Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 31 Juli 2018

Pusaka Gua Siluman 2

======
baca juga

Harus diketahui bahwa kehebatan Hek-tok-ciang dari kakek gundul ini sama sekali tak boleh disamakan dengan pukulan Hek-tok-ciang muridnya, Auwyang Tek. Memang betul pukulan Hek-tok-ciang pemuda inipun sudah menggemparkan dunia persilatan karena lihai dan kejinya. Namun dalam hal tenaga lweekang, ia hanya setengahnya dan tingkat gurunya. Maka dapat dibayangkan betapa hebatnya kelihaian Kai Song Cinjin. Sampai-sampai Souw Teng Wi yang pikirannya kacau-balau itu meleletkan lidah melihat betapai tiga orang yang tadi berada jauh di belakangnya telah tewas, hanya karena "keserempet" hawa pukulan maut itu!
"Lihai, lihai... gundul jahat benar keji!" katanya dan ia mengeluarkan pula suara gerengan lalu menubruk ke depan, membalas serangan lawan yang sudah tiga kali ia terima itu. Serangannya nampaknya kacau-balau seperti seekor monyet besar menyerang secara buas dan tak teratur, asal mencakar dan memukul sekenanya saja. Akan tetapi Kai Song Cinjin melihat bahwa inti gerakan ini luar biasa lihainya, mendatangkan hawa pukulan yang berputaran dan saling labrak seperti hawa pukulan dalam Ilmu Silat Soan-hong-kun-hoat (Ilmu Pukulan Angin Puyuh).
Kakek dari Tibet ini tidak berani berlaku sembrono dan cepat ia mengebutkan ujung lengan bajunya sambil mengelak. Souw Teng Wi menyerang terus sambil tertawa-tawa. Suara ketawanya seperti orang gila tertawa, akan tetapi jauh bedanya, karena suara ini mengandung daya serang yang luar biasa pula, yang akan melemahkan semangat lawan yang kurang kuat tenaga lweekangnya.
"Heh-heh-lieh, keledai gundul. Kau takut menerima pukulanku, ya? Ha-ha!" ejeknya sambil mendesak terus. Diejek begini, Kai Song Cinjin menjadi panas hatinya. Serangan kedua datang dan ia cepat menyambutnya dengan kedua tangan, la berusaha menangkap tangan lawan dan mengirim totokan pada iga. Anehnya, Souw Teng Wi agaknya tidak perduli tangan kanannya ditangkap, malah dengan mudah saja pergelangan tangan kanannya kena dicengkeram oleh Kai Song Cinjin dan iga kanannya juga agaknya mau saja menerima totokan. Akan tetapi, secara tiba-tiba sekali tangan kiri Souw Teng Wi bergerak macam ular dan tahu-tahu jari-jari tangan kiri ini sudah menyerang ke arah tenggorokan kakek dari Tibet itu dengan totokan maut!
Baiknya Kai Song Cinjin sudah menaruh curiga Segila-gilanya Souw Teng Wi, melihat kelihaian ilmu silatnya, tak mungkin tangan diberikan saja kepada lawan untuk ditangkap dan iga dibiarkan untuk ditotok tanpa ada maksud-maksud tersembunyi. Kiranya orang gila ini sengaja memancing untuk mengadu nyawa! Memang Souw Teng Wi juga cukup maklum bahwa lawannya bukan orang biasa melainkan seorang ahli silat nomor satu yang amat sukar dikalahkan. Karena itu ia sengaja menantang supaya tangannya terpegang untuk dapat mengadu nyawa.
Tidak rugi mengadu nyawa dengan Kai Song Cinjin, pikirnya. Kakek Tibet ini amat lihai dan tentu merupakan tangan kanan para menteri durna maka harus dilenyapkan. Dengan pikiran ini di samping kegilaannya, Souw Teng Wi lalu melakukan serangan maut itu tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri.
Akan tetapi, kepandaian Kai Song Cinjin benar-benar sudah mencapai tingkat yang sukar diukur lagi. Sebetulnya, tingkat Souw Teng Wi masih jauh kalah tinggi olehnya, hanya saja karena Souw Teng Wi mewarisi ilmu silat yang sakti dan aneh maka bekas pahlawan ini dapat melawannya. Kalau saja tidak
96
menemukan ilmu kesaktian yang luar biasa, biarpun ia akan belajar lagi sampai lima puluh tahun di Kun-lun-san, belum tentu ia dapat menangkan Kai Song Cinjin. Kiranya di antara sekalian tokoh besar Kun-lun-pai, hanya Swan Thai Couwsu, Ciangbunjin (ketua) Kun-lun-pai seoranglah yang akan dapat menandingi Kai Song Cinjin!
Menghadapi totokan maut yang dilakukan secara tiba-tiba dan tidak terduga oleh Souw Teng Wi yang mengancam tenggorokannya, Kai Song Cinjin masih dapat menolong dirinya. Ia tahu bahwa untuk mengelak tak ada waktu lagi, untuk menangkis juga tidak dapat karena kedua tangannya sedang bekerja, yang kiri menangkap pergelangan tangan kanan lawan dan yang kanan sedang melakukan totokan pada iga. la malah menundukkan muka mengkeretkan leher sehingga totokan yang ditujukan kepada tenggorokannya itu kini menyambar ke arah mulutnya. Kakek Tibet ini membuka mulut dan menerima jari-jari Souw Teng Wi dengan gigitan.
"Krakk!” Souw Teng Wi mengeluh, dua jari tangannya putus dan tubuhnya lemas karena jalan darah di dada kena totokan, lalu roboh pingsan. Adapun Kai Song Cinjin juga harus menderita akibat kelihaian Souw Teng Wi yang Iweekangnya sudah tinggi sekali. Bibir mulutnya robek dan giginya yang tinggal tujuh buah lagi itu kini berkurang empat buah, rontok ketika dipergunakan menggigit jari tangan Souw Teng Wi sampai putus.
Biarpun seorang tokoh besar dunia persilatan yang sudah tersohor, namun Kai Song Cinjin adalah seorang manusia yang mempunyai watak rendah dan kejam. la bisa berlaku lemah lembut dan alim sebagai seorang hwesio beradat kalau hatinya senang, akan tetapi dalam kemarahan, ia bisa berobah menjadi seorang iblis yang keji. Karena bibirnya pecah-pecah dan giginya rontok, kemarahan dan kebenciannya terhadap Souw Teng Wi meluap. Dengan langkah lebar ia menghampiri tubuh Souw Teng Wi yang sudah pingsan itu, dua jari tangan kanannya digerakkan dan... sepasang biji mata Souw Teng Wi sudah dicukil keluar. Souw Teng Wi menjadi seorang tuna netra (buta) mulai saat itu!
"Belenggu dia! Gusur binatang ini ke kota raja! terdengar perintah Awyang Tek yang pelantang-petenteng seperiti seorang jagoan setelah melihat buronan itu tak berdaya lagi. Beberapa orang serdadunya lalu datang membelenggu Souw Teng Wi selagi dia ini masih pingsan. Namun mereka melakukan pekerjaan ini dengan hati dag-dig-dug, karena jerih. Memang andaikata Souw Teng Wi tidak pingsan, kiranya orang-orang ini akan menemui maut kalau berani mendekatinya.
Teriakan Auwyang Tek yang memberi perintah kepada pasukannya dan bergeraknya pasukan itu menyelimuti suara jerit dan tangis tertahan yang terdengar dari balik batang-batang pohon. Inilah suara Lee Ing. Gadis ini hampir pingsan ketika ia menahan dirinya untuk tidak melompat dan mengamuk. Akan tetapi dia seorang gadis cerdik yang amat patuh kepada ayahnya.
Ia disuruh pergi oleh ayahnya dan maklum bahwa ayahnya menghendaki ia selamat untuk mempelajari ilmu agar kelak dapat membalas kepada para penghianat itu. Dapat dibayangkan betapa hancur perasaannya melihat ayahnya dicongkel matanya dan digusur seperti orang menggusur bangkai macan saja. Terutama sekali sikap sombong Auwyang Tek setelah ayahnya tak berdaya lagi itu amat menyakitkan hati Lee Ing, membuat ia benci sekali melihat wajah pemuda itu.
"Tunggu saja kalian... kelak akan datang saatnya aku membalas sakit hati ayah....!" Sambil menggigit bibir dan menahan air mata, Lee Ing lalu pergi menyelinap di antara pohon-pohon, pergi untuk memenuhi keinginan hati ayahnya. Mencari Gua Siluman.
"Auwyang-kongcu, kau bawa binatang ini ke kota raja dan jaga baik-baik. Pinceng hendak berangkat lebih dulu!” kata Tok-ong Kai Song Cinjin kepada muridnya, kemudian sekali berkelebat orang tua
97
yang sakti ini lenyap dari depan muridnya. Di dalam hatinya, Kai Song Cinjin mengandung sakit hati yang amat mendalam. Dia seorang tokoh besar, kini bibirnya sampai pecah-pecah dan giginya rontok oleh Souw Teng Wi.
Semua ini terjadi di depan muridnya dan pasukannya, sungguh membuat ia kehilangan muka. Biarpun ia menang, namun terbukti bahwa kepandaian Souw Teng Wi juga hebat. Rasa sakit pada mulutnya menimbulkan sakit hati yang hebat dan membuat ia mengambil keputusan untuk menyerbu ke Kun-lun-san. Tentu di sana ada orang pandai yang melatih Souw Teng Wi dan ke sanalah ia hendak menumpahkan sakit hatinya.
Inilah pendirian seorang sesat yang hanya mencari enaknya sendiri. Dia sudah merobohkan Souw Teng Wi, sudah mencongkel keluar biji matanya, dialah yang menyiksa Souw Teng Wi, akan tetapi dia yang bersakit hati karena bibirnya pecah dan giginya copot! Kai Song Cinjin padahal tahu bahwa ilmu silat aneh yang dimainkan oleh Souw Teng Wi ketika menghadapi dia itu sekali-kali bukan ilmu alat Kun-lun-pai. Akan tetapi oleh karena Souw Teng Wi anak murid Kun-lun, sakit hatinya tertuju kepada partai persilatan itu.
Memang manusia itu biasanya suka bermata gelap dan berhati buta kalau sudah mencapai kedudukan mulia dan tinggi. Seperti halnya Kai Song Cinjin, karena dia itu seorang tokoh besar yang terkenal, juga seorang tangan kanan Kerajaan Beng, guru dari putera seorang menteri, ia menjadi sombong. Dia boleh menyebar maut, boleh membunuh atau menyiksa siapa saja, akan tetapi sedikit saja dia terganggu, baru bibirnya pecah-pecah dan giginya dibikin rompal. dia sudah menerima dendam hebat! Dia menganggap diri sendiri yang paling menonjol, paling penting dan tidak boleh diganggu.
Dengan ilmunya yang tinggi sekali, Kai Song Cinjin mendahului pasukan itu pulang ke kota raja, menceritakan kepada Auwyang-taijin tentang penawanan atas diri Souw Teng Wi, lalu berkata, "Souw Teng Wi adalah anak murid Kun-lun-pai. Selama ini dia menghilang dan tahu-tahu telah memiliki kepandaian tinggi. Siapa lagi yang menyembunyikan dan mengajarnya kalau bukan losu-tosu biadab dari Kun-lun-san? Oleh karena iiu, harap taijin memperkenankan pinceng membawa Kui-sicu untuk membantu pinceng menghukum losu-tosu biadab di Kun-lun-san."
Tentu saja Auwyang Peng meluluskan permintaan ini, dan orang yang disebut Kui-sicu adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang merupakan orang ke dua setelah Kai Song Cinjin. Ma-thouw Koai-tung Kui Ek adalah seorang tokoh besar pula dalam dunia liok-lim. Kepandaiannya tinggi sekali, karena dia ini adalah suheng (kakak seperguruan) dari mendiang Thian Te Cu, atau guru dari mendiang Hui-houw Twa-to Ma Him yang keduanya sudah tewas di tangan Souw Teng Wi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar ajakan Kai Song Cinjin untuk menggempur Kun-lun-pai sebagai pembalasan dendam terhadap Souw Teng Wi, ia segera bersiap sedia dengan hati girang.
Selain membawa kawan Kui Ek yang lihai, Kai Song Cinjin juga mempersiapkan sepasukan tentara, la tahu bahwa menghadapi sebuah partai besar seperti Kun-lun-pai. ia tidak boleh berlaku sembrono. Selain untuk menghadapi anak buah Kun-lun-pai yang besar jumlahnya, juga pasukan itu dapat ia pergunakan sebagai perisai, sehingga dunia kang-ouw akan mendapat kesan bahwa Kun-lun-pai diserbu oleh pasukan kerajaan karena anak murid Kun-lun-pai menjadi pemberontak, bukan Kai Song Cinjin pribadi yang mencari permusuhan dengan partai besar itu.
Memang agaknya sudah takdirnya partai persilatan besar Kun-lun-pai harus menghadapi bencana besar. Kai Song Cinjin adalah seorang yang kepandaiannya jarang tandingannya di kolong langit, ditambah lagi oleh Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang juga seorang tokoh besar yang lihai, masih ada lagi pasukan pilihan dari kota raja. Semua ini sudah merupakan bahaya besar bagi Kun-lun-pai, akan
98
tetapi kebetulan sekali kekuatan ini masih ditambah lagi dengan seorang dahsyat dan berbahaya yang bukan lain adalah Toat-beng-pian Mo Hun.
Seperti diketahui, Toat-beng-pian Mo Hun gagal mencari Souw Teng Wi karena ketika ia membawa Lee Ing yang menipunya, gadis itu berhasil meloloskan diri dan melompat ke dalam laut. Terpaksa Toat beng-pian Mo Hun kembali ke darat dan tidak jadi mencari Souw Teng Wi. la kembali ke selatan dan di sepanjang perjalanan tidak lupa untuk mencari obat yang menjadi makanan kesukaannya, yaitu otak manusia.
Ketika itu, rombongan Kai Song Cinjin telah tiba di sebuah dusun Tsang-si di sebelah barat kota Si-ning di Propinsi Cing hai. Mereka sudah tak jauh lagi dari Pegunungan Kun-lun-san yang berada di barat. Tiba-tiba mereka mendengar teriakan-teriakan dan jerit tangis, disusul berlarinya para penduduk dusun yang ketakutan.
Melihat ini, Kai Song Cinjin dan Kui Ek berlari meninggalkan pasukan memasuki dusun. Dan mereka segera melihat apa yang menyebabkan orang-orang dusun itu melarikan diri ketakutan. Di tengah kampung itu nampak seorang tua yang mengerikan tengah mengamuk. Ia memegang sebatang pian yang bentuknya seperti binatang kelabang. Sambil tertawa-tawa dan menggereng seperti binatang buas, ia mengejar dan setiap kali senjatanya bergerak, putuslah leher seorang penduduk dan kepalanya yang copot itu ia sambar sebelum jatuh ke tanah. Dengan cara demikian ia telah mengumpulkan empat buah kepala orang.
"Toat-beng-pian Mo Huni" seru Ma-thouw Koai-tung Kui Ek kaget. Ia telah mengenal Mo Hun, akan tetapi baru sekarang ia melihat keganasan tokoh ini yang membuat dia sendiri sampai merasa ngeri. Kai Song Cinjin berkelebat dan pada saat pian kelabang menyambar ke arah leher calon korban ke lima, tiba-tiba pian itu berhenti setengah jalan dan tak dapat digerakkan lagi. Mo Hun terkejut bukan main dan cepat ia memandang.
Kiranya ujung pian kelabang yang lihai itu telah terpegang oleh seorang hwesio yang sikapnya angker Dua kali Mo Hun menger ahkan kekuatan Iweekangnya pada tangan yang memegang cambuk dan membetot, namun tetap saja pian itu tak dapat terlepas dari tangan hwesio itu. Selagi ia hendak menggerakkan tangan kiri untuk menyerang karena marah, ia melihat adanya Kui Ek di situ. Kagetlah dia dan tidak berani ia berlaku gegabah. Hwesio tua ini lihai sekali dan agaknya menjadi kawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek.
"Eh, Kui Ek si tongkat butut, siapakah hwesio ini? Kawan atau lawan?" tanyanya.
"Sahabat Mo Hun, jangan main-main. Kau berhadapan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin utusan Auwyang-taijin!" kata Kui Ek.
Mo Hun menjadi makin kaget. Sudah lama ia mendengar nama besar hwesio Tibet ini, maka ia berkata, "Maaf, maaf!" dan mengendurkan betotannya.
Kai Song Cinjin tersenyum dan melepaskan ujung pian yang dipegangn a lalu berkata perlahan.
"Kiranya sahabat Kui-sicu, makan otak manusia untuk menguatkan tulang baik-baik saja, akan tetapi tidak boleh membunuh rakyat yang tak berdosa"
Kembali Mo Hun tercengang. Bagaimana kakek gundul itu tahu bahwa ia makan otak manusia untuk memperkuat tulang-tulangnya? Mo Hun yang biasanya amat sombong dan berani mati, tidak takut kepada siapapun juga, sekarang bersikap hormat, ia tahu bahwa tingkat kepandaian Kai Song Cinjin jauh lebih tinggi dari padanya dan untuk masa itu kiranya kakek tokoh dari Tibet ini merupakan jago
99
nomor satu di dunia. Biarpun ia belum pernah bertanding melawannya, tadi pegangan kakek itu pada ujung piannya saja sudah membuktikan bahwa tenaga Iwcekang kakek itu jauh melebihinya.
"Harap Cinjin sudi memaafkan. Pada waktu sekarang ini, dari mana lagi aku dapat mencari obat? Kalau saja peruntunganku baik, tentu otak pemberontak Souw Teng Wi ayah dan anak menjadi obatku dan tak usah aku mengganggu penghuni dusun ini."
Mendengar ini, Kai Song Cinjin dan Kui Ek menaruh perhatian besar dan segera Kui Ek bertanya, "Eh, orang she Mo. Apa hubungannya Souw Teng Wi dan anaknya dengan makananmu itu?"
Mo Hun tertawa bergelak sehingga kepala-kepala orang yang tergantung di pinggangnya bergoyang-goyang, menyeramkan sekali dan membuat pasukan yang sudah tiba di situ bergidik ngeri dibuatnya.
"Dasar nasibku yang sial. Ma-thouw Koai tung, kalau nasibku tidak sial, kiranya sekarang ini aku sudah menghadap ke kota raja, menyeret Souw Teng Wi dan puterinya.” Ia lalu menceritakan pengalamannya betapa ia telah berhasil menawan Souw Lee Ing dan sedang mencari ayah anak dara itu ke lautan. Akan tetapi, demikian ia membohong, ombak besar telah membuat perahu terguling dan gadis itu tenggelam, sedangkan ia terpaksa menyelamatkan diri ke pantai.
"Sayang sekali," ia menutup ceritanya. "Dan sekarang ini kau dan Cinjin hendak kemanakah? Mengapa membawa-bawa pasukan? Apakah kau sudah menjadi seorang jenderal?"
Kui Ek menjawab dengan muka sungguh-sungguh, "Toat-beng-pian Mo Hun, pada masa sekarang ini, setelah kerajaan bangsa sendiri berdiri dan kaum penjajah terusir, bagaimana kau masih bisa berkeliaran seperti orang gila? Auwyang-taijin atas nama kaisar telah mengumpulkan para orang gagah untuk membuat pahala membangun Kerajaan Beng menjadi besar, melawan penghianat-peng-hianat dan para pemberontak macam Souw Teng Wi dan yang lain-lain. Aku sendiri sudah lama membantu Auwyang-taijin dan bekerja di bawah petunjuk Kai Song Cinjin. Kami telah berhasil menawan Souw Teng Wi ke kota raja dan sekarang ini kami hendak ke Kun-lun-pai memberi hukuman kepada guru-guru pemberontak Souw Teng Wi." Toat beng-pian Mo Hun berseri wajahnya.
"Bagus! Kebetulan sekali! Memang sejak lama aku ingin mengabdi kepada pemerintah Beng di Nan-king namun belum ada kesempatan. Oleh karena itu pula maka aku berusaha menawan Souw Teng Wi. Sekarang kalian hendak menyerbu Kun-lun-pai. Baik sekali, masih ada perhitungan lama dengan Swan Thai Couwsu si tua bangka Kun-lun-pai yang belum dibereskan. Aku ikut kalian, hendak membantu kalian agar kelak dapat diterima oleh Auw-yang-taijin."
Tok-ong Kai Song Cinjin tertawa senang. "Kau sudah diterima! Siapapun juga asal ada pinceng yang menanggung, tentu diterima oleh Auwyang-taijin. Mari kita berangkat."
Memang kakek Tibet ini cerdik. Tadi ia telah mengukur kekuatan Mo Hun dan ia maklum bahwa Toat-beng-pian Mo Hun tidak kalah lihai oleh Kui Ek, maka tentu saja orang seperti ini akan dapat menjadi seorang pembantu yang kuat dan boleh diandalkan. Demikianlah, rombongan itu berangkat dalam keadaan yang lebih kuat lagi dengan adanya Toat-beng-pian Mo Hun, merupakan ancaman besar bagi partai persilatan Kun-lun-pai.
Kita tinggalkan dulu Tok-ong Kai Song Cinjin dan pasukannya yang sedang menyerbu Kun-lun-pai dan mari kita mengikuti keadaan yang amat sengsara dari bekas pahlawan besar Souw Teng Wi. Dalam keadaan payah sekali, tubuhnya menderita luka dalam, sepasang matanya kehilangan bijinya dan dari lubang mata masih mengalir darah, Souw Teng Wi diborgol kedua tangannya dan diseret-seret oleh pasukan yang dipimpin oleh Awyang Tek.
100
Setelah Souw Teng Wi tertawan barulah Auwyang Tek yang mata keranjang teringat akan gadis jelita yang datang bersama Souw Teng Wi. la tahu bahwa gadis cantik itu adalah puteri Souw Teng Wi yang bernama Souw Lee Ing dan ia merasa menyesal sekali mengapa tadi membiarkan gadis itu melarikan diri. Ia mulai mencari dan menyebar anak buahnya, namun Lee Ing menghilang tak dapat dicari lagi. Dengan hati kesal dan makin gemas kepada Souw Teng Wi. Auwyang Tek berangkat kembali ke selatan, di sepanjang jalan menyiksa Souw Teng Wi akan tetapi menjaga agar orang tawanan ini jangan sampai mati.
Agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat, ia menyuruh orang-orangnya membuat sebuah kerangkeng besi dan Souw Teng Wi diangkut seperti membawa seekor binatang liar. Di sepanjang jalan rakyat melihat keadaan pahlawan ini dengan hati marah dan berduka. Akan tetapi apakah daya mereka? Kaisar telah menganggap bekas pahlawan ini sebagai pemberontak yang harus dihukum.
Akan tetapi, di antara rakyat jelata terdapat banyak bekas pejuang yang gagah perkasa, yang dahulu ikut dalam perang gerilya melawan penjajah Mongol. Mereka ini mengenal Souw Teng Wi, mengenal orangnya dan mengenal perjuangan serta sepak terjangnya yang gagah perkasa. Mereka sendiri tentu saja tidak berdaya menghadapi pasukan kerajaan yang kuat, dipimpin oleh Auwyang Tek yang berkepandaian tinggi, yang amat ditakuti karena ilmunya Hek-tok-ciang. Akan tetapi, diam diam ada beberapa orang yang cepat mempergunakan kuda, mendahului rombongan ini menuju ke selatan, mencari hubungan dengan perkumpulan Tiong-gi-pai yang mendukung Souw Teng Wi.
Beberapa orang yang bangkit setia kawannya bahkan mengumpulkan kawan-kawan dan nekat berusaha merampas dan menolong Souw Teng Wi. Akan tetapi orang-orang ini seperti serombongan nyamuk menyerang api lampu. Mereka merupakan makanan empuk bagi Auwyang Tek dan bergelimpanganlah di sepanjang jalan para orang gagah yang berusaha menolong Souw Teng Wi. Tubuh mereka kaku dan terdapat tanda lima jari tangan hitam, inilah tanda bahwa mereka tewas sebagai korban tangan racun hitam yang ganas dari Auw yang Tek Dengan sikap garang sekali Auwyang Tek terus memimpin pasukannya menuju ke Nan-king. Ia sudah membayangkan betapa ia akan disambut dengan segala kehormatan atas hasilnya penangkapan pemberontak Souw Teng Wi. Tentu kaisar akan menjadi girang sekali dan memberi hadiah besar, atau bahkan pangkat ayahnya akan dinaikkan.
Pada suatu hari, rombongan ini tiba di sebelah utara Sungai Yang-ce, sudah dekat dengan kota raja. Mereka memasuki sebuah hutan besar terakhir yang akan membawa mereka ke lembah sungai. Makin dekat dengan kota raja, hati Auw yang Tek makin girang, demikian pula anak buahnya. Pasukan itu tadinya sudah gentar kalau-kalau ada musuh mencegat, mereka maklum bahwa orang macam Souw Teng Wi tentu mempunyai kawan-kawan yang lihai Kini kota raja hanya tinggal beberapa ratus li lagi, terpisah Sungai Yang-ce. Mereka mulai tertawa-tawa dan bernyanyi gembira.
Tiba-tiba mereka berhenti dan terheran-heran mendengar suara khim (tetabuhan seperti siter) yang amat merdu dan indah. Siapakah orangnya yang menabuh khim di tengah hutan? Juga Auwyang Tek merasa heran sekali, timbul kecurigaannya. Akan tetapi mereka maju terus, mengambil jalan lain supaya tidak melewati orang yang menabuh khim. Akan tetapi anehnya, ke manapun juga mereka menuju, selalu suara khim itu berada di depan menghadang mereka, seakan-akan orangnya memang sengaja berpindah-pindah menghadang perjalanan rombongan ini.
"Perkuat penjagaan sekeliling kerangkeng!" kata Auwyang Tek hati-hati dan ia sendiri cepat memajukan kudanya mendahului rombongan. Tak lama kemudian sampailah ia di tempat terbuka dan dari pinggir jalan ia melihat seorang wanita cantik duduk di atas sebuah alat tetabuhan khim yang terletak di atas pangkuannya dan ia mainkan khim itu dengan asyik.
101
Wanita ini tidak muda lagi, akan tetapi masih mempunyai kecantikan yang membuat hati Auwyang Tek berdebar. Dapat ia membayangkan betapa jelitanya wanita ini ketika masih muda dulu, raut wajah yang elok masih nampak jelas. sepasang mata bening berbulu mata panjang lentik, mulut berbibir merah masih tersenyum manis. Jari-jari tangan yang bermain-main di atas kawat khim juga masih mungil terawat, bergerak lincah dan lemah gemulai seperti menari-nari.
Lega hati Auwyang Tek ketika melihat bahwa yang menabuh khim hanyalah seorang wanita lemah, sungguhpun ia agak terheran mengapa di tempat sesunyi itu terdapat seorang wanita menabuh khim. Menilik pakaiannya, wanita ini adalah wanita gunung karena pakaiannya sederhana saja seperti pakaian pendeta namun potongan rambutnya tidak seperti pendeta. Tentu seorang wanita dusun yang istimewa pikirnya, atau dahulu bekas perempuan lacur yang pandai menabuh khim dan sekarang di hari tua kembali ke dusun, pikir Auwyang Tek.
Karena tidak melihat sesuatu yang membahayakan, ia bahkan turun dari kuda, menghampiri wanita itu, menonton orang main khim sambil menanti datangnya rombongannya. Para anak buah pasukan juga menjadi lega bahwa pemain khim itu hanya seorang wanita dusun yang sederhana, cantik lembut dan sudah setengah tua. Malah ada yang tertawa-tawa.
"Aduh merdunya, benar-benar membuat orang ingin mengaso dan tidur!" kata seorang anggauta pasukan.
"Dan dia menemanimu sambil main khim. bukan?" orang ke dua berolok-olok.
"Benar, biarpun sudah tua akan tetapi masih hebat....!" menyambung orang ke tiga.
Wanita itu agaknya tidak mendengar atau tidak mau memperdulikan segala macam olok-olok kotor yang menghinanya, terus saja bermain khim. Auwyang Tek yang memperhatikan permainan khim itu, kagum bukan main. Pemuda ini adalah putera seorang menteri, sebagai putera bangsawan tentu saja ia tidak asing akan seni suara, bahkan ia mengerti bagaimana cara menabuh khim biarpun ia bukan seorang ahli. Melihat gerak jari wanita itu
dan mendengar suara khim, tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli, la makin tertarik lalu berkata sambil tertawa.
"Enci, kau mainkan lagu Dewi dan Gembala nanti kuberi hadiah banyak!"
Suara khim berhenti dan wanita itu mengangkat kepala memandang. Auwyang Tek tercengang melihat sinar mata yang amat tajam dan sepasang mata yang jernih. Benar-benar wanita ini dulu tentu cantik jelita sekali, pikirnya kagum. Wanita itu menggerakkan biji matanya, menyapu semua orang, juga mengerling ke arah kerangkeng di mana Souw Teng Wi duduk bersandar ruji besi dan matanya yang tak berisi itu nampak mengerikan sekali.
Wanita itu mengangguk ke arah Auwyang Tek, kemudian ia menunduk kembali, jari-jari tangannya bergerak lagi, kini dengan lemah gemulai menciptakan suara khim yang merdu merayu dan romantis. Memang yang diminta oleh Auwyang Tek tadi adalah sebuah lagu romantis yang mengisahkan percintaan antara seorang pemuda penggembala dan seorang dewi kahyangan. Lagu romantis ini menjdi kesayangan para kongcu (pemuda) hidung belang dan populer di tempat-tempat pelesir. Namun wanita itu dapat memainkannya dengan amat indahnya, terang bahwa wanita
ini dahulunya tentu bukan seorang wanita baik-baik.
102
Semua anggauta pasukan terbawa oleh pengaruh suara khim yan luar biasa ini sehingga tubuh mereka bergoyang-goyang mengikuti irama, bahkan ada yapg bernyanyi perlahan mengikuti lagu itu. Semua orang, termasuk Auwyang Tek, seperti kena pesona. Lagu itu makin lama makin memikat, suaranya melengking tinggi dan aneh sekali, beberapa orang anak buah pasukan ada yang jatuh tertidur! Banyak yang sudah menguap hampir tak dapat menahan kantuknya. Auwyang Tek sendiri merasa dadanya berdebar, telinganya mengiang dan matanya mengantuk.
Kagetlah dia. Pernah dia mendengar akan kehebatan tenaga Iweekang yang disalurkan ke dalam suara dan bunyi-bunyian dan suara yang mengandung tenaga sakti ini dapat mempengaruhi pendengarannya. Melihat para anak buahnya seorang demi seorang roboh pulas dalam cara aneh sekali, ia menjadi cemas dan mengerahkan seluruh tenaga dalam tubuhnya untuk melawan kantuk yang hampir tak dapat tertahankan lagi itu. Benar saja setelah pemuda yang memiliki kepandaian tinggi itu mengerahkan Iweekangnya, pengaruh suara itu buyar sebagian.
Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras dari dalam kerangkeng. Souw Teng Wi yang kumat gilanya itu agaknya juga terkena serangan suara khim dan biarpun ia buta, namun pendengarannya masih baik sekali. Maka untuk melawan pengaruh itu, ia mengeluarkan ilmunya, menggereng keras dan tiba-tiba saja terdengar suara “tring-tring-tring!” senar khim putus tiga buah. Ini menandakan bahwa gema suara gerengan yang mengandung getaran itu masih lebih kuat dari pada getaran suara khim.
Bagaikan diguyur air dingin setelah suara khim lenyap, para anak buah pasukan yang tertidur tadi berloncatan bangun dan saling pandang terheran-heran melihat kawan-kawannya sedang bangkit dan bangun dari tidur. Auwyang Tek sudah dapat menduga bahwa wainita pemain khim ini tentu bukan orang sembarangan. Akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan hendak cepat-cepat pergi dari depan wanita aneh itu. la merogoh sakunya, mengeluarkan tiga potong perak dan dilemparkan di depan wanita itu sambil berkata,
“Enci, permainanmu bagus sekali. Nah, ini hadiahku.” Ia menoleh kepada pasukannya dan memberi perintah untuk melanjutkan perjalanan.
Akan tetapi wanita itu memungut tiga potong perak sambil berkata. "Untuk apa benda tak berharga macam ini?" Sambil berkata demikian, sekali jari-jari tangannya yang halus itu mencengkeram. tiga potong perak telah menjadi segumpal perak yang tak karuan bentuknya. Auwyang Tek makin terkejut dan membelalakkan matanya sambil berkata,
"Habis, kau minta apa?"
Wanita itu tersenyum manis sekali, mencantolkan khim di belakang pundaknya lalu berkata sambil menudingkan telunjuk yang mungil ke arah kerangkeng, "Kau minta aku bermain khim dan kau berjanji memberi hadiah. Nah, aku minta hadiah binatang di dalam kerangkeng itu!"
Auwyang Tek tahu bahwa wanita ini mencari gara-gara dan tentu seorang di antara kawan Souw Teng Wi atau seorang anggauta perkumpulan Tiong-gi-pai. Maka ia berkata dingin,
"Hemmm, apa kau tidak tahu bahwa binatang itu adalah tawanan kami dan hendak dibawa ke pengadilan kerajaan. Apakah kau begitu berani mampus untuk merampas tawanan yang berarti pemberontakan besar? Toanio. kau seorang wanita dan aku Auwyang Tek tidak bisa melawan wanita, apakah kau anggauta Tiong-gi-pai dan kawan pemberontak Souw Teng Wi ini?"
Wanita itu meludah. "Jadi kaukah yang disebut Auwyang-kongcu. ahli Hek-tok-ciang? Hah, kiranya matamu buta tidak dapat membedakan orang. Kau menuduh aku kawan setan Souw Teng Wi,
103
benar-benar kau menghina sekali. Aku minta dia dari tanganmu bukan untuk menolong, melainkan untuk membunuhnya. Tahukah kau?"
Memang Auwyang Tek tidak tahu bahwa wanita ini adalah Lui Siu Nio-nio, ketua dari perkumpulan Hoa-lian-pai yang bermarkas di kaki Gunung Ta-pie-san. Lui Siu Nio-nio ini adalah guru dari Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio isteri Siang-pian-hai-liong Sim Kang. Biarpun Yap Lee Nio sudah berpisah atau bercerai dari suaminya, namun berita tentang terbunuhnya Sim Kang oleh Souw Teng Wi membuat hatinya berduka dan sakit. Ia mengadu kepada gurunya dan gurunya menyanggupi untuk membalaskan sakit hati ini.
Oleh karena itulah Lui Siu Nio-nio ketika mendengar bahwa Souw Teng Wi telah tertawan dan hendak dibawa ke kota raja, sengaja menghadang di tengah jalan untuk merampasnya. Memang penawanan Souw Teng Wi sebentar saja sudah tersiar luas dan setiap orang kang-ouw sudah mendengarnya.
Auwyang Tek tentu saja tidak mau percaya akan keterangan Lui Siu Nio nio. Ia bersiap sedia dan membentak, "Siapa percaya omonganmu? Kau siapakah?"
"Aku Lui Siu Nio-nio ketua Hoa-lian-pai"
Kembali Auwyang Tek melengak Ia memang pernah mendengar akan nama perkumpulan Hoa-lian-pai dan ketuanya yang berilmu tinggi, akan tetapi ia tidak menyangka sama sekali bahwa ketua Hoa-lian-pai demikian cantik dan lemah lembut, pandai bermain khim pula! Setelah mendengar bahwa ia berhadapan dengan ketua Hoa-lian-pai, Auwyang Tek tidak berani cengar-cengir lagi, tidak berani bersikap kurang ajar seperti kalau ia menghadapi seorang wanita cantik biasa.
Akan tetapi, ia juga tidak mau tunduk dan mengalah begitu saja, apa lagi mendengar bahwa nenek ini hendak merampas tawanannya. Ia tidak mau percaya begitu mudah akan keterangan nenek itu bahwa Souw Teng Wi hendak dirampas untuk dibunuh. Siapa tahu kalau-kalau itu hanya siasat belaka dan nenek ini menggunakan akal untuk menolong Souw Teng Wi karena untuk menggunakan kekerasan merasa jerih padanya. Ini mungkin sekali. Siapa yang tak pernah mendengar kelihaian Hek-tok-ciang? Apa lagi sekarang dia mengawal tawanan.
"Aha, kiranya Lui Siu toanio, ciangbunjin Hoa-lian-pai yang terhormat! Selamat bertemu. Telah lama siauwte mendengar bahwa Hoa-lian-pai adalah sebuah perkumpulan bersih yang selalu membantu pemerintah membersihkan orang jahat. Tidak heran sekarang toanio hendak membunuh pemberontak Souw Teng Wi. Akan tetapi, untuk urusan ini harap toanio ikut dengan kami ke kota raja, di sana toanio dapat mengajukan permohonan kepada ayah agar toanio diberi, kesempatan melaksanakan hukuman mati yang pasli dijatuhkan kepada pemberontak ini. Bagaimana?"
Lui Siu Nio-nio tersenyum sindir. Hatinya panas sekali mendengar betapa ia disuruh "mengajukan permohonan" seakan-akan kedudukan Menteri Auwyang Peng begitu tinggi sampai-sampai ia harus merendahkan diri. Jangankan terhadap seorang menteri seperti Auwyang Peng, terhadap kaisar sendiripun belum tentu ia sudi merendahkan diri.
"Auwyang-kongcu, usulmu itu terbalik. Aku harus membawa binatang ini kepada muridku, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang hendak membalas sakit hatinya. Setelah muridku melakukan pembalasannya, baru kau boleh membawa mayat binatang ini ke kota raja untuk dijadikan bukti jasamu. Bukankah kau akan mendapat pahala yang sama besarnya?"
104
Auwyang Tek mendongkol sekali karena diejek. "Toanio, harap kau ingat bahwa pada saat ini aku adalah seorang yang memanggul tugas dari kaisar. Oleh karena itu, harap kau tidak menghambat perjalanan kami ke kota raja."
Ketua Hoa-lian-pai memperlebar senyumnya, berkata halus akan tetapi menyengat hati, "Sudah lama aku mendengar tentang Hek-tok-ciang yang lihai, agaknya kau orang muda hendak mengandalkan Hek-tok-ciang untuk mengabaikan usulku, ya?"
"Toanio, kalau aku orang muda berani menentang toanio, anggap saja hal itu sebagai keinginanku menambah pengalaman dan pelajaran, sebaliknya kalau tonaio berani menentang utusan kaisar, bukankah itu sama halnya dengan memberontak dan berdosa besar?" jawab Auwyang Tek.
"Bagus! Kau hendak berlindung di balik nama kaisarmu! Aku tidak mengenal segala kaisar, bagaimana bisa memberontak? Tak usah banyak cakap tinggalkan binatang dalam kerangkeng itu, habis perkara!"
Auwyang Tek melihat wanita itu sudah mengambil khim yang tergantung di punggungnya. Pemuda ini marah sekali dan tanpa banyak cakap ia lalu menggerakkan tangan kiri mengirim pukulan Hek-tok-ciang! Biasanya, sekali pukulan saja sudah cukup membuat lawan roboh binasa. Lui Siu Nio-nio maklum akan kehebatan pukulan Hek-tok-ciang ini. la tidak berani menerima begitu saja, cepat mengangkat khim yang dipegang di tangan kanannya, menangkis pukulan yang datangnya dekat, bukan dilakukan dari jarak jauh, pukulan yang pasti akan mengenai dadanya.
"Brakk....!!" Khim yang terbuat dari pada kayu hitam pilihan itu pecah berantakan, melayang ke sana ke mari pecahannya. Adapun senar-senarnya juga putus semua dan mawut. Akan tetapi di lain fihak, Auwyang Tek terhuyung mundur. Dari tangkisan khim tadi menyambar tenaga yang amat dahsyat, membuat kuda-kudanya tergempur dan terpaksa ia tak dapat mempertahankan kedua kakinya dan terhuyung-huyung.
Lui Siu Nio-nio menjadi pucat saking marahnya melihat alat tetabuhan yang disayangnya itu hancur oleh sekali pukulan pemuda itu. Di samping kemarahannya, juga ia terkejut sekali. Memang ia telah mendengar akan kelihaian Hek-tok-ciang, akan tetapi tak pernah menyangka sehebat itu. Maka ia lalu menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu ia telah memegang sebatang senjata yang amat aneh, yaitu berupa setangkai kembang terbuat dari pada emas.
Tangkainya panjang dan ada tiga helai daun terbuat dari pada perak. Inilah senjata yang amat diandalkan oleh Lui Siu Nio-nio yang ia beri nama Hoa-lian-sin-kiam (Pedang Sakti Hoa-lian). Sebetulnya disebut pedang bukan pedang karena hanya merupakan setangkai bunga emas dengan tiga helai daunnya, akan tetapi cara memegang dan mempergunakannya memang seperti orang bermain pedang. Itulah sebabnya mengapa senjata aneh ini disebut Hoa-lian-sin-kiam dan penggunaannya yang istimewa khusus diciptakan oleh ketua Hoa-lian pai itu.
Dengan senjata ini Lui Siu Nio-nio telah merobohkan entah berapa banyak lawan dan senjata ini pula di samping senjata khimnya telah mengangkat namanya menjadi terkenal. Mereka bertempur lagi. Sekarang keduanya berlaku hati-hati setelah mengenal kehebatan tenaga lawan. Akan tetapi setelah sekarang Lui Siu Nio-nio mainkan senjatanya yang aneh, kelihatanlah bahwa kepandaian Auwyang Tek masih kalah sedikitnya dua tingkat oleh ketua Hoa-lian-pai yang lihai ini. Pukulan-pukulan Hek-tok-ciang tak dapat dipergunakan secara cepat lagi karena Auwyang Tek tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk melancarkan pukulan Hek-tok-ciang.
105
Ternyata senjata bunga emas dengan tiga helai daunnya ini selelah dimainkan malah lebih berbahaya dari pada sebuah pedang pusaka! Bunga emas itu berupa setangkai bunga teratai yang baru mekar, mempunyai tujuh belas daun bunga dan setiap daun bunga ujungnya runcing seperti pedang hingga sama dengan tujuh belas pedang digabungkan menjadi satu. Belum lagi helai daun putihnya amat berbahaya karena daun-daun ini merupakan senjata-senjata tersendiri yang tak terduga arah serangannya akan tetapi yang selalu menyusul serangan bunga.
Sebentar saja, belum tiga puluh jurus, Auwyang Tek sudah kebingungan karena tubuhnya terkurung rapat oleh senjata lawan yang berubah menjadi sinar kuning emas dikelilingi sinar putih. Sinar-sinar itu mengurung tubuh Auwyang Tek dan selalu mengarah jalan jalan-darah yang paling berbahaya. Hanya berkat Hek-tok-ciang saja Auwyang Tek belum roboh karena Lui Siu Nio-nio agaknya juga jerih dan selalu melompat mundur apa bila pemuda itu mempergunakan pukulan-pukulan jari jari tangannya yang sudah berubah hitam, tanda bahwa daya racun hitam sudah mengalir penuh di tangan yang bersarung tangan itu.
"Kepung! Serbu!!" Auwyang Tek dengan tak sabar memberi aba-aba dan pasukannya yang terdiri dari lima puluh orang mulai bergerak mengepung hendak membantunya menyerang ketua Hoa-lian-pai itu. Lui Siu Nio nio maklum bahwa menghadapi lawan sebegitu banyaknya bukanlah hal yang mudah, apa lagi kalau di situ masih ada Auiw-yang Tek yang amat lihai pukulan Hek-tok-ciaing-nya. la bersuit keras dan senjatanya bergerak makin cepat mengurung tubuh Auwyang Tek. Akan tetapi para pemimpin pasukan sudah mulai bergerak menyerangnya dari semua penjuru.
Terpaksa Lui Siu Nio nio memecah perhatiannya dan pada saat itu, pukulan Hek-tok-ciang yang dilakukan sekuat tenaga oleh tangan kanan Auwyang Tek datang menghantam, dadanya! Ketua Hoa-lian-pai itu kaget bukan main. Untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi karena kedudukannya sudah sulit sekali dalam menghindarkan keroyokan tadi. Terpaksa ia malah mendekati Auwyang Tek, dengan tangan kiri dibuka ia menyambut pukulan itu dan pada saat yang sama senjata anehnya menyambar leher Auwyang Tek.
"Plakk...!!" Lui Siu Nio-nio mengeluarkan jerit tertahan. Akan tetapi Auwyang Tek terguling roboh tak dapat bangun pula! Seluruh telapak tangan Lui Siu Nio-nio menjadi hitam, sebaliknya Auwyang Tek terkena pukulan pada jalan darah di pundaknya, membuai ia pingsan.
Ketua Hoa-lian-pai ini maklum bahwa tangannya sudah terkena racun, maka ia tidak mau membuang banyak waktu lagi, la tidak mau melayani para perajurit. Sekali senjatanya menyambar, lima orang perajurit yang paling dekat roboh. Yang lain menjadi gentar dan ragu-ragu. Lui Siu Nio-nio melompat ke dekat kerangkeng dan menggunakan tangan kanannya menghantam pintu kerangkeng. Terdengar suara keras dan pintu kerangkeng menjadi putus-putus dan bejat.
Akan tetapi sebelum ia turun tangan, kembali ia telah dikurung oleh pasukan kerajaan. Terpaksa ia mengamuk lagi dan beberapa orang roboh pula tak dapat bangun lagi Sementara itu, tangan kirinya terasa gatal-gatal dan sakit.
Tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan muncullah sepasukan orang terdiri dari anggota-anggota Tiong-gi-pai, dipimpin oleh Kwee Cun Gan sendiri, di belakangnya kelihatan Pek-kong Sin-kauw dan isterinya Ang-lian-ci Tan Sam Nio! Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan isterinya sudah mengenal Lui Siu Nio-nio maka tanpa banyak cakap lagi mereka ini lalu maju menggempur pasukan kerajaan, diikuti pula oleh Kwee Cun Gan dan anak buahnya. Melihat datangnya bala bantuan pasukan kerajaan lari kocar-kacir sambil membawa tubuh Auwyang Tek yang masih pingsan. Hanya mayat-mayat saja yang mereka tinggalkan.
106
Kwee Cun Gan melompat ke dekat kerangkeng dan sambil bercucuran air mata ia memeluk Souw Teng Wi. "Aduh kasihan sekali kau, Souw-suheng.."
Tiba-tiba kwee Cun Gan merasa betapa pundaknya dipegang erat sekali oleh tangan Souw Teng Wi, sampai ia merasa tulang-tulangnya hampir remuk.
"Siapa kau....? Siapa kau yang menyebut suheng padaku?" Pada saat itu Souw Teng Wi sudah siuman dan otaknya sedang waras.
"Souw-suheng, siauwte adalah Kwee Cun Gan, murid termuda dari Kun-lun-pai. Sayang siauwte datang terlambat sehingga suheng menjadi korban keganasan kaki tangan menteri durna.."
Pada saat itu menyambar sinar kuning. Ternyata Lui Siu Nio-nio yang melihat bahwa yang datang adalah kawan-kawan Souw Teng Wi dan di antara mereka terdapat Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, merasa khawatir kalau-kalau pembalasan untuk muridnya kepada Souw Teng Wi akan gagal lagi Tanpa banyak cakap lagi ia melancarkan serangan maut ke arah kepala Souw Teng Wi dengan senjata bunga emasnya.
Melihat ini, Kwee Cun Gan cepat mengangkat tangan kanannya untuk menangkis dan menolong keselamatan suhengnya Souw Teng Wi terkejut sekali, hendak mencegah tidak keburu lagi. Biarpun ia sudah buta, namun kepandaiannya yang tinggi dan luar biasa membuat ia maklum bahwa datangnya sambaran angin pukulan hebat ini tak dapat ditangkis oleh Kwee Cun Gan tanpa membahayakan keselamatan ketua Tiong-gi-pai ini. Maka
menahan napas dan mempererat pegangannya pada pundak kanan sutenya itu.
"Plak!” Senjata bunga emas itu kena ditangkis oleh lengan Kwee Cun Gan dan putuslah daunnya sedangkan Lui Siu Nio-nio terhuyung mundur! Adapun Kwee Cun Gan sendiri hanya merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar, la merasa ada tenaga dahsyat sekali datang dari pundaknya dan tenaga ini bertemu dengan tenaga hebat senjata nenek itu. bertemu di telapak tangannya yang menangkis bagaikan dua kilat bertumbuk di udara. Sekarang setelah ia berhasil menangkis serangan nenek yang galak itu, ia merasa tubuhnya, terutama sekali tangan yang menangkis tadi, lemah seperti dilolosi urat-uratnya!
Adapun Lui Siu Nio-nio menjadi pucat mukanya. la kaget setengah mati, juga merasa malu sekali sehingga muka yang pucat itu sebentar-sebentar berubah merah sekali. Sebagai seorang dari golongan cianpwe (tingkat atas), ia tidak mau berlaku membabi-buta dan nekat. Sekali gebrakan saja sudah mudah diketahui bahwa terhadap orang setengah tua yang memanggil Souw Teng Wi "suheng" ini memiliki kepandaian atau tenaga yang lebih tinggi. Diam-diam ia merasa heran sekali karena tidak mengira bahwa sute dari Souw Teng Wi demikian lihainya.
Pantas saja suami Lee Nio binasa olehnya dan Thian Te Cun juga tewas oleh Souw Teng Wi, tidak tahunya baru sutenya saja sudah begini hebat. Menghadapi Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui suami isteri saja ia tidak takut dan merasa yakin takkan kalah, akan tetapi tangkisan tadi benar-benar membuat ia mengaku kalah. Ia melirik dengan matanya yang indah kepada Kwee Cun Gan sambil bertanya,
"Aku sudah mendapat pelajaran yang berharga, tidak tahu siapakah nama enghiong yang gagah?"
Seorang anggauta Tiong-gi-pai menyaksikan betapa wanita itu sekali gebrak saja kalah oleh ketuanya, dengan bangga ia menjawab, "Wanita gunung mana kau tahu? Inilah ketua kami Kwee
107
Cun Gan taihiap. ketua dari Tiong-gi-pai. Jangan kau berani main main di depan kami orang-orang gagah Tiong-gi-pai"
Mendengar ini, Lui Siu Nio-nio tersenyum kecut, lalu mengibaskan bunga emasnya. "Brakkk!" Batu sebesar kepala kerbau yang berada di dekat orang yang bicara ini menjadi remuk dan debunya mengebul tinggi. Orang itu karuan saja menjadi pucat dan kedua kakinya gemetaran, akan tetapi ketua Hoa-lian-pai itu pergi tanpa pamit lagi..
"A Liok, lain kali kau tidak boleh bicara mengacau-balau secara sembrono!" bentak Kwee Cun Gan menegur anak buahnya yang menjadi makin kuncup haitinya. "Wanita itu hebat sekali, entah siapa gerangan dia?"
Terdengar Siok Beng Hui menarik napas panjang. "Kwee-sicu benar-benar memiliki tenaga simpanan. Dia itu adalah ciangbunjin (ketua) Hoa-lian-pai bernama Lui Siu Nio-nio dan senjatanya tadi yang disebut Hoa-lian Sin-kiam, hebatnya bukan main. Terus terang saja aku orang she Siok suami isteri belum tentu bisa menangkan dia. Sekali lagi, Kwee-sicu, aku merasa kagum dan takluk padamu, entah dengan ilmu pukulan apa tadi kau sekali tangkis dapat membuat ia tunduk."
"Semua anggauta Tiong-gi-pai meleletkan lidah mendengar kehebatan nenek tadi. Kwee Cun Gan sendiri melompat bangun dengan mata terbelalak. Tak mungkin kalau Pek-kong Sin-kauw suami isteri tak dapat melawan nenek itu, ia dapat menang dalam segebrakan saja, la lalu menubruk Souw Teng Wi dan memeluk suhengnya itu.
"Harap Siok-taihiap jangan terlalu memuji siauwte. Sebenarnya, tadi siauwte berlancang tangan menangkis karena merasa khawatir akan keselamatan Souw-suheng. Siapa kira bahwa ketika itu suheng mencengkeram pundak siauwte dan tahu-tahu ada tenaga luar biasa mengalir dari pundak ke tangan siauwte dan dapat mengundurkan ketua Hoa-lian-pai. Bukan siauwte yang lihai, melainkan Souw-suheng ini yang ternyata telah memiliki kepandaian hebat sekali."
Siok Beng Hui mengangguk-angguk dan memandang orang bula itu dengan kagum. "Hemm, pantas saja orang seperti Thian Te Cu sampai tewas. Ah, tentu Lui Siu Nio-nio tadi hendak membalaskan kematian suami muridnya, yaitu Siang-pian Hai-liong Sim Kang."
Semua orang sekarang mengerti akan duduknya perkara. Memang berita yang dibawa oleh anak buah bajak tentang sepak terjang Souw Teng Wi yang luar biasa tidak hanya terdengar oleh fihak Auwyang-taijin. juga terdengar oleh kawanan Tiong-gi-pai. Dengan penuh penghormatan namun tergesa-gesa, Souw Teng Wi lalu dibawa oleh rombongan Tiong-gi-pai menuju ke utara, yaitu ke Peking. Kawanan Tiong-gi-pai hendak mengantarkan bekas pahlawan itu kepada Raja Muda Yung Lo agar terlindung dari pada ancaman kawanan durna. Souw Teng Wi masih dalam keadaan tidak ingat, tidak mau banyak bicara dan ditanya apa-apa, tak dapat menjawab betul. Kwee Cun Gan sering kali mengucurkan air mata menyaksikan keadaan su-hengnya yang benar-benar amat menyedihkan hati itu.
Seratus lie lebih sebelah selatan muara Sungai Huai adalah pantai batu karang yang amat sukar didatangi manusia. Daerah ini merupakan daerah mati, jangankan manusia yang lemah, bahkan binatang-binatang liarpun sukar mendatangi batu-batu karang raksasa yang merupakan pegunungan yang menjulang tinggi ini. Pegunungan itu amat curamnya, yang berada di tepi laut saja tidak kurang dari seribu kaki tingginya Kalau orang naik perahu di pinggir laut, mereka selalu menghindari daerah ini karena ombak selalu mengalun buas dan perahu akan dihempaskan remuk pada pantai batu karang. Dari jauh akan nampak batu-batu karang sebesar gunung dengan gua-gua hitam menyeramkan. Gua-gua ini mungkin sekali buatan ombak yang menghantam batu karang selama
108
ribuan tahun lamanya. Air laut yang mengandung garam itu menggerogoti batu karang dan membentuk gua-gua yang amat aneh, bahkan banyak di antaranya berbentuk tengkorak manusia raksasa yang menghadap ke arah laut, mengerikan.
Inilah yang disebut Gua Siluman oleh para nelayan. Akan tetapi tidak seorangpun tahu yang manakah gerangan Gua Siluman, saking banyaknya gua yang tampak dari laut. Juga untuk mendekati gua-gua itu tak mungkin. Didatangi dari darat, terlampau curam. Siapakah dapat menuruni jurang batu karang di tepi pantai yang selain licin dan tajam, juga terjal sekali itu? Didatangi dari laut lebih tak mungkin lagi karena perahu akan hancur dihempaskan ombak ke batu karang.
Oleh karena tak mungkin orang mendatangi daerah ini, maka pantai laut Kuning ini merupakan daerah mati dan kalau para nelayan ditanya apakah namanya daerah itu, mereka akan menjawab singkat, "Gua Siluman."
Kecuali burung-burung darat dan laut, hanya dua binatang buas yang dapat mendatangi daerah itu, yakni ular-ular dan kera. Menurut berita angin, di daerah ini terdapat ular-ular yang paling besar dan berbisa, juga terdapat monyet-monyet yang aneh dan jarang terlihat di daerah ini. Di waktu malam, dari jauh orang dapat mendengar teriakan-teriakan monyet yang aneh dan menyeramkan. saling sahut dengan pekik ayam hutan dan burung-burung laut.
Para nelayan atau penduduk pesisir sekitar daerah itu sering kali bercerita dengan wajah ketakutan bahwa dahulu, puluhan tahun yang lalu di waktu para kakek-kakek ini masih kecil, di puncak batu-batu karang itu sering kali kelihatan sinar bergerak-gerak dan kadang-kadang terdengar pekik yang membuat bulu tengkuk berdiri meremang. Bukan pekik binatang hutan, bukan pekik burung hantu, melainkan pekik yang luar biasa anehnya dan yang membuat daerah itu seakan akan tergetar karenanya!
Ada pula yang bercerita betapa sekawanan bajak sungai ketika dengan berani mencoba untuk mendaki daerah ini, kedapatan telah mati semua dan mayat mereka mengambang di pesisir seakan akan mereka itu dilemparkan ke bawah oleh kekuasaan hebat. Juga katanya ada seorang nelayan tua yang miskin dan jujur, ketika perahunya terbawa ombak dan ia tidak kuasa lagi sehingga perahu kecilnya dibantingkan ke arah batu-batu karang menghadapi kehancuran, tiba-tiba perahunya itu diseret oleh tenaga dahsyat ke tempat aman!
Semua ini sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, kini tinggal merupakan dongeng-dongeng dan orang berkata bahwa di tempat aneh itu tentu ada silumannya atau juga mungkin dewa laut sendiri yang tinggal di dalam gua. Malah ada yang berbisik-bisik mengatakan bahwa ia pernah melihat seekor naga bermahkota, mungkin Hai-liong-ong sendiri (Raja Naga Laut), terbang dari laut menuju ke gua-gua itu.
Oleh cerita cerita, tahyul macam ini, tempat itu menjadi makin terasing dan ditakuti orang. Tak seorangpun berani mencoba-coba untuk mendatanginya. Pula, berusaha payah-payah mempertaruhkan nyawa mendaki tempat berbahaya itu untuk apakah? Biarpun anggapan umum demikian, akan tetapi akhir-akhir ini kadang-kadang kelihatan orang-orang gagah mendaki pantai. batu karang, tidak sampai ke daerah gua yang memang luar biasa sukarnya didatangi, melainkan ke bagian pantai batu karang yang banyak lubangnya. Mereka ini adalah orang-orang berkepandaian yang datang uniuk mencari sarang burung di tempat seperti itu.
Yang datang hanya orang orang kang-ouw yang membutuhkan bahan obat ini dan mereka mencari sarang burung bukan untuk diperdagangkan, melainkan untuk kepentingan pribadi. Biarpun yang datang itu sebagian besar adalah orang-orang kong-ouw yang berilmu, tetap saja banyak di antara
109
mereka yang tergelincir dan menemui kematian mengerikan di bawah, di mana ombak sudah siap menanti mereka untuk dibanting dan dihempaskan ke atas batu batu yang runcing dan tajam.
Semua orang kang-ouw yang datang ke tempat itu adalah orang-orang lelaki kasar belaka yang bertubuh kuat. Akan tetapi pada suatu hari, dari arah barat, datang gadis cantik berjalan seorang diri menuju ke pegunungan batu karang ini. Dia masih amat muda, tidak lebih enam belas tahun, berpakaian sederhana bersih, cantik luar biasa dengan sikap yang lincah gembira.
Kalau ada nelayan atau penduduk di situ melihatnya, pasti mereka akan lari tunggang-langgang mengira gadis jelita ini seorang siluman, penghuni Gua Siluman! Memang amat aneh dan sukar dipercaya bahwa seorang dara muda yang masih remaja ini berani datang di tempat yang berbahaya seperti daerah Gua Siluman, kalau dia sendiri bukan seorang siluman.
Dara jelita itu bukan lain adalah Souw Lee Ing Dengan hati yang penuh dendam dan duka melihat nasib ayahnya yang mengerikan, gadis ini mengambil keputusan untuk mencari Gua Siluman dan memenuhi pesan ayahnya. Ia dapat menduga bahwa ayahnya tentu telah mendapatkan pusaka Gua Siluman, pusaka yang berupa pelajaran ilmu kesaktian yang luar biasa. Buktinya, menurut kong-kongnya, kepandaian ayahnya biarpun tinggi akan tetapi ayahnya hanya menjadi murid Kun-lun-pai.
Akan tetapi setelah ayahnya mendapatkan Gua Siluman, ayahnya menjadi seorang sakti dan.. gila! Tentu ada rahasia hebat di balik ini semua, ada rahasia dahsyat di dalam Gua Siluman yang harus ia datangi dan bongkar rahasia itu. Kalau dugaannya tidak keliru, ia akan mendapat pelajaran ilmu kesaktian seperti ayahnya di dalam gua itu. Ia hendak mempelajari sampai sempurna, sampai ia memiliki kepandaian seperti ayahnya atau lebih lihai lagi agar kelak ia dapat membalaskan sakit hati ayahnya.
Dengan semangat besar dan hati tabah akhirnya Lee Ing tiba di daerah Gua Siluman. Di sepanjang jalan ia sudah mendengar kehebatan daerah ini yang ditakuti semua orang, daerah yang katanya banyak silumannya. Akan tetapi biarpun semua orang mengatakan bahwa bagi manusia biasa, tak mungkin dapat menjelajahi daerah itu, Lee Ing tidak merasa kecil hati, la mempunyai peta ayahnya dan dengan peta ini ia percaya akan dapat mencari Gua Siluman yang dimaksudkan oleh ayahnya.
Gadis ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak dari Ki-tong, kota kecil di sebelah selatan An-hwi, ia telah diikuti orang dengan diam-diam. Bahwa gadis ini tidak merasa dan tidak tahu bahwa dia diikuti orang, menunjukkan betapa lihai orang itu. la juga sama sekali tidak pernah mengira bahwa ia diikuti oleh seorang perampok tunggal yang terkenal dan ditakuti orang, yaitu Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio.
Sebagai seorang perampok tunggal yang ulung, sekali lihat saja Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tahu bahwa dara muda cantik jelita yang melakukan perjalanan seorang diri ini membawa barang-barang berharga terdiri dari emas permata. Tadinya ia berniat merampok nona muda ini di tengah jalan yang sunyi. Akan tetapi melihat sikap gagah perkasa dan wajah yang cantik jelita itu, timbul rasa suka di dalam hati perampok tunggal wanita ini.
la melihat seorang calon mantu yang amat baik dalam diri dara jelita ini. Alangkah akan senang hatinya mempunyai seorang anak mantu demikian cantik dan gagah, sebagai isteri puteranya, Sim Hong Lui. Oleh karena inilah diam-diam ia terus mengikuti perjalanan Lee Ing, hendak mengetahui
ke mana nona itu pergi. Alangkah kaget hati Yap Lee Nio ketika ia melihat bahwa dara jelita yang diikutinya itu menuju ke daerah Gua Siluman, daerah yang penuh rahasia dan dia sendiri merasa ngeri dan tidak berani mencoba memasuki daerah yang disohorkan amat liar itu.
110
Melihat gadis itu hendak memasuki daerah batu karang, dari jauh Yap Lee Nio berseru nyaring, "Nona yang di depan, tunggu dulu....!"
Lee Ing cepat menengok dan melihat seorang nyonya cantik berlari cepat sekali, ia terkejut. Gadis ini semenjak menjelajah ke selatan bersama kakeknya, selalu menemui orang-orang jahat dan ia selalu menaruh hati curiga kepada orang kong-ouw. Apa lagi melihat betapa wanita itu seruannya amat nyaring mengandung tenaga Iwee-kang tinggi dan larinya juga cepat sekali, Lee Ing menjadi makin curiga. Tanpa menjawab dan tanpa menoleh lagi ia cepat lari ke depan memasuki daerah batu karang dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat.
"Hee, nona yang di depan......! Berhenti, kau memasuki daerah berbahaya........!" Kembali ia mendengar seruan. Lee Ing makin curiga. Jangan-jangan orang itu hendak merampas petanya, pikirnya, maka gadis ini berlari makin cepat tanpa menghiraukan seruan orang berkali-kali.
Akan tetapi jalan mulai sukar dan selain menanjak, juga tanah mulai tertutup batu-batu karang yang tajam dan runcing. Kalau dibandingkan dengan orang biasa, kiranya kepandaian Lee Ing sudah cukup tinggi dan kalau yang mengejarnya itu seorang ahli silat biasa saja, jangan harap gadis ini dapat disusul. Akan tetapi pengejarnya adalah Hui-ouw-tiap (Kupu-kupu Terbang) Yap Lee Nio yang terutama terkenal sekali akan ginkangnya yang tinggi sehingga mendapat julukan Kupu-kupu Terbang Sebentar saja Lee Ing sudah tersusul.
Lee Ing hanya melihai bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang wanita setengah tua berbaju hijau cantik wajahnya, berdiri di depannya sambil tersenyum dan mengangkat tangan kanan menyuruhnya berhenti. Karena tak dapat melalui wanita itu, terpaksa Lee Ing menghentikan kakinya dan sambil terengah-engah kelelahan ia menegur,
"Kau.ini orang tua mau apakah mengejar aku seperti Orang menagih hutang?"
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio sendiri adalah seorang yang berwatak lincah jenaka. Teguran setengah berkelakar ini tidak membuatnya marah, ia hanya berdiri bertolak pinggang sambil melihat wajah dan bentuk tubuh gadis itu, lalu mengangguk-angguk dan berkata memuji, "Cantik!.... patut menjadi mantuku!"
Muka Lee Ing merah dan ia berkata mendongkol, "Jangan bicara yang bukan-bukan. Kau mengejarku ada keperluan apakah?"
Akan tetapi Hui-ouw-tiap terus saja menatap wajah orang lalu berkata lagi, "Memang cantik sekali, entah kepandaiannya sampai bagaimana tingginya."
Lee Ing makin mendongkol. Ia merasa seperti menjadi seekor domba yang ditaksir-taksir oleh seorang calon pembeli. Tanpa banyak cakap ia lalu menggerakkan kedua kakinya dan berlari lagi melewati sebelah kanan wanita itu.
"Eiit, nanti dulu, nona. Aku mau bicara!" kata Yap Lee Nio yang cepat mengulur tangan menangkap pergelangan lengan Lee Ing.
Gadis ini semenjak kecil hidup di daerah Mongol dan ia pernah mempelajari ilmu gulat Bangsa Mongol. Mungkin kalau bertempur dalam ilmu alat, ia bukan lawan Hui-ouw-tiap, akan tetapi dalam ilmu gulat, ia jauh lebih menang. Begitu lengannya tertangkap, sekali membalikkan tubuh dan membungkuk, ia berbalik sudah menangkap lengan Hui-ouw-tiap dan sekali gentakan saja tubuh Hui-ouw-tiap sudah terlempar jauh!
111
"Ayaaaa...!" Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio menjerit seperti wajarnya seorang perempuan terkejut. Akan tetapi di lain saat, Lee Ing yang menjadi bengong terlongong-longong melihat tubuh wanita itu dalam keadaan terlempar dapat bersalto beberapa kali lalu turun kembali ke depannya seperti terbang saja. Benar-benar hebat dan indah gerakan itu, seperti bersayap saja! Di lain pihak, Yap Lee Nio merasa terheran-heran dan mengira bahwa gadis cantik ini benar-benar memiliki kepandaian yang lihai sekali. Memang selama hidupnya baru kali ini Hui-ouw-tiap menghadapi ilmu gulat Mongol, maka ia sangat kaget.
"Kau lihai betul, coba sekali lagi!" katanya sambil menubruk maju. Wanita itu yang menaksir Lee Ing dan ingin mencari mantu untuk puteranya, menjadi makin gembira melihat bahwa gadis cantik ini ternyata lihai kepandaiannya, maka ia sengaja hendak mencoba. Dengan cepat ia mengirim tiga kali serangan beruntun dengan ilmu silat Hoa-lian-pai. Akan tetapi alangkah herannya ketika melihat gadis itu mengelak dengan gerakan biasa saja, sungguhpun kedudukan dan perubahan kaki Lee Ing menunjukkan ilmu yang aneh dan tinggi.
Hal ini tidak mengherankan. Lee Ing sudah menerima petunjuk-petunjuk dari ayahnya dan sedikit banyak ia telah mempelajari ilmu aneh yang didapat ayahnya dari Gua Siluman. Akan tetapi ia belum dapat mempergunakan ilmu ini dengan baik, maka hanya kedudukan dan perubahan kaki saja yang tepat sedangkan gerakan tangan dan tubuhnya masih dalam posisi ilmu silat biasa yang pernah ia pelajari dari Haminto Losu.
Kalau Yap Lee Nio menghendaki, mudah saja ia merobohkan Lee Ing dengan pukulan-pukulannya. Akan tetapi bukanlah kehendak Hui-ouw-tiap. Melihat Lee Ing tidak berdaya menghadapi serangannya, kembali ia mencengkeram dan kali ini kedua pundak Lee Ing kena ia pegang.
"Apa kau tidak menyerah sekarang?" kata Yap Lee Nio sambil tertawa girang.
Akan tetapi itulah kesalahannya. Ia masih belum sadar bahwa gadis itu biarpun tidak lihai ilmu silatnya, namun hebat ilmu gulatnya. Kalau diserang dengan ilmu silat, memang Lee Ing tidak berapa kuat. Akan tetapi jangan sekali-kali berani memegangnya karena begitu terpegang, ilmu gulatnya keluar dan orang yang memegang menderita kerugian besar.
Demikian pula dengan Yap Lee Nio. Tanpa ia ketahui bagaimana gadis itu bergerak, tiba-tiba pegangannya sudah meleset dari pundak dan sebaliknya pangkal lengannya terpegang, disusul pergelangan lengannya dan sekali lagi tubuh Yap Lee Nio terlempar tanpa ia dapat mencegah lagi, malah terlempar jauh dengan cara aneh dan cepat!
Dengan terheran-heran dan bingung Yap Lee Nio mengeluarkan ilmu ginkangnya yang luar biasa. Ia dapat membalik di udara, berjungkir-balik beberapa kali dan berhasil melayang kembali ke depan Lee Ing. Benar-benar seperti seekor burung walet cepat dan gesitnya.
"Eh, eh, kau mempergunakan ilmu apakah?" tanyanya dengan mata terbuka lebar.
Lee Ing juga kagum sekali melihat kepandaian Yap Lee Nio. Gadis ini tahu diri dan maklum bahwa kalau wanita itu menghendaki, beberapa jurus saja ia akan dapat dihajar roboh, la lalu menjura dan berkata, "Harap bibi jangan main-main dengan aku orang muda. Orang sebodoh aku mana bisa melawan bibi yang lihai sekali ilmu silatnya? Aku hanya bisa sedikit ilmu gulat Mongol, akan tetapi terhadap bibi mana bisa aku membanting?"
Yap Lee Nio makin tercengang mendengar gadis ini pandai ilmu gulat Mongol. "Apakah kau seorang gadis Mongol? Aah, tak mungkin, tulang pipimu tidak malang, hidungmu tidak seperti burung. Kau seorang gadis Han tulen, bukan?" Suara pertanyaan ini terdengar penuh harapan.
112
Biarpun gadis itu cantik jelita dan ia cocok sekali untuk mengambilnya sebagai mantu, kalau ternyata gadis itu seorang gadis Mongol, ia tak mungkin bermantu seorang Mongol! Sementara itu, melihat sikap nyonya ini, timbul kenakalan Lee Ing. la tersenyum manis, tubuhnya digoyang-goyangkan seperti sikap seorang gadis dusun Mongol yang kemalu-maluan, lalu menggigit ciunjuk dengan giginya yang putih dan berkata,
"Aku memang seorang gadis Mongol......" Sikap seperti ini dulu sering ia lihat pada diri gadis-gadis Mongol.
Yap Lee Nio mengerutkan keningnya, kecewa bukan main. "Ah. aku hampir tak dapat percaya. Namamu siapa?"
"Namaku Bayin Kilan....." Lee Ing mengambil nama seorang gadis Mongol yang pernah dikenalnya.
"Aneh.... aneh.... pernah kulihat gadis-gadis Mongol, akan tetapi tidak ada yang seperti kau. Dan bicaramu bukan seperti gadis Mongol.."
Yap Lee Nio menghentikan kata-katanya dan menengok ke kiri. Ia lebih dulu mendengar kedatangan seorang pemuda yang berlari cepat sekali. Melihat orang menengok, Lee Ing ikut pula menengok dan melihat bahwa pemuda itu bukan lain adalah.. Siok Bun, putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui!
"Nona Souw Lee Ing....!" Siok Bun memanggil, girang sekali melihat gadis yang sekali bertemu telah merenggut semangatnya itu berada dalam keadaan selamat di tempat itu.
"Apa...? Kau bernama Souw Lee Ing...?" Yap Lee Nio bertanya, wajahnya berubah merah sekali dan dipandangnya Lee Ing dengan pandang mata tajam penuh selidik. "Dan Kau puteri Souw Teng Wi...?"
Karena tadipun ia hanya bergurau dan sekarang namanya sudah disebut oleh Siok Bun, Lee Ing yang biasanya jujur tidak mau main-main lagi. "Memang Souw Teng Wi pendekar besar itu adalah ayahku!" katanya bangga.
"Tiba-tiba Yap Lee Nio tertawa, suara ketawa-nya meninggi dan menyeramkan sekali, kemudian mendadak pula ia menangis terisak-isak menutupi kedua matanya yang mengalirkan air mata. Lee Ing melenggong dan mulutnya celangap saking herannya.
"Kau....kau kenapakah...?" tanyanya, melangkah maju menghampiri.
"Nona Souw, awas......!" Siok Bun berseru keras dan tubuhnya melayang dekat dan di lain saat senjata gaetannya sudah menangkis pedang di tangan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang ditusukkan ke arah dada Lee Ing! Pemuda itu terhuyung ke belakang dan tangannya tergetar, akan tetapi juga Yap Lee Nio mundur dua langkah. Tingkat tenaga Iweekang mereka seimbang, atau kalau pemuda itu kalahpun tidak berapa banyak.
Lee Ing kaget bukan main. Ia harus mengakui bahwa kalau Siok Bun tidak menangkis serangan itu dadanya tentu sudah disate oleh pedang nyonya aneh ini. Ia menjadi marah sekali.
"Eh, eh, apa kau sudah menjadi gila? Mengapa kau menyerangku? Siapa kau dan apa sih kesalahanku?" bentaknya.
113
Yap Lee Nio melirik ke arah Siok Bun, lalu katanya. "Aku Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, suamiku Siang-pian-hai-liong Sim Kang sudah dibunuh oleh si keparat Souw Teng Wi ayahmu, maka kau harus mengganti nyawa!" Kembali pedangnya berkelebat ke arah Lee Ing. Gadis itu cepat meloncat ke belakang. Ketika Yap Lee Nio mengejar, bayangan Siok Bun berkelebat dan pemuda ini sudah menghadang di depannya.
Kembali Yap Lee Nio melirik, kini penuh ancaman. "Siapa kau?"
Siok Bun adalah putera suami isteri pendekar yang lihai, ia amat tabah dan juga sikapnya halus. Lebih dulu ia menjura sebelum memperkenalkan diri, lalu menjawab, "Sudah lama siauwte mendengar nama besar Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tokoh Hoa-lian-pai. Siauwte adalah putera Pek-kong Sin-kauw bernama Siok Bun."
Gentar juga hati Hai-ouw-tiap mendengar nama Pek-kong Sin-auw sebagai ayah pemuda tampan ini. Akan tetapi pemuda ini hanya puteranya, betapapun lihai tak mungkin ia kalah. Namun ia tidak berani sembrono menyerang pemuda ini, tidak mau ia menanam bibit permusuhan dengan seorang tokoh besar seperti Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan isterinya, Ang-lian-ci Tan Sam Nio.
"Ayah bundamu dengan aku tak pernah ada permusuhan sesuatu. Sekarang aku hendak membalas dendam kematian suamiku kepada bocah setan anak Souw Teng Wi ini, harap kau mundur dan jangan ikut campur," katanya, suaranya halus.
"Toanio, hal itu tak mungkin. Pertama, Souw-taihiap adalah seorang besar, seorang pahlawan yang patut dihormati dan dikagumi, maka anaknya-pun harus dibela. Ke dua, tidak mungkin aku yang sudah mempelajari ilmu silat, diam saja berpeluk tangan melihat seorang gadis hendak dibunuh oleh orang lain yang mengandalkan kekuatannya, ini sudah menjadi pegangan seorang gagah bahwa kita harus melindungi si lemah dari tindasan si kuat."
Mendengar ini Souw Lee Ing bertepuk tangan memuji. "Nah-nah, kau dengar tidak, kupu-kupu belang? Seorang nenek seperti kau masih harus diberi kuliah oleh orang muda, bahh. sungguh harus malu!"
Muka Yap Lee Nio menjadi pucat saking marahnya. Ia dimaki kupu-kupu belang dan nenek-nenek, padahal banyak orang muda masih memuji kecantikannya. Karena Siok Bun menghalang-halangi, kemarahannya ditumpahkan kepada pemuda ini.
"Pemuda sombong, kau kira kalau sudah menjadi putera Pek-kong Sin-kauw lalu tidak ada orang berani kepadamu? Lihat pedang!" Secepat kilat wanita itu menyerang. Siok Bun tidak berani berlaku lambat karena maklum bahwa nyonya itu memiliki ginkang yang luar biasa sekali. Senjata gaetannya digerakkan dan berkali-kali terdengar suara nyaring dibarengi bunga api berpijar ketika kedua senjata itu bertemu.
Lee Ing diam-diam merasa girang bahwa pancingannya berhasil. Ia memang sengaja hendak mengadu dua orang itu agar mendapat kesempatan melarikan diri. Ia tahu akan kebaikan hati Siok Bun dan kalau ia terlepas dari ancaman Yap Lee Nio, ia masih tidak dapat terlepas dari pertanyaan-pertanyaan Siok Bun. Tentu pemuda itu heran sekali melihat dia berada di situ dan mendesak dengan pertanyaan. Setelah pemuda itu menolongnya, bagaimana dia bisa menutup mulut? Dan dia tidak ingin membuka rahasia Gua Siluman, tidak mau membuka rahasia ayahnya yang sudah dipercayakan kepadanya.
114
Melihat dua orang itu sudah mulai bergerak dan makin lama makin seru pertempuran mereka, Lee Ing mempergunakan kesempatan itu untuk diam-diam pergi dari situ, terus naik ke pegunungan batu karang. Peta itu sudah ia musnahkan akan tetapi sebagai penggantinya, di dalam otaknya sudah hafal dan sudah tergambar peta itu. Ia tahu ke mana ia harus pergi.
Sementara uu, ketika Lee Ing. sudah tidak kelihatan lagi, baru Siok Bun terkejut dan bertanya, "Nona Souw, kau berada di mana..?"
Pertempuran telah berjalan lima puluh jurus lebih, masih belum ada yang dapat mendesak lawan. Mendengar bahwa nona musuhnya itu sudah tidak ada di situ, nafsu bertempur Yap Lee Nio lenyap seketika dan iapun melompat mundur, sedangkan Siok Bun cepat melompat dan lari mencari Lee Ing. Akan tetapi gadis itu tidak kelihatan bayangannya lagi. Juga Yap Lee Nio
mencari dengan maksud lain, namun iapun tidak berhasil, akhirnya Yap Lee Nio tidak sabar lagi dan turun gunung, sedangkan Siok Bun yang merasa khawatir akan keselamatan gadis itu, masih terus berputaran mencari-cari.
Tentu saja dua orang itu tidak dapat mencari Lee Ing. Gadis ini mencari sebuah batu karang yang paling tinggi dan paling besar, berbentuk menara. Dengan berani dan tanpa ragu-ragu ia mendaki naik, melalui sisi sebelah kiri dan merayap terus sampai di puncak kiri. Ia melihat daun-daun pohon tersembul di puncak dan giranglah hatinya. Itulah tanda-tanda di dalam peta tak salah lagi. Tanpa takut-takut ia lalu merayap turun dari puncak batu karang itu melalui tebing yang amat curam.
Orang lain, bagaimana tinggipun kepandaiannya, tak mungkin berani merayap turun ke tebing ini yang sama sekali tidak kelihatan bawahnya. Akan tetapi Lee Ing sudah tahu betul keadaan tebing itu dari peta ayahnya, la melihat ke bawah yang kosong dan hanya ada cabang pohon yang tidak kelihatan pohonnya. Orang lain akan ragu-ragu karena tidak tahu apakah pohon yang tidak kelihatan batangnya itu cukup kuat.
Akan tetapi Lee Ing sudah tahu betul bahwa pohon itu amat kuat biarpun hanya kecil. Tanpa ragu-ragu ia melompat ke cabang itu. Benar saja, cabang pohon itu kuat sekali, batangnya yang putih amat ulet dan keras. Lee Ing merayap terus, berpegang pada batang pohon itu. la bergerak turun melalui tebing curam itu dengan amat hati-hati, akan tetapi dengan tabah. Ia sudah hafal dari petunjuk peta, ke mana kakinya harus melangkah. Memang orang lain akan merasa ngeri kalau belum yakin betul bahwa batu yang diinjaknya cukup kuat dan takkan terlepas. Sekali tergelincir, tubuh akan melayang jatuh ke bawah, ke permukaan air laut ganas yang dalamnya dari tempat itu ada ratusan kaki!
Sambil melangkah Lee Ing menghitung. Pada langkah ke tujuh puluh tujuh, sudah dekat dengan permukaan laut yang menggelombang ganas, ia melihat gua berbentuk tengkorak miring. Mulut gua merupakan telinga tengkorak itu dan lebarnya ada satu setengah tombak, bentuknya lonjong. Keadaannya gelap sekali. Amat sukar bagi Lee Ing untuk melangkah ke gua ini, karena air laut yang sedang mengganas itu melontarkan ombak yang tingginya hampir sampai di kakinya. Akan tetapi dengan keberanian luar biasa gadis yang selalu ingat akan kesengsaraan ayahnya itu terus mendekati gua kemudian melompat ke dalam telinga tengkorak besar itu.
Gelapnya bukan main setelah ia melangkah masuk. Jangankan hendak melihat isi gua, melihat tangan sendiri saja tidak kelihatan. Lee Ing tidaK menjadi gugup. Ia sudah bersiap sedia untuk mengatasi kesukaran ini. Dikeluarkannya sebuah lilin dan batu api dan sebentar saja ia sudah memegang sebatang lilin yang menyala terang. Ia harus menutupi lilin itu dengan tubuhnya untuk melindungi api dari pada tiupan angin kencang yang datang dari laut. Dinginnya bukan kepalang. Akan tetapi Lee Ing melangkah maju terus pantang mundur.
115
Setelah melangkah maju kurang lebih seratus tindak ke dalam gua yang merupakan terowongan panjang itu, ia tiba di jalan simpang empat. Menurut peta ayahnya, ia harus membelok ke kanan, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara di sebelah kiri. Lee ing seorang gadis tabah sekali. Mendengar suara ini, ia mengalihkan perhatian ke kiri dan otomatis kakinya membelok ke kiri. Suara itu makin terdengar nyata, seperti desis dan terasa olehnya angin perlahan bertiup dari depan.
Keheranannya bertambah dan ia melangkah terus. Tibalah ia di depan sebuah pintu batu yang berbentuk bundar. Nyata sekali guratan pintu itu dan dari balik pintu inilah keluar suara mendesis dan angin itu. Lee Ing mendorong pintu dengan tangan kiri, ternyata daun pintu mudah saja dibuka. Tangan kanannya tetap memegang lilin itu tinggi-tinggi di atas kepala, matanya memandang ke depan.
Di balik pintu itu ternyata merupakan sebuah ruangan yang bentuknya bulat pula. Di tengah ruangan terdapat meja batu berwarna putih dan di atas meja itu terletak sebatang pedang yang sudah terhunus dari sarungnya. Sarung pedang menggeletak di samping pedang. Pedang itu mengeluarkan cahaya putih berkilauan seakan-akan terbuat dari pada mutiara. Lee Ing kaget dan girang sekali. Tak salah lagi dan tak dapat diragukan lagi, itu tentu sebuah pedang pusaka. Ia melangkah lebih dekat dan menjulurkan tangan yang memegang lilin ke depan untuk memandang lebih teliti.
Tiba-tiba... "Sssssstttt ....!" Uap putih menyambar, angin berkesiur membuat api lilin di tangannya bergoyang-goyang. Lee Ing mengangkat kepala memandang ke depan. Matanya terbelalak lebar, lilin yang dipegangnya terlepas dari angan dan padam! Gadis itu cepat menyambar pedang terhunus tadi dan melompat ke belakang. Di dalam gelap tangannya meraba-raba saku mengeluarkan lilin dan batu api lain. Apa yang dilihatnya tadi benar-benar membuat semangatnya terbang melayang saking kaget dan takutnya.
Ternyata bahwa yang bersuara mendesis itu adalah dua ekor ular yang besarnya hanya dapat ditemukan dalam alam mimpi. Segera ia menyalakan lilin ke dua dengan tangan gemetar. Setelah lilin terpasang, Lee Ing mengangkat lilin dengan tangan kiri dan pedang di tangannya sudah siap di depan dada.
la memandang dan melihat dua ekor ular besar itu masih seperti tadi, mengangkat kepala tinggi-tinggi dan mendesis-desir, akan tetapi tidak berpindah dari tempatnya. Ketika ia memandang lebih teliti, ternyata olehnya bahwa dua ekor ular raksasa itu berada dalam keadaan terbelenggu oleh rantai baja yang panjang dan besar. Siapa orangnya yang dapat membelenggu dua ekor ular sehebat itu, hanya setan yang tahu! Ular itu mekar di bagian lehernya seperti ular kobra, hanya luar biasa sekali besarnya, tubuhnya seperti batang pohon cemara.
Lee Ing timbul keberaniannya setelah melihat bahwa dua ekor binatang raksasa itu terbelenggu, la melirik ke arah sarung pedang dan baru terlihat olehnya ada corat-coret di atas meja batu itu. la mendekat dan menerangi dengan lilin. Itulah tulisan tangan yang dibuat dengan mengguratkan jari di atas permukaan meja batu, terang dar besar.
SETELAH DAPAT MEMBEBASKAN DUA EKOR ULAR BARU BOLEH MENGAMBIL PEDANG DAN TAMAT BELAJAR.
Demikian bunyi huruf-huruf itu. Cepat Lee Ing menaruh kembali pedang terhunus tadi di atas meja di dekat sarung pedang, la memandang kearah ular, heran memikirkan bagaimana ular itu dapat hidup dalam keadaan terbelenggu. Tiba-tiba seekor di antara ular-ular itu menggerakkan kepala ke bawah dan tak lama kemudian kepalanya kelihatan lagi, sekarang sudah menggigit seekor ikan sebesar
116
paha. Kiranya air laut mencapai tempat itu dari lubang di batu karang yang besar dan kalau air pasang, ikan-ikan laut terbawa masuk. Ikan-ikan itulah yang menjadi santapan dua ekor ular raksasa ini.
Lee Ing cepat mundur, keluar dari kamar ular dan menutup pintunya. Bagaimana mungkin membebaskan dua ekor ular itu? Akan tetapi, kalau orang sudah bisa membelenggu, tentu dapat pula membebaskannya. Dan ini membutuhkan kepandaian yang tinggi. Lee Ing amat cerdik. Ia dapat menangkap maksud orang sakti yang dahulu menjadi penghuni gua ini. Dua ekor ular ini selain bertugas menjaga dan menakut-nakuti orang yang datang ke gua ini. juga sekalian dipergunakan untuk ujian bagi murid yang hendak menamatkan pelajarannya. Dan pedang ini merupakan hadiah tamat belajar! Mengapa ayahnya tidak menyebut-nyebut adanya dua ekor ular ini dalam petanya?
"Tentu ayah sudah melihatnya pula, akan tetapi tidak dapat membebaskannya, buktinya ayah tidak mengambil pedang ini. Ayah hanya memberi petunjuk tentang jalan masuk ke Gua Siluman, sama sekali tidak menceritakan keadaan di dalamnya, aku harus berlaku hati-hati."
Lee Ing kembali ke terowongan dan tiba di jalan simpang empat tadi. Kini ia mengambil jalan seperti disebutkan dalam peta, yaitu dari jalan semula ia membelok ke kanan. Lilin itu masih menyala dan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Ia berlaku hati-hati sekali dan dengan penuh perhatian memandang ke kanan kiri, melihat kalau-kalau di sepanjang dinding batu di kanan kiri ada apa-apanya.
Benar saja sangkanya bahwa ia akan menemukan sesuatu. Setelah ia melangkah tiga puluh tindak, mulai kelihatan huruf-huruf yang diukir pada dinding batu karang. Tulisannya berbeda dengan tadi bentuknya dan ia mengenal tulisan ayahnya. Gadis ini sudah hafal akan tulisan ayahnya karena banyak kitab berisikan tulisan ayahnya berada di tangan Haminto Losu.
Ia berhenti sebentar dan membaca tulisan ayahnya di bagian dinding terdekat. Dengan lilin didekatkan pada dinding, ia membaca beberapa huruf berupa sajak. Tiba-tiba tubuhnya bergoyang-goyang dan gadis itu menangis tersedu-sedu Sekali lagi dibacanya sajak ayahnya itu dengan isak tertahan.
Berjuang mempertaruhkan nyawa
demi membela nusa dan bangsa!
Isteri pujaan menanti di utara
bersama seorang puteri ataukah putera?
Namilana. dewi pujaan kalbu...
masih ingatkah kau akan daku....?
Mengapa kau tidak datang mencariku?
Di mana kau..... di mana kau Namilana
isteriku?
Hati Lee Ing terharu sekali dan kembali ia teringat akan keadaan ayahnya. Terbayang betapa ayahnya dibikin buta oleh Kai Song Cinjin. Saking tak dapat menahan keharuan dan kesedihan katinya, Lee Ing terguling dan roboh pingsan, api lilinpun padam!
Ketika siuman kembali dari pingsannya, Lee Ing segera mencari lilinya yang tadi terlempar dan padam. Keadaan di situ tidak gelap benar, remang-remang karena ada cahaya matahari masuk. Dinyalakannya lilin yang sudah didapatnya kembali itu dan ia melanjutkan penyelidikannya. Di ujung terowongan yang penuh tulisan ayahnya ini ia mendapatkan sebuah meja penuh kertas yang sudah
117
dicoret-coret, ada gambar-gambar orang bersilat, ada tulisan sajak-sajak yang makin diperiksa makin tidak karuan bunyinya, seakan-akan membayangkan kekusutan dan kekacauan pikiran ayahnya.
Selain ini ia mendapatkan pula sebatang pit (pensil) yang gagangnya terbuat dari pada baja murni. Jelas bahwa pit ini selain dipergunakan untuk menulis, juga dapat dipakai sebagai senjata penotok yang cukup kuat dan panjang. Lee Ing mengambil pit ini karena ia pikir, lebih baik mempunyai senjata dalam tempat mengerikan ini dari pada bertangan kosong.
Ketika ia maju terus ke arah ruang yang tadinya dijadikan kamar ayahnya, tiba-tiba dari pintu menyambar sebuah benda hitam kecil panjang ke arah lehernya. Lee Ing kaget bukan main, cepat ia mengelak dan dijaganya agar lilin yang dipegangnya tidak padam. Ternyata benda itu adalah seekor ular hitam yang kini berenggak-lenggok di atas lantai, siap untuk menyerangnya lagi.
Gadis itu bergidik. "Tempat berbahaya," pikirnya "pantas saja ayah melarang aku bicara tentang Gua Siluman." Akan tetapi ia sudah siap-siap dan ketika ular itu tiba-tiba mengangkat kepala dan bagaikan seekor naga dapat melompat untuk menyerang lehernya, ia menebasnya dengan pit baja itu.
"Tak!" Ular itu terlempar dengan kepala remuk, tubuhnya menggeliat-geliat dalam sekarat.
Lee Ing jalan terus memasuki pintu ruangan batu yang ternyata merupakan sebuah "kamar" yang cukup bersih dan menyenangkan. Juga pada dinding kamar ini penuh tulisan ayahnya. Yang paling menyenangkan hatinya, pada dinding ini terdapat sebuah "jendela" yang berbentuk bulat lonjong. Sinar matahari dan hawa masuk dari lubang ini. Ketika ia menjenguk keluar, ia meletkan lidah karena ia melihat gelombang laut amat dahsyat menghantam pantai karang, menimbulkan buih-buih keputihan yang bentuknya seperti setan-setan kelaparan yang hendak mendaki pantai karang itu. Benar-benar pemandangan yang amat menyeramkan dan menakutkan.
"Aku harus membuat penutup lubang ini," pikirnya. Karena takut bangkai ular tadi akan menimbulkan bau busuk kalau sudah membusuk, Lee Ing mengambilnya dengan pit dan melemparkan keluar jendela. Setelah itu ia kembali lagi ke lorong simpang empat dan kini melanjutkan penyelidikannya ke depan. Lorong itu makin lama makin sempit sampai ia terpaksa berjalan dengan membungkuk. Setelah berjalan seperempat lie lebih, jalan menjadi sedemikian sempitnya sampai gadis itu terpaksa harus merangkak. Lebih dari seratus langkah ia merangkak dan akhirnya lorong menjadi tinggi lagi, lebarnya ada tiga kaki, tingginya sampai dua kaki lebih tinggi dari kepala Lee Ing.
Lee Ing maju terus dan tiba-tiba ia amat terkejut mendengar suara luar
biasa sekali, datangnya dari kanan kiri. Suara itu mirip suara wanita menangis dan laki-laki meraung duka dan tiba-tiba api lilinnya padam. Bulu tengkuk Lee Ing berdiri semua karena segera ia merasa angin bertiup perlahan, seperti tangan-tangan halus mengusap muka dan lehernya. Hui.... tangan-tangan iblis dan siluman, pikir Lee Ing yang menjadi takut juga. Gadis ini semenjak kecil dilatih berjiwa gagah perkasa tak kenal takut, akan tetapi memasuki Gua Siluman ini benar-benar membuat ia bergidik ketakutan.
Dengan tangan menggigil, setelah angin itu lenyap, Lee Ing menyalakan lilin lagi. Akan tetapi baru saja menyala, datang lagi suara-suara itu, kini suaranya menggelegar seperti ada orang-orang disiksa dan menangis meraung-raung kesakitan, angin kembali bertiup dan lilinnya padam. Kini bukan hanya tangan-tangan halus yang mengusap muka dan lehernya, bahkan agaknya ada siluman yang begitu kurang ajar untuk meludahinya karena muka dan lehernya menjadi basah-basah, baunya memuakkan dan terasa asin pada bibirnya!
118
Lee Ing timbul marahnya dan untung baginya kalau ia marah. Karena kemarahanlah obat satu-satunya yang amat manjur untuk mengusir rasa takut. Ia merasa dipermainkan dan dihina, sampai-sampai muka dan mulutnya diludahi. Setan atau iblis, siluman atau apa saja tidak boleh menghinanya sampat begini!
"Siluman jahat, kau berani menghinaku? Keluarlah, mari kita bertanding sampai seribu jurus!" Lee Ing menjerit-jerit marah sambil memegang pit peninggalan ayahnya itu erat-erat. Akan tetapi suaranya hanya dijawab oleh suara-suara meraung aneh yang kini datang dari kiri kanan depan belakang, bahkan dari depan ada suara iblis mentertawakannya! Beberapa kali ia menyalakan lilin akan tetapi beberapa kali padam lagi. Akhirnya ia melangkah maju terus tanpa penerangan lilin. Ia hendak mencari siluman itu untuk mengadu nyawa!
Aneh sekali, setelah ia bertemu sebuah tikungan dan membelok, suara-suara dan angin itu lenyap. Ia menyalakan lilin melakukan penyelidikan. Baru ia ketahui bahwa di lorong yang dilaluinya tadi, kanan kirinya terdapat lubang-lubangan dan angin menyambar dari lubang-lubang yang seperti lubang sarang tawon ini. Juga suara-suara aneh itu timbul karena tiupan angin melalui lubang-lubang inilah! Bahkan apa yang disangkanya air ludah siluman itu bukan lain adalah air laut y ang memercik ke atas terbawa angin memasuki lubang-lubang itu. Pantas saja baunya amis dan rasanya asin.
Setelah maju beberapa puluh langkah lagi. sampailah ia di depan sebuah ruangan berbentuk suara mendesis tadi yang disangkanya keluar dari
kamar seperti bekas kamar ayahnya tadi, akan tetapi kamar ini lebih besar Lee Ing mengangkat lilin tinggi-tinggi dan masuk dengan hati-hati. Begitu ia melangkahkan kaki memasuki ruangan ini, matanya terbelalak dan untuk kedua kalinya ia merasa ngeri dan takut. Apa yang dilihatnya?
Lantai kamar itu kotor dan penuh batu-batu karang tajam meruncing di rnana kelihatan empat ekor ular belang yang beracun. Pada dinding kamar penuh dengan lukisan orang dalam bermacam-macam sikap, ada yang terlentang, ada yang bersila dan banyak sekali yang sedang bersilat dengan gerakan aneh sekali, bukan seperti orang bersilat, lebih pantas discbui gerakan badut dalam menari-nari. Akan tetapi yang paling menarik perhatian Lee lpg pada saai itu dan membuatnya merasa ngeri adAlah sebuah rangka manusia yang terlentang di atas sebuah dipan batu.
Pada saat Lee Ing sedang bengong memandang ke arah tengkorak itu, tiba-tiba terdengar suara mendesis di sebelah kanannya, la menengok dan... gadis ini mengeluarkan jerit perlahan saking kagetnya dan otomatis kakinya melompat ke kiri. Ternyata, dekat sekali di sebelah kanannya berdiri sebuah rangka manusia lagi dengan sepasang mata bolong yang hitam bundar dan besar seakan-akan melotot kepadanya, mulutnya meringis menyeramkan. Yang amat mengejutkan hati Lee Ing adalahmulut tengkorak itu.
Kalau memang demikian halnya, tidak bisa lain bahwa tengkorak ini tentulah iblis penjaga Gua Siluman. Baiknya ia segera melihat seekor ular yang melingkar di pilar batu karang dan mendesis-desis mengancamnya. Melibat ular ini timbul keberanian Lee Ing. Gadis ini memang tidak kenal takut kalau menghadapi mahluk hidup yang bagaimana menyeramkan sekalipun, asal jangan dia disuruh menghadapi iblis-iblis jadian atau siluman-siluman yang mengerikan!
"Kau mengagetkan orang saja!" bentak Lee Ing, pitnya bergerak dan di lain saat ular kecil itu sudah berkelojotan dengan kepala pecah terpukul pit baja.
"Aku harus bersihkan tempat ini dari ular-ular itu," pikir Lee Ing. la tidak mau bekerja kepalang tanggung. Ia takkan dapat melakukan penyelidikan dengan seksama sebelum membasmi ular-ular ini yang amat berbahaya. Segera ia bergerak ke sana ke mari dan pit bajanya menghancurkan kepala
119
semua ular yang berada di situ. Sebentar saja tujuh ekor ular mati dan bangkainya dibuang oleh Lee Ing melalui jendela yang tadi.
Setelah tempai itu bersih dari ular, Lee Ing mulai melakukan penyelidikan Alangkah girang hatinya ketika pada kamar ke dua inipun ia mendapatkan sebuah "jendela", bahkan jendela ini ada tutupnya, yaitu batu-batu tipis bundar yang dapat dilepas dan ditutupkan pada jendela. Begitu batu itu dilepas, kamar ini menjadi terang oleh cahaya matahari yang masuk melalui lubang jendela. Lee Ing segera meniup padam lilin yang dipegangnya dan menyimpannya. Ia harus menghemat pemakaian lilin, karena ketika memasuki gua, ia hanya membekal sepuluh batang. Baiknya di waktu siang tak perlu ia menyalakan lilin.
Lee Ing mulai melakukan penyelidikan. Ketika ia memperhatikan, lukisan lukisan di dinding yang amat luas itu banyak sekali macamnya dan dimulai dari pintu ruangan terus memutar ke kanan sampai di pintu lagi. Dari tanda-tanda tulisan di situ ia dapat mengetahui bahwa lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan itu adalah pelajaran Imu silat yang luar biasa anehnya dan lengkap, dimulai dari tingkat pertama sampai tamat. Namun sekali pandang saja gadis ini dapat menduga bahwa untuk mempelajari ilmu silat ini bukanlah hal yang mudah. Sikap dan gerakan yang dilukiskan benar-benar amat sukar diikuti dan membutuhkan pencurahan pikiran dan latihan yang tekun tak kenal bosan. Maka dapat dibayangkan betapa girang hatinya.
Kemudian ia memperhatikan dua buah rangka manusia yang berada di ruangan itu. Di utara ia sering kali melihat rangka manusia dan ketika mempelajari dasar-dasar ilmu silat, oleh kakeknya Haminto Losu ia diberi penjelasan tentang letak-letak tulang, sambungan tulang dan otot-otot penting. Oleh karena itu, Lee Ing tahu bahwa rangka yang rebah di atas pembaringan batu itu adalah rangka seorang wanita sedangkan rangka yang berdiri adalah rangka seorang laki-laki.
Anehnya, rangka laki-laki itu masih dapat berdiri lurus dan lebih mengherankan lagi kedudukan kedua kaki rangka ini seperti orang memasang kuda-kuda ilmu silat, sedangkan tangannya juga dalam keadaan bengkok, yang kanan jari-jarinya menghadap ke bawah dan yang kiri menghadap ke atas! Bagaimana sebuah rangka dapat berdiri dan lengannya dapat bengkok seperti itu? Hal ini selama hidupnya belum pernah disaksikan oleh Lee Ing dan menurut teori juga tidak mungkin tulang-tulang itu masih bersambung dan kuat berdiri tanpa sandaran.
Ketika ia memeriksa lebih dekat, ia terkejut sekali karena tulang-tulang itu seperti berisi sesuatu yang aneh. Tentu orang ini dahulunya seorang manusia sakti yang sudah dapat membuat tulangnya kuat sekali dan terisi semacam hawa sinkang yang hebat sehingga setelah mati tulang-tulang itu seperti lengket sambungan-sambungannya dan menjadi kaku! Ini hanya dugaannya saja.
Setelah puas menyelidiki dua rangka manusia itu, Lee Ing menghampiri sebuah lubang besar yang berbentuk almari dan di situ ia menemukan dua buah kitab yang sudah kuning. Kitab pertama pada sampulnya terdapat tulisan tangan yang kasar dan mengandung tenaga, berbunyi:
Riwayatku yang busuk, contoh seorang yang dikuasai oleh nafsu sendiri.
Di bawah tulisan ini terdapat nama si penulis: Bu-beng Sin-kun (Tangan Sakti Tiada Bernama). Ketika Lee Ing membuka lembaran kitab ini, ia mendapat kenyataan bahwa itu adalah sebuah catatan harian dari seorang jago silat. Kitab ke dua adalah sebuah kitab catatan-catatan tentang ilmu silat yang dilukis di atas dinding.
Karena keadaan mulai gelap dan senja telah mendatang, Lee Ing lalu membawa dua buah kitab itu, menutup jendela batu dan keluar dari kamar yang menyeramkan ini, kembali ke kamar ayahnya yang
120
akan ia jadikan kamarnya untuk berlatih ilmu silat yang terlukis pada dinding. Melihat banyaknya tulang-tulang ikan di depan kamar ayahnya, ia tahu bahwa selama berada di situ ayahnya hidup dari daging ikan. Maka iapun tidak merasa khawatir. Malam itu ia boleh menahan lapar dan besok ia akan mencari ikan. Teringat akan keadaan dua ekor ular besar, ia percaya bahwa di dalam Gua Siluman ini tentu terdapat tempat-tempat di mana ikan laut mudah ditangkap.
Ia menyalakan lilin dan mulailah ia membaca kitab harian Bu-beng Sin-kun. Segera ia tertarik sekali dan hampir semalam suntuk ia tidak tidur, terus membaca kitab itu sampai habis.
Menurut catatan-catatan harian itu, diceritakan bahwa dahulu, entah berapa puluh atau ratus tahun yang lalu disebutkan di situ. Bu-beng Sin-kun bersama suhengnya yang disebut Coa-suheng, mencinta seorang gadis. Adik dan kakak seperguruan yang tadinya hidup rukun dan saling mencinta itu, setelah adanya gadis ini lalu bermusuhan dan berebutan, bersaing dan berlumba memperebutkan hati si jelita. Akan tetapi si jelita agaknya memilih Coa-suhengnya itu seperti terbukti dari catatan yang berbunyi:
"....sayang sekali Li Lian tidak mengacuhkan aku dan agaknya tertarik oleh ketampanan wajah Coa-suheng. Kebencian terhadap Coa-suheng makin meluap. Pada suatu hari aku tantang suheng. Kami bertempur sampai lima ratus jurus. Agaknya suheng tidak tega membunuhku, dia lengah dan..
pedangku menembus dadanya! Coa-suheng tewas dan Li Lian kubawa dengan paksa. Dia tetap tidak mau, terpaksa kubawa ke gua ini.."
Lee Ing menarik napas panjang, kasihan mengingat nasib orang she Coa itu. Hemm, pikirnya. Orang yang menyebut diri Bun-beng Sin-kun ini ternyata seorang yang tidak baik hatinya.
"....aku menyesal sekali," demikian Lee Ing membaca lebih lanjut. "Semua ini salah Li Lian. Aku sudah membuat obat Mati Dua Hari yang kubungkus kain merah, aku menyuruh Li Lian minum untuk membuktikan siapa di antara aku dan suheng yang lebih mencinta. Akan tetapi ia menolak sehingga aku terpaksa menantang suheng berkelahi mati-matian. Aku tahu suheng tidak cinta kepadanya, akan tetapi Li Lian mencinta suheng mati-matian, dan aku....akupun mencinta Li Lian yang sebaliknya tidak cinta padaku.."
Kembali Lee Ing menarik napas. "Tolol," pikirnya, "mengapa mencinta orang yang tidak membalas cintamu? Kau menyiksa diri sendiri." Akan tetapi ia amat tertarik dan membaca terus.
"..... Li Lian.... aku hanya mengharapkan sedikit kasihan darimu.. akan tetapi kau benar tega sekali...gadis pujaanku ini selalu berduka dan sebulan kemudian meninggal dunia karena duka nestapa..... wahai, hancur hatiku, lemah seluruh tubuh.... aku menanggung derita ini..."
Tak terasa lagi Lee Ing mengusap matanya yang menjadi basah. bagaimanapun juga, ia merasa kasihan kepada orang itu. Mengapa hati Li Lian demikian kaku? Apakah Bu-beng Sin-kun itu demikian buruk rupanya maka menimbulkan kebencian? Ataukah demikian besar cintanya terhadap orang she Coa sehingga ia menjadi sakit hati terhadap Bu-beng Sin-kun?
"...aku jadi gila. Hari ini tubuh yang cantik Jelita dari Li Lian mulai membusuk. Cairan berwarna kuning keruh menetes-netes turun dari bangku batu. Bau yang amat busuk membuat aku sukar bernapas. Hampir aku mati karena itu, kupecahkan dinding, kubuat jendela agar bau itu dapat terbang keluar. Aku tak kuat lagi.... Li Lian, kau bawalah aku serta...."
121
Bergidik bulu roma Lee Ing membaca bagian ini dan ia menengok ke kanan kiri, takut kalau-kalau dua rangka itu berubah menjadi iblis dan memasuki kamarnya. Akan tetapi ia amat tertarik dan membaca terus.
"Dasar Thian Maha Adil. Aku harus menjalani hukuman hebat. Sebulan lebih aku hidup mendampingi mayat kekasihku yang membusuk, sampai cairan kuning itu menjadi ulat-ulat putih kuning gemuk beratus, beribu banyaknya. Ulat-ulat itu merayap-rayap di kakiku, di tanganku, tak kuganggu... aku tahu ulat-ulat itu penjelmaan dari darah dan daging Li Lian kekasihku.. sampai bau busuk itu tak terasa lagi olehku."
Kembali Lee Ing menarik napas panjang. "Jarang ada laki-laki sedemikian hebat cinta kasihnya...." Kebenciannya terhadap Bu-beng Sin-kun yang lelah membunuh suheng sendiri karena memperebutkan wanita mulai hilang.
".... hari ini aku seperti baru sadar dari mimpi buruk. Kupeluk dan kubelai-belai rambut panjang kekasihku, kutatap wajahnya yang sudah menjadi tengkorak. Kulit daging sudah habis, hanya tinggal tulang-tulangnya saja. Akan tetapi apa bedanya? Rangka Li Lian, kekasihku.... aku makin lemah akan tetapi dalam kelemahan ini aku mendapatkan hawa ajaib memasuki tubuhku. Kalau kupergunakan hawa itu. sekali tusuk saja jari-jariku memasuki batu-batu karang yang paling keras. Sekali mengibaskan tangan, hawa pukulan membuat batu karang hancur berantakan! Aku tak dapat hidup lagi, akan tetapi ilmu ini sia-sia saja kalau kubawa mati...."
Pada lembar terakhir, tahulah Lee Ing bahwa coretan-coretan berupa gambar dan tulisan pada dinding itu adalah buatan Bu-beng Sin-kun dan bahwa rangka laki-laki yang masih berdiri tegak itupun adalah rangka Bu-beng Sin-kun.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lee Ing sudah berada di kamar maut itu. la mencari-cari lagi dan menemukan segumpal besar rambut yang halus hitam dan panjang. Rambut ini masih berbau sedap dan terlilit pada lengan tengkorak Bu-beng Sin-kun. Selain itu. juga Lee Ing menemukan bungkusan kecil merah yang terisi bubuk berwarna hijau. Pada bungkusan ini terdapat tulisan: " Bubuk Obat Mati Dua Hari". Entah untuk apa, hampir tanpa ia sadari Lee Ing menyimpan bungkusan merah ini.
Kemudian ia lalu mulai memperhatikan lukisan-lukisan pada dinding dari bagian pertama dekat pintu. Alangkah girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang terlukis di situ adalah ilmu silat yang pernah ia pelajari dari ayahnya, walaupun hanya beberapa jurus saja. Tak salah lagi, ayahnva lelah mempelajari ilmu silat luar biasa di dalam kamar ini. Akan tetapi mengapa ayahnya menjadi gila? Teringat ia akan kata-kata terakhir dari Bu-beng Sin-kun di dalam buku catatannya.
".... dia yang berjodoh boleh mewarisi ilmu silatku ini. Akan tetapi jangan dia yang terkena penyakit rindu seperti aku mempelajarinya. Ilmu silat ini adalah Ilmu Silat Si Gila Merindu. Aku takkan menjadi segila ini kalau dulu sudah menamatkan ilmu silat ini. yang sebagian besar kudapatkan di samping mayat kekasihku. Aku takkan kalah oleh nafsu. Hanva dia yang bersih dari nafsu dan cinta berahi boleh mempelajari ilmu ini..."
"Aku tahu sekarang." pikir Lee Ing. "ayah memasuki gua ini dalam keadaan rindu kepada ibu. dalam keadaan berduka dan lemah batinnya. Tanpa disengaja ayah mempelajari ilmu ini dan sebelum tamat, ayah sudah terpengaruh pikirannya. Keadaannya yang sengsara, ditambah rindu, dendam kepada ibu, ditambah lagi kehancuran hatinya karena dianggap pemberontak padahal dia seorang patriot besar, lalu terutama sekali ditambah sifat pelajaran ilmu silat yang mengandung pengaruh aneh, telah membuat ayah tidak kuat dan menjadi gila...! Sayang sekali.....!"
122
Kalau bukan seorang yang berhati besar dan mempunyai nyali besar di samping kecerdikan dan ketekunan, takkan sanggup mempelajari ilmu silat hanya dari lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan di dinding tanpa ada orang yang membimbingnya. Dipandang sepintas lalu saja memang ilmu silat itu seperti ilmunya orang gila. Mana ada ilmu silat yang menurut gambarnya, si murid harus duduk menangis, membanting-banting kaki, mengurut-urut dada dan menjambak-jambak rambut seperti orang gila menangisi sesuatu? Malah ada yang diharuskan tertawa sambil menangis.
Akan tetapi, setelah satu tahun belajar di situ, bukan main girangnya hati Lee Ing. Semua lukisan itu bukan lelucon, juga bukan perbuatan gila, karena di situ mengandung sifat menyerang yang dilakukan dengan Iweekang luar biasa. Memang agaknya ada hawa ajaib di dalam kamar itu bagi orang yang mempelajari ilmu silat. Entah itu disebabkan oleh hawa dua rangka yang tadinya orangnya mati dan membusuk sampai menjadi rangka di situ, entah karena hawa sinkang yang ditinggalkan oleh Bu-beng Sin-Kun, akan tetapi melatih Iweekang di kamar ini benar-benar mendatangkan kemajuan yang luar biasa. Mungkin juga makanan merupakan sebab penting. Setiap hari Lee Ing makan daging ikan yang bentuk badannya seperti ular, kepalanya seperti kepala singa dan ada dua tanduknya.
Ikan-ikan sebesar lengan ini yang terbanyak bisa ia dapatkan di samping ikan-ikan lain. Akan tetapi, daging ikan aneh ini yang paling gurih dan enak maka Lee Ing selalu menangkap ikan-ikan ini. Seperti dugaannya, tidak sukar mendapatkan ikan di dalam gua. Di dekat kamar ular itu terdapat banyak lubang-lubang besar dan air laut sering kali memasuki tempat-tempat ini. membawa ikan-ikan dan meninggalkan ikan ikan itu di situ, tinggal
menangkapi saja.
Dengan penuh ketekunan Lee Ing setiap hari mempelajari ilmu silat peninggalan Bu-beng Sin-kun dan makin lama menjadi makin bersemangat
dan gembira karena mendapat kenyataan bahwa ia telah menemukan serangkaian ilmu-ilmu kesaktian yang luar biasa. Selain ilmu silat yang gerakan-gerakannya aneh dan lucu namun memiliki daya hebat, juga di situ terdapat latihan-latihan Iwee-kang, peraturan bernapas, membersihkan darah dan tulang dan di pojok ruangan terdapat lukisan lukisan yang merupakan pelajaran llmu Tiam-hiat-hoat (Menotok Jalan Darah) yang luar biasa pula.
Memang tidak mudah mempelajari itu semua tanpa petunjuk seorang guru. Akan tetapi rangka Bu-beng Sin-kun yang berdiri di dalam ruangan ini dianggap guru oleh Lee Ing. Tiap sekali ia menghadapi kesukaran, tidak dapat menangkap arti sebuah jurus silat, ia berlutut di depan rangka Bu-beng Sin kun dan berdoa,
"Suhu, teecu mohon petunjuk suhu......" Dan ia lalu bersamadhi di depan rangka ini sampai pikiran dan hatinya menjadi tenang dan terang. Biasanya setelah cukup lama ia bersamadhi lalu menujukan semua pikiran, dicurahkan kepada jurus yang sulit itu, akan terbukalah mata hatinya dan ia akan dapat memecahkan kesulitan mempelajari jurus itu.
Dua tahun kemudian pelajarannya sudah sampai di tengah-tengah dinding ruangan itu. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali ia sudah memasuki kamar yang masih gelap Dinyalakannya lilin dan ditaruhnya di atas batu dekat bangku panjang di mana tergolek rangka manusia yang dahulu adalah si gadis Li Lian yang cantik jelita. Mulailah Lee Ing berlatih, membaca semua catatan yang tertulis di atas dinding lalu mempelajari gambar-gambarnya. la meniru semua gerakan gambar yang terlukis di situ, dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.
123
Sehari penuh ia belajar, lupa untuk mengisi perutnya, karena yang ia pelajari itu adalah bagian-bagian yang amat menarik hati, la belajar dari pagi gelap, sampai datang malam gelap pula. Dinyalakannya lagi lilin dan Lee Ing melanjutkan latihannya. Sudah habis sebaris lukisan ia pelajari akan tetapi ia tertumbuk kepada kesulitan besar Bangku rangka itu terletak merapat dinding, menutupi sebagian dari pada tulisan keterangan tentang ilmu yang sedang dilatihnya. Betapapun ia memeras otak, tetap saja ia gagal menangkap arti gambar yang kelihatan di dekat bangku rangka itu. Akhirnya Lee Ing takluk dan ia duduk mengaso di atas batu.
"Besok terpaksa harus kubongkar meja itu. Akan tetapi rangka Li Lian bagaimana? Tidak ada jalan lain, paling baik kukuburkan," pikir Lee Ing. la lalu meninggalkan kamar itu, kembali ke kamarnya untuk beristirahat dan makan.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lee Ing sudah kelihatan bekerja keras, menggali lubang di lantai kamar maut. Cara gadis ini menggali lantai yang terdiri dari batu karang dan pasir, sungguh luar biasa sekali. Gadis ini tidak mempunyai senjata, hanya menggunakan ujung gagang pit ayahnya. Dengan baja kecil ini ia mencokeli batu-batu karang dengan amat mudah, seakan-akan ia menggunakan cangkul mencongkeli tanah lempung berlumpur saja! Semua ini tidak terasa oleh Lee Ing sendiri yang merasa biasa dan tidak ada keanehan apa-apa.
Akan tetapi kalau orang lain yang menyaksikannya, tentu orang akan menjadi heran dan kagum sekali. Tanpa memiliki tenaga dalam yang hebat, tak mungkin orang akan dapat menggali lubang pada lantai sekeras itu, apa lagi kalau hanya menggunakan kuku-kuku jari dan dibantu oleh sebatang gagang pit baja! Tanpa ia sadari sendiri, dalam dua tahun ini Lee Ing telah memperoleh kemajuan yang langka dan sukar dipercaya.
Setelah menggali lubang cukup dalam. Lee Ing menghampiri meja panjang atau bangku itu, lalu berkata, "Li Lian cici. harap kau tidak menganggap aku lancang dan kurang ajar. Selain kau dan bangku ini menghalangi coretan dinding, juga kurasa lebih baik kalau rangkamu ini ditanam, bukan? Asal dari tanah kembali menjadi tanah. Kau mengasolah tenang-tenang cici Li Lian yang buruk nasib."
Ia menggunakan tangan kanan memegangi bangku, tangan kirinya dengan jari tangan diluruskan semua mengibas ke arah kaki bangku dan.... "krakk!" setiap kali ia mengibaskan tangan kirinya, sebuah kaki bangku batu remuk dan patah, empat kali ia mengibaskan tangan kirinya, empat buah kaki bangku itu hancur, tinggal bangkunya Saja yang masih ia pegang. Kemudian dengan hati-hati Lee Ing memondong bangku batu yang kini merupakan papan batu itu, membawanya ke lubang yang digalinya, lalu dimasukkan perlahan-lahan. Rangka Li Lian dikubur tidak di dalam peti melainkan di atas papan batu!
Dengan khidmat Lee Ing lalu berlutut di depan rangka Bu-beng Sin-kun dan berkata, "Suhu, teecu minta perkenan mengubur sisa jenazah Li Lian cici, harap suhu menyetujui dan tidak marah kepada teecu."
Setelah itu mulai ditimbunlah lubang itu, mula-mula dengan pasir sampai rangka itu tertimbun pasir dan tidak kelihatan lagi, baru ia menggunakan pecahan-pecahan batu karang. Karena tanah galian yang terdiri dari pasir dan batu karang itu dikembalikan ke dalam lubang tidak sepadat tadi, apa lagi dalamnya sudah ada papan batu dan rangka, tempat itu kini merupakan gundukan batu karang, makam dari rangka manusia yang dikenal oleh Lee Ing dalam tulisan Bu-beng Sin-kun sebagai seorang gadis bernama Li Lian.. Benar saja, setelah bangku panjang itu tidak ada lagi nampaklah tulisan-tulisan kecil yang jelas yang menerangkan semua gerak-gerik ilmu silat dalam lukisan yang tadi membingungkan Lee Ing.
Akan tetapi alangkah terkejut hati Lee Ing ketika ia membaca tulisan lain yang berbunyi:
124
"Kalau muridku sudah belajar sampai di sini dan terpaksa membongkar tempat tidur Li Lian, dia harus mengubur jenazah Li Lian di lantai ruangan ular."
Lee Ing berdiri bengong, lalu memandang ke arah gundukan yang menjadi makam Li Lian. Ia telah mengubur rangka Li Lian itu di lantai kamar ini, karena dia tidak tahu akan pesan Bu-beng Sin-kun. Sialan benar, dia telah bersusah payah menggali lubang dan mengubur, apakah dia harus menggalinya kembali untuk dipindahkan ke kamar ular? Mengapa ia harus memenuhi pesan gila ini? Kalau ia tidak memindahkan rangka itu, siapa yang akan tahu! Bagaimanapun juga, dia sudah terhitung baik mau mengubur rangka itu.
Akan tetapi suara hati Lee Ing berbisik lain.
Sungguhpun suhu sudah meninggal dan aku selama hidupku belum pernah bertemu dengan suhu, namun seorang guru tetap seorang guru, baik masih hidup maupun sudah meninggal. Pesannya tetap harus dijunjung tinggi, hati ini tetap harus berbakti dan setia. Suara hati ini menggugah nurani Lee Ing. Biarpun ia tadi sudah bekerja setengah hari dan sudah lelah, namun ia memaksa diri, menggali lagi kuburan itu dengan hati-hati sekali, la khawatir kalau-kalau rangka itu sudah rusak terpendam dan tertimbun batu-batu karang yang berat.
Baiknya sebelum ia tadi menimbunnya dengan batu karang, lebih dulu ia menggunakan pasir sehingga setelah dibongkar, ternyata rangka itu masih baik, tetap terlentang tenang di atas papan batu.
"Kau tunggulah sebentar, cici Li Lian. Biar aku menggali tempat mengaso untukmu di kamar ular, sesuai dengan pesan suhu, orang yang mencintaimu sampai dunia kiamat!"
Lee Ing berlari-lari menuju ke kamar ular. Sering ia memasuki tempat ini, untuk melihat dua ekor ular besar itu dan melihat pedang yang luar biasa indahnya. Kalau menurutkan nafsu dan pikirannya, ingin ia segera mengambil pedang itu untuk berlatih. Namun hatinya mencegahnya, biarpun di dalam Gua Siluman itu tidak terdapat lain manusia kecuali dia dan dua rangka itu, tetap ia harus berlaku jujur dan adil, la takkan mau mengambil "hadiah" pedang ini sebelum membebaskan dua ekor ular seperti yang diajukan sebagai syarat oleh Bu-beng Sin-kun. Dua ekor ular itu mendesis-desis marah melihat Lee Ing memasuki kamar itu. Lee Ing tertawa.
"Selamat siang, paman dan bibi ular. Aku datang bukan untuk membebaskan kalian karena terus terang saja padaku belum ada keberanian itu. Aku datang hanya untuk menggali lubang di lantai kamar ini untuk mengubur rangka cici Li Lian."
Tanpa memperdulikan lagi kepada dua ekor ular itu Lee Ing mulai menggali lantai kamar ular itu. Ternyata lantai di sini lebih keras lagi dan amat kering, tidak seperti lantai di kamar belajar. Namun Lee Ing tidak menjadi jengkel karenanya, terus menggali tak kenal lelah, menggunakan pit baja dan jari-jari tangannya. Setelah menggali batu-batu karang sedalam dua kaki, ia menjadi girang karena di bawahnya adalah pasir yang lunak dan kering.
"Hmmm," pikirnya, "agaknya suhu sudah tahu bahwa tanah di sini lebih baik maka minta supaya jenazah cici Li Lian dipendam di sini." la menggali terus dan tiba-tiba ketika tangan kanannya menggaruk pasir, jari-jari tangannya meraba sesuatu yang lunak. Ia mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah kantung kulit kecil, di luarnya terdapat guratan-guratan berupa huruf-huruf yang berbunyi : "Tiga biji Sian-le untuk muridku."
125
Lee Ing tertawa dan membuka kantung itu, dan ternyata di dalamnya berisi tiga biji buah yang menyerupai buah le. sudah mengeras akan tetapi baunya wangi.
"Suhu aneh-aneh saja, aku seperti anak kecil diberi hadiah buah. Hi-hi-hi. buahnya sudah sekeras batu. Akan tetapi wangi sekali.......!" la mengantongi tiga biji buah kekuningan itu lalu melanjutkan pekerjaannya.
Setelah lubang itu cukup dalam, ia Ialu memindahkan rangka berikut papan batunya, dan menguburnya ke dalam lubang galian baru ini. Setelah selesai barulah hatinya lega, akan tetapi sementara itu hari telah terganti malam dan ia merasa lelah sekali Sambil rebahan di atas pembaringan batu di kamarnya, Lee Ing mengingat-ingat pelajaran yang ia latih kemarin. Tak disengaja tangannya meraba kantung baju dan dikeluarkannya tiga biji buah le itu.
"Aduh enaknya baunya, harum sekali," katanya dan tiba-tiba ia merasa amat lapar. Memang sehari kerja keras, belum makan, sekarang mencium bau buah yang harum. Sudah dua tahun lamanya setiap hari hanya makan daging ikan, jangankan merasai buah, melihat pun tak pernah. Sekarang melihat buah, yang berbau enak itu, timbul seleranya. Dimasukkannya sebiji buah itu ke dalam mulut. Buah itu memang keras membatu, akan tetapi Lee Ing menggerakkan gigi menggigit, buah itu menjadi pecah! Di luar kesadarannya, Lee Ing sekarang bukan Lee Ing dulu lagi.
Kekuatan sakti telah mengeram di dalam tubuhnya, bahkan otot-otot yang menggerakkan mulut dan gigi-giginya amat kuat sehingga sekali gigit buah yang keras itu menjadi pecah, la mengunyah dan buah sebesar telur ayam itu hancur. Rasanya manis dan baunya harum. Ketika ia menelannya, terasa dada dan perutnya dingin seperti kemasukan salju!
"Enak..!" Lee Ing tertawa-tawa seorang diri dengan senang. Lalu sekaligus dimakannya pula dua biji buah yang masih ada. Sebentar saja tiga buah yang disebut buah sian-le (buah le dewata) oleh Bu-beng Sin-kun itu lenyap ke dalam perut Lee Ing.
Tiba-tiba rasa dingin pada dada dan perutnya tadi makin menghebat sampai tubuh Lee Ing menggigil. Cepat gadis ini bersila dan mengerahkan lweekangnya untuk melawan dan mengusir hawa dingin ini. Akan tetapi bukan main cemasnya ketika makin dilawan, tenaga yang mengandung
hawa dingin ini makin menghebat sampai tenaga Iweekangnya sendiri menjadi buyar dan kalah! Dinginnya tak tertahankan lagi.
Lee Ing dengan tubuh menggigil cepat-cepat membuat api. Sebentar saja ia telah menghidupkan api unggun yang biasa ia pakai untuk membakar ikan dan mengusir dingin dan nyamuk. Ia duduk di dekat api unggun ini namun tetap kedinginan. Akhirnya Lee Ing melompat ke pembaringannya, tubuhnya menggigil dan ia mengeluh.
"Aduuuhhh, suhu, mengapa begini......?" Ia bergulingan di atas pembaringannya, rasa dingin membuat ia serasa akan membeku. Ia tidak tahu bahwa buah yang ia makan tadi semacam buah yang langka terdapat di dunia ini. Memang Bu-beng Sin-kun menghendaki supaya tiga butir buah itu dimakan sekaligus. Akan tetapi, setelah terpendam seratus tahun lebih, buah itu khasiatnya menjadi berlipat-lipat. Khasiat buah ini adalah untuk mencuci darah dan membangkitkan pusat hawa dalam tubuh yang bersembunyi di dalam pusar, juga menguatkan tulang menyuburkan sumsum.
Lee Ing yang sekaligus makan tiga butir, setelah buah ini khasiatnya berlipat ganda, sama halnya dengan makan enam atau sembilan butir dan khasiatnya buah ini sedemikian hebatnya sehingga berubah seperti racun jahat. Saking kuatnya pengaruh buah obat ini membangkitkan tenaga di pusat, sampai hawa dan tenaga Iweekang yang sudah dilatihnya itu buyar semua dan kalah kuat.
126
Setelah menggeletak tak berdaya lagi dan mukanya sudah membiru saking dinginnya, Lee Ing menyerahkan diri kepada nasib. Ia masih berusaha untuk melompat bangun dan berlatih silat supaya tubuhnya panas, akan tetapi semua otot-ototnya kaku dan ia rebah lagi di atas pembaringannya. Aneh, setelah ia tidak mengadakan perlawanan dan diam saja berbaring, melemaskan semua urat-uratnya, rasa dingin berangsur-angsur hilang, bahkan terganti oleh rasa hangat yang menyenangkan.
"Ah, enak sekali... aduh nyaman badanku..."
Lee Ing tertawa-tawa senang dan dari atas pembaringan ia meniup ke arah api unggun supaya api itu padam karena sekarang tidak ia perlukan lagi. Akan tetapi, ujung api unggun hanya bergerak sedikit dan tidak menjadi padam.
Wajah yang tadinya berseri tersenyum itu tiba-tiba berkerut dan malah agak pucat. Sekali lagi ia meniup dan kini bahkan mengerahkan tenaga di dalam perut, namun tetap saja api hanya bergoyang sedikit, sama sekali tidak padam.
"Celaka, ke mana larinya tenagaku?" pikir Lee Ing. Biasanya, jangankan dari jarak tidak begitu jauh, biar lebih jauh lagi ia sanggup meniup padam
api unggun itu sekali tiup. Ia terpaksa turun dan menggunakan pasir memadamkan api.
Tiba-tiba, seperti serangan hawa dingin tadi, hawa hangat di tubuhnya menjadi makin panas. Makin lama makin panas. Peluh memenuhi muka dan leher Lee Ing, juga pakaiannya sudah basah semua. Gadis ini gelisah, menggaruk sana menggaruk sini karena rasa panas dan gerah mengakibatkan gatal-gatal.
"Aduh celaka, mengapa begini.....?" la mulai mencopoti pakaiannya, tadinya hanya pakaian luar saja agar tidak begitu gerah, akan tetapi rasa panas makin menghebat sampai akhirnya ia mencopoti dengan paksa semua pakaiannya. Ia melihat seluruh tubuhnya merah sekali dan panasnya bukan main. Napasnya menjadi sesak, matanya menjadi kabur dan tak dapat ditahan lagi ia rebah di atas pembaringan dan pingsan.
Proses yang hebat dan aneh sekali sedang terjadi di dalam tubuh gadis itu. Hawa Im dan Yang di dalam tubuhnya, hawa dingin dan panas, bergolak semua sebagai akibat dari bangkitnya pusat tenaga sakti di tubuh. Hawa Im dan Yang ini saling kuasa-menguasai, kadang-kadang hawa Im menang membuat tubuh Lee Ing kedinginan seperti direndam di dalam salju, kadang-kadang hawa Yang menang, membuat tubuhnya panas seperti dibakar. Kedua hawa ini saling dorong dan seakan-akan mendapat gemblengan dari dalam, menjalar sampai ke ujung-ujung jari.
Keadaan Lee Ing seperti orang terserang penyakit demam panas. Di dalam pingsannya ia mengigau. kadang-kadang kepanasan kadang-kadang kedinginan. Sehari semalam Lee Ing berada dalam keadaan seperti ini dan hanya karena Thian belum menghendaki dia tewas saja yang membuat Lee Ing masih dapat hidup sampai saat ini.
Pada hari ke dua. pagi-pagi sekali Lee Ing siuman dari pingsannya. Ia merasa dingin dan sejuk dan alangkah herannya ketika melihat bahwa ia sedang rebah telanjang di atas pembaringan batu. Pakaiannya mawut dan berserakan di lantai.
"Apa aku sudah gila?" pikir Lee Ing dengan perasaan jengah sambil melompat dari atas pembaringan. Akan tetapi segera ia berseru kaget karena tubuhnya mencelat jauh dari pada tujuannya ketika melompat turun tadi. Dalam melompat ia hanya mempergunakan tenaga biasa saja, akan tetapi entah tubuhnya yang berubah menjadi ringan sekali ataukah tenaganya yang terlampau besar, ia merasa tubuhnya seperti dilemparkan oleh tenaga raksasa ketika melompat tadi.
127
"Heran," pikirnya sambil cepat mengambil pakaiannya dan memakai pakaian itu. Setelah itu ia lalu mencoba lagi dan dengan girang mendapat kenyataan bahwa baik Iweekangnya maupun ginkangnya memperoleh kemajuan yang luar biasa. Malah demikian hebat tenaga di dalam tubuh itu sampai hampir ia tak dapat menguasainya. Hal ini memerlukan latihan-latihan untuk dapat membiasakan diri dengan keadaan baru ini.
Lee Ing lalu berlari ke dalam kamar maut dan berlutut di depan rangka Bu-beng Sin-kun untuk menghaturkan terima kasih atas pemberian hadiah tiga biji buah sian le itu. Semenjak hari itu. Lee Ing berlatih lagi dengan lebih tekun dan giat. Untuk latihan pedang ia mempergunakan pit peninggalan ayahnya Betapapun rajinnya, tetap saja memerlukan waktu dua tahun lagi untuk menamatkan latihan-latihannya.
Hanya jurus-jurus terakhir dari lukisan-lukisan dinding itu membuat ia bingung. Sampai sebulan ia mempelajarinya namun tetap ia tak dapat menemui kuncinya. Dianggapnya jurus ini tidak teratur. Setelah payah mempelajari, akhirnya Lee Ing tak sanggup lagi dan menganggap bahwa gurunya sudah terlampau lelah atau pikun ketika melukis jurus-jurus terakhir ini. Maka ia lalu mengambil keputusan untuk mencoba kepandaiannya.
Pergilah Lee Ing ke dalam kamar ular. Dua ekor ular itu. seperti empat tahun yang lalu, masih nampak liar dan mendesis desis menakutkan ketika melihat gadis itu memasuki kamar.
"Paman dan bibi ular, tenanglah. Aku datang untuk membebaskan kalian dari hukuman." Dengan berani Lee Ing maju mendekat. Ular jantan yang lebih galak cepat membuka mulutnya yang lebar. Kepala Lee Ing kiranya akan dapat masuk sekali telan. Giginya runcing-runcing seperti gergaji besar, matanya bersinar-sinar menakutkan. Namun Lee Ing tetap tenang, tersenyum-senyum sambil melangkah dekat, la memperhatikan dengan seksama.
Kalau ia membuka belenggu yang melilit leher ular itu begitu saja, tentu tangannya akan tergigit. Cepat ia melompat ke atas batu karang di depan ular jantan. Kepala ular meluncur maju dan menggigitnya. Dengan gerakan ringan Lee Ing miringkan tubuh dan mengulur tangan hendak meraih belenggu. Akan tetapi kepala ular itu bergerak dan lehernya melebar, menghantam ke arah pinggang Lee Ing dari samping. Lee Ing terpaksa melompat mundur dan turun kembali.
"Sukar juga...." pikirnya, la mencoba lagi.
Kini ia melompat tinggi ke atas melampaui kepala ular. Ketika ular itu membalikkan kepala dan menyambar dengan mulut terbuka lebar, Lee Ing menyampok dengan tangannya dari samping, perlahan saja. Gadis ini memang tidak berniat mencelakakan binatang itu. Sampokannya yang amat perlahan itu cukup kuat, membuat ular itu terpental mundur, Lee Ing menggunakan kesempatan itu untuk memegang belenggu dengan kedua
tangan, mengerahkan tenaga dan... "trakk!" belenggu ular jantan itu putus!
Dasar binatang, mana tahu bahwa orang sedang menolongnya? Ular jantan menjadi marah karena sampokan tadi, kini setelah tubuhnya bebas ia makin leluasa bergerak. Cepat sekali tubuhnya menggeliat bergerak dan di lain saat kepalanya sudah menyambar leher Lee Ing dan ekornya yang kuat dan besar sudah bergerak pula menyambar pinggang untuk dililit.
Lee Ing maklum akan bahayanya kalau sampai kena digigit atau dililit. Bagaikan sinar kilat ia menghindarkan diri, melompat ke tengah kamar. Ular jantan mengejarnya! Khawatir kalau-kalau pedang dan sarungnya itu rusak karena amukan ular. Lee Ing menyambar pedang, lalu memasukkan ke dalam sarung pedang dan menyelipkannya di pinggang. Kini ia menanti datangnya serangan ular
128
jantan. Ular itu merayap keluar dari kubangan dan Lee Ing kagum melihat besar dan panjangnya. Karena seringkali melihat, kini ia tidak takut lagi.
"Paman ular, kau benar-benar tak tahu terima kasih!" ia mencela ketika ular itu menyerangnya lagi dengan ekor yang disabetkan ke depan. Lee Ing melompat dan ekor itu menyabet batu karang yang menjadi hancur. Lee Ing meleletkan lidah.
"Aduh, kau hebat juga." Melihat besarnya tenaga sabetan ekor, gadis itu ingin sekali mencoba dan mengadu tenaga. Ia menanti sampai ular itu menyabet lagi dengan ekornya. Ia mengumpulkan tenaga dan menangkis sabetan ekor itu dengan lengan kiri.
"Dukk!" Ekor dan lengan bertemu keras sekali, akibatnya ekor ular itu terpental kembali, sedangkan Lee Ing hanya merasakan guncangan hebat saja, namun kuda-kudanya tidak bergeming.
"Aha, tidak berapa hebat tenagamu, paman ular," katanya gembira. Akan tetapi ia tidak sempat untuk mengejek karena ular itu sudah menyambar lagi, kini dengan kepalanya. Lee Ing mencelat ke samping lalu melompat ke atas punggung ular. Ekor ular itu menyambar, gadis itu menangkap ekor tersebut dan terus ditekuk ke atas, mendekati kepala. Dengan berani gadis ini melebatkan ekor itu pada leher ular beberapa kali lalu diikatkan seperti orang mengikat leher karung saja! Sungguh lucu kelihatannya ular itu.
Lehernya dililit dan diikat oleh ekornya sendiri, la menggeliat-geliat, akan tetapi makin ia perkeras lilitan nya. makin tercekik lehernya. Agaknya binatang ini tidak tahu bahwa yang melilit dan mencekik lehernya adalah ekornya sendiri, juga tidak tahu bahwa ekornya bukan melilit pinggang gadis yang ramping itu, melainkan melilit leher sendiri.
Lee Ing tertawa. Selagi ular itu berdaya melepaskan diri dari keadaan yang lucu dan aneh itu, Lee Ing sudah melompat ke ular betina. Seperti tadi, ia disambut oleh moncong yang terbuka lebar hendak menggigitnya. Lee Ing mengelak dan moncong itu menggigit angin. Sebelum mulut yang kini tertutup itu terbuka kembali, lengan kiri Lee Ing sudah memeluknya sehingga mulut itu kini dijepit.
"Bibi yang berani, terpaksa aku harus menahan dulu mulutmu yang cerewet dan suka terbuka saja." Lee Ing berkata tertawa-tawa, lalu tangan kanannya dimiringkan dan disabetkan ke arah rantai yang membelenggu ular ini. Sekali tebas saja rantai itu patah. Lee Ing melepaskan ular ini dan melompat. Ternyata ular jantan sudah berhasil melepaskan diri. Biarpun binatang-binatang ini tidak tahu terima kasih, agaknya mereka tahu akan arti takut.
Tanpa banyak aksi lagi keduanya lalu merayap keluar dari kamar itu melalui kubangan dan lubang. Kebetulan air laut yang dilempar oleh ombak memasuki kubangan itu dan di lain saat dua ekor ular itu telah kembali ke tempat asalnya, yaitu di dasar laut. Memang dua ekor ular raksasa itu dahulunya ditangkap oleh Bu-beng Sin-kun ketika mereka terbawa ombak masuk ke dalam gua itu melalui lubang lalu dibelenggu oleh Bu-beng Sin-kun. Itu adalah ular-ular laut yang jarang muncul dan jarang pula dilihat orang.
Setelah membebaskan dua ekor ular itu. baru Lee Ing berani mencabut pedang dan mengamat-amatinya. Pedang ini tipis sekali dan ternyata dapat digulung seperti orang menggulung sutera.
"tentu saja cara menggulungnya harus menggunakan tenaga Iweekang. Pendeknya sebuah pedang yang tajam indah dan dapat digulung. Lee Ing mencobanya. Diayunnya pedang yang ringan seperti bulu itu, dan sekali sabet saja rantai-rantai yang tadi membelenggu ular terputus-putus seperti rambut dipotong. Ia girang sekali, lalu melibatkan pedang pada pinggangnya. Pedang itu dipakai
129
seperti orang memakai sabuk oleh Lee Ing! Lee Ing berlutut kembali di depan rangka Bu-beng Sin-kun.
"Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas warisan ilmu dan pedang. Teecu tak sampai hati meninggalkan suhu dalam keadaan begini. Maafkanlah teecu yang mengambil keputusan untuk mengubur rangka suhu di sebelah rangka cici Li Lian."
Kemudian ia bangun berdiri dan hendak mengangkat rangka itu. Tiba-tiba ia melihat kedudukan kaki tangan rangka itu. Baru sekarang ia memperhatikan dan ia mendapatkan sesuatu yang aneh. Kaki dan tangan itu berada dalam kedudukan pasangan jurus yang luar biasa, tentu bukan tidak sengaja Bu-beng Sin-kun mati dalam keadaan berdiri seperti itu. Lee Ing membatalkan niatnya mengangkat rangka itu dan melangkah mundur, memperhatikan kedudukan kaki tangan itu lalu menirunya. Wajahnya berseri dan ia tertawa. Orang akan menganggapnya gila, tertawa-tawa di depan sebuah rangka!
"Ha-ha, betul sekali! Terima kasih, suhu. Inilah kuncinya! Alangkah bodohku, tidak melihat selama ini." Setelah meniru kedudukan kaki tangan ini, lengkaplah pelajarannya. Itulah jurus terakhir dari ilmu silat tangan kosong yang merupakan puncak dari pelajaran-pelajaran itu, jurus yang menurut corat-coret itu diberi nama Lo-thian-tong-te (Mengacau Langit Menggetarkan Bumi).
Setelah mendapatkan kunci rahasia pukulan terakhir dari ilmu silat warisan Bu-beng Sin-kun yang disebut Thian-te-kun (Ilmu Silat Langit Bumi) ini, Lee Ing lalu mengangkat rangka gurunya dan menguburnya di dalam kamar ular, di sebelah kuburan Li Lian. Kemudian ia keluar dari lorong rahasia yang dulu-ia masuki.
Tidak seperti dulu ketika masuk, kini jalan keluar itu bagi Lee Ing mudah sekali. Tanpa disadari dan dirasainya, kepandaiannya sudah menjadi hebat dan ginkangnya sudah mencapai tingkat yang sukar diukur lagi. Inilah hasil dari latihan samadhi dan membangkitkan tenaga dalam yang luar biasa, yang membuat Lee Ing dapat membuat tubuhnya serasa seringan bulu dan dapat pula membuat tubuhnya serasa seberat gunung karang! la berlompat-lompatan dan sebentar saja sudah keluar dari gua itu dan tiba di bukit batu karang di tepi pantai yang amat curam itu.
Matanya menjadi silau dan terpaksa Lee Ing berdiri memejamkan kedua mata. Tak tahan ia menghadapi sinar matahari yang demikian terangnya. Selama empat tahun ia tidak pernah melihat sinar matahari sepenuhnya seperti ini. Lambat-laun matanya menjadi biasa juga dan ia membukanya perlahan. Teriakan bahagia terlompat dari kerongkongannya ketika ia melihat pemandangan alam yang sudah sering kali terlihat olehnya di alam niinipi. Laut terbentang luas di kakinya, di atas nampak menjulang tinggi batu-batu karang. Tempat itu amat berbahaya, namun bagi Lee Ing bukan apa-apa, bahkan yang nampak hanya keindahannya saja.
Sambil berlompatan dari puncak batu karang ke puncak lain, sedikitpun tidak merasa sakit ketika kulit kakinya yang sudah jebol sepatunya itu menginjak batu karang yang runcing, Lee Ing mulai merayap naik. Sepatunya jebol, pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut tidak karuan, mukanya amat pucat karena jarang bertemu sinar matahari. Orang tentu akan menganggapnya seorang gadis berotak miring.
Namun Lee Ing tidak merasa akan ini semua. Ia terus berlompatan bagaikan seekor kera, dan sebentar saja ia sudah tiba di atas, keluar dari daerah berbahaya itu. Teringat olehnya betapa dulu ia diserang oleh Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio dan ditolong oleh Siok Bun. Teringat akan hal ini ia tiba-tiba tertawa. Kalau ia ingat-ingat, lucu juga dulu itu, bagaimana ia mempermainkan Hui-ouw-tiap dan mengaku seorang gadis Mongol.
130
Waktu berlalu amat cepatnya, sampai-sampai hal itu seperti baru terjadi kemarin saja. Ketika itu usianya baru lima belas tahun, sekarang ia sudah berusia sembilan belas tahun, namun Lee Ing tidak merasa akan hal ini. la sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang bertubuh ramping, berwajah cantik jelita, akan tetapi iapun tak sadar akan hal ini.
Dunia seperti baru bagi Lee Ing. Burung terbang saja merupakan tontonan menarik baginya. Ia duduk di atas sebuah batu, melihat burung laut terbang melayang dengan kagum, matanya bersinar-sinar wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum. Ombak laut yang membuih juga merupakan pandangan yang sedap dipandang, tidak membosankan. Apa lagi pohon-pohon hijau yang kelihatan dari situ, membuat Lee Ing termangu memandangnya.
"Aduh indahnya... aduh indahnya...!" berkali-kali ia berseru keras dan menengok ke sana ke mari. Melihat semacam rumput yang mengeluarkan kembang kuning kecil sekali, Lee Ing tertawa dan berlutut mengamat-amati kembang itu yang dianggapnya amat indah menakjubkan. Padahal dahulu kembang macam itu takkan ia hiraukan.
"Bagus sekali.. ." ia memuji.
"Sialan, tidak bertemu siapa-siapa, yang ada hanya anak gila...!" tiba-tiba terdengar suara orang menggerutu.
Lee Ing melompat bangun dan menengok. Matanya terbelalak lebar, girang dan kagum. Seorang wanita cantik setengah tua berdiri di depannya. Siapa lagi kalau bukan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio! Lee Ing tertawa dan mengucek-ucek matanya, seperti tidak percaya pandang matanya sendiri.
"Kau...? Kau masih..... masih di sini...?"
Karena sudah empat tahun berdiam seorang diri di dalam gua tak pernah bicara, suara Lee Ing menjadi kaku dan biarpun otaknya sudah penuh kata-kata, mulutnya terasa sukar mengeluarkan kata-kata itu.
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio mengerutkan keningnya. "Anak gila, pergi kau dari sini. Jangan berani kau kurang ajar Aku sedang tak senang, kalau kau membikin aku marah, bisa kau kulempar ke dalam jurang ini!"
Lee Ing tertawa makin senang. Suara yang keluar dari mulut Yap Lee Nio terdengar amat merdu Seperti musik! Sudah lama ia rindu akan suara orang, dan sekarang mendengar nyonya itu bercakap-cakap, biarpun merupakan makian marah, ia senang sekali mendengarnya.
"Bicara lagi, bicara terus...." mintanya sambil memandangi nyonya itu dari sanggul rambutnya yang teratur rapi sampai pakaiannya yang indah dan sepatunya yang baru.
Hui-buw-tiap Yap Lee Nio memang sedang marah. Seperti diketahui, dulu ketika ia bertemu dengan Lee Ing, tahu bahwa gadis itu puteri Souw Teng Wi musuh besarnya, ia segera turun tangan hendak membunuhnya. Akan tetapi muncul Siok Bun menolong Lee Ing. Karena segan bermusuhan dengan putera Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tidak mau melanjutkan pertempuran itu, terus menyusul dan mencari Lee Ing. Akan tetapi usahanya sia-sia belaka. Demikian pula dengan Siok Bun. Pemuda ini yang amat tertarik kepada gadis itu juga mencari Lee Ing.
131
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio diam-diam mendongkol sekali karena tidak berhasil membalas dendamnya. Ketika mendengar bahwa Souw Teng Wi telah berada di utara, nyonya yang mendendam ini menyusul ke utara, bermaksud mencari tempat kediaman Souw Teng Wi dan membunuhnya untuk membalas dendam kematian suaminya. Siang-pian Hai-liong Sim Kang. Akan tetapi kembali ia tertumbuk batu karang ketika maksud hatinya ini tidak saja gagal, malah ia mendapat malu besar karena dikalahkan oleh Pek kong Sin-kauw Siok Beng Hui sendiri yang tidak membiarkan nyonya ini mencoba untuk membunuh Souw Teng Wi.
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio makin merasa sakit hati. Ia teringat akan puteri Souw Teng Wi yang pernah ia temui di pantai laut itu. la melakukan penyelidikan dan tak seorangpun tahu di mana adanya nona Souw itu. Maka ia mendapat pikiran bahwa mungkin sekali selama ini nona Souw itu masih berada di pantai dan mungkin berada di dalam gua-gua yang terkenal dengan sebutan Gua Siluman. Pikiran ini yang membuat Yap Lee Nio tidak mengenal lelah dan mendatangi tempat yang amat berbahaya lagi sukar itu. Biarpun sudah lewat empat tahun, siapa tahu kalau-kalau ia berhasil menemukan nona itu di dalam gua, menangkapnya dan menggunakan nona itu untuk ditukar dengan nyawa Souw Teng Wi?
Dapat dibayangkan betapa kecewa dan marah hatinya ketika ia tiba di daerah Gua Siluman, ia tidak dapat menemukan seorang manusiapun. Daerah ini demikian mati dan sunyi sehingga berhari-hari Hui-ouw-tiap mencari ke dalam gua-gua, melakukan perjalanan sukar sekali dan mengalami kesengsaraan lahir batin. Ketika akhirnya ia menyerah dan hendak pergi meninggalkan daerah mati ini, ia bertemu dehgan seorang gadis berpakaian compang-camping, sepatu tinggal sebelah, rambut riap-riapan dan tertawa-tawa serta bicara seorang diri, pendeknya seorang gadis gila. Ia menjadi marah dan menyesal sekali alas kesialannya. Sekarang melihat gadis gila ini mempermainkannya dan mentertawakannya, ia makin marah. Akan tetapi ia tertarik juga.
"Setan, kau siapakah dan mengapa kau berada di tempat seperti ini?" tanyanya sambil mengamat-amati muka yang sebagian besar tertutup rambut yang tidak terurus itu. la dapat melihat sebagian wajah yang berkulit halus sekali, dan mata kiri yang bersinar-sinar ganjil akan tetapi amat bagus. Juga hidung yang mancung kecil dan mulut yang manis sekali.
Lee Ing makin geli mendengar pertanyaan ini. Ia masih mengenal Yap Lee Nio, orang yang dulu menyerangnya Juga ia masih ingat bahwa wanita ini adalah isteri Sim Kang yang sudah tewas di tangan ayahnya. Akan tetapi aneh sekali, hatinya tidak mengandung kebencian terhadap wanita ini. Tak mungkin ia dapat membenci seorang manusia yang dijumpai untuk pertama kali setelah ia keluar dari gua. Manusia pertama ini amat menarik hatinya, bahkan ia merasa suka kepadanya.
"Mengapa kau berada di tempat seperti ini?" Lee Ing mengulang pertanyaan itu, susunan kalimatnya dan lagu bicaranya ia tiru. Amat merdu terdengarnya bunyi pertanyaan wanita itu.
"Bocah gila, kalau tidak melihat kau gila, siang-siang sudah kuhancurkan kepalamu!" kembali Hui-ouw-tiap memaki sambil melompat pergi. Ia tidak sudi melayani seorang gila lebih lama lagi. Akan tetapi alangkah terperanjatnya ketika melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu bocah gila itu telah berdiri di depannya. Berdiri bulu tengkuk Hui-ouw-tiap. Ini tak mungkin, pikirnya. Apakah aku mengimpi? Ia mengerahkan tenaga dan melompat lagi. Kali ini bahkan melompati atas kepala Lee Ing untuk pergi dari tempat sunyi mati menyeramkan itu.
Memang Hui-ouw-tiap mempunyai ginkang yang hebat sehingga ia mendapat julukan Hui-ouw-tiap (Kupu-kupu Terbang). Ia mengira bahwa perempuan gila itu tentulah mengerti sedikit ilmu silat dan sekarang tak mungkin dapat mengejar dan mengganggunya lagi. Jagoan-jagoan di dunia kang-ouw
132
jarang ada yang sanggup mengejarnya, bahkan Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui sendiri tidak mampu mengejarnya ketika ia dikalahkan dan melarikan diri.
Akan tetapi, di lain saat Hui-ouw-tiap mengeluarkan jerit ketika melihat orang gila itu dengan gerakan luar biasa sekali dari belakang telah melompati kepalanya dan tahu-tahu sudah menghadang di depan pula. Saking herannya, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio sampai berdiri terpaku dan memandang dengan mata melotot. Adapun Lee Ing hanya tertawa-tawa saja, malah mendekat dan meraba-raba ujung baju wanita itu seakan-akan hendak melihat kebagusan baju orang.
"Siluman gila!" Yap Lee Nio menjadi marah. Sebetulnya ia diam-diam merasa takut dan seram. Coba saja bayangkan! Di tempat seperti itu berternu dengan seorang gila yang ginkangnya dapat melebihinya. Untuk mengusir rasa seram ini Yap Lee Nio menjadi marah dan memaki, "Kau ini perempuan gila mau apakah?"
Lee Ing menyingkap rambut yang menutupi sebagian muka dan mengganggu matanya sanibil tersenyum. "Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio ternyata makin tua makin cantik, akan tetapi juga makin galak."
Hui-ouw-tiap kembali melengak. Ia menatap wajah yang kini kelihatan nyata itu, wajah yang cantik manis sekali, yang matanya bersinar-sinar ganjil penuh pengaruh, akan tetapi juga penuh kejenakaan. Mata itu ia tidak kenal, mata yang membuat bulu tengkuknya berdiri karena sinar yang memancar dari mata itu benar-benar membuat ia silau. Akan tetapi hidung yang kecil mancung tipis itu, bibir yang tersenyum manis mengejek itu, serasa ia pernah melihatnya, pernah dikenalnya.
"Ba... bagaimana kau bisa mengenal namaku? "Kau.... siapakah....?" tanyanya gugup karena heran dan kaget bahwa gadis gila ini tidak saja mengenal namanya, juga mengenal julukannya.
"Kau memang seorang wanita terkenal, tentu saja aku mengenal." Lee Ing tertawa-tawa lagi, senang sekali ia bertemu dan dapat bercakap-cakap dengan seorang manusia lagi, sungguhpun manusia ini memusuhinya, dan kembali ia merasa kagum melihat pakaian Yap Lee Nio yang bagus sekali kalau dibandingkan dengan pakaiannya sendiri yang sudah tidak karuan dan sepatunya yang tinggal sebelah lagi. Baju Hui-ouw-tiap yang serba hijau memang indah sekali.
"Habis, kau mau apa?" Hui-ouw-tiap yang sudah kembali ketenangannya bertanya marah.
"Ooh, apa-apa aku juga mau." jawab Lee Ing jenaka, "kau punya apa sih hendak diberikan kepadaku?"
Hui-ouw-tiap rnakin mendongkol karena dipermainkan oleh bocah gila ini.
"Apa-apa kau mau? Nah, aku punya ini!" Sambil berkata demikian, Hui-ouw-tiap memperlihatkan tinjunya dan terus menyerang Lee Ing dengan kepalan tangan kanan. Serangannya cepat sekali, tahu-tahu pukulan itu sudah hampir mengenai leher Lee Ing.
"Hayaaa... kau galak benar!" Lee Ing mengeluh dan bukan main herannya hati Hui-ouw-tiap. la tidak melihat gadis itu mengelak atau menangkis, akan tetapi tiba-tiba pukulannya yang sudah hampir mengenai Ieher itu menyeleweng dan mengenai tempat kosong. Kembali Hui-ouw-tiap menyerang, kali ini ia mengerahkan tenaga dan kecepatannya. Jurus yang ia mainkan juga jurus yang tinggi tingkatnya dan amat berbahaya, yaitu jurus Chun-lui-tong-te (Geledek Musim Semi Menggetarkan Bumi).
133
Hui-ouw-tiap memiliki gerakan yang arnat cepat biarpun tenaganya tidak dapat dibilang sangat besar. Akan tetapi kali ini ia benar-benar dibikin bingung karena tanpa ia dapat mengetahui bagaimana tangan gadis itu bergerak, tahu-tahu dua tangannya sudah tertangkis dan anehnya kedua tangannya sendiri itu bisa saling bertumbukan! Saking kaget dan sakitnya ia melompat mundur dan mengeluarkan seruan tertahan.
Lee Ing hanya berdiri sembarangan dan tertawa-tawa. "Siapa suka tanganmu yang usil? Aku lebih menyukai pakaianmu yang hijau itu."
"Bocah kurang ajar, kau siapakah sebenarnya?" Yap Lee Nio bertanya karena ia sekarang dapat menduga bahwa bocah ini tentu bukan orang sembarangan.
Lee Ing tersenyum manis, lalu berkata dengan lidah utara, "Toanio. aku adalah seorang gadis Mongol. namaku Bayin Kilau..."
Baru terbuka mata Yap Lee Nio sekarang, la teringat akan sikap Lee Ing ketika bertemu dengan dia dulu, juga gadis itu mempermainkannya seperti sekarang ini. Jauh-jauh ia datang mencari Lee Ing puteri Souw Teng Wi untuk ditawannya dan sekarang gadis yang dicari-carinya iiu telah berada di depan mata masih ia belum mengenalnya. Cepat laksana kilat ia mencabut pedangnya dan membentak,
"Aha, kiranya kau puteri Souw Teng Wi? Bagus, rasakan tajamnya pedangku!" Ia cepat menyerang karena menduga bahwa gadis ini takkan begitu mudah ditawan, lebih baik dilukai dulu.
"Aha, baru sekarang kau tahu?" kata Lee Ing dan dengan tenang dan mudahnya ia mengelak dari sambaran pedang. Bagi orang lain gerakan serangan Hui-ouw-tiap ini cepat bukan main, akan tetapi dalam pandang mata Lee Ing amat lambat maka mudah saja ia mengelak ke sana ke mari. "Eh, kupu-kupu tua, aku ingin menukar pakaian ini dengan pakaianmu. Kau mau tambah berapa?"
Di dalam kemarahan dan kemendongkolan hatinya, Yap Lee Nio juga terheran-heran. Empat tahun yang lalu, ketika untuk pertama kali ia bertemu dengan puteri Souw Teng Wi ini, gadis yang kurang ajar dan nakal ini hanya memiliki sedikit ilmu silat ditambah ilmu gulat Mongol. Bagaimana sekarang dengan tangan kosong dapat menghadapi pedangnya sambil mengobrol? Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mengeluarkan ilmu pedang dari Hoa-lian-pai yang bersifat ganas dan berbahaya. Namun Lee Ing tetap saja enak-enak, bahkan berdirinya juga tidak teratur, hanya kalau diserang kelihatan terdesak sempoyongan seperti orang mabok namun semua serangan dapat ia hindarkan dengan baik. Malah gadis ini masih terus mengeluarkan kata-kata jenaka.
"Hui-ouw-tiap, bagaimana? Pakaian yang kupakai ini ditukar dengan pakaian hijaumu, kau berani tambah berapa?"
Terlalu sekali gadis itu, pikir Hui-ouw-tiap. Masa pakaian yang dipakai gadis itu compang-camping dan kotor seperti lap dapur, hendak ditukar dengan pakaiannya yang indah-indah, malah minta tambahan? Benar-benar gila! Karena penasaran tidak dapat mengalahkan gadis itu, Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio menjadi marah sekali. Tangan kirinya bergerak. Lima batang Tiat-lian-ci menyambar ke arah lima bagian jalan darah yang mematikan. Ini masih disusul pula dengan tusukan pedang ke dada nona itu.
Menggunakan senjata rahasia Tiat-lian-ci (Biji Teratai Besi) adalah kepandaian istimewa Hui-ouw-tiap Senjata rahasia yang kecil-kecil ini amat cepat jalannya, juga tidak terduga-duga, apa lagi dilepaskan dari jarak dekat. Namun, Lee Ing menggerakkan kedua tangannya dan lima butir Tiat-lian-ci itu sudah ditangkapnya semua. Serangan pedang ia hindarkan dengan jalan melompat mundur.
134
"Hui-ouw-tiap, kalau tidak mau bertukar pakaian secara baik, terpaksa aku mengambilnya sendiri!" kata Lee Ing dan tangannya bergerak. Berturut-turut lima butir Tiat-lian-ci menyambar ke arah Yap Lee Nio. Tiat-lian-ci yang pertama tepat sekali mengenai tai-twi-hiat, yang ke dua menyambar yan goai-hiat. Dua jalan darah yang terkena timpukan Tiat-lian-ci ini membuat Yap Lee Nio berdiri kaku tak mampu bergerak lagi. Sambitan ke tiga membuat pedang di tangannya terpental. Dua Tiat-lian-ci terakhir menyambar ke arah tali pengikat baju di pinggang dan dada, membuat tali-tali itu terlepas!
Sambil tenawa-tawa Lee Ing lalu melepaskan semua pakaian hijau yang menempel di tubuh Hui-ouw-tiap. Tentu saja Hui-ouw-tiap merasa malu dan marah sekali, akan tetapi apa dayanya? Bergerak sedikitpun ia tidak sanggup.
"Bagus sekali bajumu ini, ditukar dengan pakaianku kau masih harus tambah sedikit." Lee Ing memandang lawannya yang sudah tak berpakaian lagi itu, melihat ke arah rambut. "Rambutnya terhias emas dan permata, akan tetapi aku lebih menyukai ini. Nah, biar sutera pengikat rambutmu ini saja yang menjadi tambahan tukar-menukar ini!" Sekali renggut ia telah mengambil tali pengikat rambut dari sutera merah.
Kemudian, sambil tersenyum girang Lee Ing menanggalkan semua pakaiannya di depan Yap Lee Nio yang mau tidak mau memandang dengan kagum, la melihat betapa Lee Ing memakai pakaian hijaunya dan mengikat rambutnya dengan sutera merah. Sekarang baru terlihat kecantikan gadis itu dan baru Hui-ouw-tiap tak ragu-ragu lagi bahwa memang ia berhadapan dengan puteri Souw eng Wi. Bagaimana gadis ini sekarang menjadi begini hebat kepandaiannya? Diam-dam Hui-ouw-liap Yap Lee Nio bergidik dan mengerti bahwa jiwanya berada di tangan gadis ini.
"Wah, susah. Celana dan bajunya pas betul akan tetapi tangan bajunya terlalu panjang. Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio, agaknya tanganmu panjang sekali!" Merah muka Hui-ouw-tiap mendengar sindiran ini. Memang dia seorang perampok tunggal yang terkenal, jadi termasuk golongan si tangan panjang juga.
"Waah, aku harus menggulungnya atau memotongnya..." lagi-lagi Lee Ing bicara. Kemudian ia mengambil pakaian bututnya, diletakkan di depan Yap Lee Nio, lalu ia berkata, "Nah, pertukaran sudah beres. Aku rela memberikan pakaianku kepadamu. Kau berdirilah dulu di sini, paling lama dua jam lagi kau akan pulih dan dapat memakai pakaian ini. Kau terlalu galak, sudah sepatutnya diberi pelajaran sedikit. Selamat tinggal!"
Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio tak dapat bicara tak dapat bergerak dan ia hanya bisa memandang dengan mata mengandung penuh kebencian. Ia hanya melihat gadis di depannya berkelebat terus lenyap. Diam-diam Yap Lee Nio memuji dan juga lega bahwa gadis itu tidak membunuhnya. Akan tetapi kemendongkolannya dapat dibayangkan. Dia berdiri kaku seperti patung dalam keadaan telanjang.
Baiknya tempat itu sunyi sepi, kalau ada orang lewat, apa lagi kalau laki-laki, alangkah akan malunya. Ia harus berdiri seperti itu dua jam. lagi dan selama ini yang dapat dilakukan oleh Yap Lee Nio hanya berdoa supaya jangan ada orang lewat di situ Kalau ia sudah dapat bergerak, tentang pakaian sih bukan apa-apa. Tentu saja pakaian butut yang ditinggalkan Lee Ing itu ia tidak sudi memakai, dan untuk mendapatkan pakaian baik, ia dapat mengambil dari rumah orang lain dengan mudah.
Sungguh amat patut disayangkan bahwa kaisar pertama dari Kerajaan Beng-tiauw terpengaruh oleh orang-orang berahlak rendah seperti Menteri Auwyang Peng dan lain-lain pembesar durna. Pahlawan rakyat Cu Goan Ciang setelah menjadi kaisar mungkin karena banyaknya persoalan negara
135
yang harus diurusnya, menjadi kurang waspada dan mudah saja dipermainkan oleh para durna yang memperebutkan kedudukan dan kekuasaan.
Sedemikian besar pengaruh para durna itu sampai-sampai Cu Goan Ciang yang sekarang menjadi Kaisar Thai Cu itu, menjauhkan puteranya yang berjiwa patriot, yaitu Yung Lo yang diangkat menjadi raja muda di Peking. Pengangkatan ini adalah usul para menteri durna yang menganggap Yung Lo terlalu berbahaya maka perlu disingkirkan.
Akan tetapi, Yung Lo maklum benar akan hal-hal yang terjadi di sekitar ayahnya. Raja muda ini maklum bahwa Kerajaan Beng yang dibangun oleh ayahnya itu amat kotor, penuh dengan tikus-tikus yang berupa para menteri durna. Ia hanya bisa menghela napas panjang setiap kali teringat akan kelemahan hati ayahnya yang dahulu terkenal sebagai pahlawan yang bersemangat baja itu.
Betapapun juga, selama ayahnya masih menjadi kaisar di Nan-king. Yung Lo tidak berani bertindak apa-apa. la amat berbakti kepada ayahnya dan segan melawan ayah sendiri. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa Raja Muda Yung Lo mendiamkan saja para menteri durna melakukan perbuatan sewenang-wenang di selatan. Antara Raja Muda Yung Lo dan para menteri durna itu terdapat permusuhan yang hebat. Biarpun pada lahirnya Raja Muda Yung Lo tidak memusuhi mereka karena ia merasa sungkan terhadap ayahnya, namun diam-diam para pembantu raja muda ini mengadakan permusuhan dengan kaki tangan para menteri yang dikepalai oleh Menteri Auwyang Peng.
Sering kali terjadi tantangan- tantangan dan pertempuran di antara jago-jago kedua fihak yang bermusuhan ini. Kedua fihak memang sudah dapat menjaga sehingga tidak merembet-rembet fihak atasan. Fihak utara tidak membawa-bawa nama Raja Muda Yung Lo, sebaliknya fihak selatan tidak mau membawa-bawa nama kaisar atau menteri-menteri. Maka semua pertempuran itu terjadi dalam sebuah tantangan pibu (mengadu kepandaian). Diatur cara begini, luka atau tewas dalam pibu tidak menimbulkan keributan dan tidak menyeret-nyeret nama Raja Muda Yung Lo maupun kaisar sendiri.
Raja Muda Yung Lo yang tidak mau secara terang-terangan memusuhi menteri -menteri yang menjadi pegawai ayahnya, mempergunakan Tiong-gi-pai untuk menggempur mereka. Ia sengaja mengirim orang kepercayaannya, Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui seanak isteri membantu Tiong-gi-pai dan berusaha membasmi orang-orang jahat seperti Auwyang-taijin dan kaki tangannya.
Berkali-kali pihak Tiong-gi-pai dan fihak Menteri Auwyang Peng mengadakan tantangan di mana dilakukan pibu antara jago-jago kedua fihak. Akan tetapi sering kali pibu itu diakhiri dengan kekalahan fihak Tiong-gi-pai. Banyak sudah jago-jago Tiong-gi-pai terluka atau tewas. Pibu-pibu yang dilakukan hanya sampai di tingkat orang-orang mudanya saja, para cianpwe belum maju karena kedua fihak masih menjaga nama masing-masing. Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui sendiri maklum bahwa kalau dia turun tangan tentu fihak musuh akan menurunkan para cianpwe yang tingkatnya jauh lebih tinggi.
Oleh karena itu fihak Tiong-gi-pai mengeluarkan jago-jago mudanya yang tentu saja dilawan oleh jago-jago muda pula dari fihak Auwvang-taijin. Akan tetapi, ternyata seringkali fihak Auwyang-taijin lebih kuat, apa lagi di antara orang mudanya terdapat putera Auwyang-taijin sendiri, Hek-tok-ciang Auwyang Tek Si Tangan Racun Hitam. Jangankan orang-orang mudanya di fihak Tiong-gi-pai, bahkan para jago tuanya jarang yang mampu menandingi kelihaian Auwyang Tek.
Pada masa itu. biarpun nampaknya pemerintah Beng dapat mendatangkan kembali kebesaran Tiongkok selelah berhasil mengusir Bangsa Mongol, dan negara menjadi kaya dan makmur, namun pengaruh Kerajaan Beng di luar Tiongkok menjadi musnah. Kalau dahulu di jaman penjajahan
136
Mongol negara-negara tetangga pada tunduk di bawah pengaruh kekuasaan Raja-raja Mongol yang membentangkan sayap lebar-lebar, kini para kerajaan tetangga bangkit dan tidak mengakui kedaulatan Kerajaan Beng. Orang-orang Mongol yang sudah terusir itu biarpun mengalami kekalahan di Tiongkok namun di utara mereka masih menjagoi.
Sering kali mereka mengadakan kerusuhan dan penyerbuan ke daerah perbatasan. Hanya setelah Raja Muda Yung Lo memegang kekuasaan di Peking, serbuan-serbuan ini dapat dibendung. Namun, pengacauan lain terjadi di selatan, di pantai laut timur, dilakukan oleh para bajak laut Jepang.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Auwyang Peng menteri durna itu bersama kaki tangannya untuk mengadakan kongkalikong dengan beberapa orang jago kate dari Jepang itu. Dengan jalan menyogok Menteri Auwyang Peng berhasil "membaiki" bajak laut ini. bahkan kini di fihaknva terdapat dua orang jagoan Jepang yang sengaja ia pakai tenaganya untuk menghadapi jago-jago Tiong gi-pai Makin kuatlah kedudukan menteri durna ini dan makin sewenang-wenanglah tindakan para kaki tangannya mengganggu rakyat secara sembarangan saja, diganggu dan dicap pemberontak?
Kwee Cun Gan sebagai ketua Tiong-gi-pai dan Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui merasa prihatin dan gelisah melihat keadaan yang amat tidak menguntungkan itu. Putera Siok Beng Hui yang diharapkan. yaitu Siok Bun. sampai sekian lama belum kembali. Kalau Siok Bun ada, biarpun masih disangsikan apakah pemuda gagah ini akan kuat menghadapi Auwyang Tek. setidaknya kepandaian Siok Bun sudah cukup tinggi dan tidak nanti dapat dikalahkan dengan mudah. Juga orang muda ke dua yang mereka harapkan bantuannya adalah Kwee Tiong, keponakan Kwee Cun Gan sendiri. Namun juga pemuda ini tidak pernah muncul, entah dibawa ke mana oleh gurunya. Pek Mao Lojin.
Berkali-kali Pihak Auwyang-taijin mengirim tantangan dan untuk kesekian kalinya Pihak Tiong-gi-pai terpaksa diam saja tidak dapat menerima tantangan itu. tahu bahwa Pihak mereka jauh kalah kuat. Kalau hanya tantangan yang datang masih mending. Akan letapi fihak Auwyang-taijin berlaku lebih jauh lagi. Mereka mulai berlaku kurang ajar dan keji. Beberapa orang anggauta Tiong-gi-pai telah tewas, baik di dalam rumah sendiri maupun di tengah perjalanan. Ini bukan merupakan pibu lagi, melainkan pembunuhan yang sifatnya seperti dulu lagi, yaitu pembasmian Tiong-gi pai!
Kwee Cun Gan memanggil semua kawan orang gagah untuk mengadakan pertemuan di dalam hutan, la merasa gelisah, juga marah sekali. "Kita harus bertindak!" katanya gemas di depan kawan-kawannya, di mana hadir pula Siok Beng Hui. "Kalau kita diam saja, bukankah Itu memperlihatkan kelemahan kita?"
Siok Beng Hui menarik napas panjang. Di antara mereka semua. Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui inilah vang terhitung paling tinggi kepandaiannya. Kepandaian isteri dan puteranya juga tinggi, sedikitnya setingkat dengan kepandaian Kwee Cun Gan sendiri.
"Memang betul sekali apa yang dikatakan saudara Kwee Cun Gan." katanya. "Akan tetapi, di antara saudara-saudara muda kita, siapakah yang dapat melawan Auwyang Tek? Kalau aku sendiri yang maju menghadapinya, tentu saja amat baik kalau pemuda celaka itu mau melawanku, akan tetapi kita semua tahu bahwa hal itu takkan terjadi. Tentu dari fihak sana akan muncul orang-orang seperti Ma Thouw Koaitung Kui Ek. Aku sudah pernah bentrok dengannya dan terus terang saja dia terlalu berat untukku. Bukan berarti bahwa aku tidak berani, akan tetapi kalau sampai terjadi aku kalah, bukankah merupakan pukulan yang lebih berat bagi Tiong gi-pai, terutama sekali bagi nama dan kehormatan raja muda kita di Peking? Jangan lagi dibicarakan kalau Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri yang maju melawanku!" Semua orang diam dan merasa gelisah. Tiba-tiba seorang setengah tua yang berjenggot pendek berdiri dan berkata keras.
137
"Kita ini orang-orang gagah-macam apakah begini ketakutan dan bernyali kecil takut kalah? Kalau Siok-taihiap dan Kwee-twako takut kalah, aku orang she The tidak takut mampus! Biar aku yang mencoba-coba menghadapi tantangan pibu mereka!"
Yang bicara ini adalah seorang anggauta Tiong-gi-pai bernama The Sun. kepandaiannya tidak berapa tinggi akan tetapi semangatnya besar. Dia dahulu juga bekas anak buah Souw Teng Wi. Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar The Sun pergi hendak menghadapi tantangan fihak Auwyang-taijin.
Akan tetapi sekali melompat Kwee Cun Gan sudah menyusulnya dan memegang lengannya. "The-te. kau terlalu sembrono!" tegur ketua ini sambil mengerutkan alisnya karena tak berdaya dalam pegangan Kwee Cun Gan, The Sun menurut saja diseret kembali ke tempatnya tadi.
"The-te, mengapa kau hanya mengandalkan keberanian yang bodoh? Di mana ketaatanmu sebagai anggauta Tiong-gi-pai? Jangan kau salah sangka. Baik aku, maupun Siok-taihiap dan semua saudara kita tidak ada yang takut mati untuk membela kebenaran dan membela negara, akan tetapi segala hal harus dilakukan berdasarkan perhitungan masak. Apa perlunya kalau kita semua mengurbankan nyawa dengan sia-sia hegitu saja? Apa faedahnya bagi negara? Menghadapi musuh-musuh berat seperti Auwyang-taijin. kita harus mempergunakan otak, bukan nafsu. Hati boleh panas akan tetapi kepala harus tetap dingin. Bukan kau saja yang berani mati, kita semua adalah orang-orang yang bersiap sedia mengurbankan nyawa demi negara dan bangsa"
Ditegur demikian. The Sun menjadi terharu dan merasa menyesal bukan main, la menjura kepada ketuanya dan kepada Siok Beng Hui. "Maafkan siauwte yang bodoh. Siauwte tidak sengaja menghina. hanya.... hanya kalau siauw-te teringat akan kegagahan Souw-taihiap dahulu... ah. agaknya di dunia ini tidak ada orang ke dua seperti Souw-taihiap..."
Siok Beng Hui mengerutkan kening. "Saudara Kwee. kalau dipikir-pikir sikap kawan The ini ada betulnya juga. Kita dihina oleh fihak musuh, kalau tidak memperlihatkan gigi, tentu kita makin dihina. Biarlah aku akan mencoba-coba kekuatan mereka, membalas tantangan mereka sekarang juga!"
Berubah wajah Kwee C'un Gan. la tahu bahwa ucapan ini terdorong oleh hati panas. Sebagai utusan dan orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo, Siok Beng Hui merupakan orang penting. Bagaimana kalau sampai tewas dalam pertandingan? Sudah jelas pendekar ini bukan tandingan Tok-ong Kai Song Cinjin.
"Akan tetapi, taihiap..."
Siok Beng Hui tiba-tiba berpaling seperti mendengar sesuatu. "Bun-ji (anak Bun), kau baru datang?" katanya girang dan muncullah seorang pemuda tampan dari balik batang pohon. Semua orang tidak mendengar kedatangannya kecuali Siok Beng Hui. Pemuda ini adalah Siok Bun! Siok Bun segera memberi hormat kepada ayahnya, kemudian kepada Kwee Cun Gan dan yang lain-lain.
"Ayah, selama ini anak pergi mencari jejak nona Souw Lee Ing yang menghilang di daerah bukit Gua Siluman di pantai Laut Kuning. Anak melihat dia diancam dan diserang oleh Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang hendak membalas dendam atas kematian suaminya. Anak membantu nona Souw dan berhasil mengundurkan Hui-ouw-tiap yang agaknya tidak bernafsu untuk bermusuhan dengan anak. Akan tetapi, ketika anak sedang bertempur itu, nona Souw menghilang. Sampai berbulan-bulan anak mencari di sekitar daerah batu-batu karang yang amat sukar dijelajahi itu, namun sia-sia. Kemudian anak merantau dan mencari-cari, juga sia-sia..."
138
Suara Siok Bun terdengar amat terharu dan berduka. Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan isterinya memandang putera yang tunggal itu dengan penuh perhatian. Pemuda ini menjadi amat kurus dan sinar matanya mengandung kesedihan besar.
"Bun-ji, agaknya.... hemmm, agaknya kau sudah jatuh hati kepada puteri Souw-enghiong...?" Memang Siok Beng Hui orangnya jujur suka terus terang, maka tidak malu-malu membongkar rahasia hati puteranya di depan orang banyak.
Siok Bun menundukkan mukanya yang menjadi merah seperti udang direbus. Pemuda ini wataknya lebih menurun dari ibunya, halus dan pemalu.
Maka ia segera menjawab untuk membantah ayahnya.
"Ayah, bukankah nona Souw Lee Ing itu puteri tunggal Souw-lo-enghiong? Bukankah sudah menjadi kewajiban anak dan kewajiban semua orang gagah untuk menolongnya? Harap ayah memberi petunjuk kalau sikap anak menolong dan mencarinya itu salah."
"Tidak, tidak salah," kata ayahnya cepat-cepat. "Bahkan tepat sekali. Sayang, kau tidak dapat membawanya ke sini. Betapapun juga, sudah baik dia tidak terjatuh ke dalam tangan Hui-ouw-tiap yang hendak mencelakakannya. Cuma anehnya, ke manakah dia pergi sehingga kau tidak dapat mencarinya?" Semua orang juga merasa heran dan kecewa, mereka khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu atas diri nona itu.
"Mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu dan dia dapat melarikan diri dengan selamat," kata Siok Beng Hui. "Bun-ji, sekarang kita menghadapi hal yang lebih penting."
"Anak tadi sudah mendengar semua, ayah. Bukankah fihak Auwyang-taijin yang selalu bertindak sewenang-wenang dan menantang kita? Kebetulan sekali aku ingin mencoba kelihaian si keji Auwyang Tek, biar anak yang melayaninya."
"Bagus, memang sudah sepatutnya kau menyumbangkan tenaga, kalau perlu jiwa, demi menjaga nama dan kehormatan junjungan kita. Akan tetapi kau harus berlaku hati-hati, Bun-ji. Sepasang sarung tangan dan Hek-tok-ciang dari putera menteri durna itu benar-benar tak boleh dipandang ringan."
Siok Bun mengangguk-angguk. "Anak sudah mendengar akan keganasan Hek-tok-ciang itu, ayah. Karenanya kita harus melawannya sedapat mungkin. Benar pendapat The-lopek tadi, kejahatan harus dilawan."
Siok Beng Hui berkata kepada Kwee Cun Gan, "Saudara Kwee, harap kau suka mengutus seorang saudara ke fihak musuh dan menetapkan hari pibu."
Wajah para anggauta Tiong-gi-pai nampak gembira. Biarpun mereka maklum akan kekuatan fihak lawan, namun mereka menaruh harapan bahwa kali ini mereka telah mempunyai jagoan yang akan dapat mengalahkan Anwyang Tek. Mereka tahu akan kelihaian Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui dan dapat menduga bahwa ilmu kepandaian putera pendekar ini tentu tinggi pula.
Kwee Cun Gan segera mengatur segalanya. Menyampaikan surat yang menyatakan menerima tantangan Auwyang Tek yang berkali-kali dikirim kepada fihak Tiong-gi-pai itu dan menjanjikan akan bertemu di sebuah hutan di luar kota, di mana memang sering kali diadakan pertandingan-pertandingan antara jago-jago kedua fihak.
139
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, rombongan Tiong-gi-pai sudah berada di dalam hutan itu, di sebuah tempat yang terbuka karena memang pohon-pohon di bagian ini ditebangi sehingga terdapat sebuah lapangan yang cukup luas, pendeknya tempat yang enak untuk bertanding mengadu kepandaian silat. Siok Bun berjalan diapit oleh ayah bundanya yang semenjak malam tadi sudah memberi banyak petunjuk kepadanya, terutama ayahnya.
"Jangan kau pandang ringan pada pukulan-pukulan Hek-tok-ciang," antara lain ayahnya memberi nasehat, "biarpun kedua tangannya tidak memegang senjata, namun dua buah sarung tangan yang membungkus tangannya itu merupakan senjata yang ampuh. Sarung tangan itu tidak dapat rusak oleh senjata tajam dan selain pukulan Hek-tok-ciang sendiri mengandung tenaga Iweekang yang ampuh, juga sarung tangan itu mengandung racun hitam yang amat berbahaya. Jangan kau biarkan tangannya menyentuh badanmu dan seberapa dapat desak dia dengan senjatamu. Mudah-mudahan kau dapat mengatasinya."
"Jangan khawatir, ayah. Anak akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga nama dan kehormatan kita," jawab pemuda itu dengan sikap gagah.
Ketika rombongan Tiong-gi-pai ini tiba di lapangan pihu, di sana sudah menanti fihak musuh, yaitu Auwyang Tek sendiri yang berdiri sambil tertawa-tawa sombong, dikawani oleh belasan orang, di antaranya terdapat Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai tung Kui Ek, dua orang jago Jepang Manimoko yang berambut kaku dan bertubuh gemuk bundar dan Jokuto yang melihat kepala gundul dan pakaiannya adalah seorang hwesio. Selain ini masih kelihatan pula Tok ong Kai Song Cinjin yang duduk bersila sambil memejamkan matanya.
Melihat tokoh tokoh besar ini. diam-diam fihak Tiong-gi-pai terkejut sekali. Akan tetapi Siok Bun tidak kelihatan takut karena ia tahu bahwa yang akan ia hadapi adalah Auwyang Tek, bukan tokoh-tokoh besar itu. Setelah rombongan Tiong-gi-pai mengambil tempat duduk di pinggir lapangan itu,
berhadapan dengan fihak kai Song Cinjin, Siok Bun lalu melangkah -main menghadapi Auwyang Tck. Sikapnya tenang namun sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan melihat pemuda putera menteri durna yang sudah terkenal amat keji dan jahat ini.
Auwyang Tek tertawa mengejek sambil memandang ke arah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya. "Ha-ha ha, orang-orang Tiong-gi-pai. Akhirnya ada juga jago muda yang berani menghadapi aku? Inikah orangnya?"
"Auwyang Tek manusia sombong. Sudah terlalu banyak kau mengganggu orang yang tak berdosa dan tidak berkepandaian. Sekarang akulah musuhmu," kata Siok Bun dengan wajah tenang. Kembali Auwyang Tek tertawa mengejek dan menggosok-gosok kedua tangannya yang bersarung tangan. Terdengar suara seperti dua batang barang baja digosok.
"Ha-ha-ha, kau sudah bosan hidup? Apa kau tidak mendengar tentang lihainya kedua tanganku?"
"Orang lain boleh gentar menghadapi Hek-tok-ciang. akan tetapi aku Siok Him takkan mundur setapakpun."
Mendengar nama ini, semua orang di pihak Kai Song Cinjin memandang ke arah Siok Beng Hui. Ma-thouw Koai tung Kui Ek mengeluarkan suara di hidung dan berkata. "Aha. kiranya Pek-kong Sin-kauw sudah mengajukan puteranya Sebentar lagi tentu ia sendiri akan maju. Ah, aku ingin sekali melihat kehebatan sepasang senjata kaitan yang terkenal itu!"
Memang semua orang tahu bahwa pemuda she Siok itu tentu putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, dan para tokoh besar yang bergabung menjadi kaki tangan menteri durna, ingin sekali
140
mendapat kesempatan menghadapi Siok Beng Hui. Akan tetapi karena Siok Beng Hui tak pernah maju, merekapun tidak berani gegabah, tahu bahwa pendekar kaitan ini adalah utusan dari Raja Muda Yung Lo Hanya di dalam pertandingan pibu mereka berani turun tangan, ini semua tentu saja menurut perintah Menteri Auwyang Peng yang tidak- mau dianggap mengganggu atau membunuh utusan Raja Muda Yung Lo.
Sementara itu. mendengar bahwa pemuda tampan bertopi batok ¡tu putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui. Anwyang Tek bersikap hati-hati, tidak berani memandang rendah. la maklum bahwa Pek-kong Sin-kauw adalah seorang jago siang-kauw yang sudah ternama sekali, memiliki kepandaian tinggi dan sudah boleh dijajarkan setingkat dengan kaum cianpwe. Tentu saja putera pendekar pedang kaitan ini memiliki kepandaian tinggi pula. Akan tetapi Auwyang Tek tidak merasa takut, hanya berhati-hati Apa yang harus ia takuti sedangkan gurunya sendiri, Kai Song Cinjin yang kosen berada di situ, bahkan masih banyak lagi jago-jago tua di sampingnya yang tentu akan melindunginya?
"Bagus," katanya sombong, "memang aku sudah merasa bosan kalau bertanding dengan jago-jago Tiong gi-pai yang tidak becus apa-apa. Sekarang Tiong-gi-pai kehabisan jago sampai Pek-kong Sin-kauw sendiri mengajukan puteranya, ingin sekali aku melihat sampai di mana kelihaiannya!" Kembali pemuda putera menteri yang sombong ini menggosok-gosok kedua telapak tangan yang tertutup sarung tangan itu dan warna sarung tangan itu menjadi makin menghitam.
Siok Bun mencabut senjatanya, sebatang kaitan perak dan memasang kuda-kuda, senjata di tangan kanan menyusup di bawah lengan kiri yang dilonjorkan dan jari telunjuk kiri menuding ke depan. Inilah kuda-kuda Tit-ci-thian-lam (Telunjuk Menuding ke Selatan) yang mengandung tantangan dan kelihatannya gagah sekali.
"Auwyang Tek. majulah kau!" kata Siok Bun.
Auwyang Tek mengeluarkan suara ketawa lagi dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke depan. Dalam gebrak pertama saja Auwyang Tek sudah memperlihatkan kecepatannya dan kedua tangannya bertubi-tubi melakukan pukulan dari kanan kiri. Harus diketahui bahwa Hek tok-ciang pemuda ini memang sudah tinggi Jangankan sampai tangannya menyentuh tubuh orang, baru terkena hawa pukulan Hek-tok-ciang saja, lawan yang kurang tangguh Iweekangnya takkan kuat menahan. Hawa pukulan ini panas mengandung tenaga berbisa, dapat menghanguskan kulit. Kalau menyentuh tubuh, hawa berbisa itu dapat melukai sebelah dalam tubuh dan darah akan keracunan.
Siok Bun berlaku cepat dan bersikap waspada. Serangan-serangan lawannya itu dielakkan sambil tak lupa kaitannya bekerja. Dari samping ia membalas pukulan lawan dengan serangan pertama, menyabet iga kiri dilanjutkan dengan gerakan mengait. Senjata di tangan Siok Bun inipun bukan senjata biasa yang dapat dipandang ringan. Sekali saja ujung kaitan memasuki kulit lawan, senjata ini akan mengait keluar otot dan urat terpenting, dapat memecah tulang dan memutuskan urat. Gerakannya tidak kalah gesitnya karena pemuda ini sudah mewarisi ginkang dari ibunya.
Auwyang Tek menghadapi serangan Kong- ciak-tiauw-wi (Burung Merak Menyabetkan Buntut) ini cepat melompat mundur, lalu dengan gerakan memutar dan kanan ia menerjang musuhnya lagi dan mengirim pukulan Hek-tok-ciang yang dahsyat dai kanan. Siok Bun sampai dapat mencium bau
amis dari pukulan tangan beracun ini. Cepat pemuda ini menutup pernapasannya dan mengelak sambil memapaki tangan yang memukul itu dengan sin-kauwnya.
"Plak!" Siok Bun terhuyung mundur, senjatanya terpental oleh pukulan lawan. Auwyang Tek hanya tertangkis dan gagal saja serangannya. Dari pertemuan senjata ini saja sudah dapat dilihat bahwa
141
dalam hal Iweekang, Auwyang Tek masih menang setingkat. Siok Bun kaget sekali dan melihat ujung kaitannya yang tadinya putih mengkilap ini sudah berubah agak kehijauan, ia makin terkejut Baru ia membuktikan sendiri kedahsyatan Hek-tok-ciang Kalau yang menangkis tadi bukan senjata melainkan tangannya, sudah pasti ia terkena racun Hek-tok-ciang dan sudah kalah.
Namun ia tidak menjadi gentar dan mengerjakan senjatanya secara cepat, diputar-putar dan mainkan ilmu kaitan warisan ayahnya Pek-kong-kauw-hoat (Ilmu Kaitan Sinar Putih). Memang hebat sekali ilmu silat kaitan ini, dan indah pula kelihatannya. Setelah kaitan dimainkan cepat, tiada bedanya dengan permainan pedang. Senjata itu lenyap berubah menjadi segulung sinar putih yang berkelebatan menyambar ke sana ke mari! Semua orang yang menyaksikan permainan ini menjadi kagum sekali.
"Permainan yang bagus!" terdengar Toat-beng-pian Mo Hun sendiri sampai memuji. Kakek siluman pemakan otak manusia ini memang suka akan ilmu silat dan tanpa ia sadari ra sampai memuji permainan fihak musuh.
"Hanya bagus dilihat, tidak ada isinya!" bantah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, panas hatinya karena sudah berkali-kali ia ingin mencoba kepandaian Pek-kong Sin-kauw, sekarang permainan kaitan itu dipuji, tentu saja ia tidak senang.
Celaan terhadap permainan anaknya sama dengan mencela dirinya sendiri. Akan tetapi Siok Beng Hui tidak sempat memperdulikan ini semua. Seluruh perhatiannya ia curahkan kepada puteranya yang sedang menghadapi pertandingan mati-matian dengan lawan yang amat tangguh itu. Wajahnya nampak berseri ketika ia melihat puteranya mainkan sin-kauw dengan gerakan mempertahankan dan melindungi diri. Memang, selama Siok Bun melindungi dirinya dengan sinar senjatanya, pukulan-pukulan Hek-tok-ciang dari Auwyang Tek takkan menembus sinar gulungan senjata itu. Berkali-kali ayah ini mengangguk-angguk puas melihat ketangkasan anaknya yang kali ini benar-benar mempertahankan nama ayahnya, juga nama Tiong-gi pai dan nama Raja Mltida Yung Lo.
Memang perhitungan Siok Bun yang dibenarkan oleh ayahnya ini tepat. Dengan mainkan sin-kauw yang luar biasa cepatnya itu, Siok Bun telah membentuk lingkaran sinar senjata yang mengandung hawa Iweekang, yang tak dapat ditembus oleh Auwyang Tek. Karena dia sendiri bertangan kosong dan maklum akan bahayanya kalau sampai tubuhnya terkait, terpaksa Auwyang Tek hanya mengirim pukulan-pukulan Hek-lok-ciang dari jarak jauh dan semua hawa pukulan ini buyar, tak dapat menembus gulungan sinar senjata lawan.
Pertempuran berjalan seru dan mati-matian sampai hampir seratus jurus. Keduanya sudah mulai nampak lelah namun belum juga ada ketentuan siapa yang kalah. Fihak Tiong-gi-pai tersenyum-senyum, karena kali ini mereka sudah memukul kesombongan fihak lawan. Biasanya, seorang jago muda dari Tiong-gi-pai sudah roboh dalam dua-tiga puluh jurus saja menghadapi Auwyang Tek, kalau tidak tewas tentu terluka berat. Akan tetapi kali ini, Siok Bun berhasil membuat Auwyang Tek berloncatan ke sana ke mari tanpa dapat melakukan pukulan mautnya yang amat ampuh dan keji itu.
Sebaliknya, fihak Kai Song Cinjin berwajah muram dan penasaran. Bahkan Kai Song Cinjin sendiri yang meramkan mata dan duduk bersila nampak mengerutkan kening. Dengan meramkan mata dapat mengikuti jalannya pertempuran, sungguh hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah setinggi Kai Song Cinjin ilmu kepandaiannya. Tiba-tiba Kai Song Cinjin menggerakkan bibirnya, berkemak-kemik seperti orang membaca doa, akan tetapi tidak terdengar ada suara keluar dari mulutnya. Sikapnya benar benar amat menggelikan hati. Beberapa orang anggauta Tiong-gi pai yang
142
memperhatikan kakek mi sampai tak dapat menahan ketawanya, mengira bahwa kakek itu berdoa untuk kemenangan muridnya.
Akan tetapi Pek kong Sin kauw Siok Beng Hui menjadi pucat. Di antara orang-orang Tiong-gi-pai, memang hanya dia yang memiliki kepandaian cukup tinggi untuk dapat menangkap arti gerak bibir Kai Song Cinjin itu. la maklum bahwa kakek itu tengah mempergunakan ilmu semacam Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh), akan tetapi dengan pengerahan Iweekang dan khikang sedemikian hebatnya sehingga suara ini dapat dikirim sesuka hatinya dan pada saat itu tentu kakek yang licik ini mengirim suaranya ke telinga muridnya untuk memberi nasihat dalam pertempuran itu. Sayang Siok Beng IImu kepandaiannya tidak cukup tinggi untuk dapat menangkap kata-kata rahasia yang disampaikan secara aneh oleh Kai Song Cinjin kepada muridnya la tak dapat berbuat lain kecuali memandang ke arah pertempuran dengan hati hati sekali penuh perhatian dan mukanya menjadi pucat.
Ang lian ci Tan Sam Nio yang melihat kegelisahan terbayang pada muka suaminya menjadi heran sekali. Padahal menurut penglihatannya, pada saat itu mendadak Auwyang Tek amat kendur gerakannya, kelihatannya lelah sekali dan Siok Bun sudah mulai mengirim serangan-serangan hebat dan keadaannya amat mendesak ke arah kemenangan. Menurut perkiraan ibu ini, puteranya tentu sebentar lagi akan menang, mengapa suaminya nampak gelisah?
Tiba-tiba Siok Beng Hui berseru, menambah keheranan dan kebingungan hati isterinya, "Bun-ji, jangan terlalu desak dia! Kau tertipu....!" Pendekar yang sudah banyak pengalamannya dalam pertempuran ini tahu bahwa Auwyang Tek bukan lambat gerakannya dan terdesak karena kekalahan, melainkan karena rnemang sengaja. Dan otaknya yang cerdas dapat menangkap apa artinya ini. Tentu Kai Song Cinjin tadi memberi nasihat kepada muridnya untuk menggunakan akal ini memancing supaya Siok Bun mendesak dengan serangan-serangan dahsyat sehingga pertahanan Siok Bun sendiri menjadi kurang kuat karena perhatian lebih banyak dicurahkan kepada serangan.
Dugaan ini memang tepat sekali. Kai Song Cinjin sendiri sekarang sampai membuka matanya karena rahasianya dipecahkan oleh Siok Beng Hui. Semua orang heran sekali mendengar seruan Siok Beng Hui tadi. Akan tetapi Siok Bun adalah seorang pemuda yang masih berdarah panas, la sedang mendesak lawannya dan akan memperoleh kemenangan yang berarti menjunjung nama mereka dan juga merobohkan seorang pemuda jahat, mengapa ayahnya melarang? Bagaimana dia bisa tertipu?
"Ayah, akan kubasmi si jahat ini....!" teriaknya gembira dan kaitannya menyambar makin ganas.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba- tiba Auwyang Tek tertawa dan dengan tubuh mendoyong ke depan sengaja menerima pukulan kaitan ke arah pundaknya itu, menggerakkan tangan kiri menyambar kaitan dan tangan kanannya dipukulkan ke depan. Resiko ini diambil deh Auwyang Tek karena ia menang kedudukan. Memang senjata lawan datang lebih dulu, akan tetapi dengan mendoyongkan tubuh, senjata itu akan menyambar ke pundak dan masih ada tangan kirinya yang menahan, sebaliknya pukulan Hek-tok-ciang dilancarkan oleh tangan kanannya secara hebat.
Siok Bun melihat datangnya bahaya ini, cepat mengelak. Namun terlambat. Terdengar baju Auwyang Tek di bagian pundak robek dan berdarah terkena ujung kaitan yang berhasil ia tangkap dengan tangan kiri, akan tetapi Siok Bun mengeluarkan jerit tertahan dan tubuhnya roboh bergulingan. Tulang pundaknya remuk dan kulit pundaknya memperlihatkan tanda lima jari tangan menghitam, tanda pukulan Hek-tok-ciang. Auwyang Tek tertawa terbahak-bahak melihat tubuh Siok Bun dipondong oleh Siok Beng Hui dan diperiksa pundaknya. Siok Bun menggigit bibir, mukanya pucat.
143
"Kerahkan tenaga, dorong hawa murni ke atas melawan racun di pundak," bisik Siok Beng Hui sambil memberi tiga bulir obat untuk ditelan oleh puteranya. Namun ia maklum bahwa obat ini hanya penahan sementara saja, dan bahwa putera-nya telah menderita luka hebat.
"Ha ha. orang-orang Tiong-gi-pai, kiranya hanya sebegitu saja kepandaian jago kalian. Jangankan baru sebegitu, biar ayah ibunya sekalipun aku takkan takut" tantang Auwyang Tek sambil tertawa-tawa sombong dan luka kecil pada pundaknya dibalut oleh seorang "juru rawat".
"Omitohud.... akhirnya datang juga kesempatan membalas dendam!" Entah dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang hwesio tua berjenggot putih halus, sinar matanya menyinarkan pengaruh besar dan tangannya menyeret sebatang tongkat. Anehnya, begitu ia muncul, ia tidak menoleh kepada orang lain, melainkan memandang ke arah Toat-beng pian Mo Hun dengan mata mengandung kemarahan.
Auwyang lek mengira bahwa hwesio ini adalah seorang jago Tiong-gi-pai yang muncul ke gelanggang hendak menantang berkelahi, maka tanpa banyak cakap lagi ia, memukul dengan Hek-tok-ciang sambil membentak, "Anjing gundul,pergilah dari sini!"
Hwesio itu nampak terkejut sekali menghadapi pukulan yang anginnya menyambar hebat, mendatangkan hawa panas sekali. Cepat ia mengibas dengan ujung lengan bajunya yang lebar ke arah jari-jari tangan Auwyang Tek.
"Brett!" Ujung lengan baju itu putus dan ujungnya hangus seperti disambar api yang panas sekali. Akan tetapi Auwyang Tek terhuyung mundur dan tergetar.
"Omitohud, pukulan yang ganas bukan main." Hwesio itu berkata dan menarik napas panjang sambil memandang ke arah Kai Song Cinjin yang masih bersila meramkan mata. "Pukulan Hek tok-ciang sungguh lihai, hanya bisa diturunkan oleh tokoh besar seperti Tok-ong (Raja Racun). Kai Song Cinjin, harap kau menyuruh muridmu mundur karena pinceng tidak ada urusan dengan dia."
Kai Song Cinjin membuka matanya dan memberi isyarat dengan tangan supaya Auwyang Tek mengundurkan diri. Pemuda ini yang sudah tahu bahwa ia berhadapan dengan orang yang lebih kosen, tidak membantah lagi, mengundurkan diri di belakang suhunya.
"Kiranya seorang sahabat dari Siauw-lim-pai yang datang. Sahabat yang datang ada kepentingan apakah?" tanya Kai Song Cinjin, suaranya halus dan senyumnya ramah, sungguh berbeda isi hatinya yang penuh tipu muslihat.
"Omitohud. benar-benar bukan nama kosong julukan Tok-ong Kai Song Cinjin. sekali melihat tangkisan pinceng sudah tahu bahwa pinceng dari Siauw-lim-pai." Hwesio itu menjura kepada Kai Song Cinjin.
"Siauw-lim-pai termasuk partai persilatan besar, siapa tidak mengenal tangkisan Hong-tan-tiam-ci (Burung Hong Pentang Sebelah Sayap) tadi?" jawab Kai Song Cinjin tersenyum. Sebagai seorang cabang atas dalam kalangan persilatan, tentu saja ia mengenal banyak dasar ilmu silat lain partai.
"Kai Song Cinjin, dahulu pinceng mempunyai seorang murid yang amat baik bernama Thian Le Hosiang. Sayang sekali murid pinceng yang selalu patuh akan ajaran Nabi itu pada suatu hari tewas secara mengenaskan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kalau pinceng mencari pembunuhnya dan menuntut balas agar roh muridku itu tidak menjadi roh penasaran."
"Siapa yang membunuhnya?" tanya Kai Song Cinjin.
144
Hwesio itu menuding ke arah Toat-beng-pian Mo Hun, itulah, siluman pemakan otak manusia. Toat-beng pian Mo Hun yang membunuhnya!" Suaranya berubah nyaring berpengaruh, mengejutkan siapa yang mendengarnya. Toat-beng-pian Mo Hun berdiri dari tempat duduknya, cambuknya digerakkan dan berbunyi "tar! tar!" keras sekali, disusul suara ketawanya mengakak, hanya terdengar suara "kak-kak-kak" saja.
"Hwesio Siauw-lim-pai, kau siapakah datang-datang mencari penyakit dengan aku?" tanya Mo Hun, matanya disipitkan. mulutnya menyeringai.
"Pinceng adalah Wat Siok Hosiang, sengaja jauh-jauh datang ke sini untuk membalaskan kematian murid pinceng Thian Le Hosiang yang kau bunuh secara keji "
Kembali Mo Hurt tertawa "Aku tidak pernah mencatat nama musuh-musuh yang lelah tewas oleh pianku. Mungkin sekali muridmu itu berani menentangku dan mampus di tanganku, habis kau mau apakah?"
Wat Siok Hosiang marah sekali. Dia adalah tokoh Siauw-lim-pai dari tingkat empat, kepandaiannya tinggi, tugasnya di Siauw-lim-pai sebagai seorang di antara para penjaga tata lertib, maka wataknya juga keras. Tongkatnya dipukulkan ke atas tanah sampai batu-batu yang terpukul pada ambles, dan ia membentak.
"Yauwkoai (siluman) jahat, kalau pinceng tidak mampu membasmi percuma saja pinceng belajar silat sejak kecil!"
"Ho-ho-ho, lagaknya! Mari ku antar kau ke akhirat menjumpai roh muridmu!" jawab Toat-beng-pian Mo Hun dan secepat kilat menyambar, pian kelabang di tangannya sudah menyambar tanpa mengeluarkan suara Pian kelabang ini bukan main berat dan tajamnya, sekali saja mengenai leher akan putuslah leher orang. Entah sudah berapa puluh atau ratus manusia tewas oleh pian ini sehingga begitu menyambar, hawa yang berbau amis dan busuk keluar dari senjata mengerikan Ini. Namun Wat Siok Hosiang tidak menjadi gentar. Tongkatnya bergerak mantep menangkis senjata lawan.
"Traang....!" Pian kelabang terpukul mundur dan Toat-beng pian Mo Hun meringis, telapak tangannya terasa gemetar. Tahulah ia bahwa dalam hal tenaga Iweekang, ia masih kalah oleh jago tua Siauw-lim-pai ini Memang Siauw-lim-pai terkenal dengan Iweekangnya, akan tetapi ilmu silat Siauw-lim-pai terlalu jujur, tidak seperti Mo Hun yang memiliki tipu-tipu licik dalam ilmu silatnya yang tinggi.
Ketika untuk selanjutnya kedua senjata bertemu, Wat Siok Hosiang yang menjadi kaget karena tiap kali senjata tongkatnya berhasil menangkis pian
itu, tentu ujung pian masih bergerak ke arah muka atau tubuhnya dengan kecepatan luar biasa. Beberapa kali ia hampir menjadi korban karena tidak menyangka pian itu masih dapat menyerang biarpun sudah ditangkis.
Sementara itu. Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui setelah memeriksa keadaan luka di pundak Siok Bun secara teliti, lalu berkata kepada putera-nya, "Bun-ji, lukamu tidak ringan, racun Hek-tok-ciang amat jahat. Obat penawarnya hanya ada pada Auwyang Tek dan gurunya yang tentu saja tidak mungkin mau menolong. Satu-satunya orang yang dapat menolongmu hanya Yok-sian (Dewa Obat) di Thien-mu-san..." suara pendekar ini terdengar gelisah.
145
"Ayah maksudkan Koai yok-sian (Dewa Obat Aneh) orang gila yang berada di puncak Thien-mu-san itu? Aah, kalau begitu sama artinya bahwa anak takkan dapat tertolong lagi..." Siok Bun tidak menjadi berduka atau takut, hanya tersenyum pahit. "Biarlah, ayah. Anak sudah berusaha sekuat tenaga..."
Dua titik air mata jatuh menetes dari sepasang mata Ang-lian-ci Tan Sam Nio. Nyonya yang gagah ini tidak menangis. Air mata dua titik itupun cepat ia hapus dengan saputangan.
Siok Beng Hui menarik napas panjang. "Mati hidup berada di tangan Thian, mengapa takut-takut? Koai-yok-sian memang dianggap seperti orang gila, akan tetapi kiranya tidak percuma dia diberi nama Yok-sian (Dewa Obat). Biarpun aku sendiri belum pernah menyaksikan, namun sudah terlalu sering dibicarakan orang aneh yang seperti gila itu menyembuhkan pelbagai penyakit secara ajaib. Mengapa kau tidak coba-coba mendatanginya? Thien-mu-san tidak begitu jauh."
"Mari kuantar kau ke sana. Bun-ji." kata Tan Sam Nio.
"Jangan," mencegah suaminya. "Aku mendengar bahwa orang aneh itu tak pernah mau menolong orang sakit yang datangnya diantar dan selalu yang ia tolong adalah orang sakit yang berada seorang diri. Agaknya ia tidak mau cara pengobatannya disaksikan orang lain."
"Pergilah, anakku, pergilah mencari obat! Semoga Thian melindungimu..." Suara Tan Sam Nio terdengar sayu, tanda kegelisahan dan keharuan hatinya.
Siok Bun mentaati permintaan ayah bundanya dan pemuda ini berjalan pergi sambil meraba-raba pundaknya yang terasa sakit sekali. Hanya beberapa orang anggauta Tiong-gi-pai saja yang memperhatikan kepergian pemuda ini, disertai pandang mata yang mengandung keharuan dan rasa kasihan. Yang lain-lain tidak memperhatikannya karena sedang menonton pertandingan yang lebih hebat lagi antara hwesio tokoh Siauw-lim pui melawan Toat-beng-pian Mo Hun.
Memang pertempuran itu hebat sekali, dilakukan oleh dua orang ahli silat kelas tinggi. Kadang-kadang saking cepatnya mereka mainkan senjata, sampai tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan sinar senjata masing-masing. Ada kalanya dalam pengerahan adu tenaga Iweekang, senjata mereka saling tempel dan tubuh mereka tegang tidak bergerak, hanya terdengar suara "krek-krek" dari tulang-tulang mereka yang berkerotokan dan senjata mereka yang hampir tidak kuat menahan dorongan tenaga dalam.
Para anggauta Tiong-gi-pai diam-diam mengharapkan kemenangan Wat Siok Hosiang, karena biarpun hwesio Siauw-lim-pai ini tidak bertempur di fihak mereka, namun setidaknya hwesio itu melawan musuh mereka. Akan tetapi harapan inereka ini sia sia belaka. Setelah pertandingan berlangsung lima puluh jurus lebih dengan mati-matian. segera ternyata bahwa Mo Hun masih terlampau kuat bagi jago tua Siauw-lim-pai itu. Perlahan namun pasti, pian kelabang itu mendesak Wat Siok Hosiang, melakukan tekanan-tekanan berat dengan serangan-serangan mendadak dan cepat. Kasihan sekali hwesio yang sudah tua itu, hanya mengelak atau menangkis dengan tongkatnya, sama sekali tidak mampu membalas lagi. Mo Hun terus melakukan serangan bertubi-tubi sambil tertawa-tawa mengejek.
Setelah keadaannya terdesak sekali. Wat Siok Hosiang berlaku nekat dan mainkan Ilmu Tongkat Lo-han-tung di selingi Ilmu Tongkat Tee-tong-tung dari Siauw-lim-pai. Ilmu Tongkat Lo-han-tung ini adalah ilmu tongkat yang digerakkan secara lambat namun mengandung daya tahan yang besar, karena dilakukan dengan pengerahan tenaga Iweekang dan gwakang diselang-seling. Adapun Ilmu Tongkat Tee-tong-tung dimainkan dengan cara bergulingan dan tongkat menyambar-nyambar dari bawah dalam penyerangannya.
146
Hanya karena terdesak saja maka hwesio itu mainkan ilmu tongkat ini, karena ilmu tongkat ini adaiah ilmu vang amat berbahaya. Kalau berhasil, lawan dapat dirobohkan, namun kalau tidak, berarti kakek yang sudah tua itu akan kehabisan tenaga sendiri dan kalah. Memang beberapa kali Mo Hun menjadi kelabakan menghadapi dua ilmu silat tangguh dari Siauw-lim-pai ini. Pian kelabangnya sering kali terpukul mental dan pahanya sudah kena hantaman tongkat ketika lawannya bergulingan itu.
Namun kepandaian Mo Hun memang tinggi. Pukulan pada pahanya belum cukup kuat untuk merobohkannya dan biarpun ia tadinya terdesak. namun ia dapat membela diri secara baik dan cukup lama sampai lawannya akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya Wat Siok Hosiang tidak kuat lagi mainkan Lee-tong-tung dan berdiri dengan napas kempas-kempis menyenen kemis.
"Heh-heh-heh, hwesio berpenyakitan. Apa sudah siap memasuki alam baka bertemu dengan arwah muridmu?" Mo Hun mengejek, pian kelabang nya menyambar dahsyat! Wat Siok Hosiang sekuat tenaga mengangkat tongkatnya menangkis. Akan tetapi pian yang panjang itu hanya bagian tengahnya tertangkis, sedangkan bagian ujungnya masih terus menyerang ke arah leher hwesio Siauw-lim-pai itu!
Wat Siok Hosiang mencoba untuk mengelak, namun terlambat. Pundaknya terkena sambaran pian yang runcing, bajunya robek berikut kulit dan daging pundak, bahkan tulang pundak ikut remuk. Hwesio tua itu menjadi pucat, terhuyung ke belakang. Pian kelabang menyambar lagi!
"Cukup!" terdengar Kai Song Cinjin berseru dan tiba-tiba pian itu terhenti gerakannya di tengah udara, terpukul oleh semacam tenaga tidak kelihatan yang dilakukan oleh Kai Song Cinjin dari tempat duduknya. Diam-diam Mo Hun kaget bukan main, la memang tahu bahwa Raja Racun itu lihai bukan main akan tetapi menahan piannya hanya dengan hawa pukulan, itulah benar-benar di luar dugaannya! la tidak berani membantah, hanya ha-hah-he-heh melangkah mundur.
Kai Song Cinjin kini sudah berdiri, ternyata tubuhnya tinggi besar dan sikapnya keren. "Wat Siok Hosiang. pinceng sengaja datang melerai, oleh karena Mo Hun sicu pada waktu ini bekerja sama dengan pinceng melindungi keangkeran kerajaan. Oleh karena di antara pinceng dan Siauw-lim-pai memang tidak pernah ada permusuhan, pinceng anggap habis sampai di sini saja. Kecuali kalau Mo Hun sicu mengadakan pertempuran dengan orang-orang Siauw-lim-pai tidak di depan pinceng, hal itu adalah urusan pribadi dan masa bodoh. Harap kau suka menerima kata-kata pinceng ini dan mengundurkan diri."
Wat Siok Hosiang sudah merasa dikalahkan, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya memandang kepada Mo Hun dengan mata berkilat. "Lain kali kita bertemu kembali," katanya kepada Mo Hun lalu menyeret tongkatnya pergi dari situ.
Mo Hun tertawa bergelak dan suara ketawanya segera diikuti oleh kawan-kawannya ketika mereka melihat fihak Tiong-gi-pai juga mengundurkan diri tanpa bersuara lagi. Kekalahan dnri fihak Tiong-gi-pai kali ini benar-benar menyakitkan hati, terutama sekali bagi Siok Beng Hui. Juga Kwee Cun Gan merasa penasaran tidak mendapat perkenan dari Raja Muda Yung Lo yang masih segan memusuhi pembesar pembesar yang disayang oleh ayahnya, untuk menghadapi pertandingan pibu, mereka selalu menderita kekalahan.
Siok Bun dalam keadaan lerluka berat mendaki Bukit Thien-mu-san. Bukit ini letaknya tidak jauh dari kota raja Nan-king, merupakan bukit yang subur dan mengandung hutan-hutan lebat. Sudah belasan
147
tahun di dalam sebuah di antara hutan-hutan di gunung ini terdapat seorang aneh yang keadaannya lebih tepat disebut gila.
Para pemburu dan penebang kayu kadang-kadang melihat orang ini tertawa-tawa dan bicara seorang diri di dalam hutan, ada kalanya sampai berbulan-bulan orang tidak melihatnya-Kadang-kadang ia kedapatan berada dalam sebuah rumah gubuk di dalam hutan itu, duduk samadhi seorang diri. Sukar sekali mengajak orang ini bicara, karena selain ia jarang bicara dengan orang, kalau sudah bicara ngacau tidak karuan. Akan tetapi karena sudah banyak sekali orang mengaku ditolong nyawanya dari semacam penyakit berat, ia mendapat julukan Koai-yok-sian atau Dewa Obat Gila, karena kepandaiannya mengobati seperti dewa akan telapi wataknya seperti orang gila!
Pada siang hari itu, ketika Siok Bun mendaki Bukit Thien-mu-san, keadaan di perjalanan sunyi sekali. Tiba-tiba kesunyian terpecah oleh suara orang yang berlari-lari dari bawah dan terkejutlah hati Siok Bun menyaksikan belasan orang berlari-lari cepat mendaki bukit. Melihat cara orang-orang itu berlari cepat, mudah dikenal bahwa mereka adalah orang-orang kang ouw yang berkepandaian tinggi. Cepat Siok Bun menyelinap ke dalam semak-semak dan membiarkan mereka itu lewat, la melihat dua belas orang yang sikapnya gagah, tujuh orang masih muda, yang empat sudah tua dan seorang lagi adalah nenek bongkok, berlari sambil bercakap-cakap.
"Dia aneh dan gila, bagaimana kalau tidak mau menolong?" kata seorang.
"Kita paksa dan siksa dia sampai menuruti" kata nenek itu yang menyeret tongkatnya.
Setelah mereka lewat dekat, baru ketahuan oleh Siok Bun bahwa mereka itu masing-masing menderita luka, baik luka luar badan maupun luka dalam. Agaknya mereka baru saja mengalami pertempuran dan menderita kekalahan, seperti dia! Anehnya, luka pada tubuh mereka itu bertanda jari tangan merah. Siok Bun benar-benar heran sekali, keadaan mereka tak jauh dengan keadaannya sendiri, hanya bedanya, kalau ia dilukai oleh tangan hitam, mereka itu agaknya dilukai oleh tangan merah.
Melihat cara mereka bergerak itu menunjukkan bahwa mereka berkepandaian, dan dapat dibayangkan betapa lihainya orang genangan merah yang mengalahkan mereka. Siapakah dia yang bertangan merah? Siok Bun sudah banyak mendengar tentang tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, akan tetapi belum pernah mendengar tentang orang yang memiliki tangan merah.
Hemmm, sikap mereka ini bukan seperti orang baik-baik, pikir Siok Bun. Tentu mereka akan minta pertolongan Koai-yok-sian, akan tetapi mereka hendak memaksanya Diam-diam ia lalu mengikuti mereka itu naik ke puncak, karena hutan di mana ahli pengobatan gila itu tinggal adalah hutan dekat puncak. Benar saja dugaannya. Rombongan dua belas orang itu memasuki hutan dan tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah gubuk butut. Mereka berkumpul di depan pintu gubuk yang tertutup dan menggedor-gedor pintu itu.
"Hee, Koai-yok-sian, bukalah pintu, kami mau bicara!" kata seorang di antara mereka yang masih muda.
"Koai yok sian, keluarlah untuk mengobati kami!" kata nenek bongkok yang menyeret tongkat. Nenek ini terluka pada pipi kirinya yang ada tanda lima jari tangan merah. Wajahnya jadi menggelikan sekali.
Tak lama kemudian, dari dalam terdengar suara parau terkekeh-kekeh mentertawakan mereka, disusul kata-kata yang tidak karuan, "Heh-heh-heh, banyak lalat busuk. He-he-heh!"
148
Nenek itu nampaknya menjadi marah. Tangan kirinya didorongkan ke depan dan"brakk!" pintu itu pecah berantakan.
"Orang gila, jangan kau berani mempermainkan kami. Dengarlah, kami Hek-lim Ngo-tai-ong (Lima Raja Hutan Hitam) yang datang, minta kau mengobati kami. Kami akan memberi hadiah banyak emas kalau kau mau. kalau tidak, hemmm, jangan harap bisa hidup dengan badan utuh lagi. Hayo keluar!"
Tiba-tiba terdengar suara yang tenang namun berpengaruh dari dalam, di sebelah belakang gubuk itu, "Koai-yok-sian, biarkan saja mereka itu. Kalau ada yang berani masuk, pinto yang akan usir."
Suara ini menandakan bahwa selain si gila, masih ada orang lain di dalam gubuk itu. Hal ini membuat dua belas orang itu tercengang. Seorang di antara mereka, laki-laki tua bercambang bauk, menjadi marah. Dengan golok terhunus ia melompat ke dalam gubuk melalui pintu yang sudah ambruk daun pintunya itu.
Akan tetapi, begitu ia melompat masuk, ia terlempar keluar kembali dalam keadaan tubuh lemas lumpuh terkena totokan yang luar biasa hebatnya! Beberapa orang kawannya maju menolong, akan tetapi akhirnya hanya nenek bertongkat itu saja yang mampu membebaskan totokan itu. Mereka menjadi panik, hendak menyerbu tidak berani.
"Bakar saja gubuknya! Bakar, tentu si gila mau keluar," kata seorang. Semua setuju dan hendak membakar gubuk itu. Pada saat itu Siok Bun melompat keluar dari sembunyinya, mencabut keluar senjata kaitannya dan membentak,
"Kalian ini perampok-perampok sungguh tak tahu malu! Beginikah cara orang datang minta tolong? Benar bocengli (tidak tahu aturan)! Kalau kalian nekat hendak membakar rumah orang yang kalian hendak mintai tolong, terpaksa aku Siok Bun tidak mau tinggal diam begitu saja!"
Melihat yang muncul adalah seorang pemuda yang pundak kirinya sudah terluka hebat, tentu saja kawanan perampok itu tidak takut. Malah tiga orang muda di antara mereka sambil tertawa mengejek lalu menyerbu dengan golok di tangan. Seorang di antara yang tiga ini membentak.
"Kau ini tikus dapur yang sudah mau mampus, masih banyak tingkah!" Akan tetapi begitu Siok Bun menggerakkan kaitannya, tiga orang itu menjerit dan golok mereka terlempar, lengan tangan mereka sudah tergores ujung kaitan!
Empat orang kakek dan seorang nenek yang menjadi kepala-kepala rampok itu, menjadi kagum dan juga marah. Segera mereka semua maju untuk mengeroyok Siok Bun, namun Siok Bun tidak menjadi gentar. Sudah kepalang, pikirnya. Biarpun dia terluka parah dan tenaganya tinggal setengah bagian saja, namun lebih baik mati mempertahankan kebenaran daripada berpeluk tangan saja menyaksikan kejahatan dilakukan orang. Ia memutar kaitannya dan di lain saat ia telah dikeroyok. Ternyata kepandaian lima orang itupun lihai. Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, biarpun Siok Bun sudah terluka. tentu SioK Bun dapat melawan mereka Akan tetapi celakanya, orang-orang itu maju bersama dan mendesaknya. Keadaan Siok Bun benar-benar berbahaya sekali.
"Orang muda sombong, kepandaianmu boleh juga " Nenek itu berkata sambil mendesak dengan tongkatnya. "Kau juga terluka, lebih baik kita sama-sama menyeret keluar Koai-yok-sian untuk mengobati kita." Memang nenek itu kurang nafsunya berkelahi dalam keadaan terluka hebat oleh tangan merah.
149
"Cih! Siapa sudi bersekutu dengan sekawanan perampok jahat yang tidak mengenal perikemanusiaan? Jangan kata kalian hendak minta pertolongan tuan rumah, baru datang sebagai tamu saja sudah berlaku kurang patut. Kalian pantas dihajar!"
"Pemuda goblok, dalam keadaan begini kau masih tinggi hati? Kau yang patut dihajar. Hayo pukul mampus anjing ini!" Nenek itu menjerit dan mempercepat gerakan tongkatnya. Juga kawan-kawannya bergerak makin cepat dan dalam jurus-jurus berikutnya Siok Bun sudah tak dapat membalas serangan mereka, hanya memutar kaitannya membela diri.
Akan tetapi karena luka di pundak kirinya sakit sekali, ia telah mendapat bacokan yang menyerempet pahanya. Darah mengalir membasahi celananya. Namun pemuda yang gagah perkasa ini pantang mundur atau menyerah, terus melakukan perlawanan. Tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan dua orang terlempar dari tempat pertempuran. Ketika kawanan perampok itu menengok, si nenek berseru kaget.
"Celaka... Ang-sin-jiu datang...!" Dan berlari-larianlah mereka sambil menyeret kawan yang terluka. Sebentar saja tempat itu ditinggalkan oleh kawanan perampok tadi. Siok Bun melihat seorang pemuda yang tampan sekali mengejar mereka. Iapun ikut mengejar.. menyeret kakinya yang terluka karena ingin tahu siapa Ang-sin-jiu dan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan gerakan yang cepat dan ringan, pemuda tampan itu sudah dapat menyusul kawanan perampok. Sekali melompat ia telah melewati nenek yang galak tadi dan begitu ia mengulur tangan memegang pundak nenek itu, si nenek tak dapat bergerak dan berdiri gemetar!
"Ang-sin-jiu ampunkan aku yang sudah tua..." katanya.
Pemuda itu tersenyum dan sekarang Siok Bun dari tempat intaiannya melihat wajah yang ganteng sekali, dengan mata jeli dan tajam, hidung mancung dan bibir yang merah tersenyum-senyum. Bukan main tampannya pemuda ini, pikir Siok Bun. tampan dan gagah. Akan tetapi mengapa kedua telapak tangannya itu putih bersih saja, tidak merah?
"Hek-lim Ngo-tai ong, kalian sudah menerima hajaran dari aku. Hajaran itu bukan membikin kalian kapok, malah di sini kalian berani mengganggu dan mengeroyok orang Apakah kalian baru kapok kalau nyawa kalian sudah meninggalkan raga?" Suara pemuda itu halus.namun mengandung pengaruh dan ancaman, membuat dua belas orang itu menjadi pucat.
"Siauw-hiap, mohon sudi memberi ampun kepada kami," kata seorang di antara empat kakek dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuiti oleh sebelas orang kawannya. "Sesungguhnya kami tidak bermaksud mengganggu Koai-yok-sian atau pemuda ini, akan tetapi kami merasa khawatir dan gelisah karena, karena kami sudah terluka oleh siauw-hiap"
Pemuda itu tersenyum dan biji matanya dimainkan, seakan-akan merasa geli. "Apakah kalian menganggap aku ini raja akhirat yang suka mencabut nyawa? Memang kalian sudah kuberi tanda, akan tetapi aku masih belum tega untuk mencabut nyawa. Entah kalau kelak melihat kekejian kalian lagi, sudah pasti aku takkan memberi ampun." Ia mengeluarkan bungkusan kertas dari saku bajunya dan melemparkannya ke tanah. "Di dalam bungkusan ini terdapat duapuluh empat butir obat. Makanlah seorang dua butir dan tanda-tanda merah itu dalam Waktu sebulan akan lenyap. Tanpa obat ini, biarpun kalian takkan mati, tanda itu selamanya takkan bisa hilang lagi. Nah, pergilah!"
150
Duabelas orang itu menjadi girang sekali, ber-kali-kali mengucap terima kasih lalu beramai-ramai pergi turun gunung. Siok Bun keluar dari tempat sembunyinya. Ia amat tertarik oleh kegagahan pemuda itu dan ingin berkenalan.
Melihat Siok Bun muncul, pemuda itu tersenyum, dan menjura. "Saudara benar gagah perkasa dan berbudi mulia. Siauwte (adik) merasa kagum sekali. Bolehkan siauwte mengetahui nama saudara yang terhormat?"
Siok Bun makin tertarik dan suka kepada pemuda yang amat sopan dan ramah ini. Melihat keadaannya, memang pemuda ini tidak lebih tua dari padanya, bahkan lebih patut kalau masih disebut remaja, sungguhpun sikap yang sopan merendah itu membuktikan adanya pendidikan baik dan pengalaman luas. Iapun balas menjura dengan kaku karena pundak dan pahanya sakit-sakit.
"Aku yang bodoh bernama Bun she Siok. Tentangkepandaianku amat memalukan untuk dibicarakan, sebaliknya saudaralah yang patut dipuji dan amat mengagumkan hatiku. Siapakah saudara dan apa betul saudara yang mereka sebut-sebut... Ang-sin-jiu (Si Tangan Merah Sakti)?"
Sejak mendengar nama Siok Bun, pemuda itu sudah mengangkat muka memandang penuh perhatian. "Saudara she Siok....? Masih ada hubungan kiranya dengan Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, melihat senjata yang saudara bawa itu?"
"Dia adalah ayahku."
"Aah, pantas... pantas. Nama besar Siok lo-cianpwe sudah lama kudengar di mana-mana. Kiranya puteranyapun demikian gagah perkasa." Tiba-tiba wajah pemuda tampan itu nampak kaget alisnya yang hitam sekali berkerut. "Aah.. luka di pundakmu itu... bukankah itu bekas Hek-tok-ciang...?"
Pada saat itu Siok Bun sudah hamipir tidak kuat menahan rasa sakit di pundaknya. Apa lagi ia habis bertempur hebat, peredaran darahnya cepat sehingga hawa racun itu menggelapkan pikirannya.
Akan tetapi ia menggigit bibir menahan diri. "Betul... Hek-tok-ciang. aduh... maaf.... kepalaku pening... tak kuat lagi..." Dan Siok Bun selanjutnya sudah tidak ingat lagi. la terguling dan tentu roboh terbanting di atas tanah kalau saja pemuda itu dengan tangkasnya tidak segera menyambar tubuhnya dan merebahkannya di atas rumput.
"Kasihan... pemuda gagah perkasa..." terdengar pemuda itu berbisik. Dengan cepat tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu merobek baju di bagian pundak yang terluka oleh pukulan Hek-tok-ciang. Alisnya yang tebal itu bergerak-gerak ketika dengan teliti ia memeriksa, la nampak ragu-ragu dan gelisah dan terdengar ia berkali-kali berkata seorang diri. "Haruskah aku...?" Lalu dijawabnya sendiri, "Mengapa tidak? Dia gagah perkasa lagi bijaksana dan mulia hatinya, putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui yang dipuji puji namanya oleh sucouw..."
Dengan cekatan ia memijit jalan darah di sana-sini sampai akhirnya Siok Bun siuman kembali dari pingsannya. Melihat ia rebah dan pemuda tampan tadi duduk di dekatnya, Siok Bun segera melompat bangun. Akan tetapi pemuda itu cepat menekan pundaknya dan berkata lirih namun keren,
"Siok-twako, jangan bergerak. Lukamu hebat dan darahmu mulai keracunan, karena tadi kau mengerahkan tenaga ketika bertempur. Tenanglah, biar siauwte mencoba mengobatimu. Jangan membantah dan jangan bicara, biar siauwte menerangkan. Siauwte bernama Oei Siok Ho murid Kun-lun-pai. Oleh sucouw, siauwte sudah dilatih memiliki Ilmu Ang-sin-ciang, di dalam darah siauwte
151
mengandung racun merah yang dapat melawan keganasan racun hitam. Kita dari satu golongan, kau percayalah, siauwte sanggup mengobati lukamu dan mengusir racun Hek-tok-ciang dari pundakmu."
Siok Bun memandang dengan mata kagum, juga terharu melihat orang yang baru saja dijumpainya sudah suka menolongnya. Akan tetapi ketika pemuda yang bernama Oei Siok Ho itu mulai melakukan cara pengobatannya, hatinya menjadi terharu sekali dan ia merasa kaget. Siok Ho ternyata mulai menyedot darah dari luka di pundak itu dengan mulutnya! Kalau tidak mendengar kata-kata tadi, tentu ia tidak akan membiarkan orang berlaku sedemikian berbahaya. Ia tahu bahwa racun Hek-tok-ciang amat berbahaya dan lihai.
Bagaimana pemuda ini berani menyedotnya dengan mulut? la meramkan matanya. Tak sanggup menyaksikan pertolongan yang mengandung pengorbanan besar ini. Tidak saja pemuda ini terancam keselamatannya, juga siapa orangnya tidak merasa jijik menyedot darah keracunan dari luka orang lain? Apa lagi baru saja bertemu! Ketika ia meramkan matanya, dengan kagum ia merasa betapa tenaga sedotan, mulut pemuda itu kuat sekali. Bibir pemuda itu hangat-hangat menempel kulit pundaknya dan dari mulut terdapat tenaga menyedot yang memaksa darahnya mengalir ke pundak.
Tak lama kemudian Siok Ho meludahkan darah yang sudah menghitam dan berbau busuk. Tak terasa lagi mengalir dua titik air mata dari mata Siok Bun yang dimeramkan. Jangankan sampai tertolong nyawanya, andaikata tidak tertolong sekalipun dan ia mati, rohnya akan selalu berhutang budi kepada pemuda luar biasa ini.
Tiga kali Siok Ho menyedot dan banyak darah yang keluar, akan tetapi Siok Bun menjadi makin lemas tubuhnya. Dengan jari-jari tangan cekatan Siok Ho lalu membungkus luka itu setelah menempeli obat bubuk. Kemudian ia duduk bersila di depan Siok Bun yang juga bersila di atas tanah.
"Siok-twako, sekarang kau harus mengumpulkan seluruh perhatian dan tenaga dalam, buka serhua jalan darahmu, terutama di lengan kiri karena aku akan memberikan darahku, yang mengandung racun merah ke dalam tubuhmu."
"Akan tetapi. ." bantah Siok Bun kaget.
"Ssttt, diamlah! Itulah cara pengobatan satu-satunya Andaikata Koai-yok-sian suka menolongmu, hal ini kuragukan, karena orangnya sinting, belum tentu ia sanggup mengusir racun hitam di pundakmu, kecuali kalau ia memiliki katak merah. Sudah, kau bersiaplah, aku hanya menolong karena kita sama-sama manusia segolongan pula, menolongmu bukan berarti aku menyumbang nyawaku."
Setelah berkata demikian, pemuda itu mengambil sebatang jarum perak yang cepat ia tusukkan ke lengannya, tepat pada jalan darah besar, kemudian iapun melubangi kulit lengan kiri Siok Bun. Setelah itu menempelkan lengannya pada lengan Siok Bun, tepat pada kulit yang sudah dilubangi dari mana darahnya mengalir keluar memasuki lengan Siok Bun.
Pemindahan atau pengoperan darah macam ini tak dapat dilakukan secara begitu saja kalau kedua orang itu tidak memiliki k pandaian tinggi. Andaikata yang memiliki kepandaian tinggi hanya Oei Siok Ho seorang, takkan mungkin ia dapat memindahkan darahnya kalau si penerima tidak memiliki tenaga dalam untuk menyedot darah itu ke dalam lengannya sendiri. Dengan cara bersila keduanya mengerahkan tenaga, Oei Siok Ho mendorong darahnya keluar, sebaliknya Siok Bun mengerahkan tenaga menerima darah itu.
Siok Bun merasa darah yang panas sekali memasuki lengannya, membuat kepalanya pening sekali. Akan tetapi ia bertahan dan berkat latihan Iweekangnya yang sudah dalam ia dapat menahan juga.
152
Tiba tiba Siok Bun muntah-muntah dan karena mereka berhadapan, tentu saja ia mengotori pakaian Oei Siok Ho. Akan tetapi pemuda aneh yang menolongnya itu malah tertawa puas.
"Tertolong sudah... syukur..!" Dan ia melepaskan lengannya.
Ketika Siok Bun sudah sehat kembali dari rasa pusing dan muak, ia memandang dan.... pemuda itu nampaknya lelah bukan main, duduk sambil meramkan mata, napas memburu dan mukanya yang tampan menjadi agak pucat, peluhnya memenuhi muka dan leher. Tergerak hati Siok Bun. la mengulurkan tangan dan menggunakan ujung lengan baju menyusuti peluh di muka dan leher itu, akan tetapi Oei Siok Ho cepat menolak tangannya, lalu memandang dan tersenyum.
"Selamat, Siok-twako. Kau sudah tidak terancam maut lagi." Dan pemuda luar biasa ini bangkit berdiri. Siok Bun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan penolongnya.
"In-kong (tuan penolong), aku Siok Bun sampai mati takkan melupakan budi yang mulia ini. Andaikata di dunia ini aku tidak dapat membalas budimu, biarlah di penjelmaan kelak aku menjadi kuda atau anjingmu...."
Oei Siok Ho dengan gagap-gugup mengangkat bangun Siok Bun. "Aih...aih... kenapa kau memakai sungkan-sungkan seperti ini, Siok-twako? Tak baik dilihat orang. Aku sudah merasa puas kalau kau mengaku aku sebagai seorang sahabatmu."
"Sahabat? Kau lebih dari adikku sendiri! Biarlah mulai saat ini, kalau aku tidak terlalu kurang ajar dan lancang, kau kuanggap saudaraku. Saudara Oei. berapakah usiamu, tua mana kau dengan aku?"
Oei Siok Ho tersenyum. "Usiaku delapan belas tahun."
Siok Bun menggeleng-geleng kepala. "Usia delapan belas tahun sudah memiliki kepandaian sehebat ini, bukan main! Oei-siauwte, kau adalah adikku. Aku sudah berusia dua puluh tahun. Biarlah kita bersumpah mengangkat saudara...."
Akan tetapi, aneh sekali. Oei Siok Ho menggeleng kepala. "Tak usah, cukup kalau kita bersahabat atau bersaudara, tak perlu mengangkat saudara dan bersumpah. Hati manusia selalu berubah, tidak akan tetap. Alangkah mengecewakan kalau kelak seorang di antara kita melanggar sumpah. Eh, Siok-twako, apakah kau cukup kuat untuk bertanding?"
"Apa...? Bertanding dengan siapa?" Siok Bun cepat menengok ke kanan kiri khawatir kalau-kalau muncul musuh.
"Dengan aku!"
Siok Bun sampai melongo mendengar ini. "Aku...? Bertanding dengan.. dengan... kau...? Apa artinya?"
Oei Siok Ho bicara dengan sikap bersungguh-sungguh, "Dengarlah, Siok-twako. Sesungguhnya akupun mempunyai permusuhan dengan musuh-
musuhmu, dengan pemilik Hek-tok-ciang. Baik kuceritakan secara ringkas saja." Maka berceriteralah Oei Siok Ho tentang keadaan di Kun-lun-san beberapa tahun yang lalu.
Seperti pembaca tentu masih ingat, beberapa tahun yang lalu. Tok-ong Kai Song Cinjin pergi menantang ke Kun-lun-pai untuk melampiaskan kemarahan hatinya terhadap Souw Teng Wi yang
153
menjadi anak murid Kun-lun-pai. Seperti telah diceritakan di bagian depan, mulut Tok-ong Kai Song Cinjin sampai rusak dalam pertempurannya melawan Souw Teng Wi. Dengan hati geram Kai Song Cinjin menuju ke Kun-lun dikawani oleh Ma thouw Koai-tung Kui Ek membawa pasukan.
Di tengah perjalanan Kai Song Cinjin bertemu dengan Toat-beng-pian Mo Hun yang akhirnya ikut pula ke Kun-lun-pai untuk mengobrak-abrik partai persilatan itu. Pertempuran hebat terjadi di Kun-lun-pai di mana orang-orang Kun-lun-pai banyak sekali yang tewas. Yang lain melarikan diri dan hanya Swan Thai Couwsu guru besar Kun-lun-pai berhasil mengusir Kai Song Cinjin (bagian ini akan diceritakan di bagian belakang), akan tetapi guru besar yang sangat tua ini juga menderita luka berat.
Di antara anak murid Kun-lun-pai, terdapat Oei Siok Ho yang masih muda sekali akan tetapi bersemangat besar, tak pernah meninggalkan couw-sunya dalam pertempuran itu. Melihat bakat baik dalam diri Oei Siok Ho dan melihat bahwa dirinya takkan lama lagi hidup di dunia, Swan Thai Couwsu lalu mewariskan kepandaiannya kepada Oei Siok Ho, bahkan memberi ilmu pukulan Ang -sin-ciang untuk melawan Hek-tok-ciang dari Kai Song Cinjin.
"Demikianlah Siok-twako, pengalaman dan riwayat ringkasku. Karena kau terluka oleh Hek-tok-ciang, aku harus tahu sampai di mana kepandaian orang yang mempergunakannya. Cara terbaik adalah mengukur kepandaianmu."
"Dia itu murid Kai Song Cinjin, namanya Auwyang Tek, putera Menteri Auwyang Peng yang jahat. Kepandaiannya tidak berapa tinggi, setingkat dengan aku, hanya Hek-tok ciang yang dipergunakan memang hebat." Siok Bun lalu menuturkan jalannya pertandingan. Kemudian ia memaksa diri bertanding dua puluh jurus melawan Oei Siok Ho, sampai pemuda itu merasa puas karena dapat mengira-ngira sampai di mana tingkat kepandaian Auwyang Tek.
"Aku harus berlatih lagi, sedikitnya setahun. Melihat kepandaianmu, tingkatku juga tidak banyak lebih tinggi dari tingkat Auwyang Tek," kata Oei Siok Ho.
Pada saat itu, dari gubuk Koai-yok-sian berkelebat bayangan dua orang yang cepat sekali gerakannya. Melihat ini, Oei Siok Ho berkata, "Selamat berpisah, twako. Lebih baik kita berpisah sekarang, sampai bersua kembali!"
Siok Bun hendak mencegah, akan tetapi pemuda itu sudah berkelebat lenyap dari depannya. Siok Bun masih merasa lemah sekali tubuhnya, pula merasa takkan sanggup mengejar. Ia hanya menghela napas dan menanti datangnya dua orang tadi. Mereka itu benar-benar memiliki gerakan yang cepat sekali dan sekali lagi Siok Bun menghela napas. Terlalu banyak orang pandai di dunia ini dan ia makin lama makin merasa dirinya tidak berarti.
Dua orang itu adalah pemuda tinggi tegap yang berwajah gagah dan tampan, bersama seorang kakek berpakaian tosu yang sikapnya angker, matanya mengandung sinar galak dan selalu muram. Tosu itu memandang kepada Siok Bun dan bertanya, suaranya bernada kaku, "Di mana tikus-tikus tadi?"
Siok Bun merasa heran, juga tidak senang melihat sikap orang demikian kasar, akan tetapi ia menjawab juga, "Kalau lotiang maksudkan para perampok tadi, sudah lama mereka melarikan diri." Jawaban ini juga mengandung sindiran bahwa setelah bahaya lewat baru orang datang!
Tosu itu mengibaskan tangannya ke kiri dan... sebatang pohon besar yang tumbuh di situ tumbang mengeluarkan suara keras. "Kalau tidak terlambat, mereka akan terbasmi habis!" kata tosu itu yang
154
kemudian. berdiri menjauh tidak perduli lagi kepada Siok Bun. Pemuda ini menjadi pucat Baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa tosu itu benar-benar hebat, malah jauh lebih lihai dari pada Oei Siok Ho! Ia memandang kepada pemuda ganteng yang masih berdiri di depannya dan ternyata pemuda ini sudah menjura kepadanya. Sikap pemuda ini tidak sehalus Oei Siok Ho, namun cukup hormat dan sinar matanya mengandung kejujuran.
"Saudara yang gagah, kaukah yang sudah berhasil mengusir mereka?" tanya pemuda itu.
Siok Bun menggeleng kepalanya "Bukan, aku malah hampir tewas oleh mereka kalau tidak tertolong orang lain."
Pada saat itu, terbongkok-bongkok keluar dari gubuknya, Koai-yok-sian berjalan menyusul dan sudah tiba di situ. Siok Bun memandang penuh perhatian dan melihat orang yang dijuluki "Dewa Obat" itu benar-benar tidak seberapa, bahkan tidak patut menjadi orang pandai. Orangnya sudah tua, paling sedikit enam puluh tahun, rambutnya seperti sarang burung, pendek awut-awutan di atas kepala, kering keriting seperti habis didekatkan api panas atau mungkin karena kepalanya selalu panas maka rambut itu tumbuhnya seperti rumput di musim kering.
Tubuhnya bongkok, bongkoknya menjuru di punggung seperti telah putus tulang punggungnya dan bersambung kembali dalam keadaan bengkong. Kepalanya kecil, leher panjang, dan mukanya penuh keriput dan tahi lalat sehingga sukar sekali melihat bayangan perasaan pada mukanya. Mulutnya yang sudah ompong sama sekali itu nyoprat-nyaprut selalu bergerak-gerak seperti orang mengunyah sesuatu. Pendeknya, gambaran orang yang tidak mendatangkan kesan istimewa pada hati. Akan tetapi, seburuk itu rupanya, datang-datang kakek bongkok ini mengeluarkan ucapan yang mengejutkan dan mengagumkan hati Siok Bun.
"Heh-heh-heh racun Hek-tok-ciang terusir pergi oleh racun merah! Hebat... hebat... orang muda, bagaimana bisa ada racun merah dalam darahmu?"
Kakek itu memandang kepada Siok Bun penuh perhatian. Mendengar ucapan ini, Siok Bun segera menaruh hormat kepada kakek yang tak seberapa itu, karena benar-benar pandang mata kakek ini berbeda dengan orang lain.
"Ucapan lo-sinshe memang tepat sekali. Aku telah menjadi korban pukulan Hek-tok-ciang dan baru saja ada orang menolongku. Tadinya aku berniat datang pada lo-sinshe memohon obat, akan tetapi terhalang oleh adanya gerombolan orang jahat tadi. Baiknya aku bertemu dengan seorang anak murid Kun-lun-pai dan mendapat pertolongan darinya."
"Aneh... aneh, apakah kau bertemu dengan Swan Thai Couwsu? Apa mungkin Swan Thai Couwsu keluar dari lubang kubur untuk menolongmu?"
Sebelum Siok Bun menjawab, pemuda di depannya tadi telah melangkah maju dan dengan penuh gairah bertanya, "Saudara yang gagah, katakanlah, apakah betul kau terkena Hek-tok-ciang? Kau telah dilukai oleh siapakah?"
"Memang aku telah bertempur melawan Auwyang Tek dan terluka...."
Pemuda ini kini memegang tangannya dan bertanya, wajahnya berseri, ‘Saudaraku, kau tentu membela Tiong-gi-pai maka kau sampai bertempur dengan iblis Auwyang Tek itu...!"
Siok Bun tercengang "Memang, aku bertempur di fihak Tiong-gi-pai...."
155
"Bolehkah aku mengetahui namamu? Aku bernama Liem Han Sin, ayahku Liem Hoan pernah ditolong oleh Tiong-gi-pai..."
Siok Bun menjadi girang sekali dan memeluk pundak pemuda ganteng itu.
"Ah, kiranya kau saudara Liem Han Sin? Tentu saja aku mengenal Liem-lopek beliau menjadi anggauta kami. Aku Siok Bun........"
"Hemmm, kau putera Siok Beng Hui....?" tiba tiba tosu yang sejak tadi diam saja itu bertanya kepada Siok Bun.
Siok Bun mengangguk membenarkan, la masih belum tahu siapa adanya tosu itu dan melihat sikap yang kaku dan kasar, ia mendongkol juga. Akan tetapi tosu itu segera berkata kepada Liem Han Sin dengan suara ketus,
"Nah, kau dengar tidak? Putera Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui juga tidak mampu melawan, terluka dan ayahnya tidak mampu menolong. Mana bisa kau melawan Kai Song Cinjin? Perlu apa semua pertempuran itu, hanya menyia-nyiakan nyawa saja? Han Sin, lebih baik kau pergi ikut aku. mencucikan diri melepaskan Ikatan duniawi!"
Han Sin menjatuhkan diri berlutut di depan losu itu. "Suhu, tak mungkin teecu dapat melakukan hal itu. Harap ampunkan bahwa kali ini teecu tidak memenuhi perintah suhu. Auwyang Tek si laknat telah membunuh dua orang saudara perempuanku, sudah membuat keluarga teecu cerai-berai dan kocar-kacir. Kalau bukan teecu yang membasmi manusia itu siapa lagi! Bahkan teecu mohon bantuan suhu dalam usaha teecu ini...."
"Huh, gila kau! Pinto tidak sudi berurusan dengan segala keruwetan dunia dengan kekejiannya. Perduli apa pinto dengan pertentangan antara Raja Beng dan puteranya?"
"Kalau begitu, teecu mohon doa restu, karena teecu hendak pergi bersama saudara Siok Bun ini, menuju ke kotaraja menghadapi Auwyang Tek."
Siok Bun sekarang baru tahu bahwa tosu galak ini bukan lain adalah guru Liem Han Sin, maka iapun tidak berani berlaku kurang hormat. "To-liang, biarpun pada pangkalnya pertentangan itu merupakan pertentangan kaisar dan puteranya, namun sesungguhnya merupakan pertandingan antara yang baik dan yang jahat. Menteri durna Auwyang Peng telah mengumpulkan orang-orang jahat menindas rakyat dan para patriot, kalau bukan orang-orang gagah di dunia yang membasminya, tentu keadaan rakyat akan terjepit dan tertindas oleh kekuasaan jahat."
"Hayaaa, kau ini anak kecil tahu apa tentang baik dan jabat?" Tosu itu mencela Siok Bun, kemudian ia menarik napas panjang, memandang muridnya.
"Kau ada bakat baik menjadi pendeta suci, akan tetapi memang nasib manusia itu tak dapat diubah lagi, seluruhnya berada di tangan Yang Kuasa. Kau hendak kembali ke dunia ramai, baiklah. He, si gila, orang Kun-lun telah dapat mengobati luka bekas Hek-tok-ciang. Pinto masih belum percaya apakah orang segila kau juga dapati" Tiba-tiba ia menegur dan membentak Koai-yok-sian.
"Heh-heh-heh, Im-yang Thian-cu iblis muram, kau sejak mudamu masih begitu saja. Apa hanya Swan Thai Couwsu saja yang dapat mencari katak merah? Aku si gila juga dapat. Kau lihat ini?" Koai-yok-sian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya yang tidak karuan itu dan ternyata yang dikeluarkan itu adalah sebuah katak merah yang sudah mati dan kering.
156
Tiba-tiba tangan tosu yang bernama Im-yang Thian-cu itu menyambar dan... bangkai katak itu sudah berpindah tangan. Gerakan Im-yang Thian-cu itu cepat bukan main sampai Siok Bun sendiri tidak melihat gerakan tangannya.
Dewa Obat itu tidak menjadi kaget, malah tertawa terkekeh-kekeh. "Memang obatku hanya boleh diambil dengan kekerasan. Heh-heh-heh, kau masih selalu tangkas, iblis muram! Akan tetapi jangan kira kau bisa menangkan aku. Kau sudah mengambil katak merah untuk muridmu, akan tetapi tanpa mengerti cara penggunaannya, apa sih artinya? Paling-paling muridmu akan mampus terkena racun merah. Heh-heh-heh!"
Im-yang Thian-cu terkejut sekali. Cepat tangannya menyambar dan ia telah menyambar tongkat yang dipegang oleh Koai-yok-sian, kemudian sekali menggentak, tubuh kakek bongkok itu bersama tongkatnya melambung tinggi ke atas, lalu bergulingan turun kembali seperti hendak terbanting ke atas tanah. Anehnya, begitu dekat dengan tanah, secara otomatis tubuh bongkok itu bisa membalik dan kedua kakinya turun lebih dulu dengan ringan. Diam-diam Siok Bun meleletkan lidah. Biarpun tidak sehebat kepandaian Im-yang Thian-cu. namun dewa obat itu juga bukan orang sembarangan.
"Apa kau menghendaki aku menggunakan kekerasan memaksamu memberi keterangan sampai roh mu melayang keluar dari tubuh?" Im-yang Thian-cu membentak.
"Heh-heh-heh, ada kalanya dahulu kumelihat kau meminta-minta kalau terpaksa. Mengapa sekarang tidak?"
Aneh sekali, tiba-tiba Im-yang Thian-cu lalu i mengangkat kedua tangan dan menjura sampai dalam di depan Si Dewa Obat.
"Twako yang baik, tolonglah adikmu kali ini. Biar kelak aku sembahyang dengan tiga batang hio harum di depan makammu." kata Im-yang Thian-cu.
Siok Bun melihat ini semua seperti orang melihat dua badut berlagak, akan tetapi anehnya mereka itu bersungguh-sungguh. Si Dewa Obat lalu berkata,
"Kalau orang makan katak itu, ia akan mampus. Jemur kering, tumbuk hancur, bagian kepala obat luka, bagian badan obat minum. Segala Hek-tok saja sih apa artinya?" Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuh dan pergi menuju ke gubuknya.
"Kau sudah mendengar semua, bukan? Nih, terimalah katak merah untuk melindungimu dari ancaman Hek-tok-riang." Kakek itu memberikan katak dan membalikkan tubuh hendak pergi, akan tetapi ia menoleh kembali dan berkata.
"Ingat, Han Sin. Gurumu masih selalu menantimu untuk memimpinmu ke arah jalan terang. Insyaflah bahwa segala keduniawian takkan mendatangkan bahagia abadi." Kemudian kakek itu berkelebat dan lenyap.
"Gurumu itu hebat, akan tetapi kelihatan galak," Kata Siok Bun kepada Liem Han Sin.
Pemuda ini menarik napas panjang. "Memang wataknya keras dan aneh, akan tetapi dialah manusia terbaik bagiku di dunia ini. Saudara Siok, mari kita kembali ke kota raja, bawa aku kepada ayah dan kepada Kwee-lo-enghiong."
Berangkatlah dua orang! muda perkasa ini, menuruni Bukit Thien mu-san yang pada hari itu benar-benar tidak seperti biasanya, mengalami peristiwa-peristiwa aneh dan cukup hebat.
157
Di bagian depan sudah diceritakan tentang Liem Han Sin, pemuda yang mula-mula memasuki Nan-king bersama ayahnya, Liem Hoan, dan dua orang saudara perempuannya, Liem Kui Lan dan Liem Siang Lan. Seperti telah kita ketahui, Auwyang Tek tertarik oleh kecantikan dua dara remaja ini, lalu mengganggunya sehingga terjadi pertempuran hebat. Namun dua orang gadis cantik itu tidak tertolong, diculik oleh Auwyang Tek dan terdapat telah mati dua-duanya di dalam kamar Auwyang Tek. Liem Hoan sendiri tertolong oleh Tiong-gi-pai dan Liem Han Sin pemuda yang gagah itu ditolong oleh Im-yang Thian-cu yang kebetulan berada di kotaraja.
Im-yang Thian-cu adalah seorang tokoh aneh di dunia kang-ouw sebelah selatan. Tosu ini selain berwatak keras dan aneh, juga tidak mau tahu akan urusan dunia. Sikapnya tidak membela siapa-siapa tidak menentang siapa-siapa akan tetapi juga keras hati dan tidak mau kalah, la amat sayang kepada Han Sin dan menurunkan kepandaian silatnya, terutama sekali menurunkan ilmu silatnya yang paling terkenal yang menggunakan sepasang senjata yang berlainan sama sekali bentuknya, di tangan kanan sebatang pit (alat tulis) dan di tangan kiri adalah sebuah kipas, la menamai senjatanya ini Yang-pit Im-san (Pensil Yang dan Kipas Im) sesuai dengan ilmu silat itu sendiri yang mempergunakan tenaga campuran Im dan Yang. Di sini letaknya kelihaian ilmu silat ini, karena dua senjata itu berlainan tenaga yang dipergunakannya.
Liem Han Siu adalah seorang pemuda yang cerdas dan tekun belajar. Sampai jauh malam ia mempelajari ilmu ini bertahun-tahun, di bawah bimbingan suhunya yang juga tidak mengenal lelah. Latihan puncak dilakukan di depan sebatang lilin yang dinyalakan. Im-yang Thian-cu yang sudah mencapai puncak kesempurnaan ilmu ciptaannya ini, kalau bersilat di depan api lilin sedikitpun tidak berguncang dan lilin yang mencair segera menjadi keras kembali terkena hawa dingin yang keluar dari kebutan kipas. Sebaliknya, biarpun ia berdiri jauh dari lilin itu, sekali ujung pit-nya melakukan gerakan menotok ke arah api lilin, api itu akan terdorong dan bergoyang.
Setelah tamat belajar, Liem Han Sin mulai mengajukan isi hatinya di depan suhunya, yaitu hendak membalas kejahatan Auwyang Tek. Gurunya selalu mencegahnya, menyatakan bahwa Auwyang Tek sebagai murid Kai Song Cinjin tidak mudah dihadapi dan pula, dengan filsafatnya yang aneh Im-yang Thian-cu hendak menarik murid ini menjadi seorang pendeta dan pertapa yang menyucikan diri. Namun Han Sin terus-menerus menyatakan ketetapan hatinya sehingga akhirnya Im yang Thian-cu kalah.
"Yang dapat melindungi nyawamu dari Hek-tok-ciang hanya katak merah dan di dunia ini kiranya dalam waktu sepuluh tahun belum tentu kita bisa mencarinya. Kecuali kalau kita pergi kepada Koai-yok-sian, si gila itu tentu mempunyainya. Tidak ada obat aneh di dunia ini yang tidak dipunyai si gila itu.
Demikianlah karena sayang kepada muridnya, Im-yang Thian-cu membawa muridnya pergi ke Thien-mu-san untuk mencari Koai-yok-sian yang sebetulnya adalah kenalan baik semenjak ia masih muda. Seperti kita semua ketahui, kebetulan sekali di Thien-mu-san mereka bertemu dengan Siok Bun. Tentu saja perampok yang begitu masuk gubuk lalu tertotok itu adalah perbuatan Im-yang Thian-cu yang menotoknya dengan pit dari jarak jauh.
Kedatangan Liem Han Sin bersama Siok Bun yang sudah sembuh disambut dengan penuh kegembiraan oleh Tiong-gi-pai Apalagi Liem Hoan yang bertemu kembali dengan puteranya Dipeluknya puteranya itu dan diajaknya ke kamar di mana ayah dan anak ini berkongkouw sampai puas. Siok Bun juga menceritakan segala pengalamannya kepada ayahnya. Siok Beng Hui menarik napas panjang.
158
"Orang yang berada di fihak benar selalu akan mendapat pertolongan Thian, karena inilah keadilan Thian. Swan Thai Couwsu dari Kun-lun-pai sudah memiliki seorang ahli waris yang tepat sekali, karena kalau menurut penuturanmu itu, pemuda itu tentulah seorang yang memiliki pribudi mulia."
Ang-lian-ci Tan Sam Nio yang kegirangan melihat puteranya sembuh kembali juga berkata, "Bun-ji, orang seperti itu patut kau jadikan kawan selama hidupmu."
"Memang, ibu. Anak juga merasa berhutang budi kepadanya dan anak tadinya hendak mengangkat sumpah untuk menjadikannya saudara angkat. Akan tetapi anehnya, dia tidak mau menerimanya."
"Memang aneh, dia sudah berkurban seperti itu, mengapa tidak mau mengangkat saudara?" tanya ibunya lagi.
"Dia bilang bahwa persumpahan mengangkat saudara merupakan ikatan yang akan amat mengecewakan kelak apa bila seorang di antaranya melanggarnya."
Siok Beng Hui dan isterinya saling pandang dan mengangguk-angguk memuji. Benar seorang pemuda pilihan yang mempunyai pandangan jauh dan luas, pikir mereka. Sementara itu, Liem Hoan merasa bangga sekali bahwa puteranya menjadi murid Im yang Thian-cu tokoh besar yang terkenal itu. Lebih-lebih girang dan bangga hatinya bahwa pulangnya Han Sin ini adalah untuk membalaskan sakit hati kedua anak perempuannya yang tewas secara menyedihkan dalan tangan Auwyang Tek.
"Bagus, Han Sin. Memang sudah menjadi tugasmu untuk melawan Auwyang Tek si manusia laknat. Bukan saja untuk membalaskan sakit hati kita dahulu, akan tetapi juga untuk mengangkat nama Tiong-gi-pai, perkumpulan bercita-cita luhur yang setia kepada kepahlawanan Souw-taihiap." Ayah ini lalu menceritakan kepada anaknya tentang perjuangan Tiong-gi-pai, juga tentang Souw Teng Wi yang kini sudah selamat berada di Peking, dilindungi oleh Raja Muda Yung Lo.
"Sayang Souw-taihiap sekarang sudah berubah ingatan, sudah seperti gila Kalau tidak, tentu dia akan dapat memimpin Tiong-gi pai, karena menurut penuturan Pek kong Sin-kauw, kepandaian Souw-taihiap luar biasa sekali, jauh lebih lihai dari pada Pek-kong Sin-kauw Siok taihiap sendiri." Liem Hoan menutup penuturannya.
Kwee Cun CJan dan semua anggauta Tiong-gi-pai mengucapkan selamat dan menyatakan kegirangan hati mereka melihat kembalinya Liem Han Sin yang menjadi murid orang pandai dan Siok Bun yang sudah sembuh kembali. Lebih besar rasa girang mereka ketika mendengar bahwa Han Sin mengajukan diri untuk menjadi jago dalam pibu melawan Auwyang Tek yang sombong.
Segera tantangan diajukan dan pada keesokan harinya, kembali rombongan yang bermusuhan sudah saling berhadapan di dalam hutan. Kali ini, fihak Auwyang Tek hanya dihadiri oleh pengawal-pengawalnya saja, dan sebagai tetuanya hanya nampak Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, sedangkan Mo Hun dan Kai Song Cinjin tidak kelihatan. Juga dua orang jagoan dari Jepang tidak nampak. Agaknya fihak Auwyang Tek memandang rendah kepada fihak Tiong-gi-pai yang memang selalu kalah saja itu.
Akan tetapi ketika Auwyang Tek mengenal bahwa penantangnya adalah pemuda saudara dua orang dara yang dahulu menjadi korbannya, mukanya menjadi agak pucat Ia maklum bahwa kini ia bukan menghadapi pibu yang sifatnya mengadu kepandaian, melainkan mengadu nyawa karena persoalannya adalah persoalan sakit hati dan membalas dendam. Namun sifat sombongnya mengalahkan kegelisahannya dan ia tersenyum-senyum ketika berkata kepada Liem Han Sin,
159
"Aha, kiranya anak wayang yang dahulu itu, mau mengantarkan nyawa agaknya! Majulah!" Ia tidak bertanya nama tidak apa karena memang ia sengaja bersikap memandang rendah. Wajah Liem Han Sin sudah menjadi merah saking marahnya melihat musuh besarnya. Cepat ia mengeluarkan sepasang senjatanya, yaitu sebatang pit dan sebatang kipas, bentaknya penuh geram,
"Auwyang Tek manusia busuk. Biarlah hari ini menjadi hari kematianmu atau kematianku! Lihat serangan!"
Auwyang Tek biarpun mulutnya tersenyum mengejek, namun matanya awas memandang dan sekali lihat saja ke arah dua macam senjata lawan, ia tahu bahwa lawannya telah mempelajari ilmu silat tinggi. Ia berlaku hati-hati dan cepat mengelak lalu balas menyerang dengan pukulan andalannya, yaitu Hek-tok-ciang. Han Sin yang sudah maklum dan mendengar akan kelihaian pukulan ini juga tidak berani berlaku sembrono, cepat ia mengebut dengan kipasnya dan membarengi mengirim totokan dengan pitnya.
Pertempuran segera berjalan seru sekali. Kali ini Auwyang Tek benar-benar menemui tandingannya. Pertempuran berjalan lebih ramai dari pada ketika ia melawan Siok Bun. Maka Auwyang Tek juga tidak berani main-main lagi, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya yang ia perdalam setiap hari dari gurunya,Kai Song Cinjin.
Auwyang Tek lebih tua beberapa tahun dari Han Sin. Juga putera Menteri ini menang pengalaman karena dia sudah terlalu sering bertempur. Berbeda dengan Han Sin yang baru saja turun dari perguruan. Namun oleh karena Han Sin mendapatkan guru yang mengajarnya dengan sungguh-sungguh dan dia sendiri belajar penuh ketekunan dan cita-cita untuk membalas dendam, maka oleh gurunya ia memang digembleng untuk menghadapi pukulan-pukulan berbisa seperti Hek-tok-ciang dan kini ia tahu bagaimana harus menghadapi Auwyang Tek musuh besarnya.
Dengan kipas di tangan kirinya, Han Sin selalu berhasil mengebut serangan pukulan lawan. Hawa pukulan Hek-tok-ciang kandas dan buyar setiap kali terkena kebutan kipas yang penuh dengan hawa Im-kang itu. Di lain fihak, sasaran pit di tangan kanan Han Sin sebegitu jauh selalu mengenai tempat kosong atau dapat tertangkis oleh tangan Auwyang Tek yang dilindungi oleh sarung tangan yang tidak takut menghadapi senjata tajam.
Dua orang pemuda ini saling serang dengan seru dan mati-matian. Kepandaian mereka ternyata setingkat. Pertandingan berjalan dalam tempo cepat, membuat mereka yang menonton menjadi tegang dan kagum. Liem Hoan yang tentu saja menjagoi puteranya itu kelihatan tidak mau diam, seperti seorang botoh jago melihat jagonya bertanding.
Auwyang Tek benar-benar tangguh. Sebagai murid Kai Song Cinjin, dia benar-benar merupakan lawan berat bagi Han Sin. Kalau saja Liem Han Sin tidak memegang sepasang senjata Yang-pit Im-san yang luar biasa itu, tentu dia sendiri takkan sanggup menghadapi Hek-tok-ciang yang hebat itu. Baik kipas maupun pit merupakan senjata yang dapat melakukan serangan maut, maka sebegitu lama Auwyang Tek tidak berani berlaku sembrono, selalu menangkis atau mengelak dari sambaran sepasang senjata itu.
Setelah seratus jurus lebih bertanding mati-matian, Auwyang Tek menjadi penasaran sekali dan timbul kenekatannya. Pada saat pit di tangan kanan Han Sin menyambar, ia cepat menangkapnya dengan gerak tipu Kauw-ong-pok-sit (Raja Kera Menyambar Makanan). Gerakan ini cepat sekali dan tahu-tahu pit itu telah dapat ia tangkap. Untuk dua detik keduanya saling betot merampas senjata itu. Han Sin mempergunakan kesempatan ini untuk menghantam dengan kipasnya ke arah kepala lawannya!
160
Auwyang Tek mengeluarkan seruan keras, tangan kanannya menerima pukulan kipas itu. Saking hebatnya pertemuan antara tangan dan kipas, keduanya terpental mundur dan pegangan Auwyang Tek pada pit tadi terlepas. Namun pengaruh Hek-tok-ciang tadi benar-benar hebat, membuat Han Sin tergetar ketika terpental mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Auwyang Tek untuk berkelebat cepat ke sebelah kanan lawannya dan mengirim pukulan Hek-tok-ciang dengan tangan kanan!
Han Sin maklum akan datang bahaya besar, kipas dan pitnya digerakkan berbareng menapaki musuh dan... "plak! plak! tak!" kedua orang pemuda itu mengeluh, keduanya terhuyung ke belakang lalu roboh! Ternyata bahwa pukulan Hek-tok-ciang yang ampuh dari Auwyang Tek telah meninggalkan bekas di pundak kanan Han Sin. Baju di bagian ini hitam menghangus, tembus sampai ke kulit dagingnya. Han Sin terluka berat, menderita luka dalam terkena racun Hek-tok-ciang yang jahat.
Di lain fihak, Auwyang Tek juga tak dapat menghindarkan pukulan-pukulan Han Sin tadi. Tangan kirinya, pada pergelangannya, terkena totokan pit sedangkan dadanya dihajar oleh kipas sehingga darah segar mengalir dari mulutnya, ia muntah darah! Liem Hoan ccpa melompat dan menubruk pu-teranya, dibantunya puteranya itu supaya bangun berdiri. Di lain fihak. Auwyang Tek yang sudah tak dapat bangun itu juga ditolong oleh seorang pengawalnya yang menggendongnya.
Sarung tangan kiri Auwyang Tek sampai terlepas oleh totokan tadi. Keduanya payah dan hanya dapat saling pandang dengan penuh kebencian Hebatnya, Auwyang Tek masih dapat menyeringai dan berkata mengejek,
"Kalau kau besok masih hidup, kita lanjutkan penandingan ini!"
Liem Han Sin lebih parah lukanya karena keracunan. namun pemuda ini mengepal tinjunya dan berkata, "Sekarangpun aku masih bersedia mengadu nyawa!"
Akan tetapi tentu saja ayahnya tidak mengijinkan dan begitulah, pertandingan hari itu boleh dibilang berakhir dalam keadaan "seri." Kedua rombongan kembali ke tempat masing-masing dan pertandingan berakhir. Kedua orang muda itu mendapat perawatan di tempat masing-masing, namun ternyata bahwa keadaan Han Sin lebih payah. Biarpun ia mempunyai katak merah, namun oleh karena pukulan yang dilakukan Auwyang Tek tadi mengenai secara tepat, ia harus beristirahat paling cepat setengah bulan baru kiranya dapat bertanding lagi.
Celakanya, tiga hari kemudian Auwyang Tek sudah menantang-nantang lagi! Ketika tidak ada pelayanan, pemuda ini membabi-buta, membunuhi orang-orang yang dianggapnya bersimpati kepada Tiong-gi-pai. Memang belum berani dia menyerang sarang Orang Tiong-gi-pai begitu saja tanpa seijin ayahnya, namun ia tidak ragu-ragu membunuh orang-orang yang ia anggap musuhnya, atau sedikitnya orang-orang yang menaruh simpati kepada Tiong-gi-pai. Tentu saja dengan alasan bahwa orang-orang itu adalah orang-orang jahat yang hendak mengacau kota raja! Fihak Tiong-gi-pai mendenga r ini semua hanya bisa menggigit bibir dan membanting-banting kaki.
Orang-orang gagah ini sebetulnya sudah tidak sabar lagi dan ingin mereka mengadakan perang total terhadap kaki tangan Auwyang-taijin. Biarpun fihak musuh banyak yang kuat, namun dalam perang total berbeda dengan pibu yang dilakukan seorang lawan seorang. Tentu saja karena mereka memang kalah banyak, fihak Auwyang-taijin selalu dapat mengeluarkan jago yang lebih kuat. Berbeda dalam perang terbuka, di mana mereka dapat melakukan perlawanan gerilya seperti ketika menghadapi pasukan Mongol dahulu.
"Kita serbu saja gedung menteri durna itu malam hari!" kata seorang.
161
"Kita bakar gedungnya dan hujani anak panah dari tempat gelap," kata orang ke dua.
Kalau didiamkan saja, siapa yang kuat menahan tindasan mereka!" protes orang ke tiga. Semua orang Tiong-gi pai hanya segan bertindak karena mereka ini masih menaruh harapan kepada Raja Muda Yung Lo di Peking. Dan oleh karena Raja Muda Yung Lo telah mengirim utusannya, yaitu Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui, para anggauta Tiong-gi-pai yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan ini mendesak pendekar kaitan itu.
Siok Beng Hui sendiri memang sudah tak dapa menahan kemarahan hatinya menyaksikan sepak terjang Auwyang Tek dan kawan-kawannya. Demikianlah, setelah Han Sin terluka, Pek-kong Sin kauw Siok Beng Hui berkata kepada Tiong-gi-pai, "Baiklah, sekarang aku akan pergi ke utara, minta perkenan yang mulia dan minta bala bantuan. Di utara juga banyak terdapat orang pandai dan kalau yang mulia mengijinkan, kita gempur menteri-menteri durna itu."
Orang-orang Tiong-gi-pai bersorak gembira. Hari itu juga Siok Beng Hui, Tan Sam Nio, dan Siok Bun berangkat ke utara menunggang kuda. Orang-orang Tiong-gi pai sementara itu tidak mau melakukan gerakan apa-apa. Diam-diam mereka bersembunyi dan merawat luka Han Sin yang sudah mulai sembuh Biarpun fihak Auwyang Tek gembar-gembor menantang pibu, mereka berlaku pura-pura tidak mendengar saja. Kalau ada beberapa orang Tiong-gi-pai yang berada di kota kebetulan bertemu dengan kaki tangan Auwyang Tek yang sengaja mencari-cari dan memancing-mancing keributan, orang-orang Tiong-gi-pai ini menyingkirkan diri dan menelan segala penghinaan dengan sabar. Semua mentaati pesan ketua mereka, Kwee Cun Gan yang melarang anak buahnya bentrok dengan fihak musuh sebelum mendapat berita dari utara.
Tentu saja dengan tidak adanya pergerakan dari fihak Tiong-gi-pai, fihak Auwyang Tek menjadi makin berani dan binal. Auwyang Tek makin sewenang-wenang, merampasi anak bini orang lain semaunya saja. Kaki tangannya juga berlaku lebih sewenang-wenang lagi, mengambili harta dan sawah orang seperti mengambil warisan nenek moyangnya sendiri saja.
Untuk kesekian kalinya sejak sejarah berkembang, rakyat kecil pula yang menanggung akibat semua ini. Rakyat kecil, petani miskin yang tidak mempunyai apa-apa yang dapat melindungi hidup mereka dari perasan fihak yang lebih kuat. Biarpun dunia sudah ada kaisar, ada orang-orang berpangkat, ada bala tentara, tetap saja hukum rimba masih berlaku di mana-mana, seolah-olah dunia ini masih merupakan hutan belantara yang hanya ditinggali oleh binatang binatang penghuni rimba belaka.
Bagaimana dapat dikatakan hukum rimba? Si jagoan menindas si Iemah si kaya memeras si miskin, orang berpangkat memeras pedagang, majikan memeras buruhnya dan mereka yang tertindas dan terperas itu tidak mempunyai pelindung sama sekali. Bukankah ada petugas-petugas keamanan dan hakim? Demikian orang bertanya. Memang ada. Bahkan petugas-petugas keamanan yang berpakaian mewah dan hakim-hakim dengan pakaian kebesaran dan gedung-gedung indah. Namun petugas-petugas hamba hukum ini sudah berjiwa pedagang. Hanya untung rugi saja yang terdapat dalam kamus haii mereka. Ada tuntutan? Ada perkara? Nanti dulu, dilihat siapa yang bisa "menguntungkan" Siapa salah siapa benar? Nanti dulu, itu soal sepele, yang perlu, siapa yang menguntungkan bisa berhak menang perkara!
Inilah keadaan kerajaan baru di Nan-king pada masa itu. Penjahat, hartawan, bangsawan dan pembesar bersekutu menjadi iblis-iblis penindas. Mereka berpesia-pora di atas kepala rakyat kecil. Sungguh menyedihkan. Hanya para pendekar dan patriot gagah perkasa yang terbuka mata hatinya dan dapat meneropong ini semua. Namun apa daya mereka? Persekutuan, penjahat-hartawan-bangsawan pembesar itu terlampau kuat. Setiap perlawanan ditindas dan entah sudah berapa banyak pendekar-pendekar tewas oleh komplotan ini. Kaisar bukan seorang jahat, bahkan bekas
162
patriot dan pejuang rakyat, akan tetapi, seperti kebanyakan manusia di atas bumi ini, hati dan pikiran mudah terpengaruh oleh keadaan. Dahulu pejuang rakyat ketika hidup dalam perjuangan di samping atau di tengah-tengah rakyat.
Sekarang sesudah menjadi kaisar, yang mendampingi bukan rakyat lagi melainkan pembesar korup, menteri-menteri durna. Mana kaisar tahu akan penderitaan rakyat? Hidup rakyat dinilai dari hidup sendiri. Dia sekarang sudah mulia, sudah makmur, hidup serba cukup berlimpah-limpah penuh kebahagiaan, tentu rakyat juga begitu keadaannya! Manusia! Memang serba bodoh, lalim, mahluk kurang penerima yang kadang-kadang menyulap diri sendiri seperti pintar, bijaksana dan budiman. Hanya pada lahirnya saja kelihatan demikian, namun pada batinnya tetap mahluk bodoh, lalim dan kurang penerima! Seperti badut di belakang topeng. Seperti kudis tertutup baju baru.
Rakyat sudah kehabisan pilihan. Pindah ke utara, biarpun di sana berkuasa Raja Muda Yung Lo yang lebih bijaksana, tetap saja selalu terganggu oleh penjahat-penjahat bangsa sendiri yang merajalela di samping penyerbuan orang-orang Mongo! yang hendak membalas dendam atas kekalahan mereka. Pindah ke selatan, terdapat gangguan srigala-srigala dalam negeri, di samping gangguan-gangguan anjing-anjing dari luar daratan berupa bajak-bajak laut Jepang Tinggal di pedalaman, diterkam oleh lintah-lintah darat berupa hartawan-hartawan tuan tanah yang merupakan raja-raja kecil karena terlindung oleh petugas-petugas negara yang sudah gendut perutnya karena makan sogok! Serba susah, serba sulit!
Tiong-gi-paii pada masa itu merupakan satu satunya perkumpulan yang menentang kekuasaan sewenang-wenang dari pada menteri-menteri durna. Namun apa artinya Tiong-gi-pai yang hanya beberapa puluh orang saja anggautanya? Menghadapi Auw-yang Tek dan kaki tangannya saja sudah kewalahan. Bahkan akhir-akjiir ini semenjak perginya Siok Beng Hui ke Peking, Tiong-gi-pai tidak berani sembarangan bergerak lagi.
Setelah sembuh dari sakitnya, Liem Han Sin secara nekat menyerbu ke gedung Menteri Auw-yang Peng dengan maksud membunuh dan membalas dendam kepada Auwyang Tek. Mula-mula ayah nya melarangnya, namun pemuda yang bersemangat baja ini diam-diam pada suatu malam menyerbu juga. Berhasil memasuki gedung, merobohkan empat lima orang penjaga. Akan tetapi sial baginya, sebelum bertemu dengan Auwyang Tek, lebih dulu ia tersasar memasuk kamar Kai Song Cinjin!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya pemuda gagah itu ketika ia berhadapan dengan Kai Song Cinjin yang duduk bersila sambil meramkan mata di atas pembaringan yang bertilamkan kain sutera halus. Ia cepat-cepat hendak keluar lagi, akan tetap sekali Kai Song Cinjin menggerakkan tangan ke arahnya, pemuda ini tidak mampu keluar lagi! Ada sambaran tenaga dan tangan kakek tua itu yang membetotnya kembali.
''Orang muda, kau datang mau apa?" tanya Kai Song Cinjin tenang-tenang saja. Liem Han Sin bukan seorang penakut, la sudah memperhitungkan ketika hendak menyerbu bahwa ia menghadapi bahaya besar dalam penyerbuan ini. dan bahwa ia bertaruh dengan nyawa. Tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang pandai dari fihak musuh, ia tidak sudi membohong,
"Aku datang hendak mencari Auwyang Tek, hendak minta ganti nyawa dua orang saudara perempuanku yang sudah ia bunuh!" Kai Song Cinjin tersenyum. Ia sudah mendengar tentang pertandingan pibu antara muridnya dan pemuda bernama Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu.
"Hmm, jadi kau murid Im-yang Thian-cu? Benar-benar tosu kurang makan itu tidak tahu diri dan tak dapat mengajar adat kepada muridnya. Kau sudah kalah pibu, mengapa nekat menyerbu ke sini? Kau
163
mengandalkan apa? Kalau tidak pinceng beri hajaran, kau bisa menimbulkan keributan di rumah Auwyang taijin. Pergilah!"
Kai Song Cinjin mengebutkan tangannya ke arah Han Sin. Pemuda ini kaget bukan main, karena biarpun tangan kakek itu tidak menyentuhnya. namun ia merasa dadanya sakit sekali, sebelah tubuhnya serasa lumpuh, la tahu bahwa ia telah menderita luka dalam akibat pukulan yang luar biasa dari seorang sakti. Sambil menggigil bibir menahan sakit pemuda ini bertanya, "Kau sudah melukai seorang muda. Siapakah kau?"
"Ha-lia, kau hendak mengadu kepada Im-yang Thian-cu? Boleh, katakan bahwa kau menerima pelajaran dari Tok-ong!"
Diam-diam Han Sin mengeluh. Pantas saja begini sakti. Tidak tahunya inilah orangnya yang bernama Tok-Ong Kai Song Cinjin Si Raja Racun! Gurunya sendiri, lm-yang Thian-cu, sudah berkali-kali mengaku tak dapat menandingi hwesio dari Tibet ini. Apa lagi dia Dengan tubuh dan hati sakit, Liem Han Sin memaksa diri keluar dari gedung itu dan kembali ke tempat ayahnya, tentu saja ayahnya terkejut melihat puteranya pulang dengan wajah pucat. Setelah bajunya dibuka, ternyata di dada sebelah kanan pemuda itu terdapat tanda titik-titik merah.
Kwee Cun Gan cepat memanggil ahli pengobatan untuk memeriksa luka ini, akan tetapi semua ahli pengobatan di kota itu tidak ada yang mampu menyembuhkan luka Liem Han Sin. Hanya memberi obat penahan nyeri saja. Pemuda ini makin lama makin lemah dan sebelah kanan tubuhnya sudah lumpuh seperti orang terkena penyakit pianswi. Keadaannya benar-benar amat menyedihkan. Liem Hoan tak suka makan, tak nyenyak tidur, setiap saat berada di samping puteranya sambil menghela napas panjang pendek.....
Souw Lee Ing menikmati pemandangan alam di sepanjang perjalanannya setelah ia keluar dari Gua Siluman, la boleh diumpamakan sebagai seorang yang baru keluar dari hukuman atau sebagai seekor burung yang baru terlepas dari kurungan. Selama empat lima tahun ia mengeram diri di dalam Gua Siluman, hidup seorang diri dan terasing sama sekali dari dunia ramai. Sekarang ia melihat segala sesuatu nampak indah menarik, bahkan orang-orang dan suara mereka merupakan hal yang amat menyenangkan hatinya.
Tentu saja ini adalah akibat dari pada pengasingannya yang bertahun-tahun itu, karena memang manusia dapat menghargai segala sesuatu di permukaan bumi itu kalau sudah merasa betapa rindunya ia akan semua itu apa bila ia berada seorang diri di tempat terasing dan sunyi. Umpamanya saja, setiap orang akan merasa jijik dan segan mendekati apa bila bertemu dengan seorang pengemis kotor berpenyakitan, apa bila pertemuannya itu terjadi di dunia ramai, di kota misalnya. Akan tetapi apa bila pertemuan itu terjadi di tempat sunyi, di tempat yang membuat ia terasing dari dunia ramai, kiranya pertemuan dengan seorang sesama hidup, seorang manusia, betapa kotor dan rendah menurut ukuran orang kota sekalipun, ia akan suka sekali mengajaknya bicara.
Demikian juga dengan Lee Ing. Begitu keluar dari Gua Siluman, biarpun ia bertemu dengan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio yang dulu berkeras hendak membunuhnya dan menjadi musuh besar ayahnya, ia tidak tega untuk mencelakainya. hanya merampas pakaiannya dan mempermainkannya sedikit. Akan tetapi setelah berbulan-bulan ia berada di dunia ramai dan melihat betapa jahat dan palsunya sebagian besar manusia di dunia ini, hatinya mulai tawar lagi dan mulailah ia membedakan antara manusia baik-baik dan manusia-manusia jahat.
Apa lagi setelah ia melakukan perjalanan makin dekat dengan kota raja, la melihat rakyat yang tertindas, pembesar pembesar korup dan jahat yang bersekongkol dengan tuan-tuan tanah yang
164
merupakan raja-raja kecil di dusun masing-masing, melihat orang-orang yang berkepandaian dan kuat menindas yang lemah. Hatinya menjadi panas dan timbul sifat ksatrianya.
Di mana-mana Lee Ing turun tangan memberi hajaran kepada orang-orang yang mengandaikan kepandaian menindas, si lemah, memberi hukuman kepada hartawan-hartawan atau okpa-okpa yang jahat, yang demi kemurkaan hati yang tak kenal puas itu tidak segan-segan untuk memeras darah dan keringat rakyat petani. Tidak segan pula gadis remaja ini turun tangan membasmi para pembesar yang korup dan mengandalkan kekuasaannya dan pasukannya untuk bertindak seperti kaisar sendiri terhadap rakyat yang menjadi makin payah terjepit.
Gerak-gerik Lee Ing demikian cepat sampai-sampai tidak ada orang yang melihatnya, baik mereka yang ia tentang maupun mereka yang ia tolong? Ia datang dan pergi seakan-akan tanpa bayangan, hanya meninggalkan bekas sepak terjangnya yang cukup mengecilkan nyali para orang jahat dan membesarkan hati rakyat yang tertindas. Sering kali terjadi seorang pembesar tinggi, tanpa mengetahui siapa yang melakukannya tahu-tahu telah digantung di tengah kota, atau hartawan tuan tanah yang tahu-tahu kehilangan daun telinganya, kehilangan sebagian emas simpanannya atau mendapatkan surat ancaman supaya mengembalikan tanah yang dirampasnya dari para petani dusun.
Ada pula yang tahu tahu telah tewas di dalam kamarnya dan gadis dusun yang diculik dan hendak dijadikan selir secara paksa tahu-tahu telah lenyap dan telah berada kembali di rumah orang tuanya. Juga di dusun-dusun banyak terjadi hal aneh, misalnya di rumah keluarga miskin yang hampir mati kelaparan tahu-tahu terdapat beberapa potong emas.
Semua ini bekas tangan Souw Lee Ing gadis remaja puteri yang telah mewarisi kepandaian tinggi sekali dan ternyata begitu keluar dari Gua Siluman tidak menyia-nyiakan kepandaian yang diwarisinya dan jiwa ksatria ayahnya yang mengalir di tubuhnya itu menuntut supaya ia turun tangan dan bertindak langsung membantu rakyat kecil.
Melihat betapa makin dekat kota raja makin banyak terjadi kejahatan dan penindasan, Lee Ing menjadi ingin sekali cepat-cepat memasuki kota raja. Pada suatu hari ia telah berada di pantai Sungai Huai. Pemandangan di sepanjang pantai sungai ini amat indahnya, juga hawanya amat sejuk. Lee Ing yang merasa kepanasan timbul keinginan hatinya hendak mandi..
Tempat itu memang sunyi sekali, tidak kelihatan ada orang, karena memang bagian yang penuh batu karang ini tidak didatangi oleh para nelayan. Lee Ing mencari tempat yang cukup bersih, lalu menanggalkan pakaiannya dan menaruh pakaian itu di atas batu karang. Dia sendiri lalu turun ke dalam air yang amat jernih, di bagian di mana air sungai sukar didatangi orang karena tempat itu penuh batu karang yang tinggi dan licin, maka di situ sunyi saja tidak ada orang lain.
Lee Ing tidak merasa ragu-ragu untuk mandi tanpa pakaian. Ia tidak mempunyai pakaian lain kecuali yang dipakainya, yaitu pakaian hijau yang ia ambil dari badan Hui-ouw-tiap Yap Lee Nio. Melihat air jernih kehijauan yang membayangkan batu-batu karang dan tetumbuhan itu mendatangkan rasa sejuk dan segar, Lee Ing tertawa girang dan berenang ke sana ke mari sambil memukul-mukul air seperti anak bermain-main dengan riang gembiranya.
"Heeeiii....! Kau benar-benar gadis nakal, terlalu sekali!" Tiba-tiba terdengar suara orang menegur.
Lee Ing terkejut. Tak disangkanya sama sekali bahwa di tempat seperti itu ada orangnya. Ia menengok ke kanan dan.... melihat seorang pemuda tampan sekali sedang duduk dengan enaknya
165
memegangi sebatang bambu pancing. Pemuda itu memandang kepadanya dengan kening berkerut tanda hati kesal.
Tentu saja Lee Ing cepat-cepat selulup, menyembunyikan tubuhnya di dalam air sampai ke dagunya. Pantas saja ia tadi tidak melihat pemuda itu, karena pemuda itu duduk di atas batu karang di balik batu karang besar sehingga tadi antara dia dan pemuda itu teraling batu karang yang menonjol ke sungai. Juga tentu saja ia tidak mendengar apa-apa karena pemuda itu duduk seperti patung memancing ikan!
Wajah Lee Ing menjadi merah seperti udang direbus. Dia seorang dara berusia sembilan belas tahun dan tentu saja hatinya berdebar tidak karuan karena ada seorang pemuda melihat ke arahnya sedangkan ia sama sekali tak berpakaian. Sungguhpun tubuhnya tersembunyi di dalam air, namun air itu jernih sekali.
"Kau. manusia kurang ajar!"’ bentak Lee Ing sambil melototkan matanya.
Pemuda mi membelalakkan matanya terheran-heran, kemudian bertanya dengan suara penasaran, "Eh, eh, kau yang nakal dan mengganggu orang lain, sekarang tiada hujan tiada angin memaki aku kurang ajar, coba jelaskan alasannya."
"Laki-laki tak tahu diri! Ada seorang wanita mandi di sini dan kau... matamu melotot tak tahu malu, Hayo kau melihat ke jurusan lain, kalau tidak, awas kau akan kukorek keluar biji matamu yang kurang ajar itu!" Lee Ing makin marah karena dalam anggapannya ia melihat sepasang mata pemuda itu yang jernih dan tajam seperti bintang nampak bersinar-sinar dan wajah yang tampan itu berseri seakah-akan merasa geli dan senang hati menggodanya.
Pemuda itu tersenyum mendengar makian ini, senyumnya manis sekali membuat pipi Lee Ing menjadi makin merah. Akan tetapi baiknya pemuda itu tidak menggoda lebih lanjut dan benar saja memalingkan muka ke lain jurusan. Mendapat kesempatan baik ini. Lee Ing lalu berenang ke tempatnya yang tadi Kini ia teraling oleh tonjolan batu karang dan pandangan pemuda itu, cepat-cepat melompat ke darat dan memakai lagi pakaiannya.
"Akan kuhajar dia...!" pikirnya dan di dalam kepalanya sudah di rencanakan cara bagaimana sebaiknya memberi hajaran kepada pemuda itu. Di tampar pipinya sampai biru atau dilempar saja dia ke air? Sambil memikirkan rencana ini, tak terasa Lee Ing menggerakkan kedua tangannya untuk membereskan rambutnya yang awut-awutan dan basah, membereskan pula pakaiannya.
Seakan-akan kedua tangan itu bergerak tanpa ia kehendaki untuk membuat ia nampak cantik menarik! Sayang aku tidak mempunyai pakaian lain untuk berganti sehabis mandi, pikirnya. Ah, mengapa pula harus berganti pakaian, dan mengapa pula aku harus bersolek? Lee Ing berdebar jantungnya dan ia mencela diri sendiri.
"Lee Ing, sejak kapan kau menjadi pesolek? Genit benar!" Ia memukul pipinya sendiri perlahan lalu berlari-lari menuju ke tempat pemuda pengail ikan itu.
la lihat pemuda itu masih duduk anteng seperti tadi, sepasang matanya ditujukan ke air, atau lebih tepat ke ujung tali pancing yang berada di permukaan air. Setelah dekat Lee Ing mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar ganteng, terutama? sekali bibir dan matanya amat manis menarik hati. Belum pernah Lee Ing melihat pemuda setampan ini. Tampan, ganteng dan halus gerak-genknya, seperti seorang pemuda terpelajar.
Tadinya ia sudah gemas dan sudah gatal-gatal tangannya hendak memberi hajaran atas sikap pemuda yang dianggapnya kurang ajar itu. Pemuda itu menengok sambil tersenyum dan berkata, "Ah, kau jelita sekali!"
166
Pujian ini demikian sewajarnya dan pada mata pemuda ini tidak nampak sinar mata yang biasanya berpancaran keluar dari mata laki-laki yang melihatnya. Biasanya mata laki-laki memandangnya seperti pandangan singa kelaparan dan pujiannya mengandung nafsu dan gairah. Akan tetapi pujian pemuda tampan ini sewajarnya, terus terang dan sederhana. Kembali Lee Ing merasa mukanya panas dan ia tidak tahu betapa sepasang pipinya menjadi kemerahan, membuat ia nampak makin cantik.
Biarpun pada pandang mata pemuda itu tidak ada tanda-tanda ceriwis, namun pujiannya membuat Lee Ing marah. Ia sudah mengepal tinju dan membentak, "Kau pemuda tak tahu aturan!"
Pemuda itu tertegun. "Lho, kau memaki aku lagi. Tadi kau memaki aku kurang ajar karena aku sudah duduk di sini melihatmu mandi, sungguhpun aku yang datang lebih dulu dan bukan aku yang sengaja melihat kau mandi di depanku. Sekarang kau bilang aku tak tahu aturan. Apa lagi alasannya!"
"Kau seorang laki-laki berani memuji-muji kejelitaan wanita, bukankah itu tak tahu aturan dan menandakan bahwa kau seorang yang kurang ajar sekali?"
Pemuda itu tersenyum dan kembali jantung Lee Ing berdetak lebih cepat Senyum pemuda ini seakan-akan dapat membetot jantungnya dan meruntuhkan semangatnya.
"Nona yang jelita, kau benar-benar tidak adil dan keliru sekali pandanganmu itu. Aku seorang yang suka akan keindahan, kalau aku melihat tamasya alam yang indah, aku suka memujinya, kalau melihat bunga mekar semerbak, aku suka pula memuji-mujinya. Sekarang aku melihat kau begini cantik jelita, tak tertahan lagi mulutku memuji, pujian yang keluar dari lubuk hati. Mengapa hal ini dianggap tak tahu aturan? Malah ini menandakan bahwa aku tahu akan keindahan, tahu menghargai yang indah-indah."
"Hemmm, kau..... penyair?"
Pemuda itu menggeleng kepala dan memandang dengan lucu, agaknya geli hatinya. "Bukan, aku kau lihat sendiri, aku pengail pada saat ini. Mengapa kau mengira aku penyair?"
Lee Ing gelagapan. Tadi ia bertanya karena mendengar kalimat-kalimat yang amat indah bagi pendengarannya dan ia teringat akan ayahnya yang suka membuat syair.
"Karena.... karena... seorang penyair cinta akan keindahan."
Pemuda itu mengangguk angguk. "Memang, setiap orang seniman selalu dapat menghargai keindahan alam dan akupun tak berani mengaku sebagai seorang seniman..."
"Kau pengail? Itukah pekerjaanmu?" tanya Lee Ing yang entah bagaimana sudah lupa lagi akan niatnya hendak memberi "hajaran" tadi.
Pemuda itu tersenyum. "Kau bicara sambil berdiri saja seperti hakim memeriksa penjahat. Di sini banyak batu halus, enak diduduki. Kalau kau mau duduk bukankah akan lebih enak kita mengobrol! Jangan kau takut, aku hanya seorang biasa saja, seorang pemuda yang tidak berbahaya. Namaku Oei Siok Ho.
167
Timbul rasa kagum dalam hati Lee Ing akan sikap pemuda ini yang makin lama makin tampak kejujuran dan kesederhanaannya, namun amat pandai bicara yang indah-indah. Timbul sifatnya sendiri yang polos dan jujur.
"Aku tadi ingin sekali memberi hajaran kepadamu," katanya sambil duduk di depan pemuda itu. di alas sebuah batu yang hitam halus dan bersih.
Siok Ho tersenyum lagi. "Begitukah? Mengapa tidak kau lanjutkan keinginanmu itu? Kau tentu marah dan hendak melemparkan aku ke dalam air, bukan?"
Lee Ing kaget, akan tetapi melihat sinar mata yang berseri penuh tawa itu, ia tertawa gembira. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya sambil tersenyum juga.
"Tentu demikian kira-kira perasaan seorang gadis kalau merasa diperlakukan kurang ajar oleh seorang pria yang tidak dikenalnya. Akan tetapi jangan kau lakukan hal itu, karena kalau aku tercebur di dalam air, tentu ikan-ikan akan lari lagi dan tidak mau mendekati pancingku. Sedangkan perutku sudah lapar bukan main. Tadinya ikan-ikan besar sudah ada yang mendekat, sebelum aku berhasil, eh, muncul kau dari balik sana dan membikin takut ikan-ikan besar. Sekarang ikan-ikan itu sudah mulai mendekat, jangan kau ceburkan aku!"
Lee Ing tersenyum geli. Pemuda ini pandai juga melucu, pikirnya. Karena kini Siok Ho memandang ke arah air, Lee Ing mulai memperhatikannya. Benar tampan, pikir Lee Ing dan ia merasa malu kepada hatinya sendiri mengapa begitu tertarik dan tergila-gila kepada pemuda yang tidak dikenalnya ini. Seperti seorang siucai (mahasiswa) muda, pikirnya. Akan tetapi mengapa memancing seorang diri di tempai sunyi ini? Dan alangkah asyiknya, nampaknya senang bukan main menanti ikan besar mendekat. Sampai lama Siok Ho tak bergerak-gerak anteng dan seperti sudah lupa bahwa di
sampingnya terdapat seorang gadis jelita memandanginya dari samping.
"Apa sih umpannya untuk memancing?" Lee Ing akhirnya bertanya karena sudah tidak sabar lagi menanti orang yang diam saja seperti patung itu.
Siok Ho tidak menjawab, melainkan mengangkat bambu pancingnya untuk memperlihatkan ujung tali pancing kepada Lee Ing. Kalau tadi Lee Ing tersenyum, sekarang mata gadis ini terbelalak lebar dan ia menjadi terheran-heran. Ternyata bahwa pada ujung tali pancing itu hanya terdapat sebuah pancing yang aneh sekali. Pancing yang bentuknya lurus runcing seperti sebatang jarum saja. Juga di situ tidak dipajangi umpan apa-apa seperti biasanya orang mengail. Mana di dunia ini ada orang memancing dengan sebatang jarum tanpa umpan pula? Biarpun bukan ahli memancing, Lee Ing juga tahu kalau orang memancing ikan itu menggunakan pancing yang ada kaitannya dan memakai umpan pula.
Tak tertahan pula meledak suara ketawa Lee Ing, suara ketawa yang tidak disembunyikan atau ditutup-tutupi seperti biasanya gadis kota tertawa. Nampak deretan giginya yang putih bersih dan mengkilat seperti mutiara, bahkan kelihatan lidahnya yang kecil merah bergerak-gerak. Gadis ini memang sejak kecil hidup dengan kong-kongnya di utara, di mana tidak banyak peraturan kesopanan mengikat kebebasan seorang wanita. Siok Ho menengok dan kini dia yang bingung dan heran, tidak tahu! apa sebabnya gadis jelita itu tertawa sedemikian gelinya.
"Eh, eh, kenapa kau tertawa-tawa seperti orang digelitik perutnya?" tanyanya mendongkol.
Lee Ing dapat menekan dan meredakan gelinya, lalu dengan mulut masih tersenyum dan mata basah air mata ketika ketawa. ia bertanya,
168
"Kau tadi bilang she Oei, akan tetapi lebih pantas kalau kau she Kiang. Apakah kau masih keturunan dari Kiang Cu Ge (tokoh besar dalam dongeng Hong-sin-pong)?" Di dalam dongeng Hong-sin pong, yaitu ketika jaman Kaisar Tiu Ong, Kiang Cu Ge adalah tokoh besar yang memancing datangnya raja muda baru dengan perlambangnya memancing ikan dengan pancing lurus seperti jarum, persis seperti yang dipergunakan oleh Siok Ho sekarang ini.
Kini Siok Ho yang memandang kagum. "Eh nona, kiranya kau seorang yang paham akan sejarah. Sungguh mengagumkan!"
Lee Ing tersenyum. "Aku hanya mendengar dongeng dari kakekku. Dengan pancing macam itu, bagaimana kau bisa mendapatkan ikan?"
"Kau tunggu saja," jawab Siok Ho yang kembali mengalihkan perhatiannya ke air. Tiba-tiba ia mengangkat bambu pancingnya sampai jarum itu terangkat dari permukaan air, lalu dengan gerakan hebat sekali bambu itu digerakkan ke bawah. Tali pancing yang membawa pancing bergerak pula dan pancing lurus seperti jarum itu meluncur ke bawah menembus permukaan air. Nampak air berombak dan bambu di tangan Siok Ho itu bergerak-gerak seperti ada yang menarik-narik di ujung tali pancing.
"Ikan lee yang besar juga....!" teriak Siok Ho girang. Ia menarik bambunya secara tiba-tiba ke atas dan... seekor ikan lee yang gemuk menggelepar-gelepar di atas tanah dekat Lee Ing.
Sekarang tahulah Lee Ing bahwa pemuda yang memancing ikan ini ternyata memiliki kepandaian silat dan bahwa ia bukan memancing, melainkan mencari ikan dengan cara "menombak" ikan besar dengan sebatang jarum yang diikat seperti pancing. Diam-diam ia merasa geli akan kebodohan sendiri, juga geli melihat Siok Ho "mendemonstrasikan" kepandaian yang bagi dia sendiri tentu saja tidak berarti apa-apa itu. Kalau hanya begitu saja, itu permainan anak kecil baginya. Akan tetapi untuk tidak membikin pemuda itu berkurang kegembiraannya, iapun memuji, "Ah, ternyata kau seorang yang lihai!"
Seperti telah kita ketahui, Oei Siok Ho adalah seorang anak murid Kun-lun-pai yang amat tinggi kepandaiannya dan di dunia kang-ouw dia mendapat julukan Ang-sin-jiu (Si Tangan Merah). Biarpun masih muda, dia sudah banyak pengalamannya, apa lagi ia sering diberi nasihat oleh sucouw-nya agar jangan memandang rendah orang lain. Maka sekarang bertemu dengan seorang gadis muda seperti Lee Ing yang membawa pedang dililitkan di pinggang, ia dapat menduga bahwa Lee Ing tentu juga seorang kang-ouw.
"Aah, kepandaian memancing ikan seperti ini saja, masa patut dipuji?" katanya merendah. "Lihat, ikan itu gemuk dan segar. Perutku sudah lapar sekali. Mau kau makan bersamaku?"
Perut Lee Ing juga sudah amat lapar. Melihat sikap pemuda yang ramah dan jujur ini, lenyap keinginan hendak memberi hajaran. Dia tersenyum dan mengangguk. "Boleh, asal kau bisa memasaknya." Dengan kata-kata ini Lee Ing hendak menggoda Siok Ho, karena ia mendahului pemuda itu agar Siok Ho jangan minta dia memasakkan ikan. Akan tetapi, di luar dugaannya, pemuda itu menjawab sambil tertawa,
"Tunggu saja. Sekali kau merasai masakanku, kau akan minta tambah lagi." Dengan cekatan, jari-jari tangan pemuda itu memotong dan membersihkan ikan, mempergunakan sebatang pisau kecil yang memang sudah ia sediakan, kemudian ia mengeluarkan bungkusannya yang ternyata berisi garam, merica, dan lain-lain bumbu. Dibuatnya api dan tak lama kemudian tercium bau sedap sekali dari
169
panggang daging ikan, membuat perut Lee Ing menjadi makin lapar memberontak. Benar-benar pandai pemuda itu memanggang ikan, cekatan dan bumbunya sedap.
"Kau tentu orang selatan," kata Lee Ing.
Siok Ho mengangkat alis. "Bagaimana kau bisa menduga begitu?" ia balas bertanya tanpa menjawab.
"Karena kau pandai memasak. Hanya di bagian selatan saja laki-laki pandai masak, sedangkan wanitanya tidak bisa masak. Laki-laki di bagian selatan mau menang sendiri saja. Bersekolah, memasak, bermalas-malasan. Sedangkan kaum wanitanya di suruh bekerja berat mati-matian di sawah dan melakukan semua pekerjaan kasar. Benar-benar seperti terbalik keadaan di sana."
Siok Ho tersenyum. "Sebaliknya, di bagian agak ke utara wanitanya hanya disuruh mengeram di dalam kamar, bersolek dan hidup seperti boneka cantik yang hanya untuk perhiasan atau permainan belaka."
"Jadi kau lebih membenarkan laki laki di selatan yang memperkuda wanita?" tanya Lee Ing mengerutkan kening dan pandang matanya mengandung penasaran.
Siok Ho menggeleng kepala. "Tidak begitu. dan akupun bukan orang selatan Aku hanya menceritakan keadaan orang utara sebagai perbandingan. Menurut aku kedua duanya keliru. Memang wanita tidak selayaknya seperti wanita yang menjadi boneka di dalam katnar, mengikat kakinya sampai tak pandai berjalan, bersolek setiap saat untuk menyenangkan hati laki laki.
Wanita harus pula bekerja, akan tetapi tentu saja tidak seperti wanita selatan yang harus membanting tulang di sawah sedangkan kaum laki laki hanya bersolek, bersekolah dan memasak. Pendeknya, laki-laki dan wanita harus saling bantu, bekeria sama dengan seadil-adilnya sesuai dengan tenaga dan kemampuan masing-masing. Tidak boleh saling menindas, tidak boleh saling mendewakan.
Lee Ing girang sekali mendengar ini "Akur! Aku benci melihat laki-laki yang menindas wanita, akan kupukul kepalanya kalau aku melihat suami memperkuda isterinva" katanya bernafsu dan giiang karena mengetahui isi hati Siok Ho. Akan tetapi tiba-tiba mukanya menjadi merah dan ia merasa penasaran sekali mengapa tak pernah pemuda ini menanyakan namanya. Biasanya, setiap pemuda yang bertemu dengan gadis cantik, segera hendak mengetahui nama, mengetahui alamat, dan mengetahui segalanya. Alangkah jauh bedanya Siok Ho ini dengan pemuda-pemuda Iain. Akan tetapi Siok Ho seakan-akan tidak mengetahui isi hati Lee Ing. Ikan sudah matang dan ia menurunkannya dari atas api. disodorkannya kepada L ee Ing.
"Ambillah, masih hangat-hangat dan enak dimakan selagi masih panas." kalanya.
Karena pikirannya masih termenung, Lee Ing menerima dan merobek daging ikan itu segumpal besar, tidak teringat sama sekali bahwa ikan itu dagingnya masih panas sekali dan tak mungkin kuat terpegang oleh sembarang orang. Dengan perbuatannya ini, tanpa disadari ia telah memperlihatkan kepandaiannya. Hanya seorang dengan Iweekang tinggi saja dapat menahan panas seperti itu. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa hal ini memang disengaja oleh Siok Ho yang ingin menguji sampai di mana tingkat kepandaian gadis lincah di depannya ini.
"Aha. kiranya kaupun seorang gadis yang memiliki kepandaian," kata Siok Ho sambil makan daging ikan bagiannya.
Lee Ing memandang heran. "Apa sebabnya kau menduga begitu?"
170
"Daging ikan begini panas seakan-akan dingin saja bagimu."
Lee Ing sadar dan diam-diam ia memuji kecerdikan Siok Ho. Heem. pikirnya, kau sengaja hendak mengujiku, tunggulah saja, akan tiba saatnya aku yang menguji kepandaianmu. la hanya tersenyum dan melanjutkan makan daging ikan yang benar-benar lezat itu. la makin suka kepada pemuda yang ramah, berkepandaian lumayan serta pandai memasak ini.
Kita tinggalkan dulu dua orang muda yang sedang duduk menikmati panggang daging ikan lee itu dan mari kita menyelidiki keadaan Oei Siok Ho. Sebenarnya siapakah pemuda ganteng ini? Di bagian depan sudah pernah kita temui pemuda ganteng ini sebagai Ang sin-jiu, pemuda berbudi mulia yang lelah menolong nyawa Siok Bun ketika pemuda ini terluka oleh Hek-tok-ciang dari Auwyang Tek Di bagian itu sudah dituturkan bahwa Oei Siok Ho adalah anak murid Kun-lun-pai yang menerima warisan ilmu dari couwsu Kun-lun-pai, yaitu Swau Thai CouWsu Apa yang telah terjadi di Kun-iun pai? Mari kita mundur empat tahun.
Telah dituturkan di dalam jilid yang terdahulu betapa Kai Song Cinjin, tokoh nomor satu dari barisan kaki tangan Menteri Auwyang Peng, menjadi marah sekali kepada Kun-lun-pai karena dalam pertempurannya melawan Souw Teng Wi, biarpun ia berhasil membuat jari tangan Souw Teng Wi-patah dua buah dan menawan Souw Teng Wi, namun gigitannya pada jari tangan Souw Teng Wi juga membuat bibirnya pecah-pecah dan giginya rontok.
Hal ini mendatangkan malu besar kepadanya, dan ia menimpakan kemarahannya kepada Kun-lun-pai, partai dari Souw Teng Wi. Membasmi musuh harus sampai ke akar-akarnya, pikir kakek ini. Tentu Souw Teng Wi mendapat dukungan guru-gurunya di Kun-lun-pai, maka sebelum Kun-lun-pai bergerak, lebih baik ia mendahului mereka menyerang ke Kun-lun-san.
Dalam gerakan penyerbuan ke Kun-lun-pai ini ia disertai oleh Ma thouw Koai-lung Kui Ek dan di tengah jalan rombongannya diperkuat pula oleh Toat-beng-pian Mo Hun, manusia yang seperti iblis pemakan otak manusia itu. Juga rombongan itu sendiri merupakan pasukan kota raja pilihan yang terdiri dari pengawal-pengawal Menteri Auwyang Peng yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi.
Pada waktu itu, kun-lun-pai merupakan partai persilatan yang amat terkenal. Akan tetapi sayangnya, partai ini tidak mempunyai banyak anak murid. Hal ini adalah karena yang menjadi guru besarnya, yaitu Swan Thai Couwsu yang sudah berusia seratus tahun, melarang para muridnya untuk menerima sembarangan orang menjadi anak murid Kun-lun-pai- Bukan tidak ada sebabnya Swan Thai Couwsu berlaku keras dalam menerima murid. Sudah beberapa kali kalau ada anak murid melakukan penyelewengan maka nama baik partai yang terseret ke dalam lumpur dan Swan Thai Couwsu tidak menghendaki hal ini terjadi atas partainya.
Maka biarpun Kun-lun-pai merupakan partai persilatan ternama dan besar, kedudukannya pada waktu itu tidak begitu kuat. Yang tinggal di kelenteng besar hanya Swan Thai Couwsu. dua orang sutenya (adik seperguruan), lima orang murid yang kesemuanya sudah berusia lima puluh tahun, bersama sebelas orang saja anak murid Kun-lun-pai. Masih ada belasan orang lagi anak murid, akan tetapi mereka ini sudah turun gunung dan hidup berpencaran. Jadi yang memperkuat Kun-lun-pai pada waktu itu hanya sembilanbelas orang anggauta Kun-lun-pai dan beberapa orang kacung pelayan.
Kacung-kacung ini terdiri dari anak-anak yatim piatu yang di pungut oleh partai Kun-lun-pai, disuruh bekerja sebagai pelayan dan ada kemungkinan mereka ini kelak diambil murid karena yang dijadikan kacung rata-rata adalah anak-anak yang memiliki bakat baik. Tosu-tosu Kun-lun-pai bukan orang-
171
orang penganggur. Tidak saja anak-anak murid yang masih muda, bahkan lima orang murid yang sudah tua itupun masih sering pergi ke lereng gunung mencari daun-daun obat atau mencari kayu-kayu kering. Ada pula yang membantu anak-anak murid bertani untuk mengisi bahan makanan mereka sehari-hari.
Oleh karena anak-anak murid Kun-lun-pai setiap hari turun dari puncak, maka kedatangan rombongan Kai Song Cinjin segera terlihat oleh mereka. Melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari dua puluh orang lebih, dipimpin oleh tiga orang kakek yang kelihatannya aneh dan luar biasa, anak-anak murid Kun-lun-pai cepat-cepat naik ke puncak memberi laporan kepada Ngo-tai-su, yaitu lima guru besar di puncak. Lima guru besar ini adalah murid-murid Swan Thai Couwsu dan dua orang sutenya. Memang dalam mengurus semua hal, lima orang murid inilah yang mengatur.
Sedangkan Swan Thai Couwsu, jarang sekali keluar. Sungguhpun tidak setua Swan Thai Couwsu, dua orang tosu inipun usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Ngo-taislu atau lima guru besar ini bernama Giok Cin Tosu, Giok Kong Tosu, Thian Po Tosu, Thian Kong Tosu, dan Kim Sim Cu, rata-rata sudah berusia lima puluh tahun kecuali Kim Sim Cu yang baru berusia empat puluh tahun. Biarpun yang termuda di antara lima orang itu. namun Kim Sim Cu mempunyai kepandaian yang paling tinggi karena dialah murid tunggal Swan Thai Couwsu, sedangkan yang empat orang adalah murid-murid Swan Thian dan Swan Le Couwsu.
Ketika Kai Song Cinjin dan rombongannya tiba di depan kuil besar, ia disambut oleh lima orang tosu yang memimpin belasan orang-orang muda yang kelihatannya gagah-gagah, la tahu bahwa inilah tosu-tosu Kun-lun-pai, maka sambil tertawa bergelak ia membuka mulut besar,
"Mana Swan Thai si tua bangka? Apakah dia sudah mampus maka tidak keluar sendiri menyambut kedatanganku?"
Melihat pemimpin rombongan itu seorang hwe-sio tinggi besar bermuka menyeramkan yang datang-datang membuka mulut besar dan mengeluarkan kata-kata kasar, tentu saja para tosu Kun-lun-pai menjadi marah. Siapa yang tidak menjadi marah mendengar ketua dan guru besar yang amat mereka hormati itu dimaki-maki orang?
"Siancai.. dari mana datangnya orang jahat berkedok hwesio? Ataukah kau ini memang seorang hwesio yang mabok keduniawian?" kata Giok Cin Tosu.
Kalau dia dimaki hwesio jahat, kiranya Tok-ong Kai Song Cinjin takkan marah. Akan tetapi ketika Giok Cin Tosu memaki dia seorang hwesio mabok keduniawian, ia menjadi marah sekali. Makian ini tepat menusuk perasaannya, karena memang sebagai seorang hwesio kelas tinggi dia telah mengabdi kepada menteri durna karena ia mabok keduniawian! Tidak ada makian yang lebih menyakitkan hati dari pada pernyataan yang tepat dengan keadaannya. Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Kai Song Cmjin melangkah tiga tindak dan kedua tangannya bergerak-gerak ke depan dan sekaligus ia mengirim empat kali pukulan Hek-tok-ciang yang luar biasa lihainya!
Biarpun Giok Cin Tosu sudah memiliki kepandaian yang cukup lihai namun kalau dibandingkan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin, ia masih kalah jauh sekali. Jangan lagi dia, biarpun suhunya. Swan Le Couwsu belum tentu sanggup menerima pukulan Hek-tok-ciang yang dilakukan empat kali beruntun dari jarak dekat ini Giok Cin Tosu mencoba untuk menangkis.
Akan tetapi ia hanya dapat menghindarkan pukulan pertama. ke dua dan ke tiga. Pukulan ke empat tak dapat ia elakkan lagi karena kedudukannya sudah kacau oleh tiga pukulan tadi. Dengan tepat sekali dadanya terkena pukulan Hek-tok-ciang. la mengeluarkan pekik mengerikan, tubuhnya
172
terdorong ke belakang dan Giok Cin Tosu roboh telentang dengan nyawa putus dan dadanya memperlihatkan bekas tapak lima jari tangan hitam. Dapat dibayangkan betapa terkejut dan marahnya tosu-tosu yang lain. Serentak mereka maju dan mencabut pedang masing-masing. Kun-lun-pai memang terkenal dengan ilmu pedangnya.
"Hwesio jahanam!" bentak Giok Kong Tosu marah sambil menudingkan pedangnya. "Siapakah kau dan mengapa datang-datang kau membunuh orang?"
Kai Song Cinjin tertawa bergelak. "Tosu-tosu bau tak perlu kalian mengenal siapa pinceng. Lebih baik suruh Swan Thai Couwsu keluar atau pinceng akan masuk dan menyeretnya keluar."
"Untuk menghadapi manusia jahat macam kau tak perlu couwsu harus turun tangan. Kau kira kami takut padamu?" bentak Thian Kong Tosu sambil bergerak maju, la berlaku hati-hati kareha maklum bahwa hwesio asing ini memiliki ilmu pukulan beracun yang amal berbahaya. Akan tetapi Kai Song Cinjin mana mau melayani segala tosu yang tidak sebanding dengan tingkatnya? Juga Kui Ek tidak membiarkan semua jasa diborong oleh Kai Song Cinjin. la tertawa terkekeh-kekeh sambil melangkah maju, tongkat burung di tangannya siap sedia.
"Tosu siapa namamu dan apa pangkatmu di sini? Ketahuilah, aku Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek dan aku mewakili Tok-ong untuk membasmi tosu-tosu cilik sebelum yang gede muncul."
Kagetlah para anak murid Kun-lun-pai mendengar disebutnya nama orang buruk rupa ini. Nama Ma-thouw Koai-tung bukanlah nama yang tidak terkenal. Akan tetapi nama Tok-ong malah tidak mendatangkan kesan apa-apa, karena Tok-ong Kai Song Cinjin memang seorang tokoh dari Tibet dan jarang dikenal. Hanya tokoh-tokoh besar saja yang sudah mendengar namanya. Melihat bahwa orang-orang ini datang sengaja hendak mencari permusuhan, Giok Kong Tosu menggerakkan pedang di depan dada dan berkata keren,
"Pinto Giok Kong Tosu dan Swan Thai Couwsu adalah supekku. Kalian ini rombongan dari mana dan apa alasannya kalian datang hendak membikin ribut Kun-lun-pai?"
"Heh-heh heh, segala tosu cilik tak perlu banyak bicara. Hanya Swan Thai Couwsu saja yang boleh bicara tentang itu. Kau dan orang-orangmu ini mundur saja, lekas panggil losu-tosu gede keluar kalau kalian tidak ingin mampus."
Tentu saja Giok Kong Tosu menjadi marah sekali. Ngo-taisu sudah mempunyai kedudukan istimewa di Kun-lun-pai dan mereka berwenang untuk membereskan segala urusan. Sekarang, seorang di antara mereka sudah tewas, bagaimana mereka, mau menghabiskan urusan begitu saja? Apa lagi Giok Kong Tosu sudah kehilangan suhengnya, marahnya tak dapat ditahan lagi.
"Sudah lama pinto mendengar tentang kebusukan hati Ma-thouw Koai-tung. Sekarang bertemu muka, ternyata berita itu betul adanya. Kalau pinto berhasil melenyapkan orang seperti engkau, berarti pinto membersihkan kotoran dari dunia ini."
"Tosu babi, kau harus mampus!" Kui Ek marah bukan main, tongkat burungnya berkelebat menyambar.
Namun Giok Kong Tosu cukup cekatan dan dapat mengelak sambil membalas dengan serangan pedangnya. Ilmu pedang Giok Kong Tosu cukup kuat dan cepat. Namun menghadapi Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, ia masih kalah jauh. Permainan tongkat dari Kui Ek selain aneh dan cepat, juga
173
mengandung tenaga yang jauh lebih besar dari pada tenaga Giok Kong Tosu. Kalau mau dibuat perbandingan, kiranya guru Giok Kong Tosu baru seimbang kepandaiannya dengan Kui Ek!
Pertempuran inipun tidak lama. Dalam jurus ke dua puluh. Giok Kong Tosu terlempar ke samping dengan kepala remuk terkena pukulan tongkat burung yang lihai itu. Para tosu menjadi marah. Sudah terang bahwa rombongan ini datang untuk menyebar maut, bukan semata-mata hendak menguji kepandaian seperti halnya partai-partai lain kalau datang hendak menantang pibu. Kim Sim Cu mengeluarkan suitan nyaring untuk memberi tanda ke tempat suhunya bersamadhi. Dia sendiri bergerak maju dengan tangan kiri mencengkeram ke arah kepala Kui Ek dan tangan kanan mencabut pedangnya.
"Jahanam keji, rasakan pembalasanku!" bentaknya.
Seperti sudah di ceritakan tadi, di antara lima orang tokoh Kun-lun-pai ini, Kim Sim Cu biarpun paling muda, namun tingkat kepandaiannya paling tinggi, la adalah murid dari Swan Thai Couwsu dan memang ia memiliki bakat besar. Belasan lahun ia merantau di dunia kang-ouw dan mendapat nama besar. Selain tinggi ilmunya, juga dia amat mulia, suka sekali menolong orang sehingga ia mendapat nama, baru Kim Sim Cu (Si Hati Emas). Para tokoh Kun-lun-pai merasa bangga akan sepak terjangnya, maka ia diperbolehkan menggunakan nama Kim Sim Cu dan namanya yang dulu, yaitu Thian Kim Tosu, dilupakan.
Kui Ek memandang ringan terhadap cengkeraman ini, apa lagi ia melihat bahwa yang menyerangnya hanya seorang tosu muda. Dengan tenang ia membarengi untuk menangkap tangan yang mencengkeram ini. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tangan yang hendak ditangkapnya itu, begitu teraba oleh tangannya terus melejit ke depan dan sambungan sikunya kena dicengkeram.
"Cialat (celaka)!" teriaknya. Akan tetapi Kui Ek adalah seorang tokoh besar. Kalau bukan dia. tentu sudah putus sambungan tulang sikunya dan mungkin nyawanya juga terancam. Kemudian secepatnya ia memutar tubuh sambil mengerahkan tenaga Iweekang ke arah sikunya yang dicengkeram.
"Breettt!" Sungguhpun Kui Ek dapat menyelamatkan sikunya, tidak urung ia mengalami kekagetan besar karena bajunya di bagian siku putus dan kulit lengannya sedikit lecet-lecet, la melompat mundur untuk mengatur kembali kedudukannya yang agak kacau oleh serangan hebat tadi.
Akan tetapi sementara itu, sambil tertawa-tawa aneh, Toat-beng-pian Mo Hun sudah menghadang di depan Kim Sim Cu. Pian kelabangnya mengeluarkan suara menjetar dan menyambar ke arah leher tosu muda itu! Kim Sim Cu kaget sekali melihat gerakan luar biasa ini dan mencium bau amis yang memuakkan dari sambaran pian itu. Cepat ia menundukkan kepalanya dan menangkis pian dengan pedangnya sambil melompat merobah kuda-kudanya. Tepat sekali gerakannya ini, karena kalau ia tidak melompat pergi dan merobah kuda-kudanya, tentu ia akan menjadi korban kelihaian pian kelabang itu. Begitu tertangkis pedang, ujung pian masih meluncur ke arah lawan!
Sementara itu, Kui Ek yang sudah hilang kagetnya kini melihat bahwa kepandaian Kim Sim Cu, biarpun ilmu pedangnya cepat dan lihai, sesungguhnya masih tidak sukar untuk dikalahkan. Ia melompat maju pula dan menantang, "Tosu bau mana lagi yang sudah bosan hidup? Majulah!"
Thian Po Tosu dan Thian Kong Tosu yang menjadi sakit hati sekali melihat tewasnya dua orang suheng mereka, berbareng melompat maju dengan pedang terhunus. Mereka sejenak ragu-ragu karena betapapun juga mereka adalah orang-orang gagah yang segan melakukan pengeroyokan dalam pibu.
174
"Ho-ho, kalian boleh maju berbareng. Kalau perlu boleh tambah dua lagi." Kui Ek mengejek dari langsung tongkatnya menyambar dahsyat. Thian Po Tosu dan Thian Kong Tosu terpaksa melawan dan mengeroyok, tidak saja karena lawan sudah menantang mereka berdua, juga kalau dipikir-pikir keadaan di waktu itu bukan merupakan pertandingan-pertandingan pibu yang harus terlalu banyak memakai aturan. Fihak lawan datang untuk mengacau dan membunuh, tentu saja mereka harus melawan mati-matian.
Pertempuran berjalan seru dan mati-matian, akan tetapi hanya pertempuran antara Kui Ek melawan dua orang murid Swan Thian Couwsu itu yang ramai sekali. Dua orang tosu itu karena maklum akan ketangguhan lawan, lalu bekerja sama dan mainkan Ilmu Pedang Lian-sian Siang-kiam. Ilmu pedang ini sebetulnya adalah ilmu pedang pasangan, yaitu seorang dengan dua batang pedang. Akan tetapi oleh Swan Thian Couwsu telah diciptakan menjadi ilmu pedang tunggal dan hebatnya, dua, tiga atau empat orang anak murid Kun-lun-pai kalau mainkan ilmu pedang ini dapat saling mengisi dan bantu-membantu seolah-olah semua pedang itu hanya dimainkan oleh seorang saja.
Dengan Liang-sian Siang-kiam, dua orang tosu itu dapat mengimbangi kehebatan tongkat burung dari Kui Ek. Boleh jadi kalau seorang lawan seorang, tosu Kun-lun-pai itu seakan-akan berhadapan dengan gurunya, akan tetapi kalau maju berdua, kekuatan mereka menjadi berlipat dan tidak saja mereka dapat menolak serbuan tongkat di tangan Kui Ek, bahkan mereka dapat pula membalas dengan serangan-serangan mematikan.
Akan tetapi, Kim Sim Cu payah sekali menghadapi pian kelabang dari Mo Hun. Biarpun Kim Sim Cu memiliki ilmu pedang yang lebih matang dari pada tosu-tosu lain, namun bertemu dengan Mo Hun ia kalah segala-galanya. Senjata pian di tangan Mo Hun benar-benar hebat dan sudah sepatutnya kalau Mo Hun mendapat julukan Toat-beng-pian (Pian Pencabut Nyawa). Hanya dengan pengerahan tenaga dan kepandaian seluruhnya Kim Sim Cu dapat bertahan sampai tiga puluh jurus lebih. Namun pedangnya sudah makin sempit sinarnya, makin terbatas gerakannya karena ia kini hanya dapat menangkis saja tanpa mampu membalas. Mo Hun mulai timbul kesombongannya dan tertawa-tawa mengejek sambil menyerang lebih hebat lagi.
"Heh-heh, serahkan saja kepalamu, heh-heh-heh..."
Pada saat Kim Sim Cu menangkis sambaran pian ke arah kepalanya, tiba-tiba tangan kiri Mo Hun yang berkuku panjang itu menyelonong ke depan hendak mencengkeram perutnya. Kim Sim Cu kaget sekali, tahu-tahu tangan itu sudah amat dekat dengan perutnya. Untuk menghindarkan diri tak ada waktu lagi. Tosu muda ini mengambil keputusan kilat. Dari pada mati konyol lebih baik menyeret lawan ke lubang kubur bersama, pikirnya. Ia tidak perduli lagi akan tangan kiri lawan yang mencengkeram ke arah perutnya, sebaliknya ia malah membarengi untuk membacokkan pedangnya ke arah kepala lawan untuk mengadu nyawa, mati bersama!
Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya, tangan kiri yang tadinya mencengkeram ke arah perutnya itu kini diangkat naik dan mencengkeram ke arah pedangnya, dan pada saat yang bersamaan, pian kelabang telah menyambar pula ke leher! Inilah hebat! Benar benar serangan pancingan yang lihai sekali dari Mo Hun, sama sekali tidak dapat diduga lebih dulu oleh Kitn Sini Cu yang sudah berpengalaman. Kim Sim Cu tak dapat berbuat lain kecuali cepat-cepat merobohkan diri ke kanan sambil menarik kembali pedangnya, karena dalam saat seperti itu tak mungkin ia dapat melakukan serangan balasan lagi.
Sayang sekali, betapapun cepatnya ia merobohkan diri, pian kelabang lebih cepat datangnya dan biarpun lehernya dapat diselamatkan, namun pundak kirinya terbabat pian. Terdengar suara
175
mengerikan dibarengi suara ketawa Mo Hun dan pundak Kim Sim Cu sebelah kiri terbabat putus berikut lengannya.
"Suhu, celaka.." Kim Sim Cu mengeluh, namun tosu muda yang gagah ini masih dapat melompat jauh sekali, lalu berlari cepat untuk memberi laporan kepada suhunya. Akan tetapi ia melihat berkelebatnya dua bayangan orang dari depan dan ia roboh di depan kaki dua orang itu yang ternyata adalah Swan Thian Couwsu dan Swan Le Couwsu.
"Ji-wi susiok.. Kun-lun-pai... terancam...... bahaya...." Setelah mengeluarkan kata-kata terakhir ini, Kim Sim Cu menghembuskan nafas terakhir di depan kaki kedua orang pamannya.
Swan Le Couwsu dan Swan Thian Couwsu berkelebat cepat ke tempat pertempuran, namun terlambat sudah. Thian Po Iomi dan Thian Kong Tosu yang tadi mengeroyok Kui Ek, sekarang juga sudah menggeletak tak bernyawa lagi di atas tanah, menjadi korban senjata Kui Ek dan Mo Hun yang sudah datang membantu kawannya sehingga pertempuran itu dapat cepat diselesaikan.
Anak-anak murid Kun-lun-pai yang muda-muda, yang tadinya merasa ngeri dan tidak berdaya melihat ngo-taisu mereka tewas semua, kini mulai maju mendekat lagi dengan semangat baru ketika mereka melihat Ji-couwsu dan Sam-couwsu sudah datang.
Dapat dibayangkan betapa sakit hati dua orang tosu tua ini melihat lima orang murid mereka menggeletak tak bernyawa di depan kaki rombongan yang dipimpin oleh tiga orang aneh yang kini menanti kedatangan mereka dengan senyum-senyum mengejek. Melihat hadirnya Kui Ek dan Mo Hun di antara rombongan musuh, dua orang tosu ini diam-diam menjadi marah sekali. Pantas saja terjadi keributan, tak tahunya ada dua orang iblis ini.
"Siancai.. siancai.... kiranya Ma-thouw Koai-tung dan Toat-beng-pian yang datang meng-, ganggu ketenteraman Kun-lun-san. Sebetulnya apakah maksud kalian datang-datang menyebar maut membunuhi murid-murid pinto?" tanya Swan Le Couwsu dengan suara tenang akan tetapi mengandung pengaruh besar.
Kui Ek dan Mo Hun saling pandang lalu tertawa besar, "Heh-heh-heh, benar saja sekarang muncul tosu-tosu gede setelah yang cilik-cilik mampus. Swan Le Couwsu, kedatangan kami berdua ini mengantar Tok-ong untuk menjumpai suheng kalian, Swan Thai Couwsu, untuk menuntut tua bangka itu yang menyimpan dan mendidik pemberontak."
Swan Le Couwsu mengerutkan keningnya. Dengan mengeluarkan kata-kata pemberontak, tahulah ia bahwa dua orang yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai orang-orang jahat ini sekarang telah menjadi kaki tangan pemerintah Beng-tiauw. Biarpun tinggal di puncak gunung, Swan Le Couwsu cukup maklum bahwa pemerintah Beng-tiauw praktis dikuasai oleh durna-durna jahat dan bahwa kaisar sendiri yang dahulu benar-benar seorang patriot rakyat bernama Cu Coan Ciang, sekarang setelah menjadi kaisar tak berdaya sama sekali, terpengaruh seluruhnya oleh para menteri durna.
Berpikir sebentar saja Swan Le Couwsu dan Swan Thian Couwsu dapat menduga mengapa rombongan kaki tangan durna ini datang mengacau di Kun-lun-pai. Tentu ada hubungannya dengan Souw Teng Wi, anak murid Kun-lun-pai yang terkenal sebagai seorang pejuang rakyat yang pantang mundur, dahulu menjadi kawan seperjuangan Cu Goan Ciang akan tetapi sekarang dimusuhi oleh karena hasutan para menteri durna.
"Suheng sedang siulian dan selama bertahun-tahun ini beliau tidak mau berurusan dengan dunia. Beliau sudah terlalu tua dan tidak mungkin diminta keluar. Kalau ada urusan, cukup dirundingkan
176
dengan pinto berdua," jawab Swan Le Couwsu. Melihat murid-murid menggeletak tak bernyawa namun masih bicara setenang itu benar-benar membuktikan bahwa tosu ini sudah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu kebatinan.
Tiba-tiba Tok-ong Kai Song Cinjin tertawa bergelak, lalu berkata keras dan nyaring sekali karena maksudnya agar supaya suaranya dapat terdengar oleh Swan Thai Couwsu yang tidak mau keluar,
"Ha-ha-ha, Kun-lun-pai yang dibangun dengan susah payah, sekarang menghadapi kehancuran karena perbuatan anak muridnya yang menjadi pemberontak dan penghianat! Kalau Swan Thai Couwsu mau keluar dan menghadap kaisar dan minta maaf, itu masih baik dan ada harapan. Akan tetapi kalau terhadap Kaisar Beng-tiauw masih menjual lagak dan keangkuhan, berarti benar-benar Kun-lun-pai akan lenyap dari muka bumi!"
Swan Le Couwsu memandang Kai Song Cinjin dan berkata marah, "Mendengar suaramu, kau adalah seorang hoanceng (pendeta asing), bagaimana kau bisa bicara tentang memberontak atau menghianat? Kalau benar kaisar sendiri yang memanggil suheng, mana lengki (bendera utusan
kaisar) dan firmannya?"
Tok-ong Kai Song Cinjin menjadi gelagapan. Memang dia bukan utusan kaisar, melainkan utusan Menteri Auwyang Peng, pula memang Kai Song Cinjin tidak mengerti tentang peraturan ini.
"Pinceng adalan orang kepercayaan pertama dari Menteri Auwyang, perlu apa pakai lengki segala? Tosu tua bangka, tak usah banyak cerewet. Lekas panggil Swan Thai Couwsu mu keluar sebelum pinceng kehabisan kesabaran dan turun tangan membunuh kalian dan rnenyeret keluar Swan Thai si tua bangka."
Sesabar-sabarnya Swan Le Couwsu. dia seorang manusia biasa, tidak kuat ia mendengar kata-kata yang amat menghina ini.
"Hwesio palsu, kotor sekali mulutmu!" ia membentak dan melompat maju.
Tiba-tiba dari samping Kui Ek melayangkan tinjunya mendorong Swan Le Couwsu sambil memaki, "Tosu bau, menggelindinglah!"
Pukulan Kui Ek amat hebat dan jarang ada orang sanggup menerimanya. Akan tetapi ia keliru kalau mengira bahwa ia akan dapat membuat tosu itu roboh hanya dengan sekali pukul. Swan Le Couwsu sudah disebut couwsu atau guru besar di Kun-lun-pai, tentu saja memiliki kepandaian yang tinggi dan luas. Melihat berkelebatnya Kui Ek dan merasa angin pukulan mendorongnya dari pinggir, Swan Le Couwsu mengebutkan lengan bajunya ke arah pergelangan tangan Kui Ek.
"Plakkl" Kui Ek mengeluh kesakitan dan cepat melompat mundur, memegangi tangan kanannya yang menjadi sakit dan kesemutan. Baiknya tadi ia masih keburu mengerahkan Iweekang dan menarik mundur tangannya, kalau tidak, ujung lengan baju tosu tua itu yang melakukan totokan tentu akan memuluskan urat nadinya! Saking marah dan malunya, Kui Ek lalu mengerahkan tongkatnya dan menyerang tanpa mengeluarkan suara lagi. Tongkat di tangan Kui Fk benar-benar aneh bentuknya. Kepala tongkat itu berukirkan seekor burung yang patuknya meruncing ke atas. Selain aneh, juga amat lihai gerakannya. Swan Le Couwsu juga tidak berlaku sungkan lagi.
Ia mencabut pedangnya yang mengeluarkan cahaya kehijauan. Inilah Cheng-hong-kiam (Pedang Hong Hijau), sebuah di antara pedang pusaka Kun-lun-pai. Ketika ia menangkis sambaran tongkat, terdengar suara keras dan bunga api berhamburan akan tetapi dua senjata yang bertemu itu tidak rusak, tanda bahwa keduanya adalah senjata-senjata yang ampuh dan kuat.
177
Sementara itu, Mohun juga tidak mau tinggal diam. Ia memutar pian kelabang di tangannya, langsung ia menyerang Swan Thian Couwsu yang juga sudah mencabut pedangnya. Terjadilah pertarungan yang seru dan seimbang antara dua orang tokoh besar ini.
Anak-anak murid Kun-lun pai yang melihat couwsu mereka sudah bertempur, tidak mau tinggal diam pula. Dengan pedang di tangan mereka maju, semua mainkan Ilmu Pedang Liang-sian-siang-kiam sehingga dapat saling membantu dan menjadi barisan yang kuat sekali! Mereka disambut oleh pasukan pengawal dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat. Suara senjata beradu tercampur pekik dan maki memenuhi udara puncak Kun-lun-pai yang biasanya sejuk dan bersih itu.
Mula-mula Tok-ong Kai Song Cinjin hanya berdiri menonton saja. Ia terlalu angkuh untuk turun tangan apa bila lawan tidak setingkat dengan dirinya, kecuali kalau anak buahnya terdesak. Ia melihat betapa para pengawal yang rata-rata berkepandaian tinggi itu bertempur ramai dengan para anak murid Kun-lun-pai. Akan tetapi ketika ia melirik ke arah Kui Ek dan Mo Hun, ia tersenyum mengejek. Kui Ek dan Mo Hun nampak terdesak. Di dalam hatinya Tok-ong Kai Song Cinjin tidak suka kepada Kui Ek dan Mo Hun, akan tetapi ia yang tidak suka adalah pribadinya. Mereka itu kawan-kawannya, atau lebih tepat anak buahnya dan ia masih amat membutuhkan bantuan mereka.
Dua orang locianpwe dari Kun-lun-pai itu memang benar-benar hebat ilmu pedangnya. Sayang mereka sudah amat tua, tubuh mereka sudah tidak sekuat dulu lagi. Kalau Kui Ek dan Mo Hun melawan mereka dua puluh tahun yang lalu, jangan harap akan dapat menahan serangan pedang mereka. Sekarangpun biar menang kuat tenaga, tetap saja Kui Ek dan Mo Hun terdesak dan tertindas oleh kurungan sinar pedang. Melihat betapa dua orang anak buahnya itu terdesak, Tok-ong Kai Song Cinjin berseru,
"Kui Ek, kau bantu anak-anak membereskan mereka! Serahkan saja dua orang tua bangka ini kepada pinceng dan Mo-sicu!" Dengan cepat Kai Song Cinjin menyerbu ke dalam pertempuran sambil memutar senjatanya yang istimewa, yaitu tasbehnya. Sekali ia ayun tasbehnya, Swan Le Couwsu kena terdesak mundur. Melihat kesempatan ini, Kui Ek cepat melompat keluar dan sambil terkekeh-kekeh ia mengamuk menyebar maut dengan tongkatnya di antara anak-anak murid Kun-lun.
Kai Song Cinjin sengaja menahan Mo Hun untuk membantunya karena ia dapat memperhitungkan bahwa tenaga Kui Ek seorang saja akan mampu menghancurkan pertahanan para anak murid Kun-lun, sedangkan kalau ia seorang diri menghadapi dua orang kakek itu, kiranya biarpun ia dapat rnenang akan memakan waktu lama. Ia lihat tadi Mo Hun dengan piannya yang lemas dapat mempertahankan diri lebih baik dari pada Kui Ek, maka ia menyuruh Kui Ek yang keluar.
Swan Le Couwsu yang diserbu oleh Kai Song Cinjin segera mengerahkan seluruh kepandaiannya, pedang Cheng-hong-kiam diputar cepat sekali sampai tubuhnya lenyap dalam gulungan sinar hijau. Akan tetapi ketika gulungan sinar pedangnya kena terjang tasbeh, menjadi buyar dan segera Swan Le Couwsu terdesak hebat. Kai Song Cinjin tidak mau membuang banyak waktu. Hwesio Tibet ini terlalu mengandalkan kepandaiannya. Kalau ia sudah mau terjun dalam pertempuran, harus ia dapat cepat-cepat merobohkan dan membinasakan lawan. Maka selain tasbehnya yang mendesak juga tangan kirinya terus-menerus melakukan pukulan Hek-tok-
ciang.
Memang tingkat kepandaian Swan Le Couwsu masih kalah kalau dibandingkan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin. Biarpun dengan ilmu pedangnya yang luar biasa ia selalu dapat menangkis tasbeh, namun pukulan Hek-tok-ciang membuat ia sibuk sekali. Benar beberapa kali Swan Le Couwsu masih sanggup melakukan dorongan untuk menolak hawa pukulan Hek-tok-ciang itu dengan ilmu pukulan
178
Iweekang dari Kun-Iun-pai yang disebut Pek-hwa-ciang (Tangan Sakti Bunga Putih), namun ia kalah tenaga dan tasbeh itu amat menindihnya sehingga pada saat ia agak terlambat gerakannya, sebuah pukulan Hek-tok-ciang yang amat keras datangnya telah mendorong dadanya.
Sebagai seorang ahli Iweekeh, Swan Le Couwsu dapat mengerahkan Iweekang di dada untuk menerima pukulan ini. Akan tetapi bukan hanya tenaga pukulannya yang lihai, terutama sekali hawa beracun dari Hek-tok-ciang yang sukar dilawan. Swan Le Couwsu merasa dadanya terbakar, tenaganya habis, pedangnya masih dipegang erat-erat namun tubuhnya terhuyung dan ia tak dapat menangkis lagi ketika tasbeh di tangan Kai Song Cinjin mampir di kepalanya. Swan Le Couwsu guru besar ke dua dari Kun-lun-pai, roboh tak berkutik lagi dan napasnya telah putus. Namun Kai Song Cinjin masih harus mengerahkan tenaga untuk membetot pedang dari tangan Swan Le Couwsu yang sudah tak bernyawa lagi itu.
Tiba-tiba Kai Song Cinjin mendengar Mo Hun berseru kesakitan. Cepat ia menengok dan ternyata Swan Thian Couwsu yang melihat suhengnya tewas, menjadi marah dan memperhebat gerakan pedangnya. Mo Hun berusaha melibat pedang yang gerakannya luar biasa itu dengan ujung piannya. Akan tetapi begitu ujung pedang terlibat, Swan Thian Couwsu memutar pedangnya sekuat tenaga. Mo Hun tak dapat mempertahankan lagi dan piannya ikut terputar. Dalam kagetnya ia hendak melepaskan libatan piannya, namun tak dapat karena pedang di tangan Swan Thian Couwsu seakan-akan mengeluarkan tenaga menyedot yang kuat sekali.
Telah payah Mo Hun mempertahankan piannya supaya jangan terlepas dari tangan dan telapak tangannya sudah terasa panas dan sakit-sakit sampai ia mengeluarkan seruan untuk menarik perhatian Kai Song Cinjin. Memang, orang seperti Toat-beng-pian Mo Hun tingkatnya tentu merasa malu untuk minta tolong dalam pertandingan. Merupakan pantangan besar karena hal itu akan menjatuhkan namanya. Oleh karena itu ia menggunakan siasat, mengeluarkan seruan kesakitan untuk menarik perhatian Kai Song Cinjin.
Siasatnya berhasil baik. Kai Song Cinjin yang sedang mengamat-amati pedang rampasannya itu, mendengar seruannya menengok. Melihat betapa keadaan Mo Hun terancam bahaya, ia cepat melompat maju dan sekali tasbehnya melayang, pedang Swan Thian Couwsu berhenti gerakannya memutar, bahkan kini terlibat oleh tasbeh tak mampu bergerak atau terlepas lagi!
"Mo-sicu, kau boleh habiskan tua bangka ini," kata Kai Song Cinjin sambil tertawa bergelak.
Mo Hun menjadi girang sekali. Cepat ia menarik piannya dan sekali menggerakkan pian itu, senjata mengerikan ini menyambar ke arah leher Swan Thian Couwsu! Biasanya, leher siapapun juga yang terkena sambaran pian ini, pasti akan putus seperti rambut terbabat arit. Entah sudah berapa puluh atau ratus buah kepala yang copot oleh pian ini. "Cratt!" Tanpa mengeluarkan keluhan lagi, Swan Thian Couwsu roboh, akan tetapi pian itu hanya melukai lehernya dan menewaskannya saja, tidak mampu membuat lehernya putus!
"Lihai betul tosu kura kura ini!" Mo Hun terpaksa memuji karena selama ia menjadi tukang penggal leher orang dengan piannya, baru kali ini ia melihat senjatanya itu gagal membabat leher. Akan letapi tidak lama ia berdiri menganggur karena melihat betapa Kui Ek mengamuk, Mo Hun tertawa bergelak, memutar pian di atas kepala sambil berseru,
"Tua bangka she Kui, jangan kau habiskan sendiri! Aku perlu kepala orang muda yang segar!" Sambil berlari-lari ia menerjunkan diri dalam pertempuran mati-matian itu.
Celakalah nasib para anak murid Kun-lun-pai. Tadi ketika menghadapi pasukan pengawal, dengan Ilmu Pedang Lian-sian Siang-kiam mereka masih mampu melakukan perlawanan hebat bahkan
179
berhasil merobohkan seorang dua orang lawan. Akan tetapi semenjak Kui Ek menerjunkan diri dan menga-
muk dengan tongkatnya, kedudukan anak-anak murid Kun-lun-pai menjadi kacaubalau. Sebentar saja sudah ada empat orang anak murid Kun-lun-pai tewas oleh tongkat kakek yang amat ganas ini.
Apa lagi sekarang Toat-beng-pian Mo Hun juga menyerbu masuk ke dalam gelanggang pertempuran. Dalam hal keganasan, Mo Hun jauh lebih ganas dari pada Kui Ek. Berkali-kali piannya menyambar mengeluarkan bunyi berdetar dan dibarengi suara ketawanya yang seperti burung kukuk beluk itu, menggelindinglah beberapa buah kepala anak murid Kun-lun-pai! Banjir darah terjadi di lereng yang bersih itu. Anak-anak murid Kun-Iun-pai mati berserakan dalam perjuangan mempertahankan partai mereka.
Setelah anak-anak murid yang melakukan perlawanan habis, menyerbulah rombongan ini ke dalam pekarangan kuil. Anak-anak murid yang sudah tak dapat melawan lagi lari cerai-berai. Tiba-tiba Mo Hun berteriak girang ketika melihat seorang bocah berusia kurang lebih empat belas tahun ikut pula melarikan diri. .
"Kepala bagus! Bocah tampan, ke sinilah kau!"
Bocah itu adalah seorang kacung di Kun-lun-san. Dia dibawa oleh Kim Sim Cu ke Kun-lun-san ketika masih berusia sepuluh tahun dan selama itu ia memperlihatkan watak yang rajin dan penurut. Juga otaknya cerdik sekali sehingga ia disuka oleh semua tosu. Dia seorang anak yang tampan sekali, berkulit muka putih halus dan gerak-geriknyapun lemah lembut. Kim Sim Cu melatihnya sendiri bahkan juga memberi pelajaran membaca menulis. Ternyata bahwa dalam ilmu kesusasteraan bocah ini lebih berbakat lagi. Dia bukan lain adalah Oei Siok Ho.
Biarpun usianya baru empat belas tahun, karena mendapat pimpinan yang serius dari Kim Sim Cu, Siok Mo sudah memiliki kepandaian lumayan dan dasar-dasar ilmu silat Kun-lun-pai sudah ia miliki. Oleh karena itu, berbeda dengan kacung-kacung lain yang pergi melarikan diri bersembunyi ketika terjadi pertempuran hebat tadi, Siok Ho sebaliknya malah membawa pedang dan ikut bertempur dengan anak-anak murid lain. Setelah semua guru besar roboh tewas, dan para anak murid juga tewas dan sisanya melarikan diri, dia terpaksa juga melarikan diri.
Akan tetapi kalau orang-orang lain melarikan diri turun gunung, sebaliknya Siok Ho lari ke arah kuil untuk menemui Swan Thai Couwsu. Guru besar yang menjadi ketua Kun-lun-pai ini amat sayang kepada Siok Ho yang menjadi kacung pelayannya. Selain Siok Ho, orang lain tidak diperbolehkan memasuki kamarnya tanpa dipanggil.
Toat-beng-pian Mo Hun yang sudah haus otak manusia, melihat bocah yang amat tampan ini sekaligus tertarik untuk memiliki kepala itu dan makan otaknya, maka tanpa memperdulikan apa-apa lagi ia memanjangkan langkah mengejar Siok Ho.
Siok Ho tadi sudah melihat keganasan Mo Hun, tentu saja ia menjadi ngeri dan mepercepat larinya. Namun mana bisa ia melawan Mo Hun dalam ilmu lari cepat? Sebentar saja Mo Hun sudah berada di belakangnya. Pian kelabang mengeluarkan suara berdetar dan menyambar ke arah leher yang berkulit putih halus dari Siok Ho dan...
"Plakk...! Aduuhh.....!" Toat-beng-pian Mo Hun roboh bergulingan karena kesakitan. Pundaknya termakan oleh piannya sendiri sampai terluka mengeluarkan darah dan tulang pundaknya ada yang patah! Apa yang telah terjadi, ia sendiri tidak tahu. Tadi ketika piannya sudah hampir mengenai leher Siok Ho, tiba-tiba nampak berkelebat sinar putih dan tahu-tahu piannya membalik memukul
180
pundaknya sendiri. Ketika Mo Hun mengangkat muka, ia melihat seorang tosu yang tua sekali berada di situ, mengelus-elus kepala Siok Ho yang menjatuhkan diri berlutut di depan kakek tua renta itu.
"Siok Ho, minggirlah kau," kata kakek itu dengan suara perlahan. Setelah pemuda cilik itu mengundurkan diri di belakang, kakek yang bukan lain adalah Swan Thai Couwsu ini maju, memandang kepada Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya yang sudah tiba di depannya.
"Siancai, siancai... sungguh tidak nyana sekali Cu Goan Ciang setelah berhasil menjadi raja, mempergunakan iblis-iblis sebagai kaki tangannya. Tok-ong Kai Song Cinjin, kau sudah baik-baik menyebar Agama Buddha di Tibet, mengapa tahu-tahu berada di Tiong-goan dan menumpuk dosa?"
Tok-ong Kai Song Cinjin yang bermata tajam melihat bahwa Swan Thai Couwsu benar-benar-sudah tua sekali, bahkan berdiripun harus ditunjang tongkat dan kelihatan kakinya sudah buyutan (seperti menggigil). Dulu memang ia jerih mendengar nama besar Swan Thai Couwsu, akan tetapi sekarang melihat betapa tokoh besar Kun-Iun-pai itu sudah tua sekali dan lemah, ia tertawa bergelak-gelak.
"Ha-ha-ha, Swah Thai Tosu, kau benar sudah pikun saking tuamu. Sejak tadi kau bersembunyi tak berani keluar, membiarkan anak muridmu terbasmi habis. Sekarang, untuk seorang kacung saja kau keluar dari tempat sembunyi. Ha-ha-ha, sungguh pinceng tidak tahu harus menganggap kau bodoh atau pengecut."
Swan Thai Couwsu memandang ke atas udara, menarik napas panjang dan berkata seperti berdoa, "Pikiran seorang bijaksana adalah bebas merdeka.
Namun sesuai dengan kehendak rakyat jelata. Terhadap yang baik maupun yang jahat juga Kuperlakukan dengan baik tiada beda. Karena kebajikan adalah kebaikan belaka. Terhadap yang jujur maupun yang tidak kuperlakukan dengan jujur tiada beda Karena kebajikan adalah kesetiaan belaka." Jawaban berupa sajak ini sebetulnya adalah sebagian dari pada pelajaran dalam Agama To, yaitu sajak dalam kitab To Tek Keng pelajaran Nabi Lo Cu.
"Kai Song Cinjin, anak murid Kun-lun-pai tewas sebagai ksatria-ksatria perkasa, tewas dalam pertempuran melawan kejahatan. Hidup atau mati bukan di tangan kita, mengapa pinto harus mencemarkan kehormatan anak murid yang membela kehormatan? Di dalam pertempuran, kalah menang mati hidup bukan merupakan soal yang perlu diributkan. Anak murid Kun-Iun-pai gugur karena membela nama partai, juga karena kalah tinggi kepandaiannya. Tidak lain pinto hanya bisa menarik napas panjang. Akan tetapi, melihat dia ini hendak membunuh seorang anak kecil, ini bukan pertempuran lagi namanya, melainkan usaha membunuh dan terpaksa pinto harus turun tangan."
"Swan Thai Tosu, kiranya begitu anggapanmu. Sudahlah semua itu, Kedatangan pinceng ini ada hubungannya dengan sepak terjang Souw Teng Wi murid Kun-lun-pai. Dia sudah berdosa terhadap kaisar, sudah berani menjadi pemberontak dan pengkhianat. Karena dia murid Kun-lun-pai, harus kau yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Atas perintah kaisar, pinceng dengan pasukan terpaksa mengadakan pembasmian ke Kun-lun-pai agar jangan terulang lagi pemberontakan seperti yang dilakukan Souw Teng Wi. Akan tetapi melihat kau sudah begitu tua, tak lama dalam beberapa hari lagi tentu mati, pinceng mau memberi ampun asal kau suka berlutut ke arah kota raja dan minta ampun."
Kalau Swan Thai Couwsu belum mencapai tingkat yang amat tinggi dalam ilmu batin, tentu ia akan menjadi marah sekali mendengar penghinaan ini. Akan tetapi dia hanya tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya. Siok Ho, bocah yang berada di belakangnya itu tiba-tiba berdiri dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Kai Song Cinjin dan membentak,
181
"Kakek gundul, kau benar-benar kurang ajar sekali! Kau kira sucouw akan sudi melakukan perbuatan menurut obrolan kosongmu itu? Jangankan sucouw, aku sendiri lebih baik mampus dari pada menurut kata-katamu yang kotor seperti najis!"
Semua orang marah, juga, heran menyaksikan bocah yang begitu berani memaki Kai Song Cinjin. Kakek gundul ini membelalakkan matanya, akan tetapi ia tidak berani sembarangan turun tangan karena bocah itu berada di belakang Swan Thai Couwsu.
"Hemm, kau tunggu sajalah. Sebentar lagi otakmu tentu akan dimakan oleh Mo Hun," katanya menyindir. Mo Hun girang sekali mendengar janji Kai Song Cinjin ini dan air liurnya sudah memenuhi mulutnya, sakit di pundaknya sudah tak dirasakannya lagi.
"Kai Song Cinjin, kau sudah mendengar ucapan bocah ini. Biarpun dia masih kecil, dia ini pelayanku yang kusayang, pantang bagiku membikin dia kehilangan muka. Terpaksa pinto tak dapat memenuhi permintaan tadi, malah pinto harap kau membawa anak buahmu pergi cepat-cepat dari sini sekarang juga agar pinto dapat mengurus semua jenazah ini."
Kui Ek yang wataknya sombong itu menjadi tidak sabar lagi. "Totiang, kenapa melayani tua bangka mau mampus seperti ini? Bunuh mampus saja supaya tidak banyak rewel!" Setelah berkata demikian, ia menggerakkan tongkatnya menubruk maju, diikuti oleh lima orang pengawal lain yang juga menjadi tidak sabar mengapa Tok-ong mau melayani seorang kakek yang berdiri saja sudah hampir tidak kuat.
"Siancai.. siancai...!" Swan Thai Couwsu berkata sambil mengangkat kedua tangan seperti hendak melindungi kepalanya dari pukulan-pukulan senjata tajam itu. Segera terdengar suara mengaduh dan berdebukan ketika Kui Ek dan lima orang kawannya itu terlempar dan terpukul oleh senjata-senjata mereka sendiri! Kui Ek yang kepandaiannya paling tinggi masih dapat mengelak sehingga hanya telinga kirinya yang terkena serempetan tongkatnya sendiri sampai mengeluarkan darah dan lecet-lecet. Yang celaka adalah para pengawal itu. Yang hendak menyerampang kaki Swan Thai Couwsu, goloknya membalik menyerampang kaki sendiri sampai terluka parah, demikian pula yang membacok kena bacok, yang menusuk kena tusuk.
Tentu saja para anggauta rombongan menjadi kaget dan gentar menghadapi kakek yang lihai seperti ahli sihir ini. Kui Ek dan Mo Hun sudah dikalahkan dengan mudah, apa lagi para pengawal. Semua orang kini memandang ke arah Kai Song Cinjin dan mengharapkan hwesio ini yang akan turun tangan.
Kai Song Cinjin menjadi serba salah. Melihat sepak terjang Swan Thai Couwsu tadi, jelas ternyata bahwa kakek itu biarpun sudah tua sekali masih amat lihai, belum tentu ia dapat mengalahkannya. Kalau tidak maju, ia merasa malu. Kalau maju resikonya terlalu besar. Menangkan kakek tua ini tidak akan mengangkat namanya, kalau kalah sebaliknya memalukan sekali. Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa tinggal diam.
"Swan Thai Couwsu, kau tidak mau menurut juga tidak apa, karena hal itu sama saja. Kun-lun-pai sudah terbasmi habis, tinggal kau yang menanti mampus ini bisa apakah? Akan tetapi kalau tidak diberi hajaran, kau yang sudah tua ini akan menjadi tak tahu diri dan mengira tidak ada orang yang berani melawanmu. Kakek tua, beranikah kau menerima pukulanku sampai lima kali tanpa mengelak dan tanpa pergi dari tempat kau berdiri?" Kai Song Cinjin memang licik sekali.
Ia tahu bahwa kalau dia menantang, kakek yang menjadi tokoh besar Kun-lun-pai ini pasti tidak dapat menolaknya dan ia tahu bahwa kelihaian terutama dari kakek ini adalah ilmu pedangnya. Kalau kakek ini sudah memegang pedang, dia tidak tahu bagaimana dapat mengalahkannya. Maka
182
pendeta Tibet yang curang ini segera menggunakan tipu muslihat, la menantang Swan Thai Couwsu untuk menerima pukulannya sampai lima kali.
Ilmu pukulannya Hek-tok-ciang amat kuat dan ia hendak mengajak tosu yang sudah tua sekali ini untuk mengadu tenaga! la tidak percaya bahwa tosu setua ini masih dapat menangkis Hek-tok-ciang, pukulannya yang belum pernah dapat ditangkis lawan itu. Tepat seperti dugaan Kai Song Cinjin, ketua Kun-lun-pai itu sambil menarik napas panjang dan memandang ke atas, kembali mengucapkan sajak dari kitab To Tek Keng :
"Kata-kata jujur tidak bagus
Kata-kata bagus tidak iujur.
Orang baik tidak suka berbantahan
Orang berbantahan tidak baik.
Orang yang tahu tidak sombong
Orang yang sombong tidak tahu.
Orang bijaksana tidak menyimpan
Ia menyumbang sehabts-habisnya
Tapi makin menjadi kaya
Ia memberi sehabis-habisnya
Tapi makin berlebihan Jalan yang ditempuh Langit
Selalu menguntungkan tidak merugikan.
Jalan yang ditempuh orang bijaksana
Bekerja, memberi tanpa mengharapkan pahala."
Tok-ong Kai Song Cinjin menjadi tidak sabar lagi. "Eh, tosu tua, dengan sajakmu itu apa yang kau maksudkan? Berani tidak kau menerima tantanganku tadi?"
"Kai Song Cinjin, kau mengandalkan Hek-tok-ciang, siapa yang tidak tahu? Kalau sudah setua pinto ini, siapa yang perduli lagi tentang mati hidup? Kau berniat menamatkan hidup pinto dengan Hek-tok-ciang lima kali berturut-turut, silahkan!"
"Kau menerima tantanganku untuk menghadapi lima kali pukulanku tanpa mengelak?" tanya lagi Kai Song Cinjin dengan suara keras agar terdengar oleh semua orang dan agar nanti ia tidak dianggap curang. Swan Thai Couwsu hanya mengangguk dan masih berdiri bersandarkan tongkat bambunya.
"Kalau begitu kau bersiaplah, lihat pukulanku!" bentak Kai Song Cinjin yang sudah mengerahkan tenaga Iweekangnya dan dengan gerakan tiba-tiba ia memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu.
Tosu tua itu bersikap tenang sekali. Tanpa merobah kuda-kuda kakinya, ia menggerakkan tongkatnya dari samping sambil miringkan tubuh. Ujung tongkatnya itu tidak ditusukkan, akan tetapi otomatis kalau Kai Song Cinjin meneruskan pukulannya, tentu pergelangan tangannya akan tertusuk ujung tongkat. Kalau orang lain yang memegang tongkat, tentu tongkat itu terkena hawa pukulan Hek-tok-ciang saja sudah akan remuk. Akan tetapi Kai Song Cinjin cukup maklum akan kelihaian tongkat itu, maka terpaksa ia menarik kembali tangan kanannya yang memukul.
Padahal biasanya, tanpa tangannya mengenai tubuh orang, hawa pukulan Hek-tok-ciang sudah cukup merobohkan lawan. Sekarang hawa pukulannya itu hanya menggerakkan pakaian tosu itu, sama sekali tidak mendatangkan akibat apa-apa seakan-akan tosu itu tidak merasainya.
Kai Song Cinjin tidak mau membuang banyak waktu. Begitu pukulan pertamanya digagalkan, kedua tangannya lalu melakukan pukulan-pukulan susulan secara bertubi-tubi. Pukulan ke dua dengan tangan kiri dipapaki oleh tongkat tosu itu. Kai Song Cinjin dengan berani melanjutkan pukulannya
183
dan "krakk" tongkat itu bertemu dengan telapak tangannya menjadi remuk berkeping-keping, sebaliknya Kai Song Cinjin merasai lengan kirinya linu dan kesemutan.
Swan Thai Couwsu berseru, "Lihai sekali..." sambil melempar tongkat yang sudah tak dapat dipakai lagi itu, kini menghadapi serangan lawan yang masih tiga kali dengan tangan kosong. Biarpun pertemuan antara telapak tangan kiri dan ujung tongkat tadi mendatangkan rasa sakit, namun melihat tongkat itu hancur, Kai Song Cinjin tertawa bergelak.
"Ingat, Swan Thai Tosu, pukulan pinceng masih tiga kali lagi."
"Silahkan," jawab tosu tua itu dengan suara tenang sekali, la menggerak-gerakkan kedua tangannya dan Kai Song Cinjin menjadi kaget melihat betapa kedua tangan tosu itu sampai ke lengan menjadi merah sekali warnanya, la maklum bahwa kakek tua yang sudah mau mati ini tentu memiliki pukulan beracun pula, maka ia cepat-cepat menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai kedua lengan itu menjadi hitam sekali, tanda bahwa kekuatan Hek-tok-ciang sedang bekerja dan sepenuhnya disalurkan ke dalam kedua tangannya.
"Ha-ha-ha, tak disangka bahwa ketua Kun-lun-pai juga mempelajari ilmu hitam," sindir Kai Song Cinjin melihat kedua tangan kakek itu menjadi merah sekali.
"Ilmu tidak ada yang hitam tidak ada yang putih, tergantung kepada cara dipergunakannya oleh si pemilik," jawab Swan Thai Couwsu tenang sambil merendahkan tubuh memasang kuda-kuda karena kini tongkatnya sudah tidak ada lagi.
"Lihat pukulan!" Kai Song Cinjin membentak dan sekaligus ia melakukan tiga kali pukulan mengandalkan kecepatan dan tenaga Iweekangnya yang luar biasa.
Pukulan pertama yang dilakukan dengan tangan kanan, ditangkis oleh Swan Thai Couwsu. Tangkisan ini perlahan saja namun Kai Song Cinjin merasa ada tenaga besar menolak pukulannya dari samping, la menyusul dengan pukulan ke dua, dengan tangan kiri sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang ke tangan kiri sebanyak tujuh bagian.
Tubuh Swan Thai Couwsu sampai mendoyong karena hebatnya hawa pukulan ini, namun tangan kanan kakek tua ini masih sempat memukul tangan kiri lawannya dari samping, membuat pukulan ke dua inipun tidak mengenai sasaran. Pukulan ke tiga atau pukulan terakhir datang, hebat bukan main, dilakukan dengan kedua tangan Kai Song Cinjin, sambil mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang sepenuhnya memukul ke arah dada Swan Thai Couwsu dengan jari-jari terbuka.
Bukan main hebatnya pukulan ini dan di dunia ini kiranya orang yang dapat menghadapi pukulan macam ini dengan selamat dapat dihitung dengan jari tangan saja.! Angin pukulannya menderu dan anggauta rombongan dari kota raja sampai merasa panasnya hawa pukulan Hek-tok-ciang itu. Baru sekarang mereka menyaksikan pukulan hebat ini dilancarkan sepenuhnya, karena biasanya jarang sekali Kai Song Cinjin mengeluarkan ilmunya ini. mewakilkan pertunjukan Hek-tok-ciang kepada muridnya, Auwyang Tek yang terlalu sering mendemonstrasikan Hek-tok-ciang.
Akan tetapi tentu saja pukulan yang dilakukan oleh Kai Song Cinjin ini jauh lebih hebat. Pukulan ini sedemikian hebatnya hingga tidak mungkin kalau ditangkis begitu saja Swan Thai Couwsu dalam menangkis pukulan terdahulu tadi sudah maklum akan kehebatan Hek-tok-ciang yang memang luar biasa. Ia maklum bahwa pukulan terakhir ini tak mungkin ia tangkis begitu saja, maka cepat-cepat ia lalu mengulur kedua tangannya dan menerima pukulan lawan dengan pukulan pula!
184
"Plakkk....!" Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur, demikian hebatnya sehingga hawa pukulan yang bertemu itu membuat orang-orang yang hadir di situ sempoyongan kehilangan keseimbangan badan karena hawa pukulan itu menyeleweng ke arah mereka!
"Plakk.....!" Dua tangan yang dilonjorkan bertemu di udara, dua pasang telapak tangan saling bentur. Swan Thai Couwsu mundur tiga tindak, akan tetapi Kai Song Cinjin terhuyung-huyung ke belakang lalu muntahkan darah. Ia menjatuhkan badan duduk bersila sambil meramkan mata, mengatur pernapasannya untuk memulihkan tenaga dan mengobati keadaan dalam tubuh yang terguncang. Adapun Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, akan tetapi juga kelihatan mengatur pernapasannya. Tak lama kemudian Kai Song Cinjin membuka mata, bangkit berdiri dan berkata dengan senyum pahit.
"Swan Thai Tosu tua-tua masih lihai, benar-benar pinceng terpaksa harus menyudahkan urusan sampai di sini saja. Lain waktu kita bertemu pula."
Setelah berkata demikian ia lalu mengajak rombongannya untuk pergi turun gunung sambil membawa jenazah dan kawan-kawan yang terluka. Setelah lama para penyerbu pergi, Swan Thai Couwsu masih berdiri tegak, memandang ke arah jenazah anak-anak murid Kunjun-pai. Siok Ho muncul dari belakangnya, khawatir melihat couwsunya sejak tadi berdiri seperti patung. Ketika ia memutar dan memandang wajah couwsu itu, ia melihat air mata mengalir turun dari sepasang mata Swan Thai Couwsu.
Kakek tua itu ternyata tak dapat menahan terharunya hati menyaksikan anak-anak murid Kun-lun-pai sebagian besar musnah, ia menangis tanpa mengeluarkan suara, tanpa menggerakkan tubuh. Siok Ho merasa ada sesuatu naik ke tenggorokannya, dan ingin ia menjatuhkan diri berlutut di depan couwsunya sambil menangis, ikut berkabung atas kematian suhu-suhu dan suheng-suheng yang terkasih. Akan tetapi bocah ini Menggigit bibirnya dan malah berkata,
"Sucouw, teecu bersumpah kelak akan mencari orang-orang jahat itu dan niembikin perhitungan untuk mengangkat kembali Kun-lun-pai kita." Mendengar suara Siok Ho, agaknya baru Swan Thai Couwsu sadar dari keadaan melamun itu. Ia menengok dan tersenyum, lalu berkata,
"Penyelesaian kebencian yang dalam pasti akan meninggalkan bekas mendendam, bagaimana bisa dianggap memuaskan? Membalas dendam sama dengan mengikatkan diri kepada perputaran roda yang tiada habisnya..." Kata-kata inipun merupakan pelajaran dalam Agama To.
Siok Ho yang tidak berani membantah lalu berkata, "Sucouw, harap sucouw beristirahat, biar teecu mencari para suheng yang pergi bersembunyi
dan mengurus jenazah-jenazah ini...." Siok Ho berusaha keras supaya jangan terisak. Ia juga amat berduka, mungkin melebihi kedukaan Swan Thai Couwsu, apa lagi kalau ia melihat jenazah Kim Sim Cu yang selama ini menjadi guru dan walinya. Swan Thai Couwsu menarik napas panjang.
"Kau betul, pinto harus beristirahat.. Siok Ho, tolong bantu pinto masuk...."
Siok Ho mendekat dan alangkah kagetnya melihat couwsunya itu sukar berjalan dan tangan yang menggelendot pada pundaknya nampak begitu lemah seperti Kehabisan tenaga. Tanpa bicara mereka memasuki kuil dan terus ke kamar Swan Thai Couwsu, di mana kakek itu menjatuhkan diri di atas lantai dan bersila seperti biasa.
"Siok Ho, kau boleh lekas mengatur dan merawat jenazah-jenazah itu bersama anak murid yang masih ada. Setelah itu, lekas-lekas kau kembali ke sini. Mulai hari ini, kau akan kulatih. dan kau akan mewarisi semua ilmuku sebelum aku meninggalkan dunia ini...."
185
Siok Ho kaget sekali, akan tetapi di samping kedukaan hatinya, ia juga merasa girang sekali. Memang ia seorang bocah yang haus akan pelajaran dan mendengar sucouwnya akan mewariskan ilmu-ilmu silat tinggi, ia menjadi girang. Demikianlah semenjak hari itu. Siok Ho menerima latihan-latihan dari Swan Thai Couwsu sendiri yang menurunkan semua ilmunya, maklum bahwa bocah ini boleh dipercaya dan bahwa ia takkan lama lagi hidup di dunia. Terutama sekali ia menurunkan Ang sin-ciang (Tangan Merah Sakti), ilmu pukulan yang amat hebat, karena dengan Ang-sin-ciang ini saja Siok Ho kelak dapat menghadapi Hek-tok-ciang. Sampai tiga tahun Siok Ho menerima pimpinan langsung dari Swan Thai Couwsu dan akhirnya Swan Thai Couwsu yang sudah amat tua dan dalam keadaan tubuh sudah lemah harus menghadapi Kai Song Cinjin itu meninggal dunia.
Siok Ho meninggalkan suheng-suhengnya dan turun gunung. Tentu saja cita-cita pertama dalam hatinya adalah mencari musuh-musuh Kun-lun-pai dan membalas dendam, biarpun berkali-kali Swan Thai Couwsu pernah melarangnya. Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika ia turun gunung melakukan perantauan, namanya menjadi cepat terkenal dan ia mendapat julukan Ang-sin-ciang (Tangan Merah Sakti). Juga telah dituturkan bagaimana ia betemu dengan Siok Bun dan menolong nyawa pemuda itu menyembuhkan lukanya akibat pukulan Hek-tok-ciang.
Sekarang mari kita kembali menengok keadaan Siok Ho yang secara kebetulan sekali bertemu di pinggir sungai dengan Lee Ing. gadis perkasa jelita yang sekaligus jatuh hati dan tertarik oleh gerak-gerik Siok Ho, pemuda gagah yang amat ganteng itu.
"Aneh dan lucu sekali, bukan?" kata Siok Ho tersenyum memandang gadis di depannya.
"Apa yang aneh? Apa yang lucu?" Lee Ing bertanya, menghentikan pekerjaannya mencuci tangan setelah habis makan daging ikan lee yang enak dan perutnya tidak begitu lapar lagi.
"Anehnya pertemuan kita tadi dan lucunya sekarang ini. Kita duduk sama-sama makan daging ikan, padahal kau dan aku tidak mengenal satu sama lain bahkan sampai sekarangpun aku tidak tahu siapa kau...?"
Merah muka Lee Ing. Pemuda ini biarpun peramah, kiranya pemalu sampai mau tahu nama saja caranya berputar-putar seperti angin puyuh!
"Untuk apa sih kau mau tahu aku siapa?" tanyanya dan sepasang mata gadis ini menatap tajam, penuh selidik. Aneh, muka Siok Ho yang tampan menjadi merah sekali. Benar-benar seorang pemuda pemalu, pikir Lee Ing.
"Mengapa tidak? Kau sudah mengetahui namaku, sudah sepatutnya aku mengenal namamu pula. Kau siapakah, adik?" Makin merah pipi Lee Ing. Biarpun pemalu, pemuda ini kadang-kadang memperlihatkan keberanian luar biasa, seperti sekarang ini belum apa-apa sudah berani menyebut "adik"!
"Namaku Lee Ing..."
"Aduh bagusnya nama itu! Menyesal sekali namaku tidak seindah itu. Dan she-mu, siapakah ...?"
Akan tetapi Lee Ing tidak menjawab karena ia mendengar sesuatu. Juga Siok Ho cepat menengok dan siap menanti datangnya segala kemungkinan seperti biasanya seorang ahli silat yang selalu waspada. Dari balik batu karang tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki tua yang dari pakaiannya jelas menunjukkan bahwa mereka adalah pengawal-pengawal istana di kota raja.
186
"Ha, ini tentu anggauta-anggauta Tiong-gi-pai, Tangkap!" seru seorang di antara mereka sambil menubruk maju. Memang, kaki tangan Auwyang-taijin sering kali bertindak sewenang-wenang mengandalkan kedudukan mereka dan pengaruh Auwyang-taijin, terutama sekali mengandalkan pengaruh Auwyang Tek, karena mereka ini memang kaki tangan Auwyang Tek. Setiap kali melihat penduduk yang lemah, mereka selalu menggoda dan mengganggu. Apa lagi kalau melihat gadis cantik, tentu mereka berlumba untuk menawan dan menculiknya, diserahkan kepada Auwyang Tek untuk menerima hadiah.
Tiga orang inipun merupakan kaki tangan Auwyang Tek yang memiliki kepandaian lumayan. Mereka melihat Lee Ing yang jelita, tentu saja tidak mau melepaskan begitu saja. Segera menyerbu Siok Ho untuk merobohkan pemuda ini dan selanjutnya hendak menculik Lee Ing.
Akan tetapi kali ini mereka memang sedang sialan. Andaikata mereka bertemu dengan Lee Ing seorang diri saja mereka sudah sialan, apa lagi sekarang bertemu dengan Lee Ing yang berkawan Siok Ho, mereka benar-benar sedang sial dangkalan. Siok Ho yang belum selesai makan daging ikan, tidak bergerak dari tempat duduknya. Tangan kiri masih memegang ikan, tangan kanan menggerakkan pancingnya tiga kali.
"Aduh.... celaka.... mati aku......!"
Tiga orang itu dengan tepat sekali terkena serangan pancing istimewa itu pada leher dan tempat-tempat berbahaya sehingga biarpun jarum keci itu tidak sampai menewaskan mereka? namun cukup membuat mereka kesakitan. Tubuh mereka menggelundung dan Lee Ing secara main-main melempar-lemparkan tulang ikan ke arah mereka. Terdengar bunyi tak-tok-tak-tok disusul teriakan-teriakan kesakitan dan tanpa dapat dicegah lagi tiga orang yang kini mendapat tambahan hadiah dari Lee Ing, yaitu kepala mereka tertancap oleh duri-duri ikan, terus menggelinding dan tercebur ke dalam sungai!
"Ha-ha-ha, kau sekarang bisa memancing ikan kaki dua!" kata Lee Ing kepada Siok Ho. Akan tetapi pemuda itu ternyata sudah melompat pergi, mengejar empat orang pengawal lain yang rupa-rupanya menjadi jerih melihat tiga orang kawan mereka roboh demikian mudah.
Lee Ing hendak ikut mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang dari tempat jauh. Dua bayangan orang itu cepat sekali gerakannya, jauh lebih cepat dari pada gerakan para pengawal itu, maka tanpa banyak cakap lagi, Lee Ing lalu melompat dan mempergunakan ilmu lari cepat mengejar bayangan-bayangan itu yang lari ke lain jurusan.
Tak lama kemudian selagi ia celingukan mencari bayangan-bayangan itu yang memasuki sebuah dusun, ia mendengar jerit-jerit memilukan. Lee Ing berlari mengejar dan masih terdengar olehnya beberapa orang penduduk menutup pintu rumah masing-masing dan di jalan-jalan sunyi sekali seakan-akan semua penduduk sudah sejak tadi menyembunyikan diri.
Lee Ing memasuki sebuah rumah kuno dari mana tadi ia mendengar teriakan menyayat hati. Begitu ia menerjang pintu dan melompat masuk, Lee Ing berhenti dan memandang ke atas lantai dengan mata terbelalak. Di depan kakinya, di atas lantai, rebah tiga orang yang kelihatannya gagah-gagah dalam keadaan sudah menjadi mayat. Pada dada dan punggung mereka nampak tapak tangan menghitam dan muka mereka juga sudah mulai menghitam!
187
"Bekas tangan Hek-tok-ciang.." Lee Ing berpikir dengan hati marah. "Benar-benar jahat komplotan yang dipimpin oleh Kai Song Cinjin ini.." Ia menengok ke arah dinding dan melihat tulisan di atas dinding.
BASMI SEMUA ANGGAUTA TIONG-GI-PAI
Tulisan itu dibuat dengan guratan jari tangan sampai membekas dalam-dalam di tembok, tanda bahwa penulisnya memiliki tenaga lweekang yang cukup tinggi. Membaca tulisan ini, sekali lagi Lee Ing memandang ke arah mayat tiga orang itu dan hatinya terharu. Teringat ia akan rombongan Tiong-gi-pai yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan, orang gagah perkasa murid Kun-lun-pai yang dahulunya menjadi sahabat ayahnya, malah berusaha menolongnya dengan menukarkan Ilmu Pedang Lian-cu-sam-kiam kepada Bu Lek Hwesio. Teringat akan ini semua, hatinya menjadi mendongkol sekali melihat sekarang anggauta-anggauta Tiong-gi-pai dibunuh semuanya oleh pukulan Hek-tok-ciang.
Tanpa banyak cakap lagi Lee Ing lalu melesat keluar, naik ke atas genteng untuk mencari jejak musuh. Akan tetapi keadaan sunyi saja, bahkan ia tidak tahu lagi ke mana perginya Siok Ho yang tadi mengejar para pengawal.
"Tentu diapun pergi ke kota raja," pikirnya. Lee Ing lalu berlari cepat menuju ke Nan-king, dalam hatinya mengambil keputusan untuk mencari Tiong-gi-pai dan membantu perkumpulan patriot ini secara diam-diam dan mencari tahu perihal ayahnya.
Yang membuat ia merasa heran adalah bayangan Siok Ho yang selalu terbayang di depan matanya. Sukar ia mencoba untuk mengusir bayangan ini, terutama sekali senyum manis dan pandangan mata penuh kejujuran dari pemuda itu merupakan sesuatu yang menggoda hatinya dan mendatangkan kesan mesra yang selama hidup belum pernah dirasainya. Di luar kesadarannya, Lee Ing telah jatuh cinta kepada Oei Siok Ho, jago muda dari Kun-lun itu!
Dengan melakukan perjalanan cepat sekali Lee Ing segera memasuki Kota Raja Nan-king. Mudah saja baginya mendengar dari tukang-tukang warung arak tentang pertandingan pertandirgan yang sering terjadi antara orang-orang Tiong-gi-pai melawan kaki tangan Auwyang taijin. Juga ia mendengar tentang keganasan Auwyang Tek sebagai putera menteri dunia yang mengandalkan kepandaian silatnya dan kedudukan ayahnva. Ketika mendengar bahwa Auwyang Tek adalah murid terkasih dari Kai Song Cinjin, Lee Ing dapat menduga bahwa orang yang melakukan pembunuhan di luar kota raja terhadap tiga orang anggauta Tiong-gi-pai itu tentu Auwyang Tek adanya.
Dia telah melihat dua bayangan yang cepat gerakannya, tentu Auwyang Tek bersama seorang kawannya yang pandai pula, entah siapa. Ketika Lee Ing bertanya tanya tentang Tiong-gi-pai, tak seorangpun dapat memberi tahu kepadanya. Memang Tiong-gi-pai adalah perkumpulan rahasia yang tidak mempunyai tempat tertentu, pula, andaikata Tiong-gi-pai mempunyai tempat tertentu, pasti siang-siang sudah diserbu oleh kaki tangan Auwyang-taijin.
Selagi Lee Ing kebingungan ke mana harus mencari Tiong-gi pai atau ketuanya, Kwee Cun Gan, untuk menanyakan keadaan ayahnya, tiba-tiba di satu tikungan jalan di kota raja yang ramai itu ia melihat berkelebatnya bayangan yang amat dikenalnya, Oei Siok Ho! Pemuda tampan itu berjalan dengan tenang-tenang saja dan agaknya tidak melihat Lee Ing. Gadis ini cepat menyelinap bersembunyi dan diam-diam melakukan pengintaian. Hendak mengetahui apakah yang akan dilakukan oleh pemuda itu dan ingin ia melindungi pemuda itu secara diam-diam.
188
Tiba-tiba Lee Ing tersenyum geli ketika melihat setangkai daun kebiruan menghias topi pemuda itu. "Benar-benar lucu," pikirnya. "Kalau hendak mempersolek diri, mengapa bukan kembang yang menghias topi, melainkan setangkai daun yang buruk pula bentuk maupun warnanya, juga sudah kering?"
Akan tetapi Lee Ing menahan ketawanya ketika ia melihat seorang laki-laki setengah tua yang tadinya duduk di tepi jalan bersandar tongkat dan berpakaian pengemis, sekarang berdiri terbongkok-bongkok dan tiba-tiba melangkah maju menghadang Siok Ho. Pandangan mata Lee Ing awas sekali, maka ternyata olehnya bahwa pengemis yang kelihatannya lemah berpenyakitan itu, ketika bergerak bukan main cepatnya, tanda bahwa dia sebetulnya seorang ahli silat yang pandai.
Lee Ing merasa heran sekali, akan tetapi perasaan ini segera terganti kekagetan ketika pengemis itu terhuyung huyung mau jatuh ke arah Siok Ho yang sedang enak-enak berjalan. Bagi mata orang biasa tentu dikira pengemis itu kelaparan atau kelelahan sampai tak kuat berdiri dan hendak jatuh menimpa orang di jalan, akan tetapi bagi Lee Ing, terang bahwa orang itu sengaja menubruk Siok Ho dan mengirim pukulan yang kuat sekali.
Tentu saja Siok Ho yang memiliki kepandaian tinggi, tahu pula bahwa dirinya bukan sembarangan ditubruk oleh seorang pengemis kelaparan, melainkan diserang deh seorang lawan yang lihai. Akan tetapi ia menjadi girang ketika melihat bahwa serangan iiu adalah gerak tipu Pek-wan-hoan-hwa (Lutung Putih Mencari Bunga), jurus dari ilmu silat Kun-lun-pai yang dimainkan dengan gerakan buruk sekali. Cepat Siok Ho miringkan tubuh, menangkap dua lengan orang itu sambil berseru,
"Lopek, hati-hatilah jangan jatuh!" Setelah berkata demikian, Siok Ho pura-pura membantu dan menolong orang itu berjalan. Banyak orang yang menyaksikan kejadian ini tentu mengira bahwa Siok Ho adalah seorang pemuda baik hati yang merasa kasihan kepada pengemis setengah tua itu dan berusaha menolongnya. Akan tetapi Lee Ing yang memperhatikan dengan pandangan lain, melihat betapa mereka berbisik-bisik dan menyelinap pergi di antara orang banyak yang tidak memperhatikan lagi kejadian itu.
Lee Ing terus mengikuti dan akhirnya, benar seperti dugaannya, ia melihat Siok Ho dan '’pengemis" itu sudah keluar dari kota raja dan berlari cepat ke jurusan utara, masuk ke dalam sebuah hutan yang sunyi. Dengan kepandaiannya yang luar biasa sekali Lee Ing dapat menyelinap dan mengikuti mereka tanpa diketahui oleh yang diikuti, bahkan dapat mengintai sambil bersembunyi ketika Siok Ho tiba di tengah hutan dan disambut oleh serombongan orang.
Bisikan-bisikan di antara pengemis dan Siok Ho tadi tak terdengar oleh Lee Ing. Setelah pengemis itu tak berhasil menyerang Siok Ho bahkan kedua tangannya dipegang membuat dia tak berdaya tadi, ia bertanya perlahan,
"Kau dari Kun-lun-pai datang ke sini hendak mencari siapakah?"
Siok Ho berbisik girang, "Mencari Tiong-gi-pai bertemu dengan ketuanya, Kwee Cun Gan."
"Mari kau ikut aku," jawab pengemis itu sambil mengajak Siok Ho pergi ke luar kota raja.
Ketika mereka tiba di dalam hutan itu, tanpa menyadari bahwa semenjak tadi mereka terus diikuti oleh Lee Ing, mereka disambut oleh sembilan orang gagah yang dipimpin oleh Kwee Cun Gan sendiri. Kwee Cun Gan nampak agak tua dan rambutnya sudah banyak ubannya, tanda bahwa dia banyak menderita, namun sinar matanya tetap memancarkan semangat besar.
189
"Lo Kiam. kau datang membawa orang muda ini siapakah?" tegur Kwee Cun Gan kepada "pengemis" itu yang sebetulnya adalah seorang anggauta Tiong-gi-pai yang bertugas menyelidik di kota raja.
"Aku melihat dia memakai daun biru seperti yang pernah dipakai oleh Kwee-twako, dan aku teringat bahwa itu adalah tanda dari anak murid Kun-lun-pai yang hendak mencari hubungan. Oleh karena itu aku lalu menubruk dan menyerangnya dengan jurus Kun-lun-pai yang kudapat dari twa-ko, akan tetapi dia dapat menangkapku. Ketika kutanya apa maksud kedatangannya, dia bilang hendak mencari Kwee-twako." Pengemis itu memberi laporannya.
Kwee Cun Gan memandang Siok Ho, matanya tajam menyelidik penuh kecurigaan. Maklumlah Tiong-gi-pai sudah mengalami banyak kekalahan juga sudah banyak anak buahnya yang tewas. Fihak kaki tangan Auwyang Tek amat berbahaya dan curang, siapa tahu kalau pemuda ini bukan lain mata-mata dari fihak musuh.
"Orang muda, kau siapakah dan datang dari mana?" tanyanya.
Slok Ho tidak mau menduga-duga dengan siapa ia berhadapan, maka lalu berkata, "Aku harap cuwi suka memberi tahu kepada Kwee Cun Gan lo-enghiong bahwa seorang anak murid Kun-lun-pai datang ingin bertemu. Aku bernama Oei Siok Ho dan aku datang langsung dari Kun-lun-pai untuk membantu Tiong-gi-pai."
Kwee Cun Gan mengerutkan keningnya. Memang banyak sekali anak murid Kun-lun-pai dan dia sendiri tentu saja tidak mengenal murid-murid baru. Akan tetapi kalau yang datang membantunya hanya seorang murid muda dan kelihatan begini lemah lembut, apa sih artinya? Paling-paling hanya akan membikin malu saja, malah-malah dapat merendahkan nama besar Kun-lun-pai.
"Aku sendiri yang bernama Kwee Cun Gan," katanya singkat.
Siok Ho tersenyum lalu menjura dengan hormatnya. "Kwee suheng. terimalah hormat siauwte Oei Siok Ho."
Kwee Cun Gan mengangguk dan keningnya berkerut. "Bocah ini benar-benar tak tahu diri," pikirnya di dalam hati, "masa semuda dia menyebut suheng kepadaku?"
Karena tidak ada alasan untuk menyatakan kemendongkolan hatinya, ia bertanya dan terpaksa menyebut sute, "Tidak tahu sute ini murid siapakah?"
"Siauwte yang bodoh tadinya mendapat latihan dari suhu Kim Sim Cu, akan tetapi selama tiga empat tahun ini siauwte mendapat petunjuk-petunjuk dari couwsu sendiri."
Kwee Cun Gan makin mendongkol. Sombongnya, pikirnya. Mana couwsu mau sembarangan memberi petunjuk kepada anak murid yang masih begini hijau? Akan tetapi ia menyelidik terus,
"Couwsu yang mana?" Ia pikir tentu ji-couw-su atau sam-couwsu yang memberi sekedar petunjuk, akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendengar jawaban Siok Ho.
"Siauwte mendapat petunjuk dari Swan Thai Couwsu sendiri."
Kesabaran Kwee Cun Gan ada batas. Ia anggap pemuda ini terlalu sombong dan terlalu besar bohongnya. Ia sendiri tahu bahwa Swan Thai Couwsu sudah puluhan tahun tidak mau mengajar, tidak mau tahu urusan dunia. Mana Couwsu itu mau turun tangan mengajar bocah ini? Dia sendiri
190
adalah murid Swan Thian Couwsu, sedangkan Souw Teng Wi murid Swan Le Couwsu. Kalau bocah ini murid Swan Thai Couwsu yang memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari pada Couwsu ke dua dan ke tiga, memang bocah ini terhitung sutenya, akan tetapi tentu sutenya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada dia dan Souw Teng Wi. Gila benar! Siapa yang sudi percaya? Akan tetapi Kwee Cun Gan adalah seorang yang halus budi pekertinya, tentu saja ia tidak mau bersikap kasar dan ia ingin menyelidiki terus dengan secara halus.
"Oei-sute, kalau kau benar murid Swan Thai Couwsu sendiri, memang kau suteku, karena aku adalah murid Swan Thian Couwsu. Sebagai murid Swan Thai Couwsu, tentu kepandaianmu hebat sekali. Sute, sudah lama aku tidak bertemu dengan anak murid partai kita, sebagai perkenalan dan oleh-oleh, maukah kau memperlihatkan ilmu silat kita barang dua jurus untuk kulihat apakah pelajaran dulu dan sekarang ada perubahan?"
Siok Ho tersenyum, Ia maklum bahwa suhengnya ini masih belum mau percaya kepadanya dan hal ini memang ia anggap sewajarnya dalam jaman seperti itu. Ia juga belurn mau bercerita tentang keadaan Kun-lun-pai sebelum suhengnya ini betul-betul percaya kepadanya.
"Kalau suheng memerintahkan, bagaimana siauwte berani membantah? Akan tetapi harap saja suheng dan sekalian enghiong yang berada di sini tidak menertawakan kepandaian siauwte yang hanya patut disebut kebodohan ini. Dasar ilmu silat Kun-lun-pai tidak banyak dan tidak berapa sukar dipelajari, beginilah!"
Setelah berkata demikian. Siok Ho lalu bersilat tangan kosong. Begitu ia bersilat, Kwee Cun Gan kecewa bukan main. Pemuda ini memperlihatkan permainan Ilmu Silat Pat-kwa-pouw atau Iangkah-langkah Pat-kwa yang menjadi dasar ilmu silat-ilmu silat Kun-lun-pai. Setiap murid baru selalu dilatih langkah-langkah seperti ini dan biarpun seorang bocah umur empat tujuh tahun kalau menjadi murid Kun-lun-pai tentu saja diberi pelajaran Pat-kwa-pouw ini. Sekarang bocah ini memperlihatkan permainan Pat-kwa-pouw, biarpun permainan itu tepat dan bagus gerakannya, apa sih anehnya diperlihatkan di depan dia dan para anggauta Tiong-gi-pai? Belum apa-apa bocah ini sudah memalukan Kun-lun-pai saja dan dia berani mati mengaku murid Swan Thai Couwsu? Setelah selesai mainkan Pat-kwa-pouw, Siok Ho menghentikan permainannya dan menjura sambil berkala dengan senyum,
"Harap suheng dan cuwi enghiong tidak mentertawakan permainanku tadi."
Orang-orang yang hadir di situ, anggauta-anggauta Tiong-gi-pai, rata-rata adalah ahli silat lumayan. Ada pula tiga orang murid Kwee Cun Gan sendiri yang tentu saja mengenal Pat-kwa-pouw itu, maka mereka semua merasa heran mengapa dari Kun-lun-san datang seorang bocah tolol macam ini yang datang-datang menyombongkan diri sebagai murid tokoh pertama dari Kun-lun-pai dan hendak membantu gerakan Tiong-gi-pai. Orang macam ini saja bisa disuruh apakah? Hanya gantengnya saja yang lebih dari orang lain, tentang kepandaian, aahh!
Wajah Kwee Cun Gan makin kelihatan kecewa. Akan tetapi sebagai seorang kang-ouw yang berpengalaman, ia tidak mau segera bertindak sembrono. la maklum bahwa jaman telah berubah dan banyak sekali orang-orang muda yang sekarang ini memiliki kepandaian tinggi. Buktinya saja pemuda-pemuda seperti Auwyang Tek, keponakannya sendiri Kwee Tiong, lalu Liem Han Sin, dan Siok Bun, biarpun masih amat muda-muda namun kepandaian mereka masih lebih tinggi tingkatnya dari pada kepandaiannya sendiri!
la teringat akan rahasia kang-ouw bahwa orang harus berhati-hati kalau berhadapan dengan orang orang yang kelihatannya lemah, seperti pemuda siucai (sasterawan), gadis lemah-lembut, nenek-nenek dan orang bercacad. Mereka ini memang pada umumnya orang-orang lemah, namun kalau
191
memiliki kepandaian, mereka bisa membuat salah hitung pada lawan yang tadinya memandang ringan.
"Bagus sekali, sute. Agaknya Swan Thai Couw-su mementingkan dasar dari ilmu silat kita. Aku mempunyai tiga orang murid yang terhitung murid keponakanmu sendiri. Kau yang baru saja lulus dari perguruan kita, maukah kau bermurah hati memberi petunjuk kepada mereka tentang kepentingan Ilmu Pat-kwa-pouw tadi?"
Setelah berkata demikian, Kwee Cun Gan memberi isyarat kepada tiga orang muridnya sambil berkata, "Kebetulan sekali, susiokmu datang dan kalian boleh minta petunjuk untuk menambah pengertian."
Murid-murid Kwee Cun Gan ini adalah bekas-bekas pejuang. Sebelum menerima pelajaran ilmu silat Kun-lun-pai dari Kwee-pangcu, mereka sudah memiliki ilmu silat yang lumayan juga. Mereka adalah orang-orang lelaki yang sudah berusia tiga puluh tahun lebih, dada bidang tenaga kuat dan pengalaman pertempuran yang sudah masak. Yang pertama bernama Tan Kui, yang ke dua dan ke tiga adalah kakak beradik bernama Nyo Tat Sek dan Nyo Tat Sui.
Tiga orang ini terkenal sebagai orang-orang kuat dan termasuk jago-jago Tiong-gi-pai. Tentu saja mereka memandang rendah kepada Siok Ho. Akan tetapi oleh karena Siok Ho diperkenalkan oleh suhu mereka sebagai anak murid Kun-lun-pai dan malah masih terhitung susiok (paman guru) mereka tidak berani mengatakan perasaan mereka secara berterang.
Tan Kui, diikuti oleh saudara Nyo, melangkah maju dan dengan sikap menjura dengan hormat, mengerahkan tenaga ketika menjura sampai kedua lengannya memperdengarkan suara berkerotokan, tanda bahwa orang kuat ini sedang mengerahkan lweekangnya!
"Susiok, terimalah hormat teecu," katanya, suaranya sungguh-sungguh akan tetapi jelas mata dan mulutnya mentertawakan.
Siok Ho tersenyum, membalas penghormatan itu dan berkata, "Sam-wi harap jangan terlalu sungkan. Biarpun harus kuakui bahwa aku adalah paman guru kalian, namun melihat usia, tidak enaklah dipanggil susiok!"
Tan Kui mendongkol. Biarpun suara pemuda itu ramah dan merendah, namun jelas menyatakan bahwa pemuda itu memang berhak menjadi paman guru, alangkah sombongnya.
"Oei-susiok, seperti yang dikatakan oleh suhu tadi, teecu mohon petunjuk tentang ilmu silat. Selain Pat-kwa-pouw tadi, ilmu silat apakah kiranya dapat susiok tambahkan kepada teecu?"
"Tentu kalian sudah mempelajari Pat-kwa-pouw, bukan?" tanya Siok Ho.
Tiga orang itu saling pandang dan Tan Kui tertawa. "Tentu saja, bukankah itu merupakan dasar yang harus dipelajari oleh murid bagaimanapun rendah tingkatnya?"
"Coba kalian mainkan Pat-kwa-pouw, barangkali aku dapat memberi sedikit petunjuk," kata pula Siok Ho dengan sikap tenang. Sementara itu, Kwee Cun Gan dan kawan-kawan lain lalu duduk di atas rumput hendak menonton pertunjukan yang mereka anggap aneh dan lucu ini. Kalau memang betul pemuda itu hanya orang yang mengaku-aku atau memang mata-mata fihak musuh, mereka akan mempermainkannya.
192
Disuruh mainkan Pat-kwa-pouw, tiga orang itu menoleh ke arah Kwee Cun Gan yang segera berkata, "Paman gurumu sudah memberi perintah, mengapa kalian masih ragu-ragu?" Tan Kui dan dua orang sutenya menjadi merah mukanya. Kalau tidak takut kepada Kwee Cun Gan, mau mereka menegur "paman guru" ini yang agaknya hendak mempermainkan mereka. Masa mereka, tiga orang jagoan Tiong-gi-pai, disuruh mainkan Pat-kwa-pouw yang lebih patut dimainkan oleh anak-anak yang sedang belajar silat?
Terpaksa mereka bertiga lalu mulai bergerak, melangkah menurutkan Pat-kwa-pouw dan seperti dulu ketika mula-mula belajar silat, mereka melangkah sambil berseru, "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan!" Demikian berturut-turut karena memang Pat-kwa-pouw terdiri dari delapan langkah yang berubah-ubah, delapan kali delapan langkah menjadi enam puluh empat langkah yang membentuk bermacam-macam bhesi atau kuda-kuda ilmu silat Kun-lun-pai.
Sambil memperhatikan langkah mereka, berkali-kali Siok Ho berkata, "Terlalu lemah! Kurang tepat, Terlalu cepat!" dan kadang-kadang "terlalu lambat" sampai permainan mereka selesai Siok Ho menggeleng kepala sambil berkata,
"Kalian bertiga tentu tidak memperhatikan pelajaran suheng dengan baik. Pat-kwa-pouw yang kalian lakukan tadi benar-benar tidak tepat dan amat lemah! Bagaimana ilmu setinggi ini kalian abaikan saja? Mulai sekarang harap kalian suka berlatih lebih baik lagi, jangan membikin malu nama Kun-lun-pai dan harap banyak-banyak bertanya kepada suhu kalian."
Kwee Cun Gan melengak, Pat-kwa-pouw tiga orang muridnya itu, biarpun tidak sebaik dia, sudah termasuk baik dan kuat, bagaimana pemuda itu berani berlancang mulut mencelanya sampai begitu hebat? Tan Kui yang berdarah panas segera berkata, nadanya mengejek, "Oei-susiok, Pat-kwa-pouw hanya permainan dasar saja, hanya untuk melemaskan gerakan kaki dan melatih bhesi. Apa sih perlunya? Tak dapat dipakai menghadapi lawan berat."
Siok Ho mengerutkan alisnya. "Hemmm, bagaimana kau berani bilang begitu? Itu tandanya kau mengabaikan pelajaran dan suheng terlalu lemah dan memanjakan kalian. Apa kalian mempunyai ilmu silat yang lebih tinggi dari pada Pat-kwa-pouw.?"
"Pat-kwa-pouw bagi teecu bertiga bukan apa-apa, tentu saja kami mempunyai ilmu silat yatag betul-betul permainan orang-orang gagah," jawab Tan Kui.
“Bodoh! Satu ilmu aseli saja tidak dipelajari baik-baik, sudah belajar lain ilmu. Kosong belaka. Kalian belum melihat kelihaian dasar ilmu silat Kun-lun-pai? Coba perlihatkan ilmu-ilmu silat tinggi kalian dan kalian coba pecahkan Pat-kwa-pouw yang kumainkan!" Sambil berkata demikian Siok Ho segera memasang kuda-kuda bergerak dalam Pat-kwa-pouw. Hampir saja Tan Kui dan dua orang sutenya tertawa bergelak. Mereka anggap pemuda ini lucu sekali, lucu dan ngawur. Bagaimana dengan Pat-kwa-pouw berani menghadapi mereka bertiga yang bersilat sesuka hati mereka? Boleh jadi pemuda yang mengaku paman guru mereka ini lihai, akan tetapi dengan Pat-kwa-pouw, orang bisa apakah? Pat-kwa-pouw tidak mengandung daya serang atau daya tahan, hanya mengandung peraturan perubahan kaki belaka!
"Susiok kalian sudah memberi perintah, hayo serang dia!" kata Kwee Cun Gan yang menjadi gembira melihat kenekatan pemuda itu. Ia makin curiga dan tidak percaya kalau benar-benar pemuda itu murid Swan Thai Couwsu. Dia sendiri sebagai murid Kun-lun-pai yang sudah berpengalaman tidak tahu bagaimana ia akan dapat mengahadapi tiga orang kosen seperti murid-muridnya itu hanya dengan gerakan Pat-kwa-pouw.
193
Mendengar perintah suhunya, Tan Kui bersama dua orang sutenya lalu mulai menyerang sambil berkata, "Maaf, susiok sendiri yang menyuruh tee-cu menyerang!"
Cepat sekali penyerangan mereka bertiga. Mula-mula hanya mendorong dan membetot saja untuk membuat pemuda itu roboh atau kacau gerakan kakinya. Akan tetapi setelah berkali-kali menangkap angin, mereka mulai menyerang dengan sungguh-sungguh.
Aneh sekali! Siok Ho hanya bergerak menurut Pat-kwa-pouw, hanya merobah-robah kaki menurut kedudukan yang amat sulit dan aneh, sambil mulutnya tiada hentinya menyebut nama langkah yang dilaluinya. Dan lebih aneh lagi. Tiga, orang penyerangnya itu seakan-akan menjadi bingung dan dalam pandangan mereka, tubuh pemuda itu lenyap setiap kali hendak dipukul dan tampak kembali setiap kali pukulan berlalu.
"Langkah pemuda itu nampak sewajarnya dan begitu tepatnya sehingga mereka sendiri menjadi bingung dan mati langkah. Makin cepat mereka bergerak mengurung, makin cepat pula Siok Ho bergerak dan pada jurus ke duabelas, Tan Kui terhuyung ke depan karena memukul angin. Tadinya ia melihat kesempatan dan sudah memukul dengan kuat, dan pada pendapatnya tentu akan mengenai sasaran. Celakanya, sebelum kepalannya menyerempet pakaian, pemuda itu sudah lenyap dan sebagai gantinya, tahu-tahu Nyo Tat Sek sudah berada di situ menggantikan Siok Ho hendak menerima pukulannya! Pada saat yang sama melangkah keluar, tiga orang itu tak dapat dicegah lagi saling bertumbukan dan roboh!
Kwee Cun Gan sampai melongo menyaksikan peristiwa itu. Bagaimana mungkin langkah-langkah Pat-kwa-pouw dapat merobohkan tiga orang muridnya yang selain faham langkah itu juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi? Ataukah mungkin tiga orang muridnya itu terlampau terburu nafsu sehingga terjadi saling tabrak dalam pengeroyokan itu? Karena masih penasaran, maka ia diam saja ketika melihat Tan Kui dan dua orang sutenya itu bangun berdiri dan tanpa banyak cakap menerjang lagi kepada Siok Ho.
"Anak-anak bandel," terdengar Siok Ho berkata, "apakah kalian masih belum merasa cukup? Masih belum percaya akan kelihaian Pat-kwa-pouw? Nah, rasakanlah!"
Dengan cekatan dan gesit seperti burung walet pemuda itu melangkah ke depan belakang dan ketika kakinya bergeser, secepat kilat kaki ini mengait kaki Tan Kui dan sute-sutenya. Karena gerakan Siok Ho jauh lebih cepat dan tenaga Iweekangnya juga sudah masak, maka tanpa dapat dicegah lagi untuk kedua kalinya Tan Kui dan dua orang sutenya roboh terjengkang. Kali ini mereka roboh agak keras sampai mereka mengaduh-aduh kesakitan bercampur dengan rasa heran yang tidak mereka sembunyikan dari muka mereka.
Kini baru mereka tunduk betul, dan Tan Kui memimpin sute-sutenya menjura di depan Siok Ho sambil berkata, "Susiok benar hebat, teecu bertiga sudah menerima petunjuk dan pelajaran, harap maafkan kekuarangajaran teecu tadi."
Siok Ho menggerakkan tangan menyuruh mereka minggir sambil berkata, "Tidak aneh kalau kalian memandang ringan kepadaku karena usiaku, akan tetapi kepandaian bukan bersandar kepada usia. Kepandaian kalian sudah cukup, hanya mungkin dahulu kurang memperhatikan petunjuk suheng."
Kwee Cun Gan masih penasaran, apa lagi ia yang menjadi guru tiga orang itu merasa malu sekali karena murid-muridnya sama saja seperti orang-orang tolol. Bagaimana seorang guru tidak merasa tersinggung dan malu kalau melihat murid-muridnya tolol? la bangkit berdiri, menghampiri Siok Ho dan berkata,
194
"Oei-sute, permainanmu Pat-kwa-pouw tadi benar-benar mengagumkan sekali dan terus terang saja aku sendiri belum pernah melihat Pat-kwa-pouw dimainkan seperti itu. Memang dengan pertunjukanmu tadi kau telah mengharumkan nama besar partai kita. Akan tetapi melihat tingkat kepandaianmu, tidak hanya murid-murid keponakanmu yang perlu dengan petunjukmu, bahkan aku sendiripun mengharapkan petunjukmu. Apakah selain Pat-kwa-pouw kau juga menerima pelajaran lain dari sucouw?"
Oei Siok Ho memandang tajam lalu berkata sambil menarik napas panjang,
"Kalau aku tidak ingat bahwa suheng sudah terlalu banyak menderita dalam perjuangan sehingga menjadi hati-hati dan selalu curiga, tentu aku akan merasa kecewa dengan penyambutan ini. Siauwte tahu bahwa suheng masih curiga terhadap siauwte dan ingin menguji. Tentu suheng maklum bahwa ilmu silat Kun-lun-pai tak boleh dimainkan untuk pamer begitu saja. Akan tetapi untuk meyakinkan hati suheng, boleh suheng minta siauwte mainkan ilmu silat yang mana saja dari partai kita"
Kwee Cun Gan menjadi makin tidak enak. Kalau mendengar pembicaraannya dengan orang muda ini agaknya betul-betul anak murid Kun-lun, akan tetapi melihat. usianya yang begitu muda mana mungkin menjadi murid Swan Thai Couwsu?
"Dugaanmu memang betul," akhirnya ia berkata terus terang, "Nah, kau puaskan hatiku, sute, coba kau mainkan Lian-cu-sam-kiam."
Siok Ho tersenyum. "Sucouw pernah bilang bahwa di antara tujuh belas ilmu simpanan dari Kun-lun-pai, suheng telah mempelajari Lian-cu-sam-kiam. Siauwte yang bodoh mana bisa menandingi suheng? Biarlah suheng maafkan dan siauwte hanya mainkan beberapa jurus saja tanpa pedang."
Setelah berkata demikian, Siok Ho lalu bersilat dengan gerakan ringan sekali dan mulutnya menyebutkan jurus-jurus ke berapa yang dimainkan itu. Gerakannya demikian cepat dan mengandung tenaga hebat, biarpun tidak menggunakan pedang namun getaran jari-jari tangannya melebihi getaran pedang, membuat Kwee Cun Gan makin kaget dan kagum.
"Cukup.... cukup....!" katanya dan cepat ia menghampiri Oei Siok Ho untuk dipeluk pundaknya saking girangnya.
Akan tetapi Siok Ho dengan lincah miringkan pundak sehingga pelukan Kwee Cun Gan meleset. "Suheng harap jangan terlalu memuji," katanya sambil melangkah mundur.
Kwee Cun Gan mengira bahwa Siok Ho marah karena dicurigai tadi sehingga tidak mau dipeluk. Ia berdiri memandang dan dari kedua mata ketua Tiong-gi-pai ini keluar dua butir air mata. Hatinya amat terharu dan girang sekali.
"Oei-sute, sudah lama kukira bahwa Kun-lun-pai melupakan murid-muridnya yang berada di luar, dan kiraku hanya suheng Souw Teng Wi dan aku sendiri saja yang dibiarkan menghadapi orang-orang jahat menindas rakyat. Tidak tahunya sekarang sucouw mengirim kau, muridnya yang biarpun masih muda namun jempolan. Hati siapa tidak terharu dan girang?"
Dan kepada Tan Kui dan dua orang sutenya tadi, ia berkata, "Dengar kalian, bahkan melihat tingkat kepandaiannya, ia pantas menjadi susiok-couw kalian!"
195
Mendengar kata-kata Kwee Cun Gan ini, barulah semua orang menjadi kaget sekali. Sungguh di luar sangkaan mereka bahwa pemuda ganteng itu ternyata benar-benar anak murid Kun-lun-pai yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sampai-sampai ketua memuji setinggi langit. Tentu saja di samping keheranan ini, terdapat rasa kegembiraan besar karena Semenjak Liem Han Sin terluka, dalam pertandingamnya melawan Auwyang Tek dan keluarga Siok berangkat ke utara, maka kedudukan Tiong-gi-pai amat lemah, tidak mempunyai jago lagi.
Tentu saja kedatangan pemuda ganteng yang gagah perkasa ini membangunkan semangat mereka pula. Sekarang mereka dapat mengangkat muka dan berani mengirim tantangan kepada Auwyang Tek si pemuda jahat. Segera mereka mengerumuni Siok Ho dan menyatakan kegembiraan mereka.
Pada saat itu, terdengar suara. "Aduuhhh..... kurang ajar, aduuuh....!"
Siok Ho dan Kwee Cun Gan kaget sekali karena suara ini kedengarannya dari dalam sebatang pohon besar. Kwee Cun Gan melompat ke arah pohon, akan tetapi Siok Ho lebih cepat lagi, tangan kanannya bergerak dan sebuah kancing bajunya melayang cepat ke arah daun-daun pohon yang tadi nampak bergoyang-goyang. Biarpun yang ia pakai sebagai senjata rahasia hanya sebuah kancing baju terbuat dari pada tulang, namun apa bila mengenai orang dapat menembus kulit daging seperti sebuah pelor baja.
Berbareng dengan masuknya senjata rahasia itu ke dalam gerombolan daun pohon, dari dalam rumpun itu melesat keluar bayangan orang yang sukar diikuti oleh pandangan mata, karena cepatnya laksana kilat saja. Para anggauta Tiong-gi-pai malah tidak melihat apa-apa, hanya mata Siok Ho dan Kwee Cun Gan yang melihat bayangan orang berkelebat dan lenyap.
"Kita telah diintai oleh seorang sakti," kata Siok Ho kepada Kwee Cun Gan dan semua orang menjadi kagum bukan main.
"Asal saja bukan fihak musuh...." kata Kwee Cun Gan penuh harap, "Fihak musuh sudah terlalu banyak mempunyai orang sakti, kalau ditambah dengan yang tadi, benar benar sukar dilawan."
Mudah diduga siapa adanya orang di dalam pohon tadi. Memang, dia itu bukan lain adalah dara perkasa kita, Souw Lee Ing yang sejak tadi mengikuti Siok Ho dan mengintai dari dalam gerombolan daun pohon besar itu. Saking asyik dan kagumnya ia melihat Siok Ho mempermainkan orang-orang Tiong-gi-pai, ia sampai tidak memperhatikan dan tidak tahu betapa seekor semut merah merayap memasuki pakaiannya, menjadi bingung karena tidak dapat keluar dan akhirnya karena tergencet pakaian lalu menggigit kulit pahanya!
Rasa sakit, panas dan gatal membuat Lee Ing berseru kaget dan marah, lupa bahwa ia sedang mengintai dan karenanya tidak boleh mengeluarkan suara berisik. Setelah Kwee Cun Gan melompat dan Siok Ho menyambit dengan senjata rahasia, barulah ia sadar dan menyesal. Cepat laksana kilat ia melompat keluar, menyambar senjata kecil yang disambitkan oleh Siok Ho terus kabur secepatnya pergi dari tempat itu.
Setelah tiba di tempat sunyi, ia melihat "senjata rahasia" itu adalah sebuah kancing baju. Entah apa sebabnya, tahu-tahu tangannya memasukkan kancing itu ke dalam saku baiunya dan setelah melaKuKan hal ini, Lee Ing celingukan ke kanan kiri, seakan-akan takut perbuatannya tadi dilihat orang lain!
Tiba-tiba ia menjadi kaget dan air mukanya berubah. Baiknya ia celingukan ke sana ke mari, kalau tidak tentu ia takkan melihat bayangan-bayangan orang yang berseliweran di luar hutan. Keadaan
196
mereka mencurigakan sekali dan ketika Lee Ing menyelinap melakukan penyelidikan, ternyata bahwa hutan di mana anggauta-anggauta Tiong-gi-pai berada itu telah terkurung oleh banyak sekali pengawal kerajaan! Celaka, pikirnya. Tentu Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya akan diserbu oleh kaki tangan menteri durna ini.
Lee Ing kembali memasuki hutan untuk secara diam-diam membantu rombongan Tiong-gi-pai. Di tengah perjalanan ia melihat seorang kakek yang mukanya seperti muka burung, membawa sebatang tongkat berkepala burung pula. Orang aneh dan lucu ini sedang berdiri dan mendengarkan keterangan seorang gadis cilik yang menudingkan jari ke-arah sebatang pohon.
"Suhu, tadi aku melihat kakek botak itu di sini bersama pemuda itu dan lihat saja apa yang mereka perbuat kepada bendera tanda Auwyang-kongcu," kata gadis cilik itu.
Kakek tadi bukan lain adalah Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, memandang dan mengeluarkan seruan memaki-maki. Dia sedang melakukan pengejaran terhadap seorang kakek botak bersama seorang pemuda yang mencurigakan. Dalam pengejaran ini ia disertai gadis cilik itu yang sebetulnya adalah seorang di antara murid-muridnya yang bernama Liok Hwa.
Kebetulan sekali kakek botak dan pemuda yang dikejarnya itu memasuki hutan di mana rombongan Tiong-gi-pai sedang dikurung oleh pasukan yang dipimpin oleh Toat-beng-pian Mo Hun! Juga Auw-yang Tek ikut dalam pengepungan ini. Pemuda yang sombong ini telah menyuruh orang-orangnya memasang-masangi benderanya, yaitu bendera dengan cap tangan hitam, bendera Hek-tok-ciang! Sebuah di antara benderanya itu adalah yang terpancang di situ dan kini bendera itu sudah berubah warna. Dasar yang tadinya putih menjadi hitam dan jari-jari tangan hitam itu sudah menjadi putih karena sudah bolong!
"Kurang ajar!" terdengar Kui Ek memaki. "Kalau benar si botak itu Pek Mao Lojin adanya, tidak perlu ia menghina bendera orang dan lebih baik muncul secara laki-laki! Liok Hwa, kau kembalilah ke pasukan, di sini berbahaya, aku akan mengejar mereka!" Setelah berkata demikian, sekali berkelebat kakek bertongkat burung itu lenyap.
Liok Hwa hendak pergi dan kembali keluar dari hutan, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas pohon! la hendak menjerit namun tidak ada suara dapat keluar dari mulutnya karena urat dagunya secara aneh telah dipencet orang. Ketika tiba di atas cabang, ia melihat bahwa yang menangkapnya adalah seorang gadis cantik yang tertawa-tawa.
"Jangan menjerit, aku hanya mau bertanya padamu," kata gadis cantik itu yang bukan lain adalah Lee Ing adanya. "Orang bertongkat burung tadi, yang menjadi gurumu, siapakah dia dan mengapa ia marah-marah?"
Liok Hwa hilang takutnya ketika melihat bahwa yang menangkapnya adalah seorang gadis yang kelihatannya ramah. "Dia adalah suhuku, Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek, aku sendiri Bhe Liok Hwa dan kami sedang mengepung hutan ini untuk membasmi anggauta-anggauta pemberontak Tiong-gi-pai. Cici yang cantik siapakah, begini lihai? Kalau kau mau, mari ikut saja dengan aku menemui Auwyang-kongcu, dia pasti suka padamu...." Ucapan gadis cilik itu menjadi berubah genit sekali ketika menyebut-nyebut nama Auwyang-kongcu.
Lee Ing merasa muak, karena ia dapat menduga bahwa murid Kui Ek ini tentu menjadi kaki tangan dan mungkin menjadi kekasih Auwyang Tek yang terkenal mata keranjang, akan tetapi ia menahan sabar dan bertanya, "Aku tidak ada urusan dengan Tiong-gi-pai maupun dengan pasukan Auwyang,
197
akan tetapi siapakah yang memimpin pasukan pengepung ini? Apa ada yang melebihi gurumu lihainya?"
"Hi-hi, cici tahu apa? Selain masih ada Auwyang-kongcu yang hebat kepandaiannya dan ahli Hek-tok-ciang, masih ada lagi Toat-beng-pian Mo Hun...."
Lee Ing sudah merasa cukup mendengar semua keterangan itu. "Kau pergilah!" katanya sambil melempar tubuh gadis itu ke bawah, akan tetapi karena mengingat bahwa gadis cilik itu tidak bersalah apa-apa, ia melemparkan sedemikian rupa sehingga Liok Hwa jatuh dalam keadaan berdiri. Ketika Liok Hwa menengok ke atas tidak melihat apa-apa, ia menjadi ketakutan.
"Ada siluman....!" teriaknya sambil berlari secepatnya keluar dari hutan.
Lee Ing yang sudah melesat pergi, tersenyum geli. Ia lalu mengejar ke arah perginya Kui Ek tadi, khawatir kalau-kalau kakek ini akan mencelakai semua anggauta Tiong-gi-pai.
Ia maklum bahwa dengan kepandaiannya yang cukup tinggi, Siok Ho mungkin mampu melindungi rombongan patriot itu dan dapat melawan Kui Ek, akan tetapi kalau Auwyang Tek dan Mo Hun serta para anggauta pasukan itu datang, dapatkah orang-orang Tiong-gi-pai menyelamatkan diri? Tidak lama ia mencari cari, ia mendengar suara ribut-ribut orang bertempur, tanda bahwa fihak Tiong-gi-pai sudah mulai diserbu oleh Auwyang Tek dan kaki tangannya. Di sana-sini terdengar pekik keras, "Basmi pemberontak-pemberontak Tiong-gi-pai!"
Akan tetapi yang menjadikan heran hati Lee Ing bahwa pertempuran tidak terjadi di satu tempat. Ketika ia maju ke arah suara orang bertempur yang paling dekat, ia melihat Siok Ho sedang bertanding mati-matian melawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek!
Seperti diceritakan di depan tadi, Siok Ho diterima dengan penuh kegembiraan oleh para anggauta Tiong-gi-pai. Akan tetapi selagi mereka bergembira, tiba-tiba datang seorang anggauta penjaga yang melakukan perondaan di luar hutan dan anggauta ini datang melapor bahwa hutan itu sudah terkepung oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Auwyang Tek, Mo Hun, dan Kui Ek! Tentu saja Kwee Cun Gan kaget bukan main, karena nama-nama yang disebutkan itu adalah nama-nama tokoh-tokoh musuh yang amat disegani. Sedangkan di fihak Tiong-gi-pai, kecuali pemuda yang baru datang ini dan dia sendiri, tidak ada yang dapat diandalkan.
"Kita mundur melalui bukit selatan," kata Kwee Cun Gan.
"Mengapa harus mundur? Biarlah siauwte menghadapi mereka, suheng dan kawan-kawan menggempur pasukan yang berani masuk secara pertempuran gerilya," kata Sok Ho penasaran. "Musuh datang tidak dilawan, mengapa lari?"
"Sute, kau tidak tahu. Mereka yang datang itu, terutama Mo Hun dan Kui Ek, bukanlah lawan-lawan kita. Mereka terlalu kuat."
Siok Ho tetap penasaran. "Suheng, berlari sebelum kalah, sungguh siauwte tak dapat melakukannya. Kalau suheng dan kawan-kawan hendak mundur, silahkan, akan tetapi siauwte tetap hendak melawan mereka!"
Mendengar ucapan yang gagah ini, para anggauta Tiong-gi-pai timbul keberanian mereka. Juga Kwee Cun Gan menjadi nekat. "Kau benar-benar patut menjadi anak murid Kun-liln yang gagah perkasa, sute," ia memuji.
198
"Suheng belum mendengar cerita siauwte tentang partai kita, kalau sudah mendengar tentu suheng juga ingin membalas dendam. Ketahuilah bahwa empat tahun yang lalu, semua suhu dan sucouw di Kun-lun-pai telah tewas oleh Kai Song Cinjin yang dibantu oleh Mo Hun dan Kui Ek itulah!" Ia dengan singkat lalu menceritakan pembasmian Kun-lun-pai oleh kaki tangan Auwyang-taijin.
Bukan main kagetnya hati Kwee Cun Gan mendengar ini. Wajahnya pucat dan ia mengepal tinjunya. "Kalau begitu, mari kita mengadu nyawa dengan keparat-keparat jahanam itu!" katanya singkat dan dengan berpencaran mereka menyambut serbuan musuh.
Kui Ek yang mengejar ke dalam hutan tiba-tiba berhadapan dengan seorang pemuda ganteng yang bertangan kosong dan sikapnya halus. Tentu saja ia memandang rendah dan membentak,
"Aku tak pernah melihatmu, kalau kau bukan anggauta Tiong-gi-pai, lebih baik lekas kau minggat dari sini, jangan sampai mengorbankan nyawa secara sia-sia!" katanya, karena hatinya timbul rasa sayang melihat pemuda yang amat tampan ini.
Siok Ho tersenyum mengejek. Tentu saja ia masih ingat muka orang ini, yang dahulu juga ikut menyerbu ke Kun-lun-pai dan sudah membunuh banyak anak murid Kun-lun.
"Ma-Thouw Koai-tung Kui Ek, apa kau sudah lupa akan perbuatan kejimu, dahulu di Kun-lun-san? Ketahuilah bahwa aku Oei Siok Ho adalah seorang anak murid Kun-lun. Kebetulan sekali kita bertemu di sini!"
Kui Ek tak dapat menahan ketawanya. "Habis kau mau apa?"
"Tentu saja menagih nyawa suhu-suhu dan saudara-saudaraku di Kun-lun!" jawab Siok Ho sambil siap memasang kuda-kuda untuk menghadapi lawan yang ia tahu amat lihai ini.
Kui Ek tetap memandang ringan lawannya. Sedangkan jago-jago tua Kun-lun-pai saja dapat terbasmi, apa lagi sekarang bocah yang masih hijau ini. Sampai seberapakah kepandaiannya?
"Heh-heh, kalau begitu cepat keluarkan senjatamu!"
"Aku hanya mengandalkan kaki tanganku. Untuk melawan seorang jahat macam engkau tak perlu bersenjata," jawab Siok Ho yang memang tidak membawa senjata.
"Ho-ho-ho, kau benar bermulut besar. Kau mau melawanku dengan tangan? Ah, kau membikin malu saja padaku. Lihat, tanpa tongkatpun dalam sepuluh jurus kau akan roboh." Kui Ek melemparkan tongkatnya ke atas tanah, kemudian ia menerjang Siok Ho dengan pukulan-pukulan maut.
Ilmu silat Kui Ek sudah tinggi sekali, juga dalam petualangannya di dunia kang-ouw, ia sudah mendapatkan pengalaman pertempuran yang amat banyak. Sebaliknya, biarpun Oei Siok Ho telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dan sakti dari Swan Thai Couwsu, namun ia masih muda dan kurang pengalaman. Kalau menurut tingkat, ilmu silat yang dipelajari oleh Siok Ho memang lebih tinggi, akan tetapi kekalahan dalam hal pengalaman membuat Siok Ho amat berhati-hati menghadapi lawan yang sudah bangkotan ini. la cepat mengelak dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.
Baru bergebrak lima enam jurus saja, Kui Ek kaget setengah mati dan merasa menyesal mengapa tadi ia tidak menggunakan tongkatnya dan memandang rendah lawan muda ini. Dari pertemuan lengan dan melihat gerakan pemuda itu, ia mendapat kenyataan bahwa lawannya ini benar-benar
199
lihai, kiranya tidak kalah lihai oleh Auwyang Tek. Akan tetapi ia sudah terlanjur memandang rendah, sudah terlanjur sombong melepaskan tongkatnya, maka dengan gerengan-gerengan marah Kui Ek melancarkan serangan-serangan dengan tenaga lweekang secara bertubi-tubi.
Menghadapi gelombang, serangan ini, Siok Ho kaget dan berlaku makin hati-hati. Ia hanya mengelak dan kalau perlu sekali untuk menangkis dan ia tidak mau gegabah melakukan serangan kalau tidak melihat kesempatan baik. Oleh karena sikapnya yang terlalu berhati-hati ini, ia terdesak oleh Kui Ek yang tidak mau menyia-nyiakan waktu, terus melakukan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan bertubi-tubi untuk segera menjatuhkan lawannya. Akan tetapi ia kecele benar, kalau tadi ia mengatakan akan merobohkan dalam sepuluh jurus, sekarang sudah berjalan tiga puluh jurus ia hanya dapat sedikit mendesak saja sama sekali tidak dapat menindih apa lagi mengalahkan.
Saking penasaran dan marahnya, Kui Ek melakukan pukulan dahsyat dengan tenaga Iweekang sepenuhnya. Tangan kanannya dengan jari terbuka melakukan dorongan ke arah dada Siok Ho dengan dibarengi pekik keras. Inilah pukulan Iweekang yang akan dapat merobohkan lawan dari jarak jauh.
Siok Ho yang sudah memiliki tenaga Ang-sin-ciang, tentu saja tidak takut menghadapi pukulan ini, bahkan ia lalu mengerahkan tenaga Ang-sin-ciang dan menerima dorongan ini dengan telapak tangan pula. Di lain saat, telapak tangan kanan kedua orang ini saling tempel dan mereka berdiri bagaikan patung, saling dorong dan saling mengerahkan. tenaga Iweekang untuk merobohkan lawan.
Pertandingan tenaga Iweekang terjadi dengan hebat dan mati-matian. makin lama keduanya makin sadar bahwa mereka telah menemukan lawan yang berat dan tenaga Iweekang mereka seimbang. Akan tetapi sayang sekali bagi Siok Ho. Belum lama ini ia telah menyumbangkan sedikit darahnya untuk mengobati Siok Bun yang menjadi korban pukulan Hek-tok-ciang. Hal ini mempengaruhi tubuhnya dan dalam adu Iweekang ini, setidaknya ia kehilangan banyak tenaga karena kekurangan darahnya belum pulih kembali. Cuma baiknya, biarpun dalam tenaga ia kalah sedikit oleh Kui Ek, sebaliknya tenaga Ang-sin-ciang yang mengandung hawa beracun itu telah membuat seluruh tubuh Kui Ek merasa gatal-gatal!
Keduanya mengerahkan seluruh tenaga. Tangan yang saling tempel tak dapat dilepas pula. Pendeknya, dalam pertandingan ini yang kalah akan tewas dan yang menang akan hidup, tidak ada jalan ke luar lagi. Oleh karena maklum akan hal ini, keduanya saling mengerahkan seluruh tenaga sampai dari kepala mereka mengepul uap putih, muka sudah penuh peluh! Dalam keadaan beginilah Lee Ing datang! Gadis ini kaget sekali melihat bahwa kalau dilanjutkan, andaikata Siok Ho dapat menang sekalipun, ia akan terluka hebat. Ketika ia menengok ke lain jurusan, orang-orang Tiong-gi-pai sudah saling gempur dengan para pasukan pengawal.
Tadinya Lee Ing hendak turun tangan merobohkan Kui Ek untuk menolong Siok Ho, akan tetapi ia teringat akan nasihat-nasihat kong-kongnya tentang kegagahan. Seorang pendekar harus mengutamakan kegagahan yang disertai keadilan, pikirnya. Kalau aku merobohkan Kui Ek dalam keadaan begini, sama saja dengan mengeroyoknya. Ini sama sekali tidak adil.
Setelah berpikir demikian, ia mempersiapkan tiga buah batu kecil di kedua tangannya. Setelah memusatkan panca inderanya, ia mengayun tangan dan tiga butir batu kecil itu meluncur cepat sekali ke arah dua orang yang sedang mengadu tenaga Iweekang dengan mati-matian. Sebutir menghantam punggung Siok Ho, sebutir lagi menghantam punggung Kui Ek dengan kekuatan yang sama, sedangkan batu ke tiga, yang datangnya terakhir akan tetapi mengandung kekuatan lebih besar, menghantam ke arah dua tangan yang saling tempel itu.
200
Dapat dibayangkan betapa kagetnya dua orang jago yang sedang mengadu tenaga Iweekang itu ketika tiba-tiba mereka inerasa punggung mereka ada yang menepuk dan tiba-tiba saja lemas seluruh tenaga Iweekang mereka. Sebelum mereka dapat menyalurkan lagi tenaga masing-masing, menyambar batu ke tiga ke arah tangan mereka yang saling tempel. Otomatis mereka menarik tangan masing-masing yang kini tidak lengket lagi karena sudah tidak mengandung tenaga Iweekang dan tanpa mereka sengaja terlepaslah keduanya dari bahaya maut.
Maklum akan kelihaian lawan, Kui Ek cepat menyambar tongkatnya, akan tetapi sebelum ia sempat menyerang, kembali tongkatnya terlepas dan tangannya kejang tersambar batu kecil. Napas Kui Ek masih terengah-engah karena tadi terlampau banyak mengeluarkan tenaga, kini menghadapi
keanehan ini, ia menjadi gentar. Sebagai seorang yang berpengalaman ia maklum bahwa ada orang pandai mempermainkannya. Ia membungkuk untuk mengambil tongkatnya dan tiba-tiba saja "takk!" ujung pantatnya dihajar oleh sebuah batu kecil, rasanya sakit sekali sampai membuat ia bergulingan dan mengaduh-aduh.
Akan tetapi ia berhasil mengambil tongkatnya dan melompat berdiri, memutar tongkat untuk melindungi diri dari sambaran batu. Benar saja, terdengar suara tak, tok, tak, tok ketika beberapa butir batu kena disampok oleh tongkatnya. Akan tetapi, masih juga sebutir menerobos masuk dari lingkaran sinar tongkatnya dan tepat sekali mengenai tulang keringnya.
"Tokk!" Kui Ek menahan rasa nyeri, namun bagaimana bisa ditahan kalau tulang keringnya terasa panas, perih dan ngilu?
"Aduh.... bangsat pengecut.... aduh, keluarlah kalau berani...!" Sambil mengaduh-aduh dan memutar tongkatnya ia berloncat-loncatan dengan sebelah kaki, dan kaki yang terkena sambitan itu digantung, akan tetapi biarpun mulutnya memaki-maki, Kui Ek dengan licik berloncat-loncatan mehjauhi tempat itu, kemudian berlari sipat-kuping.
Biarpun tidak tahu siapa yang membantunya, Siok Ho tersenyum geli melihat tingkah Kui Ek. Tadi ia tidak mau turun tangan karena selain ia sendiri perlu beristirahat dan memulihkan tenaganya, juga ia tidak mau mengeroyok lawan yang sedang dipermainkan oleh orang pandai. Setelah Kui Ek pergi, Siok Ho menjura ke empat penjuru dan berkata, "Terima kasih atas pertolongan cianpwe, dan kalau sudi, harap cianpwe suka memperlihatkan diri."
Akan tetapi biarpun ia sudah mengulangi beberapa kali, tidak terdapat jawaban. Maka ia lalu cepat berlari untuk membantu Kwee Cun Gan dan kawan-kawan lain yang masih bertempur. Pertempuran di bagian lain tidak kalah ramainya. Kwee Cun Gan dan sembilan orang kawannya yang terbangun semangat perlawanannya melihat keberanian Siok Ho, sudah menerjang para penyerbu dan terjadi pertempuran hebat. Bagi Kwee Cun Gan sendiri, para pengawal itu bukan apa-apa dan sebentar saja ia sudah merobohkan dua orang pengawal. Juga Tan kui, dan dua saudara Nyo telah merobohkan masing-masing seorang lawan.
Akan tetapi tiba-tiba terjadi keributan hebat ketika anggauta-anggauta Tiong-gi-pai menjadi kocar-kacir dan dalam sekejap mata saja roboh empat orang tak bernyawa lagi menjadi korban pian kelabang dan pukulan Hek-tok-ciang. Ternyata Auwyang Tek dan Toat-beng-pian Mo Hun datang mengamuk dan di belakang dua orang ini, masih kelihatan Kui menyeret-nyeret tongkatnya!
Kwee Cun Gan melompat dan menyuruh anak buahnya mundur, dia sendiri menghadapi Auwyang Tek sambil menuding dan berkata nyaring, "Auwyang Tek, kali ini benar-benar kau tidak tahu malu dan curang sekali, melakukan pengeroyokan dan penyerbuan mengandalkan orang banyak! Sejak
201
kapan kau berlaku pengecut dan tidak menggunakan cara yang sudah-sudah, bertanding seperti orang-orang gagah di panggung lui-tai (panggung tempat mengadu kepandaian)?"
Auwyang Tek tersenyum mengejek. Memang dahulu ketika Pek-kong Sin-kauw Siok Beng Hui seanak isteri masih berada dengah Tiong-gi-pai, ia tidak berani sembarangan menyerang perkumpulan yang dimusuhinya ini karena khawatir kalau-kalau menyinggung perasaan Raja Muda Yung Lo dan menjadikan orang she Siok itu sebagai utusannya. Akan tetapi sekarang, setelah Siok Beng Hui pergi, ia boleh membasmi Tiong-gi-pai tanpa khawatirkan sesuatu.
"Kwee Cun Gan! Orang buronan macam kau dan kaki tanganmu ini, mana masih perlu banyak aturan lagi? Diadakan pertempuran pibu sekalipun kau tak pernah muncul, karena kau sudah kehabisan jago-jagomu. Ha-ha-ha!"
Kemudian Auwyang Tek berkata kepada Mo Hun dan Kui Ek, "Ji-wi lo-enghiong, setelah berada di sini, cabut saja nyawa orang she Kwee ini. Kalau dia mampus tentu yang lain takkan berani banyak tingkah lagi."
Setelah mengucapkan kata-kata ini, Auwyang Tek langsung menyerang Kwee Cun Gan dengan pukulan Hek-tok-ciang. Biarpun ketua Tiong-gi-pai ini merasa tidak sanggup menghadapi pukulan yang amat berbahaya ini, namun sebagai murid Kun-lun tentu saja ia masih dapat menyelamatkan diri. Ia cepat mengelak dan melompat ke samping. Auwyang Tek mengejar dan menyerang terus secara bertubi-tubi, mendesak hebat. Pada saat itu, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang pemuda tegap telah menghadapi Auwyang Tek dengan sepasang pedang yang hebat gerakannya.
"Kwee Tiong......!" Ketua Tiong-gi-pai itu berseru girang.
"Harap paman mundur, serahkan saja bedebah ini kepadaku," kata pemuda itu yang bukan lain adalah Kwee Tiong, pemuda yatim piatu yang menjadi murid Pek Map Lojin. Untuk kedua kalinya, kembali Kwee Tiong muncul menolong pamannya yang terancam bahaya maut. Segera terjadi pertempuran antara Auwyang Tek dan Kwee Tiong, pertempuran hebat dan ternyata kepandaian dua jago muda ini seimbang.
Kui Ek melompat dan menggerakkan tongkatnya, akan tetapi sekarang Siok Ho menerjang maju. Pemuda ini tadi telah dapat merampas sebatang pedang dari seorang pengawal yang dirobohkannya dan dengan pedang ini ia menangkis tongkat Kui Ek.
"Tua bangka, mari kita lanjutkan pertempuran tadi!" tantang Siok Ho dan segera keduanya juga terlibat dalam pertandingan mati-matian yang seru sekali. Mo Hun tertawa bergelak, "Heh-heh-heh, kau mendatangkan jago-jago muda untuk memperkuat perkumpulan yang busuk? Sayang, tidak ada yang melindungi kepalamu, Kwee Cun Gan!" Ia menggerakkan pian kelabangnya, terdengar suara "tar-tar-tar" di udara dan sinar merah pian itu berkelebat ke arah Kwee Cun Gan.
Ketua Tiong-gi-pai ini maklum akan keganasan senjata ini, maka ia tidak berani menghadapinya lalu melompat jauh. Sambil tertawa-tawa Mo Hun mengejar terus dan membunyikan piannya yang menyambar-nyambar bagaikan kelabang raksasa melayang-layang mencari korban! Akan tetapi, mendadak ia berseru kaget dan menahan gerakannya. Mukanya menjadi basah dan tercium bau arak wangi sekali.
"Ha-ha, manusia iblis di mana-mana haus darah!" terdengar suara halus dan muncullah Pek Mao Lojin yang memegang sebuah guci arak dan tertawa-tawa lebar. Tadi dialah yang menyemburkan araknya dari mulut sehingga menghujani muka Mo Hun yang terkejut sekali karena semburan arak
202
itu membuat mukanya panas dan seperti ditusuki jarum. Melihat bahwa orang itu bukan lain adalah Pek Mao Lojin yang selama ini tidak memperlihatkan keaktipan membantu Tiong-gi-pai akan tetapi yang kabarnya pernah mengacau kota raja, Mo Hun menjadi marah.
"Tua bangka botak, agaknya kau sudah bosan dengan botakmu. Biar kupenggal dari tubuhmul" Piannya menyambar cepat.
"Ha-ha-ho-ho, biar botak aku masih sayang. Tak boleh dipenggal!" Pek Mao Lojin mengangkat guci araknya.
"Traangg..!" Pian kelabang itu mental kembali dan dari dalam guci arak muncrat arak merah yang langsung meluncur ke arah muka Mo Hian. Toat-beng-pian Mo Hun maklum bahwa arak ini dapat melukai mukanya, maka ia cepat melompat mundur. Kwee Cun Gan yang maklum bahwa biarpun kedudukan fihaknya kini cukup kuat akan tetapi kalau di situ muncul tokoh-tokoh fihak musuh yang lain seperti Kai Song Cinjin dan pasukan pengawal
yang besar jumlahnya tentu fihaknya akan mengalami kehancuran, lalu berseru,
"Auwyang Tek, apakah kau berani menerima tantangan kami untuk mengadu pibu secara gagah tidak main keroyokan seperti ini? Kalau kau berani harap hentikan pertempuran ini!"
"Mengapa aku tidak berani?" jawab Auwyang Tek sambil melompat mundur, la rasa bahwa jago fihak lawan tentu pemuda yang melawannya ini dan ia tidak takut.
"Kalau begitu hentikan pertempuran ini!" seru Kwee Cun Gan.
Mendadak berkelebat bayangan orang dan ada angin meniup keras membuat semua orang terhuyung ke belakang. "Betul, pertempuran harus dihentikan dan sejak kapankah orang-orang kerajaan memerangi rakyat? Pertandingan pibu boleh, akan tetapi pertempuran seperti ini benar-benar tidak selayaknyal"
Semua orang memandang dan ternyata yang muncul adalah Im-yang Thian-cu yang tadi mengibas-ngibaskan kipasnya. Setelah semua orang berhenti bertempur, Im-yang Thian-cu berpaling kepada Kwee Cun Gan sambil berkata, "Aku mendengar muridku terluka oleh Hek-tok-ciang, di mana dia sekarang?"
Kwee Cun Gan memberi hormat sambil berkata, "Harap totiang tunggu sebentar, nanti siauwte akan mengantar totiang menemui Han Sin yang masih merawat diri."
Auwyang Tek yang mendengar bahwa tosu kurus ini adalah guru dari Liem Han Sin yang beberapa hari yang lalu ia lukai, menjadi tidak enak. Juga ia melihat bahwa fihak lawan sekarang menjadi amat kuat, maka ia memberi tanda kepada anak buahnya supaya mundur. Ia sendiri menantang Kwee Cun Gan.
"Kalau kau benar mempunyai jago, boleh datang di pendapa Lian-bu-kwan di dalam kota di mana kita boleh mengadu ilmu sepuasnya secara adil." Setelah Kwee Cun Gan mengangguk dan menyanggupi untuk datang pada besok siang menjelang tengah hari, Auwyang Tek dan rombongannya segera meninggalkan hutan itu.
Kwee Cun Gan cepat-cepat memberi hormat dan menghaturkan terima kasihnya kepada Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu. Sungguh menarik jawaban dua orang kakek sakti itu, jawaban yang
203
langsung memperkenalkan watak dan pandangan hidup masing-masing. Jawab Pek Mao Lojin sambil tertawa-tawa lebar,
"Manusia terpisah menjadi dua kelompok, pertama menjadi hamba nafsu dan kesenangan duniawi, ke dua menjadi pembantu alam yang sifatnya adil dan penuh kebajikan. Aku memilih kelompok ke dua itulah!" Dengan ucapannya yang tidak langsung ini Pek Mao Lojin menyatakan bahwa demi membela kebenaran dan keadilan ia tentu saja membantu Tiong-gi-pai dan melawan kejahatan.
Adapun Im-yang Thian-cu yang selalu bermuram durja itu, menjawab dengan merengut, "Siapa sih perduli segala urusan dunia? Pinto datang untuk menengok murid yang terluka. Di mana dia?"
"Silahkan totiang ikut dengan kami ke tempat Han Sin beristirahat. Memang dia terluka dan sudah mempergunakan obat katak merah, akan tetapi karena ia kena pukulan agak keras, lukanya belum sembuh dan ia perlu beristirahat."
Kemudian kepada Kwee Tiong dan Pek Mao Lojin ia berkata, "Harap locianpwe kali ini suka memberi ijin kepada Kwee Tiong untuk membikin terang nama Tiong-gi-pai dan memasuki pibu untuk menghadapi Auwyang Tek yang jahat."
Kwee Tiong berkata cepat kepada Pek Mao Lojin, "Suhu, kalau tidak kali ini teecu mencurahkan tenaga untuk membela kebenaran dan membalas budi paman Kwee Cun Gan membasmi kejahatan, apa gunanya teecu menjadi murid suhu?"
Pek Mao Lojin tertawa bergelak mendengar semua ini. "Sesukamulah, mana aku bisa melarang? Kalau kau terluka seperti murid Im-yang Thian-cu, dan aku tidak bisa menolong mengobati, jangan bilang aku guru tidak punya guna."
"Seorang gagah takut mati, mana patut disebut gagah?" Im-yang Thian-cu berkata dengan muka merengut.
Pek Mao Lojin tertawa makin keras lagi karena dengan kata-kata yang baru diucapkan tadi, biarpun Im-yang Thian-cu bersikap seolah-olah tidak perduli akan semua pertempuran itu, namun ia tetap menghargai kegagahan dan ini berarti bahwa tosu kurus pemarah ini masih boleh diharapkan bantuannya untuk menghadapi kaki tangan Menteri Auwyang!
Berangkatlah rombongan ini memasuki hutan, keluar dari sebelah utara untuk memasuki hutan lain di mana Liem Han Sin sedang beristirahat di dalam sebuah pondok kecil, dijaga oleh ayahnya, Liem Hoan.
Lee Ing diam-diam mengikuti rombongan ini, setelah melihat tempat berkumpulnya para anggauta Tiong-gi-pai. ia lalu pergi lagi dengan cepat sekali untuk menyusul rombongan Auwyang Tek. Ia tidak mau turun tangan lebih dulu karena ingin ia mencari tahu tentang keadaan ayahnya, Souw Teng Wi. Sudah jelas tadi bahwa ayahnya tidak berada dengan Tiong-gi-pai. Sungguhpun harapannya tipis sekali untuk melihat ayahnya masih hidup, mengingat betapa dulu ayahnya tertawan oleh Kai Song Cinjin, namun ia ingin tahu sejelasnya apa yang terjadi atas diri ayahnya.
Oleh karena itu diam-diam ia mengikuti rombongan Auwyang Tek untuk memasuki kompleks bangunan istana dan mencari tahu perihal ayahnya sebelum ia menurunkan tangan terhadap musuh-musuh besarnya. Menteri durna Auwyang Peng menjadi marah bukan main ketika ia mendengar laporan puteranya tentang gagalnya penyerbuan terhadap Tiong-gi-pai di hutan itu.
204
"Bodoh, masa terhadap beberapa gelintir manusia pemberontak itu saja kau tidak becus menangkap, padahal sudah dibantu oleh Mo Hun dan Kui Ek? Setidaknya kau sepatutnya sudah dapat menyeret Kwee Cun Gan ke sini sebagai tawanan!"
"Tidak begitu mudah, ayah. Harap diketahui bahwa orang she Kwee itu ternyata telah mendatangkan pembantu-pembantu baru yang cukup lihai, bahkan dua orang tokoh kang-ouw, Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu membantunya. Oleh karena itu, aku menerima baik tantangan pibu besok di Lian-bu-kwan."
Auwyang-taijin mengangguk-angguk. "Kalau begitu, kau panggil Cinjin dan yang lain-lain untuk berkumpul dan merundingkan pibu ini. Sekali ini kita harus dapat memaksa Kwee Cun Gan mengaku di mana adanya pemberontak Souw Teng Wi sekarang."
Auwyang Tek keluar untuk memanggil Kai Song Cinjin dan yang lain-lain. Sedangkan Lee Ing yang semenjak tadi mengintai, menjadi kecewa sekali mendengar ucapan terakhir tentang ayahnya. Jadi kalau begitu ayahnya tidak berada di sini? Di samping kekecewaannya iapun girang karena ucapan Auwyang Peng tadi hanya berarti bahwa ayahnya tidak sampai tewas oleh Kai Song Cinjin dan kawan-kawannya. Siapa yang telah menoIong ayahnya dari tangan musuh? Apakah Kwee Cun Gan betul-betul tahu di mana adanya ayahnya sekarang? Lee Ing sudah hendak pergi untuk mencari ketua Tiong-gi-pai itu dan bertanya tentang ayahnya, ketika tiba-tiba ia menunda niatnya karena mendengar suara yang dia masih ingat dan dikenalnya. Suara Kai Song Cinjin, musuh besarnya!
"Taijin harap jangan khawatir, serahkan saja kepada pinceng untuk membereskan tikus-tikus Tiong-gi-pai itu!"
Ketika Lee Ing mengintai kembali, ternyata Kai Song Cinjin sudah berada di situ dan berturut-turut masuklah Mo Hun, Kui Ek dan lain-lain kaki tangan Auwyang-taijin seperti Manimoko dan Yokuto, dua orang guru silat yang berasal dari bajak laut Jepang itu.
Melihat musuh besarnya, Kai Song Cinjin, Lee Ing menjadi marah sekali. Ingin ia sekali terjang membalas dendam kepada musuh besar ini. Teringatlah ia betapa ayahnya dibikin buta oleh pendeta tinggi besar ini. Sudah gatal-gatal tangannya dan ia sudah hendak melompat turun. Akan tetapi Lee Ing adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Ia maklum akan kelihaian Kai Song Cinjin dan dia sendiri belum tahu apakah ia akan sanggup melawannya, apa lagi selain Kai Song Cinjin, di situ masih terdapat banyak tokoh besar yang berkepandaian tinggi.
Kalau ia lancang turun tangan dan tidak berhasil, itu masih belum berapa hebat karena mungkin dengan kepandaiannya ia dapat meloloskan diri dari tempat itu. Akan tetapi celakanya, ia belum tahu di mana adanya ayahnya. Kalau mereka ini mengenalnya sebagai puteri Souw Teng Wi, tentu keadaan ayahnya akan makin terancam lagi.
Sebelum ia tahu di mana adanya ayahnya, sebelum ia tahu bahwa ayahnya betul-betul berada di tempat aman dan tidak berada dalam tangan musuh-musuh besar ini, ia tidak boleh memperkenalkan diri. Dengan bekerja secara sembunyi ia akan lebih leluasa dan ayahnya tidak begitu terancam. Gadis ini berpikir-pikir dan matanya memandang ke sana ke mari, mencari akal. Sementara itu, hari telah mulai gelap dan para pelayan mulai memasang lampu penerangan.
Di dalam ruangan itu, Auwyang Peng masih mengadakan perundingan dengan para kaki tangannya. Akhirnya diputuskan bahwa pertandingan pibu di Lian-bu-kwan pada besok hari akan dipimpin oleh Kai Song Cinjin sendiri mengingat bahwa di fihak Tiong-gi-pai muncul tokoh-tokoh besar.
205
"Biarlah hari esok itu akan merupakan hari terakhir bagi Tiong-gi-pai, akan pinceng tantang supaya mereka semua seorang demi seorang maju dan naik ke panggung luitai mengadu kepandaian."
"Inilah saatnya membasmi Tiong-gi-pai secara terbuka, tanpa menyinggung hati siapapun juga," kata kakek dari Tibet ini dengan sombong seolah-olah ia sudah merasa yakin bahwa fihaknya tentu akan memperoleh kemenangan dan akan dapat menewaskan semua anggauta Tiong-gi-pai dalam pertandingan pibu itu.
"Harap saja Tok-ong jangan terlalu yakin dulu, karena di fihak mereka terdapat orang-orang pandai seperti Pek Mao Lojin dan Im-yang Thian-cu yang sama sekali tak boleh dipandang ringan!" kata Toat-beng-pian Mo Hun sambil meringis.
Kui Ek mengangguk-anggukkan kepalanya. "Betul ucapan Toat-beng-pian. Selain dua orang tua bangka itu, masih ada murid Kun-Iun-pai yang masih muda namun kepandaiannya lumayan, juga aku sendiri sudah merasakan kehebatan kepandaian seseorang yang membantu secara diam-diam fihak mereka, entah seorang di antara dua tua bangka itu, entah ada orang lain lagi," berkata demikian, Kui Ek teringat akan pertempurannya mengadu Iweekang dengan Siok Ho dan betapa kemudian ada orang memisahkan secara luar biasa sekali, yaitu hanya dengan sambitan kerikil-kerikil kecil! Kalau ia teringat akan kepandaian orang tersembunyi ini, ia bergidik karena sukar dibayangkan betapa tingginya kepandaian orang yang dapat memisah dia bertanding Iweekang hanya dengan sambitan batu kecil saja.
Kai Song Cinjin mengerutkan kening akan tetapi mulutnya tertawa mengejek. "Kalian merengek rengek seperti anak cengeng. Memuji kepandaian musuh sama saja dengan merendahkan kekuatan sendiri. Pantas saja kalian tidak dapat membereskan soal pengepungan Tiong-gi-pai siang tadi! Apa sih itu Pek Mao Lojin? Hanya kakek gila yang selalu mabok arak. Dan itu Im-yaug Thian cu? Siucai (sasterawan) kelaparan! Kalian masih mengagulkan anak murid Kun-lun-pai setelah kita basmi mereka? Haaa! Selain Swan Thai Tosu, siapa lagi di Kun-lun yang boleh ditakuti? Dan Swan Thai Tosu sekarang sudah mampus!"
Mendengar ucapan ini, Mo Hun dan Kui Ek tidak berani bilang apa-apa lagi. Memang dua orang ini yang ditakuti hanya Kai Song Cinjin seorang, maklum bahwa kakek Tibet ini memang kepandaiannya tinggi sekali. Tok-ong Kai Song Cinjin agaknya masih panas perutnya karena tadi dua orang pembantunya memuji fihak lawan. Apa lagi ia melihat Auwyang Peng mengangguk-anggukkan kepala tanda menyetujui ucapannya, Kai Song Cinjin menjadi makin sombong.
"Jangankarj ada orang-orang tersembunyi membantu mereka. Biar pahlawan Sam-kok Kwan-In Tiang menjelma lagi di dunia ini kita takut apa sih?" katanya penuh lagak jagoan.
Mendengar ini, Manimoko nampak gelisah. Jago Jepang yang bertubuh gemuk bulat seperti bola ini memang amat tahyul. Ia sudah lama merantau di Tiongkok dan sudah mendengar tentang dongeng-dongeng sejarah. Mendengar Kai Song Cinjin menyebut-nyebut dan menantang nama pahlawan besar Kwan In Tiang, ia menjadi pucat dan berkata dengan lidah pelo dan menggoyang-goyangkan tangannya.
"Kai Song Cinjin boleh menantang orang akan tetapi jangan sekali-kali menantang malaikat! Kwan Kong (Kwan In Tiang) sudah diangkat menjadi malaikat, sudah disembah dan dipuja jutaan orang. Tidak baik kalau ditantang-tantang oleh manusia biasa!"
Kai Song Cinjin tertawa bergelak. "Pinceng adalah murid terkasih dari Sang Buddha, selain ilmu silat juga ilmu batin pinceng sudah cukup matang. Mengapa harus takut menghadapi segala macam
206
malaikat? Kedudukan pinceng sebagai murid Buddha lebih tinggi, dan kelak di Nirwana, para malaikat menjadi pelayanku." Ucapan macam ini benar-benar tidak patut keluar dari mulut seorang penganut Agama Buddha apa lagi dari seorang yang sudah menggunduli kepala menjadi hwesio.
Dari kata-katanya ini saja sudah dapat dinilai orang macam apa" adanya hwesio dari Tibet ini. Dia menjadi hwesio di Tibet hanya untuk mencari kekuasaan, oleh karena di Tibet memang para pendeta itulah yang berkuasa. Rakyat masih terlalu bodoh dan menganggap bahwa para hwesio atau murid Buddha adalah manusia-manusia yang lebih tinggi derajatnya dari pada mereka manusia-manusia biasa.
Setelah menjadi hwesio dan memiliki kepandaian tinggi, Kai Song Cinjin di Tibet boleh berbuat sesuka hatinya, memeras rakyat, hidup mulia dan mewah penuh kesenangan duniawi dan semua ini tidak ada yang melarang atau berani mencela karena kekuasaan berada di tangannya. Akan tetapi, akhir-akhir ini para hwesio di Tibet yang betul-betul melakukan penghidupan suci sesuai dengan ajaran Agama Buddha, mulai melihat kejahatannya. Kai Song Cinjin merasa khawatir kalau-kalau kedudukannya akan terguling, maka dengan cerdik ia lalu mengadakan hubungan dengan pemerintah Beng di Nan-king, rela menjadi kaki tangan Menteri Auwyang Peng yang sebaliknya menjanjikan bahwa kelak ia akan dijadikan raja muda di Tibet.
Mendengar ucapan terakhir dari Kai Song Cinjin itu tidak hanya Manimoko yang menjadi makin pucat, bahkan Yokuto hwesio Jepang itupun mengerutkan kening. Yokuto memang tidak berani banyak bicara oleh karena dia sendiri sebagai seorang hwesio telah tersesat masuk menjadi anggauta bajak laut. Tadinya Yokuto dan Manimoko, keduanya jago jago yudo dan silat Jepang, menjadi sahabat baik. Akan tetapi mereka mempunyai watak buruk, dan sering kali mengganggu wanita-wanita cantik. Akhirnya mereka diusir oleh ksatria Jepang golongan Samurai.
Kaum Samurai yang gagah berani ini, yang seperti pendekar pendekar di Tiongkok selalu menghela kaum lemah terlindas, mengejar-ngejar mereka yang terus melarikan diri dan akhirnya menggabungkan diri menjadi bajak laut. Kemudian mereka yang tidak berani kembali ke Jepang, menerima ajakan kaki tangan Auwyang-taijin untuk bekerja sebagai "tukang pukul" dari menteri itu. Yokuto sendiri merasa sebagai hwesio dia menyeleweng, akan tetapi mendengar ucapan Kai Song Cinjin tadi, dia yang tahu akan pelajaran Buddha, di dalam hati merasa tidak enak. Juga Auwyang Peng yang dahulunya seorang terpelajar, mencela omongan Kai Song Cinjin dengan kata-kata halus menyindir,
"Betapapun juga, harap saja Cinjin berhati-hati dan jangan terlalu memandang rendah fihak lawan."
Manimoko mengangguk-angguk dan menyambung kata-kata junjungannya, "Memang betul, Cinjin jangan sembarangan menantang malaikat. Bisa kualat nanti!"
Kai Song Cinjin tertawa bergelak, suara ketawanya bergema sampai jauh karena ia sengaja mengerahkan khikangnya untuk memamerkan kepandaiannya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara ketawa lain, lebih besar dan lebih nyaring, malah mengalahkan gema suara ketawanya. Suara ketawa ini terdengar besar dan aneh, bukan seperti ketawa manusia, seakan-akan suara ketawa yang datang dari angkasa raya. Kai Song Cinjin otomatis menghentikan ketawanya, mulutnya masih menyeringai akan tetapi mukanya berubah, sepasang matanya berputar-putar mencari siapa orangnya yang tertawa itu.
"Aduh celaka...!" Manimoko yang amat takut akan setan dan malaikat itu berkata, mukanya pucat, tubuhnya menggigil "Ini bukan suara manusia....!" Tiba-tiba matanya terbelalak memandang ke arah
207
depan, tubuhnya yang gemuk itu makin menggigil, mulutnya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara, telunjuknya menuding-nuding seperti lakunya orang berotak miring melihat setan.
Semua orang memandang dan semua berseru kaget. Auwyang-taijin sendiri sampai cepat-cepat bangun dari tempat duduknya dan melompat ke dalam bersembunyi! Disusul oleh Auwyang Tek yang hendak melindungi ayahnya. Semua orang terbelalak memandang dengan tubuh panas dingin, kecuali Kai Song Cinjin yang bangkit berdiri, biar mukanya berubah pucat namun ia masih tabah. Apa yang mereka lihat? Benar-benar aneh dan menyeramkan sekali.

Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:

Best Cersil