Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 27 April 2017

Cersil Online 22 Toliongto

Cersil Online 22 Toliongto Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Online 22 Toliongto
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Online 22 Toliongto
Cia Soen tersenyum. “Cia Soen bukan anak kemarin
dulu!” teriaknya. “Begitu lekas kami lepaskan semua
tawanan, apakah meriam meriammu tidak lantas
memuntahkan peluru?”
“Kurang ajar!” bentak orang itu dengan gusar. “Kalau
kau tidak melepaskan mereka, apakah meriam kami tidak
bisa melepaskan tembakan?”
“Mana Seng li Tay Kie?” tanya Cia Soen. “Lepaskan dia
lebih dahulu! Sesudah kamu melepaskan dia, kita boleh
bicara lagi.”
Orang itu segera berunding dengan orang yang berdiri di
sekitarnya. Beberapa saat kemudian, ia berteriak pula. “Tay
Kie membuat pelanggaran hebat dan ia akan mendapat
hukuman dibakar hidup-hidup. Urusan ini urusan Cong
kauw dan tidak bersangkut paut dengan Beng kauw di
daerah Tiong goan.”
Sesudah berpikir sejenak Cia Soen berkata pula, “Aku
ingin mengajukan tiga syarat. Begitu lekas kalian
meluluskan, kami akan segera memulangkan semua orang.”
“Syarat apa?”
“Yang pertama, keduabelas Po soe ong harus berjanji,
bahwa mulai kini Cong kauw dan Tiong goan harus saling
mengindahkan dan tak boleh mencampuri urusan masing2043
masing.”
“Hmm!... Yang kedua?”
“Lepaskan Tay Kie dan antarkan kemari. Bebaskan
kedosaannya dan kalian harus berjanji bahwa persoalan
takkan ditimbulkan lagi.”
“Tidak bisa! Ini tidak bisa! Yang ketiga?”
“Sebelum kalian mengiyakan syarat kedua, perlu apa aku
memberitahukan yang ketiga?”
“Syarat ketiga sangat mudah. Kalian mengirim sebuah
perahu kecil yang harus mengikuti di belakang kapal ini.
Sesudah kami berada dalam jarak sedikitnya lima puluh li
dan kami mendapat kenyataan, bahwa kalian tidak
mengejar, kami akan turunkan semua tawanan ke perahu
itu yang boleh segera kembali kepada kalian.”
Orang yang bicara dengan Cia Soen adalah Kie beng Po
soe ong, “raja” kedua belas. Mendengar syarat ketiga ia
gusar tak kepalang. Sambil membentak keras, bersama Cie
sim Po soe ong, ia melompat ke kapal Boe Kie.
Boe Kie segera menyambut. Dengan telapak tangannya
ia mendorong dada Cie sim ong. Sebaliknya dari
menangkis, “raja” itu balas menyerang. Tangan kirinya
menyambar dan coba mencengkeram kepala Boe Kie.
Hampir berbareng, Kie beng ong menerjang dan
menyambut telapak tangan Boe Kie yang sudah hampir
menyentuh dada Cie sim ong. Untuk menghindarkan
cengkeraman Cie sim ong, Boe Kie sendiri lantas melompat
ke samping.
Boe Kie kaget. Ilmu silat kedua lawan itu merupakan
kerja sama yang sangat erat, sehingga ia seperti menghadapi
seorang lawan yang mempunyai empat tangan dan empat
kaki. Kepandaian mereka berdua agaknya masih kalah
2044
dengan Sam soe, tapi gerak geriknya sangat aneh. Terang2
ilmu silat mereka bersamaan dengan Kian koen Tay lo ie,
tapi dalam menggunakannya mereka mengeluarkan
perubahan2 luar biasa yang tak dapat diraba. Sesudah
bertempur puluhan jurus, barulah Boe Kie bisa berada di
atas angin.
Selagi Boe Kie mengasah otak untuk mengalahkan kedua
lawannya, mendadak Sam soe membentak keras dan
melompat pula mereka ke kapal Boe Kie. Sesudah mereka
melakukan Peng seng ong tanpa sengaja, mereka merasa
sangat malu dan mereka sekarang mengambil keputusan
untuk merampas pulang “raja” yang keenam itu.
Cepat cepat Cia Soen mengangkat tubuh Peng seng ong
dan memutarnya dalam bentuk lingkaran. Sam soe tentu
saja tidak berani sembarangan menyerang. Mereka hanya
bisa berlari lari mengikuti lingkaran itu untuk mencari
lowongan guna menyerang.
Beberapa saat kemudian, mendadak terdengar teriakan
kesakitan dari Kie beng ong yang roboh tertendang Boe
Kie. Baru saja Boe Kie membungkuk untuk menawannya,
Lioe in soe dan Hwie goat soe sudah menyerang dengan
berbareng, sedang Biauw hong soe mendukung raja itu yang
lalu dibawa balik ke kapal sendiri. Sekarang Cie sim ong
mengepung Boe Kie bersama Lioe in see dan Hwie goat
soe. Kerja sama mereka tidak seerat kerja sama Sam soe
dan dengan kekuatiran mereka akan keselamatan Kie beng
ong, maka sesudah bertempur beberapa jurus lagi, mereka
segera mengundurkan diri.
Sesudah menenteramkan semangatnya, Boe Kie berkata.
“Orang orang itu seperti juga pernah mempelajari Kian
Koen tay lo ie. Tapi heran sekali, pukulan-pukulannya
berbeda dari ilmu itu, mereka sungguh sukar dilawan.”
2045
“Pelajaran Kian koen Tay lo ie sebenarnya bersumber
dari Persia,” kata Cia Soen. “Tapi semenjak beberapa ratus
tahun yang lalu, sesudah Beng kauw tersiar ke Tionggoan,
di Persia sendiri ilmu itu bahkan tidak dikenal lagi. Menurut
pendapatku, apa yang telah dipelajari mereka hanyalah
kulit dari Kian koen tay lo ie. Maka itulah mereka telah
mengirim Tay Kie ke Kong beng teng untuk mencuri kitab
ilmu silat tersebut.”
Boe Kie menggelengkan kepala. “Anak berpendapat
lain,” katanya. “Memang benar dasar ilmu silat mereka
masih sangat cetek dan benar mereka hanya memiliki kulit
dari ilmu Kian koen tay lo ie. Tapi dalam
menggunakannya, mereka dapat menggunakan secara luar
biasa sekali. Di dalam ini pasti terselip satu sebab yang
masih belum diketahui kita. Hm!... dalam Kian koen tay lo
ie tingkat ketujuh ada beberapa bagian yang belum dapat
dipelajari oleh… Apa.. apa ini sebab musababnya?...
Sehabis berkata begitu, ia bersila dan memejamkan
matanya. Cia Soen dan yang lain lain menunggu tanpa
membuka suara. Mereka tidak berani mengganggu jalan
pikiran pemuda itu.
Sekonyong konyong di sebelah kejauhan terdengar suara
terompet yang berulang ulang. Sebuah kapal besar
mendatangi dengan perlahan. Di atas kapal kapal itu
terpancang dua belas bendera dengan sulaman benang
emas, sedang di atas geladak teratur duabelas kursi dengan
alas kulit harimau. Antara keduabelas kursi itu, sembilan
terisi dan tiga kosong. Begitu kapal berhenti, Cie sim ong
dan Kie beng ong lantas melompat naik dan menduduki
dua kursi yang paling akhir. Dengan demikian, hanya
sebuah kursi keenam yang masih kosong.
Melihat begitu, Tio Beng tersadar. “Pakaian tawanan
kita bersamaan dengan pakaian sebelas orang itu,” katanya.
2046
“Apa ia bukan salah seorang dari keduabelas Po soe ong!”
“Kurasa memang begitu,” kata Boe Kie. “Tawanan kita
berkedudukan sangat tinggi dan kupercaya sedikitnya untuk
sementara waktu, mereka tak akan berani menyerang….”
Pembicaraannya terputus dengan mendadak, karena ia tiba
tiba melihat Sam soe menghampiri sebelas “raja” itu
dengan membawa seorang tangkapan.
Boe Kie dan yang lain terkejut. Mereka mengenali bahwa
tangkapan itu, seorang nenek bongkok yang memegang
tongkat, adalah Kim hoa Po po.
Di lain saat, Toe hwie Po soe ong yang berduduk di kursi
kedua mengajukan beberapa pertanyaan dalam bahasa
Persia dengan suara keras.
Si nenek miringkan kepalanya. “Apa yang kau katakan?”
tanyanya. “Aku tidak mengerti.”
Tie hwie ong tertawa dingin. Ia bangun berdiri dan
tangannya menyambar ke kepala si nenek. Di lain saat, ia
sudah memegang segumpal rambut palsu, sedang di atas
kepala si nenek terlihat rambut yang berwarna hitam dan
mengkilat. Kim hoa Po po miringkan kepalanya, tapi
tangan kanan Tie hwie ong sudah mampir di mukanya dan
membeset selapis topeng. Boe Kie yang bermata tajam
sudah melihat tegas, bahwa topeng yang terbeset itu adalah
topeng muka Kim hoa Po po. Hampir berbareng Kim hoa
Po po menyalin rupa. Ia sekarang berubah menjadi seorang
wanita yang sangat cantik. Jantung Boe Kie memukul
keras. “Ah!... Mukanya sungguh mirip sekali dengan muka
Siauw Ciauw,” katanya di dalam hati. Mendadak ia
mendengar suara Tio Beng yang berkata, “Sama betul
dengan Siauw Ciauw!”
Sesudah topengnya dilucuti, seraya tertawa dingin si
nenek melemparkan tongkatnya. Tie hwie ong lalu
2047
mengajukan pertanyaan pertanyaan dalam bahasa itu juga.
Selama tanya jawab itu berlangsung, paras muka kesebelas
“Ong” kelihatannya sangat menyeramkan.
Boe Kie dan yang lain tentu saja tidak mengerti
pembicaraan itu.
“Siauw Ciauw Kouwnio, apa yang mereka bicarakan?”
tanya Tio Beng.
Air mata Siauw Ciauw lantas saja mengucur, “kau
sangat pintar,” katanya. “Kau tahu segala apa, tapi
mengapa kau tidak mencegah Loo ya coe berkata begitu?”
“Mencegah Loo ya coe berkata apa apa?” tanya Tio
Beng dengan rasa heran.
“Semula mereka tak tahu siapa adanya Kim hoa Po po”,
menerangkan Siauw Ciauw. “Belakangan mereka tahu
bahwa Kim hoa Po po ialah Cie san Liong ong. Tapi
mereka tak pernah menduga bahwa Cie san Liong ong
adalah Tay Kie. Po po telah menyamar dalam waktu lama
dengan pengharapan bisa mengelabui mereka. Di luar
dugaan tanpa sengaja Loo ya coe telah membuka rahasia
dengan mengajukan syarat supaya mereka melepaskan Seng
lie Tay Kie. Maksud Loo ya coe memang mulia sekali. Tapi
dengan begitu Tie hwie Po soe ong jadi mendusin. Loo ya
coe yang tidak bisa melihat tentu saja tak tahu lihaynya
penyamaran Po po yang dapat mengelabui siapapun jua.
Tio Kauwnio, kau telah lihat terang terang dengan matamu.
Apa kau tidak bisa mikir sampai disitu?”
Inilah tuduhan yang paling tidak enak bagi Tio Beng,
sebab nona itu memang tidak punya niatan kurang baik.
Sesudah mendengar cerita Cia Soen, ia tentu saja tahu
bahwa Kim hoa Po po adalah Seng lie Tay Kie. Tapi ia
sungguh2 tidak pernah memikir bahwa penyamarannya
Tay Kie belum bisa ditembus oleh orang Persia. Orang2048
orang Cong kauw itu masih tak tahu, bahwa si nenek muka
jelek sebenarnya Tay Kie.
Bibir Tio Beng sudah bergerak untuk membalas dengan
kata2 yang pedas, tapi melihat kedukaan Siauw Ciauw ia
mengurungkan niatnya. Ia menduga pasti, bahwa di antara
si nenek dan gadis cilik terdapat hubugan yang sangat erat
dan ia merasa tidak tega untuk menyerang. “Siauw Ciauw
moay moay,” katanya, “jika aku mempunyai niat untuk
mencelakai Kim hoa Po po biarlah aku mati dalam jalan
yang tidak benar.”
Cia Soen sendiri sangat menyesal. Ia tak mengatakan
sesuatu apa, akan tetapi dalam hatinya ia telah mengambil
keputusan untuk menolong Tay Kie, jika perlu dengan
mengorbankan jiwa sendiri.
Sementara itu sambil menangis Siauw Ciauw berkata,
“Mereka mengutuki Po po menikah dan mengkhianati
agama, Po po harus dihukum bakar hidup hidupan.”
“Siauw Ciauw, jangan bingung,” bujuk Boe Kie. “Begitu
ada kesempatan, aku akan segera menerjang untuk
menolong Po po.”
Sebab sudah biasa menggunakan panggilan Po po, maka
biarpun sekarang Cie san Liong ong sudah tak memakai
topeng ia masih tetap menggunakan istilah itu. Walaupun
sudah berusia setengah tua, dengan mukanya yang asli,
kecantikan nyonya itu tak kalah dari Tio Beng dan Cie Jiak.
Awet muda dan kelihatannya seperti kakak Siauw Ciauw.
“Tak mungkin!” kata Siauw Ciauw dengan suara parau.
“Kau takkan bisa melawan sebelas po toe ong dan Sam soe.
Kalau kau menerjang, kau seperti juga mengantarkan jiwa.
Sekarang mereka sedang berunding untuk merebut pulang
Peng seng ong.”
2049
Hmm!... Andaikata Peng seng ong bisa pulang dengan
selamat, mukanya yang tercetak beberapa huruf sudah tak
keruan macam,” kata Tio Beng dengan suara mendongkol.
“Huruf apa?” tanya Boe Kie.
Jawab nona Tio, “Seng hwee leng yang memukul
pipinya… agh!...” Tiba2 ia ingat sesuatu. “Siauw Ciauw!
Apa kau mengenal bahasa Persia?”
“Kenal”
“Coba lihat! Huruf apa yang tercetak di pipi Peng teng
ong?”
Siauw Ciauw segera memeriksa pipi “raja” itu yang
bengkak. Ia melihat tiga baris huruf Persia yang tercetak di
daging Peng teng ong. Ternyata pada setiap Seng hwee leng
terdapat ukiran huruf2 Persia dan pukulan itu sudah
mencetak huruf2 tersebut. Tapi sebab hanya sebagian
senjata yang mampir di pipi, maka tak semua huruf tercetak
di pipi Peng teng ong.
Sebagaimana diketahui, Siauw Ciauw pernah mengikut
Boe Kie masuk di jalan rahasia Kong Beng teng dan ia
pernah menghafal Kian koen Tay lo ie. Maka itu meskipun
tak mengerti dan tak pernah melatih diri, ia tak melupakan
pelajaran di kulit kambing itu. Begitu membaca ia
berseru,”Ah! Inilah pelajaran Kian koen Tay lo ie.”
“Pelajaran Kian koen tay lo ie?” menegas
Si nona tidak lantas menyahut. Sejenak kemudian
barulah ia berkata. “Bukan! Bukan pelajaran Kian koen tay
lo ie. Sekelebatan aku menduga begitu, tapi ternyata bukan.
Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa, bunyinya
seperti berikut, “Menyambut kiri berarti depan menyambut
kanan berarti belakang, tiga kosong tujuh berisi, ada di
dalam tidak ada… langit persegi bumi bulat… Yang
2050
disebelah bawah tak bisa dibaca lagi.”
Mendengar itu seperti juga merasa, bahwa diantara
gumpalan awan awan hitam mendadak berkelebat sinar
kilat, tapi sesudah berkelebatnya sinar itu, keadaan kembali
menjadi gelap. Akan tetapi biar bagaimanapun jua sinar itu
memberi harapan kepadanya. Bagaikan orang linglung, ia
menghafal “… menyambut kiri berarti depan, menyambut
kanan berarti belakang.” Menggunakan seantero
kekuatannya otak dan kecerdasannya, ia berusaha untuk
mempersatukan beberapa baris kauw koat (teori ilmu silat)
itu dengan pelajaran Kiam koen tay lo ie yang sudah
dimilikinya. Selang beberapa saat, ia merasa seperti sudah
berhasil, tapi belum berhasil. Ia merasa seperti sudah
menembus halimun tapi kembali menemui rintangan.
Mendadak Siauw Ciauw berteriak, “Thio Kongcoe,
awas! Mereka sudah mengeluarkan perintah untuk
menyerang. Sam soe akan menyerang kau sedangkan Kin
sioe jin Jiok dan Kong tek ong akan coba merebut Peng
teng ong.”
Mendengar isyarat si nona, Cia Soen segera memeluk
Peng teng ong dan melontarkan To liong to ke arah Boe
Kie. “Babat saja dengan To liong to!” katanya.
Tio Beng pun segera menyerahkan Ie thian kiam kepada
Cie Jiak. Mereka sekarang berada dalam satu perahu, nasib
setiap orang berarti nasib seorang. Boe Kie menyambut
golok mustika itu dan menyisipkan di pinggangnya. Tapi
mulutnya terus berkata kata… “tiga kosong tujuh berisi ada
di dalam tidak ada…”
“Anak tolol!” bentak Tio Beng. “Sekarang bukan waktu
belajar silat. Kau harus bersiap!”
Hampir berbareng Kim sioe Jien jiok dan Kong tek ong
melompat dan menyerang Cia Soen. Sebab kuatir melukai
2051
Peng teng ong, maka dalam usaha merebut “raja” itu
terpaksa merubah serangannya dengan tangan kosong.
Dengan mencekal Ie thian kiam Cie Jiak mendampingi Cia
Soen. Pada detik detik berbahaya, si nona menikam Peng
teng ong sehingga ketiga “raja” itu terpaksa merubah
serangannya untuk meluputkan Peng teng ong dari
tikaman.
Di lain pihak Boe Kie sudah bertempur melawan Sam
soe. Sesudah mendapat pengalaman dalam beberapa
pertempuran mereka berempat tidak berani berlaku
sembrono dan berkelahi dengan hati-hati. Sesudah lewat
beberapa jurus tiba-tiba Hwie goat ong memukul dengan
sebuah “Leng”. Menurut peraturan ilmu silat, senjata itu
akan mampir di pundak kiri Boe Kie. Tapi di luar dugaan,
waktu menyambar di tengah udara Seng hwee leng tersebut
mendadak merubah haluan secara luar biasa dan
menghantam belakang leher Boe Kie.
Boe Kie merasa kesakitan hebat, matanya berkunang
kunang. Tapi karena pukulan itu, otaknya tiba-tiba menjadi
terang. “Menyambut kiri berarti belakang…” pikirnya.
Sesaat kemudian, tanpa terasa ia berteriak. “Sekarang aku
mengerti! Benar!.... begitu…”
Ternyata ilmu silat yang dimiliki Sam soe hanya
berdasarkan Kian koen Tay lo ie tingkat pertama. Tapi pada
Seng hwee leng terdapat pelajaran yang luar biasa mengenai
cara menggunakannya. Sekarang ia sudah bisa
memecahkan teka teki empat baris kauw koat itu dan hanya
sebaris langit persegi bumi bulat yang belum dapat
ditembusnya. Ia sekarang yakin bahwa untuk bisa
menyelami seluruh ilmu silat Cong kauw ia harus
mempelajari seantero Kouw koat yang ada di Seng hwee
leng.
Tanpa membuang2 waktu lagi, sambil membentak keras
2052
ia menyerang, kedua tangannya menyambar bagaikan kilat.
Dengan sekali jurus dengan menggunakan kouwkoat “tiga
kosong tujuh berisi” ia berhasil merampas dua ‘leng’ dari
tangan Hwie goat soe. Di lain saat dengan “ada di dalam
tidak ada” ia merebut dua ‘leng’ lagi dari tangan Lioe in
soe.
Kedua utusan itu terbang semangatnya. Mereka berdiri
terpaku. Sesudah memasukkan keempat ‘leng’ di dalam
saku Boe Kie menyerang pula. Dengan kedua tangan ia
mencengkeram belakang leher kedua pecundang itu yang
lalu dilempar balik ke kapal mereka. Orang2 Persia kaget
tak kepalang. Mereka jadi takut dan berteriak teriak.
Biauw hong soe ketakutan. Buru buru ia memutar dan
coba melarikan diri. Tapi gerakan Boe Kie cepat luar biasa.
Dengan sekali sambar, ia menangkap kaki kiri Biauw hong
soe yang lalu ditarik ke belakang. Sesudah merampas kedua
‘leng’ ia mengangkat tubuh utusan itu dan menghantamnya
ke kepala Jin jiok ong. Ketiga “raja” terkesiap, mereka buru
buru lari balik ke kapal sendiri. Boe Kie lalu menotok jalan
darah Biauw hong soe dan melemparkannya di geladak
kapal.
Kemenangan itu bukan saja menggirangkan Boe Kie,
tapi juga kawan kawannya. Mereka menanya cara
bagaimana pemuda itu bisa merampas enam Seng hwee
leng dengan begitu mudahnya.
Boe Kie tertawa, “Kalau bukan secara kebetulan pipi
orang itu terpukul Seng hwee leng tak nanti aku bisa
menangkap rahasia ilmu silat mereka,” katanya. Ia
mengeluarkan enam biji ‘leng’ dan menyerahkannya kepada
Siauw Ciauw. “Siauw Ciauw,” katanya, “lekas terjemahkan
huruf-huruf di enam Seng hwee leng ini!”
Semua orang mengawasi keenam ‘leng’ itu yang terbuat
2053
dari semacam bahan yang sangat aneh – bukan emas dan
bukan giok – tapi keras luar biasa. ‘Leng’ itu panjangnya
berbeda satu sama lain, kelihatannya terang, di dalamnya
terdapat sinar api yang bergerak gerak dan warnanya
berubah-ubah, sedang setiap ‘leng’ terdapat ukiran huruf
huruf Persia.
Boe Kie mengerti bahwa jika ia ingin meloloskan diri
dari bahaya, ia harus memahami ilmu silat Cong kauw.
Maka itu, ia lantas saja berkata, “Cioe kauwnio, tandalkan
Ie thian kiam di leher Peng teng ong. Giehoe, tandalkan To
liong to di leher Biauw hong soe. Kita harus
memperpanjang waktu sedapat mungkin.” Cia soen dan Cie
jiak lantas saja mengangguk.
Siauw Ciauw segera memilih ‘leng’ terpendek yang
hurufnya paling sedikit lalu menterjemahkannya. Sesudah
mendengar beberapa kali Boe Kie belum juga menangkap
artinya, sehingga ia mulai merasa bingung.
“Siauw Ciauw, coba kau terjemahkan huruf2 dari Seng
hwee leng yang telah memukul Peng teng ong,” kata Tio
Beng.
Siauw Ciauw manggutkan kepalanya. Buru2 ia mencari
‘leng’ yang dimaksudkan. Ia mendapat kenyataan bahwa
yang memukul Peng teng ong adalah Seng hwee leng yang
panjangnya tujuh nomor dua. Ia lalu membaca dan Boe Kie
dapat menangkap tujuh delapan bagian dari artinya.
Sesudah itu ia membaca huruf huruf dari Seng hwee leng
nomor satu yang paling panjang. Baru saja mendengar
perkataan Boe Kie sudah berteriak dengan suara girang.
“Bagus! Siauw Ciauw antara enam Seng hwee leng itu
makin panjang makin mudah dimengerti. Yang dibaca
olehmu ialah kouwkoat dari pelajaran pertama.”
Dahulu Seng hwee leng dibuat atas permintaan si orang
2054
tua dari pegunungan dan berisi intisari dari ilmu silat Hasan
Ben Sabbah. Keenam ‘leng’ itu mengikuti agama Beng
kauw memasuki Tiongkok dan bermaksud untuk menjadi
tanda kekuasaan dari Kauwcoe daerah Tionggoan. Lama
lama di antara penganut Beng kauw wilayah Tionggoan
tidak terdapat lagi orang yang paham bahasa Persia. Pada
beberapa puluh tahun kemudian, keenam Seng hwee leng
dicuri orang Kay pang dan belakangan jatuh ke tangan
saudagar Persia, sehingga akhirnya diambil pulang oleh
Cong kauw di Persia. Selama puluhan tahun ilmu silat para
pemimpin Cong kauw mendapat kemajuan pesat. Akan
tetapi karena ilmu yang tertera pada Seng hwee leng
terlampau sukar dipelajari, maka, bahkan Tay Seng Po soe
ong yang berkepandaian paling tinggi hanya bisa
menangkap tiga atau empat dari seluruh isinya.
Pada hakekatnya, pelajaran Kian koen Tay lo ie adalah
ilmu silat pelindung agama dari Beng kauw di Persia. Tapi
ilmu silat itu tidak bisa dimengerti oleh sembarang orang.
Selain begitu, menurut ketetapan, jabatan Kauwcoe dari
Beng kauw pusat (Cong kauw) harus dipegang oleh seorang
gadis dan selama ratusan tahun, kursi Kauwcoe diduduki
oleh beberapa wanita yang berkepandaian cetek. Itulah
sebabnya mengapa di Persia sendiri, makin lama Kian koen
tay lo ie makin jarang dikenal orang. Di lain pihak, Beng
kauw di daerah Tionggoan masih menyimpan pelajaran
Kian koen Tay lo ie yang lengkap.
Ilmu silat Cong kauw yang sangat aneh itu merupakan
campuran dari sebagian Kian koen tay lo ie dan sebagian
pelajaran Seng hwee leng. Para pemimpin Cong kauw insaf,
bahwa jika kitab Kian koen tay lo ie bisa diambil pulang
dan ditambah dengan kouwkoat Seng hwee leng, maka
ilmu silat Beng kauw akan bisa menggetarkan dunia. Inilah
maksud terutama pengiriman Tay Kie ke Kong beng teng.
2055
Di luar semua dugaan, apa yang diidam-idamkan dan
diusahakan oleh Cong kauw telah didapat dengan mudah
oleh Boe Kie. Boe Kie telah mendapatkan ilmu itu secara
kebetulan saja. Tapi andaikata Cong kauw berhasil
mendapatkan kembali kitab Kian koen Tay lo ie, tanpa
mempunyai Kioe yang sin kang sebagai dasar, belum tentu
ada orang yang bisa menarik kefaedahannya. Dengan
demikian dapatlah dilihat bahwa di dalam dunia ini, segala
apa tergantung pada nasib dan manusia tidak akan bisa
mencapai tujuan secara paksa.
Tanpa memperdulikan suatu apa lagi, Boe Kie bersila di
kepala kapal dan Siauw Ciauw membisiki huruf2 yang
terukir di Seng hwee leng. Ilmu silat yang tertera di enam
‘leng’ itu sebenarnya sangat sulit. Tapi kata orang mengerti
satu ilmu, mengerti berlaksa ilmu. Manakala seseorang
sudah mempelajari ilmu sampai di puncaknya
kesempurnaan, maka dengan mudah ia bisa belajar lain2
ilmu, sebab, pada hakekatnya, semua ilmu menuju ke satu
jurusan yang sama. Boe Kie telah menyelami Kioe yang sin
kang, Kian koen tay lo ie dan Thay kek koen. Ketiga ilmu
itu adalah ilmu ilmu silat yang paling tinggi, yang masing
masing berasal dari India, Persia dan Tiongkok. Biarpun
sulit, ilmu di Seng hwee leng belum bisa menyamai
tingginya ketiga ilmu tersebut. Maka itulah, sesudah Siauw
Ciauw selesai menterjemahkannya, Boe Kie lantas
menghafal tujuh delapan bagian dan mengerti lima enam
bagian. Dalam sekejap ia telah berhasil memahami pukulan
pukulan aneh yang dikeluarkan oleh beberapa Po soe ong
dan ketiga utusan Cong kauw.
Boe Kie terus mengasah otak tanpa memperdulikan
segala perkembangan. Tapi Tio Beng dan Cioe Cie Jiak
yang terus memperhatikan persiapan pihak lawan, makin
lama jadi makin bingung. Mereka melihat Tay Kie diborgol
2056
kaki tangannya, melihat kesebelas Po soe ong, berdamai
dengan bisik bisik dan menukar jubah mereka dengan
pakaian perang yang lemas dan melihat sebelas orang
menyerahkan sebelas senjata aneh kepada “raja raja” itu.
Mereka melihat gendewa gendewa dan anak panahnya
ditunjukkan kepada Boe Kie dan melihat pula puluhan
orang Persia yang bersenjata kapak dan pahat menerjun ke
air, siap sedia untuk melubangi kapal yang ditumpangi
mereka.
Ketika itu fajar sudah menyingsing. Matahari sudah
mengintip di sebelah timur dan memancarkan sinar yang
gilang gemilang.
Mendadak Tay seng Po soe ong membentak dan
bentakan itu diiringi dengan suara tambur dan terompet
riuh rendah.
Boe Kie kaget. Ia mendongak dan melihat sebelas Po soe
ong yang mengenakan pakaian berwarna keemas emasan
dan memegan senjata, sudah melompat ke kapalnya. Tapi,
setelah berada di kepala kapal, “raja” itu tidak berani lantas
menyerang sebab Cia Soen dan Cie Jiak mengandalkan
senjatanya di leher Peng teng ong dan Biauw hong goe.
Mereka hanya mengawasi dengan mata melotot dan paras
muka gusar.
Selang beberapa saat, barulah Tie hwie ong berkata
dengan bahasa Tionghoa, “Lekas pulangkan orang orang
kami! Kami akan mengampuni jiwa kamu. Di mata kami,
beberapa orang itu bagaikan babi dan anjing. Mereka tidak
berharga sedikitpun jua. Perlu apa kamu mengandalkan
senjata di leher mereka? Jika kamu mempunyai nyali,
bunuhlah mereka! Di dalam Cong kauw terdapat berlaksa
orang yang sederajat dengan mereka. Kebinasaan mereka
tiada artinya.”
2057
“Jangan kau coba-coba menipu kami,” kata Tio Beng
dengan suara menyindir. “Kami tahu bahwa mereka adalah
Peng teng Po soe ong dan Biauw hong soe yang
mempunyai kedudukan tinggi dalam kalanganmu. Kau
mengatakan mereka sederajat dengan babi dan anjing?
Bagus!”
Alis Tie hwie ong berkerut. “Di dalam Seng kauw
(agama kami yang suci) terdapat tiga ratus enampuluh Po
soe ong,” katanya. “Peng teng ong menduduki kursi yang
ketiga ratus lima puluh sembilan. Kami mempunyai seribu
dua ratus Soe cia (utusan). Biauw Hong soe bukan orang
penting. Bunuhlah mereka, kalau kamu mau!”
“Baiklah,” kata Tio Beng. “Kawan kawan, bunuhlah
kedua manusia yang tak berguna itu!”
“Baik!” jawab Cia Soen seraya mengangkat To Liong to.
Dengan kecepatan kilat ia menyamber kepada Peng teng
ong. Orang-orang Cong kauw mengeluarkan teriakan
tertahan. Tapi… To liong to, lewat dalam jarak setengah
dim dari batok kepala dan hanya memapas rambut yang
lantas saja terbang ditiup angin. Kim mo Say ong kembali
mengangkat golok dan menyabet dua kali beruntun ke
lengan kanan dan lengan kiri Peng teng ong. Kedua sabetan
itu kelihatannya hebat, tapi dalam detik mata golok hampir
menyentuh kulit, Cia Soen memutar sedikit pergelangan
tangannya sehingga senjata itu hanya merobek lengan baju.
Jangankan seorang buta, sekalipun orang yang tidak buta
sukar meneladan Kim mo Say ong. Peng teng ong pingsan
sebab ketakutan dan sebelas Po soe ong yang mau
menyerang berdiri terpaku.
“Apa kamu sudah lihat ilmu silat Beng kauw dari
wilayah Tiong goan?” tanya Tio Beng. “Dalam kalangan
agama kami Kim mo Say ong menduduki kursi yang ketiga
ribu lima ratus sembilan. Apabila dengan mengandalkan
2058
jumlah besar, kamu sekarang menyerang kami, Beng kauw
di Tionggoan pasti akan membalas sakit hati dan menyapu
Cong kauw sampai bersih. Kamu pasti tak akan bisa
melawan kami. Jalan satu-satunya bagi kamu sekalian
adalah berdamai dengan kami.”
Tie hwie ong yakin, bahwa nona Tio hanya menakutnakuti,
tapi ia sendiri tak tahu apakah yang harus
diperbuatnya. Mendadak Tay seng Po soe ong berkata kata
dalam bahasa Persia.
“Thio Kongcoe, awas!” teriak Siauw Ciauw. “Mereka
mau melubangkan dasar kapal!”
Boe Kie terkejut. Kalau kapal mereka ditenggelamkan,
mereka semua yang tidak bisa berenang akan segera
menjadi tawanan. Dengan melompat ia sudah berhadapan
dengan Tay seng ong.
“Mau apa kau!” bentak Tie Hwie. Hampir berbareng,
Kong tek dan Hoa hie ong yang masing masing bersenjata
cambuk dan martil menyerang dari kiri kanan.
Boe Kie yang sudah memahami ilmu silat Cong kauw
tidak memperdulikan serangan itu. Bagaikan kilat kedua
tangannya menyambar dan mencengkeram jalan darah di
tenggorokan kedua “raja” itu, sehingga senjata mereka
menyimpang dan beradu satu sama lain. Sesudah melempar
tubuh mereka ke gubuk kapal, Boe Kie segera mengamuk.
Dengan dua tendangan ia melontarkan golok Cie sim dan
Jin Jiok ong dan lalu dua tendangan lagi melemparkan Kin
sioe dan Kie beng ong ke dalam air.
Mendadak seorang Po soe ong yang bersenjata sepasang
pedang pendek menikam. Boe Kie mengegos dan
menendang pergelangan tangannya. Secepat kilat, orang itu
menyilangkan kedua tangannya dan menikam kempungan
Boe Kie. Tikaman itu cepat dan di luar dugaan, sehingga
2059
untuk menyelamatkan jiwa, Boe Kie terpaksa melompat
tinggi.
Orang itu adalah Siang seng, jago nomor dua di antara
dua belas Po soe ong. Sesudah menikamnya gagal, ia terus
merangsek dan mengirim serangan berantai. Boe Kie
melayani dengan tenang. Sesudah bertempur sembilan
jurus, diam diam ia memuji kepandaian “raja” itu.
Biarpun sudah memahami ilmu Seng hwee leng, tapi
sebab belum berlatih, Boe Kie belum bisa
mempergunakannya secara lancar. Dalam belasan jurus
yang pertama, ia mempertahankan diri dengan
kepandaiannya sendiri. Setelah lewat dua puluh jurus
barulah ia bisa menggunakan ilmu Seng hwee leng dengan
agak licin.
(Budi: Some part missing here..) (PP: not sure)
(Selamanya menang) sebab di negerinya sendiri ia jarang
mendapat tandingan. Dalam menghadapi Boe Kie ia kaget
bercampur heran dan pengalaman itu adalah pengalaman
yang pertama didapat olehnya. Sesudah bertanding tiga
puluh jurus lebih, tiba tiba Boe Kie berduduk di atas
geladak dan kedua tangannya memeluk betis Siang seng.
Itulah salah satu pukulan terhebat dalam Ilmu Seng hwee
leng yang dikenal, tapi belum pernah digunakan oleh Siang
seng ong sendiri. Begitu lekas kedua tangannya memeluk,
dengan sepuluh jari tangannya Boe Kie mencengkeram
Tiong tauw dan Coe peng hiat di betis lawan. Siang seng Po
soe eng lantas saja lemas badannya. Ia menghela nafas dan
menyerah kalah.
Tapi mendadak saja di dalam hati pemuda itu muncul
rasa sayang terhadap kepandaian Siang seng. Sambil
melepaskan cengkeraman dan pelukannya ia berkata,
“Kepandaianmu sangat tinggi dan biarlah kau
2060
mempertahankan nama besarmu. Pergilah!”
Siang seng Po soe ong merasa berterima kasih bercampur
malu. Buru2 ia melompat balik ke kapalnya sendiri.
Ketika itu Cia Soen dan Cie Jiak sudah menyeret keluar
Kong tek dan Hoa hie ong dari dalam gubuk kapal dan
menjaga kedua tawanan penting itu dengan To liong to dan
Ie thian kiam terhunus.
Melihat kekalahan Siang seng ong dan tertawannya
Kong tek dan Hoa hie ong, Tay seng po soe ong ciut
nyalinya. Ia tahu bahwa jika kapal yang ditumpangi
rombongan Boe Kie ditenggelamkan juga, pihaknyapun
akan menderita kerugian besar, yaitu binasanya empat
pemimpin penting dari Cong kauw. Maka itu sesudah
memikir beberapa saat, ia segera memberi tanda dan
menarik pulang semua kawan kawannya, terhitung yang
sudah selulup di air ke kapal sendiri.
“Lekas antarkan Tay Kie kemari dan luluskan tiga syarat
Kim mo Say ong!” teriak Tio Beng.
Sesudah selesai berunding, Tie hwie ong berseru, “Kami
bersedia untuk meluluskan permintaanmu, tapi kamu harus
menjawab pertanyaan. Ilmu silat pemuda itu terus terang
ilmu silat kami. Darimana ia mendapatkannya? Kamu
harus memberi keterangan yang sejelas jelasnya.”
Sambil menahan tertawa, nona Tio menjawab. “Kamu
semua manusia manusia tolol. Dengarlah! Pemuda itu
adalah murid kedelapan dari Kong beng soe cia kami.
Tujuh kakak dan tujuh adik seperguruannya tak lama lagi
akan tiba disini. Kalau mereka datang, kamu semua akan
dibasmi bersih.”
Tie hwee ong sangat pintar, tapi ia tak begitu paham
bahasa Tionghoa dan hanya bisa menangkap enam tujuh
2061
bagian dari perkataan Tio Beng. Ia tahu bahwa nona itu
sedang omong kosong. Sesudah memikir sejenak, ia
berkata, “Baiklah! Saudara saudara pulangkan Tay Kie.”
Dua orang anggota Cong kauw lantas saja mengantarkan
Tay Kie ke kapal Boe Kie. Dengan dua kali menyabet
dengan Ie thian kiam Cie Jiak memutuskan rantai yang
mengikat kaki tangan Cie san Liong ong. Melihat
ketajaman pedang itu, kedua pengantar ketakutan setengah
mati dan buru buru kembali ke kapal mereka.
“Kamu boleh segera berangkat pulang,” kata Tie hwie
ong. “Kami akan mengirim sebuah perahu kecil untuk
mengikuti dari belakang.”
Sambil merangkap kedua tangannya, Boe Kie berkata,
”Beng kauw di Tiong goan bersumber dari Persia, kalian
dan kami sebenarnya adalah saudara2. Kami mengharap
bahwa kalian tidak menjadi kecil hati karena adanya salah
mengerti di hari ini. Kami mengundang kalian datang di
Kong beng teng, supaya kita bisa minum arak bersama
sama. Untuk segala kesalahan kami dengan jalan ini aku
menghaturkan maaf.”
Tie hwie ong tertawa terbahak bahak. “Kami semua
merasa kagum akan ilmu silatmu yang sangat tinggi,”
katanya. “Apa tidak girang kalau kita belajar dan terus
mempelajari pelajaran itu? Apa tidak girang, kalau
mendapat kunjungan sahabat dari jauh?”
Mendengar kutipan dari kata Khong coe, Boe Kie
membungkuk dan berkata, “Tepat sekali perkataanmu.” Ia
tidak berayal lagi. Seorang diri ia mengangkat jangkar,
memutar kemudi dan memasang layar, sehingga dalam
beberapa saat, kapal itu mulai bergerak.
Melihat tenaga Boe Kie yang dapat mengangkat jangkar
seorang diri, sedangkan pekerjaan itu sebenarnya harus
2062
dilakukan oleh belasan orang, anak buah kapal kapak Cong
kauw bersorak sorak.
Sebuah perahu kecil lantas saja mendekati kapal Boe Kie
dan melemparkan seutas tambang. Boe Kie lalu mengikat
tambang itu di buritan kapal. Di dalam perahu itu terdapat
dua orang penumpang, Lioe in soe dan Hwie go soe.
Kapal mulai berlayar ke jurusan barat.
Sambil memegang kemudi, Boe Kie mengawasi kapalkapal
Cong kauw. Sesudah melewati Leng coa to dan
kapal2 itu tetap tidak bergerak, berubah hatinya lega. Ia
segera menyerahkan kemudi kepada Siauw Ciauw, pergi ke
gubuk kapal untuk menengok In Lee. Nona itu berada
dalam keadaan setengah tertidur, setengah sadar. Lukanya
belum mendingan, tapi juga tidak jadi lebih hebat.
Tay Kie termenung seorang diri waktu mendengar
tindakan Boe Kie. Dengan rasa kagum Boe Kie mengawasi
potongan tubuh nyonya itu yang langsing gemulai.
Sebagian rambutnya yang hitam bergoyang goyang tertiup
angin, sedang kulitnya yang putih seakan akan batu
pualam. Ayah angkatnya mengatakan, bahwa dahulu Tay
Kie terkenal sebagai wanita tercantik dalam Rimba
Persilatan. Pujian itu bukan pujian kosong.
Di waktu maghrib, kapal Boe Kie sudah terpisah kira
kira seratus li dari Leng coa to. Lautan tenang dan di atas
permukaan air tidak terlihat apapun jua. Cong kauw
ternyata menepati janji.
“Giehoe, apa tawanan sudah boleh dilepaskan?” tanya
Boe Kie.
“Boleh!” jawabnya. “Sekarang mereka tak bisa mengejar
kita lagi.”
Sambil menghaturkan maaf berulang-ulang, Boe Kie
2063
segera membuka ‘hiat’ ketiga raja dan Biauw hong soe.
“Enam Seng hwee leng ditaruh di bawah penjagaan kami
bertiga,” kata Biauw hong soe. “Kalau hilang, kami berdosa
besar. Maka itu, aku memohon kau suka membayar
pulang.”
“Seng hwee leng adalah tanda kekuasaan Kauw coe dari
Beng kauw di wilayah Tiong goan,” kata Cia Soen. “Hari
ini, barang itu kembali kepada majikannya. Bagaimana kita
bisa menyerahkannya kepadamu?”
Tapi Biauw hong soe tidak mau mengerti. Ia terus
memohon mohon. Boe Kie merasa, bahwa kalau ia tidak
menakluki hati orang itu, di hari kemudian soal ini bisa
menjadi bibit penyakit. Maka itu ia lantas berkata, “Kami
sebenarnya bersedia untuk mengembalikan kepadamu. Tapi
kami kuatir kepandaianmu masih terlalu rendah dan tidak
bisa menjaga mustika itu. Daripada dirampas oleh orang
luar lebih baik dipegang oleh kami.”
“Bagaimana orang luar bisa merampasnya?” tanya
Biauw hong coe.
“Jika kau tidak percaya mari kita mencoba coba,” kata
Boe Kie yang segera menyerahkan keenam Seng hwee leng
kepadanya.
Biauw hong coe girang, tapi baru saja mengatakan
‘terima kasih’, kedua tangan Boe Kie sudah menyambar
dan merebut kembali Seng hwee leng itu.
“Curang!” teriak Biauw hong coe dengan gusar. “Kau
mendahului sebelum aku memegangnya erat erat.”
Boe Kie tertawa, “Tak apa, boleh coba lagi,” katanya
seraya menyerahkan pula enam ‘leng’ ke dalam sakunya
sambil mencekal yang dua Biauw hong coe memasang kuda
kuda.
2064
Serangan Boe Kie dipapaki olehnya dengan pukulan
pada pergelangan tangan. Dengan sekali membalik tangan
Boe Kie sudah menangkap lengan tangan kanannya, yang
lalu ditarik sehingga kedua ‘leng’ terpukul satu sama lain
dan mengeluarkan suara “cring!” yang menggetarkan hati.
Diam diam Boe Kie mengirim tenaga dalam yang sangat
kuat lengan lawan, Biauw hong soe lantas saja merasa
lengannya kesemutan dan semua tenaganya musnah. Ia
tidak bisa bergerak lagi dan dua ‘leng’ yang dicekalnya
jatuh. Dengan tenang Boe Kie lalu merogo saku lawan dan
mengambil empat leng yang menggeletak di geladak kapal.
“Bagaimana? Apa kau mau mencoba lagi?” tanya Boe Kie.
Paras muka Biauw hong soe berubah pucat. “Kau bukan
manusia! Kau setan!” katanya dengan suara parau. Ia
bertindak untuk melompat ke perahu. Mendadak badannya
terhuyung dan ia roboh. Lioe in soe melompat naik,
mendukungnya dan cepat cepat kembali ke perahu.
Sementara itu perahu sudah memasang layar dan Kong
tek ong lalu memutuskan tambang sehingga kedua
kendaraan air itu lantas berpisah.
“Kami yang telah membuat banyak kesalahan dan harap
kalian suka memaafkan,” teriak Boe Kie seraya merangkap
kedua tangannya.
Kong tek ong dan kawan kawannya tidak menjawab.
Mereka mengawasi dengan sorot mata gusar.
Kapal terus berlayar ke arah barat.
Sekonyong konyong Tay Kie membentak, “Bangsat!
Jangan main gila!” ia menggenjot tubuh dan menerjun ke
air!
Boe Kie terkesiap, buru buru ia memutar kemudi.
Mendadak ia melihat timbulnya darah yang tercampur di
2065
pinggir kapal. Dengan saling susul timbul pula darah di
lima tempat. Tak lama kemudian Tay Kie muncul di
permukaan air dengan gigi menggigit pisau dan tangan
mencekal rambut seorang Persia.
Dengan memutar kemudi, Boe Kie berusaha untuk
menyambut nyonya itu. Tapi sebab ia tidak segera
menurunkan layar, maka sebaliknya daripada maju kapal
itu terputar dengan perlahan.
Ilmu berenang Cie san Liong ong benar benar lihay ia
sudah menghampiri secepat ikan. Dalam sekejap ia sudah
sampai di pinggir kapal. Dengan tangan kiri ia menekan
jangkar untuk meminjam tenaga dan sekali menggenjot
tubuh ia “terbang” ke atas dan kemudian hinggap di atas
geladak bersama sama tawanannya.
Ternyata sesudah Kong tek ong dan kawan kawannya
turun ke perahu dengan menggunakan layar sebagai aling
aling tujuh penyelam meloncat ke air untuk membocorkan
kapal Boe Kie. Untung besar Tay Kie yang berpengalaman
luas dan bermata jeli dapat melihat gelembung gelembung
air yang muncul di permukaan laut karena pernafasan
orang orang itu. Dengan demikian ia berhasil
membinasakan enam orang dan membekuk seorang.
Baru saja Boe Kie mau memeriksa tangkapan itu, tiba
tiba di buritan kapal terdengar peledakan dahsyat diikuti
dengan mengepulnya asap hitam… kapal bergoncang keras,
potongan potongan kayu berterbangan ke angkasa. Dengan
hati mencelos Boe Kie dan kawan kawannya merebahkan
diri di geladak kapal.
“Jahat sungguh manusia manusia itu!” kata Tay Kie
sambil berlari lari ke buritan kapal.
Ternyata peledakan itu telah membocorkan buritan dan
air sudah mulai mengalir masuk, sedang kemudi kapalpun
2066
sudah terbang tanpa berbekas.
Dengan sorot mata berduka Tio Beng mengawasi Boe
Kie. “Kapal musuh akan segera mengejar dan kita semua
bakal mati tanpa kuburan,” katanya di dalam hati.
Sementara itu, dengan menggunakan bahasa Persia, Tay
Kie mengajukan beberapa pertanyaan kepada tawanannya
yang menjawab dengan bahasa itu juga. Mendadak Cie san
Liong ong mengangkat tangannya dan menghantam batok
kepala orang itu yang lantas saja roboh binasa. Sambil
menendang mayat itu ke air, ia berkata dengan suara
menyesal, “Aku hanya mengetahui, bahwa mereka
berusaha untuk membocorkan kapal, tapi tidak pernah
menduga bahwa mereka bakal mengikat obat pasang di
buritan.”
Ketika itu perahu yang ditumpangi Kong tek ong dan
kawan kawannya sudah pergi jauh, sehingga biarpun
pandai berenang, Tay Kie tak akan bisa mengejarnya.
Semua orang saling mengawasi tanpa mengeluarkan
sepatah kata. Mereka tidak berdaya. Karena sangat besar,
kapal itu tidak lantas tenggelam.
Sekonyong konyong Tay Kie dan Siauw Ciauw berbicara
dalam bahasa Persia. Selagi berbicara, paras muka mereka
berubah ubah. Mereka kelihatannya sedang bertengkar.
Dengan kedua pipi bersemu dadu, Siauw Ciauw mengawasi
Boe Kie, sedang Tay Kie mendesaknya dengan perkataan
perkataan keras. Nyonya itu rupa rupanya tengah
membujuk Siauw Ciauw untuk meluluskan suatu
permintaan, tapi si nona menolak keras. Belakangan
sesudah melirik Boe Kie dan menghela napas, Siauw Ciauw
mengatakan sesuatu. Tiba tiba Tay Kie memeluk dan
menciumnya dan mereka berdua serentak mengucurkan air
mata. Siauw Ciauw menangis sedu sedan dan Tay Kie
2067
membujuknya dengan perkataan perkataan lemah lembut.
Dengan rasa heran, Boe Kie, Tio Beng dan Cie Jiak
saling memandang. Mereka tidak mengerti apa yang
dibicarakan oleh kedua wanitu itu.
“Lihatlah paras muka mereka sangat mirip satu sama
lain,” bisik Tio Beng di kuping Boe Kie.
Boe Kie terkejut. Ia mengawasi. “Benar! Kedua duanya
cantik, muka mereka potongan kwaci, hidung mancung
kulit putih dan paras mereka memang hampir bersamaan.”
Dengan jantung memukul keras ia ingat perkataan Kouw
Tauw too Hoan Yauw di rumah makan. Kata kata
“sungguh sama” berarti sungguh sama dengan Cie san
Liong ong?
Memikir begitu. Boe Kie lantas saja ingat sikap Yo
Siauw dan puterinya yang sangat berwaspada terhadap
Siauw Ciauw. Setiap kali ia menanya mengapa mereka
begitu berhati hati terhadap seorang gadis cilik, jawabnya
selalu tidak memuaskan. Sekarang baru ia mengerti, bahwa
Yo Siauw bercuriga karena paras muka nona itu sangat
mirip dengan Cie san Liong ong. Iapun baru mengerti
mengapa Siauw Ciauw telah berusaha untuk mengubah
mukanya supaya kelihatan jelek.
Mendadak ia ingat sesuatu. “Perlu apa Siauw Ciauw
datang di Kong beng teng?” tanyanya di dalam hati.
“Bagaimana ia bisa tahu pintu masuk dari jalanan rahasia?
Ah… ia tentu disuruh Cie san Liong ong untuk mencuri
pelajaran Kian koen tay lo ie. Hampir dua tahun ia menjadi
pelayanku dan aku belum pernah berjaga jaga. Kalau ia
mau menyalin pelajaran itu, gampangnya seperti orang
merogoh saku. Celaka sungguh! Aku… belum pernah
bermimpi mimpi, bahwa ia mengandung maksud tertentu.
Boe Kie, Boe Kie!... Kau tolol! Kau terlalu percaya kepada
2068
manusia…”
Sambil mengutuk diri sendiri, ia melirik Siauw Ciauw.
Apa mau, si nona pun sedang mengawasi dengan sorot
mata penuh kecintaan murni. Sorot mata itu bukan sorot
mata berpura pura. Sekali lagi jantungnya memukul keras.
Ia lantas saja ingat, bahwa pada waktu ia menghadapi enam
partai besar di Kong beng teng, Siauw Ciauw pernah
melindungi dirinya tanpa memperdulikan keselamatannya
sendiri. Selama hampir dua tahun, nona itu telah merawat
dan melayani dia dengan penuh pengabdian. Apa dia salah
menerka?
Sekonyong konyong kapal bergoncang dan sudah
tenggelam separuh.
“Thio Kauwcoe dan kawan2 tak usah kuatir!” kata Tay
Kie. “Kalau sebentar kapal Cong kauw datang disini, aku
dan Siauw Ciauw sudah mempunyai daya upaya untuk
menghadapinya. Biarpun hanya seorang wanita, Cie san
Liong ong bertanggung jawab atas segala perbuatannya.
Aku pasti tidak akan merembet rembet kalian, Thio
Kauwcoe dan Say ong Cia heng telah membuang budi yang
seberat gunung kepadaku. Untuk itu semua, dengan jalan
ini Tay Kie menghaturkan banyak terima kasih.” Sehabis
berkata begitu, ia menekuk lututnya.
Cia Soen dan Boe Kie buru2 membalas hormat. Mereka
tahu bahwa nyonya itu bersungguh, tapi mereka sangsi
apakah Cong kauw bersedia untuk melepaskan mereka.
Perlahan tetapi pasti, kapal terus tenggelam. Tak lama
kemudian, air sudah masuk di gubuk. Semua orang lalu
memanjat tiang layar dengan Boe Kie mendukung In Lee
dan Cie Jiak mendukung Tio Beng.
Sekonyong konyong, sambil menangis Siauw Ciauw
menuding ke jurusan timur. Semua orang menengok ke
2069
arah itu. Di tempat jauh, mereka melihat beberapa titik
yang makin lama makin jadi besar, yang kemudian ternyata
adalah belasan kapal Persia yang menghampiri dengan
kecepatan luar biasa….
“Kalau aku jadi Tay Kie, aku lebih suka mati di air
daripada dibakar hidup hidup,” kata Boe Kie dalam hati.
Tapi Tay Kie kelihatannya tenang tenang saja, sedikitpun
tak mengunjuk rasa jeri sehingga Boe Kie merasa kagum
sekali. “Sebagai kepala dari empat Hoat ong dia sungguh
bukan sembarang orang” pikirnya. “Pada waktu Eng ong
Say ong dan Hok ong sudah dikenal sebagai orang gagah
yang usianya tak muda lagi, dia masih jadi gadis remaja.
Tapi belakangan kedudukannya bisa berada di sebelah atas
ketiga Hoat ong itu. Dilihat sikapnya yang sekarang ia
memang pantas mendapat kedudukan itu.” Sambil berpikir
begitu ia mengawasi kapal kapal Cong kauw yang makin
dekat. “Aku telah merobohkan beberapa Po soe ong dan
kalau aku jatuh ke dalam tangan mereka, aku tak usah
mengharap hidup,” katanya pula dalam hati. “Biar
bagaimanapun juga aku harus berusaha supaya Gie Hoe,
Tio Kauwnio, Cioe Kauwnio dan piauw moay bisa selamat.
Dan juga… Siauw Ciauw. Hei!... Dia boleh berkhianat
terhadapku tapi aku tak bisa berkhianat terhadapnya.”
Tiba tiba In Lee bergerak dan membuka kedua matanya.
Ia kaget ketika tahu, bahwa ia sedang didukung Boe Kie.
“A Goe Koko… dimana kita berada?” tanyanya. “Mengapa
kau mendukung aku?”
“Jangan takut,” kata Boe Kie. “Bagaimana keadaanmu?”
In Lee menggeleng gelengkan kepalanya. “Aku tak
punya tenaga, rasanya lemas,” jawabnya dengan suara
parau.
Begitu datang dekat, semua mulut meriam dari belasan
2070
kapal Cong kauw ditujukan ke tiang layar yang dipeluk oleh
rombongan Boe Kie. Andaikata pemuda itu memiliki
kepandaian yang seratus kali lipat lebih tinggi, iapun tak
usah harap bisa melawan peluru meriam meriam itu.
Kapal kapal Cong kauw membuang sauh dan
menurunkan layar dalam jarak kira kira seratus tombak.
Mereka rupa rupanya kuatir, bahwa kalau datang terlalu
dekat, Boe Kie akan melompat dan menawan pula beberapa
Po soe ong.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tertawanya
Tie hwie ong. “Heei!” teriaknya. “Apa kamu mau
menakluk atau tidak?”
“Orang orang gagah dari Tionggoan boleh mati, tapi
tidak boleh menekuk lutut,” jawab Boe Kie dengan suara
lantang. “Kalau kamu bukan kawanan pengecut, marilah
kita mengadu ilmu silat!”
Tie hwie ong tertawa nyaring. “Orang gagah sejati
mengadu kepintaran, bukan mengadu kekuatan,” teriaknya.
“Sudahlah! Kamu tidak bisa berbuat lain daripada
menyerah!”
Tiba tiba Tay Kie berbicara dalam bahasa Persia. Ia
bicara dengan sikap angker. Tie hwie ong kelihatan kaget
dan lalu menjawab. Tayseng Po soe ong turut bicara.
Sehabis mereka bicara, dari atas kapal diturunkan sebuah
perahu dengan delapan pendayung dan perahu itu segera
menuju ke kapal Boe Kie yang sudah hampir karam.
“Thio Kauwcoe, aku dan Siauw Ciauw mau menuju ke
sana,” kata Tay Kie. “Kalian tunggu saja disini sebentar.”
“Han hoejin!” bentak Cia Soen. “Beng kauw di
Tionggoan telah memperlakukan kau secara baik. Bangun
atau robohnya agama kita tergantung atas Boe Kie seorang.
2071
Jika kau menjual kami, kebinasaan Cia Soen tidak menjadi
soal. Tapi kalau selembar rambut Boe Kie sampai
terganggu, biarpun sudah menjadi setan, Cia Soen pasti tak
akan mengampuni kau.”
Tay Kis tertawa dingin, “Kalau anak angkatmu seperti
mustika, apakah anakku tak lebih daripada lumpur yg
kotor?” tanyanya dengan suara getir. Sehabis berkata begitu
seraya menuntun tangan Siauw Ciauw, ia melompat ke
perahu yang segera didayung kearah kapal besar.
Mendengar perkataan nyonya itu, Cia Soen dan yang
lain2 terkejut. “Kalau begitu benar Siauw Ciauw
puterinya,” kata Tio Beng.
Tak lama kemudian Tay Kis dan Siauw Ciauw sudah
berada dikapal besar dan mereka terus bicara dengan para
Po Soe Ong.
Sementara itu kapal Boe Kie terus menenggelam dengan
perlahan. Sedim demi sedim tiang layar masuk kedalam air.
Cia Soen menghela napas. “Boe Kie,” katanya. “Aku
salah menilai Han Hoejin, kau salah menilai Siauw Ciauw.
Boe Kie seorang lelaki sejati harus mundur dan bisa maju.
Biarlah untuk sementara waktu kita menelan hinaan untung
mencari kesempatan guna meloloskan diri. Diatas
pundakmu terdapat beban yg berat. Berlaksa laksa rakyat di
Tiong Goan menunggu nunggu tindakan Beng Kauw untuk
mengusir Tat coe dari negara kita. Boe Kie begitu ada
kesempatan kau mesti menggunakannya untuk melarikan
diri. Jangan perdulikan yg lain. Kau adalah pemimpin suatu
agama. Kau harus mengerti apa artinya itu.”
Sebelum pemuda itu menyahut Tio Beng sudah
mendahului. “Fuh! sedang jiwa sendiri tak bisa ditolong
lagi, kau masih bicarakan soal Tat coe”
2072
Cie Jiak yg sedari tadi terus membungkam, tiba2 berkata.
“Rasa cinta Siauw Ciauw terhadap Thio Kong coe sangat
besar. Menurut pendapatku ia takkan berkhianat.”
“Apa kau tak lihat cara bagaimana Cie gan liong ong
mendesak dia?” tanya Thio Beng. “Semula Siauw Ciauw
menolak, kemudian lantaran terlalu didesak, ia
kelihatannya meluluskan permintaan ibunya. Hm.. dan dia
berlagak sedih.” Sesaat itu tiang layar hanya menonjol
setombak lebih dari permukaan air. Gelombang yang turun
naik membawa semua orang.
“Thio kong coe,” kata Tio Beng sambil tertawa, “kami
akan mati bersama sama kau dan segala apa tamat
ceritanya. Tapi Siauw Ciauw yg licik dan licin malah tak
bisa mati bersama sama kau.” Biarpun kata2 itu semacam
guyon, artinya sangat mendalam. Dengan berkata begitu
terang2 nona Tio menyatakan rasa cintanya yg sangat besar
terhadap pemuda itu.
Boe Kie sendiri merasa sangat terharu. “Benar,”
pikirnya. “Aku tak bisa menikah dengan mereka sekaligus.
Tapi bahwa aku bisa mati bersama2 mereka, tidaklah
Cuma2 kuhidup didunia ini.” Sambil memikir begitu ia
melirik Tio Beng melirik Cie Jiak dan melirik pula In Lee
yang berada dalam dukungannya.
Ia menghela napas. In Lee masih berada dalam keadaan
setengah sadar dan setengah lupa sedang Tio Beng dan Cie
Jiak seperti berlomba lomba dalam kecantikan. Pada muka
mereka yg bersermu dadu terdapat titik2 air, sehingga kalau
Tio Beng seperti sekuntun bunga mawar, Cie Jia bagaikan
bunga anggrek. Ia menghela napas pula dan berkata dalam
hati, “Hai! Bagaimana aku bisa membalas budi mereka?”
Sekonyong2 dari kapal2 Cong kauw terdapat sorak sorai
bergemuruh. Boe Kie kaget. Ia mendapat kenyataan, bahwa
2073
semua orang disetiap kapal berlutut diatas geladak dengan
menghadap kearah kapal besar itu sendiri, semua Po Soe
ong berlutut dihadapan seorang yg duduk disebuah kursi.
Orang itu kelihatan seperti Siauw Ciauw. Sebab jarak
terlampau jauh ia tak bisa lihat tegas. Ia merasa sangat
heran, apa yg dilakukan oleh orang Persia itu?
Beberapa saat kemudian, orang2 itu bangun berdiri tapi
sorak sorai yg sangat gembira, masih terus terdengar.
Sekonyong2 sebuah perahu mendatangi. Waktu perahu
itu sudah datang dekat, penumpangnya ternyata bukan lain
daripada Siauw Ciauw sendiri. Si nona menyapa dan
berteriak, “Tio Kongcoe! Mari kita naik kekapal besar.
Mereka takkan mengganggu kalian.”
“Mengapa begitu?” tanya Tio Beng.
“Kalian akan segera tahu,” jawabnya. “Aku pasti takkan
mencelakai Tio Kong coe.”
Mendadak Cia Soen bertanya “Siauw Ciauw, apakah
kau sudah menjadi Kauwcoe dari Beng Kau di Persia?”
Siauw Ciauw tidak menjawab, ia hanya menundukkan
kepala. Selang beberapa saat air mata mengalir, turun di
kedua pipinya.
Mata Boe Kie berkunang kunang. Ia sekarang bisa
menebak segala kejadian yg sebenarnya. Ia berduka dan
berterima kasih. “Kau telah berkorban untukku!” katanya
dengan suara parau. Si nona memalingkan kepalanya. Ia
tidak berani berbentrok mata dengan pemuda itu.
Cia Soen menarik napas, “Tay kie mempunyai putra yg
seperti kau tidaklah memalukan nama besarnya Cie Sang
Liong Ong,” katanya. “Boe Kie, mari kita ikut Siauw
Ciauw Kauwcoe.” Sehabis berkata begitu, ia melompat ke
perahu disusul oleh yg lain2. Delapan pedayung lantas saja
2074
memutar perahu itu dan mendayung kan ke arah kapal yg
besar.
Dalam jarak dua puluh tombak lebih para Po Soe Ong,
membungkuk untuk menyambut Kauwcoe mereka. Biarpun
Tay Kie ibunya si nona iapun menjalani peradatan seperti
yg lain. Begitu lekas rombongan Boe Kie naik dengan sikap
sangan hormat beberapa pelayan lantas mengantar mereka
ke gubuk kapal untuk menukar pakaian yg basah.
Boe Kie sendiri diantar kesebuah kamar yang diperaboti
mewah dan indah. Selagi ia mengerinkan air dibadannya,
tiba2 pintu diketuk dan ditolak soerang wanita yg kedua
tangannya menyangga seperangkat pakaian bertindak
masuk dan wanita itu adalah Siauw Ciauw.
“Kongcoe, biarlah aku melayani kau,” kata si nona.
Boe Kie merasa sangat terharu, “Siauw Ciauw,”
katanya, “Sekarang kau sudah menjadi Kauwcoe dari Cong
Kauw dan pada hakekatnya aku sendiri adalah seorang
sahabatmu. Mana boleh kau melakukan lagi pekerjaan
pelayanan?”
“Kongcoe inilah untuk penghabisan kali,” kata si noan.
“Kita akan segera berpisahan jauh2 sekali, dan kita tak kan
bertemu pula. Sesudah aku berada di negeri orang, biarpun
mau tak bisa aku melayani kau lagi.”
Boe Kie merasa hatinya hancur. Sambil menahan
turunnya air mata, ia membiarkan si nona membayangnya
– membantunya memakai baju, mengancing baju,
mengangkat tali pinggang dan menyisir rambutnya. Sambil
melakukan itu semua air mata Siauw Ciauw terus mengalir
di kedua pipinya.
Boe Kie tak dapat mempertahankan dirinya lagi, tiba2 ia
memeluk erat2. Bagaikan bendungan pecah si nona
2075
menangis tersedu sedan. Dengan tubuh bergemetara ia
balas memeluk, “Siauw Ciauw,” bisik Boe Kie, “Semula
aku bahkan menduga kau berkhianat terhadapku. Tak
dinyana rasa cintamu begitu besar.”
Sambil menyandarkan kepalanya pada dada yg lebar, si
nona berkata dengan suara perlahan, “Kongcoe memang
aku pernah menipu kau. Ibuku adalah seorang dari ketiga
Seng lie cong kauw. Ia mendapat perintah untuk datang di
Tiong goan guna melakukan suatu pekerjaan penting
dengan pengertian bahwa kalau nanti kembali di Persia ia
akan menduduki kursi Kauwcoe. Tak disangka begitu
bertemu dengan ayah, ibu jatuh cinta dan tidak dapat
menahan dirinya lagi. Ketika ayah meninggal dunia, aku
masih berada di dalam kandungan dia aku belum pernah
melihat wajahnya. Ibu tahu bahwa ia berdosa besar. Ia
menyerahkan cincin besi Senglie kepadaku dan
memerintahkan aku pergi ke Kong beng teng untuk mencuri
sim hoat (pelajaran) Kian Koen Tay lo ie. Kongcoe didalam
hal ini, aku sudah menipu kau. Aku tidak memberitahukan
hal yg sebenarnya kepadamu. Akan tetapi, hatiku bersih.
Sedikitpun aku tak punya niatan untuk menjadi Kauwcoe
dari Beng Kauw di Persia. Aku mengharap untuk menjadi
pelayanmu, untuk melayani kau seumur hidup, untuk tidak
berpisahan denganmu selama lamanya. Aku pernah
memberitahukan harapanku ini kepadamu bukan? Dan kau
sendiri sudah meluluskan. Bukankah benar begitu?”
Boe Kie manggut2kan kepalanya.
Sesudah berdia sejenak, si nona berkata pula, “Aku
sudah menghapal sim hoat kian koen tay lo ie, tapi
menghapalnya bukan lantaran didorong oleh niatan untuk
berkhianat terhadapmu. Kalau bukan karena terlalu
kepaksa aku pasti tidak akan memberitahukan mereka.”
“Sudahlah kau tak usah bersedih lagi,” bisik Boe Kie.
2076
“Sekarang aku sudah mengerti semuanya.”
“Sedari kecil, aku sudah melihat kekuatiran ibu,” kata
pula Siauw Ciauw. “Siang malam ia tak tentram.
Belakangan ia menyamar sebagai nenek yg bermuka jelek ia
mengirim aku kepada lain keluarga dan hanya menengok
aku setahun sekali atau dua tahun sekali. Kongcoe kalau
kau dan yang lain2 tidak menghadapi kebinasaan,
jangankan menjadi Kauwcoe sekalipun menjadi ratu
Persiaa aku pasti akan menolak.”
Sehabis berkata begitu, ia menangis pula dengan badan
bergemetara.
“Siauw Ciauw!” mendadak terdengar bentakan Tay Kie
diluar kamar. “Jika kau mengantarkan jiwanya Kongcoe.”
Bagaikan dipagut ular, si nona memberontak dari
pelukan Boe Kie dan melompat mundur. “Kongcoe, jangan
ingat2 aku lagi,” katanya dengan suara parau. “In Kouwhie
telah mengikuti ibu dalam banyak tahun dan ia sangat
mencintai kau. Ia akan menjadi seorang istri yg budiman.”
“Siauw Ciauw,” bisik Boe Kie. “Mari kita menerjang
keluar dan membekuk satu dua Po soe ong. Kita bisa paksa
mereka untuk mengantarkan kita ke Leng coa to.”
Si nona menggelengkan kepala, “Sekarang mereka sudah
berjaga2,” katanya. “Tubuh Cia Tayhiap dan Tio Kouwnio
ditandalkan senjata. Kalau kita bergerak, mereka binasa.”
Seraya berkata begitu, ia membuka pintu berdiri Tay Kis yg
punggungnya dituding dengan dua pedang oelh dua orang
Persia. Kedua orang itu membungkuk, tapi pedang mereka
tidak berkisar dari punggung Cie San Liong Ong.
Denga diikuti Boe Kie, si nona berjalan keluar. Benar
saja mereka melihat, bahwa Cia Soen dan lain2 berada
dibanwah ancaman senjata.
2077
“Kongcoe,” kata Siauw Ciauw, aku akan memberikan
kau obat untuk mengobati luka In Kouwnio.” Ia lalu
berbicara dalam bahasa Persia dan Kong tek ong segera
mengeluarkan sebotol obat luar yg lalu diserahkan kepada
Boe Kie.
“Aku akan memerintahkan orang untuk mengantar
kalian pulang ke Tiong Goan,” kata pula si nona.
“Sekarang saja kata berpisahan. Kongcoe, badan Siauw
Ciauw berada di Persia, hatinya tetap bersama2 kau. Siang
dan malam aku berdoa supaya kau selalu sehat segala
pekerjaan bisa berjalan lancar…” Ia tak dapat meneruskan
perkataannya.
“Kau berada disarang harimau, jagalah dirimu baik2,”
kata Boe Kie.
Si nona mengangguk dan lalu memerintahkan orang
untuk menyediakan perahu.
Sesudah Cia Soen, In Lee, Tio Beng dan Cie Jiak turun
ke perahu, Siauw Ciauw segera memulangkan To Liong to
Ie Thian Kiam dan enam Seng hwee leng kepada Boe Kie.
Sambil tertawa sedih, ia mengangkat tangan sebagai tanda
perpisahan. Boe Kie berdiri terpaku, ia tdiak bisa
mengeluarkan sepatah kata. Selang beberapa saat dengan
hati seperti tersayat pisau ia melompat turun keperahu.
Kapal besar segera membunyikan terompet. Kedua
kendaraan air bergeral memasang layar dan mulai
berpisahan dengan perlahan. Dengan berdiri di kepala
kapal, Siauw Ciauw mengawasi perahu Boe Kie. Makin
lama mereka jadi makin jauh, sampai akhirnya masing2
lenyap dari pemandangan.
Obat luar yg diberikan kepada In Lee tidak menolong
banyak. Lukanya banyak mendingan tapi panasnya tak mau
turun dan mulutnya terus mengaco karena di samping luka
2078
si nona jg menderita demam keras sebagai akibat serangan
hujan dan angin. Boe Kie mulai bingung. Pada hari ketiga
ia melihat pulau kecil disebelah timur. Buru2 ia minta
pengemudi memutas haluan kearah pulau itu. Tapi si
pengemudi menolak dengan menggeleng2kan kepala dan
berbicara dalam bahasa Persia yg tidak dimengerti Boe Kie.
Ia rupa2nya menolak sebab di perintah mengantar
rombongan itu ke Tiong Goan. Dengan gerakaan tangan
Boe Kie coba menerangkan, bahwa maksudnya adalah
untuk mencari daun2 obat guna molong In Lee. Tapi
pengemudi itu tak mau mengerti. Akhirnya karena jengkel,
Boe Kie lalu merampas kemudi dan haluan perahu segera
diputar ke jurusan timur.
Mereka tiba diwaktu magrib. Sesudah terombang ambing
dilautan beberapa hari, semangat mereka terbangun waktu
menginjak lagi bumi. Luas pulau hanya beberapa li persegi
tapi karena hawanya hangat, pohon dan rumpu tumbuh
dengan subur. Sesudah meminta Cie Jiak menjaga In Lee
dan Tio Beng, Boe Kie segera mencari daun2 obat.
Tapi mudah mencari daun obat dipulau itu. Sampai
malam baru Boe Kie menemukan salah satu macam. Ketika
ia kembali, Cie Jiak sudah menyalakan api unggun.
In Lee kelihatan lebih segar. “A Goe koko,” katanya.
“Sebaiknya malam ini kita menginap disini saja.”
Semua orang segera menyetujui. Dipulau itu tidak
terdapat binatang buas dan diantara hangatnya bawa api,
mereka tidur dengan hati lega.
Waktu fajar menyingsing, Boe Kie tersadar. Tiba2 ia
terkejut, sebab perahu tidak ada ditempatnya. Ia berlari2
diseputar pulau, tapi perahu itu tetap tidak kelihatan
bayang2nya.
Dengan rasa bingung, ia mendaki bukit kecil. Baru
2079
beberapa tindak ia terhuyung hampir jatuh. Ia merasa
kedua lututnya tidak bertenaga.
Hatinya mencelos. “Gie Hoe!” teriaknya. “Apa kau
baik?”
Cia Soen tidak menjawab. Ia makin bingung. Bagaikan
terbang ia menghampiri. Hatinya agak lega, karena Kim mo
say ong sedang tidur dengan tenang. Karena ada batas2
antara lelaki dan perempuan, Tio Beng, In Lee dan Cie Jiak
tidur terpisah dibelakang sebuah batu besar.
Waktu Boe Kie pergi kesitu, ia melihat In Lee dan Cie
Jiak tidur berhadapan, tapi Tio Beng tidak kelihatan mata
hidungnya. Begitu ia mendekati matanya berkunang2!
Muka In Lee belepotan darah dengan belasan tapak senjata
tajam! Dengan tangan bergemetaran, ia memegang nadi si
nonan yg masih mengetuk dengan perlahan. Cie Jiak pun
tidak terbebas dari serangan. Sebagian rambutnya terpapas,
sebagian kuping kirinya teriris putus. Tapi nona Cioa
sendiri masih teruk terpulas dengan bibir tersungging
senyuman.
Ketika itu perasaan Boe Kie sukar dilukiskan.
“Cie Kouwnio! Cie Kouwnio!” ia memanggil2. Tapi si
noan Cioe tetap menggeros. Karena terpaksa, Boe Kie lalu
menggoyang2 pundaknya. Cie Jiak berbangkit beberapa kali
kemudian pulas lagi. Boe Kie tahu, bahwa nona itu kena
racun, begitupun ia sendiri, sebab ia merasa seluruh
badannya tidak bertenaga lagi.
Cepat2 ia kembali ke ayah angkatnya, “Gie hoe! Gie
hoe!” teriaknya.
Kim mo Say ong tersadar. Perlahan2 ia berduduk, “Ada
apa” tanyanya.
“Celaka besar, Gie hoe!” jawabnya. “Kita ditipu
2080
manusia rendah.” Ia segera memberitahukan hilangnya
perahu dan terlukanya In Lee serta Cie Jiak.
Cia Soen terkejut. “Tio Kouwnio?” tanyanya.
“Entahlah, dia megnhilang,” sahutnya. Dia menarik
napas dalam2 dan coba mengerahkan tenaga. Ia merasa
kaki tangannya mengambang dan lweekangnya tak bisa
keluar. “Gie Hoe,” katanya, “Kita kena racun Sip hiang
Joan Kin san.”
Dari anak angkatnya, Cia Soen sudah mendengar
tentang dirobohkannya orang2 enam partai besar dengan
racun itu. Ia segera berbangkit dan mendapat kenyataan,
bahwa ia pun tidak dapat mengeluarkan tenaga dalamnya.
Sesudah menetapkan hati, ia bertanya, “Apakah dia pergi
dengan membawa To Liong To dan Ie Han kiam?”
Benar saja kedua senjata mustika itu tidak bisa
ditemukan.
Rasa gusar, jengkel dan menyesal memenuhi dada Boe
Kie. Ia bukan menyesal karena tercurinya golok dan pedang
mustika itu. Ia menyesal karena tak pernah menduga,
bahwa, pada waktu ia berada dalam kesukaran besar Tio
Beng bisa mengkhianatinya.
Untuk beberapa saat, ia berdiri bagaikan patung. Ia
sangat bekuatir akan lukanya In Lee dan lalu pergi ke
belakang batu. In Lee masih pingsan, sedang Cie Jiak masih
tidur. “Lwee kangku paling kuat, sehingga aku tesadar
paling dulu,” pikirnya. “Sesudah aku, barulah Giehge.
Tenaga dalam Cioe Kouwnio masih terlalu cetek. Rasanya
ia tak gampang2 tersadar.”
Ia segera merobek tangan bajunya dan menggunakannya
untuk membersihkan darah dari muka nona In, yang penuh
dengan goresan2 garis malang melintang. Boe Kie tahu,
2081
bahwa goresan2 itu dibuat denga Ie Thian Kiam. Semenjak
terluka karena timpukan Cie san Ling ong, In Lee telah
mengeluarkan banyak darah. Sebagian besar racun laba2 yg
mengeram dalam tubuh si nan, jg turut keluar. Oleh karena
itu sebagian besar bengkak2 pada mukanya sudah
menghilang, sebagian kecantikannya yg dahulu sudah pulih
kembali. Tapi sekarang muka cantik itu jadi lebih menakuti
lagi sebab adanya goresan pedang.
Boe Kie merasa hatinya seperti disayat pisau. Darahnya
bergolak dan ia berkata sambil menggertak gigi: “Tio Beng!
… Tio Beng!.... Kalau.... kau jatuh kedalam tanganku, Thio
Boe Kie bukan manusia, kalau dia tidak menggores seluruh
mukamu!”
Sesudah hatinya agak tentram, ia berlari2 mencari daun2
obat, yg sesudah dikunyak didalam mulutnya, lalu
ditempelkan pada muka In Lee, pada kulit dan kuping Cie
Jiak.
Cie Jiak tiba2 tersadar. Ketika ia membuka mata dan
mengetahui bahwa Boe Kie sedang meraba2 kepalanya,
mukanya lantas saja berubah merah. Ia mendorong dengan
tangannya dan bertanya, “Kau… mengapa kau…” sebelum
selesai bicara, mendadak ia merasa kupingnya sakit lalu
merabanya. “Ah! …” teriaknya sambil melompat bangun.
“Mengapa begini?” Sekonyong2 kedua lututnya lemas dan
‘bruk!’ ia jatuh dalam pelukan Boe Kie.
“Cioe Kouwnio, jangan takut,” bujuk Boe Kie.
Dengan mata membelak, Cie Jiak mengawasi muka In
Lee. Ia mengusap mukanya sendiri dan bertanya, “Apa kau
juga?”
“Tidak,” jawab Boe Kie. “Nona hanya mendapat luka
enteng.”
2082
“Perbuatan orang Persia?” tanya pula si nona. “Mengapa
aku sama sekali tidak merasa?”
Boe Kie menghela napas, “Mungkin sekali ini semua
dilakukan oleh Tio Kouwnio,” katanya. “Rupa2nya
semalam ia menaruh racun didalam makanan kita.”
Sesudah berdiri bengong beberapa saat, Cie Jiak meraba2
kupingnya yg hilang sebagian dan tiba2 ia menangis.
“Cioe Kouwnio, untung juga kau hanya terluka enteng,”
bujuk Boe Kie. “Kerusakan pada kuping itu dapat ditutup
dengan rambut dan tak akan bisa dilihat orang.”
“Rambut? Rambutku pun sudah hilang,” kata Cie Jiak
dengan suara mendongkol.
“Yang terpapas hanya kulit ubun2 (meercu kepala) dan
bagian itu bisa ditutup dengan rambut dari kedua pinggiran
kepala,” kata pula Boe Kie. “Kalau mau, nona bisa juga
menggunakan rambut palsu….”
“Hm!... “ si nona mengeluara suara dihidung. “Perlu apa
aku menggunakan rambut palsu? Ah… sampai pada detik
ini, kau masih juga coba melindungi Tio Kouwniomu.”
Disemprot begitu Boe Kie tertegun.
“Aku melindungi dia?.... “ katanya seperti orang
linglung. “Dia sungguh jahat…. Aku tak akan mengampuni
dia…” Ia melihat In Lee yg tak karuan macam dan air
matanya mengucur.
Cia Soen dan Boe Kie benar2 bingung. Biarpun mereka
orang2 gagah, jarang tandingan skrg mereka tak tahu lagi
apa yg hrs diperbuat.
Sesudah mengasah otak beberapa lama, Boe Kie bersila
dan mencoba menjalankan pernapasannya. Ia merasa,
bahwa ia sudah keracunan berat. Ia tahu, bahwa Sip huang
2083
Joan kin san hanya dapat dipunahkan dengan obat
pemunah Tio Beng. Tapi demikian pikirnya, daripada
menunggu kebinasaan tanpa berusaha, ingin mencoba2
untuk melawan racun itu dengan Lwee kang nya yg sangat
tinggi. Ia segera menjalankan pernapasan guna membawa
dan mengumpulkan semua racun di kaki tangannya ke
bagian tantian (bawah pusar). Inilah ilmu tertinggi dari
Kioe yang Sin kang yg dinamakan Poe tok Siauw kouw
hoat (Ilmu pemunah segala racun).
Sesudah mengerahkan tenaga dalam kira2 satu jam, ia
merasa bahwa sebagian Lweekang telah pulih kembali pada
kaki tangannya. Hatinya jadi lebih lega, ia percaya bahwa ia
akan dapat mengusir racun itu dari tubuhnya.
Tapi karena harus menjalankan dengan Kioe yang Sin
Kang, ia tidak bisa mengajar ilmu itu kepada Cia Soen dan
Cie Jiak. Jalan satu2nya ialah sesudah ia mengusir semua
racun dari tubuhnya, ia harus membantu Cia Soen dan Cie
Jiak dengan Kioe yagn Sin Kang.
Ilmu itu sederhana, tapi sukar dijalankan. Sesudah
berusaha tujuh hari, barulah Boe Kie bisa mengusir tiga
bagian racun. Harus diingat bahwa Sip hiang Soen Kin san
ada salah satu semacam racun yg terlihati didalam dunia.
Tokoh2 seperti Kong boen Kong tie, Wan Cioe Biat soet
Soethay yg memiliki lweekang sangat tinggi masih tak
berdaya. Bahwa didalam tujuh hari Boe Kie berhasil
mengusir tiga bagian racun dan mengambil pulang satu dua
bagian tenaga dalamnya. Didalam dunia, tak ada orang lain
yg dapat melakukannya.
Untung juga racun itu hanya meniadakan Lwee kang
dan tak membahayakan jiwa. Semula Cie Jiak merasa
sangat jengkel, tapi sesudah lewat beberapa hari, ia sudah
jadi biasa. Ia selalu mengawani Cia Soen menangkap ikan,
memanah burung dan menyediakan makanan. Diwaktu
2084
malam ia tidur disebuah guha disebelah timur pulau itu,
terpisah jauh dari Boe Kie.
Biarpun buta, Cia Soen tahu, bahwa Cie Jiak mencintai
anak angkatnya. Tapi nona itu sangat menjaga tata
kesopanan. Ia tak pernah mengeluarkan sepath kata yg
bersifat guyon. Hal ini sudah mendatangkan rasa hormat
didalam hati orang tua itu.
Boe Kie sendiri terus dirundung dengan rasa kemalu2an.
Ia merasa bahwa kemalangan ini adalah gara2nya sendiri.
Tio Beng seorang putri Mongol dan musuh Beng Kauw.
Banyak tokoh rimba persilatan roboh dalam tangan nona
ini. Tapi ia sendiri secara sangat tolol sama sekali tidak
berjaga2. sepatahpun Cia Soen dan Cie Jiak tidak pernah
menyalahkannya. Tapi, maka mereka bungkam makin ia
merasa jengah. Kadang2 matanya kebentrik dengan mata
nona Cioe. Sorot mata si nona seolah2 mengatakan begini,
“Kejadian ini terjadi sebab kau dibutakan dengan
kecantikan Tio Beng.”
Racun dalam tubuh Boe Kie makin hari makin enteng,
tapi luka In Lee kian hari kian berat. Dipulau itu ternyata
tidak terdapat daun obat. Walaupun Boe Kie memliki
banyak ilmu pengobatan yg tinggi ia tak berdaya. Ia tahu
pasti bahwa pasti luka nona In dapat disembuhkan. Tapi
tanpa obat ia tak bisa berbuat banyak. Kalau dipulau itu
terdapat pohon2 besar, ia tentu sudah membuat getek untuk
berlayar guna mencari pulau lain. Tapi dipulau itu hanya
tumbuh pohon2 kecil. Kalau ia tak mengerti ilmu
pengobatan masih tak apa. Tapi sebagai ahli, siang malam
hatinya seperti diiris2. Ia tahu bagaimana harus menolong,
tapi ia tak dapat menolong.
Pada suatu malam ia mengunyah seperti daun obat yg
bisa menolak panas dan kemudian memasukkannya
kedalam mulut In Lee. Si nona tidak bisa menelan lagi.
2085
Bukan main rasa dukanya dan air matanya jatuh berketel2
dimuka In Lee.
Tiba2 si nona membuka mata, ia tersenyum dan berkata,
“A Goe koko, jangan kau susah hati. Aku ingin pergi di
dunia baga untuk menemui setan kecil Thio Boe Kie yg
kejam dan pendek umur. Aku ingin memberitahukan dia
bahwa didalam dunia terdapat seorang A Goe koko yg
memperlakukan aku secara luar biasa baik seribuk kali,
selaksa kali lebih baik daripada perlakuan Thio Boe Kie.
Boe Kie menggigit bibir untuk menahan mengucurnya
air mata.
Sementara itu, sambil memegang tangan pemuda itu
erat2, In Lee berkata pula, “A Goe koko, aku selalu
menolak permintaanmu untuk menikah. Apa kau marah?
Kurasa permintaanmu itu bukan keluar dari hati yg
sejujurnya. Kurasa kau menipu aku… kau hanya ingin
menyenangkan hatiku. Mukaku jelek, adatku aneh
bagaimana kau bisa mencintai aku?”
“Tidak! Aku tak menipu kau!” kata Boe Kie dengan
suara sungguh2. “Kau seorang gadis yg sangat baik, yg
berhati mulia dan penuh kasih. Aku akan merasa sangat
beruntung apa bila bisa menikah dengan kau. Sesduah kau
sembuh semua urusan2 kita menjadi beres, kita akan segara
menikah. Apa kau setuju?”
Dengan sorot mata berterima kasih, In Lee mengusap2
muka Boe Kie. Ia menggeleng2 kan kepala dan berkata
dengan suara menyesal. “A Goe koko, aku tak bisa nikah
dengan kau. Aku… sudah diberikan kepada Thio Boe Kie
yg kejam dan jahat… A Goe koko, aku merasa takut… Apa
yg bakal kau temukan didunia baka? Apakah ia masih akan
mengunjuk kegalakannya terhadapku?”
Mendengar perkataan si nona yg tak melantur lagi
2086
melihat kedua pipinya yg bersemu dadu, hari Boe Kie
mencelos. “Inilah tanda2 sinar terakhir dari api pelita yg
hampir padam,” katanya dalam hati. “Apakah piauwmoay
bakal meninggal dunia hari ini juga?” Bagaikan orang
linglung ia mengawasi muka saudari sepupunya.
In Lee mengulan pertanyaannya.
“Dia selama2nya akan memperlakukan kau dengan
penuh kecintaan,” jawab Boe Kie dengan suara lemah
lembut. “Dia akan menganggap kau sebagai jantung
hatinya.”
“Apakah dia akan memperlakukan aku sama baiknya
seperti kau?” tanya pula si nona In.
“Langi menjadi Saksti,” kata Boe Kie dengan suara
tetap. “Thio Boe Kie mencintai kau dengan setulus hati.
Dia merasa menyesal bahwa diwaktu kecil dia pernah
melakukan kau secara tidak pantas. Dia… dia tiada
bedanya… tidak beda dari aku sendiri.”
Si nona menghela napas dan pada bibirnya tersungging
senyuman. “Kalau begitu… kalau begitu… “ katanya
dengan suara berbisik, “Aku.. aku tidak berkuatir lagi….”
Perlahan2 kedua matanya tertutup dan rohnya kembali ke
alam baka.
Sambil menggerung2 Boe Kie memeluk jenazah In Lee.
Ia mengutuk dirinya. Ia merasa menyesal tak habisnya,
bahwa sampai menutup mata In Lee masih tak tahu, bahwa
dia adalah Thio Boe Kie. Selama beberapa hari sinona
berada dalam keadaan lupa ingat dan pada detik terakhir
sudah tidak keburu diterangi padanya lagi. Kesedihan Boe
Kie waktu itu tidak dapat dilukiskan lagi dengan kalam. Ia
mengutuk Tio Beng berulang2. Kalau mukanya tidak
digores pedang, belum tentu In Lee dapat ketolongan.
Kalau tidak ditinggalkan dipulau mencil, begitu tiba di
2087
Tiong Goan, ia akan bisa menolong saudari sepupunya itu.
“Tio Beng!.. Tio Beng!” ia mengeluh dengan darah
bergolak golak. “Begitu jahat kau!... kalau kau jatuh
didalam tanganku, aku pasti tidak akan mengampuni kau.”
“Hm!....” mendadak terdenagr suara dingin
dibelakangnya. “Kalau sudah bertemu dengan si cantik,
belum tentu kau turun tangan.”
Boe Kie berpaling dan melihat Cie Jiak di belakangnya.
Ia berduka tercampur malu.
“Aku sudah bersumpah dihadapan jenazah piauwmoay,
bahwa jika aku tidak membunuh perempuan siluman itu,
Thio Boe Kie tak ada muka untuk hidup diantara langit dan
bumi,” katanya dengan suara parau.
“Kalau benar begitu, barulah kau seorang lelaki yg
mempunyai ambekan,” kata Cie Jiak seraya mendekati dan
lalu menangis sambil memegang jenazah nona In.
Mendengar suara tangisan, Cia Soen datang dan iapun
sangat berduka ketika tahu hal meninggalnya In Lee.
Sesudah kenyang memeras air mata, Boe Kie lalu
menggali lubang dan menguburkan In Lee. Ia mengambil
sebatang pohon mengulitinya dan dengan pisau si noan In,
mengukir perkataan seperti berikut, “Kuburan istriku yg
tercinta, In Lee.” Dibawahnya ia mengukir namanya
sendiri. Sesudah itu, ia berlutut ditanah dan menangis
tersedu2.
Melihat kesedihan pemuda itu, Cie Jiak merasa kasihan.
“Sudahlah,” ia membujuk. “Dia mencintai kau dan kaupun
telah memperlakukannya dengan penuh kasih. Asal saja
kau tidak melanggar janjimu dan kau benar2 dapat
membinasakan Tio Beng untuk membalas sakit hatinya
dialam baka roh, adik In akan merasa terhibur.”
2088
(red: tidak ada halaman ato paragraph yg ilang disini,
ketikan as is)
Karena keduanya, racun yg sudah berkumpul di tantian
Boe Kie membayar pula. Dengan bekerja keras tujuh
delapan hari barulah ia bisa mengumpulkan pula racun yg
buyar itu. Akhirnya kira2 sebulan, semua racun baru dapat
diusir pergi.
Pulau dimana mereka terkandas berbeda dari Peng Hwee
to, ato Leng coa to. Disitu bukan saja tak ada pohon pohon
buah, tapi juga tidak terdapat binatang yg bisa dijadikan
barang santapan. Maka itu hidup mereka sangat menderita.
Untung juga, sebab merasa kasihan akah kemalangan Boe
Kie, Cie Jiak sudah memperlakukannya dengan penuh
kasihan dan memberikan bujukan2 yg dapat diberikan
sehingga dengan begitu, penderitaan pemuda itu, banyak
entengan.
Sesudah ia berhasil Boe Kie lalu membantu ayah
angkatnya dalam usahanya mengusir racun Sip Hiang Joan
kin san. Setelah beres dengan Cia Soen, ia sebenarnya harus
menolong Cie Jiak, tapi pertolongan ia tidak dapat
dilakukan sebab terbentur dengan tata kesopanan pada
jaman itu. Dalam memberi bantuan sebelah tangan Boe Kie
harus menempel pada pinggang dan sebelah tangan lagi hrs
menempel pada kempungan yang mau ditolong. Mana
boleh ia membantu seorang gadis remaja cara begitu? Tapi
itu merupakan jalan satu2nya untuk memasukkan Kioe yg
sin kang kedalam tubuh si nona selama beberapa hari, ia
tidak dapat mengambil keputusan.
Pada suatu malam tiba2 Cia Soen bertanya, “Boe Kie
berapa lamakah kita harus berdiam dipulau ini?”
Boe Kie terkejut, “Suka dikatakan,” jawabnya. “Kita
hanya mengharap bahwa sebuah perahu akan lewat dipulau
2089
ini.”
“Dalam waktu satu bulan, apakah kau pernah melihat
bayang2an perahu?” tanya pula sang Gie hoe.
“Tak pernah”
“Ya! Mungkin besok sebuah perahu akan lewat disini.
Mungkin juga seratus tahun lagi tak muncul
bayang2annya.”
“Pulau ini memang pulau terpencil dan tidak berada
dalam garis perhubungan air. Harapan kita memang tidak
besar.”
“Hm… obat pemunah tak akan bisa didapatkan, Boe
Kie. Disamping rasa lemas pada kaki tangan, bahaya apa
lagi yg dapat ditimbulkan oleh racun itu?”
“Kalau mengeramnya didalam tubuh hanya sementara
waktu, boleh dikata tiada lain bahaya. Tapi kalau lama,
racun itu menyerap diotot dan tulang dan sangat
membahayakan anggota didalam badan.”
“Nah kalau begitu mengapa kau tidak buru2 berusaha
untuk menolong Cioe Kouwnio? Kalau orang tua Cioe
Kouwnio adalah anggota agama kita sedang ia sendiri
seorang Ciangboen jin dari Go bie pay. Dimana lagi kau
mau cari gadis yg begitu lemah lembut dan mulia hatinya?
Apa kau anggap ia kurang cantik?”
Boe Kie tertegun. “Kalau Cioe Kouwnio tidak cantik,
didalam dunia tak ada wanita cantik,” jawabnya.
Cia Soen tersenyum, “Kalau begitu aku memerintahkan
supaya kau berdua segera menikah,” katanya. “Sesudah
menikah, kamu tidak terikat lagi dengan segala peraturan
bulukan.”
Cie Jiak yang juga berada disitu buru2 berlalu dengan
2090
paras muka kemerah2an. Cia Soen melompat dan
menghalangi didepannya. Ia tertawa dan berkata, “Jangan
kau pergi! Hari ini aku bertekad untuk menjalankan
peranan comblang.”
“Cia Looya coe, mengapa kau mengacau belo?” kata si
nona dengan sikap kemalu2an.
Kim mo Say ong tertawa terbahak. “Perangkap jodoh
antara lelaki dan perempuan adalah urusan penting dalam
penghidupan manusia,” katanya. “Mengapa kau
mengatakan aku mengacau belo? Boe Kie, kedua orang
tuamu jg menikah dipulau kecil. Kalau dahulu mereka tidak
menyampingkan segala tata adat istiadat bulukan, didalam
dunia mana bisa menjelma seorang bocah yg seperti kau?
Berbeda dari kedua orang tuamu, hari ini, aku yg menjadi
ayah angkatmu, menjalankan peranan sebagai Coaboen
(orang yang menikahkan). Apa kau tidak suka Cioe
Kouwnio? Apa kau tak sudi menolong dia?”
Cie Jiak jadi makin jengah. Ia coba lari.
Sambil menarik tangan si nona, Cia Soen berkata,
“Kemana kau mau lari? Apa besok kamu tidak bakal
bertemu pula. Aha! Kutahu, katu tidak sudi memanggil
“Kong kong” kepadaku, si buta. Bukankan begitu?”
“Bukan! Bukan begitu!”
“Dengan lain perkataan, kau menyetujui usulku?”
“Tidak!... tidak!....”
“Mengapa tidak? Apa kau anggap anak angkatku tak
pantas menjadi pasangan?”
Cie Jiak tidak lantas menjawab. Sejenak kemudian,
sambil menatap muka Kim mo Say ong ia berkata dengan
suara perlahan. “Thio Kong coe, memiliki ilmu silat yang
2091
sangat tinggi dan namanya terkenal diseluruh kalangan
Kangouw. Kalau seorang wanita bisa mendapatkan ia
sebagai suami, apalagi yg masih kurang? Tapi… tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi…. Didalam hati, dia mencintai Tio Kouwnio.
Kutahu adanya kenyataan ini.”
Cia Soen menggertak gigi. “Tidak bisa jadi!” katanya.
“Tak mungkin Boe Kie kelelap terhadap perempuan yg
begitu jahat, yg sudah mencelakai kita secara begini hebat.
Boe Kie aku ingin dengar pernyataan dari mulutmu
sendiri.”
Didepan mata Boe Kie terbayang senyuman dan cara2
Tio Beng yg membetot hati. Ia merasa sangat beruntung
kalau bisa menikah dengan gadis yg sangat menarik hati itu.
Tiba2 ia seolah2 melihat pula jenazah In Lee yg mukanya
penuh dengan goresan pedang. Darahnya meluap dan ia
segera berkata, “Tio Kouwnio adalah musuh besarku. Aku
akan membunuh dia guna membalas sakit hatinya
piauwmoay.”
“Cioe Kouwnio, kau dengarlah!” kata Coa Soen. “Apa
kau masih tak percaya?”
“Aku masih bersangsi…” jawabnya dengan suara
perlahan. “Aku masih bersangsi, kecuali… kecuali dia
bersumpah. Kalau tidak, aku lebih suka mati daripada
ditolong olehnya.”
“Boe Kie, lekas sumpah!” kata sang Giehoe.
Boe Kie segera berlutut dan berkata. “Apabila aku, Thio
Boe Kie, melupakan sakit hatinya piauwmoay, biarlah
langit dan bumi mengutuk aku.”
“Kau harus bicara secara tegas,” kata Cie Jiak. “Apa yg
2092
ingin diperbuat olehmu terhadap Tio Kouwnio?”
Didalam hati Cia Soen merasa geli. Galak benar nona
Cioe! Belum jadi istri, tuntutannya sudah begitu hebat. Tapi
sebagai seorang tua, ia lantas saja berkata. “Boe Kie,
hayolah bicara biar tegas!”
Boe Kie mengangguk dan berkata dengan suara nyaring.
“Perempuan siluman Tio Beng bekerja untuk kaisar Tat
coe. Dia mencelakai rakyat, membunuh pendekar2 Rimba
Persilatan mencari golok mustika Gie Hoe dan
membinasakan In Lee piauwmoay. Begitu lama ia masih
bernapas, Thio Boe Kie tidak akan melupakan sakit hati itu.
Jika aku melanggar sumpah ini, biarlah langit mengutuk
aku, bumi mengutuk aku.”
Cie Jiak tertawa. “Aku hanya kuatir, jika tiba waktunya
kau akan menaruh balas kasihan terhadapnya,” katanya.
“Sekarang sudah berse,” kata Cia Soen. “Kita, orang2
dalam kalangan kangouw, selamanya tidak banyak rewel.
Menurut pikiranku, sebaiknya kamu berdua hari ini segera
menikah, supaya racun Sip haing joan kin san bisa terusir
secepat mungkin.”
“Tidak!” bantah Boe Kie. “Giehoe, Cie Jiak dengarlah
dulu perkataanku. In kouwnio sangat mencintai aku. Sedari
kecil ia menganggap aku sebagai suami nya dan akupun
menganggap dia sebagai istri. Sekarang, sedang jenazah nya
masih belum dingin, mana aku tega untuk segerah
menikah?”
Sesudah memikir sejenak, Cia Soen berkata, “Benar
juga. Tapi bagaimana keinginanmy?”
“Menurut pikiran anak, hari ini anak mengikati tali
pertunangan dengan Cioe Kouw nio dan segera
membantunya dalam mengusir racun Sap hiang joan kin
2093
san,” jawabnya. “Kalau dengan berkah langit, kita bisa
pulang ke Tiong goan sesudah membunuh Tio Beng dan
memulangkan To liong to kepada Gie hoe, barulah anak
melangsungkan upacara pernikahan. Dengan begini, segala
apa akan dapat diselesaikan secara baik.”
“Baik memang baik sekali,” kata Cia Soen. “Tapi
bagaimana kalau sampai sepuluh duapuluh tahun kita
masih belum bisa pulang ke Tiong goan?”
“Didalam batas waktu tiga tahun, tak peduli kita bisa
pulang ke Tiong goan atau tidak Gieh pe boleh menikahkan
kami,” jawabnya.
Kim mo sau ong mengangguk, “Cio Kouw nio,
bagaimana pendapatmu?” tanyanya.
Cie Jiak menundukkan kepalanya, selang beberapa saat,
barulah ia menyahut. “Aku seorang perempuan sebatang
kara. Aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan
menyerahkan segala apa kepada Loo ye coe.”
Cia Soen tertawa terbahak2, “Bagus! Bagus!” katanya.
“Kita bertiga menetapkan janji itu. Sekarang kamu sudah
menjadi tunangan dan tak usah malu2 lagi. Boe Kie, lekas
bantu, tunanganmu!” Sehabis berkata begitu, ia berlalu
dengan tindakan lebar.
Sesudah ayah angkatnya pergi, Boe Kie berkata dengan
suara perlahan. “Cie Jiak, apakah kau bisa mengerti
perasaan hatiku yg penuh kesengsaraan?”
Si nona tersenyum, “Karena mukaku tak cantik, kau
sudah mengajukan rupa2 alasan,” katanya. “Andai kata aku
Tio Kouwnio, mungkin sekarang juga….” Ia tidak
meneruskan perkataannya dan berpaling kejurusan lain.
Dengan jantung memukul keras, Boe Kie berkata
didalam hati, “Waktu terombang ambing ditengah lautan
2094
aku pernah melamun untuk mengambil empat istri
sekaligus. Tapi didalam hati kecilku, orang yg benar2
kucintai adalah si perempuan siluman yg jahat itu. Hai! ….
Cuma2 saja aku dinamakan seorang gagah…. Aku masih
belum bisa membedakan mana yg baik mana yg jahat.”
Ketika Cie Jiak menengok lagi, ia lihat tunangannya
sedang termenung. Tanpa mengatakan suat apa, ia segera
berjalan pergi Boe Kie buru2 menarik tangannya. Diluar
dugaan sebab lweekangnya musnah, ditarik begitu, nona
Cioe terhuyung dan jatuh didalam pelukan Boe Kie.
“Apakah seumur hidup aku harus selalu di hina kau?”
tanyanya dengan suara mendongkol.
Cie jiak benar2 cantik. Ia cantik selagi tertawa dan cantik
pula selagi bergusar. Sambil terus memeluk, Boe Kie
berkata daengan suara lemah lembut. “Cie Jiak, kata
pertama bertemu disungai Han soe. Waktu itu aku sudah
mencintai kau. Sungguh diluar dugaan, bahwa hari ini apa
yg telah dibayang2kan olehku dapat terwujud. Waktu aku
sedang bertempur melawan empat tetua Koen loen dan hwa
san pay di kong beng teng, kau telah memberi petunjuk
kepadaku dan menolong jiwaku, untuk pertolongan itu, aku
sekarang menghaturkan banyak terima kasih.”
Si nona membiarkan dirinya dipeluk.
“Hari itu aku menikam kau, apa kau tidak membenci
aku?” bisiknya.
“Tidak,” jawabnya “Kau tak menikam terus. Detik itu
juga kutahu, bahwa kau sebenarnya mencintai aku.”
Muka Cie Jiak lantas saja berubah merah. “Fui! Kalau
kutahu bakal terjadi kejadian2 yg sudah terjadi, hari itu aku
sudah menikam jantungmu, supaya aku tak dihina kau
terus menerus,” katanya.
2095
Boe Kie tertawa, “Aku sangat mencintaimu, mana boleh
aku menghina kau?” katanya.
Untuk beberapa saat, kedua orang muda yg sedang
menikmati kebahagian tidka berkata2.
Akhirnya, sambil bersandar didada yg lebar, nona Cioe
memecahkan kesunyian.
“Boe Kie koko,” katanya. “Kalau aku membawa
kesalahan kepadamu, kalau aku berdosa apakah kau akan
mencaci aku, memukulku, membunuh aku?”
Boe Kie mencium leher si nona. “Wanita yg semulia kau
tak mungkin berdosa,” jawabnya.
“Biarpun nabi bisa membuat kesalahan sebagai manusia
biasa, aku pasti tak terbebas dari segala kekhilafan.”
“Kalau benar begitu, aku takkan marah. Aku hanya akan
membujuk kau supaya insaf akan kekeliruan.”
“Apa kau takkan berubah pikiran terhadapku? Apa kta
takkan membunuh aku?”
“Cie Jiak, sudahlah! Jangan memikir yang tidak2. Mana
bisa terjadi kejadian itu?”
“Baiklah!” kata Boe Kie sambil tertawa.
“Aku berjanji takkan berubah pikiran, tak akan
membunuh kau.”
Cie Jiak menatap wajah Boe Kie, “Aku tak mau kau
memberi janji sambil tertawa-tawa,” katanya. “Aku
menuntut kau bersungguh.”
“E-eh!... Ada apa yg masuk kedalam otakmu?” tanya
Boe Kie sambil tertawa geli. Tapi didalam hati dia berkata.
“Dasar aku yg salah. Ia rupa2nya masih berkuatir,
karena sikapku yg penuh kecintaan terhadap Tio Beng.
2096
Siauw Ciauw dan piauw moay.” Memikir begitu, dia lantas
saja berkata dengan sungguh2. “Cie Jiak, kau istriku. Kalau
dahulu hatiku banyak bercabang, sekarang lain keadaannya.
Aku berjanji, bahwa mulai detik ini, aku takkan berubah
pikiran terhadapmu. Andai kata kau bersalah, andai kata
kau berdosa, aku bahkan takkan mencaci kau.”
Si nona menghela napas. “Boe Kie koko,” katanya. “Kau
seorang laki2 yang sejati. Kuharap dihari kemudian, kau
tidak akan melupakan perkataanmu yg dikeluarkan pada
malam ini.” Ia menuding bulan sisir yg baru muncul “Boe
Kie koko, sang rembulan menjadi saksi kita berdua.”
“Benar,” kat Boe Kie, “Kau benar. Sang rembulan
menjadi saksi.” Sambil mengawasi dewi malam itu ia
berkata pula.
“Cie Jiak, selama hidup, sering sekali aku dihina orang.
Sebab terlalu percaya manusia, sering sekali aku menderita.
Entah berapa kali, aku tak ingat lagi. Hanyalah pada waktu
berada di Peng hwee to bersama ayah, ibu dan Giehce, aku
terbebas dari segala kelicikan manusia rendah. Waktu aku
baru tiba di Tiong goa, seorang pengemis sedang bermain
main dengan seekor ular, telah menipu aku. Dia membujuk
supaya aku melongok kedalam karungnya untuk melihat
ularnya dan tiba2 ia menangkrup dengan karungnya itu.
Lihatlah sekarang. Kita datang dipulau ini dnegna sama
sama menderita. Siapa nyana pada malam pertama, Tio
Kouwnio telah menaruh racun dimakanan kita dan kabur
dengan perahu yg satu2nya?”
Si nona tersenyum. “Sudahlah,” katanya, “Menyesalpun
tiada gunanya.”
Tiba2 gelombang rasa bahagia bergolak golak dalam
dada Boe Kie. “Cie Jiak,” bisiknya. “Kau adalah manusia
yg berada paling dekat denganku. Kau selalu
2097
memperlakukan aku dengan penuh kecintaan. Dihari
kemudian, sesudah kita pulang dari Tiong goan, kau dapat
membantu aku untuk berjaga jaga terhadap manusia2
rendah. Dengan bantuanmu, aku boleh tak usah mengalami
lebih banyak penderitaan lagi.”
Si nona menggelengkan kepalanya, “Aku seorang yg tak
punya guna,” katanya.
“Aku kalah jauh daripada Tio Kouwnio, bahkan masih
kalah dari Siauw Ciauw kouwnio. Apa kau tahu, bahwa
istrimu seorang bodoh?”
Demikianlah, sambil berduduk dipinggir pantai kedua
tunangan ini beromong kosong sampai larut malam.
Pada keesokan harinya Boe Kie mulai membantu Cie
Jiak dengan Kioe yang Sin kang. Ia merasa girang bahwa
tunangannya segera mendapat kemajuan. Mungkin sekali,
sebab tidak banyak makan, Cie Jiak hanya menelan sedikit
racun.
Tapi diluar dugaan, pada hari ketujuh didalam tubuh si
nona muncul semacam hawa yang amat dingin, yg
melawan hawa Kioe yang sin kang. Dengan seantero
tenaganya, Cie Jiak coba menekan hawa dingin itu, tapi ia
tetap tak dapat memasukkan Kioe yang Sin Kang kedalam
badannya. Boe Kie kaget dan segera menanyakan pendapat
ayah angkatnya.
Sesudah memikir beberapa saat, Cia Soen berkata,
“Akupun tidak mengerti. Mngkin sekali karena pemimpin
Go Bie pay seorang wanita, maka tenaga dalam mereka
bersifat Im Jioe (dingin lembek).”
Boe Kie manggut2kan kepalanya.
Untung jg lweekang Cie Jiak berada disebelah bawah
lweekang Boe Kie. Maka itu dalam memasukkan sin kang
2098
kedalam tubuh si nona, pemuda itu dapat menindih hawa
yg sangat dingin itu. Tapi dengan demikian ia harus
mengeluarkan lebih banyak tenaga daripada waktu
membantu ayah angkatnya. Ia merasa bahwa Im Kim
(tenaga dingin) dari tunangannya memang belum kuat. Tapi
sebagai ahli, ia tahu, bahwa dihari kemudian, kalau Cie
Jiak sudah mencapai tingkat yg tinggi, ia kaan memperoleh
lwee kang yg dahsyat luar biasa. Tanpa terasa ia memuji,
“Cie Jiak, gurumu, Biat Coat Soethay, memang seorang
tokoh jarang tandingan. Ia telah mewariskan lweekang yg
sangat tinggi kepadamu. Apabila kau terus berlatih menurut
ajaran itu, dikemudian hari tenaga dalammu akan bisa
berendeng dengan Kioe yang sin kaing yg dimiliki olehku.”
“Justru!” kata si nona sambil tertawa.
“Mana bisa ilmu GO bie pay merendengi Kioe Yang Sin
Kang dan Kian Koen Tay Lo Ie dari Toa Kauw Coe
(Kauwcoe besar)?”
“Cie Jiak, aku tidak bicara main2,” kata pula Boe Kie
dengan paras sungguh2.
“Bakatmu sangat baik, mungkin sekali, didalam jurus2
ilmu silat, kau tidak dapat memahami telalu banyak. Tapi
dalam lweekang kau sudah mempunya dasar yg sangat
baik. Tay suhu sering mengatakan, bahwa pada tingkat
tertinggi ilmu silat yg berhubungan erat dengan sifat seorang
manusia yg mempelajarinya. Seorang yg berotak cerdas
belum tentu bisa naik sampai dipuncak tertinggi. Sepanjang
ceritga ayah, Kwee liehiap pendiri Go Bie pay, yaitu Kwee
tayhiap adalah seorang yg berotak tumpul. Akan tetapi
semenjak dahulu sampai sekarang, ilmu silat yg dimiliki
Kwee tayhiap mungkin belum ada tandingannya. Tay
soehoe mengatakan bahwa ia sendiri belum bisa
merendengi lwee kang Kwee tayhiap. Cie Jiak, aku
bersungguh2. pelajaran lwee kang Go bie pay agaknya
2099
masih lebih tinggi dari Boe tong pay. Menurut
penglihatanku dihari nanti, kalau kau sudah berhasil, kau
bisa berada disebelah atas gurumu sendiri.”
Si nona mengawasi tunangannya. “Ah! Kau hanya ingin
mengambil hatiku,” katanya seraya tersenyum. “Aku sudah
merasa sangat puas, apabila aku bisa memperoleh
sepersepuluh dari kepandaian Sian soe. Aku akan segera
berterima kasih, jika kau sudah mengajarku dalam ilmu
Kioe yang Sin Kang Kian Koen tay lo Ie.”
Boe Kie tidak menjawab ia megerutkan alisnya.
Si nona tertawa, “Apa aku belum cukup berderajat untuk
menjadi murid Tao Kauwcoe?” tanyanya.
“Bukan begitu! Aku merasa bahwa lweekang mu berbeda
dari lweekang ku. Bukan saja berbeda, bahkan bertentangan
satu sama lain. Kalau aku mengajar kau akan menghadapi
suatu yg amat sukar dan sangat berbahaya. Bukan aku tak
sudi.”
“Kalau kau tak sudi mengajar, sudahlah! Perlu apa
rewel2? Dalam belajar ilmu silat, paling banyak tidak
berhasil. Mana bisa jadi berbahaya?”
“Kau salah! Kau salah menerka. Kioe yang Sin kang
adalah lweekang yg bersifat Yang Kong (panas keras)
sedang lweekang Go bie pay bersifat Im jioe (dingin
lembek). Apabila kau melatih diri dalam ilmu Kioe yang
Sin kang, maka Im dan Yang akan bercampur menjadi satu.
Hanyalah orang2 yg memiliki kepandaian sangat tinggi,
misalnya Tay suhu, yg bisa mempersatukan “air” dan “api”
bercampur “keras” dengan “lembek”. Salah sedikit saja
ilmu itu akan membakar, orang yg berlatih seperti golok
makan tuan. Hm…. Cie Jiak, nanti manakala lweekangmu
sudah mencapai tingkat yg tinggi, kau boleh mempelajari
Sim hoat dari Kian koen Tay lo ie.”
2100
Si nona tertawa geli, “Aku hanya berguyon,” katanya.
“Mulai dari sekarang aku tak akan berpisah lagi dengan
kau, sehingga tak ada perbedaan apa itu ilmu silatku atau
ilmu silatmu. Aku manusia yg malas. Kioe yang Sin kang
bukan ilmu yg gampang. Maka ia biarpun dipaksa, belum
tentu aku mau mempelajarinya.” Mendengar kata2 yg
manis itu, Boe Kie merasa girang sekali.
Dalam suasana bahagia, tanpa merasa mereka sudah
berdiam dipulau itu selama beberapa bulan. Cie Jiak merasa
seantero tenaganya sudah pulih kembali. Mungkin sekali
semua racun sudah terusir.
Sesudah musim dingin lewat, tibalah musim semi yg
indah. Pada suatu hari, Boe Kie memeting beberapa ranting
tho yg penuh bunga disebelah timur pulau. Dengan rasa
terharu, ia menancapkan ranting2 di depan kuburan In Lee.
Ia ingat bahwa saudari sepupu itu bernasib malang.
Mungkin sekali, sehari pun nona itu belum pernah
mencicipi rasa beruntung. Ia berdiri terpaku dan didepan
matanya terbayang pula kejadian2 pada masa yg lampau.
Mendadak, ia disadarkan oleh suara burung2 laut. Ia
menengadah dan tiba2 saja ia melihat layar ditempat jauh
dan kendaraan air itu sedang mendatangi kearah pulau.
Itulah kejadian yg tak diduga2. Hatinya meluap dengan
kegirangan. Ia melompat dan berteriak sambil berlari2.
“Gie hoe! Cie Jiak! Kapal! Ada kapal!”
Cia Soen dan Cie Jiak lantas saja menghampiri. “Boe
Kie koko,” kata si nona dengan suara gemetar, “Bagaimana
bisa ada kapal datang kesini?”
“Akupun tak mengerti” jawabnya. “Apa kabal bajak?”
Setengah jam kemudia, kapal layar itu sudah membuang
sauh di luar pulau. Sebuah perahu kecil menghampiri
pulau. Cia Soen bertiga berdiri di pesisir untuk menyambut.
2101
Segera juga mereka mendapat kenyataan, bahwa orang2 di
perahu itu semua mengenakan seragam angkatan laut
Mongol.
Jantung Boe Kie memukul keras. “Apa Tio Kouwnio
berubah pikiran dan datang lagi kesini?” tanyanya didalam
hati. Ia melirih Cie Jiak yang ternyata sedang mengerutkan
alis. Rupa2 nya tunangan itupun mempunyai dugaan yg
sama.
Tak lama kemudia perahu itu menepi. Lima orang anak
buah mendarat. Pemimpinnya seorang perwira,
menghampiri Boe Kie dan bertanya sambil membungkuk,
“Apa tuan Thio Boe Kie, Thio Kongcoe?”
“Benar,” jawabnya. “Siapa tuan?”
Mendengar jawaban itu, ia kelihatan girang sekali,
“Namun Siauw jin yg rendah, Pas Tai,” sahutnya.
“Siauwjin merasa sangat beruntun, bahwa hari ini kami bisa
menemukan Kongcoe. Siauwjin menerima perintah untuk
menyambut Thio Kongcoe dan Cia Tayhiap pulang ke
Tionggoan,” ia tidak menyebut nama Cie Jiak.
Boe Kie menyoja, “Dari tempat jauh tuan datang kesini
dan kami merasa sangat berterima kasih,” katanya. “Tapi
apa kau boleh mendapat tahu, siapa yg memerintahkan
tuan?”
“Siauw jin adalah orang sebawahan Teetok angkatan
laut, Taiwa Che lu, yang menjaga propinsi Hiok kian,”
jawabnya. “Atas perintah Pol tua, Ciang Koen (jendral),
siauwjin datang kesini untuk menyambut Kongcoe dan Cia
Tayhiap Pol tua Ciang koen telah mengirimkan delapan
buah kapal yg coba mencari kalian diperairan sepanjang
propinsi Hok Kian, Ciat kang dan kwitang. Atas berkat
Thian, siauw jin lah yg memperoleh pahala ini.” Dari
keterang itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang yg
2102
berhasil mencari Boe Kie akan mendapat hadiah besar.
Boe Kie belum pernah mendengar nama pembesar2
Mongol itu dan ia tahu bahwa semua perintah dikeluarkan
atas titah Beng Beng koengcoe. “Apa kau tahu, mengapa
kau diperintah untuk menyambut kami?” tanyanya.
“Pol tua Ciang koen mengatakan, bahwa Thio Kongcoe
adalah seorang bangsawan berkedudukan tinggi dan juga
seorang gagah kenamaan pada jaman ini,” jawabnya.
“Beliau memesan, bahwa andaikata siauwjin berhasil
menemukan Kongcoe, siauw jin harus melayani sebaik
mungkin. Tentang mengapa siauwjin diperintah
menyambut kongcoe, siauwjin sendiri sebagai seorang
berpangkat rendah, tidak mengetahui.”
“Apa ini maunya Beng beng kongcoe?” sela Cie Jiak.
Pas tai kelihatan terkejut, “Beng beng kongcoe?” ia
menegas. “Siauwjin tak punya rejeki begitu besar untuk
menemui beliau.”
“Apa artinya perkataan ‘rejeki’ itu?” tanya pula si nona.
“Beng beng koengcoe adalah wanita Mongol yg
tercantik,” sahutnya. “Tidak!... bukan begitu saja. Beliau
adalah wanita tercantik diseluruh dunia, seorang yg boen
boe coan cay (paham ilmu surat dan ilmu perang). Beliau
adalah putra yg tercinta dari Jie Lam ong Ong ya. Siauwjin
belum punya rejeki untuk melihat muka emasnya.”
Cie Jiak mengeluarkan suara dihidung, tapi dia tidak
menanya lagi.
“Gie hoe, apa kita boleh turut merek?” tanya Boe Kie.
“Sesudah mengambil barang2 kita disana, kita boleh
lantas naik kapal,” jawabnya. “Tuan tunggu saja disini.”
“Biar Siauwjin dan anak buah kami yang mengangkut
2103
perbekalan kalian,” kata Pas Tai.
Cia Soen tertawa, “Perbekalan apa? Beberapa potong
barang kita tidak dapat dinamakan perbekalan. Kami tidak
berani menerima tawaran tuan,” katanya.
Seraya berkata begitu, ia berlalu sambil menuntun tangan
Boe Kie dan Cie Jiak. Setibanya dibelakang gunung, ia
berhenti dan berkata, “Secara mendadak Tio Beng
mengirim kapal. Di balik tindakan ini pasti bersembunyi
tipu keji. Bagaimana kita harus menghadapinya?”
“Gie hoe, apa kau rasa… Tio Beng… berada di kapal
itu?” tanya Boe Kie.
“Entahlah,” jawabnya. “Bagus sungguh kalau benar
perempuan siluman itu berada dikapal. Kita hanya harus
berhati2 dalam makanan.”
Cia Soen manggut2kan kepalanya.
“Menurut taksiranku, Tio Beng tidak ikut serta,” katanya
pula. “Menurut ia ingin menulad tindakan orang Persia. Ia
memancing kita kekapal dan setelah kapal berada ditengah
lautan, pasukan laut Mongol akan mengurung dan
menenggelamkan kapal yg ditumpangi kita.”
Boe Kie mengeluarkan keringat dingin.
“Tapi.. apa benar dia begitu busuk?” tanyanya dengan
suara gemetar. “Dia sudah tinggalkan kita dipulau ini yang
akan menjadi kuburan kita. Apa itu masih belum cukup?
Pada hakekatnya kita bertiga belum pernah berdosa besar
terhadapnya.”
Cia Soen tertawa dingin, “Kau sudah melepaskan
anggota2 enam partai dari Ban hoat sie,” katanya. “Apa
kau kira dia tidak sakit hati? Bagi peremouan siluman itu,
perempuan siluman meninggalkan kita di pulau ini memang
2104
tak cukup sebab kita masih bisa pulang ke Tiong goan.
Menghilangnya kau sudah pasti akan menggemparkan
semua anggota Beng kauw. Mereka pasti akan berusaha
untuk mencari kau. Dalam usaha ini, mungkin sekali
mereka akan mencari sampai disini. Maka itu, jalan yg
paling baik bagi si perempuan siluman adalah
membinasakan kita dengan mengirim kita kedasar laut.”
“Tapi Gie hoe,” kata si anak dengan suara sangsi,
“Kalau mereka menenggelamkan kapal yang ditumpangi
kita dengan tembakan meriam, bukankah Pas Tai dan lain2
anak buah kapal bakal turut binasa?”
Cia Soen tertawa terbahak2. Sesudah itu ia pun
menghela napas berulang2. “Anak Boe Kie! Pikiranmu
terlalu sederhana,” katanya. “Apa kau rasa orang2 yg
seperti dia menghiraukan matinya beberapa manusia?
Kalau kaisar Mongol lembek seperti kau, mana bisa dia
menyapu musuh2nya?”
Boe Kie tertegun. Selang beberapa saat baru lah ia
berkata dengan suara perlahan. “Gie hoe, kau benar.”
“Gie hoe, apakah yang harus kita perbuat?” tanya Cie
Jiak.
“Bagaimana pikiranmu. Apa kau mempunya daya yg
baik?” Cia Soen balas menanya.
“Kalau begitu, kita jangan mengikuti mereka. Katakan
saja bahwa kita berubah pikiran dan sekarang tak mau
pulang ke Tiong goan.”
“Ha, ha,ha! Pikiran itu adalah pikiran tolol dari seorang
gadis yg tolol pula. Kalau kita menolak, apa mereka mau
mengerti? Andaikata kita membinasakan semua anak buah
kapal itu, si perempuan siluman masih bisa mengirim lain2
kapal. Disamping itu, di Tionggoan masih banyak urusan
2105
yg harus diurus oleh Boe Kie. Ia tidak boleh mati konyol
disini.”
Paras si noan lantas saja berubah merah. “Benar,”
katanya dengan perlahan. “Sebaiknya kita menyerahkan
saja segala apa kepada Gie Hoe.”
Cia Soen manggut2kan kepalanya. Setelah mengasah
otak beberapa laam ia lalu bicara bisik2 dikuping kedua
orang muda itu yg lantas saja mengangguk dengan paras
muka girang.
Mereka lalu mengangkut semua bahan makanan
keperahu kecil dan sesudah itu, Boe Kie menengok
kekuburan In Lee untuk penghabisan kali dan berpamitan
dengan mengucurkan air mata.
Setibanya di kapal, Boe Kie lalu memeriksa seluruh
kapal. Benar saja Tio Beng tidak berada di situ. Iapun
mendapati kenyataan, bahwa di antara anak buah tidak
terdapat orang yang berkepandaian tinggi. Mereka semua
adalah pelaut-pelaut biasa dari angkatan perang Mongol.
Sesudah mengangkat sauh dan menaikkan layer, kapal
itu mulai berlayar. Baru berlayar beberapa puluh tomabk,
Boe Kie segera bertindak dengan cepat sesuai dengan tipu
yang ditetapkan Cia Soen. Tiba-tiba dengan kecepatan kilat,
tangan kirinya mencekal tangan kanannya mencabut golok
perwira itu, yang lalu ditandal di lehernya.
“Dengarlah perintah aku!” bentaknya.
“Suruh juru mudi jalankan kapal ke arah timur!”
Pas-tai kaget bercampur takut. “Thio…Thio Kongcoe…”
katanya dengan suara gemetar,
“Siauwjin…Siauwjin.”
“Turut perintahku!” bentak pula Boe Kie. “Kalau kau
2106
tidak menurut, kubacok batok kepalamu!”
“Baik…baik…” jawabnya.
Haluan kapal segera diputar ke timur.
Setelah itu, Boe Kie berkata dengan suara nyaring.
“Kamu semua dengarlah! Aku sudah tahu bahwa kamu
ingin mencelakai kami. Lebih baik kamu mengaku. Kalau
kamu berdusta, kucabut nyawamu semua!” Seraya berkata
begitu, ia menepuk pinggiran kapal dengan telapak tangan.
Potongan-potongan kayu beterbangan dna bagian-bagian
yang ditepuk somplak. Melihat begitu, semua anak buah
ketakutan setengah mati.
“Thio Kongcoe, kau bersabarlah dulu.” Kata Pas-tai
dengan meringis. “Dengan sebenar-benarnya, siauwjin
hanya menerima perintah dari atasan untuk mencari
Kongcoe dan Cia Tayhiap dan mengajak kalian pulang ke
Tionggoan. Siauwjin hanya berharap bahwa sesudah
menunaikan tugas itu, siauwjin akan mendapat sedikit
hadiah. Inilah pengakuan yang setulus-tulusnya. Kami
semua tidak mempunyai niat jahat.”
Mendengar nada suara yang bersungguh-sungguh, Boe
Kie yakin bahwa dia tidak berdusta. Ia segera melepaskan
cekalannya dan berjalan ke kepala kapal. Kedua tangannya
menjumput dua buah sauh yang terbuat dari besi. “Hei!
Lihatlah!” serunya. Dengan sekali menggerakkan tangan,
kedua sauh yang beratnya beberapa ratus kati lantas saja
terbang ke atas.
“Aduh…!” semua anak buah kapal mengeluarkan suara
tertahan.
Waktu kedua sauh itu jatuh, Boe Kie mendorongnya
dengan menggunakan Kian-koen Tay lo ie, sehingga
mereka terbang lagi ke atas. Setelah mengulangi
2107
pertunjukkan itu tiga kali beruntun, barulah ia
menyambutnya dan kemudian menaruhnya di kepala kapal.
Sebagai bangsa yang sudah menaklukkan negeri-negeri
dengan kegagahan, bangsa Mongol sangat mengagumi
kegagahan. Melihat kepandaian Boe Kie, tanpa terasa
mereka kagum. “Kegagahan Thio Kongcoe bagaikan
malaikat,” kata Pas-tai. “Hari ini mata Siauwjin mendapat
kehormatan untuk sesuatu yang luar biasa.”
Demikianlah, dnegan memperlihatkan kepandaian itu,
Boe Kie berhasil menaklukkan anak buah kapal.
Kapal terus menuju ke arah timur dan masuk ke
samudra. Selama tiga hari ia tak melihat lain kecuali air
yang menyambung dengan langit. Menurut perhitungan Cia
Soen kapal-kapal meriam yang dikirim Tio Beng hanya
berkeliaran di sepanjang pantai Hok-kian dan Kwi-tang.
Sekarang kapal yang ditumpanginya sudah berada di
samudra dan takkan bertemu dengan kapal-kapal itu. Maka
itu, pada hari kelima ia lalu memerintahkan supaya kapal
memutar haluan lagi dan berlayar menuju ke arah utara.
Berselang dua puluh hari lebih mereka masuk di wilayah
pak hay (Lautan Utara). Cia Soen tersenyum sendirian.
Biarpun pintar, Tio Beng takkan bisa menebak di mana
adanya kapal itu. Dari pak hay, juru mudi diperintah lagi
untuk memutar haluan ke arah barat, dengan tujuan Tionggoan.
Selama kurang lebih sebulan, Cia Soen bertiga hanya
makan makanan yang dibawa mereka atau ikan yang
ditangkap dari lautan. Mereka tak berani makan makanan
kapal.
Pada suatu lohor, sayup-sayup mereka lihat bayangan
daratan. Sesudah berada di lautan dalam waktu lama,
tentara Mongol girang dan ia bersorak sorai. Di waktu
magrib, kapal sudah berlabuh di pinggir pantai. Daerah
pantai memang satu-satunya daerah yang merupakan
2108
gunung dan airnya dalam, sehingga kapal bisa menepi
sampai menempel dengan daratan. “Boe Kie,” kata Cia
Soen, “Coba kau selidiki di mana kita sekarang berada.”
Boe Kie mengiyakan dan lantas melompat ke daratan.
Apa yang ditemui Boe Kie hanyalah hutan. Salju baru
saja melumer dan jalanan sangat licin. Makin jauh ia maju,
makin besar pohon-pohon yang ditemuinya. Ia memanjat
sebuah pohon yang tinggi dan memandang ke sekitarnya. Ia
ternyata berada di tengah-tengah sebuah hutan yang sangat
besar. Sedikitpun tidak terdapat tanda-tanda bahwa di
hutan itu ada musuhnya.
Ia segera turun dari pohon dan mengambil keputusan
untuk kembali ke kapal guna berdamai dengan ayah
angkatnya. Sebelum tiba, tiba-tiba ia mendengar suara
teriakan yang menyayat hati. Ia terkesiap dan berlari-lari
dengan menggunakan ilmu meringankan badan. Setibanya
di kapal, ia melihat mayat-mayat yang menggeletak di
kapal, antaranya mayat pas-tai sendiri. Ia girang karena
ayah angkatnya dan tunangannya tak kurang suatu apa.
Mereka berdiri dengan tenang di kepala kapal dan di situ
tidak terdapat manusia lain.
“Giehoe! Cie Jiak!” serunya. “Ke mana perginya
musuh?”
“Musuh apa?” Cia Soen balas bertanya.
“Apa kau bertemu dengan musuh?”
“Tidak. Tapi tentara Mongol ini…”
“Dibunuh olehku dan Cie Jiak!”
Boe Kie terkesiap, “Tak disangka, begitu tiba di Tionggoan,
mereka mencoba mencelakai kita,” katanya.
“Tidak, mereka tak mencoba mencelakai kita. Aku
2109
membunuh mereka untuk menutup mulutnya. Sesudah
mereka mati, Tio Beng tak akan tahu bahwa kita sudah
kembali ke Tiong-goan. Mulai dari sekarang, dia berada di
tempat terang dan kita di tempat gelap, sehingga usaha
untuk membalaskan sakit hati akan lebih gampang
tercapai.”
Boe Kie tertegun. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah
kata dan hanya menatap wajah ayah angkatnya dengan
mata membelalak.
“Apa? Kau anggap aku terlalu kejam?” tanya Cia Soen.
“Tentara Tat coe adalah musuh-musuh kita. Apa kau mau
memperlakukan mereka dengan menggunakan hati Po sat
(balas kasih)?”
Boe Kie membungkam terus. Di dalam hati, ia berduka.
Orang-orang itu tidak berdosa dan sikap mereka sangat
baik. Biarpun musuh, ia merasa tak tega untuk membunuh
mereka.
Melihat paras muka anak angkat Cia Soe berkata, “Boe
Kie, kau harus bisa mengeraskan hati. Terhadap musuh,
kalau kita tidak turun tangan lebih dulu, kitalah yang
menjadi korban. Tio Beng sangat jahat. Terhadap manusia
begitu, kita harus menghadapinya dengan tindakan yang
tegas, tanpa sungkan-sungkan lagi.”
Boe Kie tidak berani membantah perkataan ayah
angkatnya. Ia mengangguk dan berkata dengan suara parau,
“Giehoe benar.”
“Boe Kie, bakarlah kapal ini,” perintah Cia Soen. “Cie
Jiak, geledah saku-saku semua mayat. Ambil semua barang
yang berharga. Ambil tiga senjata yang paling baik untuk
kita.”
Perintah itu segera dijalankan. Semua mayat terbakar
2110
bersama kapal yang kemudian tenggelam di laut. Dengan
demikian, kembalinya Cia Soen bertiga tidak meninggalkan
tanda apapun juga. Diam-diam Boe Kie merasa kagum
terhadap ayah angkatnya. Walaupun kejam, ayah angkat
itu adalah seorang Kang ouw yang berpengalaman.
Malam itu mereka tidur di pinggir laut dan pada
keesokan paginya meneruskan perjalanan ke selatan. Pada
hari kedua sesudah melintasi hutan, mereka bertemu
dengan tujuh orang yang mencari obat-obatan sejenis
“som”. Ternyata mereka sekarang berada di daerah yang
berdekatan dengan gunung Tiang pek san.
Sesudah berpisah dengan ketujuh orang itu, Cie Jiak
bertanya, “Giehoe, apa kita tak perlu bunuh orang-orang
itu?”
“Cie Jiak, tutup mulutmu!” bentak Boe Kie, “Mereka tak
tahu siapa kita. Apa kau mau bunuh semua manusia yang
kita temui?”
Paras muka si nona berubah merah. Semenjak bertemu,
Boe Kie belum pernah mengeluarkan kata-kata begitu keras
terhadapnya.
“Kalau ikut kata hatiku, aku memang ingin bunuh
mereka,” kata Cia Soen, “Tapi Kauwcoe kita tidak mau
membunuh lebih banyak manusia. Sekarang kita harus
menukar pakaian dan menyamar supaya tidak dikenali
orang.”
Sesudah berjalan dua hari, mereka bertemu dengna
sebuah rumah petani. Boe Kie mengeluarkan perak dan
minta beli pakaian. Tapi petani itu sangat miskin dan hanya
mempunyai selembar baju kulit kambing yang bisa dijual.
Sesudah mereka mengunjungi kira-kira tujuh delapan
rumah, barulah Boe Kie berhasil membeli tiga perangkat
pakaian tua yang kusam. Cie Jiak yang biasa dengan
2111
kebersihan hampir-hampir muntah waktu mengendus bau
tak enak dari pakaian itu. Tapi Cia Soen merasa girang.
Sesudah mengenakan pakaian-pakaian itu dan memoles
muka mereka dengan Lumpur, mereka kelihatannya seperti
pengemis Lieon tong. Boe Kie yakin bahwa biarpun
berhadapan, Tio Beng tak akan bisa mengenalinya.
Mereka terus berjalan ke arah selatan. Pada suatu hari,
mereka tiba di sebuah kota yang harus dilewati jika orang
mau masuk ke Kwan-lwee. Cia Soen bertiga pergi ke
sebuah rumah makan yang paling besar. Boe Kie
mengeluarkan sepotong perak yang beratnya sepuluh tail
dan berkata kepada pengurus restoran, “Kau pegang ini.
Sesudah kami selesai makan, hitunglah.” Ia memberi uang
lebih dulu sebab kuatir ditolak karena pakaian mereka
compang-camping.
Tapi sambutannya sangat luar biasa. Pengurus itu
bangun berdiri dan dengan sikap hormat memulangkan
uang. “Kami sudah merasa beruntung bahwa kalian sudi
mampir di rumah makan kami yang kecil ini. Apa artinya
semangkok dua mangkok sayur? Kali ini biarlah kami yang
menjamu kalian.”
Boe Kie merasa sangat heran. Sesudah mengambil
tempat duduk ia berbisik kepada Cie Jiak, “Aku heran.
Mengapa dia tak mau menerima uang? Apa penyamaran
kita tidak sempurna dan dikenali orang?”
Cie Jiak mengawasi Cia Soen dan Boe Kie, tidak,
penyamaran mereka dapat dikatakan tidak ada cacatnya.
“Nada suara pengurus itu nada ketakutan,” kata Cia
Soen, “Kita harus berhati-hati.”
Tiba-tiba di bawah tangga loteng terdengar suara langkah
kaki ramai-ramai dan tujuh orang naik ke atas, mereka
semua pengemis! Lagak pengemis-pengemis itu sangat
2112
keren da mereka duduk seperti tuan-tuan besar. Pelayan
menyambut dengan sikap sangat hormat dan memanggil
mereka dengan istilah “ya” (padaku tuan), seolah-olah
mereka orang-orang berpangkat tinggi.
Boe Kie segera saja mengetahui bahwa mereka itu
murid-murid Kay pang yang berkedudukan agak tinggi,
sebab mereka membawa lima atau enam lembar karung.
Beberapa saat kemudian datang lagi lima enam pengemis,
disusul dengan rombongan-rombongan lain sehingga
jumlah mereka melebihi tiga puluh orang. Diantara mereka
terdapat tiga orang yang membawa tujuh lembar karung.
Boe Kie mendusin. Kay pang mau mengadakan
perhimpunan dan si pengurus rumah makan menganggap
mereka sebagai anggota-anggota partai tersebut. “Giehoe,”
bisik Boe Kie, “Sebaiknya kita berlalu saja supaya tidak
terjadi kejadian yang tak enak. Dilihat seluruhnya, orangorang
Kay pang yang datang ke sini jumlahnya sangat
besar.”
Selagi Boe Kie bicara, seorang pelayan datang dengan
membawa sepiring daging sapi, ayam rebus dan lima kali
arak putih.
Sudah lebih dua bulan Cia Soen belum pernah makan
kenyang dan sekarang ia sedang lapar. Begitu hidungnya
mengendus wanginya daging, tangannya bergerak. “Makan
dulu,” katanya. “Halangan apa kalau kita makan tanpa
memperdulikan urusan orang?” Seraya berkata begitu, ia
menuang arak di mangkok dan lalu meneguknya dengan
bernapsu. Dua puluh tahun lebih ia tak pernah mencicipi
arak, baginya arak putih yang keras dan pedas itu seolaholah
arak yang paling baik. Dengan dua kali teguk,
semangkok besar sudah menjadi kering.
Tiba-tiba ia menaruh mangkok di meja dan berbisik,
2113
“Hati-hati! Dua orang yang kepandaian tinggi naik ke sini.”
Boe Kie pun sudah mendengar langkah di tangga loteng.
Langkah kaki kiri orang yang berjalan di depan sangat
berat, langkah kaki kanannya sangat ringan, sedang yang
berjalan di belakang pun begitu juga, langkah sebelah
ringan, sebelah yang lain berat. Tak bisa salah lagi, mereka
mempunyai kepandaian luar biasa. Begitu mereka muncul,
semua pengemis serentak bangun berdiri. Cia Soen bertiga
juga turut bangkit. Untung juga mereka duduk di sudut
yang jauh sehingga tidak menyolok mata.
Orang yang pertama bertubuh sedang, tampan dan
berjenggot. Kecuali pakaiannya, pada keseluruhannya ia
seperti seorang siaucay yang tak lulus ujian. Yang jalan
belakangan keren sekali. Di mukanya menonjol otot-otot,
brewoknya seperti kawat, parasnya galak dan kulitnya
hitam sehingga melihat dia, orang segera ingat Cioe Cong
(panglima di jaman Sam kok yang selalu berdiri di samping
Kwan kong). Keduanya berusia lima puluh tahun lebih dan
masing-masing menggendong selembar karung kecil yang
tidak bisa dimuatkan suatu apa dan hanya digunakan untuk
menunjuk kedudukan mereka di dalam partai pengemis.
Boe Kie menghela napas. Ia ingat bahwa seratus tahun
yang lalu, Kay pang mempunyai nama yang sangat harum.
Dari Tay soehoenya ia tahu bahwa dulu sebagai seorang
pangcu, Ang Cit Kong yang berkepandaian sangat tinggi
telah mengabdi kepada rakyat dan selalu bersedia untuk
menolong sesame manusia sehingga dia dihormati oleh
semua kalangan dalam Rimba Persilatan. Belakangan Oey
Pangcoe (Oey Yong) dan Yehlu Pangcoe juga merupakan
pemimpin-pemimpin yang sangat baik. Di luar dugaan
selama beberapa puluh tahun, Kay pang banyak berubah.
Soe Hwee Liong, Pangcoe yang sekarang belum pernah
muncul dalam kalangan Kang ouw. Dengan membawa
2114
sembilan karung, kedua orang itu berkedudukan sangat
tinggi hanya di bawah Pangcoe sendiri. “Apakah mereka
yang menyuruh orang datang di Leng coa to untuk
merampas To liong to?” tanya Boe Kie di dalam hati.
Sejak beberapa puluh tahun yang lampau yaitu dari Seng
hwee leng dirampas oleh Kay pang, hubungan Beng-kauw
dan Partai Pengemis bagaikan air dan api. Dalam usaha
untuk merebut kembali tanda kekuasaan agama itu,
beberapa kali orang Beng-kauw bertempur hebat dengan
orang-orang Kay pang. Sebab Beng-kauw dipandang
sebagai agama sesat, maka dalam setiap pertempuran
banyak orang Rimba Persilatan membantu Kay pang dan
Beng-kauw selalu menderita kekalahan.
Sekarang biarpun Tio liong to dan Ie thian kiam dicuri
Tio Beng, untung juga keenam Seng hwee leng tidak turut
dicuri. Mungkin sekali karena takut terhadap kepandaian
Boe Kie yang sangat tinggi maka Tio Beng tidak berani
merogoh saku pemuda itu. Melihat jumlah orang Kay pang
yang sangat besar, Boe Kie tidak berani memandang
rendah. Ia segera merogoh saku untuk memastikan bahwa
Seng hwee leng masih berada di dalamnya.
Kedua Tiang-loo sembilan karung itu segera duduk pada
sebuah meja besar yang terletak di tengah-tengah. Tiang-loo
yang bermuka seperti Cioe Cong lalu mengeluarkan
sebatang tongkat bambu yang panjangnya kira-kira empat
kaki dalam karung dan menaruhnya di atas meja. Sebagian
murid-murid Kay pang segera berlutut. “Murid-murid Ouwie-
pay menghadap Ciang-pang Liong-tauw!” seru dia
(Ciang-pang Liong-tauw – Pemimpin yang memegang
tongkat kekuasaan).
2115
Sebab Kay pang musuh Beng-kauw maka sesudah
menjadi Kauwcoe, Boe Kie lalu mencari tahu seluk-beluk
partai pengemis. Ia tahu bahwa sejak dulu Kay pang terbagi
dalam dua golongan, yaitu golongan Ouw-ie-pay
(Golongan baju kotor) dan Ceng-ie-pay (Golongan baju
bersih). Melihat semua pengemis yang berlutut berpakaian
kusam, ia mengerti bahwa Ciang-pang Liong-tauw adalah
pemimpin Ouw-ie-pay.
Sesaat kemudian, Tiong-loo yang seperti sioecay
mengeluarkan sebuah mangkok yang mulutnya somplak
dari dalam karung dan menaruhnya di atas meja. Sisa
pengemis yang mengenakan pakaian bersih segera saja
menekuk lutut. “Murid-murid Ceng-ie-pay menghadap
Ciang-poen!” teriak mereka (Ciang-poen Liong-tauw –
Pemimpin yang memegang mangkok kekuasaan).
Kedua pemimpin itu mengangkat tangan mereka dan
berkata, “Duduklah!” Semua pengemis bangkit dan duduk
di kursi masing-masing.
Boe Kie baru menarik napas lega. Menyambut kedua
Tiang-loo itu dengan berdiri masih tidak apa-apa. Tapi
sebagai Kauwcoe dari Beng-kauw, biar bagaimanapun juga
ia tidak boleh berlutut di hadapan pemimpin Kay pang.
Untung juga karena mereka duduk di sudut yang paling
jauh dan mata kedua Tiang-loo it uterus mengawasi langitlangit
tanpa memperhatikan orang-orang yang berlutut,
maka tak ada orang yang lihat bahwa Cia Soen bertiga tidak
ikut berlutut.
Pengemis-pengemis itu segera makan minum seperti
orang kelaparan. Mereka main rebut, berteriak-teriak dan
tertawa-tawa. Cia Soen berwaspada, memasang kuping dan
mata. Di luar dugaan dalam perjamuan itu tak terjadi
kejadian luar biasa dan tak terdengar sesuatu yang penting.
Sesudah kedua Liong-tauw selesai bersantap dan turun ke
2116
bawah, pengemis-pengemis yang lain pun ikut bubar.
Sesudah semua pengemis meninggalkan loteng, Cia Soen
berbisik, “Boe Kie, bagaimana pendapatmu?”
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil