka disambut isteri petani itu bersama empat orang anak mereka yang
merasa terheran-heran melihat petani itu telah pulang bersama seorang pemuda tampan yang bukan
seorang petani.
dunia-kangouw.blogspot.com
Petani itu menyuruh anak isterinya ke belakang. Dia duduk di tengah rumah bersama tamunya. Atas
permintaan Cia Sun, petani itu keluar sebentar untuk membeli alat tulis dan menyewa seekor kuda yang
paling kuat. Kemudian, Cia Sun menulis surat kepada komandan benteng Siang-heng-koan dan surat itu
dibubuhi tanda tangan dan cap yang selalu dibawanya.
"Nah, sekarang juga engkau cepat pergi menunggang kuda ke benteng itu dan emas ini pun boleh kau
miliki. Dengan emas ini, maka kau akan dapat mengubah keadaan hidup keluargamu. Tetapi awas, jika
surat ini tidak kau sampaikan, maka pasukan di benteng itu akan kukerahkan untuk menangkapmu dan
engkau beserta seluruh keluargamu akan dihukum berat. Katakan siapa namamu!" kata Cia Sun sambil
menyerahkan surat itu.
"Nama hamba Ki Siok...," kata petani itu, kini nampak takut dan hormat. "Kalau boleh hamba mengetahui
nama Kongcu..."
"Katakan saja kepada komandan benteng itu bahwa engkau diutus oleh seorang yang bernama Sun dan
serahkan suratku itu. Tetapi ingat, tidak boleh orang lain mengetahui tentang urusan kita ini dan siapa pun
juga tidak boleh melihat surat ini. Juga isteri dan anak-anakmu tidak boleh mengetahui."
"Baik, baik, hamba mengerti..." kata petani itu ketakutan.
Meski pun sebodoh-bodohnya manusia, dia pun dapat menduga bahwa pengirim surat ini tentulah bukan
orang sembarangan, buktinya memiliki emas sebanyak itu, bersikap royal, dan berani mengirim surat
kepada komandan benteng.
Setelah melihat sendiri Ki Siok pergi meninggalkan dusun itu dan menuju ke benteng Siang-heng-koan,
cepat Cia Sun mendaki Bukit Naga dan kembali ke tempat yang tadi. Matahari telah naik tinggi, tengah hari
hampir lewat, tapi di dekat sumur tua itu nampak sepi, belum kelihatan kedua orang gadis itu kembali. Dia
pun menunggu dengan hati berdebar tegang penuh kekhawatiran…..
********************
Kekuasaan Tuhan mencakup dan menyelimuti seluruh yang ada, seluruh yang nampak dan yang tidak
nampak oleh mata manusia. Keadaan di seluruh alam semesta ini terjadi karena Kekuasaan Tuhan.
Kekuasaan Tuhan berada di dalam yang paling dalam dan di luar yang paling luar, mencakup yang
terendah sampai yang tertinggi, yang paling kecil sampai yang paling besar. Kekuasaan Tuhan jugalah
yang mencipta, memelihara, dan mengadakan sampai yang meniadakan.
Segala sesuatu terjadi karena Kehendak Tuhan. Segala macam suka, duka, indah atau buruk, hanya
merupakan ulah pikiran yang bergelimang nafsu daya rendah.
Sebab akibat merupakan mata rantai kait mengait yang dibentuk oleh hati akal pikiran kita sendiri. Tidak
ada yang lebih kuat dari pada Kekuasaan Tuhan, yang juga bekerja di dalam tubuh kita, dari ujung rambut
sampai ke kuku jari kaki. Kekuasaan Tuhan bekerja sepenuhnya kalau kita menyerah. Penyerahan total
yang meniadakan ulah hati akal pikiran sehingga kekuasaan Tuhan mutlak bekerja.
Kalau sudah begitu, tidak ada yang tidak mungkin. Hanya Tuhanlah Maha Sempurna, Maha Kuasa. Segala
kehendakNya jadilah!
Ketika dia terjebak di dalam sumur tua, dan sumur itu ditimbuni batu-batu dari atas, Yo Han mengerahkan
segala daya hati akal pikirannya. Sebagai manusia, memang sudah tugasnya untuk mempertahankan agar
tetap dapat hidup di dalam dunia ini. Dia berhasil menutup terowongan di dalam sumur itu dengan batu
besar sehingga batu-batu yang dilemparkan dari atas sumur itu tertahan oleh batu besar itu.
Yo Han duduk bersila di atas gulungan tali, memusatkan semua rasa diri, seolah-olah dia tenggelam. Dia
membiarkan dirinya tenggelam ke dalam lautan penyerahan. Sampai malam lewat, dia tidak menyadari dan
dia merasa seperti hidup di dalam lautan, atau di dalam udara tanpa dataran. Tubuhnya ringan, tidak ada
secuil pun pikiran mengganggu batin, bahkan tidak ada lagi rasa enak atau tidak enak.
Seperti orang tidur atau orang mati, begitu kiranya keadaan Yo Han. Hanya bedanya, dia sadar. Dia
menyadari bahwa dia berada di dasar sumur tua dan tidak ada jalan keluar. Namun pada saat dia duduk
dunia-kangouw.blogspot.com
bersila seperti itu, dia tidak merasa khawatir, tidak merasa apa-apa seolah-olah tidak peduli dan tiada
bedanya baginya.
Malam sudah lewat dan setelah ada sinar matahari menyorot masuk melalui celah-celah di antara batubatu
di atas, dia seperti terbangun. Dan teringatlah dia akan semua yang terjadi kemarin. Kemarin? Hanya
samar-samar dia teringat bahwa malam telah lewat, berarti dia telah semalaman berada di terowongan
sumur itu.
Lima orang pimpinan Thian-li-pang telah tewas dan mayat mereka dilempar ke dalam sumur yang
sekarang ditimbuni batu-batu. Kini semuanya jelas baginya. Ouw Seng Bu membunuhi para pimpinan
Thian-li-pang karena ingin menguasai perkumpulan itu. Gila!
Bukankah Ouw Seng Bu murid Lauw Kang Hui, bahkan merupakan murid tersayang? Kalau dia hanya
murid mendiang Lauw Kang Hui, lalu bagaimana mungkin dia mampu membunuh lima orang tokoh
pimpinan Thian-li-pang yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi itu? Bagaimana pula para murid
Thian-li-pang mau menerima dia sebagai ketua baru? Dan yang membuat dia lebih terheran-heran lagi,
bagaimana gadis yang diperkenalkan kepadanya sebagai puteri Cu Kun Tek, pendekar sakti dari Lembah
Naga Siluman, dapat berada di Thian-li-pang, bahkan bersahabat baik dengan Ouw Seng Bu?
"Aku harus dapat keluar dari sini. Harus! Aku harus dapat membongkar semua rahasia Ouw Seng Bu,
kalau tidak Thian-li-pang akan diselewengkan, dan dunia kang-ouw akan kacau balau karena kejahatan
akan menjadi-jadi. Semoga Tuhan memberi bimbingan kepadaku," katanya dalam hati.
Perutnya mulai terasa lapar, akan tetapi dia menampung rembesan air yang menetes turun dari atas
dengan kedua tangan dan setelah minum air beberapa teguk, laparnya hilang. Mulailah dia memeriksa
semua dinding terowongan itu. Dinding itu terjal ke atas, licin dan keras, tidak mungkin dipanjat, apa lagi di
atasnya tidak nampak lubang yang cukup besar seperti mulut sumur, melainkan tertutup dan sinar yang
masuk pun melalui celah-celah dari samping atas yang tidak nampak dari situ.
Tiba-tiba terdengar suara mencicit dan Yo Han melihat seekor tikus yang cukup besar, sebesar anak
kucing, berlari keluar dari sebuah lubang sambil menggigit sebuah benda hitam kehijauan. Dia merasa
heran bagaimana binatang itu mampu membawa sesuatu dengan gigitan, dan mengeluarkan bunyi
mencicit pula. Tikus itu lenyap menyelinap ke dalam lubang kecil dan tak lama kemudian terdengar suara
mencicit-cicit anak tikus.
Yo Han tersenyum. Betapa besar kekuasaan Tuhan, pikirnya. Bahkan di tempat seperti ini pun terdapat
makhluk hidup. Belum yang tidak nampak olehnya, seperti cacing dan kutu-kutu lainnya, bahkan mungkin
dalam tetesan-tetesan air itu pun terdapat makhluk hidupnya! Hatinya semakin tenang karena dia yakin
bahwa kekuasaan Tuhan berada di mana-mana, sehingga kalau memang Tuhan menghendaki dia tidak
mati, tentu ada jalan keluar dari situ!
Tikus itu! Dia membawa benda hitam kehijauan dan kembali ke sarang, memberi makan kepada anakanaknya.
Benda tadi tentulah makanan. Teringat ia akan jamur-jamur atau tanaman dalam air yang
terdapat di terowongan goa di mana dia pernah mempelajari ilmu dari Kakek Ciu Lam Hok!
Kini Yo Han memandang ke arah lubang dari mana tikus tadi keluar. Bukan lubang sesempit kepalan
tangan ke mana tikus tadi menghilang, melainkan lubang yang cukup besar, agaknya dia akan dapat
memasuki lubang itu dengan merangkak rendah. Siapa tahu, itu merupakan jalan keluar, setidaknya jalan
menuju ke tempat makanan! Andai kata bukan jalan keluar sekali pun, kalau dari sana dia bisa
mendapatkan makanan sebagai penyambung hidup, itu sudah lumayan namanya.
Akan tetapi, baru dua meter lebih dia merangkak melalui lubang sempit itu, lubang itu mengecil dan
tubuhnya tak dapat maju lagi. Terpaksa Yo Han menggunakan tenaganya untuk membongkar batu-batu di
depannya, memperbesar terowongan itu sehingga dia dapat maju lagi.
Tentu saja pekerjaan ini memakan waktu dan setelah sehari penuh bekerja, dia baru dapat maju sejauh
empat meter dan terpaksa menghentikan pekerjaannya karena lelah dan gelap. Dia merangkak mundur
dan minum air dengan menadah air rembesan dari atas dengan kedua tangannya sampai kenyang.
Malam itu, Yo Han mengatur tali sehingga merupakan tempat tidur darurat, lumayan untuk membiarkan
tubuhnya beristirahat dengan rebah terlentang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah menjadi lajim bagi kita bahwa dalam keadaan menderita sengsara, kalau semua daya kita sudah
tidak mampu menolong keadaan kita, maka kita baru teringat kepada Tuhan! Kita lalu merengek-rengek
dan memohon kepada Tuhan agar kita dibebaskan dari penderitaan.
Tentu saja setiap orang dari kita tidak mau kalau dikatakan bahwa kita hanya teringat kepada pencipta kita
bila kita sedang membutuhkan saja. Di waktu kita dalam keadaan senang, sewaktu kita berhasil, maka kita
tidak ingat lagi kepada Tuhan dan merasa bahwa semua hasil itu adalah karena kepintaran kita!
Keberhasilan mendatangkan kesombongan, kita menjadi tinggi hati dan merasa diri kita hebat. Sebaliknya,
dalam keadaan gagal dan menderita, baru kita merasa betapa kita lemah tak berdaya, dan kita baru
berdoa dan meminta-minta kepada Tuhan.
Segala macam permintaan kita ajukan. Kita mohon diberi rejeki, mohon diberi kenaikan pangkat, mohon
diluluskan ujian, mohon disembuhkan dari penyakit, dan segala macam permohonan lagi. Kita lupa bahwa
segala sarana yang lengkap telah diberikan Tuhan kepada kita untuk mencapai itu semua.
Untuk mendapat rejeki, kita sudah diberi anggota tubuh lengkap, berikut hati akal pikiran untuk kerja dan
mencari rejeki. Untuk naik pangkat kita harus bekerja dengan jujur, setia dan baik. Untuk lulus ujian kita
harus belajar dengan rajin. Untuk sembuh dari penyakit kita harus berobat dan untuk mencegah datangnya
penyakit kita harus hidup bersih dan sehat, dan sebagainya.
Akan tetapi, kesenangan merupakan semua penggunaan sarana tidak sehat. Karena penggunaan akal
pikiran secara tidak sehat sehingga melahirkan perbuatan yang tidak sehat pula, maka timbullah semua
akibat buruk. Kalau sudah begitu, kita minta-minta kepada Tuhan agar kita dibebaskan dari pada akibat
perbuatan kita sendiri itu.
Berbahagialah manusia yang lahir batinnya menyerah dengan tawakal dan ikhlas pada Tuhan, mendasari
semua ikhtiar sehat di atas penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Bagi seorang yang sudah dapat
menyerah lahir batin, maka segala apa pun yang datang menimpa diri, merupakan kehendak Tuhan yang
penuh rahasia.
Tuhan mengetahui apa yang paling tepat untuk kita, baik itu merupakan hukuman atau ujian. Hukuman
memang tepat untuk mengingatkan kita akan dosa kita dan ujian akan memperkuat batin dan iman kita.
Orang yang menyerah kepada Tuhan hanya mengenal ucapan terima kasih dan syukur kepada Tuhan, dan
hanya mengenal satu permohonan, yaitu permohonan ampun atas segala dosa yang sudah diperbuatnya
di masa lalu dan bimbingan di masa depan. Tidak banyak mengeluh kalau sedang ditimpa duka, dan tidak
mabuk kalau sedang dijenguk suka.
Pada keesokan harinya, begitu ada cahaya memasuki terowongan itu, Yo Han sudah bekerja lagi dengan
rajin. Dia tidak tergesa-gesa, tidak terlalu memeras tenaganya agar tidak sampai kehabisan tenaga dan
kelelahan sebab perutnya yang kosong mengurangi banyak tenaganya.
Setelah tiga hari lamanya membongkar tumpukan batu dan hanya minum air, setelah tenaganya hampir
habis, lubang itu membesar lagi sehingga dia dapat melanjutkan merangkak ke depan dan menemukan
jamur atau tumbuhan di antara dinding batu yang basah, jamur liar seperti yang dibawa oleh induk tikus
untuk memberi makan kepada anak-anaknya. Yo Han pernah makan jamur ini atas petunjuk mendiang
kakek Ciu Lam Hok, maka tanpa ragu lagi dia pun makan beberapa potong jamur.
Dan terhindarlah dia dari bahaya kelaparan! Kini dia dapat melanjutkan usahanya untuk mencari jalan
keluar dengan menjelajahi lubang-lubang yang banyak terdapat di bawah permukaan bukit itu, merupakan
lubang dan terowongan bawah tanah dari batu karang yang kuat.
Sambil mengerahkan seluruh anggota badannya, seluruh panca inderanya, didasari penyerahan diri
kepada Tuhan, yakin bahwa kekuatan Tuhan akan membimbingnya, Yo Han terus bekerja dengan tekun,
tak pernah putus asa walau pun beberapa kali lubang yang diikutinya tiba di dinding buntu dan terpaksa dia
harus mencari lubang lain…..
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Kalau Yo Han dengan penuh semangat mencari jalan keluar, maka di atas sumur, di permukaan bukit itu,
terjadi hal-hal yang hebat, yang tentu akan menggelisahkan hati Yo Han kalau dia mengetahuinya.
Bayangan tubuh Sim Hui Eng yang ramping padat itu berkelebat cepat, menyelinap di antara pohon-pohon.
Dia sedang melakukan penyelidikan terhadap Thian-li-pang, untuk mengetahui lebih banyak tentang
perkumpulan itu dan bila mungkin menyelidiki apakah benar Yo Han telah tewas, ataukah ditahan di dalam
rumah perkumpulan itu.
Gadis yang anggun dan cantik ini tidak lagi bersikap dingin dan angkuh seperti dulu saat dia masih menjadi
puteri ketua Pao-beng-pai. Dia gunakan ginkang-nya dan gerakannya sedemikian cepat sehingga tidak
akan kelihatan oleh orang-orang Thian-li-pang.
Akan tetapi, hal ini hanya dugaannya saja karena ia mengira bahwa musuh tidak tahu akan
kedatangannya. Padahal, sejak ia bersama Sian Li dan Cia Sun berada di dekat sumur tua itu, para murid
Thian-li-pang telah melakukan penjagaan dan Ouw Seng Bu sendiri telah mengamati gerak-gerik ketiga
orang itu.
Tentu saja gerakan Hui Eng sekarang juga sudah selalu diamati. Setelah gadis itu kini berpisah jauh dari
Sian Li dan Cia Sun, dan dia melihat bagian kanan perkampungan itu nampaknya tidak terjaga ketat,
dengan berani ia melompati pagar dan memasuki bagian belakang sebuah bangunan besar yang akan
diselidikinya. Mungkin ia dapat mendengar percakapan murid Thian-li-pang, atau syukur kalau menemukan
sesuatu yang akan bisa menunjukkan tentang Yo Han.
Akan tetapi baru saja ia tiba di ruangan terbuka yang tadinya sepi itu, tiba-tiba terdengar gerakan orang.
Ketika ia cepat memutar tubuhnya, ia melihat dirinya sudah terkepung oleh puluhan orang anak buah
Thian-li-pang yang semuanya menyeringai dengan gaya mengejek!
"Hemmm...!" Hui Eng tidak menjadi gentar dan ia sudah mempersiapkan pedang dan kebutannya.
Dua orang pria yang agaknya menjadi pimpinan dari tiga puluh orang lebih anak buah Thian-li-pang itu
melangkah maju dan berkata dengan suara yang mengandung ejekan.
"Nona, sebaiknya engkau menyerah dan akan kami hadapkan kepada pangcu dari pada tubuhmu yang
mulus itu halus lecet-lecet dan mungkin terluka."
Sinar mata Hui Eng mencorong marah. "Aku? Menyerah kepada kalian? Makanlah ini!" Pedangnya
menyambar ganas.
Dua orang anggota Thian-li-pang yang memimpin rombongan itu merupakan murid yang sudah agak tinggi
tingkatnya. Mereka terkejut melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyambar, akan tetapi mereka
masih dapat melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari maut. Para anggota Thian-li-pang yang
lainnya sudah mengepung ketat sambil menggerakkan senjata mereka mengeroyok gadis itu.
"Tar-tar-tarrr...!"
Sinar merah menyambar-nyambar dan bulu-bulu kebutan yang halus itu langsung saja merobohkan empat
orang pengeroyok. Hui Eng mengamuk. Pedang serta kebutannya menyambar-nyambar menjadi dua
gulungan sinar putih dan merah, dan dalam waktu belasan jurus saja sudah ada belasan orang anggota
Thian-li-pang roboh!
"Semua mundur!" terdengar bentakan dan muncullah Siangkoan Kok! Datuk ini dengan muka merah
karena marah menghadapi bekas puterinya, juga muridnya yang tadinya amat disayangnya. "Eng Eng,
cepat menyerah!"
Akan tetapi Hui Eng memandang kepada orang yang dulu dianggap guru dan ayahnya itu dengan mata
mencorong. "Kenapa aku harus menyerah kepadamu? Aku tidak sudi!"
Siangkoan Kok melotot. "Eng Eng, lupakah engkau bahwa aku adalah gurumu, juga pernah menjadi
ayahmu yang menyayangmu?"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Aku tidak lupa, semuanya aku tidak lupa, juga betapa engkau dengan kejam hampir membunuhku, dan
engkau membunuh pula sumoi Tio Sui Lan, membunuh pula isterimu yang pernah menjadi ibuku. Aku tidak
lupa dan sekaranglah saatnya aku membalaskan semua itu!" Setelah berkata demikian, dengan nekat Hui
Eng sudah menerjang maju menyerang datuk yang pernah menjadi guru dan ayahnya itu.
"Keparat, kalau begitu engkau tak layak dikasihani!" Siangkoan Kok membentak sambil menangkis, lalu
balas menyerang.
Guru dan murid itu segera saling serang dengan dahsyat dan terjadilah pertandingan yang amat seru
karena keduanya menyerang untuk membunuh.
Melawan bekas gurunya sendiri itu saja Hui Eng sudah kewalahan, karena betapa pun juga, semua
ilmunya ia dapatkan dari Siargkoan Kok, sehingga semua gerakannya telah diketahui oleh datuk itu. Biar
pun ia mengenal pula gerakan lawan, akan tetapi ia kalah pengalaman dan ilmunya kalah matang.
Apa lagi kini muncul dua orang tosu dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang tanpa banyak cakap sudah
maju membantu Siangkoan Kok. Hui Eng terdesak hebat dan ia hanya mampu memutar pedang dan
kebutannya untuk menangkis saja, tidak mendapat kesempatan lagi untuk membalas serangan tiga orang
lawannya.
Melihat kedua orang tosu yang membantunya itu menyerang dengan sungguh-sungguh, timbul
kekhawatiran di hati Siangkoan Kok bahwa gadis itu akan roboh dan tewas, atau akan terluka berat. Hal ini
tidak dikehendaki oleh Ouw-pangcu, juga dia sendiri tidak ingin melihat bekas murid dan puterinya itu
tewas.
Dia masih sayang kepada Eng Eng. Bahkan kini, setelah gadis itu bukan lagi puterinya, timbul keinginan di
hatinya untuk menarik gadis itu sebagai pengganti isterinya. Ia masih sayang kepada Eng Eng dan rasa
sayang sebagai guru dan ayah itu dapat dialihkan menjadi kasih sayang seorang pria terhadap seorang
wanita yang menjadi isterinya.
"Jangan lukai atau bunuh gadis ini. Kita tangkap hidup-hidup sesuai perintah pangcu!" kata Siangkoan Kok
dengan suara lantang.
Dan mendengar seruan ini, kedua orang tusu lalu mengubah gerakan mereka, tidak lagi menyerang
dengan pedang mereka, melainkan menggunakan pedang untuk menangkis dan menyerang dengan
totokan tangan kiri untuk merobohkan gadis itu tanpa melukai atau membunuhnya.
Setelah melakukan perlawanan mati-matian, akhirnya Hui Eng terkena totokan dan roboh terkulai lemas!
Siangkoan Kok cepat menelikungnya dan membawanya ke dalam, lalu memasukkannya ke dalam sebuah
kamar tahanan yang terbuat dari besi.
"Jaga baik-baik dan jangan sampai ia bisa meloloskan diri!" pesannya kepada beberapa orang Thian-lipang
yang sedang melakukan penjagaan. "Akan tetapi, siapa yang berani mengganggunya pasti akan
dihukum berat!"
Siangkoan Kok, Im Yang Ji dan Kui Thiancu kemudian meninggalkan tempat tahanan itu sebab mereka
sudah mendengar berita bahwa sekarang Ouw-pangcu sedang berusaha untuk menawan Si Bangau
Merah.
Seperti juga Hui Eng, Sian Li melakukan penyelidikan melalui samping perkampungan Thian-li-pang. Ia
pun meloncati pagar dan sama sekali tidak mendapatkan perlawanan karena di balik pagar tembok itu tidak
nampak seorang pun anggota Thian-li-pang.
Akan tetapi, sungguh tak mudah untuk menjebak Si Bangau Merah. Ia cukup waspada. Dan melihat
keadaan yang sepi itu, ia pun maklum bahwa agaknya pihak musuh sudah mengetahui akan kedatangan
dirinya dan kini sengaja mengosongkan tempat itu untuk memasang perangkap.
Dengan ginkang-nya yang sudah mencapai tingkat tinggi, Sian Li berkelebat, kemudian menyelinap ke
dalam sebuah taman kecil dan dari sini ia pun meloncat ke atas genteng dan bersembunyi di balik
wuwungan. Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga para anggota Thian-li-pang yang mengawasinya
dunia-kangouw.blogspot.com
kehilangan jejaknya. Bahkan Ouw Seng Bu yang diam-diam juga mengamatinya dari dalam, menjadi
terkejut dan bingung karena Si Bangau Merah itu tidak nampak lagi.
Dari balik wuwungan, Sian Li mengintai ke bawah dan dia tersenyum mengejek ketika melihat beberapa
orang anak buah Thian-li-pang yang mulai bermunculan dari tempat sembunyi mereka. Seperti telah
diduganya, orang-orang Thian-li-pang telah mengetahui akan kedatangannya dan sengaja bersembunyi
untuk membiarkan dia masuk ke dalam jebakan mereka. Akan tetapi karena ia lenyap bersembunyi di
wuwungan, mereka mulai menjadi bingung dan ada yang keluar mencari-cari.
Sian Li mengambil jalan memutar. Ia melihat seorang anggota Thian-li-pang mencari ke arah belakang
dengan pedang terhunus di tangan sambil melongok-longok. Sian Li lalu bergerak mendekati dari atas.
Setelah cukup dekat, ia menggerakkan tangan kanannya dan sepotong genteng yang ia patahkan dari
ujung wuwungan menyambar dan tepat mengenai tengkuk orang itu. Dia hanya sempat mengeluh pendek,
pedangnya terlepas kemudian roboh terkulai, pingsan.
Sian Li menanti beberapa lamanya. Setelah yakin tidak ada orang melihat penyerangan itu, ia melayang
turun dan menarik lengan orang yang tak mampu bergerak itu ke dalam sebuah ruangan kosong, dan ia
menutupkan daun pintu ruangan itu.
Anggota Thian-li-pang itu terkejut bukan main ketika totokannya punah dan dia siuman. Ia melihat gadis
berpakaian merah itu menodongkan pedang tajam yang menggigit kulit lehernya. Pedangnya sendiri!
"Kalau engkau tidak mau mengaku terus terang, pedang ini akan langsung menembus tenggorokanmu!"
Sian Li mendesis.
Mata orang itu terbelalak, mukanya berubah pucat. Apa lagi ketika dia merasa perihnya kulit leher di mana
ujung pedangnya sendiri menempel.
"Saya... saya mengaku terus terang...," katanya lirih.
"Hayo katakan, di mana Sin-ciang Taihiap Yo Han? Jangan bohong!"
Orang itu semakin ketakutan. "Dia... dia... di tempat... tahanan..."
Berdebar-debar rasa hati Sian Li karena lega. Seperti sudah diduganya, Ouw Seng Bu hanya
membohonginya.
"Di mana tempat itu? Hayo antar aku ke sana!"
"Saya... saya tidak berani... ahhh...!"
Pedang itu menusuk, masuk ke kulit lehernya sampai setengah senti, mendatangkan rasa nyeri dan
ketakutan hebat. Sedikit saja nona baju merah itu menusukkan pedang itu, tentu lehernya akan tembus
dan matilah dia.
"Baik... baik...," katanya.
Sian Li menarik pedangnya. "Hayo jalan dulu, awas, kalau engkau memberi tanda atau berteriak, akan
kucincang tubuhmu."
Dengan tubuh gemetar ketakutan, anak buah Thian-li-pang itu lalu membawa Sian Li menyelinap melalui
sebuah lorong kecil. Setiap kali melihat ada anak buah Thian-li-pang lainnya, orang itu ditarik oleh Sian Li
untuk bersembunyi dengan pedangnya menodong pada punggung orang itu.
Akhirnya, setelah melalui jalan yang berliku-liku, orang itu membawa Sian Li memasuki ruangan bagian
belakang. Bangunan di situ cukup besar dan mereka memasuki lorong sehingga tiba di depan pintu sebuah
kamar yang terbuat dari besi dan ada jerujinya yang kokoh kuat. Pintu kamar itu dipasangi rantai yang
dikunci.
"Dia... dia ada di sana..." Orang itu menuding ke dalam kamar tahanan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian Li menggerakkan tangan kirinya dan orang itu terkulai lemas, tak mampu bergerak lagi karena
tertotok. Sian Li menghampiri jeruji pintu kamar itu dan melihat ke dalam. Jantungnya berdebar.
"Han-koko...!" Ia berseru, akan tetapi lirih karena tidak ingin membuat gaduh.
Ia melihat Yo Han duduk bersila, membelakangi pintu. Ia memang tidak melihat wajah orang itu, akan
tetapi perawakannya membuat ia mengenal pemuda itu, apa lagi anak buah Thian-li-pang tadi mengatakan
bahwa Yo Han ditawan di kamar itu.
"Han-koko...!" Ia memanggil lagi.
Akan tetapi orang yang bersila membelakanginya itu tidak menjawab dan tak bergerak. Agaknya Yo Han
terluka parah dan sedang menghimpun hawa murni, maka tidak dapat menjawabnya, pikir Sian Li. Dia
melihat betapa Yo Han menarik napas panjang dan menahan napas itu sampai lama.
Ahhh, Yo Han tentu terjebak musuh dan menderita luka, maka bisa tertawan, pikir Sian Li. Sekaranglah
saatnya membebaskannya, karena kalau sampai Ouw Seng Bu dan sekutunya muncul, tidak akan mudah
baginya untuk membebaskan kekasih hatinya itu.
"Han-koko, jangan khawatir, aku akan menolongmu!" katanya.
Ia memperhitungkan bahwa kalau kamar tahanan itu dipasangi jebakan, tentu Yo Han akan
memperingatkannya. Sian Li lalu mengeluarkan sulingnya.
Suling itu hanya disaput emas, akan tetapi sebetulnya di sebelah dalamnya terbuat dari baja pilihan yang
sangat kuat. Dia mengerahkan tenaganya, tenaga gabungan Im-yang Sinkang dari keluarga Pulau Es
seperti yang ia pelajari dari Suma Ceng Liong, memutar sulingnya dengan ilmu Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu
Pedang Suling Emas) dan sinar emas menyambar ke arah lantai yang membelenggu daun pintu kamar
tahanan itu.
"Tranggg... trakkk!"
Rantai itu patah dan Sian Li mendorong daun pintu kamar tahanan itu sehingga terbuka. Dengan cepat,
namun hati-hati dan tidak kehilangan kewaspadaan, dia pun memasuki kamar tahanan itu. Pada saat itu
terdengar suara gaduh di luar dan ketika ia menengok, nampak banyak anak buah Thian-li-pang memasuki
rumah tahanan itu.
Hemmm, ia telah ketahuan musuh, pikirnya. Ia harus cepat membebaskan Yo Han.
"Han-koko, mari kita pergi..." Ia menahan kata-katanya dan terbelalak ketika orang yang tadinya bersila
membelakanginya itu meloncat ke depan, membalikkan tubuhnya dan ia berhadapan dengan Ouw Seng
Bu!
Kiranya, ketua baru Thian-li-pang yang tadi duduk bersila membelakanginya. Memang perawakan ketua
baru ini mirip dengan perawakan Yo Han, dan agaknya sang ketua ini sengaja menyamar sehingga rambut
yang dikucir bergantung dan melingkar leher itu pun sama, juga pakaiannya.
"Ha-ha-ha, Bangau Merah! Sudah kukatakan bahwa Yo Han telah berkhianat, dan dia sudah mati di dalam
sumur tua, dan engkau masih juga tidak percaya? Sekarang, lebih baik engkau menyerah dan membantu
kami berjuang melawan penjajah, sesuai dengan nama besar keluargamu sebagai pendekar-pendekar
yang gagah perkasa."
"Keparat Ouw Seng Bu! Engkau tentu telah menjebak Han-koko! Sekarang aku harus membalas dendam
kepadamu!" Setelah berkata demikian, Sian Li memutar suling dan menerjang maju. Akan tetapi, Ouw
Seng Bu menghindar dengan loncatan ke kiri.
"Ha-ha-ha, engkau sudah terkepung dan masih bicara besar? Lihatlah, di luar kamar ini anak buahku
sudah menghadang dan mengepung. Engkau tidak akan dapat lolos, Tan Sian Li. Melawan pun tiada
gunanya karena kalau Yo Han saja tak mampu menandingi aku, apa lagi engkau."
"Jahanam busuk yang sombong!" Sian Li berteriak dan ia pun menyerang lagi dengan dahsyat.
dunia-kangouw.blogspot.com
Diam-diam Ouw Seng Bu terkejut karena serangan Si Bangau Merah itu memang kuat dan dahsyat bukan
main. Sulingnya berubah menjadi sinar emas yang mengeluarkan suara melengking-lengking aneh. Ia
melompat ke tepi kamar, tangannya cepat menekan tombol di dinding sehingga dinding di belakangnya
terbuka. Dan ia melompat masuk.
"Pengecut, hendak lari ke mana kau?" bentak Sian Li yang cepat-cepat mengejar. Dia pun ikut meloncat
masuk ke dalam kamar lain di mana Ouw Seng Bu sudah menunggu sambil tersenyum mengejek.
Pemuda itu menggerak-gerakkan kedua lengan tangannya secara aneh dan terdengar bunyi tulangtulangnya
berkerotokan! Dia telah menghimpun tenaga dari ilmunya yang sesat, yaitu Bu-kek Hoat-keng
yang salah latih. Kini wajahnya berubah, masih tampan, tapi senyumnya yang tadinya ramah dan manis itu
berubah menjadi wajah menyeringai yang amat menyeramkan, sadis dan dingin. Matanya liar dan suara
tawanya bagaikan setan tertawa.
Ketika Sian Li melihat keadaan Ouw Seng Bu seperti itu, ia pun tahu bahwa pemuda ini adalah seorang
yang tidak waras, atau miring otaknya! Ia tidak tahu bahwa keadaan itu merupakan akibat dari ilmu Bu-kek
Hoat-keng yang salah latihan.
"Iblis gila!" bentaknya dan ia menyerang lagi dengan sulingnya.
Kamar yang ini berbeda dengan kamar tahanan di depan tadi. Dinding yang tadi terbuka menembus ke
kamar tahanan sekarang sudah menutup kembali dengan sendirinya dan kamar ini lebih luas.
Sian Li menghantamkan sulingnya ke arah kepala pemuda itu. Akan tetapi, Seng Bu meloncat ke samping
dan ketika suling itu mengejar dengan sambaran ke samping, dia menangkis dengan tangan kirinya.
"Takkk...!"
Dua tenaga dahsyat bertemu dan akibatnya tubuh Sian Li terdorong ke belakang hingga tiga langkah.
Gadis itu terkejut bukan main. Sulingnya yang ditangkis tadi tergetar hebat. Ada tenaga aneh yang amat
dingin menyusup melalui suling dan tangannya dan tenaga itu amat kuat sehingga dia terdorong dan
terhuyung. Baiknya dia masih mengerahkan tenaga sinkang untuk menolak pengaruh hawa dingin aneh itu.
"Ha-ha-he-he-he!" Ouw Seng Bu terkekeh menyeramkan dan membusungkan dadanya. "Si Bangau Merah,
engkau tidak akan menang melawan aku. Ilmuku yang amat hebat ini tidak dapat ditandingi siapa pun juga.
Sebentar lagi aku akan menjadi jagoan nomor satu di dunia dan mengusai dunia kang-ouw. Bahkan
setelah menjatuhkan pemerintah penjajah Mancu, akulah yang layak dan pantas menjadi kaisar. Ha-haha!"
"Gila, dia gila akan tetapi memiliki ilmu yang ajaib," pikir Sian Li.
Ia harus dapat merobohkan orang ini, kalau tidak, ia tentu akan celaka. Baru orang ini saja sudah demikian
hebat, kalau para sekutunya datang mengeroyok, ia tahu bahwa ia tidak akan mampu menandingi mereka.
Sian Li mengeluarkan pekik melengking. Kini dia memutar suling emasnya, memainkan ilmu pedangnya
yang paling ampuh, yaitu Ang-ho Sin-kun (Silat Bangau Merah) yang ia pelajari dari ayahnya, Pendekar
Sakti Bangau Putih.
Sulingnya berubah menjadi sinar emas bergulung-gulung yang menyilaukan mata, dan tubuhnya juga
lenyap berubah menjadi bayangan merah yang berkelebatan terbungkus sinar emas. Dari gulungan sinar
emas itu mencuat sinar yang menyerang ke arah Ouw Seng Bu.
Namun, sambil terkekeh-kekeh aneh, Ouw Seng Bu berdiri tegak dan kedua tangannya membuat gerakangerakan
aneh, kadang diputar seperti baling-baling, dan dari kedua tangan itu menyambar hawa dahsyat
yang membuat semua serangan Sian Li tertolak kembali, mental sebelum mengenai tubuh lawan! Ketika
Ouw Seng Bu melangkah maju mendekat, hawa pukulan kedua tangannya semakin kuat sehingga kini
gulungan sinar emas itu makin menyempit, tanda bahwa Si Bangau Merah terdesak oleh tenaga aneh itu.
Pada saat itu terdengar suara wanita berteriak, "Bu-ko, jangan bunuh atau lukai dia!"
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar teriakan itu, Ouw Seng Bu lalu terkekeh. "Heh-heh-heh, tidak, tidak, sayang, jangan khawatir!"
Setelah berkata demikian, mendadak dia meloncat ke belakang dan berlari keluar dari ruangan itu melalui
sebuah lorong yang lebarnya sekitar dua meter dan panjang.
"Jangan lari!" bentak Sian Li yang mengejar.
Terdengar suara keras dan lorong itu sudah tertutup dari depan dan belakang oleh pintu rahasia. Sian Li
terkejut, merasa terjebak dalam lorong yang tertutup, akan tetapi karena Ouw Seng Bu masih berada di
situ bersamanya, ia tidak takut dan memutar suling lebih cepat untuk menjaga agar orang itu tidak
melarikan diri melalui sebuah pintu rahasia.
"Heh-heh-heh, engkau takkan dapat lolos, Bangau Merah!" kata Ouw Seng Bu.
Mendadak dari lantai lorong itu keluar asap kemerahan yang memenuhi lorong. Sian Li mencium bau
harum menyengat dan tahulah dia bahwa asap itu mengandung racun pembius! Akan tetapi, tidak ada
jalan keluar dan jalan satu-satunya hanya menyerang mati-matian pada lawan yang masih terus tertawatawa
walau pun asap merah semakin menebal.
Gadis perkasa yang cerdik ini menyesal akan kebodohan dirinya sendiri. Tentu saja, pikirnya. Ouw Seng
Bu telah memakai obat penawar! Asap sudah terpaksa disedotnya ketika ia bernapas.
"Keparat keji, pengecut, curang...!" Ia menyerang kembali akan tetapi kepalanya terasa pening, pandang
matanya berkunang dan ia pun roboh terkulai pingsan.
Ketika siuman kembali, Sian Li mendapatkan dirinya sudah rebah di atas sebuah dipan. Dia melihat betapa
kaki tangannya diikat oleh rantai baja yang panjang. Cepat ia turun dari pembaringan itu dan mengerahkan
tenaga sinkang untuk mematahkan rantai kaki tangannya.
"Jangan, Sian Li. Jangan patahkan rantai kaki tanganmu," terdengar suara orang.
Sian Li menengok dan melihat Hui Eng juga berada di kamar itu. Juga gadis ini dirantai kaki tangannya,
dengan rantai panjang yang membuat ia mampu bergerak ke sana sini, mampu mempergunakan tangan
kakinya, akan tetapi rantai itu tidak sampai pintu kamar tahanan yang beruji.
"Ahh, kiranya engkau pun sudah tertawan. Bagaimana dengan pang..." Sian Li teringat. Mereka berada di
tangan pemberontak Thian-li-pang, sungguh berbahaya kalau mereka mengetahui bahwa Cia Sun adalah
pangeran Mancu. "Di mana Sun-toako?"
"Entah, kami berpencar, bukan? Aku dikepung dan dikeroyok, lalu tertangkap."
"Tapi mengapa engkau melarang aku mematahkan rantai ini! Kurasa engkau pun akan mampu
mematahkan rantai kaki tanganmu."
"Agaknya aku akan mampu mematahkan rantai ini, akan tetapi apa gunanya? Mereka jelas tidak ingin
membunuh kita, dan rantai ini bagaimana pun juga masih memberi kebebasan bergerak kepada kita.
Dengan mematahkannya, belum berarti kita bebas. Kamar ini kokoh kuat dan terjaga kuat, juga mereka
dapat mempergunakan perangkap untuk menangkap kita kembali. Kalau sampai mereka menggantikan
rantai ini dengan belenggu yang membuat kita tidak mampu bergerak leluasa, bukankah hal itu lebih
menyiksa? Kita harus tenang dan sabar, tidak menuruti kemarahan."
Sian Li mengangguk membenarkan. "Mereka itu lihai, dan orang she Ouw itu agaknya miring otaknya. Dia
itu gila, akan tetapi memiliki ilmu seperti iblis sendiri. Belum pernah selama hidupku bertemu dengan lawan
setangguh itu yang memiliki ilmu seaneh itu."
"Aku... aku mengkhawatirkan pangeran..." kata Hui Eng lirih.
"Agaknya dia tidak seperti kita, tidak tertangkap. Mudah-mudah saja begitu karena kalau dia masih bebas,
berarti kita masih mempunyai harapan akan dapat tertolong. Aku sekarang mengerti bahwa anggota Thianli-
pang yang kutangkap tadi sengaja dipasang sebagai umpan perangkap. Mereka itu amat lihai dan licik
sekali. Sekarang aku sungguh mencemaskan keadaan Han-koko."
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka terdiam karena mendengar langkah kaki yang ringan menghampiri dari luar kamar tahanan.
Muncullah Cu Kim Giok, gadis manis dengan mata indah, akan tetapi kini wajahnya agak muram dan
matanya mengandung penyesalan.
"Hemmm, engkau sungguh tidak tahu malu masih berani muncul di depan kami!" Sian Li langsung
menyambut dengan ucapan keras. "Ingin aku melihat wajah Paman Cu Kun Tek serta Bibi Pouw Li Sian
yang gagah perkasa kalau melihat puterinya seperti ini, membantu orang-orang jahat!"
Cu Kim Giok memandang sedih. "Aihhh, tidak kusangka akan begini jadinya. Sungguh, aku bersumpah,
Sian Li, aku bukan orang yang membela orang jahat. Semua ini hanya salah sangka dari pihakmu saja.
Aku berani menanggung bahwa Ouw Seng Bu adalah orang yang gagah perkasa, seorang pendekar yang
berjiwa pahlawan. Bahkan dia mau mengorbankan apa saja dengan perjuangan membebaskan rakyat dari
cengkeraman penjajah. Salahkah aku kalau aku membantu perjuangan yang suci ini? Engkau terlalu
berprasangka dan menganggap buruk. Tentang kematian Pendekar Tangan Sakti Yo Han, sungguh bukan
kesalahan Ouw-toako. Aku sendiri menjadi saksinya. Yo Han yang berusaha membunuh Ouw-koko seperti
yang telah dilakukannya kepada para pimpinan Thian-li-pang, dan Ouw-koko hanya membela diri. Jika Yo
Han tidak tergelincir ke dalam sumur, dan tidak ditimbuni batu, tentu Ouw-koko yang tewas di tangannya.
Percayalah, Ouw-koko adalah seorang yang baik, seorang pendekar yang..."
"Gila! Ya, dia seorang yang miring otaknya, Kim Giok. Tidak tahukah engkau akan hal itu atau pura-pura
tidak tahu? Cu Kim Giok, katakan kepada iblis gila Ouw Seng Bu itu bahwa kalau benar Han-koko tewas di
tangannya, aku Tan Sian Li akan mengerahkan seluruh keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir untuk
membalas dendam! Aku tidak akan berhenti berusaha sampai aku dapat memenggal lehernya serta
membawa kepalanya dan hatinya untuk sembahyang kepada Han-koko!"
Berkata demikian, karena sambil membayangkan kematian Yo Han, kedua mata Sian Li lantas menjadi
basah dan suaranya gemetar, walau pun mengandung ancaman yang membuat Kim Giok merasa ngeri.
"Sian Li, engkau rela mengorankan apa pun untuk membela Yo Han, karena engkau menganggap dia
benar dan mencintanya. Apakah aku tidak boleh membela orang yang kuanggap benar dan yang kucinta?"
Dengan muka penuh kesedihan Kim Giok meninggalkan tempat itu dengan cepat. Dua orang gadis
perkasa itu masih sempat mendengar isak tangis yang dibawa lari gadis dari Lembah Naga Siluman itu.
"Sungguh aneh! Ia mencinta Ouw Seng Bu...!" kata Sian Li lirih.
"Ihhh, kenapa hal itu kau anggap aneh, Sian Li?" tanya Hui Eng, tersenyum.
"Akan tetapi Ouw Seng Bu itu orang gila! Iblis gila!"
Hui Eng tertawa geli dan Sian Li memandang heran. Memang nampak aneh dan lucu melihat gadis itu
tertawa-tawa geli, padahal mereka kini berada dalam tahanan musuh dengan kaki tangan dipasangi rantai!
Sungguh-sungguh merupakan keadaan yang patut mendatangkan tangis, bukan tawa geli! Ini saja sudah
membuktikan betapa tabah hati Sim Hui Eng menghadapi keadaan yang gawat. Dan hal ini membesarkan
pula hati Sian Li. Mempunyai seorang kawan sependeritaan setabah ini memang membesarkan hati.
"Hemmm, apa yang perlu ditertawakan? Apanya yang lucu?" tanya Sian Li.
"Engkau yang lucu," kata Hui Eng. "Mengapa engkau seperti orang kebakaran jenggot melihat gadis itu
mencintai Ouw Seng Bu?"
"Hushhh! Mana aku berjenggot?" cela Sian Li, akan tetapi kini ia pun tertawa geli.
"Sian Li, cinta membuat orang yang kita cinta nampak selalu benar selalu baik, selalu menarik, sebaliknya
benci membuat orang yang kita benci nampak selalu salah, selalu buruk, selalu menyebalkan. Buktinya,
engkau ditunangkan dengan pangeran Cia Sun, tapi engkau malah memilih Yo Han. Dan pangeran malah
memilih aku, padahal saat itu aku masih puteri ketua Pao-beng-pai yang memberontak kepada kerajaan
keluarganya. Dan aku pun memilih dia, padahal aku selalu tak suka kepada penjajah Mancu, dan aku
yakin, Yo Han juga tak akan suka memilih lain gadis kecuali engkau. Nah, apa anehnya kalau sekarang
gadis itu mencinta Ouw Seng Bu dan menganggap dia selalu baik dan benar?"
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian Li termenung. Kebenaran ucapan Hui Eng meresap dalam hatinya. Memang apa yang dikatakan Hui
Eng patut direnungkan.
Kita semua selalu mengambil kesimpulan dan mempunyai pendapat mengenai sesuatu berdasarkan
penilaian kita, dan kita menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk. Kita lupa bahwa sesuatu itu tiada
yang abadi, tak ada yang tetap dan selalu akan berubah-ubah.
Kita tidak mungkin dapat menentukan seseorang itu baik atau buruk, karena si orang yang kita nilai itu
sudah pasti akan mengalami perubahan, dan perubahan ini akan mendatangkan kesan berbeda-beda bagi
kita, ada kalanya kita anggap baik dan ada kalanya pula kita anggap buruk. Orang yang hari ini kita anggap
sebaik-baiknya orang, mungkin pada suatu saat kelak akan kita anggap seburuk-buruknya orang, demikian
sebaliknya.
Mengapa demikian? Pertama, karena tidak ada apa atau siapa pun di dunia ini yang tidak mengalami
perubahan. Dan kedua, karena pendapat tentang sesuatu berdasarkan penilaian, dan setiap penilaian,
diakui atau pun tidak, disadari mau pun tidak, selalu berdasarkan kepentingan si-aku, si penilai.
Penilaian muncul dengan pertimbangan untung rugi, disenangkan atau tak disenangkan. Jika seseorang
atau sesuatu benda itu menguntungkan dan menyenangkan, bagaimana mungkin kita menilainya jelek dan
jahat? Sebaliknya, kalau seseorang atau sesuatu itu merugikan dan tidak menyenangkan, sudah pasti kita
menilainya tidak baik, tak mungkin kita menilainya bagus atau baik.
Biar pun orang sedunia mengatakan bahwa seorang yang baik dan patut dipuji, akan tetapi kalau
memusuhi kita, merugikan dan tidak menyenangkan kita, mungkinkah kita menilainya sebagai seorang
yang baik dan patut dipuji? Sebaliknya, andai kata orang sedunia mencaci sebagai seorang yang jahat dan
patut dikutuk, akan tetapi kalau baik terhadap kita, menguntungkan dan menyenangkan kita, dapatkah kita
mengutuknya dan menilainya sebagai seorang yang jahat?
Bahkan seorang kekasih yang dicinta setengah mati pun, karena dia menyenangkan kita, kita puja karena
menguntungkan perasaan kita. Seandainya pada suatu hari dia itu melakukan sesuatu yang merugikan kita
dan tidak menyenangkan kita, misalnya menipu kita, menyeleweng dengan orang lain, tak mau melayani
kita sebagai kekasih, dapatkah kita tetap menilainya baik dan mencintanya? Biasanya, cinta itu berubah
menjadi benci!
Mengapa? Sebab benci itu merupakan akibat penilaian yang buruk terhadap seseorang! Kalau
menyenangkan, dinilai baik dan dicinta, kalau sekali waktu tidak menyenangkan, dinilai buruk dan dibenci!
Hujan tinggal tetap hujan, air yang jatuh dari atas. Akan tetapi jika hujan itu merupakan sesuatu yang
merugikan kita seperti banjir, atau menghalangi kesenangan, kita akan menganggapnya buruk dan
mengomel. Namun kalau hujan itu datang dan kita anggap menyenangkan dan menguntungkan, seperti
para petani yang berharap datangnya air untuk sawah ladang mereka, maka kita akan menilainya baik dan
hati kita senang, mulut tidak lagi mengomel dan cemberut, melainkan tertawa-tawa dan bersyukur!
Demikianlah panggung sandiwara dalam kehidupan ini, lebih lucu dan konyol dari pada panggung para
pelawak. Kita dipermainkan nafsu yang sudah menyusup dalam diri kita lahir batin, dan karena nafsu selalu
mengejar kesenangan, maka timbullah suka duka dan penilaian baik buruk, persahabatan permusuhan dan
segala macam kebalikan-kebalikan yang mendatangkan konflik lahir batin pula.
Dapatkah kita hidup tanpa menilai dan menerima kenyataan apa adanya? Apa pun yang terjadi dan
menimpa kehidupan kita merupakan suatu kenyataan hidup yang patut kita hadapi dengan segala
kewaspadaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan!
Tuhan Maha Pencipta. Seluruh isi alam maya pada adalah milik Sang Maha Pencipta, jadi Dialah yang
menentukan segala. Kewajiban kita hanyalah berusaha dan berikhtiar untuk mempertahankan hidup ini
yang berarti membantu kodrat Tuhan yang sudah menghidupkan kita, dan mengisi kehidupan ini supaya
hidup kita bermanfaat bagi diri sendiri, bagi keluarga dan bagi lingkungan. Bermanfaat berarti tidak
merusak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan pasrah, dengan menyerahkan kepada Tuhan yang menciptakan kita, menyerah penuh keiklasan
dan ketawakalan, barulah mungkin bagi kita untuk menerima segala yang terjadi dengan penuh kesadaran,
dengan keyakinan bahwa segala sesuatu, pada akhirnya ditentukan oleh kekuasaan-Nya.
"Aku mengerti sekarang, enci Eng, dan aku merasa kasihan kepada Kim Giok. Aku hampir yakin bahwa dia
sudah terbujuk, bahwa Ouw Seng Bu itu seorang yang tidak waras, orang gila yang teramat cerdik dan
licik, juga memiliki ilmu silat yang aneh dan berbahaya sekali."
"Kita lihat perkembangannya, adik Sian Li. Kita harus bersabar dan melihat apa yang akan mereka lakukan
terhadap kita. Aku yakin mereka akan menghubungi kita, mungkin melalui Cu Kim Giok tadi. Tidak perlu
kita bergerak dengan sia-sia, sebaiknya menanti datangnya kesempatan baru kita mematahkan rantai ini
dan mencoba untuk lolos."
Sian Li mengangguk, diam-diam dia merasa lega dan girang karena mempunyai teman seperti ini boleh
diandalkan…..
********************
Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tiba di kaki Bukit Naga. Terdapat sebuah kuil tua yang kosong di kaki bukit
sebelah itu. Dan karena hari menjelang senja, mereka mengambil keputusan untuk melewatkan malam di
kuil tua itu. Tadi mereka telah membeli bekal makanan dari dusun terakhir.
Di luar kuil tua yang tidak digunakan lagi itu, mereka berhenti dan terkejut melihat ada seorang tosu duduk
bersila di bagian depan kuil. Ciang Hun yang telah berpengalaman tidak berani lancang dan dia
menghampiri tosu itu. Bi Kim mengikutinya dari belakang, bersiap menghadapi segala kemungkinan karena
tahu bahwa mereka telah berada di daerah Bukit Naga.
"Harap Totiang memaafkan kami berdua. Karena kemalaman di perjalanan kami ingin melewatkan malam
di kuil tua ini, kalau saja tidak mengganggu Totiang."
"Siancai, silakan, Kongcu dan Siocia,” kata pendeta itu dengan sikap acuh.
Pada saat kedua orang muda itu hendak melangkah masuk, dari dalam keluar empat orang tosu lainnya.
Tentu saja hal ini membuat Ciang Hun sangat terkejut.
"Ahhh, maafkan kami, Cuwi Totiang. Kiranya kuil ini sekarang menjadi tempat tinggal Totiang sekalian?"
Tosu tertua yang tadi duduk bersila di luar berkata lembut, "Sama sekali bukan, Kongcu. Kami berlima juga
sedang berteduh dan melewatkan malam di sini. Kuil ini kosong dan tidak dipergunakan lagi."
"Ahh, kalau begitu kebetulan dan terima kasih Totiang."
Ciang Hun dan Bi Kim lalu membersihkan lantai di sudut ruangan depan karena ternyata hanya ruangan
depan itu saja yang masih agak utuh dan bersih, sedangkan ruangan tengah dan belakang kuil itu sudah
rusak dan kotor.
Lima orang tosu itu duduk bersila, dan dua orang muda di sudut itu lalu menyalakan lilin yang tadi mereka
beli sehingga ruangan itu tidak menjadi gelap lagi. Malam tiba dan hawa udara amat dinginnya. Dua orang
di antara para tosu itu lalu membuat api unggun dari kayu-kayu yang agaknya sudah mereka cari dan
kumpulkan siang tadi. Keadaan menjadi semakin terang oleh cahaya api unggun dan timbul kehangatan di
situ.
Bi Kim mengeluarkan buntalan makanan yang mereka beli tadi, dan dengan ramah dan hormat Ciang Hun
dan Bi Kim menawarkan makanan kepada lima orang tosu itu.
"Cuwi Totiang, mari silakan Cuwi Totiang makan malam bersama kami. Kita makan seadanya, Totiang,"
kata Bi Kim.
"Silakan, Totiang, kami akan gembira sekali untuk menjamu Cuwi dengan makanan kami yang sederhana,"
kata pula Ciang Hun.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Siancai, Ji-wi adalah dua orang muda yang ramah dan baik. Terima kasih, Kongcu dan Siocia, kami tadi
sudah makan dan sekarang merasa kenyang. Silakan Ji-wi makan, harap jangan sungkan-sungkan," kata
tosu tertua.
Karena maklum bahwa mereka berdua menghadapi perjalanan yang mungkin sukar dan membutuhkan
banyak pengerahan tenaga, maka kedua orang muda itu tidak merasa sungkan-sungkan lagi dan mulai
makan bak-pao dan dendeng yang tadi mereka beli sebagai bekal. Setelah mereka selesai makan,
membersihkan mulut dan tangan dengan air yang mereka bawa, mereka diundang duduk dekat api unggun
oleh para tosu.
Dengan gembira dua orang muda itu duduk mengelilingi api unggun bersama lima orang pendeta itu.
"Kalau pinto (saya) tidak salah lihat, Ji-wi bukanlah dua orang muda biasa, melainkan dua orang muda
yang memiliki kepandaian silat. Bolehkah pinto mengetahui nama Ji-wi dan apa keperluan Ji-wi
mendatangi daerah yang berbahaya ini?"
Karena yakin bahwa lima orang pendeta ini adalah orang-orang beribadat yang baik, maka Ciang Hun tidak
merasa perlu untuk menyembunyikan keadaan mereka. "Totiang, saya bernama Gak Ciang Hun dan nona
ini adalah Gan Bi Kim. Kami berdua melakukan perjalanan ke sini untuk mencari seorang sahabat kami
yang jejaknya menuju ke bukit ini."
Tiba-tiba Gan Bi Kim berkata, "Mungkin sekali Cuwi Totiang ada yang melihat sahabat kami itu lewat di
sini!"
"Aihh, benar juga!" seru Ciang Hun girang. "Apakah Cuwi Totiang melihat sahabat kami itu lewat di sini?
Dia seorang gadis muda..."
"Pakaiannya serba merah?" potong seorang tosu.
"Benar, benar!" Ciang Hun berseru girang.
"Siancai, yang kalian cari itu bukankah Si Bangau Merah, nona Tan Sian Li?"
Dua orang muda itu hampir berteriak karena girangnya.
"Benar sekali, Totiang!" kata Gak Ciang Hun. "Apakah Totiang melihatnya? Di mana?" tanyanya dengan
penuh gairah.
"Nanti dulu, kalau Ji-wi mengenal Si Bangau Merah, tentulah Ji-wi bukan orang-orang sembarangan.
Kongcu she Gak? Hemmm...? Pinto sudah pernah mendengar tentang Beng-san Siang-eng (Sepasang
Garuda Beng-san), apakah hubungan Kongcu dengan para pendekar she Gak itu?"
"Saya adalah puteranya..."
"Ahh! Sungguh kami merasa beruntung bertemu dengan putera Beng-san Siang-eng!"
"Kalau boleh kami mengetahui, siapakah Cuwi Totiang?" Ciang Hun bertanya, sekarang sambil
memandang penuh perhatian.
Tosu tertua itu menghela napas panjang. "Pinto disebut Thian Tocu, seorang murid dari Bu-tong-pai dan
empat orang ini adalah para sute pinto. Baru kemarin pinto berlima bertemu dengan Si Bangau Merah,
bahkan dialah yang mengobati pinto dari pukulan beracun. Karena kekuatan pinto masih belum pulih, maka
kami berhenti di sini untuk memulihkan tenaga."
"Lalu, ke manakah perginya adik Sian Li?" tanya Ciang Hun.
Tosu itu menghela napas panjang. "Kami khawatir sekali. Ia pergi mendaki Bukit Naga dan hendak
berkunjung ke Thian-li-pang, padahal keadaan Thian-li-pang telah berubah sama sekali. Perkumpulan itu
telah menyeleweng dan dipimpin oleh seorang ketua baru yang seperti Iblis. Kami sungguh
mengkhawatirkan keselamatan pendekar wanita itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
"Totiang, apakah yang sudah terjadi?" Gan Bi Kim bertanya, ikut pula merasa khawatir mendengar ucapan
tosu itu.
Thian Tocu lalu menceritakan semua pengalaman mereka berlima. Mereka sengaja mendatangi Thian-lipang
karena mendengar berita tentang sepak terjang Thian-li-pang yang menyeleweng, yang
menundukkan para tokoh-tokoh kang-ouw dengan kekerasan dan melakukan pemerasan.
"Bahkan yang lebih mengejutkan lagi adalah berita mengenai terbunuhnya Pendekar Tangan Sakti Yo Han
oleh ketua baru Thian-li-pang..."
"Ahhh...! Benarkah itu, Totiang?" Ciang Hun berseru kaget.
"Kami pun tidak percaya. Ketika kami tanyakan hal itu kepada Ouw-pangcu, ketua baru Thian-li-pang, dia
bahkan mengatakan bahwa Yo Han telah membunuhi para pimpinan Thian-li-pang, kemudian Yo Han juga
menyerang dia. Dalam perlawanan yang dibantu anak buahnya, Yo Han akhirnya tewas. Demikian
keterangan Ouw-pangcu. Kami tidak percaya sehingga terjadi perkelahian, akan tetapi ketua baru itu
seperti iblis, lihai bukan main dan pinto terkena pukulan beracun darinya. Kami merasa kalah dan turun
bukit, lalu bertemu di jalan dengan Si Bangau Merah yang mengobati pinto. Kami sungguh
mengkhawatirkan Si Bangau Merah yang hendak melakukan penyelidikan ke tempat berbahaya itu."
"Kalau begitu, adik Sian Li terancam bahaya. Kita harus cepat ke sana, Kim-moi!" kata Ciang Hun, khawatir
sekali.
"Gak-taihiap, sebaiknya bila kita berhati-hati menghadapi Thian-li-pang. Selain ketuanya sangat lihai, juga
kini Thian-li-pang bergabung dengan tokoh-tokoh sesat yang berilmu tinggi seperti Siangkoan Kok bekas
ketua Pao-beng-pai, juga para tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai berada di sana. Sebaiknya kalau Ji-wi
bersabar sampai lewat malam ini dan besok pagi-pagi barulah kita mendaki ke sana."
"Kita?" Ciang Hun bertanya.
"Kongcu, melihat Ji-wi yang muda-muda tetapi begitu bersemangat untuk membantu Si Bangau Merah,
menentang bahaya dengan gagah berani, kami yang tua-tua merasa malu kalau hanya tinggal diam saja.
Kami akan menemani Ji-wi membantu pendekar wanita Bangau Merah, walau pun kami tahu bahwa
kekuatan kita ini tidak ada artinya dibandingkan kekuatan mereka yang mempunyai ratusan orang anak
buah."
"Kita tidak bermaksud menyerang Thian-li-pang, Totiang, tapi hanya hendak menyelidiki kalau-kalau adik
Sian Li terancam bahaya. Kita harus membantunya."
"Kami siap membantu, Kongcu."
Demikianlah, malam itu mereka lewatkan dengan beristirahat dan menghimpun tenaga karena siapa tahu,
besok mereka akan menghadapi musuh dan bahaya yang harus ditentang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ciang Hun, Bi Kim dan lima orang tosu dari Bu-tong-pai telah
mendaki Bukit Naga. Mereka bergerak cepat akan tetapi dengan hati-hati sekali dan tosu-tosu itu yang
memimpin pendakian karena mereka lebih mengenal daerah itu dari pada kedua orang muda yang baru
pertama kali itu berkunjung ke situ.
Akan tetapi gerak-gerik tujuh orang ini tidak terlepas dari pengintaian para anak buah Thian-li-pang. Ouw
Seng Bu maklum bahwa sebelum pemuda yang datang bersama Sian Li dan Hui Eng itu tertangkap, tentu
Thian-li-pang akan terancam bahaya.
Apa lagi ketika dia mendengar dari Siangkoan Kok bahwa pemuda itu adalah seorang pangeran Mancu!
Maka dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan tersembunyi, siang malam harus
melakukan pengamatan terhadap seluruh permukaan bukit itu. Karena itu begitu tujuh orang itu mendaki
bukit, para anak buah Thian-li-pang telah mengetahuinya dan diam-diam setiap gerak-gerik mereka telah
diamati dan diikuti.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, di dalam rumah tahanan Cu Kim Giok kembali datang mengunjungi dua orang tawanan, Hui
Eng dan Sian Li. Kini Sian Li sudah dapat menekan kemarahan hatinya dan melihat munculnya Kim Giok,
ia bertanya, suaranya tenang saja. "Kim Giok, apa lagi yang hendak kau katakan kepada kami?"
"Sian Li, engkau melihat sendiri betapa Thian-li-pang bersikap baik kepada kalian yang bahkan tidak
dianggap sebagai musuh, melainkan sebagai tamu. Aku berharap dengan sepenuh hatiku supaya kalian
berdua juga bisa melihat kenyataan bahwa Thian-li-pang sesungguhnya mengharapkan persahabatan dan
kerja sama dengan kalian berdua, bukan permusuhan."
"Kim Giok, sekarang aku mengerti bahwa engkau saling mencinta dengan Ouw Seng Bu, maka engkau
membantu dan membelanya. Aku tidak akan mempersoalkan baik buruknya Ouw-pangcu itu, tetapi kalau
memang benar Thian-li-pang hendak berbaik dan bersahabat dengan kami, mengapa kami dijebak,
dikeroyok dan ditahan di dalam kurungan ini? Kenapa kami tidak dibebaskan saja?”
"Sian Li, percayalah, aku sudah minta-minta kepada pangcu supaya kalian dibebaskan, akan tetapi dia
mengajukan alasan kuat sehingga aku sendiri pun tidak berdaya karena alasannya memang tepat. Ia
mengatakan bahwa di dalam perjuangan, kita harus dapat membedakan mana kawan dan mana lawan.
Sekarang ini, kalian memperlihatkan sikap sebagai lawan, dan kalau kalian dibebaskan, sungguh amat
berbahaya bagi perjuangan Thian-li-pang. Kalian lihai dan dapat mendatangkan bencana kepada kami,
kecuali tentu saja kalau kalian suka bekerja sama dengan kami dan sama-sama berjuang menentang
pemerintah penjajah Mancu. Karena itu, aku mohon kepada kalian, jangan memusuhi Thian-li-pang, jangan
memusuhi Ouw-pangcu, jangan memusuhi kami. Sungguh aku bersumpah, kami tidak mempunyai niat
buruk terhadap kalian, hanya ingin mengajak kalian bekerja sama."
"Cu Kim Giok, tidak perlu engkau membujuk kami, tentu engkau sudah tahu bahwa kami tak akan sudi
untuk bekerja sama dengan golongan sesat. Sebetulnya, melihat engkau membantu Ouw-pangcu, hatiku
tidak rela, dan aku tidak ingin lagi berbicara denganmu. Akan tetapi mengingat ayah ibumu, orang-orang
yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, aku minta engkau berterus terang mengenai satu hal.
Benarkah Yo Han telah tewas di sumur tua itu?"
Kim Giok menghela napas panjang. Jawaban itu memang sudah diduganya. Akan tetapi bagaimana pun
juga, apa pun yang terjadi, ia akan tetap membela Seng Bu karena ia sudah benar-benar jatuh cinta
kepada pemuda itu.
"Sian Li, dengan menyesal sekali terpaksa kukatakan bahwa memang benar Yo Han telah tewas di dalam
sumur," katanya lirih.
Mendengar keterangan ini, Sian Li menahan jeritnya. Mukanya menjadi pucat dan dia hanya berdiri
termangu-mangu bagaikan patung. Kedua tangan yang dipasangi rantai pada pergelangannya itu
menggenggam…..
Melihat keadaan Si Bangau Merah itu, Hui Eng bertanya kepada Cu Kim Giok dengan suara yang tegas.
"Cu Kim Giok, katakan terus terang, demi nama baik nenek moyangmu yang terkenal sebagai pendekarpendekar
besar Lembah Naga Siluman, apa engkau melihat sendiri kematian Yo Han itu?"
Kini Cu Kim Giok memandang kepada Hui Eng dengan alis berkerut, "Hemmm, tidak perlu aku menjawab
pertanyaanmu. Engkau sendiri adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang pernah mengacau dan memusuhi
keluarga besar kami, bahkan kemudian menurut ayahmu, engkau menjadi seorang pengkhianat dan anak
yang durhaka. Aku mau bicara dengan Tan Sian Li, bukan denganmu!"
"Kim Giok, engkau tidak tahu dengan siapa engkau bicara. Ketahuilah bahwa enci Eng ini adalah Sim Hui
Eng, puteri Paman Sim Houw yang hilang itu dan sekarang dia telah mengetahui siapa dirinya."
"Ahhh...! " Cu Kim Giok terkejut. "Kalau... kalau begitu, kalian berdua harus mau bekerja sama, aku tidak
ingin melihat kalian celaka. Aku mohon kepada kalian, terimalah uluran tangan Ouw Pangcu untuk bekerja
sama dan berjuang, atau setidaknya, kalian jangan memusuhi kami. Kalau kalian berdua mau berjanji di
depan pangcu, maka aku yang akan menanggung..."
"Sudahlah, Kim Giok. Sebaiknya kau jawab saja pertanyaan enci Hui Eng tadi. Apakah engkau melihat
sendiri tewasnya Han-koko di sumur tua itu?" tanya Sian Li tak sabar.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Pada saat Yo Han datang, aku memang melihatnya, bahkan kami berkenalan. Dia pun bicara dengan
baik-baik kepada Ouw-pangcu, kemudian dia bicara empat mata dengan Ouw-pangcu. Aku tidak tahu apa
yang terjadi, akan tetapi tahu-tahu aku mendapatkan Ouw-pangcu sudah terluka parah terkena pukulan di
dadanya, sedangkan para anggota Thian-li-pang melempar-lemparkan batu ke dalam sumur tua. Barulah
aku tahu bahwa Ouw-pangcu hampir dibunuh oleh Yo Han dan karena bantuan para anak buah, Yo Han
dapat didesak dan terjerumus ke dalam sumur. Para anggota Thian-li-pang menimbuni sumur itu dengan
batu karena maklum bahwa kalau Yo Han dapat keluar, tentu akan mengamuk dan semua orang dibunuhi."
Keterangan bahwa Kim Giok tidak melihat sendiri kematian Yo Han, membuat hati Sian Li merasa lega
kembali. Ia tetap tidak percaya bahwa Yo Han telah tewas. Lebih tidak percaya lagi bahwa Yo Han telah
membunuh para pimpinan Thian-li-pang dan berusaha membunuh Ouw Seng Bu. Ia mengenal pria yang
dikasihinya itu.
Yo Han tidak mau membunuh orang, apa lagi para pimpinan Thian-li-pang di mana dia menjadi ketua
kehormatan. Tidak masuk di akal semua berita itu, walau pun ia percaya bahwa puteri Lembah Naga
Siluman ini tidak bohong. Tentu gadis ini telah dipengaruhi Ouw Seng Bu dan tertipu!
Pada saat itu ada dua orang pengawal masuk dan berkata kepada Cu Kim Giok dengan sikap hormat,
"Nona, pangcu minta agar Nona suka menemuinya di ruangan dalam."
Sikap dan ucapan penjaga itu saja sudah membuktikan bahwa ketua baru Thian-li-pang amat menghormati
gadis itu. Ia bukan dipanggil, melainkan diminta!
Cu Kim Giok menoleh kepada dua orang gadis tawanan, kemudian pergi meninggalkan tempat tahanan itu,
diikuti dua orang penjaga dengan sikap hormat. Setibanya di ruang dalam, Ouw Seng Bu sudah
menyambutnya dan kedua orang penjaga itu pun segera mengundurkan diri.
"Ada urusan apakah, Bu-Ko?" tanya Kim Giok.
"Giok-moi, ada lagi orang-orang yang menyelidiki tempat kita tetapi kini mereka telah tertangkap."
"Siapakah mereka?" Kim Giok mengerutkan alisnya.
Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju kalau Thian-li-pang menangkapi orang, apa lagi kalau mereka yang
ditawan itu tokoh-tokoh pendekar seperti Sian Li dan Hui Eng. Kalau sampai Thian-li-pang memusuhi para
pendekar dan perkumpulan para pendekar dunia persilatan, hal itu sungguh tidak baik dan tidak benar.
Seluruh keluarganya tentu akan marah dan menyalahkan dia membantu perkumpulan yang memusuhi
dunia persilatan dan menawan para pendekar.
"Lima di antara mereka adalah para tosu Bu-tong-pai yang tempo hari, dan dua yang lain adalah seorang
pemuda dan seorang gadis. Bagaimana dengan hasil pembicaraan dengan Si Bangau Merah dan puteri
Paman Siangkoan Kok tadi?"
Kim Giok mengerutkan alisnya. "Mereka masih belum mau berbaik, dan puteri Paman Siangkoan Kok itu
ternyata adalah puterinya Paman Sim Houw yang dulu hilang dicullik orang ketika masih kecil. Hal ini
menambah gawat keadaan, Koko, karena Paman Sim Houw adalah Pendekar Suling Naga yang sakti,
pendekar besar dan tokoh di Lok-yang. Kalau ayah Sian Li, Pendekar Bangau putih dan Pendekar Suling
Naga mengetahui puteri mereka ditawan di sini, lalu memusuhi kita, sungguh amat berbahaya bagimu,
Koko. Lalu siapa pula dua orang pemuda dan gadis yang tertawan bersama lima orang tosu Bu-tong-pai
itu?"
Ouw Seng Bu kelihatan muram dan berduka. "Giok-moi, sesungguhnya engkau sendiri pun tahu bahwa
aku tidak pernah mencari perkara dan tidak pernah memusuhi mereka. Adalah mereka sendiri yang datang
memusuhi Thian-li-pang. Aku pun merasa heran mengapa para pendekar itu tidak mau menyadari dan
mereka bahkan berpihak kepada kerajaan Mancu, penjajah yang mencengkeram tanah air dan bangsa?
Nah, cobalah engkau temui dua orang muda itu dan syukur kalau dapat membujuk mereka dan lima orang
tosu itu, menyadarkan mereka akan pentingnya persatuan antara kita untuk dapat membebaskan rakyat
dari cengkeraman penjajah."
dunia-kangouw.blogspot.com
Kim Giok merasa lemas karena pekerjaan membujuk ini merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya.
Akan tetapi, ia yakin bahwa kekasihnya benar, maka ia pun siap untuk membelanya.
Bagaimana lima orang Bu-tong-pai dan dua orang muda itu dapat tertawan? Seperti kita ketahui, Gak
Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu itu mendaki Bukit Naga untuk melakukan penyelidikan
terhadap Thian-li-pang karena dicurigai kebersihannya. Mereka tidak menyadari bahwa gerak-gerik mereka
telah diikuti oleh para anggota Thian-li-pang. Seorang di antara para anggota itu melapor kepada Seng Bu
yang segera ditemani Siangkoan Kok, Im Yang Ji dan Kui Thiancu, juga beberapa orang tokoh sesat lain
yang telah bergabung, menyambut rombongan yang mendaki bukit itu.
Sebelum sampai di perkampungan Thian-li-pang, Gak Ciang Hun dan kawan-kawannya secara tiba-tiba
saja sudah dikepung oleh puluhan orang Thian-li-pang sehingga mereka berhadapan dengan Ouw Seng
Bu dan kawan-kawannya.
Dengan sikap hormat Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat kepada lima orang tosu dan dua
orang muda itu. "Selamat pagi Ngo-wi Totiang dan kalian berdua sobat muda. Tidak tahu, entah angin baik
apa yang meniup kalian datang ke sini. Kami harap saja Ngo-wi Totiang sudah menyadari bahwa akhirnya
kita semua, tanpa peduli dari golongan apa, mempunyai tekad yang sama, yaitu bersatu padu menghadapi
penjajah Mancu dan mengusir mereka dari tanah air kita."
Thian Tocu, tokoh Bu-tong-pai yang menjadi pemimpin rombongan tokoh Bu-tong-pai yang lima orang itu,
membalas penghormatan Ouw Seng Bu dan berkata dengan sikap dan suara yang amat dingin, "Ouwpangcu,
kami berlima datang kembali bukan dengan maksud untuk menyerah, walau pun kami mengakui
bahwa kami sudah kau kalahkan dalam pertandingan. Kami bertemu dengan dua orang sahabat muda ini
dan kami ingin menemani mereka untuk berkunjung ke Thian-li-pang. Ketahuilah bahwa saudara muda ini
adalah saudara Gak Ciang Hun, putera dari mendiang Beng-san Siang-eng, dan ini adalah nona Gan Bi
Kim."
"Ahhh, kiranya Gak-enghiong yang datang berkunjung. Kami dari Thian-li-pang merasa mendapat
kehormatan besar sekali dengan kunjungan Gak-enghiong dan nona Bi Kim. Kami memang sedang
menghimpun tenaga dari seluruh penjuru tanah air untuk segera mengadakan persiapan menyerang
penjajah Mancu dan mengusirnya. Kami mendengar bahwa keluarga Gak dari Beng-san adalah pendekarpendekar
dan pahlawan-pahlawan besar dan gagah yang tentu saja akan suka bekerja sama dengan kami
untuk mengusir penjajah Mancu."
Gak Ciang Hun sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai betapa cerdik dan liciknya ketua baru Thianli-
pang itu. Kini begitu bertemu, ketua itu ternyata telah menunjukkan dua macam kelihaiannya.
Pertama, dia serombongannya mendadak saja sudah dikepung, ini berarti bahwa sejak mendaki bukit,
mereka telah diketahui dan dibayangi. Dan ke dua, begitu bertemu, ketua itu sudah bersikap demikian
ramah dan hormat sehingga dia sendiri andai kata belum mendengar dari para tosu, tentu akan terpikat
hatinya oleh keramahan pemuda tampan itu.
Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah mendengar bahwa pemuda ini seorang yang palsu dan
dikabarkan telah membunuh Yo Han, dia pun menyambut dingin saja.
"Pangcu, kami sengaja datang ke Thian-li-pang dengan tujuan untuk mencari nona Tan Sian Li. Apakah ia
berada di sini?"
"Ahh, apakah kau maksudkan Si Bangau Merah? Benar, ia berada di sini, menjadi tamu kehormatan kami.
Ia sudah menyatakan setuju untuk membantu kami, untuk bekerja sama menentang penjajah Mancu.
Kalau Gak-enghiong ingin bertemu dengannya, mari, silakan masuk ke perkampungan kami!" kata Seng
Bu dengan wajah cerah berseri.
Mendengar jawaban ini, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tercengang. Jawaban yang tidak mereka sangkasangka
sama sekali dan mereka berdua sudah merasa gembira.
Akan tetapi, Thian Tocu, tosu Bu-tong-pai itu sudah berkata dengan suara lantang.
"Ouw-pangcu, tidak perlu engkau membohongi Gan-taihiap dan kami. Kami sama sekali tidak percaya
bahwa nona Tan Sian Li mau bekerja sama denganmu. Kami pun sudah berjumpa dengannya dan
dunia-kangouw.blogspot.com
mendengar bahwa engkau telah membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han, bagaimana mungkin ia mau bekerja
sama denganmu? Kalau kau mengatakan bahwa engkau telah menjebaknya dan menawannya, kami akan
lebih percaya!"
Wajah Seng Bu berubah merah dan matanya kini mencorong memandang kepada tosu Bu-tong-pai itu. Dia
merasa heran bagaimana tosu ini dapat sembuh demikian cepatnya, padahal dia tahu benar bahwa tosu ini
sudah terkena tangan beracun sehingga terluka parah.
"Totiang, kalau pihakmu hendak menjadi antek penjajah Mancu dan tidak mau bekerja sama dengan kami
para pejuang patriot bangsa, itu urusanmu. Akan tetapi tidak perlu banyak mulut di sini. Kami pernah
mengampuni kalian dan membiarkan kalian pergi. Apakah kini kalian minta mati?"
Perubahan sikap ketua Thian-li-pang ini membuat Gak Ciang Hun yang tadinya tertarik, menjadi terkejut
dan tidak senang. Sikap ketua Thian-li-pang itu sangatlah aneh. Baru saja wajahnya nampak tampan dan
ramah ceria, akan tetapi sekarang kelihatan begitu bengis, dingin dan sadis. Bahkan sepasang matanya
yang mencorong itu mengandung nafsu membunuh yang mengerikan.
"Ouw-pangcu, agaknya membunuh merupakan pekerjaan biasa bagimu dan mungkin menjadi
kegemaranmu. Kalau memang engkau merasa sebagai seorang yang gagah, jangan menyangkal
perbuatanmu sendiri dan akui sajalah apa yang telah terjadi dengan nona Tan Sian Li. Kecuali jika engkau
memang pengecut, tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu..."
"Tutup mulutmu, tosu jahanam!" Seng Bu membentak.
Seng Bu sudah menggerakkan tangannya. Dia menampar ke arah Thian Tocu sambil mengerahkan
ilmunya yang sangat dahsyat. Hawa beracun yang amat kuat menyambar ke arah tosu Bu-tong-pai itu.
Melihat hal ini, Gak Ciang Hun yang mengenal pukulan ampuh, meloncat ke depan dan menangkis dari
samping untuk menolong tosu itu.
"Dukkk...!"
Mendapat tangkisan ini, Seng Bu mengeluarkan seruan kaget. Dia mundur dua langkah, akan tetapi Gak
Ciang Hun lebih terkejut lagi karena dia sempat terhuyung! Padahal, putera pendekar kembar Gak ini
memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, sebab pernah menerima pemindahan tenaga sinkang dari
kakeknya, mendiang Bun-beng Lo-jin Gak Bun Beng! Tetapi, ketika menangkis, dia merasa betapa dari
tangan ketua Thian-li-pang itu menyambar hawa dingin yang aneh sekali, yang membuat dia sampai
terhuyung.
"Pangcu dari Thian-li-pang, kalau memang ucapan Thian Tocu Totiang tadi tidak benar, engkau berhak
menyangkal, akan tetapi jika benar, memang sudah sepatutnya engkau berterus terang, bukan malah lalu
menyerang seperti yang kau lakukan tadi!" Ciang Hun menegur.
Senyum iblis muncul di mulut Ouw Seng Bu. "He-he-he, kami hendak menerima kalian sebagai sahabat,
akan tetapi kalau kalian menghendaki kekerasan baiklah. Seperti yang kami lakukan terhadap Si Bangau
Merah, kami menawarkan persahabatan dan kerja sama, akan tetapi kalau kalian menolak dan bersikap
memusuhi kami, terpaksa kami harus menawan kalian seperti yang telah kami lakukan terhadap Si Bangau
Merah!"
Mendengar ini, Ciang Hun lalu mengerutkan alisnya. "Pangcu, kami tidak menghendaki persahabatan, juga
tidak mencari permusuhan. Akan tetapi bila engkau telah menawan nona Tan Sian Li, kami menuntut agar
engkau suka membebaskannya sekarang juga.”
"Heh-heh-heh, bagaimana kalau kami tidak mau membebaskannya?"
"Ouw Seng Bu, kalau engkau tidak mau membebaskan Tan Lihiap, kami akan mengadu nyawa
denganmu!" bentak Thian Tocu marah. Lima orang tosu Bu-tong-pai itu sudah mencabut pedang mereka
masing-masing, siap bertanding mati-matian untuk menolong Si Bangau Merah.
"Ouw-pangcu, kami harap engkau suka membebaskan nona Tan Sian Li, supaya kami tidak harus
menggunakan kekerasan."
dunia-kangouw.blogspot.com
Siangkoan Kok yang sejak tadi mendengarkan saja, kini menjadi tidak sabar. "Pangcu, serahkan saja
kepadaku untuk menelikung pemuda sombong ini!"
"Dan lima orang tosu Bu-tong-pai ini serahkan kepada kami!" kata Kui Thiancu dan Im Yang Ji.
Ouw Seng Bu mengangguk dan para pembantunya itu segera bergerak menyerang.
Lima orang tosu Bu-tong-pai, Ciang Hun beserta Bi Kim menggerakkan senjata mereka menyambut dan
terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Baru tiga orang pembantu Seng Bu itu saja, bekas ketua Paobeng-
pai, wakil Pek-lian-kauw dan wakil Pat-kwa-pai sudah merupakan lawan berat bagi lima orang tosu.
Sementara itu masih banyak pula anggota Thian-li-pang tingkat tinggi yang melakukan pengeroyokan.
Akan tetapi, bagaimana pun juga Gak Ciang Hun adalah keturunan pendekar sakti. Permainan pedangnya
mantap dan kuat, tenaga sinkang-nya pun mampu menandingi lawan yang bagaimana pun sehingga
Siangkoan Kok yang menandinginya, tidak dapat mendesaknya dengan cepat.
Gan Bi Kim juga terdesak hebat oleh Kui Thiancu yang mengejeknya, sedangkan lima orang tosu
kewalahan menghadapi pengeroyokan banyak anak buah Thian-li-pang.
Melihat betapa Siangkoan Kok belum juga mampu menundukkan Ciang Hun, Seng Bu menjadi tidak sabar
lagi. Dia tahu bahwa bekas ketua Pao-beng-pai itu cukup tangguh dan tidak akan kalah, akan tetapi dia
tidak ingin perkelahian itu berlangsung terlalu lama.
Kalau sampai Kim Giok mengetahui, gadis itu tentu akan merasa tidak senang. Juga, tidak baik kalau
mereka ini sampai terbunuh. Kalau dia dapat membujuk orang-orang yang lihai itu untuk bersekutu
dengannya, hal itu akan amat menguntungkan dan akan memperkuat kedudukannya.
Maka ia pun segera meloncat ke depan dan menyerang Gak Ciang Hun dengan totokan jari tangannya,
menggunakan ilmunya yang aneh, akan tetapi dia membatasi tenaganya agar jangan sampai melukai berat
atau membunuh pemuda itu.
Dengan lengking yang aneh menyeramkan, Seng Bu menyerang dan Ciang Hun yang menghadapi
Siangkoan Kok saja sudah merasa sibuk karena ilmu kepandaian kakek tinggi besar itu memang hebat,
kini merasa ada sambaran angin dingin dari samping. Dia mengelak ke kiri dan pada saat itu, Siangkoan
Kok menyerangnya dengan pedang, dibarengi pula dengan tamparan tangan kiri. Ciang Hun menangkis
pedang lawan, lalu memutar tubuh dan menyambut tamparan tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya
pula.
"Trang... plakkk!"
Kedua tangan itu bertemu dan melekat dan pada saat itu, totokan kedua yang dilakukan Seng Bu tiba.
Ciang Hun tak mampu menghindar lagi dan dia pun roboh lemas terkena totokan ampuh jari tangan Seng
Bu.
"Tangkap mereka, jangan bunuh!" teriaknya dan teriakan Seng Bu ini menolong.
Gan Bi Kim yang sudah terdesak, juga lima orang tosu itu, akhirnya roboh. Hanya lima orang tosu itu yang
luka-luka, namun bukan luka yang terlalu parah. Sedangkan Gan Bi Kim juga roboh terkena totokan Im
Yang Ji.
Demikianlah, lima orang tosu Bu-tong-pai, Ciang Hun, dan Bi Kim lantas tertawan oleh Thian-li-pang.
Mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang cukup lebar, tidak dirantai seperti halnya Sian
Li dan Hui Eng. Akan tetapi kamar tahanan itu berjeruji tebal dan kokoh kuat, sedangkan di depannya
terdapat penjagaan yang ketat terdiri dari belasan orang anak buah Thian-li-pang…..
********************
Ketika Cu Kim Giok berdiri di depan jeruji kamar tahanan itu dan melihat Ciang Hun, wajahnya berubah
agak pucat dan matanya terbelalak. Dia tidak begitu peduli melihat lima tosu Bu-tong-pai, juga ia tidak
dunia-kangouw.blogspot.com
mengenal gadis cantik yang ikut tertawan di kamar itu. Akan tetapi ia segera mengenal Gak Ciang Hun
yang pernah dijumpainya di dalam pesta pertemuan keluarga besar di rumah pendekar Suma Ceng Liong.
"Kau...?!" serunya kaget. "Bukankah engkau... saudara Gak Ciang Hun...?"
Ciang Hun hanya memandang dingin. Dia sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai tentang gadis itu.
"Hemmm... dan engkau Cu Kim Giok, puteri paman Cu Kun Tek dan bibi Pouw Li Sian dari Lembah Naga
Biluman. Sungguh mengherankan sekali melihat engkau ada di sini dan menjadi kaki tangan seorang yang
sangat jahat seperti Ouw Seng Bu, pangcu baru dari Thian-li-pang."
Wajah Kim Giok berubah kemerahan.
"Gak-twako!" serunya dengan nada protes. "Agaknya engkau pun telah dipengaruhi lima orang tosu yang
sombong ini. Ouw Seng Bu bukanlah seorang jahat. Dia adalah ketua Thian-li-pang yang berjiwa pahlawan
dan bertekad untuk mengusir penjajah Mancu dari tanah air!"
"Pahlawan yang bergaul dengan para penjahat dan golongan sesat dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai?
Bukan orang jahat akan tetapi membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han, membunuhi para pimpinan Thian-lipang,
bahkan menawan Tan Sian Li? Dan engkau masih mengatakan dia tidak jahat?"
"Gak-twako, engkau salah mengerti! Yang membunuh para pimpinan Thian-li-pang ialah Yo Han, bahkan ia
pun hendak membunuh Ouw-pangcu. Ada pun Tan Sian Li terpaksa ditawan karena ia hendak membunuh
Ouw-pangcu dan mengamuk. Juga Ouw-pangcu yang hampir dibunuh Yo Han sampai terluka parah, dan
Yo Han terjerumus ke dalam sumur tua karena dikeroyok oleh para anggota Thian-li-pang yang membela
ketuanya. Dan tentang pergaulan dengan para tokoh kang-ouw, hal ini adalah karena kita semua harus
bersatu padu menghimpun kekuatan untuk menentang penjajah Mancu! Kalau tidak bersatu dengan semua
golongan, bagaimana mungkin penjajah Mancu bisa diusir dari tanah air? Harap engkau dapat memaklumi,
Gak-twako. Aku berharap sekali kalau engkau, enci ini, dan para tosu Bu-tong-pai suka bekerja sama
dengan kami, berjuang bahu-membahu menentang penjajah Mancu."
"Cukuplah. Kami tahu bahwa engkau telah terbius oleh racun yang diberikan Ouw Seng Bu kepadamu
sehingga engkau tidak lagi dapat melihat kenyataan, engkau tidak dapat lagi membedakan yang benar dan
yang salah," kata Ciang Hun marah.
"Sudahlah, Nona, pergilah dan jangan ganggu kami. Bujuk rayumu itu tak ada gunanya. Kami hanya
merasa menyesal sekali bahwa seorang gadis keturunan keluarga Lembah Naga Siluman seperti Nona ini
sampai dapat ditipu dan dibius oleh seorang penjahat gila seperti Ouw Seng Bu!" kata Thian Tocu.
Kim Giok tak dapat menahan lagi mendengar semua itu. Ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan
tempat itu, wajahnya merah dan kedua matanya terasa panas menahan tangis. Ia merasa amat bingung
melihat betapa kekasihnya mempunyai semakin banyak musuh dari golongan para pendekar, dan hal ini
amat merisaukan hatinya.
Setelah memasuki kamarnya sendiri, Kim Giok tidak dapat lagi menahan tangisnya. Dia menelungkup di
atas pembaringannya dan menangis. Terjadi perang di dalam batinnya. Mau tidak mau ia mempunyai
kecondongan untuk membela dan mempercayai Sian Li, Hui Eng dan juga Ciang Hun.
Akan tetapi perasaan ini segera ditentang oleh cinta dan kepercayaannya kepada Seng Bu. Seng Bu
begitu baik kepadanya, begitu mencintanya dan menurut pendapatnya, kekasihnya itu seorang yang gagah
perkasa dan bijaksana. Kim Giok merasa bahwa kekasihnya tidak salah, bahkan mendatangkan harapan
besar bagi nusa bangsa untuk mengusir penjajah dari tanah air.
Sementara itu, Sian Li dan Hui Eng sudah menghentikan siu-lian mereka dan merasa tubuh mereka amat
segar dan penuh kekuatan. Akan tetapi Hui Eng melihat kemuraman membayang di wajah Sian Li yang
cantik. Dia tahu bahwa Si Bangau Merah itu tentu memikirkan Yo Han, maka ia pun menghibur.
"Adik Sian Li, tenangkan hatimu. Tidak baik dalam keadaan seperti ini membiarkan diri dicekam kerisauan,
membuat kita menjadi lemah," katanya lirih.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sian Li mengangkat muka memandang wajah Hui Eng, lalu menghela napas panjang. "Engkau benar, enci
Eng. Akan tetapi aku tidak pernah mampu melupakan Han-koko. Membayangkan ia berada di dalam sumur
yang ditimbuni batu... ahh, bagaimana hatiku takkan risau?"
"Kerisauan hatimu ini tidak akan menolong apa-apa, adik Sian Li, tidak ada manfaatnya sama sekali.
Jangan biarkan hatimu ditekan kerisauan yang menegangkan dan percaya sajalah bahwa Tuhan tentu
akan selalu menolong orang yang baik dan benar. Dan aku yakin bahwa Yo Han adalah orang yang berada
di pihak yang benar. Kalau Tuhan tidak menghendaki dia mati, biar pun dia benar-benar berada di dalam
sumur itu, aku yakin dia tidak akan mati. Yang penting sekarang memikirkan bagaimana kita dapat lolos
dari sini dan melanjutkan penyelidikan kita tentang Yo-twako itu."
"Akan tetapi bagaimana mungkin itu dilakukan, enci Eng? Kita dapat mematahkan rantai yang mengikat
kaki tangan kita, akan tetapi kita tidak akan dapat membuka pintu besi dan beruji itu, terlalu kuat. Selain itu,
para penjaga di luar tentu akan berteriak-teriak dan kalau Ouw Seng Bu datang bersama pera
pembantunya, mereka itu terlalu banyak dan terlalu kuat bagi kita."
"Tenangkan hatimu, adik Sian Li. Aku masih memiliki harapan. Lupakah engkau kepada kanda Cia Sun?"
kata Hui Eng dan kedua pipinya menjadi kemerahan ketika ia teringat kepada pangeran yang menjadi
kekasihnya dan kini menjadi tumpuan harapannya itu.
"Ahh, engkau benar, enci Eng. Melihat bahwa sampai sekarang Pangeran Cia Sun tidak nampak tertawan
musuh, hal itu berarti bahwa dia masih bebas. Dan tidak mungkin Pangeran Cia Sun akan membiarkan
saja gadis yang paling dicintanya di seluruh dunia tertawan musuh. Dia pasti berusaha untuk
membebaskanmu, enci Eng."
"Ihhh! Bukan hanya aku, akan tetapi engkau juga pasti akan dia usahakan agar dapat bebas."
"Akan tetapi, enci Eng. Bagaimana pun juga, kita mengetahui bahwa dalam hal ilmu silat, pangeran
tidaklah lebih lihai dari pada engkau atau aku. Bagaimana mungkin dia dapat mengatasi Ouw Seng Bu dan
para pembantunya yang lihai, juga anak buahnya yang cukup banyak?"
"Kukira dia tidak sebodoh itu, hanya mengandalkan tenaganya sendiri. Bagaimana pun juga dia seorang
pangeran dan tentu tak akan sulit baginya untuk mendapatkan bantuan pasukan yang terdekat, bukan?
Kalau dia mengerahkan pasukan yang besar, tentu gerombolan penjahat yang berkedok pejuang ini dapat
dibasmi."
"Engkau benar, enci Eng. Akan tetapi, bayangan itu sungguh tidak mengenakkan hatiku. Kalau pasukan
pemerintah yang datang menolong, bukankah itu sama artinya dengan kita berpihak kepada penjajah?”
"Adik Sian Li, kita harus dapat melihat kenyataan dan dapat mempertimbangkan dengan adil. Jika Thian-lipang
merupakan kelompok pejuang, golongan pendekar yang berjiwa patriot, apakah kita sampai
menentang mereka dan menjadi tawanan mereka? Ingatlah bahwa kalau pasukan pemerintah benar-benar
dikerahkan oleh pangeran Cia Sun untuk menggempur Thian-li-pang, yang digempur adalah gerombolan
penjahat, bukan sebuah perkumpulan pejuang sejati." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan penuh
keyakinan.
"Aku mengenal baik Pangeran Cia Sun. Harus aku akui bahwa dia seorang pangeran Mancu, akan tetapi
dia tidak berjiwa penjajah, bahkan dia menghormati para pejuang dan tidak akan mencampuri urusan
pemberontakan para pejuang. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia sampai menjadi adik angkat Sinciang
Taihiap Yo Han?"
Sian Li tersenyum. Tentu saja gadis itu akan membela mati-matian Pangeran Cia Sun, kekasihnya,
tunangan dan calon suaminya pula. Akan tetapi, pembelaan itu pun bukan hanya ngawur dan ia tak dapat
membantah kebenaran apa yang diucapan Hui Eng.
"Mudah-mudahan Pangeran Cia Sun cepat muncul dengan bala bantuannya, enci Eng. Aku ingin cepatcepat
bebas dan mencari Han-ko. Kalau perlu, akan kubongkar dengan tanganku sendiri batu-batu yang
menimbuni sumur tua itu."
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka menerima suguhan makan malam yang dimasukkan melalui lubang antara jeruji baja. Ternyata
Ouw Seng Bu tetap memperlakukan mereka dengan baiknya. Hidangan yang disuguhkan cukup mewah,
bahkan ada pula minuman anggur segar.
Mereka berdua tidak menolak dan makan sampai kenyang untuk menjaga kondisi tubuh mereka, kemudian
mereka bersemedhi lagi mengumpulkan kekuatan agar selalu siap menghadapi segala kemungkinan.
Diam-diam mereka pun bisa menduga bahwa berkat adanya Cu Kim Giok di situ, maka agaknya Ouw Seng
Bu bersikap lunak pada mereka.
Menyerah dengan penuh kepasrahan, penuh kepercayaan akan kekuasaan Tuhan, dan berdaya upaya
sekuat tenaga dan kemampuan yang ada merupakan dua persyaratan hidup yang tidak boleh dipisahkan
dan tidak boleh pula diabaikan kita. Hanya menyerah saja tanpa berupaya, atau hanya berupaya saja
tanpa penyerahan dengan keimanan kepada Tuhan, tidaklah lengkap dan tidak pula benar.
Kita hidup sebagai makhluk hasil ciptaan Tuhan yang sempurna dan lengkap. Semua perlengkapan yang
ada pada kita ini memang diikut sertakan kita agar bisa kita gunakan untuk keperluan hidup. Panca indera
kita, tangan kaki kita, hati akal pikiran, semua itu merupakan perlengkapan sempurna yang sudah
sepatutnya kita gunakan, kita kerjakan demi kelangsungan hidup ini, demi kesejahteraan, demi
kebahagiaan hidup.
Namun, di samping daya upaya ini, kita harus yakin sepenuhnya bahwa segala sesuatu baru dapat terjadi
kalau ditentukan oleh kekuasaan Tuhan! Menyerah saja tanpa usaha, sama saja dengan mempersekutu
Tuhan. Kalau perut kita lapar, kita harus makan dan untuk bisa makan kita harus mencari makanan itu.
Hanya menyerah saja tanpa makan, tidak mungkin kita terbebas dari rasa lapar.
Akan tetapi, mencari makanan saja tanpa penyerahan kepada Tuhan, kita dapat dibawa menyeleweng oleh
nafsu sehingga kita mudah melakukan penyelewengan, misalnya mengambil kebutuhan kita itu dari orang
lain, mencuri, merampok dan sebagainya.
Maka, kedua syarat itu tidak bisa terpisahkan, yaitu, pada lahirnya kita berusaha sekuat kemampuan kita,
pada batinnya kita menyerah kepada kekuasaan Tuhan. Kalau sudah begini, lengkaplah sudah. Berhasil
atau tidaknya usaha kita, kita serahkan kepada Tuhan. Yang paling penting, kita berusaha sekuat
kemampuan kita!
Kalau sudah begini, berhasil atau gagal tidak membuat kita terlalu mabuk atau terlalu kecewa, karena kita
maklum sepenuhnya bahwa segala kehendak Tuhan pun jadilah! Kita hanya dapat bersyukur akan
kekuasaan Tuhan. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, tahu apa yang terbaik bagi kita.
Mungkin dalam suatu kenyataan yang bagi hati akal pikiran kita merupakan kegagalan, tersembunyi suatu
hikmah, tersembunyi suatu berkah demi kebaikan kita. Dalam hidup kita ini, alangkah banyaknya berkah
Tuhan bersembunyi di balik pengalaman yang kita anggap menguntungkan atau tidak menyenangkan.
Demikian pula dengan Yo Han. Meski menurut hati akal pikiran ia tertimpa mala petaka, terkubur hiduphidup
di dalam sumur tua, suatu hal yang amat tidak menyenangkan, juga yang mengancam keselamatan
nyawanya, namun pemuda ini sama sekali tidak tenggelam ke dalam keputus asaan, tidak terseret ke
dalam kedukaan.
Kekuatan seperti ini dapat kita miliki, yaitu kalau kita memiliki kepasrahan dengan penuh kesabaran dan
keikhlasan, dengan iman yang sepenuhnya, sehingga kita sepenuhnya percaya bahwa apa pun yang
terjadi, tidak lepas dari kehendak Tuhan!
Yo Han terbebas dari kematian akibat tertimbun atau tertimpa batu. Kemudian, dia pun terbebas pula dari
bahaya kelaparan ketika dia berhasil menemukan jamur yang dapat dimakan. Kini, dia berusaha sekuat
tenaga untuk mencari jalan keluar tanpa sedikit pun pernah mengurangi penyerahannya kepada Tuhan.
Dan andai kata Tuhan menghendaki bahwa dia akan tewas, dia sudah siap setiap saat.
Dengan amat giat dan tekun, Yo Han terus mencari jalan keluar dengan cara menggali lubang-lubang yang
sempit, mencari jalan menuju keluar. Sebuah demi sebuah batu dia lepaskan, kemudian melanjutkan
gerakannya merayap dalam lubang terowongan yang kecil sempit itu. Setiap hari, bahkan dalam gelap pun
dia bekerja, hanya berhenti kalau dia memerlukan istirahat untuk menghimpun tenaga baru atau bila dia
benar-benar telah lapar dan mengantuk.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akhirnya, pada suatu siang, ketekunan yang penuh penyerahan itu mendatangkan hasil yang sama sekali
di luar dugaannya. Ada sinar terang di depan. Dia merayap terus, menyingkirkan batu-batu penghalang
lubang sempit itu dan akhirnya, ternyata lubang terakhir yang merupakan lorong amat panjang itu
membawa dia muncul di tepi sebuah tebing jurang, di lereng bukit!
"Terima kasih, Tuhan!"
Yo Han berlutut, dengan sepenuh hati merasa bersyukur akan kemurahan Tuhan yang telah
membebaskannya dari dalam bumi yang seolah menghimpitnya itu! Kemudian dia duduk bersila setelah
makan jamur dan menghimpun kekuatan. Dan menjelang sore, dia mulai mencari jalan menuruni tebing
yang curam itu.
Malam gelap membuat Yo Han terpaksa menghentikan usahanya dan dia melewatkan malam di tebing
jurang. Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah terang tanah, dia pun melanjutkan usahanya menuruni
tebing itu.
Dia harus segera kembali ke Thian-li-pang dan mengadakan pembersihan di sana. Kini dia mengerti bahwa
Ouw Seng Bu telah berkhianat, telah membunuhi para pimpinan Thian-li-pang dan mengangkat diri sendiri
menjadi ketua.
Dan pemuda yang aneh itu, yang memiliki ilmu aneh pula, sudah mengajak golongan sesat untuk
bersekutu. Thian-li-pang telah diselewengkan sehingga dia harus bertindak. Dialah yang bertaggung jawab.
Dia kemudian teringat akan pesan mendiang kakek Ciu Lam Hok, gurunya, supaya dia membersihkan
Thian-li-pang dan mengembalikan Thian-li-pang kepada cita-cita semula, yaitu perkumpulan orang-orang
berjiwa patriot, dan pendekar sejati yang berjuang untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Menjadi
pembela bangsa, bukan pengganggu keamanan rakyat, bukan menjadi penjahat…..
********************
"Giok-moi... kenapa engkau menangis...?"
Suara yang lembut dan sentuhan halus pada pundaknya membuat Kim Giok terkejut. Ia bangkit duduk dan
melihat Seng Bu sudah duduk pula di tepi pembaringannya, dan kini pemuda itu merangkul pundaknya.
"Koko... aku... aku merasa gelisah sekali..."
Seng Bu menarik gadis itu ke dadanya dan mengelus rambutnya yang halus. "Giok-moi tersayang,
mengapa engkau gelisah? Bukankah di sini ada aku yang selalu siap untuk melindungimu dan
membahagiakan hatimu?" Dia mengusap kening gadis itu dengan bibirnya. "Apakah yang telah terjadi,
sayangku?"
"Koko, betapa hatiku tak akan gelisah dan risau? Ketika aku mencoba untuk membujuk Sian Li dan Hui
Eng, aku hanya mendapat teguran, ejekan dan penghinaan. Ketika aku menemui tawanan baru itu,
ternyata pemuda itu adalah twako Gak Ciang Hun, dan aku pun di sana menerima celaan dan makian.
Ahhh, Koko, sungguh aku merasa malu dan bersedih sekali..."
"Kalau begitu, biarlah akan kuhajar mereka, kusiksa mereka yang berani menghina dan mengejekmu!"
Kim Giok memegang lengan pemuda itu. "Jangan, Koko! Bukan begitu maksudku. Aku gelisah dan risau
karena aku merasa bimbang. Mengapa mereka menolak berjuang bersama kita? Mengapa mereka
menganggap engkau bersalah dan jahat?"
Rangkulan Seng Bu semakin erat, dan dia berbisik dekat telinga gadis itu. "Giok-moi, apakah engkau tak
percaya kepadaku? Tentu saja mereka memusuhiku karena mereka semua itu memihak Yo Han, tidak
tahu bahwa Yo Han telah berubah, telah membunuhi para pemimpin Thian-li-pang, bahkan hampir saja
membunuhku. Engkau tahu sendiri betapa aku hampir mati, Giok-moi. Kalau engkau pun seperti mereka,
tidak percaya kepadaku, habislah sudah harapan hidupku. Hanya engkaulah satu-satunya orang yang
memberi harapan kepadaku. Biar seluruh manusia di dunia ini tidak percaya kepadaku dan memusuhiku,
akan kuhadapi dan kulawan mereka yang memusuhiku!"
dunia-kangouw.blogspot.com
"Koko..." Kim Giok yang kurang pengalaman itu terbuai oleh kemesraan kata-kata yang diucapkan Seng
Bu. "Aku akan selalu berpihak padamu, selalu membelamu dan setia kepadamu."
"Terima kasih, Giok-moi. Aku cinta padamu, Giok-moi. Aku cinta padamu sepenuh jiwa ragaku."
Ucapan ini menggetar penuh perasaan dan baru saat itulah Seng Bu benar-benar bicara dari lubuk hatinya.
Memang dia sudah jatuh cinta kepada Kim Giok, walau pun cintanya bergelimang nafsu birahi. Cintanya
timbul karena baginya tak ada lagi gadis yang lebih cantik menggairahkan dari pada Kim Giok. Dengan
tubuh gemetar, dia mendekap dan mencium pipi dan bibir gadis itu.
Kim Giok agak terkejut dan dengan halus dia melepaskan diri dari rangkulan. Ia sendiri kalau mau jujur,
merasa senang dengan perlakuan penuh kemesraan itu. Akan tetapi karena hatinya memang sedang
risau, dia pun tidak ingin melanjutkan kemesraan yang membuat jantungnya berdebar keras itu.
"Koko, aku ingin bicara padamu."
Seng Bu tersenyum. "Ehhh? Bukankah sudah sejak tadi kita bicara?"
Dia hendak merangkul lagi akan tetapi Kim Giok menolak dengan tangannya.
"Aku tidak main-main dan kuharap engkau juga bersungguh-sungguh, Bu-ko. Aku minta kepadamu agar
engkau suka membebaskan mereka bertiga, yaitu Sian Li, enci Hui Eng, dan Gak-twako. Kalau engkau
tidak membebaskan mereka, hatiku akan selalu merasa risau. Maukah engkau, Koko?"
Seng Bu mengerutkan alisnya. Sejenak dia menatap wajah kekasihnya penuh selidik. "Giok-moi, tidak
salahkah apa yang kudengar ini? Engkau minta kepadaku supaya aku membebaskan orang-orang yang
memusuhi aku dan yang hendak membunuhku?" Dia tersenyum, akan tetapi senyumnya masam. "Itu
berarti melepaskan tiga ekor harimau yang akan selalu mengancam keselamatanku, keselamatan kita
semua, bahkan akan menggagalkan usaha perjuangan kita. Itukah yang kau kehendaki?"
"Tentu saja tidak, Koko. Aku akan mengajukan syarat kepada mereka, kuminta mereka berjanji tidak
memusuhimu kalau kita bebaskan mereka."
"Itu berbahaya sekali, Giok-moi. Ingat, masih ada seorang lagi dari mereka yang lolos, yaitu Pangeran Cia
Sun. Dia merupakan ancaman besar bagi kita selama dia masih belum tertangkap. Setelah dia tertawan,
baru kita bicarakan lagi tentang permintaanmu itu. Percayalah padaku, Giok-moi. Bukankah selama ini aku
pun tidak pernah berbohong kepadamu dan kuperintahkan anak buah kita supaya memperlakukan para
tawanan itu dengan baik?"
Kembali Seng Bu meraih dan merangkul, hendak mencium dan hendak merebahkan gadis itu ke atas
pembaringan. Kim Giok meronta dan melepaskan diri, meloncat turun dari pembaringan, memandang
kepada kekasihnya dengan alis berkerut.
"Koko, apa yang kau lakukan ini?"
"Giok-moi, kita saling mencinta dan aku tahu, aku selalu sibuk dengan pekerjaan ini. Kini aku... aku ingin...
memiliki dirimu sepenuhnya. Giok-moi..."
Pemuda itu hendak merangkul lagi, akan tetapi Kim Giok sudah cepat-cepat melangkah mundur untuk
menghindar.
"Bu-ko, kita tidak boleh melakukan itu. Kita belum menikah!"
"Giok-moi, kasihanilah aku. Kita pasti akan menikah, akan tetapi aku harus meminang dirimu dulu kepada
orang tuamu dan hal itu akan makan waktu lama. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya, sekarang..."
"Tidak, aku tidak mau!"
"Giok-moi...!" Seng Bu menjulurkan kedua tangannya, akan tetapi Kim Giok meloncat keluar dari dalam
kamar itu, dikejar oleh kekasihnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebetulnya, Seng Bu bukanlah seorang pemuda yang gila wanita, bukan pula hamba nafsu birahi. Akan
tetapi, dia sungguh-sungguh jatuh cinta kepada Kim Giok dan ia takut kehilangan gadis itu yang agaknya
kini meragu dan bahkan minta agar para tawanan dibebaskan.
Kalau dia dapat menggauli Kim Giok sekarang, tentu gadis itu terikat kepadanya dan tak akan lepas lagi
dari tangannya, bahkan akan lebih kuat dan patuh kepadanya. Karena itu, sikapnya sekarang yang hendak
memaksa Kim Giok menyerahkan diri seperti lebih dipengaruhi perhitungan yang menguntungkan dirinya
dari pada sekedar terseret nafsu birahi.
Kim Giok berlari keluar dari bangunan itu. Dia masih terus dikejar oleh Seng Bu yang tentu saja tidak
hendak berlaku kasar, hanya mengejar untuk membujuk kekasihnya.
"Giok-moi, tunggu...!" seru Seng Bu sambil tertawa karena merasa betapa kekasihnya itu seperti
mengajaknya bermain kejar-kejaran seperti kanak-kanak saja.
Pada saat itulah terdengar suara terompet dan tambur, disusul kegaduhan luar biasa di bawah puncak.
Beberapa orang anak buah Thian-li-pang berlari-larian dan ketika Kim Giok dan Seng Bu yang berhenti
berlari memandang, nampak Kui Thiancu, Im Yang Ji dan Siangkoan Kok datang pula berlarian.
"Ahh, celaka, Pangcu!" berkata Im Yang Ji dengan muka pucat. Tosu Pat-kwa-pai yang tinggi kurus ini
nampak gugup.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu panik?" Seng Bu bertanya.
"Pangcu, pasukan besar pemerintah sudah mengepung kita dari empat penjuru!" kata pula Im Yang Ji.
"Jahanam!" Seng Bu berseru marah dan matanya mulai mencorong aneh sehingga Kim Giok yang
melihatnya menjadi terkejut.
Dalam keadaan marah seperti itu, Seng Bu seolah sudah berubah. Wajahnya bengis, pandang matanya
mencorong dan otaknya mendadak saja menjadi cerdik dan licik luar biasa.
"Im Yang Ji Totiang, dan Kui Thiancu Totiang, kalian cepat atur pasukan kalian masing-masing menyambut
musuh dari sayap kanan dan kiri. Dan engkau, paman Siangkoan, cepat atur barisan Thian-li-pang kita,
bagi menjadi dua untuk mempertahankan depan dan belakang. Aku akan menangkap para tawanan untuk
dijadikan sandera, karena aku yakin Pangeran Cia Sun berdiri di belakang penyerbuan ini!"
Tiga orang pembantu itu segera pergi melakukan perintah dan Seng Bu hendak berlari masuk, agaknya
sudah lupa sama sekali kepada Kim Giok.
"Koko, jangan!" Kim Giok melompat dan gadis ini sudah berdiri menghadang Seng Bu.
"Giok-moi, minggirlah kau!" bentak Seng Bu marah. Matanya yang mencorong itu sama sekali sudah tidak
mengandung sinar kasih sayang, yang ada hanyalah kebengisan dan kemarahan.
"Tidak, Bu-koko! Engkau tidak boleh membuat mereka bertiga menjadi sandera. Bahkan setelah pasukan
pemerintah menyerang, jelas bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan itu karena mereka berada di
sini sebagai tawanan, maka kita sudah seharusnya membebaskan mereka sekarang juga. Mungkin mereka
akan menyadari dan membantu kita untuk melawan pasukan pemerintah."
"Minggir, Giok-moi! Kalau mereka tidak boleh dijadikan sandera, mereka bahkan harus dibunuh agar
musuh kita berkurang."
"Ingat, Bu-ko, musuh kita adalah penjajah Mancu, bukan anggota keluarga besar para pendekar!" kata Cu
Kim Giok dan kini Koai-liong Pokiam sudah terhunus di tangannya. "Aku tidak memperkenankan siapa pun
membunuh para tawanan itu!"
Mendengar kata-kata Giok Kim ini, tiba-tiba saja Ouw Seng Bu tertawa, dan suaranya tawanya sungguh
mendirikan bulu roma, sungguh mengerikan sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Ha-ha-ha-ha-ha, kiranya engkau pun kini menjadi musuhku, Giok-moi? Engkau kucinta sepenuh jiwa
ragaku, tetapi engkau pun memusuhi aku? Engkau tega sekali, Giokmoi..." dan laki-laki ini pun menangis!
Kim Giok sampai menjadi bengong. Baru sekarang dia dapat menduga bahwa pria yang dicintanya ini
adalah seorang yang miring otaknya.
"Ha-ha-ha!" Seng Bu tertawa lagi. "Engkau hendak membela mereka?" Ia pun berteriak kepada
sekelompok anak buahnya yang berlari dekat. "Heiii, kalian! Cepat suruh bakar tempat tahanan. Sekarang
juga, cepat!"
"Baik, Pangcu!" sahut mereka dan mereka pun berlarian ke arah rumah tahanan.
"Tidaaak, jangan...!" Kim Giok melompat ke depan untuk mengejar dan mencegah anak buah Thian-li-pang
itu melakukan pembakaran.
"Cu Kim Giok, engkau musuh kami!" terdengar bentakan Seng Bu dan dia pun sudah meloncat, lalu
langsung mengirim pukulan ketika tubuhnya dan tubuh Kim Giok masih melayang di udara.
Karena tak menduga bahwa pria yang dikasihinya itu akan menyerangnya, juga karena serangan aneh itu
datangnya amat cepat, membawa angin dingin, maka biar pun Kim Giok berusaha melakukan gerakan
poksai (salto) untuk menghindar, namun tetap saja lambungnya terkena pukulan itu.
"Aughhh...!"
Kim Giok mengeluh dan tubuhnya terkulai, lalu jatuh ke atas tanah. Ia rebah miring dan merasa betapa
lambungnya seperti dimasuki benda dingin sekali, seperti sebongkah air beku sehngga dadanya terasa
sesak, pandang matanya berkunang-kunang.
"Giok-moi... kekasihku... Giok-moi...!" Seng Bu menangis dan dia menghampiri tubuh yang roboh miring itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara yang membuat Seng Bu kaget bagai disengat binatang berbisa.
Tengkuknya terasa dingin dan tebal saking ngeri dan takutnya…..
"Ouw Seng Bu, pengkhianat keji manusia berhati iblis!" Suara Yo Han.
Cepat Seng Bu membalikkan tubuhnya dan dia sudah berhadapan dengan Yo Han! Dia merasa seperti
dalam mimpi dan menatap wajah Yo Han dengan mata terbelalak. Apa lagi pada waktu itu dia mendengar
suara gaduh pertempuran yang menunjukkan bahwa pasukan pemerintah sudah menyerbu ke dalam
perkampungan Thian-li-pang.
Sementara itu, Kim Giok mengangkat mukanya. Dia terbelalak ketika melihat api sudah membakar rumah
tahanan. Melihat api mulai berkobar, seakan timbul semangat dan kekhawatirannya. Ia meloncat dan
dengan pedang di tangan, ia seperti melupakan rasa nyeri di lambungnya. Cepat ia berlari menuju ke
rumah tahanan itu, tidak mempedulikan lagi kepada Seng Bu.
Setelah tiba di dekat rumah tahanan itu, Kim Giok melihat ada beberapa orang anggota Thian-li-pang
sedang terus membakar bagian samping rumah tahanan yang telah mulai berkobar. Dengan marah Kim
Giok menggerakkan pedangnya sehingga keempat orang anggota Thian-li-pang itu langsung roboh.
Dua orang lagi yang menjadi terkejut melihat tunangan ketua mereka mengamuk, tahu bahwa calon
nyonya ketua itu kini menjadi musuh. Mereka menggerakkan golok, akan tetapi mereka pun segera
terpelanting mandi darah, menjadi korban pedang Koai-liong Po-kiam di tangan gadis dari Lembah Naga
Siluman itu.
Kim Giok tidak mempedulikan api yang berkobar, dan dengan cepat ia meloncat masuk, menyelinap dan
berlari menuju ke kamar para tahanan. Dia melihat betapa Sian Li dan Hui Eng sudah dapat mematahkan
rantai yang membelenggu kaki tangan mereka dan mereka berdua kini sedang berusaha sekuat tenaga
untuk menjebol jeruji baja dengan cara menarik dan membetot-betot, tetapi agaknya usaha ini tidak akan
membawa hasil. Juga di bagian ujung sana, di mana Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu
ditahan, terdengar pula suara gaduh ketika mereka mendorong-dorong pintu baja kamar tahanan mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan sisa tenaga terakhir, Kim Giok menyambut empat orang anggota Thian-li-pang yang agaknya
hendak meninggalkan ruangan yang mulai terbakar itu. Mereka adalah para penjaga sebelah dalam dan
dia tahu bahwa kunci kamar-kamar tahanan itu pasti berada di tangan mereka.
Pedangnya berkelebat menyambar-nyambar, maka robohlah empat orang itu. Kim Giok memeriksa
pakaian mereka dan menemukan gelang besi yang digantungi beberapa buah kunci. Cepat dia
menghampiri kamar tahanan di mana Sian Li dan Hui Eng sejak tadi memandangnya dengan sinar mata
penuh harapan dan kegembiraan.
Tentu saja mereka berdua merasa gembira sekali bahwa pada saat terakhir, ternyata Kim Giok
menunjukkan bahwa ia tetap seorang puteri sepasang pendekar dari Lembah Naga Siluman yang gagah
perkasa!
Setelah Kim Giok berhasil membuka kunci pintu dan menarik daun pintu baja terbuka, ia pun terhuyung. Ia
menyerahkan gelang kunci kepada Sian Li sambil berpegang kepada jeruji.
"Cepat... bebaskan mereka... di ujung sana...!" Dan ia pun terkulai roboh.
"Kim Giok...!" Sian Li berseru dan cepat merangkulnya. Kepada Hui Eng ia lalu berkata, "Enci Eng, cepat
bebaskan tawanan di ujung sana, bahkan kalau masih ada yang lain, bebaskan mereka semua."
Hui Eng menerima kunci itu, dan tidak lama kemudian ia sudah membuka pintu kamar tahanan di mana
Ciang Hun dan lain-lain dikeram.
Sian Li masih memeriksa keadaan Kim Giok dan terkejutlah ia ketika melihat lambung gadis itu terdapat
tanda menghitam dan sekali raba saja tahulah ia bahwa isi perut gadis itu telah menderita luka yang
agaknya tidak mungkin disembuhkan lagi.
"Kim Giok...!" Ia merangkul, penuh keharuan.
Biar pun gadis yang terluka parah itu tidak menerangkan, Sian Li sudah dapat menduga bahwa tentu Kim
Giok terpukul oleh Ouw Seng Bu pada saat gadis ini nekat hendak membebaskan ia dan Hui Eng. Hanya
yang membuat ia heran, bagaimana Kim Giok tetap masih dapat membebaskannya, padahal pukulan itu
merupakan pukulan maut yang mematikan.
"Sian Li... mintakan ampun... kepada ayah ibu...," Kim Giok mengeluh dan terkulai.
"Sian Li, cepat! Kita harus meninggalkan tempat ini. Kebakaran mulai membesar dan sebentar lagi tidak
akan ada jalan keluar," berkata Hui Eng yang datang bersama Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang
tosu Bu-tong-pai.
Sian Li memandang dan Ciang Hun juga berkata, "Benar, adik Sian Li, kita harus cepat pergi. Ahhh,
bukankah itu adik Cu Kim Giok? Kenapa dia?"
Sian Li menjawab dengan suara gemetar. "Gak-twako... tanpa pertolongan Kim Giok, kita semua akan
hangus dan mati terbakar. Ia yang menolong kita membukakan pintu tahanan dan ia... ia telah tewas. Mari,
bantu aku membawanya keluar, Twako."
Tanpa diminta untuk ke dua kalinya, Ciang Hun sudah mengangkat tubuh yang masih hangat dan lemas
itu, memondong dan membawanya ke luar bersama yang lain.
Melihat di luar telah terjadi pertempuran hebat antara anak buah Thian-li-pang melawan pasukan
pemerintah yang menyerbu masuk, Sian Li segera menyerahkan jenazah Kim Giok supaya ditunggu oleh
lima orang tosu Bu-tong-pai yang masih menderita luka-luka, sedangkan ia sendiri bersama dengan Hui
Eng, Ciang Hun dan Bi Kim lalu mengamuk, membantu pasukan menyerbu para anggota Thian-li-pang
sehingga mereka itu dibuat cerai-berai dan banyak yang jatuh.
"Aku harus mencari Seng Bu!" teriak Sian Li dengan marah.
"Aku akan mencari Siangkoan Kok!" kata pula Hui Eng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, mereka melihat Siangkoan Kok dan dua orang tosu pembantunya, yaitu Im Yang Ji tokoh Patkwa-
pai serta Kui Thiancu tokoh Pek-lian-kauw, sedang mengamuk dan membuat para prajurit dan perwira
yang mengeroyok menjadi kocar-kacir sehingga banyak prajurit yang roboh.
Hui Eng yang melihat Siangkoan Kok mengamuk, segera mencabut pedang dan maju menerjang bekas
ayah angkatnya, sekaligus gurunya itu. Memang Ouw Seng Bu tidak merampas senjata para tawanan itu
sehingga kini mereka dapat menggunakan senjata masing-masing.
Melihat gadis itu sudah nekat menyerang bekas ketua Pao-beng-pai yang lihai itu, Sian Li merasa khawatir
dan dia pun turut menerjang maju membantu Hui Eng mengeroyok Siangkoan Kok. Ada pun Gak Ciang
Hun bersama Gan Bi Kim sudah membantu para perwira dan prajurit yang mengeroyok dua orang tosu
Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw.
Siangkoan Kok yang kaget sekali melihat para tawanan sudah meloloskan diri, terpaksa mengerahkan
seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi dua orang gadis yang amat tangguh itu. Tingkat
kepandaian bekas puteri dan muridnya itu sudah hampir menyusulnya, sedangkan Si Bangau Merah juga
merupakan seorang wanita yang amat lihai, maka dia pun harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya
untuk membela diri.
Jumlah pasukan yang menyerbu sangatlah banyak sehingga orang-orang Thian-li-pang menjadi kewalahan
dan terdesak hebat. Tiba-tiba muncul pula Cia Sun yang memimpin sebuah regu prajurit pilihan. Saat
melihat betapa kekasihnya sudah bertanding melawan Siangkoan Kok dibantu Tan Sian Li, dia pun segera
memerintahkan para perwira dan prajurit yang memiliki kepandaian untuk ikut pula mengeroyok.
Pertandingan berat sebelah itu tidak berlangsung terlalu lama. Biar pun mereka bertiga berhasil
merobohkan banyak prajurit, tapi Siangkoan Kok, Im Yang Ji, dan Kui Thiancu akhirnya roboh setelah
menderita banyak luka-luka. Siangkoan Kok tewas dengan dada tertembus pedang di tangan Hui Eng. Im
Yang Ji dan Kui Thiancu juga tewas dengan tubuh penuh luka-luka.
Cia Sun gembira sekali melihat Hui Eng selamat. "Adik Sian Li, di sana kulihat kakak Yo Han sedang
bertanding melawan Ouw Seng Bu."
Sian Li mengeluarkan suara seperti sorak gembira mendengar ini dan dia pun berlari cepat menuju ke arah
yang ditunjuk Cia Sun diikuti oleh yang lain. Setelah tiba di tempat yang dimaksudkan, mereka tertegun
menyaksikan sebuah pertandingan yang luar biasa hebatnya.
Ketika ada yang hendak bergerak membantu Yo Han, Sian Li cepat berkata, "Jangan ada yang bergerak,
Han-koko tidak akan kalah. Dia tidak senang kalau dibantu dengan pengeroyokan."
Mendengar ucapan ini, semua orang maklum dan mereka menonton dengan kagum dan juga tegang,
kecuali Sian Li yang percaya sepenuhnya bahwa kekasih hatinya tak akan kalah.
Pertemuan antara Yo Han dan Ouw Seng Bu tentu saja membuat ketua Thian-li-pang itu terkejut setengah
mati. Wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak, akan tetapi perlahan-lahan wajah itu berubah merah
dan matanya menjadi mencorong liar penuh kebencian dan kemarahan.
"Kau...??!!" Seng Bu berseru dan suaranya terdengar dingin dan tajam mengiris jantung. Mulutnya kini
membentuk senyum menyeringai yang amat bengis.
Yo Han sendiri merasa bulu tengkuknya berdiri. Orang ini tidak waras, pikirnya.
"Ouw Seng Bu, kenapa engkau membunuh para pimpinan Thian-li-pang termasuk Lauw Pangcu?"
Seng Bu merasa tidak perlu lagi merahasiakan semua perbuatannya, maka dia tertawa. "Ha-ha-ha, mereka
itu tidak ada gunanya, membuat Thian-li-pang menjadi lemah saja. Thian-li-pang harus menjadi yang
terkuat, harus bisa mengajak seluruh kekuatan untuk menghancurkan penjajah Mancu. Mereka itu orangorang
lemah!"
"Ouw Seng Bu, engkau membunuh mereka dan menguasai Thian-li-pang bukan demi perjuangan, tetapi
untuk mencari kedudukan tinggi. Engkau bersekutu dengan golongan sesat, engkau juga membiarkan
anak buah Thian-li-pang melakukan perbuatan jahat. Bahkan engkau secara tak tahu malu dan curang
dunia-kangouw.blogspot.com
sekali menjebak aku ke dalam sumur. Heran sekali kenapa engkau, murid Lauw Pangcu yang dulu amat
dipercaya dan baik, mendadak berubah seperti iblis? Apakah engkau telah menjadi gila?"
"Yo Han, semua orang Thian-li-pang memujamu. Kau lalu menjadi sombong. Apa kau kira hanya engkau
yang telah menguasai Bu-kek Hoat-keng? Ha-ha-ha, aku pun telah menguasainya dan aku akan
membunuhmu untuk yang kedua kalinya!" Setelah berkata demikian, Ouw Seng Bu menyerang dengan
gerakan yang aneh dan dahsyat sekali.
Diam-diam Yo Han merasa heran dan terkejut sekali mendengar bahwa orang ini telah menguasai Bu-kek
Hoat-keng, apa lagi saat melihat serangan yang luar biasa itu. Yang membuat dia heran adalah dia dapat
mengenali gerakan tangan Seng Bu pada waktu menyerangnya. Memang itu adalah gerakan dari Bu-kek
Hoat-keng!
Karena merasa heran, Yo Han ingin sekali melihat lebih banyak lagi gerakan itu. Ia pun mengelak cepat
tanpa membalas, membiarkan Seng Bu menyerang secara bertubi-tubi. Dan tidak salah lagi, jurus-jurus
yang dimainkan Seng Bu ketika menyerangnya adalah ilmu Bu-kek Hoat-keng, akan tetapi semakin lama,
semakin aneh saja perkembangan jurus-jurus itu.
Hebatnya, serangan itu mengandung hawa dingin yang aneh karena ketika satu kali dia menangkis,
tangannya yang bertemu lengan lawan itu terasa panas! Pukulan Seng Bu itu mengandung hawa beracun
yang ganas luar biasa! Berbahaya sekali bagi lawan dan tidak mengherankan kalau Lauw Kang Hui dan
yang lain-lain tewas di tangan Seng Bu. Apa bila tidak menguasai Bu-kek Hoat-keng, dia sendiri tentu akan
terpengaruh hawa beracun itu.
Seng Bu yang merasa bahwa dia sudah memiliki ilmu yang tidak terkalahkan, semakin berbesar hati
melihat Yo Han tak pernah membalas dan hanya lebih banyak mengelak dan berloncatan untuk
menghindarkan serangan-serangannya. Namun dia pun merasa penasaran melihat dia belum juga
berhasil.
Secepatnya dia harus dapat membunuh Yo Han agar dia mendapat kesempatan untuk melarikan diri,
sebab ia melihat betapa banyaknya pasukan pemerintah yang menyerbu perkampungan Thian-li-pang itu.
Maka, dia segera berteriak memanggil anak buahnya dan sedikitnya dua puluh orang anak buah Thian-lipang
segera menggunakan senjata mereka mengepung dan mengeroyok Yo Han!
Yo Han maklum bahwa Seng Bu mencari kesempatan melarikan diri dan hal ini haruslah dicegah. Maka,
dia pun tidak pernah meninggalkan atau menjauhi Seng Bu. Dia mulai menggunakan ilmunya untuk
menyerang dan menutup jalan keluar Seng Bu, sedangkan para anak buah Thian-li-pang yang mengepung
dan mengeroyoknya dengan ragu-ragu dan gentar, dia robohkan dengan tendangan dan tamparan saja,
tidak membuat mereka terluka parah.
"Para anggota Thian-li-pang, cepat ajaklah kawan-kawan untuk melarikan diri! Jangan hiraukan lagi Ouw
Seng Bu yang menyeret kalian ke dalam penyelewengan!" beberapa kali Yo Han berseru.
"Kelak aku sendiri yang akan membangun kembali Thian-li-pang!" Yo Han berseru lagi.
Terjadi kebimbangan dalam hati para anggota Thian-li-pang. Mereka yang memang berwatak jahat dan
lebih senang dipimpin Seng Bu, sebab di bawah bimbingan Seng Bu mereka dapat melampiaskan nafsu
dan keserakahan mereka secara bebas, tidak mau mempedulikan seruan Yo Han ini dan mereka tetap
melakukan perlawanan dan setia kepada Seng Bu.
Akan tetapi, lebih banyak lagi anggota yang hanya terpaksa mentaati ketua baru itu, dan kini para anggota
ini segera menyampaikan pesan kepada kawan-kawan sehaluan dan mereka pun mulai berserabutan
mencari lubang untuk meloloskan diri dari penyerbuan pasukan pemerintah.
Mendengar teriakan Yo Han, dan melihat pula betapa anak buahnya yang mengeroyok Yo Han
terpelanting ke kanan kiri sehingga dia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk meloloskan diri dari
Yo Han, Seng Bu menjadi marah dan nekat.
"Yo Han, engkau harus mati di tanganku!" bentaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seng Bu pun menyerang lagi sambil mengeluarkan teriakan yang menyeramkan, bukan teriakan manusia
lagi melainkan teriakan iblis. Dan pada saat itulah Sian Li dan para tokoh lain muncul dan menjadi
penonton.
Yo Han juga melihat mereka dan hatinya berdebar girang bukan main melihat Sian Li dalam keadaan sehat
dan selamat. Dia pun mengenal Hui Eng dan Cia Sun, membuat hatinya menjadi semakin girang melihat
bahwa adik angkatnya itu telah bersatu dengan kekasihnya. Tetapi hanya sebentar dia dapat melirik ke
arah Sian Li dan yang lain-lain karena dia harus kembali memperhatikan lawannya yang ternyata sangat
tangguh dan memiliki ilmu silat yang amat aneh itu.
"Hyaaattt...!"
Melihat munculnya para tawanan, Seng Bu menjadi nekat. Tahulah dia bahwa dia harus membela diri matimatian
dan tak ada jalan keluar kecuali dia dapat membunuh Yo Han. Sambil mengeluarkan bentakan
nyaring, dia menyerang dengan gencar. Dua tangannya melakukan pukulan dengan cara mendorong
dengan telapak tangan, sehingga dari dua tangannya itu menyambar hawa yang dingin bagaikan es, dan
nampak pula uap hitam membiru keluar dari kedua telapak tangan itu.
"Hemmm...!"
Yo Han mengelak dan menampar dari samping. Lawannya agaknya mengenal gerakan serangan ini dan
dapat mengelak dengan baik, lalu membalas dengan dorongan tangan kanan. Diam-diam Yo Han makin
heran. Dia mengenal benar gerakan kaki tangan Seng Bu itu.
Kembali datang serangan dahsyat dari Seng Bu yang mengerahkan seluruh tenaganya dalam setiap
serangan. Yo Han merasa aneh. Dia yakin bahwa gerakan-gerakan itu benar ilmu Bu-kek Hoat-keng
seperti yang pernah dipelajarinya dari kakek Ciu Lam Hok.
Bagaimana mungkin Seng Bu dapat mempelajarinya? Kakek itu telah meninggal, dan semua coret-moret di
dalam lorong sumur tua telah dihapus. Dia tidak tahu bahwa kakek Ciu Lam Hok pernah membuat coretmoret
lain di sumur ke dua, yang ditemukan Seng Bu, catatan ilmu itu yang tidak lengkap sama sekali dan
yang telah dipelajari dengan keliru oleh Seng Bu.
Yo Han mengenal semua gerakan itu, tetapi ilmu Bu-kek Hoat-keng yang dipelajarinya memiliki daya
mengembalikan setiap pukulan lawan. Bu-kek Hoat-keng bukan pukulan untuk merobohkan orang,
melainkan mempunyai daya tolak yang luar biasa sehingga serangan yang bagaimana hebat pun, akan
membalik kepada penyerangnya sendiri.
Akan tetapi, gerakan yang mirip Bu-kek Hoat-keng dan dimainkan Seng Bu ini memiliki daya serang yang
demikian dahsyatnya, mengandung hawa maut dan beracun! Kalau dia sendiri mempergunakan tenaga
Bu-kek Hoat-keng, tentu pukulan aneh dari Seng Bu itu akan membalik dan mana mungkin ada manusia
dapat bertahan jika terkena pukulan sehebat itu?
Dia tak ingin membunuh Seng Bu, walau pun dia tahu bahwa Seng Bu telah membunuh Lauw Kang Hui
dan para pimpinan lain dan pemuda itu telah membawa Thian-li-pang menyeleweng. Dia ingin
menyadarkan Seng Bu dan membuat pemuda itu bertobat. Tidak ada istilah terlambat untuk bertobat selagi
manusianya masih hidup.
Akan tetapi, justru karena dia tak mau membunuh lawan, maka perkelahian itu menjadi amat seru dan juga
tidak mudah bagi Yo Han untuk menundukkan lawannya. Karena dia memiliki ilmu Bu-kek Hoat-keng yang
asli, tentu saja tingkatnya masih lebih tinggi dibandingkan Seng Bu. Bu-kek Hoat-keng yang dimiliki dan
dikuasai Seng Bu sudah menjadi ilmu sesat yang sangat keji dan berbahaya, sedangkan yang dikuasai Yo
Han adalah ilmu yang mengandung keajaiban, yang memiliki daya menolak semua kekuatan jahat, bahkan
menolak semua hawa beracun.
Namun, karena Yo Han tidak bermaksud membunuh, tidak membalas serangan lawan dengan jurus
ampuh yang mematikan, dan bahkan dia tidak mau menggunakan tenaga menolak balik serangan Seng
Bu, maka perkelahian itu menjadi ulet dan lama.
Seng Bu mengerahkan seluruh tenaganya, namun semua hawa sakti yang keluar dari tubuhnya, bagaikan
batu besar dilempar ke dalam telaga saja ketika dipakai menyerang Yo Han. Semua tenaga itu tenggelam
dunia-kangouw.blogspot.com
dan tidak mendatangkan akibat apa pun. Setiap kali Yo Han menangkis, tangan Seng Bu tergetar hebat
dan seperti lumpuh. Seng Bu tidak tahu bahwa bila Yo Han menggunakan tenaga sakti dari Bu-kek Hoatkeng,
maka tenaganya bukan hanya tenggelam, tapi membalik sehingga seolah dia memukul dirinya
sendiri.
Bagi mereka yang menonton, tentu saja perkelahian itu tampak menegangkan dan amat seru. Sian Li
sampai bermandi peluh menyaksikan perkelahian itu karena tidak kelihatan kekasihnya itu unggul, walau
pun juga tidak nampak terdesak. Agaknya kedua orang itu memiliki ilmu dan kekuatan yang serupa dan
setingkat!
"Haaaiiihhhhh...!!"
Kembali Seng Bu menyerang, sekali ini tubuhnya mencelat ke atas. Bagaikan seekor burung garuda dia
menyambar turun dengan kedua tangan dijulurkan lurus ke depan, dengan pengerahan tenaga
sepenuhnya pada kedua telapak tangannya yang berwarna kehitaman dan mengeluarkan uap hitam.
Melihat serangan maut yang amat berbahaya ini, Sian Li mengepal tangan kanannya dan matanya
memandang terbelalak. Sebagai seorang ahli ilmu silat Ang-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Merah), ia tahu
betapa besar bahayanya serangan seperti itu, sebab di dalam ilmu silatnya terdapat pula jurus
penyerangan sambil melayang seperti itu.
Akan tetapi Yo Han juga mengenal jurus yang berbahaya ini. Tahulah dia bahwa Seng Bu sudah nekat dan
hendak mengadu nyawa! Dengan tenang Yo Han telah mengambil keputusan bahwa dia harus cepat
menundukkan Seng Bu dan merobohkannya, walau pun tidak harus membunuhnya.
Pemuda ini agaknya sudah miring otaknya, maka kalau dibiarkan lolos dan membawa pergi ilmunya yang
sesat, akan merupakan bahaya besar bagi umum, terutama sekali bagi dunia kang-ouw. Dia harus dapat
berusaha menyadarkannya atau merampas ilmu sesat itu.
Laksana seekor burung walet, tiba-tiba tubuh Yo Han juga mencelat ke atas menyambut serangan Seng
Bu. Melihat ini, Seng Bu mengeluarkan suara tertawa aneh karena dia girang dan yakin bahwa kali ini akan
mampu membunuh Yo Han. Dengan pengerahan seluruh tenaganya, dia menggunakan kedua tangannya
mendorong ke arah tubuh Yo Han.
"Wuuuttt...!"
Seng Bu terkejut karena tiba-tiba tubuh itu lenyap dari depannya dan kedua tangannya menghantam udara
kosong. Maklum bahwa dia telah terkecoh, dia berusaha membuat gerakan jungkir balik seperti yang
dilakukan Yo Han dengan cepat ketika mengelak tadi. Akan tetapi terlambat. Dari sebelah atasnya, Yo Han
telah menggunakan tangan yang dimiringkan untuk memukul punggung Seng Bu.
"Desss...!!"
Seng Bu mengeluarkan keluhan lirih dan tubuhnya terbanting ke atas tanah. Yo Han menyusulnya dengan
melayang turun. Akan tetapi, dapat dibayangkan kagetnya hati Pendekar Tangan Sakti ini ketika tiba-tiba
tubuh yang tadinya terbanting roboh itu telah bergerak meloncat bangun dan menyambut Yo Han yang
baru saja turun itu dengan dorongan kedua tangan, dahsyat bukan main karena Seng Bu mengerahkan
seluruh tenaga terakhir dalam serangan mendadak ini. Ternyata Seng Bu memiliki kekuatan luar biasa
sehingga pukulan Yo Han tadi seolah tidak terasa olehnya!
Tidak ada lain jalan bagi Yo Han kecuali dia juga menyambut dengan kedua tangannya didorongkan ke
depan.
"Wuuuttt... plakkk!"
Dua pasang tapak tangan itu bertemu dan melekat! Yo Han merasa betapa ada hawa yang amat dingin
menyerangnya. Akan tetapi, dia mengerahkan tenaga panas dan kini Seng Bu yang merasa betapa
kekuatannya terdorong oleh tenaga yang dahsyat sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Seng Bu terus bertahan sehingga terjadilah dorong mendorong dengan menggunakan ilmu yang sama,
yaitu Bu-kek Hoat-keng. Akan tetapi kalau ilmu yang dikuasai Yo Han murni, sebaliknya yang dikuasai
Seng Bu merupakan ilmu sesat yang tercipta karena latihan yang keliru.
Dari kepala Yo Han mengepul uap putih, sebaliknya dari kepala Seng Bu mengepul uap hitam. Seng Bu
mendengus-dengus, muka serta lehernya sudah penuh keringat dan perlahan-lahan, tenaganya
mengendur sedangkan hawa panas dari telapak tangan Yo Han mulai memasuki dirinya melalui kedua
tapak tangannya.
Yo Han merasa mendapatkan kesempatan. Dia harus menggunakan tenaga saktinya untuk mendorong
keluar hawa beracun itu dari tubuh Seng Bu, sambil merusak pusat penghimpunan sinkang agar
selanjutnya Seng Bu tidak dapat lagi mempergunakan ilmu sesatnya itu.
Yo Han sudah mengambil keputusan bahwa itulah satu-satunya jalan untuk memaksa Seng Bu kembali ke
jalan yang benar, yaitu dengan meniadakan kekuatan yang akan mendorongnya melakukan kekejian.
Kalau Seng Bu sudah tidak memiliki kekuatan yang dapat dia andalkan, tentu dia tidak akan mampu
merajalela lagi.
Sian Li, Hui Eng, Ciang Hun, Cia Sun, dan Bi Kim yang maklum apa artinya adu tenaga sinkang antara
kedua orang muda yang lihai itu, menonton dengan hati tegang bukan main. Terutama sekali Sian Li.
Gadis ini maklum bahwa dalam adu tenaga sinkang seperti itu, berarti adu nyawa, dan kalau sampai
kekasihnya kalah dalam adu tenaga sinkang ini, ia tahu bahwa Seng Bu pasti tidak segan-segan untuk
membunuhnya. Untuk membantu, ia tidak mau karena hal itu akan merendahkan Yo Han dan tidak sesuai
dengan watak pendekar. Maka, wajahnya sudah mulai pucat karena ia merasa gelisah sekali.
"Jangan takut, dia pasti menang," terdengar Hui Eng berbisik di sampingnya dan Sian Li mengangguk,
berterima kasih karena dia pun tahu bahwa Hui Eng cukup lihai untuk dapat menduga yang tepat,
menghilangkan keraguannya sendiri.
Dan memang ucapan Hui Eng itu bukan sekedar hiburan kosong belaka. Gadis lihai ini sudah melihat
betapa Seng Bu terdesak hebat dalam adu tenaga itu, membuat uap tebal menghitam keluar dari
kepalanya, matanya mendelik dan keringatnya membasahi muka dan leher, juga nampak betapa tubuh
Seng Bu mulai menggigil.
Seng Bu maklum bahwa dia tak akan menang, akan tetapi dia pun tidak mau menyerah. Masih dikerahkan
tenaganya yang terakhir hingga dia seperti mendengar suara tulang patah di dalam dadanya. Ia pun
melangkah mundur, kedua tangannya ditarik lepas dari tangan Yo Han dan menggunakan kedua tangan
untuk menekan dadanya yang terasa nyeri. Akhirnya, ia pun memuntahkan darah segar, terhuyung ke
belakang.
"Ouw Seng Bu, masih ada kesempatan hidup bagimu. Pergi berobat dan bertobatlah!" kata Yo Han lembut.
Dengan mata mendelik penuh kebencian Seng Bu memandang kepada Yo Han, lalu dia masih nekat
hendak mengerahkan tenaga dan menyerang lagi. Akan tetapi begitu dia mengerahkan tenaga sinkang, isi
dada perutnya bagai diremas, membuat dia mengeluh dan terhuyung, dan dia memandang kepada Yo Han
dengan mata terbelalak bingung.
"Seng Bu, mulai kini engkau tidak akan dapat menggunakan tenaga berbuat kejahatan lagi. Bertobatlah!"
kata Yo Han lembut dan dalam suaranya terkandung perasaan iba.
Mendengar ini, tahulah Seng Bu bahwa sudah habis baginya, habis segala-galanya. Dia teringat secara
mendadak kepada Cu Kim Giok, gadis yang dicinta dan mencintanya, dan di dalam lubuk hatinya timbul
penyesalan yang amat mendalam. Dia mengeluarkan keluhan panjang, kemudian tubuhnya membalik dan
dia sudah berlari menuju ke tempat tahanan yang kini berkobar dimakan api. Yo Han dan semua orang
mengejarnya.
Ketika Seng Bu melihat lima orang tosu Bu-tong-pai berdiri, dan tak jauh dari situ rebah sesosok tubuh, dia
tersentak kaget mengenal tubuh Kim Giok yang dicarinya. Tanpa mempedulikan apa pun, dia berseru
memanggil, "Giok-moi...!!" Dan dia pun menubruk mayat gadis itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
"Giok-moi… ahhh, Giok-moi...!" Dia meratap dan menangis.
Yo Han dan yang lain-lain sudah tiba di situ.
"Ouw Seng Bu iblis busuk, tidak perlu lagi engkau pura-pura menangis! Simpan saja air mata buayamu itu
karena Kim Giok sudah tewas oleh pukulanmu. Engkaulah yang telah membunuhnya, kenapa engkau kini
berpura-pura menangis?" tegur Sian Li gemas dan marah.
Mendengar ucapan Sian Li, tangis Seng Bu semakin menjadi-jadi. Seperti anak kecil dia menangis dan
meratap, sesenggukan.
"Giok-moi... Kim Giok... ampunkan aku... ampunkan aku..." demikian ratapnya berulang kali.
Kemudian, tanpa diduga-duga oleh semua orang, mendadak dia menggerakkan tangan kanannya,
meringis menahan nyeri ketika mengerahkan tenaga terakhir dan tangan itu menyambar dan
mencengkeram ubun-ubun kepalanya sendiri. Terdengar suara tulang patah dan dia pun roboh dan tewas
di atas jenazah Kim Giok yang masih hangat.
Semua orang terbelalak, akan tetapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa.
"Mungkin inilah yang terbaik...," kata Yo Han halus, penuh rasa haru dan iba.
"Kakak Yo Han, untunglah engkau dapat muncul dalam keadaan selamat, kalau tidak... sukar aku
membayangkan apa yang akan terjadi dengan kami semua," kata Cia Sun.
Yo Han memandang kepada adik angkatnya itu sambil mengerutkan alisnya. Suaranya memang lembut,
namun penuh teguran ketika dia berkata, "Cia-siauwte, kenapa engkau melanggar janji, telah mengerahkan
pasukan pemerintah untuk menyerbu perkumpulan pejuang?"
Wajah Cia Sun berubah kemerahan. "Ah, Twako. Aku sama sekali bukan mengerahkan pasukan untuk
menyerbu perkumpulan pejuang, tetapi terpaksa mengerahkan pasukan untuk menolong Eng-moi dan
nona Sian Li dari tangan penjahat!”
Hui Eng segera maju membela. "Dia benar! Tanpa datangnya pasukan yang menyerbu perkumpulan
Thian-li-pang yang sudah menjadi gerombolan penjahat itu, mungkin kami sekarang telah tewas."
Sian Li sudah maju dan memegang lengan Yo Han dengan mesra. "Han-koko, mereka itu benar. Pangeran
mengerahkan pasukan bukan hanya untuk menyelamatkan kami berdua, bahkan untuk mencoba
menolongmu yang dikabarkan tewas dalam sumur."
Yo Han termangu. Jika Sian Li sudah memberi kesaksiannya, tentu dia tidak meragukan lagi
kebenarannya. "Kalau begitu, mari kita pergi dari sini dan bicara di luar tempat ini." Ia memandang kepada
gadis yang tewas di samping Seng Bu dan bertanya, "Siapakah nona yang tewas ini?"
"Han-koko, ia bukan orang lain. Ia adalah puteri Paman Cu Kun Tek dari Lembah Naga Siluman," kata Sian
Li.
Yo Han terbelalak. "Ahhh...!"
"Ia yang telah membebaskan kami dari rumah tahanan yang terbakar. Tanpa bantuan dirinya, kami semua
tentu sudah terbakar mati di dalam kamar tahanan," kata pula Sian Li, lalu ia menunjuk kepada lima orang
tosu, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim. "Lima orang Totiang ini dari Bu-tong-pai, dan ini kakak Gak Ciang
Hun dan enci ini..."
"Aku sudah mengenal Yo Taihiap dengan baik, adik Sian Li."
"Benar apa yang dikatakan oleh saudara Yo Han, kita bicara saja di luar. Biar kubawa jenazah nona Cu
Kim Giok ini keluar," kata Gak Ciang Hun, dan dia lalu memondong jenazah itu.
"Mari ikut aku. Aku yang akan membukakan jalan keluar," kata Cia Sun.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dia pun berjalan diikuti mereka semua. Tentu saja para perwira atau prajurit tidak berani menghalangi
pangeran ini keluar dari perkampungan Thian-li-pang, diikuti lima orang tosu Bu-tong-pai, Gak Ciang Hun
yang memondong jenazah Cu Kim Giok, Yo Han, Sian Li, Bi Kim, dan Hui Eng.
Setelah tiba di kaki bukit, barulah mereka berhenti. Menurut usul Gak Ciang Hun yang disetujui pula oleh
mereka semua, lima orang tosu Bu-tong-pai yang lebih mengetahui akan urusan itu, diminta agar
memilihkan sebidang tanah yang baik untuk mengubur jenazah Cu Kim Giok. Semua orang membantu
menggali lubang dan dengan upacara sederhana namun khidmat yang dipimpin oleh Thian Tocu tosu dari
Bu-tong-pai.
Setelah selesai pemakaman yang dilakukan tanpa ada yang bicara, akhirnya mereka mendapat
kesempatan untuk duduk di dekat makam dalam sebuah lingkaran. Barulah mereka saling menceritakan
pengalaman masing-masing.
Seperti dengan sendirinya, Sian Li duduk di dekat Yo Han dan pandang mata Sian Li bersinar-sinar penuh
kebahagiaan karena akhirnya dia dapat bertemu dan berkumpul dengan pria yang sejak kecil telah
dicintanya itu. Hui Eng juga duduk di dekat Cia Sun, sedangkan Bi Kim duduk di dekat Ciang Hun. Secara
bergantian mereka menceritakan pengalaman mereka.
Yo Han merasa lega dan gembira pada saat mendengar bahwa Hui Eng yang tadinya dianggap sebagai
puteri Siangkoan Kok, ternyata adalah gadis yang selama ini dicari-carinya, yaitu puteri Liong-siauw Kiamhiap
(Pendekar Pedang Suling Naga) Sim Houw yang hilang diculik orang sejak kecil. Apa lagi kini Hui Eng
sudah menemukan jodohnya, yaitu adik angkatnya, Pangeran Cia Sun yang dia tahu adalah seorang
pangeran Mancu yang berjiwa pendekar.
Makin besar rasa bahagia di dalam hatinya ketika dia melihat bahwa Gan Bi Kim, cucu keponakan gurunya
yang oleh nenek Ciu Ceng dijodohkan dengannya itu nampak akrab dan saling mencinta dengan Gak
Ciang Hun.
Ketika giliran Yo Han menceritakan pengalamannya, semua orang, terutama sekali Sian Li merasa ngeri
dan kadang mengeluarkan seruan tertahan sambil memegang lengan Yo Han. Mereka mendengarkan
dengan penuh ketegangan dan kengerian.
"Sian-cai..., sungguh amat menakjubkan sekali mendengar betapa dalam keadaan yang agaknya sudah
tidak ada harapan itu, ternyata Yo Taihiap masih dapat meloloskan diri! Mengagumkan sekali!"
Yo Han tersenyum melihat pandang mata mereka semua penuh kekaguman padanya. "Totiang, dan Cuwi
(Saudara sekalian), harap jangan memuji aku. Sesungguhnya, aku sendiri sudah meragukan apakah aku
akan mampu keluar dari dalam sumur yang sudah ditutup dari luar itu. Namun, dalam keadaan apa pun
juga, sebelum hayat meninggalkan badan, aku tidak akan pernah putus asa. Di atas segala kekuatan di
dunia ini, ada suatu kekuatan yang maha kuat, maha kuasa, dan maha mengetahui! Aku hanya menyerah
kepada kekuasaan itu, yakni kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta. Aku selalu yakin sepenuhnya bahwa
kekuasaan itu menyerap sampai ke mana pun, bahkan di dalam tanah itu pun kekuasaanNya bekerja
dengan sempurna. Karena itu, selama badan ini masih dapat bergerak, aku harus berusaha sekuat
kemampuan untuk mempertahankan hidup ini, didasari penyerahan yang mutlak kepada kekuasaan itu."
"Kekuasaan itulah To..." Thian Tocu menggumam.
"Saya kira memang tepat ucapan Totiang. To yang dimaksudkan itulah Hukum Alam, atau Kekuasaan
Tuhan yang selalu bekerja dan bergerak tiada hentinya, tanpa pernah menyimpang sedikit pun dari
ketepatannya, seperti timbul tenggelamnya matahari dan bulan, seperti gerakan ombak samudera ke
kanan kiri yang tiada berkesudahan. Karena penyerahan mutlak kepada Yang Maha Mengetahui, Yang
Maha Kuasa itulah maka tak ada rasa gelisah atau takut sedikit pun. Dan ketenangan ini sangat
menguntungkan kita dalam menghadapi peristiwa apa saja. Demikianlah, dengan tekun dan tanpa
mengenal menyerah pada kesulitan, dengan pasrah kepada Tuhan, maka akhirnya kekuatan dari
kekuasaan Tuhan itu yang menuntunku hingga dapat lolos dari ancaman maut di perut bumi."
Semua orang terkesan dan suasana menjadi sunyi.
"Han-ko, bagaimana Seng Bu itu dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu? Bukankah dia pula yang
telah membunuh para pimpinan Thian-li-pang, kemudian dia menjatuhkan fitnah bahwa engkaulah yang
dunia-kangouw.blogspot.com
telah membunuh mereka. Ketika melawannya, aku dapat merasakan betapa hebat tenaganya, dan melihat
ia bertanding denganmu tadi, sungguh menegangkan dan menggelisahkan. Lalu bagaimana seorang murid
Thian-li-pang dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu, Koko?"
Yo Han menghela napas panjang. "Agaknya hal itu akan tetap merupakan rahasia yang tidak terpecahkan,
Li-moi. Aku sendiri ketika bertanding dengannya, merasa heran dan terkejut bukan main karena aku
mengenal ilmunya sebagai ilmu yang pernah kupelajari. Padahal ilmu itu tak pernah dipelajari oleh orang
lain dan yang menguasainya hanyalah mendiang suhu sebagai penemunya dan aku sebagai muridnya.
Tapi entah bagaimana, agaknya Seng Bu dapat pula mempelajari ilmu itu, hanya saja... ilmu yang
dikuasainya itu mempunyai perbedaan bagai bumi dan langit dengan ilmuku. Ilmu itu menjadi sesat dan
berbahaya sekali, mengandung hawa beracun yang amat dahsyat. Jika tidak salah perhitunganku, agaknya
dia secara kebetulan, entah bagaimana, telah menemukan dan mempelajari ilmu itu, akan tetapi tanpa
bimbingan. Dia mempelajarinya secara keliru sehingga tanpa disengaja, dia telah menguasai ilmu yang
menjadi sesat dan dahsyat, dan mungkin saja karena penguasaan ilmu itu, dia menjadi berubah dan tidak
waras lagi."
"Aku ikut merasa menyesal sekali, Twako. Bagaimana pun juga, aku telah membantu hancurnya Thian-lipang,
padahal engkau tentu tahu bahwa aku tidak pernah memusuhi para pejuang," kata Cia Sun.
"Bukan salahmu, Cia-te. Thian-li-pang sudah diselewengkan menjadi gerombolan jahat yang bersekutu
dengan golongan sesat. Biarlah kelak aku akan mencoba menyusunnya kembali menjadi perkumpulan
para pejuang yang sehat dan berjiwa pendekar, seperti pesan mendiang suhu. Sekarang, apa yang akan
kalian lakukan?"
"Siancai, kami berlima harus mohon diri, karena kami sudah terlalu lama meninggalkan Bu-tong-san, Yo
Taihiap," berkata Thian Tocu. Lima orang tosu itu bangkit dan memberi hormat, dibalas oleh enam orang
muda itu.
"Ngo-wi Totiang dari Bu-tong-pai sungguh-sungguh merupakan sahabat yang amat baik, membelaku
sampai hampir menjadi korban kekejaman Ouw Seng Bu."
"Siancai..., Yo Taihiap tentu telah mengerti sepenuhnya bahwa orang-orang seperti kita ini, tidak pernah
membela seseorang mau pun memusuhi seseorang. Yang kita bela adalah kebenaran dan yang kita
tentang adalah kejahatan. Bukankah begitu, Taihiap?" kata Thian Tocu.
Yo Han dan yang lain-lain memandang kagum, kemudian mereka semua mengangguk menyetujui.
"Kalau begitu terima kasih dan selamat jalan, Totiang."
"Sampai jumpa, Yo Taihiap dan saudara sekalian."
Lima orang tosu itu lalu pergi meninggalkan tempat itu. Setelah lima orang tosu itu pergi, enam orang muda
itu saling pandang.
"Nah, kini tiba saatnya bagi kita untuk saling berpisah," kata Yo Han sambil memandang kepada Sian Li.
"Aku bersama adik Sian Li akan pergi ke rumah orang tua Li-moi, akan tetapi aku mengharap bantuan adik
Cia Sun untuk menemani kami. Terus terang saja, seperti yang mungkin sudah kalian ketahui, kami berdua
sudah bertekad untuk hidup berdua sebagai suami isteri, padahal oleh orang tuanya, Li-moi telah
dijodohkan dengan adik Cia Sun. Oleh karena itu, aku membutuhkan bantuan Cia-te untuk menemani kami
agar Cia-te yang memberi penjelasan kepada paman Tan Sin Hong berdua."
"Tentu, tentu saja aku akan menemani kalian!" seru Cia Sun gembira. "Tetapi sebelum itu, aku minta
kepada kalian semua untuk menemani aku dulu bersama adik Hui Eng. Aku hendak mengantarkan Engmoi
kepada orang tuanya di Lok-yang. Mengingat bahwa Eng-moi pernah bertemu dengan ayah ibu
kandungnya dalam keadaan yang tak menyenangkan di rumah pendekar Suma Ceng Liong, maka tentu
pertemuan itu akan terasa canggung. Kalau ada kalian semua yang ikut dan membantu memberi
kesaksian dan penerangan, tentu akan lebih menyenangkan. Terutama sekali, aku mohon bantuan Yotoako
untuk membicarakan urusan kami berdua kepada orang tua Eng-moi."
dunia-kangouw.blogspot.com
Yo Han tersenyum memandang kepada Hui Eng yang menjadi merah kedua pipinya dan menundukkan
kepalanya. "Aku mengerti, Cia-te, dan agaknya kita memang saling membutuhkan. Aku yakin Gak-twako
tidak akan keberatan untuk ikut pula ke Lok-yang membantu adik Sim Hui Eng."
"Ahh, tentu saja!" kata Gak Ciang Hun dan dia pun nampak tersipu dan salah tingkah. "Bahkan aku pun...
hemmm... aku pun atau maksudku kami berdua, aku dan adik Gan Bi Kim, amat membutuhkan
bantuanmu, Yo-siauwte. Aku pun ingin berterus terang saja. Aku sudah mendengar dari adik Bi Kim bahwa
oleh neneknya, dia sudah ditunangkan denganmu, Yo-te, akan tetapi kenyataannya sekarang, engkau
saling mencinta dengan adik Sian Li, sedangkan adik Bi Kim... ahhh, kami berdua saling mencinta dan
sudah mengambil keputusan untuk bisa berjodoh. Nah, tanpa bantuan Yo-te, bagaimana kami berdua akan
berani menghadapi keluarganya?"
Kini enam orang itu saling pandang, dan meledaklah suara tawa mereka. Sian Li yang memang berwatak
lincah jenaka itu tidak menyembunyikan tawanya karena geli hatinya. "Hik-hik-hik, alangkah lucunya!
Agaknya memang kita berenam ini sudah ditakdirkan untuk saling bantu dan harus melakukan perjalanan
bersama. Betapa menggembirakan! Kita saling kait mengait, saling membutuhkan bantuan!"
Yo Han mengangguk-angguk. "Memang aneh. Agaknya memang Tuhan menghendaki demikian! Aku
ditunangkan dengan Gan Bi Kim, namun adik Bi Kim berjodoh dengan Gak-twako dan aku berjodoh
dengan Li-moi yang sudah ditunangkan dengan Cia-te, sedangkan Cia-te berjodoh dengan Sim Hui Eng
yang selama ini kita cari-cari! Baiklah, sekarang diatur begini saja. Pertama-tama kita semua pergi ke
rumah orang tua adik Sim Hui Eng. Bagaimana pun juga, peristiwa bertemunya kembali adik Eng dengan
ayah dan ibunya merupakan hal yang sangat membahagiakan dan penting sekali. Nah, setelah dari sana,
kita tinggalkan dulu adik Eng bersama orang tuanya, dan Cia-te ikut dengan kami untuk menemui orang
tua Li-moi. Setelah itu, aku akan meninggalkan dulu Li-moi di rumah orang tuanya dan menemani Gaktwako
untuk berkunjung ke rumah adik Gan Bi Kim. Dengan demikian semua urusan akan menjadi beres!"
Demikianlah, tiga pasang kekasih itu lalu mulai melakukan perjalanan berantai itu untuk saling bantu. Mulamula
mereka berenam pergi berkunjung ke Lok-yang.
Pendekar Suling Naga Sim Houw dan isterinya, Can Bi Lan, menyambut kedatangan mereka dengan
gembira dan juga terheran-heran karena mereka mengenal Hui Eng sebagai gadis Pao-beng-pai yang
pernah membikin kacau pertemuan keluarga besar di rumah Suma Ceng Liong. Tetapi keheranan mereka
berubah menjadi kejutan yang luar biasa ketika mereka mendengar bahwa gadis itu bukan lain adalah Eng
Eng, atau Sim Hui Eng, anak kandung mereka!
Mula-mula mereka merasa sukar untuk percaya, akan tetapi setelah Yo Han, Sian Li, dan Pangeran Cia
Sun bercerita, ditambah lagi bukti tanda tahi lalat hitam di pundak kiri dan noda merah di ibu jari kaki di
telapak kaki kanan, Can Bi Lan menubruk puterinya sambil menjerit dan menangis. Terjadilah pertemuan
yang amat mengharukan hati, dan sukar dilukiskan betapa bahagia rasa hati Sim Houw dan Can Bi Lan
ketika mereka dapat menemukan kembali puteri mereka yang hilang sejak kecil itu.
Setelah suasana keharuan mereda, dengan hati-hati Yo Han dan Sian Li menceritakan mengenai
hubungan kasih sayang antara Hui Eng dan Cia Sun. Mereka juga bercerita tentang semua pengalaman
mereka, tentang pembelaan Cia Sun kepada Hui Eng.
Mula-mula, suami isteri itu tertegun. Mereka menemukan kembali puteri mereka, akan tetapi juga
mendengar bahwa puteri mereka ingin berjodoh dengan seorang pangeran Mancu? Akan tetapi, suami
isteri ini memang bijaksana.
Mendengar betapa pangeran calon menantu mereka itu adik angkat Pendekar Tangan Sakti Yo Han, juga
dipuji-puji sebagai bekas calon suami Si Bangau Merah Tan Sian Li, juga bahwa pangeran itu berjiwa
pendekar, tidak memusuhi para pejuang dan tidak setuju pula dengan penindasan, mereka pun dapat
menerima dengan hati lapang.
Pada keesokan harinya Yo Han dan Sian Li, Ciang Hun dan Bi Kim, mengajak Cia Sun untuk melanjutkan
perjalanan dan meninggalkan dulu Hui Eng bersama orang tuanya. Cia Sun berjanji kepada keluarga itu
untuk segera meminta kepada ayah ibunya untuk mengajukan pinangan secara resmi. Kemudian, Cia Sun
mengikuti Yo Han dan Sian Li mengunjungi orang tua Si Bangau Merah, yaitu Pendekar Bangau Putih Tan
Sin Hong yang tinggal di Ta-tung, sebelah barat Peking.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sekali ini, Tan Sin Hong dan Kao Hong Li menerima puteri mereka dengan gembira dan mereka berdua
bahkan merasa berbahagia sekali ketika mendengar keterangan mereka semua tentang pembatalan
pertalian jodoh antara puteri mereka dengan Cia Sun yang dengan jujur mengakui bahwa dia saling
mencinta dengan Sim Hui Eng.
Kini suami isteri ini dapat menerima pinangan Yo Han dengan rasa syukur karena bagai mana pun juga
sebetulnya mereka amat menyayangi Yo Han yang kini ternyata sudah menjadi seorang pendekar sakti
yang bernama besar sebagai Pendekar Tangan Sakti. Suami isteri ini pun turut merasa gembira
mendengar bahwa puteri keluarga Sim yang hilang sejak kecil itu telah ditemukan kembali, bahkan akan
menjadi jodoh Pangeran Cia Sun, bekas calon mantu mereka.
Dari rumah orang tua Sian Li, Yo Han mengikuti Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim ke kota raja. Juga
Pangeran Cia Sun hendak pulang ke kota raja untuk minta kepada orang tuanya meminang Sim Hui Eng.
Keluarga pembesar Gan Seng, juga nenek Ciu Ceng, menyambut pulangnya Gan Bi Kim dengan gembira
pula. Mereka agak tercengang ketika mendengar pengakuan Gan Bi Kim bahwa ia telah memutuskan
pertalian jodohnya dengan Yo Han, karena Yo Han telah berjodoh dengan gadis lain. Tetapi mereka pun
merasa lega ketika diperkenalkan dengan Gak Ciang Hun sebagai pemuda yang dipilih Bi Kim sebagai
calon jodohnya.
Apa lagi Yo Han ikut bicara dan memberi penjelasan bahwa sebelum bertemu Bi Kim, sesungguhnya dia
sudah mempunyai pilihan hati. Keluarga itu bahkan merasa bangga mendengar bahwa calon menantu
mereka, Gak Ciang Hun, adalah keturunan pendekar besar yang mempunyai nama harum di dunia
persilatan.
Demikianlah, tiga pasangan kekasih ini tidak menemui halangan apa pun dalam urusan perjodohan
mereka. Pihak orang tua telah menerima dengan senang hati dan pinangan resmi dilakukan, bahkan
pernikahan tiga pasang mempelai ini dirayakan dalam tahun itu juga.
Cia Sun mengajak isterinya, Sim Hui Eng, tinggal di rumahnya di kota raja, dan sekali waktu keduanya juga
tinggal di rumah mertuanya di Lok-yang. Sementara, Gak Ciang Hun mengajak isterinya, Gan Bi Kim
tinggal di Beng-san, di bekas tempat tinggal orang tuanya, yaitu di puncak Telaga Warna yang indah.
Yo Han sendiri bersama isterinya, Tan Sian Li, melakukan perjalanan bulan madu jauh ke Lembah Naga
Siluman, untuk menyampaikan berita duka tentang kematian Cu Kim Giok kepada keluarga Cu. Berita itu
tentu saja disambut dengan tangis oleh Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian, dan mereka mendengarkan
keterangan Yo Han dan Sian Li tentang puteri mereka, dan menerima pesan terakhir Kim Giok melalui Sian
Li untuk memohon ampun kepada ayah ibunya.
Biar pun hati mereka terasa hancur karena kematian puteri mereka, namun setidaknya mereka terhibur
juga bahwa pada saat-saat terakhir, puteri mereka sadar dan bertindak sesuai dengan jiwa kependekaran
keluarga mereka. Puteri mereka, Cu Kim Giok, tewas sebagai seorang pendekar wanita yang membela
kebenaran. Juga mereka tidak merasa penasaran karena pembunuh puteri mereka, yaitu ketua Thian-lipang
Ouw Seng Bu, telah menemui ajalnya pula.
Kemudian Pendekar Tangan Sakti Yo Han bersama isterinya, Si Bangau Merah Tan Sian Li berkunjung ke
Bukit Naga. Di tempat itu, dengan dibantu oleh isterinya, Yo Han mulai menghimpun kembali perkumpulan
Thian-li-pang.
Para anggota lama yang semula memang tidak setuju dengan kesesatan Thian-li-pang dikumpulkan.
Perkumpulan itu pun didirikan kembali dengan jumlah anggota yang kecil. Akan tetapi di bawah bimbingan
Yo Han, Thian-li-pang dalam waktu yang singkat telah bangkit kembali menjadi perkumpulan para
pendekar pejuang yang terkenal bersih dan di kemudian hari, Thian-li-pang akan memegang peran penting
dalam perjuangan rakyat menentang kekuasaan penjajah Mancu.
Seperti tercatat dalam sejarah, setahun lebih kemudian, yaitu pada tahun 1796, Kaisar Kian Liong
meninggal dunia dan tahta kerajaan Ceng lalu dipimpin oleh Kaisar Cia Cing, putera Kaisar Kian Liong.
Kaisar Cia Cing memerintah selama dua puluh empat tahun (1796-1820), kemudian dilanjutkan oleh
puteranya, Kaisar Tao Kuang (1820-1850).
dunia-kangouw.blogspot.com
Tetapi, semenjak wafatnya Kaisar Kian Liong, kerajaan Mancu mulai kehilangan pamor dan kejayaannya
mulai memudar. Pemberontakan terjadi di mana-mana, ditambah lagi dengan masuknya kekuatan asing
barat (orang kulit putih) yang mulai menancapkan kuku kekuasaan mereka di daratan Cina…..
>>>>> T A M A T <<<<<


Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:

Best Cersil