Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Selasa, 25 April 2017

Cersil Romantis Mandarin : Toliongto 3

Cersil Romantis Mandarin : Toliongto 3 Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Romantis Mandarin : Toliongto 3
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Romantis Mandarin : Toliongto 3
THIO COEI SAN mendapat gelaran Gin kauw Tiat hoa
(Gaetan perak Coretan besi) karena tangan kirinya
menggunakan Houw tauw kauw (Gaetan kepala harimau )
yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya
bersenjatakan Poan koan pit (senjata yang menyerupai pena
Tionghoa) yang terbuat daripada besi. Sebab kuatir
ditertawai oleh kaum sasterawan, maka sesudah mahir
dalam ilmu silat, ia lalu mempelajari juga ilmu surat di
bawah pimpinan gurunya yang Boen boe coan cay (pandai
ilmu surat dan ilmu silat). Song loan tiap itu pernah
dipelajari olehnya pada dua tahun yang lain.
Sambil bersembunyi di belakang tiang, ia memperhatikan
gerakan tangan gurunya yang menulis seperti berikut: "Hie
Cie toen sioe, song loan cie kek, sian bok cay lie to tok, toei
wie kouw seng. (Hie Cie memberi hormat. Kesedihan dan
kekalutan melampaui batas, kuburan-kuburan leluhur
diubrak abrik, kalau diingat sungguh hebat perasaan duka).
Lewat beberapa saat, Coei San dapat merasakan bahwa
setiap coretan yang dibuat oleh gurunya mengandung
kedukaan dan secara mendadak, ia berhasil menyelami
perasaan Ong Hie Cie sendiri pada waktu ia menulis Song
loan tiap itu.
Ong Hie Cie adalah seorang sasterawan besar pada
jaman kerajaan Cin Timur. Di waktu itu, Tiongkok kacau
balau dan bangsa asing menentang kekuasaannya. Dalam
kesedihan dan kekalutan hebat (song loan), murid-murid
Ong Hie Cie teleh melarikan diri ke Tiongkok Selatan.
Bukan saja manusia, tapi kuburan-kuburan pun turut
213
diubrak abrik, sehingga dapatlah dibayangkan, kedukaan
dan kegusaran rakyat yang sangat menghormati kuburan
leluhur mereka. Penderitaan yang hebat itu semua
dilukiskan dalam Song loan tiap.
Diwaktu yang lampau, dalam keadaan yang selalu riang
dan gembira, Thio Coei San tidak bisa memahami maksud
yang sebenarnya arti 'tiap' itu. Tapi sekarang, karena ia
sendiri tengah diliputi dengan kedukaan berhubung dengan
terlukanya Jie Thay Giam maka secara mendadak ia dapat
menyelami arti "Song loan° dan "To tok".
Sesudah menulis beberapa kali, Thio Sam Hong
menghela napas panjang dan lalu masuk keruangan tengah,
dimana ia termenung-menung beberapa lama. Tiba-tiba ia
mengangkat pula tangan kanannya dan menulis huruf-huruf
ditengah udara. Kali ini, huruf-huruf itu berbeda dengan
huruf-huruf Song loan tiap. Huruf-huruf pertama adalah
"Boe" (Persilatan), sedang yang kedua "Lim" Rimba. Ia
menulis terus sampai duapuluh empat huruf.
Dengan mengawasi gerakan tangan sang guru, Thio Coei
San tahu, bahwa yang ditulisnya ialah: "Boe lim cie coen,
po to To liong hauw leng thian hee, boh kam poet ciong, Ie
thian poet coet swee ie ceng hong."
"Apakah Soehoe sedang coba memecahkan teka teki
dalam kata itu", tanyanya didalam hati. Thio Sam Hong
menulis huruf-huruf itu berulang-ulang, semakin lama
gerakan tangannya jadi semakin perlahan, setiap gerakan
menyerupai gerakan silat. Mendadak saja, Thio Coei San
tersadar. Ia sekarang mengerti, bahwa dengan menulis
duapuluh empat huruf itu, sang guru sebenarnya tengah
menjalankan serupa ilmu silat yang sangat tinggi, dalam
mana setiap huruf berarti setiap pukulan.
Dalam duapuluh empat huruf itu, hurup "liong" (naga)
214
dan huruf "hong" (tajam) yang paling banyak coretannya,
sedang huruf "to" (golok) dan huruf "hee" (bawah) yang
paling sedikit coretannya, Tapi, walaupun coretannya
banyak, gerakannya tidak kelihatan berlebihan, sedang
biarpun coretannya sedikit, gerakannya tidak kelihatan
kekurangan. Setiap gerakan pukulan tepat dan mantep,
indah dan lincah, angker bagaikan badai, bertenaga seperti
tubrukan harimau, kokoh kuat seakan-akan tindakan gajah,
cepat seolah-olah berkredepan kilat diangkasa. Dalam
duapuluh empat huruf itu terdapat dua "poet" dan dua
"thian" tapi, sesuai dengan artinya yang berbeda beda, jiwa
dari pukulan pukulannya berbeda-beda.
Dalam tahun-tahun yang belakangan ini, jarang sekali
Thio Sam Hong berlatih silat. Ilmu silat In Lie Heng dan
Boh Seng Kok didapat dari Song Wan Kiauw dan Jie Lian
Coe yang mewakili gurunya. Maka itu, biarpun Thio Coei
San murid kelima, tapi sebenar-benarnya ia, adalah murid
penutup, atau murid terakhir yang mendapat pelajaran dari
Thio Sam Hong sendiri.
Malam itu guru dan murid mempunyai perasaan yang
sama, berhubung dengan terjadinya peristiwa mendukakan
itu. Mereka berduka sebab memikiri keselamatan Jie Thay
Giam dan mendongkol karena adanya ancaman dari pihak
yang belum di ketahui siapa adanya. Dalam jengkelnya,
Thio Sam Hong sudah menulis huruf-huruf itu dan secara
kebetulan, ia telah menciptakan semacam ilmu silat baru.
Secara kebetulan, oleh karena, pada waktu baru menulis
huruf-huruf itu, ia sedikit pun tak punya niatan untuk
menggubah ilmu pukulan. Sementara itu, Thio Coei San
yang kebetulan bersembunyi dibelakang tiang, telah melihat
dipertunjukkannya ilmu silat tersebut, yang lantas saja
dapat dipahami olehnya lantaran iapun sedang diliputi
dengan perasaan duka. Demikianlah, secara sangat luar
215
biasa, satu ilmu silat baru yang berdasarkan seni menulis
huruf, telah tercipta dalam Rimba Persilatan.
Dua jam lamanya, sehingga rembulan naik tinggi, Thio
Sam Hong berlari terus menerus. Beberapa lama kemudian,
sambil bersiul nyaring, telapak tangan kanannya menyabet
dari atas kebawah, bagaikan menyambernya sehelai sinar
pedang. Sabetan yang dahsyatitu merupakan coretan
terakhir dari huruf "hong".
Sehabis menyabet, ia dongak seraya berkata: "Coei San,
bagaimana pendapatmu dengan Soe hoat (seni menulis
huruf indah) ini?"
Thio Coei San terkesiap. Ia tak nyana bahwa
bersembunyinya telah diketahui oleh sang guru. Buru-buru
ia manghampiri seraya menjawab: "Hari ini teecoe mujur
luar biasa, karena dapat melihat ilmu silat Soehoe yang
begitu tinggi. Apa boleh teecoe panggil Toasoeko dan yang
lain-lain, supaya mereka pun bisa turut menyaksikan?"
Sang guru meoggelengkan kepalanya. "Kegembiraanku
sudah habis, sehingga mungkin sekali aku tak bisa menulis
lagi begitu bagus," katanya "Wan Kiauw, Siong Kee dan
yang lain lain tidak mengerti Soehoat, sehingga meskipun
melihat, belum tentu mereka bisa menarik banyak
kefaedahan." Sehabis berkata begitu seraya mengebas
tangan jubahnya, is berjalan masuk keruangan dalam.
Thio Coei San tidak berani tidur, sebab kuatir sesudah
pulas, ia akan lupakan ilmu silat itu. Dengan lantas ia
bersilat dan menjernihkan pikiran, sambil mengingat-ingat
setiap coretan yang barusan dilihatnya, dengan tempotempo
bangun berdiri dan menjalankan beberapa pukulan
sulit. Entah berapa jam ia bersila disitu, tapi pada akhirnya
dapatlah ia menghapal seluruh ilmu silat tersebut yang
terdiri dari duapuluh empat huruf dengan seluruh lima belas
216
perubahan-perubahannya.
Beberapa saat kemudian, ia melompat bangun dan lalu
menjalankan semua pukulan itu. Sesudah beberapa jurus,
pukulan pukulannya keluar dengan deras dan lancar
bagaikan air tumpah, sedang tubuhnya enteng melompat
kian kemari seperti seekor kera. Akhirnya, ia membuat
coretan paling penghabisan dari huruf 'Hong' (tajam)
dengan telapak tangan kanannya yang menyambar dari atas
kebawah dan "bret!", ujung bajunya robek karena pukulan
itu. Ia kaget tercampur girang. Tiba tiba saja, ia mendapat
kenyataan, bahwa matahari sudah naik tinggi.
Sesudah menyusut keringat yang membasahi mukanya,
ia segera berlari lari kekamar Jie Thay Giam, di mana sang
guru sedang menempelkan kedua telapak tangannya pada
dada saudara seperguruan itu sambil mengerahkan
Lweekang untuk mengobati lukanya.
Perlahan-lahan supaya tidak mengganggu, ia berjalan
keluar dari kamar itu. Ternyata Song Wan Kiauw, Thio
Siong Kee dan In Lie Heng sudah berangkat. Sedang
rombongan Liang boen Piauw kiok pun sudan turun
gunung. Karena sungkan mengganggu latihannya, maka
ketiga saudara seperguruan itu sudah pergi tanpa pamitan
lagi.
Ia pun segera berkemas, membekal senjata dan beberapa
puluh tahil perak, akan kemudian, pergi lagi ke kamar Jie
Thay Giam. "Soehoe, teecoe mau berangkat sekarang"
katanya. Sambil bersenyum, sang guru manggut
manggutkan kepalanya.
Sehabis berkata begitu, Coei San mendekati pembaringan
dan lihat muka Thay Giam yang berwarna kehitam
hitaman karena pengaruh racun, sedang tanda tandanya
bahwa kakak seperguruan itu masih bidup, hanya napasnya
217
yang berjalan perlahan sekali. Bukan main rasa dukanya.
"Samko," katanya dengan suara serak, "Biarpun badanku
hancur lulur, aku pasti akan, membalas sakit hatimu". Ia
menekuk lutut dihadapan gurunya dan kemudian sambil
menekap muka dengan kedua tangannya, ia meninggalkan
kamar itu.
Dengan menuggang Cengcong ma (kuda bulu hijau
putih), ia turun dari Boe tong san. Sesudah melalui lima
puluh li lebih, siang terganti dengan malam dan awan
mendung meliputi langit. Baru saja ia masuk kedalam
sebuah rumah penginapan. Hujan mulai turun. Semakin
lama, hujan itu jadi semakin besar dan semalam suntuk
turun tak henti hentinya. Pada keesokan paginya, awan
gelap belum buyar dan hujan masih terus turun dengan
tidak kurang hebatnya.
Karena ingin membalas sakit hati Soekonva secepat
mungkin, ia tak mau membuang buang tempo. Ia segera
membeli baju hujau dan tudung dari pemilik penginapan
dan lalu meneruskan perjalanan. Untung juga Cengcong ma
bukan sembarang kuda, sehingga dia dapat berlari terus
dijalanan berlumpur sangat jelek.
Sesudah melewati Lao ho kouw, ia menyebrang sungai
Han soei yang airnya banjir dan menerjang kealiran bawah
dengan dahsyatnya. Cengcong ma dibedal terus melalui
kota Siang yang dan Hoan soie. Ia dengar berita orang
bahwa di aliran sebelah bawah Han soei, gili-gili bobol
rakyat diserang air bah. Setibanya di Gie shia, ia mulai
bertemu dengan rakyat yang melarikan diri dari serangani
banjir dengan berbondong-bondong. Hujan masih turun
terus dan penderitaan rakyat hebat bukan main.
Selagi mengaburkan tunggangannya, disebelah depan
terlihat sejumlah penunggang kuda yang mengibarkan
bendera piauw hang. Segera juga ia mengenali, bahwa
218
mereka mereka itu adalah orang orang Liong boen piauw
kiok. Ia lantas saja mencambuk Cengcong ma yang segera
lari bagaikan terbang dan sesudah melewati rombongan itu,
ia menahan les, memutar tunggangannva dan menghadang
ditengah jalan.
Melihat Thio Coei San, Touw Tay Kim menanya dengan
suara dingin: "Thio Ngo hiap, ada urusan apa kau
mengubar kami?"
"Apakah Touw Cong piauw tauw lihat penderitaan
rakyat yang kelanggar bencana banjir itu ?" ia balas
menanya.
Touw Tay Kim tak duga ia bakal ditanya begitu.
"Apa?" menegasnya dengan terkejut.
Pemuda itu tertawa-dingin. "Aku ingin minta para
dermawan mengeluarkan emas mereka untuk menolong
rakyat yang bersengsara" jawabnya.
Paras Cong piauw tauw itu lantas saja berubah pucat.
"Kami orang-orang piauw hang setiap hari hidup diujung
senjata dan mencari makan dengan mempertaruhkan jiwa,"
katanya dengan suara gusar. "Mana kami mempunyai
kekuatan untuk menolongg begitu banyak orang ?"
"Serahkan itu duaribu tahil emas yang berada dalam
sakumu!" bentak Thio Coei San.
"ThioNgo hiap, apa kau mau mencari-cari urusan
dengan aku?" tanya Touw Tay Kim seraya meraba gagang
golok.
Ciok dan Soe Piauw tauw lantas saja menghunus senjata
mereka dan berdiri didekat pemimpinnya.
Dengan tetap bertangan kosong, Thio Coei San berkata
sambil tertawa dingin: "Touw Cong piauw tauw, tanyalah
219
dirimu sendiri. Sesudah makan upah, apakah kau sudah
menjalankan tugasmu? Hmn! Kau, masih ada muka untuk
mengantongi duaribu tahil emas itu ?"
Muka Touw Tay Kim merah padam, karena malu dan
gusar. "Bukankah kami sudah mengantar Jie Sam hiap
sampai di Boe tong san ?" Ia membela diri. "Sebelum kami
menerima tugas itu, ia memang sudah terluka berat.
Sekarang pun ia masih belum mati."
"Jangan ngaco!" bentak Coei-San "Apa kaki tangan Jie
Sam ko sudah patah-waktu ia berangkat dan Lim an?"
Touw Tay Kim tak dapat menjawab.
"Thio Ngo hiap." menyelak Soe Piauw Tauw, "Apakah
sebenarnya maksudmu. Katakan saja terang-terangan."
"Aku balas hancurkan tulang tulang tanganmu!"
bentaknya sambil melompat dan menerjang. Soe piauw
tauw mengangkat toyanya untuk menangkis, tapi ia kalah
cepat. Bagaikan kilat, Thio Coei San mengebas dan
membabat dengan tangan kirinya dan toya itu terbang
sedang Soe Piauw tauw jatuh terpelanting dari
tungganannya. Dalam serangan itu, Thio Coei San
menggunakan huruf "thian" (langit) dari ilmu silat yang
baru didapatinya.
Piauw tauw yang bisa lihat selatan, coba menyingkirkan
diri, tapi sudah tidak keburu lagi. Karena tangan Coei San
sudah menyapu pinggangnya dalam gerakan garis
melintang dari huruf "thian" sehingga tanpa ampan lagi,
tubuhnya bersama-sama sela kuda terpental setombak lebih
dan jatuh terjengkang diatas tanah. Waktu diserang, kedua
kaki piauw tauw, itu menginjak sanggurdi keras-keras, tapi
sebab lawannya menghantam dengan Lwekang yang sangat
hebat, maka tali ikatan perut kuda menjadi putus dan sela
kuda turut terlempar.
220
melihat hebatnva serangan musuh, Touw Tay Kim
mengeprak kudanya dan menerjang. Dengan sekali
memutar badan. Coei San menghantam dengan pukulan
huruf "hee" (bawah).
"Buk!" pukulan itu mengenakan tepat dipunggung Touw
Tay Kim yang tubuhnya lantas saja ber goyang-goyang.
Karena ilmunya banyak lebih tinggi daripada kawannya,
maka ia tidak sampai roboh dari tungganannya. Baru saja ia
melompat turun dari punggung kuda untuk mengadu jiwa,
tiba tiba ia merasa tenggorokannya penuh dan "ugh!" ia
muntahkan datah. Ia terhuyung beberapa tindak. Kakinya
lemas roboh duduk diatas tanah. Tiga piauw soe lainnya
dan para pegawai piauw hang tentu saja tidak berani
bergerak lagi.
Waktu baru bertemu dengan rombongan piauw hang itu,
dengan kegusaran yang meluap luap Thio Ngo hiap betekad
untuk mematahkan kaki tangan para piauw soe itu. Tetapi
sesudah melukakan tiga orang secara begitu mudah, malah
seorang diantaranya mendapat luka berat, ia sedikitpun
tidak menduga, bahwa ilmu silat yang baru dipelajarinya itu
sedemikian hebat. Hatinya jadi lemas dan ia tak tega untuk
turun tangan lebih jauh.
"Orang she Touw!" bentaknya, "Hari ini aku berlaku
murah terhadapmu. Keluarkan dua ribu tahil emas itu
untuk menolong rakyat yang kelanggar bencana alam. Aku
akan menilik sepak terjangmu dari kejauhan dan jika setahil
saja kau sembunyikan dalam kantong mu, aku akan basmi
seluruh Liong boen Piauw kiok, aku akan binasakan kecil
besar tujuh puluh dua jiwa, malah ayam dan anjing pun tak
akan diberi ampun!"
Ia mengancam dengan menggunakan kata-kata dari
orang yang memberikan dua ribu tahil emas sebagai upah
untuk mengantar Jie Thay Giam ke Boe tong san.
221
Perlahan-lahan Tauw Tay Kim bangun berdiri, tapi ia
merasa punggungnya sakit sangat dan begitu bergerak, ia
kembali muntahkan darah. Soe Piauw tauw yang hanya
mendapat luka enteng, segera berkata dengan suara lemas
"Thio Ngo hiap, emas itu berada di Lim an, sehingga tak
dapat kami menolong orang-orang yang berada di sini"
Thio Coei San tertawa dingin. "Kau kira aku anak kecil?"
tanyanya dengan nada mengejek, "Semua jago Liong boen
Piauw kiok keluar dari sarangnya dan Lim an hanya
ketinggalan keluarga kamu yang tak bisa melindungi harta
itu. Emas itu sudah pasti berada disini!" Sambil berkata
begitu, ia menyapu rombongan piauw hang dengan
matanya. Mendadak ia menghampiri sebuah kereta dan
menghantam dengan telapak tangannya, "Brak!" kereta
hancur dan belasan potongan emas jatuh berhamburan di
tanah.
Semua orang pucat mukanya. Mereka tidak mengerti,
bagaimana pemuda itu tahu tempat menyimpan emas.
Ternyata, biarpun masih berusia muda, Thio Ngo hiap
berotak cerdas, bermata awas dan berpengalaman luas.
Melihat tanda lumpur diroda kereta yang mengunjuk
bahwa roda-roda tersebut amblas lebih dalam dari pada
kereta-kereta lainnya dan melihat bagaimana sesudah ia
menghajar Touw Tay Kim, sebaliknya dari pada menolong
pemimpin itu, tiga piauw soe buru-buru mendekati kereta
tersebut, maka ia segera menarik kesimpulan, bahwa kereta
itu, yang muatnya diisi dengan muatan sangat berharga. Ia
mengawasi potongan-potongan emas itu sambil tertawa
dingin dan kemudian tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi
ia melompat kepunggung Kuda yang terus di kaburkan.
Sembari jalan hatinya senang sekali. Ia menduga pasti,
bahwa demi keselamatan keluaga mereka, piauwsoepiauwsoe
itu tak akan berani membantah perintahnya.
222
Perasaan senang itu sebagian besar disebabkan oleh
kenyataan, bahwa ilmu silat yang berdasarkan dua puluh
empat huruf yang baru di dapatnya, bukan main lihaynya.
Dengan melawan hujan, beberapa hari ia membedal
kudanya terus menerus. Meskipun binatang itu binatang
luar bias, tenaganya ada batasnya.
Demikianlah, waktu tiba didaerah propinsi Kang say,
mulut kudanya mengeluarkan busa putih dan badannya
panas, Coei San menyesal bukan main, karena ia sangat
sayang tunggangannya itu. Ia segera berhenti disebuah
rumah penginapan, memberi obat kepada kudanya dan
selang beberapa hari, barulah panasnya turun. Sesudah
binatang itu sembuh, ia meneruskan perjalanan dengan
perlahan-lahan dan pada tanggal Sie gwee Sha cap (Bulan
Empat tanggal 30) barulah ia masuk kedalam kota Lim an.
Sesudah dapat kamar disebuah hotel, ia segera
menimbang-nimbang tindakan apa yang akan diambilnya.
"Karena kudaku sakit, aku sangat terlambat," pikirnya.
"Apa rombongan Liongboen Piauw kiok sudah pulang?
Dimana adanya Jieoko dan Citee? Biarlah malam ini aku
menyelidiki digedung piauw kiok itu."
Sesudah makan malam, ia segera mencari tahu letaknya
gedung Liong boen Piauw kiok dari pelayan-pelayan hotel
yang memberitahu bahwa gedung itu berdiri dipinggir
telaga See Ouw. Kemudian ia pergi kepusat toko-toko dan
membeli seperangkat pakaian baru dengan kopiah
sasterawan serta sebuah kipas Hang cioe yang tersohor. Ia
kembali kehotel, mandi, menyisir rambut dan lalu menukar
pakaian. Waktu berdiri didepan kaca dan memandang
bayangannya sendiri, ia tertawa gali. Bayangan itu adalah
bayangan seorang Kongcoe sasterawan dan bukan seorang
Hiapsoe (pendekar) yang namanya menggetarkan Rimba
Persilatan.
223
Dengan bersenyum senyum, ia meminjam alat tulis dari
pengurus hotel untuk menulis syair dikipasnya. Secara
wajar, apa yang ditulisnya adalah itu dua puluh empat
huruf "Ie thian to liong". Ia merasa heran sebab setiap
coretan yang turun diatas kipas banyak lebih bertenaga dan
indah daripada biasanya. "Sesudah mempelajari silat itu,
Soe hoatku juga dapat banyak kemajuan," pikirnya.
Pada waktu itu kerajaan Song sudah roboh dan seluruh
Tiongkok berada di bawah kekuasaan dinasti Goan. Karena
Lim an adalah bekas ibukota Lam song (Song Selatan),
bangsa Mongol telah membuat penjagaan lebih kuat dikota
itu daripada dilain lain kota. Mereka memerintah dengan
tangan besi, sehingga dalam kekuatannya, banyak
penduduk bearpindah kelain tempat. Maka itulah,
disepanjang jalan Thio Coei San bertemu dengan banyak
rumah yang rusak karena akibat perang dan yang kosong
sebab ditinggalkan penghuninya. Kota yang sepi itu
memperlihatkan pemandangan menyedihkan, tidak
tertampak pula keramaian serta kemakmuran dari Lim an
yang dulu, yang merupakan salah sebuah kota tersohor dari
Kanglam yang indah permai.
Cuaca masih belum gelap, tapi banyak rumah sudah
pada menutup pintu dan di jalanan jarang sekali terlihat
rakyat jelata. Apa yang ditemukan Coei San hanyalah
serdadu-serdadu Mongol yang meronda dengan
menunggang kuda. Sebab tak ingin banyak urusan, sedapat
mungkin ia menyingkirkan diri dari peronda-peronda itu.
Dulu, di waktu malam, apapula pada malam malam
terang bulan, telaga See ouw bukan main ramainya dan
seluruh telaga seolah-olah ditabur dangan lampu-lampu
perahu pelesir. Tapi sekarang, ketika ia tiba di Pak tee dan
memandang ketempat jauh, telaga itu diliputi dengan
kegelapan yang menyeramkan dan diatas air tak terdapat
224
sebuah perahupun. Ia menghela napas berulang-ulang dan
sesuai dengan petunjuk pelayan hotel, ia lalu berjalan
menuju kegedung Liong boen Piauw kiok.
Gedung itu sangat besar dan berhadapan dengan telaga
See ouw sedang dua singa-singaan batu di depan pintu
sangat menambah keangkerannya. Perlahan-lahan Thio
Coei San mendekati.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah perahu pelesir ditepi telaga
depan gedung itu. Dalam perahu dipasang dua tengloleng
sutera dan dibawah penerangan itu kelihatan duduk seorang
lelaki yang sedang minum arak seorang diri. "Enak betul
minum arak diatas air," katanya dalam hati sambil
menghampiri pintu. Teng (peep: teng=???) besar yang
tergantung didepan gedung tidak dipasangi lilin, sedang
pintunya yang dicat merah tua tertutup rapat. Penghuni
gedung itu rupanya sudah pada tidur. "Sebulan yang lalu
Samko masuk ke pintu ini," pikirnya dengan rada duka.
Mendadak ia terkejut, karena di belakang nya terdengar
hela napas yang panjang.
Ditengah malam yang sunyi, hela napas itu
kedengarannya menyeramkan dan menyayat hati. Dengan
cepat ia memutar badan, tapi ia tidak lihat bayangan satu
manusiapun. Kecuali orang yang sedang minum arak data
in perahu, di sekitar itu tidak terdapat lain manusia. Dengan
perasaan heran, ia mengawasi orang itu, yang mengenakan
tiungsha (jubah panjang) warna hijau dan memakai topi
empat persegi, yaitu dandanan seorang sasterawan seperti ia
sendiri. Ia tak dapat melihat tegas muka orang itu, tapi
dipandang dari samping dengan bantuan sinar tengloleng,
kelihatannya pucat pasi. Orang itu duduk termenungmenung
dengan tidak bergerak dan gerakan satu-satunya
hanyalah berkibatnya tangan jubah karena tiupan angin.
Sesudah mengawasi beberapa lama, ia memutar badan
225
lagi dan mencekal cincin tembaga yang menempel dipintu
dan lalu mengetuk-ngetuknya beberapa kali. Sebenarnya ia
ingin masuk dengan melompat tembok, tapi sesudah
melihat orang di perahu itu, ia merasa jengah sendiri. Suara
ketukan itu terdengar nyaring sekali dan sehabis mengetuk,
ia menempelkan kupingnya didaun pintu, tapi di dalam
sunyi-sunyi saja tidak terdengar suara manusia yang
menghampiri pintu.
Dengan heran, ia mendorong sedikit dan pintu itu
terbuka. Lantas saja ia bertindak masuk seraya berseru:
"Apa Touw Cong piauw tauw ada dirumah ?"
Ia berjalan terus keruangan tengah yang gelap gelita.
Mendadak terdengar suara "truk!" pintu tertutup keras
seperti di tiup angin.
Ia kaget, lalu melompat keluar dari ruangan itu dan
menghampiri pintu. Ia terperanjat karena pintu itu sudah
dikunci orang. Tapi sebagai seorang yang berkepandaian
tinggi, nyalinya sangat besar. Sambil tertawa dingin, ia
masuk pula ke ruangan tengah.
Baru saja masuk beberapa tindak, tiba-tiba ia merasakan
sambaran angin tajam dari depan belakang, kiri dan kanan.
Dengan sekali melompat, ia kelit serangan keempat
pembokong itu. Dalam kegelapan ia lihat berkelebatnya
sinar-sinar putih, sebagai tanda, bahwa penyerangpenyerang
menggunakan senjata golok. Cepat seperti kilat,
ia meloncat kesebelah barat dan telapak tangan kanannya
membabat salah seorang dari kanan kiri. "Ptak!" tangannya
mengenakan jitu jalanan darah Tay yang hiat orang itu
yang lantas saja roboh terguling. Hampir berbareng, telapak
tangan kirinya menyabet dari kanan atas kiri bawah dan
mampir tepat dipinggang seorang musuh lainnya yang juga
ambruk dilantani. Dua pukulan itu merupakan satu garis
melintang dan satu coretan miring dari huruf "poet" (tidak).
226
Sesudah berhasil merobohkan dua musuh, ia mengirim
pukulan lurus dari atas kebawah dan satu totokan yaitu
coretan lurus dan sebuah titik dari hurup "poet" dan dua
penyerang lainnya terjungkal di lantai.
Demikianlah, dengan empat pukulan yang merupakan
tiga coretan dan sebuah titik huruf "poet", ia berhasil
menjatuhkan empat pembokong itu.
Karena tak tahu siapa empat penyerang itu, Thio Coei
San sunkan berlaku kejam, dan hanya menggunakan tiga
bagian tenaganya. Orang keempat yang "ditotok" olehnya,
terhuyung beberapa tindak dan badannya menubruk sebuah
kursi yang lantas saja menjadi hancur "Binatang! Sungguh
kejam kau!" cacinya: "Kalau kau benar2 laki-laki,
beritahukan namamu,"
"Jika aku berlaku kejam, jiwamu sudah melayang"
katanya sambil tertawa. "Aku adalah Thio Coei San dari
Boe tong san."
Orang itu mengeluarkan seruan kaget. "Apa.... benar kau
Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San?" tanyanya dengan suara
tidak percaya.
Sambil bersenyum, Thio Ngo hiap meraba pinggangnya
dan di lain saat, tangan kirinya sudah mencekal gaetan
Houw tauw kauw yang terbuat dari pada perak, sedang
tangan kanannya memegang Poan koan pit besi. Dengan
sekali membenturkan kedua senjata, lelatu api muncrat
disertai dengan suara yang sangat nyaring.
Dengan bantuan sinar lelatu api, Thio Coei San
mendapat lihat, bahwa keempat penyerang itu mengenakan
jubah pertapaan hweshio yang warnanya kuning. Dua di
antaranya, yang mukanya kebetulan berhadapan
dengannya, mengawasi dengan sorot mata gusar dan
membenci.
227
Bukan main herannya Ngo hiap. "Siapa Tay-soe?"
tanyanya.
"Sakit hati yang dalam seperti lautan, tak bisa dibalas
hari ini!" teriak satu diantaranya. "Ayo berangkat!" Hampir
bareng dengan teriakan itu, mereka melompat bangun dan
lalu berjalan keluar. Salah seorang yang rupanya terluka
berat, sempoyongan dan roboh dilantai. Dua kawannya
lantas memberi pertolongan dan mereka berlalu tanpa
menengok lagi. "Soe wie tahan dulu!" teriak Coei San.
"Sakit hati apa ?" Tapi keempat pendeta itu tidak meladeni
dan jalan terus.
Thio Coei San bingung campur heran. Untuk beberapa
saat ia berdiri bengong sambil mengasah otak, tapi tak
berhasil memecahkan teka teki itu.
Mengapa dalam gedung Liong boen Piauw kiok
bersembunyi empat orang Hweeshio? Mengapa mereka
lantas menyerang secara membabi buta? Mengapa mereka
mengatakan sakit hati yang dalam seperti lautan? "Untuk
menjawab pertahyaan-pertanyaan itu, jalan satu-satunya
adalah menanyakan orang-orang Liong boen Piauw kiok,"
pikirnya.
Memikir begitu, ia lantas saja berteriak: "Apa Touw
Cong piauw tauw berada di rumah? Apa Cong piauw tauw
ada?" Tapi sesudah berteriak berulang-ulang, ia tetap tak
dapati jawaban. "Tak bisa jadi manusia tidur seperti
bangkai." katanya daiam hati. "Apa mereka mabur
ketakutan?" Ia terus mengeluarkan bahan api yang lalu
dinyala kan, sehingga ruangan yang gelap gelita itu lantas
menjadi terang. Ia menghampiri sebuah ciak tay (tempat
menancap lilin) yang berdiri di atas meja teh dan menyulut
lilinnya. Sesudah itu, dengan berwaspada, sambil membawa
ciaktay, ia berjalan ke ruangan belakang.
228
Barusan belasan tindak, tiba tiba ia lihat tubuh seorang
wanita yang rebah di lantai seperti sedang tidur. "Toacie,
mengapa kau tidur di situ?" tegurnya. Wanita itu tidak
menjawab dan tidak berqerak. Dengan tangan kiri ia
medorong pundak wanita itu, sedang tangan kanannya
yang mencekel ciaktay menyuluhi muka orang. Tiba-tiba
saja, ia terkesiap.
Wanita itu sedang tertawa, tapi otot-ototnya kaku! Dia
sudah mati lama juga. Perlahan-lahan ia melempangkan
pinggangnya dan lagi-lagi ia terperanjat, sebab di depan
tiang disebelah kiri kelihatan menggeletak sesosok tubuh
lain. Ia menghampiri dan memeriksanya. Ternyata orang
itu seorang kakek yang berdandan sebagai pelayan, juga
sudah mati dengan muka tertawa!
Dengan jantung berdebar-debar, Thio Coei San meraba
pinggang dan kemudian, dengan tangan kiri mencekel
gaetan dan tangan kanan mengangkat ciaktay tinggi-tinggi,
ia bertindak maju setindak demi setindak. Dengan rasa
kaget dan heran yang sukar dilukiskan, apa yang
ditemukannya adalah puluhan mayat-mayat, yang
menggeletak di sana sini! Di seluruh gedung Liong boen
Piauw kiok yang besar dan luas itu, tak terdapat lagi
manusia hidup.
Thio Coei San adalah seorang pendekar kenamaan
dalam Rimba Persilatan yang sudah kenyang mengalami
kejadian-kejadian hebat. Tapi kali ini, melihat kekejaman
manusia yang sudah membasmi sesama manusia, ia
menggigil. Bayangannya ditembok kelihatan bergoyanggoyang,
karena tangannya yang mencekel ciaktay
bergemetaran.
Mendadak ia ingat ancaman itu orang yang telah
memberi upah kepada Liong boen Piauw kiok untuk
mengantarkan kakak seperguruannya ke Boe tong san.
229
Sekarang benar-benar seisi-Piauwkiok telah dibasmi.
Apakah kekejaman itu sudah dilakukan sebab piauwkiok
tersebut sudah gagal dalam menunaikan tugasnya? "Orang
itu turunkan tangan kejam karena Jie Samko sehingga
menurut pantas dia mestinya sahabat Samko", katanya di
dalam hati. "Orang itu berkepandaian banyak lebih tinggi
daripada Touw Tay Kim. Sesudah mengetahui, mengapa
bukan ia sendiri yang mengantar Samko? Kakak adalah
seorang pendekar mulia yang membenci setiap kejahatan.
Apa mungkin ia bersahabat dengan manusia yang begitu
kejam?"
Dangan rasa heran yang semakin lama jadi semakin
besar, ia bertindak keluar dari ruangan sebelah barat.
Dengan pertolongan sinar lilin, ia lihat dua orang pendeta
yang mengenakan jubah warna kuning sedang bersender
ditembok dan mengawasi padanya dengam paras muka
tertawa. Ia mendekati dan membentak: "Perlu apa Jie wie
datang disini?" Tapi mereka tidak menyahut dan juga tidak
bergerak.
Mayat!
Pada tubuh kedua mayat itu tidak terdapat luka apapun
juga, hanya dada jalanan darah Siauw yauw hiat (jalan
darah yang membangkitkan tertawa) terdapat total merah.
Ia manggut manggutkan kepala dan mengerti, bahwa paras
muka tertawa dari mayat-mayat itu adalah akibat totokan
pada jalanan darah tersebut.
Mendadak, ia terkesiap karena ingat sesuatu. "Celaka!"
Ia mengeluh, "Sakit hati yang dalam seperti lautan ..."Ia
teringat cacian salah seorang dari empat hweeshio yang
telah menyerang dirinya. Ia merasa bahwa semua tuduhan
bakal ditumpuk diatas pundaknya. Siapa keempat pendeta
itu? Dilihat dari pukulan pukulannya, mereka adalah ahliahli
ilmu silat Siauw limpay. Touw Tay Kim seorang Siauw
230
lim sehingga mungkin sekali mereka berada disitu atas
undangan Cong piauw tauw tersebut. "Tapi dimana adanya
Jie Jieko dan Boh Cit tee?" tanyanya didalam hati. "Mereka
diperintah Soehoe untuk melindungi keluarga Liong boen
Piauw kiok. Apa bisa jadi, dengan memiliki kepandaian
sangat tinggi mereka telah dirobohkan orang?"
Semakin dipikir, teka teki itu jadi semakin sulit. "Dengan
pulangnya keempat hweesio Siauw lim pay pasti akan
menaruh kecurigaan atas diriku," katanya didalam hati.
"Tapi, biar bagaimanapun juga urusan ini akan menjadi
terang. Satu waktu, kita pasti akan tahu siapa adanya
manusia kejam itu. Siauw lim dan Boetong harus bekerja
sama untuk mencari manusia itu. Yang paling penting
adalah cari Jie-ko dan Cit-tee." Memikir begitu ia segera
meniup lilin dan keluar dari gedung tersebut dengan
melompati tembok.
Tapi pada sebelum kedua kakinya hinggap diatas bumi
diluar tembok, tiba tiba ia merasakan kesiuran angin yang
menyambar pinggangnya, disusul dengan bentakan: "Thio
Coei San, Roboh kau!"
Pula saat itu, badannya masih berada ditengah udara,
sehingga ia tak dapat berkelit lagi. Dalam bahaya, Thio Ngo
hiap tak jadi bingung, secepat arus kilat, tangan kirinya
menekan senjata musuh dan dengan meminjam tenaga,
badannya melesat keatas lagi dan kedua kakinya hinggap
diatas tembok.
Hampir berbareng dengan hinggapnya diatas tembok,
kedua tangannya sudah mencekal kedua senjatanya.
Melihat lihaynya pemuda itu, sipenyerangpun kaget dan
kagum, karena ia mengeluarkan seruan tertahan dan
berkata: "Bocah ! Kau sungguh lihay !"
Dengan tangan kiri mencekal gaetan dan tangan kanan
231
memegang Poan koan pit, Coei San melintangkan senjata
itu di depan dadanya, kepala gaetan dan ujung pit
menunduk kebawah. Itulah gerakan Kiong leng kauw hoei
(Dengan hormat menerima pelajaran) yang digunakan
dalam Rimba persilatan. Jika seorang yang tingkatannya
lebih rendah berhadapan dengan orang yang lebih tinggi,
sebagai seorang kesatria, walaupun hatinya mendongkol,
Coei San tetap sungkan melanggar adat istiadat.
Ia menunduk dan melihat dua pendeta yang
mengenakan jubah pertapaan warna merah dengan sulaman
benang emas berdiri berendeng dibawah dengan masingmasing
mencekal Sian thung (toya yang mengeluarkan sinar
emas).
Melihat jubah pertapaan itu, Coei San terkejut. "Apakah
mereka anggauta Siauw Lim Cap peh Lo han yang
tersohor?" tanyanya di dalam hati. (Siauw lim Cap peh
lohan = Delapan belas Lohan dari Siauwlim sie).
Dengan San thungnya, pendeta yang disebelah kiri
menubruk batu hijau, sehingga mengeluarkan suara yang
sangat nyaring. "Thio Coei San!" bentaknya "Boe tong Cit
hiap mempunyai nama yang cukup baik. Tapi mengapa
begitu kejam?"
Mendengar pendeta itu tidak menggunakan panggilan
"Thio Ngo hiap atau Thio ngoya, Coei San jadi
mendongkol. Diantara Boetong Cit Hiap, biarpun gerak
geriknya sopan dan paras mukanya halus, dialah yang
berada paling tinggi. (peep: what's that mean?) Dalam
kedongkolannya, ia segera menyahut dengan suara dingin:
"Tanpa menanyakan lebih dulu siapa yang salah, siapa yang
benar, dengan bersembunyi dikaki tembok, Tay soe sudah
membokong aku. Apakah perbuatan itu perbuatan seorang
gagah? Kudengar ilmu silat Siauw Lim menggetarkan
seluruh dunia, tapi aku tak nyana di antara orang Siauwlim
232
ada juga yang pandai membokong."
Bukan main gusarnya hweeshio itu. Dengan sekali
menggenjot tubuh, ia melesat ke atas tembok, sedangkan
kedua kakinya belum hinggap ditembok, toyanya sudah
menyambar. Dengan cepat Coei San mangangkat Hauw
tauw kauw untuk menahan sambaran Sian thung dan
dengan berbareng Poan koan pit nya menotok senjata
lawan, "Trang!" ujung Poan koan pit membentur Sian
thung dengan dahsyatnya. Kedua tangan pendeta itu
tergetar dan tubuhnya melayang kebawah lagi, tapi kedua
lengan Coei San juga kesemutan sehingga ia jadi kaget. Ia
mengerti bahwa kini ia berhadapan dengan seorang yang
berilmu tinggi dan jika mereka berdua mengrubuti, ia
mungkin tak mampu membela diri.
"Siapa Jie wi?" bentaknya.
"Pinceng adalah Goan im" jawab pendeta yang berdiri
disebelah kanan "Yang ini adalah Soeteku Goan giap."
Buru-buru Coei San menundukkan senjatanya dan
sambil mengangkat kedua tangan, ia berkata: "Ah! Kalau
begitu, Jie wie Taysoe adalah dari Siauw lim Cap peh
Lohan. Sudah lama aku mendengar nama Taysoe yang
sangat harum dan aku merasa beruntung, bahwa hari ini
kita bisa bertemu muka. Pelajaran apakah yang mau
diberikan oleh Taysoe ?"
"Soal ini bersangkut paut langsung dengann Siauw Lim
dan Boe tong pay," jawab Goan Im.
"Kami berdua adalah orang orang yang berkedudukan
sangat rendah dalam Siauw lim pay dan sebenarnya kami
tak dapat mengurus persoalan ini. Tapi karena sudah
terlanjur bertemu, kami tanya mengapa Thio Ngo hiap
membinasakan puluhan orang dari Liong boen Piauw kiok
dan dua Soetit (keponakan murid) kami? Orang kata, jiwa
233
manusia bersangkut paut dengan Langit. Kami ingin
dengar, bagaimana Ngo hiap mau membereskan peristiwa
ini."
Kata-kata itu meskipun diucapkan deugan perlahan,
kedengarannya sangat menusuk kuping, sehingga dapatlah
diketahui, bahwa kepandaian pendeta tersebut banyak lebih
tinggi dari pada adik seperguruannya.
Thio Coei San tertawa dingin. "Mengenai permbunuhan
terhadap orang-orang Liong boen Piauw kiok, aku
sendiripun merasa sangat heran," jawab nya. "Disamping
itu, aku juga tidak mengerti, mengapa begitu membuka
mulut, Taysoe sudah menuduh aku. Apakah kejadian itu
disaksikan dengan mata kepala Taysoe sendiri ?"
"Hoei hong!" teriak Goan im. "Coba kau memberi
kesaksian di hadapan Thio Ngo hiap."
Dari belakang pohon lantas saja muncul empat orang
pendeta yang tadi dirobohkan Coei San dalamm gedung
Liong boen Piauw kiok.
Pendeta yang bergelar Hoei hong itu lantas saja
membungkuk seraya berkata: "Melaporkan kepada Soepoh,
bahwa beberapa puluh orang dari Liong boen Piauw kiok
Hoei thong dan Hoei kong kedua Soeheng semuanya....
semuanya dibinasakan oleh bangsat she Thio itu."
"Apa kau lihat dengan mata kepala sendiri ?" tanya Goan
im.
"Ya," jawabnya. "..Kalau tak keburu lari, teecoe
berempat pun sudah binasa di tangannya."
"Murid Sang Buddha tak boleh berjusta," kata Goan im
dengan suara keren. "Soal ini mengenai Siauw lim dan Boe
tong, kedua partai besar dalam Rimba persilatan, dan kau
tidak boleh bicara sembarangan"
234
Hoei bong segera berlutut dan sambil merangkap kedua
tangannya, ia berkata: "Teecoe tak akan berani menjustai
Soepeh dan apa yang dikatakan teecoe adalah kejadian
yang sebenar-benarnya. Untuk itu, Sang Buddha menjadi
saksinya."
"Cobalah kau ceritakan apa yang dilihat dengan matamu
sendiri" memerintah Goan im. Mendengar perkataan itu,
Thio Coei San lantas saja ia melompat turun.
Goan-giap yang menduga pemuda itu ingin menyerang
Hoei hong, lantas saja menyabet dengan Sianthungnya.
Coei San menunduk untuk memunahkan serangan itu dan
kemudian, dengan sekali melompat ia sudah berada di
belakang Hoei hong. Menurut ilmu silat toya Hok mo thung
(takluki iblis), sesudah sabetannya meleset, Goan giap harus
menyerang pula dengan membabat pundak lawan. Akan
tetapi, karena waktu itu Coei San sudah berada di belakang
Hong bong, maka jika ia menyerang lagi, toyanya akan
lebih dulu mengenakan keponakan muridnya. Dalam
kagetnya, ia terpaksa menarik pulang Sian thungnya. "Mau
apa kau?" bentaknya.
"Aku mau mendengarkan ceritanya," menjawab Coei
San.
Hoei hong mengerti bahwa kalau mau, Thio Coei San
yang berada dalam jarak dua kaki, dengan mudah bisa
mengambil jiwanya dan meskipun kedua Soe pehnya
berada di situ, mereka tak akan keburu menolong. Tapi
dalam gusarnya, ia tak jadi gentar, dan lantas saja memberi
keterangan dengan suara nyaring : "Waktu berada di Kang
pak (sebelah utara Sungai Besar). Goan sim Susiok
menerima surat Touw Tay Kim Suheng yang meminta
pertolongan. Begitu menerima surat itu buru-buru Soesiok
memerintahkan Hoei Thong dan Hoei Kong Soeheng
memberi datang kemari untuk memberi bantuan. "
235
"Belakangan Soesiok pun memberi perintah kepada
teecoe dan ketiga Soetee untuk menyusul. Begitu tiba, Hoei
kong Soeheng mengatakan bahwa malam ini, musuh
mungkin datang menyatroni dan ia minta kami berempat
sembunyi dikaki tembok sebelah timur. Iapun memesan
supaya kami jangan sembarangan meninggalkan tempat
jagaan dan jangan sampai diselomoti dengan tipu
memancing harimau keluar dari gunung.
Baru siang berganti malam, tiba-tiba kami mendengar
bentakan dan cacian Hoei thong Soeheng yang sudah mulai
bertempur di ruang belakang. Sesaat kemudian ia
mengeluarkan teriakan kesakitan, Sebagai tanda terluka
berat. Teecoe segera memburu keruangan belakang dan
tihat dia ..dia..... bangsat She Thio itu" Berkata sampai
disitu, mendadak ia melompat bangun dan berteriak sambil
menuding hidung Thio Coei San. "Dengan mata kepalaku
sendiri kulihat kau pukul Hoei kong Soeheng yang lantas
mati dengan membentur tembok. Karena merasa tidak
ungkulan, aku lalu bersembunyi dibawah jendela dan
menyaksikan cara bagaimana kau menerjang ke pekarangan
sambil membunuh orang. Tak lama kemudian, delapan
orang Piauw kiok berlarian keluar dari belakang dengan
diubar olehmu. Mereka semua kau binasakan dengan
totokan dan sesudah membasmi semua orang yang berada
dalam gedung, barulah kau mabur dengan melompati
tembok."
Thio Coei San berdiri tegak tanpa bergerak.
"Kemudian bagaimana?" tanyanya dengan suara dingin.
"Kemudian?" bentak Hoei hong dengan kegusaran
meluap-luap. "Kemudian aku balik ketembok timur dan
berdamai dengan ketiga Soeteeku. Kami yakin, bahwa
kepandalanmu terlalu tinggi untuk dilawan, dan jalan satusatunya
adalah menunggu, datangnya ketiga Soepeh di
236
dalam gedung piauw kiok. Tapi sungguh tak dinyana, kau
lagi-lagi menyatroni untuk mencari Touw Cong piauw
tauw. Biarpun tahu bahwa kami hanya bakal mengantarkan
jiwa, kami bukan bangsa pengecut, maka segara kami
menyerang. Waktu ditanya olehkU, bukankah kau telah
memperkenalkan diri sebagai Gin kauw Tiat hoa Thio Coei
San? Semula aku tak percaya. Aku berpendapat, bahwa
sebagai salah seorang dari Boe tong Cit hiap, kau tentu tak
akan melakukan perbuatan yang begitu kejam. Tapi kau
lantas saja mengeluarkan kedua senjatamu, sehingga tak
mungkin kau Thio Coei San palsu."
"Benar, memang benar aku telah memperkenal kan diri
dan mengeluarkan senjataku," kata Coei San. "Memang
benar aku yang sudah merobohkan kamu. Tapi coba
ceritakan sekali lagi, coba tuturkan lagi, bagaimana dengan
mata kepala sendiri, kau melihat aku membunuh puluhan
orang itu."
Pada saat itulah, tiba-tiba Goan im mengebas tangan
jubahnya dan mendorong tubuh Hoei hong beberapa kaki
jauhnya. "Ya! Cobalah kau cerita kan lagi, supaya Thio
Ngo hiap yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan,
tidak dapat menyangkal pula," katanya dongan suara
menyeramkan. Ia mendorong Hoei hong guna berjaga-jaga
kalau-kalau dalam gusarnya, pemuda itu turunkan tangan
jahat untuk menutup mulut saksi.
"Baiklah" kata Hoei hong. "Aku akan menegaskan satu
kali lagi. Dengarlah! Dengan mataku sendiri kulihat. kau
membinasakan Hoei hong dan Hoei thong Soeheng.
Dengan mataku sendiri, kulihat kau membunuh delapan
orang dari Liong boen Piauw kiok dengan totokan."
"Apa kau lihat tegas mukaku?" tanya Coei San dengan
suara menyeramkan. "Pakaian apa yang dipakai olehku?"
237
Sambil berkata begitu ia menyalakan api dan menyuluhi
mukanya sendiri.
Hoei hong menatapnya dan berkata dengan suara
membenci: "Tak salah ! Kau mengenakan pakaian itu,
jubah panjang dan topi empat segi. Waktu itu kau
menyelipkan kipasmu di belakang leher baju."
Bukan main gusarnya Thio Ngo hiap. Ia tak mengerti
mengapa pendeta itu menuduhnya secara membabi buta.
Sambil mengangkat api tinggi-tinggi, ia maju dua tindak
dan membentak: "Kalau kau mempunyai nyali, katakan lagi
bahwa yang membunuh orang adalah Thio Coei San!"
Mendadak kedua mata pendeta its mengeluarkan sinar
luar biasa. Ia menunding seraya berteriak: "Kau....!"
Tubuhnya tiba-tiba terjengkang dan robot di tanah.
Dengan serentak sambil mengeluarkan seruan tertahan,
Goan giap dan Goan im melompat untuk coba menolong.
Tapi Hoan hong sudah menghembuskan napasnya yang
penghabisan dengan paras muka ketakutan.
"Kau! kau membunuh dia!" teriak Goan giap dan Goan
im, tapi juga mengagetkan sangat Thio Coei San. Ia
menengok kebelakang dan matanya yang sangat jeli melihat
goyangnya beberapa cabang pohon "Jangan lari!"
bentaknya sambil melompat.
Ia mengerti, bahwa perbuatannya itu sangat berbahaya
sebab musuh yang bersembunyi dapat membokongnya.
Tapi untuk cuci bersih segala tuduhan, ia mesti bisa
menangkap pembunuh itu. Selagi badannya masih berada
di tengah udara itu Goan im dar Goan giap sudah
menyabet dengan senjata mereka. Bagaikan kilat, ia
menekan Sian thung Goan giap dengan Houw tauw kauw
dan menotok toya Goan im dan Goan giap dengan Poan
238
koan pit dan dengan meminjam tenaga itu, badannya
melesat keatas. Begitu kedua kakinya hinggap di atas
tembok, segera matanya menyapu kearah gerobolan pohon.
Benar saja beberapa cabang kecil masih bergoyang goyang,
tapi orang yang bersembunyi sudah tak kelihatan bayangbayangannya
lagi.
Sambil menggeram dan mengebas Sian thungnya Goan
giap bergerak untuk melompat keatas tembok "Jie wie
jangan merintangi aku. Mari kita ubar pembunuh itu!"
teriak Coei San.
"Kau ..... dihadapanku kau berani membunuh orang !"
teriak Goan im dengan napas tersengal-sengal, "Apa
sekarang kau masih mau menyangkal". Beberapa kali Goan
giap coba melompat ke atas, tapi ia selalu kena dipukul
mundur. "Thio Ngo Hiap, kami bukan mau mengambil
jiwamu," kata Goan im. "Kau ikut saja kami ke Siauw lim
sie"
"Benar-benar gila!" teriak Coei San. "Karena gara gara
kalian berdua yang sudah menghalang halangi
aku,pembunuh itu telah berhasil melarikan diri. Sekarang
kamu berbalik mau mengajak aku ke Siauw Lim sie. Perlu
apa aku pergi ke Siauw Lim sie?"
"Supaya Hong thio kami dapat memberi keputusan,"
jawabnya. "Dengan beruntun kau sudah membinasakan tiga
orang murid kuil kami, ini adalah terlalu besar untuk
dibereskan oleh kami berdua."
Coei San tertawa dingin "Hm!" ia mengeluarkan suara di
hidung. "Sungguh percuma kamu berdua menjadi anggauta
dari Siauw lim Cap peh Lo han. Penjahat lari di depan
hidungmu, kamu masih belum tahu!"
"Sudahlah!" kata Goan im dengan suara menyesal dan
duka. "Biar bagaimanapun juga, hari ini kami tak akan
239
dapat melepaskan kau."
Mendengar tuduhan yang sangat hebat itu, semakin lama
pemuda itu jadi semakin gusar."Tay Soe" katanya sambil
tertawa dingin. "Jika kamu mempunyai kepandaian,
cobalah tangkap aku!" hampir berbareng dengan
tantangannya, Goan giap menumbuk tanah dengan San
thungnya dan badannya segera melesat keatas. Coei San
pun melompat tinggi dan selagi tumbuhnya melayang
turun, bagaikan angin puyuh ia menyerang. Goan giap coba
menangkis, tapi dengan sekali balik Houw tauw kauw, ia
menggeres alis pendeta itu yang lantas saja mengucurkan
darah dan tumbuhnya ambruk ke bawah. Dalam serangan
itu, Coei San masih berlaku murah hati. Jika gaetan
tersebut diturunkan sedikit lagi kearah tenggorkan, jiwa
Goan giap tentu sudah melayang.
"Giap soeete!" teriak Goan im. "Apa kau terluka berat?"
"Tidak Jangan rewel! Hajarlah !" jawabnya dengan
kalap.
Mendengar perkataan saudara seperguruannya. Goan im
segera menyerang sambil melompat lompat dan sesaat
kemudian, tanpa membalut luka nya, Goan giap pun segera
membantu. Melihat serangan-serangan yang sangat hebat
itu, Coei San mengerti, bahwa jika kedua pendeta tersebut
dapat , melompat ke atas tembok, ia bakal repot sekali.
pMaka itu, sambil mengempos semangat, ia segera
berkelahi dengan hati-hati dan menjaga supaya kedua
lawannya jangan sampai berdiri di tembok. Ketiga pendeta
dari tingkatan "Hoei" tidak berani maju, biarpun mereka
ingin sekali membantu.
Thio Coei San mengerti bahwa untuk membersihkan
dirinya dari tuduhan yang sangat hebat itu, ia harus
menyelidiki dan membekuk pembunuh yang tulen. Ia tahu
240
bahwa dilangsungkannya pertempuran hanyalah akan
memperdalam sakit hati dan salah mengerti. Maka itu
sambil menggerakkan kedua senjatanya untuk menutup
serangan kedua pendeta itu, ia berseru keras dan mengenjot
tubuh.
Tapi sebelum ia melompat tiba tiba terdengar bentakan
geledek, dan tembok yang sedang diinjaknya roboh
didorong orang. Sebelum kedua kakinya hinggap di bumi
seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar menerjang dan
coba merampas kedua senjatanya.
Di tempat gelap Coei San tak bisa lihat tegas muka
hweeshio itu, tapi melihat sepuluh jarinya yang dipentang
seperti gaetan, ia tahu, bahwa pendeta itu menyerang
dengan Houw jiauw kang (ilmu pukulan kuku harimau)
salah satu pukulan terlihay dari Siauw lim sie.
"Sim Soeheng!" teriak Goan giap. "Jangan kasih bangsat
ini lari"
Semenjak turun dari Boe tong san, Thio Coei San jarang
bertemu dengan tandingan. Sesudah memiliki ilmu silat Ie
thian To liong, kepandaiannya jadi lebih tinggi lagi dan
nyalinya pun jadi lebih besar. Melihat serangan mati-matian
dari tiga pendeta itu ia jadi mendongkol bukan main dan
lantas saja timbul niatan untuk memperlihatkan
kepandiannya. Ia segera menyelipkan kauw tauw kauw dan
Poan koan pit di pinggang nya dan membentak "Kalau mau
bertempur, ayolah! Biarpun Siauw lim Cap peh Lo han
turun semua, Thio Coei San sedikit pun tidak merasa keder"
Sesaat itu, tangan kiri Goan sim menyambar. Sambil
berkelit, ia menggerakkan tangannya "Bret!" tangan jubah
pendeta itu robek. Dengan gusar Goan sim coba
mencengkeram pundaknya, tapi sebelum kelima jarinya
menyentuh pundak, lututnya sudah ditendang Coei San.
241
Tapi diluar dugaan, dua kaki Goan sim luar biasa kuat,
sehingga biarpun kena tendangan jitu, badannya hanya
bergoyang-goyang dan tidak sampai roboh di tanah. Sambil
menggeram, tangan kanan nya menyambar, dan dengan
berbareng, Sian thung Goan im dan Goan giap menyabet
pinggang dan kepala. Coei San tak jadi bingung. Dengan
lompat tinggi ia menyelamatkan dirinya.
Sambil bertempur Coei San berkata dalam hatinya:
"Dalam beberapa tahun yang belakangkangan nama Boe
tong dan Siauw lim dikatakan berendeng dalam Rimba
Persilatan. Tapi yang mana lebih tinggi, yang mana lebih
rendah, sukar sekali dapat diukur. Biarlah hari ini aku
menjajal kepandaian pendeta Siauw Lim." Ia segera
mengempos semangat dan melayani ketiga lawan itu
dengan hati-hati. Sesudah lewat sekian jurus, biarpun
dikerubuti tiga, perlahan lahan ia berada di atas angin.
Sebenarnya, ilmu silat Siauw lim dan Boe tong
mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Boe tong pay
didirikan oleh Thio Sam Hong, seorang luar biasa pada
jaman itu. Tapi ilmu silat Siauw lim sie, dengan sejarah
seribu tahun lebih dan diperbaiki terus menerus, bukan
main hebatnya. Dalam pada itu, orang harus ingat, bahwa
dalam Boe tong pay, Thio Coei San termasuk sebagai Jago
kelas utama, sedang Goan im, Goan sim dan Goan giap
biarpun kedudukannya sebagai anggota Cap peh Lo han,
dalam kalangan Siauw lim sie ilmu silatnya baru mencapai
tingkatan kedua. Maka itu sesudah bertempur lama,
sebaliknya dari keteter, Thio Coei San jadi semakin gagah.
Sesudah lewat sekian jurus tagi, tiba tiba pemuda itu
menyerang dengan pukulan huruf "Liong" (naga).
Mendadak satu tangannya menangkap San-thung Goan
giap yang dengan menggunakan ilmu meminjam tenaga,
memukul tangan lalu disentaknya kearah toya Goan im.
242
"Trang !"Hebat sungguh bentrokan kedua toya itu. Tenaga
kedua pendeta itu yang sudah cukup hebat, ditambah lagi
dengan tenaga Thio Coei San. Telapak-tangan Goan im dan
Goan giap terbeset dan mengeluarkan darah. Lengan
mereka kesemutan, sedang kedua Sian thung itu
melengkung.
Dengan kaget, Goan sim menubruk untuk memberi
pertolongan. Melihat serangan nekat, Coei San mengengos
sambil mengggaet dengan kakinya dan menepuk punggung
pendeta itu. Tepukan itupun dikirim dergan ilmu
"Meminjam tenaga, memukul tangan" yaitu memukul
dengan menuruti tenaga Goan sim sendiri. Tanpa ampun,
pendeta itu terjungkel.
Sambil tertawa dingin, Thio Coei San lantas saja berjalan
pergi,
"Jangan lari kau!" terial Goan sim seraya melompat
bangun dan terus mengudak diikuti oleh kedua saudara
seperguruannya.
Melihat pengejaran nekat, Coei San jadi bingung juga.
Tentu saja sama sekali bukan maksudnya untuk
mencelakakan mereka. Maka itu, ia segera mengempos
semangat dan lari dengan menggunakan ilmu
mengentengkan badan. Tapi ketiga pendata itu terus
mengubar sambil berteriak-berteriak.
Sembari lari Thio Coei San merasa geli didalam hati,
karena bagaimanapun juga, ketiga pangejar itu tak akan
bisa menyandak dirinya. Selagi enak lari, tiba-tiba terdengar
teriakan kaget dan kesakitan dan begitu menengok, ia lihat
ketiga pendeta itu menutupi mata kanan mereka dengan
kedua tangan, seperti kena senjata rahasia. "Orang she
Thio!" Hoan giap mencaci. "Jika kau mempunyai nyali,
butakanlah lagi mata kiriku!"
243
Coei San kaget bukan main. "Apa mata kanannya
dibutakan orang dengan senjata rahasia?"tanyanya didalam
hati.
"Siapa yang sudah membantu aku. Mendadak ia ingat
sesuatu dan lantas saja berteriak! "Cit tee !Cit tee! Dimana
kau?" Ia berteriak begitu karena ingat bahwa diantara
saudara-saudara seperguruannya Boh Seng Kok lah yang
paling pandai dalam ilmu menggunakan senjata rahasia.
Boh Cit hiap mahir menggunakan piauw, panah tangan,
paku, jarum, batu, Hoei hong sek dan lain-lain. Maka itu, ia
menduga, bahwa orang yang telah menimpuk mata ketiga
pendeta itu adalah adiknya yang paling kecil
Tapi sesudah memanggil beberapa kali, ia tak mendapat
jawaban, ia melompat masuk kegerombolan pohon-pohon
dipinggir telaga, tapi disitu pun ia tak lihat bayangan
manusia.
Dilain pihak, sesudah seluruh matanya terluka, Goan
giap jadi kalap dan sambil berteriak-teriak ia melompat
untuk mengubar lagi. Tapi Goan im buru-buru menarik
tangan Soeteenya. ia mengerti, bahwa meskipun belum
terluka, mereka bertiga belum tentu dapat melawan musuh.
Sekarang, sesudah terluka, apapula luka itu dirasakan gatal
seperti kena senjata beracun keadaan mereka jadi lebih jelek
lagi dan tak usah harap bisa memperoleh kemenangan.
"Giap Soetee, " katanya dengan suara menghibur. "Dalam
usaha membalas sakit hati, orang tak perlu terlalu bernapsu.
Dalam urusan ini, andai kata kita bertiga mau menyudahi
saja, Hong thio dan kedua Soepeh sudah pasti tak akan
tinggal diam."
Sementara itu, sesudah ternyata pengubaran atas dirinya
dihentikan, Coei San mulai memikiri kejadian barusan
dengan rasa heran yang sangat besar. "Aku suka
mengunggulkan ilmu mengentengkan badanku, tapi
244
kepandaian orang itu kelihatannya banyak lebih tinggi dari
padaku. Tapi siapa dia!"
Ia tak berani berdiam lama-lama lagi dipinggir telaga dan
lantas berjalan pulang kerumah penginapan. Tapi baru saja
berjalan puluhan tombak, sekonyong-konyong ia lihat
bergoyang-goyangnya rumput tinggi ditepi telaga. Ia tahu
bahwa disitu bersembunyi orang dan dengan hati-hati ia
mendekati. Baru saja ia ingin menegur, dari antara rumputrumput
melompat keluar seorang yang terus membacok
kepalanya dengan golok sambil membentak: "Kalau bukan
aku, kau yang mampus!"
Dengan cepat Coei San mengegos dan mengirim
tendangan yang mengenakan jitu pergelangan tangan kanan
orang itu sehingga goloknya terbang dan jatuh diatas air.
Orang itu yang gundul kepalanya dan mengenakan jubah
pertapaan. Lagi-lagi seorang pendeta Siauw lim sie "Bikin
apa kau di sini?" bentak Coei San.
Tiba-tiba ia lihat 3 sosok tubub yang menggeletak tanpa
bergerak, entah sesudah mati, entah terluka berat didalam
rumput-rumputan tinggi. Tanpa menghiraukan lawannya ia
segera mendekati dan membungkuk. Begitu lihat, ia
terkesiap karena ketiga orang itu bukan lain daripada
pemimpin-pemimpin Liong boen Piauw kiok, yaitu Touw
Tay Kim, Ciok dan Soe Piauw tauw. "Touw Cong piauw
tauw!" serunya. "Kau !.... kau ..... " Perkataannya
diputuskan oleh melompatnya Touw Tay Kim yang seperti
orang edan lalu menyengkeram bajunya didada dan
mencaci:"Bangsat ! Aku hanya simpan tiga ratus tahil
perak, tapi kau sudah lantas berlaku begitu kejam."
"Ada apa?" tanya Coei San. Baru saja ia ingin
memberontak, mendadak ia melihat darah di ujung mata
dan mulut Cong Piauw tauw itu. Ia kaget bukan main.
"Kau mendapat luka dalam?" tanyanya.
245
Touw Tay Kim menengok ke pendeta itu dan berkata
dengan suara parau: "Soetee, kenalilah Orang ini Gin Kauw
Tiat hoa Thio Coei San. Dia.... dialah pembunuhnya. Lekas
kau pergi ! . . lekas ! jangan kena dicandak olehnya . .".
Mendadak kedua tangannya membetot keras dan
kepalanya dibenturkan ke dada Thio Ngo hiap dengan
tujuan untuk mati bersama. Coei San mengangkat kedua
tangannya dan mendorong. "Bluk!", badan Touw Tay Kim
terpental dan jatuh terjengkang tapi bajunya sendiripun
menjadi robek.
Thio Coei San adalah seorang yang tidak mengenal
takut. Tapi kejadian-kejadian malam itu dan paras muka
Touw Tay Kim adalah sedemikian menyeramkan, sehingga
bulu romanya bangun semua. Dengan hati berdebar-debar,
ia membungkuk untuk coba menolong, tapi Touw Tay Kim
sudah melepaskan napasnya yang penghabisan. Sesudah
mendapat luka berat, dorongan Coei San dan jatuhnya
ditanah telah menghabiskan jiwanya.
"Bangsat!" teriak sipendeta. "Kau!..... kau binasakan Soe
hengku !" Ia memutar badan dan terus kabur sekeraskerasnya.
Coei San menghela napas panjang dan menggeleng
gelengkan kepalanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa Ciok
dan Soe Piauw tauw, yang kakinya masuk kedalam air,
sudah mati lebih dulu.
Bukan main rasa dukanya pemuda itu. Dengan Touw
Tay Kim, ia tak mempunyai permusuhan apapun juga. Ia
hanya merasa jengkel karena dalam mengantar Jie Thay
Giam, Cong piauw tauw itu sudah diabui orang dan
menyerahkan samkonya kepada kawanan orang jahat. Tapi
sekarang melihat kebinasaan yang begitu menyedihkan, ia
merasa sangat terharu dan kasihan. Untuk beberapa saat, ia
246
berdiri bengong. Tiba-tiba ia ingat perkataan Cong piauw
tauw itu yang mengatakan, "aku hanya menyimpan
tigaratus tahal emas, tapi aku sudah lantas berlaku begitu
kejam".
Sebenar-benarnya, jangankan ia tak tahu hal itu,
sekalipun tahu, ia pasti tak akan sembarangan membunuh
orang. Ia segera membungkuk daa membuka buntalan yang
diikat dipunggung Cong piauw tauw itu. Benar saja, dalam
buntelan itu kedapatan beberapa potongan emas.
Coei San jadi bertambah duka. Ia ingat kesukaran dan
penderitaan seorang piauw tauw yarg mencari sesuap nasi
dengan melakoni perjalanan li (peep: ???) dan setiap hari
hidup diujung senjata. Tujuan satu-satunya adalah
mengumpul sedikit uang untuk berjaga-jaga keperluan
dihari tua. Uang itu sekarang menggeletak disamping Touw
Tay Kim, tapi ia sudah tak dapat menggunakannya.
Mengingat begitu, ia menghela napas. Ia ingat pula, bahwa
ini malam, seorang diri ia telah mengalahkan tiga pendeta
Siauw lim sie sehingga namanya naik tinggi dalam Rimba
Persilatan. Tapi apa artinya itu semua? Pada akhirnya ia
dan Tuow Tay Kim tidak banyak bedanya, yaitu berpulang
ketempat baka.
Tanpa merasa, sekali lagi ia melamun ditengah telaga.
Mendadak terdengar suara khim. Ia mengawas kearah
suara itu dan mendapat kenyataan, bahwa sastrawan yang
tadi minum arak seorang diri di dalam perahu, yang
sekarang yang menetik khim. Sesaat kemudian, dengan
menuruti irama tabuh-tabuhan itu, ia menyanyi:
"Mendapat ilham, tenaga pit seolah olah menggetarkan
Ngo gak,
Syair rampung suara bersyair mencapai Ciang Cioe.
Kalau nama dan kemuliaan terus berdiri tegak,
247
Sangai Han soei seharusnya mengalir balik ke barat
laut."
Coei San terkejut. Suara itu yang merdu dan nyaring,
seperti juga suara seorang wanita, sedang sajak mengenakan
jitu isi hatinya. Dilain saat, ia segera mengangkat kaki uatuk
meninggalkan tempat itu, karena, jika perahu itu mendekati
dan si sasterawan melihat ketiga mayat yang menggeletak
disitu, dia mungkin berteriak dan mengakibatkan datangnya
serdadu peronda. Tapi baru ia bertindak, sastrerawan itu
sekonyong-konyong menepuk khim dan berkata dengan
suara nyarirg: "Jika Heng tay (saudara) merasa senang
untuk pelesir diatas telaga, mengapa Heng tay tak mau naik
kesini?". Sambil berkata begitu, ia mengebas tangannya dan
tukang perahu yang duduk dikemudi lantas saja menggayu
perahu itu ketepi telaga.
"Orang itu sedari tadi sudah belada diatas telaga
sehingga mungkin sekali aku akan bisa mendapat
keterangan berharga dari mulutnya," pikir Coei San yang
lalu turun dipinggir air. Begitu perahu itu datang dekat, ia
segera melompat kekepala perahu.
Dengan ilmu mengentengkan badannya yang sangat
tinggi, lompatannya itu sedikitpun tidak menggoncangkan
badan perahu. Sisasterawan bangun berdiri dan sambil
tersenyum, ia menyoja, akan kemudian menunjuk kursi
supaya tamunya duduk.
Dengan pertolongan sinar tengtoleng Coei San mendapat
kenyataan bahwa sastrawan itu kulitnya putih bagaikan
susu dan pantasnya cantik ayu, sedang waktu ia bersenyum
pada pipi kirinya yang agak kurus tertampak sebuah sujen.
Dipandang dari jauh, ia kelihatannya seperti seorang
tongcoe yang tampan, tapi dilihat dari dekat, ia adalah
seorang wanita muda belia yang mengenakan pakaian
lelaki.
248
Sebagai murid Thio Sam Hong, Coei San telah diajar
untuk mentaati sopan santun dan memegang keras
peraturan pada jaman itu, mengenai pergaulan antara pria
dan wanita.
Selama malang melintang dalam dunia Kangouw,
Butong Cit hiap belum pernah dibikin mabok oleh
kecantikan wanita.
Maka itulah, setelah mengetahui, bahwa sasterawan itu
adalah seorang wanita, parasnya lantas saja berubah merah
dan begitu bangun berdiri, ia segera melompat balik
kedaratan. Sambil menyoja ia berkata dengan sikap
menghormat: "Aku yang rendah tak tahu, bahwa nona
adalah seorang wanita yang menyamar sabagai pria. Untuk
kelancanganku, harap nona sudi memaafkan."
Tanpa menjawab, nona itu memetik khin seraya
bernyanyi
"Kejengkelan menghilangkan kegembiraan,
kesepian menimbulkan kedukaan.
Terbang berputaran, memandang ketempat jauh.
Mencekal pedang, melompat ke atas perahu."
Mendengar nyanyian itu, yang mengundangnya untuk
kembali keperahu, Coei San berkata di dalam hati: "Malam
ini aku telah bertemu dengan banyak soal sulit. Nona itu
rupanya dapat membantu aku dalam usaha mencuci bersih
segala tuduhan yang tidak-tidak." Memikir begitu ia lantas
saja bergerak untuk melompat kembali ke perahu.
Tapi ia lantas mendapat lain ingatan. "Ah! Aku belum
mengenalnya dan ia begitu cantik," pikirnya. "Jika aku
membuat pertemuan di tengah malam buta, namanya yang
suci bersih bisa ternoda."
249
Selagi bersangsi, tiba-tiba ia dengar suara penggayu
memukul air, dan perahu itu sudah bergerak ketengah
telaga. Dilain saat terdengar bunyi khim yang diiring
dengam nyanyian seperti berikut;
"Malam ini kuhilanag kegembiraan,
Besok malam, belum ada ketentuan.
Dibawah Liok ho tah,
Yanglie melambai, perahu menunggu,
Pemuda kesatria,
Apa sudi datang kesitu ?"
Semakin lama perahu jadi semakin jauh, sedang
nyanyian itu pun semakin sayup kedengarannnya, sinar
tengloleng kelihatan seperti sebutir kacang dan kemudian
menghilang dari pemandangan.
Pengalaman Thio Coei San pada malam itu sungguhsungguh
luar biasa. Disaat ini, dia menghadapi
pembunuhan, mayat dan pertempuran disaat lain, ia
bertemu dangan wanita cantik, khim dan nyanyian merdu.
Lama juga ia berdiri ditepi telaga, seperti orang hilang
ingatan. Kemudian sambil menghelan napas, dengan
tindakan lesu ia kerumah penginapan.
Pada esok harinya, pembunuhan hebat digedung Liong
boen Piauw kiok dan ditepi telaga telah menggemparkan
seluruh kota Lim an. Thio Coei San yang gerak geriknya
lemah lembut seperti seorang sasterawan tentu saja tidak
dicurigai. Hari itu, dari pagi sampai sore, ia berputar-putar
dipasar pasar dikelenteng-keleteng dalam usaha mencari Jie
Lim Coe dan Boh Seng Kok. Tapi jangankan orangnya,
sedangkan tanda tandanyapun yang biasa ditaruh
disepanjang jalan jika Boe tong Cit hiap sedang
250
manjalankan tugas tak kelihatan.
Sesudah mata hari mendoyong kebarat, mau tak mau, ia
ingat nyanyian nona cantik itu yang selalu terbayang
didepan matanya. "Jika aku berlaku sopan, halangan apa
aku menemuinya?" katanya di dalam hati, "Memang
alangkah baiknya jika Jieko dan Cit tee berada disini dan
bisa turut serta. Ya, aku mesti bertemu dengan nona itu.
Dia adalah orang satu-satunya yang bisa ditanyakan
olehku." Sesudah mengambil keputusan, buru-buru ia
menangsal perut dan lalu berangkat kepagoda Liok ho tah.
Liok ho tah berada ditepi Sungai Cian tongkang dan
tempat itu terpisah agak jauh dari kota Lim an sehingga
walaupun Thio Coei San menggunakan ilmu
mengentengkan badan, waktu tiba di Liok ho tan, siang
sudah terganti dengan malam.
Dari jauh ia sudah lihat, bahwa disebelah timur pagoda
itu terdapat tiga pohon yanglioe dan dibawah pohon
tertambat sebuah perahu kecil. Perahu perahu disungai itu
kebanyakan menggunakan layar dan bentuknya banyak
lebih besar daripada perahu pelesir ditelaga See ouw. Tapi
perahu yang berada di bawah pohon yanglioe, tiada
bedanya dengan perahu semalam dan dikepala perahu
tergantung sebuah tengloleng.
Jantung pemuda itu, memukul keras dan sesudah dapat
menenteramkan hatinya, barulah ia mendekati pohon
yanglioe itu. Dikepala perahu kelihatan berduduk seorang
wanita yang mengunakan baju muda. Ternyata nona itu
tidak menyamar lagi sebagai pria.
Waktu berangkat dari rumah penginapan, Coei San
bertekad untuk menemui sinona dan menanyakan urusan
semalam. Tapi sekarang, melihat nona itu memakai
pakaian perempuan, hatinya bersangsi lagi.
251
Sekonyong-konyong sinona mendongak dan
mengucapkan sebuah sajak:
"Memeluk lutut dikepala perahu,
Sambil menunggu seorang tamu.
Angin meniup, ombak bergoyang.
Duduk melamun, pikiran meiayang."
"Aku yang rendah, Thio Coei San, ingin menanyakan
sesuatu kepada nona," kata pemuda itu dengan suara
nyaring.
"Naiklah keperahu," mengundang Sinona.
Dengan gerakan yang indah Coei San melompat ke atas
"Kemarin awan hitam menutupi langit dan bulan tak
muncul," kata nona itu. "Malam ini langit bersih, lebih
menyenangkan daripada kemarin." Suaranya merdu dan
nyaring tapi ia bicara sambil mengawasi langit.
"Apakah boleh ku tahu she nona yang mulia?" tanya
Coei San sambil membungkuk.
Mendadak Sinona menengok dan matanya kedua yang
bening menyapu muka itu. Tapi ia tak menjawab
pertanyaan orang.
Pemuda itu jadi kemalu-kemaluan. Tanpa berani
mengeluarkan sepatah kata lagi, ia memutar badan dan lalu
melompat kedaratan dan berlari-lari. Sesudah lari beberapa
puluh tombak, ia menghentikan tindakannya. "Coei San!
Coei San !'" Ia mengeluh "Kau dikenal sebagai seorang
gagah yang selama sepuluh tahun didunia Kang ouw tidak
mengenal apa artinya takut. Tapi mengapa begitu
berhadapan dangan seorang wanita, kau lari terbirit birit ?"
Ia menengok dan melihat perahu si nona maju perlahanlahan
disepanjang pingiran sungai, dengan menuruti aliran
252
air. Dengan hati ber debar-debar, ia lalu berjalan
disepanjang gili gili, berendeng dengan perahu, sedang nona
itu sendiri masih tetap duduk dikepala perahu sambil
memandang langit.
Sesudah berjalan beberapa lama, tanpa merasa Coei San
dongak mengawasi rembulan yang sedang dipandang
sinona. Tiba-tiba di sebelah timur laut muncul segumpal
awan hitam. Benar juga orang kata, angin dan awan tak
dapat ditaksir kedatangannya. Dengan cepat, awan itu
bergerak dan meluas. Tak lama kemudian, rembulan sudah
tertutup awan hitam dan berbareng dengan turunnya angin,
hujan gerimis mulai turun.
Ketika itu, Coei San sedang berjalan digili-gili yang
berdampingan dengan sebidang tanah lapang dan disekitar
itu tak ada tempat meneduh. Tapi pemuda yang sedang
was-was itu pun tidak ingin cari tempat meneduh.
Walaupun yang turun hanya gerimis, lama-lama pakaian
Coei San basah juga. Ia melirik sinona yang juga masih
tetap duduk dikepala perahu, dengan tak menghiraukan
serangan hujan. Tiba-tiba ia tersadar.
"Nona, masuklah! Apa kau tak takut basah?" teriaknya.
"Ah!" nona itu mengeluarkan seruan tertahan sambil
bangun berdiri. "Eh, apa kau juga tak takut basah ?"
Sehabis berkata begitu, ia masuk kegubuk perahu dan
keluar pula dengan tangan mencekal payung, yang lalu
dilontarkan kearah pemuda itu. Coei San menyambuti dan
lalu membukanya. Diatas payung terdapat lukisan
pemandangan alam yang sangat indah: gunung, air dan
beberapa pohon yanglioe, sedang diatas gambar terdapat
huruf-huruf seperti berikut: "Sia hong see ie poet hie kwi."
Payung Hangcioe memang biasa ada lukisannya. Tapi
tulisan seperti itu, yang banyak terdapat pada barang pecah
253
belah keluaran Kangsay, adalah sedikit luar biasa. Dengan
rasa kagum, Coei San membaca huruf-huruf itu, yang
walaupun masih kurang bertenaga sangat indah ayu dan
mengunjuk jelas sebagai buah kalam seorang wanita.
Dengan mata mengawasi tulisan itu, ia berjalan terus
sehingga ia tak lihat sebuah solokan kecil yang melintang
ditengah jalan. Tiba-tiba saja kakinya menginjak tempat
kosong dan jika ia seorang biasa, ia pasti terjungkal
kedalam solokan itu. Tapi Thio Coei San bukan orang
biasa. Sedang kaki kanannya kejeblos, kaki kirinya sudah
menotol pinggir solokan dan badannya meleset kedepan,
sehingga ia hinggap diseberang dengan selamat.
"Bagus!" memuji sinona.
Coei San menengok dan melihat nona itu berdiri di
kepala perahu dengun memakai tudung. Pakaiannya
berkibar-kibar ditiup angin dan disambar hujan gerimis,
sehingga dipandang dari kejauhan, ia seolah-olah seorang
dewi.
"Apakah tulisan dan lukisan diatas payung itu cukup
berharga untuk dilihat oleh Thio Sianseng?" tanya sinona.
"Huruf-huruf ini ditulis menurut Soe hoat (sari menulis)
dari Wie Hoejin," jawabnya. "Biarpun coretannya agak
pendek, artinya panjang. Huruf huruf ini sudah cukup
indah".
Mendengar pengertian pemuda itu akan seni menulis dan
pujian yang diberikan kepadanya, sinona jadi girang.
"Dalam tujuh huruf itu, huruf 'poet' yang paling jelek."
katanya.
Coei San mengawasi pula tulisan itu seraya berkata:
"Tulisan cukup wajar, hanya kurang memperlihatkan arti
yang tergenggam dalam huruf itu. Berbeda dengan enam
huruf lainnya yang sangat indah dan tidak membosankan."
254
"Benar," kata sinona "Sudah lama aku merasa bahwa
dalam huruf itu terdapat kekurangan itu. Sesudah Sianseng
menjelaskan, barulah aku mendusin."
Perahu terus laju kealiran sebelah bawah, sedang Thio
Coei San terus mengikuti sambil omong omong tentang seni
menulis. Tanpa merasa mereka sudah melalui belasan li dan
siang sudah terganti dengan malam. Tiba-tiba sinona
berkata: "Benar juga dikatakan orang, bahwa bicara
semalaman dengan seorang pandai, banyak lebih berfaedah
daripada membaca buku sepuluh tahun. Terima kasih
banyak untuk keteranganmu, dan di sini saja kita
berpisahan," Sehabis berkata begitu, ia memberi isyarat
dengan tangannya dan layar perahu lantas saja naik dengan
perlahan. Sesudah layar terpentang perahu itu lantas saja
laju dengan pesatnya. Dengan mata mendelong, Coei San
mengawasi perahu sinona yang semakin lama jadi semakin
jauh. Sekonyong konyong, sayup-sayup ia dengar teriakan
sijelita: "Aku she In. Dilain hari, aku akan meminta
pelajaran lagi."
Mendengar kata kata "aku she In", pemuda itu terkesiap.
Ia ingat keterangan Touw Tay Kim, bahwa orang yang
menyuruhnya untuk mengantar kan Jie Thay Giam ke Boe
tong san adalah seorang sasterawan tampan yang mengaku
she In. Apakah sasterawan she In itu sinona adanya?
Memikir begitu, tanpa memperdulikan lagi soal
pembatasan pergaulan antara pria dan wanita, ia segera
mengempos semangat dan mengubar dengan menggunakan
ilmu mengentengkan badan. Ia sudah menyandak. "In
Kouwnio!" teriaknya. "Apakah kau kenal Jie Samko Jie
Thay Giam?"
Nona itu menengok tanpa menjawab. Lapat-lapat Coei
San seperti mendengar suara hela napas panjang. "Nona
ada beberapa soal yang kuingin tanya," teriaknya pula.
255
"Soal apa?" sinona balas tanya.
"Apakah kau yang sudah minta Liong boen Piauw kiok
mengantar Jie Samko ke Boe tong san?", tanya Coei San.
"Tapi apa Kouwnio tahu, bahwa sesudah tiba di Boe tong
san, Jie Samko telah dianiaya orang ?"
"Untuk kejadian itu, aku sungguh merasa sangat
menyesal," jawabnya.
Sedang mereka tanya jawab, angin turun semakin besar
dan perahu laju semakin cepat. Tapi dengan memiliki Gin
kang yang sangat tinggi, Coei San tetap bisa lagi berendeng.
Dilain pihak, setiap perkataan sinona yang di ucapkan
secara biasa diantara hujan dan angin, dapat didengar tegas
oleh Thio Coei San dan hal itu membuktikan bahwa iapun
mempunyai Lwekang yang tinggi.
Semakin jauh, permukaan Sungai Cian tongkang kang
jadi semakin luas dan hujan angin pun turun semakin hebat.
"In Kouwnio, puluhan jiwa dalam Liong boen Piauw kiok
telah dibinasakan orang." teriak Coei San. "Apa kau tahu
siapa pembunuhnya?"
"Aku telah memberitahukan Touw Tay Kim bahwa dia
harus hati hati mengantar Jie Samhiap pulang ke Boe tong."
sahutnya. "Kalau dia gagal...."
"Kau akan membasmi seluruh keluarge piauw kiok,
sekalipun ayam dan anjing tidak diberi ampun."
menyambung pemuda itu.
"Benar." katanya. "Dia tak bisa melindungi Jie Samhiap
dan segala kejadian berikutnya adalah salahnya sendiri."
Coei San mencelos hatinya. Ia menggigil seperti disiram
air es. Dengan mata membelalak, ia berteriak: "Kalau
begitu, semua orang digedung itu telah.... telah...."
256
"Dibunuh olehku," menyambungi si nona.
Mata pemuda itu ber-kunang2. Mimpi pun ia tak pernah
mimpi, bahwa wanita yang begitu cantik ayu adalah si
pembunuh kejam. Lewat beberapa saat, sesudah
menenteramkan hatinya, barulah ia dapat membuka suara
lagi: "Siapa yang bunuh dua hweeshio Siauw lim sie itu?"
"Aku," jawabnya dengan tenang. "Sebenarnya aku tidak
berniat menanam bibit permusuhan dengan Siauw lim sie,
akan tetapi karena mereka berlaku kurang ajar, aku tak
dapat mengampuninya.."
"Tapi.... tapi kenapa semua kesalahan ditumpuk diatas
pundakku?" tanya pula pemuda itu.
Si nona be-senyum. "Akulah yang sengaja mengatur
begitu!" jawabnya.
Darah Thio Coei San bergolak-golak, ia merasa dadanya
seperti mau meledak "Kau yang sengaja mengatur begitu?
Supaya mereka sakit hati kepadaku?" teriaknya dengan
suara kalap.
"Tak salah," jawabnya sambil tertawa.
"mengapa kau berbuat begitu, sedang kau dan aku sama
sekali tidak bermusuhan?" Coei San berteriak pula.
Si nona tidak menjawab. Tiba-tiba sambil mengebas
tangan bajunya, ia melompat masuk dalam gubuk parahu.
Coei San tentu saja tak mau mengerti. Ketika itu perahu
terpisah belasan tombak dari tepi sungai dan ia tak dapat
mencapainya dengan satu lompatan. Dengan kegusaran
meluap-luap, ia menghantam satu pohon dan mematahkan
dua cabang yang agak besar. Sambil melontarkan satu
antaranya ketengah sungai kearah perahu itu, kakinya
menotol tanah dan badannya melesat bagaikan anak panah.
257
Begitu hinggap, kaki kirinya menotol cabang itu dan
tubuhnya kembali melesat beberapa tombak jauhnya,
sembari melontarkan cabang yang satunya lagi. Seperti tadi,
kaki kanannya menotol cabang itu dan bagaikan seekor
burung, ia hinggap diatas kepala perahu. "Hei !" bentaknya.
"Bagaimana kau melakukan perbuatanmu itu?"
Tapi dari dalam gubuk itu tidak terdengar jawaban. Ia
sangat ingin menerjang masuk, tapi sebisa-bisa ia menahan
sabar, karena merasa, bahwa perbuatan itu adalah tidak
sopan.
Sekonyong-konyong lilin dalam gubuk menyala terang.
"Masuklah!" undang si nona.
Sesudah merapikan pakaiannya, Coei San bertindak
masuk. Mendadak ia kaget, karena dalam gubuk itu
kelihatan berduduk seorang pemuda yang mengenakan
thungsha hijau dan topi empat persegi, sedang tangan
kanannya menggoyang-goyang kipas. Ternyata, dalam
sekejap si nona sudah menukar pakaian lelaki dan dalam
pakaian begitu, ia kelihatannya mirip sekali dengan Thio
Ngohiap.
Tadi Coei San menanya, bagaimana ia telah berlaku
sehingga, pendeta-pendata Siauw lim sie menduga, bahwa
pembunuhan itu dilakukan olehnya. Tanpa menjawab,
nona In telah memberi jawaban. Dengan mengenakan
pakaian sasterawan, ditempat yang agak gelap, sukar sekali
akan orang membedakan yang mana si wanita. Maka itu
tidaklah heran jika Hoei hong dan Touw Tay Kim
menuduh padanya.
"Thio Ngohiap, duduklah," mengundang si nona sambil
menuang teh disebuah cangkir. Ia mengangsurkan cangkir
itu seraya berkata: "Sungguh menyesal aku tak punya arak
untuk disuguhkan kepada Ngohiap."
258
Penyambutan yang sangat ramah tamah itu memaksa
Coei San menahan hawa amarahnya. "Terima kasih,"
katanya sambil membungkuk.
Melihat pakaian pemuda itu basah kuyup sinona berkata
pula: "Dalam perahu ini aku masih mempunyai seperangkat
pakaian laki-laki. Ngohiap boleh pergi kebelakang untuk
menukar pakaian yang basah itu."
"Tak usah," sahutnya sambil menggelengkan kepala. Ia
lantas saja mengerahkan Lweekang dan hawa panas segera
mengalir di seluruh badannya, sehingga tak lama kemudian
pakaian yang basah itu menjadi kering.
"Aku tak ingat, bahwa Lweekang Boe tong pay luar biasa
tinggi," kata si nona sembari bersenyum. "Dengan
menyuruh menukar pakaian, siauw moay benar-benar
berpandangan sempit."
"Bolehkah aku mendapat tahu partai nona?" tanya Coei
San.
Mendengar pertanyaan itu, si nona memandang keluar
jendela, alisnya berkerut dan pada paras mukanya
tertampak sinar kedukaan.
Melihat perubahan itu, Coei San tidak berani mendesak
lagi. Lewat beberapa saat, barulah ia berkata pula: "Nona,
siapakah yang menganiaya Jie Samko? Bolehkah kau
memberitahukan aku?"
"Bukan saja Tauw Tay Kim, tapi akupun sudah kena
diakali," jawabnya, "Sebetulnya aku mengingat bahwa Boe
tong Cit hiap adalah pendekar-pendekar yang gagah tampan
dan tidak bisa jadi beroman begitu kasar."
Mendengar jawaban yang menyimpang, yang menyebutnyebut
"gagah tampan", Coei San mengerti bahwa sinona
tengah memuji dirinya dan hatinya lantas saja berdebar259
debar, sedang mukanya berubah merah.
Sesaat kemudian, nona In menghela napas sambil
menggulung tangan baju kirinya. Coei San buru buru
menunduk, ia tak berani mengawasi lengan yang putih itu.
"Apa kau kenal senjata rahasia ini?" tanya si nona.
Mendengar perkataan "senjata rahasia", Coei San
mengangkat kepala dan melihat tiga batang piauw baja kecil
yang menancap dilengan kiri dan
diseputar senjata rahasia itu terlihat warna hitam seperti
air bak.
Panjangnya piauw itu hanya satu setengah dim dan kirakira
satu dim masuk kedalam daging sedang buntut piauw
yang menonjol keluar berbentuk bunga bwe. Coei San
terkejut dan berseru sambil bangun berdiri: "Ah ! Bweehoa
piauw dari Siauw limsie. Mengapa berwarna hitam?"
"Tak salah," kata sinona. "Bwee hoa piauw dari Siauw
lim sie. Piauw itu mengadung racun."
"Siauw lim sie adalah partai persilatan yang ternama,
sehingga menurut pantas tak mungkin orang Siauw lim sie
menggunakan senjata rahasia beracun." kata Coei San.
"Tapi piauw itu adalah senjata yang hanya dapat digunakan
oleh orang Siauw lim sie."
"Aku juga merasa sangat heran," kata nona itu.
"Sebagaimana dikatakan oleh gurumu, hancurnya tulang
tulang Soehengmu juga adalah akibat cengkeraman Kim
kongcie, yaitu ilmu istimewa dati Siauw limsie."
Coei San terkejut. Keterangan gurunya hanya didengar
oleh saudara-saudara seperguruannya. Bagaimana nona itu
dapat mengetahuinya? "Nona, apakah kau pernah bertemu
dengan Jie Soeko Jie Lian Cioe dan Cit tee Boh Seng Kok?"
260
tanyanya dengan tergesa-gesa.
Sinona menggelengkan kepala. "Aku hanya bertemu satu
kali dengan mereka di Boe tong," jawabnya.
Bukan main rasa herannya Coei San, "Apa nona pernah
datang di Boe tong?" tanyanya. "Mengapa aku tak tahu? ...
Nona, sudah berapa lama kau kena piauw itu? Kau harus
cepat cepat mencari obat." Waktu berkata begitu, paras
mukanya mengunjuk rasa kuatir
"Sudah duapuluh hari lebih," jawabnya dengan suara
berterimakasih, "Aku sudah menggunakan obat untuk
menahan mengamuknya racun itu, sehingga untuk
sementara waktu, aku masih dapat mempertahankan diri.
Tapi aku tidak berani mencabutnya, sebab kuatir, begitu
tercabut, racun akan menjalar kelain bagian tubuh dengan
mengikuti aliran darah."
Pemuda itu mengerti, bahwa dalam usaha menahan
menjalarnya racun, seseorang bukan saja harus menelan
obat mustajab, tapi juga harus memiliki Lweekang yang
sangat tinggi. Dilihat romannya, nona itu baru berusia kirakira
delapanbelas tahun dan bahwa ia sudah mempunyai
Lweekang yang sedemikian tinggi, adalah kenyataan yang
sangat mengagumkan. Tanpa merasa ia berkata dengan
suara terputus-putus "Nona .... sesudah duapuluh hari lebih
.... kukuatir. .dibelakang hari, pada kulitmu akan terdapat
.... terdapat bekas-bekas yang tak akan hilang....."
Sebenarnya apa yang dikuatirinya yalah: jika, racun itu
mengeram terlalu lama, sinona mungkin tak akan dapat
menggunakan tangan kirinya lagi.
Mendengar perkataan Coei San, air mata sinona
berlinang-linang dikedua matanya. "Aku sudah berusaha
sedapat mungkin...." - katanya dengan suara peralahan
"Semalam aku sudah menggeledah badannya pendeta
261
pendeta Siauw lim itu, tapi tak bisa mendapatkan obat
pemunah.... Lengan ini tak akan dapat digunakan lagi."
Sambil berkata begitu perlahan-lahan ia menurunkan
tangan jubahnya.
"Rasa kesatrian Thio Coei San lantas saja tampil
kemuka. "In Kouwnio," katanya dengan suara tetap.
"Apakah kau percaya aku? biarpun Lwee kangku masih
sangat cetek. kupercaya masih dapat membantu kau dalam
usaha mengeluarkan racun itu diri dalam lenganmu."
Nona In tertawa dan pada pipinya terlihat sujen yang
sangat manis. Ia kelihatan girang dan paras mukanya
berseri-seri. "Thio Ngo hiap," katanya, "Dalam hatimu
terdapat banyak sekali pertanyaan dan kesangsian. Biarlah
lebih dulu aku memberikan keterangan yang sejelasjelasnya,
supaya sesudah menolong aku, kau tidak akan
merasa menyesal."
"Mengobati sakit dan menolong manusia adalah tugas
orang-orang Rimba Persilatan," kata Coei San dengan suara
nyaring. "Bagaimana aku bisa menyesal?"
"Sudah duapuluh hari lebih racun itu mengeram dalam
badanku, sehingga sekarang kita tak perlu terlalu tergesagesa,"
kata sinona sambil tersenyum. "Biarlah kau dengar
dulu penuturanku. Hari ini sesudah menyerahkan Jie Sam
hiap kepada Liong boen piauw kiok, aku sendiri diam-diam
menguntit dari belakang. Benar saja, disepanjang jalan
beberapa orang ingin turunkan tangan jahat terhadap Jie
Sam hiap, tapi semuanya sudah dipukul mundur olehku.
Kejadian itu sama sekali tidak diketahui oleh Tauw Tay
Kim."
Thio Coei San lantas saja mengangkat kedua tangannya
"Budi nona yang sangat besar tak akan dilupakan
oleh segenap murid Boe tong pay," katanya sambil
262
menyoja.
"Jangan terburu napsu menghaturkan terimakasih
kepadaku," kata nona In sambil bersenyum. "Sebentar kau
bisa membenci aku."
Coei San terkejut, Ia tak mengerti apa yang dimaksudkan
sinona.
"Sepanjang jalan," ia melanjutkan penuturannya "Hari
ini aku menyamar sebagai petani, lain hari sebagai saudagar
dan terus membuntuti dari belakang. Tak dinyana, sesudah
tiba di Boe tong baru terjadi peristiwa yang menyedihkan"
"Apakah nona lihat enam penjahat itu?" tanya Coei San
sambil mengertak gigi. "Touw Tay Kim benar-benar tolol.
Dia tak dapat memberikan keterangan apapun jua tentang
asal usul enam penjahat itu."
"Bukan saja lihat, aku malah sudah bertempur dergan
mereka," jawabnya. "Tapi akupun tolol. Aku juga tak tahu
asal usul mereka." Sesudah mengirup teh, ia berkata pula:
"Pada waktu enam orang itu turun dari atas gunung dan
bicara dengan Touw Tay Kim, aku mengawasi dari sebelah
kejauhan. Kudengar Cong piauw tauw itu menggunakan
istilah Boe tong Liok hiap dan merekapun menerima baik
panggilan itu. Sesudah mereka menerima kereta Jie Sam
hiap, dari tangan rombongan piauw kiok, aku anggap,
urusan sudah selesai dan aku menahan kuda dipinggir jalan,
membiarkan lewatnya rombongan Touw Tay Kim,
Tapi dilain saat, aku terkesiap karena melihat sesuatu
ang tidak masuk di akal. Siauw moay menganggap Boe
tong Cit hiap saling menyintai seperti saudara saudara
kandung sendiri. Menurut pantas, mereka ramai-ramai
harus menengok Jie Sam hiap yang rebah di kereta dengan
terluka berat. Tetapi kenyataannya, hanya seorang yang
melongok kedalam kereta, sedang yang lainnya tidak mau
263
mengambil perduli. Bukan saja begitu, paras muka mereka
malahan menggunjuk perasaan girang dan sambil berteriak
teriak, mereka mengikuti di belakang kereta. Itulah kejadian
yang sangat mencurigakan sebab sangat tidak masuk akal.
"Tidak salah pendapat noda" kata Coei San sambil
mengangguk beberapa kali.
"Semakin lama, hatiku jadi semakin tak enak," si nona
berkata pula. "Aku segera mengubar dan menanyakan
nama mereka. Mereka ternyata mempunyai mata yang
cukup tajam. Sekelebatan, mereka sudah tahu, bahwa aku
adalah seorang wanita yang menyamar sebagat pria. Aku
mencaci mereka sebagai manusia rendah yang sudah
menggunakan nama Boe tong Cit hiap dan merampas Jie
Sam hiap dengan tipu busuk. Aku segera menerjang dan
dilayani oleh seorang pemuda kurus yang berusia kurang
lebih dua puluh tahun dengan dikawani oleh seorang too
soe yang berdiri dipinggiran sedang empat kawannya yang
lain berjalan sambil menggiring kereta.
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi
"Diluar dugaan, pemuda kurus itu sangat lihay dan
dalam tigapuluh julUs, aku belum dapat menjatuhkannya.
Mendadak imam yang berdiri di pinggiran mengayun
tangan kirinya dan tiga batang piauw menancap
ditanganku.
"Begitu kena, lenganku sakit sakit gatal. Aku gusar dan
kegusaranku di tambah dengan perkataan sikurus yang
sangat kurang ajar, yang sesumbar ingin menangkap aku.
Aku segera membalas dengan tiga batang jarum dan
ahirnya berhasil meloloskan diri" Berkata sampai disitu,
muka sinona bersemu merah. Mungkin sekali sikurus yang
dikatakan kurang ajar telah mengeluarkan kata-kata yang
tak sopan.
264
"Melepaskan Bwee hoa piauw dengan tangan kiri banyak
lebih sukar daripada dengan tangan kanan," kata Coei San,
"Tapi mengapa murid Siauw lim pay mengenakan pakaian
toosoe? Apa dia menyamar?"
Nona In tersenyum. "Kalau toosoe mau menyamar
sebagai hweeshio, dia harus menyukur rambut," katanya.
"Banyak lebih mudah kalau hwee shio menyamar sebagai
toosoe. Sudah cukup jika dia memakai topi toojin"
Pemuda itu mengangguk sambil bersenyum.
"Aku mengerti, bahwa pada waktu itu aku tak bisa
berbuat banyak," kata pula nona In. "melawan pemuda
kurus itu saja, aku belum bisa menang, apalagi jika
ditambah dengan siimam, yang kelihatannya lebih lihay
lagi. Aku yakin, biar bagaimanapun aku tak akan dapat
melawan enam orang itu."
Coei San membuka mulutnya, tapi ia tak dapat
mengeluarkan sepatah kata.
"Aku tahu apa yang dipikir olehmu," kata sinona. "Kau
tentu ingin mengatakan mengapa kau tak mau naik ke Boe
tong dan memberitahukan hal itu pada kami ? Bukankan
kau ingin menanya begitu ? Hai! Sebabnya adalah karena
aku tak boleh naik ke Boe tong! Kalau dapat maju sendiri,
perlu apa aku minta bantuan Touw Tay Kim untuk
mengantar Jie Samhiap ? Aku merasa sangat bingung dan
tak tahu harus berbuat bagaimana. Selagi berjalan dengan
rasa sangsi, mendadak aku lihat kau yang sedang bicara
dengan Touw Tay Kim. Belakangan, dengan mengikuti
rombongan piauwkiok itu aku turut naik ke Boe tong.
Dalam kekalutan dan kedukaan, orang tidak
memperhatikan diriku. Kalian menganggap aku sebagai
anggauta piauw hang, sedang rombongan Liong boen
Piauw kiok menganggap aku sebagai orang Boe tong pay."
265
Tiba-tiba sipemuda ingat sesuatu "Aha!" serunya. "Hari
itu kau menyamar sebagai tukang kereta, bukan?
Tudungmu ditekan kebawah sampai hampir menutupi
muka."
"Sungguh lihay mata Thio Ngo hiap," jawab si nona
sambil tertawa. "Jika waktu itu kau tidak dilipati kegusaran
dan kesedihan, mungkin sekali rahasiaku sudah diketahui
olehmu. Tapi aku tak dapat mengabui mata Song Toa
hiap?"
"Toa soeko kenali kau?" menegas Coei San dengan rasa
heran. "Tapi ia tak mengatakan apapun jua kepada kami,"
"Song Toahiap sangat sopan dan luhur pribudinya."
memuji sinona In. "Kepadakupun ia tidak megatakan
sesuatu apa. Hanya pada waktu memberikan kamar-kamar
kepada rombongan piauw kiok, ia sengaja menunjuk
sebuah kamar terpisah untukku sendiri."
"Ya, Toa soeko memang begitu", kata Coei San dengan
rasa hormat terhadap kakak seperguruannya itu.
"Belakangan, bersama rombongan Touw Tay Kim aku
turun gunung" kata sinona: "Aku telah menyaksikan, cara
bagaimana kau sudah paksa mereka muntahkan lagi
duaribu tahil emas itu, untuk menolong rakyat yang
tertimpa bencana alam. Thio ngohiap, kau royal sekali
dengan orang lain. Uang itu adalah uangku,"
Coei San tertawa geli. "Biarkan atas nama rakyat yang
menderita, aku menghaturkan banyak banyak terima kasih
kepadamu," katanya.
"Hm ! Kalau uang sudah berada dalam tangan orangorang
temaha, mana mereka sudi muntahkan seanteronya?"
kata pula nona In. "Hanya karena nama Thio Ngohiap
terlalu besar, maka mereka tidak berani tidak muntahkan.
266
Aku tahu diam diam mereka menyimpan tigaratus tahil.
Sesudah kembali kesini aku segera minta pertolongan orang
untuk memeriksa luka ini. Ada yang kata, bahwa Bwee hoa
Piauw adalah senjata rahasia istimewa dari Siauw lim sie
sehingga jika tidak mendapat obat dari mereka, racun itu
sukar dipunahkan. Dalam kota Lim an, kecuali di Liong
boen Piauw kiok, tak ada orang lain yang berasal dari
Siauw lim sie. Maka itu aku telah menyatroni untuk
memaksa supaya mereka mengeluarkan obat pemunah itu.
Tapi di luar dugaan, bukan saja mereka tidak memberikan,
tapi juga sudah mempersiapkan kawan-kawannya dan
begitu aku tiba, mereka lantas menyerang."
"Tapi nona bukankah tadi kau mengatakan, bahwa
kaulah yang sudah sengaja mengatur, sehingga mereka
menuduh aku?" kata Coei San.
Nona In kelihatan kemalu-maluan dan sambil
menundukkan kepala, ia berkata dengan suara perlahan:
"Melihat kau ke toko dan membeli pakaian, aku .... aku
merasa pakaian itu bagus sekali. Maka itu, aku juga turut
membelinya,"
"Hal itu tidak mengapa." kata Coei San "Tapi dengan
membunuh beberapa puluh orang kurasa kau terlalu kejam.
Dengan orang-orang Liong boen Piauw kiok kau
sebenarnya tidak mempunyai permusuhan suatu apa."
Mendengar teguran itu, paras muka si nona lantas saja
berubah. Ia tertawa dingin seraya berkata "Kau ingin
memberi pelajaran kepadaku ? Hm! Aku sudah hidup
sembilan belas tahun, tapi belum pernah ada yang mengajar
aku. Thio Ngo hiap adalah seorang yang sangat mulia dan
aku mempersilahkan kau berlalu saja. Manusia kejam tidak
perlu berhubungan dengan seorang mulia."
Paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah. Ia
267
segera bangun berdiri. Baru saja mau bertindak keluar, tibatiba
ingat janjinya untuk bantu mengobati luka-luka si nona.
"Gulung tangan bajumu," katanya.
Alis nona In berdiri dan kedua matanya melotot. "Aku
tak perlu diobati olehmu!" katanya.
"Lenganmu sudah terluka lama sekali dan jika tidak
segera diobati, aku kuatir .... aku kuatir akan keselamatan
jiwamu," kata Coei San.
"Memang paling baik jika aku mampus," kata nona In
dengan suara ketus "Kalau jiwaku melayang, kaulah yang
sudah mencelakakan aku"
Mendengar kata-kata yang tidak beralasan itu, Coei San
jadi heran "Eeh!" katanya "Kau telah dilukakan oleh orang
Siauw lim sie, mengapa kau menyalahkan aku?"
"Kalau aku tidak melakoni perjalanan ribuan lie untuk
mengantar Jie Samkomu ke Boe tong san, aku tentu tak
akan bertemu dengan enam penjahat itu," kata si nona.
"Sesudah enam bangsat itu merampas Jie Samkomu,
kalau aku berpeluk tangan, lenganku tentu takkan terluka.
Dan jika kau datang terlebih siang dan memberi bantuan,
aku pasti tidak akan sampai terluka."
Coei San lantas saja mengangkat kedua tangan nya dan
berkata: "Benar. Aku yang rendah menawarkan bantuan
kepada nona, untuk membalas sebagian kecil saja dari
budimu yang sangat besar."
Nona In melengos, "Apa kau mengaku bersalah ?"
tanyanya.
"Bersalah apa ?" menegas Coei San.
"Kau mengatakan aku kejam, pernyataan itu salah sama
sekali," katanya dengan suara mendongkol. "Hweeshio268
hweeshio Siauw lim sie, Touw Tay Kim dan kawan
kawannya semua pantas dibunuh."
Coei San menggelengkan kepala. "Biarpun lengan nona
terkena piauw tapi kau masih dapat ditolong," katanya.
"Samsoeko terluka berat, tapi is masih hidup. Andaikan ia
tak dapat diobati, paling banyak kita cari biang keladinya.
Biar bagaimana pun juga, tidak pantas nona membunuh
puluhan orang."
Si nona mendelik dan parasnya berubah gusar. "Kau
tetap menyalahkan aku ?" bentaknya. "Apakah yang
menimpuk lenganku dengan Bweehoa piauw bukan orang
Siauw lim sie? Apakah Liong boen Piauw kiok bukan
dibuka oleh orang orang Siauw lim sie?"
"Murid-murid Siauw lim sie tersebar di kolong langit,
jumlahnya ribuan, malah mungkin laksaan orang," kata
Coei San dengan suara sabar.
"Nona hanya diserang dengan tiga batang piauw.
Apakah untuk membalas sakit hati itu kau ingin menbunuh
semua murid Siauw lim sie?"
Karena kalah bicara, si nona jadi semakin gusar.
Mendadak ia mengangkat tangan kanannya dan
menghantam tiga piauw yang tertancap di lengan kirinya.
Keruan saja ketiga senjata rahasia itu amblas kedalam
daging dan luka jadi bertambah hebat.
Coei San terperanjat. Ia tak pernah menduga bahwa si
nona mempunyai adat yang seaneh itu. Sedikit saja tak
senang, ia lantas mempersakiti dirinya sendiri. Dipandang
dari sudut itu, tidaklah heran jika dia bisa membunuh orang
secara mem buta tuli.
"Mengapa kau berbuat begitu?" tanyanya dengan mata
membelalak. Dengan hati berdebar-debar ia lihat tangan
269
baju si nona yang mulai basah dengan darah hitam. Ia
mengerti bahwa luka itu sudah terlalu berat dan Lweekang
si nora tidak akan dapat menahan lagi naiknya racun
sehingga jika tidak lantas ditolong, jiwanya bisa melayang.
Maka itu tanpa mengeluarkan sepatah kata, tangan kirinya
menyambar dan menyekal lengan kiri nona In, sedang
tangan kanannya merobek tangan baju orang
Mendadak, Coei San dengar bentakan dibelakangnya:
"Bangsat! Jangan kurang ajar kau!" Hampir berbareng,
sebilah golok menyambar ke punggungnya. Ia tahu, bahwa
yang menyerang adalah si tukang perahu. Dalam keadaan
genting, tanpa menengoknya ia menendang dan orang itu
terpental keluar dari gubuk perahu.
"Tak usah kau tolong, aku lebih baik mati!" teriak
sinona. "Plok", muka pemuda itu digaplok keras-keras.
Rasa kaget dan sakit tercampur jadi satu. Tanpa merasa,
Coei San melepaskan cekelannya.
"Pergi kau! Aku tak sudi lihat lagi mukamu," kata nona
In.
Coei San malu dan gusar. "Baiklah," katanya. "Hmm!
Betul-betul aku belum pernah lihat wanita yang begitu tak
mengenal aturan." Sehabis mengomel, dengan tindakan
lebar ia berjalan keluar.
Nona In tertawa dingin dan berkata: "Kau belum pernah
lihat? Hari ini kau boleh lihat!" Coei San mengambil
sepotong papan untuk digunakan sebagat papan loncatan
untuk mendarat. Tapi baru saja ia mau melemparkan papan
itu keair, hatinya merasa tidak tega karena ia yakin, bahwa
perginya berarti binasanya nona kepala batu itu. Maka itu
sambil menahan amarah, ia kembali kegubuk perahu. "Biar
pun kau menggaplokku, aku tak jadi marah," katanya.
"Gulung tangan bajumu. Apa kau mau mati ?"
270
"Aku mau mampus atau mau hidup, ada sangkut paut
apa denganmu ?" tanya nona In dengan suara aseran. (peep:
aseran=???)
"Dengan melalui perjalanan ribuan kau sudah mengantar
Samko," kata Coei San. "Budi yang sangat besar itu tak bisa
tidak dibalas."
Sinona tertawa dingin, "Bagus! Aku baru tahu, bahwa
tujuanmu hanya untuk membayar hutang," katanya. "Kalau
aku tidak mengantar Samko-mu, biarpun aku terluka lebih
berat lagi, biarpun kau lihat aku sudah hampir
menghembuskan napas penghabisan, kau tentu tak sudi
menolong."
Mendengar perkataan itu, Coei Sin ternganga. "Ah!.....
itu sih belum tentu ....." katanya tergugu. Tiba-tiba ia lihat
sinona menggigil, sebagai tanda, bahwa racun sudah mulai
naik ke atas "Kau sungguh gila!" katanya dengan suara
berkuatir. "Janganlah kau main-main lagi dengan jiwamu
sendiri."
Nona In menggigit gigi. "Kalau kau tidak mengaku
bersalah. biar bagaimanapun juga, aku tak sudi ditolong
olehmu," katanya. Kulit mukanya yang putih sekarang
berubah pucat dan tubuhnya agak bergemetaran, sehingga
pemuda itu jadi lebih tak tega lagi. Ia menghela napas
seraya berkata: "Baiklah. Hitung-hitung aku yang salah dan
kau tidak bersalah."
"Tak bisa!" kata sinona. "Kalau salah, ya salah. Mengapa
kau menggunakan perkataan hitung-hitung? Mengapa
sesudah menghela napas, baru kau mengaku salah? Hm!
Pengakuanmu tidak keluar dari hati yang jujur."
Sebab perlu menolong jiwa, Coei San sungkan
bertengkar lagi. "Kaizar Langit di atas, Malaikat Sungai
dibawah, dengan hati yang setulus-tulusnya aku ingin
271
menyatakan kepada nona In ....In ....." Ia tak dapat
meneruskan perkataannya sebab belum tahu nama si nona.
"In So So," menyambungi nona itu.
"Hmm! .... kepada nona In So So, bahwa dalam segala
hal, akulah yang bersalah, atau tegasnya, aku mengaku
bersalah."
In So So bunga hatinya, ia tertawa dengan paras berseri
seri. Tapi hampir berbareng, kedua lututnya lemas dan ia
jatuh duduk dikursi. Buru-buru Coei San mengeluarkan
sebutir Pek co Hoei sim tan, yaitu pel untuk melindungi
jantung dari segala rupa serangan racun, yang lalu diberikan
kepada So So. Sesudah ia menggulung tangan baju si nona
dan mendapat kenyataan, bahwa separuh lengan itu sudah
berwarna hitam ungu dan hawa racun terus naik keatas
dengan cepatnya.
Sambil mencekel bahu si nona dengang tangan kirinya,
la menanya: "Apa yang dirasakan oleh mu ?"
"Dadaku menyesak," jawabnya. "Mengapa kau tidak
cepat-cepat mengaku salah? Kalau aku mati, kaulah yang
berdosa."
Tentu saja Coei San tidak meladeni perkataan seperti
anak kecil itu. "Tak apa-apa, legakanlah hatimu." katanya
dengan suara lemah lebut. "Longgarkan semua otot-ototmu,
jangan menggunakan tenaga sedikitpun, berbuatlah seperti
kau sedang tidur pulas."
"Aku merasa seperti juga sudah mati," kata si nona.
"Hmm! Sesudah terluka begitu, dia masih begitu gilagilaan,"
kata Coei San dalam hatinya. "Celaka sungguh
orang yang jadi suaminya." Memikir begitu, jantungnya
memukul keras, karena kuatir si nona dapat menebak apa
yang dipikirnya. Ia melirik muka si nona yang kelihatan
272
bersemu dadu, seperti orang kemalu-maluan. Tiba tiba
kedua mata kebentrok dan mereka saling melengos. "Thio
Ngo ko," tiba tiba So So berkata dengan suara perlahan.
"Aku bicara sembarangan saja. Kuharap kau tidak gusar"
Mendengar perubahan panggilan dari Thio Ngo hiap jadi
Thio Ngo ko, hati Coei San berdebar-debar semakin keras.
Tapi lain saat, ia segera menjernihkan pikiran dan
mengempos semangat untuk mengarahkan Lweekang.
Perlahan-lahan semacam hawa hangat naik dari perutnya
keatas dan lalu berkumpul dikedua lengan tangannya.
Selang beberapa saat, dari kepala pemuda itu keluar uap
putih, sedang keringatnya turun berketel-ketel, sebagai
tanda, bawwa ia tengah mengerahkan seluruh tenaga
dalamnya.
Bukan main rasa terima kasihnya So So, ia mengerti,
pada saat Coei San tak boleh diganggu maka ia pun segera
meramkan kedua matanya dan tidak berani mengeluarkan
sepatah kata.
Mendadak terdengar suara "plok". Sebatang piauw
melompat keluar kira-kira setombak jauhnya dan
menghantam dinding gubuk perahu, disusul dengan
mancurnya darah hitam dari lubang luka. Lengan yang
hitam itu perlahan-lahan berubah merah, Sesaat kemudian,
piauw kedua melompat keluar.
Selagi Coei San mengempos semangat untuk
mengeluarkan piauw yang terakhir sekonyong konyong
terdengar seruan orang: "Hei! Apa In Kouw nio ada disitu?"
Coei San heran, tapi karena sedang mengerahkan tenaga,
ia tidak menggubris.
"Siang Tay coe lekas kemari!" demikian terdengar
teriakan si tukang perahu. "Ada orang jahat mau
menganiaya In Kouwnio."
273
"Bangsat! Jangan kurang ajar!" demikian terdengar
teriakan menggeledek dari sebuah perahu yang sedang
mendatangi dengan cepatnya.
In So So membuka matanya dan bersenyum, dengan
paras seperti orang ingin meminta maaf untuk salah
mengerti itu.
Piauw yang ketiga ternyata masuk dalam sekali didaging
si nona, sehingga sesudah tigakali menggunakan seantero
tenaga dalamnya, senjata rahasia itu belum juga bisa
didesak keluar.
Sementara itu sesudah terdengar suara penggayu
memukul air sebuah perahu sudah datang dekat sekali.
Sesaat kemudian, perahu si nona bergoyang sedikit, karena
hinggapnya kaki manusia dipapan perahu. Tanpa
menengok, Coei San terus mengempos semangat.
Dengan tindakan lebar, orang itu masuk ke dalam gubuk
perahu. Melihat kedua tangan Thio Ngo hiap mencekal
lengan kiri si nona, ia tentu saja tidak menduga, bahwa
pemuda itu tengah mengobati luka In So So. Dengan
kegurasan meluap, ia mengangkat tangannya dan
menghantam punggung Coei San, "Bangsat! Lepaskan !"
bentaknya.
Coei San tidak menangkis. Sambil menarik nafas, ia
pasang punggungnya. "Bak!", pukulan itu kena tepat pada
sasarannya.
Sebagai salah seorang murid terutama dari Boe tong pay,
Lweekang Thio Coei San sudah mencapai tingkat tertinggi
dan ia memiliki juga kepandaian luar biasa.
Demikianlah, tanpa bergerak, dengan ilmu "meminjam
tenaga memindahkan tenaga", ia memindah kan tenaga
pukulan itu ketelapak tangannya sendiri. "Plok !", Bwee hoa
274
piauw yang ketiga melompat keluar dari lengan In So So
dan menancap di papan gubuk perahu!
Sesaat itu, orang yang nenyerang sudah mengirim
pukulan kedua. Ia terkesiap melihat akibat pukulannya
yang pertama, sehingga tangannya yang tengah menyambar
berhenti ditengah udara. "In Kouwnio! .. kau ... apa kau
terluka?" teriaknya.
Si nona tidak menyahut.
Sebagai seorang jago yang berpengalaman, begitu
melihat darah hitam yang mancur dari lengan si nona,
orang itu sudah mengerti, bahwa ia telah berbuat suatu
kehilafan. Ia merasa sangat menyesal dan menduga Thio
Coei San telah mendapat luka berat karena pukulannya itu
hebat luar biasa. Buru2 ia merogo saku dan mengeluarkan
obat untuk diberikan kepada pemuda itu.
Coei San menggelengkan kepala dan setelah melihat
darah hitam sudah berubah merah, perlahan2 ia
melepaskan lengan si nona. Ia menengok dan berkata
sambil tertawa: "Tenaga pukulanmu sungguh tidak kecil."
Orang itu kaget bukan main. Dengan pukulan serupa itu,
entah sudah berapa banyak jago2 binasa dalam tangannya
Sungguh heran, pemuda itu seperti juga tidak merasakan
apapun jua. Ia mengawasi dengan mulut ternganga dan
berkata dengan suara ter-putus2 "Kau...kau..." Ia
mengangsurkan tiga jari yang lalu ditempelkan kepada Coei
San.
"Biar aku main2 sedikit dengannya," pikir pemuda itu.
yang segera mengerahkan Lweekang dan jantungnya lantas
saja berhenti berdenyut serupa kepandaian yang hanya
dimiliki oleh seorang yang Lweekangnya sudah mencapai
puncak tertinggi.
275
Begitu menyentuh nadi Coei San, paras maka orang itu
berobah pucat karena nadi itu tidak mengetuk lagi. Dalam
kagetnya, ia meraba dada pemuda itu dan hatinya
mencelos, sehingga ia melompat kebelakang sambil
mengeluarkan seruan tertahan.
"In Kouwnio, apakah tuan ini sahabatmu ?" tanya Coei
San sambil tersenyum. "Mengapa kau tidak
memperkenalkannya kepadaku ?" Sambil berkata begitu, ia
menyambuti saputangan yang di sodorkan oleh In So So
dan lalu membalut luka dilengan nona itu.
Mendengar suara Coei San yang tidak berubah
sedikitpun jua, keheranan orang itu tak mungkin dilukiskan
lagi.
"Siang Tan coe, kau tak boleh kurang ajar!" membentak
si nona. "Inilah Thio Ngo hiap dari Boe tong pay."
Orang itu buru-buru memberi hormat dan berkata
dengan suara kagum "Aha. Kalau begitu Thio Ngo hiap
dari Boe tong Cit hiap! Tak heran jika Lweekangnya
sedemikian tinggi. Aku yang rendah Siang Kim Peng dan
aku memohon maaf untuk kekurang ajaranku."
Coei San mengawasi orang itu yang berusia kurang lebih
limapuluh tahun. Mukanya bopeng dengan otot-otot yang
menonjol keluar dari telapak tangannya lebar seperti kipas
sehingga selintas saja mengetahui, bahwa orang she Siang
itu adalah seorang ahli silat Gwa kee. Ia mengerti bahwa
jika lweekangnya belum sempurna betul, pukulan yang tadi
sudah pasti akan mengambil jiwanya sendiri.
Sesudah memberi hormat kepada pemuda itu. Siang Kim
Peng lalu menjalankan peradatan dihadapan In So So yang
menerimanya dengan sikap acuh tak acuh.
Coei San jadi sangat beran. Dari pukulan Siang Kim
276
Peng, ia tahu bahwa orang itu bukan sembarang orang.
Tapi mengapa In So So berani bersikap begitu kurang ajar
terhadapnya dan dia juga kelihatannya menerima baik sikap
dari si nona.
Di lain saat, Siang Kim Peng berkata dengan suara
perlahan: "Hian boe tan Pek Tan coe telah menjanjikan
orang-orang Hay see pay, Kie keng pang dan Hok kian Sin
koen boen untuk mengadakan partemuan besok pagi di
pulau Ong poan san dimulut sangai Can tong kang, guna
mengangkat senjata dan menetapkan keangkeran. Jika,
kesehatan nona agak terganggu, biarlah Siauw jin lebih dulu
mengantarkan nona pulang ke Lim an. Menurut
pendapatku, Pek Tan coe sudah lebih dari pada cukup
untuk membereskan segala urusan di Ong poan san."
So So mengeluarkan suara di hidung. "Hay-see-pay, Kie
keng -pang, Sin koen boen .... Hmmm .... Apakah Ciang
boen Jin Hoa koen boen Kwee Sam Koen, turut datang
juga?" tanyanya.
"Ya. Kudengar ia akan datang sendiri dengan mengajak
dua belas muridnya yang terutama," jawabnya.
Si nona tertawa dingin. "Meskipun nama Kwee San
Koen sangat cemerlang, tapi dia bukan tandingan Pek Tan
coe," katanya. "Siapa lagi yang bakal turut serta?"
Sesudah berdiam sejenak, barulah Siang Kim Peng
menjawab: "Menurut warta, dua orang Kiamkek (ahli silat
pedang) muda dari Koen loen pay juga akan menghadiri
pertemuan itu, untuk .. melihat To .. . To ... To ...." Ia
melirik Thio Coei San dan tidak meneruskan perkataannya.
"Mereka mengatakan mau lihat-lihat To liong to?" tanya
So so. "Hm .... mungkin .. sesudah melihat dalam hati
mereka timbul rasa serakah ....."
277
Mendengar perkataan "To liong to", Coei San terkejut,
tapi sebelum ia keburu membuka mulut untuk menanyakan
terlebih jauh, sinona sudah berkata pula:
"Hmmm......selama beberapa tahun ini, dalam Rimba
Persilatan, gelombang Tiangkang yang disebelah belakang
mendorong gelombang yang disebelah depan. Orang-orang
Koen loen pay tak dapat dipandang enteng. Luka
dilenganku tidak berarti. Begini saja. Aku akan turut pergi
kesitu untuk menonton keramaian. Mungkin sekali aku
akan perlu memberi bantuan kepada Pek Tancoe." Ia
berpaling kepada Thio Coei San dan menyambung
perkataannya: "Thio Ngohiap, disini saja kita berpisahan.
Aku menumpang di perahu Siang Tan coe dan kau sendiri
boleh menggunakan perahuku untuk kembali ke Lim an.
Boe tong-pay jangan kerembet dalam urusan ini."
"Terlukanya Samko agaknya bersangkut paut dengan To
liong to," kata Coei San. "Apakah nona dapat memberi
keterangan lebih jelas mengenai hal itu?"
"Seluk beluk kejadian itu tidak diketahui jelas olehku."
Jawabnya. "Kau harus tanya Samkomu sendiri."
Coei San mengerti, So So sungkan meberi keterangan
dan iapun tak mau mendesak lagi.
"Orang yang melukakan Samko sangat ingin memiliki
To liong to," katanya didalam hati.
"Menurut Siang Tan coe, pertemuan di Ong poan san
adalah untuk mengangkat senjata dan menetapkan
keangkeran. Apakah bisa jadi To Liong to berada dalam
tangan mereka? Jika benar begitu, orang-orang yang
mencelakakan Samko tentu juga turut datang kepulau itu"
Memikir begitu, ia lantas saja menanya: "Apakah Toosoe
yang menyerang kau dengan Bweehoa piauw akan turut
datang dipulau itu?"
278
So So tertawa sebaliknya dari menjawab pertanyaan
orang, ia balas menanya: "Kaupun ingin menonton
keramaian, bukan? Baiklah! Kita pergi bersama-sama." Ia
menengok kepada Siang Kim Peng dan berkata pula "Siang
Pangcoe, perahumu jalan duluan."
"Baik," jawabnya sambil membungkuk dan lalu berjalan
pergi, seperti caranya seorang pegawai terhadap
majikannya. Sinona hanya mengangguk sedikit, tapi Coei
San, yang menghargai ilmu silatnya orang itu, sudah
mengantarkarnya sampai dipintu gubuk perabu.
Sesudah itu, So So menggapai jurumudi seraya
membentak: "Kemari kau!" paras muka si tukang perahu
lantas saja berubah pucat dan tubuhnya menggigil. Ia
mengerti, bahwa tadi ia sudah berbuat kesalahan dengan
teriak-teriakannya dan sekarang ia akan mendapat
hukuman. Dengan bibir bergemetaran, ia berkata: "Siauw
.... siauwjin tidak sengaja ....... Mohon ..... mohon Kouw
nio sudi mengampuni .. ."
Sinona tidak menjawab, sehingga dia jadi lebih
ketakutan dan dengan sorot mata memohon pertolongan, ia
mengawasi Coei San, yang merasa sangat tidak mengerti
akan sikapnya itu. Bahwa jurumudi tersebut sudah
berteriak-teriak meminta pertolongan Siang Kim Peng,
adalah karena salah mengerti, karena ia menduga Coei San
mau mencelakakan So So. Tapi, teriakannya itu adalah
sebab kesetiaannya terhadap sinona. Mengapa ia sudah
begitu ketakutan?
Dilain saat, sinona berkata dengan suara kaku: "Matamu
tak ada bijinya, kupingmu tuli. Perlu apa kau mempunyai
mata dan kuping?"
Mendengar comelan itu, paras muka sijurumudi lantas
berubah girang, sebab ia tahu si nona sudah mengampuni
279
Jiwanya. Baru-baru ia menekuk lutut seraya berkata:
"Banyak terima kasih untuk kemurahan hati nona!" Hampir
berbareng, ia meraba pinggannya dan menghunus sebilah
pisau yang lalu digunakan untuk memotong kedua
kupingnya. Sesudah itu, ia mengangkat pisau itu tinggi
tinggi ditujukan kearah matanya!
Bukan main kagetnya Coei San. Bagaikan kilat
tangannya menyambar dan dua jirinya menjepit pisau itu
yang sedang meluncur turun ke mata si jurumudi. "In
Kauwnio," katanya. "Dengan memberanikan hati, aku
memohon belas kasihanmu,"
So So mengawasi kearah pemuda itu dan kemu dian
berkata dengan suara perlahan: "Baiklah." Ia menengok
pada si tukang perahu dan menyambung perkataannya:
"Lekas haturkan terimakasih pada Thio Ngohiap !"
Dengan tersipu-sipu, ia segera menekuk lutut dan
manggut manggutkan kepalanya berulang ulang kali
dihadapan Coei San dan kemudian berlutut lagi di hadapan
So So. Sesudah itu, ia mundur ke belakang dan dengan
suara nyaring memerintahkan ke anak buah perahu
menaikkan layar.
Sementara itu, Coei San berdiri membelakang So So dan
mengawasi air yang luas tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Di dalam hati, ia merasa heran, bagaimana seorang wanita
yang berparas begitu cantik mempunyai tangan begitu
kejam.
So So melirik pemuda itu dan melihat pakaiannya yang
pecah dibagian punggung karena pukulan Siang Kim Peng,
ia segera berkata: "Buka pakaianmu. Aku mau tambal."
"Tak usah!" kata Coei San.
"Kau kira aku tidak bisa menjahit?" tanya Si nona.
280
"Bukan begitu," kata pula pemuda itu dengan suara
pendek dan matanya tetap memandang ke tempat jauh.
Didalam hati, ingat kebinasaan yarg sangat menyedihkan
dari orang orarg Liong boen Piauw kiok. Tapi, sebaliknya
dari pada membunuh manusia yang begitu kejam, ia
malahan sudah menolongnya dengan mengeluarkan piauw
beracun. Biarpun pertolongan itu adalah untuk membalas
budi orang yang sudah membantu Soehengnya, akan tetapi,
sepak terjangnya tetap tidak dapat dibenarkan dan ia
merasa bahwa dalam tindakannya itu, ia tidak bisa
membedakan yang jahat dan yang baik.
Diam diam ia mengambil keputusan, bahwa begitu lekas
pertemuan dipulau Ong poan san sudah selesai, ia akan
berpisahan dengan nona itu untuk selama-lamanya.
Melihat paras muka Coei San yang suram, So So lantas
saja dapat menebak apa yang dipikirnya. Ia tertawa dingin
dan berkata: "Bukan saja Touw Tay Kim, Ciok dan Soe
Piauw tauw, bukan saja semua orang dari Liong boen
Piauw kiok dan dua pendeta Siauwlim itu, tapi Hoei hong
pun dibunuh olehku,"
"Aku memang sudah mencurigai kau, hanya aku tidak
tahu cara bagaimana kau membunuhnya?" kata Coei San.
"Tak usah heran" kata sinora. "Waktu itu aku merendam
didalam air dan mendengari pembicaraan kamu. Sesudah
didesak olehmu, tiba-tiba Hoei hong merasa, bahwa muka
kita memang berbeda, tapi sebelum ia keburu mengaku, aku
mendahului melepaskan sebatang jarum kedalam mulutnya.
Kau coba mencari aku digombolan pohon dan rumputrumput
tinggi, tapi aku sendiri enak-enak merendam diair"
"Sebagai akibat dari perbuatanmu itu, pihak Siauw lim
menuduh aku," kata Coei San dengan mendongkol. "In
Kouwnio, kau sungguh pintar dan tanganmu benar—benar
281
lihay."
So So berlaga pilon. Ia bangun berdiri dan berkata sambil
membungkuk : "Terima kasih Thio Ngohiap memuji aku
terlalu tinggi."
Coei San jadi semakin gusar. "In Kouwnio!" bentaknya.
"Aku seorang she Thio belum pernah berbuat kesalahan
apapun jua terhadapmu. Tapi mengapa kau sudah begitu
tega mencelakakan aku ?"
So So bersenyum. "Aku bukan ingin mencelakakan kau,"
katanya dengan suara tenang "Mengapa aku sudah berbuat
begitu ? Siauwlim dan Boe tong adalah dua partai persilatan
yang sangat besar dan ternama. Aku hanya ingin mereka
bertempur nntuk menyaksikan siapa sebenarnya yang lebih
kuat."
Mendengar pengakuan sinona, Coei San terkejut.
Sedikitpun ia tak nyana wanita cantik itu mempunyai
tujuan yang begitu hebat "Kalau Siauw Lim dan Boe tong
sampai bertempur entah berapa banyak korban yang akan
rubuh dan kejadian itu bakal merupakan suatu peristiwa
hebat dalam Rimba Persilatan," pikirnya.
Paras sinona sendiri tetap berseri-seri dan sambil
menggoyang-goyangkan kipasnya, ia berkata: "Thio
Ngohiap, bolehkah kulihat tulisan dan lukisan dikipasmu?"
Sebelum Coei San keburu menjawab, diperabu Siang
Kim Peng se konyong konyong terdengar suara teriakan:
"Apa perahu Kie keng pang? Siapa yang berada diperahu?"
"Siauw pang coe dari Kie keng pang ingin menghadiri
pertemuan dipulau Ong poan san."
"In Kouw nio dan Coe ciak tan Siang Tan coe berada
disini" teriak seorang dari perahu Siang Kim peng. "Kalian
diharap mengikuti saja dari belakang."
282
"Jika Peh bie kauw In Kauw coe sendiri yang berada
disitu, kami bersedia untuk mengalah," jawab seorang
dengan suara keras. "Kalau orang lain, maaf saja."
Mandeagar perkataan "Peh bie kauw In Kauw coe," Coei
San kaget, karena ia belum pernah mendengar nama agama
(kauw) itu, baik dari gurunya, maupun dari luaran. Ia
melongok keluar jendela dan dilihatnya disebelah kanan
terdapat sebuah perahu yang bentuknya menyerupai seekor
ikan paus. Dikepala perahu terlihat sinar putih yang ber
kilau kilauan karena dipasangnya puluhan pisau sebagai
gigi ikan, sedang badan perahu yang melengkung dan
buntutnya yang mengacung keatas berbentuk seperti buntut
ikan paus. Layar perahu sangat lebar dan jalannya perahu
itu lebih cerat daripada perahu Siang Kim Peng.
Kie keng pang (partai Ikan Paus Raksasa) adalah sebuah
perkumpulan bajak laut yang berkeliaran disepanjang pantai
propinsi, Kangsouw, Ciatkang dan Hokkian. Mereka
membajak, membunuh dan melakukan lain-lain perbuatan
terkutuk, tapi sebegitu jauh, karena licinnya, mereka belum
dapat ditumpas oleh angkatan laut negeri dan selama
puluhan tahun mereka malang melintang diperairan lautan
Tong hay.
Siang Kim Peng segera maju dan berdiri dikepala
perahu. "Bek Siauw pangcoe," teriaknya.
"In Kouwnio berada disini. Apakah kau sungkan
memberi sedikit muka kepada kami ?"
Dari gubuk perahu Kie keng pang muncul seorang
pemuda yang mengenakan pakaian warna kuning. Ia
tertawa dingin seraya berkata: "Didaratan, Peh bie kauw
boleh menjagoi, diair Kie keng pang yang memegang
kekuasaan. Mengapa kami mesti mengalah dan
membuntuti kamu dari belakang ?"
283
Medengar pembicaraan mereka, Coei San juga merasa,
bahwa cara-cara Peh bie kauw terlalu sombong.
Sementara itu, anak buah Kie keng pang sudah
menaikkan lagi sebuah layar, sehingga jalannya perahu jadi
semakin laju, dengan begitu jadi sukar dapat diubar lagi.
Siang Kim Pang mengeluarkan suara dihidung.
"Kie kong pang ...... hm ..... To Liong to ..... juga ..... To
liong to ......" demikian terdengar perkataannya. Karena
suara angin yang menderu deru dan jarak antara kedua
perabu sudah agak jauh, maka Bek Siauw pang coe hanya
dapat menangkap perkataan "To liong to." Ia kelihatan
kaget dan buru-buru memerintahkan anak buahnya
memperlambat jalan perahu. Beberapa saat kemudian,
perahu Siang Kim Peng sudah mendekati.
"Siang Tan coe, apa kau kata ?" tanya pemuda itu.
"Bek Siauw pang coe . . . Hian boentan Pek Tan coe
kami ...... golok To liong to itu...." jawab Siang Kim Peng.
Coei San merasa heran karena ter putus-putusnya
jawaban Siang Kim Peng.
Sementara itu, kedua perahu sudah jadi semakin makin
dekat. Tiba-tiba terdengar suara gedubrakan disusul dengan
teriakan orang. Ternyata diluar dugaan semua orang,
dengan mendadak Siang Kim Peng mengangkat jangkar
dan melontarkannya keperahu Kie keng pang.
Suara rantai dan mencangkolnya jangkar diperahu Kie
keng pang dibarengi dengan jeritan kesakitan dan ada orang
anak buah perahu. (peep: ????)
"Hai! Apa kau gila?" bentak Bek Siauw pang coe.
Anak buah Siang Kim Peng buru-buru mengangkat
sebuah jangkar lain yang lalu dilemparkan lagi keparahu
284
Kie keng pang dan dua buab jangkar itu telah mengambil
jiwanya tiga orang anak buah. Dilain saat, kedua perahu
hampir berdampatan. Bek Siauw pang coe melompat
kepinggir perahu dan coba mengangkat salah sebuah
jangkar. Tapi sebelum ia berhasil, Siang Kim Peng sudah
mengayun tangan kanannya dan serupa benda warna biru
yang menyerupai buah semangka
menghantam tiang layar tengah. Benda itu, yang terbuat
daripada baja, adalah salah sebuah dari sepasang sanjata
Siang Kim Peng yang berantai emas dan digunakan sebagai
bandringan. "Semangka" itu adalah senjata berat yang
dipegang ditangan kiri sembilanpuluh lima kati beratnya.
sedang yang ditangan kanan seratus lima kati. Dari situ
dapatlah dibayangkan, betapa hebat tenaga orang she Siang.
Jika tak mempunyal tenaga ribuan kati, ia pasti tidak akan
dapat menggunakan senjata seberat itu.
Begitu dihatam dengan "semangka" kanan, tiang layar
itu bergoyangagoyang. "Semangka" kiri menyusul dan
disusul pula dengan "Semangka" kanan.
"Krek....krek....krek.... brak!" Tiang yang kasar itu tak tahan
dan patah. Keadaan jadi terlebih kalut dengan anak buah
Kie keng pang ber teriak-teriak, sambil menghunus senjata.
Tanpa mempedulikan segala kekacauan itu Siang Kim
Peng melompat kebelakang parahu itu dan menghantam
tiang layar belakang. Tiang itu banyak lebih kecil dan sekali
dihajar, lantas saja ambruk.
Pek Siauw pang coe sebenarnya mempunyai kepandaian
tinggi. Senjatanya dinamakan Hoensoen Go bie cek,
sepasang pusut yang panjangnya kirakira satu kaki dan
sangat cocok untuk digunakan dalam pertempuran didalam
air. Tapi dalam kaget dan bingungnya, sebelum ia keburu
berbuat suatu apa, Siang Kim Peng yang bergerak luar biasa
cepat, sudah mematahkan dua tiang layarnya.
285
"Dengan adanya Peh bie kauw, diatas airpun Kie keng
pang tak mempunyai kekuasaan," teriak orang she Siang itu
sambil melontarkan sebuah "semangka" kelambung perahu
musuh yang lantas saja ber lubang besar dan air mengalir
masuk. Anak buah Kie keng pang jadi semakin bingung.
Dengan mata merah Bek Siauw pang coe mencabut
pusutnya dan dengan sekali menotol kaki di depan perahu,
badannya melesat keperahu musuh.
Selagi tubuh pemuda itu berada ditengah udara tiba-tiba
Siang Kim Peng melontarkan senjatanya kemuka pemuda
itu. Serangan itu yang dikirim secara mendadak dan kejam
mengejutkan sangat sekali. Hati Bek Siauwpangcoe.
"Celaka" teriaknya sambil menotok "semangka" itu dengan
kedua pusutnya dalam usaha melompat balik dengan
meminjam tenaga tersebut. Jika ilmu mengentengkan
badannya bersamaan dengan ilmu Thio Coei San, bukan
saja ia akan dapat mengelakkan serangan itu, tapi ia juga
bisa balas menyerang. Tapi dalam segala hal, dia masih
kalah jauh dari jago Boe tong pay itu.
"Semangka" yang beratnya seratus kati, ditambah dengan
tenaga Siang Kim Peng sendiri, terlalu hebat untuk
dilawannya. Tiba-tiba ia merasa dadanya menyesak,
matanya berkunang-kunaug dan tanpa ampun ia rubuh
terguling diatas perahunya.
Begitu lawannya rubuh, Siang Kim Peng segera
menghantam pula dengan kedua "semangka" dan badan
perahu Kie keng pang lantas saja berlubang dibeberapa
tempat. Sesudah itu, sambil mengerahkan Lweekang, is
menarik pulang kedua jangkar yang mencantol di perahu
musuh. Tanpa diperintah lagi oleh Tan Coe mereka anak
buah perahu Peh bie kauw lantas saja menaikkan layar dan
perahu itu perlahan-lahan mulai bergerak, tapi sebentar
kemudian melaju kedepan dengan amat cepatnya.
286
Melihat cara Siang Kim Peng merubuhkan musuh,
jantung Thio Coei San bardebar keras, "Jika tak
mempunyai kepandaian meminjam tenaga memindahkan
tenaga, tadi aku tentu sudah binasa dalam tangannya. "
pikirnya. Ia melirik In So So yang bersikap tenang-tenang
saja, seolah-oah tidak terjadi kejadian luar biasa.
Tiba-tiba disebelah kejauhan terdengar suara guruh.
itulah tanda, bahwa air pasang sedang mendatangi.
Walaupun anak buah Kie keng pang pandai berenang,
mereka tak nanti dapat melawan gelombang pasang yang
seperti gunung. Bahaya yang dihadapi mereka lebih besar
lagi, karena pada waktu itu, mereka berada dimuara tempat
ber temunya sungai dan lautan, sehingga lebarnya
permukaan sungai sampai puluhan li. Maka itulah, begitu
mendengar guruh, anak-anak Kie keng pang ketakutan
setengah mati dan berteriak-teriak minta pertolongan, tapi
perahu Siang Kim Peng dan In So So tidak meladeni dan
terus berlayar kejurusan timur
Coei San melongok keluar jendela dan melihat Perahu
ikan paus itu sudah tenggelam separuh. Mendengar
teriakan-teriakan anak buah perahu ia sebenarnya merasa
sangat tidak tega tapi karena mengetahui bahwa Siang Kim
Peng dan In So So adalah manusia-manusia kejam, ia
merasa tak guna membuka mulut.
Melihat paras pemuda itu, si nona bersenyum.
Mendadak ia berseru "Siang Tan coe, hati Thio Ngohiap
sangat mulia. Tolonglah anak buah perahu kie keng pang !"
Coei San terkejut, sebab hal itu benar-benar diluar
dugaannya.
"Baik !" teriak Siang Kim Peng. Dilain saat perahunya
membelok dan menuju ke perahu Kie keng pang.
"Anggauta- anggauta Kie keng pang dengarlah!" teriak
287
Siang Kim Peng," Atas permintaan Thio Ngohiap dari Boe
tong pay, kami bersedia untuk menolong jiwamu. Siapa
yang mau hidup, berenanglah kemari!"
Anak buah Kie keng pang jadi girang dan berburu
berenang kearah perahu Siang Kim Peng yang memapaki
mereka. Dalam tempo tidak berapa lama, hampir semua
orang, terhitung juga Bek Siauw pangcoe, sudah dapat
ditolong. Tapi biarpun begitu, ada enam tujuh orang yang
mati dipukul ombak.
"Terima kasih untuk pertolongananmu!" kata Coei San.
Sinona mengeluarkan suara dihidung dan berkata
dengan suara tawar: "Orang-orang itu adalah Bajak-bajak
yang biasa merampok dan membunuh, perlu apa kau
menolong mereka ?"
Coei San tergugu, tak dapat ia menjawab pertanyaan si
nona. Ia memang sudah dengar, bahwa Kie keng pang
adalah salah satu dari empat "pang" yang jahat dan ia pun
tak pernah menduga, bahwa hari ini ia berbalik menolong
kawanan bajak yang kejam itu.
"Kalau mereka tidak ditolong didalam hati Thio
Ngohiap pasti akan mencaci maki aku," kata pula si nona.
"Kau tentu akan mencaci aku sebagal perempuan kejam
yang tidak pantas ditolong."
Perkataan itu mengenakan jitu dihati Coei San, sehingga
paras muka pemuda itu lantas saja berubah merah: "Kau
memang pandai bicara dan aku tidak dapat menandingi,"
katanya sambil tertawa. "Dengan menolong orang-orang
itu, kau telah melakukan perbuatan baik dan kau sendirilah
mendapat pembalasan baik. Dengan aku sedikitpun tiada
sangkut pautnya."
Baru saja ia berkata begitu, tibalah gelombang pasang.
288
Perahu In So So seperti juga dilontarkan keatas dan mereka
tak dapat bicara lagi. Coei San melongok keluar jendela dan
melihat gelombang gelombang besar dalam bentuk seperti
tembok tembok tinggi mendatangi dengan saling susul. Ia
bergidik karena mengingat, bahwa jika tidak ditolong
semua anak buah perahu Kie keng pang pasti binasa
didalam air.
Mendadak si nona bangun berdiri, masuk kegubuk
perahu yang disebelah bekakang dan lalu menutup pintu.
Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi dengan mengenakan
pakaian wanita dan memberi isyarat dengan gerakan
tangannya, supaya Coei San membuka jubah luarnya.
Karena merasa kurang enak untuk menolong lagi, ia lalu
membuka jubahnya. Ia menduga si nona ingin menambal
bagian yang berlubang dari jubah itu. Tapi tak dinyana, So
So lalu mengangsurkan jubahnya sendiri yang tadi dipakai
olehnya, sedang jubah Coei San lalu dibawanya kegubuk
belakang.
Mau tak mau, Coei San terpaksa memakai juga. Karena
jubah luar biasanya dibuat dalam ukuran besar, maka
meskipun tubuh pemuda itu lebih besar daripada badan si
nona, ia masih dapat menggunakannya. Dilain saat,
jantungnya memukul keras, sebab hidungnya mengendus
bebauan yang sedap dan wangi. Ia merasa jengah dan tidak
berani memandang lagi si nona. Karenanya matanya
ditujukan kepada lukisan-lukisan yang dipasang didinding
gubuk, tapi hatinya tetap berdebar-debar. In So So pun tidak
mengajak bicara lagi dan duduk diam sambil mendengar
suara gelombang. Datam gubuk ini dipasang sebatang lilin.
Mendadak sebagai akibat hantaman gelombang, perahu
miring dan lilin padam. "Celaka!" Coei San mengeluh
dalam hatinya.
"Biarpun aku sopan, tapi dengan berdiam berdua-dua
289
ditempat gelap, name baik In Kauwnio bisa ternoda." Buruburu
in bangun berdiri dan membuka pintu belakang, akan
kemudian pergi ketempat jurumudi yang dengan tenang
mengemudikan parahu itu kealiran bawah.
Kurang lebih satu jam kemudian air pasang mulai surut
dan air keluar lagi kelautan, sehingga dengan menurut
aliran air, perahu itu laju semakin cepat. Pada waktu fajar
menyingsing pulau Ong poan san sudah berada didepan
mata.
Pulau itu, yang terletak dimulut sungai Ciantong kang,
dalam perairan lautan Tonghay adalah sebuah pulau kecil
yang tandus dan tiada penduduknya. Waktu kedua perahu
itu berada dalam jarak beberapa kali, dari atas pulau tibatiba
terdengar suara terompet dan dua orang kelihatan
menggoyang-goyangkan dua bendera hitam. Waktu perahu
datang lebih dekat, Coei San mendapat kenyataan bahwa
bendera hitam itu berpinggir putih dengan sulaman kurakura
terbang.
Dibawah kedua bendera itu berduduk seorang tua, begitu
lekas perahu menepi, lantas saja berseru : "Hian boen tan
Pek Kwie Sioe menyambut In Kauw nio dengan segala
kehormatan." Suaranya keras, tapi kedengarannya sangat
menusuk kuping. Sehabis berseru begitu si kakek sendiri
memasang papan untuk pendaratan. In So So
mempersilahkan Coei San jalan lebih dulu dan sesudah
mereka mendarat, ia segera memperkenalkan, pemuda itu
kepada Pek Kwie Sioe.
Mendengar pemuda itu adalah salah seorang dari Boe
tong Cit hiap, Pek Kwie Sioe terkejut. "Sudah lama aku
mendengar nama besar dari Boe tong Cit hiap," "katanya.
"Aku merasa sangat beruntung, bahwa dihari ini aku dapat
bertemu muka dengan Thio Ngohiap."
290
Thio Coei San segera menjawab dengan perkataanperkataan
merendahkan diri.
"Hai! Kalian berdua pandai sekali bicara manis-manis,"
kata In So So. "Di hati lain, dimulut lain. Didalam hati,
yang satu berkata: "Celaka. Orang Boe tong pay turut
datang kesini dan tambah lagi satu lawan lihay yang mau
merebut To liong to. Yang lain berpikir Huh! Manusia apa
kau ? Anggauta dari agama yang menyeleweng. Tak sudi
aku bersahabat denganmu. Menurut pendapatku, lebih baik
kalian bicara saja terang-terang. Jangan main berpura pura."
Pek Kwie Sioe tertawa terbahak-bahak.
"Tidak, aku tidak memikir begitu," kata Coei San. "Aku
yakin, bahwa Pek Tan coe memiliki ke pandaian yang
sangat tinggi. Ilmu mengirim suara sangat mengagumkan.
Kedatanganku disini hanyalah menemani In Kouwnio
untuk menonton ke ramaian dan sedikitpun aku tidak
mempunyai niatan untuk turut dalam perebutan golok
mustika."
Mendengar perkataan pemuda itu, In So So me rasa
girang sekali.
Pek Kwie Sioe mengenal nona In sebagai wanita yang
berhati kejam dan tak pemah berlaku manis2 terhadap
siapapun jua. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, ia
menyaksikan sikap yang luar biasa halus dari sinona
terhadap Thio Coei San, sehingga ia segera mengetahui,
bahwa Son So sudah jatuh hati kepada pemuda yang
tampan itu. Selain begitu, ia juga merasa senang mendengar
pujian yang diberikan Coei San dan rasa permusuhannya
terhadap pemuda itu lantas saja hilang.
"In Kouw nio," katanya sambil tersenyum, "orang orang
Hay See Hay dan Sin koen boen sudah datang semua.
Disamping mereka, terdapat juga dua pemuda dari Koen
291
loan pay. Lagak mereka agak sombong dan berbeda jauh
dengan Thio gohiap yang tenama besar....hm...,Memang
orang yang benar-benar berkepandaian tinggi tidak banyak
tingkah"
Baru ia berkata sampai disitu, dibelakang bukit
mendadak terdengar bentakan: "Hai! Perlu apa kau
membusuki nama orang dibelakangnya? Apa itu perbuatan
seorang laki-laki ?"
Berbareng dengan bentakan itu, dari belakang bukit dua
pemuda usia dua puluh tahun lebih yang bertubuh kurus
dan mengenakan jubah panjang wama kuning, sedang
dipunggung mereka terselip sebatang pedang. Mereka
menghampiri dengan paras muka menyeramkan.
Pek Kwie Sioe tertawa nyaring, dan berkata dengan
suara tenang: "Aha! Baru menyebut nama Co Coh, Co Coh
lantas saja datang. Mari, mari aku memperkenalkan
kalian."
Kedua Kiamtek (ahli pedang) Koen loan pay itu
sebenamya sudah mau mengunjuk kegusaran mereka, tapi
begitu melihat kecantikan So So mereka tertegun. Yang satu
mengawasi sinona dengan mulut ternganga, yang lain
melengos, tapi diam-diam melirik berulang ulang.
Sambil menunjuk pemuda yang tengah mengawasi So
So, Pek Kwie Sioe berkata: "Yang ini adalah Ko Cek Sang
Tay kiamkek." Ia menengok kearah yang lain dan
menyambung perkataannya : "Yang itu Chio Tauw
Taykiamkek. Mereka berdua adalah pentolan-pentolan
Koen loen pay. Nama Koen loan pay telah menggetarkan
wilayah Barat dan dalam Rimba Persilatan, semua orang
merasa kagum akan tingginya ilmu silat Koen loan. Maka
itu, Ko dan Cio Taykimkek juga pasti memiliki kepandaian
yang lain dari pada yang lain. Kali ini, dari tempat jauh
292
mereka datang di Tionggoan dan mereka pasti akan
memperlihatkan kepandaian istimewa supaya kita semua
bisa menambah pengalaman.
Mendengar perkataan itu yang dikeluarkan nada
mengejek, Coei San menduga, bahwa kedua pemuda itu
akan segera menghunus senjata, atau sedikitnya, akan
membalas dengan kata-kata tajam. Tapi diluar dugaan,
mereka hanya manggut-manggut, tanpa mengeluarkan
sepatah kata. Setelah mengawasi muka merah, baru Coei
San tahu sebab musababnya. Mereka teryata seperti orang
linglung karena dipengaruhi dengan kecantikan In So So.
Coei San merasa geli. "Nama Koen loan pay tersohor
dikolong langit dan dikenal sebagai malaikat dalam ilmu
silat pedang," pikimya "Sungguh sayang murid-muridnya
yang datang kemari adalah manusia-manusia rendah."
Tapi sebenamya, meskipun Ko Cok Sang dan Chio
Tauw beradat sombong, mereka bukan manusia rendah
yang gemar dengan paras cantik. Yang menjadi soal ialah
karena memang So So terlalu cantik dan memiliki sifat-sifat
seperti besi barani, yang dapat membetot semangat orang.
Dengan mengingat, bahwa mereka adalah manusia
manusia biasa, apapula usia mereka masih begitu muda,
maka sikap yang menggelikan itu dapat dikatakan jamak.
Sementara itu, Pek Kwie Sioe berkata pula: "Yang itu
adilah Thio Coei San Siangkong dari Boe tong pay, yang ini
nona In So So, sedang yang itu Siang Kim Pang Tan coe
dari agama kami."
Mendengar perkataan Pek Kwie Sioe, So So merasa
sangat girang. Bahwa si kakek hanya menggunakan istilah
"Siangkong" ( tuan ) dan tidak menggunakan lagi perkataan
"Thio Ngohiap", merupakan petunjuk, bahwa ia
menganggap Coei San seperti orang sendiri. Sambil
293
bersenyum, si nona melirik pemuda itu dengan sorot mata
menyinta.
Melihat sikap So So terhadap Coei San, Ko Cek Song
yang beradat kasar saja meluap darahnya dan tidak dapat
menyembunyikan lagi rasa jelusnya. "Chio Soetee," katanya
dengan suara tawar, "di See hek, kita seperti pemah
mendengar, bahwa Boe tong pay adalah sebuah partai yang
tulen dalam Rimba Persilatan diwilayah Tionggoan."
"Benar. akupun seperti pemah mendengar begitu" jawab
adik seperguruannya.
"Tapi kita mendengar tidak sama dengan melihat
sendiri," kata pula Ko Cek Sang "Pendengaran itu tidak
dapat dipercaya."
"Dalam kalangan Kangouw memang banyak sekali
tersiar desas desus yang tidak boleh dipercaya,"
menyambung Cio Tauw. "Ko Soeheng, apa artinya
perkataanmu itu?"
"Murid dari partai persilatan yang tulen bagaimana bisa
bercampur gaul dengan orang-orang dari Sia kauw (agama
yang menyeleweng)?" jawabnya, "Bukankah kejadian itu
sangat menurunkan namanya partai yang sangat cemerlang
itu?"
Dalam menyindir Thio Coei San, mereka tak pernah
mimpi, bahwa In So So pun seorang dari Peh bie kauw.
Mereka hanya mengetahui, bahwa yang menjadi anggauta
agama itu hanya Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang.
Coei San meluap darahnya, tapi segera juga ia mendapat
pikiran lain. Ia ingat, bahwa kedatangannya dipulau Ong
poan san adalah untuk menyelidiki musuh yang telah
mencelakakan Jie Thay Gam, sehingga ia tak boleh
merusak tujuannya sendiri dengan mengumbar napsu
294
amarah. Ia juga ingat, bahwa biarpun berusia lebih tinggi
dari padanya, kedua Kiamkek Koen loen pay itu adalah
orang orang tidak tenama yang baru menceburkan diri
kedalam dunia Kangouw. Maka itu, tak pantas ia
meladeninya. Di samping itu, iapun mengakui, bahwa Peh
bie kauw memang suatu agama yang menyeleweng dan In
So So serta Siang Kim Pang adalah manusia-manusia kejam
yang dapat membunuh sesama manusia seperti orang
menyuap nasi. Ia memang sudah mengambil putusan untuk
tidak bergaul terus dengan orang itu.
Memikir begitu, ia lantas saja tersenyum seraya berkata:
"Dengan orang-orang Peh kie kauw, aku pun baru
berkenalan, tidak berbeda dengan kedua Jin heng."
Keterangan itu mengherankan hatinya semua orang,
kecuali si nona sendiri, Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Pang
pun semula menduga, bahwa persahabatan antara nona In
dan Coei San sudah berjalan lama. In So So sendiri merasa
sangat mendongkol. Ia mengerti, bahwa dengan berkata
begitu, Coei San memandang rendah kepada Peh bie kauw.
Ko Cek Sang dan Chio Tauw saling mengawasi dengan
senyuman mengejek. Mereka menganggap, bahwa Coei San
sudah jadi ketakutan karena mendengar nama Koen loan
pay.
"Kecuali Bek Siauw pangcoe, semua tetamu sudah tiba,"
kata Pek Kwie Sioe. "Kita tak usah menunggu ia. Sekarang
kalian boleh jalan-jalan di pulau ini secara bebas dan
sebentar tengah hari, harap kalian suka datang dilembah
untuk minum arak dan melihat golok mustikaku."
Siang Kim Pang tertawa. "Perahu Bek Siauw pangcoe
mendapat kerusakan dan atas permintaan Thio Siangkong,
mereka telah ditolong," ia menerangkan. "Sekarang Siauw
pangcoe itu berada dalam perahuku. Sebentar kita boleh
mengundangnya untuk menghadiri pertemuan"
295
Biarpua kedua Tan coe itu bersikap sangat hormat dan
walaupun In So So memperlihatkan kecintaannya, Coei
San sudah mengambil keputusan untuk menjauhkan diri.
Maka itu, ia segera berkata: "Siauwtee ingin jalan-jalan
sendiri," tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan
kearah sebuah hutan di sebelah timur.
Kecuali bukit-bukit dan hutan-hutan kecil. di Pulau itu
tidak ada pemandangan yang berharga. Disebelah tenggara
terdapat sebuah pelabuhan di mana berlabuh belasan
perahu, yaitu perahu-perahu para tetamu. Sambil
menunduk Coei San berjalan disepanjang pantai dan
sembari berjalan ia mengasah otak. Ia merasa sangat tidak
puas dengan kekejaman dan sepak terjang In So So, tapi
sungguh heran, hatinya seperti juga dibetot betot dan tak
dapat melupakan nona yaag cantik itu.
"Tak dapat disangkal lagi, In kauwnio mempunyai
kedudukan yang sangat tinggi dalam Peh bie kauw,"
pikirnya. "Pek Tancoe dan Siang Tancoe menghormatinya
seperti juga ia seorang puteri. Tapi sudah terang ia bukan
Kauw coe. Siapa dia?"
Dilain saat, ia berkata pula didalam hatinya: "Dalam
pertemuan ini yang dihimpunkan oleh Peh bie kauw, partaipartai
lain telah mengirim wakil-wakilnya yang paling
jempolan. Tapi Peh bie kauw sendiri hanya mengutus
seorang Tan coe, seolan-olah mereka tidak memandang
sebelah mata kepada pihak lawan. Dari gerakangerakannya,
kepandaian Pek Tancoe berada di sebelah atas
Siang Tancoe. Dilihat begini, Peh bie kauw sungguhsungguh
tidak boleh dipandang enteng. Biarlah hari ini aku
menyelidiki asal usul mereka, Mungkin sekali di kemudian
hari Boe tong Cit hiap akan bertempur mati-matian dengan
mereka." Selagi memikir begitu, tiba tiba ia dengar suara
beradunya senjata di luar hutan.
296
Ia heran dan lalu menuju kearah suara itu.
Jauh-jauh ia lihat Ko Cek Seng dan Chio Tauw sedang
berlatih pedang dengan ditonton oleh In So So. "Soehoe
sering mengatakan, bahwa kiam sut (ilmu pedang) Koen
loen pay lihay bukan main dan diwaktu masih muda, beliau
pernah bertempur dengan seorang pentolan Koen loan pay
yang ber gelar Kiam Seng (Nabi pedang)," pikirnya:
"Kesempatan untuk menyaksikan ilmu pedang itu sebenarbenarnya
tidak boleh disia-siakan. Akan tetapi, menurut
peraturan Rimba persilatan, jika orang sedang berlatih silat,
orang tidak boleh mencuri lihat." Sebagai murid dari sebuah
rumah perguruan yang terhormat, Coei San sungkan
melanggar peraturan itu, sehingga oleh karenanya, biarpun
didalam hati ia sangat kepingin menonton, tetapi sesudah
melihat beberapa kali, ia segera memutar badan dan
berjalan pergi.
Diluar dugaan, baru satu dua tindak, ia telah dilihat In
So So yang sambil menggapai-gapai, lantas saja berteriak :
"Thio Ngoko, kemari!"
Coei San tahu, bahwa jika tidak menghampiri, ia bisa
dicurigai sebagai orang yang benar sudah mencuri lihat
latihan pedang itu. Maka itu, ia lantas saja mendekati
seraya berkata : "Kedua Heng tay tengah berlatih dan tak
pantas kita berdiam disini lama-lama. Mari kita pergi
ketempat lain."
Sebelum sinona keburu menjawab,mendadak berkelebat
sinar pedang dan "brett !" pedang Chio tauw telah
menggores lengan kiri Ko Cek Sang yang lantas saja
mengucurkan darah.
Coei San terkejut, ia duga Chio Tauw kesalahan tangan.
Tapi ia lebih kaget lagi, karena tanpa mengeluarkan sepatah
kata dan dengan paras muka merah padam, Ko Cek Seng
297
mengirim tiga serangan beruntun yang sangat hebat dan
ditujukan kearah bagian-bagian tubuh yang membinasakan.
Sekarang baru ia tabu, bahwa kedua orang itu bukan
berlatih, tapi sedang bertempur sungguhan.
In So So tertawa dan berkata : "Dilihat begini, sang
Soeko belum dapat menandingi siadik. Menurut
pendapatku ilmu Chio heng lebih unggul sedikit."
Mendengar perkataan itu, sambil bergertak gigi, Ko Cek
Seng memutar tubuh dan menyabet dengan pedangnya
dalam pukulan Pek tiang hoe po (Air tumpah beratus
tombak panjangnya). Pedang itu menyambar dari atas
kebawah, seolah-olah turunnya air tumpah. Dengan
menggunakan seantero kelincahannya, Chio Tauw coba
mundur kebelakang, tapi pedang Ko Cek Seng tiba-tiba
berubah arah dan dengan satu suara "brett !," ujung pedang
mengenakan jitu dibetis kirinya.
Sinona tertawa geli dan menepuk nepuk tangan.
"Aha ! Kalau begitu sang Soeheng mempunyai ilmu
simpanan!" teriaknya "Kali ini Chio heng yang kalah."
"Belum tentu !" bentak Chio Tauw dengan gusar sambil
menyerang dengan pukulan Ie tehhoei hoa (Hujan
menghantam bunga yang beterbangan). Pedangnya
menyambar nyambar dalam gerakan miring kadang-kadang
diseling dengan tikaman lurus. Sebagai murid Koen loen
pay, Ko Cek Seng tentu saja paham dalam ilmu pedang itu
dan tanpa sungkan sungkan lagi iapun segera membuat
serangan serangan membalas. Mereka berdua sudah samasama
terluka dan biarpun tidak berbahaya, dalam
perterpuran, darah mereka beterbangan kian kemari,
sehingga muka, tangan dan pakaian mereka penuh dengan
noda darah. Semakin lama mereka terus bertempur semakin
sengit dan ahirnya mereka saling tikam mati-matian, seolah
298
olah sedang berhadapan deagan musuh besar,
Dilain pihak, In So So saban-saban tertawa dan
menepuk-nepuk tangan, sebentar ia memuji yang satu,
sebentar memuji yang lain.
Sekarang Coei San mengerti, bahwa bertempurnya kedua
saudara seperguruan itu adalah karena gara-gara sicantik,
yang rupanva sudah menjalankan siasat adu domba, karena
mendongkol atas ejekan mereka terhadap Pak bie kauw.
Sesudah mengawasi beberapa lama, ia berpendapat, bahwa
meskipun mereka cukup paham dalam ilmu pedang,
perubahan perubahan pedang masih kurang cepat den
Lweekang merekapun masih belum cukup tinggi.
"Thio Ngoko," kata sinona dengan suara gembira.
"Bagaimana pendapatanmu dengan Kiang hoat Koen loan
pay ?"
Coei San tidak menjawab. Ia mengerutkan alis seperti
orang sebal. Melihat begitu, So So lantas saja berkata :
"Sudahlah ! begitu-begitu juga. Aku pun sudah merasa
sebal. Mari kita pergi kesitu untuk menikmati pemandangan
langit." Sehabis berkata begitu ia menarik tangan kiri Coei
San dan berjalan pergi.
Jantung Coei San berdebar keras. Ia merasa tangan nya
dicekal dengan tangan yang empuk halus, sedang
hidungnya mengendus bebauan yang sangat wangi. Ia
mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, So So sengaja ingin
membangkitkan rasa jelus dan guramnya kedua murid
murid Koen loen pay itu. Karena merasa tak enak untuk
melepaskan tangannya, tanpa menneluarkan sepatah kata,
ia segera mengikuti.
Mereka berdiri ditepi laut sambil memandang air yang
seakan-akan tiada batasnya. Beberapa saat kemudian, So So
mendadak berkata: "Dalam kitab Congcoe dibagian Chioe
299
soei pian terdapat kata kata begini: Air dikolong langit tak
ada yang lebih besar dari pada lautan. Laksana sungai
mengalir kedalam laut. Entah kapan sungai-sungai itu
berhenti mengalir dan tidak memenuhkan lautan. Tapi Sang
laut sedikitpun tidak jadi sombong dan hanya berkata: Aku
berada diantara langit dan bumi seperti juga sebutir batu
atau satu pohon kecil yang tumbuh disebelah gunung yang
besar. Setiap kali membaca kitab itu, aku mengagumi Cong
coe (Chuang tze) tidak habisnya, karena dari tulisan-tulisan
tersebut, ia sungguh sungguh seorang
berjiwa besar"
Mendengar perkataan sinona Coei San kaget. Ia merasa
tak puas melihat cara-cara nona In yang sudah mencari
kesenangan dengan mengadu domba kan orang. Sedikitpun
ia tidak nyana, bahwa memedi perempuan yang dapat
membunuh manusia tanpa berkesip, dapat mengutip katakata
dari kitab Cong coe.
Kitab Cong coe adalah sebuah kitab yang mesti dibaca
dan dipelajari oleh murid-murid agama Too kauw. Waktu
masih berguru di Boe tong sn, ia dan saudara-saudara
seperguruannya sering sekali mendengar penjelasanpenjelasan
Thio Sam Hong mengenai isi kitab itu.
Demikianlah dalam rasa kaget dan herannya, tanpa
merasa ia segara berkata: "Benar. Ribuan li jauhnya, tak
dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat dikatakan
dalam."
Dendengar Coei San mengutip kitab Congcoe untuk
melukisan besarnya dan dalamnya lautan, sedang pada
muka pemuda itu terlihat paras penuh penghormatan,
sinona segera berkata : "Apakah kau ingat Soehoemu ?"
Coei San terkesiap, tanpa merasa ia mengangsurkan
tangan kanannya dan'mencekal tangan sinona yang satunya
300
lagi. "Bagaimana kau tahu apa yang dipikir olahku?"
tanyanya dengan suara heran.
Hal ini mempunyai latar belakang seperti berikut:
Dulu waktu berada digunung Boe tong san, pada suatu
hari ia bersama-sama Song Wan Kiauw dan Jie Thay Giam
membaca kitab Congcoe. Sesudah membaca "Ribuan li
jauhnya, tak dapat dikatakan besar, ribuan kaki tak dapat
dikatakan dalam", Jie Thay Giam berkata: "Dalam berguru
dengan Soe hoe, semakin lama belajar, aku merasa semakin
berbeda jauh dengan kepandaian beliau, seperti juga,
sebaiknya daripada maju, kita mundur setiap hari menurut
pendapatku, kata-kata Cong coe itu adalah yang paling
tepat untuk melukiskan kepandaian Soehoe yang tak dapat
diukur berapa dalamnya."
Mendengar perkataan saudara itu, Wan Kiauw dan Coei
San memanggut manggutkan kepalanya.
Itulah sebab musabab mengapa begitu mengutip katakata
itu, ia lantas saja ingat gurunya yang tercinta.
"Dengan melihat paras mukamu, aku segera mengetahui,
bahwa jika bukan ingat kedua orang tuamu, kau tentu ingat
gurumu," jawab si nona. "Oleh karena dalam dunia ini
hanyalah Thio Sam Hong seorang yang surup untuk
dilukiskan dengan perkataan itu, maka aku segera menduga
pasti, bahwa yang diingat olehmu adalah Soehoemu."
"Kau sungguh pintar," kata Coai San dengan suara
kagum. Sesaat itu, tiba-tiba ia sadar, bahwa kedua
tangannya sedang mencekal kedua tangan si nona. Paras
mukanya lantas saja berubah merah dan buru-buru ia
melepaskannya.
"Apakah kau boleh memberitahukan kepadaku, berapa
tingginya ilmu silat gurumu?" tanya So So.
301
Pemuda itu tidak lantas menjawab. Sesudah memikir
sejenak baru ia berkata. "Ilmu silat adalah ilmu yang tidak
begitu penting. Apa yang diajar dari beliau bukan terbatas
pada ilmu silat saja. Hai! Luas dan dalam ... entah
bagaimana aku harus menceriterakannya."
Sinona tersenyum seraya berkata: "Hoecoe bertindAk,
aku turut bertindak. Hoecoe berjalan, aku turut berjalan.
Hoecoe lari aku turut lari. Tapi begitu lekas Hoecoe lari
cepat, biarpun mengikuti sebisa-bisanya, aku tetap
ketinggalan jauh" (Hoe coe berarti guru, tapi disini
dimaksudkan Khong coe atau Khongfusius).
Mendengar sinona mengutip kata-kata pujian Gan Hwee
(murid Khongcoe ) terhadap Khongcoe, Coei San lantas
saja berkata: "Tapi guruku tak usah lari keras. Sekali ia
berjalan atau lari pelan pelan, kami sudah tidak dapat
mengikutinya." Dari perkataan itu dapatlah diketahui,
bahwa pemuda itu sangat memuja gurunya
Demikianlah, dengan duduk berendeng diatas sebuah
batu besar, kedua orang muda itu merunding kan ilmu surat
dan iimu silat secara panjang lebar dan mendalam.
Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi dan sangat
cerdas, In So So selalu dapat menimpali Coei San dalam
omong-omong itu.
Tiba-tiba terdengar suara tindakan dan batuk batuk,
disusul dengan suara orang: "Thio Siangkong, In Kouwnio,
Ngo sie (tengah hari) sudah tiba. Harap kalian suka pergi
ketempat perjamuan."
Coei San menengok dan melihat Siang Kim Peng berdiri
dalam jarak belasan tombak dan mengawasi mereka dengan
bersenyum. Dari paras mukanya, ia kelihatan merasa
kagum dan girang melihat dua sejoli yang setimpal itu.
Menurut kebiasaan, In So So sombong dan kurang ajar jika
302
berhadapan dengan orang-orang sebawahannya. Tapi kali
ini, dengan muka kemerah merahan ia menundukkan
kepala.
Siang Kim Peng lantas saja memutar badan dan berjalan
lebih dulu dengan tindakan lebar.
"Aku jalan lebih dulu," bisik sinona.
Coei San tak mengerti, tapi ia lantas saia mengangguk.
In So So lantas saja berlari lari dan berjalan berandeng
dengan Siang Kim Peng. "Bagaimana dengan kedua bocah
tolol dari Koen loen itu ?" demikian terdengar pertanyaan si
nona.
Coei San mengawasi mereka dengan perasaan sukar
dilukiskan dan kemudian, sesudah mereka terpisah jauh,
barulah ia mengikuti dengan tindakan perlahan.
Begitu tiba dimulut lembah, ia lihat tujuh delapan meja
persegi disebidang tanah lapang rumput. Kecuali meja
utama disebelah timur, semua meja sudah penuh orang.
Melihat kedatangan Coei San, Siang Kim Peng segera
bangun berdiri dan berteriak dengan suara nyaring: "Thio
Ngohiap dari Boe tong pay". Hampir berbareng, Pek Kwie
Sioe juga bangun dari tempat duduknya dan kemudian
dengan masing-masing diikuti oleh lima orang Hio Coe
kedua Tan coe itu meninggalkan meja perjamuan untuk
menyambut tamu yang baru datang itu. Duabelas orang itu
berdiri berjejer dikedua pinggir dan menyambut sambil
membungkuk.
"Hian boe tan Pek Kwie Sioe dan Ciak tan Siang Kim
Peng yang berada dibawab perintah In Kauw coe dan Peh
bie kauw, menyambut kedatangan Thio Ngohiap!" seru Pek
Kwie Sioe dengan suara nyaring, In So So sendiri tidak
meninggalkan meja, tapi ia turut bangun sendiri.
303
Mendengar kata-kata "In Kauw coe." hati Coei San
berdebaran. "Kalau begitu, kepala agama Peh bie kauw
benar seorang she In," katanya didalam hati. Segera ia
menangkap kedua tangannya dan berkata: "Tak berani aku
menerima kehormatan yang begitu besar." Begitu datang
dekat meja-meja perjamuan ia mendapat kenyataan, bahwa
semua orang mengawasinya dengan paras mendongkol. Ia
merasa heran, tapi tidak memperdulikan.
Yang menjadi sebab dari perasaan mendongkol itu
adalah karena kedatangan pemimpin-pemimpin Hay see
pay, Kie keng pang dan Sin koen boen hanya disambut oleh
seorang Hio coe dan tidak mendapat kehormatan seperti
yang didapat oleh jago Boe tong pay itu. Keruan saja
mereka merasa dihina, tapi kejadian itu tidak diketahui
Coei San.
Dengan sikap hormat Pek Kwie Sioe mengantarkan
pemuda itu kemeja utama disebelah timur dan mengundang
supaya dia duduk disitu. Dimeja itu, yang mempunyai
kedudukan paling mulia, hanya terdapat sebuah kursi. Coei
San menyapu seluruh gelanggang perjamuan dengan
matanya dan is mendapat kenyataan, bahwa dilain-lain
meja berduduk tujuh delapan orang, hanya dimeja keenam
berduduk dua orang, yaitu Ko Cek Seng dan Chio Tauw.
"Aku yang rendah adalah seorang muda yang
berkepandaian cetek," katanya dengan suara nyaring.
"Tidak berani aku duduk dimeja utama itu."
"Dalam Rimba Persilatan, Boe tong pay merupakan
gunung Thay san atau bintang Pak tauw," kata Pek Kwie
Sioe. "Kalau Thio Ngohiap yang namanya menggetarkan
seluruh negara tidak berani duduk, siapa lagi yang berani
duduk disitu ?"
Tapi Coei San yang selalu diajar oleh gurunya untuk
304
merendahkan diri, tetap menolak.
Sementara itu, Ko Cek Seng dan Chio Tauw saling
memberi isyarat dengan lirikan mata. Tiba tiba Chio Tauw
mengangkat kursinya dan melontarkannya kearah meja
utama. Antara meja yang didudukinya dan meja utama itu
terdapat lima belas meja lain. Dengan menggunakan
Lweekarg yang tepat. kursi itu terbang diatas kepala para
tamu dan hinggap disamping kursi utama. Begitu lekas
Chio Tauw memperlihatkan kepandaiannya, Ko Cek Seng
segera berseru : "Huh huh ! Thaysan .....Pak tauw ! Siapa
yang mengangkat Boe tong pay menjadi Thaysan Pak tauw?
Jika si orang se Thio tidak berani duduk disitu, biarlah kami
berdua yang menggantikannya." Bersama Soetee nya, ia
segera melompat kemeja utama itu.
Bagaimana kedua saudara seperguruan jadi bertempur
dan sesudah bertempur mati-matian, mereka akur kembali ?
Tadi, sesudah barkenalan, dalam kedongkolannya
karena kedua pemuda itu sudah mengejek Peh bie kauw, In
So So segera menanya siapa di antara mereka berdua yang
ilmu pedangnya terlebih tinggi dan mengatakan, bahwa ia
ingin sekali mempelajari beberapa pukulan dari Koenloen
Kiamhoat. Kedua pemuda itu yang sudah dirubuhkan oleh
kecantikan si nona, lantas saja menghunus pedang.
Semula mereka hanya ingin memperlihatkan keunggulan
dalam sebuah latihan, tapi semakin lama mereka jadi
semakin sengit dan ditambah dengan ejekan-ejekan So So,
akhirnya mereka jadi bergempur mati-matian dan keduaduanya
terluka.
Belakangan, sesudah si nona dan Coei San
meninggalkan mereka sambil bergandengan tangan, barulah
mereka tersadar dan menghentikan pertempuran itu.
Dengan rasa malu dan gusar, mereka membalut luka, tapi
305
mereka tak berani mengunjuk kegusaran terang-terangan
kepada nona In.
Demikianlah, mereka sekarang ingin merebut kursi yang
ditawarkan kepada Coei San untuk menghina pemuda itu
dihadapan orang banyak.
"Tahan!" bentak Siang Kim Peng sambil merentang
tangannya.
Ko Cek Seng segera mengangkat tangannya untuk
menotok jalan darah dilengan Kim Peng.
Tapi sebelum ia turun tangan, Coei San sudah
mendahului berkata: "Jie wie berdua memang paling cocok
duduk di sini," kata Coei San. "Biarlah aku duduk disitu."
Sambil berkata begitu, ia berjalan kemeja keenam.
"Thio Ngoko, kemari! " seru In So So sambil menggapai.
Coei San segera mendekati, karena menduga si nona
ingin berbicara dengannya. Tapi diluar dugaan, So So
menarik sebuah kursi dan menaruhnya di samping
kursinya. "Kau duduk disini saja." katanya sambil
tersenyum.
Coei San jengah bukan main dan untuk sejenak ia tak
tahu harus berbuat bagaimana. Kalau duduk disitu, ia
merasa malu. Kalau menolak, penolakan itu merupakan
hinaan besar untuk sinona.
"Aku ingin bicara denganmu," bisik SoSo.
Melihat sorot mata memohon dari sinona, Coei San
merasa tak tega untuk menolak dan lantas saja duduk
dikursi itu. Nona In jadi sangat girang dan sambil
bersenyum-senyum, ia menuang secawan arak.
Di lain pihak melihat duduknya Coei San di samping
nona In, walaupun sudah berhasil merebut kedudukan
306
utama, Kok Cek Seng dan Chio Tauw jadi semakin
medongkol. Pada sebelum mereka duduk dikedua kursi itu,
Pek Kwie Sioe menyelak dan mengebut-ngebut kursi itu
dengan menggunakan tangan bajunya. "Memang pantas
Taykiamkek dari Koen loen pay duduk dikursi utama,"
katanya sambil tertawa. "Duduklah." Sehabis berkata
begitu, dengan bersama Siang Kim Peng dan sepuluh Hio
coe, ia segera kembali ke tempat duduknya.
Dengan anggapan bahwa mereka sudah berhasil
menindih lawannya, Ko Cek Seng dan Chio Tauw segera
duduk dikedua kursi itu. Tapi berbareng dengan suara
"krekek", kaki kursi patah dan mereka rubuh terjengkang.
Untung juga, sebagai ahli-ahli silat, begitu rubuh, begitu
mereka melompat bangun. Tak usah dikatakan lagi, mereka
malu bukan main, lebih-lebih karena para hadirin tertawa
terbahak-bahak. Ko Cek Seng mengerti, bahwa patahnya
kaki kursi adalah karena perbuatan Pek Kwie Sioe yang
mengerahkan Lwee-kang pada waktu mengebut-ngebut
dengan tangan bajunya. Ia yakin, siorang she Pek telah
menggunakan tenaga Im kin (tenaga dingin) yang tidak
dipunyakan olehnya sendiri. Ia adalah seorang yang
sombong dan sama sekali tidak memandang mata kepada
Peh bie kauw yang dianggapnya sebagai agama
menyeleweng.
Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa dalam Peh bie
kauw terdapat orang yang berkepandaian sedemikian tinggi.
Sementara itu, dengan suara tawar Pek Kwie Sioe
berkata pula: "Semua orang tahu, bahwa ilmu silat Koen
loen pay lihay luar biasa. Akan tetapi, janganlah Jie wie
menumplek hawa marah kepada kursi itu. Ilmu yang
barusan diperlihatkan Jie wie, aku yakin dimiliki oleh
semua orang yang hadir disini." Ia menuding kepada
sepuluh orang Hiocoe yang duduk dimeja paling ujung,
307
Hampir ber bareng, diiringi dengan suara "krekek-krekek",
sepuluh kursi patah kakinya dan sepuluh Hio coe itu
bangun berdiri dengan sikap tenang.
Sekali lagi para hadirin bersorak sorai, sedang paras
muka kedua jago Koen loen pay jadi pucat bagaikan mayat.
Diantara sorakan tiba tiba dua orang Hio coe
menghampiri meja utama dengan masing-masing
mendukung sebuah batu besar. "Kursi kayu tidak cukup
kuat untuk diduduki oleh kalian," kata satu antaranya "Jie
wie duduklah dibatu ini"
Kedua Hio coe itu adalah orang kuat dalam Peh bie
kauw. Ilmu silat mereka biasa saja, tapi mereka memiliki
tenaga yang luar biasa.
Ko Cek Seng dan Chio Tauw kaget bukan main.
Meskipun mereka berkepandaian tinggi ilmu ilmu pedang,
mereka merasa tak sanggup menyambuti batu yang
beratnya kira-kira tujuh ratus kati itu, "Taruhlah." kata Ko
Cek Seng.
"Huh !' kedua orang kuat itu mengerahkan tenaganya
dan mengangkat tinggi-tinggi kedua batu itu. "Sambutlah !"
kata mereka.
Kedua jago Koenloen itu terkesiap. Dengan serentak
mereka melompat kebelakang.
"Jika Jie wie Koenloen Kiam kek tak mau duduk di meja
utama, biarlah Thio Siang ong saja yang duduk di situ,"
kata Pek Kwie Sioe.
Mendengar perkataan itu, Coei San yang sedang kelelap
dalam lautan asmara mendadak tersadar. "Celaka !" ia
mengeluh. "Tak boleh aku membiarkan diriku dijatuhkan
oleh memedi perempuan ini," Ia lantas saja bangun berdiri
dan menghampiri meja utama.
308
Dalam mengundang Coei San untuk duduk di meja
utama, Pek Kwie Sioa beminat menjajal kepandaian
pemuda itu, yang dipuji tinggi oleh Siang Kim Pang, tapi
belum disaksikan olehnya sendiri. Maka itu, begitu lekas
Coei San menghampiri, ia segera memberi isyarat kepada
kedua Hio coe itu dengan lirikan mata.
"Thio Siangkoan, hati-hati!" teriak kedua Hio coe itu
waktu Coei San sudah datang cukup dekat dan sambil
membentak keras, dengan berbareng mereka melontarkan
kedua batu itu yang lantas saja terbang kekepala Coei San.
Semua hadirin terkesiap dan serentak mereka bangun.
berdiri. Dilain pihak, melihat terbangnya kedua batu besar
itu, Pek Kwie Sioe yang hanya ingin mencoba kepandaian
pemuda itu dan pada hakekatnya tidak mempunyai maksud
kurang baik, lantas saja merasa menyesal, tercampur takut.
Ia yakin, bahwa sebagai seorang ahli silat, pemuda itu
masih dapat menyelamatkan diri dengan melompat
mundur. Akan tetapi, kejadian itu adalah kejadian yang
sangat memalukan, sehingga bukan saja Coei San, tapi In
So So pun bisa menjadi gusar.
Sebagai seorang kejam, sesaat itu juga ia sudah
mengambil keputusan, bahwa ia akan menumplek semua
kesalahan diatas pundak kedua Hio coe itu dan jika perlu, ia
akan membinasakan mereka supaya bisa meloloskan diri
dari kegusaran nona In.
Melihat menyambarnya batu, Coei San pun terkejut. Jika
ia melompat mundur, seperti Ko Cek Sang dan Chia Tauw,
ia merasa sangat malu karena hal ini sangat menurunkan
pamornya Boe tong pay. Pada detik yang sangat genting, ia
tak sempat memikir panjang-panjang lagi. Pada saat
berbahaya, semua tenaga dan ilmu dari seorang yang
pandai silat bisa keluar secara wajar. Demikianlah, tanpa
dipikir lagi, tangan kirinya mengebas kekanan batu yang
309
menyambar dari sebelah kiri dengan pukulan huruf "boe"
(persilatan) sedang tangan kanannya mengebas kekiri batu
yang menyambar dari sebelah kanan. Seperti telah
dikatakan, berat setiap batu tak kurang dari tujuh ratus kati,
sehingga, ditambah dengan tenaga jatuhnya dari atas
kebawah, maka tenaga menindih dari setiap batu tidak
kurang dari seribu kati.
Dalam mempelajari ilmu silat, Coei San belum pernah
mengutamakan latihan untuk memperbesar tenaga,
sehingga jika diukur dengan tenaga yang dimilikinya, ia
pasti tak akan dapat menyambuti kedua batu itu. Akan
tetapi, ilmu silat Tnio Sam Hong yang berdasarkan Soe
hoat adalah ilmu silat yang sangat luar biasa.
Pada hakekatnya, ilmu silat dari Boe tong pay tidak
mengutamakan tenaga atau kecepatan memukul. Yang
dipelajari yalah ilmu mengeluarkan tenaga pada saat yang
tepat dengan gerakan dan kekuatan tenaga yang tepat pula.
Pada jaman belakangan, dalam kitab Thay kek Koen keng,
Ong Cong Gak, seorang ahli Boe tong pay telah ne
nyebutkan pukulan Sie nio Po cian kin (tenaga empat tahil
melontarkan barang yang beratnya ribuan kati). Dengan
lain parkataan, jika tenaga yarg dikirim sesuai dengan
"peraturan", maka tenaga empat tahil akan dapat
melontarxan barang yang beratnya ribuan kati.
Demikianlah dengan menggunakan ilmu silat yang
paling tinggi dari gurunya, Coei San berhasil melontarkan
kedua batu besar itu yang menyambar kepalanya
Apa yang telab mengejutkan para hadirin yalah ia
seolah-olah melemparkan kedua batu itu dengan tangan
bajunya, karena kedua tangannya bersembunyi didalam
tangan baju yang besar. Kejadian itu adalah sedemikian
mengejutkan, sehingga semua orang hanya mengawasi
dengan mulut terngaga dan lupa untuk bersorak sorai lagi.
310
Dilain saat, kedua batu itu melayang turun ke muka
bumi, yang satu lebih tinggi, yang lain lebih rendah.
Dengan sekali menotol kakinya di tanah, badan Coei San
meleset keatas dan ia lalu bersila diatas batu yang lebih
tinggi. Dengan suara gedubrakan hebat, sehingga bumi
tergetar, batu pertama ambruk dibumi dan separuhnya
amblas di dalam tanah dan dilain detik, batu kedua jatuh
tepat diatas batu pertama dan waktu kedua batu itu beradu,
lelatu api muncrat keatas.
Dengan paras tenang, Coei San tetap duduk di batu yang
sebelah atas. "Tenaga kedua Hio coe sungguh besar."
katanya sambil bersenyum. "Aku merasa kagum dan
takluk." Tapi kedua Hio coe itu masih tetap mengawasi
dengan mata membelalak, tanpa dapat mengeluarkan
sepatah kata.
Beberapa saat kemudian, dilembah yang sunyi itu
barulah bergema sorak sorai gegap gempita.
In So So mengawasi Pek Kwie Sie dengan mata melotot,
tapi paras mukanya berseri-seri. Sekarang Pek Kwie Sie
kegirangan. Ia mengerti, bahwa ke cerobohannya yang
hampir-hampir menerbitkan onar, berbalik merupakan
keuntungan bagi dirinya.
Sesudah menuang secawan arak, ia segera menghampiri
Thio Coei Sin dan berkata dengan suara nyaring: "Sudah
lama kami mendengar nama besar Boe tong Cit hiap, tapi
baru sekarang kami melihat kepandaian Thio Ngohiap.
Betapa besar rasa kagum kami tak dapat dilukislan lagi.
Izinkan siauwjin memberi selamat kepada Thio Siang kong
dengan secawan arak ini." Sehabis berkata begitu, ia minum
kering arak itu.
Coei San lantas saja turut minum dan menjawab dengan
kata-kata merendahkan diri.
311
Tiba-tiba dari meja Kie keng pang bangun berdiri
seorang lelaki yang mengenakan baju kuning. "Menurut
pendapatku, ilmu silat Thio Ngohiap yang sangat tinggi
adalah soal kedua." teriaknya. "Yang paling mengagumi
adalah hatinya yang mulia, berbeda jauh dengan manusia
manusia rendah yang barhati jahat dan biasa menggunakan
siasat busuk. Aku juga ingin memberi selamat kepada Thio
Ngohiap dengan secawan arak." Sehabis berkata begitu, ia
minum kering secawan arak yang dipegangnya.
Orang itu bukan lain daripada Bek Siauw pangcoe yang
kemarin telah ditolong dengan perahu Siang Kim Pang atas
permintaan Coei San. Sambil membungkuk pemuda itu
mengangkat cawan araknya seraya berkata: "Tak berani aku
menerima pujian yang begitu tinggi. Aku pun ingin balas
memberi hormat kepada Bek Siauw pangcoe dengan
secawan arak ini." ia hirup araknya sampai kering.
Sesudah suasana berubah tenang kembali, perlahanlahan
Pek Kwie Sioe bangun berdiri dan berkata dengan
suara nyaring : "Belum lama berselang, agama kami telah
mendapatkan golok mustika yang dikenal sebagai To liong
to.... Mengenai golok itu, dalam Rimba Persilatan tersiar
kata kata yang, seperti berikut : Boelim cie-coen, poto To
Liong, hauw leng thian hee, boh kam poet-ciong!" Berkata
sampai disitu, ia berhenti sejenak dan kedua matanya yang
bersinar terang menyapu para hadirin.
"Sesudah memperoleh golok mustika itu, In Kauw coe
dari agama kami sebenarnya ingin mengundang orangorang
dikolong langit untuk mengadakan sebuah pertemuan
besar di gunung Heng San guna memperlibatkan golok itu
kepada dunia," katanya pula. "Akan tetapi menghimpun
pertemuan besar itu meminta banyak tenaga dan tempo,
sehingga oleh karenanya pemimpin kami telah mengambil
keputusan untuk mengundang saja kalian yang berada
312
ditempat-tempat yang berdekatan supaya kalian dapat turut
melihat macamnya golok mustika itu." Sehabis berkata
begitu, ia mengebas tangannya dan delapan orang murid
Peh bie kauw lantas saja bangun berdiri dan berjalan
menuju kesebuah gua yang terletak disebelah barat.
Semua mata mengawasi delapan orang itu yang
mendapat tugas untuk mengambil To liongto. Tapi waktu
mereka keluar lagi, yang dibawa mereka, bukan golok, tapi
satu hanglo (tempat perapian) besi yang sangat besar
dengan api yang berkobarkobar. Mereka memikulnya
dengan menggunakan pikulan kayu yang sangat panjang
dan dengan napas tersengal-sengal, meraka menaruh hanglo
itu di tengah-tengah lapangan. Di belakang mereka
mengikuti empat orang, dua menggotong sebuah bantalan
besi dan dua orang lagi maisng-masing membawa sebuah
martil raksasa
"Siang Tan coe," kata Pek Kwie Sioe, "harap kau suka
memperhatikan golok mustika itu untuk menetapkan
keangkeran!"
"Baiklah." kata Siang Kim Peng sambil berpaling dan
berkata kepada Hio coe yang tadi melontarkan batu kepada
Coei San, "Ambil golok mustika itu !"
Mereka lantas saja masuk kedalam guha dan keluar lagi
dengan seorang menyangga sebuah bungkusan sutera
kuning dengan kedua tangannya, sedang seorang lain
melindungi di sampingnya. Hio coe itu lalu menyerahkan
bungkusan tersebut kepada Siang Kim Peng dan kemudian
berdiri dikiri kanannya. Dengan sikap hormat, Siang Kim
Peng jalu membuka bungkusan yang didalamnya berisi
sebatang golok. Dengan kedua tangan ia mengangkat tinggitinggi
golok itu yang kemudian dihunusnya. "Golok ini
adalah To liong to yang sangat dihormati dalam Rimba
Persilatan!" teriaknya. "Kalian boleh melihatnya dengan
313
teliti."
Nama besar To liong to sudah lama dikenal dalam dunia
Kang ouw. Akan tetapi, melihat macamnya golok itu yang
biasa saja dan warnanya kehitam-hitaman, semua orang
menjadi sangsi. Apa benar golok itu To liong to yang
dikagumi dalam Rimba Persilatan ?
Perlahan-lahan Siang Kim Peng turunkan golok itu dan
menyerahkannya kepada Hio coe yang berdiri disebelah
dirinya. "Gunakanlah martil!" ia merintah.
Hio coe itu lalu menyambuti golok tersebut yang lalu
ditaruh diatas bantalan besi dengan mata golok menghadap
keatas Hio coe yang disebelah kanan segera mengangkat
martil dan menghantam nya kemata golok. "Trang!" dan..,
"loh!" Kepala martil terpapas putus jadi dua potong.
Separuh jatuh ditanah dan separuh lagi masih menempel
digagang martil
Itulah kejadian yang sungguh luar biasa. Semua orang
terkesiap dan dengan serentak mereka bangun berdiri.
Bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat senjata mustika
yang dapat memapas baja atau emas, bukan kejadian
langka.
Tapi senjata yang dapat memapas besi yang begitu besar
seperti memapas tahu, benar-benar belum pernah didengar
mereka. Seorang dari Sin koen boen dan seorang dari Kie
keng pang segera menghampiri bantalan besi itu dan
menjemput potongan martil yang jatuh di tanah. Ternyata,
bagian yang terpapas berkilat-kilat, sebagai tanda baru saja
dipapasnya.
Sementara itu, dua orang Hio coe yang lain sudah
mengangkat martil yang satunya lagi yang lalu
dihantamkan kemata golok. Seperti juga tadi, dengan
mengeluarkan suara "tring", kepala martil terpapas pula.
314
Kali ini semplaknya martil itu disambut dengan tampik
sorak riuh.
Perlahan-lahan Siang Kim Peng mendekati bantalan besi
itu dan mengangkat To liong to. Kemudian, dengan
gerakan To pek Hwa san (Menghantam gunung Hwa san),
ia membabat bantalan besi itu yang lantas saja kutung dua.
Sesudah itu, sambil menenteng golok, ia berjalan ke sebelah
barat dan dengan kecepatan kilat, menjambret dahan satu
pohon siong tua dengan golok itu. Dengan beruntunruntun,
ia membabat delapan belas pohon siong,
Para hadirn merasa sangat heran, karena meskipun
terang-terangan sudah dibabat putus, pohon-pohon itu
masih tetap berdiri tegak.
Pek Kwie Sioe tertawa nyaring dan dengan tangan
bajunya, ia mengebas pohon yang pertama. Dengan suara
gedubrakan, pohon itu. sebatas yang telah terbacok, rubuh
diatas tanah. Teryata, memang dengan sekali membabat
saja, dahan pohon itu sudah menjadi putus. Tapi karena To
liong to tajam luar biasa, maka biarpun dahannya putus
pohon itu masih tetap berdiri dan barulah tumbang sesudah
didorong oleh Pek Kwie Sioe, sesudah merubuhkan pohon
pertama, Pek Tan coe lalu mengebas pohon-pohon lainnya
yang juga lantas saja rubuh dengan mengeluarkan suara
keras.
Sesudah itu, sambil tertawa terbahak-bahak Pek Kwie
Sioe mengambil Toliong to dari tangan Siang Kim Peng
dan lalu memasukkannya kedalam hanglo yang apinya
sedang berkobar-kobar.
Pada waktu pohon-pohon sedang rubuh dikebas Pek
Kwie Sioe, tiba-tiba disebelah kejauhan terdengar suara
"peletak peletok" dan gedubrakan yang beruntun-runtun,
seperti juga seorang lain sedang merubuhkan lain-lain
315
pohon. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng terkejut dan
mereka segera mengawasi kearah suara itu. Mereka jadi
lebih kaget lagi, karena teryata, bahwa tiang-tiang dari
perahu perahu yang berlabuh dipantai, rubuh satu demi
satu. Pada tiang-tiang itu tergantung bendera bendera Peh
bie kauw, Kie keng pang, Hay see pay dan Sin koen boen.
Semua orang lantas saja turut memandang kearah itu.
Keruaan saja mereka jadi gusar bukan main dan beberapa
pemimpin, dengan mengajak sejumlah orang
sebawahannya, lantas saja berlari-lari kepantai untuk me
nyelidiki.
Mendadak, jago-jago yang berkumpul dilapangan itu
melihat lain perubaban yang lebih mengagetkan. Satu demi
satu, perahu mereka mulai tenggelam. Rombongan kedua,
yang terdiri dari beberapa partai, lantas saja menyusul
kepantai. Jarak antara pelabuhan dan lapangan rumput itu
tidak terlalu jaub, tapi rombongan penyelidik pertama, yang
terdiri dari belasan orang, tidak kelihatan balik kembali.
Semua orang saling mengawasi dengan perasaan sangsi.
Sambil menengok kepada seorang Hio coe Pek Kwie Sioe
berkata: "Coba kau pergi lihat." Sesudah orang itu pergi,
dengan sikap tenang yang di buat-buat, ia berkata pula:
"Mungkin sekali di-lautan terjadi perubahan luarbiasa,
Tuan-tuan tak usah terlalu berkuatir. Andaikata semua
perahu rusak, kita masih bisa pulang dengan getek-getek
kayu. Mari! Keringkan cawan !"
Walaupun hati mereka bergoncang keras, tapi supaya
tidak dikatakan bernyali kecil, jago-jago itu terpaksa
mengangkat juga cawan mereka. Tetapi baru saja cawan
menenpel di bibir, tiba-tiba terdengar teriakan menyayatkan
hati, seperti juga jeritan orang yang melompat bangun
dengan paras muka pucat. Mereka itu rata-rata manusiamanusia,
yang sudah biasa membunuh sesama manusia.
316
Tapi sekarang mereka jadi ketakutan karena terjadinya
perkembangan luar biasa dan suara jeritan itu yang sangat
menyeramkan. Pek Kwie Sioe dan Siang Kim Peng segera
mengenali, bahwa itulah teriakan Hio coe yang barusan
diperintah pergi menyelidiki. Di lain saat, sekonyongkonyong
terdengar bunyi tindakkan kaki dan seorang yang
bagaikan mandi darah mendatangi de gan berlari lari.
Orang itu bukan lain dari pada Hio coe tadi.
Dengan kedua tangsnnya, ia menekap mukanya yang
bercucuran darah, kulit kepalanya terbeset, pakaiannya
robek-robek dan berlepotan darah. Begitu berhadapan
dengan suara bergemetar ia berkata : "Kim mo Say ong !
.Kim mo Say ong ..." (Kim mo Say ong 'Raja singa bulu
emas".
"Singa?" menegas Pek Kwie Sioe dengan hati lebih lega
karena menduga, bahwa yang menyerang adalah seekor
binatang buas.
"Bukan...bukan...." jawab Hio coe itu, "Manusia, bukan,
bukan singa. Semua orang dicakar sampai mati.... semua
perahu tenggelam !"
Sehabis berkata begitu, ia tidak dapat mempertahankan
diri lagi dan rubuh binasa diatas tanah "Coba aku yang
menyelidiki," kata Pek Kwie Sie.
"Aku ikut," kata Siang Kim Peng.
"Tidak, kau harus melindungi In Kouwnio," cegah Pek
Kwie Sioe, yang mengerti bahwa sekarang ia sedang
menghadapi lawan yang sangat tangguh. Hio coe yang tadi
diperintah pergi menyelidiki, adalah salah seorang yang
ilmu silatnya paling tinggi dalam kalangan Pek bie kauw.
Bahwa dia telah dibinasakan secara begitu mudah,
merupakan suatu tanda, bahwa pihak lawan adalah seorang
yang lihay bukan main. Siang Kim Peng tidak membantah
317
lagi dan sambil mengangguk, ia menjawab "ya."
Mendadak tardengar suara batuk-batuk, diikuti dengan
suara bicaranya seorang : "Kim mo Say ong sudah berada
disini!"
Semua orang terkejut dan menengok kesana tapi mereka
tak melihat bayangan manusia lain. Dimana orang itu
bersembunyi ?
Mendadak terdengar pula suara itu : "Tolol! Sungguh
tolol !" Cacian itu disusul dengan terbayangnya sebuah batu
besar dan satu manusia melompat keluar dari lubang
dibawah batu. Ternyata, siang-siang ia sudah bersembunyi
dibelakang pohon dan kemudian, dengan menggali tanah,ia
masuk kedalam lubang yang dibuatnya dibawah sebuah
batu besar.
Bukan main kagetnya semua orang, tidak terkecuali In
So So, yang sambil mengeluarkan seruraan "ah!" lari
mendekati Thio Coei San.
Badan orang itu tinggi besar luar biasa, kira-kira lebih
tinggi satu kaki dari manusia biasa. Rambutnya yang
berwama kuning terurai dipundaknya sedang kedua
matanya yang bersinar hijau bersorot tajam seperti pisau.
Dalam tangannya, is mencekal sebatang toya Long gee
pang yang panjangnya satu tombak tujuh kaki. Dengan
tubuhnya yang seperti raksasa. Ia berdiri diantara mejameja
perjamuan bagaikan satu malaikat.
"Kim mo Say ong?" Coei San tanya dirinya sendiri.
"Siapa dia ? Aku belum pemah mendengar nama begitu,
baik dari Soehoe, maupun dari lautan." Ia mendapat
kenyataan, bahwa orang itu mengenakan jubab panjang
yang terbuat dari macam-macam kulit binatang, seperti
kulit harimau, kulit macan tutul, kulit kerbau, manjangan,
318
biruang. anjing ajak, rase dan sebagainya. Sepotong demi
sepotong kulit-kulit itu dijahit satu pada lainnya dan dilihat
dari buatannya yang sangat halus, tukang yang
membuatnya bukan sembarang tukang. Antara begitu
banyak binatang, hanya kulit singa saja yang tidak terdapat
pada pakaiannya itu. Coei San menduga, bahwa orang itu
sangat menghormati binatang singa, sehingga ia
menggunakan nama binatang itu sebagai gelarnya. Long
gee pang atau toya gigi anjing ajak, yang dicekal oleh orang
itupun lain daripada yang lain. Menurut kebiasaan, pakupaku
yang merupakan gigi anjing ajak, hanya dipasang
pada satu ujung dari Long gee pang. Tapi toya yang dicekal
orang bukan saja panjang dan besar luar biasa, tapi juga
dipasang paku-paku pada kedua ujungnya, sedang warna
toya keemas-emasan, tapi bukan terbuat daripada emas.
Sesudah dapat menenteramkan hatinya yang berdebaran,
Pek Kwie Sioe maju setindak seraya bertanya : "Apakah
aku boleh mengetahui she dan nama tuan yang mulia ?"
"Aku she Cia, bernama Soen, alias Twie Soe," jawabnya.
"Disamping itu aku juga mempunyai satu gelaran, yaitu
Kim mo Say ong."
Coei San dan So So saling melirik. Mereka sependapat,
bahwa walaupun ganas, orang itu mempunyai nama dan
gelar seperti seorang sasterawan.
Mendengar jawaban yang pantas, hati Pek Kwie Sioe
jadi lebih lega. "Oh, kalau begitu, aku sedang berhadapan
dengan Cia Sianseng," katanya sambil membungkuk.
"Sebegitu jauh yarg diketahui olehku, Sianseng dan kami
sama sekali belum pemah berurusan, malah belum pernah
mengenal satu sama lain. Tapi mengapa, begitu tiba
Sianseng segera merusak perahu dan membunuh orang !"
319
Cia Soen tersenyum dan memperlihatkan dua baris
giginya yang putih dan berkilat. "Perlu apa tuan-tuan
berkumpul ditempat ini?" ia balas menanya.
Pak Kwie Sioe merasa, bahwa ia tidak dapat berjusta
terhadap orang yang lihay itu. Dalam perhitungannya,
biarpun ia tahu orang itu bekepandaian tinggi, tapi karena
dia hanya seorang diri, ia tidak begitu keder. Ia
menganggap bahwa dengan Siang Kim Peng, Thio Coei
San dan In So So, biar bagaimanapun juga, pihaknya akan
dapat menjatuhkan lawan tunggal itu. Memikir begitu, ia
lantas saja menjawab dengan suara nyaring: "Belum lama
berselang Peh bie kauw telah mendapat sebilah golok
mustika dan sekarang kami mengumpulkan sahabat-sahabat
dalam dunia Kang ouw untuk menyaksikan golok tersebut."
Cia Soon menengok kehanglo yang apinya sedang
berkobar-kobar dan membakar sebilah golok berwama
hitam. Melihat api yang begitu hebat, tapi golok itu
sedikitpun tidak bergeming, ia tabu, bahwa golok itu benar
benar senjata mustika. Dengan tindakan lebar ia mendekat
dan mengangsurkan tangan untuk mencekal gagang golok.
"Tahan!" bentak Siang Kim Peng.
Cia Soen menengok. "Mengapa?" tanyanya sambil
tersenyum tawar.
"Golok itu adalah milik agama kami," jawabaya.
"Sababat, kau hanya boleh melihat dari jauh tidak boleh
mendekatinya "
"..Milikmu?" menegas Cia Soen. "Apa golok itu dibuat
olehmu atau dibeli olehmu?"
Siang Kim Peng tergagap, tak dapat ia menjawab
pertanyaan itu.
320
"Pihakmu mengambilnya dari tangan orang lain dan
sekarang aku mengambilnya dari tangan kamu," kata pula
Cia Soen "Hal itu cukup adil, mengapa tidak boleh?''
Sehabis berkata begitu, ia kembali memutar badan dan.
mengangsurkan tangannya untuk mencekal gagang To liong
to.
Berbareng dengan suara berkerincin rantai Siang Kim
Peng mengeluarkan senjata semangka dari pinggangnya.
"Sahabat!" bentaknya. "Jika kau tidak meladeni, aku
terpaksa berlaku kurang sopan terhadapmu." Dalam katakatanya
ia baru memberi peringatan, tapi sebenarnya
berbareng dengan perkataannya itu "semangka" yang
ditangan kirinya sudah menyambar punggung Cia Soen.
Tanpa memutar badan atau menengok, Cia Soen
menyodok kebelakang dengan toyanya. Benturan antara
Long gee pang dan 'semangka' itu menerbitkan suara yang
sangat hebat dan semangka besi itu hancur jadi tujuh
delapan potong yang melesat kesana sini. Hampir berbareng
badan Siang Kim Peng bergoyang goyang dan sudah
muntahkan darah, ia rubuh berguling tanpa beryawa lagi.
Ternyata Siang Kim Peng telah dibinasakan dengan
tenaga Lweekang yang menyerang dari Long gee pang
lewat semangka besi itu ketubuhnya. Jika orang tahu betapa
tinggi kepandaian Siangg Kim Peng, dapatlah ia
membayangkan hebatnya Lweekang orang she Cia itu.
Lima Hio coe Coe ciak tan menecelos hatinya. Dengan
serentak mereka melompat maju, dua menubruk pemimpin
mereka, sedang tiga yang lain, tanpa memperdulikan segala
apa, segera menghunus golok dan menerjang musuh.
Sesudah mengambil To liong to, dengan menggunakan
Long gee pang Cia Soen menyontek hangl0 besi itu yang
lantas saja terbang keatas dan jatuh menghantam tubuh
321
ketiga Hio coe itu. Karena tenaganya belum habis, hanglo
itu menggelinding terus dan menghantam pula kedua Hio
coe yang sedang coba membangunkan Siang Kim peng.
Dalam sekejap, pakaian lima Hio coe dan mayat Siang Kim
Peng, berkobar-kobar. Empat Hio coe mati disitu juga,
sedang yang satu menjerit_jerit kesakitan.
Siapakah yang tidak menjadi gentar sesudah melihat
kejadian yang sangat hebat itu?
Meskipun masih berusia muda, Coei San sudah kenyang
makan asam garam dunia Kangouw dan sudah pernah
bertemu dengan banyak sekali orang pandai. Tapi manusia
yang kepandaiannya setinggi Cia Soen, belum pemah
ditemuinya. Diam diam ia mengakui, bahwa
kepandaiannya masih kalah jauh. Ia mengakui, bahwa
diantara saudara-saudara seperguruannya, tak satupun yang
dapat menandingi orang itu, bahkan Boe tong Cit hiap,
tujuh pendekar Boetong, bersama-sama belum tentu bisa
memperoleh kemenangan. Menurut taksirannya, adalah
gurunya seorang yang dapat meladeni Cia Soen.
Sementara itu, dengan jarinya Cia Soen menyentil To
liong to yang mengeluarkan suara aneh, seperti suara
tersentuhnya emas, tapi bukan emas, seperti kayu tapi
bukan kayu. Ia manggut-manggutkan kepalanya seraya
berkata dengan suara perlahan : "Tak ada suara, tak ada
warna, Benar-benar golok mustika."
Sesudah itu, ia mengawasi sebuah sarung golok yang
terletak dimeja, didekat tempat berdirinya Pek Kwie Sioe.
"Apa itu sarung To long to?" tanyanya, "Bawa kemari."
Pek Kwie Sioe mengerti, bahwa sepuluh sembilan
jiwanya bakal melayang. Jika ia menurut dan menyerahkan
sarung golok itu, habislah nama baiknya yang sudah
dipertahankan selama puluhan tahun. Disamping itu, jika
322
dikemudian hari Kauw coe menyelidiki peristiwa tersebut,
ia pasti akan binasa dalam tangannya pemimpin tersebut.
Tapi dilain pihak, jika membangkang, ia juga bakalan mati.
Maka itu, sesudab memikir sejenak, ia lantas saja berkata :
"Jika kau ingin membunuh aka, bunuhlah ! Aku siorang she
Pek, bukan manusia yang takut mati."
Cia Soen bersenyum. "Keras kepala ! Manusia keras
kepala !" katanys. "Dalam Peh bie kauw teryata terdapat
orang-orang yang mempunyai nyali." Tiba tiba ia
mengayun tangan kirinya dan To liong to menyambar ke
arah Pek Kwie Sioe, Begitu golok menyambar, Pek Kwie
Sioe, yang tidak berani menyambuti, lantas saja berkelit ke
samping. Tapi diluar dugaan. waktu mendekati
meja mendadak golok itu terbang rendah dan ., "srok!",
masuk tepat kedalam sarungnya ! Apa yang lebih aneh lagi,
golok yang sudah bersarung itu terbang balik dan dengan
sekali menyontek dengan Long gee pang, Cia Soen sudah
mencekel lagi golok itu yang bersama sama sarungnya
lantas saja diselipkan dipinggangnya !
Pertunjukan aneh itu, yang hanya dapat diperlihatkan
oleh seseorang yang Lweekangnya sudah mencapai puncak
kesempurnaan, benar-benar menakjubkan.
Sesudah itu, sambil menyapu para hadirin dengan
matanya yang sangat tajam, ia berkata: "Apakah tuan-tuan
mempunyai pendapat lain mengenai keinginanku untuk
memiliki golok mustika ini?"
Sesudah ia mengulagi pertanyaannya dua kali, tiba-tiba
seorang yang duduk dimeja Hay see pay duduk berdiri dan
berkata "Cia Cianpwe adalah seorang yang mulia dan
tersohor diempat lautan. Golok mustika itu memang
pantasnya dimiliki oeh Cia Cianpee dan kami semua
merasa sangat setuju."
323
"Apakah tuan Cong to ceo?, (pemimpin besar) dari Hay
see pay yang bernama Goan Kong Po?" tanya Cia Soen.
"Benar," jawabnya. Ia merasa girang dan heran
mendengar pertanyaan itu. Bagaimana Cia Soen bisa
mengenal she dan namanya ?
"Apa kau tahu siapa guruku ?" tanya pula Cia Soen "Apa
kau tahu dari partai mana ? Perbuatan mulia apakah yang
pernah dilakukan olehku ?"
Goan Kong Po tergugu. "Aku ...aku ...." jawabnya
terputus putus. Ia sebenarnya tidak pernah mangenal Cia
Soen dan kata katanya yang barusan hanyalah untuk
mengumpak-umpak.
"Sedang kau tidak mengenal aku, bagaimanakau tahu
aku sangat mulia dan tersohor diempat lautan?" tanya Cia
Soan dengan suara memandang rendah. "Golok ini dulu
dimiliki oleh Hay see pay, kemudian direbut oleh Tiang pek
Sam-kim dan lalu jatuh kedalam tangan Jie Thay Giam dari
Boo tong pay ..."
Mendengar perkataan "Jatuh kedalam tangan Jie Thay
Giam dari Bo tong pay" membuat jantung Coei Sin
memukul keras. Baru sekarang ia tahu, bahwa golok itu
mempunyai sangkut usut dengan Samkonya.
Sementara itu Cia Soen bicara terus: "Dengan diam-diam
turunkan tangan beracun, Peh bie kauw merampas golok ini
dari tangan Jie Thay Giam. Huh huh!" Sesudah merasa,
bahwa Hay see pay tidak mempunyai kesempatan lagi
untuk merebut pulang To liong to, kau segera
mengeluarkankata-kata merdu untuk mengumpak umpak
aku Kau adalah penjilat yang tak mengenal malu dan
selama hidup, aku paling benci bangsa penjilat. Kemari!"
Waktu mengucapkan kata-kata paling belakang, suaranya
nyaring bagaikan geledek dan menusuk kuping.
324
Goan Kong Po yang sudah hancur nyalinya tidak berani
membangkang. Dengan tindakan limbung, ia menghampiri
dan waktu sudah berhadapan deaga Cia Soen, kedua
kakinya bergemetaran.
Sementara itu, hati Coei San berdebaran dan darahnya
bergolak-golak. waktu melirik In So So, ia mendapat
kenyataan paras muka si nona pucat bagaikan kertas.
"Kamu, kawanan Hay see pay, sungguh kawanan
simuka tebal," Cia Soen mencaci pula. "Ilmu silat kamu
ilmu silat pasaran dan modalmu yang terutama untuk
mencelakakan manusia adalah garam beracun. Tahun yang
lalu, di Gin yauw, kamu telah membinasakan Thio Teng In
serumah tangga, tak kurang dari sebelas orang melayang
jiwanya. Bulan ini, tanggal satu, kamu juga telah
membunuh Auwyang Ceng di Hay boen."
Goan Kong Po kaget tak kepalang. Ia sungguh tak
mengerti, bagaimana Cia Soen bisa tahu seluk beluk kedua
pembunuhan itu yang dilakukan secara rahasia.
"Mengapa kau diam saja ?" bentak Cia Soen "Suruh
orangmu bawa dua mangkok garam beracun kemari! Aku
mau lihat bagaimana macamnya racunmu itu?"
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Hay see pay
bahwa kemanapun mereka pergi, mereka pasti membekal
garam beracun. Maka itu, dengan apa boleh buat, Goan
Kong Po segera memerintahkan sebawahannya membawa
dua mangkok racun.
Cia Soen menyambuti dua mangkok itu yang lalu
diendut-endus dengan hidungnya, "Mari kita masingmasing
makan semangkok!" katanya.
Goan Kong Po terkesiap, garam itu mengandung racun
yang sangat hebat, sehingga, jangankan dimakan.
325
sedangkan menempel dibadan manusia saja sudah cukup
untuk mengambil jiwa orang.
Dalain saat, Cia Soen menancapkan toyanya di tanah
dan satu tangannya menyambar kedagu Goan Kong Po
yang begitu tersentuh, mulutnya lantas saja menganga dan
tidak dapat ditutup lagi.
Hampir berbareng ia mengangkat mangkok garam dan
menuang semua isinya kemulut orang!
Binasanya Thio Tang In dan semua keluarganya di Gie
yauw dan terbunuh matinya Auwyang Ceng dalam sebuah
hotel di Hay boen merupakan suaru teka-teki yang
mengherankan dalam Rimba Persilatan.
Sekarang baru ketahuan, bahwa kedua pembunuhan
gelap itu telah dilakukan oleh orang-orarg Hay See pay.
Maka itu melihat nasib yang dijalani Goan Kong Po, jagojago
yang berada di situ diam-diam merasa girang,
Sesudah itu sambi mengangkat mangkok garam yang
satunya lagi. Cia Soen berkata dengan suara nyaring : "Aku
si orang she Cia selalu berlaku adil dan jujur. Kau sudah
makan semangkok, aku pun akan makan semangkok." Ia
menuang garam itu kedalam mulutnya dan lalu
menelannya.
Itulah perbuatan yang tak pernah diduga orang orang
yang paling kaget adalah Coei San. Sesudah
memperhatikan paras muka Cia Soen, ia mendapat
kenyataan, bahwa meskipun sepak terjangnya sangat ganas,
pada paras mukanya terdapat sinar kesedihan, Dengan
mengingat, bahwa' jago-jago yaag telah dibinasakan
olehnya adalah manusia manusia jahat. maka dalam hati
pemuda itu muncul rasa simpathi. Demikianlah, begitu
lihat Cia Soen menelan garam itu, tanpa terasa ia berteriak :
"Cia Cianawee, manusia itu memang pantas mendapat
326
hukuman mati. Perlu apa Cianpwee ber buat begitu ?"
Cia Soen menengok dan mengawasi, Coei can
bersenyum, sedang paras mukanya sedikitpun tidak terlihat
sinar ketakutan.
"Siapa tuan ?" tanya Cia Soen.
"Boanpwee adalah Thio Coei San dari Boe tong,"
jawabnya.
"Hmmn ....Boe tong Thio Ngohiap . . . apakah kau
datang untuk merebut To liong to ?" tanyanya pula.
Pemuda itu menggelengkan kepala seraya berkata:
"Bukan. kedatangan boanpwee adalah untuk menyelidiki
sebab musabab terlukanya Jie Samko, Kurasa Cianpwee
mengetahui banyak mengenai peristiwa itu dan aku
memohon keterangan Cianpwee."
Sebelum Cia Soen keburu menjawab, tiba-tiba Goan
Kong Po mengeluarkan jeritan kesakitan dan ia rubuh
sambil memegang perutnya. Sesudah bergulingan beberapa
kali ditanah, badannya tidak bergerak lagi dan rohnya
berpulang kealam baka.
"Cia Sianseng, lekas minum obat!" teriak Coei San
dengan bingung.
"Obat apa?" bentaknya. "Ambil arak!" Seorang pelayan
dari Peh bie kauw lantas saja mengambil cawan dan poci
arak.
"Mengapa Peh bie kauw begitu kikir?" teriak Cia Soen.
"Ambil poci yang paling besar!"
Dengan tergesa-gesa pelayan itu segera mengambil poci
yang paling besar dan lalu menaruhnya dihadapan Cia
Soen. "Manusia ini rupanya kepingin mampus terlebih
cepat," katanya didalam hati.
327
Sambil tertawa Cia Soen lalu mengangkat tempat arak
itu dan menuang isinya kedalam mulutnya. Dalam sekejap,
arak itu yang beratnya kirakira tigapuluh kati, sudah
dituang kering. Ia mengusut-ngusut perutnya yang
melembung besar den tertawa berkakakan.
Mendadak ia mendongak dan membuka mulutnya.
Hampir berbareng, diluar dugaan semua orang ia
menyemburkan arak yang menyambar dada Pek Kwie Sioe
bagaikan sehelai sutera putih. Karena tidak berjaga-jaga,
Pek tan coe terhuyung dan kemudian rubuh karena
dadanya seperti dipukul martil. Sesudah itu, Cia Soen lalu
menyemburkan keatas arak itu yang kemudian jatuh seperti
hujan gerimis, sehingga membasahi muka semua orang.
Sejumlah orang yang Lweekangnya masih cetek,yang
tidak tahan dengan bau dan racun arak, lantas saja roboh
dalam keadaan pingsan.
Ternyata, dengan menggunakan Lweekang yang sangat
tinggi, terlebih dulu Cia Soen mencuci racun garam dalam
perutnya dengan arak itu yang kemudian disembur keluar
sebagai arak beracun. Sedikit racun yang masih ketinggalan
didalam perut ditindih olehnya dengan menggunakan Lwee
kang.
Bek Keng Pangcoe dari Kie keng pang, jadi gusar bukan
main dan mendadak ia melompat bangun. Tapi dilain detik,
ia ingat, bahwa kepandaiannya masih jauh dari kepandaian
orang itu, sehingga perlahan-lahan ia duduk kembali sambil
menahan amarah.
"Bek Pangcoe," kata Cia Soen seraya tertawa dingin.
"Bukankah pada Go gwee tahun ini di muara Sungai Bin
kiang kau telah membajak sebuah perahu dari Liaow tong
?"
Paras muka Bek keng lantas saja berubah pucat .
328
"Benar," jawabnya.
"Sebagai bajak, memang juga, kalau tidak membajak,
kau tentu tak bisa hidup," kata pula Cia Soen. "Bahwa kau
membajak, sangat dapat dimengerti olehku. Sedikitpun aku
tidak menyalahkan kau. Tapi mengapa kau sudah
melemparkan beberapa puluh pedagang yang tidak berdosa
kedalam laut dan telah memperkosa tujuh wanita sehingga
mereka jadi binasa? Apakah seorang gagah dalam dunia
Kang ouw boleh melakukan perbuatan yang terkutuk itu ?"
Bek Keng bergemetar sekujur badannya. "Itu.... itu .....
perbuatan .....perbuatan orang orang ku," jawabnya
terputus-putus. "Aku aku sama sekali tidak mengambil
bagian."
Cia Soen mengeluarkan suara dari hidung. "Huh! Enak
benar kau menyangkal!" bentaknya. "Andai kata benar kau
tidak mengambil bagian, karena kau sama sekali tidak
mencegah orang orangmu melakukan perbuatan yang
sangat memalukan Rimba persilatan, maka semua
kedosaan harus ditanggung olehmu sendiri. Perbuatan itu
seperti juga dilakukan olehmu sendiri. Sekarang aku mau
tanya: Siapa siapa pada hari itu telah melakukan perbuatan
terkutuk itu ?"
Untuk menyelamatkan jiwanya sendiri, Bek Keng segera
menghunus golok. "Coa Sie, Hoa Cong San Ouw Liok !
Kamu bertiga mengambil bagian di hari itu!" Hampir
berbareng, bagaikan kilat ia membacok tiga kali dan ketiga
bajak itu lantas saja rubuh tanpa bernyawa lagi.
"Bagus! Hanya sayang terlalu terlambat," kata Cia Soen.
"Kalau hari itu kau menghukum mereka, hari ini aku tentu
tidak turun tangan. Bek Pangcoe, ilmu apa yang paling
diandalkan olehmu?"
Melihat ia tidak dapat meloloskan diri lagi, Bek Keng
329
berkata dalam hatinya : "Kalau bertanding didaratan,
mungkin aku tidak dapat melawannya dalam tiga jurus.
Tapi diair adalah duniaku. Andai kata kalah, aku masih
dapat melarikan diri. Tak mungkin ilmu berenangnya lebih
lihay daripada aku." Memikir begitu, ia lantas saja berkata:
"Aku ingin meminta pelajaran Cia Cianpwee dalam ilmu
berkelahi dibawah air."
"Baiklah, mari kita pergi ketengah laut untuk menjajal
kepandaian" jawab Cia Soen sambil meagangguk. Tapi baru
berjalan beberapa tindak, ia berhenti seraya berkata:
"Tahan! Aku kuatir begitu lekas aku pergi, orang-orang itu
lantas saja kabur!"
Mendengar perkataan itu, semua orang tereajut. Apa dia
mau membinasakan semua orang ?
Bek Keng sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik dan
ia segera berkata dengan tergesa-gesa "Biarpun didalam air,
aku pasti bukan tandingan Cianpwee. Aku mohon
pertandingan dibatalkan saja dan aku mengaku kalah."
"Hm... kalau begitu, aku boleh tak usah banyak berabe,"
kata Cia Soen. "Jika kau mengaku kalah, kau harus
membunuh diri."
Bek Keng terkesiap. Sesudah berdiam sejenak, ia berkata
dengan suara tak lampas: "Dalam.... dalam pertempuran,
kalah menang adalah kejadian biasa. Mengapa mesti
membunuh diri?"
"Jangan rewel!" bentak Cia Soen. "Manusia seperti kau
ingin bertanding denganku? Kedatanganku hari ini adalah
untuk menagih jiwa. Siapa saja yang pernah melakukan
perbuatan jahat dan membunuh manusia yang tidak
berdosa tak akan bisa terlolos dari tanganku. Hanya karena
aku kuatir kamu binasa dengan penasaran, maka aku
membolehkan kamu mengeluarkan kepandaian yang paling
330
lihay untuk membela diri. Siapa yang dengan
kepandaiannya dapat menangkan aku, aku akan
mengampuni jiwamu."
Sehabis berkata begitu, ia membungkuk dan mengambil
dua gempal tanah liat yang lalu dibasahi dengan arak.
Sesudah memulung gempalan tanah itu menjadi dua bola
bundar, ia segera berkata: "Tinggi rendahnya kepandaian
berenang dari seseorang dapat diukur dengan berapa lama
ia dapat bertahan dibawah permukaan air. Sekarang begini
saja. Dengan menggunakan tanah ini, aku dan kau
menutup hidung dan mulut. Siapa yang lebih dulu tak
tahan, boleh mengorek tanah ini, tapi ia harus membunuh
diri sendiri."
Tanpa menanya lagi apa Bek Keng setuju atau tidak, ia
segera menutup hidung dan mulutnya dengan tanah liat itu
dan kemudian, dengan sekali menimpuk, bola tanah yang
lain menutup hidung dan mulut Bak Keng.
Melihat pertunjukan itu, semua orang merasa geli, tapi
tak satupun berani tertawa. Sebelum jalanan napasnya
ditutup, Bek Keng sudah menarik napas dalam-dalam.
Sesudah itu, ia lantas saja bersila dan menahan napas.
Dalam ilmu menahan napas Bek Keng banyak lebih
unggul daripada manusia kebanyakan. Semenjak berusia
tujuh delapan tahun, ia sering selulup diair untuk
menangkap ikan dan kepiting. Dengan latihan yang terus
menerus, semakin lama in semakin mengenal sifatnya air
dan dapat bertahan dibawah permukaan air sampai kirakira
sepasangan hio. Maka itu, dalam pertandingan ia
percaya bahwa ia bakal mendapat kemenangan.
Dilain pihak, Cia Soen tidak menyontoh perbuatan
lawannya. Sebaiknya dari bersila atau duduk, dengan
tindakan lebar ia menghampiri meja Sin koen dan menatap
331
wajah Kwee Sam Koen, Ciangbunjin in boen, dengan mata
melotot.
Diawasi secara begitu, si orang she Kwee bangun bulu
romanya. Buru-buru ia berdiri dan berkata sambil
merangkap kedua tangannya. "Cia Cianpwee, aku yang
rendah adalah Kwee Sam Koen dari Sin koen boen."
Karena hidung dan mulutnya tertutup, Cia Soen tidak
dapat bicara. Ia menyelup telunjuknya ke dalam cawan arak
dan menulis tiga huruf diatas meja. Begitu melihat tiga
hurup itu, paras muka Kwee Sam Koen lantas saja berubah
pucat seperti kertas. Beberapa muridnya melirik huruf-huruf
itu yang ternyata berbunyi "Coei Hoei Yan" adalah nama
seorang wanita, tapi tak tahu mengapa guru mereka jadi
begitu ketakutan
Coei Hoei Yan adalah puteri gurunya Kwee Sam Koen.
Sesudah sang guru meninggal dunia, dia telah main gila
dengan nona itu. Tapi, sesudah nona itu hamil, ia
meninggalkannya dengan begitu saja dan masuk menjadi
murid partai Sin Koen boen. Karena malu dan gusar, Hoei
Yan menggantung diri sehingga binasa. Karena keluarga
Hoei hanya ketinggal Hoei Yan seorang, maka urusan itu
tidak menjadi panjang dan kecuali Kwee Sam Koen sendiri,
rahasia tersebut tidak diketahui oleh orang luar. Tapi diluar
semua dugaan, sesudah lewat kurang lebih dua puluh
tahun, Cia Soen telah menulis nama nona itu diatas meja.
Begitu melihat tiga huruf itu, Kwee Sam Koen segera
berkata dalam hatinya: "Sesudah menang kan Bek Keng
dan mencopot tanah liat yang menutup jalan napasnya, dia
tentu akan mengumumkan perbuatan itu. Paling baik aku
menggunakan kesempatan ini untuk turun tangan lebih
dulu. Jika dia mengerahkan tenaga untuk melawan aku, dia
tentu akan kalah dalam pertandingan melawan Bek Keng".
Memikir begitu, ia lantas saja berkata deagan suara nyaring:
332
"Aku yang rendah adalah Ciang boen dari Sin koen boen.
Kepandaian ku yang paling diandalkan adalah silat tangan
kosong. Sekarang aku ingin meminta pelajaran darimu
dalam ilmu silat itu"
Berbareng deagan perkataannya, ia mengirim tinju
kempungan Cia Soen dan tinju pertama lalu disusul tinju
kedua. Nama "Sam Koen" atau "Tiga tinju" yang
digunakan nya adalah karena ia mempunyai tinju yang luar
biasa keras, sehingga dengan sekali meninju saja, ia dapat
membinasakan seekor kerbau. Dalam kalangan Kangouw,
ahli-ahli kelas pertengahan jarang ada yang dapat malayani
tiga tinjunya, sehingga oleh karenanya, ia kenal dengan
nama "Kwee Sam Koen" dan namanya yang aseli tidak
diketahui orang.
Dua tinju yang dikirim dengan beruntun itu segera
ditangkis oleh Cia Soen, Sam Koen merasa bahwa dalam
menangkis pukulannya, Lweekang lawan tidak seberapa
kuat dan berbeda banyak dengan Lweekang yang
digunakan untuk membunuh Siang Kim Pang. Maka itu,
sambil mengayun tinju ketiga, ia membentak keras:
"Jagalah pukulan ketiga!"
Tinju yang sangat hebat itu di beri nama Hoen sauw cian
koen (Menyapu laksaan serdadu) dan pukulan tersebut
sudah pernah menjatuhkan banyak sekali jago-jago
Kangouw.
Sementara itu, Bek Keng yang bersila sambil menahan
nafas rupanya sudah merasa tak tahan lagi muka dan
kupingnya merah, sedang matanya berkunang-kunang.
Melihat keadaan ayahnya, Bek Siauw pangcu berkhuatir
bukan main. Maka itu selagi Kwee Sam Koen menyerang
dengan dua pukulan, dengan cepat ia mencabut sebatang
tusuk konde seorang Tocoe wanita dari Kie keng pang.
Dengan mengerahkan Lweekang dijari tangannya, ia
333
memutus tangkai tusuk konde yang kemudian ditimpukkan
kemulut ayahnya. Biarpun tangkai tusuk konde itu dapat
melukakan mulut atau tenggorokan sang ayah, tapi tanah
liat yang menutup jalanan napas akan berlobang sehingga
sedikit banyak ayahnya bisa mendapat hawa udara segar.
Pada saat tangkai tusuk konde itu terpisah kira kira
setombak dari mulut Bek Keng, mata Cia Soen yang sangat
tajam telah melihatnya. Tanpa menggerakkan tubuh,ia
menendang tanah dan sebutir batu kecil melesat keatas,
menyambar tangkai tusuk konde, yang begitu terpukul
dengan batu kecil itu, lantas saja terbang balik. Tiba tiba
Bek Siauwpangcoe mengeluarkan teriakan kesakitan sambil
menutup mata kanannya, yang mengeluarkan darah.
Ternyata, tangkai tusuk konde itu menjambret tepat kemata
kanannya yang lantas saja menjadi buta.
Pada saat itulah, tinju Kwee Sam Koen yang ke tiga
menyambar kempungan Cia Soen. Sebelum tiba pada
sasarannya, pukulan yang sangat dahsyat itu sudah
mengeluarkan sambaran angin yang sangat tajam. Sam
koen menduga lawannya akan coba menangkis atau
berkelit. Tapi tak dinyana, Cia Soen tidak bergerak "Bak!",
tinju itu mengenakan tepat pada sasarannya. Kempungan
adalah salah satu bagian tubuh manusia yang paling lemah
dan tinju itu amblas di kempungan.
Tapi, sesaat itu juga, Kwee Sam Koen mencelos hatinya,
karena tinjunya tersedot dengan semacam tenaga yang
seperti besi berani. Cepat-cepat ia mengerahkan Lweekang
untuk menarik pulang kepalannya, tapi sedikitpun tidak
bergeming dan tinju itu terus melekat di kempungan musuh.
Dengan tenang Cia Soen mengangsurkan tangan kirinya
kepinggang lawan. Melihat guru mereka dalam keadaan
bahaya, dua orang murid Sin koen segera melompat untuk
memberi pertolongan. Tapi begitu diawasi Cia Soen dengan
334
sorot mata yang setajam pisau, hati mereka keder dan tidak
berani bergerak lagi. Dilain saat, Cia Soen sudah
meloloskan ikat pinggang Kwee Sam Koen yang lalu
digunakan untuk melibat leher pecundang itu. Sesudah itu
ia mengikat ujung ikatatan pinggang kedahan pohon,
sehingga badan Kwee Sam Koen jadi tergantung.
Kwee Sam Koen meronta-ronta, tapi semakin ia
meronta, ikatan pada lehernya menjirat semakin erat.
Beberapa saat kemudian, didepan matanya terlibat
bayangan Coei Hoei Yang. Rasa takut dan menyesal
bercampur aduk dalam hatinya. Dalam keadaan separuh
lupa, kupingnya mendengar kata-kata: "Jalan langit tidak
pernah gagal. Perbuatan jahat akan mendapat pembalasan
Jahat!"
Cia Soen menengok dan melihat warna putih pada kedua
matanya Bek Keng. Ia lalu menghampiri, dan lalu
mencopot tanah liat yang menutupi jalanan napas lawan itu
dan kemudian meraba raba dadanya. Sesudah mendapat
kepastian, bahwa Pangcoe Kek keng pang itu sudah tidak
bernyawa lagi, barulah ia mencopot tanah yang menutupi
hidung dan mulutnya sendiri. Ia mendongak dan tertawa
nyaring "Kedua orang itu adalah manusia-manusia yang
sangat jahat," katanya "bahwa mereka baru binasa sekarang
sebenarnya sudah terlalu terlambat." Sehabis berkata begitu,
ia mengawasi kedua Kiam kek muda dari Koen loan pay.
Paras muka Ko Cek Seng dan Chio Tauw pucat seperti
kertas, tapi merekapun bales mengawasi, tanpa mengunjuk
rasa keder.
Melihat cara bagaimana Coei San telah membinasakan
dua pemimpin dari dua partai persilatan yang ternama,
Coei San kaget bukan main dan sugguh-sungguh ia tak
dapat mengukuri betapa tinggi kepandaian orang itu.
Sekarang melihat Cia Soen mengawasi kedua Kiam kek
335
Koenloen ia merasa sangat berkuatir akan keselamatan
kedua orang muda itu.
Buru-buru ia bangun berdiri dan berkata: "Cia Cianpwee,
menurut katamu sendiri, orang-orang yang telah
dibinasakan olehmu adalah manusia-manusia jahat yang
pantas dibunuh. Tapi, jika kau sendiri membunuh manusia
secara sembarangan. maka kaupun tiada banyak bedanya
dengan orang orang yang dikatakan jahat olehmu."
"Tidak banyak bedanya?" menegas Cia Soen sambil
tertawa-tawa. "Kepandaianku tinggi kepandain mereka
rendah. Yang kuat menjatuhkan yang lemah. Itulah
perbedaannya."
"Manusia bukan binatang dan manusia yang wajar harus
dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah,"
kata pula Coei San. "Jika seorang menindih yang lemah
dengan hanya mengandalkan kekuatannya, tanpa
memperdulikan benar atau salah, maka orang itu tiada
bedanya dengan binatang"
Cia Soen tertawa berkakakan. "Apa benar dalam dunia
ini terdapat apa yang dinamakan salah atau benar?"
tanyanya dengan nada mengejek. "Orang yang berkuasa
pada jaman ini adalah bangsa Mongol. Mereka sering
berbuat sewenang wenang. Apakah dalam melakukan
perbuatan-perbuatan itu, mereka bersedia untuk bicarakan
soal benar atau salah denganmu?"
"Memang benar, mereka tak memperdulikan benar atau
salah," jawab Coei San. "Tapi juga benar, bahwa segenap
pencinta negeri siang malam mengharap-harapkan
datangnya kesempatan untuk mengusir kawanan penjajah
itu."
Cia Soen menyeringai, "Huh ! Sekarang kita bicara saja
mengenai orang Han sendiri," katanya. "Dulu, pada waktu
336
orang Han duduk diatas tahta, apa dia menggubris soal
benar atau salah dalam sepak terjangnya? Gak Hoei adalah
seorang menteri setia. Tapi mengapa ia dibunuh oleh Song
ko cong? Cin Kwee dan Kee Soe To adalah menteri-menteri
dorna, Tapi mengapa mereka dapat memanjat kedudukan
tinggi dan hidup dalam kemuliaan dan kemewahan?"
"Kaizar-kaizar Lam song (kerajaan Song Selatan) telah
menggunakan manusia-manusia pengkhianat dan
membinasakan menteri menteri setia, antaranya Gak Hoei,
sehingga kerajaan rubuh dan negeri jatuh kedalam tangan
bangsa lain," kata Coei San. "Dalam hal ini dapat kita
katakan, bahwa kaizar-kaizar itu telah mendapat buah yang
jahat karena menyebut bibit kejahatan. Inilah kejadian yang
membuktikan adanya perbedaan antara salah dan benar."
Cia Soen bersenyum dan berkata dengan suara duka:
"Thio Ngohiap, kau mengatakan, bahwa kaizar-kaizar itu
telah mencicipi buah sebab perbuatannya yang jahat dan
kejam. Sekarang aku ingin menanya: Apakah dosanya
rakyat jelata sehingga mesti menderita terus menerus, mesti
mengalami tindasan?"
Coei San tak dapat menjawab ia hanya menghela napas
dengan paras muka suram.
"Rakyat sudah terpaksa membiarkan dirinya di persakiti
karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk
melawan," menyeletuk In So So. "Hal ini adalah hal yang
lumrah dalam dunia."
"Itulah sebabnya mengapa kita, orang-orang Rimba
Persilatan, telah belajar silat," menyambungi Coei San.
"Tujuan kita yang terutama adalah membela keadilan dan
menolong manusia yang perlu ditolong, Cia cianpwee
adalah seorang enghiong yang jarang ada tandingannya dan
dengan memiliki ilmu yang sangat tinggi itu, Cianpwee
337
dapat berbuat banyak sekali untuk umat manusia ?"
"Apa bagusnya membela keadilan" tanya Cia Soen
sambil menjebi. "Apa perlunya membela keadilan?"
Coei San kaget tak kepalang. Semenjak kecil ia telah
menerima didikan bathin dari gurunya dan pada sebelum
belajar silat, ia sudah tahu pentingnya tugas membela
keadilan. Dalam alam pikirannya, seorang yang belajar silat
secara wajar mempunyai tugas suci itu. Selama hidup,
pertanyaan perlu apa membela keadilan belum pernah
masuk kedalam otaknya. Maka itu, mendengar perkataan
Cia Soen, ia tercengang dan tak dapat mengeluarkan
sepatah kata.
Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata: "Membela
keadilan... itulah jalan untuk menegakkan keadilan,
sehingga perbuatan baik mendapat pembalasan baik dan
perbuatan jahat mendapat pembalasan jahat."
Cia Soen jadi tertawa terbahak-bahak. "Omong kosong!"
katanya dengan suara nyaring. "Perbuatan baik mendapat
pembalasan baik, perbuatan jahat mendapat pembalasan
jahat! itu semua omong kosong belaka! Orang-orang Boe
tong pay paling suka membaca kitab Cong coe dan sebagai
murid Boe tong, kau tentu paham dengan isinya kitab itu."
"Dalam kitab tersebut terdapat kata-kata yang seperti
berikut: Dalam dunia ini, Kaizar Oey Tee dianggap sebagai
manusia yang berkedudukan paling tinggi. Tapi Oey Tee
masih belum dapat menyempurnakan kemuliaannya.
Dalam peperangan dilembah To Ok, ia telah mengalirKan
darah sampai ratusan li jauhnya. Kaizar Gouw tidak welas
asih, Kaizir soen tidak berbakti. Kaizar Ie sempit
pemandangannya. Kaizar Tong mengusir majikannya, Boe
ong menyerang Tioe, sedang Boe ong menangkap Kiang
Lie. Sepanjang sejarah, keenam kaizar itu dianggap sebagai
338
manusia-manusia yang paling mulia. Untuk kepentingan
pribadi ahli-ahli sejarah telah memutar balikkan kenyataankenyataan
secara tidak mengenal malu."
"Sekarang aku mau menanya, Apa artinya perkataan
perkataan itu? Oey Tee yang selalu dianggap sebagai
seorang nabi, masih dapat membunuh begitu banyak
manusia dan mengalirkan darah sampai ratusan li. Jika
dibandingkan dengan itu, apa artinya perbuatanku yang
hanya membinasakan beberapa manusia saja dan
mengalirkan darah yang jauhnya hanya beberapa tindak?"
Coei San tak pernah menduga, bahwa manusia yang
macamnya begitu menyeramkan dan sepak terjangnya
begitu kejam ganas, dapat menghapal kitab-kitab kuno.
Rasa kagumnya jadi semakin besar dan ia berkata dengan
sikap menghormat:
"Cia Cianpwee, apa yang barusan dihapal olehmu adalah
bagian To tit pian dari kitab Cong coe dan bagian itu
dipalsukan orang, bukan ditulis oleh Cong coe sendiri."
"Andai kata benar bagian tersebut ditulis oleh seorang
lain tapi yang penting bukan penulisnya." kata Cia Soen
"Yang menjadi soal ialah: Apakah tulisan itu beralasan atau
tidak?"
"Beralasan terang beralasan juga." jawab Coei San. "Tapi
tulisan itu yang menyerang kaizar kaizar jaman dulu, terlalu
mencari-cari kesalahan orang dan menurut kesempurnaan
dalam dirinya manusia, sedang pada hakekatnya, dalam
dunia yang fana ini, tidak ada manusia yang pernah berbuat
kesalahan."
Cia Soen mengeluarkan suara dihidung. "kau selalu
mencari cari alasan untuk membela orang-orang itu,"
katanya. "Dalam kitab Kit bong soe terdapat tulisan seperti
ini: Soan mengusir Giauw di Pang yang. Ek dibunuh oleh
339
Kit. Dalam kitab Siang sie Tong cek terdapat kata kata:
Tong mengusir Kiat di Lam co dan perbuatan itu sangat
mengurangkan kemuliaannya Nah, lihatlah! Bukankah
kedua kitab terang-terang mengunjuk, bahwa kaizar-kaizar
jaman dulu yang begitu dimulaikan sebenarnya tidak begitu
mulia ?"
Coei San kembali bengong untuk beberapa saat." Aku
seorang yang berpengetahuan dangkal dan belum pernah
membaca kitab-kitab" katanva "Tapi halnya kaizar-kaizar
itu terjadi dijaman purba, sehingga benar tidaknya tak dapat
diketahui dengan pasti."
"Baiklah, Jika begitu, sekarang bicarakan saja kejadiankejadian
yang belakangan," kata Cia Soen "Tadi, kau
mengatakan, bahwa perbuatan baik akan mendapat
pembalasan baik dan perbuatan jahat akan mendapat
pembalasan jahat. Tapi kenyataannya tidak selamanya
begitu Cong-coe berkata seperti berikut: Benda diluar
selamanya belum dapat dipastikan. Maka itulah, Liong
Hong dibinasakan. Pie Kan binasa, Kie Coe jadi gila. Ok
Lay meninggal dunia. Kiat dan Coe juga habis nyawanya.
Orang yang menjadi raja selalu mengharapkan kesetiaan
menteri menterinya, akan tetapi menteri setia belum tentu
dipercaya. Maka itulah, Ngo Yan menceburkan dirinya
disungai. Sedang Tiang Sie binasa di negeri Siok."
"Itulah kata-kata yang ditulis Cong coe. Disamping itu,
kau tentu tahu, bahwa Souw Cin telah berhasil
mempersatukan enam negara, tapi ia sendiri celaka. Koet
Goan seorang menteri setia, tapi belakangan ia sampai
membuang diri disungai Bie lo, Han Sin berjasa besar untuk
negaranya, tapi tak urung ia binasa didalam penjara.
Sekarang marilah tengok orang-orang peperangan, Tang
Ngay berhasil merebut Siok han, tapi ahkirnya ia masuk
kerangkeng. Atas bantuan Ngo Coe Sie, negeri Gouw
340
menjagoi, tapi Ngo Coe Sie sendiri didesak oleh rajanya,
sehingga ia mesti membunuh diri.
"Han ko couw telah merebut dunia (Tiongkok) atas
bantuan Han Sin, tapi ia masih tega untuk membunuh Han
Sin. Sesudah mengalahkan Tio Coei di Liang peng. Raja
Cin berbalik membunuh Pek Kie. Dilihat dari contohcontoh
itu, siapa kata perbuatan baik akan mendapat
pembalasan baik?"
Coei San menghela napas panjang. Ia berduka karena
mengingat, bahwa diantara jenderal-jenderal ternama,
seperti Teng Ngai, Ngo Coe Sie, Han Sin, Pek Kie, Lie
Kong, Man Wan dan lain lain, banyak sekali yang menjadi
korban kaizar kaizar kejam.
Sementara itu Cia Soen berkata pula: "Dengan segenap
jiwa dan raga. Tay hoe Boen Ciong telah mengabdi kepada
Gouw ong Kouw Cian, sehingga Kouw Cian dapat merebut
pulang negerinya. Tapi bagaimana akhirnya ? Akhirnya
Boen Ciong dibunuh mati oleh Kouw Cian."
"Kay Coe Twie mengikuii Ciong Nyie dalam
mengunjungi berbagai negeri, sehingga Ciong Nyie
belakangan dapat pulang kenegeri Cin dan menjadi Raja
Cin boen kong. Akan tetapi, Cin boon kong bukan saja
sudah melupakan jasa-jasa Kay Coe Twie bahkan
belakangan ia membakar gunung sehingga Kay Coe Twie
mati kebakar."
"Hok Kong bersetia kepada kerajaan Han, tapi sesudah
ia mati, kaizar Han membunuh serumah tangganya."
"Pada jaman Sam Kok, Liok Soen telah mengalahkan
Lauw Pie dan membakar tenda-tenda tentara yang
panjangnya tujuh ratus sehingga menyelamatkan Tong
gouw dari kemusnahan. Tapi tak urung Soen Koan
bercuriga dan menulis surat berulang-ulang. sehingga
341
karena jengkel ia meninggal dunia."
"Pada jaman Tong, Pang Hiang Lang berhamba kepada
Tong thay cong. Ia mengunjuk kesetiaannya, sehingga
namanya dipuji tinggi dalam kitab sejarah. Tapi pada
akhirnya, seluruh keluarganya tak urung di sapu bersih juga
oleh sang kaizar ...."
Dengan bersemangat, terus-menerus Cia Soen memberi
contoh-contoh dari sejarah, cara bagaimana menteri setia
menjadi korban dalam tangannya kaizar kaizar kejam.
Sebagian contoh itu dikenal, sebagian pula tidak dikenal
oleh Coei San.
Dari sini dapatlah dilihat betapa dalam pengetahuan Cia
Soen mengenai ilmu surat dan pengetahuannya itu bahkan
melebihi sasterawan biasa.
Sambil mengawasi ketempat jauh, Coei San
merenungkan perundingan itu.
"Hm ..... sekarang kau lihatlah !" kata pula Cia Soen.
"Kau lihatlah .. . baik dibalas baik, jahat dibalas jahat, tidak
selamanya begitu. Banyak manusia jahat hidup mewah dan
berkedudukan tinggi. Kita ambil contoh yang paling
terkenal. Han ko couw Lauw Pang adalah manusia kejam.
Waktu ia akan perang, untuk menyelamatkan jiwa sendiri,
dia melontarkan putera puteri kandungnya kebawah
kereta."
"Satu waktu Hang Ie telah menangkap ayahnya dan ia
diberitahukan, bahwa daging sang ayah bakal dimasak,
Tapi Lauw Pang cukup tega untuk berkata begini: Sesudah
dimasak, bagilah sedikit kepadaku untuk dicoba. Tapi
manusia kejam, manusia tidak berbakti itu, bukan saja
sudah menjadi kaizar, tapi juga berumur panjang dan mati
baik-baik diatas pembaringan. Huh! Tong thay tiong
membunuh kakak dan adiknya sendiri dan kemudian
342
mendesak ayah andanya sambai begitu rupa, sehingga, mau
tidak mau sang ayah terpaksa menyerahkan kedudukan
kepada anak durhaka itu."
"Song thay cong pun tidak kalah kejamnya. Ia juga
manusia yang telah membunuh saudara sendiri. Dalam
kalangan Kang ouw, manusia-manusia begitu dipandang
luar biasa jahat. Tapi pembalasan apa yang didapat mereka
?"

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil