Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 19 April 2017

Cerita silat ke 15 Kembalinya Pendekar Rajawalai Sakti

Pendekar Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita silat ke 15 Kembalinya Pendekar Rajawalai Sakti
Kim-lun Hoat-ong dan lainnya bertenaga dalam tinggi,
dengan sendirinya mereka tidak susah menempuh jalan
pegunungan yang curam itu, hanya Be Kong-co seorang saja,
karena Ginkangnya tidak setinggi kelima orang kawannya, ia
sudah mulai terengah-engah, kalau saja dia tidak ditarik Nyo
Ko, In Kik-si dan Kim-lun Hoat-ong, beberapa kali ia hampir
terjerumus ke dalam jurang.
Baru sekarang Be Kong-co merasakan kelemahannya
sendiri, meski memiliki tenaga sebesar kerbau, tapi bicara
tentang tenaga dalam jelas masih selisih jauh dengan orang
lain, Meski dia seorang kasar, tapi diam-diam japun tahu diri
dan malu hati.
Sementara itu hari sudah mulai gelap, tapi jejak keempat
orang berbaju hijau masih belum di ketemukan, Selagi mereka
merasa gelisah, tiba-tiba di kejauan tertampak beberapa
gunduk api unggun yang sedang menyala, seketika mereka
bergirang bahwa di lembah pegunungan itu ada cahaya api,
dengan sendirinya di sana juga ada penduduknya, Kecuali
beberapa orang berbaju hijau tadi, orang biasa tentunya juga
tak dapat bertempat tinggal dj tempat securam ini.
Begitulah mereka lantas berlari lebih cepat ke sana, dalam
sekejap saja Be Gong-co sudah tertinggal jauh di belakang,
Kecuali Nyo Ko, empat orang lainnya sudah banyak
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
berpengalaman biar-pun berlari secepatnya, tapi merekapun
menyadari sedang berada di daerah berbahaya, maka mereka
sama was-was terhadap segala kemungkinan.
Namun begitu merekapun bertambah tabah mengingat
kini mereka datang berenam, dengan gabungan tenaga
mereka berenam, rasanya tidak perlu gentar terhadap
siapapun juga.
Tidak lama sampailah mereka di suatu tanah lapang di
atas puncak gunung itu, terlihat empat gundukan api yang
sangat besar sedang berkobar dengan hebatnya. Waktu
mereka mendekati, maka tertampaklah dengan jelas bahwa
gundukan api besar itu masing-masing mengitari sebuah
rumah batu kecil di tengah, di pinggir rumah batu itulah
tertimbun kayu bakar yang berkobar itu. entah barang apa di
dalam rumah batu itu yang lagi dibakar.
Nimo Singh datang dari negeri Thian-tiok, dia mahir ilmu
Yoga dan tidak takut pada api, segera ia melompat maju dan
mendekati rumah batu di ujung timur sana, ia mendorong
pintunya dan terpentanglah seketika, tertampak rumah batu
itu kosong melompong tiada isinya, hanya di lantai duduk,
seorang lelaki baju hijau, kedua tangannya tersingkap di
depan dada sebagai penganut agama Budha, tubuhnya
kelihatan menggigil air mukanya tampak meringis menahan
derita.
Heran sekali Nimo Singh, ia tidak mengerti apa yang
sedang dilakukan orang itu? Apakah sedang berlatih semacam
Lwekang? Tapi tampaknya bukan? Waktu mengamat-amati
lebih jelas, kiranya kaki dan tangan orang itu terikat oleh
rantai besi dan terikat pula pada tiang di belakangnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ia coba memeriksa lagi rumah batu kedua dan ketiga,
keadaannya ternyata serupa dengan rumah pertama, Rumah
keempat rada berbeda, sebab yang terikat di situ adalah
seorang gadis berbaju hijau, jelas keempat orang ini adalah
orang yang menangkap Ciu Pek-thong dengan jaring ikan itu.
Cuma si tua nakal itulah yang tak kelihatan bayangannya.
Nyo Ko dan lain-lain ikut memandang ke dalam rumah itu
dan semuanya ikut heran dan terkesiap, kelihatan api semakin
berkobar dan pasti luar biasa panasnya, keempat orang itu
menjadi seperti dipanggang hidup-hidup.
Tindak-tanduk Nyo Ko biasanya memang tidak suka
memikirkan bagaimana akibatnya, selain itu ia justeru
dilahirkan dengan perasaan yang suka kepada keindahan dan
dengan sendirinya juga suka kepada perempuan cantik ia pikir
ketiga lelaki itu tidak menjadi soal biarpun mampus
terpanggang, tapi nona jelita ini kan harus dikasihani.
Segera ia mengambil sepotong ranting pohon dan
digunakan memadamkan api yang berkobar di tepi rumah
batu yang didiami si nona. Tidak lama Be Kong-co juga
menyusul tiba, tanpa bertanya iapun membedol sebatang
pohon kecil dan membantu Nyo Ko memadamkan api, tidak
lama api dapat diatasinya.
Nyo Ko bermaksud memadamkan api pada rumah yang
lain, tiba-tiba si nona baju hijau berkata: "Tuan tamu harap
berhenti agar tidak menambah dosa kami"
Selagi Nyo Ko merasa bingung dan hendak tanya apa
artinya, tiba-tiba dari balik rumah muncul seorang dan
berseru: "Kokcu (pemilik lembah) ada perintah, karena ada
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tamu, maka hukuman sementara ditunda, keempat murid
diperintahkan melayani tamu sebaiknya."
Nona baju hijau itu mengiakan dan menyatakan terima
kasih, Lalu orang yang bicara itu melompat masuk rumah
batu, ia mengeluarkan sebuah kunci yang amat besar untuk
membuka gembok pada rantai si nona, begitulah ber-turuturut
keempat, orang itu telah dibebaskan, habis itu dia terus
berlari pergi tapi memandang sekejap kepada Nyo Ko dan
Iain-lain.
Keempat orang yang terantai di dalam rumah batu tadi
lantas keluar semua dan memberi hormat seorang di
antaranya berkata: "Maafkan jika tadi kami tak dapat
menyambut kedatangan tuan sekalian." - lalu ia tuding tanah
lapang di sebelah timur sana dan menyambung: "Silakan
duduk saja di sana, rumah terlalu panas terbakar, sukar untuk
menerima tamu di dalam rumah."
Kim-lun Hoat-ong mengangguk tanda setuju, baru saja
mau melangkah ke sana, mendadak Nimo Singh berkata:
"semakin panas semakin menyenangkan." - Habis itu dengan
lagak tak takut mati ia terus melangkah masuk ke dalam
rumah batu yang terletak di tengah dan masih dikelilingi oleh
api yang berkobar itu.
-------- gambar ----------
"Hei, adik cilik, siapa namamu?"
"Aku she Nyo bernama Ko"
"Siapakah gurumu?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Guruku seorang perempuan jelita, ilmu silatnya, tinggi,
orang lain dilarang menyinggung namanya."
----------------------------
Semua orang melengak dan tahu kakek keling cebol itu
sengaja pamer kepandaian, Siau-siang-cu mendengus satu
kali, segera iapun menyusul ke dalam rumah itu.
"Wah, jangan sampai orang Persi berubah menjadi daging
panggang," ujar In Kik-si dengan tertawa, walaupun begitu
katanya, tanpa ragu ia pun ikut masuk ke dalam rumah.
Kim-lun Hoat-ong paling tenang dan pendiam, tanpa
bicara iapun masuk ke situ. Sudah tentu Be Kong-co juga tidak
mau ketinggalan tapi baru sampai di ambang pintu,
sekonyong-konyong hawa panas terasa membakar, ia berseru:
"Ah, lebih baik kucari angin saja di bawah pohon sana." Habis
itu ia terus berlari kebawah pohon dan duduk istirahat.
Kini tertinggal Nyo Ko saja, baru saja dia mau masuk ke
rumah itu, mendadak si nona baju hijau tadi berkata padanya:
"Jika tuan tamu ini takut panas, bagaimana kalau silakan
berduduk istirahat di sana bersama tuan itu?"
Rupanya dia merasa terima kasih atas bantuan. Nyo Ko
tadi yang telah memadamkan api, pula melihat usianya masih
muda, ia pikir Nyo Ko pasti tidak mampu menahan hawa
panas di dalam rumah yang mirip dipanggang itu.
Tak terduga Nyo Ko tetap melangkah kesana, ia Ijetpaling
dengan tertawa dan berkata :" "Biarlah aku duduk sebentar di
dalam, kalau tidak tahan tentu aku akan keluar,"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sesudah di dalam rumah, ia duduk di sebelah Kim-lun
Hoat-ong, keempat lelaki-perempuan berseragam hijau itupun
ikut masuk dan duduk di sisi Iain sebagai tuan rumah, seorang
di antaranya lantas bertanya: "Maaf, sekiranya boleh kami
mengetahui nama tuan-tuan yang terhormat ?"
ln Kik-si paling lancar main mulut, dengan tersenyum ia
memperkenalkan kelima orang ka-wannya, akhirnya ia
berkata: "Cayhe sendiri bernama In Kik-si, berasal dari Persi,
kepandaianku selain makan nasi adalah cari duit, berbeda
dengan beberapa kavvanku ini, mereka memiliki ilmu sakti
yang sukar kuterangkan."
"Tempat kami ini bernama Cui-sian-kok, biasanya jarang
dikunjungi orang luar," kata orang tadi. "Maka kami merasa
beruntung dapat kunjungan tuan-tuan sekarang. Entah tuantuan
ini ada keperluan apa, sudilah kiranya memberitahu?"
"Kami melihat kalian meringkus Lo-wan-tong Ciu Pekthong
dan dibawa ke sini, karena rasa ingin tahu, maka kami
telah ikut kesini tak terduga kami dapat menyaksikan peristiwa
aneh pula di sini." jawab In Kik-si.
Selama tanya jawab kedua orang itu, suhu panas di dalam
rumah telah bertambah hebat, Nimo Singh dan Siau-siang-cu
sudah lantas duduk bersila begitu mereka masuk ke dalam
rumah, satu patah-katapun mereka tidak buka suara, soalnya
lwekang yang mereka latih itu di kala mengerahkan tenaga
sekali-kali tidak boleh membuka mulut.
Dalam pada itu, akhirnya In Kik-si sendiripun terengahengah
napasnya, suarapun terputus-putus. Rupanya Lwekang
keempat orang baju hijau itu berbeda Lwekang orang lain,
juga sudah biasa melawan hawa panas itu, meski kepandaian
mereka terbatas, tapi masih sanggup bertahan. Maka orang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
pertama tadi berkata pula: "Jadi orang tua yang mengacau itu
she Ciu? Pantas dia berjuluk Lo-wan-tong, nyatanya sudah tua
masih nakal seperti anak kecil."
"Apakah kalian juga sehaluan dengan si tua nakal itu?"
tanya orang baju hijau kedua.
In Kik-si menjawab: "Kami... kami ti.... tidak..."
Melihat kawannya sudah megap-megap dan tidak sanggup
melanjutkan ucapannya, cepat Kim-lun Hoat-ong
menyambung: "Kami juga baru kenal dia tadi, bdleh dikatakan
tiada hubungan apa-pun."
Meski perkataan Kim-Iun Hoat-ong dapat diucapkan
dengan lancar, tapi sebenarnya cukup makan tenaga, Diamdiam
ia mendongkol terhadap Nimo Singh yang sejak tadi
duduk diam saja, padahal gara-gara Nimo Singh yang sok aksi
dan mendahului masuk rumah ini, kalau tidak, tentu mereka
tidak perlu tersiksa, sekarang Nimo Singh duduk terpekur
tanpa menggubris orang lain, kalau sebentar para teman tak
sanggup membuka mulut, bukankah akan ditertawai pihak
lawan ?
Karena rasa gemas itu, tanpa terasa Kim-lun Hoat-ong
melotot kepada Nimo Singh, namun orang keling itu tetap
pejam mata dan bersemadi tanpa ambil pusing.
Hanya Nyo Ko saja ternyata dapat duduk dengan
tenangnya, ia pernah tidur selama beberapa tahun di atas
dipan kumala dingin yang terdapat di kuburan kuno itu,
biarpun dalam keadaan tidur nyenyak tubuhnya secara
otomatis telah biasa mengatur suhu yang berubah setiap
waktu, maka untuk melawan hawa panas sekarang sedikitpun
dia tidak merasa sulit.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah orang baju hijau pertama tadi membuka suara
lagi: "Lo-wan-tong itu telah menyusup ke Cui-sian-kok kami ini
dan membikin kacau...".
"Membikin kacau bagaimana? Apakah benar dia telah
membakar rumah, merobek kitab dan sebagainya seperti
tuduhan kalian?" tukas Nyo Ko.
Semua orang menjadi terheran-heran melihat Nyo Ko
masih sanggup membuka suara dengan lancar, sedikit tiada
ubahnya seperti biasa, padahal pemuda ini juga sudah duduk
sekian lamanya di dalam rumah batu yang panas ini. Karena
itu semua orang sama memandang padanya, kecuali Nimo
Sing yang masih tetap memejamkan mata dan tidak pusing
terhadap kejadian di sekitarnya.
Terdengar orang baju hijau tadi menjawab pula: "Memang
begitulah. Waktu itu aku diperintahkan guruku menunggui
anglo yang menggembleng obat, entah cara bagaimana
mendadak tua bangka itu menerobos masuk ke situ dan
mengajak ngobrol padaku ke timur dan ke barat, dia
mengajak main teka teki segala dan menantang taruhan
padaku, sungguh sinting dia. Padahal aku sedang sibuk
menunggui anglo yang sedang menyala, aku tidak sempat
mengusir dia, terpaksa ku anggap tidak mendengar
ocehannya, Tak terduga mendadak dia mengayun kakinya,
anglo yang kutunggu itu telah ditendangnva hingga terguling."
"Dan dia malah menyalahkan kau karena kau tidak
menggubris dia, betul tidak ?" kata Nyo Ko dengan tertawa.
"Benar, memang begitulah," kata si nona baju hijau tadi,
"Waktu kudengar suara ribut, ku tahu telah terjadi keonaran,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
baru aku hendak meninggalkan kamar penyimpan Leng-ci-cau
yang ku tunggui itu, mendadak kakek aneh itu sudah
menerobos tiba, sekali pegang, kontan dia bedol dan
dipatahkan menjadi dua sebatang Leng-ci-cau yang sudah
berumur lebih 400 tahun."
"Wah, Lo-wan-tong itu sungguh terlalu, sebatang Leng-cicau
yang sudah hidup lebih 400 tahun. tentulah benda
mestika yang perlu disayang" ujar Nyo Ko sambil geleng
kepala dengan tertawa.
"Padahal ayahku telah merencanakan Leng-ci-cau ini akan
dimakan bersama ibu tiriku pada hari pernikahan mereka
nanti, siapa tahu tua nakal telah membikin kacau semuanya
itu, maka tidak perlu dijelaskan lagi apabila ayahku menjadi
murka!" kata si nona baju hijau.
"Apa boleh kami mengetahui nama ayahmu yang
terhormat?" tanya Nyo Ko, "Tanpa sengaja kami menyusup ke
sini, tapi nama tuan rumah sampai saat ini belum diketahui
sungguh terasa kurang sopan."
Nona baju hijau itu tampak sangsi untuk menjawab, maka
seorang lelaki baju hijau yang lain lantas berkata: "Sebelum
diidzinkan Kokcu, maafkan jika kami tidak dapat memberi
keterangan"
Nyo Ko pikir orang-orang ini tentulah orang kosen yang
hidup di dunianya sendiri maka tidaklah heran jika mereka
tidak mau menjelaskan asal usul mereka. Maka ia lantas
bertanya pula: "Dan kemudian bagaimana dengan Lo-wantong
itu?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Pada saat itulah terlihat In Kik-si berbangkit lalu
melangkah cepat ke luar rumah dengan sempoyongan.
Rupanya orang Persi itu sudah tidak tahan lagi hawa panas.
Maka orang baju hijau, ketiga ikut bicara:
"Orang tua she Ciu itu tidak mau kepalang tanggung, dia
menerobos lagi ke dalam kamar tulis guru kami dan merobek
beberapa buah kitab pusaka, dalam pada itu kedua suhengku
dan Sumoay ini telah memburu tiba, kami berempat akhirnya
tetap tak dapat merintangi dia..."
Belum habis ucapannya, mendadak terlihat tubuh Siausiang-
cu melayang keluar rumah, dia tidak berdiri, tapi masih
tetap duduk bersila. Gerakan tubuhnya yang gesit itu tanpa
berdiri itu sungguh luar biasa.
Nyo Ko tersenyum, lalu berkata pula: "Watak lo-wan-tong
itu sungguh teramat aneh, ilmu silatnya juga sudah mencapai
tingkatan yang sukar di ukur, pantas kalau kalian tak dapat
menghalangi dia."
"Malahan dia belum selesai, dia masuk lagi ke kamar
senjata," tutur orang kedua, "tapi lantaran di situ cuma
senjata melulu, dia terus menyalakan api sehingga lukisan dan
seni tulisan yang bergantung di dinding semuanya terbakar.
Kami sibuk memadamkan api, peluang itu telah digunakan
olehnya untuk kabur."
"O, makanya kemudian kalian mengejarnya dan berhasil
menawannya dengan jaring ikan," kata Nyo Ko.
Mendadak Kim-lun Hoat-ong juga berbangkit sambil
menggeliat pinggang yang pegal, katanya dengan tertawa:
"Adik cilik, akupun merasa tidak tahan lagi, perlu cari angin
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
keluar saja, Kaupun jangan paksakan diri, racun api ini tidak
boleh dibuat permainan" Habis berkata ia terus melangkah
keluar dengan tenang.
Si nona baju hijau berkata. kepada Nyo Ko: "Hampir
semua tetamu telah keluar, kami berempat sesungguhnya
juga tak tahan lagi, bagaimana kalau kita bicara di bawah
pohon di luar sana?"
Nyo Ko tersenyum dan mengiakan, lalu ia berdiri dan
berkata kepada Nimo Singh: "He, saudara tua, kau mau keluar
tidak?".
Siapa duga Nimo Singh masih tetap pejam mata dan diam
saja, waktu Nyo Ko mendorong pelahan pundaknya, kontan
Nimo Singh roboh di lantai Nyo Ko tetkejut, cepat ia
membangunkannya.
"Rupanya dia pingsan karena hawa yang teramat panas
ini, setelah mendapat angin silir di luar tentu akan siuman
kembali," ujar si lelaki baju hijau pertama tadi.
Diam-diam Nyo Ko merasa geli terhadap kemampuan
dengan keling tua yang sok aksi itu, segera ia jinjing tubuh
Nimo Singh yang kurus kecil itu dan dibawa keluar.
Begitulah semua orang lantas duduk mengitar di bawah
pohon, keempat orang baju hijau itu tiada hentinya memuji
kehebatan Lwekang si Nyo Ko.
"Kami berempat harus bicara secara bergiliran," setelah
buka mulut harus mengerahkan tenaga untuk melawan suhu
panas dan pembicaraan disambung oleh yang lain, tapi tuan
Nyo ini dapat sekaligus melayani pembicaraan kami berempat
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tanpa berhenti sungguh sangat mengagumkan tenaga
dalamnya yang Iihay," demikian kata orang pertama tadi.
Tiba-tiba orang kedua menyambung: "Eh, Su-ko, aliran
Lwekang tuan Nyo ini tampaknya sangat mirip dengan ibu
guru kita yang baru itu?"
Hati Nyo Ko tergerak tanpa pikir ia terus tanya: "Siapakah
ibu guru kalian ?" - Tapi segera ia menyadari ketidak sopanan
pertanyaannya itu. ketika keempat orang baju hijau itu saling
pandang dengan air muka yang aneh tanpa menjawab.
In Kik-si tahu Nyo Ko merasa kikuk dan perlu dialihkan
pokok- pembicaraan mereka, maka cepat ia menimbrung:
"Sebenarnya sebab apakah Lo-wan-tong itu mengamuk,
padahal tabiatnva tidaklah jelek meski kelakuannya memang
nakal"
"Dia bilang usia ayahku sudah sebanyak itu, tapi masih
ingin..." belum si nona baju hijau habis berbicara, mendadak
kawannya yang pertama tadi menyambung: "Ah, Lo-wan-tong
itu memang sinting, mana ucapannya dapat dipegang
buntutnya, O, ya, kalian datang dari jauh, tentu sudah lapar,
silakan dahar sekadarnya ke sana."
"Bagus ! Bagus !" kontan Be Kong-co bersorak bicara
makan, dia paling bernapsu. Sementara itu pernapasan Nimo
Singh belum lagi lancar kembali dia terus angkat tubuh sang
kawan yang kecil itu dan dikempit terus mendahului menuju
ke arah yang ditunjuk lelaki baju hijau tadi.
Tempat bersantap juga sebuah rumah batu yang
sederhana, tidak banyak alat perabotnya, tapi sangat luas.
Keempat orang baju hijau tadi masuk dapur sendiri untuk
menyiapkan daharan, Tidak lama perjamuan lantas dimulai,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
meja penuh dengan sayur mentah dan buah-buahan belaka,
tiada makanan dari daging atau ikan dan juga tiada satu pun
yang dimasak.
Makan tanpa ikan daging bagi Be Kong-co jelas tidak
menarik, maka ia menjadi kecewa melihat meja itu tiada
sesuatu daharan enak selain sayur mentah dan buah-buahan.
"Di sini selamanya tidak kenal makanan berjiwa dan tidak
pakai asap api, maka diharap tuan-tuan suka maklum," kata
orang pertama tadi.
"Masakah tidak pakai api segala ? Tadi kalian kan
membakar rumah dengan api?" ujar Be Kong co...
"Itu adalah cara hukuman Kokcu," kata orang kedua.
Lalu lelaki baju hijau ketiga menyambung: "Silahkan dahar
!" - Lalu ia ambilkan sebuah botol dan menuangkan setiap
orang satu mangkoK air jernih.
Be Kong-co mengira disuguh arak, ia tidak makan daging
juga tak jadi soal asalkan dapat minum arak. Tanpa pikir ia
terus angkat mangkoknya dan ditenggak, tapi rasanya tawar,
baru sekarang ia tahu isi mangkok itu adalah air. Dasar,
wataknya memang kasar, segera ia berteriak: "He, majikan
kalian itu sungguh kikir, masakah arak saja tidak disuguhkan
kepada tamu."
"Di lembah ini dilarang minum arak, peraturan ini sudah
turun temurun selama beratus tahun, harap tuan tamu suka
memaafkan," kata orang pertama tadi.
Si nona baju hijau juga berkata: "Hanya dalam kitab saja
kami pernah membaca tulisan arak, tapi sebenarnya
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bagaimana rasanya arak, selama hidup tak pernah kami lihat,
Menurut tulisan dalam kitab, katanya arak dapat mengacaukan
pikiran sehat, tentunya juga bukan barang baik"
Nyo Ko dan lainnya adalah orang yang sudah biasa hidup
bebas di dunia kangouw, mereka merasa kurang cocok
dengan lagak lagu keempat orang itu, apalagi sejak mulai
bicara tadi belum pernah tertampak air muka mereka
mengunjuk senyum, walaupun juga tidak menjemukan, tapi
boleh dikatakan tidak menarik. Karena itu mereka hanya
makan nasi saja.
Celakanya nasi itupun mentah, yaitu beras yang digiling
halus dan dicampur air melulu, tentu saja rasa katulnya sangat
terasa sehingga sukar ditelan saja sekadar tangsal perut.
Hanya Be Kong co yang bertubuh besar kekar, setiap kali
makan sedikitnya delapan sampai sembilan mangkok besar,
tentu saja dia tidak puas akan suguhan itu, sambil makan nasi
beras mentah itu ia terus menggerundel tiada hentinya.
Aneh juga, keempat orang baju hijau itu ternyata tidak
ambil pusing terhadap gerundelan Be Kong-co, semula mereka
masih minta maaf kepada tamunya, tapi kemudian merekapun
tidak menanggapi apapun, mereka anggap makan nasi
mentah dan minum air tawar adalah kehidupan yang wajar.
Selesai bersantap, Be Kong-co berkaok ingin pulang saja
malam itu juga, tapi kelima orang kawannya merasa tertarik
oleh macam-macam keanehan di lembab gunung ini, mereka
sama ingin mencari tahu duduknya perkara, maka In Kik-si
coba memberi pengertian- kepada Be Kong-co, katanya:
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Be-heng, kita sudah datang di sini dan sepantasnya besok
kita harus menemui Kokcu, mana boleh pulang begitu saja,"
"Tidak ada arak tidak daging, nasipun tidak keruan, aku
merasa tersiksa di sini," seru Be Kong-co pula.
Mendadak Siau-siang-cu menarik muka dan berkata:
"Semua orang bilang tinggal dulu di sini, kau sendiri ribut
apa?"
Be Kong-co paling takut kepada Siau-siang-cu karena
potongannya yang mirip mayat hidup itu, karena itu ia tidak
berani mengomel lagi
Malamnya mereka berenam lantas tidur di dalam rumah
batu itu, lantai batu dingin sekali, jangankan kasur dan
selimut, bahkan tikar dan sejenisnya juga tidak ada sama
sekali.
"Eh, Hwesio gede," kata Nimo Singh kepada Kim-lun Hoatong,
"kau adalah otak kita berenam, coba katakan, menurut
pendapatmu orang macam apakah Kokcu ini? Apakah orang
baik atau orang busuk, besok kita harus bersikap ramah
tamah atau labrak dia habis-habisan?"
"Seperti juga kalian, aku sendiripun belum tahu bagaimana
Kokcu mereka ini, biarlah besok kita bertindak menurut
keadaan saja," jawab Kim-lun Hoat-ong tertawa.
Dengan suara pelahan In Kik-si berkata: "Kepandaian
keempat orang ini sudah begini bagus, dengan sendirinya
sang Kokcu akan jauh lebih lihay. Besok kita harus selalu
waspada, sedikit lengah bisa jadi kita berenam akan terkubur
di sini."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tapi Be Kong-co masih terus menggerundel tentang
makanan tak enak dan sebagainya, sama sekali ia tidak
menghiraukan peringatan In Kik-si yang suka berpikir itu.
Maka Nyo Ko sengaja menakuti Be Kong-co, katanya:
"Besok kalau kau tidak bertindak hati-hati dan kena ditawan
mereka, selamanya kau hanya akan merasakan air tawar dan
sayur mentah belaka."
Baru sekarang Be Kong-co terkejut dan cepat menjawab:
"Baik, adik cilik, baiklah, aku akan menuruti kalian!"
Karena berada di tempat berbahaya, maka tidur mereka
semalaman boleh dikatakan tidak nyenyak, hanya Be Kong-co
saja yang dapat pulas, suara mendengkurnya begitu keras
laksana guntur
Setelah bangun pagi-pagi, Nyo Ko keluar rumah batu itu
dan memandang sekelilingnya, semalam karena hari sudah
gelap, maka keadaan setempat belum terlihat jelas.
Ternyata sekitar pepohonan menghijau permai dengan
bunga mekar harum semerbak, sungguh suatu tempat dengan
pemandangan alam yang indah.
Karena terpesona oleh pemandangan yang menarik itu,
Nyo Ko mengayunkan langkah ke depan, tertampak di tepi
jalan bangau putih bergerombol dua-tiga sekalian di sana sini
menjangan putih berkelompok, tupai dan kelinci berlari kian
kemari tanpa menghiraukan manusia yang berlalu di situ.
Setelah membelok ke sana, terlihat si nona baju hijau
kemarin itu sedang memetik bunga di tepi jalan, nampak Nyo
Ko, nona itu lantas menyapa: "Selamat pagi! Silakan sarapan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
!" - Sembari bicara ia lantas memetik dua tangkai bunga dan
disodorkan kepada Nyo Ko.
Tanpa ragu Nyo Ko menerima bunga itu, ia ragu apakah
mesti makan bunga ini sebagai sarapan pagi?
Melihat si nona mengeleteki kelopak bunga dan dimakan,
Nyo Ko meniru dan makan juga beberapa sayap kelopak
bunga itu, ia merasa kelopak itu ada rasa manis yang sangat
tipis, tapi dikunyah lebih jauh, terasa pula rasa sepat dan
pahit, ia merasa tidak sopan kalau memuntahkan kembali
kelopak bunga yang dimakannya itu, tapi untuk ditelan
rasanya sukar pula masuk tenggorokan.
Ia coba mengamati pohon bunga itu, ternyata ranting
daunnya penuh duri kecil, tapi warna kelopak bunga indah
sekali, mirip bunga mawar tapi lebih harum, menyerupai
melati tapi lebih cantik, entah apa nama bunga yang aneh ini.
"Bunga apakah ini, belum pernah kulihat," tanya Nyo Ko,
"Namanya Bunga Cinta, memang jarang ada di dunia ini,"
jawab si nona. "Enak tidak rasanya dirasakan?" ,
"Mula-mula terasa manis, tapi kemudian terasa pahit," ujar
Nyo Ko sembari mengulur tangannya untuk memetik bunga
lagi. Karena melihat ranting bunga itu berduri, maka dia
memetik dengan sangat hati-hati.
Tak terduga, di balik kuntuman bunga yang hendak dipetik
itu tersembunyi juga duri yang kecil itu dan jarinya terluka
hingga meneteskan beberapa tetes darah segar.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Aneh juga, batang pohon bunga itu mirip kapas saja,
begitu darah menetes di dahan pohon, seketika darah segar
itu terisap lenyap tanpa bekas.
"Menurut cerita ayahku, bunga cinta ini paling suka
kepada darah manusia," tutur si nona baju hijau, "Dengan
mengisap beberapa tetes darahmu ini, pasti bunganya akan
mekar terlebih indah dan harum, Lembah ini bernama
"Lembah Patah Hati", tapi di sini justeru tumbuh bunga cinta
sebanyak ini, aneh bukan ?"
Nyo Ko merasa nama lembah itu sangat aneh, katanya:
"Mengapa bernama lembah patah Hati, nama ini sungguh luar
biasa."
Nona baju hijau itu menggeleng, jawabnya:
"Akupun tidak tahu apa maksudnya, nama ini sudah turun
temurun, bisa jadi ayah, mengetahui asal-usul nama ini"
Sembari bicara mereka lantas berjalan berendeng ke
depan, Hidung Nyo Ko mengendus bau harum yang sedap,
terlihat pula menjangan kecil yang berlari kian kemari di tepi
jalan itu sangat menarik, hatinya menjadi lapang dan
semangat segar, terpikir olehnya tiba-tiba : "Alangkah
bahagianya apabila yang berjalan berendeng denganku
sekarang ini adalah Kokoh, sungguh aku ingin tinggal
selamanya di lembah sunyi ini."
Baru berpikir sampai di sini, mendadak jari yang tertusuk
duri bunga tadi terasa sakit nyeri sekali rasa sakit ini sangat
aneh dan lihay, dada terasa seperti dipalu beberapa kali oleh
orang, tanpa terasa ia menjerit tertahan dan cepat jari
dimasukkan ke dalam mulut untuk dihisap.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Terkenang kepada buah hatimu, bukan?" tanya si nona
hambar.
Karena isi hatinya tepat dikatakan si nona, . muka Nyo Ko
menjadi merah, jawabnya: "Aneh, darimana kau mendapat
tahu?"
"Bila anggota badan tertusuk oleh duri bunga cinta itu,
selama tiga hari tiga malam tidak boleh timbul rasa rindu,
kalau tidak tentu akan merasa sakit luar biasa," tutur nona itu.
"Sungguh aneh, masakah di dunia ini terdapat hal aneh
begini?" kata Nyo Ko dengan heran.
"Kata ayahku, memang begitulah arti cinta, mula-mula
terasa manis, tapi kemudian akan timbul terasa pahit getir,
bahkan penuh duri, biarpun kau sudah berhati-hati juga tak
terhindar akan terluka olehnya, Mungkin karena bunga ini
memiliki beberapa segi Khas ini, makanya orang memberi
nama begini,"
"Dan mengapa selama tiga hari tiga malam tidak boleh
timbul rasa rindu asmara?" tanya Nyo Ko. Betapapun dia
masih muda belia, bicara mengenai "rindu asmara", tanpa
terasa mukanya merah lagi.
Tapi nona baju hijau sama sekali tidak terpengaruh
dengan tenang ia berkata pula: "menurut ayah, duri bunga
cinta ini berbisa, Umumnya setiap orang yang tergerak cinta
berahinya, bukan saja jalan darahnya akan mengalir lebih
cepat, bahkan di dalam darah akan timbul sesuatu unsur yang
entah apa namanya, Biasanya racun duri bunga cinta ini tidak
membahayakan, tapi begitu bertemu dengan unsur itu di
dalam darah, seketika akan membuat orang kesakitan tidak
kepalang."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko merasa cerita orang juga rada masuk diakal tapi ia
masih setengah ragu. Kedua orang itu terus melangkah ke
dataran puncak yang terang benderang oleh sinar matahari
pagi yang hangat, bunga cinta tampak mekar semarak,
bahkan pohon bunga itu pun berbuah. Macam-macam warna
buahnya, ada hijau, ada merah dan kombinasi merah dan
hijau, malahan buahnya berbulu halus seperti bulu ulat.
"Aneh, bunga cinta itu sangat indah, mengapa buahnya
begini jelek," ujar Nyo Ko.
"Buah bunga cinta ini tak dapat dimakan," kata si nona,
"rasa buahnya ada yang masam, ada yang pedas, malahan
ada yang bau busuk dan memuakkan."
"Masakah tiada yang manis sebagai madu?" ujar Nyo Ko
dengan tertawa.
Nona itu memandang sekejap padanya, lalu menjawab :
"Ada sih memang ada, cuma sukar dibedakan dari kulit
buahnya, ada yang rupanya buruk, tapi rasanya manis, tapi
yang rupanya bagus tidak selalu pasti manis."
Nyo Ko pikir meski apa yang dikatakan si nona itu
mengenai bunga cinta, tapi sebenarnya mengandung filsafat
tentang asmara lelaki dan perempuan apakah rasa cinta itu
memang mula-mula manis dan akhirnya pasti pahit getir ?
Apakah cinta kasih sepasang laki perempuan tentu akan
berakhir dengan mimpi buruk daripada mimpi indah ?
Apakah rasa rindukan kepada Kokoh ini kelak juga akan...!
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Rahasia apakah di balik Lembah Patah Hati dengan pohon
Bunga Cinta yang aneh itu?
Kejadian aneh apa yang akan ditemui Nyo Ko dan rombongan
di lembah gunung ini?
Bacalah jilid 25
Jilid 25
Begitu dia terkenang kepada Siao-liong-li, kontan jarinya
terasa kesakitan lagi, baru sekarang ia percaya kepada apa
yang diceritakan si nona baju hijau memang bukan omong
kosong belaka,
Melihat Nyo Ko meringis lagi menahan sakit, si nona
seperti mau tersenyum, tapi segera ditahannya, sementara itu
wajahnya yang tersorot oleh sinar matahari itu telah
menambah cantiknya.
"Di jaman dahulu ada seorang raja telah mengorbankan
kerajaannya hanya karena ingin melihat senyuman manis
seorang perempuan cantik, itulah tandanya sukarnya melihat
tertawa perempuan cantik sejak jaman kuno sampai jaman
kini memang sama susahnya," kata Nyo Ko dengan tertawa.
Dasar si nona memang masih muda dan polos, karena
olok-olok Nyo Ko itu, tak tertahan lagi, akhirnya tertawa
mengikik.
Tadinya sikap si nona tampak dingin dan kaku, maka Nyo
Ko selalu merasa prihatin, kini tawa si nona telah membuat
jarak hubungan mereka menjadi lebih dekat.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ai, bicara tentang sukarnya melihat tertawa orang
perempuan yang mengakibatkan musnahnya suatu negara,
padahal masih ada sesuatu pada diri perempuan cantik yang
lebih sukar diperoleh dari pada tertawanya," kata Nyo Ko pula.
Nona itu tampak terbeliak heran dan ingin tahu, cepat ia
tanya. "Apakah itu?"
"Ialah nama si cantik," ujar Nyo Ko. "Bahwa dapat melihat
wajah si cantik sebenarnya sudah beruntung, apalagi dapat
melihat tertawanya, itulah rejeki nomplok namanya,
sedangkan kalau ingin si cantik sendiri mengatakan namanya,
untuk itu perlu rejeki nomplok di tambah perbuatan amal bakti
turun temurun."
Si nona tahu arti ucapan Nyo Ko itu hendak menuju ke
mana, sambil tertawa iapun menjawab: "Aku bukan
perempuan cantik segala, di lembah ini belum pernah ada
orang mengatakan aku ini cantik, rupanya engkau bercanda
padaku?"
Nyo Ko menarik napas panjang, katanya : "Ai, pantas
lembah ini bernama Lembah Patah Hati atau Lembah Tanpa
Perasaan, Menurut pendapatku lembah ini perlu ganti nama."
"Ganti nama apa?" tanya si nona.
"Lebih tepat pakai nama Lembah Orang Buta," kata Nyo
Ko.
"Sebab apa?" si nona menegas.
"Kan mudah dimengerti." kata Nyo Ko. "Orang yang tidak
tahu kecantikan seseorang kan namanya orang buta, Kau
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
begini cantik, tapi mereka tidak pernah memuji kau, bukankah
semua penghuni lembah ini adalah orang "buta?"
Kembali si nona tertawa terkekeh, padahal wajahnya
meski tergolong kelas atas, tapi kalau dibandingkan Siaoliong-
li jelas masih jauh sekali, dibandingkan kelembutan Thia
Eng dan kegenitan Liok Bu-siang juga masih kalah.
Cuma nona gunung ini lebih polos, sederhana, tidak
pernah makan barang berjiwa, dengan sendirinya ada sesuatu
gaya yang istimewa pada dirinya.
BegituIah dengan sendirinya nona itu sekarang senang
karena dipuji cantik oleh Nyo Ko, dengan tertawa ia
menjawab: "kau sendirilah yang buta, masakah menganggap
seorang perempuan jelek sebagai orang cantik "
Melihat tertawa si nona yang menarik, tubuhnya yang
semampai rada bergetar, tanpa terasa hati Nyo Ko tergerak
juga. Maklumlah, seorang pemuda berdiri di samping seorang
gadis cantik dan melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya
yang indah, adalah jamak kalau timbul juga pikiran berahinya.
Siapa duga karena goncangan perasaannya itu, mendadak
jarinya yang tertusuk jari bunga cinta tadi kembali kesakitan
lagi.
Melihat Nyo Ko meringis kesakitan sambil memegangi
jarinya, si nona rada kurang senang, omelnya: "Aku sedang
bicara dengan kau, tapi kau justeru memikirkan kekasihmu."
"Ai, sungguh mati, sakitnya jariku ini justeru akibat aku
memikirkan dirimu, tapi kau malah marah padaku," kata Nyo
Ko.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Mendadak muka si nona merah jengah terus berlari cepat
ke depan sana.
Nyo Ko menjadi menyesal setelah ucapannya keluar,
pikirnya: "cintaku telah kucurahkan seluruhnya kepada Kokoh,
tapi tabiatku yang sok bangor mengapa tidak dapat berubah?
Ai, dasar !"
Maklumlah, pembawaan Nyo Ko memang memiliki
sebagian sifat ayahnya yang ugal-ugalan dan suka kepada
kaum wanita, meski sebenarnya tidak bermaksud jahat, tapi
dia suka menggoda dan merayu beberapa patah kata
terhadap setiap gadis cantik, sudah tentu akibatnya si nona
menjadi kacau pikirannya.
Setelah berlari tak jauh, mendadak nona tadi berhenti
termenung di depan sebatang pohon bunga cinta. selang
sejenak ia menoleh dan tertawa kepada Nyo Ko, lalu berkata:
"Jika kuberi tahukan namaku, tapi kau tidak boleh katakan lagi
kepada orang lain, lebih-lebih tidak boleh memanggil aku di
depan orang lain."
"Wah, banyak amat syaratnya, baiklah, aku bersumpah."
ujar Nyo Ko dengan sikapnya yang kocak
Si nona tertawa pula, lalu berkata : "Ayahku she
Kongsun..." dia tetap tak mau mengatakan namanya sendiri
secara langsung, tapi sengaja berputar untuk menyebut
namanya,
"Dan siapakah she nona?" sela Nyo Ko.
"Entah, boleh kau terka sendiri," jawab si nona sambil
tertawa geli, lalu melanjutkan: "Yang jelas ayahku
memberikan nama kepada puteri tunggalnya yaitu Lik-oh".
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Sungguh nama yang bagus, secantik orangnya," puji Nyo
Ko.
Setelah memperkenalkan namanya. Kongsun Lik-oh
menjadi lebih akrab terhadap Nyo Ko, katanya pula: "Sebentar
ayah akan bertemu dengan kau, tapi jangan kau tertawa
padaku."
"Memangnya kenapa?" tanya Nyo Ko.
"Apabila ayah mengetahui aku pernah tertawa padamu,
apalagi mengetahui aku telah memberitahukan namaku
padamu, wah, entah cara bagaimana dia akan menghukum
diriku," kata Kongsun Lik-oh.
"Masakah begitu bengis ayahmu?" ujar Nyo Ko. "Semalam
kalian dihukum panggang di rumah batu itu, masakah dia
tidak sayang kepada puterinya yang begini cantik ini?"
Mata Kongsun Lik-oh menjadi merah basah. jawabnya:
"Dahulu ayah sangat sayang padaku, tapi sejak ibuku
meninggal ketika umurku baru sepuluh tahun, selanjutnya
ayah lantas makin bengis padaku, Apalagi nanti kalau ayah
sudah punya isteri baru, entah bagaimana nasibku ini kelak."
Habis berkata, tak tertahan lagi air matanya lantas menetes.
Nyo Ko berusaha menghiburnya: "Setelah menikah,
ayahmu tentu gembira dan pasti akan perlakukan kau dengan
lebih baik."
Kongsun Lik-oh menggeleng, katanya: "Aku lebih suka dia
terlebih bengis padaku daripada dia mengambil isteri baru
lagi."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena sejak kecil Nyo Ko sudah ditinggalkan ayahbundanya.
maka perasaan kekeluargaan demikian kurang
dipahami olehnya, dia hanya ingin membikin senang hati si
nona, maka ia berkata pula: "Ibumu yang baru tentu tiada
setengahnya daripada kecantikanmu-"
"Salah kau," cepat Lik-oh menyanggah "Justeru ibuku
yang baru itulah seorang wanita cantik sejati. ilmu silatnya
juga bagus. Kemarin ketika kami berhasil menangkap pulang
Ciu Pek-thong, kalau saja ayah dan ibu baru tidak lagi
bertanding silat dan tidak sempat memeriksanya tentu si anak
tua nakal tak bakalan bisa kabur."
"llmu silat ayahmu dan ibumu yang baru itu siapa lebih
tinggi?" tanya Nyo Ko.
"Sudah tentu ayah lebih tinggi, kalau tidak, masakah ibu
baru mau menjadi isterinya?" jawab Lik-oh, "Lusa adalah hari
perkawinan mereka, besar kemungkinan ayah akan
mengundang kalian tinggal dua-tiga hari lagi di sini untuk
menghadiri pesta nikahnya. Ai, aku sendiri lebih baik pergi
sejauhnya saja."
Setelah berbicara sekian lama, sementara itu sang surya
sudah makin tinggi di ufuk timur, Lik-oh tersadar dan berkata:
"Lekas kau kembali ke sana, jangan sampai kita dipergoki para
suhengku dan dilaporkan kepada ayah."
Serentak timbul rasa kasihan kepada keadaan si nona, Nyo
Ko genggam tangan sebelah tangan nona itu dan tangan lain
menepuk pelahan pada bahunya sebagai tanda simpatik, habis
itu ia terus melangkah kembali ke rumah batu itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Belum lagi dia memasuki pintu rumah sudah lantas
mendengar suara teriakan Be Kong-co yang lagi mengomel
karena makanan tidak enak dan merasa disiksa segala.
Terdengar In Kik-si lagi berkata: "Be-heng, jika kau
membawa sesuatu barang yang berharga, kukira kau harus
menyimpannya dengan baik, tampaknya Kokcu di sini tidak
bermaksud baik."
Be Kong-co tidak tahu In Kik-si sengaja menggodanya ia
mengira betul apa yang dikatakan itu, maka berulang
mengiakan.
Waktu Nyo Ko masuk rumah, tertampak di atas meja batu
tersedia beberapa piring kelopak bunga cinta, sudah tentu
tiada seorangpun yang doyan makanan istimewa itu dan
karena itu semuanya tampak bersungut.
Pada saat itu juga datanglah seorang berbaju hijau dan
memberitahu bahwa sang Kokcu mengundang kehadiran Nyo
Ko berenam, Kim-lun Hoat ong, Nimo Singh dan lainnya
adalah tokoh terkemuka dunia persilatan, di manapun mereka
selalu disambut sendiri oleh tuan rumah, bahkan pangeran
yang berkuasa seperti Kubilai juga menghormati mereka, siapa
duga sampai di lembah sunyi ini mereka justeru diperlakukan
dengan dingin oleh tuan rumahnya, tentu saja mereka sangat
mendongkol.
Namun, merekapun penuhi undangan itu, hanya dalam
hati mereka sama membatin: "Sebentar kalau sudah bertemu
biarlah Kokcu keparat itu disuruh rasakan kelihayanku."
Begitulah mereka berenam terus ikut orang berbaju hijau
itu menuju ke belakang gunung, mendadak di depan sana
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
terbentang hutan bambu yang luas, biasanya di daerah utara
jarang ada pohon bambu, apalagi hutan bambu selebar ini.
Mereka terus menyusuri hutan bambu itu, terendus bau
harum bunga yang menyegarkan semangat. Setelah
menembus hutan bambu itu, terlihatlah alam luas sejauh mata
memandang penuh Cui-sian-hoa (bunga dewi air) belaka.
Kiranya tanah di situ adalah empang yang dangkal, dalam
air cuma sebatas betis saja dan penuh tumbuh bunga yang
harum itu.
Padahal Cui-sian-hoa itu adalah tumbuhan khas daerah
selatan, entah mengapa bisa muncul di atas gunung daerah
utara ini? Kim-lun Hoat-ong pikir tentu di puncak gunung ini
adalah sebangsa sumber air panas, karena tanahnya menjadi
subur dan hawa hangat, makanya bunga daerah selatan dapat
tumbuh dan mekar dengan suburnya.
Pada permukaan empang yang sangat luas itu kelihatan
ada tonggak kayu yang berjajar dalam jarak dua-tiga meter,
Orang berbaju hijau yang mengantar mereka itu mendahului
melompat ke atas tunggak kayu pertama, seterusnya ke
tunggak kedua dan ketiga dan begitu selanjutnya seperti di
tanah datar saja.
Nyo Ko berenam juga menirukan cara melintasi empang
itu seperti orang berbaju hijau, hanya Be Kong-co saja karena
tubuhnya segede kerbau, Ginkangnya juga kurang, meski
langkahnya lebar, tapi sukar mencapai dua-tiga meter sekali
melangkah, akibatnya beberapa tunggak menjadi ambruk
terinjak olehnya, akhirnya ia menjadi tidak sabar,
diseberanginya empang itu dengan berjalan di air.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sesudah melintasi empang bunga dewi air, tertampaklah
di tempat yang rindang di kejauhan sana enam tamunya. lalu
berkata: "Selamat datang, silahkan, kelihatan dua kacung
berbaju hiiau dengan memegang kebut yang semula berdiri di
depan pintu, seorang diantaranya segera masuk melapor,
sedangkan kacung yang Iain lantas membukakan pintu untuk
menyambut tamu.
Selagi Nyo Ko ragu apakah tuan rumahnya juga akan
muncul menyambut kedatangan mereka atau tidak,
sekonyong-konyong bayangan hijau berkelebat di depan mata,
tahu-tahu seorang kakek berjenggot panjang dan berjubah
hijau sudah berdiri di depan mereka.
Perawakan kakek ini sangat pendek, tidak lebih dari satu
meter, mukanya jelek lagi aneh, mulutnya menjengkit,
hidungnya pesek, daun telinga lebar seperti kuping gajah,
memakai jubah hijau dari kain kasar, ikat pinggangnya adalah
tali rumput warna hijau pula, Sungguh istimewa wajah dan
dandanannya.
Nyo Ko merasa heran bahwa puterinya begitu cantik,
mengapa sang Kokcu begini aneh dan jelek?
Kakek cabol itu memberi hormat kepada ke-enam
tamunya, lalu berkata: "Selamat datang, silakan duduk di
dalam dan sekadar minum teh !"
Nimo Singh berpikir: "Aku sendiri pendek.. tapi Kokcu di
sini ternyata juga cebol, sebentar ingin kutahu apakah cebol
macammu lebih hebat atau cebol macamku lebih lihay."
Segera ia mendahului ke depan dan mengulurkan tangan
sambil berkata: "Selamat bertemu !"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kakek berjenggot panjang itupun menyodorkan
tangannya, begitu tangan berjabat tangan, seketika Nimo
Singh mengerahkan tenaganya.
Melihat kedua orang bermaksud menguji tenaga, orang
lain cepat menyingkir ke samping, mereka tahu pertandingan
dua tokoh lihay tentu tidak boleh diremehkan akibatnya.
Semula Nimo Singh hanya mengerahkan tiga bagian
tenaganya, terasa pihak lawan tidak memberi reaksi apapun
dan juga tidak balas menggempur. ia rada heran, segera ia
tambahi lagi tiga bagian tenaga, terasa yang tergenggam
ditangan itu seperti sepotong kayu yang keras, Waktu Nimo
Singh menambahi lagi tiga bagian tenaganya, sekilas air muka
kakek berjenggot panjang itu bersemu hijau, lalu tenang
kembali dan tangannya tetap kaku dan keras.
Nimo Singh sangat heran, sisa tenaganya yang masih
sebagian itu tidak berani dikeluarkan lagi, ia kuatir kalau
mendadak pihak lawan melancarkan serangan balasan dan diri
sendiri sudah tiada tenaga cadangan untuk menghadapi tentu
diri sendiri akan celaka. BegituIah ia lantas tertawa, lalu
me!epaskan tangan lawan".
Pertarungan halus ini ternyata tidak kelihatan pihak mana
yang lebih unggul entah si kakek berjenggot sengaja
mengalah atau memang cuma begitu saja kekuatannya. Nimo
Singh merasa sia-sia ketika perasaannya tadi, betapa hebat
kepandaian lawan ternyata sedikitpun sukar dijajaki.
Kim-lun Hoat-ong berjalan di belakang Nimo Singh, ia
sangat cerdik, ia pikir kalau Nimo Singh tak dapat mengukur
kepandaian lawan, maka dirinya juga tidak perlu mengujinya
Iagi. Dengan tenang ia terus masuk saja kedalam rumah
disusul dengan Siau-siang-cu dan In Kik-si.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Menyusul adalah Be Kong-co, dilihatnya jenggot si kakek
yang panjang itu terjulai sampai di atas tanah, Memangnya
dia sedang dongkol karena sejak pagi belum makan apapun,
rasa lapar ditambah rasa gusar, segera ia sengaja mencari
gara-gara.
Waktu melangkah masuk pintu rumah itu, ia berlagak tidak
tahu, sebelah kakinya terus menginjak ke atas jenggot si
kakek sehingga ujung jenggot terinjak.
Tapi kakek itu tidak berbuat apapun, dia cuma berkata :
"Hati-hati tuan."
Kaki Be Kong-co yang lain sengaja menginjak pula di atas
jenggot orang, lalu pura-pura tidak tahu dan bertanya : "Ada
apa ?"
Si kakek menggeleng pelahan, kontan Be Kong-co tergebat
dan jatuh terjengkang.
Jatuhnya sesosok tubuh sebesar itu tentu saja
menimbulkan suara gedebuk yang keras.
Nyo Ko berjalan paling belakang, cepat ia memburu maju,
--sebelah tangannya menyanggah pantat Be Kong-co terus
disodok ke depan, seketika tubuh yang besar itu melayang ke
sana, dengan enteng dapatlah Be Kong-co berdiri tegak
kembali sambil meraba bckong yang kesakitan itu dengan
meIongo.
Si kakek berjenggot anggap tidak pernah terjadi apapun,
dia menyilakan keenam tamunya mengambil tempat duduk
yang telah tersedia, lalu berseru nyaring: "Para tamu sudah
tiba, harap Kokcu suka menemuinya."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko dan lainnya sama terkesiap, baru sekarang mereka
tahu bahwa si kakek cebol berjenggot panjang ini kiranya
bukan sang Kokcu.
Dalam pada itu dari ruangan belakang telah muncul
belasan orang lelaki perempuan berseragam baju hijau dan
berdiri berjajar di sebelah kiri, Habis itu dari balik pintu
anginpun keluar seorang lelaki, setelah memberi salam kepada
tetamunya, lalu iapun berduduk.
Orang terakhir ini adalah sang Kokcu, usianya sekitar 45-
46 tahun, wajahnya bagus, dapat dibayangkan 20 tahun yang
lalu tentu dia ini seorang pemuda yang cakap, cuma sekarang
air mukanya rada pucat kuning dan kurus sehingga sukar
diketahui bahwa dia memiliki ilmu silat maha tinggi.
Sesudah Kokcu itu berduduk, beberapa kacung berbaju
hijau lantas menyuguhkan teh. Di ruangan tamu ini segala
perabotan dan pakaian seluruhnya berwarna Hijau, hanya
jubah yang dipakai sang Kokcu berwarna biru manikam
sehingga tampaknya sangat menyolok di tengah-tengah yang
segalanya serba hijau itu.
Sejenak kemudian sang Kokcu mengebaskan lengan
bajunya yang panjang, lalu angkat mangkok teh dan berseru.
"Silakan minum tuan-tuan yang terhormat !"
Melihat air teh di dalam mangkok yang di-suguhkan
padanya itu sangat cemplang, keruan hati Be Kong-co
bertambah dongkol ia terus berteriak: "He, tuan rumah,
daging kau tidak doyan, minum teh juga setawar ini, pantas
kalau kau selalu kelihatan sakit-sakitan."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sang Kokcu tidak memperlihatkan reaksi apa-pun, sehabis
minum tehnya, ia menjawab : "Selama beberapa ratus tahun
hidup di lembah ini kami melulu makan minum cara begini."
"Coba jelaskan, apa paedafanya hidup cara demikian?
Apakah bisa menjadikan kau panjang umur?" tanya Be Kongco.
"Yang pasti pantangan makan barang berjiwa dan hidup
sederhana demikian sudah dimulai sejak kakek moyang kami
hijrah menetap di sini pada jaman Tong-hian-cong, kami
sebagai anak cucunya tiada yang berani melanggar peraturan
ini," jawab sang Kokcu.
"Oh, jadi keluarga kalian sudah menetap di sini sejak
dinasti Tong, sungguh lama dan kerasan sekali," kata Kim-lun
Hoat-ong.
Mendadak Siau-siang-cu ikut bertanya dengan suaranya
yang banci: "Eh, jika begitu kakek moyangmu itu tentu pernah
melihat Nyo-kuihui (seorang selir kaisar Tong-hian-cong yang
sangat cantik)?"
Suara Siau-siang-cu ini kedengaran sangat aneh,
sebenarnya suaranya sudah cukup dikenal oleh Nimo Singh, In
Kik-si dan lainnya, karena ini mereka menjadi heran, mereka
sama memandang wajah Siau-siang-cu, serentak mereka
terperanjat ternyata wajah Siau-siang-cu telah berubah sama
sekali, mukanya yang memang kaku pucat sebagai mayat kini
bertambah aneh luar biasa.
Diam-diam Nimo Singh dan lainnya menjadi jeri, mereka
menyangka ilmu yang dilatih Siau-siang-cu itu ternyata begini
lihay, apabila dikeluarkan bahkan air mukapun bisa berubah
sama sekali. Bahwa sekarang Siau-siang-cu telah mulai
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
mengerahkan ilmunya, tentu segera dia akan mulai melabrak
sang Kok-cu. Karena pikiran demikian, Nimo Singh dan lainnya
juga sama siap siaga.
Begitulah terdengar sang Kokcu lagi menjawab:
"Leluhurku memang pejabat tinggi dan pemindahan leluhur
kami ke sini ketika itu memang untuk menghindari keganasan
menteri dorna Nyo Kok-tiong yang berkuasa pada masa itu."
Kembali Siau-siang-cu mengakak dan berkata: "Haha, jika
begitu leluhurmu itu pasti pernah minum air cuci kaki Nyokuihui."
Ucapan ini sungguh membikin kaget semua orang, jelas
kata-kata demikian berarti suatu tantangan terhadap sang
Kokcu dan pertarungan pasti segera akan terjadi.
Diam-diam Kim-lun Hoat-ong dan lainnya merasa heran,
padahal mereka kenal Siau-siang-cu biasanya sangat licik dan
licin, segala persoalan lebih suka ditimpakan kepada orang
lain, mengapa sekarang dia mau tampil ke muka sendiri?
Kokcu itu ternyata tidak gubris ucapan Siau-siang-ciu itu,
dia cuma memberi isyarat kepada si kakek jenggot panjang
yang berdiri di belakangnya.
"Hm" kakek berjenggot itu berseru: "Kokcu menghormati
kalian sebagai tamu, sebab itulah kalian diperlakukan dengan
baik, tapi mengapa kau bicara secara ngawur ?"
Siau-siang-cu terkekeh lagi dan berkata dengan nada
suara yang dibuat-buat: "Hehe, leluhurmu itu pastilah pernah
minum air cuci kaki Nyo-kui-hui, aku berani bertaruh dengan
potong kepalaku ini."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Be Kong-cu merasa terheran-heran, ia bertanya: "Hai,
Siau-heng, darimana kau tahu begitu pasti ? Apakah waktu itu
kau juga minum air cuci kaki itu bersama dia?"
Kembali Siau-siang-cu tertawa, tapi sekali ini nada
suaranya berubah pula, katanya: "Jika bukan lantaran muak
terlalu banyak minum air cuci kaki itu, mengapa orang hidup
tidak makan minum sebagaimana lazimnya ?"
Kim-lun Hoat-ong dan lainnya sama mengerut kening dan
merasa ucapan Siau-siang-cu ini keterlaluan, makan-minum
adalah kebiasaan masing-masing orang, mana dapat
dipersamakan dan dijadikan bahan olok-olok?
Tampaknya si kakek berjenggot panjang tidak tahan lagi,
ia melangkah ke tengah ruangan dan berseru : "Siau-siansing,
setahuku kami tidak berbuat kesalahan apapun padamu, jika
engkau benar-benar ingin coba-coba, marilah maju sini !"
"Boleh!" kata Siau-siang-cu, mendadak orangnya bersama
kursinya melompati meja di depannya dan tahu-tahu berduduk
di tengah ruangan, "Nah, kakek jenggot panjang, siapa
namamu ? Kau kenal namaku, tapi aku tidak tahu namamu,
kan tidak adil?"
Ucapan ini seperti tepat tapi juga lucu, keruan kakek
berjenggot itu bertambah gusar, tapi diam-diam iapun
waspada setelah menyaksikan lompatan orang berikut
kursinya dengan gaya yang gesit dan lihay itu.
Terdengar sang Kokcu berkata: "Boleh kau beritahukan
dia, tidak soal."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Baik," jawab si kakek berjenggot panjang, "Nah,
dengarkan, aku she Hoan bernama It-hong. sekarang silakan
berdiri dan marilah kita mulai!"
"Kau menggunakan senjata apa? Coba perlihatkan padaku
dahulu !" kata Siau-siangcu.
"Kau ingin bertanding dengan bersenjata? Boleh juga !"
ucap Hoan It-hong. Mendadak sebelah kakinya memukul lantai
sambil berseru : "Ambilkan sini!"
Serentak dua kacung berbaju hijau tadi berlari ke ruangan
dalam, keluarnya kedua kacung itu sudah menggotong
sebatang tongkat yang pangkalnya berukirkan kepala naga,
panjang tongkat sekitar, dua meter.
Tentu saja Nyo Ko dan lainnya terperanjat, mereka tidak
habis paham mengapa si kakek cebol itu menggunakan
senjata yang panjangnya hampir dua kali daripada panjang
badannya, cara bagaimana akan dapat dimainkannya?
Ternyata Siau-siang-cu tidak ambil pusing terhadap
senjata orang, ia sendiri lantas mengeluarkan dari dalam
bajunya yang longgar itu sebuah gunting raksasa dan berkata:
"lni senjataku, apakah kau tahu kegunaannya ?"
Kalau semua orang paling-paling cuma heran saja atas
gunting besar itu, tidak demikian dengan Nyo Ko, ia
terperanjat sekali, tanpa meraba rangselnya iapun yakin
bahwa gunting besar miliknya itu sudah hilang.
Gunting raksasa itu khusus dipesannya pada pandai besi
Pang dan ingin digunakan untuk memotong ujung kebut Li
Bok-chiu, kini ternyata kena dicuri oleh Siau-siang-cu di luar
tahunya?
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sementara itu Hoan It-hong telah pegang tongkat panjang
yang digotong keluar kedua kacung tadi, dia pegang bagian
tengah tongkat, lalu di-jungkirkan, pangkal tongkat dipukulkan
pelahan pada lantai.
Karena ruangan tamu rumah batu itu sangat luas, ketokan
tongkat baja itu dengan sendirinya menimbulkan suara
gemerantang yang nyaring mengejutkan.
Dengan tangan kanan Siau-siang-cu memegangi
guntingnya, jarinya dikerjakan sekuatnya barulah gunting itu
dapat terbuka dan terkatup, lalu ia berseru : "He, orang cebol
berjenggot, tentunya kau tidak kenal nama guntingku ini,
apakah kau perlu kuberitahukan dahulu ?"
"Huh, senjata rombengan entah kau temukan dari mana,
masakah punya nama yang baik?" jengek si kakek alias Hoan
It-ong dengan mendongkol.
"Benar, namanya memang kurang enak di-dengar," ujar
Siau-siang-cu dengan bergelak tertawa, "Gunting ini disebut
Kau-mo-cian (gunting bulu anjing)."
Nyo Ko merasa kurang senang, pikirnya : "Brengsek !
Masakah guntingmu itu kauberi nama begitu ?"
Dalam pada itu terdengar Siau-siang-cu lagi berkata :
"Karena kutahu di sini ada makhluk aneh berjenggot panjang,
maka sengaja kupesan gunting bulu anjing ini untuk
memotong jenggotmu".
Berbareng Nimo Singh dan Be Kong-co bergelak tertawa,
In Kik-si dan Nyo Ko juga ikut tertawa walaupun tidak keras,
Hanya Kim-lun Hoat-ong dan sang Kokcu saja yang tetap
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
duduk tenang berhadapan seperti tidak mendengar apa yang
terjadi itu.
Segera Hoan It-ong angkat tongkatnya dan diputar sedikit,
serentak berjangkit angin keras, lalu ia berkata: "Memangnya
jenggotku ini sudah terlalu panjang, jika kau ingin menjadi
tukang cukur, wah, kebetulan bagiku, Nah silakan mulai !"
Siau-siang-cu seperti terkesima memandangi dinding
ruangan itu dan sama sekali tidak mendengarkan ucapan
Hoan It-ong, tapi begitu orang selesai bicara, mendadak
guntingnya menyambit ke depan secepat kilat, "creng", kontan
ia menggunting jenggot lawan.
Sama sekali Hoan It-ong tidak menyangka dalam keadaan
masih berduduk mendadak Siau-siang-cu dapat melancarkan
serangan, untuk menghindar jelas tidak keburu lagi, terpaksa
ia menggunakan gerakan istimewa, sekuatnya tangan
menahan batang tongkatnya, tubuhnya terus meloncat ke
atas.
Dalam sekejap itu kedua orang telah sama-sama
memperlihatkan gerak kilat yang mengejutkan namun Hoan
It-ong tetap rugi dalam keadaan diserang lebih dulu tanpa
terduga, meski guntingan itu dapat dihindarkan, tidak urung
ujung beberapa utas jenggotnya masih tergunting putus juga.
Siau-siang-cu tampak sangat senang, jenggot yang putus
itu disambernya terus ditiupnya, tiga-tmpat utas jenggot itu
lantas terbang ke arah mangkok teh sendiri yang terletak di
meja, menyusul terdengarlah suara nyaring, mangkok teh itu
jatuh dan pecah berantakan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko dan lainnya cukup paham bahwa pecahnya
mangkok itu adalah disebabkan hawa yang ditiupnya Siausiang-
cu itu. Tapi Be Kong-co tidak tahu hal ikhwalnya, ia
mengira mangkok teh itu jatuh lantaran tersodok oleh
samberan bulu jenggot yang ditiup itu. Segera ia berteriak:
"Wah, hebat benar jenggotmu itu, Siau-siang-cu !"
Sambil tertawa Siau-siang-cu mengacipkan guntingnya
beberapa kali hingga menimbulkan suara "creng-creng",
katanya: "Hayo maju sini, jenggot cebol!"
Semua orang kini dapat melihat lebih jelas ketika Siausiang-
cu tertawa ternyata kulit mukanya sama sekali tidak
bergerak keruan semua orang bertambah kejut dan heran,
Bahwa orang yang memiliki Lwekang maha tinggi memang
sanggup tidak memperlihatkan sesuatu tanda gusar atau
gembira, tapi air muka Siau-siang-cu yang kaku dan seram
meski dalam keadaan gembira, hal ini sungguh luar biasa dan
belum pernah mereka alami.
Berulang kali dipermainkan, Hoan It-ong semakin murka,
ia memberi hormat kepada sang Kokcu dan berkata: "Suhu,
terpaksa Tecu tidak dapat menghormati tamu kita secara
layak."
Nyo Ko heran mendengar kakek cebol berjenggot itu
memanggil sang Kokcu sebagai Suhu, padahal umurnya jauh
lebih tua, masakah malah menyebutnya sebagai guru?
Terlihat sansi Kokcu memanggut sekalian sambil
melambaikan tangannya, Segera Hoan It-ong mengayun
tongkatnya, "wuttt", kontan kursi yang diduduki Siau-siang-cu
itu dihantam. Meski tubuhnya pendek, tapi tenaganya luar
biasa hebatnya, tongkat baja yang bobotnya ratusan kati itu,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bila sampai kursi itu kena dihantam, tentu akan hancur
berkeping.
Walau Nyo Ko dan lainnya datang bersama Siang-siang-cu,
tapi sampai di mana kepandaian smjati kawannya itu
hakikatnya merekapun tidak tahu persis, Maka mereka lantas
mengikuti pertarungan itu dengan penuh perhatian.
Kelihatan tongkat si kakek sudah dekat dengan kaki kursi,
mendadak tangan kiri Siau-siang-cu menjulur ke bawah,
ternyata tongkat itu hendak dipegangnya. Malahan sekaligus
gunting di tangan lain terus menyamber ke depan untuk
menggunting jenggot lawan yang panjang itu.
Tidak kepalang gusar Hoan It-ong karena merasa orang
terlalu meremehkan dirinya, cepat ia miringkan kepalanya
hingga jenggotnya yang panjang itu melayang ke samping dan
tongkatnya tetap dipukulkan ke tangan Siau-siang-cu yang
hendak menangkap senjatanya itu, serangan ini dengan tepat
mengenai telapak tangan, serentak semua orang bersuara
kaget dan berbangkit.
Hoan It-ong menduga tangan orang pasti akan patah kena
dihantamnya, tak tahunya ketika menyentak sasarannya,
rasanya tongkat seperti menghantam air, lunak dan enteng, ia
sadar keadaan bisa runyam, cepat ia menarik kembali
tongkatnya, namun sudah terlambat, tongkat sudah
tergenggam kencang oleh tangan Siau-siang-cu.
Segera Hoan It-ong merasakan pula lawan sedang
membetot, segera ia dorong sekalian tongkatnya ke depan,
Tongkat itu amat panjang, maka dorongannya itu sangat kuat,
tampaknya Siau-siang-cu pasti akan terdesak meninggalkan
kursinya jika tidak mau roboh terjungkal.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tak terduga sedikit Siau-siang-cu kencangkan pantatnya,
serentak orang berikut kursinya meloncat lagi ke samping,
seketika dorongan tongkat Hoan It-ong tidak mencapai
sasarannya, sedangkan pegangan Siau-siang-cu pada
tongkatnya juga lantas dilepaskan.
Cepat Hoan It-ong memutar tongkatnya yang panjang itu
dan kembali menyabet ke kepala lawan, Agaknya Siau-siangcu
sengaja hendak pamer kepandaiannya kembali orang
bersama kursinya meloncat setingginya dan melayang lewat di
atas samberan tongkat musuh.
Melihat gerakannya yang aneh lagi gesit itu, meski duduk
di atas kursi, tapi tiada bedanya seperti orang berdiri saja,
tanpa terasa semua orang sama bersorak memuji.
Hoan It-ong tak berani ceroboh lagi menghadapi lawan
yang lihay itu, ia putar tongkatnya sedemikian cepat, ia pikir
untuk menghantam tubuh orang jelas sukar, kalau dapat
menghancurkan kursinya rasanya lebih baik. Karena itu
tongkatnya terus mengincar untuk menyabet kursi lawan.
Siapa tahu ilmu silat Siau-siang-cu sungguh maha sakti,
gunting di tangan kanan terus mengincar jenggot lawan,
sedangkan tangan kiri selalu berusaha hendak merampas
tongkat baja. Kedua orang terus berkisar kian kemari di
ruangan tamu yang luas itu, dalam sekejap saja berpuluh
jurus sudah berlangsung, tampaknya kedua orang sama kuat
dan belum ada yang lebih unggul, tapi Siau-siang-cu yang
tetap berduduk saja di kursinya, serangan Hoat It-ong
ternyata disepelekan olehnya.
Diam-diam Kim-lun Hoat-ong dan lainnya terkejut, mereka
tidak mengira Siau-siang-cu yang lebih mirip mayat hidup itu
ternyata memiliki kepandaian sehebat ini.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Setelah belasan jurus lagi, tongkat Hoan It-ong masih
terus mengincar dan menyabet kursi lawan, terdengar suara
kaki kursi yang mengetok lantai riuh ramai tiada hentinya dan
makin lama makin cepat.
Mendadak sang Kokcu berseru kepada Hoan It-ong:
"Jangan hantam kursinya, kau pasti bukan tandingannya !"
Hoan It-ong melengak, tapi segera ia menyadari
peringatan sang guru, ia pikir: "Ya, dia duduk di atas kursi
barulah aku sanggup menandingi dia dengan sama kuat,
apabila kursinya hancur dan dia berdiri di tanah, mungkin
dalam beberapa jurus saja jenggotku pasti sudah terpotong
oleh guntingnya."
Cepat ia ganti permainan tongkatnya dan diputar semakin
cepat sehingga tubuhnya yang pendek itu seolah-olah
terbungkus oleh sinar tongkat, sedangkan di luar gulungan
sinar perak itu adalah sesosok bayangan orang yang mirip
mayat hidup sedang berlompatan, pemandangan demikian
menjadi sangat aneh dan menarik
Rupanya sang Kokcu tahu Siau-siang-cu sengaja hendak
mempermainkan lawannya, kalau berlangsung lagi, sebentar
Hoan It-ong pasti akan kecundang.
Segera ia berbangkit dan melangkah maju, katanya: "ltong,
kau bukan tandingan orang kosen ini, mundur saja kau !"
Karena perintah sang guru itu, Hoan It-ong mengiakan
dengan suara keras, tongkatnya ditarik dan segera ia hendak
mengundurkan diri.
Tak terduga Siau-siang-cu terus berteriak: "Tidak boleh !
Tidak boleh !" - Mendadak tubuhnya melayang maju
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
meninggalkan kursinya terus menubruk ke atas batang
tongkat.
Terdengarlah suara "krak" yang keras, kursi terhantam
hancur oleh ujung tongkat Hoan It-hong, namun berbareng itu
batang tongkat juga kena ditahan ke bawah oleh tangan kiri
Siau-siang-cu terus diinjak dengan kaki kiri, menyusul gunting
raksasa di tangan kanan terbuka, jenggot Hoan liong yang
panjang legam itu sudah terjepit pada mata guntingnya, sekali
gunting dikasipkan, tanpa ampun jenggot yang indah menarik
itu pasti akan putus.
Tak tahunya jenggot panjang yang dipelihara Hoan It-ong
itu sesungguhnya juga semacam senjata yang maha lihay,
daya gunanya serupa dengan ruyung, cambuk dan
sebagainya, Terlihat sedikit Hoan It-ong menggeleng
kepalanya, serentak jenggotnya yang panjang itu terus
menguntir dan terlepas dari mata gunting, malahan sempat
pula balas melilit gunting lawan, menyusul kepalanya
mendongak ke belakang, dengan tenaga maha kuat ia
membetot untuk rebut gunting musuh.
"Haya, cebol tua, jenggotmu sungguh lihay, kagum sekali
aku !" seru Siau-siang-cu sambil bertahan sekuatnya.
Begitulah jadinya jenggot seorang membelit pada gunting
dengan kencang, sebaliknya seorang lain menahan batang
tongkat dengan sebelah kaki dan tangan, seketika keduanya
sukar melepaskan diri.
"Haha ! Menarik ! Menarik !" seru Siau-siang-cu dengan
tertawa gembira.
Pada saat itulah sekonyong-konyong berkelebat sesosok
bayangan orang, cepat luar biasa seorang telah menerjang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
masuk, sekaligus kedua tangannya menghantam punggung
Siau-siang-cu.
"Siapa itu?" bentak sang Kokcu.
Sergapan yang cepat dan ganas itu tampaknya pasti akan
kena pada sasarannya, Namun kembali Siau-siang-cu
memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa, tangan
kirinya membalik ke belakang, dengan mudah saja ia telah
dapat mematahkan tenaga pukulan musuh yang
menyerangnya itu.
"Keparat, jahanam !" teriak penyergap itu dengan gusar
"Biar kuadu jiwa dengan kau !"
Waktu Nyo Ko dan lainnya mengawasi penyergap ini,
mereka menjadi kaget dan heran, "He, Siau-siang-cu !" seru
mereka berbareng.
Kiranya penyergap ini juga Siau-siang-cu yang sudah
mereka kenal itu, mengapa dia bisa berubah menjadi dua dan
sebab apa dia menyergap pada dirinya sendiri yang kembar
itu? seketika mereka menjadi bingung.
Setelah diamat-amati pula, orang yang lagi bergelut
dengan Hoan It-ong itu memang jelas memakai dandanan
Siau-siang-cu, pakaiannya, sepatunya dan topinya, semuanya
persis, tapi wajahnya ternyata berbeda daripada wajah asli
Siau-siang-cu meski air mukanya juga kaku pucat sebagai
mayat sebaliknya wajah orang yang datang belakangan itu
persis dengan Siau-siang-cu yang sudah mereka kenal hanya
baju yang dipakainya berwarna hijau seperti seragam yang
dipakai orang-orang di Cui-sian-kok ini.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko dan Kim-lun Hoat-ong sama-sama dapat berpikir
cepat, sejenak saja mereka sudah dapat menerka apa yang
terjadi sebenarnya.
Sementara itu Siau-siang-cu yang berbaju hijau tua
dengan kedua tangan yang kurus laksana cakar itu kembali
mencengkeram lagi ke punggung Siau-siang-cu yang
memegang gunting sambil berteriak: "Keparat ! Main curang,
jago macam apa kau?"
Hoan It-ong heran dan kejut juga meski mendapatkan bala
bantuan, walau orang mengenakan seragam hijau, tapi
mukanya tak dikenal sementara ia mundur ke pinggir dan
menyaksikan kedua orang yang menyerupai mayat hidup itu
saling labrak dengan serunya.
Kini Nyo Ko sudah dapat menduga bahwa orang yang
memegang gunting itu pasti telah mencuri kedok kulit manusia
pemberian Thia Eng tempo hari dan dipakainya, lalu ganti
pakaian Siau-siang-cu dan sengaja mengacau ke ruangan ini
soalnya wajah Siau-siang-cu memang kaku seperti orang mati,
maka sejak mula tiada orang yang memperhatikannya.
Setelah mengamat-amati sekian lama dan dapat
mengenali gaya ilmu silat orang bergunting itu, segera Nyo Ko
berseru : "Hai, Ciu Pek-thong, kembalikan kedok dan
guntingku !" - Berbareng ia melompat maju untuk merebut
gunting.
Kiranya orang itu memang betul Ciu Pek-thong adanya,
Dia tertawan oleh keempat murid Cin-sian-kok dengan jaring
ikan, Meski wataknya nakal dan jahil, tapi ilmunya memang
maha sakti, sedikit meleng saja keempat orang itu segera Ciu
Pek-thong berhasil lolos dengan membobol jaring, akibatnya
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sang Kokcu menghukum keempat orang itu dengan hukum
panggang.
Ciu Pek-thong tidak lantas kabur, dia sembunyi di suatu
tempat, dia memang sengaja hendak mengobrak-abrik lembah
sunyi itu. Tapi segera dia lihat Nyo Ko berenam juga datang
ke situ, Malamnya dia melakukan sergapan, Siau-siang-cu
diculiknya hingga tak bisa berkutik, lalu dipindahkan ke luar
rumah dan dilucuti pakaiannya untuk dipakai sendiri.
Karena Ginkangnya maha sakti, pergi datang tanpa suara
dan tak meninggalkan bekas, maka dalam tidurnya Siau-siangcu
kena dikerjai, bahkan Kim-lun Hoat-ong dan lainnya juga
tidak mengetahui akan kejadian itu.
Setelah mengganti pakaian Siau-sian cu, lalu Ciu Pekthong
masuk lagi ke rumah itu dan tidur di sisi Nyo Ko,
kesempatan itu digunakan pula untuk menggerayangi rangsel
pemuda itu, gunting dan kedok kulit dapat dicurinya. Esoknya
ternyata semua orang juga belum menyadari akan perbuatan
Ciu Pek-thong itu.
Sudah tentu Siau-siang-cu berusaha melepaskan diri dari
tutukan Ciu Pek-ehong, tapi lantaran ilmu Tiam-hiat yang
digunakan Ciu Pek-thong itu sangat lihay, sampai tiga-empat
jam kemudian barulah Siau-siang-cu berhasil melancarkan
jalan darah dan dapat bergerak kembali sementara itu
tubuhnya hanya memakai baju dan celana dalam saja, sudah
tentu dia sangat dongkol dan murka. Ketika kebetulan seorang
murid Cui-sian-kok lewat di situ, secepat kilat ia
merobohkannya dan merampas bajunya untuk dipakai, lalu
memburu ke rumah batu yang besar itu.
Pada saat itu dilihatnya Ciu Pek-thong dengan memakai
bajunya sendiri sedang bertempur sengit dengan Hoan It-ong,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dengan murka ia terus menerjang maju, sekaligus ia ingin
membinasakan Ciu-Pek-thong dengan pukulannya yang
dahsyat, beberapa jurus kemudian lalu Nyo Ko juga ikut maju
mengeroyok.
Tapi Ciu Pek-thong mempunyai kepandaian khas yang
dilatihnya ketika dia disekap di Tho hoa-to dahulu oleh Ui Yoksu,
yaitu dua tangan memainkan silat yang berbeda, Maka
dengan tangan kiri ia layani Nyo Ko, sedang tangan kanan
dengan gunting ia lawan Siau-siang-cu, guntingnya sebentar
terbuka dan sebentar terkatup, betapapun Siau-siang-cu tidak
berani sembarangan mendekat.
Maklumlah, gunting itu amat besar, kalau mata gunting
terbuka, jaraknya hampir setengah meter, kalau saja leher
tergunting, mustahil kepala takkan berpisah dengan tuannya,
Karenanya, meski Siau-siang-cu sangat murka, tapi iapun
tidak berani sembarangan melancarkan serangan.
Dalam pada itu sang Kokcu masih terus mengikuti
pertarungan sengit itu. Sudah turun temurun Kokcu itu
menetap di lembah sunyi ini, ilmu silat keluarganya juga
turun-temurun semakin hebat.
Pada umumnya ada kebiasaan buruk dalam dunia
persilatan, lantaran kuatir muridnya kelak berkhianat atau
murtad, maka seringkali sang guru menyimpan beberapa jurus
rahasia untuk menjaga kemungkinan penghianatan murid.
Karena itu, beberapa keturunan saja ilmu silatnya semakin
berkurang dan akhirnya habis sama sekali.
Ciri demikian tak berlaku dalam ilmu silat keturunan. Sang
ayah mengajarkan kepada anak atau sang kakek mengajarkan
kepada cucu pasti takkan menahan jurus simpanan, malahan
setelah beberapa keturunan seringkali timbul satu-dua
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
angkatan yang berbakat dan pintar menciptakan jurus baru
sehingga satu turunan lebih hebat daripada angkatan yang
lebih tua.
Begitulah dengan Kokcu ini, ilmu silatnya kini boleh
dikatakan jauh lebih lihay daripada leluhurnya, ia yakin bila
dirinya keluar lembah, ilmu silatnya pasti dapat menjagoi
dunia.
Siapa duga lembah yang aman tenteram ini mendadak
kedatangan Ciu Pek-thong sehingga suasana menjadi kacau
balau, ia sudah kagum ketika menyaksikan pertarungan Ciu
Pek-thong dengan Hoan It-ong, kini melihat anak tua nakal itu
menempur dua orang dengan dua tangan yang bermain silat
dengan cara yang berbeda, malahan sedikitpun tidak tampak
lebih lemah dari kedua Iawannya, sungguh sang Kokcu
menjadi kagum tak terhingga.
Dilihatnya pula ilmu silat Siau-siang-cu sangat ganas,
serangannya tak kenal ampun. sedangkan gerak-gcrik Nyo Ko
tenang halus dan tenang, tapi tidak kurang lihaynya. Diamdiam
Kokcu itu harus mengakui bahwa dunia seluas ini
ternyata tidak sedikit terdapat orang kosen.
Segera ia berdiri dengan suara lantang ia berkata : "Harap
kalian bertiga suka berhenti dulu !".
Berbareng Nyo Ko dan Siau-siang-cu melompat mundur,"
Ciu Pek-thong lantas menanggalkan kedok kulit, berikut
guntingnya terus dilemparkan kepada Nyo Ko sambil berkata:
"Permainanku sudah cukup, aku hendak pergi saja!"
Sekali mengenjot kaki seperti anak panah cepatnya dia
terus meloncat ke atas belandar rumah..
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena kedoknya ditanggalkan, dengan sendirinya wajah
aslinya lantas kelihatan. Keruan gemparlah para anak murid
Cui-sian-kok setelah mengenali siapa dia.
"Ayah, orang tua inilah !" seru Kongsun Lik-oh.
Sementara itu Ciu Pek-thong sedang bergelak tertawa
sambil duduk mengangkang di atas belandar.
Tinggi belandar rumah itu sedikitnya lima-enam, meter
dari permukaan tanah, biarpun di ruangan itu tidak sedikit
terdapat tokoh terkemuka, terasa sukar juga kalau ingin sekali
lompat mencapai belandar itu.
Hoan It-ong adalah murid pertama Cui-sian-kok, usianya
bahkan lebih tua daripada sang guru, dalam hal ilmu silat,
kecuali sang Kokcu dialah terhitung nomor satu, Kini berulang
dia dipermainkan oleh Ciu Pek-thong, tentu saja dia murka.
walaupun tubuhnya cebol, tapi dia mahir memanjat sekali
lompat ia rangkul erat-erat tiang ruangan itu terus memanjat
ke atas segesit kera..
Dasar watak Ciu Pek-thong paling suka cari gara-gara, dia
paling senang kalau ada orang mau main gila dengan dia,
maka ia menjadi gembira melihat Hoan It-ong memanjat ke
atas, belum lagi kakek cebol itu mencapai belandar, lebih dulu
ia sudah menjulurkan tangannya untuk menariknya ke atas.
Sudah tentu Hoan It-ong tidak tahu tujuan Ciu Pek-thong
sebenarnya baik, melihat tangan orang menjulur, segera ia
menutuk Tay-leng-hiat pada pergelangan tangannya.
Namun ilmu silat Ciu Pek-thong sudah mencapai tingkatan
yang maha sakti sedikit merasakan sesuatu, segera ia
menutuk Hiat-to yang hendak ditutuk itu dan mengendorkan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
urat dagingnya, Karena itu tusukan Hoan It-ong itu laksana
mengenai kapas yang lunak, cepat ia menarik kembali
tangannya..."
Tapi Ciu Pek-thong sempat membaliki tangannya dan
menepuk sekali pada tangan Hoan It-ong sambil berseru:
"Keplok ami-ami! Kakak makan nasi adik cebol minta isteri!"
Dengan murka Hoan It-ong menggelengkan kepalanya,
jenggotnya yang panjang itu terus menyabet ke dada lawan,
Mendengat samberan angin yang keras itu, Ciu Pek-thong
tahu betapa lihaynya jenggot lawan, cepat ia melompat
mundur, dengan tangan kiri berpegangan pada belandar,
tubuhnya bergantungan seperti anak sedang main ayunan.
Siau-siang-cu yakin Hoan It-ong pasti bukan tandingan
anak tua nakal itu, sekalipun dirinya ikut mengerubut juga
sukar mengaIahkannya. Segera ia berpaling kepada Nimo
Singh dan Be Kong-co, katanya: "Saudara Singh dan Be, tua
bangka ini tidak memandang sebelah mata kepada kita
berenam sungguh keterlaluan !"
Watak Nimo Singh paling berangasan dan tidak tahan
dibakar, sedangkan pikiran Be Kong-co sangat sederhana dan
tidak dapat menimbang antara baik dan buruk, demi
mendengar rombongannya berenam tidak dipandang sebelah
mata, serentak mereka menjadi gusar dan melompat ke atas
untuk menangkap kaki Ciu Pek-thong.
Namun dengan jenaka Ciu Pek-thong mengayun kakinya
untuk menggoda, tapi sebenarnya menendang dengan tepat
ke arah yang mematikan pada tangan Nimo Singh dan Be
Kong-co sehingga gagal total usaha kedua orang itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"ln-heng, apakah kau sendiri hanya mau menonton saja?"
jengek Siau-siang-cu terhadap In Kik-si tersenyum dan
menjawab : "Baiklah, siakan Siau-heng maju lebih dulu,
segera aku menyusul !"
Siau-siang-cu bersuit aneh menyeramkan, mendadak ia
melompat ke atas, kedua kakinya tidak nampak tnemekuk,
tubuhnya kaku lurus, kedua tangan juga menjulur lempeng ke
atas terus mencengkeram ke perut Ciu Pek-thong, gaya ilmu
silat yang diperlihatkannya ini ternyata tiada ubahnya seperti
mayat hidup.
Melihat tibanya serangan, cepat Ciu Pek-thong
mengerutkan tubuhnya, tangan kiri berganti tangan kanan dan
tetap bergelantungan di belandar.
Serangan Siau-siangcu menjadi luput, ia tak dapat
berhenti diudara, terpaksa anjlok ke bawah.
Siapa saja kalau jatuh ke bawah dari ketinggian begitu
tentu kedua kakinya akan menekuk agar tidak keseleo dan
terluka, tapi gaya Siau-siang-cu sungguh istimewa, seluruh
tubuhnya tetap, kaku seperti sepotong kayu saja, begitu kaki
menyentuh lantai, "tok", kembali ia meloncat lagi ke atas.
Begitulah, jadinya Hoan It-ong merangkul pada tiang dan
mengayun jenggotnya untuk menyerang, sedangkan Siausiang-
cu, Nimo Singh dan Be Kong-co bertiga berloncatan naik
turun bergantian menyerang dari bawah ke atas.
"Si tua ini sungguh luar biasa, biar akupun ikut bikin
ramai!" kata In Kik-si, tangannya merogoh saku sejenak
kemudian tertampaklah sinar kemilauan menyilaukan mata,
tahu-tahu tangan In Kik-si sudah bertambah sebuah ruyung
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
lemas yang terbuat dari benang emas dan perak penuh
bertaburkan batu permata pula.
Sebenarnya tokoh selihay In Kik-si, melulu bertangan
kosong saja sudah jarang ada tandingannya, ruyung
bertaburkan batu permata demikian tidak lebih hanya
pameran akan kekayaannya saja.
Ia pikir untuk menyerang Ciu Pek-thong yang berada
tinggi di atas itu jelas tidak mudah, maka dengan ruyungnya
itu ia coba menyerang bagian bawah lawan.
Nyo Ko tertarik" oleh pertarungan lucu ini, ia-pikir dengan
kepandaian kelima orang itu ternyata tidak mampu
mengalahkan seorang Lo-wan-tong, kalau aku tidak dapat
menang dengan cara istimewa tentu takkan membikin takluk
orang Iain.
Setelah berpikir begitu, segera ia memakai kedoknya yang
tipis itu, menirukan gaya Siau-siang-cu yang mengatakan itu,
ia jemput tongkat baja Hoat It-ong tadi sekali tongkat itu
menahan dilantai, tubuhnya terus mengapung ke atas.
Panjang tongkat itu dua meteran, ditambah loncatannya,
maka tubuh Nyo Ko kini hampir sama tingginya dengan Ciu
Pek-thong yang bergelantungan di belandar itu.
"Awas gunting, Lo-wantong" seru Nyo Ko samibil
mengarahkan guntingnya untuk memotong jenggot Ciu Pekthong."
Bukannya marah, sebaliknya Ciu Pek-thong malah senang
akan serangan itu, ia miringkan kepalanya untuk menghindari
guntingan itu dan berseru : "Bagus sekali caramu ini, adik cilik
!"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Lo-wan-tong, aku kan tidak bersalah pada-mu, mengapa
kau main gila dengan aku ?" kata Nyo Ko.
"Ada ubi ada tales, diberi harus membalas !" jawab Ciu
Pek-thong dengan tertawa, "Kau kan tidak rugi, mungkin
mendapat untung malahan tidak tahu."
"Ada ubi ada talas apa maksudmu ?" tanyanya.
"Kelak kau tentu akan tahu sendiri sekarang tidak perlu
banyak omong," jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa,
sementara itu ruyung "in Kik-si sedang menyamber ke
arahnya, segera sebelah tangannya meraup untuk
menangkapnya.
Namun ruyung In Kik-si yang lemas itu terus membelit
untuk menghantam punggung tangannya, sedangkan
tubuhnya telah anjlok ke bawah.
Dalam pada itu jenggot Hoan it ong yang panjang juga
telah menyabet tiba, kini Hoan It-ong juga bergelantungan
pada belandar, kedua tangannya memegang belandar itu,
melulu jenggotnya saja yang digunakan menyerang musuh.
"Eh kiranya jenggotmu sebanyak ini pula daya gunanya,"
ujar Ciu Pek-thong tertawa, iapun menirukan cara orang dan
mengayunkan jenggot sendiri ke arah lawan. Tapi panjang
jenggotnya tiada separuh panjang jenggot Hoan It-ong, pula
tak pernah berlatih akan kegunaannya sebagai senjata,
dengan sendirinya sabetan jenggotnya ini tidak berguna,
"sret", pipinya malah kena tersabet oleh jenggot lawan
sehingga terasa panas pedas kesakitan, untung lwekangnya
sangat tinggi kalau tidak pasti akan kelengar seketika dan
terbanting ke bawah.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
walaupun merasakan pil pahit, tapi lo wan tong tidak
menjadi gusar, sebaliknya malah timbul rasa laparnya kepada
Hoan It-ong, katanya: "jenggot panjang, sungguh lihay kau,
jenggotku tak dapat menandingi jenggotmu, sudahlah, kita tak
perlu bertanding lagi !"
Tapi Hoan It-ong ternyata tidak mau kompromi, kembali
jenggotnya menyabet pula, Kini Ciu Pek-thong tak berani
melawannya lagi dengan jenggot, segera ia melancarkan gaya
pukulan "Khong-beng-kun" angin pukulannya yang keras
membikin jenggot Hoan It-ong terpencar dan melayang ke
samping, kebetulan saat itu Be Kong-co lagi meloncat ke atas
untuk menyerang Ciu Pek-thong, maka jenggot Hoan It-ong
tepat menyabet pada muka Be Kong-co.
Cepat Be Kong-co pejamkan mata, muka terasa gatal
pedas pula, dalam keadaan mata tertutup Be Kong-co
memegang sekenanya sehingga jenggot Hoan It-ong itu kena
dicengkeramnya.
Sebenarnya jenggot Hoan It-ong dapat melilit seperti
barang hidup, tapi lantaran tenaga pukulan Ciu Pek-tiong tadi,
Hoan It-ong tak dapat mengendalikan lagi jenggotnya,
sehingga kena dipegang Be Kong-co, dalam kagetnya cepat
Hoan It-ong membetot sekuatnya, tapi Be Kong-co juga
menarik sekencangnya ketika tubuhnya anjlog ke bawah
sehingga kedua orang akhirnya terbanting ke tanah.
Tubuh Be Kong-co segede kerbau, kulit kasar daging tebal,
dia tidak teriak merasakan sakit, Tubuh Hoan It-ong tepat
terbanting menindih badan Be Kong-co, ia menjadi gusar dan
membentak : "He, apa-apaan kau? Lekas lepaskan jenggotku
!"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Duduk diatas berlandar, Cui Pek-thong mempermainkan
lawan-lawan yang terdiri dari tokoh-tokoh dunia pesilatan
secara lucu dan nakal.
"Bantingan itu tidak dirasakan oleh Be Kong-co, tapi
perutnya terinjak oleh Hoan It-ong, rasanya tentu tidak enak,
ia menjadi gusar juga dan batas membentak : "Aku justeru
tidak mau lepas, kau mau apa?" - Berbareng itu tangannya
terus memutar sehingga jenggot orang malahan melilit
beberapa kali lagi pada tangannya.
Dengan gemas Hoan It-ong terus memukul ke muka
lawan, Be Kong-co cepat miringkan kepalanya tak terduga
pukulan Hoan It-ong itu cuma pura-pura saja, kepalan lain
mendadak menyamber tiba, "plok", dengan tepat hidung Be
Kong-co kera ditonjok sehingga berdarah, Sambil berkaokkaok
kesakitan Be Kong-co juga balas menjotos satu kali.
Bicara tentang ilmu silat sebenarnya Hoan It-ong jauh
lebih tinggj, celakanya jenggotnya terlilit pada tangan lawan
sehingga kepalanya tidak leluasa bergerak, karena itu jotosan
Be Kong-co juga tepat mengenai tulang pipinya dan matang
biru.
Begitulah yang satu tinggi dan yang lain pendek lantas
main baku hantam, meski tubuh Hoan It-ong menindih di atas,
tapi tetap sukar meloloskan diri dari betotan lawan yang terus
menarik kencang jenggotnya itu.
Melihat suasana kacau balau, rombongannya berenam
ternyata tidak dapat berkutik menghadapi seorang anak tua
nakal, betapapun terasa memalukan maka Kim-lun Hoat-ong
tidak dapat tinggal diam Iagi, segera ia mengeluarkan dua
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
buah gelang, satu perak dan satu lagi tembaga, sekaligus
kedua gelang. atau roda itu disambitkan dari kanan kiri dan
menerbitkan suara mendenging.
"Barang apa ini?" kata Ciu Pek-thong, ia tidak tahu
lihaynya senjata orang, maka tangannya terus meraih dan
bermaksud menangkapnya.
Betapapun Nyo Ko menaruh simpatik kepada Ciu Pekthong
yang polos itu, cepat ia memperingatkan: "Hei, jangan
dipegang!" Berbareng pula ia lemparkan tongkat baja yang
dipegangnya itu ke atas, Maka terdengarlah suara
gemerantang nyaring, tongkat baja yang panjang itu
tertumbuk hingga terpental ke sudut ruangan sana, sebaliknya
arah gelang tembaga yg terbentur itu tidak berubah dan
masih tetap berputar menyamber ke atas be-landar.
Baru sekarang Ciu Peh-thong tahu si Hwesio besar ini tidak
boleh diremehkan, ia pikir kalau dikerubuti jelas dirinya sukar
melayani Segera ia berjumpalitan turun ke bawah dan
berseru: "Maaf, Lo-wan-tong tak dapat menemani lebih lama,
besok saja kita main-main lagi."
Habis berkata ia terus berlari ke pintu ruangan tamu, tapi
dilihatnya empat orang berseragam hijau telah mengadangnya
di situ dengan mementang sebuah jaring ikan.
Ciu Pek-thong sudah merasakan lihaynya jaring begitu,
cepat ia membelok ke kanan dan bermaksud menerobos
keluar melalui iendela, tapi bayangan hijau lantas berkelebat,
kembali sebuah jaring merintangi jalannya.
Setelah melompat kembali ke tengah ruangan, Ciu Pekthong
melihat keempat penjuru sudah terentang oleh jaring
ikan sehingga jalan lolosnya menjadi buntu. Segera ia
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
melompat lagi ke atas belandar, dengan hantaman dari jauh ia
bikin atap rumah berlubang besar. maksudnya hendak
menerobos keluar melalui lubang itu, tapi baru saja ia
mendongak, dilihatnya di atas juga sudah terpasang sebuah
jaring ikan.
Terpaksa ia melompat turun ke bawah, katanya dengan
tertawa sambil menuding si Kokcu: "He, untuk apakah kau
menahan diriku di sini? Setiap hari melulu minum air tawar
dan makan beras mentah, memangnya Lo-wan-tong dapat
kau piara sampai tua?"
Kokcu itu menjawab dengan dingin : "Asalkan kau
tinggalkan kitab dan obat yang kau ambil itu, segera kau
boleh pergi dari sini"
Ciu Pek-thong menjadi heran, katanya : "Untuk apa
kuambil kitab dan obatmu segala ? seumpama mampu berlatih
sehingga selihay kau juga aku tidak kepingin."
Sang Kokcu melangkah pelahan ke tengah ruangan, ia
kebut-kebut debu pada baju sendiri, lalu berkata : "Jika
sekarang bukan hari bahagiaku, tentu aku akan minta
petunjuk beberapa jurus padamu, sebaiknya kau tinggalkan
barang yang kau ambil itu dan kau boleh pergi dengan bebas."
Dengan gusar Ciu Pek-thong berteriak: "Jadi kau tetap
menuduh aku mencuri barangmu? Huh, memangnya apa
barangmu yang berharga sehingga aku perlu mencurinya ?
Ini, boleh kau periksa!" Sembari bicara dengan cepat ia terus
membuka baju sendiri sepotong demi sepotong, dalam
sekejap saja sudah telanjang bulat.
Berulang sang Kokcu membentak agar Ciu Pek-thong
menghentikan perbuatannya, tapi anak tua nakal itu tidak
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ambil pusing, ia pentang dan membaliki baju celananya,
memang benar tiada sesuatu benda apapun juga.
Sudah tentu anak murid perempuan yang hadir di situ
menjadi kikuk dan sama berpaling ke jurusan lain. Kelakuan
Ciu Pek-thong ini sungguh sama sekali tak terduga oleh sang
Kokcu, iapun ragu apakah benar Ciu Pek-thong tidak mencuri
barangnya yang hilang itu, padahal barang-barang itu besar
sangkut-pautnya dengan Cui-sian-kok ini.
Selagi sang Kokcu termenung sangsi tiba-tiba Ciu Pekthong
bertepuk tangan dan berseru: "He, usiamu sudah cukup
tua, mengapa kau tidak tahu harga diri ngomong sesukanya,
berbuat seenak sendiri di depan umum melakukan hal
memalukan begini sungguh menggelikan."
Ucapan itu sebenarnya lebih tepat ditujukan kepada Ciu
Pek-thong sendiri tapi justeru dia mendahului omong, keruan
Kongsun Kokcu itu dibuat serba salah dan takdapat membuka
suara, Ketika melihat Hoan It-ong dan Be Kong-co masih
bergumul di lantai, segera ia membentaknya agar lekas
berdiri.
Padahal bukanlah Hoan It-ong tidak mau melepaskan diri
soalnya jenggotnya teriilit di tangan Be Kong-co dan sukar
melepaskan diri.
Dalam pada itu sambil mengernyitkan dahinya Kongsun
Kokcu menuding Ciu Pek-thong dan mendamperatnya. "Kukira
yang tidak tahu malu adalah kau sendiri !"
"Memangnya aku kenapa ?" jawab Ciu Pek-thong, "Aku
dilahirkan dengan bugil, sekarang aku telanjang bulat, putih
bersih, apanya yang salah? sebaliknya kau sudah tua dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
masih ingin mengawini seorang perawan muda sebagai isteri,
hehe, sungguh mentertawakan !"
Ucapan ini laksana palu besar yang menghantam dada
Kongsun Kokcu itu, seketika mukanya yang kuning itu
bersemu merah dan tak dapat menjawab.
Mendadak Ciu Pek-thong berteriak : "Haya, celaka ! Tidak
pakai baju, bisa masuk angin nih !" - Berbareng ia terus
menerjang keluar.
Ketika mendadak melihat bayangan orang berkelebat ke
arahnya, empat murid berbaju hijau yang siap di dekat pintu
itu cepat bergerak dan membentang jaring, sekaligus jaring
terus menutup ke atas kepala orang, Terasa sasarannya
berontak di dalam jala, maka cepat keempat orang itu
mengikat kencang empat ujung jaring dan diseret ke depan
sang Kokcu.
Jala ikan itu terbuat dari benang emas yang halus dan
Iemas, sekalipun golok dan pedang pusaka juga sukar
membobolnya, apalagi gerakan ke empat orang itu sangat
cepat dan lihay, biar tokoh maha hebat juga sukar
menghadapinya.
Begitulah keempat orang itu sangat senang karena
berhasil menawan sasarannya sehingga merekapun tidak
memperhatikan lagi siapa sebenarnya yang terjaring itu, Tapi
ketika mendadak nampak air muka sang Kokcu bersungut dari
menatap tajam jaring mereka, cepat merekapun menunduk
dan mereka menjadi kaget hingga berkeringat dingin, cepat
pula mereka membuka jaring dan membebaskan dua orang
yang sedang bergumul. Siapa lagi mereka kalau bukan Hoan
It-ong dan Be Kong-co.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kiranya tiada seorangpun yang menduga bahwa dalam
keadaan telanjang bulat Ciu Pek-thong berani menerjang
keluar semendadak itu. Karena gerakannya secepat kilat,
sekali samber ia tarik kedua orang yang sedang bergumul itu
terus dilemparkan ke dalam jaring.
Selagi keempat murid Cui-sian-kok itu sibuk
mengencangkan ikatan jaring mereka, secepat angin Ciu Pekthong
terus menyelinap keluar, Gerakan aneh dan maha cepat
ini sungguh luar biasa dan maha lihay.
Gara-gara perbuatan Lo-wan-tong Ciu Pek-thong ini, tidak
cuma sang Kokcu saja yang kebobolan, bahkan mereka Kimlun
Hoat-ong dan kawannya juga merasa malu, masakah
gabungan tokoh kelas wahid seperti mereka ini ternyata tidak
mampu menangkap seorang tua yang gila-gilaan itu, sungguh
terlalu tidak becus.
Hanya Nyo Ko saja yang kagum sekali terhadap
kepandaian Ciu Pek-thong, tadi ia sudah bertekad akan
menolong anak tua nakal itu apabila sampai tertawan, tapi kini
Ciu Pek-thong sendiri dapat meloloskan diri, diam-diam Nyo
Ko bersukur dan lega.
Tujuan Kim-lun Hoat-ong sebenarnya hendak mencari tahu
seluk-beluk sang Kokcu, tapi setelah " dikacau" oleh Ciu Pekthong,
ia merasa rikuh untuk tinggal lebih lama lagi di situ,
Setelah berunding dengan Slau-siang-cu dan In Kik-si, lalu dia
berbangkit dan mohon diri.
Semula Kokcu itu menyangka keeram orang ini adalah
sekomplotan dengan Ciu Pek-thong, tapi kemudian melihat
Siau-siang-cu, Be Kong-co dan lainnya menempur Ciu Pekthong
dengan sengit dan menggunakan kepandaian khas
masing-masing yang lihay, tampaknya memang sengaja
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
membantu pihak sendiri maka ia lantas memberi hormat dan
berkata: "Ada sesuatu permintaanku yang tidak pantas, entah
kalian berenam sudi menerimanya tidak?"
"Asalkan kami sanggup, tentu akan kami terima," jawab
Kim-lun Hoat-ong.
"Begini." kata sang Kokcu, "lewat lohor nanti adalah
upacara pernikahanku yang kedua kalinya, maka ingin
kuundang kalian ikut hadir memberi do"a restu, di lembah
pegunungan ini selama beratus tahan jarang didatangi orang
luar, kebetulan sekarang kalian hadir sekaligus, sungguh
kurasakan sangat beruntung."
"Ada arak tidak nanti ?" seru Be Kong-co.
Belum lagi sang Kokcu menjawab, mendadak bayangan
orang berkelebat masuklah seorang perempuan berbaju putih
sambil bertanya: "Apakah orang yang mengacau sudah
pergi?"
Kejut dan girang tidak kepalang Nyo Ko melihat
perempuan ini, cepat ia melompat maju dan menarik
tangannya serta berseru : "Hei, Kokoh, engkau juga datang ke
sini? sungguh payah kucari kau sekian lamanya!"
Perempuan itu memandang sekejap kepada Nyo Ko
dengan air muka merasa heran, lalu menjawab: "Siapakah
tuan? Kau memanggil apa padaku ?" ,
Nyo Ko terperanjat ia coba mengamat-amati lagi
perempuan ini, kelihatan wajahnya yang putih halus dan
cantik, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li adanya ? Tanpa
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ragu segera ia menjawab: "Kokoh.. aku ini Nyo Ko, masakah
kau sudah pangling padaku?"
Kembali perempuan itu memandang sekejap kepadanya,
lalu menjawab dengan dingin: "Selamanya aku tidak pernah
kenal kau, mana kuberani dipanggil sebagai Kokoh?"
Berbareng ia terus melangkah ke depan dan duduk di
sebelah sang Kokcu.
Wajah sang Kokcu yang tadinya kaku dingin segera
berubah berseri-seri akan kedatangan perempuan cantik itu,
dia berkata kepada Kim-lun Hoat-ong: "lnilah bakal isteriku
yang upacara perkawinan kami segera akan dilangsungkan
lewat lohor nanti"
Habis berkata ia melirik sekejap ke arah Nyo Ko seperti
kurang senang akan kecerobohan pemuda itu yang salah
mengenali-orang.
Keruan kejut Nyo Ko tak terkatakan, serunya: "Kokoh,
masakah engkau ini bukan Siao-liong-li? Memangnya kau
bukan Suhuku?"
Perempuan itu mengawasi Nyo Ko sejenak air mukanya
menampilkan perasaan heran dan bingung, sejenak kemudian
barulah menjawab sambil menggeleng: "Bukan, siapakah Siaoliong-
li itu?"
Kedua tangan Nyo Ko mengepal sekencangnya dan
diremas-remas hingga lecet, benaknya terasa tawar sekali, ia
tidak tahu apakah sang Kokoh marah padanya sehingga tidak
mau mengakui dia lagi? Atau disebabkan berada di tempat
berbahaya dan dia sengaja bersikap demikian untuk mencari
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
selamat? Atau barangkali di dunia ini benar-benar ada
perempuan lain yang serupa dengan dia?
Meski Nyo Ko biasanya pintar dan cerdik, tapi kini ia tak
dapat mengendalikan pergolakan perasaannya teringat
cintanya kepada Siao-Jiong-li, dan tanpa terasa ia menjerit.
Melihat pemuda itu bersikap kurang wajar, Kokcu itu
mengernyitkan dahi dan berkata pelahan kepada perempuan
baju putih itu : "Liu-ji, hari ini sungguh banyak orang yang
aneh"
Perempuan itupun tidak menggubris padanya, pelahan ia
menuang secawan air dan diminum, sorot matanya
mengerling semua orang, tapi sampai pada Nyo Ko,
pandangnya menghindarkan pemuda itu dan tidak melihatnya
lagi.
Jika orang lain tentu akan bersikap tenang untuk melihat
apa yang akan terjadi nanti, tapi dasar watak Nyo Ko memang
tidak sabaran, apa lagi Kokcu itu menyatakan akan menikah
lewat lohor nanti, dalam keadaan bingung dan tak berdaya,
Nyo Ko coba berpaling dan tanya Kim-lun Hoat-ong:
"Kau pernah bertanding dengan suhuku, tentu kau kenal
dia dengan baik, coba katakan, apakah aku salah mengenali
dia?"
Ketika perempuan baju putih itu muncul tadi sebenarnya
Kim-lun Hoat-ong sudah mengenal dia sebagai Siao-Iiong-li,
tapi nona itu ternyata tidak mau gubris, meski Nyo Ko telah
menegurnya sendiri, di antara pasangan muda-mudi ini tentu
terjadi pertengkaran, maka ia tersenyum dan menjawab:
"Entahlah, akupun tidak begitu ingat lagi."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sudah tentu jawaban Kim-lun Hoat-ong ini mempunyai
dua maksud tujuan. Dia pernah dikalahkan oleh Giok-Ii-kiamhoat
yang dimainkan bersama antara Nyo Ko dan Siao-liong-Ii,
kini kepandaian Myo Ko sudah jauh lebih maju lagi, kalau
kedua muda-mudi itu bergabung, jelas dirinya lebih-Iebih
bukan tandingan mereka.
Tapi kalau kedua orang itu bertengkar biarpun bergabung
lagi dan menempurnya, asalkan antara jiwa kedua orang itu
sudah terjadi keretakan dan tidak dapat saling kontak, maka
kesempatan untuk menang bagi dirinya menjadi sangat besar.
BegituIah Nyo Ko menjadi melengak oleh jawaban Hoatong
itu, tapi ia lantas paham juga maksud tujuan orang,
pikirnya dengan mendongkol: "Hati manusia benar-benar keji
dan culas, Ketika kau terluka parah, aku pernah membantu
menyembuhkan kau, tapi sekarang kau malah bermaksud
membikin susah padaku."
Melihat sorot mata kebencian Nyo Ko, Kim- lun Hoat-ong
tahu pemuda itu merasa dendam padanya, kelak pasti akan
membahayakan, kalau ada kesempatan harus kubereskan
sekarang juga. ia lantas balas menghormat sang Kokcu dan
menjawab: "Kami berterima kasih atas undangan Kok-cuuntuk
menghadiri pernikahanmu, cuma kedatangan kami
hanya kebetulan sehingga tidak membawa kado apapun,
sungguh kami merasa tidak enak?"
Kokcu itu merasa senang karena Kim-lun Hoat-ong dan
rombongannya mau terima undangannya, segera ia
memperkenalkan mereka kepada bakal isterinya, ketika giliran
Nyo Ko, ia hanya menyebutnya she Nyo saja, lalu tidak diberi
tambahan keterangan Iain.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kelihatan perempuan baju putih itu cuma mengangguk
pelahan saja tanpa memberi sesuatu perhatian apapun ketika
diberitahu nama setiap orang, terhadap Nyo Ko iapun tidak
ambil pusing seperti halnya orang Iain.
Muka Nyo Ko menjadi merah padam, jantungnya memukul
keras, apa yang dibicarakan Kokcu itu sama sekali tak
terdengar olehnya.
Kongsun Lik-oh yang berdiri di belakang ayahnya dapat
mengikuti gerak-gerik Nyo Ko itu, ia teringat ketika pemuda
itu tertusuk duri bunga cinta segera merasa sakit karena
timbul rasa rindunya, melihat gelagatnya sekarang apakah
memang betul bakal ibu tiriku ini adalah kekasihnya ?
Masakah bisa terjadi secara begini kebetulan, jangan-jangan
kedatangan orang-orang ini justeru di sebabkan oleh bakal ibu
tiriku ini?
Karena pikiran itu, Kongsun Lik-oh coba mengawasi
perempuan baju putih itu, terlihat air mukanya tenang-tenang
saja, tidak merasa suka ria juga tidak merasa kikuk dan malu,
sama sekali tidak memper sebagai seorang calon pengantin
baru.
Dalam pada itu Nyo Ko merasakan dadanya sesak seakanakan
putus napasnya, tapi biarpun wataknya mudah
terguncang perasaannya namun dia juga seorang yang pintar
dan cerdik, ia pikir kalau sang Kokoh tidak mau mengakui dia,
bisa jadi Kokoh mempunyai maksud tujuan tertentu, untuk ini
aku harus menjajakinya dengan jalan lain.
Segera ia berdiri dan memberi hormat kepada sang Kokcu,
katanya dengan lantang: "Karena ada seorang sanak
keluargaku yang mirip dengan wajah nyonya barumu, tadi aku
salah mengenalinya untuk itu kumohon maaf."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ucapan yang cukup sopan ini diterima dengan baik oleh
Kokcu itu, sikapnya lantas berubah ramah juga, ia balas
hormat dan menjawab: "Salah mengenali orang adalah
kejadian biasa dan tidak ada persoalan maaf segala, Cuma...
cuma di dunia ini ternyata ada orang lain lagi yang serupa
bakal isteriku tercinta ini, hal ini tidak hanya kebetulan saja.
tapi sesungguhnya teramat aneh."
Di balik ucapannya ini dia ingin menyatakan bahwa di
dunia ini mustahil ada wanita cantik lagi yang serupa dengan
calon isterinya itu.
"Memangnya, maka akupun sangat heran," ujar Nyo Ko.
"Maaf, apakah boleh kutanya siapakah she nyonya yang
terhormat?"
"Dia she Liu, apakah kenalanmu itu juga she Liu?" kata
sang Kokcu dengan tersenyum.
"Oh, bukan," jawab Nyo Ko, Diam-diam ia menimangnimang
mengapa sang Kokcu mengaku she Liu. Tapi, segera
pikirannya tergerak: "Ah, soalnya aku she Nyo."
Nyoliu Yang itu adalah nama pohon, jadi jelas Siau-liong-li
mengaku she liu karena dia belum lagi melupakan Nyo Ko.
Terpikir akan demikian, seketika jari Nyo Ko kesakitan lagi.
Melihat Nyo Ko meringis menahan sakit, Kongsun Lik-oh
merasa kasihan dan sayang padanya, sorot matanya
senantiasa mengikuti perubahan aii muka pemuda itu.
Sekuatnya Nyo Ko menahan rasa sakit bekerjanya racun
bunga cinta, mendadak teringat lagi sesuatu olehnya, cepat ia
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tanya "Apakah nona Liu ini penduduk sekitar pegunungan ini?
Entah cara bagaimana Kokcu berkenalan dengan "dia?"
Sebenarnya Kokcu itu juga sangat ingin tahu asal-usuI
bakal isterinya itu, ia pikir bukan mustahil bocah ini memang
kenal Liu-ji dan dari dia nanti akan diperoleh keterangan lebih
jelas mengenai asal-usul bakal isteri itu, segera ia menjawab:
"Ya, pertemuan kami memang terjadi secara kebetulan
setengah bulan yang lalu, ketika aku sedang mencari bahan
obat di lereng gunung, kutemukan dia menggeletak di kaki
gunung sana dalam keadaan terluka parah dan kempaskempis.
Setelah kuperiksa dia, kiranya dia menderita
kesesatan lantaran berlatih lwekang kurang tepat, Aku lantas
membawanya pulang dan mengobati dia dengan obat mujarab
keluargaku yang sudah turun temurun, jadi perkenalan kami
ini boleh dikatakan secara kebetulan, itulah yang dikatakan
kalau memang sudah jodoh."
"O, kiranya di dunia ini juga ada obat mujarab yang dapat
menyembuhkan nona Liu, kukira hanya dapat disembuhkan
dengan bantuan darah "orang lain," kata Nyo Ko.
Mendengar ucapan ini, mendadak perempuan itu
menumpahkan darah segar sehingga bajunya yang putih itu
berlepotan darah, "Semua orang menjerit kaget dan sama
berbangkit.
Kiranya nona Liu ini memang betul nama samaran Siaoliong-
li, setelah mendengar pembicaraan Ui Yong tempo hari
itu, semalam suntuk ia tak dapat tidur, setelah dipikir bolakbalik,
ia merasa kalau "Nyo Ko menjadi suami isteri dengan
dirinya, akibatnya pemuda itu akan dicaci maki orang dan hati
sendiri merasa tidak enak jika keduanya mengasingkan diri di
dalam kuburan kuno-itu, lama-lama pemuda itu tentu akan
kesal dan akhirnya bukan mustahil akan meninggalkannya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Namun cintanya terhadap Nyo Ko sesungguhnya teramat
mendalam, sebab itulah dia tegas memutuskan hubungan hal
inipun timbul dari cintanya yang suci murni dan demi
kebahagiaan dan hari depan Nyo Ko.
Begitulah seorang diri dia mengayunkan langkah tanpa
arah tujuan di ladang sepi dan lereng, pegunungan, suatu hari
ia berduduk bersemadi, mendadak pikirannya bergolak dan
sukar diatasi, akibatnya luka dalam yang lama kambuh lagi.
Untung Kokcu she Kongsun itu kebetulan lewat di situ dan
menolongnya, kalau tidak tentu Siao-liong-li sudah tewas di
pegunungan sunyi itu.
Kongsun Kokcu itu sudah lama menduda, meIihat
kecantikan Siao-liong-li yang tiada taranya itu, ia menjadi
tertarik sebenarnya Siao-liong-Ii sendiri juga sudah putus asa,
tapi setelah dipikirkan lagi ketika dilamar oleh Kokcu ,itu, ia
pikir kalau sudah menjadi isteri orang lain, jelas persoalannya
dengan Nyo Ko akan menjadi putus, apalagi Cui-sian-kok ini
sangat sunyi dan terpencil, selanjutnya pasti takkan bertemu
lagi dengan pemuda itu.
Siapa tahu mendadak muncul Lo-wan-tong Ciu Pek-thong
dan mengacaukan Cui-sian-kok itu dan memancing pula
kedatangan Nyo Ko.
Kini mendadak berhadapan dengan Nyo Ko di tengah
perjamuan, sungguh remuk rendam hati Siao liong-li, pikirnya:
"Aku sudah menerima lamaran orang dan segera akan
menikah, lebih baik aku berlagak tidak kenal dia, biar dia pergi
dari sini dengan gusar dan membenci diriku selama hidup.
Sebab itulah dia tetap tidak menggubrisnya meski
dilihatnya Nyo Ko sangat cemas dan bingung, Ketika
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
mendadak Nyo Ko berkata tentang penyembuhan dengan
bantuan darah orang lain, segera teringat olehnya ketika
dirinya terluka parah oleh kaum Tosu Coan-cin-kau sehingga
muntah darah, tapi tanpa menghiraukan keselamatan sendiri
Nyo Ko telah menyalurkan darah sendiri untuk menyelamatkan
jiwanya, hal ini sungguh terukir mendalam di lubuk hatinya.
Karena guncangan perasaan itulah seketika iapun
menumpahkan darah segar.
Dengan wajah pucat lesi ia berbangkit dan bermaksud
melangkah ke ruangan belakang Kong-sun Kokcu cepat
berkata padanya: "Duduk saja dan jangan bergerak agat tidak
mengganggu urat nadi yang lain." - Lalu ia berpaling kepada
Nyo Ko dan berkata pula: "Sebaiknya kau pergi saja dan untuk
selanjutnya janganlah datang lagi ke sini"
Air mata Nyo Ko bercucuran, katanya kepada Siao-liong-li:
"Kokoh, bila aku beranjak silakah kau mencaci dan memukul
aku, sekalipun kau membunuh aku juga aku rela, Tapi
mengapa kau tidak mau mengakui diriku lagi?"
Siao-liong-li tidak menjawab, ia menunduk dan batuk
pelahan beberapa kali.
Sejak tadi Kongsun Kokcu sudah murka karena ucapan
Nyo Ko telah membikin Siao-liong-li muntah darah, tapi
sebisanya ia bersabar, dengan suara geram ia berkata pula:
"Jika kau tidak segera pergi, jangan kau menjalankan aku
tidak kenal ampun."
Tapi mata Nyo Ko hanya menatap tajam kepada Siaoliong-
li dan tidak menggubris Kongsun Kokcu, ia memohon
pula: "Kokoh, aku berjanji akan mendampingi kau selama
hidup di kuburan kuno itu dan takkan menyesal, marilah kita
berangkat sekarang."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Pelahan Siao-liong-li mengangkat kepalanya, ia lihat sorot
mata Nyo Ko penuh rasa kasih sayang yang mendalam
bercampurkan rasa sedih dan cemas tak terhingga, tanpa
terasa hatinya bergoncang dan timbul niatnya akan terima
ajakan Nyo Ko itu, tapi segera terpikir lagi olehnya: "Tidak.
perpisahanku ini sudah kupikirkan dengan masak, bila aku
tidak tahan sekejap ini, kelak pasti akan bikin susah dia
selama hidup."
Karena itu, cepat ia berpaling lagi ke arah lain dan
menghela napas panjang, katanya: "Aku tidak kenal kau. Apa
yang kau katakan sama sekali aku tidak paham, sebaiknya
lekas kau pergi saja !"
Beberapa kalimat itu diucapkannya dengan lemah dan
lirih, namun penuh mengandung kasih sayang, kecuali orang
dogol semacam Be Kong-co yang sama sekali tidak
merasakannya, orang-orang lain segera mengetahui bahwa
perasaan Siao-liong-li terhadap Nyo Ko sesungguhnya sangat
mesra, apa yang dikatakannya itu sesungguhnya bertentangan
dengan pikirannya.
Sudah tentu tidak kepalang rasa cemburu Kongsun Kokcu
setelah mendengar perkataan itu, meski Siao-liong-li sudah
menerima lamarannya dan bersedia menjadi isterinya, tapi
belum pernah nona itu mengucapkan sesuatu perkataan yang
mesra padanya.
Dengan geram ia melotot kepada Nyo Ko, dilihatnya
pemuda itu memang gagah dan cakap, sesungguhnya
memang pasangan yang sangat setimpal dengan Siao-liong-li,
ia pikir kedua muda-mudi itu mungkin memang sudah
pacaran, entah pertengkaran urusan apa sehingga berpisah
dan Liu-ji mau terima lamaranku, tapi jelas hatinya belum
melupakan kekasihnya yang lama. Teringat hal ini, tanpa
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
terasa sorot, matanya memancarkan sinar kegusaran dan
kebencian.
Hoan It-ong paling setia kepada sang guru, ia lihat Nyo Ko
telah mengacaukan rencana pernikahan gurunya, bahkan
mengakibatkan bakal ibu guru itu muntah darah dan sang
guru tetap bersabar saja, segera ia tampil ke muka dan
membentak: "Bocah she Nyo, jika kau tahu diri hendaklah
lekas enyah dari sini, Kokcu kami tidak menyukai tamu yang
tidak kenal sopan santun macam kau."
Nyo Ko anggap tidak mendengar saja, dengan suara
lembut ia berkata pula kepada Siao-liong-li:
"Kokoh, apakah engkau benar-benar telah lupa
kepadaku?"
Gusar sekali Hoan It-ong, sebelah tangannya terus
mencengkeram ke punggung Nyo Ko dengan tenaga penuh,
maksudnya sekali pegang segera Nyo Ko hendak
dilemparkannya keluar.
Saat itu Nyo Ko sedang bicara kepada Siao-liong-li dengan
penuh perhatian, kejadian apa di luar itu sama sekali tidak
dihiraukannya, ketika jari Hoan It-ong menyentuh
punggungnya barulah dia terkejut dan cepat mengerahkan
tenaga untuk mengerutkan badan, seketika cengkeraman
Hoan It-ong mengenai tempat kosong, terdengar suara "bret"
baju bagian punggung Nyo Ko telah terobek.
Karena permohonanaya yang berulang tefap tidak digubris
oleh Siao-liong-li, Nyo Ko menjadi semakin cemas, apabila
berada berduaan di dalam kuburan kuno, dengan sendirinya
dia akan memohon dengan sabar, tapi kini berada di depan
orang banyak, sedangkan Hoan It-ong terus mengganggu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
keruan rasa gusar Nyo Ko menjadi berpindah kepada kakek
cebol itu, segera ia berpaling dari membentak: "Aku sedang
bicara dengan Kokoh, kenapa kau mengganggu saja?"
Dengan suara keras Hoan It-ong balas membentak:
"Kokcu suruh kau enyah, kau dengar tidak? Kalau kau tetap
membangkang, jangan kau salahkan kakekmu yang tidak
kenal ampun lagi padamu."
"Aku justeru tidak mau pergi, kau mau apa?" jawab Nyo
Ko dengan gusar. "Selama Kokoh masih di sini akupun akan
tetap tinggal di sini. Biarpun aku mati dan mayatku menjadi
abu juga tetap kuikut dia."
Sudah tentu ucapan Nyo Ko itu sengaja di-perdengarkan
kepada Siao-liong-li. Ketika Kongsun Kokcu itu melirik wajah si
nona, tertampak air matanya berlinang dan akhirnya menetes,
sungguh pedih hatinya, rasa cemburunya terhadap Nyo Ko
juga semakin membakar, segera ia mengedipi Hoan It-ong
dan memberi tanda agar segera melancarkan serangan maut
untuk membinasakan Nyo Ko.
Tak terduga juga oleh Hoan It-ong bahwa sang guru akan
menyuruhnya membunuh pemuda itu, semula dia hanya
bermaksud mengusirnya saja, Tapi sang guru telah
mendesaknya lagi, terpaksa ia angkat tongkatnya dan
diketokkan ke lantai hingga menerbitkan suara nyaring,
bentaknya : "Apa-kau benar-benar tidak takut mati?"
Dalam pada itu Nyo Ko merasakan darah panas, bergolak
di rongga dadanya, seperti halnya Siao liong-li, rasanya darah
itu akan tertumpah keluar.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kiranya aliran lwekang Ko-bong-pay itu sangat
mengutamakan soal mengekang perasaan dan pengendalikan
napsu, sebab itulah waktu Siao-liong-li diajarkan oleh gurunya
dahulu, ia diharuskan menjauhi segala macam perasaan sukaduka
dan pengaruh dari Iuar. Belakangan ketika Siao-liong-li
tak dapat menahan perasaannya sehingga beberapa kali ia
telah tumpah darah.
Nyo Ko sendiri mendapat ajaran dari Siao-liong-li, aliran
Lwekangnya sama, karena gejolak perasaannya itu, kini kaki
dan tangannya terasa dingin dan darah hampir tersembur dari
mulutnya.
Ia menjadi nekat ingin mati saja di hadapan sang Kokoh
yang tidak mau gubris lagi padanya itu, Tapi segera terpikir
olehnya: "Betapa mesranya Kokoh padaku biasanya, bahwa
sekarang dia bersikap sedingin ini padaku, kuyakin pasti-ada
sebab musababnya, besar kemungkinan dia mendapat
tekanan dari Kokcu bangsat ini dan terpaksa tidak berani
mengakui diriku. Kalau aku tidak bersabar dan cari jalan
keluar, tentu sukar menghadapi orang-orang di sini."
Karena pikiran itu, serentak semangat jantannya timbul, ia
bertekad akan melabrak musuh dan menyelamatkan Siaoliong-
li keluar dari tempat berbahaya ini. Segera ia
mengumpulkan semangat dan menenangkan diri, kemudian ia
tersenyum dan berkata kepada Hoan It-ong: "He, ada apa kau
gembat-gembor tadi? Pegunungan sunyi seperti kuburan ini,
kalau tuan muda mau datang masakah kau mampu
mengalangi dan jika kuingin pergi masakah kau dapat
menahan diriku?"
Tadi semua orang menyaksikan keadaan Nyo Ko yang
sedih dan kalap seperti orang gila, tap mendadak bisa berubah
menjadi sabar dan tenang sungguh mereka sangat heran,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena Hoart It-ong memang tiada maksud membunuh Nyo
Ko sebagai mana perintah sang guru, maka tongkatnya segera
disabetkan ke kaki Nyo Ko.
Kongsun Lik-oh kenal kepandaian Toasuhengnya itu
sangat lihay, meski tubuhnya pendek, tap memiliki tenaga
raksasa pembawaan semalam pun menyaksikan ketahanan
Nyo Ko digarang di dalam rumah batu itu, Lwekangnya jelas
tidak rendah, tapi mengingat usianya yang masih muda,
rasanya sukar melawan permainan tongkat Toasu-hengnya,
apabila kedua orang sudah bergebrak untuk menolong
pemuda itu pasti sangat sukar.
Karena hasratnya ingin menolong Nyo Ko, walaupun
nampak sang ayah sedang gusar, namun Kongsun Lik-oh
tetap nekat dan tampil ke muka, katanya kepada Nyo Ko:
"Nyo-kongcu, tiada gunanya kau buang waktu di sini dan
mengorbankan jiwamu."
Nyo Ko hanya mengangguk dan tersenyum, jawabnya:
"Terima kasih atas maksud baik nona, Tapi aku ingin mainmain
beberapa jurus dengan si jenggot panjang ini, eh,
apakah kau suka mainan kuncir, biar kupotong jenggot si
cebol ini untukmu."
Kejut sekali Kongsun Lik-oh dan tidak berani menanggapi
ucapan Nyo Ko itu, ia anggap kelakar pemuda itu keterlaluan
dan benar-benar sudah bosan hidup barangkali.
Dalam pada itu Hoan It-ong menjadi gusar juga karena
jenggotnya itu diremehkan Nyo Ko, mendadak ia membuang
tongkatnya dan melompat maju sambil membentak: "Bocah
kurangajar! rasakan dulu jenggotku ini!"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Belum habis ucapannya, mendadak jenggot yang panjang
itu menyabet ke muka si Nyo Ko.
Aembari berkelit Nyo Ko berkata dengan tertawa: "Lowang-
tong tidak berhasil memotong jenggotmu, biarlah
akupun mencobanya."
Segera ia mengeluarkan gunting raksasa dari rangselnya
terus menggunting, Tapi sekali miringkan kepalanya, Hoan Itong
putar jenggotnya terus menghantam kepala lawan
dengan kekuatan yang hebat.
Cepat Nyo Ko melompat ke samping, sebalikya guntingnya
terus membalik dan "creng", guntingnya telah mengatup.
Kejut Hoan It-ong tak terkatakan, secepat kilat ia
berjumpalitan ke belakang, sedikit ayal saja jenggotnya pasti
sudah tergunting putus.
Sebenarnya gunting Nyo Ko itu dia pesan dari Pang Bikhong
untuk digunakan melawan senjata kebut Li Bok-chiu,
untuk itu dia sudah mempelajari gaya permainan kebut lawan
dan cara, bagaimana guntingnya harus bekerja.
Siapa tahu Li Bok-chiu yang diharapkan itu belum pernah
bertemu, kini guntingnya harus menghadapi si kakek cebol
yang menggunakan jenggot panjang sebagai senjata.
Nyo Ko sangat senang, ia yakin betapapun lihaynya
jenggot si kakek juga pasti tidak lebih lihay daripada kebut Li
Bok-chiu, karena itu dia tidak menjadi gentar, guntingnya
terus mendesak lawan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Hoan It-ong sendiri sudah lebih 30 tahun menggunakan
jenggotnya sebagai senjata, apalagi kedua tangannya juga
ikut menyerang, tentu saja tambah lihay.
Malahan Ciu Pek-thong yang maha sakti itupun tidak
berhasil menggunting jenggot Hoan It-ong, maka semua
orang menyangka Nyo Ko pasti juga akan gagal.
Tak terduga permainan gunting Nyo Ko ternyata lebih
lincah dan hidup serta lain dari pada Ciu Pek-thong. tentu saja
hal ini membikin semua orang merasa heran, Padahal
bukanlah Nyo Ko lebih tinggi ilmu silatnya daripada Ciu Pekthong,
soalnya sebelum itu dia sudah mempelajari gaya
permainan kebut Li Bok-chiu dan sudah merancangkan cara
bagaimana akan menggunakan guntingnya, sedangkan
gerakan jenggot Hoan It-ong justeru hampir sama dengan
permainan kebut Li Bok-chiu, maka sekali Nyo Ko mulai
memainkan guntingnya, dengan sendirinya terasa sangat
lancar dan berada di atas angin.
Begitulah beberapa kali jenggot Hoan It-ong tampak kena
digunting putus, kini ia tak berani lagi meremehkan Nyo Ko
yang masih muda itu. Segera, ia ganti serangan jenggotnya
disertai dengan pukulan yang dahsyat, terkadang sabetan
jenggotnya cuma gerak pura-pura, lalu disusul dengan
pukulan lihay sungguhan tapi ada kalanya pukulannya cuma
pancingan, lalu jenggotnya menyabet, sungguh kepandaian
yang luar biasa dan lain daripada yang lain.
Setelah beberapa puluh jurus lagi, diam-diam Nyo Ko
mulai gelisah, ia pikir Kokcu she Kongsun itu jelas manusia
culas dan kejam, ilmu silatnya pasti juga jauh di atas kakek
cebol ini, kalau muridnya tak dapat dikalahkan lalu cara
bagaimana melawan gurunya nanti?
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko coba memperhatikan gerak-gerik lawan, tertampak
kelakuan kakek cebol itu sangat lucu dikala menggoyangkan
kepala untuk menya-betkan jenggotnya, semakin keras
sabetan jenggot-nya, semakin lucu pula kepalanya itu
bergoyang.
Tiba-tiba hari Nyo Ko tergerak ia telah menemukan cara
mematahkan serangan lawan itu, "cret", ia katupkan
guntingnya sambil melompat mundur dan berseru: "Berhenti
dulu !"
Hoan It-ong tidak mengudaknya, ia bertanya: "Adik cilik
jika kau menyerah kalah, nah lekas pergi saja dari sini!"
Tapi Nyo Ko menggeleng dan menjawab: "Aku ingin tanya,
setelah jenggotmu ini dipotong, berapa lama baru dapat
tumbuh lagi sepanjang itu?"
"Itu bukan urusanmu?" sahut Hoan lt-ong dengan gusar.
"Selamanya aku tidak pernah cukur!"
"Sayang, sayang ! sungguh sayang!" ujar Nyo Ko sambil
menggeleng.
"Sayang apa ?" tanya Hoan It-ong melengak.
"Cukup di dalam tiga jurus saja segera jenggotmu yang
panjang ini akan kugunting putus," kata Nyo Ko.
Apakah betul Nyo Ko mampu memg-gunting jenggot Hoan liong
itu?
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Rahasia apa yang meliputi asal-usul Kongsun Kokcu?
Dapatkah Nyo Ko rujuk kembali dengan Siao-liong-li?
Bacalah jilid ke - 26
Jilid 26
Mana Hoan It-ong mau percaya dalam tiga-jurus saja
dirinya akan dikalahkan oleh Nyo Ko, bukankah sejak tadi
mereka sudah bergebrak beberapa puluh jurus? Dengan pusar
ia membentak: "Lihat seranganku!"--Sebelah tangannya
segera memukul.
Cepat Nyo Ko menangkis dengan tangan kiri, gunting di
tangan kanan balas menghantam batok kepala lawan,
perawakan Nyo Ko lebih tinggi, untuk memukul lawan dengan
sendirinya mesti dari atas ke bawah, karena itu Hoan I-ong
memiringkan kepalanya untuk menghindar, tak terduga
tangan kiri Nyo Ko lantas menghantam pula kepeIipis
kanannya, untuk mengelak terpaksa Hoan It-ong memiringkan
kepala lagi, tapi lantaran serangan lawan teramat cepat dan
caranya memiringkan kepala juga sangat cepat, dengan
sendirinya jenggotnya yang panjang itu ikut tergertak ke atas,
padahal gunting Nyo Ko sudah disiapkan di sebelah kanannya
"cret", tanpa ampun lagi jenggotnya tergunting sepanjang
setengah meter.
Semua orang menjerit kaget, ternyata benar Nyo Ko telah
memotong jenggot Hoan It-ong hanya dalam tiga jurus saja
seperti apa yang dikatakan sebelumnya tadi.
Kiranya menurut pengamatan Nyo Ko tadi, diketahuinya
apabila Hoan It-ong hendak menyabet dengan jenggotnya ke
kiri misalnya, maka kepalanya pasti meleng dulu ke sebelah
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kanan, jika jenggot hendak menyabet ke atas, maka kepala
tentu menunduk lebih dulu.
Dari situlah dia menetapkan siasatnya untuk memotong
jenggot lawan harus pura-pura menghantam kepalanya
dengan begitu barulah dia berani sesumbar akan menggunting
jenggot lawan dalam tiga jurus saja.
Hoan It-ong terkesima sejenak, ia merasa sayang dan
murka pula karena jenggot yang sudah dirawatnya selama
hidup itu telah digunting begitu saja, Cepat ia samber kembali
tongkatnya, dengan kalap ia serampang pinggang Nyo Ko.
Waktu masuk tadi Be Kong-co telah dijatuhkan oleh
jenggot Hoan It-ong, maka ia sangat senang melihat jenggot
orang terguling putus, serunya sambil tertawa: "He, Hoan
cebol, tampangmu memangnya jelek, tanpa jenggotmu itu kau
menjadi semakin buruk rupa!"
Hoan It-ong tambak gemas sehingga serangannya
bertambah dahsyat pula.
Selama Nyo Ko bergebrak dengan Hoan It-ong, yang
dipikirkan hanya jenggot orang saja sehingga belum diketahui
sampai dimana kekuatan yang sesungguhnya, kini
menghadapi tongkat lawan, ia ingin tahu bagaimana
tenaganya, ketika tongkat lawan menyabet tiba, segera ia
menangisnya dengan gunting, "trang", lengan terasa
kesemutan dan gunting raksasa itu telah bengkok. Hanya satu
jurus itu saja gunting itu sudah tak dapat digunakan lagi.
Melihat perubahan itu, Kongsun Lik-oh menguatirkan pula
keselamatan Nyo Ko, cepat ia berseru: "Nyo-kongcu,
tenagamu tidak memadai Toasuhengku, buat apa kau
menempurnya lagi?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kegusaran Kongsun Kokcu bertambah sengit karena
puterinya berulang kali membela orang luar, ia pelototi anak
perempuannya itu, tertampak si nona mengawasi -Nyo Ko
dengan penuh perhatian, ketika ia memandang Siao-liong-li,
tertampak sikapnya hambar saja seakan-akan tidak ambil
pusing terhadap keselamatan Nyo Ko.
Karena itu Kong-sun Kokcu menjadi girang, ia pikir Siaoliong-
li ternyata tidak mencintai Nyo Ko, terbukti keselamatan
pemuda itu sedikitpun tidak dihiraukannya.
Padahal Siao-Iiong-Ii cukup kenal kepintaran dan
kecerdikan Nyo Ko, ilmu silatnya juga pasti tidak dibawah
Hoan-It-ong, ia yakin pertarungan mereka pasti akan
dimenangkan pemuda itu, makanya ia sama sekali tidak
berkuatir.
Dalam pada itu Nyo Ko telah membuang guntingnya yang
sudah bengkok itu, lalu berkita: "Hoan-heng, kau pasti bukan
tandinganku lebih baik kau menyerah saja!"
Dengan gusar Hoan It-ong menjawab: "Asalkan kau
sanggup mengalahkan tongkatku ini, segera aku membunuh
diri!" Berbareng tongkatnya terus mengemplang sekerasnya.
Namun sedikit Nyo Ko miringkan tubuhnya, tongkat itu
jatuh disebelahnya, sekali kaki kiri Nyo Ko menginjak, dengan
tepat batang tongkat itu terpijak.
Sekuatnya Hoan It-ong mengangkat tongkatnya ke atas,
tapi tubuh Nyo Ko juga lantas mengikuti gerakan tongkat itu
dan terbawa ke udara, dengan mantap ia berdiri diatas
tongkat dengan satu kaki, yaitu kaki kiri. Beberapa kali Koan
it-ong menggerakkan tongkatnya agar Nyo Ko tergetar jatuh,
tapi tak berhasil.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dengan murka Hoan It-ong hendak memutar tongkatnya,
tapi Nyo Ko keburu melangkah maju melalui batang
tongkatnya.
Keruan gerakan aneh Nyo Ko ini sangat mengejutkan
Hoan It-ong, sementara itu Nyo Ko sudah melangkah maju
lagi satu tindak, mendadak kaki kanan melayang ke depan
untuk menendang hidung-nya.
Keadaan Hoan It-ong menjadi serba salah, musuh seperti
melengket pada batang tongkatnya, kalau dirinya melompat
mundur sama juga seperti membawa musuh lebih maju, kalau
tidak melompat mundur jelas sukar menghindarkan tendangan
lawan, sedang kedua tangan memegangi tongkat dan tak
dapat digunakan menangkis, apalagi jenggotnya sudah
tergunting sehingga tiada senjata buat menghela diri lagi.
Dalam keadaan kepepet, terpaksa ia membuang
tongkatnya dan melompat mundur untuk menghindari
tendangan musuh, "trang", ujung tongkat mengetok lantai,
ujung lain belum lagi jatuh sudah keburu dipegang oleh Nyo
Ko.
Be Kong-co, Nimo Singh dan lainnya bersorak memuji.
Segera Nyo Ko ketokkan tongkat rampasannya itu ke lantai
dan bertanya dengan tertawa "Apa abamu sekarang ?
Muka Hoan It-ong merah padam, jawabnya penasaran:
"Kau main licik, aku tetap tidak merasa kalah !"
"Baik, boleh kita coba lag" ujar Nyo Ko sambil
melemparkan tongkat kepada Hoan It-ong.
Ketika Hoan It-ong hendak menangkap tongkat itu, tak
terduga mendadak tongkat itu melompat ke atas sehingga
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tangan Hoa It-ong menangkap angin, sekali ulur tangannya
kembali Nyo Ko samber lagi tongkat itu.
Serentak Be Kong-co dan lainnya bersorak pada lebih
keras, sebaliknya muka Hoan It-ong semakin merah padam.
Kim-lun Hoat-ong dan In Kek-si saling pandang dengan
tersenyum, diam-diam mereka memuji kepintaran Nyo Ko.
Kemarin mereka menyaksikan Ciu Pek-thong menimpuk orang
dengan ujung tombak yang patab, tapi ujung tombak itu bisa
berubah arah di tengah jalan sebelum mencapai sasarannya,
jelas Nyo Ko telah menirukan cara Ciu Pek-thong itu.
Dengan sendirinya Kongsun Kokcu dan anak muridnya
tidak mengetahui seluk-beluk itu, mereka menjadi kaget dan
heran atas kepandaian Nyo Ko.
"Bagaimana, apakah perlu satu kali lagi ?" tanya Nyo Ko
dengan tertawa.
Hoan It-ong merasa terguntingnya jenggot dan
terampasnya tongkat adalah karena tertipu oleh kelicikan
lawan, dengan sendirinya ia tidak mau mengaku kalah.
Dengan suara keras dan gemas ia menjawab: "Jika kau dapat
mengalahkan aku dengan kepandaian sejati barulah aku
menyerah padamu."
"Ilmu silat harus mengutamakan kecerdikan," jengek Nyo
Ko, "gurumu sendiri teramat tolol, anak muridnya dengan
sendirinya goblok, makanya aku memberi nasehat lebih baik
kau cari guru lain yang lebih pandai saja," jelas ucapannya ini
sama saja memaki Kongsun Kokcu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Keruan Hoan It-ong bertambah murka, dengan nekat ia
menerjang maju. Dengan melintangkan tongkat Nyo Ko
angsurkan senjata rampasannya itu kepada si kakek sambil
berkata : "Sekali ini kau harus hati-hati, kalau sampai kurebut
lagi jangan kau sesalkan orang."
Hoan It-ong tidak berani menjawab, ia genggam tongkat
sekencangnya dan siap siaga, ia pikir untuk dapat merampas
lagi tongkat kecuali kau potong sekalian tanganku ini.
"Awas ! " terdengar Nyo Ko berseru sambil menubruk ke
depan, tahu-tahu tangan kirinya sudah menempel ujung
tongkat lawan, berbareng jari telunjuk dan jari tengah tangan
kanan terus menyolok kedua mata musuh, malahan kaki
kirinya juga ikut menginjak batang tongkat. Inilah jurus "Go
kau-toat-tiang" (merampas tongkat dari mulut anjing galak),
suatu jurus maha sakti dari Pakkau-pang-hoat kebanggaan
K,ay-pang itu.
Dahulu ketika pertemuan besar Kay-pang (kaum
pengemis)-di Kue-san, dengan jurus inilah Ui Yong telah
merebut tongkat penggebuk anjing dari tangan Nyo Kong
(ayah Nyo Ko) dan jadilah dia ketua Kay-pang yang disegani.
Cara merebut senjata lawan dengan jurus sakti itu boleh di
katakan tidak pernah meleset, seratus kali tembak seratus kali
kena.
Kalau dua kali yang duluan Nyo Ko berhasil merebut
tongkat lawannya, walaupun caranya juga aneh, tapi
gerakannya dapat diikuti dengan jelas oleh penonton, tapi
sekali ini bahkan Hoa It-ong sendiri tidak tahu bagaimana
caranya, sekejap mata saja tahu-tahu tongkatnya sudah
berpindah ke tangan musuh.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Nah, cebol tua, sekali ini kau takluk tidak?" seru Be Kongco.
"Dia pakai ilmu sihir dan bukan kepandaian sejati, mana
aku mau menyerah ?" jawab Hoan lt-ong penasaran.
"Habis cara bagaimana baru kau mau takluk?" tanya Nyo
Ko dengan tertawa.
"Kecuali kau merobohkan aku dengan kepandaian sejati,"
sahut Hoan It-ong.
Nyo Ko mengembalikan lagi tongkatnya dan berkata:
"Baikiah, kita boleh coba-coba lagi beberapa jurus"
Hoan It-ong sudah kapok terhadap cara orang merebut
senjatanya dengan bertangan kosong, ia pikir sebaiknya
bertanding senjata saja. Segera ia berkata pula: "Aku sendiri
menggunakan senjata sebesar ini, sebaiknya kau bertangan
kosong, andaikata aku menang juga kau merasa penasaran."
"Jelas kau sudah kapok pada caraku merebut senjatamu
dengan bertangan kosong," ujar Nyo Ko dengan tertawa,
"Baiklah, biar akupun menggunakan senjata untuk melayani
kau." ia coba memandang sekeliling ruangan, dilihatnya
dinding sekitarnya tiada sesuatu pajangan apapun, apalagi
senjata yang dapat digunakan Hanya di halaman sana ada dua
pohon Liu dengan ranting pohon yang berlambaian menghijau
permai.
Ia pandang sekejap kepada Siao-liong-li dan berkata: "Kau
ingin she Liu, biarlah kugunakan ranting pohon liu sebagai
senjata," Segera ia melompat ke halaman sana dan
mengambil sepotong ranting liu yang bulat tengahnya sekira
tiga senti dan panjang satu meteran sehingga mirip pentung
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
penggebuk anjing milik Kay-pang, mana daun Liu tidak
dihilangkannya dari ranting itu sehingga kelihatannya lebih
luwes.
Diam-diam Hoan It-ong sangat mendongkol, ternyata Nyo
Ko tidak menggunakan senjata yang umum, sebaliknya
memakai ranting kayu seperti mainan anak kecil saja, cara ini
jelas sangat meremehkan dia.
Sementara itu Be Kong-co telah berseru: "Adik Nyo, kau
pakai golokku ini!" Segera pula ia melolos goloknya sehingga
memancarkan cahaya kemilauan, sungguh sebatang golokpusaka
yang tajam.
"Terima kasih," kata Nyo Ko, "Si cebol ini belum
mendapatkan guru sakti, kepandaiannya masih terbatas,
ranting kayu ini saja sudah cukup untuk mengajar dia,"
Tidak kepalang gusar Hoan It-ong dengan nada ucapan
Nyo Ko itu kembali menghina nama baik gurunya, ia pikir
pertarungan selanjutnya tidak ada ampun lagi.
Segera ia putar tongkatnya dengan kencang, ia mainkan
ilmu tongkat "Boat-cui-tiang-hoat (permainan tongkat gebyur
air) yang meliputi 9 x 9 81 jurus.
Permainan tongkatnya itu disebut "gebyur air" maksudnya
air digebyurkan juga takkan tembus, suatu tanda betapa
kencang dan rapat putaran tongkatnya itu.
Semula angin tongkatnya menyamber dahsyat, tapi
setelah belasan jurus, lambat-laun terasa arah tongkatnya
rada tergeser ujung tongkatnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kiranya Nyo Ko telah menggunakan gaya "lengket" dari
Pak - kau - pang - hoat, ujung ranting kayu menempel pada
ujung tongkat, ke timur tongkat itu mengarah, ke timur pula
ranting kayunya mengikut dan begitu pula seterusnya, tapi
berbareng itu dia tambahi tenaga betotan atau tolakan
menurut gerakan tongkat lawan sehingga mau-tak-mau ujung
tongkat selalu tergeser arahnya.
ilmu ini adalah sejalan dengan "Si-nio-boat-jian-kin"
(empat tahil menolak ribuan kati), sejenis ilmu "pinjam tenaga
musuh untuk menghantam musuh sendiri) yang pasti
diyakinkan oleh setiap jago silat.
Gaya "lengket" dalam ilmu permainan pentung kaum Kaypang
itu diciptakan juga menurut kunci ilmu silat tadi, gayanya
bagus dan tenaganya sukar diukur.
Tentu saja Kongsun Kokcu semakin heran sama sekali tak
terduga olehnya bahwa seorang muda belia bisa memiliki ilmu
sakti sehebat itu. Dilihat nya tenaga pada tongkat Hoan It-ong
semakin lemah, sebaliknya kekuatan pada ranting kayu Nyo
Ko bertambah dahsyat, belasan jurus lagi seluruh badan Hoan
It-ong sudah terkekang oleh setiap gerakan ranting kayu anak
muda itu, semakin kuat Hoan It-ong putar tongkatnya,
semakin berat pula rasanya untuk menguasai diri sendiri.
Sampai akhirnya dia merasa seperti tersedot ke tengah
pusaran angin lesus yang dahyat sehingga kepala terasa
pusing dan pandangan kabur.
"Mundur, It-ong!" mendadak Kongsun Kokcu menepuk
meja sambil berseru, suaranya menggelegar mengagetkan
orang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Hati NyoKo juga terkesiap, ia pikir masakah begitu mudah
muridmu akan lolos dari tanganku, Sedikit tangannya
bergerak, dan gaya "lengket" dia ganti dengan gaya "putar",
ia berdiri tegak, tapi pergelangan tangannya terus bergerak
dalam putaran kecil sehingga Hoan It-ong ikut terbawa dari
kiri ke kanan dan berputar dengan cepat seperti gasingan.
Semakin cepat Nyo Ko putar tangannya, semakin kencang
pula putaran Hoan It-ong, tongkat baja yang dipegangnya itu
juga berputar menegak seperti poros gasingan saja.
"Kau sanggup berdiri tegak tanpa roboh, betapapun kau
terhitung jagoan!" seru Nyo Ko sambil menyesakkan ranting
kayunya ke atas, lalu ia melompat mundur.
Dalam pada itu lahir batin Hoan It-ong serasa tak
terkuasai Iagi, langkahnya semponyongan, kalau berputar
beberapa kali lagi pasti akan terbanting roboh.
Sekonyong-konyong Kongsun Kokcu melompat ke atas,
selagi terapung di udara, sebelah tangannya terus
menggablok ujung tongkat, lalu melompat kembali ke
tempatnya semula dengan enteng.
Gablokannya kelihatan pelahan, tapi membawa tenaga
maha dahsyat, kontan tongkat baja itu ambles ke tanah
hampir semeter dalamnya dan seketika tidak berputar Iagi.
Dengan berpegangan pada tongkat itu barulah Hoan It-ong
tidak jadi jatuh, namun begitu tubuhnya tetap terhuyung kian
kemari laksana orang mabuk.
Siau-siang-cu, In Kik-si dan lainnya sebentar memandang
Nyo Ko, lain saat memandang Kongsun Kokcu, mereka pikir
kedua orang ini sama hebatnya dan sukar ditandingi, biarkan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
saja keduanya saling genjot, bahkan mereka berharap kedua
orang itu mampus semua.
Hanya Be Kong-co saja yang berhati polos, jika bisa ia
ingin membantu Nyo Ko. Mendadak Hoan It-ong berlari dan
berlutut di hadapan sang guru, ia menyembah beberapa kali,
tanpa bicara kepalanya terus dibenturkan ke tiang rumah.
Perbuatannya ini sungguh tak terduga oleh siapapun, tiada
yang menyangka bahwa watak kakek cebol itu ternyata begitu
keras, kalah bertanding terus menempuh jalan pendek dengan
membunuh diri.
Kongsun Kokcu menjerit kaget sambil meloncat maju
untuk menjambret punggung Hoan It-ong tapi lantaran
jaraknya terlalu jauh, pula benturan Hoan Itong itu dilakukan
dengan sangat cepat, jambretnya itu ternyata luput.
Sementara itu kepala Hoan It-ong telah dibenturkan
dengan sepenuh tenaga, tampaknya kepalanya pasti akan
pecah berantakan Tapi mendadak terasa tempat yang
terbentur oleh batok kepalanya itu sangat lunak, empuk
seperti kasur.
Waktu ia menengadah, terlihat Nyo Ko telah berdiri di
depannya dengan menjulurkan kedua tangannya, rupanya
pemuda ini berdiri paling dekat dengan Hoan It-ong, ketika
melihat gerak-gerik kakek itu mencurigakan segara ia bersiap
dan sempat mengadang di depan untuk menyelamatkannya.
"Hoan-heng, apakah kau tahu kejadian apa yang paling
menyedihkan di dunia ini?" tanya Nyo Ko.
"Apa itu?" Hoan It-ong balik bertanya dengan
melenggong.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Akupun tidak tahu." ujar Nyo Ko dengan pedih, "Hanya
duka hatiku berpuluh kali lebih hebat daripadamu, sedangkan
aku sendiri belum lagi bunuh diri, mengapa kau malah
melakukan hal demikian?"
"Kau menang bertanding, apa yang membuatmu
berduka?" kata Hoan It-ong.
Nyo Ko menggeleng jawabnya: "Kalah atau menang
bertanding bukan soal bagiku, selama hidupku ini entah sudah
berapa kali dihajar orang. Yang jelas betapa cemas dan
kuatirnya gurumu ketika melihat kau hendah membunuh diri,
kalau aku yang membunuh diri tapi guruku sama sekali tidak
ambil pusing. inilah hal yang paling menyedihkan bagiku."
Belum lagi Hoan It-ong paham apa yang dimaksudkan si
Nyo Ko, terdengar Kongsun Kokcu membentaknya:" It-ong;
jika kau berbuat bodoh lagi berarti kau tidak taat kepada
perintah garu, Kau berdiri saja disamping sana, saksikan
gurumu membereskan bocah ini."
Hoan It-ong paling hormat kepada sang guru, ia tak berani
membantah dan segera berdiri ke sana sambil melotot kepada
Nyo Ko.
Mendengar Nyo Ko mengatakan kalau dia membunuh diri
juga gurunya tidak ambil pusing seketika mata Siao-Iiong-li
basah ber-kaca2, pikirnya: "Jika kau mati, masakah aku mau
hidup sendiri?"
Setiap selang sejenak Kongsun Kokcu tentu memandang
sekejap kepada Siao-liong-li untuk mengawasi gerak-geriknya,
ketika mendadak nampak si nona hendak meneteskan air
mata lagi segera ia menepuk tangan tiga kali dan berseru:
"Tangkap bocah ini!"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tepuk tangan tiga kali adalah tanda perintah kepada anak
muridnya, Rupanya Kongsun Kokcu ingin menjaga harga diri
dan merasa tidak sesuai untuk bertempur dengan anak muda
seperti Nyo Ko.
Begitulah anak muridnya serentak mengiakan, 16 orang
terbagi berdiri di empat sudut, setiap empat orang lantas
membentangkan sebuah jaring ikan.
Datangnya Nyo Ko berombongan dengan Kim-lun Hoatong
dan lain-lain, kalau persoalannya sudah lanjut begini,
pantasnya Kim-lun Hoat-ong harus membuka suara untuk
melerai, tapi dia cuma tersenyum dingin saja dan tetap
menonton belaka.
Kongsun Kokcu tidak tahu maksud sikap Hoat-ong yang
tak acuh itu, ia kira orang mengejeknya takkan mampu
menandingi Nyo Ko, diam-diam ia mendongkol dan hendak
memperlihatkan kemahirannya.
Segera ia menepuk tangan lagi tiga kali, serentak ke-16
anak muridnya tadi bergeser bertukar tempat sehingga
lingkaran kepungan mereka terhadap Nyo Ko semakin ciut.
Melihat empat jaring lawan semakin mendekat, seketika
Nyo Ko menjadi bingung dan tak berdaya, Ciu Pek-thong yang
maha sakti itu saja tertawan oleh jaring lawan apalagi diriku?
Pula Ciu Pek-thong cuma berusaha meloloskan diri saja dan
dapat melemparkan Be Kong-co dan Hoan It-ong ke dalam
jaring, lalu dia berhasil kabur sebaliknya sekarang aku justeru
ingin tinggal di sini dan, tak ingin lari.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Terdengar diantara anak murid Cui-sian-kok berseragam
hijau itu ada yang bersuit, empat buah jaring mereka serentak
bergeser lagi berganti posisi, sebentar bersilang, lain saat
melintang atau menegak, mendatar atau menyerang dan terus
mendesak maju.
Seketika sukar bagi Nyo Ko untuk melanyani kepungan
jaring-jaring itu, terpaksa ia berputar kayun lari di ruangan itu,
dengan Ginkang maha tinggi aliran Ko-bong-pay ia terus
melayang kian kemari, ia menghindari pertarungan dari
depan, tapi berusaha membuat musuh merasa bingung dan
tak dapat meraba ke mana dia hendak bergeser
Namun ke-16 orang itu ternyata tidak ikut berputar seperti
Nyo Ko melainkan terus memper-sempit kepungan mereka.
Sambil berlari Nyo Ko memeriksa pula tempat kelemahan
barisan musuh, setelah mengikuti beberapa kali perubahan,
segera dapat ditarik kesimpulan bahwa barisan jaring musuh
itu menirukan jaring labah2, biasanya labah2 bersembunyi
lebih dulu, kalau musuh sudah terjebak barulah mangsanya
ditangkap. ia pikir untuk memboboI-nya harus digunakan
senjata rahasia.
Maka sambil berputar cepat segera ia menyiapkan
segenggam Giok-hong-ciam (jarum tawon putih), ketika
empat orang di sebelah kiri mulai mendekat, mendadak
tangannya bergerak, tapi yang diincar justeru empat orang di
sebelah kanan.
Senjata rahasia jarum lembut ini biasanya tak pernah
meleset, apalagi jaraknya sekarang sangat dekat, Nyo Ko
yakin keempat orang itu pasti akan termakan oleh jarumnya
itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tak terduga gerakan keempat orang itupun sangat cepat,
begitu nampak tangan lawan bergerak serentak mereka
mengangkat jaringnya ke atas, terdengarlah suara
gemerincing nyaring pelahan.
Jarum-jarum itu tersedot seluruhnya oleh jaring.
Kiranya jaring itu teranyam dari benang emas dan baja
yang sebagian bertenaga semberani yang amat kuat, sekali
jaring itu dibentangkan, betapapun lihay senjara rahasia lawan
tentu akan tertahan seluruhnya.
Nyo Ko mengira serangannya pasti berhasil tak terduga
jaring musuh ternyata memiliki daya guna sehebat itu, dalam
seribu kesibukannya ia sempat melotot kearah Kongsun
Kokcu, ia pikir orang ini sungguh maha lihay dan dapat
menciptakan senjata yang begitu aneh.
Gagal dengan rahasianya, terpaksa Nyo Ko memikirkan
jalan lain untuk membobol kepungan musuh.
Sementara itu jaring lawan sebelah kanan sudah
mendekat, sekali pimpinannya berseru, terlihatlah
gemerdepnya cahaya, sehelai jaring terus menyambar tiba.
Segera Ny Ko mengegos dan bermaksud menerobos ke
sebelah sana, tapi jaring depan dan belakang juga menubruk
tiba bersama.
Mau-tak-mau Nyo Ko mengeluh juga, ia pikir sekali ini
diriku pasti akan disiksa habis-habisan oleh Kokcu jahanam ini
apabila aku sampai tertawan olehnya.
Selagi Nyo Ko berkuatir, tiba-tiba terdengar seorang
pemegang jaring di belakang menjerit, waktu dia menoleh,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dilihatnya Kongsun Lik-oh telah jatuh tersungkur, ujung jaring
yang dipegangnya menjadi tertarik juga ke bawah.
Itulah suatu peluang ditengah barisan jaring musuh, tanpa
pikir lagi Nyo Ko, secepat kilat ia melompat ke sana dan
menerobos keluar dari kepungan musuh, Sekilas dilihatnya
Kongsun Lik-oh lagi merintih kesakitan, tapi berulang nona itu
memberi isyarat kedipan mata agar Nyo Ko lekas lari
meninggalkan tempat berbahaya itu.
Tergerak hati Nyo Ko, pikirnya: "Nona ini telah
menyelamatkan diriku dengan mengorbankan dirinya, budi
kebaikannya sungguh sukar kubalas, Jika kupergi begini saja,
tentu Kokoh akan menikah dengan Kokcu jahanam itu, Biarlah
ku-labrak dia dengan mati-matian, andaikata tertawan dan
tersiksa juga takkan kutinggalkan tempat ini."
Berkorban bagi cinta suci, matipun dia tidak menyesal. Dia
terus berdiri di ujung ruangan sana sambil menatap tajam
kepada Siao-liong-Ii, ia pikir masakah kau sama sekali tidak
ambil pusing menyaksikan aku bergumul dengan malapetaka
yang akan menimpa diriku ini.
Terlihat Siao-liong-li tetap menunduk tanpa bersuara. Akan
tetapi rasa sedih dan duka nestapa dalam hatinya saat itu
sesungguhnya jauh melebihi Nyo Ko.
Kalau Nyo Ko tanpa tedeng aling-aling mengutarakan isi
hatinya secara terus terang, biarpun menderita juga tekanan
batinnya sudah terlampiaskan sebagian. Tapi Siao-liong-li
hanya tutup mulut saja, padahal dalam hati penuh rasa kasih
sayang kepada pemuda, namun pemuda itu mana bisa
mengetahuinya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dalam pada itu Kongsun Kokcu telah menepuk tangan lagi
dua kail keempat jaring ikan yang terbentang tadi serentak
mundur, Lalu katanya terhadap Kongsun Lik-oh. "Mengapa
kau ?"
"Kakiku mendadak kejang dan kesakitan," jawab Kongsun
Lik-oh.
Sudah tentu Kongsun Kokcu tahu puterinya jatuh hati
kepada Nyo Ko sehingga pada detik yang menentukan tadi
sengaja memberi peluang kepada pemuda itu untuk lolos,
Lantaran dihadapan orang luar, ia merasa tidak enak untuk
mengumbar rasa gusarnya, segera ia mendengus dan berkata.
"Baik, kau mundur saja. Capsiji maju, gantikan tempatnya !"
Dengan Kepala menunduk Kongsun Lik-oh mengundurkan
diri, sedangkan seorang anak muda yang rambutnya dikucir
dua mengiakan maju dan memegang ujung jaring yang
dipegang Kongsun Lik-oh tadi.
Kongsun Lik-oh sempat melirik sekejap kepada "Nyo Ko
dengan penuh rasa menyesal. Diam-diam Nyo Ko merasa
bersalah dan menyesal juga tak dapat memenuhi maksud baik
si nona yang sengaja hendak menolongnya itu.
Kembali Kongsun Kokcu bertepuk tangan lagi empat kali,
mendadak ke-16 anak muridnya tadi mengundurkan diri ke
ruangan dalam, Nyo Ko melengak, ia heran apakah orang
mengaku kalah begitu saja?
Ketika ia berpaling, dilihatnya air muka Kongsun Lik-oh
penuh rasa cemas dan kuatir serta berulang memberi isyarat
pula kepadanya agar lekas melarikan diri saja. Melihat sikap
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
nona itu, tampaknya sebentar lagi bakal datang bencana maut
yang sukar dihindarinya.
Nyo Ko hanya tersenyum, sebaliknya ia seret sebuah kursi,
lalu duduk di situ.
Dalam pada itu terdengar di ruangan dalam ada suara
gemerincing nyaring, sejenak kemudian ke-16 anak murid tadi
telah muncul lagi, tangan mereka tetap memegangi jaring,
Hanya saja jaring mereka sudah berganti dengan jaring yang
penuh terpasang kaitan dan pisau kecil, melihat sinarnya yang
gemerlapan, jelas kaetan dan pisau2 itu sangat tajam, asal
terkurung ditengah jaring, tentu seluruh tubuh akan tersayat
dan mustahil bisa hidup lagi.
Segera Be Kong-co berteriak "He, sahabat Kokcu,
mengapa kau menggunakan senjata sekeji itu terhadap tamu,
kau tahu malu tidak?"
Sambil menuding Kyo Ko, Kongsun Kokcu berkata: "Bukan
keinginanku hendak membunuh kau, soalnya berulang kali
telah kusuruh kau pergi saja dari sini dan kau tidak mau."
Betapapun Be Kong-co juga ngeri melihat ke-empat jaring
yang berkait tajam itu, segera ia berbangkit dan menarik "Nyo
Ko, katanya: "Adik Nyo, orang busuk macam begini sebaiknya
kita jauhi saja, buat apa kau merecoki dia lagi?"
Nyo Ko tidak menjawab, ia menatap ke arah Siao-liong-li
dan ingin dengar apa yang dikatakan si nona.
Siao-liong-li sendiri memang merasa bimbang, Bahwa dia
mau menikah dengan Kongsun Kokcu adalah karena dia
berterima kasih atas pertolongan jiwanja, pula tempat
kediamannya yang indah permai dan terpencil ini juga cocok
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sebagai tempat untuk menghindari pencarian Nyo Ko, apalagi
setelah berdiam beberapa hari, ia merasa sang Kokcu adalah
seorang yang berpengetahuan luas dan pandai, jelas seorang
yang serba pintar, maka sedikit banyak timbul juga rasa
sukanya dam merasa mantap untuk hidup bersamanya.
Siapa tahu dunia yang luas ini terkadang juga seperti
sangat ciut, justeru Nyo Ko bisa muncul ditanah sunyi ini. Kini
menyaksikan Kongsun Kokcu mengeluarkan barisan jaring
berkait itu, ia pikir Nyo Ko pasti tak terhindar dari kematian,
iapun sudah bertekad, asalkan Nyo Ko terkurung oleh jaring,
segera ia sendiripun akan menubruk ke atas jaring itu untuk
mati bersama pemuda itu.
Berpikir sampai disini tanpa terasa ia tersenyum simpul
dan berhati lega.
Sudah tentu lika-liku yang dipikir Sian-liong-li itu tidak
diketahui oleh Nyo Ko, pemuda itu justeru menyangka
kebalikannya, ia pikir diriku sedang terancam bahaya maut,
tapi kau masih dapat tersenyum gembira, keruan rasa pedih
hatinya bertambah hebat.
Namun pada saat dia merasa pedih, dongkol dan gelisah
itulah, sekilas timbul sesuatu pikiran pada benaknya,
Keputusan apapun yang diambilnya selalu dilakukannya
dengan sangat cepat, tanpa pikir lagi untuk kedua kalinya,
langsung ia mendekati Siao-liong-li, dengan sedikit
membungkuk uf: berkata: "Kokoh, Ko-ji sedang menghadapi
kesukaran, mohon pinjam Kim-Ieng-soh (selendang bergenta
emas) dan Ciang-doh (sarung tangan) untuk kupakai
sebentar."
Yang terpikir oleh Siao-liang-Ii pada saat itu adalah betapa
bahagianya dapat mati bersama Nyo Ko, selain itu tiada
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sesuatu lagi yang terpikir-olehnya. Karena itu tanpa menjawab
ia terus mengeluarkan sepasang sarung tangan putih dan
sehelai selendang sutera putih serta diangsurkan kepada
pemuda itu.
Dengan tenang Nyo Ko menerima benda-benda itu,
katanya pula sambil menatap tajam wajah Siao-liong-Ii:
"Sekarang engkau telah mengakui di-riku?"
Dengan penuh kasih sayang Siao-liong-li menjawab
dengan tersenyum : "Di dalam hati sejak tadi sudah kukenali
dirimu !"
Seketika semangat Nyo Ko terbangkit, tanyanya pula
dengan suara gemetar: "Jadi kau pasti akan ikut pergi
bersamaku dan takkan menikah dengan Kokcu ini, bukan?
"Ya, aku bertekad akan ikut pergi bersamamu dengan
sendirinya takkan menikah dengan orang lain," jawab Siaoliong-
li dengan tersenyum. "Ko-ji, jelas aku ini adalah
isterimu."
Jawaban Siao-liong-li yang cukup tegas ini sudah tentu
sangat mengejutkan orang, terutama Kongsun Kokcu,
mukanya menjadi pucat pasi, mendadak ia bertepuk tangan
empat kali dengan keras sebagai tanda perintah kepada anak
muridnya agar melancarkan serangan serentak.
"Tanpa bicara lagi ke-16 anak muridnya tadi terus
bergerak sambil membentang jaring mereka.
Bagi Nyo Ko, ucapan Siao-liong-Ii bagaikan obat mujarab
yang telah menghidupkan dia dari kematian, seketika
keberaniannya berlipat ganda, andaikan di depannya sekarang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
mengadang lautan api atau minyak mendidih juga tak terpikir
lagi olehnya.
Segera ia memakai sarung tangan yang kebal senjata itu,
sedang Kim-leng-seh pada tangan kanan terus digentakkan
hingga menimbulkan suara "ting-ting" yang nyaring, laksana
ular putih saja selendang sutera putih itu terus menyambar ke
depan.
Pada ujung selendang putih itu terikat sebuah keleningan
emas yang dapat berbunyi ketika selendang itu menjulur dan
mengkeret lagi, kontan keleningan emas itu telah tepat
mengetok "lm-kok-hiat" lawan yang berada di sebelah kanan,
ketika selendang itu tertarik balik, kembali seorang lawan di
sebelah kiri juga tertutuk, seketika lengan orang itu lemas tak
bertenaga dan dengan sendirinya jaring yang dipegangnya
terlepas dari tangannya.
Dua kali serangan kilat ini benar-benar luar biasa,
sekaligus selendang berkeleningan itu bergerak, seketika
barisan jaring musuh kena dibobolkan. Waktu keempat orang
yang memegangi jaring sebelah barat tertegun sejenak,
sementara itu Kim-leng-soh yang disabetkan Nyo Ko telah
menyambar tiba pula, "ting-ting", kembali dua orang
diantaranya tertotok roboh lagi.
Tapi pada saat itu juga jaring di sebelah belakang telah
menubruk tiba, kaitan dan pisau kecil yang terpasang di jaring
itu segera akan melukainya, terpaksa Nyo Ko gunakan tangan
kiri untuk mencengkeram jaring musuh terus di betot
sekuatnya, Karena dia bersarung tangan pusaka, meski kaitan
dan pisau tajam itu tercengkeram olehnya juga takkan
melukainya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sejak dia menciptakan aliran ilmu silatnya sendiri, setiap
gerak-geriknya boleh dikatakan selalu timbul secara otomatis
dan tanpa ragu. Kini jaring yang kena dicengkeramnya itu
segera digentakkan sehingga jaring berbalik menyamber ke
arah para pemegangnya.
Yang dilatih anak murid Cui-sinkok itu adalah menyerang
dengan jaring serta kemungkinan lolosnya musuh, sama
sekaki tak terpikir oleh mereka bahwa jaring dapat terbalik
hendak makan mereka, keruan mereka terkejut ketika melihat
pisau dan kaitan tajam di dalam jaring yang menyambar
kepala mereka itu, sambil menjerit ketakutan cepat mereka
melompat mundur dan melepaskan jaring yang mereka
pegang.
Anak muda yang berkuncir kecil tadi lebih lemah, tidak
urung pahanya terluka oleh pisau sehingga mengucurkan
darah, ia jatuh tersungkur dan menangis kesakitan.
"Jangun takut, adik cilik, takkan kulukai kau," kata Nyo Ko
sambil tertawa, Segera ia taburkan kait jaring yang
dirampasnya itu, sedang tangan lain memutar Kim-leng-soh,
terdengar suara gemerincing nyaring bunyi keleningan serta
benturan pisau dan kaitan tajam pada jaring rampasan itu.
Melihat lceperkasaan Nyo Ko, mana anak murid itu berani
maju lagi, mereka berdiri di sudut sana, cuma tanpa perintah
sang guru, biarpun takut merekapun tak berani melarikan diri,
Keadaan yang sesungguhnya mereka sudah dikalahkan Nyo
Ko walaupun secara resmi mereka belum mengaku kaIah.
Be Kong-co terus bertepuk tangan dan bersorak, tapi
hanya dia sendiri saja yang bersorak sehingga terasa
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kesepian, ia menjadi rikuh sendiri ia melotot pada Kim-Iun
Hoat-ong dan menegur: "He, Hwesio gede, memangnya
kepandaian adik Nyo itu kurang bagus? Mengapa tidak
bersorak memuji?"
"Bagus, bagus sekali kepandaiannya!" jawab Hoat-ong
tertawa, "Tapi kan juga tidak perlu gembar-gembor begitu
rupa, toh!"
"Sebab apa?" omel Be Kong-co pula dengan mendelik.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong melihat Kongsun Kokcu
sedang melangkah ke tengah ruangan, maka ia tidak gubris
lagi apa yang dikatakan Be Kong-co.
Setelah mendengar ucapan Siao-liong-li yang menyatakan
bertekad ikut pergi bersama Nyo Ko, maka sadarlah Kongsun
Kok-cu bahwa impiannya yang muluk-muluk selama setengah
bulan ini akhirnya cuma kosong belaka, ia menjadi sangat
kecewa dan gusar pula, pikirnya : "Jika kugagal mendapatkan
hatimu. paling tidak aku harus mendapatkan tubuh-mu,
Biarlah kubinasakan binatang cilik ini, dengan begitu mau-takmau
kau harus ikut padaku, lama2 pikiranmu tentu juga akan
berubah."
Meski wataknya kereng dan kejam, tapi iapun dapat
membedakan antara yang benar dan salah. Gadis cantik
seperti Siao-liong-li itu telah menyanggupi sendiri menjadi
isterinya dan hari ini akan berlangsung upacara nikahnya, tapi
mendadak muncul si Nyo Ko dan mengacaukan semuanya itu
tentu saja ia sangat murka.
Melihat kedua alis sang Kokcu yang menegak dan merapat
sehingga mata-alisnya seakan-akan tegak semua, Nyo No
terkejut dan waswas, sambil memegang Kim-leng-soh dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
jaring rampasannya ia siap siaga sepenuhnya, ia menyadari
mati-sendiri dan sengsara atau bahagia Siao-liong-li hanya
bergantung pada pertarungan yang menentukan ini, maka
sedikitpun ia tak berani gegabah.
Dengan pelahan Kongsun kokcu terus mengitari Nyo Ko,
sebaliknya Kyo Ko juga berputar dengan pelahan, panjangnya
sedikitpun tak pernah meninggalkan tatapan musuh yang
tajam itu, Ternyata sang Kokcu masih belum mau turun
tangan, tapi ia tahu sekali musuh sudah menyerang tentu
digunakan jurus serangan yang maha lihay.
Sejenak kemudian, mendadak kedua tangan sang Kokcu
menjulur lurus ke depan tiga kali, lalu bertepuk dan
menimbulkan suara "creng" laksana bunyi dua potong besi
yang dibenturkan.
Nyo Ko terkesiap dan melangkah mundur setindak, tapi
tangan kanan Kongsun Kokcu mendadak menyamber tiba,
tahu-tahu jaring ikan rampasan itu kena dicengkeramnya terus
dibetot sekuatnya.
Merasa tenaga betotan lawan luar biasa dahsyatnya,
tangan sendiri sampai terasa sakit, terpaksa Nyo Ko
melepaskan jaring itu.
Kongsun Kokcu melemparkan jaring itu kepada anak
muridnya tadi sambil membentak: "Mundur-semua!"
Kaku sitam tepukan tangan Kongsun Kokcu itu sangat
mengejutkan orang, sekarang semua orang bertambah kaget
dan heran pula bahwa tangan sang Kokcu yang jelas telanjang
itu ternyata tidak gentar akan ketajaman pisau dan kaitan
yang terdapat pada jaring itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Biarpun Kongsun Lik-oh adalah anak perempuannya juga
diketahui ilmu silat sang ayah memang sangat tinggi dan tidak
tahu ayahnya memiliki kepandaian sehebat itu, Hanya Hoan
It-ong saja sebagai muridnya yang tertua kenal kepandaian
sejati sang guru, ia pandang Nyo Ko dan berkata dalam hati:
"Hari ini kau pasti mampus!"
Setelah jaringnya terebut, Nyo Ko tidak beri kesempatan
lagi kepada lawan untuk mendahuluinya, selendang sutera
bergerak, keleningan berbunyi "ting-ting", sekaligus ia incar
dua Hiat-to di bagian leher dan bahu, serangan ini hanya
penjajagan saja, karena Nyo Ko belum tahu betul betapa
lihaynya lawan.
Ilmu silat Kongsun Kokcu memang menyendiri serangan
Nyo Ko itu ternyata tidak digubris olehnya, malahan sebelah
tangannya terus menjulur ke depan. dan mencengkeram
lengan Nyo Ko. Terdengar suara "ting-ting" dua kali, kedua
tempat Hiat-to yang diincar Nyo Ko itu dengan tepat terketok
oleh keleningan namun Kongsun Kokcu seperti tidak
merasakan apa-apa, cengkeramannya tadi mendadak terbuka
terus menyodok ke dagu kiri anak muda itu.
Nyo Ko tahu kalau Lwekang seseorang sudah berlatih
sempurna, maka setiap saat dapat menutup Hiat-to di tubuh
sendiri apabila menghadapi serangan musuh. Ada juga
Lwekang yang aneh seperti apa yang dilatih Auyang Hong
secara terbalik itu sehingga membingungkan serangan
musuhnya.
Tapi cara Kongsun Kokcu menghadapi serangannya yang
sama sekali se-akan tidak merasakan sesuatu, seperti di
tubuhnya tidak terdapat Hiat-to, kepandaian ini benar-benar
sangat luar biasa, Nyo Ko mengkeret dan jeri.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sementara itu kedua tangan Kongsun Kokcu bergerak naik
turun, telapak tangan samar-samar bersemu hitam. Angin
pukulannya terasa menyamber dengan dahsyat.
Nyo Ko tahu kelihayan lawan dan tak berani menangkisnya
dengan keras lawan keras, sembari menggunakan Kim-lengsoh
untuk melayani serangan musuh, tangan yang lain
digunakan menjaga diri dengan rapat.
Dalam sekejap saja belasan jurus sudah berlangsung, Nyo
Ko memperhatikan setiap serangan musuh dengan cermat,
tiba-tiba hatinya tergerak "ilmu pukulan Kokcu ini tidak aneh,
rasanya aku pernah melihatnya entah di mana?"
Pada suatu kesempatan mendadak ia melompat mundur
sambil berseru: "He, apakah engkau kenal Wany&n Peng?"
Kiranya Nyo Ko melihat gaya pukulan Kokcu ini serupa
dengan ilmu silat Wanyan Peng, hanya kekuatan Kokcu ini
jauh berbeda dengan Wanyan Peng yang lemah itu.
Kongsun Kokcu tidak menjawab, sebaliknya ia terus
menubruk maju lagi dan melancarkan pukulan dahsyat. Sekali
ini Nyo Ko melihat gaya pukulannya tidak sama dengan
Wanyan Peng, untuk menghindar terasa tidak keburu lagi,
terpaksa Nyo Ko menangkisnya dengan tangan kiri.
"PIak", kedua tangan beradu, Nyo Ko tergetar mundur
dua-tiga tindak, sebaliknya Kongsun Kokcu tetap berdiri di
tempatnya, hanya tubuhnya tergeliat sedikit
Kedua tangan begitu beradu terus berpisah pula tapi
kontan Nyo Ko merasakan suatu arus hawa panas menyusup
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ke tangannya, keruan ia terkejut pikirnya: "Hebat benar
tenaga pukulan jahanam ini, padahal sarung tangan Kokoh
yang kupinjam ini kebal terhadap senjata tajam macam
apapun, tapi ternyata tidak mampu menahan tenaga
pukulannya."
Meski kelihatan Kongsun Kokcu berdiri tanpa terhuyung
dan seperti lebih unggul, tapi sesungguhnya dadanya juga
terasa sakit karena getaran tenaga pukulannya Nyo Ko, iapun
terkejut dan heran: "Bocah ini masih muda belia, ternyata
mampu menahan pukulanku yang dahsyat ini. Jika terlibat
lebih lama, rasanya belum tentu dapat membinasakan dia,
sebaliknya kalau berakhir sama kuat maka musnahlah
pamorku ini."
Mendadak ia bertepuk tangan pula dua kali sehingga
menimbulkan nyaring, ia menoleh kepada puterinya dan
berseru: "Ambilkan senjataku!"
Kongsun Lik-oh menyadari apabila senjata sang ayah
dikeluarkan, maka bagi Nyo Ko hanya ada kematian saja dan
tak mungkin bisa selamat.
Karena sedikit ragu dan merandeknya itu, dengan suara
bengis Kongsun Kokcu membentak pu!a: "Ambilkan senjataku,
kau dengar tidak ?"
Dengan muka pucat Kongsun Lik-oh mengiakan dan cepat
berlari keruangan belakang.
Nyo Ko telah mengikuti sikap ayah beranak itu, ia pikir
dengan bertangan kosong saja aku tidak dapat melawannya,
apalagi sekarang akan digunakan lagi senjata apa, mana aku
dapat lolos dengan hidup. Mumpung ada kesempatan, biarlah
kulari saja sekarang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Segera ia mendekati Siao-lioag-li dan mengulurkan tangan,
katanya: "Kokoh, marilah ikut padaku."
Kongsun Kokcu sudah siap pukulannya yang maha
dahsyat, asalkan Siao-liong-li berbangkit dan menggenggam
tangan Nyo Ko, seketika dia akan menubruk maju untuk
menghancurkan punggung anak muda itu, ia sudah ambil
keputusan akan membinasakan Nyo Ko andaikan diri sendiri
juga akan terluka parah. Ia pikir kalau sampai calon isteri itu
ikut pergi bersama Nyo Ko, lalm apa artinya pula hidup ini
baginya ?
Tak terduga Siao-liong-li tidak lantas berbangkit, ia hanya
menjawab dengan hambar: "Kini belum waktunya, Ko-ji,
selama beberapa hari ini apakah kau baik-baik saja?" - Betapa
mesranya pertanyaannya yang terakhir itu jelas tertampak.
"Engkau tidak marah lagi padaku, Kokoh?" jawab Nyo Ko.
Siao-Iiong-li tersenyum hambar, katanya: "Mana aku dapat
marah padamu? Coba sini, putar tubuhmu!"
Nyo Ko menurut dan memutar tubuhnya, ia tidak tahu apa
kehendak si nona, tiba-tiba Siao-liong-li mengeluarkan benang
dan jarum, kemudian diukurnya baju bagian punggung Nyo Ko
yang robek tercengkeram oleh Koagsun Kokcu tadi.
"Sudah sekian lamanya kuingin membuatkan S(itaah baju
baru bagimu, tapi mengingat selanjutnya tak bakalan bertemu
lagi dengan kau, untuk apa kubuatkan baju baru? Ai, sungguh
tidak nyana engkau akan mencari ke sini," sembari berkata
dengan gegetun, Siao-liong-li lantas menggunakan sebuah
gunting kecil untuk memotong sebagian lengan baju sendiri
untuk menambal baju Nyo Ko yang robek itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dahulu waktu mereka masih tinggal di kuburan kuno,
apabila baju Nyo Ko robek, selalu Siao-liong-li menambalkan
bajunya dengan cara demikian, Kinl kedua orang sudah tidak
memikirkan mati hidup lagi dan seakan2 berada berduaan saja
mesti di ruangan itu sorot mata semua orang sedang
memperhatikan gerak-gerik mereka.
Kim-lun Hoat ong lain-lain saling pandang dengan heran
dan kagum pula, Kongsun Kokcu juga terkesima, seketika tak
tahu apa yang harus dilakukannya.
"Selama beberapa hari ini aku telah bertemu dengan
beberapa orang yang menarik," tutur Nyo Ko pula, "Coba
terka, Kokoh, darimanakah kuperoleh gunting raksasa itu?"
"Ya, memangnya akupun heran seakan2 kau sudah
menduga sebelumnya bakal bertemu dengan si jenggot cebol
itu di sini, maka sengaja pesan sebuah gunting raksasa untuk
memotong jengggotnya," ujar Siao-liong-Ii.
"Ai, kau sungguh nakal orang memiara jenggotnya dengan
susah payah selama berpuluh tahun, tapi sekejap saja sudah
kau potong, bukankah sangat sayang?"
Melihat betapa kedua orang itu bicara dengan mesranya,
rasa cemburu Kongsun Kokcu seketika berkobar, segera
sebelah tangannya mencengkeram kedada Nyo Ko sambil
membentak: "Anak jadah, terlalu temberang kau, memangnya
kau anggap tiada orang lain di sini?"
Tapi kini biarpun langit ambruk atau bumi amblas juga
takkan digubris oleh Nyo Ko, serangan Kongsun Kokcu itu
ternyata tidak dihiraukannya! sama sekali, ia hanya
menjawab: "Tunggu sebentar, setelah bajuku ditambal segera
kulayani kau."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sementara itu jari Kongsun Kokcu sudah tinggal beberapa
senti saja di depan dada Nyo Ko.
Bagaimanapun juga dia harus menjaga harga diri sebagai
seorang guru besar ilmu silat, walaupun murka, betapapun
serangannya itu tak dapat diteruskan lagi ke tubuh lawan yang
sama sekali tidak menangkis itu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Kongsua Lik-oh
berkata di belakang: "Ayah, senjatamu ini!"
Kongsua Kokcu tidak berpaling, dia melangkah mundur
dua tindak dan dapatlah menerima senjata yang disodorkan
puterinya itu.
Waktu semua orang mengamati terlihat tangan kirinya
telah memegang sebatang golok tebal dengan bagian yang
tajam itu berbentuk gergaji dan mengerdepkan cahaya
keemasan, rupanya terbuat dari emas, sedangkan tangan
kanannya memegangi senjata berwarna hitam panjang kecil,
senjata aneh itu tidak mirip golok juga tidak memper pedang,
kelihatan bergetar pelahan, tampaknya batang senjata itu
sangat lemas.
Nyata kedua macam senjata itu berbeda satu sama lain
secara terbalik, kalau yang satu, berat dan keras, maka
satunya lagi enteng dan lemas.
Seperti diketahui, bobot emas jauh lebih berat dari pada
besi senjata yang bentuknya sama dan terbuat dari emas
bobotnya akan lipat satu kali dari pada senjata terbuat dari
besi biasa.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tampaknya golok emas bergerigi itu sedikitnya ada 50-60
kati sedangkan pedang atau anggar hitam itu entah terbuat
dari logam apa?
Nyo Ko memandang sekejap, sepasang senjata lawan
yang aneh itu, lalu berkata pula kepada Siao-liong-li: "Kokoh,
tempo hari aku bertemu dengan seorang perempuan
gendeng, dia telah memberitahukan padaku musuh pembunuh
ayahku."
Hati Siao-liong-li terkesiap, cepat ia bertanya: "Siapa
Musuhmu itu?"
Sambil mengertak gigi Nyo Ko berkata dengan penuh
dendam: "Bagaimana juga kau pasti tak-kan menduga akan
mereka, selama ini akupun menganggap mereka sangat baik
padaku."
"Mereka? Mereka siapa?" Siao-liong-li menegas.
"Siapa lagi mereka kalau bukan..." belum sempat Nyo Ko
menerangkan nama yang akan disebutnya, terdengarlah suara
mendenging nyaring memekak teIinganya, itulah suara
benturan antara golok emas dan pedang hitam yang dipegang
Kongsun Kokcu itu.
Sekali bergerak, susul menyusul Kongsun Kokcu menusuk
tiga kali, pertama menusuk atas kepala, kedua menusuk leher
sebelah kanan dan ketiga sebelah kiri leher, semuanya
menyamber lewat satu-dua senti di atas kulit.
Rupanya Kokcu itu ingin menjaga diri, kalau lawan tidak
menangkis, maka iapun tidak sudi melukainya, cuma tiga kali
tusukannya itu sungguh amat cepat dan jitu, benar-benar
kepandaian hebat.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Sudah!" ucap Siao-Iiong-Ii selesai menambal baju Nyo Ko
sambil menepuk pelahan punggung anak muda itu, Nyo Ko
menoleh dan tersenyum, lalu melangkah maju dengan
menenteng Kim-leng-soh.
Meski Kongsun Kokcu sudah lama mengasingkan diri di
lembah sunyi, tapi pandangannya sedikitpun tidak kurang
tajamnya, orang yang mengajarkan ilmu silat padanya itu
paham benar berbagai aliran ilmu silat di dunia dan dahulu
pernah berkata padanya bahwa bisa jadi jago kelas satu di
jaman ini mampu menandingi Kangfau (Kungfu) tangan
besinya, tapi untuk membobol barisan jaring ikannya itu belum
tentu bisa kecuali Paktau-tin dari Coan-cin-kau yang mungkin
dapat menandinginya dengan sama kuat dan siapa lebih ulet
akhirnya akan menang.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil