Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554 a.n Ali Afif
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 20 April 2017

Cersil ke 19 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti

Cersil ke 19 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti Tag:Penelusuran yang terkait dengan cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Cersil ke 19 Kembalinya Pendekar Rajawali Sakti
Cepat Li Bok-chiu melakukan permintaan itu, iapun
berteriak dengan nada murka: "Bagus, biar kumati di...
ditanganmu, betapapun, kau si.bangsat kecil ini juga... juga
harus mampus di tanganku," ia membikin suaranya semakin
lemah sehingga kalimat terakhir se-akan diucapkan dengan
napas terengah-engah.
Mendengar itu, Hoat-ong sangat girang, ia pikir kedua
orang sedang berebut si bayi dan mulai saling membunuh,
tampaknya keduanya sama terluka parah. ia menjadi kuatir si
bayi juga ikut tewas, jika terjadi begini berarti akan kehilangan
alat pemerasan terhadap Kwe Cing.
Tanpa pikir lagi ia menyingkirkan onggokan kayu dan
rumput kering yang terbakar itu terus menerjang ke dalam
gua. Tapi baru dua-tiga langkah, mendadak telapak kaki kiri
terasa sakit, untung ilmu silatnya memang tinggi dan dapat
memberi reaksi dengan cepat, sebelum kaki menginjak
sepenuhnya ke bawah, cepat kaki yang lain menggunakan
tenaga terus melompat mundur lagi keluar gua, Waktu kaki
menginjak tanah, terasa kaku kesemutan dan hampir saja
jatuh terjungkal.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dengan Lwekangnya yang tinggi itu, biarpun kakinya
dibacok beberapa kali juga takkan sempoyongah berdirinya,
karena itu segera ia menyadari apa yang telah terjadi, ia tahu
telapak kakinya pasti tertusuk oleh benda berbisa. Baru dia
hendak membuka sepatu dan kaos kaki untuk memeriksanya,
dilihatnya Nimo Singh sudah putar balik dari belakang gua dan
sedang mengomel. "Kurangajar! Bangsat kecil itu berdusta, di
belakang gua tiada lubang tembusan apapun, Kwe Cing dan
isterinya masih di alam gua."
Hoat-ong tidak menanggapi apapun, iapun urung
membuka sepatu, katanya: "Memangnya tidak salah
dugaanmu, sudah sekian lama tiada suatu suara, bisa jadi
mereka telah pingsan semua oleh asap tebal tadi."
Diam-diam Nimo Singh bergirang, ia pikir jasa menangkap
Kwe Cing sekali ini pasti akan jatuh di tangannya, iapun tidak
berpikir mengapa Kim lun Hoat-ong tidak merebut jasa itu,
tanpa bicara lagi ia putar senjata ular bajanya untuk menjaga
diri, ia terus menerobos ke dalam gua.
Ketiga buah jarum berbisa itu diatur oleh Nyo Ko tepat di
tengah jalan yang harus dilalui, tak peduli langkah orang yang
akan masuk itu lebar atau cekak, ialah satu jarum itu pasti
akan diinjaknya, perawakan Nimo Singh sangat pendek dan
langkahnya cekak, tapi ia bertindak dengan cepat, ketika kaki
kanan menginjak sebuah jarum itu, begitu terasa sakit dan
belum sempat menarik kakinya, tahu-tahu kaki kiri sudah
menginjak lagi pada jarum yang lain.
Negeri Thian-tiok (lndia) terkenal negeri berhawa panas,
rakyat umumnya suka telanjang kaki, maka Nimo Singh juga
tidak bersepatu, meski kulit telapak kakinya sudah terlatih dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tebalnya seperti kulit banteng, namun betapa tajamnya Pengpok-
sin-ciam itu, sedikitnya dua senti menancap ke dalam
telapak kakinya itu.
Tapi Nitno Singh memang kuat dan perkasa, sedikit luka
itu sama sekali tak diperhatikan olehnya, ia ayun senjata ular
baja dan menyapu ketanah, ia yakin di depan pasti tak ada
jarum lagi dan baru saja hendak menerjang masuk untuk
menangkap Kwe Cing, tiba-tiba kedua kakinya terasa lemas
dan tidak sanggup berdiri tegak lagi, kontan ia jatuh terguling.
Baru sekarang ia tahu racun pada jarum yang tertancap
kakinya itu sangat lihay, lekas-lekas ia berguling disertai
merangkak keluar gua, dilihatnya Hoat-ong sedang
memegangi sebelah kakinya yang hitam bengkak.
Segera Nimo Singh tahu duduknya perkara, dengan gusar
ia membentak: "Bangsat gunduI, sudah tahu kau sendiri
terluka oleh jarum berbisa, mengapa kau tidak memberi tahu
padaku, sebaliknya sengaja membiarkan aku ikut
terperangkap?"
"Aku terjcbak, kaupun terperangkap, ini namanya seri,
satu-satu!" jawab Hoat-ong dengan tertawa.
Tidak kepalang gusar Nimo Singh, ia memaki "Keparat,
menangkap Kwe Cing apa segala tak berarti lagi bagiku,
biarlah aku mengadu jiwa dengan kau."
Sebenarnya kakinya sudah tak bertenaga lagi, tapi
tangannya menahan tanah, sekaligus ia menubruk ke arah
Hoat-ong, senjata ular baja terus mengetok kepala lawan itu.
Hoat-ong mengangkat roda tembaganya untuk menangkis,
menyusul tangan yang lain terus menyikut Tubuh Nimo Singh
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
lagi menubruk maju sehingga sukar menghindar, apalagi
serangan Hoat-ong inipun sangat cepat, seketika bahu Ntmo
Singh kena disikut dengan keras, walaupun otot daging Nimo
Singh sangat kuat, tidak urung iapun kesakitan setengah mati.
Saking murkanya Nimo Singh tidak lagi memikirkan matihidupnya
sendiri, ia tetap menubruk ke depan dan merangkul
tubuh Hoat-ong sekencang-kencangnya, malah mulutnya terus
menggigit dan kebetulan Hiat-to bagian leher kena dikertak.
Jika dalam keadaan biasa, betapapun tidak mungkin Nimo
Singh dapat mendekati Hoat-ong yang berkepandaian setinggi
itu, apalagi hendak merangkul tubuhnya dan menggigit
lehernya, Tapi sekarang Hoat-ong sedang mengerahkan
segenap tenaga dalamnya untuk menahan menjalarnya racun
yang mengenai telapak kakinya itu, sebab itulah waktu Nimo
Singh menusuk maju, Hoat-ong sendiri sudah tidak cukup
tenaga dalamnya dan hanya dapat melawannya dengan
kekuatan luar.
Sebaliknya Nimo Singh menyerang dengan sepenuh
tenaga, begitu berhasil menggigitnya, maka giginya tidak mau
kendur lagi.
Cepat Hoat-ong menggunakan kaki kanan untuk menjegal
karena kedua kaki Nimo Singh sudah lemas, ia tidak tahan dan
terjerembab ke depan sambil menarik Hoat-ong, jadinya
kedua orang sama terguling di tanah.
Hoat-ong bermaksud menarik orang, namun hiat-to
penting tergigit, tenaga tangannya juga berkurang, sukar
baginya untuk melepaskan diri, terpaksa tangannya digunakan
mencengkeram Tay-hi-hiat dikuduk Nimo Singh, tempat inipun
melupakan-Hiat-to penting di tubuh manusia, dengan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
cengkeraman ini dapatlah ia berjaga agar tidak dikerjai lebih
lanjut oleh Nimo Singh.
Sebenarnya kedua orang sama-sama jago kelas wahid
dalam dunia persilatan, tapi mereka sama-sama keracunan
dan sekarang berkelahi dari jarak dekat secara bergumul
keadaan mereka menjadi seperti tukang berkelahi kampungan
tanpa harga diri, ke duanya ber-guling2 dan lambat laun
mendekati tepi jurang.
Hal ini dapat dirasakan oleh Hoatong cepat ia berteriak:
"Lepaskan tanganmu, kalau terguling lagi ke sana, kita berdua
sama-sama hancur terjerumus!"
Akan tetapi Nimo Singh sudah kalap, iapun tidak berusaha
menolak racun dalam tubuhnya maka tenaganya menjadi lebih
kuat daripada Hoat-ong, ia terus mendorong ke depan
sehingga Hoat -ong tidak dapat menahannya.
Tampaknya sedikit lagi mereka pasti akan ter getincir ke
dalam jurang, dalam keadaan kuati tiba-tiba Hoat-ong
mendapat akal, cepat ia berteriak "He, Kwe Cing datang!"
"Di mana?" tanya Nimo Singh melengak kaget. Dan karena
ucapannya ini dengan sendirinya mulutnya lantas terbuka
sehingga gigitannya pada Hiat to Kim-lun Hoat-ong dilepaskan
Kesempatan itu segera digunakan Hoat-ong untuk
menghantam. Baru sekarang Nimo Singh menari tertipu, cepat
ia mengelak dan kembali menyeruduk lagi.
Hantaman Hoat-ong itu sebenarnya hendak memaksa
Nimo Singh melompat mundur, tapi ia lupa kedua kaki Nimo
Singh sudah tak dapat digunakan lagi karena keracunan oleh
jarum tadi sehingga tidak mampu bergerak, jadinya bukan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
melompat mundur sebaliknya malah menyeruduk maju,
Keruan Hoat-ong kaget dan kedua orang kembali bergumul
menjadi satu, sekonyong-konyong dibawah tubuh terasa
hampa, tanpa ampun kedua orang terjerumus ke dalam
jurang.
Melihat akal si Nyo Ko berhasil dengan baik, diam-diam Li
Bok-chiu mengakui kehebatan anak muda itu. Waktu
mendengar suara perkelahian kedua orang diluar, segera Li
Bok-chiu bermaksud mengeluyur pergi, tapi mendadak
terdengar pula suara jeritan kaget kedua orang, suaranya
sangat aneh, itu suara jeritan waktu kedua orang terjatuh ke
dalam jurang, tapi lantaran jarak tepi jurang dengan gua itu
agak jauh, pula ter-aling-aling oleh batu-batu dan semaksemak
sehingga apa yang terjadi di luar itu tidaklah jelas.
"He, apa yang mereka lakukan itu" tanya Li Bok-chiu.
Nyo Ko juga tidak menyangka Hoat-ong dan Nimo Singh
bisa terjerumus ke dalam jurang, setelah termenung sejenak,
lalu menjawab "Bangsat gundul itu sangat licin, jangan-jangan
iapun menirukan cara kita ber-pura-pura saling melukai tadi,
maksudnya supaya kita terpancing keluar."
"Ya, benar, tentu dia ingin memancing aku keluar untuk
merampas obat penawar," ujar Li-Bok-chiu. Pelahan ia
mendekati mulut gua dan bermaksud melongok keadaan di
luar sana.
"Awas jarum di atas tanah itu," seru Nyo Ko.
Li Bok-chiu terkejut dan cepat menarik kembali
langkahnya. sementara itu api di mulut gua sudah padam,
asap sudah buyar sehingga didalam gua kembali gelap gulita,
ia tidak dapat memandang dalam kegelapan seperti Nyo Ko
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sehingga tidak tahu ketiga jarum itu di tancapkan di bagian
mana oleh anak muda itu, kalau sembarangan bertindak
bukan mustahil iapun akan menginjaknya! Meski ia sendiri
mempunyai obat penawarnya tapi bila kesempatan itu
digunakan Nyo Ko untuk menyerangnya, maka sukarlah untuk
melawannya andaikan jiwa sendiri tidak melayang oleh racun
jarumnya sendiri
Karena itulah ia lantas berkata: "Lekas kau cabut jarumjarum
itu, buat apa kita berdiam terus di sini"
"Tunggu sebentar lagi, biar mereka mati keracunan
barulah kita keluar," ujar Nyo Ko.
Li Bok-chiu mendengus satu kali, dalam hati ia seperti jeri
kepada Nyo Ko, sama-sama berdiam di dalam gua yang gelap,
sedangkan ilmu silat sendiri belum tentu bisa mengalahkan
anak muda itu, bicara tentang tipu akal malahan sudah jelas
bukan tandingannya. Karena itulah ia coba merenungkan akal
baik untuk meloloskan diri.
Sementara itu keadaan di luar gua sudah sunyi sepi, kedua
orang di dalam gua juga sedang merenungkan kepentingan
masing-masing dan sama-sama tidak bersuara. Pada saat
itulah mendadak anak bayi itu menangis keras, agaknya bayi
itu kelaparan, maklumlah, sejak lahir sama sekali belum
pernah disusui.
Tiba-tiba Li Bok-chiu menjengek: "Di mana Sumoay?
Kenapa dia tidak ambil pusing pada anaknya sendiri yang
mungkin mati kelaparan."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Siapa bilang bayi ini anak Kokoh?? jawab Nyo Ko, ini
adalah puteri Kwe Cing, Kwe-tayhiap, tahu?"
"Hm, kau tidak perlu menggertak aku dengan namanya
Kwe-tayhiap, memangnya kau kira aku lantas takut?" kata Li
Bok-chiu. "Jika bayi ini anak orang lain, betapun kau takkan
berusaha merebutnya dengan mati-matian, pasti anak ini
adalah hasil hubungan kalian berdua."
"Ya, aku memang bertekad akan memperisteri Kokoh"
teriak Nyo Ko dengan gusar "Tapi kami belum menikah, cara
bagaimana bisa mendapatkan anak? Hm, mulutmu harus
dicuci bersih sedikit."
Kembaii Li Bok-chiu mengejek: "Huh, kau suruh mulutku
bersih sedikit, kan seharusnya perbuatan kalian berdua
diherankan lebih dulu."
Selama hidup Nyo Ko menghormati Siao-Iiong li sebagai
malaikat dewata, mana ia tahan sang Koko difitnah dan dinista
secara kotor, dengan murka membentak: "Suhuku suci bersih,
kan perempuan buta ini janganlah mengoceh semaunya."
"Hah, suci bersih, cuma sayang Su-kiong-se (andengandeng
cecak merah) pada lengannya sudah punah," jengek
Li Bok-chiu pula.
"Sret," pedang Nyo Ko terus menusuk ke dada orang
sambil membentak: "Tak soal jika kau memaki aku, tapi katakatamu
menghina Suhuku, biar aku mengadu jiwa dengan
kau."
"Sretsret-sret," ber-turut-urut ia menyerang lagi tiga kali.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ilmu pedang Nyo Ko memang hebat, pula dapat melihat
dalam kegelapan, Li Bok-chiu hanya dapat menangkis
berdasarkan kepandaian "mendegarkan suara angin dan
membedakan arah", meski tangkisannya tidak meleset, tapi
beberapa jurus kemudian iapun mulai kewalahan.
Untung Nyo Ko memikirkan keselamatan anak bayi itu, ia
kuatir kalau serangannya terlalu gencar, dalam keadaan
kepepet bukan mustahil Li Bok-chiu akan mencelakai bayi itu,
sebab itulah dia tidak melancarkan serangan maut.
Begitulah sampai belasan jurus mereka bergebrak di dalam
gua, se-koyong2 anak bayi itu menangis satu kali, habis itu
lantas diam, sampai lama letap tak bersuara Iagi.
"Bagaimana bayi itu, kau mencelakai dia?" kata Nyo Ko
dengan suara kuatir.
Melihat si Nyo Ko begitu memperhatikan si bayi, ia tambah
yakin bayi itu pasti anak kandung Siao-liong-li, ia tangkis
pedang Nyo Ko dengan kebutnya sambil berkata: "Sekarang
belum mati, tapi kalau kau membantah perkataanku, memang
nya kau kira aku tidak berani mencekik mampus setan cilik
ini."
Nyo Ko bergidik, ia kenal watak Li Bok-chiu yang kejam
itu, jangankan membunuh seorang bayi malahan membunuh
segenap keluarga juga perbuatan biasa baginya, Cepat ia
menarik kembali pedangnya dan berkata: "jelek2 kau adalah
Supekku, asalkai kau tidak memaki Suhuku, dengan sendirinya
aku menurut padamu"
"Baik, aku takkan memaki gurumu lagi dan kau harus turut
perkataanku," kata Li Bok-chhi "Nah, sekarang kau melongok
keluar sana, coba lihat bagaimana kedua bangsat itu."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko menurut, ia memeriksa sekeliling di luar gua, tapi
tidak nampak bayangan Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh, ia
kuatir Hoat-ong menjebaknya, ia coba menggunakan
pedangnya dan membabati semak-semak rumput yang
mungkin dibuat sembunyi musuh, tapi ternyata tiada sesuatu
jejak apa-apa. Segera ia masuk gua lagi dan berkata: "Kedua
orang itu menghilang, mungkin mereka sudah kabur,"
"Hm, setelah terkena jarumku, seumpama kabur juga
takkan mencapai jauh," jengek Li-Bok-chiu, "sekarang
cabutlah semua jarum yang kau tancapkan di mulut gua tadi
dan taruh di depanku sini."
Karena bayi itu masih terus menangis, Nyo Ko pikir harus
lekas mencarikan sesuatu makanan baginya, maka ia turut
perintah Li Bok-chiu itu, dengan tangan terbalut ia cabuti
jarum-jarum itu dan di kembalikan kepada yang empunya.
Setelah memasukkan jarum berbisa itu ke kantungnya.
segera Li Bok-chiu melangkah keluar, Styo Ko mengintilnya
dengan cepat dan bertanya "Hendak kau bawa ke mana bayi
itu?"
"Pulang ke rumahku," jawab Bok-chiu.
"Untuk apa kau membawa pulang anak ini? Kan bukan kau
yang melahirkannya," seru Nyo Ko tanpa pikir.
Muka Li Bok-chiu menjadi merah dan men-lamperat:
"Ngaco-belo tak keruan! Asalkan kau mengantar Giok-li-simkeng
dari Ko-bong pay kita kepadaku segera kukembalikan
anak ini padamu, ku jamin takkan mengganggu seujung
rambutnya."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Habis berkata ia terus berlari secepat terbang ke utara
dengan Ginkang yang tinggi.
"He, harus kau susui dia dulu!" seru Nyo Ko sambil
mengikutinya lari.
Dengan muka merah padam Li Bok-chiu berpaling dan
membentak: "Keparat, kau bicara tidak keruan dan selalu
mengolok-olok saja."
"Hm, mengolok-olok bagaimana?" ujar Nyo Ko dengan
heran, "Bukankah anak itu akan mati kelaparan jika tidak
disusui?"
"Aku masih gadis suci bersih, cara bagaimana dapat
menyusui setan cilik ini?" omel Li Bok-chiu
Baru sekarang Nyo Ko tahu apa sebabnya muka orang
merah, dengan tersenyum ia menjawab: "Li supek, bukan
maksudku menyuruh engkau menyusui bocah ini, tapi:
kuminta engkau berusaha mencarikan susu baginya."
Li Bok-chiu menjaga diri dengan suci bersih dan tidak
pernah menikah, selama hidup berkecimpung di dunia
Kangouw, mengenai urusan merawat bayi segala sedikitpun ia
tidak paham.
la menjadi bingung, setelah berpikir sejenak, kemudian ia
tanya: "Mencari susu ke mana? Makan nasi saja, bagaimana?"
"Boleh kau periksa dia bergigi atau tidak?" katanya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Li Bok-chiu coba pentang mulut si orok yang mungil itu,
lalu menggeleng dan berkata: "Tidak ada, satu bijipun tidak
ada,"
"Hei, kita dapat mencari seorang perempuan yg sedang
menyusui anaknya di kampung sana, kita suruh perempuan itu
menyusui orok ini, bagus tidak"
Ya, kau memang cerdik dan banyak akal," kata Bok-chiu
dengan girang, ia coba memandang jauh ke sana dari tempat
tinggi, kelihatan di sebelah barat sana ada asap mengepul.
Segera mereka sama berlari ke sana, dalam waktu singkat
sampailah mereka di suatu kampung kecil.
Sudah lama peperangan melanda kota Siang-yang, maka
kota-kota kecil sekitarnya juga telah men-jadi korban api
peperangan itu dan setelah dihancurkan oleh keganasan
pasukan Mongol, hanya di tempat pegunungan yang sunyi ini
masih ada sedikit rumah penduduk.
"Dari rumah ke rumah Li Bok-chiu memeriksa dengan
teliti, sampai rumah petani ke empat barulah dilihatnya
seorang perempuan muda sedang menyusui anaknya yang
berumur setahunan.
Bok-chiu sangat girang, tanpa permisi ia tarik anak
perempuan muda itu dan dilemparkan ke atas dipan sana,
habis itu bayi yang dipondongnya ia lantas ditaruh pada
pangkuan perempuan itu sambil berkata: "Anak ini lapar, lekas
kau menyusui dia."
Anak kecil yang dilemparkan ke dipan itu terbanting cukup
keras, karena kesakitan seketika terdengarlah jerit tangis,
Adalah lazim seorang ibu sayang pada anaknya sendiri, lekaslekas
ia menggendong kembali anaknya itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Melihat bagian dada perempuan muda itu terbuka, cepat
Nyo Ko berpaling keluar rumah. Segera didengarnya bentakan
Li Bok chiu "Kusuruh kau menyusui anakku, apa kau tidak
dengar? Siapa suruh kau memondong anakmu sendiri?" -
Menyusul terdengar kebut menyabet, lalu terdengar suara
"Blang" sekali.
Nyo Ko terkejut dan menoleh, dilihatnya anak perempuan
petani itu telah dibanting oleh Li Bok -chiu di dekat kaki
tembok sana kepalanya berlumuran darah, entah mati atau
masih hidup.
Tentu saja tidak kepalang pedih hati si perempuan petani,
cepat ia menaruh anak Kwe Cing itu diatas dipan dan segera
menubruk maju untuk memondong anaknya sendiri sambil
menjerit dan menagis. Li Bok-chiu tambah gusar, ia angkat
kebutnya hendak menyabet kepala perempuan itu.
Syukur Nyo Ko sempat menangkis kebut itu dengan
pedangnya, dalam hati ia pikir Li Bok-chiu ini sungguh wanita
yang paling kejam dan se-wenang2. tapi dimulut ia berkata:
"Li-supek, kalau mau membinasakan dia, orang mati tak dapat
lagi menyusui."
"Persetan!" omel Bok-chiu dengan gusar, "Apa toh.
kulakukan adalah demi kebaikan anakmu, mengapa kau malah
ikut campur urusan tetek bengek."
Diam-diam Nyo Ko mendongkol sudah jelas bukan
anaknya, tapi Li Bok-chiu terus menerus mengatakan bayi itu
anaknya, Tapi kalau benar anaknya, mengapa dikatakan pula
Nyo Ko ikut campur urusan tetek bengek.
Tapi Nyo Ko tidak membantah, katanya dengan
tersenyum: "Anak ini sudah kelaparan, paling penting disusui
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dulu." - Berbareng ia terus hendak membopong bayi di atas
dipan itu.
Namun Li Bok-chiu telah mengadangnya dengan ancaman
kebut dan berseru: "Kau berani merebut anak itu?"
Terpaksa Nyo Ko melangkah mundur lagi dan berkata:
"Baik, takkan kupondong dia."
Li Bok-chiu sendiri lantas pondong bayi itu dan baru saja
akan disodorkan lagi kepada perempuan petani tadi, tapi
perempuan itu ternyata sudah menghilang entah ke mana.
Rupanya selagi mereka berdua bertengkar, perempuan itu
terus kabur melalui pintu belakang dengan membawa
puteranya yang terluka itu.
Dengan murka Li Bok-chiu menerjang keluar pintu,
dilihatnya perempuan tadi sedang lari kesetanan ke depan
sana dengan anaknya, sekali Li Bok-chiu menjengek, ia
melompat ke sana, kebutnya terus menyabet, tahu-tahu
perempuan petani brtsama anaknya sudah menggeletak tak
bernyawa dengan tulang kepala pecah berantakan.
Masih belum puas dengan itu, Li Bok-chiu terus
menyalakan api dan membakar rumah petani itu hingga habis
menjadi abu, habis itu barulah ia melangkah pergi..
Diam-diam Nyo Ko menyesali Li Bok-chiu yang teramat
kejam dan keji itu, ia terus mengintil di belakangnya. Kedua
orang sama-sama diam dan berjalan di ladang pegunungan,
sampai berpuluh li jauhnya, rupanya saking lelahnya bayi itu
telah terpulas dalam pondongan Li Bok-chiu.
Tengah berjalan, tiba-tiba Li Bok-chiu bersuara heran dan
berhenti, dilihatnya dua ekor anakan macan tutul sedang
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bersenda gurau di bawah sinar matahari, ia melangkah maju
dan baru hendak mendepak minggir kedua ekor macan tutul
kecil itu, sekonyong-konyong terdengar suara meraung dari
semak-semak di samping sana, seekor induk macan tutul yabg
besar menubruk tiba.
Biarpun tinggi ilmu silat Li Bok-chiu juga kaget melihat
betapa besarnya macan tutul itu, cepat ia melompat ke
samping untuk menghindar.
Macan tutul itu kelihatan sangat buas, sekali tubruk tidak
kena, segera ia memutar balik hendak mencakar, gerakannya
sangat gesit seperti jago silat saja, Segera Li Bok-chiu angkat
kebutnya dan menyabet, tapi mengenai batok kepala macan
tutul itu sehingga binatang itu marah dan semakin buas,
macan tutul itu mendekam di tanah dengan menyeringai
hingga kelihatan kedua baris giginya yang putih tajam, kedua
matanya terus mengincar mangsanya dan siap menerkam
pula.
Cepat Li Bok-chiu menyambitkan kedua buah jarum untuk
menyerang kedua mata harimau itu. Mendadak Nyo Ko
berseru: "Nanti dulu!" -Berbareng kedua jarum itu
disampuknya dengan pedangnya.
Pada saat itu juga macan tutul itu sudah melompat ke atas
dan menubruk tiba pula, Namun pada saat yang sama Nyo Ko
juga melompat keatas, lebih dulu ia sampok pula dua jarum
yang sementara itu disambitkan lagi oleh Li Bok-chiu.
Menyusul kepalan kanan dengan cepat menghantam pada
tulang punggung di dekat gitok macan itu.
Macan tutul itu mengaung kesakitan dan terjatuh, tapi
segera menubruk lagi ke arah Nyo Ko. Cepat anak muda itu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
mengegos sambil menghantamkan sebelah tangannya,
betapapun kuatnya binatang itu juga tidak tahan oleh
genjotan Nyo Ko dan jatuh terjungkal.
Li Bok-chiu menjadi heran mengapa dia menolong harimau
itu dari serangan jarumnya, sebaliknya sekarang anak muda
itu berkelahi dengan binatang itu.
Dilihatnya susul menyusul Nyo Ko memukul macan tutul
yang jatuh bangufn itu, hanya tempat yang dihantamnya itu
bukan tempat mematikan melainkan tempat yang membuat
binatang itu jatuh dan kesakitan melulu.
Suara macan tutul itu makin Iama makin perlahan, meski
tidak terluka, tapi sudah belasan kali ia dipukul oleh Nyo Ko
dan tidak tahan lagi segera ia melompat ke atas lereng bukit
Tapi Nyo Ko sudah menduga akan itu, segera ekor harimau itu
hendak ditariknya.
Tak terduga macan tutul itu mendadak mencawat ekornya
di sela-sela kaki sehingga tarikan Nyo Ko tidak kena pada
sasarannya.
Selagi Nyo Ko hendak mengejar, mendadak macan tutul
itu berpaling dan meraung seperti memanggil kedua ekor
anaknya agar ikut lari. Pikiran Nyo Ko tergerak cepat ia
pegang kuduk kedua anakan macan tutul dan diangkat tinggi
ke atas.
Tampaknya induk macan juga sayang kepada anaknya,
tanpa hiraukan keselamatan sendiri kembali macan tutul besar
itu menubruk ke arah Nyo Ko. Cepat Nyo Ko melempar kedua
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
anak harimau itu kepada Li Bok-chiu sambil berseru
"peganglah ini, jangan dimatikan!"
Berbareng itu ia terus meloncat ke atas, bahkan lebih
tinggi daripada macan tutul itu, ia incar dengan tepatnya,
jatuh ke bawah dengan persis dapat menunggangi punggung
macan tutul, kedua tangannya terus mencengkeram kencang
telinga binatang itu dan ditahan ke bawah sekuatnya.
Macan tutul itu meronta sekuatnya, namun seluruh
badannya sudah diatasi lawan, mulutnya yang terpentang
lebar juga ambles terbenam ke dalam tanah.
"Li-supek, lekas membuat tali dengan kulit pohon dan
mengikat keempat kakinya," seru Nyo Ko.
"Hm, aku tiada tempo ikut memain dengan kau," jengek Li
Bok-chiu, habis itu segera ia hendak melangkah pergi
Nyo Ko menjadi ribut, teriaknya pula: "Hei, memangnya
siapa mengajak kau main-main? Maksudku macan tutul ini
punya susu!"
Baru sekarang Li Bok-chiu paham maksud Nyo Ko, dengan
girang ia berkata: "He, betul, Hanya kau yang dapat
memikirkan hal ini." - Cepat mengambil belasan lempeng kulit
pohon dan dipelintir menjadi tali yang kuat, lebih dulu ia ikat
moncong macan tutul itu dengan kencang, habis itulah
meringkus keempat kakinya.
Dengan tersenyum barulah Nyo Ko melepaskan pegangan
pada harimau itu, ia berbangkit sambil kebut debu pasir di
tubuhnya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Harimau itu tidak dapat berkutik lagi, sinar matanya
memancarkan rasa takut. Nyo Ko meraba-raba kepalanya dan
berkata dengan tertawa: "jangan kuatir, jiwamu takkan kami
ganggu, kami cuma minta kau menjadi mak inang sementara."
Segera Li Bok-chiu mendekatkan mulut si bayi pada
punting susu harimau itu. Bayi itu sudah sangat kelaparan,
begitu punting susu harimau masuk mulutnya, sekuatnya ia
lantas menyedot
Air susu harimau tutul itu beberapa kali lipat lebih banyak
daripada air susu manusia, tidak berapa lama kenyanglah.bayi
itu dan terpulas pula dengan nyenyaknya.
Selama bayi itu menyusu hingga tertidur, selama itu pula
pandangan Nyo Ko dan Li Bok-chiu tak pernah meninggalkan
wajah si kecil yang molek itu, setelah menyaksikan bayi itu
kenyang menyusu dan terpulas, air mukanya yang lembut itu
tersenyum simpuI, hati kedua orang menjadi girang dab tanpa
terasa mereka saling pandang dan tertawa.
Saling tertawa ini banyak membawa kedamaian bagi
mereka, rasa waswas yang tadinya meliputi perasaan mereka
seketika lenyap sebagian, Dengan wajah yang penuh perasaan
lembut Li Bok-chiu memondong kembali bayi itu lambil bernyanyi2
kecil dengan suara pelahan.
Nyo Ko lantas mencari rumput yang lunak dan membuat
sebuah "kasur" kecil dibawah pohon katanya: "Rebahkan di
sini biar dia tidur lebih lelap.
"Sssst!" tiba-tiba Li Bok-chiu mendesis sambil memberi
tanda agar anak muda itu jangan berisik.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko melelet lidah dengan muka jenaka, Terlihat si bayi
telah tertidur dengan tenteram, bara sekarang ia dapat
menghela napas lega.
Sementara itu kedua ekor anakan macan tutul juga sedang
sibuk menyusu pada induknya, Suasana sekeliling aman
tenteram, angin meniup sepoi-sepoi manusia dan binatang
berdampingan dengan damai Setelah mengalami banyak
peristiwa selama beberapa hari ini, baru sekarang Nyo Ko
merasakan longgar.
Li Bok-chiu duduk menunggui anak bayi itu, kebutnya
mengebas pelahan mengusir lalat dan nyamuk yang
menghinggapi si kecil, Di bawah kebut ini entah sudah berapa
banyak melayang jiwa manusia, untuk pertama kalinya
sekarang kebut itu digunakan untuk yang baik dengan
perasaan kasih.
Nyo Ko melihat Li Bok-chiu terus memandangi si kecil
dengan terkesima, terkadang mengulum senyum, lain saat
tampak sedih, mendadak kelihatan terangsang, tapi segera
kelihatan tenteram lagi. Mungkin batin iblis perempuan ini
sedang bergolak dengan hebatnya dan teringat kepada
pengalamannya selama ini.
Memang Nyo Ko tidak jelas kisah hidup Li Bok-chiu, hanya
sekadarnya pernah didengarnya dari Thia Eng dan Liok Busiang,
bahwa tindak-tanduknya sangat keji dan benci kepada
sesamanya, tentu pernah ia pernah mengalami kedukaan yang
luar biasa. Selama ini Nyo Ko benci padanya, sekarang terasa
timbul juga rasa kasihan nya.
Selang agak lama, Li Bok-chiu angkat kepalanya, beradu
pandang dengan Nyo Ko, melihat air muka anak muda itu
tenang ramah, hati Li Bok-chiu rada tercengang, dengan suara
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
pelahan ia berkat "Hari hampir gelap, bagaimana baiknya
malam nanti?"
Nyo Ko memandang sekeliling situ. katanya kemudian:
"Kita juga tak dapat membawa "mak inang" raksasa ini dalam
perjalanan, sebaiknya kita mencari sebuah gua untuk
bermalam, segala persoalan kita tentukan saja besok."
Li Bok-chiu mengangguk setuju. Nyo Ko lantas memeriksa
sekitar tempat itu menemukan sebuah gua yang sekadarnya
cukup untuk berteduh, ia mengumpulkan sedikit rerumputan
dan dijereng menjadi dua kasuran besar dan kecil di dalam
gua itu lalu berkata: "Li-supek, silahkan mengaso dulu, aku
pergi mencari barang makanan."
Tidak lama kemudian Nyo Ko sudah kembali dengan
membawa tiga ekor kelinci dan belasan buah buahan. ia
melepaskan tali yang membelenggu moncong harimau tutul
itu dan memberinya makan seekor kelinci, lalu ia membuat api
unggun untuk memanggang kedua ekor kelinci yang lain dan
dimakan bersama dengan Li Bok-chiu.
"Li supek, silakan tidur saja, akan ku jaga di sini" kata Nyo
Ko kemudian. ia ambil seutas tali diikat pada dua batang
pohon, di atas tali itulah ia tidur secara terapung.
"Cara tidur Nyo Ko itu adalah latihan utama dari Kobongpay.
dengan sendirinya Li Bck-chiu tak merasa heran. Selama
ini selain terkadang dalam perjalanan bersama muridnya, Ang
Leng-po, biasanya Li Bok-chiu pergi datang sendirian,
sekarang Nyo Ko menemani dan melayani dia dengan baik dan
rapi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
lnilah berbeda rasanya daripada hidup sendirian di
pergunungan sunyi di masa lalu, tanpa terasa Li Bok-chiu
menghela napas gegetun.
Tertidur sampai tengah malang tiba-tiba Nyo Ko
mendengar suara burung berkicau di jurusan tenggara sana,
suaranya nyaring halus dan terasa sangat enak didengar. ."
Dia pasang telinga mendengarkan sejenak, ia tidak tahu
bunyi burung jenis apakah yang sedemikian merdunya. Karena
ingin tahu, pelahan ia melompat turun dari ranjang tali dan
merunduk ke arah datangnya suara burung itu.
Didengarnya suara burung itu terkadang meninggi dan
mendadak rendah, tempo cepat dan lain jadi lambat, mirip
sekali dengan orang yang sedang memainkan alat musiknya.
Mau tak mau timbul hasratnya untuk menangkap burung aneh
itu.
Begitulah ia terus menyusur maju ke sana, makin lama
makin menurun tempatnya, akhirnya ia sama di sebuah
lembah yang dalam, terdengar suara burung itu berada tidak
jauh di depannya, kuatir mengejutkan burung itu, ia berjalan
dengan pelahan dan langkahnya dibuat enteng, hati-hati sekali
ia menyingkap semak-semak dan melongok ke sana, tapi ia
menjadi kecewa, heran dan geli pula.
Kiranya burung yang berkicau dengan suara yang merdu
tadi, bentuknya justeru sangat jelek badannya tinggi besar,
malahan lebih tinggi satu kepala kalau berdiri berjajar dengan
Nyo Ko. Bulu di sekujur badannya jarang-jarang sehingga
mirip dicabut orang, warna bulunya kuning bercampur hitam
dan kelihaian kotor, tampangnya rada mirip dengan sepasang
rajawali piaraan Ui Yong di Tho-hoa-to itu, cuma kedua
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
rajawali itu sangat cakap, sebaliknya rajawali aneh ini jelek,
bedanya seperti langit dan bumi.
Malahan paruhnya besar membengkok, dibatok kepalanya
tumbuh sebuah gumpalan daging merah sehingga menyerupai
jengger, di antara beribu-ribu jenis burung di dunia ini,
rasanya tiada lagi yang lebih jelek rupanya dari pada burung
raksasa yang ini.
Rajawali jelek ini sedang melangkah kian kemari,
terkadang menjulurkan sayap, ternyata sayap juga ada
kelainan, sebelah kanan pendek sebelah kiri panjang, entah
cara bagaimana ini bisa terbang. Sikap Rajawali aneh ini
sangat angkuh, dengan bersitegang leher ia berjalan mondar
mandir.
Setelah berkicau sejenak, mendadak suaranya berubah,
dari halus merdu berubah menjadi galang menantang, tibatiba
di sela-sela sana ada suara mendesis.
Sejak kecil Nyo Ko ikut ibunya menangkap ular, maka
mendengar suara itu segera ia tahu ada tujuh atau delapan
ekor ular berbisa besar sedang menyusur tiba. Sudah tentu dia
tidak takut pada ular berbisa, tapi jumlah ular cukup banyak,
mau tak-mau ia harus berjaga-jaga.
Baru timbul rasa waswasnya, di bawah cahaya rembulan
kelihatanlah warna loreng2, delapan ekor ular berbisa
sekaligus menyambar ke arah si rajawali jelek tadi, tapi
rajawali itu telah pentang paruhnya yang bengkok itu, berturut-
urut ia mencocok delapan kali, kontan kedelapan ekor
ular m tercocok mati.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Betapa cepat dan jitu caranya memaruh luar biasa,
sekalipun jago silat kelas satu sebangsa Kwe Cing atau Kimlun
Hoat-ong juga tidak lebih dari itu.
Nyo Ko terkesima menyaksikan kesaktian rajawali jelek itu,
sekejap itu lenyaplah perasaan meremehkan dan
mentertawakan rajawali yang buruk rupa itu, sekarang timbul
perasaan kagum dan heran.
Sementara itu, rajawali aneh itu sedang melalap ular-ular
berbisa tadi satu demi satu, dari suaranya mengunyah itu
seakan-akan mulut burung itu bergigi saja.
Semakin heran Nyo Ko menyaksikan itu, ia pikir kalau
kejadian ini diceritakan pada orang lain, tentu orang takkan
percaya, Selagi ia terpesona oleh kesaktian rajawali yang aneh
itu, tiba-tiba hidungnya mengedus bau amis busuk, nyata ada
ular menyusur tiba pula.
Agaknya rajawali itupun tahu datangnya ular, dia berkaok
tiga kali se-akan sedang menarik perhatian. Mendadak
terdengar suara bergedebuk dari atas pohon di depan sana
menggelatung turun seekor ular sawa (Python) yang bulat
tengahnya sebesar mangkuk, kepalanya bentuk segi tiga,
begitu buka mulut, seketika segumpal kabut merah bisa
menyembur ke arah rajawali tadi.
Namun rajawali itu sama sekali tidak gentar, sebaliknya ia
malah memapak maju, mulutnya membuka, kabut berbisa tadi
dihirupnya semua ke dalam perut. Berulang tiga kali ular sawa
ini menyemburkan kabut racun, tapi seluruhnya dapat diisap
oleh rajawali jelek itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Rupanya ular sawa itu tahu gelagat jelek dan ada tanda
takut dan hendak mengerat mundur, namun rajawali itu cepat
sekali mematuk sehingga sebuah mata ular itu terpatuk buta.
Tampaknya leher rajawali itu cekak lagi kasar, gerakgeriknya
seperti kurang leluasa, tapi mulur mengkeretnya
ternyata secepat kilat sehingga Nyo Ko tidak sempat melihat
jelas cara bagaimana rajawali itu membutakan mata
lawannya.
Karena kehilangan sebuah matanya, ular sawa-kesakitan
sekali ia pentang mulut dan -"crat" jengger merah diatas
kepala rajawali itu terus dipatuknya. Kejadian yang tak
terduga ini ikut menjerit kaget.
Setelah menyerang berhasil, segera ular sawa itu
merambat ke bawah, tubuhnya melilit beberapa kali di badan
rajawali terus mengencang sekuatnya, tampaknya jiwa
rajawali itu pasti sukar dipertahankan.
Lantatan ibunya tewas oleh pagutan ular berbisa, maka
selama hidup Nyo Ko sangat benci pada ular, meski dia tidak
menaruh simpatik terhadap rajawali buruk rupa itu, tapi iapun
tidak ingin burung itu dicelakai ular jahat, cepat ia melompat
keluar, pedangnya terus membacok tubuh ular itu.
Terdengarlah suara "blang" yang nyaring pedang nya ternyata
terpental balik.
Berkah apa yang diperoleh Nyo Ko dalam menyaksikan
pertempuran ular dan rajawali ini?
Petaka apa pula yang akan menimpa Nyo Ko karena kenakalan
Kwe Hu?
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Bagaimana nasib putri Kwe Cing yang digondol Li Bok-chiu? "
(Bacalah jilid ke 35)
Jilid 35
Sungguh tak kepalang terkejut "Nyo Ko, Kun cu-kiam yang
diperolehnya dari tempat Kongsun Ci itu sangat tajam, sampai
roda perak Kim-lun Hoat ong juga terkupas sebagian,
betapapun buas dan ganasnya ular sawa ini juga terdiri dari
daging darah, mengapa Kun cu-kiam malah terpental.
Karena heran dan kejutnya, segera ia tambahi tenaga dan
berturut membacok lagi tiga kali, kemudian terdengar "trangtrang-
trang" tiga kali, suara nyaring beradunya logam, jelas
bukan suara penuh sisik ular.
Waktu Nyo Ko periksa pedangnya, ternyata mata
pedangnya ada tiga tempat gempilan kecil, bahwa badan ular
dapat membikin pedangnya mental sudah aneh, malahan
mata pedangnya gumpil, hal ini sungguh sukar dipercaya,
diantara mata pedangnya itu jelas ada noda darah ular, terang
ular sawa itu terluka oleh bacokannya
Sementara itu pergulatan antara ular dan rajawali sudah
mengalami perubahan keadaan, Ular sawa itu semakin
kencang melilit lawannya, sedangkan bulu rajawali itu tampak
menegak dan melakukan perlawanan sekuat tenaga.
Diam-diam Nyo Ko berkuatir bagi keselamatan rajawali itu,
kalau sebentar ular sawa itu membinasakan rajawali,
sasarannya selanjutnya tentu adalah dirinya, sedangkan badan
ular itu lebih keras dar| pedang, lalu cara bagaimana akan
melawannya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kalau melarikan diri sekarang jelas dapat lolos dengan
selamat, tapi dasar wataknya memang berbudi luhur dan
berjiwa pendekar, sekali ia sudah membacok ular sawa, ini
berarti dia sudah memihak pada si rajawali untuk menghadapi
musuh yang sama, kalau kabur sendirian, betapapun ia
merasa tindakan demikian terlalu rendah dan pengecut.
Segera ia mengerahkan segenap tenaganya, "trang",
kembali pedangnya membacok tubuh ular. Tapi mendadak
tangannya terasa enteng, Kun cu kiam itu tinggal setengah
saja yang terpegang di tangannya, badan ular juga lantas
menyemburkan darah merah segar, namun tubuhnya belum
tertabas putus.
Karena lukanya cukup parah, lilitan badan ular nampak
agak mengendur, kesempatan ini segera gunakan rajawali
sakti itu untuk memberosot keluar, waktu turun ke bawah
paruhnya yang bengkok itu secepat kilat mematuk sehingga
mata ular yang satunya juga terpatuk buta.
Ular itu pentang mulutnya yang lebar dan memagut kian
kemari secara ngawur, kini kedua matanya sudah buta, tentu
saja tidak dapat menggigit sasarannya.
Siapa tahu rajawali itu justeru sengaja menyodorkan
kepalanya dau membiarkan jengger merahnya digigit lagi oleh
ular.
Kembaii Nyo Ko terkesiap, tapi setelah dipikir segera ia
paham maksud tujuan si rajawali, tentunya jengger merah
burung itu adalah benda berbisa atau mungkin merupakan
bagian yang anti ular.
Kalau ular sawa itu tidak mempan ditabas senjata tajam,
jalan paliag baik adalah membinasakannya dengan racun.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Taring ular tampak menggigit jengger, gumpalan daging
kepala rajawali itu, tubuhnya lantas terus melingkar pula, tapi
sekali ini rajawali itu tidak membiarkan badahnya terbelit lagi.
cakarnya bekerja, ekor ular dicengkeram dan dibetot hingga
putus.
Sementara itu ular sawa sudah keracunan hebat,
mendadak badannya terguling dan melepaskan gumpalan
daging yang digigitnya itu. Meski rajawali itu tahu si ular
sudah dekat ajalnya, tapi dia tidak membiarkan lawannya
main gila lagi, kepala ular terus dicengkeram dan ditekan ke
dalam tanah.
Rajawali itu buruk rupa, tapi tenaga saktinya sungguh kuat
luar biasa, ular sawa itu tak bisa berkutik lagi dan tidak lama
kemudian matilah ular itu.
Si rajawali lantas mengangkat kepala dan berbunyi tiga
kali, habis itu ia berpaling kepada Nyo Ko dan berkicau dengan
suara halus. Dari suara burung itu Nyo Ko merasakan nada
persahabatan pelahan ia mendekatinya dan berkata: "Tiauheng
(kakak rajawali), tenaga saktimu sungguh mengejutkan
aku sangat kagum."
Entah burung itu paham ucapannya atau tidak, hanya
terdengar dia "berkicau" lagi beberapa kali, mendadak ia
melangkah maju dan mematuk setengah potong Kun-cu-kiam
yang dipegang Nyo Ko itu, tahu-tahu pedang itu sudah
direbutnya.
Padahal kepandaian Nyo Ko sekarang sudah tokoh kelas
satu, biarpun jago silat tertinggi juga tidak dapat merampas
senjatanya dalam sekali gebrak saja, akan tetapi sekarang
rajawali buruk rupa ini ternyata dapat menaklukannya dengan
cepat luar biasa...
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tentu saja Nyo Ko terkejut dan cepat melompat mundur,
ia bersiap siaga kalau itu burung menubruk maju Iagi. Tapi
dilihatnya rajawali itu telah membuang Kun-cu-kiam kutung itu
dengan sikap yang menghina.
Pahamlah Nyo Ko akan maksud rajawali itu, katanya:
"Aha, tahulah aku. Kau melarang aku mendekati kau dengan
bersenjata. padahal kita membunuh musuh bersama, mana
aku dapat membikin susah padamu."
Rajawali itu bersuara pelahan dan mendekati Nyo Ko
sambil menjulurkan sayapnya dan menepuk pelahan beberapa
kali di punggung anak muda itu.
Melihat burung itu sangat cerdik dan dapat memahami
ucapan manusia, Nyo Ko sangat girang iapun balas merabaraba
punggungnya.
Melihat bangkai ular sawa yang masih menggeletak di situ,
Nyo Ko menjadi heran apa sebabnya ular itu mampu
mematahkan Kun-cu-kiam, Segera ia memotong sepotong
ranting kayu, ia menusuk bangkai ular, rasanya lunak, tiada
sesuatu yang aneh.
Ketika kayu itu ia tusuk ke luka bekas bacokan pedang,
tiba-tiba terbentur pada sesuatu benda yang keras, sedangkan
bagian itu adalah perut dan bukan bagian tulang ular.
Nyo Ko bertekad mencari tahu sejelasnya, sekuatnya ia
tusukan kayunya, waktu ia tarik kembali ujung kayu itu
ternyata sudah terbelah menjadi dua, tampaknya di dalam
tubuh ular itu pasti ada sesuatu benda yang tajam.
Ia coba berjongkok dan mengamati lebih teliti, dilihatnya
di antara rembesan darah yang merah itu samar-samar
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
memancarkan kabut ungu yang tipis, jarak muka Nyo Ko
dengan bangkai ular cukup jauh, tapi merasakan semacam
hawa dingin yang aneh, semakin mendekat kepalanya ke
bangkai rasa dingin itu semakin keras.
Segera Nyo Ko menjemput kembali kutungan Kun-cu-kiam
tadi, ia mengupas kulit daging ular bagian yang terluka itu,
seketika hawa dingin tadi bertambah kuat. la terkejut
disangkanya ada benda berbisa yang sangat lihay, cepat ia
gunakan kutungan Kun-cu-kiam untuk membacok. "trang",
tahu-tahu pedang yang sudah kutung itu patah lagi menjadi
dua.
Sekarang Nyo Ko sudah dapat menduga duduknya
perkara, pasti di dalam tubuh ular itu terdapatsesuatu senjata
tajam. Segera ia gunakan pedang kutung untuk mengupas
kulit daging ular agar lebih bersih, akhirnya kelihatanlah
sebatang pedang panjang satu meter yang bercahaya ungu.
Dengan girang Nyo Ko menggunakan pedang, kutung
untuk mencungkil batang pedang ungu itu, mendadak "srrr,...
,cret", pedang ungu itu tercungkil mencelat dan menancap
pada batang pohon di sebelah sana hingga lebih setengah
batang pedang yang ambles. padahal cara mencungkil tadi
tidak terlalu keras, namun pedangnya itu dapat menancap ke
batang pohon seperti batang pisang saja empuknya, sungguh
senjata yang maha tajam dan belum pernah dilihat Nyo Ko.
Waktu Nyo Ko menyembelih ular dan mengambil pedang
ungu, selama itu si rajawali sakti juga terus mengawasi iapun
tertarik melihat pedang ungu yang luar biasa itu, sekonyongkonyong
ia menyerobot maju, gagang pedang digigitnya dan
dicabut jenis dibawa lari ke tebing gunung sana.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dalam semalam Nyo Ko telah berulang mengalami
peristiwa aneh, ia merasa rajawali buruk rupa itu tak dapat
diduga, segera ikut melompat turun ke bawah sana, Dilihatnya
tepi tebing sana ada sebuah sungai kecil, dengan menggigit
pedang ungu tadi, rajawali itu lantas rendam pedang itu dalam
air sungai, agaknya untuk mencucinya.
Diam-diam Nyo Ko mengangguk dan paham maksud si
rajawali, pedang itu sudah lama mengeram di dalam perut
ular berbisa. dengan sendirinya racun juga melekat pada
batang pedang itu.
Setelah sekian lamanya si rajawali mencuci pedang,
kemudian ia berpaling dan melemparkan pedang itu kepada
Nyo Ko. Pedang itu seakan-akan berbentuk selarik sinar ungu
menyambar ke arah Nyo Ko, tapi dengan cepat anak muda itu
dapat menangkap gagang pedang, katanya dengan tertawa
"Terima kasih atas kebaikan Tiau-heng." ia periksa, dilihatnya
gagang pedang itu tertulis dua huruf Hindu kuno: "Ci-wi" atau
mawar ui
Nyo Ko pegang pedang itu lurus ke depan menyendalnya
perlahan, seketika batang pedang bergetar dan mengeluarkan
suara mendengung, nyata batang pedang itu sangat lemas.
Barulah mengerti akan persoalannya. "Ah lantaran pedang
sangat lemas sehingga dapat mengikuti lenggak-lenggok
tubuh ular, makanya tidak sampai mencelakai dan menembus
perut ular meski mengeram sekian lamanya di dalam perut
ular itu.
la coba mengayun pedang ungu itu ke samping, sebatang
pohon yang cukup besar kontan tertabas putus, sedikitpun
tidak memerlukan tenaga.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Rajawali tadi bersuara pelahan beberapa kali pula dan
mendekati Nyo Ko, dengan paruhnya yang bengkok itu ia
tarik-tarik ujung baju Nyo Ko, lalu mendahului melangkah ke
sana.
Nyo Ko menduga perbuatan rajawali itu pasti mengandung
arti yang daiara, ia segera mengikuti dibelakangnya. Langkah
rajawali itu sangat cepat seperti kuda lari saja meski berjalan
di antara batu pegunungan dan semak belukar, Nyo Ko
keluarkan kemahiran Ginkangnya, tapi rasanya sukar
menyusulnya, syukur rajawali itu lantas menunggunya kalau
Nyo Ko ketinggalan jauh.
Makin lama tempat yang mereka tuju itu makin rendah
dan akhirnya sampai di suatu lembah gunung yang dalam,
Tidak lama kemudian sampailah mereka di sebuah gua besar,
Rajawali itumengangguk kepala tiga kali di depan gua dan
bersuara tiga kali, lalu menoleh, memandangi Nyo Ko.
Dari sikap rajawali itu Nyo Ko menduga, binatang itu
seperti sedang menjalankan penghormatan ke dalam gua, ia
pikir gua ini pasti didiami oleh orang kosen angkatan tua dan
rajawali ini tentunya adalah piaraannya, jika demikian aku
harus menurut adat istiadat.
Maka Nyo Ko lantas berlutut dan menyembah beberapa
kali di depan gua dan berkata: "Tecu Nyo Ko menyampaikan
salam hormat kepada cianpwe, agar sudi memaafkan
kedatanganku yang sembrono ini."
Selang sejenak, tiada terdengar sesuatu jawaban apapun,
Rajawali itu menarik lagi ujung bajunya terus melangkah ke
depan gua.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Keadaan dalam gua gelap gulita, entah betul dihuni oleh
orang kosen tokoh persilatan atau didiami oleh setan
gendruwo, meski hatinya kebat-kebit, tapi mati-hidup tidak
dipikirkan lagi, dengan menjinjing pedang pusaka "Ci-wi-kiam
yang ditemunya itu, ia terus mengintil di belakang si rajawali
sakti.
Sebenarnya gua itu sangat cetek, hanya beberapa langkah
sudah buntu. di dalam gua, selain sebuah meja dan sebuah
bangku batu tiada sesuatu benda lain Iagi.
Rajawali tadi berkaok tiga kali ke pojok gua sana, waktu
Nyo Ko memandangnya tertampak di sudut sana ada
segundukan batu yang menyerupai kuburan, ia pikir:
"Tampaknya ini adalah makam seorang kosen, cuma sayang
burung ini takdapat bicara sehingga sukar diketahui asal-usul
tokoh ini"
Ketika ia menengadah, tiba-tiba dilihatnya dinding gua
seperti ada tulisan, cuma lembab dan berlumut dinding itu,
pula gelap, maka tidak tertampak jelas, Segera Nyo Ko
membuat api dan menyalakan sebatang kayu kering, ia kesut
lumut dinding gua, benar di situ ada tiga baris huruf. Goresan
tulisan sangat halus, tapi melekuk dalam pada batu dinding,
tampaknya diukir dengan senjata yang sangat tajam, besar
kemungkinan diukir dengan Ci-wi-kiam ini.
Ketiga baris tulisan itu kira-kira berarti "Malang melintang
lebih 30 tahun di dunia Kangouw, membunuh habis semua
musuh, mengalahkan seluruh jago di dunia ini tidak
menemukan lawan lagi, maka bertirakat di lembah sunyi ini
memperisterikan dan berkawankan rajawali Oho, sungguh
sayang, selama hidup hanya mengharapkan seorang lawan
sama kuat pun sukar ditemukan, pada bawah ketiga baris
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
huruf itu disebut pula nama penulisnya, yakni: "Kiam-mo
Tokko Kiu-pay"
"Kiam-mo Tokko Kiu-pay", demikian Nyo Ko mengulangi
kata-kata ini beberapa kali, hatinya merasakan sesuatu yang
sukar dilukiskan, dari tulisan di dinding gua itu dapat ditarik
kesimpulan bahwa orang kosen itu lantaran tidak
mendapatkan tandingan karena jengkel lalu dia mengasingkan
diri dilembah sunyi ini, maka dapat dibayangkan betapa tinggi
ilmu silat orang ini tentu sukar diukur.
Bahwa orang kosen itu berjuluk Kiam-mo (iblis pedang),
dengan sendirinya ilmu pedangnya maha sakti, dia she Tokko
dan bernama Kiu-pay (minta dikalahkan), mungkin dia telah
menjelajahi seluruh jagat untuk mencari seorang yang mampu
mengalahkan dia dan cita2nya itu tidak pernah terkabul,
sebab itulah dia merasa masgul dan hidup menyendiri.
Membayangkan betapa hebat tokoh yang entah hidup di
jaman apa itu, tanpa terasa Nyo Ko sangat kagum.
Nyo Ko angkat obornya dan memeriksa pula keadaan
dalam gua, namun tidak ditemukan lagi sesuatu bekas lain,
diatas makam itupun tidak ada tanda-tanda lain pula, Ia
menduga mungkin setelah tokoh kosen itu meninggal lalu
rajawali sakti inilah yang menguruki jenasahnya dengan batu.
Mengenai pedang pusaka "mawar ungu" bisa tertelan ke perut
ular sawa itu, karena rajawali sakti ini tidak dapat bicara,
tampaknya teka-teki ini ta kkan terungkap selamanya.
Begitulah Nyo Ko termenung-menung sejenak di situ,
kemudian ia padamkan api obor, dalam kegelapan pedang
pusaka yang dipegangnya itu memancarkan canana ungu
yang remang-remang, teringat olehnya pedang ini pernah
digunakan orang kosen Tokko Kiu-pay malang melintang di
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
dunia persilatan tanpa terkalahkan, dan sekarang pedang
pusaka ini jatuh ke tangannya, maka ia lantas berlutut dan
menyembah lagi beberapa kali di depan makam batu tadi.
Melihat Nyo Ko sangat menghormati makam batu itu,
rupanya rajawali sakti sangat senang, kembali ia menjulurkan
sayapnya menepuk pundak anak muda itu.
Nyo Ko menjadi teringat tulisan tadi, dimasa Tokko Kiupay
menyebut si rajawali sakti ini sebagai kawannya, jadi
rajawali ini meski binatang kan terhitung angkatan tua pula,
kalau kusebut dia Tiau-heng" (kakak rajawali) rasanya juga
tak berlebihan.
BegituIah ia lantas berkata kepada burung itu: "Tiau-heng,
tanpa sengaja kita bertemuu, agaknya memang ada jodoh
antara kita, sekarang kumohon diri untuk pergi. Engkau ingin
mendampingi makam Tokko-locianpwe di sini atau hendak
berangkat saja bersamaku?"
Rajawali itu berbunyi beberapa kali sebagai jawaban.
Sudah tentu Nyo Ko tidak paham artinya, yang jelas burung
itu tetap berdiam saja di samping makam, maka Nyo Ko
menarik kesimpulan rajawali itu merasa berat untuk
meninggalkan kediaman yang sudah ratusan tahun dihuninya
ini.
Segera ia merangkul leher rajawali itu dan ber-mesra2an
sekian lama dengan dia barulah tinggal pergi.
Selama hidup Nyo Ko tiada mempunyai seorang sahabat
karib kecuali saling cinta dengan Siau-liong-li, sekarang
bertemu dengan rajawali sakti ini secara kebetulan, walaupun
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
manusia dan binatang, tapi entah mengapa, rasanya sangat
cocok sekali, sekeluarnya dari gua itu, terasa berat untuk
meninggalkannya, maka setiap melangkah beberapa tindak ia
lantas menoleh.
Akhirniya setiap kali ia menoleh, selalu si rajawali sakit
berbunyi satu kali sebagai tanggapan menolehnya itu, meski
jaraknya sudah semakin jauh, tapi rajawali itu dapat melihat
dengan jelas dalam kegelapan dan selalu menjawab dengan
berbunyi satu kali bila Nyo Ko menoleh.
Sungguh hati Nyo Ko sangat terharu, mendadak ia
berseru: "O, Tiau-heng, jiwaku sudah tidak lama lagi, nanti
kalau urusan puteri Kwe - pepeh sudah selesai dan setelah
kumohon diri pada Kokoh? segera kudatang ke sini, rasanya
tidak sia-sia hidupku ini apabila aku dapat terkubur di samping
Tokko locianpwe."
Habis berkata ia memasukkan Ci-wi-kiam ke dalam sarung
Kun-cu-kiam, lalu melangkah pergi dengan cepat
Sambil berjalan, dalam hati Nyo Ko terus merenungkan
pengalaman aneh tadi, terpikir pula olehnya Kun-cu-kiam dan
Siok-li-kiam yang dimilikinya bersama Siao-liong-li itu,
sepasang pedang ini sebenarnya memberi ramalan yang baik,
siapa tahu Kun-cu-kiam akhirnya patah, tampaknya dirinya
memang sudah ditakdirkan tak dapat hidup bersama Siaoliong-
Ii sampai hari tua, berpikir sampai di sini ia berduka dan
tanpa terasa mencucurkan air mata.
Tengah berjalan, mendadak dari sebelah kanan
menyambar tiba sesuatu senjata warna hitam, menyusul dari
sebelah kiri juga ada orang menyergapnya. Saat itu pikiran
Nyo Ko sedang bergolak dan sama sekali tidak menduga akan
diserang oleh musuh dilembah sunyi begini.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Apalagi serangan dari kanan kiri ini juga sangat cepat,
dapat menghindarkan yang kiri tentu sukar mengelakkan yang
kanan.
Dalam keadaan kepepet Nyo Ko juga tidak sempat melolos
pedang, sepat ia meloncat setinggi nya, ia menduga musuh
pasti akan melancarkan serangan susulan waktu ia turun ke
bawah, maka selagi terapung di atas, sekaligus ia cabut Ci- wikiam
dan diputar dengan kencang untuk menjaga diri, dengan
begitulah ia turun ke bawah.
Akan tetapi sebelum dia melabrak lawannya, sekonyongkonyong
sesosok bayangan menubruk tiba dari belakang,
ternyata si rajawali sakti itu. Dengan cepat rajawali itu
menubruk ke semak-semak di sebelah kanan, sekali patuk
segera seekor ular tergigit olehnya terus dilemparkan ke
tanah, menyusul ia lantas menubruk pula ke sebelah kiri,
tertampak sinar emas berkelebat, sebuah roda emas
menghantamnya rajawali itu bermaksud mematuk roda itu
untuk merampasnya, tapi tidak berhasil, sedikit berputar
segera paruhnya mematuk lagi. .
Dari semak-semak pohon situ lantas melompat keluar
seorang dengan sepasang rodanya, kiranya Kim-lun Hoat-ong
adanya.
Kuatir rajawali itu dicelakai Hoat-ong yang lihay, cepat Nyo
Ko berseru: "Silahkan mundur, Tiau-heng, biar aku yang
melayani dia."
Namun sayap kiii si rajawali mendadak membentang ke
belakang untuk mencegah Nyo Ko, sedangkan sayap kanan
terus menyampuk ke depan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Serangkum angin keras terus menyamber ke muka Hoatong,
luar biasa tenaga sabetan sayap itu, biarpun jago silat
kelas satu juga tidak sekuat itu.
Kiranya Hoat-ong dan Nimo Singh bergumul dan
terjerumus ke jurang, untung ditepi jurang ada sebatang
pohon besar, pada detik berbahaya itu Hoat-ong sempat
menggunakan sebelah tangannya untuk merangkul batang
pohon.
Saat itu Nimo Singh sudah dalam keadaan setengah sadar,
namun dia masih tetap merangkul tubuh Hoat-ong dengan
mati-matian, setelah Hoat-ong mengawasi keadaan
sekitarnya, kemudian ia lepaskan rangkulannya pada batang
pohon sambil kakinya memancal, dengan tepat kedua orang
jatuh pada onggokan semak-semak rumput yang lebat terus
menggelinding ke bawah mengikuti tebing yang miring itu.
Belasan meter jauhnya mereka ber guling dan baru
berhenti setelah sampai di dasar lembah yang dalam itu.
Tentu saja sekujur badan mereka babak belur oleh duri dan
batu kerikil.
Segera Hoat-ong menggunakan Kim-na-jiu-hoat untuk
menelikung tangan Nimo Singh sambil membentak "Lepaskan
tidak?"
Dalam keadaan setengah sadar Nimo Singh merasa tidak
bertenaga lagi untuk melawan, terpaksa ia lepaskan sebelah
tangan dan tangan lain masih mencengkeram punggung
orang.
"Hm, kedua kakimu sendiri keracunan hebat dan tidak
lekas berusaha menolongnya masih main gila apa kau?"
jengek Hoat-ong.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ucapan ini seperti kemplangan diatas kepala Nimo Singh,
cepat ia menunduk, tertampak kedua kaki sendiri sudah
membengkak besar dua kali lipat daripada biasanya, ia tahu
bila tidak lekas ditolong sebentar lagi kalau racun menjalar
keatas tentu jiwanya melayang, ia menjadi nekat, ia melolos
ular baja yang terselip di tali pinggang, sambil menggertak
gigi ia bacok putus kedua kakinya itu sebatas lutut Seketika
darah segar memuncrat, kontan iapun semaput.
Melihat betapa tegas dan perkasanya Nimo Singh, mautak-
mau Hoat-ong merasa kagum juga. Mengingat orang
sudah cacat kedua kaki dan tidak bakalan bersaing lagi
dengan dirinya, segerat Hoat - ong menutup beberapa Hiat-to
di kaki Nimo Smgh untuk menghentikan cucuran darahnya,
habis itu ia mengeluarkan pula obat dibubuhkan pada lukanya
serta membalutnya dengan robekan kain baju Nimo Singh.
Pada umumnya Busu (jago silat, Bushu kata orang
Jepang) di negeri Thian-tiok mengalami gemblengan fisik yang
hebat, rata2 pernah berlatih tidur di atas papan berpaku atau
berpisau dan jenis2 ilmu yang menyakitkan lainnya.
Nimo Singh juga ahli dalam ilmu2 itu, maka begitu
darahnya mampet, segera ia sanggup bangkit berduduk dan
berkata kepada Hoat-ong. "Baiklah, kau telah menolong aku
segala sengketa kita yang sudah lalu tak perlu di-ungkat lagi."
Hoat-ong tersenyum getir, dalam hati ia merasa keadaan
sendiri malahan lebih buruk daripada Nimo Singh yang sudah
buntung itu, meski buntung, tapi Nimo Singh sudah bebas dari
keracunan. Maka Hoat-ong lantas duduk bersila dan
mengerahkan tenaga dalam untuk mendesak keluar hawa
beracun di telapak kakinya itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Lebih satu jam barulah beberapa tetes air hitam dapat
ditolak keluar, itupun sudah membuatnya jantung berdebar
dan napas terengah.
Seharian itu mereka lantas istirahat di dasar-lembah itu.
Tak terduga menjelang tengah malam. tiba-tiba terdengar
suara tindakan orang mendatang dari kejauhan. Cepat Hoatong
gusur tubuh Nimo Singh ke dalam semak-semak, ia
sendiri lantas sembunyi di balik pohon.
Sesudah dekat, dikenalinya pendatang itu adalah Nyo Ko,
anak muda itu mengintil di belakang seekor burung raksasa
aneh, sekejap saja sudah lewat ke sana.
Mengingat racun dalam tubuhnya seketika sukar
dibersihkan, timbul pikiran Hoat-ong hendak merobohkan Nyo
Ko untuk merampas obat penawarnya, Sebab itulah mereka
lantas sembunyi di situ begitu Nyo Ko kembali lagj, segera
mereka menyergapnya. Untung kedua orang itu habis terluka
dan banyak berkurang tenaganya, kalau tidak pasti Nyo Ko
bisa celaka.
Begitulah sesudah Nyo Ko terhindar dari sergapan,
dilihatnya si rajawali sakti pedang melabrak Hoat-ong dengan
sengit, caranya menubruk dan menyabet dengan sayapnya
serta caranya mengelak seluruhnya bergaya dan beraturan,
tentunya burung ini sudah lama mengikuti orang kosen yang
tak terkalahkan sebagai Tokko Kiu-pay, maka sudah apal
sekali semua jurus ilmu silat sehingga tokoh semacam Hoatong
juga cuma bertempur sama kuatnya saja melawan
rajawali.
Makin lama Hoat-ong makin heran dan kuatir Nyo Ko
berdiri di samping dengan pedang terhunus, kalau anak muda
itu ikut mengerubutnya pasi dirinya bisa celaka, iapun heran
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
darimana datangnya burung raksasa, kalau saja majikannya
juga muncul maka tamatlah riwayatnya hari ini.
Berpikir sampai di sini, mendadak kedua roda-nya
menyilang di depan dada untuk menahan patokan si rajawali,
habis itu cepat ia melompat mundur sambil berseru: "Bocah
she Nyo, darimanakah kau mendatangkan makhluk ini?"
Sebelah tangan Nyo Ko merangkul leher rajawali dengan
mesra, lalu menjawab: "Ini adalah sahabat karibku, kakak Sintiau
(rajawali sakti), Hendaknya jangan kau bikin marah dia.
kalau dia terbang dan menubruk dari atas, sekali patuk tentu
kepalamu akan berlubang besar."
Hoat-ong percaya ucapan Nyo Ko itu, berdiri saja sudah
begitu tinggi rajawali itu, apalagi kalau terbang ke atas, cara
bagaimana melawannya nanti? Karena itu ia cuma berdiri saja
dan bungkam.
Terdengar Nyo Ko berkata pula: "Tiau-heng, engkau
mengantar aku ke sini, kawanan penjahat ini menjadi
ketakutan melihat kesaktianmu, rasanya tiada aral melintang
lagi di depan sana, bolehlah kita berpisah di sini saja."
Sin-tiau itu memandang sekejap ke arah Hoat-ong dan
Nimo Singh, habis itu cuma diam saja.
"Baiklah, jika engkau suka boleh awasi kedua orang ini,
aku mohon diri buat berangkat lebih dulu:" kata Nyo Ko sambil
memberi hormat dan melangkah pergi.
Karena kuatirkan bayi puteri Kwe Cing itu, maka ia berlari
secepatnya ke gua itu, baru sampai di mulut gua sudah
terdengar suara Li Bok-chiu menegurnya: "Ke mana kau sejak
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tadi? Di sini ada setan gentayangan yang terus menerus
menangis saja, sungguh mengganggu dan menjemukan."
"Mana ada setan?" ujar Nyo Ko. Belum lenyap suaranya,
tiba-tiba dari jauh berkumandang suara orang-menangis
keras, Keruan ia terkejut, ia pikir masakah di dunia ini benarbenar
adalah setan segala?
Suara tangisan yang tadi kedengaran sangat jauh itu,
dalam sekejap saja sudah mendekat, rasanya cuma beberapa
puluh meter saja di luar gua sana.
Segera Nyo Ko melolos pedang Ci-wi-kiam dan mendesis
pada Li Bok-chiu: "Kau jaga anak itu, biar kubereskan dia, Lisupek."
Serentak Li Bok-chtu merasakan hawa dingin dilihatnya
sinar ungu yang samar-samar dalam kegelapan, jelas senjata
yang dipegang Nyo Ko adalah sebuah pedang mestika,
Dengan heran ia tanya.
"Darimana kau mendapat pedang ini?"
Belum lagi Nyo Ko menjawab, tiba-tiba terdengar orang di
luar gua itu sedang berteriak dan menangis. "Oh, buruk amat
nasibku ini isteriku dibunuh orang, kedua putraku hendak
saling bunuh membunuh pula."
Mendengar itu, legalah hati Nyo Ko, jelas itulah suara
manusia dan sama sekali bukan setan segala. ia coba
melongok keluar, di bawah cahaya bintang yang remangremang
kelihatan seorang lelaki tinggi besar dengan rambut
semerawut, pakaiannya robek dan compang camping, tangan
menutupi muka sambil menangis dan ber-putar-putar dengan
cepat di situ, bagaimana wajahnya tak terlihat jelas.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Huh, rupanya seorang gila, lekas usir dia agar tidak
mengganggu tidur anak ini," jengek Li Bok-chiu.
Sementara itu lelaki tadi sedang menangis dan
sesambatan pula: "di dunia ini aku cuma mempunyai dua anak
ini, tapi mereka justeru hendak saling membunuh, lalu apa
artinya hidupku ini?"
Sambil berkata ia terus menangis tergerung-gerung
dengan sedihnya.
Hati Nyo Ko tergerak, ia pikir mungkin inilah dia? Segera ia
memasukkan pedang kesarungnya: "Apakah di situ Bulocianpwe
adanya...?"
Orang itu menangis di ladang sunyi, soalnya karena
hatinya teramat berduka, tak diduganya di lereng pegunungan
ini ada orang lain, segera berhenti menangis balas menegur
dengan suara bengis: "Siapa kau? Apa yang kau lakukan
secara sembunyi2 di sini?"
Nyo Ko memberi hormat dan menjawab: "Cayhe bernama
Nyo Ko, apakah cianpwe she Bu dan bernama Sam-thong?"
Orang ini memang betul adalah Bu Sam thong, dahulu dia
dilukai Li Bok-chiu dengan jarum berbisa dan jatuh kelengar,
waktu siuman kembali, dilihatnya Bu Sam-nio, isterinya sendiri
sedang mengisap darah beracun dari lukanya itu, ia terkejut
dan berseru mencegah sambil mendorong sang isteri.
Akan tetapi sudah terlambat, air muka sang isteri kelihatan
hitam membiru. Nyata Bu Sam-nio telah mengorbankan diri
sendiri demi untuk menyelamatkan sang suami, ia tahu
ajalnya sudah dekat, sambil mengelus kepala kedua puteranya
ia menyatakan penyesalannya yang tidak dapat
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
membahagiakan suami sejak mereka menikah, sebab sang si
suami mencintai perempuan lain. Namun apa daya, nasi sudah
menjadi bubur, harapannya sekarang hanya memohon sang
suami suka jadi manusia berguna bagi negara dan bangsa
serta hidup rukun selamanya.
Habis meninggalkan pesan itu Bu Sam-nio lantas
menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Karena kematian isterinya itu, saking berdukanya penyakit
Bu Sam-thong kembali kumat, melihat kedua puteranya
mendekap diatas mayat ibunya dan sedang menangis sedih,
pikiran Bu Sam-thong serasa kosong, apapun tidak tahu lagi
dan segera pergi tanpa arah tujuan.
Begitulah ia terus luntang lantung selama beberapa tahun
di dunia Kangouw dalam keadaan tidak waras, It-teng Taysu
mendapat berita itu dan mengirim anak muridnya untuk
menjemput Bu Sam-thong ke Tayli, disitulah Bu Sam-thong
akhirnya dapat disembuhkan.
Kemudian Bu Sam-thong mendapat kabar pula dari Cu Culiu
yang menghadiri pertemuan besar para ksatria, bahwa
kedua puteranya itu kini sudah dewasa serta sudah diajari Ityang-
ci oleh Cu Cu-liu.
Tentu saja Bu Sam-thong sangat girang dan terkenang
kepada putera-puteranya, ia lantas mohon diri pada sang guru
dan berangkat ke Siangyang untuk menjenguk anak-anaknya.
Setiba Bu Sam-thong di Siangyang, kebetulan Kim lun
Hoat-ong habis mengacau di kota itu, Kwe Cing terluka dan Ui
Yong baru melahirkan, setelah menemui Cu Cu-liu dan Kwe
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Hu, Bu Sam-thong mendapat keterangan bahwa kedua
puteranya itu telah minggat untuk saling berkelahi.
Tentu saja Sam-thong sangat berduka dan teringat kepada
pesan sang isteri, cepat ia memburu keluar kota untuk
mencari Bu Siu-bun dan Bu Tun-si.
Akhirnya Bu Sam-thong dapat menemukan kedua
puteranya disuatu kelenteng rusak. Sudah tentu kedua
saudara Bu sangat gembira dapat bertemu kembali dengan
sang ayah. Tapi ketika persoalan Kwe Hu dibicarakan, kedua
bersaudara itu tidak mau mengalah.
Meski didamperat atau dibujuk dengan halus oleh sang
ayah agar kedua pemuda itu jangan memikirkan Kwe Hu lagi,
namun sukar terlaksana gagasan demikian. Di depan sang
ayah memang kedua saudara Bu tidak berani bermusuhan,
tapi dibelakang ayahnya mereka lantas ribut.
Malamnya kedua saudara itu berjanji akan mengadakan
pertarungan menentukan di tempat sepi.
Bu Sam-thong sangat mendongkol dan berduka setelah
mencuri dengar pembicaraan kedua anaknya serta mendahului
mendatangi tempat yang telah ditentukan kedua anak muda
itu dengan maksud mencegah pertarungan mereka. Semakin
dipikir semakin berduka hatinya hingga akhirnya Bu Sam
thong menangis sesambatan di ladang pegunungan yang
sunyi itu.
Bu Sam-thong belum pernah kenal Nyo Ko, dalam keadaan
sedih, tanpa terasa ia menjadi gusar karena merasa
terganggu, segera ia membentak "Siapa kau? Darimana kau
kenal namaku?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Paman Bu," jawab Nyo Ko, "Siautit (keponakan) pernah
mondok di tempat Kwe-tayhiap di Thoa-ho-to bersama kedua
saudara Tun-si dan Siu-bun waktu kami sama-sama kecil.
Selama ini nama paman sudah kukenal dan kukagumi."
Bu Sam-thong mengangguk. "Dau apa yang kau lakukan di
sini? Aha, tentu kau hendak menjadi wasit dalam pertandingan
Siubun dan Tun si ini. Hm, kau mengaku sahabat mereka,
mengapa kau tidak berusaha melerai, sebaliknya malah
mendorong dan ingin melihat keramaian, macam sahabat apa
kau ini?"
Makin bicara makin bengis, segenap rasa gusarnya
seakan-akan hendak di-lampiaskan atas diri Nyo Ko, maka
sambil mendamprat terus melangkah maju dan angkat telapak
tangan.
Melihat berewok orang seakan-akan menegak, sikapnya
garang, Nyo Ko pikir sebagai murid It-teng Taysii, tentu ilmu
silat orang sangat tinggi, kenapa mesti bergebrak dengan dia
tanpa sebab. Karena itu ia lantas menyurut mundur dan
berkata: "Sesungguhnya siautit tidak tahu kedua saudara Bu
hendak bertanding di sini, harap paman jangan salah paham
padaku."
"Omong kosong!" bentak Bu Sam-thong. "Kalau kau tidak
tahu, mengapa kau berada di sini? Dunia sebesar ini, kenapa
kau justeru berada di lembah sunyi ini?"
Diam-diam Nyo Ko mendongkol, ia pikir orang ini benarbenar
gila dan sukar diajak bicara, apalagi pertemuan-nya di
tempat sunyi ini memang betul jaga sangat kebetulan, karena
itu ia menjadi serba susah untuk menjawab.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Melihat orang ragu-ragu dan diam saja, Bu Sam-thong
menganggap bocah ini pasti bukan orang baik-baik, dasar
otaknya pernah terganggu, pula, sudah pernah patah hati,
maka setiap kali melihat pemuda cakap tentu timbul rasa
jemunya. Apalagi dia sedang gemas dan tak terlampiaskan,
tanpa bicara lagi segera menabok ke pundak Nyo Ko.
Namun Nyo Ko sempat mengegos sehingga serangan
tangan Bu Sam-thong itu mengenai tempat kosong" Cepat Bu
Sam-thong tarik tangannya terus menyikut.
Nyo Ko tidak berani ayal, melihat serangan orang yang
keras itu, cepat ia menggeser ke samping untuk menghindar
lagi.
"Hebat juga Ginkangmu," seru Bu Sam-thong "Hayolah
lekas keluarkan pedangmu!"
Pada saat itulah tiba-tiba bayi di dalam gua terjaga
bangun dan menangis pula, pikiran Nyo Ko tergerak ia tahu Bu
Sam-thong sangat benci kepada Li Bok chiu yang telah
membunuh isterinya, kalau kepergok pasti akan bergebrak
mati-matian. sedangkan kedua orang sama-sama lihaynya,
sekali mulai bertarung pasti tidak kenal ampun lagi, bisa jadi si
bayi akan keserempet bahaya.
Karena itu Nyo Ko lantas berkata dengan tertawa: "Paman
Bu, siautit mana berani bergebrak dengan engkau? Tapi kalau
engkau tetap menyangsikan pribadiku, akupun tidak berdaya,
Begini, asal kubiarkan engkau menyerang tiga kali dan Siautit
pasti takkan balas menyerang, jika engkau tidak berhasil
membinasakan aku, maukah engkau segera pergi dari sini"
Bu Sam-thong menjadi marah, bentaknya: "Anak setan,
temberang benar kau ini, tadi aku sengaja menahan diri dan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tidak menyerang sungguh-sungguh, lalu kau berani
memandang enteng padaku?" Mendadak jari telunjuk kanan
menutuk ke depan, ia telah mengeluarkan ilmu jari sakti It -
yang - ci ajaran It-teng Taysu.
Diam-diam Nyo Ko prihatin, tertampak jari orang bergerak
pelahan, tapi Hiat-to setengah badan sendiri seakan-akan
terkurung oleh jarinya ini, bahkan sukar diketahui Hiat-to
mana yang akan diarah jari orang, justeru tidak diketahui arah
serangan lawan, terpaksa janji "takkan balas menyerang44
tidak dapat ditepati lagi, Dalam keadaan tiada jalan lain, cepat
Nyo-Ko menyelentik dengan kedua jarinya, inilah Sian-ci-sinthong"
(selentikan jari sakti) ajaran Ui Yok-su.
Sian-ci-sin-thong dan lt-yang-ci sama-sama terkenal
selama berpuluh tahun ini dan masing-masing mempunyai
keunggulannya sendiri. Tapi latihan Nyo Ko masih cetek,
dengan sendirinya sukar menandingi latihan Bu Sam-thong
yang sudah berpuluh tahun lamanya itu.
Maka begitu jari kedua orang saling bentrok, seketika
lengan kanan Nyo Ko tergetar, sekujur badan terasa panas
dan terdesak mundur beberapa tindak barulah dapat berdiri
tegak kembali.
Bu Sam-thong bersuara heran, katanya: "Eh, tampaknya
kau memang pernah berdiam di Tho-hoa-to." Dan karena
merasa segan terhadap Ui Yoksu, pula merasa sayang
terhadap Nyo Ko yang masih muda tapi sudah mampu
menandinginya, maka ketika serangan kedua kalinya ia lantas
memperingatkan lebih dulu: "Awas tutukan kedua ini, kalau
tidak mampu menangkis janganlah menangkis agar tidak
rusak badanmu, aku takkan mencelakai jiwamu."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Habis berkata ia terus menubruk maju dan jarinya kembali
menutuk pula, sekali ini yang di arah adalah perut Nyo Ko
yang meliputi berbagai Hiat-to di bagian itu.
Nyo Ko merasa tidak sanggup menahan lagi dengan Sianci-
sin-thong apabila jarinya tidak mau dipatahkan, dalam
keadaan kepepet, tiba-tiba ia tarik pedang Ci-wi-kiam dan
dibuat tameng di depan perutnya.
Batang pedang Ci-wi-kiam cuma beberapa senti lebarnya,
namun berhawa dingin dan berbatang lemas, sedikit tergetar
saja, sudah memancarkan cahaya ungu. Ketika jari Bu Samthong
mendekat dan merasakan ketajaman pedang itu, cepat
ia menarik kembali jarinya.
Hanya terkejut sebentar saja, menyusul tutukan ketiga
kalinya dilontarkan lagi oleh Bu Sam-thong, sekali ini secepat
kilat mengarah batok kepala di tengah alis Nyo Ko, ia
menduga betapa hebat pedangnya, juga tidak sempat
diangkat untuk membela diri.
Tak terduga, sekilas timbul akal aneh dalani benak Nyo Ko,
mendadak ia memutar Ci-wi-kiam ke atas, bukannya untuk
menangkis, sebaliknya ujung pedang diacungkan ke dada
sendiri terus di-tusukkannya.
Gerakan ini sangat berbahaya, Bu Sam-thong terkejut,
cepat tutukan jarinya itu diurungkan dan tangannya
menyamber ke bawah dengan maksud merebut pedang Nyo
Ko untuk menyelamatkan jiwanya.
Ternyata gerakan menusuk dada sendiri ini adalah tipuan
Nyo Ko belaka, ketika ujung pedang menyentuh bajunya,
segera ia tarik ke bawah dan segera diputar pula untuk
melindungi seluruh tubuh nya, betapapun cepat gerakan Bu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sam-thong ini tetap terlambat sedetik sehingga tangannya
hampir saja tertabas oleh pedang pusaka Nyo Ko itu.
Sekarang Nyo Ko benar-benar telah mengalah tiga kali
serangan tanpa balas menyerang, ia mulai mengeluarkan ilmu
pedangnya, seketika Bu Sam thong merasa terkurung oleh
hawa dingin yang tak tertahankan meski lihay It-yang-ci juga
tidak dapat menghadapi pedang- mestika Nyo Ko ini.
Setelah melengak dan merasa kewalahan, Bu Sam-thong
melompat mundur, dengan lesu ia berkata: "Hai, benar-benar
ksatria timbul dari kaum muda, tua bangka macamku sudah
tak berguna lagi."
Nyo Ko merasa rikuh karena telah mengibul orang tua itu,
cepat ia simpan kembali pedangnya, katanya sambil memberi
hormat: "Kalau paman tidak bermaksud baik merampas
pedang untuk menyelamatkan jiwaku, tentu siautit sukar
menghindari tutukan ketiga kalinya tadi."
Hati Bu Sam thong rada terhibur karena Nyo Ko
membeberkan sendiri tipu akalnya tadi, katanya gegetun:
"Dahulu Ui Yong telah mengalahkan aku dengan akalnya,
sekarang aku dikalahkan pula olehmu, ya orang kasar macam
kami ini, memang bukan tandingan kaum muda yang cerdik
pandai..."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari jauh ada suara
orang mendatangi jelas yang datang ada dua orang. Cepat
Nyo Ko menarik Bu Sam thong sembunyi di balik semaksemak
pohon sana. Sesudah dekat, nyata kedua pendatang itu
memang betul Bu Tun-si dan Bu Siu-bun.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Siu-bun berhenti dulu di sini dan memandang sekitarnya,
lalu berkata: "Toako, tempat ini cukup lapang, boleh di sini
saja,"
"Baik," jawaban Tun-si. Dia tidak suka banyak bicara, sret,
segera pedang diIolosnya.
sebaliknya Siu-bun tidak lantas mencabut pe-dangnya,
katanya pula: "Toako, pertarungan ini andaikan aku kalah dan
kau tidak mau membunuh aku, apapun juga adikmu ini juga
tak ingin hidup lagi di dunia ini. Mengenai menuntut balas
kematian ibu dan merawat ayah serta melindungi adik Hu,
ketiga tugas besar ini hendaklah Toako yang memikulnya
semua,"
Mendengar ini, hati Bu Sam-thong menjadi pedih dan
meneteskan ar mata.
Sementara itu Bu Tun-si lagi menjawab "Asal kan samasama
tahu, buat apa banyak bicara lagi. Kalau aku yang kalah,
juga begitulah harapanku." Habis ini ia angkat pedangnya dan
pasang kuda.
Namun Bu Siu-bun tetap tidak melolos pedangnya, tibatiba
ia melangkah maju beberapa tindak dan berkata: "Toako,
sejak kecil kita sudah kehilangan ibu dan jauh berpisah
dengan ayah, kita kakak beradik hidup berdampingan dan tak
pernah bertengkar bahwa sampai terjadi seperti sekarang ini,
apakah Toako marah kepada adik?"
Tun-si menjawab: "Agaknya kejadian ini sudah takdir
adikku, kita tidak berkuasa."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Baiklah, tak peduli siapa yang hidup dari mati, selamanya
jangan membocorkan rahasia kejadian ini agar ayah dan adik
Hu tidak berduka," kata Siu-bun.
Bu Tun-si mengangguk dan menggenggam tangan Siu-bun
dengan erat, kedua bersaudara berdiri berhadapan tanpa
bicara sampai sekian lama.
Bu Sam-thong tak dapat menahan- perasaan nya dan
bermaksud melompat keluar untuk menegur perbuatan bodoh
kedua anak muda itu, tiba-tiba terdengar kedua orang itu
sama-sama berseru: "Baiklah, mulai!" - Berbareng mereka
lantas melompat mundur.
Cepat sekali Siu-bun lantas melolos pedangnya dan "sretsret-
sret" tiga kali tanpa bicara lagi ia menyerang dengan
cepat. Namun Tun-si dapat menangkisnya dan balas
menyerang dua kali ke tempat mematikan di tubuh adiknya.
Bu Sam-thong berkuatir melihat serangan lihay itu,
dilihatnya Siu-bun dapat mengelakkan serangan maut itu
dengan mudah. Di lembah sunyi itu terdengar suara benturan
pedang yang nyaring, kedua kakak beradik ternyata
bertempur dengan mati-matian tanpa kenal ampun.
Tentu saja Bu Sam-thong jadi sedih dan kuatir pula,
keduanya sama-sama putera kesayangannya, selamanya ia
pandang sama, tidak pernah pilih kasih.
Serang menyerang kedua anak muda itu semakin ganas
seperti menghadapi musuh saja layaknya, kalau pertarungan
itu berlangsung terus, akhirnya pasti ada yang celaka, Saat ini
kalau Bu Sam-thong mau perlihatkan dirinya dan mencegah,
pasti kedua anak muda itu akan berhenti bertempur. Tapi
sekarang ini, besok juga pasti akan mengadu jiwa puIa,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
betapapun ia tak dapat senantiasa mengawasi kedua anak
muda itu. Begitulah Bu Sam-thong semakin sedih memikirkan
betapa malang nasib keluarganya itu, tanpa terasa air
matanya bercucuran.
Sejak kecil Nyo Ko memang tidak akur dengan kedua
saudara Bu kecil itu, sesudah dewasa dan bertemu juga tetap
tidak cocok. Seperti juga umumnya manusia, kalau melihat
orang lain susah, maka timbul rasa senangnya.
Semula Nyo Ko juga bersyukur kedua saudara Bu itu saling
genjot sendiri Tapi ketika melihat Bu Sam-thong sangat
berduka, tiba-tiba timbul rasa bajiknya, terutama bila
mengingat jiwa sendiri sudah tidak panjang lagi, pikirnya:
"Selama hidupku tidak pernah berbuat sesuatu yang
bermanfaat bagi orang lain, setelah kumati tentu Kokoh akan
berduka, selain itu yang akan teringat pada diriku palingpaling
juga cuma Thia Eng, Liok Bu-siang dan Kongsun Lik-oh
beberapa nona cantik itu saja. Apakah tidak lebih baik
sekarang kulakukan sesuatu yang berguna agar paman Bu ini
selama hidup akan selalu ingat pada kebaikanku ini?"
Setelah ambil keputusan itu, segera ia membisiki-Bu Samthong:
"Paman Bu, aku ada suatu akal yang dapat
menghentikan pertarungan kedua kakak Bu."
Hati Bu Sam-thong bergetar, ia berpaling dengan penuh
rasa terima kasih dan air matanya masih bercucuran namun
tampaknya ia masih ragu-ragu karena tidak tahu Nyo Ko
mempunyai akal bagus apa untuk memecahkan persoalan
pelik ini?
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Cuma terpaksa aku harus bikin susah kedua saudara Bu,
hendaknya paman jangan marah padaku," bisik Nyo Ko pula.
Dengan kencang Bu Sam-thong genggam kedua tangan
Nyo Ko, saking terharu hatinya hingga tidak sanggup bicara,
Sejak muda ia sudah tergoda oleh urusan cinta, tapi sejak
isterinya meninggal rasa terharu atas budi kebaikan sang isteri
yang rela mengorbankan jiwa sendiri untuk
menyelamatkannya itu lambat laun membuat cinta
kepayangnya kepada kekasihnya dahulu mulai hambar setelah
tambah tua harapannya hanya tercurah pada kedua puteranya
saja, biarpun jiwa sendiri harus dikorbankan iapun rela.
Karena itu ketika mendengar ucapan Nyo Ko tadi pada
saat ia sudah putus harapan, tentu saja ia sangat girang
seakan-akan mendapatkan wahyu.
Melihat sikap Bu Samthong, Nyo Ko menjadi terharu dan
pedih hatinya, ia pikir kalau ayahku masih hidup, tentu beliau
juga sayang padaku seperti ini.
Dengan suara tertawa ia lantas berkata pula: "Hendaklah
paman Bu diam saja di sini dan jangan sekali-kali diketahui
mereka, kalau tidak akalku akan gagal total,"
Dalam pada itu pertarungan kedua saudara Bu semakin
sengit dan benar-benar mengadu jiwa, Walaupun begitu
dalam pandangan Nyo Ko, kepandaian kedua Bu cilik itu
sesungguhnya belum ada tiga bagian daripada seluruh
kepandaian Kwe Cing.
Pada saat itulah mendadak Nyo Ko bergelak tertawa terus
memperlihatkan dirinya.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Tentu saja kedua saudara Bu terkejut, berbareng mereka
melompat mundur, bentak mereka sambil menatap tajam
kepada Nyo Ko: "Untuk apa kau datang ke sini?"
"Kalian sendiri untuk apa berada di sini?" jawab Nyo Ko
dengan tertawa.
Bu Siu-bun terbahak-bahak, katanya: "Karena iseng di
malam sunyi im, maka kami bersaudara berlatih ilmu pedang
di sini."
Diam-diam Nyo Ko mengakui Bu cilik itu lebih cerdik,
meski berdusta tapi cara, bicaranya seperti sungguh-sungguh,
segera ia menjengek. "Hm, berlatih kok serang menyerang
secara mati-mati-an? Hehe, giat amat cara kalian terlatih?"
Bu Tun-si menjadi gusar damperatnya: "Enyah lah kau,
urusan kami tidak perlu kau ikut urus!"
"Ha, kalau benar-benar berlatih sudah tentu aku tidak
perlu urus," jengek Nyo Ko pula, "Tapi setiap kali kalian
serang menyerang, yang kalian pikirkan melulu adik Hu
belaka, mau-tak-mau aku harus ikut urus,"
Mendengar ucapan "adik Hu" yang sengaja dibikin mesra
oleh Nyo Ko itu, seketika hati kedua saudara Bu itu tergetar
Dengan gusar Siu-bun lantas mendamperat pula: "Kau
mengaco belo apa?"
Dengan tegas Nyo Ko berucap lagi: "Adik Hu... kau dengar
tidak? Adik Hu-ku tersayang itu puteri kandung paman dan
bibi Kwe, betul tidak? urusan perjodohan harus berdasarkan
idzin ayah ibu, benar tidak? sedangkan paman Kwe sudah
lama menjodohkan adik Hu kepadaku, hal ini kan sudah kalian
ketahui, tapi kalian malah bertanding pedang di sini untuk
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
memperebutkan bakal isteriku itu, memangnya kalian ini
anggap aku Nyo Ko ini manusia atau bukan?"
Kata-kata Nyo Ko tegas dan bengis, seketika dua saudara
Bu tak mampu menjawab. Mereka memang tahu Kwe Cing
ada maksud memungut Nyo Ko sebagai menantu, tapi Ui Yong
dan Kwe Hu sendiri tidak suka padanya.
Kini isi hati mereka mendadak dibongkar oleh Nyo Ko,
kedua saudara Bu itu menjadi saling pandang dengan
bingung.
Dasar Siu-bun memang lebih cerdik, segera ia belas
mendengus: "Huh, bakal isteri apa? Berani juga kau
mcngucapnya! Apa buktinya kau sudah dijodohkan dengan
adik Hu? Adakah comblangnya? Apa kau sudah memberi
panjer? sudahkah ber-tunangan?"
"Haha, memangnya kalian berdua yang sudah dijodohkan
dengan dia, sudah ada comblangnya dan telah diluluskan
orang tuanya?" balas Nyo Ko menjengek.
Maklumlah pada jaman dinasti Song, adat istiadat urusan
perkawinan dipandang sangat penting, setiap perjodohan
harus seidzin orang tua dan harus ada saksi2 comblangnya.
Sudah tentu hubungan kedua saudara Bu dengan Kwe Hu
belum sampai sejauh itu, mereka menjadi bungkam oleh
pertanyaan Nyo Ko.
Setelah berpikir sejenak, kemudian Siu-bun menjawab:
"Bahwa Suhu bermaksud menjodohkan adik Hu padamu, hal
itu memang betul. Nantun Subo (ibu guru) justeru
menjatuhkan pilihannya atas satu diantara kami berdua. jadi
sesungguhnya kedudukan kita bertiga sekarang adalah sama,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
siapapun belum punya hak. Soal siapa yang keluar sebagai
pemenang kelak adalah sukar diramalkan.?"
Nyo Ko tidak menjawab, ia menengadah dan bergelak
tertawa, "Apa yang kau tertawakan?" damperat Siu-bun
dengan gusar. "Memangnya ucapanku salah?"
"Ya, salah, salah besar!" jawab Nyo Ko, "Bahwa paman
Kwe suka padaku sudah tidak perlu di sangsikan lagi, malahan
bibi Kwe juga sangat suka padaku, kalian berdua mana dapat
di bandingkan dengan diriku."
"Hm, yang penting kenyataannya tiada berguna beromong
kosong," jengek Siu-bun pula.
"Haha, untuk apa aku beromong kosong?" ujar Nyo Ko,
"Bibi Kwe diam-diam sudah menjodohkan puterinya padaku,
kalau tidak buat apa kutolong ayah dan ibu mertuaku dengan
mati-matian, itu lantaran mengingat akan adik Hu itulah. Nah,
coba katakan, apakah Subomu pernah berjanji kepada
kalian?"
Kedua Ba cilik itu saling pandang dengan bingung, mereka
merasa sang ibu guru memang tidak pernah memberi janji
ucapan apapun, malahan hanya saja belum pernah
mengunjuk keinginan hendak memungut menantu salah
seorang di antara mereka. jangan-jangan ibu gurunya itu
memang betul telah menjodohkan Kwe Hu kepada bocah she
Nyo ini?
Tadinya kedua saudara itu hendak mengadu jiwa sendiri,
tapi sekarang mendadak diantara mereka diselipi seorang
lawan, seketika timbul rasa persatuan kedua saudara itu untuk
menghadapi musuh bersama.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Seperti diketahui Nyo Ko pernah mengintip dan
mendengar percakapan Kwe Hu dengan kedua saudara Bu itu,
maka ia sengaja hendak memancing rasa cemburu mereka,
dengan tertawa ia berkata pula "Adik Hu pernah berkata
padaku bahwa kedua kakak Bu bersaing memperebutkan dia,
karena tak dapat menolak, terpaksa adik Hu menyatakan
menyukai ke-dua2nya. Padahal, hahaha, masa ada perempuan
baik-baik di dunia ini sekaligus mencintai dua orang lelaki.
Adik Hu adalah gadis yang suci bersih, tidak mungkin terjadi
begitu, Nah biar kukatakan sejujurnya pada kalian, bahwa
menyukai ke-dua2nya berarti satupun tidak disukainya."
Lalu ia sengaja menirukan lagak lagu ucapan Kwe Hu pada
malam itu: "O, Kakak Bu cilik, mengapa engkau selalu
merecoki aku, masakah kau tidak tahu perasaanku padamu?
O, kakak Bu besar rasanya lebih baik aku mati saja."
Seketika air muka kedua saudara Bu berubah ucapan Kwe
Hu dikatakan kepada mereka secara tersendiri tatkala itu tiada
orang ketiga yang hadir disitu. Kalau saja Kwe Hu tidak
menceritakan kembali padanya, darimana Nyo Ko
mengetahuinya? Hati mereka terasa sakit seperti disayat, rupa
nya memang beginilah makanya selama ini Kwe Hu tidak mau
menerima lamaran mereka...
Paras air muka kedua saudara Bu itu dapatlah Nyo Ko
mengetahui bahwa akalnya telah mencapai sasarannya,
segera ia berkata pula dengan sungguh-sungguh- "Pendek
kata, adik Hu adalah bakal isteriku, sesudah menikah kami
akan hidup bahagia sampai kakek2 dan nenek2..." - Sampai di
sini, tiba-tiba terdengar di belakang ada suara orang menghela
napas pelan, kedengarannya mirip benar dengan suara Siaoliong-
li.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko terkejut dan hampir-hampir saja berseru
memanggil, tapi segera ia menyadari suara itu adalah suara Li
Bok chiu di dalam gua, orang ini sekali-kali tidak boleh
dipertemukan dengan keluarga Bu ini.
Segera ia berkata pula kepada kedua saudara Bu: "Nah,
makanya kalian jangan bermimpi dan buang2 tenaga
percuma, Mengingat kebaikan bakal ayah dan ibu mertuaku,
biarlah urusan kalian ini tidak kupikirkan lagi, kalian boleh
pulang saja ke Siangyang untuk membantu ayah mertuaku
menjaga benteng itu, kukira itulah tugas yang lebih utama
bagi kalian."
BegituIah terus menerus ia menyebut Kwe Cing dan Ui
Yong sebagai bakal ayah dan ibu mertuanya.
Sedih dan lesu kedua saudara Bu dan saling genggam
tangan dengan kencang, kata Siu-bun dengan lemah:
"Baiklah, Nyo-toako, kudoakan semoga engkau dan Kwesumoay
hidup bahagia, kami bersaudara akan pergi jauh di
rantau dan anggaplah di dunia ini- tak pernah ada kami
berdua ini."
Habis berkata mereka lantas membalik tubuh, diam-diam
Nyo Ko bergirang karena maksud tujuannya kelihatan akan
tercapai ia pikir meski kedua Bu cilik itu akan dendam
padanya, tapi kelak keaua bersaudara itu pasti akan rukun dan
saling sayang sebagaimana yang diharapkan Bu Samthong.
Bu Sam-thong juga bergirang setelah menyaksikan Nyo Ko
berhasil membikin kedua puteranya berhenti bertempur
sendiri, dilihatnya kedua anak muda itu bergandengan tangan
dan melangkah pergi, tanpa tertahan ia terus berseru: "Anak
Bun dan anak Si, marilah kita berangkat bersama."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kedua Bu cilik melengak kaget, mereka menoleh dan
memanggil "ayah" berbareng, Bu Sam-thong lantas memberi
hormat kepada Nyo Ko dan berkata: "Adik Nyo, selama
hidupku ini takkan melupakan budi pertolonganmu."
Nyo Ko mengerut kuning, ia pikir sungguh sembrono orang
tua ini berbicara demikian di hadapan kedua Bu cilik, baru saja
ia hendak membingungkan mereka dengan perkataan lain,
namun Bu Siu bun sudah mulai curiga, katanya tiba-tiba
kepada Tun-si.
"Toako, apa yang dikatakan bocah she Nyo tadi belum
tentu betul."
Meski Bu Tun-si tidak banyak omong, tapi kecerdasannya
tidak di bawah sang adik, ia pandang sekejap kepada
ayahnya, lalu mengangguk kepada Siu-bun.
Melihat urusan bisa runyam, cepat Bu Samthong
menambahkan: "Eh, kalian jangan salah wesel, sama sekali
aku tidak minta adik Nyo ini untuk melerai kalian."
Sebenarnya kedua Bu cilik cuma curiga saja dan belum
tahu persis urusan yang sesungguhnya, tapi mereka menjadi
curiga setelah sang ayah bermaksud menutupi persoalannya,
segera mereka ingat hubungan Nyo Ko dengan Kwe Hu
biasanya tidak cocok pula Nyo Ko sangat mencintai Siao-liongli,
jadi apa yang dikatakan Nyo Ko besar kemungkinan tidak
betul.
"Toako," kata Siu-bun kemudian, "Marilah kita pulang ke
Siangyang untuk menanyai adik Hu sendiri."
"Benar," jawab Tun-si. "Ocehan orang lalu masakah dapat
menipu kita,"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Segera Siu-bun berkata kepada Bu Sam-thong: "Ayah,
marilah engkau ikut juga ke Siangyang, Temuilah Suhu dan
Subo, mereka kan sahabatmu."
"Aku... aku..." muka Bu Sam-thong menjadi merah, ia
bermaksud memperlihatkan wibawa seorang ayah untuk
mengomeli kedua. ,puteranya, tapi kuatir kedua anak muda
itu hanya mengiakan di depannya, tapi di belakangnya akan
bertarung mati-matian pula.
Nyo Ko lantas menjengek: "Saudara Bu, memangnya
sebutan "adik Hu" boleh kau panggil se-sukamu? selanjutnya
kularang kau menyebutnya, bahkan dalam hatipun tidak boleh
kau pikirkan dia."
Siu-bun menjadi gusar, teriaknya: "Bagus, di dunia ini
ternyata ada manusia se-wenang2 macam kau. "Adik Hu"
sudah kusebut selama sepuluh tahun, mengapa kau berani
melarang aku menyebutnya"?
"Hm, bukan saja sekarang aku tetap memanggil adik Hu,
bahkan besok, lusa dan selanjutnya aku tetap akan
memanggilnya. Adik Hu, adik Hu, adik Hu, ....." belum habis
ucapannya, "plok", mendadak pipinya kena ditempeleng satu
kali oleh Nyo Ko.
Segera Siu-bun mengacungkan pedangnya dan berkata
dengan geram: "Baik, orang she Nyo, sudah lama kita tidak
berkelahi, ya?
"He, anak Bun, berkelahi apa maksudmu?" cepat Bu Samthong
mencegahnya.
Mendadak Nyo Ko berpaling kepada Bu Sam-thong dan
bertanya: "Paman Bu, kau membantu pihak mana?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Menurut aturan, adalah wajar kalau Bu Sam-thong
membela anaknya sendiri, tapi tindakan Nyo Ko sekarang jelas
demi untuk mencegah saling bunuh antara kedua bersaudara
itu, karena itulah Bu-: Sam-thong menjadi serba salah dan
melongo belaka.
"Begini saja," kata Nyo Ko pula, "Silahkan paman Bu
duduk tenang di situ, aku takkan mencelakai jiwa mereka,
rasanya merekapun tidak mampu mencelakai aku, engkau
boleh menonton pertunjukan menarik ini saja."
Usia Nyo Ko berselisih jauh daripada Bu Sam thong, tapi
pintarnya dan cerdiknya jauh di atas-nya, jadi apa yang
dikatakan tanpa kuasa terus di turut saja oleh Bu Samthong,
segera ia berduduk di atas batu padas di samping sana.
Nyo Ko lantas melolos Ci wi-kiam, seketika cahaya dingin
gemerlapan, ia menyabet pelahan pedang lemas itu, terdengar
suara mendesir, sepotong batu besar di sebelahnya di
sabetnya cara bersilang, waktu kakinya mendepak, kontan
batu besar itu pecah menjadi empat bagian, bagian yang retak
itu halus licin seperti insan tahu saja.
Melihat betapa tajamnya pedang orang, kedua saudara Bu
saling pandang dengan jeri, mereka menjadi ragu cara
bagaimana akan dapat menandingi Nyo Ko dengan pedang
selihay itu.
Tapi Nyo Ko lantas menyimpan kembali pedangnya, lalu
berkata dengan tertawa. "Pedangku ini masakah kugunakan
untuk menghadapi kalian?? sekenanya ia memotong sebatang
dahan pohon, ia buang daunnya hingga berwujud. sebatang
pentung sepanjang satu meteran, lalu berkata pula: "Tadi
sudah kukatakan bahwa ibu mertua condong padaku, tapi
kalian tidak percaya. sekarang boieh kalian saksikan, aku akan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
menggunakan pentung ini untuk melayani pedang kalian,
kalian boleh maju sekaligus dan mengeluarkan segenap
kepandaian ajaran ayah ibu mertuaku serta ajaran paman Cu
Cu-liu, Sebaliknya aku hanya akan menggunakan ilmu silat
ajaran ibu mertuaku saja, asalkan aku salah menggunakan
sejurus dari aliran lain, segera anggap saja aku kalah."
Kedua saudara Bu sebenarnya jeri pada kepandaian Nyo
Ko yang hebat, mereka sudah menyaksikan dia menempur
Kim-lun Hoat-ong dengan cara aneh, tapi mereka menjadi naik
pitam pula demi mendengar ucapan Nyo Ko yang berulangulang
menyebut "ayah dan ibu mertua" segala, seakan-akan
Kwe Hu benar-benar sudah menjadi isterinya, sungguh gemas
mereka tidak kepalang. Malahan dengan sombongnya Nyo Ko
menyatakan bersedia dikerubuti serta melayani pedang
mereka dengan pentung, bahkan terbatas pada ilmu silat
ajaran Ui Yong melulu.
Dalam keadaan begini kalau mereka tidak dapat
mengalahkan Nyo Ko juga keterlaluan dan buat apalagi hidup
di dunia ini.
Maka cepat Siu-bun menegas: "Baik, kau sendiri yang
berkata begitu dan bukan kami yang minta. Kalau kau salah
menggunakan ilmu silat dari golongan lain, lalu bagaimana?"
"Pertandingan kita ini bukan disebabkan permusuhan di
masa lampau atau karena kebencian sekarang, kita bertempur
demi adik Hu," kata Nyo-Ito. "Maka kalau aku kalah, asalkan
aku memandang sekecap padanya atau bicara sepatah saja
dengan dia, katakanlah aku ini manusia rendah yang tidak
tahu malu. Tapi bagaimana pula jika kalian yang kalah?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Pertanyaan Nyo Ko sengaja memaksa kedua saudara Bu
itu harus menyatakan janji yang sama Ialu Siu-bun telah
menjawab "Jika kami kalah, kamipun takkan menemui adik Hu
untuk selamanya."
"Bagaimana kau, setuju?" tanya Nyo Ko kepada Tun Si.
"Kami bersaudara bersatu hati dan satu tujuan, tak ada
perbedaan pendirian?" jawab Tun-si dengan gusar.
"Bagus, setelah kalah nanti, kalau kalian tidak pegang
janji, maka kalian akan dianggap manusia tidak tahu malu
yang melebihi binatang, begitu bukan?" Nyo Ko menegas pula.
"Benar," jawab Siu-bun. "Tidak perlu banyak bicara lagi,
orang she Nyo, marilah mulai."
Habis berkata ia terus mendahulu menusuk dari sebelah
kanan, berbareng Bu Tun-si juga bergerak dari sebelah kiri,
asalkan Nyo Ko berusaha menghindar serangan Siu-Bun
berarti akan dimakan oleh serangan Tun-si itu.
Akan tetapi dengan gesit Nyo Ko dapat menghindari
beberapa kali serangan kedua Bu cilik itu sambil mengolokolok.
Keruan kedua saudara Bu tambah murka dan menyerang
terlebih gencar, "Kau mengaco apa? Mengapa kepandaian
ajaran Subo tidak lekas kau keluarkan?"
"Baik, kaumeminta tentu akan kuperlihatkan. Nah, awasi
inilah kepandaian asli ajaran ibu mertuaku!" seru Nyo Ko.
Pentungnya menyabet serta diputar ke atas itulah gaya
"menjegal" dari Pak kau-pang-hoat, berbareng jari tangan lain
pura-pura hendak menutuk Hiat-to di tubuh Bu Tun-si.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Ketika Tun-si melompat mundur, "bluk", tahu-tahu Bu Siubun
sudah jatuh kesandung pentung.
Nampak adiknya kecundang, cepat Tun-si menubruk maju
lagi dan menyerang dengan gencar.
"Benar, adik ada kesulitan, sang kakak yang menolong."
demikian sambil mengolok-olok, sekali pentungnya berkelebat
tahu-tahu Nyo Ko sudah menggeser ke belakang Tun-si dan
"plok", dengan tepat pantat Tun-si kena disabet sekali.
Gerakan pentung Nyo Ko itu tampaknya lamban, tapi tepat
yang diarah adalah bagian yang sama sekali tak terduga. Dan
memang di situlah letak keistimewaan Pak-kau-pang-hoat
yang termashur itu.
Setelah merasakan gebukan pada pantatnya, walaupun
tidak terlalu sakit, tapi jelas iapun sudah kecundang, karena
itu diam-diam timbul rasa kedernya. Dalam pada itu Bu Subun
telah melompat bangun dan berseru: "Ini adalah Pak topau
hoat, macam mana Subo mengajarkan kau secara diamdiam.
jelas kau mencuri belajar beberapa jurus ketika kita
sama-sama menyaksikan Subo mengajarkan ilmu permainan
pentung ini kepada Loh-tianglo tempo hari."
Mendadak pentung Nyo Ko menjulur dan "bluk" kembali
Siu-bun dijegal hingga terbanting lagi, cepat Bu Tun-si
menabas dengan pedangnya untuk menolong sang adik.
Nyo Ko menunggu Siu-bun merangkak bangun, lalu
berkata dengan tertawar "Kalau kita menyaksikan bersama
waktu ibu mertuaku mengajarkan pada loh-tianglo, kenapa
aku bisa dan kalian tidak bisa? padahal yang diajarkan ibu
mertuaku kepada Loh-tianglo hanya kuncinya saja secara
lisan, bagaimana cara memainkan nya beliau telah
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
mengajarkan padaku secara diam-diam, bahkan adik Hu juga
tidakbisa, apalagi kalian ini."
Bu Siu-bun tidak tahu bahwa secara kebetulan Nyo Ko
pernah mendapatkan ajaran dari Ang Chit-kong ketika
pengemis sakti itu bertanding dengan Auyang Hong dipuncak
Hoasan dahulu, maka dalam hati sebenarnya ia percaya apa
yang dikatakan Nyo Ko, cuma di mulut ia tetap tidak mau
kalah, katanya: "Huh, setiap orang memang berbeda. Bahwa
secara kebetulan kami mendengar ajaran Subo kepada Loh
tianglo itu, namun ilmu pentung mana boleh digunakan selain
pangcu dari Kay-pang sendiri, sebelum ada perintah Subo,
mana kami berani melatihnya? Hanya manusia rendah saja
mau berbuat begitu? Hm. kau sendiri tidak tahu malu, tapi
malah meng-okok2 orang lain."
Nyo Ko terbahak-bahak, pentungnya berputar puIa dan
"plok-plok" dua kali, tahu-tahu punggung Siu-bun dan Tun-si
tersabet pula, Cepat kedua saudara Bu melompat ke samping
dengan muka merah padam.
"Baiklah, karena tiada bukti dan saksi, meski kukalahkan
kalian dengan Pak kau pang-hoat juga kalian belum mau
mengaku kalah," ujar Nyo Ko, "Nah, sekarang akan
kugunakan pula sejurus kepandaian lain ajaran Subo, coba
lihat.
Habis ini ia pandang Siu-bun, kemudian menatap Tun-Si
pula, lalu bertanya: "Katakan lebih dulu, ilmu silat ibu
mertuaku berasal ajaran siapa?"
Dengan gusar Siu-bun menjawab. "Kalau kau tanpa malumalu
menyebut lagi ibu mertua segala, maka kami tidak sudi
bicara pula dengan kau."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Ah, kenapa kalian berjiwa sesempit ini," kata Nyo Ko
dengan tertabak "Baiklah, coba jawab pertanyaanku, ilmu silat
Subomu berasal dari siapa?"
"Subo kami adalah puteri kesayangan Ui-tocu dari Thohoa-
to, sudah tentu ilmu silatnya berasal ajaran ayahnya
sendiri, masakah perlu kau tanyakan puia?" jawab Siu-bun.
"Benar" kata Nyo Ko, "Kaltan sendiri pernah tinggal
beberapa tahun di Tho-hoa-to, apakah kalian tahu kepandaian
khas Ui-tocu, terutama ilmu pedangnya, apa nama ilmu
pedang kebanggaan beliau itu?".
Dengan bersemangat Bu Siu-hun menjawab "Ui-tocu
terkenal maha sakti dan serba pintar segala apapun diketahui
oleh beliau, Semua kepandaiannya juga diketahui olehmu,
mengapa kau bertanya padaku, Giok-siau-kiam-hoat beliau
termashur di seluruh dunia, tiada seorangpun di dunia
Kangouw yang tidak tahu."
"Dan kalian pernah berjumpa dengan Vi tocu Sdak?" tanya
Nyo Ko pula.
"Tidak pernah." jawab Siubun. "Ui-tocu suka mengembara,
bahkan Suhu dan Subo sendiri jarang bertemu dengan beliau,
apalagi orang muda seperti kami ini."
"O, jika begitu Giok-siau-kiam-hoat Ui-tocu itu tak pernah
kalian lihat?" kata Nyo Ko.
"Melihat langsung memang belum pernah," jawab Siu-bun
dengan mendengus "Tapi ketika hari ulang tahun Uitocu, Subo
telah merayakannya dan berdoa dari jauh bagi kesehatan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
beliau, dalam pesta itu Subo telah memperlihatkan ilmu
pedang kebanggaan Ui-tocu itu. Tatkala itu Nyo-heng sendiri
sudah berangkat ke Cong-lam-san untuk mencari guru lain."
"Benar," ujar Nyo Ko sambil tertawa. Kemudian ibu
mertuaku... ooh, baikiah, kemudian Subo kalian diam-diam
telah mengajarkan ilmu pedang itu padaku."
Kedua saudara Bu itu saling pandang, sudah tentu mereka
tidak percaya, sedangkan Kwe Hu saja yang merupakan puteri
tunggal kesayangan Ui Yong juga tidak diajari ilmu pedang,
masakan bisa jadi Nyo Ko malah diberi pelajaran di luar tahu
mereka.
"Kalian tentu tidak percaya, bukan?" kata Nyo Ko."Baiklah,
coba lihat jurus serangan ini?"
Mendadak pentungnya digunakan sebagai pedang, "cret"
tahu-tahu dada Bu Tunsi sudah tertusuk oleh ujung pedang.
Kalau saja pentung itu adalah pedang yang tajam, maka
dada Bu Tun-si pasti sudah tembus dan jiwanya tentu sudah
melayang.
Siu-bun cukup cekatan, melihat Nyo Ko mulai menyerang,
secepat kilat iapun menusukkan pedangnya ke iga kanan Nyo
Ko. Akan tetapi tetap terlambat sedikit, pentung Nyo Ko
sempat diputar balik dan tahu-tahu menusuk ke pergelangan
tangannya.
Serangan Nyo Ko ternyata mencapai sasarannya lebih
cepat daripada serangan Siubun itu, belum lagi ujung pedang
Siu-bun mengenai tubuh lawan atau pergelangan tangannya
sudah tertusuk lebih dulu oleh ujung pentung Nyo Ko dan
pedangnya pasti akan terlepas dari cekalan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Cepat Siu-bun menarik kembali pedangnya dan berganti
serangan lain, sambil memutar balik pedangnya, kaki kirinya
terus menendang, sementara itu pentung Nyo Ko telah
ditusukkan ke bahu Bu Tun-si sembari melangkah maju,
tendangan Siu-buo seakan-akan tak dihiraukannya.
Dengan sendirinya tendangan Siu-bun menjadi mengenai
tempat kosong, sedangkan keadaan Bu Tun si menjadi
berbahaya, cepat ia putar pedangnya dengan kencang utk
bertahan dengan dgn rapat, begitu terhindarlah dia dari
tusukan pentung lawan.
Hanya beberapa jurus saja kedua saudara Bu itu sudah
dibikin kelabakan oleh Nyo Ko, bertahannya terasa sulit,
jangankan hendak balas menyerang. Sama sekali kedua Bu
cilik itu tidak menyangka bahwa Giok-siau-kiara-noat yang
pernah dipertunjukkan oleh Ui Yong itu ternyata memiliki
gerak perubahan yang begini indah dan hebat pula untuk
digunakan.
Karena kecundang kedua saudara Bu menjadi malu dan
berduka pula, mereka mengira Giok siau-kiam hoat itu benarbenar
diajarkan oleh Ui Yong kepada Nyo Ko. Sudah tentu tak
pernah mereka bayangkan bahwa Nyo Ko pernah berkumpul
cukup lama dengan Ui Yok-su dan mendapatkan ajaran
langsung kedua macam ilmu silatnya yang maha sakti itu.
Melihat kedua orang itu sedih dan lesu, hati Nyo Ko
menjadi tidak tega. Tapi mengingat maksud tujuannya justeru
hendak menyelamatkan jiwa mereka, kalau sekarang
keduanya tidak dibikin menyerah betul-betul agar selamanya
takkan menemui Kwe Hu lagi, maka kelak keduanya pasti
akan berkelahi mati-matian lagi bagi nona itu, karena inilah
dia mempergencar serangannya tanpa kenal ampun lagi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Keruan kedua saudara Bo semakin keder, bayangan
pentung" berkelebat mengelilingi mereka, segenap Hiat-to
penting ditubuh mereka seluruhnya terancam oleh pentung
Nyo Ko itu.
Terpaksa mereka mengertak gigi dan bertahan matimatian.
Sebenarnya kepandaian kedua Bu cilik itu tidak terlalu
rendah, akan tetapi kalau dibandingkan Nyo to yang kini
sudah menyamai jago kelas satu, dengan sendirinya mereka
bukan tandingannya. Apalagi sekarang mereka menjadi
gelisah, cara bertempur mereka menjadi ngawur. sebaliknya
Nyo Ko tidak penggunakan serangan maut melainkan
melayaninya dengan tenang.
Lambat-laun kedua saudara merasa pentung lawan itu
seakan-akan membawa semacam kekuatan mengisap yang
amat kuat, pedang mereka seperti melengket ikut bergoyang
kian jemari tanpa kuasa.
Sampai akhirnya kedua saudara itu seperti saling tempur
sendiri, pedang Bu Tun-si yang menusuk Nyo Ko terkadang
hampir mengenai adiknya sendiri, begitu pula tabasan pedang
Bu Siu-bun terpaksa harus ditangkis oleh Tunsi.
"Kebagusan Giok-siau-kiam-hoat tidak cuma begini saja,
lihatlah" kata Nyo Ko
"Trak" pentungnya beradu dengan pedang Tun-si, cuma
yang terbentur adalah bagian samping batang pedang
sehingga pentung kayu ttu tidak rusak.
Seketika Tun-si merasa dibetot oleh suatu tenaga kuat,
pedang hampir terlepas dari cekalannya. Lekas ia menarik
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
balik sekuatnya, tapi Nyo Ko terus ikut mendorongkan
pentungnya dan tahu-tahu pedang Bu Siu-bun juga ikut
melengket pada pentungnya, ketika pentung Nyo Ko menahan
ke bawah, segera ujung kedua pedang tertindih ke atas tanah.
Sampai dimanakah kebajikan dan cinta kasih Nyo Ko terhadap
sesamanya ?Cukup hanya melerai perkelahian Bu bersaudara
yang memperebutkan cinta seorang gadis saja?
Betapa remuk redam hati Siao-liong-Ii setelah tahu bahwa
kesuciannya direnggut laki-laki lain yang tidak dicintainya ?
(Bacalah jilid ke-36)
Jilid 36
Cepat kedua Bu cilik menarik pedang sekuat-nya, baru
terasa sedikit kendur, tahu-tahu Nyo Ko melangkah maju,
pentung kayu diangkat, tapi sebelah kakinya telah
menggantikan pentung untuk menginjak ujung kedua
pedang.Tahu-tahu tenggorokan kedua saudara Bu telah
terancam oleh ujung pentung, kalau saja bertempur sungguhsungguh,
pasti leher mereka sudah ditembus oleh senjata
musuh.
"Bagaimana, menyerah tidak?" tanya Nyo Ko dengan
tertawa.
Seketika wajah kedua Bu cilik pucat pasi seperti mayat,
mereka bungkam tak dapat menjawab. Segera Nyo Ko angkat
kakinya dan mundur dua tiga tindak, melihat kedua saudara
yang serba konyol itu, ia menjadi teringat kepada masa
kecilnya dahulu, ketika dia kenyang dihina dan dikerubut oleh
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kedua Bu cilik itu dan baru sekarang dia dapat melampiaskan
rasa dongkol itu, tanpa terasa mukanya memperlihatkan
perasaan senang dan puas.
Kedua saudara Bu itu sama sekali tidak menduga bahwa
Nyo Ko benar-benar telah mendapatkan ajaran kepandaian Ui
Yong. Namun mereka tetap penasaran mereka merasa waktu
bertempur tadi telah didahului oleh lawan sehingga mereka
tidak sempat mengeluarkan segenap kepandaian yang
diperoleh dan Kwe Cing, malahan lt-yang-ci yang baru mereka
pelajari juga sama sekali tidak sempat dimainkan.
Bu Tun-si menjadi putus asa, ia menghela napas panjang,
pedang bermaksud dibuangnya dan akan pergi, tapi
mendadak Bu Siu-bun berseru padanya: "Toako, jika kita
sudahi sampai di sini saja, lalu apa artinya hidup kita di dunia
ini? Tidakkah lebih baik kita adu jiwa saja dengan dia!"
Hati Tun-si terkesiap, segera iapun menjawab: "Benar!"
Serentak kedua bersaudara memutar pedang dan
mengerubut maju lagi, sekarang mereka sudah nekat
sehingga tidak perlu menjaga diri, yang mereka utamakan
adalah menyerang saja dan selalu mengincar tempat yang
mematikan perubahan ini ternyata hebat juga.
Keduanya, tidak berjaga diri lagi melainkan menyerang,
mereka rela mati di bawah pentung Nyo Ko asalkan dapat
gugur bersama musuh, Malahan disamping menyerang
dengan pcdang, tangan kiri kedua Bu cilik juga memainkan Ityang-
ci yang lihay itu.
"Bagus, pertarungan begini barulah nikmat!" kata Nyo Ko
dengan tertawa.Malahan ia terus membuang pentungnya,
dengan bertangan kosong ia berlari kian kemari di antara
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
samberan pedang musuh, Meski kedua saudara Bu
menyerangnya dengan tidak kenal ampun, namun tetap sukar
mengenai sasarannya.
Bu Sam-thong merasa serba susah menyaksikan
pertarungan itu, sebentar ia berharap Nyo Ko yang menang
agar kedua puteranya takkan memikirkan dan memperebutkan
Kwe Hu lagi. Tapi bila melihat Bu cilik mengalami bahaya,
tanpa terasa timbul juga keinginannya agar mereka dapat
mengalahkan Nyo Ko.
Tiba-tiba terdengar Nyo Ko bersuit nyaring, "cring-cring",
jarinya menyelentik batang pedang kedua lawannya, seketika
lengan kedua saudara Bu merasa pegal linu, genggamannya
juga kesakitan, setengah badan juga tergetar kaku, pedang
mereka serentak mencelat mundur.
Dengan gesitnya Nyo Ko lantas melompat ke atas dan
berhasil menangkap kedua pedang itu, lalu katanya dengan
tertawa: "Nah, inilah ilmu sakti Sian ci-sin-thong dari Tho-hoato,
kalian pernah melihat nya belum?"
Sampai di sini, mautak-mau kedua saudara Bu juga
menyadari bila pertarungan diteruskan, tentu mereka akan
tambah konyol.
"Maaf!" kata Nyo Ko kemudian sambil menyodorkan kedua
pedang rampasannya itu.
Siu-bun menerima kembali pedangnya dan berkata dengan
pedih: "Ya, selamanya aku takkan menemui adik Hu lagi." -
Habis berkata ia terus melintangkan pedang dan menggorok
ke lehernya sendiri
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Pikiran Bu Tun-si ternyata sama dengan adiknya, pada
saat yang sama pula iapun angkat pedangnya hendak
membunuh diri.
Tentu saja Nyo Ko terkejut, secepat terbang ia menubruk
maju, "cring-cring" dua kali, kembali kedua pedang itu kena
diselentiknya dan mencelat ke atas, "trang", kedua pedang
saling bentur dan patah.
Pada saat itu Bu Sam-thong juga melompat maju, satu
tangan satu orang, ia cengkeram gitok kedua anaknya sambil
membentak dengan suara bengis: "Demi memperebutkan
seorang perempuan kalian berdua lantas berpikiran pendek,
sungguk percumalah kalian menjadi laki-laki"
Siu-bun mengangkat kepalanya dan menjawab: "Ayah,
engkau sendiri bukankah juga merana selama hidup demi
seorang perempuan? Aku......"
Belum habis ucapannya ia melihat muka sang ayah penuh
dengan air mata, rasa dukanya tidak kepalang, seketika
teringat olehnya perbuatan mereka bersaudara sesungguhnya
teramat melukai perasaan sang ayah, tanpa terasa ia lantas
menangis keras-keras.
Pegangan Bu Samthong menjadi kendur, segera ia
merangkul kedua puteranya itu dan menangislah ketiganya
berpelukan menjadi satu.
Merasa usahanya telah berhasil, hati Nyo Ko sangat
senang, ia pikir meski jiwanya takkan tahan lama lagi, paling
tidak ia telah berbuat sesuatu kebajikan.
Dalam pada itu terdengar Bu Sam-thong lagi berkata:
"Anak bodoh, laki-laki sejati masakah takut tidak mendapatkan
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
bini? Bocah perempuan she Kwe itu tidak menyukai kalian, lalu
untuk apa kalian memikirkan dia? Tugas utama kita sekarang
ini apa, coba katakan?"
"Menuntut balas kematian ibu," seru Siu-bun
"Benar," kata Bu Sam thong sambil beringas.
"Meskipun menjelajahi ujung langit juga akan kita
temukan Jik-lian-siancu Li Bok-chiu yang jahat itu."
Nyo Ko menjadi kuatir kalau ucapan merekah itu didengar
oleh Li Bok chiu, kalau mereka tidak lekas dipancing pergi,
tentu urusan bisa runyam.
Benar juga, sebelum ia berbuat sesuatu, tiba-tiba
terdengar suara Li Bok-chiu mengekek tawa dan berkata:
"Tidak perlu kalian menjelajahi ujung langit segala, sekarang
juga Li Bok chiu menunggu di sini." - Sembari bicara ia terus
melangkah ke-luar gua dengan tangan kiri membopong
seorang bayi dan tangan kanan memegang kebut.
Sama sekali Bu Sam-thong dan kedua putera-nya tidak
menduga iblis yang mereka sebut tadi akan muncul di situ
secara mendadak, Dengan menggerang murka Bu Sam-thong
terus menerjang dulu ke depan.
Pedang kedua saudara Bu sudah patah, cepat mereka
menjembut pedang patah mereka dan ikut mengerubut dari
kanan-kiri.
"Hei, jangan bergerak dulu, dengarkan penuturanku!" seru
Nyo Ko.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Namun mata Bu Sam-thong sudah kadang merah
membara, teriaknya: "Adik Nyo, bicara nanti saja, setelah
kubunuh iblis ini." Sembari bicara ia lantas menyerang tiga,
kali berturut-urut. Meski dia dengan pedang kutung, namun
daya serangan kedua saudara Bu juga tidak dapat dipandang
ringan, mereka, terus menyerang dengan nekat.
Nyo Ko tahu dendam kesumat mereka terlalu mendalam,
betapapun pasti sukar dilerai, tapi kalau tidak berusaha
menengahi, bisa jadi mereka akan mencelakai si bayi. Maka
cepat ia berseru pula: "Li-supek, biarlah kupendong anak itu!"
Bu Sam-thong melengak. "Mengapa kau panggil dia
Supek?" tanyanya bingung.
"Sutit yang baik, boleh kau serang bagian belakang orang
gila ini, bayi ini akan kupondong sendiri dan tanggung tak
apa," jawab Li Bok-chiu dengan tertawa.
Kiranya Li Bok-chiu juga merasakan kelihayan Bu Samthong,
setelah bergebrak beberapa kali terasa jauh lebih kuat
daripada dahulu, sedangkan kedua saudara Bu cilik juga tidak
lemah, kerubutan ketiga orang agak sukar dilayani, sebab
itulah ia sengaja memanggil Nyo Ko sebagai "Sutit yang baik"
untuk mengacaukan pikiran ketiga lawan.
Ternyata Bu Sam-thbng terjebak oleh akal Li Bok-chiu itu,
cepat ia berseru: "Anak Si dan Bun, kalian awasi bocah she
Nyo itu, biar aku sendiri melabrak iblis ini."
Nyo Ko lantas melangkah mundur dan ber-kata: "Aku
takkan membantu pihak manapun, tapi kalian jangan sekalisekali
membikin celaka anak bayi itu."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Hati Bu Sam-thong merasa lega melihat Nyo Ko sudah
mundur, segera ia melancarkan serangan lebih gencar.
Sambil putar kebutnya menahan serangan lawan. Li Bokchiu
berseru: "Kedua Bu cilik, melihat pri-laku kalian tadi,
kalian ini tergolong laki-laki yang punya perasaan, berbeda
dengan laki-laki yang tak ber-budi dan ingkar janji yang kejam
itu, Mengingat hal ini, biarlah kuampuni jiwa kalian, nah, lekas
kalian pergi saja."
Tapi Bu Siu-bun lantas memaki: "Bangsat keparat, kau
perempuan keji yang maha jahat, berdasarkan apa kau juga
bicara tentang budi dan kebaikan" - Berbareng itu ia terus
menyerang mati-matian.
Ketika pedang kutung kedua Bu cilik terbentur kebut, dada
mereka terasa sesak dan pedang kutung hampir terlepas, dari
tangan, Cepat Bu Sam-thong menghantam, terpaksa Li Bokchiu
menangkisnya, dengan begitu kedua Bu cilik dapat
diselamatkan.
Pelahan Nyo Ko mendekati belakang Li Bok-chiu, ia tunggu
bila ada peluang segera akan menubruk maju untuk merebut
bayi dalam pelukan iblis itu. Akan tetapi ayah beranak she Bu
itu sedang menyerang dengan sengit sehingga Li Bok-chiu
terpaksa memutar kencang kebutnya untuk menjaga diri,
sedikitpun tidak ada lubang yang dapat dimasuki Nyo Ko.
Nampak serangan Bu Sam-thong bertiga tanpa
menghiraukan keselamatan anak bayi Nyo Ko menjadi kuatir,
cepat ia berseru pula: "Berikan anak itu padaku, Li-supek!"
Sambil menunduk segera ia bermaksud menerobos maju
untuk merebut bayi itu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Akan tetapi Li Bok-chiu keburu membentak:nya: "Kau
berani maju, sedikit kupiting anak ini, masakah jiwanya takkan
melayang?"
Nyo Ko melengak dan tidak jadi menubruk maju. Pada
saat Li Bok-chiu sedikit meleng itulah secepat kilat It-yangci
Bu Sam-thong telah bekerja dengan baik, pinggang Li Bokchiu
tertutuk satu kali oleh jarinya.
Seketika Li Bok-chiu merasakan tempat yang tertutuk itu
sakit luar biasa dan hampir jatuh terguling, sebisanya ia
angkat sebelah kakinya menendang terlepas pedang kutung di
tangan Bu Tun-si, menyusul kebutnya menyabet pula ke
kepala Bu-Siu-bun.
Melihat anaknya terancam bahaya, cepat Bu-Sam-thong
tarik Siu-bun ke belakang sehingga terhindar dari sabetan
maut tadi.
Sesudah terluka oleh tutukan tadi, Li Bok-chiu merasa
sukar bertahan lebih lama lagi, sekuatnya ia putar kebutnya,
berbareng ia melompat kesana dan berlari masuk ke dalam
gua.
Dengan girang Bu Sam-thong berseru: "Perempuan
bangsat itu sudah kena tutukanku, sekali ini jiwanya pasti
melayang."
Segera kedua Bu cilik hendak mengejar ke dalam gua
dengan pedang terhunus, Tapi Sam-thong telah
mencegahnya: "Awas, jarumnya berbahaya, dijaga saja di sini
dan mencari akal..."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Baru saja kedua Bu cilik hendak melangkah mundur,
sekonyong-konyong terdengar suara mengaum, dari dalam
gua menerjang keluar seekor binatang buas.
Keruan Bu Sam-thong terkejut, sungguh di-luar dugaannya
bahwa di dalam gua tempat sembunyi Li Bok chiu itu terdapat
pula binatang buas begitu, Baru saja dia melengak, tahu-tahu
cahaya perak gemerdep, dari bawah perut binatang buas itu
menyambar beberapa buah jarum perak.
Hal ini lebih tak terduga oleh Bu Sam-thong, untung
kepandaiannya cukup tinggi, sebisanya dia melompat ke atas
sehingga jarum-jarum berbisa itu me-nyamber lewat di bawah
kakinya, Tapt lantas terdengar jeritan kedua Bu cilik.
Sungguh kaget Bu Sam-thong tak terkatakan, sementara
itu terlihat Li Bok-chiu telah memutar dari bawah perut macan
tutul itu ke atas pung-gungnya, kebut terselip di kuduk baju,
tangan kiri memeluk bayi dan tangan kanan memegangi gitok
harimau, Binatang itu melompat beberapa kali dan menghilang
di balik semak-semak sana.
Lolosnya Li Bok-chiu dengan menunggang macan tutul
juga sama sekali tak terduga oleh Nyo Ko: "Lisupek...."..."
segera ia berseru dan hendak mengejar.
Tapi Bu Sam-thong tidak membiarkan Nyo Ko pergi begitu
saja, ia sangat berduka melihat kedua putera-kesayangannya
menggeletak tak bisaba ngun lagi, tanpa pikir ia rangkul Nyo
Ko sambi berteriak: "Biarlah aku mengadu jiwa dengan kau."
Sama" sekali Nyo Ko tak mengira" Bu Sam thong akan
bertindak padanya, maka sedikitpun ia tak berjaga sehingga
dia terangkuI dengan kencang. Cepat ia berseru: "He,
lepaskan! Aku harus merebut kembali bayi itu!"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Bagus! Biar kita be ramai-ramai mati bersama saja!"
teriak Bu Sam-thong pula.
Nyo Ko menjadi kelabakan, ia coba menggunakan Kim-najiu-
hoat untuk mementang tangan orang yang merangkulnya
itu, tak terduga bahwa meski Bu Sam-thong dalam keadaan
bingung dan sinting tapi ilmu silatnya tidak menjadi kurang,
dengan kencang ia mengunci rangkulannya itu sehingga usaha
Nyo Ko melepaskan diri sama sekali tidak berhasil.
Melihat Li Bolc-chiu sudah menghilang dengan
menunggang macan tutul, untuk mengejarnya jelas tidak
keburu Iagi, Nyo Ko menghela napas dan berkata: "Paman Bu,
buat apa kau merangkul aku? Kau lebih penting menolong
mereka itu?
"Ya, ya, benar," seru Bu Sam-thong girang. Sambil
melepas rangkulannya "Apakah kau dapat menyembuhkan
luka jarum berbisa itu?"
Nyo Ko berjongkok memeriksa kedua Bu cilik, kelihatan
dua jarum perak menancap di bahu kiri dan kaki kanan
masing-masing, sementara itu racun sudah mulai menjalar,
napas kedua anak muda itu tampak sesak dan dalam keadaan
tak sadar.
Cepat Nyo Ko menyobek sebagian baju Bu Tun-si sebagai
pembungkus tangan, lebih dulu ia cabut kedua jarum berbisa
itu.
"Apakah kau punya obat penawar racuuoya?" tanya Bu
Sam-thong kuatir.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Dahulu waktu Nyo Ko berkumpul dengan Thia Eng dan
Liok Bu-siang, ia pernah membaca dan mengapalkan isi kitab
pusaka "Panca Bisa" milik Li Bok-chiu yang dicuri Bu-siang itu,
maka ia paham cara bagaimana menawarkan racun jarum
berbisa itu cuma untuk membuat obatnya tentu makan waktu,
sedangkan sekarang mereka berada dilembah pegunungan
sunyi, ke mana mendapatkan bahan obat sebanyak itu?
Karena itu Nyo Ko cuma menggeleng saja menyaksikan
keadaan kedua Bu cilik yang sudah payah itu.
Perasaan Bu Sam-thong seperti di-iris2 menyaksikan
keadaan kedua puteranya itu, ia jadi teringat kepada isterinya
yang mati demi mengisap darah beracun dari lukanya dahulu
itu, mendadak ia menubruk ke atas badan Bu Siu-bun dan
menempel mulutnya pada luka di kaki anaknya itu.
Tentu saja Nyo Ko terkejut, cepat ia bersemi "Hei,
jangan!" Segera ia menutuk Taycui-hiaf di pinggang orang tua
itu.
Karena tidak terduga-duga, seketika Bu Sam-thong roboh
terguling dan takdapat berkutik melainkan memandangi kedua
putera kesayangan dengan air mata bercucuran.
Tergerak perasaan Nyo Ko, ia pikir jiwanya sendiri juga
akan melayang apabila racun bunga cinta itu mulai bekerja,
baginya terasa tiada bedanya hidup lima hari lagi atau mati
lebih cepat lima hari, JP-ril kedua Bu cilik ini memang tiada
menonjol, tapi pasti Bu ini adalah orang yang berperasaan dan
berbudi luhur, nasibnya juga kurang beruntung selama seperti
diriku, Biarlah kukorban kehidupanku yang cuma tinggal
beberapa hari ini untuk membahagiakan kehidupan mereka
ayah beranak.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena pikiran itu, mendadak ia mencucup luka di kaki Bu
Siu-bun, setelah mengusap darah berbisanya dan diludahkan
beberapa kali, kemudian ia mencucup pula darah berbisa dari
luka Bu Tun-si.
Begitulah secara bergiliran Nyo Ko menyedot darah
berbisa dari luka kedua saudara Bu itu, tentu saja Bu Samthong
sangat berterima kasih dan merasa bingung
menyaksikan perbuatan Nyo Ko itu, susahnya dia tak bisa
berkutik karena Hiat-to tertutup.
Setelah mengisap sebentar pula, rasa pahit dalam mulut
Nyo Ko mulai berubah menjadi rasa asin.
Sedangkan kepalanya semakin pusing dan terasa berat, ia
menyadari dirinya telah keracunan hebat, sekuatnya ia
berusaha mengisap lagi beberapa kali dan meludahkan air
berbisa itu, tiba-tiba pandangannya menjadi gelap dan jatuh
pingsanlah dia...
Entah berapa lamanya Nyo Ko tak sadarkan diri, ketika
perlahan-lahan ia merasa ada bayangan orang yang samarsamar
bergoyang kian kemari di depannya, ia bermaksud
mementangkan matanya untuk memandang lebih jelas, akan
tetapi semakin berusaha semakin kabur rasanya.
Entah lewat berapa lama lagi barulah Nyo Ko membuka
matanya, segera dilihatnya Bu Sam-thong sedang
memandangi dirinya dengan rasa girang.
"Sudah baik dia, sudah baik!" terdengar orang tua itu
berseru, mendadak berlutut dan menyembah beberapa kali
padanya sambil berkata: "Adik Nyo, kau.... kau telah
menyelamatkan... menyelamatkan kedua puteraku dan juga
telah menyelamatkan jiwaku yang tua bangka ini."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Lalu dia merangkak bangun dan segera pula menyembah
kepada seorang lagi sambil berseru : "Terima kasih, Susiok,
terima kasih!"
Waktu Nyo Ko memandang orang itu, terlihat lah mukanya
hitam, hidung besar dan mata cekung, tertampak rada-rada
mirip dengan Nimo Singh, rambutnya juga keriting, cuma
sebagian sudah ubanan, usianya sudah tua.
Nyo Ko hanya tahu Bu Sam-thong adalah murid It-teng
Taysu, tapi tidak tahu bahwa dia masih mempunyai seorang
paman guru dari negeri Thian tok. Ia bermaksud bangun
berduduk, tapi pinggang terasa lemas pegal, sedikitpun tak
bertenaga, ia coba memandang sekitarnya ternyata berada di
tempat tidur, di dalam kamarnya sendiri di kota Siangyang.
Baru sekarang dia benar yakin bahwa dirinya belum mati
dan masih dapat berjumpa dengan Siao liong-li, tanpa terasa
ia terus berseru: "Kokoh! Mana Kokoh?"
Seorang lantas mendekatinya dan meraba dahinya sambil
berkata: "Tenanglah, Ko-ji, Kokohmu sedang keluar kota
untuk sesuatu urusan."
Nyo Ko melihat orang ini adalah Kwe Cing.
Ia merasa terhibur melihat sang paman sudah sehat
kembali. Segera teringat olehnya bahwa untuk memulihkan
kesehatan sang paman diperlukan waktu tujuh hari tujuh
malam masakah ketidak sadaranku ini sudah berselang sekian
hari pula? jika begitu mengapa racun bunga cinta dalam
tubuhku tidak kumat? Ia. menjadi bingung, pikiran menjadi
kacau dan kembali ia tak sadarkan diri.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Waktu ia sadar kembali untuk kedua kalinya-sementara itu
sudah jauh malam, di depan tempat tidur tersulut sebatang
lilin merah, Bu Sam-thong kelihatan masih menungguinya
dengan berduduk di depan situ dan memandangnya dengan
penuh perhatian.
"Aku tidak apa-apa, paman Bu, jangan kuatir kau" kata
Nyo Ko dengan tersenyum hambar, "-Dan kedua saudara Bu
tentunya baik-baik saja,"
Air mata Bu Sam-thong bercucuran, ia tak dapat berbicara
saking terharunya, maka ia cuma menjawab dengan manggutmanggut
saja.. Selama hidup Nyo Ko tak pernah merasakan
terima kasih sedemikian dari orang lain, maka ia menjadi
rikuh, cepat ia belokan pembicaraannya dan bertanya: "Cara
bagaimana kita dapat pulang ke Siangyang sini?"
Bu Sam-thong mengusap air matanya, lalu menutur: "Atas
permintaan nona Liong gurumu itu, Cu-sute telah mengantar
kuda merah itu ke lembah sunyi untukmu, ketika melihat kita
berempat sama-sama tergeletak di situ, cepat-cepat dia
menolong kita pulang ke sini"
"Darimana suhuku mengetahui aku berada di mana?" ujar
Nyo Ko dengan heran, "Dan urusan apa yang membuatnya
tidak dapat mencari aku dan perlu minta pertolongan paman
Cu untuk mengantarkan kuda merah padaku?"
"Setibaku lagi di sini, akupun tidak sempat bertemu
dengan nona Liong gurumu itu," tutur Bu Sam-thong.
"Menurut Cu-sute, katanya usia nona Liong masih muda,
cantik rupawan pula dan ilmu silatnya juga maha tinggi,
sayang aku belum bisa berkenalan dengan beliau, Ai memang
kaum ksatria selalu timbul dari kalangan angkatan muda,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kukatakan kepada Cu-sute bahwa seumur kita ini seperti hidup
pada tubuh babi belaka."
Nyo Ko sangat senang karena Bu Sam-thong memuji dan
mengagumi Siao-liong-li dengan setulus hati, bicara tentang
umur, menjadi ayah Siao-liong-li juga pantas bagi Bu Samthong,
tapi dia ternyata begitu menghormati nona itu, jelas
disebabkan dia menghormati si murid dan dengan sendirinya
menghormat pulakepada sang guru.
Dengan tersenyum Nyo Ko lantas berkata. "luka siautit
ini..."
"Adik Nyo," tiba-tiba Bu Sam-thong memotong "menolong
sesamanya di dunia persilatan adalah kejadian yang biasa,
tapi menyelamatkan orang lain tanpa memikirkan jiwa sendiri
seperti engkau ia pula yang kau tolong adalah kedua puteraku
yang sebelumnya bersikap kasar padamu, Tindakanmu ini
selain guruku rasanya tiada orang ketiga lagi yang sanggup
melakukannya.
Berulang-ulang Nyo Ko menggeleng kepala, maksudnya
minta Bu Sam-thong tidak meneruskan lagi ucapannya itu.
Namun Bu Sam-thong tidak menggubrisnya, dia tetap
berucap: "Jika kupanggil engkau dengan sebutan "ln-kong"
(tuan penolong) tentunya engkau juga tidak mau terima. Tapi
kalau engkau tetap menyebut aku sebagai paman, itupun jelas
kau teramat menghina kepadaku Bu Sam-thong ini."
Watak Nyo Ko memang suka terus terang dan tidak
merecoki soal tetek bengek, seperti halnya Siao-liong-li, sekali
dia anggap nona itu sebagai isteri maka soal pelanggaran tata
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
adat umum dan panggilan yang tidak menurut aturan,
semuanya suka dilakukan jika ada orang yang minta.
Karena itu tanpa pikir ia lantas menjawab: "Baiklah, aku
akan panggil kau Bu-toako-saja, cuma kalau ketemu kedua
saudara Tun-si dan Siu-bun. kurasa agak kurang enak dan
entah cara bagaimana harus ku-sebut mereka."
"Sebut apa segala?" ujar Bu Sam-thong. "Jiwa mereka
diselamatkan olehmu, jika mereka menjadi kerbau atau
kudamu juga pantas."
"Engkau tidak perlu berterima kasih padaku, Bu-toako,"
kata Nyo Ko, "Memangnya aku sudah kena racun bunga cinta
yang jahat dan jiwaku sukar diselamatkan, maka caraku cucup
racun dari luka kedua saudara Bu itu sebenarnya tiada artinya
sedikitpun bagiku."
"Soalnya bukan begitu, adik Nyo," kata Ba Sam-thong
sambil menggeleng. "jangankan racun yang mengeram dalam
tubuh itu belum pasti sukar diobati seumpama betul tak dapat
disembuhkan namun tiap manusia tentu berharap akan tetap
hidup biarpun cuma tahan sehari atau dua hari saja, sekalipun
cuma sejam dua jam juga tetap ingin hidup. Di dunia ini
memang tiada manusia dapat hidup abadi, baik nabi maupun
orang biasa, akhirnya juga akan kembali kepada asalnya,
namun begitu mengapa setiap orang tetap suka hidup dan
enggan mati."
Nyo Ko tertawa dan tidak menanggapi jalan pikiran orang
tua itu, tanyanya kemudian: "Sudah berapa hari kita pulang ke
Siangyang sini?".
"Sampai sekarang sudah hari ketujuh," jawab Bu Sam
thong.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko menjadi heran dan tidak habis mengerti katanya:
"Pantasnya aku akan mati karena bekerjanya racun dalam
tubuhku, mengapa aku masih hidup sampai sekarang,
sungguh aneh dan ajaib."
Dengan girang Bu Sam-thong bertutur: "Susiokku itu
adalah paderi sakti dan negeri Thian-tiok, nomor satu di dunia
ini dalam hal mengobati keracunan. Dahulu guruku salah
minum racun yang dikirim nyonya Kwe juga telah
disembuhkan oleh beliau, sekarang juga akan kuundang dia ke
sini."
Habis berkata ber-gegas2 ia terus keluar kamar.
Diam-diam Nyo Ko bergirang, ia pikir jangan-jangan waktu
aku jatuh pingsan, paderi sakti itu telah meminumkan sesuatu
obat mujarab kepadaku sehingga racun bunga cinta itu dapat
dipunahkan Ai, entah Kokoh berada di mana saat ini? Kalau
dia mengetahui aku takkan mati, entah betapa gembiranya
dia.
Teringat kepada hal-hal yang meresap dan mesra itu,
mendadak dadanya terasa seperti dipalu dengan keras dan
sakitnya tidak kepalang, tak tertahankan iapun menjerit keras.
Sejak minum setengah butir obat pemberian Kiu Jianjio
itu, belum pernah dia mengalami kesakitan sehebat ini, bisa
jadi kasiat setengah biji obat itu sudah bilang, sedangkan
kadar racun dalam tubuhnya belum lagi punah seluruhnya.
Sambil memegangi dada, keringat membasahi dahi Nyo Ko
saking sakitnya.
Tengah tersiksa dengan hebatnya, tiba-tiba Nyo-Ko
mendengar suara seorang bersabda: "Namo Budaya!" - Sambil
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
merangkap kedua tangan di depan dada, paderi Thian-tiok itu
tampak masuk ke kamar.
Bu Sam-thong ikut di belakang paderi Hindu itu, melihat
keadaan Nyo Ko itu, ia terkejut dan cepat bertanya: "Adik Nyo,
kenapa kau" - Lalu ia berpaling kepada paderi itu dan,
memohon: "Susiok, racunnya kumat lagi, lekas memberikan
obat padanya."
Paderi Hindu itu tidak paham ucapannya, tapi dia lantas
mendekati Nyo Ko dan memeriksa nadinya. Bu Sam-thong
sendiri lantas keluar kamar untuk mengundang Cu Cu-Iiu.
Cu Cu-liu adalah bekas Conggoan (gelar ahli sastra
tertinggi), dia paham bahasa dan tulis Hindu kuno, hanya dia
saja yang dapat berbicara dengan paderi itu, maka Bu Samthong
mengundangnya untuk dijadikan juru bahasa.
Setelah tenangkan diri, rasa sakit Nyo Ko mulai hilang, lalu
dia menceritakan asal usulnya keracunan bunga cinta itu.
Dengan teliti paderi hindu itu bertanya tentang bentuk
bunga cinta itu, tampak dia terkejut dan terheran-heran,
katanya: "Bunga cinta itu adalah bunga ajaib jaman purba,
konon sudah lama lenyap dari permukaan bumi ini, siapa kira
daerah Tionggoan sini masih ada tetumbuhan itu. Aku belum
pernah melihat bunga itu, maka sesungguhnya tidak tahu cara
bagaimana memunahkan kadar racunnya."
Setelah Cu Cu-liu menterjemahkan ucapan paderi Hindu
itu, segera Bu Sam-thong berteriak-teriak memohon:
"Kasihanilah Susiok! Tolonglah!"
Paderi itu menyebut nama Budha pula, lalu memejamkan
mata dan menunduk merenung suasana dalam kamar menjadi
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
sunyi senyap, siapapun tiada yang berani buka suara. Selang
agak lama baruIah paderi Hindu itu membuka mata dan
berkata: "Nyo kisu telah mencucup darah berbisa bagi kedua
cucu muridku, pada hal racun jarum itu sangat jahat terisap
sedikit saja akan mengakibatkan jiwa melayang, tapi Nyo-kisu
ternyata masih sehat2 saja, sedangkan racun bunga cinta juga
tidak bekerja pada waktunya, jangan-jangan terjadi racun
menyerang racun sehingga Nyo-kisu malah mendapat
berkahnya dan sembuh."
Cu Cu-liu dan Nyo Ko adalah orang-orang yang pintar dan
cerdik, mereka pikir uraian paderi Hindu itu memang masuk di
akal, maka mereka sama mengangguk.
Paderi itu berkata pula: "Orang baik tentu mendapatkan
pembalasan baik, Nyo-kisu mengorbankan diri demi menolong
orang lain, inilah perbuatan bajik yang luhur, racun ini pasti
dapat dipunahkan.
"Jika begitu, mohon Susiok lekas menolong nya," seru Bu
Sam-thong girang.
"Untuk itu perlu kudatangi Coat-ceng-kok dan melihat
sendiri bentuk bunga cinta itu, habis itu baru dapat mencari
obat penyembuhnya yang tepat," tutur si paderi, "Yang
penting selama ini hendaklah Nyo- kisu jangan timbul
perasaan cinta, kalau tidak, maka rasa sakit akan semakin
menghebat setiap kali kumat"
"Akan lebih baik lagi apabila Nyo-kisu daptit memutuskan
perasaan cinta itu dan racun inipun akan punah dengan
sendirinya tanpa diobati."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko pikir kalau harus memutuskan cinta kasihnya
kepada Kokoh, lebih baik kumati saja, Tapi sebelum dia
menanggapi cepat Bu Sam-thong mengajak Cu Cu-liu ikut
paderi Hindu itu ke Coat ceng-kok, sudah tentu Cu Cu-liu
menerima ajakan itu karena diapun utang budi kepada Nyo
Ko.
Lalu Bu Sam-thong berkata pula kepada Nyp-Ko: "Adik
Nyo, harap engkau istirahat saja dengan tenang, segala
sesuatu pasti akan beres. Besok juga kami akan berangkat
dan kembali selekasnya utk menyembuhkan penyakitmu, kelak
aku masih harus minum arak pesta pernikahanmu dengan
nona Kwe."
Nyo Ko melengak, ia pikir persoalan Kwe Hu sukar
dijelaskan dalam waktu singkat, maka tanpa pikir ia hanya
mengiakan saja. sesudah ketiga orang itu pergi, ia sendiri
lantas berbaring untuk tidur.
Waktu mendusin, terdengar suara burung ber-kicau,
rupanya fajar sudah menyingsing, Sudah beberapa hari Nyo
Ko tidak makan, perut terasa lapar, dilihatnya di atas meja
dekat pembaringannya ada empat piring penganan, segera ia
ambil beberapa gotong kue dan dimakan.
Belum sepotong kue itu termakan habis, terdengar orang
mengetuk pintu, lalu masuklah seorang berbaju merah jambon
dengan air muka tampak marah, ternyata yang datang ini
adalah Kwe Hu.
Nyo Ko meIongo sejenak, lalu menyapa "Pagi benar, nona
Kwe."
Kwe Hu hanya mendengus pelahan saja dan tidak
menjawab, ia lantas berduduk pada kursi di depan tempat
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
tidur dengan alis menegak dan melotot gusar kepada Nyo Ko,
sampai lama sekali masih tetap tidak berbicara.
Tentu saja hati Nyo Ko tidak enak, dengan tersenyum ia
berkata pula: "Apa paman Kwe menyuruh kau menyampaikan
sesuatu pesan padaku?"
"Tidak!" jawab Kwe Hu singkat dan ketus
Berulang-ulang Nyo Ko mendapatkan sikap dingin begitu,
kalau hari-hari biasa tentu dia tak mau menggubris lagi nona
itu, Tapi sekarang melihat sikap orang rada aneh, ia menjadi
heran dan ingin tahu sebab apakah pagi-pagi nona itu sudah
mendatangi kamarnya. Maka dengan mengering tawa ia
bertanya pula: "Setelah melahirkan tentunya Kwe- pekbo juga
sehat2 saja?"
"Sehat atau tidak ibuku, tidak perlu kau ber-kuatir," jawab
Kwe Hu dengan lebih ketus.
Selain Siao-liong-li, tidak pernah Nyo Ko mau mengalah
terhadap orang lain, tapi sekarang dia telah diperlakukan
kasar oleh Kwe Hu, mau-tak mau timbul juga rasa
dongkolnya. Segera iapun batas mendengus, lalu
memejamkan mata dan tak menggubrisnya lagi.
"Kau mendengus apa?" tanya Kwe Hu gemas.
Kembali Nyo Ko mendengus lagi dan tetap tidak
menggubrisnya.
"Kau dengar tidak, kutanya apa yang kau de-nguskan"
bentak Kwe Hu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Diam-diam Nyo Ko geli melihat si nona menjadi kelabakan,
jawabnya kemudian: "Badanku tidak enak, kudengus dua kali
supaya merasa segar."
"Kau bohong, lain kata lain perbuatan, sehari-hari hanya
mengacau, sungguh manusia rendah tidak tahu malu."
damperat Kwe Hu dengan gusar.
Hati Nyo Ko tergerak karena tanpa sebab musabab si nona
mendamperatnya secara sengit, ia pikir jangan-jangan
ucapanku yang kugunakan untuk membohongi kedua saudara
Bu telah diketahui nona ini. Melihat dalam keadaan marah
wajah Kwe Hu tetap cantik molek, tanpa terasa timbul rasa
kasihannya.
Dasar watak Nyo Ko memang rada dugal, segera ia
berkata pula dengan tertawa: "Nona Kwe, apakah kau
maksudkan apa yang kukatakan kepada kedua saudara Bu
itu?"
"Apa yang kau katakan kepada mereka, hayo lekas
mengaku," bentak Kwe Hu pula dengan suara tertahan.
"Tujuanku adalah demi kebaikan mereka agar mereka
tidak saling membunuh dan membikin sedih hati ayahnya,"
ucap Nyo Ko dengan tertawa. "Apa yang kukatakan itu telah
disampaikan oleh paman Bu padamu, bukan?"
"Dia..... dia begitu bertemu aku lantas mengucapkan
selamat padaku dan memuji kau setinggi langit," tutur itwe
Hu. "Nama baik anak... anak perempuan seperti diriku yang
putih bersih masakah boleh sembarangan kau nista?" - Sampai
di sini suaranya menjadi ter-sendat2 dan air matapun
berlinang-linang.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Nyo Ko menjadi sangat menyesal pada diri sendiri yang
sembarangan omong tanpa pikir bahwa ucapannya yang
bermaksud baik itu justeru akan merusak nama baik Kwe Hu,
apapun juga memang perkataannya itu memang keterlaluan,
rasanya persoalan ini akan sukar diselesaikan.
Melihat Nyo Ko diam saja, hati Kwe jadi tambah panas,
katanya sambil menangisi "Menurut paman Bu, katanya kau
telah mengalahkan kedua kakak Bu, mereka kau paksa
berjanji takkan menemuiku untuk selamanya, apakah hal ini
memang betul?"
Diam-diam Nyo Ko menyesali Bu Sam-thong yang tidak
genah itu, masakah kata-kata itu perlu disampaikan kepada
Kwe Hu, Terpaksa ia tidak membantah dan menjawab dengan
mengangguk "Ya, memang tidak sepatutnya aku sembarangan
omong, cuma maksud tujuanku sama sekali tidak jahat, harap
kau memaklumi hal ini."
Kwe Hu mengusap air matanya, lalu bertanya pula: "Dan
apa yang kau katakan semalam, untuk maksud apa pula?"
Nyo Ko melengak dan menegas: "Kukatakan apa
semalam?"
"Paman Bu bilang setelah kau sembuh, dia berharap akan
minum arak pesta pernikahanmu dan aku ken,....kenapa kan
mengiakan tanpa malu?"
Wah, celaka, jadi ucapanku semalam juga terdengar
olehnya, demikian Nyo Ko mengeluh dalam hati. Terpaksa ia
membantah: "Semalam aku dalam keadaan setengah sadar
dan tidak jelas apa yang dikatakan paman Bu padaku."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Kwe Hu dapat melihat anak muda itu sengaja berdusta,
dengan suara keras ia berteriak: "Kau bilang ibuku
mengajarkan ilmu silat padamu secara diam-diam karena
beliau penujui kau dan ingin memungut kau sebagai menantu,
betul tidak ucapanmu ini?"
Muka Nyo Ko menjadi merah diberondong pertanyaan2 itu,
ia pikir kelakarnya mengenai Kwe Hu paling-paling akan
dianggap dugal saja oleh orang lain, dasarnya aku juga bukan
ksatria yang suci dan alim, tapi aku berdusta tentang diajari
ilmu silat secara diam-diam oleh Kwe-pekbo. persoalan ini bisa
kecil bisa besar dan sekali-sekali jangan sampai diketahui bibi
Kwe. Maka cepat ia meminta:
"Nona Kwe, memang salahku sembarangan omong, harap
kau suka menutupi hal ini dan jangan sampai diketahui
ayahmu."
"Hm jika kau takut pada ayahku, kenapa kau berani
berdusta dan menghina ibuku?" jengek Kwe Hu.
Cepat Nyo Ko menyatakan: "Terhadap ibumu" sedikitpun
tiada maksudku untuk menistanya, waktu itu tujuanku cuma
ingin membikin kedua Bu putus harapan atas dirimu supaya
mereka tidak saling membunuh sehingga bicaraku rada-rada
kelewatan."
Sejak kecil Kwe Hu dibesarkan bersama kedua saudara Bu,
kini mendengar Nyo Ko berdusta dan membikin kedua anak
muda itu putus asa terhadap dirinya serta berjanji takkan
menemuinya keruan rasa gusarnya tak terperikan. Dengan
suara keras ia bertanya pula:
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Baik, urusan ini akan kubereskan nanti dengan kau,
sekarang yang penting adalah Moaymoayku, kemana kau
membawanya pergi?"
"Ya, lekas mengundang ayahmu ke sini, aku justeru
hendak membicarakannya dengan beliau," seru Nyo Ko.
"Ayahku sudah keluar kota untuk mencari adikku itu,"
jawab Kwe Hu. "Kau ini memang..... memang manusia yang
tidak tahu malu, kau hendak menggunakan adikku untuk
menukar obat penawar. Hm, rupanya jiwamu berharga dan
jiwa adikku tidak berharga sepeserpun."
Sejak tadi Nyo Ko memang merasa menyesal dan malu diri
karena terlanjur berbuat hal-hal yang merusak nama baik Kwe
Hu, tapi dituduh hehdak menggunakan anak bayi itu untuk
menukar obat baginya, hal ini betapapun dia tak dapat
menerima, dengan suara lantang ia berkata: "Dengan tekad
bulat aku hendak merebut kembali adik perempuanmu untuk
dikembalikan kepada ayah-bundamu, kalau dikatakan hendak
kugunakan adikmu untuk menukar obat, hal ini sekali-sekali
tidak pernah timbul dalam pikiranku.
"Habis kemana perginya adik ku?" tanya Kwe Hu.
"Dia telah dibawa lari Li Bok-chiu, aku merasa malu karena
tak berhasil merampas nya kembali," tutur Nyo Ko. "Tapi bila
tenagaku sudah pulih dan tidak mati, segera aku akan pergi
mencarinya."
"Hm Li Bok-chiu itu adalah paman gurumu, betul tidak?"
jengek Kwe Hu. "Tadinya kalian sembunyi di satu gua, betul
tidak?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Benar, meski dia adalah paman guruku, tapi selamanya
dia tidak akur dengan guruku," jawab Nyo Ko.
"Hm, tidak akur apa?" jengek Kwe Hu. "Tapi mengapa dia
mau menuruti permintaanmu dengan membawa adikku pergi
menukar obat bagimu?"
Nyo Ko melonjak bangun dengan gusar, katanya "Kau
jangan sembarangan omong nona Kwe, meski aku Nyo Ko
bukan manusia yang terpuji, tapi sama sekali tiada maksud
berbuat begitu."
"Tiada bermaksud berbuat begitu? Hm, enak saja kau
bicara," jawab Kwe Hu. "Gurumu sendiri yang mengatakan hal
itu, memangnya aku yang fitnah dan sembarangan omong?"
"Guruku bilang apa lagi?" tanya Nyo Ko.
Serentak Kwe Hu berdiri dan menuding hidung Nyo Ko,
katanya: "Gurumu berkata sendiri kepada paman Cu bahwa
kau dan Li Bok-chiu sama-sama berada di lembah sunyi sana,
dia minta paman Cu suka mengantarkan kuda merah milik
ayah untuk dipinjamkan padamu agar kau sempat membawa
adikku ke Coat-ceng-kok untuk.... "
Kaget dan sangsi hati Nyo Ko, cepat memotong: "Benar,
memang guruku mempunyai maksud begitu agar aku
mengantar adikmu ke sana untuk mendapatkan separoh obat
yang masih dipegang Kiu Jian-jio itu, tapi cara ini hanya untuk
sementara saja dan takkan membikin susah adikmu..."
"Adikku baru lahir sehari dan telah kau serah-kan kepada
seorang iblis yang kejam, masakah kau berani mengatakan
takkan membikin susah adikku," kata Kwe Hu dengan gusar,
"Kau ini bangsat keparat, manusia berhati binatang! Waktu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kecilmu kau terluntang-lantung sebatangkara dan cara
bagaimana ayah-ibuku telah memperlakukan kau? Kalau ayah
ibu tidak memelihara kau hingga besar di Tho-hoa-to masakah
kau dapat menjadi seperti sekarang ini? Siapa tahu air susu
kau balas dengan air tuba, kau sekongkol dengan musuh dan
ketika ayah - ibuku kurang sehat, kau telah menculik adikku."
Semakin mendamperat semakin beringas nona itu
sehingga Nyo Ko sama sekali tidak diberi kesempatan untuk
membantah. Keruan tidak kepalang gusar dan dongkoInya
Nyo Ko, "bliik", saking tak tahan ia terus jatuh pingsan di atas
tempat tidur.
Selang agak lama, lambat-laun Nyo Ko siuman kembali,
diiihatnya Kwe Hu masih menatapnya dengan muka merengut
dan segera mengomeli pula: "Hm, tak tersangka kau masih
mempunyai rasa malu, rupanya kaupun tahu kesalahan
perbuatanmu yang terkutuk itu."
Nyo Ko menghela napas panjang, katanya: "Jika aku
mempunyai pikiran begitu, mengapa aku tidak membawa
adikmu langsung ke Coat-ceng-kok saja."
Racun dalam tubuhmu kumat dan tak dapat berjalan,
makanya kau minta tolong paman gurumu." kata Kwe Hu.
"Hehe, tapi maksud tujuanmu akhirnya toh gagal, biar
kukatakan terus terang, begitu kudengar permintaan gurumu
kepada paman Cu, segera kusembunyikan kuda merah itu
sehingga muslihat jahat kalian guru dan murid menjadi gagal
total."
"Baik, baik, apa yang kau suka katakan boleh silakan
katakan saja, akupun tidak ingin membantah." kata Nyo Ko
dengan mendongkol "Dan di mana guruku ? Ke mana dia?"
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Muka Kwe Hu tiba-tiba rada merah, katanya:" Huh, ini
namanya gurunya begitu dengan sendirinya muridnya juga
begitu, gurumu juga bukan manusia baik-baik."
Dengan gusar Nyo Ko melonjak bangun pula dan berkata:
"Kau memaki dan menghina aku, mengingat ayah-bundamu,
takkan kupersoalkan pada-mu. Tapi mengapa mencerca
guruku?"
"Cis, memangnya kalau gurumu kenapa?" semprot Kwe Hu
pula. "Soalnya dia sendiri yang bicara secara tidak senonoh."
Sudah tentu Nyo Ko tidak percaya Siao-liong-li yang
dianggapnya suci bersih dan polos itu dapat mengeluarkan
kata-kata yang tidak pantas segera ia balas mendengus "Hm,
besar kemungkinan pikiranmu sendiri tidak benar, maka
ucapan guruku juga kau terima dengan menyimpang."
Sebenarnya Kwe Hu tidak ingin mengulangi perkataan
Siao-liong-li, tapi ia tidak tahan oleh olok-olok Nyo Ko itu,
tanpa pikir ia terus berkata:
"Gurumu bilang padaku: "Nona Kwe, hati Ko-ji sangat
baik, hidupnya sebatangkara dan menderita, kau harus
meladeni dia dengan baik," Lalu katanya pula: "Kalian
memang pasangan yang setimpal suruhlah dia melupakan
diriku, sama sekali aku tidak menyalahkan dia."
Kemudian dia memberikan pula pedangnya padaku,
katanya pedang ini bernama Siok-Ii-kiam dan merupakan
pasangan dengan Kun-cu-kiam milikmu. Apalagi namanya
kalau perkataannya ini bukan tidak senonoh."
Setiap mendengarkan suatu kalimat itu, setiap kali
perasaan Nyo Ko seperti disayat, pikirannya menjadi bingung,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
ia tidak tahu mengapa Siao-liong-li mengemukakan ucapan
begitu. Habis Kwe Hu ber-kata, pelahan ia angkat kepalanya,
mendadak matanya memancarkan cahaya aneh, bentaknya
gusar.
"Kau berdusta, kau penipu. Mana mungkin guruku berkata
begitu? Mana itu Siok-li-kiam? Mana? jika tak dapat kau
perlihatkan, maka jelas kau berdusta?"
Kwe Hu mendengus, mendadak sebelah tangan
mengeluarkan sebatang pedang dari belakang punggungnya,
pedang itu hitam mulus, jelas itulah Siok li kiam yang
diperoleh di Coat-ceng-kok itu"
Tidak kepalang rasa kecewa Nyo Ko, bicaranya sudah
tanpa pikir lagi, segera ia berteriak: "Siapa ingin menjadi
pasangan setimpal dengan kau? Kun-cu-kiamku sudah patah,
Pedang ini memang betul milik guruku, pasti kau mencurinya,
ya, kau mencurinya ya, kau mencurinya!"
Sudah sejak kecil Kwe Hu sangat dimanjakan, sekalipun
ayah-bundanya juga mau mengalah padanya, apalagi kedua
saudara Bu, mereka munduk2 belaka terhadap si nona,
sekarang Nyo Ko bicara sekasar ini padanya, tentu saja ia
tidak tahan. Apalagi nada ucapan Nyo Ko itu seakan-akan
menuduh-nya sengaja mengarang ucapan Siao-liong-li itu agar
si Nyo Ko mau menjadi pasangannya dan si Nyo Ko justeru
tidak sudi.
BegituIah segera Kwe Hu pegang pedangnya, dia
bermaksud meloiosnya terus menabas, tapi segera timbul
keinginannyaakan membikin panas hati Nyo Ko, ia tahu anak
muda itu sangat menghormat dan mencintai gurunya, kalau
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
kejadian ini diceritakannya pasti anak muda itu akan marah
setengah mati. . .
Dalam keadaan murka sama sekali Kwe Hu tidak
menimbang lagi bagaimana akibatnya jika dia menguraikan
apa yang hendak dikatakannya itu. Segera ia masukkan
kembali pedang yang sudah hampir ditotoknya tadi, lalu
berduduk dan berkata dengan tertawa dingin:
"Ya, gurumu memang cantik dan tinggi pula ilmu silatnya,
sungguh wanita yang jarang ada bandingannya di dunia ini,
Cuma saja, ada sesuatu yang tidak beres."
"Sesuatu apa yang tidak beres?" tanya Nyo Ko, "cuma
kelakuannya tidak beres, suka bergaul secara sembunyi2
dengan kaum Tosu Coan-cin-kau," tutur Kwe Hu.
Dengan gusar Nyo Ko menyanggah: "Guruku bermusuhan
dengan Coan-cin-kau, mana mungkin berhubungan secara
gelap dengan mereka?"
Kalimat bergaul secara sembunyi yang kukatakan ini
sesungguhnya masih terlalu sopan, malahan ada lainnya lagi
yang tidak pantas diucapkan anak perempuan seperti diriku
ini" kata Kwe Hu pula dengan tertawa dingin.
Nyo Ko tambah gusar, teriaknya: "Guruku suci bersih, jika
kau sembarangan omong lagi, awal kalau mulutmu tidak
kuremas."
Akan tetapi Kwe Hu tetap dingin-dingin saja dan berkata:
"Ya, dia berani berbuat, aku yang berani mengatakan Huh,
bagus amat nona yang suci bersih, tapi bergaul dengan
seorang Tosu busuk." .
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
"Apa katamu?" hardik Nyo Ko dengan muka merah padam.
"Aku mendengar dengan telingaku sendiri, masakah bisa
keliru?" kata Kwe Hu pu!a, "Enam orang Tosu Coan-cin-kau
berkunjung kepada ayahku, tatkala mana dalam kota sedang
kacau menghadapi serangan musuh, ayah ibu kurang sehat
dan tidak dapat menemui mereka, maka akulah yang
menyambut tetamunya...."
"Lantas bagaimana?" bentak Nyo Ko pula dengan gusar.
Melihat mata anak muda itu melotot merah, otot hijau
sama menonjol di dahinya, Kwe Hu bergirang karena
tujuannya tercapai, dengan berseri-seri ia berkata pula:
"Kedua Tosu itu masing-masing bernama Tio Ci-keng dan In
Cipeng, ada tidak Tosu Coan -cinkau yang bernama begitu?"
"Kalau ada lantas bagaimana?" bentak Nyo-Ko pula.
Dengan tersenyum Kwe Hu menyambangi "Setelah kuatur
pondokan untuk mereka, lalu aku tidak mengurus mereka lagi,
Siapa duga tengah malam seorang murid Kay pang melapor
padaku, katanya kedua Tosu itu sedang bertengkar sendiri di
dalam kamar."
Nyo Ko mendengus sekali, ia pikir Ci-keng dan Gi-peng
memangnya tidak akur satu sama lain, bahwa mereka
bertengkar kenapa mesti diherankan?
Dalam pada itu Kwe Hu sedang menutur pula: "Karena
ingin tahu, diam-diam aku mendekati jendela kamar mereka,
kulihat mereka tidak berkelahi lagi, tapi masih ribut mulut.
Orang she Tio bilang orang she In, berbuat begini dan begitu
dengan gurumu, sedangkan Tosu she In itu tidak menyangkal
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
hanya menyesalkan temannya itu tidak seharusnya
bergembar-gembor..."
Mendadak Nyo Ko berbangkit dan duduk di tepi tempat
tidur sambil membentak: "Berbuat begini dan begitu apa
maksudmu?"
Muka Kwe Hu tampak merah, sikapnya rada kikuk untuk
menjawab, katanya kemudian: "Mana aku tahu? Yang pasti
masakah, perbuatan yang baik? Apa yang dilakukan guru
kesayanganmu itu hanya dia sendiri yang tahu."
Nadanya penuh mengandung perasaan jijik dan menghina.
Saking gusar dan gugupnya, pikiran Nyo Ko menjadi
kacau, tanpa pikir sebelah tangannya terus menampar, "plok",
dengan tepat pipi Kwe Hu kena ditempeleng.
Dalam keadaan gusar, pukulan Nyo Ko itu cukup keras,
keruan mata Kwe Hu berkunang-kunang dan sebelah pipinya
lantas bengkak, kalau saja Nyo Ko tidak habis sakit, mungkin
giginya rontok digampar oleh anak muda itu.
Selama hidup Kwe Hu mana pernah terhina secara begitu?
sesungguhnya dia tidak tahu bahwa Siao-liong-li adalah satusatunya
orang yang paliug dihormati dan dicintai Nyo Ko,
mencemar nama baik Siao-liong-li adalah melebihi dia ditusuk
pedang tiga kali. Tapi Kwe Hu juga seorang nona yang tidak
pikir apalagi jika sudah murka, segera dia melolos Siok-li-kiam
terus menusuk ke leher Nyo Ko.
Habis menampar Kwe Hu, Nyo Ko pikir persoalan ini pasti
sukar diselesaikan, nona ini adalah puteri kesayangan paman
dan bibi Kwe, seumpama mereka tidak menyalahkan dia,
rasanya juga tidak betah tinggal lebih lama di kota ini.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena ia lantas turun hendak memakai sepatu dan ketika
itulah dilihatnya pedang Kwe Hu menusuk tiba, Sambil
mendengus sebelah tangan Nyo Ko meraih dan tangan yang
lain terus menutuk dan memegang, dengan mudah saja Siok-
Ii-kiam itu dapat direbutnya.
Ber-turut-urut kecundang, Kwe Hu tambah murka?
dilihatnya di atas ranjang ada pula sebatang pedang, ia terus
menubruk maju dan merampasnya, segera pedang itu
dilolosnya terus ditabaskan ke kepala Nyo Ko.
Seketika pandangan Nyo Ko menjadi silau tidak kepalang
kagetnya melihat nona itu menabas-nya dengan Ci-wi-kiam, ia
tidak berani merebutnya dengan tangan, sebisanya ia angkat
Siok- li-kiam untuk menangkis.
Tak terduga karena dia habis sakit selama tujuh hari,
tenaga belum pulih, baru saja Siok li kiam terangkat sedikit
segera lengannya tidak sanggup terangkat lebih tinggi lagi.
Sementara itu tabasan pedang Kwe Hu sudah tiba,
"Trang", kedua pedang beradu, Sioklikiam kutung menjadi
dua. Kwe Hu sendiri terkejut, sama sekali tak disangkanya Ciwi-
kiam itu begitu lihay. Dalam keadaan unggul dan dendam
atas tamparan Nyo Ko tadi.
Kwe Hu pikir biarpun kubunuh kau juga rasanya ayah-ibu
takkan menyalahkan aku mengingat jiwa adikku juga dicelakai
olehmu, Ketika itu kaki Nyo Ko juga terasa lemas dan jatuh
terduduk di lantai tanpa bisa melawan lagi, hanya tangan
kanan saja yang terangkat di depan dada untuk menjaga diri,
tapi sorot matanya sama sekali tiada menampilkan keinginan
mohon dikasihani Kwe Hu menjadi gemas, segera pedangnya
ditabaskan lebih ke bawah lagi....
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Bagaimana akibat dari tabasan pedang Kwe Hu itu
merupakan kunci utama cerita ini maka untuk sementara ini
kita tinggalkan dahulu, Marilah kita kembali dulu pada Siaoliong-
li ketika dia menunggang kuda merah menyusul Nyo Ko
dan Kim-lun Hoat-ong, tapi dia telah kesasar ke jurusan yang
lain.
Kuda merah itu teramat cepat jarinya, sekejap sudah
belasan li jauhnya, ketika dia putar balik, sementara itu Nyo
Ko sudah menghilang di lembah pegunungan itu.
Tanpa kenal lelah Siao-liong-li terus mencari di sekitar
Siangyang, Sampai tengah malam barulah ia mendengar suara
raung tangis Bu Sam-thong di kejauhan. Cepat Siaoliong-li
mencari ke arah datangnya suara, tidak lama dapatlah
didengarnya suara pertempuran kedua saudara Bu, menyusul
terdengar pula suara bicara Nyo Ko.
Tentu saja ia girang, ia kuatir Nyo Ko ketemukan musuh
tangguh, maka ia ingin membantunya secara diam-diam saja,
segera ia turun dari kudanya, ia tambat kuda merah itu pada
sebatang pohon, lalu merunduk ke sana dan sembunyi di balik
sepotong batu padas untuk mengintip cara bagaimana Nyo Ko
menghadapi musuh.
Celakanya yang terdengar adalah ucapan Nyo Ko yang
berulang-ulang menyatakan sudah dijodohkan dengan Kwe
Hu, nona itu disebutnya sebagai bakal isterinya, Kwe Cing dan
Ui Yong dipanggilnya ayah dan ibu mertua. Didengarnya pula
Nyo Ko mengaku menerima ajaran ilmu silat secara diam-diam
dari Ui Yong, dilihatnya pula Nyo Ko sangat marah kepada
kedua saudara Bu, serta melarang kedua anak muda itu
kemudian menyebut nama Kwe Hu.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah setiap Nyo Ko mengucapkan hal itu, setiap kali
pula Siao liong-Ii seperti disambar petir, pikirannya menjadi
kacau, dunia mendadak dirasakan seperti sudah kiamat.
Kalau orang lain, tentu akan timbul rasa sangsinya melihat
kata dan perbuatan Nyo Ko itu sama berbeda, namun Siaoliong
li memang orang yang lugu, hatinya bersih, pikirannya
sederhana, sedikitpun tidak paham seluk beluk kepalsuan
kehidupan manusia.
Biasanya Nyo Ko juga tidak pernah membual sedikitpun
padanya sekalipun terhadap orang lain anak muda itu
memang suka juga, sebab itulah Siao-liong-li menaruh
kepercayaan penuh terhadap apa yang diucapkan Nyo Ko.
Begitulah ketika melihat kedua Bu cilik bukan tandingan
NyoKo, Siao-liong-Ii yang sedang berduka dan menyesali
nasibnya itu tanpa terasa mengeluarkan suara tarikan napas
panjang sebagaimana yang didengar oleh Nyo Ko itu sehingga
dia hampir saja berseru memanggilnya. Pada saat itu juga
Siao-liong-li lantas pergi dengan berlinangan air mata.
Sambil menuntun kuda merah itu Siao-liong-li berkeliaran
semalaman di ladang sunyi itu, pikirannya kacau dan bingung.
Usianya sudah lebih 20 tahun, tapi selama hidupnya berdiam
di dalam kuburan kuno itu, seluk-beluk kehidupan manusia
sedikitpun tidak dipahaminya, hakekatnya jalan pikirannya
masih polos dan bersih seperti anak kecil. ia pikir: "Nyo Ko
sudah terikat jodoh dengan nona Kwe, dengan sendirinya tak
dapat menikahi diriku lagi. Pantas Kwe-tayhiap suami-isteri
berulang-ulang merintangi hasrat Ko-ji yang ingin menikahi
aku, Bahwa selama ini Ko-ji tidak memberitahukan padaku
tentang ikatannya dengan nona Kwe, tentunya karena dia
kuatir aku akan berduka, Ai dia memang sangat baik padaku."
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Begitulah lantaran dia juga mencintai Nyo Ko, walaupun
dengan mata telinga sendiri mendengar anak muda itu
mengatakan hendak menikah dengan Kwe Hu, namun ia tidak
dendam sedikitpun kepada anak muda itu, ia hanya berduka
dan menyesali nasibnya sendiri Malahan lantas terpikir lagi
olehnya: "Sebabnya Ko-ji tidak cepat-cepat membunuh
Kwetayhiap untuk membalas sakit hati kematian ayahnya,
kiranya persoalan nona Kwe inilah yang membuatnya
bimbang, jika begitu tampaknya dia juga sangat baik kepada
nona Kwe. Kalau sekarang kuberikan kuda merah ini padanya,
bisa jadi dia akan teringat lagi kepada kebaikanku dan
perjodohannya dengan nona Kwe mungkin akan terganggu
lagi. Rasanya lebih baik kupulang sendirian saja ke kuburan
kuno itu, dunia yang fana ini cuma membikin kacau dan
membingungkan pikiranku saja."
Setelah berpikir pula, akhirnya ia membulatkan tekad,
meski hatinya terasa disayat-sayat, cintanya kepada Nyo Ko
terasa berat sekali untuk diputuskan, tapi terpikir pula olehnya
menyelamatkan jiwa anak muda itu terlebih penting.
Karena itulah malam itu juga dia pulang ke Siangyang dan
minta pertolongan Cu Cu-liu agar suka mengantarkan kuda
merah kepada Nyo Ko yang masih berada di lembah sunyi itu.
Waktu itu Siangyang belum tenang kembali, Kwe Cing
serta Ui Yong belum sehat pula, maka tugas pertahanan kota
diurus oleh Loh Yu-kah dibantu oleh Cu Cu-liu.
Di tengah kemelut itulah Siao-liong-li membawa kuda
merah datang pada Cu Cu-liu dan minta bantuannya
mengantar kuda itu kepada Nyo Ko agar anak muda itu lekas
pergi ke Coatcengkok dan menukar obat penawar dengan bayi
yang baru dilahirkan Ui Yong. Sudah tentu Cu Cu-liu merasa
bingung oleh penuturan yang tak diketahui awal mulanya itu,
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
la, coba bertanya lebih jelas, tapi Siao liong li sendiri sedang
kesal dan tidak ingin banyak bicara, dia hanya mendesak Cu
Cu-liu lekas berangkat, katanya kalau terlambat bisa jadi jiwa
Nyo Ko akan melayang.
Sama sekali Siao-liong-li tidak pedulikan bahwa waktu itu
Kwe Hu juga berada di sebelah Cu Cu-liu, ia pikir adikmu itu
dibawa sementara ke Coat-ceng-kok, tentu tidak beralangan,
apalagi demi menyelamatkan jiwa bakal suamimu.
Biasanya Siao-Iiong-li dapat menguasai perasaanya, suka
atau duka jarang dipikirkan olehnya, tapi sejak jatuh cinta
kepada Nyo Ko, segala ilmu menguasai perasaan sendiri yang
dilatihnya sejak kecil hampir tak dapat digunakan lagi,
guncangan perasaannya bahkan jauh lebih hebat daripada
orang biasa.
Maka sesudah memberi pesan kepada Cu Cu liu lantaran
beberapa kali menyebut nama Nyo Ko, tanpa terasa air
matanya lantas bercucuran, cepat ia lari kembali kekamar
sendiri dan menangis sedih di tempat tidur.
Biarpun Cu Cu-liu adalah seorang cerdik pandai, tapi
lantaran tidak tahu seluk-beluknya persoalan, uraian Siao-
Iiong-li yang tak keruan juntrungannya itu membuatnya
bingung. Tapi ingat bahwa kalau terlambat bisa jadi jiwa Nyo
Ko akan melayang", ia pikir terpaksa harus cepat ke lembah
itu dan bertindak menurut keadaan di sana.
Tetapi ketika dia mau berangkat ternyata kuda merah
yang dibawakan Siao-liong-Ii itu sudah hilang, waktu
ditanyakan penjaga, katanya nona Kwe yang membawanya
pergi. Ketika Kwe Hu dicari bayangan nona itupun tak dapat
diketemukan.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Karena menguatirkan keselamatan Nyo Ko, terpaksa Cu
Cu-liu menunggang kuda lain dan membawa belasan anggota
Kay-pang menuju ke lembah yang ditunjuk Siao-liong-li itu. Di
situ dilihatnya Nyo Ko dan ayah beranak keluarga Bu itu sama
menggeletak tak bisa berkutik.
Cepat mereka dibawa pulang ke Siangyang dan kebetulan
paman gurunya, yaitu si paderi Hindu datang dari negeri Tayli,
paderi inilah yang menyadarkan Nyo Ko dan lain-lain.
Begitulah Siao-liong-li terus menangis di kamarnya, makin
dipikir makin sedih, air matapun sukar dibendung lagi
sehingga membasahi baju dan tempat tidurnya, ia bermaksud
mengambil saputangan untuk mengusap air mata, tiba-tiba
tangannya menyentuh Siok-li-kiam yang terselip di tali
pinggangnya.
Tiba-tiba timbul pikirannya akan memberikan pedang itu
kepada Kwe Hu agar nona itu dan Nyo Ko benar-benar
menjadi suatu pasangan yang setimpal. Maklumlah, Siaoliong-
li teramat cinta kepada Nyo Ko, segala apa yang
bermanfaat bagi anak muda itu rela dilakukannya Karena
itulah ia lantas menuju ke kamar Kwe Hu.
Tatkala itu sudah lewat tengah malam, Kwe Hu sudah
tidur, Tanpa mcngetok pintu segala segera Siao-liong-ii
membuka daun jendela dan melompat masuk ke kamar serta
membangunkan Kwe Hu serta mengatakan "kalian memang
pasangan setimpal sebagaimana diuraikan kembali oleh Kwe
Hu kepada Nyo Ko itu. setelah menyerahkan Siok-li-kiam
kepada Kwe Hu segeru Siao-liong-li tinggal pergi.
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
Sudah tentu Kwe Hu terheran-heran dan bertanya apa
yang dimaksud, Namun Siao-Iiong li tidak menjawab terus
melompat keluar jendela pula.
"Kembalilah, Liong-kokoh!" cepat Kwe Hu teriaknya sambil
melongok keluar, tapi terlihat Siao-liong-li sudah melangkah
pergi tanpa berpaling pula.
Dengan menunduk kepala menahan rasa sedih Siao-liongli
masuk ke taman bunga, bau bunga mawar yang sedang
mekar mewangi mengingatkan dia ketika bersama Nyo Ko
berlatih Giok-li-sim-keng diseling oleh semak-semak bunga
dahulu. Untuk berkumpul lagi seperti dahulu itu rasanya sukar
terjadi lagi.
Selagi melayang pikirannya, tiba-tiba dari pojok rumah di
sebelah kiri sana ada seorang sedang ber-kata: "Kau
sebentar2 mengucap Siao-liong-li, apakah kau tidak dapat
berhenti menyebutnya?"
Keruan Siao-liong-li terkejut, ia heran siapakah yang selalu
menyebut namaku? Segera ia berhenti di situ untuk
mendengarkan lebih cermat.
Segera terdengar pula suara seorang lain tertawa
mengejek dan berkata: "Kau sendiri boleh berbuat, masakah
aku tidak boleh menyebutnya?"
Terdengar orang- pertama tadi -menjawab: "lni adalah
rumah orang lain, mata telinga teramat banyak kalau didengar
orang lain, ke mana lagi nama baik Coan-cin-kau kita akan
ditaruh?"
"Hehe, ternyata kau masih ingat kepada nama baik Coancin-
kau kita?" jengek pula orang kedui tadi, "Hehe, malam itu
Tiraikasih Website http://cerita-silat.com/cc
di tepi semak bunga mawar di Cong-lam-san, rasa nikmat naik
surga itu .... Wah, hahahaha!" Sampai disini ia hanya
terkekeh2 saja dan tidak melanjutkan.
Siao-liong-Ii tambah kaget dan sangat curiga, ia pikir
apakah mungkin malam itu waktu Ko-ji melaksanakan
cintanya padaku telah dapat diintip oleh kedua Tosu ini?
Dari suara kedua orang itu Siao-liong-li sudah tahu mereka
adalah In Ci-peng dan Tio Ci-keng. Maka diam-diam ia
mendekati jendela rumah itu dan berjongkok di situ untuk
mendengarkan lebih Ianjut.
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Cersil Keren

Pecinta Cersil