Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 31 Juli 2018

Cerita Silat Pendekar Cengeng 1

=======

baca juga
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
JILID I
DARI dalam rumah ternbok model kuno
terdengar suara tangis mengguguk, diselingi
rintihan memanggil-manggil nama orang yang
sudah sudah menjadi mayat. Sampai seakan suara
orang yang menangis itu tak terdengar lagi karena
sudah sehari semalam ia terus, menerus menaagis,
tanpa rnemperdulikan orang yang melayat.
Semenjak jaman dulu, rakyat sudah mengenal
kesadaran bergotong-royong sehingga ada pepatah.
"Tangis dan tawa lebih cepat terdengar oleh
tetangga dekat daripada keluarga jauh."
Rumah itu tempat tinggal keluarga Yu dan yang
meninggal dunia adalah kakek Yu. Bukan orang
biasa melainkan pendekar tua Yu Tiang Sin yang
selama puluhan tahun telah, terkenal di dunta
silat, jagoan atau penjahat manakah tidak
2
mengenal nama julukan Yu kiam sian -(Dewa
Pectang Yu)?
Bukan hanya terkenal sebagai seorang
pendekat pedang yang selalu membela kebenaran
dan keadilan, tetapi juga Yu Tiang Sin terkenal
sebagai seorang yang anti kepada pemerintah
penjajah.
Pada masa itu seluruh Tiongkok dikuasai
bangsa Goan, yaitu kerajaan bangsa Mongol yang
dipelopori Jenghis Khan yang terkenal sampai di
Eropa. Akan tetapi setelah bangsa Mongol dipimpin
Kaisar Kubilai Khan cucu Jenghis Khan. barulah
dinasti Goan berdiri dan seluruh Tiongkok
dikuasai.
Rakyat yang menderita akibat penyerbuan
tentara Mongol, sampai puluhan tahun tertindas,
menaruh dendam dan membenci kaum penjajah
ini. Akan tetapi disamping orang-orang berjiwa
pahlawan seperti pendekar tua Yu, banyak pula
bermunculan penjahat pangkhianat bangsa yang
tak segan-segan menjual negara dan tanah air
demi kedudukan, kemuliaan dan kekayaan.
Puluhan tahun lamanya pendekar Yu tiada,
hentinya berusaha untuk membela rakyat tertindas
dengan caranya sendiri, yaitu memusubi para
pembesar penjajah atau boneka-boneka penjajah,
juga raja muda yang bermunculan di dusundusun.
Entah berapa banyaknya pengkhianatpengkhianat
yang setelah menjadi pembesar lalu
menghina dan menindas bangsa sendiri dibunuh
oleh 'Yu-kiam sian. tanyak pula hartawan3
hartawan yang kikir dan jahat tewas di ujung
pedang pendekar ini.
Hartawan-hartawan yang menjadi raja muda di
dusun-dusun memang banyak sekali yang jahat.
Mereka mengandalkan kekayaannya, menindas si
miskin dan si lemah, merampas anak bini orang,
dan di samping mereka memelihara tukang tukang
pukul, juga dengan jalan monyogok pembesarpembesar
seterapat mereka dapat memperalat para
pembesar itu.
Sepak terjang Yu Tiang Sin ini tentu saja
membuat ia dicintai rakyat yang tertindas dan
disegani serta dihormati orang-orang gagah, akan
tetapi ditakuti dan dibenci orang-orang dari
golongan hitam, setelah berusia tujuh puluh tahun
kakek Yu mengundurkan diri dan hidup tenang
serta damai di dusun Ki-bun di lembah Sungai
Huai.
Di sini ia hidup bersama tiga orang anak dan
tujuh orang cucunya, karena semua mantu dan
cucunya mernpelajari iltnu silat, maka keluarga Yu
ini terkenal sebagai keluarga yang kuat dan
disegani.
Ketika Dewa Pedang itu meninggal karena usia
tua, semua keluarganya berkabung dan berduka.
Akan tetapi yang paling berduka dan tak hentinya
menangis dan memanggil-manggil adalah cucunya
yang paling bungsu.
Cucu ini bernama Yu Lee dan sejak kecil
memang menjadi cucu kesayangan kakeknya.
Karena menurnpahkun kasih sayang ini, anak
4
itupun membalas cinta kasih yang melebihi ayah
bundanya sendiri.
Di saat kakeknya rneninggal, Yu Lee baru
berusia delapan tahun tahun dan biarpun semua
orang menghiburnya, ia tidak mau berhenti
menangisi mayat kakeknya.
Rurnah itu sudah diberi tanda berkabung
dengan kertas dan kain putih. Jenazah kakek Yu
telah dimasukkan peti mati dan ditaruh di ruargan
depan.
Di meja sembahyang yang berdiri di depan peti
mati, di samping lilin dan asap dupa serta hio
mengebul mernenuhi ruangan. Tiga orang putera
dan dua arang cucunya yang sudah berusia
belasan tahun, menjaga peti mati untuk mewakili
kakek Yu dalam membalas penghormatan
pengunjung yang berlayat.
Keluarga perempuan setelah menjalankan
"upacara berkabung" dengan jarit tangis sedih
depan peti mati, lalu masuk ke dalam untuk
membantu di dapur mengeluarkan hidangan bagi
mereka yang berlayat.
Yang amat mengharukan adalah Yu Lee. Ia
tetap saja menjaga pwti mati, biarpun ia dihardik
ayahnya sehingga tak bisa menangis keras, tetapi
masih bercucuran air mata dan terisak-isak,
matanya merah memandang peti mati, tangannya
mengelus-elus peti dan bibirnya bergetak-gerak,
seakan-akan berbicara dengan kakeknya yang
berada di dalam peti !
5
Sebagai seorang bekas pendekar terkenal tentu
saja banyak sahabat yang datang untuk
mamberikan penghormatan terakhir pada jenazah
kakek Yu. Hilir mudik orang yang datang dan yang
pergi, sehingga putera-putera dan cucu menjadi
sibuk sekali membalas penghormatan para tetamu.
Pada hari ketika, pagi pagi sekali telah tang
seorang tetamu, Sepagi itu hanya Yu Lee yang
sudah mendekam di dekat peti mati itu,. Ayah dan
saudara-saudaranya segera keluar menyambut
tamu itu.
Akan tetapi tamu yang datang kali ini sikapnya
luar biasa dan tidak seperti tamu-tamu yang lain.
Dia sudah tua, sedikitnya enam puluh tahun
usianya. Pakaiannya kasar dan sederhana, di
punggungnya terdapat sebuah guci arak berbentuk
bulat dengan leher panjang dan mulut tersurnbat
kain kuning, di pinggang kiri tergantung sebatang
pedang yang gagang dan sarungnya sudah tua dan
buruk. Melihat pakaian pendeta dan rambutnya
yang digelung dan diikat pita kuning, tentu dia
seorang tosu (pendeta Agama To) pengembara.
Tubuhnya kurus kering, mukanya pucat
kehijauran dan berbentuk panjang, matanya sipit
sekali seakan selalu terpejam. Keadaannya
sesungguhnya sangat menyelihkan, tidak
sedikitpun membayangkan semangat dan
keriangan hidup.
Akan tctapi anehnya mulut kecil yang ompong
itu selalu tersenyum dan karena bagian lain dari
mukanya tidak memancarkan keriangan maka
6
senyumnya ini tidak seperti senyum lagi, lebih
patut kalau dikatakan menyeringai dan mengejek.
Begitu masuk pekarangan rumah keluarga Yu
yang sedang berkabung terdengar ia bernyanyinyanyi
diseling suara terkekeh-kekeh.
Lain tamu, setelah berhadapan dengan meja
sembahyang dan peti mati lantas menyalakan hio
dan bersembahyang sebagai penghormatan
terakhir, namun tosu ini malah berdiri memandang
peti mati dengan matanya yang sipit berkedipkedip.
Kemudian terdengar suara tertawanya
bergelak.
'Ha-ha-ha, Yuloheng (kakak tua Yu). Kau benarbenar
enak sekali pergi menuju kebebasan derita
hidup. Tinggalkan julukan yang kosong
melompong, terbebas urusan dunia yang serba
palsu. Yu- loheng di waktu hidup berjuluk Dewa
Pedang, Ha, ha, ha, bukankah itu nama kosong
belaka? Kalau dewa tentunya tidak mengenal mati
- hidup, dan pedangmu ….. ha-ha ..ha, mana
pedangmu,? Biarpun masih ada, tak ada gunanya
lagi. Kau senang Yulobeng sayangnya sebelum
pergi tidak pamit lebih dahulu kepadaku
Anak cucu kakek Yu memandang tosu itu
dengan muka membayangkan kemarahan. Kakek
yang mereka hormati telah meninggal, janazahnya
masih berada di dalam. Bagaimana sekarang tosu
ini berani terang-terangan rrenghina dengan katakata
aneh ? Hanya Yu Lee yang tidak merasa heran
bahkan tangisnya makin menjadi. Ia seolah-olah
membayangkan bahwa tosu itu bercakap-cakap
dengan kakeknya, seolah-olah mendengar suara
7
dan ketawa kakeknya. Akan tetapi, kalau ia
memandang peti mati, teringatlah ia bahwa
kakeknya yang tercinta telah meninggalkannya.
"Hai bocah! Kau tentunya cucu Yu-loheng.
Kenapa menangis? Bocah cengeng kau! Masa
dengan terbebas dari hukurnan kau sambut
dengan tangis? Bodoh ! Cengeng!" Tosu itu
mendelik memarahi Yu Lee kemudian memukulmukulkan
tongkat di atas lantai dan
bersenandung. Yang ia nyanyikan sama sekali
bukan doa untuk yang mati, dan lagunya malah
bernada gembira.
Manusia hidup lunak dan lemas,
kalau mati menjadi kaku dan keras. Segala
mahluk dan tanaman hidup
lunak dan lemas,
kalau mati menjadi kering dan getas
( mudah patah)
Kaku dan keras adalah kematian,
lunak dan lemas adalah teman kehidupan.
Tosu itu berhenti menyanyi dan tertawa lagi
terbahak-bahak, menurunkan guci araknya.
berkata nyaring.
"Yu lobeng, silakan minum arak !" Dia
menggerakkan guci araknya dan dari dalam guci
yang mulutnya sudah terbuka itu memercik arak
yang berbau harum. Kemudian tosu itu
mendekatkan mulut guci itu ke rnulutnya dan
8
terdengar suara menggelogok ketika arak yang
berwarna merah masuk ke mulutnya.
Kemudian ia menyimpan kembali guci araknya
dan tanpa dipersilakan ia telah duduk di atas
sebuah bangku,
Tiga orang putera kakek Yu ini memiliki
kepandaian silat yang tinggi namun mereka belum
pernah bertemu dengan tosu ini.
Dalam hati mereka marah sekali, namun
karena sikap tosu ini tidak memusuhi jenazah
ayah mereka, bahkan kata-katanyapun
mernbayangkon bahwa ia adalah sahabat kakek
Yu.
Mereka tidak
rnengutarakan
isi hatinya
Hanya mereka
tidak tahu
bagaimana
harus menyebut
tamu aneh ini.
Orang lain
berlayat untuk
berbela
sungkawa, akan
terapi tosu ini
datang seolaholeh
hendak
memberi
selarnat atas
kematian kakek
Yu bahkan
9
mengajak si peti untuk minum arak. Di dunia ini
mana ada atutan macam ini. Namun tiba-tiba Yu
Lee bangkit dari bawah peti mati di mana tadi ia
berlutut, kemudian menghampiri tosu itu dan
sambil terisaic-isak, "Orang tua, kakekku sudah
tidak dapat menyambutmu ……. ia sudah mati.”
Sampai di sini tak tahan lagi ia menangis terisakisak.
"He, bocah menyebalkan! Bocah cengeng ! Siapa
bilang Yu loheng mati? Apa kau tahu benar ?”
Yu Lee lupa akan kedukaannya, lupa akan
tangisnya. Ia menengadah memandang wajah tosu
yang duduk di kursi itu.
Sitosu terkejut. Anak ini wajahnva simpatik,
berbentuk bulat seperti bulan purnama, putih
bersih. Sepasang matanya yang kini merah karena
terlalu banyak menangis itu lebar dan bening.
Sinarnya tajam penuh kejujuran dan kemurnian.
“Orang tua, kakekku sudah mati. Banar-benar
mati. Ia tak menjawab pertanyaanku dan, tidak
bernapas lagi. Kalau tidak mati masa dimasukkan
peti mati?” Saking hetannya terhadap sikap dan
ucapan tosu itu Yu Lee sampai lupa akan
kesedihannya.
"Ha-ha –ha- bocah cengeng! Kau seperti yang
tahu saja ! Apa itu mati ? Apa itu hidup? Sebelum
hidup dari mana? Sesudah mati ke mana ?"
Sudah tentu bocah berusia delapan tahun itu
akan terlongo kebingungan mendengar pertanyaan
yang tidak mungkin terjawab oleh orang pandai
sekalipun.
10
"Locianpwe, harap maafkan puteraku yang
bodoh ini berani bersikap kurang ajar. Mohon
tanya, siapakah locianpwe yang terhormat?" Yu
Kai, ayah Yu lee dan sambil menarik tangan
puteranya ia menjura penuh hormat kepada tosu
itu. Yu Kai adalah putera sulung kakek Yu, seorang
berusia empat puluh lima tahun yang peadiam.
Tosu itu sejenak memandang Yu Kai, tiba-tiba
tangannya bergerak ke depan, jari telunjuknya
menotok ke arah jalan darah di dada Yu Kai.
Gerakan ini biarpun dilakukan sambil duduk,
namun cepatnya hukan main dan sebelum jari itu
menyentuh dada, angin pukulannya sudah
menyambar dan Yu Kai merasakan dadanya dingin
sekali. Sebagai putera pendekar, teutu saja Yu Kai
berkepandaian cukup tinggi.
Karena ia maklum bahwa totokan ini
mematikan dan tidak dapat ditangkis, ia cepat
menekuk tubuh ke belakang tanpa merobah
kedudukan kedua kakinya. Kalau meloncat ia
takkan dapat menghindarkan totokan itu. Dengan
menggerakkan tubuh melengkung ke belakang,
barulah ia dapat menghindarkan bahaya.
Setelah tubuh atasnya terhindar dari serangan,
baru kedua kakinya menekan lantai dan tubuhnva
mencelat ke belakang berjungkir balik membuat
salto dua kali dan kakinya menginjak lantai 1agi
dengan ringan.
“Ha, ha, ha, tua bangka Yu, a1angkah kikirnya.
Mempunyai kepandaian kalau tidak ditinggalkan
kepada anak cucu atau murid, untuk apa kau
bawa pergi ke lubang kubur ? Kau terkenal sebagai
11
Dewa Padang, namun puteramu hanya begini saja
kepandaiannya, sungguh memalukan.......
memalukan !”
Sementara itu Yu Kai marah bukan main
mendengar ejekan ini namun ia maklum bahwa
tosu ini mengejek bukan untuk menyombong.
Dalam segebrakan tadi, kalau tosu ini
menghendaki, nyawanva pasti sudah menyusul
ayahnya. Biarpun ia sudah mengelak dengan gerak
Siluman Naga Berjungkir Balik, sebuah gerakan
yang sukar dari hebat, namun masih kalah cepat
oleh si tosu aneh.
Buktinya baju bagian dadanya, tepat di jalan
darah yan-goat-hiat telah berlubang sebesar ujung
jari. Jelas bahwa tosu itu hanya mengujinya.
Namun sungguh keterlaluan tosu itu, menguji
sambil menghina.
Sesabar-sabarnya Yu Kai, karena baru berduka
dan berkabung, kini dihina orang, darahnya
mendidih dan memberi tanda dengan matanya
pada dua orang adiknya untuk mengusir tosu ini.
Para tetangga yang sudah berdatangan melihat
pula kejadian tadi. Mereka menjadi gelisah dan
makin banyaklah tetangga yang berdatangan
sambil berbisik-bisik.
"Hei, kakek tua!” Tiba tiba Yu Lee sebelum
dapat dieegah ayahnya sudah meloncat maju dan
membusungkan dada di depan tosu ini.
"Kau berani menghina ayahku? Orang gagah
macam apa kau ini? Setelah kakekku tak ada, baru
kau berani bikin ribut. Kalau kakekku masih
12
hidup, sekali bergerak kau tentu roboh........ " Tiba
tiba anak itu menangis, karena kalimatnya yang
terakhir ini mengingatkan ia kembali bahwa
kakeknya sudah mati!
Tosu itu sejenak memandang kagum, lalu
tertawa. "Ha-ha ha, engkau mewarisi kegagahan
kakekmu, sayang kau cengeng ! Yu-kiam Sian
mana mau bertanding denganku ? Siauw-bin-mo
(Setan Tertawa) Hap Tojin adalah sahabat baiknya,
ha-ha-ha !"
Mendengar disebutnya nama Hap Tojin yang
berjuluk Siauw-bin-mo, Yu Kai dan adik-adiknya
terkejut sekali.
Nama ini adalah nama seorang tokoh di dunia
kangouw. Ayah mereka pernah bercerita bahwa
Sianw-bin-mo Hap Tojin adalah teman
seperjuangannya. Seorang pendekar yang lihai.
Dan karena sepak terjangnya rnembasmi orangorang
jahat selalu dilakukan dengan tertawa-tawa
kaum penjahat rnemberinya julukan Siauw-bin-mo
atau Setan Tertawa.'
Pada saat itu terdengar suara ketukan keras.
Ketukan berirama yang datang dari luar
pekarangan. Keras sekali ketukan itu seperti
ketukan sebuah martil besar pada besi landasan.
Semua orang menengok keluar dan tampak-lah
seorang hwesio (rendeta Buddha) bertubuh pendek
gemuk, perutnya bulat seperti gentong, kepalanya
yang bundar itu gundul kelimis. Tubuh atasnya
telanjang bingga tampak sebagian perutnya yang
besar dan buah dadanya yang bergantung. Tubuh
bawahnya terbungkus kain yang berwarna kuning.
13
Hwesio ini mcmegang sebatang tongkat dan
suara ketukan nyaring itu adalah suara tongkat
yang memukul tanah berbatu. Begitu masuk
pekarangan hwesio itu menggerutu tetapi suaranya
nyaring dan parau.
"Mengapa ada suara gelak tawa, mengapa orang
dapat bergembira sedangkan dunia ini selalu
terbakar ? Kenapa kau tidak cari pelita, wahai
engkau yang berselubung kegelapan ?" Apa yang ia
ucapkan dengan nada nyanyian itu adalah sebuah
ayat dari kitab suci "Dhamma Pada" kitab Agana
Buddha.
"Ha-ha-ha, Tho- tee-kong (Malaikat Bumi)!
Kalau semua manusia ini pemurung seperti
engkau, matahari dan bulan menjadi gelap
sinarnya ! Ha-ha-ha !" sitosu mengejek. Kembali Yu
Kai dan adik-adiknya terkejut memandang hwesio
gundul itu.
Nama julukan Tho tee- kong sudah lama
mereka dengar dan baru kali ini melihat orangnya.
Menurut penuturan mendiang ayahnya. Tho-tee
kong ini bernama Liong Losu, hwesio perantau
yang berilmu tinggi.
Karena bentuk tubuh dan kelihaiannya maka
dunia persilatan memberi julukan Malaikat Bumi.
Seperti juga Siauw-bin-mo, Hap Tojin hwesio ini
adalah bekas teman seperjuangannya ayah
mereka.
Hwesio itu memandang kepada sitosu !alu
menggeleng-gelengkan kepala dan keningnya
berkerut. Kemudian ia berkata.
14
"Omitohud ! Hap- to-yu (sababat Hap)
sejak..dahulu masih juga belum mendapatkan
jaIan teraug !" Setelah berkata hwesio ini lalu
menghampiri meja sernbahyang dan menjura
dengan hormat ke arah peti mati. Perbuatan ini
segera, dibalas oleh Yu Kai dan adik-adiknya.
Dengan suara nyaring tapi parau hwesto ini
berkata,
'"Yu ticu (orang gagah Yu), sungguh
menyedihkan sekali orang gagah dan baik seperti
sicu meninggalkan dunia yang masih sangat
membutuhkannya. Terlalu banyak orang jahat di
dunia ini sampai penuh berdesak-desakan.
Alangkah sukarnya mencari orang baik seperti
sicu. Dunia amat kehilangan dengan meninggalnya
sicu ...... omitohud!”
Mendengar ucapan hwasio ini Yu Lee kembali
menangis mengguguk sambil memeluk peti mati
kongkongnya. “Kongkong ! Kenapa kongkong mati
sebelum aku kuat menggantikan kongkong menjadi
orang yang berguna ?” demikian anak ini berkata
sambil menangis.
Liong Losu mengangkat muka memandang.
Matanya bersinar kagum memandang kepada Yu
Lee. Ia mengangguk. "Siauw kongcu (tuan kecil) ini
betulkah cucu Yu sicu ?”
Yu Kai maju memberi hormat, "Betul dugaan
losuhu, Lee-ji (anak Lee) ini adalah cucu yang
bungsu. Dan putera tecu (saya-murid) yang
bungsu."
Liong Losu mengangguk-angguk.
15
"Siauw-kongcu anak baik, kecil-kecil sudah
mengenal kebaktian dan kegagahan.”
"Gagah berbakti apa ?" Tiba-tiba Siauwbin. ma
Hap Tojin tertawa mengejek. “Dia bocah cengeng,
dengan yang tua bangka Tho-teekong Liong Losu
bocah ini benar-besar cocok. Keduanya tukang
mengeluh dan menangis, menjemukan benar? Di
dunia ini mana ada-orang jahat? Semua orang
baik, hanya karena bodoh maka menyeleweng dari
kebenaran. Kalau sudah sadar tentu kembali ke
jalan yang benar. Yang jahat bukan orangnya
tetapi penggodanya. Lempar semua penggodanya
maka manusia takkan tergoda, takkan ada
kejahatan. Buang semua emas, takkan ada lagi
maling emas. Setelah hidup, mengapa banyak
mengeluh? Kalau dengan menangis atau tertawa
keadaan tidak bisa berubah, mengapa tidak
memilih tertawa. Dengan tertawa menyambut yang
baik tentu akan terasa lebih nikmat. Dan dengan
tertawa menyambut yang jelek; tentu akan
berkurang penderitaannya. Bagi seorang laki-laki
air mata lebih mahal daripada darah. Kau mau apa
lagi Tao-teekong tua bangka gundul? Ha-ha-ha!"
"Omitohud! To-yu (sahabat) tersesat jauh sekali.
Sayang, sungguh sayang. Siapa bilang hidup
adalah kesenangan? Hidup adalah sengsara,
karena siapa terlahir, tentu akan mengalami segala
macam penderitaan, kepahitan hidup, kekecewaan,
kedukaan, sakit dan mati. Yang dapat mengatasi
kematian dan kelahiran barulah bahagia. To yu
tertawa, hal itu hanyalah palsu belaka sebagai
kedok untuk menyarnbunyikan penderitaan yang
16
sebenarnya. Mengapa berpura-pura tertawa kalau
bathin menangis?"
Perdebatan antara dua orang aneh ini makin
menjadi. Karena yang mereka bicarakan adalah
urusan kematian dan amat mendalam maka Yu Kai
dan adik adiknya tak berani mencarnpuri
percakapan mereka.
Karena itu mereka menabiarkan saja dua orang
tua itu berbantahan. Dan mereka sibuk
menyambut tamu-tamu lain yang berdatangan
untuk memberi penghormatan terakhir kepada
jenazah Yu Tiang Sin.
Ketika melihat datangnya seorang pengemis tua
di antara para tamu, Yu Kai segera menyambutnya
sebab rnengira pengemis ini seorang tokoh besar
persilatan yang mengenal ayahnya. Akan tetapi
kakek pengemis ini tidak menghampiri meja
sembahyang melainkan segera duduk di atas tanah
dan menundukkan muka sambil menggaruk-garuk
punggungnya.
Kepala pengemis itu tertutup sebuah topi lebar
yang butut sehingga mukanya tersembunyi di baik
topi lobar itu.
Rambutnya sudah putih semua, tubuhnya
kurus kering dan pakaiannya penuh tambalan
sobekan di sana-sini memperlihatkan kulit yang
keriput dan tulang yang menonjol. Sepatu rumput
yang menutupi kedua kakinya juga sudah butut.
Sewaktu berja1an masuk tadi ia dibantu oleh
tongkatnya yang terbuat dari bambu dan kini
tongkatnya melintang di pangkuannya.
17
Keadaannya jelas membayangkan bahwa ia
seorang pengemis yang hidupnya sangat sengsara
dan agaknya sering menderita kelaparan. Tak ada
hal yang aneh dan rnencurigakan pada diri kakek
ini hingga para tamu tidak ada yang
memperhatikannya. Melihat sikap pengemis itu Yu
Kai pun akhirnya menganggap dia bukan tamu
melainkan seorang pengemis biasa, maka dia tak
memperhatikannya lagi.
Tidak demikian dengan Siauw bin-mo Hap Tojin
dan Liong Losu. Karena pengemis itu berjongkok di
dekat meja mereka, keduanya memandangnya dan
menghentikan perbantahan mereka lalu Hap Tojin
rnenegurnya.
"Eh, lokai (pengemis tua), orang mengemis
sepatutnya mendatangi orang yang sedang
merayakan perkawinan dan bukan orang yang
berkabung! Di tempat kematian ini mana ada
makanan lebih?" Tosu itu tertawa-tawa sehingga
banyak tamu yang mungerutkan kening. Tertawa
tawa di waktu melayat benar-benar merupakan
perbuatan yang tak sopan.
Sebaliknya Liong Losu melihat pengemis ini
seraya berkata,
“Nah kau lihatlah baik-baik, to yu. Seperti
pengemis ini, bukankah ia rnenderita dalam
hidup? Sudah tua bangka dan berpenyakitan,
masih menderita kelaparan dan hidup terhina
sebagai pengemis. Tidak kasihankah kau melihat
penderitaan manusia ini?”
"Menderita apa ? Dia senang ! Lebih senang dari
orang lain. Dia tua, apa kau kira orang muda lebih
18
senang dari pada orang tua. Dia miskin, apa kau
kira orang kaya lebih senang dari pada orang
miskin? Dia kurus, apa kau kira orang gemuk
seperti kau ini lebih senang dari pada orang kurus
?"
Kembali dua orang ini berbantahan, tanpa
menghiraukan lagi kepada sipengemis tua itu.Tibatiba
pengemis itu menarik napas panjang dan
berkata.
"Apakah itu baik? Apakah itu jehat? Manusia
tidak baik, juga tidak jahat. Kebaikan yang dipuji
orang bukan kebaikan lagi. Kejahatan yang dicela
orang belum tentu kejahatan. Siapa menciptakan
baik dan jahat? Orang! Siapa menciptakan susah
dan senang? Orang. Semua itu sebetulnya tidak
ada. Adanya karena dipaksakan orang, oleh orang
yang memang suka mengada-ada! Semua kosong
kelihatannya berisi akan tetapi kosong. Yang
kosong sebetulnya penuh isi. Aneh tapi tidak aneh.
Benar tapi salah juga! Heh ........ ... " pengemis itu
menghela napas lagi. Lalu bangkit dan jalan
perlahan dibantu tongkatnya. Setelah berdiri baru
tampak mukanya. Muka tua yang keriputan, muka
yang terlalu tua untuk hidup, Usianya sudah
seratus tahun lebih.
Tosu dan hwesio itu saling pandang. Sebagai
dua orang ahli kebatinan, mereka mendengar
ucapan pengemis tadi seperti halilintar
menggelegar di angkasa. Mereka sekaligus tunduk,
takluk merasa terkalahkan. Keduanya segera
berdiri hendak menyusul, akan tetapi ketika
memandang keluar kakek itu sudah lenyap,
19
seakan-akan ditelan bumi. Keduanya menghela
napas. Siauw-bin-mo yang sadar lebih dahulu
berkata sambil tertawa.
"Dalam segebrakan kita runtuh, ha-ha-ha!
Dapatkah kau menduga, siapa dia?”
Hwesio gendut itu menggelengkan kepala.
"Pinceng (aku) tidak tahu. Akan tetapi sinar
matanya........ hebat !"
Makin siang makin banyak tamu yang datang
berlayat kepada jenazah kakek Yu. Akan tetapi
setelah lewat tengah hari tamu-tamu mulai
meninggalkan tempat itu dan setelah senja rumah
itu menjadi sepi.
Anehnya tosu dan hwesio itu masih saja
bercakap-cakap. Diam-diam para pelayan merasa
mendongkol. Sudah dua kali mereka menyuguhkan
hidangan pada dua pendeta ini.
Yang paling menjemukan adalah si hwesio yang
tidak pantang makan daging dan arak. Tetapi Yu
Kai dan adik-adiknya maklum bahwa kedua
pendeta ini adalah orang yang ber-ilmu, mereka
tetap bersikap hormat sambil menduga-duga
mengapa kedua orang ini tetap berada di situ ?
Mereka mulai gelisah dan menduga pasti akan
terjadi sesuatu, maka mereka bersiap-siap untuk
menghadapi segala kemungkinan.
Orang-orang mulai menyalakan lampu, malam
itu malam terakhir menjaga peti mati, karena
besok pagi peti mati itu akan diberangkatkan ke
kubur. Setelah melakukan upacara sembahyang
Yu Kai dan adik-adiknya menjaga peti mati. Karena
20
khawatir kalau anak anak mereka sakit, Yu Kai
memaksa anak-anak masuk dan mengaso di dalam
rumah.
Yu Lee yang takut kepada ayahnya terpaksa
juga meninggalkan peti mati sambil menengok peti
mati itu beberapa kali. Kini yang menjaga peti mati
hanya Yu Kai dan adik-adiknya serta tosu dan
hwesio yang duduk menghadapi meja hidangan
dan arak.
Tak lama kemudian berkelebat bayangan hitam
dan tahu-tahu di depan peti mati telah berdiri dua
orang. Yang seorang berumur lima puluhan,
bermuka kuning bertubuh tinggi besar. Di
punggungnya tampak sebatang golok besar, Orang
kedua seorang wanita, usianya empat puluh tahun,
dimukanya yang putih dan cantik itu tampak
goresan pedang, dari pipi kanan sampai ke dagu
sehingga muka yang cantik itu tampak
menyeramkan.
Wanita cantik ini membawa sebatang pedang di
pinggang kirinya. Begitu tiba di depan peti, kedua
orang ini memandang peti mati dengan mata
beringas. Yang lelaki berkata, suaranya
menyeramkan.
“Yu Tsang Sin, kami berjanji sepuluh tahun
akan mengadakan perhitungan. Malam ini tepat
sepuluh tahun. Siapa kira kau tidak menepati janji
dan telah mati. Hendak kulihat apakah kau benarbenar
mampus ataukah hanya berpura-pura mati
karena takut akan pembalasan kami?"
21
Setelah berkata demikian laki-laki muka kuning
ini melangkah maju. Tangan kanannya bergerak
hendak memegang peti mati.
Yu Kai dan adik-adiknya yang menjaga peti
mati dan tadinya sudah bersiap.siap hendak
membalas penghormatan orang mendadak menjadi
terkejut mendengar ucapan itu. Yu Kai segera
melompat berdiri diikuti kedua orang adiknya dan
berkata,
"Tahan dulu ! Siapapun tidak boleh
mengganggu peti ayahku!”
Laki laki muka kuning ini menahan tangannya
lalu memandang kepada Yu Kai dan adik-adiknya.
Dua orang adik Yo Kai bernama Yu Liang berusia
empat puluh tahun dan Yu Goan tiga puluh tahun.
Seperti Yu Kai mereka juga telah menerima
gemblengan ilmu silat tinggi dari ayahnya. Akan
tetapi', karena kurang berbakat, maka ilmu
silatnya tidak sebaik Yu Kai yang berwatak
pendiam.
"Hemm, kalian ini tentunya putera situa Yu
bukan? Bagus, ayah harimau anaknya harimau
pula. Tetapi kami bukan orang yang suka
menggangau harimau, kecuali harimau yang
pernah mencakar kami. Aku mau melihat muka Yu
Tiang Sin tidak perduli kau membolehkan atau
tidak!"
Setelah berkata si muka kuning melanjutkan
gerakan tangannya ke arah peti mati.
"Manusia jahat jangan kurang ajar!" tiba-tiba
Yu Goan tidak dapat menahan sabarnya lagi. Ia
22
menerjang ke arah lambung kiri si muka kuning
itu. Hebat sekali pukulan ini dilakukan dengan
pengerahan tenaga dalam yang dahsyat. mengarah
bagian lemah tubuh lawan.
“Bagus Yu Liang Sin, bukan aku yang menghina
orang muda, tapi anakmu yang menyerangku!" si
muka kuning berkata sambil menangkis dengan
tangan kirinya, sedang tangan kanannya tergerak
terus ke arah peti mati.
Terdengar suara keras, dan berbareng dengan
terbongkarnya tutup peti mati, tubuh Yu Goan
terlempar sampai tiga meter dan roboh di atas
lantai.
Yu Kai terkejut. Kemarahannya meluap. Orang
telah menghina ayahnya. Jenazah yang sudah tiga
hari tiga malam itu tercium bau tidak sedap. Dia
maklum betapa lihai lawan ketika menangkis
serangan Yu Goan, dengan gerakan sedikit
membetot, Yu Goan sudah terlempar jauh, dan
berbareng dengan itu tangan kanan si muka
kuning itu sekali memukul dengan jari terbuka
sudah dapat membongkar tutup peti mati yang
rapat dan amat kokoh kuat itu. Dapat dibayangkan
berapa hebat tenaga dalam si muka kuning ini.
Namun Yu Kai tidak sembrono seperti adiknya.
Ia cepat melangkah maju dan bertanya, "Siapakah
tuan berdua yang tidak berpribudi ini ? Dan apa
dosa mendiang ayah kami sehingga setelah
meninggal dunia masih mengalami penghinaan
tuan?"
Si muka. kuning mendengus. Sikap Yu Kai
membuat ia tidak berani memandang rendah.
23
Setetah memandang dengan penuh selidik, lalu
berkata. "Aku adalah Kim to (Golok Emaa) Cia
Koan Hok, dan dia isteriku Bi-kiam (Padang
Cantik) Souw Kwat Si. Sepuluh tahun yang lalu
ayahmu telah mencampari urusan kami yang tidak
ada sangkut pautnya dengan dia, sehingga melukai
kami berdua. Sayang. kiranya ayahmu telah benarbenar
mampus dan rnenyiarkan bau busuk!”
“Keparat ! Tutup mulutmu bentak Yu Liang
yang marah sekali. Tetapi tiba-tiba terdengar desir
angin menyambar, Yu Liang cepat mengelak. Dan
sebatang piauw (pisau rahasia) menyambar di atas
kepalanya.
"Perempuan keparat! Ia memaki sambil
menerjang penyerangnya tadi.
Bi-kiam Souw Kwat Si tersenyum mengejek dan
menangkis. Begitu kedua tangan bertemu secara
aneh jari tangan nyonya itu sudah menotok jalan
darah di pergelangan tangan. Yu Liang terkejut, ia
berusaha mengelak dan menarik kembali
lengannya.
Untung ia bisa bergerak cepat sehingga
lengannya tidak tertotok secara tepat, hanya
kesemutan saja. Terlambat sedikit saja tentu
tangannya akan lumpuh.
"Hi-hi-hi, kau terkejut ?” tanya si nyonya sambil
tersenyum lebar. Kalau saja tidak ada guratan
bekas luka dari pipi ke dagu tentu senyum itu
akan kelihatan manis. Pandangannya tajam penuh
arti, mata seorang perempuan genit !
24
Memang diantaaa saudara-saudaranya, Yu
Liang adalah yang paling tampan. Mukanya
bundar, alisnya tebal, hidungnya mancung. Jauh
lebih tampan dibanding dengan si muka kuning.
*Sayang ayah dulu tidak menggurat lehermu
sampai putus !" bentak Yu Liang marah. Ia mulai
dapat menduga mengapa wanita ini bermusuhan
dengan ayahnya. Jelas wanita ini bukan orang
baik-baik. Sambil membentak ia menerjang dengan
pukulan bertubi-tubi, namun sambil tertawa
perempuan ini rnengelak dengan gerakan lincah
sekali.
Melihat adiknya sudah bertanding melawan
musuh, Yu Kai juga tidak tinggal diam dan
berseru. "Ayah sudah meninggal tetapi masih ada
puteranya yang tidak akan mundur melawan
penjahat !"
“Bagus !' Kim-to Cia Koan Hok miringkan tubuh
menghindarkan pukulan Yu Kai yang meluncur ke
arah dadanya dan pada detik berikutnya ia balas
menusuk ke arah iga lawan.
Yu Kai terkejut, sodokan jari itu bukan mainmain,
karena itu adalah jurus (Dewa Menunjuk
Jalan) yaitu menggunakan dua buah jari menutuk
jalan darah yan-goat-biat di bawah ketiaknya.
Cepat-cepat dia menurunkan pangkal lengannya,
rnenggunakan siku memapaki tangan lawan
sambil memukulkan tangan kiri ke pelipis kanan
lawan.
"Eh, kau boleh juga !" Si muka kuning berseru
merendahkan tubuh lalu mengirim tendangan
secara tiba-tiba.
25
Diserang seperti ini, Yu Kai meloncat mundur,
namun lawannya mendesak terus dengan gerakan
Lian-hoan-twi yaitu ilmu tendangan bertubi-tubi
dengan kedua kaki bergantian. Ia segera mundur
dengan langkah Tui-po-lian-hoan (Mengundurkan
Kaki Bcrantai ) sambil menungkis dan berusaha
menangkap kaki lawan. Dengan demikian keadaan
menjadi berbalik.
Biarpun kelihatannya menyerang namun
bahaya berada di pihak si penyerang. Karena sekali
saja kakinya tertangkap, celakalah ia. Si Golok
Emas ternyata lihai sekali karena ia segera
merobah gerakan kakinya dengan serangan
pukulan sehingga Yu Kai repot untuk
menangkisnya. Setiap kali lengannya menangkis, ia
merasa tubuhnya tergetar dan lengannya nyeri,
pertanda bahwa ia masih kalah tenaga.
Sementara Yu Liang yang melawan nyonya itu
segera terdesak setelah wanita itu melakukan
pertyerangan cepat. Gerakannya benar-benar cepat
seperti burung walet menyambar-nyambar.
Baru belasan jurus saja Yu Liang sudah kena
terpukul membuat ia terhuyung-huyung.
Namun Yu Liang tidak gentar. Ia lalu
menyerang lagi penuh kemarahan. Yu Goan yang
tadi terbanting roboh, kini bangun dan menerjang
membantu adiknya. Namun biar dikeroyok dua,
Souw Kwat Si masih tertawa-tawa mengejek dan
tubuhnya berkelebatan menyerang kepada kakak
beradik itu.
Keributan di ruang depan ini agaknya
menimbulkan panik di dalam rumah. Semua
26
pelayan dan anak isteri tiga saudara Yu
bersembunyi di dalam kamar. Biarpun mereka ini
keluarga pendekar, namun mereka ini hidup
tenteram dan baru kali ini mereka melawan musuh
yang datang menyerang.
Tetapi Yu Lee menyelinap keluar dan berlari ke
ruangan depan. Melihat peti mati terbuka ia lari
mendekati dan menjenguk ke dalam peti mati.
"Kong- kong, ah, kong-kong ........ ada orang
........ yang mengganggu tempat tidurmu, kenapa
kau tidak pukul mereka? Kong-kong, kau ........
sudah ..... kau sudah mati ...... " anak itu menangis
keras. Kemudian ia menengok ke arah mereka yang
berkelahi.
Ia baru mempelajari dasar-dasar ilmu silat
maka tidak tahu bagaimana keadaan ayah dan
kedua pamannya. Hatinya ingin membantu namun
ia dimarahi ayahnya. Kemudian ia berlari masuk
dan tak lama kemudian kembali sambil membawa
tiga batang pedang.
“Ayah,Paman! Mari gunakan pedang memukul
penjahat !" teriaknya.
Memang Yu Kai den kedua adiknya sudah
terdesak, rnaka teriakan ini mengingatkan mereka.
Juga teriakan anak itu menarik perhatian kedua
orang lawan sehingga ketiganya mendapat
kesempatan mundur.
"Lee-masuklah!” seru Yu Kai setelah menerima
pedangnya. Kemudian bersama adik-adiknya ia
sudah meloncat maju lagi menghadapi lawan. Kimto
Cia Koan Hok tertawa lalu menghunus goloknya
27
yang mengeluarkan sinar menyilaukan. Itulah Kimto
golok emas yang membuat namanya terkenal.
Sepuluh tahun yang lalu Kim-to Cia Koan Hok
terkenal sebagai seorang perampok yang ganas,
disamping isterinya Bi-kiam Souw Kwat Si yang
memiliki ilmu kepandaian setingkat dengan
suaminya. Akan tetapi semenjak suami isteri ini
roboh di tangan Yu kiam-sian, mereka menghilang
dari dunia kang ouw tidak mendengar lagi nama
mereka.
Melihat suaminya menghunus golok emasnya,
Bi-kiarn Souw Kwat Si tertawa. Suara ketawanya
merdu.
“Eh-eh, untuk menghajar anak.anak ini
perlukah menggunakan senjata?”
Akan tetapi tiba-tiba wanita ini meloncat ke
samping, menghindarkan diri dari serangan pedang
yang gerakannya cepat dan kuat. Ia terkejut
melihat serangan Yu Kai ini dan ia tahu bahwa
menghadapi pedang lawan ini, ia tidak boleh main
main, cepat tangan kanan.nya tergerak dan "sring
!" sebatang pedang sudah berada di tangannya.
Mendiang Yu Tiang Sin terkenal karena ilmu
pedangnya sehingga ia mendapat julukan Dewa
Pedang. Sayang bahwa ketiga puteranya kurang
berbakat hingga belum dapat mewarisi seluruh
kepandaiannya. Apa lagi ilmu pedangnya yang luar
biasa amat sukar dipelajari, putera-puteranya
belum dapat menguasai sepersepuluh bagian ilmu
ini. Ilmu pedang yang mengangkat nama Yu Tiang
Sin ini disebut Ngo-heng-lian-hoan.kiam.
28
Ilmu pedang ini berdasarkan Ngo-heng yaitu
lima unsur yang saling menghidupkan dan saling
mematikan (api-air-kayu-logam-tanah) maka di
datamnya mengandung perobaban.perobanan yang
tidak terduga, dan penggunaan tenagapun
berselang-saling tenaga Yang-kang (tenaga kasar)
dan Im-kang (tenaga lemas).
Sipat inilah yang membuat Ngo-heng lian hoan
kiam sukar dipelajari, dan hanya dapat dipelajari
oleh orang yang sudah tinggi tenaga lweekangnya,
semua terdiri dari seratus tujuh puluh duajurus,
dibagi dalam tiga tingkat.
Tiga orang putera Dewa Padang itu hanya
menguasai dua puluh jurus saja, tingkat
pertamapun belum habis.
Namun setelah mereka memegang pedang
ternyata keampuhan ilmu pedang Ngo-heng-tian
hoan-kiam mengagumkan. Tiga batang pedang itu
mengeluarkan angin yang keras dan begitu
menerjang maju, suami isteri itu terhuyung ke
belakang ! Sayang sekali ketiga saudara yang
mempunyai ilmu pedang hebat itu belum
mempunyai tingkat selanjutnya, hingga mereka
hanya mampu mendesak tanpa mampu
memperoleh kemenangan. Karena pada dasarnya
mereka memang kalah tenaga dan kalah
pangalaman. Setelah suami itu bertahan puluhan
jurus, mereka bertiga mulai terdesak!
"Ha ha ha ! Begitu sajakah ilmu pedang anakanaknya
si Dewa Pedang? Kalau sungguh tak tahu
malu si tua bangka she Yu berani menggunakan
juIukan Dewa Pedang !" seru Kim-to Cia Koan Hok
29
yang telah menyelami tingkat kepandaian lawan.
Iapun lalu menggelakkan kim-to sambil
mengerahkan tenaga, membabat pedang Yu Liang.
"Trang!" Pedang Yu Liang terlempar dan
berbareng dengan itu pedang Yu Goanpun
terlempar oleh pedang Bi-kiam Souw Kwat Si,
Tidak hanya di situ gerakan suami isteri ini. Golok
dan pedang berkelebat dan Yu Liang bersama
adiknya roboh dengan pundak dan paha terluka.
Untung mereka masih bisa berkelit, kalau tidak
tentu binasa. Lukanya tidak berat namun cukup
membuat mereka tidak bisa melawan lagi.
Yu Kai menggigit bibir dan memutar pedang
cepat sekali. Sedikitpun ia tidak mundur meskipun
suami isteri itu bukan tandingannya. Ketika
pedangnya meluncur dengan lingkaran besar, dari
kanan kini golok emas dan pedang lawannya
mengurung kemudian menjepit. Ia masih berusaha
mengerahkan tenaga ke tangannya lalu
menggetarkan pedang supaya ter]epas, namun siasia
bahkan terdengar suara "krek!" dan tahu tahu
pedangnya patah menjadi dua, ia hendak meloncat
mundur namun terlambat, karena pedang wanita
itu telah menyambarnya, sehingga pakaian dan
kulit di pangkal lengan kirinya terbabat sedikit.
Darah keluar dan tubuh Yu Kai terhuyunghuyung
ke belakang.
“Ayah!" Sesosok bayangan kecil berkelebat dan
tahu-tahu Yu Lee sudah berdiri di depan
orangtuaya melindurigi ayahnya dan menantang
suami isteti itu dengan air mata bercucuran, tetapi
muka dan dadanya diangkat, sedtkitpun tidak
30
takut. "Jangan bunuh ayahku ! Hayo, kalau kau
betul-betul gagah, boleh bunuh aku !" teriaknya
dengan nyaring.
"Huh !" Kim-to Cia Koan Hok mendengus. "Aku
tak butuh kepala kecilmu, yang aku butuhkan
kepala Yu Tiang Sin." Ia tidak memperdulikan Yu
Lee dan melangkah ke arah peti mati dengan golok
di tangan. Ia agaknya hendak momenggal kepala
jenazah Yu Tiang Sin dan hendak membawanya
pergi.
"Tidak boleh ganggu kongkong !" Yu Lee
berteriak sarnbil maju, lalu memukul perut Kim.to
Cia Koan Hok.
"Lee jie mundur !" teriak Yu Kai kaget. Namun
terlambat, karena tahu-tahu kaki bekas perampok
ini menendang.
Tubuh Yu Lee terlempar ke atas dan masih
bagus baginya, karena Kim to Cia Koan Hok yang
merasa kagum melihat keberanian bocah ini tidak
mau menendang untuk membunuhnya, melainkan
hanya melontarkan tubuh anak itu dengan kaki.
"Omitohud!" Tiba-tiba terdengar suara
menyebut nama Buddha dan sebatang tongkat
bergerak menerima tubub Yu Lee, menahannya
hingga tidak sampai terbanting keras di tanah.
Ternyata Tho-tee.kong tiong Losu yang
menolongnya itu.
Adapun si Golok Emas dengan beringas terus
membacokkan goloknya ke arah leher jenazah Yu
Tiang Sin.
"Trang !”
31
Si Golok Emas terkejut sekali karena goloknya
tertahan dan hampir saja terlepas dari
pegangannya. Ketika melihat bahwa yang
menangkis goloknya adalah seorang tosu yang
memegang pedang buruk, ia cepat mundur sambit
menjura dengan hormat dan berkata, "Mohon
tanya, siapakah totiang dan mengapa mencegah
aku membalas sakit hati yang sudah terpendam
sepuluh tahun lamanya ?"
Penangkis golok itu ternyata Siauw bin-mo Hap
Tojin. Mendengar pertanyaan itu ia tertawa
bergelak.
"Ha- ha- ha, bocah sombong sungguh tidak
tahu diri. Dengan kepandaianmu yang cetek ini
bagaimana kau berani menghina jenazsh Yu Tiang
Sin? Sedangkan pedang bututku inipun belum
dapat menandingi Dewa Pcdang. Apa lagi golokmu
pemotong babi itu! Aku Siauw-bin.mo paling tidak
suka melihat bocah sombong!"
Kim-to Cia
Koan Hok tentu
saja pernah
mendengar
nama ini, diam
diam ia terkejut.
Tapi ia tidak
takut. Karena
tahu bahwa
tosu ini
membela musuh
besarnya. Ia lalu
memutar
32
goloknya, rnenyerang dengan dahsyat,
"Ha-ha ha . ... . manusia tidak tahu diri!”
Hap Tojin tertawa, pedangnya berkelebat dan
sekali lagi terdengar suara beradunya senjata,
disusul seruan kaget Kim to Cia Koan Hok karena
goloknya terlepas dari tangannya. Dengan muka
merah saking geram dan mainnya ia mengambil
goloknya- Dan tanpa perdulikan lawan yang
mentertawakan ia kemudian menerjang lagi dengan
hati-hati. Melihat lihainya tosu yang bertanding
melawan suaminya. Souw Kwat Si segera meIoncat
maju hendak membantu.
Akan tetapi tiba-tiba sebatang tongkat telah
meluncur ke depan kakinya. Bi-kiam Souw Kwat Si
memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang
tinggi, namun karena tidak rnenyangka sama
sekali, kakinya terjegal dan ia terhuyung-huyung
hampir jatuh. Baiknya ia cepat mematahkan
dorongan ini dengan meloncat ke alas hingga dapat
menguasai kembali keeimbangan tubuhnya.. Cepat
ia memutar tubuh sambil rnenyabetkan pedang.
Kiranya di belakangnya berdiri seorang hvvesio
gendut yang tengah memandangnya. Hwesio ini
menggeleng-gelengkan kepala, menarik napas
panjang dan berkata.
*Orang sudah mati masih dicari hendak
diganggu. Sungguh merupakan dosa besar.
Sebelum terlambat mengapa tidak insaf dan pergi
agar tidak menumpuk dosa ?"
Bi kiam Souw Kwat Si tahu bahwa hwesio
gundul inipun yang tadi menghalanginya dengan
33
tongkat panjang itu. Ia marah sekali, "Hwesio
gundul! Tugasmu hanya menyembabyangkan si
mati agar rohnya dapat pengampunan di akherat.
Sekarang mengapa engkau ikut campur urusan
kami?"
“Omitohud! Pinceng tidak mencampuri urusan
kalian, hanya memberi nasehat kepada toanio
(nyonya) agar jangan tersesat. Orang berdosa yang
insyaf akan dosanya kemudian bertobat, itulah
jalan yang baik. Akan tetapi apa bila orang berdosa
itu seakan-akan tidak tahu dosanya dan
melanjutkan kesalahannya yang dikiranya benar,
aduh sangat kasihan sekali orang semacam itu.”
"Ha-ha-ha Tho-tee-kong, apa kau mau
berkhothah?" tiba tiba Hap Tojin yang masih
melawan si Golok Emas tertawa seenaknya.
Mendengar disebutnya julukan hwesio ini
nyonya itu kaget dan tahu bahwa hwesio itu bukan
orang sembarangan dan rnenjadi musuh para
penjahat. Maka tanpa banyak cakap lagi
pedangnya berkelebat menusuk ke arah
tenggorokan hwesio itu.
Tho-tet-tong tidak mengelak, dan begitu pedang
sudah dekat dengan lehernya, tongkatnya menotok
ke depan dengan gerakan cepat sekali.
Bi- kiam Souw Kwat Si terkejut. Kalau ia
meneruskan serangannya, tongkat lawan tentu
akan lebih dulu menghantam pangkal lengannya
yang memegang pedang. Terpaksa ia mengelak
sambil menarik lengannya dan dari samping ia
membabatkan pedangnya ke arah pinggang lawan.
Gerakan ini selain indah juga dahsyat dan
34
berbahaya. Inilah yang disebut jurus Sin-liongtianw-
wi (Naga Sakti Menyabatkan Ekor) cepat dan
kuat gerakannya.
"Omitohud ........ pedangmu ganas sekali!" Seru
si hwesio kagum. Dari gerakan ini terbukti bahwa
nyonya ini benar-benar memiliki kepandaian yang
tinggi.
Tidak heran kalau putera-putera kakek Yu
bukan lawan suami isteri ini. Karena sambaran
pedang itu berbahaya. Tho-tee.kong lalu menekan
tongkat ke lantai dan tubuhnya loncat ke atas, di
belakang tongkat.
“Trang !” pedangnya itu menghantam tongkat
dan membalik. Nyonya itu kaget, telapak
tangannya serasa diiris pisau. Celakanya pada saat
itu, tongkat lawan menyambar ke arah kepalanya.
Tongkat itu mempunyai hiasan kepala naga
yang kini akan menyarnbar batok kepala. Nyonya
muda itu mengeluarkan keringat dingin, terpaksa
ia membuang diri ke atas lantai terus bergulingan.
Celaka baginya, tongkat itu terus membayangi
kepalanya, hanya terpisah satu kaki jauhnya. Bikiam
Souw Kwat Si menggigit bibir mengerahkan
tenaga lain membabatkan pedang ke kepala
tongkat. Terdengar suara keras dan tubuhnya
mencelat ke belakang.
Kiranya pedangnya telah patah dua, dan
bersamaan pula pada saat itu terdengar suara
Siauw bin-mo Hap Tojin tertawa bergelak dan
berkata.
'Pergilah !"
35
Tahu-tahu tubuh Kim-to Cia Koan Hok
melayang dan hampir saja menimpa tubuh
isterinya yang baru saja dapat menguasai
keseimbangan badannya.
Seperti isterinya, si golok emas tak berdaya
menghadapi lawan. Goloknya dibikin terpental oleh
Siauw-bin-mo dan lenyap entah ke mana. Kini
suarni isteri itu berdiri dengan pucat Rasa marah,
malu dan duka bercampur aduk menjadi satu.
Sepuluh tahun lebih mereka melatih diri
dengan tekun sehingga memperoleh kemajuan
pesat. Rasa dendam disimpan di dalam hati selama
sepuluh tahun. Kini mereka hanya bertemu dengan
peti mati musuh besarnya, kekecewaan ini saja
sudah hebat. Sekarang ditambah lagi kenyataan
bahwa jerih payah mereka ini sia-sia belaka.
Menghadapi dua orang sahabat musuh besarnya,
mereka tidak mampu berkutik ! Hati siapa takkan
menjadi malu, penasaran dan berduka ?
"Sudahlah !" Kim to Cia Koan Hok membanting
kakinya, lalu mengajak pergi isterinya. Mereka
meloncat dan lenyap dalam kegelapan malam,
Setelah mengobati luka-lukanya. Yu Kai dan
adik-adiknya lalu membetulkan penutup peti mati
memasang paku baru. Isteri dan anak anak
mereka baru berani keluar setelah musuh terusir
pergi. Kemudian dipimpin oleh Yu Kai mereka
berlutut di depan tosu dan hwesio itu untuk
menghaturkan terima kasih.
“Maafkan bahwa teecu menyambut jiwi
locianpwe (dua orang gagah) kurang hormat
kiranya jiwi adalah dua orang penolong besar yang
36
tidak saja sudah melindungi kehormatan keluarga
teecu sekalian juga menolong keselamatan teecu
bertiga."
"Ornitohud ........ tidak ada urusan tolongmenolong.
Yu sicu yang sudah meninggal dunia
adalah sahabat baik pinceng, sehingga keluarganya
sama dengan keluarga pinceng sendiri. Disamping
itu perbuatan jahat memang harus dicegah.
Pinceng hanya memenuhi kewajiban belaka,” jawab
Tho-tee kong Liong Losu yang segera mengangkat
bangun tubuh Yu Kai.
"Ha-ha-ha........ dua ekor anjing itu apa artinya?
Dikhawatirkan datangnya srigala yang lebih
berbahaya. Siapa tahu ? Yu Loheng dahulu di
waktu hidupnya terkenal seorang yang usil
tangannya, suka sekali mencampuri urusan orang
lain, sehingga musuh-musuhnya tidak terhitung
berapa orang banyaknya. Betapapun juga karena
pinto (saya) yakin dan percaya dia berada di fihak
yang benar, maka pinto tidak akan tinggal diam
kalau ada orang yang berani mengganggu
jenazahnya."
Yu Kai kembali menghaturkan terima kasih.
Setelah peti mati ditutup rapat, kembali mereka
menjaga peti mati. Yu Lee menambah dupa di
perapian lalu terdengar suaranya berkata perlahan,
“Kongkong, sayang orang-orang jahat dapat
datang setelah kau pergi ! Kalau kau masih hidup
dan menghajar mereka, alangkah akan senangnya
aku menonton." Bicara sampai di situ Yu Lee
teriugat lagi kepada kakeknya yang setiap hari.
mengajaknya jalan di waktu fajar menyingsing,
37
kakek yang amat sayang kepadanya dan yang
menjadi teman bermain-main baginya. Tidak
tertahankan lagi iapun lalu menangis.
"Heh-heh, cengeeeeng !" Hap Tojin mengejek.
"Bocah cengeng, kau sepatutnya menjadi murid
Tho-tee kong. Sama.sama cengengnya, cocok
benar!”
"Siauw kongcu ini berbakti dan mengenal kasih
sayang. Mengapa kau rnencela to-yu?” kata si
hwesio yang sudah duduk kembali menghadapi
meja, menyandarkan tongkatnya yang berat di
pundaknya.
“Lee-jie diamlah! Kau menangis saja tiada
hentinya !” Bentak Yu Kai kepada puteranya.
Yu Lee memandang ayahnya dengan sinar mata
sedih. “Ayah, kalau kongkong hidup lagi aku tidak
akan menangis....... "
Pada saat itu, terdengar suara melengking di
udara, suara yang bernada tinggi. Seakan-akan
ada sesuatu terbang di angkasa lalu perlahanlahan
turun dan mengitari tempat itu. Suara
melengking makin nyaring seperti rintthan, Yu Lee
menangis makin mengguguk seakan akan
terdorong oleh suara lengking yang menyeramkan
itu.
Yu Kai dan kedua adiknya saling pandang,
kemudian bulu tengkuk mereka meremang karena
lengkingan nyaring itu mengguncang jantungnya.
Ketika mereka melirik ke arah berdirinya dua
orang pendeta, keduanya sudah berhenti bercakapcakap,
bahkan kini sudah duduk diam dan
38
mengatur pernapasannya seperti orang sedang
mengerahkan lweekang.
"Celaka !” Bawa masuk anak-anak !" teriak Yu
Kai. Dan saat itu anak anak mereka telah roboh
terguling, setelah tadi menutup telinga yang terasa
ditusuk mendengar bunyi yang melengking itu.
Yu Liang dan Yu Goan sudah tidak kuat lagi
mengangkat anak anaknya yang roboh terguling
karena dirinya sendiri sudah menggigil.
Cepat-cepat mereka rneniru perbuatan Yu Kai,
duduk bersila sambil mengatur napas dan
mengerahkan tenaga lweekangnva untuk menahan
serangan hebat yang timbul dari getaran suara itu.
Namun, hampir saja mereka tidak kuat
menahan dan kini mata mereka sudah bercucuran
air mata, terbawa oleh lengking yang mengerikan
itu.
Tubuh mereka sudah bergoyang goyang dan
hampir roboh.
`Omitohud!" Tho tee-kong Liong Losu memuji
nama Buddha dan kakek inipun sudah bersila
sambil memeramkan mata dan mulutnya
berkemak-kemik membaca doa.
“Siancai!” Sauw-bin-mo Hap Tojin juga sudah
bersila dan mengatur pernapasan, kemudian ia
mengetuk-ngetukkan guci araknya untuk
menimbulkan suara nyaring melawan lengking
tangis itu.
Tapi yang mengherankan adalah Yu Lee. Bocah
ini masih saja menangis dan tangisnya amat hebat
39
tersedu-sedu dan sesenggukan. Akan tetapi ia
tidak segera roboh pingsan seperti saudara
saudaranya yang lain. Apa sebabnya bisa demikian
?
Seperti diketahui, Yu Lee tiada hentinya
menangis setelah kakek yang disayangnya itu
wafat. Dia merasakan hatinya sedih bukan main
dan tangisnya itu memang sudah sewajarnya.
Adapun lengkingan tangis yang terdengar itu
mengandung pengaruh luar biasa dan
menyedihkan sekali.
Bagi mereka yang mendengartan suara
lengkingan ini, langsung terserang perasaannya
hingga jantungnya terasa ditusuk-tusuk. Akan
tetapi kesedihan Yu Lee juga merupakan kesedihan
luar biasa, tidak sama dengan kesedihan manusia
yang hanya lumrah. Kesedihannya ini membuat
anak itu lupa akan segala-galanya.
Seluruh perasaannya tercurah di dalam
kedukaan sehingga hal-hal yang lain tidaklah
begitu dirasakannya.
Inilah sebabnya mengapa lengkingan tangis itu
tidak mempeagaruhi dirinya secara hebat, makin
sedih hatinya serta keras tangisnya makin
membuat dia terbebas dari pada pengaruh suara
lengkingan yang sangat mengerikan itu.
Tiga orang saudara Yu sudah hampir tak kuat
bertahan lagi. Wajah mereka sudah pucat dan
berkeringat. Tiba-tiba suara lengkingan itu
berhenti, suasana di tempat itu menjadi sunyi
sekali. Hanya terdengar tangis Yu Lee yang
mengguguk.
40
Sewaktu Yu Kai mau menegur puteranya tibatiba
terdengar suara gedubrakan ketika dua tubuh
manusia dilempar dari luar menimpa meja
sembahyang.
Ketika semua orang melihat, ternyata itu adalah
si golok emas Kim.to Cia Koan Hok dan isterinya,
tubuhnya kini telah menjadi mayat ! Kemudian
terdengar sebuah suara dari kegelapan,
“Yu Tiang Sin, aku datang akan menagih
hutang ! Seluruh keluarga Yu harus aku tumpas
habis, Semua anjing dan kucingnya, semua
pelayan dan tamu-tamunya tak satupun boleh
lolos.
Itulah suara seorang wanita yang sangat merdu
namun membuat bulu tengkuk berdiri. Yu Kai dan
kedua adiknya sudah melompat bangun
menyambar pedang dan mencelat, kedepan pintu
untuk menyambut musuh yang mengerikan ini.
Musuh yang datang kali ini benar-benar luar biasa
dan agaknya hendak membuktikan ancamannya,
yaitu menumpas habis seluruh isi rumah keluarga
Yu. Sebagai bukti Kim-to Cia Koan Hok dan Bikiam
Souw Kwat Si yang baru saja keluar telah
terbunuh dan mayatnya dilemparkan kembali
masuk ke rumah keluarga Yu !
Dapat membunuh suami isteri bekas perampok
itu dalam sekejap dan tanpa menimbulkan suara
benar-benar membuktikan kehebatan tamu aneh
itu. Namun untuk melindungi keluarganya, Yu Kai
dan adik-adiknya tidak merasa takut dan bersiapsiap
untuk melawan dengan taruhan nyawa.
"Sicu, hati.hatilah !”
41
Tampak dua bayangan berkelebat, ternyata
kedua orang hwesio itu telah berdiri di samping
tiga orang she Yu itu untuk membantu mereka.
Dua orang tokoh tua itu adalah orang. orang sakti
akan tetapi kali ini wajah mereka diliputi
ketegangan karena mereka maklum bahwa yang
datang kali ini benar-benar merupakan lawan yang
berat !
Tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan ngeri dari
dalam rumah. Tiga saudara Yu rnenjadi pucat.
Cepat mereka menengok dan saat itu dari pintu
dalam muncul pelayan wanita yang tubuhnya
berlumuran darah. Pelayan itu terhuyung-huyung
ke depan, lalu serunya.
“Toaya (tuan)........ celaka, aemua ..... semua
dibunuh........ " sampai di situ ia terguling dan
putus nyawanya.
"Celaka ! Musuh menggunakan memancing
harimau keluar dari sarang !" teriak Tho-te-kong
Liong Losu.
Yang disebut siasat memancing harimau keluar
dari sarang adalah siasat perang yang maksudnya
memancing keluar penghuni atau pun penjaga
kota, sehingga kotanya sendiri menjadi tidak
terjaga dan mudah diserang dari lain jurusan.
Agaknya tamu aneh yang datangnya ditandai
dengan lengking tangis ini sengaja memancing
perhatian mereka dari depan, lalu diam-diam
mengambil jalan memutar terus masuk ke
belakang rumah dan begitu masuk terus
melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap
wanita, anak-anak dan semua pelayan yang berada
42
di bagian belakang daIam rumah itu. Tidak hanya
keluarga dan pelayan, tetapi bahkan segala macam
binatang peliharaan seperti ayam, burung, anjing
dan kucing yang berada di belakang rumah ini,
semuanya dibunuh tanpa ampun lagi.
Mendengar teriakan Tho-tee-kong Liong Losu,
tiga orang saudara Yu seperti berlomba lari ke
dalam. Akan tetapi, mereka berhenti dan terbeliak
memandang orang yang keluar dari pintu dalam.
Dia seorang wanita. Usianya kurang lebih
empat puluh tahun. Wajahnya masih cantik dan
kulit mukanya putih sekali sampai seperti tidak
ada darahnya. Pakaiannya serba hitam dari sutera
tipis sehingga tersorot lampu tampak membayang
pakaian dalamnya yang serba putih.
Tangan kirinya memegang sebatang suling
hitam. Wanita ini berjalan keluar dari dalam
rumah dengan langkahnya perlahan, namun
langkah dan lenggang-lenggoknya seperti seorang
wanita, yang genit sekali. Melihat tiga orang
saudara yang datang dengan membawa pedang di
tangan, wanita itu segera tertawa, akan tetapi
betapa aneh suara ketawanya seperti anak
menangis !
"Huh Huh huh, tua bangka. Yu Tiang Sin !
Biarpun sudah menjadi mayat tetapi tentu
arwahmu dapat melihat betapa malam ini aku
berhasil membasmi seluruh isi rumahmu termasuk
juga para tamu-tamumu, hik-hik, hu. hu-hu !"
Tadinya ketika melihat munculnya wanita ini,
Yu Kai dan adik-adiknya masih ragu apakah benar
wanita ini yang muncul dengan lengking tangis
43
yang mengerikan dan kemudian membunuhi
seluruh isi rumah dari belakang. Akan tetapi
setelah mendengar kata-kata wanita ini, mereka
membentak marah dan seperti orang-orang gila,
saking marahnya mereka menerjang dan
menyerang dengan senjatanya masing-masing.
"jangan sembrono !" seru Tho-tee-tong Liong
Losu.
"Awas mundur kalian !” berteriak pula Hap
Tojin.
Namun teriakan dua orang ini terlambat. Yang
nampak hanyalah gulungan sinar hitam yang
mengeluarkan bunyi melengking nyaring. Dan .......
tubuh tiga orang saudara Yu itu terlempar ke
belakang lalu terbanting dalam keadaan tak
bernyawa.
"Omitohud ...... kejarn sekali..!”berseru Liong
Losu.
“Celaka !" teriak Hap Tojin.
"Hi-hi hik! Memang kalian akan celaka. Salah
kalian sendiri berada di dalam rumah celaka ini,
yang sudah terkutuk akan kematian semua
penghuninya!" dengan genit wanita itu berkata.
"Ah, wanita sesat ! Betapapun besarnya dendam
yang kau kandung, tidak semestinya kau
melakukan pembunuhan-pembunuhan yang keji
seperti ini. Apakah kau tidak takut dosa?”' To-teekung
Lions Losu dengan suara keren menegur,
tongkatnya sudah melintang di dada.
44
"Tho-tee-kong, kalau iblis ini betul seperti yang
aku duga, kau percuma saja bicara tentang dosa
dengan dia. Eh, iblis betina yang keji dan ganas !
Betulkah engkau ini berjuluk Hek-siauw Kui-bo
(Iblis Betina Suling Hitam)?"
Wanita yang mengerikan ini memang benar
Hek-siauw Kui-bo. Dua puluh tahun yang lalu
sebagai seorang kang-ouw yang berilmu tinggi,
cantik dan berwatak cabul, dia berhasil memikat
hati seorang pangeran kerajaan Goan-tiauw yang
menjadi tergila-gila kepadanya dan terjalin
hubungan gelap di antara mereka berdua. Dalam
memikat hati pangeran ini, dia mempunyai citacita,
yaitu hendak membantu kekasihnya mencapai
kekuasaan sebesar.besarnya kelak kalau
kekasihnya mencapai tingkat tertinggi, ia isendiri
akan terangkat dalam kedudukan mulia dan tinggi!
Dia mencita-citakan agar supaya pangeran
kekasihnya itu kelak menjadi kaisar dan dia
sendiri menjadi seorang permaisuri.
Akan tetapi semua mimpi muluk ini menjadi
buyar dan hancur ketika pada suatu malam sang
pangeran penindas rakyat jelata ini tahu tahu telah
tewas dengan leher putus di dalam kamarnya.
Seperti biasa terjadi di waktu itu pembunuhnya
adalah Si Dewa Pedang Yu Tiang Sin yang pada
waktu itu masih sangat aktip dan bersemangat
dalam membasmi pembesar- pembesar Mongol
yang berbuat sewenang- wenang terhadap rakyat.
Hek-siauw Kui-bo menjadi marah sekali.
Berkali-kali ia berusaha membalas dendam dan
45
melawan si Dewa Pedang, namun selalu
mengalarni kegagalan.
Pedang di tangan Yu kiam-sian benar-benar
hebat dan tak terlawan oleh suling hitamnya.
Belasan kali ia kalah dan ia tidak sampai tewas
oleh karena selalu Si Dewa Pedang melepaskannya
dan menganggapnya hanya seorang perempuan
cabul yang merasa kecewa karena kekasihnya
terbunuh.
Sama sekali Yu Tiang Sin tak pernah bermimpi
bahwa bukan hanya itu saja yang menjadi sebab,
melainkan lebih dalam lagi. Ia telah
menghancurkan cita-cita muluk si iblis betina !
Hek-siauw kui-bo lebih memperdalam ilmunya
dan di dunia persilatan namanya terkenal sebagat
iblis betina yang kejam sekali dan amat ganas.
Namun sudah bertahnn-tahun iblis betina ini
tidak menantang Yu-kiam-sian. Ia menjadi lebih
hati-hati dan menggembleng diri untuk
pembalasan-pembalasan dendam. Dan akhirnya ia
mendengar kematian musuh besarnya. Dapat
dibayangkan betapa kecewa hatinya mendengar hal
itu. Ia segera mengunjungi dusun Ki-bun dan
mengambil keputusan untuk membasmi semua
keluarga musuh besarnya untuk melampiaskan
dendam hatinya.
Ketika iblis wartita ini mendengar kata- kata
dua orang tamu musuh besarnya dan mendengar
Siauw-bin-mo Hap Tojin menyebut namanya, dia
memandang lebih tajam dan penuh perhatian.
46
Tadi ketika ia datang, ia sudah menyaksikan
betapa suami isteri yang agaknya juga hendak
membalas dendam dikalahkan oleh dua orang
pendeta ini. Untuk mamenuhi keputusan hatinya,
karena suami-isteri itu jaga pada saat ia datang
telah menjadi tamu pula, maka untuk menarnbah
keangkerannya. dia menyambut mereka di luar,
dan hanya dengan sekali menggerakkan sulingnya
saja ia telah berhasil membunuh suami-isteri yang
bernasib sial itu, kemudian melernparkan mayatmayat
itu ke pekarangan depan.
'Hemm, tosu bau ! Tahu dari manakah kau
telah mengenal nyonya besarmu?” bentak wanita
itu.
"Ha-ha-ha-ha, nama buruk dan kotor itu
siapakah yang tidak pernah mendengarnya ? Heksiauw
Kui-bo ! Boleh jadi dunia kang-ouw
menggigil mendengar namamu, akan tetapi pinto,
Siauw-bin-mo Hap Tojin selamanya paling benci
kepada wanita kejam ! Kau telah membunuh
orang-orang yang tidak berdosa, hanya karena kau
merasa penasaran dahulu berkali-kali dihajar
setengah mampus oleh Yu Tiang Sin. Hayo
sekarang kau coba bunuh kami berdua Tho teekong
Liong Losu dan Siauw-bin-mo Hap Tojin, dua
orang sahabat baik Yu Tiang Sin !"
"Hu-hu-hu-hu ! Kiranya kalian dua orang
keledai yang sedikit terkenal namanya. Tidak usah
kau minta, memang nyonya besarmu bermaksud
akan membunuh kalian berdua !” Baru saja habis
ucapan ini, sudah tampak gulungan sinar hitam
47
menyambar ke depan, langsung menyerang ke arah
ulu hati si hwesio dan tenggorokan si tosu.
Dua orang pendeta yang berilmu tinggi ini
terkejut sekali. Biasanya, betapapun ringan senjata
lawan. kalau dipergunakan untuk menyerang,
tentu menimbulkan kesiuran angin.
Akan tetapi serangan wanita ini sarna sekali
tidak menimbulkan angin, juga tidak
mengeluarkan suara dan hal ini hanya dapat
dilakukan oleh orang yang telah mencapai ilmu
lweekang yang luar biasa tingginya. Namun mereka
bukan orang lemah, diserang sehebat dan secepat
itu mereka masih dapat menggerakkan senjata
masing-masing untuk melindungi tubuh.
Hebatnya, suling itu tidak jadi menyerang ke
sasaran semula, melainkan menyeleweng dan kini
secara langsung tanpa gerakan memutar telah
menotok ke arah pusar si tosu dan ke lambung si
hwesio!
Kembali dua orang ini terkejut setengah mati, ia
lalu melompat ke belakang untuk mengelak sambil
memutar senjata.
Sementara itu Yu Lee yang tadinya menangis
menggerung-gerung dan makin mengguguk oleh
pengaruh suara suling melengking seperti tangis,
begitu suara lengking berhenti tadi, tangisnyapun
berkurang dan mulailah ia memperhatikan
keadaan sekeliling.
Ketika ayahnya dan kedua orang pamannya
menyerbu iblis betina itu, ia sudah menyelinap dan
lari ke dalam rumah karena ia melihat si pelayan
yang mengatakan sebelum roboh bahwa semua
48
telah dibunuh iblis. Yu Lee rnenghawatirkan nasib
ibunya maka ia lari ke dalam.
Dapat dibayangkan betapa ngeri dan seperti
disayat-sayat pisau rasa hatinya ketika ia melihat
keadaan di dalam dan di belakang rumah orang
tuanya, ibunya. Para bibinya, saudara-saudara
misannya, para pelayan, ayam, burung, kucing,
dan anjing semuanya mati. Semua mati dalam
keadaan menyeramkan, mandi darah yang
bercucuran dari mulut dan muka mereka semua
berubah menjadi hitam.
Yu Lee menubruk ibunya, menjerit-jerit
menangis, lari sana lari sini, menubruk sana
menubruk sini, menangisi semua yang mati, tidak
sadar bahwa muka dan bajunya sudah mandi
darah mereka.
Mengerikan sekali keadaan di dalam rumah
maut itu. Ayah bundanya, dua orang sandaranya,
dua orang pamannya, dua orang bibinya, tujuh
orang saudara misannya, empat orang pelayan
berikut semua kucing, anjing, ayam, burung,
semua mati ! Yu Lee setelah memeluk mayat
ibunya lalu bangkit berdiri dan dengan langkah
terhuynng-huyung ia berjalan keluar sambil
menangis.
“Iblis jahat, kau harus mengganti nyawa ........
uhuu........ uhu......!” Yu Lee berjalan terus sampai
di ruangan depan.
Pada saat itu pertandingan masih berjalan
dengan seru dan tegang Tho-tee-kong Liong Losu
memutar tongkatnya sampai terdengar angin
menderu-deru, sedangkan Sianw-bin-mo Hap Tojin
49
pedangnya berkelebatan seperti halilintar
menyambar.
Namun, mereka berdua yang memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi ini ternyata tidak mampu
menahan desakan dan tindasan segulung sinar
hitam yang melayang-layang bergulung-gulung
membuat Iingkaran lingkaran aneh sambil
mengeluarkan bunyi melengking nyaring.
Suara inilah yang amat mengganggu kedua
orang pendeta itu dan mengacaukan permainan
senjata mereka. Maklum bahwa iblis itu bertanding
dengan maksud membunuh, Liong Losu dan Hap
Tojin mengerahkan seluruh tenaga mengeluarkan
seluruh kepandaian mereka. Setelah keduanya
bergabung dan membentuk benteng pertahanan
barulah sinar hitam dapat dibendung bahkan kini
mereka mendapat kesempatan untuk
menggunakan waktu membalas satu dua kali
serangan.
Kiranya letak rahasia kelihaian ilmu silat iblis
betina itu adalah jika ia diserang, karena ia
menghadapi setiap serangan lawan dengan balasan
serangan yang lebih cepat sehingga ia mendahului
lawan yang sudah terlanjur manyerang sehingga
pertahanannya lemah.
Setelah kini kedua lawannya mempertahankan
iblis betina itu sukar untuk menembus benteng
pertahanan lawan, malah ia menjadi agak repot
karena kedua orang panderi itu kini
menghadapinya dengan bekerja sama.
Jika Liong Losu, menyerang dengan tongkatnya
Hap Tojin yang melakukan pertahanan dan
50
sebaliknya. Jika iblis betina itu tertalu hebat
serangannya mereka berdua melakukan
pertahanan bersama.
'Pada saat yang tak terduga-duga, terdengar
jerit kemarahan dan tahu-tahu Yu Lee sudah
meloncat dan menubruk iblis betina itu dari
belakang merangkul leher dan tengkuknya.
"Aduh...... ! Eh, monyet kau minta mampus ??"
Hek-siauw Kui-bo berteriak dan semua bulu di
tubuhnya berdiri saking geli dan jengah.
Akan tetapi ketika ia hendak menggunakan
suling atau tangan kiri untuk menghantam anak
yang menggemblok di punggung merangkul leher
dan menggigit tengkuknya dua orang pendeta itu
sudah mendesaknya dengan hebat.
Liong Losu dan Hap Tojin yang melihat
kenekatan Yu Lee. menjadi khawatir sekali setelah
seluruh keluarga sahabat mereka dibasmi habis
dan kebetulan sekali Yu Lee terlewat dan masih
hidup, mereka berdua harus berusaha sedapat
mungkin untuk menolong.
Keturunan Yu Tiang Sin yang tinggal seorang
ini harus diselamatkan. Mereka tahu bahwa sekali
anak itu terkena hantaman tangan kiri atau suling
iblis betina itu, tentu nyawanya takkan dapat
ditolong lagi. Olehkarena tanpa mempedulikan
keselamatan sendiri, kedua orang pendeta itu
melupakan pertahanan bersama, kini melakukan
serangan bersama dengan dahsyat sekali.
Iblis betina itu benar benar hebat. Selain
ilmunya amat tinggi, juga ia cerdik luar biasa.
51
Perhatianuya tadi telah terpecah kepada anak yang
menggigit tengkuknya sehingga serangan dua
orang lawannya itu kini benar-benar amat
berbabaya.
Secepat kilat ia lalu membalikkan tubuhnya
sehingga tubuh itu kini terlindung oleh tubuh Yu
Lee yang menggemblok di punggung! Tentu saja
Hip Tojin dan Liong Losu kaget sekali dan menarik
senjata masing-masing agar jangan mencelakakan
Yu Lee.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Hek-siauw
Kui-bo untuk mengerahkan tenaga menggerakkan
pinggulnya keras-keras dan...... tubuh Yu Lee
mental terlempar cepat ke arah dinding dekat pintu
depan. Dapat dibayangkan betapa tubuh itu tentu
akan hancur dan setidak-tidaknya remuk tulangtulangnya
terbentur begitu kerasnya pada dinding.
"Celaka........ !” seru Hap Tojin yang tak keburu
menangkis lagi. Ia merendahkan diri mengelak.
Juga Liong Losu berusana menyelamatkan diri
dengan sebuah loncatan ke samping. Namun
gerakan mereka tak dapat mengatasi kecepatan
sambaran suling hitam. Hap Tojin yang
merendahkan tubuh, terkena totokan pada
pundaknya, sedangkan pada detik berikutnya,
Liong Losu yang meloncat ke samping telah
tertotok pinggiran pinggulnya.
Memang totokan itu tidak mengenai sasaran
yang tepat, namun kehebatannya cukup membuat
dua orang jago tua itu roboh pingsan!
52
Tubuh Yu Lee melayang dan tentu kepalanya
bisa pecah karena ia meluncur dengan kepala di
depan menuju ke pintu.
Akan tetapi pada saat anak ini sudah
memejamkan mata menanti maut tiba-tiba sebuah
lengan kurus terulur dan di lain saat tubuh Yu Lee
telah diturunkan dengan selamat ke atas lantai.
'Kau duduklah di sini dan lihat aku menghajar
iblis itu!" Kata seseorang yang bukan lain adalah si
kakek pengemis bertopi lebar yang sore harinya
baru saja datang berkunjung sebentar bukan
untuk berkabung atau mangernis, kemudian
mencela perdebatan antara Hap Tojin dan Liong
Losu lalu pergi lagi. Dari bawah topi lebar itu Yu
Lee melihat sepasang mata yang memandangnya
dengan tajam, penuh pengaruh luar biasa sehingga
sebelum ia tahu apa yang harus ia lakukan,
tubuhnya sudah mendeprok ke bawah dan duduk
di atas lantai seakan-akan tubuhnya itu tidak
dapat ia kuasai lagi, melainkan tunduk akan
perintah kakek pengemis ini.
Kini kakek pengemis itu dibantu tongkatnya
yang butut terseok-seok maju menghampiri iblis
betina yang sibuk menggosok-golok tengkuknya.
Tengkuk yang berkulit putih halus itu robek dan
berdarah oleh gigitan Yu Lee.
Begitu banyak darahnya mengucur keluar
sampai membasahi baju hitam di bagian leher dan
punggung. Melihat ini Hek-siauw Kui-bo menjadi
marah sekali.
"Hemnam, masih terlewat seorang cucu tua
bangka Yu yang ganas seperti monyet ? Tua
53
bangka Yu agaknya arwahmu yang menuntun
cucumu itu untuk melawan dan menghinaku.
Akan tetapi, dia ini akan mampus dalam keadaan
lebih mengerikan dari pada yang lain-lain !" Setelah
berkata_ demikian, perlahan-lahan Hek-siauw
Kut.bo memasukkau belasan batang jarum yang
halus sekali ke dalam suling hitamnya
mendekatkan suling ke mulut lalu meniupnya ke
arah Yu Lee yang masih duduk bersila di sudut
ruangan itu.
"Siuuttt !" Dari lubang suling itu tampak sinar
hijau berkelebat ke arah Yu-Lee. Akan tetapi
sebelum mengenai Yu Lee, sinar itu tiba-tiba
menyeleweng ke kiri dan semua jarum menancap
lenyap masuk ke dalam dinding sebelah kiri!
Hek-Siauw Kui-bo marah sekali, ia mengalihkan
pandang kepada kakek pengemis yang dengan
dorongan tangan berhasil menyelewengkan jarumjarumnya.
Hek-siauw Kui-bo adalah seorang tokoh
kang-ouw kenamaan ditakuti semua orang, karena
kelihaiannya maka ia menjadi sombong sekali.
Tadi ia tentu saja sudah melihat betapa anak
yang sudah menggigit itu ditolong oleh si kakek
pengemis ketika akan terbanting ke dinding. Akan
tetapi, ia sama sekali tidak memandang mata
kepada kakek itu dan barsikap seolah-olah kakek
pengemis itu tidak berada di situ.
JILID II
TADINYA ia mengira bahwa kakek itu menolong
Yu Lee karena kasihan, bukan bermaksud
54
memusuhinya. Akan tetapi setelah jarum-jarumnya
dipunahkan, baru ia maklum bahwa kembali ada
orang berani berlancang tangan dan mencari
mampus !
“'Hemmm jembel tua bangka yang busuk!
Untuk menyambung hidupmu, engkau rela
mengemis ke mana mana. Setelah hidupmu
tersambung mengapa sekarang menjadi bosan
hidup dan mencari mampus ? Tidak tahukah,
engkau dengan siapa engkau berhadapan ?”
Sikap wanita berwatak iblis ini angkuh sekali
dan ia tidak segera turun tangan memhunuh
karena ia merasa terlalu rendah dan memalukan
kalau harus membunuh seorang kakek yang
saking tuanya sudah mau mati ini.
Kakek pengemis itu memandang dari bawah
topinya yang tebar dan Hek-siauw Kui-bo bergidik
menyaksikan sinar mata yang begitu tajam dan
yang seakan-akan dapat menembusi mataya dan
menjenguk isi hatinya. Untuk mengusir rasa seram
ini ia segera menghardik.
“Tua bangka! Lekas mengaku siapa engkau dan
apa hubunganmu sama tua bangka she Yu, agar
aku dapat mengambil keputusan dahulu, setelah
mempertimbangkan apakah engkau layak dibunuh
atau tidak !” Benar-henar sombong kata-kata ini.
Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak
menjawab, bahkan segera mendekat dan menoleh
kepada Yu Lee sambil berkata.
“Bocah tahukah kau siapa dia yang membasmi
semua keluargamu ini?'
55
Yu Lae mengangkat muka memandang kepada
si iblis betina dengan sinar mata menyala-nyala
penuh kebencian, “Siapa lagi kalau bukan iblis
betina yang tadi namanya disebut Hek-siauw Kui
ho ini, locianpwe (orang tua gagah)?”
'Engkau betul. Dia ini si iblis betina yang ganas
dan keji lagi pula pengecut dan hanya berani
membunuh orang-orang yang bukan lawannya.
Kebetulan sekali aku si tua bangka paling benci
segala macam iblis, maka telah menciptakan ilmu
tongkat Ta-kui-tung-hwat (Ilmu Tongkat Pamukul
Iblis)
Sejak tadi, dada Hak-siauw Kuibo serasa
dibakar saking panas dan marah. Ia tidak
mamandang sabelah mata kepada kakek jembel
itu, sekarang siapa kira, mendengar namanya
kakek ini bukannya takut, bahkan lebih-lebih tidak
memandang mata kepadanya, malah berani
menghina dan mcmakinya iblis cilik segala! Ia
seorang yang sombong dan angkuh, siapa kira di
tempat ini bertemu batunya. Kakek pengemis itu
agaknya lebih angkuh dan lebih sombong darinya !
“Jembel tua bangka buruk ! Engkau membuka
mulut lebar-Iebar? Engkau tidak melihat Siauwbin-
mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Locu itu.
Mereka adalah tokoh besar, akan tetapi karena
berani menentang kau lihat buktinya. Engkau ini
tua bangka jambel lekas sebutkan nama agar aku
tahu siapa yang kubunuh kali ini !”
Namun si kakek ini sama sekali tidak
meladeninya melainkan terus berkata pula kepada
Yu Lee dengan sikap sama sekali tak
56
menghiraukan si iblis yang kini sudah makin
dekat. “Eh, bocah baik, siapakah namamu ?”
“Locianpwe, boanpwe (saya yang rendah)
bernama Yu Lee.”
“Engkau masih kecil sudah tahu aturan, itu
bagus. Tidak seperti iblis cilik ini yang kurang ajar,
terhadap seorang kakek seperti aku Han It Kong
masih banyak lagak!” Kakek Itu lalu membuang
ludah ke bawah, akan tetapi menuju ke arah Heksiauw
Kui-bo dan tepat jatuh ke atas lantai di
depan kakinya.
Hampir meledak rasa dada iblis betina itu
saking marahnya. Baru kali ini selamanya ia
merasa dihina dan tidak dipandang sebelah mata
secara keterlaluan sekali. Ia mengingat-ingat
namun tidak merasa kenal dengan. nama Han It
Kong.
“Jembel buruk. aku akan membuat kau mati
dengan tubuh hancur !” Bentaknya dan sambil
berteriak yang menyerupai bunyi lengking atau
lolong srigala. Hek-siauw Kuibo menerjang maju.
Sulingnya berkelebat menjadi sinar hitam,
mengeluarkan bunyi mengerikan sebagai imbangan
teriakaunya tadi.
Saking marahnya, ia telah mengeluarkan
pukulan maut yang paling berbahaya terhadap diri
kakek tadi.
Namun kakek yang mengaku bernama Han It
Kong itu dengan sikap tenang sekali menyambut
terjangan dahsyat itu. Tubuhnya tak tampak
berkisar dari tempatnya, juga kedua kakinya tetap
57
berdiri tegak. Hanya tangan kanannya yang
memegang tongkat itu betgerak membuat
lingkaran-lingkaran beberapa kali di depan
tubuhnya dan ......suling hitam Hek-siauw Kui-bo
tidak dapat maju lagi.
Iblis betina ini berseru keras karena merasa
seakan-akan suling hitamnya terbetot dan dikuasai
gerakan lawan karena di luar kehendaknya,
tangannya yang memegang suling itu sudah ikut
membuat lingkaran-lingkaran meniru gerakan
kakek itu.
Hek-siauw Kui-bo mengeluarkan pekik kaget
sambil mengerahkan tenaga membetot sulingnya.
Kali ini ia berhasil menghendaki gerakannya yang
otomatis itu akan tetapi sebelum ia sempat
melompat mundur, terdengar suara, “plak” dan
pinggulnya yang besar telah kena dihajar oleh
tongkar si kakek itu sampai terasa pedas dan
panas!
“Yu Lee, kau lihat iblis kecil telah kena dihajar
satu kali oleh Ilmu tongkat penukul iblis !”
“Bagus ! Harap hajar lagi sampai mampus
locianpwe!” Yu Lee bersorak lupa akan
kedukaannya dan bergembira menyaksikan musuh
besar ini pantatnya dipukul sampai mengeluarkan
bunyi nyaring.
Hek-siauw Kui-bo memuncak kemarahannya,
namun ia berhati-hati Tongkat itu menghantam
dari depan bagaimana bisa mengenai pantatnya
yang berada di belakangnya? Benar-benar ilmu
tongkat yang luar biasa sekali. Akan tetapi karena
sedikitpun ia tidak terluka oleh pukulan itu,
58
hatinya menjadi besar dan menganggap bahwa
kakek aneh ini hanya memiliki ilmu silat yang
lihai, akan tetapi tidak memiliki tenaga yang besar.
Sambii berteriak menyeramkan ia menerjang
lagi, kini sulingnya membuat gerakan aneh dan
cepat sekali sehingga dalam sekali serangan itu ia
telah melakukan totokan terhadap semua jalan
darah di tubuh lawan. Bukan sembarang totokan,
melainkan lolokan maut.
Satu saja di antara totokan bertubi ini
mengenai sasaran, berarti nyawa lawan tercabut.
“Ilmu yang keji dan rendah!” Kakek itu berseru
akan tetapi tidak bergerak dari tempatnya. Hanya
tongkat bambunya yang kini menyambar-nyamhar
ke depan dan terdengar suara.... “tak, tok, tak,
tok,” tujuh balas kali dan semua totokan Haksiauw
Kuibo yang amat lihai itu dapat ditangkis.
Pada totokan terakhir, samhil menangkis,
tongkat itu mendadak melanjutkan dengan
gerakan mengait dan ..... suling itu telah kena
terkait dan terlepas dari tangan Hek-siauw Kui-bo
karena ketika mengait ujung tongkat menotok
telapak tangan yang memegang suling sehingga
iblis betina itu terpaksa melepaskan sulingnya.
Hek-siauw Kui-bo mengeluarkan jerit keras dan
tiba-tiba tangan kirinya bergerak menyambar dan
mencengkeram ke arah anggauta kemaluan kakek
itu.
“Rendah tak tahu malu !” Kakek itu terkejut
juga dan cepat menangkis dengan tangan kiri.
Kiranya Hek-siauw kui-bo. melakukan serangan
59
ganst dan randah ini dengan maksud mengalihkan
perhatian karena di detik berikutnya, tangan
kanannya sudah dapat merampas kembali,
sulingnya yang tadi menempel pada ujung tongkat
lawan.
“Pintar juga kau !” Kata si kakek, akan tetapi
sambil berkata demikian, tongkatnya bergerak
aneh dan, “plokk!” Sekali lagi pantat yang besar itu
sudah dihajar tongkat lagi. Padahal si iblis betina
sudah melompat cepat untuk menghindar, namun
sia-sia, tetap saja ia mengalami penghinaan ini.
“Huah, ha, ha, ha ! Pantatnya tidak kalah tebal
dengan mukanya ! “Gaplok yang keras lokai (jembel
tua) !” tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa dan
ternyata itu adalah suara Siatiw-bin-mo Hap Tojin
yang sudah sadar dari pingsannya dan kini masih
rebah sambil menonton pertandingan yang aneh
itu.
Dapat dibayangkan betapa marahnya Hek
siauw Kui-bo. Akan tetapi disamping rasa marah
dan penasaran iapun terheran-heran akan
kesaktian kakek ini.
Mendengar ejekan si tosu, kemarahannya
meluap-luap dan diam-diam ia memasukkan
jarum-jarum beracun ke dalam sulingnya, lain
untuk ketiga kalinya ia menyerang lagi dengan
gerakan sulingaya yang melenggak-lenggok sepetti
ular, sukar sekali diduga ke mana suling itu
hendak menyerang.
Mendadak terdengar suara mendesis halus dan
sinar hijau menyambar dari lubang suling
meluncur ke arah sembilan jalan darah terpenting
60
dari tubuh Han It Kong sedangkan suling hitam itu
sendiri berperak-gerak menutup jalan keluar di
sekitar tempat kakek itu berdiri.
Dengan demikian maka kakek ini diserang oieh
jarum-jarum berbisa tanpa dapat mangelak karena
tak ada lubang lagi untuk jalan keluar.
Akan tetapi Han It Kong memang tidak mau
mengelak, bahkan kini tongkatnya bergerak secara
aneh mengejar bayangan suling dan ia sama sekali
tidak perduli akan sinar bijau yang menyerbu ke
arah sembilan pusat jalan darah di tubuh depan.
“Tua bangka sombong, mampus kau?” teriak si
iblis betina kegirangan ketika ia melihat betapa
semua jarum rahasianya mengenai sasaran secara
tepat sekali.
“Praakkk……. Plookkk!” Suara ini adalah suara
pecahnya suling hitam disusul pukulan ketiga
kalinya pada pinggul yang penuh daging, sehingga
saking kaget dan nyeri si wanita iblis menjerit dan
loncat jauh ke belakang.
Dengan mata terbelalak dan muka pucat ia
memandang. Kaket itu sama sekali tidak apa apa
dan sembilan batang jarumnya semua runtuh ke
tanah begitu mengenai tubuh Han It Kong.
Sebaliknya suling hitamnya kena dipukul pecah
berantakan dan pinggulnya kembali kena dihajar.
“Tua bangka nusak, engkau telah menghina
orang ! Biar aku mengadu nyawa denganmu hari
ini !” Setelah mengeluarkan seruan bercampur isak
ini Hek-siauw Kui-bo menubruk ke depan,
61
mengembangkan kedua tangannya seperti harimau
menerkam.
“Perempuan keji. Engkau masih berani
bertingkah di depan Ong-ya?” Suara kakek itu
menjadi keren dan galak, tangan kirinya bergerak
ke depan dan ..... tubuh iblis betina itu seperti
terbanting oleh tenaga dahsyat ke kiri, jatuh
bergulingan di atas tanah! Ketika ia bangun sambil
mengeluarkan rintilaan perlahan. Wanita itu
memandang dengan mata terbelalak.
“Apa ...... apakah saya berhadapan dengan…..
Siauw-ong-ya (Raja Muda) Han It Kong yang
berjuluk Sin-kong-ciang (Tangan Sinar Sakti)?'
*Tidak ada raja muda, yang ada sekarang hanya
sijembel Han It Kong,” jawab kakek itu. “Engkau
tidak lekas pergi dari sini?”
Hek-siauw Kui-bo menjura dan berkata. “Kali
ini aku mengaku kalah, kelak masih ada waktu
untuk mengadakan perhitungan lagi.” Setelah
berkata demikian, iblis betina itu melompat dan
terus menghilang ke dalam kesuraman fajar yang
mulal menyingsing. Dari kejauhan terdengar
lengking tangis yang makin lama makin menjauh
dan akhirnya menghilang.
Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong
Liong Losu yang telah sadar pula dari pingsannya,
kini melangkah maju dan memberi hormat kepada
kakek jembel itu.
“Sudah sejak muda pinto mendengar nama
besar Sin-kong-ciang Han-siauw-ong-ya, baru
sekarang dapat melihat orangnya dan
62
menyaksitcan kesaktiannya. Sungguh pinto merasa
takluk dan terimalah hormat dari Siauw-bin-mo
Hap Tojin, Ong-ya !” Kata si tosu.
“Omitobud! Sebelum mati. dapat bertemu muka
dengan patriot besar Han tayhiap, sungguh
merupakan kebahagiaan hidup!” Tho-teekong Liong
Losu juga berseru memberi hormat.
Kakek jambel itu menghela napas panjang,
mukanya tersembunyi di bawah topi yang lebar itu.
Kemudian terdengar suaranya bernada sedih.
°Biarpun baru sekarang bertemu jiwi (tuan
berdua) namun sepak terjang jiwi disamping Yu
sicu sudah lama saya dengar, perjuangan kita
boleh gagal seperti sudah ditakdirkan Tuhan,
namun selama semangat kita, masih hidup
menurun kepada anak cucu dan murid, pada
suatu hari akan tiba saatnya kaum penjajah
Mongol dapat terusir dari tanah air !'
Ia menghela napas lagi dan memandang ke arah
peti mati Yu Tiang Sin.
“Yu sicu banyak jasanya terhadap rakyat dan
negara, sayang ia terlampau banyak menanam
permusuhan pribadi. Jiwi sudah berusaha sekuat
tenaga menyelamatkan keluarganya, tidak
percuma Yu sicu bersababat dengan jiwi. Sayang
sekali kedatangan saya terlambat sehingga tidak
dapat mencegah terjadinya pembunuhanpembunuhan
ini. Sungguh saya merasa tidak enak
terhadap arwah Yu sicu. Untuk menebus kelalaian,
biarlah saya menghabiskan sisa usia yang tak
seberapa lama lagi ini untuk memberi bimbingan
cucunya yang tinggal seorang ini. Yu Lee hayo ikut
63
bersamaku !” -kakek ini mengulurkaa tangan kiri
dan entah bagaimana, tubuh Yu Lee tahu-tahu
sudah melayang dan berada dalam pondongannya.
Kemudian, sekali kakek itu menggerakkan
kakinya tubuhnya sudah leyap dari depan Siauwbin-
mo Hap Tojin dan Tho-tee kong Liong Losu!
“Ha, ba, ha ! Tua bangka Yu Tiang Sin biarpun
kehilangan semua keluarganya namun benarbenar
masih bernasib baik. Seorang cucunya, yang
tinggal satu-satunya telah menjadi murid Sinkong-
ciang !”
“Toyu (sabahat), bagaimana kau masih bisa
mengatakan sahabat kita Yu Tiang Sin bernasib
baik kalau semua anak cucunya dibasmi seperti
ini?”
Tho Tee-kong Liong Losu mencela sambil
mengeluarkan obat untuk ditelan dan
memunahkan hawa beracun akibat totokan suling
hitam itu, juga kepada sitosu ia memberi sebutir
obat pulung yang diterima oleh temannya tanpa
berterima kasih lagi.
“Liong Losu betapa dia tidak bahagia?
Bandingkan saja dengan kau atau pinto. Secuil
daging setetes darahpun diluar tuhuh kita tidak
punya. Sedangkan tua bangka Yu masih
mempunyai saorang cucu yang biarpun cengeng
akan tetapi menjadi murid Sin kong ciang !
“Ha, ha, ha, belasan tahun lagi kalau kita tidak
sudah mampu!, tentu akan. terbuka mata kita
menyaksikan sepak terjang seorang pendekar
muda yang sakti akan tetapi cengeng !”
64
“Omitohud ! Toyu, engkau terlalu memandang
rendah anak itu. Tidakkah jelas nampak sipatsipat
baik kepadanya? Sinar matanya tajam
berpengaruh, nyalinya lebih besar dari pada kita,
berani dia menyerang Hek-siauw Kui-bo! Kelak
tentu Hek-siauw Kui- bo takkan dapat banyak
tingkah lagi di depannya.”
“Ah, dasar Sin-kong-ciang Han It Kong yang
bekerja kepalang tanggung. Iblis macam itu.
kenapa tidak diburiuh saja ?”
“Toyu, hal begitu saja mengapa kau masih
mangherankan? Han taihiap adalah seorang
cianpwe yang tingkatnya sudah amat tinggi. Mana
dia sudi mengotorkan tangan dengan
pembunuhan, apalagi membunuh seorang yang dia
anggap hanya seorang iblis cilik seperti Hek.siauw
Kui-bo? Disamping Han it Kong taihiap terkenal
sebagai patriot sejati dan hanya terhadap kaum
penjajah ia mau membunuh tanpa perhitungan
lagi.
Sedangkan Hek-siauw Kui-bo adalah bangsa
sendiri, biarpun jahat akan tetapi urusannya
dengan Yu-kiam-sian adalah arusan prihadi. Tentu
saja akan dianggap tidak adil kalau Han it Kong
taihiap mencampuri dan menurunkan tangan
maut.”'
“Ha, ha, ha. ha ! Engkau dan dia terlalu banyak
pakai aturan, Liong Losu. Hari ini kita berdua
mendapat kenyataan bahwa kepandaian kita sama
sekali tidak ada harga. Akan tetapi kalau seorang
berilmu seperti Han It Kong masih ingin
meninggalkan kepandaiannya kepada seorang
65
murid apakah kita harus bersikap kikir dan
memhawa kepandaian kita yang tidak seberapa ini
bersama ke dalam neraka ?”
“Omitohud! Harap Toyu jangan bicara tentang
neraka. Mengerikan ! Akan tetapi pendapatmu itu
benar. Pinceng juga pikir lebih baik mengundurkan
diri dan, memilih murid-murid yang baik.”
Dua orang pandeta itu lalu pergi dari situ
menjelang pagi. Sunyi sepi di rumah keluarga Yu
itu. Sunyi yang niengerikan. Mayat-mayat orang
berserakan dari ruangan depan sampai tengah dan
belakang darah berceceran. Ngeri menyeramkan
Peristiwa yang akan menggegerkan dusun Kibun,
akan tetapi yang akan membuat para
penduduk Ki bun selalu berada dalam keheranan
dan dugaan-dugaan yang tak pernah akan dapat
dibuktikan kehenarannya.
Akan tetapi mereka semua tahu bahwa ada
seorang cucu kakek Yu yang tidak diketemulcan
mayatnya bersama anggauta keluarga lain, yaitu
Yu Lee.
Namun tak seoranapun di antara mereka dapat
menduga ke mana perginya anak berusia delapan
tahun itu, sepetti juga mereka tak dapat menduga
siapa yang melakukan pembunuhan dan
pembasmian keji terhadap seisi rumah keluarga
Yu.
Lima belas tahun kemudian!
Pagi hari itu amat ramai di dalam rumah
makan “Lok-nam” di kota Hopak yang besar dan
banyak dikunjungi pedagang dari luar kota. Lok66
nam adalah rumah makan terbesar di kota Hopak,
terkenal dengan masakan-masakannya yang lezat
dan beraneka macam.
Banyak masakan yang tak ada di rumah makan
lain, dapat dipesan di Lok-nam, diantaranya sop
buntut menjangan, kuwah daging ular goreng,
kodok gulai, yang besarnya seperti ayam. tidak
lupa tim cakar bebek yang lezat, gurih dan kanyilkenyil.
Semua itu kalau dimakan dengan dorongan
arak Hang-ciu yang harum dan keras, dapat
membuat orang jadi lupa segala.
Bahkan ada yang bergurau mengatakan bahwa
walaupun ada mertua lewat lupa untuk ditawari !
Baru setelah perut jadi gendut, orang akan menjadi
“sakit gigi” karena rekening yang bisa menguras isi
kantung, ditambah lagi oleh bahaya sakit perut !
Memang biasanya rumah makan Lok-nam
selalu ramai, karena pemiliknya pandai berusaha.
Di sebelah rumah makan ini pemiliknya membuka
sebuah pokoan (rumah judi) dan inilah yang
membuat rumah makan itu selalu jadi ramai.
Mereka yang menang berjudi biasanya amat royal
menghamburkan uang.
Di pagi hari itu sudah banyak orang makan di
dalam restoran Lok-nam. Karena belasan orang
yang manjadi tamu restoran itu kesemuanya
adalah laki-laki juga para pelayan dan pengurus
semuanya laki.laki, riuh rendah suara orang
bergurau di situ.
67
0mongan-omongan kotor dan cabul diselingi
gelak tawa mengotori hawa bersih yang masuk dari
luar. Apalagi pada saat itu terdapat lima orang
jagoan atau tukang pukul rumah judi yang sedang
dijamu oleh seorang tamu yang malam tadi
berhasil mendapat kemenangan besar dalam,
perjudiaan.
Mereka berlima ini bicara riuh rendah tentang
palacur-pelacur di kota Hopak seperti orang
membicarakan kelezatan bermecam-macam
masakan saja. Tanpa ditutup-tutupi blak-blakan
dan tidak ada rahasia sehingga para tamu lain
yang mendengarkannya ikut-ikutan tersenyum.
Telinga laki-laki memang paling suka
mendengarkan percakapan semacam itu.
Derap kaki kuda yang berhenti di depan rumah
makan tidak menarik perhatian mereka yang
tengah bergurau.
Akan tetapi ketika penunggangnya melompat
turun dari atas kuda, menyerahkan kuda kepada
penjaga di luar kemudian melangkah masuk ke
dalam restoran, serentak semua percakapan
berhenti dan semua mata, termasuk mata pelayan
dan pengurus restoran, memandang ke arah orang
yang baru masuk itu dengan pandang meta kagum
dan penuh gairah.
Wanita itu masih muda, kiranya tidak lebih dari
dua puluh lima tahun usianya. Pakaiannya serba
merah, merah muda. Dan tali rambutnya sampai
pakaiannya dari sutera tipis sehingga terbayang
pakaian dalam merah tua, dan sepatunya yang
kectl, semuanya berwarna merah muda.
68
Hanya pakaiannya karena membayangkan
pakaian dalam merah itu. tampak lebih terang
warnanya. Rambutnya hitam panjang, wajahnya
berbentuk bulat telur dengan kulit muka yang
sudah halus putih itu menjadi lebih menarik
karena bedak dan gincu (pemerah) tipis-tipis.
Sepasang matanya lebar amat tajam pandang
matanya, hidung kecil mancung dan mulut yang
berbentuk indah dan selalu mengulum senyum.
Dari sudut mata yang meruncing disertai kerling
tajam dan sudut bibir yang mengulum senyum
penuh daya tariknya inilah terbayang sifat wanita
yang berdarah panas, bernafsu dan romantis.
Pandeknya seorang wanita yang muda belia
yang cantik jelita dan manis dengan bentuk tubuh
yang menggairahkan.
Scorang pelayan muda agaknya lebih cepat
sadar daripada teman-temannya yang masih
terlongong. Ia cepat lari menghampiri wanita ini
dan sambil membungkuk-bungkuk berkata.
'Selamat pagi, nona. Silakan duduk, di sebelah
kiri itu masih banyak meja kosong, silakan .... !”
Gadis cantik itu mengangkat muka, menyapu
ruangan restoran dengan pandang matanya yang
tajam kemudian mengebut-ngebut pakaiannya di
bagian paha dan pinggang untuk membersihkan
debu, dan mengikuti pelayan itu ke sudut ruangan
sebelah kiri di mana terdapat beberapa meja yang
masih kosong. Sapuan pandang matanya tadi
membuat ia tahu bahwa dirinya menjadi pusat
perhatian semua orang, akan tetapi ia tidak
69
mengacuhkan hal ini dan bersikap seolah-olah di
tempat itu tidak ada orang yang memandangnya.
Ia berkata kepada pelayan yang sambil
tersenyum-senyum membersihkan meja di depan
nona itu dengan sehelai kain yang selalu tersampir
di pandaknya. “Keluarkan arak hangat yang paling
baik lebih dulu.” Suaranya nyaring namun merdu,
dan bening. Sipelayan cepat pergi untuk melayani
permintaannya.
ketika pelayan datang membawa arak hangat,
nona itu memesan beberapa masakan kemudian
setelah pelayan pergi mulai minum arak dari guci
arak. Berturut-turut ia minum tiga cawan arak
penuh dan caranya minum jelas membuktikan
bahwa nona ini kuat minum dan sudah biasa.
Hal ini tentu saja membuat semua orang
menjadi heran. Nona itu kelihatannya bukan
seorang nona kang-ouw (dunia persilatan) yang
biasa merantau dan biasa pula hidup menghadapi
kekerasan dan kesukaran, biasa pula minum arak.
Pakaiannya begitu mewah, tak tampak
membawa senjata. Satu-satunya hal yang
membayangkan bahwa dia seorang nona perantau
adalah kedatangannya yang menunggang kuda dan
kenyataan bahwa ia seorang nona yang asing
suaranya, bicara seperti orang utara.
Melihat nona cantik jelita memasuki restoran
seorang diri, kumatlah perangai gila-gilaan lima
orang jagoan dari Lok-nam po-koan (rumah judi
Lok-nam) yang sudah setengah mabok itu.
70
Kalau tadi mereka bercakap-cakap tentang
pelacur-pelacur tanpa memperdulikan tata susila,
sekarang malah mereka sengaja memperkuat suara
mereka. bicara tentang hal-hal yang cabul dan
mesum ! Para tamu lainnya yang masih mengenal
kesopanan, merasa tidak enak hati dan malu
kepada wanita muda itu. Diam-diam mereka
memikir dan memperhatikan.
Akan tetapi aneh sekali, sinona pakaian merah
itu enak-enak saja minum dan makan masakan
yang dihidangkan. Seakan-akan semua percakapan
cabul itu tidak terdengar olehnya atau seperti
terdengar sebagai percakapan lumrah saja.
Sudah lajimnya laki-laki yang berwatak kasar,
ketika lima orang jagoan melihat nona itu masih
makan minum sambil berseri wajahnya seakanakan
tidak terjadi apa-apa, mereka menjadi makin
berani dalam usaha mereka membangkitkan reaksi
pada wanita muda belia yang cantik itu.
“Ah, Acong,” terdengar seorang di antara
mereka yang mukanya berlubang-lubang bekas
penyakit cacar mencela kawannya yang bermuka
kuning, “semua ceritamu tentang pelacur-pelacur
itu tidak ada gunanya. Betapapun cantik manis
wajah mereka, namun mereka itu tiada lain
hanyalah bunga-bunga layu yang tak menarik lagi,
bunga-bunga yang sudah dipetik dari tangkainya.
Berilah aku setangkai bunga segar yang masih
berada di pohonnya, hemmm. ...... bunga merah
yang masih mekar di hutan bermandikan embun
pagi…….. ambooii, akan kacampakkan bungabunga
layu yang tak berharga itu !”
71
“Ha-ba-ha, Lui-heng (kakak Lui), pagi ini tibatiba
kau menjadi pintar bicara yang muluk-muluk !
Awas, Lui heng, mawar merah banyak durinya !”
Lima orang itu tertawa-tawa sambil memandang
ke arah nona itu secara terang-terangan.
Si muka bopeng she Lui itu lalu bangkit berdiri,
mengebut-ngebutkan jubahnya dan tertawa,
-Ha-ha-ha-ha, oleh sebab berduri itu maka
semakin menarik. Tiada bunga yang tak
merindukan kumbang ! Makin banyak kumbang
mendekatinya, makin bangga hatinya. Aku rasa
bunga merah ini tak terkecuali. Biarlah aku
menjadi kumbang pertama menghampirinya, kalau
perlu boleh tertusuk duri asal kemudian
mendapatkan hadiah madu. Ha-ha. ha !”
Dengan langkah, tidak tetap karena terlalu
banyak minum arak, si muka bopeng ini
menghampiri meja nona itu, kemudian dengan
sikap dibuat-buat ia menjura dan berkata, “Nona
yang cantik seperti dewi, bolehkah saya menemani
nona minum arak ?”
Para tamu mulai merasa khawatir dan sebagian
dari pada mereka sudah cepat-cepat membayar
dan meninggalkan tempat itu. Namun ada pula
yang sengaja hendak menonton keributan dengan
hati berdebar tegang.
Pada masa itu, teguran yang dilakukan seperti
si muka bopeng itu adalah pelanggaran tata susila
yang besar dan setiap orang wanita yang ditegur
laki-laki asing seperti itu. tentu akan menjadi
72
marah. Kalau tidak memaki tentu segera
meninggalkan penegur itu tanpa mengacuhkannya.
Dan mereka ingin sekali melihat sikap
bagaimana yang akan diambil nona yang cantik
itu. Akan tetapi mereka kecelik.
Nona itu memoleh dan tersenyum lebar “Mau
menemani aku minum? Boleh, duduklah asal
engkau sanggup menghabiskan seguci arak wangi
sekali minum !”
Sikap dan sambutan kata-kata nona tidak
hanya mengherankan semua tamu, bahkan si
muka bopeng sendiri melongo keheranan. Tadinya
ia mengira kalau wanita itu akan marah-marah
serta memakinya dan ia akan menggodanya. Siapa
kira, nona ini menerimanya baik-baik bahkan
menyuruhnya duduk dengan syarat supaya ia
menghabiskan seguci arak sekali minum ! Ia
menoleh ke arah kawan-kawannya yang
manyeringai lebar lalu tertawa,
“Ha-ha-ha-ha, nona manis. Seguci arak bagi
aku orang she Lui bukan apa-apa dan sanggup
menghahiskannya sekali minum asal ………. nona
menemani aku minum dan menghabiskan seguci
juga. Jadi sama-sama itu namanya rukun dan
serasi. Bukankah begitu ?” Sambil tertawa si muka
bopeng ini mengira bahwa ia telah mengalahkan si
nona dengan tantangannya.
Tentu sekarang nona itu akan menolak dan
marah-marah, baru ia akan menggodanya. Akan
tetapi kembali ia melongo. Dengan sikap tenang
nona itu menggapai memanggil pelayan.
73
“Pelayan bawa ke sini dua guci penuh arak yang
paling tua dan harum serta paling keras. Biar
mahal asal keras dan awas, jangan memhohongi
aku, aku mengenal arak baik !”
Pelayan itu yang menganggap semua ini sebagai
lelucon yang menguntungkan restoran, segera lari
menuju ke gudang dan mengambii dua guci arak
simpanan.
“Duduktah, hopeng. Aku terima tantanganmu,
kita masing-masing minum seguci arak!” kata nona
itu. Ucapannya begitu wajar sehinga ga orang she
Lui yang dipanggil 'hopeng” ini tidak menjadi
tersinggung, apalagi ia sudah mulai terheranheran.
Sementara itu, empat orang jagoan lainnya
menjadi gembira menyaksikan perkembangan ini.
“Wah, Lui-heng benar-benar-bernasib baik
sekali pagi hari ini !” teriak seorang.
“Tentu malam tadi bermimpi mamangku bulan
purnama !” teriak yang lain.
Juga para tamu, para pelayan lain bahkan para
pengurus restoran kini semua menonton dua orang
yang duduk berhadapan dan hendak mengadu
kekuatan minum arak, seorang nona muda belia
yang cantik jelita dan seorang laki-laki yang
terkenal jagoan, tukang pukul dan penjaga
keamanan di Lok-nam Po-koan, sungguh lawan
yang sama sekali tak seimbang! Dan tantangan
nona itu benar luar biasa sekali.
Meminum seguci arak sekali tenggak bukanlah
hal yang mudah dilakukan setiap orang biasa.
74
Bahkan si muka hopeng sendiri tidak sanggup
malakukan hal ini. Dikarenakan saja si nona juga
mau menemani minum seguci, maka ia menjadi
malu untuk mundur dan menduga bahwa nona ini
tak bakal dapat menghabiskan seguci arak sekali
minum !
Ketika dua guci arak datang dan dibuka,
baunya keras menyerang hidung. Arak tua yang
keras bukan main !
Nona itu mengembang-kempiskan hidungnya
dan berkata sambil tersenyum lebar sehingga
tampaklah deretan gigi- putih hersih seperti
mutiara.
“Arak baik........ ! Nah, kau bilang hendak
menemani aku minum, bukan ? Hayo kita minum
!” Sambil berkata begitu si nona terus mengambil
seguci arak dan membawa ke mulutnya sambil
melirik si muka bopeng.
Orang she Lui itu mulai kaget. Iapun
mengambil arak di depannya, akan tetapi tidak
segera membawa ke mulutnya.
“Nona, betulkah kau bisa mengbabiskan arak
seguci itu sekali minum ?”
“Mengapa tidak ?”
“Ah, mana bisa aku percaya.......?”
“Hemmm, kau mau menemaniku atau tidak?
Kalau tidak sanggup, bilang saja dan lekas pergi
dari sini !”
75
Tentu saja si muka bopeng tidak mau menjadi
bahan ejekan orang. Ia membasungkan dada dan
berkata,
“Siapa bilang aku tidak sanggup, hanya aku tak
percaya engkau mampu melakukannya. Kalau
engkau sekali minum dapat menghabiskan seguci
arak itu, barulan aku percaya dan arak itu pun
akan kuminum habis sekali tengggak.”
Wanita itu tersenyum dingin. “Biarlah,
betapapun juga kau takkan mampu menarik
kembali janjimu.” Setelah berkata demikian, nona
baju merah itu lalu mulai minum araknya..
Lehernya panjang dan berkulit putih halus. Kini
leher itu bergerak-gerak naik turun ketika
terdengar suara menggelogok-gelogok dan arak dari
dalam guci tertuang masuk melalui
kerongkongannya, semua orang memandang
dengan mata terbelalak.
Tak seorangpun di antara semua laki-laki yang
hadir sanggup melakukan hal itu. Seguci arak itu
paling sedikit ada dua puluh cawan, cukup untuk
diminum lima orang. Biarpun banyak orang
mampu menghabiskan seguci arak akan tetapi
diminum secawan demi secawan bukannya
langsung menenggak dari guci sampai habis tanpa
berhenti.
“Hayo minumlah arakmu !” kata nona itu
setelah menaruh guci kosong di atas meja dan
menggunakan sehelai saputangan sutera merah
menghapus bibirnya. Mukanya tetap tenang, tetap
kemerahan kedua pipinya, sama sekali tidak
76
memperlihatkan pengaruh arak yang sekian
banyaknya itu.
Si muka bopeng mulai menoleh kanan kiri.
Melihat wajah-wajah orang tersenyum memandang
ke arahnya. Ia merasa malu kalau sama sekali
tidak meminum araknya.
Biarlah ia minum sekuatnya, seperempat atau
sepertiga guci kemudian berbenti dan melayani
tuntutan nona ini dengan godaan, demikian
pikirnya, dengan lagak dibuat-buat si muka bopeng
itu lalu mengangkat guci araknya dan mulailah ia
menggelogok.
Nampak lehernya bergerak- gerak. Akan tetapi
ini cuma sebentar. Belum ada seperempat' guci
memasuki perutnya ia sudah merasa tidak kuat
lagi. Lehernya serasa tercekik, kepalanya pening
dan tubuhnya gemetar.
Si muka bopeng maklum kalau dipaksakan
terus ia akan roboh terguling. Akan tetapi alangkah
kagetnya dia ketika Hendak menurunkan guci itu
dari mulutnya, ia tidak mampu menggerakkan
tangan yang memegang guci.
Lengan itu kini menjadi kaku sehingga guci itu
tetap menempel dan isinya tertuang terus. Ketika
ia mau menggerakkan tubuh serta melepaskan
tahu-tahu tubuhnya tak bisa pula ia gerakkan.
Sementara itu arak mengalir terus, si muka
bopeng hendak menutup kerongkongannya serta
membiarkan lagi arak mengalir keluar dari mulut,
akan tetapi tiba2 ia merasa lehernya nyeri sekali,
membuat ia jadi megap-megap dan arak terus
77
turun memasuki perutnya melewati kerongkongan.
Si muka bopeng terkejut sekali dan menjadi
ketakutan. Akan tetapi karena ia tidak mampu
bergerak terpaksa semua arak memasuki perutnya
dan ia tersedak-sedak dan terbatuk-batuk.
Begitu guci itu habis isinya, si muka bopeng
tiba-tiba merasa dapat bergerak lagi. Ia terhuyunghuyung
dan jatuh ke bawah seperti sehelai kain
basah, tiada tenaga sama sekali dan rebah
tertelungkup mengeluarkan suara mengorok
seperti seekor babi disembelih. Dari mulutnya
menetes-netes keluar arak bercampur buih.
Riuh-rendah empat orang teman si muka
bopeng dan para tamu lain tertawa-tawa
mentertawakan si muka bopeng yang demikian
mabuknya sampai tidak ingat orang lagi.
Juga nona baju merah itu tertawa sedikit pun
tidak tampak mabuk. Malah ia memanggil pelayan
untuk membayar harga makanan dan arak.
Ketika ia mengeluarkan sebuah kantung dari
bungkusan di pundaknya dan membuka kantung
itu semua orang melongo. Kantung itu penuh
dengan emas dan perak. Secara royal sekali ia
membayar pelayan dan memberi persen. Kemudian
nona itu bertanya kepada empat orang jagoan yang
sambil tertawa-tawa berusaha membangunkan si
muka bopeng yang masih ngorok.
“Aku mendengar di sini ada sebuah po- koan
yang besar, betulkah itu dan di manakah
tempatnya ?”
78
Para tukang pukul itu bukanlah orang baikbaik.
Tadinya mereka hendak mempermainkan
nona itu karena cantik jelitanya akan tetapi setelah
menyaksikan kekuatannya minum arak tadi, lalu
menduga bahwa si nona bukan orang
sembarangan.
Kemudian mereka melihat adanya kantong
uang terisi penuh emas dan perak, maka timbul
niat buruk di hati mereka.
“Betul sekali, nona. Bahkan kami berlima
adalah penjaga-peniaga po-koan. Apakah nona
suka berjudi ? Marilah, kami antatkan. Kebetulan
sekali tidak begitu ramai keadaan di po-koan
sepagi ini.”
Dengan langkah tenang nona itu lalu mengikuti
mereka menuju ke rumah judi yang letaknya di
sebetah restoran itu. Si muka bopeng terpaksa
digotong ke rumah judi karena tak dapat
disadarkan.
Ruangan judi itu cukup lebar, di dalamnya
terdapat lima buah meja judi yang masing-masing
dijaga oleh seorang pengawal. Memang sepagi itu
belum banyak tamu, hanya ada belasan orang.
Semua orang memandang dengan heran ketika
melihat nona itu masuk bersama empat orang
tukang pukul dan seorang jagoan yang mabuk
keras.
Setelah para tukang pukul itu menyatakan
bahwa nona itu hendak berjudi, makin besar
keheranan mereka semua. Akan tetapi karena
tukang pukulnya memberi tahu dalam bahasa
79
rahasia mereka, bahwa nona itu adalah seorang
yang membawa uang emas dan perak banyak
sekali, bandit-bandit judi itu jadi kegirangan.
“Silakan, nona.” kata seorang yang bertubuh
gemuk dan menjadi bandar kepala di situ. “Nona
hendak bermain apakah?”
Nona itu menyapu ruangan dengan pandang
matanya yang tajam, kemudian menghampiri
sebuah meja judi yang di atasnya terdapat sebuah
mangkok dan dadu. “Aku suka main dadu.”
katanya. Semua tamu mendekati meja itu. Bahkan
para tamu ikut pula menonton, karena baru
pertama kali ini melihat seorang nona cantik
hendak main judi dalam sebuah po-koan.
“Baiktah nona. Biar saya sendiri yang melayani
nona,” kata si bandar gemuk sambil memberi
isyarat agar pegawai di belakang meja itu mundur.
Setelah berkata, lalu si gendut itu mengambil
dadu terus memasukannya ke dalam mangkok dan
dengan gerakan seorang ahli ia memutar-mutar
dadu di dalam mangkok itu secara cepat sekali.
Suara nyaring terdengar ketika dadu itu
berputaran di dalam mangkok kemudian secepat
kilat bandar itu menumpahkan mangkok ke atas
meja dengan biji dadu terdapat di dalamnya. Ketika
menutupkan mangkok tadi kedua tangannya
bergerak cepat sekali sehingga dadu itu tidak
tampak sama sekali ketika mangkok dibalikkan. Ini
semua membuktikan keahlian bandar judi yang
sudah masak.
80
“Silakan, nona……” Si bandar judi yang gemuk
itu berkata sambil tersenyum lebar,
memperlihatkan deretan gigi yang kecil-kecil serta
renggang.
Nona itupun tersenyum manis sambil melihat
ke seputarnya. Semua muka menatapnya dengan
pandang mata heran, kagum serta tegang. Ia lalu
mengeluarkan kantungnya dan membuka tali
kantung. Dengan tenang sekali ia mengeluarkan
sepuluh tail perak, menaruhnya di atas gambar
tulisan “ganjil” di atas meja.
Dada itu segi empat dan pada enam permukaan
diberi angka satu sampai dengan angka enam.
Angka ganjil adalah satu tiga lima. sedangkan
angka dua empat enam adalah angka genap.
Apabila memasang ganjil atau genap, jika kena
menerima jumlah pasangan. Tetapi apabila
memasang pada sebuah angka tertentu apabila
menang akan menerima jumlah empat kali lipat
pasangan.
Melihat nona itu sudah memasang, sekali
pasang sepuluh tail-perak. Para tamu ramai-ramai
mulai pasang pula. Ada yang pasang ganjil, pasang
genap, ada pula yang memasang nomer-nomer
tertentu.
Setelah semua orang menaruh pasangan di atas
meja, si bandar gemuk yang tadi terseyum dengan
gerakan kilat dan sambil mengeluarkan seruan
nyaring, membuka mangkok itu.
Dan jelas tampak dadu itu menggeletak di atas
meja dengan nomor empat di atasnya. Bandar
81
menggaruk semua uang pasangan, kecuali
pasangan pada angka genap dan pasangan pada
angka empat yang mendapat hadiah sebagaimana
mestinya.
Nona yang kehilangan pasangannya itu masih
tenang saja, bahkan memperbesar pasangannya
lagi sampai menjadi lima puluh tail perak sekali
pasang.
Semua melongo. Inilah main judi besarbesaran.
Sekali dua kali gadis itu menarik
kemenangan. akan tetapi setelah ia mulai
inemasang dengan taruhan besar sampai seratus
tail perak sekali pasang, ia selalu kalah sampai
akhirnya habislah- semua peraknya.
Namun dengan sikap tenang nona itu masih
terus memasang kini malah mulai menggunakan
uang emas!
Para tamu menjadi tegang. Ada yang merasa
kasihan kepada gadis cantik ini. Ada yang diamdiam
memakinya bodoh. Akan tetapi yang lebih
tegang adalah si bandar judi yang gemuk, juga
para bandar lain yang menonton.
Bayangkan saja! Nona itu sekarang
memasangkan semua sisa uangnya pada nomor
lima. Taruhan yang dipasangkan adalah dua puluh
lima tail emas! Kalau menang, berarti bandar
harus membayar empat kali jadi seratus tail emas
dan hal ini berarti pula bahwa semua kekalahan
nona itu akan dapat ditebus.
Melihat bahwa para tamu lain kehilangan
nafsunya memasang melainkan lambih suka
82
menonton gadis yang luar biasa itu berjudi dengan
tambah gila-gilaan, bandar menjadi makin gelisah.
Kalau hanya melayani nona ini, sekali bintang
nona ini menjadi terang dengan taruhan sebesar
itu bandar akan menjadi bangkrut! Dengan
teriakan nyaring ia membuka mangkok penutup
dan........ dadu meperlihatkan angka lima!
Di antara para tamu ada yang bersorak, dan
ributlah mereka membicarakan kemenangan ini.
Bandar gendut menghatus peluh dengan
saputangannya dan para pembantunya
menghitung uang pembayaran kepada yang
menang.
Nona itu tetap tersenyum tenang, kemudian
memasang lagi dengan taruhan yang membuat
semua orang membelalakkan mata. Berapakah
yang ia pasangkan? Seluruh uang dan
kemenangannya, berjumlah seratus dua puluh
lima tail emas
“Gila ......!”
'Sekali kalah, habis dia........ !”
“Masa sebegitu banyak dipasangkan semua ?”
Bermacam-macam komentar orang, akan tetapi
gadis itu tersenyum lebar dan menoleh ke belakang
ke arah para tamu yang menonton sambil berkata
suaranya halus serta merdu menarik.
'Namanya juga berjudi. Akibatnya hanya dua
macam. Menang atau kalah. Kecil besar sama !”
Bandar gendut itu menatap jumlah uang yang
dipertaruhkan pada tulisan “ganjil” dengan mata
83
melotot dan ia tidak segera memutar dadunya.
Agaknya ia merasa jerih dan ragu-ragu.
“Hayo lekas putar. Mengapa ragu-ragu! Apakah
bandar takut kalah?” tanya si nona dengan suara
mengejek dan semua tamu tertawa karena memang
lucu kalau ada
bandar jadi
takut kalah.
“Eh, Agong
gendut. Kau
kenapa? Kalau
ragu-ragu
jangan main,
biar aku
melayani nona
ini!” terdengar
suara parau.
Semua arang
menengok.
Kiranya dia
seorang laki-laki
usia lima puluh
tahun bertubuh
tinggi besar
bermuka hitam,
pakaiannya
mewah dan matanya buta yang sebelah kiri.
Melihat orang ini, si gendut cepat-cepat
mengundurkan diri dan berkata kepada nona itu,
“Maafkan, nona. Karena taruhanmu luar biasa
besar, maka saya menjadi ragu- ragu dan gugup.
84
Majikan kami datang, biarlah majikan kami sendiri
yang menjadi bandar !”
Nona itu memandang tajam dan kini semua
tamu juga mengenal si muka hitam yang buta
sebelah matanya itu. Dia seorang she Lauw yang
dijuluki It-gan Hek-hauw (Macan Hitam Bermata
Satu), seorang tokoh besar dunia pejahat di kota
Hopak, bahkan terkenal di seluruh Propinsi Anhwa
dan kini setelah banyak mengumpulkan harta
lalu hidup sebagai orang kayaraya di kota Hopak.
Losmen serta rumah judi Lok-nam adalah
miliknya.
Tadi memang ada pegawai secara diam-diam
memberi laporan perihal nona . yang berjudi
dengan taruhan luar biasa itu, maka ia lalu datang
sendiri buat melihatnya khawatir kalau-kalau yang
datang itu adalah seorang musuh serta sengaja
mau mencari gara-gara.
Hatiaya lega ketika melihat seorang nona yang
tidak ia kenal juga sikapnya tidak seperti seorang
nona kang-ouw, akan tetapi melihat caranya
bertaruh, timbul kekhawatirannya kalau-kalau
rumah judinya akan bangkrut maka cepat-cepat
menyuruh si gendut mundur dan maju sendiri
sebagai bandar.
“Nona memasang ganjil dengan taruhan semua
uang nona? Ingat, kalau nona kalah berarti nona
takkan dapat melanjutkan perjudian ini lagi,” kata
orang she Lauw itu dengan suaranya yang parau,
akan tetapi dengan sikap tenang.
Nona itu tersenyum mengejek. 'Kalau aku
kalah, ambil semua uang ini, mengapa banyak
85
komentar lagi ? Uangku boleh habis, tetapi apakah
perhiasan-perhiasanku ini tidak laku untuk
dipasangkan ?”
Ia membuka buntalan dan terdengar orang
berseru kagum ketika terlihat perhiasan-perhiasan
emas permata yang indah-indah dalam sebuah
bungkusan.
“Ha-ha-ha, nona benar-benar seorang penjudi
ulung yang tabah. Bagus hari ini kami menerima
kunjungan seorang tamu terhormat. He, pelayan,
lekas bawa ke sini arak yang paling baik untuk
nona !”
Setelah menuangkan arak dan mempersilakan
nona itu minum, It-gan Hek-hauw lalu berkata,
“Sekarang kita mulai, nona memasangkan semua
uang itu untuk angka ganjil ?”
“Betul dan harap lekas patar dadunya !” jawab
nona itu sambil tersenyum dan memandang
tenang. Ia melihat betapa orang tinggi besar yang
bermuka hitam itu menggulung lengan bajunya ke
atas, kemudian tangan kanannya memegang
mangkok, memasukkan dadu dengan tangan kiri
ke dalam mangkok itu dan matanya yang tinggal
satu memandang tajam ke arah dadu yang mulai ia
putar-putar di dalam mangkok.
Makin lama makIn cepat dadu terputar dan
dengan telapak tangan kirinya dia menutupi mulut
mangkok sambil memutar terus. Gerakan kedua
tangannya sedemikian cepat sehingga bagi mata
para tamu, kedua lengan yang besar dan berotot
itu telah berubah menjadi banyak demikian pula
86
mangkoknya membuat para penonton menjadi
pening kepala.
Namun nona itu memandang dengan mulut
masih tersenyum, namun kini senyumnya seperti
orang mengejek. Bagaikan kilat cepatnya. It-gan
Hek.hauw kini membentak keras dan mangkoknya
sudah tertelungkup di atas meja dengan biji dadu
di dalamnya. Ia mengangkat mukanya memandang
gadis itu dengan peluh dikeningnya.
“Nona, menurut aturan, baru setelah dadu
diputar, orang mulai memasang taruhannya.
Apakah nona tetap memasang angka ganjil ? tidak
dirabah lagi ?”
Nona itu menggelengkan kepala sambil menatap
tajam wajah orang pemilik rumah judi itu yang
mengangkat muka memandang para tamu lainnya.
“Karena nona ini memasang angka ganjil berarti
bertaruh langsung dengan aku, maka harap cuwi
(tuan sekalian) untuk kali ini berhenti dulu dengan
pasangan cuwi.” kemudian tanpa menanti jawaban
orang.orang itu ia telah mendekati mangkok, kedua
tangannya dipentang dan kini tangan itu
menggetar. Melihat ini nona itupun bangkit berdiri,
kedua tangannya terletak di atas meja.
*Awas, lihat baik-baik ! Mangkok dibuka
dua........ tiga........ !!”
Dengan tangan kanannya It-gan Hek-houw
mengangkat mangkok dan tangan kirinya menekan
meja. Semua mata melibat ke alas meja dan........
mereka semua melongo.
87
Jelas tampak betapa biji dadu itu
mcmperiihatkan angka tiga, jadi angka ganjil. Akan
tetapi secara aneh sekali biji dadu itu bergerak dan
menggelimpang ke samping sehingga kini angka
empat yang berada di atas. Namun hanya sebentar
saja karena kembali biji dadu menggelimpang ke
angka tiga, lalu bergerak-gerak sedikit, hampir
terbalik ke angka empat tetapi seolah-olah tidak
kuat dan miring lagi kembali ke angka tiga terus
tidak bergerak-gerak lagi.
Nona itu beradu pandang dengan bandar yang
kini sudah menaruh kedua tangan di atas meja
pula. Mukanya yang hitam menjadi makin hitam,
matanya yang tinggal satu melotot serta muka itu
kini penuh keringat.
“Hemm, angka tiga adalah angka ganjil, bukan?
Aku menang lagi!” kata si nona, suaranya nyaring.
Kini para tukang pukul yang jumlahnya belasan
orang saling pandang dan semua memandang
kepada It-gan Hek houw sambil meraba gagang
golok, menanti perintah. Namun It gan-hek-houw
tidak memberi isyarat apa-apa, hanya menghapus
peluhnya kemudian tertawa bergelak dan berkata,
“Ha ha ha, nona benar hebat ! Hayo bayar
seratus dua puluh lima tail emas kepada nona ini
!” para pembantunya tersipu-sipu mengambil uang
dari dalam karena persediaan di depan tidak cukup
untuk membayar kekalahan yang begitu banyak.
Para tamu menjadi berisik membicarakan
pertaruhan yang besar-besaran dan keadaan biji
dadu yang amat aneh tadi. Mereka sama sekali
tidak tahu bahwa tadi telah turjadi adu tenaga
88
lwee-kang (tenaga dalam) yang seru antara It-gan
Hek-houw dan nona baju merah itu melalui
tekanan tangan mereka pada permukaan meja.
Setelah uang pembayaran selesai dihitung dan
ditumpuk di atas meja di depan nono itu, It-gan
Hek-houw berkata, “Apakah nona masih berani
untuk melanjutkan perjudian ini?”
Kembali senyum mengejek itu membayang di
mulut yang amat indah bentuknya dan berbibir
merah. “Mengapa tidak berani ?
“Awas, kali ini kau bisa kalah, nona.”
'Kalau tidak menang, tentu kalah. Apa
bedanya? Lakas putar, aku akan mempetaruhkan
semua uangku ini, dua ratus lima puluh tail emas
Diantara para tamu ada yang menjadi pucat
mukanyta. Ini sudah gila, pikirnya. Mana ada
taruhan sekali pasang dua ratus lima puluh tail
emas? Kekayaan ini cukup untuk dipakai modal
berdagang besar. Ini tentu tidak sewajarnya dan
ada apa-apa di balik taruhan ini. Ia menjadi tegang
dan takut. Akan tetapi karena hatinya tertarik
ingin melihat perkembangan selanjutnya, ia berdiri
seperti terpaku pada lantai dan melihat sambil
menahan napas.
Kini It-gan Hek.hauw meaggerakkan kedua
lengannya secara aneh sekali, seperti orang
bersilat. Kedua tangan itu bergerak ke sana ke
mari dengan amat cepatnya sehingga orang-orang
tidak bisa melihatnya lagi sewaktu ia mengambil
mangkok dan kemudian dengan cara bagaimana
pula ia menaruh dadu ke dalamnya, tahu-tahu
89
sudah diputarnya mangkok itu dengan gerakangerakan
cepat dan aneh.
Nona itu hanya memandang dengan senyum
tetap mengejek dan senyumannya melebar ketika
tiba-tiba It-gan Hek-hauw menurunkan mangkok
di atas meja dengan mulut di bawah.
Ketika mangkok menyentuh meja, meja itu
sampai tergetar dan mengeluarkan suara nyaring.
Dengan mata berkilat kilat dia mandang nona itu
dan berkata nyaring.
“Nona, kau pasanglah !”
Nona itu dengan gerakan sembarangan
mendorong semua uangnya ke angka enam sambil
berkata, “Aku mempertaruhkan semua ini atas
angka enam!”
Kembali para tamu menjadi berisik. Bukan
main beraninya nona itu mempertaruhkan atas
angka enam, tentu saja kesempatan menang jauh
lebih kecil dari pada kalau memasang angka ganjil
atau genap. Akan tetapi kalau ia menang bandar
harus membayar empat kali lipat, berarti akan
membayarnya seribu tail emas! Bisa bangkrut kali
ini rumah judi Lak-nam kalau pasangan itu kena.
Wajah yang hitam itu kini menjadi agak hijau,
mata yang tinggal satu menjadi agak merah.
“Memasang atas angka enam? Bagus! Sekali ini
engkau kalah, nona. Lihatlah!” la menggerakkan
tangannya cepat sekali membuka mangkok itu.
“Ah, terlalu banyak engkau mengerahkan
tenaga sampai dadunya terbawa ke atas!” Nona itu
berseru berbareng dengan diangkatnya mangkok.
90
Semua orang memandang dan......... berseru heran
karena di bawah mangkok itu tidak ada apaapanya
! Akan tetapi si muka hitam yang kini
mengeluarkan gerengan hebat dan nona itu yang
tersenyum-senyum keduanya berdongak
memandang ke atas. Semua orang juga ikut
memandang ke atas dan.. . .... di langit-langit
ruangan itu, tepat di atas meja judi, dadu itu telah
menempel di langit-langit dan memperlihatkan
angka........ enam.
“Aneh........ ......
“Angka enam .....
“Ilmu situ man ...... .!”
Nona itu tidak memnerdulikan teriakanteriakan
ini lalu berkata, suaranya tegas dan
nyaring.
“It-gan Hek-hauw, lekas bayar kekalahanmu
seribu tail emas !”
Diam-diam lt-gan Hek-hauw terkejut sekali dan
maklum bahwa nona ini meskipun kelihatannya
lemah, agaknya memiliki kepandaian hebat.
Dan ia sangat kagum kepada nona itu karena
ilmunya, meskipun ia sendiri pernah bertempur
dengan orang-orang sakti.
Tadi ia sudah mengadu lweekang dengan
menekan meja dan ternyata kalah. Sekali ini
dengan kecepatannya ia sudah mengantongi dadu
pertama dan ketika hendak membuka mangkok, ia
sengaja menaruh dadu lain dengan angka satu di
atas. Siapa kira, dengan kepandaian yang luar
91
biasa, entah secara bagaimana ia tidak tahu, dadu
itu telah diterbangkan oleh nona itu ke atas,
menempel langit-langit dan memperlihatkan angka
enam yang dipasangnya!
Pada saat itu, seorang tukang pukulnya berlarilari
ke dalam dari luar dengan muka pucat serta
berteriak di depan It-gan Hek-hauw. “Celaka, Lauw
taiya ....... , dia sekarang mati........ seluruh tubuh
dan mukanya menjadi hitam........! Nona itu pasti
yang melukainya !”
Nona baju merah itu yang sejak tadi sudah
berdiri, kini bertolak pinggang dan tersenyum lebar
lalu berkata, 'Anjing muka bopeng itu dibunuh
sepuluh kalipun masih belum dapat menebus
kekurang-ajarannya kepadaku. Lalu kalian ributribut
mau apa? Hayo lekas bayar uangku !”
“Tangkap perempuan pengacau ini!” It-gan-Hekhauw
berteriak marah.
Lima belas jagoan yang menjadi tukang tukang
pukul dan pegawainya segera mencabut golok serta
mengurungnya. Akan tetapi gadis ini tersenyum
sabar, berbeda dengan para tamu yang kini
berlarian keluar serta ada pula yang mepet di
sudut dengan muka pucat dan tubuh menggigil.
“Eh, apakah kalian semua ini sudah tidak mau
hidup lagi ?” Ia menegur dan menyindir. Belasan
orang jagoan itu sudah biasa melakukan
pertempuran serta melawan musuh lihai,
mendengar ancaman nona itu, mana mereka takut,
apa lagi ia tak bersenjata !
92
Sambil berseru keras, mereka menyerang maju
seolah-olah berebut dan berlomba. Akan tetapi,
tampak tiba-tiba benda merah berkelebat disusul
suara melengking tinggi tubuh nona itu bergerak
lalu sinar merah menyambar-nyambar dan………
terdengar suara nyaring di susul golok-golok
terbang semua dan jerit mengerikan ketika tubuh
belasan jagoan itu roboh susul menyusul dalam
keadaan tidak bernyawa lagi.
Nona baju merah itu kini berdlri tegak, tangan
kiri bertolak pinggang serta tangan kanan
memegang sebuah suling merah yang kecil mungil
entah sejak kapan dikeluarkan. Sepasang mata
yang bening seperti burung Hong itu lalu menatap
kepada It-gan Hek-houw, bibirnya yang merah
basah tersenyum dan deretan gigi yang putih
bersih seperti mutiara berkilat ketika ia bertanya,
“Bagaimana sekarang? Masih hendak coba-coba
lagi atau lekas bayar uang kemenanganku?”
Tangan kanan itu menggerak-gerakkan suling
seperti gerakan seorang penari.
Biarpun digerakkan perlahan, namun suling itu
dapat mengeluarkan suara melengking lirih seperti
suara kucing atau bayi menangis. Kemudian tanpa
memperdulikan orang disekitarnya seakan-akan di
situ tidak ada orang lain, bibirnya diruncingkan
dan terdengarlah tiupan suling mengalun merdu!
“Cui-siauw-kwi……!” teriak seorang diantara
para pembantu It-gan Hek-hauw ketika melihat
sikap nona baju merah itu, semua orang terkejut
dan teringat. Tak salah lagi, inilah Cui-siauw-kwi
(Setan Peniup Suling) yang pada waktu dua tahun
93
ini amat menggemparkan dengan perbuatanperbuatannya
yang mengerikan.
Seorang iblis betina yang cantik jelita, namun
amat kejam sepak terjangnya. Entah berapa
banyak jumlahnya orang yang telah dibunuhnya
dan yang terbanyak adalah, laki-laki muda belia
yang tampan. Sudah terkenal betapa Cui-sianwkwi
gila laki-laki tampan.
Setiap kali ia melihat laki-laki tampan dan
muda lalu dipikat dan dibujuk menggunakan
kecantikannya atau kalau bujukan ini tidak
berhasil lalu memakai kepandaian untuk menculik
laki-laki itu dipaksa menjadi kekasihnya.
Celakanya laki-laki muda itu setelah jadi
kekasibuya tidak akan lebih umurnya dari lima
hari.
Mendengar ada orang mengetahui julukannya
itu, ia lalu melirik ke kiri dan -melihat bahwa yang
menyebut nama poyokannya tadi adalah seorang
laki-laki setengah tua yang menjadi pelayan rumah
judi.
Tangan kanannya masih mamegang suling
sambil meniup menyanyikan lagu asmara yang
merdu, akan tetapi tiba-tiba tangan kirinya
bergerak ke depan, dan........ orang yang tadi
menyebut nama poyokannya itu menjerit terus
roboh terguling, lalu putus napasnya.
Nona itu mengbentikan tiupan sulingnya,
melihat ke sekeliling lalu bertanya, suaranya masih
halus merdu senyumnya masih mengembang di
bibirnya.
94
“Siapa lagi yang berani menyebutku setan?”
Para tamu dan pegawai Lok-nam Po-koan
menjadi pucat dan mundur ketakutan.
“It-gan Hek-hauw, kau tidak lekas mambayar
uangku? Apakah aku harus memaksamu?”
It-gan Hek-hauw adalah seorang bekas penjahat
kawakan, akan tetapi semenjak lama
mengundurkan diri dari dunia kejahatan karena
sudah menjadi seorang kayaraya. Kini karena
terancam kerugian besar sekali ia memutar otak. Ia
maklum bahwa kalau melawan dengan kekerasan
ia akan kalah dan tentu nona yang seperti iblis ini
takkan segan-segan membunuhnya, maka ia cepatcepat
tersenyum lebar dan maju selangkah,
memberi hormat dengan menjura dan
membungkuk,
“Ah, kiranya Cui-siauw Sianli ( Dewi Peniup
Suling) Ma-konwnio (nona Ma) yang datang
berkunjung. Maaf........ maaf........ karena belum
pernah jumpa biarpun sudah bertahun-tahun
mendengar nama besar Kouwnio yang menjulang
tinggi di angkasa, maka kami menyambut Kouwnio
kurang hormat. Kalau tahu bahwa Kouwnio
adalah Cui-siauw Sianti, tentu tidak akan sampai
terjadi kesalah-pahaman ini…...”
Senyum manis itu makin melebar akan tetapi
pandang mata nona itu berobah dingin dan penuh
ancaman, “It-gan Hek hauw, tak perlu engkau
memulas bibir dengan madu. Akupun tidak sudi
berkenalan dan berhubungan dengan kau dan
orang-orangmu, maka tak perlu banyak cakap lagi.
Lekas bayar kemenanganku seribu tail emas!'
95
Muka yang hitam itu menjadi pucat sekali dan
cepat-cepat It-gan Hek-hauw menjura sampai
jidatnya hampir menyentuh tanah, semua anak
buahnya terheran-heran.
Biasanya, majikan mereka ini amat galak,
setanpun takkan ditakutinya, mengapa kini
bersikap demikian merendah terhadap nona baju
merah itu. Sedangkan mereka itu tahu bahwa
majikan mereka adalah seorang berkepandaian
tinggi.
''Tentu, tentu akan saya bayar lunas, Kouw nio.
Akan tetapi, seribu tail emas bukan jumlah sedikit.
Tak mungkin saya dapat membayar sekarang
karena tidak ada uang tunai sebanyak itu. Harap
kouw-nio sudi memberi waktu tiga hari, saya akan
kumpul-kumpulkan dan tukar-tukarkan perak
menjadi emas, setelah tiga hari, seribu tail emas itu
akan tersedia di sini harap saja kouw-nio
mempertimbangkan.”
Nona itu menyipitkan kedua matanya. “Hemm,
kalau menurut patut, setelah kalah berjudi tidak
mampu bayar, seharusnya aku turun tangan
memburtuhmu ! Akan tetapi, biarlah kuberi waktu
tiga hari, kau takkan dapat lari dariku setelah tiga
hari, malamnya aku akan datang untuk mengambil
uang atau kepalamu !”
Setelah berkata demikian, nona baju merah ini
dengan tenang mengambil uangnya dua ratus lima
puluh tail emas dari atas meja, memasukkannya
dalam buntalan, menggendong buntalannya,
kemudian dengan langkah lemah gemulai sehingga
sepasang pinggulnya menari-nari di belakangnya ia
96
keluar dari rumah judi itu sambil meniup
sulingnya perlahan-lahan.
Semua orang mengikutinya dengan pandang
mata terbelalak dan napas tertahan, dan belum
berani bergerak sebelum suara suling yang makin
lama makin lirih itu lenyap.
Barulah tampak kesibukan luar biasa, para
tamu-tamu cepat pergi meninggalkan ruangan dan
para pelayan sibuk merawat taman-temannya yang
tewas. Adapun It-gan Hek-hauw sendiri cepat
menyuruh sediakan seekor kuda dan tak lama
kemudian tampak pemilik rumah jadi ini sudah
menunggang kuda, membalapkan kudanya keluar
dari kota Hopak menuju ke selatan.
Biarpun hampir semua penduduk Hopak
menjadi. gelisah mendengar bahwa kota mereka
kedatangan seorang tokoh mengerikan seperti Cuisiauw-
kwi, namun sama sekali tidak mengganggu
kegembiraan besar yang terdapat di rumah dua
keluarga, yaitu keluarga Bhok dan keluarga Souw
yang sedang merayakan hari pernikahan putera
dan pateri mereka.
Pemuda she Bhok seorang sasterawan muda
yang tampan, pada hari itu dinikahkan dengan
gadis she Souw yang cantik rupawan dan kaya
raya.
Pemuda Bbok yang tidak kaya dipilih mantu
oleh hartawan Souw dan pada malam hari itu para
tamu memenuhi ruangan tamu rumah gedung
keluarga hartawan Souw, serombongan pemain
musik meramaikan suasona dengan bunyi-bunyian
97
merdu dan mengiringi uyanyian wanita-wanita
cantik,
Banjir arak dan masakan lezat membuat para
tamu menjadi makin gembira sehingga makin jauh
malam, suara ketawa para tamu makin bebas
terlempar.
Biarpun siang hari tadi terjadi pembunuhan
belasan orang dan kekacauan di rumah judi Loknam,
namun malam hari itu tak seorangpun
diantara auggauta keluarga hartawan Soaw
mengingat akan hal itu. Hanya para tamu yang
kadang-kadang terdengar membicarakan si nona
baju merah yang cantik seperti bidadari, namun
kejam seperti iblis.
Mereka bicara sambil tidak berani bicara karaskeras,
apalagi menyebut nama Dewi Suling dengan
nama poyokan, sama sekali mereka tidak berani!
Kalau terpaksa menyebut, juga mereka menyebut
Cui-siauw-sianli. Setelah mendengar betapa
seorang yang menyebutnya Satan Suling dibunuh,
semua bibir menyebut wanita aneh itu Dewi Suling
!
Menjelang tengah malam, sebagian besar para
tamu sudah mulai mabok dan permain musik yang
juga tidak sedikit minum arak, kini mainkan musik
makin ramai penuh gairah. Suara suling mengalun
merdu diseling suara yang-kim dan gitar, saling
susul dalam paduan suara yang harmonis.
Tiba-tiba terdengar suara melengking yang
merdu, juga tinggi mengalahkan paduan suara itu.
Suara melengking tinggi itu terdengar jelas seperti
suara suling tetapi bukan keluar dari suara pemain
98
musik. Suara melengking tinggi ini datangnya dari
atas!”
“Dewi Suling........ !!!”
Entah siapa orangnya yang berteriak menyebut
nama itu. Agaknya ia tadi terpengaruh oleh
percakapan mengenai tokoh itu, maka begitu
mendengar lengking ini tanpa disadarinya ia
menyebut nama Dewi Suling.
Akan tetapi akibatnya luar biasa sekali.
Para tamu menjadi pucat mukanya dan ada
pula satu dua orang yang menyelinap turun
bersembunyi di bawah meja, semua tamu menjadi
panik, ada yang cepat-cepat menyelinap keluar dari
ruangan itu terus melarikan diri.
Dalam keadaan panik itu suara melengking
terus terdengar tetapi kian menurun ke bawah
tetapi tiba-tiba terdengar jerit mengerikan, jerit
seorang wanita yang keluar dari dalam kamar
pengantin menembus kegelapan malam di luar
rumah.
Mendengar jeritan ini, para tamu yang
sembunyi di bawah meja menggigil seluruh
tubuhnya, bahkan yang terlalu penakut sampai
terkencing-kencing, membasahi celananya dan
lantai. Yang sudah berlari keluar terus
mempercepat larinya sampai ada yang tersanduag
jatuh bangun mengaduh-aduh.
Keluarga Souw tadinya juga panik, akan tetapi
begitu mendengar jerit mengerikan dari kamar
pengantin, hartawan Souw menjadi gelisah sekali.
99
Teringat nasib puterinya, ia memberanikan diri
serta mengajak beberapa orang pengawal, lalu
menggedor pibtu kamar pangantin. Kamar ini
semenjak tadi menjadi bahan senda gurau para
tamu muda setiap kali mereka memandang pintu
kamar yang dicat merah, mereka tersenyumsenyum
dan memandang dengan mata penuh arti.
Kini pintu itu digedor-gedor oleh Souw wangwe
(hartawan Souw) yang memanggil-manggil
puterinya.
Namun suara saja tidak ada jawaban. Hanya
terdengar suara suling melengking itu kini makin
lama makin lirih dan akhirnya lenyap.
Hartawan Souw tak dapat menahan
kegelisahannya lebih lama lagi. Ia lalu menyuruh
para pengawal untuk membongkar saja pintu
kamar itu. Begitu daun pintu dibuka, hartawan
Souw dan isterinya lari memasuki kamar pengantin
yang dihias indah dan berbau harum sekali.
Tadi para tamu muda yang bersenda gurau
saling bicara tentang sikap sepasang pengantin itu
dengan bermacam-macam dugaan yang lucu-lucu.
Ada yang bilang betapa pengantin wanita
dengan malu-malu menolak pendekatan pengantin
pria, ada yang bilang pengantin wanita mengajak
bergelut lebih dulu sebelum menyerah, dan masih
banyak macam lagi. Sepantasnya pada saat seperti
itu sepasang pengantin tentu setidaknya sedang
berpelukan mesra. Akan tetapi ketika mereka
memandang ke atas pemharingan tampak darah
berlepotan dan tubuh pengantin wanita dengan
pakaian masih lengkap rebah terlentang tak
100
bernyawa. Pengantin wanita yang cantik dan muda
belia itu mati di atas ranjang pengantin,
menggeletak di atas gelimangan darahnya sendiri,
sedangkan pengantin pria tidak nampak
bayangannya lagi di dalam kamar itu.
Jendela kamar masih tertutup rapat, akan
tetapi langit-langit kamar itu robek lebar berikut
gentengnya yang terbuka.
Jerit tangis terdengar memenuhi malam sunyi,
tawa gembira seketika berubah menjadi tangis
duka. Perayaan pestapora berubah menjadi
perkabungan yang menyedihkan.
Para tamu segera pulang tanpa pamit, nama
Dewi Suling dibisikkan oleh bibir dan hati penuh
rasa takut.
Apakah yang sebenarnya telah terjadi di dalam
kamar pengantin itu ? Kedua orang muda yang
baru sekali itu mengalami tidur sekamar dengan
seorang lawan jenis menjadi jengah dan malu.
Ketika para sanak dan kerabat, seperti sudah
menjadi kebiasaan, mengantar pengantin pria
memasuki kamar pengantin sambil menggoda
dengan berbagai kata-kata kemudian menutup
pintu kamar pengantin, suara ketawa mereka itu
masih bergema dan terdengar dari dalam kamar
pengantin.
Pengantin pria, pemuda she Bhok itu semenjak
kecil hanya tekun membaca kitab mempelajari
sastera.
Mimpipun belum pernah berdekatan dengan
seorang wanita apalagi berduaan sekamar. Kini ia
101
melangkah maju, langkah-langkah kecil dengan
kedua kaki menggigil dan jantung berdebar seperti
hampir pecah rasanya, pengantin wanita duduk di
atas pembaringan sambil menundukkan mukanya.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil