Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 27 April 2017

Cersil Kuno 18 Toliongto

Cersil Kuno 18 Toliongto Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf Cersil Kuno 18 Toliongto
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil Kuno 18 Toliongto
“In Thian Ceng,” kata Oe Boen Cek, kau siluman, aku
iblis, kita berdua sama-sama bangsa jejadian. Orang sendiri
tak bertempur dengan orang sendiri. Kalau kau mau juga,
kita boleh memilih lain hari untuk berkelahi. Hari ini atas
perintah Coe Jin aku hanya ingin menjajal kosongnya ilmu
silat Boe Tong Pay.” Ia menengok kepada Thio Sam Hong
dan berkata pula. “Thio Cin Jin, apabila kau tak sudi turun
gelanggang, cukuplah bila kau membuat pengakuan yang
diminta Coe Jin. Kami tak akan menggunakan kekerasan.”
Thio Sam Hongtersenyum. Di dalam hati ia menimbangnimbang
keadaan yang tengah dihadapinya. Dengan
menggunakan Thay Kek Koen, dengan ilmu “yang kosong
menjatuhkan yang berisi,” belum tentu ia kalah dari lawan
itu. Apa yang sukar dihadapi ialah sesudah merobohkan as,
ia tentu harus mengadu lweekang melawan A Jie. Dan
sesudah terluka berat, ia tidak boleh mengerahkan tenaga
dalam. Inilah yang paling sulit, ia tak bisa mencari jalan
keluar. Tapi api sudah membakar alis, ia tak bisa mundur
lagi.
Perlahan-lahan ia maju ke tengah ruangan dan berkata
kepada In Thian Ceng. “Untuk maksud In Heng yang
1661
sangat mulia, pinto merasa sangat berterima kasih. Selama
berapa tahun terakhir pinto telah menggubah mengganti
dengan semacam ilmu silat yang diberi nama Thay Kek
Koen. Ilmu ini agak berbeda dari ilmu silat yang sudah
dikenal dalam dunia. Oe Boen Sie Coe mengatakan bahwa
ia bertujuan untuk menjajal ilmu silat Boe Tong Pay.
Manakala In Heng yang merobohkannya ia tentu merasa
tidak puas. Biarlah pinto saja yang melayani berberapa jurus
dengan menggunakan Thay Kek Koen. Biarlah kita lihat
apakah pinto yang sudah begitu tua masih berharga untuk
menunjukkan kebodohan pintoo.
Mendengar perkataan itu, In Thian Ceng girang
bercampur khawatir. Ia girang karena dari omongannya,
Thio Sam Hong ternyata penuh percaya penuh akan
kelihaian Thay Kek Koen. Tanpa pegangan kuat, guru
besar itu tentu takkan bicara sembarangan. Ia khawatir
karena ingat usia Thio Sam Hongdan luka yang
dideritanya. Tapi ia tak berani membantah lagi dan sambil
merangkap kedua tangannya ia berkata, “Boanpwee
memberi selamat kepada Thio Cin Jin untuk ilmu silat yang
luar biasa itu.”
Melihat Thio Sam Hongsudah turun ke gelanggang, Oe
Boen Cek jadi agak keder, tapi di lain saat ia bias
menetapkan hati, “Biarlah aku berkelahi mati-matian,
sehingga kedua belah pihak sama-sama rusak.” Pikirnya. Ia
segera menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan
semangat, sedang kedua matanya mengincar Thio Sam
Hongtanpa berkedip. Sesaat kemudian tulang-tulangnya
berkerotokan.
Mendengar itu, orang-orang Boe Tong dan Beng Kauw
saling memandang dengan rasa cemas. Itulah suatu tanda,
bahwa Oe Boen Cek sudah mencapai puncak tertinggi dari
ilmu silat Gwa Boen (ilmu silat luar) Menurut cerita di
1662
dalam dunia hanyalah ketiga pendeta suci Siauw Lim Sie
yang sudah mencapai tingkatan itu. Siapapun tak menduga,
bahwa Pat Pie Sin Mo memiliki ilmu tersebut yang dikenal
sebagai ilmu malaikat Kim Kong Hok Mo.
Thio Sam Hongpun turut merasa kaget.
“Orang itu mempunyai asal usul yang tidak kecil!”
pikirnya. “Thay Kek Koen belum tentu bisa melawannya.”
Perlahan-lahan ia mengankat kedua tangannya. Tapi baru
saja ia ingin mengundang lawan untuk memulai, tiba-tiba
dari belakang Jie Thay Giam melompat keluar seorang too
tong.
“Thay Soehoe,” katanya. “kalau siecoe itu mau menjual
ilmu silat Boe Tong, perlu apa thay soehoe turun tangan
sendiri?” Biarlah teecoe sendiri yang melayani sejurus dua
jurus.”
Too tong itu, yang mukanya berlepotan tanah, bukan
lain daripada Boe Kie. In Thian Ceng, Yo Siauw dan lainlain
jago Beng Kauw lantas saja mengenali dan mereka
kegirangan. Tapi Thio Sam Hongdan Jie Thay Giam tentu
tak dapat mengenalinya. Mereka menduga, bahwa too tong
itu Ceng Hong adanya.
“Ini bukan permainan anak-anak,” kata Thio Sam Hong.
“Oe Boen Cek mempunyai kim kong Hok Mo. Mungkin
sekalai mereka seorang pentolan dari Siauw Lim cabang
See Hek.
Dengan sekali pukul, ia bisa menghancurkan tulangtulangmu.
Dengan tangan kiri, Boe Kie mencekal ujung baju orang
tua itu, sedang tangan kanan memegang tangan kiri guru
besar itu. “Thay Soehoe,” katanya, “Thay kek Koen yang
telah diturunkan kepada Tee Coe belum pernah digunakan.
1663
Kebetulan sekali Oe Boen Sie Coe seorang ahli Gwa Kee.
Permisikanlah Tee coe untuk menjajal ilmu melawan
kekerasan dengan kelemahan, yang kosong memukul yang
berisi. Kalau Tee Coe berhasil, bukankah ada baiknya juga?
Seraya berkata begitu, ia mengerahkan Kioe Yang Sin
Kang, yang dahsyat, yang lembut dan mengirimnya ke
tubuh thay Soe Hoe, melalui telapak tangannya.
Pada detik itu, sekonyong-konyong Thio Sam Hong
merasai semacam tenaga yang hebat luar biasa menerobos
masuk dari telapak tangannya. Biarpun belum bisa
menandingi tenaganya sendiri, tenaga itu yang murni dan
yang halus menerobos bagaikan ombak gelombang demi
gelombang. Dalam kagetnya, ia mengawasi muka Boe Kie.
Kedua mata too tong itu tidak memperlihatkan sinar
berkeredepan yang bisa dipunyai oleh seorang ahli silat
kelas satu. Tapi sayup-sayup, dalam kedua mata itu terlihat
selapis sinar kristal yang sangat lembut. Itulah suatu tandan
dari lwee kang yang sudah mencapai puncak tertinggi. Thio
Sam Hongmakin kaget, selama hidupnya dalam jangka
waktu seabad lebih, ia hanya pernah menemui satu, dua
orang yang mempunyai sinar mata begitu, misalnya
mendiang gurunya sendiri Kak Wan Tay Soe dan Tay Hiap
Kwee Ceng. Diantara ahli-ahli silat pada zaman itu,
sebegitu jauh yang diketahui ia sendiri yang sudah
mencapai tingkat tersebut.
Selama satu dua detik, macam-macam pikiran
berkelabat-kelebat dalam otak Thio Sam Hong. Sementara
itu, Boe Kie terus mengirim lwee kangnya. Dilain saat guru
besar itu sudah mengambil keputusan. Ia yakin bahwa
ditinjau dari lweekang itu yang bertujuan untuk mengobati
lukanya si too tong pasti tidak bermaksud jahat. Maka itu,
sambil tersenyum ia berkata.
“aku sudah tua dan tak punya guna. Pelajaran apa yang
1664
kudapat berikan padamu? Tapi jika kau mau juga menjual
ilmu gwa kee Oe Boen Sie Coe, kau boleh melakukan itu.”
Thio Sam Hong menduga, bahwa too tong itu seorang ahli
dari partai lain yang sengaja datang untuk membantu Boe
Tong Pay. Maka itu, ia telah menggunakan kata-kata
rendah.
Budi Thay Soehoe terhadap anak berat bagaikan gunung,
kata Boe Kie. Biarpun badan hancur luluh, tak dapat anak
membalas budi Thay Soehoe dan para paman, biarpun ilmu
silat Boe Tong Pay kita tidak bisa dikatakan tiada
tandingannya di dalam dunia, tapi kita pasti tak akan kalah
dari ilmu silat Siauw Lim cabang See Hek. Legakanlah hati
Thay Soehoe.
Itulah jawaban yang tidak bisa disalahartikan! Jawaban
murid terhadap seorang guru, dalam suara yang agak
gemetar itu terdengar nada dari cinta yang tidak barbatas,
rasa berterima kasih yang tiada taranya dan rasa terharu
yang memuncak. Bukan main herannya Thio Sam Hong.
Apa benar dia murid Boe Tong? Tanyanya di dalam hati.
Mungkin sekali sejarah mendiang gurunya, Kak Wan Tay
Soe, terulang pula dan dia belajar secara diam-diam. Sambil
memikir begitu, ia melepaskan tangan Boe Kie dan lalu
kembali pada kursinya. Ia melirik Jie Thay Giam, tapi
dilihat dari paras mukanya, murid itupun sedang terheranheran.
Bagi Oe Boen Cek, dipermisikan seorang too tong untuk
melayani merupakan hinaan yang sangat besar. Tapi
sebagai manusia yang beracun ia tak memperlihatkan
kegusarannya. Dengan sekali pukul, ia akan membinasakan
too tong itu dan sudah itu ia akan menantang Thio Sam
Honglagi. “Anak kecil, kau mulailah,” katanya.
“Ilmu silat Thay Kek Koen adalah hasil jerih payah Thio
Cin Jin, Thay Soehoeku, selama banyak tahu,” kata Boe
1665
Kie, “boanpwee baru saja belajar silat dan sekarang belum
bisa melayani intisari daripada ilmu silat itu. Mungkin
sekali boanpwee belum dapat merobohkan kau didalam tiga
puluh jurus. Apabila benar sedemikian, maka hal itu adalah
kesalahanku dan bukan lantaran jeleknya Thay Kek Koen.
Sebelum kita bertempur, boanpwee menganggap hal ini
perlu dikemukakan terlebih dahulu. dalam gusarnya Oe
Boen Cek berbalik tertawa terbahak-bahak, “toa ko, jie ko,
lihatlah!” serunya. “Dalam dunia mana ada bocah segila
dia!”
A Jie turut tertawa, tapi A Toa tajam matanya. Ia dapat
melihat bahwa Boe Kie bukan sembarang orang. “sam tee,
kau tidak boleh memandang enteng,” katanya.
Oe Boen Cek maju setindak dan segera meninju dada
Boe Kie dengan tangan kanan. Tinju itu menyambar
bagaikan kilat. Diluar dugaan, sebelum tinju pertama
mampir pada sasarannya tinju kedua, yang dikirim dengan
tangan kiri menyusul. Tinju itu yang dikirim belakangan
tiba lebih dahulu dan menyambar muka Boe Kie. Itulah
pukulan yang sangat luar biasa.
Sesudah mendengar keterangan dan melihat contohcontoh
Thio Sam Hong mengenali ilmu silat Thay Kek
Koen, selama kurang lebih satu jam diam-diam Boe Kie
mempelajari isi daripada ilmu silat itu. Melihat
menyambarnya dua tinju yang saling susul, ia segera
menyambut dengan Long Ciak Bwee kaki kanannya
“berisi” kaki kiri “kosong”, tapak tangan menyentuh
pergelangan tangan kiri musuh dan segera melepaskan
tenaganya dengan menggunakan teori “menempel”. Tanpa
tercegah jadi tubuh Oe Boen Cek terhuyung dua tindak.
Semua orang terkejut.
Demikianlah, untuk pertama kali, Thay Kek Koen dijajal
1666
untuk melawan musuh. Biarpun baru saja menerima
pelajaran itu dengan memiliki Kioe Yang Sin Kang dan
Kian Koen Tay Li Ie Sin Kang, Boe Kie sudah dapat
menggunakan ilmu yang lihai itu. Tinju Oe Boen Cek yang
bertenaga ribuan kati seolah-olah amblas di dalam lautan,
amblas tanpa berbekas bukan saja begitu, bahkan tubuhnya
kena didorong tenaganya sendiri.
Sesudah hilang kagetnya, Oe Boen Cek segera
menyerang seperti orang kalap. Tinjunya menyambarnyambar
bagaikan hujan gerimis, berkelebat-kelebat seperti
keredengan kilat. Sehingga ia seolah-olah mempunyai
beberapa puluh tangan yang menyerang Boe Kie dengan
dahsyatnya. Kecuali Beng Goat, semua orang yang berada
dalam ruangan sam Ceng Tian rata-rata ahli silat kelas satu.
Mereka kagum melihat serangan itu. Nama besar Pat Pie
Sin Mo ternyata bukan nama kosong belaka.
Untuk mengangkat derajat Boe Tong Pay, Boe Kie
hanya menggunakan pukulan-pukulan Thay Kek Koen.
Dengan beruntung, ia mempergunakan Tan Pian disusul
dengan Tee Chioe Siang Sit. Kemudian Pek Ho Liang Chie
Dan Louw Sit Yauw Po. Selagi mengeluarkan Chioe Hie
Pie Pee (jari-jari tangan memetik pie-pee semacam
tetabuhan seperti gitar) tiba-tiba saja ia mendusin dan pada
ketika itu, ia menyelami intisari daripada Thay Kek Koen
yang pada hakekatnya mempunyai dasar yang bersamaan
dengan Kian Koen Tay Li Ie Sin Kang. Dengan demikian,
Chioe Hwie Pie Pee menyambar bagaikan mengalirnya air,
dengan keindahan yang mengagumkan.
Pada detik itu, Oe Boen Cek merasa, bahwa bagian atas
badannya sudah ditutup dengan tenaga pukulan lawan dan
dia tidak dapat berkelit lagi. Dalam menghadapi bahaya,
cepat-cepat ia mengerahkan tenaga di punggungnya untuk
menerima pukulan Boe Kie dan dengan berbareng tinju
1667
kanannya disabetkan. Ia mau melawan keras dengan keras,
supaya kedua belah pihak celaka bersama-sama.
Diluar dugaan, pada waktu belakangan Boe Kie
mengubah gerakannya. Ia membuat sebuah lingkaran
dengan kedua tangannya, seperti orang memeluk …. (alam
semesta). Mendadak saja dari lingaran itu keluar semacam
tenaga dahsyat, tenaga yang berputaran seperti pusar laut.
Hampir berbareng, tubuh Oe Boen Cek berputar-putar tujuh
delapan putaran laksana gangsing. Dengan ilmu Cian Kin
Toei, ia berhasil menolong diri. Paras mukanya berubah
merah padam, malu bercampur gusar.
“Sungguh lihai Thay Kek Koen dari Boe Tong Pay!”
teriak Yo Siauw.
“Oe Boen Lao heng!” seru Cioe Tian sambil tertawa
nyaring. “Lebih baik jika kau dinamakan si gangsing
berlengan delapan.” (gelar Oe Boen Cek Pat Pie Sin Mo –
Iblis berlengan delapan)
“Apa salah orang berputaran?” menyambung In Ya Ong.
“Liang San mempunyai Hek Soan Hong (si angin puyuh
hitam). Angin puyuh mesti berputaran, bukan?”
Saling sahut, pentolan-pentolan Beng Kauw mengejek
sepuas hati.
Sekarang Oe Boen Cek benar-benar kalap. Dari merah,
paras mukanya berubah hijau. Dengan mengaum seperti
harimau edan, ia menerjang. Cara menyerangnya berubah.
Tangan kirinya menghantam dengan tinju atau telapak
tangan. Tangan kanannya dengan menggunakan jari-jari
tangan, menotok atau mencengkram.
Karena belum berlatih dalam Thay Kek Koen, Boe Kie
lantas saja keteter. Beberapa saat kemudian terdengar suara
“Bret!” dan tangan baju Boe Kie robek, kesambar jari
1668
tangan yang sangat luar biasa itu. Boe Kie terpaksa
menggunakan ilmu mengentengkan badan. Oe Boen Cek
mencaci dan mengubar. Tapi mana bisa ia mengubar Boe
Kie?
Sambil berlari-lari, Boe Kie berpikir, “Kalau aku terus
kabur, bukankah aku kalah? Aku belum biasa dengan Thay
Kek Koen, biarlah aku menyisipkan Kian Koen Tay Lo Ie.”
Memikir begitu, ia memutar badan seraya memasang
kuda-kuda dari Ya Ma Hoen Coeng, salah satu pukulan
Thay Kek Koen, tapi tangan kirinya diam-diam bersiapsedia
untuk mengeluarkan gerakan Kian Koen Tay Lo Ie.
Oe Boen Cek menubruk dan menusuk pundak Boe Kie
dengan satu jari. Hampir berbareng, ia mengeluarkan
kesakitan dan matanya berkunang-kunang, karena entah
bagaimana jarinya berbalik menusuk lengan kirinya,
sehingga lengan itu hampit tidak bisa diangkat lagi.
Yo Siauw tahu, bahwa Boe Kie bukan menggunakan
Thay Kek Koen, tapi ia sengaja berteriak, “Lihai sungguh
ilmu Thay Kek Koen!”
“Thay Kek Koen apa! Ilmu siluman!” teriak Oe Boen
Cek dengan mulut berbusa. Secara nekat-nekatan ia
mengirim tiga pukulan berantai, sehingga Boe Kie terpaksa
melompat mundur. Dengan mata beringas, ia melompat
mundur seraya menyodok dengan dua jari tangannya.
Sekarang Boe Kie sudah bersiap sedia dengan Kian Koen
Tay Lo Ie, bagaikan kilat ia menempel dan menarik tangan
musuh. “Tok!” kedua jari tangan Oe Boen Cek amblas di
tiang Sam Ceng Tian!
1669
Semua orang kaget tercampur geli.
Sesudah suara tertawa mereda. Mendadak terdengar
bentakan Jie Thay Giam. “Tahan! Oe Boen Cek, kau
menggunakan Kim Kong Cie dari Siauw Lim Pay, bukan?”
Boe Kie melompat mundur mendengar “Kim Kong Cie
dari Siauw Lim Pay” ia segera ingat luka Jie Thay Giam
dan In Lie Heng dan selama kurang lebih dua puluh tahun,
orang-orang Boe Tong Pay menduga bahwa perbuatan itu
dilakukan oleh orang Siauw Lim Pay. Mendengar bentakan
Jie Thay Giam terdapat kemungkinan besar, bahwa si
penyerang gelap itu adalah Pat Pie Sin Mo.
Sementara itu Oe Boen Cek sudah menjawab dengan
suara dingin. “Kalau benar Kim Kong Cie, mau apa kau?
Siapa suruh kau berkepala batu, tak mau memberitahukan
kemana perginya To Liong To? Enakkah menjadi manusia
bercacat selama dua puluh tahun?”
“Oe Boen Cek!” teriak Jie Thay Giam. “Terima kasih,
bahwa hari ini segala apa sudah menjadi terang. Kalau
begitu, aku sudah dicelakai oleh Siauw Lim Pay dari See-
Hek.” Ia berhenti sejenak dan berkata pula dengan suara
parau. “Hanya sayang… Hanya sayang Ngo Tee.. “ Ia tak
dapat meneruskan perkataannya, sedang air matanya
mengucur dengan deras.
Sebagaimana diketahui, Thio Coei San membunuh diri
1670
sebab Jie Thay Giam dilukai oleh In So So dengan jarum
emas. Sehingga ia tak ada muka untuk bertemu pula dengan
kakak seperguruannya itu. Tapi sesudah melukai Jie Thay
Giam, In So So telah minta bantuan Liong Boen Piauw
Kiok untuk membawa pendekar itu pulang ke Boe Tong.
Sebenarnya kalau itu hanya mendapat luka itu, luka dari
jarum emas, sesudah diobati Jie Sam Hiap akan sembuh
seluruhnya. Yang mengakibatkan kelumpuhan kaki
tangannnya adalah pijitan Tay Lek Kim Kong Cie.
Andaikata pada hari itu, orang yang berdosa dapat dicari,
suami isteri Thio Coei San tentu tidak akan membunuh diri.
Mengingat begitu dan mengingat pula penderitaannya
sendiri, Jie Thay Giam sedih bercampur gusar. Dengan
darah mendidih dan kedua mata yang seolah-olah
mengeluarkan api, ia menatap wajah musuh besarnya itu.
Mendengar perkataan pamannya, Boe Kie lantas saja
ingat cerita yang pernah dituturkan oleh mendiang
ayahnya. Dahulu dalam kuil Siauw Lim Sie terdapat
seorang Tauw Too (Hweesio yang piara rambut) yang
bekerja di dapur dan yang karena sering dianiaya oleh
pemilik dapur menjadi sakit hati dan lalu belajar silat secara
diam-diam. Belakangan Tauw Too itu membinasakan Sioe
Co (pemimpin) Tat Mo Tong, Kouw Tie Sian Soe, dan lalu
melarikan diri. Sesudah itu, di dalam Siauw Lim Sie timbul
gelombang. Pentolannya pada Berebut kekuasaan.
Akhirnya salah seorang pemimpin, yaitu Kouw Hoei Sian
Soe pergi ke See Hek dan mendirikan lagi Siauw Lim Pay di
daerah tersebut. (baca Kisah Pembunuh Naga Jilid 2 mulai
halaman 67)
1671
“Oe Boen Sie Coe sungguh kejam,” kata Thio Sam
Hong. “Kami sama sekali tidak pernah menduga, bahwa
diantara ahli waris-ahli waris Kouw Hoei Sian Soe terdapat
manusia seperti Sie Coe.”
Oe Boen Cek menyeringai, “Kouw Hoei!” katanya.
“Huh huh! Manusia apa Kouw Hoei?”
Thio Sam Hong lantas saja mendusin.
Sesudah Jie Thay Giam bercacad karena Kim Kong Cie,
Boe Tong Pay lalu mengirim orang ke kuli Siauw Lim Sie
untuk menanyakan. Hong Siauw Lim Sie menolak segala
tuduhan dan menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh
salah seorang anggota Siauw Lim Pay cabang See Hek.
Tetapi sesudah diselidiki dengan seksama, terdapat bukti
bahwa cabang See Hek itu sudah lemah sekali. Muridmuridnya
kebanyakan hanya mempelajari ajaran agama
Buddha dan tidak mengenal ilmu silat. Sekarang
mendengar jawaban Oe Boen Cek “manusia apa Kouw
Hoei” Thio Sam Hong segera menarik kesimpulan bahwa
dia bukan murid Siauw Lim Pay cabang See Hek, tak
mungkin dia mencaci Aoew Soe-nya sendiri.
Maka itu ia lantas saja berkata. “Tak Heran! Tak Heran!
Sie Cie tentulah ahli waris dari si Tauw Too pembantu
dapur. Sie coe bukan saja sudah mempelajari ilmu silatnya,
tapi juga sudah menelah kejamannya. Tak heran kalau
Siauw Lim Pay rusak dalam tangan Sie Coe. Siapa itu Kong
Siang? Apa dia saudara seperguruan Sie Coe?”
1672
“Benar! Jawabnya. “Ia Soehengku, ia bukan Kong Siang,
ia bernama Kang Siang. Thio cin jin, bagaimana kalau Pan
Jiek Kim Kong Cie dari Kim Kong Boen kami
dibandingkan dengan Ciang Hoat dari Boe Tong Pay?”
“Tidak nempil!” bentak Jie Thay Giam. “Batok
kepalanya sudah dihancurkan oleh guruku.”
Sambil berteriak, Oe Boen Cek menubruk. Dengan Jie
Hong Sie Pit, Boe Kie merintangi serangan terhadap Jie
Thay Giam. “Oe Boen Cek,” bentaknya. “Lekas keluar Hek
Giok Toan Siok Ko!” (Koyo Giok Hitam untuk
menyambung tulang)
Oe Boen Cek terkesiap. “Bagaimana dia tahu” tanyanya
di dalam hati. “Koyo penyambung tulang sangat
dirahasiakan, walau murid biasa tak mungkit tahu adanya
obat luar biasa itu.”
Boe Kie mengenal nama obat itu dari kitab obat-obatan
mendiang Ouw bahwa di daerah See Hek terdapat
semacam ilmu silat Gwa Kee mungking cabang Siauw Lim
Pay yang sangat aneh. Tulang manusia yang dipatahkan
dengan ilmu itu hanya bisa diobati dengan Hek Giok Toan
si Koyo, tapi cara membuat obat itu dengan sangat
dirahasiakan dan tak diketahui oleh orang luar.
Mengingat itu, Boe Kie segera menyebutkannya untuk
menjajal benar tidaknya catatan dalam kitab itu. Benar saja
1673
paras muka Oe Boen Cek segera berubah dan ia tahu bahwa
tebakannya tidak meleset.
“Anak kecil, cara bagaimana kau tahu nama obat itu?”
tanyanya.
“Keluarkan!” bentak Boe Kie. Mengingat nasib kedua
orang tuanya karena gara-gara manusia itu, darah Boe Kie
mendidih dan ia tak mau banyak bicara.
Sementara itu, sesudah memikir sejenak, hati Oe Boen
Cek jadi lebih besar. Tapi biarpun dalam gebrakan pertama,
ia mendapat sedikit kesalahan, akan tetapi sesudah ia
mengeluarkan Tay Lek Kim Kong Cie, Boe Kie tak berani
melawan lagi dan hanya berlari-lari. Maka itu asal saja ia
berhati-hati terhadap ilmu menempel dan menarik dari si
Too tong, ia pasti akan memperoleh kemenangan, pikirnya.
Memikir begitu, ia maju setindak seraya membentak.
“Binatang kecil! Aku suka mengampuni jiwamu, jika kau
berlutut tiga kali. Kalau tidak, lihatlah contoh si orang she
Jie.”
Alis Boe Kie berkerut. Ia bertekat untuk mendapatkan
Hek Giok Toan Siokko, tapi ia belum mendapat jalan untuk
memunahkan Tay Lek Kim Kong Cie. Kian Koen Tay Lo
Ie memang bisa melukai dia, tapi tidak bisa memaksa dia
mengeluarkan obat itu.
Selagi ia mengasah otak, tiba-tiba Thio Sam Hong
menggapai seraya berkata, “anak, mari sini!”
“Baik, thay Soehoe,” jawabnya sambil menghampiri.
“Anak, kau dengarlah,” kata guru besar itu.
“Menggunakan maksud tidak menggunakan tenaga. Thay
Kek Koen berputaran bundar tak putus-putusnya mendapat
kesempatan mendapat kedudukan baik, sehingga akarnya
1674
lawan putus sendirinya. Setiap jurus, setiap pukulan,
haruslah bersambung-sambung seperti sungai Tiang Kang,
gelombang tak habis-habisnya.” Sesudah memperhatikan
cara berkelahinya Boe Kie, Thio Sam Hong sudah
mendapat intisari dari pada Thay Kek Koen, tapi karena
Boe Kie sudah memiliki ilmu yang tinggi, maka dalam
menggunakan pukulan-pukulan Thay Kek Koen, ia masih
belum bisa menyelamai maksud terpenting dari Thay Kek
Koen, yaitu Wan Coan Poet Toan (berputaran tidak habishabisnya)
Sebagai seorang yang cerdas, beberapa perkataan itu
sudah cukup untuk menyadarkan Boe Kie.
“Cepat!” teriak Oe Boen Cek. “Sesudah masuk ke
gelanggang, mana bisa kau belajar?”
“Bisa! Kau sambutlah pukulan yang baru didapat
olehku,” katanya seraya memutar tubuh. Ia membuat
sebuah lingkaran dengan tangan kanannya dan
menghantam muka musuh. Itulah pukulan Ko Tam Ma
dari Thay Kek Koen. Oe Boen Cek menyambut dengan
babatan jari-jari tangannya yang berbentuk golok. Bagaikan
kilat Boe Kie mengubah gerakannya. Ia membuat lingkaran
dengan kedua tangannya dalam pukulan Song Hong Koan
Nyie. Kali ini terlihatlah lihainya ajaran Thio Sam Hong
mengenai Wan Coan Poet Toan. Begitu ia mengerahkan
tenaga, tubuh Oe Boen Cek terhuyung. Dengan saling susul
Boe Kie segera membuat lingkaran-lingkaran. Lingkaran di
kiri, lingkaran di kanan, lingkaran besar, lingkaran rata,
lingkaran berdiri, lingkaran miring… setiap lingkaran
meruapakan bola dunia.
Diserang begitu, Oe Boen Cek tak bisa mempertahankan
diri lagi. Tubuhnya limbung, terhuyung kian kemari seperti
1675
orang mabuk arak. Tiba-tiba dengan nekat dia menyodok
dengan lima jari tangannya. Boe Kie menyambut dengan Ia
Chioe (tangan awan) tangan kiri tinggi, tangan kanan lebih
rendah dan dengan sekali membuat lingkaran, ia sudah
menggulung lengan musuh dalam lingkaran itu. Hampir
berbareng, ia mengeluarkan tenaga Kioe Yang Sin Kang.
“Krek krek krek…!” tulang lengan Oe Boen Cek hancur
beberapa tempat.
Mengingat kekejaman musuh dan mengingat pula nasib
kedua orang tuanya. Boe Kie turun tangan tanpa sungkansungkan.
Dengan saling susul ia membuat lingkaranlingkaran
In Chioe diikuti suara patah atau hancurnya
tulang setelah lengan kanan, lengan kiri, kemudian betis kiri
dan betis kanan. Sambil mengeluarkan teriakan menyayat
hati, Oe Boen Cek terguling. Seumur hidup Boe Kie belum
pernah begitu gusar. Kalau bukan ingin mendapatkan Hek
Giok Toan Siokko, ia tentu sudah mengambil jiwa musuh
besar itu.
Salah seorang pengikut Tio Beng lantas saja memburu
dan mendukung jago yang roboh itu, dibawa balik ke
barisan sendiri.
Si botak A Jie melompat ke luar dan tanpa menegur lagi,
ia menghantam dada Boe Kie. Sebelum telapak tangan
musuh tiba, Boe Kie sudah merasai tindihan tenaga yang
sangat berat, maka ia buru-buru mengeluarkan pukulan Sia
Hwie Sit untuk menolaknya. Tanpa mengeluarkan sepatah
kata, A Jie menancapkan kedua kakinya di lantai dan
mengirim pukulan berantai yang disertai Lwee Kang yang
sangat dahsyat. Melihat pukulan dan usia musuh, Boe Kie
menduga bahwa dia adalah kakak seperguruan Oe Boen
Cek. Dia kalah gesit, tapi tenaganya lebih besar daripada
Oe Boen Cek.
1676
Dengan menggunakan Kouw Koat (teori) “menempel
dan menarik” dari Thay Kek Koen. Boe Kie coba
mendorong, tapi tenaga dalam musuh terlalu kuat. Bukan
saja ia tidak berhasil, bahkan dia sendiri kena didorong dan
terhuyung beberapa kali. Tiba-tiba semangat Boe Kie
terbangun, “biarlah aku melawan Lwee Kang dengan Lwee
Kang,” katanya di dalam hati. “aku akan lihat Lwee Kang
Siauw Lim atau Kioe Yang Sin Kang yang lebih lihai.”
Sesaat itu, telapak tangan si botak kembali menyambar.
Sambil mengerahkan Kioe Yang Sin Kang, Boe Kie
memapaki dengan tangannya. Itulah keras melawan keras.
Dengan mengeluarkan suara nyaring, kedua tangan
kebentrok dan tubuh kedua lawan sama-sama bergoyang.
Thio Sam Hong terkejut, “dengan cara itu, siapa lebih
kuat siapa menang dan bertentangan dengan teori Thay Kek
Koen.” Pikirnya. “kakek itu memiliki Lwee Kang luar biasa
tinggi, yang jarang terlihat dalam rimba persilatan. Dalam
gebrakan tadi, anak itu mungkin sudah menderita luka.”
Tapi sebelum Thio Sam Hong sempat memikir jalan
yang baik, tangan Boe Kie dan si botak sudah beradu lagi.
Kali ini si kakek bergoyang-goyang, sedang badan Boe Kie
tidak bergeming. Ia berdiri tegak dengan paras muka
tenang.
Sekali lagi Thio Sam Hong kaget, tapi kaget tercampur
heran dan girang.
Kioe Yang Sin Kang dan Lwee Kang Siauw Lim Pay
bersumber satu, kedua-duanya digubah oleh Tat Mo Kauw
Coe. Bila telah mencapai tingkat tinggi, kedua ilmu itu tidak
ada perbedaannya. Tapi sebagaimana diketahui, pendiri
partai Kim Kong Boen, Touw Too bagian dapur mendapat
ilmunya dengan jalan mencuri bukan didapat dari seorang
1677
guru. Pukulan-pukulan yang bisa dilihat dengan mata
memang mudah dicuri, tapi tenaga dalam yang harus
dilatih dengan menjalankan hawa di dalam tubuh, tidak
dapat dicuri dengan begitu saja. Maka itulah walaupun
Gwa Kang (ilmu luar) Kim Kong Boen sangat lihai dan
bersamaan dengan Gwa Kang Siauw Lim Pay yang tulen
Lwee Kangnya masih kalah jauh.
A Jie adalah seorang luar biasa dalam Kim Kong Boen.
Ia memiliki tenaga yang sangat besar, pembawa dalam
dirinya sendiri. Dengan menggunakan cara-cara sendiri, ia
berlatih dan akhirnya mendapat Lwee Kang yang sangat
kuat yang bahkan melampaui tenaga dalam Couw Soenya,
si Touw Too bagian dapur. Selama hidupnya ia jarang
menemui lawan yang bisa menyambut tiga pukulannya.
Sekarang ia ketemu batunya. Untuk pertama kali ia bertemu
dengan seorang lawan yang dapat menindih tenaga
dalamnya. Ia kaget bercampur gusar, ia segera menarik
napas dalam-dalam dan dengan kedua tangan ia
menghantam Boe Kie.
Tiba-tiba Boe Kie berteriak, In Liok Siok, lihatlah! Tit Jie
akan balas sakit hati Liok siok.”
Ternyata dengan diantar Yo Poet Hwi, Siauw Ciauw,
dan yang lain-lain In Lie Heng yang digotong dalam sebuah
tandu oleh dua orang anggota Beng Kauw sudah masuk ke
dalam ruangan Sam Ceng Tian. Dilain saat jago-jago Ngo
Heng Kie pun tiba saling menyusul.
Seraya berteriak begitu, Boe Kie menangkis dengan
tangan kanannya, “Dak!” si botak terhuyung tiga tindak,
matanya melotot dan darahnya bergolak.
1678
“In Liok Siok!” teriak pula Boe Kie. “apakah diantara
penyerang terdapat manusia gundul itu?”
“Benar! Bahkan dia yang menjadi kepala.” Jawabnya.
Sementara itu, si botak mengumpulkan tenaganya,
sehingga tulang-tulangnya berkeretakan.
“Sebelum dia menyeberang, seranglah di tengah sungai!”
seru Jie Thay Giam. Seruan itu berarti bahwa sebelum A Jie
selesai menjalankan pernapasannya dalam mengumpulkan
tenaga, Boe Kie harus menyerang lebih dahulu.
Boe Kie mengerti maksud sang paman. Iapun tahu,
bahwa sesudah si botak mengumpulkan tenaga, dia bisa
mengeluarkan tenaga dalam yang lebih hebat daripada tadi.
“Baik!” jawabnya. Ia maju setindak, tapi tidak menyerang.
Di dalam hati ia percaya penuh, bahwa Kioe Yang Sin
Kang tak kalah dari Lwee Kang musuh. Semangatnya
sudah terbangun dan ia bertekad untuk melayani secara
ksatria, sesudah musuh selesai mengumpulkan tenaga.
Dilain detik, A Jie menghantam dengan kedua
tangannya. Hebat sungguh tenaganya yang menindih
bagaikan gunung roboh, Boe Kie menarik napas dalamdalam
dan Kioe Yang Sin Kang mengalir di dalam
tubuhnya. Ia mengangkat kedua tangannya, satu
mendorong, satu menyambut, melawan keras dengan keras
pulan.
Hampir berbareng, A Jie mengeluarkan teriakan
menyayat hati, badannya terbang bagai sebutir peluru,
menyambar tembok dan… “brak!” tembok berlubang besar
dan tubuh si botak terlempar ke luar dari lubang itu!
Semua orang tertegun, Tio Beng dan kawan-kawannya
pucat, jago-jago Boe Tong dan Beng Kauw mengawasi
dengan mata membelalak. Selama hidup belum pernah
1679
mereka menyaksikan pemandangan sehebat itu.
Sekonyong-konyong dari lubang tembok masuk seorang
yang menenteng A Jie, dia lalu menaruhnya di lantai.
Orang itu kate, gemuk tubuhnya, lucu mukanya tapi gerakgeriknya
bukan lain daripada Gan Hoan. Ciang Kie Soe
Houw Touw Kie. Tulang tangan, dada, dan pundak si
botak ternyata sudah remuk, terpukul tembok. Sesudah
meletakkan A Jie, Gan Hoang menghampiri Boe Kie dan
memberi hormat dengan membungkuk dalam. Sesudah itu,
dengan gerakan menggelikan hati, ia keluar lagi dari lubang
di tembok.
Sesudah si “Too Tong” merobohkan kedua jagonya. Tio
Beng bercuriga dan melihat cara memberi hormatnya Gan
Hoan, ia lantas saja mengenali Boe Kie. “Celaka sungguh!”
ia mengeluh. “aku sungguh tak pernah menyangka bahwa si
setan kecil sudah lebih dahulu berada di sini.” Sesudah
menetapkan hatinya, ia berkata dengan suara lemah lembut.
“mengapa kau begitu rendah? Dengan menyamar sebagai
seorang Too Tong kau memanggil orang luar sebagai “Thay
Soehoe, apa kau tak malu?”
Melihat dirinya sudah dikenali, Boe Kie lantas saja
menjawab dengan suara lantan. “Mendiang ayahku Thio
Coei San, adalah murid kelima dari Thay Soehoe, aku
memang harus memanggil Thay Soehoe.” Sehabis berkata
begitu, ia menghampir Thio Sam Hong dan berlutut. “anak
Thio Boe Kie memberi hormat pada Thay Soehoe dan Sam
SoePeh,” katanya dengan suara gemetar. “Karena keadaan
anak tidak lebih dahulu memperkenalkan diri, untuk
kekurang ajaran itu, anak memohon Thay Soehoe dan Sam
SoePeh sudi mengampuni.”
Perasaan Thio Sam Hong dan Jie Thay Giam tak
1680
mungkin dilukiskan dengan kalam. Girang, kaget, heran,
sedih, dan terharu mangaduk dalam dada mereka. Untuk
beberapa saat kedua orang tua itu tak dapat mengeluarkan
sepatah kata. Perlahan-lahan air mata turun dari mata
mereka. Mimpi pun mereka tak pernah mimpi, bahwa
pemuda yang telah merobohkan kedua jago Kim Kong
Boen adalah si anak kurus kering, dia yang telah
menghadapi kebinasaan.
Sesudah lampiaskan perasaannya dengan air mata, Thio
Sam Hong berbangkit dan membangunkan cucu muridnya.
“Anak… kau tidak mati.” Katanya dengan suara parau,
“Ah… Coei San mempunyai turunan… “ ia berhenti
sejenak dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Ia
menengok kepada In Thian Ceng dan berteriak, “In Heng!
Aku memberi selamat, bahwa kau mempunyai seorang
cucu yang sangat baik.”
“Thio Cinjin,” jawabnya seraya tertawa lebar, “akupun
memberi selamat, bahwa kau mempunyai seorang cucu
murid yang begitu baik.”
“Tua bangka bangsat!” caci Tio Beng. “Cucu baik!...
cucu murid baik… A Toa, coba jajal ilmu pedangnya!”
“Baik!” jawab kakek bermuka sial itu. Ia menghunus Ie
Thian Kiam yang mengeluarkan sinar menyilaukan mata.
“Pedang itu adalah milik Go Bie Pay,” kata Boe Kie.
“Mengapa sekarang berada dalam tanganmu?”
“Setan kecil, tau apa kau?” bentak si nona. “Si tua
bangka Biat Coat telah mencuri Ie Thian Kiam dari
rumahku. Sekarang pedang itu pulang kepada majikannya
yang lama. Ada hubungan apa antara Ie Thian Kiam dan
Go Bie Pay?”
1681
Boe Kie yang tidak mengenal sejarah pedang mustika itu,
tidak dapat membuka mulut lagi. “Tio Kouw Nio,
berikanlah Hek Giok Toan Siok kepadaku,” katanya
dengan menyimpang, “sesudah Sam Soepeh dan Liok
Soesiok sembuh, kita boleh bikin habis permusuhan ini.”
“Bikin habis permusuhan ini?” menegas si nona dengan
suara dingin. “Bagus! Apa kau tahu dimana adanya Kong
Boen Kong Tie, Song Wan Kiauw dan yang lain-lain?”
Boe Kie menggelengkan kepala, “Tak tahu.” Jawabnya.
“Bolehkah Tio Kouw Nio memberi keterangan?”
“Perlu apa aku beritahu kau?” jawabnya. “Jika aku tidak
mencincang padamu sampai menjadi berlaksa potong, tak
dapat aku melampiaskan rasa penasaran untuk segala
hinaan dalam penjara besi di Lek Lioe Chung.” Sehabis
berkata begitu, paras si nona bersemu dadu.
Mendengar perkataan hinaan dalam penjara besi di Lek
Lioe Chung, paras muka Boe Kie pun lantas berubah
merah. Pada hari itu, untuk menolong jiwa para pemimpin
Boe Kie, karena terpaksa ia sudah mengitik telapak kaki Tio
Beng. Ia sama sekali tidak berniat untuk menghina seorang
wanita, tapi biar bagaimanapun jua perbuatan itu sangat
melanggar kesopanan. Ia tidak pernah memberitahukan
kejadian itu kepada siapapun jua dan kalau sampai
diketahui orang, ia malu besar. Sebab tidak bisa membela
diri di hadapan orang banyak, ia hanya berkata, “Tio Kouw
Nio, bilanglah terus terang, kau suka menyerahkan Hek
Giok Toan Siokko atau tidak?”
Biji mata Tio Beng memain dan ia berkata sambil
tersenyum, “boleh kau bisa segera mendapatkan Hek Giok
Toan Siokko apabila kau meluluskan permintaanku.”
“Permintaan apa?”
1682
“Sekarang belum dapat dipikir olehku.”
“Kau tentu bakal mengajukan permintaan yang gila-gila.
Apakah aku harus meluluskan juga manakala kau minta
membunuh diri sendiri atau mengubah badan menjadi babi
dan anjing.”
“Aku pasti tak akan minta kau membunuh diri atau
minta kau menjadi babi dan anjing, hihihi… andaikata kau
mau, kaupun tak akan bisa melakukan itu.”
“Sebutlah sekarang, apabila permintaanmu tidak
melanggar kesatriaan dalam rimba persilatan dan bisa
dilakukan olehku, aku akan meluluskannya.”
Baru saja Tio Beng mau bicara lagi, tiba-tiba ia melihat
sekuntum kembang mutiara pada kundai Siauw Ciauw dan
kembang itu adalah miliknya sendiri yang dihadiahkan
kepada Boe Kie. Tiba-tiba saja darahnya meluap. Sambil
menggigit gigi, ia berpaling kepada A Toa dan berkata,
“Putuskan kedua lengan bocah she Thio itu!”
“Baik,”jawabnya. Ia maju setindak menghunus Ie Thian
Kiam dan berkata,
“Thio Kauw Coe, Coe jin memerintahkan aku
memutuskan kedua lenganmu.”
Alis Boe Kie berkerut. Ie Thian Kiam tajam luar biasa,
tidak bisa dilawan dengan senjata apapun jua. Jalan satusatunya
ialah coba merampas pedang mustika itu dengan
tangan kosong dengan menggunakan ilmu Kian Koen Tay
Lo Ie. Tapi kalau musuh memiliki ilmu yang tinggi, sekali
kurang hati-hati, sekali tergores, ia bisa celaka. Maka itulah
ia jadi agak bingung dan tak tahu apa yang harus
diperbuatnya.
Sekonyong-konyong Thio Sam Hong memanggil, “Boe
Kie, kau sudah paham Thay Kek Koen. Disamping ilmu
1683
pukulan itu, akupun menggubah Thay Kek Kiam (Ilmu
Pedang Thay Kek) “Mari! Aku akan mengajar ilmu pedang
itu kepadamu supaya kau bisa melayani Sie coe itu.”
“Terima kasih Thay Soe Hoe,” kata Boe Kie. Ia
berpaling kepada A Toa dan berkata pula, “cianpwee, aku
tidak paham ilmu pedang, sesudah Soehoe memberi
pelajaran barulah aku melayani cianpwee.”
Biarpun ia mempunyai pedang mustika, tapi sudah
melihat kelihaian Boe Kie, A Toa masih merasa keder.
Sekarang ia girang, ilmu pedang adalah serupa ilmu yang
sangat sulit. Untuk mempergunakannya secara lancer,
orang harus berlatih sepuluh dan dua puluh tahun. Begitu
belajar, begitu memperguanakannya adalah hal yang tak
mungkin. Maka itu, ia lantas saja manggutkan kepala dan
berkata: “baiklah, aku menunggu di sini. Apa dua jam
cukup?”
“Aku akan menurunkan pelajaran di sini,” kata Thio
Sam Hong. “Tak usah dua jam setengah jam sudah lebih
dari cukup.”
Kecuali Boe Kie, semua orang kaget. Mereka hampir tak
percaya kuping sendiri. Andaikata benar Thay Kek Kiam
Hoat pandai luar biasa, tetapi dengan mengajar di hadapan
orang banyak dan musuh bisa menyaksikannya, rahasia
pukulan-pukulan lihai tidak dapat dipertahankan lagi.
“Baiklah,” kata A Toa. “Kalau begitu, sebaiknya aku
keluar dari ruangan ini.”
“Tak usah,” kata Thio Sam Hong.
“Ilmu pedangku gubahan baru. Aku sendiri tak tahu apa
dapat digunakan atau tidak. Tuan boleh turut menyaksikan
dan kuminta tuan suka memberi petunjuk pada bagianbagian
yang kurang sempurna.”
1684
Sesaat itu, Yo Siauw mendadak ingat sesuatu, “Ah!”
teriaknya, “Sekarang aku ingat, tuan adalah Giok Bin Sin
Kiam tiang loo yang berkedudukan tinggi dalam Kay Pang!
Mengapa tuan rela menjadi budaknya orang?” (Giok Bin
Sin Kiam Sim – Malaikat pedang yang mukanya seperti
batu pualam, tiang loo – tetua Kay Pang partai pengemis.
Dalam Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar, Kay Pang
dipimpin oleh Kioe Cie Sin Kay Ang Cit Kong)
Mendengar itu, jago-jago Beng Kauw terkesiap,
“Bukankah kau sudah mati?” kata Cioe Tian.
“Bagaimana….. bagaimana kau bisa hidup lagi?”
A Toa menghela napas. “Aku manusia sisa mati.”
Katanya sambil menundukkan kepala. “Apa yang sudah
lampau perlu apa disebutkan lagi? Telah lama aku sudah
bukan tiang loo dari Kay Pang.”
Orang-orang yang lebih tua mengetahui, bahwa Giok
Bin Sin Kiam Phoei Tong Peng dahulu menjadi kepala dari
keempat tetua partai pengemis. Kelihaiannya dalam ilmu
pedang telah menggetarkan dunia kang ouw dan disamping
itu, ia pun terkenal sebagai pria yang sangat tampan,
sepanjang warta, pada belasan tahun berselang, ia telah
meninggal dunia karena sakit. Tentu saja munculnya di
Sam Ceng tian sangat mengejutkan, lebih-lebih sebab
mukanya berubah dan sekarang ia menjadi kaki tangan Tio
Beng.
“aku merasa sangat girang, bahwa Thay Kek Kiam Hoat
akan mendapat pelajaran dari Giok Bin Sin Kiam,” kata
Thio Sam Hong. “Boe Kie, apa kau mempunyai pedang?”
Siauw Ciauw segera menghampiri dan menyerahkan Ie
Thian Kiam kayu yang diambil dari Lek Lio Chung. Thio
Sam Hong menyambut pedang itu dan berkata sambil
tersenyum: ”pedang kayu? Apa kau kira aku akan menulis
1685
jimat atau mengusir hawa jahat?” Ia berbangkit dan
memegang senjata itu di tangan kiri, perlahan-lahan ia
membuat lingkaran. Ia mulai bersilat dengan gerakan
sangat lambat – San Hoan To Goat, toa Kwie Chee Yan
Coe Tiauw Coei, Co Lan Sauw, Yoe Lan Siauw dan
sebagainya. Boe Kie mengawasi dengan mata tidak
berkesiap tapi yang diperhatikannya bukan jurus pedang,
hanya jiwa ilmu pedang itu bersambung-sambung.
Sesudah Thio Sam Hong selesai bersilat, tak seorangpun
yang menepuk tangan. Mereka semua merasa heran.
Apakah ilmu pedang itu yang lambat gerakannya dan tak
menunjukkan keluar biasaan apapun jua dapat digunakan
untuk melawan Giok Bin Sin Kiam? Tapi ada juga yang
memikir lain. Mereka menduga, bahwa Thio Sam Hong
sudah sengaja memperlambat gerak-geriknya, supaya dilihat
oleh cucu muridnya.
“Anak apa kau sudah lihat terang?” tanya Thio Sam
Hong.
“Cukup terang,” jawab Boe Kie.
“Kau ingat semua?”
“Sudah lupa sebagian.”
“Bagus, aku banyak membikin susah kepadamu.
Sekarang kau harus memikiri sendiri.”
Alis Boe Kie berkerut, suatu tanda ia sedang mengasah
otak.
Beberapa saat kemudian, Thio Sam Hong bertanya lagi,
“Bagaimana sekarang?”
“Sudah lupa sebagian besar.” Jawabnya.
“Celaka!” teriak Cioe Tian. “Makin lama makin banyak
yang dilupakan. Thio cinjin, ilmu pedangmu sangat sulit tak
1686
dapat orang mengangkatnya dengan hanya sekali lihat,
coba sekali lagi.”
Thio Sam Hong tertawa, “Baiklah, aku akan bersilat
sekali lagi.” Katanya. Seperti tadi ia bersilat pula dengan
gerakan perlahan. Sesudah beberapa jurus, semua penonton
jadi makin heran sebab jurus-jurus yang diperlihatkan kali
ini berbeda dengan jurus-jurus yang tadi.
“Gila! Betul-betul gila!” Teriak Cioe Tian.
Tapi guru besar itu tak meladeni si sembrono. Ia hanya
senyum. “Anak,” katanya kepada Boe Kie. “Bagaimana
sekarang?”
“Masih ada tiga jurus yang belum terlupa.”
Thio Sam Hong balik kursinya, sedang Boe Kie jalan
terputar di ruangan itu. Tiba-tiba ia mengangkat kepala dan
dengan paras muka berseri-seri, ia berseru, “sekarang anak
lupa semuanya! Lupa seluruhnya.”
“Bagus!” kata sang Thay Soehoe. “Sekarang kau boleh
minta petunjuk Giok Bin Sin Kiam.” Seraya berkata begitu,
ia menyerahkan pedang kayu yang dipegangnya kepada
Boe Kie.
Boe Kie seraya menghampiri Phoei Tong Peng dan
berkata seraya membungkuk. Phoei Cian Pwee, silahkan.”
Cioe Tian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Hatinya penuh kekuatiran.
Bagaikan seekor kera, Phoei Tong Peng melompat dan
sambil berkata, “Maaf” ia menikam. Sinar hijau berkelebat
disertai dengan suara “Srrt” hal ini membuktikan, bahwa ia
memiliki Lwee Kang yang sangat kuat, sedikitnya tak kalah
dengan A Jie.
Semua orang terkejut. Dengan Lwee Kang yang sehebat
1687
itu, jangankan ia menggunakan pedang mustika, sedang
pedang biasapun sudah sukar dilawan. Meskipun ia sudah
tidak memiliki Giok Bin (muka tampan seperti batu
pualam), tapi julukan Sin Kiam (pedang malaikat) sungguh
bukan nama kosong.
Melihat serangan hebat itu, cepat Boe Kie membuat
setengah lingkaran, menempelkan badan pedang kayu di
badan Ie Thian Kiam, mengirim Lwee Kang, dan… Ie
Thian Kiam tertekan ke bawah.
“Bagus!” puji Phoei Tong Peng seraya membalik
pedangnya dan menusuk pundak lawan. Boe Kie memutar
senjata dan kedua lawan sama-sama melompat mundur. Ie
Thian Kiam tergetar dan mengeluarkan suara “unggg” yang
sangat nyaring.
Kedua pedang itu berbeda bagaikan langit dan bumi.
Yang satu bersenjata mustika, yang lain hanya kayu belaka.
Akan tetapi, karena bentrokan terjadi pada badan pedang,
maka yang tajam tidak dapat berbuat banyak terhadap yang
tumpul. Dengan memukul badan pedang maka boleh
dikatakan Boe Kie sudah berhasil menangkap jiwa Thay
Kek Kiam Hoat.
Tadi waktu memberikan pelajaran yang diturunkan Thio
Sam Hong ialah “jiwa” atau “intisari” dari Thay Kek Kiam
Hoat, tapi bukan “justru” ilmu pedang itu. Maka itulah,
sesudah Boe Kie bisa menyelami intisari daripada ilmu
pedang itu dan bisa menggunakan secara bebas, wajar
dengan segala perubahan-perubahannya yang bermacammacam.
Dalam otak masih teringat sejuru dua dari apa
yang dilihatnya, maka kelancaran itu akan terganggu. In
Thian Ceng dan Yo Siauw mengerti prinsip tersebut, tapi
Cioe Tian yang ilmunya masih agak cetek, sudah jadi
kebingungan.
1688
Suara bentrokan senjata makin lama makin gencar.
Dengan jurus-jurus luar biasa, dengan Lwee Kang yang
dahsyat dan dengan senjata mustika. Phoei Tong Peng
mengirim serangan-serangan berantai bagaikan hujan dan
angina. Sinar hijau berkelebat-kelebat tak ada hentinya dan
hawa dalam Sam Ceng Tian berubah dingin. Boe Kie
melayani dengan hati-hati dan tenang. Dalam membela diri
atau balas menyerang, pedang kayunya membuat lingkaranlingkaran,
lingkaran besar, dan kecil. Lingkara itu seolaholah
benang sutra yang berputar-putar dan untuk
menggulung Ie Thian Kiam. Makin lama jumlah benang
sutera jadi makin banyak. Sesudah bertempur dua ratus
jurus lebih, kelincahan Ie Thian Kiam mulai berkurang.
Phoei Tong Peng merasa, bahwa berat pedang selalu
bertambah, dari lima menjadi enam kati, tujuh, delapan,…
sepuluh… dua puluh…
Si kakek sekarang bangun, ia mengeluarkan keringat
dingin. Tiga ratus jurus sudah lewat. Tapi ia belum juga
bisa merampas pedang lawan yang terbuat dari pada kayu.
Itulah kejadian yang belum pernah dialami. Pihak lawanm
seperti juga melepaskan jala raksasa yang makin lama jadi
makin kecil. Berulang kali Phoei Tong Peng menukar ilmu
pedang, tapi ita tetap tidak dapat kemajuan. Terus menerus
Boe Kie membuat lingkaran-lingkaran di antara penonton,
kecuali Thio Sam Hong seorang, tak satupun yang bisa
melihat tegas apa dia sedang menyerang atau membela diri.
Pada hakikatnya Thay Kek Kiam Hoat hanya terdiri
daripada lingkaran-lingkaran besar, kecil, miring, berdiri
rata dan sebagainya, sehingga jika orang ingin berbicara
tentang “jurus” ilmu pedang itu hanya terdiri dari satu jurus
lingkaran. Tapi dalam jurus tunggal itu terdapat perubahanperubahan
yang tiada habisnya.
Sekonyong-konyong Phoei Tong Peng membentak keras,
1689
kumis atau alisnya berdiri dan Ie Thian Kiam menyambar
dada Boe Kie. Itulah serangan yang disertai dengan
seantero tenaga dalam. Boe Kie membalik senjata dan coba
menangkis. Mendadak si kakek memutar sedikit
pergelangan tangannya merampas dari samping. “Kres”
pedang kayu itu putus enam dim dan Ie Thian Kiam
meluncur terus ke dada Boe Kie.
Boe Kie terkesiap. Tapi dalam bahaya, ia tidak jadi
bingung. Secepat kilat, telunjuk dan jari tengah tangan
kirinya menjepit badan Ie Thian Kiam sedang tangan
kanannya membabat lengan kanan musuh dengan pedang
bunting. Biarpun kayu, tapi ia sebab membacok dengan
tenaga Kioe Yang Sin Kang sampai hati untuk menyerang
pula dan merampas pedang mustika itu.
Dengan tangan kiri mencekal Ie Thian Kiam Boe Kie
seperti juga jepitan besi. Dalam keadaan begitu, jalan satusatunya
untuk menyelematkan lengan kanannya dari
bacokan ialah melepaskan Ie Thian Kiam dan melompat
mundur. “lepas!” bentak Boe Kie sambil menggigit gigi
dengan nekat si kakek yang bandel membetot lagi. “Kres!”
lengan itu terbabat putus dan terus meluncur jatuh!
Phoei Tong Peng lebih suka mengorbankan lengan
daripada kehilangan pedang.
Sebelum lengan yang jatuh itu menyentuh lantai, tangan
kiri si kakek menjambretnya dan mengambil pedang Ie
Thian Kiam yang masih terus dicengkram dengan jari-jari
tangan dari lengan yang putus itu.
Melihat kegagahan orang tua itu, Boe Kie kaget
bercampur kagum dan ia tak sampai hati untuk menyerang
pula dan merampas pedang mustika itu. Phoei Tong Peng
menghampir Tio Beng dan seraya berkata membungkuk,
“Coe Jin, Siauw Jin tak punya kemampuan dan rela
1690
menerima hukuman.”
“Aku suruh kau putuskan kedua tangan bocah itu.”
Katanya dengan suara dingin.
Muka si kakek yang sudah pucat jadi lebih pucat lagi.
“Baiklah.” Katanya. Tangan kirinya mengayun Ie Thian
Kiam yang dengan sekali berkelebat sudah memutuskan
lengan kiri si kakek.
Dengan serentak semua orang mengeluarkan seruan
tertahan.
Boe Kie gusar tak kepalang. Sambil menuding, ia
membentak, “Tio Kouw Nio! Sungguh kejam kau! Phoei
Sian Seng telah berbuat apa yang dia bisa. Tapi kau masih
tak bisa memaafkannya.”
“Kau, bukan aku yang memutuskan tangannya.” Kata si
nona dengan suara dingin. “Apa kau atau aku yang kejam?”
Boe Kie jadi kalap, “Kau…. Kau… “ teriaknya. Ia tidak
bisa mendapatkan kata-kata yang tepat untuk
melampiaskan kemarahannya.
Tapi Tio Beng tenang-tenang saja. “Budakku, tak perlu
kau campur urusan orang lain,” ia menengok kepada Thio
Sam Hong dan berkata pula. “hari ini, dengan memandang
muka Thio Kauw Coe, aku memberi ampun kepada Boe
Tong Pay,” ia mengibaskan tangan kirinya dan membentak.
“Berangkat!” beberapa orang sebawahannya segera
mendukung Phoei Tong Peng, A Jie, dan Oe Boen Cek dan
kemudian beramai-ramai keluar dari Sam Tian Ceng.
“Tahan!” teriak Boe Kie “sebelum kamu tinggalkan Hek
Giok Toan Siokko, jangan harap kamu bisa berlalu dari Boe
Tong San!” dengan sekali melompat, tangannya
menjambret Tio Beng. Tapi sebelum tangan itu menyentuh
si nona, tiba-tiba ia merasa kesiuran angin yang menyambar
1691
dari kiri ke kanan. Kedua serangan itu tidak ada suaranya.
Tahu-tahu sudah tiba di hadapannya. Ia terkesiap, degnan
kecepatan luar biasa ia membalik kedua tangannya dengan
tangan kanan menyambut serangan yang datang dari
sebelah kanan, tangan kiri menangkis pukulan yang
menyambar dari sebelah kir. Begitu kedua tangannya
kebentrok dengan tangan musuh, ia merasa tekanan Lwee
Kang yang sangat kuat dan lebih hebat lagi, Lwee Kang itu
dingin luar biasa. Tiba-tiba ia terkejut, hawa dingin itu
sudah dikenalnya. Aha! Hian Beng Sin Ciang yang dahulu
hampir-hampir mengambil jiwanya!
Dalam kagetnya, Boe Kie segera mengerahkan Kioe
Yang Sin Kang. Hampir berbareng, iga kiri dan kanannya
ditepuk orang sehingga ia terhuyung beberapa tindak. Yang
menepuknya adalah dua kakek yang bertubuh kurus
jangkung. Selagi sebelah tangan mereka kebentrok dengan
kedua tangan Boe Kie, sebelah tangan yang lainnya tanpa
mengeluarkan suara sudah menyambar ke iga pemuda itu.
Seraya membentak keras, Yo Siauw dan Wie It Siauw
melompat dan menyerang kakek itu. “Plak, plak!” kedua
jago Beng Kauw itu juga terhuyung beberapa tindak, dada
mereka menyesak dan hawa dingin meresap sampai ke
tulang.
“Nama Beng Kauw sungguh besar, tapi kepandaiannya
hanya sebegitu!” kata si kakek di sebelah kanan. Sehabis
berkata begitu, dengan kawannya, ia melindungi Tio Beng
keluar dari Sam Ceng Tian.
Sebab kuatir akan keselamatan Kauw Coe mereka,
orang-orang Beng Kuaw tidak mengubar dan mereka lalu
mengerumuni Boe Kie yang duduk di lantai dengan dipeluk
oleh In Thian Ceng.
Semua orang kelihatan bingung. Sambil tersenyum, Boe
1692
Kie menggoyang-goyangkan tangannya supaya orang
jangan berkuatir. Perlahan-lahan ia mengerahkan Kioe
Yang Sin Kang untuk mengeluarkan racun dingin itu dari
dalam tubuhnya. Selagi hawa dingin itu terdesak ke luar,
beberapa orang yang Lwee Kangnya agak cetek,
bergemetaran badannya. Tapi karena mencintai pemimpin
mereka, tak seorangpun meninggalkan Boe Kie.
Beberapa saat kemudian, Boe Kie berkata, “Gwa kong
dan saudara-saudara sekalian. Keadaanku tak apa-apa.
Harap kalian jangan kuatir.”
Mendengar Kauw Coe mereka bicara, semua orang
merasa girang dan lantas mengundurkan diri. Sementara
itu, kelihatanlah di atas kepala Boe Kie terus menerus
keluar semacam asap berwarna putih, sebagai tanda bahwa
pemuda itu sedang mengerahkan Lwee Kang yang dahsyat.
Beberapa saat kemudian, ia membuka baju dan pada
kedua iganya terlihat tapak tangan dengan warna kehitamhitaman.
Berkat khasiat Kioe Yang Sin Kang, warna hitam
itu perlahan-lahan berubah menjadi ungu, dari ungu
menjadi abu-abu yang akhirnya menghilang. Demikianlah,
dalam waktu kira-kira setengah jam Boe Kie sudah berhasil
mengusir seantero racun hitam Hian Beng Sin Ciang. Ia
berbangkit dan berkata sambil tertawa, “Biarpun mesti
menghadapi bahaya, kita sekarang sudah mengenal muka
musuh.”
Yo Siauw dan Wie It Siauw pun tidak terluput dari racun
dingin. Tapi sebab pada waktu menangkis, mereka
mengeluarkan seluruh Lwee Kang, maka racun itu hanya
masuk sampai di pergelangan tangan dan tidak menembus
ke isi perut. Maka itu, sesudah mereka bersemedi dan
mengerahkan tenaga dalam beberapa lama, merekapun
berhasil mengusir racun tersebut.
1693
Beberapa saat kemudian, Gouw Kin Co, Ciang Kie Soe
Swie Kim Kie, melaporkan bahwa semua musuh sudah
turun gunung.
Jie Thay Giam lantas saja memerintahkan Tie Kek
Toojin menyediakan makanan untuk menjamu para
anggota Beng Kauw. Selagi makan minum, Boe Kie
menceritakan kepada Thay SoeHoe dan Sam SoePehnya
segala sesuatu yang terjadi atas dirinya semenjak mereka
berpisahan. Mendengar penuturan yang luar biasa itu,
semua orang merasa kagum dan heran.
”Tahun itu, di ruangan ini juga aku telah beradu tangan
dengan si kakek yang memiliki Hian Beng Sin Ciang itu,”
kata Thio Sam Hong. Pada waktu itu, ia menyamar sebagai
perwira tentara mongol. Sampai sekarang, aku masih belum
tahu dengan kakek yang mana aku beradu tangan. Kalau
dipikir-pikir, aku harus merasa malu, karena sampai hari ini
aku masih belum mampu meraba asal-usul kedua orang itu.
“Kitapun masih belum tahu siapa adanya wanita She Tio
itu,” menyambung Yo Siauw. “Dia pasti mempunyai
orang-orang Seperti Hian Beng Jie Loo (dua kakek yang
memiliki Hian Beng Sin Ciang) menakluk di bawah
perintahnya.”
“Kita sekarang menghadapi dua tugas yang harus segera
diselesaikan,” kata Boe Kie. “Pertama kita harus merampas
Hek Goan Toan Siokko untuk mengobati luka Jie Sam
SoePeh dan In Liok Siok. Kedua, kita harus segera
menyelidiki dimana adanya Song Toa Peh dan yang lainlain.
Untuk menunaikan kedua tugas ini, kita harus mencari
si wanita she Tio.”
Jie Thay Giam tertawa getir, “Aku sudah bercacad
selama kurang lebih dua puluh tahun, sehingga biarpun Hek
Goan Toan Siokko bisa dirampas, kurasa cacad ini tak
1694
mungkin disembuhkan lagi.” Katanya. “Perhatian kita
sekarang harus ditujukan kepada Toako, Liok Tee dan yang
lain-lain.
“Kita harus bertindak cepat,” kata Boe Kie pula.
“Kuminta Yo Co Soe, Wie Hok Ong, dan Swee Poet Tek
Tay Soe mengikut aku turun gunung untuk mengejar
musuh. Dengan berpencaran, kelima Ciang Kie Hoe Soe
(wakil pemimpin) dari lima bendera harus pergi ke Go Bie,
Hwa San, Koen Loen, Khong Tong, dan Siauw Lim Sie di
Hok Kian untuk mengadakan hubungan berbagai partai dan
mengadakan penyelidikan. Gwa Kong dan Koe Koe
(Paman, In Ya Eng) pulang ke Kang Lim untuk
mempersiapkan seluruh pasukan Peh Bie Kie. Tiat Koan
Too Tiang dan Cioe Sian Seng, Pheng Thay Soe dan Ciang
Kie Soe dari Ngo Heng Kie untuk sementara waktu
berdiam di Boe Tong Pay guna memantu Thay Soehoe
Thio Cin Jin.”
Demikianlah, dengan sikap wajar ia mengeluarkan
perinta. Sedang In Thian Ceng, Yo Siauw, Wie It Siauw
dan yang lain-lain menerimanya sambil membungkuk.
Melihat begitu, bukan main girangnya Thio Sam Hong.
Semula guru besar itu masih bersangsi, apakah cucu
muridnya yang masih baru begitu muda bisa menguasai
jago-jago Beng Kuaw.Sekarang dengan mata kepala sendiri
ia menyaksikan bahwa In Thian Ceng dan yang lain-lain
benar-benar mengakui Boe Kie sebagai pemimpin mereka
yang mempunyai kekuasaan mutlak. “Kepandaiannya yang
tinggi dan otaknya yang cerdas biarpun harus dikagumi di
mataku tidaklah berharga terlalu besar.” Kata Thio Sam
Hong di dalam hati. “Tapi bahwa ia berhasil menaklukkan
memedi-memedi Beng Kuaw dan Peh Bie Kie, hingga
mereka sekarang balik ke jalanan lurus sungguh-sungguh
satu kejadian yang menakjubkan. Ha!... Coei San ada
1695
turunannya… “ memikir begitu, kedua mata guru besar itu
mengembang air.
Boe Kie berempat cepat-cepat makan dan sesudah
makan, mereka segera meminta diri dari Thio Sam Hong
dan segera turun gunung untuk mengejar Tio Beng. In
Thian Ceng dan para pemimpin Beng Kauw. menghantar
sampai di kaki gunung. Poet Hwi yang rupanya berat untuk
segera berpisahan dengan ayahnya mengikuti terus dan
sesudah melalui lagi kira-kira satu li, Yo Siauw berkata,
“Poet Hwi, kau baliklah, rawatlah In Liok Siok sebaikbaiknya.”
“Baiklah,” jawab si nona, mengawasi Boe Kie dan tibatiba
paras mukanya berubah merah. “Boe Kie Koko,”
katanya dengan suara perlahan. “aku ingin bicara sepatah
dua patah dengan kau.”
Yo Siauw, Wie It Siauw, dan Swee Poet Tek tertawa
dalam hati. Kedua orang muda itu sahabat lama dan dalam
menghadapi perpisahan mereka mungkin ingin mengatakan
sesuatu yang tak boleh didengar orang lain. Memikir begitu,
mereka segera mempercepat tindakan dan meninggalkan
Boe Kie dan Poet Hwi.
Sesudah kedua orang tua itu pergi jauh, sambil menarik
tangan Boe Kie, si nona berkata, “Boe Kie koko, kemari,”
mereka menghadapi sebuah batu besar dan lalu berduduk di
atasnya.
Jantung itu memukul keras. “aku dan dia pernah samasama
melewati banyak bahaya besar. Perhubungan antara
aku dan dia bukan perhubungan biasa.” Katanya di dalam
hati. “Tapi sesudah perpisahan lama dan bertemu lagi
sikapnya agak dingin, acuh tak acuh. Apakah yang dia
sekarang mau sampaikan kepadaku?”
Sebelum bicara, paras muka si nona sudah berubah
1696
merah dan ia menundukkan kepala. Lama juga ia berdiam
bagaikan patung. Akhirnya ia mendongak dan berkata,
“Boe Kie koko, pada waktu ibu mau menutup mata,
bukankah ia telah meminta supaya kau melihat-lihat aku?”
“Benar,” jawabnya.
“Dengan melalui perjalanan berlaksa li, dari Tepi Hwai
Ho sampai ke See Hek, kau telah berhasil menyerahkan aku
kepada ayah. Dalam perjalanan itu, berulang kali kau
mengalami penderitaan hebat dan menghadapi bahayabahaya
besar. Budi yang tidak bisa dilukiskan dengan katakata
belaka. Sebegitu jauh aku hanya mengingat di dalam
hati dan tidak pernah menyebutkannya di hadapanmu.”
“Itu semua tak ada harga untuk disebutkan lagi,” kata
Boe Kie. “apabila aku tidak mengawani kau ke See Hek,
aku tentu tidak mengalami kejadian-kejadian yang sangat
kebetulan dan di waktu ini aku pasti sudah tidak berada di
alam dunia.”
“Tidak! Boe Kie koko, kau tak boleh mengatakan
begitu,” kata si nona sembil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kau seorang yang sangat mulia, dengan “restu Tuhan”
segala bahaya akan berubah menjadi keselamatan. Boe Kie
koko, sedari kecil aku sudah ditinggalkan ibu, ayah adalah
seorang yang paling dekat denganku, tapi aku tidak bisa
mengatakan kepadanya apa yang aku ingin katakana
sekarang. Kau adalah Kauw Coe kami, akan tetapi, di
dalam hati aku masih tetap memandang kau sebagai kakak
kandungku. Hari itu, ketika kau datang di Kong Beng Teng
dalam keadaan sehat, bukan main rasa girangku. Akan
tetapi, aku merasa malu hati untuk menyatakan perasaan
itu. Boe Kie koko, kau tidak gusar, bukan?”
“Tidak! Tentu saja aku tidak gusar,” jawabnya.
Si nona menundukkan kepala dan berkata pula. “Terima
1697
kasih, kau sungguh mulia, Boe Kie koko, aku telah
memperlakukan Siauw Ciauw secara kejam dan mungkin
sekali kau mendongkol terhadap perlakuan itu. Hal itu
terjadi karena aku selalu tidak dapat melupakan kebinasaan
ibu yang sangat mengenaskan sehingga terhadap orang
jahat, aku tidak main kasihan lagi. Belakangan sesudah
melihat perlakuanmu terhadap Siauw Ciauw, aku tidak
membencinya lagi.”
Boe Kie tersenyum, “Siauw Ciauw beradat aneh, tapi
kurasa dia bukan seorang jahat,” katanya.
Ketika itu matahari sudah mulai menyelam ke barat dan
musim rontok yang dingin mulai turun. Untuk beberapa
saat mereka tidak berkata-kata. Tiba-tiba paras muka si
nona berubah lagi, kulitnya yang putih bersemu dadu,
kedua matanya mengeluarkan sinar kecintaan, sedang
sikapnya seperti orang kemalu-maluan. “Boe Kie koko,”
katanya dengan suara hampir tidak kedengaran, bukankah
ayah dan ibu berdosa terhadap In… Liok Siok?”
“Ah! Kejadian yang sudah lampau, tak perlu disebutsebut
lagi,” kata Boe Kie.
“Tidak!” bantah si nona. “Bagi orang lain, kejadian itu
memang kejadian yang sudah lama. Aku sendiri sekarang
sudah berusia tujuh belas tahun. Tapi bagi In Liok Siok
kejadian itu bkan kejadian lama. Ia masih tidak bisa
melupakan ibu. Waktu ia terluka berat dan berada dalam
keadaan setengah sadar, sering-sering ia mencekal tanganku
dan berkata Siauw Hoe! Siauw Hoe! Jangan tinggalkan aku,
aku sudah menjadi manusia bercacat. Tapi aku memohon
jangan tinggalkan aku….. jangan tinggalkan aku,” ia bicara
dengan suara parau dan kemudian air matanya mengalir
turun di kedua pipinya.”
“Liok Siok mengatakan begitu, sebab ia berada dalam
1698
keadaan lupa ingat,” kata Boe Kie dengan suara membujuk.
“Kau tidak boleh menerima perkataan itu secara sungguh.”
Poet Hwi menggelengkan kepala. “Kau salah,”
bantahnya. “Bukan begitu kau tidak tahu, tapi aku tahu.
Belakangan sesudah tersadar, ia mengawasi aku dengan
sorot mata dan sikap yang tidak berbeda. Ia mau minta
supaya aku kan dia, tapi ia merasa berat untuk membuka
mulut.”
Boe Kie menghela napas. Ia mengenal baik adat paman
itu. Biarpun ilmu silatnya sangat tinggi, pada hakekatnya In
Lie Heng berperasaan sangat halus. Dahulu waktu masih
kecil, Boe Kie sering menyaksikan cara bagaimana paman
itu mengucurkan air mata untuk urusan-urusan kecil.
Kebinasaan Siauw Hoe merupakan pukulan sangat hebat.
Maka tidaklah heran meskipun sudah bercacat, Lie Heng
masih tidak bisa melupakan tunangannya itu.
Sesudah termangu beberapa lama, Boe Kie berkata
dengan suara serak. “Ya ….. kita tidak bisa berbuat banyak
untuk menghibur hatinya. Jalan satu-satunya aku harus
berusaha sekeras-kerasnya untuk merampas Hek Goan
Toan Siokko guna mengobati Liok Siok san Sam Soepeh.”
“Makin lama melihat sikap In Liok Siok, hatiku merasa
kasihan.” Kata pula Poet Hwi. “Aku tidak dapat
menghilangkan perasaan bahwa selama orang itu termasuk
ayah dan ibu telah melakukan perbuatan yang tidak pantas
terhadapnya. Boe Kie koko… “ ia terdiam sejenak
kemudian meneruskan perkataannya dengan suara hampir
tak kedengaran, “aku… aku sudah berjanji dengan In Liok
Siok, bahwa aku tak perduli ia sembuh atau tak sembuh,
aku akan mengawaninya seumur hidup dan tidak akan
berpisah lagi selama-lamanya!” sehabis berkata begitu, air
mata mengucur deras, akan tetapi paras mukanya berubah
terang. Itulah paras dari seorang yang dihinggapi rasa malu
1699
bercampur bangga.
Boe Kie terkejut. Ia tak pernah mimpi, bahwa Poet Hwi
rela mengabdi kepada In Lie Heng seumur hidup. Untuk
beberapa saat, dia mengawasi si nona dengan mata
membelalak dan kemudian berkata dengan suara terputusputus,
“kau!..... kau….. “
“Secara tegas aku sudah berjanji dengannya, bahwa
dalam penitisan ini, aku akan mengikutinya selamalamanya,”
berkata pula Poet Hwi dengan suara yang tetap.
“Walaupun seumur hidup ia bercacat, maka seumur hidup
aku akan mendampinginya, melayaninya dan coba
menghiburnya.”
Boe Kie menghela napas dan sambil mengawasi si nona
dengan alis berkerut, ia berkata, “tapi kau….. “
“Janjiku tak diberikan kepadanya secara tergesa-gesa,”
memutus Poet Hwi. “Di sepanjang jalan, aku merenungkan
soal itu masak-masak. Bukan saja itu tidak berpisahan
denganku, akupun tak bisa berpisahan dengannya. Kalau
lukanya tak sembuh, aku tidak bisa hidup lebih lama di
dalam dunia. Saban kali aku mendampinginya, ia selalu
mengawasiku dengan sorot mata yang tak dapat dilukiskan
pada saat itu. Boe Kie, dahulu, waktu masih kecil, aku
selalu memberikan rahasia hatiku kepadamu. Kuingat
karena tak punya uang untuk beli kembang gula, di tengah
malam buta, aku mencuri sebuah tong jin (kembang gula
yang berbentuk manusia) dan memberikannya kepadaku.
Apa kau masih ingat?”
Disebutkannya kejadian yang lampau itu mengharukan
sangat hatinya Boe Kie. Di depan matanya lantas saja
terbayang pengalaman-pengalaman pada waktu ia bersama
Poet Hwi, dengan bergandengan tangan, merantau ke
wilayah barat. “Aku ingat,” jawabnya sambil menundukkan
1700
kepala.
Seraya memegang tangan kakaknya, si nona berkata
pula: “tapi aku tidak tega untuk makan gula itu yang
akhirnya melumer karena hawa panas matahari. Aku
sangat berduka dan menangis terus. Kau coba membujuk
aku dan mengatakan, bahwa kau akan memberikan sebuah
lagi. Tapi biar bagaimanapun jua, kau takkan mendapatkan
tong jin yang sama seperti itu. Belakangan kau membeli
tong jin yang lebih besar dan lebih bagus, tapi sebaliknya
dari girang, aku menangis lagi. Waktu itu kau sangat
jengkel dan mencaci aku yang dikatakan tidak dengar kata.
Apa kau masih ingat?”
Boe Kie tersenyum. “Apa aku maki kau?” katanya. “Aku
sudah lupa.”
“adatku sangat kukuh,” kata pula si nona. “In Liok Siok
adalah tong jin pertama yang disukai olehku. Aku menolak
lain kembang gula. Boe Kie koko, sering-sering di tengah
malam yang sunyi kuingat segala kebaikanmu. Beberapa
kali kau sudah menolong jiwaku. Menurut pantas, aku
harus mengabdi kepadamu seumur hidup. Akan tetapi, aku
hanya bisa menganggap kau sebagai saudara kandung.”
“Di dalam hati, aku menyintai dan menghormati kau
sebagai seorang kakak. Tapi terhadap dia, aku mempunyai
rasa kasihan dan rasa cinta yang tak dapat dilukiskan
dengan kata-kata. Usianya banyak lebih tua dan
tingkatannya pun lebih tinggi daripada aku. Di samping itu,
ayah adalah seorang musuh besarnya… Kutahu bahwa
dalam hal ini kau menghadapi kesukaran-kesukaran besar.
Tapi.. tanpa memperdulikan apapun jua, aku membuka isi
hatiku kepadamu.” Sehabis berkata begitu, tiba-tiba ia
berbangkit dan kabur secepatnya.
Boe Kie berdiri bagaikan patung dan dengan hati
1701
berduka ia mengawasi si bayangan Poet Hwi yang lalu
menghilang di lembah gunung. Lama ia berdiri di situ
dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Sesudah
kenyang menangis, barulah ia menyusul kawan-kawannya.
Melihat tanda-tanda bekas air mata di kedua belah pipi
kauwcoe mereka, Wie It Siauw dan Swee Poet Tek melirik
Yo Siauw sambil bersenyum. Di dalam hati, mereka
menduga bahwa tak lama lagi Ko Cosoe bakal menjadi
mertua Thio Kauwcoe.
Sesudah berada dikaki gunung, Yo Siauw berkata.
“Kauwcoe, menurut pendapatku, Tio Kauwnio yang
mempunyai banyak pengiring tidak akan berjalan sendiri.
Maka itu usaha mencari dia tidaklah terlalu sukar.
Sebaiknya kita sekarang mengejar dengan berpencaran, ke
arah timur, selatan, barat dan utara dan besok tengah hari,
kita berkumpul di Kok shia. Bagaimana pikiran kauwcoe?”
“Aku setuju,” jawabnya. “Aku akan mengambil jalan ke
barat.” Kok shia terletak di sebelah timur Boe tong san dan
dengan mengejar ke jurusan barat, ia harus menempuh
jarak lebih jauh daripada kawan-kawannya. “Hian beng Jie
lo memiliki kepandaian yang tinggi,” katanya pula.
“Apabila Sam wie bertemu dengan mereka, menyingkirlah
jika masih bisa menyingkir. Tak usah Sam wie bertempur
dengan mereka.” Ketiga jago itu mengiakan dan segera
mengejar ke timur, selatan dan utara.
Jalanan ke barat adalah jalanan gunung, tapi dengan
menggunakan ilmu ringan badan, Boe Kie tidak menemui
kesukaran apapun jua. Dalam waktu satu jam lebih, ia
sudah tiba di Sip yan tin. Sesudah makan semangkok mie di
sebuah warung makan, ia menanya seorang pelayan,
apakah dia pernah melihat sebuah joli dengan tirai sutera
kuning.
1702
“Lihat!” jawabnya. “Di samping joli ada tiga orang sakit
yang digotong dalam tandu. Mereka lewat di sini kira-kira
satu jam yang lalu menuju ke arah Oey liong tin!”
Boe Kie girang karena rombongan itu pasti tidak bisa
berjalan cepat. Ia segera mengambil keputusan untuk
menyelidiki di waktu malam. Ia segera pergi ke tempat sepi
dan tidur di sebuah batu besar. Kira-kira tengah malam,
barulah ia menuju ke Oey liong tin.
Dengan melompati tembok ia masuk ke dalam kota.
Jalanan sepi, tapi penerangan di sebuah penginapan yang
besar kelihatan terang sekali. Ia melompat naik ke genteng
dan dengan beberapa lompatan ia sudah berada di atas
genteng sebuah rumah kecil yang berdampingan dengan
rumah penginapan itu. Dengan matanya yang sangat jeli ia
memandang ke sekitarnya.
Tiba-tiba ia melihat sebuah tenda di atas lapangan, di
pinggir sungai di bagian luar kota. Di seputar tenda itu
berkelebat-kelebat bayangan-bayangan manusia suatu tanda
bahwa tenda tersebut dijaga keras. “Apa Tio Kouw nio
berada di tenda itu?” tanyanya di dalam hati. Muka dan
bicaranya nona itu tidak berbeda dengan orang Han, tapi
tempat tinggalnya dan makanannya mempunyai selera
orang Mongol.”
Tapi baru saja ia mau menghampiri tenda itu, dari
jendela sebuah rumah penginapan tiba-tiba terdengar suara
merintih. Boe Kie kaget. Ia melompat turun, mendekati
jendela itu dan melongok ke dalam.
Dalam kamar itu terdapat tiga ranjang dan di atas setiap
ranjang berbaring satu orang. Yang kedua tidak kelihatan
mukanya, tapi yang menghadap ke jendela bukan lain
daripada Pat pie Sin mo Oe boen Cek. Ia merintih dengan
perlahan, rintihan dari seorang yang menahan kesakitan
1703
hebat. Sedang kedua lengan dan kedua betisnya dibalut kain
putih.
Mendadak Boe Kie ingat sesuatu. “Tulang kaki
tangannya telah dihancurkan olehku dan sekarang sedang
diobati dengan Hek giok Toansiok ko,” pikirnya. “Kalau
tidak merebut sekarang, mau tunggu kapan lagi?”
Memikir begitu ia segera mendorong jendela dan
melompat masuk. Seorang yang berada di dalam kamar itu
berteriak dan meninju. Dengan tangan kirinya Boe Kie
menangkap tinju yang menyambar, sedang tangan
kanannya menotok ke jalan darah itu. Ia sekarang suatu
mendapat kenyataan bahwa dua orang yang lain adalah si
kakek botak A jie dan Giok bin Sin kiam Poei Tong pek.
Orang yang ditotok olehnya mengenakan jubah panjang
warna hijau dan tangannya memegang dua batang jarum
emas. Tak bisa salah lagi dia seorang tabib yang sedang
mengobati ketiga jago itu dengan penjaruman. Di atas meja
terdapat sebuah botol yang berwarna hitam dan pinggir
botol menggeletak beberapa gulung daun hio.
Boe Kie menjemput botol itu, membuka tutupnya dan
mencium-cium. Ia mengendus bebauan yang pedas dan
tajam.
Tiba-tiba Oe boen Cek berteriak, “Tolong!... ada orang
merampas obat!...
Bagaikan kilat Boe Kie menotok A-hiat (hiat yang
membuat orang jadi gagu) ketiga jago itu dan kemudian
membuka balutan lengan Oe boen Cek. Ternyata lengan itu
dilabur dengan lapisan koyo yang berwarna hitam. Karena
mengenal kelicikan Tio Beng, sehingga nona itu mungkin
menaruh obat palsu di dalam botol untuk menjebaknya,
maka Boe Kie segera mengeruk koyo yang melekat di lukaluka
Oe boen Cek dan si kakek botak. Ia menganggap
1704
bahwa andaikata di dalam botol itu berisi obat palsu, obat
yang dilabur kedua jago itu tak mungkin palsu.
Sementara itu karena mendengar teriakan Oe boen Cek,
orang-orang yang menjaga di luar sudah mulai menyerang.
Pintu ditendang dan beberapa orang menerjang masuk.
Tanpa menengoki Boe Kie menendang setiap musuh yang
mendekatinya. Dalam sekejap ia sudah merobohkan enam
orang. Sesaat kemudian ia sudah mengeruk habis koyo
yang melekat di luka-luka Oe boen Cek dan A jie dan
kemudian membungkusnya dengan kain pembalut.
Ia tidak berani berdiam lebih lama lagi, karena jika Hian
beng Jie lo keburu datang, ia bakal berabe sekali. Dengan
cepat ia masukkan botol hitam dan bungkusan koyo ke
dalam sakunya dan kemudian melontarkan tubuh si tabib
keluar jendela. “Plak!” tabib itu terpukul jatuh. Benar saja
di luar bersembunyi musuh. Dengan menggunakan
kesempatan itu, Boe Kie melompat keluar. Dua sinar golok
menyambar. Dengan menggunakan Kian koen Thay lo ie
Sin kang, Boe Kie menyeret dengan tangan kanannya dan
menarik dengan tangan kirinya, sehingga musuh yang di
sebelah kiri membabat yang di sebelah kanan. Sementara
itu, ia sendiri kabur secepat-cepatnya.
Ia berlari-lari dengan hati bungah. Biarpun ia tidak dapat
menyelidiki asal usul Tio Beng tapi didapatkannya Hek
giok Toan Siok ko secara begitu mudah sudah merupakan
hasil yang gilang gemilang. Ia tidak mau membuang2
waktu pergi ke Kok shia guna menemui Yo Siauw dan yang
lain-lain, tapi terus menuju ke Boe tong san. Setibanya di
kuil, ia segera memerintahkan salah seorang anggota Ang
sei kie pergi ke Kok shia untuk memberitahukan hal itu
kepada Yo Siauw dan kawan2nya.
Mendengar Hek giok Toan siok ko telah dapat dirampas,
Thio Sam Hong dan yang lain-lain tentu saja merasa sangat
1705
girang. Sesudah menuturkan cara bagaimana ia merebut
koyo itu, Boe Kie segera membandingkan koyo kerokan
dengan obat yang terisi di dalam botol hitam itu. Ternyata
kedua-duanya tidak berbeda, di samping itu ia pun
mendapat kenyataan bahwa botol obat dibuat daripada
sepotong batu giok hitam yang jika dipegang mengeluarkan
rasa hangat, sehingga botol itu saja mempunyai harga yang
tidak bisa ditaksir berapa besarnya.
Sekarang ia tidak bersangsi lagi. Ia segera
memerintahkan orang menggotong In Lie Heng ke kamar
Jie Thay hiam dan merendengkan kedua mereka. Poet
Hwie yang ikut masuk tidak berani kebentrok mata dari Boe
Kie, tapi paras mukanya yang berseri-seri membuktikan
bahwa ia merasa sangat berterima kasih. Dahulu waktu
mengantar dia ke See hek Boe Kie telah membuat
pengorbanan besar, antaranya di Koen loen san mewakili
dia minum arak beracun. Tapi bagi si nona, semua budi itu
kalah besarnya seperti budi yang sekarang.
“Sam soepeh,” kata Boe Kie, “lukamu yang dahulu
sudah rapat dan sembuh. Kalau sekarang mau diobati tit-jie
harus mematahkan lagi tulang-tulang dan kemudian
menyambungnya pula. Tit-jie harap Sam soepeh suka
menahan sakit untuk sementara waktu.”
Di dalam hati Jie Thay Giam tidak percaya bahwa
kelumpuhannya yang sudah berjalan kurang lebih duapuluh
tahun masih dapat diobati. Tapi ia tak mau menolak, sebab
ia merasa paling jeleknya obat itu tidak berhasil dan ia
bercacat terus. Di samping itu iapun sungkan
mengecewakan keponakannya yang sangat berbudi. “Boe
Kie berusaha untuk menebus dosa kedua orang tuanya dan
jika aku menolak, ia tentu tak enak hati,” pikirnya. “Perduli
apa sedikit rasa sakit.” Ia seorang lelaki keras kepala yang
tak suka banyak bicara. Ia hanya tersenyum dan berkata.
1706
“Boe Kie, kau boleh berbuat sesukamu.”
Sesudah meminta Poet Hwie keluar Boe Kie buka
pakaian pamannya itu dan sehabis menotok jalan darah
Hoen soei hiat (jalan darah yang mengakibatkan pulas) ia
segera mematahkan tulang-tulang di bagian yang dulu
patah. Ia menyambung lagi tulang itu melabur koyo dan
dibalut dengan jepitan papan tipis. Mengobati In Lie Heng
banyak lebih mudah karena waktu bertemu dengan sang
paman di See hek ia sudah menyambung tulang yang patah
secara sempurna sehingga sekarang tidak perlu dipatahkan
lagi. Ia hanya perlu melabur koyo dan membalutnya.
Sesudah selesai barulah merasai letihnya. Ia segera
memerintahkan kelima orang kie soe Ngo heng kie untuk
menjaga kedua pamannya secara bergilir lalu sehabis
makan tengah hari, ia mengaso dalam kamarnya. Karena
kantuk dan lelah tak lama kemudian ia tertidur.
Tiba-tiba lapat-lapat terdengar suara tindakan kaki dan
seseorang berhenti di depan kamarnya. “Ada apa? Kauw
coe sedang tidur?” bisik Siauw Ciauw yang menjaga di luar
pintu. Jawab Goan Hoan, Ciang kie soe Houw touw kie
dengan suara perlahan, “In Lie hiap menderita kesakitan
hebat dan sudah tiga kali pingsan.”
Sebelum Gan Hoan bicara habis, Boe Kie sudah
melompat keluar dan berlari pergi ke kamar Jie Thay Giam.
In Lie Heng sedang pingsan. Kedua matanya mendelik dan
Poet Hwie menangis sambil mendekap muka dengan kedua
tangannya. Di ranjang lain, sambil menggertak gigi Jie
Thay Giam menggelisah.
Tak kepalang kagetnya Boe Kie. Ia segera menotok
beberapa hiat dan mengurut tubuh In Lie Heng untuk
menyadarkannya. Sambil menengok kepada Jie Thay Giam
ia bertanya, “Samsoepeh, apa kesakitan terasa di bagian
1707
tubuh yang patah?”
“Benar, tapi itu masih tak apa,” jawabnya. “Yang lebih
hebat lagi, rasa sakit di dalam perut… seperti… seperti
digigit berlaksa kutu.”
Boe Kie mencelos hatinya. “Kalau benar keterangan itu,
sang paman sudah pasti kena racun hebat. “Liok siok, apa
yang dirasai Liok siok?” tanyanya kepada In Lie Heng yang
sudah tersadar.
“Yang merah, yang ungu, yang hijau, kuning putih,
biru… indah sungguh!” banyak sekali bola-bola kecil
menari-nari… sungguh indah… lihatlah… lihatlah!... kau
lihatlah.”
“Ah!” teriak Boe Kie. Ia merasa seakan2 disambar
halilintar, sehingga hampir-hampir ia jatuh pingsan.
Mengapa? Karena ia ingat keterangan dalam Tok keng
(kitab tentang racun) dari Ong Lan Kauw, yang antara lain
berbunyi seperti berikut.
Cit ciong Cit hoa ko dibuat daripada tujuh macam
serangga dan tujuh macam bunga beracun. Orang yang
kena racun itu lebih dahulu merasakan sakit di dalam perut,
seperti digigit serangga. Kemudian, ia seperti melihat
macam2 warna yang indah, seperti 7 macam bunga yang
berterbangan kian kemari. Dari sekian banyak serangga dan
bunga beracun, orang dapat memilih tujuh macam serangga
dan tujuh macam bunga2 beracun untuk membuat Cit ciong
Cit hoa ko. Yang paling hebat ialah empatpuluh sembilan
macam campuran itu dengan perubahan2nya yang tak
kurang dari enampuluh tiga macam. Racun koyo itu hanya
dapat dipunahkan dengan menggunakan racun juga.
Keringat dingin membasahi baju Boe Kie. Ia tahu,
bahwa ia sudah kena dijebak Tio Beng dan bahwa koyo di
dalam botol itu bukan lain daripada Ciat ciong Ciat hoa ko.
1708
Mengingat kekejaman Tio Beng, ia bergidik. Dalam
memasang jebakan, perempuan itu tidak merasa segan
untuk melebur racun di tubuh kedua orang sebawahannya,
untuk mengorbankan jiwa jago-jagonya yang
berkepandaian tinggi.
Dengan cepat Boe Kie membuka kain pembalut dan
dengan arak mencuci koyo racun yang melekat di kaki dan
tangan kedua pamannya. Melihat paras muka pemuda itu,
Poet Hwie tahu, bahwa sesuatu yang hebat telah terjadi.
Tanpa malu-malu lagi, ia segera bantu mencuci kaki dan
tangan In Lie Heng. Sesudah koyo bersih, ternyata warna
hitam sudah masuk ke dalam daging dan tidak dapat
dihilangkan lagi.
Boe Kie tidak berani sembarangan menggunakan obat. Ia
hanya memberikan obat untuk menahan sakit dan
menentramkan semangat kepada kedua pamannya.
Sesudah itu, dengan tindakan limbung ia bertindak keluar
dari kamar Jie Thay Giam. Rasa kaget, kuatir dan malu
memenuhi dadanya. Tiba-tiba kedua lututnya lemas dan ia
roboh sambil menangis.
Poet Hwie memburu. “Boe Kie koko! Boe Kie koko!”
teriaknya dengan air mata bercucuran.
Aku sudah membunuh Sampeh dan Liok siok!...”
katanya dengan suara putus harapan. Pada detik itu, ia
sama sekali tidak melihat jalan untuk menolong jiwa kedua
pamannya. Cit ciong Cit hoa ko dapat dibuat menurut
ratusan cara. Siapapun jua tak akan tahu serangga macam
apa dan bunga apa yang digunakan dalam membuat koyo
itu. Untuk memunahkan racun itu, orang harus
menggunakan “racun melawan racun”. Dengan demikian,
sebelum orang tahu racun apa yang terdapat dalam koyo
itu, ia tidak berdaya, sebab kalau salah menggunakan racun,
maka si penderita pasti akan hilang jiwanya.
1709
Dalam kedukaannya dan rasa menyesalnya yang sangat
besar, tiba-tiba Boe Kie mengerti, mengapa dahulu ayahnya
telah membunuh diri. Ia sekarang sudah berbuat kesalahan
besar yang tidak bisa diperbaiki lagi. Seperti mendiang
ayahnya, baginya pun hanya terdapat satu jalan. Jalan
membunuh diri untuk menebus dosa. Perlahan-lahan ia
bangun berdiri.
“Boe Kie koko, apa benar tak ada obat lagi?” tanya Poet
Hwie dengan mata membelalak. “Boe Kie koko, mengapa
kau tidak mau mencoba?”
Boe Kie menggeleng-gelengkan kepala.
“Oh, begitu?” kata si nona. Di luar dugaan dalam
mengeluarkan perkataan itu, suara dan sikap Poet Hwie
kelihatan tenang.
Mendadak jantung Boe Kie memukul keras. Ia ingat apa
yang pernah dikatakan oleh si nona. Pada waktu membuka
rahasia hatinya, antara lain Poet Hwie mengatakan, “…
kalau lukanya tak sembuh akupun tak bisa hidup lebih lama
di dalam dunia.” Ia sekarang tahu, bahwa ia bukan
membunuh dua, tetapi tiga orang.
Dengan mata berkunang-kunang, ia berdiri bagaikan
patung. Tiba2 Gouw Kin Co masuk dan berkata, “Kauw
coe, Tio Kouw nio berada di luar kuil dan minta bertemu
dengan kau.”
“Aku justru mau cari dia!” teriak Boe Kie. Ia mencabut
pedang yang tergantung di pinggang Poet Hwie dan lalu
menuju keluar pintu dengan tindakan lebar.
Siauw Ciauw mencabut kembang mutiara yang tertancap
di kundainya dan sambil mengangsurkan perhiasan itu
kepada Boe Kie, ia berkata, “Kong coe, pulangkan ini
kepadanya.”
1710
Boe Kie mengawasi dan di dalam hati ia memuji sikap si
nona. Tanpa mengatakan suatu apa, ia mengambil
kembang itu.
Setibanya di luar, ia lihat Tio Beng berdiri sendirian
dengan bibir tersungging senyuman, dengan disoroti sinar
matahari sore, nona itu kelihatan lebih cantik lagi. Di
belakangnya, dalam jarak belasan tombak, berdiri Hian
beng Jie lo yang memegang tali les dari tiga ekor kuda.
Boe Kie melompat. Dengan sekali berkelebat tangan
kirinya sudah mencekal kedua pergelangan tangan si nona,
sedang pedangnya yang dipegang dengan tangan kanan,
menuding dada musuh. “Keluarkan obat pemunah!”
bentaknya.
Kata Tio Beng sambil tersenyum, “Kau pernah
memaksaku, apa kini kau ingin memaksa lagi? Aku datang
untuk menengok kau. Mengapa kau bersikap begitu garang
terhadap seorang tamu?”
“Berikan obat pemunah kepadaku!” kata Boe Kie. “Jika
tidak, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi dan kaupun tak
usah hidup lebih lama lagi”.
Muka si nona bersemu dadu, “Fui!” katanya. “Kau mau
mati, boleh mati. Kau sangkut paut apa denganku? Siapa
mau mati bersama-sama kau?”
“Aku bukan berguyon,” kata Boe Kie dengan mata
melotot. “Apabila kau tidak menyerahkan obat pemunah,
hari ini adalah hari matinya kau dan aku”.
Dari kedua pergelangan tangannya yang
dicengkeramkan Boe Kie, nona Tio dapat merasakan
bergemetarnya tubuh pemuda itu. Iapun merasai sebuah
benda keras di telapak tangan Boe Kie. “Pegang apa kau?”
tanyanya.
1711
“Kembangmu”, jawabnya. “Nih, aku pulangkan!”
Dengan sekali menggerakkan tangan kembang itu sudah
menancap di kundai si nona dan kemudian, secepat kilat,
tangan kirinya itu sudah mencengkeram pula pergelangan
tangan Tio Beng.
“Mengapa kau pulangkan?” tanya nona Tio.
“Kau mempermainkan aku hebat sekali,” jawabnya. “Ku
tak sudi memegang segala milik kau”.
“Apa benar?” menegas Tio Beng sambil tersenyum.
“Tapi mengapa kau meminta obat dari aku?”
Ditanya begitu, Boe Kie jadi tertegun. Dalam mengadu
lidah, ia selalu kalah. Mengingat bahwa Jie Thay Giam dan
In Lie Heng akan segera meninggal dunia, bukan main rasa
dukanya. Kedua matanya merah, hampir2 ia mengucurkan
air mata. Andaikata ia bisa mendapatkan obat itu, ia rela
untuk berlutut. Tapi ia yakin, bahwa terhadap wanita yang
kejam itu, takkan guna ia memohon-mohon.
Sementara itu, In Thian Ceng dan yang lain-lain sudah
datang ke situ. Melihat tangan nona Tio dicekal Boe Kie
dan Hian beng Jie lo berdiri di tempat jauh dengan sikap
acuh tak acuh, merekapun segera berdiri di belakang Boe
Kie dan menunggu perkembangan selanjutnya dengan hati
berdebar debar.
Sesudah berdiam sejenak, nona Tio berkata pula, “Kau
seorang kauwcoe dari Beng kauw dan ilmu silatmu yang
sangat tinggi menggetarkan dunia. Tapi mengapa baru saja
menghadapi sebuah cengkeraman kecil, kau sudah bersikap
kanak-kanak? Kau berteriak2 dan menangis2. Sungguh
memalukan! Aku sekarang mau bicara sejujurnya. Sebab
kau kena pukulan Hian beng Sin ciang, aku sengaja datang
untuk menengok keadaanmu. Di luar dugaan, begitu
bertemu dengan aku, kau berteriak-teriak. Lepaskan
1712
tanganku! Mau lepas atau tidak?”
Ditegur begitu, Boe Kie merasa sedikit jengah. Ia segera
melepaskan cekalannya, sebab ia merasa bahwa biar
bagaimanapun jua, nona itu tak akan bisa melarikan diri.
Sambil mengusap2 kundainya yang tertancap kembang
mutiara, Tio Beng tertawa. “Tapi kau rupanya tidak
terluka,” katanya.
Boe Kie mengeluarkan suara di hidung. “Hm! Segala
Hian beng Sin ciang belum tentu dapat melukai orang,”
katanya.
“Tapi bagaimana dengan Tay lek Kim kong cie? Dengan
Cit ciong hoa ko?” tanya Tio Beng dengan nada mengejek.
“Benar2 Cit ciong Cit hoa ko!” kata Boe Kie dengan
penuh kebencian.
Tiba-tiba nona Tio mengubah sikapnya. Sekarang ia
berkata dengan suara sungguh-sungguh. “Thio Kauwcoe,
aku bersedia untuk menyerahkan Hek giok Toan sik ko
kepadamu dan akupun bersedia untuk memberi obat
pemunah Cit ciong Cit hoa ko kepadamu. Aku bersedia,
asal saja kau suka meluluskan tiga permintaanku. Jika kau
menggunakan kekerasan, kau dapat membunuh aku, tapi
kau jangan harap bisa mendapat obat. Kalau kau coba
memaksa aku dengan disiksa, aku bisa memberi obat palsu
atau racun yang hebat.”
Boe Kie girang, “Permintaan apa? Lekas bilang!”
katanya cepat.
Sambil bersenyum, si nona menjawab. “Bukankah aku
pernah mengatakan, bahwa begitu lekas aku dapat memikir
tiga permintaan itu aku akan segera memberitahukan
kepadamu? Kau hanya perlu mengatakan dan berjanji
untuk tidak melanggar janji. Aku mesti tak akan minta kau
1713
menangkap rembulan di langit, tak akan minta kau
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Rimba
Persilatan dan juga takkan minta kau membunuh diri
sendiri.”
Mendengar bahwa ia tak akan diminta untuk
“melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan
Rimba Persilatan” Boe Kie merasa lega. Ia lantas saja
berkata dengan suara lantang, “Tio Kouwnio, asal saja kau
benar-benar memberikan obat yang bisa menyembuhkan
kedua pamanku, biarpun mesti masuk ke lautan api, aku tak
akan menampik segala perintahmu.”
Tio Beng tersenyum sambil mengangsurkan tangan ia
berkata, “Baiklah! Marilah kita menepuk tangan sebagai
sumpah. Aku akan segera memberikan obat yang diminta
olehmu. Di belakang hari, sesudah Samsoepeh dan
Lioksoesiokmu sudah sembuh, kau akan melakukan tiga
permintaanku. Asal saja ketiga permintaanku itu tidak
bertentangan dengan peraturan dalam Rimba Persilatan.
Kau setuju?”
“Ya.” Kata Boe Kie seraya mengulurkan tangannya dan
menepuk tiga kali tangan si nona.
Sesudah itu, Tio Beng mencabut kembang mutiara yang
tertancap di kundainya. “Sekarang kau harus menerima lagi
hadiah ini!” katanya.
Sebab kuatir nona Tio marah dan menarik pulang
janjinya, Boe Kie segera menyambuti perhiasan itu.
“Tapi kau tidak boleh memberikan lagi kembangku ini
kepada budak yang cantik itu, kata Tio Beng.
“Baiklah!” jawabnya.
Nona Tio tertawa dan mundur tiga tindak. “Obat akan
segera diantarkan kepadamu,” katanya. “Thio Kauwcoe,
1714
sampai bertemu lagi!” Ia mengibaskan tangan baju,
memutar tubuhnya yang langsing dan lantas berjalan pergi.
Dengan sikap menghormat Hian beng Jie lo menyerahkan
tunggangannya. Tio Beng melompat naik ke atas punggung
tunggangannya dan tanpa menengok lagi, ia turun gunung.
Sesudah si nona dan dua pengiringnya membelok di satu
tikungan, dari atas sebuah pohon tiba-tiba melompat turun
seorang pria. Boe Kie mengenali, bahwa dia itu bukan lain
daripada Cian Jie Pay, salah seorang dari Sin cian Pat
hiong. “Majikanku mengirim sepucuk surat kepada Thio
Kauwcoe!” teriaknya sambil melepaskan anak panah.
Boe Kie menyambutnya dengan tangan kiri. Di ujung
anak panah itu – yang mata panahnya sudah dicopotkan,
terikat sepucuk surat yang dialamatkannya kepada “Thio
Kauwcoe pribadi”.
Boe Kie segera merobek sampul dan surat itu berbunyi
seperti berikut:
“Di lapisan kotak emas,
Koyo mustajab sudah tersimpan lama
Di lubang kembang mutiara
Terdapat surat obat
Kedua barang itu sudah lama berada dalam tangan Tuan
Tapi mengapa Tuan begitu bersusah hati?
Karena Tuan tak sudi melihatnya
Dan menyerahkannya kepada seorang budak.”
Membaca itu, Boe Kie kaget, girang dan malu. Tanpa
menyia-nyiakan waktu, ia memperhatikan kembang
mutiara itu dan coba memutar-mutar setiap mutiara yang
tertera di atasnya. Benar juga salah sebuah dapat diputar,
1715
karena bagian bawahnya diperlengkapi dengan ulir (aluralur
berputar seperti pada sekrup). Boe Kie segera
mencopotnya dan ia mendapat kenyataan, bahwa pada
batang kembang yang terbuat daripada emas terdapat
sebuah lubang. Di dalam lubang itu terisi benda yang
berwarna putih. Dengan jarum emas, ia mengorek keluar
benda itu selembar kertas amat tipis dengan tulisan yang
memberitahukan nama nama serangga dan kembang
beracun yang digunakan dalam Cit ciong Cit hoa ko. Di
samping itu juga terdapat petunjuk cara bagaimana ia harus
menolong orang yang kena racun koyo itu.
Petunjuk yang terakhir sebenarnya tak perlu diberikan.
Begitu lekas mengetahui nama-nama serangga dan
kembang yang digunakan, Boe Kie sendiri bisa mengobati.
Sesudah melihat, bahwa petunjuk itu tidak menyimpang
dari keharusan, ia jadi girang sekali. Ia sekarang tahu
bahwa Tio Beng tidak main gila. Buru-buru ia masuk ke
dalam dan dengan dibantu oleh beberapa orang, ia segera
membuat obat dan memakaikannya di kaki dan tangan
kedua pamannya. Benar saja, dalam waktu kurang lebih
satu jam, akibat mengamuknya racun sudah banyak
mereda. Rasa sakit di perut dan warna-warna yang dilihat
oleh Jie Thay Giam dan In Lie Heng mulai menghilang.
Sesudah itu Boe Kie mengambil kotak emas tempat
penyimpanan kembang mutiara yang diberikan kepadanya
oleh Tio Beng.
Sesudah meneliti beberapa lama, ia berhasil
mendapatkan lapisan rahasia dalam kotak itu dan pada
lapisan itu terdapat koyo yang berwarna hitam. Berbeda
dengan koyo racun, koyo sangat harum baunya. Tapi Boe
Kie tak berani berlaku sembrono lagi. Ia menangkap seekor
anjing, mematahkan satu kakinya dan kemudian
mengobatinya dengan koyo itu. Pada keesokan harinya
1716
tulang yang patah sudah mulai menyambung.
Berselang tiga hari, racun yang mengeram dalam tubuh
Jie Thay Giam dan In Lie Heng sudah terusir semua dan
Boe Kie mulai mengobati dengan Hek giok Toan siok bo.
Kali ini tidak terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Koyo ini
ternyata sangat mujarab. Kira-kira dua bulan kedua tangan
In Lie Heng sudah bisa bergerak. Tapi Jie Thay Giam yang
sudah lumpuh selama sepuluh tahun tidak bisa sembuh
seperti sedia kala. Ia hanya bisa jalan perlahan-lahan
dengan bantuan tongkat. Biar bagaimanapun jua, hal itu
sudah merupakah perbaikan yang tidak diduga-duga.
Karena harus mengobati kedua pamannya, Boe Kie
terpaksa berdiam lama di Boe tong san. Sementara itu para
Ciang kie Hoe oe dari Ngo heng kie sudah kembali dengan
beruntun dan mereka membawa warta yang mengejutkan.
Menurut mereka, rombongan2 Go bie, Hwa san, Khong
tong dan Koen loen yang menyerang Beng kauw di See hek,
belum pulang ke masing-masing tempatnya. Kalangan
Kang ouw gempar. Orang-orang Rimba Persilatan percaya,
bahwa sesudah membasmi rombongan keenam partai, Beng
kauw akan segera menyatroni dan merampas berbagai
partai persilatan. Menghilangnya pendeta2 kuil Siauw lim
sie telah menerbitkan gelombang yang belum pernah
dialami dalam Rimba Persilatan.
Masih untung para wakil pemimpin Ngo heng kie
membawa surat Thio Sam Hong dan merekapun tak
memperkenalkan diri sebagai anggota Beng kauw. Kalau
bukan begitu mereka mungkin tak pulang. Mereka
selanjutnya menerangkan, bahwa pada waktu ini, berbagai
partai, berbagai piauw hang dan kelompok kelompok
perampok, baik yang di gunung maupun di air, semua siap
sedia dan sangat waspada sebab mereka kuatir Beng kauw
akan menyerang dengan tiba-tiba.
1717
Beberapa hari kemudian, In Thian Ceng dan In Yo Ong
yang pulang ke markas besar Peh bie kie sesudah Jie Thay
Giam dan In Lie Heng mendapat obat juga sudah kembali
di Boe tong san. Mereka melaporkan bahwa dalam Peh bie
kie sudah dibuat perubahan-perubahan dan seluruh pasukan
sekarang berada di bawah Beng kauw. Di samping itu
merekapun memberitahukan bahwa jago-jago Rimba
Persilatan di daerah tenggara sudah mulai bergerak dan
membentuk pasukan-pasukan rakyat untuk menggulingkan
pemerintah penjajah.
Pada waktu itu tentara Goan masih sangat kuat dan
dengan cepat mereka menumpas pasukan-pasukan rakyat.
Di samping kekuatan pemerintah Goan, perlawanan rakyat
itupun mempunyai kelemahan, ialah mereka bergerak
dengan sendiri-sendiri, satu sama lain tidak mengadakan
hubungan atau perserikatan, sehingga dengan mudah
mereka dapat dibasmi.
Malam itu di ruangan belakang Thio Sam Hong
mengadakan perjamuan cia cay untuk In Thian Ceng dan
puteranya. Selagi makan minum In Thian Ceng
menceritakan sebab musabab dari kekalahan
pemberontakan rakyat. Dalam setiap pergerakan anggotaanggota
Beng kauw dan Peh bie kie (dahulu Peh bie kie
kauw) selalu mengambil bagian dan banyak di antaranya
telah ditangkap atau dibinasakan oleh tentara Goan.
“Menurut pandangan hati rakyat sekarang sudah
berubah dan waktu ini adalah waktunya mengusir Tat-coe
dan merampas pulang tanah air kita,” kata Yo Siauw.
Selama hidup mendiang Yo Kauwcoe itu selalu memikiri
persoalan ini, hanya sayang karena bermusuhan dengan
berbagai partai persilatan, maka selama kurang lebih seratus
tahun agama kita tidak bisa bergandengan tangan dengan
orang-orang gagah di seluruh negeri untuk mengusir kaum
1718
penjajah. Atas berkah Tuhan sekarang, Thio Kauwcoe
memegang tampuk pimpinan. Permusuhan kita dengan
berbagai partai sudah mulai berkurang. Kini tibalah
waktunya untuk kita bersatu padu dalam melawan musuh.”
“Yo Co soe,” kata Cioe Tian. “Apa yang dikatakan
olehmu kedengarannya sangat tepat, tapi itu semua hanya
omong kosong.”
Yo Siauw tak jadi gusar. “Bagaimana pendapat Cioe
heng?”
“Orang-orang Kang ouw semua mengatakan bahwa
Beng kauw telah membunuh jago-jago dari enam partai..”,
jawabnya. “Begitu mendengar nama Beng kauw, begitu
mereka naik darah. Mana bisa bersatu padu dalam
melawan musuh? Kata-katamu enak sekali kedengarannya.
Tapi bagaimana melakukannya?”
“Memang pada waktu ini kita memang masih mendapat
nama jelek,” kata Yo Siauw. “Bagi aku percaya, pada
akhirnya segala apa akan jadi terang. Apabila dalam hal ini
seorang yang berkedudukan begitu tinggi seperti Thio
Cinjin bisa menjadi saksi.”
Cioe Tian tertawa nyaring, “Andai kata kita benar sudah
membunuh Song Wan Kiauw Biat coat, Ho Thay Ciong
dan yang lain-lain, Thio Cin-jin yang berada di gunung ini
sudah pasti takkan mengetahuinya,” kata si sembrono.
“Maka itu kesaksian Thio Cinjin tak bisa diterima sebagai
bukti yang kuat.”
“Cioe Tian!” bentak Tiat koan Too jin, “Di hadapan
Thio Cinjin dan Kauwcoe tak dapat kau bicara yang gilagila.”
Disemprot begitu, Cioe Tian tak berani membuka mulut
lagi.
1719
“Apa yang dikatakan Cioe heng bukan tidak beralasan
sama sekali” sela Pheng Eng Giok. “Menurut pikiran pin
ceng sebaiknya kita segera mengadakan sebuah
perhimpunan antara pemimpin Beng kauw. Dalam
perhimpunan kita mengumumkan keinginan Thio Kauwcoe
untuk memperbaiki hubungan dengan berbagai partai. Di
samping itu, dalam pertemuan tersebut, kitapun dapat
menyelidiki dimana adanya rombongan Song Thay-hiap,
Biat coat Soethay dan lain-lain.”
“Menyelidiki dimana adanya Song Thay hiap bukan
pekerjaan sukar,” kata Cioe Tian. “Bahkan mudah sekali,
kita tidak usah mengeluarkan tenaga.”
Beberapa orang lantas saja menanya dengan bernafsu.
“Bagaimana?”
“Lekas katakan!”
“Mengapa kau tak siang-siang memberitahukan kami?”
Dengan paras muka berseri-seri si sembrono menceguk
cawannya dan kemudian berkata dengan suara nyaring,
“Anak kunci berada dalam tangan Thio Kauwcoe sendiri.
Asal Thio Kauwcoe mau membuka mulut, menanyakan
Tio Kouwnio, segala apa akan menjadi terang. Aku merasa
pasti, bahwa tidak dibunuh mereka pasti ditawan oleh nona
tersebut.”
Selama dua bulan lebih, Wie It Siauw, Peng Eng Giok
dan Swee Poet Tek pernah turun gunung untuk menyelidiki
jejak Tio Beng yang sesudah membuat perjanjian dengan
Boe Kie sesudah menghilang tanpa bekas. Bukan saja nona
itu, tapi orang2nya pun yang berjumlah tak sedikit tak
ketahuan kemana perginya. Para pemimpin Beng kauw
hanya bisa menduga-duga bahwa nona Tio mempunyai
hubungan dengan kaisar Goan. Di samping itu tak terdapat
1720
lain penerangan.
Maka itulah, mendengar jawaban Cioe Tian, beberapa
orang lantas saja mengejek dan mengatakan bahwa pikiran
si sembrono hanya omong kosong belaka. Meskipun tahu,
bahwa nona Tio merupakan sumber keterangan. Tapi yang
menjadi soal, kemana mereka harus mencari nona yang
licin itu.
Cioe Tian tertawa, “Orang-orang seperti kalian tentu saja
takkan bisa mencari nona itu,” katanya. “Tapi Kauwcoe
kita tak usah mencarinya. Kauwcoe kita masih hutang tiga
pekerjaan yang belum dikerjakan. Apa kalian kira nona
yang lihay akan membebaskan hutang dengan begitu saja?
Huh huh!... Dia sangat cantik dan ayu. Tapi aku setiap kali
kuingat namanya, badanku sudah bergemataran.”
Semua orang tertawa, tapi mereka mengakui bahwa
pendapat kawan itu memang sebuah kenyataan.
Boe Kie menghela napas, “Aku mengharap supaya lekaslekas
menyebutkan tiga permintaannya, supaya aku segera
bisa membereskan hutang,” katanya. “Siang malam aku
selalu memikiri, permintaan apa yang akan diajukan
olehnya. Pheng Thaysoe, tadi kau mengusulkan supaya
agama kita mengadakan sebuah perhimpunan besar antara
para pemimpin. Bagaimana pendapat kalian?”
“Aku setuju,” kata Yo Siauw. “Tapi dimana kita harus
mengadakan perhimpunan tersebut?”
Sesudah memikir beberapa saat, Boe Kie berkata,
“Dalam menduduki kursi sebagai wakil Kauwcoe, aku
sering sekali ingat dua orang yang telah melepas budi besar
terhadapku. Yang satu Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe
Sianseng. Sungguh menyesal, orang tua itu telah binasa di
tangan Kim hoa popo. Yang satu lagi, Siang Gie Cien Toko
yang sekarang tak diketahui dimana adanya. Sebagai
1721
peringatan untuk kedua tuan penolong itu, kalau bisa, ku
ingin perhimpunan kita diadakan di Ouw tiap kok di
Hwaipak.”
“Bagus2!” teriak Cioe Tian sambil menepuk2 tangan.
“Dahulu Kian sie Pout kioe setiap hari bertengkar dengan
aku. Sebagai manusia dia boleh juga. Melihat kebinasaan
dia tak sudi menolong dan akhirnya dia sendiri binasa tanpa
ditolong orang. Tapi biar bagaimanapun jua, Cioe Tian
mau memberi hormat dengan berlutut di depan
kuburannya.
Persetujuan dicapai dengan suara bulat. Kurang lebih
tiga bulan lagi, pada Peh Swee Tiong Cioe (tanggal lima
belas bulan delapan menurut penanggalan Imlek, yaitu
pesta pertengahan musim rontok). Beng Kauw akan
mengadakan perhimpunan besar antara para pemimpinnya
di seluruh negeri.
Pada keesokan paginya, sejumlah petugas dari Ngo hengkie
dan Peh bie-kie turun gunung untuk menyampaikan
perintah Kauwcoe kepada para pemimpin Bengkauw.
Segenap para pemimpin Bengkauw, yang berkedudukan hin
coe ke atas, harus sudah berada di Ouw tiap kok pada
sebelum Pehgwee Cap go guna bertemu dengan Kauwcoe
baru dan merundingkan hal-hal penting mengenai agama
mereka.
Sebab masih ada waktu tiga bulan dan juga sebab kuatir
Jie Thay Giam dan In Lie Heng kumat lagi penyakitnya,
maka Boe Kie tidak berani lantas meninggalkan Boe tong
san. Sambil merawat kedua pamannya, dalam waktu-waktu
luang, ia selalu meminta penjelasan-penjelasan mengenai
Thay kek koen dari kakek gurunya. Sementara itu, Wie It
Siauw, Pheng Eng Giok, Swee Poet Tek dan yang lain-lain
terus berkelana di berbagai tempat untuk menyelidiki
tempat sembunyinya Tio Beng.
1722
Atas perintah Kauwcoe, dengan apa boleh buat Yo
Siauw berdiam terus di Boe tong san. Mengingat
perbuatannya terhadap Kie Siauw Hoe, ia selalu merasa
malu terhadap In Lie Heng dan tidak berani sering-sering
bertemu muka. Saban hari, ia kebanyakan menutup diri di
dalam kamar dan membaca buku. Tanpa urusan yang
sangat penting, ia tak pernah keluar dari kamar itu.
Pada suatu lohor Boe Kie datang di kamar Yo Siauw
untuk merundingkan soal-soal yang mau dibicarakan dalam
perhimpunan besar. Sebagai seorang muda yang mendadak
memikul beban sangat berat, ia sering merasa kuatir kalaukalau
ia tidak dapat menunaikan tugasnya itu. Yo Siauw
adalah orang satu-satunya yang paham akan seluk beluk
Beng kauw. Maka itulah ia meminta Yo Co soe untuk
mengawaninya di Boe tong san supaya setiap waktu ia bisa
minta pikirannya.
Sesudah bicara beberapa lama, Boe Kie menjemput
sejilid buku yang terletak di meja. Di kulit buku tertulis
huruf-huruf yang berbunyi “Masuknya Beng kauw ke
Tiongkok” dan di sebelah bawah dalam huruf-huruf kecil
tertulis “Disusun oleh tee coe Kong beng Co soe Yo
Siauw”.
Boe Kie menghela nafas. “Yo Co soe” katanya, “kau
seorang boen boe coan cay dan merupakan tiang dari
agama kita”.
“Terima kasih atas pujianmu Kauwcoe,” jawabnya
sambil membungkuk.
Boe Kie membalik-balik lembaran buku itu yang
mencatat sejarah Beng kauw. Menurut catatan itu, Beng
kauw masuk ke Tiong Tauw (tanah tengah atau Tiongkok)
pada tahun Yancay kesatu dari Boe Cek Thian dari
kerajaan Tong yaitu pada waktu seorang Iran menghadap
1723
ratu dan menyerahkan Sam cong keng kitab pelajaran Beng
kauw. Mulai waktu itu orang Tionghoa mempelajari kitab
tersebut. Tahun tay lek ketiga (kerajaan Tong) bulan enam
tanggal 29 di Lok yang Tiangan diberdirikan sebuah kuil
Beng kauw yang diberi nama Tay in Kong beng sie,
belakangan kuil-kuil seperti itu juga diberdirikan di Tay
goan, Keng cioe, Yang cioe, Ang cioe, Wat cioe dan lainlain
kota penting. Pada tahun Hwee ciang ketiga Kaisar
mengeluarkan perintah untuk membinasakan anggotaanggota
Beng kauw semenjak itu pengaruh dan tenaga
agama tersebut sangat berkurang. Karena dilarang, Beng
kauw menjadi semacam agama rahasia yang selalu diuberuber
dan ditindas oleh pembesar-pembesar negeri. Nama
Beng kauw yang aseli adalah Mo ni kauw, belakangan
orang menukar perkataan “mo” dari “Moni” menjadi “mo”
yang berarti “iblis”, sehingga akhirnya agama itu diejek
sebagai “Mo kauw” atau agama iblis.
Membaca sampai disitu, Boe Kie menghela napas
panjang. “Yo Co soe,” katanya, “tujuan agama kita ialah
menyingkirkan kejahatan dan menjalankan kebaikan. Pada
hakekatnya agama yang kita pelajari itu, tidak banyak
berbeda dengan Hoed kauw dan Too kauw. Mengapa sedari
jaman Tong sampai sekarang agama kita selalu ditindas?”
“Hoed bertujuan untuk menyelamatkan mahluk,”
jawabnya. “Tapi pendeta2 Hoed kauw adalah orang-orang
beradat yang tak mau campur tangan dalam urusan dunia.
Too kauw pun demikian. Di lain pihak, agama kita
bergerak di antara rakyat jelata dan mengambil bagian
dalam segala suka dan dukanya. Penganut2 agama kita
selalu membantu orang-orang yang mendapat kesukaran.
Ada kalanya, pembesar yang rakus menindas rakyat.
Terhadap pembesar-pembesar semacam itu agama kitapun
tak segan-segan untuk memberi perlawanan, sehingga
1724
sebagai akibatnya, kita sering mesti kebentrok dengan
kalangan pembesar”.
Boe Kie manggut2-kan kepalanya. “Kalau begitu, agama
kita baru benar2 bisa menjadi makmur, manakala kaisar
dan pembesar-pembesar negeri waktu sekarang ini sudah
tidak mau menindas rakyat dan jagoan2 serta hartawanhartawan
berpengaruh menghentikan segala tindakan yang
sewenang-wenang,” katanya.
“Kauwcoe benar!” teriak Yo Siauw sambil menepuk
meja. “Itulah tujuan agama kita, negeri yang adil dan
damai.”
Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya. “Yo Co soe,
apa bisa kita mengalami jaman itu?” tanyanya.
“Atas berkah Tuhan, semoga kita akan mengalami
jaman yang diidam-idamkan itu,” jawabnya. Sesudah
berdiam sejenak, ia berkata pula, “Biarpun ditindas, sampai
kini masih berdiri. Pada kerajaan Lam-song (Song Selatan),
tahun Siauw hin keempat, seorang pembesar bernama Ong
Kie Ceng telah membereskan laporan mengenai urusan
agama kita kepada kaisar. Jika mau, Kauwcoe boleh
membaca laporan itu.” Seraya berkata begitu, ia membalik
lembaran yang mencatat laporan itu mengangsurkan
kepada Boe Kie.
Boe Kie segera membaca laporan itu berbunyi sebagai
berikut.
“Di Ciat kang dan Kang ouw terdapat kebiasaan cia cay
(tidak makan makanan berjiwa) mengabdi kepada iblis.
Sebelum jaman Phoei Lap, larangan masih longgar dan
jumlah orang yang mengabdi kepada iblis tidak begitu
besar. Sesudah jaman Phoei Lap, larangan semakin
diperkeras, tapi jumlah iblis jadi makin besar.
1725
Hamba dengar, sepak terjang kawanan iblis adalah
sebagai berikut.
Dalam setiap kampungan, satu dua orang yang lebih licik
dan cerdik menjadi kepala iblis. Mereka mencatat she dan
nama2 penduduk yang kemudian dipersatukan ke dalam
persekutuan iblis. Seorang pengikut iblis tidak makan
makanan berjiwa. Kalau dia mendapat urusan atau
kesukaran, maka kawan-kawan sekutunya akan membantu,
baik dengan uang, maupun dengan tenaga atau jiwa.
Pada hakekatnya, tidak makan daging berarti mengirit
ongkos dan dengan hidup irit, seseorang gampang merasa
puas. Saling bantu membantu antara kawan-kawan berarti
saling mencintai dan saling mencintai berarti setiap
pekerjaan mudah diselesaikan dengan jalan gotong
royong…” (Poei Lap yang disebutkan dalam buku itu
adalah salah seorang Kauwcoe Beng Kauw yang
memberontak terhadap kerajaan Song di Ciat kang timur. Ia
dikalahkan dan belakangan dibinasakan).
Membaca sampai disitu, Boe Kie berkata, “Biarpun Ong
kie Ceng memusuhi Beng kauw, tapi ia mengakui bahwa
penganut-penganut agama kita hidup irit dan sederhana dan
saling menyintai.” Sebab berkata begitu ia membaca pula.
“… sepanjang pengetahuan hamba mendiang kaisar pun
selalu menganjurkan rakyat untuk saling mencintai dan
bantu membantu. Hidup sederhana dan irit memang
merupakan kebiasaan yang baik dari jaman dahulu. Hanya
sayang banyak pembesar tidak bisa hidup sederhana
sehingga pemimpin-pemimpin iblis bisa mendapat
kesempatan untuk menghasut rakyat dan menerima pujian
rakyat untuk persekutuan mereka.
Rakyat banyak yang bodoh. Mereka menganggap, bahwa
jika mereka menuruti perkataan iblis dan mengabdi kepada
1726
iblis, mereka bisa mendapat keputusan dan segala rupa
pekerjaan bisa diselesaikan dengan gotong royong. Dengan
demikian mereka percaya segala apa yang dikatakan oleh
pemimpin2 iblis dan dengan berlomba2 mereka masuk ke
dalam persekutuan iblis. Itulah sebabnya, mengapa
larangan makin diperkeras, kemajuan mereka makin sukar
dibendung.”
Boe Kie menengok kepada Yo Siauw dan berkata sambil
tertawa, “Yo Co soe, Ong Kie Ceng seorang jujur. Dia kata
larangan makin diperkeras, kemajuan mereka makin sukar
dibendung. Inilah pengakuan bahwa agama kita dicintai
rakyat. Apa boleh kupinjam buku ini? Adalah kewajibanku
untuk mempelajari usaha-usaha dan nasehat-nasehat para
pemimpin kita yang sudah almarhum.”
“Tentu saja boleh,” jawabnya. “Aku justru ingin minta
petunjuk Kauw coe.”
Sambil memegang buku itu Boe Kie berkata pula. “Jiu
samsoepeh dan In Lioksiok sudah boleh dikatakan sembuh.
Besok kita berangkat ke Ouw tiap kok. Di samping itu ada
suatu hal yang kuinginkan menanyakan pikiran Yo Co soe.
Hal ini mengenai adik Poet Hwie.”
Yo Siauw menduga Boe Kie melamar puterinya jadi
girang sekali. “Jiwa Poet Hwie telah ditolong Kauwcoe,”
katanya. “Kami berdua ayah dan anak ingin sekali
membalas budi yang sangat besar itu. Perintah apapun jua
yang Kauwcoe mau berikan aku pasti akan menurut dengan
girang hati.”
Boe Kie lantas saja menceritakan pengakuan Poet Hwie
pada hari itu.
Yo Siauw kaget tak kepalang dan untuk beberapa saat ia
tidak bisa mengeluarkan sepatah kata. “Bahwa anakku
dicintai In Liok hiap adalah kejadian yang sangat
1727
menggirangkan,” kata ia akhirnya. “Tapi usia mereka
berbeda terlampau jauh dan angkatan merekapun tidak
bersamaan In…” berkata sampai disitu ia tidak dapat
meneruskan perkataannya.
“Usia In Liok siok belum cukup empat puluh. Ia sedang
gagah2nya. Biarpun benar adik Poet Hwie memanggilnya
dengan sebutan Siok-siok (paman, mereka tidak
mempunyai hubungan dalam perguruan). Mereka saling
mencintai dengan setulus hati. Manakala pernikahan ini
bisa terjadi, maka ganjelan yang dahulu lantas bisa
disingkirkan. Menurut pendapatku inilah kejadian yang
sungguh-sungguh boleh dibuat girang.”
Yo Siauw seorang yang sangat terbuka. Sebab perbuatan
terhadap Kie Siauw Hoe, ia selalu merasa malu untuk
bertemu muka dengan In Lie Heng. Sekarang mendengar
perkataan Boe Kie di dalam hati ia mengakui, bahwa
pernikahan itu bukan saja menebus dosa, tapi juga bisa
menghilangkan segala ganjelan antara Beng kauw dan Boe
tong pay. Memikir begitu ia lantas saja menyoja dan
berkata, “Bahwa Kauwcoe sudah sudi campur tangan untuk
membereskan soal ini merupakan bukti bahwa Kauwcoe
sangat menyayangi kami. Untuk itu semua, terlebih dahulu
aku menghaturkan banyak terima kasih.”
Malamnya Boe Kie mengumumkan kabar girang itu.
Semua orang turut bersyukur dan mereka menghaturkan
selamat kepada In Lie Heng. Poet Hwie sendiri tidak berani
menemui orang dan bersembunyi di dalam kamarnya. Thio
Sam Hong dan Jie Thay Giam yang merasa kaget dan
heran, belakangan turut bergirang. Waktu ditanya tentang
tanggal pernikahannya, In Lie Heng menjawab, “Sesudah
Toa soeko dan yang lain-lain pulang barulah kita
menetapkan tanggal itu.”
Pada keesokan harinya, bersama Yo Siauw dan In thian
1728
ceng, In Ya ong, Tiat koan toojin, Cioe Tian, Siauw Ciauw
dan yang lain-lain, Boe Kie mohon berpamitan dengan
Thio Sam Hong dan kedua pamannya untuk berangkat ke
Hwaipak. Poet Hwie tidak mengikut sebab ia masih perlu
merawat In Lie Heng.
Dalam perjalanan itu rombongan Boe Kie menyaksikan
penderitaan rakyat yang sangat hebat. Daerah sepanjang
pantai biasanya daerah yang kaya. Tapi apa yang dilihat
mereka hanyalah ladang-ladang yagn kosong kering dan
kelaparan yang merajalela di mana-mana. Dengan ringkas
dapat dikatakan, bahwa kemiskinan rakyat sudah sampai
pada puncaknya.
Boe Kie dan kawan-kawannya merasa sangat berduka,
tapi merekapun tahu, bahwa dengan adanya penderitaan itu
kekuasaan Mongol di Tiongkok pasti tidak dapat
dipertahankan dalam waktu lama. Sekarang saja, orangorang
gagah di seluruh negeri sudah mulai bangkit untuk
mengusir kaum penjajah itu.
Pada suatu hari mereka tiba di Kay pay kie yang terletak
tak jauh dari Ouw tiap kok. Selagi enak berjalan,
sekonyong2 mereka mendengar teriakan-teriakan dan
belakangan ternyata bahwa teriakan itu keluar dari dua
pasukan yang sedang bertempur. Boe Kie dan kawan2nya
segera membedal kuda dan sesudah melewati sebuah hutan,
mereka melihat kira-kira seribu serdadu Mongol sedang
mengepung sebuah tangsi yang di atasnya berkibar bendera
Bengkauw. Tangsi itu dipertahankan oleh anak buah yang
berjumlah kecil yang perlahan-lahan mereka tak dapat
mempertahankan diri lagi. Tapi biarpun dihujani anak
panah, mereka tetap tidak mau menyerah. Tentara Goan
berteriak-teriak.
“Pemberontak Mo kauw! Lekas menakluk!”
1729
“Kalau menakluk, kalian mendapat ampun.”
“Apa kamu mau mampus semua?”
Untuk beberapa saat, rombongan Boe Kie
memperhatikan jalannya pertempuran.
“Kauwcoe, apa kita sudah boleh menerjang musuh?”
tanya Coe Tian.
“Baiklah!” jawabnya. “Lebih dahulu singkirkan
pemimpin-pemimpin pasukan itu.”
Di lain saat, Yo Siauw, In Thian Ceng, In Ya Ong, Tiat
koan Toojin dan Cioe Tian sudah menerjang musuh. Dua
orang Peh hoe thio lantas saja roboh. Sesaat kemudian,
Cian hoe thio yang memimpin pasukan dibinasakan In Ya
Ong. Karena kehilangan pemimpin, tentara Goan lantas
saja kalut. Dilain pihak, melihat datangnya bala bantuan,
orang-orang yang membela tangsi bersorak-sorai. Pintu
tangsi terbuka dan seorang pria yang bertubuh tinggi besar
dan bersenjata tombak menerjang keluar. Dalam sekejap ia
sudah merobohkan sejumlah serdadu Goan.
Setiap kali tombak orang itu berkelebat, seorang serdadu
Goan terjungkal. Melihat begitu, tentara Goan menjadi jeri.
Mereka lari serabutan untuk menyingkirkan diri dari orang
itu yang gagah dan angker bagaikan malaikat.
Para pemimpin Beng kauw dalam rombongan Boe Kie
merasa kagum dan memuji orang gagah itu. Tapi yang
paling bergirang adalah Boe Kie sendiri karena ia sudah
mengenali bahwa orang itu bukan lain daripada Siang Gie
Coen yang selalu diingatnya siang dan malam. Hanya
karena masih mesti bertempur, ia tak bisa segera
menghampiri tuan penolong itu.
Sebab digencet dari depan dan belakang, tentara Goan
mendapat kerusakan besar. Kurang lebih limaratus orang
1730
mati dan luka-luka. Sisanya tidak berani berperang terus
dan lalu melarikan diri.
Sesudah musuh kabur, sambil tertawa terbahak-bahak
Siang Gie Coen berseru, “Saudara-saudara dari manakah
yang sudah memberi bantuan? Siang Gie Coen
menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”
“Siang Toako!” teriak Boe Kie. “Aduh! Siang malam
siauwtee memikiri Toako,” ia berlari lari dan memegang
tangan kakak itu erat-erat.
Siang Gie Coen memberi hormat dengan membungkuk.
“Saudara Kauwcoe,” katanya dengan suara gemetar. “Aku
menjadi kakakmu dan juga menjadi orang sebawahanmu.
Tak dapat aku mengatakan, betapa besar rasa girangku.”
Ternyata Siang Gie Coen memegang tugas Hee koa
dalam Kie bok kie. Pertempuran hebat di Kong beng teng
yang berakhir dengan diangkatnya Boe Kie sebagai
Kauwcoe sudah diketahuinya dari Boen Cong Siong Ciang
kie soe Kie bok kie. Sudah beberapa hari, dengan sejumlah
anggota Kie bok kie, ia berkemah disitu untuk menunggu
kedatangan Boe Kie. Apa mau, sepasukan tentara Goan
menyerang. Karena musuh berjumlah lebih besar, ia
berlagak kalah dan memancing musuh untuk dibasmi.
Di luar dugaan rombongan Boe Kie muncul pada saat
yang tepat dan ia segera menerjang ke luar. Dalam
Bengkauw, ia berkedudukan rendah sebagai orang
bawahan, ia lantas memberi hormat Yo Siauw, In Thian
Ceng dan yang lain-lain. Melihat kegagahannya dan
mengingat bahwa saudara angkat Kauwcoe para pemimpin
Beng kauw itu memperlakukannya sebagai sahabat yang
sederajat.
Siang Gie Coen segera memerintahkan orang
menyediakan makanan untuk menjamu para tamunya.
1731
Selagi makan minum, ia menceritakan keadaan dan apa
yang dilakukannya di daerah itu. Selama beberapa tahun,
daerah Hwai lam dan Hwai pa (sebelah selatan dan utara
sungai Hwai ho) mengalami kekeringan, sehingga rakyat
sangat menderita. Karena terpaksa, ia mengumpulkan
saudara-saudara Beng kauw dan melakukan pekerjaan
tanpa modal. Tapi dalam pekerjaan itu ia hanya merampok
milik hartawan jahat atau pembesar rakus dan jika ada
kelebihan, kelebihan itu selalu digunakan untuk menolong
rakyat. Beberapa kali tentara Goan coba menyerang tangsi
mereka tapi selalu dapat dipukul mundur.
Sesudah menginap semalaman, pada keesokan paginya,
bersama pasukan Siang Gie Coen rombongan Boe Kie
meneruskan perjalalan. Mereka menganggap, bahwa
sesudah mengalami kekalahan, selama dua tiga bulan
tentara Goan pasti tak akan berani menyerang lagi.
Beberapa hari kemudian mereka tiba di luar Ouw tiap
kok. Mendengar kedatangan Kauwcoe para anggota
Bengkauw yang sudah tiba lebih dahulu lantas saja keluar
menyambut. Ternyata barisan Kie bok kie sudah
membangun rumah-rumah kecil untuk tempat meneduhnya
para orang gagah. Wie It Siauw, Peng Eng Giok dan Swee
Poet tek pun sudah berada di situ dan mereka segera
menemui Boe Kie.
Sesudah berkenalan dengan semua orang, Boe Kie segera
memerintahkan disediakan barang sembahyang dan lalu
menyembayangi suami istri Ouw Ceng Goe dan Kie Siauw
Hoe. Mengingat kejadian dahulu bukan main rasa
terharunya. Mimpipun tak pernah mimpi, bahwa hari ini ia
bisa kembali seorang Kauwcoe dari satu agama yang sangat
besar pengaruhnya pada jaman itu.
Tiga hari kemudian tibalah harian Tiongcioe. Di tengahtengah
lapangan Ouw tiap kok yang luas didirikan sebuah
1732
panggung tinggi dan di depan panggung dinyalakan api
koen boen, yang sangat besar.
Sesudah semua pemimpin Beng kauw berkumpul, Boe
Kie segera naik ke atas panggung dan dengan suara lantang
mengumumkan bahwa Beng kauw sudah menghentikan
permusuhan dengan berbagai partai persilatan di wilayah
Tionggoan dan bahwa sekarang Beng kauw berusaha
dengan sekuat tenaga utnu mengusir penjajah Goan dari
tanah air. Sesudah itu, ia membaca peraturan-peraturan
agama yang bertujuan untuk menyingkirkan penjahat dan
menolong sesama manusia yang memerlukan pertolongan.
Pengumuman itu disambut oleh sorak sorai gegap
gempita. Dalam suasana riang gembira dan dengan
semangat bergelora para hio coe dan yang lain-lain
memasang hio dan bersumpah untuk mentaati pesan
Kauwcoe. Hari itu dian berkobar-kobar, wangi hio dapat
diendus di seluruh selat. Sesudah terpecah belah begitu
lama, Beng Kauw sekarang bersatu kembali. Semua orang
mengakui, bahwa di dalam Beng Kauw belum pernah
tercapai persatuan yang sedemikian kokoh dan diantaranya
banyak yang mengucurkan air mata kegirangan.
Sesudah itu Boe Kie membuat lain pengumuman yang
berbunyi sebagai berikut:
“Menurut kebiasaan agama kita, kita semua tidak makan
makanan yang asalnya berjiwa. Tapi dalam menghadapi
kelaparan, manusia harus makan apapun juga yang bisa
dimakan. Apa pula hari ini kita harus bertekad untuk
melakukan satu pekerjaan besar, yaitu mengusir Tat coe
(orang Mongol) dari tanah air kita. Kalau kita tetap tidak
makan makanan berjiwa, maka tenaga atau semangat kita
akan berkurang dan kita sukar untuk menunaikan tugas
tugas yang berat itu. Maka itulah, mulai dari sekarang, kami
mulai menghapuskan peraturan yang melarang anggota1733
anggota makan makanan berjiwa dan minum arak. Sebagai
manusia yang hidup dalam dunia ini, kita harus
mementingkan urusan besar. Soal makan adalah soal remeh
yang bisa diubah sesuai dengan keadaan.”
Malam itu, dibawah sinar rembulan, beberapa ribu
pemimpin Beng kauw makan minum sepuas hati dan pesta
baru berakhir setelah terang tanah.
Sesudah mengaso sampai kira-kira tengah hari, Boe Kie
bangun dan mandi. Baru saja dia selesai berpakaian,
seorang anggota melaporkan bahwa Cioe Coan Ciang, Cie
Tat dan beberapa anggota lain dari Ang soei kie minta
bertemu.
Boe Kie girang dan lalu keluar menyambut. Begitu
melihat Boe Kie, Cioe Coan Ciang, Cie Tat, Thong Ho,
Teng Jie, Hoa In, Gouw Liang dan Gouw Tin yang
menunggu di luar pintu, lantas saja memberi hormat dan
membungkuk.
Cepat-cepat Boe Kie membalas hormat. Di depan
matanya lantas saja terbayang kejadian pada hari itu, pada
waktu Cie Tat menolong jiwanya. Dengan tangan kiri
menuntun Coe Goan Ciang dan tangan kanan menuntun
Cie Tat, ia mengajak semua orang memasuk ke dalam.
Sesudah meminta maaf, Coe Goan Ciang dan kawankawannya
baru berani duduk di kursi. Ternyata Coe Goan
Ciang sudah tak menjadi pendeta lagi. “Sesudah menerima
perintah Kauwcoe, buru-buru kami datang ke sini,”
katanya.
“Di luar dugaan, di tengah jalan kami bertemu dengan
kejadian yang luar biasa, sehingga kami terlambat, dan
untuk itu, kami memohon maaf.”
“Kejadian apa?” tanya Boe Kie.
1734
“Pada bulan enam kami telah menerima perintah
Kauwcoe,” jawabnya. “Kami merasa girang lalu berdamai
tenang barang antaran yang sebaiknya dibawa kami untuk
memberi selamat kepada Kauwcoe. Tapi Hwai pak daerah
miskin dan tak ada barang berharga. Untung juga masih
ada banyak waktu dan sesudah berunding, kami mengambil
keputusan untuk mencoba peruntungan di propinsi Shoa
tang. Sebab kuatir dikenali pembesar negeri, kami
menyamar sebagai kusir kereta keledai, dengan aku sendiri
sebagai pemimpin rombongan. Hari itu kami tiba di kota
Kwie tek hoe dimana kereta kami disewa oleh beberapa
saudagar yang ingin pergi ke Ho tek, di Shoa tang. Selagi
enak berjalan, tiba-tiba kami diuber oleh sejumlah orang
yang bersenjata dan kelihatannya garang sekali. Mereka
mengusir saudagar2 itu dan kemudian dengan sikap galak
mengatakan bahwa kami harus mengangkut lain
penumpang. Saudara Hoa In yang beradat berangasan
lantas saja mau turun tangan. Untung saja ia keburu
dihalangi oleh saudara Cie Tat yang buru-buru memberi
isyarat dengan lirikan mata. Orang2 itu mengirim kami dan
sembilan buah kereta kami ke sebuah lembah, dimana
sudah menunggu beberapa belas kereta lain. Di atas tanah
kelihatan berduduk sejumlah hweeshio…”
“Hweeshio?” menegas Boe Kie.
“Benar,” jawabnya. “Mereka kelihatannya sangat
berduka cita, sebagian besar mereka berduduk dengan
menundukkan kepala. Tapi banyak di antaranya bukan
sembarang orang. Ada yang Tay yang hiatnya menonjol
keluar, ada yang tubuhnya tinggi besar kokoh. Bisik-bisik
saudara Cie Tat mengatakan, bahwa pendeta2 itu memiliki
ilmu silat yang sangat tinggi. Setibanya kami, orang-orang
galak itu memerintahkan semua hweeshio naik ke kereta
dan menggiring kami ke jurusan utara.”
1735
“Aku merasa pasti, bahwa didalam hal ini terselip
sesuatu yang luar biasa. Diam2 aku memesan supaya semua
saudara berwaspada dan harus menjaga supaya
penyamaran kita tidak diketahui. Disepanjang jalan kami
memperhatikan gerak-gerik dan bicaranya orang2 yang
mengiring kami. Tapi mereka sangat berhati-hati dan
dihadapan kami, mereka tak pernah bicara sembarangan.
Belakangan, dengan memberankan diri ditengah malam
saudara Gouw Liang coba memasang kuping diluar jendela
kamar mereka. Sesudah menyatroni 4-5 malam, barulah ia
mendapat sedikit keterangan. Ternyata hweesio itu adalah
pendeta2 berilmu dati Siauw Lim Sie di siong san.”
Biarpun sudah menduga dari semula, mendengar itu Boe
Kie mengeluarkan seruan kaget.
Sesudah berdiam sejenak, Coe Goan Ciang melanjutkan
penuturannya. “Malam itu, sesudah mengintip beberapa
lama, saudara Gouw Liang mendengar suara seseorang.
‘Hitung2 Coe Jin benar2 lihai, semua jago dari 6 partai
besar tak ada yang terlolos dari tangannya. Semenjak
dahulu, siapakah yang bisa berbuat seperti itu?’ seorang lagi
menyambung. ‘Masih ada lain hal yang mengangumkan.
Dengan sebatang anak panah, majikan kita berhasil
memanah 2 ekor tiauw. Dengan siasatnya yang sangat lihai,
ia sudah menyeret iblis2 Mo Kauw ke dalam lubang
permusuhan.’ Kami lantas saja berunding. Kami
berpendapat, bahwa karena agama kita juga disebut2, kami
harus menyelidiki hal ini sampai seterang2nya guna
dilaporkan kepada Kauwcoe.”
“Benar” kata Boe Kie sambil menggangguk. “Keputusan
kalian tepat sekali”
“Kami terus digiring ke jurusan utara,” kata pula Coe
Goan Ciang. “Di sepanjang jalan kami berlagak sebagai
manusia tolol. Saudara Thong Ho dan saudara Teng Jie
1736
berlagak berkelahi lantaran berebut 5 tahil perak. Mereka
saling memukul membabi buta untuk menunjukan mereka
tidak mengerti ilmu silat. Orang2 galak itu tertawa
terbahak2 dan mereka tak memperhatikan kami lagi.
Disamping itu kami memperlakukan sangat hormat kepada
mereka. Kami selalu memanggil mereka dengan panggilan
“looya” (Tuan Besar). Saudara Gouw Tin mengusulkan
untuk menggunakan obat pulas guna menolong pendeta2
itu. Sesudah berdamai, kami menolak usulnya. Kami
berpendapat, bahwa terlebih dahulu kami harus menyelidiki
teka teki ini sampai didasarnya. Kamipun berpendapat,
bahwa orang2 itu sangat berhati2 dan memiliki kepandaian
tinggi, sehingga sekali salah bertindak urusan besar bisa
menjadi gagal. Maka itu, kami tidak berani turun tangan.
Waktu tiba dikota Ho kian hoe, kami bertemu dengan 6
buah kereta lain yang juga membawa orang. Orang2 dalam
kereta itu adalah orang2 biasa. Selagi makan, salah seorang
pendeta menegur orang itu dengan berkata begini ‘Song
Tayhiap, kaupun berada disini?’”
Boe Kie terkesiap. “Song Thayhiap?” ia menegas.
“Bagaimana macamnya?”
“Dia bertubuh jangkung kurus,” jawabnya. “Usianya
kira2 50 atau 60 tahun. Jenggotnya bercabang 3, paras
mukanya tampan dan anggun.”
Tak salah lagi itulah Song Wan Kiauw! Boe Kie girang
dan buru2 menanyakan macamnya orang2 lain dalam
rombongan itu. Dari keterangan Coe Gon Ciang, ia
menarik kesimpulan bahwa Jie Lian Cioe, Thio Song Kee
dan Boh Seng Kok juga berada disitu. “Apakah mereka
terluka? Apa dirantai?” tanyanya pula.
“Tidak” jawab Coe Goan Ciang. “Mereka tak dirantai
dan kamipun tak melihat tanda2 luka. Mereka berbicara
1737
dan main2 seperti orang yang sehat. Mereka hanya tak
punya semangat dan kalau berjalan tindakan mereka agak
limbung. Mendengar perkataan pendeta Siauw Lim itu
Song Tayhiap hanya tertawa getir. Ia tidak menjawab.
Hweesio itu ingin bicara lagi tapi seorang penjaga keburu
datang dan dengan kasar memisahkan mereka dalam jarak
belasan li. Kami tak pernah ketemu muka lagi dengan
rombongan Song Tayhiap. Pada tanggal 3 bulan 7,
rombongan kami tiba di kota raja.”
“Ah!” seru Boe Kie “Kota raja! Kalau begitu yang turun
angan kaisar Goan sendiri. Habis bagaimana?”
“Pendeta2 Siauw Lim dikirim kesebuah rumah berhala
yang sangat besar di See saja” katanya “kamipun disuruh
nginap di bio (kuil) itu.”
“Bio apa?” tanya Boe Kie.
“Ketika tiba didepan kuil, aku mendogak dan mengawasi
papan nama yang terpasang diluar” jawabnya “Bio itu
adalah Pan Hoat sie, karena mendongak, aku dicambuk
oleh seorang penjaga. Kami segera berdamai, kami
menduga, bahwa untuk menutup mulut kami, kami akan
dibinasakan. Maka itu, kami mengambil keputusan untuk
melarikan diri malam itu juga”
“Sungguh berbahaya” kata Boe Kie. “Untung juga
mereka tidak mengejar, sehingga kalian bisa lari sampai
disini dengan selamat”
Thonh Ho tertawa. “Coe Taoko sudah bertindak terlebih
dahulu untuk mencegah pengejaran” katanya. “Selagi
penjaga2pergi keluar cepat2 kami menyatroni tempat
penjualan keledai dan membekuk 7 penjual keledai.
Sesudah menukar pakaian dengan mereka, kami mebunuh
ke-7 orang itu kedalam bio. Kami mebacok2 muka mereka
supaya tidak dikenali lagi. Kemudian kami mebinasakan
1738
kusir2 kereta yang lain datang bersama2 kami menyebar
uang perak di lantai. Dengan begitu penjaga2 tentu akan
menduga, bahwa ke-2 rombongan kusir kereta saling bunuh
sebab saling berebut uang.” Ia sama sekali tak merasai
kekejaman dari perbuatan itu dan sambil cerita sambil
tertawa2.
Boe Kie terkejut. Ia melirik Cie Tat yang kelihatannya
mereasa tak tega, sedang paras Jie menunjukkan paras
jengah. Hanyalah Coe Goan Ciang yang bersikap tenang
dengan paras muka tak berubah. “Dia kejam dan lihay”
kata Boe Kie dalam hati. Sesudah menentramkan hati, ia
berkata dengan suara tajam. “Biar tipu toako bagus, tapi
mulai sekarang kita tidak boleh membunuh manusia yang
tidak berdosa” Dengan serentak Cu Goan Ciang dan
kawan2nya berbangkit dan berkata sambil membungkuk.
“Kami akan memperhatikan perintah Kauwcoe”.
“Kau berjasa besar dan sekarang kita sudah tahu dimana
adanya rombongan Siauw Lim dan Boe Tong,” kata pula
Boe Kie. “Sesudah selesai mengatur gerakan untuk
merobohkan kerajaan Goan, kita akan segera ke kota raja
untuk menolong rombongan kedua partai itu” sesudah
beres urusan yang mengenai kepentingan umum barulah ia
menyebutkan hal masak daging kerbau di kelenteng Hong
kak sie pada hari itu. Mengingat kejadian itu, semua orang
tertawa terkakak dan menepuk2 tangan.
Malam itu, Boe Kie mengadakan perhimpunan dengan
segenap pemimpin Beng Kauw. Mereka menyalakan api
ungun dan memasang hio. Secara resmi maka telah diambil
suatu keputusan, bahwa seluruh bengkauw siap akan
bergerak dengan serentak. Pasukan dan segenap anggota
Beng Kauw harus saling tolong menolong dalam
meenggempur tentara musuh dan merubuhkan kerajaan
Goan.
1739
Rencana gerakan Beng Kauw adalah sebagai berikut
Kauwcoe Thio Boe Kie bersama Kong Beng Coe soe Yo
Siauw dan Ceng Ek Hok Ong Wie It Siauw memegang
kekuasaan Cong Tan (seluruhnya) dan menjadi Cong Swee
(pemimpin ketentaraan yang tertinggi).
Pheh Bie Eng ong In Thian Ceng bersama seluruh
anggota Pheh bie kie bergerak di daerah Khong lam.
Coe Goan Ciang, Cit Tat, Thonh Ho, Teng Jie, Hoa in,
Gauw Liang dan Gauw Tin, bersama pasukan pasukan
Siang Gie Coen, Kwee Coe Hian dan Soen Tek Cioe
bergerak di Hoe Cioe di Hwai Pak.
Po Tay hweesio Swee Poet Tek denagn memimpin Han
San Tong, Lauw Hok Thong, Touw Coen Too, Lo Boen
So, Seng Boen Yoe, Ong Hian Tiong dan Hau Kauw Jie
bergerak di Eng Cioe propinsi Ho Lam.
Pheng Eng Giok dengan memimpin Cie, Siu Hwie, Cee
Cin Ong dan Beng Giok Tin bergerak di Yauw Cioe, Wan
Cioe, Sin Cioe dan lain2 kota di kang say.
Tiat Toan Toojin dengan memimpin Po Sam Ong dan
Beng Hay Ma bergerak di daerah Siang couw dan Keng
siang.
Cioe Tian dengan memimpin Cie Ma Lie dan Tio Koen
Yang bergerak di daerah Cioe siok dan Hoang pay.
Leng Kiam bersama anggota Beng Kauw wilayah See
Hek harus mencegat bara tentara Mongol yang dikirim ke
Tionggoan dari See Hek.
Ngo Hek kie dikuasai Cong Tan yang juga akan
mengatur dan mengirim bala bantuan yang perlu dibantu.
Itulah rencana pergerakan Beng Kauw yang menurut
taksiran orang telah direncanakan oleh Yo Siauw.
1740
Pengumuman Boe Kie itu disambut dengan tepuk tangan
dan sorak2 yang menggetarkan seluruh Ouw tiap kok.
Sesudah suasana agak mereda, Boe Kie berkata dengan
suara nyaring. “Menurut perhitungan kalo kita hanya
mengandalkan tenaga sendiri tak gampang kita bisa
merobohkan kerajaan Goan yang sudah menancapkan kaki
selama seratus tahun. Maka itu, kita harus berserikat
dengan semua orang gagah di seluruh negeri dan dengan
kerja sama yang erat kokoh, semoga kita bisa mencapai
tujuan yang besar ini. Disini waktu hampir separuh tokoh2
rimba persilatan Tionggoan, telah ditawan dengan kerajaan
Goan. Coang tan akan berusaha sekeras tenaga untuk
menolong mereka. Besok saudara2 harus puang ke masing2
tempat untuk mengatur dan mempersiapkan segala sesuatu.
Begitu lekas mendapat kesempatan, saudara2 boleh segera
bergerak. Cong tan pun akan lekas berangkat ke kota raja.
Hari ini kita boleh makan minum sepuas hati. Di belakang
hari entah kapan kita bisa bertemu muka lagi. Kami
mengharapkan saudara2 akan saling mencintai kawan
seperjuangan dan akan mengutamakan kepentingan umum.
Janganlah saudara2 serakah untuk kepentingan pribadi atau
saling bunuh dengan kawan sendiri. Terhadap siapapun
juga yang menyeleweng Cong Tan tak akan memberi
ampun.
Pernyataan dan nasehat itu disambut dengan teriakan2
bersemangat oleh para hadirin yang berjanji akan mentaati
pesan Kauwcoe mereka.
Sesudah itu diadakan upacara sumpah. Dengan
meneteskan darah dan memasang hio semua orang
bersumpah untuk berserikat sehidup semati dan berjuang
untuk melaksanakan rencana serta mencapai tujuan
mereka. Pada keesokan paginya, semua orang berpamitan
pada kauwcoe. Meskipun mereka terdiri dari orang2 gagah
1741
yang berhati baja, perpisahan itu mengharukan banyak
orang karena mereka yakin, bahwa didalam peperangan
bakal jatuh banyak korban sehingga belum tentu berapa
banyak orang yang bisa ketemu muka lagi. Perlahan2
mereka mulai keluar dari mulut Ouw Tiap Kok, dimana
dinyalakan sebuah api ungun yang sangat besar. Entah
siapa yang memulai, tiba2 diselat itu berkumandang
nyanyian seperti berikut.
“Membakar ragaku,
Api nan suci.
Hidup apa senangnya.
Mati apa susahnya?
Semua orang lantas saja mengikuti dan suara nyanyian
makin keras.
Membakar ragaku.
Api nan suci.
Hidup apa senangnya?
Mati apa susahnya?
Untuk kebaikan, menyingkirkan kejahatan.
Guna kegelimangan Beng Kauw.
Kesenangan dan kedukaan.
Semua berpulang kedalam tanah.
Kasihan manusia didalam dunia.
Banyak yang menderita!
Kasihan manusia didalam dunia
Banyak yang menderita!
1742
Diantara suara nyanyian itu yang mengalun di seluruh
selat, para pemimpin Beng Kauw yang mengenakan
pakaian serba putih meminta diri dari Kauwcoe mereka.
Satu demi satu mereka menghampiri Boe Kie membungkuk
dan lalu berjalan keluar tanpa menengok lagi.
Boe Kie menerima pemberian hormat itu dengan rasa
terharu. Mereka itu adalah orang2 gagah sejati. Selama 10
atau 20 tahun demi nusa dan bangsa, darah mereka akan
mengucur di bumi Tiongkok. Mengingat begitu tanpa
merasa air matanyadi kedua pipinya.
Makin lama suara nyanyian makin jauh. Tak lama
kemudian, Ouw tiap kok yang selama beberapa hari penuh
dengan manusia, pulang keasal sunyi dan tenang. Yang
masih ketinggalan hanya Boe Kie, Yo Siauw, Wie It Siauw,
Coe Goan Ciang dan kawan2nya.
Sesudah menanyakan letak Ban hoat sie dan macamnya
penjaga kelenteng itu Boe Kie berkata kepada Coe Goan
Ciang “Coe taoko, dunia sedang menghadapi kekalutan dan
kita tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalian
tak usah menemani kami lagi ke kota raja. Sekarang saja
kita berpisah”
“Baiklah” jawabnya. “Kami mengharapkan Kauwcoe
akan segera berhasil dan kami semua menunggu kabar
baik” sehabis berkata begitu dengan kawan2nya ia
meninggalkan Ouw tiap kok.
“Mari kitapun harus berangkat” kata Boe Kie sesudah
rombongan Coe Goan Ciang berlalu. “Siauw Ciauw,
karena kau membawa2 rantai, sebaiknya kau menunggu
disini saja”
si nona tidak menolak, tapi ia mengantar terus menerus.
Sesudah 3 li, 3 li lagi dan ia tetap tak tega untuk berpisahan.
1743
“Siauw Ciauw kau sudah mengantar terlalu jauh” kata
Boe Kie. “Ada kemungkinan kau kesasar dan tidak bisa
kembali ke Ouw tiap kok”
“Thio kauwcoe apakah kau akan bertemu dengan Tio
Kuwnio di kota raja?” tanya si nona.
“Entahlah” jawabnya.
“Jika kau bertemu dengan dia, bolehkah ajukan satu
permintaan untukku?”
Boe Kie heran “Permintaan apa?” tanyanya.
“Minta pinjam Ie Thian po kiam untuk memutuskan
rantai. Sebegitu lama rantai ini masih belum bisa
diputuskan, sebegitu lama aku masih jadi orang perantara”
melihat sikap dan paras muka si nona Boe Kie merasa
tak tega. “Aku kuatir, ia tak sudi meminjamkan pedang itu.
Kita bisa minta supaya dia sendiri yang memutuskan rantai
ini”
Boe Kie tertah. “Siauw Ciauw, kalau maksud” katanya.
“Kau hanya ingin mengikut kami. Yo Co soe bagaimana
pendapatmu? Apa boleh kita ajak padanya?”
Yo Siauw menegrti jalan pikiran sang Kauwcoe. Dengan
bertanya begitu, Boe Kie sebenarnya ingin mengajak si
nona. Maka itu, ia lantas saja menjawab “Tak halangan jika
Kuwcoe ingin mengajak dia, diperjalanan ia bisa merawat
Kauwcoe. Hanya rantai itu sangat menarik perhatian.
Begini saja, ia berlagak sakit dan bersembunyi di kereta.
Didepan orang banyak, ia tidak boleh sembarangan
menonjolkan muka”
Siauw Ciauw girang bukan main. “Terima kasih
Kowcoe, terima kasih Yo Co soe” katanya. Ia menengok
Wie it Siuaw dan menambahkan “Terima kasih Wie Hot
1744
ong”
Wie It Siauw tertawa dan berkata “Perlu apa kau
menghaturkan terima kasih kepadaku? Hati2 kau, kalau
penyakitku kumat lagi, aku bisa menghisap darahmu”
sambil berkata begitu, ia menyeringai dan memperlihatkan
2 baris giginya yang putih.
Siauw Ciauw tahu, Wie It Ong sedang bergurau, tapi ia
merasa seram. Ia mundur beberapa tindak dan berkata
“Wie Hot ong, jgn menakut2i aku”
Demikianlah, dengan menggunakan 3 ekor kuda dan
sebuah kereta, Boe Kie berempat menuju ke kota raja.
Perjalanan itu dilakukan tanpa menemui halangan dan
pada suatu hari, tibalah mereka di Taytouw (sekarang
peking). Ibukota dari kerajaan Goan.
Sebagai tempat berdiamnya kaisar, ota itu tentu saja lain
daripada yang lain. Wakil2 berbagai negeri dan suku2
bangsa berkumpul disitu. Begitu masuk di pintu kota. Boe
Kie berempat langsung menuju ke See shia (kota sebelah
barat) dan mencari sebuah rumah penginapan yang besar.
Yo siauw membawa lagak sebagai seorang hartawan. Ia
minta 3 kamar kelas 1 dan memberi persen secara loyal
kepada pelayan, yang tentu saja berlaku sangat hormat
dalam pelayannya. Sesudah minum the, Yo Siauw
memanggil pelayan itu dan mengajaknya beromong2
tentang keadaan di kota raja. Ia mengatakan ia suka sekali
meninjau tempat2 yang mempunyai nilai kebudayaan dan
sejarah. “Dimana kami bisa melihat lihat kelenteng2 tua
yang tersohor?” tanyanya.
Sesudah menyebutkan beberapa nama, si pelayan
menyebutkan Ban hoat sioe. “Ban hoat soie sangat besar”
katanya “ Didalam kelenteng itu terdapat 3 patung budha
yang sangat besar, yang terbuat daripada tembaga.
1745
Diseluruh negeri tidak ada lain patung yang sebesar itu.
Sebenarnya kalian mau meninjau bio tersebut, hanya
sayang kalian terlambat. Semenjak setengah tahun yang
lalu, kelenteng itu digunakan sebagai tempat tinggal para
Hoed ya(pendeta) dari See hoan (daerah barat). Sekarang
rakyat tidak lagi berani datang kesitu”
“Biarpun ada Hoang Ceng, halangan apa kalo kita
melihat2 bio itu?” kata Yo Siauw.
Si pelayan menggeleng2kan kepalanya. Sesudah
menegok kesana kesini, ia berbisik “Tuan baru saja datang
kesini dan tak tahu keadaan yang sebenarnya. Bukan aku
banyak mulut, para Hoed ya Soe hoan itu galak luar biasa.
Mereka sering memukul dan membunuh orang. Mereka
dilindungi Hong siang (Kaisar), sehingga tak satu
manusiapun yang berani menepuk lalat di kepala harimau.
Rakyat biasa tak berani datang lagi di kelenteng itu.”
Bahwa para pendeta Soe Hoan sering berlaku sewenang2
terhadap rakyat sudah lama diketahui Yo Siauw. Ia hanya
tak menduga, bahwa pendeta2 itu berani berbuat sesuka
hati di kota raja. Mendengar keterangan si pelayan ia tidak
berkata suatu apa lagi.
Sesudah makan malam, Boe Kie, Yo Siauw dan Wie It
Siauw bersemedi untuk mengaso dan mengumpulkan
tenaga kira2 tengah malam mereka membuka jendela dan
lalu menuju ke arah barat.
Ban Hoat Sie berloteng 4 dan di belakang kelenteng
terdiri sebuah menara yang bertingkat 9. dengan
menggunakan ilmu ringan badan, dalam sekejap mereka
sudah berada didepan kelenteng.
Sesudah memberi isyarat dengan gerakan tangan, mereka
mengambil jalan mutar dan pergi ke sebelah kiri. Mereka
ingin melompat naik ke atas menara guna menyelidiki
1746
keadaan didalam kelenteng. Diluar dugaan dari jarak kira2
30 tombak mendadak mereka melihat bayangan2 manusia
bergerak2 di menara itu. Ternyata disetiap tingkat terdapat
penjagaan dan dibawah menarapun berkumpul kurang lebih
20 penjaga.
Melihat begitu mereka kaget tercampur girang. Mereka
yakin bahwa dengan adanya penjagaan yang keras itu,
tokoh2 Siauw lim, Boe tong dan yang lain2 partai pasti
dipenjarakan dalam menara itu. Mereka mngirit waktu dan
tak usah menyelidiki di tempat lain.
Tapi merekapun mengerti, bahwa tak gampang mereka
memberi pertolongan. Orang2 seperti Koeng Boen, Koeng
Tie, Song Wan Kiauw dan lainnya adalah ahli silat kelas
utama tapi mereka tertawan dan tidak berdaya. Ini
membuktikan bahwa di pihak musuh terdapat banyak orang
pandai yang tidak boleh dibuat gegabah.
Sebelum berangkat ke Bang hoet sie, Boe Kie bertiga
sudah berdamai dan menyetujui untuk bertindak dengan
sangat berhati2. maka itu, sesudah mengawasi menara
tersebut beberapa lama mereka segera bertindak mundur.
Tiba2 ditingkat keenam muncul penerangan yang terang
benderang. Dari sebelah kejauhan Boe Kie melihat gerakan
8-9 orang yang tangannya memegang obor. Dari tingkat ke-
6, orang2 itu turun ke tingkat ke-5, turun lagi ke tingkat ke-
4, terus turun sampai ke bawah dan akhirnya keluar dari
pintu menara dan menuju ke arah kelenteng. Yo Siauw
mengelapkan tangan dan lalu menguntit dengan hati2.
Pekarangan belakang Ban hoat sie penuh dengan pohon2
besar yang berusia tua. Boe kie bertinga bersembunyi di
belakang pohon2 itu dan kalau angin meniup barulah
mereka berani bergerak maju. Ban hoat sie penuh dengan
orang pandai dan mereka sedikitpun tidak berani berlaku
1747
ceroboh. Ilmu ringan badan mereka sudah mencapai tingkat
tinggi, tapi mereka masih merasa khawatir, kalau2
diketahui orang. Maka itu, mereka baru berani bergerak
berbareng tiupan angin, diantara berkereseknya daun2.
dengan cara begitu, mereka maju kurang lebih 20 tombak.
Dengan bantuan sinar obor, mereka melihat beberapa
belas lelaki yang mengenakan jubah kuning dan memegang
senjata, mengiring seorang kakek yang menggunakan jubah
panjang. Satu waktu, kakek itu menengok ke belakangdan
Boe Kie terkesinap karena ia itu bukan lain daripada Thie
kim Sianseng Ho Thay Ciong, Cang boe boen jie Koen
Loen pay.
Tak lama kemudian, orang2 itu masuk di pintu belakang
Ban hoat sie. Sesudah menunggu beberapa saat, melihat
disekitar itu tidak ditaruh penjaga. Boe Kie bertiga turut
masuk ke dalam.
Ban hoat sie terdiri dari sejumlah bangunan besar kecil
dan sejumlah besar kamar2. untung juga begitu masuk, Boe
Kie bertiga melihat penerangan luar biasa di Toa thian
(ruangan besar, tempat sembayang utama) Mereka merasa
pasti bahwa Ho Thay Ciong di bawa ke ruangan ini. Indap2
mereka mendekati. Boe Kie mengintip di jendela sedang Yo
Siauw dan Wie It Siauw menjaga di kiri kanan. Sebagai
orang yang berkepandaian tinggi, mereka bernyali besar.
Tapi dalam sarang harimau jantung mereka memukul
keras.
Celah jendela sangat kecil dan Boe Kie hanya bisa
melihat bagian sebelah bawah tubuh Ho Thay Ciong. Lain2
orang yang berada dalam ruangan itu tidak bisa dilihat
olehnya.
Sekonyong2 ia mendegar suara Ho Thay Ciong “Aku
sudah ditipu dan jatuh ke dalam tanganmu. Mau bunuh,
1748
boleh bunuh! Kamu tak usah mengharap aku sudi menjadi
anjingnya kaisarmu. Biarpun kau membujuk 3 tahun atau 5
tahun lagi, kau hanya membuang2 tenaga”
Boe Kie manggut2kan kepalanya.
“Walupun Ho Thay Ciong bukan seorang koen coe, tapi
dalam menghadapi urusan penting, ternyata ia bisa
mempertahankan keanggunannya sebagai seorang Ciang
boen” pikirnya.
“Kalau kau mau terus keras kepala, Cioe jin pun takkan
memaksa,” kata seorang dengan suara dingin. “Apa kau
sudah tahu peraturan disini?”
“Meskipun kau memutuskan sepuluh jari tanganku, aku
tetap takkan menakluk,” kata Ho Thay Ciong.
“Baiklah.” Kata orang itu “Sekali lagi aku ingin
memberitahukan peraturan kami. Apabila kau bisa
memenangkan ketiga orang ini, kami akan selekas mungkin
akan melepaskan kamu. Kalau kau kalah, kami akan
memutuskan jari tanganmu dan kemudian mengurung kau
lagi selama 1 bulan. Sesudah itu, kami akan menanyakan
pula, kalau kau sudah berubah pikiran dan suka menakluk
pada Hong siang”
“2 jari tanganku sudah putus” kata Ho Thay Ciong
“Putus sebelah lagi tak menjadi soal. Ambil pedang!”
Orang itu tertawa dingin. “Kalau semua jari tanganmu
sudah putus, biarpun kau mau menakluk, kami takkan
menerima. Perlu apa menerima orang yang sudah tak
berguna lagi? Serahkan pedang padanya! Mokopas, kau
majulah terlebih dahulu”
“Baik.” Jawab seorang yang suaranya kasar.
Dengan menggunakan sinkang, Boe Kie meniup celah
1749
jendela yang lantas terbuka lebar. Ia melihat Ho Thay
Ciong yang memegang pedang kayu yang ujungnya
dibungkus kain. Yang berdiri didepannya adalah seorang
tinggi besar yang memegang sepasang golok baja. Tapi Ho
Thay Ciong sedikitpun tak merasa keder dan sambil
mengibaskan pedang kayu, ia membentak “Hayolah!”
seraya berkata begitu, ia membacok salah satu pukulan lihai
dari Koen Loen Kiam hoat.
Mokopas berkelit dan balas menyerang. Jika bertubuh
besar, gerakannya cukup gesit dan setiap serangannya
ditujukan kepada badan Ho Thay Ciong yang berbahaya.
Sesudah memperhatikan beberapa jurus, Boe Kie berkata
didalam hati “Mengapa tindakan Ho sianseng kosong dan
nafasnya tersengal2? Ia kelihatan sudah tak punya tenaga
dalam”.
Semenjak memiliki Kioe yang Sin kang dan Kian koen
Tay lo ie Sim hoat, Boe Kie dapat memahami berbagai ilmu
silat yang terdapat dalam dunia persilatan. Selama beberapa
bulan yang paling belakang, ia telah menerima banyak
petunjuk dari Thio Sam Hong, sehingga kepandaiannya
tambah tinggi. Kini, makin lama ia menonton pertandingan
antara Ho Thay Ciong dan pendeta See hoan itu, makin ia
merasa bahwa dibalik pertempuran itu terselip suatu latar
belakang. Kiam hoat Ho Thay Ciong tetap lihai akan tetapi
ia tidak memiliki lagi Lweekang dan tenaganya bersaman
dengan tenaga orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat.
Dilain pihak kepandaian Hoan ceng itu kalah jauh dari Ho
Ciangboen. Beberapa kali ia menyerang dengan hebat. Tapi
setiap serangannya dapat dipunahkan. Sesudah bertanding
kira2 50 jurus tiba2 Ho Thay Ciong membentak. “Kena”
pedang kayu yang menyambar ke timur mendadak dan
membelok ke barat dan mapir tepat di iga pendeta See hoan
itu. Jika pedang itu pedang baja atau jika Ho Thay Ciong
1750
masih mempunyai Lweekang pendeta itu sudah pasti sudah
binasa. Tapi sekarang bacokan itu, hanya mengakibatkan
sedikit rasa sakit.
“Mokopas, mundur kau!” bentak orang yang suaranya
dingin. “Uawei sekarang giliranmu!”
Boe Kie mengawasi orang yang memberi perintah itu.
Muka orang yang berjenggot putih, seolah2 tertutup oleh
selapis asap hitam dan dia bukan lain daripada salah
seorang dari Hian beng Jie lo. Ia berdiri sambil
menggendong tangan dan kedua matanya dirapatkan,
seolah2 dia tidak memperdulikan apa yang terjadi dalam
ruangan itu.
Tiba2 Boe Kie melihat sepasang kaki diatas sebuah meja
kate yang dialaskan dengan sutra sulam. Kedua kaki itu
memakai sepatu kuning dan diatas setiap sepatu tertera
dengan sebutir mutiara yang berkeredapan. Jantung Boe
Kie memukul keras. Ia mengenali, bahwa sepasang kaki itu
yang bulat dan bagus sekali bentuknya adalah kaki nona
Tio Beng. Dalam pertemuan di Boe tong san, ia
menghadapi nona itu sebagai seorang musuh. Tapi sekarang
entah mengapa hatinya berdebar2 dan paras mukanya
berubah merah.
Kaki Tio Beng bergerak. Ia rupanya sedang
memperhatikan jalannya pertempuran.
Berselang kira2 seminuman the, mendadak Ho Thay
Ciong membentak lagi. “Kena!” ia berhasil merobohkan
jago kedua.
“Uawol mundur!” bentak Hian beng Loojia. “Helin
Pohu maju”
Ketika itu, nafas Ho Thay Ciong udah tersengal. Sesudah
merobohkan 2 orang lawan, tenaganya mulai abis. Sesaat
1751
kemudian, pertempuran ke-3 dimulai. Helin Pohu
menggunakan senjata berat, yaitu sebatang toya baja dan ia
bertenaga sangat besar. Angin pukulan toya menyambar
nyambar dengan hebatnya, sehingga semua lilin yang
menerangi ruangan itu berkedip2, sebentar gelap, sebentar
terang. Baru saja belasan jurus, pedang kayu sudah terpukul
patah dan sambil menghela nafas Ho Thay Ciong
melemparkan pedang buntungnya di lantai.
“Thie Kiam Sian seng, apa sekarang kau tidak suka
menakluk?” tanya Hian beng Loe jin.
“Tidak!” jawabnya dengan angkuh. “Aku bukan saja
tidak menakluk, tapi juga tidak menyerah kalah. Kalau aku
masih memiliki tenaga dalam, Hoan ceng itu sama sekali
bukan tandinganku.”
“Putuskan jari manis tangan kirinya!” bentak Hian beng
Loo jin. “Sesudah itu kirim pulang ke menara!”
boe Kie menengok dan mengawasi kedua kawannya. Yo
Siauw menggeleng2kan kepala, sebagai tanda bahwa ia
tidak menyetujui penyerbuan yang bakal menggagalkan
seluruh rencana mereka.
Sesaat kemudian terdengar suara dibacoknya jari tangan
dan suara orang yang membalut luka, Ho Thay Ciong
bener2 jago, sedikitpun ia tidak mengeluarkan suara.
Sesudah itu sejumlah pengawal baju kuning kembali keluar
dari pintu belakang dan mengantar Ho Thay Ciong balik ke
menara. Dengan menyembunyikan diri di sudut tembok,
Boe Kie bertiga melihat paras muka si kakek yang pucat
bagaikan kertas dan kedua matanya yang seolah2
mengeluarkan api.
Sekonyong2 didalam ruangan terdengar suara wanita
yang nyaring.
1752
“Loo thung kek, sungguh lihai Kiam hoat Koen loen
pay. Ia membacok Mokopas dengan pukulan ini, membabat
seperti ini disebelah kiri dan memutar begini di sebelah
kanan……” Orang yang bicara bukan lain daripada Tio
Beng. Sambil bicara dengan dilayani oleh Mokopas, ia
bersilat menggunakan pedang kayu, menurutr pukulan2
yang tadi digunakan oleh Ho Thay Ciong.
Orang yang dipanggil Loo Thung Kek adalah Hian beng
Loo jin, si kakek muka hitam yang lantas saja memberi
pujian.
“Coe jin berotak sangat cerdas. Pukulan2 itu tidaj beda
dengan aslinya”
Tio Beng berlatih berulang2. setiap kali ia membacok iga
Mokopas dengan menggunakan tenaga. Sehingga, biarpun
pedang itu pedang kayu si pendeta soe hoa harus merasai
kesakitan hebat, sebab harus menerima pukulan berulang2
ditempat yang sama. Tapi walaupun berjengit2. Mokopas
sama sekali tidak memperlihatkan rasa jengkel. Sesudah
memahami beberapa pukulan, Tio Beng lalu memanggil
Unwol dan berlatih dengan pendeta itu dalam pukulan2 Ho
Thay Ciong yang tadi merobohkan si pendeta.
Melihat begitu Boe Kie segera mengerti latar belakang
kejadian itu. Dengan suatu tipu Tio Beng telah
memenjarakan tokoh2 berbagai partai di Ban Hoat Sie dan
menekan Lweekang mereka dengan menggunakan obat.
Dengan cara itu ia mencoba ahli2 silat tersebut menekluk
kepada kerajaan Goan. Karena tujuan yang pertama tidak
berhasil, maka ia memerintahkan orang2nya bertanding
dengan tokoh2 itu. Sedang ia sendiri memperhatikan
jalannya pertandingan untuk mencuri pukulan2 yang paling
lihay dari berbagai partai. Dari sini dapatlah dilihat, bahwa
nona yang cantik itu telah menjalankan tipu daya.
1753
Sekarang Tio Beng berlatih dengan Helin Po hu. Sesudah
beberapa lama ia kelihatan bersangsi dalam beberapa jurus
yang terakhir. Ia menengok dan bertanya. “Lok Thung kek,
apa begini?”
Si kakek muka hitam terkejut dan sambil berpaling ke
sebelah kiri, ia berkata “Saudara Ho, apa kau lihat tegas
pukulan2 itu?”
Tio Beng tersenyum “Kauw soehoe” katanya. “Aku
mohon petunjukmu”
Seorang Tauw too (pendeta ) yang berambut putih lantas
saja bertindak keluar. Dia bongkok dan pincang, sedang
mukanya penuh dengan bacokan golok, sehingga hampir
tidak dapat dikenali. Disamping itu, ia bertubuh tinggi
besar, sehingga biarpun bongkok, ia tidak lebih kate
daripada Lok Thung Kek. Tanpa mengeluarkan sepatah
kata, ia mengambil pedang kayu dari tangan Tio Beng dan
segera menyerang Helin Pohu dengan pukulan2 Koen Lun
Kim hoat. Gerak2annya adalah sedemikian lincah,
sehingga ia seolah2 sudah mempelajari ilmu pedang itu
selama puluhan tahun.
Seperti Ho Thay Ciong, Kauw Tauw too tidak
menggunakan tenaga dalam, sedang Helin Pohu menyerang
dengan sekuat tenaga. Sesudah bertanding beberapa saat.
Sambil membentak Helin Pohu menyabet dengan toyanya.
Sebagian lilin padam karena angin pukulan itu. Itulah
pukulan yang mematahkan pedang Ho Thay Ciong.
Menghadapi sabetan dahsyat itu Kauw Tauw too
memperlihatkan kegesitannya. Bagaikan walet yang terbang
diatas air, pedangnya berkelebat, menempel di badan toya
dan menapas ke depan, menghantam tangan Helin Pohu
yang lantas kesemutan. “Trang!” toya itu jatuh dilantai.
Muka Helin Pohu berubah merah. Ia tahu bahwa jika
pedang itu pedang baja, jari2 tangannya tentu sudah
1754
terbabat putus, “Aku menyerah kalah!” katanya sambil
membungkuk dan lalu menjemput toyanya.
Dengan kedua tangan Kauw Tauw too segera
memulangkan pedang kayu kepada Tio Beng.
“Kauw Soehoe” kata si nona sambil tersenyum “Apakah
pukulan yang terakhir juga Koen loen Kiam hoat?”
si pendeta manggutkan kepalanya.
“Apa Ho Thay Ciong tak mampu menggunakan pukulan
itu?” tanya Tio Beng.
Dia menggangguk lagi.
“Kauw soehoe coba ajar aku lagi” memohon si nona.
Pendeta itu lantas saja melayani Tio Beng dengan tangan
kosong. Biarpun ia Bongkok dan pincang, gerakannya gesit
luar biasa, sehingga Tio Beng tidak bisa melayaninya. Tapi
meski begitu, berkat kecerdasannya, si nona bisa juga
meniru ferakan setiap pukulan. Sesudah beberapa gebrakan,
dalam satu gerakan yang cepat dan indah, si tauw too
memutar badan sambil mendorong dengan ke-2 tangannya.
Kemudia ia berdiri tegak dan tidak bergerak lagi.
“Sungguh lihay pukulan itu!” puji Boe Kie didalam hati.
Sesudah memikir sejenak, nona Tio mendusin. “Apa!”
serunya “Kauw soehoe, jika kau memegang toya, toya itu
tentu sudah menghantam lenganku. Dengan cara apa
pukulan itu bisa dipunahkan?”
Kauw tauw too segera membuat suatu gerakan seperti
orang merampas toya dan berbareng kaki kirinya
menendang. Gerakan itu yang dibuat dalam kecepatan luar
biasa, bukan pukulan Koen loen Pay.
“Kauw soehoe, perlahan sedikit!” kata Tio Beng sambil
tertawa.
1755
“Tenaga dalammu tak cukup, tak dapat kau meniru
gerakan itu” kata Boe Kie didalam hati.
Kouw Tauw too mwnggoyang2kan tangannya, sebagai
tanda bahwa Tio Beng yang belum mempunyai cukup
Lweekang tak akan bisa menggunakan pukulan itu.
Sesudah itu, tanpa meladeni si nona lagi, dengan
terpincang2 ia kembali ke tempatnya.
“Kepandaian Tauw too itu mungkin tidak berada di
sebelah bawah Hian beng Jie lo” pikit Boe Kie. “Biarpun
lweekangnya belum diketahui seberapa tingginya. Tapi ia
bukan lawan enteng. Mengapa ia tak pernah bicara? Apa ia
gagu? Tak mungkin gagu, sebab ia tak tuli. Tio kauwnio
kelihatannya sangat menghormati dia. Dia pasti bukan
sembarang orang.”
Melihat si bongkok tidak meladeninya. Tio Beng tidak
menjadi gusar. Ia hanya tersenyum dan kemudian berkata
“Panggil Tong Boen Liang!”
Tak lama kemudiam Tong boen liang digiring masuk dan
kembali Long thung kek menyuruh 3 orang untuk melayani
tetua Kong Tong pay itu. Tong Boen Liang yang tak mau
jatuh dibawah angin karena senjata yang tidak seimbang
minta bertanding dengan tangan kosong. Ia berhasil
merobohkan 2 orang lawan, tapi kalah dalam pertandingan
yang ke-3. seperti Ho Thay Ciong salah satu jati tangannya
segera dikutungkan. Sesudah Tong Boen Liang
meninggalkan ruangan itu, dengan dibantu oleh Long
Thung Kek sendiri, Tio Beng segera berlatih dalam
pukulan2 Kong Tong pay.
Didalam hati Boe Kie memuji kelihayan Tio Beng. Nona
itu rupa2nya mengerti, bahwa tenaga dalamnya tak cukup
dan untuk memiliki lweekang yang tinggi, ia harus berlatih
dalam jangka waktu yang lama. Maka itu, ia mengambil
1756
jalan yang lebih pendek. Untuk menambal kekurangan
dalam lweekang, ia memetik bagian2 yang paling bagus dari
berbagai ilmu silat dalam dunia persilatan.
Sesudah berlatih beberapa lama, Tio Beng berkata
“Panggil Biat Coat Loo nie!”
“Sudah 5 hari Biat Coat mogok makan” jawab seorang
pengawal baju kuning.
“Sampai hari ini dia msih keras kepala”
“Biar dia mati kelaparan!” kata si nona sambil
tersenyum. “Kalau begitu, panggillah Cioe Ci Jiak!”
Semenjak kembali dari Boe Tong, dari kakek gurunya,
Boe Kie sudah mengerti segala kejadian semenjak ia
berpisahan dengan Thay soehoe itu. Ia tahu, bahwa Cioe Ci
(Tit) Jiak adalah si gadis yang dulu ditolong Thio Sam
Hong ditengah sungai Han soei. Pada waktu itu, mereka
berdua masih kecil. Tapi kecintaan, atau sedikitnya
keramah tamahan, si nona tak dapat dilupakan olehnya. Di
Kong beng teng atas perintah Biat Coat, Cie Jiak pernah
menikam dia. Tapi ia sedikit tidak pernah merasa sakit hati.
Sekarang mendengar perintah Tio Beng, tiba2 jantung
memukul keras.
Tak lama kemudian, sejumlah pengawal baju kuning
mengawal nona Cioe untuk masuk kurungan itu. Boe Kie
mendapat kenyataan, bahwa si nona banyak lebih kurus,
tapi kecantikannya tetap tak berubah. Ia bertindak masuk
dengan sikap tenang, seolah2 ia tidak memikiri lagi soal
hidup atau mati.
Lok Thung Kek segera menanyakan apa Cioe Ci Jiak
suka menakluk, tapi si nona tak menjawab dan hanya
menggelengkan kepala. Baru saja kakek itu mau
memerintahkan orang sebawahannya turun ke gelanggang,
1757
tiba2 Tio Beng berkata. “Aku sungguh merasa kagum,
bahwa dalam usia yang masih begitu muda kau telah
menjadi salah seorang murid terpenting dari Go Bie Pay.
Kudengar kau sangat disayang oleh Biat Coat Soethay dan
telah mendapat ilmu yang paling tinggi dari gurumu. Apa
begitu?”
“Ilmu silat guruku sangat luas dan dalam” jawabnya.
“Mana bisa orang gampang2 mewarisi ilmunya yang paling
tinggi?”
Tio Beng tertawa. “Menurut peraturan disini asal saja
orang bisa menangkan 3 orangku, ia akan segera diantar
keluar tanpa diganggu selembar rambutpun” katanya.
“Mengapa gurumu begitu sombong dan sungkan
memperlihatkan ilmu silatnya kepada kami?”
“Dalam menghadapi kebinasaan, guruku sungkan
dihina” sahut nona Cioe “Mana boleh Ciangboen Go Bie
pay mencari keselamatan dari orang2 sebawahanmu? Kau
benar! Guruku memang tak memandang sebelah mata
kepada manusia2 rendah yang jahat dan kejam. Memang
benar soehoe tak sudi bertanding dengan manusia2 seperti
kau dan anjing2mu!”
walaupun disemprot dengan perkataan2 tajam, Tio Beng
kelihatan tidak menjadi gusar. Ia bahkan masih tertawa.
“Bagaimana dengan Cioe Kauwnio sendiri?” tanyanya.
“Aku seorang muda, belum mempunyai pendirian
sendiri” jawabnya. “Aku hanya turut apa yang dikatakan
oleh guruku”
“Gurumu juga melarang kau bertanding dengan kami,
bukan?” tanya pula Tio Beng. “Mengapa begitu?”
Cioe Jiak tersenyum dingin. “Biarpun Kiam hoat Goe
bie pay tidak bisa dinamakan sebagai ilmu pedang yang
1758
sangat tinggi, sedikitnya kiam hoat kami adalah ilmu dari
sebuah partai lurus bersih di wilayah Tionggoan. Maka itu,
kami tentu saja menjaga supaya ilmu itu tidak sampai dicuri
oleh segala manusia yang tidak mengenal malu”
Tio Beng terkejut. Ia tidak pernah menduga bahwa
maksudnya telah ditebak jitu oleh Biat Coat Soethay.
Mendengar sindiran yang sangat pedas, darahnya meluap
juga. “Sret!” ia menghunus Ie Thian kiam. “Gurumu telah
mencaci kami sebagai manusia yang tidak mengenal malu”
katanya. “Baiklah! Sekaranf aku ingin menanya pedang Ie
Thian kiam ini terang2 sebuah mustika milik keluargaku.
Mengapa partaimu, partai Goe Bie Pay telah mencurinya?”
“Semenjak dahulu orang mengenal Ie Thian kiam dan
To Liong To sebagai senjata2 mustika milik rimba
persilatan daerah Tionggoan.” Jawabnya dengan suara
tawar. “Aku belum pernah mendengar, bahwa pedang itu
mempunyai sangkut paut dengan seorang perempuan Hoan
pang (orang asing dari See hoan)”
Paras muka Tio Beng lantas saja berubah merah padam.
“Ha!” bentaknya. “Apa benar kau tidak mau bertanding?”
Nona Cioe menggeleng2kan kepala.
“Menurut peraturan disini, orang yang kalah bertanding
atau yang tidak mau bertanding harus diputuskan salah satu
jari tangannya” kata Tio Beng “Rupa2nya kau beradat
sombong karena menggangulkan mukamu yang sangat
cantik. Aku sekarang tak mau memutuskan jari tanganmu”
ia menunjuk Kauw Tauw too dan berkata pula. “Aku akan
membuat mukamu seperti muka suhu itu. Aku akan
membuat beberapa puluh goresan pedang diatas mukamu.
Kumau lihat apakah kau masih bisa mempertahankan
kesombonganmu”
sehabis berkata begitu, ia mengibaskan tangannya. 2
1759
pengawal baju kuning lantas saja melompat dan mencekel
ke-2 lengan Cioe Jiak erat2.
Tio Beng tertawa mengejek. “Untuk menggores muka,
orang tidak perlu memiliki Kiam hoat Go bie pay” katanya.
“Apa kau kira aku tidak mengubah kau menjadi perempuan
muka jelek karena ilmu silatku tak keruan macamnya?”
Kedua mata nona Cioe mengembang air dan tubuhnya
bergemetaran. Untung Ie thian kiam hanya terpisah
beberapa dim dari pipinya. Dengan sekali mendorong
tangannya si iblis bisa membuat mukanya menyerupai
muka tauw too itu.
Tio Beng tertawa “Kau takut tidak?” tanyanya.
Sekarang Cioe Ci Jiak tidak bisa mempertahankan
keteguhannya lagi. Ia menggangguk dan menjawab dengan
suara parau “Takut”
“Bagus!” kata nona Tio. “Apa itu berarti, bahwa kau
menakluk?”
“Tidak!” jawabnya. “Lebih baik kau bunuh aku saja”
Tio Beng tertawa nyaring. “Aku belum pernah
membunuh orang.” Katanya. “Aku hanya ingin menggores
kulit dan sedikit dagingmu”
Tiba2 sinar putih berkelebat. Tio Beng benar2
menyabetkan Ie thian kiam ke muka nona Cioe. Pada detik
yang sangat berbahaya, sebelum ujung pedang menyentuh
kulit, tiba2 terdengar suara “Trang!” sebuah benda
melayang dan Ie thian kiam terpukul miring. Hampir
berbareng jendela hancur, seorang melompat masuk dan 2
pengawal yang mencekal Cioe Ci Jiak roboh dilantai.
Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Dilain detik
tangan kiri orang itu melindungi nona Cioe dengan
memeluk pinggang si nona, sedang tangan kanannya
1760
mengadu dengan Long Thung Kek. “Plak!” keduanya
terhuyung2 setindak. Ternyata orang yang menolong bukan
lain Boe Kie.
Menyerbunya Boe Kie seolah2 halilintar ditengah hari
bolong. Dalam ruangan itu berkumpul jago2 yang sangat
lihai, tapi tak urung mereka terkesiap. Bahkan Hian beng ji
loe (2 kakek yang memiliki Hian beng sin kiang) yang
memiliki kepandaian paling tinggi tak keburu menghalangi
Boe Kie. Tapi biar bagaimanapun Long Tung Kek
bertindak cepat. Begitu mendengar pecahan jendela, ia
lantas melompat ke depan Tio Beng untuk melindungi
majikannya dan berbareng menyambut pukulan Boe Kie.
Diluar dugaannya bentrokan tangannya membuatnya
terhuyung. Buru2 ia mengempos semangat, tapi ia kaget
sebab ia merasa sekujur badannya panas, seperti orang
masuk ke dalam dapur. Mengapa begitu? Karena pada
waktu beradu tangan, Kioe yang cin keng dari Be Kie
menerobos masuk kedalam badannya. Sebagaimana
diketahui, Lweekang Long Thung Kek adalah Lweekang
yang sangat dingin. Kioe yang Cin kie adalah “hawa” yang
bersifat Soen yang (panas murni). Maka itu, masuknya Kioe
yang cin kie suda mengakibatkan bentrokan antara panas
dan dingin didalam tubuhnya.
Melihat keadaan Long Thung Kek, Hian beng Jie lo
yang satunya lagi yang bernama Ho Pit Ong cepat2
menghampiri dan mencekal tangan Long Thung Kek.
Dengan tenaga kedua orang itu barulah Kioe yang cin kie
dapat ditindih.
Pada detik itu, orang yang merasai keneruntungan yang
paling besar adalah Cioe Cie Jiak. Dalam menghadapi
bahaya besar, ia tidak pernah mimpi, bahwa ia akan
mendapat pertolongan dan yang menolong adalah Boe Kie
sendiri. Dengan jantung memukul keras ia mendapat tahu,
1761
bahwa pinggangnya dipeluk Boe Kie. Semenjak pertemuan
di Kong beng teng, siang malam ia belum pernah
melupakan pemuda itu.
Maka itulah, biarpun menghadapi bahaya besar, biarpun
ia berada ditengah2 ratusan golok, ia merasa beruntung dan
tidak memperdulikan apapun juga.
Sementara itu melihat kauwcoe mereka menyerbu, Yo
Siauw dan wie It Siauw-pun segera melompat masuk dan
berdiri di belakang Boe Kie. Orang2nya Tio Beng yang
semula kaget sekarang sudah tenang kemabli lantaran
mereka tahu, bahwa yang datang hanyalah 3 orang musuh.
Dari tanda yang diberikan oleh pengawal, mereka tahu
bahwa diluar ruangan itu tidak terdapat lain musuh.
Mereka lantas saja menjaga semua pintu dan menunggu
perintah sang majikan.
Nona Tio tidak bergusar. Ia mengawasi Boe Kie dan
kemudian mengawasi 2 benda kuning berkeredapan yang
menggeletak di lantai. Ternyata, waktu ia mau menggores
muka Cioe Cie Jiak. Boe Kie sudah menimpuk dengan
serupa benda dan sebab Ie thian Kiam tajam luar biasa
maka benda itu terbacok menjadi 2 potong. Sekarang ia
tahu, bahwa benda itu adalah kotak emas yang ia berikan
kepada Boe Kie. “Kau rupa2nya membenci sangat kotak
itu” katanya dengan suara pelan.
Melihat sorot mata Tio Beng yang penuh rasa menyesal,
Boe Kie kaget dan heran. “Aku tidak membawa senjata
rahasia” katanya dengan suara lemah lembut. “Dalam
keadaan kesusu, aku sudah menggunakan kotak itu. Harap
Tio kauwnio tidak menjadi gusar”
Kedua mata si nona mendadak mengeluarkan sinar
terang. “Apakah kau selalu membawa kotak itu?” tanyanya.
“Ya” jawabnya. Melihat Tio Beng terus mengawasi
1762
dirinya, dengan paras muka merah cepat2 Boe Kie
melepaskan pelukannya pada pinggang Cie Jiak.
Nona Tio menghela nafas dan berkata. “Aku tak tahu
bahwa Cioe Cie Jiak adalah…..adalah…sahabatmu. kalau
kutahu tentu tidak berbuat begitu terhadapnya. Kalau begitu
kalian adalah……”ia tidak meneruskan perkataannya dan
menengok ke jurusan lain.
“Cioe Kauwnio tidak….bukan…..apa2”kata Boe Kie
“Hanya……hanya….”
Tanpa mengeluarkan sepatah kata Tio Beng mengawasi
pula 2 potong kertas itu. Sinar matanya menunjuk, bahwa
ia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.
Melihat begitu Cioe Ci Jiak kaget. Dengan jantung
memukul keras ia berkata didalam hati “Ah! Tak dinytana
iblis perempuan itu mencintainya”
Tapi Boe Kie tidak memikir sampai disitu. Ia hanya
merasa, bahwa ia sudah berbuat salah. Isi kotak itu sudah
mengobati Jie Thay Giam dam In Lie Heng. Sebagai
pembalasan budi, ia menggunakannya sebagai senjata
rahasia, sehingga kotak itu terbagi 2. inilah ketelaluan,
pikirnya. Ia segera menjemput ke-2 potong kotak itu dari
atas lantai dan berkata dengan suara meminta maaf. “Aku
akan meminta seorang tukang yang pandai untuk
menyambungnya lagi”
“Apa benar?” menegas si nona dengan suara girang.
Boe Kie manggutkan kepala. Ia merasa heran mengapa
nona Tio begitu girang. Tapi ia tak mau memikir panjang
panjang. Ia hanya menganggap bahwa wanita muda itu
sering menunjukan sikap yang aneh2. ia segera
memasukkan kedua potongan itu kedalam sakunya.
“Nah, sekarang kau pergilah!” kata Tio Beng.
1763
Alis Boe Kie berkerut. Ia datang dengan tujuan untuk
menolong para pamannya dan lain2. sebelum mereka
tertolong ia tidak bisa pergi. Tapi dilain pihak, musuh
mempunyai banyak sekali orang pandai dan dengan hanya
bertiga, ia tidak bisa berbuat banyak. “Tio kauwnio, perlu
apa kau menangkap Toasopeh dan yang lain2nya”
tanyanya.
Nona Tio tertawa, “Maksudku sebenarnya baik sekali”
jawabnya. “Aku mengundang mereka supaya mereka suka
mengeluarkan tenaga untuk kerajaan supaya kita bersama2
bisa mencicipi kesenangan dan kemewahan. Diluar dugaan
mereka sangat keras kepala. Maka itu, aku tidak bisa
berbuat lain daripada coba membujuk mereka dengan
perlahan2”.
Boe Kie mengeluarkan suara dihidung dan lalu
mendekati Cioe Cie Jiak. Biarpun dikurung oleh musuh2
yang berkepandaian sangat tinggi, sikapnya tenang dan
wajar. Tadi ketika ia menjemput kedua potong kotak emas,
ia bergerak seolah2 di ruangan itu tak ada manusianya.
Sekarang, setelah menyapu seluruh ruangan dengan
matanya, ia berkata “Baiklah! Kalau begitu, kami ingin
berpamitan.” Ia memegang tangan Cioe Cie Jiak, memutar
badan dan lalu bertindak keluar.
“Tahan!” bentak Tio Beng. “Jika kau inin pergi sendiri,
aku tak nanti menghalang-halangi. Tapi dengan mengajak
Cioe kauwnio tanpa memberitahukan aku, kau sungguh
tidak memandang sebelah mata kepadaku”.
“Benar aku melanggar adat kesopanan” kata Boe Kie
sambil menghentikan tindakannya lalu memutar tubuh.
“Tio kauwnio, aku meminta kau melepaskan Cioe
Kauwnio dan mempermisikannya untuk mengikut aku”.
Tio Beng tidak menjawab. Ia memberi isyarat kepada
1764
Hian beng Jie lo dengan lirikan mata. Ho Pit Ong maju
beberapa tindak dan berkata “Thio kauwcoe, kau datang
lantas datang, mau pergi lantas pergi. Mau menolong orang
lantas menolong. Kau pikirlah! Dengan perbuatan itu,
dimana kami harus menaruh muka? Apabila kau tidak
memperlihatkan kepandaianmu kami semua tentu merasa
sangat penasaran.”
Mendengar suara si kakek, darah Boe Kie lantas saja
meluap. “Tua bangka kurang ajar!” cacinya “dahulu,
diwaktu aku masih kecil, kau sudah membekuk aku,
sehingga hampir2 jiwaku melayang. Hari ini, kau masih ada
muka bicara begitu dihadapanku. Sambutlah!” seraya
berkata begitu, ia menghantam Ho Pit Ong.
Lok Tung Kek yang tadi sudah berkenalan dengan
kelihayan Boe Kie, mengerti bahwa dengan seorang diri,
kawan itu bukan tandingan pemuda itu. Bagaikan kilat ia
melompat dan memukul. Boe Kie tidak membatalkan
serangannya tangan kanannya terus menghantam Ho Pit
Ong sedang tangan kirinya menangkis pukulan Lok Thung
Kek. Dalam gebrakan ini “Tenaga tulen” melawan “tenaga
tulen”. Berbarengan dengan bentrokan empat lengan, tubuh
ketiga orang itu bergoyang2.
Pada beberapa bulan berselang, dalam pertemuan di Boe
tong san, 2 tangan Hian beng Jie lo melayani ke-2 tangan
Boe Kie, sedang 2 tangan mereka yang lain menghantam
tubuh pemuda itu. Sekarang mereka ingin mengulangi
siasat itu. 2 tangan mereka yang masih merdeka dengan
berbareng menghantam Boe Kie.
Tapi sesudah dibokong satu kali. Siang2 ia sudah
memikiri cara bagaimana untuk memunahkannya.
Demikianlah, selagi ke-2 tangan musuh menyambar, tiba2
ia menyikut dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie Sin
Kang. “Plak!” tangan kiri Ho Pit Ong memukul tangan
1765
kanan Lok Thung Kek. Kedua kakek itu memukul dengan
ciang hiat yang sama, dengan tenaga yang sama pula.
Sambil mengeluarkan seruan tertahan, mereka merasakan
kesakitan hebat. Tak kepalang rasa herannya. Mereka sama
sekali tidak mengerti, mengapa mereka saling pukul dengan
teman sendiri. Ternyata, biarpun berkepandaian tinggi,
Hian beng jie lo belum mengenal Kian koen Tay lo ie.
Dilain saat, dengan gusar mereka menyerang bagaikan
hujan dan angin. Dalam serangan itu, mereka bekerja sama
erat sekali, yang satu menyerang, yang satu membela diri.
Tapi Boe Kie terus menggunakan Tay loe ie sin kang,
sehingga beberapa kali ke-2 lawannya saling gebuk dengan
kawan sendiri.
Hian beng Jie lo saling mengawasi dengan mata
membelalak dan muka pucat. Sementara itu, Boe Kie
mengubah cara berkelahinya. Kini ia menyerang, dengan
“hawa” yang “panas murni”. Diserang begitu ke-2 kakek itu
yang mempunyai Lweekang “dingin” jadi setengah mati.
Boe Kie terus mendesak tanpa mengenal ampun. Makin
lama pukulan2nya makin cepat dan erat. Dalam pertemuan
ini, ia mengenali, bahwa diantara Hian beng Jie lo, Ho Pat
Ong lah yang telah memukulnya dengan Hian Beng sin
ciang pada 20 tahun berselang. Ia ingat cara bagaimana
pukulan itu sudah mengakibatkan penderitaan hebat bagi
dirinya dan hampir saja ia kehilangan jiwa. Ia adalah
seorang yang selalu bersedia untuk mengampuni semua
manusia. Tetapi sekarang, darahnya mendidih. Terhadap
Lok Thung Kek, ia masih berlaku murah hati, tapi terhadap
Ho Pit Ong ia tak sungkan2 lagi.
Sesudah bertempur kira2 20 jurus muka Ho Pit Ong yang
semula hijau berubah menjadi merah. Tiba2 Boe Kie
menghantam dengan telapak tangannya. Buru2 ia
menangkis dengan tangan kiri, sedang tangan kanan mereka
1766
itu dapat digunakan lagi untuk balas menyerang
“Plak!...Plak!” kedua tangan dengan saling susul mampir di
pundak Long Thung Kek sedang tangan Boe Kie terus
menyambar tanpa bisa ditangkis atau dikelit lagi. “Buk!”
dadanya terpukul keras. Untung juga pada detik terakhir
Boe Kie merubah pikiran dan sungkan mengambil jiwa
musuh. Sehingga pada saat yang memutuskan, ia
mengurangi tenaganya. Tapi biarpun begitu, Ho Pit Ong
segera memuntahkan darah, dari merah mukanya berubah
menjadi ungu dan badannya bergoyang2. kalau Boe Kie
mengirim pukulan susulan kakek itu tentu segera tamat
riwayatnya. Sementara itu sebab kena 2 pukulan kawan
sendiri. Lok Thung Kek berjengit dan seraya menggigit gigi
ia terhuyung beberapa tindak.
Hian Beng Jie lo adalah jago2 utama dibawah perintah
Tio Beng. Bahwa belum cukup 30 jurus mereka sudah
terluka berat, adalah kejadian yang sungguh2 mengejutkan
semua orang. Terhitung Yo Siauw dan Wie It Siauw
sendiri.
Mengejutkan karena pada waktu bergebrak dengan Hian
beng Jie lo di Boe Tong San kepandaian Boe Kie belum
setinggi sekarang. Tak disangka dalam tempo beberapa
bulan saja, ia sudah maju begitu pesat.
Sebab musabab dari kemajuan itu ialah sambil
mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng selama
beberapa bulan Boe Kie banyak menerima pelajaran dari
Thio Sam Hong. Kioe yang sin kang, Kian koen thay lo ie
dan Thay kek koen telah bergabung menjadi satu sehingga
dapat dikatakan, Boe Kie telah mencapai tingkat tertinggi
dalam ilmu silat. Sesudah memikir sejenak, Yo Siauw
mengerti sebab musabab itu. Mereka kagum terhadap guru
besar itu dan mengagumi juga kauwcoe mereka.
Sesudah menderita kekalahan dalam pertandingan
1767
tangan kosong sambil membentak keras, dengan berbareng
hian beng jie lo mengeluarkan senjata mereka. Lok Thung
Kek memegang sebatang tongkat pendek bercagak
menyerupai tanduk menjangan, warna hitam, entah dibuat
dari logam apa. Ho Pit Ong mencekal sepasang pit(senjata
seperti pena Tionggoan) warna putih terang, seperti krystal,
yang ujungnya lancip seperti patuk burung Ho. Mereka
sudah lama mengikuti Tio Beng tapi malah nona itu sendiri
tidak pernah melihat mereka menggunakan senjata.
Dimana saat satu sinar hitam dan 2 sinar putih segera
mengepung Boe Kie. Pemuda itu tak bersenjata, tapi
sedikitpun ia tak merasa keder. Ia justru ingin menjajal
kepandaiannya. Ia ingin mengetahui apakah dengan tangan
kosong ia bisa melayani ke-2 musuh yang lihay itu.
Dalam kegusarannya, Hian beng jie lo menggunakan
senjata yang jarang sekali mereka gunakan. Selama hidup
mereka sangat mengandalkan senjata itu yang dapat
digunakan untuk menyerang musuh dengan pukulan2 aneh.
Nama mereka atau lebih tepat nama julukan mereka telah
didapatkan dari senjata itu. Lok kak Toan thung dan Ho
swee Siang pit (Tongkat pendek yang menyerupai tanduk
menjangan dan sepasang pit yang menyerupai patuk burung
ho) dan sebagai ringkas mereka menggunakan nama Lok
Thung Kek (si pit burung ho).
Dengan memusatkan seluruh perhatian dan
semangatnya, Boe Kie melayani ke-2 musuh itu. Untuk
menyelamatkan diri dari serangan2 musuh luar biasa ia
menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi. Tapi
untuk sementara waktu, ia belum benar2 memahami
pukulan2 kedua kakek itu yang benar2 aneh. Dengan
demikian biarpun ia berkepandaian cukup untuk membela
diri, ia tak bisa mendapat kemenangan dalam waktu cepat.
Sementara itu, begitu Boe Kie bertempur melawan hian
1768
beng jie lo, Tio Beng menepuk tangan 3 kali dan 3 orang
lantas saja menerjang Yo Siauw, 4 orang meyerang Wie It
Siauw, sedang 2 orang membekuk Cioe Cie Jiak. Dalam
sekejap Yo Siauw mwlukai lawan dengan pedangnya. Wie
It Siauw merubuhkan 2 orang dengan pukulan Bian Ciang.
Tapi jumlah musuh terlalu banyak. Roboh satu maju 2. Boe
Kie yang sedang dikepung tak bisa memberikan
pertolongan. Andaikata mereka bertiga ingin melarikan diri,
mereka masih bisa berbuat begitu. Tapi kalau mau
mengajak Cioe Cie Jiak mereka takkan bisa melakukan itu.
Makin lama keadaan pihak Boe Kie jadi makin jelek.
Mereka bingung dan makin bingung, mereka makin
terdesak.
Sekonyong2 Tio Beng membentak. “Semua berhenti!”
Hampir berbareng, semua jagonya nona Tio melompat
keluar dari gelanggang.
Yo Siauw segera memasukkan pedangnya kedalam
sarung, sedang Wie It Siauw memulangkan golok yg
dirampasnya kepada pemiliknya. Sesudah itu sambil
tertawa terbahak2 mereka berdiri dibelakang Boe Kie.
Orang2 sebawahan Tio Beng yg berkepandaian tinggi
Kouw Tauw Too dan yang lain2 banyak yg belum turun ke
gelangang. Apabila mereka menyerbu, Boe Kie bertiga pasti
takkan bisa mempertahankan diri. Bahwa dalam
menghadapi bahaya kedua pemimpin Bengkauw itu masih
bisa tertawa sudah membangkitkan rasa kagum dalam
hatinya semua orang. Sementara itu dengan rasa kuatir Boe
Kie melihat seorang pria yg menudingkan sebatang pisau ke
punggung Cioe cie Jiak.
“Thio kongcu, sam wie (ketiga tuan) pergilah”, kata
nona Cioe. “Aku merasa sangat berterima kasih akan
maksud sam wie yg mulia.”
1769
“Thio Kongcu,” kata Tio Beng sambil tersenyum. “Aku
sungguh merasa kasihan terhadap nona yg begitu cantik.
Apakah Cioe Kouwnio gadis idam2an mu?”
Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah. “Cioe
Kouwnie dan aku sudah saling mengenal sejak kecil”
katanya. “Diwaktu kecial aku telah dipukul oleh manusia
itu…” ia menuding Hi Pin Ong, “Dengan Hian beng Sin
ciang. Racun dingin masuk kedalam tubuhku dan aku
hampir tak bisa bergerak. Pada waktu itu Cioe Kouwnio
telah merawat aku menyuapi makan kemulutku dan
memberi minum kepadaku. Budi yang besar itu sukar sekali
bisa dilupakan olehku.”
“Kalau begitu, kalian adalah kawan sedari kecil,” kata
Tio Beng. “Bukankah kau ingin mengangkat dia sebagai
kauwcoe Hoejim (Nyonya kauwcoe) dari Beng Kauw?”
Muka Boe Kie jadi terlebih merah. “Sebelum musuh
dapat diusir, tak bisa aku menikah!” katanya.
Tio Beng lantas saja gusar, “Apa benar2 kau mau
menumpas aku?” tanyanya.
Boe Kie menggelengkan kepalanya. “Sampai sekarang
aku masih belum tahu asal usul kauw Nio,” katanya.
“Meskipun kita telah kebentrok berapa kali bukan aku, tapi
kauwnio yg cari urusan. Apabila kouwnio sudi melepaskan
para pamanku dan tokoh2 berbagai partai, aku akan merasa
sangat berterima kasih dan sedikitpun tidak berani
bermusuhan lagi dengan kouwnio. Apapula kouwnio boleh
memerintahkan aku melakukan tiga rupa pekerjaan.
Kouwnio boleh menyebutkannya dan aku pasti akan
melakukannya sedapat mungkin.”
Tio Beng tertawa, “Ah! Kau belum lupa?” katanya. Ia
berpaling kepada Cioe Cie Jiak dan berkata pula. “Jika
benar Cioe kouwnio bukan gadis idamanmu, bukan saudari
1770
seperguruanmu bukan tunangamyu, maka di goresnya
muka yg cantik itu sama sekali tiada sangkut pautnya
dengan kau.”
Sehabis berkata begitu, ia melirik. Hampir berbareng Lok
Thung Kek dan Ho Pit Ong melompat kedepat Cioe Cie
Jiak dengan masing2 mencekal senjata, sedang salah
seorang pengawal menudingkan pisau pada muka Coe.
“Thio kong coe,” kata pula Tio Beng. “Lebih baik kau
berterus terang kepadaku.”
Selagi Tio Beng bicara, Wie It Siauw membuka telapak
tangannya dan meludahinya beberapa kali, akan kemudian
menggosok gosok telapak tangan yg penuh ludah itu di sela
sepatunya. Semua orang merasa heran. Mereka tak bisa
menebak apa maksud Wie Hok Ong.
Sekonyong2 Ceng Ek Hong Ong tertawa terbahak bahak
dan belum habis ia tertawa tubuhnya berkelebat bagaikan
kilat. Hampir berbareng Tio Beng kedua pipi nya di usap
orang dan dilain detik Wie It Siauw sudah berdiri lagi di
tempat semula dengan tangan memegang dua batang golok
pendek. Tak seorangpun melihat, dari pinggang siapa ia
mencabut kedua senjata itu.
Nona Tio terkesiap, ia tak berani meraba pipinya dan
lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan untuk menyusutnya.
Sapu tangan itu bergelepotan suatu cairan2 lendir yg
tercampur tanah. Ludah Wie Hok Ong! Bahwa gusar, paras
muka si nona berubah menjadi meah padam. Mengingat
mukanya dilabur ludah hampir2 ia muntah.
“Tio Kouwnio!” bentak Wit It Siang dengan suara
lantang. “Kalau kau mau merusak muka Cioe Kouwnio,
aku tentu tudak bisa mencegah. Nama Thio Kauwcoe kami
dikenal ditengah lautan dan sebagai pemuda berkepandaian
tinggi dan tampat, tak sukar untuk mencari gadis2 cantik
1771
untuk dijadikan istri dan empat gundik. Pada hakekatnya,
ia tak memikir Cioe Kounio. Tapi kau manusia kejam luar
biasa dan aku, si orang she Wie, tidak bisa membiarkan
dengan begitu saja. Tio Kouwnio, kau dengarlah! Jika hari
ini kau menggores muka Cioe Kouwnio satu kali, aku akan
membalas budi dengan dua kali lipat, aku akan menggores
mukamu dua kali, aku akan membayar dengan empat
goresan. Apabila kau memutuskan satu jari tangannya, aku
akan memutuskan satu dua jari tangan2mu. Si orang she
Wie tidak pernah berdusta. Apa yg dikatannya pasti akan
dilakukannya. Ceng Ek Hok Ong belum pernah menjilat
lagi ludah yg sudah dibuangi. Mungkin kau bisa menjaga
diri selama setengah atau satu tahun, tapi kau pasti tak akan
mampu berwaspada terus menerus dalam delapan sembilan
tahun atau sepuluh tahun. Mungkin untuk menyelamatkan
diri kau akan menyuruh anjing2mu untuk membinasakan
aku. Tapi aku percaya tak seorangpun didalam dunia ini yg
bisa mengubar dirinya Ceng Ek Hong Ong. Nah selamat
tinggal!.” Berbareng dengan terdengarnya “perkataan
tinggal” badan Wie It Siauw menghilang dari ruangan itu.
Kecepatan bergeraknya Wie Hok Ong sungguh2
menakjubkan, semua orang yakin bahwa ancaman yg
dikeluarkan dengan suara tenang bukan gertak sambal.
Muka Tio Beng sebentar pucat, sebentar merah. Ia
mengerti, bahwa kalau tadi Wie It Siauw mengusap
mukanya menyeluruh dengan sebatang pisau, muka yg
cantik itu sudah mulai cacat iapun yakin bahwa sesuai
dengan ancaman itu, ia tak akan bisa menjaga diri terus
menerus. Dalam ruangan itu, orang yg berilmu silat paling
tinggi adalah Boe Kie. Tapi Boe Kie pun tidak ungkulan
melawan Wie It Siauw dalam ilmu ringan badan. Dalam
perlombaan jarak jauh berkat Lweekangnya ia akan
memperoleh kemenangan. Tapi dalam jarak dekat ia tak
usah berharap bisa menyandek Wie Hok Ong. Pada jaman
1772
itu, dalam seluruh rimba persilatan, Wie It Siauw lah yg
memiliki ilmu mengentengkan badan yg paling tinggi.
Sesaat kemudian, sambil membungkuk Boe Kie berkata,
“Tio Kauwnio, kalau begitu sekarang saja kami minta diri.”
Dengan menuntun tangan Yo Siauw, ia meninggalkan
ruangan itu. Ia tahu bahwa sesudah mendapat ancaman,
Tio Beng pasti tidak berani main gila terhadap Cioe Cie
Jiak.
Dengan rasa malu dan gusar nona Tio mengawasi
mereka, tapi ita tidak berani memerintahkan orang2nya
untuk mencegat kedua pimpinan Beng Kauw itu.
Setibanya dirumah penginapan, Wie It Siauw sudah
menunggu, “Wie Hok Ong,” kata Boe Kie sambil tertawa,
“hari ini kau memberi pelajaran lepat kepat kepada mereka.
Mereka sekarang mengerti, bahwa Beng Kauw tidak boleh
dibuat gegabah.”
Wie It Siauw tertawa nyaring, “Aku tanggung tiga hari
tiga malam nona cantik itu tidak enak tidur,” katanya.
“Makin dia tidak enak tidur, makin sukar kita menolong
orang,” kata Yo Siauw.
“Yo Co Soe bagaimana pikiranmu?” tanya Boe Kie.
“Apakah kau mempunyai daya yang baik untuk menolong
mereka?”
Alis Yo Siauw berkerut. “Memang sukar,” jawabnya.
“Kita hanya bertiga, apapula kedatangan kita sudah
diketahui oleh musuh.”
Boe Kie merasa jangah. “Akulah yang bersalah,”
katanya dengan suara meminta maat. “Sebab melihat Cioe
Kauwnio menghadap bahaya aku tidak bisa untuk
melakukan dan menahan hati, sehingga akhirnya aku
merusak urusan besar.”
1773
“Kauw coe tidak bersalah,” bantah Yo Siauw. “Dalam
keadaan begitu, kamipun tidak bisa tidak turun tangan.
Bahwa dengan seorang diri, Kauw coe sudah mengalahkan
Hian Beng Jie Lo, adalah kejadian yg sangat baik untuk
pihak kita.” Sesudah beromong2 beberapa lama lagi,
mereka segera pergi mengaso di masing2 kamarnya.
Pada esok harinya Boe Kie tersadar dari tidurnya. Begitu
membuka mata ia melihat jendela terpentang lebar dan
seorang berdiri didepan jendela sedang mengawasinya.
Dengan kaget ia melompat bangun. Orang itu mukanya
penuh tanda bacokan golok, bukan lain daripada Kouw
Tauw Too. Boe Kie makin kaget, Kouw Tauw Too terus
mengawasinya, tapi ia kelihatan tidak mengandung maksud
jelek. Boe Kie merasa seolah2 kepalanya diguyur air dingin.
“Bagaimana aku bisa pulas begitu nyenyak?”, katanya
didalam hati. Musuh sudah berada diluar jendela dan aku
masih belum tahu. Dilain saat ia berteriak, “Yo ce soe! Wie
Hok ong!” Mereka yg tidur dikamar sebelah, lantas saja
menyahut. Hati Boe Kie agak lega sedikitnya ia tahu,
bahwa kedua kawannya tidak dicelakai musuh.
Sementara itu, Kauw Tauw Too sudah menyingkir.
Bagaikan kilat Boe Kie melompat keluar jendela dan terus
mengubar. Yo Siauw dan Wie It Siauw menyusul dari
belakang. Setibanya diluar mereka tidak melihat musuh
lain, sedang si pendeta kabur ke arah utara. Seraya memberi
isyarat dengan ulapan tangan, mereka mengejar.
Meskipun pincang, pendeta itu bisa lari cepat sekali.
Waktu itu fajar baru menyingsing dan jalanan masih sepi.
Tapi lama kemudian, mereka sudah keluar dari pintu utara
dan Kouw Tauw too membelok kejalanan kecil. Sesudah
lari tujuh delapan li lagi, mereka tiba disebuah bukit batu
dan si pendeta menghentikan tindakannya. Sesudah
mengibas2kan tangannya sebagai tanda supaya Yo Siauw
1774
and Wie It Siauw mundur, ia memberi hormat. “Apa
maksudnya?” tanyanya didalam hati. “Tempat ini tiada
manusianya dan kalau sampai bertempur, dengan seorang
diri, dia pasti kalah. Kelihatannya dia tidak mengandung
maksud jahat.”
Selagi Boe Kie memikir begitu, seraya mengeluarkan
suara “ah ah uh uh” si gagu sudah menerjang. Dia
menyerang dengan memandang sepuluh jeriji tangan kiri
merupakan Houw Jiauw (kuku harimau), tangan kannya
berbentuk Liong Jiauw (cakar naga) sepuluh jari tangannya
bengkok seperti gretan baja dan serangannya hebat luar
biasa.
Dengan mengibaskan tangan kiri, Boe Kie memunahkan
serangan lawan. “Bagaiman maksud Siang jin?” tanyanya.
“Sesudah bicara, kita masih mempunyai banyak waktu
untuk bertempur.” Tapi si pendeta tidak meladeni dan terus
menyerang. Tangan kirinya semula merupakan Hauw
Jiauw berubah menjadi Eng Jiauw (cakar elang) sedang
tangan kanannya berubah menjadi Hauw Jiauw.
“Apa benar2 Sian jin mau bertanding juga?” tanya Boe
Kie seraya berkelit.
Si gagu tetap tidak menjawab. Kedua tangannya berubah
lagi Eng Jiauw menjadi Say ciang (telapak tangan singa),
Houw Jiauw menjadi Ho uwee (patuk burung Ho), sedang
pukulannyapun turut berubah. Demikianlah, dalam tiga
gebrakan ia sudah menyerang dengan enam rupa pukulan.
Boe Kie tidak berani berayal lagi dan segara melayani
dengan Thay kek koen. Ia bergerak bagaikan mengalirnya
air dan setiap pukulannya, baik membela diri maupun
menyerang, merupakan lingkaran Thay kek. Dalam pihak,
Kauw tauw too menyerang dengan tipu2 yg beraneka
ragam. Ia menggunakan ilmu silat yg aneh2 menggabung
1775
silat “sesat” dengan silat dari partai lurus bersih. Tapi Boe
Kie sendiri tetap melayani dengan Thay Kek Koen.
Sesudah bertempur kurang lebih tujuh puluh jurus, sambil
membentak keras. Kouw Tauw Too, meninju dari jurusan
Tiong Kiong. Bagaikan kilat, dengan gerakan Jie hong Sie
pit, Boe Kie memuji tinju yang menyambar dan berbareng
dengan pukulan Tan Pian, telapak tangan kanannya
meneput punggung si pendeta yg bongkok. Tepukan itu
mampir tepat pada sasarannya, tapi Boe Kie tidak
menggunakan Lwee Kang dan begitu telapak tangannya
menyentuh punggung ia segera menarik pulang.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil