Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 27 April 2017

Cersil 14 Mandarin Kho Ping Hoo Toliongto

Cersil 14 Mandarin Kho Ping Hoo Toliongto Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil 14 Mandarin Kho Ping Hoo Toliongto
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil 14 Mandarin Kho Ping Hoo Toliongto
Mendengar itu, Yo Siauw bingung tak kepalang. Ia
mengerti bahwa ancaman itu bukan gertak sambal. Bahwa
ia akan mati adalah urusan kecil, tapi apakah Beng-kauw
yang mempunyai sejarah selama tiga puluh turunan akan
musnah dalam tangan seorang pendeta Siauw Lim?
Sesudah berdiam sejenak, sambil tersenyum-senyum
Goan-tin berkata pula, “Di dalam Beng-kauw terdapat
banyak sekali orang pandai. Jika kalian tidak saling bunuh,
tidak saling makan, Beng-kauw takkan menghadapi
bencana seperti hari ini. Lihatlah kejadian yang sekarang.
Karena kalian bertujuh berkelahi maka dengan mudah
pinceng bisa naik sampai di sini. Kalau bukan lantaran
begitu, mana bisa pinceng berhasil dengan begitu gampang?
Ha-ha-ha!...Tak disangka Beng-kauw yang dulu begitu
hebat, sesudah matinya Yo Po Thian lantas menjadi
runtuh.”
Yo Siauw dan yang lainnya tertegun. Mereka lantas ingat
kejadian-kejadian semenjak kurang lebih dua puluh tahun.
Semua merasa menyesal. Dalam hati kecil mereka
mengakui bahwa apa yang dikatakan Goan-tin memang tak
salah.
“Yo Siauw!” teriak Cioe Tian, “Aku benar-benar pantas
1301
mati! Aku telah melakukan banyak perbuatan tidak pantas
terhadapmu. Walaupun kau tidak terlalu baik tapi kalau
kau menjadi Kauwcoe, keadaan kita akan lebih baik
daripada tidak punya Kauwcoe sama sekali.”
Yo Siauw tertawa getir. “Apa kemampuanku sehingga
aku berani menjadi Kauwcoe?” katanya. “Dalam urusan
ini, kita semua bersalah. Kita salah membuat keadaan
menjadi sedemikian kacau dan agama kita akhirnya akan
musnah sehingga di alam baka, kita takkan punya muka
untuk menemui para Beng coen Kauwcoe.”
“Kamu menyesalpun sudah tak berguna,” kata Goan-tin
sambil tertawa. “Pada waktu Yo Po Thian mengepalai Mokauw,
keangkerannya meluap-luap. Hanya sayang, dia mati
terlalu cepat sehingga ia tak bisa menyaksikan kehancuran
Mo-kauw.”
“Bangsat!” caci Cioe Tian. “Tutup mulutmu! Jika Yo
Kauwcoe masih hidup, kami semua akan menaati segala
perintahnya. Kepala gundul macam kau mana bisa
membokong kami?”
Goan-tin tertawa dingin dan berkata dengan suara
mengejek, “Tak perduli Yo Po Thian mati atau hidup aku
tetap mempunyai cara untuk menghancurkan Mo-kauw….”
Mendadak terdengar suara “Plak!” dan Goan-tin
mengeluarkan suara kesakitan sebab punggungnya kena
dipukul Wie It Siauw. Hampir berbarengan Wie It Siauw
pun kena ditotok Goan-tin pada Tian tiong hiatnya, di
bagian dada. Mereka mundur sedikit dan kemudian roboh
bersamaan.
Wie It Siauw adalah orang yang berakal budi. Sesudah
kena totokan pertama, biarpun luka berat, berkat
Lweekangnya yang sangat tinggi ia sebenarnya masih dapat
melawan. Tapi ia berlagak dan pada waktu Goan-tin sedang
1302
girang dan tidak berjaga-jaga ia menyerang dengan segenap
tenaganya. Untuk menolong Beng-kauw, ia bertekad untuk
mati bersama-sama musuh. Ceng ek Hok-ong adalah salah
seorang dari keempat Hoat-ong dalam kalangan Beng-kauw
dan kepandaiannya sebanding dengan In Thian Ceng atau
Cia Soen. Maka itu, meskipun hebat, Goan-tin tak dapat
mempertahankan diri terhadap pukulan yang dikirim secara
nekat. Demikianlah begitu kena, tenaga Han peng Bianciang
segera menerobos masuk ke dalam tubuhnya dan ia
merasa dadanya sesak. Beberapa kali ia mengerahkan
Lweekang tapi sebaliknya daripada berhasil, kepalanya
pusing. Kemudian ia menjatuhkan diri dan bersila untuk
mengerahkan hawa murni untuk menolak hawa dingin dari
Han peng Bian-ciang. Dilain pihak, sesudah tertotok dua
kali oleh It in cie, Wie It Siauw tergeletak tanpa bisa
bergerak dan nafasnya tersengal-sengal.
Ruangan itu berubah sunyi. Delapan jago terluka berat
tapi yang terluka paling berat adalah Yo Poet Hwie yang
roboh di luar ruangan itu. Goan-tin dan tujuh tokoh Bengkauw
sama-sama menjalankan pernafasan dan
mengerahkan Lweekang. Mereka tahu bahwa siapa yang
tenaganya pulih lebih dulu, dialah yang akan memperoleh
kemenangan terakhir. Andaikata Goan-tin yang bisa
bergerak lebih dulu, dengan menggunakan pedang ia bisa
membunuh ketujuh musuhnya dan bisa mengobati lukanya
belakangan. Sebaliknya kalau Beng-kauw ada yang lebih
dulu pulih tenaganya maka dengan mudah ia akan bisa
membunuh Goan-tin. Mengingat jumlahnya, ketujuh tokoh
Beng-kauw itu kelihatannya mempunyai harapan yang lebih
besar. Akan tetapi, tenaga dalam Ngo Sian-jin agak cetek
dan sesudah kena It im cie, tenaganya musnah semua. Yo
Siauw dan Wie It Siauw yang Lweekangnya lebih tinggi
masing-masing sudah kena dua totokan. Pada hakekatnya
kehebatan Hen peng Bian-ciang dan It im cie kira-kira
1303
sebanding. Tapi Wie It Siauw memukul setelah terluka
sehingga tenaganya lebih kurang daripada Goan-tin yang
belum terluka. Maka itu, ditinjau dari sini kelihatannya
Goan-tin yang bisa bergerak lebih dahulu.
Yo Siauw dan yang lainnya menjadi bingung, tapi dalam
menjalankan pernafasan dan mengerahkan tenaga dalam
untuk mengobati luka, seseorang tak bisa memaksakan diri.
Makin dia bingung, makin mudah celaka. Sebagi ahli
Lweekee, Yo Siauw dan kawan-kawannya tentu mengerti
kenyataan itu.
Sesudah beberapa kali berusaha, Leng Kiam tahu bahwa
ia takkan bisa mendahului Goan-tin. Harapan satu-satunya
adalah masuknya salah seorang anggota Beng-kauw ke
dalam ruangan itu. Orang itu tak usah memiliki ilmu silat
yang tinggi bahkan ia tak perlu mengerti ilmu silat. Dengan
sepotong kayu, ia bisa membinasakan Goan-tin yang sudah
tak berdaya.
Tapi sesudah menunggu lama, di luar ruangan tak
terdengar suara apapun juga. Waktu itu sudah tengah
malam dan para anggota Beng-kauw telah pada tidur
sedang mereka yang bertugas hanya menjaga di tempattempat
penjagaan tertentu. Tanpa dipanggil, mana berani
masuk ke dalam ruangan Gie soe teng (ruangan rapat)? Yo
Siauw mempunyai beberapa pelayan pribadi, tapi setelah
yang satu diisap darahnya oleh Wie It Siauw, yang lainnya
lantas menyingkir jauh-jauh. Jangankan tak dipanggil
sedangkan dipanggilpun belum tentu dia berani
menghampiri.
Boe Kie yang berada di dalam karung juga mengerti bila
kesunyian itu kesunyian yang sangat tegang. Selang
beberapa lama, tiba-tiba Swee Poet Tek berkata, “Sahabat
yang berada dalam karung harus menolong kami.”
1304
“Bagaimana menolongnya?” tanya Boe Kie.
Pada detik itu, hawa murni Goan-tin justru telah mulai
mengalir bebas di bagian tan tiannya. Mendengar
pembicaraan itu, ia kaget bukan main dan hawa murni itu
berbalik lagi sehingga ia kembali menggigil keras. Dalam
tekadnya dan kesibukannya untuk membasmi jago-jago
Beng-kauw mimpipun ia tak pernah bahwa di dalam karung
ada manusianya. “Habislah jiwaku,” ia mengeluh di dalam
hati.
“Mulut karung dijerat mati dan kecuali olehku sendiri,
siapapun juga tak akan bisa membukanya,” terang Swee
Poet Tek. “Tapi kau bisa berdiri di dalam karung.”
“Baiklah,” kata Boe Kie yang segera bangkit dan berdiri
di dalam karung.
“Saudara kecil!” kata Swee Poet Tek tanpa
memperdulikan keselamatan jiwanya, kau sudah menolong
beberapa puluh saudara dari Swie Kim-kie. Kesatriaanmu
dikagumi oleh semua orang. Sekarang, kamipun
mengandalkan bantuanmu. Pergilah ke tempat pendeta
bangsat itu dan hantam dia sampai mati.”
Boe Kie berpikir keras, ia tidak segera menjawab.
“Cara yang licik, pendeta jahat itu membokong orang,”
kata Swee Poet Tek. “Cara bangsat itu telah didengar oleh
kau sendiri. Kalau kau tidak membinasakan ia, maka
berlaksa-laksa anggota Beng-kauw akan musnah dalam
tangannya. Jika membunuh dia, kau melakukan perbuatan
yang sangat mulia.”
Pemuda itu tetap ragu.
“Aku sudah tidak bisa bergerak lagi,” kata Goan-tin.
“Apabila kau mengambil nyawaku dalam keadaan begitu,
kau akan ditertawai oleh seluruh orang gagah di kolong
1305
langit.”
“Kepala gundul, tutup mulutmu!” bentak Cioe Tian.
“Siauw Lim-pay menyebut diri sebagai partai yang lurus
bersih. Tapi kau, diam-diam telah membokong orang.
Apakah perbuatan itu semua tak ditertawai semua orang
gagah di kolong langit?”
Boe Kie maju selangkah tapi segera berhenti lagi. “Swee
Poet Tek Taysoe,” katanya, “Aku sama sekali tak tahu
sebab dari permusuhan agamamu dengan enam partai
persilatan. Aku sangat ingin membantu kalian tetapi
akupun tak mau mencelakai pendeta Siauw Lim-pay itu.”
“Saudara kecil, ada satu hal belum dipikirkan kami tapi
akan mengambil nyawamu juga.”
Goan-tin tertawa, “Dengan saudara kecil itu aku tidak
bermusuhan,” katanya. “Di samping itu, iapun bukan
anggota Mo-kauw, tak bisa salah lagi, ia ditangkap Po-tay
Hweeshio dengan maksud jahat. Memang, orang-orang
Mo-kauw memang biasa berlaku kejam dan melakukan
perbuatan-perbuatan terkutuk.”
Boe Kie jadi serba salah. Ia tahu bahwa Goan-tin bukan
manusia baik tapi ia tak ingin membinasakan orang. Selain
itu, bila ia turun tangan maka dengan sendirinya ia berdiri
di pihak Mo-kauw. Dengan sendirinya, ia bermusuhan
dengan keenam partai persilatan, bermusuhan dengan
Thaysoehoe (Thio Sam Hong), Boe Tong, Liok hiap, Cioe
Jiak dan yang lainnya. Di mata orang-orang rimba
persilatan, Mo-kauw dianggap sebagai agama sesat,
semacam agama siluman. Perbuatan Wie It Siauw yang
suka mengisap darah manusia dan perbuatan ayah
angkatnya yang sering membunuh sesama manusia secara
sembarangan merupakan bukti-bukti dari perbuatanperbuatan
yang tak pantas. Thaysoehoe pernah berpesan
1306
bahwa biar bagaimanapun juga ia tak boleh bergaul atau
berhubungan dengan orang-orang Mo-kauw supaya dia
tidak usah menghadapi bencana yang tak perlu. Dia ingat
juga pengalaman mendiang ayahnya. Karena sang ayah
menikah dengan ibunya yang Mo-kauw, maka ayahnya
mati bunuh diri. Ia ingat pula bahwa Goan-tin adalah
murid Kong Kian Taysoe. Dalam usaha untuk menuntun
ayah angkatnya ke jalan lurus, pendeta suci itu telah rela
menerima tiga belas pukulan Cit siang-koen sehingga
akhirnya mengorbankan nyawanya. Itulah pengorbanan
yang sangat mulia yang jarang terjadi dalam dunia luas ini.
Apakah ia bisa membunuh murid seorang yang begitu
mulia? Selain itu, iapun ingat bahwa sesudah menerima
ajaran Siauw Lim Kioe-yang kang dari Goan-tin, hubungan
mereka adalah murid dan guru. Memang benar dengan
membuka pembuluh darahnya pendeta itu mengandung
maksud kurang baik. “Tapi biar bagaimanapun juga aku toh
tak jadi mati,” katanya di dalam hati.
Boe Kie adalah seorang manusi aygn tidak bisa
melupakan kebaikan orang. Jika seseorang menyakiti
dirinya, sesudah lewat beberapa lama ia selalu mencari-cari
alasan untuk mengentengkan arti jahat dari perbuatan itu.
Misalnya perbuatan Ho Thay Ciong Coe Tiang Leng dan
Cioe Tin adalah perbuatan-perbuatan yang sangat kurang
ajar tapi tanpa diminta di dalam hatinya ia sudah
memaafkan orang-orang itu. Terhadap Goan-tin pun ia tak
punya dendam lagi.
Berulang kali Sweet Poet Tek mendesaknya tapi ia tetap
tak bergerak. Akhirnya ia berkata, “Swee Poet Tek Taysoe,
cobalah kau mencari suatu cara supaya aku tak usah
membinasakannya dan ia pun tak bisa mencelakai kalian.”
Swee Poet Tek tak menyahut. Mana ada cara yang
begitu?
1307
Beberapa saat kemudian, Pheng Eng Gioklah yang
membuka mulut, “Saudara kecil, kau seorang yang sangat
mulia dan kami semua merasa sangat kagum. Sekarang
begini saja, tolong kau totok Giok tong hiat di dada Goantin.
Totokan ini takkan membahayakan dirinya. Ia hanya
tak bisa mengerahkan Lweekang untuk beberapa jam. Aku
akan memerintahkan orang untuk mengantarnya turun dari
Kong Beng-teng dan kami berjanji bahwa kami takkan
mengganggu selembar rambutnya.”
Sebagai orang yang ahli ilmu pengobatan, Boe Kie
mengerti bahwa totokan pada Giok tong hiat hanya
mencegah naiknya hawa murni dari bagian tian dan takkan
mencelakai jiwa orang yang ditotok.”
“Siauw sie coe, jangan kena diakali oleh mereka,” kata
Goan-tin. “Totokan pada Giok tong hiat memang tak
membahayakan jiwaku tapi begitu tenaga mereka pulih,
mereka pasti akan membinasakan aku. Bagaimana kau bisa
cegah mereka?”
“Tutup mulutmu!” teriak Cioe Tian. “Kami sudah
berjanji untuk tak mencelakai kau. Apakah perkataan Ngo
Sian-jin dari Beng-kauw tidak dapat dipercaya?”
Boe Kie menganggap bahwa Yo Siauw dan Ngo Sian-jin
adalah orang-orang berkedudukan tinggi yang kejujurannya
tak diragukan lagu. Hanya Wie It Siauw seorang yang
masih diragukannya. Maka itu ia lantas saja bertanya, “Wie
Cianpwee bagaimana dengan kau?”
“Kali ini akupun tak akan menyerang dia,” jawabnya
dengan suara gemetar. “Tapi kalau bertemu di lain kali,
kami pasti akan mengadu jiwa dengannya.”
‘Baiklah,” kata Boe Kie. “Kong Beng Soecia, Ceng ek
Hok-ong dan Ngo Sian-jin adalah orang-orang gagah pada
jaman ini dan mereka tentu tak akan menjilat lagi ludah
1308
yang sudah dibuang. Goan-tin Taysoe, maafkan boanpwee
terpaksa berbuat begini terhadapmu.”
Sesudah belasan langkah barulah ia berhadapan dengan
pendeta Siauw Lim itu.
Giok tiong hiat terletak di bagian dada manusia satu
coen enam hoen di bawah Cie kiong hiat atau satu coen
enam hoen di atas Tian tiang hiat.
Pada hakekatnya “hiat” itu bukan “hiat” yang dapat
membinasakan jiwa manusia tapi karena kedudukannya
berada di jalan darah yang harus dilewati oleh hawa di
dalam tubuh, maka kalau “hiat” tersebut tertotok aliran
hawa murni di dalam tubuh segera terhenti.
Dengan mendengar suara nafas, Boe Kie tahu bahwa ia
sudah berada dalam jarak kurang lebih dua kaki dari
pendeta itu. “Goan-tin Taysoe,” katanya, “Untuk kebaikan
kedua belah pihak, boanpwee terpaksa harus bertindak
begini. Mohon Taysoe tidak menjadi gusar.” Seraya berkata
begitu, perlahan-lahan ia mengangkat tangannya.
Goan-tin tertawa getir, “Badanku tidak bisa bergerak,
rasakanlah,” katanya.
Semenjak binasanya Tiap-kok Ie-sian Ouw-Cena Goe,
kepandaian Boe Kie mengenai jalan darah dapat dikatakan
tidak ada duanya dalam dunia. Walaupun ia berada di
dalam karung tidak dapat melihat sasarannya, jari
tangannya menuju tepat kepada Giok tiong hiat.
“Celaka!” mendadak terdengar suara Yo Siauw, Leng
Kiam dan Swee Poet Tek.
Hampir bersamaan pemuda itu merasa semacam hawa
yang sangat dingin menerobos masuk ke dalam dirinya dari
telunjuk yang digunakan untuk menotok Giok tiong hiat.
Sambil mengigil ia mendengar cacian Cioe Tian dan Tiat
1309
Koan Toojin kepada Goan-tin. Ia lantas mengerti bahwa
meskipun tubuhnya tidak bisa bergerak Goan-tin masih
mempunyai sedikit tanaga yang dipusatkan pada jari
tangannya. Waktu ia menotok, pendeta itu menaruh jari
tangannya di Giok tiong hiat dan karena tidak melihat ia
sudah menotok terus. Sebagai akibatnya begitu kedua jari
tangan terbentur, tenaga It im cie menerjang masuk ke
dalam badannya.
Boe Kie terluka tapi Goan-tin pun mendapat pukulan
keras. Barusan ia memusatkan segenap sisa tenaganya pada
jari tangannya. Dengan digunakannya tenaga itu, sekujur
tubuhnya segera bergemetar keras, mukanya pucat pasi dan
badannya kaku seperti mayat.
Cioe Tian yang paling berangasan terus mencaci maki
tapi Yo Siauw dan yang lainnya menganggap bahwa
perbuatan Goan-tin itu sudah sepantasnya. Ia berhak penuh
untuk membela diri. Dilain pihak walaupun terpukul keras,
diam-diam Goan-tin merasa girang. Ia menganggap bahwa
sebagai orang yang masih muda, Lweekang Boe Kie tidak
seberapa tinggi dan sesudah kena It im cie pemuda itu pasti
akan binasa dalam waktu cepat. Ia tahu bahwa dalam
waktu satu jam, hawanya yang buyar akan berkumpul
kembali dan sesudah tenaganya pulih, ia akan bisa
membinasakan musuh-musuh itu.
Dengan sembilan orang terluka semua, ruangan itu
kembali sunyi. Berselang kira-kira setengah jam, api empat
batang lilin padam hampir bersamaan. Dalam gelap gulita
Yo Siauw mendengar jalan pernafasan Goan-tin yang
tersengal-sengal sudah berubah tenang. Ia mengerti bahwa
hawa murni dalam tubuh pendeta itu sudah berkumpul
kembali. Berulang kali ia sendiri mengerahkan Lweekang
tapi dalam setiap usaha, hawa dingin dari It im cie selalu
menerjang ke tan tian-nya dan tanpa dapat dicegah ia
1310
menggigil. Ia menghela dan harapannya sirna. Rasa putus
asa itu juga dirasakan oleh kawannya yang lain.
Sesudah menganggap, bahwa mereka takkan bisa lolos
dari kebinasaan, sekarang mereka mengharap supaya
tenaga Goan tin lekas2 pulih. Mereka merasa lebih lekas
mati lebih baik, jangan disiksa lebih lama. Antara mereka
itu, hanya Swee Poet Tek dan pheng Hweeshio yang masih
merasa penasaran. Mereka adalah pendeta, tapi dalam hati
merekalah yang mempunyai cita2 paling besar, cita2 untuk
melakukan sesuatu yang menggemparkan dunia.
“Pheng Hweeshio,” kata Swee Poet Tek. “Banyak tahun
kita tercapai lelah dalam usaha untuk mengusir orang2
mongol dari negara kita. Tak dinyana, semua usaha berpikir
dengan kegagalan. Hai! Mungkin sekali beribu-ribu dan
berlaksa-laksa rakyat memang harus menderita lebih lama.”
Sesaat itu, Boe Kie sedang mengerahkan hawa panas
dalam tubuhnya untuk melawan hawa dingin dari It im cie,
tapi setiap perkataan Swee Poet Tek tidak terlolos dari
pendengarannya.
“Dia mau mengusir bangsa Mongol?” tanyanya didalam
hati, dengan rasa heran. “Apakah Mo Kauw yang nmanya
begitu busuk bertujuan untuk menolong rakyat?”
“Swee Poet Tek,” demikian terdengar suara Pheng
Hweesio, “Siang2 aku sudah mengatakan, bahwa dengan
sendirian saja, Beng Kauw takkan bisa mengusir bangsa
Mongol. Kalau mau berhasil kita harus bisa berserikat
dengan orang2 gagah di kolong langit dan bergerak dengan
serempak. Soehengmu dan soeteeku. Cioe Coe Ong, telah
coba memberontak, tapi akhirnya mereka terbasmi…..”
Boe Kie terkejut. “Cioe Coe Ong?” tanyanya didalam
hati. “Apakah Cioe Coe Ong bukan ayah nona Coe Cie
Jiak?” dalam kagetnya, perkataan Peng Hweesio yang
1311
selanjutnya tidak didengar lagi olehnya.
“Jangan ribut!” tiba2 terdengar bentakan Cioe Tian.
“Sedang kebinasaan sudah didepan mata, perlu apa kamu
rewel2? Semua omong kosong! Siapa yang salah? Kita
sendiri. Beng Kauw sendiri yang terpecah belah. Pheng
Hweesio kau sungguh gila! Kau mengatakan ingin
berserikat dengan orang2 gagah di kolong langit, artinya
dengan partai2 yang dinamakan lurus bersih.
Huh!....sekarang mereka justru mau membasmi kita. Kau
mau berserikat dengan mereka?”
“Kalo Yo Kauwcoe masih hidup, dengan mudah kita
bisa menaklukkan enam partai yang menyerang kita,” Tiat
Koan menyela.
Cioe Tian tertawa terbahak2. “Hidung kerbau! Kau lebih
gila lagi,” bentaknya. “Kalu Yo Kauwcoe masih hidup,
segala apa tentu berjalan licin. Perlu apa disebutkan
lagi?....Aduh” Ia tak bisa meneruskan perkataannya karena
hawa It im cie menerjang ke dalam isi perutnya.
“Diam!” teriak Leng Kiam mendongkol. Bentakan itu
sangat berpengaruh dan semua orang segera menutup
mulut.
Sementara itu Boe Kie jadi bingung dan bersangsi.
Didalam hatinya timbul banyak pertanyaan. Kalau
didengar, Beng Kauw bukan semata-mata terdiri dari
segundukan manusia yang biasa melakukan perbuatan tidak
baik. Maka itu ia lantas saja bertanya “Swee Poet Tek
taysoe, apakah aku boleh mendapat tahu tujuan yang
sebenarnya dari agama kalian?”
“Ah! Kau belum tahu?” jawabnya. “Jika kau mesti
hilang jiwa karena gara2 agama kami, kami sesungguhnya
merasa tak enak hati. Kau sekarang hanya bisa hidup
beberapa jam lagi, biarlah sebelum mati, kau mendengar
1312
rahasia agama kami. Leng Sian Sianseng, apa boleh aku
menceritakan?”
“Ceritakanlah!” jawabnya.
“Saudara kecil,” ia mulai, “Beng Kauw dimulai di negeri
Tay Sit Kok dan pada zaman kerajaan Tong barulah masuk
ke Tionggoan. Pada masa itu, kaisar Tong telah mendirikan
kuil2 untuk agama kami. Beng Kauw menyamaratakan
semua pengikutnya dan mereka itu jika berharta,
diharuskan menolong rakyat miskin. Kamipun tidak
diperbolehkan makan makanan berjiwa atau arak. Oleh
karena selama beberapa turunan agama kami selalu
digencet oleh pembesar2 rakus, maka kerap kali saudara2
kami memberontak. Misalnya saja sedari zaman Phoe Lap,
Phoei kauwcoe di masa Pak Song (Song utara), entah sudah
berapa kali pemberontakkan Beng Kauw.”
Mendengar samapi disitu, Boe Kie ingat, kalau Phoei
merupakan salah seorang dari empat pemberontakan besar
di zaman Pak Song dan namanya berendeng dengan orang2
seperti Song Kang dan Tian Kouw.
“Kalau begitu Phoei Lap adalah kauwcoe agamamu?”
tanyanya.
“Benar,” jawabnya. “Dalam tahun Kian Yam di zaman
Lam Song –Song selatan- , Ong Cong Sek kauwcoe
memberontak di Sin cioe, sedang dalam tahun Siauw hin, Ie
Ngo Po memberontak di Kioe Cioe. Sesudah itu, dalam
tahun Siauw Teng, pada zaman kaisar Lee Cong, Thio Sam
Ciang kauwcoe memberontak di daerah Kangsay dan
Kwitang. Sebab Bengkauw sering sekali bermusuhan
dengan pembesar negeri dan menimbulkan
pemberontakan2, maka kalangan pembesar negeri
menamakan agama kami sebagai Mo kauw dan
melarangnya.”
1313
“Untuk mempertahankan kehidupan, maka kami
terpaksa bekerja dengan bersembunyi. Kamipun
bermusuhan dengan partai2 lurus bersih dan permusuhan
kian lama kian menghebat sehingga mereka dan kami
seakan2 api dan air.”
“Tentu saja diantara anggota2 Beng kauw terdapat juga
manusia2 yang rendah martabatnya. Mereka itu sering
digunakan oleh partai2 lurus bersih sebagai bukti bahwa
agama kami adalah agama yang sesat. Dengan demikian,
nama Beng kauw jadi makin merosost.”
“Swee Poet Tek, apakah kau maksudkan aku?” memutus
Yo Siauw.
“Namaku Swee Poet Tek dan sesuatu yang tak boleh
dikatakan aku tentu takkan mengatakannya” jawabnya.
“Siapa kepotong dia perih. Siapa berdosa dia tahu dalam
hatinya.”
Yo Siauw mengeluarkan suara di hidung dan tidak bicara
lagi.
Tiba2 Boe Kie kaget sebab badannya sudah tak dingin.
Tadi waktu baru kena It im cie rasa dingin meresap ke
tulang2, tapi sekarang serangan itu sudah menghilang.
Sebagaimana diketahui, waktu masih kecil sekali ia kena
racun dingin dari pukulan Hian beng Sin ciang dan sesudah
mencapai usia 17 tahun, barulah semua racun terusir dari
badannya. Selama kurang lebih 7 tahun siang malam
tubuhnya bertempur melawan hawa dingin sehingga
perlawanan tubuhnya terhadap setiap serangan hawa dingin
sudah terjadi secara wajar. Disamping itu, iapun telah
makan kodok merah dan telah melatih diri dengan ilmu
Kioe Yang Sin Keng. Oleh karena adanya beberapa sebab
itu maka hawa “yang” (hawa panas) didalam tubuhnya
hebat luar biasa. Sehingga racun It im cie sudah terusir
1314
keluar, tanpa ia mesti mengeluarkan banyak tenaga.
Sementara itu Swee Poet Tek melanjutkan
penuturannya. “Sedari kerajaan Song direbut oleh bangsa
Mongol, permusuhan antara Beng kauw dan kerajaan
makin menghebat. Selama beberapa keturunan, pemimpin2
agama kami telah menugaskan diri sendiri untuk mengusir
kaum penjajah dengan mempersatukan semua orang gagah
di seluruh negeri. Sayang sungguh, dalam tahun2 yang
belakangan Beng kauw tidak mempunyai pemimpin dan
sebab memperebutkan kedudukan sebagai Kauwcoe,
tokoh2 Beng kauw jadi saling bunuh. Antara pentolan2
kami ada yang mengasingkan diri dan ada pula yang
mendirikan agama lain dan mengangkat diri sebagai
Kauwcoe. Sesudah Beng kauw berantakan, permusuhan
dengan partai2 lurus bersih makin besar dan sebagai
akibatnya kau bisa lihat sendiri. Kami sekarang sedang
menghadapi bencana. Goan tin Hweeshio, bagaimana
pendapatmu? Apakah aku berjusta?”
Goan tin mengeluarkan suara di hidung. “Tidak kau tak
berdusta,” jawabnya. “Sesudah berada begini dekat dengan
kebinasaan, perlu apa kau berjusta?” seraya berkata begitu,
perlahan2 ia berdiri dan melangkah setindak.
“Ah!....”seru Yo Siauw dan yang lain2. biarpun sudah
menduga, bahwa tenaga Goan tin akan pulih terlebih
dahulu mereka sama sekali tidak menaksir, bahwa pendeta
itu memiliki Lweekang yang begitu tinggi dan tenaganya
pulih secara begitu cepat.
Dilain saat, dengan badan tetap, Goan tin telah
melangkah lagi setindak.
Yo Siauw tertawa dingin. “Murid Kong kian taysoe
benar2 hebat,” katanya. “Eh! Aku telah mengajukan satu
pertanyaan yang belum dijawab olehmu. Apakah
1315
jawabannya memalukan kau, sehingga kau tak berani
membuka mulut?”
Goan tin tertawa terbahak bahak dan maju lagi setindak.
“Aku tahu……aku tahu, bahwa sebelum aku menjawab,
kau tak bisa mati dengan mata meram,” katanya. “Kau
tanya, mengapa aku tahu jalanan2 rahasia dari Kong Beng
Teng. Mengapa aku bisa sampai disini tanpa diketahui oleh
siapapun jua. Baiklah aku akan menjawab dengan
sejujur2nya. Jawabanku ialah Yo Po Thian kauwcoe,
pemimpin agamamu sendiri berdua istri yang pernah
membawaku kemari.”
Yo Siauw terkesinap. Sebagai seorang yang
berkedudukan dan berkepandaian tinggi, pendeta itu pasti
tak berdusta. Tapi mana bisa kejadian yang seperti itu?
“Keledai gundul! Jangan dusta kau!” caci Cioe Tian.
“Jalanan rahasia Kong beng teng adalah sebuah rahasia
besar. Tempat itu adalah tempat suci dari agama kami.
Biarpun Yo cosoe seorang Kong beng Soe cia, walaupun
Wie toako berkedudukan sebagai Hoe kauw Hoat tong.
Mereka belum pernah menggunakan jalanan itu. Hanyalah
kauwcoe seorang yang boleh menggunakannya. Mana bisa
jadi Yo kauwcoe mengajak kau seorang luar berjalan
dijalan itu?”
Goan tin menghela nafas dan untuk beberapa saat, kedua
matanya mengawasi ke tempat yang jauh, “Jika kau
mendesak juga, aku harus menceritakan peristiwa yang
terjadi pada 25 tahun berselang,” katanya dengan suara
berduka. “Baiklah. Biar bagaimanapun juga, kamu takkan
bisa turun dari gunung ini dengan masih bernyawa. Kamu
takkan bisa membocorkan rahasia. Hai! Cioe Tian, tak
salah apa yang dikatakan olehmu. Jalanan rahasia itu
adalah tempat suci dari agamamu. Memang, hanya
kauwcoe yang boleh masuk kesitu. Siapa yang melanggar
1316
dosa besar. Tapi orangnya Yo Po Thian telah masuk kesitu.
Yo Po Thian telah melanggar peraturan agama. Secara
diam2 dia membawa Yo hoejin masuk kesitu.”
“Dusta! Dusta besar.” Teriak Cioe Tian.
“Cioe Tian, diam kau!” bentak Pheng hweshio.
Goan tin melanjutkan perkataannya. “Bukan saja begitu,
Yo hoejin telah membawaku masuk kesitu…”.
“Bangsat! Bangsat besar! Dusta!” caci Cioe Tian.
“……..aku bukan anggota Beng kauw. Biarpun masuk
dijalanan itu, aku tidak melanggar peraturan agama.” Kata
Goan tin dengan sedih.
“Mengapa Yo Hoejin mengajak kau masuk dijalanan
itu?” tanya Tiat koan Tojin.
“Hmmm! Itulah kejadian yang terjadi sudah lama
sekali.” Jawabnya. “Sekarang loolap sudah berusia 70
tahun lebih. Diwaktu masih muda….Baiklah, loolap akan
menceritakan rahasianya.”
“Apa kalian tahu siapa adanya loolap? Yo Po Thian
adalah Soehengku, Yo Hoejin adalah Soemoyku. Pada
sebelum menjadi pendeta, loolap she Seng bernama Koen,
bergelar Hoen goan Pek Leng chiu.”
Mendengar keterangan itu, bukan main kagetnya Yo
Siauw dan yang lain2, sedang Boe Kie hampir berteriak.
Pemuda itu lantas saja ingat penuturan ayah angkatnya
pada suatu malam di pulau Peng Hwee to. Pada waktu itu
Cia Soen menceritakan cara bagaimana gurunya telah
membunuh semua anggota keluarganya, cara bagaimana
untuk memaksa keluarnya guru itu, ia telah membunuh
banyak orang gagah dalam Rimba persilatan dan cara
bagaimana sesudah ia melukai pendeta suci Kong kian.
1317
Seng koen tidak menepati janji untuk munculkan diri. Tiba2
Boe Kie tersadar dan berkata didalam hatinya. “Tak bisa
salah lagi, pada waktu itu bangsat tua Seng Koen telah
mengangkat Kong kian Seng ceng –pendeta suci kiansebagai
guru. Untuk menghilangkan permusuhan itu,
pendeta suci itu rela menerima 13 pukulan Cit Siang koen
dari Giehoe. Siapa nyana Seng Koen malah sudah
mendustai gurunya sendiri, sehingga Kong kian Taysu
meninggal dunia dengan penasaran.”
Mengingat sampai disitu, Boe Kie lantas saja sangat
perkataannya sendiri yang diucapkan pada malam itu.
“Giehoe, orang yang membinasakan seantero keluargamu
bernama Hoen goan Pek lek chioe, bukan? Baiklah, Boe Kie
akan mengingat nama itu. Dibelakang hari, anak tentu akan
mewakili ayah untuk membalas sakit hati.”
Dengan gusar, ia kemudian berkata didalam hati.
“Kalapnya Giehoe sehingga ia sering membunuh orang
yang tidak berdosa, kedatangan dan desakan berbagai partai
di Boe Tong san sehingga kedua orang tuaku terpaksa
membunuh diri semua adalah gara2nya bangsat tua Seng
Koen.”
Makin diingat, darah pemuda itu makin meluap. Tiba2
ia merasa sekujur badannya panas, seperti dibakar. Karung
Kian Koen It Khie tay dari Swee Poet Tek tertutup rapat
dan hawa udara tidak bisa keluar masuk. Menurut pantas,
sesudah berdiam dalam karung begitu lama, Boe Kie
sebenarnya sudah mesti mati. Tapi ia kerena memiliki
lweekang yang sangat tinggi dan hawa yang dikeluarkan
dari pernafasan sangat sedikit, maka ia masih dapat
mempertahankan diri. Tapi sekarang, dalam gusarnya, Cioe
yang Cin khie (hawa tulen Kioe Yang) tak dapat dikuasai
lagi dan lalu mengamuk hebat. Beberapa saat kemudian, ia
merasa badannya seperti masuk dalam perapian, sehingga
1318
ia mengeluarkan teriakan keras.
“Saudara kecil!” bentak Cioe Tian, “Kita semua tengah
menghadapi kebinasaan dan sama2 menanggung
penderitaan hebat. Tapi seorang yang gagah tidak boleh
memperlihatkan kelemahannya dan berteriak2 seperti kau”.
“Benar!” kata Boe Kie yang lalu menentramkan jalan
pernafasannya dengan ilmu yang terdapat dalam Kioe yang
cin keng. Biasanya ilmu itu bermanfaat sekali. Tapi kini,
usahanya gagal. Tulang2nya sakit dan jalan darah diseluruh
tubuhnya seperti juga ditusuk dengan jarum2 ribuan yang
panas.
Mengapa bisa begitu?
Biarpun telah melatih diri selama beberapa tahun dan
biarpun Kioe yang cin keng merupakan salah satu kitab silat
terlihay di kolong langit, tapi dalam mempelajari kitab
tersebut, Boe Kie tidak mendapat bimbingan guru yang
pandai. Ia belajar hanya dengan meraba2. Maka itu, Kioe
yang cin khie yang makin lama makin bertambah didalam
badannya, tidak dapat disalurkan olehnya, karena ia berada
didalam karung. Disamping itu, totokan It im cie
merupakan salah satu ilmu yang paling beracun dalam
rimba persilatan. Bagi Boe Kie, totokan itu seakan2
setengah obat pasang yang disulut sumbunya. Celakanya,
sebab berada didalam karung, hawa cin kie yang keluar dari
pernafasannya tak bisa buyar dan balik menghantam
dirinya sendiri. Dengan demikian, Boe Kie kini tengah
menghadapi saat yang sangat penting (jiwanya tergantung
atas selembar rambut).
Hal ini tentu tak diketahui oleh Cioe Tian dan yang
lain2.
Sementara itu, biarpun sedang melawan hawa panas
dengan mati2an, Boe Kie tetap dapat menangkap setiap
1319
perkataan Goan Tin yang telah melanjutkan penuturannya.
“Keluarga soemay-ku dan keluargaku mempunyai
hubungan yang rapat,” kata pendeta itu. “Sedari kecil kita
telah ditunangkan. Siapa tahu, diam2 Yo Po Thian juga
mencintai soemoy-ku itu. Belakangan dia menjadi kauwcoe
dari Beng kauw dan pengaruhnya besar sekali. Ayah dan
ibunya soemoy adalah manusia2 yang kemaruk akan
pengaruh, sedang soemoy sendiri tidak mempunyai
pendirian yang teguh. Akhirnya soemoy menikah dengan
Yo Po Thian. Tapi sesudah menikah, ia merasa tidak
beruntung dan kadang2 membuat pertemuan denganku.
Supaya pertemuan tidak terganggu, ia ingin sekali mencari
tempat yang aman dan nyaman.”
“Yo Po Thian sangat mencintai soemoy-ku dan ia tidak
pernah membantah kehendak sang istri. Waktu soemoy
menyatakan keinginannya untuk melihat2 jalanan rahasia
Kong beng teng, biarpun merasa sangat berat, ia sudah
meluluskan juga. Demikianlah, jalanan rahasia itu yang
selama ratusan tahun dipandang sebagai temnpat suci dari
Beng kauw, menjadi tempat pertemuanku dengan nyonya
Kauwcoe. Ha…ha…ha….ha! Puluhan kali aku mondar
mandir di jalanan itu. Apa heran jika hari ini aku bisa
mendaki Kong beng teng tak kesukaran apapun jua?”
Yo Siauw dan kawan2nya merasa dada mereka seperti
mau meledak, tapi mereka tak bisa mengucapkan sepatah
kata. Cioe Tian yang biasa mencaci maki juga tidak dapat
mengeluarkan caciannya. Kejadian itu merupakan hinaan
yang besar bagi Beng kauw dan bencana yang dihadapi oleh
Beng kauw juga karena gara2 terbukanya rahasia jalanan
itu. Mata Yo Siauw dan yang lain2 seperti mau
menyemburkan api, tapi merekapun tahu, bahwa Goan Tin
tidak berbicara dusta.
“Kamu marah?” tanya Goan tin. “Pernikahanku telah
1320
digagalkan oleh Yo Po Thian. Dia terang2 istriku. Setelah
menjadi pemimpin Mo Kauw, Yo Po Thian merampas
istriku yang tercinta. Permusuhanku dengan Mo kauw
adalah permusuhan yang tidak bisa berdiri di kolong langit
bersama2. pada hari pernikahan Yo Po Thian dengan
soemoy-ku, aku datang memberi selamat dan turut minum
arak kegirangan. Tapi didalam hati, diam2 aku bersumpah,
bahwa sebegitu lama Seng Koen masih bernafas, ia pasti
akan membunuh Yo Po Thian, ia pasti akan membasmi Mo
kauw. Sudah 50 tahun aku bersumpah. Baru kini aku
berhasil.”
“haaa……haaaa…..Aku puas!” Seng koen akan mati
dengan mata meram.
“Terima kasih atas keteranganmu,” kata Yo Siauw
dengan suara dingin. “Kini baru kutahu sebab musabab dari
kematian Yo Siauw coe.”
“Kalau begitu, ia mati didalam tanganmu”
“Ilmu Yo soeheng banyak lebih tinggi daripadaku,” kata
Goan Tin. “Kami adalah saudara
seperguruan…………masing2 tahu kepandaiannya….”
“Lantaran begitu kau sudah membokong,” memutus
Cioe Tian. “Kalau bukan menggunakan racun, kau tentulah
sudah menyerang secara gelap, seperti perbuatanmu hari
ini.”
Goan tin menghela nafas dan menggelengkan kepala.
“Tidak!” katanya. “Sebab kuatir ku mencelakai dia secara
menggelap, berulang kali soemoyku memperingatiku. Ia
mengatakan bahwa jika aku membinasakan Yo Po Thian,
ia takkan mengampuniku. Ia mengatakan, bahwa dengan
mengadakan pertemuan gelap saja, ia telah berdosa besar
terhadap suaminya. Bila Yo Po Thian dibinasakan, maka
perbuatan itu dianggapnya sebagai perbuatan terkutuk yang
1321
pasti akan dihukum oleh langit.”
“Hai!.........Yo Soeheng……..dia………mati sendiri.”
Yo Siauw dan lain2 terkesiap.
Kata Goan Tin pula, “Kalau benar Yo Po Thian binasa
dalam tanganku, aku tentu sudah mengampuni Beng
kauw….” Suaranya berubah perlahan. Seperti juga ia ingat
pula peristiwa yang terjadi pada banyak tahun berselang.
Sesudah berhenti sejenak, ia berkata lagi dengan suara
perlahan. “Malam itu aku bertemu lagi dengan suomoy-ku
di jalanan rahasia itu. Sekonyong2 kami mendengar suara
nafas yang datang dari jurusan kiri. Itulah kejadian yang
belum pernah terjadi. Orang luar takkan bisa masuk ke
jalanan itu, sedang anggota Beng kauw takkan berani
masuk. Kami kaget dan lalu menyelidiki. Ternyata suara
nafas itu suara nafasnya Yo Soeheng yang sedang berduduk
dalam sebuah kamar. Ia memegang selembar kulit kambing
dalam tangannya dan selebar mukanya berwarna merah. Ia
sudah mengetahui rahasia kami. ‘Bagus sungguh perbuatan
kamu berdua!’ katanya. Sesudah berkata begitu paras
mukanya berubah biru. Sesaat kemudian, warna biru
berubah merah lagi. Perubahan ini silih berganti sampai 3
kali. Yo Cosoe, apa kau tahu sebab musababnya?”
“Kejadian itu sudah terjadi karena Yo kauwcoe sedang
melatih diri dalam ilmu Kiun koen tay lo ie,” jawabnya.
“Yo Siauw bukankah kau sudah mahir dalam ilmu itu?”
tanya Coe Tian.
“Kau tidak dapat menggunakan perkataan mahir,”
jawabya. “Waktu masih hidup; karena menghargai aku, Yo
kauwcoe telah mengajar aku pokok2 dari Kian koen Tay lo
ie Sin kang. Sesudah berlatih belasan tahun, aku hanya
mencapai tingkat dua. Dalam latihan selanjutnya. Hawa
tulen dalam badanku mengamuk dan coba menerjang
1322
keluar dengan memecahkan batok kepalaku. Biar
bagaimanapun juga aku tidak bisa menguasai hawa itu.
Perubahan 3 kali pada paras muka Yo Kauwcoe merupakan
tanda, bahwa ia sudah mencapai tingkat kelima dari ilmu
tersebut. Ia pernah memberitahu aku, bahwa diantara
kauwcoe agama kita, Ciong kauwcoelah, dari keturunan
kedelapan yang memiliki kepandaian paling tinggi dan
sudah mencapai tingkat keenam dari Kian koen tay lo ie.
Pada suatu hari, waktu sedang melatih diri, ilmu itu telah
membakar Ciong kauwcoe, sehingga binasa. Mulai dari
waktu, belum ada orang yang bisa mencapai tingkat
kelima.”
“Begitu sukar?” kata Cioe Tian.
“Kalau tidak sukar, ilmu itu tentu tidak dianggap sebagai
ilmu pelindung agama kita,” kata Tiat koen Toojin.
Jago-jago Beng kauw itu sudah lama mendengar halnya
Kiankoen tay loe ie Sinkang. Maka itu begitu nama itu
disebutkan, biarpun sedang menghadapi bahaya, mereka
tak tahan untuk membicarakannya.
“Yo Cosoe,” kata Pheng Eng Giok, “Mengapa terjadi
perubahan pada paras muka Yo kauwcoe?”
Pheng Hweesio adalah seorang yang sangat pintar.
Dengan mengajukan pertanyaan itu ia mempunyai maksud
tertentu. Kalau Goan Tin maju beberapa tindak lagi,
habislah nyawa mereka. Maka itu sedapat mungkin ia ingin
memperpanjang pembicaraan untuk mendapat lebih banyak
waktu. Asal saja ketujuh jago Beng kauw dapat bergerak,
maka dengan bersatu padu, mereka akan bisa melawan
serangan Goan Tin, biarpun hanya untuk sementara waktu.
Andai kata pada akhirnya lebih baik daripada tanpa
melawan.
1323
Sebagai seorang yang sangat cerdas Yo Siauwpun
mengerti maksud Pheng Eng Giok. Maka itu perlahan2 ia
memberi keterangan. “Tujuan dari Kian koen tay lo ie
Sinkang yalah menjungkir balikkan 2 rupa hawa, yaitu
hawa ‘keras’ dan hawa ‘lembek’, hawa Im dan hawa Yang.
Perubahan pada paras muka sudah terjadi pada waktu
darah didalam tubuh turun ke bawah, yaitu pada waktu
berubahnya Cin kie. Sepanjang keterangan, waktu
mencapai tingkat keenam, kulit di sekujur badan bisa
berubah2 warnanya, sebentar merah sebentar biru. Tapi
kalo seseorang sudah mencapai tingkat ke tujuh, perubahan
hawa Im dan Yang akan terjadi tanpa memperlihatkan
perubahan dalam warna kulit.” (Im dan Yang, Negatif dan
Positif).
Sebab kuatir Goan tin tak sabaran, Pheng Eng Giok lalu
menanya pendeta itu. “Goan tin taysu apakah kau boleh
memberitahu kami, cara bagaimana Yo Kauwcoe sudah
berpulang ke alam baka?”
Goan tin tertawa dingin. “Sesudah kamu kena It Im cie
dalam dunia ini hanya ada empat golongan manusia yang
bisa menolong,” katanya. “Kamu hanya bisa ditolong
dengan Kioe yang sin kang dari Boe Tong, Siauw Lim, Go
Bie dan It Yang Cie dari It Teng Taysoe. Kalu ditolong
dengan salah satu ilmu itu kamu akan bisa bergerak untuk
sementara waktu. Janganlah mimpi, bahwa kamu bisa
menolong diri sendiri dengan mengerahkan lweekang dan
dengan memperpanjang waktu. Aku bicara terang2. itu
semua tiada gunanya. Sebagai ahli2 kelas utama dalam
rimba persilatan, kamu tentu tahu, bahwa biar mendapat
luka yang lebih berat lagi, sesudah menjalankan pernafasan
begitu lama, sedikit banyak kamu sudah mendapat
kemajuan. Tapi sekarang? Bukannkah, sebaliknya daripada
mendingan badanmu jadi makin kaku?”
1324
Yo Siauw dan yang lain2 sudah merasai kenyataan itu.
Tapi sebagai manusia sebegitu lama masih bernafas, mereka
masih mempunyai harapan.
Sementara itu Goan tin melanjutkan penuturannya.
“Melihat perubahan paras muka Yo Soe Heng, aku kaget.
Soemoyku tahu, bahwa ia berkepandaian sangat tinggi dan
dengan sekali menghantam, ia bisa membinasakan aku.
“Toosoeko, katanya, dalam hal ini akulah yang bersalah.
Lepaskan Seng soeko dan aku rela menerima segala
hukuman.” Mendengar perkataannya, Yo Soe heng berkata
dengan suara parau. “Aku hanya bisa menikah dengan
badanmu, tidak bisa menikah dengan hatimu. Sehabis
berkata begitu, kedua matanya terbuka lebar, seperti sedang
mangamati sesuatu ditempat jauh dan sesaat kemudian,
dari kedua mata itu keluar darah yang mengalir turun
dengan perlahan. Tubuhnya kelihatan kaku dan ia tidak
bergerak lagi. Soemoyku terkejut dan berteriak. Toa
soeko!.....Toa soeko!....Po Thian!.....Po Thian!....Mengapa
kau?. Ia berteruiak berulang2.”
Goan Tin meniru teriakan Soemoynya dengan suara
perlahan, tapi nadanya menyeramkan, sehingga semua
orang jadi bergidik.
Sesudah berdiam sejenak. Ia berkata pula, “Sebab Yo
Soeheng tidak juga bergerak, dengan membaringkan hati
soemoyku menarik tangannya dan lantas saja ternyata,
bahwa tangan itu tangannya mayat. Soemoy meraba
dadanya. Ia memang sudah mati. Kutahu hatinya tidak
enak dan ia merasa menyesal. Maka itu, aku segera coba
membujuknya dengan berkata. Soemoy, menurut
penglihatanku Toasoeko telah membuat kesalahan pasa
waktu melatih diri dalam serupa ilmu yang tinggi.
Mengalirnya hawa tulen terbalik dan ia tidak dapat ditolong
lagi. Soemoyku mengangguk, ‘benar” katanya. ‘Ia tangah
1325
melatih ilmu Kian Koen tay lo ie yang sangat luar biasa.
Pada detik latihan yang sangat penting ia mendapat tahu
rahasia pertemuan kita. Biarpun bukan binasa dalam
tanganku, tapi ia binasa karena gara2ku.’ Baru saja aku
ingin membujuk lagi, tiba2 ia menuding ke jurusan
belakangku sambil membentak ‘Siapa itu?’ Aku memutar
badan, tapi tak lihat apapu juga. Waktu aku memutar badan
lagi, pada dadanya sudah tertancap sebilah pisau. Ia sudah
membunuh diri sendiri!”
“Huh..Huh!...Yo Po Thian mengatakan, bahwa ia
menikah dengan orangnya, tapi tidak menikah dengan
hatinya. Aku sendiri? Aku berhasil merebut hatinya
soemoy, tapi tidak bisa mendapatkan menusianya. Dalam
seluruh penghidupanku, ia adalah seorang yang paling
dihormati dan paling dicintai olehku. Kalau bukan gara2
Yo Po Thian, kami berdua tentu sudah terangkap menjadi
suami istri yang bahagia. Kalau bukan Yo Po Thian
menjadi kauwcoe dari Mo kauw, maka soemoyku tentu
takkan menikah dengan manusia itu yang usianya lebih tua
dua puluh tahun lebih daripadanya Yo Po Thian telah mati.
Aku tidak bisa berbuat sesuatu lagi kepadanya. Tapi Mo
kauw masih malang melintang di dalam dunia. Waktu itu
sambil menuding jenazah soeheng dan soemoyku, aku
berkata. “Aku Seng Koen, bersumpah untuk menggunakan
segala rupa kepandaianku guna membasmi Beng kauw.
Sesudah berhasil, aku akan datang kemari lagi dan disini
untuk menggorok leher sendiri dihadapanmu berduasebagai
penebus dosa. Ha…ha……ha…….Yo Siauw!......Wie It
Siauw…….kamu semua akan segera binasa. Seng koenpun
tak akan hidup lebih lama lagi. Maksudku sudah tercapai
dan dengan segala senang hati, aku akan menggorok leher
sendiri untuk mengawani kamu semua ke alam baka.”
Ia menghela nafas dan berkata pula. “Selama beberapa
1326
tahun setiap saat aku memikiri daya upaya untuk
menghancurkan Mo kauw. Hei…..Aku sungguh beruntung,
istriku direbut orang. Muridku satu2nya menganggapku
sebagai musuh besarnya……”
Mendengar disebutnya Cia Soen. Jantung Boe Kie
memukul keras dan ia memusatkan segala perhatiannya
untuk mendengari Seng Koen. Tapi dengan pemusatan
perhatian itu, Kioe Yang Cin Khie (Hawa tulen Kioe yang)
yang berkumpul di tubuhnya jadi bertambah. Tal lama
kemudian, ia merasa tulang2nya seperti melar, seolah2 mau
meledak, sedang lubang2 rambutnya seakan2 menjadi
beberapa kali lipat lebih besar.
Goan Tin melanjutkan ceritanya. “Sesudah turun dari
Kong beng teng, aku pulang ke Tionggoan dan mencari
muridku Cia Soen yang sudah lama tak bertemu. Diluar
dugaan, begitu bertemu aku diberitahukan, bahwa ia sudah
menjadi salah satu Hoa kauw Hoat ong dari Mo kauw……”
Ia malah coba membujukku supaya aku turut
menyeburkan diri ke dalam agama siluman itu. Ia
mengatakan bahwa Mo kauw bertujuan untuk mengusir
kaum penjajah. Aku gusar tak kepalang. Tapi aku segera
menekan kegusaranku, karena kuingat, bahwa Mo kauw
sudah berakar dalam dan mempunyai banyak orang pandai,
sehingga dengan sendirian, aku pasti tak bisa berbuat
banyak. Jangankan aku seorang diri, sedangkan sebuah
perserikatan dari orang2 gagah seluruh rimba persilatan
belum tentu bisa menghancurkannya, aku menarik
kesimpulan jalan satu2nya iyalah menjalankan tipu supaya
Mo kauw terpecah belah dan anggota2nya saling bunuh
membunuh. Hanyalah dengan cara itu. Mo kauw bisa
dihancurkan”
Yo Siauw dan yang lain2 memasang kuping dengan hati
berdebar2. mereka merasa, bahwa dalam banyak tahun
1327
mereka seperti berada dalam pulas yang nyenyak, tanpa
mengetahui, bahwa seorang musuh besar tengah
menjalankan siasat untuk membinasakan Beng kauw.
Diam2 mereka mengakui kegoblokannya mereka. Bahwa
dalam banyak tahun ini, apa yang diperbuat mereka
hanyalah berkelahi dengan kawan sendiri untuk merebut
kursi Kauwcoe. Cerita Goan tin itu bagaikan bunyi genta
yang telah menyadarkan mereka.
“Pada waktu itu, paras tak berubah, aku hanya
mengatakan bahwa urusan itu urusab besar yang harus
dipikir masak2,” kata pula Goan tin. “Beberapa hari
berselang aku berlagal mabuk arak dan coba mencemarkan
kehormatan istri muridku. Dengan menggunakan
kesempatan itu, aku membunuh ayah, ibu, istri dan
anaknya Cia Soen. Aku mengerti, bahwa dengan berbuat
begitu. Ia akan marah besar dan coba mencari aku untuk
membalas sakit hatinya. Kalau dia tidak berhasil mencari
aku, maka menurut dugaanku, ia akan melakukan
perbuatan yang gila2. ha..ha!....kata orang, mengenal anak
tidak seperti ayahnya, mengenal murid tidak seperti
gurunya. Aku mengenal watak muridku itu. Dia anak
sangat baik, tapi seorang pemarah yang mudah menjadi
gelap. Ia tidak bisa memikir panjang2, ia tidak bisa meneliti
siasat orang.”
Mendengar sampai disitu Boe Kie merasa kepalanya
puyeng. Ia gusar bukan main, dadanya seperti mau
meledak. “Kalau begitu semua penderitaan Gie Hoe adalah
akibat dari tipu busuknya bangsat tua itu.” Katanya dalam
hati.
Dengan suara bangga Goan tin berkata pula “Dengan
menggunakan namaku Cia Soen telah membinasakan
orang2 gagah dalam kalangan Kangouw. Tujuannya yalah
untuk memaksa aku keluar untuk menemui dia. Ha….ha!
1328
mana bisa aku menuruti kemauannya, rahasia tentu saja tak
bisa ditutup. Biarpun dia menggunakan namaku, tapi orang
tahu bahwa pembunuhan2 itu dilakukan olehnya. Dia
menanam banyak sekali permusuhan. Hutang2 darah itu
semua masuk kedalam buku hutang Beng kauw…..”
Ia berhenti sejenak, kemudia lanjutnya. “diluar banyak
musuh, didalam Beng Kauw berantakan. Kamu semua
tidak terlepas dari tipu dayaku. Aku merasa menyesal dia
batal membunuh Song Wan Kiauw. Tapi cukuplah, dia
sudah membunuh Kong kian Taysoe, melukai lima tetua
Kho tong, membinasakan jago2 lima partai di pulau Ong
poan san, bahkan orang2 Peh bie kauw tak terluput dari
tangannya. Ha…ha….ha! murid baik, murid manis.
Ha…ha….ha…..” dia tertawa bagaikan orang edan.
Tiba2 Boe Kie merasa kupingnya “menguing” dan ia
pingsan. Tapi beberapa saat kemudian, ia sudah tersadar
lagi. Semenjak kecil, ia sendiri pernah menerima macam2
hinaan. Tapi apa yang diderita ayah angkatnya, ratusan kali
lipat lebih hebat. Karena tipu busuknya Seng Koen, ayah
angkat itu, seorang yang keras seperti besi, musnah rumah
tangganya. Rusak namanya, matanya buta keduanya dan
sekarang hidup sebatang kara di pulau terpencil. Aduh!
Itulah sakit hati yang tidak bisa tidak dibalas.
Bahna gusarnya, dadanya menyesak. Dan karena gusar,
Kioe yang Cin Khie dalam tubuhnya mengamuk hebat.
Nafasnya tersengal2 membunag “hawa tulen” yang seperti
juga meledak keluar dari dalam tubuhnya. Tapi ia berada
didalam karung. Hawa yang keluar dari hidung dan
mulutnya tak bisa buyar, sehingga sebagai akibatnya,
perlahan2 karung Kian Koen it khie tay melembung.
Tapi semua orang yang tengah mendengari cerita Goan
tin tidak memperhatikan melambungnya karung itu.
1329
Goan tin berkata pula. “Yo Siauw, Cioe Tian, Wie It
Siauw dan yang lain2, apa kamu mau bicara?”
Yo Siauw menghela nafas, “Sesudah keadaan jadi begini,
apa lagi yang mau dikatakan?” katanya, “Goan tin taysu,
apakah kau bisa mengampuni jiwa anakku? Ibunya ialah
Kie Siauw Hoe dari Go Bie Pay. Ia belum masuk ke dalam
Beng Kauw.”
“Membabat rumput harus membabat sampai diakarnya,
aku tak mau memelihara harimau kecil untuk jadi biang
penyakit,” jawabnya. Ia berjalan pelan2 dan lalu
mengangkat tangannya untuk menepuk batok kepala Yo
Siauw.
Boe Kie terkesinap. Tanpa menghiraukan hawa panas
yang seperti dibakar, ia melompat kehadapan Goan tin,
mengangkat tangan kirinya dan menangkis pukulan pendeta
itu. Begitu tertangkis, tangan Goan tin terpental. Sesudah
terkena pukulan Han beng Bian ciang, pendeta itu terluka
berat dan sekarang, tenaganya baru pulih sebagian,
sehingga tangkisan Boe Kie telah menggoncang tubuhnya
dan mau tidak mau, ia mundur setindak dengan badan
limbung. “Bocah!” bentaknya. “Kau…..kau…..”
Boe Kie merasa mulut dan lidahnya kering serta panas.
Hawa cin khie mengamuk makin hebat.
Sesudah menetapkan semangat, Goan tin memukul
karung itu dengan telapak tangannya. Tapi pukulan itu,
yang tidak kena dibadan Boe Kie, sudah terpukul balik
dengan tenaga membal dari karung tersebut, sehingga sekali
ia terhuyung. Ia kaget bukan main dan tak tahu sebab
musababnya. Dia sama sekali tidak pernah bermimpi,
bahwa manusia yang berada dalam karung itu mempunyai
tenaga Kioe yang Sin keng.
Sementara itu, Kioe yang Cin khie yang mengamuk
1330
didalam tubuh Boe Kie sudah mendekati titik peledakan.
Jika Kian koen It kie tay keburu meledak, maka ia terlolos
dari kebinasaan, kalau tidak, Cin khie itu akan segera
meledak dan membakar seluruh tubuhnya.
Dilain saat Goan tin telah maju 2 tindak dan kembali
menghantam karung dengan telapak tangannya. Seperti
tadi, ia terhuyung pula, tapi karungnya pun, yang didorong
keras, berguling2 seperti bola raksasa. Dada Boe Kie
semakin menyesak. Ia sukar mengeluarkan lagi hawa dari
badannya, sebab karung itu sudah terlalu penuh. Dengan
beruntun Goan tin memukul 3 kali dan menendang 2 kali
dan tiap kali menyerang, setiap kali terhuyung sebab
terpukul balik dengan tenaga membal karung tersebut.
“Masih untung pukulan dan tendangannya tidak
meyentuh pada Boe Kie. Bila menyentuh tubuh yang penuh
dengan Kioe yang Sin kang ia pasti terluka berat.
Yo Siauw, Pheng Eng Giok dan Swee Poet Tek
mengawasi kejadian aneh itu dengan mata membelalak.
Kian koen It khie tay adalah milik Swee Poet Tek, tapi
iapun tak tahu, mengapa karung bisa melembung seperti
bola. Ia juga tak tahu apa Boe Kie masih hidup atau sudah
mati.
Dengan gregetan Goan tin mencabut pisau dari
pinggangnya dan dengan sekuat tenaga, ia menikam. Tapi
karung itu hanya mendesak, tidak pecah. Ia terkesinap. Ia
tak tahu, bahwa karung itu tebuat daripada semacam bahan
yang aneh. Dengan menggunakan pisau biasa, karung
mustika itu tentu saja tidak bisa dirobek.
Sesudah gagal dalam beberapa serangan, Goan tin
berkata dalam hatinya. “perlu apa aku meladeni manusia
dalam karung itu?” ia menendang dan karung itu terbang
keluar.
1331
Apa mau karung itu terbentur pintu dan terpental balik,
menyambar Goan tin. Melihar sambaran itu, dia
mengangkat kedua tangannya dan menghantam sekuat
tenaga.
“Dar!” peledakan dahsyat yang menyerupai geledek
menggetarkan seluruh ruangan dan ribuan kepingan kain
terbang berhamburan. Kian Koen It khie tay hancur! Goan
tin, Yo Siauw, Cioe tian dan yang lain2 merasa seperti
disambar semacam hawa yang sangat panas, sedang Boe
Kie sendiri berdiri terpaku bagaikan patung dengan paras
muka seperti orang linglung, sebab ia sendiri tak tahu apa
yang telah terjadi.
Ia sendiri tak tahu, bahwa pada detik itu, ia sudah
mencapai hasil lengkap dalam memiliki Kioe yang Sin kang
yang murni. Pada detik itu, naga seolah2 bertemu dengan
harimau, langit bersatu padu dengan bumi. Tadi waktu ia
masih berada didalam karung yang penuh dengan Kioe
yang Cin khie, ratusan jalan darahnya seperti diurut oleh
ratusan ahli silat kelas utama yang dengan berbareng
mengeluarkan hawa tulen mereka. Jodoh yang luar biasa itu
belum pernah dialami oleh siapapun juga. Dan pada saat
meledaknya karung, cin khie didalam dan diluar badannya
mengalami suatu kegoncangan hebat.
Didalam semua pembuluh darahnya seperti juga
mengalir semacam air perak dan sekujur badannya nyaman
luar biasa.
Dalam seluruh rimba persilatan, kejadian seaneh itu baru
saja terjadi.
Goan tin adalah manusia jahat yang licik dan cerdas
otaknya. Melihat pemuda itu masih dalam keadaan
bingung. Ia tahu, bahwa sekarang adalah kesempatan
satu2nya untuk menyerang. Bila kesempatan yang baik itu
1332
telah lewat dan Boe Kie keburu turun tangan terlebih
dahulu, ia bakal binasa. Maka itu ia lantas saja maju dan
menotok Tian tiong hiat, didada pemuda itu.
Dengan cepat Boe Kie menangkis dengan tangannya.
Dalam ilmu silat, kepintaran Boe Kie masih sangat cetek.
Waktu berada di pulau Peng hwee to, ia pernah belajar silat
dari Cia Soen dan kedua orang tuanya. Tapi apa yang telah
dipelajarinya adalah ilmu2 biasa. Maka itu, ia takkan bisa
menandingi seorang lawan seperti Goan tin. Pada waktu
mengkis pukulan si pendeta, Yang tie hiat di pergelangan
tangannya, telah kena ditotok dengan It im cie, sehingga ia
menggigil dan mundur setindak dengan terhuyung.
Tapi badan pemuda itu penuh dengan Kioe yang Cin
khie dan hawa tersebut menerobos masuk ke dalam tubuh
Goan tin dari jari tangannya. Hampir berbareng dengan
terhuyungnya Boe Kie, “yang” (panas) dari Kioe yang Sin
kang bertempur dengan hawa “im” (dingin) dalam
tubuhnya Goan tin. Biarpun lihay si pendeta yang telah
terluka, mana bisa melawan Kioe yang cin khie? Ia bergidik
dan merasa seantero tenaga dalamnya membuyar. Hatinya
mencelos. Ia tahu, bahwa ia tengah menghadapi
kebinasaan. Buru2 ia memutar badan lalu kabur.”Seng
koen!” teriak Boe Kie dengan gusar.
“Tinggalkan jiwamu disini!” sesaat itu Goan tin sudah
lari masuk meninggalkan pintu. Boe Kie melompat untuk
mengejar, tapi, “Bruk!”, ia menubruk pinggir pintu, pipinya
yang terbentur dirasa sakit sekali.
Mengapa begitu?
Sesudah berhasil didalam Kioe yang Sin kang, setiap
gerakan Boe Kie berlipat kali lebih besar tenaganya
daripada biasanya. Maka itu, waktu melompat, jarak
lompatan itu jauh luar biasa, sehingga ia kehilangan
1333
keseimbangan dan menubruk pintu. Ia tak tahu mengapa ia
bisa melompat begitu jauh. Tapi ia tak bisa memikir
panjang2 dan lalu turut masuk kedalam pintu samping itu.
Ia sekarang berada dalam ruangan kecil. Dalam
tekadnya untuk membalas sakit hati ayah angkatnya, tanpa
menghiraukan kemungkinan dibokong, ia mengubar terus.
Setelah melalui ruangan itu, ia tiba dalam sebuah
halaman terbuka.
Ia mengendus bau wangi, wanginya bunga yang ditanam
di halaman itu.
Tiba2 ia lihat sinar lampu yang keluar dari sebuah kamar
disebelah barat. Ioa memburu ke kamar itu dan menolak
pintu. Satu bayangan abu2 berkelebat, Goan tin
menyingkap sebuah tirai sulam dan masuk kedalamnya,
Boe Kie mengejar iapun menyingkap tirai itu dan ikut
masuk. Tapi orang yang dikejar tidak terlihat batang
hidungnya. Ia mengawasi keseputarannya dan ia heran,
sebab ia ternyata berada dalam kamarnya seorang gadis dari
keluarga hartawan. Dipinggir dinding terdapat tempat
untuk berhias dan diatas meja berhias berdiri sebuah ciaktay
dengan lilinnya yang memancarkan sinar terang dalam
kamar itu. Dalam pandangan sekilas mata, ia merasa
bahwa kamar itu lebih indah daripada kamarnya Cioe Kioe
tin. Diseberang meka hias terdapat sebuah ranjang tertutup
oleh tirai, sedang disepan ranjang terlihat sepasang kasur
sulam, sebagai tanda, bahwa seorang wanita sedang tidur
diranjang itu.
Boe Kie berdiri dengan penuh rasa heran.
Kamar itu hanya dengan sebuah pintu, dan semua
jendela tertutup rapat. Barusan, terang2an lihat Goan tin
masuk, tapi pendeta itu tidak terlihat bayang2nya lagi!
Apakah ia sembunyi dalam ranjang? Apakah yang harus
1334
diperbuat olehnya? Apakah ia boleh menyingkap tirai
ranjang itu?
Selagi bersangsi, tiba2 ia mendengar tindakan kaki yang
sangat enteng. Ia melompat dan sembunyi di belakang rak,
tempat menggantungkan selimut, yang terletak didinding
sebelah barat.
Sesaat kemudian, seorang wanita terdengaran batuk2.
Boe Kie dan melihat masuknya 2 orang wanita muda, yang
satu berusia kira2 enambelas tahun, terus batuk2 dan
berjalan dengan dipayang oleh yang lain, yang berusia lebih
muda. Dilihat dari dandananny, nona cilik itu adalah
pelayan dari nona yang dipayang itu. “Siocia, kau
mengasolah,” katanya dengan suara membujuk.
“Jangan jengkel dan jangan bingung.”
Siocia itu batuk2 lagi. Tiba2 ia mengangkat tangannya
dan menggaplok pipi pelayannya. Tamparan itu hebat,
sehingga si pelayan terhuyung. Sebab sebelah tangannya
memegang pundak pelayan itu, maka waktu si pelayan
terhuyung, badannya turut bersempoyongan dan berputar
menghadap Boe Kie. Dengan bantuan sinar lilin, pemuda
itu melihat wajah yang tidak asing lagi, mata besar, biji
mata hitam, muka potongan telur, muka dari Yo Poet
Hwie! Tubuh si nona sudah banyak lebih jangkung dan
lebih besar, tapi sikapnya dan gerak geriknya masih seperti
dulu.
Dengan nafas tersengal-sengal Poet Hwie berkata. “Kau
suruh aku jangan bingung…………hm!...........Kau sendiri
tentu saja tidak bingung. Bagimu, paling baik bila ayahku
dibinasakan orang, supaya kau bisa mencelakai aku. Kalau
aku telah mati, kau bisa berkuasa disini,” pepayang Poet
Hwie kesebuah kursi. “Ambil pedangku!” memerintah si
nona sudah berduduk.
1335
Si pelayan segera mengambil sebuah pedang yang
tergantung didinding. Boe Kie mengawasi dan mendapat
kenyataan, bahwa pada kedua kaki pelayan itu terikat
selembar rantai besi yang halus, sedang pada kedua
pergelangan tangannyapun terikat dengan rantai yang sama.
Kaki kirinya pincang dan badannya bongkok, seperti busur
yang melengkung. Waktu ia memutar badan sesudah
mengambil pedang, Boe Kie melihat mukanya dan pemuda
itu terkejut, sebab muka itu jelek luar biasa. Mata kanannya
kecil, mata kirinya besar, hidung melesak, mulutnya
mengok dan dalam keseluruhan muka itu sangat
menakutkan. “Mukanya lebih jelek daripada Coe Jie.”
Katanya dalam hati. “Kejelekan Coe Jie karena racun dan
masih dapat dirubah. Tapi kejelekan nona cilik itu adalah
dari pembawaannya dan tak dapat diperbaikki lagi.”
Seraya menyambuti senjata itu dari tangan
pelayanannya, Poet Hwie batuk2 lagi beberapa kali. Dari
sakunya, ia mengeluarkan sebuah peles dan menuang 2
butir yowan, yang lalu ditelannya.
“Kalau begitu Poet Hwie berbekal obat, sehingga biarpun
terkena It Im cie, ia masih bisa bergerak,” kata Boe Kie
dalam hati. “Tak bisa salah lagi, obat itu panas sifatnya,”
benar saja, beberapa saat kemudian. Paras nona Yo
bersemu merah dan pada kedua pipinya terlihat sinar dari
hawa panas. Perlahan2 ia bangkit dan berkata. “Aku mau
tengok ayah.”
“Mungkin sekali musuh masih belum pergi,” kata si
pelayan. “Sebaiknya aku yang pergi menyelidiki terlebih
dahulu. Kalau sudah tak ada bahaya barulah siocia keluar.”
Ia bicara dengan suara yang sangat tak sedap
kedengarannya, seperti suara dari seorang lelaki setengah
tua.
“Tak perlu berlagak baik hati!” bentak Poet Hwie.
1336
“Lepaskan aku.”
Dengan apa boleh buat, si pelayan mengangsurkan
tangan kanannya. Sebab kedua pergelangan tangannya
terantai maka waktu mengangsurkan tangan kanan, tangan
kirinya turut diangsurkan. Tiba2 tangan kiri Poet Hwie
menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kanan
pelayannya, jari2 tangannya mencengkeram Hwee cong,
Yang tie dan Gwa koan hiat.
Badan pelayan itu lantas saja kesemutan dan tak bisa
bergerak lagi. “Siocia………” katanya.
“Kau………kau……….”
Poet Hwie tertawa dingin. “Kami, ayah dan anak, telah
dibokong musuh dan kami tengah menghadapi
kebinasaan,” katanya dengan suara menyeramkan.
“Apakah kau takkan menggunakan kesempatan ini untuk
membalas sakit hati. Tak sudi kami disiksa olehmu! Jalan
yang paling baik adalah membunuh kau terlebih dahulu.”
Seraya berkata begitu, ia mengayun pedang yang lalu
ditebas ke leher pelayannya.
Boe Kie terkesiap. Melihat keadaan si pelayan, ia merasa
sangat kasihan. Pada detik berbahaya, ia melompat dan
mementil badan pedang yang lantas saja terpental dan jatuh
dilantai. Dilain pihak, walaupun terluka, gerakan nona Yo
cepat luar biasa. Hampir berbareng dengan terlepasnya
pedang, dua jari tangannya terpentang dan meyambar ke
mata Boe Kie. Totokan itu hanyalah Siang liong Chio coe
(dua naga berebut mutiara), serupa pukulan biasa. Tapi
sesudah dilatih oleh ayahnya beberapa tahun, pukulan yang
sederhana itu mempunyai tenaga yang sangat besar.
Dengan kaget Boe Kie melompat kebelakang oet Hwie
Moay moay, aku!” teriaknya.
Mendengar perkataan “Poet Hwie Moay moay” yang tak
1337
asing lagi, nona Yo terkesiap dan berteriak. “Apa Boe Kie
koko?” biarpun blom lihat muka, ia mengenal suara itu.
Boe Kie merasa menyesal, bahwa ia memperkenalkan
dirinya. “Poet Hwie Moay moay bagaimana keadaanmu
selama beberapa tahun ini?”
Si nona mengawasi. Ia bersangsi, karena dihadapannya
berdiri seorang pria yang pakaiannya compang camping
dan mukanya kotor “Kau……kau….apa banar kau Boe Kie
koko?” tanyanya “Bagaimana………kau bisa datang
disini?”
“Swee Poet Tek yang membawa aku,” sahutnya. “Tadi
Goan tin Hweeshio masuk kesini, tiba2 ia menghilang. Apa
dalam kamar ini ada jalan lain?”
“Goan tin hweeshio kabur?” menegas si nona.
“Sesudah kena pukulan Ceng ek Hong ong, ia terluka
berat,” menerangkan Boe Kie. “Barusan ia kabur dan aku
mengubarnya. Ia masuk ke kamar ini da lantas menghilang.
Dia adalah musuh besarku, aku mesti cari dia.”
“Dalam kamar ini tiada jalan lain,” kata si nona.
“Bagaimana dengan ayahku? Aku mau tengok padanya.”
Seraya berkata begitu, ia menepak batok kepala pelayannya.
“Jangan!.....” teriak Boe Kie sambil mendorong pundak
si nona, sehingga tepukannya jatuh ditempat kosong.
Sesudah percobaan membunuh pelayannya 2 kali
dihalang2i, Poet Hwie jadi gusar. “Boe Kie koko!”
bentaknya. “apakah kau kawannya budak kecil itu?”
“Baru hari ini aku bertemu dengannya” jawab pemuda
itu.
“kalau kau tak tahu duduknya persoalan, janganlah
campur2 urusanku,” kata pula nona Yo. “Dia adalah
1338
musuh besar dari keluargaku, karena kuatir dia
mencelakaiku maka ayah sudah merantai kaki tangannya.
Sekarang kami berdua ayah dan anak, kena It im cie. Dia
pasti akan menggunakan kesempatan yang baik ini untuk
membalas sakit hati. Jika kami jatuh dalam tangannya,
celakalah!”
Tapi Boe Kie masih tetap yakin, bahwa nona kecil itu
bukan manusia jahat. Maka itu, ia lalu berkata. “Nona,
apakah kau akan berusaha membalas sakit hati dengan
menggunakan kesempatan baik itu?”
Si nona menggeleng2kan kepala “tidak!” jawabnya.
“Poet Hwie moay noay, dengarlah!” kata Boe Kie. “Ia
sudah berjanji. Ampunilah dia!”
“Baiklah,” kata nona Yo. “Aku tak dapat menolak
permintaanmu. “Aduh……” Tiba2 tubuhnya tergoyang2
seperti mau jatuh.
Boe Kie mengerti, bahwa si nona sudah tak dapat
mempertahankan dirinya lagi, sebab lukanya yang sangat
berat. Buru2 ia mendekati untuk memegangnya. Mendadak
ia merasakan kesakitan hebat pada Hian kie dan Tiong kie
hiat, dibagian pinggangnya dan ia roboh tanpa berdaya.
Ternyata, ia sudah dibokong nona itu, jari tangan Poet
Hwie menyambar ke arah Tay yang hiat dari pelayannya.
Tapi sebelum totokan itu hampir pada sasarannya ia
menggigil. Sekujur badannya kesemutan. Cekalannya pada
pergelangan tangan si pelayan terlepas, kedua lututnya
lemas dan ia jatuh duduk di kursi.
Poet Hwie memang sudah terluka berat dan bahwa ia
tadi dapat mempertahankan diri adalah karena khasiat obat
yang telah ditelannya. Sesudah menotok Boe Kie tenaganya
habis dan tak kuat menyerang lagi.
1339
Sambil menjemput pedang yang masih menggeletak
dilantai, si pelayan berkata, “Siocia, kau selalu bercuriga,
bahwa aku akan membunuh kau. Kalau mau dengan
mudah aku sekarang bisa berbuat begitu. Tapi aku tak
punya maksud jahat.” Ia segera memasukkan pedang itu
kedalam sarungnya, dan lalu menggantungnya ke dinding.
Sekonyong2 Boe Kie bangun berdiri “Poet Hwie moay
moay, kau lihatlah!” katanya. “Dia memang tidak
mengandung niatan yang kurang baik.”
Dengan rasa kagum nona Yo mengawasi pemuda itu
yang dengan mudah dapat membuka sendiri “hiat” yang
ditotoknya.
Sambil menyoja, Boe Kie berkata pada nona cilik itu.
“Nona, aku ingin sekali mengubar pendeta itu. Apakah
disini tak ada lagi jalan lain?”
“Apakah kau tak bisa membatalkan niatmu?” si nona
balas tanya.
“Manusia itu telah melakukan perbuatan2 terkutuk,”
menerangkan Boe Kie. “Biarpun mesti mengubar ke ujung
langit, aku tak bisa mengampuni dia.”
Si pelayan menggigit bibirnya. Sesudah berpikir sejenak,
ia manggut2. ia meniup lilin, mengeluarkan saputangan
yang ditaruh diatas muka Poet Hwie. Sesudah itu ia
mencekal tangan Boe Kie dan menuntunnya didalam
kegelapan.
Karena yakin orang tidak berniat jahat, Boe Kie segera
mengikutinya. Ia dituntun kedepan ranjang. Si nona
membuka kelambu dan naik ke ranjang sambil menarik
tangan Boe Kie. Pemuda itu kaget bukan main. Biarpun
nona itu masih kekanak2an dan beroman jelek, ia tetap
seorang wanita. Ia segera menarik tangannya.
1340
“Jalanan berada di pembaringan,” bisik si nona.
Boe Kie percaya dan semangatnya lantas saja terbangun.
Tanpa bersangsi lagi, ia turut naik ke pembaringan. Dengan
cepat si nona merebahkan dirinya dan Boe Kie turut rebah
di sampingnya. Entah alat apa yang ditarik si nona, papan
ranjang tiba2 menjeblak dan mereka berdua jatuh kebawah.
Dari atas ke dasar lubang ada beberapa tombak jauhnya.
Untung juga, dasar lubang itu ditutup dengan rumput
kering yang tebal, sehingga mereka tidak merasa sakit.
Tiba2 terdengar suara menjeblak dan papan ranjang sudah
kembal ke tempat asalnya. “Sungguh lihay alat rahasia itu!”
memuji Boe Kie didalam hati. Tanpa diberitahukan, tiada
manusia yang bisa menduga, bahwa didalam ranjang
terdapat jalanan rahasia. Sambil menyekel tangan si nona,
ia segera berjalan ke jurusan depan. Mendengar suara
berkerincingnya rantai, mendadak ia ingat sesuatu. “Nona
ini pincang dan kakinya diikat dengan rantai, bagaimana ia
bisa lari begitu cepat?” tanyanya dalam hati.
Si nona yang rupanya bisa menebak apa yang dipikirkan
Boe Kie, sekoyong2 berkata sambil tertawa, “Pincangku,
pincang buatan, untuk mengelabui Looya dan Siocia,”
Dalam kegelapan Boe Kie tak bisa melihat wajah nona
itu, tapi dalam hati ia berkata. “Tak heran jika ibuku
mengatakan, bahwa wanita pandai sekali menipu orang.
Hari ini, bahkan Poet Hwie moay moay merasa tak
halangan untuk membokong aku.”
Sesudah berjalan beberapa puluh tombak, dengan
mengikuti terowongan yang berliku2 mereka tiba di ujung
jalanan, tapi Goan tin masih tetap tak kelihatan
bayangannya.
“Sudah sering sekali aku datang kesini,” kata sinona.
“Kupercaya ada lain jalanan, hanya ku tak tahu dimana alat
1341
untuk membuka pintunya.”
Dengan kedua tangannya Boe Kie meraba-raba dinding,
tapi tak bisa mendapatkan apapun juga. “Aku sudah
mencoba puluhan kali, tanpa berhasil,” kata pula si nona.
“Sungguh mengherankan. Aku bahkan pernah membawa
obor untuk menyelidikinya, tapi tetap tak bisa mendapatkan
alatnya.”
Tiba2 dalam otak Boe Kie berkelebat suatu ingatan.
“Mungkin sekali memang tidak ada alat rahasia untuk
membuka pintu,” pikirnya. Ia segera menyerahkan Chin kie
pada kedua lengannya dan mendorong dinding sebelah kiri
dengan sekuat tenaga. Dinding itu tidak bergerak. Sekali
lagi ia mengerahkan tenaga dan mendorong dinding kanan.
Tiba2 dinding itu bergoyang sedikit!
Ia girang tak kepalang. Ia menarik nafas dalam2 dan
mendorong sekeras2nya. Dengan perlahan dinding itu
bergeser ke belakang. Ternyata dinding itru tebuat daripada
sebuah batu yang sangat tebak dan besar.
Jalanan rahasia Kong beng teng memenag sangat
menakjubkan. Ada bagian2 yang diperlengkapi dengan
alat2 rahasia yang disembunyikan, tapi ada juga yang tidak,
seperti pintu itu yang hanya bisa dibuka oleh seseorang
yang mempunyai tenaga luar biasa. Hal ini adalah untuk
menjaga kalau2 rahasia diketahui oleh orang luar. Misalnya
seperti nona kecil itu, yang andaikata tahu rahasianya,
masih tetap tak bisa membuka pintu karena tenaganya tak
cukup.
Tapi Boe Kie yang memiliki Kioe yang sin kang bukan
manusia biasa dan ia berhasil. Sesudah pintu terbuka kira2
3 kaki, ia mengirim pukulan dengan telapak tangannya,
karena ia khawatir Goan tin bersembunyi di belakang pintu
dan membokongnya. Berbareng dengan pukulannya ia
1342
melompat masuk.
Mereka masuk dengan selamat dan berada di
terowongan yang sangat panjang. Dengan hati2, mereka
bertindak maju. Jalanan menurun ke bawah. Makin jauh
makin rendah. Sesudah melalui seratus tombak lebih,
mereka bertemu dengan jalanan yang bercagak tujuh. Boe
Kie bersangsi, jalanan mana yang harus diambil? Mendadak
disebelah kiri terdengar tegas sekali.
“Ambil jalan ini!” bisik Boe Kie sambil berlari2 dijalan
yang paling kiri. Jalanan itu tidak rata dan sukar dilalui,
tapi dalam kegusarannya Boe Kie berjalan terus tanpa
menghiraukan bahaya. Si nona mengikuti dari belakang
dengan suara rantai yang berkerincingan tidak henti2nya.
Boe Kie menengok ke belakang seraya berkata. “Musuh
berada didepan, keadaan sangat berbahaya. Sebaiknya kau
mengikuti saja dari sebelah jauh.”
“Takut apa? Kesukaran harus dipikul bersama,”
jawabnya dengan suara tetap.
Selang beberapa saat, jalanan bukan saja menurun, tapi
juga terus membelok ke sebelah kiri seperti keong, dan
makin lama makin sempit, sehingga akhirnya terowongan
itu hanya bisa memuat badannya satu orang.
Selagi enak berjalan, mendadak saja Boe Kie merasakan
sambaran angin yang sangat dahsyat. Ia terkesiap dan
tangannya menyambar pinggang si nona dan kemudia
melompat ke depan.
“Dukkkk!” batu halus dan pasir muncrat keatas.
Sesudah menentramkan hati, si nona berseru. “Celaka!
Kepala gundul itu bersembunyi dan mendorong batu untuk
membinasakan kita.”
Sambil mengangkat kedua tangannya diatas kepala, Boe
1343
Kie mendaki jalan itu. Baru beberapa tindak, kedua
tangannya sudah menyentuh batu yang sangat kasar
permukaannya
Tiba-tiba dari belakang batu terdengar suara Goan-tin.
“Bangsat kecil! Hari ini aku mengubur engkau di dalam.
Tapi untungnya masih bagus, kau mampus dengan
ditemani seorang wanita. Biarpun kau bertenaga besar, aku
mau lihat apa kau mampu menyingkirkan batu ini. Kalau
satu tak cukup, aku akan menambah dengan satu lagi.”
Hampir berbarengan terdengar suara diangkatnya batu
dengan semacam alat besi diikuti dengan bunyi yang sangat
hebat. Goan-tin ternyata sudah melepaskan sebuah batu lagi
yang jatuh di atas batu pertama.
Dengan gusar dan bingung Boe Kie meraba batu itu.
Walaupun jalanan tak tertutup rapat tapi celah-celah di
antara dinding dan batu raksasa itu paling besar hanya bisa
masuk lengan. Badan manusia sudah pasti tak bisa lewat.
Sambil memompa semangat, ia mendorong sekuat-kuatnya,
tapi batu itu sedikitpun tak bergeming. Kedua batu yang
tersusun tindih itu beratnya berlaksa kati, tak bisa digeser
oleh manusia manapun juga. Bahkan gajah takkan kuat
untuk mendorongnya. Boe Kie berdiri terpaku, ia tak tahu
apa yang harus diperbuatnya.
Di belakang batu terdengar suara nafas Goan-tin yang
tersengal-sengal. Dalam keadaan terluka berat, sesudah
menggerakkan kedua batu itu tenaganya habis. Selang
beberapa saat, ia bertanya, “Bocah…siapa…siapa
namamu….” Ia tak dapat meneruskan perkataannya.
“Andaikata ia sekarang berubah pikiran dan ingin
menolong kami berdua, ia sudah tak bisa berbuat begitu,”
kata Boe Kie dalam hati. “Sudahlah, buat apa aku meladeni
dia. Paling baik aku cari jalan lain.” Berpikir begitu, ia
1344
memutar badan dan turun ke bawah mendekati nona.
“Aku punya bahan api, tapi tak punya lilin,” kata si
pelayan kecil, “Kalau dinyalakan sebentar tentu sudah
padam kembali.”
“Tunggu dulu,” kata Boe Kie sambil berjalan maju
dengan perlahan. Sesudah berjalan beberapa puluh langkah,
mereka tiba di ujung terowongan. Mereka meraba-raba,
mendadak tangan Boe Kie menyentuh tahang kayu. “Ada
jalan,” katanya dengan girang dan memukul hancur tahang
itu dengan kedua tangannya.
Isi tahang yang menyerupai tepung, jatuh berhamburan.
Ia mengambil sepotong papan dan berkata, “Coba nyalakan
api.”
Nona kecil itu lalu mengeluarkan baja pencetus api, batu
api dan sumbu. Dengan cepat ia membuat api dan
menyulut potongan kayu itu. Mendadak api itu menyala di
potongan kayu yang lantas saja terbakar, sedang hidung
mereka mengendus bau belerang. Mereka terkejut.
“Bahan peledak!” seru si nona seraya mengangkat tinggitinggi
potongan kayu yang sudah menyala itu. Mereka
lantas saja mendapati kenyataan bahwa isi tahang itu
ternyata bahan peledak yang berwarna hitam. Si nona
tertawa dan berkata dengan suara pelan. “Bila barusan
letusan api menyambar ketumpukan bahan peledak itu,
hwee-shio jahat yang berada di luar akan turut binasa
bersama-sama kita.” Seraya berkata begitu, ia menengok ke
arah Boe Kie yang tengah mengawasinya dengan mata
membelalak. “Mengapa?” tanyanya tertawa.
“Ah…Kalau begitu, kau…kau…sangat cantik,” kata Boe
Kie.
Si nona tertawa geli sambil menutup mulutnya dengan
1345
sebelah tangan. “Karena kaget aku melupakan samaranku,”
katanya. Ia meluruskan pinggangnya dan ternyata bahwa ia
bukan saja tak bongkok tapi juga tak pincang.
Dengan sinar mata yang terang, alis yang kecil bengkok,
hidung mancung dan lekuk pada pipinya, ia seorang wanita
yang sangat ayu. Hanya sebab masih berusia muda dan
tubuhnya belum cukup besar maka kecantikannya itu, ia
kelihatannya masih kekanak-kanakan.
“Memang kau menyamar begitu?” kata Boe Kie.
“Siocia sangat membenci aku,” jawabnya. “Dengan
melihat romanku jelek, ia merasa senang. Tanpa
menyamar, aku tentu sudah mati.”
“Mengapa ia mau nyawamu?” tanya pemuda itu pula.
“Sebab ia selalu curiga,” sahutnya. “Ia kuatir aku akan
membunuh ia dan Looya.”
“Gila!” kata Boe Kie, “Tadi waktu ia sudah tidak bisa
bergerak, kau mencekal pedang tapi kau tidak mencelakai
dia. Mulai dari sekarang ia pasti tak akan curiga lagi.”
Si nona tertawa kecil. “Dengan membawa kau kemari,
Siocia tentu akan lebih curiga lagi,” katanya. “Tapi
sudahlah! Perduli apa dia curiga atau tidak. Masih belum
tentu, apa kita bisa keluar dari tempat ini.”
Dengan bantuan sinar obor, mereka ternyata berada di
tempat yang menyerupai kamar batu di mana terdapat alatalat
senjata, busur dan anak panah yang sudah berkarat.
Senjata-senjata itu rupanya disediakan untuk melawan
musuh. Dinding di sekitar ruangan itu tertutup rapat.
Sekarang mereka tahu bahwa Goan-tin sudah sengaja
batuk-batuk untuk memancing mereka ke jalan buntu.
“Kongcoe, namaku Siauw Ciauw,” kata si nona
1346
memperkenalkan diri. “Kudengar Siocia memanggil Boe
Kie Koko kepadamu. Kalau tak salah, namamu Boe Kie.
Benarkah begitu?”
“Benar,” jawabnya. “Aku she Thio….” Mendadak ia
mengingat sesuatu. Ia mengambil sebatang tombak yang
beratnya kira-kira empat puluh kati. “Bahan peledak ini
mungkin bisa menolong kita,” katanya, “Bukan mustahil
kita akan bisa menghancurkan batu besar itu.”
“Bagus, bagus!” seru Siauw Ciauw seraya menepuknepuk
kedua tangannya. Tepukan tangan itu diiringi
dengan suara kerincingan rantai.
“Rantai ini mengganggu gerakan tangan dan kakimu,”
kata Boe Kie. “Sebaiknya diputuskan saja.”
“Jangan!” cegah si nona. “Looya bisa marah besar.”
“Aku tak takut. Katakan saja akulah yang
memutuskannya,” kata Boe Kie. Sehabis berkata begitu
sambil mengerahkan Lweekang, ia membetot rantai yang
mengikat pergelangan tangan Siauw Ciauw. Rantai hanya
sebesar batang sumpit dan tenaga betotan tak kurang dari
tiga ratus kati. Tapi sungguh heran, rantai itu tidak
bergeming dan hanya mengeluarkan suara “aung”.
Boe Kie heran. Ia membetot lagi dengan menambah
tenaga, tapi tetap tidak berhasil.
“Rantai ini memang sangat aneh, tak dapat diputuskan
walaupun dengan menggunakan senjata mustika,” kata
Siauw Ciauw. “Anak kuncinya berada dalam tangan
Siocia.”
Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Kalau kita
bisa keluar, aku akan minta anak kunci itu,” katanya.
“Ia tak akan memberikannya,” kata si nona.
1347
“Tapi aku percaya, ia akan meluluskan permintaanku,”
kata Boe Kie. “Hubunganku dengannya bukan hubungan
biasa.” Sehabis berkata begitu, dengan membawa tombak ia
pergi ke bawah batu besar. Untuk beberapa saat ia berdiri
dan memasang kuping, suara nafas Goan-tin sudah tidak
terdengar lagi, rupanya ia sudah pergi jauh.
“Mungkin kita tak bisa menghancurkan batu ini dengan
satu ledakan,” kata Boe Kie yang dengan menggunakan
ujung tombak lantas saja mulai membuat lubang di celah
antara batu besar dan lantai terowongan. Ia kemudian
mengisi lubang itu dengan bahan peledak dan memukulmukulnya
dengan kepala tombak supaya menjadi padat.
Sesudah itu, ia menabur segaris bahan peledak dari lubang
terus ke ruangan bawah. Garis bahan peledak itu hendak
dijadikan semacam sumbu untuk peledakan.
Sesudah beres, Boe Kie lalu mengambil obor dari tangan
si nona yang buru-buru menekap kuping dengan kedua
tangannya. Dengan berdiri menghadang di depan Siauw
Ciauw, Boe Kie segera menyulut “sumbu” itu. Api menyala
dan bagaikan kilat menyambar ke lubang yang berisi bahan
peledak.
Dunggg!...Hawa panas menyambar, ruangan itu
bergoncang! Boe Kie terhuyung dua langkah sedang Siauw
Ciauw jatuh terjengkang. Obor padam dan asap memenuhi
ruangan itu. Sambil membangunkan si nona, Boe Kie
bertanya, “Siauw Ciauw, apa kau terluka?”
“Aku…aku…taka pa-apa,” jawabnya. Mendengar suara
yang terputus-putus seperti orang bersedih, Boe Kie merasa
heran. Waktu obor sudah dinyalakan lagi, ia melihat mata
si nona mengembang air. “Kau kenapa?” tanyanya.
“Thio Kongcoe,” sahutnya, “Kau belum pernah
mengenal aku, tapi…tapi mengapa kau begitu baik
1348
terhadapku?”
“Apa?” tanya Boe Kie dengan rasa heran.
“Mengapa kau menghalangi aku?” kata Siauw Ciauw.
“Aku adalah seorang budak yang kedudukannya sangat
rendah. Kau…kau seorang yang mulia. Mengapa kau
melindungi aku dengan menghadang di depanku?”
Pemuda itu tersenyum. “Kau seorang wanita dan adalah
sepantasnya saja jika aku berusaha untuk melindungi
keselamatanmu,” katanya. Melihat asap sudah mulai
menghilang, ia naik lagi ke atas untuk memeriksa hasil
ledakan. Ternyata batu raksasa itu tidak bergeming dan
hanya somplak di satu sudut. Dengan perasaan gelisah ia
berkata, “Untuk membuat lubang yang cukup besar guna
merangkak keluar, batu ini mungkin harus diledakkan tujuh
atau delapan kali. Tapi sisa bahan peledak hanya cukup
untuk kira-kira dua kali ledakan.” Seraya berkata begitu, ia
mengangkat tombak dan mulai membuat sebuah lubang
lain di celah antara dinding terowongan dan batu raksasa.
Mendadak pada waktu ujung tombak menyodok
dinding, sepotong batu jatuh ke bawah dan terlihatlah
lubang di dinding itu. Boe Kie kaget bercampur girang. Ia
memasukkan sebelah tangan dan menggoyanggoyangkannya.
Dinding itu bergerak sedikit. Ia
menggerakkan tenaga dalam dan membetot. Ia berhasil
membuat sepotong batu copot. Sesudah tiga potong batu
copot, lubangnya sudah cukup besar untuk memuat badan
manusia. ternyata di situ terdapat sebuah terowongan lain.
Walaupun tidak dapat menghancurkan batu raksasa,
ledakan tadi sudah melepaskan batu-batu dinding
terowongan.
Dengan mencekal obor, Boe Kie masuk lebih dulu ke
terowongan yang kedua dan kemudian menggapai Siauw
1349
Ciauw supaya si nona mengikuti masuk. Seperti yang
pertama, jalanan ini berputar-putar bagaikan keong dan
menurun ke bawah. Kali ini Boe Kie bertindak lebih hatihati.
Ia mencekal tombak erat-erat, siap sedia untuk
menangkis bokongan Goan-tin. Sesudah melalui kira-kira
delapan puluh tombak mereka tiba di depan sebuah pintu
batu. Boe Kie segera menyerahkan obor dan tombak kepada
Siauw Ciauw dan sambil mengerahkan Lweekang, ia
mendorong pintu yang segera saja terbuka.
Pintu itu adalah pintu sebuah kamar batu yang sangat
besar. Boe Kie bertindak masuk dan mendadak ia melihat
dua kerangka manusia. Pakaian kedua kerangka itu masih
belum hancur, sehingga dapat diketahui bahwa mereka
adalah seorang pria dan seorang wanita.
Siauw Ciauw agak takut dan ia mendekati kawannya.
Boe Kie mengangkat obor tinggi-tinggi dan meneliti
keadaan di dalam kamar. “Mungkin kita berada di bagian
paling ujung dari jalan rahasia ini,” katanya. “Apa masih
ada jalan keluar?”
Dengan tombak ia mengetuk-ngetuk seluruh dinding tapi
suara semuanya padat, tak ada yang kosong. Ia mendekati
kedua kerangka itu, tangan kanan yang wanita mencekal
sebatang pisau berkilauan yang menancap di dadanya. Ia
terkejut dan lantas teringat pengakuan Goan-tin yang
mengatakan bahwa pada waktu ia mengadakan pertemuan
rahasia dengan Yo Hoe-jin, pertemuan itu telah dipergoki
oleh Yo Po Thian yang binasa karena gusar dan Yo Hoe-jin
sendiri kemudian bunuh diri. “Apakah kedua kerangka inii
suami istri Yo Po Thian?” tanyanya dalam hati.
Ia mendekati kerangka lelaki, di samping kerangka
tergeletak selembar kulit kambing yang lalu diambilnya dan
diteliti. Di satu muka kulit itu berbulu di lain muka licin dan
1350
mengkilat.
Siauw Ciauw turut mengawasi. Tiba-tiba dengan paras
berseri-seri ia mengambil kulit itu dari tangan Boe Kie.
“Selamat, Kongcoe!” katanya dengan suara girang. “Ini
adalah ilmu silat tertinggi dari Beng-kauw.” Sehabis berkata
begitu ia menggoreskan jari tangannya di mata pisau yang
menancap di dada Yo Hoe-jin dan kemudian mengoles
darahnya di bagian kulit yang licin. Perlahan-lahan di atas
kulit yang kena darah timbul huruf-huruf seperti berikut,
“Beng-kauw Seng-hwee Sim-hoat Kian-koon Tay lo ie.”
(Kian koen Tay lo ie, ilmu api suci dari agama Beng-kauw)
Tapi Boe Kie tak terlalu girang. “Di jalan rahasia ini
tiada air dan tiada beras,” pikirnya. “Kalau tak bisa keluar,
paling lama tujuh delapan hari, aku dan Siauw Ciauw akan
mati kelaparan. Ilmu yang bagaimana tinggipun tiada
gunanya.” Ia melirik kedua kerangka itu dan bertanya pula
dalam hatinya, “Mengapa Goan-tin tak mengambil kulit
kambing itu. Mungkin sekali sesudah melakukan perbuatan
terkutuk ia tak berani datang lagi. Ah! Ia tentu tak tahu
bahwa Kian koen Tay lo ie Sim hoat tertulis di kulit itu.
Kalau ia tahu, jangakan Yo Po Thian dan istrinya sudah
meninggal dunia, sekalipun mereka masih hidup ia pasti
akan datang mencurinya.”
“Siauw Ciauw, bagaimana kau tahu rahasia kulit
kambing itu?”
“Aku mencuri dengar waktu Looya bicara dengan
Siocia,” jawabnya. “Mereka berdua adalah murid-murid
Beng-kauw dan mereka tak berani masuk ke sini untuk
mengambilnya. Seperti Kongcoe ketahui, hanya seorang
Kauwcoe yang boleh masuk ke jalan rahasia ini.”
Dengan rasa haru Boe Kie mengawasi kedua kerangka
itu. “Sebaiknya kita menguburkan mereka,” katanya.
1351
Bersama si nona, ia segera mengumpulkan batu-batu
kecil dan pasir yang rontok karena ledakan tadi dan
kemudian mendampingkan kedua kerangka itu. Mendadak
Siauw Ciauw mengambil sesuatu dari kerangka Yo Po
Thian. “Thio Kongcoe, sepucuk surat,” katanya.
Boe Kie membacanya, di atas sampul tertulis,
“Dipersembahkan kepada istriku.” Karena sudah lama,
sampul itu agak rusak sedangkan huruf-hurufnya pun sukar
dibaca tapi dari coretannya yang telah buram, dapat dilihat
bahwa huruf-huruf itu indah dan angker. Sampul masih
utuh, belum tersobek.
“Sebelum membaca, Yo Hoe-jin telah bunuh diri,” kata
Boe Kie. Dengan sikap hormat, lalu menaruh surat itu di
atas kerangka. Baru saja ia mau mengubur dengan pasir dan
batu, Siauw Ciauw berkata, “Apakah tak baik bila kita
membaca surat itu? Mungkin sekali Yo Kauwcoe
meninggalkan pesan?”
“Kurasa kurang pantas,” kata Boe Kie.
“Mungkin Kongcoe keliru,” bantah si nona. “Andaikata
ada sesuatu yang diinginkan Yo Kauwcoe dan belum
terpenuhi, alangkah baiknya jika diketahui kita supaya kita
bisa menyampaikan langsung kepada Looya dan Siocia.”
Boe Kie mengangguk lalu menyobek sampul. Ia
mencabut sehelai sutera putih yang tertulis sebagai berikut:
“Hoe-jin bacalah ini, semenjak menikah denganku siang
malam Hoe-jin berduka. Aku adalah seorang yang tak
mempunyai budi sehingga aku tak bisa menyenangkan
hatimu dan untuk kekurangan itu aku merasa menyesal tak
habisnya, kini kita akan berpisah untuk selama-lamanya.
Kuharap Hoe-jin sudi memaafkanku.
Cioe Kauwcoe dari turunan ketiga puluh dua telah
1352
memerintahkan supaya setelah selesai dalam latihan Kian
koen Tay lo ie Sin-kang, aku segera pergi ke Congto dari
Kay pang (markas besar Partai Pengemis) untuk mengambil
kembali barang-barang peninggalan Cioe Kauwcoe dari
turunan ketiga puluh satu.
Aku baru saja menyelesaikan latihan Sin-kang tingkat
kelima. Apa daya, aku tahu urusan Seng Soe-tee. Darah
dan hawa bergolak-golak dan aku tak dapat menguasai
diriku lagi. Tenagaku akan buyar dan aku menghadapi
kematian. Inilah takdir. Tiada manusia dapat melawan
takdir.”
Membaca sampai di situ Boe Kie menghela nafas,
“Kalau begitu, sebelum menulis surat, Yo Kauwcoe telah
tahu adanya pertemuan antara Seng Koen dan istrinya di
jalan rahasia ini,” katanya.
Siauw Ciauw mengawasi pemuda itu dengan sorot
matanya tapi ia tak berani membuka mulut. Maka itu
secara singkat Boe Kie lalu menceritakan tentang Seng
Koen dan Yo Hoe-jin.
“Menurut pendapatku, Yo Hoe-jin lah yang bersalah,”
kata si nona. “Jika ia tetap mencintai Seng Koen,
seharusnya ia tak boleh menikah dengan Yo Kauwcoe.
Setelah menikah dengan Yo Kauwcoe, ia tak boleh
membuat pertemuan rahasia lagi dengan Seng Koen.”
Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. Di dalam hati
ia memuji nona cilik yang sudah bisa membedakan apa
yang benar dan apa yang salah. Sesudah berdiam sejenak, ia
membaca lagi.
“Cioe Kauwcoe adalah seorang gagah dan berakal budi.
Sungguh sayang, ia mati dalam tangan Soe Tiang-loo
(empat tetua) dari Kay pang. Sebegitu lama barang
peninggalan Cioe Kauwcoe belum dapat diambil kembali.
1353
Sebegitu lama juga di mana adanya Seng hwee-leng belum
bisa diketahui. Sekarang aku menghadapi kematian dan aku
telah menyia-nyiakan pesan Cioe Kauwcoe. Aku adalah
orang berdosa dalam agama kita.
Kuharap dengan mengggunakan surat ini Hoe-jin sudi
mengumpulkan kedua Kong-beng Soe-cia, keempat Hoekauw
Hoat-ong, kelima Ngo-beng Khie-see dan Ngo Sianjin.
Beritahukanlah kepada mereka bahwa aku
memerintahkan seperti berikut: ‘Siapapun jua yang bisa
mengambil barang peninggalan Cioe Kauwcoe dan Seng
hwee-leng, dialah yang akan menjadi Kauwcoee turunan
ketiga puluh empat dari agama kita. Siapa yang membantah
boleh segera dibinasakan! Akupun memrintahkan supaya
untuk sementara waktu Cia Soen bertindak sebagai Hoe
Kauwcoe (wakil pemimpin agama) utnuk mengurus
berbagai urusan dari agama kita.’”
Hati Boe Kie berdebar-debar, kini baru ia tahu bahwa
ayah angkatnya telah ditunjuk oleh Yo Po Thian sebagai
Hoe Kauwcoe. Hanya sayang, Yo Hoe-jin sudah bunuh
diri. Bila tidak, orang-orang Beng-kauw tentu tak sampai
saling bermusuhan dan saling bunuh. Di dalam hati
kecilnya diam-diam ia merasa bangga bahwa Yo Po Thian
sudah menghargai ayah angkatnya.
Ia membaca lagi.
“Untuk sementara waktu, ilmu Kian koen Tay lo ie
harus diserahkan kepada Cia Soen. Nanti, sesudah ada
kauwcoe baru, barulah Sim-hoat itu diserahkan kepadanya.
Kauwcoe baru bertugas untuk memperbesar agama kita,
mengusir kaum penjajah, melakukan perbuatan-perbuatan
mulia, menumpas kejahatan, meluruskan yang bengkok dan
membasmi segala kebusukan.”
Boe Kie berhenti lagi. Ia bingung dan berkata dalam
1354
hatinya, “Dilihat begini, Beng-kauw mempunyai tujuan
yang sangat mulia. Berbagai partai persilatan yang
memusuhi agama itu adalah perbuatan yang tidak pantas.”
Ia menghela nafas dan melanjutkan.
“Dengan menggunakan Sin-kang yang masih berada
dalam tubuhku, aku akan menutup pintu batu supaya aku
bisa berada bersama-sama Seng Soe-tee. Untuk selamalamanya
aku tak akan berpisah lagi dengan dia. Hoe-jin
sendiri bisa meloloskan diri dengna melihat peta jalan
rahasia. Pada jaman ini, tiada orang lain yang bisa
menggerakkan pintu batu Boe Ong-wie. Andaikata di
kemudian hari ada seorang gagah yang bisa membuka pintu
itu, aku dan Seng Soe-tee sudah jadi kerangka belaka.
Hormat dari suamimu, Po Thian.”
Di belakang surat itu terdapat sebuah peta yang
melukiskan semua jalan dan pintu-pintu dari jalan rahasia
itu.
Boe Kie girang tak kepalang. “Yo Kauwcoe ternyata
memang ingin mengurung Seng Koen dalam jalan rahasia
ini dan rela mati bersama-sama,” katanya. “Sayang sekali ia
tak dapat mempertahankan diri dan sudah mati terlebih
dulu sedang manusia busuk itu masih bisa malang
melintang hingga sekarang. Bagus juga kita mendapat peta
ini dan kita akan bisa keluar.”
Sehabis berkata begitu, ia meneliti peta tersebut dan
mencari tempat di peta di mana mereka berada sekarang.
Tiba-tiba ia seperti diguyur air dingin. Mengapa? Karena
jalan keluar yang satu-satunya adalah jalan yang sudah
ditutup dengan batu raksasa oleh Seng Koen. Peta berada di
tangan, tapi tidak berguna!
“Kongcoe, jangan terlalu bingung,” hibur Siauw Ciauw.
“Mungkin sekali kita bisa cari jalan lain.” Ia mengambil
1355
peta itu dari tangan Boe Kie dan lalu memperhatikannya.
Tapi sesudah melihat sampai matanya berkunang-kunang ia
tak bisa mendapatkan jalan lain. Jalan yang tertutup batu
itu adalah jalan satu-satunya.
Melihat paras si nona yang putus harapan, Boe Kie
tertawa getir. “Menurut surat Yo Kauwcoe, seseorang yang
sudah berhasil dalam Kian koen Tay lo ie Sin-kang bisa
mendorong pintu batu itu,” katanya. “Di saat ini, hanya Yo
Siauw Sianseng yang pernah berlatih ilmu itu tapi
kepandaiannya masih cetek sehingga andaikata ia berada di
sini, belum tentu ia bisa berhasil. Di samping itu, kitapun
tak tahu di mana tempat kedudukan Boe Ong-wie. Tidak
tertulis di atas peta, di mana kita harus mencarinya?”
“Boe Ong-wie?” tegas Siauw Ciauw. Boe Ong-wie
adalah salah satu “wie” (kedudukan) dari enam kedudukan
yang terdapat dalam Lak-cap Sie-kwa (ilmu pentangpentangan)
dari Hok-hie. Boe Ong-wie terletak di antara
Beng Ie-wie dan Swee-wie. Seraya berkata begitu ia berjalan
sesuai dengan kedudukan dari ilmu pentang-pentangan itu.
Sesudah berada di sudut barat laut dari ruangan itu, ia
berkata, “Kalau tak salah di sini.”
Semangat Boe Kie terbangun, “Apa benar?” tanyanya. Ia
berlari-lari ke tempat senjata dan mengambil sebuah
kampak. Dengan alat itu, ia membersihkan tanah dan pasir
yang melekat di dinding. Benar saja ia segera mendapatkan
garis-garis yang menunjukkan adanya sebuah pintu. Ia
girang dan berkata dalam hati, “Meskipun tak mengenal
Kian koen Tay lo ie Sin-kang, aku sudah memiliki Kioe
yang Sin-kang. Mungkin dapat digunakan.”
Ia segera mengumpulkan hava di bagian pusar,
mengerahkan tenaga dalam kedua lengannya, memasang
kuda-kuda dan kemudian mendorong pintu. Pintu itu tidak
bergeming. Ia mencoba berulang-ulang dengan segenap
1356
tenaganya. Tetap tidak berhasil. Ia mendorong lagi sehingga
tulang-tulangnya berkelotokan dan kedua lengannya lemas.
Pintu tetap tidak bergerak.
“Thio Kongcoe, sudahlah!” kata Siauw Ciauw.
“Sebaiknya kita gunakan bahan peledak.”
“Baiklah, aku lupa kita masih punya bahan peledak,”
kata pemuda itu.
Mereka segera mengambil sisa bahan peledak dan
meledakkannya di bawah pintu. Batu somplak tapi
pintunya tetap tidak bergerak.
Dengan rasa menyesal dan terharu, Boe Kie menarik
tangan si nona dan berkata dengan suara halus, “Siauw
Ciauw…akulah yang bersalah, aku mengajak kau kemari
sehingga kau tidak bisa keluar lagi.”
Si nona mengawasi muka Boe Kie dengan matanya yang
bening. “Thio Kongcoe, sebenarnya kau yang harus
menyalahkan aku,” katanya. “Jika aku tidak membawa kau
kemari…kau tidak….” Ia tidak dapat meneruskan
perkataannya dan lalu menyeka air mata dengan lengan
bajunya.
Untuk beberapa saat, mereka membungkam. Tiba-tiba si
nona tertawa. “Sudahlah!” katanya. “Kita tidak bisa keluar,
jengkelpun tak berguna. Sebaiknya aku menyanyi. Apa kau
setuju?”
Boe Kie sebenarnya tak punya kegembiraan untuk
mendengarkan nyanyian, tapi supaya tidak mengecewakan
si nona, ia mengangguk. “Bagus!” katanya sambil tertawa.
Siauw Ciauw segera duduk di samping pemuda itu.
Sesudah mendehem beberapa kali, ia mulai.
“Bersandar di guba,
1357
Membuat gubuk,
Biarpun melarat, tetap bahagia,
Di tepi sungai berbicara dengan si pencari kayu,
Di gunung mencari sahabat lama,
Di angkasa berkawan dengan burung Hong,
Dia berhasil,
Dia menertawai kita!
Dia gagal,
Kita menertawai dia!”
Waktu si nona menyanyi, Boe Kie tak begitu
memperhatikan. Tapi sesudah mendengar “dia berhasil, dia
menertawai kita, dia gagal, kita menertawai dia” hatinya
tertarik dan ditambah dengan suara si nona yang sangat
merdu, rasa jengkelnya segera menghilang.
Sementara itu, si nona melanjutkan nyanyiannya.
“Syair menghilangkan kedukaan,
Pedang penuh keangkeran,
Seorang Enghiong tak perdulikan kemiskinan atau
kekayaan,
Di sungai membunuh Kauw,
Dikira memanah Tiauw,
Di daerah perbatasan memutar golok,
Dia berhasil,
Dia menertawai kita,
Dia gagal,
Kita menertawai dia.”
1358
Waktu menyanyi dibagian itu, suara si nona nyaring dan
bernada gagah.
“Siauw Ciauw, sungguh merdu suaramu!” Boe Kie
memuji. “Siapa yang menggubah lagu itu?”
Si nona tertawa. “Kau bohong! Suaraku tak keruan
begitu,” katanya. “Aku meniru nyanyian orang lain. Tak
tahu siapa yang menggubahnya.” Sesudah berdiam sejenak,
ia berkata pula. “Apa benar kau senang mendengarnya?
Tidak bohong?”
Boe Kie tertawa nyaring, “Mana bisa aku berbohong di
hadapanmu,” katanya. “Tidak! Memang benar suaramu
merdu dan sajak lagu itu indah sekali. Sungguh!”
“Baiklah, kalau begitu aku mau menyanyi lagi,” kata si
nona. “Sayang sekali tidak ada pie-pee (semacam gitar).”
Sambil menepuk-nepuk batu dengan lima jarinya, ia segera
menyanyi pula.
“Perubahan di dunia silih berganti,
Manusia harus menyesuaikan diri,
Nasib memutuskan kemakmuran atau keruntuhan,
Dalam kebahagiaan bersembunyi malapetaka,
Dalam malapetaka bersembunyi kebahagiaan,
Mana ada kekayaan abadi?
Dari angkasa, sang surya kelam ke barat,
Dari bundar sang rembulan somplak sebelah,
Di langit dan di bumi tak ada yang sempurna,
Hilangkan kerutan alis,
Hentikan permusuhan remeh,
1359
Paras muka di hari ini,
Lebih tua daripada kemarin,
Yang lama pergi yang baru datang,
Semua tak luput,
Yang pintar, yang bodoh,
Yang miskin, yang kaya,
Pada akhirnya manusia,
Tidak bisa lari dari hari itu,
Hari ini ada kesenangan,
Nikmatilah kesenangan,
Siang dan malam seratus tahun,
Yang berusia tujuh puluh tahun jarang ada,
Sang waktu mengalir bagaikan air,
Gelombang demi gelombang.”
Sajak itu adalah pengutaraan isi hati dari seseorang yang
sudah kenyang makan asam garamnya dunia dan yang
sudah bisa melihat tidak kekalnya segala keduniawian.
Bahwa sajak itu diucapkan oleh seseorang muda belia
seperti Siauw Ciauw, kelihatannya sangat tidak sesuai.
Mungkin sekali ia tak tahu artinya. Ia hanya mendengar
nyanyian orang lain dan lalu meniru.
Tapi Boe Kie lain, ia masih muda, tapi selama sepuluh
tahun, ia telah merasakan bermacam-macam kegetiran dan
mendapat berbagai pengalaman luar biasa. Sekarang ia
terkurung di perut gunung dan di hadapannya tidak ada
jalan hidup. Tapi sesudah mendengar nyanyian Siauw
Ciauw, ia merasa dadanya lega. Ia merasa kuat, terutama
karena dua kalimat yang berbunyi “pada akhirnya manusia,
1360
tidak bisa lari dari hari itu.”
“Hari itu!” “Hari itu!” yang mesti di alami setiap
manusia, setiap makhluk berjiwa. “Hari” pulang ke alam
baka.
Sebagai manusia, Boe KIe yang masih muda sudah
beberapa kali mengalami detik-detik mati atau hidup. Pada
masa lampau, mati atau hidupnya tidak bersangkutan
dengan siapapun juga. Tapi sekarang, keadaan agak
berlainan. Kematiannya bukan saja menyeret Siauw Ciauw,
tapi juga mempunyai hubungan dengan mati hidupnya
Beng-kauw, selamat celakanya Yo Siauw dan yang lainlain,
permusuhan antara Goan-tin dengan ayah angkatnya.
Ia tidak takut mati, terlebih sesudah mendengar nyanyian si
nona. Tapi kalau boleh, ia tidak mau mati sekarang karena
ia merasa memikul tugas-tugas yang belum diselesaikan.
Ia lalu bangkit dan mendorong pula pintu batu itu. Ia
merasakan mengalirnya Cin-khie di seluruh tubuhnya,
sepertinya ia mempunyai tenaga yang besarnya tidak
terbatas, tapi tidak dapat dikeluarkan. Tenaga itu seperti
gelombang air bah yang tertahan oleh gili-gili. Tiga kali ia
mencoba, tiga kali ia gagal.
Sementara itu Siauw Ciauw sudah melukai lagi jari
tangannya dan mengoleskan darahnya di kulit kambing,
“Thio Kongcoe,” katanya. “Apakah tidak baik jika kau
melatih Sin-kang dari Kian koen Tay lo ie? Kau sangat
cerdas dan mungkin sekali segera berhasil.”
Boe Kie tertawa. “Para Kauwcoe dari Beng-kauw telah
berlatih seumur hidup, tapi hanya beberapa orang saja yang
bisa dikatakan berhasil,” jawabnya. “Sebagai Kauwcoe
mereka pasti bukan orang sembarangan. Mereka semua
mempunyai kecerdasan dan kepandaian yang sangat tinggi.
Bagaimana caranya aku bisa mengharap bahwa dalam
1361
waktu singkat aku bisa berhasil dalam suatu latihan yang
sukar, yang tidak dapat dilakukan oleh para mendiang
Kauwcoe itu?”
Si nona tak menyahut. Ia menunduk dan menyanyi
dengan perlahan.
“Hari ini ada kesenangan,
Nikmatilah kesenangan itu,
Hari ini bisa berlatih,
Berlatihlah hari ini.”
Sambil tersenyum Boe Kie lalu mengambil kulit kambing
itu dari tangan Siauw Ciauw dan lalu membacanya. Ia
mendapati kenyataan bahwa apa yang tertulis adalah ilmu
untuk menjalankan pernafasan dan menggunakan tenaga
dalam. Ia lalu mencoba-coba dan…dengan mudah ia
berhasil. Di kulit itu terdapat juga tulisan yang berbunyi
sebagai berikut.
“Inilah Sin-kang tingkat pertama. Orang yang cerdas dan
berbakat bisa berhasil dalam waktu tujuh tahun. Orang
biasa harus menggunakan waktu empat belas tahun.”
Boe Kie heran tak kepalang. Ia berhasil dalam sekejap
mata. Mengapa dalam kulit kambing tertulis harus
menggunakan sedikitnya tujuh tahun?
Ia segera membaca ilmu tingkat kedua dan terus berlatih.
Kali inipun ia berhasil dengan mudah. Ia merasa semacam
hawa dingin yang halus seperti benang seakan-akan
menyambar keluar dari sepuluh jari tangannya. Di bawah
ilmu itu terdapat penjelasan sebagai berikut.
“Inilah Sin-kang tingkat kedua. Orang cerdas dan
berbakat bisa berhasil dalam waktu tujuh tahun. Orang
biasa harus menggunakan waktu sedikitnya empat belas
1362
tahun. Manakala sesudah berlatih dua puluh satu tahun
masih belum mendapat kemajuan, orang itu dilarang maju
pada tingkat ketiga, untuk mencegah kecelakaan yang tidak
dapat ditolong lagi.” (Menurut kepercayaan, jika seseorang
melatih Lweekang tinggi secara salah atau secara
memaksakan diri, maka ilmu itu bisa membinasakan orang
yang berlatih seperti “golok makan tuan”)
Boe Kie kaget bercampur girang. Dengan bernafsu ia
segera membaca ilmu ketiga. Ketika itu, huruf-huruf di atas
kulit kambing telah mulai buram, tapi baru saja ia mau
mencabut pisau untuk menggores jari tangannya, Siauw
Ciauw sudah mendahului dan mengoles kulit kambing
dengan darahnya.
Ia berhasil dalam ilmu ketiga dan keempat sama
mudahnya seperti orang membelah bambu. Dengan rasa
takut Siauw Ciauw mengawasi muka pemuda itu yang
berwarna aneh, sebelah hijau. Tapi hatinya segera tentram
kembali karena paras Boe Kie tetap tenang dan hanya
kedua matanya berkilat-kilat. Waktu Boe Kie melatih diri
dalam Sin-kang tingkat kelima, suatu perubahan terjadi
pada dirinya.
Mukanya sebentar biru sebentar merah, waktu mukanya
biru badannya agak gemetaran dan berhawa dingin seperti
gundukan es, sedang waktu mukanya merah keringat
menetes turun seperti hujan gerimis dari kedua pipinya.
Siauw Ciauw mengeluarkan sapu tangan dan
mengangsurkan tangan untuk menyeka keringat di muka
pemuda itu. Tapi baru saja sapu tangan menyentuh dagu,
lengannya mendadak bergetar dan hampir-hampir ia jatuh
terjengkang. Boe Kie bangkit dan menyapu keringat dengan
lengan bajunya. Ia tak mengerti mengapa Siauw Ciauw
terhuyung. Ia tak mengerti bahwa ia sudah berhasil dalam
latihan Sin-kang tingkat kelima.
1363
Kian koen Tay lo ie Sin-kang adalah suatu ilmu
menakjubkan untuk mengerahkan dan menggunakan
tenaga. Pada hakekatnya, ilmu tersebut adalah untuk
mengeluarkan tenaga luar biasa yang tersembunyi dalam
tubuh setiap manusia. Dalam keadaan biasa tenaga yang
bersembunyi itu tak dapat dikeluarkan. Hanya pada detikdetik
berbahaya, misalnya pada waktu kebakaran barulah
tenaga itu keluar. Sering kita mendengar cerita bahwa
dalam menghadapi bencana, seseorang yang lemah dapat
melakukan perbuatan yang luar biasa seperti mengangkat
barang ratusan atau ribuan kati beratnya yang tak akan
dapat dilakukannya dalam keadaan biasa.
Sesudah berhasil dalam Kioe yang Sin-kang, tenaga yang
bersembunyi dalam tubuh Boe Kie tidak dapat tertandingi
oleh siapapun juga dalam dunia ini. Tapi karena belum
mendapat petunjuk dari seorang guru yang pandai, ia masih
belum bisa menggunakan tenaga yang bersembunyi itu.
Sekarang, sesudah mempelajari Kian koen Tay lo ie Sinkang
dan melatih diri dalam ilmu itu, maka tenaganya yang
tersembunyi membanjir keluar bagaikan air bah yang tak
dapat ditahan lagi.
Bagi manusia biasa, Kian koen Tay lo ie Sin-kang adalah
ilmu yang sukar dipelajari dan salah sedikit saja dalam
latihannya, ilmu itu bisa “makan tuan” bisa membinasakan
si pelajar sendiri. Mengapa begitu? Karena ilmu untuk
mengerahkan tenaga dalam sangat berbelit-belit, sedang si
pelajar sendiri tidak mempunyai tenaga dalam yang cukup
kuat untuk mengimbanginya. Sebagai contoh, kalau
seorang bocah yang baru berusia tujuh delapan tahun
bersilat dengan menggunakan martil yang beratnya ratusan
kati, maka makin sulit ilmu silat yang dijalankannya, makin
gampang kepalanya terpukul martil. Tapi hal ini tak
mungkin terjadi jika yang bersilat dengan martil itu seorang
1364
dewasa yang bertenaga besar.
Dalam waktu yang lalu, orang-orang melatih diri dalam
Kian koen Tay lo ie Sin-kang semuanya tidak mempunyai
cukup tenaga dan memaksa diri belajar. Sebagaimana
diketahui, seorang ahli silat yang sedang mengajar serupa
ilmu, biasanya tidak bisa merasa puas dan rela
mengundurkan diri di tengah jalan. Maka itu banyak yang
sudah menjadi korban dari latihan yang dipaksakan.
Mengapa Boe Kie berhasil sedangkan tokoh-tokoh yang
lebih hebat gagal? Jawabnya sangat sederhana. Karena Boe
Kie memiliki cukup tenaga yang didapat dari latihan Kioe
yang Sin-kang.
Sesudah menyelesaikan latihan tingkat kelima, pemuda
itu merasa semangatnya bergelora dan tenaga dalamnya
dapat dikeluarkan atau ditarik pulang sesuka hati. Di
samping itu, iapun merasakan kesegaran luar biasa pada
sekujur badannya. Kini ia melupakan hal untuk mendorong
pintu batu dan terus mempelajari ilmu tingkat keenam.
Berselang kurang lebih satu jam ia telah mulai dengan ilmu
tingkat ketujuh.
Inilah yang paling sukar, beberapa lipat ganda lebih
sukar daripada pelajaran tingkat keenam. Untung juga, ia
mahir dalam ilmu pengobatan dan “hiat-to”. Dengan
pengetahuan itu, ia selalu dapat memecahkan bagian-bagian
yang sulit dan kurang terang.
Setelah berhasil sebagian besar dari ilmu tingkat ketujuh
itu, tiba-tiba ia bertemu dengan satu bagian ilmu yang
dilukiskan dengan beberapa baris huruf. Sesudah membaca
dengan teliti, ia lalu mulai berlatih menurut petunjuk itu.
Mendadak ia merasa hawa yang rasanya bergejolak sedang
jantungnya memukul keras. Ia segera menghentikan latihan
dan menentramkan semangatnya. Beberapa saat kemudian,
1365
ia berlatih lagi, tapi hasilnya tak berbeda.
Ia melompati kalimat pertama dan berlatih dengan
kalimat kedua. Latihan itu berjalan lancar, tapi waktu tiba
pada kalimat ketiga, ia kembali mengalami kesukaran.
Makin lama, kesulitan makin besar. Setelah ia mempelajari
seluruh Kian koen Tay lo ie Sin-kang, ada tiga belas kalimat
yang tak berhasil dilatih olehnya.
Sesudah berpikir beberapa saat, ia menaruh kulit
kambing itu di atas batu dan kemudian ia berlutut beberapa
kali. Dengan suara perlahan ia berkata, “Secara tak sengaja,
teecoe Thio Boe Kie telah mendapatkan ilmu Sin-kang dari
Beng-kauw. Dalam mempelajari ilmu tersebut tujuan teecoe
adalah untuk menolong jiwa sendiri dan bukan sematamata
ingin mencuri ilmu Beng-kauw. Jika teecoe bisa lolos
dari tempat berbahaya ini, maka dengan menggunakan Sinkang
teecoe akan berusaha sekeras-kerasnya guna
kepentingan Beng-kauw. Teecoe pasti takkan melupakan
budi para Kauwcoe yang sudah menolong jiwa teecoe.”
Siauw Ciauw pun berlutut dan sesudah manggutkan
kepalanya beberapa kali, ia berdoa dengan suara perlahan,
“Teecoe memohon supaya para leluhur melindungi Thio
Kongcoe dalam usaha menegakkan kembali agama kita dan
memulihkan keangkeran para leluhur.”
Boe Kie bangkit seraya berkata, “Aku bukan murid
Beng-kauw dan dengan mengingat ajaran Thay soehoe,
akupun takkan masuk ke dalam kalangan Beng-kauw. Tapi
sesudah membaca surat wasiat Yo Kauwcoe, aku yakin
bahwa tujuan Beng-kauw adalah luhur dan lurus. Dengan
demikian aku bertekad untuk menggunakan segenap
tenagaku guna menyingkirkan salah pengertian berbagai
partai dan mendamaikan permusuhan kedua belah pihak.”
“Thio Kongcoe, kau mengatakan bahwa kau gagal
1366
dalam tiga belas kalimat,” kata Siauw Ciauw. “Mengapa
kau tak mau mengaso dan sesudah segar baru mencoba
lagi?”
“Biar bagaimanapun juga, hari ini aku sudah berhasil
dalam Sin-kang tingkat ketujuh,” kata Boe Kie. “Memang
benar ada tiga belas kalimat yang dilompati dan dalam
keseluruhannya masih terdapat suatu kekurangan. Tapi
sebagaimana dikatakan dalam nyanyianmu sendiri, dalam
dunia ini tak ada sesuatu yang sempurna. Mengapa aku ini
tak bisa merasa puas? Apakah jasa dan kemuliaannya Thio
Boe Kie sehingga ia mesti memiliki seluruh ilmu dari Bengkauw?
Aku menganggap pantas sekali, jika aku tak berhasil
dalam tiga belas kalimat itu.”
“Benar kata Kongcoe,” jawab si nona yang lalu
mengambil kulit kambing itu dari tangan Boe Kie dan minta
diberitahukan kalimat-kalimat mana yang dimaksudkan itu.
Diam-diam ia membaca ketiga belas kalimat itu beberapa
kali.
“Perlu apa kau menghafal?” tanya Boe Kie sambil
tersenyum.
Paras si nona berubah merah. “Tak apa-apa,” jawabnya
dengan jengah. “Aku hanya ingin tahu kalimat apa yang
sedemikian sukar sehingga tak dapat dipecahkan olehmu
sendiri.” Tapi di dalam hatinya, Siauw Ciauw mempunyai
maksud lain. Ia tahu bahwa pemuda itu seorang yang jujur
dan jika mereka bisa keluar dari tempat itu, ia tentu akan
menyerahkan kulit kambing itu kepada Yo Siauw. Ia
menghafal tiga belas kalimat itu supaya kalau dikemudian
hari Boe Kie mau mencoba lagi, ia bisa membantu biarpun
kulit kambingnya sudah berada di tangan orang lain.
Dengan mengenal batas, tanpa diketahui olehnya sendiri,
Boe Kie telah menyelamatkan diri dari suatu bahaya.
1367
Dulu, tokoh yang membuat ilmu Kian koen Tay lo ie
adalah seseorang yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi
tapi tenaga dalamnya belum mencapai tingkat Kioe yang
Sin-kang. Ia mengubah Sin-kang ketujuh tapi ia sendiri
belum berhasil melatih seluruhnya. Ada beberapa bagian
yang ditulis bukan berdasarkan kenyataan tapi khayalan
yang keluar dari otaknya yang sangat cerdas. Tiga belas
kalimat yang tidak dapat ditembus Boe Kie adalah bagian
khayalan itu. Manakala Boe Kie tidak mengenal batas dan
bertekad untuk memiliki seluruh ilmu, maka ia akan
menyimpang ke jalan yang salah sehingga pada akhirnya
ilmu itu akan “makan tuan”, ia bisa jadi gila atau binasa.
Sesudah mengaso beberapa saat, Boe Kie dan Siauw
Ciauw lalu mengubur kerangka Yo Po Thian dan istrinya
dengan pasir dan batu-batu kecil. Sesudah itu mereka
menghampiri pintu batu.
Boe Kie menempelkan tangan kanannya pada pintu itu
dan mendorong dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie
Sin-kang. Begitu didorong, pintu itu bergerak. Ia menambah
tenaga dan pintu lantas saja terbuka dengan perlahan.
Siauw Ciauw kegirangan. Ia melompat-lompat sambil
menepuk-nepuk tangan. Mendengar suara kerincingan
rantai, Boe Kie berkata, “Coba aku berusaha memutuskan
rantai itu.”
“Kali ini kau pasti berhasil,” kata si nona.
Seraya mengerahkan Lweekang, Boe Kie membetot, tapi
rantai itu hanya mulur dan tak putus. “Celaka! Makin
panjang akan makin sukar,” kata Siauw Ciauw.
Boe Kie menggelengkan kepala. “Aneh benar.”
Mengapa rantai itu begitu alot?
Rantai tersebut terbuat dari sebuah batu meteor yang
1368
jatuh dari langit. Batu itu mengandung semacam logam
yang sifatnya sangat berbeda dengan logam apapun jua
yang ada di dunia. Secara kebetulan batu itu dipatahkan
salah seorang Kauwcoe dari Beng-kauw dan secara
kebetulan pula pada jaman itu hidup seorang pandai besi
yang luar biasa. Dengan menggunakan api si pandai besi
melebur batu itu dan kemudian membuat rantai yang
sekarang terikat pada kaki tangan Siauw Ciauw. Bahwa Boe
Kie bisa menariknya sehingga mulur sudah merupakan
suatu perbuatan yang tidak dapat ditiru oleh siapapun jua.
Siauw Ciauw menunduk dan menghela nafas.
“Jangan jengkel, serahkan saja padaku,” hibur Boe Kie.
“Aku akan berusaha untuk membuka rantai itu. Kita telah
terkurung dalam perut gunung tapi aku masih bisa keluar.
Aku tidak percaya kita tidak berdaya terhadap rantai yang
begitu kecil.”
Si nona mendongak dan berkata seraya tertawa. “Thio
Kongcoe, sesudah berjanji kuharap kau tidak mungkir lagi.”
“Aku akan minta supaya Poet Hwie Moay-moay
membuka rantai itu,” kata Boe Kie. “Ia pasti tak akan
menolak permintaanku.”
Dalam tekadnya untuk mencari Goan-tin, Boe Kie
segera mendorong lagi kedua batu raksasa yang beratnya
berlaksa kati. Tapi walaupun ia memiliki Sin-kang, tenaga
manusia selalu terbatas. Kedua batu itu hanya bergoyanggoyang
sedikit dan tidak dapat digeser. Ia menggelenggelengkan
kepalanya dan bersama Siauw Ciauw lalu keluar
dari pintu batu yang terbuka. Sesudah berada di luar, ia
memutar badan untuk menutupnya pula. Tapi ternyata
yang merupakan daun pintu adalah batu raksasa, Boe Kie
menghela nafas. Untuk membuat terowongan di bawah
tanah itu, entah berapa banyak tenaga dan pikiran yang
1369
sudah digunakan orang-orang Beng-kauw.
Dengan tangan mencekal peta jalan rahasia, Boe Kie
mengajak Siauw Ciauw mencari jalan keluar. Terowongan
banyak cabangnya, tapi dengan pertolongan peta, dengan
tak banyak kesulitan mereka bisa keluar.
Begitu berada di alam bebas, mereka memejamkan mata
karena tak tahan dengan sinar terang yang menyilaukan.
Selang beberapa lama, perlahan-lahan mereka membuka
mata lagi.
Mereka ternyata berada di atas bumi yang tertutup salju.
Mata mereka silau oleh sebuah sinar salju yang disoroti
matahari.
Sementara itu, Siauw Ciauw meniup api obor, membuat
sebuah lubang di salju dan kemudian menguburkan
potongan kayu yang tadi dijadikan obor di dalam lubang
itu. “Kayu, oh kayu!” katanya dengan suara perlahan.
“Terima kasih banyak untuk pertolonganmu. Kamu telah
memberikan sinar terang sehingga Thio Kongcoe dan aku
bisa keluar dari gua. Tanpa pertolonganmu kami tentu akan
binasa.”
Boe Kie tertawa terbahak-bahak, hatinya senang sekali.
“Di dalam dunia banyak sekali manusia yang tak mengenal
budi,” pikirnya. “Dengan berbuat begini, Siauw Ciauw
menunjukkan bahwa ia seorang yang luhur budinya.” Ia
merasa kagum, ia mengawasi kulit muka yang putih
bagaikan batu pualam. Tanpa sadar ia memuji, “Siauw
Ciauw, kau sungguh cantik.”
“Thio Kongcoe, apa kau membohongi aku?” tanya si
nona dengan girang.
“Sekarang kau ayu sekali,” jawabnya. “Tapi kau tak
boleh berlagak bongkok dan pincang lagi.”
1370
“Baiklah,” kata Siauw Ciauw. “Jika kau berkata begitu,
biarpun Siocia, aku tentu takkan menyamar lagi.”
“Gila! Perlu apa dia bunuh kau,” bentak Boe Kie.
Mereka segera pergi ke pinggir tebing dan
memperhatikan keadaan di sekitarnya. Mereka ternyata
berada di lereng sebuah puncak. Waktu datang di Kong
beng-teng, Boe Kie berada dalam karungnya Swee Poet Tek
sehingga ia sama sekali tidak tahu keadaan bumi di gunung
ini. Sekarangpun ia masih belum tahu di mana mereka
berada. Sambil menudung mata dengan tangannya ia
memandang ke tempat jauh. Tiba-tiba ia lihat beberapa
sosok tubuh manusia yang tergeletak di sebelah barat laut.
“Coba kita lihat,” katanya sambil mencekal tangan
Siauw Ciauw dan lalu menuju ke tanjakan itu dengan
berlari-lari. Sesudah memiliki Kioe yang dan Kian koen Tay
lo ie Sin-kang, setiap gerakan Boe Kie hebat luar biasa.
Maka itu, meskipun membawa Siauw Ciauw, larinya cepat
bagaikan walet terbang, dalam sekejap mereka sudah tiba ke
tempat yang dituju.
Empat mayat rebah di situ, semua berlumuran darah.
Tiga di antaranya mengenakan seragam Beng-kauw sedang
yang seorang pendeta, mungkin sekali murid Siauw Lim
sie.
“Celaka!” seru Boe Kie di dalam tenggorakan. “Selagi
kita berada di perut gunung, keenam partai sudah berada di
sini.” Ia meraba dada keempat mayat itu. Semuanya dingin.
Ia segera menarik tangan Siauw Ciauw dan mendaki
puncak dengan mengikuti tapak kaki. Sesudah melalui
beberapa puluh tombak, mereka kembali bertemu dengan
tujuh mayat yang rupanya sangat menakutkan.
Boe Kie bingung, “Bagaimana dengan Yo Siauw
1371
Sianseng, Poet Hwie Moay-moay?” katanya. Ia berlari-lari
makin cepat sehingga Siauw Ciauw seolah-olah sedang
terbang dengan ditenteng pemuda itu.
Setelah membelok di sebuah tikungan, mereka bertemu
dengan lima mayat murid Beng-kauw, semuanya
tergantung di pohon dengan kepala di bawah kaki di atas
dan muka seperti dicakar dengan cakar yang sangat tajam.
“Ah! Itu cakar Houw-jiauw chioe dari Hwa San-pay,”
kata Siauw Ciauw. (Houw-jiauw chioe, Cakar Harimau)
“Siauw Ciauw, bagaimana kau tahu?” tanya Boe Kie
dengan heran. “Siapa yang memberitahukannya
kepadamu?”
Tapi, karena memikirkan keselamatan kedua belah pihak
yang sedang bermusuhan, tanpa menunggu jawaban ia terus
berlari-lari. Di sepanjang jalan dia bertemu dengan mayatmayat,
sebagian besar mayat murid Beng-kauw, tapi mayat
murid keenam partai pun tak sedikit jumlahnya.
Boe Kie menduga bahwa selama ia terkurung di perut
gunung sehari semalam, keenam partai telah melakukan
serangan besar-besaran. Sebab Yo Siauw, Wie It Siauw dan
yang lain-lain terluka berat maka murid-murid Beng-kauw
tak punya pemimpin sehingga dalam pertempuran itu
mereka jatuh di bawah angin. Tapi, meskipun begitu dia
melawan dengan nekad dan mendapatkan kerusakan besar.
Waktu hampir tiba di puncak gunung, Boe Kie
mendengar suara bentrokan senjata yang sangat hebat.
Hatinya agak lega. “Pertempuran belum berhenti, keenam
partai rupanya belum masuk di toa thia,” pikirnya. Ia
mempercepat langkahnya.
Mendadak dua batang piauw menyambar.
“Siapa kau? Berhenti!” bentak seseorang.
1372
Sambil menghentikan langkah, Boe Kie mengibaskan
tangan dan kedua piauw itu terbang kembali.
“Aduh!” seseorang berteriak dan terus roboh.
Boe Kie kaget, yang roboh seorang pendeta. Kedua
piauw itu menembus pundaknya dan kemudian menancap
di salju. Ia tertegun, ia mengibas dengan pelan hanya untuk
memukul jatuh senjata rahasia itu. Tak disangka, kibasan
itu bertenaga sedemikian besar. Buru-buru ia
membangunkan si pendeta dan berkata, “Aku bersalah
telah melukai Taysoe, mohon Taysoe sudi memaafkan.”
Darah berlumuran dari lukanya tapi pendeta itu sangat
tegap dan gagah. Tiba-tiba ia menendang dan kakinya
mampir tepat di lambung Boe Kie yang tak menduga akan
diserang dengan cara begitu. Tapi hampir bersamaan
dengan tendangan kaki kanannya itu, tubuh si pendeta
terpental dan menghantam satu pohon sehingga tulang kaki
kanannya patah dan mulutnya mengeluarkan darah. Boe
Kie sendiri tidak tahu bahwa sesudah mempunyai dua
macam Sin-kang, di dalam tubuhnya terdapat semacam
tenaga dahsyat yang bisa melawan setiap pukulan secara
wajar.
Melihat pendeta itu terluka berat, hati Boe Kie makin
tidak enak. Ia membangunkannya berulang-ulang dan
memohon maaf. Pendeta itu mengawasinya dengan mata
melotot. Ia heran bercampur gusar.
Mendadak dalam pekarangan yang terkurung tembok
terdengar tiga kali teriakan kesakitan. Boe Kie tidak dapat
memperhatikan pendeta itu lagi. Sambil menarik tangan
Siauw Ciauw, ia masuk dengan berlari-lari. Sesudah
melewati dua ruangan, mereka tiba di sebuah lapangan
terbuka yang penuh manusia. Rombongan yang berkumpul
di sebelah barat jumlahnya lebih kecil, sebagian besar sudah
1373
terluka dengan pakaian berlumuran darah. Rombongan itu
adalah rombongan Beng-kauw. Jumlah rombongan yang di
sebelah timur beberapa kali lipat lebih besar dan terbagi jadi
enam barisan kecil. Mereka itu adalah keenam partai.
Boe Kie segera saja melihat bahwa Yo Siauw, Yo Poet
Hwie, Wie It Siauw, Swee Poet Tek dan yang lain-lain
berada di tengah-tengah rombongan Beng-kauw. Mereka
belum bisa bergerak. Di tengah gelanggang terdapat dua
orang yang sedang bertempur hebat. Karena semua mata
menuju ke arah pertandingan itu, maka masuknya Boe Kie
dan Siauw Ciauw tidak diperhatikan oleh siapapun juga.
Perlahan-lahan Boe Kie mendekati. Kedua orang itu
berkelahi dengan tangan kosong. Sambaran-sambaran angin
dahsyat yang keluar dari pukulan-pukulan mereka
menandakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat kelas
utama. Mereka bertempur dengan kecepatan kilat dan
setiap pukulan istimewa selalu disambut dengan sorak
sorai.
Boe Kie mengawasi dengan hati berdebar-debar. Ia
mengenali bahwa yang satu, yang bertubuh kecil adalah
Boe tong Sie-hiap Thio Siong Kee, sedang lawannya adalah
seorang tua yang berbadan tinggi besar, beralis putih dan
berhidung bengkok seperti patok burung. “Siapa kakek itu?”
tanyanya di dalam hati.
Mendadak dari rombongan Hwa San-pay terdengar
teriakan seseorang. “Tua bangka Peh Bie! Lebih baik kau
menyerah kalah! Kau bukan tandingan Boe tong Sie-hiap.”
Jantung Boe Kie memukul keras. Kalau begitu orang tua
itu kakek luarnya. Peh Bie Eng-ong In Thian Ceng. Ingin
sekali menubruk dan memeluk orang tua itu tapi ia tak bisa
berbuat begitu.
Semua orang memperhatikan jalannya pertandingan
1374
sambil menahan nafas. Di atas kepala Thio Siong Kee dan
In Thian Ceng terlihat uap putih, suatu tanda mereka
sedang mengeluarkan Lweekang yang paling tinggi dalam
suatu pertempuran mati atau hidup. Kedua lawan samasama
mempunyai nama besar, yang satu Peh Bie Kauwcoe
dan Hoe Kauw Hoatong dari Beng-kauw, yang lain murid
Thio Sam Hong dan anggota Boe Tong Cit-hiap yang
menggetarkan dunia persilatan. Pertempuran ini adalah
pertempuran yang akan memutuskan keunggulan antara
Boe Tong-pay dan Peh Bie-kauw. Dengan mata berkilatkilat,
In Thian Ceng menyerang bagaikan angina dan hujan
sedangkan Thio Siong Kee terus mempertahankan diri
sesuai dengan dasar ilmu silat Boe Tong yang menguasai
serangan dengan ketenangan. Siong Kee tahu bahwa
lawannya yang lebih tua dua puluh tahun lebih mempunyai
Lweekang yang lebih dalam. Akan tetapi, sebagai imbangan
ia berusia lebih muda mempunyai keuletan yang lebih besar
sehingga dalam suatu pertempuran yang lama, ia pasti akan
memperoleh kemenangan.
Tapi diluar dugaan, In Thian Ceng adalah seorang yang
luar biasa yang jarang terdapat di dalam dunia. Meskipun
sudah berusia lanjut, tenaganya tidak kalah dari orang
muda. Bagaikan ombak air pasang, gelombang demi
gelombang Lweekang menghantam Siong Kee.
Melihat pertempuran yang hebat itu, Boe Kie semula
girang karena ketemu dengan kakek dan pamannya,
berbalik jadi bingung. In Thian Ceng adalah gwa kong
(kakek luar) yang mempunyai hubungan darah dengan
dirinya. Thio Siong Kee adalah seorang paman yang
mencintainya seperti anak sendiri. Dulu waktu ia kena
pukulan Hiang beng Sin ciang, tanpa memperdulikan
bahaya, paman itu sudah turut berusaha untuk mengobati
dengan menggunakan Lweekang maka itu kalau sampai
1375
salah satu pihak ada yang luka atau binasa, ia akan merasa
menyesal tiada habisnya. Baru saja ia berpikir untuk
mencoba mendamaikan, tiba-tiba kedua lawan itu
membentak keras dan melompat mundur dengan serentak.
“In Locianpwee memiliki Sin-kang yang sangat tinggi,”
kata Siong Kee. “Aku merasa takluk.”
“Thio heng sendiri mempunyai Lweekang yang sangat
kuat dan aku tidak akan dapat menandingi,” kata si kakek.
“Thio heng adalah saudara seperguruan dari menantuku.
Apakah hari ini kalian bertekad untuk menguji
kepandaian?”
Mendengar mendiang ayahnya disebut, mata Boe Kie
berubah merah. Ia merasa sangat berduka dan berdoa
supaya pertempuran itu tidak dilangsungkan.
“Boanpwee mundur lebih jauh daripada Locianpwee dan
sudah kalah setengah jurus,” kata Siong Kee seraya
mengangkat kedua tangannya. Sesudah mengatur jalannya
pernafasan, sambil membungkuk ia mengundurkan diri.
Tiba tiba dari barisan Boe Tong pay melompat keluar
seorang pria yg membentak sambil menuding Ian Thian
Ceng. “In Loojiel. Jika kau tak menyebut Thio Ngoko tak
menjadi soal. Sesudah disebutkan, sakit sekali hatiku. Jie
Samko dan Thio ngoko kedua2nya celaka dalam tangan
Peh Bie Kauw. Jika sakit hati ini tak dibalas, Cuma2 saja
Boh Seng Kok menjadi anggota dari Boe Tong Cit Hiap.”
Seraya berkata begitu, ia menghunus pedang dan
memasang kuda2 dalam gerakan Bangak Tiaow Cong
(Laksdana gunung memberi hormat), serupa pukulan yg
biasa di keluarkan jika seorang murid Boe Tong berhadapan
dengan lawan yang tingkatanya lebih tinggi. Boa Cit hiap
sedang bergusar, tapi setiap gerak geriknya sesuai dengan
kedudukannya sebagai seorang tokoh terkemuka dalam
1376
rimba persilatan.
Si kakek kelihatan berduka. “Semenjak anakku
meninggal dunia loohoe sebenarnya tak ingin menggunakan
senjata lagi,” katanya dendean suara perlahan. “Akan tetapi
kalau aku tetap melayani dengan tangan kosong; aku
berlaku kurang hormat terhadap para pendekar Boe Tong.”
Ia menengok dan menggapai seorang murid Beng Kauw
yang memegang sebatang toya besi.
“Coba kupinjam toyamu,” katanya.
Dengan kedua tangan, murid itu menyerahkan
senjatanya kepada In Thian Ceng. Begitu menyambuti, si
kakek mengerahkan tenaganya.
“Tak !”, toya besi itu patah menjadi dua potong! Semua
orang mengeluarkan seruan tertahan. Mereka tidak
menduga, bahwa In Thian Ceng yg sudah begitu tua masih
mempunyai tenaga yan sedemikian hebat.
Boh Seng Kok tahu, bahwa lawannya pasti takkan
menyerang lebih dulu. Maka itu, tanpa sungkan2 lagi, ia
segera membuka serangan dengan pukulan Pekuiauw
Tiauw hong (Ratusan burung menghadap kepada burung
Hong). Dengan tegetarnya ujung pedang, seolah2 puluhan
batang pedang menyambar dengan beberapa pukulan ini
masih tetap merupakan kiam hoat kehormatan terhadap
seorang yg tertua.
Sambil menangkis dengan toya buntung yang dicekal
dalam tangan kirinya. In Thian Ceng berkata “Bocah Cit
hiap tak usah berlaku sungkan”. Setelah lewat gebrakan
pertama, pertempuran lantas saja berlangsung dengan
hebatnya.
Dengan senjata yg lebih berat, gerakan2 In Thian Ceng
kelihatan kaku dan perlahan. Akan tetapi orang2 yg
1377
berkepandaian tinggi mengetahui, bahwa si kakek melayani
lawanya dengan pukulan2 yg disertai Lweekang yg sangat
tinggi. Di lain pihak, Boh Seng Kok menyerang bagaikan
harimau edan dalam sekejap ia telah mengirim enampuluh
lebih serangan yg membinasakan.
Makin lama Boh Seng Kok menyerang makin cepat,
sehingga belakangan orang hanya bisa melihat sinar
berkelebatnya pedang dan tak bisa mengenali lagi gerakan
pukulan2nya. Koen-loen dan Go-bie adalah partai2 yg
terkenal dalam ilmu pedangnya. Tapi biarpun begitu,
orang2 kedua partai tersebut masih merasa sangat kagum
akan lihainya Boh Cit Hiap. Mereka harus mengakui,
bahwa tersohornya Boe tong Kiam hoat bukan nama
kosong belaka.
Akan tetapi, biapun sudah menyerang bagaikan topan,
pedang Boh Seng Kok masih tetap tak bisa menembus garis
pertahanan si kakek itu.
“Si tua telah merobohkan sorang tokoh Hwa san pay dan
tiga jago Siauw Lim,” pikir Boh Seng Kok. “Dia juga sudah
bertempur melawan Sio Ko dan aku adalah lawannya yang
kelima. Jika aku tidak memperoleh kemenangan, dimana
aku harus menaruh muka Boe Tong pay?” Memkir begitu,
seraya membentak keras, ia mengubah Kiam hoatnya.
Dengan mendadak, pedang yg kaku menjadi lemas, seperti
ikatan pinggang. Itulah Jiauw cie Jioe Kiam dari Boe Tong
pay itu yang semuanya memuat tujuh puluh dua jurus
(Jiauw cie Jioe Kiam – ilmu pedang lembek memutari jati
tangan.
Tanpa tertahan lagi, para penonton bersorak sorak.
Mau tak mau In Thian Ceng terpaksa mengubah cara
bersilatnya. Sekarang ia menggunakan ilmu ringan badan
dan melawan dengan kecepatan pula.
1378
Sekonyong2 Boh Seng Kok membentak dan pedangnya
menyambar dada lawan. Tapi sebelum menyentuh dada,
ujung pedang mendadak membengkok dan menyambar
pundak kanan si kakek. Dalam menggunakan Jiauw Jie
Jioe Kiam, orang harus mempunyai Lweekang yg sangat
tinggi untuk mengubah sifatnya pedang dari kaku menjadi
lemas. Dapat dimengerti, bahwa serangan pedang yg lemas
seperti ikatan pinggang sangat sukar ditangkis. Walaupun
berpengalaman, In Thian Ceng belum pernah bertemu
dengan kiam hoat yg seaneh itu.
Demikianlah, melihat sambaran pedang dipundaknya, ia
mengengos sebab sudah tidak keburu untuk menangkis lagi.
Mendadak terdengar suara “cring!” ujung pedang
membal dan menikam lengan kirinya!
Hampir berbareng dengan tikamana yg tepat itu, In
Thian Ceng mengulur tangan kanannya entah bagaimana
tangan itu mulur setengah kaki dan menyapu pergelangan
Boh Seng Kok! Sambaran kilat itu berhasil merampas
pedang Boh Cit hiap! Lebih celaka lagi, tangan kanan si
kakek sudah menempel di Kian tin hiat, di pundak Boh
Seng Kok.
Eng Jiauw Kim na chioe (cengkeraman ceker burung
elang) dari Peh bie Eng ong adalah suatu ilmu yang sangan
tersohor dalam rimba persilatan. Pada jaman itu, tidak ada
manusia yg dapat menandinginya.
Sekali ia mencengkram dengan menggunakan Lweekang,
tulang pundak Boh Cit hiap akan hancur seumur hidup dan
ia akan menjadi seorang yg bercacad.
Para pendekar Boe tong kaget tak kepalang. Tapi baru
saja ia melompat niat untuk memberi pertolongan si kakek
menghela napas dan berkata dengan suara duka:
1379
“Satu saja sudah lebih daripada cukup , perlu apa
terulang lagi?” Ia melepaskan cengkeramannya dan tangan
kanannya menarik pedang yg dirampas. Begitu pedang
tercabut, darah mengucur dari lengan kirinya.
Seraya mengawasi pedang itu, ia berkata pula. “Selama
puluhan tahun, loohoe belum pernah dikalahkan, Thio Sam
Hong. Kau benar2 lihai?”
Boh Seng Kok berdiri terpaku dan mengawasi dengan
mulut ternganga. Lewat beberapa saat, barulah ia bisa
membuka mulut. “Terima kasih atas budi loocian pwee
yang sudah menaruh belas kasihan.”
“Tanpa menjawab In Thian Ceng mengangsurkan
pedang yang telah dirampasnya. Tapi Beh Cit hiap merasa
malu dan segera mengundurkan diri tanpa menerima
senjatanya.
Boe Kie segera merobek tangan bajunya, tapi baru saja ia
mau maju untuk membalut luka kakek luarnya, dari barisan
Boe teng sudah keluar seorang pria yg jenggotnya, yang
berwarna hitam, melambai sampai di dada dan
mengenakan pakaian imam. Orang itu bukan lain dari pada
Seng Wan Kiauw. Kepala Boe tong Cit hiap.
“Permisikanlah aku membalut luka Loocianpwee.”
Katanya dengan suara manis. Tanpa menunggu jawaban, ia
mengeluarkan obat, melaburnya diluka sikakek dan
membalutnya dengan sapu tangan.
Melihat keangkeran dan keagungan Song Wan Kiauw,
orang2 He Bie Kauw, maupun Beng Kauw, tidak merasa
curiga ”Terima kasih,” kata In thian Ceng.
Boe Kie girang. “Mungkin karena merasa berterima
kasih, Song Soepeh sudah membalut luka Gwa kong,”
pikirnya. “Biarlah permusuhan bisa habis sampai disini.”
1380
Tapi diluar dugaan, sesudah selesai membalut, Song
Wan Kiauw mundur setindak dan berkata seraya mengibas
tangannya. “Aku yang rendah ingin minta pengajaran dari
Loocianpwee!”
Boe Kie terkesiap. Tanpa merasa, ia berteriak. “Tidak
adil! Melawan seorang tua dengan bergiliran adalah
perbuatan tak adil!”
Semua orang menengok dan mengawasi pemuda yang
berpakaian compang camping itu kecuali orang Goe Bie
Pay, Song Ceng Soe In Lie Heng. Swee Poet Tek dan
beberapa orang lain, tak ada yang tahu siapa adanya Boe
Kie.
“Tak salah perkataan sahabat kecil itu,” kata Song Wan
Kiauw. “Hari ini kita menunda permusuhan antara Boe
Tong dan pek bie kauw. Sekarang ini adalah saat yg
memutuskan dalam pergulatan antara enam partai dan
Beng Kauw. Maka itu, kami dari Boe tong pay menantang
pihak Beng Kauw.”
Dengan matanya yang sangat tajam, perlahan lahan In
Thian Ceng menyapu seluruh lapangan. Yo Siauw Wie It
Siauw dan lain2 pemimpin belum bisa bergerak. Jago2 Ngo
heng Kie sudah roboh semua kalau tidak binasa, luka berat,
puteranya sendiri, In Ya Ong, menggelatak dalam keadaan
pingsan. Dalam kalangan beng kauw hanyalah ia seorang
yang masih dapat menandingi Song Wan Kiauw. Tapi
sesudah melawan lim ajago, ia mulai merasa lelash dan
disamping itu, iapun sudah terluka.
Selagi si kakek mengasah otak untuk mencari jalan
keluar, seorang tua yang bertubuh kecil dari rombongan
Kong tong pay itu tiba2 berteriak. “Tenaga Mo Kauw telah
memusnah. Kalau sekarang kamu tidak mau menakluk,
mau tunggu sampai kapan lagi?”
1381
“Kong tie Taysoe! Marilah kita hancurkan sin wie
(tempat pemujaan) dari tigapuluh tiga Kauwcoe Mo
Kauw!”
Dalam gerakan membasmi Beng Kauw, Hong thio
(kepala gereja) Siauw Lim sie, yaitu Kong boeq Taysoe,
tidak turut serta, karena ia harus tetap menjaga kuil Siauw
Lim sie, karena ia harus tetap menjaga kuil Siauw Lim sie
di Siong san. Maka itu, murid2 Siauw Lim sie dipimpin
oleh Kong tie taysoe. Sebab Siauw lim sie mempunyai
kedudukan sangan tinggi dalam Rimba persilatan, maka
partai2 yg mengikat dalam gerakan ini dengan suara bulat
telah mengangkat Kong tie taysoe sebagai pemimpin.
Sebelum Kong tie menjawab, seorang dari Haw san pay
sudah mendahului. “Apa? Menakluk? Hari ini, tak satupun
dari kawanan mo kauw yang boleh dibiarkan hidup terus.
Kita harus membasmi sampai diakar2nya. Kalau masih ada
yang ketinggalan dikemudian hari dunia kang ouw bisa
dikacaukan lagi. Hei kawanan Mo kaow! Lebih baik kamu
menggorok leher sendiri, supaya tuan besarmu tak usah
berabe!”
Diam2 In Thian Ceng menggerakkan lwee kang. Ia
merasa lengan kirinya tertusuk pedang sampai di tulang dan
pada waktu menggerahkan tenaga dalam, ia merasa sangat
sakit. Ia tahu bahwa sebagai murid kepala Thio Sam Hong,
Song Wan Kiauw telah mendapat seluruh kepandaian guru
besar itu. Dalam keadaan segar, belum tentu ia bisa
memperoleh kemenangan. Apalagi sekarang setelah ia lelah
dan terluka.
Tapi sebab lain2 jago Beng Kauw sudah binasa atau
terluka berat, maka baginya, tidak ada pilihan lagi dari pada
hanya mengadau, jiwa. Ia tidak takut mati ia hanya merasa
sayang bahwa nama besarnya yang sduah dijaga seumur
hidup bakal segera menjadi hancur.
1382
“In Loocianpwee,” kata Song Wan Kiauw, “Antara Boe
tong pay dan peh bie kauw terdapat permusuhan yang
dalam bagaikan lautan. Tapi kami tidak ingin menggunakan
kesempatan pada waktu musuh sedang menghadapi
bahaya. Maka itu, persoalan ini dapa tditunda dan
diperhitungkan dikemudian hari. Tujuan dari enam partai
adalah untuk menyerang Beng Kauw, Peh Bie Kauw sudah
memisahkan diri dari Beng Kauw dan kenyataan ini sudah
diketahuik oleh semua orang. Perlu apa In Loocianpwee
turut menceburkan diri? Kuharap Loocianpwee suka
mengajak semua anggota Peh bie kauw dan turun dari
gunung ini.”
Semua orang tahu, bahawa karena utusan Jie Thay
Giam, Boe tong pay telah bermusuhan hebat dengan Peh
bie Kauw. Maka itu, perkataan Song Wan Kauw yg
membuka jalanan hidup bagi Peh bie kauw, sudah
membangkitkan rasa heran dan kagun dama hatinya semua
orang.
In Thian Ceng tertawa terbahak2.
“Song Tayhiap, banyak berterima kasikh untuk
maksudmu yg sangat baik,” katanya. “Tapi biar
bagaimanapun jg, loohoe adalah salah seorang dari
keempat Hoe Kauw Hoat Ong. Meskipun benar loohoe
sudah mendirikan agama lain, tapi jika Beng Kauw berada
dalam keadaan bahaya, loohoe pasti tidak bisa berpeluk
tangan diluar gelanggang. Hari ini loohoe rela
mengorbankan jiwa Song tayhiap, kau mulailah!” Seraya
berkata begitu, ia maju setindak dan memasung kuda2.
“Baiklah!” kata Song Wan Kiauw. Ia mengangkat
telapak tangan kirinya dan menempelkan tinju kanan pada
telapak kanan itu.
Itulah Ceng chioe sit, suatu gerakan yg memberi hormat
1383
kepada seorang yg tingkatannya lebih tinggi.
Boe tong pay adalah partai yg belum lama didirikan dan
dalam mengubah ilmu silat Boe tong, Thio Sam Hong
menggunakan cara2 tersendiri, lain dari pada yg lain. Maka
itu, gerakan Song Wan Kiauw tak dikenal In Thian Ceng.
Tapi melihat lawannya agak membungkuk, ia tahu, bahwa
Wan Kiauw memberi hormat, sehingga oleh karenanya, ia
berkata, “Song Taihap, jangan berlaku sungkan.”
Sambil berkata begitu, ia mengangkat kedua tangannya
kedada untuk membalas hormat.
Menurut kebiasaan, Wan Kiauw harus maju dan
menyerang. Tapi berbeda dengan kebiasaan Song Tayhiap,
mengirim pukulan tanpa bertindak maju. Pukulan itu
dikirim dari jarak setombak lebih.
In Thian Ceng terkejut. Apakah ilmu silat Boe tong
sudah begitu lihai, sehingga memiliki Sin kang Khek san
Pah goe? Tanyanya dalam hati. Buru2 ia mengerahkan
tenaga dalam dan mengibaskan tangan kanannya untuk
menangkis. (Khek san Pah goe – dengan terliang gunung
pemukul kerbau, semacam ilmu yg dapat merobohkan
lawan dari jarak jauh dengan “angin” pukulan yg disertai
lweekang tertinggi).
Tapi sekali lagi, ia kaget karena sampokannyat idak
terbentur dengan tenaga lawan. Dalam kagenya ia pun
merasa heran.
“Sudah lama aku mengagumi ilmu loocianpwe dan
guruku pun sering menyebutkan kepandaian loocianpwee
yang sangat tinggi,” kata Song Wan Kiauw. “Tapi sekarang
loocianpwee sudah bertanding dengan beberapa orang,
sedang boanpwee masih segar, sehingga kalau kita
mengadu kepandaian menurut cara yg biasa, pertanidngan
itu sangat tak adil. Sekarang begini saja, kita hanya
1384
mengadu jurus tak mengadu trenaga.” Seraya berkata
begitu, dari jarak setombak lebih ia menendang. Tendangan
itu cepat bagaikan kilat yg dikirim dari arah yang tak
diduga-duga, suka dielakan dan dalam pertempuran biasa,
pasti akan dapat merobohkan seorang ahli silat yg ternama.
“Sungguh indah tendangan itu!” memuji In Thian Ceng
seraya meninju. Dengan tinju itu yaitu siasat membela diri
dengan menyerang (the best defense is by offense ?!?!?) si
kakek berhasil memunahkan tendangan Wan Kiauw, yg
lantas saja membalas pukulan telapak tangan.
Demikianlah, dari jarak jauh, mereka mulai serang
menyerang.
Makin lama, silat mereka makin cepat. Walau pun
mereka bertempur dari jarak jauh, tetapi semua pukulan
tidak disertai tenaga dalam dan tidak menyentuh badan,
tapi mereka adalah ahli2 silat kelas utama, maka masing2
tahu kalah menangnya. Andaikata pukulan yg satu tidak
dapat dipunahkan pihak yg lain, maka pihak yang kalah
takkan bisa tidak mengakui akan kekalahannya. Bukan saja
dia, tapi lain2 ahli silat yg berkepandaian tingipun bisa
mengikut jalannya pertempuran luar biasa itu.
Mereka bertanding hebat sekali tidak kalah hebatnya
seperti dalam pertandingan sungguhan. Sesuai dengan azas
ilmu silat Boe Tong, Wan Kiauw menggunakan ilmu
“lembek” untuk menindih “kekerasan” lawan, sedang
Thian Ceng mengutamakan “kekerasan” untuk
menghancurkan “kelembekan” orang.
Waktu In Thian Ceng melawan Thio Siong Kee dan Boh
Seng Kok, Boe Kie tidak dapat memperhatikan dari semua
jurus2 mereka, karena dalam kebingungan dan berkuatir
akan keselamatan mereka. Tapi sekarang, karena
mengetahui bahwa pertandingan itu hanya memutuskan
1385
kalah dan menang dan tidak membahayakan jiwa, maka
dengan lega hati ia bisa memusatkan seantero perhatiannya
kepada jalan pertempuran.
Makin lama ia menonton, makin besar rasa tak
mengertinya. “Gwa-kong dan Song Toa soepeh adalah
ahli2 utama dalam Rimba persilatan, tapi mengapa ilmu
silat mereka begitu banyak cacadnya?”, tanyanya didalam
hati. “Bila lengan Gwa-kong kekiri setengah kaki, tinjunya
yg tadi pasti akan mampir tepat didada Toa soepeh. Bila
sambarang tangan Toasoepeh terlambat sedetik,
cengkeramannya kearah pundak Gwa Kong tentu berhasil.
Apakah mereka sengaja saling mengalah? Ditinjau dair
jalannya pertempuran, kelihatannya bukan begitu.”
Memang. Dalam pertandingan jarak jauh itu, baik In
Thian Ceng maupun Song Wao Kiauw tak saling
mengalah. Adalah tidak benar jika dikatakan, bahwa
kepandaian kedua jago itu banyak cacadnya. Sebab
musabab dari masuknya jalan pikiran tadi kedalam otak
Boe Kie yalah karena, sesudah memiliki Kio yang dna Kian
koe Tay lo ie Sin kang, dalam ilmu silat, pemuda itu sudah
lebih unggul setingkat daripada In Thian Ceng – Son Wan
Kiauw. Pukulan2 yg dapat dibayangkan dan dapat pula
dilakukan oleh Boe Kie, tidak akn dapat dilakukan oleh In
Thian Ceng – Song Wan Kiauw, maupun oleh jago2 lain.
Sebagai contoh, jika seekor burung yg terbang diangkasa
melihat caranya berkelahinya dua harimau, dia bisa
bertanya didalam hatinya. “Mengapa harimau itu tak mau
terbang menubruk musuhnya?”
“Apabila si harimau akan berbuat begitu, bukankah dia
akan mendapat kemenangan?” si burung tak tahu, bahwa
harimau tidak mampu terbang.
Karena belum cukup berpengalaman, sebab musabab itu
belum dapa dipikir Boe Kie.
1386
Sesudah bertanding lagi beberpa alama tiba2 Song Wan
Kiauw mengubah cara bersilatnya. Kedua tangannya seperti
menari nari dan gerak geraknnya lemas bagaikan kapas.
Itulah Bian Ciang (ilmu pukulan kapas) dari Boe Tong pay.
In Thiang Ceng membenak keras dan memperhebat
serangan2nya dalam ilmu silat keras untuk melawan
pukulan2 “lemek” dari lawannya.
Lewat beberapa saat, sekonyong2 telapak tangan kiri
Song Wan Kiauw menyambar, disusul dnegna pukulan
telapak tangan kana yg biarpun dikirim belakangan tiba
terlebih dahulu. Hampir berbareng, telapan tangan kirinya
miring dan menyusul pula dari belakang. Melihat seluruh
tubunya sudah ditutup dengan pukulan lawan, seraya
berteriak In Thian Ceng mengeluarkan kedua tinjunya.
Semua orang terkejut. Dua telapak tangan dan dua tinju
menempel satu sama lain di tengah udara!
Sesudah mengeluarkan seantero kepandaian dan sesudah
menbapai gebrakan yg memutuskan, kedua jago itu tidak
bisa berbuat lain drpd mengadu tenaga lawan.
Tiba2 Song Wan Kiauw bersenyum dan menarik pulang
kedua tangannya. “Ilmu silat Locianpwee tinggi luar biasa
dan boanpwee merasa takluk,” katanya seraya
membungkuk. In Thian Ceng pun segera menarik pulang
tinjunya dan berkata dengan suara manis. “Sekarang loohoe
mengakui, bahwa semenjak dahulu Ciang Hoat (Ilmu
pukulan dengan tangan kosong) dari Boe tong pay tiada
tandingannya di dalam dunia.”
Karena sudah berjanji untuk tidak bertanding dengan
menggunakan tenaga dalam, maka pertandingan itu tidak
dapat dilangsungkan lagi.
Dipihak Boe tong pay masih ada Jie Lian Cioe dan In
Lie Heng yg belum turun ke dalam gelanggang. Ketika itu
1387
muka In Thian Ceng berwarna merah dan diatas kepalanya
keluar uap dari hawa panas. Biarpun dalam pertandingan td
ia tdiak menggunakan tenaga dalam, tapi karena lawannya
terlalu kuat dan ia bersilat dengan menggunakan seantero
kepandaian, maka sekarang tenaganya sudah habis sama
sekali. Maka itu, jika turun kedalam gelanggang, Jie Lian
Cioe atau In Lie Heng dengan mudah bisa merobohkannya
dan mendapat nama besar sebagai jago yg telah
menjatuhkan Peh bie Eng ong. Kedua pendekar Boe tongitu
mengawasi dan kemudian menggeleng2kan kepalanya.
Mereka sungkan menggunakan kesempatan selagi lawan
habis tenaganya. Mereka yakin, bahwa mereka akan
menang, tapi kemenangan itu, bukan kemenangan yg boleh
dibanggakan.
Tapi kalau tokoh2 Boe tong memikir begitu, orang lain
tidak demikian. Dari barisan Khong tong pay mendadak
melompat keluar seorang tua yg bertubuh kate kecil. Ia
adalah orang yg menyarankan untuk membakar tempat
pemujaan para kauwcoe Beng-kauw.
Begitu berhadapan dengan In Thian Ceng ia berkata,
“Aku si orang she tong ingin bermain main sedikit dnegan
In Loojie.” Tantangan itu ia keluarkan dengan suara yg
sangat memandang rendah.
Peh Bie Eng ong melirik dan mengeluarkan suara
dihidung. “Dalam waktu biasa, Khong Teng Ngo loe tidak
masuk dalam perhitungan,” pikirnya. “Celaka sungguh!
Benar jg kata orang harimau yg kesasar ditanah datar akan
dihinakan oleh kawanan anjing. Jika roboh dalam tangan
Boe tong Cit hiap, aku rela. Terhadap Tong Boen Liang, tak
nanti aku mengalah.” Waktu ia merasa sekujur badannya
lemas dan keinginan satu2nya merebahkan diri di
pembaringan. Tapi mendengar tantangan Boen Liang
darahnya meluap dan alisnya yg putih beridir. Sambil
1388
mengepos sisa tenaganya yg penghabisan, ia membentak,
“Bocah! Kau mulailah!”
Tetua Khong Ting itu mengerti, bahwa sesungguhnya
keabisan tenaga, dalam beberapa jurus saja In Thian Ceng
akan roboh sendiri. Maka itu, tanpa mengeluarkan sepatah
kata lagi, ia segera melompat kebelakang musuhnya dan
mengirim tinju kepunggung Peh bie Eng ong. In Thian
Ceng mengengos dan menangkis, tp Tong Boen Liang
sudah melompat kesamping dengan gerakan yg sangat gesit.
Benar saja, baru beberapa gebrakan mata In Thian Ceng
gelap dan memuntahkan darah dari mulutnya. Badannya
tergoyang goyang tanpa tercegah lagi, ia jatuh duduk.
Tong Boen Liang girang, “In Thian Ceng! Hari ini kau
mampus dalam tanganku!” teriaknya seraya melompat
keatas.
Melihat Tong Boen Liang melompat tinggi dan dari atas
menghantam kebawah, Boe Kie terkesiap dan mengambil
keputusan untuk menolong kakeknya. Tapi sebelum ia
bergerak, In Thian Liang sudha mengangkat tangan
kanannya dalam suatu gerakan menyeramkan unutk
menyambut musuhnya. Tong Boen Liang sudah tak dapat
mengelakan sambutan itu.
“Krek!....krek!” kedua tangan jago Khong tong itu patah
karena pukulan Eng Jiauw Kim na ohioe. Sekali lagi
terdengar “krek-krek” dan tulang kedua betisnya pun turut
patah. Ia jatuh ambruk tanpa bisa bergerak lagi.
Semua orang mengawasi dengan mata membelak.
Mereka tak pernah menduga, bahwa sesudah terluka berat,
In Thian Ceng masih bisa berbuat begitu.
Dengan robohnya tetua mereka yg ketiga, orang2 Khong
tong tentu saja merasa malu. Karena Khong Tong Boen
Liang menggeletak didekat Peh bie Eng ong, tiada seorang
1389
pun yg berani maju menolong. Sesudah berselang beberapa
saat dari barisan Khong tong barulah keluar seorang tua
bongkok yg bertubuh tinggi besar. Sambil menendang
sebutir batu kearah In Thian Ceng ia membentak, "Peh Bie
Lonh Jie! Biarlah aku si orang she Cong membereskan
perhitungan lama denganmu.
Orang itu she Cong bernama Wie Hiap tetua kedua dari
Khong tong Ngoloo. Dengan menyebutkan "perhitungan
lama" dapatlah diketahui bahwa dahulu ia sudah pernah
dirobohkan oleh In Thian Ceng.
"Tak!" batu yg di tendang Cong Wie Hiap mampir tepat
didagu In Thian Ceng yg lantas saja mengucur darah.
Semua orang terkejut, terhitung Cong Wie Hiap sendiri, yg
sama sekali tidak menduga, bahwa batu itu bisa melukakan
musuhnya. Sekarang ia tahu, bahwa In Thian Ceng tidak
berdaya lagi, dan satu pukulan saja sudah cukup untuk
membinasakannya. Ia maju seraya mengangkat tangannya.
Tiba2 dari barisan Boe tong pay melompat keluar
seorang yg menghadang dihadapannya. Orang itu yg
berparas angker dan mengenakan jubah panjang yg terbuat
dari kain kasar, bukan lain daripada Boe tong Jie hiap Jie
Lian Cioe. Sambil menjura Jie hiap berkata, "Cong Heng In
Kauwcoe terluka berat, sehingga biarpun kau menang,
kemenangan itu bukan kemenangan gemilang. Dengan
partai kami, In Kauw Coe ia mempunyai perhitungan2 yg
belum dibereskan. Maka itu, siauwtee harap Cong heng
suka menyerahkannya kepada siauwtee."
Cong Wie Hiap mengeluarkan suara di hidung. "Terluka
berat?" ia menegas. "Huh-huh! Dia berlagak mampus.
Kalau tadi dia tidak berpura pura, Tong Sam Tee tentu
tidak sampai celaka. Jie Jie Hiap, kau mengatakan partaimu
memiliki perhitungan dengan dia. Akupun mempunyai
perhitungan dengan dia. Aku akan menyerahkan dia
1390
kepadamu, sesudah menghajarnya tiga kali..."
Jie Lian Cioe yg ingin menolong In Thiang Ceng, lantas
saja berkata. "Cit siang koen dari Cong Heng tersohor
dalam Rimba Persilatan. Dalam keadaan begini, mana bisa
In Kauw Coe menerima tiga pukulanmu?"
Paras muka jago Khong tong itu lantas saja berubah.
"Kalau begitu, begini saja, katanya dengan suara
mendongkol." Dia telah mematahkan kaki tangan Tong
Sam Tee. "Aku akan mematahkan jg kaki tangannya. Ini
yang dinamakan pembayaran tunai."
Jie Lian Cioe kelihatan bersangsi.
"Jie Jie hiap!" bentuk Cong Wie Hiap. "Sebelum
berangkat ke See heek, enam partai telah membuat
perserikatan dengan sumpah yg berat. Mengapa kau
sekarang ingin melindungi situa bangka dari Mo Kauw itu?"
Jie hiap menghela napas. "Baiklah, sekarang kau boleh
berbuat sesukamu," katanya. "Sesudah kembali di
Tionggoan, aku akan minta pengajaran dari Cit Siang Koen
mu."
Cong Wie Hiap kaget. Ia tak mengerti mengapa Jie Lian
Cioe coba menolong In Thian Ceng. Ia merasa jeri terhadap
Boe tong pay, tapi dihadapan banyak orang, ia tak mau
memperlihatkan kelemahannya. Seraya tertawa dingin, dia
berkata. "Didalam dunia, orang tidak boleh melampui
kepantasan. Biarpun Boe tong pay lebih kuat daripada
sekarang, ia tidak boleh berbuat sewenang wenang."
Perkataan itu sangat kejam, secara langsung menyeret
nama partai dan secara tidak langsung menyentuh sama
Thio Sam Hong sendiri. Song Wan Kiauw mendongkol.
"Jie tee!" seruanya. "Biarkan dia berbuat sesukanya!"
"Baiklah," jawab si adik. "Sungguh seorang gagah sejati!
1391
Sungguh seorang gagah sejati!"
Perkataan itu seperti juga mau memuji In Thian Ceng
dan mengejek Cong Wie Hiap. Tetapi karena tidak mau
bermusuhan dengan Boe Tong Pay, tetua Khong tong itu
berlagak tidak mengerti. Begitu lekas Jie Lian Cioe mundur,
ia segera maju mendekati korbannya.
Sementara itu, Kong tie Taysoe mengeluarkan perintah
dengan suara yang sangan lantang. "Aku minta Hwa san
pay dan Khong tong pay membinasakan sisa kawanan Mo
kauw yg berada dilapangan ini. Boe tong pay menggeledah
disebelah barat dan Go Bie Pay menggeledah disebelah
disebelah timur. Seorangpun tidak boleh terlolos. Koen
Loen Pay menyediakan bahan2 api untuk membakar serang
Mo-Kauw."
Sesudah membagi tugas kepada lima partai, ia
merangkap kedua tangannya, seraya berkata, "Aku minta
murid2 Siauw Lim Sie menyediakan alat2 sembahyang dan
membaca kitab suci, supaya para enghiong dari enam partai
dan para pengikut Mo Kauw yang sudah meninggal dunia,
bisa mendapat temapt yang lapang dialam baqa dan supaya
hutang piutang ini bisa berakhir sampai disini.
Selagi Kong tie mengeluarkan perintah, Cong Wie Hiap
menghentikan tindakannya dan turut mendengari. Sesaat
kemudian, ia maju lagi. Semua orang menahan napas.
Begitu lekas pukulan dikirim, In Thian Ceng akan binasa
dan usaha membasmi Mo Kauw turut selesai.
Pada detik menghadapi kemusnahan, kecuali yang
terluka berat dan tidak bisa bergerak lagi, semua anggauta
Beng kauw segera bersila dilantai dengan kedua tangan yg
sepuluh jarinya terpentang itu merupakan simbol dari api yg
berkobar2. Sambil memeramkan mata, mereka mengikuti
yo Siauw mendia menurut cara Beng Kauw
1392
"Membakar ragaku,
Api nan suci,
Hidup, apa senangnya,
Mati, apa susahnya?
Untuk kebaikan menyingkirkan kejahatan,
Guna kegemilangan Beng Kauw,
Kesenangan dan kedukaan,
Semua berpulang kedalam tanah,
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia dalam dunia,
Banyak yang menderita!"
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil