Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 03 Juni 2018

Mestika Golok Naga 1

======
baca juga
Jilid 1
Musim Semi telah berusia satu bulan. Pegunungan
Liong-san, dari kaki sampai ke puncak, nampak hijau
karena semua tumbuh-tumbuhan berdaun dan berbunga,
mendatangkan suasana yang sejuk segar.
Angin musim semi bertiup sepoi-sepoi menggerakkan
padang rumput ilalang yang seolah menjadi lautan
rumput yang bergoyang-goyang mengombak. Kalau
orang berdiri di lereng tengah, melihat ke puncak Liongsan,
akan nampak puncak itu muncul dari balik awan
yang mengelilinginya, seolah puncak itu ter gantung
pada langit dan di puncak itu masih nampak sebagian
berwarna putih karena masih ada sisa salju. Kalau orang
memandang ke bawah, akan nampak pemandangan
yang teramat indahnya.
Kelompok-kelompok hutan diseling jurang yang
curam, lalu di bawah sana nampak sawah ladang hijau
menguning, dusun-dusun kecil dan padang-paaang
rurnput. Segaris sungai berlenggak-lenggok seperti
seekor naga menuruniy bukit, makin jauh semakin lebar.
Pagi itu udara amat cerahnya. Matahari pagi bersinar
terang dan sejak pagi nampak kesibukan di sepanjang
le- reng itu. Burung-burung beterbangan sambil berkicau
saling sahutan, binatang-binatang kecil seperti tupai dan
kelenci sudah keluar mencari makan.
Kekuasaan Tuhan nampak di mana-mana, memberi
kehidupan dan kebahagiaan kepada apa dan siapa saja
yang dapat menerimanya. Berkah Tuhan berIimpahan,
tak pernah kurang, kepada semua mahluk, baik yang
bergerak maupun yang tidak bergerak. Selalu ada
tersedia untuk menyambung kehidupan atau untuk me
nikmati kehidupan.
Air, hawa udara, sinar matahari, tak pernah habishabisnya
menghidupi semua yang ada di permukaan
bumi ini. Kekuasaan Tuhan berada di dalam mata kita
yang membuat kita dapat melihat segala sesuatu yang
nampak.
Kekuasaan Tuhan terdapat di dalam pemandangan
alam semesta yang amat indahnya. Kita tinggal
membuka mata melihatnya untuk dapat menikmati
semua itu.
Namun sungguh sayang. Kadangkala kita tidak
melihat semua keindahan itu.'Butakah kita? Mata badan
kita tidak buta, akan tetapi mata batin kita yang buta.
Batin kita dipenuhi segala macam persoalan, disibukkan
segala macam masalah yang dibuat oleh pikiran kita
sendiri sehingga biarpun mata kita terbuka, kita tidak
dapat melihat betapa Kekuasaan Tuhan bekerja dan
hasilnya terbentang luas di depan mata kita.
Lihatlah awan yang berarak di seputar puncak itu.
Betapa ajaibnya. Lihatlah ujung-ujung ranting penuh
daun itu yang menari-nari ditiup angin. Betapa
menakjubkan. Rasakanlah mengalirnya hawa sejuk
segar itu ke dalam paru paru kita. Betapa nikmat dan
segarnya.
Dengarlah kicau burung, dendang percik air sungai,
bisikan rumput ilalang digerakkan angin. Betapa
merdunya. Namun semua itu lenyap, lewat begitu saia di
depan mata, di depan telinga, di depan panca indera kita
yanq secang sibuk sendiri oleh hati akal pikiran yang
menumpuk masalah. Berbahagialah orang yang dapat
menikmati itu semua.
Hidup adalah berkah. hidup adalah nikmat, hidup
adalah bahagia.
Hampir semua orang di dunia ini mengejar-ngejar atau
mencari kebahagian dengan berbagai cara, bahkan ada
cara menyiksa diri untuk mencari kebahagiaan! Pada hal,
kalau kita simak, mengapa kita mencari kebahagiaan?
Mengapa kita mendambakan, membutunkan
kebahagiaan? Jawabannya hanya satu, Yakni bahwa kita
mencari kebahagiaan karena kita MERASA tidak
berbahagia Bukankah demikian halnya ? Kita
mendambakan kebahagiaan karena kita merasa tidak
berbahagia.
Kebahagiaan adalah suatu keadaan hati perasaan.
Kalau dalam keadaan tidak berbahagia kita mencari ke
bahagiaan, mungkinkah kita akan dapat nenemukannya?
Tidakkah yang lebih penting kita menyelidiki, apa yang
menyebabkan kita tidak berbahagia itu ? Kalau sebab
yang membuat kita tidak berbahagia itu tidak ada lagi,
Perlukah kita mencari kebahagiaan? Tentu saja tidak
perlu lagi, kita tidak butuh bahagia lagi karena kita
SUDAH berbahagia!
Sama halnya dengan kesehatan. Dalam keadaan sakit
mengejar-ngejar kesehatan jelas tidak mungkin .
Kesehatan adalah suatu keadaan badan. Kalau sebab
yang membuat kita sakit atau tidak sehat itu sudah
hilang, kita tidak membutuhkan kesehatan lagi karena
kita sudah sehat! Akan tetapi seperti juaa kesehatan,
kebahagiaan tidak dirasakan oleh kita, Kalau kita sehat,
apakah kita merasa sehat ? Kita baru merasa
membutuhkan kesehatan begitu kita sakit .
Demikian pula dengan kebahagiaan. Kita tidak
merasakan betapa Tuhan menciptakan kita dengan
sempurna, betapa kebahagiaan sudah ada pada diri kita,
namun kita baru merasakan kalau ada sesuatu yang
mengganggu sehingga kita merasa tidak berbahagia.
Terpujilah Tuhan Maha Kasih. BerkahNya sudah
berlimpahan. Tinggal kita mampu untuk menerimanya
atau tidak! .
Di puncak Liong-san (Gunung Naga) yang dingin itu,
yang dari lereng nampak dikelilingi awan dan sunyi
senyap itu, pada pagi hari itu tidaklah sunyi. Di puncak
yang datar dan penuh batu besar itu nampak empat
orang sedang duduk bersila saling berhadapan, dan
mereka itu nampaknya sedang berbantahan.
"Sian-cai . . . . . !"
Seorang di antara mereka, seorang tosu (pendeta
agama To) berseru.
"Kami dari Hoasan-pai selalu mempertanggungjawabkan
perbuatan kami. Kalau kami yang mengambil
golok mestika itu, pasti akan kamu akui! akan tetapi pinto
(aku) berani memastikan bahwa perbuatan itu tidak
dilakukan oleh seorang di antara kami!" Tosu ini adalah
Thian Seng Cu, seorang tokoh dari partai Hoa-sanpai,
seorang tosu yang terkenal lihai berusia sekitar limapuluh
tahun, bertubuh tinggi kurus.
"Kalau ada seorang di antara para pengawal itu tewas
karena pukulan Tiat ciang (Tangan Besi), Itu pasti ada
orang lain yang mencuri ilmu perkumpulan kami dan
menggunakannya. Kami tidak akan pernah
mempergunakan Tiat-ciang untuk membunuh orang dan
mencuri golok mestika!"
"0mitohud....!" Seru seorang hwesio yang gemuk,
berusia sekitar lima puluh tahun Juga. "Apa yang
diucapkan Thian Seng Cu Tosu adalah suara hati
pinceng Juga! Seorang pengawal telah tewas dengan
pukulan Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah), akan
tetapi pinceng berani tanggung bahwa pukulan itu tidak
dilakukan oleh seorang murid Siauw lim-pai. Murid
Siauw-lim-pai tidak akan mencuri golok mestika dari
gudang pusaka istana!" Hwe-slo Itu bernama Tek Hwat
Hwe-slo, seorang tokoh Siauw lim-pai tingkat tiga.
" O-ho.......!" Seorang di antara mereka, yang
barpakaian seperti seorang sasterawan, berseru nyaring.
"Kalau Hoa-sanpai dan Siauw-lim-pai tidak mengambil
golok mestika itu, apakah ada yang menyangka bahwa
Butong-pai mengambilnya? Kami juga bukan golongan
pencuri yang suka mencuri golok mestika. Biarpun di
antara para pengawal ada yang tewas karena senjata
rahasia Touw-kut-teng, namun aku berani tanggung
bahwa itu bukanlah perbuatan murid Butong-pai!" Orang
berpakaian sasterawan ini adalah Kiang Cun, seorang
tokoh Butong-pai yang lihai pula. Usia nya empatpuluh
tahun lebih dan tubuhnya sedang saja, hanya sepasang
matanya yang menarik perhatian karena tajamnya seperti
mata elang.
"Sian-cai.... ! Di antara kita memang tidak mungkin
ada yang mencuri golok mestika itu. Kami dari Kun-lunpai
juga tidak pernah mencurigai perkumpulan sam-wi
(anda bertiga), seperti juga kami tidak tahu menahu
tentang lenyapnya golok mestika. Kematian seorang
pengawal akibat pukulan Pek-lek-jiau (Tangan Geledek)
bukan merupakan bukti bahwa murid kami yang
melakukannya. Setiap ilmu yang sudah dipelajari oleh
ratusan orang murid, bisa saja bocor keluar dan dipelajari
oleh orang lain, lalu dipergunakan untuk melakukan
fitnah kepada kami! Justeru kami mengundang sam-wi
berkumpul di Liong-san ini untuk membicarakan urusan
itu, bukan saling menuduh, Pencuri telah
mempergunakan ilmu-ilmu dan senjata rahasia kita untuk
membunuhi para pengawal. Berarti perkumpulan kita
berempat yang difitnah. Sudah menjadl kewajiban kami
untuk menyelidiki dan menangkap pencuri yang
melempar fitnah kepada perkumpulan kami berempat
itu!"
"Hemm, benar sekali apa yang dikatakan Ciong-tosu!"
Orang yang disebut Ciong-tosu itu adalah seorang
tosu dari Kun-lun-pai, tubuhnya tinggi besar dan
jenggotnya panjang sampai ke dada, nampaknya gagah
sekali dalam usianya yang 1imapuluh tahun.
"Karena itu, pinto harap agar kita semua pulang
keperkumpulan masing-masing dan mengerahkan para
anggauta untuk melakukan penyelidikan. Menyelidiki si
pencuri memang tidak mudah, maka jalan satu-satunya
adalah mencari golok mestika Itu. Dan satu-satunya cara
untuk memancing si pencuri adalah mengabarkan bahwa
golok mestika yang dicurinya itu adalah palsu!"
Tiga orang yang lain mengangguk-angguk setuju.
Pada saat itu terdengar suara orang tertawa bergelak
dan sinar hitam halus menyambar ke arah mereka.
Semua orang mengelak dari sambaran senjata rahasia
ini, kecuali Kiang Gun, tokoh Butong-pai itu. Dia
menggunakan dua jari tangannya menjepit dan
menangkap senjata rahasia itu,
"Touw kut-teng (Paku Penembus Tu lang) !" Serunya
kaget mengenal senjata rahasia dari perkumpulannya.
"Kurang ajar, slapa menggunakan Touw-kut-teng?"
Semua orang berloncatan dan membalikkan tubuh ke
arah dari mana datangnya sambaran senjata rahasia itu.
Mereka melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih
limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa
dan bermuka hitam, telah berdiri tak jauh dari tempat
mereka dan bertolak pinggang sambil tertawa bergelak.
Kiang Cun melangkah ke depan dan menegur dengan
suara lantang, "Siapa engkau berani menggunakan
senjata rahasia Touw-kut-teng kami?"
"Ha-ha-ha! Selain Touw-kut-teng, akupun pandai
menggunakan Tiat-ciang dari Hoa-san-pai, Ang-seeciang
dari Siauw-lim-pai, dan Pek-lek-jiau dari Kun-lunpai.
Ha-ha-ha-ha!"
Siapa raksasa muka hitam itu congkak sekali.
Wajahnya memang menyeramkan. Kepalanya botak,
rambutnya yang jarang itu kaku seperti kawat, demikian
pula jenggot dan kumisnya, kaku bercampur uban.
Alisnya tebal, matanya besar dan terbelalak, hidungnya
besar dan mulutnya lebar. Segala anggauta tubuh orang
ini nampaknya besar dan tebal, tubuhnya yang tinggi
besar itu kokoh kekar seperti batu karang.
Mendengar ucapan orang itu, empat tokoh partai
besar itu terbelalak kaget dan hampir berbareng mereka
berseru, "Pencuri golok mestika ........!!"
Ciong-tosu, tokoh Kun-lun-pai, melompat ke depan
menghadapi raksasa itu. Dia menudingkan telunjuknya
ke arah raksasa itu sambil membentak, "Kiranya engkau
pencuri golok mestika dan telah melempar fitnah kepada
kami ! Sekarang berhadapan dengan kami , sebaiknya
engkau menyerah untuk kami tangkap dan kami
hadapkan ke kota raja!"
"Ha-ha-ha, engkau Ciong-tosu dari Kun-lun-pai,
bukan? Kalau aku takut ke pada kalian, perlu apa aku
keluar menemui kalian di sini?"
"Sian-cai. ...! Manusia sombong katakan siapa
namamu!" kata Ciong-tosu marah.
"Apa perlunya aku memperkenalkan nama kalau
kalian semua akan mati? Ha- ha-ha!" Dia menggerakkan
tangan kanan dan "singggg..... !!i" sebatang golok yang
berkilauan telah dicabut dari balik bajunya yang longgar.
Mudah sekali, dikenal golok yang terdapat ukiran Naga
itu, dan indah sekali. Itulah tentu nya Mestika Golok Naga
yang telah dicuri dari gudang pusaka istana!
"Sebut saja aku Si Golok Naga, ha-ha-ha!"
Ciong-tosu semakin marah. Dia mencabut pedangnya
dan membentak nyaring,
"Manusta sombong, lihat pedang !"
Dan diapun menyerang dengan tusukan kilat bertubitubi
karena dia menggunakan jurus maut Liong-li-coanciam.
(Liong-li Menusuk Dengan Jarum ). Jurus ini
dahsyat sekali dengan pedang menusuk bertubi-tubi ke
arah tigabelas-jalan darah di bagian depan tubuh lawan.
Akan tetapi raksasa hitam itu sambil tertawa bergelak
memutar goloknya dan terdengar suara berdencing
nyaring dari pertemuan kedua senjata itu yang
mengakibatkan Ciong-tosu terhuyung! Semua tokoh itu
terkejut. ilmu kepandaian Ciong-tosu dari Kun-lun-pai itu
sudah cukup tinggi, akan tetapi dalam segebrakan saja
dia sudah terhuyung.
Para tokoh empat partai itu adalah tokoh-tokoh kelas
tiga, kepandaian mereka sudah tinggi maka mereka juga
segan untuk melakukan pengeroyokan dan tadi ketika
Ciong-tosu maju, merekapun hanya menjadi penonton.
"Ha-ha-ha, dengan kepandaian serendah itu engkau
hendak menangkap Si Golok Naga? Ha-ha-ha, kalian
berempat majulah semua, agar lebih cepat dan lebih
mudah aku membunuh ! kalian!" tantang si raksasa
dengan siapa sombong.
Empat orartg tokoh itu. kini tidak pantang untuk maju
bersama karena mereka ditantang dan juga jelas bahwa
Ilmu kepandaian raksasa itu tinggi sekali sehingga kalau
mereka maju satu demi satu, tak mungkin mereka akan
mampu menandinginya. Kiang Cun, tokoh Butong- pai
mencabut pula pedanqnya, Thian ceng Cu tokoh Hoasan-
pai juga mencabut siang-kiam (sepasang pedang)
dari punggungnya dan Tek Hwat Hwe-sio dari Siauw-Iimpai
maju dengan tangan kosong karena hwe-sio ini selain
tidak membawa senjata, juga ujung kedua lengan
bajunya dapat menjadi senjata yang ampuh.
Raksasa hitam yang menggunakan julukan Si Golok
Naga itu masih tertawa, amat memandang rendah empat
orang lawan yang sudah mengepungnya, kemudian tibatiba
dia mengeluarkan suara menggerang seperti
harimau dan empat orang itu terkejut sekali karena
mereka merasa betapa Jantung mereka terguncang dan
mereka terhuyung.
Pada saat itu, Si Golok Naga menggerakkan goloknya
dengan dahsyat. Golok itu berubah menjadi gulungan
sinar terang dan mengeluarkan suara angin menderuderu.
Empat orang tokoh partai besar itu makin terkejut
lagi Samar-samar mereka mengenal ilmu golok itu
seperti ilmu golok Ngo-houw-toan-bun-to (Ilmu Golok
Lima Harimau Menjaga Pintu), akan tetapi gerakan itu
memiliki perkembangan yang aneh dan juga kokoh kuat
sekali.
Mereka segera menggerakkan senjata menyerang dari
empat jurusan. Tek Hwat Hwe-Sio menggerakkan kedua
tangannya yang didahului oleh sepasang ujung lengan
bajunya, gerakannya mengandung tenaga sinkang dan
mendatangkan angin menyambar-nyambar.
Pedang Kiang Cun tokoh Bu tong-pai juga bergerak
cepat dan indah seperti yang menjadi keistimewaan Ilmu
pedang Butong-pai.
Demikian pula Ciong tosu sudah menyerang lagi
dengan pedangnya dan Thian Seng Cu dari Hoa-San-pai
memainkan siang-kiamnya dengan cepat.
Biarpun dikeroyok oleh ampat tokoh partai besar yang
berilmu tinggi, namun raksasa hitam itu sama sekali tidak
takut. Dia masih dapat tartawa-tawa ketlka golok di
tangannya membantuk benteng sinar yang menghalau
semua serangan empat orang itu.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat. Biarpun
tingkat kepandaian Si Golok Naga itu jauh lebih tinggi,
akan tetapi karena empat orang tokoh itu maju bersama,
mereka dapat menandingi juga dan pertandingan itu
terjadi dengan hebatnya.
Sejak tadi, seorang laki-laki tengah tua berusia
empatpuluhan tahun bersama seorang anak laki-laki.
berusia lima tahun mendekam di balik semak belukar
dengan tubuh gemetaran karana takut. Laki-laki itu
seorang penduduk dusun yang pekerjaannya di samplng
bertanl, juga kadang kala memburu binatang untuk
penambah penghasilannya yang sederhana.
Orang itu bernama Tan Hok, dan puteranya bernama
Tan Tiong Li. Pada hari itu, tidak seperti biasanya, Tan
Hok mengajak puteranya untuk mendaki ke puncak
karena sejak tadi mereka tidak menemukan binatang
buruan di lereng.
Ketika mereka melihat di puncak ada orang-orang
aneh, mereka lalu bersembunyi karena takut. Apa lagi
ketika muncul raksasa hitam yang kini bertanding dengan
empat orang tokoh partai besar itu. Mereka menjadi
ketakutan dan mendekam di balik semak belukar dengan
tubuh gemetar.
Pertandingan itu sudah mencapai puncaknya ketika Si
Golok Naga mengubah ilmu goloknya yang kini
menyambar-nyambar bagaikani kilat. Empat orang
pengeroyoknya berusaha untuk melindungi dirinya
masing-masing, akan tetapi sia sia belaka. Golok Naga
itu menyamba dahsyat, mengeluarkan bunyi berdesingan
mengerikan dan robohlah Tek Hwat Hwe-sio yang
pertama kali kena disambar sinar golok sehingga
dadanya terluka lebar dan dia roboh dan tewas seketika!
Tiga orang rekannya menjadi merah dan mengamuk,
akan tetapi belum lewat lima jurus, Ciong-tosu dari Kunlun-
pai juga roboh dan tewas dengan leher hampir putus!
Tan Hok dan anaknya menjadi semakin ketakutan
melihat robohnya dua orang dengan darah muncrat
mengerikan itu. Tan Hok segera menangkap tangan
puteranya diajak bangkit dan melarikan diri dari tempat
itu .
Gerakan mereka terlihat oleh SI Golok Naga, akan
tetapi karena masih menghadapi dua orang pengeroyok
Si Golok Naga melanjutkan amukannya dan berturutturut
Kiang Cun dan Thian Seng Cu juga roboh dan
tewas.
Si Golok Naga tertawa bergelak dan ketika terlihat
akan ayah dan anak yang tadi bersembunyi dan
melarlkan diri, dia segera melompat dan melakukan
pengejaran .
"Hei ....!!, kalian berdua, berhenti !" teriak Si Golok
Naga ketika melihat dua orang itu sudah berlari cukup
jauh, dilereng puncak bukit di depan .
Mendengar teriakan yang amat nyaring itu, Tan Hok
semakin panik. Dia lalu mendorong puteranya agar naik
ke puncak bukit itu dan berkata, "Naiklah kau ke puncak
itu dan bersembunyi di sana! Aku akan memancing dia
agar mengejar ke jurusan lain!" Tan Tiong Li memang
baru lima tahun akan tetapi dia seorang anak yang cerdik
sekali. Dia sudah dapat mengertl apa yang dimaksud kan
ayahnya, maka diapun mendaki puncak itu seorang diri
sedangkan ayahnya sengaja berlari ke padang rumput
agar dapat nampak oleh pengejarnya. Ayah ini tidak
memperdulikan keselamatan diri sendiri. Baginya, yang
terpenting adalah keselamatan anaknya.
Usaha pancingannya berhasil. Si Golok Naga melihat
dia lari melintasi padang rumput segera melakukan
pengejaran. Tak lama kemudian Tan Hok dapat tersusul
dengan mudah dan tanpa banyak cakap lagi Si Golok
Naga menggerakkan goloknya dan putuslah leher Tan
Hok Dia roboh dan kepalanya menggelinding jatuh dari
tubuhnya.
Si Golok Naga memandang ke kanan kiri. "Ehh, tadi
dia bersama seorang anak kecil. Ke mana perginya anak
itu? Celaka dia akan menjadi saksi yang merugikan. Aku
harus dapat menemukan dan membunuhnya !" katanya
seorang diri dan melihat di depan terdapat puncak Itu,
dia lalu mendaki puncak dengan golok di tangan. Dia
merasa yakin bahwa anak itu tentu menyembunyikan diri
di puncak itu.
Dengan napas terengah-engah Tan Tiong Li dapat
tiba di puncak bukit itu. Dia lelah sekali dan kehabisan
napas, maka ketika tiba-tiba dari balik batu besar itu
muncul seorang-manusia, dia begitu terkejut dan
ketakutan sehingga tubuhnya terguling dan dia sudah
berlutut sambil menangis.
Dua tangan dengan lembut menariknya bangun dan
Tiong Li melihat bahwa orang itu bukanlah raksasa hitam
yang tadi mengejar dia dan ayahnya, melainkan seorang
hwesio tua yang berjubah kuning. Hwesio tua itu
tersenyum kepadanya.
"Omitohud .... seorang anak kecil mendaki puncak
seorang diri. Anak yang baik, siapakah engkau dan
kenapa engkau berlari-larl ke tempat ini ?"
"Lo suhu...... saya dikejar-kejar seorang raksasa hitam
yang hendak membunuh saya...... "
Hwe sio itu masih tersenyum, "Raksasa hitam? Di
mana ada raksasa hitam, anak yang baik ? Engkau
mengkhayal barangkali."
"Tidak, lo-suhu. Sungguh raksasa itu telah membunuh
banyak orang di puncak sana dengan goloknya.
Mengerikan. Dia lalu mengejar ayah dan saya ....... "
" Ayahmu? Mana ayahmu ? "
"Ayah berlari ke arah lain agar raksasa Itu tidak
mengejar saya. Tolonglah, lo-suhu....."
Kini hwe-sio itu tidak tersenyum lagi melainkan
mengerutkan alisnya karena dia mulai percaya bahwa
anak ini tidak berbohong dan tidak berkhayal Dia lalu
memandang ke bawah puncak dan pada saat itu dia
melihat seorang laki laki tinggi besar bermuka hitam
membawa sebatang golok yang berkilauan sedang
berlari cepat mendaki puncak itu.
"Omitohud.... agaknya semua ceritamu benar, anak
baik. Jangan takut, pinceng akan melindungimu dari
raksasa hitam itu."
Sementara itu, Si Golok Naga dengan penasaran
mendaki untuk mencari anak yang hilang itu. Anak itu
harus matil Tidak seorangpun yang rnenyaksikan apa
yang terjadi di puncak sana ta di boleh hidup.
Akhirnya dia tiba di puncak dan melihat anak itu
berlutut di depan seorang hwesio tua renta. Dia
menyarungkan goloknya dan tertawa.
"Ha-ha-ha, bocah setan, kiranya engkau bersembunyi
di sini!" Tangannya yang panjang itu dijulurkan ke depan
hendak mencengkeram Tiong Li. Akan tetapi tangan Itu
bertemu tangan lain yang lembut.
"Omitohud, hendak kau apakan anak ini, sobat?"
Si Golok Naga mengerutkan alisnya yang tebal ketika
merasa betapa gerakan tangannya tertahan.
"Hemm, Jangan ikut-ikut, hwe-sio tua. Jangan
mencampuri urusanku dan serahkan anak itu ke
padaku!"
"Engkau belum menjawab pertanyaan ku, sobat.
Hendak kauapakan anak ini?"
"Persetan, keparat! Anak itu harus mat! ditanganku!"
bentak raksasa hitam itu.
"Omitohud, siapa yang berbuat jahat terhadap orang
yang tidak bersalah atau berdosa, maka kejahatan itu
akan berbalik menimpa dirinya sendiri, bagaikan
menebarkan debu melawan arah angin yang akan
berbalik menimpa yang menebarkannya." Hwe-sio itu
mengucapkan pelajaran agama Buddha dengan suara
yang lantang namun lembut mengingatkan.
"Hwe-sio tua, kalau engkau banyak cakap lagi,
engkaupun akan kubunuh! Serahkan anak itu!"
Kembali hwe-sio tua itu menjawab dengan ayat-ayat
dalam pelajaran agama Buddha,
"Dia yang melaksanakan kehendaknya dengan jalan
kekerasan tidaklah benar. Bijaksanalah dia yang
menimbang antara yang salah dan yang bernar."
Ketika raksasa hitam itu nampak semakin marah, hwesio
tua itu berkata lagi, "Anak ini bukan apa-apamu, dan
sudah lari ke sini mencari perlindungan kepada pinceng.
Pinceng harap engkau orang gagah suka memandang
muka pinceng dan tidak mengganggunya lagi."
"Hwe-sio yang bosan hidup. Tidak tahukah engkau
dengan siapa engkau berhadapan? Aku enggan
membunuhmu karena engkau seorang pendeta dan tidak
mempunyai urusan apapun denganku. Akan tetapi anak
ini harus mati di tanganku. Hyaaaattt....!"
Dia lalu mengirim pukulan maut dengan tangan
kanannya ke arah kepala anak itu, Pukulan Itu hebat dan
dahsyat bukan main. Jangankan sampai kepalan itu,
baru angin pukulan nya saja sudah dapat membunuh
orang karena hawa sin-kang yang keluar dari ge rakan
pukulan itu.
"Plakk!" kepalan kanan yang besar dan keras itu
bertemu telapak tangan yang lunak halus seperti telapak
tangan kanak-kanak. Dan pukulan itu terhenti dan
tenaganya seolah amblas masuk ke dalam air. Si
raksasa hitam merasa seperti memukul agar-agar atau
air saja .
Tentu saja dia terkejut dan cepat menarik kembali
tangannya dan memandang hwe-sio tua yang tidak
dikenal nya itu. Kini baru dia menyadari bahwa dia
berhadapan dengan seorang yang sakti! .
"Omitohud, sadarlah, sobat. Lalang merupakan
bencana bagi ladang padi dan kebencian adalah
bencana bagi kemanusiaan, karena itu persembahan
yang disajikan kepada mereka yang bebas dari
kebencian mendatangkan pahala besar. Sobat yang
baik, kekerasan hanya akan mendatangkan kehancuran
bagi dirimu sendiri, ingatlah itu.".
Si raksasa hitam yang baru saja dengan mudahnya
membunuh empat orang tokoh partai besar, tentu saja
tidak mendengarkan semua peringatan hwe-sio tua itu.
Dia sudah mencabut goloknya yang baru saja minum
darah lima orang itu, golok yang sebulan lalu dicurinya
dari gudang pusaka Istana, yaltu Mestika Golok Naga.
Begitu mencabut golok Itu, si raksasa hitam lalu
menyerang dengan bacokan ke arah kepala hwe-sio tua
itu Golok menyambar dengan suara berdesing, cepat dan
kuat bukan main. Akan tetapi hwe-sio itu hanya
menyebut "Omitohud...!" dan sedikit membungkukkan
tubuhnya, golok itu luput. Si raksasa hitam menjadi
penasaran dan semakin marah. Serangannya lalu
dilanjutkan dengah bacokan-bacokan lain yang lebih kuat
lagi .
Akan tetapi, dia merasa seperti membacok bayangan
saja. Betapapun cepatnya dia menggerakkan goloknya,
namun bacokannya tidak pernah mengenai sasaran,
seolah tubuh kakek itu sudah tergeser lebih dulu,
terdorong angin serangannya, seperti orang menyerang
sehelai bulu yang amat ringan. Karena kakek Itu terus
menerus mengelak, raksasa hitam itu mendapat akal.
Yang penting baginya adalah membunuh anak itu karena
anak itu yang tadl menyaksikan pertemuannya dengan
empat orang tokoh partai besar.
Maka tiba-tiba saja dia membalik dan kini goloknya
menyambar ke arah anak yang masih berlutut.
Akan tetapi golok itu tertahan di udara! Ketika dia
mengangkat muka memandang, ternyata goloknya sudah
dijepit dua buah jari tangan kakek itu.
Cepat dia membalik dan menggerak kan goloknya,
akan tetapi tiba-tiba tangannya tak dapat digerakkan lagi
karna secepat kilat kakek itu telah menotok bawah
lengannya, membuat lengan itu lumpuh seketika. Ketika
dia hendak menggerakkan tangan kirinya, kakek
melanjutkan dengan totokan satu jari yang amat dahsyat,
dalam sekejap mata saja tiga jalan darah terpenting di
tubuhnya telah tertotok dan dia tidak dapat bergerak lagi
seperti sebuah patung! .
"Omitohud....! Sobat, mulai hari ini, sadarlah dan
kembalilah ke jalan benar. Kalau engkau melanjutkan
kejahatanmu, maka kejahatan itu akan menyeretmu ke
lembah kesengsaraan yang amat hebat. Nah, pergilah!"
Dia menepuk pundak raksasa hitam itu dan tubuh itu
terhuyung ke belakang akan tetapi dia telah mampu
bergerak kembali. Kini yakinlah si raksasa hitam bahwa
dia tidak akan mampu menandingl hwe-sio tua itu, maka
diapun melompat pergi dengan cepat.
"Nah, sekarang pembunuh itu telah pergi. Marilah kita
cari ayahmu, anak yang baik," kata hwe-sio tua itu sambil
menggandeng tangan Tiong Li. Mereka menuruni puncak
dan tak lama kemudian mereka berdua sudah
menemukan tubuh Tan Hok yang sudah menjadi mayat
dengan kepala terpisah.
"Omitohud ...... !"
Hwe-sio tua itu merangkap kedua tangannya dan
melihat Tiong Li menjerit dan menangis, berlutut
memeluki tubuh ayahnya yang telah menjadi mayat.
Hwe-sio tua itu menggeleng-geleng kepalanya.
"Omitohud, bagaimana dunia dapat menjadi tempat
yang damai kalau nafsu dan kekerasan merajalela
menguasai hati manusia?"
Dia lalu menghampiri Tiong Li yang masih menangis,
lalu mengangkatnya bangun.
"Diamlah, anak yang baik. Yang mati tidak akan dapat
hidup kembali oleh tangis. Kematian datang menjemput
setiap orang, karena itu jangan di tangisi lagi. Mari
pinceng bantu engkau menguburkan jenazah ayahmu
dengan baik. Di manakah rumahmu? Kita dapat
membawa jenazah ayahmu kembali ke keluargamu."
"Lo-suhu, ayah dan saya tinggal di dusun lereng
bawah sana. Akan tetapi kami tidak mempunyai siapasiapa
lagi. Kami hanya hidup berdua."
"ibumu?"
"Sudah meninggal sejak saya masih kecil, lo-suhu."
"Aih, anak sekecil inl sudah yatim piatu. Kalau begitu,
bagaimana baiknya? Apakah dikubur di sini saja?"
Anak itu mengangguk. Baginya sama saja ayahnya
akan dikuburkan di mana karena dia sudah mengambil
keputusan bulat bahwa dia akan ikut dengan hwe-sio tua
Ini yang mampu mengusir raksasa hitam yang jahat tadi.
Kemudian terjadilah peristiwa yang membuat Tiong Li
terheran-heran . Dengan menggunakan sepotong kayu;
bukan cangkul atau senjata tajam lainnya. kakek itu
menggali tanah dan penggalian dengan menggunakan
sepotong kayu itu terjadi sedemikian cepatnya sehingga
dalam sekejap saja sudah tergali sebuah lubang yang
cukup besar dan panjang untuk menguburkan jenazah
ayahnya!.
Kakek itu lalu mengangkat Jenazah itu berikut
kepalanya dan merebahkan ke dalam lubang dengan
baik, Kemudian setelah kakek itu membaca doa untuk
yang mati, lubang itu ditimbuni tanah oleh mereka
berdua. Di atas gundukan tanah itu diletakkan sebuah
batu panjang oleh si hwe-sio tua yang dengan mudahnya
mengangkat batu yang belum tentu dapat diangkat
empat orang laki-laki yang bertenaga besar .
Setelah itu, Tiong Li lalu menjatuhkan diri berlutut di
depan kakek itu, "Lo-suhu, saya sudah tidak mempunyai
siapa-siapa lagi, oleh karena itu perkenankanlah saya
ikut dengan lo-suhu, menjadi murid lo-suhu," Dia berkata
demikian sambil menangis.
"Omitohud, menolong orang tidak boleh setengahsetengah.
Tanpa kau minta sekalipun, pinceng tidak
akan menegakanmu. Anak yang baik, siapakah namamu
dan siapa pula nama ayahmu7"
"Mendiang ayah bernama Tan Hok dan saya bernama
Tan Tiong Li, lo-su-hu."
"Kalau begitu. di atas batu ini perlu dituliskan nama
ayahmu agar kelak dapat menjadi peringatan bagimu."
Hwe-sio tua Itu lalu menggunakan jari telunjuknya,
menggurat-gurat pada batu besar dan nampaklah hurufhuruf
seperti dipahat saja dan berbunyi : Kuburan Tan
Hok.
"Marilah kita pulang, Tiong Li." kakek itu berkata dan
dia menggandeng tangan anak itu. Segera Tiong LI
merasa tubuhnya seperti terangkat dan meluncur dengan
cepat mendaki puncak. Kakinya seolah tidak menyentuh
tanah, akan tetapi tubuhnya meluncur cepat sekali
seperti terbang dan sebentar saja mereka telah tiba di
puncak di mana dia bertemu dengan kakek tadi.
"Puncak ini merupakan tempat tinggal pinceng dan
disebut Pek-hong sen- kok (Lembah Gunung Burung
Hong Putih). Mulai sekarang engkau tinggal di sini
bersamaku."
Demikianlah, mulai hari itu Tiong Li menjadi murid
kakek itu yang tidak mempunyai nama, melainkan
memakai nama puncak itu sebagai namanya, yaitu Pek
Hong San-jin (Orang Gunung Hong Putih). Anak itu
memang rajin dan tahu membawa diri. Biarpun masih
kecil dia sudah membantu kakek itu dengan segala
macam pekerjaan. Mencari kayu kering, memasak air,,
berkebun, memikul air dari sumber, membersihkan
pondok kecil yang seperti gubuk itu, menyapu
pekarangan. Dan diapun tidak pernah mengeluh harus
makan nasi dan sayur-sayuran sederhana saja. Dia tidak
tahu dari mana kakek itu mendapatkan beras, hanya
kadang kakek itu meninggalkan puncak sampai sehari
lamanya dan pulangnya membawa segala bahan
keperluan hidup mereka.
Akan tetapi dari hwe-sio tua itu Tiong LI mempelajarl
segala macam ilmu. Bukan saja dasar-dasar ilmu silat,
melainkan juga Ilmu membaca dan menulis, bahkan
setelah dia pandai membaca, dia mulai disuruh
membaca kitab- kltab agama.
Beberapa tahun kemudian setelah Tiong Li memiliki
dasar-dasar Ilmu silat, barulah gurunya mengajarkan ilmu
silat. Ternyata kakek Itu merupakan seorang ahli semua
ilmu silat.
"Ilmu silat banyak ragamnya," demikian antara lain
kakek itu menjelaskan, "namun pada dasarnya
mempunyai sumber yang sama. Mempergunakan tenaga
sedikit mungkin untuk menghaslikan daya serang
sebanyak mungkin. Semua ilmu silat ditujukan untuk
membela diri, dan dasar bela diri itu semua sama saja,
hanya kembangannya yang berbeda sesuai dengan
aliran masing-masing."
"Suhu, kalau Ilmu silat itu ditujukan untuk membela
diri, mengapa ada Jurus-Jurus untuk menyerang?" Tanya
Tiong Li.
"Membela diri bukan berarti bertahan saja. Menyerang
dan merobohkan lawan juga merupakan bentuk bela diri.
Akan tetapl, jangan sekali-kali menyerang orang yang
tidak mengganggu kita atau jangan mendahului
menyerang orang. Ilmu silat bukan dipelajari untuk
melakukan kekerasan, bukan pula untuk mencari
kemenangan, atau untuk menyembongkan diri. 0leh
karena itu, di jaman dahulu, ilmu silat hanya dipelajari
oleh orang-orang yang lemah, yang tertindas dan
bertenaga keciI. Semua itu merupakan usaha untuk
dapat membela diri dari penindasan mereka yang 1ebih
kuat."
"Apalagi tujuan Ilmu silat selain untuk membela diri
dari penindasan mereka yang sewenang-wenang, suhu?"
"Ilmu silat mengandung tiga unsur, Tiong Li. Pertama
sekali, sebagaimana awal mulanya, ilmu silat adalah
untuk menjaga kesehatan karena ilmu silat adalah olah
raga yang baik sekali dan yang menyehatkan. Kedua, di
dalam Ilmu silat dlmasukkan unsur seni tari yang indah,
yang sesuai dengan kelemasan dan kelincahan gerakan
seorang manusia atau bahkan meniru gerakan hewan .
Dan unsur ketiga adalah seni bela diri Itulah."
"Akan tetapi, teecu (murid) melihat ada ilmu-ilmu sesat
seperti yang dipergunakan oleh raksasa hitam dahulu,
suhu. Apakah memang ada ilmu bersih dan ilmu kotor?"
"Semua ilmu asal mulanya datang karena ada
anugerah Yang Maha Kuasa sebagai dayanya sang budi
atau disebut budi-daya yang menjadi kebudayaan
manusia. Tidak ada yang bersih dan tidak ada yang
kotor. Barulah ilmu itu menja di bersih atau kotor setelah
dipergunkan manusia. Ilmu apapun kalau dipergunakan
untuk kejahatan, maka ilmu itu menjadi sesat, Seperti
halnya sebatang pisau, pisau itu tidak dapat disebut baik
atau buruk, melainkan pisau waja saja; Setelah
dipergunakan untuk bekerja di kebun atau di dapur,
mengupas bahkan memotong sayuran maka pisau itu
baik, akan tetapi kalau pisau itu dipergunakan untuk
menyerang orang, melukai atau membunuh, maka pisau
itu menjadi buruk. Sebetulnya yang jahat itu bukan,
pisaunya, bukan pula ilmunya, melainkan manusianya.
Semua itu hanya alat, ilmu silatpun dianugerahkan
kepada manusla untuk dijadikan alat, yaitu sebagai olah
raga, sebagai seni tari dan sebagai seni bela diri. Kalau
dipergurnakan untuk berbuat kejahatan, yang Jahat
bukanlah ilmu silatnya, melainkan orangnya. Kau ingat
golok yang dipegang oleh raksasa hitam dahulu itu?
Golok itu adalah sebuah pusaka yang langka didapatkan,
kalau tidak salah golok itu adalah Mestika Golok Naga
yang tempatnya di gudang pusaka istana. Nah, biarpun
mestika itu sebuah pusaka yang ampuh dan keramat
sekalipun, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka
tetap saja menjadi jahat sifatnya. Tergantung yang
mempergunakannya. Kepintaran itu baik bagi manusia,
akan tetapi bagaimana kalau kepintaran itu dipergunakan
untuk menipu orang orang lain yang bodoh ? "
Tiong Li mengangguk-angguk mengerti. Baru berusia
belasan tahun dia sudah mendengar banyak sekali
tentang kehidupan dari gurunya yang arif bijaksana.
****
Pencurian Mestika Golok Naga Itu menggegerkan kota
raja. Terjadinya memang aneh sekali. Bukan pencurian
biasa karena perbuatan itu dilakukan orang dengan
terang-terangan. Seperti biasa, gudang pusaka itu dijaga
siang malam oleh pasukan pengawal, tujuh orang
banyaknya dan pengawal itu bukanlah perajurit biasa
melainkan pengawal pilihan yang rata-rata memiliki ilmu
silat yang tinggi. Akan tetapi pada malam hari itu, tahutahu
pada keesokan harinya orang mendapatkan tujuh
orang pengawal ini telah tewas semua dan di antara
barang-barang pusaka yang demikian banyaknya, hanya
sebuah saja yang hllang, yaitu Mestika Golok Naga.
Kaisar menjadi marah dan mengutus para ahli
menyelidikinya. Para jagoan istana yang berilmu tinggi
memeriksa mayat ke tujuh orang pengawal itu dan
mereka mendapat kenyataan bahwa di antara para
mayat ini terdapat tanda-tanda dengan ilmu apa mereka
dibunuh. Ada yang terbunuh oleh pukulan Pek-lek-jlu
(Tangan Geledek) yang mereka tahu merupakan ilmu
pukulan dari Kun-lun-pai. Ada pula yang terbunuh oleh
senjata rahasia paku yang disebut Touw-kut-teng (Paku
Penembus Tulang) yang biasa dipergunakan oleh para
pendekar Butong-pai. Ada pula yang tewas karena
pukulan Ang-se-ciang (Tangan Pasir Merah) dari Siauw-
Lim-pai dan ada pula yang tewas karena pukulan Ilmu
Tiat-ciang (Tangan Besi) dari Hoa-san- pai.
Tentu saja para jagoan Istana melaporkan hal ini
kepada kaisar. Pada waktu itu Kerajaan Sung telah
pecah berantakan oleh serangan Kerajaan Cin yang
menyerang sampai ke kota raja Kai feng. Kaisar beserta
seluruh keluarganya tertawan dan dibuang. Semua ini
adalah akibat pengkhianatan Jin Kui yang bersekutu
dengan Kerajaan Cin, sehingga Kerajaan Sung menjadi
berantakan.
Akan tetapi, seorang pangeran adik Kaisar yang
bernama Sung Kao Cung, berhasil melarikan diri dan
tidak tertangkap oleh bangsa Yucen atau Kerajaan Cin
dan Sung Kau Cung melarikan diri ke selatan,
menyeberangi Sungai Yang-ce.
Di selatan ini, Sung Kao Cung naik tahta dan Kerajaan
Sung berdiri kembali dalam tahun 1127. Akan tetapi
karena kekuasaan Kerajaan Sung hanya berada di
sebelah selatan Sungai Yang-ce, maka kerajaan Itu
dinamakan Kerajaan Sung Selatan .
Daratan Clna kemball terpecah menjadi dua. Di
sebelah utara Sungai Yang ce berkuasa Kerajaan Cin,
dan di sebelah selatan sungai itu berkuasa Kerajan
Sung. Akan tetapi Kerajaan Sung Selatan ini amat lemah
sehingga Kaisarnya terpaksa harus membayar upeti
kepada Kerajaan Cin.
Memang tidak selamanya Sung Selatan tunduk. Ada
kalanya terjadi pertempuran sengit antara kedua
kerajaan itu. Akan tetapi dalam Kerajaan Sung Selatan,
kekuasaan yang besar berada di tangan kaum tuan
tanah yang tidak merasa berkepentingan untuk merebut
daerah sebelah utara Sungai Yang-ce, maka
pertempuran itu tidak pernah menjadi peperangan umum.
Sebaliknya, Kerajaan Cin sendiri juga tidak memandang
penting untuk merebut daerah Kerajaan Sung, karena
daerah pertanian di selatan tidak menarik bagi mereka
yang berasal dari Bangsa Nomad berkuda.
Yang terjadi adalah perang dingin. Dan yang lebih
banyak mengadakan perlawanan kepada Bangsa Cin
adalah orang-orang kang-ouw, para pendekar yang
masih mendendam dan membenci bangsa Cin yang
telah menguasai Kerajaan Sung dan memaksa kaisarnya
pindah ke selatan sehingga Kerajaan Sung menjadi
sebuah negara yang lemah dan nampaknya seperti
sebuah pemerintahan yang mengungsi. Para pendekar
banyak yang seringkali bentrok dengan pasukan Cin di
sepanjang perbatasan dan sepak terjang para pendekar
ini kadang memusingkan Kerajaan Cin karena mereka
banyak kehilangan.anak buah yang terbasml oleh pa?a
pendekar.
Dalam keadaan seperti itulah tiba tlba saja Mestika
Golok Naga itu lenyap dicuri orang dalam gudang pusaka
Istana Kerajaan Sung. Ketika Kaisar Sung Kao Cung
mendengar bahwa ada tanda-tanda bahwa yang
membuhuh para pengawal adalah orang-orang dari
empat perkumpulan besar Siauw-lim-pai, Bu- tong-pai,
Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, Kaisar menjadi marah.
Kaisar mengutus para jagoannya membawa pasukan
untuk mendatangi partai-partai itu.
Akan tetapi, para jagoan istana sendiri tidak percaya
bahwa ke empat partai yang biasanya amat setia itu
mencuri golok pusaka, dan mendatangi mereka bukan
untuk melakukan penangkapan, melainkan mengajak
mereka berunding membicarakan perkara pencurian itu.
Para ketua keempat partai persilatan itu berjanji akan
berusaha mencari pencuri yang selain mencuri golok
pusaka juga telah melakukan fitnah kepada nama
perkumpulan mereka berempat. Mereka mengutus
murid-murid pilihan mereka untuk menyebar dan
melakukan penyelidikan, kalau perlu sampai ke sebelah
utara Sungai Yang-ce-kiang.
Para ketua empat partai besar itu mengadakan
pertemuan sendiri dan mereka terutama membicarakan
murid-murld mereka yang menjadi tokoh kelas tiga, yang
mengadakan pertemuan di Liong-san akan tetapi tidak
pernah kembali.
Mereka lalu mengutus murid-murid lain menyusul ke
sana dan mendapatkan empat orang murid itu telah
tewas dan mayat mereka telah menjadi kerangka.
Mereka mengenali mereka dari pakaian dan senjatasenjata
mereka saja.
"Omitohud! Jelas ini tentu perbuatan si pencuri itu dan
dia tentu bukan pencuri sembarangan. Di balik
perbuatannya mencuri ini agaknya terkandung maksud
yang lebih besar lagi, Pertama, untuk mengadu domba
antara para partai dan Kerajaan Sung, dan kedua untuk
membingungkan para tokoh partai itu sendiri agar saling
tuduh dan terjadi perpecahan. Pendeknya, di balik
pencurian golok pusaka itu terkandung maksud untuk
semakin melemahkan Kerajan Sung," kata ketua Siauwlim-
pai "Yang jelas, orang yang mencuri golok pusaka itu
adalah seorang yang ahli banyak macam ilmu dan dia
lihai sekali."
"Kami mencurigai Bangsa Yu-ce yang berdiri di balik
semua ini " Sambung ketua Butong-pai ketika keduanya
mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah
itu.
"Bangsa Yu-cen pertama-tama menjalin persahabatan
dengan kerajaan Sung hanya ketika mereka hendak
menundukkan. Bangsa Khitan dan membutuhkan
bantuan. Setelah mereka mengalahkan Bangsa Khitan,
Kini mereka hendak menguasai Sung dengan berbagai
cara."
"Benarlah demikian. Dahulu, Bangsa Khitan yang
merupakan gangguan bagi kita, dan kini ternyata Bangsa
Yu-cen setelah kita bantu mengalahkan Bangsa Khitan,
menjadi pengganggu yang lebih kejam lagi. Di sepanjang
perbatasan mereka selalu membikin kacau dan
mengganggu rakyat jelata. Harapan kita satu-satunya
terletak kepada ... Jenderal Gak Hui yang berjaga di garis
terdepan. Hanya Jenderal Gak itulah yang akan mampu
menghancurkah Bangsa Yu-cen dengan Kerajaan Cin
mereka!" kata pula ketua Siauw-lim-pai.
Kalau hendak menemukan lagi golok pusaka itu, klta
harus mencarl kedaerah kekuasaan Cin di utara."
"Omitohud,. kata-kata to-yu. benar. Marl kita kirimkan
murid-murid kita masing-masing untuk mencari ke sana.
Kalau klta tidak dapat menemukan golok itu, tentu Kaisar
akan memandang kepada kita dengan curiga."
Apa yang dibicarakan kedua orang ketua partai besar
ini memang sebenarnya. Pada waktu itu, terdapat
seorang jenderal yang setia kepada Kerajaan Sung, yaitu
Jenderal Gak Hui. Kalau saja kaisar menuruti kehendak
jenderal ini yang bermaksud menghajar Bangsa Yucen
dengan kekerasan, mungkin Kerajaan Sung tidak sampai
jatuh. Akan tetapi, Kaisar dipengaruhi oleh seorang
Menteri bernama Jin Kui, seorang yang berjiwa
pengkhianat sehingga Kaisar melarang Gak Hui untuk
memukul pasukan Cin dan lebih suka mengeluarkan
harta benda untuk membayar upeti kepada Bangsa Yucen.
Jenderal Gak Hui menjadi penasaran. Dia menghadap
kaisar dan mengusulkan untuk membangun pasukan
rakyat besar-besaran untuk merebut kembali daerah
utara. Namun, Perdana Menteri Jin Kui membujuk Kaisar
dengan alasan bahwa kalau gagasan Jenderal Gak Hui
itu dilaksanakan, maka Kerajaan Sung akan hancur
sama sekali. Dan celakanya, kaisar lebih percaya kepada
Perdana Menteri Jin Kui sehingga Kaisar melarang
Jenderal Gak Hui untuk mengadakan penyerbuan ke
utara. Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima yang
amat setia maka diapun menaati perintah kaisar dan
menahan pasukannya di perbatasan, tidak bergerak maju
lagi. Akan tetapi di mana terdapat pasukan Jenderal Gak
Hui, daerah itu pasti aman dan tidak ada pasukan Cin
berani mengganggu rakyat jelata.
Oleh karena itu, nama Jenderal Gak Hui disanjung
dan dipuja rakyat sebagai pembela dan pelIndung rakyat
jelata.
Demikianlah keadaan Kerajaan Sung pada waktu itu.
Nampaknya saja aman tidak ada perang, akan tetapi
sesungguh- nya kerajaan Ini selalu mengalah kepada
Kerajaan Cin dan mengirim upeti, bahkan banyak
pelanggaran dilakukan pasukan Cin di perbatasan. Hal
ini membuat para pendekar menjadi dongkol sekali dan
merasa terhina karena kedaulatan mereka terinjak-injak
oleh Bangsa Yu-cen yang mereka anggap sebagai
bangsa biadab dari utara.
Sang waktu meluncur dengan amat cepatnya dan
sepuluh tahun telah lewat sejak Tiong Li menjadi murid
kakek yang hanya dikenalnya sebagai Pek Hong San-jin.
Dia telah menjadi seorang pemuda remaja berusia
limabelas tahun yang bertubuh seperti seorang pemuda
dewasa saja. Tinggi tegap dengan dada yang bidang.
Wajahnya yang sederhana itu tampan dan gagah dan
semuda itu dia telah mempelajari banyak macam ilmu.
Bukan saja ilmu silat yang tinggi, melainkan juga ilmu
baca tulis dan ilmu keagamaan yang membuatnya
berpandangan jauh dan mendalam mengenai kehidupan.
Pada suatu sore, seperti biasa setelah selesai
melakukan tugas pekerjaannya, Tiong Li berlatih silat
seorang diri di pekarangan depan rumah. MuIa-mula dia
bersilat tangan kosong, gerakannya lambat dan mantap,
akan tetapi setiap gerakan tangannya mendatangkan
angin yang membuat daun-daun dan bunga-bunga di
pekarangan itu bergoyang-goyang. Makin lama
gerakannya menjadi semakin cepat sehingga akhirnya
tubuhnya tidak nampak jelas dan hanya bayangannya
saja yang berkelebat ke sana sini. Ada seperempat jam
dia bersilat tangan kosong, lalu menghentikan gerak
annya. Ada sedikit keringat membasahi dahinya akan
tetapi pernapasannya biasa saja, tidak terengah.
Kemudian dia memungut sebatang kayu kering yang
panjangnya seperti panjang pedang atau golok dan
mulailah dia bersilat lagi, kayu itu dimainkan seperti
orang memainkan sebatang golok. Membacok sana sini,
menangkis dan menusuk.
Gerakannya seperti juga tadi, mula-mula lambat dan
mantap, semakin lama semakin cepat sehingga akhirnya
tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar kehijauan
dari kayu yang dimainkannya. Seperempat jam kemudian
dia berhenti lagi.
"Bagus, Tiong Li. Kulihat engkau sudah mendapat
kemajuan!" terdengar teguran dan Tiong Li membalikkan
tubuh, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya
yang ternyata baru datang setelah sehari bepergian.
"Semua ini berkat bimbingan suhu kepada teecu
(murid)," kata Tiong LI dengan suara mengandung rasa
terima kasih,
"Bukan, melainkan berkat ketekunan dan kerajinanmu,
juga karena engkau memiliki bakat yang baik sekali.
Berterima kesihlah kepada Tuhan, Tiong Li Ketahuilah,
bahwa manusia itu sebenarnya hanya sekedar alat yang
dipergunakan Tuhan untuk melaksanakan kekuasaan
Nya. Oleh karena itu, yang pandai itu adalah Tuhan,
yang kuasa adalah Tuhan. Manusia yang bijaksana
selalu akan menyerah pasrah kepada kekuasaan Tuhan
dan selalu berusaha untuk dapat menjadi alat yang baik
sehingga dapat dipergunakan Tuhan."
"Akan tetapi, suhu. Bukanlah segala daya upaya itu
usaha manusia? Untuk mempelajari sesuatu, bukankah
manusia harus menggunakan plkirannya?"
"Omitohud, tidakkah engkau melihat bahwa yang
dinamakan pikiran itupun pemberian Tuhan pula? Kita
terlahir dengan sempurna, dengan segala peralatan yang
serba lengkap, tentu dimaksudkan agar kita
mempergunakan semua itu dengan sebaiknya. Adalah
suatu kesombongan kosong kalau seseorang
membanggakan dirinya sebagai yang pintar dan yang
berkuasa. Manusia itu tanpa. kekuasaan Tuhan tidak
dapat berbuat apa-apa. Baru mengatur tumbuhnya
rambut sendiri saja tidak mampu! Bahkan tumbuhnya
rambutnya pun diatur oleh kekuasaan Tuhan. Segala
sesuatu ini diatur oleh kekuasaan Tuhan, karena itu,
sudah semestinya kalau kita menyerah dengan tulus
ikhlas kepada kekuasaanNya, Kalau kekuasaan Tuhan
sudah menghendaki kita mati, sewaktu-waktu kita dapat
saja mati tanpa ada apapun yang akan mampu
mencegahnya ".
Tiong Li menundukkan kepalanya dan pada saat itu
dia merasa seolah semua bulu di tubuhnya bangkit
berdiri. Terasa sekali olehnya bahwa hidupnya ini, luar
dalam, dikuasai oleh kekuasaan Tuhan dan bahwa dia
sesungguhnya adalah tidak memiliki kekuasaan apapun,
Keyakinan ini menebalkan imannya bahwa segala
sesuatu ditentukan oleh Tuhan, dan tugas manusia
hanyalah berusaha sedapat-dapatnya. Kalau
menghadapl bahaya, berusahalah untuk menghindar.
Kalau sakit berusahalah untuk berobat sampal sembuh.
Untuk keperluan hidup seperti makan pakaian dan
tempat tinggal berusahalah untuk mendapatkannya
dengan bekerja.
Hanya itu tugas manusia. Berusaha sebaik mungkin.
Ada pun bagaimana hasilnya, terserah kepada
kekuasaan Tuhan yang mengaturnya.
"Suhu, harap jangan bicara tentang kematian, karena
betapapun juga, teecu masih ingin melihat teecu dan
suhu dalam keadaan sehat selamat."
"Omitohud...., siapa takut akan kematian, berarti
belum dapat mengambil sikap menyerah sebulatnya
kepada kekuasaan Tuhan. Nah, bangkitlah, Tiong LI dan
duduk di sini. Pinceng hendak menceritakan hal-hal yang
menimbulkan perasaan tidak enak di hati pinceng. duduk
lah."
Mereka duduk di atas bangku yang berada di
pekarangan itu. Setelah mereka duduk, Tiong Li
bertanya, "Suhu pergi sejak pagi, kini pulang membawa
berita apakah, suhu?"
"Berita yang buruk sekali, Tiong Li. Omitohud, apakah
ini merupakan tanda bahwa Kerajaan Sung akan lenyap
dari permukaan bumi ini ? Ketahuilah, Jenderal Gak Hui
yang menjadi tumpuan harapan rakyat untuk
membebaskan mereka dari ancaman Bangsa Yu-cen,
bukan saja diperintahkan menghentikan gerakannya dan
bahkan dipanggil untuk pulang ke kota raja oleh Kaisar!
Padahal, kalau pasukan Jenderal Gak Hui sampai ditarik
mundur, berarti pertahanan di tapal batas akan menjadi
lemah sekali dan pasukan Cin akan dengan mudah
menyerbu ke daerah Sung."
"Akan tetapi, sebagai seorang panglima tentu saja
Jenderal Gak Hui tidak dapat menolak perintah Kaisar."
"Itulah Jenderal Gak Hui adalah seorang panglima
yang setia lahir batin, tentu akan menaati semua perintah
Kaisar, bahkan rela mengorbankan nyawa demi negara.
Akan tetapi perintah kaisar itu sungguh aneh sekali.
Jenderal Gak Hui amat dibutuhkan di garis depan,
mengapa malah dipanggil pulang ? Dan desas-desus
yang pinceng terima mengkhawatirkan bahwa semua ini
adalah ulah Perdana Menteri Jin Kui yang mempengaruhi
Kaisar. Pada hal bukan rahasia lagi bahwa Perdana
Menteri Jin Kui adalah seorang yang licik bahkan
mencurigakan, ada persangkaan bahwa dia bersekutu
dengan pihak Bangsa Yu-cen!"
"Akan tetapi, kalau benar demikian, kenapa dia
dipercaya oleh Kaisar, suhu?"
" Itulah! Kaisar tidak percaya bahwa Perdana Menteri
Jin Kui sesungguhnya adalah seorang menteri durna. Dia
lebih percaya pada menteri yang khianat itu dari pada
seorang panglima besar yang setia seperti Jenderal Gak
Hui. Inilah sebabnya pinceng mengatakan bahwa
barangkali semua Ini merupakan tanda bahwa Kerajaan
Sung sudah tiba saatnya untuk hancur dan lenyap dari
permukaan bumi."
"Suhu, mengapa mengkhawatirkan sampai
sedemikian Jauhnya?"
"Banyak tanda-tandanya, Tiong Li. Dan engkau
ingatlah selalu, sebagai seorang laki-laki sejati,
pantanglah untuk menjadi seorang pengkhianat. Orang
laki-laki harus tiga kali berbakti dalam hidupnya. Berbakti
kepada Tuhan , Berbakti kepada Negara dan berbakti ke
pada orang tua. Kalau satu di antaranya dilanggar, dia
bukan laki-laki sejati. ingatlah semua ini, Tiong Li "
"Teecu akan selalu mengingat dan menaati semua
nasihat suhu."
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang bergelak dan
nyaring sekali
"Ha- ha-ha-ha, kalau engkau laki-laki sejati, bersiaplah
engkau untuk membuat perhitungan denganku, kakek
tua bangka!"
Guru dan murid itu menengok. Ternyata di situ telah
berdiri dua orang, yang seorang adalah raksasa hitarn
yang pernah mereka lihat sepuluh tahun yang lalu, yang
memakal nama Si Golok Naga, dan orang kedua adalah
seorang kakek yang kecil pendek dan demikian kurusnya
sehingga seperti kerangka terbungkus tulang dan
mukanya mirip tengkorak ! .
"Omitohud....! Engkau datang lagi, sobat. Sekarang
apakah yang kau kehendaki?" tanya Pek Hong San-jin
dengan sikapnya yang tenang sekali.
"Ha-ha-ha, apa lagi yang kukehendaki? Ini tentu bocah
yang dulu kau selamatkan itu! Aku datang untuk
membunuh kalian berdua!"
"Omitohud, sampai sekarang engkau belum juga
menyadari kesesatanmu, Sobat ? "
Akan tetapi Tiong Li tidak sesabar gurunya.
"Si Golok Naga! Aku mengerti mengapa engkau
hendak membunuh aku dan suhu. Aku telah melihat
bahwa engkau membunuhi empat orang tokoh partai
besar itu dan aku telah mendengar bahwa engkaulah
pencuri golok pusaka dari Istana! Engkau tidak ingin
kenyataan semua itu tersiar, bukan? Engkau pencuri
jahat, sudah mencuri maslh hendak melempar fitnah
kepada orang-orang lain."
"Bocah keparat mampuslah!" bentak Si Golok Naga
dan dia sudah menubruk maju dengan kedua tangan
membentuk cakar. Jari-jari tangan besar yang
membentuk cakar itu berbahaya sekali. Kalau sampai
cakar itu dapat mencengkeram kepala Tiong Li, tentu
kepala itu akan remuk dan orangnya tewas!.
Akan tetapi Tiong Li sekarang bukanlah anak berusia
lima tahun seperti sepuluh tahun yang lalu. Dia telah
menjadi seorang remaja yang amat lihai maka
cengkeraman itu dapat dihindarkannya dengan lompatan
ke kiri. Ketika raksasa hitam itu mengejar dan menampar
dengan tangan kanannya, Tiong Li menangkis dengan
lengan kiri-nya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.
"Dukkl" Tubuh Tiong Li tergetar ke belakang akan
tetapi si raksasa hitam itupun mundur dua langkah.
"Bagus, engkau agaknya telah memiliki sediklt
kepandaian!" bentak raksasa hitam itu dan kini dia
menyerang kalang kabut dengan pukulan-pukulan yang
amat dahsyat. Tiong Li melawan, mengelak, menangkis
dan bahkan membalas memukul dengan tidak kalah
dahsyatnya. Pemuda ini telah mempelajari ilmu silat
tinggi dari kakek hwe-sio tua itu, dan juga sudah
menghimpun tenaga sakti yang cukup kuat.
Pertandingan antara mereka berjalan denqan seru dan
seimbang. Pek Hong San-jin yang ingin melihat
kemajuan muridnya, sengaja tidak mau menolong
muridnya andaikata muridnya terancam bahaya.
Si raksasa hitam merasa penasaran Sekali. Sampai
duapuluh jurus sama sekali dia tidak mampu mendesak
Tiong Li dan pertandingan berjalan seimbang.
Dia tidak mau mempergunakan senjata karena
merasa malu kalau harus bersenjata melawan seorang
pemuda remaja yang bertangan kosong. Akan tetapi,
agaknya tengkorak hidup yang datang bersama Si Golok
Naga itu tidak bersabar lagi, dua kali tangannya
mendorong ke depan dan terdengar suara berciutan, Pek
Hong San-jin sendiri terkejut melihat pukulan jarak jauh
yang demikian hebat. Dia hendak menangkis, akan tetapi
terlambat. Tiong Li tiba-tiba didorong oleh tenaga yang
amat dahsyat dan dia terhuyung ke belakang.
Kesempatan ini dlpergunakan oleh Si Goliok Naga
untuk menghantamnya dengan tangan kiri yang tepat
mengenai dada Tiong LI. Pemuda Ini terpental ke
belakang dan roboh, tak dapat bergerak kembali dan
pingsan .
Sementara Itu, Pek Hong San-jin sudah menangkls
pukulan jarak jauh yang ke dua, juga dengan dorongan
tangannya dan keduanya masing-masing tertolak ke
belakang. Si tengkorak hidup mengeluarkan suara
melengklng tlnggi dan dia lalu menyerang hwe-sio tua itu
dengan pukulan-pukulan tangan terbuka yang
mengeluarkan suara berciutan.
Akan tetapi hwe-sio tua itu mengimbanginya dengan
dorongan-dorongan tangannya. Melihat kawannya sudah
bertanding melawan hwe-sio tua itu dan si pemuda
sudah roboh dan tentu tewas oleh pukulan tangan
kirinya, raksasa hitam kini menerjang hwesio tua dan
mengeroyoknya bersama si tengkorak hidup. Karena
maklum akan kelihaian hwesio tua itu, si raksasa hitam
telah mencabut goloknya yang nampak hebat, yaitu
golok naga!.
Hwe-sio tua itu bersikap tenang namun gerakannya
cepat bukan main. Semua sambaran golok dapat
dielaknya dengan mudah dan hal ini membuat si
tengkofak hidup menjadi penasaran sekai . Dia terkenal
sebagai seorang sakti, guru dari Golok Naga, dan
sekarang dia harus mengeroyok hwe-sio itu berdua
muridnya! Dengan pengerahan tenaga dia lalu
mendorong dengan kedua telapak tangannya sambil
mengeluarkan teriakan melengking.
"Hieeeeeehhhhhhh ........ !!"
"Omitohud....!" Pek Hong San-jin berseru kaget dan
dia menyambut dorongan kedua tangan si tengkorak
hidup itu dengan tangannya. Tangan kanan itu bertemu
dengan dua tangan si Tengkorak hidup dan melekat.
Mereka saling dorong dan terjadilah adu kekuatan sinkang
yang menegangkan.
Melihat kesempatan baik ini, Si Golok Naga tidak mau
menyia-nyiakannya dan diapun melompat ke depan,
mengangkat goloknya tinggi-tinggi dan membacok ke
arah kepala Pek Hong San-Jin.
Akan tetapi Pek Hong San jin menggerakkan tangan
kirinya, mendorong ke arah penyerang itu dan sebelum
golok mengenai kepalanya, lebih dahulu tubuh Si Golok
Naga terkena dorongan tangan kiri itu dan dia terlempar
sampai tiga tombak jauhnya dan jatuh berdebuk dengan
keras. Ketika dia bangkit lagi, mukanya berubah pucat
dan mulutnya menyeringai kesakitan.
)o-dw-o(
Jilid II
Pada saat itu, Pek Hong San-jin mengerahkan
tenaganya dan mendorongkan tangan kanannya yang
melekat pada kedua tangan si tengkorak hidup.
Akibatnya tengkorak hidup itu pun terpental ke belakang
dan dari mulutnya mengalir darah, tanda bahwa diapun
sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya.
Tanpa banyak cakap lagi, si raksasa hitam dan si
tengkorak hidup yang telah menderita luka itu lalu
meninggalkan tempat itu dengan langkah terhuyung,
takut melanjutkan pertandingan melawan hwe-sio tua
yang sakti itu.
Tiong Li siuman dan dia bangkit berdiri, agak
terhuyung. Akan tetapi dia mendengar suhunya terbatukbatuk
dan tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang juga
terluka, dia menghampiri gurunya. Kakek itu terhuyung
lalu menjatuhkan diri duduk di atas bangku. lalu
muntahkan darah yang cukup banyak Suhunya telah
terluka parah!
"Suhu. . . . . . . !" Dia menghampiri .
Pek Hong San-jin mengangkat mukanya. Dia telah
mempergunakan tenaga yang berlebihan melawan dua
orang yang sakti sehingga dia menderita luka parah
tanpa di ketahui kedua orang lawannya yang melarikan
diri. Dia melihat muridnya dan tersenyum! .
"Engkau tidak apa-apa, Tiong Li ...?" katanya dengan
suara yang lemah sekali .
"Tidak, suhu. Akan tetapi suhu bagaimana ? Suhu
muntahkan demikian banyak darah......."
"Omitohud . . . . mereka berdua itu .... kuat sekali..
Sayang kesaktian seperti itu..... dipergunakan untuk
berbuat jahat ... ! Tiong Li, engkau ingat semua
nasihatku.....? Jangan ... jangan sekali-kali kau
pergunakan ilmumu untuk kejahatan......"
"Tentu saja teecu ingat Suhu .. "
Tiong Li khawatir sekali melihat wajah gurunya
demikian pucat seperti mayat sehingga dia lupa akan
keadaan dirinya sendiri yang juga terluka parah
disebelah dalam tubuhnya.
"Akan tetapi suhu. . . . . , marilah teecu bantu untuk
menyalurkan sin-kang ke tubuh suhu.... "
Gurunya menggeleng kepala dan berkata lirih, "Tidak
ada gunanya lagi.. "
"Suhu.......!" Tiong Li berseru ketika melihat suhunya
terkulai. Cepat dirangkulnya suhunya agar jangan
terjatuh dari atas bangku.
Gurunya memandangnya dengan tetap tersenyum.
Menyedihkan sekali melihat bibir yang berdarah itu
tersenyum!
"Tiong Li, ingatkah engkau ......akan pembicaraan kita
tadi..., tentang ..... tentang kematian? Kematian bukanlah
yang terakhir, Tiong Li....... dan sudah ditentukan oleh
Tuhan, kita tinggal menyerah.... kehendak Tuhan
terjadilah! "
"Suhu........! "
"Pinceng hanya pesan........ agar jenazah pinceng
dibakar bersama gubuk itu....." Kepala itu terkulai dan
napasnya putus.
"Suhu!" Tiong Li merebahkan tubuh yang tak
bernyawa itu di atas bangku dan diapun terkulai, pingsan
di atas tanah.
Tiong Li membuka dan mengedip-ngedipkan matanya.
Mukanya basah terpercik air dan samar-samar dia
melihat wajah seorang gadis remaja bersama seorang
wanita dewasa yang cantik jelita.
Dia teringat akan kematian gurunya, teringat akan si
raksasa hitam dan bibirnya bergerak, "Si Golok
Naga........! lalu dia terkulai dan pingsan lagi.
Wanita itu memang cantik sekali. Usianya sekitar
tigapuluh tahun, akan tetapi ia kelihatan seperti seorang
gadis duapuluhan tahun. Rambutnya yang subur itu
hitam mengkilap tersisir rapi dan digelung ke atas, terhias
emas permata berbentuk burung Hong yang indah sekali
dan tentu mahal harganya.
Anak rambut berjuntai di dahinya yang putih mulus
dan alisnya juga hitam kecil panjang melengkung indah,
melindungi sepasang mata yang amat tajam sinarnya.
Sinar mata yang seolah menembus segala yang
dipandangnya dan kadang sinar mata itu mencorong
seperti binatang yang haus darah! Hidungnya kecil
mancung dan mulutnya berbentuk manis dengan
sepasang bibir yang selalu merah basah.
Wajahnya berbentuk bulat telur. Sungguh sebuah
wajah yang cantik jelita, namun sinar mata dan tarikan
pada mulut itu kadang membayangkan kekerasan nati
yang mengerikan.
Tubuhnya juga padat menggairahkan, sedang dan
ramping. Wanita cantik ini kalau sudah memperkenalkan
namanya tentu akan membuat orang-orang kang-ouw
terkejut setengah mati. Wanita yang amat cancik ini
ternyata adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal
sebagai seorang datuk sesat dengan nama julukan Bantok
Sian-li (Dewi Selaksa Racun)!
Selain ilmu silatnya yang tinggi dan lihai bukan main,
juga wanita ini terkenal sebagai seorang ahli racun dan
kabarnya. sebuah goresan kuku jari tangannye saja
sudah cukup membuat orang mati keracunan!
Bahkan tempat tinggalnya juga menjadi sebuah
tempat yang menakutkan, yaitu di lembah Sungai Yangce
dan lembah itu demikian ditakuti orang hingga diberi
nama Lembah Maut.
Adapun gadis remaja yang bersamanya itu adalah
seorang muridnya, bernama The Siang Hwi, berusia
empatbelas tahun akan tetapi sudah pula mewarisi ilmu
silat tinggi dari gurunya yang secantik dewi akan tetapi
kadang dapat sekejam iblis itu.
Ketika Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi secara
kebetulan mendaki puncak itu dalam penyelidikannya
tentang Golok Naga, la menemukan seorang hwesio tua
yang sudah tewas di atas bangku dan seorang pemuda
remaja yang menggeletak pingsan di bawah bangku.
Muridnya lalu disuruh mencari air dan memecikkan pada
wajah pemuda itu agar siuman dan dapat ditanyal apa
yang telah terjadi.
Ketika Tiong Li siuman dan satu-satunya kata yang
keIuar dari mulutnya adalah "si Golok Nagal" kemudian
pingsan kembali, tentu saja hati Bantok Sian-li menjadi
tertarik sekali.
Kunjungannya ke Liong-san memang ada
hubungannya dengan Golok Naga. la mendengar
tentang golok pusaka yang di curi itu dan sudah sepuluh
tahun belum juga dapat ditemukan kembali.
Mendengar bahwa Kaisar menjanjikan hadiah besar
bagi siapa yang dapat mengembalikan golok pusaka itu
tidaklah begitu menarik perhatiannya. Yang menarik
perhatiannya adalah golok itu sendiri karena la
mendengar bahwa Golok Naga itu adalah sebuah
senjata mestika yang amat ampuh. la ingin mencarinya,
bukan untuk dikemballkan kepada Kaisar, melainkan
untuk dimilikinya sendiri..
la mendengar pula bahwa empat orang-tokoh dari
perkumpulan besar yang melakukan penyelidikan telah
terbunuh di Liong-san. Maka ia mengambil kesimpulan
bahwa ia. dapat mulai melakukan penyelidikan dari
Liong-san. Tentu ada hubungannya antara Liong-san
dengan pembunuh itu dan agaknya pembunuh itu tahu
soal golok pusaka yang dicuri. Kalau tidak begitu,
mengapa dia membunuh empat orang tokoh partai-partai
besar yang kabarnya difitnah oleh si pencuri golok!
Demikianlah, mendengar pemuda remaja itu
menyebut Golok Naga, tentu saja ia tertarik sekali.ia lalu
memeriksa pemuda itu dan mengertilah ia mengpa
pemuda itu setelah siuman lalu pingsan kembali.
Pemuda itu menderita luka dalam yang amat parah,
akibat dari pukulan beracun yang entah dilakukan oleh
siapa.
Karena ia memang ahli tentang pukulan-pukulan
beracun, maka Ban tok Sian-li lalu menyingsingkan
lengan bajunya sehingga sepasang lengannya yang
putih mulus itu nampak sebatas siku.
Kemudian ja menempelkan kedua telapak tangannya
ke punggung Tiong Li setelah menelungkupkan pemuda
itu. Muridnya hanya berdiri menonton gurunya mengobati
pemuda yang pingsan itu.
Seperempat jam kemudian setelah pengobatan
dengan penyaluran tenaga sinkang itu dilakukan Ban-tok
Sian-li pernapasan Tiong Li yang tadinya terengah dan
satu-satu, mulai normal kembali dan setelah ditotok di
beberapa bagian jalan darah di tubuhnya,diapun siuman.
Ban-tok Sian-li bangkit berdiri, menghapus sedikit
keringat dileher dan dahinya. la telah mengerahkan
banyak tenaga untuk menyembuhkan pemuda itu. Akan
tetapi ia rela karena ia tentu akan mendapatkan
keterangan yang banyak dari pemuda itu tentang Golok
Naga
Tiong Li membuka mata, bergerak bangkit duduk dan
terkejut heran melihat wanita cantik dan gadis remaja itu.
"Siapakah Ji-wi (anda berdua)?" tanyanya. Akan tetapi
dia teringat, menoleh dan melihat suhunya masih
menggèletak di· atas bangku dalam keadaan tidak
bernyawa lagi, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut
dekat bangku dan menangis.
"Suhu......! "
Tiong Li merasa ada sentuhan halus sebuah tangan di
pundaknya. Ketikadia menengok, ternyata gadis remaja
itu yang menyentuh pundaknya dan gadis itu berkata.
"Engkau tadi terluka parah dan subo (guru) yang telah
menyembuhkanmu. Jangan menangis dan ceritakan
semuanya kepada subo.”
Mendengar ini, Tiong Li lalu bangkit dan memberi
hormat kepada Ban-tok Sian-li, dengan air mata masih
membasahi pipinya. "Terima kasih atas pertolongan
bibi....."
"Aku bukan bibimu!" terdengar jawaban menyentak
marah. Memang merupakan pantangan begi Ban-tok
Sian-li kalau ia disebut sebagai orang yang lebih tua!
Muridnya yang sudah mengenal watak subonya lalu
berkata kepada Tiong Li,
"Subo adalah Ban-tok Sian-li, engkau boleh
menyebutnya Sian-li (Dewi) bukan bibi."
Tiong Li yang mengenal baik sopan santun lalu
berkata, "Maaf, terima kasih atas pertolongan Sian-li
kepadaku."
"Aku tidak butuh terima kasihmu lebih baik kau cepat
ceritakan dimana adanya Golok Naga!" kata pula Ban-tok
Sian-li sambil memandang tajam penuh selidik.
"Golok Naga...?" Tiong Li memandang heran. "Aku
tidak tahu tentang golok itu ...".
"Jangan bohong !" bentak Ban-tok Sian-li. "Ketika
engkau sluman, tadi engkau berkata Si Golok Naga! Dan
sekarang mengatakan tidak tahu?"
"Ahh,.Si Golok Naga? Memang benar, Sianli. Akan
tetapi yang kumaksudkan adalah Si Golok Naga raksasa
hitam itu yang bersama-temannva. Tengkorak Hidup itu
telah membunuh guruku dan melukai aku.”
"Apa hubungannya raksasa hitam dengan Mestika
Golok Naga? hayo ceritakan semuanya! "
Tentu saja Tiong Li sudah dapat menduga bahwa
raksasa hitam yang membunuhi empat tokoh partai besar
dan juga membunuh ayahnya, kemudian bersama orang
seperti tengkorak hidup itu membunuh suhunya, agaknya
menjadi pencuri Mestika Golok Naga. akan tetapi dia
tidak ingin menceritakan hal itu kepada wanita galak ini.
Dia hendak merahasiakannya untuk dirinya sendiri. Dia
sendiri yang akan mencari raksasa hitam itu yang telah
membunuh ayah kandungnya kemudian membunuh pula
suhunya.
"Aku tidak tahu, Sianli. Raksasa hitam itu menyebut
dirinya sendiri Golok Naga dan dia datang bersama
orang yang mukanya seperti tengkorak hidup."
"Mengapa dia datang membunuh gurumu dan
melukaimu? Apa sebabnya?"
"Aku juga tidak tahu. Suhu tidak pernah mempunyal
musuh, akan tetapi Golok Naga itu tiba-tiba muncul
bersama temannya dan mengeroyok suhu."
"Dan hubungannya dengan Mesti Golok Naga?"
"Aku tidak tahu."
"Keparat! Aku sudah susah payah membuang banyak
tenaga untuk menghidupkanmu kembali dan engkau
tidak dapat memberi petunjuk tentang Mestika Golok
Naga? Kalau begitu, apa perlunya aku mengobatimu?
Lebih baik kau kubunuh saja karena engkau telah
mengecewakan hatiku!"
Wanita itu sudah mengangkat tangannya, akan tetapi
tiba-tiba gadis remaja itu melangkah maju menghadang
dan menyembunyikan Tiong Li di belakang tubuhnya.
"Subo, aku tidak setuju! Pemuda itu tadi belum mati
ketika subo menolongnya. Dan diapun tidak minta
ditolong. Adalah subo sendiri yang menolongnya, kenapa
sekarang subo hendak membunuhnya? Lihat, subo,
gurunya sudah tewas dan siapa yang akan mengurus
jenazah suhunya kalau kini muridnya subo bunuh pula?
Subo, kita boleh bertindak keras kepada seorang yang
bersalah kepada kita, akan tetapi pemuda ini sama sekali
tidak bersalah kepada subo!"
Anak itu kelihatan berani sekali menentang kehendak
subonya, dan sungguh aneh, ketika bertemu pandang
dengan muridnya yang melindungi Tiong Li, Ban-tok
Sian-li menurunkan lagi tangannya dan menarik napas
panjang.
"Sudahlah, membunuh anak inipun tak ada gunanya!
Mari kita pergi!"
Dan sekali berkelebat Ban-tok Sian-li telah lenyap dari
tempat itu. Demikian cepat gerakannya seolah-olah ia
pandai menghilang saja.
Tiong Li memegang tangan gadis remaja itu. "Nona,
engkau telah menyelamatkan nyawaku! Aku selama
hidup tidak akan melupakanmu dan semoga kelak aku
dapat membalas jasamu ini. Namaku Tan Tiong Li, nona.
Dan bolehkah aku mengetahui namamu?"
"Namaku The Siang Hwi. Sudahlah, aku harus pergi
agar subo tidak marah kepadaku!"
Siang Hwi menarik lepas tangannya lalu ia meloncat
dengan tubuh ringan dan berlari cepat, sebentar saja
sudah lenyap dari situ.
Tiong Li menghela napas panjang. Baru saja
nyawanya beberapa kali terancam maut akan tetapi
kalau memang Tuhan belum menghendaki dia mati,
seperti wejangan gurunya, tetap saja dia tertolong. Mulamula
dia terancam maut ketika terpukul oleh Si Golok
Naga, Tapi Ban-tok Sian-li yang menyembuhkannya.
Kemudian mestinya dia mati di tangan Ban-tok Sian-li,
akan tetapi ada The Siang Hwi yang menyelamatkannya.
Dan peristiwa yang baru saja terjadi membuka matanya
bahwa setelah selama sepuluh tahun dia mempelajari
ilmu, ternyata masih jauh untuk dapat dlpakai membela
diri.
Melawan Si Golok Naga dan Si Muka Tengkorak
Hidup saja tidak mampu, apa lagi melawan Ban-tok Sianli
! Ilmu yang telah dikuasainya belum ada artinya.
Tentu saja pemuda remaja itu tidak tahu bahwa yang
dihadapinya itu adalah datuk-datuk persilatan yang sakti.
Kalau dia bertemu dengan tokoh-tokoh yang leblh rendah
tingkatnya, maka ilmunya sudah lebih dari cukup.
Dia lalu mengangkat jenazah suhunya. Terasa ringan
sekali jenazah itu dan baru sekarang dia menyadari
betapa ringkih dan kurus tubuh suhunya. Heran
bagaimana tubuh seringkih itu memiliki kesaktian yang
hebat. Akan tetapi sekarang, di mana adanya semua
kesaktian itu? Lenyap bersama matinya raga!
Kalau begitu, yang dinamakan ilmu kepandaian itu
hanya untuk sementara saja, tidak kekal seperti adanya
tubuh ini. Benar suhunya. Semua ini hanya alat! Dan
sudah sepatutnya semua orang berusaha untuk menjadi
alat yang baik bukan alat yang merusak! Alat yang baik
akan dipergunakan Tuhan mengutarakan kekuasaannya,
sebaliknya alat yang buruk hanya akan dipakai oleh
setan untuk merajalela!
"Suhu, teecu bersumpah untuk menjadi alat yang baik
bagi Tuhan Yang Maha Kuasa."
Dia teringat akan pesan terakhir suhunya sebelum
meninggal. Suhunya minta agar jenazahnya dibakar
bersama gubuk tempat tinggalnya. Hal ini hanya
mengandung arti bahwa sepeninggal suhu nya, dia harus
pula meninggalkan tempat itu, maka gubuknya disuruh
bakar Dia merebahkan jenazah itu ke pembaringan
suhunya.
Melihat pakaian suhunya berlepotan darah, dengan
hati terharu dan tangan gemetar dia lalu mengganti
pakaian suhunya itu dengan pakaian yang bersih.
Kemudian dia mengemasi pakaiannya sendiri, disatukan
dalam buntalan, setelah sekali lagi memberi hormat
sambil berlutut delapan kali di depan jenazah suhunya
sambil menangis, dia berkata,
"Selamat tinggal, suhu, selamat tinggal dan., selamat
jalan... !"
Dia sendiri menjadi bingung, harus mengucapkan
selamat tinggal atau kah selamat jalan kepada gurunya! .
Dia lalu mengumpulkan kayu bakar, menumpuknya di
sekitar pembaringan suhunya, kemudian, dengan air
mata bercucuran, mulailah dia membakar tumpukan kayu
bakar itu. Setelah api berkobar besar barulah dia keluar
dari rumah itu, berdiri di pekarangan memandang api
berkobar membakar pondok itu dengan air mata
bercucuran membasahi kedua pipinya.
" Suhu ......... suhu .... ahh , suhu .... "
Tiong Li mengeluh sambil menangis tersedu-sedu.
Sepuluh tahun lamanya dia hidup bersama kakek itu
yang menjadi pengganti ayahnya, pengganti segala
galanya baginya. Menjadi gurunya, orang tuanya,
sahabatnya. Dan kini, tiba-tiba saja gurunya mati dan
dimakan api! Padahal, baru saja tadi gurunya masih
bercakap-cakap dengan dia.
Malam mulai tiba dan cuaca mulai gelap sehingga api
yang membakar pondok itu membuat cuaca
disekelilingnya menjadi terang benderang.
Tiba-tiba saja di belakang Tiong Li terdengar orang
tertawa bergelak, suara tawanya menembus keremangan
malam itu bagaikan suara tawa iblis.
"Ha-ha-ha, si hwesio tua dari Pek hong-san kok telah
mendahului kita. Ha ha-ha sungguh beruntung, sungguh
baik sekali nasibnya, ha-ha-ha!"
Tiong Li terkejut dan membalikkan tubuhnya, siap
untuk bertanding mati-matian. Akan tetapi yang dilihatnya
bukanlah Si Golok Naga melainkan seorang kakek
berpakaian jubah pendeta yang longgar. Kakek itu
bertubuh pendek gendut seperti bola saja bentuknya dan
dialah yang tertawa bergelak dan mengeluarkan ucapan
tadi.
Di sampingnya berdiri seorang kakek lain yang juga
berjubah longgar akan tetapi kakek ini tinggi kurus seperti
tihang. Usia mereka sekitar enampuluh tahun. Kalau
kakek pendek gendut itu masih tertawa terkekeh-kekeh
seperti orang kesenangan, adalah kakek tinggi kurus
memandang langit di mana sudah muncul bulan
sepotong dan kakek kurus itu lalu bernyanyi ! Suaranya
tinggi melengking sesuai dengan bentuk tubuhnya dan
karena lehernya panjang, maka suaranya cukup merdu
ketika dia bernyanyi.
"Sungguh membuat hati kita menjadi iri melihat
keberuntungan hwesio tua ini betapa senangnya
meninggalkan segala kepalsuan untuk menikmati
kebebasan! Habislah derita, lenyap sengsara bebas
menuai hasil karma! Aiih, hwe-sio tua dari Pek-hong-san
kenapa pergi meninggalkan kami tanpa pesan ? "
Sehabis bernyanyi diapun ikut tertawa-tawa bersama
si kakek gendut. Tiong Li menjadi marah dan hatinya
dongkol sekali. Dia sedang menangis dan berkabung
karena kematian suhunya, dua orang ini malah tertawatawa
dan bersenang-senang! Akan tetapi karena nada
bicara orang itu seperti orang-orang yang telah mengenal
baik suhunya, dan siapa mereka tidak bermusuhan,
diapun bersikap hormat dan melangkah maju
menghadapi kedua orang yang masih tertawa-tawa itu
sambil mengangkat kedua tangan depan dada memberi
hormat.
"Maaf, ji wi lo-cian-pwe. Siapakah ji-wi yang datang
tertawa-tawa selagi saya berduka dan berkabung karena
kematian suhu?"
Si pendek gendut itu yang menjawab sambil
menyeringai,
"Kami berdua adalah sahabat-sahabat baik si hwesio
tua. Pinto (aku) disebut Tee Kui Lojin (Si Tua Setan
Bumi) dan saudaraku ini Thian Kui Lojin (Si Tua Setan
Langit). Karena sudah lama tidak berjumpa dengan Pek
Hong San-jin, malam ini kami datang berkunjung, siapa
tahu dia seenaknya meninggalkan kami untuk
bersenang-senang! Ha-ha-ha! Si Tua yang licik,
meninggalkan kami disarang kepalsuan dan
kesengsaraan ini!"
Tiong Li mengerutkan alisnya.
"Maaf, lo-cian-pwe. Saya kira siapa ji-wi ini tidak
sepantasnya. Saya sedang menangis, berduka dan
berkabung, akan tetapi jiwi datang bersenang dan
tertawa-tawa. Dan ji-wi masih mengaku sebagai sahabatsahabat
baik suhu!"
"Ha-ha ha-ha!" Tee Kui Lojin tertawa geli seolah
ucapan pemuda itu terdengar lucu sekali. "Kami memang
sahabat baik dan kami amat menghormati dan sayang
kepada si hwesio tua."
"Lebih tidak masuk diakal lagi !" bantah Tiong Li.
"Kalau ji-wi menghormati dan sayang kepada suhu,
mengapa tertawa melihat kematiannya?"
"Ha-ha, anak muda. Justeru karena kami sayang
kepada suhumu, maka kami bersenang-senang melihat
dia meninggalkan dunia.."
"Tidak masuk akal!" bantah Tiong li. "Bagaimana
mungkin orang dapat bersenang-senang di tinggal mati
orang yang disayangnya ? Saya menyayang suhu, dan
ketika suhu meninggal saya merasa berduka sekali ! "
"Hemm, orang muda, engkau murid Pek Hong Sanjin?
Kenapa begini bodoh!"
Sekarang si jangkung Thian Kui Lojin berkata,
mencela. "Kenapa pandanganmu masih sepicik itu?
Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, kalau engkau
memang sayang kepada suhumu, mengapa setelah dia
mati engkau tangisi dia. Mengapa?"
"Tentu seja, lo-cian-pwe, saya kehilangan suhu yang
saya sayang dan mati. "
"Hemm, jadi engkau menangisi dirimu sendiri, ya?
Engkau menangis karna merasa kasihan kepada dirimu
sendiri yang ditinggalkan orang yang kau sayang ?
Berarti engkau sama sekali tidak menangisi gurumu !
Dan pula, mengapa kematian ditangisi? Kita tidak tahu
apa yang terjadi selanjutnya dengan suhumu, kenapa
ditangisi? Yang jelas sekali, dia telah terbebas dari siksa
hidup, dari penyakit, dari permusuhan, dari kepalsuan
dan segala macam kemunafikan dunia.. Kenapa ditangisi
? "
Tiong Li terbelalak dan dia merasa malu kepada diri
sendiri. Tentu saja suhunya pernah bicara tentang
kematian ini, dan diapun kini manyadari båhwa dia tadi
menangis karena duka mengingat akan keadaan dirinya
sendiri,sama sekali--bukan menangisi gurunya!.
Bagaimana dia dapat menangisi nasib gurunya kalau dia
tidak tahu apa yang dialami gurunya setelah
kematiannya?
"Saya menangisi suhu, menangisi kematiannya yang
amat menyedihkan. Diatewas karena dibunuh oleh dua
orang jahat. Apakah hal itu tidak menyedihkan?"
bantahnya untuk memberi alasan tangisnya tadi.
Api masih berkobar-kobar membakar pondok dan
Jenazah yang berada di dalamnya.
Kini Tee Kui Lojin yang bicara "Ha ha, kau berduka
karena permainan pikiran dan perasaanmu sendiri.
Kematian itu sudah merupakan garis yang tidak dapat
diuboh oleh siapaun juga. Kalau saat kematian sudah
tiba, biar engkau bersembunyi dilubang semut, maut
akan tetap datang menjemput. Sebaliknya kalau saat
kematian belum mestinya tiba, biar engkau diancam
seribu ujung tombak, engkau akan tetap dapat mengelak.
Kematian gurumu sudah garis, tidak dapat dielakkan lagi,
seperti kematian yang datang pada setiap orang hidup di
dunia ini . Adapun cara kematian itu yang merupakan
penyebab kematian adalah buah karma. Roda karma
pasti datang berputar dan pada saatnya akibat akan
menyusul sebabnya. Usaha kita satu-satunya untuk
menanam karma baik hanyalah dengan perbuatan baik
yang tanpa pamrih."
"Perbuatan yang baik itu yang bagaimana, lo-cianpwe?"
Tiong Li memancing karena dia tertarik sekali. Dari
mendiang suhunya diapun sudah banyak mendapatkan
wejangan tentang ini, akan tetapi cara mengungkapkan
kedua orang kakek aneh ini agak berbeda walaupun
intinya sama, maka dia ingin sekali mendengarnya.
"Ha-ha-ha, engkau anak yang cerdik, pantas untuk
mendengar penjelasan tentang itu agar kelak tidak akan
tersesat. Perbuatan baik itu adalah perbuatan yang
bermanfaat dan mendatangkan kesenangan bagi orang
lain. Ada perbuatan baik yang dilakukan dengan sengaja
dan berpamrih. Perbuatan baik" seperti ini buahnya
sudah langsung diterima sesuai dengan pamrihnya.
Kesenangan atau pujian yang didapatkan karena
perbuatan baik itu sudah menjadi buah yang langsung
dipetik dan dinikmatinya sehingga sudah lunas. Akan
tetapi perbuatan baik kedua adalah perbuatan yang tidak
disengaja, bahkan tidak diketahuinya bahwa itu
perbuatan baik, melainkan perbuatan yang timbul dari
hati yang penuh belas kasih dan karena tidak disengaja
atau diketahui bahwa perbuatan itu baik maka pelakunya
tidak berpamrih dan tidak mengharapkan apapun. Nah,
perbuatan seperti inilah yang masuk catatan karma dan
mungkin buahnya diterima kemudian, cepat atau lambat.
Perbuatan-perbuatan yang timbul dari hati penuh belas
kasih inilah yang memupuk karma baik. Mengertilah
engkau, eh, siapa namamu, orang muda?"
"Terima kasih atas semua penjelasan itu, lo-cian-pwe.
Nama saya adalah Tan Tiong Li dan saya telah menjadi
murid suhu semenjak saya berusia lima tahun, sudah
sepuluh tahun ini."
"Bagus, engkau murid berbakat dan berbakti.
Sekarang ceritakan, bagaimana Pek-hong Sanjin tewas
dan oleh siapa dan kenapa?"
Karena maklum bahwa dia berhadapan dengan dua
orang sakti sahabat suhunya, maka tanpa ragu lagi Tiong
Ll lalu bercerita, diawali sejak dia berusia lima tahun.
"Ketika saya baru berusia lima tahun, saya bersama
mendiang ayah saya pergi berburu binatang ke puncak
Liong san. Tanpa sengaja kami berdua melihat empat
orang tokoh-tokoh partai besar sedang bercakap-cakap
tentang lenyapnya Mestika Golok Naga yang katanya
dicuri orang dan pencurinya membunuhi para pengawal
dengan menggunakan ilmu dari empat partai besar itu.
Tiba-tiba muncul seorang raksasa hitam yang mengaku
berjuluk Si Golok Naga, dan dia menggunakan sebatang
golok membunuh empat orang tokoh besar itu."
"Siancai ....., kami sudah mendengar tentang
terbunuhnya para tokoh Siauw-limpai, Hoansapai,
Butong-pai dan Kunlunpai di Liong-san itu. Sampai
sekarang tidak ada yang tahu siapa pembunuhnya.
Siapa kira engkau tidak hanya mengetahui bahkan
menjadi saksi!" kata Thian Kui Lo-jin yang jangkung.
"Lanjutkan ceritamu, Tiong Li. Menarik sekali
ceritamu," kata Tee Kui Lojin .
"Ayah lalu mengajak saya untuk melarikan diri. Akan
tetapi Si Golok Naga agaknya mengetahui dan mengejar
kami Ayah lalu menyuruh saya mendaki sebuah puncak
lain dan ayah sendiri mengalihkan perhatian pengejar itu.
Akhirnya ayah tersusul dan dibunuh oleh si Golok Naga,
sedangkan saya ditolong oleh suhu Pek Hong San-jin,
lalu diambil murid sampai hari ini....."
"Hemm, dan suhumu mati oleh Si Golok Naga itu pula
? terjadinya ?"
"Sore tadi suhu baru tiba dari perjalanannya sejak pagi
dan selagi kami bicara, muncullah Si Golok Naga
bersama seorang yang wajahnya sepert tengkorak hidup.
Karena mereka menyatakan hendak membunuh suhu,
saya lalu myerang Si Golok Naga, akan tetapi akhirnya
dia merobohkan saya dengan sebuah pukulan beracun.
Saya melihat suhu juga roboh dan saya memaksakan diri
menghampiri suhu. Suhu meninggalkan pesan agar
jenazahnya di bakar bersama pondok ini, dan suhu
meninggal dalam rangkulan saya. Kemudian saya roboh
pingsan."
"Hemm, tapi kami melihat engkau sudah tidak terluka
lagi, melihat gerakanmu dan suaramu," kata si jangkung
Thian Kui Lo-jin.
"Memang ada orang yang menolong saya, lo-cianpwe.
Ketika saya siuman, ada seorang wanita dan
seorang gadis remaja berada di sini. Wanita itu menurut
keterangan si gadis remaja bernama Ban-tok Sian-li.. .."
"Sian-cai....! Dewi Selaksa Racun itu datang
kepadamu dan mengobatimu dari pukulan beracun?
Sungguh luar biasa sekali! Biasanya ia tidak perdulian
orang lain.”
"Memang ia menolong saya ada pamrihnya, lo-cianpwe.
Mungkin dalam keadaan setengah sadar saya telah
menyebut Si Golok Naga dan dia tertarik, setelah
mengobati saya lalu ia bertanya tentang Mestika Golok
Naga. Ketika saya menjawab bahwa saya tidak tahu dan
bahwa yang membunuh suhu hanyalah orang berjuluk Si
Golok Naga dan Tengkorak Hidup, dan saya tidak tahu di
mana adanya Mestika Golok Naga, ia menjadi marah dan
hendak membunuh saya. Akan tetapi nyawa saya masih
dilindungi Tuhan. Muridnya, seorang gadis remaja telah
mencegah gurunya membunuh saya dan selamatlah
saya."
"Hemm, tanpa kausadari, engkau telah terlibat dalam
urusan yang akan membahayakan hidupmu selanjutnya,
Tiong Li. Engkau melihat raksasa hitam itu membunuhi
tokoh empat partai besar, berarti engkau seorang yang
menjadi saksi mata atas perbuatannya itu karena
ayahmu, saksi kedua telah tewas. Si raksasa hitam itu
tentu tidak akan pernah merasa lega dan puas kalau
belum dapat membunuhmu. Untung engkau bertemu dan
menjadi murid sahabat kami Pek Hong San-jin, kalau
tidak tentu sudah dari dulu engkau terancam bahaya
maut," kata Thian Kui Lo-jin.
"Lo-cian-pwe, sebenarnya siapakah raksasa hitam itu?
Dan siapa pula si muka tengkorak yang telah membunuh
suhu itu?"
"Kami tidak tahu. Akan tetapi melihat kelihaian dan
keanehannya, agaknya dia dan si muka tengkorak itu
bukan tokoh di dunia kang-ouw yang kita kenal. Mungkin
dia datang dari daerah lain dan sangat boleh jadi dia
datang dari negara Cin, merupakan tokoh dari utara atau
barat yang memang banyak terdapat orang orang lihai
yang aneh. Akan tetapi sudahlah, kami tidak tertarik
kepada mereka, melainkan tertarik kepadamu. Karena
engkau murid mendiang sahabat kami, maka kami tidak
boleh tinggal diam melihat engkau terancam bahaya
maut."
"Ha-ha-ha, jalan satu-satunya adalah bahwa engkau
harus ikut bersama kami, menjadi murid kami, Tiong Li.
Dengan demikian berarti kita tidak menyia-nyiakan
semua jerih payah hwe-shio tua itu. Bagaimana, maukah
engkau menjadi murid kami dan ikut bersama kami?"
tanya Tee Kui Lo-jin sambil tertawa-tawa.
Mendengar pertanyaan itu, seketika Tiong Li
menjatuhkan diri berlutut di depan mereka. Mereka
adalah para sahabat gurunya, dan dia merasa bahwa
ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat dipakai
melawan orang-orang pandai maka dengan rela dan
senang hati dia lalu memberi hormat dan berkata, "Teecu
menghaturkan terima kasih kalau ji-wi suhu (guru berdua)
suka mengambil teecu sebagai murid. Teecu akan
menaati semua perintah dan petunjuk ji-wi suhu."
Dua orang aneh itu tertawa senang. Mereka tidak
mempunyai murid dan tidak mempunyai keinginan untuk
mengambil murid. Akan tetapi ketika bertemu dengan
Tiong Li, melihat kebaktian Tiong Li terhadap gurunya,
lalu melihat betapa Tiong Li terlibat dalam urusan besar
dan anak itupun berbakat baik sekali, hati mereka tertarik
dan mereka sepakat untuk menggembleng pemuda itu
sebagai murid mereka.
Demikianlah, setelah api yang mem bakar pondok itu
padam dan abunya beterbangan dibawa angin gunung,
dua orang pertapa itu mengajak Tiong Li meninggalkan
tempat itu.
"Biarlah abu jenazah Pek Hong San Jin diterbangkan
angin bertebaran di seluruh permukaan bukit dan
menjadi pupuk yang baik bagi tanaman di sini," kata Tee
Kui Lo-jin sambil tertawa. "Ini sudah sesuai dengan
kehendaknya."
Dua orang pertapa itu bertempat tinggal di Lembah
Sungai Wu-kiang, di pegunungan Kui-san dan
mengambil sebuah puncaknya sebagai tempat
pertapaan, yaitu di puncak Ki-lin-san (Puncak Bu- kit
Kilin). Disebut demikian karena puncak ini dari jauh
seperti bentuk seekor ki-lin (hewan keramat setengah
singa setengah harimau).
Seperti halnya ketika belajar kepada Pek Hong San-jin
dahulu, sekali ini Tiong Li juga. belajar dengan tekun,
hampir tidak pernah meninggalkan puncak sehingga dia
tidak pernah tahu atau mendengar akan keadaan di
dunia luar.
)odwo(
Sementara itu, di luar tempat pertapaan itu, terjadi
banyak hal yang hebat. Melihat gerakan pasukan Cin
(Kin) yang selalu melanggar perbatasan, kaum pendekar
di dunia kang-ouw merasa penasaran sekali. Mereka
tidak setuju dengan sikap Kaisar Kao Cung yang lemah
dan yang lebih suka mengalah terhadap Kerajaan Kin,
tanpa malu-malu mengajak Bangsa Yu-cen itu berdamai
dan bahkan membayar upeti.
Di propinsi Ho pei dan Shan-si, di mana-mana para
pendekar patriot membentuk pasukan-pasukan rakyat
sendiri untuk melawan pasukan Kin yang selalu
melanggar perbatasan dan melakukan perampokan dan
pembunuhan pada penduduk dusun di sekitar
perbasatan. Laskar laskar rakyat ini membuat sarang
mereka di bukit bukit dan hutan-hutan di sepanjang
Sungai Yang-ce.
Pernah sebuah laskar rakyat yang menamakan dirinya
Laskar Pita Merah menyerbu sebuah perkemahan
pasukan Kin (Cin) dan membasmi seluruh penghuninya!
Semangat mereka berkobar-kobar, sungguh berbeda
dengan sikap Kaisar Sung Kao Cung yang dianggap
merendahkan martabat Kerajaan.
Yang bertugas mempertahankan kota raja Kai-feng
yang telah jatuh ketangan musuh adalah Panglima Cung
Ce. Kini dialah yang memimpin pasukan Kerajan Sung
yang bertugas di garis depan. Pada suatu ketika,
Panglima Cung Ce menyeberangi Sungai Yang-ce dan
mengadakan perundingan dengan para patriot yang
berjuang di seberang utara untuk merebut kembali
daerah yang telah dikuasai musuh. Dia memerintahkan
tujuhribu orang pasukan, dipimpin oleh pendekar Wang
Yen, menerjang kepungan puluhan ribu orang pasukan
Kin dan berhasil mencapai dan menguasai Pegunungan
Tai-hang-san. Mereka menghimpun lebih dari seratus
ribu orang di Pegunungan Tai-hang-san ini dan berulang
kali mengalahkan pasukan Kin dan memperkuat pasukan
sendiri.
Berulang kali Panglima Cung Ce mengusulkan untuk
menyerbu terus ke utara, namun Kaisar selalu menolak.
Bahkan sebaliknya, Kaisar yang dikuasai oleh Perdana
Menteri Jin Kui, merasa khawatir kalau-kalau Cung Ce
yang bekerja sama dengan para pendekar patriot akan
terlalu besar kekuasaannya dan mengancam kedudukan
kaisar sendiri. Maka, selain menolak usul Panglima Cung
Ce, kaisarpun memerintahkan orang orangnya untuk
mengawasi gerak-gerik panglima itu dengan penuh
kecurigaan.
Melihat keadaan itu, Panglima Cung Ce menjadi
penasaran, marah dan kecewa bukan main. Sakit sekali
hatinya. Dia yang setia dan membela negara untuk
mengusir penjajah, untuk merebut kembali Kerajaan
Sung di utara yang di kuasai musuh, selain dilarang
menyerang ke utara, juga malah diawasi dan dicurigai.
Sakit hati ini membuat panglima yang sudah berusia
tujuhpuluh tahun itu jatuh sakit berat. Namun,
semangatnya tidak pernah pudar. Menjelang
kematiannya dia mengundang para pendekar patriot dan
membujuk mereka agar melanjutkan perjuangan
membasmi musuh Dia meninggal dunia dengan hati
mengandung penasaran sehingga matanyapun tidak
dapat terpejam!.
Pada waktu itu terdapat seorang panglima lain yang
gagah perkasa dan setia kepada negara, yaitu Gak Hui.
Bersama seluruh putera-puterinya, panglima ini
merupakan pejuang yang gigih dan sudah berulang kali
memukul mundur pasukan Kin. Panglima Gak Hui
berasal dari kota Tang-yin di propinsi Honan, dari
keluarga petani biasa. Akan tetapi ibunya adalah seorang
wanita yang bijaksana dan berjiwa patriot sejati. Pernah
ibu Gak Hui menuliskan kata-kata di punggung Gak Hui
yang memerintahkan puteranya itu untuk berbakti kepada
negara dan setia kepada Kaisar sampai mati! .
Panglima Gak Hui amat mencintai tanah airnya dan
setelah bangsa Yu-cen menguasai Kerajaan Sung utara,
dia amat membenci musuh ini. Dia menghimpun pasukan
yang sebagian besar terdiri dari pemuda-pemuda petani
yang amat patuh kepadanya. Dalam keadaan bagaimana
pun, baik selagi kelaparan maupun kedinginan, tak
seorangpun tentara berani mengganggu rakyat. Karena
itu rakyat amat menyayang dan menghormati pasukan
yang dipimpin Panglima Gak Hui dan di mana mana
pasukan ini diterima dengan senang dan bangga oleh
rakyat jelata.
Setelah beberapa kali memukul mundur pasukan Kin,
Gak Hui membawa pasukannya maju terus ke utara dan
bergabung dengan laskar rakyat di Tai-hang-san dan
dengan para pasukan di Ho-pei.
Dalam tahun 1140, panglima besar Kerajaan Kin yang
bernama Wu-cu memimpin pasukannya ke selatan. Akan
tetapi di Shun-cang, propinsi An-hwi, pasukannya
dihancurkan oleh pasukan Sung yang dipimpin oleh
Jenderal Lui Chi. Juga jenderal Wu Lin menghantam
pasukan Kin di Tu-feng propinsi Shen-si. Adapun
Panglima Gak Hui sendiri menyerang dari Siang-yang
propinsi Hu-peh. Panglima Gak Hui mengirim para patriot
menyeberangi Sungai Kuning.
Mereka berhasil memorak-porandakan pertahanan
musuh. Gak Hui mengejar sampai ke Yen-ceng propinsi
Ho-nan. Selurun kekuatan para pejuang di utara
bergabung dengan Gak Hui. Rakyat mendukung,
menyumbangkan ransum dan pasukannya menjadi
senakin besar karena banyak sukarelawan memasuki
pasukan itu dan berjuang dengan semangat yang tinggi.
Pada saat yang amat menguntungkan bagi
perjuangan itu, setelah Panglima Gak Hui berhasil, tibatiba
saja Kaisar Sung Kao Cung memerintahkan pasukan
Gak Hui untuk mundur! Kaisar Sung Kao Cung amat
dipengaruhi oleh Jin Kui itu bukan saja takut kalau
perhubungannya dengan Kin memburuk, juga Perdana
Menteri Jin Kui memperingatkan kaisar bahwa
kekuasaan Gak Hui semakin besar dengan dukungan
rakyat jelata. Semua ini dapat mendorong Gak Hui untuk
mem- berontak dan membahayakan kedudukan Kaisar.
Kaisar sama sekali tidak tahu bahwa nasihat Jin Kui
untuk berdamai dengan pihak Kin itu sebetulnya didasari
oleh persekutuan yang dijalin Perdana henteri Jin Kui
dengan pihak musuh! Jin Kui bersekongkol bahkan
diperalat oleh Kerajaan Cin (Kin) sehingga apapun yang
diperintahkan pihak Kin, selalu ditaati oleh Jin Kui.
Dalam tahun 1411, Panglima Kin Wu Cu menulis
sepucuk surat rahasia kepada sekutunya, yaitu Jin Kui
dan berkata, "Engkau menghendaki perdamaian, akan
tetapi Gak Hui menyerang Hupei. Kalau engkau tidak
segera membunuh Gak Hui, perdamaian tidak akan
pernah ada!"
Demikianlah, Jin Kui membujuk Kaisar yang segera
menulis surat perintah kepada Gak Hui untuk menarik
mundur pasukannya sampai di perbatasan, dan
memerintahkan Gak Hui untuk pulang ke kota raja. Surat
panggilan untuk Gak Hui ini ditandatangi oleh kaisar
sendiri. Pada waktu itu, semua orang sudah tahu bahwa
Kaisar dipermainkan dan dipengaruhi oleh Jin Kui dan
banyak panglima, bahkan putera-puteri Gak Hui sendiri
menasihatkan agar Gak Hui tidak memenuhi panggilan
itu karena dikhawatirkan merupakan perangkap yang
diatur oleh Perdana Menteri Jin Kui.
Namun, Panglima Gak Hui adalah seorang yang amat
setia kepada kerajaan, kepada negara karenanya juga
setia dan patuh kepada kaisar. Dia mengabaikan semua
nasihat itu dan berkeras untuk memenuhi panggilan
kaisar! Tidak percuma mendiang ibunya dahulu
menuliskan kata-kata di punggungnya agar dia setia
sampai mati kepada kaisar. Dengan gagahnya Gak Hui
melakukan perjalanan pulang ke kota raja.
Dan benar saja seperti yang dikhawatirkan semua
sahabat dan putera-puteri Gak Hui, setibanya di kota raja
Gak Hui lalu ditangkap di dipenjarakan dengan tuduhan
melanggar perintah dan telah lancang menyerang ke
utara mengabaikan larangan kaisar! Semua ini tentu saja
telah diatur oleh Perdana Menteri Jin Kui.
Melihat ini. para putera dan sahabat Panglima Gak Hui
berusaha untuk membebaskan Gak Hui. Mereka
mengamuk menyerbu penjara, bahkan sudah berhasil
mendobrak runtuh pintu kamar tahanan Panglima Gak
Hui, mengajaknya minggat dari situ.
Akan tetapi bagaimana sikap Gak Hui? Dia marah
sekali kepada para pengikut dan para puteranya, "Aku
bersumpah untuk setia kepada kerajaan, setia sampai
mati dan kalian malah memberontak dan mencoba untuk
membebaskan aku? Aku tidak akan melarikan diri!"
demikian katanya.
Para perwira bawahannya, para sahabat dan
puteranya membujuk berulang-ulang. "Ayah," kata
puteranya yang bernama Gak Liu. "Kalau ayah tidak mau
pergi , itu berarti ayah mencari kematian sendiri. Jin Kui
tentu tidak akan puas sebelum melihat ayah tewas!"
"Anak tidak berbakti. Engkau berani menganjurkan
ayahmu menjadi pemberontak? Bukan Jin Kui yang
dapat mengusai aku, akan tetapi Yang Mulia Sri Baginda
Kaisar yang memerintahkan semua ini! Bagaimana aku
dapat membangkang terhadap perintah Kaisar?
Ketahuilah, kalian semua. Aku bersedia mati untuk
Kerajaan dan kalau Kaisar menghendaki aku mati, maka
matilah aku!. Nah, kalian pergilah sebelum aku
membantu kerajaan untuk menangkap kalian semua!" .
Dengan hati yang hancur semua pendekar itu
meninggalkan penjara yang sudah mereka serbu.
mereka harus mengambil jalan darah untuk dapat keluar
dari tempat itu dengan selamat, karena pasukan telah
mengepung mereka. Ada berapa orang pendekar yang
roboh dan tewas. Akan tetapi Gak Liu berhasil
meloloskan diri dengan hati sedih sekali melihat ayahnya
tidak mau ditolong.
Dan dengan tipu muslihatnya yang licik, Jin Kui
berhasil membuat surat perintah palsu dari kaisar yang
menjatuhkan hukuman mati kepada Gak Hui, dalam
perintah palsu kaisar mengirim mangkok arak beracun
untuk Gak Hui Tanpa ragu sedikitpun Gak Hui menerima
sambil berlutut dan minum arak beracun itu sampai habis
sambil berdiri tegak dan diapun mati dalam keadaan
masih berdiri!.
Setelah Gak Hui tewas, maka perlawanan Kerajaan
Sung dengan pasukannya terhenti. Kaisar mengadakan
perdamaian yang amat menghina dan merendahkan
martabat Sung dengan Kerajaan Kin. Tapal batas yang
baru dibuat dan daerah luas antara sebelah utara Sungai
Huai dan Tasan-kuan di Shen-si jatuh ke tangan
Kerajaan Kin! Selain ini, juga Kerajaan Sung harus
membayar upeti duaratus 1imapuluh ribu tail perak dan
duaratus limapuluh ribu gulung sutera halus setiap tahun!
.
Biarpun Kerajaan Sung sudah berdamai dan
mengalah, akan tetapi para pendekar patriot masih terus
melakukan perlawanan. Untuk ini Kerajaan Kin
membentuk pasukan-pasukan khusus untuk
membasminya. Keadaan di sepanjang perbatasan
menjadi ajang pertempuran gerilya.
0odwo0
Demikianlah keadaan Kerajaan Sung yang sama
sekali tidak diketahui oleh Tiong Li yang sedang tekun
belajar ilmu dari kedua orang gurunya.Kerajaan Kin juga
mendesak Kerajaan Sung melalui sekutunya, yaitu
Perdana Henteri Jin Kui untuk membasmi para pendekar
patriot yang membentuk laskar laskar rakyat
mengganggu Kerajaan Kin di sepanjang perbatasan.
Kaisar Sung Kao Cung memberi kekuasaan kepada
Menteri Jin Kui untuk memimpin pembasmian para
"pemberontak" itu.
Dalam keadaan seperti itu, rakyat selalu gelisah. Di
satu pihak mere itu diam-diam membantu para pejuang
dan di lain pihak mereka takut akan gerakan
pembersihan pasukan pemerintah, juga kadang-kadang
ada pasukan Kin yang rnelakukan pengejaran jauh ke
dalam Kerajaan Sung Selatan melanggar perbatasan.
Rakyat dicekam ketakutan dengan adanya perang
gerilya yang dapat saja sewaktu-waktu terjadi di mana.
Bahkan di kota raja sendiri rakyat merasa gelisah karena
Perdana Menteri Jin Kui tidak segan-segan rnelakukan
pembersihan di kota raja menangkapi orang-orang yang
dicurigai .
Dalam keadaan seperti itu, maka fitnah merajalela.
Setiap orang dapat saja lakukan fitnah terhadap orang
lain yang menjadi musuhnya, atau yang dibencinya.
Sekali saja melapor bahwa seseorang dicurigai menjadi
mata-mata pejuang, maka orang itu akan ditangkap dan
disiksa untuk mengaku, kadang disiksa sampai mati!
Maka terjadilah kepanikan di antara rakyat dan
kesempatan ini banyak dipergunakan oleh para perwlra
untuk menggertak rakyat untuk memancing keluarnya
uang sogokan yang besar.
Mereka mendatangi seorang yang beruang,
mengancam dan baru pergi setelah menerima sogokan,
pada hal hartawan Itu sama sekali tidak terlibat
perjuangan. Terlibat atau tidak, kalau sudah ditangkap
kecil harapannya akan dapat pulang dalam keadaan
hidup atau tidak cacat.
Malam yang gelap dan sunyl.. Hawa udara dingin
sekali dan sore-sore rakyat di kota raja sudah tidak
nampak di luar. Cuaca seperti itu lebih baik dihindari
dengan masuk ke dalam rumah mendekati perapian. Apa
lagi kalau berkeliaran di luar dan bertemu peronda
pasukan keamanan, dapat saja terjadi hal yang bukanbukan,
dan merugikan mereka lahir batin.
Tiba-tiba di tengah malam yang sunyi dan gelap itu
nampak sesosok bayangan berkelebat. Cepat sekali
gerakan bayangan itu dan dia sudah melompati pagar
tembok yang mengelilingi rumah gedung besar milik
Perdana Menteri Jin Kui! .
Akan tetapi baru saja dia memasuki pekarangan,
mendadak lima orang pasukan pengawal sudah
mengepungnya dan mereka menyalakan obor.
"Berhenti! Siapa engkau berani memasuki pekarangan
ini tanpa ijin?" bentak seorang pengawal.
"Hemm, aku yang masuk. Cepat bawa aku
menghadap Perdana Menteri!" kata orang yang bertubuh
tinggi besar itu.
Para perajurit pengawal itu mendekatkan obor untuk
melihat siapa orang yang datang itu. Obor menerangi
wajah yang menyeramkan dan berkulit hitam. Dan
mereka semua mengenalnya dengan baik karena orang
ini seringkali datang berkunjung dan menjadi kenalan
baik Perdana Menteri.
"Ah, kiranya Hak-sicu yang datang. Kenapa
mengejutkan orang dengan melompati pagar tembok dan
tidak langsung saja ke gardu penjagaan di luar
gerbang?"
"Lebih baik begini jadi tidak akan ada yang melihatku!"
jawab orang itu. Dia itu bernama Hak Bu Cu dan bagi
yang pernah bertemu dengannya segera akan
mengenalnya sebagai orang yang mengaku berjuluk Si
Golok Naga! .
Hak Bu Cu ini sebenarnya adalah seorang jagoan dari
Kerajaan Kin dan dialah yang diutus oleh Kerajaan Kin
untuk menjadi penghubung dengan Perdana Menteri Jin
Kui. Dia dan Perdana Menteri Jin Kui yang mengatur
pencurian Mestika Golok Naga itu, dengak maksud agar
dunia kang-ouw saling menuduh sendiri dan karena
keadaan para pendekar patriot menjadi lemah.
Hak Bu Cu inilah yang rnelakukan pencurian itu, dan
dia pula yang membunuhi para tokoh empat partai besar.
Golok itu oleh Hak Bu Cu diserahkan kepada atasannya,
yaitu Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin. Dan dia
sendiri membawa golok tiruan, golok yang sama besar
dengan Mestika Golok Naga untuk mengelabui mereka
yang hendak mencari dan merampas kembali Mestika
Golok Naga. Hak Bu Cu ini adalah seorang yang lihai
bukan main, mengerti banyak macam ilmu silat dan dia
menjadi tangan kanan Panglima Wu Chu.
Para pengawal segera mengantarkan Hak Bu Cu
masuk dan mereka melapor kepada Perdana Menteri Jin
Kui yang belum tidur, masih bersenang-senang di dalam
taman dihibur para selir dan dayangnya dengan taritarian.
Mendengar laporan pengawal bahwa Hak Bu Cu
datang mohon menghadap Perdana Menteri Ji Kui
segera memerintahkan semua selir dan dayang untuk
mundur, kemudian dia menyuruh pengawal minta kepada
tamu itu untuk masuk saja ke taman, di mana terdapat
sebuah bangunan mungil terbuka yang tadi
dipergunakan untuk menonton tari-tarian.
Setelah bertemu, Hak Bu Cu memberi hormat kepada
Perdana Menteri Jin Kui yang langsung menegur. "Ah,
Hak-sicu, angin apakah yang membawamu malammalam
begini datang berkunjung? Mari, duduklah di sini,
Hak-sicu."
Hak Bu Cu, si raksasa hitam itu, setelah memberi
hormat lalu duduk di depan Jin Kui, terhalang meja yang
penuh dengan makanan dan minuman. Jin Kui
menuangkan arak dalam cawan kosong lalu
memberikannya kepada tamunya.
"Terima kasih, taijin. Saya datang diutus. oleh Wuciangkun
untuk menemui taijin. Pertama-tama Wuciangkun
menyampaikan hormatnya dan kedua kali dia
menyuruh saya untuk membicarakan urusan penting
dengan taijin," Hak Bu Cu lalu minum araknya.
"Hemm, urusan penting apakah, si-cu? Coba cepat
ceritakan kepadaku."
"Begini, taijin. Akhir-akhir ini Wu-ciangkun dibikin
pusing dengan munculnya sepasukan pejuang yang
sungguh mengganggu kami dengan sepak terjang
mereka di perbatasan. Pasukan ini sungguh. tangguh
dan dipimpin oleh seorang laki-laki perkasa yang
kabarnya adalah putera mendiang Panglima Gak Hui
yang bernama Gak Liu."
"Hemm, Gak Liu itu memang putera mendiang Gak
Hui yang paling berani dan berkepandaian tinggi.
Dahulupun ketika ayahnya dipenjara, dia bersama
teman-temannya sudah berani penyerbu penjara dan
hampir saja dapat membebaskan ayahnya. Hanya
Panglima Gak Hui yang tidak mau dibebaskan. Jadi
sekarang dia memimpin pemberontak untuk mengacau di
perbatasan? Sungguh kurang ajar ! " Perdana Menteri itu
berkata.
Pada saat itu, muncul seorang pemuda berusia kurang
lebih duapuluh lima tahun, berwajah tampan dan
berpakaian mewah. Dia ini adalah Jin Kiat, putera
Perdana Menteri. Jin Kui, seorang pemuda yang
sombong, akan tetapi telah mempelajari ilmu silat yang
cukup tinggi di samping ilmu sastra.
"Aha, kiranya Paman Hak yang datang!" serunya
sambil memberi hormat dan dibalas oleh raksaša hitam
itu
"Pantas di sini sepi-sepi saja tidak terdengar suara
musik, kiranya ayah sedang menjamu seorang tamu
terhormat."
"Jin Kiat, duduklah, kami sedang membicarakan
urusan penting sekali. Hak sicu ini disuruh oleh Wuciangkun
menyampaikan berita penting tentang para
pemberontak. "
"Ada apa lagikah, ayah?"
"Ada sepasukan pejuang yang amat mengganggu di
perbatasan, dan pasukan itu dipimpin oleh Gak Liu,
puteri mendiang Panglima Gak Hui."
"Hemm, dia itukah? Yang dahulu menyerbu penjara?"
Jin Kiat lalu ikut duduk menghadapi meja mendengarkan
percakapan itu.
"Lalu apa yang dikehendaki oleh Wu-ciangkun?" tanya
Jin Kui.
"Wu-ciangkun minta bantuan taijin untuk dapat
menangkap Gak Liu dan menghukumnya, taijin," kata si
raksasa hitam.
"Hemm, kalau begitu aku akan melapor kepada kaisar,
akan kukatakan bahwa Gak Liu memberontak dan
memimpin pasukan pemberontak. Setelah itu, maka dia
akan menjadi buronan, dan kita tangkapi seluruh
keluarganya, baik keluarga dekat maupun jauh, maka
pernbersihan itu tentu akan memancing munculnya Gak
Liu."
"Aku akan memimpin pembersihan itu, ayah! Keluarga
Gak semua sudah menyingkir entah ke mana sejak
matinya Gak Hui, dan kurasa di kota raja sudah tidak
terdapat seorangpun yang she Gak Bahkan orang-orang
Gak sudah ketakutan sendiri dan minggat. Akan tetapi
kalau diusut, tentu masih ada keluarga jauh dari pihak
ibunya yang bukan she Gak Aku akan menyelidiki, ayah."
"Bagus, kalau engkau sendiri yang memimpin
pembersihan, tentu akan berhasil. Akan tetapi aku akan
minta bantuanmu, Hak-sicu, untuk membantu Jin Kiat
karena siapa tahu, di antara keluarga mendiang Gak Hui
itu akan terdapat orang-orang pandai yang tentu akan
menyusahkan puteraku."
"Tentu saja saya selalu siap untuk membantu, tai-jin."
"Bagus, kalau begitu tinggallah di sini sampai aku
melapor kepada Kaisar. Karena setelah melapor tentu
aku dapat minta surat kuasa untuk melakukan
penangkapan kepada seluruh keluarga Gak yang berada
di sini. Setelah ada yang tertangkap, kita dapat memaksa
keterangan darinya di mana kita dapat menemukan Gak
Liu si pemberontak itu."
Demikianlah, dengan gembira mereka lalu
melanjutkan makan minum sampai jauh malam dan Hak
Bu Cu tinggal di rumah besar itu sebagai seorang tamu
yang dihormati. Jin Kiat tidak menyia-nyiakan
kesempatan ini untuk minta petunjuk tentang ilmu silat
kepada tamunya, dan sambil menanti ayahnya membuat
laporan, diapun mempelajari beberapa jurus ilmu silat
dari si raksasa hitam yang lihai.
Pada keesokan harinya, dalam persidangan, Perdana
Menteri Jin Kui melaporkan kepada Kaisar.
"Yang Mulia, hamba mendengar berita yang tidak
enak sekali bahwa terdapat pasukan pemberontak yang
membikin kacau di perbatasan, memancing-mancing
pertempuran dengan pasukan Kin. Perbuatannya ini
berbahaya sekali karena setiap saat mereka dapat
membalik dan berbalik menyerang pasukan kita sendiri.
Dan yang memimpih pasukan itu adalah putera si
pemberontak Gak Hui yang bernama Gak Liu."
Tentu saja Kaisar marah sekali! mendengar laporan
ini. "Apa Putera pemberontak itu berani membikin kacau?
tangkap dia!" bentaknya.
"Hamba akan melaksanakan perintah itu, Yang Mulia.
Mohon Yang Mulia mengeluarkan surat per intah
penangkapan bukan hanya untuk Gak Liu, melainkan
untuk seluruh keluarga pemberontak itu agar hamba
dapat membasminya sampai bersih!"
Kaisar lalu membuat surat perintah itu dan dengan
bekal surat perintah ini, dengan girang Jin Kui lalu pulang
ke rumah gedungnya.
"Nah, dengan bekal surat perintah, engkau dapat
melakukan penangkapan kepada siapapun tanpa
khawatir lagi , Jin Kiat," kata ayah ini dengan bangga .
Sementara itu, Jin Kiat tidak tinggal diam dan dia
sudah mengutus orangnya menyelidiki siapa yang masih
terhitung sanak keluarga Gak. Dia mendengar bahwa
ada seorang hartawan di kota raja bernama An Kiong. An
Kiong ini kabarnya masih sanak keluarga Gak, dan masih
terhitung paman dari Gak Liu dari pihak ibunya. Dan
masih saudara misan ibunya.
"Ha-ha, aku tahu siapa yang harus kutangkap terlebih
dahulu, ayah. Dia bernama An Kiong dan menjadi
seorang hartawan yang terkenal di kota raja. Mari,
Paman Hak, kita siapkan pasukan untuk mulai
melakukan penangkapan."
Pemuda itu sambil membawa surat perintah lalu
mengajak tamunya untuk mempersiapkan selosin
perajurit pilihan yang di-ambil dari pasukan keamanan.
Dengan adanya Hak Bu Cu disampingnya, selosin orang
perajuritpun sudah lebih dari cukup. Perajurit itu hanya
untuk menambah keangkeran saja, karena kalau Hak Bu
Cu membantunya, tanpa perajuritpun dia berani
rnelakukan penangkapan terhadap siapapun juga.
Setelah pasukan itu siap, berangkatlah Jin Kiat dalam
pakaian panglima yang mewah, disertai Hak Bu Cu,
dengan gagahnya keluar dari gedung ayahnya menuju
ke rumah sang korban.
0odwo0
Sejak pagi sekali, banyak orang berdiri antri di depan
rumah An-wangwi (hartawan An). Hampir setiap hari
hartawan An ini membagi-bagi beras dan kadang juga
uang kepada fakir miskin. Pada waktu itu, akibat
terjadinya perang, banyak terdapat orang-orang miskin
yang hidupnya terlantar.
Karena itulah, setiap kali hartawan An membagi bagi
beras atau gandum, banyak yang antri minta bagian.
Baik yang berpakaian seperti pengemis atau penduduk
biasa, banyak yang antri.
Hartawan An Kiong memang terkenal sekali di kota
raja sebagai seorang yang dermawan. Tangannya
terlepas dan terbuka menolong siapa saja yang
membutuhkan bantuan.
Pada pagi hari itu, selagi orang ramai antri dan
menerima pembagian beras, lima kati setiap orang, tibatiba
terjadi keributan. Seorang pengantri yang bertubuh
tinggi besar, mendesak ke depan minta didahulukan.
Pada hal, dia datang belakangan. Orang itu masih muda,
berusia kurang lebih tigapuluh tahun dan sikapnya kasar
sekali. Dia mendorong begitu saja orang-orang yang antri
di depan, tidak perduli yang didorongnya itu wanita,
kakek-kakek atau kanak-kanak dan dia menuntut kepada
petugas yang membagi beras untuk mengisi kantungnya
dengan beras.
Si petugas melihat orang itu dan mengenalnya
sebagai orang yang pagi tadi sudah mendapatkan
jatahnya, "Eh, bukankah engkau tadi sudah
mendapatkan lima kati?"
"Itu kan tadi. Akan tetapi aku sudah antri lagi dan
setiap pengantri harus mendapatkan lima kati," katanya
kukuh .
"Hem aturan siapa itu?"
"Aturanku!" kata laki-laki itu sambil melotot marah.
"Cepat berikan bagianku, ataukah aku harus ambil
sendiri?"
"Heii, engkau ini minta atau merampok?" bentak
petugas yang membagi beras.
"Kalau merampok, engkau mau apa' balas si laki-laki
tinggi besar itu Terjadilah perkelahian, akan tetapi lima
petugas itu bukan lawan si laki-laki tinggi besar yang
memukul dan menendang mereka sampai jatuh bangun.
Mendadak di tempat itu muncul seorang Wanita cantik
bersama seorang gadis manis lain yang lebih muda. Gadi
itu berusia kurang lebih sembilanbelas tahun, wajahnya
manis sekali dan dia memandang kepada laki-laki itu
denga alis berkerut. Gadis ini bukan lain adalah Siang
Hwi, murid Ban-tok Sian li yang juga hadir di situ.
Guru dan murid ini berada di kota raja, baru tadi
mereka datang dan mereka tertaril sekali melihat
kerumunan banyak orang itu maka mereka mendekat
dan melihat bahwa kerumunan orang itu adalah orang
orang yang menerima bagian beras dari seorang
hartawan yang dermawan. Mereka merasa kagum sekali
kepada hartawan itu. Pada masa itu, jaranglah terdapat
hartawan yang demikian dermawan, yang membagi-bagi
beras kepada fakir miskin dan siapa saja yang
membutuhkannya.
An Kiong yang diberitahu cepat ke luar. Dia dengan
wajah ramah lalu memberi hormat kepada laki-laki tinggi
besar yang baru saja menghajar orang-orangnya itu.
"Sobat, harap jangan marah. Kalau engkau menghendaki
beras, marilah kuambilkan."
"Bagus, begitu baru baik. Nah, isilah kantung ini
sampai penuh!' katanya.
An Kiong mengerutkan alisnya. "So bat, biasanya
untuk setiap orang diberi lima kati. Yang minta banyak,
kami khawatir kalau sampai persediannya kurang."
"Tidak perduli. Orang-orangmu bersikap kasar
kepadaku. Harus dipenuhi kantung ini atau aku akan
mengambil sendiri !"
"Perampok busuk!!"
0odwo0
Jilid III
Laki-laki itu menengok untuk melihat siapa yang
berani memaki dia perampok busuk. Dan dia tercengang
melihat bahwa yang memakinya adalah seorang gadis
berusia belasan tahun yang amat cantik manis. Dia lalu
melangkah maju menghampiri.
"Apa kau bilang, nona?"
"Aku bilang engkau perampok busuk, orang tidak tahu
malu yang paling rendah budi di dunia ini!" gadis itu
kembali memaki, sekali ini lebih ketus lagi.
"Hei , jaga mulutmu!" bentak laki- laki itu. "Engkau
sudah memaki aku, hayo cepat beri ciuman atau kalau
engkau tidak mau, mulutmu akan kurobek sebagai
hukuman!" laki-laki itu menghampiri semakin dekat dan
hendak merangkul .
"Plak-plak . .. . !!" Dua kali
tangan gadis itu menampar
dan laki-laki itu jatuh
terjengkang lalu mengaduhaduh
sambil memegangi
kedua pipinya yang menjadi
bengkak dan giginya rontok
sehingga mulutnya berdarah.
Akan tetapi dasar orang
tidak tahu diri. Dalam rasa
sakitnya, dia malah marah
dan segera bangkit berdiri lalu menyerang gadis itu
dengan pukulan kedua tangannya ! Karena dia memang
tinggi besar dan kuat pukulannya itu gencar datang nya
dan kuat sehingga membuat yang menontonnya menjadi
khawatiã akan keselamatan gadis itu. Akan tetapi mereka
kecelik karena tidak sekalipun pukulan itu mengenai
tubuh si gadis, bahkan sebaliknya, begitu gadis itu
menggerakkàn kakinya menendang, untuk kedua kalinya
laki-laki itu terjengkang. Akan tetapi sekali ini, dia bangkit
dengan perut mulas, dia memegangi perutnya dan lari
dari situ tanpa menoleh lagi entah ketakutan entah untuk
mencari tempat mengeluarkan isi perutnya yang
terguncang !
Melihat ini, semua orang bertepuk tangan dengan
girang dan memuji. Pada masa itu, memang banyak
sekali orang yang memaksakan kehendaknya, baik
dengan bantuan kedudukannya, kekuasaannya,
hartanya, maupun kekuatannya. Dan ãakyat yang sudah
ketakutan itu biasanya tidak ada yang berani melawan.
Maka, kini melihat orang yang bertindak sewenangwenang
mendapatkan hajaran, tentu saja mereka
menjadi girang dan puas.
An Kiong mengenal orang pandai Dia lalu memberi
hormat kepada gadis itu dengan ramah.
"Nona, engkau telah menolongku dan mengusir orang
yang bertindak sewenang-wenang tadi. Kami mohon
sudilah nona singgah di rumah kami untuk berkenalan
dan untuk memberi kesempatan kepada kami
mengucapkan terima kasih kami."
Sikap hartawan itu amat hormatnya dan kata-katanya
pun teratur ramah dan rapi. Mendengar ini, The Siang
Hwi lalu menengok kepada gurunya.
"Subo, bagaimana kalau kita singgah sebentar?"
Mendengar gadis itu menyebut subo kepada wanita
cantik jelita yang sejak tadi hanya berdiri acuh saja, An
wangwie lalu menghampirinya dan memberi hormat.
"Ah, kiranya toanio adalah guru nona ini? Maafkan
kalau kami kurang hormat kaã¸na tidak tahu. Toanio,
kami mohon sudilah kiranya toanio dan nona singgah di
rumah kami sejenak untuk berkenalan dan menghaturkan
terima kasih. Kami adalah keluarga yang selalu
mengagumi dan menghormati kaum pendekar seperti
toanio berdua."
Sikap An-wangwe memang baik sekali sehingga Bantok
Sian-Ii yang biasanya acuh saja kini-menjadi tertarik
juga. Orang ini selain dermawan, juga ramah dan sopan
sekali.
"Baik, kita sebentar singgah disini, Siang Hwi."
katanya sambil mengangguk dan hartawan itu merasa
girang bukan main. Dia memberi isarat kepada orangorangnya
untuk melanjutkan dengan pembagian beras
dan dia sendiri tergopoh-gopoh mengiringkan dua orang
wanita cantik itu memasuki rumahnya.
Sementara itu apa yang terjadi di luar rumah sudah
terdengar oleh isteri dan empat orang anak hartawan itu,
dan melihat. hartawan mengiringkan kedua orang masuk,
merekapun menyambut dengan ramah dan hormat
sehingga amat menyenangkan hati Ban-tok Sian-li.
Kedua orang tamu itu lalu dijamu oleh tuan rumah
beserta semua keluarganya yang terdiri dari seorang
isteri dan empat orang anak.
An Kiong mengangkat cawan araknya memberi
hormat kepada mereka berdua "Kami hendak
memperkenaIkan diri kepada ji-wi yang mulia . Nama
saya An Kiong, ini isteri saya dan empat orang anak saya
yang berusia dari lima tahun sampai lima belas tahun.
Kalau ji-wi tidak keberatan, kami ingin sekali mengetahui
nama ji-wi yang mulia."
Sikap amat rendah hati ini menggerakkan hati Ban-tok
Sian-li. Biasanya ia tidak pernah memperkenaIkan nama
aslinya, hanya memperkenalkan nama julukannya saja.
Akan tetapi karena hartawan An bukan orang kangouw,
dan tidak perlu ia menyembunyikan namanya, maka ia
kini memperkenaIkan nama aslinya, bahkan tidak
menyebut nama julukannya.
"Aku bernama Souw Hian Li dan muridku ini bernama
The Siang Hwi. Kami berdua adalah perantau yang
datang dari Lembah Maut di tepi sungai Yang- ce."
"Aih, sudah kami duga bahwa ji-wi tentulah tokohtokoh
kangouw yang perkasa dan budiman. Puteri kami
yang sulung telah berusia limabelas tahun dan ia selalu
ingin sekali belajar iImu silat, akan tetapi tidak pernah
mendapatkan guru yang pandai. la selalu tertarik kepada
mendiang pek-hua-nya (uwa-nya) yaitu Panglima Gak
Hui, maka ingin sekali mempelajari ilmu silat tinggi. Kalau
saja toa-nio sudi memberi petunjuk kepadanya, alangkah
akan bahagianya hati kami ."
Diam-diam Ban-tok Sian-li Souw Hian Li terkejut. "Ah,
kiranya An-wangwe masih terhitung keluarga mendiang
Panglima Gak Hui? Sungguh mengherankan, mengapa
engkau masih enak-enak tinggal di kota raja?"
An-wangwe tersenyum. "Ah, kami hanya keluarga
jauh. Isteri mendiang Panglima Gak adalah kakak
misanku, maka kami terhitung keluarga jauh. Pula, kami
tidak pernah ikut urusan perjuangan, mengapa takut
tinggal di kota raja? Kamipun tidak pernah melakukan
kejahatan dalam bentuk apapun...."
Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar. Serentak mereka
keluar. Ternyata yang ribut-rlbut itu adalah selosin orang
pasukan yang menyuruh para pembantu dan petugas
yang membagi beras tadi menghentikan pekerjaannya
dan mereka menyuruh semua orang pergi. Itulah selosin
pasukan yang dipimpin oleh Jin Kiat dan Hak Bu Cu.
Ketika Jin Kiat melihat An-wangwe muncul, dia lalu
menudingkan telunjuknya dan berteriak lantang..
"An Kiong engkau mengumpulkan orang apakah
hendak memberontak?" Anwangwe mengenai pemuda
itu dan diapun cepat memberi hormat.
"Jin-kongcu, mengapa berkata demikian? Mereka ini
adalah fakir miskin yang mengambil bagian beras yang
kubagi-bagikan untuk mereka kongcu."
"Ahhh, jangan membantah. Lihat aku membawa surat
perintah Yang Mulia Kaisar untuk menangkapi sejuruh
keluarga pemberontak Gak Menyerahlah engkau
sekeluargamu untuk kutangkap, An Kiong!"
Seketika wajah An Kiong berubah pucat mendengar
ini. "Akan tetapi, kongcu .... kami ... kami bukan keluarga
Gak! Kami keluarga An ...."
"Cukup Siapa tidak tahu bahwa engkau masih saudara
misan ibu pemberontak Gak Liu?"
"Ampun, kongcu. Kongcu sendiri cukup lama
mengenal keluarga kami yang tidak pernah berbuat salah
apapun ....."
"Jangan banyak cakap! Perajurit, tangkap mereka
semua!" perintah Jin Kiat .
"Kami tidak bersalah ! Kami tidak mau ditangkap!"
terdengar bentakan dan An Siu Hwa, puteri sulung
hartawan An itu. sudah mencabut pedangnya.
"Ha-ha-ha, puterimu ini gagah juga, An Kiong! Biar
yang ini bagianku!" kata Jin Kiat dan diapun menubruk
kearah gadis itu. Siu Hwa menyambutnya dengan
tusukan pedang, akan tetapi ilmu silatnya masih
terlampau rendah kalau dibandingkan Jin Kiat yang
menjadi murid para jagoan istana.
Jin Kiat mengelak dan dari samping dia sudah
menotok tubuh gadis itu sehingga Siu Hwa merasa
tubuhnya lemas, pedangnya terlepas dan ia jatuh ke
dalam rangkulan Jin Kiat yang tertawa-tawa.
Para perajurit lalu menangkapi An Kiong, isterinya dan
tiga orang anaknya yang lain, yang masih kecil-kecil.
Melihat ini Ban-tok Sian-li menjadi marah sekali.
"Jahanam busuk, lepaskan mereka!" la menampar dua
kali dan dua orang perajurit terjungkal dan tewas
seketika. melihat ini, Hak Bu Cu terkejut dan maklum
bahwa wanita cantik itu lihai sekali dan memiliki pukulan
beracun.
Maka diapun segera menerjang maju dan segera
terjadi pertandingan yang seru antara Hak Bu Cu
melawan Ban-tok Sian-li yang juga terkejut karena di situ
muncul raksasa hitam yang demikian dahsyat tenaga dan
tinggi llmu silat nya.
Sementara itu, melihat betapa Siu Hwa telah dirangkul
secara kurang ajar sekali oleh Jin Kiat, The Siang Hwi
mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia sudah
menyerang pemuda itu dari samping. "lepaskan gadis
itu!"
Jin Kiat yang masih merangkul dan tadi menciumi Siu
Hwa, menggunakan tangan kiri menangkis pukulan Siang
Hwi. Dia terlalu memandang rendah, maka ketika Tangan
mereka beradu, hampir saja Jin Kiat terpelanting .
Dia melepaskan Siu Hwa dan terkejut bukan main
karena ternyata gadis cantik manis itu memiliki tenaga
sinkang yang membuat dia hampir roboh! Dia lalu
mencabut pedangnya dan menyerang Siang Hwi. Akan
tetapi gadis inipun mencabut sebatang pedang tipis dari
punggungnya dan mereka sudah saling serang dengan
hebatnya.
Para perajurit juga membantu Jin Kiat sehingga Siang
Hwi dikeroyok banyak îrang. Para perajurit itu tidak
berani membantu Hak Bu Cu karena pertandingan antara
Hak Bu Cu dengan wanita cantik itu hebat bukan main,
Angin yang dahsyat menyambar-nyambar dari kaki
tangan mereka sehingga tidak ada perajurit berani
mendekat.
Seorang perajurit lari mencari bala bantuan dan tak
lama kemudian berdatangan berpuluh-puluh perajurit
kerajaan. Melihat ini, mau tidak mau Bantok Sianli lalu
melompat jauh dan bersama muridnya ia terpaksa
melarikan diri.
Tidak mungkin menghadapi pengeroyokan puluhan
orang perajurit, apalagi,mereka berada di kota raja yang
dapat mengerahkan ratusan bahkan ribuan orang
perajurit yang tentu akan membahayakan sekali kepada
mereka .
Òårpaksa walaupun dengan hati mendongkol sekali,
Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi membiarkan An Kiong
sekeluarga ditangkap dan dibawa ke penjara.
Mereka berdua juga tidak lepas dari pengejaran para
perajurit. Ke manapun mereka pergi, tentu bertemu
dengan seregu perajurit dan beberapa kali mereka harus
melakukan perlawanan merobohkan beberapa orang
perajurit dan lari lagi .
Akhirnya mereka terjebak ke dalam sebuah lorong,
pada hal kedua ujung lorong itu telah terjaga oleh
ratusan orang perajurit. Pada saat mereka kebingungan
itu, muncullah seorang pemuda berpakaian pengemis,
pakaiannya tambal tambalan namun bersih.
"Toa-nio, sio-cia, mari ke sini. Tidak ada jalan keluar
lain. Mari cepat!-" katanya kepada dua orang wanita itu.
Karena memang sudah tersudut, Ban tok Sian-li
memberi isyarat kepada muridnya untuk mengikuti
pemuda itu. Mereka memasuki sebuah rumah kecil dan
dari rumah ini mereka dapat menyusup melalui loronglorong
kecil, keluar dari lorong yang terkepung itu.
Mereka lalu memasuki sebuah kuil. Kuil itu adalah
sebuah kuil para pendeta wanita. Seorang ni-kouw tua
menyambut kedatangan pemuda pengemis itu.
"Ceng-nikouw, tolonglah kedua orang sahabat ini.
Mereka adalah buruan tentara. Cepat!"
"Baik, masuklah ke sini, ji-wi sio-cia!" kata ni-kouw tua
itu kepada Ban-tok Sian-ii dan Siang Hwi. Pengemis itu
lalu memberi hormat dan berkata kepada mereka.
"Untuk sementara ji-wi di sini aman. Aku akan mencari
jalan untuk ji-wi dapat keluar dari kota raja. Sampai
jumpa!"
Pengemis itu laiu menyelinap pergi dari situ dengan
cepat. Ban-tok Sian-li dan Siang Hwi segera dibawa
masuk ke dalam kamar dan mereka diberi ðakàian nikouw
untuk menyamar, dengan memakai penutup kepala
berwarna kuning seperti kebiasaan calon-calon ni-kouw
yang belum menggunduli rambutnya.
Benar saja. Tempat itu aman. Biar pun ada
rombongan perajurit yang mengadakan pemeriksaan di
situ, akan tetapi para perajurit ini tidak berani berbuat
sesukanya. Kuil ini biasa dikunjungi oleh permaisur dan
keluarga kaisar, maka perajurit pun menghormatinya.
Setelah keadaan agak aman, barulah mereka. berdua
berkenalan dengan Ceng Ni-kouw, kepala ni-kouw di situ
dan baru mereka tahu bahwa Ceng Nikouw adalah
simpatisan para pejuang yang berusaha mengusir para
pasukan Kin yang merajalela di perbatasan. Juga,
nikouw ini adalah pengagum mendiang Panglima Gak
Hui.
Ketika mendengar dari The Siang Hwi mengapa
mereka. menjadi buronan, karena membela An Kiong
yang ditangkap sebagai anggauta keluarga mendiang
Pang lima Gak Íèi, ni-kouw itu merasa senang telah
dapat menolong mereka.
"Omitohud...., memang keadaan sekarang amatlah
menyedihkan. Sebetulnya, semua ini gara-gara keluarga
Jin itulah!"
"Apakah yang dimaksudkan adalah perdana Menteri
Jin Kui?" tanya Ban-tok Sian-li yang merasa tertarik juga.
"Siapa lagi? Sebetulnya kaisar tidaklah jahat, akan
tetapi kaisar amat lemahnya dan terlalu percaya kepada
perdana menteri itu. Dahulu, Panglima Gak Hui tewas
juga karena perdana menteri itu. Hal ini siapakah yang
tidak tahu? Seluruh rakyat juga mengetahui belaka akan
tetapi kekuasaan Jin Kui amat besar, siapa berani
menentang dia? Dan puteranya itu tidak kalah jahatnya
dengan ayahnya. Merampas anak gadis orang, bahkan
isteri orang, apa saja yang tidak dilakukan pemuda jahat
itu. Dan semua orang juga tahu bahwa Perdana Menterl
Jin Kui itu diam-diam menjadi antek Kin. Hanya kaisar
seorang yang tidak mau tahu dan tidak percaya. Aihh,
entah apa yang akan terjadi dengan Kerajaan Sung"
"Akan tetapi kematian Gak Hui sudah lama terjadi.
Sekarang mengapa tahu-tahu hartawan An Kiong
ditangkap? Apakah bibi mengetahui sebabnya?" tanya
Ban-tok Sian-li .
Ni-kouw Itu menghela napas panjang.
"Omitohud ....... sebetulnya, kalau memang hendak
ditangkap sudah dari dahulu. An Kiong itu masih saudara
misan mendiang nyonya Gak Hui, maka dapat di kata
masih sanak keluarga. Akan tetapi kalau sampai
sekarang baru ditangkap hal ini tentu sudah lain jadinya.
Mungkin Jin Kiat itu tergita-gila kepada puteri Sulungnya
atau mungkin juga merupakan usaha untuk merampas
kekayaannya. Pin-ni (aku) sendiri tidak tahu jelas
mengapa dia sekeluarga ditangkap. Pada hal semua
orang di kota raja tahu belaka bahwa hartawan An itu
adalah seorang yang dermawan dan bijaksana, tidak
pernah melakukan kejahatan sama sekali .
"Kalau begitu, pasti ada sebab tertentu dan mengapa
Perdana Menteri Jin Kui sampai mengutus puteranya
sendiri bahkan ditemani raksasa hitam yang lihai itu "
"Pin-ni juga tidak tahu. Lalu ji-wi ini siapakah dan
bagaimana sampai terlibat dalam penangkapan An Kiong
itu?"
"Nama saya Souw Hian Li dan ini murid saya bernama
The Siang Hwi, bibi. Kami berdua kebetulan tertarik
melihat Anwangwe membagi-bagikan beras kepada fakir
miskin. Kemudian ketika terjadi penangkapan, kami
berdua menjadi tamunya. Sayang sekali kami tidak dapat
melindunginya dari tangkapan karena datangnya banyak
pasukan kerajaan dan si raksasa hitam itu lihai bukan
main. Terpaksa kami melarikan diri, kalau tidak kami
tentu tertangkap oleh pasukan yang demikian
banyaknya."
"Jangan ji-wi khawatir. dii sini ji-wi pasti aman. Tidak
ada yang akan berani menggeledah sampai ke dalam
karena kuil ini biasa dikunjungl permaisuri dan keluarga
kaisar."
"Kami tidak mengkhawatirkan diri kami, bibi, yang
kami khawatirkan adalah keadaan keluarga An yang
ditangkap."
"Omitohud, apa yang dapat kita lakukan, toa-nio?
Kekuasaan Perdana Menteri Jin Kui amat besar, hanya
di bawah kekuasaan kaisar sendiri. Hanya kaisarlah yang
dapat menghentikan semua perbuatannya. Apa daya
kita?"
"Hemm, kalau perlu kami akan mempergunakan
kekerasan untuk membebaskan hartawan An, atau dapat
juga kami memaksa Perdana Menteri Jin Kui!" kata Bantok
Sian-li sambil mengepal tinju.
la sungguh merasaya tidak rela melihat An Kiong,
hartawan yang demikian bijaksana dan dermawan,
diperlakukan sewenanq-wenang oleh siapapun juga.
Memang demikianlah watak Ban-tok Sian-li. Kalau ia
sudah tidak perduli, maka iapun tidak akan
memperhatikan apapun yang terjadi kepada seseorang,
ia akan acuh saja. Akan tetapi sekali ia membela orang,
akan dibelanya sampai semampunya! .
"Harap toa-nio bersabar. Jin Kui itu besar sekali
kekuasaannya dan dia dijaga oleh sepasukan pengawal
yang berilmu tinggi. Berbahaya sekalilah kalau memasuki
ruangan gedungnya. Sebaik nya kita menanti sampai
Gan-enghiong datang."
"Gan-enghiong?"
"Oh ya, ji-wi belum mengetahui namanya. Pemuda
yang membawa ji-wi ke sini, dia adalah putera ketua
Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat
Hitam). Biarpun golongan pengemis, namun mereka
adalah para pengemis kang ouw yang gagah dan tidak
pernah berbuat jahat, bahkan selalu siap menolong
orang yang tertindas. Bahkan ketuanya bersimpati
kepada para pejuang, akan tetapi di kota raja tentu saja
mereka tidak berani terang-terangan .
"Bukankah para pejuang itu berarti membela pula
kedaulatan Kerajaan Sung?"
"Sebenarnya demikian. Para pejuang itu setia kepada
kerajaan dan mereka memusuhi Kerajaan Kin, Akan
tetapi, karena pengaruh Perdana Menteri Jin Kui, Kaisar
menyalahkan para pejuang yang dianggap membikin
kacau saja memancing permusuhan dengan Kin."
"Sungguh aku tidak mengerti. Kaisar dibela para
pejuang malah memusuhi mereka. Pasti ada hal-hal
kotor dan busuk tersembunyi dibalik semua, ini " kata
Ban-tok Sian-li penasaran.
"Telah menjadi rahasia umum bahwa Perdana Menteri
Jin Kui memang bersikap baik dan bersahabat terhadap
Kerajaan Kin. Dia yang membujuk. Kaisar untuk
berdamai dengan Kerajaan Kin. Contohnya Pang lima
Gak Hui. Kurang bagaimana panglima besar Itu? Dia
setia kepada Kaisar, akan tetapi kenyataannya dia
dihukum mati hanya karena dia bersikap terus
menentang Kerajaan Kin dan melancarkan serangan
yang sama sekali tidak disetujui oleh Perdana Menteri Jin
Kui."
"Sungguh celaka! Äpa yang akan terjadi dengan
Kerajaan Sung sikapnya demikian lemah terhadap
musuh yang selalu mengancam keamanan negara dan
bangsa? Sungguh mengherankan sekali. Semestinya
kaisar merasa bangga dan senang melihat rakyatnya
setia dan membela kerajaannya. Pada hal, sudah amat
luas tanah air yang dijajah bangsa Yu cen. Sepatutnya
kaisar menghimpun kekuatan rakyat untuk merampas
kembali daerah yang direbut oleh penjajah Itu."
"Pikiran seperti toa-nio itulah yang membuat para
pendekar patriot membentuk laskar-laskar rakyat dan
menyerang pasukan Kin.Akan tetapi sayangnya di rumah
sendiri mereka dimusuhi oleh pasukan Sung yang
semestlnya malah mendukung dan membela mereka..
Yah, beginilah keadaannya, toa-nio. Kita mampu berbuat
apakah?"
Sampai jauh malam mereka bercakap-cakap Bantok
Sian-li dan muridnya mendapat banyak keterangan dari
ni-kouw itu sehingga hati datuk wanita itu menjadi
semakin tertarik. Tadinya ia sama sekali tidak perduli
tentang perjuangan akan tetapi kini ia mulai bersimpati
kepada para pejuang.
O0dw0O
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gan Kok Bu,
yaitu pemuda yang menolong guru dan murid semalam
dan menyembunyikan mereka ke dalam kuil ni-kouw,
muncut di kuil itu.
Kedatangannya secara rahasia dan Ceng Nikouw lalu
membawanya ke ruangan belakang dl mana dia bertemu
dengan Ban-tok Si anli dan The Slang Hwi.
Begitu bertemu, Ban-tok Sian-li segera bertanya,
"Saudara Gan, bagaimana kabarnya dengan An-wangwe
dan keluarganya?"
Yang ditanya menggeleng kepalanya dan menghela
napas panjang lalu berkata pendek,
"Celaka mereka itu...... "
Siang Hwi menjadi terkejut dan khawatir. "Apa yang
terjadi dengan mereka?"
"Benar-benar keparat ayah dan anak she Jin itu!" Kok
Bu berkata sambil mengepel tinju. "Orang-orang yang
tidak bersalah apapun, bahkan yang berjasa bagi rakyat
jelata, dibunuhi secara kejam!"
"Dibunuh? Maksudmu, mereka semua dibunuh?"
tanya Ban-tok Sian-li membelalakkan matanya yang
indah.
"Tidak cuma dibunuh, mereka disiksa sampai mati."
"Akan tetapi, mengapa? Apa kesalahan mereka?"
Ban-tok Sian-li kini bertanya dengan setengah berteriak.
Sukar ia membayangkan orang tua yang berbudi itu
dibunuh såkåluarganya begitu saja, bahkan disiksa
sampai mati! .
"Menurut hasil penyelidikan kami melalui para perajurit
pengawal, mereka itu disiksa untuk mengaku di mana
adanya pemberontak Gak Liu. Karena tidak ada yang
dapat mengatakan di mana adanya Gak Liu, mereka
disiksa sampai mati dan dicap sebagai pemberontak.
Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, puteri sulung An
wangwe oleh Jin Kiat telah diperkosa kemudian
diserahkan kepada pengawal sampai gadis itupun
menemui ajalnya. Dan harta benda hartawan itu disita
untuk negara yang tentu saja telah disaring dulu melalui
tangan Perdana Menteri .
"Terkutuk! Kami tidak dapat mendiamkannya saja,
subo!" tiba-tiba Siang Hwi berseru nyaring, mukanya
berubah merah sekali saking marahnya.
"Benar! Kita harus bertindak. Malam ini juga kita
berdua akan menyusup ke dalam gedung Perdana
Menteri Jin dan kita bunuhi mereka semua sekeluarga!"
kata Ban-tok Sian-1i.
"Omitohud..., toa-nio dan nona pin-ni harap ji-wi tidak
melakukan pekerjaan yang amat berbahaya itu. Salah
salah ji-wi sendiri yang akan menderita celaka di tangan
para pasukan pengawal."
"Kami tidak takut, bibi . Sudah menjadi resiko dunia
persilatan, kalau tidak berhasil tentu gagal kalau tidak
menang tentu kalah dan kekalahan ada kalanya
membawa nyawa. Kami tidak takut!" kata Ban-tok Sian-li
dengan ucapan yang keren dan tegas.
"Maaf, toanio dan siocia (nona) bukannya saya ingin
mencampuri urusan ji-wi, akan tetapi benar seperti yang
dikatakan Ceng Ni-kouw, menyerbu ke dalam gedung
istana Perdana Menteri amat lah berbahaya. Perdana
Menteri Jin Kui telah mengundang beberapa orang
jagoan istana untuk mengawalnya, dan kedudukannya
kuat sekali."
"Kami tidak takut!" kata pula Ban tok Sian-li.
"Pendeknya malam ini kami harus dapat membunuh
Perdana Menteri keparat Itu!"
Karena merasa tidak mampu untuk mencegah guãu
dan murid itu, Kok Bu hanya menghela napas panjang
dan dia berpamit. Akan tetapi diam-diam dia ngumpulkan
beberapa putuh anak buahnya yang paling lihai dan
bersiap-siap untuk melindungi guru dan murid itu. Entah
mengapa, hatinya merasa tidak rela melihat The Siang
Hwi terancam bahaya kalau ikut gurunya menyerbu
rumah ge dung Perdana Menteri Jin.
Malam itu amatlah sunyi dan dingin. Malam terang
bulan yang sejuk. Akan tetapi seperti biasa, setelah agak
malam semua penduduk memasuki rumahnya. Apa lagi
tersiar berita bahwa pasukan mencari-cari buronan dan
ini berarti setiap saat dapat saja rumah penduduk diserbu
pasukan, digeledah dan hal ini membuat setiap
penduduk merasa ketakutan. Kalau kebetulen pasukan
yang menggeledah itu dipimpin seorang perwira yang
baik, maka penggeledahan berjalan wajar dan tidak
terjadi gangguan kalau mereka tidak menemukan orang
yang dicari di rumah itu.
Akah tetapi kalau ternyata sebaliknya, pasukan itu
dipimpin oleh seorang perwira yang jahat, maka pasukan
itu menggunakan kesempatan untuk menggerayangi
harta milik penduduk, dan tidak segan-segan
mengganggu wanita yang muda dan cantik.
Di antara bayang bayang pohon berkelebatan dua
sosok bayangan yang gerakannya gesit bukan main.
Mereka itu adalah Ban-tok Sian-li dan muridnya, The
Siang Hwi. Dengan menyelinap diantara pohon-pohon
mereka menghamplri gedung besar tempat tinggal
Perdana Menteri Jin Kui dan tak lama kemudian mereka
telah tiba di luar pagar tembok yang tinggi.
Di pintu gerbang pagar tembok itu terdapat gardu
penjagaan dan di situ berkumpul belasan orang penjaga.
Mereka secara bergilir meronda, mengeliIingi gedung Itu.
Dengan gerakan ringan dan mudah saja, guru dan
murid ini lalu melom- pati pagar tembok dan turun di
sebelah dalam. Mereka telah berada di datam taman dan
agaknya tidak ada penjaga yangmengetahui gerakan
mereka. Dengan girang guru dan murid ini lalu melaya
naik ke atas genteng dan dari sana me ceka mencaricari,
mengintai ke bawah .
Tiba tiba mereka berhenti bergerak dan mendekam di
atas wuwungan. Mereka melihat pemuda yang bukan lain
adalah Jin Kiat bersama seorang laki-laki setengah tua
duduk di sebuah ruangan yang lampunya terang, sedang
makan minum.
Dari si kap Jin Kiat yang menghormat laki-laki
setengah tua itu, mudah diduga bahwa orang itu tentulah
perdana Menteri Jin Kui, ayah pemuda itu. Mereka
berdua makan minum dilayani beberapa orang dayang
dan di sekitar ruangan itu nampak lima orang perajurit
pengawal menjaga.
"Kesempatan baik," bisik Ban-tok Sian-1i kepada
muridnya. "Mari serbu!"
Dua orang wanita perkasa itu lalu melayang turun, dan
mendadak saja semua penerangan di ruangan itu
menjadi padam sehingga keadaannya menjadi gelap .
Mereka terkejut dan maklum bahwa mereka terjebak.
Dan tiba-tiba ruangan menjadi terang benderang kembali
akan tetapi Perdana Menteri Jin Kui dan para dayang
telah menghilang.
Yang ada hanyalah Jin Kiat yang kini memimpin
belasan orang pengawal, di antaranya terdapat raksasa
hitam yang lihai! Mereka itu telah mengepung guru dan
murid itu.
Melihat guru dan murid ini, Jin Kiat segera mengenai
mereka sebagai orang-orang yang pernah membela An
Kiong sekeluarga ketika keluarga ttu hendak ditangkap,
maka dia tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, kiranya kalian dua orang wanita
pemberontak! Tangkap mereka! Terutama yang muda
itu, tangkap hidup-hidup dan jangan lukai !"
Para pengawal itu sudah mencabut senjata masingmasing,
dan Ban tok Sian-li yang maklum bahwa si tinggi
besar muka hitam itu amat lihai, sudah menerjang
kepada raksasa hitam ini dengan pedangnya. Pedang di
tangan datuk wanita ini bersinar hitam dan pedang itu
amatlah berbahaya karena telah direndam racun yang
amat berbahaya. Sekali terkena goresan pedang ini
musuh akan tewas dan tidak mungkin dapat
disembuhkan lagi.
Melihat wanita itu menghunus pedang yang bersinar
hitam. Hak Bu Cu juga menghunus goloknya yang
tersembunyi di balik jubahnya.
Melihat golok ini, Ban-tok Sian-li berseru kaget.
"Mestika Golok Naga ..........! "
"Engkau sudah mengenal. golokku ! Bagus, hayo
cepat menyerah sebelum golokku membuat engkau
menjadi setan tanpa kepala ! "
Akan tetapi Ban-tok Sian-li sudah menggerakkan
pedangnya, menyerang dengan dahsyatnya menusukkan
pedang ke arah dada lawan.
Hak Bu Cu tidak berani memandang rendah. Dia
sudah merasakan kelihaian wanita ini dan harus
mengakui bahwa tanpa bantuan pengawal, kemarin dia
tidak akan mampu menandingi wanita ini.
Maka diapun cepat menggerakkan golok yang besar
itu menangkis sambl1 mengerahkan tenaga.
"Cringggg ..... trangg ..... !!"
Dua kali pedang bertemu golok dan bunga api berpijar
menyilaukan mata. Beberapa orang pengawal sudah
menyerbu dan Ban- tok Sian-li lalu dikeroyok.
Sementara itu, Siang Hwi juga sudah mengamuk,
dikeroyok Jin Kiat dan orang-orangnya sehingga gadis
ini, seperti juga gurunya, sudah dikepung ketat.
Guru dan murid itu mengamuk dan mereka sudah
berhasil membunuh beberapa orang pengawal, akan
tetapi datang pula regu pengawal yang lain sehingga
mereka semakin terdesak. Ketika menge- lak dari
sambaran banyak senjata; tiba tiba Ban-tok Sian-li
terkena tendangan yang dilontarkan oleh Hak Bu Cu.
Keras sekali tendangan itu dan Ban-tok Sian-li tidak
sempat mengelak lagi, karena ia sedang mengelak dan
menangkis sambaran banyak senjata para pengeroyok.
Tendangan itu mengenai paha kirinya. Biarpun paha
itu tidak menderita luka, akan tetapi saking kerasnya
tendangan itu, kakinya menjadi memar dan rasanya nyeri
Üukàï main.
Tubuh Ban tok Sian-li terpelanting dan dengan cepat
iapun bergulingan. Ketika, dua orang pengawal
mengejarnya dengan bacokan golok, ia menggerakkan
pedangnya dan dua orang pengawal itupun roboh mandi
darah dan tewas seketika.
la melompat berdiri lagi dan mengamuk. Sudah lebih
dari sepuluh orang pengawal roboh oleh pedangnya,
demikian pula muridnya telah merobohkan banyak
pengawal. Akan tetapi Jin Kiat ma sih terus
mengepungnya dengan pengawal pengawal baru yang
datang membantu.
Keadaan guru dan murid itu kini terdesak dan mereka
dalam bahaya. Apa lagi kini Ban-tok Sian-li sudah
terkena tendangan yang membuat gerakannya kurang
lincah, sedangkan Hak Bu Cu terus mendesak dengan
hebatnya.
Selagi mereka berdua terdesak, mendadak nampak
banyak bayangan berkelebat dan muncullah belasan
orang membantu guru dan murid itu. Mereka berpakaian
seperti orang-orang kang-ouw, dan senjata mereka juga
bermacam-macam.
Akan tetapi melihat bahwa yang muncul itu adalah
Gan Kok Bu, Maklumlah Ban-tok Sian-li dan Siang Hwi
bahwa orang-orang itu tentu para anggauta Hek-tung
Kai-pang yang sengaja menyamar agar jangan ketahuan
bahwa mereka anggauta perkumpulan pengemis itu.
Maka mereka tidak mengenakan ðakàian pengemis dan
tidak pula menggunakan senjata tongkat hitam.
Bagaimanapun juga, setelah rombongan ini datang
membantu, Bàï-tok Si an-li dan Siang Hwi lolos dari
kepungan. Kok Bu segera menghampirl mereka dan
berseru, "Mari kita pergi !"
Karena maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian
itu, pihaknya tentu akan menderita kekalahan dan akan
celaka di tangan para pengawal, Ban-tok Sian-li yang
sudah terluka pahanya lalu melompat pergi dan
mengajak muridnya.
"Siang Hwi, kita pergi ! "
Siang Hwi juga meloncat pergi . Bantuan para
anggauta Hek-tung Kai-pang memungkinkan mereka
meninggalkan para pengeroyok itu.
Pada saat itu, bagian ki ãi gedung itu terbakar, dibakar
oleh anggauta Kai-pang yang bertugas untuk itu. Melihat
ini, tentu saja para pengawal menjadi panik dan
kesempatan ini memungkinkan mereka semua untuk
melarikan diri, walaupun ada tiga orangg anggauta Kaipang
terpaksa ditinggal karena mereka sudah roboh dan
tewas.
Kok Bu mengajak guru dan murid itu pergi
bersembunyi di tempat rahasia ayahnya, yaitu ketua Hektung
Kai-pang, Tempat ini adalah sebuah rumah seorang
pejabat tinggi bagian kebudayaan.
Pejabat tinggi ini juga seorang yang bersimpati kepada
para pejuang, maka memberikan rumahnya yang kosong
untuk tempat bersembunyi ketua Hek- tung Kai-pang;
Dan tidak akan ada orang yang mencurigai tempat itu
karena tempat itu kadang-kadang dijadikan tempat
peristirahatan sang pembesar tinggi.
Selain itu, masih ada hubungan keluarga antara
pejabat tinggi itu dengan ketua Hek-tung Kai-pang yang
bernama Gan Liang.
Adapun pusat Hek-tung Kai-pang sendiri berada di
luar kota raja. Para anggauta Hek-tung Kai-pang dengan
bebas berkeliaran di kota raja karena mereka tidak
pernah membikin ribut dan mereka membantu para
pejuang secara rahasia, tidak terang-terangan.
Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi disambut oleh Hektung
Kai-pang-cu Gan Liang sendiri, seorang laki-laki
berusia limapuluh tahun yang nampaknya masih gagah.
Ayah Gan Kok Bu ini sudah mendengar dari, puteranya
tentang sepak terjang wanita bernama Souw Hian Li dan
muridnya yang bernama The Siang Hwi itu .
Ketika menyambut dua orang wanita itu, Gan Liang
yang memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li tertegun.
Dia memandang wanita itu penuh perhatian, lalu berseru
heran,
"Bukankah toanio ini Ban-tok Sian-li "
Yang di tanya balas memandang. "Bagaimana engkau
dapat mengenaIku?"
"Siapa yang tidak mengenai Ban-tok Sian-li dari
Lembah Maut yang ter sohor itu?"
Melihat sikap ayahnya yang nampak kaget dan juga
tidak senang itu, Gan Kok Bu lalu mempersilakan
mereka, duduk. Suasana menjadi agak kaku karena Gan
Liang lebih banyak diam dari pada bicara.
Tentu saja hal ini dirasakan oleh Ban-tok Sian-li dan
dengan terus terang datuk ini berkata,
"Agaknya Hek-tung Kai-pangcu tidak menyukai
kehadiran kami di sini !"
"Ah, tidak! Sama sekal! tidak! Aku hanya terkejut dan
terheran bahwa Ban-tok Sian-li tiba-tiba menjadi seorang
pejuang yang membela An-wangwe, Pada hal dahulu
engkau tidak pernah pemperdulikan perjuangan, Sian-li."
"Pang-cu, tidak ada orang yang boleh memaksaku
untuk berjuang dan tidak ada orang pula yang boleh
melarangku untuk berjuang. Karena itu, engkau tidak
perlu heran," jawab Ban-tok Sian- li dengan ketus.
Wanita itu memang aneh wataknya. Kalau ia
ditentang, ia akan bangkit melawan dengan keras. Dan
kiranya ini sudah menjadi watak para datuk persilatan
pada umumnya.
"Tidak, Sian-li, siapa berani m¸larangmu? Silakan
tinggal di sin!, dan selama di sini, engkau akan aman dari
pengejaran pasukan. Maaf, saya ada keperluan lain,
terpaksa harus meninggal kan ji-wi."
Dia lalu keluar dari ruangan itu dan tinggal Kok Bu
yang sikapnya jauh berbeda dengan ayahnya. Dia
melayani dua orang tamunya dengan baik dan penuh
penghormatan, lalu menunjukkan sebuah kamar untuk
mereka. Juga dia menyediakan makanan untuk kedua
orang tamunya itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siang Hwi
sudah mandi dan keluar dari kamarnya. Gurunya masih
beristirahat karena semalam gurunya itu hampir tidak
tidur melainkan menghimpun tenaga murni untuk
mengobati luka di pahanya yang memar.
Rumah pejabat itu cukup besar dengan pekarangan
yang luas, dan di bela kang terdapat seb.uah taman
bunga yang cukup indah dan luas pula. Siang Hwi
memasuki taman itu. Udara pagi itu amat ñårah, burungburung
masih banyak yang berkicau di taman itu, belum
berangkat pergi mencari makan, Sinar matahari pagi
mulai menghangatkan taman. Siang Hwi menghampiri
serumpun kembang merah dan dipetiknya setangkai lalu
di pasangnya di rambutnya.
"Nona .......!"
la terkejut dan memutar
tubuhnya. Ternyata Kok Bu
yang memanggilnya tadi dan
pemuda itu berdiri di
depannya„ terbelalak dan
memandangnya dengan mata
terpesona. Bagi Kok Bu, gadis
itu nampak cantik jelita pagi
itu, apa lagi dengan bunga
merah di rambutnya, nampak
seperti seorang bidadari dari kahyangan yang turun ke
taman Itu bersama cahaya matahari pagi.
"Eh, Bu toako kiranya. Selamat pagi. Eh, toako engkau
kenapakah?"
"Kenapa ...... ?"
"Engkau memandangku seperti belum pernah melihat
aku saja!"
Kok Bu tersenyum salah tingkah dan menjawab
gugup, "Aku.... ah, kembang di rambutmu itu
membuatmu nampak cantik jellta seperti bidadari saja,
nona ..... "
"Hemm, engkau terlalu memujiku, toako.!'
"Sungguh mati, aku bukan merayu atau memuji
kosong, nona Siang Hwi. Engkau adalah gadis yang
paling cantik yang pernah kutemui selama hidupku."
"Omong kosong! Engkau tinggal di kota raja, bahkan
engkau banyak mengenal para bangsawan. Banyak putri
bangsawan cantik jelita di kota raja, apa lagi puteri
istana."
"Sudah banyak aku bertemu puteri bangsawan, akan
tetapi tidak ada yang dapat menandingi engkau dalam
hal kecantikan dan kegagahan, nona. Aku sungguh
terpesona dan begitu bertemu denganmu, seketika aku
jatuh hati. Maafkan keIancanganku ........"
Wajah Siang Hwi menjadi kemerahan akan tetapi ia
tidak marah. Sikap pemuda ini terlalu jujur dan
ucapannya itu bukan rayuan, hal ini ia dapat merasakan
benar. Akan tetapi, sedikitpun ia tidak mempunyai
perasaan cinta kepada pemuda yang baru dikenalnya itu,
walau pun ia merasa berterima kasih dan juga kagum
atas pertolongan pemuda ini kepadanya dan kepada
gurunya.
"Sudahlah, toako, jangan bicara soal itu. Aku tidak
senang mendengarnya. Sama sekali belum ada dalam
pikiranku persoalan yang kau kemukakan itu. Maafkan
aku."
Dan iapun pergi meninggalkan,pemuda itu menuju ke
rumah untuk masuk ke kamarnya di mana gurunya masih
tidur.
Akan tetapi ia melihat sesosok bayangan berkelebat
dan tahulah ia bahwa bayangan itu adalah Gan-pangcu,
ayah dari Kok Bu. Karena ingin tahu apa yang akan
terjadi, ia menyelinap ke balik sebatang pohon dan
mengintai.
Gan Liang klni bicarara keras kepada anaknya
sehingga Slang Hwi tidak perlu mengerahkan
pendengarannya untuk dapat mendengar apa yang
dikatakan ketua Hek-tung Kai-pang itu.
"Apa? Engkau mencinta gadis itu? Tidak tahukah
engkau murid siapa ia? Gurunya adalah Ban-tok Sian-li,
datuk sesat yang tinggal di Lembah Iblis! Tidak, aku tidak
suka kalau engkau mencinta gadis itu. Apa lagi menikah
dengannya! Aku tidak suka berbesan dengan datuk
sesat!"
Mendengar ini, Siang Hwi mengerutkan alisnya dan
diam-diam ia pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke
dalam gedung. la mendapatkan gurunya sudah bangun
dan sudah mandi.
"Subo, sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini dan
keluar kota raja," kata Siang Hwi.
Melihat wajah muridnya seperti orang yang marah,
Ban-tok Siàï-li memandang penuh selidik,
"Ada apakah, Siang Hwi ?"
"Su-bo, aku mendengar Gan-pangcu berkata kepada
puteranya bahwa dia merasa khawatir dan tidak senang
kalau kita tinggal di sini lebih lama lagi karena dapat
membahayakan dirinya dan perkumpulannya. Kàråna itu,
sebaiknyi kita pergi sekarang juga, subo. Mereka sudah
menolong kita, tidak enak kalau harus menyusahkan
mereka lebih lanjut."
Gurunya mengangguk. "Engkau benar, Siang Hwi.
Kalau begitu mari kita berkemas dan pergi dari sini
sekarang juga."
Siang Hwi menjadi girang dan cepat ia berkemas
bersama gurunya.
Selagi keduanya berkemas, muncul Kok Bu di depan
kamar mereka. Melihat kesibukan guru dan murid yang
berkemas dan menggendong buntalan pakaian di
punggung, dia terkejut sekali.
"Eh, toanio, dan nona.jiwi hendak pergi ke manakah?"
Ban-tok Sian-li yang menjawab tegas.
"Kami akan berpamit dan pergi dari sini sekarang
juga."
"Akan tetapi, itu berbahaya sekali Ji-wi akan diketahui
oleh para pengawal dan perajurit dan tentu akan di
tangkap! Pula, di kota raja ini, ji-wi hendak bersembunyi
di mana? Di sini merupakan tempat terbaik bagi ji-wi
untuk bersembunyi."
"Kami hendak keluar dari kota.raja!" kata Siang Hwi
yang bicara dan suaranya terdengar dingin.
"Tapi..... tapi itu lebih berbahya!" kata Kok Bu. "Semua
pintu gerbang dijaga ketat oleh pasukan dan tidak
mungkin Ji-wi dapat melewati pintu gerbang dengan
selamat."
"Kami tidak takut! Akan kami lawan mati-matian!" kata
pula Ban-tok Sian-Li .
"Aihh, kenapa ji-wi memaksakan diri? Kalau ji-wi
memaksa, baiklah, akan kami atur agar ji-wi dapat
melewati pintu gerbang dengan aman. Jalan satusatunya
hanyalah menyamar sebagai anggauta Hek-tung
Kai-pang."
" Menyamar?" tanya Ban-tok Sian li .
"Jangan ji-wi khawatir. Di antar anak buah kami
terdapat seorang yang ahli dalam hal mendandani orang
dalam penyamaran. Dalam waktu singkat saja ji-wi sudah
akan menjadi orang lain yang tidak akan dikenal bahkan
oleh orang-orang terdekat. Bagaimana pendapat ji-wi?
Kiranya itulah jalan satu-satunya untuk dapat menyusup
keluar dari pintu gerbang dengan selamat."
Tentu saja guru dan murid itu tidak dapat menolak
tawaran yang menarik dan juga menguntungkan itu.
Anggauta Hek-tung Kai-pang yang ahli merias itu
dipanggil dan segera dia mendandani Ban-tok Sian-li dan
The Siang Hwi. Dalam waktu kurang dari satu jam, kedua
guru dan murid ini benar-benar telah berubah, menjadi
dua orang anggauta pengemis yang berjalan terbongkokbongkok
membawa tongkat .
Òak lama kemudian, di pintu gerbang utara, ada
serombongan pengemis terdiri tujuh orang melewati pintu
gerbang itu, para petugas jaga tentu saja tidak mau
didekati para pengemis yang berpakaian kotor dan
berbau. Maka merekapun membiarkan para pengemis itu
lewat.
Setelah melewati pintu gerbang, para pengemis itu
segera pergi berpencar. Dua di antara mereka yang
berjalan terbongkok-bongkok melanjutkan perjalanann
dengan cepat menuju ke barat. Akan tetapi belum lama
para pengemis itu melewati pintu gerbang, tampak
belasan orang penunggang kuda tiba di tempat itu, yaitu
rombongan pengawal rumah gedung Perdana Menteri,
dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang bukan lain
adalah Hak Bu Cu.
"Apakah ada serombongan pengemis lewat di sini?"
tanya Hak Bu Cu yang berpakaian perwira.
Para petugas jaga di pintu gerbang itu tidak mengenal
Hak Bu Cu, akan tetapi melihat pakaiannya, mereka
memberi hormat dan seorang di antara mereka
menjawab bahwa baru saja ada serombongan tujuh
orang pengemis lewat di situ dan keluar kota.
"Hayo cepat kejar!" bentak Hak Bu Cu dan anak
buahnya lalu membedal kuda melakukan pengejaran
keluar kota melalui pintu gerbang utara.
Bagaimana sampai para pengawal mencurigai
serombongan pengemis itu? Semua ini adalah ulah
ketua Hek-tung Kai-pang sendiri. Setelah dia
membiarkan puteranya menolong dua orang wanita itu
melarikan diri dengan mendandani mereka seperti dua
orang pengemis, Gan Liang lalu mengutus seorang anak
buahnya untuk memberitahu kepada Perdana Menteri Jin
Kui bahwa ada serombongan penjahat yang menyamar
pengemis melarikan diri keluar kota raja melalui pintu
gerbang utara!
Tentu saja Perdana Menteri Jin lalu mengutus Hak Bu
Cu untuk melakukan pengejaran. Sementara itu,
mendengariakan perbuatan ayahnya ini, Gan Kok Bu
marah sekali kepada ayahnya.
"Ayah, apa yang telah ayah takukan ini? Kenapa ayah
mengkhianati mereka yang jelas membantu para
pejuang?"
"Tadinya aku memang setuju engkau membantu
mereka karena mereka membantu para pejuang. Akan
tetapi setelah aku tahu siapa wanita yang kau bantu, aku
lebih senang melihat mereka tertangkap. dan terhukum!
Engkau tidak tahu siapa itu Ban-tok Sian-li ! Ketika ia
masih gadis dahulu, telah banyak orang menjadi korban
karena kecantikannya! Banyak pemuda tergila-gila
kepadanya dan mengajukan pinangan. Akan. tetapi apa
yang diiakukan? la menghina semua yang meminangnya
dan menghajar setiap orang pria yang berani
meminangnya, bahkan ada yang terbunuh olehnya!
Wanita macam apa itu? Biarlah ia ditangkap dan
menerima hukuman mati, baru puas hatiku ... "
Melihat betapa ayahnya nampak mendendam sekali
kepada Ban-tok Sian-li, Kok Bu bertanya dengan alis
berkerut,
"Hemm, agaknya ayah termasuk seorang yang telah
ditolak pinangannya?"
Wajah ayahnya berubah kemerahan.
"Benar , dan ia telah merobohkanku, hampir saja
membunuhku. Òak pernah aku dapat melupakan
penghinaan itu!"
"Ayah, peristiwa itu telah terjadi bårtahun-tahun yang
lalu, kenapa ayah masih mendendam? Dan pula, sudah
wajar kalau cinta seseorang ditolak, kenapa harus
merasa sakit hati ? Tentang penyerangan itu, mudah
diketahui. sebagai seorang ahli silat, agaknya ia hendak
menguji setiap orang pemuda yang meminangnya, ia
tidak ingin memperoleh suami yang kalah olehnya. Itu
wajar saja, ayah ! "
"Sudahlah, engkau tahu apa ? Wanita itu memiliki
pukulan beracun segalanya yang ada padanya beracun,
kukunya, rambutnya, dan juga hatinya beracun!". kata
ayahnya dan meninggalkan puteranya yang merasa
penasaran sekali. Yang tidak di ñåãitakan oleh Gan Liang
adalah bahwa ketika hal itu terjadi dia sudah mempunyai
iståri dan anak .
Karena kecantikan Souw Hian memang luar biasa
sekali dan mendenger bahwa gadis itu mau diperisteri
pria yang dapat mengalahkannya, maka diapun yang
tergila-gila melihat kecantikannya, ikut masuk sayembara
itu, dengan maksud kalau sampai dia berhasil wanita itu
akan dijadikan isteri kedua..
Akan tetapi bukan saja dia tidak berhasil bahkan dia
hampir tewas oleh ðukulan beracun Souw Hian Li yang
kemudian berjuluk Ban-tok Sian-Li .
Kok Bu merasa marah sekali kepada ayahnya. Dia
anggap ayahnya tidak adil dan tidak benar tindakannya.
Maka, dia lalu berkemas dan meninggalkan rumah itu
tanpa pamit lagi kepada ayahnya Dia hendak menyusul
Siang Hwi dan kalau tidak bertemu, dia akan membantu
pergerakan para pejuang di luar kota raja.
Tadi dia memang tidak mengantarkan Siang Hwi dan
gurunya karena kalau dia yang mengantar dan terjadi
sesuatu amat berbahaya bagi Hek-tung Kai-pang karena
para penjaga banyak yang sudah mengenalnya sebagai
pimpinan Hek tung Kai-pang.
0odwo0
"Tiong Li, sudah lima tahun engkau mempelajari ilmu
dari, kami berdua. Semua iImu yang kami kuasai telah
kami berikan kepadamu, dan karena engkau sebelumnya
telah digembleng oleh Ðåk Hong San-jin, maka kini
tingkat kepandaianmu sudah lebih tinggi dari pada
tingkat kami berdua. Nah, sekarang setelah tiba saatnya
untuk kita saling berpisah, apa yang hendak
kaulakukan?" tanya Thian Kui Lo-jin yang tinggi kurus
kepada muridnya.
"Usiamu sudah duapuluh satu tahun, sudah cukup
dewasa untuk menentukan jalan hidupmu sendiri. Kami
hanya ingin mengetahui, jalan mana sekarang yang
hendak kautempuh? Apa yang akan kaulakukan ? "
tanya pula Tee Kui Lo-jin yang bertubuh gendut pendek.
Ditanya demikian oleh kedua ,orang gurunya, Tiong LI
menjatuhkan dirinya berlutut menghadap kedua orang
gurunya Itu.
"Suhu walaupun teecu sudah dewasa dan telah
menerima gemblengan dari mendiang suhu Ðåk Hong
San-jin kemudian dari suhu berdua, akan tetapi teecu
sama sekali tidak mempunyai pengalaman. Teecu masih
hijau dan kalau ji-wi suhu bertanya apa yang hendak
teecu lakukan, teecu menjadi bingung. Teecu sendiri
tidak tahu apa yang hendak T¸¸cu lakukan setelah teecu
terpaksa berpisah dari ji-wi suhu. Teecu mohon pe
tunjuk!"
"Ha-ha-ha, bagus engkau masuh berrendah hati untuk
bertanya. Ðakàilah sikap rendah hati ini untuk
Selamahya,Tiong Li. Hanya orang yang rendah hati
sajalah yang akan dapat memperoleh tambahan
pengetahuan," kata Tee Kui Lok jin. "Tiong ki, manusia
diberi kehidupan dan dilahirkan di dalam dunia ini tentu
bukan percuma saja, bukan seperti binatang saja asal
makan tidur lalu mati. Tuhan tentu mempunyai maksud
tertentu terhadap manusia yang dibekali hati akal pikiran,
diberi akal budi sehingga manusia dapat menentukan
sendiri , memilih apa yang baik untuk dirinya. Manusia
bukanlah benda mati, bukan pula binatang atau tumbuhtumbuhan.
Manusia berakal budi, karena itu hidup di
dunia ini haruslah bertanya kepada diri sendiri, apa yang
dapat dilakukan demi diri sendiri,demi orang Iain , demi
kemanusiaan dan demi dunia pada umumnya.
Jadikanlah dirimu seorang manusia yang berguna dan
bermanfaat bagi kemanusiaan dengan perbuatanperbuatan
yang bijaksana,benar dan adil. Sia-sia sajalah
manusia hidup didunia kalau hanya untuk menanti
datang nya kematian tanpa melakukan sesuatu yang
berguna bagi kemanusiaan ."
"Akan tetapi; suhu. Apa yang harus dapat teecu
lakukan? "
"Sian-cai, banyak sekali yang dapat kauIakukan,
muridku," kata Thian Lo-jin." Kalau engkau tidak tahu apa
yang kauIakukan, lalu untuk apa Engkau mempelajari
semua iImu itu? Kau tahu, di dunia ini terdapat banyak
sekali kejahatan diIakukan manusia yang batinnya
dikuasai Iblis. Engkau sudah memiliki iImu kepandaian
untuk menghadapi mereka yang suka meIakukan
perbuatan sewenang-wenang, menggunakan kekerasan
mengandalkan tenaga dan kepandaian. Engkau dapat
mencegah perbuatan jahat itu dan menolong mereka
yang tertindas. Engkau dapat berjuang menegakkan
kebenaran dan keadilan demi perikemanusiaan. Dan
engkau dapat juga membaktikan dirimu demi nusa dan
bangsa, dapat membantu gerakan para pejuang yang
membendung kekuasäan Bangsa Yucen yang semakin
sewenang-wenang melebarkan kekuasaannya. Engkau
dapat mengingatkan dan memberi hajaran kepadà para
pembesar yang menyalahgunakan kekuasaan dan
wewenang nya, yang suka memeras dan menindas
rakyat jelata. Wah banyak sekali yang dapat kau lakukan
Tiong Li !"
"Teecu mengerti dan akan teecu laksanakan petunjuk
suhu," kata Tiong Li.
"Akan tetapi berhati-hatilah, Tiong Li.Kekuatanmu itu
dapat mendatangkan kekuasaan, dan kekuasaan yang
bagaimanapun juga bentuknya dapat membuat orang
menjadi lupa diri dan menyalahgunakan kekuasaannya .
Oleh karena itu, engkau harus lebih waspada terhadap
musuhmu itu, musuh tunggal yang tidak kelihatan akan
tetapi yang kelihai annya sukar dilawan," kata Tee Kui Jin
"Siapakah musuh itu, suhu?"
"Musuh itu adalah dirimu sendiri hati akal pikiranmu
sendiri. Kalau engkau sudah memiliki kekuatan dan
kepandaian, lalu merasa diri memiliki kekuasaan, berhatihatilah
karena hati akal pikiranmu dapat dipergunakan
oleh iblis untuk berbuat sewenang-wepang karena
mengejar kesenangan bagi dirimu sendiri."
"Teecu mengerti, suhu. Teecu masih mengingat akan
semua nasehat suhu Ðåk Hong San-jin bahwa teecu
harus melakukan tiga macam kesetiaan, yaitu setia dan
berbakti kepada Tuhan, berbakti kepada negara dan
berbakti kepada orang tua atau guru. Dan teecu harus
menjadi alat yang baik; untuk Tuhan Yang Maha Kuasa."
"Bagus! Kalau engkau masih ingat akan hal itu dan
memegang semua keyakinan itu, maka kami pun akan
merasa lega melepasmu, Tiong Li, " kata pula Tee Kui
Lojin. "Hanya yang harus kau selalu Ingat, jangan
terlampau mudah membunuh orang kalau tidak amat
terpaksa dan perlu sekali. Jangan membunuh ,orang
yang sudah tidak mampu melawan, jangan
menyombongkan kepandaian dan ingat selalu, setiap
orang lawan haruslah dihadapi dengan sikap hati-hati
dan waspada, tidak boleh meremehkan orang lain. Dan
lagi, betapapun tingginya puncak gunung dan awan,
masih ada langit yang lebih tinggi lagi, kàãåëa itu jangan
menganggap diri paling pandai ."
Setelah menerima banyak nasihat dari kedua orang
gurunya, Tiong Li lalu turun gunung membawa buntalan
pakaian yang sederhana dan membawa sebatang
ranting kayu yang dijadikan pikulan buntalan pakaiannya.
Dia kini telah berusia duapuluh satu tahun, seoranq
pemuda yang bertubuh tegap, langkahnya seperti seekor
Harrmau, dadanya bidang pinggangnya ramping. Wajah
pemuda ini sederhana namun tampan dengan tatapan
mata yang kadang mencorong kadang lembut seperti
mata seekor rajawali. Rambutnya hitam tebal digelung
keatas dan diikat dengan pita kuning.
Dahinya lebar dan alis matanya berbentuk golok,
hitam dan tebal, melindungi matanya yang tajam.
Hidungnya mancung dan bibirnya selalu tersenyum
seperti bayangan dari keadaan hati yang lapang:
Dagunya agak berlekuk menunjukkan bahwa di balik
keramahan senyumnya tersembunyi hati yang dapat
mengeras, dan dagu itu menimbulkan kesan jantan
kepadanya .
Setelah jauh meninggalkan puncak Ki-lin-san, dan
tiba di lereng pegunungan Kui-san, Tiong Li berhenti Dia
menoleh memandang ke atas, ke puncak Ki-lin-san.
Nampak awan menyelimuti puncak itu dan dia teringat
akan kedua orang gurunya, penghela napas lalu
memandang jauh ke bawah. Nampak Sungai Wu-kiang
berkelak-kelok dan berlenggak-lenggok seperti seekor
ular besar melalui tebing-tebing gunung. Dan jauh di kaki
pegunungan itu nampak pedusunan dalam kelompokkelompok
kecil.
Dia lalu menggunakan waktu selama limabelas tahun
untuk mempelajari ilmu silat dan ilmu sastera. Dia bukan
ahli sastera; sekedar dapat membaca dan menulis, dan
sudah banyak kitab agama di bacanya. Mengenai ilmu
silat, dia sudah måmðålajari banyak macam iImu, dan di
antaranya adalah ilmu-ilmu simpanan ke tiga orang
gurunya.
Dari Ðåk Hong San-Jin dia mempelajari Hui-eng Kiamsut
(ilmu Pedang Elang Terbang) dan Tai-lek Kim-kongjiu
(Tenaga Besar Sinar Emas) yang mengandalkan
sinkang yang kuat?. Kepandaian ilmu tangan kosong
mengandalkan sinkang ini ditambah lagi oleh ilmu Jiankin-
lat (Tenaga Seribu Kati) yang dipelajarinya dari Tee
Kui Lo-jin, bersama ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun,
merupakan ilmu silat berantai Lima Anasir yang lihai.
Dari Thian Kui Lo-jin dia mempelajari ginkang atau
ilmu meringankan tubuh yang disebut Jiauw-sang -hui
(Terbang Atas Rumput) dan I-kiong-hoan-hi-at (Ilmu
Memindahkan Jalan Darah).
Dengan ilmu-ilmu itu maka kini Tiong Li, menjadi
seorang pemuda yang sukar menemukan tandingan! .
Ketika melihat ke bawah ini, Tiong Li melamun,
teringat akan hal-hal yang telah lalu dan tak terasa lagi
hatinya menjadi kosong dan trenyuh, merasa hidup
seorang diri dan hampa. Cepat-Cepat tangan kirinya
mengusap ke arah kedua matanya yang tiba-tiba menjadi
basah air mata! Untung tidak ada Tee Kui Lo-jin di situ.
Kalau gurunya yang gendut pendek itu melihatnya
menangis, tentu guru itu akan tertawa terpingkal pingkal
kemudian marah kepadanya. Bagi gurunya itu, pantang
untuk menangis selama hidupnya. Tertawalah dan
jangan sekali sekali menangis, begitu pesannya berulang
kali.
Duka timbul dari iba diri. Dan iba diri timbul kalau
pikiran ini mengenang hal-haI yang lalu, mengenangkan
segala kehilangan yang direnggut dari dirinya, atau kalau
pikiran mengenangkan masa depan akan hal-hal yang
tidak menyenangkan bagi dirinya.
Begitu mengenangkan masa lalu, Tiong Li teringat
akan ayahnya yang terbunuh mati, akan Ðåk Hong Sanjin
yang juga terbunuh mati, kemudian dia
membayangkan masa depannya yang dianggapnya
kosong dan suram, tidak mempunyai siapa-siapa lagi di
dunia ini, tidak mempunyai tempat tinggal, tidak memiliki
apa-apa kecuali sebuntal ðakàian sederhana!
Masa lalunya muram, masa depannya suram! Lalu
semua kenangan dan bayangan itu mendatang kan ibadiri,
merasa diri paling sengsara di dunia ini dan setelah
timbul iba diri, lalu muncullah du ka. Berbahagialah orang
karena lepas dari duka kalau dia tidak mengenangkan
masa lalu dan tidak membayangkan masa depan.
Kalau orang hanya menghadapi masa kini , saat ini,
saat demi saat, apa adanya, wajar, maka kedukaanpun
tidak akan pernah menyerang dirinya, Tentu saja waktu
lalu boleh diingat, akan tetapi yang ada hubungannya
dengan pekerjaan, demikian pula waktu yang akan
datang boleh diperhitungkan untuk pekerjaan, akan tetapi
kalau waktu lalu dan waktu mendatang itu dihu- bungkan
dengan keadaan diri, maka hasilnya hanya akan
mendatangkan rasa takut, dan rasa duka belaka. Tidak
ada gunanya sama sekali .
Tiong Li yang sedang termenung teringat akan
pelajaran ini , maka wajahnya menjadi ñårah kembali . .
Lenyaplah segala kenangan masa lalu, hilanglah
segala bayangan masa depan. Dan pemandangan di
bawah lereng gunung nampak indah bukan main. Indah
dan luas, terbentang luas di depan kakinya!.
Dan semua kekhawatiran dan keresahan tadi yang
mengganggu batinnya lenyaplah seketika dan dia
bangkit, mengayun langkah dengan tegapnya seperti
seekor harimau melangkah menuruni lereng itu.
Yang dinamakan hidup ini adalah sekarang ini, saat
demi saat, inilah hidup,sambung menyambung dari saat
ke saat. Yang lalu itu sudah mati, tak perlu diingat
kembali. Yang akan datang itu hanya lamunan, hanya
khayal, tidak perlu dibayangkan.
Saat ini, sekarang ini, harus bersih dan benar dan
segalanya akan berjalan dengan baik. Saat demi saat
waspada dan benar, waktu yang lain tidak perlu dipikir.
Masa lalu hanya menimbulkan kesedihan belaka, dan
dendam kebencian.
Masa depan hanya mendatangkan rasa takut dan
khawatir belaka. Akan tetapi kalau saat ini, yang kita
hadapi saat demi saat, tidak ada rasa takut, tidak ada
rasa sedih, yang ada hanyalah apa adanya.
Kini dia sudah berada di kaki pegunungan Kui-san.
Sudah mulai ada pedusunan. Ketika dia sudah melewati
beberapa buah dusun dan tiba di tepi sebuah hutan, tiba
tiba dari balik pohon-pohon besar itu berloncatan
Iimabelas orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan
kokoh kuat.
Wajah mereka bengis dan mereka adalah orang-orang
yang, biasa memaksakan kehendaknya sendiri,
gerombolan perampok yang tidak segan melakukan
bentuk kekerasan apapun untuk memaksakan kehendak.
Di antara limabelas orang itu terdapat kepalanya,
seorang berusia empatpuluhan tahun yang bertubuh
tinggi besar dan mukanya penuh brewok, matanya besar
dan tangannya memegang sebatang golok besar yang
mengkilap saking tajamnya.
0o-dw-o0
Jilid IV
"Heii, berhenti!" Bentak kepala perampok ini sambil
memandang dengan matanya yang besar menakutkan.
"Siapa engkau, dari mana hendak ke mana?"
Tiong Li bersikap tenang walaupun dia sudah pernah
mendengar dari para gurunya bahwa sekarang banyak
gerombolan perampok dan gerombolan yang
menamakan dirinya pejuang akan tetapi tidak segan
melakukan segala bentuk kekerasan untuk merampok.
Sebutan pejuang hanya untuk kedok saja.
"Namaku Tan Tiong Li, datang dari puncak gunung
dan hendak turun gunung," jawabnya terus terang.
"Bagus, tinggalkan buntalan dalam pikulanmu itu atau
tinggalkan kepalamu. Pilih!"
"Sobat, buntalan ini hanya terisi pakaian yang
sederhana dan tidak ada harganya. Kutinggalkan tidak
ada gunanya untuk kalian, maka tidak akan
kutinggalkan," jawab Tiong Li tetap tenang, akan tetapi
dia waspada karena orang-orang seperti ini tidak segan
melakukan segala kecurangan pula.
"Kalau begitu, tinggalkan kepalamu. Aku ingin meIihat
engkau tidak berkepala lagi !" kata kepala perampok itu
dan empatbelas orang anak buahnya menyeringai kejam.
Agaknya mempermainkan nyawa orang bagi mereka
merupakan hiburan dan kesenangan tersendiri.
"Twa-ko, biarkan aku memuntir putus leher orang ini!"
kata seorang anak buahnya yang bertubuh gendut sekali
dan mukanya hitam seperti pantat ke wali. Setelah
berkata demikian, dia sudah melangkah maju
menghadapi Tiong Li,
"Orang muda, serahkan kepalamu untuk kupuntir
sampai putus!" setelah berkata demikian, raksasa gendut
itu lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipentang
seperti seekor biruang hendak menerjang, lalu tangan itu
menangkap hendak mencengkeram kepala Tiong Li.
Akan tetapi dengan tenang pemuda itu melangkah dua
kali ke belakang, lalu kakinya mencuat dengan sebuah
tendangan yang tepat mengenai perut yang gendut itu.
"Bukk!" Raksasa itu terjengkang keras dan dia akan
bangkit berdiri, namun jatuh terduduk kembali sambil
mengelus dan menekan perutnya yang terasa nyeri
bukan main, mulas melilit-lilit.
Melihat si gendut ini roboh dengan sekali tendang
saja, kawan-kawan nya menjadi marah dan mereka
rnencabut golok, lalu menyerang Tiong Li kalang kabut.
Juga kepala perampok tidak ketinggalan. Dia yang paling
tangkas di antara teman-temannya sudah pula maju
membacokkan goloknya kepada Tiong Li.
Tiong Li menggunakan ilmu meringankan tubuh Jiauwsang-
hui mengelak ke sana kemari dengan kecepatan
yang luar biasa sehingga gerombolan perampok itu
merasa seolah mereka menyerang sebuah bayangan
saja yang berkelebaian ke sana sini .
Setelah menurunkan buntalannya dan memegang
tongkatnya, Tiong Li lalu menggerakkan tongkatnya,
menyerang dengan totokan totokan dan seorang demi
demi seorang kawanan perampok itu roboh bergu1ingan.
Kepala perampok menyerang dengan pengerahan
sepenuh tenaganya, akan terapi goloknva terlepas ketika
Tiong Li menotok pergelangan tangannya, Kemudian,
sebuah tendangan merobohkannya. Limabelas orang
perampok itu roboh semua mengaduh-aduh dan tidak
mampu bangkit kembali. Tiong Li melompat ke dekat
kepala perampok dan menodongkan ranting kayu itu
kearah lehernya.
"Bagaimana, sobat? Apakah engkau masih ingin
melanjutkan perkelahian ini?"
Kepala perampok itu mengerti betul bahwa dia
berhadapan dengan seorang pendekar yang lihai sekali,
maka tanpa malu-malu dia lalu berlutut.
"Ampunkan kami, tai-hiap. Kami seperti buta, tidak
melihat bukit Thai-san menjulang tinggi di depan mata
dan berani mengganggu tai-hap (pendekar besar)”
"Kalian memang buta. Bukan karena menyeranq aku,
melainkan karena mengganggu rakyat jelata yang tidak
berdosa. Kalian buta tidak melihat bahwa kalian
merampoki sesama manusia yang sama sekali tidak
bersalah. Apakah kalian begitu buta sehingga tidak
melihat betapa rakyat jelata sudah amat menderita
hidupnya ? Sepatutnya orang gagah-gagah dan kuatkuat
seperti kalian ini membantu manusia lain yang
sengsara. bukan malah mengganggu rakyat ang sudah
cukup menderita. Dari pada menggunakan tenaga dan
kekuatan kalian mengganggu rakyat tanpa mengenal
prikemanusiaan, lebih baik kalau kalian membantu
perjuangan para pendekar patriot yang hendak membela
negara mengusir penjajah Bangsa Yu-cen."
"Kami juga seringkali memasuki daerah Kerajaan Kin
dan mengacau daerah musuh itu. taihiap. Kami
membunuhi banyak orang dan merampas harta milik
mereka....!" kepala perampok itu hendak memamerkan
jasanya,
"Itu bukan perjuangan namanya ! Perjuangan tidak
sama dengan merampoki. Perjuangan berarti menentang
pasukan musuh yang mengacau di daerah Kerajaan
Sung, atau maju perang bertempur melawan pasukan
musuh. Akan tetapi kalian hanya memasuki daerah !
kekuasaan lawan untuk merampoki rakyat pula.
Apabedanya rakyat di sana dan rakyat di sini ! Sama
saja. Sebangsa dan mereka adalah orang-orang yang
tidak berdosa. Orang-orang macam kalian ini
sepantasnya dibasmi habis!" Tiong Li menggertak.
"Ampun, tai-hiap. "
"Berjanjilah bahwa kalian akan bergabung dengan
para pejuang dan tidak melakukan perampokan lagi, dan
aku akan memaafkan kalian. Ketahuilah, kalau kalian
berjuang dengan sungguh-sungguh membela rakyat,
maka rakyat tentu akan dengan rela hati memberikan
àðà yang mereka miliki untuk kalian makan."
"Saya berjanji, tai-hiap."
"Aku ingin kalian semua yang berjanji, tidak hanya
engkau!"
"Kami berjanji, tai-hiap...!" semua orang berseru.
"Aku tidak memaksa kalian. Kalau kalian sudah
berjanji, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, penuhi
janji itu. Akan tetapi kalau kalian tidak suka, boleh bangkit
dan melawan aku sampai mati!"
"Kami tidak berani tai-hiap. Kami berjanji ....... "
"Nah, baiklah, aku melepaskan kalian. Akan tetapi
ingat, aku akan selalu mengamati dan kalau sekali saja
aku melihat kalian masih melakukan perampokan, aku
pasti akan membasmi kalian."
"Terima kasih, tai-hiap !" lima belas orang itu memberi
hormat sambil berlutut, akan tetapi ketika mereka
mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari
situ seperti menghilang saja. Pengalaman itu membuat
mereka jera dan ketakutan dan mereka benar benar
mencari kelompok pejuang untuk menggabungkan diri !.
Setelah pengalaman itu, Tiong Li merasa bergembira.
Kini dia mengerti àðà yang dimaksudkan oleh gurugurunya.
Memang dia dapat mempergunakan
kepandaiannya untuk kebaikan dan dia akan terus
melakukannya. Di sepanjang perjalanannya, setiap kali
bertemu gerombolan perampok, tentu dia menundukkan
mereka dan membujuk mereka untuk bertaubat. Dan
kalau ada hartawan atau bangsawan bertindak
sewenang-wenang, diapun lalu turun tangan menghajar
mereka dan membujuk mereka untuk mengubah sikàð
dan watak mereka yang tidak benar.
Tiong Li menuju ke kota raja. Di sepanjang perjalanan
dia tidak kekurangan bekal karena orang-orang yang
ditolongnya tidak segan memberinya bekal dan pakaian,
melihat betapa pendekar ini tidak memiliki apa-apa.
Dan pemberian yang dilakukan dengan rela itupun
tidak ditolak oleh Tiong Li kal rena dia memang
membutuhkan bekal untuk biaya perjalanannya. Dia
pantang untuk melakukan pencurian àðà lagi
perampasan barang milik orang lain, juga dia tidak
sampai hati untuk mengemis.
Pada suatu pagi, ketika tiba di sebelah utara kota raja,
di dekat sebuah hutan, dia melihat dua orang wanita
sedang dikeroyok oleh sepasukan orang yang dipimpin
oleh seorang raksasa hitam yang membuat jantungnya
berdebar tegang karena dia mengenal raksasa hitam itu
sebagai Si Golok Naga, orang yang telah membunuh
ayahnya dan membunuh pula gurunya yang pertama,
Ðåê Hong San-jin! Orang yang telah membunuh empat
prang tokoh partai besar, pencuri Mestika Golok Naga
dari istana .
Siapakah dua orang wanita itu? Bukan lain adalah
Ban-tok Sian li dan The Siang Hwi ! Seperti diceritakan di
bagian depan, kedua orang guru dan murid ini telah
menyusup keluar dari pintu gerbang kota raja dengan
menyamar sebagai pengemis. Setelah berhasil lolos dari
pintu gerbang, sampai di tempat sunyi mereka
menanggalkan penyamaran mereka dan berpisah dari
para pengemis lain, melanjutkan perjalanan mereka.
Akan tetapi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap
kaki kuda dari belakang. Karena mereka telah tiba jauh
dari pintu gerbang kota raja, kedua wanita itu tidak
merasa gentar 1agi. Kalau mereka harus melawan
musuh di kota raja, sungguh berbahaya karena selain
mereka terkurung tidak mampu keluar, juga di kota raja
banyak terdapat pasukan keamanan. Berbeda kalau
berada di luar kota raja, tentu saja mereka tidak takut
kalau hanya menghadapi belasan orang pengawal .
Mereka berhenti di tepi jalan dan ternyata yang
mengejar mereka adalab pasukan pengawal pilihan yang
dipimpil sendiri oleh Hak Bu Cu!
"Itu mereka! Kepung!"
"Bunuh!"
"Tangkap!"
Belasan orang pengawal itu berloncatan turun dari
kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka
menge- pung. Diam-diam Ban-tok Sian-li merasa kaget
juga. Lagi-lagi si raksasa hitam yang muncul di situ, dan
raksasa hitam itu telah menghunus goloknya yang hebat,
yaitu Mestika Golok Naga. Ban-tok Sian-li merasa heran
bukan main. Mestika Golok Naga adalah pusaka yang
dicuri orang dari gudang pusaka kerajaan,kenapa
sekarang berada di tangan seorang perwira pengawal?
Akan tetapi ia tidak sempat berpikir terlampau jauh
karena raksasa hitam itu sudah menerjangnya sambil
membentak marah,
"Pemberontak, engkau hendak lari ke.mana? "
Golok itu menyambar dahsyat dan Ban-tok Sian-li
cepat mengelak lalu membalas dengan pedangnya, dari
bawah menusuk ke arah perut raksasa itu. Namun, Hak
Bu Cu biarpun tinggi besar ternyata memiliki gerakan
yang gesit juga karena begitu perutnya ditusuk, dia
sudah dapat menghindar sambil mengelebatkan
goloknya menangkis.
"Trangggg !" Bunga api berpijar ketika pedang bertemu
golok dan ke dua orang ini sudah saling serang dengan
sengitnya. Dan sebentar saja lima orang pengawal sudah
membantu si raksasa hitam mengeroyok Ban-tok Sian-li.
Wanita ini baru saja sembuh dari luka di pahanya.
Memang sudah tidak nyeri, akan tetapi kini dipakai
bertanding, mengerahkan tenaga maka pahanya terasa
pula agak nyeri karena memang belum pulih benar.
Namun dengan gigih wanita itu membela diri dan dengan
cepat balas menyerang para pengeroyoknya, seperti
seekor harimau yang dikeroyok segerombolan srigala.
Sementara itu, Siang Hwi juga dikeroyok sepuluh
orang pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat yang
cukup tinggi karena mereka yang diajak melakukan
pengejaran oleh Hak Bu Cu memang merupakan
pengawal-pengawal pilihan. Siang Hwi juga mengamuk
seperti gurunya namun betapapun lihai gadis ini, para
pengeroyoknya berjumlah banyak dan juga tangguh,
maka tak lama kemudian iapun terdesak hebat.
Untung bagi Siang Hwi bahwa para pengawal itu
sudah mendapat perintah Jin Kiat agar menangkap
hidup-hidup gadis itu, maka penyerangan mereka hanya
untuk mendesak dan mencari kesempatan untuk
merobohkannya tanpa melukai berat. Dengah demikian,
Sian Hwi masih dapat melawan dengan gigihnya.
Biarpun demikian, guru dan murid ini sudah terdesak
dan agaknya tak lama lagi mereka tentu akan kalah. Dal
am keadaan yang terancam bahaya itulah muncul Tiong
Li. Pemuda ini mengenal si raksasa hitam, dan setelah
dia mengamati penuh perhatian, dia mengenal pula Bantok
Sian-li, àðà lagi Siang Hwi, gadis yang pernah
menyelamatkannya dari ancaman tangan Ban-tok Sian-li
yang hendak membunuhnya.
Tidak sukar bagi Tiong Li untuk mengambil keputusan
pihak mana yang harus dibantunya. Dan melihat betàðà
yang paling lihai di antara lawan kedua orang wanita itu
adalah si raksasa hitam, dia melepaskan buntalan
pakaiannya di atas tanah dan sambil memegang ranting
di tangannya, dia meloncat dan berjungklr balik, tahutahu
telah berhadapan dengan Hak Bu Cu sambil
menotok dengan rantingnya ke arah siku kanan raksasa
itu.
Biarpun yang dipergunakan hanya ranting, akan tetapi
mengeluarkan suara bersiutan dan mendatangkan angin
pukulan yang amat kuat dan cepat sehingga amat
mengejutkan Hak Bu Cu yang segera melempar tubuh ke
belakang untuk menghindarkan lengannya dari totokan.
"Bibl, harap membantu adik Siang Hwi dan serahkan
raksasa hitam ini kepadaku," kata Tiong Li yang lalu
mengerahkan rantingnya menyerang lagi.
Serangannya amat cepat sehingga tidak memberi
kesempatan bagi Hak Bu Cu untuk lebih dulu
menyerang. Dia berusaha membacok dengan goloknya
untuk menangkis dan sekaligus mematahkan ranting itu,
akan tetapi ranting itu terlalu cepat gerakannya sehingga
tidak pernah tersentuh golok. Sementara itu, melihat
munculnya seorang pemuda yang lihai menghadapi si
raksasa hitam, dan melihat betapa muridnya memang
terdesak, Ban-tok Sian-li lalu meloncat dan membantu
muridnya.
Lima orang pengawal yang tadi membantu Hak Bu Cu
mengeroyok wanita itu, kinipun mengejar dan dua orang
guru dan murid itu kini dikeroyok limabelas orang
pengawal.
Hak Bu Cu melintangkan pedangnya dan membentak,
"Tahan!" Hendengar ini, Tiong Li menghentikan
gerakapnya dan berdiri menghadapi musuh.besar itu
sam bil memandang tajam.
"Orang muda, siapakah engkau ? Tidak tahukah
engkau bahwa dua orang wanita ini adalah
pemberontak? Kami menerima tugas dari Perdana
Menteri Jin Kun untuk menangkap pemberontak, dan
engkau berani membantu pemberontak? minggirlah dan
jangan mencampuri kalau engkau tidak ingin dianggap
pemberontak pula!"
"Aku bernama Tan Tiong Li dan aku bukan
pemberontak, juga dua orang wanita ini bukan
pemberontak. Akan tetapi engkaulah yang pemberontak
dan pengacau. Engkau mencuri Mestika Golok Naga dan
engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar,
membunuh pula ayahku, dan membunuh Ðåê Hong Sanjin!"
Hak Bu Cu terbelalak dan memandang penuh
perhatian. "Ahh.... kiranya engkau bocah keparat itu .......
!"
Dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang
dengan goloknya. Melihat golok ini, Tiong Li menjadi
girang. Inilah golok pusaka yang dicuri itu. Dia harus
mendapatkannya dan mengembalikan nya kepada
Kaisar.
Hak Bu Cu merasa penasaran sekali. Jarang ada
orang mampu menandinginya. Akan tetapi pemuda ini,
walaupun hanya bersenjatakan ranting, akan tetapi
memiliki gerakan yang demikian cepat dan ilmu silat yang
aneh. Tubuhnya berkelebatan seperti bayangan saja
sehingga matanya menjadi berkunang dibuatnya. Juga
ranting itu demikian berbahaya, mengancam jalan
darahnya dengan totokan bahkan beberapa kali
mengancam matanya.
Biarpun di dalam hatlnya Tiong Li mendendam kepada
si raksasa ini kalau teringat akan kematian ayah
kandungnya dan guru pertamanya, akan tetapi
kesadarannya selalu membuatnya ingat bahwa dia tidak
boleh sembarangan membunuh orang. Maka, diapun
hanya mengirirn serangan untuk menundukkannya saja,
mero bohkan tanpa niat membunuhnya! .
Sementara itu, guru dan murid itu mengamuk dan
setelah Siang Hwi dibantu gurunya, dalam waktu
sabentar saja ia dan gurunya sudah merobohkan dan
membunuh lima orang pengawal! Yang sepuluh orang
menjadi jerih, àðà lagi setelah mereka melihat betapa
pemimpin mereka juga kewalahan menghadapl pemuda
yang memainkan ranting demikian hebatnya!
Maka mereka hanya mengepung sambil menjaga
jarak, tidak berani mendesak seperti tadi dan kini kedua
orang wanita itulah yang menghujankan serangan
Kembali tiga orang pengawal terjungkal dan yang lain
berlompatan mundur.
Suatu ketika, Tiong
Li menyerang dengan
kecepatan kilat dan
rantingnya kini dengan
tepat mengenai
pergelangan tangan
kanan Hak Bu Cu,
membuat raksasa itu
berteriak kaget karena
seketika tangan
kanannya menjadi
lumpuh dan dengan
sendirinya golok itupun
terlepas dari
pegangannya.
Sebelum golok itu jatuh ke atas tanah, Tiong Li sudah
menyambar dengan tangan kirinya dan golok itu berada
di tangannya. Ketika melihat ini, Hak Bu Cu menubruk
kedepan untuk merampas kembali goloknya
menggunakan tangan kirinya, akan tetapi dia disambut
sebuah tendangan berputar yang amat keras, membuat
tubuhnya terlempar .
Malang baginya, tubuhnya yang tertendang itu terjatuh
ke dekat Ban-tok Sian Li. Melihat si raksasa hitam itu
jatuh ke dekat kakinya, secepat kilat pedang Ban tok
Sian Li bergerak menyambar dan ........ terpenggallah
kepala raksasa hitam itu. Darah menyembur keluar dan
kepala itu terpisah jauh dari badannya.
Melihat ini, tujuh orang pengawal menjadi terkejut dan
mereka segera melarikan diri, meloncat ke punggung
kuda dan kabur dengan ketakutan ! .
"Mereka akan datang membawa bala bantuan, kita
harus cepat pergi dari slnil" kata The Siang Hwi sambil
melompat dan lari, diikuti gurunya dan juga Tiong Li.
Setelah berlari jauh, barulah mereka berbenti dan
Siang Hwi memandang kepada pemuda itu, lalu
tersenyum.
"Tiong Li......!" katanya lirih.
"Siang Hwi, akhirnya kita dapat saling berjumpa juga,"
kata pula Tiong Li sambil tersenyum dan memberi hormat
kepada Ban-tok Sian-li.
"Sian-li, saya harap Sian-li baik baik saja," katanya.
Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya. la sudah lupa
kepada Tiong Li dan bertanya,
"Hemm, siapakah engkau?"
"Su-bo, apakah subo sudah lupa? Dia Tan Tiong Li,
murid dari Ðåê Hon San-jin yang meninggal dunia ketika
kita berkunjung ke Pek-hong San-êîê dahulu itu."
"Ahhhh ....... engkaukah anak muda itu? Akan tetapi
......... " la tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa
terheran-heran.
Kepandaian pemuda itu dulu tidaktah terlalu hebat,
akan tetapi sekarang, ia menyaksikan sendiri betapa
pemuda itu mengalahkan si raksasa hitam hanya dengan
menggunakan sebatang ranting! Dan ia melihat betapa
golok milik raksasa hitam itu kini berada di tangan kiri
pemuda itu.
"Engkau merampas golok raksasa itu?" tanyanya
sambil memandang golok itu penuh perhatian.
"Ini adalah Mestika Golok Naga yang dicurinya dari
gudang perpustakaan istana."
"Kenapa engkau merampasnya?"
"Untuk saya kembalikan kepada Kaisar tentu.saja,"
Kata Tiong Li.
Ban-tok Sian li tersenyum mengejek.
"Dan menerima hukuman berat dari Kaisar? Golok itu
palsu!"
"Ehh ....... ?" Tiong Li terkejut mendengar ucapan Ban
tok Sian-li itu.
"Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, engkau tidak
akan mampu mematahkannya. Akan tetapi coba
kaupatahkan golok itu!" kata pula wanita yang
berpengalaman itu.
Tiong Li tidak percaya, lalu menggunakan kedua
tangan untuk mematahkan golok itu.
"Krekkk!"
Golok itu patah menjadi dua potong dengan
mudahnya.
Tiong Li terbelalak, dan memandang kepada Ban-tok
Sian-li.
"Sian-li, bagaimana Sian-li dapat mengetahui bahwa
golok itu palsu?"
"Mudah saja. Kalau Mestika Golok Naga yang aseli,
tentu tadi pedangku sudah patah-patah kalau bertemu
dengan pusaka itu. Akan tetapi, pedangku sama sekali
tidak patah, gempilpun tidak. Itu berarti bahwa golok itu
palsu adanya."
Tiong Li membuang gagang golok itu.
"Sungguh aneh. Dia sendiri mengaku mencuri golok
pusaka dan bahkan membunuh empat orang tokoh partai
besar, kemudian membunuh ayahku dan membunuh
pula suhu Ðåê Hong San-jin untuk menyembunyikan
rahasianya. Dan sekarang golok yang dipegangnya itu
palsu! Aneh!"
"Kenapa aneh, Tiong Li? Kurasa dia ada yang
mengutus, dan kalau benar dugaanku dia ada yang
mengutus, maka golok aselinya tentu berada di tangan
yang mengutusnya itu," kata Siang Hwi sambil
memandang kepada pemuda itu penuh kagum.
Sejak pertama kali bertemu dulu, Siang Hwi memang
sudah suka sekali kepada Tiong Li sehingga dibujuknya
gurunya agar tidak membunuh pemuda itu. Kini ia
melihat Tiong Li sudah men jadi seorang pemuda
dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka
Siang Hwi menjadi kagum bukan main.
Tiong Li juga memandang gadis itu dengan kagum.
Kini Siang Hwi telah menjadi seorang gadis dewasa yang
cantik jelita, dan sinar matanya masih seperti dulu,
lembut akan tetapi tajam sekali. Dan melihat ketika gadis
itu tadi menghadapi para pengeroyoknya, dia maklum
bahwa Siang Hwi memiliki ilmu kepandaian silat yang
cukup tangguh.
"Aku akan mencari pengutusnya sampai kudapatkan
golok pusaka itu!"kata Ban-tok Sian-li.
"Aih, subo. Golok itu menjadi milik negara, kalau kita
dapat menemukannya harus dikembalikan kepada
kaisar."
"Ah, engkau tahu àðà! Kaisar amat lemah, lebih baik
golok itu dipergunakàï untuk membantu perjuangan!
Mari kita pergi!"
Wanita itu yang bagaimanapun merasa tidak enak dan
tidak suka karena ia merasa kalah lihai oleh pemuda itu,
sudah berkelebat pergi.
'Tiong.Li, aku harus pergi mengikuti subo," kata Siang
Hwi sambil memandang kepada pemuda itu dengan
menyesal
"Siang Hwi, pertemuan kita singkat sekali. Sebetulnya
aku ingin banyak bercakap-cakap denganmu. Kapan kita
dapat bertemu kembali? Aku tidak pernah melupakan
engkau yang telah menyelamatkan nyawaku."
Siang Hwi tersenyum manis. "Kenapa engkau masih
bicara begitu? Soal menyelamatkan nyawa, kalau tadi
engkau tidak muncul, kukira aku dan subo akan tewas di
tangan mereka. Karena itu, tidak ada hutang budi lagi di
antara kita. Kalau memang berjodoh, tentu kelak kita
akan dapat bertemu kembali."
Tiba tiba wajah gadis itu berubah merah sekali karena
ia sudah terlanjur bicara tentang berjodoh, pada hal tentu
saja yang ia maksudkan berjodoh untuk bertemu
kembali, akan tetapi dapat disalah artikan.
"Sudahlah, Tiong Li. Aku khawatir subo nanti marah.
Selamat tinggal, Tiong Li. Aku kagum kepadamu yang
kini telah menjadi seorang pendekar yang amat lihai."
"Selamat jalan, Siang Hwi, dan ingat, kita pasti akan
dapat saling ber jumpa kembali dan dapat berfcakapcakap
lebih lama lagi."
Gadis itu melambaikan tangan lalu berkelebat pergi.
Sampai lama Tiong Li berdiri termenung. Dia harus
mengakui dalam hatinya bahwa dia amat tertarik kepada
Siang Hwi dan merasa amat suka kepada gadis murid
datuk wanita itu. Entah mengapa, begitu bertemu kembali
dengan gadis itu, dia merasa ada kebahagiaan yang
aneh menyelinap di dalam hatinya dan kini setelah
berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian.
Cinta asmara memang ajaib. Merasa bahagia kalau
bersanding, merasa tersiksa kalau berpisah. Ingin
memiliki dan dimiliki, ingin menyenangkan dan di
senangkan, ingin memanjakan dan dimanjakan. Ada rasa
belas kasihan, ada rasa sayang yang mendalam dan
kalau semua keinginan itu terpenuhi, hati penuh dengan
kebahagiaan yang mendalam. Namun, cinta itu pula yang
dapat mendatangkan derita dan siksa.
Kalau cinta tidak terbalas, kalau cinta dikhianati, kalau
cinta berubah menjadi bosan. Maka cinta dapat berubah
menjadi benci! Dan semua ini adalah ulah nafsu. Nafsu
bertujuan satu, yakni ingin senang sendiri.
Cinta nafsu selalu menghendaki dirinya senang, maka
cinta seperti ini membutuhkan balasan cinta, kalau tidak,
cintanya akan berubah menjadi kebencian. Dapatkah
seseorang mencinta, kalau yang dicinta itu tidak
membalas cintanya dan malah mencinta orang lain?
Dapatkah seseorang mencinta kalau yang dicinta itu
tidak menghiraukannya, bahkan mencibir dan
menghinanya? Cinta yang bergelimang nafsu selalu
menghendaki imbalan, jadi cintanya hanya merupakan
cara untuk mendapatkan sesuatu. Jelas, bahwa cinta
seperti ini adalah cinta nafsu.
Akan tetapi kita manusia tidak dapat melepaskan diri
dari nafsu yang memang diikut sertakan dalam diri setiap
orang manusia. Kalau kita mencinta seseorang, maka
nafsu mendorong kita menuntut sesuatu yang
menyenangkan dari orang yang kita cinta itu, baik yang
kita cinta itu kekasih, isteri, anak, sahabat atau siapapun
juga.
Kemanakah, larinya cinta kita kalau isteri kita
menyeleweng dengan orang lain? Ke manakah perginya
cinta kita kalau anak kita durhaka dan tidak berbakti
kepada kita. Atau kalau seorang sahabat mengkhianati
dan merugikan kita? Tidak, kita tidak dapat mencinta
tanpa pamrih, tidak dapat mencinta demi cinta itu sendiri.
Bahkan bagi kebanyakan dari kita, cinta kita terhadap
Tuhan sekalipun mengandung harapan-harapan dan
imbalan .
Lemas rasanya kedua kaki Tiong Li ketika akhirnya dia
meninggalkan tempat itu dan entah bagaimana, kakinya
membawanya kembali ke kota raja ! Dia ingin melihat
kota raja, sebuah kota yang kabarnya indah dan ramai.
0oo-dw-oo0
Tewasnya Hak Bu Cu tentu saja amat mengejutkan
hati Perdana Menteri Jin Kui. Dia segera mengadakan
perundingan dengan para pembantunya, dan juga
puteranya. Di dalam ruangan rahasia di bagian belakang
gedung perdana menteri itu, berkumpullah mereka.
Yang pertama adalah Perdana Menteri Jin Kui,
berusia limapuluh tahun lebih, sorang pembesar dengan
pakaian mewah tubuhnya sedang saja, akan tetapi
matanya yang sipit itu melirak-1irik dengan cara yang
menunjukkan bahwa di memiliki watak yang cerdik dan
licik sekali.
Mulutnya juga selalu tersenyum mengejek dan
angkuh. Orang seperti ini pandai sekali menjilat-jilat
atasan dan menghina dan menghimpit bawahan, dan
kalau menjadi musuh amatlah berbahaya karena hatinya
kejam dan banyak tipu muslihatnya. Dia duduk di kepala
meja, dihadap oleh empat orang.
Yang pertama, duduk di sebelah kanannya adalah
puteranya yang bernama Jin Kiat. Wajah pemuda berusia
duapuluh lima tahun ini cukup tampan, akan tetapi juga
bentuk wajahnya membayangkan kelicikan dan
kecurangan. Terutama sekali pada matanya yang
bergerak-gerak lincah itu.
Hidungnya juga melengkung seperti hidung kakaktua
dan suaranya meninggi seperti suara wanita. Dia terkenal
sebagai seorang pemuda mata keranjang, akan tetapi
juga cerdik sekali dan selain ahli sastera juga ahli dalam
hal ilmu silat, menjadi kebanggaan ayahnya. Orang ke
dua adalah seorang berpakaian pendeta. Dia seorang
tosu bernama Kui To Cin-jin, masih guru dari Jin Kiat
karena tosu ini lah yang mengajarkan ilmu silat tlnggi
kepada Jin Kiat. Selain sebagai guru pemuda itu, juga
Kui To Cin-jin bertugas sebagai penasihat Perdana
Menteri karena tosu yang berusia limapuluh lima tahun
ini memiliki pandangan yang luas.
Kui To Cin-jin bertubuh kurus, tinggi dan wajahnya
yang seperti wajah tikus itu memiliki jenggot yang
panjang sampai ke dada, namun jarang dan tipis.
Orang ke tiga berpakaian seperti ahli silat dan dia
bernama Ciang Sun Hok, menjadi jagoan dan tugasnya
sebagai pengawal pribadi Perdana Menteri. Karena dia
mengawal secara rahasia maka dia mengenakan ðàêàian
biasa, tidak berpakaian sebagai perwira atau perajurit.
Tubuhnya tinggi tegap dan dari pembawaannya jelas
menunjukkan bahwa dia seorang yang kuat dan
bertenaga besar di samping ilmu silatnya yang tinggi.
Ciang Sun Hok yang berusia empatpuluh lima tahun
ini adalah seorang peranakan Khitan yang sejak muda
sudah menghambakan diri kepada Perdana Menteri Jin
Kui maka dipercaya penuh oleh pajabat tinggi itu.
Adapun orang ke empat adalah seorang panglima
berpakaian mewah, bernama Ma Kiu It, berusia
empatpuluh tahun dan juga dia bertubuh tinggi tegap
sehingga nampak gagah dalam ðàêàian panglima. Dialah
panglima pasukan pengawal Perdana Menteri Jin Kui .
Tiga orang pembantu dan puteranya inilah merupakan
orang-orang yang dipercaya oleh Perdana Menteri Jin
Kui di samping Hak Bu Cu, pembantu yang datang dari
utara itu.
Atas bujukan Perdana Menteri Jin Kui inilah maka
Kaisar bersikap lunak dan suka mengadakan perdamaian
dan mengalah terhadap Bangsa Yu-cen atau Kerajaan
Cin (Kin) .Hal ini sebetulnya tidak aneh kalau orang
mengetahui asal usul Jin Kui yang penuh rahasia. Ketika
ibu kandung Jin Kui masih seorang gadis, diam-diam ia
mempunyai hubungan gelap dengan seorang pelayan
keluarganya.
Pelayan ini adalah Bangsa Yu-cen. Dari Hubungan ini
gadis itu mengandung dan melihat ini, orang tuanya
marah kepada pelayan itu dan diam-diam si pelayan
dibunuh dan gadis itu dinikahkan dengan seorang
Bangsa Han yang bermarga Jin.
Setelah Jin Kui agak besar, Ibu kandungnya yang
memberitahu kepadanya akan rahasia itu, bahwa ayah
kandungnya sesungguhnya seorang berbangsa Yu-cen
yang sudah meninggal dunia. Demikianlah rahasia itu.
Jin Kui menyadari sepenuhnya bahwa dia keturunan
Yu cen dan biarpun dia sendiri merahasiakan hal ini,
ketika dia menduduki jabatan sampai menjadi Perdana
Menteri, melihat gerakan Bangsa Yu-cen tentu saja diamdiam
diapun bersimpati. Inilah yang menyebabkan dia
mati-matian berusaha agar kaisar berdamai dengan
bangsa Yu-cen, àðà lagi karena Kerajaan Kin banyak
mengirim hadiah kepadanya dan sudah lama
mengadakan persekongkolan dengannya.
Ketika mendengar berita bahwa Hak Bu Cu tewas di
tangan dua orang wanita pemberontak itu, tentu saja Jin
Kuil menjadi terkejut sekali dan segera dia mengadakan
perundingan dengan empat orang itu.
"Celaka sekali!" Jin Kui menggebrak meja. "Hak Bu Cu
tewas. Kalau Panglima Wu Chu mendengar akan hal ini,
tentu dia merasa menyesal dan marah sekali. Jian Kiat,
bagaimana engkau sekali ini tidak menyertai dia pergi
sehingga dapat membantunya?"
"Ketika ayah menerima berita rahasia itu bahwa dua
orang pemberontak wanita menyamar sebagai pengemis
lolos dari pintu gerbang utara, ayah mengutus Hak Bu Cu
membawa pasukan istimewa melakukan pengejaran dan
ketika itu saya tidak tahu," bantah Jin Kiat yang tidak
mau dipersalahkan.
"Ma-ciangkun, panggil seorang di antara tujuh
pengawai yang selamat itu ke sini. Aku ingin mendengar
sendirt keterangan darinya."
"Baik, tai-jin." Ma Kiu It segera keluar dan tak lama
kemudian dia datang lagi bersama seorang perajurit pe
ngawal yang kelihatan ketakutan.
Setelah perajurit pengawai itu berlutut di depan Jin
Kui, Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan ketus,
"Ceritakan bagaimana matinya Hak Bu Cu.dengan
jelas!"
"Begini, tai-jin. Kami llmabelas orang pengawai
bersama Hak-slcu telah berhasil mengejar dua orang
wanita pemberontak itu. Hak-sicu dibantu lima orang
pengawal lalu menyerang yang tua sedangkan sepuluh
orang pengawal menyerang yang muda dan sesuai
dengan kinginan Yin-kongcu kami berusaha untuk
menangkapnya hidjp-hidup."
Jin Kui mengerling dengan matanya yang sipit kepada
puteranya.
"Hem, yang kaupikirkan hanya wanita saja!"
"Ayah, saya memang menyuruh menangkapnya
hidup-hidup agar ia dapat menceritakan di mana adanya
kawan-kawannya!" bantah Jin Kiat dengan cerdik.
"Lanjutkan!" perintah Jin Kui kepada pengawal itu.
"Sebetulnya kami sudah mulai mendesak dua orang
wanita itu dan hanya tinggal menanti saatnya saja kami
dapat menangkap dan merobohkan mereka. Akan tetapi
muncul seorang pemuda yang membantu mereka.
Pemuda itu yang menghadapi Hak-sicu sedangkan dua
orang wanita itu mengamuk dan melawan kami lima
belas orang pengawal. Tanpa bantuan Hak-sicu, kami
kewalahan dan delapan orang dari kami tewas oleh dua
orang wanita itu. Kemudian kami melihat Hak Bu Cu
terlempar dan jatuh dekat wanita yang lebih tua itu dan
wanita itu lalu membunuhnya. Kami tujuh orang lalu
melarikan diri."
"Hemm, siàðà pemuda itu?"
"Kami semua tidak mengenalnya, tai-jin. Dia melawan
Hak-sicu menggunakan sebatang ranting."
"Sebatang ranting? Melawan Hak Bu Cu yang
bersenjata golok?" seru Kui To Cin-jin sambil mengelus
jenggotnya.
"Benar, to-tiang. Pemuda itu lihai sekali dan
gerakannya begitu cepat hingga nampak bayangannya
saja."
"Seperti àðà macamnya pemuda itu ? Apa engkau
akan dapat mengenalnya kalau bertemu dengan dia?"
tanya Jin Kui .
"Kami bertujuh tidak dapat melihatnya dengan jelas,
tai-jin. Selain sibuk diamuk oleh dua orang wanita itu,
juga gerakan pemuda itu begitu cepat sehingga yang
nampak hanya bayangannya saja."
"Bodoh ! Sialan. Sudah, engkau boleh pergi!" Bentak
Jin Kui Sambil menggebrak meja.
Pengawal itu dengan lega hati cepat-cepat
meninggalkan tempat itu setelah memberi hormat. Dia
merasa beruntung sekali hanya dibentak, tidak dihukum.
Setelah pengawal itu pergi lima orang itu melanjutkan
perundingan mereka.
"Sekarang, bagaimana baiknya? Yang terutama sekali
dihadapi adalah Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin.
Bagaimana untuk menerangkan kepadanya bahwa
pembantunya itu tewas di sini?"
Semua orang berdiam, memikir dan mencari jalan
keluarnya.
"Tidak ada jalan lain," akhirnya Kui To Cin-jin
mengemukakan pendapatnya, "kecuali menerangkan
duduknya perkara yang sebenarnya, yaitu bahwa Haksicu
tewas oleh pemberontak yang lihai. Tinggal mencari
jalan untuk menghibur hatinya dan membuatnya
berkurang kemarahannya."
"Bagaimana kalau mengirim barang berharga untuk
mendingtnkan hatinya?" usul Panglima Ma Kiu It,
"Hmmm, kurasa itu tidak akan cukup. Selain Panglima
Wu Chu sendiri kaya raya, juga Hak Bu Cu adalah
pembantu utamanya yang amat disayang. Harus ada
cara lain untuk menyenangkan hatinya," kata Perdana
Menteri itu.
"Ahh, aku tahu caranya!" Tlba-tiba Jin Kiat berseru
dengan girang."Ayah ingat ketika dia pernah berkunjung
ke sini sebagai utusan Raja Kin? Ayah mewakili kaisar
menjamunya di Istana dan aku yang duduk di
sebelahnya melihat bahwa dia terpesona sekali ketika
melihat tarian puteri Sung Hiang Bwee. Matanya melotot
sampai akan keluar dari rongganya dan berulang kali dia
menelan ludah dan bertanya kepadaku ten- tang puteri
itu. Ketika aku member!tahu bahwa Sung Hiang Bwee itu
puteri kaisar dari seorang selir, dia nampak kecewa dan
menyesal sekali, berulang kali mengatakan sayang. Aku
tahu benar bahwa dia tergila-gila kepada puteri itu!"
"Kalau sudah begitu, mengapa?" Ayahnya mendesak.
"Kalau kita dapat menyerahkan Hiang Bwee kepada
Panglima Wu Chu tentu kemarahannya akan hilang.
Baginya tentu Hiang Bwee cukup berharga untuk
menggantikan nyawa Hak Bu Cu," kata Jin Kiat dengan
cerdik.
"Hemm, àðà engkau sudah gila? la puteri kaisar!
Bagaimana mungkin menyerahkannya kepada Panglima
Wu Chu?"
"Hanya puteri selir, ayah. Kalau kita dapat
menculiknya tanpa ada yang tahu dan mengirimnya ke
utara, tentu tidak akan ada yang mengetahui dan kaisar
sama sekali tidak akan menyangka kita yang melakukan
hal itu."
Jin Kui mengelus jenggotnya, matanya yang sipit
nampak seperti terpejam dan dia mulai menganggukangguk,
senyum di bibirnya semakin mengejek.
"Hemm, benar juga, akal itu boleh dikerjakan. Akan
tetapi yang mengerjakan haruslah seorang ahli, tidak
boleh sama Sekali sampai ketahuan orang,"
Dia mengelus jenggotnya dan memandang kepada
empat orang itu dengan matanya yang sipit,
"Lalu siapa kira-kira yang dapat melakukan penculikan
itu tanpa diketahui orang?"
"Ayah, siapa lagi yang lebih tepat untuk melakukannya
kecuali Panglima Ciang Sun Hok? Dia adalah bekas
jagoan istana yang sudah hafal benar akan keadaan di
istana. Kalau dia yang melakukannya, aku tanggung
akan berhasil dengan baik."
Ciang Sun Hok nampak agak gelisah ketika
mendengar ucapan pemuda itu,akan tetapi tentu saja dia
tidak berani membantah karena memang ia dahulunya
merupakan jagoan istana dan dimasukkan ke sana juga
atas bantuan Perdana Menteri yang kemudian
menariknya menjadi pengawal pribadinya sendiri.
"Bagus, apakah engkau sanggup melakukannya,
Ciang Sun Hok?" tanya Jin Kui kepada pengawal
pribadinya itu.
"Semua perintah tai-jin akan saya taati. Akan tetapi
yang menjadi persoalan bukanlah menculik puteri itu. Hal
itu memang mudah saja dilakukan. Akan tetapi
persoalannya adalah, bagaimana membawanya keluar
dari kota raja tanpa diketahui orang?"
"Itu mudah diatur," kata Perdana Menteri Jin Kui.
"Setelah berhasil menculiknya keluar istana,
sembunyikan dalam rumah penginapan An-Iok.
Kemudian, pada keesokan paginya aku akan mengirim
para selir pergi keluar kota mengunjungi kuiI itu dan
kesempatan itu kau pergunakan untuk menyelundupkan
puteri itu ke dalam kereta sehingga ia dapat dibawa
keluar kota raja tanpa banyak kesulitan."
"Bagus, itu bagus sekali, ayah! Setelah tiba di luar
kota, biar aku sendiri yang memimpin pasukan untuk me
ngantarnya dengan kereta ke utara."
"Jangan engkau, Jin Kiat. Kalau sampai ketahuan
bahwa kita yang mengatur penculikan, kaisar tentu tidak
a- kan mengampuni kita. Biar Ciang Sun Hok saja yang
melakukan tugas Itu."
"Baik, tai-Jln. Akan saya laksanakan semua perintah
tai-jin."
Perundingan untuk mengatur siasat dilanjutkan
sampai jauh malam dan akhirnya mereka bubaran,
masing-masing mempersiapkan diri untuk rencana itu.
0oo-dw-oo0
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil