Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 26 April 2017

Cerita Silat Mandarin 5 :Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga

Cerita Silat Mandarin 5 :Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cerita Silat Mandarin 5 :Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga
kumpulan cerita silat cersil online
Cerita Silat Mandarin 5 :Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga
Demikianlah, dengan penuh perhatian, ketiga orang itu
merawat dan memelihara Cia Boe Kie. Sebagai seorang
yang bergelar Kim-mo Say ong, kepandaian Cia Soen
dalam ilmu menangkap dan melatih binatang dapat
dikatakan tidak bandingannya didalam dunia. Coei San
mengajak ia pergi keberbagai pelosok pulau itu dan sekali
pergi, ia tidak melupakan lagi jalanan jalanannya.
Dalam pembagian pekerjaan, Cia Soen bertanggung
jawab untuk menyediakan daging kepada keluarganya,
menangkap menjangan atau memburu biruang.
Kadang-kadang sikera merah mengikut, tapi karena cara
kera itu membinasakan biruang terlalu mudah, maka Cia
Soen berbalik tidak merasa gembira. Semula ia masih suka
mengajaknya untuk dijadikan penunjuk jalan, tapi sesudah
mengenal jalanan, ia tidak mempermisikan lagi dia
mengikut dan memerintahkannya berdiam untuk ber mainmain
dengan Boe Kie.
Beberapa tahun telah lewat dengan aman sentosa. Bayi
itu bertubuh kuat, tidak pernah mengenal penyakit, dan
dengan cepatnya sudah menjadi seorang anak yang mungil
dan subur. Diantara ketiga orang tua itu, Cia Soen lah yang
439
paling memanjakannya. Setiap kali Coei San atau So So
mau nenghukumnya, karena ia terlalu nakal, Cia Soen
selalu datang disama tengah dan menghalang halangi.
Dengan demikian, saban-saban ayah dan ibu kandungnya
bergusar, ia tentu lari ketempat sang ayah angkat untuk
meminta pertolongan. Kedua orang tuanya hanya dapat
menggeleng-geleng kan kepala dan menggerutu, bahwa
anak itu terlalu dimanja oleh sang toako.
Waktu Boe Kie berusia empat tahun, So So lalu mulai
mengajar ilmu surat kepadanya. Pada hari ulang tahunnya
yang kelima, Coei San berkata: "toako, anak kita sudah
boleh belajar silat. Mulai hari ini, kurasa kau sudah boleh
mengajarnya. Apa Toako setuju?"
Sang kakak menggelengkan kepalanya. "Tak bisa,"
jawabnya. "Ilmu silatku terlampau dalam. Jika sekarang
aku yang mengajarnya, ia tak mengerti. Sebaiknya, lebih
dulu kau menurunkan ilmu Boe tong Sim hoat dan sesudah
is berusia delapan tahun, barulah aku yang mengajarnya.
Sesudah aku mengajar dua tahun, kamu sudah boleh
pulang!
So So kaget dan heran. "Apa? pulang? Pulang ke
Tionggoan?" menegasnya.
"Benar." jawabnya. "Selama beberapa tahun, sehari aku
memperhatikan arah angin dan arus air. Aku mendapat
kenyataan, bahwa saban tahun pada malam yang paling
panjang, turunlah angin yang meniup keras terus menerus
sampai beberapa puluh malam. Sebelum waktu itu tiba, kita
dapat membuat sebuah getek yang besar, memasang layar
dan jika Langit tidak mengacau, mungkin sekali kalian bisa
ditiup angin sampai di Tionggoan."
"Kami?" tanya pula So So. "Apa kau tidak turut serta?"
"Mataku sudah tidak bisa melihat, perlu apa aku pulang
440
ke Tionggoan?" jawabnya.
"Jika kau tidak ikut, kami pasti tak akan mempermisikan
kau berdiam sendirian dipulau"
kata So So. "Anak kitapun tak akan mau mengerti,
Ka1au bukan Gie hoe (ayah angkat), siapa lagi yang bisa
menyayangnya?"
Cia Soen menghela napas dan paras mukanya kelihatan
berduka. "Aku sudah menyayangnya sepuluh tahun.
cukuplah," katanya. "Langit selama nya mengacau
penghidupanku. Jika anak kita berdampingan terlalu lama
denganku, Langit mungkin akan menggusari dia dan dia
bisa celaka."
Coei San dan So So bingung. Tapi sesaat kemudian,
mereka manganggap, bahwa sang kakak bicara
sembarangan saja dan hati mereka jadi lebih lega.
Mulai hari itu, Coei San mulai memberi pelajaran
Lweekang kepada puteranya. Ia menganggap bahwa bagi
anaknya yang masih begitu kecil, pelajaran Lweekang
untuk menguatkan diri sudahlah cukup.
Disamping itu, dengan berdiam dipulau tersebut, anak
itu sebenarnya tidak perlu memiliki ilmu silat, karena tidak
ada kemungkinan untuk berkelahi. Mengenai kesempatan
pulang ke Tionggoan tidak pernah disebut-sebut lagi oleh
Cia Soen, sehingga Coei San dan So So menganggap,
bahwa kakak mereka sudah berkata begitu secara
sembarangan saja.
Waktu Boe Kie berusia delapan tahun, benar saja Cia
Soen mengajukan untuk memberi pelajaran ilmu silat. Tapi
ia mengadakan peraturan, bahwa waktu ia menurunkan
pelajaran, baik Coei San maupun So So tidak boleh turut
menyaksikan. Peraturan itu yang sudah lazim dalam Rimba
441
Persilatan, tidak pernah dibantah oleh mereka. Mereka
tahu, bahwa sang kakak akan memberi pelajaran yang
sebaik baiknya kepada Boe Kie.
Sang tempo lewat dengan cepat dan tahu-tahu Boe Kie
sudah menerima pelajaran setahun lebih dari ayah
pungutnya. Semenjak terlahirnya anak itu, karena hatinya
bahagia dan mempunyai tugas tertentu, Cia Soen tak
pernah memperhatikan lagi To liong to. Pada suatu malam,
karena tak dapat pulas. Coei San keluar dari guha dan jalanjalan
diseputar situ. Tiba-tiba ia lihat Cia Soen sedang
bersila diatas satu batu besar sambil mencekal golok
mustika dengan kepala menunduk.
Baru saja ia mau menyingkir diri, sang kakak yang sudah
mendengar suara tindakannya sudah keburu berseru:
"Ngotee, kurasa kata-kata Boe lim coe-coan, poto To liong
hanya kata-kata kosong belaka."
Coei San menghampiri seraya berkata: "Di dalam Rimba
Persilatan memang banyak sekali tersiar omonganomongan
yang tidak boleh dipercaya. Toako adalah
seorang yang berpengetahuan tinggi, sehingga aku
sesungguhnya tidak mengerti, mengapa kau percaya
omongan itu?"
"Ngotee, aku bukan percaya secara serampangan saja,"
jawabnya. "Keterangan itu dapat dari Kong kian Taysoe,
seorang pendeta dari Siauw limpay."
"Ah!" Coei San mendadak mengeluarkan seruan
tertahan. "Kong kian Taysoe! Kudengar ia adalah Soeheng
(kakak seperguruan) dari Kong boen Taysoe, Ciangboejin
Siauw limpay. Ia sudah meninggal dunia lama sekali."
"Benar," kata Cia Soen. "Akulah yang
membinasakannya!"
442
Tak kepalang kagetnya Coei San. Dalam dunia
Kangouw terdapat kata yang seperti berikut: "Siauw lim
Seng ceng, Kian Boen Tie Seng," (Pendeta suci dari Siauw
lim pay yalah Kian, Boen, Tie dan Seng). Kata-kata itu
adalah untuk mengunjuk keempat Hweeshio lim sie, yaitu
Kong kian, Kong boen, Koug tie dan Kong seng.
Belakangan ia dengar dari gurunya, bahwa Kong kian telah
meninggal dunia dan tak dinyana, sekarang ia mendapat
tahu, bahwa pendeta suci itu telah dibinasakan oleh
kakaknya.
Cia Soen telah menghela napas panjang dan paras
mukanya berubah sedih. "Kong kian manusia tolol,"
katanya. "Ia membiarkan aku memukulnya tanpa
membalas. Ia mati sesudah dipukul tigabelas kali"
Coei San jadi lebih kaget lagi. Seorang yang kuat
menerima tigabelas pukulan Cia Soen, harus mempunyai
kepandaian yang luar biasa tinggi.
Sementara itu, paras muka Cia Soen jadi semakin suram
dan terdapat sinar kemenyesalan yang sangat dalam.
Coei San mengerti, bahwa dibalik kebinasaan Kong kian
Taysoe bersembunyi peristiwa yang sangat mendukakan. Ia
yakin bahwa kebinasaan pendeta suci itu bukan kejadian
yang biasa saja. Biarpun sudah delapan tahun mereka hidup
bersama-sama dipulau itu sebagai saudara angkat, dalam
rasa menghormat kepada kakak, dalam hati Coei San juga
terdapat rasa jerih. Ia tidak berani menanya melit-melit,
karena kuatir membangunkan peringatan tidak enak dari
masa dahulu.
"Selama hdupku, orang yang dihargai olehku hanya
beberapa gelintir saja," kata pula Cia Soen dengan suara
perlahan. "Orang yang seperti guru mu, yaitu Thio Cinjin,
aku hanya mendengar nama dan belum pernah bertemu
443
dengan beliau. Kong kian Taysoe sungguh seorang pendeta
suci. Meskipun nama besarnya tidak begitu dikenal seperti
adik adik seperguruannya, seperti Kong tie dan Kong seng,
tapi menurut pendapatku, kepandaian kedua Taysoe itu tak
dapat menandingi Kong kian Taysoe"
Semenjak bertemu dengan Coei San, Cia Soen selalu
memandang rendah kepada semua pentolan pentolan
dunia. Maka itu, Coei San heran tak kepalang ketika
mendengar pujian terhadap Kong kian Taysoe.
"Mungkin sekali karena orang tua itu selalu hidup
menyembunyikan diri didalam kelenteng, maka tak banyak
orang mengenal kapandaiannya." kata Coei San.
Cia Soen tidak kedengaran menjawab. Ia bengong dan
kedua matanya mengawasi ketempat jauh.
"Sayang!..... Sungguh sayang!....." katanya pada dari
sendiri, "Manusia yang begitu luar biasa telah binasa dalam
tanganku! Jika waktu itu ia membalas, aku Cia Soen tentu
tak bisa hidup sampai sekarang,"
"Apakah Kepandaian pendeta itu lebih tinggi daripada
Toako ?" tanya Coei San.
"Mana bisa aku dibandingkan dengan beliau ?"
jawabnya. "Ilmu silat murid-muridnya juga lebih tinggi
daripada aku." Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan nada
penyesalan yang tiada taranya.
Coei San jadi makin heran. Ia hampir tak percaya
keterangan kakaknya. Gurunya sendiri, Thio Sam Hong,
adalah salah seorang luar biasa pada jaman itu. Tapi ia
yakin, bahwa Jika gurunya mesti bertanding dengan Cia
Soen, paling banyak sang guru lebih unggul setengah
tingkat. Jika Kong kian lebih unggul dari pada Cia Soen,
bukankah gurunya sendiri tak akan dapat menandingi Kong
444
kian? Tapi iapun mengenal kakaknya sebagai manusia yang
sangat angkuh. Jika ia tak benar-benar merasa takluk, ia
pasti tak akan membuat pengakuan itu.
Cia Soen rupanya dapat membaca apa yang dipikir oleh
adiknya. "Baiklah. Panggil Boe Kie sekarang. Katakan
padanya, bahwa aku ingin menceritakan sebuah cerita
dahulu."
Walaupun merasa, bahwa membangunkan anak itu
tengah malam buta bukan seharusnya, Coei San tak berani
membantah perintah sang kakak. Maka itu, ia segera
kembali keguhanya dan membangunkan arak itu.
Mendengar ayah angkatnya mau bercerita, Boe Kie jadi
girang dan mengia kan dengan suara keras-keras, sehingga
ibunya turut tersadar. Maka itu, mereka bertiga lantas saja
pergi keguha Cia Sam untuk mendengari ceritera yang
dijanjikan.
Sesudah semua orang berkumpul, Cia Soen segera mulai:
"Anak, tak lama lagi kau akan pulang ke Tionggoan"
"Apa? Ke Tionggoan ?" memutus Boe Kie.
Cia Soen menggoyangkan tangan supaya anak itu jangan
memutuskan omongannya dan berkata pula "Jika getek kita
tenggelam dilaut atau ditiup angin ke samudera yang luas,
maka kita boleh tak usah bicara lagi. Tapi andaikata kita
kembali ke Tiongggoan, aku ingin memberitahukan suatu
hal kepadamu. Ingatlah hati manusia didalam dunia sangat
jahat dan kau tidak boleh main percaya kepada siapapun
jua kecuali ayah dan ibu sendiri. Aku nyesa1, bahwa
diwaktu masih muda, tak pernah ada orang yang memberi
nasehat itu kepadaku. Tapi biarpun ada yanh menasehati,
waktu itu aku tentu tidak mau percaya."
"Pada waktu aku berusia sepuluh tahun, secara,
kebetulan aku telah bisa berguru dengan seorang yang
445
mempunyai nama besar dalam Rimba persilatan. Karena
melihat bakatku yarg sangat baik, Soehoe sangat
menyayang aku dan telah menurunkan ilmu-ilmu silat yang
istimewa kepadaku, sehingga dengan demikian,
perhubungan kami adalah bagaikan ayah dan anak. Ngotee,
pada waktu itu, rasa cinta dan rasa hormat ku terhadap
Soehoe kira-kira bersamaan seperti rasa cinta dan rasa
hormatmu terhadap gurumu. Aku keluar dari rumah
perguruan dalam usia dua puluh tiga tahun. Tak lama
kemudian, aku menikah, dan mempunyai seorang anak.
Penghidupan kami sangat beruntung."
"Selang dua tahun, waktu lewat di kampung kelahiranku.
Soehoe mampir dan berdiam berapa hari dirumahku. Aku
girang bukan main dan seluruh keluarga melayaninya
dengan sepenuh perhatian. Dengan menggunakan
kesempatan itu, guru ku juga memberikan berbagai
petunjuk pada kekurangan-kekurangan dari ilmu silatku.
Tapi siapa nyana.... seorang tokoh yang termasyhur dalam
Rimba Persilatan sebenarnya mempunyai hati binatang!
Pada tanggal lima belas Bulan tujuh, sesudah minum arak,
tiba-tiba ia coba memperkosa isteriku ..."
Dengan berbareng Coei San dan So So mengeluarkan
seruan kaget. Guru menodai kehormatan isteri muridnya
adalah suatu kejahatan langka dalam Rimba Persilatan.
"Isteriku memberontak dan berteriak-teriak minta
tolong." Cia Soen melanjutkan penuturannya. "Mendengar
teriakan itu, ayahku menerjang masuk kedalam kamar.
Melihat rahasianya terbuka, guruku memukul ayahku yang
lantas saja binasa. Sesudah itu, dia membinasakan juga
ibuku dan membanting Cia Boe Kie, anakku yang berumur
belum cukup setahun ...."
"Cia Boe Kie ?" memotong si bocah dengan suara heran.
446
"Jangan rewel! Dengari cerita Gie-hoe!" bentak Coei
San.
"Benar," jawab sang ayah pungut. "Itulah anak
kandungku yang namanya bersamaan dengan namamu.
Guruku membantingnya keras-keras, sehigga dia jadi
perkedel!"
"Gie-hoe ! Apa.... .apa dia masih bisa hidup ?" tanya Boe
Kie.
"Tak bisa! Tak bisa hidup lagi!" jawabnya dengan suara
parau.
So So mendelik sambil menggoyang goyangkan
tangannya untuk melarang anak itu untuk menanya lagi.
Sesudah bengong beberapa saat, barulah Cia Soen
berkata lagi: "Melihat kejadian itu nyawaku terbang separuh
dan aku berdiri terpaku sambil mengawasi dengan mata
membelalak. Tiba-tiba guruku me!ompat dan meninju
dadaku, sehingga aku rubuh terguling dalam keadaan
pingsan. Ketika aku tersadar, guruku sudah menghilang,
sedang diseputar rumahku penuh mayat. Mayat ayah dan
ibuku, isteriku, anakku, isteri adikku dan bujang-bujangku,
semuanya berjumlah tigabelas jiwa. Ia tidak memukul aku
lagi, sebab rupanya ia duga aku sudah mati"
"Sebab terluka, berduka dan bergusar secara melampaui
batas, aku mendapat sakit berat sekali. Sesudah sembuh,
siang malam aku melatih diri dan selang lima tahun, aku
mencari guruku untuk membalas sakit hati. Tapi
kepandaianku masih kalah terlalu jauh, sehingga dapat
hinaan yang sangat lebar. Bia bagaimana pun sakit hati tiga
belas orang tak dapat di sudahi dengan begitu saja. Aku
segera berkelana untuk mencari guru yang pandai. Selama
sepuluh tahun, aku telah bertemu dengan tiga orang berilmu
yang menurunkan kepandaiannya kepadaku. Dengan
447
dugaan bahwa kepandaianku sudah cukup tinggi, sekali lagi
aku mencari guruku. Tapi di luar taksiran, sedang
kupandaianku bertambah, kepandaiannya bertambah lebih
banyak lagi. Demikianlah untuk kedua kalinya, aku pulang
dengan terluka berat"
"Sekali lagi aku melatih diri tanpa mengenal capai. Kali
ini aku melatih Lweekang dari Cit siang koen (ilmu pukulan
Tujuh Luka) dan sesudah berlatih tiga tahun lamanya,
barulah aku berhasil. Aku menganggap, bahwa dengan
memiliki kepandaian itu, aku sudah boleh berendeng
dengan ahli ahli silat kelas utama dan jika guruku tidak
mendapat lain-lain ilmu yang lebih tinggi, ia pasti tidak
akan bisa melawan aku. Untuk ketiga kalinya, aku
menyatroninya rumahnya, tapi bakan main rasa kecewaku,
karena ia sudah pindah ketempat lain. Aku lalu berkelana
dalam kalangan Kangnuw untuk mencarinya, tapi ia tetap
tak kelihatan mata hidungnva Rupanya, untuk menyingkir
dari bencana, ia telah kabur ketempat jauh. Dunia begini
luas, dimana aku mencarinya ?"
"Sesudah itu, dengan sakit hati yang makin lama makin
mendalam dan kegusaran yang meluap-luap, aku lalu
mengamuk. Aku memperkosa wanita, merampok,
membunuh dan membakar rumah. Setiap kali bekerja, aku
selalu meninggal kan nama guruku !"
"Ah!" Coei San dan So So mengeluarkan seruan kaget
dengan berbareng.
"Apa kau tahu siapa guruku?" tanya Cia Soen. So So
manggat-mangaut kepalanya seraya berkata: "Kalau, begitu,
Toako adalah murid Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen."
(Hoen goan Pek lek chioe - si tangan geledek).
Ternyata pada belasan tahun berselang didalam Rimba
Persilatan mendadak terjadi gelombang yang sangat hebat.
448
Dalam tempo setengah tahun, dari Liao tong sampai di
Lenglam dengan beruntun-runtun terjadi peristiwa-peristiwa
besar. Tiga puluh lebih orang-orang gagah kenamaan telah
dibunuh dan si pembunuh meninggalkan nama Hoen goan
Pek lek chioe Seng Koen. Orang yang dibunuh, kalau
bukan Ciang boenjin suatu partay, tentulah juga seorang
gagah yang mempunyai pergaulan luas.
Seluruh Rimba Persilatan telah mengerahkan tenaga
untuk menyelidiki pembunuhan itu dan atas perintah guru
mereka. Boe tong Cit hiap turun gunung untuk membantu,
tapi sesudah membuang banyak tempo dan tenaga, meraka
tetap tidak berhasil dalam usahanya. Tak seorangpun tahu,
siapa pembunuh yang kejam itu. Semua orang mengerti
bahwa ada seorang yang sengaja mau mencelaka kan Seng
Koen, karena sebegitu jauh Seng Koen dikenal sebagai
manusia baik-baik dan beberapa orang yang telah
dibinasakan, adalah sahabat-sahabat baiknya.
Orang satu satunya yang mungkin tahu siapa, pembunuh
itu, adalah Seng Koen sendiri. Tapi jago itu mendadak
menghilang tanpa meninggalkan bekassehingga, biarpun
semua orang gagah dalam dunia Persilatan ingin
membantu, mereka tidak berdaya sebab tidak tahu siapa
penjahatnya.
Sekarang, sesudah mendengar pengakuan Cia Soen
barulah Coei San dan So So mengetahui latar belakang dari
kejadian-kejadian yang hebat itu.
Sesudah berdiam beberapa saat, Cia Soen melanjutkan
penuturannya: "Kau harus tahu, bahwa tujuan dari sepak
terjangku itu adalah untuk memaksa keluarnya Seng Koen.
Dengan dicari oleh ribuan atau sedikitnya ratusan orang,
menurut dugaanku, ia pasti akan dapat ditemukan."
"Tipu Toako memang sangat bagus," kata So So. "Akan
449
tetapi sungguh kasihan orang-orang itu yang sudah dibunuh
tanpa berdosa."
"Hm! Apakah kau tidak merasa kasihan terhadap orang
tua dan anak istriku yang juga sudah dibunuh tanpa
berdosa!" tanya Cia Soen dengan suara getir. "Dulu kulihat
kau seorang yang sangat polos terbuka. Tetapi sesudah
menikah sepuluh tahun dengan Ngote, kau jadi bawel
seperti nenek tua,"
So So melirik suaminya sambil bersenyum, "Toako,
bagaimana buntutnya? Apa kau berhasil mencari Seng
Koen?" tanyanya.
"Tidak, tidak berhasil," jawabnya. "Belakangan, waktu
berada di Lokyang, aku bertemu dengan Song Wan
Kiauw."
Coei San terkesiap. "Song Wan Kiauw, Toa soekoku ?"
ia menegas.
"Benar, Song Wan Kiauw, kepala dari Boe tong cit
hiap." jawabnya. "Sesudah aku mengamuk, Rimba
Persilatan jadi kacau balau dan kalang kabutan. Tapi guru
...."
"Gie-hoe," memutus Boe Kie. "Dia begitu jahat,
mengapa masih memanggil guru kepadanya ?"
Cia Soen tertawa getir. "Sudah kebiasaan sedari kecil,"
jawabnya. "Sebagian besar ilmu silatku didapat
daripadanya. Dia jahat, akupun bukan manusia baik.
Mungkin sekali, segala kejahatanku juga didapat
daripadanya. Maka itu, aku tetap memanggil guru
kepadanya."
Mendengar penuturan sang kakek yang sedemikian
hebat. Coei San jadi merasa kuatir, bahwa ceritera itu akan
memberi pengaruh kurang baik kepada Boe Kie. Diam450
diam dia mengambil keputusan untuk memberi penerangan
dan penjelasan lebih jauh kepada bocah itu.
Sementara itu, Cia Soen sudah menyambung pula
penuturannya: "Melihat guruku belum juga muncul, aku
berpendapat, bahwa kalau aku tidak melakukan
perbuatannya yang menggemparkan dunia, ia pasti tak akan
keluar. Sebagaimana kau tahu, daiam Rimba Persilatan,
yang paling dihormati orang adalah partai Siauw lim dan
Boe-tong."
"Menurut pendapatku, aku baru bisa berhasil jika
membunuh seorang pentolan Siauw lim atau Boe tong. Hari
itu, ditaman Bouw tan wan, depan kuil Ceng hie koan di
Lokyang, aku telah menyaksikan cara bagaimara Song Wan
Kiauw menghajar seorang hartawan jahat. Aku mendapat
kenyataan, bahwa ia benar-benar berkepadaian tinggi dan
pada saat itu juga, aku segera mengambil keputusan untuk
membinasakannya."
Walaupun tahu, bahwa pada akhirnya Song Wan Kiauw
tidak terbunuh, Coei San merasa terkejut juga. Ia yakin,
bahwa kepandaian Cia Soen banyak lebih tinggi dari
saudara seperguruannya, sehingga kalau diserang,
Toasoehengnya pasti akan dijatuhkan, So So yang juga
tahu, bahwa Song Wan Kiauw tidak dibinasakan, lantas
saja berkata: "Toako, masih untung kau tidak tega turunkan
tangan jahat, Jika kau binasakan Song Tayhiap. Thio
Ngohiap pasti akan mengadu jiwa denganmu dan kita tak
bisa mengangkat saudara lagi."
Cia Soen mengeluarkan suara dari hitung. "Tidak tega?
Mana boleh tidak tega?" katanya. "Kalau sekarang, aku
tentu tak akan memusuhi orang orang Boe tong. Tapi pada
waktu itu, jangankan Song Wan Kiauw, sedangkan Ngote
sendiripun, jika bertemu denganku, aku pasti akan coba
membinasakannya tanpa ragu ragu lagi."
451
"Gie hoe. mengapa kau mau membunuh ayah?" Boe Kie
menyelak.
"Aku hanya menyebutkan suatu perumpamaan dan
bukan benar-benar mau membunuh ayahmu," jawab sang
ayah angkat sambil tersenyum.
"Oh begitu?" kata si bocah.
Sambil mengusap-usap kepala anak itu, Cia Soen berkata
pula dengan suara perlahan: "Meskipun langit sering
menyakiti batiku, kali ini aku merasa syukur bahwa pada
akhirnya, aku tidak membunuh Song Wan Kiauw. Memang
benar, jika Song Wan Kiauw sampai dibunuh olehku, kita
tak akan bisa mengangkat saudara." Ia berdiam sejenak dan
kemudian berkata lagi: 'Malam itu, sesudah bersantap, aku
segera bersemedhi didalam kamar untuk mengumpulkan
semangat dan tenaga. Aku mengerti, bahwa sebagai kepala
dari Cit hiap, song Wan Kiauw mempunyai kepandaian
yang sangat tinggi. Jika dengan sekali pukul aku tidak dakat
membinasakannya dan ia bisa melarikan diri, maka
rahasiaku akan bocor dan usaha mencari guruku akan gagal
sama sekali. Bukan saja begitu, aku malah bakal dikepung
oleh orang-orang gagah dikolong langit. sehingga, biarpun
aku mempunyai tiga kepala enam tangan. Aku pasti tak kan
dapat melawannya. Aku mati tak menjadi soal tapi jika aku
mati begitu rupa, sakit hati yang begitu besar itu akan
dibawa kelubang kubur."
"Gie hoe," tiba Boe Kie menyelak lagi." Matamu tidak
bisa melihat. Tunggulah sampia aku besar. Sesudah
mempunyai kepandaian tinggi, aku akan membalas sakit
hati Gie hoe."
Perkataan itu mengejutkan Cia Soen dan Coei San yang
dengan serentak bangun berdiri. Dengan mata yang tak
dapat melihat, Cia Soen "mengawasi" anak angkatnya dan
452
berkata dengan suara perlahan: "Boe Kie, apa benar kau
menpunyai niatan begitu?"
Coei San daa So Sa jadi bingung. Sekarang mereka
berada disebuah pulau terpencil didaerah Kuub Utara,
sehingga belum tentu mereka bisa kembali ke Tiong goan.
Akan tetapi, didalam Rimba Persilatan orang sangat
mengutamakan kepercayaan. Sekali berjanji seumur hidup
tak dapat ditarik lagi. Begitu lekas Boe kie menyanggupi
untuk membalas sakit hati Cia Soen, maka ia segera
memikul beban yang luar biasa berat diatas pundaknya.
Sedang Cia Soen yang memiliki kepandaian sedemikian
tinggi masih belum mampu membalas sakit hatinya,
bagaimana anak itu bisa memenuhi janjinya ?
Menurut kebiasaan Rimba Persilatan, walaupun anak itu
masih kecil, dalam urusan itu, ia harus mengambil
keputusan sendiri dan orang tua nya tidak boleh
mempengaruhi pikirannya. Maka itu, meskipun sangat
berkuatir, Coei San dan So So tidak berani mengeluarkan
sepatah kata.
"Gie hoe," kata anak itu dengan suara nyaring "Orang
yang membinasakan serentero keluargamu, bernama Hoen
goan Pek lek chioe Seng Koen, bukan? Baiklah Boe Kie
akan mengingat nama itu. Dibelakang hari, anak tentu
mewakili ayah untuk membalas sakit hati dan akan
membasmi seluruh keluarganya, tak satupun yarg diberi
hidup!"
"Boe Kie ! Jangan ngaco kau!" bentak Coed San dengan
gusar. "Satu orang yang berbuat, satu orang yang harus
bertanggung jawab, Biarpun dosanya Seng Koen lebih besar
lagi, hanya dia seorang yang harus mendapat hukuman.
Lain orang yang tidak berdosa tidak boleh diganggu
selembar rambutnya!"
453
"Ya, ya . . . Thia thia," katanya dengan suara ketakutan
dan ia tidak berani membuka suara pula.
"Orang yang sudah mati tak tahu suatu apa," kata Cia
Soen. "paling hebat yalah hidup sendirian didalam dunia
sesudah seluruh keluarga dibinasakan orang...."
"Toako, bagaimana kesudahan usahamu untuk
bertempur dengan Toasoeheng," Coei San memotong
perkataan kakaknya. Ia berbuat begitu karena kuatir Cia
Soen bicara terlalu panjang mengenai penderitaannya,
sehingga dapat memberi pengaruh yang lebiih besar pada
anaknya.
"Sungguh heran Toasoeheng be1um pernah
memberitahukan kejadian itu kepada kami"
"Song Wan Kiauw belum pernah mimpi bahwa ia
pernah men jadi bulan-bulanan," jawabnya.
"Mungkin sekali, ia malah belum pernah mendengar
nama kin mo Say ong Cia Soen. Mengapa ? Karena pada
akhirnya, aku tidak jadi cari padanya."
Coei San menarik napas lega. "Terima kasih Langit,
terima kasih bumi." katanya.
"Mengapa kau mengaturkan terima kasih kepada langit
dan bumi?" tanya So So sambil tertawa. "Yang harus
menerima pernyataan terima kasihmu adalah Cia Toako."
Mendengar itu, Coei San dan Boe Kie turut tertawa.
Cia Soen tidak turut tertawa. Paras mukanya berubah
jadi duka dan ia berkata dengan suara perlahan: "Kejadian
malam itu masih diingat tegas olehku, seperti juga baru
terjadi kemat in. Aku duduk diatas pembaringan batu dan
menjalankan pernapasan, melatih Cit siang koen beberapa
kali. Ngote, kau belum pernah menyaksikan pukulan Cit
454
siang koen. Apa kau ingin melihatnya ?"
"Ilmu pukulan itu tentulah hebat luar biasa," mendahului
So So "Toako, mengapa kau tidak cari Song Tayhiap ?"
"Kalau tidak hebat, bagaimana pukulan itu bisa
dinamakan Cit siang koen?" kata Cia Soen sambil
tersenyum dan lalu jalan mendekati satu pohon besar. Ia
mengangkat tangan seraya menbentak keras, menghantam
dahan pohon itu.
Dengan Lweekang yang dimilikinya, biarpun ia tak
dapat merubuhkan pohon itu, sedikitnya tinju Cia Soen
akan amblas didahan. Tapi diluar dugaan, pohon itu
bergoyangpun tidak, sedang kulit nya tetap utuh. So So
merasa menyesal dan berkata didalam hati: "Sesudah
berdiam disini sembilan tahun, ilmu silat Toaka merosot
banyak. Hal itu tak heran, karena ia memang tak pernah
berlatih lagi." Tapi walaupun hatinya berduka, mulutnya
bersorah sorai.
"Se moay sorakanmu tidak keluar dari hati yang
setulusnya," kata sang kakak. "Kau anggap ilmu sllatku
sudah tidak seperti dulu, bukan."
"Dengan berdiam dipulau terpencil ini dan kita berempat
adalah orang sekeluarga, memang tak perlu kita berlatih
silat lagi," kata So So.
"Ngotee, apa kau bisa melihat lihaynya pukulanku?"
tanya Cia Soen tanpa menghiraukan So So.
"Waktu menyambar, pukulan itu sangat dahsyat,
sehingga aku tidak mengerti, mengapa pohon itu tidak
bergeming, malah daunnya tidak bergoyang," kata Coei
San. "Aku percaya malah Boe Kie dapat menggoyang
dahan itu."
"Aku bisa!" teriak sibocah sambil berlari-lari dan
455
kemudian meninju dahan pohon itu. Benar saja pohon yang
besar itu bergoyang keras. Kedua suami isteri girang bukan
main, karena putera mereka sudah memiliki tenaga yang
begitu besar. Mereka mengawasi Cia Soen dan menunggu
penjelasan sang kakak.
Cia Soen bersenyum seraya berkata: "Tiga hari kemudian
semua daun akan menjadi kering dan rontok dan
selewatnya tujuh hari, pohon itu akan mati berdiri. Aku
sudah memutuskan nadi pohon "
Kedua suami isteri kaget dan heran, tapi mereka tidak
menyangsikan keterangan itu, karena sang kakak belum
pernah berdusta.
Tiba-tiba Cia Soen menghunus To liong to dan menyabet
putus dahan yang tadi dipukulnya. Dengan suara
gedubrakan, pohon itu rubuh ditanah. "Mari, lihatlah," kata
sang kakak. "Kalian boleh manyaksikan lihaynya Cit siang
koen."
Coei San bertiga lantas saja menghampiri. Ternyata
"hati" pohon sudah menjadi rusak, ada "urat-urat" yang
hancur dan ada juga yang putus, suatu tanda, bahwa
pukulan itu mengandung beberapa macam tenaga. Bukan
main rasa kagumnya Coei San dan So So. "Toako, hari ini
kau telah membuka mata siauwtee," kata Coei San.
"Dalam pukulanku itu terdapat tujuh macam tenaga,"
kata sang kakak dengan suara bangga. "Tenaga keras,
tenaga lembek dalam keras, keras dalam lembek dan
sebagainya. Seorang musuh dapat menahan tenaga
pertama, tak dapat menahan tenaga kedua, yang dapat
menahan tenaga kedua, tak akan dapat menahan tenaga
ketiga dan begitu seterusnya. Maka itulah, pukulan tersebut
diberi nama Cit-siang koen. Huh huh ! Mungkin sekali kau
akan mengatakan bahwa Cit-siang koen terlalu kejam."
456
"Gie hoe, bolehkah kau turunkan Cit siang koen
kepadaku?" tanya Boe Kie.
"Tak bisa!" jawabnya seraya menggeleng-geleng kan
kepala, sehingga bocah itu merasa sangat kecewa.
"Boe Kie, kau benar edan!" kata So So. "Pukulan
Giehoemu itu tak akan dapat dipelajari sebelum
mempunyai Lweekang yang sangat tinggi."
Si bocah mengangguk seraya berkata: "Baiklah nanti
kalau sudah memiliki Lweekang tiaggi, barulah Boe Kie
mengajukan permintaan pula ke pada giehoe."
"Tidak boleh, tak nanti aku turunkan Cit siang koen
kepadamu," kata Cia Soen. "Dalam tubuh setiap manusia.
bukan saja terdapat hawa Im dan yang (negatif dan positif )
tapi juga lima Heng yaitu Kim, Bok, Soei, Ho dan Touw
(emas, kayu, air, api, dan tanah). Misalnya saja, paru-paru
termasuk dalam Kim, buah pinggang termasuk dalarn Soei,
nyali termasuk dalam Touw dan sebagainya. Begitu lekas
seorang melatih diri dalam pukulan Cit siang coen, tujuh
bagian isi perutnya yang sangat penting akan terluka.
Makin tinggi kepandaiannya, makin hebat luka didalam itu.
"Cit siang" atau "tujuh luka", lebih dulu melukai diri
sendiri. Kemudian baru melukai musuh. Sabah musabab
mengapa aku sering kalap adalah karena latihan Cit siang
koen"
Coei San dan So Sal terkejut. Baru sekarang mereka
tahu, mengapa Cia Soen yang boen boe song Coei (pandai
ilmu surat dan ilmu silat) acap kali berlaku seperti binatang
buas.
"Jika aku melatih Cit siang koen sudah memiliki
Lweekang yang sama tingginya sepertt Lwee kang Kong
kian Taysoe atau Thio Cinjin dari Boe tong pay, mungkin
sekali aku tidak sampai terluka, luka itu tidak menjadi
457
halangan," kata pula Cia Soen. "Aku sudah tidak
menghiraukan segala bencana karena didorong oleh
keinginan untuk membalas sakit hati secepat mungkin.
Tahun itu, sesudah membinasakan tujuh orang, barulah aku
dapat merampas kitab Cit siang koen dari tangan Kong tong
pay dan dengan tergesa-gesa segera melatih diri menurut
petunjuk-petunjuk kitab itu. Aku berbuat begitu, sebab
kuatir guruku keburu mati dan aku tidak bisa membalas
sakit hati. Sesudah kasep dan tidak bisa diubah lagi, barulah
aku mendusin, bahwa aku sudah mendapat luka didalam.
Aku sama sekali tidak memikir untuk lebih dulu
menyelidiki, mengapa dalam kalangan Kong tong pay
sendiri tidak ada orang yang mempelajari ilmu pukulan itu.
Disamping itu, masih ada lain sebab, mengapa aku segera
melatih diri dalam Cit siang koen. Pukulan itu mempunyai
sifat-sifat yang dahsyat dap menyeramkan dan bagiku, hal
itu merupakan keuntungan besar. Su moay, apakah kau
mengerti maksudku."
So So memikir sejenak. "Apakah Toako maksud kan
bahwa Cit siang koen agak mirip dengan ilmu silat Pek lek
chioe." tanya si adik.
"Benar!" jawabnya. "So moay, kau sungguh pintar.
Guruku bergelar Hoen goan Pek lek chioe, atau si Tangan
geledek, dan ilmu silatnya mengandung pengaruh angin dan
geledek yang sangat hebat. Jika aku menyerang dengan Cit
siang koen, ia pasti akan menduga, bahwa aku menyerang
dengan ilmu silatnya sendiri, ia akan mendusin sesudah
pukulanku mampir dibadannya, tapi sudah kasep. Ngotee,
jangan kau mengatakan, aku licik dan kejam, Guruku
adalah salah seorang yang paling hati-hati dan paling kejam
didunia. Jika kau tidak menggunakan racun untuk melawan
racun, sakit hatiku pasti tidak akan terbalas.
Hai! Ngotee, aku sudah melantur terlalu jauh sehingga
458
melupakan soal Kong kian Taysoe yang mau dituturkan
olehku. Malam itu, sesudah melatih diri dalam Cit siang
koen, aku segera berangkat untuk cari Song Wan Kiauw."
"Selagi melompat keluar dari tembok, sedang kedua
kakiku belum hinggap dibumi, tiba-tiba pundakku ditepuk
orang. Aku kaget bukan main. Bahwa badanku disentuh
orang tanpa aku mampu menangkis, adalah kejadian yang
belum pernah terjadi, Boe Kie, cobalah kau pikir. Jika orang
itu menepuk dengan menggunakan Lweekang, bukan kah
aku sudah mendapatkanluka berat? Aku balas memukul
dan begitu lekas kaki kiriku hinggap ditanah, aku memutar
badan. Saat itu sekali lagi aku merasa punggungku ditepuk
orang dan hampir berbareng terdengar hela napas dan suara
seorang: "Lautan penderitaan tiada terbatas, menengok
kebelakang melihat tepian."
Boe Kie gembira sekali, ia tertawa terbahak bahar. "Gie
hoe," katanya. "Apa orang itu main main denganmu?" Coei
San dan So So sudah menebak, bahwa orang itu Kong kian
Taysoe adanya.
"Waktu itu aku begitu kaget, sehingga sekujur badan
dingin semua," Cia Soen melanjutkan panturannya.
"Dengan kepandaian yang sedemikian tinggi, dengan
mudah orang itu bisa mengambil jiwaku. Tapi delapan
perkataan yang diucapkan nya bernada lemah lembut,
penuh kasih dan sayang. Begitu memutar badan. kulihat
seorang pendeta yang mengenakan jubah putih berdiri
dalam jarak empat tombak lebih. Dengan demikian,
sesudah menepuk punggungku, ia sudah melompat kurang
lebih empat tombak jauhnya dan kecepatan gerakan itu
sungguh-sungguh luar biasa."
"Pada waktu itu, aku hanya menarik suatu kesimpulan,
bahwa yang berdiri dihadapanku bukan manusia, tapi setan
penasaran dari seorang yang telah diburuh olehku. Aku
459
menarik kesimpulan itu, karena, menurut pendapatku,
seorang manusia biasa tak nanti mampu bergerak begitu
cepat. Sebab menduga begitu, nyaliku jadi besar lagi dan
aku segera membantak: Setan siluman! Pergi kau! Aku tidak
takut Langit dan bumi, apalapi kau!"
"Pendeta itu merangkap kedua tangannya seraya berkata:
Cia Kiesoe, Looceng Kong kian memberi hormat. Begitu
mendengar perkataan 'Kong kian' aku terkesiap. Sudah
lama kudengar 'Siauw lim Sang ceng, Kian, boen, tie seng
yang tersiar luas didalam Rimba Persilatan. Kong kian
Taysoe adalah kepala dari empat pendeta nabi (Sengceng )
Siauw lim sie sehingga tidaklah heran jika ia memiliki
kepandaian yang begitu tinggi."
Mendengar sampai disitu, hati Coei San dan So So
merasa sangat tidak enak, karena mereka tahu, pada
akhirnya Kong kian binasa karena tiga belas pukulan Cia
Soen.
Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula: "Aku
mengawasinya seraya bertanya: Apa kah aku sedang
berhadapan dengan Kong kian Seng ceng dari Siauw lim
sie? Ia jawab: Perkataan Seng ceng aku tidak dapat
menerima tapi memang benar loolap ialah Kong kian dari
Siaw Lim sie. Aku kata: Aku dan Taysoe belum pernah
mengenal satu sama lain, tapi mengapa Taysoe
mempermainkan aku? kata Kong kian: Mana berani loolap
mempermainkan Kiesoe? Aku hanya ingin menanya:
Kemana Kiesoe mau pergi? Ku jawab: Kemana kumau
pergi tiada sangkut pautnya dengan Taysoe! Ia menghela
napas dan berkata dengan suara perlahan: Malam ini
Kiesoe ingin membunuh Song Wan Kiauw Tayhiap dari
Boe tong pay. Bukankah begitu? Sekali lagi aku terkesiap."
"Ia mengawasi aku dengan mata tajam dan berkata pula:
Kiesoe ingin melakukan perbuatan yang menggemparkan
460
Rimba Persilatan untuk memancing keluar Hoen goan Pek
lek chioe Seng Koen guna membalas sakit hati.... Aku
heran dan kaget tak kepalang. Aku belum pernah
memberitahu perbuatan guruku kepada orang lain dan
gurukupun tak pernah membuka rahasia busuknya itu ?"
"Begitu mendengar Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen,
tubuhku menggigil. Jika Taysoe sudi mengunjuk dimana
adanya dia, aku rela menjadi kerbau atau kuda untuk
kepentingan Taysoe, kata ku. Ia menghela napas dan
berkata dengan suara menyesal: Perbuatan Seng Koen
memang suatu kedosaan yang sangat besar. Akan tetapi,
dalam kegusarannya, Kiesoe sudah membunuh begitu
banyak orang dan perbuatan Kiesoe itu juga merupakan
kedosaan yang tidak kecil."
"Aku mendongkol dan sebenarnya ingin sekali
menyemprotnya. Tapi karena tahu, bahwa aku bukan
tandingannya, maka sambil menahan amarah, aku berkata:
Aku berbuat begitu sebab tidak ada jalan lain. Seng Koen
menyembunyikan diri dan aku tidak dapat mencarinya."
"Ia manggut-manggutkan kepala seraya berkata: Aku
mengerti, aku sangat merasakan perasanmu. Sakit hatimu
besar luar biasa dan aku tidak dapat melampiaskan, akan
tetapi, Song Tay hiap adalah murid pertama Thio Sam
Hong Cinjin dan jika kau membinasakannya, bakal muncul
gelombang yang tidak kecil. "
"Aku tersenyum getir. Itu memang tujuanku,jawabku.
Makin dahsyat gelombang yang diterbitkan olehku, makin
baik lagi, karena hanyalah itu yang bisa memaksa keluarnya
Seng Koen dari tempat persembunyiannya."
"Sesudah itu, aku dan Kong Kian bicara seperti berikut:
Cia Kiesoe, jika kau membinasakan Song Tayhiap,
memang Seng Koen tidak bisa tidak keluar dari tempat
461
persembunyiannya. Akan tetapi, Seng Koen sekarang
bukan Seng Koen dulu. Terang terang aku mengatakan,
bahwa kepandaian Kie soe masih belum dapat
menandinginya. Biar bagaimanapun jua, Kiesoe tak akan
bisa membalas sakit hatimu. "
"Seng Koen adalah guruku. Aku lebih mengenal
kepandaiannya daripada Taysoe."
"Tidak, tidak begitu. Ada halnya yang tidak di ketahui
Kiesoe. Seng Koen telah mendapat guru yang sangat lihai
dan selama tiga tahun ia telah memperoleh kemajuan lvar
biasa pesat. Biarpun Kiesoe mahir dalam ilmu Cit siang
koen dari Khong tong pay Kiasoe tak akan dapat
melukakannya"
"Untuk sekian kalinya aku terkejut. Kong kian Taysoe
belum pernah bertemu denganku, tapi gerak gerikku
diketabui begitu jelas olehnya. Aku mengawasinya dengan
mata membelalak. Sesudah menenteramkan hatiku yang
berdebar-debar, aku bertanya: Bagaimana Taysoe tahu? Ia
menjawab: Seng Koen sendiri yang memberitahukan
kepadaku"
Coei San, So So dan Boe Kie mengeluarkan suara
tertahan dengan berbareng.
"Kalian heran, tapi aku lebih heran lagi. Aku melompat
bahna kagetku, dan membentak: Bagaimana dia tahu?
Kong kian menjawab dengan suara perlahan: Selama
beberapa tahun, ia selalu mendampingi Kiesue. Hanya
karena ia selalu selalu menyamar, maka Kiesoe tak
mendapat tahu. Tak mungkin! teriakku. Tak mungkin! Aku
mengenalnya. Biarkan dia sudah menjadi abu, aku masih
dapat mengenalinya."
"Kong kian menggelengkan kepala seraya berkata deagan
suara lemah lembut: Cia Kie soe, kau bukan seorang
462
semberono. Akan tetapi, karena kau hanya ingat soal
membalas sakit hati, maka kau tidak memperhatikan
keadaan disekitarmu. Kau ditempat terang, dia ditempat
gelap. Tak heran jika kau tidak mengenalinya."
"Aku tidak bisa tidak percaya keterangan itu. Kong kian
taysoe adalah seorang pendeta suci yang namanya terkenal
dikolong langit, sehingga tak mungkin ia berdusta. Kalau
begitu, bukankah lebih baik baginya jika ia membunuh aku
dengan membokong? kataku. Jika ia ingin mengambil jiwa,
ia dapat melakukannya seperti membalik tangan sendiri,
Kata Kong kian: Cia Kiesoe, dua kali kau coba membalas
sakit hati, dua kali telah dikalahkan. Jika ia memang mau
menghendaki jiwamu, mengapa waktu itu ia tidak turun
tangan? Pada waktu kau coba merampas kitab Cit siang
koen, kau telah mengadu Lweekang dengan tiga tetua dari
Kong tong pay. Sebagai mana kau tahu, partai itu
mempunyai lima orang tetua. Kemana perginya dua tetua
yang lain? Mengapa kedua orang itu tidak turut
mengerubuti kau? Kalau Ngo lo (Lima tetua) turun tangan
dengan berbareng, apakah Kiesoe masih bisa hidup terus?"
"Untuk kesekian kalinya, aku terkejut. Memang benar,
waktu aku melukakan Khong tong Sam loo (Tiga tetua
Khong tong pay), aku mendapat tahu, bahwa dua tetua
yang lain, yang tidak turut bertempur, juga mendapat luka
berat. Hal itu selalu merupakan teka teki yang tidak dapat
dipecahkan olehku. Apakah kedua tetua itu berkelahi
dengan kawan sendiri? Apakah aku dibantu oleh seorang
yang berilmu tinggi? Sekarang, mendengar perkataan Kong
kian Taysoe, aku bertanya didalam hati. Apakah dua tetua
itu dilukakan oleh Seng koen ?"
Coei San dan So So adalah orang oraag mempunyai
pengalaman, pergaulan dan pendengaran luas. Mereka
sudah kenyang mendengar cerita cerita aneh dalam Rimba
463
persilatan, tapi belum pernah ada yang seaneh cerita Cia
Soen. Sesudah bergaul lama, mereka tahu, bahwa Cia Soen
bukan lihat ilmu silatnya saja, tapi juga lihay otaknya. Tapi
Hoen Goan Pek lek chioe Seng Koen kelihatannya lebih
lihay dari pada saudara angkat itu.
"Toako." kata So So. "Apa benar kedua tetua Khong
tong pay dilukakan oleh gurumu?"
Cia Soen mengangguk seraya menjawab "Benar. Akupun
tetah mengajukan pertanyaan begitu kepada Kong kian. Cia
Kiesoe, apa kau lihat mukanya kedua tetua itu ? tanyanya.
Bagaimana paras muka mereka? Aku tidak lantas menjawab
dan mengingat-ingat beberapa saat, barulah aku berkata:
Kalau begitu, Khong tong jie loo benar telah dilukakan oleh
guruku. Aku terpaksa mengakuinya, karena kuingat, bahwa
pada waktu
Khong tong Jie loo menggeletak ditanah, muka mereka
penuh dengan bintik-bintik merah darah. Itu merupakan
petunjuk, bahwa mereka telah menyerang dengan
menggunakan tenaga Im kin (Tenaga lembek), tapi telah
dipukul balik dengan ilmu Hoen goan kong. Setahuku,
disamping akibat pukulan Hoen goan kong, bintik-bintik
merah di muka ialah tanda dari penyakit cacar atau
sebangsanya. Tak mungkin Jie loo mendapatkan penyakit
cacar, karena pada hal itu, ketika aku baru bertemu dergan
Khong tong Ngo loo, mereka semua segar bugar. Aku juga
tau, bahwa didalam Rimba Persilatan. Hoen goan kong
hanya dimiliki oleh
guruku dan aku saja."
"Kong kian Taysoe manggut-manggutkan kepala. Ia
menghela napas seraya berkata: Dalam keadaan mabuk,
memang gurumu telah melaku kan perbuatan sangat hebat.
Sesudah tersadar dari mabuknya, ia malu dan menyesal
464
bukan main. Dua kali kau mencarinya untuk membalas
sakit hati, dua kali ia tidak mengambil jiwamu.Ia malah
tidak ingin melukakan kau. Tapi kerena kau menyerang
secara nekad bagaikan orang edan, ia tak bisa meloloskan
diri tanpa melukakan kau. Sesudah itu ia terUs
membayangi kau dari belakang dan tiga kali diam-diam ia
sudah menolong kau dari bencana."
"Aku segara mengingat ingat dan memang benar, selain
dari peristiwa pertempuran melawan para tetua
Khongtongpay, dua kali aku terlolos dari bahaya secara
mengherankan."
"Sesudah berdiam sejenak, Kong kian Taysoe berkata
pula: karena tahu, bahwa kedosaannya terlalu besar, ia
tidak berani memohon ampuh. Ia hanya mengharap, bahwa
lama-lama kau akan melupakan sakit hati itu. Tapi diluar
dugaan, gelombang yang diterbitkan olehmu makin lama
jadi makin besar dan jumlah manusia yang dibinasakan
olehmu jadi makin banyak. Hari ini jika kau membinasakan
Song Tayhiap, suatu bencana besar tak akan dapat
dielakkan lagi."
"Mendengar itu, aku segera berkata: Baiklah, aku tak
akan cari orang she Song itu, Tapi aku harap Taysoe suka
minta guruku menemui aku. Jawab kong kian Taysoe: ia
tak mempunyai muka untuk bertemu dengan kau dan iapun
tak berani menemui kau. Disamping itu, Cia Kiesoe, bukan
loolap mau memandang rendah kepadamu, andaikata kau
bertemu dengan gurumu, kaupun tidak akan bisa berbuat
apa-apa. Dibandingkan dengan dia, kepandaianmu masih
terlalu rendah. Kurasa kau tak akan mampu membalas sakit
hatimu."
"Aku mata sangat mendongkol dan segera berkata:
Taysoe adalah seorang pendeta suci yang mempunyai
perasaan adil. Apakah dengan berkata begitu Taysoe ingin
465
aku menyudahi saja urusan ini? Ia mengawasi aku dengan
sorot mata kasihan."
"Aku dapat merasakan hebatnya penderitaan Kiosoe.
katanya. Akan tetap, kau harus ingat, bahwa perbuatan
gurumu dilakukan dalam keadaan mabuk arak dan ia
sebenarnya sama sekali tidak berniat begitu. Apa pula ia
sungguh2 nerasa malu dan menyesal. Maka itu, loolap
memohon pertimbangan Kiesoe mengingat kecintaan
antara guru dan murid pada masa yang lampau."
"Mendengar bujukan itu, sambil menahan amarah aku
segera berkata dengan suara kaku! Kalau kali ini aku tidak
bisa memenang kan dia, biarlah dia binasakan aku. Jika aku
tidak bisa membalas sakit hati, akupun tak sudi hidup lebih
lama lagi didalam dunia."
"Kong kian mengawasi aku dengan paras muka berduka.
Lama ia berdiri termenung tanpa menegeluarkan sepatah
kata. Cia Kiesoe, katanva dengan suara perlahan, ilmu silat
gurumu di waktu sekarang berbeda jauh dari pada diwarktu
dulu. Biarpun kau mempunyai pukulan Cit siang koen, tak
dapat kau melukakannya. Jika kau tak percaya, cobalah
jajal pukulan itu terhadap diri loolap."
"Aku dan Taysoe sama sekali tidak mempunyai
permusuhan, mana berani aku melukakan Taysoe? kataku,
Walaupun berkepandaian rendah, kurasa Cit Siang koen
tak mudah dilawan orang. Mendengar jawabanku, ia
mengawasi aku sejenak dan kemudian berkata dengan suara
tetap: Cia Kiesoe, marilah kita bertaruh. Gurumu telah
membinasakan tigabelas anggauta keluargamu dan kau
boleh memukulku tigabelas kali. Jika kau berhasil
melukakan aku, aku tak akan campur lagi urusan ini dan
gurumu akan keluar untuk menemui kau. Tapi jika kau tak
dapat melukakan aku, kau harus melupakan sakit hatimu.
Cia Kiesoe, bagaimana pendapatmu? Apa kau setuju
466
pertaruhan ini."
"Aku tidak lantas menjawab. Kutahu pendeta itu
memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan biarpun lihay, Cit
siang koen belum tentu dapat melukainya. Kalau aku tidak
bisa melukainya, apakah sakit hatiku boleh disudahi saja?"
"Sementara itu, Kong kian sudah berkata: Sekarang aku
mau bicara terang-terangan kepada Kiesoe. Sesudah
mencampuri urusan ini, loolap pasti tidak akan
mempermisikan kau membinasakan lagi kawan-kawan
Rimba Persilatan yang tak berdosa. Jika mulai dari
sekarang Kiesoe menghentikan perbuatan kejam itu, aku
bersedia untuk melupakan segala perbuatan perbuatan duludulu.
"Cia Kiesoe, kau mencari musuhmu untuk membalas
sakit hati. Apakah kau kira kelurga atau murid-murid dari
orang-orang yang dibunuh olenhmu tidak akan mencarimu
untuk membalas sakit hati?"
"Mendengar perkataan itu yang diucapkan dengan suara
keren amarahku meluap. Baiklah aku akan pukul kau tiga
belas kali! teriakku. Jika merasa tidak tahan, Taysoe boleh
segera berteriak. Seorang laki-laki tak akan melanggar janji
sendiri. Kalau kalah, Taysoe harus meyuruh guru menemui
aku."
"Kong kian bersenyum seraya berkata: Kiesoe boleh
segera mulai. Melihat badannya yang kate kecil, rambut
dan alisnya yang sudah putih, dan paras mukanya yang
welas asih, aku sungguh merasa tak tega untuk turun
tangan. Maka itu, dalam pukulan pertama, yang ditujukan
kedadanya aku hanya menggunakan tiga bagian tenaga"
"Gie hoe," memotong Bu Kie, "apakah kau
menggunakan Cit siang koen yang dapat memutus kan nadi
pohon?"
467
"Tidak," jawabnya. "Dalam pukulan pertama aku
menggunakan Pek lek chioe dari guruku. Begitu terpukul,
badan Kong kian Taysoe bergoyang goyang. Ia mundur
setindak, Didalam hati, aku memandang rendah
kepadanya. Dengan mengguna kan tiga bagian tenaga saja,
ia sudah terhuyung setindak. Aku menduga, bahwa jika aku
memukul dengan Cit siang koen, dalam tiga kali pukul
mengambil jiwanya. Dalam pukulan kedua aku menambah
tenaga. Badannya bergoyang goyang pula dan dia mundur
setindak lagi. Pukulan yang ketiga pun mengeluarkan hasil
yang sama"
"Diam-diam aku merasa heran. Dalam pukulan ketiga,
aku kembali menambah tenrga, tapi ia tetap dapat
menerimanya dengan sikap acuh tak acuh. Selain begitu,
akupun merasa heran, karena tubuhnya sama sekali tidak
mengeluarkan tenaga yang melawan tenaga pukulanku."
"Aku segera menarik kesimpulan, bahwa untuk
merubuhkannya aku perlu menggunakan seantero tenaga.
Akan tetapi, jika aku menggunakan seluruh tenaga, ia tentu
akan terpukul mati, atau sedikitnya terluka berat. Biarpun
aku seorang jahat dan kejam, tapi terhadap Kong kian
Tayso yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain,
aku menaruh hormat yang sangat besar. Maka itu, aku
lantas berkata: Taysoe, kau menerima pukulan tanpa
membalas. Aku tak tega memukul lagi. Kau sulah dipukul
tiga kaii. Baiklah aku sekarang berjanji tak akan cari Song
Wan Kiauw."
"Tapi bagaimana dengan sakit hatimu terhadap Seng
Koen ? tanyanya. Dengan bernapsu aku menjawab: Aku
dan Seng Koen tidak bisa hidup bersama-sama dikolong
langit. Kalau bukan dia, akulah yang binasa. Aku berdiam
sejenak dan kemudian berkata pula: Tapi sesudah Taysoe
tampil kemuka, dengan memandang Taysoe aku berjanji,
468
bahwa mulai dari sekarang aku tak akan membunuh lagi
kawan-kawan dalam Rimba Persilatan. Tujuanku hanya
Seng Koen dan keluarganya!"
"Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata: Atas
nama kawan-kawan Rimba Persilatan, aku menghaturkan
terima kasih untuk janji Kiesoe itu. Tapi loolap sudah
mengambil keputusan untuk mendamaikan sakit hati ini,
sehingga oleh karenanya, lebih baik Kieso meneruskan
pukulan itu"
"Diam-diam aku menghitung-hitung. Memang paling
baik aku melakukannya dengan Cit siang koen untuk
memaksa keluarnya guruku. Untung juga, aku sudah mahir
dalam pukulan itu, sehingga berat entengnya, mengirimnya
atau menarik pulangnya dapat dilakukan sesuka hatiku.
Dengan demikian, kurasa aku akan dapat mengimbangi
pukulanku supaya tidak sampai mengambil jiwa pendeta
yang mulia itu. Memikir begitu, aku segera berkata: Baiklah
dan lalu mengirim pukulan Cit siang koen. Begitu lekas
tinjuku menyentuh dadanya, dada itu agak melesak dan ia
maju setindak."
Boe Kie menepuk-nepuk tangan. "Heran sungguh !"
katanya sambil tertawa. "Kali ini, sebaik nya dari pada
mundur, Hweeshio tua itu maju kedepan."
"Toako, bukankah Kong kian Taysoe menyambut
pukulanmu dengan ilmu Kim kong Poet hoay tee (ilmu
malaikat untuk membebaskan tubuh manusia dari sega1a
kerusakan) dari Siauw lim pay?" tanya Coei San.
Cia Soen mengangguk beberapa ka1i. "Ngotee, kau
ternyata mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang
luas sekali," ia memuji. "Memang benar Kong kian Taysoe
menggunakan ilmu itu. Kali ini, berbeda dari pada waktu
menyambut tiga pukulan yang pertama, dari dalam
469
tubuhnya keluar tenaga berbalik, sehingga isi perutku
tergoncang hebat. Aku mengerti, bahwa Kong kian Taysoe
sudah terpaksa mengeluarkan ilmu tersebut. Jika tidak, ia
tak akan dapat menyambut pukulan Cit siang koan. Sudah
lama kudengar, bahwa Kim kong Poet hoey tee dari Siauw
lim pay adalah salah satu dari lima ilmu ajaib yang tertinggi
dalam Rimba Persilatan. Sekarang baru aku tahu ilmu itu
sungguh-sungguh hebat. Aku segera mengirim tinju kelima
dengan menggunakan tenaga im-jioe (Tenaga lembek). Ia
menyambutnya dengan maju lagi setindak dan aku sendiri
lalu mengerahkan Lweekang untuk mempunahkan tenaga
im-jioe yang berbalik menghantam diriku..."
"Giehoe," Boe Kie memutus pula perkataan ayah
angkatnva," pendeta tua itu telah melanggar janji. Ia
berjanji tidak akan membalas, tapi mengapa ia menghantam
balik tenaga Im-jioemu?"
Cia Soen mengusap usap kepala bocah itu dan berkata
pula dengan suara halus: "Sesudah aku mengirim tinju
kelima, Kong kian Taysoe berkata: Cia Kiesoe, aku tak
nyana Cit siang koen sedemikian hebat. Jika aku tidak
mengerahkan Lweekang untuk menolak tenagamu, aku tak
akan dapat bertahan."
"Tidak apa, kataku. Bahwa Taysoe sudah tidak
membalas dengan pukulan, aku sudah merasa amat sangat
berterima kasih."
"Bagaikan huyan angin aku segera mengirim pukulan
keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan. Kong kian
Taysoe sungguh-sungguh lihay. Ia menyambut setiap
pukulan dengan sikap tenang dan apa yang paling
mengherankan, ia dapat membedakan lebih dulu tenaga
tenaga yang digunakan olehku."
"Awas! teriakku seraya mengirim tinju yang kesepuluh."
470
Ia mengangguk sedikit dan lalu mendului maju dua
tindak kedepan.
"Dalam pukulan yang kesepuluh aku telah menggunakan
seantero tenaga dan aku terhuyung kebelakang beberapa
tindak sebab terbentur dengan tenaga menolak yang sangat
dahsyat. Aku tidak bisa melihat mukaku sendiri."
"Tapi kutahu mukaku sudah pucat bagaikan kertas,
sedang napas Kong kian Taysoe pun tersengal sengal. Cia
Kiesoe, kau harus mengaso dulu sebelum mengirim
pukulan kesebelas, katanya. Aku adalah seorang yang
sungkan mengaku kalah, tapi pada saat itu, benar-benar ku
tak sanggup segera mengirim pukulan."
Coei San dan So So mengawasi sang kakak dengan
perasaan tegang.
"Giehoe, lebih baik kau jangan memukul lagi," kata Boe
Kie dengan tiba tiba.
"Mengapa?" tanya Cia Soen.
"Pendeta tua itu sangat mulia hatinya," jawab nya. "Jika
Giehoe melukakannya, hati Giehoe tentu merasa tak enak.
Jika Giehoe terluka kejadian itu sama tidak baiknya."
Coei San dan So So saling melirik. Mereka merasa
girang, bahwa Boe Kie yang masih begitu kecil sudah
mempunyai pemandangan jauh. Terutama Coei San merasa
sangat terhibur, karena ia mendapat kenyataan, bahwa
puteranya mempunyai pribudi yang luhur dan dapat
membedakan apa yang benar, apa yang salah.
Cia Soen menghela napas panjang. "Ya? Aka hidup
berpuluh tahun dengan cuma-cuma dan pikiranku tak bisa
menandingi pikiran anak kecil," katanya dengan suara
menyesal. "Tapi pada waktu itu, dengan adanya tekad bulat
untuk membalas sakit hati, aku tidak menghiraukan apapun
471
juga. Aku merasa, bahwa jika aku memukul tiga kali lagi,
salah seorang pasti akan binasa atau luka berat. Tapi aku
tidak perduli. Aku segera mengerahkan seluruh lweekang
dan mengirim pukulan yang kesebelas. Kali ini ia
melompat, sehingga tinju yang ditujukan kedadanya.
mengenakan kempungan. Aku mengerti maksudnya yang
sangat mulia. Jika aku memukul dadanya, tenaga
mendorong dari dada itu hebat luar biasa dan ia kuatir aku
tak kuat menerimanya. Tapi dengan memasang
kempungan, ia sangat menderita. Begitu kena, ia
mengerutkan alis, seperti orang sedang menahan sakit."
"Untuk sejenak aku berdiri terpaku dan mengawasi
dengan mata mendelong. Taysoe, kedosaan guruku sangat
besar dan tak lebih dari pada pantas jika ia menerima
hukuman mati, kataku dengan suara terharu. Mengapa
Taysoe rela mengorbankan diri yang berharga bagaikan
emas dan giok untuk menolong manusia yang berdosa itu?"
"Ia tidak lantas menjawab. Untuk beberapa saat, ia
berdiri tegak dan mengatur jalan pernapasan. Sesudah itu,
ia tertawa getir seraya berkata: Dua pukulan lagi . . . dan . .
. permusuhan akan cepat dibereskan . Melihat begitu tibatiba
dalam otakku berkelebat serupa ingatan. Ternyata pada
waktu mengerahkan tenaga Kim long Poet hay tee, ia tidak
boleh bicara. Mengapa aku tidak memancing supaya ia
bicara dan dengan berbareng mengirim pukulan mendadak
?"
"Mengingat begitu segera aku berkata : Kalau dalam
tigabelas pukulan, aku berhasil melukakan Taysoe, apakah
Taysoe tanggung bahwa guruku bakal datang untuk
menemui aku? Seorang beribadat tak akan berdusta,
jawabnya. Meskipun Taysoe berjanji, tapi apakah Taysoe
mempunyai pegangan, bahwa ia pasti akan muncul ?
tanyaku pula. Ia menjawab: ia sendiri yang mengatakan
472
begitu kepadaku."
"Pada detik itulah, sebelum ia bicara habis dengan
mendadak dan bagaikan kilat cepatnya, aku mengirim
pukulan yang kedua belas kearah kempungannya. Aku
merasa pasti bahwa ia tak akan keburu mengerahkan tenaga
Kim kong Poeti hay tee !"
"Tapi diluar dugaan, ilmu itu dapat digunakan menurut
kemauan hati. Begitu lekas tinjuku menyentuh
kempungannya, tenaga malaikat dari Kim kong Poet hoay
tee sudah berada diseluruh tubuh nya. Tiba-tiba aku merasa
langit berputar dan bumi terbalik, sedang isi perutku seolaholah
mau meledak. Aku terhuyung tujuh delapan
tindakkan. Sesudah punggungku membentur pohon,
barulah aku bisa berdiri tegak."
"Hatiku hancur dan mendadak aku mendapat pikiran
jahat. Sudahlah! teriakku. Sakit hati ini sukar bisa dibalas.
Guna apa Cia Soen hidup lebih lama didalam dunia ?
Seraya berkata begitu, aku mengangkat tangan untuk
menghantam batok kepalaku."
"Lihay ! Sungguh lihay tipu itu!" seru Boe Kie. "Tapi
Giehoe, apakah siasatmu itu tidak terlalu kejam?"
"Melihat apa kau?" tanya Coei San,
"Melihat Giehoe mau membunuh diri dengan
rnenghantam batok kepala sendiri, Hweeshio tua itu pasti
akan berteriak untuk mencegah dan akan coba menolong,"
jawab Boe Kie. "Giehoe pasti akan turun tangan pada saat
pendeta itu tidak berjaga-jaga. Tapi ia begitu baik
terhadapmu dan Giehoe tentu tidak boleh melukakannya.
Bukankah begitu? "
Bukan main herannya Coei San dan So So. Mereka
memang tahu, bahwa anak itu sangat cerdas otaknya. Tapi
473
mereka sama sekali tak pernah menduga, bahwa dalam
tempo sekejap mata, ia sudah bisa melihat akal khianatnya
Cia Soen. Mereka sendiri adalah orang-orang yang terkenal
pintar dan mempunyai banyak pengalaman dalam dunia
Kangouw. Tapi dalam kecepatan berpikir, mereka ternyata
masih kalah setingka t dari anak itu.
Paras muka Cia Soen berubah sedih dan sesudah
menghela napas, ia berkata dengan suara parau: "Benar.
Aku justru ingin menyalah gunakan kemuliaan Kong kian
Tayso! BoaeKie, tebakanmu tepat sekali. Biarpun benar
gerakanku itu merupakan suatu akal busuk, tapi pada waktu
aku mengayun tangan untuk menepuk batok kepalaku, aku
menghadapi bahaya yang sangat besar. Kalau aku tidak
menghantam sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga,
Kong kian tentu bisa melihatnya dan ia pasti tak akan coba,
menolong."
"Dari tiga belas pukulan hanya ketinggalan satu pukulan
saja. Cit siang koen memang lihay, tapi sudah ter bukti,
bahwa itu tak bisa menghancurkan Kim kong Poet hoay tee
yang melindungi seluruh tubuhnya. Maka itu, dengan
pukulan biasa, tak usah diharap aku bisa berhasil dan aku
boleh tak usah mimpi untuk membalas sakit hati ini.
Demikianlah, ibarat orang berjudi, pada detik itu aku
tengah melemparkan dadu yang penghabisan kali. Aku
menghantam dengan sekuat tenaga. Jika ia tidak menolong,
maka aku akan binasa dengan kepala hancur. Memang,
kalau aku tidak bisa membalas sakit hati, memang labih
baik aku binasa"
"Melihat sambaran tanganku, Kong kian Taysoe
berteriak: Hei! Jangan ... Seraya berteriak, ia melompat dan
nenangkis tanganku. Pada detik itulah aku mengirim tinju
kiri kebawah dadanya. Buk ! Tinjuku mampir tepat pads
sasarannya. Kali ini ia benar sekali tidak berjaga jaga.
474
Tubuh manusia terdiri dari darah dan daging tentu saja tak
bisa menerima pukulan Cit sang koen yang sehebat itu.
Tanpa bersuara, pendeta yang sangat rnulia itu rubuh
ditanah!"
"Aku mengawasinya sejenak dan tiba tiba rasa
kemanusiaanku mengamuk hebat. Aku memeluknya dan
rnenangis keras. Kong kian Taysoe, Cia Soen tak mengenal
pribadi, lebih hina daripada babi dan anjing! kataku dengan
suara parau."
Coei San bertiga tidak rnengeluarkan sepatah kata.
Mereka sangat berduka akan kebinasaan pendata yang
berhati begitu mulia.
"Melihat aku menangis, Kong kian Taysoe bersenyum."
kata pula Cia Soen. "Ia menghibur aku dengaan berkata:
Setiap manusia didunia harus pulang kealam baka! Kiesoe
tak usah begitu sedih. Tak lama lagi gurumu akan tiba disini
dan kau harus menghadapinya dengan penuh ketenangan."
"Nasehat itu menyadarkan aku. Barusan, sesudah
megirimkan tiga belas pukulan, tenaga ku dapat di katakan
habis. Sekarang dalam menghadapi lawan berat, tak boleh
aku terlalu berduka, karena hal itu dapat merusak
semangat. Aku segera bersila dan mengatur jalan
pernapasan. Tapi sesudah lewat sekian lama, guruku belum
juga datang. Aku melirik kong kian Taysoe dan melihat
bahwa pada paras mukanya terlukis rasa heran."
"Sesaat itu, napas Kong kian Taysoe sudah sangat
lemah. Iapun mengawasi aku dan berkata dengan suara
terputus putus. Tak dinyana .... ia tidak.....tidak..... boleh
dipercaya. Apa dia tertahan karena urusan lain ?"
"Aku gusar tak kepalang. Kau menipu aku! bentakku.
Kau menipu aku, sehingga aku membinaskan kau. Sampai
sekarang guruku masih belum muncul!"
475
"Ia mengeleng gelengkan kepala. Aku tidak menipu
katanya. Aku merasa bersalah terhadapmu."
"Dalam kegusaran yang meluap-luap, aku mencacinya.
Tiba-tiba selagi memaki, aku terkejut sebab ingat kenyataan
yang sebenarnya. Andaikata ia menipu aku, tipunya
merupakan pengorbanan jiwa dan baginya tak ada
keuntungan apa pun jua, pikirku. Sesudah mengorbankan
jiwa, ia malah meminta maaf kepadaku."
"Bukan main rasa maluku dan aku segera berlutut di
sampingnya. Taysoe, apakah kau mempunyai keinginan
yang belum ditunaikan? tanyaku dengan suara parau.
Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya."
"Ia bersenyum seraya berkata dengan berbisik: Aku
hanya mengharap, bahwa jika kau mau membunuh orang,
ingatlah loolap."
"Kong kian Taysoe bukan saja seorang pendeta suci yang
memiliki ilmu silat sangat tinggi, tapi juga seorang budiman
dan bijaksana yang dapat menyelami perasaanku. Ia
mengerti, bahwa jika ia meminta supaya aku menyudahi
permusuhan dan mengubah menjadl orang baik, aku tentu
tak akan dapat melakukannya. Ia tahu bahwa permintaan
begitu bakal sia-sia saja. Maka itu, ia hanya memesan,
supaya jika mau membunuh orang, biarlah aku ingat
pengorbanannya."
"Ngote, hari itu, pada waktu itu mengadu tenaga
didalam perahu, aku tidak mengambil jiwamu, sebab,
secara mendadak, aku ingat Kong kian Taysoe."
Coei San tercengang. Sedikitpun ia tak pernah menduga
bahwa jiwanya ditolong oleh seorang pendeta yang sudah
tidak ada lagi dalam dunia. Ia menghela napas dengan rasa
kagum dan rasa hormat yang tiada batasnya.
476
"Giehoe, mengapa kau mengadu tenaga dengaa Thiathia?"
Boe Kie menyelak..
"Mereka hanya main-main untuk menjajal Lwee kang
siapa yang lebih tinggi," So So mendahului.
Bocah itu tak percaya. "Giehoe," katanya pula. "Apa
waktu itu kedua matamu sudah bute"
"Boo Kie ! Jangan ngaco!" bentak sang ibu dengan rasa
terkejut.
Cia Soen bersenyum. "Belum, waktu itu aku belum
buta," jawabnya. "Mengapa kau menanya begitu?"
Mendengar jawaban ayah angkatnya, Boe Kie segera
berkata lagi: "Kalau begitu, mungkin sekali karena ayah
tidak bisa mengalahkan Giehoe, maka ibu sudah turun
tangan dan membutakan ke dua matamu...."
"Boe Kie!" bentak Coei San dan So So denngan
berbareng sehingga anak itu ketakutan dan tidak berani
membuka suara lagi.
"Tak boleb kamu menakut-nakuti anak itu," kata sang
kakak, "Boe Kie, tebakanmu tak salah. Bagaimana kau
dapat rnenebaknya?"
Bocah itu mengawasi kedua orang tuanya dan menjawab
dengan suara terputus-putus: "Aku... aku...."
"Kau benar," kata sang ayah angkat. "Waktu itu, sebab
ayahmu tidak bisa mengalahkan aku, ibumu sudah turun
tangan dan menimpuk kedua mataku. Tapi kejadian itu
sudah terjadi lama sekali dan orang yang bersalah adalah
aku sendiri. Aku sama sekaili tidak menjadi gusar. Apakah
kau dengar dari ibumu ?"
Ia tahu, bahwa So So tak mungkin menceritakannya
kepada puteranya, tapi ia sengaja mengajukan pertanyaan
477
itu supaya Coei San dan So So tidak bisa mencegah
penjelasan si Boe Kie.
"Tidak ! Ayah dan ibu sama sekali belum pernah
menuturkan kejadian itu kepadaku," jawab Boe Kie.
"Beberapa hari yang lalu ibu mengatakan, bahwa ia mau
mengajar aku menimpuk dengan jarum emas, tapi pada
esok harinya, ia membatalkan janji. Menurut dugaanku,
ayahlah yang sudah melarang ibu, karena ia kuatir hal itu
mengingatkan Giehoe akan kejadian kejadian yang
lampau."
Cia Soen tertawa terbahak bahak. "Ngote, So moay,
anak kita lebih pintar lima kali lipat dari pada aku dan lebih
cerdas sepuluh kali lipat dari pada kamu berdua," katanya
dengan suara girang dan bangga, "Hmm . . .! Aku tak bisa
menebak kelihayannya dibelakang hari ."
Tanpa terasa Coei San dan So So mengulur tangan
mereka dan mencekal tangan sibocat erat erat. Mereka
merasa sangat girang. tapi kegirangan itu tercampur dengan
rasa kuatir. Coei San kuatir, bahwa karena terlalu pintar
dihari kemudian anak itu akan menyeleweng. Sedang So So
sendiri kuatir puteranya tidak bisa berumur panjang.
"Giehoe," kata pula Boe Kie sambil tertawa. "Dengan
berkata begitu, bukankah Giehoe lebih pintar dua kali lipat
daripada ayah dan ibu ?"
"Lebih daripada dua kali lipat," jawabnya di susul
dengan tertawa nyaring.
"Giehoe, bagaimana dengan pendeta tua itu ? Apa ia
dapat diselamatkan jiwanya ?" tanya pula si bocah.
Cia Soen menghela napas. "Tidak, tak dapat
disembuhkan lagi," jawabnya. "Napasnya makian lama jadi
makin lemah. Dengan mati matian aku menekan jalanan
478
darah Leng tayhiatnya sambil mengempos Lweekang untuk
coba menolong jiwanya. Tiba-tiba ia menarik napas
panjang-panjang dan berkata dengan suara berisik: Apa
gurumu belum datang? Belum! jawabku. Kalau begitu, ia
tidak akan datang,katanya lagi."
"Taysoe, legakanlak hatimu"' kataku. "Aku berjanji,
bahwa aku tak akan membunuh orang lagi secara
serampangan untuk memancing dia. Untuk mencarirya, aku
akan menjelajahi seluruh dunia."
"Ia mengangguk dan berkata dengan suara terputus
putus: Bagus bagsus... Hanya sayang ilmu silatmu belum
bisa menadinginya .... kecuali....kecuali..... "
"Sampai disitu, suaranya hampir tak dapat didengar lagi.
Aku menempelkan kupingku dimulutnya. Sesaat kemudian
ia berkata pula: Kecuali..... kau dapat mencari To liong
to...... mencari golok itu punya pit......... Ia hanya dapat
mengeluarkan perkataan 'pit'. Napasnys menyesak dan lalu
menghambuskan napas penghabisan!"
(Penerusan "pit" yalah "bit". Pit bit berarti "rahasia".
Sekarang Coei San dan So So baru rnengerti mengapa
kakak itu berusaha untuk mengorek rahasia To liong to,
mengapa ia kadang-kadang kalap seperti binatang buas dan
mengapa ia selalu
diliputi kedukaan. Sesudah mengangkat saudara sepuluh
tahun. baru malam itu mereka mengetahui asal usul Cia
Soen.
"Sesudah mencari dibanyak tempat. belakangan barulah
aku dengar dimana adanya golok mustika itu," kata pula
Cia Soen. "Buru-buru aku pergi kepulau Ong poan san
untuk merebutnya. Kejadian selanjutrya sudah diketahui
kamu dan tak perlu aku mengulangi lagi. Sebelum
479
mendapat golok itu, aku berusaha mati-matian meacari
Seng koen. Tapi sesudah memiliki, aku berbalik takut di
cari olehnya. Maka itu, aku rnemerlukan sebuah tempat
yang jauh dan tak dikenal manusia untuk coba
memecahkan rahasia yang tersembunyi dalam golok itu.
Karena kuatir kamu membocorkan rahasiaku, maka aku
sudah membawa kamu datang disini. Tak dinyana kita
sudah berdiam disini tak kurang dari sepuluh tahun. Cia
Soen ... ah.... Cia Soen! Setiap usahamu selalu menemui
kegagalan!"
"Menurut Toako, perkataan Kong kian Taysoe , belum
selesai diucapkan," kata Coei San. "Ia mengatakan: Kecuali
bisa mencari To liong to punya pit ... Mungkin sekali ia
mempunyai maksud lain"
Cia Soen menghela napas. "Selama sepuluh tabuh siang
malam aku mengasah otak," katanya. "Tapi aku tetap gagal.
Tidak bisa salah lagi, didalam golok itu bersembunyi
rahasia besar. Hanya otakku tidak cukup tajam untuk
menembus kabut yang menyelimuti rahasia itu. Boe Kie,
kau jauh lebih pintar daripada aku. Dikemudian hari
mungkin sekali kau akan berhasil dimana aku mengalami
kegagalan."
"Gie hoe, berapa usia Seng Koen sekarang?" tanya si
anak.
Paras muka Cia Soe lantas saja berubah, "Tak salah kau,
nak," katanya. "Dia sekarang sudah berumur enampuluh
lima tahun. Sakit hatiku kebanyakan tidak bisa terbalas Hai!
Langit! Langit! Kau telah membuat aku sangat menderita!"
Coei San dan So So mengerti apa yang dipikir kakak
mereka. Andaikata dibelakang hari Boe kie berhasil
memecahkan rahasia To liong to, andaikata ia memperoleh
ilmu yang dapat merubuhkan Seng Koen, andaikata ia bisa
480
pulang ke Tionggoan dan mencari Seng Koen, hal itu
tentunya bakal terjadi dalam duapuluh atau tigapuluh tahun
kemudian. Pada waktu itu, sepuluh sembilan harapan, Seng
Koen sudah berpulang kealam baka.
Sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, fajar
mulai menyingsing. "Boe Kie," kata Cia Soen. "Kau jangan
tidur lagi. Giehoe akan mengajarkan kau semacam ilmu
silat. "
Coei San dan So So saling melirik, tapi mereka tidak
berani membantah dan lalu kembali keguha mereka.
Cia Soen tak pernah menyebut-nyebut lagi urusan itu,
hanya caranya mendidik Boe Kie jadi berubah. Ia sekarang
menurunkan pelajaran dengan lebih bengis dan keras.
Boe Kie baru saja berusia sembilan tahun dan biarpun
otaknya sangat cardas, bagaimana ia dapat menyelami
pelajaran Cia Soen yang begitu tinggi dalam tempo begitu
pendek? Tapi sang ayah angkat tidak menghiraukan
pertimbangan itu. Setiap kali bocah itu tidak memenuhi
pengharapannya, ia bukan saja mencaci tapi juga
memukulnya.
Sering kali So So melihat tanda-tanda biru bekas pukulan
ditubuh puteranya, ia merasa kasihan dan tempo-tempo
berkata : "Toako, tak dapat Boe Kie mempelajari semua
ilmu silatmu dalam tempo pendek. Kita berdiam dipulau
yang terpencil dan kita mempunyai banyak sekali tempo.
Kurasa Toako tak usah begitu tergesa-gesa."
"Aku bukan menyuruh dia melatih diri dalam pelajaranpelajaran
yang diturunkan olehku," jawab sang kakak. "Aku
hanya memerintahkan supaya dia mengingat dan
menghafal semua pelajaran itu didalam otaknya."
So So tak mengerti maksud Cia Soen. Ia hanya tahu,
481
bahwa kakak itu seorang aneh dengan cara-caranya yang
aneh pula. Ia tidak dapat berbuat lain daripada membiarkan
sang kakak bertindak semaunya.
Apa yang dapat dilakukannya hanyalah membujuk Boe
Kie jika dia mendapat hajaran keras. Tapi anak itu
sedikitpun tidak menjadi jengkel. "Ibu, maksud Giehoe
sangat baik," katanya. "Makin keras ia memukul, makin
cepat aku menghafal pelajaran."
Demikianlah setengah tahun yang pertama telah lewat.
Pada suatu pagi, tiba-tiba Cia Soen berkata: "Ngotee, Somoay,
empat bulan lagi angin dan arus laut akan membeluk
keselatan. Mulai hari ini kita sudah boleh membuat getek."
Coei San kaget tercampur girang. "Toako, apa kah kau
maksudkan, bahwa sesudah membuat getek, kita akan bisa
kembali ko Tionggoan?" tanyanya.
"Tergantung atas kebijaksanaan Langit," jawabnya
dengan suara tawar. "Ini yang dinamakan. manusia
berusaha, Langit berkuasa. Kalau untung baik, pulang
ketempat sendiri, kalau nasib malang, tenggelam didasar
laut."
Jika mereka menuruti keinginan So So, mereka tak usah
menempuh bahaya besar itu. Mereka hidup bahagia dan
bebas merdeka dan So So sudah merasa sangat puas. Akan
tetapi, disamping itu masih terdapat lain pertimbangan yang
sangat berat. Mereka memikirkan nasib Boe Kie. Dengan
siapa anak itu akan menikah ? Apa tidak kasihan, jika ia
harus hidup selama-lamanya dipulau yang terpencil itu?
Demi kepentingan Boe Kie, jika masih ada jalan, biar
bagaimana jua mereka harus berusaha untuk kembali ke
dunia pergaulan.
Demikianlah, dengan bersemangat mereka lantas saja
mulai bekerja. Untung juga di pulau itu terdapat banyak
482
pohon besar, sehingga soal bahan tidak menjadi soal lagi.
Cia Soen dan Coei San menebang pohon, So So membuat
layar dan tambang dari serat kulit kayu, sedang Boe Kie dan
si kera putih pun turut membantu atau mengacau.
Biarpun Cia Soen dan kedua suami isteri itu orang-orang
yang berkepandaian tinggi tapi karena kekurangan alat,
pekerjaan mereka main dengan lambat sekali dan mereka
harus menggunakan lebih banyak tenaga daripada
seharusnya. Di waktu menebang pohon atau mengikat
balok-balik untuk dijadikan getek. Cia Soen selalu
memerintahkan Boe Kie berdiri disampingnya dan ia
mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pelajarannya.
Coei San dan So So tidak diharuskan lagi menyingkir dan
mereka bisa mendengar tanya jawab antara ayah dan anak
angkat itu. Mereka merasa heran , karena tanya jawab itu
hanya mengenai Kouw koat (teori) dari berbagai ilmu silat.
Ternyata Cia Soen hanya menyuruh anak menghapal
teori ilmu silat tangan kosong, ilmu golok, ilmu pedang dan
sebagainya, tanpa memberi pelajaran mengenai cara-cara
menggunakan teori itu. Dengan lain perkataan, Boe Kie
hanya menghapal teori secara membeo, seperti anak
sekolah jaman dulu menghapal kitab Soe sie dan Ngo keng
tanpa mengerti maksudnya.
So So yang mendengari sambil bekerja, merasa kasihan
pada puteranya. Jangankan seorang bocah cilik seperti Boe
Kie, sedang seorang dewasapun tak akan bisa ingat Kouwkoat
yang sulit itu tanpa mempelajari pukulan pukulannya.
Sebagai guru, Cia Soen bengis bukan main. Salah satu
perkataan saja. Boe Kie dicaci atau di gaplok. Biarpun ia
menampar tanpa mengerah Lweekang, tapi karena
kerasnya, muka Boe Kio sering menjadi bengkak.
Sesudah menggunakan tempo dua bulan lebih barulah
483
getek itu selesai dibuat. Untuk memasang tiang layar,
mereka barus bekerja kira kira setengah bulan lagi. Sesudah
itu, mereka memburu binatang. mengasini daging dan
menjahit kantong kantong kulit untuk dijadikan tempat air.
Mereka harus mempersiapkan sebaik baiknya karena tak
dapat diramalkan berapa lama mereka harus belayar
ditengah samudara yang luas.
Waktu segala persiapan beres, siang hari sudah pendek
dan malam sangat panjang, tapi arah angin masih belum
berubah. Sambil menunggu perobahan angin, mereka
membuat sebuah gubuk dipinggir laut untuk menempatkan
getek itu.
Sekarang Cia Soen tidak pernah berpisaran lagi dengan
Boe Kie dan diwaktu malam, mereka tidur bersama sama.
Dengan bengis dan tidak mengenal lelah, ia terus mengisi
pelajaran pelajaran terakhir kedalam otak anak angkat itu.
Pada suatu malam, waktu mendusin. tiba tiba Coei San
mendengar suara angin yang agak aneh. Ia melompat
bangun dan ternyata, angin rnulai meniup dati sebelah
utara. Buru burn ia manggoyang goyangkan tubuh istrinya
seraya berkata dengan suara girang: "So So, kau dengarlah
!" Sebelum istrinya tersadar diluar sudah terdengar teriakan
Cia Soen: "Angin utara datang!" Ditengah malaria buta,
teriakan itu yang seperti tangisan kedengarannya
menyeramkan sekali.
Pada esokan paginya, dengan rasa girang tercampur
haru, Coei San, So So berkemas karena adanya harapan
besar untuk kembali kewilayah Tiong goan dan terharu
sebab mereka harus segera berpisahan dengan pulau yang
indah itu dimana mereka sudah berdiam kira-kira sepuluh
tahun lamanya. Kira-kira tengah hari barulah semua bekal
selesai dipindahkan keatas getek. Sesudah itu, mereka
484
bertiga mendorong getek tersebut keatas air. Orang yang
melompat keatas getek paling dulu adalah Boe Kie yang
mendukung si kera putih, diikuti oleh sang ibu. "Toako,
mari melompat bersama-sama," kata Coei San sambil
mencekal tangan sang kakak.
"Ngotee," tiba-tiba Coei San berkata dengan suara parau.
"Mulai saat ini, kita berpisah untuk selama-lamanya! Aku
harap kau bisa menjaga diri."
Kagetnya Coei San bagaikan disambar halilintar
ditengah hari bolong. Ia menatap wajah kakaknya dengan
mata membelalak dan berkata dengan suara terputus-putus :
"Toako....kau....kau..."
"Ngotee, kau seorang yang berhati mulia dan kau pasti
akan hidup beruntung." kata Cia Soen. "Tapi nasib manusia
sukar ditebak dan kemauan Langit sukar diketahui. Maka
itu , dalam
tindakan-tindakamu, kau haruslah berhati-hati. Boe Kie
telah medapat seantero kepandaianku. Ia berotak sangat
cerdas dan dihari kemudian ia pasti bisa berada disebelah
atas kita berdua. Mengenai So moay, biarpun ia seorang
wanita, ia gagah dan pintar sehingga ia pasti tak akan di
hina orang. Ngotee, orang yang aku kuatirkan adalah kau
sendiri."
"Toako, jangan kau ngaco!" kata Coei San dengan
bingung. "Apa aku....kau..... tidak mau ikut kami ?"
Sang kakak bersenyum sedih. "Pada beberapa tahun
berselang, aku sudah mengatakan begitu kepadamu,"
katanya. "Apa kau lupa ?"
Coei San terkejut. Memang benar Cia Soan pernah
mengatakan begitu, akan tetapi karena soal itu tidak
disebut-sebut lagi, Coei San dan So So tidak mengangapnya
485
sungguh-sungguh. Selama membuat getek dan
mempersiapkan bekal, sang kakak juga tidak pernah
mengutarakan niatannya itu. Tak dinyana pada saat mau
berangkat barulah ia memberitahukan keputusannya.
"Toako, mana boleh kau berdiam dipulau ini", kata pula
Coei San dengan suara memohon, "Ayolah !" Seraya
berkata begitu, ia membetot tangan kakaknya, tapi kedua
kaki Cia Scam seolah berakar didalam tanah.
"So moay! Boe Kie kemari ! Toako tidak mau mengikut,"
teriak Coei San.
So So dan Boe Kie tentu saja kaget dan buru buru
mereka melompat balik kedaratan.
"Giehoe, mengapa kau tidak mau turun ?" tanya si
bocah, "Jika kau tidak turut, akupun tidak turut."
Tak usah dikatakan lagi, Cia Soen pun merasa sangat
berat untuk berpisahan dengan mereka. Ia mengerti, bahwa
perpisahan itu adalah untuk selama-lamanya. Akan tetapi,
sesudah merenungkan masak-masak dalam tempo lama, ia
telah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke
Tiorggoan. Mengapa? Karena, jika ia mengikut, keluar,
Coei San akan menghadapi bencana yang tidak habishabisnya.
Biarpun ia mempunyai riwayat yang berlamuran
darah dan ia pernah melakukan perbuatan-perbuatan
kejam, tapi semenjak mengangkat saudara dengan Coei San
dan So So, ia mencintai ketiga orang itu seperti mencintai
diri sendiri. Dan kecintaannya terhadap Boe Kie tidak
kurang daripada kecintaaanya pada anak kandung sendiri.
Ia mengerti, bahwa diatas pundaknya tertumpuk dengan
beban hutang darah. Baik dalam kalangan Kangouw,
maupun dalam kalangan Liok
li (Rimba hijau kalangan perampok), entah berapa
486
banyak jumlahnya musuhnya yang ingin membalas sakit
hati. Apa pula, sesudah merniliki To liong to, bakal makin
banyak orang yang menghendaki jiwa dan goloknya.
Dulu sedikitpun ia tidak merasa gentar. Tapi sekarang,
sesudah kedua mata nya buta, ia merasa tak sanggup untuk
melayani begitu banyak musuh. Sebagai orang gagah sejati,
jika ia dikerubuti, Coei San dan So So sudah pasti tak akan
berdiri dengan berpeluk tangan. Maka itu, kalau ia
mengikut, bukan saja ia sendiri tspi kedua saudara augkat
dan anak pungutnya pun akan turut menjadi korban.
Demikianlah, sesudah memikir baik-baik, ia mengambil
keputasan itu.
Mendengar perkataan Boe kie, ia terharu bukan main.
Sambil memeluk anak angkat itu, ia ber kata dengan suara
serak: "Boe Kie, kau dengarlah perkataan Giehoe! Giehoe
sudah tua, mata buta dan sudah enak hidup disini. Kalau
kembali ke Tionggoan, Giehoe akan menderita.
"Sesudah kembali ke Tionggon anak akan melayani
Giehoe dan tidak akan berpisahan lagi dengan Giehoe,"
kata Boe Kie. " Giehoe mau makan atau mimum apa, anak
akan segera menyediakan nya. Bukankah penghidupsn
begitu sama senangnya seperti penghidupan disini?"
Cia Soen menggelengkan kepala, "Tidak, aku lebih
senang berdiam terus disinl," katanya.
"Kalau begitu, anakpun lebih senang hidup terus disini,"
kata pula bocah itu. "Thia, kita batalkan saja keberangkatan
ini."
"Toako, jika kau mempunyai lain pendapat, lebih baik
tau mengutarakan saja terang-terangan supaya kita beramai
dapat mengatasinya" kata So So. "Biar bagaimanapun jua,
kita tak nanti meninggalkan kau disini seorang diri"
487
"Toako," Coei San menyambungi, "apakah karena
mempunyai banyak musuh, kau kuatir akan merembetrembet
kami? Sepulangnya di Tiong goan, kita boleh
mencari sebuah tempat yang sepi dan kita boleh hidup
menyendiri tanpa bergaul dengaa manusia lain. Menurut
pendapatku, paliang benar kita berdiam di Boe tong san.
Tak seorang pun yang akan menduga, bahwa Kim-mo Sayong
berada digunung itu."
"Hmm.... " Cia Soen mengeluarkan suara dihidung.
"Biarpun kakakmu seorang bodoh, tak usah ia
menyembunyikan diri dibawah perlindungan Thio Cinjin!'
Coei San terkejut. Ia tahu bahwa ia sudah kesalahan
bicara dan buru buru berkata pula . "Bukan, bukan begitu
maksudku. Kepandaian Toako tidak barada disebelah
bawah Soehoe dan tentu saja Toako tak perlu berlindung
dibawah perlindungan Soehoe. Di wilayah Tiong goan
terdapat banyak sekali tempat yang terpencil dan jauh dari
dunia pergaulan. misalnrya Hoei kiang, Tibet, daerah gurun
pasir dan sebagainya. Kita berempat boleh pergi kesitu dan
menuntut
penghidupan yang tenteram "
"Kalau mau mencari tempat yang jauh dari pergaulan
manusia, tempat inilah yang paling baik!" Kata sang kakak.
"Eh, katakan saja, apa kamu mau pergi atau tidak?"
"Tanpa kau, kami tak akan berangkat," jawab So So dan
Boe Kie dengan berbareng.
Cia Soen menghelas napas "Baiklah"' katanya "kita
semua jangan pergi. Sesudah aku mati, kamu masih
mempunyai banyak tempo untuk pulang ke Tiong goan."
"Benar, kita sudah berdiam disini sepuluh tahun dan tak
usah kita tergesa-gesa." kata Coei San.
488
"Bagus!" bentak Cia Soen. "Sesudah aku mampus, aku
mau lihat apa kamu masih mau berdiam disini." Seraya
berkata begitu, mendadak ia menghunus To liong to dan
mengayun kelehernva.
Semangat Coei San terbang. "Jangan celakakan Boe
Kie!" teriaknya. Ia mengerti, bahwa ia tak akan mampu
mencegah niat kakaknya sehingga jalan satu-satunya adalah
berteriak begitu.
Benar saja Cia Soen terkejut. Goloknya berhenti
ditengah udara dan ia, bertanya: "Apa?"
"Toako jika kau sudah mengambil keputusan pasti
siauwtee tidak dapat berbuat lain dari pada meminta diri,"
katanya dengan suara parau dan lalu berlutut dihadapan
sang kakak.
"Giehoe!" teriak Boe Kie. "Jika kau tidak pergi akupun
tidak pergi. "Kalau kau bunuh diri, akupun bunuh diri"
Cia Soen kaget. Ia tahu, bocah yang luar biasa pincar itu
sekarang balas menggeretaknya. Buru buri ia memasukan
To liong to kedalam sarung dan membentak: "Setan kecil!
Jangan ngaco kau!"
Tiba tiba, ia mencengkeram punggung Boe Kie dan
melemparkannya kegetek dan kemudian melontarkan juga
Coei San dan So So. "Ngotee! So moay! Boe Kie!" teriaknya
dengan suara duka. "Semoga perjalananmu diiring dengan
angin baik dan siang-siang kembali di Tiong goan."
Melihat majikannya sudah berada digetek, si kera
putihpun buru-buru melompat kegetek itu.
"Giehoe! Giehoe!" sesambat Boe Kie.
Cia Soen mencabut pula To liong to dengan membentak
dengan suara angker: "Jika kamu turun lagi, Kamu akan
489
temukan mayatku!"
Karena terpukul arus air, perlahan lahan getek itu
meninggalkan pulau. Makin lama bayangan Cia Soen jadi
makin kecil. Coei San dan So So mengerti bahwa keputusan
kakak mereka sudah tak dapat diubah lagi. Mereka tak bisa
berbuat lain daripada nengulap-ulapkan tangan dengan rasa
sedih dan berterima kasih tak habisnya.
Sesudah berada dilautan terbuka Coei San bertiga tidak
mengenal arah dan membiarkan getek itu berlayar semau
maunya. Apa yang diketahui
mereka, ialah setiap pagi matahari naik dari sebelah kiri
dan setiap sore, turun dari sebelak kanan. Saban malam,
mereka bisa melihat bintang Pak kek dibelakang getek.
Siang malam, dengan perlahan getek itu bergerak maju.
Selama kurang lebih dua puluh hari, Coei san tak berani
memasang layar sebab kuatir getek itu membentur dengan
gunung es. Tanpa layar, walau pun terbentur, benturan itu
tidak keras, dia tak akan mencelakakan. Sesudah
berpisahan dengan gunung es, barulah mereka menaikkan
layar.
Dengan bantuan angin utara yang meniup tak hentihentinya,
getek itu mulai maju kearah selatan dengan pesat
sekali. Dasar nasib baik, ditengah parjalanan mereka tidak
pernah bertemu dengan badai dan dilihat tanda tandanya,
mungkin mereka akan bisa pulang dengan selamat.
Selama sebulan Coei San dan So So tak pernah
menyebut-nyebut Cia Soen, karena kuatir menbangkitkan
kedukaan Boe Kie. Pada suatu hari sambil mengawasi
permukaan air, tanpa merasa So So berkata "Toako benarbenar
seorang luar biasa. Ia bukan saja tinggi ilmu silat nya,
tapi juga paham lain-lain ilmu "
490
"Ibu, menurut katanya Giehoe, selama setengah tahun
angin meniup keselatan dan setengah tahun lagi meniup ke
utara," kata Boe Kie. "Biarlah lain tahun kira kembali ke
Peng hwee to untuk menengok Giehoe."
"Benar," kata Coei San "Sesudah kau besar, kita beramairarnai
mengunjungi lagi pulau itu."
"Apa itu?" So So memutuskan perkataan suaminya
seraya menuding keselatan.
Jauh-jauh, digaris pertemuan antara angit dan laut,
terlihat dua titik hitam.
Coei San terkesiap. "Apa ikan paus ?" katanya dengan
suara ditenggorokan.
Susudah mengawasi beberapa lama, So So ber kata:
"Bukan, bukan ikan paus. Aku tak lihat semburan air."
Dengan hati berdebar-debar, mereka terus
memperhatikan kedua titik hitam itu. Berselang kurang
lebih satu jam, tiba tiba Coei San berseru dengan suara
girang: "Perahu ! Perahu !" Bahna girangnya, ia melompat
bangun dan berjungkir balik. Boe Kie tertawa terbahakbahak
dan lalu mengikuti ayahuya yang sedang kegirangan.
So So sendiri buru buru mengambil kayu bakar, menuang
minyak ikan diatasnya dan lalu menyulutnya.
Sesudah lewat kira-kira satu jam lagi, sedang matahari
mulai mendoyong kebarat, mereka sudah bisa melihat tegas
dua buah perahu diatas permukaan air. Mendadak So So
kelihatan menggigil dan paras mukanya berubah pucat.
"Ibu, ada apa ?" tanya Boe Kie dengan perasaan heran.
Sang ibu tidak menjawab, tapi bibirnya bergemetar.
Dengan paras muka kuatir, Coei San mencekal kedua
tangan isterinya. So So menghela napas. "Baru pulang,
491
sudah bertemu," katanya.
"Apa?" menegas sang suami.
"Lihat layar itu," jawabnya sambil menuding kesebuah
perahu.
Coei San mengawasi keperahu yang berada di sebelah
kiri. Ia mendapat kenyataan, bahwa pada layarnya terpeta
sebuah tangan berdarah dengan lima jeriji yang terpentang
lebar. "Layar itu aneh sekali, apa kau tahu perahu siapa?"
tanyanya.
"Perahu Peh bie kauw dari ayahku !" jawabnya dengan
suara perlahan.
Coei San tertegun. Sesaat itu rupa-rupa pikiran
berkelebat-kelebat diotaknya. "Ayah So So seorang jahat
dan kejam, bagaimana aku harus berbuat jika bertemu
dengannya ? Bagaimana si Insoe terhadap pernikahanku ini
tanyanya di dalam hati. Kedua tangan isterinya yang
dicekelnya agak bergemetar. Ia mengerti, bahwa sang
isteripun sedang memikiri berbagai soal yang tengah
dihadapi mereka.
"So So," katanya dengan suara membujuk. "Kita sudah
menikah dan anak kita sudah begini besar. Langit diatas,
bumi dibawah apapun yang akan terjadi kita tak akan
berpisah lagi. Kau tak usah kuatir."
So So mengangguk dan bersenyum. "Aku ha nya
mengharap kau tidak menyesalkan aku," katanya dengan
suara perlahan.
Boe Kie yang belum pernah melihat perahu, tidak
menghiraukan pembicaraan antara ayah darn ibunya dan
matanya terus mengawasi kedua perahu itu, yang
kelihatannya sangat berdekatan, seolah-olah menempel satu
sarna lain. Jika tidak ada perobahan arah, getek mereka
492
akan perpapasan dengan kedua perahu itu dalam jarak
puluhan tombak.
"Apa kita perlu memberi isyarat ?" tanya Coei San.
"Tak perlu" jawab So So. "Susudah tiba di Tiong goan,
aku akan mengajak kau, dan Boe Kie pergi menemui ayah."
"Baiklah," kata sang suami.
Mendadak Boe Kie berteriak: "Hei! Lihat! Orang-orang
itu sedang berkelahi!"
Coei San dan So So terkejut dan lalu melihat kedua
perahu itu. Benar saja mereka melihat berkelebat-kelebatnya
senjata dan empat lima orang sedang bertempur.
"Apa ayah berada disitu ?" kata So So dengan rasa kuatir.
"Sesudah terlanjur bertemu, ada baiknya kita menengok
sebentar," kata Coei San. Ia segera mengubah kedudukan
layar dan membelokan kemudi sehingga getek mmbelok
kekiri, menuju ke arah kedua perahu itu.
Berselang kira-kira setengah jam barulah getek
mendekati kedua perahu itu. "Pelancong yang tidak ada
urusan jangan datang dekat !" demikian terdengar terlakan
dari perahu Peh bie kauw.
"Aku adalah Hio coe dari Congto !" teriak So So. "Tocoe
dari bagian mana yang sedang memasang hio?"
Mendengar teriakan itu yang menggunakan istilah
rahasia dari Peh bie kauw, orang yang barusan berteriak
lantas saja berubah sikapnya'. "Maaf! Kami tak tahu, bahwa
yang datang adalah Hio coe dari Congto," katanya dengan
sikap hormat. "Kami adalah rombongan Lie Hio coe dari
Thian sie tong yang memimpin Hong Tan coe dari Sin
coa tan dau Thia Tancoe dari Ceng liong tan. Bolehkah
kami mendapat tahu, Hio coe dari mama yang, datang
493
kesini ?"
"Hio coe dari Cie wie tong," jawab So So.
Hampir berbareng dengan jawaban So So, keadaan
diperahu Peh bie kauw menjadi kalut. Beberapa orang
berlari-lari, rupanya untuk memberitahukan pemimpin
mereka, sedang belasan orang berteriak dengan suara kaget
dan girang: "In Kouwnio pulang ! In Kouwnio pulang !"
Biarpun sudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, So So
belum pernah membicarakan Peh bie kauw dengan
suaminya. Sedang Coei San pun belum pernah
menanyakan. Sesudah mendengar tanya jawab itu, barulah
Coei San tahu, bahwa kedudukan Hio coe dari Cie wie tong
lebih tinggi dari pada kedudukan Tancoe. Waktu berada di
pulau Ong poan san, ia pernah menyaksikan kepandaian
Tancoe dari Hian boe tan dan Coe ciak tan yang lebih
unggul dari pada ilmu silat So So. Ia mengerti bahwa
isterinya bisa menjadi Hiocoe adalah karena So So puteri
pemimpin besar dari Peh bie kauw. Maka itu, dapatlah
diduga, bahwa Lie Hiocoe dart Thian sie tong seorang yang
berkepandaian sangat tinggi.
Tiba-tiba dari perahu Peh bie kauw terdengar suara
seorang tua: "Menuiut laporan, In Kauw nio sudah
kembali. Bagaimana kalau kita menghentikan pertempuran
untuk sementara waktu? "
"Baiklah !" jawab seorang yang suaranya nyaring
bagaikan genta. "Hentikan Pertempuran!"
Dengan serentak suara beradunya senjata terhenti dan
semua orang melompat keluar dari gelanggang
pertempuran.
Mendengar suara yang nyaring itu, jantung Coei San
memukul keras. "Apa Jie Lian Cioe Soeko?" teriaknya.
494
Jawab orang itu: "Aku Jie Lian Cioe. Ah...... Kau ....
Kau ..."
"Siauwtee ..Coei San..." jawabnya dengan suara
terputus-putus bahna terharunya. Sesaat itu jarak antara
getek dan perahu Jie Lian Cioe belasan tombak. Dengan
tergesa-gesa Coei San menyambar sepotong papan yang lalu
dilontarkan keatas air, akan kemudian ia melompat
kepapan itu dan sekali menotol dengan satu kakinya untuk
meminjam tenaga, tubuhnya sudah melesat kekepala
perahu Jie Lian Cioe.
Jie Lian Cioe menubruk dan memeluk Soeteenya.
Sesudah mereka berpisahan sepuluh tahun dapat dimengerti
perasaan mereka pada sesaat itu. Si adik berseru dengan
suara parau: "Jieko'" Sang kakak berbisik "Ngotee!" Mata
mereka basah.
Dilain pihak, orang-orang Peh bie kauw menyambut In
So So dengan segala upacara. Empat buah terompet yang
dibuat dari keong laut raksasa ditiup dengan serentak. Li
Hiocoe berdiri paling depan dengan Hong Tancoe dan Thia
Tancoe di belakangnya, dan dibelakang ketiga pemimpin
itu berdiri kurang lebih seratus pengikut Peh bie kauw.
Diantara perahu besar dan getek dipasang selembar
papan dan getek itu digaet dengan gala gaetan oleh
beberapa anak buah perahu, supaya tetap pada tempatnya.
Sambil menuntun Boe Kie, So So menyeberang perahu
dengan melewati papan itu.
Didalam kalangan Peh bie kauw, orang yang
berkedudukan paling tinggi ialah Kauwcoe (pemimpin
agama), Peh bie Eng ong In Thian Ceng. Di bawah
Kauwcoe terdapat Lwee sam tong (Tiga "Tong" Dalam)
dan Gwa ngo tan (Lima "Tan" Luar) yang bantu pemimpin
para pengikut Peh bie kauw.
495
Lwee sam tong terdiri dari Thian-wie tong, Cia wie tong
dan Thian sie tong, sedang Gwa ngo tan yalah Sin coa tan,
Ceng liong tan, dan (peep: the other three not specified )
Hiocoe (pemimpin) Thian wie tong yalah putera sulung
In Thian Ceng yang bernama In Ya Ong. Hiocoe Thian sie
tong yalah Lie Thian Hoan, Soetee (adik seperguruan) In
Thian Ceng. Walau pun berkepandaian sangat tinggi dan
tingkatannya lebih tua daripada So So, dengan memandang
muka Kauwcoe, ia berlaku sangat hormat terhadap nyonya
muda itu.
Melihat So So menuntun seorang bocah dan pakaiannya,
yang terbuat daripada kulit binatang, mesum dan compang
campicg. Lie Thian Hoan terkejut. Tapi dengan paras muka
berseri, ia tertawa neraya berkata: "Terima kasih kepada
Langit, terima kasih kepada Bumi, akhirnya kau pulang
juga. Selama sepuluh tahun, bukan main jengkelnya
ayahmu."
So So memberi hormat dengan berlutut. "Soe siok
selamat bertemu pula!" katanya. Ia menengok kepada
puteranya dan berkata pula: "Lekas berlutut dihadapan Soesiok-
couwmu." Boe Kie buru buru menekuk kedua lututnya
dengan mata mengawasi Lie Thian Hoan dan ratusan orang
yang berdiri dibelakang kakek paman guru Soe siok couw
itu.
"Soesiok," kata So So sambil bangun berdiri. "anak ini
adalah anak tit lie (keponakan perempuan) bernama Boe
Kie."
Lie Hiecoe terkesiap, tapi sejenak kemudian, tertawa
terbahak-bahak. "Bagus ! Bagus!" serunya. "Ayah mu pasti
akan kegirangan. Bukan saja puterinya pulang dengan
selamat, tapi juga sudah mendapatkan sang cucu yang
tampan dan pintar."
496
Melihat noda-noda darah dan beberapa mayat yang
menggeletak digeledak perahu, So So bertanya dengan
suara perlahan: "Perahu siapa itu? Mengapa kalian
berkelahi?"
"Orang-orang Boe tong pay dan Koen loan pay," jawab
Thian Hoen.
Melihat suaminya sedang berpelukan dengan salah
seorang dari perahu itu, So So mengerutkan alis dan berkata
pula: "Lebih baik kita menghentikan dulu pertempuran ini
dan tit-lie akan berusaha untuk mendamaikan!"
"Baiklah," jawab sang Soesiok.
Walaupun secara pribadi, tingkatan Lie Thian Hoan
sebagai Soesiok (paman guru) lebib tinggi daripada So So,
akan tetapi secara resmi, didalam kalangan Peh bie kauw,
kedudukannya lebih rendah daripada nyonya muda itu,
karena is memimpin "tong" ketiga, sedang So So menjadi
Hiocoe "tong" kedua.
"So So, Boe Kie kemari! Temui Soekoku !" demikian
terdengar teriakan Coei San.
Sambil rnenuntun Boe Kie, So So segera pergi keperahu
Boe tong. Lie Thian Hoan, Hong dan Thia Tancoe bingung,
tapi tanpa merasa mereka lalu mengikuti nyonya muda itu.
Diatas geladak perahu Boetong terdapat tujuh delapan
orang dan salah seorang yang berusia kira kira empatpuluh
tahun dan bertubuh jangkung kurus sedang berpegangan
tangan dengan Coei San. "So So, inilah Jie Soeko yang
namanya sering di sebut-sebut olehku," kata Coei San
sambil bersenyum, "Jieko, inilah teehoemu (teehoe isteri
dari adik lelaki) dan keponakanmu Boe Kie."
Semua orang kaget bukan main. Peh bie kauw dan Boe
tong pay sedang bertempur mati-matian. Tak nyana, dua
497
orang penting dari kedua belah pihak telah terangkap
menjadi suami isteri dengan sudah mempunyai seorang
putera.
Jie Lian Cioe mengerti, bahwa kejadian itu banyak latar
belakangnya dan penjelasannya meminta tempo. Secara
bijaksana, ia lebih dahulu memperkenalkan kawan
kawsnnya kepada Coei San dan So So.
Seorang Toosoe tua yang berbadan kate gemuk yalah See
hoa coe dari Koen loan pay, sedang seorang wanita
setengah tua yang masih berparas cantik diperkenalkan
sebagai Soemoay (adik seperguruan) dari Soe hoa coe. Ia itu
bukan lain dari pada San tian chioe (si Tangan kilat) Wie
Soe Nio, yang dalam kalangan kang ouw dikenal sebagai
Son tian Nio. Beberapa orang lainnya juga jago jago kosen
Koen loan pay, hanya nama mereka tidak begitu terkenal
seperti See hoa coe dan Wie Soe Nio.
Meskipun sudah berusia lanjut, See hoa coe masih
berangasan. "Thio Ngohiap, dimana adanya bangsat jahat
Cia Soen?" tanyanya. "Kau mesti tahu!"
Coei San bingung tak kepalang. Sebelum mendarat, ia
sudah menghadapi dua soal sulit. Pertama partainya sendiri
bermusuhan dengan Peh bie kauw dan kedua, begitu
membuka mulut, orang
sudah menanyakan tempat bersembunyinya Cia Soen. Ia
merasa sukar untuk menjawab pertanyaan imam itu dan
segera berkata sambil berpaling kepada Jie Lian Coe: "Jieko
ada apakah sehingga kalian mesti bertempur?"
See hoa coe mendongkol. "Hai ! Apa kau tak dengar
pertanyaanku?" bentaknya. "Di mana adanya bangsat Cia
Soen ?" Sebagai seorang yang gampang marah, dalam Koen
loan pay Soe hoa coe berkedudukan tinggi dan lihay ilmu
silatnya, sehingga ia sudah biasa main bentak-bentak
498
terhadap orang-orang separtainya.
Hong Tancoe, pemimpin Sin coa tan, adalah seorang
yang sangat "berbisa". Dalam pertempuran tadi dua orang
muridnya telah binasa dibawah pedang See hoa coe,
sehingga ia merasa sangat sakit hati.
Maka itu, begitu mendengar bentakan si Toosoe, ia
lantas saja menggunakan kesempatan baik itu. "Huh !
Jangan banyak lagak kau !" katannya deagan suara dingin.
"Thio Ngohiap adalah menantu dari Peh bie kauw. Tidak
boleh kau bicara begitu kasar terhadapnya"
Soe hoa coe lantas saja meluap darahnya. "Tutup
rnulutmu !" bentaknya. "Mana bisa seorang baik baik
menikah dengan perempuan siluman dari agama yang
menyeleweng ? Dalam pernikahan itu pasti terdapat latar
belakarg yang busuk."
"Jangan mengacao kau !" Hong Tancoe tertawa dingin.
"Buktinya Kauwcoe kami sudah mempunyai cucu."
Dengan kalap See hoa coe berteriak: "Perempuan
siluman itu ... "
"Soeheng jangan tarik urat dengan manusia itu"
memotong Wie Soe Nio. "Dalam urusan ini kita
menyerahkan saja kapada Jie hiap." Ia sudah melihat
maksud Hong Tancoe untuk mengadu domba Boe tong pay
dengan Koen loan pay.
Mendengar perkataan Soe moaynya, See hoa coe juga
tersadar dan sambil menahan amarah, ia menutup mulut.
Sambil mengawasi Coei San dan So So, Jie Lian Coe
merasa bingung dan didalam otaknya berkelebat-kelebat
banyak pertanyaan. "Paling baik kita bicara digubuk
perahu," katanya sesudah memikir beberapa saat. "Saudarasaudara
kedua pihak yang mendapat luka harus ditolong
499
terlebih dahulu."
Dalam perahu Jie Liam Coe, Peh bie kauw merupakan
tamu dan orang yang berkedudukan paling tinggi dalam
"agama" itu ialah In So So, Hio coe Cie wie tong. Maka itu,
sambil menuntun Boe Kie, So So masuk paling dulu
kedalam gubuk perahu, diikuti oleh Lie Hiocoo dan kedua
Tancoe. Selagi Hong Tancoe baru mau masuk, mendadak
ia merasakan kesiuran angin yang menyambar
pinggangnya.
Sebagai seorang yang berpengalaman, ia tahu bahwa
dirinya dibokong See hoa coe. Sebaliknya dari menangkis,
ia menubruk kedepan seraya berteriaknya: " Celaka! Aku
dibokong!" Dengan gerakannya itu, ia sudah mempunahkan
pukulan Sam in Coat houw chioe dari See hoa coe.
Mendengar teriakan itu, semua orang menengok
mengawasi Hong Tancoe dan See hoa coe yang muka nya
berubah marah seperti kepiting direbus.
Dengan rasa jengah, Wie Soe Nio deliki Soe hengnya.
Pada saat itu, Hong Tancoe ialah seorang tamu terhormat
dan bokongan terhadapnya bukan saja melanggar
peraturan, tapi juga memalukan.
Didalam gubuk perabu, So So menduduki kursi tamu
yang pertama dengan Boe Kie berdiri didampingnya,
sedang Jie Lian Cioe duduk dikursi pertama dari pihak tuan
rumah. Sambil menunjuk sebuah kursi disebelah belakang
kursi Wie Soe Nio, Jie Lian Cioe berkata: "Ngotee, kau
duduk disitu." Coei San mengangguk dan lalu duduk di
kursi yang ditunjuk, sehingga kedua suami isteri duduk
sebagai tuan rumah dan tamu.
Selama sepuluh tahun, sesudah Thio Coei San
menghilang dan Jie Thay Giam tidak pernah keluar karena
lukanya, yang bergerak dalam Rimba Persilatan haayalah
500
lima pendekar Boe tong pay dan selama sepuluh tahun itu,
nama mereka jadi makin cemerlang. Biarpun kedudukan
mereka adalah murid turunan kedua dari Boe tong pay, tapi
dalam Rimba Persilatan mereka sudah bisa berendeng
dengan pendeta-pendeta Siauw lim sie yang berkeduduka n
tinggi. Selama tahun-tahun yang belakangan, orang- orang
Kangouw makin menghargai dan menghormati Boe tong
Ngo hiap. Maka itu lah, biarpun tingkatannya tinggi. Soe
hoa coe dan Wie Soe Nio mempersilahkan Jie Liam Cioe
duduk dikursi utama.
Beberapa murid segera menyuguhkan teh dan sambil
mengundang para tamunya minum teh. Jie Lian Cioe
menimbang-nimbang perkataan apa yang harus
diucapkannya terlebih dahulu. Perangkapan jodoh antara
Coei San dan puteri In Kauwcoe adalah kejadian yang
sangat diluar dugaan dan ia merasa bahwa jika ia
menanyakan langsung persoalan itu dihadapan orang
banyak. Coei San tentu akan merasa jengah dan tidak akan
mau bicara seterang-terangnya.
Memikir begitu ia lantas saja berkata dengan suara
nyaring: "Sebagnimana kita tahu, Siauw lim, Koen loen.
Go bie, Khong thong dan Boe tong, lima "pay". Sin koen,
Ngo hong to dan lain lain, berjumlah sembilan "boen", Hay
see, Kie keng dan sebagainya, tujuh "pang", sehingga
semuanya duapuluh satu partai atau golongan, telah salah
mengerti dengan Peh bie kauw karena usaha kita untuk
mencari Cia Soen. In Kouwnio dan Soeteeku, Coei San.
Salah mengerti itu telah berbuntut dengan bentrokan,
sehingga selama telah bertahun tahun jatuh banyak korban
yang binasa dan terluka . . ."
Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata pula:
"Sungguh syukur, secara tidak diduga duga, In Kouwnio
dan Thio Soetee pulang dengan selamat. Peristiwa yang
501
sudah terjadi selama sepuluh tahun itu tidak dapat
dibereskan dalam tempo pendek. Maka itu menurut
pendapatku, sebaiknya kita menunda dulu permusuhan dan
pulang kemasing-masing tempatnya. Biarlah In Kouwnio
melaporkan segala pengalamannya kepada In Kauw coe,
sedang Thio Soetee memberi pertanggungan jawab
dihadapan guru kami. Sesudah itu, kita boleh mengadakan
pertemuan pula untuk coba membereskan soal-soal kita.
Adalah kejadian yang sangat di harap-harapkan, jika dalam
pertemuan itu kita dapat menyudahi permusuhan yang
sudah berlarut-larut ini "
"Dimana adanya bangsat Cia Soen ?" See-hoa coe
memutus perkataan Lian Cioe. " Tujuan kita yang terulama
adalah mencari bangsat Cia Soen." Coei San kelihatan
berduka sekali. Ia merasa sangat tidak enek, karena, garagara
mencari orang yang hilang dalam Rimba Persilatan
telah muncul gelombang yang begitu besar dan yang sudah
meminta sangat banyak korban. Mendengar pertanyaan See
hoa coe, ia jadi serba salah. Jika ia memberitahukan terangterangan,
sejumlah besar pentolan Rimba Persilatan sudah
pasti akan meluruk ke Pang hwee to untuk mencari
kakaknya. Jika ia membungkam ..... bagaimana ia dapat
membungkam?
Selagi ia bimbang, tiba-tiba terdengar suara So So:
"Bangsat Cia Soen yang jahat dan membunuh manusia
secara serampangan sudah mampus sembilan tahun yang
lalu,"
Semua orang kaget. "Sudah mati ?" mereka menegas
serentak.
"Benar," jawabnya. "Pada suatu malam, yaitu ketika aku
melihatnya anakku, bangsat Cia Soen mendadak kalap.
Selagi mau membunuh Ngoko dan aku, tiba-tiba dia dengar
suara tangisan bayi ku. Penyakitnya kambuh dan bangsat
502
itu mati dengan mendadak."
Coei San mengerti maksud isterinya. Dengan,
mengatakan, bahwa "Cia Soen yang jahat sudah. mati." So
So tidak berdusta, karena, bagai mendengar tangisan Boe
Kie, kekalapan dan kekejaman "Cia Soen yang jahat"
menghilang dan mulai dari detik itu, ia berubah menjadi
seorang baik, dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa
sembilan tahun berselang , "Cia Soen yang jahat" sudah
mati dan Cia Soen yang baik menjelma dalam dunia.
See hoa coe mengeluarkan suara dihidung. Ia tidak
percaya keterangan So co yang dianggapnya sebagai
perempuan menyeleweng dari "agama,
yang menyeleweng pula.
"Thio Ngohiap, apa benar bangsat Cia Soen sudah
mampus?," tanyanya dengan suara keras.
"Benar, bangsat Cia Soen yang jahat sudah mati pada
sembilan tahun berselang," jawab Coei San dengan suara
sungguh-sungguh.
Sekoyong-konyong Boe Kie menangis keras "Giehoe
bukan bangsat jahat!" teriaknya. "Giohoe tidak mati!
Giehoe tidak mati! "
Biarpun berotak sangat cerdas, Boe Kie masih terlalu
kecil dan belum berpengalaman. Rasa cintanya terhadan
Cia Soen tidak kurang dari rasa cintanya terhadap kedua
orang tuanya sendiri.
Maka itu, dapatlah dimengerti, jika ia tidak tahan
mendengar tanya jawab itu dan cacian-cacian yang
ditujukan terhadap ayah angkatnya.
Semua orang terkesiap dan tertegun. Dalam gusarnya. So
So menggapelok muka puteranya. "Diam!" bentaknya
503
dengan bengis. "Ibu, mengapa kau mengatakan Giehoe
sudah mati?" tanya bocah itu dengan suara serak
"Bukankah ia masih hidup segar bugar?"
"Jangan campur-campur urusan orang tua !" bentak sang
ibu "Yang sudah mati adalah Cia Soen, si penjahat jahat,
bukan Giehoemu."
Boe Kie bingung, tapi ia tidak berani membuka rnulut
lagi.
See hoa coe tertawa dingin. "Saudara kecil," katanya
kepada Boe Kie. "Cia Soen ayah angkatmu bukan? Dimana
dia sekarang ?"
Si bocah mengawasi muka kedua orang tuanya.
Sekarang ia mengerti, bahwa perkataan yang tadi
dikeluarkanuya mempunvai arti yang sangat penting. Ia
menggelengkan kepala seraya menjawab: "Tidak, aku akan
beritahukan kau." Dengan tidak sengaja, jawaban itu
merupakan bukti yang lebih kuat, bahwa Cia Soen
sebenarnya belum mati .
Sambil mengawasi Coei San dengan mata men delik, See
hoa coe membentak: "Thio Ngohiap! Apa benar In
Kouwnio isterimu ?"
"Benar, dia isteriku!" jawabnya dengan suara nyaring.
"Dua orang murid partai kami telah celaka dalam tangan
isterimu." kata pula See hoa coe sambil menahan amarah.
"Mereka mati tidak, hidup pun tidak. Bagaimana kita harus
memperhitung kan perhitungan ini ?"
Coei San dan So So terkejut.
"Jangan ngaco!" bentak nyonya muda itu.
"Dalam hal ini mungkin terselip salah mengerti," kata
Coei San, "Sudah sepuluh tahun karni berdua
504
meninggalkan wilayah Tionggoan. Cara bagai man kami
bisa mencelakakan murid partai kalian"'
"Huh huh! " See hoa coe menggeram.
"Memang.....memang Ko Cek Seng dan Chio Tauw sudah
menderita lebih dari sepuluh tahun lamanya."
"Ko Cek Seng dan Chio Tauw ?" menegas So So.
"Apa Thio Hoejin masih ingat kedua orang itu?" ejek See
hoa coe. "Aku kuatir kau sudah tidak ingat lagi karena kau
telah membunuh ter lalu banyak manusia."
"Mengapa mereka?" bentak So So. "Mengapa kau
menuduh aku secara membuta tuli ?"
"Menuduh membuta tuli! Membuta tuli...!" teriak Soe
hoa coe. "Ha ha ha ! .... Mereka se karang sudah jadi
gila..... sudah hilang ingatan.. Tapi mereka masih ingat
namanya satu manusia. Mereka masih ingat, bahwa yang
mencelakakan mereka adalah In So So!" Seraya
mengatakan begitu, ia menatap wajah nyonya Coei San
dengan mata beringas.
"Tutup mulutmu !" bentak Hong Tancoe. "Kau tidak
berhak untuk menyebutkan nama terhormat dari Hiocoe
Cie wie tong kami. Apakah kau tidak tahu adat-istiadat
Rimba Persilatan? Cian pwee apa kau ? Thia Hiantee,
apakah dalam dunia ini ada hal yang lebih memalukan dari
pada itu?"
"Tak ada," jawab Thia Tancoe. "Aku sungguh tak
mengerti, mengapa sebuah partai yang begitu tersohor
mempunyai murid ugal-ugalan seperti dia. Sungguh
memalukan ?"
Di ejek begitu, See hoa coe jadi kalap. "Binatang ! Siapa
yang memalukan ?" teriaknya seraya mencekal gagang
pedangnya.
505
Hong Tancoe tetap tenang, bahkan melirikpun tidak.
"Thia hiantee," katanya pula. "Seseorang yang sudah
memiliki beberapa jurus ilmu pedang kucing kaki tiga
sebenarnya harus mengenal kesopanan manusia.
Bagaimana pendapatmu ?"
Thia Tancoa mengangguk seraya menjawab "Benar.
Semenjak Giok hie Too tiang meninggal dunia, makin lama
mereka makin tidak keruan macam."
Giok hie Too tiang adatah Soe peh (paman guru) See
hoa coe. Imam yang beribadat itu bukan saja tinggi ilmu
silatnya, tapi juga sangat mulia hatinya, sehingga ia
dihormati sangat dalam Rimba Persilatan.
Paras muka See hoa coe berubah merah padam. Tak
dapat ia menjawab sindiran itu. Jika ia membantah.
bukankah ia jadi menhina Soe pehnya sendiri yang
namanya telah menggetarkan seluruh negeri ?
Tiba tiba ia bangun, badannya berkelebat dan ia sudah
berdiri diluar pintu gubuk perahu, "Srt!" Ia menghunus
pedang. "Bangsat!" teriaknya. "Kalau kau mempunyai
nyali, keluarlah!"
Ejekan kedua pemimpinan Peh bie kauw itu terhadap
See hoa coe adalah untuk menolong in So So dari desakan.
Mereka menganggap. bahwa dengan pernikahan Coei San
dan So So, perhubungan antara Boe tong pay dan Peh bie
kauw sudah berubah. Meskipun Jie Lian Cioe dan Thio
Coei San tidak sampai turun tangan untuk membantu
pihaknya, kedua orang itu juga pasti tidak akan menyerang
Peh bie kauw. Menurut perhitungan mereka, tanpa campur
tangannya pihak Boe tong, mereka akan dapat
mengalahkau orang orang Koen loan pay yang hanya terdiri
dari tujub delapan orang.
Perhitungan Peh bie kauw itu sudah dapat ditebak oleh
506
Wie Soe Nio yang bisa berpikir dengan otak dingin.
"Soeko!" teriaknya. "Mereka yang berada diperahu ini
adalah tamu tamu kita. Kita harus turut segala keputusan
Jie Jie hiap "
Dengan berkata bergitu, San-tian Nio nio telah berlaku
bijaksana. Jie Lian Cioe adalah seorang pendekar yang
tulus bersih, sehingga ia pasti tidak akan berlaku curang.
Tapi diluar dugaan dalam gusarnya, See-hoa coe yang
tolol tidak mengerti maksud Soe-moay nya. "Omongan
kosong!" teriaknya. "Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah
terikat famili. Mana bisa dia berlaku sama tengah lagi!"
Jie Lian Cioe adalah seorang yang sabar dan panjang
pikirannya. Ia jarang memperlihatkan rasa girang atau
gusar pada paras mukanya. Perkataan See hoa coe yang
sangat menusuk tidak dijawab olehnya dan ia mengasah
otak untuk mencari jalan keluar.
"Soeka, jangan kau menggoyang lidah sembarangan,"
kata Wie Soe Nio cepat-cepat dengan rasa mendongkol.
"Semenjak dulu, Boe tong dan Koen loan mempunyai
hubungan yang sangat erat. Dalam sepuluh tahun, dengan
bahu membahu kita bersama sama melawan musuh. Jie
Jiehiap alalah seorang jujur yang sangat dihormati dalam
kalangan Kang-ouw, sehingga tidak mungkin ia mengeloni
pihak yang salah."
See hoa coe mengeluarkan suara dari hidung, "Belum
tentu," katanya
Bukan main rasa mendongkolnya Wie Soe Nio yaag
diam diam mencaci kakak yang tolol itu: "Soeko!"
bentaknya. "Jika tanpa sebab kau cari cari urusan dengan
Boe tong Ngohiap dan kau di gusari oleh Ciangboen
soesiok, aku tak akan campur campur lagi urusanmu."
507
Mendengar ancaman itu, barulah See hoa coe menutup
mulut.
"Urusan ini telah menyeret berbagai partai dan golongan
dalam Rimba Persilatan," kata Jie lian Coe. "Aku seorang
bodoh maka tidak berani mengambil keputusan sendiri.
Apa pula, karena sudah berlarut larut selama sepuluh
tahun, persoalan ini tentu sukar dibereskan dalam tempo
pendek. Aku telah mengambil keputusan untuk pulang ke
Boe tong bersama-sama Thio Soe tee guna memberi laporan
kepada Insoe dan Toa soeheng dan meminta petunjuk
Insoe."
See hoa coe tertawa dingin, "Sungguh lihay pukulan Jie
hong Soo pit Jie Jiehiap." ejeknya.
"Jie-hong Soe-pit," (Seperti tutupan seperti kurungan)
adalah serupa pukulan Boe-tong-pay untuk membela diri
yang sangat terkenal dalam Rimba Persilatan. Dengan
berkata begitu See hoa coe bukan saja mengejek Jie Lian
Cioe pribadi tapi juga menghina pukulan Boe tong pay itu
yang digubah oleh Thio Sam Hong sendiri. Biarpun sabar,
darah Jie Lian Cioe meluap juga. Syukur sebelum
mengumbar napsu, ia keburu ingat segala akibatnya,
sehingga, sambil menarik napas, ia menindih hawa
amarahnya dan hanya menyapu muka See hoa coe dengan
sinar mata berkilat-kilat. "Jika See hoa Toheng mempunyai
pendapat lain, aku bersedia untuk mendengamya." katanya
dengan suara dingin.
Setelah disapu dengan sorot mata gusar, See hoa coe jadi
keder. "Soemoy," katanya, "bagaimana pendapatmu?
Apakah sakit hati Ko Cek Seng dan Chio Tauw boleh
disudahi dengan begitu saja ?"
Sebelum Wie Soe Nio menjawab, disebelah selatan
sekonyong-konyong terdengar suara terompet dan sesaat
508
kemudian seorang murid Koen Loen masuk seraya berkata:
"Kawan-kawan dari Khong tong pay dan Go bie pay sudah
tiba untuk menyambut kita."
Lie Thian Hoan dan dua kawannya saling melirik. Paras
muka mereka agak berubah.
Dilain pihak, See hoa coe dan Wie Soe Nio jadi girang.
"Jie Jiehiap." kata San tian Nionio, "kurasa kita sebaiknya
minta pendapat pihak Khong tong dan Gobie."
"Baiklah," jawab Lian Cioe.
Kedatangan orang orang Khong tong dan Go bie
menambah kejengkelan Coei San. Partai Go bie masih tidak
apa, tapi Khong tong pay mempunyai permusuhan yang
sangat hebat dengan kakaknya, yang sudah melukakan
Khong tong Ngoloo dan merampas kitab Cit siang koen. Ia
merasa pasti, bahwa orang-orang Khong tong tak akan mau
mengerti jika ia tidak memberitahukan di mana adanya Cia
Soen.
Sementara itu, So So memikir dari yang lain. Disatu
pihak ia mendongkol terhadap puteranya, tapi dilain pihak
ia ingat, bahwa anak itu belum mengerti kejustaan dan rasa
cintanya terhadap Cia Soen tak dapat diukur dalamnya.
Maka itu, bahwa dia menangis dan membantah pernyataan
orang tentang kematian ayah angkatnya adalah hal yang
sangat dapat dimengerti. Memi kirbegitu, ia merasa
menyesal sudah menggaploknya begitu keras dan lalu
memeluk Boe Kie sambil mengusap-usap pipi sibocah.
"Ibu. Giehoe tidak mati, bukan?" bisik Boe Kie dikuping
ibunya.
"Tidak, tidak mati, aku hanya mempedayai mereka,"
jawab sang ibu "Mereka adalah orang orang jahat yang
ingin mencelakakan Giehoemu."
509
Boe Kie tersadar. Dengan mata gusar, ia me nyapu Jie
Lian Coei dan semua orang yang berada disitu, Mulai hari
itu, kedua kakinya menginjak dunia Kangouw dan mulai
saat itu, ia mengerti akan kekejaman manusia.
Beberapa saat kemudian, orang-orang Khongtong dan
Go bie masing-masing pihak berjumlah enam tujuh orang
sudah masuk kegubuk perahu. Pemimpin rombongan
Khong tong adalah Kat-ie Loojin, seorang tua yang
bertubuh kurus kering, sedang kepala rombongan Go bie
adalab seorang Niekouw (pendata wanita) setengah tua.
Melihat Lie Thian Hoan dan kawan-kawannya, mereka
kaget dan heran.
"Tong Samko! Ceng hie Soe thay!" teriak See hoa coe.
"Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah bergandengan
tangan. "Kali ini kita rugi besar."
Orang yang dipanggil "Tong Samko" adalah Kat-ie
Loojin Tong Boe Liang, salah seorang dari Khong thong
ngoo loo, sedang Ceng hie
Soethay yalah murid turunan keempat dari Go bie pay
dan dalam Rimba Persilatan, pendeta wanita itu
mempunyai nama yang cukup besar.
Mendengar teriakan See hoa coe, mereka tercengangang,
Ceng hie Soethay yang berpikiran panjang dan mengenal
adat See hoa coe tidak mau lantas percaya. tapi Tong Boen
Liang lantas saja naik darahnya, "Jie Jie hiap, apakah benar
begitu?" tanyanya dengan suara keras.
Sebelum Jie Lian Cioe keburu menjawab, See hoa coe
sudah mendahului: "Boe tong pay dan Peh bie kauw sudah
jadi cinkee (besan). Thio Coei San, Thio ngohiap, sudah
menjadi menantu In Toakauwcoe..."
"Thio Ngohiap yang sudah menghilang sepuluh tahun
510
yang lalu?" tanya Tong Boen Liang dengan heran.
"Benar, itulah adikku Coei San," jawab Lian Cioe seraya
menunjuk Ngohiap. "Ngotee, inilah Tong Boen Liang,
Tong Samya, seorang Cianpwee dari Khong tong pay."
Boe Liang dan Coei San saling membungkuk dan
mengucapkan kata-kata merendahkan diri.
See hoa coe yang sudah tak dapat menahan sabar lagi,
lantas saja berkata pula: "Thio Ngo hiap dan In Kauwnio
tahu tempat persembunyiannya Kim mo Say ong Cia Soen,
tapi mereka menolak untuk memberitahukannya kepada
kami. Mereka malah berdusta dan mengatakan, bahwa
bangsat Cia Soen sudah mampus."
Begitu mendengar nama Kim mo Say ong Cia Soen,
darah Tong Boen Liang meluap. "Dimana dia sekarang ?"
tanyanya dengan suara keras,
"Dalam urusan ini, lebih dulu aku harus melaporkan
kepada In soe dan aku mohon maaf karena tak dapat segera
memberitahukan kepada kalian." jawab Coei San.
Kedua mata Tong Boen Liang seolah-olah mengeluarkan
api. "Dimana adanya bangsat Cia Soen?" teriaknya. "Dia
telah membinasakan keponakanku. Aku tak mau hidup
bersama-sama dia dalam dunia. Dimana dia? Katakan saja!
Kau mau memberitahukan atau tidak?"
Perkataan-perkataan itu yang dikeluarkan tanpa
sungkan-sungkan dan tanpa mengenal kesopanan sudah
menggusarkan So So yang lantas saja
berkata dengan suara dingin : "Mengapa kau tidak
menceritakan juga, bahwa dia sudah melukakan Kong tong
Ngoolo dan merampas kitab Cit siang Koen?"
Dalam melukakan Ngoolo dan merampas kitab Cit siang
511
koen, Cia Soen telah menggunakan nama Seng Koen. Hal
yang sebenamya baru diketahui Khong tong pay pada kirakira
lima tahun berselang. Tapi, karena kejadian tersebut
menodai nama partay maka orang-orang Khong tong pay
selalu meenutupkan rapat. Bagaimana nyonya muda itu
bisa tahu rahasia tersebut?
Paras muka Kat-ie Loojin lantas saja berubah pucat dan
sambil mementang sepuluh jarinya, ia mengangkat kedua
tangannya untuk menyerang. Tapi dilain detik, ia ingat,
bahwa sebagai seorang tua, tak pantas ia turun tangan lebih
dahulu terhadap seorang wanita muda yang kelihatannya
begitu lemah lembut sehingga tangan yang sudah terangkat
itu berhenti ditengah udara.
Sambil menahan amarah, ia berpaling kepada Coei San
dan bertanya: "Siapa dia ?"
"Isteriku," jawabnya.
"Puterinya In Toakauwcoe dari Peh bie kauw," menyelak
See hoa coe.
Peh bie Eng ong In Thian Ceng memiliki ilmu silat yang
tidak dapat diukur tingginya dan sehingga waktu itu,
seorangpun belum pemah dapat melayaninya dalam
sepuluh jurus. Mendengar, bahwa nyonya Coei San adalah
puteri In Thian Ceng, Tong boen Liang lantas saja merasa
keder dan berkata dengan suara terputus-putus : "Oh!...
begitu"
Sesaat itu, Ceng hie Soethay yang sedang masuk
kegubuk perahu belum pemah bicara, baru membuka
mulut. "Sebaiknya kita minta Jie Jiehiap menerangkan
seluk beluk kejadian ini," katanya.
"Urusan ini berbelit belit dan sudah menyeret banyak
sekali orang," kata Lian Cioe. "Disamping itu, permusuhan
512
sudah berjalan lama sekali, sudah kurang lebih sepuluh
tahun, sehingga dapatlah dimengerti, jika kita tak akan
dapat mengupasnya dalam tempo pendek. Begini saja, tiga
bulan kemudian partai kami akan mengadakan perjamuan
di Hong ho lauw dan mengundang wakil-wakil berbagai
partai serta golongan. Dalam pertemuan itu, kita akan
merundingkan persoalan ini sedalam-dalamnya. Bagaimana
pendapat kalian ?"
"Aku setuju," jawab Ceng hie seraya mengangguk.
"Siapa benar, siapa salah, boleh dibicarakan tiga bulan
lagi," kata Tong Boen Liang. "Tapi tempat sembunyinya
Cia Soen harus diberitahukan sekarang juga."
Coei San menggelengkan kepala. "Sekarang tidak bisa,"
katanya dengan suara tetap. Tong Boen Liang gusar tak
kepalang, tapi sebisa bisanya ia menahan sabar, karena ia
mengerti bahwa jika Boe tong pay sampai bersatu padu
dengan Peh bie kauw, akibat bakal hebat sekali. Maka itu,
dengan muka merah padam, ia bangun berdiri dan
mengangkat kedua tangannya: "Baiklah. Kita akan bertemu
kembali tiga bulan kemudian."
"Tong Samya, bolehkah kami menumpang di perahumu
?" tanya See hoa coe.
"Mengapa tidak ?" jawabnya.
"Bagus! Soemoay, ayolah !" mengajak See hoa coe.
Orang orang Koen loan datang ketempat pertempuran
dengan menggunakan perahu Boe tong dan dengan
sikapnya itu, terang terang See hoa coe sudah memandang
Boe tong pay sebagai lawan.
Tapi Jie Lian Cioe tetap bersikap tenang. Dengan manis
budi ia mengantar semua tamu kekepala perahu.
"Sepulangnya kami ke Boe tong dan sesudah kami memberi
513
laporan kepada Insoe, kami akan segara mengirim surat
undangan," katanya sambil membungkuk.
Baru saja See hoa coe mau menyebrang keperahu Khong
tong, tiba-tiba So So berkata: "See hoa Tootiang, tahan
dulu! Aku mau menanyakan serupa hal."
"Ada apa ?" tanya siberangasan sambil memutar tubuh.
"Tootiang," kata pula si nyonya sambil bersenyum. "tak
henti-hentinya kau mengatakan, bahwa agama kami agama
menyeleweng, agama sesat. sedang aku sendiri perempuan
siluman. Bolehkah aku tahu dimana sesatnya dan dimana
sifat silumannya?"
Untuk sejenak See hoa coe tertegun. Sesudah
menenteramkan hati, ia menjawab: "Agamamu bukan
agama tulen, tapi menyeleweng dan tersesat dari jalan yang
lurus. Kecantikanmu seperti kecantikan siluman rase yang
jahat dan cabul. Itu jawabanku. Perlu apa kau rewel rewel.
Kalau kau bukan siluman, bagaimana seorang laki laki
sejati Thio Ngohiap bisa terpincuk ! Hu-hu !"
"Terima kasih untuk penjelasan itu," kata So So.
See hoa coe girang dan bangga, menganggap nyonya
muda itu sudah dijatuhkan dengan kata katanya yang
tajam. Sambil bersenyum, ia menindak kepapan untuk
menyeberang keperahu Tong Boen
Liang.
Perahu Boe tang dan Khong tong adalah perahu perahu
besar dengan tiga layar sehingga walaupun berdempetan,
jarak antara kedua perahu itu, yang dihubungkan dengan
papan masih kira kira dua tombak.
Karena harus bicara dulu dengan So So, See hoa coe jadi
ketinggalan dan sesudah semua orang berada diperahu
514
Tong boen Liang, ia sendiri baru mulai menyeberang. Baru
berjalan beberapa tindak, mendadak ia merasakan kesiuran
angin luar biasa dibelakangnya. Meskipun berangasan dan
pendek pikiran, ia berkepandaian tinggi dan berpengalaman
luas. In tahu dirinya dibokong dan begitu memutar badan,
tangannya sudah mencekal pedang.
Mendadak, mendadak saja, ia merasa kedua kakinya
menjeblos kebawah. Papan penyeberangan putus jadi dua!
Sebisa-bisanya ia berusaha untuk menolong diri, tapi karena
jarak keperahu Khong tong masih agak jauh, maka tanpa
ampun lagi ia tercebur kedalam air.
Sial sungguh, ia tidak bisa berenang, sehingga dalam
sekejap, ia sudah minum beberapa ceguk air asin. Selagi ia
kebingungan dan memukul serta menendang air dengan
tangan dan kaki,tiba-tiba melayanglah seutas tambang.
Cepat cepat ia mencekalnya dan dilain saat, ia merasa
badannya terangkat naik keatas permukaan air.
Ia menengadah dan melihat bahwa yang mengangkatnya
adalah Thia Tancoe yang paras muka nya seperti tertawa,
tapi bukan tertawa.
Tak usah dikatakan lagi, itu semua kerjaan So So.
Karena mendongkol, diam-diam ia memerintahkan Hong
dan Thia Tancoe "mengerjakan." si berangasan itu.
Tigapuluh enam golok terbang dari Hong Tancoe terkenal
dalam kalangan Kang ouw. Golok itu yang tipis dan tajam
luar biasa, jarang meleset dari sasarannya. Selagi So So
bicara dengan See hoa coe, dengan sekali menimpuk, Hoag
Tancon telah memotong papan itu dengan hoei to nya dan
meninggalkan sebagaian kecil supaya tidak lantas jatuh
kedalan air dan baruakan patah jika diinjak.Thia Tancoe
sendiri siapa sedia deagan seutas tambang, tapi
pertolongannya baru diberikan sesudah See hoa coe minum
banyak air.
515
Wie Soe Nio, Tong Boen Liang dan yang lain lain
menyaksikan itu dengan mata membelalak, tapu mereka
tidak dapat segera menolong, karena berada dalam jarak
yang agak jauh.
See hoa coe merasa dadanya seperti mau meledak, tapi
dalam keadaan tidak berdaya, sedapat dapatnya ia
menahan amarah. Celaka sungguh, baru mengangkat kira
kira satu kaki dari permukaan air, Thia Tancoe berseru.
"Toheng," katanya, "jangan kau bergerak. Tenagaku tidak
cukup. Jika kau bergerak tambang ini bisa terlepas !"
See hoa coe bingung bukan main. Kalau dilepas, ia bisa
celaka, atau sedikitnya bakal minum lebih banyak air asin.
Tiba tiba Thia Tancoe berteriak: "Hati hati!" Dengan
sekali menyentak, tubuh See hoa coe terayun kebelakang
tujuh delapan kaki dan kemudian, ia melemparkan
bandulan manusia itu keperahu seberang.
Begitu kedua kakinya hinggap diatas geladak perahu
Khong tong, See hoa coe kalap bahna gusarnya.
Kegusarannya lebih meluap-luap, karena orang-orang Peh
bie kauw dengan serentak bersorak-sorai. Karena
pedangnya sendiri sudah hilang didalam air, bagaikan kilat
ia menghunus pedang Wie Soe Nio dan melompat kekepala
perahu untuk menerjang musuh. Tapi, jarak antara kedua
perahu itu sudah sangat jauh, sehingga apa yang dapat
dibuatnya hanyalah mencaci habis-habisan.
Semua perbuatan So So telah dilihat oleh Jie Lian Cioe,
yang diam-diam mengakui, bahwa wanita itu benar
mempunyai sifat-sifat yang sesat dan kurang tepat untuk
menjadi pasangan adiknya. Maka itu, ia lantas saja berkata.
"In Hio coe dan Lie Hio coe, kuharap kalian suka
menghadapi pertemuan di Oey ho lauw pada tiga bulan
kemudian. Sekarang kita berpisah saja. Ngotee, mari ikut
516
aku pergi menemui Insoe."
"Baiklah," kata Coei San dengan perasaan tidak enak.
So So mengerti, bahwa dengan berkata begitu. Lian Cioe
berusaha untuk memisahkan diri dari sang suami. Dengan
paras muka duka, ia mendongak mengawasi langit dan
kemudian menunduk, memandang geladak perahu.
Coei San lantas saja mengerti maksud isterinya, yang
ingin mengingatkan sumpahnya sendiri yaitu "Langit
diatas. Bumi dibawah, kita tak akan berpisahan lagi."
Maka itu, ia lantas saja berkata: "Jieko, aku ingin sekali
mengajak teehoemu dan anakku pergi menemui Insoe lebih
dulu dan sesudah mendapat perkenan beliau, barulah aku
mengunjungi Gakhoe (mertua). Bagaimana pendapatmu?"
"Begitupun baik," jawab sang kakak sambil pengangguk.
So So girang. "Soesiok", katanya kepada Lie Thian hoan,
"aku mohon kau suka memberitahu kan Thia thia (ayah),
bahwa anaknya yang tidak berbakti telah bisa pulang kebali,
dan didalam beberapa hari, kami akan pulang ke Cong to
untuk menemui beliau."
"Baiklah." kata Lie Hiocoe seraya manggutkan kepala.
"Kami akan menunggu kalian di Cong to." Ia bangun
berdiri dan berpamitan.
"Bagaimana dengan kakakku?" tanya So So sebelum Lie
Thian hoan berlalu.
"Bagus, sangat bagus!" jawabnya. "Selama bebarapa
tahun ini, ilmu silat kakakmu telah mendapat kemajuan
luar biasa, sehingga aku sendiri sudah ketinggalan sangat
jauh."
"Ah! Soesiok selamanya suka guyon-guyon dengan anak
anak." kata So So sambil tertawa.
517
"Tidak, aku tidak bicara main-main," kata sang paman
dengan suara sungguh•sungguh. "Kemajuan kakakmu
malah telah dipuji juga oleh ayahmu sendiri."
"Ah Soesiok!" kata nyonya Coei San. "Janganlah memuji
orang sendiri dihadapan orang luar. Aku kuatir Jie Jie hiap
akan tertawa."
"Sesudah Thio Ngohiap menjadi Kouw-ya (menantu),
apakah Jie Jie hiap masih dipandang sebagai orang luar"
kata Lie Thian Hoan seraya tertawa dan kemudian, sesudah
memberi hormat, bersama dengan kawannya, ia lalu
meninggalkan perahu Boe tong. Mendengar tanya jawab
itu, Lian Cioe merasa kurang senang, tapi ia hanya
mengerutkan alis dan tidak mengatakan apa-apa.
Begitu lekas orang-orang Peh hie kauw berlalu, Coei San
segera bertanya dengan tergesa-gesa : "Jieko, bagaimana
dengan keadaan Samko ? Apa..apa.. lukanya sudah
sembuh?'
Lian Cioe menghela napas, ia tidak lantas menjawab
pertanyaan adiknya.
Jantung Coei San berdebar keras. Dengan mata
membelalak, ia mengawasi muka sang kakak.
"Samtee tidak mati," kata Lan Coei akhimya. "Tapi,
hampir tiada beda dengan mati. Ia telah menjadi orang
bercacad, kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi. Jie
Thay Giam Jie Sam hiap..hm....dunia Kangouw tak akan
melihatnya lagi."
Air mata Coei San lantas saja mengucur. " Apa kah
sudah diketahui siapa yang mencelakakannya?" tanyanya
dengan suara parau.
Lian Cioe tidak meniawab. Mendadak ia mutar kepala
dan sinar matanya yang seperti kilat menatap wajah So So.
518
"In Kauwnio, apa kau tahu siapa yang melakukan Jie
Samtee?" tanyanya dengan suara tajam .
So So menggelengkan kapala. "Kudengar Jie Samhiap
kena pukulan Kim kong cie dari Siauw lim sie," jawabnya.
"Benar! Tapi apa kau tahu siapa yang melakukan
serangan itu?" tanya pula Lian Coe.
"Tidak, aku tak tahu," jawabnya.
Lian Cioe tidak mendesak lagi, tapi menengok kepada
Coei San seraya berkata: "Ngotee, menurut Siauw lim pay
kau telah membinasakan keluarga Liang boan Piauw kiok
dan beberapa pendata. Siauw lim sie. Apa benar?"
Coei San tergugu dan menjawab dengan suara terputusputus
: "Ini... ini .."
"Kejadian itu tiada sangkut pautnya dengan dia ",
menyelak So So. "Akulah yang sudah membunuh mereka."
Lian Cioe melirik nyonya muda itu dengan sorot mata
gusar, tapi sejenak kemudian, paras mukanya udah berubah
sabar kembali. "Aku memang tahu bahwa Ngo tee tak akan
membunuh orang secara serampangan." katanya.
"Semenjak kau menghilang antara partai kita dan Siauw lim
pay telah terjadi sangketa. Kita mengatakan, bahwa mereka
telah melukakan Samko, tapi mereka sebaliknya menuduh
kau sebagai orang yang telah membunuh puluhan orang
Siauw lim. Karena tak ada saksi, maka urusan itu sehingga
sekarang masih belum bisa dibereskan. Untung juga Kong
boen Tay-soe Ciang boen jin dari Siauw-lim pay, adalah
seorang yang berpandangau jauh dan menghormati Insoe.
Dengan sekuat tenaga, ia sudah melarang murid-muridnya
menimbulkan gelombang. Itulah sebabnya mengapa selama
sepuluh tahun, Boe-tong dan Siauw lim belum pernah
terjadi bentrokan senjata."
519
"Diwaktu muda aku telah bertindak semberono dan
sekarang aku merasa sangat menyesal" kata So So. "Tapi
apa mau dikata beras sudah menjadi nasi. Jalan satu
satunya adalah menyangkal tuduhan mereka,"
Paras muka Lian Cioe lantas saja berubah. Ia sungguh
tak mengerti, bagaimana adiknya yang begitu mulia bisa
menikah dengan wanita sesat itu.
Dilain pihak, So So pun merasa kurang senang terhadap
Lian Cioe, karena Jie-hiap ini bersikap dingin tapi juga terus
memanggil dengan panggilan "In Kouwnio" (nona In) dan
tidak menggunakan "teehoe" (isteri dari adik lelaki). Maka
itu, ia lantas saja berkata dengan suara tawar: "Siapa yang
berbuat, ia yang harus bertanggung-jawab,
urusan ini, aku pasti tak akan menyeret-nyeret pihak Boe
tong pay. Suruh saja Siauw lim pay cari Peh bie kauw."
Lian Cioe jadi gusar dan berkata dengan suara nyaring:
"Dalam kalangan Kangouw, yang paling diutamakan
adalah keadilan. Jangankan Siauw lim pay sebuah partai
besar, anak kecilpun tak boleh dihina dengan
mengandalkan kekuatan."
Jika teguran pedas itu diberikan pada sepuluh tahun
berselang, So So tentu sudah menghunus pedang. Tapi
sekarang, biarpun darahnya meluap, sebisa-bisa ia menahan
napsu.
"Ajaran Jieko sedikitpun tak salah," kata Coei San seraya
membungkuk.
"Aku tak kepingin dengar ajaranmu," kata So So didalam
hati dan sambil menarik tangan Boe Kie, ia bertindak
keluar. "Boe Kie, mari kita meninjau perahu besar ini yang
belum pemah dilihat olehmu," katanya.
Sesudah isteri dan puteranya berlalu dari gubuk perahu,
520
Coei San segera berkata dengan suara jengah. "Jieko,
selama sepuluh tahun ini, aku...."
"Ngotee," sang kakak memotong perkataannya sambil
mengebas tangan. "Kecintaan antara kau dan aku adalah
kecintaan darah daging. Dalam bahaya apapun juga, aku
akan tetap berdiri didampingmu untuk hidup dsn mati
bersama-sama. Urusan pernikahanmu, kau tak usah
membicarakan dengaku. Sesudah kemali di Boe tong, kau
boleh melaporkan kepada Soehoe, Jika Soehoe gusar dan
lalu menjatuhkan hukuman, kita beramai, Boe tong Cit
hiap, akan berlutut dihadapan Soehoe untuk memohon
pengampunan. Puteramu sudah begitu besar dan aku tidak
percaya, bahwa Soehoe akan cukup tega untuk memisahkan
kau dengan anak isterimu."
Bukan main rasa girang dan terima kasihnya Coei San.
"Terima kasih atas kecintaan Jieko," katanya dengan suara
terharu.
Jie Lian Cioe adalah seorang yang diluarnya kelihatan
menyeramkan dan keras, sedang didalamnya, lembek dan
mulia. Diantara Boe tong Cit hiap ialaj yang paling jarang
berguyon, sehingga adik-adik seperguruannya lebih takut
terhadapnya daripada terhadap Song Wan Kiauw. Tapi
selain ditakuti, ia juga sangat dicintai, karena ia sangat
mencintai saudara-saudara seperguruannya. Hilangnya
Coei San mendukakan hatinya, sehingga hampir-hampir ia
menjadi kalap. Pertemuan dengan si adik pada hari itu
merupakan kejadian yang luar biasa menggirangkan, tapi ia
tidak memperlihatkan kegirangannya itu pada paras
mukanya dan malah sudah menegur So So dengan katakata
keras.
Sesudah berada berduaan, barulah ia mengutarakan isi
hatinya dihadapan si adik. Apa yang paling dikuatirkan
olehnya adalah keselamatan So So yang sudah membunuh
521
begitu banyak murid Siauw lim sie dan ia merasa, bahwa
peristiwa itu tidak mudah dapat dibereskan dengan jalan
damai. Tapi diam-diam ia sudah mengambil keputusan
bahwa jika perlu, ia rela mengorbankan jiwanya sendiri,
demi kepentingan dan keutuhan keluanga Soe teenya.
"Jieko apakah bentrokan kita dengan Peb-bie kauw
karena gara gara siauwtee?" tanya pula Coei San. "Siauw
tee sungguh merasa tidak enak."
"Bagaimana sebenamya kejadian dalam pertemuan Ongpoan-
san ?" Lian Cioe balas menanya, tanpa menjawab
pertanyaan siadik.
Coei San lantas saja menuturkan segala pengalamannya,
cara bagaimana malam malam ia masuk kegedung Long
boen Piauw kiok, bagaimana ia mengenal So So,
bagaimana ia turut menghadiri pertemuan di Ong poan san,
bagaimana Cia Soen membunuh orang, merampas To liong
to dan akhirnya menawan ia dan So So. Sesudah
mendengar penuturan itu, Lian Cioe lalu meminta
penjelasan mengenai nasib Ko Cek Sang dan Chio Tauw.
Sesudah segala apa jelas baginya, ia menghela napas seraya
berkata: "Jika kau tidak pulang, entah sampai kapan rahasia
ini baru bisa diketahui."
"Benar," kata Coei San, "Saudara angkatku .....hmm.
Pada hakekatnya, Cia Soen sebenarnya bukan manusia
jahat. Ia telah melakukan
banyak kedosaan sebab mengalami pengalaman hebat
dan mendendam sakit hati yang hebat pula. Pada akhimya,
aku telah mengangkat saudara dengan ia."
Lian Cioe hanya manggut manggutkan kepalanya.
"Dengan teriakannya yang maha dahsyat, Gie heng
(saudara angkat) telah merusak urat syaraf semua orang
522
yang berada dipulau itu." kata pula Coei San. "Ia
mengatakan, bahwa andaikata orang orang itu tidak
menjadi mati, mereka akan kehilangan ingatan dan dengan
begitu, barulah rahasia To liong to tidak sampai menjadi
bocor."
"Didengar dari penuturanmu, biarpun sangat kejam, Cia
Soen adalah manusia luar biasa," kata Lian Cioe. "Sepak
terjangnya sangat hati-hati, tapi ia masih terpeleset dan
melupakan satu orang."
"Siapa?" tanya Coei San.
"Pek Kwie Sioe," jawabnya.
"Ah! Tancoe dari Hian boe tan," kata Coei San dengan
kaget.
Lian Cioe mengangguk. "Menurut keteranganmu,
diantara jago-jago yang berkumpul dipulau Ong poan san
pada hari itu, Pek Kwie Sioe-lah yang memiliki Lweekang
yang tinggi," katanya. "Karena diserang dengan semburan
arak oleh Cia Soen, ia telah jatuh pingsan. Jika ia tidak
berada dalam keadaan pingsan, mungkin sekali ia tak dapat
mempertahankan diri pada waktu Cia Soen mengeluarkan
teriakannya yang dahsyat itu."
"Benar!" Coei San memotong perkataan Soe hengnya
sambil menepuk lutut. "Waktu itu memang Pek Kwie Sioe
belum tersadar, sehingga oleh karenanya ia tak mendengar
teriakan Gie heng dan secara kebetulan berhasil
menyelamatkan dirinya. Benar! Gieheng seorang yang
berpikiran panjang, tapi ia tidak bisa berpikir sampai di
situ."
Lian Cioe menghela napas, "Yang masih hidup hanya
Pek Kwie Sioe dan kedua murid Koen loen pay itu,"
katanya pula, "Sebagaimana kau
523
tau Lweekang Koen loen pay sangat luar biasa dan
walaupun tenaga dalamnya masih belum cukup tinggi, Ko
Cek Sang dan Chio tauw bisa terlolos juga dari kebinasaan.
Tapi mereka hilang ingatan, seperti orang menderita
penyakit urat syaraf. Setiap kali ditanya, siapa yang
mencelakakan mereka, mereka hanya menggetenggelengkah
kepala, Ko Cok Sang hanya menyebutkan nama
seorang, yaitu nama 'In So So'...Hmmm".
Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata lagi .
"Sekarang baru aku mengerti, bahwa si orang she Ko
menyebut-nyebut nama Teehoe, karena ia tidak dapat
melupakan kecantikan Teehoe. ..hm. Jika dilain kali See
hoa coe mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar, entah
bagaimana aku harus menjawabnya. Pihaknya sendiri yang
tidak benar, tapi dia masih mau menyalahkan orang."
"Jika Pak Kwie Sioe tidak kurang suatu apa, dia tahu
dari seluk beluk dari segala kejadian di Ong poan san," kata
Coei San.
"Tapi dia tetap menutup mulut," kata Lian Cioe. "Apa
kau bisa menebak sebab musababnya?"
Siadik memikir sejenak. "Ya." jawabnya, sesaat
kemudian. "Mereka menutup mutut karena masih
mengharap bisa merampas To liong to "
"Benar," kata Lian Cioe. "Permusuhan dalam Rimba
Persilatan berpangkal disitu. Koen loan pay menuduh,
bahwa In So So mencelakakan Ko Cek Seng dan Chio
Tauw, sedang pihak kita menganggap kau sudah dibunuh
oleh orang orang Peh bie kauw"
"Apakah hadirnya Siauwtee dipulau itu telah
diberitahukan oleh Pek Kwie Sioe ?" tanya Coei San.
"Bukan," jawabnya. "Pek Kwie Sioe membungkam tidak
524
sepatah kata keluar dari mulutnya. Bersama Sie tee dan Cit
tee, aku telah membuat penyelidikan dipulau itu. Kami tahu
kehadiranmu, sebab melihat duapuluh empat huruf yang di
tulis olehmu ditembok batu dengan menggunakan Tiat pit.
Kami, segera mencari Pek Kwie Sioe dan menanyakan
tentang dirimu. Karena jawabannya kurang ajar, kita
bertempur dan dia kena satu pukulanku. Tak lama
kemudian orang orang Koen loen pay minta keterangan
dari Peh bie kauw dan berbuntut dengan pertempuran.
Malam pertempuran itu, Koen loen pay menderita kerugian
dua orang dipihaknya binasa dan permusuhan menghebat.
Srlama sepuluh tahun, dendaman sakit hati ini jadi makin
mendalam."
Coei San sangat berduka. "Karena gara gara siauwtee
suami isteri, berbagai partai menemui bencana " katanya.
"Siauwtee sungguh merasa sungguh sangat tak enak.
Sesudah memberi laporan kepada Insoe, siauwtee akan
mengunjungi berbagai partai untuk coba mendamaikan dan
siauw tee rela menerima hukuman apapun jua."
Lian Cioe menghela napas. "Dalam urusan orang ridak
dapat menyalahkan kau," katanya. "Jika hanya karena
persoalan kau berdua suami istri yang terseret dalam
permusuhan, paling banyak hanya Koen loan, Boe tong dan
Peh bie kauw, Tapi, dalam keinginannya untuk merampas
To liong to, Peh bie kauw tidak pernah menyebut nyebut
nama Cia Soen, sehingga dengan begitu, Kie keng pang,
Hay see pay dan Sin koen boon sudah menumplek
kedosaan diatas kepala Peh bie kauw. Mereka menganggap,
bahwa orang orang Peh Bie kauwlah yang sudah
membinasakan pemimpin-pemimpin mereka. Itulah
sebabnya, mengapa Peh bie kauw sudah dikeroyok oleh
begitu banyak partai dan golongan"
Coei San menggoyang-goyangkan kepalanya. "Aku
525
sungguh-sungguh tidak mengerti apa kebaikannya To liong
to, sehingga Gakhoe (mertua lelaki) rela menerima segala
tuduhan yang tidak-tidak itu," katanya.
"Aku sendiri belum pernah bertemu muka dengan
mertuamu," kata Lian Cioe. "Tapi kepandaiannya dalam
memimpin orang-orangnya untuk melawan begitu banyak
musuh, sangat dikagumi oleh semua orang."
"Jieko, ada hal lain yang tidak dimengerti olehku," kate
pula Coei San. "Go bie dan Khong tong tidak turut hadir
dalam pertemuan di Ong Poan San, mengapa mereks juga
bermusuhan dengan Peb bie kauw?"
"Sebab musababnya berpangkal pada Giehengmu, Cia
Soen, " jawabnya. "Dalam usahanya untuk mendapatkan
To liong to Peh bie kauw tetah mengirim perahu-parahu
Cia Soen diberbagai pulau. Kau harus mengetahui bahwa
rahasia tak mungkin ditutup selama-lamanya. Meskipun
Pek Kwie Sioe tetap membungkam, lama-lama rahasia itu
bocor juga. Dangan menggunakan name Hoen-Goan Pek
lek chioe Seng Koen, Gie-hengmu telah melakukan lebih
dari tiga puluh pembunuhan yang menggemparkan. Banyak
jago dari berbagai partai yang binasa ditangannya. Apa kau
tahu kejadian ini?"
Coei San manggutkan kepala. "Kalau begitu, orang
akhirnya tahu, bahwa itu semua telah dilakukan olehnya,"
katanya dengan suara perlahan.
"Setiap kali membunuh orang, diatas tembok ia menulis
huruf-huruf besar yang berbunyi:Yang membunuh ialah
Hoen goan Pek-lek-chioe Seng Koen," Lian Cioe
melanjutkan penuturannya.
"Kejadian kejadian itu sedemikian hebatnya, sehingga
aku dan lain-lain saudara pernah menerima perintah insoe
untuk turun gunung guna bantu menyelidiki. Semula, tak
526
satu manusiapun yang dapat menebak siapa penjahatnya,
sedang Seng Koen sendiri tak pernah muncul. Tapi,
sesudah rahasia Pak bie kauw bocor, orang-orang pandai
berbagai partai lantas saja bercuriga dan mulai menebaknebak.
Cia Soen adalah murid tunggal dari Hoen-goan Pek
lek Chie. Orang juga tahu meskipun tak tahu sebab
sebabnya bahwa, belakangan Cia Soen bermusuhan hebat
dengan gurunya. Maka itu, orang lantas saja menduga
bahwa yang menggunakan nama Seng Koen adalah Cia
Soen."
"Jumlah manusia yang dibunuh Cia Soen sudah terlalu
besar dan jumlah partai yang punya dendam sudah terlalu
banyak. Bahkan seorang yang berkedudukannya paling
tinggi dalam Siauw lim-pay, yaitu Kong kianTaysoe, juga
binasa dalam tangannya . Coba kau menaksir-naksir berapa
jumlah orang yang ingin membalas sakit hati terhadapnya"
Paras muka Coei San berubah. pucat sekali, "Ya... Gie
heng telah kembali kejalan lurus, tapi kedua tangannya
berlumuran terlalu banyak darah." katanya dengan suara
parau. "Jieko .. Pikiranku terlalu kusut dan aku tidak dapat
memikir lagi."
"Dengan demikian semua orang mengeroyok Peh bie
kauw," kata pula Lian Coe. "Karena kau, aku dan saudarasaudara
mencari Peh bie kauw, karena Ko Cek Seng dan
Chio Tauw, Koen loan pay mencari Peh bie kauw, karena
kebinasaan pemimpinnya. Kie keng pang mencari Peh bie
kauw. Siauw lim pay dan lain-lain golongan mencari Peh
bie kauw sebab mau menanyakan dimana tempat
sembunyinya Cia Soen. Selama beberapa tahun sudah
terjadi lima kali pertempuran besar dan jumlah pertempuran
kecil tak dapat dihitung lagi. Dalam pertempuranpertempuran
besar, pihak Peh bie kauw selalu jatuh
dibawah angin. Akan tetapi, dengan kecerdikannya, Gak
527
hoemu selalu dapat menolong rombongannya, sehingga
tidak sampai menjadi hancur. Mau tidak mau semua orang
orang mengakui, bahwa dia benar benar manusia luar biasa.
Selama persoalan belum jelas dan masih banyak hal yang
meragukan, Siauw lim, Koen loen, boe tong dan lain-lain
pengurus tidak mau bertindak keterlaluan. Tapi golongangolongan
Kang ouw yang lainnya tidak sungkan-sungkan
lagi. Kali ini, kami mendapat warta bahwa Hiocoe dari
Thian sie tong telah berlayar dengan sebuah perahu besar.
Kami lantas saja menguntip. Lie Hiocoe gusar dan
pertempuran lantas saja terjadi. Jika kau tidak keburu
datang, jumlah korban pasti akan lebih besar"
Bukan main rasa menyesalnya Coei San. Dengan sorot
mata duka ia mengawasi kakak seperguruannya yang
kelihatannya banyak lebih tua daripada sepulah tahun
berselang. "Jieko selama sepuluh tahun, kau sungguh
menderita..." katanya dengan suara berbisik. "Sesudah bisa
bertemu lagi dengan kau, matipun aku rela...aku..."
"Ngotee, tak usah kau terlalu sedih," memotong kakak.
"Berkumpulnya kembali Boe tong Cit hiap adalah kejadian
yang sangat menggembirakan. Semenjak Samtee terluka
dan kau menghilang, orang-orang Kangouw mengubah
panggilan menjadi Boe tong Ngo Hiap. Huh huh! Hari ini
Cit Hiap berkumpul kembali....." Ia tak dapat meneruskan
perkataannya, sebab mendadak ia ingat, bahwa biarpun Cit
hiap masih lengkap tujuh orang, tapi sebenarnya tidak
begitu, karena Jie Thay Giam sudah tak dapat menunaikan
lagi tugasnya sebagai seorang pendekar.
Sesudah berlayar belasan hari, mereka tiba dimulut
Sungai Tiang kang. Mereka segera menukar perahu yang
lebih kecil dan meneruskan perjalanan disungai itu. Coei
San dan So So sudah menukar pakaian yang pantas dan
mereka sungguh merupakan pasangan yang setimpal yang
528
satu tampan, yang lain cantik. Boe Kie pun mengenakan
baju baru dan sebagian rambutnya dibuat menjadi dua
kuncir yang diikat dengan sutera merah.
Dengan parasnya yang tampan, kegesitan dan
kecerdasannya, ia sungguh seorang bocah yang menarik.
Dalam sibuknya mempelajari ilmu silat, Lian Cioe tidak
menikah dan ia sekarang menumplek kasih sayangnya
kepada putera Soeteenya itu. Boe Kie yang pintar
mengetahui, bahwa Soepeh yang parasnya menyeramkan
itu sangat mencintai nya, sehingga, saban-saban Lian Cioe
mempunyai waktu luang, ia selalu mendekati sang paman
untuk menanyakan ini dan itu. Sebagai anak yang bisa
bidup dipulau terpencil, pengalaman bocah itu sangat
terbatas sekali banyaknya, sehingga hampir segala apa yang
dilihatnya merupakan suatu yang baru baginya. Lian Cioc
tidak pemah merasa bosan untuk menjawab penjelasan
penjelasan yang seperlunya. Sering-sering dengan
mendukung Boe Kie, ia berdiri dikepala perahu untuk
menikmati pemandangan alam bersama sama
keponakannya itu.
Hari itu, perahu tiba dikaki gunung Teng koan san,
daerah Tong leng dalam propinsi An hoei. Diwaktu magrib,
perahu itu berlabuh didekat sebuah kota kecil dan juragan
perahu mendarat untuk membeli daging dan arak. Coei San
suami isteri dan Jie Lian Cioe beromong-omong digubuk
perahu sambil minum teh, sedang Boa Kie main-main
sendirian dikepala perahu.
Didarat, duduk didekat perahu itu, kelihatan seorang
pengemis tua yang lehemya dilibat seckor ular hijau, sedang
kedua tangannya bermain-main dengan seekor ular besar
yang badannya hitam dengan titik putih.
Karena belum pemah melihat ular, Boe Kie menonton
529
permainan sipengemis dengan mata membelalak. Melihat si
bocah, pengemis itu mengangguk sambil tertawa-tawa.
Tiba-tiba sekali ia mengebas tangan, ular hitam itu melesat
keatas, jungkir batik ditengah udara beberapa kali dan
kemudian jatuh didadanya. Boo Kie heran bukan main dan
terus mengawasi dengan mata tidak berkedip. Sipengemis
tertawa dan menggapai-gapai sebagai undangan.
Tanpa memikir panjang Boe Kie segera melompat
kedarat dan mendekatinya, Pengemis itu mengambit sebuah
kantong kain yang menggemblok dipunggungnya dan
sambil membuka mulut kantong, Ia berkata seraya berkata:
"Didalam kantong ini terdapat serupa benda yang lebih
menarik. Coba kau lihat."
"Benda apa?" tanya Boe Kie.
"Sangat menarik, kau lihat saja sendiri," jawabnya.
Boe Kie membungkuk dan mengawasi kedalam kantong
itu, tapi ia tak dapat melihat apapun just. Ia maju setindak
lagi untuk melihat dengan lebih jelas. Mendadak, bagaikan
kilat, kedua tangan si pengemis bergerak, menungkup
kepala Boe Kie. Bocah itu hanya dapat mengeluarkan
teriakan di tenggorokan, karena mulutnya sudah dibekap
dan badannya diangkat keatas.
Teriakan Boe Kie memang sangat lemah. Tapi Lian Cioe
dan suami isteri Coei San adalah ahli kelas satu yang
kupingnya tajam luar biasa.
Seketika itu mereka tahu, bahwa telah terjadi sesuatu
yang tidak baik. Dengan serentak mereka berlari lari
kekepala perahu dan melihat Boe Kie yang sudah menjadi
tawanan si pengemis. Baru saja mereka mau melompat
kedarat, pengemis itu sudah membentak: "Jangan bergerak!
Kalau kau masih sayang akan jiwa anak ini, jangan
bergerak!"
530
Seraya mengancam, ia merobek baju Boe Kie dibagian
pinggang dan mengangsurkan mulut ular hitam itu kedekat
kulit punggung si bocah.
Melihat begitu, bukan main bingung dan gusarnya So So.
Tanpa memikir lagi tangannya bergerak untuk melepaskan
jarum emas.
"Jangan!" bentak Lian Cioe dengin suara perlahan. Ia
sudah mengenali, bahwa ular hitam itu adalah salah satu
dari delapan belas macam ular paling berbisa didalam
dunia. Ular tersebut yang mengambil kedudukan kesebelas,
diberi nama Cit lie seng. Makin hitam warnanya dan makin
halus titik-titik putihnya, makin hebat bisanya. Ular
sipengemis itu, yang hitamnya mengkilap dan titik putihnya
bersinar terang, kelihatan membuka mulutnya yang besar,
dalam mana terdapat empat batang caling, siap sedia untuk
memagut punggung Boe Kie yang putih bersih.
Sekali dipagut, bocah itu pasti akan segera binasa.
Andaikata pengemis itu bisa lantas dibinasakan dan obat
pemunah bisa lantas didapatkan, masih belum tentu jiwa
Boe Kia keburu ditolong dengan obat itu.
Itulah sebabnya, mengapa Lian Cioe mencegah niatan
So So Dengan paras muka tidak berubah, ia bertanya:
"Sebab apa tuan menawan anak itu ?"
"Sebelum aku menjawab, kau lebih dulu harus menolak
perahumu sampai kira-kira delapan tombak dari tepi
sungai," kata sipengemis.
Lian Cioe mengerti, bahwa sesudah perahu terpisah jauh
dari tepian, Boe Kie makin sukar ditolong. Tapi karena
anak itu menghadapi bencana, ia tidak dapat berbuat lain
daripada menurut. Ia lalu menjemput rantai sauh dan sekali
menyentak, sauhnya yang beratnya kira-kira lima puluh kati
sudah melompat keluar dari permukaan air.
531
Melihat Lweekang Jie Jiehiap yang sangat tinggi itu,
paras muka si tua agak berubah.
Dengan jantung berdebar keras, Coei San mengambil
gala dan menotol tanah, sehingga perahu itu lantas saja
bergerak ketengah sungai.
"Lebih jauh sedikit ?" teriak pengemis itu.
"Apa belum delapan tombak ?" tanya Coei San dengan
mendongkol.
"Waktu mengangkat sauh Jie Jiehiap telah
memperlihatkan Lweekang yang begitu tinggi," kata si tua
sambil tertawa "Maka itu, biarpun sudah terpisah delapan
tombak, aku yang rendah masih sangat kuatir,"
Apa boleh buat, Coei San mendorong pula sejauh
beberapa tombak.
"Apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan
yang mulia ." tanya Lian Cioe sambil menyoja.
"Aku yang rendah hanyalah seorang perajurit yang tidak
masuk hitungan dalam Kay pang (Partai pengemis),
sehingga namaku hanya akan mengotor kuping Jie Jiehiap,"
jawabnya.
Melihat pengemis itu menggendong enam buah karung,
Lian Cioe merasa heran, sebab seorang pengemis yang
membawa karung sebanyak itu mempunyai kedudukan
yang cukup tinggi. Disamping itu. sepanjang
pengetahuannya, Kay pang adalah sebuah partai yang
selalu melakukan perbuatan perbuatan mulia, sedang
Pangcoe dari partai itu adalah sahabat karib dari Toa
seekonya, Song Wan Kiauw.
Selagi ia berpikir, tiba tiba So So berkata: "Apakah, Boe
san pang dari Soe coan timur sudah dipersatukan dengan
532
Kay pang? Kalau tidak salah, dalam partai pengemis tidak
terdapat orang yang seperti tuan."
Si tua mengeluatkan seruan tertahan, bahna kagetnya.
Sebelum ia menjawab, So So sudah berkata pula : "Ho
Loosam, kau jangan main gila. Jika kau mengganggu
selembar rambut anakku, aku akan mencincang tubuh Bwee
Ciok Kian !"
Pengemis itu kaget tak kepalang, sehingga paras
mukanya berubah pucat. Sesaat kemudian, sesudah dapat
menenteramkan hatinya, ia berkata: "In Koawnio
mempunyai mata yang sangat tajam dan dapat mengenali
Ho Loosam, Atas perintah Bwee Pangcoe, aku datang
kemari untuk menyambut Kongcoe."
"Singkirkan ular itu !" bentak So So dengan gusar. "Hu
hu! Gerombolan Boe san pang yang tiada artinya berani
menyentuh kepala Peh bie kauw!"
"In Kouwnio, kau salah," bantah Ho Loosam
"Sedikitpun kami tidak mempunyai niatan untuk melanggar
keangkeran Peh bie kauw. Asal saja In Kouwnio sudi
menjawab pertanyaanku, bukan saja aku akan segera
mengembalikan Kongcoe, tapi Bwee Pangsoe sendiripun
akan datang berkunjung untuk meminta maaf."
"Pertanyaan apa ?" tanya So So.
"In Kouwnio sendiri mungkin sudah mendengar, bahwa
putera satu satunya dari Bwee Pang coe telah binasa
didalam tangan Cia Soen." jawab nya. "Bwee Pangcoe
memohon supaya Thio Ngo hiap dan In Kouwnio .... aku
salah ... supaya Thio Ngo Hiap dan Thio Hoejin sudi
menaruh belas kasihan dengan memberitahukan tempat
bersembunyinya Cia Soen. Untuk budi yang sangat besar
itu, seluruh partai akan merasa sangat berterima kasih."
533
So So mengerutkan alis. "Kami tak tahu " katanya.
"Kalau begitu, kami memohon supaya kalian suka
mendengar dengarkan dimana adanya Cia Soen, sedang
dipihak kami, kami akan merawat Kongcoe baik baik" kata
pula sipengamis. "Nanti sesudah kalian mendapat tahu
tempat sembunyinya Cia Soen. Bwee Pangcoe sendiri akan
mengembalikan Kongcoe."
Melihat caling ular hanya terpisah beberapa dim dari
punggung puteranya, hati So So berdebar debar. Jika ia
dapat mengambil keputusan sendiri, ia tentu akan segera
membuka rahasia. Ia menengok dan mengawasi muka
suaminya. Sesudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, is
mengenal adat sang suami yang keras dan mulia. Ia tahu,
bahwa apapun jua yang akan terjadi Coei San pasti tidak
akan menghianati Cia Soen. Ia mengerti, bahwa jika ia
membuka rahasia dan Cia Soen binasa oleh karenanya,
perhubungan mereka sebagai suami isteri sudah pasti tak
bisa dipertahankan lagi. Maka itulah melihat paras muka
Coei San yang menyeramkan, ia terpaksa menutup mulut.
"Baiklah, kau boleh menawan anakku," kata Thio
Ngohiap dengan suara nyaring. "Seorang laki-laki tak akan
menjual sahabat. Ho Loosam, kau terlalu memandang
rendah kepada Boe tong Cit hiap."
Si pengemis terkejut, itulah jawaban yang tidak didugaduga.
Semula ia menaksir, bahwa begitu cepat Boe Kie
tertawan, Coei San dan So So pasti akan memberitahukan
tempat sembunyinya Cia Soen. Dengan rasa kagum, sambil
berpaling kearah Lian Cioe, ia berkata: "Jie Jiehiap, Cia
Soen adalah manusia berdosa yang kedosaannya
bertumpuk tumpuk bagaikan gunung. Boe tong pay selalu
mengutamakan keadilan dan pendirian yang sangat
dihormati dalam Rimba Persilatan. Aku mengharap Jiehiap
suka membujuk Ngohiap"
534
"Mengenai urusan ini, aku dan Ngotee sekarang justeru
ingin pulang ke Boe tong untuk melaporkannya kepada
Insoe dan meminta keputusannya," kata Lian Cioe, "Tiga
bulan kemudian, kami akan mengadakan pertemuan di
Hong ho lauw. Aku harap Bwee Pangcoe dan tuan juga
suka menghadiri pertemuan itu, supaya kita beramai bisa
berunding untuk mendapatkan suatu penyelesaian yang
memuaskan. Sekarang aku minta kau suka melepaskan
anak itu."
Lian Cioe bicara dengan suara perlahan dari jarak
belasan tombak. Tapi setiap perkataannya dapat didengar
jelas oleh Ho I.oosam yang jadi kagum bukan main. "Boe
tong Cit hiap yang namanya mengetarkan seluruh negeri
sunguh-sungguh bukan nama kosong." katanya didalam
hati. "Kali ini aku sudah menanam bibit permusuhan bagi
Boe san pang. Tapi, biar bagaimanapun juga, sakit hati
Bwee Pangcoe tidak bisa tidak dibalas."
Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata: "Kalau
begitu, aku memohon beribu maaf dari kalian. Tidak ada
jalan lain dari pada aku mengajak Thio Kongcoe pulang ke
Tongcoa."
Karena Ho Loosam merangkap kedua tangannya, maka
mulut ular yang dicekal dengan salah satu tangannya jadi
tepisah agak jauh dari pungung Boe Kie. Biarpun kepalanya
berada didalam karung, bocah itu telah mendengar jelas
semua pembicaraan. Begitu lekas ia merasa tangan
sipengemis terlepas dari dirinya, bagaikan kilat ia menepuk
jalanan darah Leng tay hiat, dipunggung Ho Loosam, dan
dengan berbareng, ia menendang seraya melompat. Karena
kuatir musuh melepaskan ular, tanpa membuka karung
yang masih menutup kepalanya, ia meloncat beberapa kali
deagan sekuat tanaga.
Sesudah kabur belasan tombak, barulah ia mencabut
535
karung dari kepalanya. Ia heran sebab melihat pengemis tua
itu rebah ditanah tanpa bergerak.
Sementara itu, cepat-cepat Coei San menolak perahunya
ketepi sungai dan kemudian, bersama isterinya dan
kakaknya, ia melompat kedaratan. Bagaikan terbang So So
berlari-lari kearah puteranya, yang lalu dipeluk dengan rasa
girang yang meluap-luap.
Coei San sendiri segera menghunus pedang dan
membunuh kedua ular berbisa itu.
Sesudah itu, barulah ia membungkuk dan memeriksa
keadaan Ho Loosam yang mulutnya terus mengeluarkan
darah dan kelihatannya sedang menderita kesakitan hebat,
"Ngotee," kata Lian Cioe dengan perasaan heran, "apa
mungkin tepukan Boe Kie yang begitu enteng bisa
mengakibatkan luka yang begitu berat ?" Ia mengangsurkan
tangan dan coba mengangkat lengan kiri situa, tapi lengan
itu kaku, seperti orang yang tertotok jalanan darahnya.
Melihat begitu, ia segera mengurut jalanan darah Tau tiong
hiat, dibagian dada, dan Toa twie hiat, dibelakang leher Ho
Loosam.
Diluar dugaan, begitu diurut, sipengemis mengeluarkan
teriakan menyayat hati. "Aduh! Mau bunuh, lekas bunuh
.... Jangan kau ... menyiksa!" Ia sesambat. Seluruh
tubuhnya menggigil dan giginya bercetukan.
Lian Cioe kaget tak kepalang, karena dengan urutan itu,
ia bermaksud untuk menolong. Tan tiong hiat ialah pusat,
atau sumber dari hawa tubuh manusia, sedang Toa twie
hiat adalah tempat berkumpulnya jalanan darah besar
dibagian kaki tangan manusia. Maka itu, jika kedua jalanan
darah sudah mengalir baik, lain lain jalanan darah yang
tertutup akan terbuka kembali.
536
Tapi diluar dugaan, akibatnya justeru sebaliknya.
Melihat Ho Loosam menderita kesakitan yang begitu hebat,
Lian Cioe segera menotok jalanan darah dipundaknya
untuk mengurangkan penderitaannya dan keemudian
berpaling mengawasi Coei San.
Tapi Coei San pun tidak mengerti sebab musababnya.
"Sumoay," katanya. "Apakah kau melukakan dia dengan
jarum emas?"
"Tidak," jawabnya. "Mungkin dia kena dipagut ulamya
sendiri."
Sambil menahan sakit, si tua berkata: "Tidak... anakmu
yang menghantam punggungku..." Ia melirik Boe Kie
dengan sorot mata heran dan takut.
So So senang hatinya. "Boe Kie," katanya dengan suara
bangga, "benarkah kau sendiri yang menghajamya ? Bagus!
Bagus sekali!"
"Jalan darah apa yang harus dibuka untuk
menolongnya?" tanya Coei San dengan suara jengah. Ia
merasa main, bahwa sebagai ayah ia tidak dapat menolong
orang yang dihajar oleh puteranya sendiri, sehingga
pertanyaan itu tidak langsung ditujukan kepada Boe Kie.
So So tertawa geli. "Anak," katanya. "Thia thia
menyuruh kau membuka jalanan darahrnya. Tolonglah dia!
Sekarang dia sudah mengena lihaynya Cia Boe Kie."
Mendengar perkataan Cia Boe Kie, Lian Cioe merasa
heran. "Cia Boe Kie ?" menegasnya.
"Ya," jawab Coei San sambil mengangguk. "Siauwtee
telah menyerahkan anak itu kepada Gieheng dan sedari
dilahirkan ia telah mengguna kan she Cia."
Boe Kie menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa,"
537
katanya.
"Mengapa tak bisa?" tanya sang ayah.
"Giehoe hanya mengajar aku untuk menotok orang, tapi
tidak memberitarukan cara bagaimana harus membuka
totokan itu," jawabnya. Ia diam sejenak dan kemudian
berkata pula: "Waktu menurunkan pelajaran itu kepadaku,
Giehoe mengatakan, bahwa jika pukulan mengenai Taiyang,
Tan-tiong, Toa-twie dan Leng tay, empat jalanan
darah besar, orang yang terpukul bisa lantas binasa. Aku
segera menanyakan bagaimana caranya menolong orang
yang terpukul. Ia nneagerutkan alis dan berselang beberapa
saat, barulah ia menjawab begini: Didalam dunia, ilmu ini
hanya dikenal olehku dan olehmu berdua orang. Perlu apa
kau belajar cara menolongnya? Kau hanya boleh memukul
musuh dengan pukutan ini. Dan kalau yang dipukul musuh,
perlu apa kita menolongnya? Apakah kau mau memberi
kesempatan kepadanya, supaya dibelakang hari dia bisa
membalas sakit hati? Itulah jawab Giehoe terhadap
pertanyaanku."
Coei San dan isterinya mengakui bahwa suara itu,
memang suara Cia Soea yang tangannya kejam dan kalau
membabat, selalu membabat sampai diakarnya.
Biar bagaimanapun jua, Ho Loosan seorang laki laki
yang keras kepala. "Jie Jiehiap, Thio Ngohiap, dalam hal
ini, yang bersalah memamg aku sendiri," katanya. "Hatiku
tidak baik dam memang pantas aku mendapat pembalasan
yang tidak baik. Sekarang aku memohon supaya kalian
cepat cepat mengambil jiwaku, supaya aku tidak menderita
terlalu lama."
Lian Cioe menggelengkan kepala. "Tidak, kedosaanmu
tidak pantas mendapat hukuman mati," katanya. "Aku
meminta maaf untuk keponakanku yang sudah turun
538
tangan tanpa mengetahui berat entengnya tangan itu. Kami
akan berusaha sedapat mungkin untuk menolong jiwamu,"
sehabis berkata begitu, ia mendukung Ho Loosam dan
menaruhnya didalam gebuk perahu.
Sesudah itu ia kembali kedaratan dan bertanya kepada
Boe Kie: "Apa namanya pukulan yang telah digunakan
olehmu ?"
Melihat paras sang paman yang menyeramkan, bocah itu
jadi ketakutan dan lantas saja menangis. "Aku bukan
sengaja mau membinasakannya," jawabnya "Dia... dia
mengancam aku dengan ular ... Aku takut, aku ... sangat
takut ...."
Lian Cioe menghela napas. Dengan rasa cinta ia
mendukung keponakannya dan mensusutan matanya.
"Jiepeh tidak menyalahkan kau," katanya dengan suara
halus. "Jika dia mengancam Jiepeh dengan ular, akupun
akan menghajar dia."
Sesudah dibujuk dan dielus elus, barulah Boe Kie
berhenti menangis "Menurut katanya Giehoe pukulan itu
yalah pukulan yang sudah hilang dari Rimba Persilatan," Ia
menerangkan. "Namanya Hang liong Sip pat ciang
(Delapanbelas pukulan untuk menaklukkan naga)"
Begitu mendengar perkataan Hang liong Sip pat ciang,
paras muka Lian Cioe berubah dan ia lalu menurunkan
sibocah dari dukungannya.
Hang liong Sip pat ciang adalah ilmu silat yang sangat
tersohor dari Ang Cit Kong, Pangcoe partai pengemis pada
akhir jaman kerajaan Lam tong, Di samping ilmu itu Ang
Cit Kong, melirik ilmu silat tongkat yang diberi nama Tah
kauw Pang hoat. (Ilmu silat tongkat untuk memukul anjing
), yang juga sudah menggetarkan Rimba Persilatan dan
sangat disegani oleh jago-jago pada masa itu, Tah kauw
539
Pang hoat adalah ilmu yang hanya diturunkan kepada
Pangcoe dari Kaypang dan sampai pada waktu itu masib
dikenal orang. Tapi Han-liong Sip pat ciang sudah lama
menghilang dari dunia persilatan.
Ilmu itu telah diturunkan oteh Ang Cit Kong kepada
Kwee Ceng, tidak terdapat orang yang berbakat cukup
untuk mempelajarinya. Sin tiauw Tay hiap Yo Ko adalah
seorang yang mengenal macam-macam ilmu silat antaranya
Hang liong Sip pat ciang, tapi lantaran belakangan satu
lengannya putus ia tidak dapat menggunakan ilmu itu yang
harus digunakan dengan kedua-dua tangan. Maka itulah,
selama kira-kira seratus tahun, Rimba Persilatan hanya
mendengar nama, tapi belum pernah melihat ilmu silat
tersebut. Diluar dugaan, Boe Kie telah mendapatkannya
dari Cia Soen.
"Apa benar kau memukul Ho Loosam dengan Hong
liang Sip pat ciang?" mendesak Lian Cioe yang masih tidak
percaya akan keterangan keponakannya.
Boe Kie mengangguk. "Menurut kata Giehoe pukulan itu
diberi nama Sin liong Pa bwee (Naga sakti menyabet
dengan buntutnya)." jawabnya.
Lian Cioe dan Coei San lantas saja ingat bahwa waktu
menceritakan Hong liang Sip pat ciang, guru mereka
memang pemah menyebutkan nama "Sin-liong Pa bwee,"
tapi Thio Sam Hong sendiri tidak mengenal pukulan itu.
Mengingat bahwa dalam usianya yang masih begitu muda,
Boe Kie sudah melukakan Ho Loosam begitu berat,
keterangannya tentang Hang-liong Sip pat ciang mungkin
tidak palsu.
"Waktu Boe Kie menerima pelajaran dari Gie hang,
Siauwtee berdua isteri dilarang mendekat," menerangkan
Coei San. "Siauwtee tak nyana Giehoe sudah menurunkan
540
ilmu yang luar biasa itu"
"Giehoe mengatakan, bahwa ia hanya mengenal tiga dari
delapanbelas pukulan itu dan ia mendapatkannya dari
seorang ahli yang sudah mengasingkan diri dari dunia
Kangouw." kata Boe Kie, "Giehoe juga mengatakan, ia
merasa bahwa dalam perubahan perubahan ketiga pukulan
itu ada sesuatu yang kurang tepat. Mungkin sekali, ahli itu
sendiri belum dapat menyelami isi pukulan pukulan itu
sampai kedasar dasarnya."
Jie Lian Cioe dan Thio Coei San jadi bengong. Mereka
kagum bukan main akan lihaynya jago jago dijaman dulu.
Cia Soen yang hanya memdapat oleh beberapa pukulan,
sudah begitu hebat. Maka itu, lihaynya Ang Cit Kong dan
Kwee Ceng hanya dapat dibayang bayangkan.
Antara ketiga orang itu, So So lah yang paling bunga
hatinya. Sebagai seorang ibu, ia sangat bangga bahwa
dalam pukulannya yang pertama puteranya yang masih
begitu kecil sudah memperlihatkan kepandaian yang tinggi
itu, Dalam girangnya, ia tidak memperhatikan pembicaraan
antara suami dan Jiepehnya.
"Kurasa, selain Ho Loosam, Boe san pang juga mengirim
lain orang untuk memyantu," kata Coei San. "Sebaiknya
kita lekas lekas menyingkir dari tempat ini"
"Benar," ka'a Lian Cioe. "Aku sudah memberikan obat
Tok bing sinsan kepada Ho Loosam. Harap saja obat itu
dapat menolong jiwanya."
Mereka berempat lantas kembali keperahu. Napas Ho
Loosam sangat lemah dan mulutnya masih mengeluarkan
darah.
"Boe Kie," kata Cioe San dengan suara keren. "Kali ini,
aku tidak menyalahkan kau. Lantaran adanya ancaman
541
hebat, kau terpaksa turun tangan. Tapi lain kali, kecuali jika
terlalu terdesak, tak boleh kau sembarangan bertempur.
Lebih lebih, aku melarang kau menggunakan tiga pukulan
dari Hang liong Sip liong itu. Kau mengerti ?"
"Baiklah. Anak tak akan melupakan pesan ayah," jawab
sibocah.
Melihat paras muka ayah nya yang menyeramkan, air
mata lantas saja berlinang linang dikedua matanya dan
sesaat kemudian, ia lantas saja menangis keras.
Tak lama kemudian, juragan perahu sudah kembali
dengan membawa arak dan daging, Lian Cioe segera
memerintahkannya untuk menjalankan perahu.
Malam itu, sesudah bersantap, Lian Cioe bersila dengan
tangan menekan jalanan darah Toatwie hiat dibelakang
leher Ho Loosam dan kemudian mengempos Lweekangnya
untuk bantu mengobat sipengemis.
So So sangat tak puas akan cara-cara Jiepehnya itu yang
dianggapnya seperti nenek2. Menurut jalan pikirannya,
manusia semacam Ho Loosam bukan saja tidak pantas
ditolong, malah harus dilemparkan kedalam air.
Sesudah mengalirkan Lweekangnya beberapa jam, Lian
Cioe merasa lelah dan Coei San lalu menggantikannya.
Diwaktu fajar menyingsing, pengemis tua itu tidak
mengeluarkan darah lagi dan pada mukanya mulai terdapat
sinar dadu.
"Jiwamu sudah ketolongan," kata Lian Cioe dengan
girang. "Hanya mungkin ilmu silatmu tidak bisa pulih
kembali "
"Budi Jie-wie tak akan dilupakan olehku si orang she
Ho," kata Ho Loosam. "Akupun tak ada muka untuk
menemui lagi Bwee Pangcoe. Mulai dari sekarang, aku
542
akan menyingkir dari diri pergaulan dan tidak akan
berkeliaran lagi di dalam kalangan Kangouw."
Waktu perahu tiba di An keng, pengemis itu berpamitan
dan berlalu.
Sesudah berpisahan sepuluh tahun dengan guru dan
saudara-saudara seperguruannya, Coei San ingin sekali tiba
di Boe tong secepat mungkin. Ia merasa sangat tidak sabar
akan perlahannya perahu, maka sesudah melewati An keng,
ia mengajukan usul untuk mengambil jalanan darat dengan
menunggang kuda.
"Ngotee, kurasa kita lebih baik terus menggunakan
perahu," kata sang kakak. "Biarpun lebih lambat beberapa
hari, kita lebih selamat. Diwaktu ini, entah berapa banyak
orang ingin menyelidik tempat sembunyinya Cia Soen."
"Dengan berjalan bersama-sama Jiepeh, apakah masih
ada manusia yang berani mencegat kita ?" kata So So.
"Kalau kami tujuh saudara semua berkumpul, mungkin
sekali orang akan sangsi untuk mengganggu," kata Lian
Cioe. "Tapi dengan hanya bertiga, tak bisa kita menghadapi
begitu banyak orang pandai. Disamping itu, tujuan kita
yalah untuk menyelesaikan urusan ini secara damai. Perlu
apa kita menanam lebih banyak bibit permusuhan?"
Coei San mengangguk "Tak salah apa yang di katakan
Jieko" katanya.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Boe hiat,
wilayah Oawpak. Malam itu, setibanya di Hok-tie-kouw,
perahu itu melepas sauh dan bersiap untuk bermalam disitu.
Tiba-tiba Lian Cioe mendengar suara kaki kuda digili-gili
dan ia mendongok keluar dari gubuk perahu. Secara
kebetulan, dua penunggang kuda sedang membelokkan
tunggangannya yang lalu dikaburkan kearah kota. Dengan
543
begitu ia tidak bisa melihat muka kedua orang itu. Tapi
dilihat dari gerak-geraknya yang gesit dan lincah, mereka
pasti bukan sembarang orang.
Lian Cioe melirik adiknya dan berkata dengan suara
perlahan: "Kurasa ditempat ini bakal terjadi sesuatu. Lebih
baik kita berangkat sekarang juga."
"Baiklah," kata Coei San dengan rasa berterima kasih.
Semenjak Boe tong Cit-hiap turun gunung. dengan
memiliki kepandaian tinggi dan sepak terjangnya selalu
menuruti jalan yang lurus, mereka tak pernah menyingkir
dari orang lain. Selama beberapa tahun yang paling
belakang, nama Jie Lian Cioe naik makin tinggi, sehingga
malah para Ciang boen jin dari partai-partai ternama,
seperti Koen loan, Khong dan sebagainya, menaruh hormat
terhadapnya. Tapi, malam itu, ia tak mau berdiam lamalama
di Hoktie kouw karena melihat bayangan dua orang
yang tidak ternama. Coei San mengerti bahwa sikap sang
kakak itu adalah demi keselamatan keluarganya.
Sementara itu, Lian Cioe sudah memanggil juragan
perahu. Sambil mengangsurkan sepotong perak yang
beratnya lima tahil, ia minta supaya perahu diberangkatkan
sekarang juga. Meskipun lelah, melihat uang yang
berjumlah besar itu, ia jadi girang dan mengiakan.
Malam itu, rembulan memancarkan sinarnya yang gilang
gemilang. Boe Kie sudah menggeros, sedang ayah
bundanya bersama sang Jiepeh minum arak dikepala
perahu sambil menikmati pemandangan malam yang sangat
indah itu. Dengan hati lapang, mereka minum sambil
beromong-omong.
"Tak lama lagi Insoe berulang tahun yang ke seratus,"
kata Coei San. "Bahwa siauwtee keburu pulang untuk turut
serta dalam pertemuan yang langkah itu merupakan bukti
544
bahwa Langit menaruh belas kasihan atas diri siauwtee."
"Hanya sayang kita tidak bisa menyediakan antaran yang
sepantasnya," menyambungi si isteri.
Lian Cioe tertawa seraya berkata: "Teesoe, apakah kau
tahu, siapa diantara tujuh muridaya yang paling dicintai
Insoe?"
"Tentu saja Jiepah," jawabnya sambil bersenyum.
Lian Cioe tertawa. "Teehoa nakal sekali," katanya. "Kau
tahu, tapi kau sengaja mengatakan begitu. Diantara kami
bertujuh orang, yang paling dicintai Insoe adalah suamimu
yang tampan."
So So girang bukan main. "Aku tak percaya," katanya
dengan paras muka berseri-seri.
"Diantara kami bertujuh setiap orang mempunyai
keunggulan sendiri-sendiri," menerangkan Lien Cioe.
"Toasoeko mempelajari kitab Ya keng dan sebagai manusia,
ia rendah hati, sederhana besar jiwanya dan luas
pemandangannya. Samtee seorang hati-hati dan pandai
bekerja. Pekerjaan yang diberikan Insoe belum pernah
digagalkan olehnya. Sietee berotak cerdas luar biasa.
Lioktee unggul dalam ilmu pedang dan Cit tee belakangan
ini telah mempelajari juga Gwakang (ilmu silat luar),
sehingga ia akan mahir dalam ilmu dalam dan ilmu luar
serta akan dapat menangkap tenaga keras dan tenaga
lembek."
"Bagaimana dengan Jiepeh sendiri?" tanya So So.
"Aku berotak tumpul dan tak mempunyai keunggulan
dalam apapun jua," jawabnya," jika Tee hoe ingin tahu
juga, boleh dikatakan bahwa dalam pelajaran yang
diturunkan oleh Soehoe, akulah yang paling giat
mempelajarinya."
545
So So bertepuk tangan. "Aku memang tahu, bahwa
diantara Boe tong Cit hiap, Jiepeh yang ilmu silatnya paling
tinggi," katanya sambil tertawa. "Tapi Jiepeh sangat
merendahkan diri dan suka mengakuinya."
"Memang, diantara kami bertujuh, memang Jie ko yang
berkepandaian paling tinggi," kata Coei San. "Hai! ....
Selama sepuluh tahun Siauwtee tak pernah menerima
pelajaran In soe dan diwaktu ini, siauwtee pasti menduduki
kursi yang paling buncit." Waktu mengucapkan kata-kata
itu, suaranya bernada sedih.
"Akan tetapi, diantara kita bertujuh, kaulah yang Boen
boe coan cay," kata Lian Cioe, "Tee hoe, aku sekarang
ingin membuka suatu rahasia. Pada lima tahun berselang,
ketika Soehoe merayakan ulang tahunnya yang kesembilan
puluh lima, tiba-tiba paras muka beliau berubah sedih
Sesudah menghela napas, beliau berkata: Diantara tujuh
muridku, yang otaknya paling cerddas dan boen boe song
coan hanyalah Coei San seorang. Aku sebenarnya
mengharap, hahwa dihari kemudian ia akan bisa menjadi
ahli warisku. Ah! .. Hanya sayang rejeki anak itu tipis sekali
dan selama lima tahun, belum diketahui bagaimana
nasibnya. Mungkin.... mungkin sekali ia sudah mendapat
kecelakaan"
"Kau dengarlah, Teehoe. Apakah keliru, jika aku
mengatakan, bahwa Ngotee paling disayang oleh Soehoe?"
Mendengar itu, Coei San merasa berterima kasih dan
terharu, sehingga air matanya lantas saja berlinang-linang.
"Sekarang Ngotee sudah kembali dengan selamat dan
pulangnya bersama-sama kalian, sudah merupakan antaran
yang paling berharga untuk Soehoe," kata pula Lian Cioe.
Bicara sampai disini sekonyong konyong terdengar suara
kaki kuda yang di kaburkan digili gili sungai. Kuda-kuda itu
546
mendatangi dari sebelah timur dan menurut kearah barat.
Ditengah malam yang sunyi, suaranya terdengar tegas
sekali dan dari suara tindakan bisa diketahui, bahwa
jumlahnya empat ekor kuda.
Lian Cioe bertiga saling mengawasi. Didalam hati
mereka tahu, bahwa empat penungang kuda itu yang
datang ditengah malam buta, kebanyakan mempunyai
sangkut paut dengan mereka.
Meskipun mereka sungkan mencari urusan, mereka
bukan orang-orang yang takut mendapat urusan. Maka itu,
biarpun bercuriga, mereka tenang tenang saja dan tidak
membicarakan kejaran empat pengunggang itu.
"Pada waktu aku turun gunung, Soehoe sedang menutup
diri dan bersemedhi," kata pula Lian Cioe. "Menurut
perhitungan, setibanya kita di Boe-tong, beliau sudah
selesai."
"Dulu ayah pernah memberitahukan kepadaku, bahwa
selama hidup ia hanya mengagumi Thio Cinjin dan Kian
boen tie seng, empat pendeta suci dari Siauw lim-pay," kata
So So. "Tahun ini Thio Cinjin sudah mencapai usia seratus
tahun dan dalam keagamaan, mungkin ia tidak mempunyai
tandingan lagi didunia ini. Apakah beliau sedang
mempelajari ilmu untuk hidup abadi?"
"Bukan, Insoe sedang merenungkan ilmu silat,"
jawabnya.
So So agak kaget. "Dalamnya ilmu silat yang dimiliki
beliau sudah tak dapat diukur lagi," katanya. "apa lagi yang
ingin dipelajari? Apakah pada jaman ini beliau masih
mempunyai tandingan?"
"Semenjak usia sembilan puluh lima tahun, saban tahun
in Soe menenutup diri sembilan bulan lamanya,"
547
menerangkan Lian Cioe. "Beliau sering mengatakan, bahwa
intisari daripada ilmu silat Boe tong terletak didalam kitab
Kioe yang Cin keng. Hanya sayang, pada waktu Kak wan
Couw soe menghafal isi kitab itu, Insoe masih terlalu muda
dan sesudah lewat sekian tahun, ia sudah tidak ingat lagi
seluruh isinya. Maka itulah, dalam ilmu silat kami masih
terdapat kekurangan-kekurangan."
"Kioe yang Cin keng adalah warisan Tat mo Couw soe
Insoe mengatakan, bahwa makin lama beliau
merenungkan, makin beliau merasa, bahwa dalam ilmu
silat kami masih terdapat terlalu banyak kekurangan, seolah
hanya merupakan separoh dari sebuah keseluruhan. Beliau
mengatakan, bahwa untuk mencapai keseluruhan itu, orang
harus mendapatkan dan mempelajari Kioe im Cin keng.
Hanya sayang, sedang Kioe yang Cin keng saja masih
belum lengkap, dimanakah orang harus mencari Kioe im
Cin keng ? Disamping itu, apakah didalam dunia benarbenar
terdapat kitab Kioe im Cin keng, masih merupakan
sebuah teka teki."
"Tat mo Couw soe adalah seorang luar biasa dari negeri
Thian tiok (India). Dalam kecerdasan dan bakat belum
tentu Insoe kalah dari Tat mo Couw soe. Maka itu, sedang
Cin keng tak mungkin didapatkan, apakah Insoe sendiri
tidak mampu mengubah ilmu silat yang sempurna?
Pertanyaan itu tidak bisa menghilang dari otak Insoe. Maka
itulah, beliau lalu menutup diri untuk mempelajari dan
merenungkan ilmu silat kami guna mencapai suatu
kesempurnaan."
Mendengar keterangan itu, bukan main rasa kagumnya
Coei San dan So So.
"Yang turut mendengar Kak wan Couwsoe menghafal
Kioe yang Cin keng ada tiga orang." Lian Cioe melanjutkan
penuturannya. "Yang satu Insoe sendiri, yang kedua Boe
548
sek Taysoe dari Siauw lim sie, sedang yang ketiga seorang
wanita yaitu Couwsoe Goe bie pay, Kwee Siang Kwee Lie
hiap. Kecerdasan, bakat dan kepandaian mereka berlainan
satu sama lain. Yang ilmu silatnya paling tinggi pada waktu
itu adalah Boe sek Taysoe, Kwee Lie hiap ialah puteri
Kwee Tayhiap dan Oey Yong, Oey Pangcoe. Sebagai
puterinya ahli-ahli silat kelas utama pada jaman itu, beliau
sudah memiliki ilmu silat yang beraneka warna. Insoe
sendiri pada waktu itu dapat dikatakan belum mengenal
ilmu silat. Tapi sebab itulah ilmu silat Boe tong menjadi ahli
waris yang paling bersih dari pada kitab Kioe yang Cin
keng."
"Belakangan mengenai ilmu-ilmu silat Siauw Lim, Go
bie dan Boe tong, orang memberi julukan Ko (tinggi)
kepada Siauw lim. Pok (luas) kepada Go bie dan Soen
(bersih) kepada Boe tong. Ketiga partai masing-masing
mempunyai keunggulan sendiri dan juga mempunyai
kekurangan kekurangan."
"Kalau begitu, Kak wan Couw soe memiliki ilmu silat
yang paling tinggi pada jaman itu," kata So So.
"Tidak !" jawabnya. "Kak wan Couw soe tidak mengerti
ilmu silat. Dalam kuil Siauw lim sie, ia bekerja sebagai
pengurus Cong keng kok (gedung perpustakaan). Ia seorang
kutu buku yang membaca segala rupa kitab dan
menghafalnya. Secara kebetulan ia mendapatkan Kioe yang
Cin-keng Yang lalu dibacanya dan dihafalnya. Ia sama
sekali tak tahu, bahwa dalam kitab itu terdapat ilmu silat
yang sangat tinggi."
Lian Cioe selanjutnya menuturkan cara bagaimana kitab
itu hilang dan tidak dapat ditemukan lagi. Coei San sendiri
sudah pernah mendengar cerita itu dari gurunya, tapi So So
yang baru pertama kali mendengarnya, merasa ketarik
bukan main.
549
Lian Cioe seorang pendiam dan biasanya sangat jarang
bicara. Tapi sekarang, dalam kegembiraannya karena sudah
bertemu pula dengan adiknya yang disangka mati, ia
berbicara banyak sekali, bahkan berguyon. Sesudah bergaul
belasan hari dengan So So, ia merasa, bahwa si Teehoe
sebenarnya bukan manusia jahat. Ia yakin, bahwa
kekejaman So So pada masa yang lampau, adalah akibat
daripada suasana dan pergaulannya. Kata orang, mendekati
bak (tinta) keluaran hitam, mendekati coe see (bubuk
merah) berlepotan merah. Sedari kecil, apa yang dilihat dan
didengar So So adalah perbuatan-perbuatan sesat dan
kejam, sehingga sesudah besar, ia tidak dapat membedakan
lagi apa yang benar, apa yang salah dan biasa membunuh
manusia secara serampangan. Tapi sesudah menikah
dengan Soeteenya, adat yang kejam itu perlahan-lahan
berubah. Itulah kesimpulan Lian Cioe.
Baru saja Coei San ingin menanyakan Soehengnya
tentang kemajuan yang telah dicapai oleh gurunya dalam
usaha menyempurnakan ilmu silat Boe-tong, sekonyong
konyong suara tindakan kuda tadi terdengar pada kali ini
dari menuju ketimur dan tidak lama kemudian mereka
lewat diatas gili gili dekat perahu.
Coei San agak terkejut, tapi ia tidak menggubris. "Jieko"
katanya. "jika Insoe mengundang tokoh-tokoh Siauw lim
dan Gobie untuk bersama2 menyempurnakan ilmu silat,
kurasa ketiga partai ini sama-sama akan memperoleh
keuntungan yang sangat besar."
Lian Cioe menepuk lututnya. "Kau benar !" katanya
dengan bersemangat. "Perkataan Soehoe, bahwa dihari
kemudian kau bakal menjadi ahli warisnya sungguh tepat
sekali."
"Perkataan itu kurasa sudah dikeluarkan karena Insoe
selalu mengingat Siauwtee yang tidaak diketahui kemana
550
perginya," kate Coei San. "Bukankah seorang anak durhaka
yang bergelandangan di luaran lebih dipinggirkan oleh
ibunya daripada anak berbakti yang selalu berdampingan
dengan sang ibu? Pada waktu ini, janganlah dibandingkan
dengan Toako, Jieko dan Sieko, sedangkan dengan Lioktee
dan Cit tee pun, ilmu silat Sauwtee masih belum bisa
menempil."
"Bukan, tafsirannya bukan begitu," kata Lian Cioe
sambil meggelengkan kepala. "Sebegitu jauh mengenai ilmu
silat, memang juga Ngotea tidak bisa menandingi aku.
Akan tetapi, seorang ahli waris Insoe mempunyai tanggung
jawab yang sangat besar untuk memperkembangkan ilmu
silat. Insoe sering mengatakan, bahwa dalam dunia yang
lebar ini, soal gemilang atau suramnya Boe tong pay sebagai
partai persilatan adalah soal remeh. Soal yang penting ialah
seorang ahli silat harus menunaikan tugasnya sebagai
seorang anggota dari Rimba Persilatan. Jika ia bisa
mempelajari menyelami rahasia ilmu silat dan kemudian
menurunkan pelajarannya itu kepada orang lain, supaya
ilmu silat seorang koen coe (manusia utama) berbeda
dengan ilmu silat seorang Siauwjin (manusia rendah). Jika
ia dapat mempersatukan pencinta-pencinta negeri untuk
mengusir penjajah dan merampas pulang negeri yang
sedang dijajah, maka dapatlah dikatakan, bahwa ia sudah
menunaikan tugasnya yang sangat mulia. Itulah penedapat
Insoe mengenai tanggung jawab seorang ahli silat. Maka
itulah seorang ahli warisnya, pertama harus mempunyai
batin yang luhur dan kedua harus memiliki kesadaran.
Mengenai batin, kita bertujuh tiada banyak bedanya. Tapi
mengenai kesadaran, Ngotee lah yang paling unggul."
Coei San menggoyangkan tangannya. "Tapi siauw tee
masih tetap berpendapat, bahwa perkataan itu sudah
dikeluarkan Insoe karena beliau terlalu memikirkan
551
siauwtee," katanya dengan suara ter haru. "Andaikata benar
Insoe mempunyai niat begitu, biar bagaimanapun jua,
siauwtee tak akan dapat menerimanya."
Mendadak Lian Cioe berpaling kearah So So. Ia
bersenyum seraya berkata: "Teehoe pergilah kau
melindungi Boe Kie, supaya ia tak jadi kaget. Urusan diluar
akan diurus olehku dan Ngotee."
So So memandang kedarat, tapi ia tak dapat melihat
sesuatu yang luar biasa. Selagi ia bersangsi, Lian Cioe
berkata pula: "Diantara pohon pohon itu bersembunyilah
orang dan diantara rumput alang-alang disebelah depan
pasti bersembunyi perahu-perahu musuh"
So So membuka rnatanya lebar-lebar dan mengawasi
keempat penjuru, tapi ia tetap tak melihat apapun jua.
Diam-diam dia menduga mata sang Jiepeh kabur.
Sekonyong konyong Lian Cioe berteriak: "Boe tong san
Jie Jiehiap dan Thio Ngo hiap numpang lewat ditempat ini.
Kami memohon kalian sudi memaafkan, jika kami
melanggar kesopanan. Kami mengundang kalian untuk
naik keperahu ini guna minum bersama-sama."
Teriakan Lian Cioe diikuti dengan suara air yang
terpukul dayung dan sesaat kemudian, dari antara rumput
alang-alang muncullah enam buah perahu kecil yang
didayung cepat sekali dan yang kemudian berbaris dan
menghadang dari satu tepi kelain tepi sungai. Dari salah
sebuah perahu itu terdengar suara "uuu...uuu..." dan
dilepaskan sebatang anak panah pertandaan, yang
mengeluarkan suara nyaring. Hampir berbareng, dari antara
gerombolan pohon pohon melompat keluar belasan orang
yang ringkas dan badannya semua mengenakan pakaian
warna hitam dan semua mencekal senjata. Sedang muka
mereka ditutup dengan topeng kain yang berwarna hitam
552
juga.
So So kagum tak kepalang. "Nama besar Jie peh sungguh
bukan nama kosong," pikirnya. Melihat jumlah musuh yang
besar cepat cepat ia masuk kedalam gubuk perahu untuk
melindungi puteranya. Anak itu ternyata sudah mendusin.
Sesudah merapikan pakaiannya ia berbisik "Anak kau
jangan takut!"
"Sahabat dari mama yang akan berkunjung?" tanya Lian
Cioe. "Boe tong Jie Jie dan Thio Ngo hiap menyampaikan
salam persahabatan."
Tapi tak satu manusiapun yang muncul dari perahuperahu
itu dan pertanyaan Jiehiap tetap tidak mendapat
jawaban.
"Celaka!" Lian Cioe mengeluarkan seruan tertahan dan
lalu melompat keair. Ia kelahiran Kang lam dan rumah
tinggalnya berdekatan dengan sungai, sehingga semenjak
kecil ia sudah mahir dalam ilmu berenang.
Ia menyelam dan melihat empat orang sedang berenang
mendekat, ia mengerti maksud mereka yaitu ingin membor
dasar perahu supaya perahu itu karam.
Jie Lian Cioe segera bersembunyi disamping badan
perahu. Begitu lekas keempat orang itu datang dekat, kedua
tangannya bergerak dan dua orang sudah tertotok jalanan
darahnya. Hampir berbareng ia mengirim tendangan dan
jalanan darah Cit sit hiap, dipinggang orang ketiga, kena
tertendang. Musuh yang keempat coba melarikan diri, tapi
Lian Cioe keburu menjambret pergelangan kakinya dan lalu
melontarkannya keatas perahu. Mengingat, bahwa ketiga
musuhnya pasti bakal mati kalelap jika tidak ditolong, ia
segera melemparkan mereka satu persatu kekepala perahu
dan kemudian barulah ia sendiri meloncat keatas perahu.
553
Sementara itu sesudah bergulingan, musuh keempat
melompat bangun dan lalu menikam dada Coei San dengan
bornya. Melihat ilmu silat orang itu biasa saja, tanpa
berkelit. Coei San menangkap pergelangan tangannya yang
mencekal senjata kemudian menotok jalanan darah didada
dengan sikutnya. Tanpa mengeluarkan teriakan, dia rubuh
diatas geladak perahu.
"Diantara yang berkumpul didarat kelihatannya terdapat
beberapa orang yang berkepandaian tinggi", kata Lan Cioe.
"Sesudah berhadapan, tak dapat kita berlaku sungkan lagi."
Coei San mengangguk dan lalu memerintahkan juragan
perahu untuk menjalankan kendaraan air itu. Karena mesti
melawan arus air, jalanannya perahu perlahan sekali.
Begitu berdekatan dengan enam perahu musuh, Lian Cioe
mengangkat keempat tawanannya, membuka jalanan darah
mereka dan lalu melemparkannya keperahu yang paling
dekat. Tapi sungguh heran dari enam perahu itu sama sekali
tidak terdengar suara manusia, belasan orang yang
berkumpul didaratanpun tidak mengeluarkan sepatah kata,
seolah-olah mereka semua gagu, sedang keempat orang
yang barusan dilontarkan juga tak muncul lagi.
Tiba-tiba, selagi perahu Lian Cioe mau melewati keenam
perahu itu, seorang pendayung dari perahu musuh yang
paling dekat mengayun tangannya dan hampir berbareng,
dengan dua kali suara ledakan, kemudi perahu Lian Cioe
terbakar dan perahunya sendiri terputar badannya.
Yang dilemparkan oleh sipendayung yalah semacam
dinamit yang biasa digunakan oleh para nelayan untuk
mendinamit ikan. Hanya karena barang peledak itu dibuat
luar biasa besar maka tenaganyapun jauh lebih bear
daripada dinamit yang biasa.
Dengan paras muka tetap menunjuk ketenangan, Lian
554
Cioe melompat keperahu musuh. Sebagai seorang yang
berkepandaian tinggi, nyalinya sangat besar dan sampai
pada saat itu, ia masih tetap tidak bersenjata.
Kedatangan Jiehiap tidak digubris oleh sipendayung.
"Siapa yang melemparkan dinamit?" bentak Lian Cioe. Tapi
orang itu tidak menjawab dan lagaknya seperti orang gagu
dan tuli.
Lian Cioe segera masuk kegubuk perabu, dimana
terdapat dua orang laki-laki yang duduk pada sebuah meja,
tapi merekapun tidak bergerak dan tidak bersuara.
Dengan mendongkol ia mencekal tengkuk salah seorang
dan lalu mengankatnya tinggi-tinggi. "Hai! Kau jangan
main gila!" bentaknya. tapi orang itu merarnkan kedua
mata nya dan tetap menutup mulut.
Sebagai seorang kenamaan dari Rimba Persilatan, Lian
Coe sungkan mengunjak kegarangan terhadap seorang yang
bukan tandingannya. Ia lalu melepasakan orang itu dan
pergi kebelakang perahu, dimana ia bertemu dengau Coei
San dan So So yang mendukung Boe Kie.
Tiba-tiba So So berteriak "Awas! Penjahat
menenggelamkan perahu!" Sesaat itu, air sudah mulai
mencapai geladak perahu.
Ternyata, musuh yang berdiam diperahu itu sudah
membuat persiapan dan begitu lekas Lian Cioe berempat
pindah keperahu mereka, orang-orang itu lalu membuka
sumbat lubang lubang di dasar perahu. Lian Cioe berempat
lantas melompat keparaha yang kedua, tapi perahu itupun
mulai kalam.
"Ngotee, sekarang tak bisa tidak, kita mendarat juga,"
katanya. Ia mengerti, bahwa musuh telah membuat keenam
perahu itu sebagai papan loncatan untuk mengundang
555
tamu-tamu naik kedaratan. Beberapa saat kemudian,
mereka sudah berada diatas gili-gili.
Belasan lelaki yang mengenakan pakaian hitam itu
berdiri dalam garis setengah lingkaran, sehingga Lian Cioe
berempat separuh terkurung. Sabagain besar diantara
mereka bersenjatakan pedang sedang yang lainnya
mencekal sepasang golok atau Joanpian (cambuk). Tak
satupun yang membawa senjata berat.
Jiehiap berdiri tegak dengan paras muka dingin dan
sepasang matanya yang bersinar terang menyapu musuhmusuh
yang menghadang itu.
Mendadak, seorang musuh yang berdiri ditengah-tengah
mengebas tangan kanannya dan barisan setengah lingkaran
itu segera terpecah dua dan membuka jalan ditengahtengah.
Mereka berdiri dengan badan separuh
membungkuk, ujung senjata mereka ditudingkan kebumi,
sedang kedua tangan mereka dirangkap sebagai tanda
memberi hormat. Sesudah membalas hormat, Lian Cioe
bertindak maju. Begitu Jiehiap lewat sekonyong-konyong
ujung kedua barisan kembali menyambung menjadi satu
dan menutup jalanan keluar, sehingga Coei San, So So dan
Boe Kie lantas saja terkurung.
Ngohiap tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu, yang
dikehendaki kalian adalah aku, seorang she Thio," katanya.
"Terima kasih atas perhatian kalian yang begitu besar."
Musuh yang berdiri ditengah tengah, yang rupanya
menjadi pemimpin rombongan, kelihatan bersangsi. Ia
menundukkan pedangnya dan sekali lagi membuka jalan.
"So So, kau jalan lebih dulu !" memerintah sang suami.
Sambil mendukung Boe Kie, si isteri segera bertindak
maju.
556
Sekonyong-konyong selagi mau melewati kedua barisan,
lima orang bergerak bagaikan kilat dan pedang mereka
menuding Boe Kie. Dengan kaget So So bertindak mundur,
tapi kelima musuh itu mengikuti dan pedang mereka tetap
berada dalam jarak kira-kira satu kaki dari tubuh si bocah.
Lian Cioe yang sangat berwaspada sudah lantas melihat
kejadian itu. Sekali menotol tanah dengan kedua kakinya,
tubuhnya terbang dan masuk ke dalam kurungan musuh.
Bagaikan kilat, kedua tangannya menepuk empat kali,
saban tepukan mengenakan pergelangan tangan musuh
yang mencekal pedang dan empat batang pedang hampir
berbareng terpental ketengah udara. Sesudah itu, tangan
kirinya menyambar pergelangan tangan musuh yang
kelima. Begitu mencekal, ia merasa tangan musuh halus
luar biasa, seperti juga tangan seorang wanita. Buru-buru ia
menotok jalanan darah orang dan buru-buru pula ia
melepaskan cekalannya. Tangan orang itu lantas saja lemas
dan pedangnya jatuh ditanah.
Sesudah pedang mereka terlepas, kelima orang itu cepatcepat
melompat mundur.
Dilain saat, dua batang pedang menyambar Lian Cioe.
Kedua senjata itu menikam lurus dari kiri dan kanan.
Jiehiap lantas saja mengenali bahwa serangan itu yalah
pukulan Tay mo pang see (Pasir yang rata digurun pasir)
dari Koen loen pay.
Lian Cioe menunggu sampai ujung pedang hanya
terpisah kira-kira tiga dim dari dadanya dan pada saat yang
tepat, ia menarik sedikit dadanya kebelakang, sedang
telunjuk tangan kiri dan tangan kanan menyentil badan
kedua pedang itu.
Kedua sentilan itu kelihatannya tidak bertenaga, tapi
sebenarnya hebat luar biasa disertai dengau Lweekang yang
557
sangat tinggi. Menurut kebiasaan senjata lawan pasti akan
terlepas. Tapi kali ini begitu telunjuknya nenyentuh badan
pedang, ia merasakan sambutan dari tenaga Jioa kin (tenaga
lembek), sehingga Lweekangnya kena dipunahkan. Tapi
kedua musuh itu tak dapat mempertahankan diri, satu
terhuyung tiga tindak dan badannya bergoyang-goyang
sedang yang lain, sesudah mengeluarkan teriakan kesakitan,
muntah darah.
Semenjak mencegat, tak satupun mengeluarkan suara
dan teriakan itu adalah suara pertama. Sungguh heran,
teriakan itu tajam dan nyaring, seperti teriakan seorang
wanita.
Melihat kelihayan Lian Cioe, pemimpin rombongan
mengebas tangannya dan belasan orang itu lantas saja
mundur, akan kemudian menghilang di antara pohonpohon.
Lian Cioe mengawasi bayangan mereka deugan
mata tajam. Ia mendapat kenyataan, bahwa hampir
semuanya bertubuh langsing dan gerak-gerik mereka yang
gemulai menyerupai gerak-gerik wanita.
"Jie Jie dan Thio Ngo dari Boe tong pay menghaturkan
maaf kepada Thie khim Sianseng! " teriak Lian Cioe.
Orang-orang itu tidak menjawab, hanya sayup sayup
terdengar tertawanya seorang wanita.
Sesudah bahaya lewat, So So menurunkan Boe Kie dari
dukungannya dan sambil terus mencekal tangan puteranya,
ia berkata. "Jiepeh, orang-orang itu rasanya orang
perempuan. Apa mereka orang orang Koen loen pay?"
"Bukan," jawabnya "mereka orang Go bie pay."
"Go bie pay?" menegas Coei San dengan perasaan heran.
"Bukankah tadi Jieko menyebut nama Thie khim
Sianseng?"
558
Lian Cioe menghela napas, "Mereka tidak bersuara dan
muka mereka ditutup dengan topeng itu semua
menandakan bahwa mereka sungkan dikenali orang,"
katanya. "Lima pedang yang mengancam Boe Kie ialah
Han bwee kiam tin (Barisan pedang bunga Bwee) dari Koen
loen pay, sedang kedua orang yang menikam aku juga
menggunakan pukulan Tay mo pang see data Koen loen
pay. Karena mereka menyamar sebagai orang Koen loen,
aku sungkan membuka rahasia mereka dan sengaja
menyebutkan nama Thie khim Sianseng, Ciang boenjin dari
Koen loen pay."
"Bagaimana Jiepeh tahu mereka orang Go bie pay?"
tanya So So. "Apa diantaranya ada yang dikenal?"
"Tidak," jawabnya. "Dilihat dari Lweekangnya yang
tidak seberapa dalam, mereka mungkin cucu cucu murid
Biat coat Soe thay, Ciang boenjin Go bie pay. Dengan lain
perkataan, mereka adalah murid turunan keempat dari
partai tersebut. Diantara mereka, tak satupun yang dikenal
aku. Tapi pada waktu mereka coba mempunahkan
sentilanku dengan tenaga Jio kin, aku segera mengenali,
bahwa ilmu yang digunakan lima Go bie pay. Sebagaimana
kau tahu, tidaklah terlalu sukar untuk meniru pukulanpukulan
partai lain. Tapi begitu lekas seseorang
menggunakan Lweekang, tak dapat tidak, topengnya
terlocot."
Coei San mengangguk. "Sebenarnya mereka tak akan
terluka berat, jika mereka tidak melawan dan segera
melepaskan senjata waktu disentil Jieko," katanya. "Aku
tahu, kalau Jieko memandang mereka semua seperti
musuh, kedua bocah itu tentu sudah hilang jiwanya. Hanya
aku merasa heran, mengapa hari ini mereka mencegat kita,
sedang biasanya orang-orang Go bie pay selalu berlaku
sungkan terhadap kita."
559
"Di waktu muda. Insoe pernah menerina budi Kwee
Siang Liehiap Couw soe dari Go bie pay." menerangkan
Lian Cioe. "Oleh karena begitu, In soe sering memesan,
supaya kami jangan sampai kebentrok dengan murid-murid
Go bie, supaya persahabatan lama dapat dipertahankan
terus. Sesudah sentilanku mengenakan pedang, barulah aku
tahu, bahwa mereka tak akan bisa bertahan. Aku ingin
menarik pulang Lweekang, tapi sudah tidak keburu lagi,
sehingga kedua orang itu terluka juga. Biarpun tidak
disengaja, aku sudah melanggar pesanan Insoe."
So So tertawa. "Baik juga Jiepeh menyebutkan nama
Thie khim Sianseng, sehingga, jika bersalah, kesalahan itu
tidak ditujukan langsung terhadap Go bie pay."
Sementara itu, keenam perahu kecil sudah karam semua,
sedang perahu yang ditumpangi Lian Cioe berempat sudah
pergi jauh. Anak buah perahu perahu kecil itu dengan basah
kuyup mulai merangkak naik digili-gili.
"Apa mereka semua orang-orang Go bie?" tanya So So.
"Bukan." bisik Lian Cioe. "Kurasa mereka orang orang
Liang coan pang dari Cauw ouw."
Melihat lima batang pedang Go bie yang sangat bagus
menggeletak ditanah, So So membungkuk untuk
menjemputnya.
"Jangan ganggu!" melarang sang Jiepeh. "Jika dipedang
itu diukir nama, dihari kemudian kita tak akan bisa
menyangkal lagi. Hayolah kita meneruskan perjalanan."
Sekarang So So sudah merasa takluk terhadap Jiepeh
yang mulia dan lihay itu. "Baiklah," katanya sambil berjalan
dengan menuntun tangan Boe Kie.
Sesudah melewati gerombolan pohon pohon sekonyongkonyong
Boe Kie berteriak dengan suara girang: "Kuda!
560
Lihat!"
Benar saja, dibawah sebuah pohon lioe tampak tertambat
tiga ekor kuda yang besar dan garang.
Cepat cepat mereka menghampiri dan didahan pohon
tercantum selembar kertas. Coei San mengambil kertas itu
yang tertulis perkataan seperti berikut: "Mempersembahkan
tiga ekor kuda untuk menebus dosa."
"Mereka ternyata berlaku sungkan sekali terhadap kita,"
kata Lian Cioe. Mereka segera menunggang kuda-kuda itu
dengan Boe Kie duduk di depan ibunya. Sibocah yang
belum pernah menunggang kuda jadi girang tak kepalang.
"Sesudah banyak orang mengetahui gerak-gerik kita,
kurasa menumpang perahu atau menumpang kuda tiada
banyak bedanya," kata Coei San.
"Benar," jawab sang kakak: "Kita tentu akan menghadapi
lebih banyak gelombang. Kalau bukan terlalu terpaksa, kita
tidak boleh turunkan tangan terlampau berat." Ia berkata
begitu, karena mengingat terlukanya kedua murid Go bie
dan hatinya tetap merasa tidak enak.
Diam-diam So So merasa sangat malu. Karena kesalahan
yang begitu kecil, Jiehiap sudah merasa begitu menyesal.
Betapa jauh perbedaan antara dirinya sendiri yang pernah
memandang jiwa manusia seperti jiwa semut dan sang
Jiepeh yang sedemikian mulia hatinya. Ia merasa bahwa
orang yang berdosa harus bertanggung jawab dan ia tak
pantas menyukarkan Jie Lian Cioe lagi. Karena memikir
begitu, ia lantas saja berkata: "Jiepeh, tujuan mereka ialah
kami berdua suami istri. Sedang terhadap Jiepeh, mereka
berlaku hormat sekali. Jika didepan ada rintangan lagi,
biarlah teehoe yang menyambutnya lebih dulu dan jika aku
kalah, barulah Jiepeh menolong."
561
"Ah, mengapa Teehoe berkata begitu"" kata Lian Coe.
"Dengan berkata begitu, Teehoe menganggap aku seperti
orang luar. Kita sekarang sudah terikat pamili, mati dan
hidup haruslah bersama-sama."
So So tidak berani membantah lagi. "Terang terang
mereka tahu, bahwa Jiepeh berada bersama sama kami, tapi
mengapa mereka berlaku begitu ceroboh dan mengirim saja
murid-murid turunan keempat yang ilmu silatnya belum
seberapa?" tanyanya pula.
"Mungkin sekali karena persiapan mereka dilakukan
dengan tergesa-gesa, sehingga tidak keburu memanggil
orang orang lebih pandai," jawab Lian Cioe.
Karena menduga, bahwa pencegatan Go hie pay
bertujuan untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen,
Coei San lantas berkata: "Baru sekarang kutahu, bahwa
Gieheng bermusuhan dengan Go bie pay. Selarna berada di
Peng hwee to, ia tidak pernah menyebut-nyebut itu."
"Ya, semula akupun merasa heran," kata Lian Cioe. "Go
bie pay adalah sebuah partai persilatan yang menjaga keras
peraturannya, sedang murid muridnya sebagian terbesar
terdiri dari kaum wanita. Biat coat Soethay selamanya tidak
mempermisikan murid-murid Go bie berkelara dalam dunia
Kangouw. Mereka kebanyakan menjadi pendata,
mengasingkan diri dari pergaulan atau menikah dan
mengurus rumah tangga. Waktu Go bie pay mengirim
orang untuk bertempur dangan Peh bie kauw kamipun
merasa heran. Belakangan baru kami tahu latar
belakangnya. Pada suatu malam Phoei Peng, Phoei Loo
eng hiong, siorang jago tua dipropinsi Holan, dibunuh
orang dan diatas tembok tertulis huruf-huruf yang berbunyi:
Si pembunuh ialah Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen."
"Apakah Phoei Peng anggauta Go bie pay ?" tanya So
562
So.
"Bukan," jawabnya. Sesudah berdiam beberapa saat,
barulah Jie Lian Cioe memberi penjelasan: "Sebenarnya
adalah kurang pantas untuk membicarakan soal-soal pribadi
dari orang-orang yang tingkatannya lebih atas. Sepanjang
keterangan, di waktu muda, Biat coat Soethay adalah salah
seorang wanita tercantik dalam Rimba Persilatan.
Belakangan, mendadak beliau mencukur rambut dan
menjadi pendeta, sedang Phoei Loo enghiong memutuskan
sebuah lengannya sendiri, dan sampai mati ia tidak pernah
menikah."
Hampir berbareng, Coei San dan So So mengeluarkan
seruan tertahan. Baru sekarang mereka tahu, bahwa Ciang
boen jin Go bie pay yang tersohor itu pernah mengalami
kegagalan dalam percintaan. Mereka mengerti, kalau Biat
coat Soethay sedapat mungkin ingin membalas sakit
hatinya orang yang dicintainya.
"Jiepeh, apakah Phoei Loo enghiong seorang baik atau
seorang jahat'?" tanya Boe Kie.
"Tentu saja seorang baik," jawabnya. "Sesudah
mengutungkan lengan sendiri, ia bercocok tanam, membaca
kitab-kitab dan menyembunyikan diri dari pergaulan
manusia."
"Hai! Perbuatan Giehoe memang sangat tidak pantas,"
kata Boe Kie dengan suara duka. "Ia tak boleh membunuh
manusia secara serampangan saja"
Lian Cioe jadi girang sekali. Ia mengangkat anak itu dan
lalu mengusap kepalanya, "Anak kau sekarang tahu, bahwa
seorang manusia tidak boleh sembarangan membunuh
sesama manusia" katanya dengan suara halus. "Jiepeh
sungguh merasa girang. Orang yang sudah mati tidak bisa
hidup kembali. Maka itu, biarpun terhadap seorang yang
563
sangat jahat, kita masih tidak boleh segera membunuhnya.
Kita harus memberi kesempatan supaya dia bisa membelok
kejalanan yang lurus."
"Jiepeh, aku ingin ajukan satu permintaan, bolehkan"
tanya Boe Kie.
"Permintaan apa?" menegas sang paman.
"Jika mereka mencari Giehoe, aku minta jie peh suka
membujuk mereka supaya mereka tidak membinasakannya
karena Giehoe sudah buta dan tidak dapat melawan
mereka," kata si bocah.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil