Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Senin, 04 Juni 2018

Cersil Laris Pedang Sinar Emas 4

========

Sesosok bayangan hitam yang gesit sekali nampak
berlompat lompatan di atas wuwungan gedung gedung dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bangunan istana yang megah. Bayangan ini bukan lain
adalah Bun Sam yang bermaksud mengembalikan pedang
Pek lek kiam sebagaimana yang dipesan oleh mendiang Bu
tek Kiam ong.
Dengan kepandaian ginkangnya yang sudah mencapai
tingkat tinggi sekali, Bun Sam dapat melewati penjaga
penjaga dan pengawal pengawal disekitar istana yang
mewah dan kini pemuda ini menjadi kagum dan bingung.
Ia merasa kagum karena bangunan bangunan istana itu
benar benar luar biasa indahnya, semua terukir dan semua
mengandung hasil seni yang bermutu tinggi. Bahkan
wuwungan rumah saja sampai diukir dan dihias dengan tata
warna yang demikian indahnya. Benar benar pemuda itu
merasa heran dan kagum sekali. Akan tetapi ia merasa
bingung karena ke manakah ia harus mengembalikan
pedang Pek lek kiam itu? Ia tidak tahu di mana adanya
gudang pusaka kerajaan dan tidak tahu pula bagaimana ia
dapat menghadap atau menemui kaisar untuk
mengembalikan pedang itu.
Lampu lampu penerangan di kelompok gedung istana itu
sangat banyak, sehingga keadaan menjadi terang seperti
siang. Ketika Bun Sam menuju ke bagian barat dan sedang
berdiri di wuwungan sambil memandang ke bawah, tiba
tiba ia mendengar suara seorang wanita sedang marah
marah. Karena ingin tahu apa yang terjadi dan siapa yang
bicara, Bun Sam lalu melompat ke arah suara itu dan
ternyata suara itu datang dari sebuah taman bunga yang
tidak berapa besar, akan tetapi amat indah. Pohon pohon
yang liu dan pohon pohon kembang yang tertanam di situ
semua terpelihara baik baik tak nampak sehelaipun daun
kering menempel di pohon, agaknya setiap hari dibersihkan
orang, juga cara menanamnya, teratur. Di tengah tengah
taman itu terdapat sebuah panggung tinggi yang dicat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merah dan di sekeliling panggung terdapat lampu teng yang
amat mungil. Di sebelah kanan panggung, yakni di bawah,
terdapat empang teratai yang berair jernih. Daun daun
teratai yang lebar itu nampak terapung di permukaan air,
dihias oleh kembang teratai berwarna merah dan putih.
Ikan ikan emas berenang ke sana ke mari di kanan kiri
kembang kembang teratai kadang kadang kepalanya
muncul di permukaan air menimbulkan suara gemercik
atau secara main main melompat ke permukaan air,
sehingga untuk sekilas nampak perut ikan yang putih bagai
perak.
Panggung itu lebar dan berbentuk bundar. Lantainya
bersih mengkilat, akan tetapi tetap saja di tilami permadani
dari Negeri Barat yang indah dan tebal. Bun Sam melihat
tujuh orang wanita muda muda dan cantik cantik duduk
berkeliling di pinggir panggung, sedangkan di tengah tengah
panggung nampak seorang gadis yang luar biasa cantiknya
tengah bicara marah marah kepada seorang laki laki muda
yang juga amat tampan dan berpakaian amat mewah.
“Mengapa kau begitu pengecut?” gadis cantik itu berkata
dengan alis berdiri, tangan kiri bertolak pinggang,
sedangkan tangan kanannya dengan telunjuknya yang
runcing itu menuding ke arah hidung pemuda tampan tadi.
“Kaulihat saja, aku besok akan pulang ke utara dan
memberi tahu kepada ayah. Betapapun juga, pernikahan
harui dilakukan di utara, bukan di sini.” Setelah berkata
demikian, dengan sikap manja gadis itu membanting
banting kaki kanannya.
Pemuda itu tertawa, lalu berkata merayu, “Kalau kau
marah marah kau makin cantik saja. Lihat matamu menjadi
seperti warna Telaga Sihu! Kebiru biruan, ah, alangkah
indahnya.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Gadis itu nampak girang mendapat pujian ini, “Laki laki
pembujuk. Kau kira dengan rayuanmu ini aku akan
menyerah saja? Tidak, kalau kau begitu pengecut untuk
memberitahukan ayahmu bahwa aku menghendaki upacara
pernikahan di utara aku tidak mau menikah dengan kau!”
“Ah, sudahlah. Aku bersumpah untuk memberitahukan
ayah besok. Kau jangan marah marah, manis.” Setelah
berkata demikian, dengan mesra pemuda itu mengelus pipi
gadis itu yang kini benar benar telah mereda marahnya.
“Betapapun juga, besok aku akan pulang dulu untuk
mempersiapkan segala peralatan pernikahan,” katanya.
Tujuh orang wanita muda yang duduk bersimpuh di
panggung itu, saling lirik dengan tersenyum senyum, tetapi
dua orang muda yang berdiri itu tidak memperdulikan
mereka, sambil berpegangan tangan mereka saling
memandang dengan mata mencintai.
Merahlah wajah Bun Sam yang mengintai. Ia disuguhi
adegan yang membuat hatinya perih dan pikirannya
melayang layang, teringat kepada Sian Hwa. Ia merasa
malu sendiri mengapa ia mengintai adegan seperti itu.
Dengan gugup ia hendak pergi dari situ. Karena pikirannya
melayang terkenang kepada Sian Hwa, ia berlaku kurang
hati hati dan tanpa disengaja ia tertendang ujung
wuwungan panggung itu, sehingga pecah dan
mengeluarkan bunyi nyaring.
Terkejutlah semua orang di atas panggung itu. Sikap
gadis dan pemuda itu berobah dan kini mereka nampak
tangkas sekali. Dengan gerakan yang cepat, gadis itu
melompat ke pinggir dan tahu tahu ia telah menghunus
pedang yang tadi dipegang oleh seorang di antara tujuh
pelayannya. Adapun pemuda itupun kini telah mencabut
sepasang siang kiam (sepasang pedang).
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Orang yang di atas genteng, turunlah! Kalau tidak,
sekali berteriak saja tempat ini akan terkepung oleh semua
penjaga dan kau akan dipenggal lehermu. Dihadapan kami
mungkin kau akan mendapat ampun!” gadis itu berseru
keras dan kini suaranya yang tadi terdengar merdu sekali itu
berobah menjadi nyaring dan keras.
Mendengar ini, Bun Sam berpikir. Ia tentu saja tidak
takut akan ancaman itu, tetapi mengapa harus
menimbulkan ribut ribut? Ia datang tanpa maksud buruk,
hanya untuk mengembalikan pedang dan mendengar
percakapan tadi, dua orang muda di bawah itu bukanlah
orang sembarangan. Siapa tahu dengan perantaraan
mereka, ia dapat mengembalikan pedang kepada tangan
yang berhak. Ia menjaga jangan sampai pedang itu terjatuh
ke dalam tangan jahat.
Tanpa ragu ragu lagi, ia lalu melayang turun dan
merupakan bayangan yang ringan dan lincah sekali. Tahu
tahu semua orang yang berada di panggung itu melihat
seorang pemuda berpakaian sederhana telah berdiri di
hadapan gadis dan pemuda tadi.
Bun Sam melihat pemuda itu sebaya dengan dia,
berwajah agung dan tampan sekali, juga pakaiannya
mewah, gadis itu memandang kepadanya, dengan heran
dan kagum Bun Sam melihat sepasang mata yang kebiru
biruan! Ia merasa heran dan kagum karena memang mata
itu berbeda sekali dengan mata orang biasa, tentu saja ia
lebih suka akan mata Sian Hwa yang hitam mulus dan
bening! Ia lalu menjura dengan hormat, lalu berkata,
“Maaf kalau aku mengganggu. Aku datang bukan
dengan maksud buruk.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Berlutut!” tiba tiba seorang di antara para wanita
pelayan tadi membentaknya. “Berani kau berlaku tidak
sopan di hadapanOng ya?”
Bun Sam terkejut. Sebutan Ong ya ini membuat ia
teringat bahwa kaisar mempunyai seorang putera dari selir
yang bernama Kian Tiong yang sebutannya juga Ong ya.
Jadi pangerankah pemuda ini? Akan tetapi, dia tidak mau
berlutut, jangankan di depan seorang pangeran Kaisar
Mongol, biarpun pangeran bangsanya sendiri pun belum
tentu ia mau berlutut dalam keadaan seperti sekarang!
Tiba tiba pelayan wanita itu yang tadinya bersimpuh,
mencelat tubuhnya dan menyerang ke arah dua kaki Bun
Sam. Itulah serangan Bi jin hwa (Gadis Cantik Mencari
Bunga), sebuah jurus serangan dari Ilmu Silat Bi jin kun
yang lihai. Akan tetapi biarpun serangan ini mengejutkan
hati Bun Sam karena tidak disangka sangkanya seorang
gadis pelayan dapat memiliki kepandaian setinggi itu,
namun terhadap pemuda ini tidak ada artinya sama sekali.
Gadis itu berhasil memegang kedua kaki pemuda itu yang
hendak ditariknya supaya Bun Sam jatuh berlutut, akan
tetapi biarpun ia mengerahkan tenaganya, tak juga kaki itu
dapat ditarik. Pelayan itu masih terus membetot dan
menarik sampai napasnya krenggosan, akan tetapi sia sia
saja. Bun Sam hanya menundukkan muka memandangnya
sambil tersenyum. Ketika pelayan itu berdongak dan
melihat wajah tampan itu tersenyum kepadanya, lemaslah
hatinya dan makin hilang tenaganya. Dengan muka merah
saking malu dan jengah, ia lalu mundur lagi dan duduk
seperti tadi.
Kian Tiong tertawa terbahak bahak, lalu menghampiri
Bun Sam.
“Siapakah kau, orang gagah? Dan keperluan apakah
yang membawamu datang ke tempat ini? Tahukah kau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bahwa baik atau buruk maksud kedatanganmu ini, kau
tetap saja sudah melakukan pelanggaran! Tempat ini adalah
tempat terlarang.”
Bun Sam memandang tajam, lalu bertanya, “Benarkah
aku berhadapan dengan Pangeran Kian Tiong?”
Pemuda itu mengangguk. Sepasang pedangnya masih di
tangan, karena ia masih curiga dan takut kalau kalau
mendapat serangan mendadak. “Memang benar dan nona
ini adalah tunanganku, puteri dari Raja Suku Bangsa Semu.
Kaulihat, kau berhadapan dengan putera puteri raja besar,
mengapa kau tidak memberi hormat selayaknya?”
Pertanyaan ini lebih bersifat perasaan heran dari pada
teguran.
Bun Sam kembali menjura. “Maafjkan aku, Ong ya. Aku
tidak biasa menghormat sambil berlutut, kecuali kepada
guruku dan kepada mendiang orang tuaku. Kiranya tidak
perlu kuperkenalkan diri cukup kalau kuberitahukan
maksud kedatanganku. Aku datang hendak mengembalikan
ini!” Ia melolos pedang Pek lek kiam dari sarangnya dan
pangeran itu terkejut sekali sampai ia melompat mundur
dan wajahnya berobat pucat.
“Pek lek kiam! Jadi kau pencurinya??”
“Bukan, Ong ya, bukan aku pencurinya. Aku yang
merampasnya dari tangan pencuri itu, seorang kakek tua
gila yang kini sudah meninggal dunia.”
Nampak pangeran itu menjadi lega, lalu ia menerima
pedang itu dan memeriksanya. Setelah mendapat kenyataan
bahwa benar benar itu adalah pedang Pek lek kiam, ia
berkata, “Sahabat yang gagah, siapakah kau?”
“Namaku Song Bun Sam, seorang perantau biasa saja.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bagus, sekarang aku teringat. Bukankah kau murid dari
Kim Kong Taisu yang beberapa tahun yang lalu pernah
menimbulkan keributan di kota raja?” Pangeran ini
memandang tajam.
Bun Sam tersenyum. “Jadi Ong ya sudah pula
mendengar obrolan Panglima Bucuci? Memang, aku pernah
ribut ribut dengan panglima itu, bahkan kemarin dulu pun
aku bentrok dengan dia dan kawan kawannya. Akan tetapi,
hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan soal
mengembalikan pedang ini.”
Pangeran Kian Tiong mengangguk angguk. “Song Bun
Sam, kau benar benar tabah sekali, aku terpaksa harus
mengakui dan memuji keberanian mu. Tetapi kau terlalu
lancang. Betapapun juga, aku paling suka akan kegagahan,
maka aku maafkan kelantanganmu ini. Besok datanglah ke
istana, aku akan mintakan hadiah untukmu kepada kaisar.”
Bun Sam menggelengkan kepalanya. “Ong ya, orang
seperti aku yang tidak membutuhkan sesuatu, hadiah dari
kaisar untuk apakah? Tidak, aku tidak mengharapkan
hadiah karena sesungguhnya peristiwa pencurian pedang ini
telah mendatangkan keuntungan besar sekali kepadaku.
Nah, selamat tinggal Ong ya dan kau juga, nona!” Ia
menjura, akan tetapi sebelum ia melompat pergi, terdengar
nona itu berkata,
“Tahan dulu!” Suaranya amat berpengaruh seperti suara
seorang yang sudah biasa memberi perintah. Bun Sam
menahan gerakan kakinya dan memandang.
Nona itu menggerakkan pedang yang dipegangnya tadi
yang ternyata adalah sebatang pedang yang bentuknya agak
aneh, karena pedang itu di bagian tengah tengah melebar,
sehingga bagian tengah itu lebih lebar daripada bagian
gagang atau ujungnya. Cahayanya kebiruan seperti warna
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
matanya dan ketika gadis itu menggerak gerakkannya,
bersiutanlah angin yang dingin. Diam diam Bun Sam
memuji gadis ini yang biarpun nampak demikian lemah
lembut dan cantik jelita, ternyata memiliki tenaga dalam
yang lihai juga.
“Luilee, jangan kau main main, dia adalah murid Kim
Kong Taisu yang lihai!” Pangeran Kian Tiong agaknya
sudah dapat menerka maksud hati tunangannya itu. Akan
tetapi Luilee, gadis cantik itu, hanya tersenyum kepada
tunangannya dan kemudian ia melangkah maju
menghadapi Bun Sam sambil memandang dengan matanya
yang berwarna biru itu. Setelah nona itu mendekat, diam
diam Bun Sam harus mengakui bahwa biarpun warna mata
itu aneh, akan tetapi kalau dipandang pandang toh memiliki
keindahan tersendiri. Sinar mata itu demikian lembut dan ia
percaya bahwa mata ini dapat memandang dengan
mesranya, sehingga tidak aneh kalau pangeran itu telah
jatuh betul betul di bawah kaki gadis cantik ini.
“Song Bun Sam, ketahuilah bahwa aku semenjak kecil
amat suka akan ilmu silat pedang dan telah mempelajari
ilmu pedang keturunan dari ayahku. Sekarang mendengar
bahwa kau adalah murid dari Kim Kong Taisu yang lihai,
sebelum kau pergi harap kau suka memberi sedikit petunjuk
agar ilmu pedangku bertambah baik.” Ia memandang
kepada Kian Tiong dan berkata halus, “Beri pinjam Pek lek
kiam itu kepadanya!”
Akan tetapi sebelum Kian Tiong memberikan pedang
itu, Bun Sam sudah mengeluarkan Kim kong kiam yang
bercahaya keemasan. Pemuda ini merasa gembira dan
berkata,
“Tentu saja aku bersedia untuk melayani kehendak
siocia. Pedangku ini adalah Kim kong kiam, pemberian
suhu Kim Kong Taisu. Akupun sering kali mendengar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bahwa ilmu pedang dari keluarga Raja Semu adalah tinggi
sekali, maka harap siocia tidak berlaku sungkan dan
merendah.”
Panggung itu memang luas dan cukup lebar untuk
dipakai pibu, Luilee, puteri Semu yang cantik. Setelah
tersenyum manis kepada tunangannya, lalu berseru nyaring
dan tiba tiba pedangnya berkelebat merupakan segulung
sinar kebiruan, menyambar ke arah dada Bun Sam dengan
sebuah tusukan yang dilakukan dengan gaya indah sekali.
Pemuda ini menangkis dengan Kim kong kiam dan sengaja
ia tidak menggunakan tenaga. Dalam benturan pedang ini,
ia mendapat kenyataan bahwa pedang biru di tangan nona
itu adalah sebatang pedang mustika yang baik sekali dan
sekaligus ia pun tahu bahwa lweekang dari nona Bangsa
Semu ini tingkatnya masih kalah oleh Sian Hwa apalagi
kalau dibandingkan dengan Lan Giok, masih kalah jauh.
Akan tetapi setelah Luilee menyerangnya lagi dengan
tusukan dan bacokan bertubi tubi yang cepat sekali
datangnya, pemuda ini tahu bahwa ilmu pedang dari nona
ini mengandalkan kegesitan dan ternyata dalam hal
ginkang, agaknya nona ini tidak kalah oleh Sian Hwa. Ia
melayani dengan sengaja mengalah dan tidak membalas,
sehingga pertempuran ini nampaknya ramai sekali.
Berkali kali Pangeran Kian Tiong memuji, pangeran ini
kepandaiannya sudah lebih tinggi dari tunangannya maka
tentu saja ia tahu bahwa Bun Sam selalu mengalah.
Betapapun juga, pemuda bangsawan ini amat kagum
melihat gerakan tubuh tunangannya yang memang bersilat
dengan gaya yang amat indah, seakan akan sedang menari
nari.
Biarpun memiliki ilmu pedang yang cukup lihai, namun
sebagai seorang puteri yang manja, Luilee tak pernah
berlatih diri sampai lama, sehingga ia tidak memiliki napas
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
panjang dan keuletan, maka baru menyerang tigapuluh
jurus saja, peluhnya telah membasahi tubuhnya!
Bun San tahu akan hal ini dan ia merasa kasihan.
Dengan gerakan cepat sekali ia lalu memutar pedangnya.
Putaran ini mengandung tenaga cam (melibat), maka
seketika itu juga pedang biru di tangan Luilee ikut terputar
tanpa dapat dicegah lagi. Ketika Bun Sam berseru perlahan,
tahu tahu pedang biru itu terlepas dari pegangan Luilee dan
meluncur lurus ke atas, lalu menancap pada langit langit
panggung yang terbuat dari papan. Pedang itu menancap
keras dan gagangnya bergoyang goyang sambil
mengeluarkan suara mengaung!
Bukan main kagumnya Luilee menyaksikan ini.
Mulutnya yang manis dan kemerahan itu berseru, “Bagus
sekali! Hebat ilmu pedangmu, Song Bun Sam !”
“Kiam hoatmu indah sekali gayanya, siocia.” Bun Sam
balas memuji.
Pada saat itu Pangeran Kian Tiong memasukkan
tangannya ke dalam saku bajunya, menariknya keluar lagi
dan seperti menggenggam sesuatu. Kemudian ia
menggerakkan tangannya memukul ke arah pedang biru
yang menancap di langit langit panggung itu. Nampak sinar
merah keluar dari tangannya itu, melibat gagang pedang
dan sekali tarik saja pedang itu telah tercabut dan jatuh ke
bawah, disambut dengan tangkasnya oleh pangeran muda
itu !
Bun Sam memuji. Ia tahu bahwa sinar merah tadi adalah
sehelai tali sutera atau ang kin (sabuk merah) yang dapat
dipergunakan sebagai senjata mengandalkan tenaga
lweekang.
Pangeran itu berkata kepada Bun Sam, “Biarpun kau
tidak memperlihatkan kepandaianmu yang sesungguhnya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dan berlaku mengalah, akan tetapi aku dapat melihat bahwa
kepandaian ilmu pedang dari Song taihiap benar benar
mengagumkan sekali. Agaknya kalau dibandingkan dengan
kepandaian murid murid Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo
mo, akan ramai sekali. Alangkah senangku kalau aku dapat
menyaksikan pertandingan antara kau dan mereka, pasti
ramai luar biasa!”
“Aku dulu sering mendengar dongeng dari inang
pengasuhku ketika aku masih kecil bahwa di Tiong goan
terdapat banyak kiam hiap (pendekar pedang) yang
memiliki pedang terbang. Ternyata sekarang bahwa semua
itu adalah bohong semata. Memang seperti Song taihiap ini
ilmu pedangnya hebat, akan tetapi toh tidak mungkin dia
bisa membikin pedangnya terbang bersama dirinya seperti
yang sering kali didongengkan oleh inang pengasuh ku
dulu,” kata Luilee.
“Terbang? Manusia tidak mempunyai sayap seperti
burung, bagaimana bisa terbang? Apalagi pedang!” kata
Pangeran Kian Tiong sambil tersenyum.
“Aku mendengar bawa katanya ada kiamhiap kiamhiap
yang dapat membikin tubuhnya bersatu dengan pedang
yang terbang sehingga dalam sekejap mata saja dapat
mencukur sebatang pohon, sehingga rata daun daunnya.
Tak tahunya semua itu hanya obrolan kosong belaka.”
Terbangun semangat Bun Sam mendengar ini Dia adalah
seorang Han dan kini mendengar betapa pendekar pendekar
pedang Bangsa Han diejek oleh dua orang asing, yakni
seorang puteri Semu dan seorang putera Mongol. Ia suka
kepada dua orang muda bangsawan ini yang berbeda
dengan bangsawan bangsawan lain sikapnya, tetapi ia
hendak memperlihatkan bahwa orang orang Han tidak
boleh dipandang rendah begitu saja. Maka ia lalu menjura
dan berkata, “Biarpun tidak mungkin bagi seorang manusia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
atau sebatang pedang yang tidak bersayap untuk terbang
seperti burung, tetapi kalau ji wi (tuan berdua)
menghendaki agar pohon di dalam taman sini dibabat daun
daunnya, kiranya aku masih sanggup melakukannya!”
Luilee memandang dengan matanya yang biru terbelalak
lebar membuatnya nampak makin cantik. “Benarkah?
Bagus! Song Bun Sam, coba menolongku. Kaulihat pohon
cemara yang gemuk dan daunnya penuh itu? Kaubabatlah
sampai rata dan bikin dalam bentuk apa saja, asal rata dan
rapi.”
Bun Sam memandang Le arah pohon cemara itu. Itu
adalah semacam pohon cemara yang tinggi dan besar,
daunnya banyak sekali menjulang ke sana ke mari. Bukan
pekerjaan mudah untuk membabat ujung ujung daun yang
tidak rata itu, tetapi Bun Sam dengan tenang lalu berjalan
ke bawah pohon, diikuti oleh sepasang orang muda
bangsawan itu.
“Maafkan aku memperlihatkan kebodohanku. Bun Sam
menjura dan sebelum kedua orang muda itu sempat
menjawab, tubuhnya telah berkelebat ke atas dengan
pedang Kim kong kiam di tangannya.
Sekejap kemudian, baik Kian Tiong maupun Luilee
berdiri bengong seperti patung. Selama hidupnya belum
pernah mereka menyaksikan pemandangan seperti yang
sekarang mereka hadapi.Mereka melihat sinar kuning emas
berkelebatan ke sana ke mari di atas pohon dan sambil
mengelirkan suara berisik, daun daun berhamburan jauh
melayang ke bawah, juga daun daun kecil. Tidak kelihatan
bayangan Bun Sam. yang nampak hanya sinar kuning emas
itu berkilauan di dalam gelap malam. Di mana saja sinar itu
tiba, dahan dahan kecil dan daun daun pohon itu tentu
berhamburan jatuh.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hebat....” Luilee berkata menahan napas.
“Betul betul lihai sekali....” bisik Pangeran Kian Tiong.
Sampai lama Bun Sam bekerja, makin cepat tubuhnya
bergerak, makin hebat pula sinar pedang itu berkilauan dan
makin banyak dahan dan daun daun yang jatuh. Pemuda
ini tidak mau bekerja kepalang tanggung. Maka dengan
mata terbelalak, Luilee dan Kian Tinng melihat betapa
pohon itu dibabat demikian rupa, sehingga kini berbentuk
tubuh seorang manusia, lengkap dengan kepala, pundak
dan pinggangnya.
“Ya, Buddha Yang Mulia! Itulah engkau, Luilee, ....!”
Pangeran itu berkata sambil memegang tangan
tunangannya.
“Benar,” kata Luilee dengan dada berdebar debar, “aku
takkan percaya kalau tidak menyaksikan dengan kedua
mataku sendiri.”
Tak lama kemudian, Bun Sam melompat turun dan telah
berdiri di depan sepasang orang muda bangsawan itu sambil
tersenyum. Pedang Kim kung kiam telah disimpannya
kembali.
“Kiam hoatmu hebat sekali, Song taihiap!” kata Kian
Tiong dengan kagum sedangkan Luilee memandang kepada
Bun Sam dengan mata penuh pujian. “Aku menarik
kembali omonganku tadi, tidak ingin melihat kau
bertanding melawan murid murid Pat jiu Giam ong dan
Lam hai Lo mo, akan tetapi tentu akan hebat sekali kalau
kau beradu pedang dengan dua orang tua itu.”
“Kau telah menggembirakan hati kami dan kau berjasa
mengembalikan pedang. Katakan saja, Song taihiap, apa
yang kauinginkan? Kami akan membantumu sedapat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mungkin, bukankah begitu, pangeranku yang baik?” Luilee
berkata dengan senyumnya yang manis.
Kemudian Bun Sam menjura kepada kedua orang muda
bangsawan itu.
“Aku hanya mempunyai dua macam permintaan, harap
ji wi sudi menolongku, ini pun kalau kiranya ji wi sedia.”
“Katakanlah, katakanlah! Apa permintaanmu itu?” tanya
Luilee dan pandangan matanya yang indah itu bersinar
sinar, membuat Pangeran Kian Tiong mengerut keningnya
dengan hati cemburu, kemudian ia menyentuh lengan
puteri cantik itu. Luilee melengak dan melihat pandangan
mata tunangannya, ia tersenyum dan mengerling tajam
dengan mulut cemberut, seakan akan ia hendak
menyatakan tak senangnya melihat kekasihnya cemburu.
Melihat ini, pangeran itu tersenyum lagi dan menghadapi
Bun Sam,
“Orang gagah, kau katakanlah, apa dua macam
permintaan itu?”
“Pertama tama, mengharap kebijaksanaan ji wi untuk
menggunakan kekuasaan dan pengaruh agar segala macam
tindasan dan kekejaman yang dilakukan kepada rakyat
terutama Bangsa Han, dapat dihentikan.”
Kian Tiong dan Luilee saling memandang.
“Song Bun Sam, permintaanmu yang pertama ini
memang pantas tetapi aku sangsi apakah kami akan dapat
memenuhinya. Kau tentu maklum sendiri bahwa bukan
pemerintah kami yang sebetulnya bersifat ganas terhadap
bangsamu, melainkan orang orang yang melaksanakan
tugas pekerjaannya, orang orang yang menamakan diri
sendiri pembesar, akan tetapi jiwanya tidak besar, orang
orang yang menamakan dirinya pemimpin tetapi sebetulnya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hanya uang yang mereka pimpin, memasuki kantungnya
sendiri. Bagaimana aku dapat menghentikan perbuatan
perbuatan jahat dari demikian banyak orang? Akan sama
sukarnya dengan menghentikan aliran Sungai Hoang ho!”
Bun Sam menarik napas panjang. Ia dapat mengerti kata
kata pangeran ini. “Betapapun juga, aku percaya bahwa kau
akan dapat mengurangi penderitaan rakyat, biar dengan
jalan bagaimanapun,” kata pemuda ini.
“Baiklah, Soag Bun Sam, akan kuusahakan sedapat
mungkin.” Jawaban inilah yang membuat Pangeran Kian
Tiong kelak menjadi seorang pangeran yang sering kali
mengadakan perjalanan dalam penyamaran.
“Dan apakah permintaanmu yang ke dua?” tanya Luilee.
Ditanya demikian, tiba tiba Bun Sam menjadi merah
sekali mukanya. Pemuda ini amat mengkhawatirkan
keadaan Sian Hwa, kekasihnya yang melarikan diri. Kalau
saja Sian Hwa sudah berada di sebelahnya, ia tidak akan
takut menghadapi siapapun juga yang akan mengganggu
Sian Hwa. Akan tetapi, gadis kekasihnya itu kini entah
berada di mana, merantau seorang diri dan ia tahu bahwa
Bucuci masih penasaran dan selalu akan melakukan
pengejaran terhadap anak angkatnya itu. Dan di dalam
urusan mencari Sian Hwa, tentu saja ia takkan dapat
menang melawan Bucuci yang mempunyai kaki tangan di
seluruh kota kota dan dusun dusun!
“Permintaanku yang ke dua....” Hingga di situ sukarlah
kata kata keluar dari mulutnya dan wajahnya makin
memerah, akan tetapi Bun Sam dapat menetapkan hatinya
dan berkata dengan lancar, “yakni aku hendak mohon
pertolongan ji wi untuk menggunakan kedudukan dan
pengaruh untuk menekan Panglima Bucuci agar panglima
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
itu tidak akan memaksa puterinya menikah dengan putera
dari Liem goanswe!”
Kalau permintaan pertama tadi mengherankan Lian
Tiong dan Luilee, tetapi permintaan ke dua ini amat
mengejutkan mereka. Permintaan ini bukanlah urusan main
main! Menghadapi Panglima Bucuci masih terhitung soal
mudah, akan tetapi bagaimana kalau menghadapi Liem
goanswe? Kecuali kaisar sendiri, orang di seluruh negeri
takut kepada Liem goanswe!
“Sungguh aneh, sungguh menarik!” seru Luilee. “Song
Ban Sam, mengapa kau minta kepada kami untuk melarang
puteri Panglima Bucuci menikah dengan putera Liem
goanswe?”
“Karena puteri itu tidak suka kepada putera Liem
goanswe, dan sekarang gadis itu telah melarikan diri,
karena tidak sudi dipaksa menikah dengan pemuda itu. Dan
Panglima Bucuci tengah berusaha mencari gadis itu untuk
dipaksa menikah dengan putera Liem goanswe!”
Luilee membelalakkan kedua matanya. “Hebat hebat!
Gadis itu sampai minggat karena tidak mau dikawinkan
dengan putera Liem goanswe?? Aneh, aneh sekali! Putera
Liem goanswe adalah seorang pemuda yang tampan, gagah
dan memiliki kepandaian yang amat tinggi dalam ilmu silat.
Ayahnya seorang pembesar, kaya raya, berpangkat tinggi.
Mengapa gadis itu sampai menolak dan nekad melarikan
diri?”
Sepasang mata kebiruan yang amat tajam itu menentang
muka Bun Sam, penuh perhatian, sehingga pemuda ini
dengan gagap berkata, “Karena.... karena ia tidak suka
kepada pemuda itu. Kukira demikianlah sebabnya!”
“Permintaanmu yang ke dua ini benar benar mustahil,
Song Bun Sam,” kata Pangeran Kian Tiong. “Urusan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pernikahan adalah urusan dalam dari keluarga Bucuci,
bagaimana kami dapat mencampurinya? Memang bisa saja
kami melihat kalau kalau terjadi sesuatu yang tidak beres,
kami dapat menegur. Akan tetapi, kepada siapa saja
Panglima Bucuci mengawinkan puterinya, kami bisa
berbuat apakah? Apa lagi hendak dinikahkan dengan putera
Liem goanswe! Tahukah kau siapa Liem goanswe? Dia
adalah Pat jiu Giam ong yang kepandaiannya tiada taranya
di dunia ini. Siapa yang berani main main dengan kumis
harimau?”
Bun Sam tersenyum. Tentu saja ia kenal siapa adanya
Liem goanswe atau Pat jiu Giam ong, maka ia menarik
napas panjang.
“Sudahlah, akupun tidak memaksa kalau sekiranya ji wi
tidak melihat jalan untuk memenuhi permintaanku yang ke
dua itu, tidak apalah, kutarik kembali. Adanya aku minta
pertolongan ji wi, karena mengingat bahwa gadis itu
bukanlah puteri Bucuci yang aseli, melainkan anak pungut
belaka.” Kemudian ia menjura lagi kepada kedua orang
muda bangsawan itu sambil berkata, “Nah, selamat tinggal
dan terima kasih atas segala kebaikan ji wi yang mulia.”
“Eh nanti dulu, Bun Sam!” Luilee mencegah ia pergi.
“Siapakah namanya gadis itu?”
“Namanya Can Sian Hwa....” ketika menyebutkan nama
ini terbayanglah wajah Sian Hwa, dan Bun Sam menjadi
berduka.
“Song Bun Sam karena aku ingin sekali menolongmu
dan gadis itu, katakanlah terus terang. Apakah
hubunganmu dengan Can Sian Hwa ini?” tanya Luilee
sambil memandang tajam. Sebagai seorang wanita,
perasaannya halus sekali dan menghadapi perkara ini, ia
lebih tersinggung dan terharu daripada Pangeran Kian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tiong. Puteri ini dapat menyelami jiwa Sian Hwa dan ia
maklum bahwa kalau seorang puteri bangsawan sampai
melarikan diri atau membunuh diri dalam sebuah
pernikahan sebab satu satunya hanyalah bahwa puteri itu
tentu lelah memiliki pujaan hatinya sendiri.
Tentu saja Bun Sam menjadi kebingungan ketika
menerima pertanyaan ini. Bagaimana ia harus menjawab ?
“Hubungan kami? Ah.... kebetulan sekali ayahnya
dahulu adalah kawan ayahku.... dan.... dan semenjak kecil
kami sudah saling berkenalan ....” Setelah berkata demikian
ia terbatuk batuk kecil, batuk yang disengaja untuk
menyembunyikan kegugupan dan kelikatannya.
“Song Bun Sam kau tidak berterus terang! Aku ingin
menolong dia akan tetapi hanya karena memandangmu.
Aku ingin mendapat kepastian dan percayalah aku akan
dapat menolongnya,” kata Luilee mendesak.
Bun Sam sudah menjura lagi dan cepat ia melompat ke
atas genteng dan kini hanya terdengar suaranya saja dari
atas genteng, “Biarlah aku mengaku. Hubungan kami
adalah sama dengan hubungan ji wi (tuan berdua).” Lalu
pemuda gagah ini melompat pergi!
Kian Tiong dan Luilee saling pandang. Pangeran itu
tersenyum karena merasa lucu mendengar hal Song Bun
Sam itu, akan tetapi sebaliknya Luilee memandang kepada
tunangannya dengan mata basah. “Eh mengapa kau
menangis?” tanya pangeran ini sambil memegang lengan
kekasihnya.
“Aku.... aku merasa ngeri kalau kalau aku akan
mengalami nasib seperti gadis yang sengsara itu....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kian Tiong tertawa menghibur kekasihnya. “Tak
mungkin, Luilee. Apa kaukira ayahmu berani menolak
pinanganku?”
Luilee menggelengkan kepalanya. “Bukan, bukan
ayahku, melainkan ayahmu. Bagaimana kalau beliau
melarang kau menikah dengan aku? Bukankah itu sama
saja halnya?”
“Jangan khawatir, Luilee. Apapun juga yang terjadi kau
pasti takkan berpisah dariku,” kata Kian Tiong sambil
memeluk puteri itu. Luilee terhibur juga mendengar ucapan
kekasihnya ini dan diam diam ia mengenangkan dengan
amat terharu dan kasihan kepada Can SianHwa.
Dan betul saja beberapa saat kemudian oleh pangeran ini
banyak sekali pembesar pembesar dijatuhi hukuman karena
melakukan perbuatan perbuatan jahat. Pangeran ini tadinya
hanya ingin memenuhi janjinya kepada Bun Sam, tetapi
setelah ia melakukan perjalanan di sekitar daerah
kekuasaannya, ia banyak sekali melihat keburukan dan
kejahatan yang terjadi di mana mana lalu ia menjadikan
perjalanan rahasianya ini sebagai kebiasaan dan tugasnya.
Bun Sam yang berlompatan ke atas genteng istana
hendak keluar dari daerah terlarang itu, tiba tiba ia melihat
bayangan orang dari depan. Ia cepat menyelinap ke kiri,
akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat bayangan
lain yang gesit sekali gerakannya datang dari kiri kanan dan
juga dari depan belakang. Ia telah terkurung.
Melihat keadaan ini, Bun Sam menetapkan hatinya. Ia
maklum bahwa telah semenjak tadi ia dijaga dan dikurung,
maka tiada gunanya mencoba untuk melarikan diri. Ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bahkan ingin tahu siapakah orangnya yang mengurung
dirinya itu. Karena ia tidak mau terkurung di tempat yang
sempit, ia lalu melompat kembali ke dalam taman dan
berdiri di tempat terbuka, di mana diterangi oleh banyak
lampu teng.
Bayangan delapan orang berkelebat dan tahu tahu Pat jiu
Giam ong bersama tujuh Koai kauw jit him telah berada di
depan Bun Sam. Ternyata bahwa pengaruh perkumpulan
Hiat jiu pai telah meluas sampai ke dalam istana dan salah
seorang di antara para pelayan wanita yang melayani Luilee
tadipun juga anggauta Hiat jiu pai. Ketika mendengar
bahwa pemuda gagah ini datang untuk mengembalikan
pedang Pek lek kiam, diam diam pelayan ini lalu
melepaskan panah api ke atas untuk memberitahukan
kepada Pat jiu Giam ong yang segera datang bersama Koai
kauw jit him.
Tadinya Pat jiu Giam ong mengira tentu terjadi sesuatu
yang hebat di dalam istana itu. Akan tatapi, ketika ia
melihat bahwa yang datang di istana hanya Bun Sam,
pemuda murid Kim Kong Taisu, jenderal ini tertawa
mengejek, “Ha, ha, tidak tahunya kau lagi yang datang
mengacau. Kau ini orang muda adatmu sungguh jauh
berbeda dengan suhumu. Kim Kong Taisu seorang yang
selalu bertapa di gunung, tidak mau mencampuri urusan
dunia, akan tetapi kau ini yang menjadi muridnya ternyata
bandel sekali, beberapa kali datang mengacau di kota raja.
Orang muda, apakah kehendakmu kali ini?”
“Aku hanya datang untuk mengembalikan pedang Pek
lek kiam,” jawab Bun Sam tenang tenang saja.
Pat jiu Giam ong nampak terkejut sekali. “Jangan
bohong! Pencuri Pek lek kiam bukan kau.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam tersenyum dan menjura. “Terima kasih, Pat jiu
Giam ong. Keteranganmu itu benar benar membersihkan
namaku. Memang aku bukan seorang pencuri dan pedang
itu dahulu pun bukan aku yang mencurinya.”
“Hm, tak begitu mudah kau hendak membebaskan diri,
anak muda. Memang aku yakin bahwa bukan kau yang
mencuri pedang, karena orang macan kau mana becus
mencuri pedang dari istana. Akan tetapi karena sekarang
kau yang mengembalikannya tentu kau ada hubungan
dengan pencuri itu! Di mana pedang itu?”
“Sudah saya serahkan kepada Pangeran Kian Tiong.”
“Di mana adanya maling itu? Dan mengapa pedangnya
berada di tanganmu? Ayoh lekas jawab, mungkin aku
masih memandang muka suhumu dan mengampunimu!”
“Pat jiu Giam ong kalau pencuri pedang itu masih hidup,
apa kaukira aku akan dapat mengembalikannya? Pedang
istana dicuri orang, aku kebetulan telah mendapatkannya
dan mengembalikan ke istana, bukankah itu baik sekali?
Ada urusan apa lagi yang harus diributkan?”
Diam diam Pat jiu Giam ong melengak. Apakah pemuda
ini telah dapat merampas pedang itu dan mengalahkan
pencuri pedang? Ah, tak mungkin. Pencuri pedang itu lihai
sekali dia sendiri tidak dapat merampas apa lagi bocah ini.
“Ayoh, katakan di mana pencuri itu. hidup atau mati!
Kalau tidak memberi tahu, berarti kau bersekutu dengan
dia!” Pat jiu Giam ong membentak.
Akan tetapi Bun Sam menggelengkan kepalanya.
“Tempat tinggalnya menjadi rahasia bagiku. Terserah kau
hendak berbuat apa, Pat jiu Giam ong.”
Pat jiu Giam ong Liem Po Coan marah sekali, namun
diam diam ia memuji ketabahan hati pemuda ini. Sikap
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pemuda ini demikian tenang seakan akan tidak menghadapi
kurungan Pat jiu Giam ong dan Koai kauw jit him, atau
seperti orang yang memandang ringan saja.
“Kautangkap binatang cilik ini !” teriaknya sambil
menuding kepada Bun Sam dan menoleh kepada Biauw Ta,
orang tertua dari Koai kauw jit him.
Mendengar perintah ini, bukan Biauw Ta seorang yang
maju, melainkan ketujuh tujuhnya. Hal ini tentu saja
mengherankan hati Pat jiu Giam ong karena tokoh besar ini
tidak tahu bahwa tujuh biruang itu telah kalah oleh Bun
Sam. Memang kalau orang sudah tahu sampai di mana
tingkat kepandaian Koai kauw jit him, akan merasa heran
kalau tujuh tokoh Mongol ini kalah oleh seorang pemuda
seperti Bun Sam.
Biauw Ta tentu saja tidak berani maju sendiri
menghadapi pemuda ini, sedangkan mengeroyok tujuh saja
ia masih gentar. Akan tetapi oleh karena di situ ada Pat jiu
Giam ong, maka ia berseru keras memimpin enam orang
adiknya untuk mengurung Bun Sam.
“Eh, eh, tidak tahunya Koai kauw jit him yang berada di
sini! Apakah kuku kuku cakar kalian sudah tumbuh lagi?”
kata Bun Sam sambil bertolak pinggang dan tersenyum
senyum.
Jilid XIV
BAUW TA dan adik adiknya tidak mau melayani ejekan
ini. “Serbu!” teriak Biauw Ta dan senjata kaitan mereka
bergerak cepat menyerbu tubuh Bun Sam dan berbagai
jurusan. Pat jiu Giam ong mengerutkan kening. Pemuda itu
tentu akan mati, pikirnya. Dan hal ini tidak
dikehendakinya. Mengapa Koai kauw jit him menurunkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tangan kejam dan mengapa pula mereka bertujuh maju
mengeroyok anak muda itu? Saking herannya, Pat jiu Giam
ong tak dapat berkata sesuatu. Akan tetapi keheranannya
ini bertambah berkali lipat ketika tiba tiba ia melihat tubuh
Bun Sam meluncur ke atas dari tengah tengah kepungan itu,
sehingga senjata lawan tidak mengenai sasaran. Ketika
tubuh pemuda itu berada di atas, Bun Sam sudah mencabut
Kim kong kiam dan kini ia turun sambil memutar
pedangnya seperti payung yang lebar sekali.
Karena adanya sinar kuning emas ini mengelilingi
tubuhnya dan bahkan ujung sinar itu menyerang tujuh
orang lawannya, maka Bun Sam dapat turun dengan
mudah dan tujuh orang lawannya yang sudah kenal akan
kelihaian Bun Sam, tidak berani terlalu mendekat.
Pertempuran dilanjutkan dengan hati hati dan pedang di
tangan Bun Sam berkelebat menyambar nyambar, kadang
kadang berobah menjadi lingkaran lingkaran yang berputar
aneh, seperti putaran air yang membuat tujuh orang
pengeroyoknya bahkan terkurung di dalamnya.
Pat jiu Giam ong memandang dengan penuh perhatian.
Semula ia mengira bahwa pemuda ini memperoleh banyak
kemajuan saja, akan tetapi tetelan ia mendapat kenyataan
bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh Bun Sam
bukanlah ilmu pedang dari Kim Kong Taisu, melainkan
ilmu pedang yang sangat aneh gerakannya dan yang selama
hidupnya belum pernah dilihatnya, membuat ia benar benar
melongo.
“Eh, dari manakah bocah ini mendapatkan ilmu pedang
seperti itu? Apakah si tua bangka Kim Kong Taisu diam
diam telah menciptakan semacam ilmu pedang baru? Ini
bebat!” demikian pikir Pat jiu Giam ong.
Melihat betapa sinar pedang yang kuning emas itu makin
lebar dan makin mengurung tujuh tokoh utara itu, Pat jiu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Giam ong tak dapat menahan keinginan hatinya hendak
mencoba sendiri kelihaian ilmu pedang itu.
“Jit wi, kalian mundurlah!” serunya keras. Akan tetapi
terlambat karena terdengar bunyi nyaring dan ketika
dilihatnya, ternyata bahwa semua senjata kaitan di tangan
Koai kauw jit him itu telah terbabat putus menjadi dua.
Kejadian ini adalah yang kedua kalinya yang dialami oleh
Koai kauw jit him, maka dapat dibayangkan betapa marah
dan malu rasa hati mereka. Sambil berseru keras, Biauw Ta
menyambitkan sebatang gagang kaitan yang terputus,
sehingga gagang itu bagaikan anak panah meluncur cepat
ke arah Bun Sam, juga enam orang adiknya meniru
perbuatan Biauw Ta ini dengan gerakan yang sama,
sehingga dalam saat itu juga, tujuh batang gagang kaitan
yang seperti tombak runcing itu meluncur ke arah Bun Sam.
Kembali Pat jiu Giam ong mengerutkan kening karena
mengira bahwa pemuda itu tentu takkan dapat melepaskan
diri. Akan tetapi kerut keningnya itu lenyap seketika setelah
ia melihat cara Bun Sam beraksi. Pemuda ini dengan amat
tenangnya lalu memutar pedangnya dan aneh sekali. Tujuh
batang senjata yang dilemparkan kepadanya itu tertempel
oleh pedang dan ikut berputar putar, kemudian ketika Bun
Sam berseru keras, tujuh batang gagang kaitan itu meluncur
ke atas dan menancap pada cabang pohon.
“Bagus, anak muda. Kepandaianmu boleh juga!” Pat jiu
Giam ong berseru dan tokoh besar ini menggerakkan kedua
lengannya ke arah batang pohon di atas itu. Terdengar
suara “krak!” dan batang pohon di mana terdapat tujuh
gagang kaitan yang menancap itu patah dan tumbang ke
bawah membawa gagang gagang kaitan itu.
Bun Sam tertegun. Alangkah hebatnya lweekang dari
jenderal ini, pikirnya. Kalau ia diharuskan mengadu tenaga
lweekang, biarpun ia telah mendapat kemajuan hebat berkat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pimpinan dan gemblengan Bu tek Kiam ong, namun tetap
saja ia takkan dapat menangkan tenaga lweekang yang
demikian hebatnya, yang sudah terlatih puluhan tahun
lamanya sebelum dia sendiri lahir. Maka ia lalu menjura
kepada Pot jiu Giam ong sambil berkata, “Sudah lama aku
mendengar kehebatan lweekang dari Pat jiu Giam ong, ahli
dari Pat kwa ciang (Ilmu Silat Segi Delapan). Sungguh
hebat!”
Mendengar ini. Pat jiu Giam ong menjadi merah
mukanya saking marahnya. Omongan yang dikeluarkan
oleh pemuda itu adalah omongan orang yang sama
tingkatnya, tidak patut dikeluarkan oleh seorang pemuda
yang masih rendah.
“Orang muda, agaknya kau menyombongkan ilmu
pedangmu. Ingin kusaksikan dan kurasai sendiri sampai
dimana tingginya, maka kau berani berlagak sombong di
depan Pat jiu Giam ong!” Setelah berkata demikian,
jenderal tinggi besar ini lalu menggerakkan tangan
kanannya dan ujung bajunya yang tebal itu manyambar ke
arah Bun Sam cepat sekali. Yang diserang adalah jalan
darah kian ceng hiat di pundak kiri pemuda itu. Sekali
menggerakkan tangan lalu ujung jubah menyerang jalan
darah, dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga dan
kepandaian Raja Maut Tangan Delapan ini !
Bun Sam maklum bahwa tokoh besar ini memandang
rendah padanya, maka diam diam ia menjadi mendongkol
juga. Melihat ujung jubah itu menyambar ke arah
pundaknya, ia tidak mengelak, melainkan mengerahkan
tenaga lweekang ke arah pundak yang tertotok,
menggunakan Ilmu Pi ki hu hiat (Menutup Hawa
Melindungi Jalan Darah), lalu menerima serangan itu
dengan berani !
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Plak!” ujung baju itu ketika mengenai pundak Bun Sam,
lalu membalik seakan akan memukul benda karet yang
keras. Pat jiu Giam ong kembali tercengang. Tak sembarang
orang berani menerima pukulan ujung bajunya. Bukan
tenaga pemuda ini yang mengejutkan hatinya, hanya kalau
orang sudah pandai Ilmu Pi ki hu hiat dan mempunyai
tenaga lweekang yang tinggi seperti puteranya misalnya,
akan dapat menahan pukulan ini. Akan tetapi yang
membuat ia heran dan terkejut adalah sikap dan keberanian
pemuda itu. Kalau pemuda itu sudah berani dengan
tenangnya menerima sambaran ujung bajunya, berarti
bahwa pemuda itu tentu sudah merasa yakin betul akan
kepandaiannya sendiri !
“Hm, agaknya kau berisi juga! Sambutlah ini!” Kini Pat
jiu Giam ong menggerakkan kedua tangan nya dan dua
ujung lengan bajunya menyambar, yang kiri ke arah leher
dan yang kanan ke arah lambung. Sambaran ini hebat sekali
dan di lakukan dengan tenaga sepenuhnya. Harus diketahui
bahwa selain Ilmu Silat Pat kwa ciang yang hebat, juga Pat
jiu Giam ong memiliki tenaga Hek mo kang yang
berbahaya sekali. Dua serangan ini, satu saja mengenai
sasaran, biarpun Bun Sam sudah mendapat gemblengan
dari Bu tek Kiam ong, tetap saja ia takkan kuat menahan!
Bun Sam terkejut sekali karena angin pukulan ini saja sudah
terata kuat sekali. Ia cepat melompat ke belakang dan ketika
Pat jiu Giam ong mendesak terus ia lalu menggerakkan
pedang Kim kong kiam.
“Cring....brett!” pedang Kim kong kiam terpental akibat
pukulan ujung lengan baju sebelah kiri, tetapi ujung lengan
baju sebelah kanan dari Pat jiu Giam ong telah terbabat
putus ! Kedua orang ini terkejut dan melompat mundur.
Bukan main marahnya Pat jiu Giam ong melihat ujung
lengan bajunya terbabat putus. Juga ia maklum kini bahwa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kepandaian pemuda ini benar benar tak boleh dibuat
permainan. Kalau saja ia tadi tidak terlalu memandang
ringan, tak mungkin ujung lengan bajunya sampai terbabat
putus oleh pedang pemuda itu.
“Bangsat kecil, kau mencari mati!” serunya dan kedua
tangan Pat jiu Giam ong bergerak cepat sekali, melancarkan
pukulan pukulan maut dengan tenaga Hek mo kang.
Baiknya Bun Sam sudah bersiap menghadapi serangan
serangan ini. Dengan ginkangnya yang sudah tinggi dan
sempurna, pemuda ini lalu melompat cepat dan dengan
mudah ia dapat mengelak dari semua pukulan jenderal
tinggi besar itu, dan sebelum Pat jiu Giam ong sempat
mengirim serangan lagi. Bun Sam mempergunakan gerak
lompat Liok te hui teng dan sebentar saja ia lenyap dari
tempat itu !
Tadinya Pat jiu Giam ong hendak mengejar, akan tetapi
melihat gerakan pemuda itu ia maklum bahwa ia takkan
dapat menyusulnya, maka ia menarik napas panjang berkali
kali. Hebat sekali pikirnya. Bagaimana bocah itu dalam
waktu beberapa tahun saja sudah memiliki kepandaian yang
demikian tingginya?
Pada saat itu, Pangeran Kian Tiong dan Puteri Luilee
muncul dari pintu taman, diiringkan oleh beberapa orang
pelayan wanita.
Melihat orang orang muda bangsawan tinggi ini, Pat jiu
Giam ong menjadi sebal dan mendongkol. Hm, becusnya
hanya main cinta cintaan, pikir jenderal ini. Akan tetapi,
tetap saja ia memberi hormat kepada Kian Tiong yang
dibalas sebagaimana mestinya oleh pangeran itu.
“Eh, Liem goaniwe, malam malam memasuki taman
istana ada keperluan apakah? Mengapa tidak langsung saja
masuk dari pinta gerbang di depan?” tanya Kian Tiong.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Manegur ia tidak berani, akan tetapi pertanyaan pertanyaan
inipun dengan halus sekali mengandung teguran kepada
jenderal besar itu.
“Siauw ong ya, kami datang untuk menangkap pencuri
pedang Pek lek kiam, akan tetapi sayang ia dapat
melepaskan diri,” kata Pat jiu Giam ong.
“Ah, Liem goanswe, mengapa dia diganggu? Song
taihiap tidak mencuri pedang, ia bahkan sengaja datang
untuk mengembalikan pedang istana ini. Dia telah
memberikannya kepadaku,” kata Kian Tiong sambil
memperlihatkan pedang Pek lek kiam kepada jenderal itu.
Pat jiu Giam ong hanya mengangguk dan ia merasa sebal
sekali karena tidak dapat merampas pedang itu dari tangan
Bun Sam. Kini murid Kim Kong Taisu itu mendapat muka
dari Pangeran Kian Tiong! Kalau saja tadinya pedang
istana ini dapat ia rampas dari tangan pemuda Itu,
bukankah selain ia mendapat jasa, juga pemuda itu akan
menerima hukuman? Maka ia lalu memberi hormat dan
minta maaf karena sudah berani memasaki taman tanpa
izin, lalu mengajak Koai kauw jit him meninggalkan tempat
itu.
“Ah, aku tidak suka melihat jenderal ini,” kata Luilee
perlahan kepada kekasihnya.
Kian Tiong tersenyum. “Siapa yang suka padanya? Akan
tetapi, Luilee yang manja, dalam pemerintahan, tidak
didasarkan atas rasa suka atau tidak, melainkan didasarkan
kepada kenyataan apakah orang itu berguna atau tidak. Pat
jiu Giam ong adalah seorang yang berkepandaian tinggi
sekali dan adanya dia di pemerintahan kita, mendatangkan
kekuatan dan pengaruh besar sekali. Apalagi sakarang dia
dapat menarik suhengnya, yaitu Lam hai Lo mo Seng Jin
Siansu, yang kepandaiannya kabarnya bahkan jauh lebih
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lihai dari Liem goanswe sendiri. Mereka membentuk Hiat
jiu pai dan ini baik sekali karena dengan demikian,
kekuatan pemerintahan manjadi makin teguh lagi.”
Luilee kelihatan bergidik ngeri.
“Ah, aku tidak suka mendengar nama itu, Hiat jiu pai.....
Perkumpulan Tangan Berdarah! Ngeri sekali. Betapapun
lihainya Pat jiu Giam ong kurasa Song Bun Sam lebih lihai
lagi.”
Kian Tiong tertawa geli.
“Ah, manisku, kau agaknya amat terpengaruh oleh
kegagahan Song Bun Sam. Memang harus kuakui bahwa
kepandaian pedangnya amat lihai, akan tetapi kalau
dibandingkan dengan Pat jiu Giam ong, agaknya ia kalah
jauh! Kau masih belum tahu akan kepandaian Liem
goanswe itu. Apalagi kepandaian Lam hai Lo mo, aah,
kurasa beratlah kalau Bun Sam harus menghadapi kakek
kakek lihai ini.”
“Belum tentu!” Luilee membantah. “Aku ingin sekali
melihat Song taihiap mengadu kepandaian melawan
mereka!”
Pangeran Kian Tiong tidak menjawab, hanya diam diam
ia mentertawakan kekasihnya ini. Ia sudah tahu betul
kepandaian Pat jiu Giam ong yang hebat dan kalau orang
orang luar mengabarkan bahwa kepandaian La m hai Lo
mo lebih lihai dari Pat jiu Giam ong, ia tidak tahu apakah
di dunia ini ada orang yang dapat menandinginya!
Sementara itu, Bun Sam cepat melarikan diri keluar dari
istana dan pada malam hari itu juga ia pergi keluar dari kota
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
raja. Kalau saja ginkangnya bukan sudah sempurna, tak
mungkin ia dapat melompati tembok kota raja atau keluar
menerobos dari pintu gerbang yang terjaga kuat sekali itu.
Pengalamannya di dalam taman istana, mendatangkan
rasa berat dalam hatinya, karena pertemuan antara
Pangeran Kian Tiong dengan Puteri Luilee tadi
mengingatkan ia kepada kekasih hatinya, Sian Hwa. Kalau
orang lain demikian berbahagia dalam pertalian kasihnya,
mengapa dia dan Sian Hwa demikian sengsara? Dan semua
ini karena gara gara Lan Giok. Ia tidak marah kepada gadis
itu, bahkan kalau dipikir pikir ia merasa kasihan sekali
kepada Lan Giok. Gadis lincah itu dengan sifat kekanak
kanakannya setuju sekali dengan pertalian jodoh ini dan
itulah yang memberatkan hatinya. Mengapa gurunya, Kim
Kong Taisu dan Mo bin Sin kun, begitu mudah mengambil
keputusan?
Ah, dia tidak dapat menyalahkan Yap Bouw pula. Inilah
yang berat, la tahu bahwa Yap Bouw amat menyintainya
seperti puteranya sendiri dan dia sendiripun sudah
menganggap Yap Bouw sebagai pengganti orang tuanya. Ia
tahu bahwa Yap Bouw mengikatkan tali perjodohan ini dan
hal itu memang tepat. Kalau saja tidak ada Sian Hwa
agaknya iapun takkan menaruh hati berat terhadap
perjodohan ini. Lan Giok cukup cantik manis, juga ia tahu
gadis itu mempunyai kegagahan dan sifat sifat mulia
sebagai seorang pendekar wanita yang gagah. Lan Giok
adalah murid dari Mo bin Sin kun yang boleh dibilang adik
seperguruannya pula, selain itu gadis ini adalah puteri dari
Yap Bouw, bekas jenderal patriotis yang ia muliakan dan
yang ia junjung tinggi. Agaknya tidak ada gadis lain yang
lebih cocok dan memuaskan hatinya untuk dijadikan
jodohnya. Akan tetapi Sian Hwa...? Dapatkah dia menikah
dengan Lan Giok, hidup bahagia dan membiarkan Sian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwa merana seorang diri, hidup terlunta lunta dan
sebatangkara dengan hati patah? Tidak, tidak mungkin.
“Sian Hwa, kekasihku…. apapun yang akan terjadi, aku
akan tetap setia kepada cinta kasih kita….” Bun Sam
beberapa kali berkata seorang diri.
Dengan melakukan perjalanan cepat sekali, pada suatu
hari Bun Sam tiba di lereng Bukit Oei san. Ketika ia sedang
berjalan mendaki bukit itu sambil menikmati pemandangan
alam di pegunungan ini dengan penuh rasa keharuan hati
karena ia teringat akan masa kecilnya di pegunungan ini,
tiba tiba ia mendengar suara pukulan sayap burung.
“Eh, Sin tiauw, kaukah itu?” serunya sambil memandang
ke atas kepalanya di mana seekor burung rajawali
beterbangan mengelilinginya. Burung ini agaknya telah
pangling dan merasa ragu ragu, akan tetapi ketika
mendengar suara Bun Sam, ia segera mengeluarkan pekik
keras dan menyambar turun, langsung berdiri di depan
pemuda itu dan menggerak gerakkan kepalanya. Bun Sam
melangkah maju dan memeluk leher burung ini.
“Sahabat baik, kau menjadi makin besar dan kuat,”
katanya sambil mengelus elus leher burung itu. “Mana
Siauw liong, sahabat kita itu?”
“Sayang sekali, Bun Sam, kau datang terlambat, Siauw
liong sudah mendahului kita kembali ke alam asalnya,”
kata suara yang halus menjawab pertanyaannya ini. Bun
Sam tadi terlalu girang bertemu dengan Sin tiauw, sehingga
ia tidak tahu akan kedatangan dua orang yang kini berdiri
tak jauh dari situ. Pemuda ini cepat mengangkat mukanya
dan segera ia berlari menghampiri dua orang itu lalu
menjatuhkan diri berlutut.
“Suhu…!” Suaranya mengandung keharuan karena
beberapa tahun tidak berjumpa dengan suhunya, kini Kim
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kong Taisu kelihatan sudah tua sekali. Rambut di
kepalanya sudah menjadi jarang dan makin putih, agaknya
banyak yang rontok, mukanya kurus pucat dan sepasang
matanya sudah kehilangan sinarnya, seakan akan sudah
terlalu bosan berada di dunia ini.
Ketika Kim Kong Taisu memandang dan melihat betapa
di kedua pipi pemuda itu terdapat air mata, diam diam ia
terkejut dan matanya sendiri menjadi basah. Ia heran sekali
mengapa muridnya sekarang menjadi demikian perasa dan
mudah terharu, seperti orang yang menderita kedukaan
atau tekanan batin yang berat. Tetapi tiba tiba kakek ini
teringat akan sesuatu. Ah, jika orang sedang bercinta kasih,
memang perasaannya menjadi halus sekali, pikirnya. Tentu
muridnya ini sedang dalam ayunan gelombang asmara dan
dengan siapa lagi kalau bukan dengan murid Mo bin Sin
kun? Maka dalam keharuannya, kakek ini tersenyum,
“Bun Sam, kau lupa belum memberi hormat kepada
gurumu yang ke dua ini.”
Bun Sam terkejut dan terheran. Ia mengangkat mukanya
dan memandang kepada seorang wanita yang usianya
empatpuluh tahun lebih, tetapi wajahnya masih nampak
cantik. Ia tidak kenal dengan wanita ini, mengapa suhunya
menyebutnya sebagai gurunya yang ke dua?
“Suhu, siapakah toanio ini? Teecu tidak kenal, atauakah
teecu telah lupa lagi?”
Wanita itu tersenyum dan kelihatan kemanisan
wajahnya yang di walau mudanya tentu cantik sekali.
“Bun Sam, kau lupa muka tentu tidak lupa suara,
bukan?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bukan main terkejutnya hati Bun Sam mendengar suara
ini, hanya memandang dengan melongo dan sampai lama
ia tidak bisa mengeluarkan kata kata,
“Kau....kau....suthai?”
Mo bin sin kun mengangguk dan senyumnya melebar.
“Bagus, kau masih mengenal suaraku, Bun Sam.”
Bun Sam mengejap ngejapkan matanya, seakan akan
tidak percaya kepada pandangan mata dan pendengaran
telinga sendiri. Bagaimana mungkin ? Mo bin Sin kun
adalah seorang wanita yang wajahnya buruk seperti setan !
Baru julukannya saja sudah Mo bin Sin kun, Tangan Sakti
Muka Setan! Bagaimana sekarang muka yang tadinya
berkulit hitam kisut dan buruk itu berubah menjadi halus,
putih dan cantik?
Tiba tiba Kim Kong Taisu tertawa geli. “Anak bodoh,
ayoh kau lekas memberi hormat kepada gurumu ini!”
Bun Sam lalu mengangguk anggukkan kepala dan
mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Mo bin
Sin kun yang melangkah maju dan membangunkannya.
“Bun Sam, baru melihat wajah Mo bin Sin kun saja kau
sudah terheran heran seperti orang melihat malaikat, apa
lagi kalau kau ketahui bahwa usia Mo bin Sin kun ini hanya
berselisih tiga tahun lebih muda dari pada usiaku.”
Benar benar ini adalah berita yang mengejutkan.
Menurut taksiran Bun Sam, paling banyak usia Mo bin Sin
kun, baik dilihat dari mukanya maupun bentuk tubuhnya,
tak lebih dari empat puluh lima tahun, sedangkan suhunya
sudah berusia hampir tujuhpuluh tahun, mana mungkin?
“Sudahlah, kau jangan hiraukan obrolan tua bangka ini,
Bun Sam!” kataMo bin Sin kun mencela Kim Kong Taisu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ha, ha, ha, sudah setua ini masih saja ingin
menyembunyikan ketuaannya. Dasar wanita!” Kemudian
Kim Kong Taisu menghadapi muridnya yang sudah berdiri.
“Bun Sam, kebetulan sekali kau datang. Mo bin Sin kun
dan aku baru saja merundingkan tentang sesuatu yang amat
penting....”
Bun Sam sudah dapat menduga apa yang akan
diucapkan suhunya, maka ia pura pura mencari cari dengan
matanya, kemudian ia bertanya, “Suhu, mana Siauw liong?
Teecu rindu kepadanya dan mengapa ia tidak muncul?”
Ditanya tentang Siauw liong, ular peliharaannya yang
juga amat disayangnya itu, muramlah wajah Kim Kong
Taisu dan ia menunda bicaranya. “Aah, kalau dibicarakan
benar benar mendatangkan penasaran dan marah. Tadipun
sudah kukatakan bahwa Siauw liong telah tewas, dalam
keadaan yang amat menyedihkan.”
“Dia mengapa, suhu? Apakah mati tua? Ataukah
terbunuh?”
“Dia mati dalam sebuah pibu (adu kepandaian) yang
adil, akan tetapi sayangnya lawannya curang.”
Bun Sam terheran. Baru kali ini selama hidupnya ia
mendengar seekor ular bisa mengadakan pibu. Ketika ia
mendesak, suhunya lalu bercerita. “Beberapa bulan yang
lalu, Lam hai Lo mo si iblis tua itu datang ke puncak bukit
ini dan dia membawa seekor ular senduk. Karena orang itu
memang dikelilingi oleh hawa busuk, maka Siauw liong
menjadi curiga dan tiba tiba menyerangnya. Lam hai Lo
mo hendak membunuhnya, baiknya aku keburu keluar dan
mencegahnya. Dengan marah Lam hai Lo mo lalu
mengeluarkan ular senduknya dan menantang pibu. Karena
yang berhadapan adalah ular sama ular, terpaksa aku tidak
keberatan dan Siauw liong lalu diadu dengan ular senduk
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang dibawa oleh Lam hai Lo mo itu. Mula mula, Siauw
liong menang, tetapi akhirnya, ia kena digigit dan ternyata
bahwa gigi ular itu telah dipasangi besi mengadung racun
anti ular di dalamnya, sehingga Siauw liong tewas!” Kakek
itu menarik napas panjang.
Bun Sam membanting kakinya.
“Jahat benar si Lam hai Lo mo! Apakah maksudnya naik
ke sini hanya untuk mengadu ular suhu?”
“Kalau hanya demikian, tidak akan menyusahkan kita
sekalian. Dia datang untuk menantang aku mengadakan
pibu. Juga ia menyampaikan tantangan Pat jiu Giam ong
kepada Mo bin Sin kun.”
“Lawan saja, suhu, biar teecu yang mewakili ji wi suhu,”
kata Bun Samdengan semangat bernyala nyala.Memang ia
sudah merasa gemas dan benci kepada dua orang kakek
yang lihai itu. Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun saling
memandang dan tersenyum.
“Bocah jumawa, kaukira akan dapat menandingi mereka
itu?” kata Kim Kong Taisu.
“Betapapun juga, semangatmu mengagumkan, Bun Sam.
Terima kasih atas pembelaanmu. Kau benar benar seorang
murid yang baik.” Mo bin Sin kun memuji.
Bun Sam diam saja tidak membuka rahasianya. Baru ia
ingat bahwa dua orang sakti ini tidak tahu bahwa ia telah
mendapat gemblengan hebat dari Bu tek Kiam ong.
“Bila diadakan pibu itu dan di mana, suhu?” tanyanya.
“Tiga bulan lagi, di atas batu batu karang di lembah
Sungai Huang ho yang disebut Lembah Maut sebelah utara
kota Lok yang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam terkejut. “Bukankah tiga bulan lagi datang
musim hujan? Bagaimana kalau sungai itu banjir?”
Kim Kong Taisu mengangguk angguk. “Itulah kehendak
si iblis Lan hai. Rupanya ia hendak mengadakan pibu mati
matian.”
“Lagi pula, mereka telah membentuk Hiat jiu pai yang
amat kuat. Tentu mereka akan datang dengan banyak
tenaga,” kata Mo bin Sin kun. “Akan tetapi kita tak usah
takut. Biarlah kita datang dan melihat saja apa yang hendak
mereka lakukan. Kukira, menundukkan Pat jiu Giam ong
dan Lam hai Lo mo tidaklah sukar.”
Kim Kong Taisu tersenyum. “Kau dengar, Bun Sam?
Gurumu ini memang sombong dan agaknya kaupun
ketularan penyakitnya. Akan tetapi percayalah, memang
hanya dia ini yang akan dapat menundukkan Pat jiu Giam
ong dan Lam hai Lo mo.”
“Sudahlah,” menyela Mo bin Sin kun, “sekarang kita
bicarakan urusan yang lebih penting. Bun Sam, aku dan
Kim Kong Taisu, atas persetujuan dan anjuran Yap
goanswe, telah mengambil keputusan akan menjodohkan
kau dengan Lan Giok. Nah, biarlah kau tahu sekarang dan
semua orang orang tua telah menyetujui perjodohan yang
amat baik ini. Kau tentu girang, bukan?”
“Bun Sam, sebelum aku mati, aku ingin sekali
menyaksikan kau bertemu sebagai mempelai dengan puteri
Yap Bouw suhengmu itu!” sambung Kim Kong Taisu.
Bukan main gelisah dan sedihnya hati Bnn Sam
mendengar semua ucapan dari Mo bin Sin kun dan Kim
Kong Taisu ini. Ia sudah lama takut akan ucapan ucapan
seperti ini. Yang berat baginya mengenai penolakannya
terhadap perjodohannya dengan Lan Giok, adalah
kekecewaan orang orang tua ini. Apalagi kalau ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengenangkan Yap Bouw. Ah, ia takkan dapat tahan
melihat Yap Bouw kecewa karena mendengar
penolakannya!
“Bun Sam, mengapa kau diam saja?” tanya Kim Kong
Taisu.
“Bun Sam, mengapa kau begitu pucat? Sakitkah kau?”
tanya Mo bin Sin kun.
“Aduh, apa yang harus teecu dapat katakan?” Ia
menundukkan mukanya yang pucat. “Teecu....menganggap
Lan Giok seperti adik sendiri…!”
Mo bin Sin kun tertawa. “Memang demikianlah mula
mula, Bun Sam. Tetapi kalau kalian sudah menikah.”
“Ampunkan teecu, akan tetapi.... teecu tidak.... tidak
dapat menerima ikatan jodoh ini!”
Kedua orang tua itu melengak. Mo bin Sin kun
mengerutkan keningnya dan matanya bersinar sinar marah.
“Bun Sam, katakan lekas! Apa kau menampik karena
menganggap Lan Giok terlalu bodoh dan terlalu buruk?”
Bun Sun cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak!
Bahkan Lan Giok terlalu cantik dan terlalu mulia untuk
seorang bodoh dan canggung seperti teecu ! Hanya…. teccu
tidak dapat menerima ikatan jodoh ini, suthai....”
“Kenapa? Ayoh katakan, jangan malu malu dan jangan
ragu ragu, kenapa kau menolak !” suara Mo bin Sm kun
tergetar, tanda bahwa dia marah sekali, sedangkan Kim
Kong Taisu tak dapat mengeluarkan suara saking merasa
kecewa, heran dan juga terkejut.
“Teecu....teecu....takkan menikah dengan orang lain…
kecuali…. dia....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tiba tiba Mo bin Sin kun membantingkan kakinya
dengan gemas. Bantingan kaki ini demikian keras, sehingga
Bun Sam merasa betapa tanah yang diinjaknya bergetar !
“Bagus, kau menolak Lan Giok karena kau lelah
mempunyai pilihan sendiri, ya? Kau....kau ....berani sekali
kau menghina kami??” Ia lalu menoleh kepada Kim Kong
Taisu dan berkata, “Dasar muridmu, tentu saja tidak jauh
dari gurunya! Lihat betapa muridmu mengulangi perbuatan
perbuatanmu yang mengacaukan! Huh, mual perutku
melihatmu!” Kembali Mo bin Sin kun memandang kepada
Bun Sam dan berkata keras, “Mulai saat ini, aku bukan
gurumu lagi dan lupakanlah Soan hong pek lek jiu yang
pernah kau pelajari dariku. Kau tidak berhak menggunakan
ilmu pukulan itu!” Setelah berkata demikian, dengan muka
merah saking marahnya, Mo bin Sin kun lalu melompat
turun gunung dan lari cepat sekali.
Bun Sam mendengar Kim Kong Taisu mengeluarkan
keluhan seperti orang tersedu dan ketika ia mengangkat
muka memandang, dengan terkejut ia melihat suhunya itu
terhuyung huyung seperti orang mabok dan hendak roboh.
Ia cepat menubruk maju dan hendak memeluk suhunya,
tetapi tiba tiba Kim Kong Taisu mendorong dengan
tenaganya ke arah dada pemuda itu sambil berseru,
“Jangan sentuh aku!!” Bun Sam menerima dorongan ini
terhuyung mundur tiga tindak.
Kim Kong Taisu menjatuhkan diri di atas sebuah batu
dan duduk sambil menghela napas berulang ulang. Akan
tetapi ia memandang heran sekejap ketika tadi melihat Bun
Sam tidak roboh karena dorongannya. Apakah ia telah
menjadi lemah, sehingga tenaganya berkurang? Tak terasa
lagi Kim Kong Taisu mencoba tenaganya dan mendorong
ke kiri di mana terdapat sebatang pohon besar. Terdengar
suara keras dan pohon itu tumbang. Makin heranlah Kim
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kong Taisu. Bagaimana Bun Sam kuat menahan
dorongannya, sehingga hanya mundur tiga tindak?
Ah, alangkah sayangnya kepada pemuda ini, tetapi
mengingat betapa Bun Sam telah menyakitkan hatinya, tak
terasa pula air matanya mengalir turun ke atas pipi kakek
ini.
“Suhu....” Bun Sam maju berlutut dan pemuda ini juga
menangis, “kalau suhu menghendaki, bunuh sajalah teecu!”
“Kau....jangan menyebut suhu kepadaku. Aku tidak
punya murid seperti engkau lagi!”
“Suhu....”
“Tutup mulutmu ! Siapa sudi mempunyai seorang murid
yang berwatak rendah, tak kenal budi? Semenjak kecil kau
dirawat oleh Yap Bouw, bahkan kalau tidak ada dia yang
menolong, kau takkan ada lagi di dunia ini. Ia telah
menganggap engkau sebagai putera sendiri dan kini setelah
dia bertemu kembali dengan keluarganya, ia ingin
mengambil kau menjadi menantunya, dijodohkan dengan
puterinya yang selain cantik juga pandai dan mulia. Tetapi
apa katamu tadi? Kau menolak karena kau telah mencintai
seorang wanita lain! Ah, benar benar menghina sekali!
Jangan bicarakan tentang pendidikan yang kuberikan
kepadamu, karena dibanding dengan budi Yap Bouw
terhadapmu, budiku belum seberapa. Sudah, kau pergilah
dan jangan injak lagi tempat ini!”
Sambil berkata demikian, Kim Kong Taisu menudingkan
telunjuknya ke bawah gunung.
“Suhu, ampunkan teecu....” Bun Sam mengeluh dengan
suara hampir tak terdengar.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Cukup, kau bukan muridku lagi.” Seperti juga Mo bin
Sin kun, aku melarang kau mempergunakan ilmu silat yang
dahulu kau pelajari dariku!”
Bukan main sedihnya hati Bun Sam, hal ini dapat
dibayangkan. Akan tetapi di dalam kesedihannya itu,
timbul sesuatu yang menentang akan semua keputusan
orang orang tua ini. Mengapa mereka berlaku kejam
kepadanya? Mengapa mereka hendak memaksa? Tak
mungkin ia menuruti kehendak mereka dan menyia
nyiakan Sian Hwa! Maka tetaplah hatinya. Timbullah
keangkuhannya. Biar semua orang membencinya, biar
dunia membencinya, asal Sian Hwa tetap mencinta, ia
takkan putus asa ! Kebahagiaannya adalah berada di tangan
Sian Hwa, bukan di tangan mereka itu. Pikiran ini
menghidupkan api di dalam dadanya yang tadi telah
hampir padam.
Bun Sam meraba punggungnya dan mengeluarkan Kim
kong kiam, pedang pusaka yang dulu ia terima dari
gurunya.
“Suhu, biarpun suhu tidak menganggap teecu sebagai
murid lagi, akan tetapi selama hidupku, teecu masih akan
menganggap suhu sebagai guruku. Teecu mengembalikan
pedang Kim kong kiam dan tentu saja teecu bersumpah
takkan mempergunakan ilmu silat yang teecu pelajari dari
suhu, biarpun teecu berada dalam bahaya maut sekalipun.”
Melihat betapa pemuda itu dengan tangan menggigil
menyerahkan pedang itu, hati Kim Kong Taisu terasa perih
dan terharu.
“Aku tidak bermaksud menarik kembali pedang itu,”
katanya singkat.
“Mana teecu berani mempergunakannya? Kalau pedang
itu masih di tangan teecu, berarti bahwa teecu masih akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membawa bawa nama suhu. Teecu khawatir kalau kalau
nama baik suhu akan terbawa bawa,”
Terpukul juga hati Kim Kong Taisu mendengar ucapan
ini, maka ia menerima pedang itu dengan helaan napas
panjang, kemudian kakek ini memandang dengan mata
basah ketika ia melihat Bun Sam menuruni gunung dengan
tindakan lesu dan muka pucat.
Kim Kong Taisu menunduk dan memandang kepada
pedangnya itu.
“Habislah harapanku….! Habislah….! Kalau tidak sudah
berjanji akan mengadakan pibu dengan Lam hai Lo mo,
senang rasanya mati diantar oleh Kim kong kiam....”
Setelah berkata demikian, dengan tindakan kaki tersaruk
saruk, kakek tua ini membawa pedang dan kembali ke
pondok nya. Dua titik air mata jatuh membasahi pedang
Kim kong kiam.
Bun Sam berjalan dengan lemas, tetapi dengan harapan
baru. Ia mencari Sian Hwa dan dalam perantauannya ini ia
tiba di perbatasan utara.
Ketika ia keluar dari sebuah hutan yang dilaluinya, tiba
tiba ia melihat debu mengebul dari depan dan tak lama
kemudian nampaklah sebuah kendaraan ditarik oleh empat
ekor kuda yang besar. Di depan dan belakang kereta itu
dikawal oleh dua belas orang perwira kerajaan yang
berpakaian indah gemerlapan.
“Petani, minggir....!” perwira terdepan berseru keras
menyuruh Bun Sam yang berdiri di tengah jalan itu
minggir.
Bun Sam biarpun mendongkol sekali disebut petani,
namun ia masih sabar dan melangkah ke pinggir. Petani
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memang bukan orang rendah, pikirnya, tetapi cara perwira
itu mengeluarkan ucapanlah yang membikin sebutan itu
rendah.
“Eh, petani buruk, cepat minggir!” teriak perwira ke dua
yang melihat betapa Bun Sam tidak tergesa gesa minggir.
“Berlutut kau....!” teriak perwira ini sambil mengayun
cambuknya ke arah Bun Sam.
Sesabar sabarnya, Bun Sam masih muda dan masih
berdarah panas, apa lagi ia sedang berada dalam
kesengsaraan, maka tentu saja ia tidak dapat menahan sabar
lagi. Iapun tahu bahwa penghinaan orang itu adalah karena
pakaiannya yang sudah tak karuan macamnya, sobek di
sana sini dan kotor, karena memang selama ini ia tidak
menghiraukan keadaan tubuhnya lagi. Akan tetapi kalau
orang terlalu menghina, ia tak dapat bersabar lagi. Dengan
cepat, ketika cambuk itu menyambar, ia mengelak dan
sekail ia menggerakkan tangan, cambuk itu sudah
dipegangnya dan ia menarik keras keras.
Karena sentakannya ini tidak terduga duga, perwira itu
memekik dan tubuhnya terbawa tarikan, terguling dari atas
kuda. Bun Sam tidak mau berhenti sampai di situ saja. Ia
hendak melihat siapa orangnya di dalam kereta itu. Kalau
pengawalnya saja sudah sesombong ini, tentu majikannya
lebih sombong lagi. Hendak ia memberi peringatan agar
rombongan ini tidak menghina rakyat.
Bun Sam melompat ke depan kereta dan memegang
tiang yang berada di antara dua kuda terdepan. Ia
mengerahkan tenaganya dan empat ekor kuda itu meringkik
ringkik sambil mengangkat kedua kaki depan, karena
mereka direm secara tiba tiba oleh tenaga yang kuat sekali.
“He, apakah kau perampok?” teriak seorang perwira
yang segera menyerang dengan goloknya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam dengan lincah sekali mengelak dan sekali ia
menendang, kuda yang ditunggangi oleh perwira ini
terguling dan perwira itu sendiri terjungkal dari atas
kudanya. Kini duabelas orang perwira itu semua sudah
melompat turun dari kuda dan mengurung Bun Sam.
“Majulah! Keroyoklah! Kalian ini tikus tikus kalau tidak
diberi rasa, akan makin kurang ajar saja,” seru Bun Sam
dan tubuhnya menerjang ke kanan kiri. Tiap kali ia
menggerakkan tangan atau kakinya, melayanglah sebatang
golok dan pemegangnya teraduh aduh sambil menekan
nekan bagian tubuh yang terpukul. Keadaan menjadi kacau
balau dan duabelas orang perwira itu mundur teratur.
Pada saat itu, tenda kereta dibuka oleh sebuah tangan
yang putih halus dan ketika disingkapkan, nampaklah muka
yang cantik sekali. Bun Sam memandang dan pandangan
matanya bertemu dengan sepasang mata yang kebiru
biruan.
“Kau....Song Bun Sam....??”
Bun Sam cepat maju dan memberi hormat dengan
sopannya.
“Aduh tidak tahunya nona Luilee. Mohon maaf
sebanyak banyaknya. Kukira tadinya seorang pembesar
yang suka berlaku sewenang wenang dan yang membiarkan
pengawal pengawalnya berlaku kasar kepada rakyat miskin.
Tidak tahunya kau, nona.Maafkan aku banyak banyak.”
Luilee tersenyum manis dan melompat turun dari
keretanya.
“Hai, kalian jangan kurang ajar. Tidak tahukah kalian
sedang berhadapan dengan siapa? Dia ini Song taihiap yang
mengembalikan pedang kerajaan Pek lek kiam! Jangankan
baru kalian duabelas orang, biarpun ditambah lima lusin
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lagi semua tentu akan dihajar habis habisan oleh Song
taihiap. Ayoh minta maaf padanya!”
Mendengar seruan nona puteri yang mereka kawal itu.
semua orang perwira menjadi terkejut dan buru buru
mengangkat kedua tangan memberi hormat dan minta
maaf.
“Tidak apa,” kata Bun Sam, “asal lain kali jangan
berlaku kasar kepada petani. Kalau tidak ada petani, kita
semua ini akan makan apakah?”
Para perwira itu menjadi merah mukanya dan Puteri
Luilee tertawa geli. “Bisa saja kau bicara, taihiap. Eh,
mengapa kau berada di sini dan.... bagaimana keadaanmu
menjadi begini buruk? Kau kurus sekali, taihiap dan
pakaianmu.... ah, apakah yang sudah terjadi denganmu?”
Bun Sam merasa hatinya tertusuk, akan tetapi ia
mengeraskan hatinya dan menggeleng kepalanya. “Tidak
apa apa, nona.”
“Apakah kau sudah bertemu dengan Sian Hwa,
kekasihmu itu?” tiba tiba Luilee bertanya dan seketika itu
juga, terbangun semangat Bun Sam mendengar nama
kekasihnya.
“Belum dan inilah yang membuat aku merasa sengsara.
Entah di mana aku dapat menemukan, agaknya di akhirat!”
“Hush, seorang gagah tak boleh putus asa!” kata Luilee.
“Memang kekasihmu itu berada di sorga....”
“Apa....”
“Akan tetapi sorga yang terdapat di dunia ini dan kau
boleh menjumpainya. Aku memiliki ilmu hoatsut (sihir)
yang akan dapat membawamu kepadanya, taihiap.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Betul betulkah? Jangan kau main main, nona. Aku
benar benar hampir bosan hidup kalau tidak bertemu
dengan Sian Hwa. Kau tidak tahu akan kesengsaraanku.”
Bun Sam mengeluh.
“Siapa main main? Aku Luilee tak pernah main main
dan biar aku disambar petir di siang hari panas kalau aku
main main.” Mau tak mau Bun Sam tersenyum juga.
Watak Luilee ini mengingatkan dia akan watak Lan Giok
yang suka sekali bergurau. Mana ada petir menyambar di
siang hari panas?
Luilee memberi isyarat kepada para pengawal untuk
mengaso dan iapun lalu mengajak Bun Sam duduk di
bawah pohon untuk bercakap cakap.
“Sekarang kauceritakanlah mengapa kau begini sengsara,
kemudian akulah yang akan mengobatinya dan yang akan
mempertemukan kau dengan kekasihmu itu.”
Pada waktu itu, Bun Sam merasa hidup terasing, seorang
diri dan tidak ada siapa siapa lagi di dunia ini kecuali
kekasihnya, Sian Hwa. Akan tetapi ia tidak tahu Sian Hwa
berada di mana maka sekarang menghadapi Luilee yang
agaknya dapat mempertemukan dia dengan Sian Hwa,
tidak heran apabila hatinya tergerak dan ia mencurahkan isi
hatinya kepada puteri Bangsa Semu yang cantik ini.
Ia menuturkan kepada Luilee betapa ia akan dipaksa
menikah dengan Lan Giok dan betapa guru gurunya
menjadi marah sekali, sehingga ia diusir dan tidak diakui.
Ketika menuturkan pengalamannya sampai di sini, tak
terasa pula mata Bun Sam menjadi basah.
“Aduh, kasihan sekali kau, Bun taihiap,” kata Luilee
sambil menghapus air matanya sendiri dengan saputangan
sutera yang berwarna hijau dan berbau harum. “Mereka itu
keterlaluan sekali. Keterlaluan dan kejam!” serunya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Nona Luilee, bagi bangsa kami, yakni orang orang Han,
yang terpenting adalah memegang aturan. Dan semua guru
guruku itu hanya menggunakan aturan inilah, mereka tidak
bisa dipersalahkan. Akulah seorang yang bersalah, memang
aku seorang tak ingat budi, seorang murid murtad dan
seorang yang paling tidak berharga !”
“Tidak bisa begitu,” Luilee membantah. “Peraturan
memang harus dijalankan, tetapi harus disesuaikan dengan
keadaan dan perasaan. Kalian ini orang orang Han
memang kadang kadang terlampau kukuh dengan aturan
aturanmu, sehingga kalian merupakan kerbau buta yang
dituntun hidungnya tidak mempunyai pendirian sendiri.
Contohnya tentang bakti. Kau hendak berbakti kepada
orang tuamu kalau misalnya ayahmu seorang perampok
jahat, apakah kaupun hendak berbakti kepadanya dan
mengikuti jejaknya sebagai seorang penjahat pula, hanya
untuk menjaga agar kau disebut berbakti dan tahu aturan?”
Dalam keadaan seperti itu, Bun Sam tidak ada nafsu
untuk berdebat, sungguhpun di dalam hatinya ia tidak
setuju dengan tuduhan nona Bangsa Semu ini.
“Sudahlah, nona Luilee. Aku sudah menceritakan
pengalaman dan penderitaanku. Sekarang mana obat itu
dan apa yang akan kau ceritakan padaku mengenai diri Sian
Hwa?”
Luilee tersenyum lagi dan timbul lagi kegembiraannya.
Bun Sam diam diam harus mengakui bahwa nona ini benar
benar cantik sekali dan bahwa matanya yang kebiru biruan
itu mudah sekali berganti warna. Pantas saja Pangeran Kian
Tiong jatuh hati, pikirnya. Akan tetapi kalau ia
membayangkan wajah Sian Hwa, nona Semu ini tidak
menarik hati lagi !
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Baik, Bun taihiap. Aku bukan pembohong. Dalam tiga
hari kau akan bertemu dengan kekasihmu itu. Tetapi kau
harus menurut segala pesanku.”
Bun Sam terheran heran, tetapi ia girang sekali sehingga
matanya yang tadinya layu kini menjadi segar. “Tentu saja,
aku akan menurut segala pesanmu, biarpun harus
menceburkan diri dalam lautan api sekalipun !”
Luilee tertawa.
“Ah, tidak demikian berat, taihiap. Kau pergilah ke
utara, kalau sudah tiba di sebuah sungai, kau menyeberang
lalu membelok ke kiri. Di dalam sebuah dusun di lereng
bukit yang kelihatan seperti burung merak, yang disebut
Kong ciak san (Gunung Merak), di situ kau akan melihat
sebuah pesta pernikahan. Datangilah tempat pesta itu dan
selanjutnya kau akan mengalami petunjuk petunjuk yang
akan mempertemukan kau dengan kekasihmu. Dan
pesanku, kalau kau sudah melihat kekasihmu jangan
terburu nafsu, bukalah suratku dan baca dulu dengan
tenang, baru kau boleh bertindak menurut suratku itu!”
Bun Sam mengangguk angguk dengan hati penuh gairah.
Entah mengapa, biarpun mata nona itu berseri seri dan
bersinar sinar seperti seorang tengah bergurau, ia percaya
betul kepada Luilee! Ia tahu bahwa biarpun lincah dan
nakal, nona ini memiliki hati yang mulia dan tak mungkin
akan menipunya.
“Mana suratnya?” tanyanya mendesak.
Luilee mengerling tajam lalu mengomel,
“Nah, itulah salahnya dengan laki laki, selalu tergesa
gesa! Kalau kau ingin berhasil dengan wanita, berlakulah
sabar dan jangan tergesa gesa!” Bun Sam tahu bahwa nona
ini memang suka sekali menggoda orang, tetapi ia tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
perduli, bahkan makin mendesak, “Nona Luilee yang baik,
lekaslah kau buat surat itu. Aku ingin sekarang juga terbang
ke dusun itu!”
“Kau akan menemui kekasihmu dalam pakaian seperti
ini? Ah, benar benar tidak beres!” Ia menggapaikan
tangannya yang berkulit putih halus itu kepada seorang
perwira yang segera berlari mendatangi.
“Ambil alat tulis dan kertas, kemudian kau sediakan se
stel pakaian bersih untuk Bun taihiap!” Perwira itu memberi
hormat dan pergi ke kereta. Tak lama kemudian ia datang
kembali membawa alat tulis dan menyerahkan pakaian
kepada Bun Sam. Akan tetapi setelah perwira itu
menjauhkan diri lagi dan Luilee mulai menulis, Bun Sam
meletakkan pakaian itu di atas batu dan tidak memakainya.
Luilee menulis dengan aksi dibuat buat. Lidahnya yang
kemerahan dan berujung lancip itu keluar sedikit di ujung
bibirnya dan keningnya berkerut seakan akan ia sedang
membuat sebuah karangan yang amat sukar! Bun Sam
makin gemas karena ia hendak segera membawa surat itu.
Akhirnya selesai juga Luilee membuat surat itu.
Dilipatnya kertas itu dan diserahkannya kepada Bun Sam.
Akan tetapi ia melihat Bun Sara masih belum berganti
pakaian, maka katanya kaget,
“He?? Mengapa kau belum tukar pakaian?
“Tak usah nona.”
“Sian Hwa akan jijik melihatmu.”
“Cinta murni tidak dipengaruhi oleh pakaian indah dan
muka elok. Aku tak perlu berganti pakaian.”
Luilee mengerutkan keningnya mendengar ini dan
mengangkat bahu lalu berdiri tegak.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Anak muda,” katanya dengan lagak seperti seorang
sudah banyak pengalaman, “kau tahu apakah tentang cinta?
Kalau kau bilang cinta murni tidak mengenal keindahan,
baik pakaian maupun wajah, habis cinta yang mengenal
keindahan kau sebut apa?”
“Itu hanya cinta nafsu semata! Cinta berahi yang
terdorong oleh nafsu, tidak mendalam sampai di hati !” kata
Bun Sam.
“Haya.... sombongnya ! Pandirnya ! Tololnya ! Eh, anak
muda yang gagah perkasa, ahli filsafat muda yang bisa jatuh
cinta! Apakah kau betul betul mencinta Sian Hwa?”
“Aku mencintainya dengan suci murni, bukan
berdasarkan nafsu semata.”
“Phuah....! Khayal seorang pelamun ! Kalau kau betul
mencintai Sian Hwa, bagaimana pandanganmu tentang dia
itu? Cantikkah dia, atau burukkah mukanya?”
“Dia cantik secantik cantiknya. Tiada bidadari di sorga
yang dapat menandingi kecantikannya.”
Luilee meruncingkan bibirnya yang manis, cemberut.
“Jadi kalau dalam pandanganmu dia itu buruk rupa, kau
takkan dapat jatuh cinta kepadanya?” Bun Sam menjadi
bingung. Pertanyaan ini sekaligus memukul hancur semua
teorinya tentang cinta.
“Ini....kalau begitu....eh, aku tidak tahu.”
Luilee tertawa terpingkal pingkal, sehingga keluar air
matanya.
“Pendekar pandir, ahli filsafat tolol yang kemintar! Cinta
dan keindahan tak dapat dipisah pisahkan, tahu? Tanpa
keindahan, takkan ada cinta! Cinta itu indah. Kau tentu
tahu pula bahwa berdasarkan hukum ini, dalam pandangan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mata Sian Hwa, kau tentu seorang pemuda yang paling
ganteng dan paling tampan. Kalau tidak begitu Sian Hwa
takkan mencintaimu, tahu? Siapa orangnya dapat mencintai
sesuatu yang dalam pandangan matanya kelihatan buruk?
Hanya orang yang miring otaknya barangkali!”
Mata Bun Sam melirik ke kanan kiri. Ia merasa betul
betul bodoh dan dangkal pengetahuannya dalam
memperbincangkan soal cinta dengan Luilee dan diam
diam ia mengaku kalah.
“Mungkin betul pandanganmu itu, nona Luilee.”
“Memang betul. Kalau betul, mana bisa salah lagi?
Sekarang sudah jelas bahwa Sian Hwa menganggap kau
tampan dan ganteng. Memang dalam hal ini, aku tidak
salahkan Sian Hwa, karena kau memang tampan dan
ganteng, biarpun tidak seganteng pangeranku.”
“Terima kasih, nona. Terus terang saja, kaupun amat
cantik jelita dan manis dan agaknya.... kalau di sana tidak
ada Sian Hwa, dalam pandangan mataku kau akan lebih
cantik dan lebih manis dari pada sekarang ini.”
Luilee tersenyum. “Memang begitulah dan terima kasih
kembali. Sekarang kau sudah tahu bahwa Sian Hwa
menganggapmu tampan, kalau sekarang kau memelihara
ketampananmu, bukankah itu berarti bahwa kau
menghormat dan memelihara perasaan kekasihmu itu?
Apakah kau begitu kejam untuk mencemarkan
katampananmu yang begitu dikagumi oleh kekasihmu?”
Bun Sam melengak. Hal ini sama sekali tak pernah
dipikirkannya, agaknya sampai ia matipun takkan pernah
ada filsafat tentang cinta macam ini kalau saja ia tidak
bertemu dengan gadis yang aneh ini! Sambil berkata
demikian, dengan lirikan tajam dan senyum mengejek
Luilee menyerahkan suratnya tadi. Bun Sam menerimanya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membungkuk memberi hormat dan menghaturkan terima
kasihnya, kemudian ia berkata,
“Betapapun juga, aku ingin Sian Hwa melihat
kesengsaraanku dalam usahaku mencarinya!” Lalu ia
melompat pergi cepat sekali.
Luilee tertawa geli dan berkata seorang diri, “Siapa lebih
palsu dalam cinta, laki laki ataa wanita? Laki lakilah yang
lebih palsu dan gila, seperti badut beraksi....” akan tetapi,
kata katanya ini disambungnya pula, “Semoga dia dan
kekasihnya berbahagia....!” Puteri Semu ini lalu
menghampiri keretanya, masuk ke dalam kendaraan dan
memberi tanda kepada para pengawalnya untuk
melanjutkan perjalanan ke kota raja.
Bun Sam berlari cepat sekali. Dua hari kemudian barulah
ia tiba di sungai yang disebutkan oleh Luilee itu. Ia cepat
menggunakan perahu nelayan menyeberang, kemudian
setelah tiba di seberang utara sungai itu, ia lalu membelok
ke kiri dan berlari lagi. Dari jauh dilihatnya sebuah bukit
menjulang tinggi dan melihat bentuk bukit itu, berdebarlah
hatinya. Tak salah lagi, itulah Kong ciak san, Bukit Burung
Merak karena memang bentuknya seperti burung merak
membuka sayapnya.
Di daerah ini hanya tinggal orang orang Mongol dan
Semu, ada pula orang orang Han, tetapi mereka itu kalau
bukan pedagang keliling, tentu kuli kuli kasar atau budak
budak belian !
Biarpun kelihatan dekat, tetapi setelah dijalani, sehari
barulah Bun Sam tiba di lereng bukit itu dan tibalah ia di
dusun yang dimaksudkan oleh Luilee. Dusun ini cukup
besar dan ramai dan kerena ia memasuki dusun ini pada
malam hari, tidak ada orang yang memperhatikannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kalau masuknya siang hari, setidaknya tentu ia akan
menimbulkan kecurigaan dan disangka seorang pengemis
muda Bangsa Han yang kesasar di situ.
Mudah saja bagi Bun Sam untuk mencari tempat pesta
itu, karena dari jauh ia sudah mendengar gembreng, tambur
dan terompet dibunyikan orang. Ia segera berlari menuju ke
tempat itu dan melihat sebuah gedung besar dihias indah
sekali. Lampu lampu Teng yang besar besar dan beraneka
ragam dan warna, dipasang di depan dan memenuhi ruang
tamu yang penuh dengan para tamu. Agaknya yang
merayakan pesta adalah seorang pembesar tinggi yang kaya
raya, pikir Bun Sam. Ia menyelinap di antara orang banyak
yang berjubelan di luar sebagai penonton. Ternyata bahwa
pesta itu diadakan untuk merayakan sebuah pernikahan !
Bun Sam berdebar dan matanya mencari cari. Apakah
maksud dari Luilee? Ia disuruh datang ke tempat ini dan
semuanya ternyata cocok dan tepat sekali seperti yang
diceritakan oleh puteri Semu itu. Memang benar ia melihat
sebuah pesta, akan tetapi bagaimana selanjutnya? Luilee
bilang bahwa di situ ia akan mendapat petunjuk
selanjutnya, maka Bun Sam berdiri saja di antara para
penonton dan memasang mata penuh perhatian ke dalam
rumah itu.
Para tamu sudah penuh berkumpul di ruang yang luas
itu, terpisah menjadi dua bagian, bagian laki laki dan bagian
wanita. Sejak tadi Bun Sam menandang ke arah para tamu
wanita itu penuh perhatian, kalau kalau ia melihat Sian
Hwa di situ. Akan tetapi mana mungkin? Wanita wanita
yang berada di situ semua adalah Bangsa Mongol dan
semuanya bermata biru seperti mata Luilee.
Tiba tiba semua tamu bersorak dan musik dibunyikan
keras. Dari dalam keluar sepasang mempelai yang hendak
menjalankan upacara di ruang tamu itu, di depan meja
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
leluhur dan disaksikan oleh semua tamu, Bun Sam tertegun.
Mempelai pria adalah seorang laki laki bertubuh tinggi kecil
yang usianya sudah lanjut, sedikitnya ada limapuluh tahun!
Biarpun wajahnya kelihatan sabar dan masih tampan,
lemah lembut dan kelihatannya terpelajar, namun karena
rambutnya sudah banyak uban dan kulitnya sudah mulai
kisut, ia nampak tidak serasi dalam baju pengantin. Adapun
mempelai wanitanya, biarpun mukanya ditutup oleh hiasan
kepala yang digantungi untaian mutiara menutupi
mukanya, mudah saja dilihat bahwa mempelai wanitanya
masih muda sekali, kentara dari bentuk tubuhnya.
“Hm, satu lagi contoh korban harta dan pangkat.” Bun
Sam berkata seorang diri, akan tetapi ia tidak mau ambil
pusing semua keganjilan ini. Matanya tetap awas
memandang segala sesuatu menanti nanti petunjuk tentang
Sian Hwa sebagaimana yang dikatakan oleh Luilee akan
didapatkan nya di tempat ini. Petunjuk apakah yang akan
kudapat dan lihat?Demikian Bun Sam berpikir pikir dengan
hati ragu ragu.
Dan datanglah petunjuk itu yang membikin wajah
pemuda ini menjadi pucat seakan akan seluruh darah dalam
tubuhnya lenyap sama sekali!
Sebelum upacara dimulai, mempelai laki laki
mengangkat hiasan kepala mempelai wanita, sehingga
wajah mempelai wanita kelihatan. Dan apa yang dilihat
oleh Bun Sam? Wajah ayu yang pucat dan tunduk, dengan
air mata membanjir turun membasahi kedua pipi itu, bukan
lain adalah wajah.... Sian Hwa!!
“Sian Hwa....!” teriak Bun Sam, sehingga semua orang
terkejut. Pemuda ini melompat dan sekali lompat saja ia
telah berada di depan Sian Hwa, mempelai wanita itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mempelai wanita itn bagaikan disambar petir. Dengan
mata terbelalak ia memandang dan bibirnya bergerak gerak
seperti orang menangis namun tak sedikitpun suara keluar
dari mulutnya. Akhirnya dapat juga ia berseru, “Bun
Sam....??” Seruan ini terdengar sebagai pertanyaan, karena
sesungguhnya Sian Hwa tidak percaya kalau laki laki yang
berdiri di depannya itu adalah Bun Sam.
Orang orang menjadi geger. Mempelai laki laki dengan
muka merah, akan tetapi tidak kehilangan ketenangan dan
sikapnya yang agung, berdiri dani bertanya.
“Apakah artinya ini? Siapakah kau, pemuda yang
gagah?”
Tadinya Bun Sam hendak mengamuk dan hendak
memukul pecah kepala orang tua yang mengawini
kekasihnya ini, akan tetapi mendengar suara dan melihat
sikap mempelai pria ini, ia tidak melanjutkan nafsu
marahnya. Ia menyambar pinggang Sian Hwa dengan
lengan kanannya, kemudian ia berkata kepada mempelai
pria, “Tuan, kau tidak bisa mengawini dia, karena dia
adalah kekasihku!” Sambil berkata demikian, ia lalu
membawa Sian Hwa melompat keluar dari ruang itu dan
ketika beberapa orang dengan mirah mengejarnya, ternyata
Bun Sam dan mempelai wanita itu telah lenyap dari
pandangan mata, menghilang di dalam gelap!
Bun Sam berlari terus sambil memondong tubuh
kekasihnya, tidak perduli Sian Hwa berteriak teriak dan
menangis.
“Bun Sam...., kembalikan aku kepada suami ku....! Bun
Sam.... kasihanilah aku, kembalikan aku kepada
suamiku....!”
Mendengar keluhan keluhan ini, makin panaslah hati
Bun Sam dan ia bahkan makin mempercepat larinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bagaikan terbang ia berlari di malam buta, melalui
pegunungan itu, melompati jurang jurang tanpa
menghiraukan bahaya terpeleset jatuh, bahkan di sudut
hatinya, ia mengharapkan agar ia bersama Sian Hwa
terpeleset saja dan jatuh ke dalam jurang, hancur binasa!
“Bun Sam, kau.... kau kejam.... kau tidak kasihan kepada
Lan Giok.... tidak kasihan kepadaku dan kepada suamiku!”
berkali kali Sian Hwa mencela, menuduh dan menangis,
tetapi Bun Sam menoleh pun tidak. Tetap saja pemuda ini
berlari, makin lama makin cepat.
“Bun Sam.... kembalilah kau kepada isterimu, Lan
Giok.”
Mendengar ini, Bun Sam menghentikan larinya. Mereka
telah jauh dari Bukit Kong ciak san dan malam telah
berganti pagi. Ternyata bahwa Bun Sam telah lari setengah
malam tanpa berhenti!
Setelah menurunkan tubuh Sian Hwa dari
pondongannya, Bun Sam memegang kedua pundak gadis
itu dengan kasar dan menatap wajahnya dengan pandangan
mata menyeramkan.
Sian Hwa memandang pula, terapi melihat sinar mata
pemuda itu, ia mengeluh dan berkata, “Bun Sam, jangan
memandang aku seperti itu.... jangan kau memandangku
seperti itu....” lalu ia menangis terisak isak sambil
menundukkan mukanya.
“Kau…! Kau....!” Bun Sam berkata terengah engah
sambil mengguncang guncangkan kedua pundak gadis itu.
“Kau rela menikah dengan monyet tua itu....?? Alangkah
rendahnya!”
“Bun Sam....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sian Hwa, dulu kau menolak pinangan Liem Swee, rela
menjadi nikouw, rela terlunta lunta, kukira kau setia dan
tetap mencintaiku seperti aku cinta padamu. Tadinya kukira
cintamu sama murninya dengan cintaku kepadamu, tetapi
sekarang....”
“Bun Sam, dengar....”
“Tidak tahunya sakarang kau rela menjadi isteri seorang
monyet tua, hanya karena dia terpelajar, berkedudukan dan
kaya raya!”
“Bun Sam....!”
“Kalau aku tahu begini, Sian Hwa, aku lebih suka
melihat kau menjadi isteri Liem Swee, atau menjadi nikouw
sekalipun.... Ah, alangkah mudahnya kau lupa kepadaku,
lupa kepada janji kita, lupa akan cinta kasih yang menjadi
permainanmu semata dan....!”
“Bun Sam, tidak....!” Sian Hwa meronta dan berhasil
melepaskan kedua tangannya. Ia lalu menggunakan
tangannya untuk menutup mulut pemuda itu.
“Tutup mulutmu, kau....! Telan kembali kata katamu....
kau laki laki kejam....!” Dan....tiba tiba, Sian Hwa telah
roboh pingsan di kedua lengan Bun Sam !
Setelah melihat gadis itu menjadi pucat seperti mayat
dan tubuhnya dingin sekali, barulah Bun Sam tersadar dari
pada nafsu yang tadi menguasai hati dan pikirannya.
“Sian Hwa…. memang aku kejam....” ia berkata
perlahan dan mengangkat tubuh gadis itu, dibawa ke bawah
sebatang pohon dan membaringkannya di atas rumput.
“Sian Hwa, betapapun juga, mengapa kau melakukan
semua ini? Mengapa kau menjauhi aku hanya untuk
menikah dengan seorang monyet tua....?” Akan tetapi Sian
Hwa tak mendengar, karena gadis ini masih pingsan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam teringat akan surat yang ditulis oleh Luilee,
maka terkejutlah dia. Dia menghadapi malapetaka ini
apakah bukan karena ia melalaikan pesan Luilee?
Bukanknh pesan puteri Semu itu, bahwa begitu melihat
Sian Hwa, ia harus membaca dulu surat itu dan jangan
melakukan segala sesuatu menurutkan nafsu hatinya? Ia
menjadi berdebar dan cepat ia mengambil surat itu dari
dalam sakunya. Tulisan nona Semu itu ternyata bagus
sekali, halus dan guratannya seperti rumput rumput hijau di
musim semi.
Song taihiap.
Kau melihat Sian Hwa di samping mempelai pria yang
sudah tua ! Jangan kaget, mempelai prianya itu adalah
ayahku, bekas raja dari Bangsa Semu! Kau marah? Jangan,
karena Sian Hwa mau menjalani pernikahan ini karena
bujukanku! Di samping itu, Sian Hwa amat berterima kasih
kepada ayahku yang sudah menolong nyawanya. Hal ini kau
akan mendengar sendiri dari Sian Hwa, Dia telah ceritakan
tentang persoalannya dengan kau, maka aku tahu segalanya
dan aku pula yang sengaja mengabarkan bahwa kau sudah
menikah dengan tunanganmu !
Kau tahu mengapa aku membujuknya agar ia suka menikah
dengan ayahku yang sudah menjadi duda tak lain tak bukan,
untuk menolongnya dari kejaran Panglima Bucuci dan Pat jiu
Giam ong ! Kalau sudah menjadi isteri ayahku, mereka takkan
berani menggunakan kekerasan. Kaukira ayahku bandot tua
yang ingin makan daun muda ? Bukan, taihiap. Ketahuilah,
bahwa semenjak ibuku meninggal dunia, ayah telah bersumpah
takkan menikah lagi dan telah menjadi seorang wadat.
Nah, terserah kepadamu sekarang!
Luilee
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah membaca isi surat ini, Bun Sam melirik ke arah
Sian Hwa. Hatinya seperti diiris iris dan ia merasa betapa ia
tadi telah, mengeluarkan kata kata yang sama sekali tidak
adil terhadap gadis ini.
“Sian Hwa....ampunkan aku,” bisiknya dan segera ia
mengurut ngurut jalan darah pada leher dan pundak gadis
itu.
Tak lama kemudian Sian Hwa siuman kembali dan
biarpun wajahnya masih kepucatan namun ia telah sembuh
dari serangan batin yang hebat tadi.
“Sian Hwa.... aku memang buta, buta dan bodoh.
Ampunkan semua kata kataku tadi,” kata Bun Sam sambil
memegang kedua tangan gadis itu.
“Bun Sam, betul betulkah kau belum menikah dengan
adik Lan Giok? Bagaimana dengan dia?” tanya Sian Hwa,
sama sekali tidak menaruh hati marah karena sikap Bun
Sam tadi.
Bun Sam menggelengkan kepalanya. “Aku menolaknya,
Sian Hwa. Bagaimana aku bisa menerima ikatan jodoh itu
kalau aku sudah terikat dalam hatiku dengan engkau? Aku
menolak, Mo bin Sin kun marah, demikian juga suhu, aku
di usir dan tidak diakui....”
“Bun Sam....!”
“Biarlah, biar orang orang sedunia membenciku, aku
rela, asal saja kau tidak membenciku, Sian Hwa.”
Bukan main terharunya hati gadis itu mendengar
pernyataan cinta kasih yang demikian besarnya.
“Bun Sam, aku sungguh tidak berharga untuk
pengorbanan yang begitu besarnya.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Cahaya hatiku, hanya kau seoranglah yang masih
memungkinkan aku hidup di dunia ini,” kata Bun Sam
sambil memeluknya.
Untuk beberapa lama mereka tak bicara dan tidak
bergerak, hanya Sian Hwa yang terisak perlahan di dada
Bun Sam yang memeluknya.
“Bun Sam, bagaimana kau bisa menyusulku ke bukit
Kong ciak san?”
“Aku bertemu dengan Puteri Luilee.”
“Ahh, sudah kuduga begitu. Dia benar benar seorang
yang budiman dan cerdik sekali. Ayahnya telah menolong
nyawaku dan dia telah berusaha, sehingga kita saling
bertemu, ah, besar sekali budi yang dia curahkan
kepadaku.”
“Nanti dulu, kauceritakanlah yang jelas, Sian Hwa. Aku
masih bingung sekali. Tadi aku marah marah seperti orang
gila karena melihat kau melakukan upacara pernikahan
dengan orang lain. Hati siapa takkan panas dan sakit?
Kemudian, aku membaca surat yang ditulis oleh Luilee dan
aku menjadi makin bingung.” Ia lalu menyerahkan surat
yang tadi dibacanya kepada Sian Hwa. Gadis itu
membacanya, kemudian ia menghela napas dan tersenyum.
Girang bukan main hati Bun Sam melihat kekasihnya
sudah mau tersenyum. Ia memandang dan dua pasang mata
saling pandang penuh perasaan, mesra dan saling mengerti.
“Bun Sam, kau kurus sekali dan pakaianmu tak
terpelihara,” kata Sian Hwa dengan mulut masih
tersenyum, tetapi matanya basah dan dikejap kejapkan.
Bun Sam menjadi kikuk sekali menghadapi perhatian
yang mesra ini dan ia menunduk, memandang pakaian dan
tubuhnya sendiri.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sesungguhnyakah? Ah, mungkin karena aku tidak
memperhatikan makan dan pakaian.”
“Kasihan kau, Bun Sam....” Sian Hwa mendekat dan
menyentuh bagian yang robek dari baju pemuda itu, “nanti
kujahitkan yang robek robek.”
Melihat betapa ketika mengucapkan kata kata ini, bibir
Sian Hwa digigit seakan akan menahan tangis, Bun Sam
merasa hatinya tertusuk dan dipeluknya lagi kekasihnya itu.
Keduanya mengucurkan air mata tanpa mengeluarkan
sepatah katapun. Seluruh perasaan dan kerinduan
dicurahkan dalam pelukan ini.
“Sian, ceritakanlah sekarang kepadaku semua
pengalamanmu, agar aku ikut pula mengetahui betapa besar
budi yang telah kauterima dari Luilee dan ayahnya Mereka
duduk lagi berhadapan dan Sian Hwa menuturkan
pengalamannya dengan singkat. Sebagaimana telah
dituturkan di bagian depan, gadis ini sengaja melarikan diri,
menjauhi Bun Sara karena ia merasa tidak berhak merebut
pemuda itu dari tangan Lan Giok yang sudah ditunangkan
Bun Sam. Biarpun hatinya perih dan terluka, namun gadis
ini terus melakukan perjalanannya, secepat dan sejauh
mungkin dari Bun San, dari Bucuci dan yang lain lain. Ia
berlari terus menuju ke utara dan akhirnya ia tiba di
perkampungan orang Semu. Karena ia gagah, maka
biarpun mengalami banyak rintangan, ia dapat menjaga diri
dengan baik. Akan tetapi, pada suatu hari ia bertemu
dengan serombongan orang orang Semu yang gagah dan
memiliki kepandaian tinggi. Melihat seorang gadis Han
berada di daerah mereka, orang orang Semu ini tertarik
sekali dan dikeroyoklah Sian Hwa. Akhirnya karena lelah,
gadis ini tertangkap dan tentu dia akan celaka dalam tangan
orang orang kasar itu kalau saja tidak keburu ketahuan oleh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ta Ji khan, bekas raja orang orang Semu atau ayah dari
Luilee.
Ta Ji khan adalah seorang Semu yang terpelajar dan
melibat betapa seorang gadis Han yang cantik dan gagah
tertawan, ia lalu menyuruh orang orangnya melepaskan
gadis itu dan memperlakukannya dengan baik sekali.
Celakanya, karena mendapat luka luka dalam pertempuran
itu, Sian Hwa jatuh sakit panas yang hebat sekali. Akan
tetapi selama itu, Ta Ji khan memeliharanya dengan penuh
kesabaran dan kesayangan, sebagai seorang ayah terhadap
puterinya. Tentu saja Sian Hwa merasa berterima kasih
sekali. Tadinya ia mengira bahwa raja orang Semu yang tua
ini tentu akan berlaku kurang ajar kepadanya dan ia sudah
mengambil keputusan bahwa kalau dugaannya itu betul, ia
akan membunuh bekas raja ini kemudian akan mengamuk
sampai terbinasa di situ. Tidak tahunya, bekas raja ini amat
baiknya dan bersikap penuh sopan santun.
Kemudian datanglah Luilee mengunjungi ayahnya untuk
mengabarkan tentang perhubungannya dengan Pangeran
Kian Tiong. Pertemuan antara Sian Hwa dan Luilee
mengakibatkan perhubungan yang amat akrab. Apalagi
ketika Luilee mendengar dari Sian Hwa bahwa gadis inilah
yang menjadi kekasih dari Bun Sam, maka sikap puteri ini
lebih baik lagi.
Luilee yang memberi nasehat kepada Sian Hwa untuk
menikah saja dengan ayahnya yang sudah tua, pernikahan
hanya untuk menutup mata dan untuk melindungi
keselamatan gadis itu saja. Pertama tama kalau sudah
menjadi isteri Ta Ji khan, tak seorangpun pemuda Semu
berani main main dan mengganggunya. Ke dua, kalau
sampai Bucuci dan Pat jiu Giam ong mendapatkannya, juga
mereka tak mungkin berani merampas gadis yang sudah
menjadi isteri Ta Ji khan. Dan ke tiga, kalau memang Sian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwa mencintai Bun Sam, demikian kata Luilee, lebih baik
Sian Hwa menikah, sehingga pemuda itu kalau mendengar,
tentu akan lebih mudah melupakannya dan pemuda itu
dapat menikah dengan gadis lain dengan hati ringan!
“Demikianlah, Bun Sam, mengapa kau melihat aku
melakukan upacara pernikahan dengan Ta Ji khan.”
Bun Sam mendengarkan penuturan Sian Hwa dengan
hati terharu sekali.
“Sian moi, kau sebatangkara akupun yatim piatu. Tiada
orang menjadi walimu maupun waliku. Semua guruku
tidak mengaku aku lagi sebagai murid. Lalu bagaimana
dengan kita....?”
Sian Hwa mengerti akan maksud kekasihnya. Ia menarik
napas panjang. “Koko katanya perlahan dan sebutan
“koko” atau kanda untuk pertama kali ini membuat hati
Bun Sara berdebar, “agaknya Thian Yang Maha Kuasa
sudah menakdirkan kepada kita untuk saling mendatangkan
kesusahan. Kalau tidak ada aku orang sengsara, kau takkan
mengalami semua kesusahan itu, koko. Kau tentu akan
menikah dengan Lan Giok, hidup berbahagia, tidak
mendapat marah dari orang orang tua dan guru gurumu.”
“Cukup, Sian moi. Kau tidak katakan bahwa kaupun
kalau tidak ada aku orang hina, tentu tidak akan keluar dari
rumah gedung di mana kau hidup makmur. Temu kau
sudah menjadi isteri putera seorang jenderal. Memang,
Thian sudah menakdirkan kepada kita untuk menjadi jodoh
masing masing, itu lebih tepat!”
“Bagaimana mungkin, koko? Kita tidak mempunyai
orang tua, tidak mempunyai wali, bagaimana kau bisa
bicara tentang perjodohan?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Jangan khawatir, adikku. Biarpun orang lain tidak
menyetujui, kalau kita sudah saling mencinta, mau apalagi?
Untuk meresmikan perjodohan kita, dapat kita minta
kepada para nikouw di kelenteng Sun pok thian untuk
menolong dan menjadi wali kita.”
“Di Kin an mui?
Bun Sam mengangguk sambil tersenyum. Akan tetapi
Sian Hwa nampak gelisah.
“Tempat itu dekat dengan kota raja? bagaimana kalau
sampai diketahui oleh mereka?”
“Siapa takut, jangan kau gelisah, adikku. Dengan adanya
aku di sampingmu, Bucuci dan Pat jiu Giam ong takkan
dapat mengganggumu. Pula, aku memang hendak ke kota
raja dan akan mendatangi ayah angkatmu itu, untuk dengan
terus terang minta perkenannya.”
“Mana bisa? Tentu ia menolak keras!”
“Terserah kepadanya. Kalau ia menerima, itu lebih baik.
Sebaliknya kalau menolak, aku hanya menghadap untuk
memenuhi kewajibanku karena ia adalah ayah angkatmu.
Penolakannya tak ada pengaruhnya dengan perjodohan
kita.”
“Terserahlah, koko. Aku hanya menggantungkan
nasibku kepadamu seorang.”
Maka berangkatlah sepasang orang muda ini menuju ke
kota raja dengan hati penuh kebulatan tekad. Setelah
berkumpul mereka tidak takut apa apa dan merasa
berbahagia sekali. Jangankan baru bahaya dari Bucuci atau
Pat jiu Giam ong, biarpun harus menghadapi maut, asalkan
bersama, mereka akan menentangnya dengan gembira dan
tabah!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Dengan muka masih merah saking marahnya, Mo bin
Sin kun naik ke gunung Sian hwa san dan disambut oleh
Yap Bouw isterinya dan kedua orang muridnya, yaitu Lan
Giok dan Thian Giok.
Dua orang muda itu lalu menuturkan tentang tugas
mereka.
“Keadaan mereka kuat sekali,” kata Lan Giok
menuturkan tentang Hiat jiu pai. “Selain Pat jiu Giam ong
dan Lam hai Lo mo, mereka masih dibantu pula oleh Koai
kauw jit him dan Sam thouw hud yang berkepandaian
tinggi.”
“Tidak apa, betapapun juga, aku akan datang dan
mencoba kepandaian mereka !” kata Mo bin Sin kun
gemas, karena wanita perkasa ini masih mendongkol dan
marah sekali mengingat akan penolakan Bun Sam.
“Hal itu tidaklah penting. Yang penting adalah berita
tentang Bun Sam, pemuda kurang ajar dan tak kenal budi
itu!”
Semua orang terkejut. Lan Giok menjadi pucat, bahkan
Yap Bouw yang gagu setelah mendengar ini, cepat
menggerakkan jari tangannya bertanya, “Apa? Mengapa?”
Adapun nyonya Yap Bouw bertanya cepat, “Apakah
Kim Kong Taisu tidak menyetujui?”
Mo bin Sin kun menggeleng gelengkan kepalanya, “Kim
Kong Taisu setuju dan menerima dengan gembira. Tiba tiba
Bun Sam datang ketika kami sedang membicarakan urusan
itu dan pemuda kurang ajar itu dengan tegas menolak
perjodohan ini !”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ucapan ini tentu saja diterima bagaikan geluduk
menyambar di siang hari, terutama sekali oleh Lan Giok
yang menjadi makin pucat.
“Mengapa? Mengapa Bun Sam menolaknya? Sungguh
sukar untuk dapat dipercaya!” kata Yap Bouw dengan
bahasa gerak jarinya.
“Anak kurang ajar itu menolak dan berani mati sekali
mengajukan alasan bahwa dia telah.... mencintai gadis lain
!”
Terdengar sedu sedan dan Lan Giok menutup mukanya
dengan kedua tangannya, lalu gadis ini melompat dan
berlari masuk ke dalam kamarnya.
Suasana menjadi hening. Yap Bouw duduk termenung,
tak bergerak bagaikan patung. Nyonya Yap Bouw
menggunakan saputangan untuk menyusut air matanya.
Thian Giok berdiri diam mengertakkan giginya.
“Memalukan!” katanya perlahan. “Memalukan kalau
sampai keluarga kita ditolak mentah mentah oleh seorang
pemuda seperti dia !”
Yap Bouw menegur puteranya dengan pandangan
matanya. Mo bin Sin kun menghela napas. “Tak perlu
dibicarakan lagi urusan ini. Tiga hari lagi aku akan ke kota
raja dan menuntut pembubaran Hiat jiu pai. Kalau perlu
aku akan mengadu nyawa dengan tua tua bangka Pat jiu
Giam ong dan Lam hai Lo mo!” Setelah berkata demikian,
Mo bin Sin kun lalu bertindak memasuki kamarnya.
Adapun Thian Giok diam diam telah pergi pula dari situ.
Tinggal Yap Bouw dan isterinya duduk berhadapan dan
ketika mereka saling memandang, tak tertahan lagi
keduanya meruntuhkan air mata. Melihat wajah suaminya
yang buruk itu nampak demikian pucat dan berduka,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
nyonya Yap menangis terisak isak. Memang Yap Bouw
telah menerima pukulan batin yang hebat sekali. Semenjak
Bun Sam masih kecil, pemuda itu dipeliharanya, dididiknya
seperti puteranya sendiri. Dan sekarang, justeru Bun Sam
yang mendatangkan kedukaan dan rasa malu.
Tiba tiba terdengar suara keras dan Yap Bouw telah
memukul meja di depannya, sehingga meja itu pecah
papannya. Dia teringat akan pengalamannya dahulu
bersama Bun Sam di taman Panglima Bucuci. Tanpa
mengatakan sesuatu, ia lalu melompat dan pergi turun
gunung.
Nyonya Yap terkejut dan khawatir sekali. Tadi ketika
suaminya memukul meja, ia terkejut melihat sinar kejam
terbayang di wajah suaminya. Kini melihat Yap Bouw
berlari tanpa berkata sesuatu, ia cepat berlari masuk dan
membuka pintu kamar Lan Giok. Ia melihat gadisnya itu
tengah berbaring, menangis.
“Lan Giok, lekas kau kejar ayahmu!”
Lan Giok mengangkat mukanya dan memandang
kepada ibunya dengan muka pucat dan air mata mengalir di
sepanjang pipinya. Diam diam nyonya Yap merasa kasihan
sekali, tetapi pada saat itu, kekhawatirannya terhadap Yap
Bouw lebih besar.
“Lan Giok, lupakanlah kekecewaanmu sebentar. Aku
melihat ayahmu berlari turun gunung dan pada mukanya
membayangkan ancaman hebat. Aku khawatir ia mencari
Bun Samdan membunuhnya.”
Mendengar ini, Lan Giok menyambar senjatanya dan
cepat berlari pula keluar kamarnya, mengejar ayahnya
turun gunung. Ayahnya tidak boleh memaksa Bun Sam,
pikirnya. Ia tak perlu dipaksa paksakan kepada orang, si
apapun juga orang itu. Itu terlampau hina dan rendah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ilmu lari cepat dari Lan Giok sudah jauh lebih tinggi
daripada tingkat ayahnya, maka tak lama kemudian ia
dapat menyusul Yap Bouw.
“Ayah....!” seru Lan Giok.
Yap Bouw berhenti dan berpaling kepada anaknya.
“Ayah hendak ke manakah?” tanya Lan Giok dan untuk
menghibur ayahnya, anak ini memaksa tersenyum. Akan
tetapi, karena hatinya terasa perih, senyumnya ini bahkan
menyedihkan hati Yap Bouw.
Tanpa menyatakan sesuatu, orang gagu ini lalu maju dan
memeluk puterinya. Lan Giok tak dapat menahan lagi
kedukaannya dan ia menangis sepuas puasnya di dada
ayahnya. Yap Bouw hanya mengelus elus rambut puterinya
itu, hatinya pilu bukan main.
Kemudian, perlahan lahan Yap Bouw melepaskan
pelukannya dan dengan gerak jari tangannya ia berkata.
“Lan Giok, anakku yang manis. Jangan kau bersedih.
Bun Sam tidak berharga menjadi suamimu, dia ternyata
telah melakukan hal yang amat memalukan. Aku tahu siapa
orang yang telah memikat hatinya !”
“Siapa ayah?”
“Kau tidak perlu tahu, nak.”
“Ayah, katakan. Siapa gadis itu? Aku tidak apa apa,
tidak iri hati, hanya ingin sekali tahu gadis macam apakah
yang telah dapat menjatuhkan hatinya?”
“Dia gadis seorang bangsawan yang jahat. Dia anak
perempuan dari Bucuci. Bun Sam tak tahu malu, biar aku
mencarinya dan memakinya. Belum puas hatiku kalau
belum menghina anak itu!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, Lan Giok mengeluh. “Aduh, jadi enci Sian
Hwa malah orangnya? Ah, nasib .....!” Ia teringat akan
cerita Sian Hwa tentang orang yang dicintanya dan
demikian besar cinta Sian Hwa kepada orang itu, sehingga
Sian Hwa rela meninggalkan gedung, rela menjadi nikouw!
Dan ternyata orang itu Bun Sam sendiri adanya. Dan Sian
Hwa malah mendoakan agar ia hidup berbahagia di
samping Bun Sam. Alangkah mulianya hati Sian Hwa.
Mengingat sampai di sini, Lan Giok menggigit bibirnya.
“Ayah, jangan mencari Bun Sam. Tidak ada gunanya.
Bahkan aku akan memperlihatkan bahwa aku tidak merasa
iri hati sama sekali. Aku tidak menyesal, bahkan aku yang
hendak menjadikan perjodohan Bun Sam dengan nona
yang dicintainya itu.”
Yap Bouw melenggong dan tidak mengerti akan maksud
puterinya.
“Ayah, aku hendak menemui Panglima Bucuci. Dia
telah melarang puterinya berjodoh dengan Bun Sam.
Sekarang aku yang hendak memaksanya agar ia
melanjutkan perjodohan itu.”
Yap Bouw memandang kepada anaknya ini dengan mata
terbelalak. Biarpun ia menjadi ayahnya, namun pada saat
itu ia tidak mengerti akan sikap Lan Giok ini. Gadis itu
yang melihat pandangan mata ayahnya, berkata,
“Ayah, dulu pernah guruku Mo bin Sin kun memberi
pelajaran yang menandaskan bahwa seorang gagah tidak
boleh mengingat dan mementingkan akan kesenangan diri
sendiri. Enci Sian Hwa telah kuketehui benar benar amat
mencintai Bun Sam, sehingga ia rela hidup sengsara,
menolak pinangan putera Pat jiu Giam ong dan rela
menghadapi bahaya bahaya maut. Adapun Bun Sam....”
sampai di sini Lan Giok menekan perasaan hatinya yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menjadi perih dan sakit, “sudah jelas diapun cinta kepada
enci Sian Hwa sebelum perjodohan dengan aku
diberitahukan. Kalau demikian, bukankah berarti aku yang
menjadi penghalaag perjodohan mereka? Ayah, aku tidak
mau menjadi seorang penghalang kebahagiaan orang orang
lain dan oleh karena itu, aku harus membuktikan perasaan
hatiku ini.”
Bukan main terharunya hati Yap Bouw mendengar ini.
Ia terharu dan juga bangga. Lan Giok benar benar seorang
gadis yang berhati mulia gagah dan rela berkorban perasaan
untuk orang lain.
“Anakku, aku tak dapat melarang niatmu itu, bahkan
aku akan membantu usahamu yang mulia. Mari kita pergi
menemui Bucuci.”
Demikianlah, ayah dan anak yang berjiwa besar dan
berwatak gagah ini lalu berlari cepat menuju ke kota raja.
Di rumah Panglima Bucuci, para pelayan sedang sibuk
melayani beberapa orang tamu penting. Panglima Bucuci
ini menjadi tuan rumah dari Pat jiu Giam ong Liem Po
Coan atau Jenderal Liem, Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu
dan muridnya yaitu Gan Kui To, Liem Swee putera Pat jiu
Giam ong, ketujuh Koai kauw jit him dan Sam thouw hud
tokoh dari Tibet. Mereka ini menjadi tulang punggung dari
Hiat jiu pai dan yang mereka bicarakan adalah tentang
maksud mereka mengadakan pibu melawan Kim Kong
Taisu dan Mo bin Sin kun.
“Sayang sekali aku tidak tahu di mana adanya Bu tek
Kiam ong. Dengan kekuatan kita sekarang, Hiat jiu pai kita
tak usah takut menghadapi Bu tek Kiam ong. Kalau sebulan
lagi diadakan pibu di lembah maut di Lok yang akan kita
perlihatkan kelihaian Hiat jiu pai dan membasmi mereka
itu,” kata Pat jiu Giam ong.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Menghadapi Kim Kong Taisu si tua bangka, aku tidak
takut sama sekali, kata Lam hai Lo mo menyombong
sambil menyikat hidangan di atas meja, sehingga ketika
bicara, mulurnya masih penuh makanan. “Akan tetapi, aku
sangsi menghadapi Mo bin Sin kun. Orang ini penuh
rahasia, kita hanya tahu bahwa dia seorang wanita, akan
tetapi tidak tahu siapa dia sebetulnya! Rahasia itulah yang
menggelisahkan hati selalu.”
“Biarpun ia penuh rahasia, apakah yang kita takutkan?
Yang ia andalkan hanyalah ilmu pukulan Soan hong Pek
lek jiu hwat,” kata Pat jiu Giam ong menghibur suhengnya.
“Bukan kepandaiannya yang kugelisahkan, melainkan
rahasianya itulah,” kata Lam hai Lo mo sambil
memandang kepada sutenya penuh arti.
“Aku tetap saja masih menyangsikan apakah Mo bin Sin
kun itu bukan dia....?” Merah muka Pat jiu Giam ong
mendengar ini.
“Ah suheng. Tak mungkin, dia sudah terang mati di
depan kaki kita, mengapa kau memikirkan orang yang
sudah mati?”
Lam hai Lo mo untuk sejenak bermuram durja
kemudian ia lalu minum arak dari cawannya dan tertawa
terkekeh kekeh.
“Kau benar, sute. Andaikata dia, sekarangpun sudah tua
dan buruk, untuk apa kita takut?Ha, ha, ha.”
Semua orang yang berada di situ, kecuali Pat jiu Giam
ong dan Lam hai Lo mo, tidak tahu dan tidak mengerti
akan maksud pembicaraan ini.
Sesungguhnya, dahulu ketika kakak beradik seperguruan
ini masih muda, pernah terjadi peristiwa yang hebat dan
yang tak mudah mereka lupakan. Peristiwa ini mengenai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
diri seorang gadis pendekar yang gagah perkasa, gadis
pendekar yang cantik jelita dan yang membuat mereka
berdua tergila gila. Mereka berlomba untuk merebut hati
gadis itu, akan tetapi gadis itu bersikap dingin.
(Bersambung jilid ke XV.)
SSSeeerrriiikkkeee111 PPPeeedddaaannnggg SSSiiinnnaaarrrEmaaasss
PPPeeedddaaannngggSSSiiinnnaaarrrEmaaasss
(Kim Kong Kiam)
Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
Sumber DJVU : BBSC
Convert & Editor : Rif Zyr (thanks)
Fnal edit & pdf Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Jilid XV
BETAPAPUN juga, Lam hai Lo mo tak kekurangan
akal dan mulailah dia mempergunakan ilmu hitam, yakni
memasang guna guna untuk memikat hati gadis itu.
Celakanya setelah guna guna itu mengena, gadis itu tidak
mendekati dia sebaliknya menjatuhkan cintanya yang
terdorong oleh pengaruh ilmu hitam itu kepada Pat jiu
Giam ong, sutenya. Di antara mereka sendiri sampai terjadi
pertengkaran dan akhirnya Pat jiu Giam ong mengalah dan
berjanji kepada suhengnya untuk memberikan gadis itu
kepada Lam hai Lo mo apabila kelak sudah masuk
perangkapnya.
Demikianlah, secara singkat dapat diceritakan di sini
bahwa gadis perkasa itu masuk perangkap dan dalam
keadaan tak sadar oleh pengaruh ilmu hitam yang dipasang
oleh Lam hai Lo mo, ia di permainkan oleh dua orang
kakak beradik seperguruan ini.
Akhirnya setelah sadar daripada pengaruh ilmu hitam,
gadis ini mengamuk dan kedua kakak beradik itu tidak
dapat mengalahkan gadis perkasa itu, sehingga mereka
berdua menderita luka luka tetapi dapat melarikan diri.
Adapun gadis itu, saking marah dan menyesal, lalu
membunuh diri dengan menerjunkan diri ke dalam jurang.
Demikianlah, sekarang, Lam hai Lo mo teringat kepada
gadis itu dan biarpun ia dan sutenya sudah melihat adanya
mayat gadis itu yang menggeletak di dasar jurang, tetapi
sekarang ia menyangka bahwa Mo bin Sin kun adalah gadis
itu !
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Waktu yang dijanjikan untuk mengadakan pibu memang
tinggal sebulan lagi dan mereka telah bersiap siap untuk
mengalahkan Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun dua
orang yang mereka anggap menjadi musuh besarnya.
Tiba tiba seorang pelayan datang menghadap Bucuci dan
menyatakan bahwa di luar ada dua orang tamu minta
bicara, “Aah, segala macam tamu, tahu tidak aturan!” kata
Pat jiu Giam ong mencela.
“Mengapa di waktu begini datang menggangu. Suruh
saja mereka pergi untuk datang lain kali.”
“Mereka katakan bahwa mereka datang untuk bicara
tentang siocia (nona), karena itu hamba menganggap amat
penting dan melaporkan.” kata pelayan itu dengan sikap
merendahkan diri.
Mendengar ini, semua orang tertegun.
“Kalau begitu, suruh mereka masuk saja ke sini !” kata
Pat jiu Giam ong dan dari sikap jenderal ini saja dapat
diketahui betapa besar pengaruh Pat jiu Giam ong. Yang
kedatangan tamu dan yang menjadi tuan rumah adalah
Bucuci, akan tetapi ia berani memberi keputusan begitu saja
tanpa menghiraukan Bucuci!
“Suruh mereka masuk !” kata Bucuci pula kepada
pelayannya itu.
Pelayan itu keluar dan tak lama kemudian ia datang lagi
diikuti oleh dua orang yang membuat semua orang yang
sedang mengelilingi meja ini terkejut sekali. Dua orang
tamu itu tak lain adalah Yap Bouw dan Lan Giok!
Pat jiu Giam ong dan lain lain orang duduk saja, tak
bergerak dari bangku. Akan tetapi ketika melihat nona ini,
Kui To lalu bangun berdiri dan sambil tersenyum senyum ia
berkata, “Ah, kiranya kau, nona manis. Silahkan duduk!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi Lan Giok tidak menghiraukanaya, bahkan
menengokpun tidak. Sebaliknya nona ini dengan tabah
sekali lalu menghampiri Bucuci dan berkata, “Aku datang
untuk bertemu dan bicara dengan tuan rumah.”
Bucuci menjadi serba salah dan hanya dapat menoleh
kepada Pat jiu Giam ong untuk minta keputusan.
“Nona, kau murid Mo bin Sin kun, datang ke sini
apakah atas perintah gurumu? Kau sudah mengenal kami
semua, kalau ada keperluan bicara sajalah,” kata jenderal
itu.
Lan Giok memandang kepada Bucuci. “Apakah aku
boleh bicara di depan mereka semua ini?” tanyanya.
Bucuci berdiri dan mengangguk sambil berkata, “Kau
duduklah dan bicaralah.”
“Apa maksud kedatangan kalian berdua ini?”
Akan tetapi Lan Giok tidak mau duduk. Dengan tenang
ia lalu berkata, “Kami datang untuk meminang anak
angkatmu, yaitu enci Sian Hwa.”
Bucuci menjadi merah mukanya. “Aku tidak mempunyai
anak angkat lagi!“
“Eh, nanti dulu, jangan terburu nafsu, orang tua..” kata
Liem goanswe, yang lalu menghadapi Lan Giok.
“Kau hendak meminang Sian Hwa? Untuk kakakmu
itu?”
Lan Giok memandang kepada jenderal itu dengan sikap
angkuh.
“Aku tidak bicara dengan orang lain, kecuali dengan
tuan rumah. Bucuci ciangkun, kau jawablah.”
Lam hai Lo mo gelak tertawa.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ha, ha, ha, anak ini mempunyai nyali besar!”
Sebaliknya, Pat jiu Giam ong menjadi merah mukanya.
Ia marah sekali, akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan?
Terpaksa ia menenggak araknya lagi dan tak mau bicara
lagi.
Bucuci bertanya, hanya merupakan pertanyaan ke dua
saja seperti yang dilakukan oleh Liem goanswe tadi, “Kau
melamar Sian Hwa untuk kakakmu dahulu itu?”
“Bukan! Ayah datang ini untuk melamar puteri
angkatmu itu yang akan dijodohkan dengan Song Bun
Sam.”
“Bocah lancang!” Pat jiu Giam ong berseru lagi karena
tak dapat menahan marahnya.
“Sian Hwa adalah muridku dan ia sudah dijodohkan
dengan puteraku. Apakah kau datang sengaja hendak
mengacau seperti dulu?”
“Bohong ! Kau sudah tidak mengakui enci Sian Hwa
sebagai murid dan juga Bucuci bukan ayahnya sendiri !
Kami datang secara baik baik dan hendak mengajukan
pinangan. Kalau kalian tidak setuju, kamipun tidak perduli
karena enci Sian Hwa tidak terikat lagi dengan kalian! Akan
tetapi aku melarang kalian mengganggu enci Sian Hwa dan
menghalangi perjodohannya dengan Bun Sam!”
Hening sejenak karena semua orang membelalakkan
mata mereka mendengar ini. Sikap gadis yang gagah ini
benar benar membikin mereka terheran heran dan melongo.
Kemudian pecahlah suara ketawa, bahkan Bucuci sendiri
pun ikut tertawa.
“Eh, bocah setan. Apakah otakmu sudah miring?
Dengan apa kau hendak melarangku berbuat apa yang
kusukai terhadap anak angkatku sendiri?” tanya Bucuci.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Dengan ini!” kata Lan Giok dan dalam sekejap mata
saja di tangannya telah nampak Gin san Kim ciam sepasang
senjatanya yang istimewa, yakni Kipas Perak dan Jarum
Emas. Sebelum semua orang tahu akan maksud gadis ini,
Lan Giok yang sudah marah sekali dan menganggap bahwa
Bucucilah satu satunya orang yang mengganggu Sian Hwa
sebagai anak angkatnya, secepat kilat telah maju menubruk
dan menyerang dengan sepasang senjatanya ke arah Bucuci.
Panglima Bucuci memiliki kepandaian tinggi dan
pengalamannya sudah banyak sekali, tetapi tingkat
kepandaiannya masih kalah jauh oleh Lan Giok. Biarpun ia
cepat mengelak, tetap saja pundaknya terkena jarum emas
dan baju perangnya ternyata kurang kuat menghadapi
tusukan LanGiok sehingga terobek dan kulitnya terluka.
“Anak gila!” Pat jiu Giam ong berseru dan dari tempat
duduknya ia melancarkan pukulan lweekang yang berat ke
arah Lan Giok. Gadis ini mengagumkan sekali karena
ketika ia mendengar sambaran angin dari kanan, ia cepat
memiringkan tubuhnya sambil mengerahkan lweekang ke
arah kipasnya, mengebut ke kanan, sehingga hawa pukulan
dari Pat jiu Giam ong terkena tangkisannya dan tidak
melukainya.
Pat jiu Giam ong marah sekali dan melompat berdiri,
akan tetapi ketika ia mendorongkan kedua tangannya
dengan sekuat tenaga ke arah Lan Giok, Yap Bouw
melompat dan menangkis pukulan ini. Mana bisa Yap
Bouw menandingi Pat jiu Giam ong, maka ketika
lengannya beradu dengan lengan Liem goanswe, ia
terhuyung huyung dan merasa lengannya sakit sekali.
Pada saat itu, Lan Giok menubruk lagi dan kali ini
kipasnya bergerak cepat sehingga sebelum dapat mengelak,
kepala Bucuci telah kena totokan kipas sedemikian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hebatnya, akhirnya Bucuci memekik ngeri dan roboh dalam
keadaan tak bernyawa lagi.
“Celaka !” seru Pat jiu Giem ong dan sekali jenderal
besar ini menyerang, Yap Bouw terkena pukulannya pada
dadanya, sehingga bekas jenderal ini terlempar ke belakang
dan dadanya terpukul hebat sekali. Beberapa tulang iganya
patah patah dan Yap Bouw juga menghembuskan napas
terakhir tanpa dapat berteriak lagi!
Lan Giok marah sekali. “Pat jiu Giam ong, biar aku
mengadu nyawa dengan kau!” Ia lalu menyerang dengan
dahsyatnya, tidak memperdulikan keselamatan dirinya
sendiri. Kipasnya menyambar nyambar menyerang Pat jiu
Giam ong, mengancam tubuh bagian atas sedangkan jarum
emasnya menyerang ke arah tubuh bagian bawah. Selain
gerakannya cepat, juga ia mengerahkan tenaganya,
sehingga setiap serangan merupakan bahaya maut bagi
seorang tokoh besar seperti Pat jiu Giam ong sekalipun!
Jenderal ini menjadi terkejut dan cepat ia melakukan
perlawanan dengan ilmu silat Pat kwa jiu hwat yang
dimainkan dengar kedua ujung lengan bajunya. Untuk jurus
jurus pertama memang dalam kenekatannya, Lan Giok
berhasil mendesak lawannya. Akan tetapi, tingkat ilmu
silatnya kalah jauh. Pat jiu Giam ong mempunyai tingkat
yang setaraf dengan Mo bin Sin kun, maka sebentar saja
keadaannya berubah sama sekali. Lan Giok mulai terdesak
hebat. Sepasang senjatanya kini hanya dipergunakan untuk
menangkis saja, sama sekali tidak berkesempatan untuk
membalas serangan lawan. Tiap kali senjatanya menangkis,
selalu senjatanya terpental oleh ujung lengan baju jenderal
itu dan telapak tangannya terasa panas dan sakit. Beberapa
belas jurus kemudian, kedua telapak tangan gadis itu telah
pecah pecah kulitnya dan berdarah, tetapi sambil menggigit
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bibirnya, Lan Giok melawan terus dan tidak mau
melepaskan kedua senjatanya.
Pat jiu Giam ong merasa penasaran sekali. Sudah
empatpuluh jurus mereka berkelahi, tetapi belum juga ia
dapat mengalahkan Lan Giok. Ia mengerahkan tenaganya
dan gadis itu makin terdesak, namun masih saja melakukan
perlawanan mati matian. Memang harus dipuji ketabahan
hati gadis ini. Sedikit iapun tidak merasa jerih, biarpun ia
sudah tahu bahwa ia takkan dapat menang.
“Susiok, jangan bunuh dia….!” berkali kali Kui To
berseru karena ia tertarik oleh kecantikan gadis ini dan
merasa tidak tega melihat gadis ini tewas.
“Ayah, bunuh saja dia. Kalau tidak, ia akan selalu
menghalangi perjodohanku dengan sumoi!” Liem Swee
berkata.
Pat jiu Giam ong ragu ragu karena sesungguhnya ia
merasa malu kalau harus menewaskan seorang gadis muda
yang tidak setingkat dengan dia.
Sebaliknya, Lam hai Lo mo merasa kurang senang
melihat muridnya agak tergila gila kepada gadis ini, maka
sambil tertawa ia berkata, “Sute, menghadapi muridnya saja
kau tidak dapat merobohkan apalagi menghadapi gurunya!
Ha, ha, ha !”
Panas juga perut Pat jiu Giam ong mendengar ejekan
suhengnya ini. Ia mengeluarkan seruan keras dan sepasang
ujung lengan bajunya menyambar nyambar bagaikan
halilintar. Lan Giok tidak kuat menghadapi serangan hebat
ini. Ia tetap menangkis, akan tetapi kipasnya patah dan
ujung lengan baju jenderal itu menghantam lehernya
dengan tepat sekali pada jalan darah yang penting di dekat
lubang pernapasannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tanpa mengeluarkan suara, tubuh gadis perkasa ini
terkulai dan ia roboh dengan gagang kipas dan jarum emas
masih tergenggam erat erat. Nyawanya telah meninggalkan
tubuhnya!
Kui To menubruk dan pemuda ini menangis!
“Siauw niauw....! Siauw niauw....” keluhnya sambil
memeluk dan menciumi muka Lan Giok yang sudah tak
bernapas itu, tetapi masih hangat.
“Kui To, mundur!” seru Lam hai Lo mo dengan muka
merah. “Bodoh benar kau! Apakah kau mau mengikat diri
terhadap seorang perempuan ini saja? Banyak wanita cantik
di dunia ini dan seorang wanita yang sudah tidak bernyawa,
apa gunanya?”
Tadinya, Kui To hendak marah kepada susiok nya dan ia
telah memandang kapada susioknya dengan mata merah.
Akan tetapi ia takut kepada suhunya, maka ia lalu
mengundurkan diri dan berdiri dengan muka sebentar
merah sebentar pucat, ia melirik kepada Liem Swee dan
kebencian mulai bersemi di dalam hatinya, karena ia
menganggap bahwa Liem Swee yang menyebabkan
kematian Lan Giok. Kalau Liem Swee tidak ingin menikah
dengan Sian Hwa Lan Giok tidak akan datang dan binasa
di tempat itu dan kalau tadi Liem Swee tidak minta kepada
ayahnya untuk membunuh gadis itu, belum tentu Pat jiu
Giam ong mau membunuh Lan Giok!
Liem goanswe menyuruh orang orangnya mengurus tiga
jenazah itu, yaitu jenazah Bucuci, Yap Bouw dan anaknya
Lan Giok, kemudian ia menyiarkan bahwa Yap Bouw dan
Lan Giok datang untuk mengacau dan menyerang mereka,
sehingga mengalami kematian.
Gemparlah semua orang mendengar bahwa ada dua
orang gagah berani menyerang tokoh tokoh pimpinan Hiat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
jiu pai dan sebentar saja, berita tentang kematian Yap Bouw
dan puterinya telah tersiar luas.
Tiga hari kemudian, ketika Pat jiu Giam ong dan kawan
kawannya sedang duduk bercakap cakap di dalam
gedungnya, tiba tiba di ruangan gedung itu muncul Mo bin
Sin kun dan Thian Giok. Seperti biasa, Mo bin Sin kun
memakai kedok, hingga wajahnya kelihatan buruk dan
menyeramkan sekali. Apalagi pada saat itu ia sedang marah
besar, sehingga sepasang matanya yang bening
memancarkan cahaya mengerikan. Juga Thian Giok berdiri
dengan muka pucat dan membayangkan kemarahan besar,
sedangkan senjata Pek giok joan pian telah berada di
tangannya. Jelas terlihat bahwa pemuda ini telah bersiap
siap untuk bertempur.
Kedatangan Mo bin Sin kun ini mengagetkan semua
orang, karena Mo bin Sin kun melompat turun dari atas
genteng dengan ginkangnya yang luar biasa, sehingga tidak
terdengar oleh mereka.
“Mo bin Sin kun....“ kata Pat jiu Giam ong perlahan
sambil bangun berdiri dari tempat duduknya. Juga Lam hai
Lo mo bangun berdiri menyambut.
“Pat jiu Giam ong, manusia tak tahu malu. Marilah kita
bertempur seribu jurus sampai seorang di antara kita
menggeletak tak bernyawa di tempat ini!” kata Mo bin Sin
kun dengan suaranya yang kedengaran menarik, halus akan
tetapi menyeramkan.
“Mo bin Sin kun, sabarlah! Muridmu tewas karena dia
sendiri yang memaksa kami, dia bahkan membunuh
Panglima Bucuci....”
“Tak perlu banyak cakap! Kau telah berlaku kejam
membunuh seorang anak anak, sekarang tak usah banyak
mulut memutar lidah, mari kita bertanding tua sama tua!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hendak kulihat sampai di manakah kepandaianmu
sekarang?” Sambil berkata demikian, Mo bin Sin kun
menggerakkan tangan ke pinggang dan tahu tahu tangan
kirinya sudah memegang sehelai sabuk merah yang panjang
sedangkan tangan kanannya memegang sebuah cermin
berbentuk bulat dengan gagangnya dari perak.
Melihat sepasang senjata ini, baik Pat jiu Giam ong
maupun Lam hai Lo mo berseru heran dan terkejut.
“Kau....? Mo bin Sin kun, buka kedokmu! Perlihatkan
dirimu yang sebenarnya, siapakah kau?” tanya Pat jiu Giam
ong dan suaranya agak gemetar.
“Bangsat tua bangka, siapa yang sudi melayani kau
bercakap cakap. Bersiaplah kau dengan senjatamu agar kita
dapat bertanding untuk menentukan siapa yang harus
menggeletak dan mampus!” Pat jiu Giam ong tak dapat
menjawab. Melihat sikap wanita berkedok ini, ia merasa
ngeri juga. Sungguhpun sukar untuk dikatakan bahwa dia
takut, Pat jiu Giam ong tak kenal arti takut dalam
menghadapi lawan, hanya senjata senjata di tangan Mo bin
Sin kun ini mengingatkan ia akan seorang wanita pada
puluhan tahun yang lalu....!
Tiba tiba terdengar orang tertawa terkekeh kekeh seperti
ringkikan kuda dan Sam thouw hud, pendeta Buddha dari
Tibet itu, telah berdiri menghadapiMo bin Sin kun.
“Liem goanswe, untuk apa melayani setan perempuan
yang menjijikkan ini? Pegang dan lempar dia keluar, habis
perkara! Melihat wajahnya membuat aku kehilangan nafsu
minumku.”
Pat jiu Giam ong dan Lam hai Lo mo mengejapkan mata
kepada hwesio yang lancang mulut ini, tetapi terlambat.
Terdengar seruan nyaring dan berkelebat bayangan merah
ke arah Sam thouw hud (Buddha Kepala Tiga).
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwesio murtad ini terkejut sekali dan cepat ia menangkis
dengan lengan kirinya.
Sebenarnya, kalau Sam thouw hud sudah tahu akan
kelihaian sabuk merah ini, ia tentu tidak akan berlaku
sembrono menangkis dengan lengannya. Akan tetapi
karena ia terlalu sombong dan memandang rendah, ia
menangkis untuk memegang sabuk itu dan merampasnya.
Tidak tahunya, begitu ia memegang sabuk merah itu, ujung
sabuk itu bagaikan seekor ular telah melingkar dan
membelit lengannya dan pada saat itu juga, lilitan sabuk itu
makin bertambah erat dan kuatnya, sehingga terdengar
suara kain robek karena lengan bajunya telah robek dan
sabuk itu mencekik kulit lengannya, sehingga terasa sakit
sekali.
Ini masih belum hebat, kemudian Mo bin Sin kun lalu
melompat maju dan menggerakkan cermin itu ke arah
muka Sam thouw hud dalam serangan yang hebat sekali.
Cermin ini merupakan senjata luar biasa, karena bingkainya
terbuat daripada perak keras, demikianpun gagangnya dan
punggung cermin. Adapun kaca cermin itu amat berbahaya
karena dapat membuat lawan menjadi silau matanya.
Demikian pula Sam thouw hud. Dengan lweekangnya,
pendeta Tibet ini telah dapat meloloskan lengannya dari
lilitan sabuk, akan tetapi tiba tiba ia terpaksa harus
memeramkan matanya sebentar, ketika cermin itu
berkelebat di depan mukanya, karena cahaya dari cermin
itu menyilaukan matanya. Ia masih dapat mendengar
sambaran angin pukulan cermin, maka cepat ia mengelak
ke kiri. Tidak tahunya, cermin itu digerakkan secara aneh
dan cepat, kini meluncur tak terduga sekali dan menyerang
lehernya.
“Celaka....!” seru Sam thouw hud dan untuk menjaga
diri, tidak ada lain jalan baginya kecuali mengadu nyawa.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ia mengangkat kaki dan menendang, tendangan maut ke
depan. Akalnya ini berhasil karena Mo bin Sin kun tidak
dapat melanjutkan serangannya karena tentu tendangan itu
akan mengenainya juga dan ini berbahaya sekali. Ia
menaksir bahwa tendangan pendeta Tibet ini sedikitnya
bertenaga seribu kati. Maka ia pun lalu mengelak ke
belakang dan menggerakkan cermin dan sabuknya hendak
menyerang lagi,
“Tahan, Mo bin Siu kun!” Tiba tiba Lam hai Lo mo
melompat maju dan memalangkan tongkatnya.
“Aku datang hendak menuntut balas kepada Pat jiu
Giam ong! Apa kau tua bangka hendak turun tangan pula?”
Mo bin Sin kun membentak marah, adapun Sam thouw
hud yang mukanya menjadi agak pucat itu telah mundur
dengan hati lega. Tak disangkanya bahwa Mo bin Sin kun
demikian lihai, sehingga dalam dua jurus saja ia hampir
mampus.
“Bukan begitu Mo bin Sin kun. Kau seorang tokoh besar
ternyata kini bersepak terjang seperti seorang tukang silat
kampungan saja!” kata Lam hai Lo mo yang selain lihai
ilmu silat dan ilmu sihir, juga lihai sekali lidahnya.
“Ular belang tua bangka, kalau ada maksud bicara saja,
jangan sembarang menyebar bisa!” Mo bin Sin kun
memaki.
Lam hai Lo mo tertawa cekikikan.
“Dengar, Mo bin Sin kun. Kau tadi hampir saja
membunuh Sam thouw hud, hanya karena dorongan
kemarahanmu. Demikian pula sute, karena melihat
muridmu membunuh Bucuci secara tidak tahu aturan sama
sekali, maka ia lalu menegur dan hasilnya pertempuran itu
membuat muridmu dan ayahnya tewas. Apakah yang aneh
dalam hal ini? Kita sudah berjanji, beberapa hari lagi akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bertemu di lembah maut di Lok yang, apakah kau sekarang
hendak merusak janji itu dan menjilat ludah sendiri? Atau
kau barangkali tidak berani menghadapi kami di sana, maka
sekarang hendak turun tangan lebih dulu?”
“Bangsat tua bangka! Kalau aku takut, apa kau kira aku
berani datang ke tempat ini? Kalian semua boleh maju
mengeroyokku, aku tidak takut mati. Aku datang sekarang
karena aku khawatir kalau kalau kalian tidak berani muncul
di lembah maut.”
“Mo bin Sin kun, akupun seorang laki laki! Kalau
memang kau berkepandaian, bersabarlah sampai datang
saatnya kita berhadapan di lembah maut. Di sana kita boleh
mengadu kepandaian.”
“Aku ulangi tantanganku, beranikah kau mengadu
kepandaian di sana!” kata Pat jiu Giam ong. “Aku tidak
sudi dianggap pengecut dan membunuhmu di rumahku
sendiri. Kalau kau nekat dan hendak menyerang kami,
seranglah! Kami takkan melawan, coba hendak kami lihat
apakah Mo bin Sin kun sudi berlaku serendah itu,
menyerang orang orang yang tidak melawan di rumah
orang orang itu sendiri?”
Mo bin Sin kun menjadi kewalahan dan kalah aturan. Ia
menggigit bibir, kemudian dengan senyum sindir ia berkata,
“Tidak apa, biar kalian hidup beberapa hari lagi. Akupun
tidak takut kalian tidak datang pada waktunya, karena di
manapun juga kalian berada, akan kucari sampai dapat dan
untuk menghancurkan kepalamu. Ayoh, Thian Giok, kita
pergi dari tempat busuk ini!” ajaknya kepada muridnya.
Ketika mereka melompat keluar, Mo bin Sin kun masih
sempat berkata kepada Sam thouw hud, “Dan kau, iblis
berpakaian dewa, jangan lupa, ikutlah datang di lembah
maut kalau ingin merasai kerasnya tanganku!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sebentar saja, Mo bin Sin kun dan muridnya lenyap dari
situ.
“Hebat dan ganas sekali....!” teriak Biauw Ta, orang
pertama dari Koai kauw jit him yang memecahkan
kesunyian yang mencekam ruangan itu seperginya Mo bin
Sin kun.
Mo bin Sin kun langsung ke Sian hwa san di mana ia
hendak berlatih untuk menghadapi pertempuran mati
matian dan hebat itu. Ia maklum bahwa musuh musuhnya
berkepandaian tinggi, maka ia hendak mengumpulkan
tenaga dan melatih ilmu silat yang paling lihai yang pernah
ia pelajari. Adapun Thian Giok yang diam diam merasa tak
puas dengan sikap gurunya yang menangguhkan
pembalasan dendam itu, diam diam lalu ia pergi lagi ke
kota raja untuk menyelidiki gerakan fihak musuh!
Nyonya Yap hanya dapat menangis sedih saja dan ia
memperhebat samadhi dan sembahyangnya untuk mohon
kekuatan batin dari Yang Maha Kuasa, agar ia dapat
menahan pukulan batin yang hebat itu.
“Tentu saja, Sian Hwa, Pinni sekalian akan merasa
bahagia sekali untuk menjadi walimu dan meresmikan
upacara pernikahanmu dengan Song taihiap,” kata ketua
nikouw dari kelenteng Sun pok thian ketika Bun Sam dan
Sian Hwa menghadap dan mohon pertolongan mereka.
Dapat dibayangkan betapa gembira hati Sian Hwa dan
Bun Sam mendengar ucapan dari nikouw tua. Mereka
berlutut dan menghaturkan terima kasih mereka.
Peralatan pernikahan disiapkan oleh para nikouw dan
pada keesokan harinya, Bun Sam dan Sian Hwa dalam
pakaian pengantin menghadapi meja sembahyang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Baru saja upacara sembahyang selesai dilakukan, tiba
tiba dari luar menyerbu seorang pemuda yang langsung
menyerang Bun Sam dengan memaki keras, “Bangsat,
bersedialah untuk mati!”
Ketika itu, Bun Sam dan Sian Hwa masih berlutut di
depan meja sembahyang, yakni sedang mohon berkah
daripada arwah arwah orang tua mereka berdua. Ketika
mendengar sambaran angin serangan dari belakang, Bun
Sam bergerak ke kanan dan tahu tahu tubuhnya telah
melompat sambil memondong isterinya!Memang luar biasa
gerakan Bun Sam ini dan membuktikan bahwa
kepandaiannya benar benar telah hebat sekali.
Terdengar suara hiruk pikuk dan pemuda itu
menendangi semua meja dan bangku dalam amukannya.
Senjatanya menyambar nyambar dan menghancurkan
perkakas yang berada di dekatnya.
“Thian Giok....!” Bun Sam dan Sian Hwa ber seru
hampir berbareng.
Memang betul, yang datang mengamuk itu adalah Thian
Giok.
Pemuda ini dalam penyelidikannya di kota raja, telah
teringat kepada Sian Hwa yang menyebabkan kematian
ayah dan saudaranya. Kalau tidak karena Sian Hwa, tak
mungkin sampai terjadi peristiwa yang menyedihkan itu.
Maka di luar kehendaknya sendiri, ia menuju ke
kelenteng itu untuk mencari kalau kalau Sian Hwa sudah
kembali ke kelenteng itu. Dan kebetulan sekali ia
menyaksikan upacara sederhana dari pernikahan Sian Hwa
dan Bun Sam. Tentu saja melihat Bun Sam, naik darahnya
dan ia menyerang kalang kabut.
“Thian Giok, apakah kau tiba tiba menjadi gila ?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Mengapa kau menyerangku?” tanya Bun Sam dengan
mata terbelalak heran.
“Bangsat keji. Kau telah membunuh ayah dan adikku,
ingin banyak cakap lagi? Cabut senjatamu dan mari kita
menetapkan siapa yang harus menyusul ayah dan Lan Giok
lebih dulu.”
“Apa katamu? Adik Lan Giok....?” Sian Hwa berseru
dan mukanya menjadi pucat ketika ia melompat
menghadapi Thian Giok.
Thian Giok mengangguk. “Adikku Lan Giok dan juga
ayah telah tewas, semua karena gara gara.... suamimu ini,”
kata kata ini membuat Sian Hwa dan Bun Sam makin
terheran.
“Bun Sam, apa artinya ini?” tanya Sian Hwa kepada
suaminya.
“Sian moi, siapa tahu apa maksudnya?”
“Eh, Thian Giok, sebetulnya apakah yang terjadi, maka
kau berlaku seganjil ini? Apa yang telah terjadi dengan
suheng dan Lan Giok?”
Akan tetapi, sebagai jawaban, Thian Giok melompat dan
menyerang lagi, kini dengan Pek giok joan pian, senjatanya
yang lihai.
Bun Sam terkejut dan penasaran sekali. Ketika joan pian
itu menyambar ke arah kepalanya, ia mengulurkan
tangannya dan sekali tangannya bergerak, joan pian yang
lihai itu telan tertangkap olehnya dan dibetot sedikit saja
senjata itu sudah berpindah tangan.
Diam diam Thian Giok merasa terkejut sekali melihat
kelihaian ini. Hampir ia tidak percaya. Bagaimana Bun Sam
bisa merampas senjatanya hanya dengan sekali tangkis saja?
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Memang Bun Sam sengaja mengeluarkan kepandaian
simpanannya yang ia pelajari dari Bu tek Kiam ong. Ilmu
silat dari Bu tek Kiam ong Si Raja Pedang, memang khusus
diciptakan oleh orang sakti itu untuk menghadapi semua
ilmu silat dari Empat Besar yang lain, maka kini
menghadapi serangan dari Thian Giok yang berasal dari
ilmu silat Mo bin Sin kun, ia dapat menggunakan ilmu
silatnya itu dengan baik dan tepat sekali. Selain itu, tenaga
lweekang dari Bun Sam kini telah bertambah berlipat
ganda.
“Thian Giok, berlakulah tenang dan adil. Bagaimana kau
yang berjiwa gagah dapat menyerang orang tanpa alasan
dan tanpa memberitahukan sebab sebabnya lebih dulu?
Ceritakanlah yang jelas, baru kita nanti pikir pikir lagi
apakah patut kau menyerangku secara demikian ganas.”
Thian Giok menutup mukanya dengan kedua tangannya
ketika ia berkata dengan suara gemetar, “Ayah dan Lan
Giok telah tewas. Mereka pergi ke kota raja untuk
meminang nona Sian Hwa guna engkau.”
“Apa.....? Mengapa begitu? Apa artinya ini?” tanya Bun
Sam dan Sian Hwa membelalakkan matanya yang bagus.
Thian Giok menurunkan tangannya dan nampak mata
pemuda ini basah.
“Kau manusia kejam. Tidak dapatkah kau
membayangkan betapa hebat akibat daripada penolakanmu
terhadap adikku?”
“Setelah mendengar dari suthai bahwa kau menolaknya,
Lan Giok dan ayah lalu diam diam pergi ke kota raja untuk
melamarkan Sian Hwa buat engkau! Kemudian agaknya
terjadi pertengkaran dan adikku serta ayahku terbunuh
dalam tangan Pat jiu Giam ong.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pucat bukan main muka Bun Sam dan Sian Hwa.
Mereka saling memandang dan Sian Hwa menggigit bibir
menahan hatinya yang telah menjerit jerit.
“Mengapa Lan Giok berbuat hal yang aneh itu?
Mengapa ia melamarkan Sian Hwa untukku....?” tanya Bun
Sam dengan suara terputus putus.
“Tak dapatkah kau menyelami jiwanya? Dia tidak mau
dianggap penghalang bagi perjodohan mu dengan nona
Sian Hwa. Adikku terlampau berbudi untuk bersikap kokau
(egoisme) dan ia rela berkorban nyawa untuk.... kalian.... !”
“Lan Giok....!” Sian Hwa tak dapat menahan lagi
keharuannya dan gadis ini menangis tersedu sedu sambil
menutupi mukanya dengan sapu tangan.
“Lan Giok....“ keluh Bun Sam. Keluhan yang keluar dari
lubuk hatinya dan pemuda ini menggeleng gelengkan
kepalanya sambil menarik napas panjang. Lalu Bun Sam
menghampiri Sian Hwa dan menoleh kepada Thian Giok
sambil berkata, “Thian Giok, sekarang tahulah aku
mengapa kau hendak membunuhku. Nah lakukanlah itu,
aku takkan melawan. Kalau Lan Giok berani berkorban
demi kebahagiaan kami, apa kaukira kamipun takut mati?
Inilah kami berdua, orang orang yang telah menjadi sebab
kematian ayah dan adikmu. Bunuhlah kami !”
Sambil berkata demikian, Bun Sam melemparkan senjata
Pek giok joan pian yang tadi dirampasnya kepada Thian
Giok. Pemuda ini menerima senjatanya, memandang
kepada dua orang yang berdiri di depannya itu dengan
penuh kebencian, akan tetapi ia tidak mau menyerang.
Sebaliknya ia berkata, “Aku bukan pengecut yang
menyerang orang yang tak mau melawan!” Kemudian ia
melompat keluar dan berlari pergi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Para nikouw yang tadinya lari bersembunyi sejak
pemuda itu datang mengamuk, kini keluar lagi dan
memberes bereskan tempat yang diobrak abrik tadi oleh
Thian Giok. Akan tetapi, Bun Sam dan Sian Hwa, tanpa
bicara sesuatu, melompat keluar dan keduanya tahu ke
mana mereka harus pergi, biarpun keduanya tidak
mengeluarkan sepatah katapun. Ke rumah gedung Pat jiu
Giam ong Liem Po Coan!
“Biarpun dia bekas guruku, aku harus mengadu nyawa
dengan dia!” berkata Sian Hwa perlahan ketika mereka
berdua berlari cepat menuju ke kota raja.
“Bukan kau lawannya. Serahkanlah dia kepada
suamimu.” kata Bun Sam.
“Mana bisa kita menjadi suami isteri....?” kata Sian
Hwa.
Bun Sam berhenti berlari dan menyambar lengan
isterinya. Keduanya saling pandang dan biarpun Sian Hwa
tidak berkata apa apa, Bun Sam seakan akan dapat
membaca suara hati dan pendirian Sian Hwa.
“Kau benar, Sian moi, habislah semua, tiada artinya lagi
hidup ini....“
“Jangan berkata begitu, koko. Setelah apa yang terjadi
dengan Lan Giok, memang tak mungkin kita menjadi
suami isteri dalam arti sedalam dalamnya.”
“Namun, kita sudah melakukan upacara sembahyang
dan kita sudah menjadi suami isteri dalam arti umum. Kita
takkan berpisah sampai mati dan dapat menjadi suami isteri
dalam batin saja.”
Bun Sam memeluk isterinya sambil memejamkan
matanya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kau benar lagi, isteriku. Kau benar, semoga Thian
memberi kekuatan kepadaku, semoga nafsu berahi tidak
mengotorkan hatiku. Aku mengerti maksudmu. Kita tak
dapat menjadi suami isteri sebelum Lan Giok memaafkan
kita....”
“Ya, sebelum Lan Giok memberi ampun kepada kita
yang telah menjadi sebab kematiannya.”
“Akan tetapi, Lan Giok sudah meninggal dunia, karena
itu....” Sian Hwa tak dapat melanjutkan kata katanya saking
terharu dan duka.
“Karena itu, setelah selesai tugas kita, kita akan bertapa
di tempat sunyi. Kita berdua akan pergi diri dunia ramai
untuk bersama sama mencapai Nirwana,” Bun Sam
menyambung dan Sian Hwa mengangguk.
Mereka dua orang suami isteri yang aneh ini lalu
melanjutkan perjalanan ke kota raja. Karena merasa
berdosa kepada Lan Giok, baik Bun Sam maupun Sian
Hwa menganggap bahwa mereka tidak berhak untuk
menjadi suami isteri dalam arti sebenarnya dan rela
berkorban perasaan dan menjadi suami isteri dalam batin
saja.
Benar benar luar biasa dan sukarlah ditemukan orang
orang yang memiliki pribudi tinggi seperti mereka ini.
Ketika Bun Sam dan Sian Hwa tiba di kota raja, mereka
menjadi kecewa karena Pat jiu Giam ong dan semua
pimpinan Hiat jiu pai telah berangkat menuju ke Lok yang.
Bun Sam tidak tahu tentang tantangan mengadu
kepandaian, maka ia tidak mengerti pula mengapa semua
orang itu pergi ke lembah Sungai Huang ho itu.
Akan tetapi, ia tidak ambil pusing dan segera mengajak
Sian Hwa untuk mengejar.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Agar dapat melakukan perjalanan cepat, ia memondong
isterinya itu dan mempergunakan ilmu lari cepatnya yang
luar biasa!
Lembah Sungai Huang ho di dekat Lok yang disebut
Lembah Maut memang amat berbahaya. Boleh dibilang
tidak ada manusia yang berani mencoba untuk naik di
lembah yang tinggi dan penuh batu karang ini. Selain batu
batu karang di situ runcing dan tajam seperti tombak dan
pedang, juga tempat itu licin dan curam sekali. Sekali saja
orang terpeleset, kalau tidak tubuhnya akan pecah pecah
kulitnya terkena batu batu karang, juga ia boleh jadi hancur
terjungkal ke bawah dan menimpa batu batu di pinggir
sungai, atau hanyut oleh air Sungai Huang ho, atau
disambar oleh ikan ikan besar.
Pada siang hari itu, dua sosok bayangan orang tengah
duduk berhadapan di atas batu karang yang bentuknya
seperti bangku. Mereka duduk tak bergerak, tetapi mereka
bicara perlahan.
“Kim Kong, adakah kau melihat perbedaan antara Lan
Giok dan Cui Kim?”
Kakek yang duduk di hadapan Mo bin Sin kun
menggeleng kepalanya. “Memang, seperti juga Cui Kim
yang hingga kini tetap kukagumi, Lan Giok adalah seorang
gadis yang berhati mulia, bersih, dan gagah berani.”
“Dan semua itu karena kesalahan Bun Sam, bukan?
Seperti juga dahulu dalam persoalan Cui Kim, semua
adalah karena kesalahan Han Kong, bukan?” tanya Mo bin
Sin kun.
Kim Kong Taisu menarik napas panjang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kalian orang orang wanita selalu mau dimenangkan
dalam urusan cinta.”
“Yaaah, memang demikianlah seharusnya karena wanita
terbelenggu oleh kesetiaan dan kesusilaan, sudah menjadi
haknya untuk menjadi ratu yang tersuci dalam soal cinta
dan perjodohan. Aku tak dapat berkata sesuatu tentang Bun
Sam, karena dia telah kuusir dan tidak kuakui sebagal
murid lagi!”
Kim Kong Taisu nampak berduka sekali ketika ia
mengucapkan kata kata ini.
Pada saat itu, dari jauh datang serombongan orang ke
arah lembah maut. Baik Kim Kong Taisu maupun Mo bin
Sia kun yang duduk bercakap cakap, tahu akan hal ini dan
tahu pula bahwa yang datang itu adalah rombongan fihak
musuh yang jumlahnya belasan orang. Akan tetapi mereka
tidak takut dan tidak menghiraukan.
Kemudian setelah empat orang dari rombongan itu
berlompat lompatan di atas batu batu karang dengan
gerakan lincah sekali, sedangkan yang lain lain menanti di
bawah, tiba tiba Mo bin Sin kun menjadi pucat dan bangkit
berdiri.
“Thian Giok!Mereka menawan muridku !” katanya.
Ternyata memang betul, yang datang itu adalah Lam hai
Lo mo Seng Jin Siansu, Pat jiu Giam ong Liem Po Coan,
dan Sam thouw hud. Adapun orang ke empat adalah Thian
Giok yang dipegang lengannya oleh Lam hai Lo mo dan
dibawa berlompat lompatan.
Setelah berada di bawah batu karang di mana Mo bin Sin
kun dan Kim Kong Taisu berdiri, Lam hai Lo mo dan
kawan kawannya berhenti lain berkata,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ha, ha, ha, dua orang tua bangka sudah menanti di
atas? Bagus, bagus!”
“Hm dengarlah kalian Mo bin Sin kun dan Kim Kong
Taisu. Kalian lihat siapa yang telah kami tawan ini.”
“Siluman curang tak tahu malu, Lam hai Lo mo! Tidak
malukah kau? Tidak merahkah mukamu melakukan hal
yang amat rendah ini? Kau dan kawan kawanmu bukan
orang orang gagah, melainkan ular ular jahat yang curang.
Kalau kau sudah berani menantang pibu, mengapa
sekarang kau berlaku curang dan menawan seorang anak
anak? Lepaskan dia dan naiklah ke sini untuk mengadu
kepandaian kalau memang bukan seorang siauwjin (orang
rendah) yang berjiwa pengecut!” Mo bin Sin kun memaki
maki marah.
Lam hai Lo mo tertawa mengikik.
“Sudah menjadi lazim bagi manusia untuk mencela
orang lain tanpa melihat cacad cela dirinya sendiri dan
agaknya kaupun mempunyai kebiasaan macam itu juga Mo
bin Sin kun! Dengarlah kau, buka telingamu baik baik!
Muridmu ini telah menyebabkan muridku Gan Kui To dan
keponakanku Liem Swee tewas, oleh karena itu ia
kutangkap dan kubawa ke sini. Akan tetapi, aku bukanlah
orang macam kau yang meributkan soal mati dan hidup.
Kalau kau dan Kim Kong Taisu mau mengaku kalah
terhadap aku dan mau menjadi anggota Hiat jiu pai dan
bersumpah di sini, aku akan melepaskan muridmu dan
mengampuninya. Nah, jawablah!”
Mendengar bahwa Thian Giok sudah menyebabkan
kematian dua orang pemuda itu, bukan main kagetnya Mo
bin Sin kun dan Kim Kong Taisu. Dua orang gagah ini tahu
bahwa kepandaian Thian Giok biarpun tidak rendah dan
belum tentu kalah oleh murid murid Lam hai Lo mo dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pat jiu Giam ong, namun tak mungkin Thian Giok dapat
membunuh dua orang muda itu di hadapan tokoh tokoh
besar ini!
Oleh karena itu, Mo bin Sin kun merasa ragu ragu dia
tidak percaya akan omongan Lam hai Lo mo, karena ia
sudah tahu akan kelicikan dan kecurangan kakek itu.Maka
ia lalu menoleh kepada Pat jiu Giam ong dan bertanya,
“Jenderal, betulkah apa yang dikatakan oleh suhengmu
itu?”
Dengan muka merah saking marahnya, Pat jiu Giam ong
mengangguk.
“Memang puteraku tewas karena muridmu!”
“Aku masih ragu ragu. Coba kanceritakan apa yang telah
terjadi.” kata Mo bin Sin kun.
Pat jiu Giam ong tahu bahwa Mo bin Sin kun tidak mau
percaya kepada Lam hai Lo mo, maka ia lalu menceritakan
dengan singkat apa yang telah terjadi.
Ternyata bahwa setelah gagal menyerang Bun Sam di
kelenteng dan bahkan terpukul hatinya melihat Bun Sam
dan Sian Hwa menyerahkan mati hidup mereka di
tangannya, Thian Giok lalu cepat pergi mencari Pat jiu
Giam ong dengan maksud hendak mengadu nyawa. Akan
tetapi baru saja rombongan Pat jiu Giam ong berangkat,
maka ia cepat mengejar.
Karena ia melakukan perjalanan cepat, sedangkan
rombongan Pat jiu Giam ong tidak tergesa gesa, akhirnya ia
dapat menyusul dan melihat Liem Swee dalam rombongan
itu, naiklah amarah dalam hati Thian Giok. Kalau tidak
ada Liem Swee yang memaksa Sian Hwa menjadi isterinya,
agaknya takkan pernah terjadi hal hal yang amat
menyedihkan itu, yakni kematian adik dan ayahnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Maka tanpa banyak cakap lagi ia menyerang Liem Swee.
Baiknya ada Pat jiu Giam ong yang dengan mudah
merobohkannya. Liem Swee mencabut kim siang to
(sepasang golok emas) dan hendak membunuh Thian Giok.
Akan tetapi, tiba tiba Kui To mencegahnya. Kui To
melihat persamaan Thian Giok dengan adiknya, yakni Lan
Giok yang dicintainya, tidak tega membiarkan Thian Giok,
sehingga kebenciannya terhadap Liem Swee menjadi jadi.
Ia lain menggunakan kekerasan, sehingga golok di tangan
Liem Swee terpental. Hal ini menimbulkan kemarahan
dalam hati Liem Swee yang segera menyerang Kui To.
Pertempuran terjadi, akan tetapi mana Liem Swee dapat
melawan Kui To! Kepandaian murid Lam hai Lo mo ini
lebih tinggi dan sebentar saja, Liem Swee menggeletak tak
bernyawa lagi terkena pukulan tongkat di tangan Kui To.
Hal ini terjadi cepat sekali sehingga orang orang tua yang
berada di situ tak tempat mencegahnya.
Melihat puteranya binasa, tentu saja Pat jiu Giam ong
menjadi marah sekali, sehingga sekali serang saja ia
membikin kepala Kui To pecah! Lam hai Lo mo hendak
membela dan hampir saja kedua orang kakak beradik
seperguruan ini baku hantam sendiri. Baiknya ada Sam
thouw hud yang memberi ingat kepada mereka dan
akhirnya kedua orang ini lalu membawa Thian Giok,
melanjutkan perjalanan ke lembah maut setelah mengubur
jenazah Liem Swee dan Kui To.
Adapun Thian Giok yang melihat kematian Liem Swee
dan Kui To, menjadi puas sekali dan di sepanjang jalan
pemuda ini tertawa dan mengejek musuh musuhnya! Tentu
saja Pat jiu Giam ong tidak menceritakan sejelas jelasnya
kepada Mo bin Sin kun, hanya menceritakan bahwa Thian
Giok telah datang mengacau dan berlaku curang, sehingga
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dua orang muda itu telah mengalami kemarahan dan saling
bunuh!
Setelah mendengar penuturan Pat jiu Giam ong yang
lebih jujur dan dapat dipercaya daripada Lam hai Lo mo,
Mo bin Sin kun lalu berkata, “Kau menghendaki kami
masuk menjadi anggauta Hiat jiu pai? Hah, kalian ini
mengira kami orang orang macam apakah? Lebih baik kau
melepaskan Thian Giok dan aku mau membikin habis
perkara kematian Lan Giok, karena kalian berdua juga
sudah kehilangan murid dan anak. Hatiku puas sudah!”
Tiba tiba Lam hai Lo mo tertawa tawa.
“Ha, ha, kau menghendaki supaya aku melepaskan
muridmu ini? Nah, kau lihatlah!” sambil berkata demikian
Lam hai Lo mo lalu melemparkan tubuh Thian Giok ke
bawah! Batu batu karang yang runcing dan tajam
menyambut tubuh pemuda itu dari tempat yang amat tinggi
den dalam keadaan tertotok, maka tentu saja pemuda ini
tak dapat menyelamatkan dirinya lagi!
“Bangsat tua....!” Mo bin Sin kun memekik marah dan
sekali renggut saja ia telah melepaskan kedoknya dan
mengeluarkan sepasang senjatanya, yakni cermin dan sabuk
merah. “Kalau hari ini aku tidak membunuhmu, matipun
aku tidak dapat meram!” Dari tempat yang begitu tinggi,
Mo bin Sin kun lalu melompat ke bawah. Sungguh ginkang
yang amat mengagumkan sekali.
Kim Kong Taisu tidak tinggal diam dan menyusul
kawannya, melompat turun, sehingga kini dua orang ini
telah berhadapan dengan Lam hai Lo mo dan kawan
kawannya.
Melihat Mo bin Sin kun tanpa kedok, Lam hai Lo mo
dan Pat jiu Giam ong tertegun dan menjadi pucat. Ternyata
bahwa dugaan Lam hai Lo mo dahulu tidak salah. Yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berdiri di hadapan mereka, masih tetap nampak cantik
jelita, adalah gadis gagah perkasa yang dulu mereka lihat
sudah menggeletak tak bernyawa di dasar jurang! Gadis
yang dulu mereka permainkan dengan pertolongan ilmu
hitam dari Lam hai Lo mo!
“Cui Kim.......!” Lam hai Lo mo dan Pat jiu Giam ong
menyebut nama kecilMo bin Sin kun hampir berbareng dan
keduanya lupa bahwa mereka menghadapi lawan lawan
yang amat lihai.
“Ya, aku Cui Kim dan sekarang majulah kalian. Kita
bertempur seorang lawan seorang dalam sebuah pibu yang
jujur. Setan tua, kau boleh pula mempergunakan ilmu
hitammu kalau kau mau, aku tidak takut!” kata Mo bin Sin
kun kepada Lam hai Lo mo yang memandang pucat.
“Sute, kau majulah menghadapinya, biar aku
menghadapi Kim Kong Taisu!” kata Lam hai Lo mo dan
dari kata katanya, mudah didengar bahwa kakek yang
selamanya tidak mengenal takut ini, sekarang merasa ngeri
kalau harus menghadapiMo bin Sin kun!
“Suheng, kaulah yang menghadapinya. Kau yang
bertanggung jawab penuh untuk menghadapi Cui Kim!”
kata Pat jiu Giam ong Liem Po Coan, sehingga terdengar
aneh pula karena jenderal yang tinggi besar dan kosen
inipun memperlihatkan sikap takut takut!
Kim Kong Taisu tertawa geli.
“Ah, benar benar lucu. Kini kalian dua orang tua bangka
ketakutan seperti anak kecil melihat setan! Siapa menanam
pohon, dia sendiri memetik buahnya. Apakah benar benar
kalian dua orang yang berhati kejam dan keras takut
menghadapi Cui Kim?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kakek sombong, siapa takut? Akulah yang akan
menghadapinya,” tiba tiba Sam thouw hud melompat maju
menghadapi Mo bin Sin kun dan kedua tangannya telah
memegang kebutan dan Kim liong pang.
Kini setelah bersiap sedia dan memegang senjata, hwesio
Tibet ini tidak merasa jerih kepada Mo bin Sin kun, apalagi
setelah Mo bin Sin kun melepaskan kedoknya sehingga
tidak kelihatan menyeramkan seperti biasanya, bahkan
kelihatan cantik dan bersih.
“Sam thouw hud, kau sudah ingin mati? Baik, majulah!”
Mo bin Sin kun menggerakkan cerminnya di depan dada
sambil memasang kuda kuda.
Sebelum kedua orang gagah ini menggerakkan senjata
masing masing, tiba tiba dari bawah batu karang itu
melompat keluar sesosok bayangan yang lincah sekali dan
tahu tahu seorang pemuda telah berdiri di situ. Pemuda ini
bukan lain adalah.... Thian Giok.
Tentu saja semua orang membelalakkan mata mereka
dengan penuh keheranan. Bagaimana Thian Giok yang tadi
dilemparkan ke dalam jurang yang demikian tingginya
mendadak bisa hidup kembali dan melompat naik?
Jawabannya segera terdapat dengan munculnya
bayangan lain yang gerakannya demikian cepat dan luar
biasa, yang melompat dari bawah batu karang itu sambil
memondong seorang gadis. Orang ini bukan lain adalah
Bun Sam yang memondong Sian Hwa. Pemuda perkasa
inilah yang dengan kebetulan sekali sudah tiba di bawah
batu karang ketika ia melihat tubuh seorang pemuda
terlempar dari atas. Dengan cepat Bun Sam melompat dan
menyambar tubuh pemuda itu dan alangkah kagetnya
ketika ia melihat bahwa pemuda itu adalah Thian Giok
yang berada dalam keadaan lumpuh tertotok.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Cepat ia memulihkan jalan darah pemuda ini dan
mendengar apa yang terjadi di atas batu karang, yakni
Lembah Maut.
Setelah keadaan Thian Giok sehat kembali, dengan
pertolongan Bun Sam, Thian Giok dibawa melompat ke
atas dan setelah hampir tiba di atas batu karang Bun Sam
melemparkannya dengan tenaga luar biasa, sehingga Thian
Giok dapat tiba di atas dengan selamat. Kemudian Bun
Sam melompat turun dan naik lagi ke atas sambil
memondong Sian Hwa yang tadi ditinggalkan di bawah
ketika ia menolong Thian Giok melompat ke atas.
Melihat Lam hai Lo mo, Pat jiu Giam ong dan Sam
thouw hud, Bun Sam tidak dapat menahan kesabarannya
lagi. Ia maju berlutut di depan Mo bin Sin kun dan Kim
Kong Taisu yang hanya memandang dengan mata terharu,
tetapi tidak mengeluarkan sepatah katapun. AdapunMo bin
Sin kun bahkan membuang muka.
Akan tetapi Bun Sam tidak merasa tersinggung, bahkan
dengan tenang pemuda ini berdiri lagi lalu menghadapi tiga
orang lawan itu. Sambil tersenyum menyindir Bun Sam
berkata,
“Hiat jiu pai benar benar berdarah tangannya. Orang
orang tua budiman dan mulia dari Oei san dan Sian hwa
san terlampau tinggi untuk beradu tangan dengan tangan
kalian yang berdarah. Marilah hadapi aku, kita sama sama
bertangan darah,” katanya dengan suara tenang dan tabah.
Melihat munculnya pemuda ini, Pat jiu Giam ong
merasa terkejut dan juga gelisah. Pemuda ini telah memiliki
kepandaian hebat, terbukti pula dari caranya tadi melompat
ke atas sambil memondong puteri Bucuci atau bekas
muridnya itu dan ternyata bahwa pemuda itu telah dapat
menolong Thian Giok pula.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Orang muda she Song. Kau tak berhak datang ke
tempat ini. Ini adalah pertemuan pibu antara Lima Besar
dan kau bukan seorang murid dari kelimanya. Kau orang
luar mana boleh mencampuri urusan kami? Kau pergilah,
kelak kalau urusan ini sudah beres, boleh saja kau datang
kepada kami untuk menantang pibu!”
Bun Sam tertawa. “Justeru dalam hal inilah kau salah
besar, Liem goanswe. Kau keliru kalau bilang bahwa aku
adalah orang luar, karena aku datang mewakili suhu.”
Mau tak mau, Mo bin Sin kun dan Kim Kong Taisu
memandang ke arah pemuda itu. Kedua orang tua ini tahu
bahwa Bun Sam kini nampak maju kepandaiannya, tetapi
bagaimana pemuda ini akan sanggup menghadapi seorang
di antara tiga lawan yang lebih tinggi tingkatnya itu?”
“Siapa suhumu?”
“Siapa saja yang mau mengaku murid padaku,” jawab
Bun Sam sambil mengerling ke arah Mo bin Sin kun dan
Kim Kong Taisu.
Pat jiu Giam ong hendak bertanya kepada Mo bin Sin
kun dan Kim Kong Taisu, karena ia pun telah mendengar
bahwa Bun Sam tidak diakui lagi oleh kedua orang gurunya
ini. Ia mendengar dari para penyelidiknya yang mempunyai
banyak sekali kaki tangannya di mana mana.
Akan tetapi sebelum ia membuka mulut, ia telah
didahului oleh Sam thouw hud. Hwesio dari Tibet ini
melihat kesempatan baik.
Sebetulnya, untuk menghadapi Kim Kong Taisu dan Mo
bin Sin kun, ia tidak takut. Akan tetapi setelah sekarang
bertambah seorang lawan yang menantang, mengapa ia
tidak memilih yang paling lemah? Kalau dibandingkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dengan Mo bin Sin kun dan Kim Kong Taisu tentu saja
pemuda ini jauh lebih ringan untuk dihadapi.
“Liem goanswe, biarlah aku yang menghadapi bocah
hijau ini! Kalau tidak diberi rasa, dia akan menjadi besar
kepala dan tidak baik untuk anak muda jika berkepala besar
!” Sambil berkata demikian, Sam thouw hud menyerang
Bun Sam dengan Kim liong pang. Toya yang panjang dan
berat ini mengeluarkan suara angin menyambar, ketika me
mukul ke arah kepala Bun Sam. Kalau mengenai kepala,
tak dapat disangsikan lagi tentu akan remuk, karena dalam
pukulan ini terkandung tenaga cukup keras dan kuat dapat
menghancurkan batu karang !
“Hati hati, koko!” Sian Hwa berseru dan gadis ini berdiri
agak jauh dari pertempuran itu.
“Jangan khawatir, moi moi!” kata Bun Sam sambil
mengelak dengan seketika, menggerakkan kepalanya,
sehingga toya itu menyambar lewat.
Serangan toya itu disusul dengan sambaran kebutan yang
ujungnya menotok jalan darah di iga kanan Bun Sam, akan
tetapi pemuda ini tanpa mengelak lalu menyentil dengan
jari telunjuknya ke arah ujung kebutan itu.
“Cring!” terdengar suara nyaring seakan akan orang
memetik senar yang kim (semacam alat musik bersenar)
dan bukan main kagetnya Sam thouw hud ketika melihat
ujung kebutannya telah putus! Bun Sam ternyata
mempergunakan Ilmu Silat Tee coan liok kun hwat yang
gerakannya demikian aneh dan lihai, sehingga semua tokoh
yang berada di situ tidak dapat mengenal ilmu silat apakah
yang dipergunakan oleh pemuda itu!
Pertempuran berjalan makin hebat dan biarpun Sam
thouw hud memegang dua macam senjata, namun
menghadapi pemuda ini yang bersilat tangan kosong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dengan cara yang amat luar biasa, ia menjadi pening juga.
Tubuhnya terlalu tinggi dan gemuk, sehingga gerakannya
yang harus cepat untuk mengimbangi gerakan Bun Sam itu
membuatnya lekas merasa lelah.
Makin lama, gerakan toyanya menjadi makin lambat dan
tiba tiba sambil berseru keras, Bun Sam berhasil merampas
kebutannya! Pemuda ini lalu memainkan kebutannya
seperti orang memainkan pedang dan hasilnya luar biasa
sekali!
Hudtim (kebutan) itu menyambar dan mengeluarkan
cahaya mengurung gerakan toya dari lawannya. Sam thouw
hud merasa seakan akan ia dikurung oleh enam orang yang
memainkan hudtim sama lihai dan sama anehnya!
Inilah Ilmu Silat Enam Ilmu Pedang Lingkaran Bumi
yang dipelajari oleh Bun Samdari Bu tek Kiam ong!
“Menggelindinglah kau turun!” tiba tiba terdengar suara
Bun Sam dari dalam gulungan sinar kebutan dan disusul
oleh pekik kesakitan dari Sam thouw hud.
Kemudian nampak tubuhnya yang gemuk itu betul saja
menggelinding turun dari batu karang itu. Orang orang
yang berada di bawah segera menyambut dan menolongnya
dan hwesio gemuk itu hanya dapat mengaduh aduh, karena
biarpun ia tidak terluka hebat yang membahayakan
nyawanya, akan tetapi tendangan dari Bun Sam tadi tepat
sekali mengenai sambungan lututnya, sehingga sambungan
itu terlepas. Juga kepalanya yang gundul beradu dengan
batu batu karang, sehingga biarpun ia kebal, namun tetap
saja kulitnya rusak dan berdarah.
Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun saling memandaug
dengan heran.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bagaimana bekas murid mereka itu bisa begitu lihai?
Adapun Bun Sam kini menghadapi Lam hai Lo mo dan Pat
jiu Giam ong sambil tersenyum.
“Sekarang, giliran siapakah yang hendak memamerkan
kepadaiannya di sini?” tantangnya.
Pada saat itu, udara yang tadinya cerah tiba tiba menjadi
gelap dan mendung berkumpul menutupi matahari. Juga
pada waktu itu, musim hujan telah tiba dan di bagian barat
telah turun hujan lebat berhari hari lamanya. Udara yang
mulai mendung ini disusul oleh suara bergemuruh dan
nampak orang orang yang berada di bawah, yakni Koai
kauw jit him dan beberapa orang anggota Hiat jiu pai
berteriak teriak ketakutan dan semua berlari naik ke atas
batu karang.
Ketika semua orang memandang, ternyata bahwa dari
sebelah hulu sungai air mengalir dengan dahsyatnya, datang
bergelombang besar sekali. Air bah mulai datang.
Keadaan menjadi kalang kabut.
“Tangkap dua orang muda itu !” Seng jin Siansu
memberi perintah dan Koai kauw jit him bersama kawan
kawannya lalu menubruk maju dan mengeroyok Sian Hwi
dan Thian Giok yang berdiri agak bawah dari batu karang
itu. Kedua orang muda ini melawan, akan tetapi mereka
bukan tandingan Koai kauw jit him dan kawan kawannya,
maka sebentar saja mereka berdua terdesak hebat.
Mo bin Sin kun dan Kim Kong Taisu berseru keras dan
tubuh mereka menyambar ke arah para pengeroyok itu.
Terdengar teriakan teriakan keras dan beberapa orang
pengeroyok terlempar masuk ke dalam sungai, ditelan
ombak yang sudah bergulung gulung datang. Yang lain
melihat ini, mundur dan turun kembali, akan tetapi mereka
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
disambut oleh air yang mulai meningkat naik dan
merendam batu karang di bagian bawah.
Mereka menjadi serba salah dan saking gugupnya,
banyak yang terpeleset di atas batu karang licin itu dan
terjebur ke dalam sungai.
Makin hebat datangnya air dan batu karang itu diterjang
sampai bergoyang goyang dan beberapa orang yang masih
kebingungan itu tak dapat mempertahankan kedua kakinya,
lalu terlempar dan jatuh pula ditelan ombak.
Bun Sam melompat cepat dan sekali tangkap saja ia
sudah dapat memondong tubuh Sian Hwa.
“Koko, kau tolong Thian Giok.... !” tiba tiba Sian Hwa
berkata. Ternyata bahwa biarpun telah memiliki
kepandaian tinggi, Thian Giok tak dapat mempertahankan
diri di atas batu karang licin yang bergoyang goyang dan
iapun terjungkal. Akan tetapi, pemuda ini masih sempat
memegangi pinggiran jurang batu karang dan tubuhnya
tergantung di pinggir jurang. Bun Sam cepat melepaskan
Sian Hwa dan menyuruh gadis itu berjongkok agar tidak
terlempar, lalu ia merayap di atas batu karang yang licin
sekali mendekati jurang.
Sian Hwa memandang dengan hati berdebar. Ia maklum
bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh Bun Sam itu
berbahaya sekali, karena sekali saja terpeleset, tentu
pemuda ini akan tercebur dalam sungai pula dan kalau hal
itu terjadi, jangan harap Bun Sam akan dapat
menyelamatkan diri.
“Koko, kau hati hatilah....” katanya dan suara ini
membuat Mo bin Sin kun dan Kim Kong Taisu menjadi
pilu. Mereka juga terbaru sekali melihat pembelaan Bun
Sam kepada Thian Giok dan sedikit demi sedikit
kemarahan mereka terhadap Bun Sam menipis.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akhirnya Bun Sam berhasil memegang tangan Thian
Giok yang telah berdarah karena batu batu karang yang
tajam itu melukai kulit telapak tangannya, lalu Bun Sam
menarik tubuh pemuda itu ke atas.
“Berpeganglah erat erat, Thian Giok !” katanya dan
setelah tubuh pemuda yang ditolongnya itu berada di atas,
ia lalu memondongnya dan melompat ke tengah batu
karang yang kini sudah miring.
“Terima kasih, Bun Sam. Dua kali kau menyelamatkan
jiwaku,” kata Thian Giok terharu.
“Belum cukup untuk menebus dosaku terhadap adik dan
ayahmu,” jawab Bun Sam.
Pada saat itu, Sian Hwa memekik. Dari belakang
menyambar sebatang tongkat dan ternyata secara curang
sekali Lam hai Lo mo telah menyerang Bun Sam yang
berdiri membelakanginya!
“Curang kau, bangsat tua!” Kim Kong Taisu memaki
sambil melompat dan menangkis sambaran tongkat itu
dengan pedang Kim Kong kiam yang sudah dipegangnya!
“Traang!” Kim Kong Taisu merasakan tangannya
tergetar dan hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan.
Dalam hal tenaga, ia tidak kalah oleh Lam hai Lo mo, akan
tetapi kedudukannya tadi kalah oleh lawannya dan ia
menangkis dalam keadaan miring, maka tentu saja ia
hampir mendapat celaka. Sementara itu, Pat jiu Giam ong
juga tidak tinggal diam dan mengirim pukulan dengan
tangannya yang didorongkan ke arah punggung Kim Kong
Taisu.
Kim Kong Taisu terkejut sekali merasakan datangnya
sambaran angin pukulan yang dahsyat, ia cepat sekali
menangkis dengan mengebutkan ujung lengan bajunya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, masih saja ia terdorong dan kakek ini jatuh
terguling!
Baiknya Mo bin Sin kun melihat keadaan yang
berbahaya ini, cepat melompat lalu menyambar lengan Kim
Kong Taisu yang segera melompat berdiri lagi dengan
wajah merah.
“Tua bangka curang!” Bun Sam telah melompat
menghadapi Lam hai Lo mo dan Pat jiu Giam ong, “Tidak
malukah kalian? Kalau memang kalian ada kepandaian,
ayoh hadapi aku. Aku tantang kalian. Dengar baik baik!
Aku Song Bun Sam, orang yang tidak ternama, yang masih
bodoh dan hijau, aku menantang pibu kepada Lam hai Lo
mo Seng Jin Siansu dan Pat jiu Giam ong Liem Po Coan!
Beranikah kalian, atau takutkah menghadapi aku??”
Bukan main marahnya kedua orang kakek itu mendengar
tantangan hebat ini. Wajah mereka sampai menjadi pucat
saking menahan marahnya.
“Bocah sombong! Kaukira kepandaianmu sudah paling
tinggi?” Lam hai Lo mo membentak.
“Hem, aku tidak mau membunuh seorang tidak ternama.
Kau bukan murid Kim kong Taisu, tidak diakui pula oleh
Mo bin Sin kun. Kan tidak berhak mencampuri pibu ini!”
cela Pat jin Giam ong.
“Bodoh!” Bun Sam berkata. “Tak dapat mendugakah
kau, Liem goanswe. Ternyata kau hanya pandai mengatur
siasat perang untuk menipu barisan musuh yang lebih kuat
secara curang saja! Ketahuilah, aku datang sebagai wakil
dari Bu tek Kiam ong, karena aku adalah muridnya.
Tahu??”
Mendengar ini, semua orang melengak terheran heran.
Pantas saja anak ini demikian gagah dan lihai! Karena tiada
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
waktu lagi untuk banyak bertanya tentang Bu tek Kiam ong,
maka Pat jiu Giam ong yang cerdik segera berkata, “Aha,
tidak tahunya orang gila itu masih ada dan telah mengirim
muridnya. Bagus, kau tadi menantang pibu? Baik, turunlah
kita mencoba ilmu tangan kosong. Beranikah kau
menyambutnya?” Memang Pat jiu Giam ong cerdik. Ia tahu
bahwa kelihatan Bu tek Kiam ong, seperti dapat dimengerti
dari julukannya yang berarti Raja Pedang Tanpa
Tandingan, adalah dalam ilmu pedang. Maka sengaja ia
mengajak bertanding dengan tangan kosong, karena ia
mempunyai ilmu pukulan Tiat mo kang yang lihai, yang
dapat merobohkan lawan dengan angin pukulannya dari
jarak jauh!
“Tentu saja berani, siapa takut kepadamu?” jawab Bun
Sam, Pat jiu Giam ong lalu memasang kuda kuda dan
karena ia ingin cepat cepat merobohkan lawannya yang
muda ini, begitu bergebrak ia telah menjalankan pukulan
Tiat mo kang!
Kim Kong Taisu danMo bin Sin kun terkejut sekali. Dua
orang ini mengerti akan muslihat dari Pat jiu Giam ong,
maka mereka memandang dengan penuh kekhawatiran.
Akan tetapi, Mo bin Sin kun berbisik kepada Kim Kong
Taisu, Tak perlu khawatir, dia telah mempelajari Soan hong
pek lek jiu dari aku dan ditambah dengan kepandaiannya
Thai lek Kim kong jiu dari mu, kurasa dia takkan kalah.”
Kim Kong Taisu mengangguk angguk menyatakan
setuju dan ia menjadi agak lega. Keduanya memandang
dengan penuh perhatian, juga bersiap siap untuk mencegah.
Lam hai Lo mo menggunakan kecurangan. Adapun Thian
Giok dan Sian Hwa memandang ke arah Bun Sam. Thian
Giok dengan penuh kekaguman, Sian Hwa dengan bangga
dan juga khawatir.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi setelah pertempuran dimulai, tidak saja Sian
Hwa yang menjadi khawatir, bahkan Mo bin Sin kun dan
Kim Kong Taisu menjadi gelisah sekali. Ternyata bahwa
Bun Sam sama sekali tidak mempergunakan ilmu pukulan
Soan hong pek lek jiu atau Thai lek Kim kong jiu untuk
menghadapi serangan serangan Thiat mo kang dari Pat jiu
Giam ong.
Malaikat Maut Tangan Delapan ini mulai
penyerangannya dengan pukulan Thiat mo kang, dengan
tubuh agak direndahkan kemudian kedua tangannya
mendorong ke depan sambil mengeluarkan seruan keras.
Biarpun Sian Hwa dan Thian Giok berdiri jauh, masih
juga dua orang muda ini merasai angin pukulan, sehingga
mereka cepat mengerahkan lweekang untuk menahan angin
ini. Bun Sam menghadapi pukulan maut ini dengan
menggunakan kelincahan ginkangnya yang luar biasa.
Iapun membalas serangan lawan, tetapi ia menggunakan
ilmu pukulan yang ia pelajari dari Bu tek Kiam ong. Mana
bisa ia menghadapi lawan yang menggunakan ilmu pukulan
lweekang dari jauh dengan ilmu silat ini, karena sebelum
pukulannya mendekat lawannya kembali telah melancarkan
pukulan hebat dari Thiat mo kang.
Melihat keadaan lawannya, Pat jiu Giam ong menjadi
gembira sekali dan ia menyerang terus bertubi tubi sambil
bersilat dengan Ilmu Silat Pat kwa jiu hwat dan
mengerahkan pukulan Thiat mo kang. Bun Sam terdesak
terus dan mengelak ke sana ke mari, lincah sekali akan
tetapi terdesak Thian Giok melihat pula keadaan ini dan tak
tertahan pula ia berseru, “Bun Sam, pergunakan Soan hong
pek lek jiu!”
Mo bin Sin kun mengangguk angguk dan senang
mendengar kecerdikan muridnya ini. Ia sendiri merasa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
malu untuk memberi tahu Bun Sam, karena hal ini akan
dianggap curang oleh Pat jiu Giam ong.
Akan tatapi alangkah pilunya hati wanita perkasa ini
ketika mendengar Bun Sam menjawab. “Than Giok, aku
tidak berani melanggar larangan gurumu.”
Mo bin Sin kun merasa betapa matanya menjadi panas
dan hampir saja dua titik air mata yang telah mengembang
di pelupuk matanya mengalir turun kalau tidak ditahan
tahannya. Bukan main keras dan setia hati Bun Sam,
sehingga di dalam keadaan terdesak oleh bahaya maut itu,
pemuda ini tidak mau melanggar larangannya yang dulu
diucapkan dalam kemarahannya ketika Bun Sam menolak
ikatan jodohnya dengan Lan Giok.
Sementara itu, sebuah serangan dari Pat jiu Giam ong
akhirnya mengenai pundak Bun Sam. Hebat sekali pukulan
ini karena dilakukan dari jarak yang tidak seberapa jauh dan
ketika itu tubuh Bun Sam masih dalam keadaan melompat,
sehingga tubuh pemuda ini terpental dan jatuh bergulingan
di atas batu karang yang keras dan kasar.
“Koko....!” Sian Hwa memekik dan melompat ke arah
suaminya Akan tetapi Pat jiu Giam ong mendorongnya dan
berseru, “Pergi kau, perempuan hina !” Terkena dorongan
ini, Sian Hwa roboh pula targuling guling. Baiknya Thian
Giok berada di dekatnya maka pemuda ini dapat
menangkap tangannya, sehingga gadis itu tidak terdorong.
Pat jiu Giam ong mengejar Bun Sam dan mengirim
pukulan lagi yang mengenai punggung pemuda itu. Akan
tetapi, biarpun merasa sakit sekali, Bun Sam masih keburu
mengerahkan lweekangnya dan mencegah pukulan ini
melukai tubuh bagian dalam. Ia tidak memperdulikan
keadaannya sendiri, bahkan berseru kepada Sian Hwa,
“Sian moi, jangan kau ikut campur dan....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi ia terpaksa menghentikan seruannya ketika
Pat jiu Giam ong memukul lagi, kini dengan tenaga Thiat
mo kang sepenuhnya dan pukulan ditujukan ke arah kepala
Bun Sam. Pemuda ini cepat melompat ke pinggir sambil
menangkis dengan anginnya. Tetap saja ia terdorong dan
kembali ia roboh.
“Liem goanwe, jangan membunuh suamiku....!” Sian
Hwa menjerit dan hendak memberontak dan pegangan
Thian Giok, akan tetapi pemuda ini memegang lengannya
erat erat karena ia maklum bahwa kalau dilepas, nyawa
Sian Hwa berada dalam bahaya.
“Sian Hwa, jangan kau khawatir!” Bun Sam masih dapat
berseru dan pemuda yang memiliki ginkang tinggi ini masih
sempat mengelak dari sebuah pukulan susulan.
Pat jiu Giam ong merasa heran dan penasaran sekali.
Biasanya, sekali pukulannya mengenai lawan, pasti lawan
itu akan roboh binasa, ia merasa heran menghadapi ilmu
silat pemuda ini dan kalau ia tidak mempergunakan Thiat
mo kang, agaknya ilmu silatnya Pat kwa jiu hwat takkan
berdaya menghadapi ilmu silat Bun Sam.
“Bun Sam, kau adalah muridku, siapa melarang kau
mempergunakan Soan hong pek lek jin hwat?” tiba tiba
terdengar suara Mo bin Sin kun yang nyaring, disusul oleh
suara Kim Kong Taisu,
“Bun Sam muridku, apakah kau sudah lupa untuk
mempergunakan Thai lek Kim kong jiu.”
Bukan main girangnya hati Bun Sam mendengar ucapan
ucapan kedua orang tua ini.
“Terima kasih, suthai dan suhu. Teecu pasti tidak lupa.”
Kemudian, dengan semangat baru, ia menghadapi Pat jiu
Giam ong. Ketika jenderal ini memukulnya dengan Thiat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mo kang lagi, Bun Sam mengerahkan tenaga dalam dan
mendorong pula dengan ilmu pukulan Soan hong pek lek
jiu untuk menangkis. Hebat pertemuan dua tenaga ini. Pat
jiu Giam ong tergempur kuda kudanya dan melangkah
mundur dua tindak, juga Bun Sam melangkah mundur tiga
tindak. Biarpun masih kalah sedikit tenaganya, namun kini
Bun Sam dapat menghadapi lawannya secara keras lawan
kerai, tidak seperti tadi yang harus main kelit. Ia membalas
dan kini ia memukul dengan tenaga Thai lek Kim kong jiu.
Pertempuran makin hebat dan kini Bun Sam mulai
mendesak lawannya. Hal ini adalah karena pemuda ini
memainkan ilmu silat Tee coan Liok jiu hwat dan
mempergunakan tenaga Thai lek Kim kong jiu dan Soan
hong Pek lek jiu berganti ganti. Dalam hal tenaga ia boleh
kalah sedikit akan tetapi dalam ilmu silat ia menang
banyak, maka sebentar saja Pat jiu Giam ong telah
termasuk dalam kurungan Ilmu Silat Enam Lingkaran
Bumi itu.
“Pat jiu Giam ong, kau harus menyusul Suheng dan adik
Lan Giok!” kata Bun Sam dan pemuda ini menyerang
makin gencar, sebuah pukulannya dengan tenaga Soan
hong pek lek jiu dapat memasuki perut lawannya. Pat jiu
Giam ong menjerit dan tubuhnya yang besar itu
menggelundung, terus tak dapat di rem lagi sampai
terguling ke dalam jurang dan disambut oleh gelombang air
Sungai Hoang ho.
Lam hai Lo mo menjadi pucat melihat sutenya tewas. Ia
lalu memegang tongkat ularnya dan menghampiri Kim
Kong Taisu danMo bin Sin kun.
“Marilah kita habiskan pertempuran ini. Majulah
seorang di antara kalian, aku sudah siap!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, Bun Sam cepat melompat menghadapinya
dan berkata, “Lam hai Lo mo, ada muridnya di sini untuk
apa kedua orang guruku yang mulia mesti turun tangan
sendiri? Untuk memukul anjing tak perlu memakai pedang
pusaka.” Dengan kata kata itu, ia maksudkan bahwa untuk
menghadapi Lam hai Lo mo tak perlu orang orang yang
mulia seperti Kim Kong Taisu dan Mo bin Sin kun turun
tangan sendiri.
“Bun Sam, dia lihai sekali, biar aku yang
menghadapinya,” kata Kim Kong Taisu, akan tetapi Bun
Sam tersenyum dan berkata, “Biarlah, suhu. Bu tek Kiam
ong sudah memberi tahu kepada teecu bagaimana harus
menghadapi manusia siluman ini.”
“Bun Sam, kau baik sekali.” kata Kim Kong Taisu
terharu. Kemudian kakek ini lalu menyerahkan pedang
Kim Kong kiam kepada muridnya. Melihat pedang ini,
bercahaya muka Bun Sam. Ia menerima pedang itu dengan
kedua tangan dan mencium pedang itu, kemudian sambil
tersenyum senyum ia menghadapi Lam hai Lo mo Seng jin
Siansu.
“Lom hai Lo mo, kejahatan mu sudah melewati takaran,
sekaranglah saatnya kau harus menebus dosa!” katanya.
“Bocah sombong, kaukira akan dapat memenangkan
Lam hai Lo mo ? Ha, ha, ha, ha.” Sambil tertawa tawa,
Lam hai Lo mo lalu mulai menyerang. Suara ketawaaya
tadi aneh sekali, karena anehnya, sehingga Sian Hwa dan
Thian Giok memakan sesuatu pengaruh yang membuat
mereka hampir hampir ikut tertawa.
Melihat ini, Sian Hwa yang sudah tahu akan kelihaian
bekas supeknya, lalu berlari mendekati Kim Kong Taisu
untuk menyuruh kakek ini menolong Bun Sam.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Lo cian pwe, mohon kau sudi mencegahnya Dia
suamiku.... bagaimana dia dapat melawan Lam hai Lo mo?
Bagaimana kalau dia sampai celaka?”
Akan tetapi, Kim Kong Taisu tidak menjawab dan ketika
Sian Hwa memandang, ternyata kakek tua ini berdiri
dengan sepasang lengan bersedakap dan mata meram !
Mo bin Sin kun memberi isyarat agar Sian Hwa jangan
mengganggu Kim Kong Taisu dan menyuruh gadis itu
mendekat. Setelah dekat, ia katakan perlahan lahan, “Tidak
kaulihatkah bahwa Kim Kong Taisu tengah membantu Bun
Sam? Kalau Bun Sam menandingi ilmu silat Lam hai Lo
mo, adalah Kim Kong Taisu menghadapi ilmu hitam yang
dikeluarkannya !”
Baru tahulah sekarang Sian Hwa bahwa Lam hai Lo mo
maju menyerang Bun Sam sambil menyebarkan ilmu hitam
dan Kim Kong Taisu kini sedang menolak pengaruh ilmu
hitam itu untuk membantu Bun Sam.Maka ia hanya berdiri
dan menonton dengan mata terbelalak dan hati berdebar.
“Jadi kau sudah menjadi isterinya?” tanya Mo bin Sin
kun dengan suara lembut, akan tetapi matanya masih tetap
mengikati jalannya pertandingan antara Bun Sam dan Lam
hai Lo mo.
Merah muka Sian Hwa. “Kami berdua sudah melakukan
upacara pernikahan, akan tetapi.... kami telah bersumpah
untuk menjadi suami isteri dalam batin saja.”
Sian Hwa merasa perlu mengadakan pengakuan ini
untuk meredakan kebencian atau kemarahan orang orang
tua itu kepada suaminya.
“Mengapa begitu?” Mo bin Sin kun bertanya, suaranya
kurang percaya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Untuk menghormat dan mengimbangi pengorbanan
adik Lan Giok yang berhati mulia.”
Kini Mo bin Sin kun menengok dan ia melihat betapa
Sian Hwa memandang ke arah Bun Sam dengan mata
basah, ia merasa terharu sekali dan lak terasa ia memegang
tangan gadis itu.
“Betulkah itu....?” tanyanya.
“Saya tak perlu membohong, suthai. Kami telah
bersumpah takkan menjadi suami isteri dalam arti sedalam
dalamnya sebelum mendapat pengampunan dari Lan
Giok.”
Mo bin Sin kun menekan telapak tangan gadis itu,
kemudian melepaskan kembali dan mengangguk anggukkan
kepalanya tanpa berkata sesuatu.
Pada saat itu, pertempuran yang terjadi antara Bun Sam
dan Lam hai Lo mo hebat sekali. Tubuh kakek itu dan
tubuh Bun Sam sudah lenyap dari pandangan mata dan
yang nampak hanyalah sinar yang bergulung gulung dari
dua senjata itu. Akan tetapi sinar kuning emas dari Kim
kong kiam makin besar dan terpecah pecah menjadi enam
lingkaran yang aneh sekali. Ternyata bahwa Bun Sam
tengah memainkan ilmu Pedang Enam Lingkaran Bumi
yang istimewa sekali dan yang diciptakan oleh Bu tek Kiam
ong khusus untuk menghadapi tokoh tokoh terbesar dari
dunia persilatan! Kepandaian Bun Sam sudah demikian
sempurnanya sehingga terdengar Mo bin Sin kun berkata,
“Andaikata Bu tek Kiam ong sendiri berada di sini, belum
tentu ia akan dapat memainkan pedang sedemikian
hebatnya !”
Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu terdesak hebat. Dua kali
ujung tongkatnya terbabat putus dan tongkat itu menjadi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
makin pendek saja. Keringatnya mulai mengucur deras dan
napasnya sudah kembang kempis.
“Kim Kong, tua bangka. Kau curang!” berkali kali Lam
hai Lo mo berseru, karena ia tahu bahwa hanya Kim Kong
Taisu saja yang membuat ilmu sihirnya tidak mempan
menghadapi Bun Sam, biarpun berkali kali ia telah
mengerahkan tenaga batinnya. Akan tetapi, Kim Kong
Taisu tidak menjawab, karena kakek yang sakti ini maklum
bahwa sekali saja ia mengendurkan pengarah kekuatan
batinnya untuk menolak ilmu sihir Lam hai Lo mo, akan
celakalah Bun Sam.
Akhirnya Bun Sam dapat mematahkan ilmu silat dan
Lam hai Lo mo dan ketika Bun Sam memutar pedangnya
dengan getaran yang mempunyai daya membetot, tongkat
di tangan kakek itu melayang terlepas dari pegangan dan
jatuh ke bawah batu karang, mengambang di atas air
sungai. Tiba tiba kelihatan gerakan di air itu dan muncul
kepala yang bentuknya lonjong menyambar tongkat itu dan
“krak”, sekali sambar tongkat iru remuk dan masuk ke
dalam perut ikan liar itu!
Melihat ini Lam hai Lo mo menjadi lemas dan pucat
mukanya. Tiba tiba ia menjatahkan diri berlutut dan
menangis sambil mengeluh minta ampun! Memang hebat
sekali kepandaian Lam hai Lo mo. Entah bagaimana,
melihat dan mendengar kakek ini mengeluh dan minta
minta ampun, Bun Sam merasa kasihan sekali, menarik
pedangnya dan menjauhkan diri, sama sekali tidak ingin
mengganggu kakek itu lagi! Juga Thian Giok dan Sian Hwa
tiba tiba merasa kasihan dan bahkan Sian Hwa berkata
dengan suara terharu,
“Koko, jangan kau ganggu dia....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam mengangguk angguk dan menghampiri Sian
Hwa yang terus digandeng tangannya. Juga Kim Kong
Taisu yang sudah membuka matanya, menarik napas
panjang dan berkata,
“Thian bersifat Maha Kasih, siapa sadar dan menyesal
akan segala dosanya, pasti akan mendapat petunjuk ke arah
jalan baik....”
Akan tetapi tiba tiba nampak bayangan yang berkelebat
ke hadapan Lam hai Lo mo yang masih berlutut dan Mo
bin Sin kun telah berdiri di hadapan kakek itu.
“Siluman jahat, angkat mukamu dan lihatlah siapa aku!”
Lam hai Lo mo mengangkat muka dan melihat Mo bin
Sin kun, ia menangis lagi.
“Cui Kim, ampunkanlah aku.... ampunkan aku seorang
tua yang tak berdaya, yang sebatang kara....” Suaranya
sungguh sungguh menimbulkan keharuan dalam hati setiap
pendengarnya, karena sesungguhnya, dalam kelakuan
inipun Lam hai Lo mo diperkuat oleh ilmu sihirnya! Inipun
merupakan semacam ilmu baginya uutuk dapat meloloskan
diri dari bahaya maut yang mengancamnya.
Akan tetapi kali ini ia menghadapi Cui Kim atau Mo bin
Sin kun orang yang dulu di waktu mudanya pernah
menerima hinaan besar dan perlakuan sejahat jahatnya dari
dia, orang yang boleh dibilang sudah rusak hidupnya,
sehingga rela menutupi muka dengan kedok buruk dan
semua itu semata mata karena kejahatan Lam hai Lo mo !
“Kau masih berani menyebut nama Cui Kim? Lupa
lagikah kau betapa kejinya kau dulu berbuat kepada Cui
Kim? Dan kau masih mengharapkan ampun? Akan tetapi
aku tidak sekejam kau. Aku tidak mau membunuhmu
dengan tanganku sendiri, sungguhpun itu sudah menjadi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hakku. Nah, lekaslah kau pergi dari sini !” Sambil berkata
demikian, Mo bin Sm kun menendang tubuh Lam hai Lo
mo yang sudah menjadi lemas karena lelahnya. Tubuh
kakek itu melayang ke bawah dan terdengar suara air
muncrat, disusul pekik kakek itu. Hanya warna merah
sedikit membayang di permukaan air ketika ikan liar yang
tadi telah memakan tongkatnya, kini mengenyangkan
perutnya yang tak pernah merasa puas itu dengan tubuh
yang tinggal kulit dan tulang ini. Tamatlah riwayat Lam hai
Lo mo yang di waktu hidupnya selalu melakukan hal hal
yang jahat belaka.
Bun Sam berlutut di depan kedua orang bekas guru
gurunya itu.
“Semoga kau berbahagia dengan isterimu, Bun Sam. Dia
seorang isteri yang baik dan setia. Kau tidak salah pilih,”
kata Mo bin Sin kun.
Adapun Kim Kong Taisu, saking terharu dan girangnya
melihat kemajuan Bun Sam lalu memeluk pemuda itu tanpa
berkata sesuatu. Kemudian, mereka berhasil memanggil
seorang nelayan yang datang dengan perahunya dan
menyeberangkan mereka ke darat. Thian Giok ikut pulang
dengan Mo bin Sin kun ke Sian hwa san, sedangkan Kim
Kong Taisu kembali ke Oei san, Bun Sam bersama isterinya
melanjutkan perjalanan, ke mana ?
Jilid XVI
DI DEPAN dua gundukan tanah, yakni sebuah makam
yang masih baru, dua orang nampak berlutut. Air mata
mereka bercucuran dan di depan batu nisan dua makam ini
nampak hio mengebut.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Adik Lan Giok…” terdengar suara Sian Hwa dan Bun
Sam, “Kami berdua mohon ampun darimu. Tenangkanlah
arwahmu, adik Lan Giok. Kau tidak berkorban secara sia
sia. Kami ikut prihatin dan kamipun ikut berkorban. Kami
takkan menjadi suami isteri di dunia ini, karena
sesungguhnya aku telah menganggap bahwa Bun Sam
adalah suamimu. Biarlah cintaku kepadanya kubuktikan
dengan menjadi bujangnya, merawatnya, asal aku berada di
sampingnya....”
“Sian.... sudahlah. Lan Giok sudah mengetahui isi hati
kita. Sudah tahu akan sumpah kita bahwa kita hanya dapat
menjadi suami isteri kalau mendapat pengampunan dari
dia.”
Pada saat itu, entah dari mana datangnya, tahu tahu
sosok tubuh seorang wanita muncul di belakang makam itu.
Bun Sam terkejut sekali karena hanya seorang dengan
kepandaian luar biasa tingginya saja dapat datang di situ
tanpa ia mendengar sama sekali. Dan keheranannya
bertambah ketika ia melihat bahwa orang itu adalah
seorang nyonya tua yang ia tidak kenal. Kalau yang muncul
ini misalnya Mo bin Sin kun itu masih tidak mengherankan.
“Bun Sam, Sian Hwa, aku adalah nyonya Yap Bouw,
ibu dari Lan Giok,” kata wanita tua ini yang mukanya tidak
begitu jelas karena memang hari masih pagi sekali dan
matahari belum muncul.
Sian Hwa dan Bun Sam terheran heran. Tak
disangkanya bahwa ibu dari Lan Giok bahkan memiliki
kepandaian yang lebih tinggi dari Mo bin Sin kun.
Gerakannya demikian ringan dan ketika bertindak maju,
tidak terdengar sedikitpun juga tindakan kakinya,
“Jangan kaget aku datang. Ketahuilah, Lan Giok sudah
lama memberi ampun kepada kalian. Lan Giok bukanlah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
seorang gadis kokati, bahkan kalau kalian berlaku seperti
sekarang ini dan hidup menyiksa perasaan sendiri, Lan
Giok akan kecewa, karena itu berarti pengorbanannya sia
sia belaka. Jadilah suami isteri yang bahagia pula. Siapa
tahu kalau kalau Thian mengirim dia berkumpul kembali
dengan kalian”
Bun Sam dan Sian Hwa saling memandang dengan
masih berlutut, kemudian Sian Hwa berkata.
“Bagaimana kami dapat tahu kalau Lan Giok benar
benar mengampuni kami?”
Wanita itu berkata, “Kau mau bukti? Lihatlah ....”
Wanita itu melambaikan tangannya dan tiba tiba
muncullah di situ dua sosok bayangan lain, seorang gadis
dan seorang kakek.
“Lan Giok....” seru Sian Hwa.
“Yap suheng....” Bun Sam berseru pula.
Keduanya berdiri dan menubruk dua bayangan itu, akan
tetapi mereka hanya melihat Lan Giok tersenyum senyum
dan berkata, “Aku ampunkan kalian!” Lalu lenyaplah
bayangan tiga orang itu.
Bun Sam dan Sian Hwa bersembahyang terus sampai
sehari di tempat itu, kemudian mereka pergi dengan
perasaan penuh kebahagiaan, karena benar benar Lan Giok
telah mengampuni mereka.
Hanya satu hal yang mereka herankan, yakni tentang ibu
Lan Giok. Bukankah nyonya itu masih hidup di Oei san
bersama Mo bin Sin kun?
Hal inipun menjadi terang ketika beberapa bulan
kemudian, mereka mengunjungi puncak Oei san, mereka
mendengar dari Thian Giok bahwa nyonya Yap Bouw itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
telah meninggal dunia tepat pada saat mereka sembahyang
di depan makam Lan Giok.
Demikianlah, Bun Sam dan Sian Hwa hidup penuh
kebahagiaan sebagai suami isteri yang saling mencinta.
Bertahun tahun lewat tanpa dirasakan oleh manusia,
terutama oleh mereka yang hidup penuh madu asmara
seperti Song Bun Sam dan isterinya itu. Kita tinggalkan
mereka untuk menengok Kepulauan Couwsan.
Kepulauan Couwsan terletak di pantai timur Propinsi
Cekiang. Melihat pulau pulau ini dari pantai daratan
Tiongkok, nampak seakan akan sekelompok ikan
mengambang di permukaan samudera.
Tiada hentinya ombak mempermainkan air laut, dari
tengah tertiup angin berlari larian ke pantai, memukul
pantai lalu kembali dalam bentuk ombak kecil kecil,
berlarian dan beriak menimbulkan suara seperti banyak
anak anak kecil tengah bermain main dengan riang
gembira. Memang tak banyak bedanya sifat ombak air laut
dengan sifat kanak kanak, tiada hentinya bersenda gurau
dan tertawa tawa, namun sewaktu waktu kalau angin tiba
tiba bertiup kencang, lalu timbul “ngambek”,
mendatangkan alunan gelombang menderu.
Waktu itu, air laut tengah mengamuk dan ombak yang
dilemparkan ke pantai membuat batu batu karang tergetar
dan bergoyang. Jika ombak sering bergelombang besar dan
laut sedang marah seperti ini, tak seorangpun nelayan
berani melayarkan perahunya. Bahayanya terlalu besar, dan
andaikata seorang nelayan yang pandai dan kuat dapat
mendayung perahunya melawan ombak namun belum
tentu ia dapat menghindarkan perahu nya terbentur pada
batu batu karang di bawah permukaan air laut yang akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membuat dia dan perahunya ditelan oleh perut samudera
yang dalam.
Namun, pada saat itu, dari sebuah dusun di sebelah
selatan kota Ningpo, nampak dua orang tengah
menurunkan sebuah perahu kecil ke air yang bergerak gerak
tiada hentinya itu. Kemudian mereka melompat ke dalam
perahu dan keduanya menggerakkan dayung di tangan.
Ombak datang menyambut perahu mereka,
melemparkannya ke atas bagaikan bulu tertiup angin.
Akan tetapi dua orang itu tidak menjadi takut atau
gentar, bahkan sambil tertawa tawa mereka menanti sampai
perahu mereka tiba di puncak ombak itu, Kemudian dengan
berbareng mereka lalu menggerakkan dayung menimpa air
dan perahu meluncur dari puncak yang terus bergulung lalu
di bawah perahu mereka.
Melihat cara mereka mendayung, terang bahwa dua
orang ini bukanlah nelayan nelayan yang pandai
mengerjakan dayung. Gerakan mereka kaku sekali. Akan
tetapi, nyata bahwa tenaga mereka luar biasa besarnya.
Perahu yang mereka dayung itu meluncur bagaikan seekor
ikan hiu yang berenang meluncur di air tenang. Tiap kali
datang ombak yang membuai perahu mereka, keduanya
menghentikan gerakan dayung dan menarik sampai ombak
membawa perahu ke puncaknya. Kemudian mereka
mendayung serentak dengan tenaga besar, maka perahu itu
meluncur amat cepatnya.
Siapakah dua orang ini? Gilakah mereka sehingga berani
menempuh laut yang sedang mengamuk hebat?
Keduanya adalah tosu tosu (pendeta pendeta Agama To)
yang berusia paling banyak empat puluh tahun, berkulit
hitam dan wajahnya mengingatkan orang akan Thio Hui,
pahlawan di jaman Sam kok yang sudah amat terkenal akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kekasarannya, kejujuran, dan kegagahannya. Melihat ini
timbul perasaan takut di dalam bati karena matanya selalu
melotot seakan akan tak pernah berkedip, jenggotnya
nyerongot ke sana sini, wajahnya amat menakutkan. Orang
ke dua sebaliknya bertubuh kecil bermuka kepucatan dan
tampan. Matanya tajam sekali dan kalau orang melihatnya,
orang itu akan merasa kasihan kepadanya yang nampak
seperti seorang lemah berpenyakitan.
Benar benar aneh dua orang ini. Makin besar ombak
berusaha menghalangi lajunya perahu mereka, makin
gembiralah mereka, dan makin sukar perjuangan mereka
menghadapi amukan gelombang dan angin taufan, makin
lebar senyum mereka. Bahkan si muka hitam mulai
bernyanyi nyanyi.
“Eh, Ouw bin cu (Si Muka Hitam), mengapa kau
segembira itu? Maksud belum tercapai, tak patut untuk
bernyanyi nyanyi.”
Mendengar teguran si muka pucat ini, si muka hitam
tertawa bergelak dan memandang kepada kawannya
dengan ramah.
“Ha, ha ha, Siauw giam ong (Malaikat Maut Kecil),
betapa tidak gembira menghadapi keriangan anak cucu
samudera ini? Lihat betapa mereka berloncatan! Dengar
suara nyanyi dan gelak tawa mereka!” Setelah berkata
demikian, ia mendayung terus sambil memandang ke arah
gelombang besar yang mendatang, wajahnya berkilat kilat
karena basah oleh percikan air laut yang bercampur dengan
peluhnya.
Si muka pucat hendak membuka mulut menjawab, akan
tetapi gelombang itu keburu datang dan kali ini perahu
mereka diayun tinggi sekali sehingga terlempar jauh!
Mereka tak berdaya, namun masih saja keduanya tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
gentar sama sekali. Ketika perahu meluncur kembali ke
bawah, si muka pucat tiba tiba berseru.
“Ouw bin cu, awas batu karang!”
Si muka hitam menoleh ke bawah dan benar saja, bayang
bayang hitam yang mengerikan nampak di bawah
permukaan air, siap menanti datangnya perahu mereka
yang tentu akan hancur lebur kalau menimpa batu karang
yang runcing, tajam, besar dan amat kuat itu. Bayang
bayang hitam itu nampak seperti iblis laut menanti mangsa.
Namun, dengan tenang, kedua orang tosu itu menekan
dayung ke dalam air dan sebelum badan perahu menumbuk
batu karang, lebih dulu dayung mereka yang menekan batu
itu dan seketika itu juga perahu mereka terayun kembali ke
atas melalui batu tadi!
“Ha, ha, ha! Kakek batu karang yang pengecut dan
bersembunyi di dalam air, sungguh menjemukan!” Si muka
hitam mengejek sambil tertawa tawa.
“Ouw bin cu jangan kau bergiring dulu. Tujuan kita
belum terlaksana, cita cita belum terpegang!” kata pula si
muka pucat mencela kawannya.
“Sam liong to (Pulau Tiga Naga) adalah pulau yang
tidak akan dapat pergi dan lari, mengapa takut tak bertemu?
Justru karena memikirkan dia dan menghadapi ombak
ombak kecil ini aku bergirang, Siauw giam ong !” kata si
muka hitam.
“Enak saja kau bicara ! Di antara Kepulauan Couwsan
yang demikian banyaknya, belum lagi ada nya Pulau Seribu
dan Pulau Bayangan yang sering kali muncul di permukaan
laut, kita masih harus mencari lama, kawan! Kataku
kuulangi, belum waktunya bagi kita untuk bergirang.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, sebaliknya si muka hitam malah bernyanyi
sajak sebagai jawaban teguran kawan nya ini!
“Ada waktu senang dan waktu duka
demikian orang berkata
Namun bagiku
hayo gembira selalu !
Apa senang ? Apa duka ?
Belenggu baja pengikat jiwa!
Semangat boleh bercita cita !
Namun gembira makanan jiwa !”
“Ha, ha, kau pandai sekali, Ouw bin cu! Agaknya kau
gila kepada hasil pemikiran Li Po (Pujangga dan penyair
Tiongkok yang kenamaan)!”
“Ha, ha, ha! Apa itu Li Po dan segala macam kutu buku?
Mereka hanya perenung dan pengimpi, hidup di awang
awang! Aku bercita cita, kawan. Kalau tidak demikian, apa
kaukira kau bisa ikut dengan aku dalam pelayaran ini?”
jawab si muka hitam.
Si muka pucat yang disebut Siauw giam ong (Malaikat
Maut Kecil) hanya tersenyum dan keduanya melanjutkan
perjuangan melawan ombak yang tak kunjung reda itu.
Namun sekarang si muka pucat tidak mencela lagi dan
mengajak saja si muka hitam bernyanyi nyanyi, tertawa
tawa dan mengajak bicara kepada ombak ombak yang
datang hendak menelan perahu mereka.
Mereka telah berhasil melampaui Kepulauan Couwsan
dan air laut mulai tenang kembali setelah mereka kini
mendayung menuju ke kelompok Kepulauan Seribu yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dari jauh hanya kelihatan seperti titik titik hitam. Sementara
itu, tanpa terasa perjuangan menghadapi ombak yang
mengamuk tadi telah makan waktu setengah hari dan kini
matahari telah mulai condong ke barat.
“Siauw giam ong, sebentar lagi kita akan berpesta pora
dan bergembira sekali,” kata si muka hitam sambil
mengerahkan tenaga mendayung perahu menuju ke arah
kelompok pulau pulau itu.
Kawannya menoleh. Ia tahu bahwa si muka hitam ini
suka sekali bergurau dan guraunya kadang kadang
berbahaya.
“Di tengah tengah laut seperti ini, bagaimana kau bisa
bicara tentang pesta? Paling hebat kau akan dapat minum
air laut dan makan ikan ikan kecil yang berbau amis
dimakan mentah mentah!” Ouw bin cu tertawa bergelak,
demikian keras sehingga perahu yang kini tenang jalannya
itu bergoncang.
“Kau tunggu saja dan kau lihat sendiri nanti. Sukakah
kau akan daging ikan hiu?”
“Daging ikan hiu?” si muka pucat bertanya heran.
“Ya, ikan hiu yang berminyak, dimakan setelah
dipanggang di atas api, enak sekali!”
Sebelum si muka pucat dapat menangkap arti kata kata
kawannya, jawabannya tiba yang membuatnya terkejut
sekali. Tiba tiba saja air laut yang tadinya tenang itu, mulai
bergelombang dan dari jauh nampak benda benda hitam
bergerak gerak cepat menuju ke perahu mereka. Kiranya
serombongan ikan hiu yang liar datang ke arah mereka!
“Celaka !” seru Siauw giam ong sambil mencabut
goloknya yang terselip di punggung.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi Ouw bin cu hanya tertawa bergelak saja,
sama sekali tidak meraba pedangnya yang juga terselip di
punggungnya.
Seekor hiu yang berenang di depan dan agaknya menjadi
pelopor, mulai menyerang perahu. Tubuhnya meluncur
cepat sekali dan agaknya sekali dibentur saja perahu itu
akan terguling, membawa dua orang manusia yang akan
merupakan mangsa yang enak.
Siauw giam ong marah sekali. Tubuhnya tiba tiba
melesat dan melompat ke depan dan selagi tubuhnya masih
berada di udara, ia menukik ke bawah dan menggerakkan
goloknya ke arah kepala ikan. Air muncrat dan
bergelombang dan warna merah menyatakan bahwa
serangannya itu tepat sekali. Pada saat Siauw giam ong
menusukkan goloknya pada kepala ikan, ia meminjam
kepala itu untuk dipergunakan sebagai landasan dan dengan
mengerahkan sedikit tenaga, ia dapat melompat kembali ke
perahu sambil mencabut goloknya. Dari sini saja dapat
disaksikan betapa hebatnya ginkang (ilmu meringankan
tubuh) dari si muka pucat ini.
“Bagus Siauw giam ong, gerakanmu Kim la an po (Ikan
kim le Menerjang Ombak) tadi benar benar
mengagumkan.” Si muka hitam tertawa tawa sambil
memuji.
Namun, ikan hiu yang terluka tadi menarik perhatian
kawan kawannya yang segera datang menyerbu dan
menyerang kawannya sendiri yang terluka. Bau darah yang
amis telah membuat mereka gelap mata dan sebentar saja
ikan hiu yang terluka oleh golok Siauw giam ong, habis
dimakan oleh kawan kawannya sendiri dengan lahap. Akan
tetapi, tentu saja seekor ikan hiu tidak mengenyangkan
demikian banyak ikan, dan sebentar saja perhatian binatang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
binatang buas ini kembali tertuju kepada perahu.
Menyerbulah mereka dari kanan kiri.
“Celaka kali ini !” Si muka pucat berseru dan mukanya
yang kekuning kuningan itu menjadi agak hijau. Namun si
muka hitam masih saja tertawa tawa.
“Pergunakan dayung menekan kepala ikan, biar perahu
kita terbang,” katanya dengan suara dibuat buat seakan
akan mereka sedang bersenda gurau, sama sekali tidak
seperti sedang menghadapi bahaya maut.
Akan tetapi, kata kata ini menyadarkan Siauw giam omg
yang mengerti akan maksud dan akal kawannya. Ia lalu
menjaga dengan dayungnya di sebelah kanan perahu,
sedangkan Ouw bin cu menjaga di sebelah kiri perahu.
Ketika ikan ikan itu sudah datang dekat, Ouw bin cu
berseru keras, “Serang !”
Gerakan kedua orang itu berbareng. Tangan kiri
memegangi pinggiran perahu dan tangan kanan yang
memegang dayung untuk menusuk kepala ikan yang
terdekat, mengerahkan tenaga menekan.
Bukan main hebatnya tenaga kedua orang tosu aneh ini.
Begitu ujung dayung mereka mengenai kepala ikan hiu,
dayung itu membuat kepala itu melesak pecah dan tenaga
tekanan itu membuat perahu melompat ke atas melalui atas
permukaan air. Beberapa kali mereka lakukan ini dan sudah
ada enam ekor ikan hiu pecah kepalanya dan di jadikan
mangsa dan perebutan oleh kawan kawan sendiri. Karena
ikan ikan itu asik menyerang kawan kawan sendiri yang
terluka, dan dalam perebutan yang hebat itu banyak pula
ikan yang terluka oleh kawan sendiri sehingga makin lama
makin banyak mangsa, akhirnya perahu itu tidak
dihiraukan lagi oleh kelompok ikan ikan buas dan liar ini
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sehingga dapat didayung pergi oleh si muka hitam yang
tertawa tawa dan si muka pucat yang menarik napas lega.
Makin dekat dengan pulau pulau yang banyak dan kecil
itu, pemandangan makin indah. Kini air laut benar benar
tenang, seakan akan tidak bergerak, seperti raksa yang
sedang tidur atau melepaskan lelah setelah mengamuk.
Pergerakan air yang dilalui oleh perahu seakan akan
rupakan gangguan yang membuat hati si muka, pucat
menjadi tidak enak. Kalau mereka menengok ke barat
nampaklah matahari yang sudah kemerahan itu seakan
akan turun ke atas darat pantai Tiongkok. Air laut yang
tertimpa cahaya matahari pudar itu mencerminkan sinar
yang kemerahan. Biarpun perahu didayung oleh tenaga dua
orang yang memiliki kepandaian tinggi dan sesungguhnya
maju pesat sekali, namun nampaknya tidak maju sedikitpun
juga.Mereka merasa seperti mendayung perahu di atas agar
agar hijau yang luas sekali.
“Ouw bin cu, tahu betulkah kau di mana letaknya Sam
Liong itu?” terdengar suara Siauw giam ong memecah
kesunyian yang mencekam.
“Tentu saja tahu. Pulau ke tujuh di sebelah kanan pulau
yang bentuknya seperti kura kura,” jawab si muka hitam.
“Akan tetapi masih jauh sekali untuk mencapai Pulau Kura
kura itu. Kalau kita lanjutkan, sampai matahari menghilang
kita masih belum tiba disana dan karenanya kita harus
bermalam di pulau yang terdekat.”
“Sesukamulah!” jawab si muka pucat yang dalam hal ini
tentu saja tak dapat bicara banyak karena memang ia belum
pernah menjelajah tempat ini.
Ketika matahari hanya tinggal sedikit cahayanya yang
kemerahan, si muka hitam lalu membawa perahunya
mendarat ke sebuah pulau yang lebih tinggi dari pada pulau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pulau kecil lainnya, ia sudah berpengalaman dan tahu
bahwa berbahaya sekali bermalam di pulau yang rendah
dan kecil karena sewaktu waktu apabila air laut pasang,
pulau pulau yang rendah itu akan terendam air
menghanyutkan segala yang berada di atas pulau.
Setelah melihat bahwa pulau itu terdiri daripada batu
karang yang teguh kuat, dan bahwa di atas sekali terdapat
beberapa buah gua yang cukup lebar untuk menahan diri
dari serangan angin laut yang dingin, mereka lalu menarik
perahu ke atas pulau. Si muka hitam memanggul perahu itu
seperti orang membawa barang ringan saja, kemudian
bersama kawannya memilih sebuah gua yang besar.
Setelah membuat api unggun di dalam pintu gua dan
makan ikan panggang untuk membikin tenang perut yang
sudah berbunyi saja mereka duduk menghadapi api unggun
sambil bercakap cakap.
“Siauw giam ong, yakin betulkah kau bahwa Kerajaan
Goan tiauw dapat dirobohkan?” tanya si muka hitam
sambil menggerogoti ekor ikan yang masih saja belum mau
ia melepaskan biarpun perutnya sudah kenyang, karena
ekor ini mengandung lemak yang bukan main gurihnya.
“Pasti dapat!” jawab si muka pucat penuh semangat.
“Rakyat berdiri di belakang kami, menyokong pergerakan
kami. Kalau saja harta itu berada di tanganku tentu
pergerakan , akan menjadi lebih kuat dan jatuhnya
Kerajaan Mongol penjajah itu hanya tinggal menanti waktu
saja.”
Si muka hitam tersenyum tak acuh. Ia tidak perduli sama
sekali tentang politik dan pemerintahan. Hanya secara
kebetulan saja ia bertemu dengan Siauw giam ong, biarpun
ia telah lama mengenal nama orang ini sebagal tokoh dunia
kang ouw yang cukup terkenal. Telah lama Ouw bin cu (Si
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Muka Hitam), yang sebetulnya bernama Tong Kwat,
memiliki sebuah peta kuno yang menyatakan bahwa di
sebuah Pulau Sam Liong To, yakni sebuah di antara Pulau
Seribu, tersimpan harta pusaka yang besar sekali harganya.
Telah beberapa kali ia mencari pulau ini dan akhirnya ia
berhasil mendarat di Pulau Sam Liong To. Akan tetapi
biarpun telah berhari hari ia mencari belum juga ia dapat
menemukan tempat penyimpanan harta itu. Yang menjadi
kesulitannya adalah sebuah tanda di atas peta yang ditulis
dalam huruf huruf kuno yang la sendiri tidak mengerti
artinya. Ia yakin bahwa di dalam huruf huruf inilah letak
rahasia tempat persembunyian harta tersebut. Untuk
bertanya kepada orang lain, ia tidak berani karena hal ini
sama saja dengan membuka rahasia itu. Maka sampai
berbulan bulan, peta itu masih tersimpan saja di dalam saku
bajunya, dan dengan hati jengkel ia merantau di seluruh
daratan Tiongkok. Ia masih merasa penasaran sekali dan
ingin ke Sam Liong To bersama seorang kawan yang dapat
menterjemahkan huruf huruf kuno itu.
Akhirnya ia tiba di kota Hankouw dan di sinilah ia
bertemu dengan Siauw giam ong. Pertemuan yang amat
kebetulan dan tak tersangka sangka.
Pada waktu itu, ia melihat seorang tosu kurus kering
yang bermuka pucat sedang dikeroyok oleh banyak tentara
Goan tiauw. Tentara tentara itu mengeroyok sambil berseru
seru,
“Tangkap pemberontak!”
Ouw Bin Cu Tong Kwat adalah seorang petualang,
seorang kang ouw yang tidak perduli tentang
pemberontakan. Akan tetapi ia memang tidak suka kepada
tentara Boan yang sering kali mengganggu rakyat. Apalagi
ketika ia melihat betapa tosu kurus kering itu memainkan
goloknya dongan baik sekali dan melihat permainan golok
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ini, ia tahu bahwa tosu kurus kering itu tentu seorang tokoh
dari Go bi pai karena ilmu goloknya adalah ilmu golok dari
Go bi pai. Maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu mencabut
pedangnya dan sambil menggoreng keras seperti seekor
harimau, ia menyerbu dan membantu tosu kurus kering itu
mengamuk.
Tentu saja tentara Boan yang kasar bukan lawan dari
Ouw bin cu Tong Kwat dan tosu kurus kering yang bukan
lain adalah Siauw giam ong Lie Chit. Sebentar saja, mayat
serdadu Boan bergelimpangan mandi darah, ada yang mati,
ada yang terluka berat.Melihat ini, sisa serdadu serdadu itu
lalu kabur melarikan diri, diikuti gelak tertawa dari Ouw
bin cu Tong Kwat.
“Sungguh baik sekali toheng (saudara tua sefaham)
datang membantu, kalau tidak tentu agak lama juga siauwte
menghajar anjing anjing busuk itu!” katanya.
Ouw bin cu Tong Kwat tertawa bergelak.
“Permainan golokmu dari Go bi pai bagus sekali. Tidak
tahu siapakah saudara dan mengapa dikeroyok oleh cacing
cacing tiada guna ini?”
Ditanya namanya, Siauw giam ong Lie Chit mengangkat
dadanya yang kempis.
“Siauwte bernama Lie Chit, akan tetapi di luar orang
menyebut siauwte Siauw giam ong. Dan mengapa siauwte
dikeroyok oleh anjing anjing penjajah ini, tentu toheng
dapat menduga sendiri, karena siauwte adalah seorang
patriot yang menggerakkan rakyat untuk menumbangkan
pemerintah penjajah.”
Lie Chit Si Malaikat Maut Kecil menanti datangnya
pujian dan kekaguman dari si muka hitam. Namun ia
kecele karena pengakuannya itu sama sekali tidak menarik
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hati Ouw bin cu Tong Kwat. Si muka hitam hanya berkata,
“Aha, kiranya pinto (aku) berhadapan dengan Siauw giam
ong yang sudah lama kudengar namanya! Kebetulan sekali,
tidak sia sia aku tadi membantu mengusir cacing cacing itu.
Tentang usahamu menggerakkan rakyat.... pinto tidak tahu
dan sebenarnya mengapakah pemerintah harus
ditumbangkan?”
Siauw giam ong mengerutkan keningnya dan bibirnya
ditekuk sedemikian rupa tanda mencemoohkan.
“Mengapa tidak harus ditumbangkan? Pemerintah Boan
memeras dan sekarang kaisar menyuruh memperbesar
saluran air sampai ke kota raja. Dan banyak rumah rumah
indah dibangun.”
“Phuah! Menggali terusan dan membangun istana untuk
keperluan siapa? Untuk kaisar lalim itu sendiri, rakyat yang
dipaksa bekerja. Sayang.... kalau saja ada emas beberapa
ribu tael di tanganku, pergerakan yang kupimpin akan
menjadi kuat dan pemerintah Boan pasti akan hancur
lebur!”
Mendengar ini dan melihat sikap Siauw giam ong yang
demikian bersemangat, Ouw bin cu tertarik. Siauw giam
ong ini melihat bicaranya tentu seorang terpelajar dan
pandai tentang hal hal yang dianggapnya sulit, siapa tahu
kalau kalau si kurus ini dapat menterjemahkan huruf huruf
kuno di petanya. Ia telah menghafal beberapa buah di
antara huruf huruf itu untuk ditanyakan kepada orang lain
dan sebegitu lama belum ada yang bisa mengerti artinya.
“Eh, sahabat baik, agaknya kalau kau bisa membaca
beberapa huruf kuno, kau akan bisa mendapatkan beberapa
ribu tael emas yang kau harapkan itu.”
“Membaca huruf ? Pinto jelek jelek pernah membantu
pujangga dan sasterawan di waktu kecil, dan untuk
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membaca huruf saja, biarpun ada beberapa ribu huruf tentu
akan dapat terbaca olehku. Kalau tidak demikian,
bagaimana pinto bisa memimpin rakyat?” kata si muka
pucat dengan bangga. Memang, Siauw giam ong ini
memiliki watak menyombongkan kepandaian sendiri, tanda
bahwa di dalam dirinya mempunyai datar watak tidak baik.
Ouw bin cu tersenyum. “Nanti dulu, kawan. Bukan
huruf sembarang huruf yang harus kau baca. Nah, sekarang
cobalah, kenalkah kau huruf ini?” Sambil berkata demikian,
Ouw bin cu Tong Kwat lalu berjongkok dan menulis huruf
di atas tanah. Siauw giam ong memandang kepada coretan
itu, akhirnya ia menepuk kepalanya yang kecil.
“Ah, bukankah kau tadi bilang bahwa huruf huruf ini
huruf kuno? Tentu yang kau tulis ini tulisan dari jaman
Hsia. Kalau betul demikian, maka huruf ini adalah huruf
THO (pulau)!”
Mendengar ini, Ouw bin cu menjadi girang lekati.
Biarpun ia sendiri tidak tahu apakah si kurus kering ini
benar benar bisa membaca atau tidak, namun jawaban ini
memang cocoki. Memang mungkin sekali terdapat huruf
yang berarti pulau dalam peta itu, karena bukankah harta
pusaka itu berada di atas Pulau Sam liong tho (Pulau Tiga
Naga)?
Dengan cepat ia lalu menulis lagi dua huruf. Kini dengan
cepat Siauw giam ong dapat membaca huruf huruf ini,
“Hem, kalau benar benar huruf yang kau tulis ini adalah
tulisan dari jaman Hsia, maka huruf pertama Ini adalah
huruf Kim (emas) dan huruf kedua adalah huruf Liong
(naga).”
Ouw bin cu Tong Kwat adalah seorang yang kasar dan
berwatak gembira. Mendengar ini, ia segera berjingkrak
jingkrak dan menari nari girang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Eh, eh, nanti dulu. Kau ini siapakah sahabat? Dan
mengapa kau begitu kegirangan? Harap kau suka
memperkenalkan dirimu kepadaku,” kata Siauw giam ong
dengan heran melihat laku si muka hitam yang aneh itu.
Dengan suara acuh tak acuh untuk menyatakan bahwa
soal nama baginya bukan apa apa, Ouw bin cu menjawab,
“Pinto bernama Tong Kwat atauOuw bin cu.”
Siauw giam ong terkejut. Pantas saja ilmu pedangnya
demikian lihai, pikirnya. Tidak tahunya ia berhadapan
dengan seorang ahli pedang yang sudah amat terkenal di
kalangan kang ouw sebagai seorang gagah yang berwatak
aneh dan bersikap masa bodoh.
“Kiranya Ouw bin cu Tong Tong hiong yang
menolongku tadi. Sungguh menggembirakan sekali dapat
berkenalan denganmu.”
Ouw bin cu menggerakkan tangannya untuk mencegah
dilanjutkannya omongan ini, dan cepat cepat berkata,
“Siauw giam ong, cukup semua itu! Kau tadi telah kubantu,
dan kau membutuhkan uang beberapa ribu tael. Kalau
sekarang kau mau menolongku, berarti kau telah membalas
pertolonganku tadi dan juga kelak kau akan bisa
mendapatkan ribuan tael emas itu dariku.”
“Pertolongan apakah yang kauminta, Ouw bin cu?”
Ouw bin cu mengeluarkan peta dari saku bajunya, akan
tetapi sebelum membukanya, ia teringat akan sesuatu dan
menariknya kembali.
“Siauw giam ong, bolehkah kau dipercaya bahwa kau
takkan membuka rahasia ini? Terus terang saja, aku
mendapatkan sebuah peta rahasia yang menunjukkan di
mana adanya sebuah harta pusaka yang tersembunyi, yang
sudah lama kucari cari. Akan tetapi aku terbentur pada
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
susunan huruf huruf yang aku tidak mengerti artinya. Kalau
kau mau menterjemahkan huruf huruf itu, aku akan bisa
mendapatkan harta itu dan kau tentu akan kuberi bagian.”
“Kau bilang Siauw giam ong tak dapat dipercaya? Kalau
sekali lagi kau katakan itu, biarpun nama Ouw bin cu sudah
amal terkenal, aku takkan takut menghadapi pedangnya
dengan golokku.”
Melihat sikap ini, Ouw bin cu merasa puas dan ia lalu
membuka petanya. Akan tetapi biarpun ia orang kasar,
namun ia memiliki kecerdikan juga dan ia tidak
memperlihatkan semua isi peta, hanya membuka di bagian
tulisan itu saja.
“Nah, kau bacalah, kemudian terjemahkan untukku.”
Siauw giam ong lalu membaca tanpa menggerakkan
bibirnya, kemudian ia mengangguk angguk.
Ouw bin cu cepat menyimpan petanya ke dalam saku
bajunya kembali dan bertanya penuh gairah.
“Bagaimana artinya?”
Akan tetapi, Siauw giam ong menggeleng kepalanya
tersenyum penuh arti.
“Ouw bin cu, benar benarkah kau akan memberi bagian
beberapa ribu tael emas kepadaku untuk keperluan
menggerakkan rakyat menumbangkan pemerintah
penjajah?”
“Tentu saja, apa kau tidak percaya kepadaku? Ouw bin
cu membentak sambil melototkan matanya yang lebar dan
besar.
“Sama sama, kawan. Kau pertama tama yang tidak
percaya kepadaku. Buktinya, kau tidak membuka semua
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
peta. Siapa bisa menjamin bahwa kau benar benar akan
memberi bagian itu?”
Mendengar ini, Ouw bin cu merasa bahwa ia berhadapan
dengan seorang yang licin dan cerdik, maka ia berlaku hati
hati sekali.
“Eh, Siauw giam ong, apakah kehendakmu?”
“Tidak apa apa, kawan, hanya kuminta adil saja. Kau
janjikanlah bahwa hasil daripada penyelidikan ini, aku akan
menerima setengahnya.”
Ouw bin cu tertawa bergelak. “Ha, kau benar benar
cerdik dan murka. Baiklah, nah sekarang kau katakan apa
arti semua huruf aneh itu!”
Namun kembali Siauw giam ong menggeleng kepala.
“Tidak bisa kuterjemahkan di sini, kawan.”
Ouw bin cu merah mukanya. Ia mulai marah. “Apa
maksudmu? Habis, di mana harus diterjemahkan?”
“Di atas Pulau Kura kura. Aku harus ikut kau pergi dan
di pulau itulah selanjutnya akan kubacakan terjemahannya.
Kemudian kita bersama mencari harta itu dan kita bagi
seorang setengah. Bukankah itu adil namanya?”
“Bangsat besar! Penipu! Perampok!” Ouw bin cu yang
cepat mencabut pedangnya dan segera menyerang dengan
tusukan maut.
Namun Siauw giam ong telah siap sedia menghadapi ini.
Iapun cepat sekali mencabut golok dan menangkis serangan
lawannya, kemudian ia mengeluarkan ilmu golok Go bi pai
yang lihai, membelai serangan Ouw bin cu tanpa
mengeluarkan sepatah katapun. Siauw giam ong tahu
bahwa tanpa peta itu biarpun ia telah membaca pesanan
rahasia, tak mungkin ia dapat menemukan di mana adanya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pulau Tiga Naga yang berada di barisan Pulau Kura kura
itu. Ia amat membutuhkan harta pusaka yang tersebut di
dalam peta rahasia, maka dengan mati matian ia melawan
sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya.
Di tempat yang tadi dijadikan gelanggang pertempuran
antara dua orang tosu ini menghadapi barisan Boan, kini
terjadi perkelahian yang lebih hebat lagi. Ouw bin cu Tong
Kwat adalah seorang kang ouw yang lihai ilmu silatnya,
sudah banyak ia mempelajari ilmu silat dari berbagai
cabang dan ilmu pedangnya adalah cabang atau pecahan
dari ilmu pedang Pek lian Kiam hwat (Ilmu Pedang Pek
lian kauw) yang memiliki gerakan gerakan menyesatkan.
Maka tentu saja ilmu pedangnya ini, ditambah dengan
tenaga lweekang yang kuat dan ilmu ginkang yang tinggi,
membuat ia lihai sekali.
Sebaliknya, Siauw giam ong Le Chit mempunyai tingkat
ke tiga dalam partai persilatan Go bi pai. Seperti juga Ouw
bin cu, ia sudah banyak merantau dan bertemu dengan
orang pandai, maka ilmu silatnya juga tak boleh dianggap
ringan. Kedua orang tosu ini berkelahi sampai lima puluh
jurus lebih dan telapak tangan yang memegang gagang
senjata sudah terata panas dan sakit sakit, namun belum
juga ada yang menang. Ini menandakan bahwa tingkat
kepandaian masing masing berimbang, karena kekalahan
Siauw giam ong dalam hal kehebatan ilmu senjata, tertutup
oleh kemenangannya dalam hal ilmu ginkang (meringankan
tubuh). Mereka tahu bahwa agaknya lama sekali untuk
dapat mencapai kemenangan, maka diam diam keduanya
merasa gelisah sekali.
“Ouw bin cu manusia goblok!” Siauw giam ong memaki
sambil menggerakkan golok makin cepat lagi. “Kau benar
benar bodoh! Tanpa bantuan ku tak mungkin kau dapat
menemukan harta itu. Lain orang tentu akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membunuhmu dan merampas peta. Aku hanya menuntut
setengahnya, masa tidak terbuka matamu?”
Diam diam Ouw bin cu sedang memutar otaknya.
Dalam menempuh perjalanan mencari pulau dan harta itu,
ia memang membutuhkan bantuan seorang pandai. Dahulu
ia hampir mati dikeroyok oleh ikan hiu. Siauw giam ong ini
selain dapat menterjemahkan huruf huruf yang merupakan
rahasia baginya, juga kepandaiannya lumayan. Mengapa ia
harus berlaku serakah? Bagian setengahnya kiranya sudah
melebihi kebutuhannya untuk dapat hidup mewah dan
senang. Maka tertawalah dia dan melompat ke belakang
menahan pedangnya.
“Bagus, bagus! Kau benar, Siauw giam ong. Memang
akupun hanya ingin mencoba sampai di mana
kepandaianmu dan ingin melihat apakah kau patut menjadi
pembantuku mencari pulau rahasia Sam liong to. Ha, ha,
ha!”
Siauw giam ong Lie Chit yang jarang tertawa, kali inipun
tertawa bergelak. Keduanya tertawa, namun keduanya juga
maklum bahwa masing masing harus berlaku amat hati hati
menghadapi kawan atau bekas lawan ini. Pendeknya,
dalam hati Ouw bin cu maupun Siauw giam ong, penuh
oleh kecurigaan terhadap satu sama lain.
Demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan,
dua orang ini bermalam di atas sebuah pulau untuk
melewatkan malam, menanti datangnya pagi untuk
melanjutkan pelayaran mencari Pulau Kura kura dan dari
situ mencari Pulau Tiga Naga yang amat mereka rindukan.
Tentu saja bukan pulaunya yang dirindukan, melainkan
harta yang tersimpan di situ.
Karena dari percakapan mereka di sepanjang pelayaran
selalu Siauw giam ong menyatakan betapa ia benar benar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
seorang patriot yang bercita cita mulia membela tanah air,
akhirnya Ouw bin cu menjadi senang dan merasa agak rela
memberikan setengah dari harta pusaka itu kepada Siauw
giam ong. Sikapnya mulai baik dan ramah, bahkan
kepercayaannya timbul kembali.
Sama sekali ia tidak mengetahui bahwa sebetulnya,
Siauw giam ong Lie Chit adalah seorang yang berhati licik
dan jahat. Sudah beberapa kali ia mengakali orang orang,
terutama sekali orang orang hartawan yang berhati cinta
tanah air, untuk mengeduk keuntungan bagi diri sendiri
dengan kedok membela bangsa dari penjajah. Memang,
sering kali Siauw giam ong berteriak teriak mengatakan
bahwa dia seorang patriot sehingga sering pula ia hendak
ditangkap oleh pemerintah Boan, namun begitu ada uang
masuk, bukannya dipergunakan untuk perjuangan,
melainkan dipergunakan untuk kepentingan sendiri, yakni
berfoya foya, karena dia adalah seorang mata keranjang
yang gemar sekali pelesir.
Malam itu terlewat dengan cepatnya. Ouw bin cu yang
sudah mulai percaya kepada kawannya, tidur mendengkur.
Tadinya Siauw giam ong ingin membunuh saja kawannya
ini agar ia bisa mendapatkan harta itu untuknya sendiri.
Akan tetapi setelah mengalami bahaya dengan ikan hiu dan
ombak, ia tidak berani untuk berlayar seorang diri. Mudah
pikirnya, kalau harta itu sudah berada di tangan, tidak sukar
membunuh babi hitam yang gemuk ini!
Pada keesokan harinya, pagi pagi setelah matahari
muncul dari permukaan laut sebelah timur, dua orang tosu
ini memanggul perahu mereka dan melanjutkan pelayaran.
Beberapa jam kemudian, mereka melihat banyak pulau
kehitaman berbaris di tengah samudera.
“Nah, itulah dia Pulau Kura kura,” kata Ouw bin cu
sambil menunjuk ke arah sebuah pulau yang bentuknya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memang seperti seekor kura kura besar sekali. “Dan
menurut peta, pulau ke tujuh di sebelah kanannya itulah
yang disebut Sam liong to. Akan tetapi, sudah beberapa hari
aku mencari cari di atas pulau itu, tidak juga bisa
mendapatkan tanda tanda bahwa di sana terdapat harta
terpendam.”
Siauw giam ong memandang ke sebelah kanan dan
melihat deretan pulau pulau kecil, di sebelah kiri Pulau
Kura kura terdapat deretan pulau pulau besar yang
kehijauan, tanda bahwa di atas pulau pulau itu terdapat
pohon pohon yang lebat.
“Hem, mengertilah aku sekarang, Ouw bin cu,” katanya
sambil menahan gerakan dayung. “Tak perlu kita
melanjutkan ke sebelah kanan Pulau Kura kura, sebaliknya
harus membelok ke kiri.”
“Mengapa begitu? Di atas peta terdapat gambar panah
yang menyatakan bahwa Pulau Sam liong to berada di
sebelah kanan Pulau Kura kura.”
Siauw giam ong tersenyum mengejek.
“Itulah sebabnya maka kau selalu tidak berhasil, Ouw
bin cu. Peta itu menyesatkan kalau kau tidak bisa membaca
huruf huruf yang tertulis di situ. Ambil dan buka petamu,
akan kuterangkan kepadamu sekarang karena sudah tiba
waktunya.”
Ouw bin cu mengeluarkan peta rahasia dari saku bajunya
dan membuka peta itu, kini tidak menyembunyikan
sesuatu. Siauw giam ong melihat peta yang jelas
memberitahukan tempat penyembunyian harta. Di atas peta
itu tergambar pulau pulau kecil, yakni Pulau Seribu. Karena
penggambaran pulau pulau itu hanya berbentuk segi empat
semua, maka sukarlah untuk dikenal mana pulau yang
dimaksudkan. Dan di tengah tengah sekali tergambar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
seekor kura kura ini, pulau yang ke tujuh diberi tanda
bahwa di situ terdapat harta itu dengan lukisan gua yang
depannya menyerupai tengkorak manusia dan di atasnya
terdapat pohon pohon. Tepat sekali di atas gua itu terdapat
akar akar pohon yang menyerupai ular besar. Akar yang
paling besar terdapat tiga batang banyaknya, berbentuk
tubuh tiga ekor naga. Oleh karena inilah maka oleh
pembuat peta, pulau ini disebut Sam liong to atau Pulau
Tiga Naga.
“Nah, sekarang dengarlah aku menterjemahkan huruf
huruf yang merupakan pesan daripada penulis atau
pembuat peta ini, Ouw bin cu!” kata Siauw giam ong yang
segera membaca pula huruf itu, di dengarkan dengan penuh
perhatian oleh Ouw bin cu.
“Matahari mulai tenggelam
jauh di belakang Pulau Seribu,
Jauh di belakang daratan Tiongkok
yang sudah lama kurindukan!
Bahkan jauh di belakang Kun lun san
yang sudah puluhan tahun kutinggalkan,
Semua ini gara gara Sam liong to
pulau ke tujuh di kanan Pulau Kura kura.“
Setelah Siauw giam ong habis membaca tulisan itu, Ouw
bin cu mencela, “Ah, apa artinya itu? Tetap saja dikatakan
bahwa Sam liong to berada di sebelah kanan Pulau Kura
kura, yakni pulau ke tujuh seperti telah di beri tanda di atas
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
peta ini. Terjemahannya tidak ada artinya, kawan!” Suara
Ouw bin cu amat kecewa.
“Itulah kalau orang tak pernah membaca syair, kalau
orang tidak suka membaca buku. Dan kau menyebut orang
orang macam pinto ini sebagai kutu buku.”
“Apa maksudmu Siauw giam ong! Benar benarkah ada
arti lain dalam syair yang kau baca tadi?”
“Coba kau ingat kembali bunyi syair tadi, Ouw bin cu.
Penulisnya menggambarkan keadaan matahari yang mulai
tenggelam. Ia katakan bahwa matahari tenggelam jauh di
belakang Pulau Seribu dan bahkan jauh di belakang daratan
Tiongkok dan gunung Kun lun san! Coba bayangkan, orang
yang menulis hal matahari tenggelam itu, kiranya berada di
mana? Tentu ia berada di sebelah sana Pulau Seribu, bukan
di sebelah sininya seperti kita sekarang berada! Kalau ia
berada di sebelah sini, tidak nanti ia mengatakan tentang
matahari tenggelam seperti itu, seakan akan daratan
Tiongkok dan Kun lun san berada jauh di belakang Pulau
Seribu. Nah, oleh karena penulis itu berada di sebelah
kanannya Pulau Seribu, tentu saja yang ia maksudkan
dengan SEBELAH KANAN Pulau Kura kura itu, bagi kita
sekarang adalah pulau yang berada di sebelah KIRI dari
Pulau Kura kura!”
Mendengar ini, terbukalah pikiran Ouw bin cu. Otomatis
ia menengok ke arah kiri dari pulau yang berbentuk kura
kura di mana terdapat banyak sekali pulau pulau besar
berjajar, pulau pulau yang banyak pohonnya. Ia menepuk
kepalanya dan berkata,
“Ah, besar sekali! Pantas saja aku setengah mati mencari
di pulau ke tujuh sebelah kanan itu tidak melihat sesuatu
tidak tahunya pulau yang kunaiki itu bukanlah Pulau Tiga
Naga! Hayo kita cepat dayung perahu kita ke kiri, Siauw
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
giam ong. Lihat, pulau ke tujuh sebelah kiri itu panjang dan
penuh pohon, agaknya subur sekali.”
Dengan hati berdebar penuh pengharapan, dua orang
tosu itu lalu mendayung perahu menuju ke sebelah kiri
pulau yang berbentuk kura kura dan setelah matahari naik
tinggi, barulah mereka tiba di pantai pulau itu. Benar saja,
baru di tepi pantai saja sudah nampak pohon pohon yang
mengandung buah buah yang enak dimakan, dan pulau itu
kelihatan subur sekali. Daun daun pohon kehijau hijauan
segar melambai seakan akan mengucapkan selamat datang
kepada yang baru tiba.
Dua orang itu lalu menaikkan perahu ke darat,
beristirahat sebentar sambil makan buah buahan yang
banyak terdapat di situ. Kemudian mereka naik ke pulau itu
menuju ke tengah.
Mudah saja bagi mereka untuk mencari gua yang
dimaksudkan di dalam gambar peta, karena ketika mereka
mendaki bukit kecil yang di tengah pulau, mereka sudah
dapat melihat gua dari jauh. Gua ini besar dan depannya
atau pintunya berbentuk kepala tengkorak manusia, mulut
gua merupakan mulut tengkorak dan puncak bukit kecil
merupakan kepalanya. Pohon pohon di atas puncak
merupakan rambut sehingga nampak amat mengerikan,
seperti tengkorak manusia yang masih ada rambutnya! Dua
orang itu tidak dapat menahan gelora bati mereka dan
berlari lari menghampiri. Setelah dekat, barulah mereka
melihat akar pohon besar melintang di depan gua. Akar ini
tiga macam, berwarna putih, kehijauan, dan kehitaman.
Karena tuanya akar ini kulitnya berbintik bintik, seperti
tubuh naga atau ular besar yang merayap di bukit itu.
Pantas saja pulau ini disebut Pulau Tiga Naga, kiranya dari
pemandangan yang amat mengerikan inilah! Di kanan kiri
gua itu terdapat jurang jurang yang amat curam, bahkan di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sebelah kiri gua, jurang itu terus menuju ke laut. Dari
tempat itu, nampak air laut bergelombang dan tepi laut
yang berbatu karang, amat mengerikan.
“Di sinilah tempatnya!” kata Ouw bin cu terengah engah
saking menahan kegembiraan hatinya. Telah berbulan
bulan, bahkan mungkin sudah ada setahun, ia menyimpan
peta rahasia yang didapatkannya dengan susah payah,
bahkan dengan taruhan nyawa. Dan baru sakarang
akhirnya ia tiba di tempat yang dimaksudkan oleh peta ini.
Sebetulnya yang menarik sekali baginya, bukan semata
harta itulah, karena di samping harta pusaka yang tak
ternilai harganya, ia mengharapkan akan mendapat
peninggalan senjata pusaka ataupun pelajaran ilmu silat
tinggi dari pembuat peta yang tak salah lagi tentulah
seorang sakti.
“Benar, inilah tempatnya. Mari kita masuk!” kata Siauw
giam ong yang juga diam diam merasa girang sekali.
“Gua ini gelap, kita lebih baik membuat obor,” kata si
muka hitam. Keduanya lalu mencari kayu dan rumput
untuk obor. Akan tetapi sebelum menyalakan obor itu, tiba
tiba Siauw giam ong berseru kaget dan cepat melompat ke
belakang. Dari atas mulut gua itu menyambar turun seekor
ular besar yang gerakannya seakan akan seekor ular
bersayap saja.
“Kurang ajar,” seru Ouw bin cu yang tabah. Cepat ia
mencabut pedangnya, lalu bersama Siauw giam ong. ia
menyerang ular itu. Ular itu benar benar hebat. Beberapa
bacokan dapat ia elakkan dan ia membalas serangan dua
orang itu dengan mulut terbuka lebar dan ekor menyabet ke
kanan kiri. Akan tetapi, yang ia hadapi adalah tokoh tokoh
kang ouw yang berkepandaian tinggi, maka tak lama
kemudian, pedang di tangan Ouw bin cu dan golok di
tangan Siauw giam ong lelah membacok tubuh ular itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kalau diceritakan sungguh sukar dipercaya. Ketika
terkena bacokan pedang dan golok, jelas sekali kelihatan
tubuh ular itu pecah pecah kulitnya, akan tetapi sedikitpun
tidak mengalirkan darah. Bahkan, ketika dua orang itu
mengamuk dengan bacokan bacokan mematikan, tiba tiba
tubuh ular itu seperti ada yang menarik ke atas dan tahu
tahu lenyap dari situ tak meninggalkan bekas.
Ouw bin cu dan Siauw giam ong saling pandang dengan
senjata masih di tangan. Siauw giam ong menjadi hijau
mukanya dan Ouw bin cu merasa mulutnya kering.
“Ke mana perginya?” terdengar Siauw giam ong
bertanya dengan suara perlahan sekali, seakan akan takut
terdengar oleh seseorang.
“Entahlah, mungkin melompat ke dalam jurang.” kata
Ouw bin cu dengan suara perlahan ngeri dan takut.Mereka
berkepandaian tinggi, tak mungkin ular itu dapat pergi
tanpa terlihat. Akan tetapi, betul betul ular itu telah
“menghilang!”
“Silumankah dia....?” tanya Siauw giam ong sambil
memandang ke kanan kiri.
“Sudahlah, jangan pikirkan yang bukan bukan. Lekas
kita bekerja,” kata Ouw bin cu. Mereka lain menyalakan
obor dan masuk ke dalam gua itu yang tidak begitu dalam
dan alangkah kaget tercampur girang hati mereka ketika
melihat sebuah peti besar di tengah tengah gua.
“Harta itu....” bisik Siauw giam ong. Tanpa banyak kata
kata lagi mereka lalu mengangkat peti itu keluar dan
ternyata peti itu berat sekali. Kalau saja hati mereka tidak
begitu penuh oleh rasa girang yang luar biasa, tentu mereka
akan merasa aneh dan curiga mengapa peti itu diletakkan
begitu saja di tengah gua, suatu cara yang aneh bagi orang
yang hendak menyembunyikan harta pusakanya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bukalah....” kata lagi Siauw giam ong dengan suara
perlahan seperti orang berbisik.
Ouw bin cu terlalu bernafsu untuk segera melihat isi peti
sehingga ia tidak mendengar betapa suara Siauw giam ong
terdengar menggigil seperti bukan suaranya sendiri yang
biasa lagi. Kalau saja ia menengok, tentu ia akan melihat
betapa muka yang pucat itu nampak amat aneh, matanya
kelihatan bersinar ganjil dan mulutnya, menyeringai buas,
sedangkan tangannya meraba gagang golok di punggung.
Pada saat Ouw bin cu membuka tutup peti, tiba tiba
Siauw giam ong menyerang dengan bacokan goloknya ke
arah leher si muka hitam.
Ouw bin cu adalah seorang yang memiliki ilmu silat
tinggi, maka sebelum golok itu mengenai lehernya, ia telah
merasa sambaran angin serangan ini. Ketika itu, ia sedang
membungkuk dan kedua tangannya memegang tutup peti
yang agak sukar dibuka. Maka alangkah terkejutnya ketika
ia merasa sambaran angin serangan golok pada lehernya.
Cepat ia melempar diri ke atas tanah sambil menggerakkan
kakinya menendang ke arah penyerangnya. Namun
betapapun cepat gerakannya, ia masih terlambat dan ia
hanya dapat meluputkan lehernya dari bacokan yang akan
dapat memutuskan leher. Namun pundaknya masih kena
disabet dan terdengar suara keras tanda bahwa tulang
pundaknya telah ikut terbabat putus. Bukan main sakitnya,
namun Ouw bin cu masih dapat terus menggelundung
sambil menendang nendang untuk mencegah lawannya
menyerang terus.
Sementara itu, menghadapi tendangan Ouw bin cu tadi,
Siauw giam ong berlaku cepat. Karena goloknya telah
mengenai pundak, ia tidak takut lagi dan melompat ke
belakang membiarkan Ouw bin cu melompat berdiri.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pundak yang terluka adalah pundak kiri, maka kini tangan
kanan Ouw bin cu mencabut pedangnya.
“Bangsat hina dina!” makinya sambil menggigit bibir
menahan rasa sakit yang menusuk nusuk jantung. “Aku
harus membikin mampus orang macam kau!” Tubuh Ouw
bin cu menyerang dengan gerakan cepat sekali. Ia sudah
menjadi nekat dan sakit hatinya membuat ia buas sekali.
Namun Siauw giam ong berlaku hati hati dan cepat
mengelak. Si muka pucat ini lebih cerdik. Ia tahu bahwa
dengan pundak terluka hebat, orang muka hitam ini takkan
dapat bertahan lama, maka tidak perlu baginya untuk
mengadu nyawa mati matian dalam sebuah pertempuran.
Kalau ia dapat mempertahankan diri saja, tak lama lagi
lawannya akan roboh sendiri.
Akan tetapi pada saat Ouw bin cu sudah mulai lemah
dan kepalanya pening karena terlampau banyak
mengeluarkan darah dari luka di pundaknya, tiba tiba
berkelebat bayangan merah dan ketika bayangan ini
menyambar, tubuh Ouw bin cu dan Siauw giam ong
terlempar ke belakang dalam keadaan tertotok kaku.
Ouw bin cu yang sudah payah, tak tahu lagi apa yang
terjadi dengan dirinya karena ia segera roboh pingsan. Akan
tetapi Siauw giam ong roboh dengan sadar dan ia
membelalakkan kedua matanya tanpa dapat menggerakkan
kaki tangan. Ia telah terkena totokan yang luar biasa sekaji
dan kini ia rebah terlentang dengan mata terheran heran
seperti melihat setan. Atau lebih tepat lagi, ia merasa
melihat seorang bidadari dari sorga tiba melayang turun
dari kahyangan. Di hadapannya, berdiri seorang gadis yang
paling banyak berusia enambelas tahun, berpakaian
kembang kembang merah dan wajahnya bukan main cantik
jelitanya. Perawakan gadis itu langsing penuh, tingginya
sedang dan pinggangnya ramping sekali membuat tubuh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bagian atas dan bawah nampak montok dan penuh.
Rambutnya panjang dan hitam bahu, dikuncir dua dan
ujungnya diikat oleh sutera hijau. Dua kuncir itu tergantung
ke depan melalui lehernya yang panjang dan berkulit putih
halus. Wajahnya berbentuk bundar lonjong dengan kening
rata dan dagu meruncing, manis sekali. Di atas kening yang
halus itu terhias anak anak rambut berjuntai tak teratur,
alisnya subur menghitam. Matanya yang bagus
menunjukkan kecerdikan luar biasa.
Yang paling menarik adalah bentuk mulutnya yang
melintang kecil di bawah hidung yang mancung. Mulut ini
terhias bibir yang kecil penuh dan merah seperti dicat.
Biarpun kulit bibir itu halus membasah, namun ditarik
sedemikian rupa sehingga nampaknya keren, menandakan
bahwa pemiliknya herhati teguh dan keras laksana baja.
Dara ini berpakaian baju dan celana sutera berkembang
merah dengan potongan yang ringkas mencetak bentuk
tubuhnya. Ikat pinggangnya putih, ujungnya tergantung
sampai ke lutut. Di pinggang sebelah kiri tergantung sarung
pedang yang berukir burung hong, sedangkan pada gagang
nya nampak bentuk kepala naga bermata kumala.
Sepatunya kecil hitam, kini kedua kaki itu berdiri tegak dan
kedua tangannya bertolak pinggang. Alisnya berdiri, lebih
heran dari pada marah.
“Eh, yang mana di antara kalian bernama Song Bun Sam
yang berjuluk Thian te Kiam ong (Raja Pedang Langit
Bumi)?”
Kemudian ia teringat bahwa dua orang itu telah kena ia
totok jalan darahnya, mana bisa memberi jawaban? Dan
dilihatnya pedang yang tadi terpegang oleh Ouw bin cu,
maka cepat ia menghampiri si muka hitam dan
menggunakan ujung sepatunya untuk menendang jalan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
darah tai hwe hiat di punggung Ouw bin cu agar si muka
hitam ini terbebas dari totokannya tadi.
“Eh, kaukah Thian te Kiam ong?” tanyanya dengan
suara mengandung keraguan.Macam inikah Thian te Kiam
ong? Demikian pikirnya tak percaya. Ketika dilihatnya si
muka hitam tidak menjawab, ia memandang lebih teliti dan
terlihat olehnya luka di pundak si muka hitam itu.
Keraguannya membesar dan ia segera menggerakkan
tubuhnya ke belakang. Bagaikan sehelai bulu ringannya, ia
telah meloncat ke dekat Siauw giam ong dan seperti tadi, ia
mengirim tendangan membebaskan totokan yang membuat
si muka pucat itu tidak dapat bergerak.
Kini Siauw giam ong Lie Chit terbebas dari pengaruh
totokan dan sebagai seorang ahli silat tinggi, ia segera dapat
mengerahkan lweekang mengalirkan darahnya kembali, lalu
melompat sambil memegang goloknya.
“Setan kurus! Apakah dia ini Thian te Kiam ong?”
tanyanya sambil menudingkan telunjuk yang kecil runcing
ke arah tubuh Ouw bin cu.
Tentu saja Siauw giam ong Lie Chit sudah kenal dan
tahu siapa adanya Thian te Kiam ong Song Bun Sam Si
Raja Pedang, karena siapa di antara orang kang ouw yang
tidak mengenalnya atau sedikitnya mendengar nama tokah
persilatan yang di juluki Raja Pedang itu. Ia mengira bahwa
nona ini tentu ada hubungan dengan Thian te Kiam ong,
maka ia tidak berani mendusta dan menjawab sejujurnya,
“Bukan, dia adalah Ouw bin cu Tong Kwat dan pinto (aku)
adalah Siauw giam ong Lie Chit.”
“Siapa ingin tahu namamu?” bentak nona itu dengan
ketus.
Marahlah Siauw giam ong melihat sikap dara ini.
Biarpun tadi ia sudah merasakan kelihaian nona ini namun
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tadi la diserang dengan tiba tiba selagi menghadapi Ouw
bin cu. Masa ia kalah oleh dara yang baru belasan tahun
usianya? Pula, seperti telah dituturkan, Lie Chit adalah
seorang mata keranjang, maka kini menghadapi seorang
dara muda yang demikian cantik jelita, tentu saja hatinya
menjadi tidak karuan rasanya! Ia lalu memberanikan diri
dan tertawa.
“Ha, ha, nona! Mengapa kau begitu galak? Aku Siauw
giam ong biarpun tidak sebesar Thian te Kiam ong namaku,
namun tidak ada orang kang ouw yang tidak mengenalku.
Sebaiknya kau bersikap sopan dan manis kepadaku dan
mengatakan siapa sebetulnya kau ini yang hidup di dalam
pulau kosong !
“Tutup mulut dan rebahlah !” bentak dara ini dan
seketika itu juga tubuhnya sudah berkelebat dan jari
tangannya yang runcing halus itu menyerang ke arah iga
kiri Lie Chit merupakan serangan tiam hoat (ilmu menotok
jalan darah) yang berbahaya.
Namun Siauw giam ong Lie Chit bukan seorang lemah.
Cepat ia dapat mengelak dan membalas serangan nona itu
dengan membabatkan goloknya ke arah kedua kaki nona
baju merah itu dengan cepat sekali. Namun, sekali dara itu
melompat ke atas, tiba tiba tubuhnya lenyap dan Lie Chit
merasakan sambaran angin dari belakangnya, ia cepat
mengelak dan memutar tubuh sambil mengayunkan golok
membabat ke belakang. Ternyata bahwa nona itu telah
berada di belakangnya. Gerakan ginkang sehebat ini belum
pernah ia lihat seumur hidupnya. Ia sendiri terkenal sebagai
seorang ahli ginkang yang pandai, akan tetapi,
dibandingkan dengan nona ini, ia ternyata kalah jauh.
Sebagai tokoh Go bi pai, ilmu golok dari Siauw giam ong
Lie Chit cukup lihai dan kini ia memainkan ilmu golok
yang paling cepat. Yang dipegangnya kini kelihatannya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bukan golok lagi, karena senjata itu telah berubah menjadi
sinar putih yang bulat dan menyambar nyambar seperti
segulung api. Ia melihat dara baju merah itu masih saja
belum mencabut pedang dan melayaninya dengan tangan
kosong, maka Lie Chit merasa penasaran sekali dan juga
yakin bahwa ia tentu akan menang. Tak mungkin seorang
dara demikian muda dapat melayaninya dengan tangan
kosong. Jago jago di dunia kang ouw tidak ada yang
sanggup menghadapi goloknya dengan tangan kosong saja.
Kalau tadi Siauw giam ong Lie Chit masih belum mau
menyerang sungguh sungguh karena sayang akan
kecantikan dara ini, sekarang setelah maklum bahwa ia
berhadapan dengan lawan yang lihai, ia menyerang dengan
sungguh sungguh dan kalau perlu akan dibunuhnya gadis
ini. Namun ia kecele benar benar. Gadis itu tidak takut
sama sekali menghadapi sambaran goloknya, bahkan
nampak bibirnya yang manis tersenyum senyum mengejek
dan tiba tiba tubuhnya lenyap berobah menjadi bayangan
merah yang luar biasa sekali gesitnya. Bayangan merah ini
dengan gerakan yang mentakjubkan menyelinap di antara
gulungan putih dari golok Siauw giam ong dan ke mana
saja Siauw giam ong menyerang, selalu goloknya makan
angin.
“Anjing berpenyakitan, lepaskan golokmu yang
menjemukan!” tiba tiba gadis itu berseru dengan suara
nyaring dan entah bagaimana Siauw giam ong tidak tahu,
akan tetapi seketika itu juga, ia merasa pergelangan
tangannya yang memegang golok sakit sekali dan goloknya
terlepas dari pegangan terus terlempar jauh ke tengah udara.
Dengan bengong Siauw giam ong melihat betapa dara itu
meraba pinggangnya dan tahu tahu berkelebat sinar hijau
ketika gadis itu mencabut pedangnya. Pada saat goloknya
yang tadi terlempar ke atas itu melayang turun, gadis itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menggerakkan pedang ke arah golok. Terdengar suara
“traang! traang....!” empat kali dan goloknya terbabat putus
menjadi lima potong seakan akan terbuat daripada batang
pohon bambu muda saja.
Siauw giam ong diam diam bergidik ngeri. Kalau tadi
gadis itu menghadapinya dengan pedang di tangan,
agaknya tubuhnyapun akan terpotong potong seperti
goloknya. Ia berdiri bengong dan memandang kepada nona
itu dengan kagum dan timbul rasa takutnya.
“Angkat si muka hitam itu dan ikut aku !” Gadis itu
memberi perintah kepada Siauw giam ong dengan pandang
mata mengancam sambil menyimpan kembali pedangnya
yang mengeluarkan sinar hijau.
Siauw giam ong Lie Chit telah mati kutunya. Ia maklum
bahwa ia menghadapi seorang gadis luar biasa yang
memiliki kepandaian aneh dan jauh lebih tinggi daripada
kepandaiannya sendiri. Tiada lain pilihan baginya kecuali
mentaati perintah ini, maka ia lalu membungkuk dan
memanggul tubuh Ouw bin cu Tong Kwat yang masih
pingsan di atas pundaknya.
“Hayo jalan ke sana !” Gadis baju merah itu menunjuk
ke puncak bukit di sebelah belakangnya, yakni yang
berhadapan dengan bukit gua tengkorak itu. Siauw giam
ong menurut dan berjalan perlahan ke arah tempat yang
ditunjuk, sedangkan nona ini berjalan di belakangnya.
Dengan tangannya, Siauw giam ong Lie Chit sambil
berjalan, mencoba untuk membetulkan tulang pundak Ouw
bin cu yang tadi terputus oleh goloknya. Ia ingin menolong
bekas lawan ini, karena dalam keadaan bahaya seperti
sekarang ini, jauh lebih baik mempunyai kawan senasib
daripada hanya seorang diri saja menghadapi bahaya yang
lebih hebat dan mengerikan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tak jauh mereka berjalan, sampailah Siauw giam ong di
depan sebuah pondok kayu yang berdiri di puncak bukit
kecil itu.
“Suhu, umpan kita bukan dapat memancing ikan hiu
seperti yang kita harapkan, melainkan dua ekor tikus busuk
yang datang!” Gadis baju merah itu berseru ke dalam
pondok.
“Sayang....” terdengar suara dari dalam pondok dan
sebelum gema suara ini lenyap, orangnya tahu tahu telah
muncul di depan pintu. Ketika Sianw giam ong melihat
orang ini, ia menjadi begitu kaget dan ngeri sehingga
mukanya yang pucat menjadi hijau. Orang yang disebut
suhu (guru) oleh gadis yang cantik jelita itu, benar benar
merupakan penglihatan yang amat mengerikan. Dia
seorang kakek yang sudah tua sekali, tubuhnya panjang, tak
dapat disebut tinggi karena tubuh itu bongkok sekali seakan
akan patah pada bagian pinggangnya dan membungkuk ke
depan sehingga lebih tepat disebut panjang daripada tinggi.
Kalau dilihat, tubuhnya ini seperti seekor naga yang
sebagian tubuh belakang tersembunyi di dalam tanah dan
hanya kelihatan kepala dan lehernya saja. Tubuh itu kurus
sekali, nampak tulang tulangnya, tertutup oleh kain kuning
yang dililitkan sampai ke leher dan di bawah ampai di
lututnya. Kakinya hanya sebuah, yakni yang kiri, karena
yang kanan hanya sampai di paha. Pipi sebelah kanan
lenyap dan bolong, nampak giginya yang tinggal tulang
tulang itu, sungguh mengerikan.Muka ini menjadi setengah
muka juga setengah tengkorak, seakan akan menjadi
lambang bahwa ia berada di antara mati dan hidup. Tangan
kirinya memegang tongkat bambu yang dipergunakan
untuk menunjang tubuhnya yang sudah tidak sempurna
lagi. Namun kedua matanya yang kecil itu masih amat
tajam dan mengeluarkan sinar berpengaruh sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siauw giam ong benar benar merasa heran. Bagaimana
orang setengah mayat ini bisa menjadi guru dari dara jelita
yang amat lihai itu? Mungkin orang yang hampir mampus
ini dapat memiliki kepandaian tinggi?
“Hayo kau berlutut!” Tiba tiba Siauw giam ong
mendengar bentakan gadis itu dari belakangnya.
Kalau saja ia disuruh berlutut di depan gadis itu, agaknya
Siauw giam ong akan suka menurut biarpun dengan hati
merasa segan. Akan tetapi berlutut di depan manusia
setengah mayat tiada guna ini? Ia merasa mendongkol
sekali dan hal ini ia anggap sebagai hinaan besar. Lie Chit,
Malaikat Maut Kecil yang di dunia kang ouw sudah
membuat banyak orang menjadi ketakutan, yang dihormat
dan banyak orang berlutut di depannya, kini harus berlutut
di depan seorang kakek yang sudah hampir mati?
Melihat keayalannya, gadis baju merah yang berdiri di
belakangnya lalu menggerakkan tangan ke arah kakinya
sambil membentak lagi.
“Berlutut kau!”
Siauw giam ong merasa angin menyambar belakang
lututnya. Ia hendak menggerakkan kaki mengelak, namun
sia sia karena ia merasa kedua lutut kakinya lemas dan
tanpa dapat dicegah lagi ia lalu jatuh berlutut dan tubuh
Ouw bin cu Tong Kwat yang tadi dipondongnya jatuh
terlepas dan rebah di depannya. Kini Ouw bin cu si muka
hitam itu siuman dari pingsannya dan meringis kesakitan
sambil bangun duduk dan memandang ke kanan kiri!
Melihat Siauw giam ong di dekatnya dan si muka pucat ini
berlutut di depan seorang kakek yang menakutkan dan di
belakang mereka berdiri seorang gadis cantik jelita yang
sikapnya amat galak, Ouw bin cu lupa akan sakit di
pundaknya saking herannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Eh, Siauw giam ong, di manakah kita sekarang ini?Dan
siapakah locianpwe (sebutan untuk orang pandai yang lebih
tua atau tinggi tingkatnya) dan nona ini?”
Kakek tua renta itu tertawa dan suara ketawanya
mendirikan bulu tengkuk dua orang tosu itu. Suara ketawa
ini terdengar kasar dan parau, terkekeh kekeh seperti suara
burung mayat (burung gagak).
“Ha ha, kek kek kek, kak kak kak....! Cu ji (anak Cu),
biarpun Thian te Kiam ong Song Bun Sam tidak datang,
akan tetapi kedatangan dua orang ini cukup baik dan
menguntungkan. Kita butuh pelayan dan mereka ini cukup
baik untuk menjadi pelayan di Sam liong to. Siapakah
nama mereka?”
“Si muka hitam itu adalahOuw bin cu Tong Kwat dan si
muka pucat ini bernama Siauw giam ong Lie Chit,
demikian pengakuan si muka pucat, suhu,” jawab gadis itu.
“Cukup baik, cukup baik!” kakek itu mengangguk
anggukkan kepalanya yang sudah rontok semua rambutnya
itu. “Cukup baik untuk menjadi pelayan kita.”
Adapun Ouw bin cu Tong Kwat yang mendengar ini,
menjadi marah sekali. Ia melompat berdiri dan berkata,
“Siapakah kalian ini? Sampai di mana kehebatanmu maka
berani sekali menghina Ouw bin cu??”
“Bangsat, kau sudah bosan hidup?” gadis itu membentak
dan melangkah maju dengan tangan terkepal.
“Jangan, Cu ji, kita butuh tenaganya,” kakek tua itu
mencegah muridnya, kemudian sambil tertawa tawa ia
menghadapi Ouw bin cu yang sedang marah. “Kau ingin
mencoba kelihaian orang yang dahulu belasan tahun yang
lalu disebut Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu? Nah,
kaupeganglah tongkat ini!” Sambil berkata demikian, kakek
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tua renta ini mendekatkan ujung tongkat bambunya kepada
Ouw bin cu.
Ouw bin cn Tong Kwat dan Siauw giam sng Lie Chit
terkejut bukan main mendengar nama Lam hai Lo mo
(Setan Tua Laut Selatan) yang belasan tahun yang lalu
menjadi seorang tokoh luar biasa di samping empat orang
tokoh besar yang lain. Akan tetapi, bukankah dikabarkan
orang di dunia kang Ouw bahwa Lam hai Lo mo telah
tewas?
Ouw bin cu yang masih penasaran dan tidak percaya,
segera memegang ujung tongkat bambu itu dengan tangan
kanan lalu mengerahkan tenaga untuk membetotnya. Akan
tetapi baru saja ia memegang tongkat itu, ia menjerit karena
terasa betapa dari telapak tangannya itu mengalir hawa
yang panas dan gatal gatal yang menjalar terus melalui
lengannya dan membuat seluruh tubuhnya terasa panas dan
sakit sakit bukan main hebatnya. Ia berusaha untuk
melepaskan tongkat itu, namun benar benar aneh dan
hebat. Telapak tangannya yang memegang ujung tongkat
itu, seakan akan telah menjadi satu dengan tongkat,
menempel demikian eratnya, tak mungkin dilepaskan lagi.
Sementara itu, rasa sakit dan panas makin menghebat
sehingga tak tertahankan lagi, Ouw bin cu berteriak teriak
minta ampun. Sambil tertawa bergelak, kakek itu menarik
kembali tongkatnya dan Ouw bin cu dengan tubuh lemas
lalu menjatuhkan diri berlutut.
Juga Siauw giam ong kini tidak ragu ragu lagi bahwa ia
berhadapan dengan seorang sakti, sungguhpun ia masih
meragukan apakah benar benar kakek aneh ini adalah Lam
hai Lo mo Seng Jin Siansu, maka iapun berlutut
mengangguk anggukkan kepalanya
“Apakah kalian suka menjadi pelayanku?” tanya Seng
Jin Siansu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Teecu suka sekali,” jawab Ouw bin cu karena selain
takut untuk membantah, juga ia mengharap untuk dapat
menjadi murid dan menerima pelajaran ilmu silat tinggi
dari kakek sakti ini.
“Teecu bersedia kata,” Siauw giam ong pula.
“Bagus! Kalian harus bekerja baik baik dan jangan
khawatir, aku mengerti apa keinginan orang orang seperti
kalian ini. Kalau sudah tiba masanya aku kembali ke
tempat asal, kalian boleh kembali ke daratan Tiongkok,
membawa banyak emas dan juga mungkin sekali sedikit
kepandaian dariku. Kalian harus menjaga dan membantu
kami di pulau ini, dan harus menurut segala petunjuk dari
muridku Ong Siang Cu ini.”
Dua orang tosu itu mengangguk angguk dan menyatakan
taat. Kemudian Lam hai Lo mo lalu memberi obat kepada
Ouw bin cu untuk merawat pundaknya yang terputus
tulangnya. Setelah kini menjadi pelayan dari kakek sakti
dan nona baju merah yang lihai itu, Ouw bin cu Tong Kwat
dan Siauw giam oug Lie Chit menjadi akur dan mereka
melupakan permusuhan yang timbul di antara mereka
karena berebut harta pusaka di Pulau Sam liong to. Bahkan
mereka kini merasa menjadi saudara seperguruan dan
menurut tingkat usia mereka Ouw bin cu menjadi suheng
(kakak seperguruan) dan Siauw giam ong manjadi sute
(adik seperguruan). Benar saja, mereka mendapat
bimbingan dan pelajaran ilmu silat dari kakek sakti itu dan
dalam beberapa bulan saja kepandaian mereka telah
meningkat hebat sekali.
Namun, mereka tidak berani menyebut saudara
seperguruan kepada Siang Cu, nona baju merah yang tetap
saja jauh lebih lihai dari mereka. Mereka menyebut nona
cantik ini dengan sebutan Siocia (nona) dan terhadap Siang
Cu mereka amat menghormat. Bahkan Siauw giam ong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang mata keranjang, kini sudah kapok dan tidak berani
bersikap kurang ajar kepada SiangCu lagi.
Siapakah sebenarnya kakek sakti itu? Dan siapa pula
muridnya, gadis cantik luar biasa yang lihai itu? Dan
mengapa mereka berada di atas Sam liong to, pulau kosong
yang terpencil?
Kakek itu memang bernama Seng Jin Siansu dan
berjuluk Lam hai Lo mo (Iblis Tua Laut Selatan), seorang
tokoh persilatan yang tidak saja amat tinggi ilmunya, akan
tetapi juga amat sakti dan pandai ilmu hoat sut (sihir). Ia
memiliki watak yang amat jahat, pendeknya segala macam
kejahatan menjadi kesukaannya.
Belasan atau puluhan tahun yang lalu, Lam hai Lo mo
Seng Jin Siansu terkenal sebagai seorang di antara lima
tokoh besar dunia persilatan yang menjagoi di daerah
persilatan. Kemudian atas kejahatannya yang dibantu oleh
tokoh besar kedua yakni Pat jiu Giam ong (Raja Maut
Tangan Delapan) Liem Po Coan seorang yang menjadi sute
nya sendiri. Lam hai Lo mo bentrok dengan tokoh tokoh
besar yang lain.
Pertempuran hebat terjadi, dan akhirnya Lam hai Lo mo
dikalahkan oleh seorang pendekar muda yang bernama
Song Bun Sam, murid dari tokoh tokoh besar yang lain,
yang telah dapat mewarisi ilmu ilmu silat tinggi dan
terutama sekali ilmu pedang sakti dari Bu tek Kiam ong (
Raja Pedang Tiada Taranya). Dalam pertempuran mati
matian di pinggir Sungai Huang ho, Lam hai Lo mo kalah
dan akhirnya ia ditendang masuk ke dalam sungai oleh
lawannya. Semua orang mengira bahwa ia telah mati
dimakan ikan liar yang banyak terdapat di Sungai Huang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ho itu, karena tubuhnya tidak muncul lagi dan air menjadi
merah.
Akan tetapi, biarpun tubuhnya sudah lemah dan
tendangan itu dilakukan oleh seorang yang memiliki
kepandaian tinggi, agaknya akan percuma ia Seng Jin
Siansu mendapat julukan Iblis Tua Laut Selatan kalau ia
binasa di dalam air. Sesuai dengan julukannya sebagai iblis
laut, ia amat pandai ilmu bergerak di dalam air. Ketika
tubuhnya terguling ke dalam air, ia bergulat mati matian
sambil menyelam ke dasar sungai yang amat dalam.
Ikan air sebangsa ikan hiu itu mengejarnya. Dengan
kepandaiannya, Lam hai Lo mo selalu dapat
menghindarkan diri dari terkaman ikan. Namun tubuhnya
memang sudah lemah dan kalau ia melanjutkan pergulatan
itu, tentu akhirnya ia akan kehabisan napas. Sambil
mengelak terus, ia membiarkan dirinya terbawa oleh aliran
air sungai, dan terus ia dikejar oleh ikan itu.
Agaknya nasib memang sedang malang baginya, atau
mungkin juga karena dosanya sudah terlalu banyak maka ia
harus mengalami penderitaan sebagai hukuman. Satelah
terbawa jauh oleh aliran air Sungai Huang ho, akhirnya ia
berani muncul ke permukaan air, namun tak mungkin
baginya untuk mendarat karena ia masih berada di bagian
sungai yang tepinya terdiri dari batu batu karang yang amat
tinggi. Terpaksa ia berenang lagi mengikuti aliran air
dengan ikan liar masih saja mengikutinya.
Lam hai Lo mo tidak khawatir lagi karena ia hanya
menanti sampai ia terbawa pada bagian yang tepinya
rendah sehingga ia dapat mendarat dengan selamat.
Adapun serangan ikan liar yang hanya seekor itu masih
dapat selalu dielakkannya dengan mudah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, pada waktu ia tiba di bagian sungai yang
tepinya rendah dan hatinya sudah mulai girang, tiba tiba air
bergelombang dan muncul beberapa ekor ikan liar lain yang
memburu ke arahnya.
“Celaka....” keluhnya dan secepat tenaganya
mengijinkannya, ia berenang ke pinggir. Namun ikan itu
lebih cepat lagi dan sebelum Lam hai Lo mo tiba di tepi, ia
telah diserbu.
Kakek ini menggerakkan kaki tangannya, memukul dan
menendang. Namun gerakan ikan itu membuat air
bergelombang dan menjadi keruh sehingga matanya tak
dapat melihat lagi. Tiba tiba ia merasa mukanya sakit sekali
karena pipinya tergigit oleh seekor ikan. Ia memukul kepala
ikan itu dan cepat berenang ke pinggir.
“Aku harus memberi makan ikan ikan itu, kalau tidak
aku akan tewas,” pikirnya. Maka ia cepat menyambar dan
Lam hai Lo mo merasa kaki kanannya sakit dan perih.
Ternyata bahwa kaki kanannya sebatas paha telah putus
digigit ikan.
Benar saja, setelah paha itu dapat disambar ikan,
terjadilah keroyokan dan perebutan, memperebutkan kaki
manusia yang gurih itu. Adapun Lam hai Lo mo sendiri
tidak mau melewatkan kesempatan ini. Cepat ia berenang
dengan sebelah kaki dan kedua tangan ke tepi dan akhirnya
dapat mendarat dengan selamat, ia tiba di darat dan jatuh
pingsan.
Dapat dibayangkan betapa hebatnya penderitaan Lam
hai Lo mo. Ketika ia siuman kembali, sebelah kaki
kanannya telah hilang dan pipi kanannya juga telah habis
sehingga bolong dan kelihatan tulang rahang dan giginya.
Ia berada dalam keadaan setengah mati, atau lebih hebat
dari itu. Tujuh bagian tubuhnya telah mati dan hanya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tinggal tiga bagian saja yang hidup. Namun ia
mempergunakan sisa tenaganya untuk bertahan hidup terus,
ia mengerahkan tenaga untuk menotok jalan darah di
pangkal pahanya agar darah berhenti mengalir keluar dan
menyelamatkan nyawanya.
Kemudian, sambil menyeret kakinya, ia mencari daun
obat obatan untuk mengobati luka di paha dan di pipinya.
Setelah melewati puluhan hari dalam keadaan amat
sengsara, terserang penyakit panas yang membuatnya
pingsan berhari hari dan menderita kelaparan yang hampir
merenggut nyawanya, akhirnya ia selamat dan sembuh
kembali dalam keadaan bercacad.
Hatinya penuh dendam. Ia ingin mempergunakan sisa
hidupnya untuk membalas dendam itu. Terutama, orang
yang paling dibencinya adalah pemuda Song Bun Sam
pendekar muda yang telah mengalahkannya. Ia bersumpah
untuk membunuh pendekar ini dan membasmi
keluarganya. Orang ke dua yang akan dibalasnya adalah
Kim Kong Taisu pertapa di Bukit Oei san, seorang di antara
lima tokoh besar atau guru pertama dari pendekar muda
Song Bun Sam itu. Kemudian masih ada lagi seorang yang
dibencinya, yakni Mo bin Sin kun (Kepalan Sakti Muka
Iblis), seorang di antara lima tokoh besar atau guru ke dua
dari Song Bun Sam. Wanita sakti Mo bin Sin kun inilah
yang menendangnya sehingga ia terlempar ke dalam Sungai
Huang ho di mana hampir saja ia menemui maut.
Di dalam hatinya, ia bersumpah untuk membasmi orang
orang ini atau murid murid mereka dan keluarga mereka
tentu mereka takkan mau melepaskannya sebelum ia mati.
Ia tahu bahwa kebencian mereka terhadap dia
mengimbangi kebenciannya terhadap mereka. Untuk
menghindarkan diri dari mereka, Lam hai Lo mo lalu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membuat sebuah perahu dan kemudian berlayarlah dia
menurutkan aliran Sungai Huang ho menuju ke laut.
Setelah memilih milih, akhirnya ia tiba di sebuah pulau
kosong di antara pulau seribu, dan menjadikan pulau yang
subur ini sebagai tempat tinggalnya. Alangkah girangnya
ketika di pulau ini secara tak disengaja, ia menemukan
sebuah gua di mana terdapat peti terisi emas permata dan
juga pada dinding gua itu ia mendapatkan ukiran ukiran
yang ternyata adalah pelajaran ilmu pedang yang lihai
sekali. Dilupakannya akan kesengsaraannya dan dengan
tekun ia melatih diri dan mempelajari ilmu pedang itu.
Biarpun kakinya tinggal sebelah akan tetapi setelah
mempelajari ilmu pedang ini, Lam hai Lo mo bahkan lebih
lihai daripada sebelum ia menjadi penderita cacad.
Kemudian ia merasa amat kesepian dan di samping ini,
iapun merasa dirinya sudah terlalu tua. Timbul kegelisahan
di dalam hatinya. Bagaimana ia dapat menuntut balas
kepada musuh musuhnya kalau dia sudah mendekati
kematian karena usia tua? Ia harus mendapatkan seorang
murid yang berbakat. Sayang sekali muridnya yang
bernama Gan Kui To telah mati lebih dulu sebelum dapat
mewarisi semua kepandaiannya.
Setelah berpikir pikir, akhirnya ia mengambil keputusan
tetap dan berlayarlah Lam hai Lo mo ke daratan Tiongkok
untuk mencari murid. Secara sembunyi sembunyi ia tiba di
kota raja dan diam diam memasuki taman istana, karena
kakek aneh ini hendak memilih murid seorang keturunan
bangsawan tinggi. Ia tidak sudi mempunyai murid anak
orang biasa saja dianggapnya terlalu rendah. Memang,
biarpun sudah amat tua, sifat sombong masih saja
mengeramdi dalam sanubari kakek ini.
Di dalam istana itu tinggal bersama kaisar, seorang
pangeran yang kini menduduki pangkat raja muda dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bernama Kian Tiong. Raja Muda Kian Tiong orangnya
tampan dan ramah tamah, pandai bun bu (ilmu sastera dan
silat). Isterinya seorang puteri Bangsa Semu yang cantik
jelita dan bermata biru, juga pandai memainkan senjata
siang kiam (sepasang pedang). Juga puteri yang menjadi
isteri Raja Muda Kian Tiong ini amat ramah tamah dan
berbudi baik, namanya puteri Luilee. Yang amat menarik
hati adalah mata puteri ini yang berwarna kebiruan dan
berbentuk amat indahnya.
Kebetulan sekali, pada malam hari itu Raja Muda Kian
Tiong beserta isteri dan puterinya yang baru berusia lima
tahun, sedang bersenang senang di dalam taman. Bulan
terang sekali dan bunga bunga di taman berkembang. Para
pelayan sibuk melayani keluarga bangsawan tinggi ini.
Dalam kesempatan ini, Raja Muda Kian Tiong bertukar
sajak dengan Luilee isterinya yang ia cinta. Sinar bulan
yang adem dan tenang membangunkan cinta kasih mereka
dan tidak mengherankan apa bila suami isteri yang telah
punya puteri dan telah menikah kurang lebih enam tahun
lamanya ini, pada malam hari itu bertukar pandang mata
penuh kemesraan, tidak kalah oleh pandang mata ketika
mereka masih bertunangan dahulu. Untuk sejenak mereka
lupa kepada puteri mereka yang berlari lari ke sana kemari,
memetik bunga dan bermain main dengan inang
pengasuhnya. Pelayan pelayan lain membunyikan
tetabuhan perlahan dahan yang menambah keindahan
suasana.
Kemudian, puteri mereka yang mungil dan lincah itu
disuruh menari.Memang Luilee sendiri adalah seorang ahli
tari yang pandai maka tentu saja ia mengajar anaknya
menari. Sebagai keturunan orang orang yang suka akan
kesenian, ternyata puteri cilik ini memiliki gerakan yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
halus dan lemas, sehingga ketika ia menari, seakan akan ia
menjadi seorang bidadari kecil.
Tak seorangpun di antara mereka mengetahui bahwa ada
sepasang mata sipit yang memandang ke arah puteri cilik
itu dengan penuh kegembiraan. Inilah mata dari Lam hai
Lo mo yang sudah semenjak tadi mengintai dari balik
batang pohon.
Setelah puteri cilik itu selesai menari bertepuk tanganlah
semua orang, termasuk Raja Muda Kian Tiong dan Luilee,
ayah dan ibu anak itu yang merasa amat bangga. Akan
tetapi, tiba tiba tepuk tangan berhenti dan semua orang
memandang ke pada kakek yang tiba tiba muncul itu
dengan mata terbelalak. Terdengar jerit jerit kecil dari para
pelayan yang merasa ngeri menyaksikan keadaan kakek
buntung yang menyeramkan itu.
Lam hai Lo mo datang terpincang pincang dengan
tongkat di tangannya, langsung menghampiri puteri cilik
yang dikaguminya.
Kalau semua pelayan merasa ngeri, tidak demikian
dengan puteri cilik itu. Melihat seorang kakek pincang
menghampirinya, ia menyambut sambil tertawa dan
bertanya
“Orang tua, kakimu yang kanan di manakah?”
“Dimakan iblis!” Jawab Lam hai Lo mo sambil tertawa.
“Anak manis, kau patut menjadi muridku. Hayo kau ikut
suhumu!” Sambil berkata demikian, ia menarik keluar
sehelai saputangan putih dan sekali ia mengebutkan
saputangan itu ke arah puteri cilik tadi puteri itu mencium
bau harum sekali lalu tubuhnya lemas dan roboh seperti
orang pingsan atau orang tidur. Lam hai Lo mo
menyambar tubuh itu dan memondongnya dengan tangan
kiri.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bukan main gegernya keadaan di dalam taman. Para
pelayan menjerit dan berlari ke sana ke mari. Kian Tiong
lalu melompat mendekati kakek itu dan berseru marah,
“Setan kurang ajar. Kembalikan anakku !”
Juga Luilee sudah melompat dekat dan mengulur tangan
untuk merampas anaknya, akan tetapi sekali saja Lam hai
Lo mo menangkis, tubuh Luilee terlempar jauh.
“Bangsat, kau harus mampus!” bentak Kian Tiong yang
segera menyerang dengan tangannya. Memang pada waktu
itu, raja muda ini tidak memegang senjata, demikian pula
Luilee.
Luilee yang jatuh, segera melompat bangun lagi dan
melihat suaminya menyerang kakek itu, iapun lalu
membantu.
Akan tetapi, mana bisa sepasang suami isteri bangsawan
ini menghadapi Lam hai Lo mo yang berkepandaian tinggi
sekali? Dalam beberapa gebrakan saja, dengan tongkatnya
Lam hai Lo mo menghantam kepala Kian Tiong sehingga
raja muda ini roboh dengan luka berat sekali di kepalanya,
sedangkan Luilee yang nekad telah tertusuk dadanya oleh
ujung tongkat sehingga tewas pada saat itu juga. Para
pelayan ribut dan banyak di antara mereka menjadi korban
tongkat.
SSSeeerrriiikkkeee111 PPPeeedddaaannnggg SSSiiinnnaaarrrEmaaasss
PPPeeedddaaannngggSSSiiinnnaaarrrEmaaasss
(Kim Kong Kiam)
Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sumber DJVU : BBSC
Convert & Editor : Rif Zyr (thanks)
Fnal edit & pdf Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
Jilid XVII
MEMANG Lam hai Lo mo sengaja membunuh kedua
orang tua anak yang hendak diculiknya agar di kemudian
hari tidak mendapat gangguan dan mereka. Membunuh
manusia bagi Lam hai Lo mo sama halnya dengan
membunuh semut saja!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pelayan pelayan yang dapat menyelamatkan diri, segera
berteriak teriak dan minta tolong. Penjaga segera datang
menyerbu namun ketika mereka tiba di taman, bayangan
kakek itu sudah tidak ada lagi demikian pula bayangan sang
puteri cilik. Terpaksa mereka hanya bisa menolong Raja
Muda Kian Tiong dan isterinya yang sudah tewas.
Raja Muda Kian Tiong meninggal dunia tak lama
kemudian setelah ia berhasil memaksa diri menulis sehelai
surat yang dipesannya kepada para keluarga agar diberikan
kepada seorang bernama Song Bun Sam apabila orang itu
kebetulan datang menjenguknya. Kalau tidak datang, surat
itu supaya disimpan saja! Kemudian meninggallah dia
menyusul isterinya yang tercinta.
Malapetaka yang menimpa keluarga Raja Muda Kian
Tiong ini tentu saja menimbulkan kegemparan hebat.
Kaisar sendiri memberi perintah agar semua pastikan di
dalam negeri mencari kakek yang kejam itu. Akan tetapi
hasilnya sia sia belaka karena tanpa diketahui oleh seorang
pun, Lam hai Lo mo telah membawa puteri cilik itu ke atas
pulaunya, pulau kosong yang ia bernama Sam liong to dan
yang belum pernah didatangi oleh orang lain. Adapun para
pelayan yang menyaksikan peristiwa itu, hanya dapat
memberi tahu bahwa penculik dan pembunuh itu adalah
seorang kakek berkaki satu dengan wajah mengerikan
seperti iblis, lain tidak!
Tidak hanya puteri cilik itu saja yang diculik oleh Lam
hai Lo mo, akan tetapi juga sebatang pedang simpanan
yang berada di dalam kamar Raja Muda Kian Tiong,
dicurinya juga. Pedang ini adalah pedang Cheng hong
kiam, pedang pusaka yang amat ampuh dan terbuat dari
pada baja hijau.
Dengan kepandaian ilmu sihirnya, Lam hai Lo mo dapat
membikin puteri cilik itu lupa akan asal usulnya, bahkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lupa akan namanya sendiri. Lam hai Lo mo memberi nama
Ong Siang Cu kepadanya, ia mengambil she (nama
keturunan) Ong yang berarti Raja, mengingat bahwa orang
tua gadis cilik ini adalah bangsawan tinggi keturunan raja.
Demikianlah, puteri cilik yang sekarang bernama Siang
Cu ini hanya tahu dari cerita kakek itu bahwa dia adalah
seorang anak yatim piatu yang dipelihara dan diambil
murid oleh Lam hai Lo mo Seng Jin Siansu, maka tentu
saja ia merasa berterima kasih, sayang dan taat kepada
suhunya.
Alangkah girangnya hati Lam hai Lo mo ketika ia
mendapat kenyataan bahwa bakat dari anak perempuan ini
jauh melampaui dugaan dan harapannya. Siang Cu benar
benar memiliki bakat besar sekali dan setelah gadis ini
berusia enam belas tahun, kepandaian dari suhunya telah
dikurasnya habis! Bahkan di samping ilmu ilmu silat tinggi
yang diajarkan oleh gurunya, ia telah pula dapat mainkan
ilmu pedang yang didapatkan oleh Lam hai Lo mo di dalam
gua! Ilmu pedang ini lalu diberi nama Cheng hong Kiam sut
(Ilmu Pedang Burung Hong Hjau), sesuai dengan nama
pedang Cheng hong kiam yang dicurinya dari kamar Raja
Muda Kian Tiong dan yang kini ia berikan kepada
muridnya yang tersayang.
Memang, sebagai seorang sebatangkara yang tak pernah
merasai kebaktian dan kesayangan orang lain terhadapnya,
biarpun wataknya buruk dan hatinya jahat, akhirnya Lam
hai Lo mo jatuh hati nya oleh kebaktian Siang Cu dan ia
amat sayang kepada anak ini, bukan saja sebagai murid,
bahkan sebagai anak atau cucu sendiri !
Seringkali Lam hai Lo mo membawa murid nya itu
mendarat di daratan Tiongkok sehingga gadis cantik ini
tidak asing akan kehidupan di dunia ramai. Setelah dewasa
gadis ini memiliki kecantikan seperti ibunya sehingga
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
gurunya menjadi makin sayang kepadanya. Diceritakannya
kepada murid ini bahwa ia mempunyai musuh besar.
Pertama adalah Thian te Kiam ong Song Bun Sam, kedua
Kim kong Taisu, dan ke tiga Mo bin Sin kun. Ia minta
kepada muridnya agar kelak murid ini suka membalaskan
dendamnya.
“Lihat saja kaki dan pipiku serta punggungku, Cu ji.
Semua ini adalah akibat dari perbuatan tiga orang itu yang
amat keji. Oleh karena itu, kelak kalau aku sudah mati,
jangan lupa untuk melakukan pembalasan, terutama sekali
kepada Song Bun Sam itu dan keturunannya. Kalau kau
mau melakukan itu, barulah tidak sia sia aku bersusah
payah memelihara dan mendidikmu.”
“Jangan khawatir, suhu. Nama nama itu sudah kucatat
di dalam hati. Kalau suhu menghendaki marilah kita
berangkat mencari mereka. Serahkan saja kepada teecu
yang akan membasmi mereka!” kata SiangCu bersemangat.
Mendengar ini Lam hai Lo mo tertawa terkekeh kekeh.
“Bagus, semangatmu besar, muridku. Akan tetapi,
jangan kaukira bahwa mereka itu adalah orang orang lemah
yang mudah dirobohkan begitu saja. Apalagi Thian te Kiam
ong Song Bun Sam itu. Ilmu pedangnya hebat sekali karena
ia mendapat latihan Ilmu Pedang Tee coan hok kiam hot
(Ilmu Pedang Enam Lingkaran Bumi) dan mendiang Bu
Tek Kiam ong. Dia ini tidak mudah di kalahkan. Oleh
karena itu kau harus berhasil dan aku tidak tega untuk
melepasmu menghadapinya. Kita harus menggunakan akal.
Song Bun Sam mempunyai banyak kawan yang
berkepandaian tinggi, kalau saja kita bisa memancing ia
datang.....”
Siang Cu adalah seorang gadis yang berotak cerdik
sekali. Gurunya mempunyai simpanan buku buku kuno
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
karena memang Seng Jin Siansu dahulunya suka
mempelajari kesusasteraan. Dari Gurunya ini Siang Cu
belajar membaca dan menulis, bahkan ia suka
memperhatikan dan mempelajari tulisan tulisan kuno.
“Mengapa kita tidak memancingnya datang kesini, suhu?
Kita bisa membuat peta rahasia tentang pulau ini,
menyebutkan bahwa di atas pulau ini terdapat simpanan
harta pusaka yang besar. Kalau kita berusaha supaya peta
rahasia dengan tulisan kuno itu terjatuh ke dalam tangan
Thian te Kiam ong Song Bun Sam, tentu ia akan datang ke
sini!”
Lam hai Lo mo girang sekali dan memuji muji
kecerdikan muridnya. Mereka berdua lalu membuat peta
dan ditulisi dengan huruf huruf kuno dari jaman Hsia.
Kemudian Lam hai Lo mo mengajak muridnya mendarat di
Tiongkok dan dengan perantaraan seorang tokoh kang ouw
yang bernama Coa Kiu, ia minta pertolongan Coa Kiu
untuk menyampaikan peta itu kepada Song Bun Sam. Coa
Kiu tidak mengenal siapa adanyan Lam hai Lo mo, karena
kakek ini sudah berobah sekali bentuk tubuh dan mukanya,
akan tetapi setelah menerima banyak emas. Coa Kiu
menyanggupi untuk menyampaikan peta itu kepada Thian
te Kiam ong yang ia tahu pada waktu itu tinggal di kota Tet
le.
“Kauantarkan peta ini kepada Thian te Kiam ong,
katakan bahwa kau mendapatkannya dari saku baju seorang
kepala rampok yang kau bunuh di dalam hutan. Berikan
kepadanya sebagai tanda penghormatanmu kepada
pendekar besar itu karena kau sendiri tidak sanggup
mengerti isi peta. Ini sekantong uang emas untukmu dan
boleh kau ambil kalau kau sudah menyampaikan tugas ini
dengan baik. Akan tetapi kalau gagal, awas, aku akan
datang lagi, bukan hanya untuk mengambil kembali uang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
emas, juga untuk mengambil kepalamu yang akan
kuhancurkan seperti ini!” Setelah berkata demikian, dengan
perlahan Lam hai Lo mo menggunakan tongkat bambunya
untuk memukul sebuah batu hitam besar di depan rumah
Coa Kiu. Terdengar suara keras dan batu itu hancur!
Ketika Coa Kim memandang dengan muka pucat,
ternyata kakek aneh itu bersama nona baju merah yang
cantik seperti bidadari, telah lenyap dari depannya tanpa ia
ketahui kapan perginya!
Bagaikan patung, Coa Kiu menghadapi peta, kantong
uang emas, dan batu yang hancur itu, lalu ia menghela
napas dan menggeleng gelengkan kepalanya.
“Celaka! Siang siang aku kedatangan seorang siluman
bersama seorang bidadari kahyangan! Akan tetapi tidak
apa, tugasku ringan saja dan uang emas ini dapat kupakai
untuk membeli rumah dan sawah....”
Seperti juga orang orang kang ouw lainnya, Coa Kiu
tentu saja tahu siapa adanya Thian te Kiam ong di Tit le
yang namanya sudah menggemparkan kolong langit. Lalu
bergegas pergi ke Tit le untuk menyampaikan peta yang
terbungkus kain kuning itu.
Coa Kiu adalah seorang bekas piauwsu (pengawal
barang ekspedisi) yang sudah banyak pengalaman. Ia dapat
menduga bahwa kakek buntung itu tentulah seorang
penjahat yang lihai sekali yang berusaha membikin ribut
dan tentu mempunyai hubungan dengan Thian te Kiam
ong, entah hubungan apa. Ia tidak takut untuk membohong
kepada Thian te Kiam ong, karena Thian te Kiam ong Song
Bun Sam terkenal sebagai seorang pendekar besar yang
murah hati dan budiman. Sebaliknya, ia gemar sekali
menghadapi ancaman kakek buntung itu. Maka ia
mengambil keputusan untuk melakukan tugas itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sebaiknya, memberikan peta kepada Thian te Kiam ong lalu
pergi tidak menghiraukan urusan itu lagi.
Mari kita menengok dulu keadaan pendekar besar Thian
te Kiam ong Song Bun Sam di Tit le yang hendak dianjungi
oleh Coa Kiu.
Rumah pendekar besar itu adalah sebuah rumah gedung
kuno yang kokoh kuat dan nampak angker sekali, sesuai
dengan nama penghuninya. Temboknya dikapur putih dan
gentingnya tebal dan kuat. Pintu pintu depannya besar dan
selalu terbuka daun pintunya, lambang dari tangan yang
selalu terbuka dari tuan rumah. Memang, pendekar besar
dari Thian te Kiam ong Song Bun Sam sudah amat terkenal
akan kemurahan hati dan kedermawanannya. Siapa saja
yang datang, baik orang orang yang berkepandaian tinggi
maupun orang biasa saja, selalu diterima dengan ramah dan
hormat oleh Song Bun Sam dan keluarganya. Oleh karena
itu semua orang menaruh hati segan dan hormat kepada
keluarga Song ini, dan di sekitar daerah Tit le tidak ada
penjahat berani memperlihatkan mata hidungnya, setiap
orang gagah yang kebetulan lewat di daerah ini, tidak ada
yang tidak memerlukan singgah untuk beramah tamah
sebagai tanda penghormatan kepada Thian te Kiam ong.
Pada waktu itu, Thian te Kiam ong Song Bun Sam sudah
berusia empatpuluh tahun. Namun ia masih nampak muda.
Wajahnya yang tampan kini memelihara kumis yang bagus.
Sepasang matanya masih bersinar sinar penuh semangat,
mulutnya selalu tersenyum. Keningnya lebar dan
pakaiannya sederhana, tanda bahwa dia seorang yang
mempunyai pandangan luas dan mengerti akan isi
kehidupan manusia. Tubuhnya sedang, padat berisi tenaga
yang luar biasa, namun dari luar nampaknya lemah saja.
Rambutnya diikat ke atas, diikat dengan tali warna putih
sedangkan pakaiannya seringkali berwarna kuning dengan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ikat pinggang biru. Gagang pedang selalu nampak
tersembul di belakang pundaknya karena sebagai seorang
ahli silat yang maklum akan banyaknya orang jahat yang
sewaktu waktu bisa datang menyerang, ia tak pernah
terpisah dari senjatanya. Pendekar ini amat terkenal akan
kelihaian ilmu pedangnya, sungguhpun disamping ilmu
pedang, iapun memiliki ilmu ilmu silat lain yang tak kurang
lihainya. Hal ini dapat dimengerti kalau orang tahu bahwa
dia adalah murid dari Kim Kong Taisu tokoh di Oei san,
juga murid dari Mo bin Sin kun wanita perkasa yang
memiliki kepandaian lweekang mengagumkan sekali,
kemudian ia menjadi murid pula dari mendiang Bu Tek
Kiam ong raja pedang. Kepandain kepandaian khusus dari
pendekar pendekar besar ini, disamping Tee coan liok kiam
sut ilmu pedang yang disebut raja ilmu pedang ini, masih
ada lagi ilmu silat Thai lek kim kong jiu yang ia dapat dari
Kim Kong Taisu dan Soan hong pek lek jiu yang ia pelajari
dariMo bin Sin kun!
Di samping pendekar besar ini, istrinyapun terkenal
sebagai seorang wanita yang cantik jelita dan gagah
perkasa. Nyonya Song ini dahulu bernama Can Sian Hwa,
menjadi murid dari tokoh besar Pat jiu Giam ong dan
memiliki ilmu pedang Pat kwa Sin kiam hwat. Nyonya
yang berwajah elok dan bertubuh ramping ini amat setia
dan mencinta kepada suaminya, bahkan kerukunan hidup
sepangan suami isteri ini sering kali dijadikan buah tutur
dan tauladan bagi orang orang tua yang menasihati para
pengantin baru. Memang jarang sekali melihat suami isteri
seperti Song Bun Sam dan Can Sian Hwa, begitu rukun,
saling mengindahkan, saling mencinta lahir batin sehingga
nampaknya tak pernah tua.
Suami isteri pendekar ini mempunyai dua orang anak.
Yang pertama seorang putera diberi nama Tek Hong, dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang ke dua seorang puteri diberi nama Siauw Yang. Bukan
hal yang mengherankan apabila dari suami isteri seperti
Song Bun Sam dan Can Sian Hwa ini lahir anak anak yang
luar biasa seperti Tek Hong dan Siauw Yang. Tek Hong
tampan dan gagah sekali, memiliki bentuk muka seperti
ibunya, sedangkan Siauw Yang yang memiliki bentuk muka
seperti ayahnya, juga merupakan seorang gadis yang
berwajah ayu manis dan berpotongan badan langsing dan
padat. Hanya bedanya, kalau Tek Hong berwatak pendiam
dan tenang, adalah Siauw Yang lincah dan jenaka, suka
bersikap manja seperti kanak kanak. Hal ini bukan hanya
karena watak dasarnya, terutama sekali karena Siauw Yang
amat dimanja oleh ibunya.
Anehnya, dalam hal ilmu silat, Siauw Yang luar biasa
sekali dan biarpun usianya lebih muda dua tahun dari
kakaknya, namun dengan cepat ia dapat mengejar dan
menyusul kepandaian kakaknya, bahkan setelah mereka
berusia belasan tahun, di dalam latihan latihan ia dapat
mengimbangi kepandaian Tek Hong. Setelah dewasa nyata
sekali bahwa Tek Hong lebih menang dalam lweekang,
namun ia harus mengakui bahwa gerakan adiknya lebih
cepat daripadanya tanda bahwa Siauw Yang lebih matang
dalam kepandaian ginkang. Namun, keduanya memang
berbakat baik sekali dan dengan penuh ketekunan dan
kegirangan hati Thian te Kiam ong lalu menurunkan
seluruh kepandaiannya kepada dua orang keturunannya ini.
Sebetulnya, sekali kali bukan karena Tek Hong kalah
pintar oleh adiknya. Melainkan karena semenjak kecil,
memang Siauw Yang suka akan ilmu silat dan
mempelajarinya lebih tekun. Sebaliknya dalam hal ilmu
kesusasteraan, Tek Hong jauh lebih pandai daripada
adiknya. Siauw Yang kurang sabar mempelajari ilmu surat,
dan hanya paksaan daripada ayahnya yang membuat ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dapat juga memiliki kepandaian lumayan dalam ilmu
kesusasteraan. Sebaliknya Tek Hong memang suka kali
membaca, maka selain pandai membaca dan menulis, ia
juga pandai membuat sanjak dan melukis.
Kesukaan terutama dari Siauw Yang adalah pergi
bermain main dengan kuda kesayangannya, seekor kuda
berbulu putih seperti salju dan dapat berlari cepat laksana
angin, sesuai dengan namanya yang diaebut Soat hong ma
(Kuda Angin Salju ). Song Bun Sam membeli kuda ini dan
daerah utara untuk sepuluh ribu tael perak.
Pada waktu Coa Kiu tiba di Tit le, Song Bun Sam yang
ditemani oleh Tek Hong tengah bercakap cakap dengan
seorang tamu yang bukan lain adalah Ouw bin cu Tong
Kwat. Si muka hitam ini sudah lama sekali tertarik oleh
nama besar Thian te Kiam ong dan ketika ia lewat di Tit le,
ia sengaja mencari dan singgah di rumah pendekar besar
ini. Seperti biasa, Song Bun Sam menyambutnya dengan
segala keramahan, ditemani pula oleh puteranya. Memang
Bun Sam selalu memberi kesempatan kepada anak anaknya
untuk bertemu dan bercakap cakap dengan orang orang
kang ouw sehingga ke dua orang anak ini dapat meluaskan
pengetahuan dan mendengar segala hal yang terjadi di
dunia kang ouw.
Tadinya Ouw bin cu Tong Kwat ingin sekali mencoba
kepandaian Si Raja Pedang, namun seperti juga orang
orang kang ouw lainnya, begitu bertemu dengan pendekar
ini, melihat pengaruh luar biasa yang memancar dan
pandang matanya dan melihat keramah tamahannya,
luluhlah segala niatnya itu.
Keluarga Song ini tidak memegang teguh kebiasaan
kuno, maka setiap waktu. Can Sian Hwa atau nyonya Song
sendiri ikut pula menyambut tamu dan bercakap cakap
dengan manis budi. Memang, biarpun wanita, karena
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memiliki kegagahan dan sudah biasa hidup di dunia
persilatan, sikap mereka tidak malu malu lagi, terganti oleh
sikap jujur dan gagah, tidak takut akan sesuatu asalkan
berada di fihak benar. Ketika Ouw bin cu datang, nyonya
Song juga ikut menyambut akan tetapi tak lama kemudian
ia minta diri untuk mengurus pekerjaan di dalam rumah
dan mengawasi pekerjaan para pelayan.
Oleh karena itu, ketika Coa Kiu tiba, ia hanya melihat
Song Bun San, puteranya, dan seorang tamu tosu bermuka
hitam. Ia tahu bahwa Song siocia (nona Song), yakni
panggilan untuk Song Siauw Yang, sedang berkuda di luar
kota karena tadipun ia bertemu di jalan dengan nona itu.
Ketika Song Bun Sam melihat kedatangan orang ini, ia
tersenyum dan berdiri menyambut. Coa Kiu segera
memberi hormat yang dibalas sepantasnya oleh Bun Sam
dan Tek Hong.
“Ah, kiranya Coa piauwsu yang datang,” kata Song Bun
Sam ramah. “Kebetulan sekali, silahkan duduk! Sudah
kenalkah kau dengan totiang ini? Dia adalah Ouw bin cu
Tong Kwat yang terkenal.”
Coa Kiu memperkenalkan diri kepada Ouw bin cu dan
mereka berempat segera duduk menghadapi meja.
“Kedatangan siauwte ini selain untuk melepas rindu
karena sudah lama tidak bertemu dengan taihiap (pendekar
besar), juga siauwte hendak menyampaikan sebuah benda
yang tentu akan menarik perhatian Song taihiap.”
Berkerut kening pendekar besar itu, akan tetapi mulutnya
masih tetap tersenyum ketika ia berkata, “Ah, Coa piauwsu
terlalu sungkan, seperti tidak tahu saja bahwa aku tidak
pernah menerima barang sumbangan dari orang lain.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Merah wajah Coa Kiu mendengar ini. Tentu saja ia
sudah tahu akan watak pendekar pedang yang aneh ini,
yakni bahwa selamanya tidak mau menerima pemberian
orang lain, baik sebagai tanda mata maupun sebagai tanda
penghormatan.
“Taihiap harap jangan salah sangka. Siauwte sama sekali
tidak berniat memberikan sesuatu yang berharga untuk
menarik perhatian ataupun bermuka muka. Sesungguhnya
siauwte hendak berikan benda itu karena terdorong oleh
rasa hormat siauwte kepada taihiap, juga terutama sekali
karena siauwte sendiri tidak tahu harus berbuat bagaimana
dengan benda ini. Menurut siauwte, benda ini takkan
berguna bagi lain orang kecuali taihiap.”
Song Tek Hong yang masih muda, baru berusia sembilan
belas tahun, tentu saja lebih panas darahnya dan tidak
sabaran kalau dibandingkan dengan ayahnya, sungguhpun
ia termasuk seorang pemuda pendiam dan tenang. Kini
mendengar ucapan Coa Kiu, ia bertanya,
“Keteranganmu sungguh menarik hatiku, paman Coa
Kiu. Sesungguhnya, benda apakah yang begitu rahasia?”
Song Bun Sam memaafkan puteranya, karena
pertanyaan inipun bukan terdororg oleh keinginan memiliki
benda itu, hanya karena ingin tahu belaka. Maka ia
tersenyum saja mendengar pertanyaan puteranya kepada
tamu itu.
Coa Kiu memasukkan tangannya ke dalam saku dan
mengeluarkan bungkusan kain kuning. Namun ia nampak
ragu ragu dan memandang ke arah Ouw bin cu, kemudian
berpaling kepada Song Bun Sam dan berkata,
“Maaf, Song taihiap, Siauwte tidak mau berlaku kurang
hormat kepada totiang (panggilan untuk tosu) ini. hanya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
siauwte ingin bicara tentang benda ini bertiga dengan
taihiap dan kongcu (tuan muda) saja.”
Bukan main mendongkolnya hati Ouw bin cu
mendengar ini, akan tetapi ia berbareng merasa amat
tertarik juga. Betapapun juga, di hadapan Song Bun Sam ia
tidak berani memperlihatkan perasaannya dan hanya
menanti jawaban tuan rumah.
“Ah, Coa piauwsu, mengapa kau begitu sungkan
sungkan? Ketahuilah bahwa bagi kami keluarga Song tidak
pernah menyimpan sesuatu rahasia. Kalau kau mau
memperlihatkan benda itu kepada puteraku, bukalah saja di
sini, di hadapan siapapun juga. Kalau kau berkeberatan,
sudahlah tak usah diperlihatkan juga tidak mengapa.”
Biarpun kata kata ini tegas, namun karena diucapkan
dengan mulut tersenyum, maka tidak menyinggung hati
orang.
Coa Kiu lekas lekas menyelesaikan tugasnya, maka
setelah mendengar ini, ia meletakkan bungkusan kain
kuning di atas meja dan membukanya. Ketika bungkusan
dibuka dan ternyata isinya hanya sehelai kertas, semua
orang tertarik termasuk Song Bun Sam sendiri.
“Song taihiap, sebetulnya benda ini adalah sebuah peta
rahasia yang kebetulan sekali terjatuh ke dalam tangan
siauwte. Ketika siauwte melalui hutan di Pegunungan Lu
liang san, siauwte diserang oleh gerombolan perampok.
Akhirnya siauwte berhasil membunuh kepala perampok
dan dari saku bajunya siauwte mendapatkan peta ini. Sudah
lama siauwte mempelajarinya dan mendapat kenyataan
bahwa peta ini menunjukkan sebuah tempat rahasia di
mana terdapat harta pusaka yang besar nilainya. Akan
tetapi, karena kepandaian siauwte amat terbatas, dan
karena siauwte menaruh hormat setinggi tingginya kepada
taihiap, siauwte anggap bahwa selain taihiap, tidak ada
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
orang lain yang lebih tepat untuk menerima peta ini dan
untuk mencari tempat rahasia itu.”
Mendengar ucapan Coa Kiu tentang harta pusaka yang
besar harganya, diam diam Ouw bin cu memasang mata
dan telinga baik baik dan hatinya tergerak. Adapun Song
Bun Sam dan puteranya, bukan sekali kali tergerak oleh
disebutnya harta yang besar nilainya melainkan tergerak
hati mereka kerahasiaan peta itu.
Song Bun Sam dan puteranya lalu memeriksa peta itu
dan keduanya biarpun agak sukar, dapat pula membaca
peta dan semua huruf huruf kuno dari jaman Hsia. Sampai
lama ayah dan anak ini memeriksa, dilihat oleh Coa Kiu
dan Ouw bin cu. Kemudian pendekar besar itu dan
puteranya saling memandang dan tiba tiba Song Tek Hong
tersenyum lebar. Juga Song Bun Sam tersenyum.
“Coa piauwsu, banyak terima kasih atas maksud hatimu
yang baik sekali itu. Akan tetapi, terus terang saja, kami
tidak mau menerima pemberianmu ini, karena kami tidak
bermaksud mengejar harta pusaka seperti yang kausebutkan
tadi!”
Song Bun Sam dan puteranya yang berotak cerdik sekali,
ketika mendengar penuturan Coa Kiu tadi saja, sudah
menaruh hati curiga dan tidak senang. Orang yang
memeriksa kantong dan bahkan mengambil barang di
dalam kantong orang lain biarpun orang itu hanya seorang
kepala perampok tak dapat disebut orang baik baik! Dari
penuturan itu saja, Coa Kiu telah menelanjangi diri sendiri
memperlihatkan kebusukannya. Akan tetapi Ouw bin cu
yang tertarik sekali akan peta rahasia itu, tentu saja tidak
berpikir sejauh itu.
Kemudian setelah ayah dan anak yang cerdik ini melihat
peta dan membaca huruf huruf tulisan jaman Hsia, mereka
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tersenyum dan ketika mereka saling memandang, tahulah
mereka bahwa masing masing telah dapat melihat
kepalsuan peta ini. Tulisan orang di jaman Hsia tidak
mungkin ditulis di atas kertas, karena pada jaman itu belum
ada kertas! Agaknya penulisnya, atau orang yang sengaja
membuat peta palsu ini, tidak mempelajari tentang sejarah
kuno! Mereka menganggap bahwa Coa Kiu telah menjadi
korban orang jahil yang suka main main.
Mendengar penolakan Song Bun Sam, Coa Kiu menjadi
bingung sekali. Gagallah tugasnya dan mengingat ancaman
kakek buntung itu ia bergidik ketakutan.
“Song taihiap harap menerimanya. Bagi siauwte, tidak
penting apakah taihiap hendak mencari tempat itu atau
tidak, asalkan taihiap sudi menerimanya, cukuplah. Hal itu
akan berarti bahwa taihiap sudah menerima penghormatan
dari siauwte.”
Akan tetapi Thian te Kiam ong tetap menggelengkan
kepalanya, bahkan ia membungkus lagi peta itu dengan
kain kuning dan didorongnya bungkusan itu di depan Coa
Kiu.
“Terima kasih, Coa piauwsu. Aku tidak biasa menerima
kebaikan orang lain, baik yang berguna bagiku maupun
yang tidak. Kau bawalah peta ini dan harap jangan
mendesak lagi.”
Dalam bingungnya, Coa Kiu lupa bahwa kalau orang
mendesak terus kepada Thian te Kiam ong sama halnya
dengan mencari penyakit dan menimbulkan amarah pada
pendekar besar yang keras hati itu, ia berkata lagi dengan
suara membujuk,
“Song taihiap. Sayang sekali kalau peta ini dibiarkan saja
tanpa dibuka rahasianya. Kalau taihiap sendiri tidak
membutuhkan harta pusaka, sukalah kiranya.... taihiap
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hitung hitung menolong dan membantu siauwte
mendapatkan harta itu.”
“Cukup!” kini Song Tek Hong bangkit berdiri dan
matanya bercahaya seperti kilat. “Kau bawalah pergi benda
ini paman Coa dan harap jangan mengganggu lagi!”
Barulah Coa Kiu terkejut sekali, ia belum pernah
menyaksikan kepandaian anak muda ini tentu saja ia tidak
takut, tetapi takut kepada Thian te Kiam ong, maka cepat
cepat ia mengambil bungkusan kuning menjuri meminta
maaf lalu pergi dari situ. Ada pikiran yang cerdik timbul di
otaknya. Tadi ia melihat Song siocia, puteri Thian te Kiam
ong berkuda di luar dusun. Biasanya wanita lebih mudah
dipengaruhi oleh kata katanya, apalagi tentang sesuatu yang
mengandung rahasia. Kalau ia bisa memberikan peta ini
kepada puteri Song Bun Sam, bukankah itu sama saja
halnya dan ia takkan mendapat marah dari kakek buntung
itu?
Sementara itu, Ouw bin cu yang melihat peristiwa tadi,
lalu bangun berdiri dan berpamitan kepada Song Bun Sam,
menyatakan bahwa ia ingin melanjutkan perjalanannya dan
menghaturkan terima kasih atas penyambutan tuan rumah.
Kemudian iapun pergi dengan cepat sekali.
“Hong ji, kuamat amati si muka hitam itu, agaknya ia
mengandung maksud tidak baik terhadap Coa Kiu!” kata
Song Bun Sam ketika kedua orang tamunya sudah pergi.
Song Tek Hong maklum akan perintah ayahnya ini,
karena otaknya yang cerdikpun sudah dapat menduga,
bahkan iapun tadi telah curiga terhadap Ouw bin cu yang
dilihatnya memang amat tertarik akan peta itu. Maka
pergilah pemuda ini. Gerakannya hebat kali karena sekali ia
berkelebat, ia telah lenyap dari situ, hanya bayangannya
saja yang nampak menerobos pintu depan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Thian te Kiam ong Song Bun Sam mengelus elus
kumisnya dan tersenyum. Ada baiknya sekali terjadi hal
seperti itu untuk memberi pengalaman kepada puteranya.
“Kau kenapakah, tersenyum senyum seorang diri meraba
raba kumis! Kemana perginya tamu tamu kita dan ke mana
pula Hong ji ?” tiba tiba terdengar suara halus penuh kasih
sayang, dan pendekar besar ini menoleh sambil tersenyum
kepada isterinya yang sudah berdiri di belakangnya.
“Duduklah, sayang. Aku tadi melihat peristiwa yang
amat lucu,” kata Song Bun Sam sambil memegang tangan
isterinya dan ditariknya isterinya itu duduk berhadapan
dengannya. Kemudian terdengar suami isteri ini bercakap
cakap, diseling oleh suara ketawa mereka, nampaknya
rukun dan damai sekali.
Coa Kiu berlari cepat keluar dari kota, menuju ke tempat
di mana tadi ia melihat Song Siauw Yang bermain main
menunggang kuda dan bersendagurau dengan para wanita
petani. Akan tetapi, ketika tiba di tempat itu, di sana sunyi
saja tidak nampak seorangpun manusia.
Tiba tiba ia mendengar suara orang memanggil, “Coa
piauwsu….!”
Coa Kiu menoleh dan melihat tosu yang bermuka hitam
dan tadi ia jumpai di dalam rumah Song taihiap berlari lari
cepat ke tempat ia berdiri.
Selelah berhadapan, Coa Kiu kagum menyaksikan
kecepatan lari tosu ini.
“Totiang, kau menyusulku ada keperluan apakah?
Apakah barangkali kau disuruh oleh Song taihiap
memanggilku kembali?” tanyanya penuh harapan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pertanyaan ini mendatangkan sebuah akal dalam pikiran
Ouw bin cu Tong Kwat. ia tersenyum dan berkata.
“Betul, Coa piauwsu. Memang pinto (aku) disuruh oleh
Song taihiap, akan tetapi bukan minta engkau kembali ke
sana, melainkan disuruh minta peta itu dan kau
diperbolehkan melanjutkan perjalanan dengan iringan
terima kasih dari Song taihiap serta maaf bahwa tadi
mereka telah menolak pemberianmu.”
Akan tetapi Coa Kiu adalah seorang bekas piauwsu yang
sudah banyak pengalaman dan sudah banyak menghadapi
orang orang jahat sehingga ia berlaku hati hati. Ia belum
kenal betul kepada tosu ini maka tentu saja ia tidak mau
mempercayakan begitu saja.
“Tidak, Song taihiap harus menerima dengan tangannya
sendiri. Biar siauwte pergi menjumpainya dan memberikan
peta ini kepadanya.” Sambil berkata demikian Coa Kiu
hendak berlari kembali ke rumah Song Bun Sam.
Akan tetapi tiba tiba ouw bin cu mengulur tangan dan
memegang lengan Coa Kiu. Pegangan ini keras sekali dan
Coa Kiu memandang heran.
“Tak usah pergi, Coa piauwsu. Song taihiap sudah
mewakilkan kepada pinto untuk minta peta itu dan untuk
melakukan penyelidikan di mana adanya tempat rahasia
penyimpan harta benda itu. Kalau kau ke sana, pinto yang
akan mendapat marah besar. Berikan peta itu kepadaku.”
“Tidak!” Coa Kiu membentak sambil mengerahkan
tenaga merenggut lepas lengannya yang terpegang oleh tosu
itu. “Jangan dikira aku tidak tahu akan akal bangsat macam
itu.”
“Bagus, kalau begitu kau menghendaki kekerasan.” Ouw
bin cu membentak dan mengayun kepalan tangannya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyerang ke arah dada Coa Kiu dengan gerak tipu Sin mo
toat benge (Malaikat Mencabut Nyawa). Pukulan ini
dilakukan dengan tangan kanan memukul keras ke arah ulu
hati lawan, diikuti dengan tangan kiri yang menyambar ke
bawah. Dua pukulan yang dilakukan bertubi tubi ini
memang benar benar merupakan pukulan yang
mendatangkan maut kalau mengenai sasaran.
“Ganas sekali!” seru Coa Kiu yang cepat menarik
kakinya ke belakang dua kali berturut turut lalu kedua
tangannya maju memukul kepala lawannya. Inilah gerak
tipu Auw po ta san (Menggeser Kaki Memukul Gunung),
semacam ilmu pukulan yang tak kurang lihainya.
“Bagus!” bentak Ouw bin cu yang segera menangkis dan
melanjutkan serangannya lebih hebat lagi. Dalam tangkisan
ini, ia mendapat kenyataan bahwa Coa Kiu memiliki tenaga
cukup besar dan memiliki gerakan cukup tangkas, sehingga
merupakan lawan yang bukan ringan. Maka ia cepat cepat
merobah gerakan tubuhnya dan kini ia melancarkan
serangan dengan ilmu silat yang bernama Sin jin pat ta
(Delapan Pukulan Dewa). Dengan pukulan ini ia mendesak
Coa Kiu.
Namun bekas piauwsu itu sudah banyak pengalaman
bertempur dan ia mengenal ilmu silat yang lihai ini. Cepat
ia lalu mengerahkan ginkang nya dan melayani serangan ini
dengan ilmu silat yang disebut Yan cu lauw goat (Burung
WaletMencari Bulan).Mengandalkan kegesitannya, seakan
akan burung walet itu menghindarkan diri dan pukulan tosu
muka hitam itu, bahkan membalas dengan pukulan pukulan
dan tendangan silih berganti.
Menghadapi kegesitan lawannya, Ouw bin cu marah dan
penasaran sekali. Juga ia merasa khawatir kalau
pertempuran ini berlangsung terlalu lama. karena mereka
masih berada tak berapa jauh dan tempat tinggal Thian te
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kiam ong. Siapa tahu kalau kalau pendekar itu mengetahui
tentang pertempuran ini? Akan celakalah dia kalau begitu!
“Betul betul tidak mau kau menyerahkan peta itu
kepadaku?” bentaknya sambil melompat mundur.
“Tosu keparat, kau lebih mirip seorang perampok jahat!”
Coa Kiu memaki marah.
“Hm, kau mencari mampus sendiri!” Ouw bin cu
membentak dan cepat tangannya meraba punggung,
mencabut keluar pedangnya.
“Kaulah yang mencari mampus!” kata Coa Kiu yang
tidak mau mengalah dan juga piauwsu ini mencabut keluar
goloknya yang berlobang pada ujungnya.
Perkelahian dilanjutkan dengan lebih hebat lagi karena
kini keduanya mempergunakan senjata tajam. Keduanya
memiliki gerakan yang cepat dan kuat sekali sehingga
berkali kali terdengar suara nyaring diikuti oleh berpijarnya
bunga api yang timbul dari benturan kedua senjata.
Akan tetapi, sebentar saja ternyata bahwa ilmu pedang
dari Ouw bin cu lebih kuat Coa Kiu mulai terdesak hebat
dan akhirnya, golok di tangannya kena dipukul sehingga
terlepas dari pegangan nya.
“Serahkan peta!” Ouw bin cu membentak.
Akan tetapi Coa Kiu bahkan melarikan diri, bermaksud
kembali ke rumah Thian te Kiam ong untuk minta
pertolongan! Tentu saja Ouw bin cu tidak menghendaki hal
ini terjadi dan ia menghadang sambil membacok. Coa Kiu
mengelak sedapat mungkin dan pada saat berbahaya itu,
terdengar suara derap kaki kuda dan debu mengebul tinggi.
“Song siocia…. Tolonglah…..!” teriak Coa Kiu dengan
girang sekali ketika melihat seekor kuda berbulu putih yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tinggi besar dan indah yang ditunggangi oleh seorang gadis
cantik jelita. Gadis ini bukan lain adalah Song Siauw Yang.
Ia memang sudah kenal kepada Coa Kiu biarpun ia tidak
suka kepada orang yang pandai menjilat dan bermuka muka
ini. Namun melihat betapa piauwsu itu diserang oleh
seorang tosu tinggi besar bermuka hitam dan berada dalam
keadaan terdesak dan berbahaya sekali, ia berseru nyaring,
“Bangsat dari mana berani main gila di sini!”
Berbareng dengan ucapan ini, tubuhnya melayang dari
atas kudanya, dan tahu tahu ia telah melayang di atas
kepala Ouw bin cu sambil menggerakkan kedua kakinya
menendang nendang dengan hebatnya!
Ouw bin cu terkejut sekali. Ia cepat menggulingkan
tubuh ke atas tanah dan melompat lagi, siap untuk
menghadapi lawan baru ini. Juga dara itu telah berdiri
menghadapinya, akan tetapi sebelum Ouw bin cu sempat
menggerakkan pedangnya, nona itu telah menggerakkan
tangan memukul ke arah pergelangan tangannya yang
memegang pedang. Biarpun jarak di antara mereka masih
beberapa langkah dan tangan dara yang memukul itu tidak
menyentuhnya, namun Ouw bin cu berteriak keras dan
pedangnya terlepas dari pegangan. Pergelangan tangannya
terasa sakit dan panas sekali, ia tidak tahu bahwa dara ini
rnemperguna kan Ilmu Pukulan Soan hong pek lek jiu yang
lihai. Sambil mengaduh aduh, Ouw bin cu membungkuk
bungkuk memegangi pergelangan tangannya dan tidak
berani melawan lagi.
“Siapakah dia dan mengapa menyerangmu, paman
Coa?” suara gadis ini terdengar merdu sekali, bagaikan
orang bernyanyi.
“Dia hendak merampok sebuah peta rahasia tempat
penyimpanan pusaka kuno, Song siocia,”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hem, kalau begitu ia buta dan tuli! Ia tidak melihat
bahwa di daerah ini tidak boleh terjadi kejahatan, dan
apakah dia tuli tidak pernah mendengar nama ayah?”
Sambil berkata demikian, Song Siauw Yang mengambil
pedang Ouw bin cu yang terjatuh di atas tanah, lalu
menghampiri tosu yang masih berdiri membungkuk dan
menggigil itu.
“Sebagai pelajaran, aku harus mengambil sebelah telinga
dan sebelah matamu, agar lain kali kau mempergunakan
sisa mata dan telingamu baik baik untuk mengetahui bahwa
di daerah tempat tinggal Thian te Kiam ong, tidak boleh
orang bermain gila!”
“Ampun, siocia, ampun....” kata Ouw bin cu meratap.
Namun sambil tersenyum senyum mempermainkan,
Siauw Yang mengangkat pedang itu.
“Yang moi, tahan....!” tiba tiba terdengar seruan orang
dan mucullah Song Tek Hong yang semenjak tadi
mengintai dan menonton segala peristiwa itu.
Siauw Yang memang tidak mau menyakiti orang, ia
hanya ingin menggoda dan mempermainkan Ouw bin cu.
Melihat kakaknya yang muncul, ia merengut.
“Koko, kau selalu menghalangi kehendakku! Apakah dia
ini calon mertuamu maka kaubela dia?”
Merah muka Tek Hong menghadapi godaan adiknya
yang dianggapnya terlalu ini.
“Hush, Yang moi, kautahanlah lidahmu!” Tek Hong
mencela adiknya, kemudian ia menghampiri Coa Kiu dan
berkata.
“Paman Coa, benar benarkah kau hendak memberikan
peta itu kepada ayah?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tantu saja, Song kongcu. Selain ayahmu atau kau dan
siocia, tak nanti orang lain boleh mengambil peta ini,
biarpun nyawaku akan direngut dari tubuhku.”
“Nah, kalau begitu keluarkan peta itu!”
Bergegas Coa Kiu mengeluarkan peta dan
memberikannya kepada Tek Hong. Hatinya girang bukan
main karena betapapun juga, akhirnya ia toh dapat
memenuhi tugas yang ia terima dari kakek buntung. Peta
itu akhirnya diterima juga oleh putera Thian te Kiam ong !
“Terima kasih, paman Coa. Dan sekarang pergilah, aku
masih ada urusan dengan tosu ini.”
Coa Kiu tak usah disuruh dua kali untuk pergi dari situ.
Tugasnya sudah selesai dan ia memang tidak mau lama
lama tinggal di tempat orang yang dibohonginya mengenai
peta itu. Sambil menghaturkan terima kasih atas
pertolongan Siauw Yang, ia membungkuk bungkuk lalu
berlari pergi secepatnya dari tempat itu.
Adapun Ouw bin cu menjadi makin ketakutan “Celaka,”
pikirnya, “dua orang anak Thian te Kiam ong telah
mengetahui perbuatanku. Tentu aku takkan mendapat
ampun lagi.”
Akan tetapi, alangkah girang dan juga heran hatinya
ketika Tek Kong menghampirinya dan menyerahkan
bungkusan peta itu kepadanya sambil berkata, “Ouw bin
cu, kau menghendaki peta inikah? Nah, kau terimalah dan
mudah mudahan kau akan dapat menemukan harta pusaka
itu! Sekarang tak usah banyak tanya dan cakap lagi lekas
kau pergi dari sini!”
Hal ini tentu saja membikin Ouw bin cu menjadi
terheran heran dan juga girang sekali. Cepat ia mengambil
pedangnya yang dilempar ke bawah oleh Siauw Yang, lalu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menjura sampai dalam mengucapkan terima kasih,
kemudian pergi melarikan diri secepat mungkin sebelum
pemuda aneh itu berobah lagi pikirannya.
Tidak hanya Ouw bin cu yang terheran heran, bahkan
Siauw Yang sendiri menjadi heran dan penasaran sekali.
Tanpa berkata sesuatu, dara ini melompat dan dalam
beberapa lompatan saja, ia telah dapat menyusul Ouw bin
cu dan menarik leher bajunya terus diseret tubuh tosu itu ke
dekat kakaknya kembali. Tentu saja Ouw bta cu menjadi
pucat dan gemetar seluruh tubuhnya.
“Hayo bilang sejujurnya, apakah kau mempunyai
seorang anak perempuan?” tanya Siauw Yang membentak
marah.
Tentu saja Ouw bin cu menjadi melongo dan tak dapat
menjawab untuk beberapa lama atas pertanyaan yang
dianggapnya luar biasa anehnya itu. Adapun Tek Hang
yang merah sekali mukanya beberapa kali mencela adiknya,
“Hush, moi moi, kurang ajar jangan main gila.”
Akan tetapi Siauw Yang tidak perdulikan engkonya,
sebaliknya lalu menyentil dengan telunjuknya ke arah
telinga Ouw bin cu. Hampir saja Ouw bin cu menjerit
karena kuku telunjuk dara itu ternyata telah merobek sedikit
daun telinganya.
“Hayo jawab, apakah kau mempunyai seorang anak
perempuan?”
“Ti.... tidak, Siocia. Isteripun tidak punya bagaimana
bisa punya anak perempuan?” Ouw bin cu menjawab
dengan semangat tinggal setengahnya karena mengira
bahwa ia akan dibunuh oleh dara yang galak ini.
“Betul betul kau tidak ingin mengambil mantu kepada
kakakku ini?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tdak, tidak....”
“Kalau begitu, hayo mengaku mengapa kakakku begitu
baik hati terhadap seorang jahat seperti engkau, apakah ada
udang di balik batu?”
“Pinto tidak tahu. Siocia… barangkali....”
“Barangkali apa?” Siauw Yang membentak tak sabar.
“Song taihiap terkenal sebagai seorang yang murah hati
dan budiman, tentu saja kongcu juga seperti ayahnya suka
berlaku murah hati kepada pinto....”
Tersindir jugalah dara yang cerdik ini oleh ucapan Ouw
bin cu, maka ia melepaskan genggaman pada leher baju
tosu itu. Dengan ucapan itu, tosu ini memuji ayah dan
kakaknya, sama halnya dengan mencela dia yang dianggap
berbeda dengan ayah dan kakaknya yang berbudi.
Sebetulnya Siauw Yang hanya ingin menggoda
kakaknya, karena hatinya benar benar pena saran sekali
melihat peta yang menarik hatinya itu diberikan begitu saja
kepada Ouw bin cu setelah diterima dari Coa Kiu.
“Hong ko, sebetulnya mengapakah kau memberikan peta
itu kepada tosu siluman ini?”
“Sabar dan tenanglah, Yang moi. Dia ini bukan tosu
siluman melainkan manusia biasa, namanya Ouw bin cu
Tong Kwat. Dia ingin mencari harta dan peta ini dan aku
hanya menurut pesan ayah saja. Kalau kau mau tahu
sebabnya, baiklah nanti kita bertanya kepada ayah.
Sekarang lepaskan dia, kasihan dia ketakutan setengah
mati.”
Siauw Yang menjadi sabar kembali. “Enyahlah, kura
kura.” Ouw bin cu berkali kali mengomel panjang pendek
dan menyesali diri sendiri yang berkepandaian rendah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dibandingkan dengan dua orang putera puteri Thian te
Kiam ong itu.
Setelah Ouw biu cu pergi jauh, barulah Tek Hong
tertawa geli. Siauw Yang cemberut dan mengancam
kakaknya.
“Kalau kau tidak mau memberi tahu mengapa kau
tertawa, aku takkan mau bicara denganmu selama
hidupku!” Ia mengira bahwa kakaknya mentertawakannya.
“Aku memertawakan tosu itu, moi moi. Kau tidak tahu,
peta itu adalah peta palsu. Ayah dan aku mengetahui hal
ini.” Ia lalu menceritakan kedatangan Coa Kiu.
“Karena itulah, maka kuterima peta itu dan kuberikan
kepada Ouw bin cu. Biar tosu muka hitam itu bersusuh
payah mencari harta dari peta palsu!”
Mendengar ini, Siauw Yang tertawa berkikikan karena
geli hatinya.
“Kau pintar sekali, Hong ko. Benar benar aku bangga
mempunyai kakak seperti kau!”
Senang hati Tek Hong mendengar ini. Keduanya
bercakap cakap sambil sebentar sebentar tertawa. Memang
dua orang saudara ini saling mengasihi. Amat cocok
pemuda dan pemudi yang elok ini berjalan berendeng.
Siauw Yang menuntun kudanya dan Tek Hong
menggandeng tangan kiri adiknya.
Akan tetapi, di antara senyumnya, sepasang alis Siauw
Yang yang melengkung dan hitam kecil panjang itu
berkerut, seakan akan ada yang dipikirkannya. Gadis ini
mempunyai kecerdikan luar biasa dan biarpun ayah dan
kakaknya menganggap pemberian peta itu sebagai lelucon
belaka, namun pikiran gadis ini lain lagi. Tentu ada apa
apanya, pikirnya, ia tahu bahwa ayahnya mempunyai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
banyak musuh yang hanya karena takut terhadap pedang
ayahnya maka tidak berani bertingkah. Kini terjadi
peristiwa ini, siapa tahu kalau ada musuh yang sengaja
mengatur umpan untuk menjebak ayahnya? Ayahnya tidak
terkena pancingan, itu baik sekali. Akan tetapi hati dara ini
tidak puas. Penolakan ayahnya itu seakan akan
menunjukkan bahwa ayahnya takut menghadapi perangkap
musuh. Dia tidak! Lebih baik berpura pura tidak tahu akan
adanya jebakan musuh, dan maju dengan berani. Dengan
cara demikian, akan terlihatlah siapa orangnya yang herani
main gila!
“Hong ko, apakah kau tadi sudah melihat peta itu?”
“Peta palsu itu? Sudah, sudah kupelajari dengan ayah.”
“Ceritakanlah kepadaku, Hong ko.”
“Untuk apa? Peta itu palsu!”
“Palsu atau tidak, aku ingin juga mengetahui isinya. Kau
dan ayah sudah mengetahui, aku sendiri belum. Adilkah
ini?”
Tek Hong maklum akan kekerasan hati adiknya dan
kalau ia tidak dituruti permintaannya, tentu adiknya ini
akan merengek terus dan setiap hari akan mengganggunya.
Maka ia lalu mengajak Siauw Yang duduk di tempat yang
teduh kemudian dengan sebatang ranting ia menggambar
peta itu di atas tanah. Memang pemuda ini memiliki
ingatan yang amat kuat, pula ia memang ahli tentang
lukisan dan tulisan, oleh kareua itu ia masih hafal semua isi
peta itu.
“Nah, menurut peta itu, di sebelah kiri dari pulau yang
berbentuk kura kura, pulau ketujuh sebelah kiri kalau kita
datang dari darat, adalah pulau rahasia yang menyimpan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
harta pusaka. Nama pulau itu Pulau Tiga Naga (Sam liong
to), merupakan sebuah di antara Pulau Seribu,”
“Menarik sekali!” kata Siauw Yang dan matanya yang
jeli seperti mata burung Hong itu berseri.
“Menarik apanya? Peta itu palsu dan mungkin pulau itu
tidak ada, kalau adapun tentu pulau kosong. Ini hanya
perbuatan seorang badut yang main gila. Hayo kita pulang,
ayah menanti nanti.”
Siauw Yang tidak puas, akan tetapi ia tidak membantah
dan pulanglah mereka. Thian te Kiam ong dan isterinya
yang masih duduk bercakap cakap, ketika mendengar cerita
Tek Hong tentang pemberian peta itu kepada Ouw bin cu
dan tentang kenakalan Siauw Yang, tertawa geli sampai
keluar air mata. Maka bergemalah suara ketawa ayah ibu
dan dua orang anaknya ini penuh kegembiraan, tanda
sebuah rumah tangga yang berbahagia.
Di atas Pulau Sam liong to, kakek buntung Lam hai Lo
mo membanting banting kaki saking jengkelnya ketika ia
memaksa Ouw bin cu untuk menceritakan bagaimana peta
itu sampai terjauh ke tangan si muka hitam ini. Ternyata
bahwa Thian te Kiam ong terlalu cerdik untuk dapat
dipancing datang, ia harus menggunakan siasat lain.
Adapun Siang Cu yang mendengar penuturan Siauw
gam ong bahwa Thian te Kiam ong mempunyai dua orang
anak yang kepandaiannya tinggi, menjadi tertarik sekali.
“Suhu, mengapa kita tidak datang saja ke Tit le? Teecu
ingin sekali bertemu dengan mereka dan mencoba sampai
di mana kepandaian musuh musuh kita itu. Pcrcayakanlah
kepada teecu, akan teecu robohkan mereka itu seorang demi
seorang.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi kakek buntung ini menggeleng kepalanya.
“Belum waktunya, Cu ji, belum waktunya. Aku tidak
ingin melihat rencana yang sudah kuatur belasan tahun
lamanya ini hancur berantakan, digagalkan oleh darah
mudamu yang kurang sabar.” Kemudian, teringat akan
cerita Siauw giam ong tentang keadaan pemerintah Goan
tiauw yang makin lemah karena rakyat di mana mana
mulai melakukan pemberontakan, timbul pikiran gila dalam
otak kakek buntung ini. Ia tertawa bergelak dan berkala
kepada SiangCu.
“Cita cita hidupku bukan hanya melihat musuh musuh
besarku binasa, Siang Cu. Masih ada lagi yang lebih
penting, yakni aku harus melihat kau menjadi Ratu di
Tiongkok! Ha, ha, ha, itulah seharusnya. Kau memang
pantas dan berhak menjadi ratu di sana.”
Siang Cu tidak heran mendengar omongan suhunya ini,
memang sudah sering kali gurunya bicara tidak karuan dan
menyebut nyebut tentang kerajaan di mana dia akan
dijadikan raja perempuan.
“Impian suhu terlalu muluk. Kerajaan memiliki bala
tentara yang besar sekali, bagaimana kita dapat merebutnya
demikian mudah?”
Kakek buntung ini tertawa terkekeh kekeh.
“Jangan khawatir! Kalau kaisar dan pangeran pangeran
berada di dalam tangan kita, apa susahnya memaksa
mereka mengangkatmu sebagai raja? Dan tentang bala
tentara, ha, ha, ha! Mudah dicari, Cu ji, mudah dicari!”
Selanjutnya Lam hai Lo mo mengoceh seorang diri, tidak
memperdulikan lagi kepada muridnya dan kepada dua
orang pembantunya. Ternyata gilanya sudah kumat lagi dan
akhirnya kakek ini terpincang pincang masuk ke dalam
pondoknya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siang Cu menarik napas panjang dan berkata perlahan,
“Kasihan sekali suhu....dia sudah terlalu tua.”
Adapun Ouw bin cu dan Siauw giam ong yang
mendengar semua ini, saling pandang tanpa berani
membuka mulut.
“Kalau boleh pinto bertanya, siocia ini puteri siapakah?”
Akhirnya Ouw bin cu memberanikan hatinya kepada Siang
Cu yang masih berdiri termenung.
Mendengar pertanyaan ini, dara itu nampak kaget dan
hendak marah, akan tetapi melihat wajah Ouw bin cu yang
tidak mengandung maksud buruk ia menjawab singkat,
“Aku yatim piatu, semenjak kecil dididik oleh suhu.
Sudahlah, tidak ada artinya bicara tentang itu. Kalian jaga
suhu baik baik, uruslah segala keperluannya. Aku hendak
mencari ikan.”
Gadis ini lalu berlari pergi, menuju ke sebelah perahu
yang disembunyikan di dekat pantai. Adapun dua orang
tosu itu lalu masuk ke dalam pondok untuk menanti
perintah Lam hai Lo mo dan untuk melayani segala
keperluannya.
Siang Cu berlari lari ke pantai. Hatinya masih penasaran
sekali karena suhunya tidak mau menerima usulnya untuk
pergi ke daratan Tiongkok dan mencari langsung musuh
musuh besar mereka itu. Ketika ia tiba di sebuah rumpun,
dibukanya rumput rumput tebal itu dan dikeluarkannya
sebuah perahu yang kecil, ramping, dan runcing kedua
ujungnya. Di dekat perahu itu terdapat sebuah dayung dari
kayu yang sudah menghitam seperti besi. Ia lalu memegang
ujung perahu dan sekali mengerahkan tenaga, perahu itu
terlempar ke atas dalam keadaan terputar cepat. Ketika
perahu itu meluncur kembali ke bawah, Siang Cu
menggunakan dayung untuk menerimanya dan kini perahu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
itu tetap terputar di atas dayung, makin lama makin cepat
sehingga kini merupakan bundaran. Dilihat dari jauh, gadis
itu seperti sedang memegang sebuah payung.
Dengan enaknya. Siang Cu ini membawa perahu itu ke
laut. Di dekat pantai ia melompatkan perahu itu ke air dan
tepat sekali jatuhnya perahu itu di atas air, terlentang dan
mengambang, seperti diletakkan dengan hati hati saja.
Kemudian tubuh gadis itu menyusul dengan loncatan yang
indah sekali. Dari atas tepi yang agak curam itu, Siang Cu
meloncat dengan mengembangkan kedua lengan seperti
burung terbang. Dayung di tangan kanan ia gerak gerakkan
untuk mengatur luncuran tubuhnya sehingga ia tepat tiba di
atas perahunya.Memang indah sekali dilihat, apalagi ketika
kedua kakinya sudah menginjak perahu, sedikitpun perahu
itu tidak bergoyang goyang, hanya meluncur ke depan
seperti di dorong. Dari ini aaja sudah dapat diukur sampai
di mana tingginya kepandaian Siang Cu dan betapa hebat
ilmu ginkangnya
Air laut sedang tenang sekali dan ketika Siang Cu
menggerakkan dayungnya, perahu itu meluncur dengan
cepat sekali menuju ke timur. Sebetulnya ia ingin sekali
mendarat di daratan Tiongkok yang berada di sebelah barat
pulaunya, akan tetapi kalau ia teringat kepada suhunya
yang sudah tua dan betapa suhunya akan marah dan gelisah
sekali, serta teringat pula bahwa merantau seorang diri
mencari musuh musuh besar itu bukan pekerjaan mudah
karena ia masih asing dengan daerah Tiongkok, maka ia
membatalkan niatnya ini. Memang ia sering kali dibawa
oleh gurunya ke daratan Tiongkok, akan tetapi hanya
sampai di kota kota yang berdekatan dengan tepi laut saja.
Itupun secara bersembunyi karena suhunya agaknya masih
takut untuk bertemu di daratan Tiongkok dengan musuh
musuh besarnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kalau ia teringat akan keadaan suhunya yang menjadi
seorang bercacat dalam keadaan demikian mengerikan, ia
merasa benci dan marah sekali kepada musuh musuh besar
yang disebut oleh suhunya. Terutama sekali kepada Thian
te Kiam ong, karena tokoh inilah yang paling ia benci oleh
suhunya, yang dikatakan amat jahat. Apalagi karena di
samping kebenciannya, gurunya kelihatan segan dan takut
takut, sering kali memuji ilmu pedang Thian te Kiam ong.
Hal ini membuat hati Siang Cu penasaran sekali dan ingin
sekali ia mencoba ilmu pedang musuh ini.
Tiba tiba renungannya dibuyarkan oleh gerak air laut di
sebelah kanannya. Wajahnya yang tadinya muram menjadi
berseri girang. Di sebelah kanannya nampak serombongan
kura kura berenang seakan akan berlomba lomba. Kadang
kadang kepala kura kura kelihatan di permukaan air kadang
kadang menyelam lagi dan hanya kelihatan punggungnya
saja bergerak ke sana ke mari.
Inilah yang dicari carinya. Kura kura berpunggung segi
empat. Daging kura kura macam ini amat digemari
suhunya, juga ia sendiri amat suka akan daging ini yang
memang gurih, manis dan lezat. Cepat ia mendayung
perahunya ketempat rombongan kura kura itu dan setelah
memilih yang terbesar, ia cepat menggerakkan dayungnya
dengan dibalikkan, yakni gagangnya dipergunakan untuk
menusuk ke dalam air. Tepat sekali gagang dayung itu
mengenai tengah tengah punggung kura kura dan terdengar
suara “krak”, maka gagang dayung itu memecahkan batok
punggung yang kuat dan menembus terus ke bawah! Ketika
ia mengangkat dayung itu, si kura kura telah tertusuk dan
disate oleh dayung itu. Sambil tertawa tawa gembira. Siang
Cu lalu naikkan korbannya ke dalam perahu. Begitu
dilepaskan dari dayung, kura kura biarpun sudah pecah
batok punggungnya dan sudah berlobang parutnya, masih
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
saja hendak melarikan diri Namun sekali ketok dengan
gagang dayung, pecahlah kepala kura kura itu dan tidak
berkutik lagi, tergeletak di dalam perahu. Kura kura ini
cukup besar, beratnya ada empatpuluh kati, cukup untuk
dimakan oleh empat orang.
Pada taat Siang Cu hendak mendayung perahunya
kembali ke Pulau Sam liong to, tiba tiba angin laut datang
bertiup dan terdengar olehnya suara hiruk pikuk seperti
orang bersorak bergerak yang datangnya dari jurusan timur.
Matanya tak dapat melihat sesuatu di jurusan itu karena
cahaya matahari membuat pemandangan menyilaukan
mata. Namun, angin agaknya membawa datang suara ini,
dan tergeraklah hati Siang Cu. Ia pernah mendengar dan
suhunya bahwa di sekitar laut ini terdapat bajak bajak laut
yang seringkali mengganggu kapal para pedagang dan
pelancong yang lewat di dekat pulau pulau kosong. Bahkan
pernah ada sebuah perahu bajak laut yang berani mendarat
di Pulau Sam liong to akan tetapi baru saja dua belas orang
penumpangnya mendarat, mereka dihajar oleh Lam hai Lo
mo dan Siang Cu. Namun mereka ini dilepaskan lagi dan
diancam jangan berani mencoba coba mendarat di Sam
liong to dan semenjak itu, benar saja tak pernah ada perahu
bajak yang berani muncul. Siang Cu masih ingat betapa
bajak bajak itu bertubuh pendek pendek dan nampak lucu
lucu sekali. Ketika hal itu terjadi, ia baru berusia empat
belas tahun, jadi sudah tiga tahun yang lalu. Kini
mendengar sorak sorak itu, hatinya tertarik sekali dan ingin
ia mengetahui apa yang terjadi di sebelah timur.
Dengan cepat ia mendayung perahunya ke timur.
Beberapa lama kemudian, ia melihat layar layar perahu
hitam dan setelah dekat, ternyata bahwa ada lima buah
perahu berlayar hitam mengurung sebuah perahu berlayar
putih. Kemudian, nampak orang orang turun melalui
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tambang dan membawa barang, bahkan ada juga orang
yang dipondong masuk ke dalam perahu berlayar hitam.
Tahulah Siang Cu bahwa lima buah perahu berlayar
hitam itu tentu para bajak laut yang sedang merampok
perahu berlayar putih itu. Ia mempercepat dayungnya
mendekati, akan tetapi tiba tiba perahu berlayar putih itu
terbakar dan perahu perahu hitam bergerak ke sebuah pulau
yang kelihatan dari situ.
Siang Cu tentu saja tak dapat mengejar perahu perahu
yang digerakkan oleh tiupan angin pada layar, namun ia
tetap mengejar. Ketika perahunya lewat di dekat perahu
yang terbakar, ia melihat mayat mayat menggeletak di
dalam perahu dan ikut terbakar pula. Hatinya merasa ngeri
dan timbul marah nya kepada bajak laut bajak laut yang
kejam. Perahunya digerakkan makin cepat dan kalau
sekiranya ada lima orang nelayan laki laki yang kuat kuat
mendayung dalam sebuah perahu, agaknya takkan dapat
menyusul kelajuan perahu yang didayung oleh Siang Cu.
Ketika dara ini mendaratkan perahu pada pulau yang
asing baginya itu, perahu perahu bajak yang ditinggalkan di
pantai telah kosong dan keadaan di situ sunyi saja. Siang
Cu membuang bangkai kura kura yang dibunuhnya tadi ke
dalam air karena takut mendatangkan bahu busuk kalau
tidak lekas lekas dipanggang, kemudian ia berlari naik ke
atas pulau yang penuh oleh pohon pohon berdaun hijau.
Dan situ sayup sayup ia mendengar suara orang bergelak
tertawa.
Memang betul dugaan Siang Cu. Lima buah perahu
hitam itu adalah perahu perahu bajak laut yang malang
melintang di sekitar kepulauan kecil kecil yang berada di
Laut Tiongkok Timur. Mereka ini sebagian besar adalah
Bangsa Jepang, Korea, dan ada juga Bangsa Tiongkok
Timur. Perahu besar berlayar putih yang mereka rampok
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tadi adalah perahu pedagang yang datang dari Cing tao,
pelabuhan Propinsi Santung dan menuju ke Sang hai.
Karena terserang oleh badai yang mengamuk, perahu ini
dan Laut Kuning terbawa sampai di Laut Timur dan
menjadi korban serangan para bajak laut yang ganas.
Barang barang berharga dirampok. Laki laki dibunuh,
demikianpun wanita wanita tua dan kanak kanak. Wanita
wanita muda yang jumlahnya ada lima orang dibawa turun
ke dalam perahu bajak, dijadikan tawanan. Ada juga tiga
orang laki laki muda yang mereka culik dan tawan dengan
maksud tertentu yang akan disaksikan oleh Siang Cu.
Ketika Siang Cu mendekati perkampungan bajak laut, ia
mengintai sambil bersembunyi. Di lihatnya bajak bajak laut
yang jumlahnya ada empatpuluh orang lebih itu menari nari
kegirangan, tertawa tawa dan minum arak. Lima orang
wanita tawanan entah berada di mana, sesungguhnya
mereka ini tentu saja menjadi bagian para pemimpin bajak.
Orang orang yang sebagian besar bertubuh pendek dan
kate itu kini menari nari mengelilingi tiga orang laki laki
yang diikat pada batang pohon. Mereka inilah tiga orang
yang ditawan dari atas perahu, tidak dibunuh karena
memang hendak dijadikan korban di atas pulau, dijadikan
bahan ejekan dan dibunuh setelah disiksa lebih dahulu!
Tiba tiba semua tari tarian dan kelakuan yang menggila
dari para anak buah bajak itu terhenti ketika terdengar aba
aba dalam bahasa yang tak dimengerti oleh Siang Cu,
Semua orang mundur dan dari dalam sebuah pondok kayu
yang besar, keluarlah tiga orang laki laki pendek gemuk.
Tiga orang ini hampir sama besar dan pendeknya, bulat
dengan perut gendut. Mereka bertiga ini nampaknya begitu
lucu sehingga hampir saja Siang Cu bergelak ketawa kalau
gadis ini tidak lekas lekas mendekap mulutnya sendiri
dengan tangan. Kemudian keluarlah seorang pemuda dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
biarpun tubuhnya agak pendek, namun tampan dan gagah
wajahnya. Pinggangnya kecil dan dadanya membusung,
kedua lengannya berotot akan tetapi juga pendek hanya
tergantung sampai di pangkal paha. Melihat sikapnya yang
tidak merendah terhadap tiga orang bulat itu, agaknya ia
memiliki kedudukan cukup tinggi.
Seorang di antara tiga pemimpin bajak itu memberi aba
aba dan diseret keluarlah lima orang wanita muda yang
menjadi tawanan. Rambut mereka awut awutan dan muka
mereka pucat, namun Siang Cu melihat jelas bahwa mereka
adalah perempuan perempuan muda yang berwajah cantik,
ia tidak memperdulikan keadaan mereka ini dan terus
memandang ke depan.
Di antara tiga orang laki laki yang diikat pada pohon,
seorang yang diikat paling kiri menarik perhatian Siang Cu.
Dia ini masih amat muda. paling banyak berusia
delapanbelas tahun, berpakaian seperti orang sasterawan.
Pemudi ini tampan sekali, mukanya berkulit halus dan
putih, hidung mancung, dan alis yang menghias mata yang
jeli itu hitam dan tebal. Yang menarik perhatian Siang Cu
bukanlah kegagahan atau ketampanan wajah pemuda ini,
melainkan sikapnya. Dara ini merasa jemu dan muak
melihat dua orang laki laki lain yang diikat menangis dan
minta ampun seperti kambing hendak disembelih.
Demikian pula lima orang wanita yang ditawan itu
menangis dan menggigil ketakutan. Akan tetapi sebaliknya,
pemuda saterawan itu nampak tenang tenang saja sama
sekali tidak memperlihatkan kengerian hati atau rasa takut.
Tempat di mana tiga orang pemimpin itu duduk di atas
bangku merupakan lingkaran luas dan para anak buah bajak
duduk di luar lingkaran. Lalu pemimpin bajak yang paling
gemuk berdiri dan berkata kepada tiga orang tawanan yang
diikat itu dalam bahasa Tionghoa yang kaku,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kami kawanan Garuda Laut berterima kasih atas
sumbangan kalian bertiga berupa barang barang berharga
dan lima orang bidadari ini!” Ia menoleh kepada lima orang
wanita yang berlutut ketakutan sambil tertawa bergelak,
diikuti pula oleh para bajak yang menganggap kelakar
kepala mereka itu amat lucu. “Oleh karena itu, untuk
membalas budi, kami tidak mau membunuh kalian begitu
saja. Kalian dberi hak untuk menghadapi seorang lawan,
dan siapa yang dapat memenangkan lawan nya, boleh pergi
meninggalkan pulau ini tanpa diganggu!”
Kembali terdengar orang orang bersorak dan tertawa
mengejek, dan karena bahasa yang mereka pergunakan
untuk mengejek adalah bahasa asing, maka Sian Cu tidak
mengerti maksudnya.
Namun gadis ini berotak cerdik sekali dan ia tahu bahwa
para bajak laut ini benar benar berhati curang dan kejam.
Andaikata ada yang menang, bagaimanakah ia dapat pergi
dari pulau ini tanpa perahu? Perahu mereka telah dibakar,
maka jelaslah bahwa menang atau kalah, nasib mereka
sudah pasti yakni maut.
Orang yang diikat di pohon paling kanan, dibuka
ikatannya. Dia ini seorang laki laki yang bertubuh kuat dan
pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang pelaut. Namun
semangatnya lemah dan belum apa apa kedua kakinya
sudah menggigil ketakutan. Ia dihujani ejekan dari kanan
kiri dan baru ejekan dan sorakan terhenti ketika kepala
bajak mengangkat tangan dan berkata,
“Siapa yang akan menghadapi jago ini?” tanyanya
kepada anak buahnya. “Yang memenangkan jago ini akan
diberi hadiah bidadari yang berbaju kuning!” Sambil
berkata demikian, si gendut menunjuk salah seorang di
antara lima orang tawanan wanita yang berbaju kuning dan
yang menangis sedih.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Melompatlah seorang laki laki yang agak tinggi, berkulit
hitam dan mulutnya lebar sekali, ia ini menjura kepada
pemimpinnya dan berkata, “Hamba yang akan
menghancurkan kepalanya!” katanya, ia diberi ijin dan
segera si mulut lebar ini menghadapi tawanan itu.
Karena tahu bahwa tidak ada lain jalan keluar lagi,
nelayan ini terpaksa berlaku nekat. Ia hendak melawan
sedapat dapatnya dan segera memasang kuda kuda,
kemudian setelah diberi tanda, ia lalu memukul ke arah
dada si mulut lebar itu. Melihat gerakannya, Siang Cu tahu
bahwa nelayan itu pernah mempelajari sedikit ilmu silat.
Akan tetapi, tanpa menghiraukan pukulan, si mulut lebar
menerima pukulan itu dengan dadanya. Terdengar suara
berdebuk dan pukulan itu ternyata tidak dapat merobohkan
si mulut lebar yang sebaliknya cepat menangkap tangan
pemukulnya dan dengan gerakan memutar, tubuh nelayan
itu diangkat dan dibanting keras sekali!
Sorak sorai terdengar ramai ketika nelayan itu mengaduh
aduh dan merayap lalu berlutut di depan si mulut lebar,
minta minta ampun! Siang Cu menjadi merah mukanya
dan ia merah muak sekali melihat sikap nelayan itu. Gadis
ini paling benci melihat orang yang bersikap pengecut dan
penakut. Kalau nelayan ini melawan terus mati matian,
agaknya gadis itu tentu akan turun tangan membantunya.
Akan tetapi karena nelayan ini berlutut dan minta minta
ampun mana ia sudi menolong? Si mulut lebar ketika
melihat kelunakan lawannya, tertawa terbahak bahak,
menangkap orang itu, dibanting keras, ditangkap lagi,
dibanting lagi berkali kali sehingga orang itu tewas dengan
kepala pecah pecah! Setelah mendapat kemenangan, si
mulut lebar lalu menubruk wanita tawanan baji kuning itu
diangkatnya tinggi tinggi dan dibawa ia tanpa
memperdulikan jerit tangis korbannya itu. Semua orang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tertawa tawa melihat pemandangan ini yang dianggapnya
amat lucu!
Hati Siang Cu bergolak saking marahnya. Namun ia
masih ragu ragu untuk turun tangan. Gurunya berkali kali
menyatakan bahwa ia tidak boleh mencampuri urusan
orang lain yang tiada sangkut pautnya dengan dirinya
sendiri. Pula, ia melihat sifat pengecut dan penakut dan
para tawanan, hatinya menjadi lemah untuk turun tangan.
Juga jumlah bajak laut itu banyak sekali, nampaknya kuat
kuat. Belum tentu ia kuat menghadapi keroyokan orang
sebanyak itu. Ia tidak mau mengorbankan diri hanya untuk
membela pengecut pengecut itu pikirnya.
Tawanan ke dua dilepaskan ikatannya.Makin muak hati
Siang Cu melihat betapa laki laki yang masih muda dan
bertubuh kuat juga ini, agaknya seorang pedagang, belum
apa apa telah menangis. Yang menghadapinya adalah
seorang pendek sekali, jauh lebih kecil dari dia sendiri.
Tawanan ini berusaha melawan, namun laki laki pendek
yang menjadi lawannya itu ternyata tangkas sekali. Siang
Cu melihat bahwa laki laki pendek itu mempergunakan
ilmu silat yang hampir sama dengan Ilmu Silat Kin na
hwat, yakni ilmu silat menangkap dan mencengkeram.
Dalam beberapa gebrakan saja, kaki tawanan itu dapat
ditarik sehingga tergulinglah tubuhnya, kemudian si pendek
itu menubruk dan menjepit leher tawanan itu dengan kedua
kakinya sampai lawannya tercekik dan tewas karena tak
dapat bernapas.
Pemandangan yang menyeramkan ini disambut dengan
sorak sorai dan wanita baju hijau yang dijadikan hadiah
jatuh pingsan ketika ia dipondong pergi oleh si pendek kate.
Tibalah giliran sasterawan muda itu. Siang Cu memandang
penuh perhatian, hendak melihat bagaimana sikap pemuda
yang menarik hatinya itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kalian ini orang orang gila yang hidup seperti binatang
buas!” kata pemuda itu dengan suara lantang, tanpa takut
sedikitpun juga ambil menentang pandangan tiga orang
pemimpin yang gendut. “Kalau hendak membunuh,
bunuhlah aku. Aku tidak takut mati. Jangan harap kalian
akan dapat memaksakan berkelahi seperti badut hanya
untuk menyenangkan hati kalian! Siapa yang hendak maju
melawanku, majulah dan bunuhlah! Aku tidak mau
melawan! Hanya pengecut yang berhati rendah saja yang
mau menjatuhkan tangan kepada orang yang tidak mau
melawannya!”
Mendengar ini, tiga orang pemimpin itu marah sekali.
Lebih lebih pemuda pendek yang gagah tadi, yang duduk di
dekat tiga orang pemimpin gendut, ia melompat berdiri dan
berkata,
“Biar aku sendiri yang memecahkan kepala cacing buku
ini!” bentaknya dan sekali ia melompat, ia lelah berada di
depan pemuda sasterawan.
Sasterawan itu memandang dengan bibir tersenyum
mengejek. “Kalau kau berada di daratan Tiongkok, orang
macam kau ini pantasnya hanya menjadi tukang pukul
murah!”
Pemuda itu mengerti juga Bahasa Tionghoa, maka ia
marah dan membanting banting kaki. “Aku akan bikin
mampus kutu ini dan hadiah untukku boleh dibagi bagi
antara semua anak buahku!” Kata kata ini disambut dengan
sorakan riuh rendah. Kasihanlah wanita ketiga yang
dijadikan taruhan dalam pertandingan ini, karena orang
orang kasar telah mendekatinya, siap memperebutkannya
setelah pertandingan berakhir.
“Siaplah untuk mampus, binatang!” pemuda tegap
pendek itu berseru dan hendak menyerang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kau bunuhlah, aku tidak takut mati dan tidak akan
membalas,” sasterawan muda itu berkata, tetap tersenyum
tenang, sedikitpun tidak kelihatan takut.
Dihadapi dengan dingin, pemuda pendek itu marah
sekali. Tangannya menampar kepala sasterawan itu dan
tubuh sasterawan itu terguling. Namun ia bangun kembali
dan menyusut bibirnya yang berdarah, ia masih tersenyum
dan sama sekali tidak takut. Si kate menjadi makin marah,
ia tidak puas kalau membunuh orang ini tanpa melihat
korbannya ketakutan. Dicabutnya sebatang golok itu di
dekat leher pemuda sasterawan.
“Berlututlah dan minta ampun! Mungkin kau tidak
kubunuh!” bentaknya.
“Siapa takut senjatamu? Aku mati sebagai seorang
gagah. Mau bunuh boleh bunuh, aku siap meninggalkan
ragaku yang terlahir lemah tidak memiliki kepandaian
kasar,” jawab sasterawan itu.
Si pendek kate makin marah dan ia mengangkat
goloknya ke atas. Akan tetapi pada saat ia membacokkan
goloknya ke arah kepala pemuda itu, hendak membelah
kepala itu menjadi dua, tiba tiba menyambar benda hitam
yang tepat mengenai pergelangan tangannya. Si kate
menjerit dan goloknya terlepas dari pegangan. Semua orang
terkejut dan lebih heran lagi ketika tiba tiba melayang
bayangan merah dan tahu tahu seorang gadis muda yang
cantik jelita berdiri di depan si kate tadi.
“Pemuda ini tidak memiliki kepandaian silat, tidak adil
kalau memaksa ia berkelahi. Aku sengaja datang
mewakilinya. Hayo, siapa saja boleh maju menghadapiku!”
bentak Siang Cu, karena memang gadis inilah yang telah
menolong pemuda sasterawan tadi. Ia amat kagum melihat
betapa seorang pemuda yang begitu lemah, memiliki
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
semangat dan keberanian sehingga tersenyum saja
menghadapi lawan yang sudah siap menerkam nyawanya.
Pemuda kate tertegun, ia tidak mengerti mengapa
goloknya terlepas dan tangannya sakit. Bahkan
sekarangpun ia masih belum mengira bahwa gadis baju
merah yang turun bagaikan bidadari dari surga inilah yang
tadi telah menggunakan batu kecil menyambit tangannya.
Untuk sesaat ia tak dapat berkata apa apa, demikian pula
semua orang yang berada di situ. Kemudian ia tertawa
girang dan berpaling kepada tiga orang pemimpin yang
gendut sambil berkata
“Kurobah taruhan atas pertandingan ini. Kalau aku
menang, aku akan membunuh cacing lemah itu dan akan
rnengambil nona ini sebagai hadiahku.” Semua orang
tertawa mendengar ini dan Siang Cu tak dapat menahan
kemarahannya lagi. Sekali tangan kirinya dengan jari jari
terbuka berkelebat ke arah kepala pemuda pendek kate,
terdengar jerit ngeri sekali dan pemuda itu roboh di atas
tanah, berkelojotan dan mati. Jidatnya telah berlobang
lobang terkena tutukan jari jari tangan Siang Cu yang
mempergunakan tenaga lweekang.
Geger di tempat itu. Siang Cu siap sedia menghadapi
keroyokan. Tiga orang pemimpin yang gendut itu
melangkah maju menghampirinya dan memandangnya
penuh keheranan. Kemudian orang di antara mereka
teringat.
“Aha, bukankah kau ini murid kakek buntung yang
berada di pulau Sam liong to?”
Mendengar pertanyaan ini, semua orang kembali terdiam
dan nampak ketakutan. Nama kakek buntung memang
merupakan nama yang ditakuti seperti takut kepada setan
laut yang mendatangkan gelombang dan taufan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tak perlu diributkan aku siapa!” Siang Cu membentak
dengan sikap menantang, “Pendeknya aku datang untuk
menolong sasterawan muda ini. Bebaskan dia, kalau perlu,
boleh jago jagomu diajukan pula untuk melawanku!”
“Aduh sombongnya!” Seorang di antara tiga orang
pemimpin itu tiba tiba menubruk maju. Siang Cu mengelak,
akan tetapi karena tubrukan itu hebat sekali, terpaksa gadis
ini menggunakan tangan kanan menangkis. Alangkah
terkejutnya ketika tiba tiba tangannya itu terpegang erat erat
dan sebelum ia dapat menghindarkan, tubuhnya itu telah
melayang ke atas dilempar secara aneh dan luar biasa oleh
si gendut itu!
Tiga Orang pemimpin itu girang sekali, akan tetapi
senyum mereka yang lebar itu tiba tiba lenyap ketika
mereka melihat betapa nona baju merah yang cantik jelita
itu sama sekali tidak terlempar jatuh, bahkan di atas udara
dapat berjungkir balik dan kini melayang kembali ke atas
mereka seperti seekor burung garuda menerkam kurbannya.
Siang Cu marah sekali karena tadi kurang hati hati
sehingga dapat dilempar ke atas. Kini ia menyerang dari
atas ke arah si gendut yang tadi menangkapnya. Orang itu
cepat mengulur tangan hendak menyambut tubuh Siang Cu
yang kecil, akan tetapi tiba tiba terdengar suara “krak!” dan
orang gemuk ini menjerit jerit seperti babi disembelih ketika
kedua tangannya berkenalan dengan sabetan pedang yang
bercahaya kehijauan. Sepuluh jari tangannya putus pada
ujungnya.
Dengan muka merah Siang Cu berdiri, tangan kiri
bertolak pinggang, tangan kanan memegang pedang.
“Hayo siapa lagi yang berani main gila dengan aku?”
Dua orang pemimpin bajak ketika melihat betapa dua
orang saudaranya telah dirobohkan, menjadi marah sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mereka mencabut senjata ruyung yang besar dan berat, lalu
serentak menyerang Siang Cu. Gadis ini mengeluarkan
suara ketawa menyeramkan, dan begitu pedangnya
bergerak, lenyaplah pedang dan tubuhnya. Yang tampak
hanyalah bayangan tubuhnya yang merah dan gulungan
sinar pedang yang kehijauan. Dalam beberapa gebrakan
saja, dua orang pemimpin yang gemuk itu memekik
kesakitan dan roboh dengan tubuh terluka pedang.
Anak buah perampok itu segera maju mengeroyok dan
mengurung gadis itu sambil berteriak teriak. Namun Siang
Cu tidak gentar sedikitpun juga. Ia menyuruh pemuda
sasterawan itu berdiri di belakangnya dan pedangnya lalu
diputar sedemikian rupa sehingga jangankan baru senjata
para pengeroyoknya atau bajak laut, biarpun datang hujan
lebat agaknya tak setetes airpun akan dapat membasahi
pakaiannya. Sebaliknya beberapa kali sinar pedangnya
meluncur panjang tentu terdengar jerit kesakitan dan roboh
seorang pengeroyok.
“Nona, kau gagah sekali. Benar berar manusiakah kau?”
berkali kali terdengar pemuda sasterawan itu bertanya
kagum. Suara pemuda ini menambah semangat Siang Cu
yang mengamuk makin hebat lagi. Sudah bertumpuk tubuh
para bajak laut yang terluka, bergelimpangan dan keluh
kesah mengaduh aduh terdengar riuh.
Pada saat itu terdengar suara keras,
“Tahan semua senjata!”
Mendengar suara ini, para bajak laut mundur dan
menarik kembali senjata mereka. Terdengar mereka berseru
takut,
“Sian jin datang.... !”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siang Cu memandang ke depan dan melihat dua orang
mendatangi dengan tindakan cepat sekali. Mereka ini
adalah seorang tua bertubuh tinggi bersama seorang laki
laki muda berusia kurang lebih duapuluh tahun. Kedua
orang ini pakaiannya indah dan mewah, yang tua angker
berpengaruh memegang sebatang tongkat kepala naga dan
yang muda memegang sepasang pedang di kedua tangan,
sikapnya gagah, wajahnya tampan, dan tubuhnya juga
tinggi seperti yang tua.
Melihat gadis manis dan perkasa ini, yang muda lalu
melompat maju dan tersenyum senyum.
“Alangkah gagahnya nona ini,” katanya.
Siang Cu paling benci kepada laki laki yang sifatnya
pengecut dan laki laki yang ceriwis. Melihat pemuda ini
senyum senyum dan memandang kepadanya dengan mata
kagum dan kurang ajar, timbul kemarahannya. Ia tahu
bahwa dua orang ini tentulah kawan dari para bajak laut,
maka dengan marah sekali ia lalu menyerang dengan
pedangnya, menusuk cepat ke arah dada pemuda itu.
“Eng Kiat, awas!” teriak orang tua yang memegang
tongkat itu kepada pemuda yang diserang, ia melihat
kehebatan serangah ini, maka cepat memberi peringatan.
Pemuda itupun terkejut sekali karena tahu tahu ujung
pedang nona itu telah meluncur kearah dadanya. Ia cepat
menggerakkan kedua pedangnya dari kanan kiri, menjepit
pedang Siang Cu dengan gerakan Ji liong jio ou (Sepasang
Naga Berebut Mustika) dan dengan tepat pedang nona itu
terjepit oleh sepasang pedangnya.
Melihat gerakan ini, terkejut jugalah Siang Cu. Gerakan
yang dapat dilakukan dengan tepat sekali dalam keadaan
berbahaya ini hanya dapat dilakukan apabila orang
memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi. Bagaimana di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tempat seperti ini terdapat orang pandai? Ia berusaha
menarik kembali pedangnya dan lebih lebih kagetnya ketika
mendapat kenyataan bahwa pedangnya seperti terpaku dan
sukar dicabut.
Siang Cu adalah murid dari Lam hai Lo mo yang sakti,
tentu saja ia menjadi penasaran sekali. Apalagi ketika
dilihatnya pemuda mewah dan pesolek itu mesem mesem
dengan ceriwisnya. Sambil membentak nyaring tangan
kirinya mengirim pukulan Tin san ciang (Pukulan
Menggetarkan Gunung) yang hawa pukulannya cukup kuat
untuk merobohkan lawan dari jarak jauh.
Pemuda itu tidak mengira sama sekali bahwa nona yang
begini muda dan jelita dapat memmiliki ilmu silat sehebat
ini, maka tadi ia kurang hati hati. Setelah hawa pukulan
menyambar ke arah dadanya, barulah ia merasa terkejut
dan cepat melepaskan jepitan pedangnya, mengerahkan
tenaga lweekang ke arah dada untuk menolak bawa
pukulan itu. Namun tetap saja ia merasa dadanya sakit
seperti terpukul oleh benda keras dan berat, maka sambil
berseru kaget ia melempar diri ke belakang, berjungkir balik
dan melompat turun di tempat yang agak jauh. Ia terhindar
dari luka berat di dalam tubuh, akan tetapi ia mengalami
kekagetan luar biasa sehingga mukanya menjadi agak pucat
dan keringat mengalir dari keningnya.
Jilid XVIII
“HA, lihai sekali murid Lam hai Lo mo. Sayang sekali
suka mencampuri urusan lain orang,” berkata orang tinggi
kurus dan bertongkat itu sambil melangkah maju.
“Kalau aku mencampuri urusan orang, kalian mau
apakah?” Siang Cu membentak dengan sikap menantang.
Setelah tadi ia berhasil memukul mundur pemuda yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lihai itu, semangatnya timbul kembali dan ia merasa cukup
tangguh untuk menghadapi dua orang ini sungguhpun ia
belum tahu sampai di masa kelihaiannya yang tua.
Kakek itu tertawa bergelak. “Hebat, hebat. Dari mana
Lam hai Lo mo mendapatkan muridnya ini? Apakah dari
neraka? Dia hidup kembali sudah aneh, sekarang
mempunyai murid seperti ini, ah, hal ini jauh lebih aneh.”
Mendengar ini, Siang Cu merasa tak enak hati juga.
Mendengar omongannya, agaknya orang tua ini sudah
kenal baik dengan suhunya.
“Orang tua, kau siapakah?” tanya Siang Cu.
Orang tua itu tersenyum. “Nona, kalau betul kau murid
Lam hai Lo mo, jangan kau mengira bahwa puteraku Eng
Kiat ini tadi sudah kalah olehmu, ia hanya mengalah,
bukan kalah.”
“Kalau masih penasaran, boleh maju lagi. Aku tidak
takut,” Siang Cu memotong pembicaraan orang. Kakek itu
tersenyum dingin.
“Tiada gunanya. Kalau dia menang, gurumu akan
mengira bahwa kami berlaku curang. Hayo bawa kami
menghadap suhumu, dia tentu girang bertemu dengan aku.”
“Tidak bisa, orang tua. Sebelum kau mengaku siapa
adanya kau dan anakmu, dan sebelum aku menolong
semua korban yang dirampok oleh kawan kawanmu, aku
takkan pergi dari sini.”
Kakek itu menoleh kepada puteranya dan tertawa geli
melihat puteranya memandang kepada Siang Cu dengan
kekaguman yang tak disembunyikan lagi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sudah sepatutnya kau kagum dan suka kepadanya, Eng
Kiat. Memang sukarlah menentukan seorang dara perkasa
seperti ini apalagi di tempat ini.”
“Hebat, ayah. Bahkan lebih hebat daripada puteri Thian
te Kiam ong,” kata pemuda itu terus terang sambil matanya
terus mengincar gadis itu. Tadinya Siang Cu akan marah
sekali mendengar percakapan mereka, akan tetapi setelah
mendengar disebutnya puteri Thian te Kiam ong, hatinya
tertarik sekali dan ia diam saja, tidak jadi marah.
“Nona, ketahuilah bahwa aku adalah Tung hai Sian jin
(Dewa Laut Timur) dan ini adalah puteraku, Bong Eng
Kiat. Jangan kau khawatir tentang para korban, sekarang
juga akan kuperintahkan kepada mereka untuk
mengantarkan para korban kembali ke pantai Tiongkok,”
Kakek itu lalu bicara dalam bahasa asing kepada para bajak,
memerintahkan mereka mengantar semua korban dengan
perahu bajak kembali ke daratan Tiongkok.
Ketika lima orang wanita itu dan si sasterawan muda
hendak berangkat, sasterawan itu menghampiri Siang Cu
dan berkata hormat.
“Siocia, aku Liem Pun Hui selama hidup takkan
melupakan budi dan kegagahanmu yang luar biasa. Sudilah
kiranya memberi tahu nama siocia apabila tidak
menganggap itu terlalu kurang ajar bagiku.”
“Aku bernama Ong Siang Cu, dan tentang budi dan
pertolongan, harap kau suka melupakannya saja.” jawab
gadis itu dan wajahnya menjadi agak merah karena jengah,
ia sendiri merasa heran mengapa pujian pemuda pesolek
yang bernama Bong Eng Kiat itu memanaskan telinganya
dan membuatnya marah, akan tetapi sebaliknya pujian
pemuda sasterawan yang sederhana ini membuatnya
senang dan malu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah para korban diantar ke dalam perahu, kakek itu
lalu mengajak SiangCu.
“Marilah nona kita kembali ke tempat suhumu.”
Siang Cu tidak suka berdekatan dengan dua orang ini,
akan tetapi diam diam iapun merasa ingin tahu sekali akan
keadaan dua orang yang ternyata memiliki ilmu tinggi ini.
Pula yang menarik hatinya adalah disebutnya puteri Thian
te Kiam ong tadi, maka iapun ingin membawa mereka ke
suhunya untuk mendengar penjelasan terlebih jauh.
Siang Cu membawa mereka ke perahunya dan dengan
bantuan Eng Kiat yang biarpun matanya amat kurang ajar
namun mulurnya diam saja, meluncurlah perahu itu cepat
sekali menuju ke Pulau Sam liong to. Sudah lama aku tahu
bahwa di atas pulau itu tinggal suhumu, nona. Siapa lagi
kalau bukan Lam hai Lo mo yang bisa tinggal di tempat
seperti itu? Akan tetapi aku merasa sungkan untuk datang
menengok ke sana, karena aku tahu akan keanehan watak
suhumu itu. Sekarang kebetulan sekali ada kau yang
menjadi orang perantara, kebetulan sekali!”
Siang Cu tidak menjawab, hanya termenung
membayangkan bagaimana sikap suhunya kalau melihat ia
membawa datang dua orang tamu. Ia tidak takut suhunya
akan marah kepadanya karena ia cukup maklum betapa
besar rasa sayang suhunya kepadanya. Akan tetapi suhunya
memiliki watak yang aneh dan kadang kadang seperti orang
gila, dan dua orang ini selain aneh dan mencurigakan, juga
memiliki kepandaian amat tinggi. Ia merasa seakan akan
bakal terjadi hal yang hebat adalah mata pemuda pesolek
itu, karena tiada hentinya mata itu memandang kepadanya
dengan penuh gairah, ia merasa seakan akan mata Eng Kiat
memandang sampai menembusi pakaiannya dan mata itu
menjalari seluruh tubuhnya dari kepala sampai ke kaki.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Menghadapi pandangan mata ini. Siang Cu sebentar
menjadi merah dan sebentar pucat mukanya.
Setelah tiba di dekat pantai Pulau Sam liong to, ia tidak
tahan lagi dan mendamprat marah
“Manusia kotor! Tahan matamu yang liar dan
menyebalkan!”
Tung hai Sian jin tertawa bergelak, demikian pula Eng
Kiat yang segera menjawab dengan jenaka.
“Nona manis yang galak, apaku sih yang membuat kau
memaki kotor? Lihat pakaian dan kulitku begini bersih!
Adapun tentang mataku, apakah dayaku, nona? Kau terlalu
cantik bagaikan kembang, mataku hanya seperti kumbang,”
“Tutup mulutmu kalau tidak akan kugulingkan perahu
ini!” Siang Cu kembali membentak sambil mengancam
untuk menggulingkan perahu. Sebagai seorang gadis yang
semenjak kecil hidup di atas pulau kecil, apalagi sebagai
murid dari Lam hai Lo mo yang ahli dalam gerakan di air,
Siang Cu pandai sekali berenang dan amat kuat bertahan di
dalam air.
Namun Eng Kiat tetap tersenyum senyum saja, bahkan
dengan mata nakal ia berkata,
“Asal bersama kau, jangankan terguling di laut, biarpun
terguling di neraka sekalipun, aku rela, nona!”
Tak tahan pula kemarahan hati Siang Cu. Dengan
tangannya ia menekan pinggir perahu sambil mengerahkan
tenaga dan tergulinglah perahu itu, terus terbalik membawa
ketiga penumpangnya.
Siang Cu girang sekali dan mengharap akan dapat
memberi hajaran kepada Eng Kiat dan kakek yang
mendiamkan saja puteranya berlaku kurang ajar itu. Akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tetapi alangkah herannya ketika ia timbul ke permukaan air,
ia melihat kakek itu sudah duduk enak enak di atas perahu
yang terbalik, pakaiannya sama sekali tidak basah. Hanya
mulutnya saja yang berkali kali memaki,
“Anak setan, kau nakal sekali. Patut menjadi murid Iblis
Tua Laut Selatan!”
Tiba tiba Siang Cu mendengar suara ketawa dan melihat
Eng Kiat timbul di permukaan air pula di sebelah belakang.
Ternyata pemuda itupun pandai sekali berenang dan
agaknya tanpa menggerakkan tangan kaki, pemuda itu tidak
tenggelam dan memandangnya dengan mata penuh cinta
kasih!
“Nona, biarpun basah kuyup, kau makin manis saja!”
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil