Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 31 Juli 2018

Cersil Keren Pendekar Gila dari Shantung

======
baca juga

dunia-kangouw.blogspot.com
Karya : Asmaraman S. Kho Ping Hoo
E-book : dunia-kangouw.blogspot.com
Bab-01 : Tiga Sasterawan Muda
KURANG lebih sepuluh li jauhnya di sebelah barat daya dari So-cou, terdapat sebuah telaga Tai-hu yang
amat indah pemandangannya. Airnya bening dan tak pernah surut, demikian beningnya sehingga segala
warna yang berada di pinggir dan di atasnya tercermin ke dalamnya menimbulkan tata warna yang indah
mengagumkan. Langit biru terhias awan-awan putih, daun-daun pohon berwarna hijau dihias bunga-bunga
merah kuning dan kebiruan membayang dalam air, agaknya lebih hidup dari pada warna aslinya.
Apabila tidak ada angin bertiup, air telaga Tai-hu demikian tenang, licin mengkilap bagaikan lukisan besar
tertutup kaca. Sewaktu terdapat angin bertiup, air menjadi hidup bergoyang-goyang mendatangkan keriput
dan membuat seluruh pemandangan yang terbayang di dalamnya berubah aneh dan lucu.
Sukar untuk melukiskan keindahan telaga ini. Di sebelah kiri terdapat tetumbuhan kecil terdiri dari
bermacam-macam bunga liar yang seakan-akan sengaja mendekati telaga agar bunga-bunga itu dapat
bercermin setiap waktu, mengagumi kecantikan sendiri di dalam bayangan air.
Di sebelah kanan penuh dengan pohon-pohon besar yang berbatang bengkak-bengkok seperti tubuh
orang-orang sedang menari, dengan cabang dan rantingnya penuh daun itu bergerak-gerak tertiup angin,
mendatangkan suara berkerisik seakan-akan banyak daun itu saling bercakap-cakap memuji keindahan
telaga dan cabang-cabang merupakan tangan dan jari-jari para penari ulung yang sedang menari
menurutkan irama yang didatangkan dari desau angin lalu.
Di sebelah kanan, yakni di seberang sana, terdapat beberapa buah bangunan kecil berbentuk menaramenara
mungil yang dicat merah, hijau, biru dan kuning, nampak indah merupakan perpaduan yang
harmonis antara keahlian tangan dan otak manusia dan keaslian alam di sekelilingnya.
Di sebelah sini, terdapat tanah pasir yang bersih dan banyak sekali perahu-perahu tambangan diikat pada
patok-patok yang ditancapkan di atas pasir. Inilah perahu-perahu sewaan yang dapat disewa setiap saat
oleh para pelancong yang ingin menghibur hatinya di telaga itu.
Di dekat menara-menara yang kecil mungil itu banyak terdapat orang berdagang, di antaranya dapat dibeli
arak, makanan dan juga di situ banyak orang menjual alat tulis seperti pit, tinta, kertas atau kain putih yang
biasa ditulisi, bahkan ada pula yang kosong dan belum dilukis. Semua ini disediakan bagi para pelancong
yang sebagian besar tergerak hatinya melihat keindahan alam ini dan yang menimbulkan hasrat untuk
menulis sajak atau melukis keindahan itu di atas kertas, kain ataupun di atas kipas.
Pada hari itu, telaga Tai-hu istimewa ramainya. Tidak heran oleh karena musim bunga telah tiba. Bungabunga
beraneka ragam mekar semua dan membuat pemandangan di sebelah kiri telaga nampak luar biasa
indahnya. Angin bertiup perlahan, membawa sari kembang yang harum semerbak ke sekeliling telaga.
Berbagai macam orang datang mencari hiburan di telaga Ti-hu pada waktu itu. Akan tetapi yang terbanyak
di antara mereka adalah para pelajar dan sasterawan, yang dapat dikenal dari keadaan pakaian mereka.
Juga ada beberapa orang bangsawan yang menghibur hati di telaga itu, ternyata dari perahu mereka yang
dihias bendera dan para penjaga yang berdiri di kepala perahu atau yang mengawal dengan perahu kecil
terpisah.
Di atas beberapa buah perahu yang besar dan yang berbau bangsawan, terdengar nyanyian-nyanyian
indah diiringi musik yang menawan hati. Memang, kalau orang ingin berpelesir di atas perahu sambil
mendengarkan nyanyian indah, asal orang mempunyai uang, mudah saja maksudnya ini tercapai. Di situ
telah siap sedia “calo-calo” atau makelar yang dapat mencarikan penyanyi-penyanyi yang dapat disewa
untuk menghibur hati mereka yang suka mendengar suara merdu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setiap datang musim semi, alang-alang yang hijau segar tumbuh di pinggir telaga, menari-nari tertiup angin
di atas air menambah indah pemandangan. Dan pada hari itu, di dekat rumput alang-alang ini, nampak
sebuah perahu kecil yang diduduki oleh tiga orang pemuda berpakaian pelajar. Mereka masih muda sekali,
rata-rata berusia tak lebih dari lima belas tahun, berwajah tampan dan bersikap halus bagaikan gadis-gadis
simpanan.
Seorang di antaranya yang paling cakap dan tampan mengenakan pakaian serba hijau dengan garis-garis
kuning. Topinya juga berwarna kuning. Mukanya lebar dan tampan, dengan alisnya yang berbentuk golok
dan hitam sekali membuat wajahnya makin nampak putih. Biarpun sikapnya lemah lembut, namun
sepasang matanya yang bersinar cerdik dan mulutnya yang berbentuk keras itu menunjukkan bahwa ia
adalah seorang pemuda yang berkemauan keras.
Dua orang kawannya juga berwajah cakap dan sikap mereka gembira, berbeda dengan pemuda baju hijau
yang agak pendiam. Seorang mengenakan pakaian biru dan yang kedua berpakaian kuning. Menilik dari
bahan pakaian yang mereka pakai, dapat diduga bahwa ketiganya adalah pelajar-pelajar yang tidak kaya,
karena sungguhpun pakaian mereka rapi dan bersih, namun terbuat dari bahan yang tidak mahal.
Mereka bertiga duduk di papan perahu menghadapi sebuah meja persegi kecil. Seguci kecil arak dengan
tiga cawan terletak di atas meja itu, dan sebungkus kue kering menemani arak. Mereka bercakap-cakap
sambil makan kue dan minum arak. Selain arak dan kue, juga nampak tiga buah kipas yang masih kosong,
yang mereka beli di dekat menara tadi. Alat-alat tulis lengkap berada pula di situ, berikut sebuah buku syair
kuno yang tebal dan sudah kuning kertasnya karena terlalu tua.
Pemuda baju hijau itu adalah putera seorang bangsawan yang telah meninggal dunia. Karena semasa
hidupnya, ayahnya memegang jabatan dengan jujur dan adil sehingga tidak seperti pembesar lain,
hidupnya miskin, hanya mengandalkan gajinya yang tidak seberapa besar.
Bangsawan she Lie itu tidak mau menjalankan pemerasan kepada rakyat sebagaimana yang lazim
dilakukan oleh setiap orang berpangkat pada masa itu, hingga pada suatu waktu ia menderita sakit sampai
meninggal dunia, ia tidak meninggalkan warisan harta besar selain kepandaian yang dimiliki oleh putera
tunggalnya ini yang bernama Tiong San. Memang semenjak kecil, bangsawan Lie telah banyak
mempergunakan uangnya untuk memberi pelajaran ilmu kesusasteraan kepada puteranya dengan
pengharapan agar kelak dapat menduduki pangkat tinggi.
Akan tetapi, biarpun Tiong San dalam usia lima belas tahun telah lulus dengan baik dalam ujian
pemerintah, namun pada masa itu sukarlah bagi seorang pelajar untuk merebut kedudukan tinggi dalam
kalangan pemerintah. Oleh karena mereka yang berwenang menetapkan pembagian pangkat adalah
seorang yang hanya memandang uang sogokan.
Siapa saja yang memiliki uang dan berani memberi suapan besar, biarpun belum pernah lulus ujian, akan
dapat memiliki pangkat kecil dengan amat mudah. Sebaliknya Tiong San yang telah ditinggal mati ayahnya
hidup dengan ibunya yang mengandalkan hasil kerajinan tangan, biarpun hasil ujiannya baik, namun tak
mungkin bisa memperoleh pangkat yang bagaimana kecilpun!
Hal ini amat menyedihkan hatinya dan ia menjadi sebal melihat keadaan petugas-petugas pemerintah yang
hanya memandang harta itu. Hatinya menjadi tawar, bahkan ia tidak mempunyai keinginan sama sekali
untuk memegang pangkat. Sehingga andaikata ia mendapat tawaran untuk menduduki sebuah pangkat, ia
tentu akan menolaknya.
Pada hari itu, ia meninggalkan rumahnya dan diberi ijin oleh ibunya untuk bermain-main di telaga Tai-hu
yang agak jauh letaknya dari kampung tempat tinggalnya, oleh karena ibunya merasa kasihan melihat
kesedihan puteranya dan ingin melihat puteranya itu bergembira dengan kawan-kawannya. Maka pergilah
Tiong San dengan dua orang kawannya itu menghibur diri di telaga Tai-hu. Kedua orang kawannya itu
adalah kawan-kawan sekolahnya yang melanjutkan pelajarannya di kota raja, dan kini sedang berlibur
kembali ke kampung masing-masing. Mereka adalah kawan sekampung dan telah menjadi sahabat karib
semenjak kecil.
Si baju biru bernama Khu Sin, putera kepala kampung mereka yang juga terkenal jujur dan bijaksana. Khu
Sin dikirim oleh ayahnya ke kota raja untuk melanjutkan pelajarannya dan tinggal di rumah pamannya yang
menjadi pemilik rumah makan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Pemuda berbaju kuning bernama Thio Swie, putera seorang guru sastra di kampung mereka yang juga
telah meninggal dunia dan kini hidup berdua dengan ibunya yang telah menjanda. Seperti Khu Sin, Thio
Swie inipun melanjutkan pelajarannya di kota raja dan tinggal di rumah bibinya yang kawin dengan seorang
pemilik toko obat.
Kini kedua kawan sekampung itu pulang dalam waktu libur dan berpelesir dengan Tiong San di telaga Taihu,
karena mereka berdua memang suka sekali kepada Tiong San yang terkenal paling pandai di antara
mereka.
Dalam kegembiraan mereka, Thio Swie si baju kuning berkata sambil tertawa kepada Tiong San,
“Sekarang lebih baik kita mencoba ingatan masing-masing tentang sajak jaman dahulu. Kau terkenal ahli
sajak yang banyak hafal akan sajak-sajak jaman dahulu, bahkan kitab sajak ini ke manapun kau bawa.”
Tiong San tersenyum. “Boleh, dan tentu saja kau dan Khu Sin telah banyak mempelajari sajak-sajak baru
di kota raja. Asal kau tidak menyebut sajak yang baru dan yang belum pernah ku dengar tentu aku masih
ingat.”
“Biar aku dulu yang mengajukan sebuah sajak untuk diterka oleh Tiong San!” kata Khu Sin yang segera
mendongakkan mukanya yang cakap itu ke atas memandang awan-awan yang terbang lalu dengan
perlahan. Ia mengingat-ingat sebentar, kemudian ia mendeklamasikan sebuah sajak dengan gaya yang
menarik.
Berkawan arak setiap hari di perahuku,
Mendengarkan nyanyi sunyi, dari bawah alang-alang merayu-rayu,
Angin bertiup lalu, angkasa terang tiada awan,
Air dan langit bersih bagai kaca kehijau-hijauan.
Tiong San tersenyum dan mengangguk-angguk. “Kau memilih syair yang tepat, Khu Sin!” ia memuji. “Itulah
sajak yang ditulis oleh Yang Pei pada masa dinasti Sung ketika ia berkunjung ke sini dan menikmati
keindahan pemandangan telaga Tai-hu.”
“Bagus, ternyata ingatanmu masih amat tajam!” Thio Swie memuji Tiong San. “Dan sajak yang baru saja
diucapkan oleh Khu Sin amat baiknya, kalian harus diberi selamat dengan secawan arak!” sambil berkata
demikian Thio Swie yang berwatak gembira lalu menuangkan arak dari guci, memenuhi cawan masingmasing
dan mereka lalu mengangkat cawan dan minum dengan gembira.
“Sekarang giliranku,” kata Thio Swie sambil pasang aksi memikir-mikir dengan mengerutkan jidat bagaikan
seorang ahli sastra beraksi. “Dengarkan baik-baik, Tiong San, karena kau tentu takkan bisa menerka
siapakah pengarang sajak ini.” Thio Swie mengucapkan sajak pilihannya dengan mimik (gerak) muka yang
lucu seakan-akan ia sedang beraksi di depan ribuan penonton di atas panggung.
Tiap hari cawanku penuh arak wangi,
Duduk di taman bunga kecil indah sunyi,
Tiap hari aku bernyanyi dan menari gembira ria.
Lempar jauh-jauh segala susah dan duka,
Yang lalu hanya mimpi kosong belaka.
Lihatlah! Orang-orang besar mati menjadi tanah hampa,
Tidak sibuk lagi memperebutkan kedudukan dan nama!
Karenanya, bersenang-senanglah selagi kau bisa!
“Aah, siapa lagi orangnya kalau bukan Cu Si Cen yang tak kenal susah dan duka? Sudah semenjak kecil
aku mengagumi orang itu!” kata Tiong San dan Thio Swie bertepuk-tepuk tangan dengan gembira lalu
memperlihatkan ibu jarinya.
“Kau memang jempol, Tiong San! Sepintas saja kau sudah dapat menerka siapa penyairnya,” ia memuji
dan menuangkan arak kembali ke dalam cawan masing-masing.
“Memang Cu Si Cen orangnya berwatak suci dan tidak mau memusingkan otaknya dengan segala
keruwetan dunia. Sebagai seorang terpelajar yang gagal memperoleh kedudukannya menjadi tak acuh lagi
dan menyerahkan diri kepada nasib,” kata Khu Sin sambil menarik napas. Kemudian ia memandang tajam
dunia-kangouw.blogspot.com
kepada Tiong San dan tiba-tiba menepuk pundak kawannya itu. “Ah, Tiong San, aku menjadi ingat akan
sesuatu. Kau mempunyai persamaan yang besar sekali dengan perenung itu!”
Tiong San hanya tersenyum pahit dan berkata, “Betapapun juga aku tidak suka kepada orang yang hanya
menyerahkan diri kepada nasib tanpa mau berusaha dan berdaya upaya. Nasib adalah kurnia dari Thian
Yang Maha Agung. Akan tetapi bukanlah kehendak Thian bahwa orang hanya menanti dan menyerahkan
diri kepada nasib belaka, seakan-akan menyerahkan segala pekerjaan kepada Thian yang sudah cukup
memberi berkah berlimpah-limpah! Orang-orang yang tidak mau berikhtiar dan hanya menyerahkan diri
kepada nasib adalah orang-orang malas yang tiada guna!” Tiong San nampak bersungguh-sungguh ketika
mengucapkan kata-kata ini sehingga kedua orang kawannya mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Coba saja kalian pikir!” kata pemuda itu pula yang biarpun masih muda sekali akan tetapi telah pandai
menerawang dan mempergunakan otaknya secara luas. “Thian telah memberi kurnia kepada kita
selengkapnya. Ada sepasang tangan untuk bekerja, sepasang kaki untuk berjalan, lengkap dengan otak
dan perasaan ditambah pertimbangan dan kecerdikan. Akan tetapi kalau kita tidak berikhtiar, tidak
berusaha dan bekerja, tidak mencangkul tanah dan mempergunakan kecerdikan sendiri untuk menanam
gandum dan mengerjakan segala kebutuhan kita, tak mungkin segala macam makanan, pakaian dan
keperluan lain datang sendiri! Thian cukup adil, dan murah hati, akan tetapi tidak seharusnya diperas
habis-habisan!”
Tiba-tiba Thio Swie tertawa bergelak. “Tiong San, kata-katamu ini biarpun tak dapat kubantah
kebenarannya, akan tetapi kenyataannya pada dewasa ini sama sekali menyangkal kebenaranmu! Lihat
saja, orang-orang besar tanpa berusaha, tanpa berikhtiar, hanya dengan duduk ongkang-ongkang dan
goyang-goyang kaki dan mengipas-ngipas tubuh di atas kursi, semua keperluannya datang berlebihlebihan!
Bukankah itu karena nasib mereka yang amat baik? Seperti Wu Yen Kau pernah menulis,
Nasib, kau makhluk penuh senda-gurau
Tak perduli kutuk tangis, tak hiraukan puji syukur!
Kadang-kadang di sini, kadang kala di sana, naik turun,
Mendatangkan senyum menimbulkan air mata!
“Itu bukan karena nasib, kawanku,” kata Tiong San sambil menarik napas. “Akan tetapi karena salahnya
keadaan dan keadaan hidup manusia bukanlah datang dari Thian. Akan tetapi timbul oleh karena
perbuatan manusia sendiri. Kalau pengemudinya tidak pandai memegang kendali, kuda-kudanya akan
berlari liar dan kereta yang ditariknya akan lari pontang panting kacau-balau dan banyak kemungkinan
masuk ke dalam jurang. Demikian pula, kalau pemegang kendali pemerintah kurang bijaksana, maka para
petugas akan dimabok kecurangan dan rakyat akan mengalami hidup sengsara ....”
“Sst! Tiong San, jangan keras-keras! Kita bukan berada di dalam sebuah kamar tertutup di rumah sendiri,”
kata Khu Sin dengan muka khawatir.
“Dindingpun pada waktu ini bertelinga, kau harus bicara dengan hati-hati, kawan!” kata pula Thio Swie
memperingatkan. “Lebih baik kita lanjutkan dengan sajak-sajak kuno yang mengandung banyak filsafat
hidup dari pada membicarakan hal yang bukan menjadi tugas kita untuk memusingkannya. Ingatkah kau
kepada ahli filsafat Cu Si yang pernah berkata,
Siapakah tak ingin biliknya penuh emas?
Siapakah tak ingin gudangnya penuh gandum?
Namun cita-cita akan tetap tinggal cita-cita
Kalau sang nasib tidak membantu pelaksanaannya!
Nasib anak-anak pun tak dapat kau tentukan di muka!
“Ah, Thio Swie, kau harus menjadi seorang pemeluk agama Tao, pergi ke puncak gunung mengasingkan
diri, duduk melamun sepanjang hari dan mengucapkan syair yang dibuat oleh Su Tung Po,
Mengapa mengejar-ngejar nama besar tak berharga,
yang hanya terletak di atas tanduk seekor siput?
Mengapa mencari-cari keuntungan,
yang pada hakekatnya amat kecil hingga dapat ditimbang di atas kepala lalat?
Semua itu tiada gunanya!
Segala sesuatu sudah ditentukan oleh sang nasib
dunia-kangouw.blogspot.com
Siapa beruntung, siapa sengsara!
Ditegur sedemikian oleh Tiong San, Thio Swie hanya tersenyum gembira. “Kalau aku menjadi pertapa,
hanya satu tempat yang akan kupilih menjadi tempat pertapaanku.”
“Di mana?” tanya Khu Sin.
“Di atas tempat tidur yang empuk dengan tilam yang putih bersih dan bantal kepala yang empuk dan
harum!”
“Ah, kau pemalas, itu bukan pertapa namanya, akan tetapi tukang tidur dan mimpi!”
Ketiganya tertawa dan demikianlah ketiga orang muda itu tertawa-tawa gembira, mendeklamasikan sajaksajak
kuno dan bercakap-cakap tentang sastra yang menjadi kesukaan mereka. Keadaan di atas telaga
makin ramai, perahu-perahu bertambah dan suara suling merayu-rayu yang diikuti suara yang-khim untuk
mengiringi suara nyanyian merdu seorang penyanyi wanita, menambah gembira suasana.
Tiba-tiba di tempat perahu-perahu berkumpul terdengar seruan orang-orang sambil tertawa, “Orang gila!
Orang gila!”
Tiong San dan dua orang kawannya memandang dan mereka melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi
kurus yang hampir telanjang karena tubuhnya hanya tertutup oleh sebuah celana yang pendek sampai di
atas lutut sedangkan bajunya hanya menyerupai kutang yang menutup dada dan perut saja.
Laki-laki itu usianya paling sedikit lima puluh tahun, akan tetapi rambutnya yang panjang terurai ke atas
kedua pundaknya, masih nampak hitam. Ia berjalan-jalan di antara perahu-perahu kosong yang belum
mendapat penyewa dan menggunakan sebatang pecut panjang yang dipegang di tangan kirinya untuk
memecuti perahu-perahu itu sambil mulutnya tiada hentinya berkemak-kemik. Orang-orang yang dekat
dengan dia mendengar ia berkata perlahan.
“Ayo berkumpul .... pulang ke kandang .....” seakan-akan perahu-perahu itu adalah sekumpulan kerbau
yang sedang digembala olehnya.
Orang gila yang suka mengamuk amat ditakuti orang. Akan tetapi orang gila yang tidak berbahaya selalu
menjadi ejekan dan bahan godaan orang. Maka melihat betapa orang gila ini tidak berbahaya dan sama
sekali tidak memperdulikan sekian banyak orang yang berada di pantai telaga, ada beberapa orang yang
hendak menggodanya,
“Eh, orang tua, agaknya kau gila kerbau!” kata seorang sambil tertawa-tawa.
“Siapa bilang dia gila!” kata seorang lain. “Dia adalah seorang hartawan yang sedang menggiringkan
seratus ekor kerbau ke kandangnya!”
Seorang nelayan lain yang merasa kurang puas kalau hanya menggoda dengan kata-kata saja, lalu
melangkah maju hendak menarik rambut orang gila yang bergantungan di atas pundak itu. Akan tetapi
sebelum ia tiba dekat, kakinya tergelincir di atas batu dan ia roboh terguling. Celaka baginya, ia terjatuh di
tempat yang basah dengan muka lebih dulu sehingga ketika ia bangun kembali, mukanya penuh lumpur
dan kedua matanya tak dapat melihat.
Ia mengangkat kedua tangan meraba-raba ke sana ke mari sambil mengumpat caci hingga semua orang
tertawa terpingkal-pingkal dan kini orang itulah yang menjadi tontonan. Si gila dengan diam-diam terus
melangkah maju menjauhi tempat ramai, lalu duduk di bawah pohon di bagian kanan telaga, memukulmukulkan
pecutnya pada air telaga seperti orang sedang memancing ikan. Orang-orang tidak
memperhatikan lagi padanya karena tempatnya agak jauh dari tempat ramai.
“Ada-ada saja,” kata Thio Swie yang tadi ikut tertawa bergelak melihat nelayan yang jatuh. “Kawan-kawan,
kipas kita masih kosong, mari kita isi dengan syair yang baik untuk kenang-kenangan!”
Kedua orang kawannya setuju dan mereka mulai sibuk menulis syair di atas kipas yang putih bersih itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalian telah belajar di kota raja, tentu saja aku tak dapat melawan kalian. Baik dalam susunan syairnya
maupun tulisannya,” kata Tiong San.
Akan tetapi Thio Swie dan Khu Sin maklum bahwa tulisan Tiong San bukan main indahnya sehingga guru
mereka sendiri dulu amat kagum memujinya. Sedangkan dalam hal pembuatan syair, pemuda itupun amat
pandai.
Ketika Thio Swie dan Khu Sin sudah selesai membuat syair mereka, Tiong San masih saja duduk melamun
dengan pit yang masih kering di tangan kanan dan kipas terbuka dihadapannya. Ia tak dapat menulis
sesuatu oleh karena pikirannya masih penuh terisi peritiwa orang gila yang barusan terjadi.
Entah mengapa, keadaan orang gila itu menarik perhatiannya. Seluruh keadaan orang gila itu
membayangkan kebebasan yang mutlak baginya. Kalau lain orang bersopan-sopan, memakai pakaian
yang mahal-mahal dan berpantas-pantasan, adalah orang gila itu seakan-akan terlepas dari pada segala
ikatan dunia, bebas lepas seperti burung di udara.
Lihat betapa ia tadi berjalan seorang diri, bagaikan tak melihat sekian banyak orang di sekelilingnya.
Kemudian sekarang duduk dengan enaknya di bawah pohon, bermain-main dengan pecut sendiri. Entah
apa yang sedang dipikirkannya!
Tiong San teringat akan keadaan orang-orang yang menganggap diri sendiri “waras” dan nampak olehnya
betapa banyak sekali kepalsuan dan keburukan terdapat pada orang-orang yang tidak gila ini. Seperti dia
sendiri, ia bersenang selagi hatinya murung, selagi banyak sekali hal mengganggu ketentraman jiwanya,
tentang kegagalan mendapat pangkat, tentang keadaan ibunya yang telah menjadi janda, tentang orangorang
berpangkat yang melakukan korupsi besar-besaran, tentang kesengsaraan rakyat jelata .... ah,
semua ini tentu tidak terpikir atau mengganggu pikiran orang gila itu. Siapakah yang lebih gila, dia sendiri
atau orang gila itu?
“Tiong San, lihat, syairku telah selesai!” kata Thio Swie dengan bangga. Tiong San sadar dari lamunannya
dan terpaksa ia berkata sambil tersenyum,
“Cepat sekali, Thio Swie dan bagus sekali tulisanmu. Coba kau bacakan syairmu itu!”
Juga Khu Sin yang telah selesai menulis syairnya itu minta kepada Thio Swie untuk membacakan syairnya
lebih dulu. Thio Swie lalu membaca syairnya setelah batuk-batuk untuk membuat suaranya terdengar lebih
nyaring dan merdu.
Awan putih berkejaran di angkasa biru,
Bagaikan sekelompok angsa berenang di telaga Tai-hu!
Air telaga bersih bening penuh bayang-bayang nyata
Menarik semua keindahan di atas pada dasarnya
Kita minum arak ditengah-tengah, antara air dan angkasa
Menjadi bingung tak kuasa menerka
Mana langit dan mana telaga?
“Bagus, bagus!” Tiong San dan Khu Sin memuji-muji keindahan sajak itu.
“Coba saja kalian dengarkan syairku, “ kata Khu Sin yang lalu membaca syairnya di atas kipasnya.
Perahu kecil diayun air telaga Tai-hu
Bagaikan bayi dalam timangan ibu,
Menghadapi cawan penuh, dengan kawan-kawan bercengkerama
Menikmati keindahan Tai-hu, raja telaga
Angin berkesiur lembut membawa nyanyian merdu
Kalau surga bukan di sini, di mana adanya aku tak tahu!
“Waah, syairmu itu lebih indah lagi!” kata Thio Swie sambil bertepuk tangan memuji, sedangkan Tiong San
juga mengangguk-angguk memuji.
“Eh, mana syairmu?” tanya Thio Swie sambil melihat kipas Tiong San yang masih kosong. Juga Khu Sin
merasa heran dan menegur sahabatnya itu. Tiong San menjadi merah mukanya karena memang ia belum
menuliskan sehurufpun di atas kipasnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tunggu sebentar, kawan-kawan. Aku mendapatkan bahan baik untuk menuliskan syairku,” kata Tiong San
dan kembali ia teringat akan orang gila yang ketika ia lirik ternyata masih saja duduk melenggut di bawah
pohon sambil memegang gagang cambuknya seperti orang memancing ikan. Ia lalu mulai mencelupkan
pitnya pada tinta hitam dan menulis dengan cepat seakan-akan tanpa dipikir lagi,
Memancing ikan dengan pecut tanpa kaitan
Bersikap seperti Kiang Cu Ce sang budiman
Orang menyebutnya gila, memang dunia penuh orang gila!
Yang waras dianggap gila, yang gila meraja lela
Aku .......
Belum habis Tiong San menuliskan syairnya, tiba-tiba Thio Swie berteriak keras,
“Hai, apa kamu gila ....??” dan baru saja ia berseru demikian untuk menegur sebuah perahu besar yang
datang menubruk perahu kecil mereka. Tubrukan itu sudah terjadi dan hampir saja perahu mereka
terguling! Baiknya perahu mereka yang kecil itu berdasar lebar hingga tidak terguling, hanya terombangambing
dan terdorong sampai jauh.
“Kurang ajar!” seru Khu Sin
“Gila benar!” Thio Swie memaki. Akan tetapi perahu besar itu melewat tanpa memperdulikan mereka dan
anak perahu hanya memandang sebentar sambil tertawa-tawa. Dari atas perahu besar itu terdengar
nyanyian merdu dan melihat bendera yang berkibar di atas perahu, maklumlah ketiga orang muda bahwa
itu adalah perahu seorang pembesar tinggi.
Tubrukan itu terjadi di tempat dekat pantai sebelah kanan di mana orang gila tadi duduk, dan perahu kecil
Tiong San dan kawan-kawannya terdorong ke dekat pantai. Orang gila itu sedang memukul-mukul
pecutnya ke air dan ketika Tiong San memandang, ia terkejut sekali karena ternyata bahwa di atas air
depan orang gila itu, nampak beberapa ekor ikan besar yang mati mengambang.
Orang gila itu menggunakan pecutnya untuk mencambuk ikan-ikan besar yang berenang lewat dan dengan
mudahnya menangkap ikan itu yang dikumpulkan di dekat tempat duduknya. Pada saat tubrukan terjadi,
orang gila itu sedang mencambuk seekor ikan besar. Akan tetapi karena air menjadi bergelombang
sebagai akibat tubrukan kedua perahu, maka ikan itu menjadi terkejut dan dapat menyelam ke bawah
sebelum tubuhnya terpukul cambuk.
Melihat kegagalannya ini, si gila lalu mengangkat mukanya dan melihat betapa Thio Swie dan Khu Sin
mengacung-acungkan tinju sambil marah-marah ke arah perahu besar. Ia tertawa bergelak-gelak.
“Ikan besar selalu mengganggu ikan kecil, juga perahu besar mengganggu perahu kecil,” katanya dengan
suara parau dan yang hanya terdengar oleh Tiong San yang sedang memperhatikannya karena kedua
orang kawannya sedang sibuk memaki-maki perahu besar itu. “Aku lebih suka menangkap ikan besar!”
kata orang gila itu dan dan sekali ia menggenjot tubuhnya, ia telah melompat dengan luar biasa cepatnya
ke atas perahu besar yang jaraknya tidak kurang dari tujuh tombak dari tempat duduknya.
Tiong San terkejut sekali dan kalau ia tidak sedang memperhatikan orang gila itu, tentu ia tidak melihat
gerakan itu karena gerakan si gila memang cepat sekali dan tubuhnya yang melompat hanya nampak
bayangan berkelebat saja. Tahu-tahu di atas perahu besar terdengar suara ribut-ribut dan orang berteriakteriak.
“Orang gila! Orang gila!!” lalu terdengar suara cambuk berdetak-detak seperti orang lagi mencambuki
kerbau yang dihalaunya pulang.
Thio Swie dan Khu Sin yang tidak melihat hal ini mengira bahwa orang-orang di atas perahu besar sedang
memaki mereka, maka Thio Swie menjadi makin marah dan balas memaki.
“Kalian yang gila! Mengapa menabrak perahu kami?” Akan tetapi biarpun ia memaki berulang-ulang, tidak
ada orang yang meladeninya, dan suara di atas perahu besar makin gaduh saja. Mereka bertiga yang
berada di perahu kecil tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi di atas perahu besar yang tinggi itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi dengan hati yang berdebar-debar, Tiong San dapat menduga bahwa si gila itulah yang
mendatangkan keributan.
Memang benar, karena orang-orang di perahu besar tiba-tiba melihat seorang tua yang berpakaian tidak
keruan sedang mengayun-ayunkan cambuknya memberi hadiah kepada para anak buah perahu dengan
satu sabetan. Sabetannya membuat kulit menjadi biru dan terasa sakit sekali. Lagak si gila ini seperti
seorang ayah yang sedang memberi ajaran kepada anak-anaknya, karena sambil tersenyum-senyum dan
mata terputar-putar ia berkata berkali-kali,
“Nah, rasakan! Kalau tidak dicambuk kalian tidak akan kapok!”
Bab-02 : Pembesar Misterius
SETELAH semua orang merasai cambukannya, si gila lalu melompat lagi ke darat. Akan tetapi tubuhnya
menukik ke arah perahu Tiong San dan kawan-kawannya. Tiga orang anak muda itu hanya melihat
bayangan hitam seperti burung garuda menyambar ke arah mereka dan ketika melihat lagi, bayangan itu
telah lenyap dan bersama bayangan itu, ketiga buah kipas mereka juga turut lenyap!
Thio Swie dan Khu Sin saling pandang dengan muka pucat.
“Apakah yang menyambar tadi dan ... dan kipas kita telah digondol pergi!” kata Thio Swie dengan bengong.
“Jangan-jangan setan telaga Tai-hu!” kata Khu Sin dengan bulu tengkuk meremang. “Tiong San, mengapa
kau diam saja?”
Tiong San memang sedang memandang ke arah tempat orang gila tadi duduk memancing ikan dan kini ia
tidak melihat lagi orang itu yang telah pergi entah ke mana dan dengan cara entah bagaimana. Ia
memandang kepada kedua kawannya dan mengangkat pundak.
“Aku sendiri tidak mengerti, bagaimana kipas kita bisa lenyap!” katanya. “Sayang sekali karena syairku tadi
belum selesai!”
“Heran sekali, jangan-jangan benar seperti kata Khu Sin bahwa yang mengganggu kita adalah setan telaga
Tai-hu,” kata Thio Swie.
“Sudahlah, hal ini baiknya jangan kita bicarakan lagi dan jangan memberitahukan kepada siapa pun juga,”
kata Tiong San yang tidak mau menceritakan apa yang telah dilihatnya tadi. “Kalau benar-benar yang
mengambilnya malaikat telaga, siapa tahu syair kalian yang amat bagus itu akan menyenangkan hati Hailiong-
ong (Raja Naga) yang menguasai semua air dan kau berdua diangkat menjadi pembesar!”
“Hush, jangan begitu, Tiong San!” kata Khu Sin dengan wajah pucat karena pemuda ini memang agak
takhyul dan percaya kepada dongeng-dongeng tentang raja naga itu.
Juga Thio Swie yang biasanya suka berkelakar, kini menjadi pucat. “Aku .... aku tidak mau menjadi
pembesar di dasar laut atau telaga! Mari .... mari kita pulang saja. Lebih baik aku pergi tidur di kamarku dan
kalau sudah bangun menganggap semua ini sebagai mimpi.”
Pada saat itu, perahu besar tadi di dayung menuju ke arah mereka dan dari atas perahu kelihatan kepala
orang menjenguk ke bawah memandang kepada mereka.
“Eh, eh ... apakah mereka hendak menubruk kita lagi? Jangan-jangan perahu kita akan terbalik nanti, kata
Khu Sin dengan muka marah.
“Kalau kita tenggelam, barangkali kita memang sudah akan diterima menjadi pembesar air!” Thio Swie
mulai berkelakar lagi setelah rasa kagetnya mereda.
“Hush, diam. Mereka rupanya hendak bicara dengan kita,” kata Tiong San.
Benar saja, perahu itu berhenti dekat perahu mereka dan orang yang menjenguk itu berpakaian seperti
seorang pelayan pembesar, yang segera berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apakah sam-wi kongcu yang perahunya tertubruk tadi?” tanyanya.
“Benar, akan tetapi kami tidak pusingkan hal kecil itu,” kata Tiong San yang tidak mau berurusan dengan
pembesar.
“Sam-wi, kalian dipersilahkan naik karena Ong-taijin (pembesar Ong) hendak bertemu dengan kalian.”
Tanpa menanti jawaban ketiga orang muda yang diundang itu, orang-orang di atas perahu besar segera
menurunkan anak tangga terbuat dari kain yang menggantung turun sampai ke perahu kecil.
“Bagaimana ini?” Thio Swie berkata kepada kedua orang kawannya. “Apalagi yang akan terjadi dengan
kita?”
“Naiklah saja, untuk apa ragu-ragu? Kita tidak mempunyai kesalahan sesuatu,” kata Khu Sin dan mereka
lalu naik ke perahu besar melalui anak tangga itu. Akan tetapi, Thio Swie dan Khu Sin tidak mau naik lebih
dulu dan memaksa Tiong San menjadi pelopor.
Mereka disambut oleh pelayan tadi yang dengan sikap hormat mengantar mereka masuk ke dalam ruang
kamar perahu yang cukup luas dan yang berbentuk rumah indah di atas perahu itu, melalui sebuah pintu
cat biru.
Ketika mereka melangkahi ambang pintu, mereka tercengang melihat betapa keadaan dalam perahu itu
amat mewah dan indah, tidak kalah dengan ruang dalam sebuah gedung besar. Terdapat tiga buah meja
besar di situ yang penuh dengan dengan hidangan serba mewah dan lezat. Meja terbesar mempunyai
beberapa bangku terukir dan di atas sebuah bangku duduk seorang laki-laki berpakaian mewah.
Pada meja yang berada di ujung, duduk tiga orang wanita, sedangkan pada meja terkecil duduk pula
beberapa orang wanita yang ternyata adalah penyanyi-penyanyi yang bermuka sebagai kedok karena kulit
muka mereka tebal tertutup bedak dan yanci (bedak untuk memerahi muka).
Laki-laki yang duduk menghadapi meja besar itu bertubuh tinggi besar dan dari pakaiannya ternyata bahwa
ia tentu seorang berpangkat tinggi. Wajahnya angker dan nampak galak sedangkan sikapnya angkuh
sekali. Ketika para pemuda itu masuk, ia tidak menyambutnya dengan berdiri, hanya tetap duduk sambil
mengangkat tangan memberi tanda agar supaya pelayan yang menyambut tadi keluar lagi.
Tiong San dan kawan-kawannya melirik ke arah meja kedua. Di situ duduk menghadapi meja tiga orang
wanita. Seorang di antara mereka sudah tua, agaknya isteri pembesar ini, yang seorang lagi masih muda
dan cantik, sedangkan orang ketiga adalah seorang gadis yang mempunyai kecantikan seperti seorang
bidadari dari kahyangan.
Sukar melukiskan gadis ini yang berpakaian mewah, akan tetapi memakai bedak yang tipis sekali. Kalau
Thio Swie di suruh membuat syair memuji kecantikan gadis itu, tentu ia akan menyamakan gadis itu
dengan burung hong, raja segala burung, dan kalau kembang ia adalah kembang seruni, kalau pohon tentu
pohon liu (cemara) yang tidak saja indah, akan tetapi juga mempunyai batang yang lemas hingga dapat
menari-nari kalau tertiup angin.
Pembesar itu memandang kepada ketiga pemuda itu dengan matanya yang lebar dan ia nampak senang
melihat tiga orang muda yang sopan santun dan tampan itu.
Melihat bahwa orang yang mengundang mereka adalah seorang pembesar tinggi, Thio Swie yang telah
sering bertemu dengan pembesar-pembesar di kota raja lalu menjura dengan amat hormatnya, di turut oleh
Khu Sin dan Tiong San. Pembesar itu tertawa senang dan berkata,
“Ah, anak-anak muda, duduklah di sini, di mejaku ini. Aku girang melihat bahwa yang ditubruk perahunya
adalah kalian orang-orang muda terpelajar. Harap kalian bertiga suka memaafkan orang-orangku yang
menubruk perahumu tanpa sengaja dan mendatangkan banyak kekagetan.”
“Tidak apa, taijin. Kami bertiga tidak mendapat kecelakaan sesuatu,” jawab Tiong San dan mereka bertiga
lalu duduk di depan pembesar itu setelah sekali lagi dipersilakan. Thio Swie menjadi girang sekali ketika
mendapat kenyataan bahwa dengan duduk menghadapi pembesar itu, maka mereka bertiga secara
dunia-kangouw.blogspot.com
langsung dapat melihat meja di mana duduk gadis cantik itu yang kebetulan duduknya menghadap ke arah
mereka pula.
Thio Swie dan Khu Sin hampir tak dapat menahan keinginan hati mereka untuk sering-sering melirik ke
arah gadis cantik itu. Hanya Tiong San yang selalu tunduk karena ia memang sama sekali tak pernah
merasa tertarik kepada keindahan wajah dan bentuk tubuh seorang wanita.
“Untuk menghilangkan kaget, kalian harus minum arak wangi yang sengaja kudatangkan dari Hok-ciu,”
kata pembesar itu dan ia lalu berseru ke arah pintu ruangan itu, “Hei, tambahkan arak dan daging!”
Kemudian ia lalu menoleh kepada gadis cantik tadi dan berkata,
“Siu Eng, suruh mereka menyanyi lagi!”
Terdengar suara gadis itu memberi perintah kepada rombongan penyanyi dengan suara yang amat merdu
dan tak lama kemudian terdengar suara nyanyian diiringi suara yang-khim. Biarpun muka para penyanyi itu
menyebalkan pemandangan mata Thio Swie dan kawan-kawannya, akan tetapi mereka harus mengakui
bahwa suara para penyanyi itu cukup merdu.
Setelah seorang pelayan membawa masuk seguci arak wangi dan menuang isinya ke dalam cawan-cawan
yang telah disediakan, pembesar itu lalu berkata, “Ayo, kita minum untuk menghilangkan kekagetan tadi
sambil mendengar nyanyian merdu!”
Biarpun merasa sungkan-sungkan, akan tetapi ketiga orang muda itu lalu minum arak yang ternyata amat
wangi dan enak.
“Anak-anak muda, kalian siapakah, siapa namamu dan di mana kalian tinggal? Setelah bertemu, ada
baiknya aku mengetahui nama kalian. Siapa tahu kelak dapat bertemu lagi,” kata pembesar itu.
“Saya adalah she Lie, bernama Tiong San, dan kedua kawanku ini bernama Khu Sin dan Thio Swie. Kami
bertiga dari dusun Kui-ma-chung tidak jauh dari telaga Tai-hu. Kawan-kawanku ini yang mendapat hari libur
dan baru kembali dari kota raja bersama saya sendiri sengaja datang menghibur diri di tempat ini. Sungguh
beruntung dapat bertemu dengan taijin yang ramah tamah dan mulia.”
Pembesar itu amat senang mendengar sucapan Tiong San yang sopan santun. “Bagus, bagus, kalian
orang-orang muda memang harus belajar dengan rajin agar kelak dapat membantu pemerintah menghatur
negara.” Kemudian suaranya berubah ketika ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan tiba-tiba,
“Apakah kalian kenal dengan orang gila yang mengacau tadi? Siapakah dia dan di mana tempat
tinggalnya?” Sambil berkata demikian, ia memandang tajam dan matanya menatap wajah ketiga orang
pemuda itu berganti-ganti dengan sinar mata menyelidik.
“Orang gila yang manakah, taijin?” Thio Swie balas bertanya dengan heran sehingga ia membuka matanya
lebar-lebar. “Sudah sering benar saya mendengar adanya orang-orang gila pada hari ini! Pertama-tama
orang gila yang mencambuki perahu-perahu di pantai tadi, dan juga dalam syairnya .....”
“Itulah yang kumaksudkan!” pembesar itu memotong ucapan Thio Swie yang tadinya hendak menceritakan
bahwa di dalam syair Tiong San juga disebut-sebut adanya orang gila! “Pengemis gila yang membawa
cambuk itu! Siapakah dia dan di mana tinggalnya?”
“Saya tidak tahu, taijin. Selama hidup baru tadi saja kami melihat dia di pantai telaga.”
Pembesar itu nampak kecewa dan ia berkata kepada Tiong San dan kawan-kawan, “Coba ceritakan apa
yang kalian lihat setelah perahu kalian tertumbuk oleh perahuku tadi!”
Biarpun hatinya merasa heran, akan tetapi Tiong San dapat menduga bahwa pembesar ini tentu sedang
menyelidiki orang gila tadi dan menyangka bahwa mereka bertiga mengetahui hal ihwalnya, maka ia cepat
menginjak kaki kedua kawannya dan jawabnya,
“Sesungguhnya, taijin, tadi kami hanya melihat seorang gila berkeliaran di pantai dan digoda oleh para
nelayan. Kemudian kami melihat ia duduk melenggut di bawah pohon sana dan sesudah itu kami tidak
melihatnya lagi. Setelah perahu kami tertumbuk oleh perahu ini kami tidak melihat sesuatu, hanya
dunia-kangouw.blogspot.com
mendengar teriakan-teriakan di atas perahu ini. Akan tetapi tidak terlihat apa yang terjadi dari perahu kami
yang kecil. Hanya itulah sesungguhnya yang kami ketahui, taijin.”
“Sudahlah, sudahlah!” kata pembesar itu dengan muka berubah merah. “Apapun juga yang akan terjadi,
aku harus dapat menangkap si gila kurang ajar itu! Kalian boleh turun lagi dan aku mengucapkan terima
kasih atas segala keteranganmu. Kalau kalian perlu sesuatu di kota raja, mungkin aku dapat membantumu
asal saja kau suka mencari rumahku.”
Tiba-tiba Thio Swie mendapat pikiran bagus. Siapa tahu kalau-kalau pembesar ini dapat menolongnya
mendapatkan pangkat? Ia lalu menjura dan bertanya, “Maaf, taijin, akan tetapi di kota raja terdapat banyak
sekali gedung-gedung besar. Yang manakah milik taijin?”
Pembesar itu tertawa. “Asal kau tanya di mana tempat tinggal pangeran Lu Goan Ong, siapakah yang
takkan kenal namaku?”
Thio Swie membuka mata lebar-lebar dan ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu, diturut
oleh Khu Sin yang juga amat terkejut. Akan tetapi, Tiong San hanya menjura saja dan ia tidak melihat
alasan yang cukup kuat untuk ikut-ikutan berlutut.
“Maafkan hamba yang kurang hormat kepada taijin karena tidak tahu,” kata Thio Swie dan Khu Sin.
“Bangunlah, bangunlah!” kata pangeran itu sambil mengerling tajam ke arah Tiong San yang masih berdiri.
Setelah kedua orang pemuda itu bangun, pangeran Lu Goan Ong lalu bertanya kepada Tiong San,
“Anak muda, siapakah ayahmu?”
“Ayahku telah meninggal dunia, taijin,” jawab Tiong San sederhana. Akan tetapi Thio Swie yang merasa
girang bertemu dengan pangeran itu, segera menyambung, “Taijin, kawan hamba Tiong San ini adalah
putera tunggal mendiang Lie-tihu yang menjabat pangkat tihu di kota Liong-shia, sedangkan kawan hamba
Khu Sin ini adalah anak kepala kampung hamba, dan hamba sendiri adalah anak seorang guru sastra di
kampung hamba pula. Hamba bertiga berasal sekampung, taijin, yaitu kampung Kui-ma-chung.”
Tentu saja segala keterangan ini hanya seperti angin lalu saja terhadap telinga pangeran Lu Goan Ong,
maka ia hanya menjawab, “Hm ......hmm ....” dan memberi tanda kepada pelayan untuk mengantar mereka
keluar.
Setelah tiba di perahu sendiri dan mendayung perahu itu ke tepi telaga, Tiong San mengomel, “Kalian
berlaku seolah-olah dia itu raja sendiri. Apakah sikap menjilat itu kalian pelajari pula di kota raja?”
Dengan muka sungguh-sungguh Thio Swie berkata, “Tiong San, kau tidak tahu, pangeran Lu Goan Ong
adalah seorang yang amat tinggi kedudukannya. Kalau tidak salah ia adalah keluarga kaisar sendiri dan
menjadi seorang di antara para penasehat kaisar! Ia kaya raya dan amat berpengaruh sehingga semua
pembesar di kota raja tunduk kepadanya! Tentu saja kita harus menghormatinya sebagai seorang
pembesar tinggi.”
Kini tahulah Tiong San, maka ia berkata, “Hm, kalau begitu soalnya, pantas saja kalian demikian
menghormatinya, sungguhpun bagiku yang tidak membutuhkan pertolongannya tak perlu aku harus
melakukan penghormatan sedemikian rupa.”
Ketiga orang pemuda itu kembali ke kampung mereka dan di sepanjang perjalanan, Thio Swie dan Khu Sin
tiada hentinya membicarakan pangeran besar itu, dan menyatakan pengharapannya mereka untuk bisa
mendapat pertolongan kelak di kota raja.
“Gadis tadi amat cantik jelita seperti bidadari,” kata Khu Sin setelah mereka habis membicarakan pangeran
itu sendiri.
“Cocok!” kata Thio Swie dengan hati puas. “Memang ia bidadari dan namanya juga manis, Siu Eng ... ah,
siapa tahu kalau-kalau kelak aku dapat bertemu pula padanya! Ia cantik sekali, dan biarpun mukanya tidak
dibedaki, akan tetapi sepasang pipinya seperti bunga bouwtan!”
“Berbeda sekali dengan para penyanyi yang berbedak tebal!” kata Khu Sin.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Hih! Muak dan geli aku melihat para penyanyi itu!” kata Thio Swie sambil meludah. “Bedak mereka itu
mungkin tebalnya ada setengah dim! Seperti topeng setan!”
Kedua pemuda itu tertawa geli, akan tetapi Tiong San tidak ikut membicarakan keadaan pangeran dan
gadis itu karena pikirannya penuh dengan bayangan orang gila yang aneh tadi. Siapakah dia? Dan
mengapa kepandaiannya demikian hebat? Manusiakah dia atau dewa telaga Tai-hu? Dan yang paling
mengherankan hatinya dan membuatnya penasaran adalah perampasan kipas-kipas yang ia yakin
dilakukan pula oleh orang gila! Apakah kehendaknya maka sampai mengambil kipas-kipas bersyair yang
tidak berharga itu?
Setibanya di rumah, ketiga orang pemuda itu tenggelam dalam lamunan dan masing-masing terserang
penyakit rindu yang berbeda-beda. Tiong San ingin sekali bertemu kembali dengan orang gila yang amat
menarik hatinya itu. Khu Sin ingin sekali dapat menghadap pangeran Lu Goan Ong karena rindu akan
pangkat dan kedudukan tinggi. Sedangkan Thio Swie biarpun juga mengharapkan pangkat, namun lebih
condong hatinya untuk bertemu dengan Siu Eng, gadis yang telah menawan hatinya itu! Ternyata bahwa
pengalaman yang mereka alami di telaga Tai-hu itu berkesan hebat dalam hati mereka dan mendatangkan
perubahan yang hebat sekali kepada hidup mereka selanjutnya.
********************
Tiga hari kemudian, Khu Sin dan Thio Swie datang ke rumah Tiong San untuk berpamit karena mereka
berdua hendak kembali ke kota raja dan melanjutkan pelajaran mereka. Kebetulan sekali terdapat
serombongan piauwsu (pengawal dan pengantar barang-barang dari satu ke lain tempat, semacam usaha
ekspedisi) yang datang dari So-cou dan hendak mengantarkan barang-barang dua gerobak banyaknya ke
kota raja.
Pada masa itu, melakukan perjalan jauh tidaklah semudah sekarang oleh karena selain tidak ada
kendaraan-kendaraan baik dan juga tidak terdapat jalan-jalan raya yang cukup sempurna. Juga perjalanan
itu melalui hutan-hutan liar yang banyak terdapat binatang-binatang buas dan perampok-perampok yang
lebih buas lagi dari pada binatang hutan!
Oleh karena itu, Khu Sin dan Thio Swie merasa girang sekali melihat adanya rombongan piauwsu dari Pekeng-
piauwkiok (Perusahaan ekspedisi Garuda Putih) lewat di dusun Kui-ma-chung, dan mereka lalu
mempergunakan kesempatan itu untuk “membonceng” atau ikut minta perlindungan dengan membayar
sedikit biaya. Memang, piauwkiok-piauwkiok ini dibuka oleh orang-orang gagah yang memiliki kepandaian
tinggi untuk mengantar barang-barang berharga dan mengawalnya serta melindunginya dari gangguan
perampok-perampok di jalan. Dan Pek-eng-piauwkiok telah mempunyai pengaruh besar sekali oleh karena
yang menjadi kepala atau pemimpinnya adalah seorang gagah perkasa bernama Souw Cit yang berjuluk
Pek-eng atau Garuda Putih.
Souw Cit mempergunakan pengaruh namanya untuk memberi nama kepada perusahaannya. Dan tiap kali
orang-orang atau murid-muridnya mengantar barang berharga, asal pada gerobak-gerobak itu ditancapi
bendera yang dilukis dengan gambar seekor garuda putih sedang terbang mengembangkan sayap dan
mengulur kedua cakarnya, kaum rimba hijau (perampok) takkan berani mengganggunya.
“Tiong San,” kata Thio Swie. “Alangkah senangnya kalau kau bisa ikut dengan kami dan tinggal bersama di
kota raja!”
“Benar,” menyambung Khu Sin. “Tanpa adanya kau di sana, seakan-akan kami merasa kurang lengkap!”
Tiong San tersenyum dan menarik napas panjang. “Terima kasih atas kebaikan hati kalian. Percayalah, tak
ada keinginan yang lebih besar dalam hatiku selain dapat bersama dengan kalian, kawan-kawanku yang
baik. Akan tetapi, selain aku tidak punya biaya untuk melanjutkan pelajaran, juga aku tidak ada nafsu lagi.
Entah mengapa, kawan-kawanku, akan tetapi aku mempunyai perasaan seakan-akan percuma saja aku
mempelajari semua kepandaian menulis dan membaca selama ini! Harap kalian jangan meniru sikapku
yang tak baik ini, karena kalian mempunyai harapan besar di kemudian hari. Belajarlah rajin-rajin, agar
kalian dapat mencapai cita-cita, menjadi pembesar-pembesar yang baik dan bijaksana karena dengan
demikian kalian akan berjasa bagi rakyat banyak.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Thio Swie merasa terharu dan memegang pundak kawannya itu. “Akan tetapi, kau sendiri, Tiong San?
Apakah yang hendak kau lakukan?”
Kembali Tiong San tersenyum dan matanya bersinar-sinar ganjil.
“Aku? Entahlah, aku hanya seorang kutu buku kecil yang tidak ada gunanya. Mungkin aku akan menukar
pitku dengan sebatang pacul, siapa tahu?”
“Apa?” seru Khu Sin sambil membelalakkan mata. “Kau hendak menjadi petani? Kau yang pandai bersyair
dan amat indah tulisanmu ini hendak menjadi petani dan bekerja di ladang berlumpur-lumpur kotor?”
“Picik sekali pandanganmu ini, Khu Sin,” Tiong San mencela kawannya sambil memegang pundaknya.
“Siapa bilang petani kotor? Kalau kau mempunyai pendirian begitu, baiknya mulai sekarang, tiap kali kau
makan, kau boleh mengingat bahwa barang yang kau masukkan ke mulut dan perut dan yang menjaga
sehingga hidupmu dapat berlangsung terus, tak lain adalah hasil tetesan keringat para petani! Bagiku, lebih
baik menjadi seorang pekerja kasar dengan perut kenyang dari pada menjadi seorang kutu buku yang
kempis perutnya. Dan pula, aku harus membantu pekerjaan ibuku!”
Ketiga orang kawan karib semenjak kanak-anak itu bercakap-cakap tiada habisnya dan agaknya akan
makin panjang dan hangat percakapan mereka kalau tidak datang rombongan piauwsu yang memberi tahu
kepada Khu Sin dan Thio Swie bahwa saat untuk berangkat sudah tiba. Mereka berdua lalu memeluk
Tiong San dan mengucapkan selamat berpisah dengan hangat. Juga mereka masuk ke dalam rumah dan
menjura di depan ibu Tiong San, memberi hormat dan minta diri. Nyonya janda Lie memberi doa restu
kepada dua orang pemuda kawan baik puteranya itu.
Setelah rombongan itu berangkat, Tiong San berdiri termenung memandang sampai rombongan itu lenyap
dalam sebuah tikungan jalan, Masih terdengar suara kaki kuda yang menarik tiga buah gerobak itu dan
suara para piauwsu yang bersenda gurau sepanjang jalan. Untuk sesaat timbul rasa iri dan keinginan untuk
ikut ke kota raja dalam hati Tiong San sehingga ia merasa betapa sedu sedan naik dari dada menuju
kerongkongannya. Akan tetapi ia menindas perasaan itu dan mulutnya bergerak-gerak.
“Semoga kalian bisa menjadi pembesar-pembesar yang baik dan bijaksana .......” Kemudian ia lalu masuk
ke dalam rumah. Ibunya yang sedang menyulam lalu menunda pekerjaannya dan memandang kepada
puteranya dengan penuh kasih sayang.
“Tiong San, kalau kau dapat ikut pergi dengan kawan-kawanmu itu, untuk belajar dan menempuh ujian di
kota raja, biarpun hatiku merasa berat berpisah dengan kau, akan tetapi perasaan itu tidak ada artinya
apabila dibandingkan dengan kegiranganku karena harapan melihat kau pulang dengan menggondol
sebuah pangkat!” Nyonya ini lalu menarik nafas panjang dan matanya membayangkan rasa kasihan yang
besar terhadap puteranya yang tercinta.
“Ah ibu, kalau aku pergi, bukankah kau menjadi sendirian di rumah ini dan merasa kesunyian!” kata Tiong
San yang lalu duduk di dekat kaki ibunya.
Nyonya itu meraba kepala puteranya dan membelai rambutnya.
“Anakku, seorang ibu di manapun juga akan mendapatkan kebahagiaan dalam penderitaan dan
pengorbanan perasaan demi keberuntungan anaknya! Kalau saja kau dapat melanjutkan pelajaranmu, ah
... alangkah akan senangnya hatiku .....” dan nyonya ini cepat-cepat menundukkan mukanya dan
melanjutkan sulamannya agar air mata yang telah memenuhi pelupuk matanya itu tidak menetes turun.
Akan tetapi, keharuan hatinya mendorong airmata itu keluar hingga dua titik air bening jatuh ke atas kain
yang sedang disulamnya, kain sulaman yang menjadi pekerjaannya sehari-hari di samping pekerjaan
menenun untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
Tiong San memeluk ibunya. “Ibu, jangan kau bersedih karena anakmu tidak dapat melanjutkan pelajaran.
Terus terang saja, ibu. Akupun tidak ingin untuk melanjutkan pelajaran hanya untuk memperebutkan
pangkat. Aku tidak ingin menjadi pembesar!”
Ibunya cepat menengok. Inilah kata-kata baru baginya. Cita-citanya sejak dulu, juga cita-cita mendiang
suaminya, adalah melihat putera tunggal ini menjadi seorang pembesar yang terhormat dan bijaksana
dunia-kangouw.blogspot.com
seperti ayahnya. Akan tetapi pengakuan tidak suka menjadi pembesar ini benar-benar mengagetkan
hatinya.
“Apa katamu, nak? Kau tidak suka menjadi pembesar? Mengapa?”
“Aku tidak suka menjadi pembesar, terutama pada dewasa ini, ibu. Hal ini disebabkan oleh rasa sebal dan
benciku melihat betapa sebagian banyak pembesar negeri menjalankan kejahatan di balik kedok
kedudukan mereka! Tentu ibu masih teringat betapa aku yang telah lulus ujian tak dapat menerima pangkat
oleh karena aku tidak punya uang untuk menyogok! Keadaan di kota raja kotor sekali. Hampir semua
pembesar hanya mementingkan kesenangan diri dan menumpuk harta tanpa memperdulikan halal atau
tidaknya harta yang mereka tumpuk untuk keperluan diri sendiri itu! Aku tidak sudi menjadi pembesar
macam itu, ibu!”
Ibunya menarik napas panjang. “Hatimu sama benar dengan ayahmu. Mendiang ayahmu biarpun menjadi
seorang pembesar akan tetapi hidup secara jujur, tidak memeras rakyat bahkan membuang-buang uang
untuk orang miskin. Akan tetapi, anakku, selain kedudukan tinggi dan pangkat, pekerjaan apalagi yang
dapat mengangkat derajat dan nama kita dan dapat mendatangkan penghasilan yang cukup untuk kita
makan dan pakai?”
“Aku tidak inginkan derajat dan nama besar itu, karena sebagaimana ucapan orang-orang cerdik pandai di
jaman dahulu, nama besar dan derajat hanya akan membuat kita berada di tempat yang amat tinggi hingga
kalau sekali jatuh, akan terasa sekali sakitnya! Lebih baik aku menjadi seorang petani saja, ibu!”
“Petani?”
Tiong San memandang muka ibunya dengan sedih. “Ah, ibu, apakah ibu juga memandang rendah
pekerjaan petani dan tidak dapat menghargai jasa-jasa mereka?”
Nyonya Lie menaruh kain sulamannya di atas meja dan memeluk puteranya. “Bukan demikian anakku.
Pekerjaan itu sendiri tidak apa-apa, karena tidak ada pekerjaan yang rendah. Akan tetapi, ada dua hal
yang amat kusesalkan apabila kau hanya menerima menjadi seorang petani biasa. Pertama, kau semenjak
kecil telah mempelajari ilmu kepandaian, membuang-buang waktu penuh ketekunan, dan membuangbuang
uang yang tidak sedikit jumlahnya, sehingga tidak seharusnya apabila segala pengorbanan itu
sekarang tidak menghasilkan sesuatu dan kau hanya ingin menjadi petani biasa! Kedua, dengan menjadi
petani, maka kau berarti tidak dapat mempergunakan segala kepandaianmu yang telah kau pelajari
bertahun-tahun itu untuk bekerja guna kepentingan umum! Dua hal inilah yang akan membuat aku
menyesal selama hidupku!” Kemudian nyonya itu tak dapat menahan lagi turunnya air matanya.
Tiong San dapat menyelami hati ibunya. Sebagai seorang wanita biasa, sudah tentu ibunya rindu sekali
melihat ia memakai pakaian kebesaran, dihormati orang dan menduduki pangkat tinggi. Hati ibunya akan
menjadi besar dan bangga melihat puteranya menjadi orang mulia. Kalau ia menjadi petani, maka setidaktidaknya
ibunya akan merasa malu dan kecewa.
“Ibu!” katanya kemudian dengan suara menghibur. “Percayalah bahwa anakmu akan berusaha sekuat
tenaga untuk melakukan perbuatan yang akan menjunjung tinggi nama keluarga kita! Akan tetapi tidak
sebagai pembesar, karena kepandaian kesusasteraan pada dewasa ini hanya digunakan untuk mencelakai
sesamanya, untuk merusak, bukan untuk melakukan kebaikan. Kalau aku melakukan sesuatu demi
kebaikan orang banyak, maka pekerjaan yang kulakukan itu bukan berdasarkan kepandaianku menulis!”
“Habis, selain menulis dan membaca, kau mempunyai kepandaian apalagi?” tanya ibunya yang mulai
merasa jengkel.
Tiong San menundukkan kepalanya dan terbayanglah orang gila yang dijumpainya di telaga Tai-hu
kemaren dulu itu. Ah, pikirnya. Kalau saja aku mempunyai kepandaian selihai orang gila itu, tentu aku
dapat melakukan perbuatan mulia yang akan lebih menggemparkan dari pada kepandaian kesasteraan
yang kumiliki! Ia menarik napas panjang berulang-ulang tanpa dapat menjawab pertanyaan ibunya,
sehingga orang tua itu merasa kasihan melihatnya.
“Sudahlah, Tiong San. Kau beristirahatlah di kamarmu dan jangan terlalu banyak memikirkan hal ini. Kita
percaya saja kepada Thian pada suatu waktu akan datang saat baik bagi kita. Aku hendak meneruskan
dunia-kangouw.blogspot.com
pekerjaanku ini, karena aku sudah berjanji kepada orang yang memesannya untuk menyelesaikan dalam
hari ini juga.”
Tiong San lalu bangkit berdiri dan dengan kedua kaki lemas ia masuk ke dalam kamarnya. Ia
membantingkan dirinya di atas pembaringan sambil mengeluh. Akan tetapi ia segera melompat bangun lagi
karena terkejut ketika melihat sebuah kipas di atas meja kecil dalam kamarnya. Karena kipas itu adalah
kipasnya yang lenyap dari atas perahu di telaga Tai-hu kemaren dulu itu!
Dengan tangan gemetar pemuda itu mengambil kipas itu dan mengamat-amatinya. Dan ternyata bahwa
syairnya yang belum habis di tulis itu kini telah ditambah dengan tulisan orang lain yang gayanya aneh dan
bengkak-bengkok seperti ular! Ketika ia menulis syairnya dulu, pada baris kelima baru ia tulis “aku ....” dan
terhenti karena tabrakan perahu. Akan tetapi sekarang huruf “aku” itu telah ada sambungannya yang
berbunyi,
Aku juga gila!
Dan alangkah baiknya gila bertemu gila
Pada malam bulan purnama di pinggir telaga!
Tiong San membaca syairnya berulang-ulang dengan perasaan tidak keruan karena heran dan juga
kagum. Ia heran akan maksud orang gila itu, dan kagum melihat betapa tulisan itu, biarpun tak dapat
disebut indah, akan tetapi gayanya benar-benar aneh dan dari bentuk coretan yang lenggak-lenggok
seperti ular itu dapat diketahui betapa huruf-huruf itu mengandung tenaga yang kuat sekali sehingga tiap
coretan merupakan seekor ular yang seperti hidup bergerak-gerak dan mengerikan!
Ia membaca sekali lagi sajaknya yang kini selengkapnya berbunyi,
Memancing ikat dengan pecut, tanpa kaitan
Bersikap seperti Kiang Cu Ce, sang budiman
Orang menyebut gila, memang dunia penuh orang gila!
Yang waras dianggap gila, yang gila merajalela!
Aku juga gila!
Dan alangkah baiknya gila bertemu gila
Pada malam bulan purnama di pinggir telaga!
Alangkah aneh dan ganjilnya bunyi syair itu, dan hanya seorang yang tidak waras otaknya saja dapat
menulis syair seperti itu. Apakah maksud orang gila itu menulis bahwa akan baik sekali kalau gila bertemu
gila pada malam bulan purnama di pinggir telaga? Dan bagaimana ia bisa menaruh kipas itu di dalam
kamarnya tanpa diketahui orang lain? Benar-benar seorang gila yang amat aneh.
Sampai malam Tiong San duduk termenung di dalam kamarnya dan ketika ibunya mengajaknya makan
malam, ia tidak banyak bicara hingga membuat ibunya merasa gelisah sekali.. Sehabis makan, pemuda itu
tanpa menukar pakaiannya lalu kembali ke dalam kamar lagi dan duduk termenung sambil membuka
jendela kamarnya. Tiba-tiba tanpa disengaja ia melihat ke angkasa dan mukanya bercahaya terang ketika
ia melihat bulan yang hampir tersenyum di balik awan.
Dan cepat Tiong San mengeluarkan kipas yang sejak tadi berada di sakunya dan membaca syair itu sekali
lagi. Ah, tentu ada maksudnya si gila menulis syair itu, pikirnya. Bulan purnama akan muncul dua tiga hari
lagi. Mengapa aku tidak pergi ke sana dan melihat-lihat kalau-kalau ia berada di pinggir telaga? Ia telah
menyebutku gila dan mengaku bahwa iapun gila, dengan kata-katanya si gila bertemu si gila pada malam
terang bulan purnama di pinggir telaga, Bukankah itu suatu ajakan untuk mengadakan pertemuan di pinggir
telaga Tai-hu?
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tiong San menjumpai ibunya dan berkata, “Ibu, ijinkanlah aku
pergi sekali lagi ke Tai-hu.”
Ibunya merasa heran. “Bukankah baru saja kau kembali dari sana?”
“Benar, ibu! Akan tetapi aku ingin sekali menghibur diri sekali lagi di sana. Siapa tahu perjalananku kali ini
akan mendatangkan perubahan baik seperti yang ibu harapkan kemaren.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ibunya menggelengkan kepala. “Anakku, kau terlalu banyak memikirkan masa datang yang suram. Baiklah,
kauhiburlah hatimu di telaga Tai-hu dan mudah-mudahanan Thian Yang Maha Agung membuka jalan baik
bagimu.”
Dengan tergesa-gesa Tiong San lalu berangkat ke Tai-hu. Malam hari itu, ketika semua pelancong telah
meninggalkan telaga dan bahkan para pemilik perahu kembali ke rumah masing-masing sehingga telaga
itu sunyi senyap, Tiong San tidak meninggalkan tempatnya dan masih duduk melamun di bawah pohon di
mana si gila itu dahulu menangkap ikan.
Bab-03 : Iblis Tua Langit Bumi
IA duduk terus menanti dengan penuh harapan sambil menikmati keindahan pemandangan di malam itu.
Ternyata bahwa pada malam hari, ditimpa cahaya bulan yang hampir bundar, pemandangan di situ benarbenar
merupakan soranga. Cahaya bulan membuat air telaga berwarna kuning keemasan dan bulan
sendiri tenggelam di dasar telaga, bergoyang-goyang kalau ada angin meniup permukaan air. Pohonpohon
nampak kebiru-biruan dan bunga nampak kekuning-kuningan, dan semua itu diliputi cahaya
kemerahan dari sinar bulan yang amat menyejukkan hati.
Akan tetapi, hawa udara malam amat dinginnya sehingga Tiong San menggigil kedinginan. Betapapun
juga, pemuda itu cukup memiliki kekerasan hati untuk diam dan tidak meninggalkan tempatnya semalam
suntuk. Hatinya amat kecewa oleh karena pada malam hari itu ia tidak melihat bayangan seorangpun di
pinggir telaga. Ia mulai ragu-ragu.
Dan ketika fajar mulai menyingsing, matahari menggantikan tugas bulan menerangi permukaan telaga Taihu
dan para pemilik perahu berangsur-angsur muncul di pinggir telaga. Kekecewaan hati Tiong San
membuat ia merasa lemas sekali. Ia tidak bisa tidur semalam penuh dan kini merasa mengantuk sekali.
Ketika ia masuk ke dalam kelompok pohon dan memilih tempat yang sunyi agak jauh dari telaga, ia lalu
membaringkan diri di bawah sebatang pohon dan segera tertidur nyenyak saking lelahnya!
Ketika ia terjaga, hari sudah siang dan ia merasa lapar sekali maka ditinggalkannya tempat itu dan ia
membeli makanan sederhana untuk mengisi perutnya. Ia lalu berjalan-jalan mengelilingi telaga sambil
mencari-cari kalau ia akan melihat orang gila yang ditunggu-tunggu. Akan tetapi ia tidak melihat bayangan
orang yang dicarinya sehingga ia makin menjadi gelisah. Apakah ia datang jauh-jauh dengan sia-sia
belaka?
Malam hari kedua kembali ia berjaga sampai pagi dan tidak melihat siapa-siapa. Hatinya makin sedih dan
diam-diam ia memaki diri sendiri. Mengapa ia begitu bodoh menuruti tulisan kacau balau seorang yang
tidak waras otaknya? Seorang gila telah mempermainkannya dan ia menuruti saja, berlaku seolah-olah ia
sendiri juga gila! Apakah aku benar-benar telah mulai miring otakku?
Demikianlah Tiong San berpikir dan menurutkan hatinya yang panas, ingin segera pulang meninggalkan
tempat yang mengesalkan hatinya itu, untuk menumpahkan seluruh isi hatinya yang sedih itu dihadapan
ibunya yang tentu akan pandai menghiburnya.
Akan tetapi, kekerasan hatinya membuat ia mengambil keputusan untuk menanti semalam lagi! Malam
nanti barulah bulan akan muncul sepenuhnya, demikian pikirnya. Siapa tahu kalau-kalau orang gila itu
akan muncul malam nanti, karena dalam syairnya juga disebutkan malam bulan purnama!
Uang bekalnya telah habis dan semenjak sore hari, ia belum makan sesuatu. Ia mengambil keputusan
untuk bertahan semalam lagi dan apabila si gila itu tidak muncul pada malam hari ini, ia akan pulang pada
keesokan harinya.
Malang baginya, baru saja hari berganti malam, udara menjadi gelap tertutup mendung tebal dan tak lama
kemudian turunlah hujan bagai dituangkan dari atas! Semua orang yang tadinya hendak berpelesir di atas
perahu di waktu malam bulan purnama terpaksa meninggalkan telaga dan perahu-perahu mereka. Kalau
tidak ada hujan, banyak orang yang berada di perahu sampai semalam suntuk, menikmati pemandangan
indah yang ditimbulkan oleh bulan purnama. Akan tetapi, langit gelap dan hujan turun, siapa yang mau
menderita kehujanan dan kedinginan?
dunia-kangouw.blogspot.com
Namun Tiong San tetap duduk berlindung di bawah pohon. Air hujan yang membocor dari sela-sela daun
pohon telah membuat seluruh pakaian dan tubuhnya menjadi basah kuyup dan ia menggigil kedinginan,
menderita luar dalam. Tubuhnya di bagian luar menderita dingin sedangkan di bagian dalam menderita
lapar. Sungguh penderitaan hebat yang belum pernah ia alami! Biarlah, biar aku menanti sampai mati di
sini sebelum fajar mendatang, pikirnya dengan tekad bulat.
Menjelang tengah malam, hujan berhenti. Langit menjadi bersih dan bulan muncul penuh, indah dan ayu
berseri-seri, bagaikan wajah seorang puteri jelita mengintai dari jendela, segar dan gemilang seakan-akan
wajah itu makin bersih dan segar setelah dicuci oleh air hujan tadi.
Suara kodok yang bersembunyi di bawah alang-alang di pinggir telaga, menimbulkan lagu yang berirama,
yang terdengar riang bagi mereka yang sedang bergembira, akan tetapi terdengar memilukan hati bagi
mereka yang sedang berduka. Bagi telinga Tiong San, suara nyanyian kodok-kodok terdengar tidak
keruan, oleh karena semangatnya telah menjadi lemah akibat kelelahan, kedinginan dan kelaparan.
Pada saat ia sedang duduk menggigil di bawah pohon, tiba-tiba permukaan air yang tadinya tenang itu
menjadi bergerak-gerak dan terdengar suara air terpukul dan suara orang membentak-bentak marah.
“Nah, kau mau lari ke mana sekarang? Huh, ini yang besar, telah tertangkap. Ah, akan kunikmati
dagingmu. Ha ha ha!”
Tiong San tersentak bangun dari lamunannya dan segera berdiri. Ia sendiri merasa heran mengapa tibatiba
ia menjadi begitu kuat dan segar. Ia melihat ke arah suara itu dan ternyata seorang sedang berenang
ke sana ke mari menangkap-nangkap ikan dengan amat mudahnya!
Tangan kiri orang itu membawa tiga ekor ikan besar, sedangkan tangan kanannya masih juga menguberuber
ikan. Bahkan pada mulutnya nampak seekor ikan yang tergigit dan ikan itu masih hidup, bergerakgerak
dan ekornya memukul-mukul hidungnya. Agaknya ikan yang tertangkap paling akhir itulah yang kini
digigitnya.
Tiong San tidak dapat melihat tegas wajah itu dan ia berdebar. Bagaimana kalau penangkap ikan itu bukan
orang gila yang ia tunggu-tunggu? Akan tetapi, kalau orang lain, bagaimana ia bisa dengan tiba-tiba saja
berada di air tanpa diketahui masuknya dan bagaimana ia bisa menangkap-nangkapi ikan seakan-akan
ikan itu menyerah begitu saja pada tangannya?
Tiong San lalu melangkah maju sampai ke dekat telaga dan setelah berada dekat dengan orang yang
bermain-main dengan ikan-ikan di air itu, ia menjadi girang sekali. Tak salah lagi, rambut yang panjang dan
terapung-apung di atas air seperti rambut seorang wanita itu membuktikan bahwa orang ini memang benar
orang gila yang ditunggu-tunggunya!
“Locianpwe (orang tua gagah)!” Tiong San memanggil ke arah orang itu. Akan tetapi yang dipanggilnya
tidak meladeninya, bahkan makin gembira, tertawa terbahak-bahak sambil mengejar seekor ikan sisik
kuning.
“Emas ..... emas.....! Ha, aku ingin emas pada sisikmu itu!” Ikan bersisik kuning emas itu berenang cepat
melarikan diri. Akan tetapi tangan kanan orang itu lebih cepat lagi dan sebentar saja ia telah dapat
menangkap ikan itu, diangkatnya tinggi-tinggi, kemudian menjepit ikan itu pada bawah lengan kirinya
karena tangan kiri sudah penuh ikan. Lalu ia menggunakan tangan kanan untuk mencabut beberapa sisik
ikan itu lalu diletakkannya di atas kepalanya bagai penghias rambut.
“Bagus, bagus.... aku memakai emas .... ha ha ha!”
“Locianpwe ....!” Tiong San memanggil lagi lalu mengulang panggilannya sampai berkali-kali. Akan tetapi
orang itu sama sekali tak menghiraukannya. Kemudian pemuda itu teringat bahwa orang ini biarpun
berkepandaian tinggi, akan tetapi mungkin memang benar-benar miring otaknya hingga tidak mau disebut
locianpwe, maka ia berseru lagi keras-keras,
“Eh, kakek gila .....!”
Benar saja kali ini si gila itu menengok dan ketika melihat Tiong San berdiri di pinggir telaga, ia lalu berkata
sambil tertawa,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha ha ha, kau anak gendeng sudah berada di situ? Ayo, kau bantu aku menangkap daging ikan yang
lezat!” sambil berkata demikian, ia mengambil ikan yang tadi digigitnya dan dengan hati ngeri Tiong San
melihat betapa ikan itu telah kehilangan ekornya, agaknya sudah masuk ke dalam perut orang itu.
“Kau tidak lekas-lekas melompat turun?” orang gila itu berteriak dan suaranya terdengar marah. Aneh
sekali, Tiong San ketika mendengar suara ini, merasa betapa suara itu amat berpengaruh yang
mengharuskan ia menuruti perintah, maka tanpa memperdulikan sesuatu lagi, ia lalu melompat dan
mencebur ke dalam telaga!
Biarpun bukan seorang ahli berenang, akan tetapi oleh karena di dalam kampungnya terdapat anak sungai
di mana ia mandi dengan kawan-kawannya ketika kecil, Tiong San cukup dapat menguasai kaki tangannya
yang digerakkan untuk menjaga dirinya supaya tidak tenggelam.
“Ha ha, bagus! Tangkap ikan itu!”
“Mana?” tanya Tiong San sambil memandang ke sekelilingnya yang hanya air belaka.
“Itu! Dia berenang di dekat kakimu! Ah ..... ia berenang jauh, dasar kau tolol!”
Orang tua itu menangkap seekor ikan lagi dan berkali-kali memberi tahu kepada Tiong San akan adanya
ikan di dekatnya yang sama sekali tidak terlihat oleh Tiong San. Sebetulnya andaikata pemuda itu dapat
melihat ikan yang berada di dekatnya, tetap ia takkan dapat menangkapnya. Jangankan disuruh
menangkap ikan yang dapat berenang amat cepatnya dan mempunyai tubuh yang sangat licin, sedang
untuk menjaga diri jangan sampai tenggelam saja sudah merupakan pekerjaan yang amat berat baginya.
Sampai lama si gila itu bermain-main di air dan Tiong San mulai tidak tahan lagi. Tubuhnya memang sudah
lemas dan lapar, maka kini karena berada di dalam air, ia menggigil kedinginan dan hampir tak kuasa
menggerakkan kaki tangannya lagi.
“Aku .... aku dingin ...” katanya dengan bibir gemetar dan muka berwarna biru.
Orang gila itu memandangnya dan tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh seakan-akan merasa amat geli hatinya.
“Kau ... kau seperti mayat hidup! Ha ha ha! Alangkah lucunya! Kalau tidak bisa menangkap ikan, mengapa
masuk ke dalam air? Benar tolol!”
“Kau yang suruh aku turun!” jawab Tiong San yang merasa mendongkol juga.
“Aku? Ha ha ha! Aku suruh kau membantu tangkap ikan, bukan suruh kau mandi.”
“Siapa yang mandi?”
“Kau lapar! Ya, kau lapar, kudengar perutmu berkeruyuk. Ha ha ha!”
Mendengar perkataan yang tidak keruan arahnya ini, Tiong San makin merasa yakin bahwa orang ini
benar-benar gila. Akan tetapi bagaimana ia dapat mendengar suara perutnya yang berkeruyuk? Ia
memang merasa betapa perutnya menggeliat-geliat, akan tetapi telinganya sendiripun tidak mendengar
suara keruyukan perutnya.
“Aku dingin ....”
“Lapar! Bantah kakek itu.
“Tidak, dingin!” Tiong San berkeras karena merasa malu mengaku lapar.
“Lapar, lapar, lapar!” kakek itu berteriak berulang-ulang dengan marah seperti laku seorang anak kecil
bertengkar dengan kawannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Tiong San merasa geli sekali melihat hal yang dianggapnya amat lucu ini. Ia teringat betapa dulu
ketika kecilnya, ia sering bertengkar dengan Thio Swie tentang sesuatu dan sikap kakek gila ini sama
dengan Thio Swie di waktu kecil.
“Baiklah,” katanya kemudian. “Aku memang lapar.”
Si gila tertawa bergelak-gelak, “Ha ha ha! Kau dingin!”
“Aku lapar!”
“Dingin, dingin, dingin!” lagi-lagi kakek itu berteriak-teriak sehingga Tiong San merasa bohwat (kehilangan
akal) dan terpaksa pula ia mengangguk-anggukkan kepala. “Memang aku dingin dan lapar.”
“Kau memang bodoh, anak gila yang bodoh. Makanan sudah tersedia, mengapa masih menderita
kelaparan?”
“Makanan? Mana?”
“Ikan-ikan itu, bukankah tinggal ambil saja?”
“Aku tak dapat menangkapnya.”
“Hm, memang kau bodoh. Nah, ini makanlah!” sambil berkata demikian si gila menyodorkan seekor ikan
besar yang masih bergerak-gerak karena belum mati kepada Tiong San. Pemuda itu menerimanya dan
harus mempergunakan kedua tangannya untuk memegang erat-erat karena ikan itu meronta-ronta. Karena
kedua tangannya memegang ikan, maka tubuhnya lalu tenggelam.
Tiong San mendengar suara orang gila itu menertawakan, maka ia menggertakkan gigi dan menggerakkan
kedua kakinya hingga tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air. Selanjutnya ia menggerak-gerakkan kedua
kakinya seperti orang berlari hingga tubuhnya tetap terapung dan tidak tenggelam.
“Lekas makan!” kata si gila.
“Apa! Makan apa? Ikan ini harus dimasak dulu!”
“Gila dan tolol! Makanan enak-enak akan dirusak pula! Kau makanlah, ikan ini enak sekali apabila belum
mati. Masih segar darahnya!” Setelah berkata demikian, orang gila itu menggeragoti seekor ikan yang
dipegangnya. Ikan itu meronta-ronta, akan tetapi tidak kuasa melawan gigi orang gila yang telah
membenamkan giginya pada perut ikan dan sekali ia menggeragot, daging perut telah terbawa pada
mulutnya yang lalu dikunyahnya dengan enaknya!
Tiong San menjadi pening kepalanya melihat hal ini. Kengerian terbayang pada matanya.
“Ayo, makan ikanmu!” si gila kembali mendesak.
Tentu saja Tiong San tidak mau menurut perintahnya, dan tiba-tiba pemuda ini timbul sebuah pikiran. Ia
maklum akan kesaktian orang gila ini dan ingin sekali menjadi muridnya untuk memiliki ilmu kepandaian
yang hebat itu, maka ia lalu berkata.
“Aku mau menurut perintahmu asal kau mengambil murid padaku!”
Orang gila itu kembali bergelak tertawa. “Mengapa harus mengambil murid?”
“Karena hanya seorang muridlah yang harus tunduk kepada gurunya. Kalau kau tidak mau mengambil
murid kepadaku, aku takkan sudi menjalankan peintahmu!”
“Ha ha ha! Semenjak melihatmu, aku memang suka kepadamu, karena kau tidak seperti orang-orang gila
yang lain. Baiklah, kau kuterima menjadi muridku. Nah, makanlah ikanmu!”
Tiong San merasa girang sekali, akan tetapi juga gelisah. Bagaimana ia dapat makan daging ikan yang
mentah, bahkan ikan yang masih hidup segar dan berkelonjotan di tangannya? Akan tetapi, ia tahu bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
orang gila itu aneh sekali pikirannya dan kalau ia menolak atau tidak mentaati perintahnya, tentu akan
menjadi marah dan akan sia-sialah maksudnya berguru.
Maka sambil meramkan mata ia lalu membuka mulut dan menggigit perut ikan yang dipegangnya! Ikan itu
meronta keras sekali dan telinga Tiong San seakan-akan mendengar pekik kesakitan dari ikan itu, maka ia
urungkan maksudnya dan membelalakkan mata dengan penuh kengerian.
Hampir saja ia melepaskan ikan itu dari pegangannya. Akan tetapi ia bertemu pandang dengan si gila yang
kini telah menjadi gurunya, dan sepasang mata orang itu berputar-putar liar hingga ia takut sekali. Dengan
cepat ia lalu menggigit lagi dan kini ia betul-betul menggigit hingga terasa darah ikan yang asin dan agak
manis itu pada lidahnya. Ia telah berhasil menggeragot sepotong daging yang terus dikunyahnya tanpa
berani memandang kepada ikan yang masih meronta-ronta di tangannya!
Orang gila itu tertawa terbahak-bahak. “Gila! Gila dan bodoh! Mengapa ikan hidup dimakan?”
Panas sekali hati Tiong San mendengar ini, akan tetapi karena ia ingat bahwa orang itu memang gila,
maka ia menjadi sabar kembali.
“Ayo, ikut aku naik!” kata pula si gila dan entah bagaimana caranya bergerak, biarpun tubuhnya masih
lurus seperti orang berdiri di dalam air, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya dapat bergerak maju dengan amat
cepatnya. Tiong San lalu berenang ke pinggir dengan tubuh lemas dan napas tersengal-sengal. Ia dapat
mencapai pinggir telaga, akan tetapi tidak dapat naik karena pinggir telaga itu tingginya lebih dari satu
tombak. Si gila tadi dengan mudahnya menggerakkan tubuh dan tahu-tahu tubuhnya telah melompat ke
darat tanpa memperdulikan Tiong San.
“Suhu .... tolong teecu (murid) naik ....!” Tiong San berseru karena ia benar-benar telah tidak kuat lagi.
Kedua kakinya telah menjadi kaku kedinginan dan sukar digerakkan lagi hingga beberapa kali ia telah
tenggelam dan minum air telaga secara terpaksa.
Kepala orang gila itu muncul di atasnya dan tiba-tiba si gila itu menggerakkan cambuknya yang tadi
digulung dan berada di pinggangnya. Cambuk ini panjang sekali dan tahu-tahu cambuk itu telah
menyambar air di pinggir tubuh Tiong San dan telah melibat perutnya. Tiong San tidak tahu bagaimana hal
itu dapat terjadi, akan tetapi ia merasa seakan-akan pinggangnya ada yang memegang dan tahu-tahu
tubuhnya melayang ke atas dan ia terlempar ke darat dengan selamat, dalam keadaan berdiri.
Segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan orang gila itu. “Suhu, teecu menghaturkan terima kasih bahwa
suhu telah sudi menerima teecu sebagai murid.”
“Ha ha ha! Orang gila memang aneh kelakuannya. Aku belum mati mengapa kausembah-sembah? Ayo,
lekas panggang ikan itu, aku ingin makan daging panggang. Kau muridku, bukan? Maka kau harus
menurut segala perintahku. Panggang ikan itu baik-baik!” Setelah berkata demikian, si gila itu lalu
melompat-lompat dengan girang sambil tertawa-tawa dan tak lama kemudian terdengar mendengkur
karena ia telah tertidur di bawah sebatang pohon dengan tubuh masih basah kuyup.
Tiong San lalu mengambil kayu kering dan membuat api dengan susah karena tangannya yang lemah itu
sukar sekali menyalakan api dengan menggosok. Akhirnya ia mendapatkan batu karang yang keras dan
ketika ia menggosok batu-batu itu, ternyata bahwa batu itu adalah batu api yang mudah mengeluarkan api.
Ia menjadi girang sekali dan sebentar saja di tempat itu nampak api unggun menyala dan Tiong San
merasa betapa hangat dan enaknya duduk memanggang ikan di dekat api yang panas itu pada saat
tubuhnya sedang menderita kedinginan. Akan tetapi, kehangatan tubuh ini menimbulkan penderitaan baru,
karena perutnya yang tadi tidak amat mengganggu ketika ia kedinginan, kini setelah tubuhnya hangat dan
darahnya berjalan cepat, rasa lapar itu mengganggunya bukan main seakan-akan menggeragoti perutnya
dari sebelah dalam. Belum pernah selama hidupnya Tiong San menderita kesengsaraan sehebat ini.
Sampai menjelang fajar suhunya masih belum bangun. Daging ikan sudah semenjak tadi matang dan api
unggun terus ia nyalakan untuk mengusir dingin. Ia merasa lapar sekali, akan tetapi ia tidak berani
mengganggu lima ekor ikan besar yang kini telah matang itu. Ia anggap kurang sopan kalau ia mendahului
suhunya makan daging tadi, maka dengan mengeraskan hati ia menahan lapar dan menunggu dengan
penuh kesabaran.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah fajar berganti pagi dan telaga itu mulai dikunjungi orang, barulah si gila itu bangun dari tidurnya
dan segera mulai makan. Tiong San diam saja tidak ikut makan sampai si gila itu menghabiskan sebuah
kepala ikan dan berkata,
“Ayo, makan!”
Ketika Tiong San baru saja makan dua gigitan, ia membentak,
“Makan ya makan, tapi jangan banyak-banyak!”
Bukan main mendongkolnya hati Tiong San. Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu, hanya makan dengan
gigitan sedikit-sedikit dan perlahan-lahan. Gurunya membentak lagi sambil melototkan matanya yang
besar,
“Kok sedikit amat! Kau makan atau main-main? Ayo, makan yang banyak! Apa kaukira aku harus
menghabiskan semua ikan ini?”
Di dalam hatinya Tiong San merasa mendongkol dan juga geli. Akan tetapi ia mulai biasa dengan adat
suhunya yang gila-gilaan, maka ia segera makan dengan lahap sekali. Karena memang perutnya telah
amat lapar hingga ikan itu terasa amat gurih dan enak. Dengan heran ia melihat betapa gurihnya hanya
makan sedikit daging ikan itu.
Akan tetapi semua kepala dan tulang ikan yang keras itu dikunyahnya sampai berbunyi keletak-keletuk
seperti anjing menggeragoti tulang! Tulang ikan yang runcing dan keras itu beradu dengan giginya dan
ternyata tulang-tulang itu kena dikunyah hancur dan harus ditelan dengan enaknya! Karena suhunya hanya
sedikit makan daging ikan, maka bagian Tiong San amat banyak hingga telah menghabiskan tiga ekor
ikan, ia merasa kenyang sekali.
Akan tetapi ketika ia berhenti makan, suhunya berkata lagi, “Makan terus! Ikan-ikan ini harus dihabiskan,
kalau tidak ia akan menangis!”
Saking herannya, walaupun tahu akan keanehan adat suhunya, Tiong San sampai menunda makannya
dan mengurungkan daging yang sudah dibawa ke mulutnya. Ia memandang kepada suhunya dan
bertanya,
“Apakah ikan bisa menangis, suhu? Apalagi ikan yang sudah dipanggang dan mati, dan mengapa pula ia
menangis?”
Gurunya tertawa-tawa geli. “Anak gendeng! Tentu saja menangis! Kita sudah tangkap dia dan panggang
tubuhnya di atas api. Setelah mereka ini menderita sedemikian hebatnya, apakah mereka tidak menjadi
sedih kalau mereka disia-siakan dan tidak dimakan? Ayo, kita makan terus!”
Tiong San terpaksa menjejal perutnya lagi dengan daging ikan dan ketika kedua orang murid dan guru itu
sedang makan daging ikan, di situ lewat beberapa orang pelancong yang berjalan-jalan. Mereka
memandang kepada Tiong San dan suhunya sambil tertawa-tawa, karena menganggap mereka berdua itu
orang-orang gila.
Memang si gila itu nampak lucu dan menunjukkan bahwa ia memang seorang gila, sedangkan Tiong San
kinipun kelihatan tidak keruan dengan pakaiannya yang kotor dan masih sedikit basah dan rambutnya yang
awut-awutan cukup memberi kesan bahwa iapun seorang pemuda gila.
Melihat dua orang gila itu makan ikan dengan enaknya, para pelancong itu menganggapnya sebagai
pemandangan yang aneh dan menggembirakan. Maka tak lama kemudian Tiong San dan gurunya telah
dirubung orang banyak.
Tiong San merasa tak senang sekali dijadikan tontonan. Akan tetapi oleh karena ia melihat suhunya hanya
menyeringai dan kadang-kadang memandang kepada orang-orang itu sambil tertawa ha ha, hi hi, maka
iapun ikut menyeringai dan tertawa ha ha, hi hi, seperti lakunya seorang gila pula! Suhunya memandang
kepadanya dengan muka girang dan seperti seorang yang menahan kegelian hatinya, ia berkata perlahan,
“Memang dunia penuh orang gila .... ha ha ha!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiong San teringat bahwa itu adalah sebuah kalimat dari syair pada kipasnya, maka iapun lalu tertawa geli
dan tidak memperdulikan mereka yang menonton dia dan suhunya makan. Setelah daging ikan dan semua
tulang habis berpindah ke perut mereka, sehingga Tiong San merasa perutnya berat dan penuh padat.
Orang gila itu lalu mengulurkan tangan merobek ujung jubah Tiong San dan menggunakan robekan baju itu
untuk menyusuti mulutnya yang berlepotan minyak ikan. Tiong San tertawa dan iapun meniru perbuatan
suhunya, merobek ujung bajunya yang lalu menyusuti mulutnya pula.
Orang-orang pada tertawa melihat hal ini, dan pada saat itu terdengar bentakan-bentakan. “Minggir!”
Semua orang minggir dan memberi jalan kepada orang-orang yang membentaknya. Ternyata bahwa yang
datang itu adalah lima orang anggauta polisi yang membawa rantai dan golok. Tanpa banyak cakap lagi
mereka lalu mengalungi leher orang gila itu dan leher Tiong San dengan rantai besi. Lalu mengikat pula
kedua lengan mereka.
Tiong San merasa terkejut sekali, akan tetapi oleh karena maklum akan adat yang aneh dari suhunya dan
melihat betapa suhunya itu hanya tertawa ha ha, hi hi, tanpa mengadakan perlawanan, ia pun ikut-ikutan
tertawa. Sungguhpun tertawanya masam karena diliputi hati yang amat gelisah dan takut!
Seorang pelancong yang melihat betapa dua orang gila itu ditangkap, lalu bertanya kepada para anggauta
ponggawa itu,
“Mengapa mereka ditangkap?”
“Entah, kami hanya mendapat perintah untuk menangkap orang gila yang berada di sekitar telaga Tai-hu
dan karena di sini kami melihat dua orang gila, maka kedua-duanya kami tangkap!”
Kakek gila itu ketika lehernya dikalungi rantai dan tangannya dibelenggu, hanya tertawa menyeringai
sambil memandang kepada para penangkapnya dengan mata bodoh. Akan tetapi ketika seorang di antara
para polisi itu mengambil cambuk yang digantungkan pada pinggangnya, ia segera berseru keras,
“Jangan ambil cambukku!” dan aneh ketika ia mengulurkan tangan, belenggu besi yang mengikat
tangannya putus bagaikan sehelai benang saja! Sekejap kemudian ia telah berhasil merampas kembali
cambuknya.
“Apa ini? Aku tidak mau dikalungi kembang!” katanya dan sekali renggut saja, rantai yang dikalungkan
lehernya tadi telah putus-putus. “Juga muridku tak boleh dikalungi kembang!” Ia membetot dan merenggut
dan semua belenggu yang mengikat leher dan tangan Tiong San juga putus-putus.
Semua orang terkejut sekali dan melarikan diri karena takut orang gila itu mengamuk. Sedangkan para
penjaga itu berdiri bengong karena heran bagaimana rantai mereka yang kokoh kuat itu diperlakukan oleh
si gila bagaikan sehelai benang yang mudah diputuskan saja.
Si gila lalu melompat dan berkata, “Kalian orang-orang gila, aku mau pergi saja!” Sekali melompat ia telah
berada di tempat jauh dan Tiong San melangkahkan kaki hendak lari mengejar. Akan tetapi seorang
penjaga memeluk pinggangnya dan yang lain berteriak-teriak, “Tangkap orang gila! Tangkap!!”
“Suhu!” teriaknya dengan ketakutan.
Si gila berhenti lari, menoleh dan segera menggerakkan cambuknya yang telah dilepas dari gulungan.
Terdengar “tar-ter-tor” bunyi cambuk dan disusul oleh teriakan-teriakan kesakitan karena semua ponggawa
yang berjumlah lima orang itu masing-masing telah mendapat hadiah satu cambukan pada mukanya
hingga menjadi biru dan perih.
Tiba-tiba ujung cambuk melayang ke arah Tiong San dan membelit pinggangnya. Tiong San merasa
betapa tubuhnya ditarik oleh kekuatan yang luar biasa, hingga tubuhnya segera melayang ke atas dan
tahu-tahu ia telah jatuh di punggung suhunya bagaikan seorang sedang naik seekor kuda yang tinggi.
“Ha ha ha! Orang-orang gila, ayo kita balapan lari!” kata suhunya yang segera berlari secepat kijang
melompat dan sebentar saja ia menggendong muridnya itu dan telah lenyap dari pandangan semua orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Peristiwa ini tentu saja menggemparkan orang dan sampai lama orang-orang membicarakan kesaktian
orang gila itu dan tiada habisnya mereka terheran-heran mengapa seorang gila bisa mempunyai murid
seorang pemuda pelajar, atau seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang pelajar.
Sebetulnya, siapakah orang gila yang aneh dan luar biasa lihainya itu? Para jago silat muda tentu takkan
ada yang kenal kepadanya. Akan tetapi para locianpwe atau ahli-ahli silat tua yang sudah tinggi tingkat
kepandaiannya, tentu masih ingat akan seorang hiapkek (pendekar) yang diberi julukan Thian-te Lo-mo
atau Iblis Tua Langit Bumi!
Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, Thian-te Lo-mo masih merupakan seorang muda yang menjagoi di
seluruh dunia kang-ouw dengan ilmu kepandaiannya yang amat mengagumkan. Ketika itu ia bernama Kui
Hong Sian, seorang pendekar muda berusia belum tiga puluh tahun, akan tetapi yang telah
menumbangkan jago-jago besar dalam pertandingan pibu atau pertempuran oleh karena Kui Hong Sian
memang mempunyai watak yang keras dan tidak mau dikalahkan orang.
Kemudian ia bertemu dengan seorang pendekar wanita yang cantik dan ia jatuh cinta. Tak disangkanya
bahwa pendekar wanita ini adalah puteri seorang jago tua yang pernah dikalahkannya dan ketika hal ini
diketahui oleh pendekar wanita itu, maka sepasang orang muda yang sudah saling mencinta ini lalu
bertempur karena pendekar wanita itu hendak membalaskan sakit hati ayahnya. Dalam pertempuran ini,
Kui Hong Sian salah tangan dan melukai muka wanita itu dengan pedangnya sehingga muka yang cantik
menjadi bercacad.
Semenjak peristiwa ini, Kui Hong Sian lalu lenyap dari dunia kang-ouw. Ia menderita patah hati karena
terputusnya cinta yang telah berakar di dalam hatinya. Sampai hampir sepuluh tahun ia mengasingkan diri
dan ketika muncul kembali, ia menjadi seorang yang amat ganas. Tiap orang penjahat yang bertemu
dengan orang setengah tua yang pakaiannya tidak keruan ini pasti mengalami celaka, karena Kui Hong
Sian tidak mau memberi ampun kepada penjahat-penjahat besar maupun kecil.
Didalam waktu itulah ia melakukan hal-hal yang menggemparkan dunia kang-ouw, karena seorang diri saja
ia naik ke bukit Tung-hwa-san dan mengobrak-abrik sarang perampok yang dikepalai oleh tujuh orang
perampok bersaudara yang terkenal gagah perkasa, yang menggemparkan ialah, bahwa ia mengganti
pedangnya dengan sebatang cambuk panjang yang lihai sekali. Memang Kui Hong Sian telah bersumpah
takkan memegang pedang lagi semenjak ia melukai muka wanita yang dicintai itu dengan pedangnya.
Selain mengobrak-abrik perampok di bukit Tung-hwa-san, ia masih banyak melakukan kegemparan,
diantaranya dengan memasuki istana raja dan dalam satu malam saja ia mencuri puluhan cap-cap
kebesaran para pembesar di kota raja dan melukai para pengawal dengan cambuknya yang lihai.
Namanya menjadi terkenal sekali dan pada waktu itulah ia mendapat julukan Thian-te Lo-mo.
Setelah membuat nama besar selama lima tahun, kemudian ia lenyap lagi dari dunia ramai. Dan orang
tidak tahu bahwa si Iblis tua langit bumi ini telah kembali ke tanah kelahirannya, yakni di propinsi Shantung,
di sebuah guha yang banyak terdapat di pegunungan Tai-san di propinsi Shan-tung sebelah barat.
Ternyata bahwa di dalam hidupnya, Kui Hong Sian mengalami berbagai kekecewaan dan terutama sekali
kesedihan hati yang timbul akibat patah hatinya itu membuat ia semakin tua makin menjadi tidak keruan
tingkah lakunya.
Bab-04 : Ilmu Silat Si Gila
DAN lima tahun kemudian setelah orang-orang mulai lupa kepada namanya, dari bukit Tai-san muncullah
seorang kakek yang berpakaian tidak keruan, membawa-bawa cambuk dan tingkah lakunya seperti orang
gila. Inilah Thian-te Lo-mo yang pada lima tahun yang lalu, baru melihat bayangannya saja sudah membuat
penjahat-penjahat besar lari pontang-panting.
Kakek gila ini mengembara terus hingga ia tiba di telaga Tai-hu di dekat So-couw dan bertemu dengan Lie
Tiong San yang akhirnya ia angkat menjadi muridnya. Demikianlah riwayat singkat dari kakek gila yang
amat aneh dan lihai itu yang melarikan diri dengan murid digendong di atas punggungnya setelah tadi
memperlihatkan ilmu kepandaiannya yang mengherankan semua orang di pinggir telaga Tai-hu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika berada di atas punggung suhunya yang lari secepat angin, Tiong San merasa amat heran dan juga
ngeri. Ia melihat betapa pohon-pohon di kanan kirinya seakan-akan berlari cepat dari depan dan telinganya
mendengar suara dari daun-daun pohon di kanan kiri yang dilaluinya.
Ia tak dapat melihat dengan nyata karena pohon-pohon di kanan kiri jalan itu seakan-akan hanya terbang
lewat sekilat saja. Apalagi ketika suhunya mengambil jalan melalui lereng gunung yang penuh jurangjurang
dalam dan melompati jurang-jurang itu demikian enaknya seperti dulu ketika ia masih kecil suka
bermain-main melompati selokan-selokan. Terpaksa ia menutup matanya karena merasa ngeri dan takut.
Pegangan pada leher suhunya dipererat agar supaya ia tidak sampai melepaskan leher itu dan jatuh ke
dalam jurang yang amat dalam.
Tiba-tiba suhunya berhenti berlari dan menggoyang-goyang tubuhnya hingga Tiong San hampir saja tak
dapat menahan lagi dan rangkulan tangannya pada leher orang tua itu hampir terlepas.
“Turun, turun! Anak gendeng, apakah kau kira aku ini seekor kuda yang boleh ditunggangi seenak hatimu?”
Tiong San terkejut sekali dan membuka matanya lalu melorot turun dari punggung kakek itu. Ketika ia
memandang ke sekelilingnya, ternyata mereka telah tiba di sebuah jalan besar yang lurus tidak di tempat
berbukit-bukit lagi. Ia tidak tahu bahwa mereka telah tiba di tempat yang belasan li jauhnya dari telaga Taihu.
“Seekor kuda tak dapat lari secepat suhu,” katanya tertawa. Karena pemuda ini mulai tahu tabiat suhunya
yang sama sekali tidak menghendaki dipuja-puja dan dihormati sebagaimana layaknya seorang guru
mendapat penghormatan dari muridnya.
Benar saja, kakek aneh itu tertawa senang. “Kau harus belajar berlari cepat!” katanya berulang-ulang
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dan belajar pula memberi hadiah-hadiah kepada orang-orang
yang mengalungi kembang pada lehermu!”
“Teecu bisa juga berlari, suhu.”
“Coba kau larilah yang cepat!”
Karena jalan itu rata dan lurus, Tiong San lalu berlari ke depan, dan pada perasaannya larinya sudah
cukup cepat hingga napasnya tersengal-sengal. Akan tetapi ketika ia menoleh, ia melihat suhunya berjalan
di belakangnya sambil tertawa bergelak-gelak sehingga ia berhenti lagi sambil napasnya terengah-engah
seperti mau putus.
“Ha ha ha! Kau seperti gajah berlari! Tubuhmu terlalu berat hingga suara kakimu memekakkan telinga! Ha
ha, sungguh lucu melihat gajah kaki dua berlari!”
Merahlah muka Tiong San mendengar ejekan suhunya ini dan ia tak dapat berkata apa-apa selain
memandang muka suhunya dengan bingung.
“Kau harus berlari seperti rusa, jangan seperti gajah!” kata suhunya. “Jangan pergunakan semua telapak
kakimu untuk menginjak tanah, akan tetapi pergunakan jari-jari kaki saja. Tumit harus diangkat dan
terutama sekali napasmu harus diatur baik-baik! Tubuhmu harus seringan mungkin. Ah, celaka ..... kau
masih harus belajar banyak!”
Demikianlah si gila yang dalam hal menerangkan ilmu kepandaian ternyata sama sekali tidak menunjukkan
kegilaannya itu, mulai memberi pelajaran kepada Tiong San yang memperhatikan baik-baik. Mereka
melanjutkan perjalanan sambil berlari-lari dan mulai dengan pelajaran ilmu berlari cepat di sepanjang jalan
yang sunyi.
Menjelang senja mereka tiba di luar sebuah kampung. Dan tiba-tiba dari dalam kampung itu keluarlah tiga
orang laki-laki yang setelah dekat ternyata bahwa mereka adalah orang-orang yang memakai pakaian
perwira-perwira dengan topi pangkat di atas kepala masing-masing.
Seorang di antara mereka telah tua dan ketika melihat orang gila itu berjalan bersama muridnya, perwira
tua itu tiba-tiba berseru keras dan menghentikan langkah kakinya. Kedua orang kawannya juga berhenti
tiba-tiba.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bukankah, kau Thian-te Lo-mo Kui Hong Sian??” perwira tua itu berseru sambil menghadang di depan
kakek gila itu.
Tiong San merasa takut karena peristiwa penangkapan di pinggir telaga Tai-hu tadi. Maka melihat sikap
yang galak dari ketiga orang perwira ini, ia lalu mundur dan berdiri di belakang tubuh suhunya. Sementara
itu, si gila tertawa ha ha, hi hi, dan sambil monyongkan mulutnya ke arah perwira tua itu, lalu berkata,
“Eh, eh, mukamu seperti monyet tua! Ha ha ha, muridku, coba kau lihat orang gila ini. Bukankah seperti
seekor monyet tua yang meniru lagak manusia? Ha ha!”
Tiong San yang sudah maklum akan adat suhunya, lalu tertawa juga dan berkata, “Benar, suhu. Akan
tetapi jenggotnya seperti kambing!” Tiong San sengaja berkelakar untuk menyenangkan hati suhunya
karena ia memang sedang merasa gembira sekali.
Tanpa disengaja ia kini dapat mengetahui nama dan julukan suhunya, yaitu Thian-te Lo-mo Kui Hong Sian
atau Kui Hong Sian si Iblis tua langit bumi! Biarpun selama hidupnya Tiong San belum pernah mendengar
nama ini. Akan tetapi dari julukannya saja, ia maklum bahwa suhunya tentu seorang gagah yang luar biasa
dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Thian-te Lo-mo tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan muridnya ini. Dan perwira tua itu menjadi
merah mukanya. Dia memang mempunyai julukan Sin-kun Lo-wan (Monyet tua bertangan sakti). Perwira
ini adalah seorang perwira kota raja yang mempunyai kedudukan tinggi dan ia menduduki tingkat kelima
dari para panglima kaisar. Maka ilmu silatnya sudah tinggi sekali.
Dulu ketika Kui Hong Sian suka datang ke kota raja dan membikin kacau, perwira yang bernama Kwee
Houw inipun pernah ikut mengepung. Oleh karena itu ia masih dapat mengenal muka Thian-te Lo-mo.
Tentu saja ia menjadi marah sekali ketika kedua orang itu begitu bertemu telah menggodanya dengan
hina-hinaan.
“Thian-te Lo-mo! Kau telah membuat kedosaan besar ketika dulu mengacau ke kota raja. Akan tetapi
setelah kau mengundurkan diri, dosamu dilupakan orang. Tidak tahunya kau makin menjadi gila dan berani
main-main mengganggu pangeran Lu Goan Ong dan mencuri cap kebesarannya. Mengingat bahwa kau
adalah seorang tua berotak miring, maka kalau kau mau mengembalikan cap pangkat itu kepadaku, aku
akan menghabiskan perkara sampai di sini saja. Akan tetapi kalau kau hendak tetap menggila, kau pasti
akan menemui bencana. Karena bukan aku saja yang akan menghadapimu, akan tetapi seluruh perwira
kerajaan!”
Pidato perwira ini agaknya sama sekali tidak menarik perhatian Thian-te Lo-mo karena sambil menekannekan
perutnya yang kempis tipis, ia menyeringai dan berkata, “Aduh, perutku sudah lapar! Eh, bocah
gendeng, ke mana perginya ikan-ikan panggang itu?” tiba-tiba ia berpaling kepada Tiong San yang menjadi
celangap!
“Suhu, bukankah ikan-ikan itu kini telah berenang di dalam perut kita?” jawabnya sambil tersenyumsenyum
juga.
“Kurang ajar! Kau sudah makan habis ikan-ikan itu?”
“Bukan teecu sendiri, akan tetapi bersama suhu!” Tiong San memperingatkan.
Bukan main marahnya Kwee Houw ketika melihat betapa kata-katanya tadi sama sekali tidak dihiraukan
oleh orang gila itu.
“Thian-te Lo-mo, kembalikan cap pangkat pangeran Lu Goan Ong kepadaku!” katanya sambil mencabut
keluar senjatanya, yakni sepasang siang-kek atau sepasang tombak bercabang yang pendek dan runcing.
Tiba-tiba Thian-te Lo-mo berpaling kepadanya. “Monyet tua, apakah kau membawa makanan? Perutku
lapar sekali!”
Perwira tua itu hendak menyerang karena tidak dapat menahan marahnya lagi. Akan tetapi seorang
kawannya, perwira yang lebih muda berkata perlahan, “Kwee-ciangkun, sukar berurusan dengan seorang
dunia-kangouw.blogspot.com
yang miring otaknya.” Ia memang agak merasa gentar juga terhadap orang gila ini karena nama Thian-te
Lo-mo memang nama yang amat ditakuti oleh orang-orang kang-ouw. Ia lalu mengeluarkan bungkusan roti
kering dan memberikan roti itu kepada Thian-te Lo-mo sambil berkata,
“Kakek yang baik, ini rotiku boleh kau ambil. Akan tetapi harus ditukar dengan cap pangkat pangeran Lu
Goan Ong!”
Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tahu-tahu bungkusan roti itu telah berada di tangan Thian-te Lomo!
Perwira itu tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi. Ia hanya melihat orang gila itu mengulurkan
tangannya dan tahu-tahu bungkusan telah terampas dan berpindah tangan!
“Ha ha, roti kering, makanan anjing!” kata Thian-te Lo-mo sambil tertawa, lalu mengambil sepotong roti dan
memasukkan ke dalam mulutnya. Ia memandang kepada Tiong San dan bertanya, “Eh, anak gendeng,
apakah kau juga suka makanan anjing istana?”
“Kalau suhu suka, teecu tentu suka pula,” jawabnya.
Kembali Thian-te Lo-mo tertawa. “Lihat, monyet tua, bukankah muridku ini lucu sekali!” Ia memberi
beberapa potong roti kepada Tiong San yang lalu menerima dan memakannya. Roti itu memang enak,
patut dibawa dan dijadikan bekal oleh perwira-perwira kerajaan.
Thian-te Lo-mo, mana cap pangkat itu?” tanya si perwira muda yang merasa penasaran dan cemas juga
karena kakek itu makan rotinya tanpa mengembalikan cap yang dimintanya. Akan tetapi Thian-te Lo-mo
seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan setelah roti itu dengan cepat habis dimakannya, lalu ia bertanya
lagi,
“Masih adakah rotinya? Kalau tidak ada, keluarkan arakmu, aku ingin sekali minum arak!”
“Orang gila kurang ajar!” Kwee Houw yang sudah tak dapat menahan sabarnya lalu menyerang dengan
siang-kek. Gerakannya gesit dan cepat ketika siang-kek di tangan kanannya menusuk dada Thian-te Lomo
dengan gerak tipu Macan hitam menyambar hati.
Melihat betapa suhunya diserang, Tiong San menjadi takut dan segera berseru kepada suhunya yang
masih enak-enak berdiri tanpa memandang kepada penyerangnya, “Suhu, awas!”
Akan tetapi, ketika ujung tombak bercagak itu telah dekat dengan dada Thian-te Lo-mo, tiba-tiba kakek itu
tertawa mengejek dan tubuhnya telah lenyap dari depan Kwee Houw. Ketika Kwee Houw cepat memutar
tubuh, ternyata kakek itu telah berada di dekat perwira muda yang tadi memberi roti kepadanya dan begitu
ia mengulur tangannya, buntalan besar di punggung perwira itu telah dapat direnggutnya dan kini berada di
tangannya.
Sambil tertawa-tawa Thian-te Lo-mo membuka bungkusan dan keluarlah seguci arak yang menjadi bekal
perwira itu. Ia melemparkan bungkusan tadi kepada perwira yang menyambutnya dengan melongo, lalu
minum arak itu langsung dari guci!
Bukan main marahnya Kwee Houw melihat hal ini. Ia merasa dipermainkan oleh orang gila itu. Maka ia
segera melompat dan menerjang lagi dengan siang-keknya. Juga dua orang kawannya telah mencabut
golok masing-masing dan kini maju mengeroyok.
Tiong San merasa khawatir sekali melihat keadaan suhunya karena orang tua itu agaknya tidak melihat
betapa tiga orang perwira sedang menerjang dan menyerangnya. Karena ia masih enak-enak menuangkan
isi guci ke dalam mulutnya sambil mendongakkan kepalanya!
Akan tetapi, sungguh mengherankan, ketika ketiga senjata lawan itu telah hampir mengenai tubuhnya,
tanpa menunda minumnya, orang gila itu menggeser kedua kakinya dengan amat indah dan cepatnya
telah bergerak dengan gerakan Jiauw-pouw-poan-soan atau Tindakan Kaki Berputar-putar sesuai dengan
Toa-su-siang-hong-wi (Kedudukan Empat Penjuru).
Dan karena menghadapi tiga orang penyerang dari tiga jurusan atau tiga penjuru, maka ia selalu dapat
bergerak ke arah penjuru ke empat atau ke tempat yang kosong hingga betapapun juga ketiga orang
dunia-kangouw.blogspot.com
lawannya menyerang, ia dapat meloloskan diri dengan menduduki tempat atau penjuru ke empat yang
kosong.
Sementara itu, ia masih saja minum arak yang mengeluarkan suara menggelogok di tenggorokannya.
Setelah puas minum arak, Thian-te Lo-mo lalu melompat ke dekat muridnya dan memberikan guci itu
kepada Tiong San. “Kau minumlah, air keruh ini lumayan juga!”
Tiong San tadi bengong dengan perasaan kagum sekali melihat betapa suhunya sambil minum arak dapat
menghindarkan diri dari kepungan tiga orang perwira itu. Maka kini dengan girang dan tersenyum ia
menerima guci itu dan minum dengan lagak seperti suhunya tadi, yakni tangan kanan memegang guci
yang dituangkan ke mulut sedangkan tangan kiri bertolak pinggang dan mendongakkan kepala.
Akan tetapi diam-diam ia berpikir bagaimana caranya dapat mengelakkan serangan-serangan orang dalam
kedudukan seperti itu! Memang kedua kaki mudah saja digerakkan, akan tetapi tanpa melihat musuh,
bagaimana suhunya dapat mengelak secara sebegitu sempurnanya?
Ia hanya minum beberapa teguk oleh karena arak itu ternyata keras sekali. Maka ia segera menurunkan
guci itu dan kembali memandang ke arah gurunya yang telah dikurung pula! Kini ia melihat hal yang lebih
mengagumkannya lagi.
Tiga orang perwira itu yang merasa amat marah dan penasaran, telah menggerakkan senjata mereka
dalam penyerangan yang cepat dan ganas. Dua orang perwira muda menggerakkan golok mereka
sedemikian cepatnya sehingga nampak dua sinar golok yang berkilauan menyerang suhunya dari depan,
karena sepasang tombak ini bergerak-gerak tak menentu, dari bawah dan atas, kanan kiri dengan
serangan-serangan maut.
Kini Thian-te Lo-mo tidak hanya mengelak sambil berputar-putar seperti tadi. Seperti seorang yang nampak
gembira sekali ia tertawa terkekeh-kekeh sambil menggerakkan kedua lengannya. Jari telunjuk dan jari
tengah dari kedua tangannya terbuka sedangkan jari-jari yang lain terkepal dan dengan dua jari tangan
kanan kiri ini ia menghadapi senjata-senjata lawan.
Dengan jari-jari tangannya yang panjang dan kurus tak berdaging itu, ia menangkis serangan senjata
setiap lawannya dengan kepretan-kepretan keras, dan selalu ia dapat mementalkan senjata pengeroyok
dengan memukulkan jarinya pada punggung golok yang tidak tajam dan gagang tombak bercagak. Tiap
kali ia menangkiskan jarinya pada senjata musuh, lawannya yang memegang senjata merasa betapa
tangan mereka kesemutan karena dari jari tangan Thian-te Lo-mo keluar tenaga lweekang yang bukan
main besarnya.
Tiong San yang menonton pertempuran itu merasa pening kepalanya karena gerakan empat orang itu,
terutama suhunya, amat cepat sehingga seakan-akan yang bertempur bukan empat orang, akan tetapi
banyak sekali! Betapapun juga, ia merasa amat khawatir karena suhunya hanya menggunakan jari tangan
untuk menangkis senjata-senjata musuh. Apakah tangan suhunya takkan luka?
Agaknya Thian-te Lo-mo memang sengaja mempermainkan ketiga pengeroyoknya itu, karena tiba-tiba
gerakan tubuhnya makin cepat ketika sambil tertawa ia berkata,
“Monyet tua dan monyet-monyet muda, sudahlah, aku sudah lelah!” begitu ia mengeluarkan ucapan ini,
terdengar suara tang-ting-tong, dan dua golok beserta sepasang siang-kek itu terpental ke tengah udara
dan tubuh Thian-te Lo-mo melayang ke arah muridnya.
“Ayoh kita kabur!” katanya sambil menangkap lengan kanan Tiong San.
“Suhu, cap itu kembalikan saja! Untuk apakah cap macam itu bagi kita?”
Thian-te Lo-mo tertawa gelak-gelak. Lalu merogoh saku baju di antara baju kutangnya yang tinggal sedikit
itu, dan mengeluarkan sebuah cap yang dulu dicurinya ketika ia mengacau di atas perahu pangeran Lu
Goan Ong. Ia melambaikan tangannya kepada Kwee Houw dan berkata,
“Monyet tua, ke sinilah kau dan terimalah kembali cap busuk ini!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Biarpun tadi merasa kaget dan marah karena dikalahkan, akan tetapi melihat orang gila itu benar-benar
hendak mengembalikan cap pangeran Lu Goan Ong, perwira itu merasa girang sekali. Kalau ia berhasil
mendapatkan kembali cap yang hilang tentu ia akan menerima banyak hadiah dan mungkin kenaikan
pangkat dari pangeran Lu yang berpengaruh! Maka ia segera melangkah lebar menghampiri Thian-te Lomo.
“Thian-te Lo-mo, kau sungguh baik, terima kasih,” katanya mengulurkan tangan. Thian-te Lo-mo
memberikan cap itu dan melepaskan di tangannya Kwee Houw. Akan tetapi ketika perwira ini memandang,
ternyata bahwa cap itu telah ditekan oleh tangan Iblis Tua Langit Bumi itu dan menjadi pecah berantakan!
Setelah memberikan cap yang dirusaknya itu, Thian-te Lo-mo lalu menarik tangan muridnya, dan lari
bagaikan terbang! Tiong San merasa betapa ia ditarik cepat sekali sehingga kedua kakinya tidak menginjak
bumi.
Biarpun cap itu telah pecah-pecah, akan tetapi Kwee Houw merasa lega. Karena rusaknya cap tidak
menjadi soal besar. Bagi seorang berpangkat, pada dewasa itu, cap merupakan benda yang bernilai besar
bagaikan ajimat. Dengan cap ini, seorang pembesar memberi tanda-tanda kepada semua surat-surat dan
cap merupakan lambang kebesaran. Apabila cap itu dirusak, dapat dibuat yang baru, akan tetapi kalau
sampai hilang dan terjatuh ke dalam tangan orang lain, maka orang lain akan dapat mempergunakan cap
itu untuk memalsu dan merusak nama baik.
Oleh karena ini, maka cap dijaga amat tertib dan keras oleh setiap pemiliknya sehingga ketika Thian-te Lomo
mencuri cap pangeran Lu Goan Ong, pangeran ini merasa gelisah dan tak sedap makan tak nyenyak
tidur sehingga ia mengerahkan seluruh perwira untuk mencari dan mendapatkan kembali cap itu!
Thian-te Lo-mo membawa muridnya kembali ke Shan-tung, dan di sepanjang jalan, Tiong San makin
mengenal tabiat dan watak suhunya yang benar-benar aneh. Pada umumnya, suhunya ini berwatak gilagilaan,
dan suka sekali menggoda orang dengan perbuatan-perbuatan yang seperti perbuatan anak kecil.
Dan tiap kali bertemu dengan orang yang berlaku sewenang-wenang atau penjahat, tentu ia tidak lupa
untuk menghadiahkan sekali cambukan pada muka atau tubuhnya.
Akan tetapi, adakalanya suhunya bicara seperti seorang yang waras dan berpandangan luas sekali
terutama pada waktu mengajar silat kepadanya. Sungguhpun di luar tahunya, Thian-te Lo-mo mengajar
silat dengan cara yang amat luar biasa dan jauh berbeda dengan ahli-ahli silat lainnya kalau mengajar silat.
Selama perjalanan yang memakan waktu hampir sebulan menuju ke propinsi Shan-tung itu, Tiong San
dengan gembira dan kagum dapat mengetahui bahwa pada hakekatnya Thian-te Lo-mo mempunyai sifat
pendekar yang budiman dan gemar menolong orang.
Hanya cara-caranya saja yang luar biasa sekali dan mirip perbuatan orang gila. Kalau gurunya sedang
kumat gilanya, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa suhunya memang benar-benar mempunyai penyakit otak
miring. Akan tetapi kalau suhunya sedang waras, ia merasa seakan-akan berhadapan dengan seorang
berhati suci yang sakti.
Setelah mereka tiba di sebelah barat propinsi Shan-tung, suhunya lalu menggendongnya dan secepat
burung terbang orang tua itu mendaki gunung Tai-san sambil berlari-lari. Mereka tiba di sebelah guha yang
menjadi tempat tinggal Thian-te Lo-mo bertahun-tahun bertapa dan mengasingkan diri.
Mulailah kakek ini melatih Tiong San dengan dasar-dasar silat tinggi, dan terutama melatih lweekang dan
ginkang. Dalam latihan mengatur jalan darah di tubuh, Thian-te Lo-mo mempunyai cara-cara istimewa
sekali yang membuat Tiong San mula-mula merasa menderita sekali.
Kakek itu dengan ringannya melompat ke atas cabang sebatang pohon siong, lalu menyuruh muridnya
menyusulnya. Tentu saja Tiong San tidak dapat melompat setinggi itu. Maka pemuda ini lalu memanjat
pohon dan menyusul suhunya yang berdiri di atas cabang pohon.
“Kau tirulah perbuatanku ini!” kata Thian-te Lo-mo yang lalu menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan tubuh itu
lalu bergantungan pada cabang oleh karena ia menggunakan kedua kakinya untuk dikaitkan kepada
cabang tadi.
“Teecu tidak bisa, suhu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Cobalah!”
Dengan nekat Tiong San lalu meniru perbuatan suhunya akan tetapi tentu saja kakinya tidak kuat menahan
tubuhnya hingga ia meluncur ke bawah dengan kepala lebih dulu! Pada saat kepalanya sudah hampir
tertumbuk kepada batu di bawah pohon yang tentu akan membuat kepalanya pecah, tiba-tiba kakinya
terpegang kuat-kuat dan dalam keadaan menggantung dengan kepala di bawah, tubuhnya lalu ditarik
kembali ke atas!
Ternyata bahwa dalam keadaan menggantung tadi, Thian-te Lo-mo telah mempergunakan cambuknya
yang panjang yang dilibatkan ke kaki muridnya itu dan kemudian menarik cambuknya itu ke atas. Ia
membelitkan gagang cambuknya pada cabang dan membiarkan muridnya dalam keadaan seperti dia,
yakni dengan tubuh tergantung pada cabang, kaki di atas dan kepala di bawah! Hanya bedanya, kalau ia
menggantungkan diri dengan mempergunakan kedua kaki mencantol cabang, adalah Tiong San benarbenar
tergantung pada tali cambuk.
Tiong San tidak tahu harus berbuat bagaimana dan karena ia tergantung dengan muka menghadap
suhunya, maka ia lalu memandang dengan penuh perhatian.
“Atur napasmu baik-baik, perlahan-lahan masukkan hawa dari hidung sebanyak mungkin, dada
kembangkan perut dikempiskan keluarkan napas perlahan lagi dari mulut, dada dikempiskan dan perut
dikembangkan. Jangan pikir apa-apa, terus bernapas dengan baik dan teratur.”
Tiong San dengan taat melakukan petunjuk-petunjuk suhunya, lalu bertanya, “Setelah itu, bagaimana,
suhu?”
Tadinya Thian-te Lo-mo meramkan matanya, lalu dibukanya setelah mendengar pertanyaan ini dan
mejawab marah, “Anak gendeng, setelah itu .... tidurlah! Bukankah kita naik ke sini untuk tidur?”
Bukan main bingung hati Tiong San mendengar petunjuk itu dan kebingungan hatinya membuat ia tiba-tiba
merasa pening sekali. Kepalanya berdenyut-denyut keras dan kedua telinganya mendengar suara
melengking, seluruh tubuhnya merasa betapa darah dalam tubuhnya berdenyut-denyut keras. Karena
tubuhnya menggantung dengan kepala di bawah.
Tentu saja aliran darah yang tidak sewajarnya itu membuat ia merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan
kepalanya pening. Ia lalu mengeraskan hati membulatkan tekad. Biar sampai mati akan kupertahankan,
pikirnya. Suhu berada dalam keadaan yang sama, kalau ia tidak mati, mustahil aku takkan kuat menahan
pula!
Kekerasan hatinya banyak menolong, karena kepeningannya berangsur-angsur lenyap dan ia hanya
merasa betapa denyutan di seluruh tubuh makin mengeras seakan-akan ia melihat dengan mata sendiri
betapa darahnya mengalir cepat dengan kacau balau.
Ketika ia memandang kepada suhunya, ternyata Thian-te Lo-mo telah meramkan matanya pula dan ia
mendengar betapa suhunya telah mendengkur! Ia coba untuk meramkan matanya. Akan tetapi begitu
matanya ditutup, ia melihat cahaya merah darah memenuhi pandangan matanya yang tertutup. Jangankan
disuruh tidur mendengkur seperti suhunya, bahkan baru menutup matanya sebentar saja, kepeningan
kepalanya muncul kembali.
Pengalaman pertama kali ini sungguh-sungguh hebat dan Tiong San menderita sekali. Ia menguatkan
tubuh dan hatinya, akan tetapi oleh karena ia merasa tak enak sekali dan perutnya terasa kosong dengan
jantung dan isi perut bergantungan di dalam rongga perutnya, telinganya serasa menjadi pekak karena
suara melengking dan kedua kakinya yang terlibat ujung cambuk serasa mati kaku, tak lama kemudian ia
menjadi pingsan dalam keadaan tergantung!
Ketika ia siuman kembali, ia telah berada di bawah, berbaring di dalam guha dan suhunya duduk bersila di
dekatnya. Ia bangun dan duduk. Suhunya membuka mata dan tertawa girang. “Ha ha, kau bergantungan
seperti ikan asin dijemur!”
Tiong San juga menyeringai dan berkata, “Suhu, apakah teecu belum mati?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ha ha ha! Dengan latihan seperti itu, kematian akan takut menghampiri kau!”
Kakek gila ini lalu memberi latihan-latihan samadhi kepada muridnya yang harus dilakukan pada saat itu
juga. Semua latihan itu dilakukan dengan taat sekali oleh Tiong San sehingga gurunya menjadi makin
girang.
Demikianlah, pemuda sasterawan yang tadinya hanya mengenal syair-syair kuno, sejarah-sejarah orang
cerdik pandai dan membuat tulisan indah itu, kini tekun dan rajin belajar ilmu yang jauh berlainan dengan
ilmu yang dipelajarinya semenjak kecil. Dan ganjilnya, biarpun ia dilatih oleh seorang yang ia tahu tidak
waras otaknya, ia merasa gembira dan mempelajari semua latihan dengan giat.
Beberapa bulan kemudian, ia telah sanggup untuk melakukan latihan menggantung tanpa diikat kakinya,
akan tetapi langsung menggunakan kedua kaki dikaitkan pada cabang pohon seperti suhunya! Kini ia tak
pernah mendapat gangguan pening lagi karena ia telah dapat menguasai jalan darahnya. Bahkan dalam
keadaan seperti itu ia mulai dapat tidur layap-layap dengan nikmatnya.
Setahun kemudian, setelah Tiong San dapat menguasai ilmu lweekang dan ginkang sehingga ia dapat
melompat ke atas cabang dari bawah tanah bagaikan seekor burung walet terbang, suhunya mulai
mengajar memainkan cambuk. Secara langsung Thian-te Lo-mo menurunkan ilmu silat cambuk yang tiada
duanya di dunia ini, yang hanya dapat dimainkan olehnya sendiri, yakni ilmu cambuk Im-yang-joan-pian
(Cambuk lemas Im-yang) yang luar biasa hebatnya itu!
Mula-mula Tiong San mempelajari cambuk yang pendek saja dan yang harus ia gerakkan dengan
lweekang sehingga cambuk pendek itu bisa menjadi lemas atau kaku menurut aliran tenaganya dan
digunakan sesuai dengan keadaan. Kemudian, ia mulai mendapat pelajaran Im-yang-joan-pian yang amat
sulit gerakannya. Cambuk yang panjangnya sampai dua tombak itu dapat dimainkan sesuka hatinya, dapat
membetot, membelit, menangkis, menotok jalan darah, dan merampas senjata lawan. Juga, cambuk ini
dapat digunakan setengah atau seperempatnya saja, hingga dapat digunakan sesuka hati pemainnya, mau
panjang atau pendek hanya tinggal mengatur cara memegangnya saja!
Ternyata oleh Tiong San bahwa selain lihai ilmu silatnya, Thian-te Lo-mo biarpun tidak pandai ilmu
kesusasteraan, namun amat gemar akan syair-syair indah. Itulah sebabnya maka ia dulu mencuri tiga
kipas dia, Khu Sin dan Thio Swie! Dan karena kesukaannya akan syair ini pula yang membuat si gila ini
tertarik kepadanya setelah membaca syairnya tentang orang gila dan mengambilnya sebagai murid!
Setelah kini ia tinggal bersama suhunya di guha yang liar dan yang tak pernah dikunjungi manusia lain itu,
suhunya setiap hari menyuruh ia membuat syair yang harus diukir di dinding guha hingga setelah ia belajar
selama tiga tahun, dinding guha itu penuh dengan ukiran-ukiran syair yang indah-indah.
Setelah belajar selama tiga tahun, Tiong San telah dapat memainkan Im-yang-joan-pian hampir sempurna.
Ilmu ginkang dan lweekang yang dilatih secara aneh dan gila-gilaan itu ternyata mendatangkan hasil yang
istimewa dan tingkat yang diperolehnya selama tiga tahun itu tidak kalah oleh hasil yang dicapai oleh
seorang ahli silat yang telah melatih diri dengan cara biasa selama belasan tahun.
Akan tetapi, oleh karena selama tiga tahun ia tidak pernah bertemu dengan manusia lain kecuali gurunya
yang mempunyai watak luar biasa, maka sifat-sifat yang aneh dari suhunya juga menular kepadanya.
Dengan ucapan-ucapan aneh dan gerak tubuh seperti orang gila agaknya guru dan murid ini dapat
mengenal masing-masing lebih erat dan baik lagi.
Untuk melatih kepandaian yang dipelajarinya selama itu, Tiong San diberi sebuah kitab catatan yang coratcoret
tidak keruan, akan tetapi sebenarnya mengandung pelajaran inti sari ilmu silat yang dilatihnya karena
kitab yang ditulis oleh suhunya itu adalah catatan yang mengandung Kauw-koat (teori silat) dari seluruh
kepandaian Thian-te Lo-mo.
Orang lain yang belum pernah mendapat didikan langsung dari Thian-te Lo-mo, kalau mempelajari kitab itu
akan merasa pusing dan sedikitpun takkan mengerti. Akan tetapi bagi Tiong San, kitab itu merupakan
penuntun dan petunjuk yang amat penting dan dengan pertolongan kitab ini pemuda itu dapat mempelajari
ilmu silat pemberian suhunya dengan sempurna.
Bab-05 : Guru Silat Mencari Mantu
dunia-kangouw.blogspot.com
DALAM latihan-latihan kegesitan, tidak jarang Tiong San harus menjadi bulan-bulanan cambuk suhunya,
karena dengan cambuk ditangan, Thian-te Lo-mo menyerang muridnya itu yang harus mengandalkan
kegesitan tubuh dan ginkang untuk mengelak. Mula-mula seluruh tubuhnya matang biru kena cambukan,
akan tetapi lambat laun ia memiliki kegesitan cukup hebat sehingga dalam serentetan serangan yang tidak
kurang dari lima puluh jurus, ia hanya dua atau tiga kali saja terkena pecutan cambuk suhunya.
Agaknya Thian-te Lo-mo telah merasa puas melihat kemajuan muridnya, karena kini timbul pula
penyakitnya suka merantau. Ia mengajak Tiong San meninggalkan gunung Thai-san dan mulai
mengadakan perantauan ke seluruh daerah Shan-tung. Tentu saja hal ini amat menggirangkan hati
pemuda itu karena berarti bahwa ia mulai hidup lagi di dunia ramai.
Propinsi Shan-tung mempunyai daerah yang luas sekali. Di bagian barat berdiri tegak gunung Thai-san
yang tingginya hampir lima ribu kaki itu dan di bagian timur merupakan semenanjung besar antara laut Po
dan sungai Kuning. Sebagian besar tanahnya merupakan pertanian yang amat luas karena Shan-tung
terletak di bagian hilir sungai Huang-ho atau sungai Kuning yang amat terkenal sehingga sepanjang
lembah Huang-ho ini merupakan tanah yang amat subur.
Selain kota-kota besar seperti Cin-an, Cing-tau, dan lain-lain, juga Shan-tung merupakan pusat
kebudayaan. Oleh karena di situ terletak pula kota Ci-fu yang menjadi tempat kelahiran Kong Hu Cu
(confusius), pujangga termasyhur di seluruh dunia yang melahirkan kebudayaan Tionghoa yang tak dapat
lenyap hingga masa kini.
Di kota Ci-fu ini terdapat sebuah kelenteng Kong Hu Cu yang amat besar dan para pengunjung propinsi
Shan-tung selalu tak ketinggalan untuk menyaksikan kelenteng ini, disamping menikmati keindahan alam
yang banyak terdapat di daerah itu, seperti Cing-tau yang kaya akan tamasya alam indah dan iklimnya
amat baik, atau mengunjungi danau Taming yang terkenal di Cin-an yang menjadi ibukota propinsi Shantung.
Tempat pertapaan Thian-te Lo-mo adalah di lereng gunung Thai-san sebelah barat yang masih liar dan
penuh dengan hutan belukar yang jarang atau hampir belum pernah diinjak manusia lain kecuali Thian-te
Lo-mo dan muridnya.
Karena selain penuh dengan binatang-binatang liar yang berbahaya, juga tidak mudah untuk mendaki bukit
itu dari bagian barat karena amat sukar jalannya dan melalui banyak jurang-jurang dalam dan rawa-rawa
yang berbahaya. Akan tetapi, lereng sebelah timur, merupakan pusat kebudayaan karena di lereng ini
penuh dengan kelenteng-kelenteng, menara-menara tua dan bahkan terdapat anak tangga menaik yang
luar biasa panjangnya.
Setelah turun gunung bersama suhunya, selain menikmati pemandangan indah yang membuat hatinya
amat gembira, juga Tiong San mulai mengalami peristiwa-peristiwa di mana ilmu kepandaiannya mendapat
ujian berat. Pakaiannya yang dulu berwarna hijau dan merupakan pakaian seorang terpelajar, kini hanya
tinggal merupakan celana pendek tambal-tambalan sampai di bawah lutut dan sebuah baju penuh
tambalan pula.
Akan tetapi, betapapun juga Tiong San tetap menjaga kebersihan sehingga baju dan celananya yang
sudah penuh tambalan itu tetap nampak bersih karena seringkali dicuci. Bahkan kini ia nampak lebih tegap
dan tampan dari pada dulu, sungguhpun rambutnya agak awut-awutan dan hanya diikat dengan sehelai
kulit pohon yang telah dilemaskan saja.
Satu-satunya barang yang menempel pada pakaiannya hanyalah sebatang cambuk warna hitam yang
panjang dan digulung lalu digantungkan pada pinggangnya. Cambuk ini bukanlah cambuk biasa, karena
terbuat dari kulit sebatang pohon yang terdapat di tengah-tengah hutan menurut petunjuk suhunya.
Kulit ini setelah diambil dari batang pohon, lalu direndam dalam air sampai sebulan lebih. Kemudian
dipukul-pukul dengan batu sehingga hilang patinya dan tinggal seratnya saja. Dari serat-serat yang halus,
kuat dan lemas inilah maka lalu dibuat sebatang cambuk yang lemas dan kuat serta panjang pula.
Tentu saja dalam pembuatan cambuk ini, suhunya sendiri yang turun tangan sehingga cambuk yang
panjang itu merupakan serat-serat yang masih utuh dan tidak ada sambungannya dan untuk membabat
dunia-kangouw.blogspot.com
putus cambuk ini, agaknya diperlukan sebuah pedang yang luar biasa sekali. Pedang atau senjata tajam
biasa saja jangan harap akan dapat membabat putus cambuk ini.
Ketika guru dan murid ini tiba di kota Cin-an, mereka tidak lupa mengunjungi danau Taming yang indah.
Mereka memilih tempat sunyi di sebelah selatan. Dan dalam kegembiraannya, Tiong San teringat akan
pertemuannya dengan suhunya di telaga Tai-hu dulu.
Maka ia lalu mengambil cambuknya dan sambil duduk di tepi danau, ia mulai mencambuk, dan menangkap
ikan dengan ujung cambuknya seperti yang dilakukan oleh suhunya dulu di tepi telaga Tai-hu. Thian-te Lomo
tertawa geli melihat perbuatan muridnya, maka ia lalu berkata,
“Tangkap ikan besar-besar kemudian pangganglah, aku hendak tidur!” dan sebentar kemudian ia telah
mendengkur di bawah pohon.
Tiong San merasa gembira sekali melihat betapa ujung cambuknya tak pernah gagal menangkap ikan
yang dikehendakinya. Ketika berlatih di gunung Thai-san, suhunya menyuruh mencambuk ujung kayu yang
terbakar seperti lilin dan latihan ini dilakukan terus menerus sampai beberapa bulan sehingga kini ia dapat
menggerakkan cambuknya sedemikian rupa sehingga tiap kali ia mencambuk, ujung cambuk pasti
mengenai sasaran yang jitu!
Tiap kali melihat ikan besar yang hendak ditangkapnya, ia lalu menggerakkan cambuknya yang
menyambar ke air dan dengan gerakan cepat ia dapat membuat ujung cambuk itu membelit tubuh ikan
yang segera diangkat ke darat dengan mudahnya. Kalau ikan itu kurus atau kurang besar. Ia lalu
melemparkannya kembali ke air.
Setelah mendapat cukup banyak ikan, Tiong San lalu membuat api dan memanggang ikan-ikan itu. Akan
tetapi suhunya masih saja mendengkur dan biarpun ia telah bertahun-tahun ikut suhunya, namun sikapnya
yang berbakti masih belum lenyap, sungguhpun kini terhadap suhunya ia tidak bersopan santun lagi seperti
dulu karena maklum bahwa suhunya tidak suka akan sikap demikian itu.
Ia meletakkan ikan-ikan panggang itu pada sehelai daun dan menaruh di dekat suhunya. Kemudian karena
tertarik melihat banyaknya perahu yang hilir mudik di atas danau dan ramainya tepi danau sebelah timur, ia
lalu berjalan-jalan ke sana.
Tiba-tiba ia mendengar suara tambur dan melihat banyak orang berkerumun, mengelilingi sebuah tempat
yang ramai dengan leher diulur ke depan seakan-akan melihat sesuatu yang menarik. Makin lama makin
banyaklah orang menonton dan berkerumun di situ sehingga Tiong San tak dapat menahan keinginan
hatinya untuk melihat pula.
Ketika ia melongok ke dalam lingkaran manusia yang berdiri menonton, ternyata bahwa tambur itu dipukul
oleh seorang gadis baju merah yang kecantikannya mengingatkan dia akan Siu Eng, gadis yang berada
dengan pangeran Lu Goan Ong di perahunya. Gadis cantik yang membuat Thio Swie tergila-gila!
Diam-diam Tiong San tersenyum, bukan karena melihat kecantikan gadis itu, akan tetapi oleh karena
teringat kepada Thio Swie, sahabat karibnya. Orang-orang di dekatnya yang melihat pakaiannya dan
kemudian melihat ia tersenyum-senyum seorang diri, memandangnya dengan mata mengandung penuh
sangkaan bahwa ia tentulah seorang pemuda otak miring.
Tanpa memperdulikan pandangan orang-orang itu, Tiong San memperhatikan lebih lanjut dan ia melihat
seorang laki-laki setengah tua sedang bermain silat, diiringi suara tambur sehingga gerakannya menjadi
hidup seakan-akan suara tambur itu menambah tenaga pada tiap gerakan tangannya.
Ilmu silat orang itu cukup kuat dan cepat. Dan ternyata bahwa ia memainkan ilmu silat monyet (Kauw-kun)
dengan langkah kaki tetap dan cermat sekali. Pakaiannya ringkas berwarna putih dan wajah orang itu
cukup gagah.
Tiong San tertarik sekali melihat permainan silat ini. Dulu ia mungkin akan merasa kagum sekali melihat
kecepatan gerakan tangan orang itu. Kini ia melihat betapa orang itu amat lambat gerakannya dan ia
melihat kekosongan-kekosongan yang mudah dimasuki pukulan lawan pada permainan orang itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hal ini bukan menunjukkan bahwa ilmu silat orang itu kurang tinggi, akan tetapi adalah karena pandang
mata Tiong San telah jauh berbeda dengan dulu. Tadipun ketika ia mencari ikan, setiap ikan yang
berenang lalu di bawah permukaan air, bahkan yang berenang dalam sekali sampai hampir merayap di
dasar danau, ia dapat melihatnya dengan terang.
Ilmu silat orang itu memang tidak rendah, terbukti dari tepuk tangan memuji dari para penonton setelah ia
menghentikan permainannya. Orang itu lalu mengangkat kedua tangan dan menjura keempat penjuru dan
ketika ia menjura ke arah Tiong San, pemuda itu buru-buru membalas dan menjura pula sehingga semua
orang yang berada di dekatnya tertawa geli.
Tiong San merasa heran sekali mengapa orang mentertawakannya dan ia melihat bahwa orang-orang lain
tidak ada yang membalas penghormatan itu, sehingga ia merupakan orang satu-satunya yang membalas
dan menjura. Tiong San tidak melupakan adat sopan santun dan karena ia belum pernah melihat orang
menjual silat di depan umum, maka menurut kesopanannya, iapun membalas penghormatan itu yang tidak
semestinya sehingga tanpa disadari ia membuat dirinya menjadi buah tertawaan.
Akan tetapi orang yang tadi bersilat itu mengangguk kepadanya sekali lagi, kemudian berkata kepada
orang banyak.
“Cuwi (tuan-tuan) sekalian yang terhormat. Kami berdua ayah dan anak datang dari luar daerah Shan-tung
dan karenanya kami mohon maaf kepada para ahli silat di Shan-tung apabila kami berbuat lancang dengan
pertunjukan ini. Bukan sekali-kali maksud kami untuk menjual silat dan mencari uang, dan bukan sekali-kali
kami memandang rendah kepada para ahli silat di daerah ini. Bahkan dengan kedatangan kami ini, kami
bermaksud untuk mencari orang gagah yang banyak terdapat di Shan-tung. Anakku yang bodoh dan buruk
rupa ini telah cukup dewasa dan ia mempunyai permintaan yang aneh, yakni dengan jalan mengadu pibu
(mencoba kepandaian), anakku baru mau diikat dengan jodohnya!”
Terdengar gelak tertawa dari para penonton dan gadis itu menundukkan kepala kemalu-maluan.
“Aku sebagai orang tua yang memanjakan anak, tentu saja tidak dapat mencari jalan lain, kecuali
mengharap para enghiong (orang gagah) yang sudi turun tangan untuk membuktikan padanya bahwa di
dunia ini, terutama di daerah Shan-tung, terdapat banyak orang-orang gagah. Dan harap saja para
enghiong yang menaruh minat untuk menjadi keluarga kami, suka turun ke lapangan ini agar hatiku tidak
selalu merasa gelisah. Syarat untuk dapat mengadu pibu dengan anakku mudah saja. Pertama-tama ia
harus dapat mengangkat tambur ini di atas kepala. Kedua ia harus dapat bertahan menghadapi aku dalam
tiga puluh jurus. Siapa saja yang dapat memenuhi dua syarat ini, akan mengukur kepandaian dengan
anakku dan apabila kedua pihak setuju, akan diadakan ikatan kodoh!”
Hal ini memang istimewa sekali dan belum pernah terjadi, maka tentu saja menimbulkan kegemparan di
antara penonton. Siapa orangnya yang tidak ingin memperisteri gadis yang demikian cantik jelita?
“Sayang aku sudah beristeri,” terdengar seorang laki-laki muda mengeluh dan ucapannya ini disambut oleh
suara ketawa geli.
“Sayang aku tak pandai bersilat,” kata orang lain.
Tiba-tiba dari rombongan penonton maju seorang pemuda bermuka hitam yang bertubuh tinggi besar.
Sambil tersenyum malu-malu ia menjura kepada orang tua itu dan berkata,
“Bolehkah kiranya siauwte mencoba-coba mengangkat tambur itu?”
“Boleh sekali! Tentu saja, siapa juga boleh mencobanya,” jawab yang ditanya sambil tersenyum ramah.
Sedangkan gadis itu lalu berdiri meninggalkan tamburnya dan berdiri dipinggir. Setelah ia berdiri orang
makin kagum karena gadis itu mempunyai potongan tubuh yang benar-benar menggiurkan hati laki-laki.
Bajunya merah, celananya biru muda dengan ikat pinggang kuning. Pada pinggangnya tergantung satu
pedang yang berukir indah. Sungguhpun sikap gadis itu amat sungguh-sungguh dan tak pernah nampak
senyum, akan tetapi kedua matanya yang bening berseri-seri hingga dapat diduga bahwa ia adalah
seorang gadis yang berwatak gembira.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si Muka hitam melangkah maju dengan gagah, menanggalkan jubahnya hingga kini hanya memakai baju
yang berlengan pendek hingga nampak kedua lengan tangannya yang besar dengan urat melingkarlingkar.
Ia tersenyum-senyum lagi lalu menghampiri tambur yang ternyata terbuat dari pada besi itu. Ia lalu
membungkuk dan sambil berseru keras ia mengangkat tambur itu ke atas.
Ia berhasil mengangkat tambur sampai ke pundaknya. Akan tetapi kedua tangannya telah gemetar dan
terpaksa ia menunda tambur itu pada pundaknya dan tidak kuat melanjutkan mengangkat sampai ke atas
kepalanya. Biarpun ia sudah mencobanya berkali-kali sambil mengerahkan tenaga! Ternyata bahwa
tambur itu beratnya tidak kurang dari lima ratus kati!
Dengan muka merah karena lelah dan malu, si muka hitam lalu menurunkan lagi tambur itu dengan susah
payah. Kemudian ia memungut jubahnya yang tadi diletakkan di atas tanah lalu membungkuk-bungkuk
kepada orang tua itu sambil berkata, “Maaf, maaf ...!” dan segera keluar dari situ dan cepat pergi, diikuti
oleh suara ketawa dari para penonton.
Melihat hal ini, beberapa orang pemuda yang tadinya hendak mencoba, menjadi kuncup hatinya dan
mundur teratur sebelum mencoba. Akan tetapi ada pula yang berani dan maju mencobanya, akan tetapi
kembali dua orang pemuda gagal mengangkat tambur yang amat berat.
Timbul keraguan dan kekecewaan di antara para penonton melihat hal itu karena mereka ingin sekali
menyaksikan pertempuran silat, terutama dengan gadis cantik itu.
“Tambur itu terlalu berat,” terdengar seorang berkata.
“Kalau Hek-twako (engko hitam) tadi tidak kuat mengangkatnya, takkan ada orang yang kuat! kata suara
lain.
“Apakah nona itu kuat mengangkatnya?” tanya suara yang perlahan akan tetapi cukup keras hingga
terdengar oleh nona itu dan ayahnya.
Orang tua itu tersenyum dan segera melangkah ke arah tambur itu mengangkat dengan tangan kanannya
dan berseru kepada puterinya,
“Bwee-ji, sambut!”
Sambil berkata demikian ia melontarkan tambur itu ke arah puterinya yang segera mengulurkan tangan
kanan dan menyambut tambur itu dengan gerakan indah, yaitu dengan kaki kanan di depan kaki kiri di
belakang agak ditekuk sedikit dan membarengi luncuran tambur yang berat itu dengan memegang pinggir
tambur, terus didorong memutar dan tambur besi itu meluncur kembali kepada ayahnya!
Inilah gerakan Dewa sakti memindah bintang sehingga tanpa banyak mengeluarkan tenaga, hanya dengan
mengerahkan lweekang, ia dapat mengemudikan tenaga luncuran tambur itu sehingga dapat diatur
sedemikian rupa, tanpa menggunakan tenaga sendiri ia dapat menambah tenaga luncuran dengan sedikit
dorongan untuk mengembalikan kepada ayahnya.
Ayahnya tersenyum dan dengan gerakan Jing-cin-hong-twi (Tendangan angin seribu kati) orang tua ini
dengan kakinya mendupak tambur yang melayang ke arahnya itu sehingga tambur sekali lagi melayang ke
arah gadis itu. Beberapa kali kedua orang itu mendemonstrasikan kepandaian mereka dan akhirnya gadis
itu menggunakan kedua tangannya menyambut tambur itu dengan mudah dan ringan, lalu menaruhkannya
ke atas tanah.
Pecahlah sorak-sorai dari penonton yang tiada habisnya memuji pertunjukkan yang hebat itu! Orang tua itu
lalu menjura ke empat penjuru dan sambil tersenyum berkata,
“Aku dan anakku yang bodoh mohon maaf sebanyaknya kepada cuwi sekalian. Bukan aku Liong Ki Lok
dan anakku Liong Bwee Ji hendak menyombongkan kepandaian kami, sama sekali tidak. Permainan
rendah yang kami pertunjukkan tadi hanyalah untuk menarik perhatian para enghiong yang berada di sini
untuk memperlihatkan kepandaian. Kalau sekiranya di sini kebetulan tidak ada orang gagah, terpaksa kami
hendak pergi ke lain tempat!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Ucapan yang merupakan pancingan ini berhasil. Dari sebelah kiri melompat ke dalam lapangan seorang
laki-laki yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun dan bermuka kuning. Ia menjura pada Liong Ki
Lok dan berkata,
“Maafkan kalau siauwte berlaku lancang. Siauwte she Liok dan biarpun sudah berusia tiga puluh tahun
lebih, akan tetapi siauwte belum mempunyai jodoh. Siapa tahu kalau jodoh siauwte berada di sini!” Setelah
berkata demikian, orang bermuka kuning ini lalu menghampiri tambur dan dengan tangan kanan ia
mengangkat tambur tinggi-tinggi di atas kepalanya!
Tiong San yang berdiri menonton di antara orang banyak, diam-diam merasa kagum dan maklum bahwa si
muka kuning ini adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga dalam cukup tinggi. Sedangkan para
penonton bertepuk tangan riuh sungguhpun mereka merasa sayang kalau nona cantik itu akan dijodohkan
dengan si muka kuning yang tidak saja usianya banyak lebih tua, akan tetapi juga berwajah tidak
menyenangkan dan sama sekali tidak sesuai untuk mendampingi si cantik.
Akan tetapi Liong Ki Lok hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya kepada si muka kuning she
Liok itu. “Sicu (tuan yang gagah) sungguh kuat. Tentang jodoh dapat dirundingkan kemudian, dan
kegagahanmu menarik hatiku. Marilah kita main-main sebentar dan kalau sampai tiga puluh jurus kau
dapat bertahan, maka boleh kau memberi pengajaran kepada anakku!”
Sambil berkata demikian, Liong Ki Lok lalu minta kepada semua orang untuk mundur sedikit untuk
memberi tempat yang lebih lega kepadanya yang hendak mengadu pibu dengan si muka kuning.
Para penonton menjadi gembira karena segera akan menyaksikan pertempuran yang hebat. Maka mereka
lalu mundur tiga langkah sehingga tempat itu menjadi cukup luas. Si muka kuning lalu mempererat tali
pinggang dan ikat kepalanya.
Lalu ia memasang kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk sehingga tubuhnya merendah. Tangan kanan
dipasang melintang di depan dada dan tangan kiri lurus di bawah menjaga pusar. Kedudukan kudakudanya
cukup kuat dan Tiong San dengan hati gembira melihat ke arah Liong Ki Lok, ingin sekali tahu
bagaimana orang tua itu akan melakukan serangannya.
Ternyata Liong Ki Lok berlaku tenang saja dan melihat pasangan kuda-kuda itu. Ia dapat menerka bahwa
si muka kuning ini tentulah anak murid Bu-tong-pai. Ia berseru, “Liok-enghiong, awas serangan!”
Dengan sembarangan saja ia lalu melangkah maju dan tangan kanannya menyambar dengan sebuah
pukulan miring ke arah kepala si muka kuning yang segera menggeser kakinya yang berada di bawah itu
membalas dengan pukulan ke arah dada lawan, di susul dengan tangan kanan yang menyodok ke arah
mata orang she Liong itu. Inilah pukulan dengan gerak tipu Pek-wan-hian-tho (Kera putih
mempersembahkan buah To) dan dengan gerakan lincah, Liong Ki Lok dapat pula mengelak.
Demikianlah pertempuran mulai berlangsung dan sebentar lagi keduanya bergerak dengan amat cepatnya,
saling serang. Akan tetapi si muka kuning lebih banyak mempertahankan diri oleh karena ia tak hendak
memberi lowongan kepada Liong Ki Lok. Baginya asalkan ia dapat bertahan sampai tigapuluh jurus, berarti
ia telah memenuhi syarat kedua dan dapat bertanding menghadapi si cantik.
Tak disangkanya sama sekali bahwa setelah ia dapat bertahan dan menghindarkan diri dari seranganserangan
orang tua itu sampai delapan jurus. Tiba-tiba Liong Ki Lok berseru keras dan serangannya
datang bertubi-tubi dengan hebatnya!
Orang tua itu kini mengeluarkan kepandaian aslinya dan menyerang dengan tipu-tipu lihai seperti Pai-buntwi-
san (Atur pintu menolak gunung), disusul dengan Pai-in-cut-cui (Dorong awan keluar puncak) yang
dilakukan dengan amat cepat dan kuatnya.
Si muka kuning kalah cepat dan ketika tangan kanan Liong Ki Lok menyambar seperti kilat ke arah
dadanya untuk mendorongnya, ia lalu memukul dengan tangan kanan sambil mengerahkan lweekangnya.
Orang muka kuning ini memang memiliki tenaga lweekang cukup baik sehingga ia hendak mengakhiri
pertandingan itu dengan mngadu tenaga oleh karena maklum bahwa dalam hal ginkang ia masih kalah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua tangan beradu keras dan akibatnya, si muka kuning itu terhuyung-huyung mundur, sedangkan Liong
Ki Lok masih tetap menyerang dan mempergunakan kesempatan itu untuk melangkah maju dan mendesak
lawan yang sudah terhuyung-huyung.
Serangan tiba dengan cepatnya dan dengan gerak tipu Heng-pai-kwan-him (Puja Kwan-im dengan tangan
miring) ia berhasil mendorong si muka kuning hingga terguling di atas tanah dan dengan demikian maka si
muka kuning itu telah dikalahkan dalam dua belas jurus.
Tepuk tangan riuh rendah menyambut kemenangan ini dan si muka kuning wajah berubah pucat lalu
menjura dan melangkah keluar dari lapangan pertandingan.
“Liok-enghiong cukup gagah dan terima kasih telah berlaku mengalah,” kata Liong Ki Lok sambil menjura
ke arah orang itu yang tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di luar lingkaran penonton, bicara berbisik-bisik
dengan seorang laki-laki tua yang berkepala botak.
Setelah si muka kuning mundur, majulah seorang pemuda yang gagah dan tampan. Begitu ia maju dan
menjura kepada Liong Ki Lok, semua orang bertepuk tangan memuji karena pemuda ini betul-betul cakap
dan kalau saja kepandaiannya tinggi, maka ia akan menjadi calon jodoh yang sesuai dengan gadis itu.
Bwee Ji mengerling cepat dan diam-diam iapun mengakui kecakapan pemuda itu.
“Siauwte she Pouw dari dusun sebelah barat hendak mencoba-coba kebodohan sendiri,” kata pemuda itu
yang segera menghampiri tambur dan seperti si muka kuning tadi, iapun dapat mengangkat tambur itu
dengan diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya. Orang-orang berteriak-teriak memuji dan sekali gus
semua penonton merasa bersimpati kepada pemuda tampan itu dan mengharapkan kemenangannya.
Akan tetapi Tiong San yang melihat cara pemuda itu mengangkat tambur, maklum bahwa dalam hal
lweekang, pemuda tampan ini masih belum dapat mengalahkan si muka kuning. Maka untuk menghadapi
Liong Ki Lok jago tua yang kosen itu, ia tidak mempunyai banyak harapan.
Setelah lulus dalam ujian pertama, pemuda she Pouw itu lalu menghadapi Liong Ki Lok yang sudah siap
untuk menguji kepandaiannya. Ketika mereka bertempur, ternyata bahwa gerakan pemuda cakap itu cepat
sekali dan ternyata ia memiliki ginkang yang cukup mengagumkan.
Karena keduanya memiliki ginkang tinggi, maka pertandingan ini lebih seru dari pada pertandingan
pertama sehingga para penonton berseru-seru memuji. Hampir semua penonton mengharapkan agar
supaya pemuda ini dapat mempertahankan diri sampai tiga puluh jurus.
Kalau semua orang menyangka bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada si muka
kuning, adalah Tiong San yang merasa terheran-heran. Ia tahu betul bahwa biarpun pemuda she Pouw itu
ginkangnya lebih menang sedikit dari pada si muka kuning, akan tetapi dalam hal kepandaian silat dan
lweekang, ia masih kalah setingkat.
Akan tetapi heran sekali, mengapa Liong Ki Lok tidak mau merobohkannya! Padahal kalau orang tua itu
mau, sebelum bertempur sepuluh jurus, pemuda itu pasti akan kalah! Diam-diam Tiong San tertawa geli
dalam hatinya karena ia dapat menduga bahwa orang tua ini tentu tertarik kepada pemuda itu untuk
diambil menantu.
Benar saja dugaannya, biarpun melayani pemuda itu dengan amat cepat, namun Liong Ki Lok sengaja
tidak mengeluarkan kepandaiannya dan hanya “main-main” saja sehingga pemuda itu dapat bertahan
sampai tiga puluh jurus. Liong Ki Lok lalu menghentikan serangannya dan berkata sambil tersenyum,
“Pouw-enghiong, kau lulus dalam ujian kedua!”
Tiba-tiba terdengar bentakan. “Curang! Curang!” dan si muka kuning yang tadi dikalahkan telah melompat
ke dalam kalangan itu bersama seorang laki-laki tua yang berkepala botak. Sikap mereka menunjukkan
bahwa mereka merasa penasaran dan marah.
“Orang she Liong!” kata si kepala botak yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, akan tetapi
mempunyai tubuh yang tinggi besar itu.
“Mengapa kau berlaku curang? Kau memilih menantu berdasarkan kepandaiannya atau ketampanan
wajahnya? Pemuda she Pouw ini kepandaiannya tidak lebih tinggi dari pada kepandaian muridku ini. Akan
dunia-kangouw.blogspot.com
tetapi kau sengaja tidak mau merobohkannya! Apakah maksudmu? Apa kau sengaja hendak merobohkan
muridku dan menghina aku Tiat-ciang-kang Gu Mo (Gu Mo si Telapak tangan Besi)? Jangan kau bermain
gila di Shan-tung?”
Liong Ki Lok menjadi pucat dan sambil tersenyum ia menjura dan berkata, “Tiat-ciang-kang, dalam hal
memilih menantu, aku bebas dan orang luar tak berhak campur tangan. Aku sama sekali tidak berani
menghina kau orang gagah!”
“Kau benar-benar curang! Apakah anehnya tamburmu ini?” Ia melangkah ke arah tambur itu dan sekali ia
menggerakkan tangannya dengan miring memukul, tambur itu mengeluarkan suara keras dan pecah
menjadi dua! Hebat sekali tenaga dari si Telapak tangan besi ini sehingga semua orang berseru kaget dan
ketakutan!
“Dan apakah anehnya mengalahkan kau dan gadismu?” kata Tiat-ciang-kang Gu Mo pula sambil bertolak
pinggang sambil menghadapi Liong Ki Lok.
Pemuda she Pouw itu yang melihat lagak ini menjadi marah dan menegur, “Lo-enghiong, tindakanmu ini
tak pantas dilakukan oleh orang gagah!”
“Tikus kecil, kau berani mendekati mulut harimau?” Sambil berkata demikian, Tiat-ciang-kang mengayun
kaki dan pemuda she Pouw itu tertendang sampai terpental menimpa penonton. Pemuda itu menjadi pucat
dan dengan meringis kesakitan dan menggosok-gosok pahanya yang tertendang, ia lalu ngeloyor pergi!
Orang-orang yang menonton menjadi makin ketakutan dan tak terasa lagi mereka melangkah mundur dan
menjauhi.
“Tiat-ciang-kang! Apakah kehendakmu yang sebenarnya?” Liong Ki Lok berseru marah sambil menghadapi
si Tangan besi.
“Kehendakku? Kehendakku hanyalah menjadi imbangan kehendakmu! Terus terang saja, muridku suka
kepada anakmu. Dan menurut peraturan yang adil, apabila kau hendak memilih menantu berdasarkan
kepandaian, biarlah yang tua lawan tua dan yang muda lawan muda. Kalau aku tidak bisa mengalahkan
kau dan muridku tidak bisa mengalahkan puterimu, anggap saja bahwa kami tidak tahu diri. Akan tetapi
kalau kami dapat menangkan kau dan puterimu, pinangan muridku harus kau terima!”
Keadaan menjadi tegang dan para penonton ke arah mereka dengan hati berdebar-debar. Mereka dapat
menduga bahwa kali ini akan terjadi pertempuran yang benar-benar hebat, karena sifatnya bukan mainmain
lagi.
Akan tetapi tiba-tiba di tengah-tengah ketegangan itu, mereka tertawa gelak-gelak dan tak lama kemudian
semua penonton itu tertawa sambil menuding ke arah tengah lapangan. Ternyata bahwa yang menjadi
buah tertawaan mereka itu adalah Tiong San.
Ketika semua penonton mundur karena takut, pemuda ini tidak bergerak dari tempatnya hingga otomatis ia
kini berada di tengah lapangan yang makin melebar itu. Pemuda ini tidak tahu akan hal ini karena
perhatiannya tercurah kepada tambur yang dipukul pecah tadi.
Ia merasa heran karena betapapun tinggi kepandaian dan keras tangan orang berkepala botak itu,
agaknya sukar dipercaya untuk dapat memukul sebuah tambur besi dengan sekali pukul saja! Maka tanpa
merasa lagi ia melangkah maju dan pada saat si botak bersitegang dengan Liong-kauwsu (guru silat
Liong), ia menghampiri tambur itu dan memeriksanya dengan teliti.
Kemudian ia melihat tempat yang pecah itu dan ternyata bahwa tambur itu terbuat dari pada besi yang
bersambung sehingga pukulan tadi bukanlah memecahkan besi, akan tetapi hanya melepaskan
sambungan-sambungan yang tak seberapa kuat. Ia menarik napas lega dan penasarannya hilang, lalu
tertawa-tawa dan duduk di atas tambur itu.
Inilah yang membuat para penonton tertawa karena mereka menyangka bahwa anak muda itu tentulah
seorang gila. Ketika orang-orang tertawa dan menudingkan telunjuk ke arahnya, Tiong San yang sudah
ketularan watak aneh dari suhunya itu ikut-ikutan tertawa ha ha, hi hi sambil memandang ke kanan kiri. Ia
tidak merasa bahwa ia menjadi buah tertawaan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tentu saja Liong Ki Lok dan Gu Mo yang sedang sama-sama panas itu merasa heran mendengar suara
ketawa dari para penonton. Maka mereka berdua, juga si muka kuning dan nona cantik itu, menengok dan
memandang ke arah yang ditunjuk-tunjuk oleh penonton.
Mereka melihat seorang pemuda gila duduk di atas tambur, berpakaian tambal-tambalan tidak keruan,
berkaki telanjang dan rambutnya awut-awutan. Akan tetapi sepasang matanya amat tajam dan gerakgeriknya
halus.
Kedua orang tua itu sedang menghadapi urusan besar, yakni urusan kehormatan, maka tentu saja mereka
tidak mau menghiraukan seorang gila. Demikianpun si muka kuning segera berpaling dan memandang lagi
kepada Liong Ki Lok dengan muka marah.
Akan tetapi, Liong Bwee Ji nona cantik itu, masih memandang kepada Tiong San dengan penuh perhatian.
Ia merasa tertarik sekali karena dalam pandangannya, biarpun pakaiannya tidak keruan, akan tetapi
pemuda gila itu benar-benar tampan dan gagah sekali mukanya. Timbul rasa kasihan dalam hatinya, juga
rasa sayang mengapa pemuda seperti itu sampai menjadi gila.
Sementara itu, Tiat-ciang-kang Gu Mo berkata lagi, “Bagaimana, orang she Liong. Apakah kau dapat
menerima tantangan kami?”
Liong Ki Lok masih menahan sabar dan menjawab setelah menjura, Tiat-ciang-kang, sesungguhnya
kedatanganku ke Shan-tung bukan hendak mencari perkara permusuhan. Dan harap kau ingat bahwa
urusan perjodohan tak dapat dipaksakan dengan kekerasan.”
Marah sekali si botak mendengar ini. “Kalau begitu kau terang-terangan menolak pinangan muridku! Hal ini
tidak mengapa, karena bukan hanya puterimu saja wanita di atas dunia ini. Akan tetapi kau telah membikin
malu muridku yang berarti membikin malu aku pula. Maka kalau kau tidak berani menghadapi kami dan
menerima tantangan kami, lebih baik kau sekarang minta maaf kepada muridku dan segera pergi
meninggalkan daerah Shan-tung!”
Bab-06 : Pendekar Gila dari Shan-tung
MERAHLAH muka Liong Ki Lok mendengar ucapan ini. Ini adalah penghinaan yang besar dan yang tak
dapat ditelannya begitu saja.
“Tiat-ciang-kang, urusan perjodohan baik kita habiskan sampai di sini saja. Akan tetapi kalau kau memang
masih menantangku, aku yang bodoh tentu saja takkan mundur untuk melayanimu beberapa gebrakan dan
merasai kelihaian tangan besimu!”
“Bangsat sombong, kalau begitu rasakan tanganku!” Gu Mo membentak dan segera memukul dengan
tangan kanannya. Pukulan ini hebat sekali, akan tetapi dengan cepat sekali Liong Ki Lok telah dapat
mengelak dan sebentar saja kedua orang jagoan itu saling serang dengan seru.
Terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Bwee Ji telah melompat maju sambil menghunus pedangnya.
“Ayah, biar aku yang memberi ajaran kepada bangsat tua ini!”
Akan tetapi ia disambut oleh si muka kuning yang juga telah mengeluarkan pedangnya sehingga
pertempuran terjadi dalam dua rombongan. Permainan pedang Bwee Ji cepat sekali, akan tetapi si muka
kuning yang telah mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai, ternyata bukanlah lawan yang ringan baginya.
Pada saat pertempuran berjalan seru, tiba-tiba terdengar bentakan orang yang melompat ke kalangan
pertandingan.
“Berhenti kalian semua!” Orang itu adalah seorang yang berpakaian sebagai seorang perwira, bertubuh
tinggi besar dan pakaiannya mewah sekali. Tangannya memegang sebuah pemukul yang merupakan
ruyung berduri, yakni seringkali terlihat digunakan oleh para algojo yang menyiksa dan memaksa
pengakuan seorang tahanan atau pesakitan pada masa itu. Orang ini menggerakkan senjatanya dua kali
dan pedang di tangan si muka kuning terlempar jauh sedangkan Tiat-ciang-kang sendiri ketika tangannya
terbentur oleh ruyung ini, tubuhnya terhuyung ke belakang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Melihat datangnya orang ini, empat orang yang sedang bertempur itu menjadi pucat, terutama sekali Liong
Ki Lok dan Tiat-ciang-kang yang segera menjura memberi hormat. Sedangkan Bwee Ji nampak jelas
betapa tubuhnya menjadi gemetar ketika melihat perwira tinggi besar yang usianya sudah empat puluh
tahun lebih itu.
“Liong Ki Lok, bagus sekali perbuatanmu! Kau lari dari kota raja untuk mengingkari janjimu kepada ongya
dan kini dengan berani mati sekali telah mencari menantu untuk calon selir ongya! Apakah kau sudah
bosan hidup? Aku datang menyusul kalian dan sekarang juga kau dan anakmu harus ikut aku kembali ke
kota raja!” Kemudian perwira itu berpaling menghadapi Tiat-ciang-kang Gu Mo yang berdiri sambil
menundukkan kepalanya,
“Dan kau, Tiat-ciang-kang! Kau berani mati untuk mengganggu calon mertua dan calon selir ongya!
Apakah kau sudah berani menghadapi aku, Te-sam Tai-ciangkun?”
Dengan muka masih pucat, Tiat-ciang-kang Gu Mo segera berlutut di depan perwira itu sambil berkata,
“Susiok, teecu mana berani berlaku kurang ajar? Teecu bertengkar dengan Liong Ki Lok karena tidak tahu
akan hal yang susiok (paman guru) sebutkan tadi. Harap sudi memberi maaf banyak-banyak kepada
teecu!”
“Hm, pergi kau!” kata perwira itu dengan sombongnya sambil menggerakkan tangan, dan Tiat-ciang-kang
Gu Mo yang ternyata adalah murid keponakan perwira gagah itu, segera berdiri dan pergi diikuti si muka
kuning bagaikan dua ekor anjing mendapat gebukan.
Perwira itu adalah Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong. Disebut Te-sam Tai-ciangkun atau Panglima besar
ketiga, oleh karena ia memang menduduki tingkat ke tiga di antara semua panglima kota raja dan ilmu
kepandaiannya amat tinggi. Perwira ini lalu menghadapi Liong Ki Lok dan berkata,
“Ayoh kau dan anakmu ikut kembali ke kota raja!” ucapannya mengandung suara memerintah.
Biarpun ia menjura dengan sikap yang amat menghormat, akan tetapi menghadapi perintah ini, agaknya
Liong Ki Lok tidak mau menurut. Ia berkata perlahan,
“Tai-ciangkun, betapapun juga, siauwte tak dapat kembali ke kota raja karena anakku menyatakan lebih
baik mati dari pada menjadi selir ongya!”
Ban Kong melebarkan matanya yang sudah lebar dan mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal
ketika ia membentak, “Apa katamu? Apa kau ingin mampus di sini? Sekali lagi kuperingatkan, kalau kau
membangkang perintah ini, kau akan kupukul mampus seperti anjing dan anakmu akan kupaksa pergi ke
kota raja!”
“Apa boleh buat,” kata Liong Ki Lok. “Lebih baik siauwte mati dari pada mengorbankan anak sendiri!”
“Keparat!” Ban Kong membentak dan ketika tangan kirinya bergerak, secepat kilat ia telah mengirim
pukulan tangan kiri yang hebat dan cepat ke arah kepala Liong Ki Lok. Liong-kauwsu cepat melompat ke
pinggir untuk menghindarkan diri dari pukulan maut ini.
Akan tetapi dengan dua langkah saja Ban Kong telah dapat mendekatinya dan sekali ia ayun tangan kiri
dan kaki kanan, tubuh Liong Ki Lok terpental dan terguling-guling. Memang serangan itu hebat sekali, oleh
karena sebelum tangan atau kaki itu tiba di tubuh orang, angin pukulan dan tendangannya telah
mendatangkan tenaga hebat yang cukup kuat untuk merobohkan orang.
Liong Ki Lok biarpun telah roboh, akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang cukup pandai, segera
melompat bangun lagi dan cepat menerima pedang yang dilemparkan oleh puterinya. Melihat kenekatan
Liong Ki Lok, Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong tertawa bergelak-gelak dan ia lalu menerjang dengan
ruyungnya yang berat dan hebat.
Serangannya benar-benar dahsyat sekali sehingga para penonton yang masih berdiri di tempat jauh,
merasa ngeri dan mundur ketakutan. Liong Ki Lok melawan sekuat tenaga. Akan tetapi setelah dapat
menangkis lima jurus serangan, akhirnya pedangnya kena terpukul hingga terlempar dan ketika ruyung itu
sudah melayang untuk menghancurkan kepalanya, tiba-tiba Bwee Ji menubruk ayahnya dan menghalangi
serangan Ban Kong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ban Kong tertawa berkakakan dan berkata, “Liong Ki Lok, aku masih ingat muka puterimu yang akan
menjadi nyonya muda ongya, maka aku tidak menghabisi nyawamu. Ayoh kau dan puterimu lekas ikut aku
pergi sebelum aku berobah pikiran dan menghancurkan kepalamu!”
Sebagai sambutan ucapan yang keras ini, terdengarlah tiba-tiba suara tambur dipukul orang. Orang-orang
menjadi terkejut sekali dan tiba-tiba terdengar penonton tertawa oleh karena ternyata bahwa yang
memukul tambur itu adalah pemuda gila tadi! Dengan tekanan tangannya, Tiong San telah membuat
tambur yang pecah tadi terangkap kembali dan kini ia menggunakan tangan kirinya memukul tambur
dengan suara riuh!
Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji menengok dengan kaget karena tambur yang sudah pecah menjadi dua itu
bagaimana tiba-tiba dapat dirangkapkan kembali dan dipukul sehingga menerbitkan suara keras? Mereka
memandang ke arah pemuda gila itu dengan mata terbelalak heran, sedangkan Ban Kong juga
memandang dengan marah.
Melihat sikap pemuda itu yang cengar-cengir sambil menabuh tambur seperti anak kecil, melihat pakaian
dan rambutnya serta melihat betapa orang-orang memandang dan mentertawakannya, perwira ini dapat
menduga bahwa pemuda itu tentulah seorang yang miring otaknya!”
“Ayoh, Liong Ki Lok, kita pergi!” bentaknya lagi. Akan tetapi suaranya tidak terdengar nyata, karena begitu
ia membuka mulut, suara tambur dipukul lagi dengan kerasnya! Kalau ia berhenti bicara, tamburpun
berhenti. Dan kalau ia mulai mengajak lagi, suara tambur riuh lagi, sehingga berkali-kali Te-sam Taiciangkun
Ban Kong membuka mulut tanpa dapat didengar orang karena kalah riuh oleh suara tambur yang
riuh.
Orang-orang yang menonton biarpun tidak mendengar suara perwira itu, namun tahu akan hal ini karena
mulut perwira itu bergerak-gerak. Maka mereka menjadi geli dan tertawa melihat betapa pemuda gila itu
seakan-akan mempermainkan si perwira yang galak dan menimbulkan rasa benci dan takut kepada
mereka itu.
Kini kesabaran Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong habis dengan langkah lebar ia menghampiri Tiong San
yang memandangnya dengan tertawa ha ha, hi hi. Namun, biarpun ia marah sekali, perwira besar itu tidak
mau merendahkan diri dengan memukul seorang pemuda yang miring otaknya, maka ia hanya
membentak,
“Pergi kau, anak gila!” Akan tetapi, bukannya menurut perintah, bahkan dengan menyengir Tiong San
membarengi bentakan dengan memukul tambur pula.
Ban Kong kehabisan akal (bohwat) dan dengan gemasnya, ia lalu mengulur tangannya menjewer telinga
Tiong San dan menariknya ke tengah lapangan. Tiong San menurut saja dan jalan terpincang-pincang
sehingga semua penonton tertawa geli karena pemandangan itu memang lucu.
Melihat betapa pemuda gila itu terpincang-pincang dan memandangnya dengan mulut mengejek, Ban
Kong menjadi marah dan hendak memperkeras pijitannya untuk menghancurkan telinga Tiong San yang
dijewernya. Akan tetapi tiba-tiba telinga itu bergerak dan terlepas dari pencetannya,
Hal ini tentu saja tidak diketahui oleh lain orang dan hanya terasa oleh Ban Kong sendiri yang menjadi
terheran-heran. Ia lalu mengangkat tangan memukul kepala pemuda itu yang terhuyung-huyung ke
belakang, akan tetapi terlepas dari pukulan, bahkan tertawa ha ha, hi hi, sambil menuding ke muka Ban
Kong.
“Orang gila, pergilah kau sebelum kuhancurkan kepalamu!” Ban Kong berseru marah.
Akan tetapi tiba-tiba Tiong San mengucapkan syair kuno dengan suara seperti orang bernyanyi.
Menteri durna memukul tambur
Raja monyet menari-nari
Rakyat kecil peluh mengucur
Menteri dan monyet senyum berseri
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua orang kembali gelak tertawa mendengar nyanyian yang tidak keruan artinya akan tetapi setidaktidaknya
mengandung sindiran bagi perwira itu, karena bukankah tadi pemuda gila itu memukul tambur?
Dalam dugaan mereka, perwira itu disebut raja monyet, maka mereka merasa puas dan gembira melihat
betapa pemuda gila itu berani memaki dan mempermainkan Ban Kong.
Akan tetapi, di antara para penonton terdapat orang-orang yang termasuk golongan pelajar sastra, maka
seorang sastrawan tua yang juga ikut menonton berseru heran.
“Itulah nyanyi kanak-kanak di jaman dinasti Tang!”
Memang benar, syair yang dinyanyikan oleh Tiong San tadi adalah sebuah nyanyi kanak-kanak yang
dikarang oleh seorang sastrawan dalam usahanya menyindir keadaan kaisar yang dipengaruhi oleh
menteri dorna sehingga mengadakan peraturan-peraturan yang memeras rakyat.
Sebagai seorang perwira kerajaan, sedikit banyak Ban Kong pernah mempelajari tentang kesusasteraan,
maka iapun kenal lagu ini. Telinganya menjadi merah karena marahnya dan ia lalu memukul ke arah
kepala Tiong San sekerasnya untuk memecahkan kepala itu.
Akan tetapi, pemuda itu sambil terhuyung-huyung dapat menghindarkan diri dari pukulannya, sambil
mundur berputar-putar mengelilingi lapangan itu. Kini tidak saja Ban Kong menjadi terkejut sekali, juga
Liong Ki Lok dan puterinya merasa heran sekali karena kedua kaki Tiong San yang kelihatan terhuyunghuyung
ke belakang itu merupakan gerakan sebaliknya dari Cin-pou-lian-hwan yang disebut Gerakan kaki
mundur berputar-putar, dan digerakkan dengan amat sempurna dan lincah!
Ban Kong merasa penasaran sekali dan ia segera maju pula menyerang. Bahkan kini ia mempergunakan
ruyungnya untuk menghancur leburkan kepala pemuda gila itu! Semua orang merasa terkejut dan ngeri,
sehingga terdengar seruan-seruan “Jangan pukul dia, jangan pukul dia!”
Akan tetapi, Ban Kong tentu saja tidak mau memperdulikan seruan itu dan tetap maju menyerang,
menggerakkan ruyungnya dengan sikap galak dan kedua matanya memancarkan cahaya membunuh.
Liong Ki Lok dan Bwee Ji merasa terkejut sekali karena mereka merasa bahwa kali ini si gila tentu akan
pecah kepalanya.
Akan tetapi, sambil ketawa ha ha, hi hi, dengan muka menunjukkan kegembiraan hatinya, Tiong San
mengambil cambuknya. Ia mengayundan memutar-mutar cambuknya di atas kepala, berlagak seperti
seorang penggembala menggiring kerbau, sehingga cambuknya berbunyi “tar-tar!” berkali-kali, dan
mulutnya tiada hentinya berkata.
“Monyet gila ..... ayoh menari-nari!”
Setelah berkata demikian, Tiong San memainkan cambuknya menyabet ke arah kedua kaki perwira itu.
Melihat datangnya ujung cambuk yang kecil ke arah kakinya, Ban Kong memandang rendah dan tidak
memperdulikan cambuk itu, bahkan langsung melangkah maju mengejar.
Akan tetapi kesombongannya hampir membuat ia mendapat malu besar. Ketika ujung cambuk menyabet
kakinya, ia merasa betapa kulit kaki yang terbungkus celana dan kaos itu perih dan pedas sekali. Dan
sebelum ia dapat bergerak, ujung cambuk itu telah melibat kedua kakinya sehingga hampir saja ia jatuh!
Ia berseru keras dan menggunakan lweekangnya lalu melompat ke atas sehingga libatan itu terlepas. Akan
tetapi kembali Tiong San sudah menyabet-nyabet lagi ke arah kakinya sambil tertawa-tawa dan berseru,
“Monyet gila, ayoh menari-nari!”
Karena tahu akan kelihaian pecut itu, terpaksa Ban Kong mengelak dan berloncat-loncatan sehingga ia
benar-benar seperti seekor monyet sedang menari-nari. Sambil menyabet-nyabet dengan pecutnya ke
arah kaki, mulut Tiong San menirukan suara tambur mengiringi tarian lawannya itu sehingga semua
penonton tak dapat menahan gelak tawanya lagi. Riuh rendah suara ketawa mereka dibarengi sorakansorakan
karena girang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sementara itu, Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji, ayah dan anak ini saling pandang sambil membelalakkan
matanya. Tak pernah mereka sangka bahwa pemuda gila itu demikian lihai sehingga cambuknya dapat
mempermainkan Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong yang memiliki ilmu silat tinggi sekali!
Sebetulnya adalah salah Ban Kong sendiri sehingga ia dapat dipermainkan oleh Tiong San. Kalau tadi ia
tidak memandang rendah, belum tentu ia akan mendapat malu besar. Kini ia telah mendapat serangan
lebih dulu dan karena cambuk itu panjang serta digunakan secara istimewa, terpaksa ia menurut perintah
pemuda itu untuk berloncat-loncatan seperti menari. Akan tetapi, dengan gemas ia lalu berseru keras dan
tubuhnya melayang ke depan, melancarkan serangan hebat.
Biarpun mulutnya masih tersenyum-senyum hingga wajahnya yang cakap nampak lucu. Akan tetapi Tiong
San tidak berani main-main menghadapi lawan yang tangguh ini. Semenjak turun gunung, belum pernah ia
menghadapi pertempuran dengan lawan dan pertama kali yang dihadapinya adalah jago nomor tiga dari
perwira kerajaan.
Tentu saja ia maklum akan kelihaian lawan ini dan biarpun ia seringkali menghadapi serangan-serangan
hebat dari suhunya ketika mereka sedang berlatih, akan tetapi belum pernah menghadapi lawan
sesungguhnya. Maka ia segera mengerahkan tenaga dan kepandaiannya bermain cambuk untuk melawan
Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong.
Baiknya ketika berlatih dengan suhunya, Thian-te Lo-mo tidak pernah berlaku sungkan atau kasihan dan
menyerangnya benar-benar dan sungguh-sungguh, sehingga bagi Tiong San sudah biasa menghadapi
serangan senjata. Maka kini menghadapi serbuan ruyung dari Ban Kong, ia tidak merasa gentar dan
memainkan cambuknya cepat sekali.
Ketika Ban Kong menerkamnya dengan serangan Macan lapar menubruk kambing, ia cepat mengelak ke
kiri dan segera menghayunkan cambuknya ke arah muka lawan. Ban kong menurunkan kakinya dan
sambil mengelak ia mencoba untuk menangkap ujung cambuk dengan tangan kirinya.
Akan tetapi tiba-tiba cambuk itu melengkung ke atas seakan-akan ia merupakan seekor ular hidup yang
tidak mau ditangkap dan ujungnya yang panjang dan kecil itu melalui atas kepalanya, sambil mengeluarkan
bunyi nyaring. Ujung cambuk itu memecut punggungnya sehingga bajunya di bagian punggung menjadi
pecah!
Para penonton yang tadinya tertawa-tawa geli melihat tingkah laku pemuda gila itu, lalu disusul oleh
suasana tegang dan khawatir karena perwira itu menyerang dengan ruyungnya. Kini menjadi bengong
terlongong-longong karena tak disangka-sangkanya pemuda gila itu ternyata pandai sekali, sehingga tidak
saja dapat menghadapi Ban Kong, bahkan sekali gus dapat merobek baju lawan di bagian punggung.
Mereka berdiri memandang sambil menahan napas dengan mulut ternganga dan mata terbuka lebar-lebar,
tanpa berani mengejapkan mata seakan-akan takut kalau-kalau tidak dapat menonton pertandingan yang
hebat itu!
Sementara itu, makin lama Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji makin merasa heran, sehingga gadis itu tak
terasa lalu mendekati ayahnya dan memegang tangan ayahnya yang lalu diremas-remasnya dengan hati
tegang. Ayahnya maklum akan perasaan hati gadisnya dan diam-diam ia berbisik dalam hatinya, “Pemuda
inilah yang akan dapat membantu kita!”
Pertempuran berjalan makin seru dan kini Ban Kong sama sekali tak mau memandang rendah lawannya
karena ternyata bahwa benar-benar lawan cilik ini hebat sekali. Bertubi-tubi ia mengirim serangan dengan
ruyungnya yang mengerikan itu, akan tetapi selalu ia memukul angin.
Tiong San cepat sekali gerakannya dan selalu berusaha menjauhinya agar dapat mengirim serangan
dengan ujung cambuknya yang panjang itu dari jarak jauh. Akan tetapi Ban Kong yang telah menerima
cambukan pada punggungnya, maklum akan kelihaian senjata itu sehingga kini ia menjaga diri baik-baik
agar jangan sampai dapat ditipu seperti pada jurus pertama tadi.
Ia mengerahkan lweekangnya dan selain ruyungnya di tangan kanan melakukan serangan-serangan
dahsyat, juga tangan kirinya bergerak-gerak melancarkan pukulan-pukulan dari jauh dan berusaha
merampas ujung cambuk untuk dibetotnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gerakan mereka berdua makin cepat saja sehingga tak lama kemudian mereka telah lenyap dari
pandangan mata penonton yang makin heran dan kagum. Akan tetapi, di dalam pandangan mata Liong Ki
Lok yang sudah terlatih, nampaklah betapa pemuda ini benar-benar hebat ilmu cambuknya dan dengan
senjatanya yang luar biasa itu ia dapat mempermainkan Ban Kong.
Pernah satu kali ujung cambuknya melilit ruyung lawan dan perwira itu mengerahkan tenaga untuk menarik
kembali. Akan tetapi sambil tersenyum-senyum Tiong San menahan. Dalam gerakan-gerakan mereka yang
cepat, terjadilah saling betot dan mengadu tenaga lweekang.
Dan tiba-tiba Tiong San melepaskan gagang cambuknya, sehingga ruyung itu dapat terbetot dan tersendal
hampir memukul hidung Ban Kong yang besar. Ban Kong marah sekali, apalagi ketika kembali ujung
cambuk Tiong San yang mengeluarkan angin keras menyambar-nyambar kepalanya, tiba-tiba melejit ke
bawah dan tahu-tahu telah melibat sepatu kirinya!
Ia berseru keras dan menendangkan kakinya ke samping dan tahu-tahu sepatunya telah terlepas. Sepatu
itu masih terlibat oleh ujung cambuk dan kini Tiong San mengayun-ayunkan cambuknya ke atas dengan
sepatu itu masih terikat pada ujungnya, lalu berseru-seru kegirangan.
“Aku dapat ikan besar .... ha ha, ikan besar ...!” Ia membuat gerakan seolah-olah seorang pemancing
berhasil mendapat seekor ikan besar dan dengan menggerak-gerakkan tangan ia membuat cambuknya
terayun-ayun dan sepatu itu bergerak-gerak seperti seekor ikan yang meronta-ronta di ujung pancing!
Ban Kong marah sekali dan tanpa memperdulikan kaki kirinya yang kini hanya memakai kaos saja itu, ia
lalu menerkam maju sambil membentak.
“Bangsat gila! Rasakan pembalasanku!” Akan tetapi dengan tersenyum mengejek Tiong San melompat
jauh ke kiri dan menurunkan sepatu itu.
“Ah, ikan bau ... ikan busuk ...!” Tiba-tiba ia melemparkan sepatu itu ke arah penonton dan karena memang
sepatu dari kulit itu telah dipakai dan berjalan jauh dan kini terkena peluh pula menyiarkan bau yang tidak
sedap, sehingga para penonton yang kejatuhan sepatu itu dengan hati geli dan girang juga berseru-seru,
“Memang bau ... sepatu bau!”
Bukan main mendongkolnya hati Ban Kong diganggu secara demikian oleh Tiong San. Sekali ini hancurlah
nama besarnya. Ia berpikir dan pikiran ini membuat ia nekat sekali untuk mengadu jiwa. Ia melompat lagi
untuk melakukan serangan-serangan maut yang paling berbahaya, akan tetapi pada saat itu terdengar
seruan dari jauh.
“Ikan sudah matang ...! Murid gila, mari kita makan .....!”
Tiong San mengenal suara suhunya, maka ia lalu melompat dan sekali tubuhnya berkelebat ia telah
melompati kepala para penonton dan berlari menuju ke tempat di mana tadi suhunya tidur. Ban Kong
merasa penasaran dan marah.
“Bangsat gila, kau hendak lari ke mana?” Ia mengejar secepatnya, dan Liong Ki Lok beserta puterinya juga
mengejar karena mereka ingin kenal dengan pemuda yang lihai itu. Para penonton yang ingin tahu
kelanjutan peristiwa yang menggemparkan itu juga berlari-lari menyusul.
Ban Kong telah tiba di tempat itu terlebih dulu dari yang lain dan ia melihat betapa pemuda gila yang
mempermainkannya tadi kini telah duduk di atas rumput, berhadapan dengan seorang tua yang lebih gila
lagi karena makan tulang-tulang dan kepala ikan dengan enaknya. Keduanya sedang makan ikan
panggang dengan enak dan tidak memperdulikannya sama sekali.
Ban Kong hendak menyerang dan memaki, akan tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat ketika ia melihat
cambuk panjang yang tergantung di pinggang Thian-te Lo-mo.
“Thian-te Lo-mo ....!” bisiknya dengan terkejut. “Tak salah lagi .....”
Sementara itu, biarpun si perwira hanya mengeluarkan seruan perlahan, agaknya si kakek gila itu telah
mendengarnya, maka ia mengangkat kepala dan berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Eh, perwira gila, kau hendak makan? Ini, terimalah sepotong daging ikan panggang!” Sambil berkata
demikian, ia melemparkan sepotong daging ke arah perwira itu yang menyambutnya dengan tangan
kanan.
Ia terkejut sekali karena tangannya menjadi gemetar dan seakan-akan menjadi setengah lumpuh ketika
daging itu tiba di telapak tangannya. Ia menjadi jerih karena maklum bahwa kakek gila itu tak boleh dibuat
permainan. Iapun tidak mau menghinanya, maka sambil berkata, “Terima kasih!” Ia lalu membalikkan tubuh
dan pergi dari situ.
Ketika ia bertemu dengan Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji yang mengejar ke situ, ia berkata, “Liong Ki Lok,
kalau dalam tiga hari kau tidak datang ke kota raja bersama puterimu, aku akan mendatangi dusun Bi-lusiang
dan membunuh semua keluargamu!”
Setelah berkata demikian, Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong lalu lari secepatnya meninggalkan tempat di
mana untuk pertama kalinya selama ia hidup ia menderita kekalahan yang amat memalukan dan
menjatuhkan namanya yang terkenal!
Liong Ki Lok menjadi pucat mendengar ucapan itu dan ia lalu memegang lengan puterinya. “Celaka, ia
telah tahu tempat sembunyi ibumu dan adik-adikmu!”
Gadis itu tak menjawab, hanya menjadi amat berduka dan air mata memenuhi kedua matanya dan datang
di tempat di mana Thian-te Lo-mo dan muridnya sedang makan daging ikan panggang. Orang-orang yang
tadi menonton juga sudah tiba di tempat itu dan memandang kepada kedua orang aneh itu dengan penuh
kekaguman.
Sementara itu, Liong Ki Lok setelah tiba di dekat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Ji-wi
inkong (tuan-tuan penolong), siauwte Liong Ki Lok berdua anak menghaturkan hormat.” Juga Liong Bwee
Ji ikut berlutut di dekat ayahnya.
Thian-te Lo-mo tertawa terpingkal-pingkal karena geli hatinya melihat hal ini.
“Eh, anak gendeng, dari mana kau membawa badut-badut lucu ini? Ha ha ha!” kemudian ia berkata kepada
Liong Ki Lok, “Orang gila, apakah aku dan muridku ini telah menjadi kaisar dan pangerannya, maka kau
dan anakmu berlutut, menyembah kami?”
Liong Ki Lok tidak memperdulikan suara ketawa geli dari para penonton melihat lagak orang tua ini yang
ternyata lebih gila lagi. Bahkan ia lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata,
“Siauwte ayah dan anak telah menerima pertolongan siauw-enghiong (orang gagah muda), maka sengaja
datang hendak menyatakan terima kasih!”
Tiong San telah ketularan adat suhunya dan ia tidak memperdulikan segala macam upacara, dan juga
membenci sekali kalau ada orang bersopan-sopan terhadap dirinya. Sungguhpun melihat penghormatan
orang ini ia segera membalasnya. Ia menggeser tempat duduknya dan kini iapun tiba-tiba berlutut di depan
Liong Ki Lok sehingga menimbulkan pemandangan yang amat ganjil.
Dua orang saling berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali para penonton tertawa,
sedangkan Liong Ki Lok dan puterinya makin merasa heran karena kini merekapun merasa ragu-ragu dan
menyangka bahwa dua orang itu benar-benar adalah orang-orang gila!
“Orang she Liong,” kata Tiong San yang teringat akan kata-kata Ban Kong, “Apakah kau sudah menjadi
gila? Guruku bukan kaisar dan akupun bukan pangeran. Maka pergilah kau dan anakmu kepada Ongya
yang patut kau sembah-sembah! Pergilah!” Sambil berkata demikian ia melemparkan tulang ikan di depan
Liong Ki Lok yang menjadi terkejut sekali karena tulang-tulang ikan itu ketika dilempar telah menancap
pada batu karang di depannya!
Ia mengangguk-anggukkan kepala lagi, “Sedikitnya, kalau inkong tidak mau diganggu, beritahukanlah
nama inkong kepada kami agar kami takkan dapat melupakannya,” katanya dengan amat kecewa.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Namanya?” tiba-tiba kakek gila itu berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Namanya adalah orang waras
dan kalian adalah orang-orang gila. Ha ha ha!”
Akan tetapi Tiong San yang merasa bahwa kalau tidak diberi jawaban orang ini akan berkeras dan tidak
mau pergi, lalu berkata, “Aku berada di tempat ini, maka namaku adalah Orang gila dari Shan-tung.”
Mendapat jawaban yang berbelit-belit ini, Liong Ki Lok menarik napas panjang. “Sudahlah, inkong tidak
mau menolong kami. Apa boleh buat, biarlah kami mati di depan Ongya di kota raja! Memang di dunia ini
banyak sekali orang-orang aneh yang berhati batu. Inkong mengaku orang Shan-tung, baik kami sebut
Shan-tung Tai-hiap saja.”
Tiong San tidak menjawab, hanya melanjutkan makan daging ikan panggang. Sedangkan suhunya tertawa
gelak-gelak. “Shan-tung tai-hiap? Ha ha ha, apakah kau hendak membikin muridku menjadi gila seperti
kalian? Ha ha ha!”
Juga Tiong San tertawa seperti suhunya. Kemudian mereka berdua berdiri dan meninggalkan tempat itu
sambil tertawa-tawa geli melihat penghormatan tadi.
Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji saling pandang dan menjadi kecewa dan berduka sekali. Terpaksa mereka
harus kembali ke kota raja karena kalau tidak, bahaya besar mengancam keselamatan keluarga mereka.
Sementara itu, para penonton yang melihat peristiwa itu dan yang tiada habisnya mengagumi kegagahan
Tiong San, lalu menyebut pemuda itu sebagai Shan-tung Koay-hiap atau pendekar ajaib dari Shan-tung,
mengingat akan wataknya yang gila-gilaan dan aneh dari pemuda itu.
********************
Liong Ki Lok adalah seorang guru silat di kota raja yang ternama juga, oleh karena ilmu silatnya memang
cukup tinggi. Ia menerima murid-murid dengan pembayaran sekedarnya dan nafkah hidupnya tergantung
dari pembayaran para muridnya itu.
Biarpun ia tidak dapat hidup dengan mewah dan kaya dari penghasilan ini, akan tetapi ia sudah hidup
berbahagia dengan isteri dan ketiga orang anaknya. Anaknya yang sulung perempuan, yaitu Liong Bwee
Ji, dan anak kedua dan ketiga masih kecil-kecil, pada waktu itu baru berusia empat dan enam tahun. Bwee
Ji sudah berusia enam belas tahun dan semenjak kecil Bwee Ji mendapat latihan silat dari ayahnya
sehingga iapun memiliki ilmu silat yang cukup lumayan.
Di dalam kota raja tinggal banyak pembesar-pembesar yang masih terhitung keluarga kaisar dan mereka
ini disebut pangeran-pangeran. Sebagian besar dari para pangeran ini berlagak lebih tinggi dari pada
kaisar sendiri dan mereka mempergunakan pengaruh, kedudukan, dan kekayaan untuk melakukan segala
macam perbuatan yang kalau dilakukan oleh penduduk biasa, maka pelakunya akan dicap penjahat. Akan
tetapi siapakah yang berani menyebut penjahat kepada pangeran dan pembesar tinggi itu?
Di antara para pangeran yang berpengaruh ini terdapat seorang pangeran bernama Ong Tai Kun atau
biasa disebut oleh para penjilatnya sebagai Ong-ya. Pangeran Ong ini belum tua benar, usianya masih
kurang dari empat puluh dua tahun. Akan tetapi pengaruhnya amat besar, oleh karena selain berpengaruh
di dalam istana kaisar sebagai keluarga dekat, iapun amat kaya raya dan memelihara banyak perwiraperwira
yang kosen dan berkepandaian tinggi.
Bab-07 : Kebiadaban Pangeran Ong
PARA perwiranya bukanlah ahli-ahli silat biasa. Akan tetapi telah menduduki tingkat ketiga dari semua
perwira-perwira yang kosen dari kerajaan! Di antara para perwiranya ini ialah Te-sam Tai-ciangkun Ban
Kong dan masih banyak lagi perwira-perwira lain. Terutama sekali, ia amat terkenal dan ditakuti oleh
karena selain dikawal oleh banyak perwira lihai, Ong Tai Kun sendiri juga seorang ahli silat yang tidak
rendah ilmu kepandaiannya.
Ia pernah belajar silat sampai enam tahun lamanya di puncak bukit Kun-lun, sehingga ia boleh disebut
sebagai anak murid Kun-lun-pai yang lihai dan ilmu pedangnya yang asli dari Kun-lun-pai merupakan
kepandaiannya yang istimewa. Tentu saja para tokoh Kun-lun-pai yang tadinya tidak tahu bahwa pemuda
dunia-kangouw.blogspot.com
bernama Ong Tai Kun itu adalah seorang pangeran, merasa menyesal sekali ketika mendengar akan
sepak terjang pangeran itu yang jahat.
Akan tetapi apakah yang dapat mereka perbuat?
Kedudukan Ong Tai Kun amat tinggi dan mengganggu dia berarti akan berhadapan dengan para perwira
kerajaan, bahkan mungkin sekali akan berhadapan dengan tentara negeri. Dan para tokoh Kun-lun-pai
tidak begitu bodoh untuk membentur karang yang demikian kuatnya.
Selain ditakuti orang, juga diam-diam Ong Tai Kun amat dibenci oleh karena di samping kejahatan lain dan
pemerasan untuk memperkaya diri sendiri, pangeran ini terkenal sebagai seorang hidung belang atau mata
keranjang. Banyak sudah gadis-gadis manis di kota dan di dusun-dusun sekitar kota raja menjadi korban
kecabulannya.
Ia telah memelihara banyak selir, dan berkali-kali mengganti selir lama dengan yang baru. Yang paling
menjemukan, setelah ia merasa bosan kepada seorang selir, maka wanita yang malang nasibnya itu lalu
dijual dengan paksa kepada seorang pengurus rumah pelacuran dan selanjutnya nasib wanita itu
terjerumus ke dalam jurang kehinaan yang akan membawa mereka kepada kesengsaraan sampai hayat
meninggalkan badan!
Tidak heran apabila semua orang yang mempunyai gadis cantik merasa amat takut kepada pangeran
keparat ini, dan di mana saja pangeran itu berada, para orang tua lalu cepat-cepat menyembunyikan anak
perempuannya agar jangan sampai mata pangeran itu melihatnya. Karena sekali saja mata pangeran itu
memandang dan hatinya tertarik, dengan jalan apapun juga, pasti ia akan dapat merampas gadis itu, baik
dengan jalan halus menggunakan uang atau dengan jalan kasar menggunakan pengaruh dan tenaga para
pengawalnya.
Akan tetapi pangeran Ong tidak kurang akal, karena ia maklum bahwa sukar baginya untuk dapat melihat
sendiri gadis-gadis cantik yang bersembunyi di dalam kamar rumahnya, maka ia mempunyai banyak matamata
yang memang sengaja mencari kesempatan untuk mempergunakan kelemahan hati pangeran Ong
terhadap paras cantik untuk mengeduk keuntungan sebesar-besarnya.
Mereka inilah yang selalu mempersiapkan persediaan calon-calon korban baru untuk pangeran itu. Dan
diam-diam mereka mencari-cari dan menyelidiki di mana adanya seorang perawan yang cukup cantik dan
yang kiranya dapat dijadikan calon korban pangeran itu!
Di antara para penyelidik ini terdapat seorang yang bernama Ma Cin yang menjadi sombong karena
merasa menjadi orang kepercayaan pangeran Ong, sehingga di dalam kampungnya ia disegani oleh para
tetangga karena mereka kenal bahwa orang ini adalah orang kepercayaan Ongya!
Pada suatu hari Ma Cin membawa seorang puteranya yang telah berusia sebelas tahun ke rumah
perguruan Liong Ki Lok. Dengan lagak yang sombong, ia memberitahukan kepada penjaga pintu bahwa ia
hendak bertemu dengan Liong-kauwsu. Liong Ki Lok menerima kedatangan tamu ini dengan ramah-tamah
sebagaimana telah menjadi adatnya.
“Liong-kauwsu,” kata Ma Cin setelah tuan rumah mempersilakan ia duduk dan menanyakan maksud
kedatangannya. “Kedatanganku ke sini ialah hendak minta kau mengajar silat kepada puteraku ini. Berapa
saja bayarannya takkan kutolak.”
Liong Ki Lok tidak memperdulikan sikap yang sombong ini, akan tetapi dengan mata tajam memandang
anak laki-laki itu. Anak itu bertubuh tinggi besar, bermulut lebar dan sepasang mata yang sipit
memperlihatkan sinar yang tak menyenangkan hatinya. Dalam hal memilih murid, Liong Ki Lok memang
amat teliti dan tak sembarangan anak dapat diterima menjadi muridnya tanpa diuji dulu. Maka ia lalu
berkata,
“Saudara Ma, tentang pembayaran adalah urusan belakang. Akan tetapi yang paling perlu hendak kulihat
dulu apakah anakmu ini mempunyai bakat untuk menjadi ahli silat.”
“Tentu saja ia berbakat!” seru Ma Cin. “Di kampung kami, tak ada anak lain yang berani kepadanya dan
tiap kali ia berkelahi, ia tentu memukul lawannya sampai matang biru!” Ma Cin tidak menceritakan bahwa di
kampungnya memang tidak ada yang berani mengganggu anaknya karena takut kepadanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Liong Ki Lok tersenyum, lalu berkata, “Hendak kulihat buktinya. Marilah kita pergi ke Lian-bu-thia (tempat
berlatih silat).”
Ketika mereka pergi ke Lian-bu-thia di sebelah belakang rumah, di situ terdapat Bwee Ji sedang berlatih
silat dengan dua orang murid Liong Ki Lok yang masih kecil. Memang seringkali Bwee Ji yang
kepandaiannya sudah tinggi itu membantu pekerjaan ayahnya dan melatih murid-murid ayahnya itu.
Ma Cin tercengang melihat kecantikan Bwee Ji. Tak pernah disangkanya bahwa guru silat ini mempunyai
seorang puteri demikian cantiknya dan diam-diam ia memuji dalam hatinya. Sementara itu, melihat betapa
mata tamu itu ditujukan kepadanya dengan kagum, Bwee Ji lalu menghentikan latihan murid ayahnya dan
masuk ke dalam. Sedangkan dua orang murid itu agaknya tahu bahwa anak Ma Cin adalah murid baru,
maka mereka memandangnya dengan tersenyum-senyum.
Liong Ki Lok lalu membawa anak Ma Cin ke dalam “ruang ujian ketabahan”. Setiap anak yang hendak
menjadi muridnya, lebih dulu diuji di ruang ini.
Anak Ma Cin disuruh masuk ke dalam ruang kecil itu dan tiba-tiba Liong Ki Lok berseru, “Awas!” sambil
menarik tali yang digantung Koay-hiapan pada sebuah paku besar. Ketika tali itu dilepasnya dari
gantungan, tiba-tiba dari atas turun sebuah karung besar yang agaknya berisi benda berat, hendak jatuh
menimpa kepala anak itu.
“Celaka ... anakku ....!” Ma Cin berseru keras dan anak itu menjadi pucat sekali lalu berlari keluar dengan
tubuh menggigil lalu menangis!
Kedua orang murid Liong Ki Lok tertawa cekikikan melihat hal ini dan ketika Ma Cin memandang ke arah
karung berat itu, ternyata bahwa karung itu tidak terus jatuh. Melainkan tergantung dan tertahan oleh tali
yang kuat hingga kini bergoyang-goyang.
Memang karung yang dijatuhkan dari atas seakan-akan hendak menimpa kepala anak itu hanya untuk
menguji sampai di mana ketabahan hati anak yang hendak belajar silat. Menurut pandangan Liong Ki Lok,
seorang yang mempelajari ilmu menjaga diri yang terutama harus memiliki ketenangan dan ketabahan hati.
Betapa pun tinggi ilmu silatnya, akan tetapi kalau hatinya tidak tabah dan tenang, maka dalam sebuah
pertempuran yang sungguh-sungguh, ilmu silatnya takkan banyak berguna dan akan menjadi kacau-balau
karena kegugupan dan ketakutannya.
Ia tidak mau menerima anak-anak penakut menjadi muridnya. Karena tidak mau kalau kelak namanya
dirusak oleh murid yang penakut atau pengecut.
Melihat betapa anak ini ketakutan, lari dan menangis dengan tubuh gemetar, Liong Ki Lok menggelenggelengkan
kepala dan berkata kepada Ma Cin yang masih memandang pucat dan kini mengelus-elus
kepala puteranya untuk menghiburnya.
“Saudara Ma, kau lihat sendiri, anakmu tidak berbakat dan lebih baik jangan memberi pelajaran silat
kepadanya. Ia lebih tepat diberi pelajaran bun (kesusasteraan) dari pada bu (kegagahan).”
Ma Cin menjadi penasaran sekali. “Akan tetapi dia tidak maju dalam pelajaran ilmu surat, dan karenanya
maka aku bawa dia ke sini untuk belajar silat kepadamu!”
Liong Ki Lok tersenyum. “Kalau dalam ilmu kesusasteraan dia juga tidak berbakat, maka sulitlah untuk
mencari kemajuan baginya.” Ucapan ini dikeluarkan dengan sejujurnya. Akan tetapi bagi Ma Cin
dianggapnya sebagai penghinaan.
“Kau kira anakku benar-benar penakut? Kurasa ia takkan kalah oleh anak-anak seperti ....” ia menengok
kepada dua orang anak laki-laki yang masih berdiri sambil tertawa-tawa di pinggir, “Seperti .... dua tikus
kecil itu!” Kemudian dengan muka merah karena marah Ma Cin berkata kepada anaknya,
“Kau tentu berani melawan anak-anak itu? Pukul mereka!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Anaknya memandang dan melihat bahwa dua orang anak kecil itu lebih kecil darinya dan paling banyak
usianya baru delapan atau sembilan tahun. Di kampungnya, anak-anak yang lebih besarpun tidak berani
mengganggunya.
Ia tidak tahu bahwa orang-orang tua anak-anak di kampungnya memang melarang anak-anak mereka
untuk bermusuhan atau berkelahi dengan anak Ma Cin. Maka kini dengan sombongnya ia lalu melangkah
maju ke arah dua orang anak kecil yang masih tertawa-tawa itu.
Liong Ki Lok yang melihat hyal ini tidak mencegahnya, hanya tersenyum memandang sambil berdiri
bertolak pinggang. Orang ini dan anaknya memang perlu diberi sedikit ajaran agar kesombongan mereka
berkurang, pikirnya.
Anak Ma Cin menghampiri dua orang anak kecil itu dan melihat sikapnya, kedua orang anak kecil itu
maklum bahwa anak ini hendak memukul mereka.
“Biar aku menghadapinya,” kata yang seorang, yang lebih kecil. Akan tetapi yang mempunyai sepasang
mata tajam dan bersinar tabah. Kawannya lalu menjauhkan diri dan duduk menonton dengan muka berseri.
“Kau mau apa?” tanya anak kecil itu pada anak Ma Cin sambil berdiri.
“Mau pukul kepalamu!” kata anak Ma Cin yang biasa mengucapkan kata-kata ini di kampungnya.
Anak kecil itu tertawa. “Kau yang tadi menangis ketakutan ini berani pukul orang? Ha ha, hi hi!”
Anak Ma Cin marah sekali. Akan tetapi ayahnya lebih marah lagi. “A Kin, pukul dia!” katanya.
Anaknya lalu mengangkat tangan memukul kepala anak kecil itu. Akan tetapi dengan sigapnya anak itu
miringkan tubuhnya, mengulurkan tangan menangkap pergelangan tangan yang memukulnya dan sekali ia
menarik ke depan, anak Ma Cin terjerumus ke depan dan hidungnya menumbuk lantai hingga berdarah.
Ia berdiri marah dan memukul lagi, belum tahu kalau hidungnya berdarah. Akan tetapi sekali ini ia didahului
dengan tendangan pada dadanya yang membuat ia jatuh terjengkang dan belakang kepalanya terbentur
lantai yang keras, sehingga menjadi bengkak sebesar telur ayam dan terasa sakit sekali.
Anak itu merayap bangun dan meringis kesakitan dan ketika darah dari hidungnya menetes turun
mengenai bajunya, ia merasa kaget sekali lalu menangis keras!
Anak kedua yang menonton tertawa gelak-gelak dan bersorak-sorak girang karena kemenangan
kawannya. Dan pada saat itu Bwee Ji yang mendengar sorakan ini muncul keluar. Ma Cin marah sekali
dan maju hendak memukul anak kecil yang telah menjatuhkan anaknya. Akan tetapi Bwee Ji
menghadapinya dan menjura,
“Anak kecil berkelahi dengan anak kecil sudah selazimnya dan tak perlu orang-orang tua ikut campur,”
katanya.
Ma Cin mundur kemalu-maluan, sedangkan Bwee Ji lalu berkata kepada Liong Ki Lok, “Ayah, mengapa
ayah diamkan saja anak-anak ini berkelahi?”
“Anak saudara Ma ini hendak berlagak jagoan dan biarlah ia memperlihatkan sendiri bahwa ia tidak
berbakat untuk belajar silat.”
Sambil menahan marahnya karena tidak berdaya melampiaskan kegemasannya, Ma Cin berkata kepada
Liong Ki Lok. “Liong-kauwsu. Kau telah menghina aku dan anakku. Baik, kau tunggulah saja dan kau akan
tahu bahwa aku orang she Ma adalah orang yang tidak boleh dibuat permainan!”
Kemudian dengan bersungut-sungut ia lalu pegang tangan anaknya dan menariknya pergi dari situ, diikuti
oleh gelak tawa kedua orang anak kecil murid Liong Ki Lok itu.
Liong Ki Lok dan puterinya sama sekali tak pernah menyangka bahwa peristiwa ini akan berbuntut panjang
dan akan mendatangkan malapetaka bagi keluarganya. Ia telah mulai melupakan peristiwa dengan orang
dunia-kangouw.blogspot.com
she Ma itu ketika pada suatu hari datang utusan dari pangeran Ong Tai Kun yang mengajukan lamaran
kepada Bwee Ji untuk dijadikan bini muda pangeran itu!
Liong Ki Lok sudah tahu akan pengaruh pangeran Ong. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau mengorbankan
puterinya menjadi bini muda pangeran itu. Karena maklum bahwa hal itu akan menjerumuskan puterinya
ke dalam lembah kesengsaraan. Juga Bwee Ji tidak sudi menerima pinangan ini.
Dengan halus ia menolak pinangan itu dan minta kepada utusan pangeran Ong agar supaya pangeran itu
suka memberi maaf, oleh karena puterinya telah dipertunangkan dengan pemuda lain. Hal ini sebenarnya
hanyalah alasan penolakan belaka oleh karena sesungguhnya Bwee Ji belum mempunyai tunangan.
Utusan itu pulang setelah menyatakan kekhawatirannya atas penolakan ini.
Dan pada keesokan harinya, datanglah Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong di rumah Liong Ki Lok.
“Orang she Liong,” kata perwira itu dengan lagak sombong. “Kau berani sekali menolak pinangan Ongya.
Boleh jadi kau adalah seorang guru silat yang ditakuti orang, akan tetapi apakah kau hendak
mengandalkan kepandaianmu untuk menentang kehendak Ongya?”
“Bukan demikian, Tai-ciangkun,” kata Liong Ki Lok menahan sabar. “Akan tetapi seperti telah
kuberitahukan kepada utusan Ongya, anakku Bwee Ji telah dipertunangkan dengan pemuda lain, sehingga
terpaksa kami tak dapat menerima kebaikan budi Ongya.”
Ban Kong tersenyum sindir. “Biasanya hal itu hanyalah digunakan sebagai alasan kosong belaka. Akan
tetapi baiknya Ongya sedang sabar, sehingga ia mau percaya kepada omonganmu ini.
Akan tetapi, dalam dua pekan, kau harus sudah mengundang Ongya untuk menghadiri pernikahan
puterimu. Kalau tidak, maka hal itu membuktikan bahwa alasanmu hanya alasan palsu belaka dan Ongya
tidak senang sekali kalau ada orang mempermainkannya!”
“Akan tetapi, ciangkun ....”
“Tidak ada tapi lagi, kau harus dapat mengundang Ongya dan aku datang minum arak pengantin. Kalau
tidak .....”
Pada saat itu, Bwe Ji yang telah sejak tadi mendengarkan dari balik tirai, tak dapat menahan sabarnya lagi
dan melompat keluar dengan pedang di tangan.
“Biarpun kau seorang perwira, siapakah yang takut kepadamu? Kau ikut-ikut mencampuri urusan rumah
tangga orang lain. Apakah kau sudah bosan hidup?”
Akan tetapi, ketika melihat munculnya gadis jelita itu, Ban Kong memandang dengan tercengang, lalu
tersenyum senang dan berkata, “Ha ha ha! Benar saja cantik jelita! Ma Cin memang mempunyai mata yang
tajam. Kau memang pantas sekali duduk di samping Ongya sebagai seorang tercinta, nona ....”
“Bangsat bermulut kotor!” Bwee Ji membentak marah dan melompat maju, menyerang dengan pedangnya.
Ayahnya hendak mencegah tidak keburu lagi. Akan tetapi Ban Kong ternyata luar biasa lihainya. Diserang
secara hebat itu, ia menahan tertawa geli dan sekali kedua tangannya bergerak, ia telah merampas
pedang Bwee Ji!
Ia lalu menggerakkan tangannya dan pedang yang terampas itu meluncur cepat sekali bagaikan sebatang
anak panah dan menancap di tiang penglari sampai setengahnya lebih. Gagang pedang bergoyanggoyang
dan kembali terdengar suara ketawa ha ha hi hi dari Ban Kong.
“Liong Ki Lok, pedang itu akan menancap pada dadamu kalau dalam dua pekan kau tidak melakukan satu
di antara dua hal ini, yaitu mengirim undangan minum arak untuk menyaksikan pernikahan puterimu. Atau
kalau tidak, mengirimkan puterimu kepada Ongya agar dapat hidup mewah dan berbahagia di samping
Ongya!” Setelah berkata demikian, dengan langkah sombong perwira kosen itu meninggalkan Liong Ki Lok
dan puterinya yang berdiri pucat.
Melihat gerakan Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong ketika merampas pedang anaknya, Liong Ki Lok maklum
bahwa ia bukan yandingan perwira kosen itu. Dan iapun maklum bahwa selain Ban Kong, masih banyak
dunia-kangouw.blogspot.com
orang-orang tangguh yang bekerja di bawah perintah pangeran Ong Tai Kun, sedangkan pangeran Ong
sendiri memiliki kepandaian yang tinggi. Maka ia menjadi sedih sekali dan berdiri bengong dengan wajah
pucat tanpa dapat berkata sesuatu.
Bwee Ji melihat keadaan ayahnya, tanpa berkata sesuatu dapat maklum akan bencana yang mengancam
mereka, maka dengan perlahan ia mulai menangis. “Ayah ...... bagaimana baiknya .... ayah ....?”
Liong Ki Lok menarik napas panjang dan mengajak puterinya masuk kedalam rumah untuk merundingkan
perkara itu dengan isterinya. Setelah berunding panjang lebar dan secara mendalam akhirnya Liong Ki Lok
mengambil keputusan dan berkata kepada isteri dan puterinya,
“Hanya ada dua jalan untuk menyelamatkan diri,” katanya dengan suara berat. Pertama aku harus
mencarikan jodoh yang cocok untuk Bwee Ji, seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi hingga
dapat membantu kita menghadapi gangguan pangeran Ong. Atau mengajak Bwee Ji merantau dan
mencarikan menantu dengan jalan mempertunjukkan kepandaian silat. Mudah-mudahan sebelum dua
pekan, Thian akan menunjukkan seorang calon jodoh yang sesuai dengan anakku.”
“Akan tetapi, bagaimana kalau dalam waktu itu tidak bertemu dengan seorang calon menantu yang
sesuai?” tanya isterinya, sedangkan Bwee Ji hanya terdengar menangis terisak-isak.
“Kalau demikian halnya, terpaksa kita harus melarikan diri dan bersembunyi!”
“Akan tetapi, ayah,” kata Bwee Ji. “Kalau aku dan ayah lari, bagaimana dengan nasib ibu dan adik-adikku?”
“Oleh karena itu, maka sebelum kau dan aku berangkat, ibumu serta kedua adikmu harus disembunyikan
lebih dulu!”
Selanjutnya, Liong Ki Lok lalu mengatur dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia mengantar isteri
dan kedua orang anaknya yang masih kecil pergi dan bersembunyi di dusun Bi-lu-siang dan tinggal untuk
sementara waktu di rumah seorang pamannya yang menjadi petani di dusun itu.
Kemudian ia mengajak Bwee Ji merantau ke selatan untuk mencarikan jodoh bagi puterinya itu, sehingga
ia dan anak gadisnya tiba di Shan-tung dan membuka pertunjukan silat di dekat danau Taming dan
bertemu dengan Tiong San yang berhasil mengusir Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong.
Liong Ki Lok sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ia telah diikuti selalu oleh mata-mata pangeran
Ong. Bahkan dari ancaman yang dikeluarkan oleh Ban Kong, ia maklum bahwa tempat sembunyi isteri dan
dua orang anaknya telah diketahui pula oleh perwira itu!
********************
Liong Ki Lok merasa sedih dan putus harapan. Tadinya ia hendak berlaku nekat mendatangi gedung
pangeran Ong untuk mengamuk. Akan tetapi sambil menangis tersedu-sedu Bwee Ji menahannya dan
berkata,
“Ayah, jangan, ayah! Ingatlah bahwa di sana masih ada ibu dan dua orang adikku. Bagaimana nasib
mereka kalau kau berlaku nekat?”
Akan tetapi aku tidak bisa mengorbankan dirimu!”
“Akupun lebih baik mati dari pada menjadi bini muda pangeran keparat itu. Akan tetapi lebih baik
mengorbankan jiwa seorang untuk menolong empat orang, ayah. Aku bersedia mati di gedung pangeran
Ong asalkan kau, ibu dan kedua adikku selamat.”
“Apa maksudmu?” Liong Ki Lok memandang dengan mata terbelalak kepada anaknya.
“Bawalah aku ke gedung pangeran keparat itu agar ayah dan adik-adikku tidak diganggu. Kemudian
bawalah ibu dan adik-adik pergi ke tempat jauh sekali agar tidak dapat disusul oleh mereka. Adapun aku
..... ah, ada banyak jalan untuk menghabiskan nyawa di tempat itu dari pada menjadi permainan pangeran
jahanam itu .....”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Bwee Ji .....” Liong Ki Lok memeluk kepala anaknya dengan hati hancur. Akan tetapi ia berpikir bahwa
selain jalan yang diusulkan oleh puterinya itu, agaknya tidak ada jalan keluar yang lebih baik lagi. Kalau ia
berkeras menentang kehendak pangeran Ong, akhirnya ia akan kalah juga dan Bwee Ji dengan kekerasan
akan dirampasnya juga, bahkan keselamatan dia sekeluarga akan terancam.
Kalau mereka semua mati, siapa yang akan membalaskan sakit hati Bwee Ji kelak? Biarlah ia
mengorbankan anak perempuannya yang akhirnya akan membunuh diri di dalam gedung sebagai seorang
gadis suci yang dapat mempertahankan nama baik, dan kelak ia akan pimpin dua orang anaknya untuk
menjadi orang pandai dan membalas dendam cici mereka!
“Kalau saja Shan-tung Koay-hiap tidak gila dan mau membantu kita .....” kata Liong-kauwsu sambil menarik
napas panjang.
“Dia seorang aneh berilmu tinggi, mana mau memperdulikan kita, ayah ...” kata Bwee Ji dengan suara
memilukan.
“Ah, kalau saja ia suka menjadi suamimu, ah .... hidup kita akan terjamin keselamatannya. Kalau saja ia
tidak gila, tentu ia akan suka melihat kau, anakku ...”
“Ayah ...” kata Bwee Ji dengan hati sedih sekali dan menyesali nasib dirinya yang amat malang.
Mereka lalu menuju ke dusun Bi-lu-siang dan ketika Liong Ki Lok menceritakan peristiwa yang terjadi
kepada isterinya, wanita itu menubruk Bwee Ji dan menangis dengan sedih. Mereka bertangis-tangisan
dan menyebut nama Thian. Akan tetapi, apakah yang dapat mereka lakukan?
“Jangan, anakku!” nyonya itu mengeluh sambil menangis. “Jangan kau pergi kepada iblis itu. Suamiku,
mengapa tidak mengambil jalan lain? Lebih baik sekarang juga kita pergi bersama melarikan diri dan
bersembunyi di tempat jauh!”
Liong Ki Lok menggelengkan kepalanya dengan hati kusut. “Tidak ada gunanya. Kita telah diikuti selalu,
bahkan tempat inipun telah diketahui. Apa artinya melarikan diri? Akibatnya, kita semua akan binasa!”
“Aku tidak takut mati!” teriak isterinya. “Dari pada Bwee Ji celaka, lebih baik aku mati lebih dulu!”
“Apakah kau hanya mengingat diri sendiri dan tidak memperhatikan nasib dua orang puteramu?” suaminya
menegur dan nyonya itu memeluk dua orang anaknya yang masih kecil sambil menangis semakin sedih.
“Ini semua gara-gara binatang she Ma yang dulu mengantar anaknya itu!” kata Liong Ki Lok sambil
mengepal tinju. “Kelak, dalam pembalasan sakit hati, sebelum melenyapkan pangeran Ong dan kaki
tangannya, lebih dulu akan kupecahkan kepala binatang she Ma itu!”
Dan pada keesokan harinya, Liong Ki Lok bersama puterinya berangkat ke kota raja setelah memesan
kepada isterinya supaya menunggu di situ. Karena setelah mengantar puterinya ke gedung pangeran Ong,
ia akan segera datang kembali dan mengajak mereka pergi ke tempat jauh.
Keberangkatan Bwee Ji di antar dengan tangis dan ratap sedih dari ibunya sehingga ketika akhirnya gadis
itu berangkat, nyonya itu roboh pingsan membuat sibuk pamannya yang segera menolongnya.
Bwee Ji mengenakan pakaian serba putih seperti orang berkabung. Rambutnya awut-awutan tidak terurus.
Akan tetapi ia bahkan nampak makin manis dalam pakaian yang sederhana sekali itu
********************
Baik kita tinggalkan dulu perjalanan ayah dan anak yang dilakukan dengan hati berat dan hancur itu,
karena Liong Ki Lok merasa betapa ia mengantar puterinya menuju jurang kematian, dan marilah kita
menengok sebentar ke belakang, ke tempat Tiong San dan Thian-te Lo-mo yang meninggalkan tepi danau
Taming setelah menghabiskan ikan panggang dan membikin kecewa hati Liong Ki Lok dan puterinya.
“Suhu, pernahkah kau pergi ke kota raja?” tiba-tiba Tiong San bertanya sambil menahan kakinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Suhunya juga berhenti dan tertawa. “Tentu saja pernah, aku pernah tinggal sehari semalam di dalam dapur
istana kaisar dan menikmati semua hidangan yang lezat-lezat. Ha ha ha! Semua hidangan sebelum
diantarkan kepada kaisar, lebih dulu kucicipi rasanya!” Ia nampak gembira sekali teringat akan hal ini
sehingga tiada hentinya tertawa terkekeh-kekeh.
“Apa kau tidak ingin mencicipi hidangan-hidangan lezat itu lagi, suhu?”
Tiba-tiba Thian-te Lo-mo menghentikan suara ketawanya dan memandang kepada muridnya dengan mata
berputar-putar. “Anak gendeng, kau ingin pergi ke kota raja! Ha ha, benar, kau ingin pergi ke kota raja!”
Biarpun suhunya dapat menduga dengan tepat sekali, namun Tiong San tidak memperdulikan, bahkan
bertanya lagi. “Suhu, kenalkah kau kepada seorang pangeran she Ong yang tinggal di kota raja?”
“Banyak pangeran-pangeran gila di kota raja telah kudatangi rumahnya, entah ia she apa aku tidak tahu!”
“Suhu, kabarnya pangeran she Ong itu mempunyai hidangan-hidangan yang paling enak di kota raja!
Bahkan, masakan-masakan yang biasanya dimakan oleh kaisar, kabarnya tidak melawan kelezatan
masakan-masakan yang biasa dimakan oleh pangeran Ong!”
“Mana mungkin? Masakan-masakan untuk kaisar yang paling enak!” kakek itu mengangguk-angguk.
“Apakah kau pernah mencicipi masakan di dapur pangeran Ong, suhu?”
Sambil membelalakkan matanya, Thian-te Lo-mo menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, bagaimana suhu dapat menentukan bahwa masakan di istana kaisar yang paling enak? Ha
ha, suhu benar-benar tidak pandai!”
Kakek itu nampal melenggong. “Kau benar, aku harus mencicipi dulu sebelum memberi kepastian ...”
Kemudian ia tertawa lagi terbahak-bahak. “Ha ha ha! anak gendeng, kau hendak mengajak aku ke
kotaraja. Ha ha!”
Diam-diam Tiong San merasa kagum akan kecerdikan suhunya yang walaupun pikirannya tak keruan
kerjanya, akan tetapi mempunyai kecerdikan yang melebihi orang waras.
“Benar, suhu. Teecu ingin sekali pergi ke kota raja.”
“Kau gila! Di kotaraja penuh dengan orang-orang gila yang berbahaya.”
“Tidak apa, suhu. Gila bertemu gila, bukankah sudah cocok?”
“Ha ha ha, boleh, boleh! Akan tetapi .....” ia memandang kepada muridnya dengan tajam dan melihat
pakaian yang melekat ditubuh Tiong San, pakaian yang hanya patut disebut setengah pakaian karena
tinggal pendek saja, “Pakaianmu itu ..... buruk sekali!”
“Tak lebih buruk dari pada pakaian yang dipakai suhu.”
Thian-te Lo-mo memandang kepada pakaiannya sendiri, lalu ia berkata, “Orang-orang kota raja
pakaiannya indah-indah!” Ia mengangguk-angguk. “Kau seorang sastrawan, mengapa pakaianmu begitu?
Ayo, kau cari pengganti pakaian yang indah, kalau tidak aku tidak mau membawamu ke kota raja!” Sambil
berkata demikian, kakek itu menggerakkan tangannya seakan-akan mengusir perginya muridnya. Dengan
tertawa terkekeh-kekeh Tiong San lalu pergi meninggalkan suhunya sambil berkata,
“Suhu tunggu saja, teecu akan mencari pengganti pakaian yang indah-indah.”
Ia berlari ke sebuah rumah di dekat danau Taming. Rumah ini adalah sebuah rumah tempat beristirahat
seorang berpangkat yang kaya raya. Dengan mempergunakan kepandaiannya, ia dapat memasuki rumah
itu dari atas genteng tanpa dilihat seorangpun. Ia mengintai dan melihat dua orang pelayan sedang
membungkus pakaian dan barang-barang lain oleh karena majikan mereka hendak kembali ke kota setelah
puas berperahu di atas danau.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau lihat, alangkah halus dan indahnya pakaian kongcu ini! Katanya terbuat dari pada sutera dari selatan
yang amat mahal!” kata seorang di antara mereka yang lalu mengeluarkan satu stel pakaian warna hijau
muda. “Coba kau lihat, pantas tidak aku memakai pakaian ini!” Ia lalu mengenakan pakaian itu sehingga
nampak gagah karena pakaian itu adalah pakaian seorang pemuda kaya raya yang indah.
“Bukankah aku pantas menjadi seorang siucai (pelajar) yang pandai dan hartawan?” tanyanya kepada
kawannya, sambil memutar-mutar tubuhnya.
“Kau seperti orang gila!” kata kawannya. “Mukamu yang buruk itu sama sekali tak pantas memakai pakaian
ini! Ayo lekas kau buka lagi, kalau ketahuan oleh kongcu, kau akan dipukul!”
Sementara itu, Tiong San suka sekali melihat pakaian pelajar yang dipakai oleh pelayan tadi. Memang
semenjak dulu, Tiong San suka kepada pakaian warna hijau. Ia melihat betapa pakaian itu dilipat baik-baik
kemudian dimasukkan ke dalam sebuah bungkusan. Lalu kedua pelayan itu membereskan barang-barang
lain. Ketika seorang di antara mereka menengok, ia menjadi terkejut dan bertanya,
“Eh eh, mana bungkusan pakaian tadi?”
Kawannya juga terheran-heran. “Bukankah tadi di sini?” Ia menuding ke arah tempat bungkusan tadi
terletak, “Atau kau telah memindahkannya tanpa kau sadari?” Mereka mencari-cari di sekeliling kamar itu,
akan tetapi tidak mendapatkan bungkusan itu. Tiba-tiba, orang yang tadi mencoba pakaian hijau,
memandang dengan mata terbelalak dan berseru,
“Itu dia!”
Kawannya berpaling dan melihat bungkusan yang hilang tadi telah berada di tempatnya kembali!
“Lho! Kenapa tadi tidak ada di situ?”
“Entah, tadi memang tidak ada di situ?”
Bab-08 : Kembang-kembang di Taman Pangeran
KEDUANYA memandang heran tanpa berani mendekati bungkusan itu dan saling pandang dengan muka
pucat. Akhirnya mereka memberanikan hati dan mengambil bungkusan itu lalu membukanya untuk
memeriksa, dan dengan kaget mereka mendapat kenyataan bahwa pakaian warna hijau yang dibicarakan
tadi beserta sestel pakaian merah telah lenyap!
“Pakaian kongcu hilang!” teriak yang mencobanya tadi.
“Juga pakaian merah taijin lenyap!” seru kawannya.
“Siapa yang ambil?”
“Tak mungkin orang bisa ambil. Bukankah semenjak tadi kita berada di sini?”
“Kalau begitu .....?”
“Kalau begitu .... tentu ..... setan yang .... yang ...” Belum habis kata-kata diucapkan, mereka sudah lari
keluar dari kamar dengan bulu tengkuk berdiri, untuk melaporkan hal yang aneh itu kepada majikan
mereka.
Sementara itu, sambil tertawa-tawa gembira, Tiong San kembali mencari suhunya sambil membawa dua
stel pakaian warna hijau dan merah. Tadi ia telah mempergunakan kepandaiannya dan dengan ujung
cambuk ia dapat mengambil bungkusan itu melalui jendela tanpa terlihat oleh dua pelayan dan setelah
mengambil pakaian hijau itu. Ia melihat satu stel pakaian merah. Ia teringat bahwa suhunya suka akan
warna merah. Buktinya tiap kali melihat ikan merah, selalu diusahakannya agar tertangkap. Maka ia lalu
mengembalikan bungkusan dengan cara yang sama, tanpa diketahui oleh dua pelayan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suhu, suhu!” serunya dengan suara girang ketika melihat suhunya telah menyandarkan tubuh pada
sebatang pohon sambil mendengkur. Biasanya ia tidak mau mengganggu suhunya. Akan tetapi kali ini ia
terlampau girang hingga ia tidak dapat menahan kegembiraan hatinya dan memanggil-manggil suhunya
yang sedang tidur.
Ketika Thian-te Lo-mo membuka matanya, Tiong San memperlihatkan dua stel pakaian itu sambil berkata,
“Suhu, lihat, bukankah indah sekali pakaian ini? Satu untuk teecu dan satu untuk suhu!”
“Apa? Kau mau suruh aku memakai pakaian seperti orang-orang gila?”
“Kalau suhu tidak mau memakai pakaian ini, teecu pun tidak mau memakainya.”
“Kenapa begitu?”
“Karena seorang murid hanya mencontoh suhunya saja. Apa yang suhu lakukan, harus murid lakukan pula.
Juga, sudah menjadi kebiasaan bahwa untuk makan hidangan lezat-lezat, orang harus mengenakan
pakaian baru, baru kelezatan itu terasa benar!” Kata-kata yang terakhir ini hanyalah merupakan akal
bujukan Tiong San saja agar suhunya suka memakai pakaian itu.
Thian-te Lo-mo tertawa gembira dan ia lalu mengambil pakaian warna merah berkembang itu. “Aku mau
pakai yang ini biar kelihatan seperti ikan emas!”
Guru dan murid lalu mengenakan pakaian indah itu. Thian-te Lo-mo kelihatan lucu dan lebih gila dari pada
biasanya ketika ia mengenakan pakaian warna merah berkembang itu! Ia senang sekali dan memandangi
pakaian yang dipakainya seperti seorang anak kecil memakai pakaian baru. Adapun Tiong San setelah
mengenakan pakaian indah itu, tiba-tiba teringatlah ia akan masa dulu dan timbul pula sifat pesolek yang
terdapat dalam dada tiap orang muda. Pakaian itu memang pantas sekali dan kebetulan ukurannya cocok
benar.
“Suhu, teecu hendak mencari sepatu dulu!”
“Boleh, boleh, pergilah! Akan tetapi jangan kau harap akan dapat memaksaku memakai sepatu. Kakiku
akan menjadi sakit-sakit rasanya kalau terkurung dan disiksa dalam sepatu!”
Kembali terjadi keanehan di antara para pelancong di telaga Taming. Seorang pelancong sedang enakenak
duduk di atas bangku di pinggir danau dan menikmati pemandangan indah. Tiba-tiba merasa betapa
kedua kakinya yang tergantung dari bangku dibetot orang sehingga ia hampir jatuh dan ketika ia melihat ke
arah kedua kakinya, wajahnya menjadi pucat dan matanya terbelalak karena sepasang sepatunya yang
tadi dipakainya kini telah lenyap tanpa diketahui siapa yang telah mencabut dari kakinya.
Tak lama kemudian, nampaklah seorang pemuda yang tampan sekali dengan pakaian warna hijau muda,
sepatu biru dan rambutnya diikat dengan pita merah, berjalan cepat bersama seorang kakek yang
berpakaian merah berkembang berkaki telanjang dan rambutnya yang panjang awut-awutan di atas
pundak! Mereka ini adalah Tiong San dan Thian-te Lo-mo yang berjalan cepat menuju ke kota raja.
Tiong San benar-benar merupakan seorang pelajar yang cakap dan aneh, karena biarpun pakaiannya
seperti seorang pelajar tulen, akan tetapi pada pinggangnya tergantung sebatang cambuk panjang yang
digulung dan gerak-geriknya cepat dan gagah, tidak seperti pelajar yang biasanya lemah dan halus.
Sebaliknya, Thian-te Lo-mo yang biasanya lebih menyerupai seorang pengemis gila, kini seperti seorang
pembesar yang kaya raya dan yang tiba-tiba menjadi gila. Pakaiannya yang merah indah itu sama sekali
tidak sesuai dengan rambutnya yang awut-awutan dan kakinya yang telanjang.
********************
Liong Ki Lok dang Liong Bwee Ji tiba di kota raja. Dengan perasaan berat guru silat itu mengantar anak
perempuannya ke gedung pangeran Ong Tai Kun yang besar dan luas pekarangannya. Kedatangannya
disambut oleh Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong sendiri dan lima orang perwira-perwira lain.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aha! Akhirnya kau menyerah juga, Liong-kauwsu!” kata Ban Kong sambil tersenyum simpul. “Kau berlaku
pintar kalau mau menurut dengan baik-baik, karena orang yang menentang kehendak Ongya adalah
sebodoh-bodohnya orang!”
Karena merasa segan untuk bicara dengan perwira ini, Liong Ki Lok dan Bwee Ji tidak menjawab, hanya
memandang dengan mata mengandung kebencian besar.
“Atau salahkah terkaanku?” kata Ban Kong pula melihat sikap mereka. Apakah kalian datang hendak
memberi kartu undangan? Apakah kau benar-benar telah mendapatkan calon menantumu, orang she
Liong?”
Pada saat Liong Ki Lok hendak menjawab, tiba-tiba Bwee Ji yang membuang muka ke belakang, melihat
datangnya dua orang yang berlari-lari masuk ke pekarangan itu. Ia lalu memegang tangan ayahnya eraterat,
dan berbisik, “Ayah ..... dia datang ....!”
“Dia siapa .....?” Ayahnya bertanya dan menunda maksudnya untuk menjawab pertanyaan Ban Kong.
“Shan-tung Koay-hiap! Dia datang!” suara Bwee Ji setengah bersorak, biarpun dikeluarkan dengan
perlahan, membuat ayahnya juga menengok ke belakang. Benar saja, ia melihat seorang pemuda tampan
berpakaian hijau dan seorang kakek berpakaian merah. Biarpun tadinya ia merasa ragu-ragu dan pangling
melihat mereka berdua ini, akan tetapi setelah memperhatikan, ia mengenal wajah Tiong San yang cakap.
Dalam keadaannya yang terdesak, Liong Ki Lok lalu mengambil keputusan nekat.
“Tai-ciangkun,” katanya kepada Ban Kong. “Memang aku telah mendapat menantu, dan menantuku adalah
Shan-tung Koay-hiap yang sekarang telah datang kesini!” Ia menunjuk ke arah dua orang yang kini telah
memasuki pekarangan dan berjalan menuju ke pintu di mana mereka berdiri.
Ban Kong memandang dan mukanya menjadi pucat.
“Dia ..... mereka...... datang .....!” Kemudian ia berpaling kepada kawan-kawannya dan berkata. “Awas,
yang datang adalah Thian-te Lo-mo dan muridnya. Panggil kawan-kawan!” Ia sendiri lalu mengeluarkan
ruyungnya, diikuti oleh kawan-kawannya yang segera mencabut pedang. Seorang di antara mereka lari ke
dalam untuk memanggil kawan-kawan untuk mengepung dan mengeroyok kakek gila yang mereka takuti
itu.
Ketika Tiong San dan suhunya tiba di kota raja, pemuda itu memang segera mengajak suhunya menuju ke
gedung pangeran Ong. Karena maksudnya yang terutama pergi ke kota raja adalah ingin menolong Liong
Ki Lok dan yang kebetulan sekali mereka jumpai pada saat yang tepat di pekarangan gedung itu. Maka
mereka lalu berhenti di dekat mereka dan Thian-te Lo-mo memandang gedung besar itu sambil tersenyumsenyum
karena ia teringat akan pengalaman-pengalamannya dahulu ketika ia main-main di kota raja dan
mencuri cap-cap pangkat para pembesar dan pangeran!
“Shan-tung Koay-hiap, apakah benar bahwa gadis ini adalah isterimu?” Ban Kong bertanya kepada Tiong
San sambil menunjuk kepada Bwee Ji. Perwira ini memandang dengan kagum dan heran kepada Tiong
San yang dulu seperti seorang pemuda gila yang jembel, sekarang ternyata merupakan seorang pemuda
yang tampan dan gagah.
Ditanya begitu, Tiong San tanpa terasa lalu berpaling memandang kepada Bwee Ji yang memandangnya
dengan muka merah berseri dan menggigit bibir. Kemudian pemuda itu memandang ke arah Liong Ki Lok
yang memandangnya dengan mata penuh permohonan tolong. Ia lalu menghadapi Ban Kong lagi dan
menjawabnya dengan sebuah pertanyaan.
“Andaikata betul maupun tidak, kau perduli apa? Dengarlah, nona ini tidak boleh menjadi korban pangeran
Ong, habis perkara!” Semua orang merasa heran mendengar suara Tiong San yang halus dan sopan,
karena dulu mereka tidak melihat sikap seperti ini pada pemuda itu.
Ban Kong maklum bahwa pemuda ini memang sengaja datang untuk melindungi gadis itu, maka ia
mengangkat-angkat ruyung tinggi-tinggi dan membentak. “Penjahat muda, jangan kira kami takut
kepadamu! Kalau kau memang suami nona itu, akuilah saja terus terang akan tetapi kalau bukan, jangan
kau ikut mencampuri urusan orang lain!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ban-ciangkun,” tiba-tiba Liong Ki Lok berkata. “Shan-tung Koay-hiap adalah menantuku, mengapa kau
masih mendesak terus? Apakah kau sengaja mencari perkara permusuhan?”
Ban Kong tertawa mengejek dan memandang kepada Tiong San sambil berkata, “Benarkah kata-katanya
itu? Bilakah kau menikah dengan nona manis ini?”
Tiong San juga tertawa dan menjawab, “Mertuaku sudah bicara mau apa lagi?”
Ban Kong berseru marah. “Kalau begitu kau harus mampus!” Ruyungnya menyambar maju, akan tetapi
tiba-tiba ruyung itu berhenti ditengah udara dan tahu-tahu telah terlepas dari pegangannya. Ruyung itu
ternyata telah dilibat oleh cambuk panjang yang sudah berada di tangan Thian-te Lo-mo.
“Ha ha ha! Perwira gendeng dan gila!” ia memaki sambil membanting ruyung yang dirampasnya itu ke atas
tanah. “Menyambut pengantin sama dengan menyambut tamu agung! Kalau muridku menjadi pengantin,
akupun seorang mempelai! Kau tidak menyambutku dengan hidangan-hidangan yang terkenal lezat dari
dapur pangeran Ong. Akan tetapi menyuguh kami dengan ruyung! Kau benar-benar gila dan tak patut
diangkat menjadi penyambut tamu agung! Aku akan ambil sendiri hidangan-hidangan itu!” Sambil berkata
demikian, Thian-te Lo-mo lalu melangkah lebar menuju ke pintu gedung untuk menerjang ke dalam.
Ban Kong menjadi terkejut dan khawatir sekali melihat betapa kakek gila itu hendak menyerbu ke dalam
gedung, oleh karena pada waktu itu Ong Tai Kun si pangeran bersama beberapa orang pembesar lain
sedang berpesta di ruang dalam. Maka ia lalu berseru keras.
“Orang gila, kau hendak berbuat apa?” lalu ia maju diikuti oleh kawan-kawannya, sedangkan pada saat itu,
dari dalam muncul banyak perwira-perwira lain yang tadi diberi tahu. Sebentar saja Thian-te Lo-mo telah
dikurung oleh belasan orang perwira yang bersenjata tajam, sedangkan Ban Kong sudah mengambil
ruyungnya yang tadi dilempar ke atas tanah oleh kakek itu.
“Ha ha ha! Kalian anjing-anjing penjilat sebelum mengeluarkan hidangan untukku minta diberi hadiah dulu!
Baik, baik, ini aku beri hadiah sama rata, seorang satu!”. Cambuknya berbunyi berdetak-detak dan
menyambar-nyambar di udara dan biarpun semua perwira itu memutar pedang dan golok untuk menyerbu
dan melindungi diri, tak urung sekalian senjata itu sekali terpukul ujung cambuk telah beterbangan dan
terlepas dari pegangan mereka. Hal itu lalu disusul oleh teriakan-teriakan mereka karena muka mereka
masing-masing telah tersambar oleh ujung cambuk sehingga pada muka tiap orang perwira terdapat garis
merah biru akibat sabetan cambuk!
Tentu saja hal ini amat mengejutkan mereka. Kepandaian para perwira itu bukan rendah, dan terutama
sekali Ban Kong telah terkenal dengan ruyungnya. Akan tetapi kini menghadapi Thian-te Lo-mo, mereka
belaan orang perwira itu seakan-akan menjadi tikus-tikus kecil menghadapi seekor kucing besar.
“Muridku, kau pergi antarkan mertua dan isterimu pulang! Aku mempelai tua hendak makan minum dulu
dengan pangeran Ong!” kata Thian-te Lo-mo kepada Tiong San sambil melangkah ke pintu. Sedangkan
para perwira yang masing-masing mendapat hadiah sabetan pada mukanya itu memandang dengan hati
khawatir sekali. Melihat betapa kakek gila itu masuk ke dalam gedung, mereka tidak perdulikan Liong Ki
Lok dan puterinya lagi, akan tetapi segera mengejar masuk ke dalam gedung.
Tiong San tertawa bergelak melihat perbuatan suhunya dan berseru, “Suhu, makanlah dulu sepuasnya,
akan tetapi jangan habiskan semua, beri bagian kepada teecu!”
Pada saat itu, Liong Ki Lok dan Bwee Ji telah menghampirinya dan nona itu telah menjatuhkan diri berlutut
di depan Tiong San! Akan tetapi Tiong San segera memegang tangannya dan menariknya berdiri.
Kemudian ia pegang pula tangan Liong Ki Lok dan segera lari sambil menarik tangan kedua orang itu
meninggalkan kota raja!
Biarpun Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji telah memiliki kepandaian yang cukup baik dan ilmu lari cepat
mereka juga tidak rendah, akan tetapi ketika digandeng dan ditarik oleh Tiong San, mereka merasa betapa
kedua kaki mereka seakan-akan tidak menyentuh bumi, demikian cepatnya mereka lari!
Setelah tiba di luar tembok kota raja, Tiong San melepaskan tangan mereka dan berkata, “Nah, pergilah
kalian ke mana kalian suka! Sekarang tidak ada bahaya lagi.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar ucapan ini, hati kedua orang itu merasa terkejut dan kecewa. Bwee Ji kembali menjatuhkan diri
berlutut di depan pemuda itu oleh karena ia merasa bahwa pemuda ini beserta suhunya telah menolong
jiwanya dari kesengsaraan atau kematian yang hebat.
“Inkong,” kata Liong Ki Lok sambil menjura, “Bukankah kau .... sudi menjadi suami anakku yang bodoh
....?”
Tiong San tertawa gelak-gelak mendengar ucapan ini, lalu menjawab, “Apa kau kira aku ini seorang gila?”
Ketika Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji memandangnya dengan heran mendengar kata-katanya ini. Ia lalu
mengucapkan sebuah syair kuno dari seorang yang patah hati,
Kalau kau ingin hidup bahagia
Terdapat tiga syarat
Dan pantangan utama:
Jangan mencari isteri,
Jangan mencari kawan,
Dan jangan mencari lawan!
Berkawanlah dengan buku
Berlawanlah dengan arak!
Selagi Liong Ki Lok dengan anaknya masih bengong memandang pemuda itu, tiba-tiba tubuh Tiong San
berkelebat dan lenyap dari depan mereka, hanya terdengar suaranya yang sudah jauh. “Suhu, jangan
habiskan hidangan-hidangan itu!”
Liong Ki Lok menarik napas panjang dan berkata, “Ia benar-benar gila, akan tetapi sakti dan berbudi!”
Sementara itu, Bwee Ji masih berlutut dan kini terdengar ia terisak-isak menangis. Hatinya telah tertambat
kepada pemuda yang cakap, gagah dan berbudi itu dan akan bahagialah hidupnya apabila ia bisa menjadi
isteri pemuda itu.
Tadi ia telah merasa amat girang ketika mendengar betapa pemuda itu agaknya bersedia menjadi
suaminya. Tidak tahunya kini pemuda itu meninggalkannya dengan syair yang menunjukkan bahwa
pemuda itu memandang rendah tentang pernikahan dan tidak sudi kepada wanita.
“Ayah .... di dunia ini tak mungkin ada orang kedua seperti dia ....”
Mendengar ucapan ini, ayahnya maklum bahwa hati anaknya telah tertarik kepada pemuda itu. Maka
sambil menarik napas panjang berkali-kali, ia lalu mengajak Bwee Ji pergi dari situ dengan cepat.
“Yang terpenting sekarang ialah mengajak ibu dan adik-adikmu segera pergi jauh sebelum jahanamjahanam
itu mendapat kesempatan mengejar.”
Mereka lalu berlari cepat menuju dusun Bi-lu-siang dan tanpa membuang waktu lagi mereka semua lalu
pergi ke selatan, melarikan diri sejauhnya dari tempat yang berbahaya itu sambil selalu terkenang kepada
Shan-tung Koay-hiap yang telah menolong mereka, akan tetapi berbareng juga mengecewakan hati
mereka itu.
********************
Di ruang yang lebar dalam gedung pangeran Ong Tai Kun sedang diadakan pesta yang mewah dan
gembira. Nampak empat buah meja persegi di ruang itu dan setiap meja dikelilingi oleh empat orang tamu
yang semuanya berpakaian indah karena mereka ini adalah pembesar-pembesar belaka.
Mereka ini terdiri dari pangeran-pangeran dan orang-orang berpangkat dan belasan orang ini memang
seringkali mengadakan perjamuan makan. Saling mengundang untuk bergembira ria menikmati hidanganhidangan
istimewa.
Di pojok kamar itu nampak serombongan penyanyi meramaikan suasana dengan nyanyian-nyanyian
merdu sehingga mereka yang sedang berpesta menjadi makin gembira. Arak yang lewat di kerongkongan
dunia-kangouw.blogspot.com
makin hangat dan wangi sedangkan masakan-masakan yang mereka makan makin lezat dengan
mendengarkan lagu-lagu merdu yang dinyanyikan oleh nona-nona manis itu. Para penyanyi ini bukanlah
rombongan penyanyi biasa, akan tetapi terdiri dari selir-selir tuan rumah sendiri. Maka tentu saja wajah
mereka yang cantik-cantik itu membuat belasan orang tamu menjadi kagum.
Ong Tai Kun sendiri duduk berhadapan dengan tiga orang tamu yang mendapat kehormatan istimewa
karena mereka ini adalah tiga orang berpangkat tertinggi di antara sekalian tamu. Seorang di antaranya
yang berhadapan muka dengan Ong Tai Kun, adalah seorang pangeran pula, yakni pangeran Lu Goan
Ong yang menjadi penasehat kaisar. Pengaruh pangeran Lu Goan Ong ini malahan lebih besar dari pada
pengaruh pangeran Ong. Maka sudah tentu saja sikap Ong Tai Kun terhadapnya amat menjilat-jilat.
Sebagaimana pembaca masih ingat, pangeran Lu Goan Ong adalah pangeran yang dulu bertemu dengan
Tiong San dan dua orang kawannya di telaga Tai-hu, dimana Thian-te Lo-mo mengamuk di atas perahu
pangeran itu setelah perahu pangeran itu menubruk perahu ketiga pemuda itu.
“Kabarnya saudara Ong mendapatkan kembang baru yang segar, cantik dan juga pandai silat!” kata
pangeran Lu Goan Ong sambil tersenyum-senyum dan mengangkat cawan araknya lalu mengerling ke
arah para penyanyi. “memang saudara Ong paling pandai memilih kembang hingga taman bungamu penuh
dengan kembang-kembang cantik!”
Ong Tai Kun tertawa senang. “Lu-taijin terlalu memuji,” katanya. “Nona yang kau maksudkan itu belum
datang, dua pekan lagi mungkin ia akan berada di sini. Akan tetapi selihai-lihainya wanita, ia hanya
memiliki ilmu silat biasa saja. Kalau Lu-taijin suka kepada salah satu kembang di tamanku ini, tunjuklah
saja dan tentu akan kupersembahkan untuk di tanam di taman bungamu!”
Lu Goan Ong tertawa gembira dan minum araknya. “Jangan, jangan!” Ia mengangkat kedua tangannya. “Di
sana sudah cukup banyak. Kalau terlalu banyak sukar mengurusnya!”
Dua orang lain yang berada di kanan kiri mereka ikut tertawa senang, dan seorang yang duduk di sebelah
kiri Ong Tai Kun berkata, “Kalau bungamu yang baru itu kepandaiannya dapat menyamai Gui-siocia di
gedung Lu-taijin, barulah hebat!”
“Mana bisa menyamai Gui-siocia?” kata Ong Tai Kun. “Untuk jaman ini, Gui-siocia tidak ada keduanya,
baik mengenai kecantikannya maupun mengenai kelihaian ilmu silatnya.”
Lu Goan Ong menarik napas. “Keponakanku Siu Eng memang cukup tinggi ilmu silatnya, akan tetapi hal itu
membuat ia menjadi keras kepala. Banyak sahabat datang meminangnya, akan tetapi ia bersikeras tidak
mau kawin dengan seorang yang tidak memiliki bun dan bu. Dan sukarnya, calon jodohnya harus dapat
mengalahkannya!” Pangeran Lu Goan Ong menggeleng-geleng kepala seperti orang merasa jengkel.
Padahal sebenarnya ia merasa bangga sekali akan keponakannya itu, yakni nona Siu Eng. “Sudah banyak
pemuda-pemuda yang amat baik, tinggi ilmu kesasteraannya, akan tetapi ia selalu menolak. Isteriku terlalu
memanjakannya sehingga aku benar-benar merasa bohwat (kehabisan akal).”
“Mengapa Lu-ya demikian bingung?” kata orang yang duduk di sebelah kanan Ong Tai Kun. “Adakan saja
sayembara di panggung lui-tai untuk mencari pemuda-pemuda yang yang lihai ilmu silatnya!”
Lu Goan Ong mrngangguk-angguk. “Memang sudah ada pikiran demikian dalam hatiku. Akan tetapi sukar
juga karena Siu Eng hanya mau dijodohkan dengan pemuda yang selain pandai ilmu silat dan dapat
mengalahkannya, juga harus pandai dalam ilmu kesusasteraan. Di mana ada pemuda yang berkepandaian
lengkap seperti itu?”
“Ah, dia menghendaki seorang bun-bu-cwan-jai (pemuda gagah yang pandai silat dan sastra)!” kata Ong
Tai Kun. “Memang tepat, karena kalau tidak demikian, mana dapat direndengkan dengan Gui-siocia?”
Pada saat Lu Goan Ong hendak membuka mulut lagi, tiba-tiba matanya terbelalak memandang kepada
seorang kakek berpakaian merah yang tiba-tiba muncul dari pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.
“Thian-te Lo-mo ...” bisiknya dan wajahnya menjadi pucat. Semua orang memandang dengan kaget dan
menjadi pucat karena semua pembesar dan pangeran ini biarpun di antaranya ada yang belum pernah
dunia-kangouw.blogspot.com
melihat Thian-te Lo-mo, akan tetapi pernah mendengar nama kakek gila yang pernah menggegerkan
istana kaisar dan seluruh kota raja!
Thian-te Lo-mo dengan tindakan kaki lebar memasuki ruangan dan matanya menyapu semua yang hadir
sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“Pangeran Ong, mana masakanmu yang paling enak, ayoh keluarkan untukku! Kabarnya hidangan di
rumahmu ini lebih lezat dari pada hidangan di dapur kaisar, benarkah ini?” Sambil berkata demikian, kakek
itu menghampiri meja pangeran Ong Tai Kun dengan hidung kembang-kempis seakan-akan sedang
mencium-cium bau masakan dan menaksir-naksirnya.
Sebetulnya saja Thian-te Lo-mo tidak mempunyai maksud buruk dan kedatangannya memang terdorong
oleh keinginan hatinya membuktikan ucapan muridnya bahwa hidangan di rumah pangeran ini lebih enak
dari pada hidangan dari dapur kaisar. Akan tetapi tentu saja para pembesar ini, terutama pangeran Ong
tidak mempunyai pikiran demikian. Karena kakek ini sudah terkenal sebagai seorang pengganggu kota
raja.
Kedatangannya ini mereka anggap sebagai gangguan yang disengaja dan ucapan tentang masakan tadi
dianggap sebagai alasan belaka. Oleh karena itu, mereka yang tahu ilmu silat, terutama Ong Tai Kun dan
Lu Goan Ong, segera mencabut pedang masing-masing dan mengurung Thian-te Lo-mo.
Pada saat itu, para perwira dengan dikepalai oleh Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong yang mukanya masingmasing
telah digaris merah oleh ujung cambuk Thian-te Lo-mo, memburu ke dalam dan melihat betapa
kakek itu kini dikurung oleh para pembesar tinggi, segera memburu dan mengurungnya pula.
“Thian-te Lo-mo orang gila!” teriak Ban Kong. “Kau hendak lari ke mana?” perwira ini terkenal sebagai
jagoan kota raja. Tentu saja ia tidak mau memperlihatkan rasa takutnya di depan para pangeran dan
pembesar itu. Dan untuk menyembunyikan kekalahannya tadi, ia mengeluarkan bentakan itu dan lalu maju
menyerang dengan ruyungnya.
Akan tetapi Thian-te Lo-mo dengan tersenyum mengejek hanya miringkan tubuh mengelak dan tangannya
menyambar semangkuk masakan dari meja pangeran Ong. Ia lalu mengempit cambuknya di bawah lengan
kanan alias ketiak, memegang mangkuk itu di tangan kiri dan tangan kanannya menggunakan sepasang
sumpit gading untuk menjumput sepotong daging dari mangkuk itu terus dimasukkan ke dalam mulutnya
dan dikunyah dengan mata meram melek seperti laku seorang ahli masak sedang mencicipi rasanya
semacam masakan.
Berkali-kali ruyung Ban Kong menyambar, akan tetapi ruyung itu selalu memukul angin, oleh karena
dengan sedikit gerakan saja Thian-te Lo-mo dapat mengelak tanpa melepaskan mangkuknya dan masih
mengayem makanan tadi.
Beberapa orang perwira lain maju mengeroyoknya pula sehingga kini Thian-te Lo-mo terpaksa
mengangkat tangan kanan yang memegang sumpit untuk menangkis. “Tring! Tring!” Sekali tangkis dengan
sumpitnya, tiga golok di tangan perwira-perwira itu terpental ke udara. Akan tetapi perwira lain maju pula
mengeroyok.
“Ah, masakan ini tidak sedap! Sama tawar dan hambarnya seperti kalian!” kata Thian-te Lo-mo yang lalu
melemparkan mangkuk itu demikian saja ke atas. Akan tetapi tepat sekali mangkuk itu menyambar turun
dan jatuh dengan terbalik di atas kepala pembesar itu sehingga merupakan topi aneh di atas kepalanya.
Sedangkan isinya tumpah dan kuah masakan itu mengalir turun di sepanjang mukanya. Karena masakan
ini memakai kecap merah, maka kecap yang mengalir di atas hidung dan pipinya merupakan barang cair
merah seakan-akan darah memenuhi muka itu.
Pembesar itu yang tidak menyangka sama sekali, menjadi kelabakan karena kedua matanya juga terkena
kuah masakan itu sehingga tak dapat dibuka lagi karena pedas dan ia lalu menggunakan kedua tangan
meraba-raba sana-sini dan berlari menabrak ke kanan-kiri!
“Ha ha ha!” Thian-te Lo-mo tertawa. “Memang kalian orang-orang gila dan masakan tadi sama sekali tidak
enak!” Ia mengulur tangan menyambar lain mangkuk di meja sebelah kanan. Akan tetapi pada saat ia
mengulurkan tangan, Ong Tai Kun yang memiliki ilmu pedang cukup tinggi, segera melompat dan
dunia-kangouw.blogspot.com
menyabetkan pedangnya ke arah tangan yang terulur itu! Inilah gerakan yang disebut Ceng-liong-kian-wi
(Naga hijau kibaskan buntut) yang dilakukan cepat sekali sehingga agaknya tangan kakek yang gemar
masakan enak itu akan terpotong oleh pedang pangeran Ong!
Akan tetapi, gerakan tangan kakek itu benar-benar mengagumkan. Ketika pedang telah menyambar dekat
sekali, tiba-tiba tangannya dibalikkan dan kini bahkan melakukan serangan menotok ke arah pergelangan
tangan pangeran Ong yang memegang pedang. Totokan yang dilakukan secara sembarangan ini adalah
ilmu tiam-hoat (menotok jalan darah) Coat-meh-hoat, yakni cara menotok tanpa mencari urat tertentu yang
diajarkan oleh cabang Bu-tong-pai.
Totokan macam ini, biarpun tidak mengenai urat-urat tertentu seperti Tiam-hwe-louw, ilmu totok dari Siauwlim-
pai, akan tetapi cukup dapat membuat bagian yang tertotok menjadi lumpuh untuk beberapa lama,
tergantung dari kekuatan yang tertotok. Memang kelihaiannya tidak seperti ilmu totok Siauw-lim-pai yang
mencari jalan-jalan darah tertentu akan tetapi cukup untuk digunakan sebagai serangan tiba-tiba dalam
membela diri.
Melihat gerakan ini, Ong Tai Kun terkejut sekali. Ia telah memiliki kepandaian cukup tinggi, maka tentu saja
ia tidak sudi dikalahkan dengan cara yang begitu saja, maka cepat ia menarik kembali pedangnya dan
ketika Thian-te Lo-mo melanjutkan maksudnya semula, yakni mengambil mangkuk itu, ia lalu membarengi
dengan serangan Yan-cu-liak-sui (Burung walet sambar air), pedangnya berkelebat menyambar ke arah
leher kakek yang sedang mengambil mangkuk itu,
Dan pada saat itu juga, Ban Kong dari lain jurusan juga telah memukulkan ruyungnya ke arah kepala
Thian-te Lo-mo dengan kekuatan luar biasa besarnya. Serangan dua orang kosen yang dilakukan sekali
gus ini bukanlah hal yang boleh dipandang ringan dan bagi ahli silat yang belum sempurna sekali
kepandaiannya, akan sukarlah menghindarkan diri dari bencana ini. Apalagi kalau ia sedang memegang
mangkuk dengan tangan kiri dan tangan kanannya sedang mengerjakan sepasang sumpit untuk
menjumput masakan itu.
Akan tetapi, ketika Thian-te Lo-mo sedang mengerjakan sumpitnya di dalam mangkuk, tiba-tiba dua potong
bakso yang banyak terdapat di dalam mangkuk itu, mencelat ke kanan kiri dan menyambar mata pangeran
Ong dan Ban Kong! Kejadian ini terjadi cepat sekali dan tidak terduga-duga lebih dulu. Kecepatan
sambaran bakso yang bundar itu ternyata lebih cepat dari pada sambaran senjata pedang dan ruyung
sehingga sebelum kedua senjata itu mengenai sasaran, bakso tadi telah mendahului menyambar mata
mereka.
Ong Tai Kun dan Ban Kong yang tidak melihat gerakan sumpit Thian-te Lo-mo, menjadi terkejut sekali
karena mengira bahwa benda yang menyambar mata mereka itu adalah senjata rahasia yang berbahaya
maka sambil berseru keras, mereka menjatuhkan diri ke samping untuk mengelak sehingga otomatis
senjata mereka ikut ditarik kembali dan penyerangan mereka gagal!
Bakso yang menyambar mata pangeran Ong dapat dikelit dan menyambar tembok hingga hancur
berantakan. Akan tetapi bakso yang menyambar Ban Kong, ketika dikelit oleh perwira itu, menyambar ke
arah seorang perwira yang tinggi besar dan yang berdiri di belakang Ban Kong. Perwira itu sedang
berteriak-teriak mengajak kawan-kawannya.
“Ayoh, keroyok beramai-ramai! Ayoh ........hepp!!”
Bab-09 : Jagoan Istana Ketemu Batu
UCAPANNYA terhenti tiba-tiba dan matanya melotot bagaikan hendak melompat keluar dari rongga
matanya karena pada saat itu sebutir bakso yang tadinya dikelit oleh Ban Kong, dengan tepat sekali
memasuki mulutnya yang sedang terbuka ketika ia hendak berkata ”maju” dan bakso itu dengan kecepatan
luar biasa telah datang memasuki mulut dan terus menyerbu ke dalam sehingga mengganjal
kerongkongannya!
Kedua mata orang tinggi besar ini menjadi berputar-putar, mendelik dan mulutnya terbuka, lehernya
dipanjang pendekkan dalam usahanya untuk menelan masuk atau mengeluarkan kembali bakso yang
mengganjal tenggorokannya itu seperti laku seekor ayam terkena penyakit sawan!
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia berlari ke sana ke mari, menyambar secawan arak dari meja dan menuangkan arak itu ke dalam mulut
dengan maksud mendorong bakso yang nakal itu ke dalam perut. Akan tetapi, karena masuknya bakso itu
bukan masuk sewajarnya, akan tetapi tak terduga-duga dan paksaan, maka tidak mudah dikeluarkan
sehingga arak itu tak dapat mengalir masuk ke dalam perut dan tertumpah kembali keluar dari mulutnya!
Karena terlalu lama napasnya tertahan oleh bakso itu, si perwira mulai gelisah dan mukanya menjadi biru
serta kedua matanya makin besar saja. Kawan-kawannya sudah berusaha menolongnya dengan
memukul-mukul punggungnya, akan tetapi sampai punggungnya terasa sakit, bakso yang bandel itu tetap
tidak mau melompat ke dalam atau keluar.
Thian-te Lo-mo tertawa berkakakan melihat ini dan berkata,
“Ong-ya, ternyata masakanmu tidak sehebat yang dikabarkan orang! Lihat, baksomu demikian liat
sehingga perwira itu tidak dapat mengunyahnya dan sekarang bersarang di kerongkongan! Ha ha ha!”
Ong Tai Kun merah mukanya karena marah. Ia melangkah lebar ke arah perwira itu, lalu mengambil
sebatang sumpit, menyuruh perwira itu berlutut dan dengan cepat ia menusukkan sumpit tadi ke dalam
mulut perwira yang masih terbuka.
Terdengar suara “kek” dan bakso itu didorong dengan paksa memasuki perut si perwira! Perwira itu
merasa agak sakit kerongkongannya, akan tetapi kini ia selamat karena bakso yang nakal itu telah
terdorong masuk ke dalam perut. Ia dapat bernapas lagi terengah-engah dan berlutut di depan Ong Tai
Kun untuk menyatakan terima kasihnya, sedangkan para perwira lain tak dapat menahan kegelian hati
mereka dan tersenyum diam-diam.
Pangeran Ong Tai Kun tak dapat menahan marahnya. Ia menudingkan pedangnya kepada Thian-te Lo-mo
dan membentak,
“Thian-te Lo-mo! Kau berani menghina gedungku. Apakah kau kira kami tak dapat membasmi kau
pengacau hina dina ini?” Setelah berkata demikian, ia lalu mengerahkan semua perwiranya untuk
menyerang! Serangan itu datangnya seperti hujan, karena yang menyerang dan mengeroyok kakek itu
jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang yang berkepandaian tinggi!
Sibuk juga Thian-te Lo-mo menghadapi serangan ini, karena biarpun serangan itu masih dapat ia hadapi
dengan seenaknya, yakni dengan memutar-mutar sepasang sumpit di tangan kanannya, akan tetapi hal ini
membuat ia tidak dapat menikmati masakan-masakan yang hendak dicicipinya itu!
“Pangeran Ong, kau benar-benar tidak tahu aturan!” teriaknya sambil memaki kalang kabut, memaki tiap
orang yang menyerang dengan sebutan perwira gila, pembesar gendeng dan sebagainya. “Tamu agung
datang tidak disambut baik-baik, bahkan diajak main-main senjata! Kalian mengganggu aku makan saja!”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia mencabut cambuknya yang tadi diselipkan di pinggang dan sekali
cambuknya berdetak, cambuk itu telah diputarnya dengan gerakan luar biasa cepatnya. Terdengar
teriakan-teriakan dan senjata-senjata terpental dan jatuh di atas lantai dengan suara nyaring! Banyak
pengeroyok memegangi muka mereka yang telah diberi hadiah oleh ujung cambuk! Ketika semua orang
memandang, kakek itu telah lenyap dari dalam kurungan mereka!
Mereka menjadi heran dan bingung. Kemana perginya kakek gila itu? Apakah ia pandai menghilang? Tak
mungkin ia dapat pergi dari situ tanpa mereka lihat.
Selagi mereka mencari-cari dan memandang ke sana ke mari, tiba-tiba dari atas menyambar sinar hitam
dan tahu-tahu semangkok masakan telah terbang dari atas meja dan melayang ke atas! Semua orang
memandang ke atas dan ternyata bahwa kakek yang mereka cari-cari itu telah duduk di atas tiang penglari
yang paling tinggi dengan kedua kaki ongkang-ongkang dan kini sedang mencoba isi mangkok yang baru
saja ia ambil dari atas meja dengan mempergunakan cambuknya yang lihai!
“Hm, kurang sedap, kurang sedap!” katanya setelah makan sepotong masakan dari mangkok itu.
“Udangnya bukan udang dari sungai Huang-ho seperti yang dimasak di dapur kaisar, akan tetapi ini hanya
udang sungai Hai-ho!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian ia melemparkan mangkok itu ke bawah dan karena kini para pengeroyok itu telah berlaku hatihati,
mereka dapat mengelak dari sambaran mangkok itu yang dengan aneh telah jatuh di atas lantai
dengan telungkup dan tidak pecah! Akan tetapi, air kuah dari masakan itu yang memercik ke sana ke mari
sukar dikelit sehingga pakaian orang-orang yang berada dekat kena noda-noda kecap dan kuah!
Setelah melempar mangkok tadi, kembali cambuk Thian-te Lo-mo menyambar sebuah mangkok lain dan
mulai mencicipi isi mangkok dengan enak, tanpa memperdulikan orang-orang yang berada di bawah.
Pangeran Ong Tai Kun merasa marah bukan main melihat lagak kakek itu. Pangeran ini telah terkenal
sebagai seorang pangeran yang selain mempunyai kepandaian tinggi, juga mempunyai banyak perwira
yang kosen sehingga jarang ada orang berani mengganggunya.
Bahkan dulu ketika Thian-te Lo-mo mengacau di kota raja, kakek itu tidak mengganggunya dan hal ini
sebetulnya hanya hal yang kebetulan saja, akan tetapi telah digunakan oleh pangeran Ong Tai Kun untuk
menyombong dan menyatakan bahwa Thian-te Lo-mo tidak berani mengganggu gedungnya!
Tidak tahunya, hari ini kakek gila itu datang-datang menggunakan gedungnya untuk tempat bermain-main
dan mengganggu semau-maunya di depan sekian banyak pangeran dan pembesar tinggi! Tentu saja ia
merasa terhina sekali dan dengan marah ia lalu mengutus seorang perwira untuk minta bantuan perwira
dari istana, dan ia sendiri lalu berseru keras,
“Keluarkan am-gi (senjata rahasia) dan serang dia! Panggil barisan panah ke sini!”
Sebetulnya sekian banyak perwira itu tidak ada yang tidak sanggup melompat menyusul ke atas tiang
penglari, akan tetapi mereka ngeri untuk melakukan hal ini. Menghadapi kakek sakti itu di atas tiang
penglari bukanlah hal yang tidak berbahaya karena sekali mereka kena cambuk dan jatuh dari atas, nyawa
mereka sukar ditolong lagi! Kini mendengar usul majikan mereka untuk mempergunakan am-gi, mereka
seperti diingatkan dan mereka yang pandai menggunakan senjata rahasia, lalu mengeluarkan am-gi
masing-masing.
Ada yang mengeluarkan piauw (besi runcing), ada yang mengeluarkan Bwe-hwa-ciam (jarum bunga bwe)
atau senjata rahasia berbentuk paku, uang logam, dan lain-lain. Sebentar saja berhamburanlah senjatasenjata
rahasia itu melayang ke arah tubuh Thian-te Lo-mo!
Akan tetapi, dengan enaknya, kedua kaki kakek yang telanjang itu dan yang sedang ongkang-ongkang ke
bawah itu, bergerak-gerak seperti anak kecil main-main dan semua senjata rahasia kena ditendang jatuh
dan menyambar kembali ke arah penyerangnya! Kepandaian ini benar-benar mentakjubkan sekali dan
jarang ada orang berilmu tinggi yang akan sanggup melakukannya!
Thian-te Lo-mo tertawa geli dan cambuknya kembali menyambar dan menangkap sebuah mangkok berisi
masakan kacang tanah. Ia tertawa-tawa dan berkata,
“He he he, kalian mengajak main-main dan sambitan-sambitan? Boleh, boleh!” Ia lalu menggenggam
kacang dari mangkok itu dan melemparkannya ke bawah! Hujan kacang terjadi dan terdengar teriakanteriakan
kesakitan ketika kacang itu menghujani di atas kepala mereka!
Yang memakai topi masih mending, akan tetapi mereka yang tidak bertopi dan kepalanya telanjang, harus
menderita hebat karena kacang-kacang itu jatuh berbunyi “tak-tik-tok” di atas kepala dan terasa amat sakit.
Untung bagi mereka bahwa Thian-te Lo-mo tidak mempergunakan seluruh tenaganya. Kalau demikian
halnya, jangankan yang bertelanjang kepala, biarpun yang memakai topi tentu akan tembus topinya itu dan
kulit kepalanya akan pecah-pecah pula terkena “pelor istimewa” itu!
Orang-orang pada lari cerai berai menjauhi hujan kacang itu dan pada saat itu, seregu barisan panah telah
tiba! Akan tetapi sebelum mereka ini dapat bereaksi, tiba-tiba di dalam ruang itu masuk seorang pemuda
berpakaian hijau yang tampan dan gagah sekali! Pemuda ini bukan lain ialah Tiong San yang telah kembali
dari mengantar Liong Ki Lok dan puterinya sampai di luar tembok kota raja.
Melihat betapa suhunya dikepung dan dikeroyok, Tiong San lalu melepaskan cambuknya dan sekali ia
ayun cambuk, lima orang terlilit cambuk dan ketika cambuk disentakkan ke belakang, lima orang itu roboh
terguling-guling. Keadaan makin menjadi kacau dan semua orang kini berbalik menghadapi Tiong San
yang tersenyum dan berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Guruku sedang menikmati makanan, mengapa kalian mengganggunya?”
“Shan-tung Koay-hiap!” seru Ban Kong yang mengenal pemuda itu dan semua orang kini maju dengan
senjata di tangan mengeroyok pemuda itu yang mereka sangka tidak selihai Thian-te Lo-mo! Akan tetapi
mereka kecele, karena secepat kilat cambuk Tiong San menyambar dan karena cambuk itu panjang, maka
ia dapat mendahului serangan mereka. Ban Kong berteriak kesakitan dan menutup mukanya karena
ternyata hidungnya yang besar telah disambar ujung cambuk dan berdarah!
“Anak gendeng!” Thian-te Lo-mo berkata kepada muridnya ketika melihat kedatangan pemuda itu. “Kau
mengobrol yang bukan-bukan! Hidangan di rumah pangeran Ong ini sama sekali tidak ada harganya untuk
disebut! Mana bisa menyamai masakan dari dapur istana raja?”
“Memang pangeran ini sekarang menjadi pelit dan tidak menghormati tamu!” jawab Tiong San sambil
membabat dengan cambuknya sehingga kembali terdengar pekik kesakitan dan kini yang menjadi
korbannya adalah seorang perwira lain yang mencoba untuk menyerangnya dengan senjata rahasia. “Ia
sekarang hanya memperhatikan urusan menambah selir dengan memaksa orang baik-baik dan sama
sekali tidak memperhatikan masakan enak lagi!”
Sementara itu, Lu Goan Ong dengan mata terbelalak dan mulut menganga memandang kepada Tiong
San. Ia masih ingat wajah pemuda ini, maka ia segera melangkah maju dan berseru,
“Hai, bukankah kau kawan dari Khu Sin dan Thio Swie?”
Tiong San merasa terkejut sekali mendengar disebutnya dua nama ini, akan tetapi dengan amat pandai ia
dapat menyembunyikan perasaannya dan ketika ia memandang kepada pangeran yang bertubuh tinggi
besar dan bermata lebar itu, ia teringat bahwa inilah pangeran yang dulu ia jumpai di telaga Tai-hu. Ia tidak
mau menjawab, hanya dengan sepasang matanya ia mencari-cari orang yang bernama Ong Tai Kun.
“Aku hendak bertemu dengan pangeran tikus Ong Tai Kun, yang manakah dia?” sambil berkata demikian,
ia melangkah maju dengan amat beraninya, berjalan di antara sekian banyak perwira yang tentu saja dapat
menyerangnya dengan tiba-tiba dari kanan kiri atau belakang.
Akan tetapi aneh, sikapnya yang amat berani ini bahkan mendatangkan gentar dalam hati para perwira
sehingga tak seorangpun berani menggerakkan tangan. Komandan regu barisan panah hendak
menggunakan saat itu untuk mencari jasa, maka ia diam-diam menarik tali busurnya dan hendak
menyerang Tiong San.
Akan tetapi tiba-tiba cambuk Thian-te Lo-mo dari atas melayang turun dan busur itu telah terampas! Tiong
San sama sekali tidak mau memperdulikan kejadian ini dan membiarkan saja komandan yang terampas
busurnya itu berdiri terbelalak dengan muka pucat memandangi busurnya yang telah berada di tangan
Thian-te Lo-mo.
“Mana Ong Tai Kun? Harap suka maju!” kata Tiong San kemudian dan ia menyapu semua orang yang
berada di situ dengan sudut matanya yang tajam. Akan tetapi tak seorangpun berani membuka mulut.
Keadaan sunyi senyap. Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara gelak tertawa dari Thian-te Lo-mo
yang masih duduk ongkang-ongkang kaki di atas tiang penglari.
“Ha ha ha! Tuan rumah yang mengeluarkan hidangan-hidangan buruk merasa malu untuk mengaku dan
menyatakan dirinya! Ha ha ha, murid gendeng, mengapa kau begitu bodoh? Pangeran Ong telah kuberi
tanda dengan cambukan sehingga bajunya bagian punggung telah bolong-bolong tanpa diketahuinya!”
Sebenarnya, hal ini tidak betul dan Thian-te Lo-mo sendiri tidak tahu yang manakah pangeran Ong Tai
Kun. Ia hanya bicara sembarangan saja, akan tetapi dalam ucapan ini terkandung kecerdikan yang luar
biasa, karena otomatis ketika mendengar ucapan ini, Ong Tai Kun dengan terkejut lalu meraba-raba
punggungnya dan ternyata bahwa bajunya tidak bolong sama sekali. Ia juga cerdik dan segera insyaf
bahwa ia kena ditipu, dan segera menarik kembali tangannya.
Akan tetapi, Tiong San yang cukup mengerti akan hal suhunya ini, tadi telah memasang matanya dengan
tajam sehingga gerakan Ong Tai Kun ini sekilat saja dapat dilihatnya sehingga ia dapat menduga bahwa
dunia-kangouw.blogspot.com
orang muda yang gagah dan tampan inilah tentu tuan rumah bernama Ong Tai Kun yang hendak memaksa
Bwee Ji menjadi selirnya.
“Pangeran Ong, majulah kau!” katanya dan tiba-tiba cambuknya meluncur ke arah pangeran itu yang cepat
menggunakan pedangnya menangkis. Akan tetapi, ketika pedangnya membentur ujung cambuk, ia merasa
tangannya gemetar dan ternyata bahwa cambuk itu tidak dapat terputus oleh sabetan pedangnya, bahkan
ujung cambuk secara istimewa sekali telah melibat pinggangnya! Sebelum ia dapat meronta dan
melepaskan diri, tahu-tahu tubuhnya telah ditarik dan melayang bagaikan dilontarkan ke arah Tiong San
dan tahu-tahu ia telah jatuh berdiri di depan pemuda tampan itu.
“Pangeran Ong Tai Kun, kau benar-benar jahat dan entah telah berapa banyak anak gadis orang menjadi
korbanmu! Ayo kau lekas menulis pengakuan di atas kain ini!” sambil berkata demikian, Tiong San lalu
menarik sebuah tirai kuning dari tembok dan membentangkan tirai itu di atas meja setelah dengan tangan
kiri ia menggulingkan meja sehingga semua mangkok jatuh ke atas lantai.
“Lekas tulis bahwa kau telah merasa kapok dan tidak mau mengganggu anak bini orang lagi!” Tiong San
mengeluarkan sebatang pit dan baknya yang selalu berada di kantong bajunya. “Ayo tulis!”
Tentu saja Ong Tai Kun tidak mau melakukan hal ini dan sambil berseru, “Serbu!” ia lalu mengangkat
pedangnya menusuk ke arah dada Tiong San yang berada di depannya, sedangkan para perwira juga
mengangkat senjata sehingga sebentar saja pemuda itu telah dihujani senjata!
“Bagus!” Tiong San berseru keras dan tiba-tiba ia melompat jauh, berdiri di atas sebuah meja dan ketika
para pengeroyoknya mengejar, ia menggerakkan cambuknya. “Tar ....! Tar ....! Tar ....!” Kembali orangorang
itu mundur dengan kaget dan berteriak kesakitan.
Seperti halnya ketika Thian-te Lo-mo menggerakkan cambuknya tadi, kini cambuk di tangan Tiong San
telah mendapat korban dan muka-muka perwira yang telah digurat merah oleh cambuk Thian-te Lo-mo kini
bertambah dengan sebuah guratan baru yang lebih merah dan perih!
“Pangeran Ong, kau mencari penyakit!” kata Tiong San dan cambuknya melayang cepat sehingga sedetik
kemudian ujung cambuk telah menyambar telinga kiri Ong Tai Kun yang menjadi putus! Pangeran itu
menjerit kesakitan dan menggunakan kedua tangannya untuk memegangi bagian kepala yang kini tak
bertelinga itu lagi.
Ia hendak lari ke dalam, akan tetapi kembali cambuk di tangan Tiong San bergerak dan membelit kedua
kaki pangeran itu sehingga ketika ditarik, pangeran itu roboh terguling! Tiong San melayang dari atas meja
dan segera memegang pundak pangeran itu yang ditekannya kuat-kuat sehingga pangeran Ong Tai Kun
merasa betapa tulang pundaknya seakan-akan hendak remuk!
“Ampun, Shan-tung Koay-hiap .....!” Ia merintih.
Tiba-tiba terdengar Thian-te Lo-mo tertawa bergelak kembali. “Ha ha ha! Murid gendeng, kau ternyata ikut
menjadi gila! Aku tidak sudi ikut campur menjadi orang gila, karena kau telah mencampuri urusan dunia
yang gila! Aku hendak pergi ke istana kaisar menikmati masakan-masakan hebat di dapurnya!”
Akan tetapi pada saat itu, perwira yang tadi diutus oleh Ong Tai Kun untuk minta bala bantuan dari istana
kaisar, telah tiba kembali dan bersama dia ikut dua orang perwira yang bertubuh aneh.
Seorang di antara mereka bertubuh bongkok dengan punggung seperti punggung onta, lehernya panjang
sehingga dalam pakaian perwira tinggi ia nampak lucu sekali. Kepalanya yang berambut putih itu
menunjukkan ketinggian usianya, akan tetapi sepasang matanya masih bersinar terang.
Inilah Lui Kong Bu Tong Cu Si Dewa Geludug! Orang kedua juga berpakaian perwira dan tubuhnya tak
kalah anehnya. Tubuhnya bagian atas, batas pinggang sampai ke kepala berikut kedua lengannya, pendek
dan lucu, akan tetapi tubuh bagian bawah batas pinggang sampai ke jari kaki, panjang-panjang. Usianya
lebih muda, kurang lebih empat puluh lima tahun. Inilah Sin-go Lee Siat, Si Buaya Sakti!
Mereka berdua adalah jago-jago atau perwira-perwira kerajaan yang menduduki tingkat kedua atau
setingkat lebih tinggi dari pada kedudukan Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong! Melihat kedatangan kedua
orang ini, semua perwira dan pangeran bernapas lega, oleh karena mereka telah tahu kelihaian dua orang
dunia-kangouw.blogspot.com
ini dan mengharapkan bahwa dua orang ini akan dapat menundukkan Shan-tung Koay-hiap dan Thian-te
Lo-mo yang lihai! Oleh karena itu, mereka lalu mengundurkan diri jauh-jauh untuk memberi tempat luas
bagi kedua orang perwira itu.
Akan tetapi, Tiong San pura-pura tidak melihat kedatangan dua orang aneh ini dan ketika pangeran Ong
Tai Kun hendak mengundurkan diri pula, ia cepat mengulurkan tangan dan menekan pundaknya sehingga
terpaksa ia menghentikan langkahnya.
“Eh, eh, kau hendak ke mana? Tidak boleh pergi sebelum kau menuliskan pengakuan itu dengan hurufhuruf
besar!”
Pangeran Ong yang masih merasa perih dan sakit sekali kepalanya bagian kiri yang sudah hilang
telinganya, memandang kepada dua orang perwira yang baru datang untuk minta pertolongan. Lui Kong
Bu Tong Cu Si Dewa Geludug melangkah maju dan sambil tertawa ha ha, hi hi, ia lalu maju dan berkata,
“Hm, inikah yang bernama Shan-tung Koay-hiap? Sungguh mengagumkan. Muda, tampan dan gagah!”
Ia mengulur tangan untuk membangunkan Ong Tai Kun dan seperti yang tak disengaja ia membentur
tangan Tiong San yang menekan pundak pangeran itu. Tiong San merasa betapa benturan itu membuat
tangannya kesemutan dan tahulah ia bahwa yang kelihatan seperti seorang penderita cacad ini ternyata
adalah seorang ahli lweekeh yang tangguh. Maka ia lalu melangkah mundur setindak sehingga pangeran
itu dengan girang dapat mengundurkan diri dan ia segera dirawat oleh para perwira untuk mengobati
telinganya yang telah lenyap sebelah!
Tiong San menghadapi kedua perwira itu dan setelah memandang sejenak, ia tertawa berkakakan dengan
hati geli. “Eh, eh, belum pernah aku melihat orang-orang seperti kalian! Apakah kalian juga datang hendak
mencoba rasanya hidangan pangeran Ong yang tidak enak itu?”
“Shan-tung Koay-hiap, kau masih muda dan gagah, mengapa kau ikut-ikut mencontoh perbuatan Thian-te
Lo-mo yang gila?” Sin–go Lee Siat si Buaya Sakti menegur marah sambil melangkah maju.
Akan tetapi, tiba-tiba ia mengelak ke samping karena telinganya yang tajam dapat mendengar sambaran
sebuah benda kecil. Akan tetapi ia kalah cepat dan benda kecil itu telah mengenai kepalanya yang botak.
“Tak!” dan benda itu pecah berantakan. Ternyata yang menyambar kepalanya itu adalah sebuah kacang
yang disambitkan oleh Thian-te Lo-mo dari atas tiang penglari!
“Ha ha ha! Orang panjang tapi pendek! Kau sendiri yang gila, akan tetapi kau memaki orang waras!
Cocoklah bunyi syair yang ditulis oleh muridku yang gendeng!” Lalu ia mengucapkan syair yang dulu ditulis
oleh Tiong San, akan tetapi ia mengucapkannya sambil dilagukan dengan suara aneh dan lucu.
Dunia penuh orang gila ..........
yang waras disebut gila ...........
yang gila merajalela ..........
Thian-te Lo-mo hanya mengambil bagian tengahnya saja, bagian yang paling disukainya, bagian yang
menimbulkan rasa sukanya kepada Tiong San dan yang membuat ia mengambil keputusan untuk
menjadikan pemuda itu sebagai muridnya.
Kedua orang perwira kerajaan itu cepat menengok dan mereka tidak menyangka sama sekali bahwa kakek
itu berada di atas tiang. Tadi memang mereka telah mendengar bahwa kakek sakti itu datang pula
mengacau. Akan tetapi ketika mereka memasuki ruangan dan tidak melihat Thian-te Lo-mo, mereka
menjadi lega dan berbesar hati.
Siapa tahu, ternyata kakek itu berada di atas, ongkang-ongkang sambil tertawa menyeringai! Kecutlah hati
kedua orang perwira ini karena biarpun mereka sebagai perwira-perwira yang belum lama bertugas, belum
pernah merasakan kelihaian kakek itu. Namun mereka telah mendengar nama Thian-te Lo-mo yang
ditakuti orang bagaikan orang menakuti seorang iblis tulen!
“Thian-te Lo-mo!” Bu Tong Cu Si Dewa Geludug berkata kepadanya. “Apakah kau hendak mengacau lagi?
Turunlah kau, jangan kira bahwa kami takut padamu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian-te Lo-mo tertawa lagi dan kembali tangannya bergerak, dan sebutir kacang melayang ke arah
dadanya! Bu Tong Cu seorang ahli silat kawakan, maka tentu saja ia tidak mudah diserang dengan
sambitan ini, maka ia segera miringkan tubuhnya.
Tak disangkanya sama sekali bahwa hampir berbareng dengan kacang pertama, kacang kedua menyusul
dan tepat mengenai punuknya yang seperti punuk onta itu! Ia tidak merasa sakit, akan tetapi hatinya lebih
sakit karena ia merasa dipermainkan!
“Ha ha, manusia onta! Kau sedang berhadapan dengan muridku di atas bumi, jangan ikut campurkan aku
yang berada di sorga!” kata Thian-te Lo-mo menyengir.
Kedua orang perwira itu marah sekali dan mereka hendak tumpahkan seluruh kemarahan mereka kepada
Tiong San. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu mencabut senjata masing-masing dan menyerang Tiong
San. Senjata mereka juga aneh dan mengerikan. Bu Tong Cu si Dewa Geludug bersenjata sebatang
tongkat besi yang panjangnya empat kaki, sedangkan Sin-go Lee Siat bersenjata sepasang kapak yang
bermata lebar dan tajam.
Ketika senjata-senjata itu menyerbu ke arah dirinya, Tiong San maklum akan kelihaian lawan, maka ia
cepat melompat ke belakang dan segera melayangkan ujung cambuknya, mendahului dengan serangan
dari jauh!”
Ia maklum bahwa menghadapi orang-orang kosen seperti dua orang perwira kerajaan itu, ia tidak boleh
berlaku gegabah, dan sekali-kali tidak boleh melayani mereka dari dekat, maka ia mempergunakan
kesempatan yang menguntungkan dengan melayani mereka dari jauh yang mungkin ia lakukan dengan
senjatanya yang panjang.
Juga ia tidak berani main-main dan kali ini ujung cambuknya menyabet dengan keras dan mengarah
bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan jalan-jalan darah lawan, tidak seperti biasa hanya untuk
membagi-bagi hadiah pada muka lawan saja.
Pertempuran berjalan seru dan ramai oleh karena biarpun menghadapi senjata yang panjang, akan tetapi
oleh karena maju berdua dari kanan kiri dan permainan silat mereka memang cepat dan tenaga lweekang
mereka telah sempurna, maka kedua orang perwira itu tidak terdesak, bahkan dapat membalas dengan
serangan-serangan yang membawa maut!
Kali ini Tiong San benar-benar menghadapi lawan yang keras dan tangguh sehingga ia harus
mencurahkan seluruh perhatian, tenaga dan kepandaian, barulah ia dapat meimbangi permainan mereka.
Ia harus berlaku gesit dan lincah, karena dengan kelincahannya itu ia dapat melompat menjauhi setiap kali
lawannya mendesak makin dekat dan mengirim serangan-serangan dari jarak jauh dengan ujung
cambuknya.
Bu Tong Cu yang mempunyai lweekang tinggi, pernah mencoba untuk menangkap ujung cambuk dan
merampas senjata lawan yang masih muda itu. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia berhasil
menangkap ujung cambuk dalam cengkeraman tangan kirinya, tiba-tiba cambuk itu dibetot dengan keras
sehingga telapak tangannya merasa perih seakan-akan dikerat pisau tajam!
Ia maklum bahwa cambuk itu bukanlah cambuk biasa dan terbuat dari bahan yang amat kuat serta
digerakkan oleh tangan ahli yang telah menguasai sepenuhnya, maka ia tidak berani lagi mncoba untuk
menangkapnya, hanya menggunakan tongkat besinya untuk memberi serangan-serangan kilat dengan
terkaman-terkaman hebat.
Namun Tiong San benar-benar lincah dan latihan-latihannya yang dilakukan secara aneh itu telah memberi
kekuatan dan keringanan tubuh luar biasa kepadanya. Tubuhnya berkelebat cepat dan cambuknya yang
panjang itu dengan amat lihainya menari-nari dan menyambar-nyambar dengan gerakan-gerakan yang
sukar diduga. Ujung cambuk yang kecil itu dengan lincahnya menyambar-nyambar lawan dan seakan-akan
telah berubah menjadi puluhan ujung cambuk saking cepatnya ia bergerak.
Sin-go Lee Siat si Buaya Sakti, merasa penasaran sekali. Lawannya adalah seorang muda yang baru saja
muncul di dunia kang-ouw. Masa dengan mengeroyok dua bersama Bu Tong Cu yang lihai, ia tak dapat
juga merobohkan pemuda itu! Pernah ujung cambuk lawan itu melibat kapak di tangan kirinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Terjadi saling betot dan dan karena ternyata ujung cambuk itu membelit kuat sekali dengan marah Lee Siat
lalu membacok ke arah cambuk yang melibat gagang kapak di tangan kirinya itu dengan kapak di tangan
kanan. Maksudnya hendak membikin putus ujung cambuk yang melibat itu, akan tetapi tiba-tiba ujung
cambuk itu bagaikan seekor ular yang hidup, melepaskan diri dan melayang pergi sehingga ia
menghantam gagang kapaknya sendiri dengan kapak kanan sehingga gagang kapak kiri itu hampir
terbelah dua! Bukan main marahnya dan ia segera mengirim serangan-serangan nekat yang mematikan.
Sepasang kapaknya bergerak cepat bagaikan dua ekor harimau galak menerkam korban.
Para pangeran dan perwira yang berada di situ menyaksikan pertempuran ini dengan penuh kekaguman.
Tak mereka sangka bahwa pemuda itu dapat melayani Bu Tong Cu dan Lee Siat sedemikian baik dan
uletnya. Diam-diam mereka merasa khawatir sekali karena baru muridnya saja sudah demikian lihai, belum
suhunya turun tangan! Maka, diam-diam pangeran Ong Tai Kun lalu mengirim utusan lagi untuk
mendatangkan jago-jago lain.
Pertempuran terjadi makin seru dan kini Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong memutar-mutar ruyungnya dan
maju membantu! Hanya dia sendiri yang berani maju membantu, oleh karena lain orang yang
kepandaiannya lebih rendah, baru maju sebentar saja sudah terkena sabetan cambuk dan bahkan
mengacaukan permainan kedua orang perwira itu. Dikeroyok tiga oleh orang-orang yang berilmu tinggi itu,
biarpun ilmu cambuk Tiong San amat lihai dan berbahaya, lambat laun ia merasa sibuk juga.
Serangan-serangan ketiga orang lawannya bukanlah serangan-serangan biasa, akan tetapi setiap
serangan apabila mengenai sasaran tentu akan menewaskan nyawa pemuda itu, sedangkan seranganserangan
Tiong San biarpun cukup ganas, akan tetapi ia tidak mempunyai maksud untuk membunuh
orang. Kini karena keadaannya terdesak betul-betul, tiba-tiba ia berseru keras dan kini cambuknya
berputar-putar menghantam ketiga orang pengeroyoknya sambil mengeluarkan suara “tar tar tar!” yang
nyaring sekali dan memekakkan telinga ketiga orang pengeroyoknya!
Inilah ilmu cambuk Im-yang-joan-pian yang luar biasa hebatnya! Suara-suara yang keluar dari cambuk itu
memang disengaja untuk mengacaukan pemusatan perhatian lawan dan untuk membingungkan lawan,
karena pada saat cambuk berbunyi, ujungnya tidak menyerang, dan diam-diam tanpa mengeluarkan bunyi
tiba-tiba ujungnya menghantam ke tempat berbahaya. Ada kalanya hal ini dibalikkan, dan pada saat lawan
telah menjadi biasa dengan suara itu dan menganggap suara itu hanya gertakan belaka, tahu-tahu sambil
mengeluarkan suara keras, ujungnya menyambar dengan cepat!
Karena ilmu cambuk Im-yang-joan-pian mempunyai gerakan kasar dan halus sesuai dengan sifat Im dan
Yang (negatif dan positif), dan dengan digunakannya akal ini, maka Ban Kong yang kurang cepat
gerakannya, ketika cambuk menyambar ke arah lehernya dan ia menangkis dengan ruyungnya, cambuk itu
biarpun telah tertangkis, akan tetapi dengan sekali libatan, ujungnya masih meluncur terus dan berhasil
menotok jalan darah yan-goat-hiat di bawah ketiak kanannya sehingga tiba-tiba ia merasa betapa tangan
kanannya menjadi kaku dan senjatanya terlepas dari pegangan! Ia cepat melompat ke belakang sambil
berseru nyaring dan tangan kanannya untuk sementara menjadi mati sehingga ia tidak dapat bertempur
lagi!
“Ha ha, bagus, bagus!” Thian-te Lo-mo bersorak-sorak dari atas tiang penglari. Para perwira yang melihat
ini lalu menghujani am-gi (senjata rahasia) lagi kepada kakek itu yang masih saja mempergunakan kedua
kakinya yang ongkang-ongkang untuk menendang semua senjata yang melayang ke arah tubuhnya. Akan
tetapi regu panah mulai beraksi dengan anak panah mereka yang menyerang bagaikan hujan. Ia lalu
menggunakan cambuknya yang diputar ke bawah dan semua anak panah kena dikebut runtuh kembali ke
bawah!
Biarpun telah mengalahkan Ban Kong, namun Bu Tong Cu dan Lee Siat masih merupakan lawan berat
bagi Tiong San sehingga pertempuran masih berjalan amat ramai dan serunya. Pada saat itu terdengar
bentakan hebat dan dari luar melayang tubuh seorang tinggi kurus. Begitu ia menyerbu ke dalam
pertempuran dan menggerakkan senjata di tangan kiri yang berupa kipas, ujung cambuk Tiong San kena
dikebut dan ujungnya membalik terpental karena dorongan tenaga yang luar biasa!
Tiong San terkejut sekali dan melompat mundur menjauhi. Ketika ia memandang, ternyata yang datang ini
adalah seorang perwira berusia kurang lebih lima puluh tahun yang memelihara jenggot panjang sampai ke
dada. Tubuhnya tinggi kurus dan sepasang matanya juling, yakni manik matanya di kanan kiri berada di
ujung mendekati hidung sehingga mata itu nampak lucu dan aneh, tidak tahu sedang memandang ke
mana!
dunia-kangouw.blogspot.com
Inilah Im-yang Po-san Bu Kam, si Kipas Mustika Im-yang, jago istana kaisar yang menjadi seorang di
antara perwira-perwira kelas satu. Senjata di tangannya adalah sepasang kipas berwarna putih dan hitam,
gagang kipas terbuat daripada baja tulen dan permukaan kipas terbuat dari pada benang perak. Batang
kipas yang terbesar di tangan kiri mempunyai ujung yang runcing dan sifat kipas inilah yang membuat
senjata aneh itu disebut Im-yang Po-san atau Kipas Mustika Im-yang karena kipas ini mempunyai dua sifat
yang bertentangan.
Kipas di tangan kiri berwarna hitam dan bersifat keras, sedangkan kipas di tangan kanan yang berwarna
putih bersifat lemas. Ia dapat memainkan dua kipas ini dengan gerakan-gerakan yang berbeda dan
berlawanan, dan orang yang dapat memainkan dua senjata di dunia dengan tangan dan tenaga yang
berlainan, yakni tenaga gwakang (tenaga kasar) dan tenaga lweekang (tenaga leams) atau yang disebut
juga tenaga luar dan tenaga dalam, tentu saja dapat dibayangkan betapa tinggi dan lihainya ilmu
kepandaiannya!
Jumlah perwira kelas satu di istana kaisar ada lima orang dan dalam hal permainan senjata, Bu Kam telah
menduduki tempat tinggi, dan pengalaman bertempurnya yang sudah puluhan tahun itu membuat ia lebih
tangguh lagi. Dulu, ketika Thian-te Lo-mo mengacau di istana dan kota raja, pernah Im-yang Po-san Bu
Kam ini ikut mengeroyoknya dan pada waktu itu memang ia kalah menghadapi Thian-te Lo-mo.
Akan tetapi semenjak dikalahkan oleh kakek sakti itu, Bu Kam telah melatih diri dengan hebat sekali
sehingga kini ilmu kipasnya jauh lebih tinggi dari pada dahulu. Ketika ia mendengar bahwa musuh
besarnya membawa seorang murid datang lagi ke kota raja untuk mengacau, maka ia yang kebetulan
berada di tempat penjagaan dan menerima laporan ini, segera datang membawa kipasnya dan sekali kebut
saja ia berhasil membuat cambuk di tangan Tiong San terpental ujungnya!
Bab-10 : Perilaku Pejabat Negara
SEMENTARA itu, ketika Thian-te Lo-mo melihat gerakan kipas Bu Kam, ia maklum bahwa muridnya takkan
kuat menghadapi para pengeroyoknya, maka ia lalu tertawa terkekeh-kekeh dan tubuhnya melayang turun
dan tahu-tahu sudah berada di depan Im-yang Po-san Bu Kam.
“Ha ha, kipas mustikamu itu ternyata makin lihai saja!” katanya kepada Bu Kam yang memandang marah.
“Orang tua gila! Kau masih belum mati? Kerjamu hanya mengacau saja. Sungguh-sungguh orang gila yang
patut dibasmi karena berbahaya!”
Mendengar ini, Thian-te Lo-mo tertawa makin keras dengan hati geli. “Memang, memang benar dan tepat
sekali syair itu. Bu Kam, kau belum mendengar syair yang dikarang oleh muridku yang pandai ini? Dengar!
Dunia penuh orang gila
yang waras disebut gila
yang gila merajalela
“Kau memang benar-benar gila dan miring otakmu, Thian-te Lo-mo, kata Bu Kam sambil menggelenggelengkan
kepalanya.
“Memang, memang! Yang waras dimaki gila, demikianlah kelakuan orang gila! Im-yang Po-san! Kau lihat,
kawan-kawanmu yang gila ini datang-datang berusaha keras untuk membunuh aku dan muridku. Hanya
orang-orang gila saja yang dapat berbuat demikian!”
“Kau dan muridmu keduanya gila dan datang mengacau di gedung Ong-ya! Tentu saja kami berusaha
menangkap atau membunuhmu!”
“Kami datang bukan mengacau! Aku hanya ingin menikmati dan mengagumi masakan dan hidangan
pangeran Ong yang ternyata sama sekali tidak enak karena terbuat dari pada bahan-bahan yang buruk
dan busuk! Muridku datang untuk menjewer telinga Ong Tai Kun yang ternyata terbuat dari bahan yang
lemah dan buruk pula sehingga menjadi putus! Sudah menjadi bagiannya karena ia terlampau banyak
mengumpulkan kembang-kembang di tamannya. Tidak perduli betapa kembang-kembang yang
seharusnya mekar dan semerbak mengharum di tempat lain itu menjadi layu dan rusak di dalam tamannya
dunia-kangouw.blogspot.com
yang kotor. Kau masih mau bilang bahwa kami berdua hendak mengacau? Ha ha ha! Kau lihat hanya
jenggotmu yang makin panjang akan tetapi pikiranmu makin pendek dan sempit saja, Bu Kam!”
Bu Kam baru saja datang, tentu saja dia tidak mengerti maksud omongan kakek itu yang menyindir tadi
sebelum ia datang, ia telah mendengar percakapan pangeran Ong Tai Kun dan pangeran Lu Goan Ong
yang pada saat itu telah mendahului pulang ke gedungnya karena ketakutan. Maka kini mendengar ucapan
kakek ini, ia membentak marah.
“Dasar orang gila, omongannya juga tidak keruan. Thian-te Lo-mo, kau menyerahlah untuk kutangkap
bersama muridmu, agar kau mendapat pengadilan negeri yang selayaknya.”
“Kau mau menangkapku? Ha ha ha! Aneh, aneh! Bagaimana kau mau menangkapku, coba hendak
kulihat!” kata Thian-te Lo-mo sambil mentertawakannya.
“Kalau tak dapat menangkap hidup-hidup, aku pasti berhasil menangkapmu dalam keadaan tidak
bernyawa!” kata Bu Kam yang segera menyerang dengan kipas di tangan kirinya yang berwarna putih.
Thian-te Lo-mo maklum akan lihainya kipas putih ini yang jauh lebih lihai dari kipas hitam, maka ia mundur
dua langkah menghindarkan diri dari serangan lawan, lalu menggerakkan cambuknya membalas serangan
lawan. Cambuknya bergerak-gerak di udara dan melingkar-lingkar bagaikan ular, lalu meluncur ke arah
kipas putih di tangan kanan Bu Kam dengan mengeluarkan suara keras.
Ujung cambuknya bertemu dengan batang kipas, bunga api memercik keluar dan Bu Kam merasa betapa
tangannya agak gemetar! Diam-diam ia menarik napas panjang karena dari pertemuan senjata ini saja ia
dapat mengetahui bahwa dalam hal tenaga lweekang ia masih harus mengaku kalah dengan kakek gila ini.
Akan tetapi ia mengandalkan permainan kipasnya, maka ia lalu menerjang dan kedua kipas di tangannya
bergantian melancarkan serangan kilat yang amat berbahaya.
Sambil terkekeh-kekeh Thian-te Lo-mo menghadapi serangannya ini dan tak lama kemudian dua orang
berilmu tinggi ini saling serang dengan hebatnya. Yang luar biasa adalah sepasang kipas Im-yang Po-san
Bu Kam, karena ia bergerak cepat dengan kedua kipas dikembangkan, maka di dalam ruangan itu angin
menyambar-nyambar dengan hebat sehingga pakaian orang-orang yang berada di dekat tempat
pertempuran itu berkibar-kibar!
Bu Tong Cu dan Lee Siat lalu membentak hebat dan maju mengeroyok Tiong San lagi sehingga kini
pertempuran menjadi lebih hebat dari pada tadi. Para perwira hanya menonton dan tidak berani membantu,
sedangkan Ban Kong yang memiliki kepandaian agak tinggi, sungguhpun kini totokan ujung pecut pada
jalan darah yan-goat-hiat yang dilakukan oleh Tiong San tadi telah pulih kembali dan ia telah mengambil
kembali ruyungnya, namun ia tidak berani maju lagi karena maklum bahwa tidak ada gunanya maju lagi
setelah ia menerima pukulan tadi.
Ia maklum bahwa pemuda murid kakek gila itu tidak berniat jahat, oleh karena kalau pemuda itu
mempunyai maksud membunuh, tentu sabetan cambuk yang merupakan totokan tadi dapat diperkeras dan
nyawanya takkan tertolong lagi! Setelah orang berlaku murah hati tidak hendak membunuhnya, apakah
setelah dikalahkan ia ada muka untuk maju lagi?
Setidaknya Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong adalah seorang gagah perkasa yang namanya telah menjulang
tinggi dan ternama sekali sampai di seluruh bagian Tiongkok, maka tentu saja ia masih memiliki
keangkuhan dan tidak mau berlaku rendah. Dengan bersungut-sungut ia duduk saja menonton
pertempuran dengan pengharapan supaya kawan-kawannya dapat membalaskan kekalahannya.
Akan tetapi pengharapan itu sia-sia dan ia dikecewakan oleh kenyataan bahwa setelah pertempuran lebih
lima puluh jurus, nampak nyata betapa Im-yang Po-san Bu Kam terdesak hebat oleh cambuk Thian-te Lomo.
Memang kedua kakek ini mempunyai ilmu silat yang sama sifatnya, yakni keduanya berdasarkan sifatsifat
Im dan Yang. Ilmu cambuk Im-yang-joan-pian berhadapan dengan ilmu kipas Im-yang Po-san, akan
tetapi ternyata bahwa ilmu kipas itu masih kalah lihai.
Memang, dalam menghadapi lawan yang kurang pandai, sepasang kipas Im-yang itu benar-benar hebat
sekali karena angin kebutannya saja cukup menjatuhkan lawan. Akan tetapi apabila menghadapi lawan
yang sama kuatnya, ternyata bahwa cambuk Im-yang lebih praktis.
dunia-kangouw.blogspot.com
Cambuk ini dengan tekanan tenaga lweekang dapat digerakkan sesuka hati, dapat dibikin lemas dapat
dibikin keras dan pula mudah untuk merampas senjata lawan dan dipergunakan untuk penyerangan dari
jarak jauh. Tingkat kepandaian Im-yang Po-san Bu Kam masih berada di bawah tingkat Thian-te Lo-mo
yang benar-benar telah menduduki puncak yang tinggi.
Apabila ia menghadapi Tiong San, maka tentu akan terjadi pertempuran yang amat menarik dan ramai
sekali. Memang, dalam perbandingan tenaga dan pengalaman, pemuda itu masih kalah jauh, akan tetapi
ilmu cambuknya tidak kalah hebat oleh gurunya sendiri dan pemuda itu memiliki kecerdikan luar biasa
sehingga dalam ilmu cambuknya, ia dapat menciptakan gerakan-gerakan Khusus yang timbul dari
kecerdikan otaknya.
Buktinya, biar dikeroyok dua oleh dua orang perwira kelas dua dari istana kaisar, ia dapat melayaninya
dengan amat baiknya, dan sama sekali tidak terdesak, walaupun harus diakui bahwa tidak mudah baginya
untuk mengalahkan kedua orang lawannya itu.
Tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa dari Thian-te Lo-mo dan ujung cambuknya telah berhasil melibat
kedua kipas di tangan Bu Kam! Im-yang Po-san Bu Kam berdaya upaya untuk menarik kipasnya supaya
terlepas dari libatan cambuk, akan tetapi tak berhasil!
Thian-te Lo-mo masih belum mengerahkan seluruh tenaganya, karena dengan tangan kanan ia menahan
cambuknya dan kini sambil tersenyum-senyum walaupun tidak mengeluarkan suara, ia bertindak maju
mendekati lawannya! Sambil maju, tiap langkah ia melibatkan cambuk pada pergelangan tangannya
hingga dekat, cambuk itu makin pendek.
Im-yang Po-san Bu Kam terkejut sekali melihat betapa kakek yang lihai itu makin mendekatinya, akan
tetapi ia tidak berdaya. Kedua tangannya memegang sepasang kipasnya dan ia tidak berani melepaskan
kipas itu karena sekali melepaskan sebelah tangan, kipas itu keduanya tentu akan terampas. Maka ia tetap
berdiri tegak sambil mempertahankan kedua kipasnya yang hendak dirampas.
Kini Thian-te Lo-mo telah berada di depannya dan kalau ia mau, dengan tangan kirinya yang bebas,
dengan mudah saja ia akan dapat mencelakakan lawannya!
Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong yang melihat keadaan Bu Kam, menjadi terkejut dan khawatir, maka tanpa
banyak pikir lagi ia melompat maju dan memukulkan ruyungnya pada kepala Thian-te Lo-mo dalam usaha
menolong kawannya itu! Akan tetapi, kakek itu lalu mempergunakan pangkal cambuknya yang kini
bergantungan dari tangan kanan, gagang itu dipegang dengan tangan kiri dan disabetkan untuk menangkis
ruyung yang menyambar kepalanya.
Ban Kong menjerit kesakitan karena ketika gagang cambuk itu beradu dengan ruyungnya, ruyungnya
terpental keras dan gagang itupun terpental. Akan tetapi gagang cambuk terpentalnya aneh, bukan ke
belakang, akan tetapi ke samping dan tepat menghantam pahanya!
Ban Kong merasa betapa paha kakinya seakan-akan remuk tulangnya dan tanpa dapat ditahan lagi ia
terhuyung ke belakang, kemudian ia mundur dengan terpincang-pincang! Perwira yang sial ini untuk kedua
kalinya mendapat pukulan dan sekali ini pahanya menjadi matang biru dan bengkak!
Setelah dapat merobohkan Te-sam Tai-ciangkun yang berlaku lancang itu, Thian-te Lo-mo lalu
mengulurkan tangan kirinya dan mencengkeram jenggot Im-yang Po-san Bu Kam yang panjang sambil
berkata, “Bu Kam, jenggotmu ini terlampau panjang, tidak pantas untukmu!”
Sambil berkata demikian, ia melakukan tarikan tiba-tiba yang keras dan “Brett!” jenggot yang panjang itu
telah putus dan berada di tangannya! Ia lalu tertawa terpingkal-pingkal dan melompat mundur sambil
melepaskan libatan ujung cambuknya pada dua kipas lawannya yang berdiri kebingungan dengan wajah
pucat!
Thian-te Lo-mo melompat ke sana sini dan pada tiap meja yang masih penuh makanan, akan tetapi yang
telah ditinggalkan oleh para tamu yang tadi duduk mengelilinginya, ia melemparkan beberapa helai jenggot
itu sambil berkata,
“Pangeran Ong, hidanganmu buruk dan busuk! Kurang bumbu, kalau ditambah beberapa helai jenggot ini
sebagai pengganti misoa, tentu lebih mendingan rasanya!” sebentar saja jenggot sekepal di tangannya itu
dunia-kangouw.blogspot.com
habis beterbangan dan masuk ke dalam mangkok-mangkok yang penuh masakan di atas beberapa meja
itu! Masih saja kakek itu tertawa-tawa senang, lalu berkata kepada muridnya yang masih bertempur seru
melawan Bu Tong Cu dan Lee Siat,
“Anak gendeng, kau masih saja bergembira dan bermain-main? Ayo kita pergi, lebih baik kita mencari
makanan di dapur kaisar, tentu banyak hidangan lezat!” Setelah berkata demikian, tubuhnya melesat dan
tahu-tahu ia telah menarik tangan Tiong San diajak melompat keluar dan terus melayang ke atas genteng!
Semua perwira, terutama Bu Tong Cu, Lee Siat, dan Bu Kam sebagai perwira-perwira yang berpangkat siwi
atau pengawal istana, merasa terkejut sekali mendengar ucapan ini karena mereka menduga bahwa
kakek gila itu tentu akan mengacau di istana!
Dan hal ini adalah tanggung jawab mereka, di samping perwira-perwira lain di istana. Maka mereka tidak
mau memperdulikan lagi urusan di gedung pangeran Ong itu dan segera melompat keluar pula untuk
secepat mungkin kembali ke istana membuat persiapan untuk menjaga istana kaisar dari gangguan orangorang
gila itu!
Sementara itu, setelah berada di atas genteng bersama suhunya, Tiong San merasa puas akan apa yang
telah ia lakukan. Dengan memberi hukuman potong telinga, ia merasa yakin bahwa pangeran Ong Tai Kun
akan merasa kapok untuk mengganggu anak bini orang lain dan ia merasa puas melihat betapa pelajaran
yang telah dipelajari dan dilatihnya dengan tekun dan susah payah ternyata tidak mengecewakan.
Akan tetapi, hatinya masih berdebar kalau ia teringat kepada Khu Sin dan Thio Swie, kedua sahabat
karibnya itu. Tadi pangeran Lu Goan Ong menyebut nama mereka, maka ia menduga bahwa kedua
kawannya itu pasti masih berada di kota raja, dan menurut percakapan mereka dahulu setelah bertemu
dengan pangeran Lu, banyak kemungkinan kedua sahabatnya itu kini mempunyai hubungan dengan
pangeran itu!
Ia teringat pula betapa Thio Swie dulu tergila-gila kepada seorang gadis cantik bernama Siu Eng yang dulu
berada pula di perahu pangeran Lu! Timbul keras keinginan hatinya untuk mencari dan menjumpai kawankawannya
yang telah lama tidak dilihatnya itu.
“Suhu, kita sekarang akan ke mana?”
“Bodoh, perutku lapar sekali! Aku hendak makan di dapur kaisar!”
Akan tetapi Tiong San tidak mempunyai nafsu untuk makan besar pada saat itu. “Suhu, teecu tidak ingin
makan hidangan yang lezat-lezat! Melihat masakan sekian banyaknya di gedung tadi, teecu sudah merasa
kenyang!”
Suhunya tertawa geli dan berkata, “Kalau begitu, biar aku sendiri yang makan di sana.”
“Teecu ingin sekali mencari dua orang kawan teecu yang berada di kota raja. Suhu tentu masih ingat
kedua kawan teecu yang dulu kipas dan syairnya juga suhu ambil!”
“Huh! Pelajar-pelajar dan pelamun-pelamun itu! Syair-syairnya aku tidak suka! Mereka membuat syair
seperti orang mimpi atau seperti seorang wanita yang merengek-rengek mengagumi pakaian indah! Anakanak
muda seperti itu tidak ada gunanya, aku tidak mau bertemu dengan mereka!” suhunya mencela.
“Akan tetapi mereka adalah sahabat-sahabat karib teecu semenjak kecil, teecu merasa rindu kepada
mereka.”
“Huh!” Suhunya mencela pula. “kau benar-benar sudah gila lagi seperti mereka. Baik, kau carilah,
kemudian setelah gilamu sembuh, kau boleh menyusul aku ke dapur istana kaisar!”
Setelah berkata demikian, sambil tertawa-tawa senang Thian-te Lo-mo lalu melompat pergi dengan cepat
meninggalkan muridnya.
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Khu Sin dan Thio Swie, dua orang pemuda sekampung yang menjadi sahabat karib Tiong San semenjak
mereka bertiga masih kecil, dengan rajin dan giat melanjutkan pelajaran mereka di kota raja. Kedua
pemuda ini sama-sama mempunyai cita-cita tinggi untuk menjadi pembesar yang menduduki pangkat
mulia, sesuai dengan cita-cita dan pengharapan orang tua mereka.
Akan tetapi pada masa itu, kepandaian tidak menjadi ukuran bagi orang yang hendak memperoleh
kedudukan tinggi. Betapapun pandai seseorang, tanpa perantara yang cukup berpengaruh, kuat dan
berkedudukan tinggi, ia takkan berdaya untuk mmperoleh pangkat yang kecilpun. Dan untuk dapat
mendekati seorang perantara yang berpengaruh, amat dibutuhkan harta benda sebagai syarat terutama.
Oleh karena itu pada masa itu, banyak sekali kaum cerdik pandai dan cendekiawan, pada pergi
mengasingkan diri oleh karena selain kecil sekali harapan mereka untuk dapat bekerja pada pemerintah
sebagai seorang pembesar sipil, juga mereka merasa muak melihat keadaan pemerintah yang amat buruk
itu. Dan dengan adanya gejala-gejala penyuapan dan penyogokan yang merajalela di kalangan para
pembesar, maka jabatan-jabatan jatuh ke dalam tangan orang-orang yang tidak cakap sama sekali
sehingga akibatnya, kemerosotan akhlak makin menjalar luas di kalangan para pejabat.
Untuk mendapatkan pangkatnya, seorang pejabat telah mengeluarkan banyak uang guna menyuap para
atasan, maka setelah akhirnya berhasil mendapatkan pangkat itu, tentu saja ia berusaha sekuatnya untuk
dapat menarik kembali “modal” yang telah dikeluarkan tadi dengan jalan korupsi besar-besaran dan
pemerasan kepada rakyat sekehendak hatinya!
Khu Sin dan Thio Swie bukanlah anak orang kaya. Orang tua Khu Sin hanyalah seorang kepala kampung
yang jujur dan tidak korup, sedangkan Thio Swie bahkan hanya seorang putera seorang guru kampung
yang miskin. Mereka berdua dapat melanjutkan pelajarannya di kota raja oleh karena kebetulan sekali
mereka mempunyai keluarga di kota raja yang suka membantu.
Khu Sin ditolong oleh pamannya yang memiliki sebuah rumah makan kecil di kota raja, sedangkan Thio
Swie ikut pada bibinya yang kawin dengan seorang pemilik toko obat di kota raja pula. Berkat pembiayaan
dan pertolongan keluarga inilah, maka mereka berhasil meneruskan pelajaran di kota raja. Tentu saja
kedua orang pemuda ini dengan rajinnya pula membantu pekerjaan paman dan bibi mereka sebagai
pembalasan jasa.
Ketika pada hari libur keduanya kembali ke dusun Kui-ma-chung, yakni dusun tempat kelahiran mereka
dan berpesiar dengan Tiong San ke telaga Tai-hu sehingga mereka bertemu dengan pangeran Lu Goan
Ong, Khu Sin dan Thio Swie merasa girang sekali. Setelah kembali ke kota raja, mereka tidak membuang
waktu lagi dan segera mengadakan kunjungan kehormatan kepada pangeran itu.
Tidak mudah bagi mereka untuk dapat bertemu dengan pangeran itu, karena selain pangeran Lu jarang
berada di rumah, juga apabila ia ada, sukar untuk dapat menjumpainya. Para penjaga yang diberitahu
bahwa kedatangan mereka itu sekedar memberi penghormatan, bahwa ada tanda-tanda bahwa kedua
orang pemuda itu datang untuk minta tolong, mempersulit pertemuan itu dan berbulan-bulan telah lewat
tanpa kedua pemuda mendapat kesempatan untuk bertemu dengan pangeran Lu Goan Ong.
Pada suatu hari, beberapa bulan kemudian, ketika Khu Sin dan Thio Swie pulang dari tempat belajar,
mereka melihat seorang gadis cantik jelita menunggang kuda putih dengan gagahnya. Gadis yang
menjalankan kudanya perlahan-lahan itu mengerling ke arah mereka dan tiba-tiba Thio Swie dan Khu Sin
mengenali gadis ini sebagai gadis yang dulu berada di perahu pangeran Lu.
“Siocia!” Thio Swie berteriak girang dan segera menghampiri gadis di atas kudanya itu dan menjura
dengan hormat sekali, ditiru pula oleh Khu Sin.
Gadis cantik yang ternyata adalah Gui Siu Eng, anak keponakan pangeran Lu Goan Ong itu, mengerutkan
sepasang alisnya yang berbentuk bulan sabit. Ia nampak tidak senang sekali bahwa di tengah jalan ada
dua orang pemuda tak dikenal yang berani menegurnya.
“Siapakah kalian? Aku tidak kenal kepadamu dan jangan kalian berani kurang ajar!” ia menegur dengan
suara kurang senang.
Melihat kesombongan gadis ini, Thio Swie tidak menjadi marah, bahkan sambil tersenyum girang ia
berkata, “Maafkan kami, siocia. Tentu saja siocia sudah lupa lagi, akan tetapi kami tak dapat melupakan
dunia-kangouw.blogspot.com
siocia. Kita pernah bertemu di atas perahu Lu-taijin ketika perahu kami bertubrukan dengan perahu Lutaijin
di telaga Tai-hu!”
Nona itu mengingat-ingat dan bibirnya yang indah dan merah itu lalu membayangkan senyum yang
membuat hati Thio Swie berdetak-detak tidak keruan!
“Ah, ji-wi Kongcu!” katanya perlahan, “Hampir aku lupa. Akan tetapi, dulu ada seorang lagi, yang
berpakaian hijau ...” Sebetulnya yang masih teringat oleh Siu Eng adalah pemuda baju hijau ialah Tiong
San.
“Siocia maksudkan sahabat kami Tiong San? Ya, memang pada waktu itu kami bertiga, akan tetapi .....
sahabat kami Tiong San itu tak dapat meneruskan pelajaran di kota raja.”
“Kasihan ....” Nona itu berkata dan ia mulai menggerakkan kudanya hendak melanjutkan perjalanan. Akan
tetapi Thio Swie mengikutinya dan berkata cepat-cepat.
“Siocia, sukakah kau menolong kami?” Sebelum nona itu menjawab, ia melanjutkan, “Telah berbulan-bulan
kami berdua hendak menghadap Lu-taijin menghaturkan terima kasih dan hormat kami, akan tetapi selalu
tak berhasil. Para penjaga melarang kami menghadap!”
Siu Eng tersenyum manis. “Memang pamanku tak mudah dijumpai, akan tetapi kalau kalian mau datang
pada besok pagi, tentu kalian akan diterima.” Sambil berkata demikian, gadis itu melarikan kudanya.
“Siocia! Aku adalah Thio Swie dan kawanku ini Khu Sin!” Thio Swie masih berteriak kepada nona itu yang
menengok sebentar sambil tersenyum, lalu kudanya berlari cepat. Thio Swie berdiri bengong, seakan-akan
semangatnya terbawa pergi oleh senyum di bibir nona manis itu!
Khu Sin sambil tertawa menepuk pundak kawannya sambil berkata,
“Thio Swie, dia sudah pergi jauh!”
Thio Swie menarik napas panjang. “Alangkah manisnya ......, alangkah merdu suaranya .... dan senyum itu
... ah, Khu Sin, bukankah senyum itu ditujukan kepadaku semata?”
“Kau ....., kau sudah gila!” Khu Sin berkata sambil tertawa geli. Sungguhpun ia merasa tertarik juga pada
nona yang cantik jelita itu, akan tetapi kegirangan Khu Sin lebih banyak disebabkan karena mereka akan
mendapat kesempatan karena ia dapat bertemu dengan dengan paman gadis itu.
Dalam perjalanan pulang, tiada hentinya Thio Swie membicarakan kecantikan gadis itu, dan tanpa malumalu
lagi ia mengaku kepada kawannya bahwa ia telah jatuh cinta! Khu Sin hanya tersenyum dan berkata,
“Jangan mengimpi, kawan! Siu Eng adalah keponakan dari pangeran Lu, sedangkan kau ini siapa? Jangan
menjadi anjing yang merindukan bulan!”
“Siapa tahu, Khu Sin? Siapa tahu kelak aku akan menduduki pangkat dan dapat mengulurkan tangan
kepada bidadari itu .....”
Melihat kesungguhan hati kawannya, diam-diam Khu Sin merasa kasihan dan ikut memuji semoga
kerinduan hati kawannya itu takkan menemui kegagalan dan kekecewaan.
Benar saja, ketika pada keesokan harinya mereka kembali datang ke gedung pangeran Lu Goan Ong dan
disambut oleh para penjaga, sikap para penjaga itu berbeda dengan yang sudah-sudah.
“Ji-wi kongcu mengapa tadinya tidak menyatakan bahwa ji-wi adalah sahabat-sahabat baik dari Lu-taijin?
Baiknya kemaren Gui-siocia memberi tahu kepada kami. Kalau tidak sukarlah bagi ji-wi untuk dapat
bertemu dengan Lu-taijin. Harap maafkan kami!”
“Ah, tidak apa, tidak apa!” kata Khu Sin dengan girang. Apakah sekarang Lu-taijin ada di dalam rumah dan
dapatkah kami menghadap?”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tentu saja dapat, harap ji-wi kongcu menanti sebentar.” Mereka dipersilahkan duduk menanti di kamar
tamu dan tak lama kemudian seorang pelayan mengundang mereka untuk masuk ke dalam karena
pangeran Lu Goan Ong telah siap menerima mereka menghadap.
Pangeran Lu Goan Ong menerima mereka dengan acuh tak acuh, akan tetapi oleh karena pangeran ini
telah mendapat pemberitahuan dari keponakannya, maka secara singkat ia lalu menanyakan maksud
kedatangan mereka.
Dengan amat hormat Khu Sin lalu mengajukan permohonan agar supaya mereka memperoleh kedudukan
oleh karena mereka telah lulus dalam ujian.
“Tidak mudah, tidak mudah!” kata pangeran Lu Goan Ong sambil menggoyang-goyang kedua kedua
tangannya. “Untuk menjadi seorang pembesar, tidak saja kalian harus pandai, akan tetapi juga harus
mempunyai banyak pengalaman.”
“Hambah bedua mohon diberi pekerjaan, apa saja pekerjaan itu asalkan dapat menambah pengalaman
hamba,” kata Thio Swie.
Setelah berpikir sejenak, pangeran itu lalu berkata, “Biarlah kalian membantu pekerjaanku di sini. Khu Sin,
kau kuberi tugas mengurus pembukuan untuk mencatat pembagian gaji para perwira, tentara dan pelayan!
Dan kau, Thio Swie, kau harus mencatat semua keperluan rumah tanggaku agar dapat diketahui dengan
baik segala pengeluaran uang!”
Biarpun pekerjaan itu bukan merupakan sesuatu pangkat, akan tetapi mereka menerima dengan amat
gembira, karena setidaknya mereka akan memperoleh pengalaman dan karena mereka membantu
seorang pangeran yang berpengaruh dan berkedudukan tinggi, maka jalan untuk mencari kenaikan
pangkat dan kemajuan akan lebih mudah bagi mereka. Apalagi Thio Swie, ingin rasanya ia bersorak-sorak
dan berjingkrak-jingkrak kegirangan karena dengan mendapat pekerjaan di dalam gedung pangeran itu,
berarti bahwa setiap hari ia akan dapat bertemu dengan Siu Eng gadis yang telah merebut hatinya!
Dan kebahagiaan Thio Swie mencapai puncaknya ketika mendapat kenyataan bahwa setelah bekerja
beberapa bulan lamanya di dalam gedung pangeran Lu Goan Ong, gadis yang cantik jelita itu bersikap
manis sekali kepadanya. Bahkan begitu mesra dan manisnya sehingga setelah ia bekerja hampir dua
tahun, gadis ini telah berani masuk ke dalam kamarnya di waktu malam dan bersenda gurau dengannya.
Tentu saja Thio Swie merasa bahagia sekali dan menyangka bahwa gadis itu membalas cinta kasihnya! Ia
menganggap gadis itu sebagai seorang bidadari pembawa bahagia dan cintanya makin mendalam.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa gadis yang disangkanya bidadari pembawa bahagia itu tidak lain adalah
seorang iblis wanita pembawa sengsara! Ia tidak pernah mengira bahwa Gui Siu Eng adalah seorang anak
yatim piatu keponakan pangeran Lu Goan Ong yang amat dimanja dan kurang pendidikan budi pekerti
sehingga memiliki watak yang amat buruk! Gadis itu keras kepala, tinggi hati dan mempunyai sifat cabul!
Wajah cantik jelita itu hanya merupakan kedok indah yang menutup dan menyelimuti seluruh watakwataknya
yang kurang baik.
Semenjak kecil Gui Siu Eng mendapat pendidikan ilmu silat dari seorang guru silat yang tadinya menjadi
perampok sehingga gadis itu memiliki ilmu silat yang tinggi, akan tetapi juga watak yang kurang bersih.
Kemudian gadis itu bahkan menjadi murid dari Kiu-hwa-san Toanio, seorang wanita cabul yang gagah
perkasa dan yang bertapa di bukit Kiu-hwa-san setelah tua. Dari gurunya ini ia mendapat warisan ilmu silat
tinggi, akan tetapi juga wataknya yang cabul itu adalah warisan dari Kiu-hwa-san Toanio.
Setelah kembali dari Kiu-hwa-san, kepandaiannya amat tinggi dan ia makin disayang oleh pamannya oleh
karena dengan kepandaiannya itu, ia seolah-olah menjadi pengawal pribadi pamannya sendiri. Pangeran
Lu Goan Ong benar-benar mencintai keponakannya ini karena dia sendiri tidak mempunyai keturunan,
maka ia amat memanjakan Siu Eng.
Beberapa kali ia hendak menjodohkan Siu Eng dengan seorang pemuda yang baik, akan tetapi gadis itu
selalu menolak dan menyatakan bahwa ia hanya mau dijodohkan dengan seorang pemuda tampan, pandai
ilmu kesusasteraan dan pandai silat melebihi kepandaiannya sendiri!
Di manakah dapat mencari seorang pemuda seperti itu? Pemuda yang tampan dan tinggi pelajaran ilmu
silatnya memang banyak terdapat di kota raja, akan tetapi yang berkepandaian silatnya melebihi
dunia-kangouw.blogspot.com
kepandaian Siu Eng, sukar sekali terdapat! Ilmu silat gadis ini belum tentu lebih rendah dari ilmu
kepandaian Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong sendiri!
Bab-11 : Kesetiaan Sahabat Sejati
SEMUA keburukan ini tidak terlihat oleh Thio Swie yang telah tergila-gila itu. Siu Eng hanya
mempermainkannya saja, karena gadis ini memang suka sekali bergaul dan bercinta-cintaan dengan
pemuda-pemuda cakap seperti Thio Swie, Selama perhubungan mereka itu, apabila Thio Swie
mengemukakan tentang perjodohan, gadis itu hanya tersenyum dan menjawab dengan senyum manis dan
kerling memikat,
“Kawin? Ah, koko yang baik, hal itu tak perlu dibicarakan sekarang!”
“Mengapa Eng-moi? Bukankah kita saling mencinta? Bukankah ....., bukankah kau juga cinta padaku
seperti aku mencinta padamu?”
Dengan gaya manja dan menarik hati, Siu Eng lalu menyandarkan kepalanya dengan rambutnya yang
harum itu pada dada pemuda itu dan berkata, “Tentu saja aku mencinta padamu!”
Ia meraba pipi Thio Swie yang halus. “Akan tetapi, kau harus ingat akan kedudukanmu. Gajimu belum
cukup besar untuk dapat memelihara rumah tangga, mengapa bicara tentang kawin? Kelak kalau kau
sudah memperoleh kedudukan tinggi, barulah kita bicara lagi tentang hal itu!”
Setelah berkata demikian, gadis itu lalu berlari-lari keluar dari kamar Thio Swie dan tertawa berkikikan yang
membuat Thio Swie makin tergila-gila!
“Memang dia benar!” pikirnya. “Siu Eng kekasihku itu selamanya berpikir tepat dan benar! Aku harus
mencari kemajuan dan kedudukan tinggi lebih dulu, barulah aku dapat meminangnya dan kita hidup
berbahagia!”
Lamunan-lamunan seperti ini membuat Thio Swie sering tak dapat tidur, dan hatinya penuh kebahagiaan
dan cita-cita muluk. Memang patut dikasihani pemuda yang dimabuk cinta ini! Karena Siu Eng seorang
bangsawan, keponakan seorang Pangeran dan hidup dalam keadaan mewah dan kaya raya, maka tidak
ada sedikitpun kecurigaan dalam hatinya!
Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Khu Sin. Pemuda ini merasa terkejut dan kuatir sekali ketika
pada suatu malam Siu Eng memasuki kamarnya dan bersikap tak kenal malu sekali! Ia memang selalu
menaruh curiga dan tidak senang terhadap sikap Siu Eng yang agaknya terlalu manis kepadanya, karena
dia tahu betul bahwa gadis ini saling mencinta dengan kawannya.
Thio Swie seringkali menceritakan kepadanya betapa sikap gadis itu amat manis terhadap Thio Swie,
bahkan mereka telah bermain cinta! Tadinya dia merasa girang untuk nasib baik sahabatnya ini. Akan
tetapi, tidak disangka-sangkanya bahwa gadis itu berani pula masuk ke dalam kamarnya! Memang kedua
pemuda itu mendapat kamar di bangunan sebelah kiri gedung besar Pangeran Lu Goan Ong.
Sikap Siu Eng yang memikat-mikat hatinya dan dengan cara tak sopan memperlihatkan sikap cabul
terhadapnya, membuat Khu Sin menjadi marah dan sedih sekali.
“Gui-siocia,” katanya dengan halus karena betapapun marahnya, dia tidak berani berlaku kasar terhadap
keponakan Pangeran Lu yang dia tahu pandai ilmu Silat pula. “Harap kau jangan masuk ke dalam kamarku
dan kalau kiranya ada keperluan, baiklah besok pagi aku menghadap padamu.”
Siu Eng memandang sambil tersenyum karena mengira bahwa pemuda ini tentu malu-malu.
“Khu Sin,” katanya sambil mencibirkan bibirnya yang merah dan menggairahkan itu. “Kau ternyata seorang
pemuda yang kurang terima! Kalau tidak ada aku Siu Eng yang menjadi perantara, apakah kau ada
harapan untuk bekerja di sini?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Khu Sin menjadi terkejut dan buru-buru ia menjura di hadapan gadis itu. “Maaf, Gui-siocia, memang aku
merasa amat berterima kasih kepadamu. Kalau ada sesuatu yang dapat kulakukan untuk membantumu,
katakanlah. Aku Khu Sin bukanlah seorang yang tidak tahu terima kasih akan budi orang!”
Siu Eng tersenyum lagi dan tiba-tiba ia melangkah maju lalu duduk di dekat pemuda itu. “Kalau begitu,
mengapa kau tidak berlaku manis kepadaku? Bukankah kita sudah menjadi sahabat-sahabat baik?”
tangannya memegang lengan Khu Sin dengan mesra sekali.
Makin terkejutlah pemuda itu melihat hal ini. Kalau saja ia tidak ingat bahwa Siu Eng adalah kekasih
kawannya, dan kalau saja ia sendiri belum menjatuhkan hatinya kepada seorang gadis pelayan di gedung
itu, tentu ia akan jatuh dan tidak kuat menghadapi godaan gadis cantik jelita ini. Ia bangkit berdiri dan
berkata,
“Maaf, siocia, harap kau suka ingat bahwa kalau ada orang lain melihat siocia berada di kamarku, akan
mendatangkan omongan yang kurang enak. Pula, bagaimana kalau Thio Swie mendengarnya? Dia adalah
kawan baikku dan ... dan ... bukankah dia dan siocia sudah saling mencinta?”
“Siapa mencinta dia?” tiba-tiba Siu Eng menjadi marah. “Aku suka kepada siapapun juga, tak boleh kau
turut campur! Apakah .... kau tidak suka kepadaku, Khu Sin?”
“Aku berhutang budi kepada siocia dan aku menghormat siocia setulus hatiku!” jawab Khu Sin.
“Dan ..... kau tidak suka kepadaku?” tanya gadis itu sambil memandang tajam.
“Hal ini .....” Khu Sin menundukkan muka dengan hati berdebar, “Aku .... aku tidak berani menyatakan tidak
suka ....”
“Hm, kau mengecewakan hatiku, Khu Sin. Kaukira untuk apakah aku menolongmu sehingga bisa diterima
bekerja di sini? Ah, aku mulai menyesal dan kecewa telah menolongmu?” Sambil berkata demikian, Siu
Eng lalu keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar Khu Sin keras-keras. Untuk beberapa lama
pemuda itu berdiri kebingungan dengan hati berdebar-debar.
Apakah artinya ini? Sungguhpun ia tidak tahu akan riwayat dan keadaan gadis itu, akan tetapi ia mulai
merasa khawatir dan tidak suka kepada gadis itu. Ia menganggap bahwa gadis itu telah berlaku tidak setia
terhadap Thio Swie dan dari kata-kata gadis itu, ia dapat menduga bahwa gadis itu bukanlah seorang
berhati mulia dan ia merasa amat kasihan dan menyesal kepada Thio Swie, sahabat karibnya.
Ia segera langsung menjumpai sahabatnya untuk memberi peringatan bahwa Siu Eng bukanlah gadis yang
patut untuk dijadikan calon isteri. Bukan main marahnya Thio Swie mendengar ini dan dengan mengepal
tinju dan mata memancarkan cahaya berapi-api, ia membentak sahabatnya itu.
“Khu Sin! Kalau kau bukan sahabatku sejak kecil, tentu akan kupukul mukamu! Mengapa kau tidak
menahan lidahmu dan apakah yang meracuni bibirmu sehingga kau mengeluarkan ucapan-ucapan yang
amat keji itu?” katanya marah. “Kalau kau tidak bisa menceritakan dasar-dasar dan alasan-alasanmu
mengapa kau berkata sekeji itu, mulai sekarang lebih baik hubungan kita sebagai sahabat diputuskan
saja!”
“Thio Swie,” kata Khu Sin dengan muka sedih, “Kita telah menjadi sahabat karib bertahun-tahun semenjak
kita kecil. Ingatkah kau betapa kau, aku dan Tiong San pernah menyatakan bahwa kita bertiga akan tinggal
setia selama hidup? Nah, karena itu, apakah kau masih meragukan kesetiaanku sebagai kawan baikmu?
Aku memang mempunyai dasar alasan kuat mengapa aku berani menyatakan bahwa Siu Eng bukanlah
seorang gadis yang patut kau idam-idamkan! Akan tetapi, perlukah aku harus menceritakan alasan yang
hanya akan menyakitkan hatimu saja?”
Thio Swie menjadi pucat dan ia memegang lengan Khu Sin dengan tangan gemetar. “Sahabatku,
ceritakanlah! Ceritakanlah demi persahabatan kita dan jangan membuat aku mati karena bimbang ragu!”
Dengan hati terharu karena diliputi rasa kasihan, terpaksa Khu Sin menceritakan semua pengalamannya
malam tadi dan tentang sikap tidak sopan dan cabul dari Siu Eng.
dunia-kangouw.blogspot.com
Thio Swie mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka makin pucat. Ia lalau bangkit berdiri dan sekali
tangannya bergerak ia telah menampar muka Khu Sin, hingga Khu Sin menjadi terhuyung-huyung!
“Keluar...! Pergilah kau dari hadapanku! Kau bohong .....! Kau memfitnah .....! Kau mengeluarkan kata-kata
beracun karena kau ... hendak memisahkan aku dari kekasihku. Kau .... ha ha, kau iri hati, bangsat! Kau
sendiri tergila-gila kepada Siu Eng dan karena kekasihku itu tidak menghiraukan bujukanmu, kau lalu
mengeluarkan siasat ini! Ya ...... kau bangsat rendah, kau memfitnah! Ayo lekas keluar, kalau tidak .....
demi Tuhan, akan kubunuh kau .....!!”
Khu Sin dengan tenang dan sambil mengusap bibirnya yang berdarah, melangkahkan kakinya keluar dari
kamar itu sambil berkata perlahan,
“Betapapun juga, Thio Swie, aku tidak membencimu karena ini. Aku bahkan makin kasihan kepadamu .....”
“Tutup mulutmu yang berbisa, lekas keluar!”
Demikianlah, terjadi perpecahan di antara dua orang sahabat karib yang tadinya saling mencinta seperti
dua orang saudara kandung itu. Semenjak saat itu, Thio Swie tak pernah mau bicara kepada Khu Sin dan
apabila mereka bertemu muka, Thio Swie selalu membuang muka dan tidak mau memandangnya. Khu Sin
tak dapat berbuat apa-apa melainkan menarik napas dengan hati amat berduka.
Khu Sin telah jatuh hati dan mencinta seorang gadis pelayan di dalam gedung itu, seorang gadis dari
keluarga tani yang cukup manis dan lincah, bernama Man Kwei. Dengan diam-diam keduanya telah saling
menyatakan cinta dan saling berjanji akan hidup sebagai suami isteri.
“Tunggulah sampai aku mendapat kedudukan yang pantas, aku akan meminangmu dan minta izin kepada
Lu-taijin untuk mengawinimu!” kata Khu Sin dalam sebuah pertemuan yang mereka lakukan di dalam
taman bunga istana Pangeran Lu Goan Ong.
“Kalau kau sudah mendapat kedudukan tinggi, tentu kau takkan ingat kepada Man Kwei gadis dusun yang
bodoh dan buruk ini,” kata Man Kwei dengan sikap manja.
“Tak mungkin! Aku adalah seorang yang telah banyak mempelajari budi pekerti, tahu akan arti kesetiaan,
kepercayaan dan pribudi,” jawab Khu Sin.
Di dalam hubungan yang amat sederhana dengan gadis yang sederhana pula itu, ia menemukan
kebahagiaan yang besar.
Akan tetapi, ia tidak mengira bahwa kebahagiaan hanya merupakan cahaya bulan yang mudah tertutup
oleh mega-mega mendung yang hitam mengerikan. Dan kini yang merupakan awan penutup dan
penghalang kebahagiaannya adalah Gui Siu Eng, gadis cantik jelita dan gagah perkasa itu!
Ternyata bahwa Siu Eng merasa penasaran sekali melihat betapa Khu Sin menolak cintanya, bahkan tidak
memperdulikannya. Hal ini baru sekarang ia alami. Seorang pemuda menolak permainan cintanya! Makin
ditolak, makin bernafsulah dia dan makin penasaran.
Demikianlah sifat Siu Eng yang amat rendah. Kalau dituruti kehendaknya, maka sebentar saja ia akan
merasa bosan kepada pemuda kekasihnya. Akan tetapi kalau ditolak, ia akan berusaha selalu dan
sekuatnya untuk dapat memiliki pemuda itu, atau untuk melampiaskan marahnya dan mencelakakan orang
yang berani menampiknya!
Siu Eng telah merasa bosan kepada Thio Swie dan kini tak pernah pula ia datang menjumpai Thio Swie,
bahkan bertemu, ia selalu menarik muka dan seperti orang marah-marah! Hal ini tentu saja menyusahkan
hati Thio Swie yang kembali menyangka bahwa perubahan ini tentu gara-gara Khu Sin!
Sebaliknya, ketika mendengar dari para pelayan bahwa Khu Sin mempunyai seorang kekasih, yakni Man
Kwei, kegusaran Siu Eng memuncak! Dengan pengaruhnya yang besar terhadap pamannya, Siu Eng lalu
mengusir Man Kwei, bahkan dengan kejamnya ia lalu mencari jalan dan menjual gadis itu kepada rumah
pelacur!
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang, nasib para anak gadis di masa itu amat buruk dan sengsara, teristimewa anak-anak orang
miskin. Anak-anak ini dapat diperjualbelikan, yakni seorang petani yang miskin dapat menjual anaknya
kepada rumah seorang kaya atau berpangkat untuk menjadi pelayan dan selanjutnya kehidupan anak ini
seluruhnya berada di dalam kekuasaan majikannya!
Biarpun Pangeran Lu Goan Ong tidak terlalu kejam untuk melakukan penjualan macam itu, akan tetapi
karena ia berada di bawah pengaruh Siu Eng yang amat dimanjakannya, akhirnya Man Kwei terjual juga
kepada rumah pelacuran! Dalam hal ini masih belum memuaskan hati Siu Eng yang kejam, karena Khu Sin
masih juga belum mau memperlihatkan sikap manis kepadanya.
Bahkan ketika Khu Sin melihat betapa Siu Eng mengubah sikapnya kepada Thio Swie sehingga pemuda
itu kini selalu mengeram diri di dalam kamar bagaikan seorang menderita penyakit gila, Khu Sin lalu
menjumpai Siu Eng dan dengan suara memohon ia berkata,
“Siocia, kasihanilah kawanku Thio Swie itu! Dia telah tergila-gila kepadamu, dia telah mencintaimu sepenuh
jiwa dan raganya, mengapa kini siocia berbalik membenci dan tidak mau pemperdulikannya? Siocia, kau
berlakulah bijaksana dan jangan membikin ia sengsara serupa itu!”
Akan tetapi Siu Eng bahkan menjadi marah sekali. “Khu Sin, kau anggap aku ini siapa maka kau berani
berkata demikian kepadaku? Apakah kau anggap aku ini seperti Man Kwei kekasihmu yang ternyata bukan
lain hanya seorang pelacur?”
Tiba-tiba dendam di hati Khu Sin yang ditahan-tahannya itu berkobar ketika mendengar ini. “Siocia! Man
Kwei adalah seorang sesuci-sucinya, seorang gadis yang betul-betul berbatin bersih! Ia telah menjadi
korban keganasan orang, akan tetapi, betapapun juga, aku tetap mencintainya dan akan menjadikan dia
sebagai isteriku yang tercinta!”
“Kau katakan! Keganasan siapakah yang kau maksud itu? Baru dua hari Man Kwei melarikan diri dari
gedung ini sambil membawa barang perhiasan dan tahu-tahu ia kini berada di rumah pelacuran!”
Makin marahlah Khu Sin mendengar ini. Ia telah tahu akan segala yang menimpa diri Man Kwei, akan
tetapi ia tinggal diam saja. Hanya dengan bantuan kawan-kawannya, ia dapat mengirim uang kepada
kepala rumah pelacuran itu untuk menjaga Man Kwei baik-baik dan jangan mengganggunya. Ia telah
mengambil keputusan untuk berhenti bekerja dan menggunakan uang simpanannya untuk membawa Man
Kwei pulang ke desanya.
Akan tetapi, oleh karena tidak tega meninggalkan sahabatnya yang berada dalam keadaan sengsara itu, ia
telah berlaku nekat dan menjumpai Siu Eng untuk mengajukan permohonan bagi sahabatnya yang dulu
pernah menamparnya itu. Dapat dibayangkan betapa setia kawan dan mulia hati pemuda ini! Akan tetapi,
sesabar-sabarnya seorang laki-laki, apabila orang yang dicintai dihina dan dimaki orang, ia takkan dapat
bertahan, maka kini dengan marah ia berkata kepada Siu Eng,
“Gui-siocia! Jangan kira aku tidak tahu akan segala perbuatanmu yang kejam itu. Karena Man Kwei
menjadi kekasihku dan calon isteriku, kau sengaja berlaku kejam dan mencoba untuk menjerumuskan dia
ke jurang kehinaan. Akan tetapi dengarlah, wahai puteri bangsawan yang kurang pikir! Aku adalah seorang
terpelajar yang tak sudi berbuat melanggar kesusilaan dan kesopanan, dan sekarang juga aku hendak
menghadap kepada Lu-taijin untuk minta berhenti dari pekerjaan ini. Aku akan membawa calon isteriku
pulang ke kampung dan hidup dengan aman dan damai di sana, jauh dari gedung ini, dan jauh dari kau!”
“Bangsat, tutup mulutmu!” tiba-tiba Siu Eng menampar dan Khu Sin roboh terguling. “Kau hendak pulang?
Hendak mengawini Man Kwei? Hm, jangan harap, bangsat! Kau akan kubunuh dulu dan Man Kwei akan
menjadi pelacur yang sebesar-besarnya, sehina-hinanya!”
Sambil berkata demikian, ia maju untuk mengirim tendangan maut kepada Khu Sin. Pemuda ini maklum
akan kelihaian Siu Eng dan tamparan tadipun telah membuat kepalanya pening dan pandangan matanya
berkunang, maka kini ia hanya dapat memeramkan mata menanti datangnya tendangan maut itu!
Akan tetapi sebelum tendangan itu mengenai tubuh Khu Sin, tiba-tiba Siu Eng berseru heran karena
mendadak saja tubuh Khu Sin itu lenyap dari depannya! Dan ketika ia memutar tubuh, ternyata di
belakangnya telah berdiri seorang pemuda cakap sekali dengan pakaian warna hijau, sedangkan Khu Sin
dunia-kangouw.blogspot.com
telah pula berdiri di sampingnya sambil memandang kepada pemuda baju hijau itu dengan mata terbelalak
dan mulut ternganga!
“Tiong San .....!” Khu Sin berseru, hampir tak percaya kepada matanya sendiri. Akan tetapi Tiong San
hanya tersenyum kepadanya, lalu melangkah maju dan berkata kepada Siu Eng,
“Mau bunuh kawanku? Tidak boleh, tidak boleh! Perempuan jahat, jangan kau ganggu sahabat karibku!”
Siu Eng dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah pemuda yang dulu dilihatnya di dalam perahu, karena
sesungguhnya telah lama ia mengagumi ketampanan pemuda ini. Akan tetapi melihat dia sekarang tibatiba
datang di tempat itu dan dapat menolong Khu Sin, ia tahu bahwa pemuda ini tentu memiliki ilmu
kepandaian, maka ia lalu mencabut pedangnya dan membentak,
“Kau kira aku takut kepadamu?”
Tiong San tertawa sinis dan berkata, “Wanita kejam memegang pedang, sungguh berbahaya!” dan ia
meloloskan cambuknya.
Dengan marah sekali Siu Eng lalu menyerang dengan pedangnya dan gerakannya benar-benar cepat
bagaikan menyambarnya burung walet. Akan tetapi Tiong San segera mengayun cambuknya dan ujung
cambuknya menyambar ke arah pergelangan tangan Siu Eng!
Gadis itu terkejut sekali melihat lawan menyambut serangannya dengan serangan yang mendahului, maka
terpaksa ia mengelak, kemudian meloncat dengan gesitnya mendekati Tiong San untuk menyerang dari
dekat. Pemuda itu kagum melihat kegesitan tubuh Siu Eng, maka lalu melayaninya dengan sungguhsungguh.
Ia sengaja memperpendek cambuknya sehingga mereka dapat bertarung dengan seru dan
ramainya.
Biarpun Siu Eng diam-diam merasa terkejut dan kagum sekali melihat pemuda ini, yang paling terkejut dan
terheran-heran adalah Khu Sin. Benarkah pemuda ini Tiong San? Tak salah lagi, ia dapat mengenal wajah
kawannya ini di antara ribuan orang.
Akan tetapi kalau ia benar-benar Tiong San, mengapa ia dapat memiliki ilmu kepandaian sedemikian
hebatnya? Kini ia tidak dapat melihat bayangan kedua orang itu lagi, karena mereka telah bertempur
dengan amat cepatnya sehingga bayangan mereka seakan-akan bergulung-gulung menjadi satu!
“Tiong San .... Tiong San ..... bukan main hebatnya ...” demikian Khu Sin berkali-kali berbisik seorang diri.
Sementara itu, di dalam dada Siu Eng timbul perasaan yang amat aneh baginya dan yang selama
hidupnya belum pernah ia rasakan. Telah lama ia sering teringat kepada pemuda ini yang dulu pernah
bertemu dengan pamannya di dalam perahu. Ia dulu mengagumi ketampanan wajah pemuda itu dan
sikapnya yang tenang dan sopan santun. Akan tetapi setelah kini ia bertempur dengan pemuda ini dan
mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda ini sangat tinggi, diam-diam ia menjadi sangat tertarik.
“Ah, inilah pemuda yang tepat dan sesuai menjadi suamiku .....” demikian pikirnya dan ia mengerahkan
seluruh kepandaiannya untuk melawan dan mengukur tingkat ilmu silat Tiong San. Akan tetapi, betapapun
juga ia menyerang, ia tak dapat berhasil melukai pemuda itu karena kemana saja pedangnya berkelebat,
cambuk lawannya tentu menghadang dan menangkis! Ilmu pedang yang dimainkan oleh Siu Eng adalah
ilmu pedang Kiu-hwa Kiam-hoat yang amat hebat dan belum pernah ia menemui tandingan seperti itu.
Juga Tiong San merasa kagum dan diam-diam memuji ilmu pedang gadis yang hampir saja membunuh
sahabatnya itu, karena iapun tak dapat mendesak Siu Eng. Tiba-tiba Tiong San berseru keras dan
tubuhnya melompat ke belakang, dua tombak jauhnya. Ketika tangannya bergerak, cambuknya
menyambar dan menjadi panjang, terus menyerang dengan gerakan hebat bagaikan naga melayanglayang
ke arah tubuh Siu Eng.
Gadis ini cepat menangkis, akan tetapi kini ia tidak berdaya membalas, karena cambuk yang melayang dari
tempat jauh itu terus mengurung dan mendesaknya dengan hebat. Ia makin kagum saja, akan tetapi
sebagai murid terkasih dari Kiu-hwa-san Toanio, ia tidak mau menyerah mentah-mentah. Ia berseru keras
dan tangan kirinya cepat bergerak melempar senjata rahasianya yang amat diandalkan, yakni kiu-hwaciam,
semacam jarum-jarum halus yang terbuat dari perak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan mengeluarkan cahaya terang, jarum-jarum itu menyambar ke arah Tiong San yang segera
mengelakkan dengan cepat! Berkali-kali Siu Eng menghujani Tiong San dengan jarum-jarumnya, akan
tetapi selalu senjata-senjata rahasia itu dapat dielakkan oleh Tiong San. Bahkan Tiong San lalu
menggunakan tangan kirinya menyaut jarum-jarum itu dari samping, lalu melontarkan kembali ke arah Siu
Eng sambil tertawa mengejek.
“Jarum-jarum memang permainan wanita, tapi untuk menjahit, bukan untuk membunuh orang! Terimalah
kembali jarum-jarummu untuk menjahit pakaian suamimu!”
Digoda seperti itu, Siu Eng merasa gemas sekali, akan tetapi rasa kagumnya terhadap Tiong San
meningkat. Kini ia betul-betul terdesak dan serangan cambuk Tiong San dari jarak jauh itu mengurung
dirinya membuat ia sibuk dan bingung sekali.
Akan tetapi diam-diam Siu Eng merasa girang sekali karena biarpun dirinya dikurung, ujung cambuk itu
agaknya tidak mau melukainya, buktinya beberapa kali ujung cambuk itu telah meluncur dan akan dapat
merobohkannya, tiba-tiba ditarik kembali! Ia mengira bahwa Tiong San merasa sayang dan tidak mau
melukainya dan menganggap bahwa pemuda itu suka kepadanya! Padahal sebenarnya Tiong San
memang tidak mau melukainya karena tidak ingin bermusuhan kepada siapapun juga.
Tiba-tiba cambuk itu berkelebat dan tahu-tahu telah membelit pedang di tangan Siu Eng. Kalau ia mau,
gadis ini dapat mempertahankan pedangnya dan mengerahkan lweekang untuk bertahan agar pedangnya
jangan sampai terampas. Akan tetapi dengan sengaja ia melepaskan pedangnya itu sambil melompat ke
belakang dan berseru dengan suara nyaring dan merdu,
“Aku menyerah! Harap taihiap suka memberitahukan nama yang mulia!” Setelah berkata demikian, gadis
itu menjura dan kemudian berdiri dengan sikap kemalu-maluan dan matanya mengerling serta bibirnya
tersenyum manis!
Khu Sin memandang heran dan kagum, karena belum pernah ia melihat gadis itu semanis ini dan matanya
mengeluarkan cahaya sehalus itu. Akan tetapi Tiong San hanya tertawa saja dan ketika ia menggerakkan
tangan, cambuknya menyambar dan pedang itu telah dilepas dari libatan dan kini diayunkan kembali ke
arah Siu Eng yang menyambarnya dengan senyum di bibir!
Pada saat itu, terdengar suara ketawa girang dan muncullah Pangeran Lu Goan Ong sendiri! Pangeran ini
menjura kepada Tiong San dan berkata kepada Siu Eng, “jangan sebut taihiap, dia adalah Shan-tung
Koay-hiap, pendekar aneh yang gagah perkasa! Shan-tung Koay-hiap, tepat sekali dugaanku bahwa kau
adalah pemuda yang dulu berjumpa dengan aku di perahuku dan menjadi kawan dari Khu Sin dan Thio
Swie! Tak terduga sama sekali bahwa kau ternyata adalah seorang pendekar muda yang gagah perkasa!”
Tiong San membalas penghormatan itu dan berkata, “Maaf, taijin, aku datang hanya hendak bertemu
dengan dua orang sahabat karibku!”
“Boleh saja!” kata Lu Goan Ong sambil tersenyum. Khu Sin dan Thio Swie seringkali menyebut-nyebut
namamu dan karena mereka berdua adalah pembantu-pembantuku yang baik dan rajin, kau juga menjadi
tamuku pula! Shan-tung Koay-hiap, harap kau maklum bahwa aku orang she Lu tidak ikut campur dalam
urusan dengan Ong-taijin tadi!”
Tiong San tersenyum. “Perkara itu sudah lewat, taijin.”
“Marilah masuk ke dalam dan aku harus menjamu tamuku yang gagah,” katanya dengan ramah tamah.
Akan tetapi Tiong San menggoyang tangannya dan berkata,
“Terima kasih, taijin. Tak perlu repot-repot. Aku hanya ingin bicara dengan kedua sahabatku!”
Pangeran itu menarik napas panjang. “Tentu kau takkan dapat menikmati hidanganku yang jauh lebih
buruk dari pada hidangan di rumah Pangeran Ong Tai Kun. Baiklah, kalau kau hanya hendak bercakapcakap
dengan kedua orang sahabatmu yang menjadi pembantu-pembantuku, aku akan menyuruh orang
menyediakan kamar untukmu. Akan tetapi, aku mengharap agar supaya besok pagi kau suka bercakapcakap
dengan aku sebagai kawan-kawan baik!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pangeran itu lalu mengajak pergi keponakannya yang melepas kerling tajam ke arah Tiong San sambil
berkata, “Shan-tung Koay-hiap benar-benar lihai, siauwmoi (menyebut diri sendiri yang berarti adik
perempuan muda) benar-benar merasa takluk!”
Setelah kedua orang itu pergi, Khu Sin menubruk kawannya itu dan mengucurkan air mata. “Tiong San ...
Tiong San, apakah yang telah terjadi dengan kau? Mengapa kau bisa menjadi seorang pendekar yang
begini hebat? Ah .... Tiong San ....” kemudian pemuda ini teringat akan nasibnya sendiri dan nasib Thio
Swie, maka ia lalu menangis seperti anak kecil.
“Eh, anak gila!” Tiong San menghibur kawannya dan sebutan “gila” ini baginya merupakan sebutan mesra
sebagaimana suhunya selalu menyebutnya. “Jangan menangis seperti perempuan saja!”
Khu Sin sadar dan segera menyusut air matanya, lalu ia menarik tangan Tiong San menuju ke bangunan di
sebelah kiri dan berkata,
“Bagus kau datang, Tiong San. Agaknya hanya kau yang dapat mengobati penyakit Thio Swie!”
“Thio Swie sakit!”
“Semacam penyakit yang sukar diobati,” kata Khu Sin dan ia tidak memberi kesempatan kepada Tiong San
untuk bertanya lagi, akan tetapi langsung membawa Tiong San ke kamar Thio Swie.
Begitu Khu Sin membuka daun pintu dan melangkah masuk, ia disambut oleh maki-makian nyaring oleh
Thio Swie,
“Bangsat, pengkhianat berhati rendah! Kau berani masuk ke sini! Setelah kau mencuri Siu Eng, kau .... kau
....” tiba-tiba ia terbelalak memandang kepada wajah Tiong San yang berdiri tersenyum memandangnya.
“Thio Swie, kau lebih gila dari pada yang kuduga semula!” kata Tiong San sambil memandang dengan
penuh kasih sayang kepada sahabat karibnya yang dulu selalu bergembira dan berseri, akan tetapi yang
sekarang nampak kusut dan pucat itu.
“Kau .... kau ... Tiong San ... !” seperti Khu Sin, pemuda ini menubruk Tiong San, memeluk dan
menciuminya sambil mengucurkan air mata.
“Eh, eh, kalian berdua memang benar-benar gila! Gila dan cengeng! Kenapa bertangis-tangisan tidak
keruan?”
“Tiong San .....” kata Thio Swie sambil menangis, “Betapa aku takkan menangis? Semenjak kau pergi,
sahabat karibku hanyalah Khu Sin seorang, dialah orang satu-satunya yang menjadi curahan hatiku, yang
menjadi penasehat dan teman berunding! Akan tetapi bagaimana kenyataannya ....? Ia, kawanku ini ..... ia
telah merampas kekasih hatiku, telah membujuk dan mencuri hati Siu Eng dengan cara yang amat rendah
.... ia ... ia .....”
“Ssst, diam, Thio Swie!” tiba-tiba suara Tiong San terdengar berpengaruh sekali. “Kau tersesat dan buta!
Tahukah kau, baru saja Siu Engmu itu hampir membunuh Khu Sin kalau tidak aku kebetulan datang!”
“Apa ....?!! Thio Swie memandang dengan mata terbelalak.
“Ya, kau boleh merasa heran. Aku mendengar dengan telingaku sendiri betapa Khu Sin telah minta dengan
beraninya kepada Siu Eng agar tidak mengganggumu, agar suka kembali kepadamu dan jangan bermain
curang dan melanggar kesetiaan terhadapmu! Dan untuk pembelaannya itu, Khu Sin telah kau benci,
bahkan hampir terbunuh oleh Siu Eng gadis kejam itu!” kata pula Tiong San.
Khu Sin lalu melangkah maju dan memeluk pundak Thio Swie. “Thio Swie, memang kau sedang dimabok
cinta. Kau tidak tahu betapa besar kasih ku kepadamu. Kita sahabat-sahabat karib semenjak kecil, bukan?
Kita kawan-kawan sekampung, bukan? Tak pernah aku berlaku khianat dan curang kepadamu, kawan!
Kau tidak tahu, kawan kita Tiong San telah menjadi seorang pendekar luar biasa! Ah, kalau saja kau tadi
tahu betapa ia bertempur melawan Siu Eng yang lihai! Ia adalah Shan-tung Koay-hiap, dan kepandaiannya
.... ah, kau takkan percaya kepada matamu sendiri ....”
dunia-kangouw.blogspot.com
Kemudian ia lalu berkata dengan sungguh-sungguh,” Kawan-kawanku, dengarlah baik-baik penuturanku
dan aku bersumpah takkan mau menjadi manusia lagi kalau dalam penuturanku ini ada sepatah katapun
yang tidak benar!”
Ia lalu menceritakan keadaan sebenarnya, betapa Siu Eng memasuki kamarnya, betapa ia telah mencintai
seorang gadis pelayan yang kemudian difitnah oleh Siu Eng, dan betapa ia tadi hampir saja dibunuh oleh
gadis kejam itu.
Bab-12 : Pengantin Gila
MAKIN lama makin pucatlah wajah Thio Swie mendengar ini dan akhirnya ia mengeluh dengan sedih lalu
roboh pingsan. Khu Sin menjadi sibuk, akan tetapi Tiong San berkata,
“Tenanglah, ia tidak apa-apa. Lebih baik dia pingsan sehingga tidak mengalami pukulan batin yang lebih
hebat.” Mereka duduk diam menjaga sampai Thio Swie siuman kembali. Pemuda ini bangun duduk dan
menangis sedih.
“Bagaimana ia menjadi sejahat itu? Bagaimana seorang gadis secantik dia sampai memiliki watak
sedemikian keji. Ah .... sukar untuk dapat dipercaya.”
“Memang manusia ini segila-gilanya mahluk. Ingatkah kau, Thio Swie?” kata Tiong San.
“Sekarang serahkanlah semua ini kepadaku. Aku yang tanggung bahwa mulai besok pagi, kalian tentu
akan mendapat pangkat, dan dapat meninggalkan tempat ini untuk menduduki pangkat masing-masing.
Adapun tentang Siu Eng .... ah, serahkan saja kepadaku. Khu Sin, besok setelah menerima pangkat, kau
boleh membawa pulang calon isterimu itu, dan kau Thio Swie, kuharap kau dapat melupakan Siu Eng,
memegang jabatanmu dengan jujur dan adil kemudian kau boleh mencari isteri yang lebih bijaksana dari
pada Siu Eng!”
“Kau sendiri!” tanya Khu Sin.
“Aku ...? Ha ha ha! Aku .... sementara waktu akan tinggal di gedung ini, kalau sudah bosan, aku akan
menyusul suhuku ...”
“Di mana suhumu!” tanya Khu Sin selanjutnya.
“Di dapur kaisar, menikmati hidangan-hidangan istana!”
“Tiong San, gilakah kau?” tanya Thio Swie dengan heran.
Tiong San tertawa ha ha, hi hi. “Nah, kau sudah sembuh, Thio Swie! Kau bilang aku gila? Memang,
siapakah yang tidak gila? Ha ha, ingatkah kau syair dulu?”
Dunia penuh orang gila
Yang waras disebut gila
Yang gila .......
“Meraja lela .....!” dengan suara berbareng Thio Swie dan Khu Sin melanjutkan syair itu. Kembali Tiong San
tertawa ria.
Khu Sin lalu menceritakan pengalaman mereka semenjak berpisah dengan Tiong San dan pemuda itu
mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi ketika ditanya pengalamannya, Tiong San menjawab
singkat.
“Apa yang kualami? Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya pergi belajar mengembala kerbau dengan
cambukku ini dan selanjutnya merantau tiada arah tujuan.”
“Mengembala kerbau? Apakah artinya bahwa untuk mengembala kerbau kau perlu mempelajari ilmu silat
yang demikian tingginya?” tanya Khu Sin dan kedua orang muda itu mulai memandang kepada Tiong San
dengan pandangan mata heran dan ragu-ragu apakah kawannya ini benar-benar tidak miring otaknya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sambil tertawa Tiong San berkata, “Betapa tidak? Mengembala kerbau lebih mudah dari pada
mengembala manusia, dan karena kerbau-kerbau yang harus kuhadapi itu termasuk kerbau-kerbau gila
seperti Siu Eng dan orang jahat-jahat lainnya, tentu aku akan diseruduk kerbau dan mampus!”
Omongan Tiong San yang tidak keruan juntrungnya ini benar-benar membikin kedua sahabatnya terheranheran.
Menurut keinginan hati kedua orang muda itu, mereka ingin mengadakan percakapan sampai
semalam suntuk, akan tetapi Tiong San berkata,
“Jangan, lebih baik kita tidur saja. Thio Swie perlu beristitahat dan aku perlu tidur karena kamar telah
disediakan oleh tuan rumah!”
Pelayan mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa kamar untuk “Koay-hiap” telah disiapkan, yakni di
dekat kamar tengah. Pelayan itu lalu mengundurkan diri.
“Malam ini kalian jangan keluar-keluar,” kata Tiong San, “Biar mendengar suara apapun juga dari kamarku,
jangan kalian keluar.”
Kemudian mereka lalu masuk ke kamar masing-masing. Thio Swie yang merasa amat kecewa dan
berduka, dapat menghibur hatinya karena ia merasa beruntung juga bahwa ia tidak sampai terjerumus
makin dalam dan kini kedua orang sahabat karibnya telah berbaik kembali, bahkan Tiong San telah
menjadi seorang pendekar! Maka perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya ini membuatnya lelah
sekali dan sebentar saja ia tidur pulas. Sebaliknya, Khu Sin yang merasa girang sekali, pertama karena
kedatangan Tiong San, kedua karena ia sudah berbaik kembali dengan Thio Swie, dan ketiganya karena ia
hendak membawa pulang kekasihnya, malahan tak dapat tidur!
Tiong San begitu merebahkan diri di atas pembaringan tanpa membuka bajunya terus saja mendengkur!
Keadaan di sekitar tempat itu sunyi senyap, akan tetapi sebetulnya pemuda ini tidak tidur dan ia menaruh
curiga kepada Pangeran Lu Goan Ong. Siapa tahu kalau-kalau Pangeran itu hendak berlaku curang! Maka
ia telah mempersiapkan cambuknya di bawah bantal.
Menjelang tengah malam, benar saja ia mendengar tindakan kaki perlahan-lahan yang menghampiri
kamarnya dari luar. Menurut pendengarannya, ia taksir bahwa yang datang itu sedikitnya ada lima orang,
maka ia diam-diam tersenyum dan bersiap-siap. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar tindakan kaki ringan
dan ia mendengar suara Siu Eng berkata perlahan,
“Jangan! Jangan! Tidak boleh!”
Terdengar suara laki-laki yang agaknya membantahnya, akan tetapi gadis itu berkata kembali, “mari kita
rundingkan dulu!”
Kaki banyak orang itu lalu menjauhi kamarnya, dan secepat kilat Tiong San lalu melompat naik ke tiang
penglari, membuka genteng dan segera melompat mendekati sekelompok orang dalam gelap yang sedang
berunding. Ia lihat Im-yang Po-san Bu Kam, perwira kaisar kelas satu yang tadi dicabut jenggotnya oleh
Thian-te Lo-mo, bersama empat orang perwira lain dan mereka berlima ini sedang bercakap-cakap dengan
Siu Eng. Gadis ini sedang bicara dengan suara tetap,
“Tidak boleh, sekali lagi tidak boleh! Kalian tidak boleh mengganggu dia! Aku ... aku suka kepadanya dan
aku sudah mengambil keputusan untuk menjadi ... jodohnya!”
“Apa?” terdengar orang ketujuh berkata dan orang ini bukan lain ialah Pangeran Lu Goan Ong sendiri. “Siu
Eng! Apakah kau gila? Dia adalah seorang yang berbahaya!”
Siu Eng tersenyum. “Dia memang lihai sekali dan berkepandaian tinggi. Tentu saja dia berbahaya kalau
menjadi musuh kita. Akan tetapi, kalau dia menjadi suami saya, berarti dia bukan musuh kita, bahkan
keluarga kita yang akan membela kita. Mengapa paman tidak dapat berpikir sampai di situ?”
“Kalau dia tidak mau, bagaimana?” tanya seorang perwira.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tak mungkin!” Siu Eng menjawab marah dan tersinggung. “Kalau besok paman bertemu dengan dia harap
paman kemukakan hal ini dan membujuknya. Kalau ternyata benar-benar bahwa dia tidak mau, terserah
kepada kalian hendak menawan atau membunuhnya, aku bahkan akan membantu kalian!”
Setelah mendengar ini Tiong San tersenyum geli dan diam-diam kembali ke kamarnya dan tidur lagi.
Ketujuh orang itu berunding sebentar lagi, kemudian perwira-perwira itu mengalah karena mereka merasa
setuju dengan pendapat Siu Eng bahkan merasa gembira karena kalau sampai pemuda itu tidak mau,
mereka akan dapat bantuan Siu Eng yang lihai. Juga Pangeran Lu Goan Ong memuji kecerdikan
keponakannya.
Setelah mereka pergi, Siu Eng lalu menghampiri kamar Tiong San. Ia mengintai dari jendela dan ketika
mendengar betapa pemuda itu telah tidur pula dan mendengkur, dengan hati-hati ia lalu menolak daun
pintu yang ternyata tidak dikunci!
Ia melangkah masuk dan mendekati pembaringan Tiong San. Ditatapnya wajah pemuda yang tampan dan
yang tidur telentang itu. Bibir pemuda itu tersenyum dalam tidurnya dan bulu matanya nampak panjang dan
hitam. Alis yang berbentuk golok itu membuat kulit mukanya yang putih kelihatan gagah dan tampan sekali.
“Aku suka kepadamu .... kau tampan dan gagah ... aku cinta padamu ....” Siu Eng berbisik dan jari
tangannya yang halus itu diulur dan menyentuh dagu Tiong San dengan mesranya. Kemudian dengan hati
beruntung dan gembira gadis itu meninggalkan kamar Tiong San dan menutup pintunya.
Pada keesokan harinya, Tiong San telah berhadapan dengan Pangeran Lu Goan Ong di ruang tamu.
Setelah memuji-muji kegagahan Tiong San, Pangeran Lu Goan Ong lalu berkata,
“Lie-taihiap,” katanya dengan suara ramah tamah, “Melihat sepak terjangmu di gedung Pangeran Ong, aku
merasa amat kagum akan kegagahanmu, dan melihat pula sikapmu yang amat sopan santun dan baik,
timbullah suatu maksud dalam hatiku. Kuharap saja kau takkan menampik usul yang akan kuajukan ini.”
“Lu-taijin adalah seorang pembesar tinggi dan telah menolong kedua orang sahabatku,” jawab Tiong San.
“Oleh karena itu setiap usul tentu akan merupakan kurnia besar untukku. Mana aku bisa menampiknya?”
Dengan wajah girang Pangeran Lu Goan Ong melanjutkan kata-katanya, “Keponakanku Gui Siu Eng telah
kau lihat sendiri kepandaian dan wajahnya. Dia telah berusia delapan belas tahun dan selalu apabila
hendak kucarikan jodoh, ia menolak dengan alasan bahwa ia hanya mau mendapatkan jodoh yang ilmu
kepandaiannya lebih tinggi darinya, baik dalam bun maupun bu. Taihiap adalah seorang pelajar yang
pandai dan ilmu silatmu juga amat tinggi, maka agaknya hanya kaulah seorang yang patut menjadi
jodohnya. Tidak tahu bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Kalau kiranya kau setuju, kami akan merasa
girang sekali menarik kau sebagai keluarga kami!”
Biarpun dalam hatinya merasa geli sekali, akan tetapi Tiong San memperlihatkan muka sungguh-sungguh
ketika ia menjawab, “Memang telah kuduga bahwa taijin tentu akan memberi kurnia kepadaku yang bodoh.
Tentang hal perjodohan ini .... sesungguhnya merupakan kurnia yang datangnya dari surga bagiku.
Jangankan menjadi jodoh Gui-siocia yang demikian pandai dan mulia, untuk menjadi pelayannya saja aku
masih belum cukup berharga! Oleh karena itu, orang akan menyebutku gila kalau aku menampiknya. Akan
tetapi, orang menikah harus berada dalam keadaan senang dan puas, sedangkan aku masih mempunyai
ganjalan hati karena beberapa macam keinginanku masih belum terkabul.”
“Apakah keinginan itu, taihiap? Katakanlah, barangkali saja aku akan bisa menolongmu.”
Tiong San menjura. Terima kasih, terima kasih Lu-taijin. Kalau taijin yang turun tangan membantu, hal ini
pasti akan beres. Dulu pernah aku berjanji kepada diri sendiri, bahwa aku takkan mau kawin sebelum
dapat menyenangkan hidup ibuku yang miskin, maka sebelum aku dapat memberinya uang sedikitnya
sepuluh ribu tail perak, aku takkan mengikat diri dengan perjodohan. Kedua, sahabat-sahabat karibku Khu
Sin dan Thio Swie semenjak kecil bercita-cita untuk menjabat pangkat, sedikitnya menjadi wedana, maka
kalau kedua orang sahabatku itu belum mendapatkan pangkat yang dicita-citakannya itu, hatiku tetap saja
takkan merasa senang. Tentu saja kedua hal ini bagi taijin hanyalah merupakan hal-hal kecil yang remeh,
akan tetapi bagiku agaknya selama hidup takkan dapat tercapai. Oleh karena itu untuk membicarakan soal
perjodohan masih jauh sekali bagiku dengan adanya keinginan-keinginan yang sukar dilaksanakan itu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Pangeran Lu Goan Ong tertawa gembira. “Sepuluh ribu tail perak dan pangkat wedana bagi kedua sahabat
karibmu? Hm, biarpun hal itu mudah dilakukan, akan tetapi dengan perginya kedua anak muda itu, aku
kehilangan dua tenaga pembantu yang cakap. Akan tetapi biarlah, hitung-hitung hal itu menjadi ‘mas kawin’
bagimu. Aku akan penuhi semua permintaan itu, Lie-taihiap!”
Tiong San merasa lega dan menjura dengan penuh hormat.
“Banyak-banyak terima kasih atas kurnia yang taijin berikan kepadaku. Kalau demikian, mohon taijin suka
segera memberi surat pengangkatan untuk kedua orang kawanku itu dan uang untuk ibukupun hendak
kutitipkan pada mereka.”
“Dan tentang pernikahan itu? Kapan dapat dilangsungkan?” tanya Pangeran Lu Goan Ong.
Tiong San tersenyum. “Kapan saja, taijin, ini hari ataupun besok hari apa bedanya?”
Pangeran Lu Goan Ong merasa girang sekali. Tak disangkanya pemuda itu akan menurut dengan
demikian mudahnya. Kalau pemuda itu benar-benar menjadi suami Siu Eng, maka ia akan mendapat
pelindung yang benar-benar kuat dan ia tidak usah khawatirkan saingan-saingan berat. Pula, karena
pemuda ini murid Thian-te Lo-mo, mustahil kalau kakek gila itu mau datang mengganggunya!
“kalau begitu, besok pagi harus dilangsungkan. Lebih cepat lebih baik!” serunya girang.
“Hamba bersiap sedia, taijin!” jawab Tiong San.
Khu Sin dan Thio Swie lalu dipanggil menghadap dan kedua pemuda ini hanya bisa mendengarkan dengan
bengong ketika mereka diberitahu oleh Pangeran Lu Goan Ong bahwa mereka berdua diangkat menjadi
Wedana, masing-masing di kota Bun-an-kwan dan Siong-li-tung yang tak jauh letaknya dari kampung
kelahiran mereka! Kemudian mereka diberi hadiah-hadiah pula sebagai penghargaan atas jasa-jasa
mereka dan juga uang sepuluh ribu tail perak untuk ibu Tiong San dibawakan sekalian.
Dalam kegembiraannya, kedua orang itu berlutut menghaturkan terima kasih kepada Pangeran Lu Goan
Ong sambil mengeluarkan air mata karena terharu dan girang. Khu Sin lalu mengajukan permohonan untuk
berangkat pada hari itu juga sambil membawa Man Kwei, bekas pelayan yang menjadi kekasihnya itu.
Pangeran Lu menyetujuinya dan segera disediakan gerobak untuk mengangkut barang-barang mereka.
Akan tetapi ketika mereka berdua diberitahu akan pernikahan Tiong San dengan Siu Eng yang akan
dilangsungkan besok hari, keduanya menjadi pucat. Terutama Thio Swie, pemuda ini yang hatinya masih
terluka dan rasa cintanya kepada Siu Eng masih belum lenyap, memandang kepada Tiong San dengan
mata marah dan penuh pertanyaan, akan tetapi kawannya itu hanya memandangnya sambil tersenyum.
“Kalian pulanglah dan lakukanlah pekerjaan dan tugas masing-masing dengan baik. Kalian sudah terlalu
lama di sini dan sekarang menjadi giliranku untuk menikmati hidup bahagia di samping isteriku yang
berbudi!”
Khu Sin yang cerdik dapat menduga bahwa Tiong San tentu sedang menjalankan peranan yang hebat,
maka tanpa banyak kata lagi ia lalu mengajak Thio Swie berangkat meninggalkan kota raja. Mereka minta
pertolongan sebuah perusahaan pengawal barang (piauw-kiok) untuk mengantar dan mengawal mereka
menuju ke kampung Kui-ma-chung karena mereka hendak pulang ke rumah orang tua masing-masing
sebelum menuju ke kota di mana mereka akan menjabat pangkat baru itu. Akan tetapi, di sepanjang
perjalanan, Thio Swie tiada hentinya menyatakan ketidaksenangan hatinya terhadap Tiong San, dan ia
dihibur oleh Khu Sin dengan memperingatkan bahwa betapapun juga, Tiong San telah berjasa sehingga
mereka berdua diberi kedudukan yang amat baik.
********************
Sementara itu, gedung Pangeran Lu Goan Ong dihias dengan amat mewahnya. Pangeran ini lalu membuat
siaran dan undangan kilat untuk memberitahu tentang pernikahan yang hendak dilangsungkan sehingga
gemparlah semua pembesar dan Pangeran di kota raja. Nama Siu Eng telah terkenal sekali dan semua
orang merasa heran dan menduga-duga siapakah gerangan pemuda yang demikian bahagia dan berhsl
mempersunting kembang yang indah dan harum itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Para pembesar yang ketika Tiong San mengacau di gedung Pangeran Ong hadir pula di situ, menjadi
terheran-heran ketika mendengar bahwa keponakan Pangeran Lu Goan Ong dijodohkan dengan Shantung
Koay-hiap, akan tetapi diam-diam Pangeran Lu Goan Ong mengutus orang kepercayaannya untuk
memberitahukan duduknya hal kepada mereka semua itu.
Ia memberitahukan bahwa Siu Eng merasa suka kepada pemuda itu dan menurut pendapatnya, pemuda
yang tadinya seorang siucai (terpelajar atau mahasiswa) itu yang kini telah menjadi seorang lihai, lebih baik
dijadikan kawan yang akan membela kepentingan mereka dari pada dijadikan lawan. Bahkan Pangeran Lu
Goan Ong memberi surat khusus untuk Pangeran Ong Tai Kun agar supaya Pangeran ini suka
menjalankan siasat yang halus dan menawarkan diri menjadi wali dari Tiong San!
Pangeran Ong Tai Kun yang telinga kirinya dibikin buntung oleh Tiong San, tentu saja merasa amat sakit
hati pada pemuda itu, maka ketika menerima surat dari Pangeran Lu Goan Ong , ia merasa amat
penasaran. Akan tetapi menghadapi Lu-taijin, ia tidak berani bertingkah, apalagi ia maklum bahwa tanpa
bantuan orang pandai, ia tidak berdaya menghadapi Shan-tung Koay-hiap dan Thian-te Lo-mo. Maka ia
lalu memutar otaknya dan akhirnya mendapat siasat yang amat keji dan curang.
Ia segera mengutus orang-orang kepercayaannya untuk membawa kendaraan berkuda besar menjemput
Tiong San yang menjadi mempelai laki-laki dan kini telah diberi pakaian yang amat indah. Pakaian ini
terbuat dari sutera halus dan atas permintaannya, maka telah dipilih sutera warna hijau yang amat mahal
dan indah.
Untuk memenuhi adat kebiasaan, mempelai laki-laki akan tiba dari rumah orang tua atau walinya untuk
menjemput calon isterinya, maka karena ia tidak keberatan untuk mengangkat wali kepada Pangeran Ong
Tai Kun. Ketika kereta yang menjemputnya datang, ia segera berangkat naik kereta menuju ke gedung
Pangeran Ong Tai Kun yang kemaren dulu terjadi keributan karena gangguannya!
Ketika ia turun dari kendaraan, semua perwira yang kemaren mengeroyoknya, memandang dengan penuh
perhatian dan mereka mau tidak mau harus menyatakan kagum dalam hati melihat kegagahan dan
ketampanan pemuda yang dipilih menjadi calon suami Siu Eng itu.
Pangeran Ong Tai Kun sendiri menyambut pemuda itu dengan senyum simpul. Telinganya yang buntung
kini tertutup oleh sebuah kopiah bulu yang sengaja dibuat dengan model kopiah yang besar menutup
telinga. Muka Pangeran ini masih nampak pucat dan biarpun bibirnya tersenyum-senyum dan mukanya
berseri-seri, akan tetapi mata Tiong San yang tajam tak dapat ditipu dan pemuda ini melihat sinar api di
dalam mata Pangeran itu yang membuatnya berlaku waspada dan berhati-hati.
Hari itu sampai malam harinya, Ong Tai Kun memperlihatkan sikap yang baik sekali. Ia mengajak Tiong
San makan minum dan bercakap-cakap dengan gembira, berkali-kali menyatakan kegembiraannya dan
mengucapkan selamat atas kebahagiaan pemuda ini.
“Kau benar-benar beruntung,” katanya sambil menambah arak dalam cawan Tiong San, “Mungkin kau
tidak tahu bahwa nona Gui Siu Eng itu adalah kembang kota raja yang banyak dikagumi orang. Tidak ada
pemuda di kota raja yang tidak mengimpikannya. Selain cantik jelita, iapun terkenal pandai dalam ilmu
kesusasteraan dan dalam hal ilmu Silat, tidak ada wanita keduanya! Kau benar-benar beruntung sekali!”
“Terima kasih, Ong-taijin. Akan tetapi yang lebih menggirangkan hatiku ialah melihat bahwa agaknya kau
benar-benar telah insyaf dan suka merobah kebiasaan yang kurang baik. Aku merasa bersyukur sekali dan
harap kau sudi memberi maaf atas atas perlakuanku kemarin dulu yang kasar.” Melihat keramah tamahan
Pangeran itu, kecurigaan di hati Tiong San mulai mengurang.
Malam hari itu, Tiong San mendapat sebuah kamar yang indah dan dihias bagus, merupakan kamar
penganten benar-benar! Ketika Tiong San berada di dalam kamarnya seorang diri dan naik ke
pembaringan, tiba-tiba ia memasang telinga dan segera tersenyum sambil menarik selimut untuk menutupi
tubuhnya dan sebentar saja ia telah mendengkur. Ia maklum bahwa di sekeliling kamarnya dijaga orangorang
pandai dan maklum pula bahwa ini tentu perbuatan Pangeran Lu Goan Ong dan Pangeran Ong Tai
Kun yang diam-diam menyuruh para perwiranya menjaganya, khawatir kalau-kalau ia akan lari kabur!
Pada keesokan harinya, para pelayan Pangeran Ong Tai Kun datang membawakan air hangat dan setelah
Tiong San mencuci badan, mereka lalu membantu pemuda itu mengenakan pakaiannya yang indah.
dunia-kangouw.blogspot.com
Bahkan Pangeran Ong Tai Kun sendiri membantu dan membereskan pakaian Tiong San. Setelah saatnya
untuk berangkat tiba, Pangeran Ong Tai Kun datang membawa guci arak dan dua buah cawan.
“Shan-tung Koay-hiap,” katanya sambil tertawa, “Sebagai seorang wali, juga sebagai kawan baik
menghormati kawan yang gagah perkasa dan menerima keberuntungan, sukalah kiranya kau minum tiga
cawan arak!”
Tiong San tersenyum dan menerima cawan arak itu. Ketika ia membawa cawan ke mulutnya dan arak
sudah masuk ke mulut, ia merasa betapa lidahnya menjadi lemas dan gatal-gatal. Diam-diam ia terkejut
sekali, dan tahu bahwa diam-diam pangeran Ong Tai Kun ini sengaja menjalankan maksud keji dan
hendak meracuni pada saat terakhir.
Melihat betapa pemuda itu menunda minumnya, wajah Pangeran Ong Tai Kun menjadi pucat, akan tetapi
ia menarik napas lega ketika pemuda itu melanjutkan minumnya dan sekali tenggak arak secawan itu
memasuki perutnya!
Ong Tai Kun tertawa girang. “Arak dalam cawan pertama itu untuk ucapan selamat, cawan kedua untuk
menambah tng kepada penganten pria dan cawan ketiga untuk menambah kekal persahabatan kita!”
Tanpa menjawab sesuatu, Tiong San minum dua cawan arak yang mengandung racun itu. Kemudian ia
menggandeng tangan Pangeran Ong Tai Kun yang sebagai walinya akan mengantarnya menjemput
mempelai perempuan.
Bagaimana Tiong San berani minum tiga cawan arak yang telah diketahuinya mengandung racun itu?
Ternyata bahwa ketika ia belajar ilmu kepandaian di bawah bimbingan suhunya yang sakti dan aneh, ia
mendapat gemblengan hebat dalam ilmu lweekang secara ajaib dan suhunya itu yang bicara dengan tegas
dan jelas apabila sedang memberi pelajaran, telah memberi tahu kepadanya bahwa bahaya besar bagi
seorang ahli silat yang paling sukar dijaga adalah serangan lawan yang mempergunakan tipu muslihat
halus, yakni dengan jalan meracuninya.
“Ada dua macam racun,” kata Thian-te Lo-mo kepada muridnya itu yang mendengarkan dengan penuh
perhatian, “Racun yang bersifat keras dan bekerjanya cepat sekali sehingga begitu racun ini memasuki
perut, orang yang meminumnya akan mati pada saat itu juga, dan ada pula racun yang bersifat halus dan
bekerjanya amat lambat sehingga yang meminumnya baru akan tewas dalam beberapa hari atau beberapa
pekan menurut ukuran racun dan si peminum itu sendiri. Racun yang pertama, yakni yang keras, begitu
memasuki mulut, apabila kita menggunakan hawa dari dalam perut yang dikerahkan ke dalam mulut dan
ujung lidah, maka lidah kita akan menjadi kaku dan ada rasa getir pada lidah itu. Jika kau merasai ini,
sekali-kali jangan kau minum racun itu dan segera semburkan minuman itu ke arah muka lawan dan
seranglah ia dengan pukulan maut. Akan tetapi apabila kau minum minuman yang membuat lidahmu
terasa lemas dan agak gatal-gatal ketika kau mengerahkan hawa dari dalam perut, itulah tanda racun
kedua yang kerjanya dengan halus. Kau boleh segera semburkan arak atau minuman beracun halus itu ke
arah mata lawanmu dan memberi pukulan yang cukup untuk membuat ia roboh pingsan. Akan tetapi,
apabila keadaan menghendaki, ada jalan bagimu untuk menelan minuman beracun halus itu tanpa
membahayakan keselamatan nyawamu. Kerahkan lweekang dan hentikan jalan darah dan pernapasanmu
dan apabila kau mengerahkan khikang di dalam perut untuk mendesak minuman itu keluar lagi dari
mulutmu, maka semua minuman itu akan keluar bersama racun di dalamnya dan perutmu akan menjadi
bersih kembali. Akan tetapi ingat, jangan sekali-kali kau bicara ketika menahan napas dan menghentikan
jalan darah. Kalau kau berbuat demikian, maka tidak semua racun akan ikut keluar dan perutmu akan
menjadi terluka!”
Oleh karena itu, ketika tadi Tiong San merasa betapa lidahnya menjadi lemas dan agak gatal, ia maklum
bahwa ia diberi minum racun halus yang bekerja lambat. Ia adalah seorang pemuda yang pemberani dan
tabah, serta sudah memiliki adat aneh dari suhunya, maka ia sengaja menelan masuk tiga cawan arak itu.
Setelah minum tiga cawan arak itu, ia lalu menggandeng tangan “walinya” masuk ke dalam kereta yang
telah tersedia di depan istana Pangeran Ong Tai Kun.
Kendaraan lalu dijalankan, didahului dengan barisan bertombak dan rombongan musik yang memukul
tambur dan gembreng. Di belakang kendaraan itu orang-orang sibuk memasang petasan sehingga
keadaan menjadi ramai dan gembira sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Penonton berdesak-desakan dan ketika Tiong San naik ke dalam kereta tadi, para penonton memuji-muji
kegagahan pemuda yang terpilih oleh Gui-siocia itu. Pakaian Tiong San dari sutera hijau tertutup oleh
jubah pengantin yang berwarna merah dan dikembang-kembang dengan benang emas. Kepalanya
mengenakan topi penganten yang dihias dengan batu-batu permata.
Ketika kendaraan berjalan dan tambur serta gembreng ditabuh, penonton mengantarkan penganten
dengan tepuk tangan dan sorak riuh rendah!
Di gedung Pangeran Lu Goan Ong tidak kalah meriahnya. Di depan gedung dihias indah, dan musik
terdengar semenjak pagi. Tamu-tamu yang terdiri dari para pembesar dan Pangeran-Pangeran di kota raja,
berangsur-angsur datang. Tak seorangpun pembesar yang berada di kota raja tidak datang menghadiri
perayaan itu, karena siapakah yang tidak menghormat dan segan terhadap Pangeran Lu Goan Ong?
Bahkan kaisar sendiri telah mengirim hadiah berupa hiasan rambut mempelai wanita.
Yang paling merasa berbahagia adalah Siu Eng sendiri. Semenjak pagi gadis ini telah dirias sehingga
wajahnya yang telah cantik jelita itu menjadi makin menarik. Kedua pipinya kemerah-merahan
membayangkan perasaan gembira dan bahagia.
Ia duduk di dalam kamar, dikelilingi para pelayan wanita, ada yang mengipasinya, ada yang memberesbereskan
pakaian pengantin yang dipakainya, ada yang membereskan rambutnya dan sebagainya. Ia telah
siap untuk menanti datangnya mempelai laki-laki atau calon suaminya yang akan datang menyambutnya.
Tiba-tiba terdengar suara petasan di luar dan para pelayan sambil tertawa-tawa lalu memasang penutup
kepala yang dihias penuh dengan batu permata dan emas di kepala Siu Eng yang tersenyum-senyum malu
karena maklum bahwa calon suaminya telah tiba.
Di Luar juga terjadi kesibukkan luar biasa. Lu Goan Ong sebagai paman dan wali dari mempelai wanita,
segera membawa rombongannya menyambut keluar. Kendaraan penganten berhenti tepat di depan
gedung setelah memasuki pekarangan gedung yang amat luas. Para penonton tidak boleh masuk, hanya
sampai di pintu gerbang dan mereka berdesak-desakan di situ sambil menjenguk ke dalam.
Karena pintu dan tirai kendaraan belum juga dibuka, maka Lu Goan Ong sendiri melangkah maju.
Pangeran ini mengulur kedua tangannya, membuka tirai dan menjenguk ke dalam. Akan tetapi ia berdiri
terheran-heran seperti patung, matanya terbelalak memandang ke dalam kendaraan. Apakah yang ia
lihat??
Ternyata bahwa di dalam kendaraan itu hanya duduk satu orang yang bukan lain ialah Pangeran Ong Tai
Kun sendiri! Pangeran ini mengenakan jubah penganten laki-laki, akan tetapi ia duduk di atas bangku
kereta itu bagaikan arca, sama sekali tidak bergerak!
Pangeran Lu Goan Ong berteriak dan semua orang memburu ke situ. Beramai-ramai mereka lalu
menurunkan Pangeran Ong Tai Kun yang ternyata telah menjadi kaku tubuhnya karena tertotok secara
hebat sekali.
Keadaan menjadi gempar dan Pangeran Ong Tai Kun dipepayang masuk ke ruang yang penuh tamu. Di
situ terdapat banyak perwira tinggi dan di antaranya bahkan jago-jago kelas satu dari kaisar hadir pula.
Melihat keadaan Pangeran Ong Tai Kun, mereka lalu turun tangan dan dengan susah payah karena
totokan itu benar-benar aneh, mereka akhirnya dapat juga membebaskan Pangeran itu dari pengaruh
totokan.
Pada saat yang sudah kacau dan gempar itu, ditambah dengan kegemparan lain yang lebih mengagetkan.
Ternyata bahwa Siu Eng yang berada di dalam kamarnya, menanti “si dia” dengan hati berdebar-debar,
mendengar pula warta mengejutkan itu dari seorang pelayan.
“Penganten laki-laki tidak ada, yang ada hanya Ongya yang mengenakan baju penganten. Agaknya Ongya
akan menggantikan penganten laki-laki,” kata pelayan itu dengan napas megap-megap.
Mendengar ini, serentak Siu Eng melompat bangun, melemparkan penghias dan penutup kepalanya,
mencabut pedang dan berlari keluar. Ia melihat betapa Ong Tai Kun sudah duduk di atas kursi, sedang
dihujani pertanyaan-pertanyaan oleh semua orang.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kurang ajar!” tiba-tiba Siu Eng membentak dan ia menyerang pangeran Ong dengan pedangnya!
Akan tetapi pamannya, Pangeran Lu Goan Ong, segera mencegahnya dan memegang lengannya.
“Sabar ...., Siu Eng, tenanglah dan mari kita bicara di dalam secara baik-baik. Tentu telah terjadi sesuatu
yang hebat dengan saudara Ong Tai Kun!”
Dengan penuh ketenangan, Pangeran Lu Goan Ong lalu menggandeng keponakannya yang berwajah
pucat itu masuk ke dalam, sedangkan Pangeran Ong Tai Kun juga digandeng para perwira masuk ke
dalam pula. Semua tamu saling pandang dan mengangkat pundak. Mereka merasa amat terkejut dan
heran.
Keadaan Pangeran Ong Tai Kun benar-benar aneh. Duduk dalam kereta dalam keadaan tertotok,
mengenakan baju pengantin yang paling aneh seluruh jenggotnya habis bersih dibabat orang! Apakah
gerangan yang telah terjadi? Demikian semua orang bertanya.
“Apakah sebetulnya yang telah terjadi?” pertanyaan yang terkandung dalam hati semua tamu di gedung
Pangeran Lu ini diucapkan pula oleh Pangeran Lu Goan Ong kepada Pangeran Ong Tai Kun.
Ong Tai Kun merintih beberapa kali menarik napas panjang pendek, kemudian menuturkan
pengalamannya.
“Celaka, celaka ....” ia mengeluh, “Penjahat itu benar-benar kurang ajar dan telah menghinaku sesuka
hatinya! Setelah aku berlaku baik terhadapnya, menjadi walinya, menjamunya secara besar-besaran dan
membuat perayaan istimewa untuk pernikahannya, ternyata ia berlaku keji sekali terhadapku! Ketika kereta
penganten telah berangkat dan aku duduk bersama dia di dalam kendaraan, tiba-tiba ia menyerangku
dengan tiam-hoat (totokan istimewa). Karena tidak menduga sebelumnya, dengan mudah aku menjadi
korban. Dengan secara kurang ajar sekali, ia lalu menanggalkan jubah penganten dan penghias kepala,
mengenakan pakaian itu kepada tubuhku yang telah menjadi kaku tak berdaya, bahkan ia mencabut
pedangku dan mencukur semua kumis dan jenggotku! Kemudian, penjahat biadab itu lalu melompat keluar
dari kendaraan dengan cepat sekali tanpa diketahui siapapun! Sebelum ia pergi, ia mengucapkan “selamat
menikah” kepadaku. Sungguh kurang ajar! Kalau aku dapat bertemu dengan Shan-tung Koay-hiap, tentu
akan kubalas hinaan ini!” setelah menuturkan pengalamannya, Pangeran itu kembali mengeluh panjang.
Bab-13 : Akhirnya Thian-te Lo-mo…..
TENTU saja ia tidak menceritakan betapa diam-diam ia hendak meracuni Tiong San, tidak menceritakan
pula betapa setelah berada di dalam kendaraan, tiba-tiba pemuda itu muntah-muntah dan menyemburkan
tiga cawan arak yang tadi diminumnya ke arah mukanya, lalu menotoknya dengan cepat.
Mendengar penuturan ini, Siu Eng berlari masuk ke dalam kamarnya sambil menangis terisak-isak! Ia telah
mendapat malu yang besar sekali dari Shan-tung Koai-hiap! Sementara itu, pangeran Lu Goan Ong
menjadi bingung.
“Bagaimana baiknya sekarang? Tamu-tamu telah berkumpul penuh di ruang depan!”
Akhirnya ia lalu melangkah keluar dengan wajah kusut. Ia menjura kepada semua tamu dan berkata
dengan suara gemetar.
“Cuwi sekalian yang mulia! Oleh karena terjadi sesuatu yang tidak memungkinkan pernikahan
dilangsungkan, maka untuk sementara waktu pernikahan ini ditunda! Akan tetapi, kami persilakan kepada
cuwi sekalian untuk menikmati hidangan sekedarnya dan harap maafkan!”
Tiba-tiba dari pojok ruangan berdiri seorang tamu yang segera berkata dengan suara nyaring dan keras,
“Cuwi sekalian yang terhormat dan tuan rumah yang mulia.”
Semua orang memandang kepada pembicara itu. Ia ternyata adalah seorang yang bertubuh tegap, masih
muda, akan tetapi mukanya penuh cambang bauk, sehingga nampaknya lucu sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Perkenankan siauwte berbicara sedikit!” sambung orang itu. “Persoalan ini tak perlu dibicarakan lagi dan
kita harus sesalkan bahwa seorang bangsawan yang berbudi demikian mulia seperti pangeran Lu Goan
Ong mengalami malapetaka seperti ini. Cuwi sekalian tentu belum mendengar akan kemuliaan budi
pangeran Lu, maka sebagai hiburan adanya peristiwa ini baiklah siauwte menceritakan kepada cuwi
sekalian. Baru kemaren ini Lu-taijin telah memberi anugerah besar kepada dua orang pemuda bernama
Khu Sin dan Thio Swie yang menjadi pembantunya. Lu-taijin telah mengangkat mereka itu sebagai
wedana-wedana dari kota-kota Bun-an-kwan dan Siong-li-tung! Selain itu, Lu-taijin juga memberi hadiah
uang sebesar sepuluh ribu tail perak kepada orang-orang miskin di kampung Kui-ma-chung, tempat
kelahiran kedua orang muda itu sebagai pembalasan jasa! Bukankah ini hebat sekali? Siauwte rasa bahwa
kemurahan hati ini patut dijadikan contoh!”
Tepuk tangan para tamu menyambut ucapan ini dan semua orang memuji-muji kemuliaan budi pangeran
Lu Goan Ong. Akan tetapi pangeran Lu Goan Ong sendiri memandang kepada pembicara itu dengan mata
terbelalak dan mulut ternganga. Ia mengenal suara itu dan mengenal pula mata itu, akan tetapi yang
meragukan hatinya ialah cambang bauk yang memenuhi muka pemuda itu. Tak mungkin dalam waktu
semalam saja muka Shan-tung Koai-hiap telah ditumbuhi jenggot dan kumis seperti itu. Dan yang
membuat ia berdebar adalah ketika melihat betapa kumis dan jenggot itu mirip dengan kumis dan jenggot
yang biasa lekat pada muka pangeran Ong Tai Kun!
Pada saat ia berdiri dengan bingung dan ragu-ragu, tiba-tiba nampak Siu Eng berlari dengan pedang di
tangan dan langsung menerjang pembicara tadi sambil berseru,
“Bangsat jahanam! Kalau tidak kau, tentu aku yang mati pada saat ini!”
Pemuda yang bercambang bauk itu tertawa sinis dan tubuhnya lalu melompat keluar dari ruang itu dan
terus melarikan diri! Siu Eng dengan pedang di tangan dan mulut memaki-maki, terus mengejar dengan
cepatnya! Semua tamu gempar. Mereka makin menjadi heran dan bingung.
“Mengapa mempelai perempuan mengamuk?” tanya seorang.
“Siapakah pemuda itu?” tanya yang lain.
Pangeran Lu Goan Ong mengangkat kedua tangannya ke atas, memegang kepalanya karena merasa
betapa kepalanya seakan-akan hendak meletus.
“Tidak tahu .... tidak tahu .....!” Ia berseru setengah memekik. “Harap cuwi sekalian pulang saja ..., harap
tinggalkan aku seorang diri ...!” Kemudian ia berlari masuk ke dalam kamarnya.
Semua tamu bubar dan peristiwa itu masih merupakan teka-teki yang hanya mereka jawab dengan
dugaan-dugaaan ngawur.
********************
Pemuda yang bercambang bauk itu memang bukan lain adalah Tiong San sendiri! Pemuda ini setelah
melompat keluar dari kereta penganten sambil membawa jenggot dan kumis pangeran Ong Tai Kun, lalu
cepat-cepat berlari ke rumah obat kepunyaan bibi Thio Swie yang telah dikenalnya, minta obat perekat dan
menempelkan cambang dan kumis itu pada mukanya sendiri. Kemudian ia berlari lagi menuju ke gedung
pangeran Lu Goan Ong, menggunakan keadaan yang sedang kacau balau ini untuk masuk ke situ dan
duduk di ruang tamu!
Kini Siu Eng mengejarnya dengan pedang di tangan, maka ia lalu melompat ke atas genteng dan sengaja
menanti gadis itu yang juga terus mengejarnya ke atas genteng. Setelah berhadapan, Tiong San lalu
mencabut dan melemparkan kumis dan jenggot palsunya sehingga nampak wajahnya yang tampan dan
matanya yang berseri-seri itu memandang gembira. Terhadap mata Siu Eng yang amat tajam itu ia tidak
perlu menyamar lagi.
“Shan-tung Koai-hiap, kau sungguh kejam sekali! Mengapa kau mempermainkan aku sedemikian rupa?
Aku suka kepadamu, akan tetapi, kau ... kau laki-laki berhati kejam! Kalau saat ini aku tidak dapat
membunuhmu, jangan sebut aku Gui Siu Eng lagi!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiong San tersenyum mendengar ucapan ini dan tiba-tiba sikapnya berubah sungguh-sungguh. “Siu Eng!
Orang-orang pandai berkata bahwa siapa menanam pohonnya, ia akan memetik buahnya! Kau
menganggap aku kejam dan mempermainkan kau? Tidak ingatkah kau kepada Thio Swie yang kau tahu
amat mencintaimu, akan tetapi secara kejam telah kau permainkan sehingga hampir gila? Tidak ingatkah
kau kepada Khu Sin yang dengan jujur dan hati bersih telah memberi peringatan, akan tetapi hendak kau
bunuh? Kau adalah seorang gadis yang cantik dan gagah perkasa, keluarga bangsawan pula, maka
robahlah sifat-sifatmu yang buruk dan rendah itu. Kalau tidak, kau tentu akan menemui bencana yang lebih
hebat dari sekarang! Aku sengaja membuat kau malu agar kau merasa betapa sakitnya hati orang yang
kau permainkan cintanya!”
Dengan air mata bercucuran, Siu Eng membentak, “Bangsat rendah, kalau kau tidak mau kembali dan
melangsungkan upacara pernikahan dengan aku sekarang juga, aku takkan berhenti berusaha untuk
membunuhmu!” Setelah berkata demikian, Siu Eng lalu menyerang dengan pedangnya. Serangannya
hebat dan cepat, terdorong oleh rasa sakit hati yang tak dapat diutarakan.
Tiong San mengelak dan berkata pula, “Perempuan tak tahu diri! Apakah sukarnya mengalahkan kau?
Akan tetapi aku tidak punya banyak waktu untuk melayanimu lebih lama lagi!”
Setelah berkata demikian, Tiong San lalu melompat jauh dan berlari cepat meninggalkan gadis itu.
“Bangsat rendah yang berhati kejam! Ke mana kau hendak lari?” teriak Siu Eng dengan hati gemas sekali,
sehingga ia mengejar sambil menangis.
Karena ternyata bahwa gadis itu memiliki ilmu lari yang cukup cepat, Tiong San menjadi jengkel juga.
Kalau gadis itu selalu mengejarnya, ia merasa gerakan selanjutnya sangat terganggu. Maka tiba-tiba ia
membalikkan tubuh dan mencabut cambuknya yang panjang.
Setelah Siu Eng datang mendekat, ia segera mengayun cambuknya ke arah muka gadis itu. Siu Eng cepat
mengelak, akan tetapi tak disangkanya bahwa serangan itu hanya gertak saja karena tiba-tiba ujung
cambuk meluncur ke arah pergelangan tangannya dan menotok tangan yang memegang pedang!
Siu Eng yang sedang diamuk oleh nafsu marah dan kecewa, maka ia kurang waspada dan kurang hati-hati
sehingga ia terlambat untuk menghindarkan diri dari serangan ini. Dengan teriakan keras, pedangnya
terlempar ke bawah genteng! Tiong San tertawa mengejek dan terus melompat jauh.
“Shan-tung Koai-hiap!” ia mendengar gadis itu berseru dan menjerit. “Aku bersumpah untuk membalas
sakit hati ini!!”
Akan tetapi Tiong San telah berlari jauh dan tidak memperdulikan gadis itu lagi. Begitu gadis itu telah
lenyap dari pandangan matanya, ia sudah tidak ingat lagi kepadanya. Pengalamannya dengan Siu Eng
yang hampir menghancurkan kehidupan kedua sahabat karibnya, mendatangkan kesan yang mendalam di
hatinya, membuat ia memandang rendah kaum wanita, karena ia merasa kecewa sekali melihat betapa
seorang gadis yang demikian cantik jelita dan berkepandaian tinggi seperti Siu Eng berwatak sedemikian
jahat dan kejamnya.
Ia teringat kepada suhunya dan kini ia menuju ke istana kaisar untuk mencari dapur istana dan ia lalu
menyusul suhunya yang diduga tentu sedang berpesta pora di tempat itu.
Istana kaisar amat luas dan besar, sehingga bukanlah pekerjaan mudah bagi Tiong San untuk bisa
mendapatkan dapur dari istana itu. Terpaksa ia menyergap seorang pelayan dan memaksanya untuk
mengantarkan ke tempat yang dicarinya itu. Kemudian ia mengikat kaki tangan pelayan itu dengan ikat
pinggang pelayan itu sendiri setelah tiba di dekat dapur yang dicarinya.
Ia menjadi terkejut ketika melihat betapa bangunan dapur yang besar itu telah terkurung oleh perwira yang
memegang senjata di tangan. Ia dapat menduga bahwa di dalam dapur itu tentu terdapat suhunya yang
telah diketahui oleh perwira yang kini mengurung tempat itu.
Di antara para perwira itu terdapat seorang wanita tua yang masih kelihatan bekas-bekas kecantikannya,
tapi sayang sekali bahwa pada muka wanita tua yang cantik itu terdapat bekas luka memanjang dari atas
mata kanan sampai ke bawah telinga kiri, membuat mukanya kelihatan amat mengerikan. Dari tempat
dunia-kangouw.blogspot.com
persembunyiannya, Tiong San melihat betapa wanita itu mendekati pintu dapur yang tertutup dan berseru
dengan suaranya yang nyaring,
“Kui Hong Sian! Kau sudah terluka hebat, apakah kau masih tidak mau menyerah?”
Untuk beberapa lama mereka itu menanti, akan tetapi tidak terdengar jawaban dari dalam dapur yang
pintunya tertutup dari dalam itu.
“Thian-te Lo-mo!” teriak seorang perwira yang dikenal Tiong San. Perwira ini adalah Im-yang Po-san Bu
Kam. “Apakah kau berkeras tak hendak mengeluarkan perempuan she Gan itu?”
Kembali mereka menanti, akan tetapi tetap saja tidak terdengar jawaban dari dalam. Tiong San
mendengarkan dan mengintai dengan hati berdebar.
“Kui Hong Sian, aku ingin melihat mukamu yang jahat itu sekali lagi sebelum kau mampus!” teriak wanita
bercacad tadi.
Kini terdengarlah jawaban dari dalam dapur dan dengan terkejut sekali Tiong San mendengar betapa suara
suhunya terdengar amat lemah, tetapi masih mengandung suara ejekan dan acuh tak acuh seperti biasa.
“Si Cui Sian! Apakah kau tidak rela melihat aku menikmati hidangan-hidangan ini pada saat terakhir?
Apakah sakit hatimu demikian besar? Jangan ganggu aku, aku telah menebus dosaku dan kau telah
berhasil membalas sakit hatimu!”
Mendengar ucapan suhunya ini, bukan main gelisahnya hati Tiong San. Dari suara suhunya ia dapat
menduga bahwa suhunya tentu sedang berada dalam keadaan yang amat menyedihkan. Mengapa
suhunya bicara begitu lemah dan apa artinya saat terakhir yang dikatakan tadi? Pemuda ini tak dapat
menahan sabar lagi. Ia pergunakan kesempatan selagi para pengepung itu mencurahkan perhatian
mereka kepada pintu dapur, untuk melopmpat secepatnya ke atas genteng dapur itu!
“Shan-tung Koai-hiap!” teriak para perwira yang melihatnya. “Tangkap dia .....!”
Akan tetapi pada saat itu, genteng di dekat tempat Tiong San berdiri, tiba-tiba pecah dan terbuka dari
bawah dan pemuda itu segera melompat turun ke dalam dapur melalui lubang di genteng itu. Untung ia
bergerak cepat, karena pada saat itu, belasan batang senjata rahasia yang dilepas dengan cepat sekali
oleh para perwira perkasa itu, telah menyambarnya! Senjata-senjata rahasia itu mengenai genteng yang
pecah berhamburan, akan tetapi pada saat itu Tiong San telah tiba di dalam dapur dengan selamat!
Dan apa yang dilihatnya membuat ia harus menahan tekanan perasaannya. Suhunya nampak berbaring di
atas lantai dengan muka pucat sekali, tetapi masih saja kakek ini tertawa-tawa ketika melihat muridnya.
Tadi kakek ini sambil rebah menggunakan beberapa buah mangkok untuk menggempur genteng dan
memberi jalan masuk kepada muridnya.
Yang mengherankan hati Tiong San adalah seorang gadis yang berlutut di dekat suhunya dan gadis ini
sedang menggunakan air hangat untuk mencuci bersih luka di dada suhunya dan membungkusnya dengan
kain bersih. Gadis ini hanya mengerling sebentar ke arah Tiong San, lalu melanjutkan pekerjaannya dan
setelah selesai, ia lalu berdiri dan pergi ke tungku untuk menghangatkan hidangan-hidangan yang dipilih
oleh Thian-te Lo-mo!
“Ha ha ha! Tiong San, anak gendeng, mengapa kau baru datang? Kau selalu terlambat dan kedatanganmu
kebetulan sekali karena aku sedang bingung memikirkan bagaimana aku harus menyelamatkan gadis ini!”
Ia menuding ke arah gadis itu.
Tiong San berlutut di dekat suhunya dengan muka khawatir sekali.
“Suhu, kau mengapa? Apakah kau terluka hebat?” tanyanya tanpa memperdulikan gadis itu yang disebutsebut
oleh suhunya.
“Bukan, bukan terluka. Ini hanya pembayaran hutangku kepada Cui Sian,” kata kakek itu sambil tertawa
terkekeh-kekeh, nampaknya gembira sekali. “Hatiku puas aku tak berhutang lagi, ha ha ha!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suhu, apa artinya ini? Ayoh kita menyerbu keluar dan menghajar sekalian perwira jahanam itu. Kita akan
membagi-bagi hadiah kepada mereka dengan cambuk kita!” Tiong San membuat suaranya terdengar
gembira, tetapi suhunya menggelengkan kepala.
“Kalau kita hanya berdua saja, hal itu dapat dilakukan. Akan tetapi sekarang yang terpenting harus
menolong gadis itu keluar dari sini dengan selamat.”
“Akan tetapi, suhu. Kau terluka hebat ....” Tiong San memeriksa dada suhunya yang ternyata menderita
luka hebat sekali. “Kau harus dapat keluar dari sini dengan selamat, mengapa menyusahkan diri
mencampuri urusan orang lain!” Ia mengerling ke arah gadis itu dengan hati tak senang.
“Anak bodoh, kau hanya ingat kepada dirimu sendiri saja ..... ha ha, kau belum bertemu dengan orang
seperti Cui Sian ...! Kau belum tahu tentang arti cinta kasih kesucian wanita .... Ketahuilah, muridku.
Jangan kau perdulikan gurumu. Aku pernah berdosa kepada Cui Sian, dan sekarang ia datang membalas
dendam, bukankah itu sudah adil? Aku ..... aku ..... ahhh ....” kakek itu menjadi lemas dan tubuhnya
terguling lagi dalam keadaan pingsan! Tiong San cepat memeluk suhunya.
“Suhu .... suhu ....!” Ternyata bahwa Thian-te Lo-mo telah menggunakan terlalu banyak tenaga ketika
bercakap-cakap tadi, sehingga ia jatuh pingsan. Luka di dadanya adalah akibat tusukan pedang yang
dalam sekali dan kalau orang lain yang terkena luka tusukan itu, pasti akan tewas saat itu juga!
Gadis itu berlari menghampiri dan dengan air, ia menggunakan saputangannya untuk membasahi muka
kakek itu dan memberinya minum. Semua ini dilakukannya dengan diam-diam tak mengeluarkan kata-kata,
tetapi jari-jari tangannya cekatan sekali. Karena melakukan pekerjaan ini, maka ia berlutut di dekat Tiong
San dan pemuda ini mencium keharuman yang keluar dari pakaian gadis itu.
Thian-te Lo-mo siuman kembali dan ketika melihat dua orang muda itu berlutut di dekatnya, ia memandang
kepada mereka berganti-ganti lalu tertawa berkakakan.
“Tiong San, aku mempunyai pesan terakhir bagimu ....”
“Apakah itu, suhu? Teecu akan melakukannya segera ....” jawab Tiong San dengan hati duka.
“Hanya ini ...., kau selamatkan gadis ini keluar dari dalam tempat ini, jangan ..... jangan sampai ia diganggu
oleh para orang gila di luar itu ....”
“Tapi, suhu .....” Tiong San hendak membantah, tetapi suhunya mengangkat tangannya mencegah.
“Lo-inkong,” kata gadis itu tiba-tiba dan Tiong San mendengar betapa merdu suara gadis itu. “Mengapa
kau menyusahkan keadaanmu? Muridmu memang benar, lebih baik kau dan muridmu lekas-lekas pergi
dari tempat ini mempergunakan kepandaianmu. Adapun aku, ah, aku tidak takut, lo-inkong. Tadipun kalau
tidak ada kau orang tua yang menolong, aku sudah terlepas dari kesengsaraan hidup dan sudah aman
berada di tempat bersih.”
Thian-te Lo-mo menggelengkan kepalanya. “Tidak boleh! Kau tidak boleh mati! Eh, anak perempuan
gendeng, benar-benarkah kau tidak takut mati?”
“Mati hanya berpindah tempat, dan kalau tempatku di dunia demikian sengsara, bukankah senang
berpindah ke tempat yang lebih bersih? Orang tua, kau sendiri menghadapi kematian dengan tertawatawa,
mengapa pula aku harus takut mati?”
“Ha, kau lain! Kau masih muda belia, sedangkan aku sudah tua bangka. Ah, kalau saja Cui Sian seperti
kau .... aku takkan menjadi begini .... He, Tiong San, sekarang aku bukan memesan lagi, akan tetapi
memerintah! Dengarkah kau? Kau tidak boleh membantah! Kau harus selamatkan gadis ini keluar dari sini,
keluar dari istana, dan keluar dari kota! Dengarkah kau ??”
Tiong San menundukkan mukanya dengan sedih. “Baik, suhu. Akan tetapi, aku tidak hanya
menyelamatkan ... nona ini saja, juga suhu harus kuselamatkan dan kubawa keluar dari sini.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Anak gendeng! Apa dalam saat terakhir ini kau hendak mengganggu aku pula? Di sini mati di luarpun
mati, aku lebih senang mati di sini, menikmati hidangan-hidangan ini sebelum tiba saatku, dan alangkah
senangnya mati dikelilingi hidangan-hidangan kaisar. Ha ha ha!”
“Tetapi, suhu ....”
“Diam! Aku tidak sudi mampus di pinggir jalan seperti pengemis kelaparan!”
Pada saat itu, dari luar pintu terdengar lagi teriakan wanita yang cacad mukanya, “Kui Hong Sian! Kalau
kau tidak mau keluar menyerahkan diri bersama muridmu dan gadis itu, kami akan menyerbu ke dalam!”
Tiong San mencabut cambuknya. “Suhu, perkenankan teecu menerjang keluar dan menghajar mereka!”
“Bodoh! Lekas kau gendong gadis ini dan bawa lari menerjang pintu belakang! Kau akan tiba di taman
istana dan di situ hanya ada penjaga-penjaga yang lemah. Kau terus berlari dan keluar dari istana, dan
bawalah gadis ini keluar dari kota raja sampai selamat! Jangan banyak membantah. Aku hendak ajak Cui
Sian makan minum di sini sebelum aku mati, ha ha ha!”
“Suhu ....!” Tiong San berlutut di depan suhunya yang telah berdiri itu dan ia tak dapat menahan air
matanya mengucur keluar.
“Anak gendeng!” suhunya memaki, tetapi kakek itu memeluk muridnya dan untuk sesaat ia mendekap
kepala muridnya itu pada dadanya dengan penuh kasih sayang. Lalu ia melepaskannya lagi dan suaranya
terdengar amat berpengaruh,
“Tiong San, lekas kau pergi! Kau ... jangan salah pilih seperti aku ... selamat ... pergilah, muridku!”
Pada saat itu, pintu digedor dari luar dan suara para perwira terdengar mengancam.
“Thian-te Lo-mo, kau tidak lekas menyerahkan diri!”
“Tiong San, cepat sebelum terlambat!” kata kakek itu kepada muridnya.
Tiong San tidak berani membantah lagi, dengan air mata yang masih menitik, ia lalu menyambar tubuh
gadis itu, tanpa melihatnya lagi, dengan agak kasar karena ia merasa gemas kepada gadis itu yang
menjadi penghalang baginya untuk menolong suhunya. Kemudian setelah memandang sekali lagi kepada
Thian-te Lo-mo yang berdiri dengan kaki terbentang lebar dan cambuk di tangan, berdiri dengan amat
gagahnya dan mulut tersenyum, Tiong San lalu berlari melalui pintu belakang.
Sementara itu, Thian-te Lo-mo menanti sampai bayangan muridnya tak nampak lagi, baru ia berseru keras
ke arah pintu,
“Cui Sian! Masuklah dan mari kita berpesta pora di dalam dapur kaisar ini!”
Pintu ditendang dari luar dan para perwira menyerbu masuk, dipimpin oleh Si Cui Sian, wanita cacad itu.
Mereka melihat betapa kakek itu menghadapi meja dan sedang makan hidangan yang tadi dihangatkan
oleh gadis itu. Thian-te Lo-mo makan tanpa memperdulikan mereka dan ketika Cui Sian maju, ia
mengangsurkan mangkok dan berkata,
“Kekasihku, kau juga mau makan?”
Si Cui Sian marah sekali, demikian pula para perwira itu dan ia lalu menyergap kakek itu dengan senjata
mereka.
“Ha ha ha! Majulah, majulah! Siapa mau ikut berpesta, majulah!”
Dengan memutar-mutar cambuk dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri tetap menjumput hidangan
untuk dimakan, Thian-te Lo-mo menyambut serbuan mereka itu. Tubuhnya memang sudah lemas karena
lukanya dan ia tidak ada nafsu untuk bertempur, maka menghadapi keroyokan perwira-perwira yang
berkepandaian tinggi dan juga wanita bercacad yang lihai sekali ilmu pedangnya itu, tentu saja ia tidak
dapat bertahan. Sebentar saja tubuhnya telah menjadi sasaran senjata lawan dan terluka di sana-sini.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akan tetapi, Thian-te Lo-mo masih saja tertawa gelak-gelak seakan-akan luka-luka itu mendatangkan rasa
nikmat kepadanya.
“Ha ha ha! Mari, mari! Inilah daging dan tulangku, boleh kalian suguhkan kepada kaisar! Ha ha, daging dan
tulang-tulangku untuk hidangan kaisar, ha ha ha!” ketawanya makin mengerikan, tetapi makin perlahan.
Semua pengeroyoknya merasa ngeri melihat kakek yang tubuhnya sudah menerima tusukan dan bacokanbacokan
itu masih saja berdiri sambil tertawa terkekeh-kekeh. Mereka menjadi gentar sendiri dan
melangkah mundur.
Tetapi, biarpun semangat dan jiwanya tak terluka, ternyata jasmani Thian-te Lo-mo tak dapat menahan
keluarnya darah sekian banyaknya. Ia roboh dengan mulut masih tertawa dan menghembuskan nafas
dengan bibir masih tersenyum. Kakek ini biarpun mati dalam keadaan rusak tubuhnya, tetapi benar-benar
ia mati dengan hati lapang dan gembira!
********************
Ketika menggendong gadis itu dan melarikan diri melalui pintu belakang dapur istana, Tiong San diserbu
oleh belasan orang penjaga. Akan tetapi sambil mempermainkan cambuknya, pemuda itu berhasil
melewati mereka dan terus melompat naik ke atas genteng.
Tiba-tiba ia mendengar suara suhunya sehingga tak terasa pula kakinya berhenti. Hatinya seperti disayatsayat
pisau ketika mendengar semua ucapan suhunya itu, lebih-lebih mendengar suara ketawa suhunya
yang makin lama makin lemah. Ia tak kuat mendengarkan lagi dan melanjutkan larinya dengan air mata
meleleh di pipinya.
Ia merasa betapa tubuh gadis yang digendongnya itu ringan dan mendatangkan kehangatan yang aneh
dalam tubuhnya. Bau harum yang menyengat hidungnya membuat ia merasa bulu tengkuknya berdiri. Ingin
ia melemparkan gadis itu ke bawah genteng, tetapi ia teringat akan pesan suhunya, dan pula ia tidak sudi
melakukan hal yang rendah dan jahat itu, maka ia mempercepat larinya, sehingga gadis itu terpaksa harus
memicingkan matanya karena ngeri dan takut, serta mempererat rangkulan tangannya pada leher Tiong
San yang membuat pemuda itu makin tidak enak hatinya.
Berkat ketangkasannya, cegatan-cegatan para penjaga dapat dilaluinya dengan mudah dan tak lama
kemudian Tiong San dapat membawa gadis itu sampai keluar kota. Ia berlari terus karena hendak
menghindarkan diri dari para pengejarnya dan setelah tiba di sebuah hutan, ia menurunkan gadis itu
dengan kasar ke atas tanah.
Gadis itu yang masih merasa gelisah dan khawatir serta penuh kengerian karena dibawa lari secepat itu,
belum tahu bahwa pemuda itu menghendakinya turun, maka ia masih saja merangkulkan lengannya pada
leher Tiong San dalam kekhawatirannya kalau-kalau jatuh terlempar.
“Turunlah!” bentak Tiong San dengan kasar dan gadis itu buru-buru melepaskan rangkulannya dan turun.
Ketika Tiong San membalikkan tubuh dan memandangnya, ia merasa betapa ia telah berlaku terlalu kasar.
Ternyata bahwa gadis itu berpakaian sebagai pelayan di dalam istana. Pakaiannya rapi dan indah,
sikapnya halus sekali dan wajah gadis itu menunjukkkan kehalusan budinya.
Tak dapat disebut terlalu cantik, lebih sesuai disebut manis. Apalagi sepasang matanya yang bening itu
menyinarkan pandangan yang amat halus sehingga pandangan mata itu sekali gus banyak mengurangi
kemarahan dalam hati Tiong San terhadapnya.
“Siapakah kau dan mengapa suhu sampai suka mengorbankan nyawanya untuk keselamatanmu?” tanya
Tiong San sambil merengut.
Gadis itu merasa betapa dirinya dibenci dan mendapat perlakuan kasar, maka ia menundukkan kepalanya
dengan hati sedih sekali, tetapi ia menahan sekuat tenaga agar jangan sampai mengucurkan air mata. Ia
menggigit bibirnya yang tipis, lalu menjawab,
“Bukan maksudku demikian. Adalah suhumu sendiri ....., ia terlalu mulia .... ah, aku benar-benar menyesal
bahwa diriku yang hina dina ini sampai menimbulkan malapetaka kepada kau dan gurumu ....”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sudahlah jangan banyak menyinggung hal yang tak kusukai itu! Paling baik lekas kau ceritakan apa yang
telah terjadi sebelum aku datang ke dapur itu!” Suara Tiong San masih tetap keras dan bengis. Untuk
sesaat gadis itu menatap wajah Tiong San, lalu berkata,
“Aku bernama Siang Cu, she Gan ....” ia mulai menutur, tetapi Tiong San segera memotongnya.
“Aku tidak perduli kau bernama siapa dan she apa!”
“Habis, dari mana aku harus bercerita?”
“Ceritakan siapa yang melukai suhu dan bagaimana terjadinya!”
“Suhumu dikeroyok oleh para perwira dan wanita cacad mukanya itu. Tadinya suhumu mengamuk dan
semua perwira tidak ada yang berani mendekatinya, kemudian datang wanita itu dan anehnya, suhumu
tidak melawan, sehingga wanita itu dapat menusuk dadanya dengan pedang dan ....”
“Keparat!” Tiong San memaki marah. “Aku harus menolong suhu dan membunuh wanita jahanam itu!”
Setelah berkata demikian, Tiong San melompat dan berlari cepat, kembali ke kota raja!
Ketika ia tiba di atas dapur istana, ternyata bahwa semua perwira telah pergi, meninggalkan jenazah Thiante
Lo-mo dalam tangan para pelayan yang ditugaskan mengurusnya. Bukan main marah dan sedihnya hati
Tiong San.
Ia berseru keras dan melompat turun dengan cambuk di tangan. Cambuknya digerakkan dan semua
pelayan itu lari pontang-panting, beberapa orang di antaranya terjungkal terkena ujung cambuk. Melihat
bahwa di situ tidak ada perwira-perwira yang menjadi musuhnya, ia lalu menyambar tubuh suhunya yang
sudah rusak itu dan membawanya lari melompat ke atas genteng kembali.
Ketika ia sampai di hutan itu, ternyata Siang Cu masih berada di situ, duduk dengan muka gelisah di
bawah pohon. Ia segera berdiri ketika melihat Tiong San datang dan ketika melihat tubuh Thian-te Lo-mo
yang rusak di dalam pondongan pemuda itu, Siang Cu menangis sedih.
“Mengapa pula kau menangis? Suhu menjadi begini karena kau!”
“Kalau kau merasa kesal bunuhlah aku sekali! Aku lebih senang mati agar nyawaku dekat dengan nyawa
lo-inkong ini, agar ada yang menjadi sahabatku ....., di dunia ini tidak ada orang yang berhati mulia yang
sanggup membelaku selain lo-inkong ini ....” tangis Siang Cu. Mendengar ucapan ini, Tiong San tertegun
dan berkata,
“Tahan air matamu dan jangan banyak cakap!”
Kemudian Tiong San menggali tanah di bawah pohon dengan sebatang kayu, karena ia tidak mempunyai
senjata tajam. Tentu saja amat sukar menggali tanah hanya dengan sebatang kayu yang biarpun sudah
dibikin runcing dan dipergunakan dengan tenaga besar, namun terlampau kecil untuk dapat menggali
tanah.
Tanpa banyak cakap Siang Cu mencabut keluar sebuah pisau dari pinggangnya dan mulai membantunya.
Biarpun senjata di tangan Siang Cu jauh lebih baik dari pada kayu di tangan Tiong San, tetapi karena gadis
itu bertenaga lemah, maka tiap kali ujung pisaunya mengenai batu yang di bawah tanah, ia mengeluh
kesakitan. Melihat ini, Tiong San berkata,
“Ke sinikan pisau itu dan kau tak perlu membantu!” Gadis itu memberikan pisaunya dan lalu duduk berlutut
di dekat mayat Thian-te Lo-mo sambil mengusir lalat yang mulai datang merubungi tubuh itu.
Bab-14 : Nasib Pelayan Istana
BIARPUN sukar dan lama, akhirnya selesai juga penggalian lubang itu dan sambil menangis tersedu-sedu
Tiong San lalu mengubur jenazah suhunya, dibantu oleh Siang Cu. Mereka berdua tidak mengeluarkan
dunia-kangouw.blogspot.com
sepatah katapun, hanya diam-diam bekerja menguruk jenazah itu dengan tanah. Sampai lama keduanya
berlutut di depan kuburan itu, kemudian Tiong San berkata,
“Suhu mengorbankan nyawanya untuk kau, seorang perempuan! Yang melukai suhu juga seorang
perempuan pula! Alangkah jahatnya orang-orang perempuan!” Ia memandang kepada Siang Cu dan
bertanya,
“Sekarang kau ceritakan, bagaimana asal mulanya maka kau sampai bertemu dengan suhu?”
Siang Cu memandang kepada Tiong San, tetapi bibirnya tidak menyatakan sesuatu, namun matanya
seakan-akan menegur pemuda itu dan seakan-akan berkata, “Hm, kau akhirnya ingin tahu juga?”
“Seperti kukatakan tadi, aku bernama Siang Cu dan she Gan!” sampai di sini gadis itu berhenti bicara dan
mengerling kepada Tiong San, seakan-akan menanti reaksi dari pemuda itu. Akan tetapi oleh karena
pemuda itu mendengar penuturannya sambil menundukkan muka dan tidak berkata atau menyela barang
sepatah katapun, ia melanjutkan ceritanya dan kisahnya seperti berikut.
Gan Siang Cu semenjak masih kecil telah dijual oleh orang tuanya yang miskin kepada seorang pembesar
kota raja. Pembesar ini berhati baik dan mendidiknya dengan berbagai kepandaian, sehingga setelah
dewasa. Siang Cu terkenal pandai ilmu kesusastraan dan juga pandai mengatur rumah tangga serta
kerajinan tangan, pendeknya segala kepandaian wanita terpelajar telah dipelajarinya dengan baik.
Karena ia rajin, baik dan sopan santun serta berwatak bersih, ia menarik perhatian permaisuri kaisar ketika
Siang Cu diperbantukan dalam sebuah pesta untuk melayani permaisuri itu. Permasisuri suka kepadanya
karena biarpun Siang Cu berasal dari dusun, tetapi tingkah lakunya amat sopan dan menyenangkan. Maka
ia diminta oleh permaisuri bekerja di istana sebagai pelayan, dan akhirnya ia mendapat kekuasaan untuk
memeriksa segala hidangan untuk kaisar dan permaisuri, berhak mengatur dan memilih hidangan seharihari.
Siang Cu tidak begitu cantik, akan tetapi ia mempunyai gaya tersendiri yang penuh daya tarik. Seratus
persen wanita yang diidam-idamkan setiap laki-laki. Tubuhnya berpotongan indah, mukanya cukup manis
karena selalu dihias oleh senyum sopan dan ramah, matanya memancarkan kebahagiaan hidup dan
kehalusan budi.
Hal ini menarik hati seorang pangeran yang tinggal di istana itu, yakni putera kaisar yang lahir dari seorang
selir. Beberapa kali pangeran ini menggodanya, akan tetapi dengan bijaksana dan tidak menyakiti hati,
Siang Cu dapat menghindarkan diri dari bujukan-bujukan pangeran muda ini. Akhirnya hal ini diketahui oleh
ibu pangeran atau selir kaisar itu yang segera mempergunakan pengaruhnya untuk memaksa Siang Cu
menjadi bini muda atau selir puteranya yang belum kawin!
Siang Cu tentu saja menolak keras, tetapi sebagai seorang pelayan yang betapapun tinggi kedudukannya
ia masih terhitung seorang budak atau hambah sahaya, bagaimana ia dapat menolak dan kepada siapa ia
harus minta perlindungan? Demikianlah, ia melarikan diri ke dalam dapur dengan ketakutan dan dikejarkejar
oleh para perwira yang dikerahkan oleh pangeran itu!
Kebetulan sekali, pada saat itu, Thian-te Lo-mo telah dua hari bersembunyi di dalam dapur. Tak
seorangpun melihatnya karena kakek ini bersembunyi di balik tiang-tiang penglari yang besar! Dan pada
waktu dapur itu ditinggalkan orang, barulah ia keluar dan menyapu semua hidangan yang serba lezat!
Ketika Thian-te Lo-mo melihat seorang gadis berlari masuk sambil menangis, ia menjadi heran sekali.
Kemudian dilihatnya tiga orang perwira mengejar masuk, seorang di antaranya tertawa-tawa dan berkata,
“Nona, mengapa kau lari pergi? Bukankah senang menjadi selir seorang pangeran muda yang tampan? Ha
ha ha!”
Perwira kedua juga tertawa dan menyindir. “Ah, kau seperti tidak tahu saja, twako. Seekor kuda betina
yang liar harus dibikin jinak dulu dengan cambuk! Biarlah aku menangkapnya!” sambil berkata demikian, ia
melangkah maju, tetapi tiba-tiba Siang Cu mencabut pisau yang disembunyikannya di balik ikat
pinggangnya. Gadis itu mengangkat pisau dan berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dari pada mendapat hinaan dari pangeran, lebih baik aku mati!” dan sekuat tenaga Siang Cu lalu
menusukkan pisau itu ke dadanya sendiri. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan hitam menyambar dari atas dan
tahu-tahu pisaunya telah lenyap terlepas dari tangannya.
Gadis itu terkejut sekali. Demikian pula para perwira karena bayangan tadi yang sebenarnya ujung cambuk
Thian-te Lo-mo, bekerja amat cepatnya, sehingga tidak terlihat oleh mereka. Tiba-tiba terdengar suara
ketawa menyeramkan tanpa kelihatan orangnya, dan sebelum tiga orang perwira itu tahu apa yang terjadi,
kembali bayangan hitam berkelebat dan tiga orang perwira itu memekik kesakitan karena muka telah
terluka dan menjadi matang biru kena cambuk Thian-te Lo-mo hingga membuat garis memanjang pada
muka mereka.
Karena terluka dan diserang oleh sesuatu yang tidak kelihatan, ketiga orang perwira yang tak berapa tinggi
ilmu kepandaiannya itu, segera angkat kaki melarikan diri sambil berseru-seru, “Ada setan ....! Ada setan
....!” terdengar lagi gelak tertawa dari dalam dapur.
Siang Cu juga tidak melihat Thian-te Lo-mo, maka ia lalu berlutut dan memuji, “Po-kong (malaikat
pelindung keselamatan) yang mulia, terima kasih atas pertolongan ini, semoga Po-kong selanjutnya
melindungi hamba .....”
Akan tetapi, suara tertawa itu mengeras dan seorang kakek melompat turun sambil berkata, “Anak
gendeng, kau benar-benar gila! Masa aku kau sebut malaikat? Ha ha ha! Jangan kau takut, anak baik, aku
akan membela dan melindungimu, tak kalah dengan perlindungan Po-kong sendiri! Ha ha ha!”
Sementara itu berita tentang adanya “setan” di dapur istana, segera terdengar oleh semua orang. Juga
perwira-perwira kelas satu setelah mendengar hal ini dan ketika melihat bekas luka di muka ketiga orang
perwira penjaga itu, mereka menjadi pucat dan Im-yang Po-san Bu Kam berkata, “Thian-te Lo-mo! Ayoh
kita serbu dia!”
Maka berlarianlah para perwira kelas satu, dipimpin oleh Bu kam, menyerbu dapur itu. Melihat pintu dapur
tertutup, Bu Kam dan kawan-kawannya tidak berani berlaku lancang dan sembrono untuk memasuki
tempat itu, hanya berdiri di depan pintu dengan senjata di tangan.
“Thian-te Lo-mo, keluarlah kau!” teriak Im-yang Po-san Bu Kam sambil menggerak-gerakkan sepasang
kipasnya yang lihai.
“Bagaimana, lo-inkong (tuan penolong tua),” kata gadis itu dengan tubuh menggigil. “Mereka telah datang,
mereka adalah perwira-perwira kerajaan yang terkenal gagah perkasa .... lo-inkong, biarkan aku mati
membunuh diri saja dan kau lebih baik lekas pergi sebelum mereka mencelakakan kau!”
“Ha ha, gadis gila, kau kira aku bisa melihat kau mati membunuh diri begitu saja? Tidak, selama aku masih
bernafas, kau tak kubiarkan bunuh diri. Kau anak yang baik........”
“Lo-inkong, jangan ....., jangan kau hadapi mereka! Mati bagiku bukan apa-apa, lekaslah kau pergi dan
kembalikan pisauku!” Siang Cu mendesak, tetapi tiba-tiba Thian-te Lo-mo membentak,
“Jangan membantah! Kau tinggal saja di sini dan aku akan menghadapi mereka di luar dapur!” Setelah
berkata demikian sambil tertawa terbahak-bahak ia menerjang keluar sambil mengayunkan cambuknya.
Pertempuran terjadi amat hebatnya dan Siang Cu yang ingin melihat keadaan penolongnya, lalu mengintai
dari balik daun pintu. Bukan main kagumnya ketika melihat betapa cambuk panjang di tangan kakek itu
mengamuk hebat seperti naga sakti menerjang mega. Para perwira terdesak mundur oleh amukan ini yang
disertai suara ketawa menyeramkan.
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang wanita baju putih yang rupa mukanya
mengerikan sekali karena cacad bekas bacokan pedang, telah berdiri di situ dengan pedang di tangan.
“Kui Hong San! Aku datang untuk membalas sakit hatiku!” seru wanita itu dan ketika mendengar bentakan
ini, tiba-tiba Thian-te Lo-mo menjadi pucat sekali. Cambuk ditangannya tergantung dengan lemah dan ia
sama sekali tidak bergerak, hanya menatap wanita itu dengan tarikan muka seakan-akan merasa sakit
sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Cui Sian .... kau ... kau.....?” katanya dengan suara amat lemah dan gemetar. Akan tetapi ucapannya ini
disambut dengan sebuah tusukan pedang pada dadanya oleh wanita itu! Thian-te Lo-mo sama sekali tidak
mengelak atau menangkis dan setelah Cui Sian mencabut kembali pedangnya yang telah berlumur darah,
tubuh Thian-te Lo-mo terhuyung-huyung ke belakang. Sesudah itu Cui Sian dan perwira-perwira itu berlalu.
Akan tetapi anehnya ia masih tertawa gelak-gelak sambil menekan luka pada dada dengan tangan kiri dan
tangan kanan masih memegang cambuknya.
“Ha ha ha! Cui Sian .... saat ini telah lama kunanti-nantikan! Kau sudah membalas dengan satu tusukan
maut! Ha ha, kau sungguh baik hati dan pemurah! Bacokan pedang yang membuat kau bercacad selama
hidupmu kau balas dengan tusukan pedang yang akan menamatkan nyawaku dalam beberapa detik lagi!
Ha ha, kita sudah impas, hutangku kepadamu telah kubayar dengan darahku di ujung pedangmu! Ha ha
ha!”
Sementara itu, ketika Siang Cu melihat betapa penolongnya telah kena tusuk dadanya sehingga terluka,
menjerit, “Lo-inkong .....” dan dengan nekat gadis itu lalu berlari menghampiri, memegang lengan tangan
Thian-te Lo-mo dan menariknya ke dalam pintu dapur kembali. Gadis itu lalu memasang palang pintu
dapur yang kuat dan segera menolong dan merawat luka di dada Thian-te Lo-mo.
Kakek itu rebah di lantai dengan lemah, tetapi ia masih tersenyum.
“Kau gadis baik .... kau anak baik ... aku suka padamu .... sudah, jangan ributkan luka kecil ini. Lebih baik
kau panaskan masakan-masakan itu karena telah berhari-hari ku makan dalam keadaan dingin. Kurang
sedap!”
“Nanti, lo-inkong, nanti kuhangatkan masakan itu, tetapi biarlah kurawat dulu lukamu ini ....” kata Siang Cu
sambil menahan air matanya karena ia merasa amat terharu. Telah lama ia rindu akan ayah bunda yang
tak dikenalnya sama sekali dan kini kakek yang berani mempertaruhkan jiwa untuk melindunginya ini
bagaikan seorang ayahnya sendiri. Ia merasa amat sayang kepada kakek ini dan juga kagum dan kasihan.
“Baiklah, baiklah .... kau boleh cuci dan balut, tapi takkan ada gunanya .... ujung pedang Cui Sian telah
melukai paru-paruku dan takkan dapat diobati lagi .... Eh, anak gendeng, Cui Sian itu dulu kekasihku, dia
baik dan mulia hatinya, cuma agak keras kepala ..... Nanti akan kuminta kepadanya supaya suka
menolongmu keluar dari sini .... Kalau kau sudah tertolong, pergilah ke rumah penginapan Thian-an-kwan.
Rumah penginapan itu kepunyaan paman seorang pemuda bernama Khu Sin. Katakan bahwa kau adalah
kawan baik dari Khu Sin, Thio Swie dan Tiong San. Tentu kau akan ditolongnya .....”
Sementara itu, para perwira, dan juga Cui Sian, kembali lagi di muka pintu kamar di mana Thian-te Lo-mo
berada yang kini sudah di palang dari dalam, maka mereka tidak berani secara sembrono mendorong pintu
memaksa masuk karena mereka maklum bahwa biarpun telah mendapat luka, kakek itu masih berbahaya
sekali, maka mereka hanya berteriak-teriak dari luar menyuruh kakek itu keluar dan menyerahkan gadis
pelayan itu kembali kepada mereka.
Dan pada saat Siang Cu merawat luka di dada Thian-te Lo-mo, datanglah Tiong San sebagaimana yang
telah dituturkan di atas.
********************
Tiong San mendengarkan semua penuturan Siang Cu itu dengan muka cemberut tanpa berani menentang
pandangan mata gadis itu. Sebetulnya saja, ia hanya dapat memperlihatkan muka masam apabila ia tidak
menatap wajah gadis itu, oleh karena tiap kali ia bertemu pandang, sinar mata gadis yang lemah lembut
dan halus itu seakan-akan menembus matanya dan langsung menyerang ke dalam hatinya dan dapat
mengintai di dalam dadanya bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak mempunyai alasan untuk benci atau
marah kepada gadis ini. Apabila ia menatap wajah gadis ini, ia tidak mungkin menaruh perasaan yang tidak
enak terhadapnya.
“Semua gara-gara perempuan,” katanya seorang diri. “Kawan-kawanku Khu Sin dan Thio Swie hampir
menjadi korban perempuan, dan suhuku tewas karena gara-gara perempuan pula. Perempuan hanya
merusak kehidupan seorang gagah!” Sambil berkata demikian, Tiong San berdiri. Ia menjura ke kuburan
suhunya dan berkata keras,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Suhu, teecu sudah memenuhi pesanmu. Gadis ini telah teecu bawa keluar dari kota raja, sekarang teecu
hendak mencari musuh suhu, perempuan jahat yang telah membunuh suhu untuk membalaskan dendam
ini!”
Ia tidak melihat betapa Siang Cu memandangnya dengan amat khawatir dan gelisah. Mata gadis ini
menyatakan permohonan agar ia jangan ditinggalkan seorang diri di dalam hutan itu, akan tetapi
keangkuhan hati Siang Cu tidak mengijinkannya membuka mulut!
Setelah Tiong San berlutut di depan makam suhunya, pemuda itu lalu melompat dan berlari pergi, sama
sekali tidak mau menengok kepada Siang Cu. Gadis itu memandang dengan bengong dan pucat,
mengikuti bayangan pemuda itu dengan pandangan matanya, sama sekali tidak berdaya.
Setelah bayangan pemuda itu lenyap, barulah ia menubruk gundukan tanah di mana jenazah Thian-te Lomo
terkubur, menangis tersedu-sedu dan mengeluh dengan amat sedihnya. Air matanya yang semenjak
tadi ditahan-tahannya, kini membanjir keluar dari kedua matanya.
Sementara itu, Tiong San berlari meninggalkan hutan itu dengan pikiran ruwet dan hati tidak keruan rasa.
Ia ingin melupakan wajah Siang Cu, akan tetapi sinar mata yang halus itu seakan-akan terus mengikutinya.
Di sekelilingnya sunyi senyap tak terdengar sesuatu, akan tetapi langkah kakinya seakan-akan
mengeluarkan bisikan, “Kau kejam .... kau kejam .... kejam ... kejam ....”
Suara ini mengikutinya tepat di belakang punggungnya, membuat bulu tengkuknya berdiri. Ia tidak tahu
bahwa itu adalah suara dari liangsimnya (hati nuraninya) sendiri. Akhirnya ia tidak tahan pula dan cepat
membalikkan tubuh dan berlari ke dalam hutan.
Siang Cu menderita bukan main karena ditinggalkan seorang diri di dalam hutan. Apakah yang dapat
diperbuatnya? Ke mana ia harus pergi? Akhirnya gadis ini setelah puas menangis, lalu teringat kepada
pisaunya.
“Lo-inkong,” ia meratap di depan makam Thian-te Lo-mo. “Aku .... aku tak berdaya ...., aku takut ....! Loinkong,
tunggulah, aku ikut ....!” Ia lalu memegang belati itu kuat-kuat dan menusuk dadanya sendiri!
Akan tetapi, seperti yang terjadi ketika ia hendak membunuh diri di dalam dapur istana, kembali berkelebat
bayangan hitam dan tahu-tahu belatinya telah terlepas dari tangannya. Ketika ia memandang dengan kaget
dan seram karena mengira bahwa kakek itu hidup kembali. Ia melihat Tiong San telah berdiri tak jauh
darinya.
“Gadis gendeng ..... gadis gila .....!” pemuda itu berkata perlahan yang mengingatkan Siang Cu kepada
suara dan sikap Thian-te Lo-mo. Tiong San mengambil pisau itu dari ujung cambuknya dan memasukkan
pisau itu ke dalam saku bajunya.
“Gadis gila .....” kembali ia berkata.
Siang Cu sama sekali tidak mau terlihat oleh Tiong San bahwa ia telah menangis, maka ia cepat
pergunakan kedua tangan untuk menghapus sisa-sisa air mata dari kedua pipinya dan cepat bangun
berdiri.
“Kau datang kembali mau apa? Mengapa kau mencampuri urusanku? Aku .... aku tidak minta
pertolonganmu ...., aku .... aku ....” akhirnya ia tak dapat menahan air matanya dan cepat-cepat ia
membalikkan tubuhnya agar jangan terlihat oleh pemuda itu bahwa ia betul-betul menangis.
“Aku datang kembali bukan untuk menolongmu,” kata Tiong San yang merasa girang bahwa gadis itu
berdiri membelakanginya, sehingga ia tak usah menakuti mata yang halus itu dan gadis itu takkan dapat
melihat betapa ia merasa amat kasihan dan terharu! “Aku hanya teringat bahwa tidak selayaknya seorang
gadis yang lemah seperti kau ditinggal seorang diri di tengah hutan. Sekarang katakan, apa yang harus
kulakukan? Ke mana kau hendak pergi dan aku akan mengantarkanmu ke tempat tujuanmu itu. Hanya
untuk mengantarkan sampai di tempat tujuanmu, lain tidak!”
Dengan gerakan perlahan, Siang Cu memutar kembali tubuhnya dan kini ia menghadapi Tiong San.
Pemuda itu menekan perasaan herannya ketika melihat betapa kini bibir gadis itu tersenyum.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Gadis gila ....!” tak terasa pula ia berkata dan Siang Cu tersenyum makin lebar, lalu tertawa seakan-akan
ia dikitik-kitik dan merasa geli sekali!
“Ah, eh, mengapa kau tersenyum-senyum dan tertawa-tawa? Kau benar-benar gila!” Akan tetapi, dimaki
gila beberapa kali itu bukannya marah, Siang Cu bahkan nampak makin geli.
“Kalau aku gila, kau juga gila!” jawabnya dengan halus. “Kau hendak mengantarkanku? Tak perlu. Kalau
kau memang tidak mau meninggalkanku sendiri di dalam hutan liar ini, carikanlah satu stel pakaian laki-laki
untukku. Tak usah yang baik-baik, pakaian yang telah usang saja, asalkan pakaian laki-laki. Hanya itu
permintaanku kalau kau suka menolong, dan ... lain tidak!”
Tiong San menjadi heran, tetapi ia dapat menduga bahwa gadis itu tentu hendak melanjutkan perjalanan
dengan menyamar sebagai seorang laki-laki! Diam-diam ia memuji keberanian dan kecerdikan Siang Cu,
maka ia lalu berkata,
“Tunggu sebentar, akan kucarikan pakaian itu untukmu!” tubuhnya lalu berkelebat pergi dengan cepat
sekali, sehingga Siang Cu memandangnya dengan amat kagum dan untuk beberapa lama gadis itu
termenung dalam kebingungan, membanding-bandingkan pemuda itu dengan Thian-te Lo-mo karena ia
tidak tahu, mana yang lebih kukoai (aneh) dan gila antara guru dan murid itu!
Tak lama kemudian, benar saja Tiong San kembali sambil membawa satu stel pakaian laki-laki, pakaian
petani berwarna biru muda yang masih cukup baik dan belum ada tambalannya. Ia memberikan pakaian itu
kepada Siang Cu dan suaranya benar-benar mengandung penyesalan ketika ia berkata,
“Sayang aku tak dapat mencarikan yang lebih baik. Orang-orang dusun di luar hutan itu kesemuanya
petani-petani yang tidak kaya!”
“Bagaimana kau memperoleh pakaian ini?”
“Mengapa kau bertanya? Aku ..... aku mengambilnya dari sebuah rumah petani.”
“Mencuri ....?” gadis itu membelalakkan kedua matanya dan pakaian yang dipegangnya itu tak terasa pula
terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas tanah.
“Biarpun mencuri, akan tetapi aku yang melakukannya, bukan kau!” kata Tiong San dengan mendongkol
dan mukanya berobah merah.
Siang Cu merogoh saku bajunya sebelah dalam dan mengeluarkan tiga potong uang perak. “Tidak boleh,
kau harus membayarkan uang ini kepada pemilik pakaian. Aku belum pernah memakai barang curian!”
“Aku tak mau!”
“Kalau begitu, akupun tidak mau memakai pakaian ini!”
Tiong San menarik napas panjang dan menerima uang itu. “Baiklah, nanti akan kubayarkan uang ini
kepadanya.”
Siang Cu tersenyum girang dan diam-diam Tiong San merasa heran mengapa iapun merasa amat girang
oleh karena gadis itu percaya kepadanya, sama sekali tidak meragukan bahwa uang itu akan betul-betul
dibayarkan kepada petani yang ia curi pakaiannya itu!
“Pakaian itu amat buruk,” katanya pula.
“Siapa bilang? Ini terlalu bagus untukku,” kata Siang Cu yang segera membawa pakaian itu ke tanah bekas
galian di mana terdapat tanah-tanah lempung yang agak basah, lalu ia ..... menggosok-gosokkan pakaian
itu ke dalam tanah lempung!
“Kau gendeng!” kata Tiong San, akan tetapi, ia segera teringat bahwa di dalam penyamaran, memang lebih
tepat apabila seorang petani muda pakaiannya berlumur tanah! Kembali ia memuji kecerdikan gadis itu,
tentu saja hanya di dalam hati karena mulutnya ia kunci rapat-rapat.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau pergilah dulu, aku hendak bertukar pakaian,” kata Siang Cu dan mukanya tiba-tiba berobah merah.
Tiong San juga menjadi malu dan mukanya menjadi merah sampai ke telinga. Ia masih berdiri di
tempatnya, hanya memutar tubuh membelakangi gadis itu. “Siapa yang ingin melihat kau bertukar
pakaian?” katanya mendongkol.
Biarpun Tiong San sudah memutar tubuh, akan tetapi Siang Cu masih belum puas kalau belum
bersembunyi di belakang sebatang pohon besar. Di balik pohon itu ia mengganti pakaiannya,
menanggalkan pakaian luar lalu menutup pakaian dalamnya dengan pakaian petani yang telah menjadi
kotor berlumpur itu. Sambil berganti pakaian, berkali-kali ia mengintai dari balik batang pohon dan berkalikali
berkata, “Awas, belum selesai, jangan menengok dulu!”
Diam-diam Tiong San menjadi mendongkol dan juga geli. Bencinya terhadap gadis ini banyak berkurang,
meskipun ia masih merasa tak senang kepada kaum wanita yang dianggapnya telah merusak hidup orangorang
yang dikasihinya.
“Sekarang kau boleh menengok!” kata Siang Cu dan ketika Tiong San berpaling, ia hampir pangling. Di
depannya berdiri seorang petani muda yang amat tampan.
“Bagaimana? Sudah patutkah aku menjadi seorang pemuda tani?”
Tiong San memandang penuh perhatian dan lupa akan “bencinya” tadi, ia membantu untuk mencari-cari
apa yang kiranya perlu diperbaiki dalam samaran itu. “Wajahmu .....”” katanya.
“Mengapa wajahku?” tanya Siang Cu cepat-cepat dan otomatis tangan kirinya naik untuk mengusap
pipinya.
“Wajahmu terlalu cakap untuk seorang petani muda ... eh, maksudku ... hm ... terlalu ... terlalu putih dan
halus kulit mukamu ....” Muka Tiong San menjadi merah sekali karena ucapan itu benar-benar amat sukar
keluar dari mulutnya dan ia benci kepada dirinya sendiri untuk mengeluarkan ucapan yang didorongdorong
oleh hatinya sendiri.
Siang Cu tersenyum. “Mudah sekali kalau hanya itu ....” Gadis itu lalu mengambil tanah lempung dan
segera membedaki mukanya dengan tanah! Kini mukanya menjadi kotor berlumpur, hanya matanya saja
yang tidak berubah, masih bening dan bersinar halus.
“Sayang ....” tiba-tiba kata-kata ini hanya terloncat keluar dari mulut Tiong San.
“Apanya yang sayang?” tanya Siang Cu cepat.
Ingin Tiong San menampar mulutnya sendiri. Menurut kata hatinya, ia hendak menyatakan sayang karena
kulit muka yang putih halus itu dirusak dengan lumuran lumpur hingga menjadi kotor. Akan tetapi tentu saja
ia tidak mau mengucapkan kata-kata ini dan untung bahwa ia masih dapat mengekang lidahnya dan hanya
mengucapkan kata-kata “sayang” tadi! Kini Siang Cu mengajukan pertanyaan yang membuatnya menjadi
bingung dan terpaksa ia menjawab dengan gagap.
“Yang sayang ... itu loh .... eh, rambutmu ....!”
“Rambutku ...? Mengapa rambutku?” kembali otomatis tangannya diangkat dan menyentuh rambutnya
yang hitam dan panjang.
“Rambutmu terlalu .... halus dan panjang, tak pantas dimiliki oleh seorang petani muda!”
“Begitukah? Coba kau ke sinikan pisauku tadi!”
“Tidak boleh! Kau akan berbuat gila dengan pisaumu tadi.”
Siang Cu tersenyum dan mukanya yang sudah kotor berlumur lumpur itu masih nampak manis karena
terlihat giginya yang putih bersih dan rata. “Kalau aku hendak membunuh diri, masa aku harus menyamar
dulu? Ke sinikan, hendak kupakai memotong rambutku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tidak boleh, kau tidak boleh pegang pisau tajam.”
“Kalau begitu, tolong kau potongkan rambutku ini, agar jangan terlalu panjang dan untuk menyempurnakan
penyamaranku.”
Sambil berkata demikian Siang Cu cepat mengulurkan rambutnya yang panjang kepada Tiong San.
Pemuda itu ragu-ragu dan menyesal melihat rambut yang demikian indahnya di potong, akan tetapi ia tidak
mau memperlihatkan kemenyesalannya dan segera mencabut pisau tadi dan sekali ia menyabet, putuslah
rambut yang panjang itu dan kini menjadi pendek.
“Nah, sekarang penyamaranku pantas, bukan?” kata gadis itu dengan suara menahan isak.
Sesungguhnya, bukan main sakit hatinya melihat rambut yang tadi masih menghias kepalanya kini
melingkar di atas tanah. Hati gadis mana yang tak merasa sedih?
“Sudah baik sekarang,” kata Tiong San singkat.
“Nah, selamat berpisah, kita mengambil jalan masing-masing,” kata Siang Cu yang segera pergi
meninggalkan tempat itu menuju ke kota raja kembali!
Kini dia yang meninggalkan Tiong San dan pemuda itu untuk beberapa lama berdiri bengong sampai
bayangan Siang Cu lenyap di balik pohon. Ia memandang ke arah rambut gadis itu yang tadi terputus dan
kini merupakan ular hitam melingkar di atas tanah.
Bagaikan orang tak sadar, ia membungkuk, memungut rambut itu dan bersama pisau belatinya ia
masukkan ke dalam saku baju sebelah dalam. Kemudian ia lalu melompat dan berlari cepat dengan tujuan
mencari Si Cui Sian, wanita bermuka cacad yang telah membunuh suhunya untuk membalas dendam.
Dalam penyelidikannya, Tiong San mendengar bahwa Si Cui Sian setelah berhasil membunuh bekas
kekasihnya, yakni Thian-te Lo-mo, lalu kembali ke selatan, ke tempat tinggalnya, yakni kota Liang-hu. Akan
tetapi, ketika ia menyusul ke sana, ia mendengar bahwa wanita itu kabarnya telah pergi ke pegunungan
Tai-san di Shan-tung!
Ia merasa heran sekali mengapa wanita itu pergi ke tempat tinggal Thian-te Lo-mo. Apakah kehendak
wanita itu? Akan tetapi ia tidak mau memusingkan hal ini dan langsung menuju ke Shantung, menyusul
jejak wanita itu.
Pada suatu hari, ia tiba di sebuah hutan di luar kota Cin-an. Ia mendengar suara minta tolong. Ia segera
berlari menuju ke arah suara itu dan melihat betapa serombongan orang sedang dikepung oleh perampokperampok
kejam!
Para pengawal rombongan itu yang terdiri dari piauwsu-piauwsu (pengawal/penjaga keamanan di jalan)
dengan berani mengadakan perlawanan. Akan tetapi oleh karena kawanan perampok itu banyak
jumlahnya, lagi pula dipimpin oleh orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka mereka terdesak hebat
dan beberapa orang piauwsu telah menderita luka-luka.
“Perampok gila, mundur semua!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sebatang cambuk yang
bergerak-gerak bagaikan naga menyambar, telah membuat banyak senjata perampok itu terlempar ke
udara. Para perampok tentu saja tidak takut akan serbuan hanya seorang pemuda saja, tetapi ketika
cambuk itu menyambar cepat, terdengar teriakan-teriakan mereka kesakitan dan muka para perampok itu
seorang demi seorang menerima “hadiah” cambukan, sehingga terluka memanjang pada muka yang
mengeluarkan darah atau menjadi matang biru!
Tiga orang kepala rampok dengan marah menyerbu ke depan. Akan tetapi mereka inipun berseru keras
dan mundur kembali oleh karena kedatangan mereka disambut oleh ujung cambuk dan mengalirlah darah
dari muka mereka ketika ujung cambuk itu menyabet dan memecahkan kulit muka mereka! Memang,
menghadapi kepala-kepala rampok ini, Tiong San sengaja memberi “hadiah besar” sehingga muka mereka
mengeluarkan darah.
Dalam hal membagi-bagi hadiah, suhunya mempunyai tiga istilah, yakni hadiah kecil yang hanya membuat
muka bergaris merah, hadiah sedang yang lebih keras dan membuat muka lawan menjadi matang biru dan
terasa sakit sekali, tetapi juga tidak mengeluarkan darah, dan ketiga hadiah besar yang dilakukan dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
tenaga lebih keras sehingga kulit muka lawan menjadi pecah oleh ujung cambuk dan mengeluarkan darah
serta terasa perih dan sakit sekali!
Melihat kelihaian pemuda itu serta menyaksikan cara bertempurnya yang mempergunakan cambuk
panjang, tiba-tiba mereka insyaf dan serentak para perampok berseru,
“Shan-tung Koai-hiap ....!” Seruan ini menyatakan keterkejutan dan ketakutan hebat dan mereka segera lari
cerai berai masuk ke dalam hutan yang lebat! Memang untuk daerah Shan-tung, nama Shan-tung Koaihiap
telah terkenal sekali dan ditakuti orang, sungguhpun Tiong San belum banyak memperlihatkan
kepandaiannya!
Berita akan kelihaian Shan-tung Koai-hiap dan bahwa pendekar itu adalah murid Thian-te Lo-mo, cukup
menggentarkan hati setiap penjahat. Maka begitu mendengar nama ini diserukan orang dan melihat betapa
segebrakan saja pemuda itu berhasil membuat muka ketiga kepala rampok terluka, semua perampok
kehilangan semangatnya dan mereka lari dengan ketakutan!
Para piauwsu juga terkejut sekali mendengar disebutnya nama ini dan mereka lalu menghampiri Tiong San
dan menjura dengan hormat sekali. Pemimpin rombongan piauwsu itu berkata kepada Tiong San dengan
sikap hormat.
Bab-15 : Kebencian Pada Wanita Cantik
“TAK disangka bahwa kami akan mendapat bantuan yang amat berharga dari koai-hiap, sungguh-sungguh
kami berterima kasih sekali. Koai-hiap masih begini muda tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian
lihai luar biasa, sungguh-sungguh membuat kami yang tua-tua merasa kagum!”
Oleh karena semenjak dulu mengikuti suhunya yang sama sekali tidak suka akan segala penghormatan,
maka Tiong San lalu tertawa karena geli hatinya.
“Ha ha ha! Kalian benar-benar berotak miring! Untuk apa segala macam omong kosong ini? Lebih baik
lekas tolong kawan-kawanmu yang terluka dan melanjutkan perjalanan.”
Semua piauwsu tidak ada yang berani membantah, dan mereka lalu merawat kawan-kawan yang terluka
dan segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Ternyata orang-orang yang dirampok itu adalah keluarga Ciu-wangwe (hartawan Ciu) yang tinggal di kota
Cin-an. Hartawan itu turun dari jolinya dan menghampiri Tiong San. Ketika melihat sikap pemuda yang
menampik segala ucapan terima kasih dan penghormatan, Ciu-wangwe lalu menjura dan berkata,
“Shan-tung Koai-hiap, telah lama aku mendengar nama besarmu dan juga nama besar suhumu, Thian-te
Lo-mo. Karena kebetulan sekali kita bertemu di sini dan agaknya sejurusan perjalanan pula, maka aku
mengharap sukalah kiranya kau melakukan perjalanan bersama kami. Pertama-tama untuk mempererat
perkenalan kita. Kedua, kami mohon pertolonganmu agar supaya keselamatan kami terjamin.”
Tiong San memandang kepada hartawan itu yang ternyata adalah seorang setengah tua yang berwajah
menyenangkan dan dari sikap dan bicaranya, dapat diduga bahwa ia adalah seorang yang berwatak jujur
dan terpelajar.
“Bolehkah aku tahu siapa saudara ini?” tanya Tiong San dan Ciu-wangwe tersenyum.
“Tadi aku tidak berani memperkenalkan nama oleh karena apakah artinya namaku bagi seorang gagah
seperti kau? Aku adalah Ciu Twan atau untuk penduduk Cin-an cukup dikenal dengan sebutan Ciuwangwe.
Ya, memang aku seorang hartawan, tetapi ketika dirampok tadi, aku ingin sekali menjadi seorang
miskin saja! Semenjak menjadi hartawan, aku selalu menghadapi kesulitan-kesulitan belaka!” Ciu-wangwe
menarik napas panjang dan Tiong San merasa makin tertarik kepada orang ini.
“Kau lucu sekali, Ciu-wangwe,” katanya sambil tertawa. “Akan tetapi aku suka bercakap-cakap dengan
orang seperti kau!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mereka segera melanjutkan perjalanan dan Tiong San tidak menolak ketika ia diberi seekor kuda, sehingga
ia dapat bercakap-cakap dengan hartawan Ciu itu. Nyonya Ciu masih duduk di sebuah joli yang digotong
oleh enam orang, dan hartawan Ciu sendiri berganti tempat, tidak mau naik joli karena ia ingin bercakapcakap
dengan Tiong San. Para piauwsu merasa gembira sekali karena pendekar aneh dari Shan-tung itu
suka melakukan perjalanan bersama mereka sehingga mereka tak usah mengkhawatirkan sesuatu lagi.
Di sepanjang jalan, Ciu-wangwe dengan amat jujur menuturkan riwayat hidupnya kepada Tiong San tanpa
diminta. Ia menceritakan betapa dulu iapun seorang yang miskin, tetapi berkat kerajinannya dapat menjadi
seorang kaya raya. Ia menceritakan pula tentang rumah tangganya, tentang seorang anaknya yang telah
menjadi remaja puteri, betapa anaknya itu amat cantik dan pandai ilmu kesusasteraan.
“Anakku itu adatnya agak kukoai (aneh). Telah berkali-kali datang lamaran orang, tetapi ia berkeras
menampik semua pinangan itu biarpun yang mengajukan pinangan adalah pemuda-pemuda kaya raya,
bahkan pinangan seorang pemuda bangsawan ia tolak pula! Ahh, aku dan ibunya sudah merasa pusing
sekali, tetapi semenjak kecil ia dimanja, maka aku dan isteriku tak dapat berdaya apa-apa! Kalau saja ....”
ia memandang tajam kepada Tiong San, kemudian menyambung kata-katanya sambil tersenyum. “Kalau
saja aku bisa mendapat seorang menantu seperti kau .... ah, seumur hidupku aku akan merasa senang
dan aman!”
Tiong San tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Ciu-wangwe memandang heran dan ragukan
kesehatan otak pemuda itu, karena memang suara ketawa Tiong San amat nyaring dan keras, sehingga
para piauwsu pun menengok dan memandang dengan heran!
“Ciu-wangwe, kau .... gila!” kata Tiong San yang telah menjadi biasa menyebut semua orang dengan
makian gila seperti adat gurunya. “Aku .... aku paling tidak suka kepada wanita apalagi wanita yang pandai,
lebih-lebih lagi kalau ia cantik jelita!”
Kini Ciu-wangwe yang tertawa geli mendengar ucapan ini.
“Shan-tung Koai-hiap, aku benar-benar suka kepadamu. Kau berbeda sekali dengan pemuda-pemuda lain.
Kuharap kau suka bermalam di rumahku di Cin-an agar hatiku puas. Sukakah kau?”
Melihat sikap hartawan yang amat tulus dan jujur ini, memang Tiong San telah merasa suka dan cocok
sekali, maka ia menganggukkan kepalanya dan menjawab,
“Aku sedang ada urusan penting, yakni mencari seorang di sekitar bukit Tai-san. Karena akupun harus
melalui Cin-an, tidak ada halangan apabila aku mampir semalam di rumahmu.”
Ciu-wangwe merasa girang sekali dan perjalanannya dilanjutkan dengan selamat sampai di Cin-an.
Mereka menuju ke gedung Ciu-wangwe dan hartawan itu selain memberi upah yang telah dijanjikan
kepada para piauwsu, juga memberi hadiah ekstra karena ia merasa kasihan kepada para piauwsu yang
terluka.
Tentu saja para piauwsu itu amat berterima kasih sekali dan memuji-muji kebaikan budi hartawan itu.
Hartawan lain tentu akan marah-marah dan menyatakan ketidak puasannya karena terjadinya gangguan
perampok yang hampir mencelakakan itu, akan tetapi hartawan ini bahkan memberi hadiah dan ongkosongkos
pengobatan kawan-kawan mereka yang terluka!
Ciu-wangwe memang mempunyai seorang anak perempuan yang telah berusia delapan belas tahun.
Gadis ini bernama Ciu Leng Hwa dan semenjak kecil ia memang telah mempelajari ilmu kesusasteraan
dengan amat rajinnya. Ia mempunyai otak yang cerdas dan setelah ia menjadi dewasa, ia terkenal sebagai
kembang kota Cin-an, baik mengenai kecantikan maupun mengenai kepandaiannya, terutama tulisantulisannya
yang indah. Sering kali kawan-kawannya minta supaya menuliskan lian (tulisan-tulisan di atas
kain yang mengandung arti dan ditulis indah, biasanya berbentuk syair).
Ciu-wangwe suami isteri merasa amat bangga akan puteri mereka ini, tetapi sebagaimana yang diceritakan
oleh Ciu-wangwe kepada Tiong San, gadis ini selalu menolak apabila orang tuanya bicara tentang
perjodohan dan pinangan orang kepadanya!
Ketika Leng Hwa mendengar dari ibunya bahwa ayah bundanya tadi diganggu perampok dan terjadi
pertempuran hebat, ia menjadi khawatir sekali dan berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ah, untung sekali ibu dan ayah tidak sampai mendapat celaka. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana dengan
.... aku? Ah, syukur kepada Thian Yang Maha Kuasa, malam ini kebetulan bulan purnama dan tengah
malam nanti aku harus bersembahyang untuk mengucap syukur.”
“Memang kita harus bersyukur, anakku, terutama sekali kepada Shan-tung Koai-hiap, karena dialah yang
menolong sehingga ayah bundamu masih dapat bertemu dengan kau dalam keadaan hidup!” Nyonya Ciu
lalu menceritakan betapa pendekar muda itu telah menolong mereka dengan gagahnya.
“Tak kusangka bahwa seorang pemuda yang begitu halus dan kelihatan lemah, memiliki ilmu kepandaian
yang luar biasa. Sayangnya .... bicaranya aneh-aneh sehingga ayahmu menyangka bahwa ia agak ....
miring otaknya! Ia ikut datang atas undangan ayahmu dan ayahmu suka sekali bercakap-cakap.
Percakapan mereka aneh-aneh sehingga aku tidak mengerti sedikitpun. Coba saja pikir, pendekar yang
usianya belum tentu ada dua puluh tahun itu beberapa kali kudengar menyebut ayahmu ..... gila!”
Leng Hwa tertarik sekali. “Memang kata orang-orang dahulu, orang yang gila paling suka menyebut orang
waras gila!” katanya perlahan dan diam-diam ia mempunyai keinginan keras untuk melihat bagaimana
macamnya pendekar muda yang amat terkenal itu. Akan tetapi sebagai seorang gadis terpelajar dari
keluarga sopan, tentu saja tak mungkin baginya untuk menjumpai seorang tamu laki-laki yang masih muda
dan asing pula.
Malam hari itu, Leng Hwa berada di taman bunga. Memang taman bunga keluarga Ciu-wangwe amat indah
dan terkenal, karena selain Leng Hwa suka sekali kepada kembang-kembang, juga suami isteri Ciu suka
berjalan-jalan di situ.
Gadis itu menanti datangnya tengah malam di taman itu sambil menghadapi dua helai kain yang disulam
indah. Seorang kawannya minta kepadanya untuk menuliskan dua buah syair di atas dua helai kain yang
lebar itu. Akan tetapi, entah mengapa, malam hari ini agaknya jalan pikiran gadis ini kurang tenang.
Telah lama sekali ia duduk di atas sebuah bangku menghadapi kain yang terbentang di hadapannya tanpa
dapat menuliskan sehurufpun. Ia bertopang dagu dan pelayannya duduk tak jauh dari situ, sama sekali
tidak berani mengganggu nonanya yang sedang mengasah otak itu.
Sambil bertopang dagu, Leng Hwa memandang kepada bulan yang nampak bulat dan terang di angkasa
raya. Pelayannya, seorang gadis tanggung, memandang nonanya dengan kagum sekali. Karena sedang
berdongak, wajah Leng Hwa sepenuhnya ditimpa sinar bulan dan pelayan itu diam-diam berpikir, manakah
yang lebih indah, wajah nonanya atau bulan itu!
Melihat bulan seakan-akan bergerak di atas awan-awan putih dan kadang-kadang bersembunyi di
belakang sekelompok awan hitam. Tiba-tiba Leng Hwa menggerakkan pensil bulunya di atas kain itu. Ia
telah mendapat bahan bagi syairnya, ialah bulan itu! Dengan asyiknya ia menulis, sambil mengeluarkan
ujung lidahnya yang merah dan kecil itu di ujung bibirnya, mengerahkan seluruh perhatiannya pada pensil
bulu yang kini menari-nari di atas kain. Setelah syair itu selesai, ia memandangnya dengan puas, wajahnya
berseri-seri.
“A-bwe,” ia memanggil pelayannya yang duduk kedinginan karena hawa malam yang sejuk itu
membuatnya mengantuk. A-bwe terkejut dan berdiri.
“Kau lihat, syair telah selesai sebuah! Coba kau baca keras-keras hendak kudengarkan!”
A-bwe memang amat mengagumi syair nonanya dan ia senang sekali membaca syair yang ditulis oleh
nonanya. Banyak syair tulisan Leng Hwa telah dapat dibacanya di luar kepala, padahal Leng Hwa sendiri
sudah lupa akan bunyi syair-syairnya itu. Akan tetapi ia suka mendengar A-bwe membaca syairnya karena
suara pelayan ini memang merdu dan apabila syairnya dibaca oleh A-bwe, seakan-akan syair itu menjadi
lebih hidup dan indah!
A-bwe berlari-lari menghampiri dan melihat tulisan yang indah itu ia memuji-muji, lalu membaca syair itu
dengan suara nyaring dan merdu, penuh perasaan dan gaya serta tekanan suaranya tepat sekali:
Bulan indah, begitu tinggi dan mulia
kau menerangi seluruh permukaan dunia
dunia-kangouw.blogspot.com
ratu malam yang megah, cantik jelita
menyaingi matahari
raja siang yang jaya!
namun .... sekali terbang lalu
awan dan mega yang terang
menjadi gelap, kau tak berdaya ....!
“Bagus, Siocia (nona), bagus! Akan tetapi agak ... agak sedih!”
Akan tetapi, kebetulan sekali memang pada saat itu ada segunduk awan hitam bergerak perlahan menutup
bulan.
“Aku hanya menuliskan keadaan yang sebenarnya A-bwe. Lihat, agaknya awan hitam itu akan lama
menutup bulan karena berkelompok besar, lebih baik kita masuk dulu dan kau sediakan alat-alat
sembahyang karena tak lama lagi tengah malam akan tiba. Kalau bulan sudah terang lagi kita kembali ke
sini,” Kedua wanita itu lalu meninggalkan tempat itu, masuk ke dalam rumah.
Tak lama setelah mereka pergi, nampak sesosok bayangan berjalan ke tempat itu dan ia berhenti di depan
meja, membaca syair yang baru ditulis oleh Leng Hwa tadi. Bayangan ini adalah Tiong San yang juga
merasa tertarik oleh bulan purnama dan keluar dari kamarnya untuk menikmati pemandangan dalam
taman bunga yang indah itu.
Biarpun masih ada awan tipis menutup bulan, dan keadaan tidak sangat terang, akan tetapi matanya yang
tajam dapat membaca syair itu dengan terang. Ia merasa tertarik sekali dan melihat bahwa di situ masih
ada sehelai kain yang sama ukuran dan bentuknya dengan kain yang sudah ditulisi, dan kain itu masih
kosong, tak terasa pula timbul kegemarannya menulis syair.
Ia pegang pensil bulu, mencelupkannya di tempat tinta, lalu berpikir sebentar sambil memandang kepada
syair Leng Hwa tadi, lalu menulis dengan gerakan cepat dan kuat. Baru saja ia selesai menulis, terdengar
suara orang mendatangi. Ia terkejut dan sadar bahwa ia telah berlaku lancang, maka cepat-cepat ia
melompat ke balik gerombolan pohon bunga dan mengintai. Ternyata yang datang adalah dua orang
wanita, seorang gadis cantik diikuti oleh seorang gadis pelayan yang membawa lilin dan dupa.
Bulan bersinar penuh dan keadaan menjadi terang sekali. Ketika Leng Hwa tiba di dekat mejanya, ia
terkejut sekali dan terdengar ia mengeluarkan seruan tertahan. Mendengar ini A-bwe berlari menghampiri
dan juga pelayan ini menjadi terkejut sekali.
“Bagus, bagus! Syair ini lebih bagus, siocia!” kata pelayan itu yang lalu meletakkan barang-barangnya di
atas tanah. Kemudian dengan suara nyaring ia membaca syair yang baru saja ditulis oleh Tiong San itu:
Sungguh! Awan tak mungkin dihindarkan
namun ... awan gelap hanya rintangan
yang akan lenyap oleh tiupan angin
gelap sebentar,
hujan badai boleh menggelegar!
Sesudah lewat,
bulan muncul lagi berseri segar!
matahari akan terbit lagi,
hangat dan terang!
“Bagus, siocia, bagus!” Syair ini merupakan pasangan yang cocok sekali dengan syairmu dan sekali gus
menghapus kesedihan syairmu itu! Dan tulisannya .... alangkah indahnya ... tak kalah oleh tulisanmu ....!”
Akan tetapi, Leng Hwa merasa marah sekali melihat betapa kain yang masih kosong itu ada orang lain
yang lancang tangan menulisi. Ia berdiri tegak dan memandang ke kanan kiri, lalu katanya dengan suara
nyaring, tanda kemarahan hatinya.
“Orang kurang ajar dari manakah yang berani membikin kotor kain ini? Sungguh gila!”
Tiong San adalah seorang yang berhati tabah dan ia paling tidak suka kalau dianggap kurang ajar dan
pengecut, maka mendengar ini ia merasa sudah sepantasnya kalau ia mengakui perbuatannya itu dengan
dunia-kangouw.blogspot.com
terus terang dan berani. Maka ia lalu muncul keluar dari balik gerombolan pohon kembang itu, sehingga
kedua orang wanita itu melangkah mundur dengan terkejut.
“Nona, akulah yang menulis syair itu!”
Leng Hwa memandang dengan mata melebar. “Kau ... siapakah? Dan mengapa kau berani lancang
menulis syair ini dan .... dan ....bagaimana pula kau dapat masuk ke sini .....?” Harus diketahui bahwa
taman bunga itu menjadi satu dengan gedung Ciu-wangwe dan bahwa sekelilingnya dilingkungi oleh
tembok yang amat tinggi dan di luarnya terjaga pula.
Tiong San tersenyum, “Namaku Tiong San, dan aku menulis syair itu karena merasa tak setuju dengan
bunyi syairmu yang memperlihatkan kelemahan hatimu, dan tentang bagaimana aku dapat masuk ke sini,
karena memang aku bermalam di gedung ini!”
“Jadi kau .... kau Shan-tung Koai-hiap ....?” Makin lebar mata gadis itu memandang Tiong San. Tak
disangkanya sama sekali bahwa pendekar muda yang diceritakan oleh ibunya itu ternyata adalah seorang
pemuda yang demikian ... tampan dan gagah serta amat indah tulisannya! Dan menurut pandangannya,
pemuda ini sama sekali tidak gila.
“Ada orang yang menyebutku gila,” jawab Tiong San sederhana.
Berobahlah sikap Leng Hwa mendengar ini. Bibirnya tersenyum manis dan mukanya berobah merah. Ia
tidak berani memandang langsung, setengah menundukkan mukanya. Akan tetapi dari bawah bulu
matanya itu kerlingnya menyambar halus.
“Ah .... kalau begitu kau adalah penolong ayah bundaku ... silahkan duduk, taihiap ....”
Tadi ketika Leng Hwa berdiri memandangnya dengan marah dan gadis itu mengeluarkan ucapan-ucapan
kasar, ia memandang dengan tertarik juga karena harus diakui bahwa Leng Hwa adalah seorang gadis
yang amat cantik jelita. Akan tetapi setelah sikap gadis ini berobah kemalu-maluan, tersenyum dan
mengerling tajam yang sebetulnya lebih menggiurkan hati laki-laki lagi, Tiong San bahkan timbul rasa tidak
senangnya terhadap gadis ini!
Dalam hati pemuda ini timbullah perasaan ragu-ragu, karena apabila seorang wanita telah bersikap seperti
itu, ia akan amat berbahaya dan hanya mendatangkan bencana saja! Dalam pandangannya, sikap wanita
yang seperti ini mengingatkan ia akan seekor ular yang melingkar diam tak bergerak, akan tetapi jangan
sangka bahwa ular itu takkan menyerangmu.
Sekali kau lalai, ular itu akan menyambarmu. Oleh karena itu, melihat sikap Leng Hwa yang manis itu, tibatiba
lenyaplah kegembiraannya tadi dan Tiong San segera memutar tubuh sambil berkata,
“Terima kasih, aku mau kembali ke kamar dan tidur!” Tanpa menanti jawaban ia lalu melompat pergi
meninggalkan gadis itu yang masih berdiri tercengang.
“Aduh, siocia, dia ..... dia itu .... cakap sekali!” kata A-bwe menggoda nonanya yang sadar kembali dari
lamunannya dengan muka makin merah. Dari pandangan mata pelayannya ia maklum akan isi hati A-bwe,
maka ia lalu berkata,
“Sudahlah, A-bwe, ayoh kau beres-bereskan meja karena aku hendak mulai bersembahyang!”
Dan ketika Ciu Leng Hwa, gadis cantik jelita itu mengangkat hio (dupa biting) di depan meja sembahyang,
biarpun di dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih dan rasa syukurnya kepada Yang Maha Kuasa
karena ayah bundanya terhindar dari bahaya, namun pada dasar hatinya terdengar bisikan-bisikan yang
tak terucapkan oleh mulut hatinya, bisikan-bisikan yang menyatakan harapan dan yang membuiat mukanya
makin menjadi merah saja!
Dua gulung kain bersyair itu dibawanya sendiri ke dalam kamarnya setelah selesai sembahyang dan
digantungkannya berjajar di dinding kamarnya. Kemudian ia berbaring dan memandangi dua syair itu
dengan hati girang yang membuatnya tak dapat tidur sekejap pun semalam itu!
dunia-kangouw.blogspot.com
A-bwe yang bermulut panjang itu segera menyampaikan peristiwa yang terjadi malam tadi kepada Ciuwangwe
dan nyonyanya. Kedua orang tua ini merasa girang sekali dan Ciu-wangwe lalu menjumpai Tiong
San.
“Shan-tung Koai-hiap,” katanya dengan wajah berseri, “Kami telah mendengar akan pertemuanmu dengan
puteri kami dan aku sendiri merasa amat gembira bahwa kau dan Leng Hwa telah mendapatkan
kecocokan dalam hal .... membuat syair! Hal ini telah membuat aku dan isteriku mengambil keputusan,
yakni ... kalau kau setuju ... kami akan merasa gembira sekali apabila anak tunggal kami itu menjadi ....
jodohmu!”
Pada saat itu, nyonya Ciu diikuti oleh A-bwe datang di ruang itu dan mereka ini mendengar juga ucapan
Ciu-wangwe tadi, maka nyonya Ciu lalu menyambung,
“Memang benar, anak muda yang baik. Telah lama kami mengharapkan datangnya seorang pemuda yang
patut menjadi menantu kami dan kami merasa girang sekali apabila kau suka menjadi suami Leng Hwa!”
Sementara itu, A-bwe memandang kepada pemuda itu dengan kagum. Pemuda ini benar-benar tampan
dan gagah, cocok sekali menjadi suami nonaku, pikirnya.
Akan tetapi, ketika mendengar ucapan kedua suami isteri itu, tiba-tiba Tiong San tertawa terbahak-bahak,
suara tertawa yang ia warisi dari mendiang suhunya.
“Ha ha ha! Kalian memang gila dan anakmu pun ..... gila! Kalian mau ikat aku dengan perjodohan? Sudah
kukatakan bahwa aku tidak suka kepada wanita, terutama wanita cantik seperti anakmu! Kalian sudah
berlaku baik kepadaku, dan untuk itu aku Lie Tiong San merasa berterima kasih, tetapi tentang perjodohan
..... ha ha! Tidak, seribu kali tidak!”
Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu memutar tubuh dan pergi meninggalkan gedung itu, diikuti oleh
pandang mata kedua suami isteri itu. Nyonya Ciu nampak berlinang air matanya karena merasa terhina
sekali, sedangkan Ciu-wangwe sendiri memandang bingung.
“Untung dia menolak. Agaknya dia memang benar-benar gila seperti kukatakan kemaren ....” Ia menarik
napas panjang.
A-bwe berlari masuk dan tentu saja ia menceritakan semua ini kepada Leng Hwa. Gadis itu tadinya merasa
gembira ketika mendengar cerita ini dan mendengar ucapan-ucapan Tiong San yang diulang oleh A-bwe
beserta gaya-gayanya sekalian, merasa betapa hatinya menjadi perih. Mukanya pucat dan ia memandang
kepada tulisan Tiong San yang tergantung di dinding seakan-akan tulisan itu merupakan diri Tiong San
sendiri! Ia menangis. Sekali lagi tanpa disadarinya, Tiong San telah menyebabkan seorang gadis cantik
menjadi patah hati!
********************
Tiong San meninggalkan kota Cin-an dan langsung mendaki bukit Tai-san untuk mencari Si Cui Sian,
wanita bermuka cacad yang membunuh suhunya. Setelah dua hari berputar-putar di bukit itu, mencari
keterangan pada dusun-dusun sekitar lembah bukit, tak seorangpun dapat memberi keterangan tentang
seorang wanita tua yang bermuka cacad.
Tiong San menjadi kecewa sekali dan karena sudah berada di bukit itu, maka ia teringat akan tempat
tinggal suhunya, di mana ia telah tinggal untuk tiga tahun lamanya. Maka ia segera menuju ke tempat itu,
yakni sebuah guha besar yang berada di puncak lereng sebelah kiri dan yang masih liar belum pernah
didatangi lain orang kecuali dia dan suhunya.
Setelah ia tiba di dekat guha pertapaan gurunya, tiba-tiba ia mendengar suara tangisan. Tiong San menjadi
heran sekali karena siapakah orangnya yang berada di tempat sunyi ini? Ketika ia mencari-cari, ternyata
bahwa suara itu datangnya dari guha suhunya! Ia makin merasa heran dan segera menghampiri dan
berdiri di depan guha. Sekarang ia dapat mendengar suara tangis itu lebih jelas lagi. Itu adalah tangis
seorang wanita disertai keluh-kesah mengharukan.
“Hong Sian .... kau kejam sekali .... Kalau saja dulu kau tidak berbuat kejam ... ah, kita tentu telah menjadi
suami isteri yang beruntung ..... Kau menyakiti hatiku sehingga aku hidup menderita .... Aku tekun
dunia-kangouw.blogspot.com
mempelajari ilmu pedang, akan tetapi ketika kita bertemu .... kau kembali mengecewakan hatiku ..... Kau
tidak melawan dan sengaja mencari kematian di tanganku sekarang .... sekarang aku merasa makin
sengsara ... Hong Sian ...” tangis itu makin menjadi-jadi dan Tiong San yang mendengar ucapan ini merasa
terkejut bercampur girang. Inilah orang yang ia cari-cari!
“Si Cui Sian, perempuan jahanam yang kejam! Keluarlah kau untuk menerima pembalasan!” teriaknya
sambil mencabut cambuknya.
Suara tangisan itu tiba-tiba berhenti dan tak lama kemudian dari dalam guha itu keluarlah seorang wanita
tua dengan pedang di tangan. Pedangnya berkilauan terkena cahaya matahari dan sekali pandang saja
tahulah Tiong San bahwa pedang itu adalah sebuah senjata yang tajam dan ampuh.
Ia memperhatikan wanita itu. Jelas kelihatan bahwa wanita itu dulunya tentu amat cantik dan sekarang pun
kulit mukanya masih nampak putih dan halus. Akan tetapi bekas luka yang melintang pada mukanya
membuat muka itu nampak mengerikan dan menakutkan sekali, sehingga diam-diam Tiong San bergidik
dan merasa seram.
“Si Cui Sian! Kau telah membunuh suhuku dengan kejam. Sekarang lawanlah Shan-tung Koai-hiap, murid
Thian-te Lo-mo yang hendak membalaskan sakit hati!” kata Tiong San sambil menggerak-gerakkan
cambuk di tangannya.
Wanita itu mendongak ke atas dan berkata sambil menghela napas, “Hong Sian .... kau telah mati ....
Apakah dendam yang terkutuk ini takkan ada habisnya ....??”
Akan tetapi kemudian ia merobah sikapnya dan dengan mata bersinar ia memandang kepada Tiong San.
“Kau Shan-tung Koai-hiap murid Kui Hong Sian? Bagus, bagus! Aku sudah mendengar namamu dan
kabarnya kau lihai seperti gurumu dan sudah mewarisi ilmu kepandaian Hong Sian! Gurumu tidak mau
melawanku, biarlah kau yang mewakilinya dan coba kau perlihatkan kepandaianmu. Hendak kucoba
sampai di mana hebatnya ilmu cambuk Im-yang Joan-pian!”
Setelah berkata demikian, ia melompat maju dan langsung menyerang Tiong San dengan pedangnya!
Pemuda itu cepat melompat mundur dan menggerakkan cambuknya yang segera mengeluarkan bunyi
keras dan menyambar ke arah leher perempuan cacad itu. Pertempuran hebat segera terjadi dengan amat
serunya. Kali ini tidak seperti biasanya, Tiong San menggerakkan cambuknya dengan serangan-serangan
maut karena ia bermaksud membunuh musuh suhunya ini.
Akan tetapi, Si Cui Sian benar-benar lihai sekali ilmu pedangnya dan tiap kali ujung cambuk terbentur
pedang, Tiong San merasa betapa tenaganya mental kembali dan ujung cambuknya terpental keras.
Wanita itu dengan gerakannya yang amat cepat mendesak maju dan memaksa Tiong San bertempur dari
jarak dekat.
“Ayoh, kau keluarkan semua ilmu cambukmu yang lihai!” Si Cui Sian tertawa mengejek.
Tiong San harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya. Kini ia memegang cambuknya yang
telah ditekuk menjadi pendek dan ia memainkan Im-yang Joan-pian dengan hati-hati. Ujung cambuknya
menyambar-nyambar kaku merupakan sebatang tongkat, akan tetapi tiap kali ditangkis, ujung cambuk itu
menjadi lemas dan dapat meluncur dan melanjutkan serangan mengarah jalan-jalan darah lawan untuk
ditotoknya.
Inilah kelihaian ilmu cambuk Im-yang, semacam ilmu cambuk yang tiada duanya dalam dunia persilatan.
Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa wanita itu selama berpuluh tahun, setelah terluka oleh suhunya, dengan
tekun mempelajari ilmu pedang yang hebat dan yang sengaja diatur untuk menghadapi ilmu cambuk dari
Thian-te Lo-mo. Maka kini semua serangannya, satu demi satu digagalkan oleh Si Cui Sian dan bahkan
serangan balasan wanita itu membuat Tiong San menjadi sibuk sekali!
Setelah bertempur kurang lebih seratus jurus, perlahan-lahan Tiong San mulai terdesak hebat dan
perempuan tua itu tertawa senang. “Ha, kalau saja Thian-te Lo-mo sendiri yang bertempur melawan aku ....
hm, akan tahulah dia bahwa Si Cui Sian bukanlah wanita yang mudah dikalahkan! Ha ha, anak muda, kau
mulai berkeringat dan bingung!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Memang Tiong San merasa kewalahan sekali. Belum pernah ia menghadapi seorang lawan yang demikian
tangguhnya. Ia menggertakkan gigi dan tiba-tiba ia melompat ke kanan dan mengeluarkan cambuknya
yang digerakkan sedemikian rupa sehingga cambuk itu berlenggak-lenggok menyerang tubuh lawan dari
atas ke bawah! Inilah gerakan cambuk yang disebut Ular Luka Mencari Obat, gerakan yang amat sukar
ditangkis oleh lawan oleh karena tiap lekuk dari cambuk ini melakukan serangan tersendiri sehingga dalam
gerakan ini, cambuk di tangan Tiong San sekali gus melakukan beberapa serangan yang tak boleh
dipandang ringan!
Akan tetapi, agaknya wanita itu telah siap pula menghadapi serangan macam ini. Tiba-tiba ia tertawa
masam, secepat kilat menangkap ujung cambuk yang menyambar lehernya, lalu melompat ke belakang
sambil menarik ujung cambuk itu! Bagaikan seekor ular yang ditarik kepalanya, sekali gus semua lekuk
yang menyerang itu menjadi gagal karena kini cambuk menjadi terpentang lurus.
Mereka saling menyentakkan dan tiba-tiba Si Cui Sian menggerakkan pedangnya dan putuslah cambuk itu
pada tengah-tengah! Pedang pusaka itu memang tidak mampu membabat putus cambuk ketika mereka
sedang bertempur, karena cambuk itu bersifat lemas. Tetapi setelah kini cambuk itu dipegang oleh kedua
pihak dan ditarik kencang, tentu sekali sabet saja, pedang pusaka itu telah berhasil memutuskannya!
Tiong San merasa terkejut sekali dan karena kurang pengalaman, ia menjadi gugup. Saat itu digunakan
oleh Si Cui Sian untuk melompat maju dan mengirim tusukan ke arah dada pemuda itu. Tiong San tak
mendapat kesempatan berkelit dan agaknya iapun akan menerima nasib seperti suhunya, yakni dadanya
tertembus pedang pusaka di tangan Si Cui Sian!
Akan tetapi, tiba-tiba wanita itu menahan tangannya yang memegang pedang, melemparkan pedangnya di
atas tanah dan berlutut sambil menutupi mukanya lalu menangis!
“Thian-te Lo-mo ...., apa artinya aku membunuh muridmu? Apa artinya membuat dosa baru? Ah, mengapa
kau tidak lekas datang mencabut nyawaku ....?”
Sementara itu, Tiong San merasa terhina dan menjadi marah sekali karena wanita itu tidak jadi
membunuhnya. Ia banting-banting kakinya dan berkata,
“Perempuan gila! Mengapa kau tidak tusuk dadaku seperti yang kau lakukan kepada mendiang suhu?
Jangan kau menghinaku! Aku tidak takut mati, aku sudah kalah terhadapmu, lekas kau ambil pedangmu
dan bunuhlah aku!”
Si Cui Sian mengangkat mukanya dan aneh, sepasang matanya sungguhpun mengalirkan air mata, tetapi
kini memandang kagum kepada Tiong San.
“Kau .... kau seperti Hong Sian di waktu muda ... kau gagah perkasa!”
“Siapa sudi mendengar ocehanmu? Bunuhlah aku, ayoh, lekas bunuh. Kau kira aku takut mati? Kalau
tidak, mari kita bertempur lagi sampai seribu jurus!”
Bab-16 : Ibu… Wanita Cantik Yang Terlupakan
SI CUI SIAN berdiri perlahan-lahan, lalu berkata,
“Shan-tung Koai-hiap, betapapun lihaimu, kau bukanlah lawanku! Suhumu sendiri belum tentu dapat
menghadapi ilmu pedangku, apalagi kau yang belum berpengalaman. Kita tidak mempunyai permusuhan
sesuatu, maka kalau kau suka, dari pada kita bermusuh, marilah kau kuberi pelajaran ilmu pedang. Aku
dan gurumu tidak ada jodoh, biarlah ilmu kepandaian kami berdua saja yang menjadi satu dan diwariskan
kepadamu!”
“Kau musuh suhu! Kau pembunuh suhu! Bagaimana aku bisa menjadi muridmu? Hanya ada dua jalan
bagiku, membunuhmu atau kau membunuh aku!” Tiong San berkeras.
“Orang bijaksana tidak memperdulikan akibat, tetapi dengan teliti memperhatikan sebab. Kematian suhumu
hanya akibat dan sebab-sebabnya kau belum mengetahui. Dengarlah penuturanku, anak muda!” Maka
berceritalah Si Cui Sian, wanita yang bermuka cacad itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiong San mendengarkan dengan penuh perhatian oleh karena memang suhunya belum pernah
menceritakan riwayatnya ketika masih muda.
“Dulu ketika masih muda, suhumu dan aku saling mencinta dengan tulus, saling berjanji akan mencinta
dengan tulus, saling berjanji akan menjadi suami isteri. Akan tetapi malang sekali, ketika aku berkenalan
dengan dia, aku belum tahu bahwa dia sebenarnya adalah orang yang menyakitkan hati orang tuaku.
Sebelum aku turun dari perguruan, suhumu pernah mengalahkan ayahku yang menjadi jago terkenal
sehingga ayah merasa demikian malu karena namanya dijatuhkan oleh suhumu. Ayah lalu jatuh sakit dan
meninggal dunia karena sakitnya itu.”
“Sebenarnya, memang kematian ayah ini bukanlah salah suhumu, kiranya kau tentu mengerti perasaan
ibuku. Ibu merasa demikian sakit hati kepada suhumu, sehingga ia bersumpah untuk membalas dendam.
Ketika aku datang, ibu lalu membuat aku bersumpah pula untuk membalas dendam itu. Biarpun tidak
secara langsung, memang suhumu yang menjadi sebab kematian ayah dan kehancuran hati ibuku.”
“Kemudian, setelah aku mengetahui bahwa sebenarnya suhumu atau kekasihku itu yang menjadi musuh
besar ibuku, terpaksa kami lalu bertengkar. Aku tantang kekasihku sendiri untuk mengadu kepandaian.
Kalau saja suhumu bijaksana, tentu ia sudah mengalah dan membiarkan aku menang dalam pertempuran
itu karena bukan maksudku untuk membunuhnya. Ku pikir bahwa sakit hati ayah hanya karena dikalahkan
saja, maka sudah menjadi kewajibanku untuk membalas sakit hati ini dengan mengalahkan suhumu pula di
depan orang banyak.”
“Kami bertempur dengan disaksikan oleh banyak orang gagah, tetapi sayang, suhumu ternyata amat keras
hati, seperti kau sekarang! Suhumu tidak mau mengalah sehingga kami bertempur dengan seru dan matimatian!
Akhirnya ternyata bahwa suhumu masih lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan dalam pertempuran
mati-matian yang disaksikan oleh banyak orang gagah itu, suhumu salah tangan dan membacok mukaku
sehingga mukaku menjadi bercacad seperti ini untuk selamanya!” Wanita itu berhenti sebentar dan
menangis, sedangkan Tiong San mendengarkan bagaikan sebuah patung tak bergerak sama sekali. Ia
amat tertarik dan ia mulai merasa kasihan kepada wanita ini.”
“Rasa sakit pada mukaku yang terbacok pedang, bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan rasa perih
dan sakit pada hatiku. Aku telah dihina di depan orang banyak oleh kekasihku sendiri, oleh orang yang
telah bersamaku bersumpah untuk saling mencinta selamanya! Aku lalu melarikan diri dan belajar ilmu silat
yang lebih tinggi, dengan cita-cita membalas penghinaan ini! Akupun mendengar bahwa suhumu juga lari
dan menjadi miring otaknya. Tetapi aku tidak perduli. Setelah berpuluh tahun melatih diri, aku mulai
mencarinya.”
“Kemudian, aku mendengar bahwa dia berada di kota raja dan aku segera menyusul ke sana. Kebetulan
suhumu sedang mengacau di dapur istana dan aku mendapat kesempatan untuk berhadapan dengannya,
untuk sekali lagi mengadu kepandaian! Akan tetapi, suhumu tidak mau melawan dan membiarkan saja
pedangku menusuk dadanya, sehingga ..... sehingga ia tewas oleh pedangku ...”
Kembali wanita itu menangis terisak-isak sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Tiba-tiba ia
mengangkat mukanya dan melangkah maju mendekati Tiong San sambil berkata gagah,
“Dia telah mati, untuk apa aku hidup lebih lama? Aku tak dapat membunuhmu, karena kau bukan musuhku.
Tadi kau bilang bahwa jalan bagimu hanyalah membunuhku atau terbunuh olehku. Baiklah kau boleh ambil
jalan kedua dan bunuhlah aku! Bunuhlah dengan pedang yang telah membunuh kekasihku itu agar aku
dapat segera bertemu dan berkumpul dengan dia!”
Si Cui Sian mengambil pedangnya yang tadi dilemparkannya dan memberikan pedang itu kepada Tiong
San. Pemuda itu dengan muka pucat menerima pedang itu. Hatinya berdebar dan pikirannya kalut. Pantas
saja suhunya tidak melawan, dan pantas saja suhunya tidak membenarkan kalau ia membalas dendam!
Memang suhunya telah rela binasa di tangan perempuan ini, bahkan agaknya disengaja mencari kematian
di tangan Si Cui Sian. Patutkah kalau ia kini membunuh wanita ini? Salahkah kalau wanita yang dirusak
hidupnya karena cacad pada mukanya dan luka pada hatinya itu mencari suhunya untuk membalas
dendam?
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku .... aku tidak biasa mempergunakan pedang ...., aku tidak tahu bagaimana harus memegang pedang
... Harap kau memberi pelajaran dulu kepadaku ...,” jawabnya ragu-ragu.
Si Cui Sian memandangnya dan tiba-tiba sepasang matanya berseri. “Kau anak baik, aku suka memberi
pelajaran kepadamu. Sebelum aku mati, aku harus turunkan kepandaianku kepadamu dulu, dan alangkah
baiknya kalau ilmu pedangku Pat-kwa Kiam-hoat ini dijodohkan dengan ilmu cambuk Im-yang!”
Tiong San merasa girang sekali dan segera menjatuhkan diri berlutut di depan wanita tua itu. “Terima
kasih, subo!” Mendengar sebutan “subo” atau nyonya guru ini, Si Cui Sian merasa gembira sekali karena ia
merasa seakan-akan ia menjadi isteri Thian-te Lo-mo.
“Bagus, anakku, bagus! Kau sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi. Dalam setengah tahun saja semua
dasar ilmu pedang Pat-kwa Kiam-hoat akan dapat kau pahami.”
Demikianlah, semenjak hari itu, di guha mendiang suhunya, kembali Tiong San mendapat gemblengan dari
seorang berilmu tinggi. Dan oleh karena wanita itu tidak bertabiat aneh seperti suhunya, maka lambat laun
kembalilah sifat sopan-santun Tiong San.
Sungguhpun kesukaannya memaki orang dengan sebutan gila masih selalu menempel pada bibirnya.
Benar sebagaimana ucapan Si Cui Sian, dalam waktu enam bulan ia telah dapat mempelajari Pat-kwa
Kiam-hoat sampai tamat dan dapat memainkan pedang gurunya itu dengan mahir.
“Tiong San,” kata gurunya setelah permainan pedangnya cukup baik. “Sekarang kau pergilah turun gunung
dan pergunakan segala kepandaianmu untuk kebaikan. Kalau kau dapat menggabungkan dua ilmu itu,
yakni ilmu cambuk Im-yang dan ilmu pedang Pat-kwa, kau akan menjadi lebih lihai dari pada mendiang
Thian-te Lo-mo atau aku sendiri! Kau bawa pedang ini, kuhadiahkan kepadamu karena tidak berguna lagi
untukku. Aku mau bertapa di sini menanti datangnya Thian-te Lo-mo yang tentu akan menjemputku tak
lama lagi!”
Tiong San berlutut menghaturkan terima kasih dengan hati amat terharu, karena tak disangkanya sama
sekali bahwa pertemuannya dengan wanita tua yang tadinya dianggap musuh itu dapat mendatangkan
keuntungan besar bagi dirinya. Semenjak Si Cui Sian menceritakan riwayatnya, Tiong San telah berubah
pandangannya terhadap wanita tua itu.
Ia merasa kagum dan juga kasihan sekali akan nasib wanita itu yang sebetulnya sampai sekarang pun
masih amat mencintai Thian-te Lo-mo dengan setia! Ia teringat akan pengalamannya sendiri. Alangkah
jauh bedanya wanita tua yang kini juga menjadi gurunya itu dengan wanita-wanita yang pernah
dijumpainya.
Ia teringat akan Siu Eng, wanita cantik yang gagah itu. Gadis inipun menaruh dendam sakit hati
kepadanya, tetapi persoalannya jauh berbeda dengan sakit hati Si Cui Sian terhadap Thian-te Lo-mo. Siu
Eng bukanlah seorang wanita baik-baik, bersifat cabul dan berhati kejam.
Ia teringat pula kepada Liong Bwee Ji puteri jago silat Liong Ki Lok, juga teringat kepada Ciu Leng Hwa,
puteri Ciu-wangwe, akan tetapi semua itu hanya terbayang samar-samar saja dan ia hampir lupa kepada
wajah gadis-gadis itu. Akan tetapi, ketika ia teringat kepada Gan Siang Cu, diam-diam ia berdebar dan
menarik napas panjang. Kasihan gadis itu, pikirnya dan ia merasa betapa ia telah berlaku kejam kepada
gadis itu.
Gadis patut dikagumi, berhati mulia sehingga suka menolong Thian-te Lo-mo ketika terluka, memegang
teguh kesucian sehingga ia berlaku nekat dan menolak ketika hendak dipaksa menjadi bini muda seorang
pangeran, dan berhati tabah sekali sehingga dengan berani ia hendak membunuh diri di depan makam
Thian-te Lo-mo ketika tidak ada jalan lain baginya. Juga gadis itu cerdik sekali, dan diam-diam Tiong San
merasa geli hatinya kalau ia teringat betapa gadis pelayan istana yang biasanya hidup mewah dan yang
bersikap lemah lembut dan halus itu menyamar sebagai petani!
Di manakah adanya Siang Cu? Demikian Tiong San berpikir sambil melanjutkan perjalanannya sambil
menuruni bukit Tai-san. Kalau ada kesempatan bertemu, aku harus minta maaf kepadanya atas segala
perlakuanku yang kasar-kasar dulu, pikirnya. Akan tetapi di manakah ia dapat bertemu dengan gadis yang
tak diketahui asal-usul dan tempat tinggalnya itu?
dunia-kangouw.blogspot.com
Ketika ia sedang berjalan sambil melamun, tiba-tiba ia mendengar suara kambing mengembek ramai di
pinggir jalan. Ia menengok dan melihat betapa seekor kambing betina sedang mengembek-embek dan
berjalan memutari sebuah lubang di dalam tanah dengan kebingungan. Dari dalam lubang terdengar suara
embek kambing kecil yang lemah seperti bunyi anak menangis.
Beberapa kali induk kambing itu mencoba untuk masuk ke dalam lubang, tetapi tak dapat, dan jelas sekali
nampak betapa ia hendak berusaha sedapatnya untuk menolong kambing kecil, tetapi ia tidak berdaya
sehingga ia menjadi bingung sekali, suaranya terdengar oleh Tiong San seperti orang minta tolong, maka
ia menjadi kasihan dan menghampiri, lalu mengeluarkan kambing kecil itu dari dalam lubang.
Induk kambing merasa girang sekali, lalu menghampiri anaknya dan menjilat-jilat dengan lidahnya,
sedangkan si kecil itu lalu menekuk kedua kaki depannya seperti berlutut dan minum air tetek ibunya
dengan lahapnya. Agaknya sudah lama ia terjerumus ke dalam lubang itu dan perutnya menjadi amat
lapar.
Melihat pemandangan ini, tiba-tiba Tiong San merasa betapa hatinya seperti diremas dan tanpa
disadarinya, dua titik air matanya melompat keluar dari pelupuk matanya. Pemandangan yang nampak di
depannya itu mengingatkan ia akan ibunya sendiri! Melihat kasih sayang sedemikian besar dan mesranya
dari induk kambing kepada anaknya, dan melihat betapa ketika hendak menetek, kambing kecil itu
menekuk kaki depan seakan-akan berlutut, lambang dari kebaktian anak terhadap ibunya.
Hati Tiong San menjadi amat terharu. Telah hampir lima tahun ia meninggalkan ibunya dan seakan-akan
terlupa kepada orang tua itu. Kini hatinya penuh kerinduan kepada ibunya. Rindu sekali untuk melihat
wajah ibunya yang sabar dan agung itu, untuk mendengar suaranya yang halus penuh kasih sayang dan
untuk merasai belaian tangannya yang mencinta.
“Ibu ...,” hati Tiong San berbisik dan segera ia berlari cepat dari tempat itu. Keinginan satu-satunya pada
saat itu hanya untuk pulang ke kampungnya dan untuk bertemu ibunya. Ia melakukan perjalanan secepat
mungkin agar lebih cepat tiba di kampung Kui-ma-chung, kampung kelahirannya dan di mana ibunya kini
berada.
Ia membayangkan dengan gembira betapa kini keadaan ibunya sudah senang dan cukup, tak perlu
membanting tulang, menyulam dan menenun sampai jauh malam untuk mendapatkan nafkah, karena
bukankah ia dulu telah mengirimi uang sepuluh ribu tail perak yang didapatnya sebagai “emas kawin” dari
pangeran Lu Goan Ong?
Mengingat hal ini, tak dapat tidak ia terkenang pula kepada Khu Sin dan Thio Swie sehingga
kegembiraannya makin meluap. Ia akan bertemu dengan ibunya, dengan Khu Sin dan Thio Swie yang kini
tentu telah menjadi pembesar! Alangkah senangnya dapat bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka.
Kegembiraan ini membuat Tiong San makin tergesa-gesa untuk segera sampai di kampungnya dan ia
melakukan perjalanan siang malam, tidak pernah ditundanya, kecuali terjadi hal yang amat penting.
Dan ketika ia tiba di kampung Kui-ma-chung, hatinya berdebar keras karena terlalu amat girang dan
terharunya. Ia segera menuju ke rumah ibunya. Dari jauh sudah tampak rumah ibunya dan ia merasa amat
heran. Mengapa rumah ibunya masih tua dan buruk seperti dulu? Bukankah ia sudah mengirim uang
sebanyak sepuluh ribu tail perak? Apakah ibunya belum menerima uang itu? Bermacam-macam
pertanyaan timbul di dalam pikirannya.
Ia mempercepat larinya untuk segera bertemu dengan ibunya dan memecahkan semua teka-teki yang
membuatnya terheran-heran itu. Tiba-tiba ia tertegun karena timbul pikiran baru. Mungkin ibunya sudah
berpindah rumah! Siapa tahu? Dengan uang sebanyak itu, mungkin sekali ibunya mendiami rumah baru
dan rumah lama ini dijualnya kepada orang lain!
Pikiran baru ini membuat ia berlari lebih cepat lagi dan sebentar saja ia telah berada di depan pintu rumah
itu. Kebetulan sekali pada saat itu seorang wanita tua keluar dari rumah dengan tindakan yang tenang dan
perlahan. Wanita itu melihat Tiong San, berdiri diam dan tiba-tiba, memandang dengan mata terbelalak, tak
bergerak bagai patung.
“Ibu ....!!” Tiong San bersorak gembira karena ternyata bahwa wanita itu memang benar ibunya. Ia
menubruk maju dan menjatuhkan diri berlutut, tak kuasa menahan mengucurnya air mata.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Tiong San .....! Kau ....? Kau .... sudah kembali ....? Tiong San .....!” Sambil memeluk anaknya yang telah
diangkatnya berdiri itu, nyonya janda Lie menangis. Berkali-kali ia memandang wajah puteranya dan
mendekapkan kepala anaknya itu ke dadanya dengan hati penuh bahagia dan terharu.
“Ibu, ampunkan aku, anakmu yang tidak berbakti .....” Tiong San berkata.
Ibunya tak dapat berkata apa-apa, hanya memeluknya makin erat seakan-akan khawatir kalau-kalau
puteranya akan pergi lagi, pergi jauh tak tentu tempat tinggalnya.
Pada saat itu, terdengar langkah kaki ringan dari dalam rumah.
“Tiong San, anakku. Lihatlah, dia ini adalah seorang berhati mulia yang selama ini menemani ibumu dan
menjadi penghibur besar dari kedukaan karena kehilangan kau,” kata nyonya itu dengan suara gembira,
memperkenalkan.
Tiong San mengangkat kepala memandang dan hampir saja ia berteriak. Ia memandang dengan
keheranan kepada seorang gadis yang berpakaian sederhana, seorang gadis yang manis sekali dalam
pandangan matanya, gadis yang selama ini seringkali muncul dalam pikirannya. Dan gadis itu
memandangnya dengan mata sayu, dengan senyum simpul setengah mengejek pada bibirnya. Kemudian
gadis itu menjura perlahan sebagai penghormatan kepadanya. Gadis ini bukan lain ialah Gan Siang Cu!
Bagaimana Siang Cu, pelayan istana itu sampai bisa berada di rumah ibu Tiong San dan tinggal bersama
orang tua itu? Marilah kita ikuti pengalamannya semenjak ia berpisah dengan Tiong San di dalam hutan itu.
********************
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Gan Siang Cu, gadis pelayan istana yang ditolong oleh
Thian-te Lo-mo, kemudian ditolong pula oleh Tiong San yang membawanya keluar kota raja, telah
menyamar sebagai seorang petani muda, dengan pakaian hasil curian Tiong San yang sengaja dikotorkan
dengan tanah lempung dan telah memotong rambutnya menjadi pendek. Kemudian gadis itu lalu
meninggalkan Tiong San dan kembali ke kota raja.
Berkat penyamarannya, dengan mudah ia dapat melalui pintu gerbang kota raja tanpa menimbulkan
banyak curiga. Gadis ini teringat akan pesan mendiang Thian-te Lo-mo bahwa kalau ia berhasil keluar, ia
dapat minta tolong kepada pemilik rumah penginapan Thian-an-kwan yang menjadi paman seorang
pemuda bernama Khu Sin.
Setelah tiba di Thian-an-kwan dan menuturkan bahwa ia adalah kenalan baik Thio Swie, Khu Sin dan
Tiong San, benar saja paman Khu Sin itu segera menyambutnya dengan ramah tamah sekali. Tanpa
membuka rahasianya, Siang Cu lalu menyatakan bahwa karena sesuatu sebab, ia terpaksa melarikan diri
dari kota raja dan minta tolong kepada paman Khu Sin itu untuk membelikan seekor kuda yang baik dan
menanyakan pula di mana tempat tinggal Khu Sin. Ia menyatakan bahwa sudah lama ia tidak bertemu
dengan Khu Sin sehingga tidak tahu di mana sekarang tinggalnya pemuda itu.
Ia mengeluarkan sebuah dari pada perhiasannya yang terbuat dari emas untuk digunakan sebagai pembeli
kuda, dan mendapat keterangan yang jelas tentang keadaan Khu Sin yang telah menjadi wedana dari kota
Bun-an-kwan. Setelah menghaturkan terima kasihnya, Siang Cu lalu naik kuda itu dan terus menuju ke
kota Bun-an-kwan.
Setelah tiba di kota ini, ia menghadap kepada wedana kota yang bukan lain adalah Khu Sin sendiri. Ia
dibawa menghadap kepada Khu Sin yang merasa amat heran yang mendengar dari penjaganya bahwa
seorang sahabat dari kota raja hendak bertemu. Lebih-lebih herannya ketika melihat bahwa tamunya
adalah seorang petani muda yang berpakaian kotor.
Akan tetapi, Khu Sin berbeda dengan pembesar-pembesar lain sehingga belum lama ia menjadi wedana
kota, ia amat disukai oleh penduduk di situ. Kini ia menerima tamunya dengan ramah tamah dan setelah
tamunya dipersilahkan duduk, ia bertanya,
“Siapakah saudara dan datang dari mana? Mengapa saudara mengaku menjadi sahabatku sedangkan
sepanjang ingatanku, aku belum pernah bertemu dengan kau?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan ketenangan yang amat mengagumkan, Siang Cu menjawab dengan pertanyaan pula. “Taijin,
bukankah kau bernama Khu Sin dan berasal dari kampung Kui-ma-chung?”
Khu Sin memandang heran. “Benar,” jawabnya.
“Dan kenalkah kau kepada dua orang muda bernama Thio Swie dan Tiong San?”
“Tentu saja! Mereka adalah kawan-kawan baikku. Thio Swie berada di kota tak jauh dari sini menjabat
pangkatnya, sedangkan Tiong San ... eh, kau siapakah dan mengapa kau mengajukan pertanyaan itu?
Apakah kau diutus oleh seorang di antara mereka?”
Siang Cu menggelengkan kepalanya. “Kalau taijin kenal kepada Tiong San, tentu tahu pula bahwa dia
adalah Shan-tung Koai-hiap.”
“Ya, ya, aku tahu sampai habis hal itu. Katakanlah, apa keperluanmu menjumpaiku?”
Untuk mendapat kepastian, Siang Cu melanjutkan, “Dan kenalkah taijin kepada Thian-te Lo-mo?”
“Kakek gila itu? Kenal betul, tidak, tetapi aku tahu bahwa dia adalah guru dari Tiong San!”
“Taijin, terus terang saja kedatanganku ini adalah atas petunjuk Thian-te Lo-mo dan kakek itu menyatakan
bahwa di dalam kesukaran yang kuhadapi, aku dapat minta pertolongan kepada kawan-kawan muridnya,
yakni kepada orang-orang muda bernama Khu Sin dan Thio Swie, dan juga kepada Tiong San. Oleh
karena ternyata bahwa Shan-tung Koai-hiap Lie Tiong San tidak mau menolongku, maka dari kota raja aku
langsung mencari taijin untuk mohon perlindungan.”
Khu Sin merasa terkejut dan heran sekali. “Apakah kau bertemu dengan Tiong San? Di mana? Bagaimana
keadaannya? Dan mengapa ia tidak mau menolongmu? Dia adalah seorang berhati mulia, semuliamulianya
orang!”
Dihujani pertanyaan ini dan melihat sikap Khu Sin yang amat ramah tamah dan baik, Siang Cu tersenyum
dan heranlah Khu Sin melihat gigi yang putih dan rata itu. Terlampau bagus untuk menjadi gigi seorang
petani muda biasa!
“Khu-taijin, bukan saja aku telah bertemu dengan Shan-tung Koai-hiap, bahkan sudah bercekcok dengan
dia!”
“Apa? Kau bercekcok dengan Tiong San? Mengapa?”
“Khu-taijin, ceritaku panjang dan sebelum aku menuturkan ceritaku ini, harap kau jawab dulu pertanyaanku.
Sudahkah kau beristeri?”
Terbelalak mata Khu Sin memandang petani muda ini. Tiong San memang ajaib betul, pikirnya.
Mempunyai guru seorang kakek gila dan sekarang kawannya ini rupa-ruoanya juga tak beres otaknya!
Akan tetapi ia terpaksa mengangguk, karena memang ia telah kawin dengan Man Kwei, bekas pelayan
pangeran Lu Goan Ong yang ditolongnya dulu.
“Kalau kau sudah kawin, baik sekali. Harap kau panggil isterimu keluar karena tidak enak sekali bagiku
untuk bercerita tentang pengalamanku di depanmu sendiri. Mana isterimu?”
Kini Khu Sin menjadi marah dan menganggap bahwa orang muda ini pasti seorang gila!
“Kau gila!” teriaknya sambil berdiri dari kursinya.
Siang Cu tertawa geli mendengar ini. “Agaknya kau dan kawanmu Shan-tung Koai-hiap itu semodel, paling
suka memaki orang gila!”
“Jangan kau main-main!” Khu Sin membentak. “Mengapa kau berani berlaku begini kurang ajar dan
menyuruh isteriku keluar? Kalau kau tidak lekas memberitahukan keperluanmu datang di sini, terpaksa aku
akan memanggil penjaga untuk mengusirmu!”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Betul-betulkah kau ingin bicara dengan aku sendiri di luar tahu isterimu?”
“Tentu saja! Dan jangan kau berlancang mulut membawa-bawa nama isteriku!”
“Bagaimana kalau isterimu mengetahui bahwa suaminya sedang mendengarkan penuturan seorang wanita
muda? Apakah dia akan senang hati?”
Kini Khu Sin melompat bagaikan diserang ular dari bawah.
“Apa katamu? Kau .... kau .....”
Siang Cu berdiri dan menjura, kini bersikap biasa sebagai seorang wanita sungguhpun tampak lucu dalam
pakaiannya sebagai petani laki-laki itu. “Aku memang seorang wanita, Khu-taijin. Namaku Gan Siang Cu,
bekas pelayan istana kaisar.”
Bukan main terkejutnya hati Khu Sin mendengar ini dan ketika sekali lagi Siang Cu tersenyum manis, ia
tidak ragu-ragu lagi. Pantas saja bentuk bibirnya demikian manis dan giginya demikian bagus.
“Mari, mari masuk saja ke dalam rumah ....” katanya gagap dan karena lupa hampir saja ia memegang
tangan tamunya untuk ditarik ke dalam, tetapi ketika tangannya menyentuh kulit tangan yang halus itu, ia
segera melepaskannya seperti menyentuh api panas.
“Maaf, saudara .... eh, nona ....., aku ....., aku bingung sekali!” katanya sambil mempersilahkan Siang Cu
masuk ke dalam ruang dalam. Khu Sin lalu berlari-lari memberi tahu kepada isterinya yang segera keluar.
Begitu melihat Man Kwei, Siang Cu memandang dan berkata,
“Kalau tidak salah, cici dulu bekerja di gedung pangeran Lu Goan Ong, betulkah?”
Sebagai seorang pelayan istana yang cukup ternama di antara semua pelayan-pelayan, Siang Cu tentu
saja pernah dilihat dan dikenal oleh Man Kwei yang mengaguminya. Tetapi dalam keadaan yang demikian,
tentu saja ia tidak mengenalnya. Siang Cu lalu membuka topinya dan rambutnya yang telah dipotongnya
itu nampak lucu sekali.
“Cici, lupakah kau kepada Siang Cu?”
Man Kwei membelalakkan matanya. “Apa? Kau .... Siang Cu?” dengan herannya ia mendekati dan
memandang lebih teliti lagi. Kemudian sambil tertawa ia memeluk Siang Cu.
“Benar, benar! Kau adalah Siang Cu, tetapi mengapa kau menjadi begini?”
Siang Cu menarik napas panjang dan sebelum ia mulai menuturkan pengalamannya, Man Kwei
mencegahnya dan membawanya ke dalam untuk mandi dan bertukar pakaian. Setelah ia muncul lagi, ia
telah menjadi seorang gadis cantik, dan ia lalu menuturkan seluruh pengalamannya semenjak
pertemuannya dengan Thian-te Lo-mo sampai perpisahannya dengan Tiong San di dalam hutan.
Setelah Siang Cu menuturkan pengalamannya, Khu Sin dan isterinya menjadi sangat terharu.
“Akan tetapi,” kata Khu Sin, “Di manakah adanya Tiong San sekarang? Mengapa dia tidak mau pulang?”
Hati Khu Sin selalu merasa khawatir semenjak ia mendengar betapa Tiong San telah mempermainkan
pangeran Lu Goan Ong dan Siu Eng.
“Siapa tahu?” jawab Siang Cu mengangkat pundak.
“Tapi mengapa dia tidak mau menolongmu? Bukankah ia sudah menolongmu keluar dari istana dan kota
raja? Mengapa tidak mau melanjutkan pertolongannya dan meninggalkanmu di dalam hutan?”
Siang Cu tak dapat menjawab dan menundukkan mukanya. Ketika Man Kwei membantu suaminya
mendesaknya, ia menjawab, “Mengapa ia tidak mau menolong? Kukira karena ...., karena aku seorang
perempuan!”
“Ha?!?” seru Khu Sin terheran-heran.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Dia memang pembenci perempuan,” kata Siang Cu pula dengan cemberut. Man Kwei lebih mengerti
perasaan wanita, maka ia mengejapkan matanya kepada suaminya sehingga Khu Sin tidak membuka
mulut lagi.
Kemudian Siang Cu bertanya tentang pengalaman mereka dan Khu Sin lalu menceritakan seluruh
pengalamannya. Menurut penuturan Khu Sin, ternyata bahwa ia dan Thio Swie telah kembali ke kampung
Kui-ma-chung dengan selamat, membawa pangkat dan uang sepuluh ribu tail perak untuk ibu Tiong San.
Akan tetapi, nyonya janda Lie, ibu Tiong San, ketika mendengar dari kedua pemuda itu tentang puteranya
yang kini telah menjadi seorang pendekar sakti dan uang sepuluh ribu tail perak itu adalah “emas kawin”
dari pangeran Lu Goan Ong, menjadi marah-marah.
“Tiong San menjual dirinya, kawin dengan gadis macam itu dan menerima emas kawin yang dikirimkan
kepadaku? Ah, kalau ia menganggap ibunya mata duitan seperti itu, dia benar-benar gila! Aku tidak sudi
menerima uang ini!” Kemudian ia menangis sedih. Terpaksa Khu Sin dan Thio Swie membawa dan
menyimpan uang itu karena ibu Tiong San berkeras tidak mau menerimanya.
Ketika Khu Sin dan Thio Swie mendengar tentang Tiong San yang mempermainkan Siu Eng dan pangeran
Lu Goan Ong, mereka menjadi girang dan geli sekali. Terutama Thio Swie yang tadinya merasa tidak puas
dan mendongkol mendengar bahwa Tiong San hendak kawin dengan Siu Eng, tertawa terpingkal-pingkal
sampai keluar air matanya.
“Bagus, bagus, Tiong San! Kau benar-benar sahabat karibku!” serunya sambil menepuk-nepuk bahu Khu
Sin dengan girangnya. “Aha, Khu Sin, ingin benar aku melihat muka Siu Eng dan mengejeknya!”
Mereka segera memberitahukan hal itu kepada ibu Tiong San yang juga menjadi gembira, tetapi ia segera
berkata dengan wajah bersungguh-sungguh kepada Khu Sin dan Thio Swie,
“Uang sepuluh ribu tail perak itu harap hari ini juga kalian kirimkan kembali kepada pangeran Lu Goan Ong!
Uang itu adalah hasil penipuan puteraku dan kita tidak berhak memakainya sepeserpun!”
Khu Sin dan Thio Swie tidak berani membantah dan segera mengirimkan kembali uang itu disertai surat
mereka yang menyatakan bahwa ibu Tiong San tidak mau menerimanya bahkan mohon banyak maaf
untuk kekurang ajaran puteranya. Tak lupa kedua orang muda ini menyampaikan terima kasih atas kurnia
yang diberikan kepada mereka.
Kalau pangeran Lu Goan Ong tadinya merasa mendongkol dan gemas sekali karena telah ditipu Tiong
San, kini hatinya menjadi luluh menghadapi kemuliaan budi yang diperlihatkan oleh ibu pemuda itu. Maka
iapun lalu memberi laporan yang amat baik kepada atasan untuk Khu Sin dan Thio Swie sehingga
kedudukan kedua pembesar baru itu makin menjadi kuat.
Demikianlah penuturan Khu Sin kepada Siang Cu dan tiba-tiba gadis ini berkata dengan wajah berseri dan
suara gemetar,
“Alangkah mulia hati nyonya Lie itu. Dalam keadaan miskin ia berani menolak uang sebesar itu. Sungguh
jarang terdapat di dunia ini ......”
Malam harinya ia bercakap-cakap berdua di dalam kamar dengan Man Kwei yang secara berterus terang
menyerangnya dengan perkataan halus.
“Adik Siang Cu, kau mencinta Tiong San, bukan?”
Siang Cu tersenyum dan mukanya menjadi merah. “Dia adalah penolongku dan aku berhutang budi dan
nyawa kepadanya. Tanpa pertolongan dia dan suhunya, sudah lama aku tentu tewas. Akan tetapi ....
siapakah berani mencinta seorang pembenci perempuan seperti dia?” Ia menarik napas panjang, lalu
berkata sambil memegang tangan Man Kwei.
“Cici yang baik, tak mungkin aku dapat membalas budi Shan-tung Koai-hiap, karena ia pembenci wanita.
Juga tak mungkin aku dapat membalas budi Thian-te Lo-mo karena orang tua itu telah meninggal dunia.
Akan tetapi ketika tadi aku mendengar tentang nyonya janda Lie, ibu Shan-tung Koai-hiap, hatiku amat
kagum dan tertarik. Ia seorang nyonya berhati mulia yang hidup seorang diri, ditinggalkan oleh puteranya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Akupun seorang diri pula. Biarlah aku membalas budi Shan-tung Koai-hiap kepada ibunya saja. Cici yang
baik, kuharap kau dan suamimu sudi menolongku, menjadi perantara agar supaya nyonya itu suka
menerimaku membantu dan mengawaninya.”
Ketika Khu Sin diberi tahu oleh isterinya tentang maksud Siang Cu yang hendak tinggal di rumah ibu Tiong
San dan membantu nyonya tua itu, ia merasa setuju sekali. Maka beberapa hari kemudian, Khu Sin
beserta isterinya mengantarkan Siang Cu ke dusun Kui-ma-chung, ke rumah nyonya janda Lie.
Bab-17 : Tuduhan Yang Menyakitkan
NYONYA itu menyambut mereka dengan ramah-tamah dan sebentar saja Siang Cu telah merasa suka
sekali kepadanya. Juga nyonya Lie merasa suka kepada Siang Cu yang pandai membawa diri. Setidaknya,
nyonya Lie adalah bekas isteri seorang pembesar, maka melihat sikap dan gerak-gerik Siang Cu yang
sopan-santun dan tahu bagaimana harus bersikap terhadapnya, ia merasa suka sekali.
Apalagi ketika Man Kwei menuturkan betapa gadis itu adalah seorang yatim-piatu yang lari dari istana
kaisar karena hendak dipaksa menjadi bini muda pangeran, nyonya itu merasa kasihan sekali dan ia
menerima dengan tangan dan hati terbuka ketika gadis itu minta supaya ia suka menerimanya di rumah itu.
“Aku girang sekali kalau kau sudi tinggal di rumah gubuk dan hidup dengan sederhana dan miskin di sini.
Aku memang amat kesepian dan seorang seperti kau akan merupakan penghibur dan kawan yang amat
menyenangkan hatiku,” katanya.
Demikianlah, mulai hari itu, setelah Khu Sin dan isterinya kembali ke kota, Siang Cu tinggal berdua dengan
nyonya Lie dan ketika melihat bahwa nyonya tua itu mendapatkan nafkahnya dengan menghasilkan
pekerjaan sulam dan tenun, Siang Cu segera turun tangan membantu. Dia memang terkenal sebagai ahli
pekerjaan tangan yang halus-halus, maka setelah ia berada di situ, hasil pekerjaan sulam dari nyonya Lie
makin indah dan banyak disukai orang sehingga pesanan datang semakin banyak.
Bahkan para hartawan dan bangsawan dari luar kota pada memesan barang-barang sulaman kepada
nyonya itu sehingga biarpun mereka hanya hidup berdua, namun mereka merasa sibuk setiap hari dan
cukup gembira. Dengan adanya Siang Cu, nyonya Lie merasa terhibur sekali dan makin lama ia merasa
makin suka kepada gadis itu.
Dalam percakapan-percakapan mereka, akhirnya Siang Cu menceritakan juga tentang pengalamannya
dan menceritakan pula bahwa ia pernah ditolong oleh putera nyonya itu yang kini berjuluk Shan-tung Koaihiap.
Tentu saja nyonya Lie merasa girang sekali mendengar ini, tetapi sambil menghela napas ia berkata,
“Tak kusangka bahwa Tiong San yang dulu kuharap-harapkan untuk menjadi seorang pembesar seperti
ayahnya, ternyata kini berubah menjadi seorang pendekar. Dan yang paling membuat aku menyesal
adalah mengapa ia tidak lekas-lekas pulang. Ah, kalau saja ia berada di sini dan kita bertiga tinggal
bersama seperti ini ..... aku akan merasa bahagia dan puas! Dengan adanya kau dan dia di dekatku setiap
hari, usiaku akan lebih panjang dan hatiku selalu akan merasa senang ....”
Mendengar ucapan ini, dada Siang Cu berdebar dan ia menundukkan mukanya yang menjadi merah.
Berbulan-bulan gadis itu tinggal di rumah itu dan kini ia telah menganggap nyonya Lie sebagai ibu sendiri
yang dihormati dan dikasihinya. Sebaliknya nyonya itupun amat cinta kepadanya.
Pernah nyonya Lie menderita sakit panas, dan siang malam Siang Cu menjaga dan merawatnya dengan
penuh kesabaran, telaten, dan penuh perhatian. Gadis ini sampai lupa makan dan lupa tidur, demikian
prihatin ia menjaga dan merawat nyonya itu sampai hampir dua pekan lamanya, sehingga nyonya tua itu
merasa amat bersyukur dan berterima kasih.
Setelah ia sembuh, rasa kasihnya kepada Siang Cu makin tebal. Diam-diam ia mengharapkan kembalinya
Tiong San dan ia telah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa kalau anaknya itu datang, ia akan
menjodohkan Tiong San dengan Siang Cu.
Demikianlah adanya pengalaman Siang Cu semenjak ia berpisah dari Tiong San di dalam hutan beberapa
bulan yang lalu sampai ia tinggal di dalam rumah ibu Tiong San dan pada hari itu tak tersangka-sangka
Tiong San muncul di depan pintu!
dunia-kangouw.blogspot.com
********************
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tiong San menjadi terkejut dan heran sekali ketika tiba-tiba
melihat Siang Cu berada di depannya. Bagaimana gadis ini bisa berada di dalam rumahnya dan tinggal
bersama ibunya?
“Kau ....?” katanya perlahan tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah gadis itu.
“Ya, inkong (tuan penolong). Aku Gan Siang Cu yang dulu telah kau tolong. Apakah selama ini kau baikbaik
saja?” jawab Siang Cu tanpa berani mengangkat muka.
Kegembiraan yang meluap-luap di dalam hati nyonya Lie membuat nyonya itu tersenyum-senyum di dalam
tangisnya, dan melihat kedua orang muda itu, niat yang terkandung di dalam hatinya untuk menjodohkan
mereka, mendesak hebat dan tak dapat ditahannya pula, maka ia lalu berkata dengan suara girang sekali,
“Tiong San! Siang Cu! Saat yang amat baik ini memaksa aku memberitahukan niatku yang semenjak lama
terkandung di dalam hatiku. Aku bermaksud menjodohkan kalian sebagai suami isteri!” sambil berkata
demikian ia memandang kepada mereka berganti-ganti dengan mata berseri.
Siang Cu mendengar ucapan ini dan tiba-tiba air matanya turun menitik dan mukanya menjadi merah
sekali. Ia makin menundukkan kepalanya dengan perasaan yang luar biasa malu dan bahagianya!
Sedangkan Tiong San merasa seakan-akan jantung di dalam hatinya berloncat-loncatan, tetapi tiba-tiba ia
mengerutkan dahinya dan memandang kepada ibunya. Mulutnya tak dapat ditahan lagi berseru,
“Ibu, kau gi ....” untung ia masih dapat menahan lidahnya yang hampir saja menyebut “gila” sebagai
kebiasaannya! Kemudian ia menoleh kepada Siang Cu yang masih menundukkan kepalanya. Ia ingin
menahan mulutnya, tetapi bisikan di dalam hatinya yang mendorong-dorongnya, membuat ia bicara seperti
tanpa disadarinya.
“Bagus sekali! Kau benar-benar seorang yang tak tahu malu!”
Nyonya Lie menjadi terkejut dan memandang kepada puteranya dengan mata terbelalak dan berseru,
“Tiong San, tutup mulutmu!” sedangkan air mata yang tadi menitik turun dari pelupuk mata Siang Cu
karena merasa bahagia, kini disusul oleh air mata yang membanjir karena perasaan duka dan sakit hati.
Tetapi gadis itu tetap menundukkan mukanya.
Tiong San seakan-akan sudah kemasukan iblis dan mulutnya tanpa dapat dikendalikan lagi melanjutkan
tuduhan-tuduhannya yang keji.
“Di luar tahuku kau telah menjalankan siasat yang licin dan jahat. Seperti perempuan-perempuan jahat lain
yang telah kujumpai, kau pun merupakan seekor ular yang berbisa dan berbahaya. Apakah kau kira aku
tidak tahu akan akalmu ini? Kau tak berhasil mendekatiku, maka kau sengaja mencari ibuku untuk
memperlihatkan sikapmu yang halus, sopan-santun, untuk memikat hatinya sehingga ibu benar-benar
masuk perangkap! Bagus sekali!”
Siang Cu tiba-tiba mengangkat mukanya dan sinar matanya yang halus itu memandang Tiong San.
Pemuda ini tiba-tiba menjadi pucat dan insyaf akan kekejian ucapannya. Ia merasa betapa sinar mata yang
lembut itu laksana pedang tajam menembus matanya dan langsung menusuk hatinya.
Dengan pekik memilukan Siang Cu berlari keluar sambil mengeluh, “Baiklah .... aku yang jahat, yang hinadina
.... biarlah aku pergi dari sini .... agar jangan mengganggumu ....”
“Siang Cu ....!” nyonya Lie melangkah maju untuk mencegah gadis itu lari pergi, akan tetapi tanpa menoleh
Siang Cu berlari keluar dan terus lari terhuyung-huyung ke depan.
Bagaikan seekor harimau betina yang dirampas anaknya, nyonya Lie berdiri tegak, memutar tubuh
menghadapi puteranya. Mukanya pucat, air matanya mengalir turun sepanjang pipinya dan suaranya
terdengar gemetar penuh perasaan marah ketika ia berkata,
dunia-kangouw.blogspot.com
“Anak durhaka ....! Untuk apa kau pulang?? Kau sudah berobah menjadi orang kasar, menjadi orang
biadab! Apakah kau pulang hanya untuk menyakiti hati ibumu?”
Tiong San terkejut sekali. Ibu ....” ia berseru.
“Kau ....” kata ibunya pula sambil menuding mukanya dengan telunjuknya, “Kau telah melakukan penipuan,
kau telah memeras pangeran Lu Goan Ong dan menipu uangnya sepuluh ribu tail perak! Dengan
perbuatanmu itu saja, kau sudah membuat ibumu berkurang usianya. Biarpun aku sudah mengembalikan
uang itu kepada pangeran Lu, aku masih saja selalu berduka memikirkan betapa puteraku telah menjadi
demikian jahat. Kemudian kedatangan Siang Cu membuat kedukaanku terhibur .... tetapi ... kini kau datang
menghinanya dengan kata-kata keji ....! Kau anak durhaka, anak puthauw (tak berbakti) ... Kau ..... kau
pergilah dari sini!” jari telunjuknya kini menuding ke arah pintu. “Pergi dari sini ....! Minggat kau dan jangan
kembali lagi .....!”
Tiong San menjadi pucat dan tubuhnya menggigil. Sambil menangis ia menjatuhkan dirinya memeluk kaki
ibunya. “Ibu ...... ibu ..... jangan kau usir aku, ibu ....” Ia menangis seperti anak kecil dengan hati hancur.
Melihat keadaan Tiong San, kemarahan yang telah memuncak di dalam hati ibu itu menjadi luluh. Hampir
saja nyonya Lie mendekap puteranya, tetapi ia pertahankan perasaan hatinya dan berkata sebagai sebuah
keputusan tetap,
“Keluarlah dan kau harus berusaha agar Siang Cu suka kembali ke sini! Kalau kau tidak kembali bersama
Siang Cu, aku takkan menerimamu, takkan mengaku anak kepadamu, tahu??”
Mendengar ini, Tiong San lalu melompat keluar dengan cepat sekali dan berlari mengejar Siang Cu yang
sudah tak tampak lagi. Ia mencari-cari dan akhirnya melihat tubuh gadis itu masih bergerak maju dengan
kaki lemah dan tubuh terhuyung-huyung ke depan. Ia mengejar cepat dan memanggil,
“Nona Gan ....., berhentilah .......!”
Akan tetapi telinga Siang Cu seakan-akan tuli dan tidak mendengar panggilan ini, terus saja berlari maju.
Ketika Tiong San dapat menyusulnya, pemuda ini melihat betapa gadis itu berlari sambil menangis terisakisak
Ia melompat melewati gadis itu dan berdiri menghadang di depannya.
Siang Cu memandangnya dengan muka pucat dan menahan kakinya. Napasnya terengah-engah dan
mukanya pucat sekali seperti mayat. Melihat Tiong San menghadang di depannya, ia memandang dari
balik air matanya.
“Mengapa .... mengapa kau mengejarku? Apakah perlunya kau menghadang orang hina-dina seperti aku
....?” katanya dengan suara terputus-putus.
“Aku minta kau kembali kepada ibuku!” kata Tiong San dengan suara kaku.
“Tidak! Kau minggir dan jangan menghalangi perjalananku!” jawab Siang Cu menahan tangisnya dan
melangkah maju lagi.
“Nona Gan ....., kau ..... kuharap, kau suka kembali ....” kata Tiong San lagi dengan suara lebih halus.
“Tidak, tidak!” Siang Cu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Untuk apa aku kembali? Untuk memikat hati
ibumu? Untuk memasang perangkap sehingga ibumu akan masuk ke dalamnya? Tidak ....!” Sambil
menangis terisak-isak Siang Cu lalu berlari ke depan lagi, diikuti oleh Tiong San yang menjadi bingung
sekali.
Pemuda itu segera melompat mendahului dan melihat kekerasan hati Siang Cu ia menjadi kehabisan akal
dan segera ia menghadang pula. Ketika Siang Cu berhenti, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nona
itu! Tertegun juga gadis itu melihat betapa Tiong San berlutut di depannya!
“Apa ..... apa kehendakmu .....?”
“Nona Gan, kau tolonglah aku, kembalilah kepada ibu ..... Kalau tidak, ibu takkan mengaku anak lagi
kepadaku ....! Kembalilah, nona Gan .....!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Siang Cu merasa ragu-ragu dan memandang kepada kepala pemuda yang ditundukkan itu dan kepada
tubuh yang sedang berlutut di depannya. Ingin sekali ia mengangkat bangun pemuda itu karena ia merasa
tidak enak mendapat penghormatan sebesar ini, tetapi dikeraskannya hatinya dan menggeleng-gelengkan
kepalanya lagi.
“Tidak mau! Aku tidak akan kembali. Kau .... sudah sepantasnya tidak diakui anak oleh ibumu yang berhati
mulia itu. Kau .... kau tidak berjantung! Kau kejam dan keras seperti batu karang .... Kau bukan manusia!”
“Baik, baik, kau boleh memaki sesuka hatimu,” jawab Tiong San yang masih berlutut, “Asal kau suka
kembali dengan aku ke rumah ibu.”
Akan tetapi tiba-tiba isak tangis Siang Cu mengeras dan sambil berlari lagi ia mengeluh, “Kau .... kau
bodoh!”
Tiong San memandang dengan bingung dan melihat betapa gadis itu berlari-lari lagi. Ia tak berdaya lagi,
dan tak mungkin ia mempergunakan kekerasan karena hal itu tentu takkan disetujui oleh ibunya.
“Nona Gan, kalau kau tidak kasihan kepadaku, apakah kau tidak kasihan pula kepada ibuku? Ia mungkin
akan jatuh sakit karena menderita ....!”
Mendengar ini, tiba-tiba Siang Cu berhenti. Ia teringat bahwa nyonya Lie memang mempunyai jantung
yang lemah dan yang mudah sakit apabila terlampau bersedih. Ketika nyonya itu dulu jatuh sakit dan
dirawatnya, ahli pengobatan yang didatangkannya memberi nasehat agar supaya nyonya tua itu jangan
terlalu banyak bersedih. Kini, perginya ini tentu membuat nyonya itu merasa berduka dan kalau benar
seperti yang diucapkan oleh Tiong San tadi bahwa pemuda itu telah diusir oleh ibunya, tentu nyonya itu
akan menderita sekali!
Tanpa memperdulikan Tiong San yang berdiri memandangnya, Siang Cu lalu berlari kembali menuju ke
rumah nyonya Lie. Pemuda itu merasa girang sekali dan mengikuti dari belakang.
Ketika melihat nyonya Lie berdiri menanti di depan pintu rumahnya, Siang Cu sambil menangis tersedusedu
menubruk nyonya itu dan keduanya saling berpelukan sambil menangis.
“Tiong San, ayoh minta maaf kepada Siang Cu!” nyonya Lie memerintahkan anaknya.
Terpaksa Tiong San lalu menjura kepada Siang Cu dan berkata perlahan,
“Nona Gan, harap kau suka memaafkanku!”
Akan tetapi, sambil menahan isaknya gadis itu telah berlari masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya
tanpa memperdulikannya sama sekali!
“Tiong San,” kata ibunya pada puteranya, “Gadis itu dapat tinggal di sini atas perantaraan Khu Sin dan
isterinya. Ia telah membantuku bekerja, telah merawat dan menemaniku. Aku suka kepadanya dan telah
menganggap ia seperti anakku sendiri. Ketika aku sakit sampai hampir setengah bulan, bukan kau yang
merawatku! Kau pergi merantau sesuka hatimu meninggalkan ibumu yang sudah tua dan lemah dan ketika
aku sakit, Siang Culah yang menjaga dan merawatku dengan penuh perhatian. Apakah budi yang besar
dan kemuliaan hatinya itu kini patut kau balas dengan tuduhan-tuduhan keji itu? Kau benar-benar telah
mengecewakan dan membikin malu ibumu sendiri!”
Tiong San lalu berlutut kembali di depan ibunya. “Ibu, ampunilah aku, ibu. Aku mengaku salah .....”
Ibunya menarik napas panjang. “Anak bodoh, yang sudah lewat biarlah, tetapi lain kali jangan kau berlaku
sekeji itu!”
Kemudian ibunya lalu minta ia menceritakan semua pengalamannya semenjak pergi dari rumah. Tiong San
menuturkan dengan sejelas-jelasnya. Ibunya berkali-kali menghela napas dan ia menyatakan kekaguman
dan juga kasihan mendengar tentang kematian Thian-te Lo-mo yang menjadi guru anaknya.
********************
dunia-kangouw.blogspot.com
Semenjak terjadinya peristiwa itu, Siang Cu tak pernah berbicara dengan Tiong San. Keduanya samasama
merasa malu-malu kucing untuk bicara, bahkan di waktu mereka dan nyonya Lie makan bersama,
kedua orang muda itu duduk dengan kepala tunduk. Mereka tak berani saling pandang, terutama Tiong
San. Ia merasa berdosa kepada gadis itu dan makin lama makin terasalah betapa ia telah berbuat tidak
adil dan mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang benar-benar keji.
Beberapa hari kemudian, ia pamit kepada ibunya untuk pergi mengunjungi Khu Sin dan Thio Swie di
kotanya masing-masing. Pertama ia pergi ke tempat tinggal Thio Swie. Kedatangannya diterima dengan
pelukan mesra. Pemuda ini masih belum menikah karena luka di hatinya akibat perbuatan Siu Eng dulu
agaknya masih belum sembuh betul. Ketika ia mendengar dari Tiong San tentang perlakuannya terhadap
Siu Eng, Thio Swie tertawa besar dan ia merasa puas sekali. Kemudian Thio Swie lalu berkata,
“Tiong San, kau benar-benar telah membalas sakit hatiku dan aku berterima kasih kepadamu. Kaulah
sahabatku yang telah menolong dan mengangkat aku dan Khu Sin ke tempat yang tinggi, sehingga kami
berdua mendapat kedudukan dan pangkat. Tetapi, perbuatanmu terhadap Siu Eng itu menimbulkan
kekhawatiran di dalam hatiku. Aku kenal baik adat gadis itu yang amat keras dan tidak mau kalah. Setelah
menerima penghinaan dan perlakuan seperti itu, apakah dia akan tinggal diam saja? Ah, kau harus berlaku
hati-hati, kawan, siapa tahu bahwa dia akan datang melakukan pembalasan!”
Tiong San tersenyum. “Aku maklum akan hal itu dan memang akupun menduga bahwa dia tentu akan
muncul untuk membalas dendam. Akan tetapi, hal itu hanya menunjukkan bahwa dia bukan seorang baik
dan tak dapat menginsafi kesalahannya sendiri. Biarlah, kalau ia datang, aku sudah siap menyambutnya!”
Setelah bercakap-cakap dengan gembira dengan kawan lama ini dan bermalam di situ satu malam, pada
keesokkan harinya Tiong San lalu pergi mengunjungi kota tempat tinggal Khu Sin. Di sinipun ia disambut
dengan amat gembira oleh Khu Sin dan isterinya yang merasa berhutang budi besar kepadanya. Bahkan
Khu Sin tentu akan mati di ujung pedang Siu Eng kalau saja ia tidak ditolong oleh kawannya ini. Maka tentu
saja sambutan mereka amat meriah dan mesra. Khu Sin sampai mengeluarkan air mata karena girang
hatinya dapat bertemu kembali dengan Tiong San. Mereka lalu bercakap-cakap dengan gembira.
Ketika dalam percakapan ini Khu Sin beserta isterinya menceritakan tentang kedatangan Siang Cu yang
menyamar sebagai seorang petani muda, Tiong San tertawa karena geli hatinya. Akan tetapi ketika Man
Kwei menceritakan tentang percakapannya dengan Siang Cu tanpa merahasiakan sesuatu, menuturkan
betapa Siang Cu sengaja tinggal bersama nyonya Lie dalam usahanya membalas budi yang diterimanya
dari Tiong San dan Thian-te Lo-mo.
Di dalam hatinya Tiong San merasa terharu dan merasa makin besar dosanya terhadap gadis itu! Gadis
yang berhati mulia itu telah menyatakan kemuliaannya dan keluhuran budinya, tetapi begitu ia datang, ia
telah menghina dan menuduhnya yang bukan-bukan!
Di rumah Khu Sin, Tiong San bermalam sampai dua malam. Kemudian ia pamit untuk pulang. Khu Sin
yang belum merasa puas menahannya, tetapi Tiong San berkata bahwa ia telah berjanji kepada ibunya
untuk pergi tidak terlalu lama, dan khawatir kalau-kalau ibunya mengharap-harapkan kedatangannya.
Padahal sebetulnya, baru pergi empat lima hari saja pemuda itu telah merasa tidak betah dan ingin sekali
cepat-cepat kembali. Entah mengapa, seakan-akan ada sesuatu yang menarik hatinya dan ia kini merasa
suka sekali berada di rumah ibunya? Biarpun kepada hatinya sendiri, Tiong San tidak berani mengaku
bahwa sebetulnya Siang Cu lah yang menarik dia untuk lekas-lekas pulang!
Tetapi ketika ia tiba di rumah ibunya, ia disambut oleh tangis ibunya yang membuatnya amat terkejut.
“Ada apakah, ibu?” tanyanya dengan cemas.
“Siang Cu ....” kata ibunya dengan terisak-isak.
“Mengapa dia ....?” Makin gelisahlah hati Tiong San mendengar ini, mengkhawatirkan hal yang mungkin
terjadi. Sakitkah gadis itu? Atau telah pergi pula?
“Dia .... dibawa pergi oleh serombongan perwira dari kaisar!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiong San merasa seakan-akan kepalanya disambar geledek. Ia melompat dan bertanya,
“Kapan terjadinya?”
“Pagi tadi .... dua orang perwira tua datang dan memaksanya ikut pergi, katanya atas perintah kaisar yang
menghendaki kembalinya pelayan istana itu.”
“Naik apa?”
“Mereka menunggang kuda dan Siang Cu juga dinaikkan ke atas kuda.”
Tanpa pamit lagi Tiong San lalu berlari keluar. Pedang dan cambuknya tak terlupa, tergantung di
pinggangnya. Ia tahu ke mana harus mengejar!
Ibunya lalu memeramkan matanya dan diam-diam berdoa semoga puteranya akan berhasil menolong dan
membawa kembali gadis itu.
********************
Dua orang perwira yang datang merampas Siang Cu sebenarnya bukan lain adalah Im-yang Po-san Bu
Kam, perwira kerajaan kelas satu yang bertubuh tinggi kurus dan bermata juling itu. Seperti diketahui,
perwira ini gagah perkasa sekali dan ketika dulu bertempur melawan Thian-te Lo-mo, perwira ini telah
dicabut jenggotnya oleh Thian-te Lo-mo. Oleh karena itu, ia masih merasa sakit hati sekali dan setelah
kematian kakek sakti itu, ia masih mempunyai keinginan untuk bertemu dan mengadu kepandaian dengan
Shan-tung Koai-hiap, murid Thian-te Lo-mo.
Perwira kedua adalah Bu Tong Cu yang berjuluk Lui-kong atau Dewa Geluduk, perwira kelas dua yang
juga tinggi ilmu silatnya, bertubuh bungkuk dengan punggung seperti punggung unta. Sebagaimana
diketahui, Bu Kam bersenjata sepasang kipas dan Bu Tong Cu bersenjata sebatang tongkat besi yang
berat.
Di istana kaisar, masih terdapat beberapa orang perwira kelas satu yang lihai, tetapi kali ini yang datang
merampas Siang Cu hanya dua orang perwira ini, oleh karena sebetulnya mereka ini sama sekali tidak
diutus kaisar. Kaisar yang mendengar tentang larinya pelayan itu, tidak mengambil pusing karena baginya,
apakah artinya seorang pelayan wanita yang lari? Yang menyuruh dua orang perwira itu adalah pangeran
yang tergila-gila kepada Siang Cu, dan hanya dua orang perwira itu saja yang dapat “dibeli” oleh pangeran
itu.
Bu Kam dan Bu Tong Cu memaksa Siang Cu naik kuda dan segera melarikan kuda itu menuju ke kota
raja. Akan tetapi oleh karena Siang Cu adalah seorang gadis lemah dan mereka telah mendapat pesan
keras dari pangeran itu agar jangan sampai membuat gadis itu menderita, maka mereka tidak melarikan
kuda mereka terlalu cepat. Malam hari itu mereka bermalam di sebuah kota pada sebuah rumah
penginapan. Mereka masukkan Siang Cu dalam sebuah kamar dan menjaga kamar itu bergiliran.
Siang Cu merasa berduka cita dan bingung sekali. Ia tidak takut akan nasibnya, oleh karena ia telah
bersumpah takkan menyerahkan diri kepada pangeran itu. Banyak jalan baginya untuk menghindarkan diri
dari paksaan pangeran itu, dan mudah saja baginya kalau hendak membunuh diri. Tetapi ia tidak mau
melakukan hal itu sekarang, karena diam-diam ia ingin melihat apakah yang akan dilakukan Tiong San
apabila mendengar tentang penangkapan ini.
Malam itu gelap dan awan hitam menutup langit, sehingga bintang-bintang tak tampak dari bawah.
Menjelang tengah malam ketika yang mendapat giliran menjaga pintu kamar Siang Cu adalah Bu Tong Cu
si Dewa Geluduk, tiba-tiba ia mendengar suara perlahan sekali di atas genteng.
Ia berlaku hati-hati dan waspada, maka sambil membawa tongkat besinya, ia lalu melompat naik ke atas.
Akan tetapi, pada saat ia melayang naik, dari atas berkelebat bayangan hitam yang cepat sekali
gerakannya dan begitu bayangan itu turun di depan kamar, ia segera membuka pintu kamar itu dengan
sekali betot saja, lalu ia melompat masuk ke dalam.
Bu Tong Cu terkejut sekali, maka setibanya di atas genteng, ia lalu kembali melompat ke bawah dan
menyerbu ke dalam kamar.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ternyata bahwa yang masuk ke dalam kamar itu bukan lain ialah Tiong San sendiri! Ketika ia telah
memasuki kamar, ia melihat Siang Cu duduk dengan tenang di atas pembaringan dan begitu melihat Tiong
San, ia tersenyum! Senyum kemenangan ini juga nampak dalam matanya yang berseri-seri puas. Sinar
mata gadis itu seakan-akan berbisik kepada Tiong San, “Nah, akhirnya kau datang juga menolongku!”
Tiong San yang sudah lama sekali tak pernah bicara kepada gadis itu, kini merasa bingung karena apakah
yang harus ia katakan. Ketika ia hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar bentakan Bu Tong Cu yang
menyerbu masuk.
“Bangsat kurang ajar!” Akan tetapi Bu Tong Cu tertegun ketika pemuda itu membalikkan tubuhnya, karena
tak pernah disangkanya bahwa pemuda itu adalah Tiong San.
“Shan-tung Koai-hiap .....!” serunya dengan suara gentar, tetapi ia segera mengangkat tongkatnya karena
tiba-tiba ujung cambuk Tiong San telah menyambar ke arah mukanya. Tongkatnya berhasil menangkis
batang cambuk, tetapi ujung cambuk itu yang seperti ekor ular, dapat melanjutkan serangannya melalui
pinggir tongkat, terus menghantam mukanya! Bu Tong Cu telah kenal kelihaian cambuk ini, maka ia segera
melangkah mundur sambil menarik kembali tongkatnya sehingga mukanya terhindar dari pecutan ujung
cambuk. Kemudian ia mendahului pemuda itu dan menyerangnya dengan tongkat besinya dengan gerak
tipu Raja Monyet Mencari Buah, yakni sebuah serangan dari ilmu tongkat Heng-cia Kun-hoat.
Tiong San maklum bahwa dalam keadaan terdesak karena harus menolong Siang Cu, maka ia harus
bertindak cepat. Maka ia lalu mencabut pedangnya dengan tangan kiri dan menangkis serangan tongkat
itu. Seperti juga cambuknya, gerakan pedangnya ini luar biasa cepatnya dan lihai sekali.
Ketika pedangnya bertemu dengan tongkat lawan, ia merasa betapa hebatnya tenaga lweekang yang
disalurkan melalui tongkat itu, tetapi pedangnya yang terpental itu merupakan serangan balasan karena
ujung pedangnya yang terpental bukannya tertolak ke belakang, akan tetapi meleset ke bawah dan
menusuk dada Bu Tong Cu! Perwira ini terkejut sekali karena ia memang belum pernah mengenal
kelihaian Pat-kwa Kiam-hoat yang mempunyai gerakan-gerakan sambung menyambung. Tangkisan dapat
diteruskan menjadi serangan. Sebaliknya di dalam serangan pedang selalu bersembunyi gerakan
penjagaan diri yang kuat.
Dengan cepat Bu Tong Cu mengelak ke samping karena untuk menangkis dengan tongkat sudah tidak ada
waktu lagi, tetapi pada saat itu, cambuk di tangan kanan Tiong San dengan tak terduga-duga telah
menyambar ke bawah dan melibat kedua kakinya! Sekali menarik tangan kanannya yang memegang
gagang cambuk sambil berseru keras, tubuh Bu Tong Cu yang bongkok itu terguling ke atas lantai!
Tiong San tidak mau membuang waktu lagi. Tanpa berkata sesuatu ia segera memasukkan pedang ke
sarungnya dan menggunakan tangan kirinya yang kosong untuk menyambar tubuh Siang Cu yang segera
didukungnya dan dibawa melompat keluar dari kamar terus melayang naik ke atas genteng! Terdengar
bentakan Bu Kam dari bawah, tetapi Tiong San tidak mau melayaninya dan terus berlari dan berlompatlompatan
dari genteng ke genteng!
Bab-18 : Pendekar Gila Bertekuk Lutut
SEMENTARA itu, telah dua kali dengan ini Siang Cu mengalami peristiwa seperti ini, yaitu dibawa lari oleh
Tiong San sambil berlompatan dan lari secepat angin. Di dalam dukungan tangan kiri pemuda itu, ia
merasa amat aman dan senang, sama sekali lenyap rasa takut yang dulu masih dirasainya pada
pertolongan pertama. Akan tetapi melihat betapa pemuda itu melarikan diri dari kedua perwira yang
menangkapnya, ia tidak merasa puas.
“Engko Tiong San, apakah kau tidak bisa menangkan mereka?” tanyanya dan Tiong San merasa seakanakan
ia bermimpi. Benarkah ini suara Siang Cu yang berada dalam pondongannya? Telah lama sekali ia
tidak mendengarkan suara gadis ini berbicara kepadanya, sehingga ia hampir tidak percaya kepada
telinganya sendiri. Apalagi karena gadis ini menyebutnya “engko”, sebutan yang amat merdu dan sedap
memasuki telinganya!
“Tentu saja aku berani dan dapat mengalahkan mereka!” jawabnya dengan hati berdebar-debar, sehingga
Siang Cu yang menempelkan telinganya ke dada pemuda itu dapat mendengar degupan jantungnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kalau begitu, mengapa kau berlari-lari seperti orang ketakutan? Mengapa kau tidak melawan dan
memberi ajaran kepada orang-orang kurang ajar itu?”
“Mereka adalah utusan-utusan kaisar, bagaimana aku dapat melawan mereka? Bukankah aku akan dicap
pemberontak?”
“Mereka bohong! Dari percakapan mereka aku tahu bahwa mereka sama sekali bukan utusan kaisar, tetapi
adalah kaki tangan pangeran jahanam yang hendak memaksaku menjadi bini mudanya.”
Tiong San menahan langkah kakinya dan menurunkan Siang Cu dari pondongannya. “Kau berani berdiri di
sini?” ujar Tiong San.
Siang Cu melihat ke bawah. Wuwungan itu tinggi sekali, akan tetapi ia merasa malu untuk menyatakan
kengerian hatinya, maka ia menjawab, “Tentu saja berani!”
Tiong San tersenyum, lalu berdiri menanti datangnya dua bayangan orang yang mengejarnya.
“Shan-tung Koai-hiap, kau berani menculik pelayan kaisar?” teriak Bu Kam yang maju dengan sepasang
kipasnya.
“Perwira gadungan! Jangan bertopeng nama kaisar, kalau kau memang gagah, majulah!” Tiong San
membentak dan telah siap dengan sepasang senjatanya. Kini ia maklum akan menghadapi lawan tangguh,
maka dipegangnya pedang pemberian Si Cui Sian di tangan kanan dan cambuk di tangan kiri.
Im-yang Po-san Bu Kam membentak marah dan menyerang dengan sepasang kipasnya yang berbahaya
itu, tetapi Tiong San dengan tenang menyambut serangan itu dengan pedang dan cambuknya. Ilmu kipas
Im-yang dari Bu Kam sebenarnya telah mencapai tingkat tinggi sehingga ia telah menduduki tempat kelas
satu dan menjadi seorang di antara perwira-perwira yang paling pandai.
Kalau Tiong San hanya memegang cambuknya saja, belum tentu pemuda ini akan dapat menang, karena
biarpun ilmu cambuk Tiong San amat lihai dan mengatasi ilmu silat lawannya, tetapi dalam hal lweekang
dan pengalaman pertempuran, ia masih kalah jauh. Akan tetapi, kini Tiong San memegang dua macam
senjata yang digerakkan dalam ilmu silat dua macam pula, dan dalam hal kelihaian, ilmu pedang Pat-kwa
Kiam-hoat dari Si Cui Sian memang hebat dan jarang terdapat.
Wanita itu telah mempergunakan waktu puluhan tahun untuk menyempurnakan ilmu pedang ini. Kini
setelah ilmu pedang Pat-kwa Kiam-hoat digabung dengan ilmu cambuk Im-yang Joan-pian, maka
kehebatannya mengagumkan sekali dan karenanya ia dapat mengimbangi kelihaian sepasang kipas dari
Bu Kam.
Pertempuran itu dilakukan di atas wuwungan rumah yang tinggi dan dalam keadaan gelap. Mereka hanya
mempergunakan ketajaman mata dan telinga untuk mengikuti gerakan senjata lawan, maka pertempuran
kali ini benar-benar merupakan pertempuran antara mati dan hidup!
Ketika Siang Cu melihat betapa kedua orang itu bertempur dengan gerakan cepat, sehingga tubuh mereka
hanya merupakan bayangan-bayangan yang sebentar lenyap sebentar muncul di antara sinar senjata yang
menyambar-nyambar. Ia mulai merasa menyesal mengapa ia menyuruh pemuda itu menghadapi lawan
yang demikian lihainya.
Bagaimana kalau pemuda itu sampai binasa? Demikian pikirnya dengan hati penuh kegelisahan. Ah, ia
menghibur diri sendiri. Kalau Tiong San sampai tewas dalam pertempuran ini, aku akan meloncat dari atas
genteng dan tubuhku akan hancur lebur, nyawaku akan menyusul nyawanya!
Sebetulnya kalau Siang Cu mengerti tentang ilmu silat, tentu ia tak usah merasa demikian gelisah. Kini
Tiong San mulai dapat mendesak lawannya. Ilmu pedang Pat-kwa Kiam-hoat dan ilmu cambuk Im-yang
Joan-pian ternyata benar-benar hebat, sehingga ilmu kipas Bu Kam kali ini tidak berdaya sama sekali!
Lui Kong Bu Tong Cu si Dewa Geluduk, semenjak tadi hanya menonton saja oleh karena ia maklum bahwa
ilmu kepandaiannya masih kalah jauh, maka ia tidak berani turun tangan, tetapi ketika melihat betapa Bu
dunia-kangouw.blogspot.com
Kam mulai terdesak hebat, ia pikir lebih baik segera bertindak merampas Siang Cu dan membawanya ke
kota raja untuk menerima pahala dan hadiah dari pangeran yang menyuruhnya!
Shan-tung Koai-hiap sedang sibuk melayani Bu Kam, maka saat yang terbaik ini tak disia-siakan oleh si
Dewa Geluduk. Ia melompat ke tempat Siang Cu dan sebelum gadis itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu
tubuh si tinggi kurus yang bongkok telah berada di depannya dengan menyeringai menakutkan!
Siang Cu menjerit dan suara itu cukup membuat ujung cambuk Tiong San menyambar ke arahnya dengan
kecepatan yang tak disangka-sangka! Ujung cambuk dengan tepat sekali menotok jalan darah di punggung
Bu Tong Cu yang segera memekik ngeri dan tubuhnya roboh lalu menggelinding turun ke bawah genteng!
Ketika Tiong San melancarkan serangan ke arah Bu Tong Cu, Im-yang Po-san Bu Kam tidak mau
membuang sia-sia kesempatan itu, maka sambil mengerahkan tenaga ia lalu menyerang dengan sepasang
kipasnya! Serangan ini luar biasa hebatnya, kipas di tangan kanan menyerang kepala dan kipas di tangan
kiri digunakan untuk menusuk, yakni gagang kipas yang runcing itu mengarah jalan darah di iga Tiong San!
Melihat datangnya serangan yang cepat ini, Tiong San menjadi terkejut. Cambuk di tangan kirinya sedang
digunakan untuk menyerang Bu Tong Cu, sehingga tak dapat digunakan untuk menghadapi Bu Kam, maka
cepat ia mengelak ke kiri sambil merendahkan tubuhnya. Serangan kipas kanan ke arah kepalanya dapat
dihindarkan dengan elakan ini. Tetapi kipas kiri dari lawannya terus mengejarnya dengan cepat.
Tiong San menggerakkan pedangnya dengan tiba-tiba dan dari samping, gerakan yang benar-benar
mentakjubkan karena pedang itu meluncur melalui bawah sikunya dengan memutar pergelangan tangan
sedemikian rupa yang takkan mudah dilakukan oleh ahli pedang lain. Ujung pedangnya bertemu dengan
kipas dan “brettt!” ujung pedang itu berhasil merobek kain kipas di tangan Bu Kam.
Alangkah kagetnya Im-yang Po-san Bu Kam melihat hal ini, dan karena ia melihat betapa kawannya sudah
dirobohkan, hatinya menjadi ngeri dan ia lalu melompat pergi dengan cepat!
Tiong San melompat ke dekat Siang Cu yang memandangnya dengan kagum sekali dan kalau saja malam
tidak demikian gelap, tentu pemuda itu akan melihat betapa sinar mata gadis itu amat mesra menatapnya,
dan betapa dua titik air mata bergantung di bulu mata yang panjang itu. Akan tetapi ia tidak melihat hal ini
dan segera berkata, “Mari kita pergi!” Ia lalu memondong tubuh Siang Cu dan membawanya melompat ke
depan dan berlari cepat keluar dari kota itu.
Kedatangan mereka disambut dengan tangis gembira oleh Nyonya Lie. Nyonya ini tidak saja merasa
girang bahwa Siang Cu dapat tertolong, tetapi juga diam-diam ia merasa gembira melihat kegelisahan yang
membayang di wajah puteranya ketika mendengar tentang perampasan gadis itu. Diam-diam ia
mengucapkan doa kepada Yang Maha Kuasa bahwa akhirnya sepasang orang muda itu akan
mendapatkan hati masing-masing!
Akan tetapi, sikap Tiong San masih seperti biasa terhadap Siang Cu, acuh tak acuh dan dingin. Sebetulnya
oleh karena ia merasa malu dan terlalu sopan-santun, maka ia jarang sekali berani mengajak bicara gadis
itu dan kalau ia sekali-kali bicara, ia selalu bicara dengan penuh kesopanan dan selalu menyebut gadis itu
dengan “Gan-siocia” (nona Gan), sehingga Siang Cu yang malam hari itu menyebutnya “kanda”, sekarang
juga berobah lagi menjadi “inkong” (tuan penolong)! Hubungan mereka di luar nampak renggang sekali,
dan di dalam .... hanya mereka saja yang tahu!
********************
Beberapa hari kemudian, pada suatu malam ketika Tiong San sedang layap-layap hendak pulas, tiba-tiba
ia mendengar suara perlahan di atas genteng kamarnya. Serentak pikirannya menjadi terang dan
kantuknya lenyap sama sekali dan sebagai seorang ahli silat tinggi, seluruh perasaan dan pikirannya
memang telah mempunyai gerakan otomatis untuk menjaga diri pada saat ia mencium datangnya bahaya.
Ia maklum bahwa orang yang berada di atas gentengnya memiliki ginkang yang baik sekali, sehingga
gerakannya hanya terdengar perlahan saja.
Selagi ia hendak turun dari pembaringan, tiba-tiba dari luar menyambar tujuh benda yang bersinar terang
ke arah tubuhnya. Ia cepat melompat ke samping dan ternyata benda-benda itu adalah tujuh batang jarum
perak yang kini menancap dan lenyap ke dalam kasur di atas pembaringan! Sebatang jarum itu kebetulan
mengenai papan di pinggir pembaringannya dan sekali ia memandang, ia berseru kaget.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siu Eng ....!” Jarum itu ternyata adalah Kiu-hwa-ciam yang biasa dipergunakan oleh Siu Eng. Ia segera
menyambar pedang dan cambuknya, lalu melompat keluar dari jendelanya terus melompat ke atas
genteng.
Benar saja dugaannya, gadis cantik jelita yang pernah ia permainkan itu telah berdiri di atas genteng
dengan tangan memegang pedang.
“Hm, Shan-tung Koai-hiap, akhirnya aku dapat juga mencari tempat tinggalmu! Bersiaplah menerima
pembalasanku!”
“Siu Eng, belum insyafkah kau akan kesalahanmu? Sayang .... sayang ....!” kata Tiong San sambil
menangkis serangan Siu Eng, tetapi tanpa menjawab, gadis ini menyerang lagi dengan sengitnya. Tiong
San hendak mencoba kepandaian pedang gadis itu, maka ia tidak mempergunakan cambuknya, hanya
melayaninya dengan pedang saja.
Ternyata olehnya bahwa ilmu kepandaian gadis ini sudah banyak maju, akan tetapi ilmu pedangnya tidak
kalah hebat sungguhpun harus ia akui bahwa dengan mengandalkan pedang saja, tak mungkin ia akan
mendapatkan kemenangan dengan cepat. Dikerahkannya kepandaiannya dan di bawah sinar bulan yang
terang, mereka bertempur di atas genteng dengan serunya.
Serangan-serangan pedang di tangan Siu Eng masih ganas dan cepat seperti dulu, tetapi sekarang
permainannya lebih matang dan tenang, tidak banyak mengawur menuruti nafsu kemarahan hati seperti
dulu, hingga diam-diam Tiong San memuji. Akan tetapi, untuk mengalahkan Shan-tung Koai-hiap, apalagi
kalau dia mempergunakan jurus cambuknya, agaknya Siu Eng harus belajar sedikitnya sepuluh tahun lagi!
Selagi mereka bertempur dengan amat serunya sampai lebih lima puluh jurus, tiba-tiba dari jauh terdengar
suitan nyaring dua kali. Tiba-tiba Siu Eng melompat mundur dan berkata sambil tersenyum manis,
“Shan-tung Koai-hiap, cukup sekian dulu. Besok pagi kita bertemu pula!” Gadis itu lalu melompat turun dari
genteng dan melarikan diri. Tiong San tidak mau mengejar, karena iapun tidak mempunyai maksud untuk
mengganggu gadis itu. Ia berdiri beberapa lama di atas genteng dan merasa heran sekali mengapa tibatiba
gadis yang belum terdesak hebat itu telah menghentikan pertempuran dan melarikan diri. Lebih tak
dimengertinya pula mengapa Siu Eng tadi mengatakan bahwa besok pagi mereka akan bertemu pula!
Ia menarik napas panjang lalu melompat turun dan memasuki rumahnya. Tiba-tiba ia menahan langkah
kakinya dan wajahnya berobah. Mengapa ibunya dan Siang Cu tidak keluar? Ia tahu bahwa pada saat
seperti itu, biasanya ibunya dan gadis itu belum tidur. Mengapa mereka tidak mendengar ribut-ribut tadi? Ia
segera menuju ke kamar ibunya dan ia makin merasa khawatir ketika melihat pintu kamar ibunya dan pintu
kamar Siang Cu yang berada di depan kamar ibunya itu terbuka! Ini tanda bahwa mereka belum tidur.
Mengapa mereka tidak keluar? Apakah benar-benar mereka tidak mendengar pertempuran tadi?
Ia berlari memasuki kamar ibunya dan setibanya di dalam ia menahan teriakannya ketika melihat betapa
ibunya duduk di atas sebuah kursi dengan tubuh lemas tak dapat bergerak!
“Ibu ....!” teriaknya sambil menahan napas. Ia cepat memeriksa dan hatinya menjadi lega ketika melihat
bahwa ibunya hanya lumpuh karena tertotok saja. Ia cepat menggerakkan tangan menotok dan mengurut
tubuh ibunya untuk memulihkan tenaganya dan membebaskan orang tua itu dari pengaruh totokan.
Kemudian ia teringat sesuatu dan setelah didengarnya ibunya mengeluh tanda telah terbebas dari totokan,
ia lalu melompat keluar dari kamar ibunya itu dan lari memasuki kamar Siang Cu dengan hati berdebar
khawatir. Dan benar saja, gadis itu tidak berada di dalam kamarnya! Ia mencari-cari, akan tetapi gadis itu
benar-benar lenyap tak berbekas!
Ibunya tersaruk-saruk menyusulnya ke dalam kamar Siang Cu.
“Ibu, di mana dia ....?? Di mana Siang Cu???” tanyanya dengan muka pucat.
“Tadi dia berada di kamarku,” kata ibunya dengan napas masih sesak, “Kemudian datang seorang wanita
berpakaian sebagai seorang to-kouw (pertapa wanita) yang sekali meraba dadaku telah membuat aku
seperti lumpuh. Kemudian to-kouw itu juga membuat Siang Cu tak dapat bergerak maupun berteriak, lalu
memondongnya pergi setelah meninggalkan surat ini di atas meja.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiong San mengambil surat itu dari tangan ibunya dan segera membacanya. Tulisan tangan yang indah
menghias kertas itu berbunyi:
Shan-tung Koai-hiap!
Aku mendengar dari Im-yang Po-san Bu Kam bahwa kau berada di sini dan kini mempunyai seorang
kekasih yang tak lain hanya seorang pelayan hina!
Kalau kau tidak datang pada esok pagi sebelum matahari naik tinggi di kuil sebelah barat kampung, kau
akan menemukan kekasihmu menjadi mayat!
Kalau kau datang pada waktu dan di tempat tersebut, akan kupikir-pikir dulu apa yang akan kulakukan
dengan pelayan ini.
Tertanda
Gui Siu Eng
“Perempuan jahanam!” Tiong San memaki sambil menggertakkan giginya. Ibunya tadi telah membaca
surat itu sebelum memberikannya kepada Tiong San, maka ia kini bertanya dengan suara gemetar.
“Aduh, bagaimana baiknya, anakku? Kalau dia sampai mencelakakan Siang Cu .... ah, bukankah Siu Eng
ini gadis dari gedung pangeran Lu Goan Ong yang dulu kau permainkan? Kau telah membikin sakit hati
seorang perempuan dan hal ini berbahaya sekali. Ah, ah, bagaimana baiknya?”
“Tenanglah, ibu. Aku bersumpah akan mendapatkan kembali Siang Cu, biarpun untuk itu aku harus
membunuh Siu Eng dan to-kouw yang membantunya itu, bahkan biarpun untuk itu aku harus
mengorbankan nyawaku!”
Nyonya Lie memeluk pundak puteranya yang bidang,
“Tiong San .... kau .... kau mencintainya, bukan?”
Tiong San mengangguk. “Benar, ibu. Aku mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwaku. Sungguhpun
anakmu yang bodoh ini tidak tahu akan hal itu sebelum peristiwa ini terjadi!”
“Kalau begitu, lekas-lekas kau tolong dia, anakku!” suara nyonya ini mengandung kegirangan besar dan
kecemasan hebat sehingga seperti suara orang yang mau menangis.
“Memang, sekarang juga aku akan menyusul ke sana, ibu, tak usah menanti besok pagi!”
Setelah berkata demikian, Tiong San lalu berlari keluar dan segera menuju ke barat. Ia tahu bahwa di
sebelah barat Kui-ma-chung itu, agak di luar kampung yang amat sunyi, terdapat sebuah kuil tua yang
sudah rusak dan tidak terpakai. Orang-orang kampung menganggap kuil itu angker dan dijadikan rumah
setan-setan jahat, maka jarang ada orang berani memasukinya, apalagi di waktu malam hari.
********************
Ketika Siu Eng dulu melarikan diri dari kota raja setelah tak berhasil mengalahkan Tiong San, ia lalu lari
mencari gurunya, yakni Kiu-hwa-san Toanio yang kini telah menjadi to-kouw dan bertapa di bukit Kiu-hwasan.
Hati gadis itu penuh dengan dendam sakit hati dan ia takkan merasa puas sebelum dapat membalas
sakit hatinya terhadap Tiong San.
Kiu-hwa-san Toanio juga merasa tak senang sekali ketika ia mendengar penuturan Siu Eng betapa Shantung
Koai-hiap telah mempermainkan dan menghinanya. Ia dapat memaklumi rasa malu dan marah yang
mengamuk dalam hati muridnya, maka ketika muridnya minta pertolongannya, ia lalu menyanggupi.
Demikianlah, keduanya lalu turun dari Kiu-hwa-san setelah untuk beberapa bulan lamanya Siu Eng
menerima pelajaran dan latihan-latihan lagi untuk mematangkan ilmu pedangnya.
Akan tetapi, ketika mereka sedang mencari-cari itu, Tiong San tengah melatih ilmu pedang di puncak Taisan
di bawah bimbingan Si Cui Sian sehingga Siu Eng dan gurunya tidak tahu di mana adanya anak muda
itu. Kemudian, mereka mendengar dari Im-yang Po-san Bu Kam bahwa kini pemuda itu telah kembali ke
dunia-kangouw.blogspot.com
kampungnya, dan perwira yang telah dikalahkan oleh Shan-tung Koai-hiap ini segera menambahkan untuk
membuat panas hati Siu Eng bahwa sekarang pemuda itu telah mempunyai seorang kekasih, yakni
pelayan kaisar yang dilarikannya!
Tanpa membuang waktu lagi, Siu Eng lalu mengajak gurunya untuk mendatangi kampung dan rumah
Tiong San. Siu Eng tidak mau mendapatkan kegagalan dalam pembalasan dendamnya, maka ia lalu
mengatur siasat “memancing harimau keluar dari guanya”. Ia sendiri memancing Tiong San keluar dan
bertempur untuk mencoba kepandaian pemuda itu, sedangkan gurunya diam-diam membawa suratnya dan
menawan Siang Cu yang dianggapnya kekasih Tiong San itu.
Siang Cu yang menjadi korban tiam-hoat (ilmu totok jalan darah) dari Kiu-hwa-san Toanio, tak berdaya
sama sekali dan tak dapat berteriak ketika ia dibawa lari oleh to-kouw yang lihai itu. Setelah tiba di kuil tua,
Siang Cu dilepaskan dari totokan dan dengan tenang serta tabah ia menghadapi Siu Eng.
“Hm, kau pelayan hina-dina yang tidak tahu malu!” Siu Eng memaki-makinya dengan gemas. “Kau telah
melakukan perbuatan rendah yang mencemarkan nama seluruh pelayan kaisar! Kau telah melarikan diri
dengan seorang pemuda gila!”
Mendengar makian ini sama sekali Siang Cu tidak memperlihatkan muka takut, bahkan ia tersenyum
tenang dan sama sekali tidak membuka mulutnya. Dengan marahnya, Siu Eng mengeluarkan maki-makian
kotor, sehingga gurunya yang mendengar ini lalu berkata,
“Siu Eng, besok pagi kita menghadapi pertempuran, lebih baik beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Kau
jangan terlalu ribut, aku akan tidur dan mengaso sebentar.” To-kouw ini lalu masuk ke dalam kuil bagian
belakang di mana terdapat sebuah kamar yang telah bobrok dan pecah-pecah genteng serta dindingnya.
Siu Eng berjalan hilir-mudik di depan Siang Cu yang masih saja duduk menyandar tiang. Agaknya Siu Eng
telah merasa capai memaki-maki dan kini ia berjalan ke sana ke mari sambil berpikir-pikir. Siang Cu
mengikuti langkah Siu Eng dengan pandangan matanya dan aneh sekali, pandangan mata gadis ini
nampak sayu dan agaknya ia merasa kasihan kepada Siu Eng!
Beberapa lama mereka berada dalam keadaan seperti itu. Siu Eng merupakan seekor harimau betina yang
marah dan berjalan hilir mudik di ruang itu sambil menggigit-gigit bibir dan mengerutkan kening, sedangkan
Siang Cu duduk menyandar tiang sambil melihat penculiknya dengan sikap yang tenang dan sama sekali
tidak tampak takut atau khawatir.
“Siu Eng,” tiba-tiba Siang Cu mengeluarkan suara dengan halus, “Kau .... kau mencintainya .....?”
Siu Eng menghentikan langkahnya dan memandang kepada Siang Cu seakan-akan seekor harimau yang
hendak menerkam mangsanya. “Aku ....? Aku mencintai Shan-tung Koai-hiap? Hah!” Ia menyeringai
menghina. “Aku benci dia! Akan kubunuh dia! Akan kubunuh dia besok pagi! Akan kubelah dadanya,
kucabut jantungnya! Ya, dan kau juga. Akan kubunuh kalian berdua dengan ujung pedangku sendiri!”
Tiba-tiba Siang Cu tertawa geli. “Siu Eng, kau gadis bodoh! Sama seperti aku pula!”
“Apa maksudmu? Jaga mulutmu sebelum kutampar sampai rusak!”
“Kau diracuni oleh sakit hati dan cemburu! Kau dan aku adalah gadis-gadis bodoh yang mencintai seorang
pemuda pembenci wanita! Ha, sungguh lucu menggelikan. Kita berdua sama-sama patah hati, hanya
bedanya, aku menerima nasib dengan diam-diam dan sabar, tetapi kau diracuni oleh rasa sakit hati dan
cemburu!” Siang Cu tertawa lagi.
“Pelayan hina-dina! Kau boleh tertawa sepuas hatimu, aku tidak akan mengganggu kau sekarang! Aku
tidak mau merusak mukamu agar besok pagi kekasihmu itu melihat dengan mata sendiri betapa kekasih
hatinya yang manis kurusakkan mukanya. Ya, ya, kau boleh tertawa sekarang, tetapi lihat saja besok!
Biarpun kekasihmu itu lihai, dengan mudah guruku akan merobohkannya! Kalian akan mampus sebelum
matahari naik tinggi dan mayat kalian akan kutinggalkan di sini, biar dimakan oleh binatang liar!”
Sambil berkata demikian, Siu Eng memandang tajam dan maksudnya sebelum ancaman itu dilaksanakan,
ia hendak menikmati penderitaan rasa takut pada gadis kekasih Tiong San itu. Akan tetapi ia kecele,
karena Siang Cu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum manis.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Siu Eng, aku tahu siapa adanya kau dan aku pernah pula mendengar tentang riwayatmu dengan Shantung
Koai-hiap. Kau tak perlu menakut-nakuti aku, karena soal mati bagiku hanya soal kecil saja! Kalau aku
tidak ingat kepada nyonya Lie yang mulia dan baik hati, apakah gunanya hidup bagiku? Mungkin akupun
sudah berada di dunia lain pada saat ini. Sebagai seorang yang senasib sependeritaan dengan kau
sungguhpun sikap kita berlainan, baik kuceritakan kepadamu. Terus terang kukatakan bahwa seperti kau
juga, aku mencintai Shan-tung Koai-hiap, mencinta sepenuh hatiku. Akan tetapi, jangan kau kira bahwa dia
juga mencintaiku! Ha, kau belum kenal baik adat Shan-tung Koai-hiap yang aneh! Kau benar-benar kecele
kalau mengira bahwa dia mencintaiku. Dia adalah seorang pembenci wanita, mana bisa ia mencinta
seorang seperti aku? Akupun diam-diam menderita karena kebodohanku sendiri, maka, kalau kau mau
bunuh aku, sekarang maupun besok atau kapan saja aku tidak takut!”
Mendengar ucapan ini, Siu Eng tertegun. Kemudian ia tertawa dengan hati penuh kegelian. Memang
demikianlah watak orang yang kurang mulia, apabila dia sedang berada dalam keadaan susah, maka
kesusahan orang lain merupakan hiburan terbesar baginya!
“Ha ha ha!” Wanita kejam itu tertawa lagi. “Kalau begitu, hukumanmu kurobah! Kau takkan kubunuh, tetapi
kau akan menyaksikan dengan mata sendiri betapa pemuda yang kaucintai itu mampus di depan matamu.
Kemudian kau boleh pergi ke mana saja sesukamu, dan kau boleh menangisi kematian kekasihmu setiap
hari!”
“Siu Eng, benar-benarkah kau sekejam itu, untuk membunuh laki-laki yang kau sendiri mencintai?” Kini
Siang Cu memandang dengan mata menyatakan kengerian.
Kedua orang gadis ini sama sekali tidak tahu betapa pembicaraan mereka semenjak tadi didengarkan oleh
orang yang makin lama makin menjadi pucat, apalagi ketika mendengar pengakuan Siang Cu tadi. Orang
ini adalah Tiong San yang diam-diam telah melakukan pengintaian sehingga mendengar dengan jelas
semua percakapan kedua orang gadis itu!
Tubuhnya menggigil ketika ia mendengar pengakuan Siang Cu yang menyatakan cintanya yang demikian
besar! Ingin ia melompat kegirangan, dan karena tidak mau membiarkan kekasihnya itu tersiksa lebih lama
lagi, ia lalu mengeluarkan cambuknya yang menyambar ke arah muka Siu Eng, dibarengi kata-katanya
yang ditujukan kepada Siang Cu,
“Siang Cu .... kau salah sangka ....! Aku ... cinta kepadamu, kekasihku .... Cinta padamu dengan seluruh
hati dan nyawaku ....!” Tiong San melompat ke ruang itu ketika Siu Eng dengan kaget sekali mengelak dari
sabetan cambuk.
Siang Cu memandang dengan mata terbelalak seakan-akan melihat setan di siang hari. Pandangan
matanya bertemu dengan pandangan mata Tiong San dan melihat betapa pemuda itu memandangnya
dengan sinar mata penuh kasih sayang dan amat mesra. Tiba-tiba ia menutupi mukanya dengan kedua
tangan!
Sementara itu, Siu Eng menjadi marah sekali.
“Shan-tung Koai-hiap, bangsat hina! Kau sudah tidak sabar untuk menerima mampus? Baik, malam ini juga
aku akan membunuh kau dan kekasihmu yang hina-dina ini!” Ucapan ini dikeluarkan dengan marah dan
sangat kerasnya, sehingga pada saat itu juga dari dalam berkelebat bayangan yang cepat sekali
datangnya. Kiu-hwa-san Toanio telah berada di ruang itu, menghadapi Shan-tung Koai-hiap dengan
pedang di tangan.
Tanpa banyak cakap lagi, Tiong San lalu menyerang to-kouw itu karena ia maklum bahwa inilah orangnya
yang membantu Siu Eng. Ia melakukan serangan dengan pedangnya yang segera ditangkis oleh Kiu-hwasan
Toanio. Tiong San terkejut juga ketika pedangnya bertemu dengan pedang yang amat kuat dan tajam,
tetapi ia semakin bersemangat. Sebentar saja ia telah dikeroyok dua oleh Kiu-hwa-san Toanio dan
muridnya yang menyerang dengan mati-matian.
Tiong San mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan pedang di tangan kiri dan cambuk di tangan
kanan, ia mempertahankan diri dan bahkan melakukan serangan balasan yang tak kalah hebatnya,
sehingga kedua orang lawannya merasa terkejut dan kagum. Tiong San maklum akan kekejian hati Siu
dunia-kangouw.blogspot.com
Eng, maka sambil bertempur ia memperhatikan gadis itu, khawatir kalau-kalau Siu Eng akan mencelakai
kekasihnya.
Benar saja dugaannya karena ketika merasa betapa sukarnya mengalahkan Shan-tung Koai-hiap yang
amat lihai itu, tiba-tiba Siu Eng menggerakkan tangan kirinya dan sinar-sinar putih kecil menyambar ke
arah Siang Cu yang masih duduk menyandar tiang dengan muka gelisah, mengkhawatirkan keadaan Tiong
San yang dikeroyok dua oleh to-kouw dan Siu Eng!
“Perempuan keji!” Tiong San membentak dan cambuknya menyambar cepat ke arah beberapa batang
jarum yang menyambar ke arah Siang Cu itu. Sekali ia kebutkan cambuknya, semua jarum itu terpukul
jatuh.
“Siang Cu, kau sembunyilah di belakang tiang itu!” teriaknya dan ia cepat mendesak Siu Eng yang dengan
pedang di tangan hendak memburu Siang Cu. Siang Cu segera memutar tubuhnya dan bersembunyi di
belakang tiang yang besar. Kini ia terlindung dari serangan senjata rahasia, karena tiang itu tebal dan
besar, menutup semua tubuhnya.
Dengan amat gemas dan marah, kini Tiong San mengubah permainannya dan memainkan Im-yang Joanpian
serta Pat-kwa Kiam-hoat dengan sehebat-hebatnya. Pedang dan cambuknya berkilat-kilat menyambar
dengan tak terduga dan dengan sangat cepatnya ke arah dua orang lawannya. Tentu saja Siu Eng amat
sibuk menghadapi serangan ini, sedangkan gurunya sendiri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan
pengalaman yang luas, merasa bingung dan hanya dapat menangkis saja!
Gadis ini dengan sibuk dan marah menangkis pedang Tiong San yang meluncur ke arah dadanya, tetapi
Tiong San sengaja menggetarkan pedangnya sedemikian rupa sehingga ketika pedang beradu, ujung
pedangnya meleset dan membacok tangan Siu Eng yang memegang pedang! Siu Eng menjerit dan
melepaskan pedangnya serta menarik tangannya, tetapi pedang yang tadi menyerangnya itu kini
digunakan untuk menangkis serangan Kiu-hwa-san Toanio, sedangkan ujung cambuk di tangan kiri Tiong
San secepat kilat mengirim cambukan hebat ke arah muka Siu Eng!
Dalam kegemasannya tadi, Tiong San hendak menggunakan tenaga besar untuk memberi “hadiah besar”
kepada Siu Eng agar muka gadis yang dibencinya itu terluka dan berdarah. Akan tetapi, tiba-tiba wajah
kekasih gurunya kedua, Si Cui Sian, dengan mukanya yang terluka oleh guratan pedang, terbayang pada
pikirannya. Apakah ia hendak mengulangi perbuatan suhunya dan membuat Siu Eng bercacad mukanya
selama hidupnya? Ia tidak tega dan mengendurkan tangannya sehingga ujung cambuknya itu hanya
memberi “hadiah kecil” saja, yakni mendatangkan gurat merah melintang pada muka Siu Eng, tanda merah
yang mudah lenyap kembali. Akan tetapi cukup menyakitkan sabetan ini karena Siu Eng menjerit dan
menutup mukanya dengan tangan.
Tiong San tidak mau berlambat-lambatan lagi dan segera mendesak Kiu-hwa-san Toanio dengan kedua
senjatanya yang lihai itu. Dengan libatan ujung cambuknya pada pergelangan tangan to-kouw itu, akhirnya
ia dapat pula membuat pedang Kiu-hwa-san Toanio terlepas dari pegangan dan jatuh ke lantai! Tiong San
melompat mundur dan menahan senjatanya sambil memandang tajam kepada to-kouw itu.
Kiu-hwa-san Toanio menjadi merah mukanya. Dipungutnya pedangnya dan berkata, “Shan-tung Koai-hiap,
kau benar-benar lihai sekali!” Kemudian tanpa berkata sesuatu lagi, to-kouw itu memegang tangan
muridnya dan mengajak muridnya melompat pergi dari kuil itu, menghilang di dalam bayangan pohon!
Tiong San menyimpan kedua senjatanya dan ketika ia memutar tubuh memandang ternyata Siang Cu tak
tampak pula di situ! Ia menjadi heran dan mengejar keluar. Ternyata bahwa gadis itu setelah melihat
betapa Tiong San mengalahkan musuh-musuhnya, menjadi malu sekali teringat akan kata-kata pemuda
tadi dan diam-diam ia mendahului lari ke kampung!
Ketika Tiong San dapat menyusulnya, ternyata Siang Cu telah berpeluk-pelukan dengan nyonya Lie yang
juga menyusul ke kuil itu dan bertemu di jalan dengan Siang Cu. Mereka lalu kembali ke rumah mereka.
“Ibu,” kata Tiong San, “Pada malam ini juga, saat ini juga kuminta ibu supaya meminang Siang Cu menjadi
jodohku!” Ucapan ini terdengar gagah dan tidak malu-malu lagi. Nyonya Lie memandang dengan mata
terbelalak, kemudian ia tertawa lebar.
“Tiong San, bukankah kau membenci wanita?” ia menggoda.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ibu, kau gi .....!” tetapi tiba-tiba ia berhenti karena Siang Cu mengerling tajam kepadanya penuh teguran.
“Di antara semua wanita di dunia ini, hanya ibu dan Siang Cu yang kucintai sepenuh hatiku. Dan aku ....
aku bukan pembenci wanita lagi sekarang!”
“Siang Cu, kau mendengar sendiri pinangan anakku, bagaimana jawabmu?” tanya nyonya Lie kepada
gadis itu sambil tersenyum.
“Aku .... aku ....” gadis ini tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan lalu berlari keluar, dikejar oleh Tiong
San! Nyonya Lie tertawa bahagia dan masuk ke dalam kamarnya, membiarkan mereka berdua
“menyelesaikan” urusannya.
Ketika Tiong San tiba di luar, ia melihat Siang Cu berdiri memandangi bulan.
“Siang Cu ....” kata pemuda itu halus sambil menyentuh pundaknya. “Bagaimana jawabmu?”
“Kau tentu sudah tahu akan isi hatiku,” jawab gadis itu perlahan sambil tunduk, “Tetapi ada tiga hal yang
hendak kukatakan.”
“Katakanlah!”
“Pertama, kau tidak boleh menyebut orang dengan makian gila lagi! Kedua, semenjak sekarang kau tidak
boleh meninggalkan ibu lagi. Ketiga, kalau kau melanggar dua pantangan itu, aku .... aku akan kembali ke
kota raja menjadi pelayan kaisar!”
Tiong San tertawa geli dan hatinya berbahagia sekali.
“Kau ... kau gila ....!” katanya dan ia terkejut sekali karena kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya
tanpa disadarinya itu ternyata telah merupakan pelanggaran! Maka cepat-cepat ia menyambung, “Eh ....
maksudku .... kau .... kau manis sekali ....!”
Siang Cu mengerling dan tersenyum geli. Sepasang matanya menatap wajah Tiong San dengan seri yang
mengagumkan.
“Coba kau ulangi makianmu tadi ....” bisiknya.
“Ha ....??? Kau .... kau .... gila .....?”
“Memang aku gila ...., aku gila karena tergila-gila kepada seorang seperti kau ....!” bisik Siang Cu yang
pada saat itu juga tenggelam dalam pelukan Tiong San.
Bulan purnama di atas kepala mereka berseri menyaksikan kebahagiaan dua makhluk bumi ini…..
>>>>> T A M A T <<<<<
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil