Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 27 April 2017

Cersil China Online 28 Toliongto

Cersil China Online 28 Toliongto Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil China Online 28 Toliongto
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil China Online 28 Toliongto
Seorang hweeshio gemuk yang berduduk di belakang
Kong tie lantas saja berteriak, “Hei, tahan! Kay Pang tidak
boleh langgar peraturan!”
“Mundur!” bentak Cie hoat Tiangloo. “Biar aku yang
membalas sakit hatinya Ciang poen Liong touw.”
Murid-murid Kaypang tidak berani membantah. Mereka
kembali ke gubuk sambil mengawasi Song Ceng Soe dengan
sorot mata gusar. Banyak orang turut merasa gusar, mereka
berpendapat pemuda she Song itu terlalu kejam.
Bagi Boe Kie, kebinasaan Ciang poen Liong touw lantas
saja mengingatkan dia kepada luka di pundak Tio Beng dan
kebinasaan mengenaskan dari suami isteri Tauw. “Yo
Cosoe, mengapa Go bie pay menggunakan ilmu silat yang
sesat itu?” tanyanya dengan suara gemetar.
Yo Siauw menggelengkan kepala. “Akupun belum
pernah lihat ilmu silat semacam itu,” jawabnya. “Tapi
Kwee liehiap, pendiri Go bie pay dijuluki sebagai ‘Siauw
tong sia’. Maka itu kita boleh tak usah heran kalau ilmu
silat Go bie pay mengandung sesuatu yang sesat.” (siauw
tong sia: si sesat kecil dari timur).
Sementara itu, Song Ceng Soe sudah mulai bertempur
dengan Cie hoat Tiangloo. Jago Kaypang itu, yang
bertubuh kurus kecil, sangat gesit geraknya. Dengan
mementang sepuluh jari tangannya, ia menyerang dalam
ilmu Eng jauw kang (silat cakar elang) dan berusaha
menancapkan jari-jari tangannya itu di kepala Song Ceng
Soe. Sesudah bertempur puluhan jurus, tiba-tiba ia
membentak, “Terimalah kebinasaanmu, anjing!” Hampir
2587
berbareng, lima jari tangan kirinya sudah menyentuh kepala
Song Ceng Soe. Tapi baru saja ia mengerahkan Lweekang
untuk menancapkannya, si orang she Song mendahului –
bagaikan kilat jari-jari tangannya amblas di tenggorokan Cie
hoat Tiangloo! Tanpa bersuara lagi, tetua Partai Pengemis
itu roboh di tanah.
Begitu lekas Cie hoat terguling, Cioe Cie Jiak
menggerakkan tangannya dan delapan murid Go bie pay
melompat masuk ke lapangan dengan pedang terhunus.
Mereka terpecah jadi empat rombongan dan berdiri di
sekitar Song Ceng Soe dengan saling membelakangi, siap
sedia untuk menyambut serangan Kay pang.
“Tiga puluh enam murid Lo han tong, bersiaplah!” teriak
seorang pendeta To mo tong, sambil menepuk tangan tiga
kali. Hampir berbareng, tiga puluh enam pendeta yang
mengenakan jubah pertapaan warna kuning melompat
keluar. Separuh dari mereka bersenjata sian thung dan
separung lagi memegang golok. Setibanya di lapangan,
mereka berpencaran dan berdiri di tempat-tempat tertentu.
“Murid-murid Lo han tong, dengarlah!” teriak pula si
pendeta To mo tong. “Atas perintah Kong tie Soesiok tiga
puluh enam murid Lo han tong harus mempertahankan
peraturan-peraturan dalam pertemuan ini. Dalam
pertandingan apa, bila ada yang berani mengerubuti atau
membokong dari luar gelanggang, maka murid-murid Lo
han tong harus segera mencegah. Sebagai tuan rumah,
Siauw lim sie harus berlaku adil. Siapa yang membantah
boleh dibinasakan!”
Rombongan murid Lo han tong itu lantas saja
mengiakan.
Demikianlah karena sudah ada penjagaan keras, orangorang
Kay pang tidak berani bergerak, mereka hanya
mencaci dan berteriak-teriak dan kemudian menggotong
2588
jenazah Cie hoat Tiang loo keluar dari lapangan.
“Kauw Taysoe, aku tak nyana Go bie pay masih punya
ilmu yang begitu hebat,” bisik Tio Beng. “Di Ban hoat sie,
biarpun harus mati, Biat coat Soethay menolak untuk
bertanding! Mungkin sekali inilah sebab musababnya.”
Hoan Yauw hanya menggelengkan kepala. Ia tak mau
bicara sebab sedang mengasah otak untuk mencoba
memecahkan ilmu silat itu. Selang beberapa saat mendadak
ia berkata, “Kauwcoe, aku ingin meminta pelajaran.”
Sehabis berkata begitu ia menggerak-gerakan jari-jari
tangannya di atas meja. “Kauwcoe lihatlah!” bisiknya.
“Dengan cara ini kedua tanganku membuat serangan
berantai. Aku akan berusaha untuk menangkap lengan
bangsat kecil itu dan mencopotkan sambungan-sambungan
tulang lengannya. Kalau sambungan lengannya sudah
copot, biarpun lihay, jari-jari tangannya tidak bisa
digunakan lagi!”
Boe Kie juga menggerakkan beberapa jari tangannya.
“Kau harus berhati-hati,” katanya. “Jagalah jangan sampai
jari-jari tangannya menyentuh lenganmu.”
Hoan Yauw mengangguk. “Aku akan tangkap lengannya
dengan Ki na choe dan menendang bagian bawah tubuhnya
dengan Wan yo Lian-hoe to,” katanya.
“Kalau serang dengan delapan puluh satu pukulan
berantai supaya dia tidak bisa bernafas,” kata Boe Kie.
Sambil membisik-bisik, mereka melanjutkan latihan silat
itu dengan kecepatan luar biasa. Tiba-tiba Hoan Yauw
tersenyum dan berkata, “Kauwcoe, beberapa seranganmu
itu terlampau hebat. Kecuali jari tangannya, ilmu silat
bangsat kecil itu tidak seberapa tinggi. Dan pasti tidak bisa
menyerang dengan pukulan-pukulan yang sehebat itu.”
2589
Boe Kie turut tersenyum. “Kalau benar, kaulah yang
akan memperoleh kemenangan,” katanya.
Tiba-tiba jari tangan kirinya membuat dua lingkaran dan
jari tangan kanannya menerobos dari lingkaran itu dan
menggaet jari tangan Hoan Yauw, akan kemudian
tersenyum dan mengawasi orang sebawahan itu tanpa
mengeluarkan sepatah kata.
Sesudah hilang kagetnya, Hoan Yauw berkata dengan
suara girang. “Terima kasih atas petunjuk Kauwcoe. Aku
takluk. Empat pukulan itu sangat luar biasa dan membuka
pikiranku yang gelap. Aku merasa menyesal, bahwa aku
tidak bisa mengangkat Kauwcoe sebagai guru.”
“Pukulan itu adalah Lian hoat koat, pukulan yang terdiri
dari lingkaran-lingkaran Thay kek Koen hoat, gubahan
Thay soehoe,” kata Boe Kie. “Yang terpenting ialah
lingkaran-lingkaran yang dibuat dengan tangan kiri.
Biarpun she Song itu keluar Boe tong, kurasa ia belum bisa
menyelami pukulan ini.”
Hoan Yauw adalah orang yang sangat cerdas dan
berkepandaian tinggi. Begitu mendapat petunjuk, ia lantas
punya pegangan untuk merobohkan Song Ceng Soe. Tapi
sesudah menang dua kali beruntun, menurut peraturan
Song Ceng Soe harus beristirahat, maka itu ia tidak bisa
berbuat lain dari untuk kedua kalinya.
Sementara itu dengan paras muka berseri-seri Tio Beng
mengawasi Boe Kie.
“Beng moay, mengapa kau kelihatannya begitu
bergirang?” tanya Boe Kie.
“Kau mengajar Hoan Yoesoe beberapa jurus hanya
itulah untuk mematahkan lengan,” kata si nona. “Mengapa
kau tidak menyuruh dia untuk ambil saja jiwa manusia she
2590
Song itu?”
“Biarpun dia menyeleweng, Song Ceng Soe putera Toa
soepeh. Toa soepeh lah yang harus menghukum dia. Jika
aku memerintahkan Hoan Yoesoe mengambil jiwanya, aku
berlaku tak pantas terhadap Toa soepeh.”
“Tapi apabila dia mati, Cioe ciecie akan jadi janda dan
kau akan mendapat kesempatan untuk menikah dengannya.
Bukankah baik begitu?”
Boe Kie mencekal tangan Tio Beng erat-erat dan
bertanya sambil tertawa, “Apa kau suka mempermisikan
aku berbuat begitu?”
“Tentu! Sesudah menikah hatimu akan bercabang lagi
dan Cioe ciecie pasti akan melubangkan dadamu dengan
jari-jari tangannya.”
Selagi kedua orang muda itu bergurau, dengan
dilindungi oleh delapan murid wanita Go bie pay, Song
Ceng Soe sudah kembali ke gubuk Go bie pay untuk
beristirahat.
Kekejaman Song Ceng Soe dalam membinasakan kedua
tokoh Kay pang sudah mengejutkan semua orang. Seluruh
lapangan menjadi sunyi dan para hadirin menunggu
perkembangan selanjutnya dengan hati berdebar-debar.
Sesudah mengaso sebentar, Song Ceng Soe maju lagi ke
gelanggang. “Aku sudah beristirahat,” katanya sambil
merangkap kedua tangannya. “Siapa lagi yang mau
memberi pelajaran kepadaku?”
“Aku!” teriak Hoan Yauw. “Aku ingin berkenalan
dengan ilmu silat Go bie pay.”
Tapi baru saja ia mau melompat keluar, satu bayangan
manusia mendadak berkelebat dan tahu-tahu sudah berdiri
2591
di depan Song Ceng Soe. “Hoan sianseng, biarlah aku yang
maju lebih dulu,” katanya. Orang yang bicara dengan suara
menyeramkan itu adalah Boe tong Jie hiap Jie Lian Cioe.
Sedari kecil Ceng Soe takuti pamannya itu. Melihat
paras muka sang paman ia tahu, bahwa ia sekarang
menghadapi satu pertempuran mati hidup dan hatinya jadi
gentar.
Jie Lian Cioe menyoja dan berkata, “Song Siauwhiap,
mulailah!” Kata-kata itu membuktikan bahwa ia tidak
memandang rendah lawannya dan juga tidak lagi
menganggap Song Ceng Soe sebagai orang separtai. Song
Ceng Soe tidak menjawab, ia hanya membungkuk untuk
membalas hormat dan Jie Lian Cioe lantas saja menyerang.
Boe tong Jie hiap sudah mendapat nama besar selama
tiga puluh tahun lebih, tapi dalam Rimba Persilatan hanya
beberapa orang yang pernah menyaksikan kepandaiannya.
Orang-orang Kangouw mengenal ilmu silat Boe tong pay
sebagai ilmu yang dengan “kelembekan” melawan
“kekerasan” dan pukulan2nya yang perlahan mengandung
aneka perubahan beraneka warna. Di luar dugaan,
serangan2 yang dikirim Jie Lian Cioe cepat bagaikan kilat
dan dalam beberapa saat saja, pinggang dan lutut Song
Ceng Soe sudah kena terpukul.
Tak kepalang kagetnya Song Ceng Soe. “Thay soehoe
dan Thia thia ingin mengangkat aku menjadi Ciang boenjin
Boe tong pay turunan ketiga, sehingga tak mungkin mereka
merahasiakan apapun juga,” pikirnya. “Tapi serangan Jie
jiesiok, biarpun dia menggunakan ilmu silat Boe tong, tapi
sangat berbeda dari kebiasaan.” Dia mau menguba cara
berkelahinya dengan ilmu yang diturunkan Cioe Cie Jiak,
tapi Jie Lian Cioe tidak memberi kesempatan dan terus
mengirim serangan-serangan berantai.
2592
Para hadirin menyaksikan pertandingan itu sambil
menahan napas. Biarpun Jiehiap sudah berada di atas
angin, mereka merasa kuatir sebab tadi kedua pimpinan
Kay pang yang sudah dibinasakan juga lebih dahulu berada
di atas angin.
Makin lama serangan Jie Jiehiap jadi makin cepat, tapi
setiap pukulannya dapat dilihat dengan nyata sekali, seperti
juga setiap kata kata penyanyi kenamaan masih bisa
didengar tegas walaupun dia menyanyi dengan tempo yang
ama cepat. Di antara orang-orang gagah yang berduduk di
bagian belakang, banyak yang berdiri di kursi atau meja.
Semua orang kagum dan mengakui bahwa nama besar Boe
tong Jiehiap bukan nama kosong.
Untung juga Song Ceng Soe sudah mempelajari intisari
daripada ilmu silat Boe tong pay, sehingga sedikitnya untuk
sementara waktu ia masih dapat mempertahankan diri.
Begitu hebat pertempuran itu, sehingga debu mengepul ke
atas dan tubuh kedua jago itu seolah-olah dikurung dengan
awan yang berwarna kuning.
Tiba-tiba terdengar “plak!” suara beradunya tangan dan
kedua lawan melompat ke belakang dengan berbareng. Baru
kakinya menginjak bumi, tubuh Jie Lian Cioe sudah
melesat lagi ke depan dan mengirim pukulan dahsyat.
Karena kuatir akan keselamatan kakak seperguruannya,
In Lie Heng maju sampai ke perbatasan lapangan. Dengan
tangan memegang gagang pedang, ia terus memperhatikan
jalannya pertempuran tersebut. Sebagai murid Boe tong, ia
tahu bahwa setiap pukulan adalah pukulan yang
membinasakan dan ketegangan yang dirasakannya lebih
hebat daripada yang dirasakan orang lain. Untung juga Jie
Lian Cioe sekarang sudah banyak lebih unggul daripada
lawannya. In Lie Heng mengerti, bahwa apabila sang kakak
tidak berjaga-jaga terhadap totokan lima jari yang sangat
2593
lihay, siang-siang Song Ceng Soe sudah dapat dibinasakan.
Boe Kie pun tidak kurang kuatirnya. Diam-diam ia
mencekal dua “seng hwee leng”. Kalau Jie Lian Cioe
menghadapi bahaya, tanpa memperdulikan segala
peraturan, ia pasti akan membantu.
Sesudah lewat sekian jurus lagi, sekonyong-konyong
Song Ceng Soe mementang lima jari tangannya dan coba
mencengkeram pundak lawannya. Inilah pukulan yang
ditunggu-tunggu Jie Lian Cioe. Waktu Song Ceng Soe
membinasakan kedua tetua Kay pang, pukulan itu telah
diperhatikan sungguh-sungguh oleh Jiehiap. Manakala
belum ada contoh, andaikata tidak mati, Jie Lian Cioe
sedikitnya terluka hebat. Tapi sekarang ia sudah bersiap
sedia dan sudah menghitung-hitung cara bagaiman untuk
menghadapinya. Di lain pihak, sebab berlatih belum lama,
Song Ceng Soe belum berhasil menyelami inti sari daripada
pukulan itu dan gerak-gerakannya tidak banyak berbeda
dari gerak-gerakan dalam dua pukulan yang dikeluarkannya
waktu mengambil jiwa kedua pemimpin Kay pang.
Demikianlah begitu lima jari tangan Song Ceng Soe
menyambar, Jie Jiehiap mengegos ke samping dan tangan
kirinya membuat beberapa lingkaran di tengah udara.
“Ih!” Hoan Yauw mengeluarkan seruan tertahan. Itulah
gerakan Lian hoan koat! Ia tahu pemuda she Song itu
tengah menghadapi bencana.
Sekonyong-konyong Song Ceng Soe menyodok
tenggorokan Jie Lian Cioe dengan lima jari tangan
kanannya.
Boe Kie gusar bukan main. “Memang kurang ajar!”
cacinya dengan suara perlahan. Sodokan itu adalah
sodokan yang digunakan untuk mengambil jiwa Cie hoat
Tiangloo.
2594
Hampir berbareng, kedua tangan Jie Lian Cioe membuat
dua lingkaran dan mengeluarkan dua macam tenaga dari
ilmu Liok hap kin. Tak ampun lagi kedua lengan Song
Ceng Soe terkurung oleh lingkaran itu, dan “krek..krek..”
sambungan tulang lengannya patah. Begitu berhasil, Jie
Lian Cioe mengirim Song hong koan nie (dua angin
menerobos kuping) dengan memukul kedua kuping Song
Ceng Soe dengan kedua tinjunya. Tanpa mengeluarkan
suara, anak durhaka itu roboh.
Sebelum tubuh Song Ceng Soe roboh, Jie Lian Cioe
sudah mengangkat kaki untuk menendangnya dan
menghabiskan jiwanya. Tapi tiba-tiba satu bayangan hijau
berkelebat dan ujung cambuk menyambar mukanya,
secepat kilat Jie Jiehiap melompat ke belakang dengan
dikejar oleh beberapa sabetan. Orang yang menyerang
bukan lain daripada Ciang boenjin Go bie pay, Cioe Cie
Jiak.
Pukulan-pukulan cambuk itu luar biasa. Dalam tiga
pukulan saja, tubuh Jie Lian Cioe sudah terkurung.
Mendadak cambuk ditarik pulang dan Cie Jiak berkata
dengan suara dingin. “Kalau aku ambil jiwamu sekarang,
kau tentu penasaran. Ambil senjatamu!”
In Lie Heng menghunus pedangnya. Ia maju dan
berkata, “Biarlah aku yang melayani Kouwnio,” katanya.
Cie Jiak mendelik dan lalu menghampiri suaminya.
Kepala Song Ceng Soe pecah, matanya melotot, darah
keluar dari lubang-lubang anggota badannya dan sepuluhsembilan
ia tak dapat hidup lagi. Tiga murid lelaki sudah
masuk ke lapangan dan menggotongnya.
Cie Jiak memutar tubuh. Ia menuding Jie Lian Cioe dan
membentak, “Sesudah binasakan kau, aku baru ambil jiwa
manusia she In itu!”
2595
Serangan Cioe Cie Jiak sangat mengejutkan Jie Lian
Cioe. Dengan rasa cintanya yang sangat besar terhadap si
adik, ia berpikir. “Biarlah aku yang maju lebih dahulu.
Andaikata aku mati, Lak tee sedikitnya bisa memperhatikan
ilmu silatnya dan mungkin sekali ia akan bisa meloloskan
diri dari kebinasaan.” Ia segera mendekati In Lie Heng
untuk mengambil pedangnya.
Tapi rasa cinta In Lie Heng pun tak kalah dari kakaknya.
Merasa bahwa meskipun mengerubuti, mereka belum
tentu bisa menjatuhkan Cioe Cie Jiak. Seperti soehengnya,
ia rela berkorban supaya sang kakak bisa memperhatikan
ilmu silat cambuk itu dan dengan demikian, masih ada
kemungkinan bahwa Jie Lian Cioe bisa menolong diri.
Memikir begitu, ia tidak menyerahkan pedangnya dan
berkata, "Soeko, biarlah aku yang maju lebih dahulu."
Jie Jie hiap mengawasi sang adik. Selama puluhan tahun
mereka belajar bersama-sama mereka seperti hubungan
tangan dan kaki. Tiba-tiba saja darah Jie Lian Cioe
bergolak-golak dan rasa terharu datang seperti gelombang.
Ia ingat bahwa Jie Thay Giam bercacat. Thio Coei san
bunuh diri, Bo Seng koh dibinasakan orang sehingga Boe
tong Cithiap hanya ketinggalan empat orang saja. Dan hari
ini dua diantaranya, untuk beberapa saat, ia mengawasi
muka si adik.
"Kalau aku mati lebih dahulu, Laktee pasti tak akan bisa
membalas sakit hatiku,” pikirnya. "Tapi ia pasti tak akan
lari dan kami berdua akan mengorbankan jiwa bersama
sama, tanpa mampu membalas. Kalau dia mati lebih
dahulu mungkin sekali dengan memperhatikan silat wanita
itu, aku masih bisa binasa dengan mengambil juga jiwanya
musuh. "Memikir begitu ia segera mengangguk dan berkata.
"Lak-tee pertahankan dirimu sedapat mungkin.”
2596
Mengingat isterinya Yo Pit Hwie sedang hamil, tanpa
merasa In-Liok hiap mengawasi Yo-Siauw dan Boe Kie.
Tapi ia merasa jengah sendiri. Ia tahu. andaikata ia mati,
isteri dan anaknya pasti tak akan terlantar. Perlu apa ia
bersikap seperti seorang perempuan yang berhati lemah.
Dilain saat ia sudah mengangkat pedang dan dengan
kedua mata mengawasi ujung pedang, ia memusatkan
semangat dan pikiran. "Ciangboen jin, silahkan!" ia
mengundang. Ia berusia banyak dan lebih tua daripada Cie
Jiak, tapi karena nyonya itu seorang Ciang boen jin, maka
ia menjalankan tata kehormatan itu.
Melihat si adik seperguruan memasang kuda-kuda Thay
kek kiam, sambil menghela napas Jie-Jiehiap mundur.
"Kau mulailah," kata Cie Jiak.
Mengingat gerakan nyonya itu cepat bagaikan kilat,
sehingga kalau dia menyerang lebih dahulu dia mendapat
banyak lagi keuntungan, maka dari itu tanpa sungkansungkan
lagi In Lie Heng lalu menggeser kaki kirinya dan
menikam dengan pukulan Sam hoau To goat ( Tiga
lingkaran memeluk rembulan).
Waktu menikam ujung pedang menggetar dan
mengeluarkan suara, suatu tanda, bahwa tikaman itu
disertai dengan Lweekang yang sangat tinggi, sehingga para
hadirin menyambutnya dengan tepukan tangan. Cie Jiak
berkelit dan In Lie Heng mengirim lagi serangan berantai
Bintang Tay hwie chee dan Yan coe Tiauw soen (Anak
walet terbang diatas air). Dengan egosan yang indah Cie
Jiak memunahkan kedua serangan itu. “In Liok hiap, aku
mengalah dalam tiga jurus untuk membalas budi
kecintaanmu waktu aku berada di Boe tong pai,” katanya.
Hampir berbareng, ujung cambuk menyambar dada In Lie
Heng. Pendekar Boe tong itu melompat ke samping dan
2597
membabat dengan pedang dalam pukulan Hong Ho yap (
Angin menyapu daun teratai ). "Tak!" cambuk dan pedang
kebenterok dan In Lie Heng merasa telapak tangannya
seperti terbeset, sehingga pedangnya hampir-hampir
terlepas. Ia kaget.
Ia tak menyana bahwa Cie Jiak memiliki Lweekang yang
begitu kuat. Buru-buru ia mengempos semangat dan
menyerang pula dengan memusatkan seantero pikirannya.
Cambuk Cie Jiek seolah-olah selembar benang sutera,
sedang tubuhnya berkelebat-kelebat dan terputar-putar tak
henti-hentinya. Gerakan-gerakan itu baik cambuk maupun
manusianya seperti juga bukan gerakan manusia biasa.
Tiba-tiba HoanYauw berbisik. "Dia setan! Dia bukan
manusia!"
Mendengar perkataan itu Boe Kie menggigil. Kalau
waktu itu ia bukan berada ditengah tengah ribuan orang.ia
mungkin akan merasa bahwa yang dilihatnya adalah roh
Cioe Cie Jiak. Ia mengenal dan pernah melihat macammacam
ilmu silat, tapi belum pernah menyaksikan ilmu
yang seaneh itu. “Apa dia memiliki ilmu siluman?" tanya
didalam hati.
Tapi biarpun Cioe Cie Jiak lihay, Thay kek Kiam hoat
yang digubah oleh Thio Sam Hong dapat dikatakan suatu
ilmu pedang tertinggi di dalam dunia. Maka itu, meskipun
tak bisa melukai lawan, sedikitnya untuk sementara waktu
In Lie Heng masih dapat mempertahankan diri. Hanya
banyak orang sudah lihat, bahwa pendekar Boe tong itu
akan kalah, apa ia kalah dengan masih hidup atau kalah
membuang jiwa adalah suatu yang masih belum bisa
diramalkan.
Tiba tiba terdengar teriakan nyaring. "Celaka! Song Ceng
soe hampir putus jiwa. Cioe Toa ciangboen ! Kalau kau tak
2598
menemani lakimu waktu putus jiwa kau bakal jadi janda
yang kurang terhormat."
Semua orang menengok kearah suara itu, Yang teriak
bukan lain dari pada Cioe Tian. Ia tahu bahwa berkat
latihannya seorang jago Boe tong-pay sangat pandai dalam
mempertahankan pemusatan pikirannya, hingga andaikan
gunung Tay san roboh, paras mukanya bisa tak berubah.
Melihat In Lie Heng jatuh dibawah angin ia coba
membantu pendekar Boe tong itu dengan mengacaukan
pemusatan pikiran Cioe Cie Jiak Tapi nyonya muda itu
tenang2 saja dan terus bertempur tanpa memperdulikan
teriakan itu.
"Hai! Cioe Kauwnio dari Go bie pay !" teriak pula Cioe
tian. "Lakimu sudah hampir putus jiwa. Dia mau memberi
pesanan kepadamu. Dia kata, dia punya tiga kali tujuh dua
puluh satu anak diluaran. Sesudah dia mati, dia minta
kurawat anak2 itu supaya dia bisa mati dengan mata
meram. Cioe Kauwnio! Apa kausuka meluluskan
permintaan lakimu itu?"
Mendcagar ocehan itu, banyak orang tertawa terpingkalpingkal
tapi Cioe Jiak tetap tak menghiraukan.
"Aha!” Cioe Tian teriak pula. "Biat coat Soet hay! Sudah
lama kita tak pernah bertemu. Apa kau baik?"
Mendadak tanpa memutar tubuh Cie Jiak melompat
kebelakang beberapa tombak jauhnya dan dengan berbareng
menyabetkan cambuknya yang bagaikan seekor naga
menyambar kemuka Cioe Tian. Si semberono yang sama
sekali tak duga bakal diserang secara begitu, kaget tak
kepalang dan dalam kagetnya ia berdiri terpaksa sebab
ujung cambuk tahu-tahu sudah hampir menyentuh
mukanya.
2599
Untung juga, Yo Siauw yang berdiri didekat Cioe Tian
dan yang selalu berwaspada, keburu mengangkat sebuah
meja dan melontarkannya, "Plak! plak!" meja itu terbelah
karena terpukul cambuk.
Sesudah itu Cie Jiak lantas saja molompat balik dan
menyerang In Lie heng lagi.
Sesudah memperhatikan beberapa lama, Jie lian Cioe
masih juga belum bisa menangkap intisari daripada silat
cambuk itu, "Andai kata aku yang maju, aku tak akan bisa
mengeluarkan Tay kek Kiam hoat yang lebih baik dari
Laktee.” pikirnya. "Dalam pertandingan jangka panjang
perempuan itu mungkin akan kecapaian dan Lak
tee mungkin akan memperoleh kemenangan." Melihat
kelihayan Thay kek Kiam hoat, ia merasa bangga dan ia
percaya, bahwa adiknya tak akan kalah.
Perubahan-perubahan paras muka Jie Lian Coe yang
sebentar jengkel, sebentar girang tidak terlepas dari mata
Cioe Cie Jiak, "Jie jiesiok kau jangan bergirang dulu!"
katanya dengan mendadak. Aku sengaja mengalah dalam
dua ratus dan sesudah duaratus jurus, barulah kuambil
jiwanya supaya nama besarnya tak hancur lebur. Sebentar
jika kau yang maju, dalam tiga puluh jurus aku akan ambil
jiwamu!" Tiba-tiba cambuk bergemetar dan membuat
lingkaran-lingkaran besar dan kecil yang lantas saja
mengurung In Lie Heng. Sebagaimana diketahui, gerakan
Tay kek koen dan Tay kek Kiam hoat juga berdasarkan
lingkaran-lingkaran. Perbedaannya ialah, lingkaran yang
dibuat Cioe Cie jiak puluhan kali lebih cepat daripada
lingkaran In Lie Heng. sebab tenaga pedang kena ditarik,
tanpa merasa tubuh In Lie Heng berputar beberapa kali dan
.... pedang itu mendadak terlepas dari tangannya.
Bagaikan ular ujung cambuk menyambar batok kepala In
2600
Lie Heng, Jie Lian Cioe mencelos hatinya. Tanpa
menghiraukan jiwa sendiri, ia melompat dan coba
menangkap senjata musuh. Cie jiak menendang dan
tendangan itu mampir tepat dipinggang Jie Jiehiap.
Pada detik yang sangat berbahaya, satu bayangan
manusia berkelebat dan menangkis sabetan cambuk. Orang
yang menolong adalah Boe Kie. Dengan Kian koen Tay
loie. ia memindahkan tenaga cambuk. Tapi perubahan Cie
Jiak aneh dan cepat. Mendadak ia melepaskan cambuknya
dan dengan dua telapak tangan ia memukul dada Boe Kie.
Kalau Boe Kie memindahkan tenaga pukulan itu dengan
Kian koen Tay lo ie, maka tenaga itu akan jatuh di muka In
Lie Heng, sebab tangan kanannya masih dilibat ujung
cambuk, maka ia segera mengangkat tangan kirinya dan
menyambut dengan keras juga.
Diluar dugaan begitu lekas tiga telapak tangan
kebentrok, Boe Kie mendapat kenyataan bahwa kedua
telapak tangan Cie Jiak tidak berisikan Lweekang.
"Celaka!" ia mengeluh. "Sesudah melawan In liok siok
duaratus jurus lebih Lweekangnya habis, jika aku
meneruskan pukulan ini jiwanya mesti melayang". Sebab
tahu, kelihayan Cie jiak, maka waktu menyambut pukulan
itu, ia telah menggunakan seantero tenaga Lweekangnya.
Untuk menolong jiwa Cie Jiak ia harus secara menarik
pulang tenaga itu. Hal ini bertentangan dengan peraturan
ilmu silat. Jika seorang menarik pulang Lweekang yang ba
ru saja dikeluarkan, maka itu berarti bahwa tenaga dalam
tersebut akan menghantam dirinya sendiri.
Tapi Lweekang Boe Kie sudah mencapai tingkat
tertinggi, sehingga tenaga yang memukul balik itu paling
banyak akan membuat dadanya sesat. Tapi alangkah
kagetnya, baru saja ia menarik pulang tenaga itu, tiba-tiba ia
merasakan serangan tenaga Cie Jiak yang menghantam
2601
bagaikan "gelombang dahsyat." Dak!” kedua telapak tangan
Cie Jiak mampir tepat di dadanya. Dengam demikian ia
seperti juga menerima pukulan berbareng dari dua musuh.
Biarpun kuat, Kioe yang Sin kang tidak cukup kuat untuk
melindungi tubuhnya dari serangan itu. Apa pula pukulan
Cie Jiak tiba pada detik yang "kosong,” yaitu pada detik
tenaganya baru saja digunakan dan tenaga baru belum
keburu dikerahkan. Tak ampun lagi Boe Kie terjengkang,
matanya gelap dan ia muntah darah. Cie Jiak tahu, bahwa
dalam pertandingan biasa ia bukan tandingan Boe Kie.
Maka itu begitu berhasil dengan bokongannya ia segera
mementang jari-jari tangan kirinya dan coba mencengkeram
dada Boe Kie.
Untung sungguh meskipun terluka berat, pikirannya
anak ini tidak menjadi kalut. Melihat sambaran tangan,
mati-matian ia menggeser tubuhnya. "Bret!" bajunya
dibagian dada robek semakin membesar. Cie jiak lantas saja
mementang jari-jari tangan kanannya dan bergerak untuk
menancapkannya didada itu.
Pada saat itu, Boe Kie sudah tidak bisa ditolong atau
menolong diri. Jie Lian Cioe tertendang hiatnya dibagian
lutut dan tidak bisa bergerak, sedang ln Lie Heng tidak
keburu menolong lagi.
Tangan Cie Jiak terangkat - . - tapi tangan itu mendadak
berhenti ditengah udara. Mengapa? Sebab matanya melihat
bekas luka didada itu dan dalam otaknya lantas berkelebat
peristiwa diatas Kong beng teng, waktu ia melukai Boe Kie
dengan Ie thian kiam. Mengingat itu, rasa kemanusiaannya
mendadak muncul dan gerakan tangannya terhenti.
Dilain detik In Lie Heng, Wie It Siauw, Yo Siauw dan
Hoan Yauw menubruk dengan berbareng. Wie It Siauw
menghadang didepan pemimpinnya, Yo Siauw dan Hoan
Yauw menyerang Cie Jiak dari kiri dan kanan, sedang In
2602
Lie Heng lalu mendukung Boe Kie dan membawanya ke
luar lapangan.
Keadaan jadi kalut. Murid murid Go bie dan pendeta2
Siauw lim berteriak-teriak dan menyerbu dengan senjata
terhunus. Melihat Boe Kie sudah disingkirkan, Yo Siauw
dan Hoan Yauw lantas mengundurkan diri. Wie It Siauw
lalu mendukung Jie Lian Cioe dan kembali ke gubuk Beng
kauw.
Muka dan pakaian Boe Kie berlumuran darah. Orang
yang paling kaget adalah Tio Beng, sehingga mukanya
berubah pucat pasi. Boe Kie tersenyum dan berkata dengan
suara perlahan, "Tak apa-apa," ia segera bersila dilantai dan
perlahan-lahan mengerahkan Kioe yang Cin khie untuk
mengobati lukanya.
"Siapa lagi yang mau memberi pelajaran kepadaku?"
teriak Cie Jiak.
Hoan Yauw segera mengencangkan ikatan pinggangnya
dan bertindak keluar gubuk. "Hoan Yoe soe!" seru Boe Kie.
"Aku memerintahmu - . - kau tidak boleh bertanding. Kita -
- - kita menyerah kalah,” Sehabis berkata begitu ia muntah
darah lagi.
Hoan Yauw tidak berani membantah. Jika ia keluar juga,
luka sang Kauwcoe pasti akan bertambah berat. Apapula
satu pertandingan melawan Cie Jiak hanya berarti
kebinasaannya.
Beberapa kali Cie Jiak menantang tanpa mendapat
jawaban. Bahwa Boe Kie terluka sebab menarik pulang
tenaganya sendiri, tidak diketahui oleh orang lain. Para
hadirin hanya menganggap bahwa nyonya itu lebih tinggi
ilmunya dan bahwa dia sudah mengampuni jiwa Boe Kie.
Apa yang diketahui orang hanyalah, bahwa Cie Jiak sudah
merobohkan tiga tokoh kelas utama dalam Rimba
2603
persilatan, sehingga oleh karenanya orang2 yang semula
masih ingin mengukur tenaga sudah mengurungkan
niatnya.
Sesudah Cie Jiak menunggu beberapa lama lagi si
pendeta tua dari Tat mo tong maju ke depan dan berkata
seraya merangkap kedua tangannya. "Song Hoejin, Ciang
boen jin Go bie pay memiliki ilmu silat nomor satu
dikolong langit. Siapa yang tidak mufakat?" Ia mengajukan
pertanyaan itu tiga kali beruntun, tanpa mendapat
tantangan. "Kalau begitu,” kata si pendeta akhirnya.
"Sesuai dengan persetujuan yang sudah dicapai, Kim mo
Say ong Cia Soen diserahkan kepada pertimbangan Song
Hujin. Selain itu, siapapun juga yang sekarang memegang
To liong to harus menyerahkan kepada Song Hujin. Hal ini
sudah disetujui oleh segenap orang gagah dan tidak dapat
dibantah lagi."
Ketika sipendeta bicara, Boe Kie sedang mengerahkan
Kioe yang Cin kie dan seantero semangat pikirannya berada
dalam suatu "kekosongan." Mendadak kupingnya
menangkap kata-kata Kim mo Say ong Cia Soen diserahkan
kepada pertimbangan Song Hoejin. Ia terkejut hampir ia
muntah darah lagi. Tio Beng yang terus berwaspada lihat
perubahan pada paras muka pemuda itu dan ia mengerti
sebab musababnya. "Kita boleh merasa girang apa bila
Giehoe diserahkan kepada pertimbangan Cioe Cie
cie. Ia tak tega membinasakan kau dan ini membuktikan
bahwa ia masih mencintai kau. Ia masih mengharap
pemulihan hubungan dengan kau dan ia pasti tidak akan
mencelakai Giehoe. Legakanlah hatimu," Boe Kie
menyetujui pendapat itu dan ketenangannya pulih.
Sementara itu matahari sudah menyelam kebarat dan
seluruh lapangan mulai diliputi dengan kegelapan malam.
2604
"Kim mo say ong Cia soen dipenjarakan di belakang
gunung," kata pula sipendeta Tatmo tong. "Lantaran
sekarang sudah malam dan kalian sudah lapar, maka besok
tengah hari saja kita berkumpul lagi disini dan loolap akan
mengantar Song Hojein kepenjara untuk melepaskan Cia
Soen. Besok kita akan menyaksikan ilmu silat Song Hoejin
yang tiada tandingannya dikolong langit.
Boe Kie,Yo Siauw dan Hoan Yauw mengawasi Tio
Beng. Didalam hati, mereka memuji tebakan si nona yang
sangat jitu. Serombongan pendeta Siauw lim itu ternyata
sudah menetapkan tipu untuk mencelakai jago-jago nomer
satu.
Biarpun berkepandaian tinggi, Cie Jiak tentu tak bisa
melawan Touw ok bertiga. Mungkin sekali nyonya muda
itu akan membuang jiwa dalam pertempuran.
Sementara itu Cie Jiak kembali ke gubuk Go bie pay dan
menengok suaminya.
Sesudah berdiam sejenak, sipendeta berkata lagi. "Para
enghiong, dengarlah! Kalian datang berkunjung dikuil kami
dan kalian adalah tamu kami yang terhormat. Jika diantara
kalian terdapat ganjelan, maka kami harap dengan
memandang muka kami yang tipis, janganlah kalian coba
membereskan ganjelan itu ditempat ini, Sesudah makan
malam, kalian boleh berjalan-jalan disegala tempat, kecuali
ditempat untuk menyimpan kitab-kitab yang terletak
dibelakang kuil kami.
Sesudah itu semuta orang bubar dari lapangan dan
kembali ketempat peristirahatan. Boe Kie didukung Hoan
Youw dan rombongm Beng kauw pulang kepesanggrahan
mereka. Boe Kie terluka berat, tetapi sesudah menelan
sembilan butir pil buatannya sendiri dan sesudah
mengerahkan hawa Kioe yang, kira-kira tengah malam,
2605
sehabis memuntahkan darah hitam, lukanya sudah sembuh
seluruhnya. Yo Siauw, Hoan Yauw, Jie Lian Cioe, In Lie
Heng dan lain-lain semuanya kaget tercampur girang.
Mereka memuji Lweekang Boe Kie yang sangat luar biasa.
Kalau orang lain yang terluka begitu berat dia sedikitnya
harus beristirahat satu dua bulan, biarpun diobati oleh tabib
yang paling pandai-
Sehabis makan dua mangkok nasi dan mengaso lagi, Boe
Kie berbangkit dan berkata, “Aku mau keluar sebentar." Ia
seorang Kauwcoe dan meskipun ia tidak memberitahukan
maksudnya, tak seorangpun berani menanya.
“Kau baru sembuh, harus berhati hati," kata In Lie
Heng.
Boe Kie mengaagguk. Melihat paras muka Tio beng
yang mengunjuk kekuatiran besar ia tersenyum, seperti juga
ia mau mengatakan, "Jangan kuatir!"
Ia keluar dari pesanggrahan dan menengadah. Rembulan
memancarkan sinarnya yang gilang gemilang dan langit
terang dengan bintang-bintang. Diluar kuil ia bertemu
dengan seorang tie kekeong. “Aku ingin bertemu dengan
Ciang soe jia Go bi pay,” katanya. Kumohon Taysoe suka
mengantar."
Melihat orang yang bicara adalah Kauwcoe dari Beng
kauw, pendeta itu membungkuk dan mengiakan. Ia lalu
berjalan kearah barat dan sesudah melalui kira-kira satu li,
ia menuding serentengan gubuk seraya berkata, "Itulah
tempat Go bie pay. Lelaki dan perempuan tidak boleh
bertemu sembarangan, Siauw Ceng hanya bisa mengantar
sampai disini." Sebenarnya apa yang dtakuti olehnya adalah
pertempuran aotara Boe Kie dan Cie Jiak. Kalau terjadi
begitu, ia bisa terbawa-bawa.
“Jika kau memberitahukan hal ini kepada orang lain,
2606
banyak orang bakal jadi kaget,” kata Boe Kie sambil
tersenyum. Bagaimana kalau aku totok jalan darahmu
supaya kau menunggu aku disini."
“Siauwceng akan menutup mulut," kata si pendeta
tergesa-gesa. "Kauwcoe tak usah kuatir." Ia memutar tubuh
dan lalu berjalan cepat-cepat.
Boe Kie mendekati gubuk-gubuk itu. Mendadak dua
bayangan berkelebat dan dua pendeta wanita mencekal
pedang terhunus, menghadang didcpannya. "Siapa?" bentak
salah seorang.
"Beng Kauw Thio Boe Kie." jawabnya. "Aku minta
bertemu dengan Song Hoejin."
Kedua nikouw itu terkesiap. "Thio... Thio Kauwcoe
tunggu ... aku akan melaporkan," kata yang satu dengan
suara gemetar. Ia memutar tubuh dan sesudah berjalan
beberapa tindak, ia meniup suitan bambu.
Hari ini adalah hari kegemilangan Go bie pay, dihidapan
ribuan enghiong, ciang bun jin Go bie pay telah
megalahkan tiga tokoh terutama pada jaman ini. Sejmenjak
Go bie pay didirikan, inilah suatu kejadian yang pertama
kali. Tapi, sesudah membunuh dua pemimpin Kay pang,
menjatuhkan dua pendekar Boe tong dan melukai Kauwcoe
dari Beng kauw, Go bie pay mendapat banyak musuh. Lagi
pula sesudah merebut gelar jago silat aomor satu di kolong
langit, Cie Jiak dibuat iri hati oleh entah berapa banyak
orang.
Maka itulah, malam ini Go bie pay membuat penjagaan
yang sangat keras. Hampir berbareng dengan tanda pendeta
wanita itu dari empat penjuru muncul empat puluh orang
lebih yang mencekal pedang terhunus. Boe Kie tenangtenang
saja. Dengan menaruh kedua tangannya di
belakang, ia berdiri tegak.
2607
Pendeta wanita yang meniup suitan segera masuk
kedalam untuk memberi laporan. Beberapa saat kemudian,
ia keluar lagi dan berkata. “Ciang boen jin kami
mengatakan, bahwa karena lelaki dan perumpuan tidak
boleh bertemu dengan begitu saja ditengah malam buta,
maka Ciang boen jin kami mempersilahkani Thio Kauwcoe
balik kembali."
"Aku mengerti ilmu ketabiban dan aku coba mengobati
Song Ceng Soe Siauw hiap" kata Boe Kie. "Aku tidak
mengandung lain maksud.”
Pendeta itu kelihatannya kaget. Ia masuk lagi. Sesudah
agak lama, baru dia keluar lagi. "Ciang boen jin undang
Thio Kauwcoe masuk." katanya.
Sesudah menepuk-nepuk pinggangnya untuk
memperlihatkan, bahwa ia tidak membawa senjata, Boe Kie
segera mengikut pendeta wanita itu masuk kedalam.
Setibanya diruangan tengah, ia lihat Cie Jiak sedang duduk
termenung sambil menopang dagu. Mendengar tindakan
kaki, nyonya itu tidak menengok atau berkisar. Sehabis
menuang teh dan menaruh cangkir di depan Boe Kie,
pendeta wanita itu lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Dibawah sinar lilin, untuk beberapa saat Boe Kie
mengawasi bekas tunangannya yang mengenakan baju
warna hijau. Diantara kesunyian suasana diliputi dengan
peringatan-peringatan masa yang lampau, dan sewaktu Boe
Kie merasa sangat berduka. “Bagaimana dengan luka Song
Soeko?” tanyanya. "Boleh aku menengoknya?"
Cie Jiak tetap tidak menengok. “Tulang kepalanya
hancur," jawabnya dengan suara dingin. "Lukanya sangat
berat. Rasanya tak bisa hidup lagi. Entahlah apa dia bisa
melewati malam ini."
"Kau tahu bahwa ilmu ketabibanku tidak terlalu jelek.
2608
Aku bersedia untuk menolongnya sedapat mungkin.”
"Mengapa kau mau menolong dia?"
Boe Kie terkejut. Beberapa saat kemudian barulah ia
menjawab. “Aku bersalah terhadap mu dan aku merasa
sangat malu. Apalagi hari ini kau sudah menaruh belas
kasihan dan mengampuni jiwaku. Adalah sepantasnya saja
jika aku pun berusaha untuk menolong Song Soeko."
“Kaulah yang lebih dahulu mengampuni jiwaku. Apa
kau kira aku tak tahu? Jika kau berhasil menolong Song
Toako balasan budi apa yang di pinta olehmu?"
"Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Aku datang untuk
minta kau menolong Gie hoe.”
Cie Jiak menuding kedalam. "Ia berada disitu," katanya.
Ketika Boe Kie menolak kamar, kamar itu gelap gulita.
Ia segara mengambil ciak tay, tempat menancap lilin. Cie
Jiak tetap tak bergerak.
Boe Kie membuka kelambu. Ia lihat Song Ceng Soe
berada dalam keadaan pingsan, napasnya lemah, kedua
matanya melotot dan paras mukanya menakutkan. Ia lalu
memeriksa nadi. Ketukan nadinya kalut, sebentar cepat
sebentar perlahan kulit tubuhnya dingin dan memang juga,
kalau tidak keburu ditolong, dia sukar melewati malam itu.
Perlahan-lahan ia meraba-raba batok kepala Ceng Soe. Ia
mendapat kenyataan bahwa pada bagian depan dan bagian
belakang kepala ada empat potong tulang yang hancur.
Pukulan song hong Koan nyie yang dikirim Jie Lian Cioe
yang disertai dengan sepuluh bagian tenaga dalam dan
kalau Song Ceng Soe sendiri tidak memiliki Lweekang yang
kuat, ia siang2 sudah binasa.
Boe Kie lalu menutup kelambu, menaruh ciak tay dimeja
dan duduk dikursi bambu sambil mengasah otak untuk
2609
mencari jalan guna mengobatinya. Sebagai murid tiap kok
ie sian, kepandaiannya dalam ilmu ketabiban sudah jarang
ada tandingannya. Tapi luka Ceng Soe terlampau berat,
sehingga ia sama sekah tak punya pegangan.
Sesudah duduk disitu kira2 semakanan nasi, ia berjalan
keluar dan berkata: "Song Hoe-jin, aku tak bisa mengatakan
apa aku akan berhasil dalam usaha mengobati Song-soeko.
Apakah kau suka mempermisikan untuk aku mencobacoba."
"Kalau kau tak bisa menolong, didalam dunia tak ada
orang lain yang akan bisa menolong."
"Andaikata aku berhasil, muka dan ilmu silatnya
mungkin tak bisa pulih seperti kala.
"Kau bukan dewa. Kutahu kau akan berusaha sedapat
mungkin untuk menolong jiwanya
supaya kau bisa menjadi koenma dengan tidak usah
malu sendiri." ( Koen-ma - suami seorang puteri raja muda
).
Jantung Boe Kie memukul keras. Ia sama sekali tak
mempunyai maksud begitu, tapi merasa tak enak untuk
bertempur dengan tunangannya itu. Ia lalu kembali
kekamar Ceng-soe, mem buka selimut dan menotok
delapan "hiat" pada tubuh pemuda itu. Kemudian, dengan
tangan yang hampir tulang-tulangnya patah atau hancur
dan akhirnya melabur tulang-tulang itu dengan semacam
koyo hitam yang dikoreknya dari sebuah kotak emas. Koyo
itu bukan lain dari pada Hek giok Toan siok ko-Koyo untuk
mengobati tulang patah dari Siauw lim boen di See-hek.
Sebagaimana diketahui, Koyo itu diberikan oleh Tio Beng
untuk mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng dan
masih ada lebihnya: Sesudah itu, ia dengan secepat
mungkin segera mengerahkan Kioe yang Cin khie dan
2610
mengirim hawa yang hangat kedalam otak Song Ceng Soe.
Sesudah tulang2nya disambung dan kepalanya dilabur
obat, paras muka Song Ceng soe
tak berubah jadi lebih jelek, Boe Kie girang di dalam
hatinya timbul harapan besar. Sebab ia sendiri baru saja
terluka, maka sehabis mengerahkan Lweekang, napasnya
lantas saja ter-sengal2. Untuk beberapa lama ia berdiri
didepan ranjang dan menenteramkan jalan pernapasannya.
Sesudah itu ia meninggalkan Song Ceng soe dan
menaruh ciak tay diatas meja. Dari sinar lilin ia melihat
muka Cie Jiak yang pucat pasi. Diluar lapat2 terdengar
suara tindakan kaki. Ia tahu, bahwa itulah suara tindakan
murid2 Go-bie pay yang jaga malam.
“Song soeko mungkin sekali bisa ditolong,” kata Boe
Kie. "Legakanlah hatimu.”
"Kau tak punya pegangan pasti dalam menolong dia,
akupun tak pumya pegangan pasti dalam menolong Cia
Tayhiap," kata Cie Jiak.
Boe Kie tahu bahwa yang dikatakan Cie Jiak memang
sebenarnya. Biarpun dibantu oleh dua jago Go bie pay Cie
Jiak belum tentu berhasil. Bahkan mungkin dia membuang
jiwa. "Apa kau tahu dimana Giehoe dipenjarakan dan
bagaimana penjagaannya ?" tanyanya.
"Tidak" jawabnya. "Penjagaan apa yang diatur Siauw lim
pay?"
Boe Kie segera menceritakan apa yang ia tahu dan segala
pengalamannya dalam pertempuran melawan tiga pendeta
Siauw lim.
"Kalau kau tidak berhasil akupun lebih tak kan berhasil,"
kata Cie Jiak sesudah Boe Kie selesai menutur.
2611
"Cie Jiak," kata Boe Kie dengan bernafsu, "apabila kita
berdua bekerja sama kita pasti berhasil. Dengan tenaga
Soen yang (keras) aku melibat cambuk ketiga pendeta itu
sedang kau sendiri bisa menerjang dengan tenaga Im-Jioe
(lembek). Begitu kau menerobos masuk ke dalam Kim kong
Hok mo coan, kita menyerang dari dalam dan dari luar dan
kita pasti akan berhasil."
Cie Jiak tertawa dingin. “Dahulu, kita pernah memadu
janji untuk menjadi suami isteri," katanya, "Kini jiwa
suamiku berada dalam bahaya- Hari ini aku mengampuni
jiwamu. Orang luar tentu akan bilang bahwa aku berbuat
begitu sebab aku sukar melupakan kecintaan. Tapi apabila
kau meminta bantuan dalam memukul Kim kong Hok mo
can, orang-orang gagah dikolong langit tentu akan mencaci
aku sebagai perempuan yang tak tahu malu.”
"Perduli apa omongan orang luar?” kata Boe Kie. “Kita
hanya perlu menanya hati sendiri, apakah kita ada yang
berbuat sesuatu yang memalukan atau tidak."
“Bagaimana kalau aku menanya dalam hati sendiri, aku
merasa, bahwa aku telah berbuat sesuatu yang
memalukan?" kata Cie Jiak.
Boe Kie tertegun. "Kau... kau..." katanya.
"Thio Kauwcoe," memutus Cie Jiak. "Bahwa kita berdua
berada bersama-sama ditengah malam buta, sudah sangat
tak pantas. Thio Kauwcoe kau pergilah !"
Boe Kie menyoja sambil membungkuk, "Song Hoejin,
sedari kecil kau berlaku sangat baik kepadaku," katanya.
"Kumohon kali ini kau suka berbuat baik lagi kepadaku.
Selama Thio Boe Kie masih hidup, dia takkan melupakan
budimu yang sangat besar."
Cie Jiak membungkam. Ia tidak menjawab "ya" atau
2612
"tidak". Iapun tidak pernah menengok, sehingga Boe Kie
tidak bisa lihat paras mukanya. Baru saja Boe Kie mau
memohon lagi, nyonya muda itu tiba-tiba berteriak, "Ceng
hoei Soe cie, antarkanlah tamu kita."
Pintu terbuka dan Ceng hoei Soethay berdiri diambang
pintu dengan mencekal pedang terhunus. Dengan mata
berapi pendeta wanita itu mengawasi Boe Kie.
Mendadak Boe Kie menekuk kedua lututnya dan
berlutut. Ia menyampingkan segala perasaan malu sebab
mati hidupnya sang ayah angkat tergantung atas kemauan
Cie Jiak untuk memberi pertolongan. Sesudah
memanggutkan kepala empat kali ia berkata, “Song-hoejin,
memohon belas kasihanmu.”
Cie Jiak tetap duduk bagaikan patung.
"Thio Boe Kie, Ciang boenjin menyuruh kau pergi!"
bentak Ceng hoei. Kalau kau masih rewel, kau benar-benar
manusia rendah yang tak mengenal malu!" Ia mencaci
begitu karena menduga Boe Kie minta menikah dengan Cie
Jiak sesudah Song Ceng Soe mati.
Boe Kie menghela napas. Ia bangkit dan terus berjalan
keluar.
Setibanya digubuk Beng kauw, Tio beng menyambutnya
dengan berkata. "Song Ceng soe dapat ditolong bukan? Kau
jadi orang mulia dengan menggunakan Hek hiok Toan siok
koku."
"Beng moay, kau sungguh pintar! Tapi aku tidak bisa
katakan, apa dia bisa ditolong atau tidak.”
"Hmm... Kau coba menolong Song ceng soe untuk
ditukar dengan Cia Tay hiap. Boe Kie ko ko makin lama
otakmu makin tidak beres!"
2613
"Mengapa begitu? Aku tak mengerti maksud mu.”
"Dengan seantero kepandaianmu, kau berusaha untuk
menolong Song ceng soe. Itu berarti bahwa kau sedikitpun
tak ingat lagi kecintaan Cioe Ciecie. Coba pikir, bagaimana
dia tidak jadi mendongkol?"
Boe Kie terkejut. Tak dapat ia menjawab perkataan si
nona. Tak bisa jadi Cie Jiak merasa senang kalau suaminya
binasa. Tapi ia ingat perkataan nyonya itu. “Kutahu, kau
akan berusaha sedapat mungkin untuk menoloug jiwanya,
supaya kau bisa menjadi koenma dengan tak usah merasa
malu sendiri" Perkataan itu mengunjuk bahwa didalam hati
Cie Jiak merasa mendongkol.
Melihat Boe Kie membungkam, Tio beng berkata pula.
"Apakah kau merasa menyesal sesudah menolong jiwa
Song ceng soe?" Sehabis bertanya begitu, tanpa menunggu
jawaban ia masuk kedalam. Boe Kie duduk diatas batu.
Sambil mengawasi rembulan, pikirannya melayang kemasa
lampau. Ia ingat bahwa sebelum setahun sesudah
meninggalkan Peng hwee to, kedua orang tuanya
meninggal dunia. Semenjak itu ia hampir diliputi kedukaan.
Banyak kali ia coba berbuat, tapi akibatnya jadi sebaliknya.
"Ah... kalau tahu bakal begini lebih baik berdiam terus di
Peng hwee to dan hidup tenteram bersama ayah ibu dan
Giehoe,” katanya didalam hati.
Pada keesokan paginya para enghiong kembali
berkumpul dilapangan yang kemarin, kali ini si pendeta Tat
mo tong yang berlaku sebagai juru bicara tanpa minta
permisi dari Kong tie. “Para enghiong dengarlah,”
teriaknya. “Dalam pie boe kemarin Song hoejin dari Go bie
pay telah memperoleh kemenangan terakhir, sehingga
sebagai mana sudah disetujui, hari ini kami mengundang ia
untuk pergi kebelakang gunung guna melepaskan Kim mo
Say ong Cia Soen. Mari." Sehabis berkata begitu ia berjalan
2614
lebih dahulu sebagai penunjuk jalan, diikuti oleh
rombongan Go bie pay dan lain-lain. Melihat Cie Jiak tidak
mengenakan pakaian berkabung Boe Kie tahu, bahwa jiwa
Song Ceng Soe dapat dikatakan sudah tertolong.
Setibanya dipuncak bukit, sipendeta Tat mo tong segera
berkata. "Ini penjara dibawah tanah diantara ketiga pohon
siong itu. Penjaga penjara ialah ketiga tetua dari partai
kami. Sesudah mengalahkan ketiga tetua kami itu, Song
Hoejin boleh lantas mengambil Cia Soen.
Melihat paras muka Boe Kie yang penuh kebingungan
Yo Siauw berbisik. "Kauwcoe tak usah kuatir, Wie Hok
kiong dan Swe Poet Tek sudah mempersiapkan Ngo heng
kie dikaki bu-kit2. Apabila Go bie pay tidak mau
menyerahkan Cia Soen, kita boleh segera mengunakan
kekerasan.”
Alis Boe Kie berkerut. “Tindakan itu melanggar
persetujuan dan kita akan kehilangan kepercayaan,”
katanya.
"Untuk menolong Cia Say ong, kita tidak bisa terlalu
memperhatikan hal yang sedemikian," kata Yo Siauw.
"Musuh Cia Tayhiap terlalu banyak," sela Tio Beng.
"Kita harus menjaga juga senjata gelap."
"Benar," kata Boe Kie. "Hoan Yoesoe Tiat koen Too
tiang, Cioe heng, Pheng Tay Soe, kuminta kalian berdiri
ditempat sudut dan menjaga serangan gelap."
“Boe Kie Koko," bisik nona Tio, "kuingin ajukan sebuah
usul. Jika ada orang menggunakan senjata rahasia, kita
boleh segera menggunakan itu untuk merampas Cia
Thayhiap. Dengan demikian, tidak seorang pun bisa
mengatakan, bahwa kita melanggar janji. Kalau tidak ada
yang membokong, sebaiknya Yo Cosoe memerintahkan
2615
salah seorang untuk melepaskan senjata rahasia, supaya
didalam kekalutan kita bisa turun tangan.
Yo Siauw tertawa. "Bagus! tipu itu sungguh lihay.”
katanya. Ia segera berlalu untuk mengatur persiapaan.
Boe Kie merasa, bahwa siasat itu bukan cara seorang
ksatria. Tapi untuk menolong jiwa ayah angkatnya, ia tidak
bisa terlalu menghiraukan soal itu lagi. Diam-diam ia
merasa sangat berterima kasih terhadap Tio Beng. “Beng
moay dan Yo Cosoe adalah orang-orang pandai pada jaman
ini," katanya didalam hati. Sungguh untung aku bisa
mendapat bantuan mereka."
Sementara itu Cioe Cie Jiak sudah maju menghampiri
ketiga pohon siong dan berkata sambil membungkuk. "Sam
wie adaiah tetua Siauw-lim pay yang memiliki kepandaian
sangat tinggi! Jika dengan sendirian aku melawan Sam wie,
aku bukan saja berlaku tidak adil, tapi juga tidak
menghormat kalian."
"Song Hoejin boleh mengambil pembantu,” si pendeta
Tat mo tong.
"Karena mengalahnya para enghiong, secara kebetulan
aku merebut kemenangan," kata Cie Jiak. Dalam
memperoleh kemenangan itu, aku mengandalkan ilmu silat
mendiang guruku, Biat coat Soethay. Jika tiga lawan tiga
biarpun menang, kemenangan itu belumlah cukup untuk
memperlihatkan hasil yang jerih payah mendiang guruku
dalam mengajar aku. Kalau satu lawan tiga, aku jadi
berlaku kurang hormat terhadap tuan rumah. Begini saja.
Aku akan meminta bantuannya seorang Bocah yang
kemarin jatuh di-dalam tanganku dan yang lukanya sampai
sekarang belum sembuh betul, Bocah itu dahulu pernah
muntah-muntah darah karena dipukul Siansoe (mendiang
guruku). Kejadian ini diketahui oleh semua orang. Dengan
2616
meminta bantuannya aku tidak merugikan nama baik Sian
soe."
Mendengar perkataan itu, Boe Kie jadi girang sekali.
"Benar saja dia meloloskan permohonanku,” katanya
didalam hati.
Sementara itu Cie Jiak sudah berseru. Thio Boe Kie kau
keluarlah!"
Kecuali Yo Siauw dan beberapa pemimpin lain, para
anggauta Beng Kauw tidak tahu mau Kauwcoe mereka,
mereka merasa sangat gusar. Tapi diluar dugaan, sang
Kauwcoe kelihatan girang dan menghampiri dengan paras
muka berseri-seri. Sambil menyoja, ia berkata. “Terima
kasih atas belas kasihan Song Hoejin yang kemarin sudah
meagampuni jiwaku." Untuk menebus dosa dahulu hari dan
demi keselamatan ayah angkatnya, ia sudah mengambil
keputusan untuk menelan segala hinaan.
"Sebab lukamu belum sembuh, akupun bukan sungguh2
mengharapkan bantuanmu," kata Cie Jiak.
“Aku hanya menanti perintah," jawab Boe Kie.
Dengan sekali menggerakkan tangan kanannya, Cie Jiak
membuat belasan lingkaran besar dan kecil dengan
cambuknya. Hampir berbareng ia membalik tangan kirinya
dan tahu2 ia sudah memegang sebilah golok pendek yang
bersinar hijau. Para orang gagah yang kemarin sudah
menyaksilcan kelihayan cambuk tak pernah menduga
bahwa jago betina itu akan menggunakan juga lain snnjata.
Kedua senjata itu sangat berlainan sifatnya, yang satu
panjang yang lain pendek, yang satu lemas yang lain keras.
Bahwa Cie Jiak dapat menggunakan kedua senjata itu
dengan berbareng, merupakan bukti bahwa ia benar2
memiliki kepandaian tinggi. Para enghiong lantas saja
terbangun semangatnya dan merasa pasti bahwa mereka
2617
akan menyaksikan pertempuran yang luar biasa.
Boe Kie segera merogoh saku dan mengeluarkan dua
batang Seng hwee leng. Ia maju ke gelanggang. Tiba-tiba
tindakannya limbung dan ia sengaja batuk-batuk seperti
orang yang masih menderita luka berat. Ia bertekad untuk
menyerahkan semua jasa pada Cie Jiak.
Perlahan-lahan Touw ok bertiga mengangkat tambang
mereka, siap sedia untuk menyambut serangan lawan.
Cie Jiak mendekati Boe Kie dan berbisik, "Kau pernah
bersumpah untuk membalas sakit hati piauw moaymu.
Kalau si pembunuh ayah angkatmu, apakah kau masih mau
menolong dia.”
Boe Kie terkejut, “Kadang-kadang Giehoe, dia terserang
penyakit kalap dan ia bisa melakukan perbuatan yang
sebenarnya tidak diinginkan olehnya" jawabnya.
Sesaat itu dilereng bukit sekonyong-konyong terdengar
suara khim dan seruling. Boe Kie girang, Dilain saat dengan
diiringi oleh tiga suara tali khim empat nona yang
mengenakan baju putih dan masing-masing memegang satu
khim muncul dipuncak bukit. Beberapa detik kemudian
dengan iringan suara seruling, empat gadis baju hitam yang
masing-masing membawa sebatang seruling,
memperlihatkan diri. Delapan wanita muda itu lantas saja
berdiri didelapan penjuru dan mulai memperdengarkan
sebuah lagu yang sangat merdu. Diantara iringan lagu itu
seorang gadis cantik yang menggunakan baju warna kuning
muda perlahan-lahan mendaki puncak bukit. Benar saja
wanita itu bukan lain daripada si nona baju kuning yang
pernah ditemui Boe Kie diantara orang-orang
di Kay pang di Louw liong.
Begitu melihat, Pangcoe Kay pang Soe Kong Sek lantas
2618
saja memburu dan menubrukdan memeluk sibaju kuning,
"Yo Ciecie!" teriaknya. "Tetua dan Liong tauw kami
dibinasakan orang. Ia menuding Cie Jiak dan berteriak
pula, "Dari Go bie pay dan Siauw lim pay yang turun
tangan jahat.”
Si baju kuning manggut-manggut. "Aku sudah tahu,"
katanya. Hmm.. Kioe im pek koet jiauw belum tentu
merupakan ilmu yang paling tinggi." ( Kioe im Pek koet
jiauw - cengkeraman tulang putih dari kitap Kioe im Cinkeng
).
Munculnya si baju kuning sudah menarik perhatian
semua orang dan perkataan itu didengar oleh semua
kuping. Para enghiong yang berusia lanjut dan
berpengalaman terkejut di dalam hari. Mereka bertanyatanya,
“Kioe im pek koet jiauw? Apakah Kioe im pek koet
jiauw yang pada seabad yang lalu dikenal sebagai ilmu silat
sangat jahat dan yang belakangan hilang dari Rimba
persilatan?
Sementara itu dengan bergandengan tangan si baju
kuning dan Soe hong Sek menuju ke rombongan Kay pang,
Nona aneh itu kemudian duduk disebuah batu besar.
"Siapa wanita itu?" tanya Cie Jiak. "Aku baru pernah
ketemu sekali," jawab Boe Kie. Aku tahu nama dan asal
usulnya".
"Dia she Yo!"
"Kau tak salah.”
Cie Jiak mengeluarkan suara dihidung. “Mulailah!”
katanya seraya mengedut cambuknya yang lantas saja
meayambar Touw ok dan dengan menuruti gerakan itu
tubuhnya melesat keatas, akan kemudian, hinggap diantara
tiga pohon siong. Serangan dan lompatan itu yang sangat
2619
cepat dan indah mengagumkan semua orang. Dilain saat,
cambuknya sudah beradu dengan tambang Touw lan. Touw
ok dan Touw ciat buru-buru mengangkat senjata mereka
dan menyerang dari kiri kanan. Boe Kie segera melompat
untuk menolong, tapi begitu lekas kakinya hinggap ditanah
tubuhnya terhuyung, Banyak orang mengeluarkan seruan
tertahan. Mereka menduga pemuda itu sudah tak punya
tenaga untuk berkelahi.
Mereka tak tahu, bahwa Boe Kie sedang menggunakan
ilmu Seng hwee leng yang sangat aneh. Selagi terhuyung
Seng hwee leng menghantam dada Touw lan yang "terikat"
dengan cambuk Cie Jiak dan sukar main bela diri. Melihat
bahaya Touw ok dan Touw ciat lantas saja merubah arah
serangannya terhadap Cie jiak dan kedua tambang
menyambar Boe Kie seperti dua ekor naga. Sekali lagi
semua orang terkesiap. Pada detik yang sangat berbahaya,
Boe Kie menggulingkan diri kearah Touw ok yang
menyambutnya dengan totokan jari kepundak. Dengan
Kian koen Tay lo ie, Boe Kie memunahkan totokan dan
hampir berbarengan tubuhnya bergulingan kejurusan Touw
ciat.
Demikianlah Boe Kie terus menggunakan ilmu Seng
hwee leng yang aneh. Ia bergulingan kesana-sini. Ia
kelihatannya bingung, repot dan terdesak. Tapi pada detik
terakhir serangan2 berbahaya, ia selalu dapat meloloskan
diri dari bencana.
Sesudah lewat puluhan jurus, orang-orang gagah yang
berpengalaman mulai merasa bahwa Boe Kie sedang
menggunakan ilmu silat luar biasa, misalnya sebangsa ilmu
Coei pat-sian (Delapan dewa mabuk ). Tapi ilmu itu banyak
lebih sukar dan mengandung perubahan-perubahan yang
lebih sulit daripada segala ilmu yang dikenal dalam wilayah
Tionggoan.
2620
Pada hakekatnya silat Persia kuno itu digunakan untuk
melawan hanya seorang dari ketiga tetua Siauw lim, dengan
mudah Boe Kie bisa memperoleh kemenangan. Kekuatan
ketiga ketua itu terletak pada kerja sama mereka yang
sangat erat. Sesudah mempelajari Kim kong Hok-mo coan
bersama-sama selama puluhan tahun, pikiran mereka sudah
terjalin menjadi satu. Kalau yang satu menghadapi bahaya,
dua yang lain segera membantu secara wajar. Maka itulah,
sesudah bertempur kira-kira duapuluh jurus, Boe Kie belum
juga bisa mendapat kemajuan.
Pada dasarnya sebagian kecil silat Seng hwee leng
termasuk di jalanan sesat sedang Kim kong Hok mo coan
berdasarkan ilmu Sang Buddha menaklukan segala apa
yang sesat.
Dengan demikian sesudah bertempur beberapa lama lagi,
sifat iblis dari ilmu Seng hwee leng itu mulai mempengaruhi
Boe Kie. Dibawah tekanan ilmu yang bersih suci, pikiran
Boe Kie mulai kalut. Tanpa diketahui oleh para hadirin ia
menghadapi bencana. Andaikata tidak terpukul dalam
seratus jurus lagi ia bakal roboh sendiri. Bahwa Beng kauw
sering dinamakan orang sebagai "Agama iblis" ( Mo kauw ),
bukan sama sekali tidak beralasan, sedang ilmu silat Seng
hwee leng adalan gubahan "si Orang tua dari Pegunungan,"
"si raja iblis yang bisa membunuh manusia tanpa berkedip.
Pada waktu meyakinkan ilmu itu, Boe Kie tidak melihat
dan tidak merasakan apapun juga. Tapi sekarang dalam
menghadapi musuh besar yang menggunakan ilmu lurus
bersih, bagian yang berbabaya dari ilmu tersebut
menonjolkan diri.
Tiba tiba ia tertawa-tertawa berkakakan yang bernada
"iblis" dan membangunkan bulu roma. Mendadak, sehabis
tertawa itu, dari dalam tanah diantara ketiga pohon siong
terdengar suara orang menghafalkan kitab-Budha. Boe Kie
2621
kaget dan mengenali, bahwa yang menghafalkan kitab
bukan lain dari pada ayah angkatnya. Ia mengerti, bahwa
sedari dipenjarakan, setiap hari orangtua itu mendengari
penghafalan kitab suci yang dilakukan oleh ketiga pendeta
Siauw-lim. Sang ayah angkat pernah menolak untuk
melarikan diri karena ia merasa mempunyai alasan dosanya
terlalu besar: "Apakah sesudah mendengari pembacaan
kitab suci selama beberapa bulan, Giehoe mendusin?" tanya
Boe Kie didalam hati.
Sementara itu, tekanan tambang ketiga pendeta itu mulai
berkurang.
Cia Soen menghafal terus.
Boe Kie belum menyelami intisari dari pada pelajaran
Budha. Tapi kata-kata yang diucapkan oleh Cia Soen
dimengerti olehnya dan kira-kira berarti begini: Segala
sesuatu didalam dunia merupakan kekosongan. Aku sama
sekali tidak memikiri badanku atau badan orang lain. Kalau
ada orang membunuh aku atau menyembelih aku, akupun
tak merasa gusar, karena aku tak menganggap tubuhku
sebagai milik sendiri."
"Apakah sesudah berdiam disini beberapa bulan Giehoe
benar-benar sudah mencapai tingkat yang bebas dari rasa
kaget, rasa takut dan kuatir?” tanya Boe Kie didalam hati.
"Apakah memang benar-benar ingin menasehati supaya
tidak memikiri lagi keselamatannya tidak usah menolong
lagi jiwanya?"
Ilmu Kim kong Hok mo coan bersumber dan digubah
dari kitab suci Kim kong beng. Pada tingkat yang paling
tinggi, kitab itu tidak membedakan lagi antara kau dan aku
antara hidup dan mati, sedang segala apa dialami ini di
pandang sebagai suatu khayal atau kekosongan. Biarpun
ilmunya tinggi. Pada waktu berhadapan dengan lawan,
2622
ketiga pendeta Siauw lim itu masih mempunyai keinginan
untuk menindih lawan dan memperoleh kemenangan.
Mereka bisa melupakan soal mati atau hidup, tapi belum
bisa membedakan perbedaan antara kau dan aku. Itulah
sebabnya mengapa mereka belum mencapai puncak
tertinggi dari Kim kong Hok mo coan dan kekuatan
Lingkaran (Coan) itu belum mempunyai tenaga yang
sebesar-besarnya. Apa yang selama beberapa bulan
didengar Cia Soen bukan lain dari hafalan Kim kong keng.
Sementara itu sambil bertempur Boe Kie memikiri
hafalan ayah angkatnya dan sedikit banyak ia dapat
menangkap arti Kim kong keng. Karena maksudnya
pengaruh pelajaran Buddha perlahan-lahan pengaruh iblis
dalam alam pikirannya jadi kurang. Dengan kekurangan
pengaruh iblis itu, kelancaran silat Seng hwee-leng juga
turut berkurang. Tiba-tiba pundaknya tersabet tambang.
Tanpa terasa BoeKie mengerahkan Kian lioen Tay lo ie Sin
kang dan Kioe yang Sin kang untuk memunahkan pukulan
itu. "Hm! .... sesudah aku tidak berhasil dengan ilmu Seng
hwee leng, mengapa aku tidak mau mencoba Kian koen
dan Kioe yang?" pikirnya. Ia melirik dan mendapat
kenyataan bahwa Cie Jiak memperlihatkan gejala kalah.
"Sudahlah!" ia mengambil keputusan. Kalau sekarang aku
tidak mengeluarkan semua tenaga, begitu lekas Cie Jiak
kalah, Giehoe tidak akan dapat ditolong.
Memikir begitu sambil membentak keras, ia segera
menyerang dengan Kian koen Tay lo ie. Namun Cia Soen
masih terus menghafal Kim kong keng, tapi ia tidak bisa
memperhatikan lagi sebab seluruh semangatnya di tumplek
kepada Kian koen Tay lo ie. Dengan gerakan2 kilat ia
menyambut dan menerima pukulan-pukulan ketiga lawan,
supaya Cie Jiak mendapat kesempatan untuk menerobos
masuk ke dalam lingkaran.
2623
Karena adanya serangan yang hebat itu yang disertai
Lweekang yang dahyat. ketiga ketua Siauw lim juga lantas
menambah Lweekang mereka untuk melawannya.
Semua orang lihat perubahan itu, makin lama
pertempuran jadi makin hebat. Perlahan-lahan diatas kepala
ketiga pendeta muncul uap putih, satu tanda mereka sudah
mengerahkan tenaga dalam yang sebesar-besarnya. Diatas
kepala Boe Kie juga terlihat uap air, tapi uap itu halus dan
tidak buyar, seolah-olah selembar benang. Inilah bukti
bahwa Lweekang Boe Kie lebih tinggi dari pada tenaga
dalam ketiga lawannya.
Para enghiong menyaksikan kejadian itu dengan
perasaan kagum. Kemaren Boe Kie terluka berat. Siapa
nyana, dalam waktu semalaman saja, ia sudah sembuh
seluruhnya! Lweekang pemuda itu sungguh-sungguh sudah
tiba di tingkat yang tak dapat diukur lagi. Sekarang semua
orang tahu bahwa tadi ia hanya berlagak payah.
Selama pertempuran itu, Cie Jiak belum pernah benar2
mengadu tenaga. Ia hanya berkelahi dari luar lingkaran
tambang. Ia baru menerjang kalau terdapat lowongan dan
baru ia buru-buru melompat mundur jika mendapat
serangan balasan. Cara berkelahi itu segara memperlihatkan
perbedaan antara kepandaiannya dan kepandaian Boe Kie.
Para hadirin lantas saja saling mengutarakan pendapat.
"Kata orang ilmu silat kauwcoe dari Beng kauw tiada
tandingannya di dunia ini! Sekarang aku mengakui, bahwa
nama besar itu bukan nama kosong!"
Kemarin ia sengaja mengalah terhadap Song Hoe jin.
Inilah yang dinamakan laki-laki sejati sungkan berkelahi
melawan wanita."
"Bukan begitu! Dahulu Song Hoe jin tunangan Thio
Kauwcoe! Apa kau tak tahu? Ini yang dinamakan golok tua
2624
masih ingat kecintaan lama."
Dan banyak lagi pendapat lainnya.
Sesudah bertempur kira-kira setengah jam lagi, paras
muka ketiga pendeta Siauw lim berubah merah dan jubah
pertapaan mereka jadi melembung, seperti di tiup angin dari
sebelah dalam. Dilain pihak pakaian Boe Kie masih tetap
seperti biasa.
Pada waktu itu, Kioe yang Cin khie dalam tubuh Boe
Kie sudah banyak lebih kuat dari pada beberapa waktu
berselang. Kekuatan itu di tambah lagi dengan latihan
pernapasan Thay kek koen yang diturunkan oleh Thio Sam
Hong. Dengan demikian, Boe Kie mempunyai keuletan
luar biasa. Ia masih bisa bertanding satu atau dua jam lagi
tanpa merasa lelah. Inilah keuntungan yang mau digunakan
olehnya. Ia mengambil keputusan untuk bertempur dalam
jangka panjang sampai ketiga lawannya kecapaian.
Ketiga pendeta itu juga tahu kenyataan tersebut. Mereka
mengerti bahwa kelelahan yang lama akan merugikan
pihaknya. Maka itu beberapa saat kemudian, seraya
membentak keras mereka memperhebat serangan! Ketiga
tambang berkelebat seperti kilat dalam macam-macam
serangan dan tenaga.
Boe Kie kaget. Ia mengempos semangat dan menyambut
setiap serangan. "Biarpun ilmu silat Cie Jiak luar biasa, ia
belum berlatih cukup sehingga kerja sama dengan dia tidak
bisa menyamai kerja sama dengan Gwa-kong dan Yo Co
soe,” pikirnya. Dengan sendirian aku tak akan bisa
mempertahankan diri. Rasanya aku bakal kalah lagi dan
hari ini tidak akan bisa menolong Gie hoe. Hai ! ...
Bagaimana baiknya?"
Sebab pikirannya bingung tenaganya lantas saja
berkurang. Ketiga pendeta sungkan menyia-nyiakan
2625
kesempatan itu. Mereka menyerang dengan hebatnya. Tibatiba
satu ingatan berkelebat dalam otaknya Boe Kie. Ia
ingat kecintaan ayah angkatnya di Pheng hwee to. Ia ingat
bahwa demi kepentingan dirinya orang tua itu rela
menceburkan diri kedalam dunia Kang ouw dan
menghadapi rupa-rupa bahaya. Didetik itu juga ia
mengambil keputusan bahwa apabila sang Giehoe tidak
dapat ditolong, ia sendiri sungkan hidup sendirian didunia
ini.
Selagi otaknya bekerja tahu-tahu tambang Touw lan
menyambar punggungnya. Mendadak saja ia mengeluarkan
pukulan aneh. Ia mengangkat tangan kiri, membiarkan
tambang memukul lengan dan memunahkan tenaga
pukulannya itu dengan Kian koen Tay lo ie, berbareng
dengan itu ia menangkis tambang Touw ok dan Touw-ciat
dengan Seng hwee leng yang dicekal dalam tangan
kanannya. Tiba-tiba, bagaikan seekor burung, tubuhnya
melesat keatas dan dengan sekali memutar ditengah udara
ia sudah melibat tambang Touw lan dipohon siong yang
diduduki itu.
Itulah perbuatan yang tidak pernah diduga orang.
Sesudah melibat, Boe Kie menarik
tambang itu erat-erat. Tak kepalang kagetnya Touw lan
yang lantas saja menarik tambangnya dengan sekuat tenaga.
Sebagaimana diketahui, batang pohon siong itu telah
dilubangkan oleh ketiga pendeta untuk digunakan sebagai
berduduk. Oleh karena itu biarpun besar, kekuatannya
kurang. Maka itulah begitu ditarik oleh Boe-Kie dan Touw
lan dengan satu suara "krekek," batang itu patah dan
pohonnya roboh.
Boe Kie menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Selagi Touw ok dan Touw ciat tertegun, kedua tangannya
mendorong pohon yang diduduki Touw ok, dengan seluruh
2626
tenaganya. Pohon itu kalah kuat dan lantas patah. Dengan
suara ribut kedua pohon itu jatuh menimpa pohon yang
diduduki Touwciat, dan menendang pohon ketiga itu yang
sudah bergoyang-goyang lantas turut roboh.
Keadaan berubah gempar suara dengan robohnya pohon
dicampur teriakan-teriakan para hadirin.
Secepat kilat Boe Kie menimpuk Touw ok dan Touw ciat
dengan kedua Seng hwee leng.
Biarpun kepandaian tinggi, kedua pendeta itu jadi
bingung karena harus menyelamatkan diri dari tindihan
batang pohon dan dari sambaran Seng hwee leng. Dilain
detik Boe Kie menggulingkan diri dan masuk kedalam
lingkaran Kim kong Hok mo coan. Dengan lewat dikolong
batang pohon yang sedang roboh. Dengan sekali
mendorong, ia sudah mengisarkan batu yang menutup
lobang penjara.
"Giehoe lekas keluar!" teriaknya. Sebab kuatir ayah
angkatnya menolak, tanpa menunggu jawaban, tangannya
mencengkeram baju orang tua itu dan mengangkatnya
keatas.
Pada detik itu, tambang Touw ok dan Touw ciat sudah
menyambar. Buru-buru Boe Kie melepaskan ayah
angkatnya, mengambil dua Seng hwee leng dari sakunya
dan menimpuk. Begitu menimpuk, kedua tangannya
menangkap ujung tambang yang menyambar. Baru saja
kedua pendeta itu mau mengerahkan Lweekang untuk
membetot tambang mereka, kedua Seng hwee leng sudah
hampir menyentuh muka. Karena terpaksa, mereka
melepaskan tambang dan melonpat mundur untuk
menyelamatkan jiwa dari timpukan itu.Hampir berbareng
dengan mundurnya Touw ok dan Touw ciat, Touw lan
sudah menerjang dan tangan kirinya menghantam dada Boe
2627
Kie.
"Cie Jiak, tahan dia!" teriak Boe kie sambil melompat
kesamping dengan mendukung Cia Soen.
Kalau ia bisa membawa keluar ayah angkatnya dari
kalangan ketiga pohon siong, ia sudah berhasil dalam
usahanya. Cie Jiak kelihatan bersangsi.
"Anakku Boe Kie," kata Cia Soen, "dosaku sangat besar
dan ditempat ini dengan mempelajari kitab suci, hatiku
tenang. Guna apa kau menolong aku?" Sehabis berkata ia
coba memberontak.
Boe Kie tahu ayah angkatnya berkepandaian tinggi dan
kalau orang tua itu tak mau pergi ia sukar membantah.
Maka itu ia lantas saja berkata. "Giehoe, anak
mohon.maaf!" Hampir berbareng jari tangannya menotok
beberapa "hiat" hingga Kim mo Say ong tak bisa bergerak
lagi.
Karena kelambatan sedetik dua itu, ketiga pendeta sudah
keburu datang dan menyerang. "Lepaskan dia!" bentak
Touw ok.
Pukulan ketiga pendeta itu hebat bukan main. Sebelum
pukulannya sampai, tekanan angin sudah menindih dari
empat penjuru. Boe Kie terpaksa melepaskan lagi ayah
angkatnya dan menangkis pukulan itu, "Cie Jiak, lekas
bawa Gi hoe!” serunya. Dengan meng-gerak2kan kedua
tangannya kian kemari, Boe Kie menahan pukulan ketiga
lawannya. Itulah ilmu Kian koen Tay lo ie yang paling
tinggi. Lweekang pemuda itu bergerak-gerak kian kemari
dengan berbareng menahan dan menyedot tenaga pukulan
ketiga pendeta. Dalam menggunakan ilmu itu, Boe Kie
harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, karena aduan
tenaga ini banyak lebih berat dari pada adu Lweekang satu
lawan satu. Sebab tangkisan itu ketiga pendeta "terikat" dan
2628
tak bisa memperhatikan Cia Soen lagi.
Boe Kie tahu bahwa ia tak bisa mempertahankan diri
dalam waktu lama. Tapi ia pun tak memerlukan waktu
yang lama. Begitu lekas Cie Jiak sudah membawa ayah
angkatnya ketempat yang selamat ia bisa berusaha untuk
meloloskan diri.
Sekarang Cie Jiak tak bersangsi lagi. Ia melompat
mendekati Cia Soen.
"Fui... perempuan hina!..." bentak Kim-mo Say ong. Ia
tak bisa melanjutkan perkataan sebab keburu ditotok "hiat"
dagunya.
“Manusia she Cia!" Cie Jiak balas membentak. “Aku
mau menolong, mengapa kau mencaci aku. Dosamu sangat
besar dan jiwamu sekarang berada di tanganku. Apa kau
rasa aku tak bisa ambil jiwamu?” Sehabis berkata begitu ia
mengangkat tangan kanannya, mementang lima jari dan
bergerak untuk menepuk batok kepala Cia Soen.
"Cie Jiak! Jangan...!" teriak Boe Kie dengan suara parau.
Ketiga pendeta Siauw lim sedikitpun tak punya niatan
untuk mencelakai Boe Kie. Tapi pertandingan itu adalah
aduan tenaga mati atau hidup. Kedua belah pihak
menggunakan koat (teori) “menempel” dan sebelum ada
yang kalah, masing-masing sukar melepaskan "tempelan"
itu. Begitu lekas Boe Kie berteriak dengan hati mencelos,
hawa tulennya lantas saja berkurang dan ia lantas saja
merasakan tindihan tenaga lawan yang menyerang
bagaikan gelombang. Cepat-cepat ia mengempos serangan
untuk mempertahankan diri.
Tapi Cie Jiak tidak lantas turunkan tangan. Sambil
melirik Boe Kie ia tertawa dingin. "Thio Boe Kie," katanya.
"Hari itu waktu di kota Hauw coe kau telah meninggalkan
2629
aku dari upacara pernikahan, apakah kau pernah memikir,
bahwa kau akan menemui kejadian di hari ini ?"
Boe Kie bingung dan karena kebingungan itu, ia
menghadapi bencana. Keringat mengucur dari tubuhnya.
Melihat keadaan Boe Kie, To Siauw, Hoan Yauw, Wie
It Siauw, Hwee Poet Tek, Jie Lian Cioe, In Lie Hong dan
yang lain2 kaget tak kepalang. Mereka adalah orang2 yg
memiliki “gie khie” (rasa persahabatan) yang sangat tinggi.
Untuk menolong Boe Kie mereka rela mengorbankan jiwa.
Tapi mereka tahu, bahwa lweekang mereka kalah jauh dari
orang2 yg sedang bertanding itu. Kalau mereka menyerang,
dengan mudah ketiga pendeta itu menyerang, dengan
mudah ketiga pendeta itu bisa mengalihkan tenaga serangan
ketubuh Boe Kie, sehingga sebaliknya dari membantu
mereka berbalik menekan pemuda itu.
Tong Boen Lian, Cong Wie Hiap dan Siang Keng Cie
dari Khong tong Ngoolo yang pernah ditolong Boe Kie juga
turut bingung.
Sekonyong2 diantara kesunyian yang penuh ketegangan,
terdengar seruan Kong tie, “Son-wie Susiok, Thio
Kauwcoe, pernah melepas budi kepada partai kita. Melukai
dia adalah poet-gie melupakan persahabatan. Mohon Samwie
Susiok menaruh belas kasihan.”
Mendengar seruan itu, orang2 Beng Kauw merasa sangat
berterima kasih. Pada hakekatnya seruan kong tie tidak
berguna dan tidak perlu karena kedua belah pihak tidak bisa
menangkapnya dan karena kedua belah pihat memang
berniat saling mencelakai. Tapi dalam aduan tenaga itu,
mereka seolah2 menunggang harimau dan suka untuk turun
lagi.
Tiba2 Wie It Siauw melompat dan tahu2 ia sudah
berhadapan dengan Cioe Cie Jiak. Tapi dalam jarak
2630
setombak ia berdiri terpaku. Jari2 tangan Cie Jiak sudah
hampir menyentuh balok kepala Cia Soen, sehingga kalau
ia bergerak, jari2 tangan itu tentu akan menobloskan batok
kepala. Dan apabila Cia Soen binasa, Boe Kie juga akan
menemui ajalnya.
Pada detik itu, seluruh lapangan sunyi senyap bagaikan
kuburan dan semua manusia seperti juga patung batu.
Tiba2 kesunyian dipecahkan oleh suara tertawanya Cioe
Tan yang sambil tertawa berjalan mendekati gelanggang
pertandingan.
Yo Siauw terkejut. “Cioe-heng, jangan sembrono!”
teriaknya. Tapi si sembrono tidak meladeni dan berjalan
terus.
“Sam-wie Taysoe,” katanya seraya tertawa ha ha hi hi
sesudah berhadapan dengan ketiga pendeta itu. “Apa kau
sudah makan daging anjing?” Ia merogoh saku,
mengeluarkan sepotong lutut anjing yang memang sudah
dimasak dan menggoyang2kannya didepan muka Touw
Ok, Cioe Tian adalah seorang yang sangat doyan arak dan
daging. Selama berdiam beberapa lama di Siauw Lim, ia
terpaksa makan makanan cia cay (tidak berjiwa). Kemarin
diam2 ia menangkap seekor anjing dan memasak
dagingnya. Sepotong lutut anjing yang tidak habis, masih
disimpan dalam sakunya. Karena terpaksa ia sekarang
menggunakan lutut anjing untuk memecahkan pemusatan
semangat tiga pendeta itu. Kalau pendeta itu bergusar, Boe
Kie akan mendapat kemenangan. Melihat begitu Yo Siauw
dan kawan2nya jadi girang sekali.
Tapi ketiga tetua Siauw Lim itu tidak menggubris.
Cioe Tian segera memasukkan lutut itu kedalam
mulutnya. “Aduh wangi betul!” katanya. “Samwie Touwee
shio apa kalian tidak mau turut mencoba?” Ia mencabut
2631
lutut itu dari mulutnya dan lalu menyodorkannya kemulut
Touw Ok.
Beberapa orang lantas berteriak2, “Hei! Gila! Mundur
kau…!”
Tapi baru saja lutut anjing menyentuh bibir Tauw Ok,
lengan Cioe Tian, begemetar separuh tubuhnya kesemutan
dan makanan itu jatuh ke tanah. Ternyata seluruh badan
Touw Ok diliputi lweekang yg bisa memukul balik setiap
tenaga yang dtg dari luar.
“Aduh! Aduh! Sungguh hebat!” teriak Cioe Tian, “Kalau
kau tak mau makan daging anjing yah sudah saja! Perlu apa
kau melontarkannya sehingga menjadi kotor! Ganti! Hayo
aku minta ganti!” Ia berteriak2 sambil mementang2 tangan.
Tapi ketiga pendeta itu benar2 tinggi ilmunya. Mereka
tetap tak dapat diganggu.
Mendadak si sembrono menghunus golok pendek, “Hei!
Kau dengarlah!” teriaknya. “Apabila kau tetap tak mau
makan daging anjing akan mengadu jiwa denganmu.”
Seraya berkata begitu ia menggores mukanya sendiri lantas
saja mengucur darah.
Semua orang terkesiap tapi ketiga pendeta itu seperti juga
berada di dunia lain.
“Sudahlah,” teriak pula Cioe Tian dengan suara parau
“Toa hweeshio, jika kau tidak mau ganti daging anjingku
biarlah aku binasa dihadapanmu.” Ia mengangkat tangan
dan mengacungkan golok di ulu hatinya.
Itulah Cioe Tian! Seorang gila2an yang berjiwa “tiong
gie” (Setia kepada raja dan sahabat). Untuk menolong
Kauwcoenya, ia reala membunuh diri guna mengacaukan
pemusatan pikiran ketiga pendeta itu.
2632
Pada detik terakhir satu bayangan kuning, bayangan
manusia yang menyambar bagaikan kilat berkelebat dan
merampas golok Cioe Tian. Sehabis menolong si sembrono
tubuh orang itu melesat lagi, mementang lima jari tangan
kanan yang lalu ditancapkan kekepala Cie Jiak. Dalam
serangan itu ia menggunakan gerakan yang menyerupai
gerakan Song Ceng Soe, pada waktu pemuda itu
membinasakan tetua kaypang. Waktu diserang jari2 tangan
Cie Jiak hanya terpisah kira2 satu kaki dari batik kepala Cia
Soen. Tapi sebab serangan itu ia datang dengan kecepatan
luar biasa, ia tidak keburu lagi turun tangan jahat terhadap
Cia Soen dna untuk menolong jiwa sendiri, ia terpaksa
lantas saja menangkis.
Kekuatan lweekang Boe Kie tidak kalah dari ketiga
lawannya. Ia hanya kalah dalam ilmu, “melupakan segala
apa”. Ia belum bisa menulikan kuping dan membutakan
mata terhadap segala sesuatu. Maka itu, ancaman Cie Jiak
terhadap Cia Soen dan gangguan Cioe Tian terhadap ketiga
pendeta telah memecahkan pemusatan pikirannya. Ia sudah
pusing dan beberapa detik lagi ia akan muntah darah.
Syukur beribu syukur pada saat yang sangat berbahaya,
bayangan kuning itu bukan lain daripada nona baju kuning
menolong Cioe Tian dan Cia Soen.
Begitu lekas hatinya mantap, lweekang Boe Kie lantas
saja bertambah, sehingga pertandingan sekali lagi jadi
berimbang. Bertambahnya lweekang Boe Kie tapi sesudah
lweekangnya bertambah, Boe Kie tidak balas menyerang
dan hanya mempertahankan diri. Itulah kesempatan yang
paling baik untuk menyudahi keadaan, “menunggang
harimau” dari kedua belah pihak. Dengan perkataan lain,
perubahan tenaga dalam itu merupakan kesempatan untuk
masing2 menarik pulang lweekang dan menghentikan
pertandingan. Ketiga pendeta itu yang perasaannya dapat
2633
dihubungkan satu sama lain tanpa bicara (secara telepati)
lantas saja menarik pulang sebagian tenaga2 mereka. Boe
Kie girang dan segera menarik pulang sebagian
lweekangnya. Demikianlah, sebagian demi sebagian kedua
belah pihak memperkurang tenaga dalam mereka dan kira2
seminuman teh, pertandingan sudah dapat dihentikan.
Keempat jago itu tertawa terbahak2. Boe Kie menyoja
sampai kedua tangannya menyentuh bumi dan ketiga
pendeta itu membalas hormat dengan merangkap kedua
tangan mereka.
Ketika itu si baju kuning sudah bertempur hebat dengan
Cioe Cie Jiak. Meskipun Cie Jiak menggunakan dua senjata
dan lawannya bertangan kosong, ia kelihatan keteter. Ilmu
silat si baju kuning menyerupai ilmunya Cie Jia.
Perbedaannya hanya terletak pada cara bergeraknya si baju
kuning lurus bersih, sedang Cie Jiak “sesat bernada iblis”.
Kalau mau diperumpamakan, yang satu bagaikan dewi,
yang lain bagaikan memedi. Dengan sekali lirik saja Boe
Kie sudah tahu bahwa si baju kuning lebih unggul dan ayah
angkatanya berada dalam keselamatan. Dalam pertempuran
itu, si baju kuning tidak lantas turunkan pukulan yang
memutuskan dan ia seoalh2 mau mengunjuk kepada
lawannya, bahwa kepandaian lawan itu masih terlalu cetek.
Kalau mau, dalam beberapa gebrakan saja, ia sudah bisa
merobohkan Cie Jiak.
“Thio Kauwcoe,” kata Touw Ok. “Meskipun kau tidak
bisa mengkan kami bertiga, kami juga tidak bisa
menangkan kau. Cia Kiesoe sekarang kau boleh pergi
kemana suka!” sehabis berkata begitu, ia membuka jalan
darah Cia Soen yang tertotok. “Cia Kie Soe,” katanya pula.
“Letakkanlah golokmu dan jadilah manusia yang baik.
Pintu agama Budha terbuka lebar. Didalam dunia tidak ada
manusia yang tidak bisa disebrangkan. Banyak hari kau dan
2634
aku berdiam bersama2 dipuncak bukit ini. Hal ini juga
merupakan suatu jodoh.”
Cia Soen bangun berdiri, “Sang Budha welas asih,”
katanya. “Cia Soen sangat berterima kasih kepada sam wie
taysoe yang sudah memberi petunjuk kejalan terang.”
Sekonyong2 terdengar bentakan nyaring dan tahu2 si
baju kuning sudah merampas cambuk Cie Jiak. Sesudah itu
ia menyikut dada lawan yang lanta saja tidak bisa bergerak
lagi. Sambil mementang jari tangan kanannya diatas kepala
Cie Jiak ia membentak, “Aoakah kau ingin rasakan
enaknya Kioe Im Pek Koet Jiauw?”
Cie Jiak meram dan menunggu kebinasaan.
Biarpun kedua matanya buta, Cia Soen tahu apa yang
telah terjadi. Ia maju beberapa tindak dan berkata sambil
menyoja, “Nona sudah menolong jiwa kami ayah dan anak
dan kami merasa berhutang budi. Apabila Cioe Kouw nio
tidak mendusin dan terus melakukan perbuatan2 yg tidak
pantas, ia tentu akan mendapat pembalasan yang setimpal.
Tapi sekarang aku mohon nona suka mengampuninya.”
“Kim mo Say ong bisa berubah cepat sekali,” kata si baju
kuning sambil melompat mundur.
Boe Kie menghampiri dan mencekal tangan ayah
angkatnya. Baru saja ia mengajak orang tua itu berlalu,
mendadak Cia Soen berkata, “Tahan dulu!” Sehabis berkata
begitu ia menudin salah soerang pendeta tua dari
rombongan Siauw Lim Pay, “Hoek Goen pek lek chioe
Seng Koen, keluar kau!” bentaknya. “Biarlah dihadapan
enghiong kita membuat satu perhitungan!”
Semua orang terkejut dan menengok kearah yang di
tuding Cia Soen. Pendeta itu yang mukanya jelek dan
bongkok punggungnya menggenakan jubah compang
2635
camping dan sedikitpun tidak menyerupai Seng Koen. Baru
saja Boe Kie mau memberitahukan hal itu kepada ayah
angkatnya, Cia Soen sudah berkata: “Seng Koen, kau bisa
mengubah muka, tapi kau tak bisa mengubah suara. Begitu
mendengar batukmu, aku lantas tahu kau siapa?”
Si tua menyeringai, “Manusia buta, kau jangan bicara
sembarangan!” katanya.
Begitu mendengar suaranya, Boe Kie lantas saja
mengenali bahwa dia itu memang benar Seng Koen. Waktu
berada didalam karung diatas Kong Beng Teng, ia pernah
mendengar pembicaraan manusia jahat itu. Ia lantas saja
melompat dan mencegat jalan mundur musuh besar itu,
“Goan tin Tay soe, Seng Koen Cianpwee,” katanya.
“Seorang laki2 harus berani berterus terang. Mengapa kau
menyembunyikan mukamu dri orang banyak?”
Dengan menyamar, banyak tahun Seng Koen
bersembunyi di Siauw Lim Sie. Banyak tahun ia mengatur
siasat dan mengumpulkan kaki tangan untuk merebut
kekuasaan. Menurut rencananya, hari ini ia akan mengadu
domba para orang gagah, mencari tahu dimana adanya To
Liong To, membinasakan Cia Soen dan akhirnya merampas
kedudukan Hong thio Siauw Lim Sie, sesudah membunuh
Kong beon dan Kong tie Seng ceng. Tapi diluar semua
perhitungannya, muncullah si baju kuning. Waktu nona she
Yo itu merobohkan Cie Jiak, hatinya mencelos dan tanpa
merasa, ia batuk2 sewajarnya. Apa mau suara batuk itu
didengar dan dikenali Cia Soen.
Melihat Cia Soen memotong jalanan mundurnya, ia tahu
semua rencananya telah hancur. “Para pendeta Siauw Lim
dengarlah!” teriaknya. “Mo Kauw mengacau tempat yang
suci ini dan menghina partai kita. Hajar mereka! Bunuh
mereka!” Kaki tangan Seng Koen lantas saja menghunus
senjata dan bergerak untuk menyerang.
2636
Selama beberapa hari Kong tie menahan sabar dan
berduka sangat, sambil memikiri keselamatan suhengnya
yang sudah jatuh kedalam tangan kaum pemberontak.
Sekarang begitu mendengar perintah Seng Koen ia tahu,
bahwa banyak orang akan mengorbankan jiwa. Ia
menganggap, bahwa keselamatan Kong Boen seorang
adalah soal kecil, jika dibandingkan dengan keselamatan
ribuan manusia. Maka itu ia lantas saja berteriak, “Tahan!
Murid2 Siauw lim tidak boleh bergerak. Dengarlah! Kong
boen Hong thio sudah jatuh kedalam tangan pengkhianat
Coan tin. Bekuk dia! Sesudah itu barulah kita menolong
Hong Thio.”
Dalam sekejap keadaan berubah kalut.
Kaki tangan Seng Koen ciut nyalinya.
Diantara kekalutan, Boe Kie lihat Cie Jiak tetap
berduduk di tanah sambil menundukkan kepala. Ia merasa
tak tega dan lalu menghampiri, akan kemudian coba
membangunkannya. Tapi Cie Jiak mengibaskan tangannya
dan buru2 kembali ke rombongan Go bie pay.
Sementar itu Cia Soen sudah bicara dengan nyaring,
“Segala kejadian yang terjadi di hari ini adalah gara2 Seng
Koen dan aku. Segala urusan, segala hutang piutang
haruslah dibereskan oleh kami berdua, suhu, semua
kepandaianku diberikan suhu, Seng Koen, seluruh
keluargaku dibinasakan olehmu. Kau adalah guruku dan
musuhku. Hari ini kita perhitungan.”
Melihat usahanya untuk menjadi Hong thio Siauw Lim
sie sudah gagal, didalam hati Seng Koen lantas saja muncul
lain tipu daya. “Cia Soen banyak dosanya, sehingga jita
tidak bisa mengalahkannya, aku bisa menumplek semua
kedosaan diatas kepadalnya,” pikirnya. “Semua
kepandaiannya didapat dari aku dan kedua matanya buta.
2637
Mustahil aku tidak bisa merobohkannya.” Memikir begitu
ia segera membentak, “Cia Soen banyak orang gagah binasa
dalam tanganmu. Hari ini, bersama iblis2 Mo Kauw dan
coba mengacau tempat suci ini. Biar bagaimanapun juga
aku berkewajiban membersihkan rumah tangga itu sendiri
dan menghukum murid durjana,” dengan tindakan lebar, ia
lalu menghampiri Cia Soen.
“Para enghiong, dengarlah perkataanku!” teriak Cia
Soen. “Ilmu silat Cia Soen memang didapat dari Seng
Koen. Tapi sebab maksudnya untuk memperkosa istriku
tidak ada kesempatan, Seng Koen sudah membunuh ayah,
ibu, istri dan anakku. Sekarang aku mau tanya, apakah
pantas atau tidak pantas, jika aku mencari dia untuk
membalas sakit hati?”
Pertanyaan itu disambut dengan teriakan bergemuruh,
“Pantas! Pantas!”
Diantara teriakan2 itu Seng Koen, mengirim pukulan
kekepala Cia Soen, Cia Soen mengengos dan “plak!”
pukulan itu jatuh dipundaknya. “Seng Koen,” katanya
dahulu, waktu kau mengajar pukulan Tiang Hong Keng
thian (Bianglala membentang langit), kau menggunakan
Hoen Goan It khie kang untuk melukai musuh. Mengapa
kau tidak mengerahkan lweekang itu. Apakah lantaran kau
sudah terlalu tua dan tidak bisa mengeluarkan tenaga itu
lagi?”
Memang Seng Koen tidak mengeluarkan Hoan Goan It
khie kang dan sebabnya begini, dia tahu Cia Soen memiliki
kepandaian tinggi, sehingga pukulan pertama itu lebih
banyak pukulan gertakan untuk menjajal2. Diluar dugaan
Cia Soen tidak berkelit. Sebab ia tidak menggunakan
lweekang Cia Soen tidak terluka.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata Seng Koen mengirim
2638
pukulan kedua. Cia Soen hanya mengengos, ia masih
belum membalas. Begitu lekas tangannya memukul angin,
Seng Koen mengirim tendangan berantai yang mampir
tepat dibawah iga.
Tendangan itu disertai tenaga dalam yang hebat,
sehingga tubuh Cia Soen bergoyan2 dan muntah darah.
“Gie Hoe, balaslah! Mengapa Gie Hoe tidak mau
membalas?” teriak Boe Kie.
Cia Soen tertawa getir, “Dia guruku,” jawabnya.
“Sebagai murid aku pantas menerima satu pukulan dan dua
tendangan.” Tiba2 ia mengirim pukulan geledek.
Mereka lantas saja bertempur mati2an. Cia Soen tidak
bisa melihat, tapi bertempur melawan Seng Koen, ia tak
usah menggunakan matanya. Sebagai murid ia paham
semua ilmu silat gurunya. Sesudah pukulan ini, ia tahu
persis pukulan apa yang bakal menyusul. Perbedaan
diantara mereka banyak terletak di tenaga dalam. Cia Soen
lebih muda belasan tahun sehingga dalam tenaga ia lebih
kuat dan lebih ulet. Diamping itu ia pernah melatih diri di
pulau Peng hwee to yang sangat dingin. Latihan dihawa
yang dingin itu banyak manfaatnya. Maka itulah, sesudah
bertanding kira2 seratus jurus, ia belum jatuh dibawah
angin.
Sesudah pertempuran mencapai dua ratus jurus lebih,
sekonyong2 Cia Soen berteriak keras dan mengirim
tinjunya.
“Cia siong koen!” seru Siang Cie, tetua Khong tong pay.
Melihat pukulan2 Cia Soen, semua tetua Khong tong
pay kaget tercampur heran. Cit siang dicuri dari Khong tong
pay. Tapi sekarang pukulan2 yang dikeluarkan Cia Soen
banyak lebih dahsyat dari apa yang dapat dikeluarkan oleh
2639
para tetua Kong Thong pay sendiri. Begitu lekas Cia Soen
menggunakan Cit siang koen, Seng Koen mundur
berulang2 sehingga saban2 terdengar sorak sorai gegap
gempita. Permusuhan antara guru dan murid itu dan
perbuatan Seng Koen banyak diketahui orang. Maka itu
biarpun Cia Soen banyak dosa nya dan sering membunuh
orang simpati para hadirin masih tetap diberikan kepada
dirinya dan semua mengharap ia bisa mendapat
kemenangan.
Sedang orang lain bergirang, Boe Koe kaget dan
berkuatir. “Celaka,” ia mengeluh. “Seng Koen
menggunakan Siauw Lim Kioe yang kang yang didapatinya
sesudah berguru dengan Kong kian Seng ceng. Gie Hoe
belum mengenal ilmu itu.”
Dalam melatih Cit Siang koen tergesa2 Cia Soen
memang sudah mendapat luka didalam. Hal ini diketahui
oleh Seng Koen. Ia berlagak keteter dengan saban2
mengeluarkan Siauw Liom Kioe yang kang. Acap kali Cia
Soen memukul, ia segera menangkis.
Dengan Kioe yang kang, ia memunahkan tujuh bagian
tenaga pukulan itu dan memulangkan yang tiga bagian
ketubuh Cia Soen. Demikianlah, diluar Cia Soen
kelihatannya berada diatas angin, tapi sebenarnya makin
lama lukanya jadi makin hebat.
Bukan main bingungnya Boe Kie. Kesempatan
membalas sakit hati sudah dicari2 ayah angkatnya selama
puluhan tahun. Tapi sekarang sesudah mendapat
kesempatan itu, sang Giehoe berbalik menghadapi maut. Ia
tahu bahwa dalam puluhan gebrakan lagi, sang ayah angkat
akan muntah darah dan binasa.
“Goan tin,” kata Kong tie denga suara dingin. “Apakah
suhengku mengajar Kioe yang kang kepadamu supaya kau
2640
menggunakannya untuk mencelakai manusia?”
Seng Koen tertawa dingin. “In soe binasa dibawah
pukulan Cit sing koen,” jawabnya. “Hari ini aku akan
membalas sakit hati In soe!”
“Binatang Seng Koen!” mendadak Tio Beng berteriak.
“Kioe yang kang Kong kian Seng ceng banyak lebih kuat
dari yang dimiliki oleh mu. Mengapa dia tidak bisa tertahan
terhadap cit siang koen? Kong kian Tay soe sudah dicelakai
olehmu. Kaulah yang menipu ia membujuk supaya ia suka
mendamaikan permusuhanmu dengan Cia Tayhiap. Kau
sudah menipu ia, supaya ia suka menerima pukulan2 tanpa
lantas. Huh huh… Lihat! Lihat! Siapa yang berdiri
dibelakangmu dengan muka berlumuran darah. Kong kian
Seng ceng! Ya memang Kong kian Seng ceng yg berdiri
dibelakangmu.”
Seng Koen tahu bahwa Tio Beng berdusta. Tapi sebab ia
memang berdosa, perkataan2 itu sudah membangunkan
bulu romanya. Tiba2 pukulan menyambar ia menangkis
dan membalas. Tubuhnya bergoyang dan sekali ini ia tidak
mundur. Ternyata dalam rasa seramnya karena mendengar
perkataan nona Tio, ia tidak bisa menggunakan Siauw Lim
Kioe yang kang. Ia merasa darah didadanya bergolak2
buru2 ia menggunakan taktik berlari2 diseputar Cia Soen
sambil menentramkan jalannya pernapasannya.
“Kong kian sengceng, jangan lepaskan dia,” teriak pula
nona Tio. “Tiup belakang lehernya. Benar! Kau mati
ditagnan murid, dia juga harus mampus ditangan
muridnya. Ini hal yang dinamakan membayar hutang.
Langit ada matanya.”
Jantung Seng Koen berdenyut lebih keras. Tiba2 ia
merasa lehernya ditiup angin. Dipuncak itu memang
banyak angin tapi bagi Seng Koen usapan angin itu
2641
menyeramkan hatinya.
Melihat perubahan pada sikap Seng Koen, Tio Beng
lantas saja berteriak, “Ha,ha…! Seng Koen, coba kau
menengok dan liaht siapa dibelakangmu! Kau tidak berani?
Lihatlah bayangan hitam diatas bumi. Mengapa diatas
bumi terdapat tiga bayangan manusia sedang yang
berkelahi hanya dua orang.”
Mendadak tinju Cia Soen menyambar. Seng Koen tidak
keburu mengerahkan Kioe yankang ia menangkis dengan
lweekang biasa. Begitu kedua tangan kebentrok, tubuh
ketua lawan bergoyang2 dan masing2 terhuyung beberapa
tindak. Sekarang Seng Koen baru mendapat lihat bahwa,
“bayangan manusia” yang ketiga sebenarnya bayangan
batang pohon siong yang patah.
Melihat lihainya si murid, makin lama Seng Koen jadi
makin bingung. Menurut pendapatnya jika ia mau
meloloskan diri, jalan satu2nya ialah menjatuhkan Cia
Soen. Tiba2 bayangan batang pohon memberi ilham
kepadanya. Dengan tindakan tidak bersuara, ia mundur dua
tindak ke arah batang pohon itu. Cia Soen merangsek, dia
mundur lagi. Ia ingin memancing lawan ke pohon itu.
“Giehoe, hati2 dibawah kaki!” teriak Boe Kie.
Cia Soen terkejut buru2 ia melompat kesamping. Tapi
karena keterlambatan itu Seng Koen, mendapat kesempatan
baik. Ia segera mengirim pukulan yang tak bersuara kedada
dan begitu lekas telapak tangannya menyentuh dada, ia
mengeluarkan lweekang yang sehebat2nya hingga tanpa
ampun lagi Cia Soen robih terjengkang!
Dengan girang Seng Koen melompat dan menendang
kepala muridnya. Pada detik terakhir Cia Soen
menggulingkan diri dan kemudian melompat bangun.
Mulutnya mengeluarkan darah dan mukanya menakutkan.
2642
Sambil berdiri tegak perlahan2 Seng Koen mengirim
pukulannya. Sebagaimana diketahui, Cia Soen menangkis
setiap pukulan dengan menggunakan kupingnya, dengan
mendengari sambaran angin dari pukulan musuh. Serangan
Seng Koen mengirim pukulan yang tak bersuara dan ia tak
berdaya. Sekali lagi ia kena dipukul pundaknya. Ia
menghadapi bencana. Banyak berteriak terian mencaci.
Seng Koen yang licik, tapi manusia itu tidak meladeni.
Pakaian Boe Kie basah dengan keringat. Ia mencekal
tangan Tio Beng dan berkata dengan suara gemetar. “Beng
moay, tolong lekas jalan apa?”
“Asal kau setuju menggunakan senjata rahasia untuk
membutakan kedua mata manusia itu?” tanya nona Tio.
Boe Kie menggelengkan kepala. “Biarpun mesti mati,
Giehoe pasti tak suak aku melakukan perbuatan itu,”
jawabnya.
Sementara itu, perlahan2 cuaca berubah gelap.
Tiba2 terdengar teriakan, “Thian kauw makan matahari.
Thian kauw makan matahari.”
Boe Kie menengadah. Ia lihat matahari sompelak
separoh. Itulah gerhana matahari. Keadaan berubah kalut
sebagian orang mendongak keatas, sebagian terus
menonton pertempuran dan sebagian pula berlutut kearah
matahari sambil manggut2 kepala.
“Bangsat! Seng Koen!” caci Tio Beng. “Kau terlalu jahat,
sehingga Lou hian ya (langit) esndiri tidak bisa
mengampuni kau lagi. Lihatlah! Langit mengunjuk
keangkerannya untuk menumpas kau. Hari ini kau harus
mampus, rohmu akan dilemparkan kegunung golok dan
digodok dalam kuali minyak mendidih dan sepanjang masa
kau tidak akan bisa dilahirkan lagi didalam dunia!”
2643
Melihat perubahan dilangint itu dan makin lama cuaca
makin gelap Seng Koen yang memang sudah goncang
hatinya jadi ketakutan. Ia menyerang mati2an dengan
maksud mencari lowongan untuk kabur kebawah gunung.
Tapi Cia Soen yang bertekad untuk membalas sakit hatinya,
tidak memperdulikan apapun juga dan terus mendesak
sehebat2nya, sehingga ia tak mendapat kesempatan untuk
meloloskan diri.
Sekonyong2 terdengar berkokoknya ayam jago dibukit
dan beberapa saat kemudian, seluruh permukaan matahari
sudah ditutup oleh bayangan rembulan. Keadaan berubah
jadi gelap gulita. Ditempat jauh terdengar geram pekik dan
jeritan macam2 binatang buas, di campur dengan
menyalaknya kawanan anjing. Keadaan benar2
menyeramkan. Orang2 yang berada disitu adalah jago2
rimba persilatan, tapi tak urung bulu roma mereka bangun
semua. Gerhana matahari sekali ini memang luar biasa,
langit gelap gulita seperti malam.
Dengan adanya perubahan alam ini Seng Koen yang
matanya terang jadi gelap seperti buta. Dengan hati keder ia
menggunakan siasat mundur, tapi Cia Soen tidka memberi
hati kepadanya. Beberapa saat kemudian ia berteriak
“Aduh!”, sebab dadanya kena pukulan Cit siang koen yang
hebat. Tapi memang dia bukan manusia bodoh. Sesudah
kena pukulan hebat, ia mundur dengan mengubah cara
berkelahi. Ia sekarang mengugnakan Siauw kin hanchioe
yaitu ilmu mencengkram, memiting, membanting dan
sebagainya dalam perkelahian rapat. Dengan ilmu itu ia tak
perlu menggunakan mata.
Sambil menggeram Cia Soen pun melawan ilmu yang
serupa. Dalam kegelapan para hadirin hanya mendengar
suara bentrokan2 tanyan nyaring dahsyat.
Boe Kie mendengari dengan hati berdebar2. ia tidak bisa
2644
membantu dan juga tidak bisa melihat jalan perkelahian.
Dengan mendengar teriakan “Thian kauw makan
matahari” Cia Soen tahu apa yang sudah terjadi. Ia sendiri
sudah buta selama dua puluh tahun lebih. Ia sudah biasa
dengan kebutaan itu dan kupingnya sedikit banyak sudah
bisa menggantikan peranan mata. Dilain pihak, Seng Koen
tidak pernah bertempur dengna kegelapan total, dalam
keadaan diaman kedua matanya tidak bisa digunakan. Cia
Soen tahu bahwa selama kegelapan total ia memang diatas
angin.
Ia tidak boleh membuang wkatu dan ia segera
menyerang denga sehebatnya, dengan seantero kepandaian
dan tenaganya. Waktu Seng Koen menyerang dengan
Siauw na-chioe iapun segera menggunakan ilmu tersebut.
Sesudah beberapa gebrakan, mendadak, mendadak Cia
Soen mementangkan kedua tangannya dan mencoba
mengacip iga musuhnya. Seng Koen girang “Kena!” ia
berteriak sambil menusuk kedua mata Cia Soen denga dua
jari tangannya.
Itulah pukulan Siang Liong Chioe Coe.
Pukulan ini tidak luar biasa, tapi kalai digunakan dalam
Siauw kin na chioe, bahayanya sangat besar. Jika musuh
mengegos, si penyerang bisa mengirim pukulan susulan
dengan tangan kirinya dan kedua pukulan itu pasti akan
menghantam kepala. (Siang liong Chioe coe Sepasang naga
berebut mutiara).
Tapi diluar dugaan Ciao Soen tidak berkelit. Ia pun
membentak “Kena!” dan menusuk mata Seng Koen dengan
pukulan Siang liong chioe coe juga. Pada detik kedua
jarinya amblas dimata Cia Soen, hati Seng Koen mencelos
karena tanpa tercegah lagi, kedua matanya pun kena
tusukan jari.
2645
Ketika itu matahari mulai mengintip dan diantara cuaca
remang2, pada hadirin bisa melihat kedua lawan itu
sekarang berdiri seperti patung dengan mata mengucurkan
darah. Seng Koen sudha jadi orang buta, sedang Cia Soen
yang memang sudah buta, hanya mendapat luka biasa.
“Enak jadi orang buta?” tanya Cia Soen dengan suara
dingin dan hampir berbareng, ia menghantam dengan
tinjunya. Pukulan Cit siang koen kena tepat di dada Seng
Koen. Dengan tinju kiri ia mengirim tonjokkan kedua. Seng
Koen terhuyung, tubuhnya membentur batang siong dna
mulutnya memuntahkan darah.
“Segala apa ada pembalasannya! Siancai! Siancai!” seru
Touw Ok.
Cia Soen terkejut. Tinjunya yang sudah terangkat
diturunkan lagi, “Sebenarnya aku ingin menghadiahkan kau
dengan tiga belas pukulan Cit Siang Koen,” katanya. “Tapi
sebab sekarang kau sudah musnah dan kau sudah menjadi
orang bercacat, maka aku tak bisa turunkan sebelas pukulan
lagi.”
Melihat Cia Soen mendapat kemenangan para hadirin
bersorak sorai.
Mendadak Cia Soen bersila ditanah dan tulang2nya
mengeluarkan suara peratak perotok.
Boe Kie terkesiap. Ia tahu ayah angkatnya sedang
membalik aliran hawanya untuk memusatkan (Red:
‘memusnahkan’ mungkin harusnya?) kepandaiannya
sendiri.
“Gie hoe, jangan!” teriaknya. Ia memburu tapi baru saja
ia menempelkan telapak tangannya dipunggun sang ayah
angkat untuk mengirim Kioe yang cin khie, Cia Soen sudah
melompat bangun dan memukul dadanya sendiri, sehingga
2646
ia lantas saja muntah darah. Buru2 Boe Kie mencekal
tangan orang tua itu. Dengan hati mencelos, ia mendapat
kenyataan, bahwa sang Gie hoe tidak bertenaga lagi. Semua
ilmu silatnya sudah musnah dan sukar dipulihkan lagi.
“Seng Koen,” kata Cia Soen. “Kau sudah
membinasakan semua keluargaku. Hari ini aku membalas
sakit hati dengan membutakan kedua matamu dan
membinasakan ilmu silat suhu, ilmu silatku diberikan
olehmu. Hari ini aku memusnahkannya dan
memulangkannya kepadamu. Mulai saat ini, antara kita
berdua sudah tidak ada sangkutan lagi. Semua budi dan
semua sakit hati sudah dibayar lunas. Kau selamanya tak
akan bisa melihat aku, sedang akupun tak akan bisa melihat
mukamu lagi.”
Seng Koen menutup mata dengan kedua tangan dan
tidak mengeluarkan sepatah kata.
Para orang gagah saling mengawasi. Mereka tak nyana,
bahwa permusuhan antara guru dan murid itu akan
berakhir secara begitu.
Sementar itu Cia Soen sudah bicara dengan suara
nyaring! “Aku Cia Soen berdosa besar dan aku sama sekali
tidak duga, bahwa aku bisa hidup sampai hari ini.
Sekarang, jika diantara para enghiong ada yang sanak
keluarganya dibinasakan olehku, maka ia boleh lantas saja
maju untuk ambil jiwaku. Boe Kie, kau jangan merintangi
dan juga tidak boleh membalas sakit hati, supaya kau tidak
menambah kedosaanku.”
Dengan air mata berlinang, si anak mengangguk.
Untuk beberapa saat seluruh lapangan sunyi senyap.
Sesudah melihat apa yang terjadi, banyak orang yang
menganggap, bahwa turun tangan terhadap Cia Soen
diwaktu itu bukan perbuatan seorang ksatria.
2647
Tiba2 seorang pria maju dan berkata: “Cia Soen, ayahku,
itu Cie Tin Cin Lam Khoe Loo Hiong binasa dalam
tanganmu. Aku ingin membalas sakit hatinya.”
“Benar, Koe Heng boleh lantas turun tangan,” jawabnya.
Orang she Khoe itu segera menghunus golok.
Bukan main bingungnya Boe Kie. Ia serba salah.
Tubuhnya gemetaran dan tanpa merasa ia maju beberapa
tindak.
“Anak Boe Kie!” bentak sang Gie Hoe, “Kalau kau
merintangi, artinya kau anak tidak berbakti. Sesudah aku
mati, kau boleh periksa penjara diddalam tanah dan kau
akan tahu segala apa.”
Orang she Khoe itu mengangkat goloknya sampai
dibatas dada. Tiba2 air matanya mengucur. Ia meludahi
muka Cia Soen dan berkata dengan suara parau, “Diwaktu
hidup, Sian hoe (mendiang ayah) seorang gagah. Jika
tokhnya angker, ia tentu tidak setuju jika aku
membinasakan seorang buta yang tidak bisa melawan
lagi…” Goloknya jatuh dan sambil menekap muka dengan
kedua tangannya, ia lari balik ke orang banyak.
Seorang wanita setengah tua maju dan berkata: “Cia
Soen, aku ingin membalas sakit hati kakakku. Im Yang Pan
Koan Cin Peng Hoei.” Ia mendekati, meludahi dan berlalu
sambil menangis.
Melihat ayah angkatnya dihinakan tanpa bergerak, hati
Boe Kie seperti disayat pisau.
Dalam Rimba Persilatan hidup atau mati di pedang kecil.
Yang dianggap sebagai urusan besar ialah hinaan. Kata
orang.
“Orang gagah boleh dibunuh, tak boleh dihina.”
2648
Meludahi muka adalah salah satu hinaan terhebat, tapi Cia
Soen menelannya dengan segala kerelaan. Ini merupakan
bukti, bahwa ia sungguh2 merasa menyesal akan
perbuatannya yang dulu2.
Demikianlah seorang demi seorang maju menghampiri
untuk membalas sakit hati sanak keluarganya. Ada yang
meludahi, ada yang menggelepok, ada pula yang mencaci.
Cia soen menerima itu semua dengan kepala menunduk
dan mulut membungkam.
Sesudah tigapuluh orang lebih melampiaskan
ganjelannya, majulah seorang imam yang jenggotnya
panjang. “Pinto membuktikan bahwa Cia thay sebenarnya
seorang mulia. Pintu sendiri pernah membinasakan banyak
orang baik, orang2 jalanan putih maupun orang2 jalanan
hitam. Apabila Pinto membalas sakit hati terhadap Cia thay
hiap, lain2 orang juga tentu akan mencari pinto untuk
membalas dendam sakit hati mereka.” Sesudah berkata
begitu, ia menghunus pedang, mementil badan pedang yang
lantas patah dua dan melemparkan gagang senjata itu
ditanah. Sesudah memberi hormat dengan membungkuk, ia
berlalu sambil menundukkan kepala.
Para hadirin lantas saja mengutarakan pendapat mereka
dengan bisik2. nama Thay hie coe tidak banyak kenal
orang. Tak dinyana, ia mempunyai kepandaian tinggi. Apa
yang sangat mempengaruhi orang adalah sikapnya dan
dada yang lapang. Sesudah mendengar teguran Thayhie
coe, rasanya tak ada orang lagi yang menghina Cia Soen.
Tapi diluar dugaan, dari rombongan Co bie pay
keluarlah seorang pendeta tua. Ia menghampiri Cia Soen
dan berkata, “Kau sudah membunuh suamiku, tapi
cukuplah jika aku meludahi mukamu,” ia lantas saja
menyemburkan ludahnya kemuka Cia Soen. Orang yang
berkuping tajam lantas bisa mendengar bahwa dalam
2649
semburan ludah itu mengandung sesuatu. Cia Soen bahwa
sebatang paku sedang menyambar. Ia tidak berkilat dan
hanya berkata didalam hati, “ Kalau aku mati sekarang, aku
mati agak terlambat.”
Pada saat yang sangat penting mendadak tubuh si baju
kuning melesat dan tangan bajunya menggulung senjata
rahasia itu. “Soe thay siapa namanu!” bentaknya.
Niekouw it terkesiap, “Aku Ceng ciauw” jawabnya.
“Hm.. Ceng Ciauw.. Ceng Ciauw! Sebelum kau menjadi
pendeta siapa suamimu? Cara bagaimana Cia Thayhiap
membinasakan dia?”
“Perlu apa kau bertanya begitu melit?”
“Cia Thayhiap menyesal akan perbuatannya yang dulu2.
Kalau yang maju adalah orang yg benar2 mau membalas
sakit hati ayah atau sanak lain biarpun di cincang, Cia
Thayhiap akan menerima dengan rela dan orang luar tidak
boleh mencampuri. Tapi mana kala yang turun tangan
merupakan manusia yang mau memancing ikan di air keruh
yang mau membunuh untuk mulut orang, maka siapapun
juga, boleh mencampuri.”
“Dengan Cia Thayhiap aku tak punya permusuhan.
Perlu apa aku membunuh orang untuk menutup…” Ceng
Ciauw tidak meneruskan perkataan! Ia tahu bahwa dalam
kaget dan takutnya, ia sudah kesalahan omong. Paras
mukanya pucat pasi dan ia melirik Cioe Cie Jiak.
“Benar!” kata si baju kuning. “Dengan Cia tayhiap kau
tidak mempunyai permusuhan apa kau membunuh orang
untuk menutup mulutnya? Hm.. dua belas pendeta wanita
Go Bie Pay dari tingkatan Ceng hiaom, Ceng hie, ceng
ciauw semuanya menjadi pendeta sedari masih gadis. Dari
mana datangnya suami?”
2650
Tanpa menjawab Ceng Ciauw balik kerombongannya.
“Mana boleh kau berlaku begitu saja?” bentak si baju
kuning sambil melompat. Dengan beberapa lompatan ia
sudah mencegah nikouw it. Ia menotong pinggang dan
menendang sehingga Ceng Ciauw lantas saja roboh.
Si baju kuning tertawa dingin. “Ciauw Kauw nio, susah
membunuh orang untuk menutup mulutnya!” katanya.
“Jangan omong kosong kau!” kata Cie Jiak dengan suara
dingin. “Ceng ciauw suci memang mau membalas sakit
hatinya.”
Ia mengibaskan tangannya dan berkata pula. “Banyak
murid partai lurus bersih tak membedakan lagi mana yang
lurus mana pula yang sesat dan sudah rela bersatu padu
dengan kawanan siluman. Go Bie Pay tak boleh turut
masuk diair kotor. Hayo kita pulang!” Semua murid Go Bie
lantas saja bersiap untuk berangkat. Beberapa anara
mengawasi Ceng Ciauw yang rebah ditanah. Mereka tak
tahu apa Ciang beon jin mereka akan menolong atau akan
membiarkan saja saudara seperguruannya yang roboh itu.
Sementara itu terdengar bentakan Kong tie, “Goantin!
Lekas perintahkan kaki tanganmu melepaskan Hong thio!
Jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan, kedosaanmu akan
lebih besar lagi.”
Seng Koen terawa getir. “Sesudah urusan sampai disini
biar kita mati bersama2,” katanya.
“Andaikata mau sekarang akupun tak bisa menolong lagi
si hweesio tua Kong boen. Apa kau buta? Apa kau tak lihat
sinar api?”
Kong tie tekrjut. Ia mengawasi kebawah bukit dan benar
saja dikuil Siauw Lim sie terlihat berkobar api. “Celaka! Ta
mo tong terbakar,” serunya. “Lekas padamkan api!”
2651
Semua pendeta Siauw Lim yang berada disitu lantas
bergerak untuk turun bukit guna memadamkan api. Tiba2
terlihat semburan2 air yang panjang seperti naga putih dan
tak lama kemudian api sudah dapat dikuasai.
Kong tie merangkap kedua tangannya, “Kuil kami
terbebas dari kemusnahan.”
Beberapa saat kemudian dua pendeta mendaki bukit
dengan berlari2. “Melaporkan kepada Soesiok couw,” kata
yang satu kepada Kong tie “Kaki tangan Goan tin telah
membakar Tot mo tong. Syukur beribu syukur, para
enghiong dari Ang soei kie keburu menolong dan sekarang
sudah dipadamkan.”
Kong tie menghampiri Boe Kie dan merangkap kedua
tangannya. “Bahwa kuil siauw lim sie terbebas dari
kemusnahan adalah karena pertolongan Thio Kauwcoe
yang sangat besar,” katanya. “Semua anggota Siauw Lim
tak akan melupakan budi yang sangat besar itu.”
Boe Kie membalas hormat. “Hal ini hanya sepantasnya
saja dan Taysoe tak usah berkata begitu,” jawabnya.
“Kong beon suheng dikurung di tat mo ih oleh murid2
itu,” kata pula Kong tie. “Walaupun kebakaran sudah
dipadamkan, aku masih belum tahu nasib suheng. Thio
Kauwcoe dan yang lain2 tunggulah sebenaran disini, loolap
ingin pergi menyelidiki.”
Seng koen tertawa terbahak2. “Tubuh Kong boen dilabur
minyak kerbau dan minyak babi,” katanya. “Begitu api
berkobar, begitu ia tamat riwayatnya. Ang soei kie bisa
menolong Tat mo ih, tapi tak akan mampu menolong
situa.”
“Kalau Angsioe kie tak bisa, masih ada Houw Touw
kie!” kata seorang yang sedang mendaki puncak bukit.
2652
Orang itu adalah Hoan Yauw. Ia muncul bersama Gan
Hoan (Ciang kie see Aouw touw kie) dan seorang pendeta
tua yang dipapah mereka. Orang2 tahu, bahwa pendeta
yang dipapah itu bukan lain dari pada Hong thio seng ceng.
Mereka mendapat luka dan pakaian mereka terbakar disana
sini.
Kong tie membuta dan memeluk suhengnya,
“Suheng!...” katanya dengan suara parau.”Sutemu tak
punya kebecusan dan berdosa besar.”
Kong boen tersenyum. “Kalau Hoan Siecoe dan Gan
Siecoe tidak keburu muncul dari terowongan, aku tak akan
bisa bertemu lagi dengan kau masih bernapas,” katanya.
“Kepandaian Hauw towu kie dalam membuat
terowongan tiada bandingannya didalam dunia,” kata Kong
tie dengan suara kagum dan berterima kasih. Ia berpaling
kepada kedua penolong itu dan membungkuk. “Hoan
Siecoe,” katanya pula, “loocang pernah berlaku tak pantas
terhadapmu dan aku harap kau sudi memaafkan. Looceng
sekarang membatalkan perjanjian bertemu di Ban hoat sie.
Looceng tidak berani pergi kesitu.”
Dalam Rimba Persilatan, tak menempati janji dipandang
sebagai hal yang lebih memalukan daripada kalah
berkelahi. Bahwa Kong tie rela menarik pulang janjinya dan
menyerah kalah. Merupakan bukti, bahwa ia merasa sangat
berhutang budi kepada Hoan Yauw. Kedua tokoh itu
memang saling menghargai. Mulai dari waktu itu mereka
menjadi sahabat karib.
o)0o-dw-o0(o
Dalam usaha busuknya. Seng Koen sudah membuat
rencana yang diperhitungkan masak2.
Sebelum pembukaan Enghiong Tay hwee ia berhasil
2653
membokong Kong boen dengan totokan dna kemudia
mempenjarakan pemimpin itu di ruangan Tay moin, yang
diisi dengan rumput, kayu kering, tahan2 api. Ruang itu
lalu kemudian dijaga oleh kaki tangannya yg setia. Dengan
Kong boen sebgai tanggungan, ia berhasil menundukkan
Kong tie. Ia mengancam bahwa jiwa Kong tie membantah
perintahnya, Kong boen akan segera dibakar.
Sesudah usahanya gagal, ia memberi isyarat supaya kaki
tangannya segera membakar Tat mo ih. Ia mengharap
selagi para enghiong dan para pendeta berusaha
memadamkan api, kawan2nya akan bisa ditolong dirinya.
Tapi dalam pada itu telah terjadi sesuatu yang tak pernah
diduga olehnya. Begitu tiba dikaki gunung Sauw sit san,
pada sebelum bertemu dengan Boe Kie, Yo Siauw
memerintahkan Houw tauw kie membuat terowongan
kekuil Siauw Lim sie. Tujuannya ialah untuk menolong Cia
Soen. Tapi belakangan ternyata bahwa Cia Soen bukan
dipenjarakan didalam kuil. Penukaran patung Tat mo
Couw soe dalam Tat mo ih dilakukan oleh orang2 Houw
Touw kie.
Waktu Seng koen terlocot topengnya. Tio Beng dan Yo
Siauw lantas bisa menduga apa yang akan terjadi. Sesudah
berdamai, mereka minta Hoan Yauw memimpin Ang soei
dan Houw tauw kie untuk memadamkan kan kebakaran
dan menolong Kong boen di Tat mo ih. Tapi karena
rapihnya persiapan, maksud menolong tercapai, Houw
touw kie menderita kerusakan dan ketiga anggotanya
mengorbankan jiwa. Kalau Hoan Yauw dan Gian Hoan
tidak menggunakan terowongan waktu kabur dengan
membawa Kong hoen maka mereka bertiga pun akan
binasa. Kebakaran itu hanya merusak Tat mo ih dan
beberapa bangunan lain.
Tay hiong po thian ceng keng dok loohan hion dan lain2
2654
gedung dapat diselamatkan.
o)0o-dw-o0(o
Sesudah berdamai dengan Kong tie, Kong Boen segera
mengeluarkan perintah supaya semua kaki tangan Seng
Koen dipenjarakan dibelakang kuil menunggu keputusan,
Seng Koen sudah berdiam lama di Siauw lim sie dan
konco2nya berjumlah tidak sedikit. Tapi melihat kepala
mereka sudah dirobohkan Hong thio ketolongan, orang2 itu
tidak berani melawan dibawah pimpinan Sioe co lo han
tong mereka digiring turun bukit.
Sesudah itu Boe Kie mendapat kenyataan bahwa dalam
kekalutan, Cie Jiak dan rombongannya sudah berlalu,
dengan meninggalkan Ceng Ciauw yang masih rebah
ditanah.
Boe Kie menghampiri si baju kuning dan sambil
menyoja, ia berkata: “Dua kali Thio Boe Kie menerima
pertolongan cie cie. Untuk itu aku hanya menghaturkan
banyak2 terima kasih. Disamping itu, aku mohon tanya she
dan nama cici yang mulia, supaya siang malam aku bisa
mengingatkannya.”
Si nona tersenyum. Ia menjawab dengan kata yg
merupakan sajak: “Dibelakang gunung Ciong lam san,
terdapat kuburan Mayat Hidup, Burung Rajawali sakti dan
pasangan pendekar tak muncul lagi dalam dunia
Kangouw.” Seraya berkata begitu, ia membalas hormat dan
kemudian, ia mengulapkan tangan kearah delapan
pengiringnya. Sesaat kemudian, bersama delapan wanita
baju putih dan hitam itu, ia turun bukit.
Boe Kie memburu, “Cici tahan dulu!” serunya.
Si nona tidak meladeni dan berjalan terus. “Yo Cici! Yo
Cici!” panggil Soe Heng Sek.
2655
“Segala urusan kay pang kumohon bantuan kauwcoe,”
kata si baju kuning sambil berjalan terus.
“Boe Kie menerima perintah.”
“Terima Kasih!” Perkataan “terima kasih” itu terdengar
jauh sekali karena si nona sudah menggunakan ilmu
mengentengkan tubuh.
Sesudah itu, Boe Kie mendekati Cia Soen. “Gie Hoe,”
panggilnya. Air matanya mengucur.
“Anak edan,” kata sang Gie hoe sambil tertawa. “Atas
petunjuk Sam wie ko ceng aku sekarang baru mendusin.
Segala hutang2ku telah dibereskan. Kau sebenarnya harus
merasa girang. Mengapa kau berduka? Sebab ilmu silatku
musnah? Apakah kau ingin aku menggunakan lagi ilmu iut
untuk melakukan perbuatan2 berdosa?”
“Giehoe benar,” kata si anak dengan suara perlahan.
Cia Soen lalu menghampiri Kong boen dan berlutut.
“Tee coe berdosa besar dan memohon Hong thio sudi
menerima teecu sebagai murid,” katanya.
Sebelum Kong boen menjawab, Touw Ok mendahului:
“Mari! Biar looceng saja yang mengambil kau sebagai
murid.”
“Teecu tidak berani mengharap begitu besar,” kata Cia
Soen.
Cia Soen berkata begitu sebab jika ia mengangkat Kong
Boen sebagai guru, ia berada ditingkatan “goan” sedang jika
ia mengambil kedudukan tingkatan “Kong” yang
bersamaan tinggi denga Kong boen dan Kongtie.
“Fui!” bentak Touw Ok. “Kong kosong. “Goan” juga
sama kosongnya. Kau sungguh tolol!”
Cia Soen tertegun, tapi ia lantas mendusin. “Guru
2656
kosong, murid kosong, tak ada dosa, tak ada mulia, tak ada
jasa,” katanya.
Touw Ok tertawa terbahak2. “Sekarang kau sudah
menjadi anak murid kami,” katanya. “Kamu tak usah
mengubah nama. Kau mengerti maksudku?”
“Mengerti,” jawabnya. “Segala apa hanya merupakan
bayangan kosong. Jangankan nama sedangkan tubuhpun
pada hakekatnya sesuatu yang tak ada.”
Cia Soen seorang yang “boen-boe-coan-cay” (paham
surat dan silat). Sesudah mendapat petunjuk Touw Ok, ia
segera dapat menangkan intisari dari pada pelajaran sang
Budha. Belakangan ia menjadi salah seorang pendeta suci.
Boe Kie menyaksikan dan mendengar itu semua dengan
rasa girang tercampur duka.
“Mari!” kata Touw Ok akhirnya sambil menuntun
tangan Cia Soen dan bersama kedua saudara
seperguruannya, ia turun bukti. Kong-boen, Kong-tie, Boe
Kie dan yang lain2 memberi hormat dengan membungkuk.
Tigapuluh tahun yang lalu Kim mo say ong melakukan
perbuatan2 yang menggemparkan dunia Kang Ouw.
Sekarang ia masuk di “pintu kosong”. Mengingat itu
semua, banyak orang menghela napas dengan rasa terharu.
Sesudah ketiga pendeta dan Cia Soen berlalu sambil
merangkap kedua tangannya, Kong Boen berkata. “Kami
merasa malu, bahwa berhubung dengan terjdinya
pengkhianatan kami tak bisa melayani para enghiongnya
secara pantas. Sekarang kita berkumpul. Entah kapan kita
bisa berkumpul pula. Mengingat itu kami memberanikan
diri untuk mengundang kalian guna mengaso sehari dua
hari dikuil kami.”
Bersama tuan rumah, para tamu lantas saja kembali ke
2657
kuil siauw lim sie, dimana sudah disediakan makanan cia
cay. Sesudah itu diadakan sembahyang untuk rohnya
orang2 gagah yang membuang jiwa dalam pertempuran.
Untuk Boe Kie, selesainya Enghiong Tayhwee belum
berarti hilangnya banyak tanda2 didalam hatinya. Masih
banyak hal yang belum terang baginya. Cia Soen sudah
berlalu sebelum memberi keterangan. Boe Kie merasa
bahwa banyak pertanyaan yang belum terjawab,
mempunyai sangkut paut dengan Cie Jiak. Ia seorang mulia
dan ia masih belum melupakan kecintaan dahulu. Maka itu
ia menghibur diri sendiri dengan memikir, bahwa soal2 itu
sebaiknya jangan diselidiki terlalu mendalam supaya nama
Cie Jiak jangan jadi lebih rusak.
Sesduah bersantap, ia pergi ketempat Kaypang untuk
membicarakan soal2 partai pengemis denga Soe Hong Sek
dan nama Tingloo. Selagi beruntun, mendengar swee poet.
Tak menerobos masuk dan berkata. “Kaucoe, Boe tong
siehiap datang berkunjung. Ia mengatakan, ada urusan
penting yang mau dibicrakan.”
Boe Kie terkejut. “Apa ada sesuatu yg terjadi atas diri
Thay suhu?” tanyanya didalam hati. Buru2 ia keluar
menyambut. Sesudah memberi hormat dengan berlutut,
hatinya baru agak lega sebab lihat paras muka thio Siauw
Koe tenang2 saja. “Apa Thay suhu baik?” tanyanya.
“Tak kurang suatu apa,” jawabnya. “Di Butong san aku
mendapat warta bahwa dua laksa tentara Goan sedang
menuju ke Siauw Lim sie dengan maksud yang tidak baik
terhadap eng hiong tayhwee. Maka itu, baru2 aku datang
disini.”
“Mari kita beritahukan Hong thio,” kata Boe Kie.
Mereka segera pergi keruangan bealkang dan menemui
Kong boen.
2658
Sesudah berpikir sejenak, Kong Beng berkata, “Soal ini
sangat besar. Kita harus berdamai dengan para orang
gagah.” Ia segera memerintahkan dibunyikannya lonceng
dan mengumpulkannya semua orang di Tay hiong Pothan
dan mendengar laporan Thio Siong Kee semua orang
terkejut dan beberapa antaranya lantas saja mengutarakan
pikiran Yang berdarah panas mengusulkan supaya mereka
turun gunung dan melabrak tentara musuh. Yang lebih
tenang mengenakan, bahwa gerakan tentara Goan itu belun
tentu ditujukan kepada Siauw Lim Sie.
“Aku mengerti bahwa Mongol,” kata Thio Siong Kee.
“Aku dengar dengan kuping sendiri bahwa pasukan itu
benar2 mau menyerang Siauw Lim sie.”
“Menurut pendapatku, tentara kerajaan menyerang
karena mereka menduga bahwa berkumpulnya kita disini
mempunyai tujuan untuk merusakan mereka,” kata Kong
Boen.
“Kita paham ilmu silat dan kita tak takut kawanan Tai
coe, musuh datang harus disambut. Air datang harus
dibendung. Kita tak usah takut…” Belum habis Kong boen
bicara beberapa orang sudah menepuk2 tangan untuk
menyatakan persetujuannya.
Sesudah sambutan mereda,Kong ben selanjutnya! “Akan
tetapi kita orang2 Rimba Persilatan, biasa bertempur satu
melawan satu. Kita berkelahi dengan tangan kosong atau
dengan senjata rahasia! Berkelahi dengan menunggang
senjata panjang seperti tombak dan sebagainya, kita belum
punya pengalaman. Maka itu menurut pikiran loolap,
sebaiknya para neghiong bubar dan pulang kemasing2
tempatnya.”
Mendengar saran itu untuk beberapa saat semua orang
membungkam.
2659
“Aku sendiri tidak setuju,” kata Boe Kie. “Pertama kalau
kita bubar Tat coe akan mengatakan bahwa kita tkut
terhadap mereka. Kedua bagaimana dengan para suhu yang
berdia dikuil ini?”
Kong boen tersenyum. “Kalau tentara Goan lihat bahwa
yang berada disini hanya para pendeta2 dan bukan orang2
kangouw, mereka tentu tak akan berbuat apa2,” katanya.
Semua orang mengerti bahwa Kong boen berkata begitu
karena tidak mau merembet orang. Para tamu datang atas
undangan Siauw Lim Sie. Kong Boen tak mau mereka
mengorbankan jiwa karea gara2 orang Siauw Lim Sie. Tapi
orang2 yg berada disitu adalah laki2 sejati. Mana bisa
mereka mundur dalam menghadapi musuh?
“Dihadapan Hong thio dan para enghiong aku yang
rendah sebenarnya tidak boleh banyak mulut,” kata Yo
Siauw. Pada hakekatnya setiap orang yang berada disini
mempunyai kewajiban untuk melawan musuh menurut
pikiranku kita sebaiknya mencari daya untuk memancing
Tat coe dimana bisa menggempur mereka. Sedapat
mungkin janganlah kuil yang bersejarah ini dijadikan
medang perang.”
Semua orang lantas saja menyetujui usul itu.
Tiba2 diluar terdengar suara kaki kuda yang dikaburkan
secepat2nya dan kemudian berhenti didepan kuil. Beberapa
saat kemudian masuk dua partai dengan diantara oleh
seorang Tie Kek Ceng. Dari pakaiannya mereka ternyata
anggota Beng Kauw.
Sesudah memberi hormat, salah seorang berkata,
“Melaporkan kepada Kauw coe, bahwa pasukan depan Tat
coe yang berjumlah lima ribu orang sedang menerjang ke
Siauw Lim Sie. Mereka mengatakan bahwa para suhu
mengumpulkan orang untuk melakukan pemberontakan.
2660
Mereka sesumbar mau injak Siauw Lim sie sampai jadi
bumi rata dan mereka mau membinasakan setiap kepala.”
Ia berhenti ditengah jalan.
Kong Boen tersenyum. “Kau mau mengatakan kepada
gundul bukan?” tanyanya. “Tak usah ragu2. Katakanlah
segala perkataan yang harus dikatakan.”
Orang itu mengangguk. “Disepanjang jalan kami
mendapat kenyataan bahwa sudah banyak pendeta yang
dibinasakan Tat coe,” katanya pula. “Tat coe mengatakan
begini, ‘kepala gundul bukan orang baik.’ Siapa yang
membawa senjata harus dibunuh. Itulah pendirian pasukan
latcoe.”
Semua orang meluap darahnya. Banyak yang lantas
berteriak2 dan mengusulkan turun gunung untuk
menggempur musuh. Semenjak orang Mongol berkuasa di
Tiongkok pencinta2 negeri diseluruh Rimba persilatan
memang menganggap penjajah sebagai musuh dan dalam
cara2nya sendiri berusaha untuk mengusir penjajah.
Gerakan Beng Kauw merupakan sebuah usaha mereka.
Melihat besi sedang panas, Boe Kie segera berkata
dengan suara lantang. “Saudara saudara! Hari ini
merupakan kesempatan yang paling baik untuk
memperlihatkan bahwa laki2 sejati yang bisa berkurban
demi kepentingan negara. Nama Siauw Lim Eng hiong tay
hwee akan tercatat dalam buku sejarah dan akan diingat
orang untuk selama2nya.”
Pidato bersemangat itu disambut dengan sorak sorai
gegap gempita.
“Sekarang biarlah kita minta Kong boen Hong thio
memegang pemimpin,” kata pula Boe Kie. “Kami dari
Beng Kauw akan mentaati semua perintah.”
2661
“Mana bisa begitu?” kata Kong boen seraya merangkap
kedua tangnnya. “Walaupun benar kami pernah belajar dan
mengerti sedikit ilmu sialt, kami sama sekali tidak mengenal
ilmu perang. Semenjak beberapa tahun lalu Beng Kauw
sudah memulai suatu usaha besar diketahui oleh semua
orang. Menurut pendeta loolap, hanya tentara Beng Kauw
yang akan dapat melawan tnetara Tat coe. Maka itu loolap
mengusulkan untuk mengangkat Thio Kauwcoe sebagai
Boe lim beng coe (kepala perserikatan dari Rimba
Persilatan) guna memimpin kita dalam peperangan
melawan Tat coe.”
Sebelum Boe Kie keburu membuka mulut, para hadirin
sudah menyambut usul itu dengan tepuk tangan dan
sorakan.
Biarpun Boe Kie masih muda dan sepang terjangnya
dalam Rimba Persilatan belum cukup untuk menakluki hati
orang, ilmu silatnya yang sangat tinggi sudah disaksikan
segenap orang gagah. Disamping itu, panglima2 tentara
Beng Kauw, seperti Han San Tong. Cie Sioe Hwee, Coe
Coan Ciang dan lain lalu, telah mendapat kemenangan2
dalam peperangan disepanjang sungai Hway ho di Holam,
Ouwpak dan sebagainya. Oleh karena itu para orang gagah
yakin, bahwa selain Beng Kauw, tak ada parti yang lebih
cocok untuk memimpin pertempuran dan memegang
komando sebagai Beng coe.
“Tanggung jawab Beng coe berat luar biasa,” kata Boe
Kie dengan suara merendah. “Aku tidak punya
kemampuan dan kuminta kalian suka memilih lain orang yg
lebih pandai.”
Sekonyong2 terdengar suara ribut yang bergemuruh dan
dilain saat dua anggota Swie kim kie menerobos masuk
keruangan musyawarah. “Tentara Mongol sudah
menerjang kegunung ini!” teriak salah seorang.
2662
Sampai disitu Boe Kie tidak bisa berlaku sungkan lagi.
“Swie kim kie, Ang Soe kie maju dimuka untuk menyambut
musuh!” katanya dengan suara angker. “Cioe Tian
Sianseng, Tiat koan To tiang, kalian berdua bantu mereka
dengan masing2 membawa saut bendera.”
Cioe Tian dan Tiat koen Toojin membungkuk dan segera
berlalu untuk menjalankan tugas.
“Swee Poet Tek suhu,” kata pula Boe Kie. “Kuminta kau
pergi ke berbagai tempat yang berdekatan untuk meminta
bala bantuan dengan membawa Seng hwee leng sebagai
tanda kepercayaan.” Tanpa menyia2kan waktu Swee Poet
Tek segera berangkat.
Para enghiong yg berada disitu rata2 berkepandaian
tinggi, tapi mereka merupakan tenaga yang belum terlatih
dalam peperangan. Sesudah Boe Kie mengeluarkan
beberapa perintah, mereka segera menghunus senjata dan
bergerak untuk menyambut musuh.
“Kauwcoe,” bisik Yo Siauw, “Jika mereka tidak
dipimpin, sekali gebrak saja mereka bakal dipukul hancur.”
Boe Kie mengangguk. Ia segera keluar lebih dulu dan
pergi ke pendopo di depan kuil untuk mengamat-amati
musuh. Ia menyadari bahwa pasukan Mongol yang di
depan, yang terdiri dari seribu jiwa lebih sudah tiba dilereng
gunung. Tetapi mereka sudah dipukul mundur oleh Swie
kim ie yang menggunakan senjata gendewa dan anak panah
serta tombak di sebelah bawah gunung yang lebih jauh, ia
lihat pasukan demi pasukan merayap naik dengan teratur.
Jaman itu keangkeran tentara Mongol sudah tidak bisa
manyamai jaman Genghis khan. Tapi biar bagaimanapun
juga tentara pilihan Mongol masih merupaka tentara yang
tiada tandingan.
Selagi Boe Kie mengasah otak untuk memundurkan
2663
tentara musuh di sebelah kiri mendadak terdengar teriakanteriakan
yang dibarengi dengan munculnya sejumlah
pendeta wanita dan laki-laki muda yang berlari-lari ke atas
gunung. Mereka adalah rombongan Go bie pay. Tak salah
lagi dalam perjalanan pulang mereka bertemu dengan
tentara Mongol yang memukul mereka balik ke atas
gunung. Dilain saat Boe Kie dan kawan-kawannya melihat
Cioe Cie Jiak, Ceng-hoei Ceng Ciauw dan beberapa
pendeta lain berkelahi sambil mundur dengan tubuh
berlumuran darah, tak jauh dari situ belasan pria yang
memikul sebuah tandu sedang dikepung oleh sejumlah
serdadu Mongol. Berulang kali Cie Jiak dan kawankawannya
menerjang dan berhasil membinasakan puluhan
serdadu musuh tapi mereka belum juga berhasil menolong
kawan-kawan yang terkepung itu.
“Celaka!” seru Boe Kie. “Yang berada dalam tandu pasti
Song soeko!” Ia berpaling dan berseru pula. “Liat hwee kie
melindungi dari kedua samping, Wie heng Hoan Yo Jiesoe
ikut aku.” Seraya memberi perintah ia berlari-lari dan
menerjang musuh. Dua serdadu memapaki, dengan tombak
rampasan ia menerjang pasukan musuh diikuti oleh Yo
Siauw, Hoan Yauw dan Pheng Eng Giok.
Sesudah mengamuk beberapa lama, Hoan Yauw
bertemu dengan seorang Siehoe thio (pangkat perwira
Mongol). Dengan sekali pukul ia menghancurkan perwira
itu dan kemudian sesudah merobohkan beberapa musuh ia
berhasil merampas seorang yang terluka parah dan rebah di
dalam sebuah tandu. Ia lalu menggendongnya, dan kabur
ke tempat yang lebih aman.
Sementara itu dengan muka penuh darah Cie Jiak
menerjang pula ke arah rombongan musuh.
“Cie Jiak balik! Song Toako sudah tertolong!” teriak Boe
Kie.
2664
Cie Jiak tidak meladeni, ia terus menyerang dengan
cambuknya. Tapi, karena jalanan gunung yang sangat
sempit dan penuh dengan manusia, terjangannya tidak
berhasil.
Beberapa saat kemudian Boe Kie lihat kedua anggota Go
bie pay, yang memikul sebuah tandu yang lain dikepung
musuh.
“Apa Song Soeko berada dalam tandu itu?” tanya Boe
Kie dalam hati. Ia segera menghampiri dengan berlari. Tapi
saat masih terpisah setombak lebih dari tandu itu, kedua
murid Go bie itu sudah kena bacokan golok dan anak
panah bersama-sama tandu yang dipikulnya, mereka
menggelinding ke bawah gunung.
Boe Kie terkejut. Ia melompat dan menggunakan tombak
yang dipegang oleh tangan kirinya untuk menahan
tergelincirnya tandu. Ia menyadari bahwa orang yang
berada di dalam tandu itu dibungkus dengan kain putih dan
hanya kelihatan mukanya. Orang itu memang tidak lain
adalah Song Ceng Soe.
Ia segera melemparkan senjatanya dan mendukung Ceng
Soe. Ia merasa heran karenga tubuhnya berat luar biasa dan
sesudah mendukungnya ia menyentuh sesuatu yang keras.
Rupa-rupanya di dalam kain putih yang membungkus
tubuh Ceng Soe terdapat suatu benda yang berat dan keras.
Tapi saat itu ia tidak sempat berpikir panjang lagi. Karena
kuatir menggetarkan tulang-tulang kepala Ceng Soe yang
belum lama disambung, ia tidak berani bertempur dengan
serdadu-serdadu yang mencegatnya dan hanya berkelit sana
sini, sambil berlari-lari dengan menggunakan ilmu
meringankan tubuh. Untung juga tak lama kemudian ia
bertemu dengan Thio Siong Kee dan In Lie Heng yang lalu
melindungi dari serangan musuh.
2665
Sementara itu pasukan Mongol yang lain dengan
kekuatan beberapa ratus orang sudah mulai merangsek ke
atas.
“Liat hwee kie turun tangan,” teriak Pheng Eng Giok.
Tentara Liat hwee kie segera menyemprotkan minyak
tanah dan panah api sehingga dua ratus lebih serdadu
Mongol yang berada di depan segera saja terbakar dan yang
lainnya terpaksa mundur.
Dilain pihak, Ang soe kie yang menyemburkan air
beracun juga sudah berhasil membinasakan serangan
musuh. Dengan menggunakan kesempatan yang baik itu,
para orang gagah turut menerjang dan membasmi musuh
sepuas hati.
Melihat gelagat tidak baik, Ban hon thio yang memimpin
tentara Mongol buru-buru memerintahkan dibunyikannya
gendering untuk menarik mundur pasukan. Dilain saat,
pasukan depan Mongol berubah menjadi pasukan belakang
dibawah perlindungan tentara yang bersenjata anak panah
mereka mundur ke bawah gunung dengan teratur.
Melihat begitu Pheng Giok menghela napas dna berkata,
“Tentara Mongol benar-benar bukan tentara sembarangan.
Mereka kalah tapi tak jadi kalut.”
Setibanya di kaki gunung tentara Mongol diatur seperti
kipas dan membuat persiapan untuk beristirahat.
Sesudah musuh menghentikan serangan, Boe Kie segera
mengeluarkan perintah.
“Swie Kim, Ang Soei dan Liat hwee, tiga bendera,
menjaga di tempat-tempat yang penting Kie bok dan Hong
touw kie harus menebang pohon dan membuat bentengbenteng
untuk menahan terjangan musuh yang
selanjutnya.”
2666
Kelima bendera itu segera berpencar untuk melakukan
tugas mereka.
Pertempuran itu memberi pelajaran dan membuka mata
para orang-orang gagah dari Rimba Persilatan. Sekarang
mereka mengerti bahwa perang lain dari pertandingan satu
lawan satu atau pertempuran antara beberapa orang yang
biasa terjadi dalam kalangan Kang ouw. Sekarang mereka
mengakui bahwa Lweekang, Gwakan, senjata rahasia dan
ilmu silat tinggi dari seseorang tidak banyak artinya dalam
peperangan, di mana beribu atau puluhan ribu manusia
bertempur secara besar-besaran. Sekarang mereka yakin
bahwa tanpa bantuan Nio heng kie, hari itu mereka semua
terhitung kuil Siauw lim tentu sudah musnah. Tanpa Ngo
heng mereka tak akan bisa melawan dua laksa serdadu
Mongol yang terlatih baik.
Sesudah musuh mundur semua, Boe Kie meletakan Song
Ceng soe di tanah dan meraba dadanya. Pemuda she Song
itu ternyata masih bernapas. Ia menengok untuk memanggil
Cie Jiak, tapi nyonya itu tak kelihatan batang hidungnya.
“Mana Song Heng jie?” tanyanya kepada beberapa murid
Go bie pay yang berada di situ.
Mereka semua menggeleng-gelengkan kepala. Dengan
repotnya melawan musuh, para enghiong pun tidak
memperhatikan nyonya muda itu.
Karena kuatir Song Ceng soe terluka, Boe Kie segera
membuka kain putih yang membungkus tubuh pemuda itu.
Bungkusan itu tak kurang dari tiga lapis. Begitu lapisan
ketiga terbuka, terdengar suara kerontangan dan empat
potong senjata jatuh di tanah. Boe Kie terkesiap, “To liong
to! Ie thian kiam!” teriaknya. Mendengar teriakan itu semua
orang memburu.
Di atas tanah menggeletak dua potong Ie thian kiam dan
2667
dua potong To liong to.
Boe Kie mengambil salah sepotong To liong to. Ia berdiri
terpaku dan kedua matanya mengeluarkan sinar kedukaan.
Ia ingat bahwa ayah dan ibunya meninggal karena golok
mustika itu. Ia ingat bahwa selama dua puluh tahun lebih
banyak orang bermusuhan, berkelahi dan hilang jiwa garagara
golok itu. Ia ingat pula bahwa perkumpulan para
enghiong di kuil Siauw lim sie juga disebabkan oleh To
liong to. Sekarang golok tersebut muncul dalam keadaan
patah dua dan tidak ada gunanya lagi.
Ia angkat potongan itu dan menyadari bahwa di
tengahnya berlubang. Ie thian kiam pun demikian.
Mungkin sekali di dalam lubang itu telah disembunyikan
sesuatu, tapi isinya sudah diambil orang.
Yo Siauw menghela napas, “Kauw coe!” katanya.
“Sudah lama sekali aku coba memecahkan teka teki sumber
ilmu silat Cioe Kauwnio sekarang aku bisa mengatakan
bahwa ilmu Cioe Kauwnio didapat dari pedang dan golok
itu.”
Boe Kie bukan orang tolol. Iapun sudah bisa merabaraba
kejadian yang sebenarnya. Ia sekarang dapat
membayangkan bahwa malam itu waktu berada di sebuah
pulau kecil. Cie Jiaklah yang sudah mencuri Thian kiam
dan To liong to. Entah dengan jalan bagaimana ia
menyingkirkan Tio Beng, membinasakan In Lee dan lalu
saling membacok kedua senjata itu sehingga Ie thian kiam
dan To liong to yang tersohor patah dua-duanya. Sesudah
itu ia ambil pit kip (kitab ilmu) yang disembunyikan dalam
kedua senjata itu dan melatih diri secara diam-diam.
Makin lama Boe Kie berpikir makin jelas duduk
persoalan. “Benar,” katanya di dalam hati. “Di pulau itu
waktu aku mencoba mengusir racun dari tubuhnya dengan
2668
menggunakan Kioe yang Sing kang aku merasakan
munculnya semacam tenaga luar biasa yang melawan Sin
kang. Belakangan tenaga itu jadi lebih kuat. Hai…karena
tergesa-gesa ia tak pelajari dasar-dasar Lweekang yang sejati
tapi melatih diri dalam ilmu luar yang beracun, yang bisa
memberi hasil dalam waktu singkat. Sungguh sayang….”
Selagi ia termenung, Gouw Kia Co Ciang kie soe, Swi
kim kie mendekati dan berkata seraya membungkuk.
“Kauwcoe, aku jadi pandai besi (tukang besi). Aku bisa
membuat macam-macam senjata. Mungkin sekali pedang
dan golok mustika itu masih dapat disambung. Apakah
Kauwcoe setuju kalau aku mencobanya?”
Yo Siauw girang, “Ilmu membuat pedang dari Gouw
Sioe soe tiada tandingannya dikolong langit,” katanya.
“Kauwcoe boleh mengijinkannya.”
Boe Kie mengangguk. “Baiklah,” katanya. “Memang
sangat sayang jika kedua senjata ini tidak bisa digunakan
lagi. Gouw Kioe soe, kau cobalah.”
“Heesheng,” kata Gouw Kin Co kepada Hee Yam,
Ciang kie soe, “Liat hwee kie, membuat pedang golok
mempunyai kaitan yang erat dengan api. Dalam hal ini, aku
memerlukan bantuanmu. Untuk sementara waktu Tat coe
mungkin tidak berani segera menyerang lagi. Bagaimana
kita mencoba sekarang juga.”
Hee Yam tertawa. “Mupakat,” jawabnya. “Soal api
memang bidangku.”
Kedua pemimpin bendera itu segera membuat persiapan.
Mereka membuat sebuah dapur yang sangat tinggi dan pada
dapur itu hanya terbuka sebuah lubang yang panjangnya
belum cukup satu kaki. Dalam Liat hwee kie selalu tersedia
macam-macam bahan bakar, sehingga dalam waktu singkat
api sudah berkobar-kobar di dapur itu.
2669
Dengan penuh perhatian Gouw Kin Co mengawasi api.
Di atas tanah berjejer belasan golok. Sesudah api berubah
warnanya ia mengambil beberapa batang golok dan
memasukkannya ke dalam dapur untuk menilai “sifat” dari
api yang tengah berkobar-kobar itu. Beberapa lama
kemudian, api yang tadi berwarna hijau berubah menjadi
putih. Ia segera mengambil jepitan baja menjepit dua
potongan To liong to menyambungnya satu degan yang lain
dan kemudian memasakkannya ke dalam dapur.
Dengan rasa kagum semua orang menyaksikan cara
kerja pandai besi itu. Ia tidak memakai baju dan keringat
mengucur terus dari tubuhnya yang berotot. Hawa panas
dari dapur itu hebat luar biasa dan bunga api yang selalu
muncrat keluar jatuh di tubuhnya. Tapi ia seolah-olah tidak
merasakan semua itu. Dengan menumpahkan seluruh
perhatian, ia berdiri bagaikan patung dengan kedua tangan
memegang jepitan baja yang menjepit dua potong To liong
to.
Mendadak dua anggota Liat hwee kie yang memompa
hong shia roboh pingsan. Hee Yam dan Ciang kie Hoe soe
(wakil pemimpin) Liat hwee kie melompat menyeret kedua
orang korban itu dan kemudian mereka sendirilah yang
menggantikannya. Mereka adalah orang-orang yang
memiliki Lweekang yang kuat. Begitu lekas hong shia
ditarik mereka, api berkobar makin besar. (Hong shi – Alat
berbentuk kotak untuk memompa angin ke dalam dapur).
Selang beberapa lama tiba-tiba Gouw Kin Co berseru,
“Gagal!” ia melompat mundur dengan paras muka pucat.
Kedua jepitan baja yang dicekalnya sudah mulai melumer
tapi To liong to masih tidak bergeming. “Kauwcoe, anak
buahmu tak punya kebecusan,” katanya dengan suara
memohon maaf. “Nama besar To liong to benar-benar
bukan nama kosong.”
2670
Hee Yam dan Ciang ki Hoe soe Liat hwe kie juga turut
mundur. Pakaian mereka sudah basah dengan keringat.
“Boe Kie koko,” kata Tio Beng dengan tiba-tiba,
“Bukankah Seng hwee leng juga logam mustika dan bahkan
tidak dapat diputuskan oleh To liong to?”
“Benar!” kata Boe Kie. “Hampir kulupa.” Ia mempunyai
enam Seng hwee leng, tapi yang satu sudah diberikan
kepada Swee Poet Tek untuk memanggil bala bantuan.
Ia segera merogoh saku dan mengeluarkan kelima batang
“leng” yang lalu diserahkan kepada Gouw Kin Co. “Kalau
golok dan pedang itu sukar disambung, Gouw heng tak
usah memaksakan diri,” katanya. “Swee heng leng adalah
mustika dari agama kita. Sebisa mungkin jangan sampai
rusak.”
Gouw Kin Co menyambut dan menelitinya sambil
mengerutkan alis.
“Apabila Gouw heng tak punya pegangan sebaiknya
jangan menempuh bahaya,” kata Boe Kie.
“Swee heng leng ini terbuat dari emas putih, besi Hian
tiat, pasir Kim Kong dan bahan istimewa lain,” terang
Gouw Kin Co. “Benda luar biasa ini tak akan bisa
dilumerkan dengan api. Apa yang aku tak dapat pikirkan
adalah bagaimana Seng hwee leng dulu dibuat.”
“Sudahlah, untuk apa Gouw heng memikirkan hal itu,”
kata Hee Yam. “Paling baik kita segera mencoba.”
Gouw Kin Co mengangguk, “Kauwcoe tidak usah
kuatir,” katanya. “Meskipun api yang dibuat Hee heng
cukup hebat, kulit Seng hwee leng tidak akan rusak.”
Sehabis berkata begitu ia menjepit sepotong To liong to
dengan dua “leng” dan potongan yang lain dengan dua
“leng” pula. Kemudian dengan dua jepitan baja yang baru
2671
ia menjepit keempat “leng” itu yang lalu dimasukkan ke
dalam dapur. Seperti tadi, gas memompa angin dilakukan
Hee Yam dan Ciang kie Hoesoe dari Liat hwee kie.
Makin lama api berkobar makin tinggi, selang setengah
jam Gouw Kin Co, Hee Yam dan Ciang kie Hoe soe sudah
kelihatan payah sekali dan hampir tidak bisa
mempertahankan diri lagi dari serangan hawa panas.
Melihat itu, Hoan Yauw memberi isyarat kepada Cioe
Tian dengan lirikan mata dan gerakan tangan. Dengan
bersamaan mereka melompat dan menggantikan pekerjaan
Hee Yam dan kawannya. Begitu angin dalam hong shia
dipompa oleh dua tenaga baru yang memeiliki Lweekang
sangat tinggi, api yang berwarna putih segera menghembus
ke atas.
Mendadak Gouw Kin Co berteriak, “Kouw heng,
sekarang kau boleh turun tangan!”
Kouw Beng Louw, Ciang kie Hoe soe dari Swie kim kie
lari mendekati dapur dan…, ia menggores dada Gouw Kin
Co dengan goloknya.
Semua orang terkesiap dan menggeluarkan seruan
tertahan.
Darah segera mengucur dari dada Gouw Kin Co yang
telanjang dan jatuh di atas To liong to. Jatuhnya darah itu
mengeluarkan suara ces…ces…dibarengi dengan naiknya
uap putih dari badan golok.
“Selesai!” teriak Gouw Kin Co pula. Ia mundur beberapa
langkah dan jatuh duduk di atas tanah.
Semua mata ditujukan ke arah To liong to, dua potongan
golok itu sudah tersambung.
Sekarang semua orang baru sadar bahwa dalam tekadnya
2672
untuk menyambung golok mustika itu, Gouw Kin Co sudah
lebih dulu mengadakan persetujuan dengan Kouw Beng
Louw untuk menggunakan darahnya sendiri, apabila cara
yang biasa mendapat kegagalan. Menggunakan darah
manusia dikenal sebagai suatu cara di jaman purba untuk
melumerkan logam yang tidak bisa dilumerkan dengan api
biasa. Sepanjang cerita, dalam usaha membuat sepasang
pedang mustika, dahulu sepasang suami istri Kan Ciang
dan Bok Yo telah mengorbankan jiwa dengan melompat ke
dalam dapur.
Dengan rasa haru Boe Kie menubruk bawahannya itu
dan memeriksa lukanya. Luka itu tidak berbahaya, ia segera
mengeluarkan obat dan menaburnya di dada Gouw Kin Co.
“Gouw heng, mengapa kau berbuat begitu?” katanya
dengan suara parau. “Golok itu bisa disambung atau tidak,
sama sekali tak menjadi soal. Untuk apa kau menyakiti diri
sendiri?”
Melihat sang pemimpin tidak memperdulikan Seng hwee
leng atau To liong to dan lebih dulu memeriksa lukanya,
Gouw Kin Co merasa berterima kasih. “Luka ini hanya
dikulit,” katanya. “Kauwcoe tak usah kuatir.” Ia bangun
berdiri dan mengambil To liong to. Ternyata dua potong
golok itu tersambung dengan sempurna dan pada
sambungannya hanya terlihat sehelai tanda bekas darah.
Dengan rasa bangga ia menyerahkan kepada Boe Kie yang
baru saja mengambil kembali keempat “leng” yang tadi
digunakan untuk menjepit potongan golok. Keempat “leng”
itu tidak kurang apapun.
Sesudah mengawasi golok mustika itu beberapa saat, Boe
Kie menyabetkannya ke arah sepasang tombak Mongol.
“Tak!” dua tombak itu putus menjadi empat potong.
Para hadirin bersorak sorai. Sementara itu, Gouw Kin
Co memegang dua potong Ie thian kiam dengan mata
2673
merenung. Di depan matanya terbayang mendiang Cung
ceng Ciang Kie soe Swee kim-kie dan puluhan saudara lain
yang dibinasakan dengan pedang itu.
Perlahan-lahan air matanya mengalir turun, “Kauwcoe,”
katanya dengan suara perlahan. “Pedang ini telah
mengambil jiwa Chung To do dan banyak saudara lain.
Gouw Kin Co membencinya sampai ke tulang-tulang.
Dengan sangat menyesal, aku tak sanggup
menyambungnya kembali. Aku bersedia menerima segala
hukuman.” Sehabis berkata begitu ia menangis tersenguksenguk.
“Gouw heng sama sekali tidak berdosa,” kata Boe Kie
dengan suara lemah lembut.
“Itu hanya menunjuk “gie hie” Gouw heng yang sangat
tebal.” Ia mengambil dua potong pedang itu dari tangan
Gouw Kin Co dan menghampirinya. “Ceng hoei! Pedang
ini adalah milik Go bie pay,” katanya. “Kuminta Soe thay
sudi mengambilnya untuk kemudian diserahkan kepada
Cioe…kepada Song Hoe jin.” Ceng hoei mengambilnya
tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Untuk beberapa lama Boe Kie mencekal To liong to
sambil mengerutkan alis. Akhirnya ia berpaling kepada
Kong boen dan berkata, “Hong thio, golok ini didapatkan
oleh Giehoeku. Sekarang Giehoe sudah menjadi seorang
pendeta dan murid Siauw lim. Sudah sepantasnya kalau To
liong to disimpan oleh Siauw lim pay.”
Kong boen menggoyang-goyangkan tangannya. “Golok
itu telah menemukan majikannya,” katanya. “Dari berlaksa
tentara, Thio Kauwcoe telah merebut kembali To liong to.
Hal ini disaksikan oleh semua orang. Belakangan Gouw
Toako menyambungnya kembali dengan mengucurkan
darah sendiri. Disamping itu, segenap anggota Rimba
2674
Persilatan telah mengangkat Thio Kauwcoe sebagai Boe lim
Beng coe, baik dilihat dari sudut kepandaian dan
kebijaksanaan, maupun dari sudut kebajikan dan
kedudukan yang tinggi, To liong to harus berada dalam
tangan Thio Kauwcoe. Menurut pendapat loolap hal ini
adalah yang paling adil.”
Semua orang menyetujui pendapat Kong boen dan
beramai-ramai mendesak supaya Boe Kie sudi
menerimanya.
Karena tidak bisa menolak lagi, mau tak mau Boe Kie
lalu menggantungkan To liong to dipinggangnya. “Apabila
dengan golok ini aku bisa menguasai enghiong Timba
Persilatan untuk mengusir Tat coe, aku akan merasa girang
sekali,” pikirnya.
Semua orang merasa girang. Banayk yang lalu
menghafal kata-kata yang dikenal sejak seratus tahun yang
lalu. “Boe lim cie coen, po to to liong, hauw leng, thiat hoe,
boh kam poet ciong!” atau Yang mulia dalam Rimba
Persilatan adalah golok mustika To liong. Memerintah di
kolong langit, tak ada yang berani tidak menurut. Disebelah
bawah masih ada perkataan, “le jian poet coet, swee ie kiam
ceng hiong?” apabila Ie thian kiam tidak keluar, siapakah
yang berani mengadu ketajaman dengan dengannya?
Melihat Ie thian kiam sudah tidak dapat disambung lagi,
orang-orang yang menghafal tidak menyebutkan lagi
delapan perkataan yang terakhir itu. Pihak yang merasa
paling puas karena rusaknya Ie thian kiam adalah anggotaanggota
Swie kim kie, sebagaimana diketahui banyak
orang, bendera itu telah dibinasakan dengan pedang
menggunakan pedang mustika tersebut.
Sesudah penyambungan golok selesai, sejumlah anggota
Ang soe kie menggotong keluar sebuah kuali besar dari
dalam kuil dan sesudah mengisi minyak dalam kuali itu
2675
segera menarihnya di atas dapur. Minyak panas itu akan
digunakan untuk menyemprot tentara Mongol jika mereka
menyerang pula.
Sore itu, kecuali tentara Ngo beng kie dan sejumlah
pendeta Siauw lim yang menjaga di luar, semua orang
bersantap di dalam kuali itu. Sehabis makan Boe Kie
memanjat satu pohon besar dan mengamat-amati gerakan
musuh di kaki gunung. Ia lihat tentara Mongol terpencar di
sana sini di seputar gunung dan asap putih mengepul di
berbagai tempat yang merupakan satu tanda bahwa
serdadu-serdadu itu sedang menanak nasi.
Boe Kie melompat turun dari pohon. “Wie heng,”
katanya kepada Wie It siauw. “Saat malam menjelang kau
selidiki keadaan musuh kalau-kalau mereka ingin
menyerang di waktu malam.”
Wie it Siauw mengiyakan dan segera berlalu.
“Kauwcoe,” kata Yo Siauw, “Menurut pendapatku,
sesudah dihajar di depan gunung hari ini, Tatcoe tidak akan
menyerang lagi. Yang kita harus jaga adalah bokongan dari
gunung.”
“Benar,” kata Boe Kie. “Mari kita mengamati dari atas
bukit.” Bersama Yo Siauw, Hoan Yauw dan Gan Hoan, ia
segera berangkat ke bukit di belakang gunung di mana Cia
Soen pernah dipenjarakan.
“Aku ikut!” kata Tio Beng.
Dari puncak bukit, mereka mengawasi ke bawah,
keadaan tenang-tenang saja. Sama sekali tak ada petunjuk
dari gerakan tentara. Sambil mengusap-usap tiga batang
siong yang dirubuhkannya, Boe Kie ingat pengalamannya
yang sangat hebat. Tiba-tiba dalam otaknya teringat
peringatan, “Ah, hampir kulupa,” katanya di dalam hati.
2676
“Gie hoe telah berpesan agar kuperiksa keadaan di dalam
lubang.”
Batu penutup lubang masih belum dikembalikan ke
tempat asalnya. Ia segera melompat turun. Ternyata dasar
lubang itu merupakan sebuah kamar dengan garis tengah
kira-kira setombak. Cuaca sudah mulai gelap dan keadaan
di lubang itu lebih gelap lagi. Ia mengeluarkan bibit api
untuk menerangi keadaan lubang. Dengan bantuan sinar
api, ia lihat empat gambar di empat penjuru dinding batu.
Gambar-gambar itu dilukis engan menggunakan potongan
batu tajam, sederhana tapi cukup terang.
Gambar di sebelah timur memperlihatkan dua wanita –
yang satu tidur di tanah, yang lain menotok wanita yang
tidur dengan jari tangan kirinya, sedang tangan kanannya
merogoh saku yang sedang tidur itu. Di sisi gambar terdapat
tulisan yang berbunyi “mengambil obat”.
Gambar di sebelah selatan menunjuk sebuah gambar
kapal dan seorang wanita yang melemparkan seorang
wanita lain ke kapal itu. Pada gambar itu terdapat tulisan
“mengusir”
Boe Kie mengeluarkan keringat dingin. “Benar-benar
begitu kejadiannya!” pikirnya. “Cie Jiak menotok jalan
darah Beng moay dan mencuri Sip hiong Joan kin san
untuk meracuni Giehoe dan aku. Sesudah itu ia
melemparkan Beng moay ke kapal Persia. Tapi mengapa ia
tidak membunuhnya? Hmm…ya! Kalau dibunuh, ia tidak
bisa menimpakan dosa diatas pundak Beng moay. Kalau
begitu piauw moay pun dicelakai olehnya.”
Di bawah gambar itu dilukiskan dua orang lelaki. Yang
satu sedang tidur pulas, yang lain yang rambutnya panjang
tengah memasang kuping. Boe Kie kaget. Ia sekarang
menyadari bahwa semua perbuatan Cie Jiak diketahui oleh
2677
ayah angkatnya. “Giehoe sungguh bisa menahan sabar dan
di pulau itu ia sama sekali tidak memperlihatkan tandatanda
bahwa ia sudah tahu pengkhianatan Cie Jiak,”
katanya dalam hati.
“Ia memang harus berlaku begitu. Ketika itu ia dan aku
sudah menelan Sip hiang Joan kin-san dan jiwa kami
berada dalam tangan Cie Jiak. Tak heran kalau Giehoe
menuduh Beng moay dengan sungguh-sungguh. Ia tahu aku
seorang jujur, apabila aku ragu, rahasia bisa bocor.”
Pada gambar ketiga, di sebelah barat terlihat Cia Soen
yang sedang duduk dan dibokong dari belakang oleh Cie
Jiak, sedang dari luar menerobos masuk sejumlah anggota
Kay pang. Gambar ini sama dengan apa yang terlihat
dalam arak-arakan di kota raja.
Baru saja Boe Kie mau memeriksa gambar keempat, api
padam. “Beng moay, kemari,” serunya. “Kupinjam api.”
Tio Beng melompat turun.
Gambar keempat memperlihatkan dibawanya Cia Soen
oleh belasan pria, sedang di kejauhan dari belakang pohon
mengintip seorang wanita muda. Lukisan keempat gambar
itu sangat baik muka orangnya kecuali muka Cia Soen yang
tidak menyerupai orang-orang itu. Boe Kie mengerti bahwa
hal itu sudah terjadi karena Cia Soen buta sejak puluhan
tahun berselang dan belum pernah melihat muka orangorang
yang dilukisnya.
Sambil menuding wanita muda yang bersembunyi di
balik pohon, Boe Kie bertanya, “Siapa wanita itu? Kau atau
Cie Jiak?”
“Aku,” jawabnya. “Seng Koen merampas Cia Tayhiap
dari tangan Kay pang dan kemudian mengirimnya ke Siauw
lim sie. Tapi ia sendiri membuat tanda-tanda Beng kauw
2678
sehingga kau mengubar-ubar tanda-tanda itu dalam sebuah
lingkaran besar. Sering aku ingin merebut Cia Tayhiap tapi
selalu tidak kesampaian. Belakangan aku mencoba juga tapi
gagal dan aku hanya bisa mengambil segenggam rambut
Cia Tayhiap untuk dijadikan barang bukti guna mencegah
pernikahanmu dengna Cie Jiak. Saat melakukan itu aku
merasa tak enak hati dan merasa bersalah terhadapmu.”

Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil