Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 03 Juni 2018

kun lun Hiap Kek

======
baca juga
Koleksi Kang Zusi
Kun-Lun Hiap-Kek (Tamat)
KHO PING HO
Nona Berbunga Hijau
1. Ternak Berbicara di Tibet.
Pegunungan Himalaya memanjang tanpa batas.
Puncak-puncaknya menjulang tinggi
menyambung bumi dengan langit. Puncak-puncak
yang putih tertutup salju, tak pernah tampak,
ditelan awan. Kokoh kuat tak pernah goyah
diterjang awan setiap saat. Dilihat dari jauh
seperti naga raksasa tengah tidur bertapa. Belum
pernah ada kaki manusia dapat menjelajah
puncak-puncak yang tersembunyi dibalik awan.
Jangankan manusia, malah segala macam burung
yang bersayap sekalipun tidak kuat terbang
sampai ke puncak-puncak itu.
Daerah propinsi Tibet memang merupakan daerah
pegunungan, dimana-mana hanya pegunungan dan tanah tinggi. Di sebelah selatan
dan barat terbaris Pegunungan Himalaya dengan puncak-puncak pegunungan Kun-lun
dan di sebelah timur menghadang pegunungan Tangla. Dikepung gunung-gunung
raksasa ini, Tibet merupakan daerah terpencil, terasing dari dunia luar menjadi daerah
yang penuh rahasia dan kegaiban.
Di mana-mana tampak salju keputihan kalau kita melihat daerah ini dari angkasa.
Hanya di sana-sini ada kelompok batu-batu, hutan-hutan kecil yang hanya ditumbuhi
pohon-pohon yang tahan dingin, kalau boleh bicara tentang tanah subur, agaknya
hanya disepanjang sungai Yalu-cangpo saja yang merupakan lembah yang
mengandung tanah subur. Di sinilah tempat orang-orang Tibet bercocok tanam,
bertani. Di sini pula banyak orang yang tinggal.
Seperti juga keadaan di seluruh Tibet pada masa itu, di sepanjang lembah sungai ini
yang berkuasa adalah bangsawan-bangsawan kaya raya yang menjadi tuan-tuan tanah,
dan tentu saja para pendeta Lama. Sesungguhnya para pendeta Lama inilah yang
memegang kekuasaan tertinggi karena pengaruh agama Buddha yang sudah diputar
balik menjadi semacam kepercayaan tahyul. Para Lama ini memegang kekuasaan
dengan pengaruh mereka yang penuh rahasia, yang membuat mereka menjadi
Buddha-Buddha hidup, menjadi semacam makhluk super-human, lebih tinggi tingkat
hidup mereka dari pada manusia biasa. Tentu saja ini anggapan rakyat Tibet yang
sudah dijejali pelbagai ketahyulan, di”lolohi” cerita gaib dan ditipu dengan
pertunjukan-pertunjukan ilmu sulap dan ilmu hitam.
Akan tetapi oleh karena para tuan tanah dan bangsawan itu kaya raya dan dapat
mendatangkan banyak barang-barang indah dari dunia barat dan timur, royal pula
dengan membagi-bagi hadiah atau menyuap, maka para pendeta Lama ini bahkan
menjadi kaki tangan mereka. Tentu saja bukan semua pendeta Lama berwatak rakus,
Koleksi Kang Zusi
mata duitan dan jahat. Akan tetapi sedikit yang baik dan betul-betul saleh
menjalankan kewajiban agamanya, merupakan beberapa butir beras baik di antara
sepanci beras buruk, mereka ini tidak berpengaruh lagi dan bahkan takut akan suara
hati sendiri. Memang sudah lazim bahwa orang-orang baik di antara banyak orang
jahat, malah dianggap jahat.
Di sebelah utara sungai, di lembah yang paling subur tanahnya tampak bangunanbangunan
indah dari gedung para tuan tanah, rumah-rumah besar para bangsawan,
yaitu para pembesar yang ditunjuk atau diangkat oleh perwakilan dari kerajaan besar
di timur, yaitu kerajaan Goan-tiauw (Mongol) yang dengan cepatnya telah dapat
menguasai seluruh Tiongkok dan malah merembes keluar Tiongkok. Pembesarpembesar
yang hanya beberapa belas orang banyaknya ini hidup dari pajak-pajak
yang mereka atur sendiri, dan terutama sekali hidup dari sokongan tuan-tuan tanah
yang kaya raya itu sehingga mereka inipun merupakan kaki tangan tuan tanah yang
berhak mengadili dan membenar atau mensahkan segala macam perbuatan para tuan
tanah. Selain bangunan besar-besar tempat tinggal para tuan tanah dan para pembesar
ini, juga tampak bangunan-bangunan kelenteng yang besar-besar tempat tinggal para
pendeta Lama.
Bangunan ini berada di tempat yang tinggi, agak jauh di sebelah utara sungai.
Sedangkan dekat dengan sungai, di antara sawah ladang, adalah perkampungan
hamba tani atau hamba sahaya yang menjadi budak belian dan menjadi milik para
tuan tanah itu. Budak-budak ini tidak mempunyai kemerdekaan dan hak sama sekali.
Bahkan mereka tidak berhak atas nyawa dan tubuh sendiri, tiada bedanya dengan
ternak. Ya, memang mereka ini dianggap ternak dan disebut “ternak berbicara” oleh
para tuan tanah. Dan apa kata pendeta-pendeta yang dianggap sebagai manusia super
human yang murni. Buddha-Buddha hidup itu? Mereka menegaskan dengan suara
sungguh bahwa para hamba tani atau budak itu adalah orang-orang yang dilahirkan
untuk menebus dosa-dosa mereka dalam penjelmaan dahulu.
“Jadilah kamu orang-orang yang taat akan perintah tuanmu, memberontak adalah
dosa besar sekali. Hanya dengan hidup taat dan saleh, kamu akan dapat mengurangi
sedikit dari dosa-dosamu yang sudah bertumpuk-tumpuk dan kelak dalam penjelmaan
mendatang akan menjadi orang yang lebih baik nasibnya.” Demikianlah ucapan yang
selalu terdengar oleh para budak, dan tentu saja mereka percaya penuh karena ucapan
ini keluar dari mulut pendeta-pendeta Lama yang suci murni.
Di dusun Loka ini hanya ada lima orang tuan tanah dan yang paling kaya dan paling
berpengaruh adalah Yang Can. Kalau tuan tanah-tuan tanah yang lain hanya memiliki
paling banyak dua ratus orang hamba sahaya, Yang Can mempunyai tiga ratus
keluarga budak yang terdiri dari empat ratus jiwa lebih. Tanahnya luas sekali,
merupakan tanah-tanah yang paling subur di sepanjang sungai Yalu-cangpo.
Yang Can adalah seorang peranakan Nepal yang semenjak kecil dibawa ayahnya
merantau ke pedalaman Tiongkok. Ibunya seorang suku bangsa Tibet dan semenjak
kecil ia telah menjadi tuan tanah yang kaya raya di Tibet. Pengaruhnya amat besar
dan selain kaya raya, ia juga dianggap paling pandai karena banyak berkelana ke
“dunia barat” dan dunia timur. Rumah gedungnya paling besar dan boleh dibilang di
desa Loka ia menjadi raja kecil yang kekuasaannya tak terbatas. Gedungnya yang
besar amat mewah. Lantai gedungnya dihias permadani dari Persi, dindingnya penuh
Koleksi Kang Zusi
lukisan dan tulisan indah dari Tiongkok. Perabot-perabot rumahnya dari bahan kayu
terbaik, diukir aneka macam dan terutama sekali, gandum di gudangnya yang besar
sampai banyak yang membusuk.
Di pinggir sungai, hanya beberapa ratus meter dari rumahnya diperkampungan para
budak, rumah-rumah para hamba sahaya itu amat menyedihkan keadaannya.
Sebetulnya tidak patut disebut rumah tempat tinggal manusia. Lebih pantas kalau
disebut kandang-kandang babi atau paling baik kandang-kandang kuda. Rumah gubuk
tanpa perabot sama sekali, makan, duduk, tidur di atas tanah saja yang ditilami abu
dari tai lembu-yak yang dibakar untuk penahan kedinginan tanah yang lembab. Inipun
hanya merupakan sisa abu yang dipergunakan sebagai rabuk tanah. Bukan hal aneh
kalau seorang budak dicambuki sampai mati hanya karena lantai rumahnya ditutupi
abu tai lembu-yak terlampau tebal yang berarti pemborosan dan penghamburan
pupuk.
Waktu itu musim panen tiba. Berkat kerja paksa yang tak pernah kenal lelah,
pemeliharaan tanaman yang tertib, panen kali ini berhasil baik. Semua tenaga budak
dikerahkan untuk mengumpulkan hasil panen. Gandum membanjiri gudang-gudang
terutama gudang tuan tanah Yang Can sampai melimpah-limpah. Penjagaan
diperkeras sehingga tak sebutirpun dapat dicuri budak.
Seorang pemuda yang berpakaian mewah, berwajah tampan dengan bertopi tinggi dan
pakaian sutera, bertolak pinggang sambil tertawa-tawa, menjaga di depan gedung
mengawasi para budak yang terbungkuk-bungkuk memanggul hasil panen dan
memasukkannya ke dalam gudang. Pemuda ini adalah Yang Nam, putera tunggal tuan
tanah Yang Can yang terkenal lebih kejam dari pada ayahnya dan mempunyai watak
yang amat buruk, mata keranjang dan licik. Dia lebih disegani dari pada ayahnya
karena siapakah yang tidak tahu akan kepalan besinya? Siapa tidak takut menghadapi
pemuda ini yang biarpun usianya baru delapan belas tahun namun memiliki tenaga
melebihi sepuluh orang? Yang Nam adalah murid dari Lama Besar Thouw Tan
Hwesio seorang pendeta Buddha berkepala gundul berjubah kuning, seorang ahli ilmu
silat juga seorang ahli ilmu hoatsut (sihir).
Pemuda pesolek ini sikapnya jumawa sekali, dengan sebatang tongkat bambu kecil ia
memeriksa setiap angkutan gandum dan membentak-bentak kalau seorang membawa
muatan terlampau sedikit. Kadang-kadang ia mencambuk punggung seorang hamba
sambil tertawa-tawa dan hamba itupun hanya tersenyum menyeringai, tak berani
mengaduh tak berani mengeluh.
Seorang gadis Tibet yang berusia lima belas tahun, datang terbungkuk-bungkuk
memanggul muatan gandum. Gadis ini seperti juga hamba-hamba lain, berpakaian
butut seperti pakaian jembel, akan tetapi pakaian butut itu tak dapat menyembunyikan
bentuk tubuhnya yang menarik, langsing dan penuh seperti bunga baru mulai mekar.
Kulit mukanya agak menghitam terbakar teriknya matahari di sawah, namun tak dapat
menyembunyikan halusnya kulit dan jelinya mata, mancungnya hidung dan manisnya
bentuk mulutnya, ditambah warna kemerahan di kedua pipinya oleh santernya jalan
darah akibat kerja keras. Inilah Ci Ying, puteri seorang hamba bernama Ci Leng yang
pada waktu itu juga tengah sibuk bekerja di sawah.
Koleksi Kang Zusi
Sudah seringkali Ci Ying digoda secara kurang ajar oleh Yang Nam, akan tetapi gadis
itu tidak melayaninya, berpura-pura bodoh dan selalu menjauhkan diri. Yang Nam
tidak pernah berhenti merindukan gadis ini, akan tetapi ia agak malu untuk melakukan
paksaan oleh karena ayah gadis ini, Ci Leng, terkenal sebagai hamba yang agak
pandai dari pada yang lain, yang mengenal huruf dan sering kali membantu ayahnya
dalam mengerjakan pembukuan.
Akan tetapi pada saat itu, melihat gadis manis itu berjalan dengan lenggang
menggiurkan, lenggang yang tidak dibuat-buat akan tetapi menggairahkan karena
gadis itu sedang memanggul muatan berat, hati Yang Nam berdebar dan kurang
ajarnya timbul.
“Ci Ying, jangan kau memanggul gandum terlalu banyak, kasihan kedua lengan dan
pundakmu yang halus,” kata Yang Nam dengan suara dibuat-buat agar terdengar
manis. Akan tetapi Ci Ying berjalan terus sambil menundukkan mukanya, sedikitpun
tidak melirik.
“Kau malah boleh beristirahat, tak usah bekerja. Kau di sini saja, membantu aku
mengawasi pemasukan gandum,” kata Yang Nam lagi.
“Harap tuan muda jangan menahanku, di sawah banyak pekerjaan. Kalau terlihat aku
berhenti, tentu Thiat-tung Hwesio akan marah,” kata Ci Ying lirih menahan marah.
Thiat-tung Hwesio atau Hwesio Bertongkat Besi adalah seorang pendeta Lama yang
ditugaskan menjaga orang-orang yang bekerja menuai gandum. Hwesio ini berdiri
atau berjalan hilir mudik dengan toya besinya dipanggul, toya besi yang berat dan
besar. Matanya melotot memandang ke sana ke mari seperti seekor anjing besar
menjaga sekelompok domba.
Mendengar kata-kata Ci Ying, Yang Nam hanya tertawa hahah-heheh dan
membiarkan gadis itu menyimpan gandum di dalam gudang yang sudah penuh padat.
Akan tetapi ketika gadis itu berjalan keluar dari gudang, dengan secara kurang ajar
sekali Yang Nam menggunakan tongkat bambunya mencolek baju gadis itu yang
robek di bagian atas dada dekat pundak, mencoba untuk menyingkap baju robek itu.
Untuk sedetik nampak kulit dada yang putih bersih.
“Kongcu (tuan muda) .....!” Ci Ying berseru, cepat menutupkan kembali bajunya yang
robek. Mukanya merah, matanya menentang berani, bernyala-nyala, kepalanya
dikedikkan dan dadanya terangkat turun naik. Entah mengapa, sinar mata gadis ini
membuat Yang Nam kehilangan nyalinya. Ada sesuatu pada gadis ini yang amat
berpengaruh, yang membuat pemuda itu tidak berani bertindak lebih lanjut kecuali
tersenyum-senyum menyeringai kuda.
“Ci Ying jangan kurang ajar kepada tuan muda. Kau berdosa ......” terdengar suara
teguran seorang kakek hamba yang sudah biasa hidup menjilat-jilat pantat tuan tanah
dan puteranya dalam usahanya memperbaiki nasibnya. Ci Ying meninggalkan tempat
itu dengan kemarahan ditahan di dada dan dua titik airmata menetes pada pipinya tak
terasa.
Kakek penjilat itu sambil membungkuk-bungkuk di depan Yang Nam, dengan sikap
bermuka-muka berkata, “Maafkan dia kongcu yang mulia. Seorang anak perawan
Koleksi Kang Zusi
memang suka berpura-pura galak, akan tetapi kalau sudah dapatkan dia, heh-heh-hehheh
.....”
Yang Nam sedang jengkel karena sikap Ci Ying tadi yang tidak menyenangkan
hatinya, tidak memuaskannya. Kini melihat kakek ini bermuka-muka, ia menjadi
sebal dan sebuah tendangannya membuat kakek itu terjungkal. Celakanya ketika ia
jatuh, padi gandum yang tadi dipanggulnya menimpa kepalanya sehingga keningnya
menumbuk batu dan berdarah. Akan tetapi sambil mengumpulkan gandum yang
berantakan ia masih terheh-heh tidak berani memperlihatkan rasa sakit, masih sempat
bermuka-muka biarpun hatinya berdebar ketakutan. Sifat pengecut dan menjilat-jilat
seperti inilah yang membuat nasib para budak di Tibet makin memburuk sampai
berabad lamanya. Orang macam penjilat ini memang tidak lebih patut diperlakukan
seperti seekor anjing. Biarpun ia menjilat dengan usaha memperbaiki nasib dan
memperingan beban hidupnya, namun dengan jalan menjilat berarti ia hanya
memikirkan diri sendiri dan sudah dapat dipastikan bahwa seorang penjilat adalah
seorang keji yang tidak segan-segan mengorbankan kawan-kawan demi keselamatan
diri sendiri.
Kakek itupun tidak segan-segan memperlihatkan sifatnya yang buruk dengan berkata
perlahan ketika hendak pergi dari gudang itu untuk mengangkut gandum lagi. “Kalau
kongcu menghendaki, hamba dapat bicara dengan Ci Leng ....”
“Pergi kau, anjing!” Yang Nam memaki dan orang itu pergi, masih tidak lupa
mengangguk-angguk seperti orang berterima kasih mendapat hadiah besar.
Hanya Ci Leng yang dapat melihat perubahan pada muka anaknya yang biasanya
periang itu ketika Ci Ying kembali ke sawah. Ci Leng yang berusia empat puluh lima
tahun itu bertubuh tinggi kurus bersemangat besar, mendekati puterinya dan bertanya
lirih, “Ying-ji (anak Ying), ada apakah?”
Mendengar pertanyaan ini, seperti air sungai Yalu-cangpo membanjir air mata dari
sepasang mata yang bening itu. Ci Ying tidak biasa dimanja, ia menggigit bibir
menahan perasaan, hanya menjawab singkat.
“Yang Nam kongcu kurang ajar.”
Ci Leng menghela napas panjang. Ketika ibu anaknya melahirkan Ci Ying, iapun
dahulu menarik napas panjang. Alamat buruklah bagi keluarga budak apabila
melahirkan seorang anak perempuan. Kalau buruk rupa takkan laku kawin, kalau
cantik akan menjadi korban tuan-tuan tanah. Ini sudah merupakan kelaziman yang tak
dapat dibantah pula. Makin besar Ci Ying, makin cantik anak itu, makin besar pula
kekhawatiran hati Ci Leng dan sekarang kekhawatirannya mulai memperlihatkan
kenyataan. Ia hanya bisa menggunakan ujung bajunya yang butut menyusut air mata
dari pipi Ci Ying.
“Tenanglah, jangan kehilangan semangat. Selama aku masih terpakai oleh tuan besar,
kau aman. Biar sore nanti aku bicarakan tentang ikatan perjodohanmu dengan pandai
besi Wang Tun,” katanya menghibur.
Koleksi Kang Zusi
Mendengar ini, makin merah muka Ci Ying, bukan merah karena marah, melainkan
merah karena jengah. Akan tetapi hatinya berdebar gembira dan ia mulai bekerja lagi
penuh semangat mengumpulkan gandum. Peristiwa yang menyakitkan hatinya tadi
sudah terlupa oleh kata-kata ayahnya. Terbayanglah di depan matanya wajah seorang
pemuda yang tegap dan gagah, Wang Sin, berwajah gagah bertubuh kokoh tegap,
paling pandai menunggang kuda, bertenaga besar dan terkenal sebagai seorang
pemuda pemberani. Wang Sin pemuda berusia tujuh belas tahun, tunangannya.
Tiba-tiba terdengar teriakan ngeri disusul makian dan suara orang bersambatan minta
ampun. Ci Leng dan puterinya, juga semua budak yang sibuk bekerja, menengok
untuk menyaksikan peristiwa yang tidak asing lagi, malah terlampau sering terjadi di
antara mereka. Seorang hamba laki-laki berusia tiga puluhan sedang dihajar oleh
Thiat-tung Hwesio karena berusaha menyembunyikan beberapa batang gandum di
balik bajunya. Sekali pukul dan sekali tendang saja sudah cukup membuat hamba itu
menggelepar di atas tanah, setengah pingsan.
Thiat-tung Hwesio memanggil seorang tukang pukul yang biasa dijuluki anjing-anjing
penjaga tuan tanah dan budak yang mencuri gandum itu diseret pergi.
“Losuhu .... ampunkan suami saya ...., ampunkanlah dia dan jangan dilaporkan kepada
Loya (tuan besar) .... dia mengambil gandum untuk anak kami yang baru lahir ....”
Seorang hamba wanita memohon-mohon sambil berlutut dan menyembah-nyembah
hwesio itu.
Thiat-tung Hwesio menendang perempuan itu sampai bergulingan di atas tanah
lumpur. Air susu bercucuran keluar dari dada perempuan yang belum lama
melahirkan anak itu, bercampuran dengan air mata dan air lumpur. “Losuhu, ampuni
dia ... ampuni ....!” tangisnya dengan suara serak.
“Diam kau! Hayo bekerja lagi! Maling-maling hina dina tak tahu diri. Kalau banyak
cerewet ku kemplang kepalamu,” bentak hwesio itu.
Beberapa orang budak segera membangunkan perempuan itu dan menghiburnya agar
bekerja kembali karena kalau tidak tentu hwesio itu menjadi makin marah dan akan
terjadi lain penyiksaan. Dengan isak tangis tertahan perempuan itu melanjutkan
pekerjaannya, setiap kali teringat akan nasib suaminya ia tersedu, hatinya seperti
ditusuk-tusuk. Dari jauh terdengar suara teriakan-teriakan para “anjing penjaga” tunan
tanah. “Potong tangan! Kerat lidahnya!” Semua orang yang mendengar ini meremang
bulu tengkuknya dan perempuan itu menjadi makin pucat dan tentu akan roboh
pingsan kalau Ci Leng tidak cepat-cepat memeluk dan menolongnya.
Ci Leng menarik napas panjang lagi, menggeleng-geleng kepala dan mengangkat
kepala memandang langit yang agaknya ayem saja menyaksikan peristiwa-peristiwa
ini. “Hidup yang sekarang untuk kebaikan hidup kemudian ..... ini kata suci para
pendeta. Sampai berapa ratus kali penjelmaankah hidup akan menjadi baik?”
demikian pikirnya dan kembali ia menarik napas panjang.
Sementara itu, seorang nenek tua di dalam gubuk butut, kedua kakinya sudah lumpuh,
menimang-nimang seorang bayi yang baru berusia beberapa hari, bayi merah
telanjang yang menangis menjerit-jerit. Nenek itu menggerak-gerakkan pahanya dan
Koleksi Kang Zusi
menyeret kedua kaki tangannya itu untuk mencoba maju mundur mendiamkan tangis
cucunya.
“Diamlah cucuku manis ..... diamlah jangan menangis saja. Ayah bundamu sedang
bekerja di ladang, panen sawah baik hasilnya, pembagian para budak tentu agak
banyakkan ...! Diamlah, nanti ayah bundamu pulang membawa hadiah gandum ....
kau akan dibelikan baju.” Anak itu menangis terus sampai megap-megap. Nenek tua
itu dengan mengesot menghampiri bilik di mana tergantung beberapa padi gandum,
mengambil beberapa butir lalu mengunyah beras gandum dengan mulutnya yang
sudah ompong. Biarpun sukar, karena terkena air ludah lama-lama gandum itu hancur
juga dan dimasukkannya dari mulut ke mulut bayi itu yang agaknya kelaparan dan
kehausan.
“Nah, diamlah, cucuku manis. Mari berselimut abu hangat, anakku? Cucuku gagah,
cucuku manis, kelak menjadi pelayan di gedung tuan besar!” Nenek itu menimangnimang
cucunya yang kecapaian menangis dan kini tertidur. Anak itu, juga neneknya,
tidak tahu betapa ayah bayi itu disiksa hanya karena hendak mengambil beberapa
batang gandum untuk keluarganya.
Sampai jauh senja pekerjaan menuai gandum itu selesai di bagian yang ditentukan dan
semua budak pulang ke rumah masing-masing dengan tubuh lemas kelelahan. Tidak
hanya tubuh yang lemas karena lelah dan lapar, akan tetapi juga hati dan pikiran
menjadi lemas.
“Tidak ada waktu membagi gandum, besok saja!” Ucapan singkat dari Yang Nam
putera tuan tanah ini merupakan keputusan mati yang tidak dapat ditawar lagi dan
ketika mengucapkan kata-kata ini sambil menyeringai, pemuda ini melirik ke arah Ci
Ying.
Dan kakek penjilat mengomel sepanjang jalan, menyalahkan gadis itu yang
dikatakannya menjadi gara-gara sehingga tuan muda menjadi murung dan kesal yang
akibatnya merugikan semua budak. Hanya setelah Ci Leng membentaknya, kakek
penjilat itu tidak berani banyak cerewet lagi.
Malam itu mereka terpaksa menahan lapar. Baiknya kaum tertindas ini sudah
mengenal setia kawan dan dengan secara gotong royong mereka mengumpulkan
gandum seadanya dan membagi-bagi di antara mereka. Dengan jalan ini mereka
seringkali dapat mengatasi bahaya kelaparan. Sayang seribu sayang gotong royong ini
hanya dipergunakan untuk melawan bahaya kelaparan dan sedikitpun tidak pernah
timbul dalam benak mereka untuk mempergunakan persatuan itu di bidang lain yang
lebih penting, misalnya untuk menentang tuan tanah. Pada masa itu, siapa sih yang
berani? Menentang tuan tanah sama dengan menentang para pendeta, menentang
pendeta-pendeta itu sama dengan menentang Lama-Lama Besar dan menentang
orang-orang suci ini sama dengan menentang Sang Buddha sendiri, menentang
Tuhan! Demikianlah pelajaran yang sudah digoreskan dalam-dalam di hati semua
budak, sudah mendarah daging.
******
Koleksi Kang Zusi
Langit di barat merah seperti terbakar dikala matahari mulai mengundurkan diri. Dan
semua makhluk di dunia pun biasanya ikut pula mengundurkan diri untuk beristirahat
menanti datangnya esok berikutnya.
Segerombolan domba muncul dari kaki langit ketika mereka menanjak sebuah bukit
kecil. Perut binatang-binatang ini menyendul kekenyangan, tanda bahwa dengan baikbaik
pengembalanya telah membawa mereka ke padang rumput dan membiarkan
mereka makan sekenyangnya.
“Hiyooo .... sini hitam! Kau selalu mau menyeleweng saja. Apa sudah lupa jalan
pulang?” demikian terdengar suara laki-laki yang nyaring sekali. Kemudian
muncullah orangnya, seorang pemuda tegap yang memegang sebuah cambuk. “Hayo
pemalas, hayo sini kumpul dengan rombongan!”
Setelah domba-dombanya berkumpul dan melanjutkan perjalanan ke kandang,
pemuda yang usianya tujuh belas tahun itu bernyanyi sekuat dadanya :
“Wahai, Himalaya yang tinggi.
Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang.
Dapatkah kalian memberi jawaban?
Kedua tanganku kuat bekerja berat.
Tapi tiada seperseratus hasilnya.
Menjadi bagianku!
Aku punya mulut.
Tak dapat mengeluarkan suara hati.
Telingaku disusur tuli.
Mataku disusur buta.
Aku punya nyawa.
Aku punya nyawa.
Tak lebih berharga seekor domba!
Wahai, Himalaya sembunyikan aku
dipuncak-puncakmu!
Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku
di muaramu!”
Suara nyanyiannya nyaring dan mengandung keluhan jiwa para budak, akan tetapi
terdengar bersemangat. Kemudian cambuknya dibunyikan di udara dan ia
menyumpah-nyumpahi domba itu. “Hiyooo ....! Domba-domba pemalas, jangan
menyeleweng! Tak pandai kerja, makan sekenyangnya. Kalah orang yang bekerja
melebihi kuda, makanpun hampir tak kenyang!” Suara ini disusul bunyi “tar-tar-tar!”
cambuknya yang dihantamkan dengan gemas di udara.
Tiba-tiba ia melihat bocah yang berteriak-teriak girang. Kuda tua larilah! Kuda tua
lucu ....!!”
Ia melihat seorang anak laki-laki berusia lima-enam tahun menunggangi punggung
seorang hamba tua yang kurus. Kakek itu terengah-engah dan berlari menggunakan
sepasang tangan dan kaki seperti kuda dan bocah ini menjambak rambut dengan
tangan kiri sedangkan tangan kanannya yang memegang cambuk memukul-mukul
leher kakek itu.
Koleksi Kang Zusi
Kakek itu berlari makin keras dan sebentar saja lenyap di sebuah tikungan. Yang
terdengar hanya teriak kegirangan bocah itu di antara napas yang megap-megap dari
si hamba kakek.
“Anak iblis!” pemuda itu menggertak gigi dan mengepal tinju, kemudian cambuknya
diayun memukul sebatang pohon dengan keras sampai menimbulkan suara keras dan
kulit pohon itu lecet-lecet. Pemuda itu, Wang Sin, marah sekali. Sudah terlalu banyak
ia menyaksikan kejadian-kejadian yang menyakitkan hatinya, sudah terlalu sering ia
mendengar cerita ayahnya tentang kesengsaraan-kesengsaraan budak-budak di daerah
ini, namun sebegitu lama ia dan ayahnya tidak berdaya.
Ayahnya Wang Tun, adalah satu-satunya pandai besi yang menjadi hamba tuan tanah
Yang Can. Semenjak masih muda ayahnya sudah menjadi hamba sahaya, kerjanya
setiap hari di perapian, menggembleng dan membentuk alat-alat pertanian dan alatalat
lain yang dibutuhkan oleh tuan besarnya. Kadang-kadang tuan besar
membutuhkan barang-barang yang harus ditempa dan dijadikan secepat mungkin
sehingga ayahnya harus bekerja siang malam, kadang-kadang sampai ketiduran di
dapur kerja saking lelah dan mengantuknya.
Ayahnya bukan seorang lemah. Sudah dua kali ayahnya mencoba melarikan diri,
yaitu ketika belum menikah, masih seorang pemuda yang kuat. Akan tetapi, anjinganjing
penjaga dan pendeta-pendeta Lama yang kosen dapat mengejar dan
menangkapnya. Ia dipukuli habis-habisan, lebih mati dari pada hidup dan semenjak
saat itu kedua kaki ayahnya dipasangi belenggu yang berantai panjang. Ayahnya
dapat berjalan akan tetapi tidak mungkin dapat lari cepat. Dengan kedua belenggu di
kaki ayahnya menikah, atau lebih tepat dinikahkan oleh tuan besar untuk menjadi
pengikat yang lebih kuat dari pada belenggu. Setelah ia terlahir dan ibunya mati
karena kekurangan darah, ayahnya membawanya lari lagi. Melarikan diri akan tetapi
tidak berlari, hanya berjalan cepat di tengah malam. Malang tertawan lagi dan
belenggu dikakinya diperpendek rantainya dan diperkuat. Semenjak itu, hati ayahnya
yang sekuat baja melumer dan tidak mencoba melarikan diri lagi sampai sekarang,
sudah lima puluh tahun usianya.
Alangkah buruknya hidup. Ketika ia masih kecil, sudah sering kali Wang Sin
mengalami gebukan dan penghinaan. Pernah dia dijadikan kuda tunggangan tuan
muda Yang Nam sampai kedua tangannya hampir patah karena dipakai berlari seperti
binatang. Akhirnya, karena dia merupakan orang muda terkuat, ia dipilih sebagai
pengembala domba. Ia harus melindungi dan menjaga domba-domba itu dengan
seluruh jiwanya karena hilang seekor domba saja mungkin harus diganti dengan
sebelah kaki atau tangannya. Ah, betapa buruknya hidup.
Kembali saking gemasnya Wang Sin mengayun cambuknya, memukuli batang pohon
yang ia umpamakan sebagai tuan besar dan tuan kecil, sebagai anjing-anjing penjaga
tuan tanah dan pendeta-pendeta gundul yang kejam. “Tar-tar-tar-tar!” bunyi
cambuknya berkali-kali.
“Tar-tar-tar-tar!” Di lain tempat, tak jauh dari situ, cambuk lain diayun mencambuki
sesuatu. Akan tetapi kalau cambuk di tangan Wang Sin hanya membikin lecet-lecet
kulit-kulit pohon saja, cambuk yang lain ini memecah kulit mengiris daging punggung
orang sehingga darah muncrat ke sana-sini diiringi rintihan yang makin lama makin
Koleksi Kang Zusi
lemah sampai akhirnya tidak terdengar lagi biarpun cambuknya masih terus berbunyi
membuat kulit hancur bersama dagingnya.
“Rasakan kau, bangsat hina dina, berani mencuri gandum!” kata Yang Can, tuan
tanah yang menyuruh tukang pukulnya menyiksa budak yang berani mengambil
gandum di sawah tadi sambil meludahi muka budak itu yang sudah tidak keruan
macamnya karena menjadi korban cambuk.
Budak itu diikat pada sebuah tiang di pekarangan samping rumah tuan tanah, dan
kepala yang tadinya sudah lemas itu mendadak diangkat lagi, matanya yang bengkakbengkak
itu dibuka dan mulutnya mengeluarkan rintihan terakhir. “Menebus dosa .....,
menebus dosa ..... untuk hidup kemudian ...” Dan budak itu menghembuskan napas
terakhir. Kasihan orang ini, dan saat terakhir pengaruhnya dongeng para pendeta
Lama masih menguasainya sehingga siksaan yang membuat nyawanya melayang itu
ia anggap sebagai penebus dosa-dosanya.
“Suamiku ....!” Seorang wanita, isteri dari hamba yang disiksa sampai mati itu,
dengan rambut riap-riapan berlari datang sambil menangis. Dari sawah ia langsung
lari ke situ ketika mendengar dari budak-budak lainnya bahwa suaminya disiksa oleh
tuan tanah. Melihat suaminya terikat dan kepalanya menggantung tak bergerak-gerak
lagi, mandi darah, ia menjerit ngeri dan menubruk mayat suaminya sambil memeluki
kedua kakinya dan menangis tersedu-sedu. “Suamiku .... suamiku .... jangan
tinggalkan aku dan anakmu yang masih kecil ....”
Yang Nam, putera tuan tanah yang keluar mendengar suara ribut-ribut ini, melotot
marah melihat perempuan itu menjerit-jerit. Juga Yang Can marah sekali. Tukang
pukulnya yang tadi menyiksa hamba itu sampai mati, melihat kemarahan pada wajah
tuan besar dan tuan muda, segera mengangkat kaki menendang perempuan itu. “Pergi
kau!”
Perempuan itu terguling-guling memegangi dadanya yang kena tendang, kemudian
tiba-tiba ia melompat berdiri, rambutnya riap-riapan, matanya merah, kedua
tangannya mengepal.
“Iblis! Biadab kau! Anjing penjilat tuan tanah, kau dan tuan tanah akan mampus
dibakar api neraka!” Karena duka dan marah, wanita ini sudah tidak ingat apa-apa
lagi, tidak kenal takut, sambil menuding-nudingkan telunjuknya kepada Yang Nam
dan Yang Can dan tukang pukul itu, ia memaki-maki.
Kembali sebuah pukulan tukang pukul membuat ia roboh terguling.
“Bunuh anjing betina ini!” seru tuan tanah Yang Can.
“Tidak, ayah. Dia berani memaki kita. Potong lidahnya!” kata Yang Nam, marah
sekali karena dia yang semenjak kecil didewa-dewakan oleh semua budak, sekarang
mengalami dimaki-maki oleh hamba perempuan itu.
“Betul, potong lidahnya!” ayahnya membeo.
Koleksi Kang Zusi
Tukang pukul yang mencari muka cepat menangkap wanita itu yang meronta-ronta,
mengikatnya menjadi satu dengan mayat hamba yang disiksanya tadi, kemudian
secara keji, di luar batas prikemanusiaan, ia memaksa membuka mulut wanita itu,
menarik keluar lidahnya dan memotong lidahnya dengan pisau.
Terdengar pekik meraung mengerikan sekali dan di lain saat tubuh wanita malang itu
berkelonjotan, nyawanya melayang menyusul nyawa suaminya.
“Kumpulkan semua budak, suruh menonton biar tidak ada lagi yang berani main
gila,” gerutu Yang Can yang pergi memasuki rumah bersama puteranya.
2. Perlakuan Manis Berhati Palsu.
Kelihatannya Yang Nam berbisik-bisik minta sesuatu kepada Yang Can. Ayahnya ini
memandang tajam mengerutkan kening dan menggeleng kepala. Anaknya membujuk
terus dan akhirnya ayah itu tersenyum mengangguk.
“Selirmu sudah tujuh, masih ditambah lagi? Baiklah, jangan khawatir,” terdengar
ayah ini berkata.
Sementara itu, tukang pukul itu lalu memanggil para budak dan mengabarkan bahwa
hamba itu mati karena mencuri gandum dan isterinya dicabut lidahnya karena berani
memaki yang dipertuan. Semua budak menjadi pucat, akan tetapi tak seorangpun
berani mengeluarkan suara.
Wang Sin melihat dua mayat ini terikat pada pohon ketika ia menggiring dombadomba
ke dalam kandang. Ia terkejut sekali dan sebuah makian tergumam di dalam
mulutnya. Tanpa menghiraukan perutnya yang sudah lapar karena sehari belum diisi,
setelah mengunci pintu kandang, ia lalu menghampiri pohon itu dan melepaskan
ikatan pada dua mayat. Seorang anjing penjaga tuan tanah menghampirinya.
“Budak Sin, kau mau apa?” tanya tukang pukul itu.
“Kau lihat sendiri, melepaskan ikatan mereka,” jawab Wang Sin dengan muka
muram.
Kalau lain hamba yang berani memberi jawaban seperti ini kepada seorang tukang
pukul, tentu ia akan menerima cambukan atau setidaknya akan ditampar mulutnya.
Akan tetapi terhadap Wang Sin, sembarangan tukang pukul saja tidak berani
sewenang-wenang. Dahulu, setahun yang lalu pernah Wang Sin melawan seorang
tukang pukul sampai tukang pukul itu rebah dengan kepala benjol-benjol dan tuan
tanah yang sayang kepada tenaga kerja Wang Sin, tidak menghukumnya.
“Budak Sin, apa kau mencari mampus? Maling ini dihukum oleh tuan besar sendiri
karena ia mencuri gandum dan bininya dihukum karena berani kurang ajar dan
memaki tuan besar. Dan kau sekarang berani melepaskan mereka?”
“Kau yang cari mampus, bukan aku,” jawab Wang Sin tenang.
“Bagaimana kau berani bilang begitu, bocah lancang?” tukang pukul itu marah.
Koleksi Kang Zusi
“Tentu saja, karena kau sebagai hamba tidak tahu akan kewajiban. Mereka ini sudah
menjadi mayat, apakah kau mau mendiamkan saja dua mayat ini membusuk di sini
dan mengotorkan tempat tinggal tuan besar, meracuni semua keluarga tuan besar?
Masih belum dikatakan lagi kalau roh mereka mengamuk. Apa kau berani
bertanggung jawab?”
Mendengar itu, tukang pukul itu menjadi pucat karena kaget dan takut. Ia menjadi
bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat itu dari dalam muncul Yang
Nam. Tukang pukul itu menjadi makin pucat dan mengira tuan muda pasti akan
marah sekali. Wang Sin telah menyelesaikan pekerjaan melepaskan dua orang mayat
itu dan ia bersikap tenang, sudah terlalu biasa menghadapi kemarahan tuan-tuannya
sehingga tidak ada kekhawatiran lagi dalam hatinya.
Akan tetapi aneh, benar-benar di luar dugaan tukang pukul itu, malah di luar dugaan
Wang Sin sendiri. Yang Nam bersikap manis, tersenyum-senyum kepada Wang Sin
dan berkata.
“Tepat sekali kata-katamu, Wang Sin. Memang seorang pekerja harus mengetahui
kewajibannya sendiri.”
Kemudian dibentaknya tukang pukul itu disuruh pergi.
Setelah berdua saja dengan Wang Sin, Yang Nam memandang kepada kepada Wang
Sin dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Wang Sin, pakaianmu sudah robek
semua. Setelah kau selesai mengurus dua mayat itu, mintalah makan ke dapur dan
nanti kau kuberi pakaian baru satu stel. Biar kusuruh pelayan-pelayan gila itu
membantumu.”
Wang Sin berdiri melongo saking herannya. Sampai datangnya pelayan-pelayan atau
tukang pukul-tukang pukul itu, dua orang banyaknya untuk membantu ia mengangkut
dua orang mayat, ia masih berdiri keheranan. Ia bekerja tanpa membuka mulut, dan
timbul kekhawatiran dan kesangsian besar. Ia sudah terlalu kenal watak tuan muda,
Yang Nam. Apakah kehendaknya maka ia begitu manis dan baik hati kepadaku.
Pikirnya gelisah. Biasanya, belum tentu dua tahun sekali ia mendapat pakaian apalagi
pakaian baru. Dan menyuruh dia makan. Dalam mimpi pun belum pernah ia mendapat
perlakuan semanis itu. Aneh, ada apakah? Demikian suara hatinya berbisik, membuat
ia makin gelisah.
Sampai setelah sikap manis tuan muda itu menjadi kenyataan, yaitu ia sudah makan
kenyang dan benar-benar mendapat hadiah satu stel pakaian yang tebal dan bagus
sekali baginya. Wang Sin masih gelisah bukan main. Pakaian itu hangat dan membuat
ia merasa enak badannya, akan tetapi tidak membuat enak hatinya. Sikap manis atau
sikap baik dari tuan-tuan itu tidak pernah dikenal oleh para budak. Dan sikap tuan
muda Yang Nam itu sudah berlebihan manisnya.
Wang Sin tidak dapat tidur. Jangankan tidur, meramkan mata saja hampir tidak dapat.
Belum pernah ada perlakuan manis pada dirinya, dari ayahnya yang pemarahpun
belum. Kecuali .... Ci Ying. Hanya gadis itulah orang satu-satunya di dunia ini yang
amat manis budi baginya. Entah bagaimana, bertemu saja dengan gadis itu sudah
membuat dunia menjadi lebih terang. Setiap gerakan Ci Ying melembutkan hatinya,
Koleksi Kang Zusi
seakan-akan gadis itu sengaja menghiburnya, dengan senyum, dengan pandangannya,
dengan suaranya yang halus. Memang Ci Ying tunangannya, itulah satu-satunya
orang yang pernah dan selalu bersikap manis kepadanya. Akan tetapi Yang Nam?
Teringat akan tunangannya, terhibur hati Wang Sin. Ci Ying selain manis budi juga
amat cerdik seperti ayahnya. Pandai melukis pandai menulis, pandai berhitung dan
selalu banyak ceritanya yang hebat-hebat. Ci Ying gadis pandai, tentu akan dapat
menerangkan arti sikap berlebihan dari tuan muda. Akan kutanyakan kepadanya,
besok. Dengan wajah Ci Ying membayang di depan matanya, akhirnya Wang Sin
dapat pulas juga.
Kalau saja ia dapat mendengar percakapan antara tuan besar Yang Can dan Yang
Nam, agaknya bayangan wajah Ci Ying bahkan akan membuat ia tidak dapat tidur
sama sekali.
Di dalam rumah gedung hanya beberapa belas meter jauhnya dari tempat tidur Wang
Sin di kandang domba, dalam kamar duduk yang indah dan mewah Yang Can sedang
bercakap-cakap dengan Yang Nam. Tuan besar itu duduk di kursi malas setengah
berbaring. Dua orang selir muda dan cantik mengawaninya, seorang mengipasinya
dengan kipas bulu domba, yang kedua memijit-mijit kaki tuan tanah itu yang
kelelahan karena seharian tadi banyak berdiri dan berjalan ikut sibuk memeriksa hasil
panen tanahnya. Yang Nam duduk di atas kursi di depan ayahnya, mukanya yang
tampan ditundukkan, akan tetapi sepasang matanya yang sipit itu kadang-kadang
mencuri pandang dan melirik dari ujung mata ke arah selir yang mengipasi ayahnya,
selir yang cantik dan muda dan yang seringkali ia ajak bermain mata di luar tahu
ayahnya.
“Panen tahun ini bagus sekali. Sayang ada saja gangguan sehingga terpaksa kita
kehilangan dua orang tenaga budak,” terdengar suara tuan besar Yang Can. Dari
ucapan ini saja sudah dapat diketahui bahwa nyawa para budak bagi tuan besar ini
tidak ada artinya sama sekali, yang penting dan disesalkannya adalah hilangnya
tenaga mereka, tenaga orang-orang yang ia peras untuk menumpuk harta kekayaan.
“Akan tetapi ada baiknya juga, ayah,” bantah puteranya. “Mereka itu perlu
dikorbankan, tidak saja untuk menebus dosa mereka yang telah berani mencuri dan
menghina kita, akan tetapi perlu untuk menjadi contoh dan membikin takut para
budak. Orang-orang seperti mereka itu kalau tidak diatur dengan tangan besi, mana
bisa taat? Mereka itu memang sudah berwatak rendah sehingga setiap saat dan
kesempatan pasti akan mereka gunakan untuk mencuri dan memberontak.”
Yang Can mengangguk-angguk, cocok sekali dengan pikiran anaknya ini. Juga selir
yang sedang menggoyang-goyang kipas tersenyum senang. Akan tetapi selir yang
memijit-mijit kedua kaki tuan tanah itu menundukkan kepala dan menahan kedukaan
hatinya. Dia ini tahu apa yang menyebabkan para budak kadang-kadang melakukan
pencurian karena diapun berasal dari budak. Karena kebetulan ia cantik wajahnya dan
halus putih kulitnya maka ia mendapat nasib baik menjadi selir tuan tanah itu. Ia tahu
bahwa para budak terpaksa mencuri karena terlalu sering kelaparan, mencuri untuk
menambah kebutuhan perut mereka.
Koleksi Kang Zusi
“Nam-ji (anak Nam), tentang permintaanmu tadi, tentu saja tidak menjadi soal kalau
kau ingin menambah seorang selir lagi, akan tetapi gadis Ci Ying itu, bukankah sudah
ditunangkan dengan anak si pandai besi? Dulu pernah kukatakan kepada mereka
bahwa dua orang itu akan menjadi pasangan terbaik di antara para budak.”
“Pertunangan antara budak bisa dibatalkan!”
Tuan tanah itu mengangguk-angguk, berpikir. “Tentu saja, akan tetapi mereka itu
tenaga-tenaga terbaik, Yang Nam. Kita akan rugi kalau kehilangan tenaga mereka. Ci
Leng selain seorang petani baik, juga pandai membantu mengatur catatan-catatan dan
perempuannya itupun rajin dan cepat. Harus diingat lagi Wang Sin yang amat setia
dan pandai merawat domba. Malah ayahnya juga pandai besi satu-satunya.”
“Apa salahnya? Mereka, orang-orang tua itu, tentu akan senang sekali kalau dapat
berjasa kepada kita, tentu mereka senang kalau Ci Ying menjadi selirku. Tentang
Wang Sin, ah, biar aku yang mengurus dia. Diberi hadiah-hadiah sedikit saja masa ia
tidak rela melepaskan Ci Ying?”
Ayahnya mengangguk-angguk. “Sesukamulah, kau atur sendiri. Akan tetapi sedapat
mungkin jangan sampai mengecewakan hati mereka yang amat kita butuhkan
tenaganya.”
Demikianlah percakapan di dalam kamar, di gedung itu yang tentu akan membuat
Wang Sin gelisah dan tak dapat tidur kalau ia mendengarnya.
******
Di dalam sebuah gubuk seperti kandang butut itu, nenek tua yang lumpuh menangis
terisak-isak sampai tidak ada suara lagi terdengar dari lehernya. Kedua tangannya
memondong bayi yang menangis lirih karena kehabisan suara.
“Cucuku .... ahhh ..... cucuku yang manis .... kau harus lekas besar .... cucuku harus
lekas besar .... bagaimana aku bisa meninggalkan kau seorang diri di dunia ini?
Cucuku .... siapa yang akan menyusuimu sekarang, siapa ... siapa yang akan
menyambung hidupmu ....?”
Nenek lumpuh ini sudah mendengar tentang kematian anak dan menantunya. Dapat
dibayangkan betapa hancur hatinya, betapa hebat kedukaannya. Akan tetapi
kebingungan dan kegelisahannya lebih besar lagi. Seorang nenek tua yang tak mampu
bekerja seperti dia, tentu sudah dibiarkan mati kelaparan kalau saja anak dan
mantunya tidak bekerja keras, membanting tulang dan membagi sedikit hasil makanan
mereka dengan dia. Sekarang anak dan mantunya sudah mati, siapa lagi dapat
diharapkan untuk memberi dia dan cucunya makan?
Keadaan cuaca masih gelap karena masih amat pagi. Sesosok bayangan memasuki
gubuk melalui pintunya yang reyot.
“Nenek, jangan terlalu berduka,” kata Ci Ying dengan suara terharu sambil minta bayi
itu yang segera dipondongnya dengan cara yang kaku namun penuh kasih sayang. Ci
Koleksi Kang Zusi
Ying tidak pernah mempunyai adik kandung, maka ia tidak biasa menggendong anak
kecil, canggung benar ia memondong bayi itu, takut-takut kalau terlepas dan jatuh.
Kedatangan dan hiburan Ci Ying ini membuat nenek itu makin merasa nelangsa dan
makin tersedu-sedu. Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan suara,
“Ci Ying .... bagaimana aku takkan .... berduka .... bagiku yang sudah tua bangka ....
mati kelaparan bukanlah soal lagi .... akan tetapi .... cucuku ini ..... cucuku .... yang
belum punya nama ini ..... ia akan kelaparan ..... akan mati sedikit demi sedikit ...aduh,
alangkah ngerinya ... cucuku, dosa apakah yang kau lakukan dalam hidup yang
terdahulu ....?”
Ci Ying terharu sekali. Sebagai anak seorang budak, ia maklum benar nasib sengsara
apa yang dihadapi anak ini dan neneknya.
“Nenek, jangan khawatir. Aku akan memeliharanya, aku akan membagi makananku
dengan nenek dan anak ini .......” hiburnya.
Nenek itu memandang gadis ini dengan mata terbelalak, kemudian runtuh pula air
matanya yang agaknya tidak mau habis. Terseok-seok ia mengesot bergerak dengan
pahanya menghampiri gadis itu. Ci Ying maklum akan maksud nenek itu
memeluknya sambil menangis.
“Ci Ying, kau baik sekali ... semoga Sang Buddha membersihkan kau dari sisa dosadosamu
dan mengangkatmu ke dalam penghidupan lebih bahagia. Kau .... kau
bawalah cucuku itu, tentang aku ... biarkan aku mati di gubuk ini, biarlah aku
menyusul anak dan mantuku. Tidak mau aku membiarkan gadis seperti kau
kekurangan makan karena aku .... Pergilah, anak yang baik, pergilah!”
Ci Ying maklum bahwa ia takkan dapat memaksa nenek ini. Ia berdiri dan
mendukung bayi itu ke pintu .... Sampai di pintu ia berhenti dan menoleh. “Akan
tetapi kau .... bagaimana dengan kau, nenek?”
“Aku dapat mengemis makanan atau mati kelaparan, bagiku sama saja. Eh, bawa anak
itu sekali lagi ke dekatku, Ci Ying.”
Gadis itu datang lagi dan berlutut membiarkan nenek itu memeluk dan menciumi bayi
itu. “Cucuku, kalau kau sudah besar, ingatlah semua yang menimpa ayah bundamu.
Kau ... kau, kuberi nama Wang Tui.”
Kemudian dengan isyarat tangannya karena tidak kuasa mengeluarkan suara lagi
saking terharunya, menyuruh Ci Ying pergi. Gadis itu lalu meninggalkan rumah
gubuk dan berlari pulang ke rumah ayahnya.
Setiba di rumah, ia melihat ayahnya berdiri, seperti patung dengan muka agak pucat
dan di depannya berdiri seorang hamba tukang cuci yang kerjanya mencuci pakaian
keluarga tuan tanah. Setiap hari, pagi-pagi sekali hamba ini mengambil pakaianpakaian
kotor dari rumah tuan besar untuk dibawa ke sungai dan dicuci.
Koleksi Kang Zusi
Melihat kedatangan puterinya yang memondong seorang bayi yang menangis, Ci
Leng bertanya, suaranya ketus seperti orang marah.
“Ci Ying, anak siapa yang kaugendong itu?”
Ci Ying terkejut melihat ayahnya seperti orang marah. Belum pernah ayahnya marah
kepadanya, biasanya bicaranya selalu manis terhadapnya. Memang Ci Leng agak
memanjakan anaknya, karena anak yang sudah tidak beribu lagi ini mengingatkan dia
kepada isterinya yang tercinta, isteri yang juga meninggal dunia karena gara-gara tuan
tanah. Isteri Ci Leng amat cantik, seperti juga Ci Ying. Semenjak menjadi isterinya,
tuan tanah selalu berusaha mendapatkan isterinya itu dan nafsu buruk ini ditahantahan
karena isteri Ci Leng mengandung. Setelah Ci Ying terlahir, tuan tanah itu
makin menjadi rindu dan gila. Dipergunakan segala daya upaya untuk mendapatkan
isteri hambanya, namun isteri Ci Leng tidak sudi meladeninya. Akhirnya saking
gelisah dan selalu ketakutan isteri Ci Leng jatuh sakit sampai matinya.
“Ayah, inilah cucu nenek lumpuh. Ayah bundanya sudah meninggal, siapa lagi yang
akan memeliharanya? Biarlah aku membagi makananku dengannya.” Kemudian
dengan sikap manja untuk menyenangkan hati ayahnya. “Ayah, bukankah kau ingin
mempunyai anak laki-laki? Nah, dia ini laki-laki dan oleh nenek lumpuh diberi nama
Wang Tui. Bagus, bukan? Lihat, anaknya sehat dan montok .....”
“Gila kau!” ayahnya memaki dan kembali Ci Ying menjadi kaget. Selamanya belum
pernah ayahnya memakinya.
Kemudian ayahnya menarik napas panjang, menundukkan muka tidak sudi melihat
bayi itu. “Memang malapetaka tidak datang sendirian. Kau tambah lagi dengan beban,
seakan-akan beban dan malapetaka yang menimpa kita masih kurang berat.”
Ci Ying pucat. “Ayah, ada apakah ....?”
Ayahnya tidak menjawab, hanya memandang kepada hamba yang datang ke situ,
perempuan tukang cuci itu. Ci Ying menengok kepadanya. “Bibi, ada apakah?”
Perempuan yang mukanya dimakan cacar itu berkata, “Celaka besar, Ci Ying. Aku
diberitahu oleh nyonya besar ke lima bahwa tuan muda berkehendak mengambil kau
sebagai selir ke delapan.”
“Ayah ....!” Hampir saja Ci Ying melepaskan bayi yang dipondongnya kalau ia tidak
ingat dan cepat-cepat memeluk bayi itu makin erat sambil memandang ayahnya
dengan mata terbelalak lebar.
Ayahnya hanya menghela napas sekali lagi. “Celakanya, tuan besar yang kuharapkan
akan dapat mengatasi tuan muda, malah sudah menyetujui kehendak tuan muda itu.”
“Betul,” sambung budak tukang cuci. “Nyonya besar ke lima mendengar sendiri
percakapan antara tuan besar dan tuan muda.” Yang dimaksudkan nyonya besar ke
lima itu adalah selir Yang Can ke lima yang dahulunya menjadi budak pula, selir yang
memijiti kakinya ketika terjadi percakapan antara ayah dan anak di malam itu. Selir
ini betapapun juga masih ingat akan asal-usulnya, mereka kasihan kepada Ci Ying
Koleksi Kang Zusi
dan diam-diam memberi kabar melalui tukang cuci yang setiap pagi mengambil
cucian. Kebetulan sekali dialah yang mempunyai tugas mengumpulkan pakaianpakaian
kotor.
Hampir tidak terdengar lagi oleh Ci Ying kata-kata budak pencuci pakaian itu.
Pikirannya tidak karuan, bingung, sedih, marah, takut menjadi satu. Pada saat itu ia
teringat kepada Wang Sin, tunangannya. Bayangan Wang Sin menjadi sinar terang
yang mencegahnya jatuh pingsan. Tiba-tiba ia lari keluar sambil berseru perlahan.
“Aku tidak mau .....! Aku tidak mau ....!”
Melihat akibat berita yang dibawanya, tukang cuci itu menjadi takut kalau-kalau
perbuatannya terlihat oleh para centeng tuan tanah. Maka ia cepat-cepat angkat kaki
menuju ke sungai untuk memulai pekerjaannya.
Ci Leng kembali menarik napas berulang-ulang, lalu meninggalkan gubuknya. “Aku
harus bicara dengan tuan besar,” katanya lirih kepada diri sendiri.
Sementara itu, sambil mengendong Wang Tui yang kembali menangis, Ci Ying lari
terus ke bukit di mana ia tahu Wang Sin membawa domba-dombanya. Ia takut
terlambat menghadang tunangannya itu dan kalau pemuda itu sudah melewati bukit,
ia harus menyusul ke tempat yang agak jauh. Ia merasakan tubuhnya lemah sekali,
namun ia paksakan diri, mendaki bukit sambil berlari.
Tiba-tiba ia menjadi girang sekali dan terusirlah semua kesengsaraan hatinya ketika ia
mendengar suara nyanyian yang sudah dikenalnya amat baik itu.
“Wahai, Himalaya yang tinggi.
Ahoi Yalucangpo yang panjang.
Dapatkah kalian memberi jawaban?”
“Wang Sin ....!” teriak Ci Ying, mempercepat larinya.
Suara nyanyian itu berhenti dan dari atas bukit berlari turun pemuda itu.
“Ci Ying ...! Kebetulan sekali kau datang, aku memang ingin bertemu dengan kau!”
Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan dan saling berpandangan. Kabut
tebal masih tidak kuasa melenyapkan sinar mata mereka ketika kedua orang remaja
ini saling pandang penuh perasaan.
“Pakaianmu baru ...!” seru Ci Ying, baru ia melihat pakaian pemuda itu yang indah
dan tebal.
“Kau menggendong bayi ...!” Wang Sin juga berseru heran. Perhatiannya tadi
seluruhnya dikuasai oleh wajah gadis itu sehingga baru sekarang ia melihat dan
mendengar tangis bayi di dalam pondongan Ci Ying.
“Ini anak yatim piatu yang orang tuanya dibunuh kemarin. Ku ambil dari nenek
lumpuh,” jawab Ci Ying mengalah. Kemudian ia cepat mengulangi pertanyaannya,
“Wang Sin, dari siapa kau mendapatkan pakaian baru yang indah ini?”
Koleksi Kang Zusi
Wajah Wang Sin menjadi merah, setengah malu-malu setengah bangga dan girang
mendapat kesempatan memperlihatkan diri dalam pakaian itu di depan tunangannya.
Tentu ia kelihatan gagah dan tampan. Otomatis tanpa disadarinya, tangan kirinya
bergerak ke atas dalam usaha membereskan rambutnya. Pemuda mana di dunia ini
takkan berlagak memperbagus diri di depan wanita, apalagi tunangan sendiri yang ayu
seperti Ci Ying?
“Aku mendapat hadiah dari tuan muda. Inilah yang hendak kutanyakan kepadamu.
Menurut pikiranmu, mengapa dia memberi hadiah pakaian kepadaku?”
Mendengar ini, malapetaka yang menimpa dirinya teringat kembali oleh gadis itu dan
ia lalu menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Bukan main kagetnya hati
Wang Sin melihat reaksi yang sebaliknya ini dari tunangannya. Ia cepat menjatuhkan
diri berlutut pula sambil memegangi pundak Ci Ying.
“Ci Ying, ada apakah? Kenapa kau menangis?” tanyanya.
Ci Ying tak dapat menjawab karena bayi itu menangis lagi karena lapar. Ia berusaha
mendiamkan bayi itu sambil menyusuti air matanya sendiri.
“Kenapa dia? Lapar?” tanya Wang Sin masih bingung.
Ketika gadis itu mengangguk, Wang Sin lalu cepat menghampiri kelompok
dombanya, memegang kepala seekor domba yang sedang menyusui anaknya dan
menuntun domba itu ke dekat Ci Ying.
“Si putih ini banyak air susunya, beri dia air susu,” katanya.
Ci Ying menahan gelora hatinya sendiri, menahan mulutnya yang ingin menceritakan
semua kesengsaraan dirinya untuk mendahulukan kebutuhan bayi itu. Ia membawa
bayi ke dekat susu domba itu dan tak lama kemudian bayi itu menyusu dari susu
domba. Lahap sekali bayi itu yang sudah sehari semalam tidak diberi apa-apa.
Setelah bayi itu kenyang, ia tertidur pulas dalam gendongan Ci Ying. Baru ia teringat
akan keadaan diri sendiri. Sambil menangis ia bercerita.
“Wang Sin malapetaka menimpa diriku. Pagi tadi bibi pencuci membawa berita
celaka. Ia mendengar dari nyonya besar ke lima bahwa ... bahwa tuan muda ... hendak
... hendak mengambil aku sebagai ... sebagai selirnya yang ke delapan ... dan ... tuan
besar sudah menyetujuinya ....” Ia menangis makin keras.
Wang Sin menjadi pucat. Ia serentak berdiri, mengepalkan tinjunya, matanya
bersinar-sinar, mukanya menjadi muram dan giginya berbunyi.
“Bedebah! Si keparat!” makinya dan di lain saat ia telah menanggalkan pakaian
barunya yang menutupi pakaian butut. Dikoyak-koyaknya pakaian itu, hancur
berkeping-keping. “Si keparat jahanam makanan neraka!” Kembali ia memaki. “Jadi
itulah gerangan sebabnya ia berbaik kepadaku? Bedebah!” Ia melemparkan kepingankepingan
baju itu ke atas tanah dan menginjak-injaknya dengan gemas
membayangkan bahwa si pemberi yang ia injak-injak itu.
Koleksi Kang Zusi
“Wang Sin, bagaimana baiknya? Aku ..... lebih baik aku mati dari pada menjadi
selirnya.”
“Aku akan pergi kepadanya! Aku yang akan membantah, aku yang akan melarang.
Biar kuputar batang leher si keparat.”
“Wang Sin, apa kau gila? Kau takkan menang melawan anjing-anjing penjaga, kau
akan dipukul sampai mati ...!”
“Tidak apa mati untuk membelamu!” Pemuda itu hendak pergi akan tetapi Ci Ying
memegang lengannya sambil menangis.
“Wang Sin, kalau kau dipukuli sampai mati, apa kau kira aku dapat terlepas dari
malapetaka ini? Tiada bedanya! Lebih baik aku melarikan diri. Bantulah aku lari dari
neraka ini.”
Wang Sin sadar akan kebenaran kata-kata gadis itu. Kalau ia mengamuk, berarti ia
mengantar nyawa dengan sia-sia dan gadis itu tetap saja akan dipaksa menjadi selir
tuan muda. Kalau sudah begitu, apa arti pengorbanannya? Tidak ada sama sekali.
“Lari Ci Ying? Ke mana?”
“Ke mana saja asal terlepas dari tangan tuan muda. Biar aku pergi dibawa aliran
sungai Yalu-cangpo ke timur. Wang Sin, kau carikan sebuah perahu untukku, aku
akan naik perahu itu mengikuti aliran Yalu-cangpo.”
“Akan tetapi ..... ke mana tujuanmu dan bagaimana kita bisa bertemu lagi?”
“Aku akan terus mengikuti aliran Yalu-cangpo sampai sungai itu berbelok. Aku
pernah mendengar cerita ayah bahwa jauh di timur sungai itu membelok ke selatan.
Nah, di belokan itulah aku mendarat dan menanti kau. Lekaslah, Wang Sin, sebelum
kaki tangan tuan muda menyusul ke sini.”
Karena hanya itu jalan satu-satunya, Wang Sin cepat bekerja. Ia menangkap dua ekor
domba yang gemuk, membunuhnya untuk dipakai bekal rangsum tunangannya
sedangkan domba yang mempunyai susu itupun ia bawa ke pinggir sungai. Mudah
baginya mencuri sebuah perahu dan tak lama kemudian Ci Ying yang menggendong
bayi itu sudah naik ke atas perahu. Domba yang menyusui itu diikat mulutnya
sehingga tidak bisa mengeluarkan suara, lehernya diikat pada tiang. Bangkai dua ekor
domba ditumpuk di situ dan di dekatnya terdapat sepikul rumput untuk makanan
domba yang menyusui.
Untuk penghabisan kali Wang Sin memegang pundak Ci Ying, matanya membasah.
“Hati-hatilah, Ci Ying. Mudah-mudahan kita bisa bersua kembali.”
Ci Ying juga mengucurkan air mata, mengangguk dan berkata. “Mungkin aku akan
tewas diperjalanan. Akan tetapi lebih baik mati diperjalanan dari pada mati di tangan
tuan muda, bukan?”
Koleksi Kang Zusi
Wang Sin mengangguk dan mendorong perahu itu ke tengah, lalu Ci Ying
mendayung perahu itu terus ke tengah sampai aliran air yang kuat membawa perahu
itu meluncur cepat.
Dengan air mata berlinang Wang Sin berdiri di pinggir sungai melihat perahu itu
lenyap ditelan kabut yang masih tebal menutupi permukaan sungai. Hatinya lega.
Dengan adanya kabut itu, tak mudah perahu yang melarikan Ci Ying itu terlihat oleh
para centeng tuan tanah.
“Wang Sinnn .....!!” Teriakan keras ini membuat pemuda itu terkejut dan cepat-cepat
ia lari kembali ke bukit di mana tinggalkan domba-dombanya. Kembali suara
panggilan itu menggema dan ternyata ayahnya yang memanggil dari bukit itu.
Melihat Wang Sin muncul, Wang Tun menegur. “Ke mana saja kau meninggalkan
domba-dombamu?” Tiba-tiba orang tua itu menudingkan telunjuknya ke bawah.”Eh,
ini banyak darah. Celaka! Tentu domba-dombamu ada yang ganggu!”
Wang Sin bersikap tenang. “Ayah, sebelum aku menjawab pertanyaan ini, ada
keperluan apakah ayah mendaki ke sini? Mengapa ayah bersusah payah mencariku?”
Memang tidak mudah bagi Wang Tun yang terikat rantai kedua kakinya itu untuk
mendaki bukit. Hal ini membuktikan bahwa tentu ada keperluan yang amat penting
yang membawa orang tua ini datang ke situ menyusul puteranya.
“Ada peristiwa hebat. Ci Ying hendak dijadikan selir tuan muda. Ayahnya sudah
menghadap akan tetapi ditolak malah diancam supaya segera menghantarkan Ci Ying
ke gedung. Celakanya, Ci Ying dicari-cari tidak ada. Aku khawatir kau yang
menyembunyikannya. Betul tidak?”
Wang Sin mengangguk. “Ci Ying sudah pergi dengan aman, ayah. Melarikan diri
dengan perahu kubawai bekal dua bangkai domba dan sebuah domba hidup untuk
memberi susu bagi bayi yang dibawanya.”
“Bayi?”
“Cucu nenek lumpuh.”
Pandai besi itu menggeleng kepalanya. “Hebat! Kalian orang-orang muda sungguh
hebat! Ci Ying menolong bayi itu mempertaruhkan nyawa sendiri dan kau menolong
Ci Ying, tidak perduli akan bahaya yang mengancam dirimu. Ah, kalau semua budak
bersemangat seperti kalian dan bersatu melawan tuan tanah, kiranya nasib kita takkan
begini.”
“Ayah, kau tidak marah .......?”
Ayahnya tersenyum. “Mengapa mesti marah? Lihat, akupun sudah siap
mempertaruhkan nyawa.” Kakek itu mengeluarkan dua batang pedang panjang yang
dibuatnya secara sembunyi di dalam dapur pekerjaannya. Ia berikan sebatang kepada
Wang Sin. “Mereka tentu akan mencurigaimu, tentu akan memaksa kita dan menyiksa
kita supaya mengaku di mana adanya Ci Ying. Daripada mampus seperti domba, lebih
baik mati sebagai harimau, bukan?”
Koleksi Kang Zusi
Wang Sin mengangguk-angguk tak kuasa mengeluarkan kata-kata saking terharunya,
akan tetapi tangannya menangkap lengan ayahnya kuat-kuat. Dua orang laki-laki
gagah, satu tua satu muda, dalam saat itu merasa bersatu dan senasib sependeritaan.
Pada saat itu, tampak seorang laki-laki berlari-lari naik ke bukit itu. Terengah-engah
ia berhenti di depan Wang Tun dan Wang Sin.
“Paman Ci Leng ......!” tegur Wang Sin.
“Apa kalian melihat Ci Ying?” tanya orang tua ini terengah-engah, memandang tajam
kepada Wang Sin.
“Aku tidak melihatnya,” jawab Wang Tun.
“Paman, untuk apa kau mencari Ci Ying? Untuk diserahkan kepada tuan muda?”
tanya Wang Sin penuh curiga.
3. Pengorbanan Orang Tua.
Ci Leng melangkah maju dan dengan mata melotot tangannya menampar pipi Wang
Sin. “Kau kira aku orang macam apa?”
Wang Sin mengusap-usap pipinya yang panas dan tersenyum puas lalu memberi
hormat. “Bagus paman, Ci Ying sudah kubantu melarikan diri dengan perahu.”
Dengan singkat ia menuturkan apa yang terjadi.
Ci Leng merangkapkan kedua tangannya, berdongak ke udara.
“Terima kasih kepada Dewi Sgrolma Putih. Semoga Dewi melindunginya.”
Kemudian ia teringat. “Wang Sin, mereka tentu akan menyiksamu!” Ia nampak
terkejut.
“Saudara Ci Leng, demi untuk kebaikan anakmu sendiri, Wang Sin juga harus dapat
melarikan diri menyusul Ci Ying. Biar kita yang tua-tua bertanggung jawab
menghadapi kemurkaan tuan tanah.” Kata Wang Tun.
“Tidak, ayah! Bagaimana aku bisa membiarkan kau dan paman Ci Leng menjadi
korban?”
“Diam kau! Kami sudah tua, tak lama lagi kalau tidak mampus di tangan tuan tanah,
tentu akan mampus juga. Kau masih muda, kau diharap-harap oleh Ci Ying.”
“Betul sekali,” sambung Ci Leng. “Biar aku pergi ke kuil menemui Gi Hun Hosiang.
Sehari ini kau harus dapat bersembunyi Wang Sin, dan malam nanti kau pergilah ke
kuil Gi Hun Hosiang. Dia pasti ada jalan untuk menolongmu. Kalau kau pergi
sekarang, terlambat. Semua jalan keluar melalui air tentu sudah terjaga. Aku pergi
dulu.” Setelah berkata demikian, dengan terburu-buru Ci Leng meninggalkan ayah
dan anak itu.
Koleksi Kang Zusi
Tak lama kemudian dari bawah bukit terdengar teriakan orang-orang. Dari jauh
nampak serombongan tukang pukul antek-antek tuan tanah yang mencari-cari Ci
Ying. “Tangkap Wang Sin! Tentu dia tahu di mana adanya Ci Ying!” terdengar
teriakan-teriakan mereka.
“Wang Sin, kau harus bersembunyi. Lekas!” kata Wang Tun.
Memang Wang Sin sudah bersiap sedia. Ia telah mempersiapkan sebuah jerami
panjang dan dengan benda itu di tangan kiri dan pedang pemberian ayahnya di tangan
kanan, ia lalu berlari ke jurusan lain, menuju ke sungai. Ayahnya maklum apa yang
akan diperbuat anaknya karena memang ia sudah memberi nasehat anaknya, yaitu
kalau tiba masanya anak itu hendak menyembunyikan diri, tempat yang paling aman
adalah di bawah permukaan air sungai dan jerami itu dapat dipasang di mulut untuk
menyedot hawa dari permukaan air.
Belum lama Wang Sin melenyapkan diri, berlarilah dua belas orang antek tuan tanah
mendaki bukit itu. Melihat Wang Tun seorang diri di situ dan domba-domba yang
biasa digiring oleh Wang Sin berkeliaran di situ pula, mata para tukang pukul itu liar
mencari-cari Wang Sin. Namun tidak terlihat bayangan orang muda itu.
“Pandai besi Wang Tun, kenapa kau di sini? Mana Wang Sin anakmu?” tanya
pemimpin rombongan tukang pukul.
“Aku sendiripun sedang mencari anak itu.” Jawab Wang Tun yang terkenal pendiam
di antara tukang-tukang pukul. Seperti juga terhadap Wang Sin, terhadap kakek
pandai besi ini, para begundal tuan tanah itu tidak begitu berani bersikap kasar dan
sewenang-wenang seperti terhadap budak-budak lain.
Hal ini karena selain Wang Tun merupakan pandai besi satu-satunya yang tangannya
amat dibutuhkan tuan besar, juga kakek ini sikapnya keras dan suka melawan. Akan
tetapi pada waktu itu, para tukang pukul ini sudah mendapat kekuasaan penuh oleh
tuan muda untuk mencari Ci Ying sampai dapat dan kalau perlu orang-orang seperti
Wang Tun, Wang Sin, dan Ci Leng boleh disiksa untuk memaksa mereka mengaku di
mana adanya gadis itu.
“Pandai besi tua bangka, jangan pura-pura. Kalau tidak ada hubungan dengan
hilangnya Ci Ying, masa sepagi ini kau sudah di sini? Hayo katakan di mana adanya
Wang Sin yang menyembunyikan Ci Ying? Mengakulah sebelum kami hilang
kesabaran!”
“Kalian punya mata, carilah sendiri dan jangan ganggu aku!”
“Tangkap saja dan siksa, tentu mengaku si tua bangka ini,” kata seorang tukang pukul
sambil mengamang-amangkan tombaknya.
“Ketemu si Wang Sin tentu ketemu pula Ci Ying, tentu si tua bangka ini yang
menyembunyikan.”
“Tangkap ....”
Koleksi Kang Zusi
Mendengar suara-suara ini dan melihat sikap mereka mengancam, Wang Tun
tersenyum mengejek, matanya bersinar-sinar. Ia mengedikkan kepala dan mengangkat
dada, kakinya bergerak sehingga rantai yang mengikat kedua kakinya mengeluarkan
bunyi berdencingan. “Kalau aku tidak sudi memberitahu, kalian mau apa?”
“Bangsat, budak hina dina! Kau mau melawan?” bentak kepala rombongan yang
memegang toya.
Tiba-tiba Wang Tun tertawa bergelak, tangannya bergerak dan sebatang pedang sudah
berada di tangannya. “Hayo, majulah kalian anjing-anjing penjilat pantat tuan tanah!
Majulah, ini saat yang kutunggu-tunggu sejak dahulu!”
Tukang-tukang pukul itu maklum bahwa si pandai besi ini biarpun tua, amat kuat dan
pandai silat, akan tetapi mereka mengandalkan keroyokan. Dengan memaki-maki
marah mereka lalu maju menyerbu Wang Tun yang segera mengamuk sambil
memutar-mutar pedangnya.
Dengan garangnya Wang Tun menerjang maju, seputaran pedangnya dapat
menangkis semua penyerang dan cepat sekali ia lanjutkan dengan menyerampang ke
depan sambil merendahkan tubuhnya. Para tukang pukul yang sedikit-sedikit juga
pernah belajar ilmu silat, meloncat ke atas, akan tetapi seorang di antara mereka
kurang cepat loncatannya sehingga sebelah kakinya, dekat mata kaki, terbabat pedang
sampai putus berikut sepatu-sepatunya.
Ia menjerit kesakitan dan tubuhnya menggelinding ke belakang, lalu berdiri lagi
melonjak-lonjak dengan sebelah kaki, berputaran saking sakitnya. Tak lama kemudian
ia terguling dan pingsan.
Para tukang pukul menjadi makin marah. Kepungan makin rapat dan datangnya
senjata yang menyerang seperti hujan. Namun Wang Tun tidak keder. Ia malah
tertawa bergelak ketika pedangnya merobohkan korban pertama. “Ha-ha-ha-ha!”
Tukang pukul yang memegang toya menggebuknya dari belakang dan karena pada
saat itu Wang Tun menghadapi hujan senjata dari depan dan kanan kiri, gebukan ini
tepat mengenai punggungnya.
“Blek!” dan toya yang terbuat dari kayu itu patah. Wang Tun mengeluarkan seruan
menahan sakit. Cepat memutar tubuh dan pedangnya meluncur. “Cepp ....!” Pedang
itu amblas memasuki perut tukang pukul itu sampai tembus ke belakang.
“Ha-ha-ha-ha-ha!” Wang Tun tertawa terbahak-bahak ketika darah lawan
menyemprot membasahi bajunya. Ia cepat mencabut pedangnya dan menggulingkan
tubuh ke kiri untuk menghindarkan hujan senjata. Akan tetapi karena kedua kakinya
terikat, gerakannya ini kurang cepat dan sebuah penggada menghantam pundaknya.
Punggung dan pundaknya sudah terkena pukulan. Namun Wang Tun benar-benar kuat
sekali. Ia hanya mengeluarkan gerakan seperti harimau terluka lalu mengamuk lagi.
Dalam beberapa gerakan pedangnya sudah merobohkan lagi tiga orang pengeroyok.
Koleksi Kang Zusi
Para tukang pukul yang tinggal tujuh orang menjadi gentar menghadapi amukan
pandai besi itu yang seperti harimau terganggu ini. Kepungan mengendur dan mereka
hanya menyerang secara hati-hati sekali sambil berteriak-teriak memaki.
“Mundurlah, anjing-anjing tiada guna. Biarkan aku menghadapi sendiri!” Teriakan ini
membuat para tukang pukul mundur dengan muka pucat karena mengenal suara tuan
muda Yang Nam. Tidak berhasil mengalahkan seorang budak dengan pengeroyokan
dua belas orang, benar-benar merupakan kesalahan besar dan kalau mereka nanti
hanya menerima makian-makian saja sudah boleh dibilang untung.
Melihat kedatangan tuan muda yang membawa sebatang toya kuningnya, Wang Tun
hanya berdiri, dengan pedang melintang di depan dada. Seperti pedang ditangannya
yang berlumur darah, juga pakaiannya penuh oleh darah para korbannya dan darahnya
sendiri ia telah menderita luka di sana sini. Wajahnya beringas dan matanya berapiapi.
“Wang Tun baik kau katakan saja di mana Ci Ying dan Wang Sin. Kalau kau mau
berterus terang, aku akan mengampunkan kau dan biarlah anjing-anjing yang sudah
kau robohkan ini karena memang mereka tak berguna. Mengakulah, di mana adanya
anakmu itu dan di mana ia menyembunyikan Ci Ying?” kata Yang Nam dengan nada
suara halus.
Tergetar pedang di tangan kakek pandai besi itu. Sudah tahu ia akan kelicikan pemuda
ini yang lebih jahat dari pada ayahnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata.
“Hamba tidak dapat memberitahu karena tidak tahu di mana adanya mereka.”
“Wang Tun, jangan kau membohong kepadaku,” suara Yang Nam mulai mengeras,
penuh gertakan.
“Hamba tidak membohong. Akan tetapi, lepas dari pada soal membohong atau tidak,
hamba tidak setuju kalau Ci Ying yang sudah dijodohkan dengan putera hamba itu
hendak tuan rampas,” jawabnya ini membayangkan ketegasan dan kenekatan.
Yang Nam tersenyum, mengangguk-angguk. “Ah, begitukah? Wang Tun apa kau kira
aku begitu serakah? Kalau Ci Ying tidak mau, biarlah sekarang juga aku atur
perkawinan antara dia dan anakmu. Pokoknya keluarkan dulu mereka dari tempat
persembunyian mereka.” Ucapan ini halus dan membujuk.
Namun Wang Tun sudah cukup mengenal pemuda licik ini, ia menggeleng kepala.
“Hamba tidak tahu di mana mereka ....”
“Eh, itulah mereka!” Tiba-tiba Yang Nam menuding ke kanan, “Wang Sin! Ci Ying,
kalian ke kanan saja?”
Wang Tun terkejut sekali dan menengok ke arah yang ditunjuk oleh tuan muda itu. Ia
tidak melihat apa-apa dan tahulah dia bahwa tuan muda yang licik itu telah
menipunya. Cepat dia berpaling kembali untuk bersiap sedia, akan tetapi terlambat.
Toya di tangan Yang Nam sudah menyerangnya dengan hebat dan sebuah sodokan ke
arah dadanya tak dapat ia hindarkan lagi.
Koleksi Kang Zusi
Tubuhnya terjengkang ke belakang dan pukulan kedua yang amat keras mematahkan
lengannya yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas dan terlempar.
Namun Wang Tun tidak bersambat, hanya memandang dengan mata melotot.
Melihat pandai besi itu sudah roboh tak berdaya, menyerbulah tukang-tukang pukul
itu dengan senjata mereka dan di lain saat mereka sudah memukuli tubuh Wang Tun.
“Bak-bik-buk” mereka menggebuki Wang Tun seperti kelompok anak-anak
menggebuki seekor ular sampai Wang Tun tak dapat bergerak lagi, rebah mandi
darah.
“Tuan muda sungguh gagah perkasa ...” seorang tukan pukul menyeringai dan memuji
Yang Nam.
Akan tetapi jawaban pujian ini adalah sebuah tendangan kaki tuan muda itu yang
membuat si pemuji terjengkang.
“Gentong-gentong nasi tak punya guna. Hayo lekas cari lagi Ci Ying dan Wang Sin.
Biarkan bangkai pandai besi ini membusuk di sini dan dimakan binatang buas.”
Mereka lalu pergi sambil menyeret kawan-kawan yang terluka dalam pertempuran
tadi. Juga Yang Nam setelah meludah ke arah tubuh Wang Tun yang mandi darah,
lalu pergi uring-uringan. Yang Nam dan antek-anteknya tidak tahu betapa sejam
kemudian setelah mereka pergi tubuh yang dikira sudah menjadi mayat itu bergerak
lemah, mengerang perlahan lalu mata yang bengkak-bengkak itu terbuka.
“Wang Sin .... Wang Sin ....” demikian bisik Wang Tun lirih, kemudian dia diam
kembali tak bergerak. Darah menetes turun dari keningnya.
******
Ci Leng tergesah-gesah berjalan menuju ke kuil besar yang menjadi tempat pujaan
seluruh rakyat di daerah itu. Ia membawa sebuah “hata” yaitu sehelai kain selendang
yang menjadi tanda penghormatan dan kebaktian, dan sekeranjang gajih. Hata dan
gajih ini merupakan barang sumbangan yang harus dibawa oleh setiap orang yang
hendak bersembahyang. Tanpa barang-barang itu jangan harap akan dapat memasuki
ruangan kuil. Jadi benda-benda itu merupakan pembuka kunci pintu kuil.
Ketika Ci Leng tiba di luar kuil, di situ sudah banyak terdapat budak-budak yang
berlutut di atas batu-batu lantai di luar kuil. Mereka ini datang untuk minta berkah.
Selain patung-patung di dalam kuil, siapa lagi yang menaruh kasihan kepada mereka?
Siapa lagi yang dapat menolong mereka? Kepada patung-patung inilah para budak itu
berlari untuk minta perlindungan dan minta berkah.
Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di antara pemuja. Batu-batu lantai itu sampai licin
sekali, halus dan di sana sini berlubang saking sering dan banyaknya orang datang
berlutut. Lubang-lubang kecil bekas telapak tangan dan lutut. Sambil berlutut dan
berkali-kali mengangguk-anggukkan kepala, Ci Leng seperti yang lain menggerakgerakkan
bibir membisikkan doa-doa sambil memutar-mutar tasbeh.
Koleksi Kang Zusi
Serombongan pendeta lama yang masih kecil-kecil, di antaranya baru berusia lima
enam tahun, lewat di dekat mereka sambil menggotong ember-ember berisi air. Anakanak
kecil yang berkepala gundul dan berpakaian gerombongan itu dengan susah
payah menggotong air, terhuyung-huyung ke kanan kiri. Mereka ini adalah pendetapendeta
Lama kecil, akan tetapi pada hakekatnya hanyalah budak juga dalam pakaian
Lama dan berkepala gundul.
Mereka bekerja setengah mati, diperas sampai tak kuat lagi untuk melayani para
pendeta Lama yang merupakan “orang suci” di dalam kuil. Anak-anak ini mencuci,
memasak, mencari kayu bakar, mencari air, menyapu yah pekerjaan apa saja mereka
lakukan untuk para pendeta Lama. Kalau para budak hamba dijadikan ternakberbicara
oleh para tuan tanah, adalah kacung-kacung ini diperkuda oleh para pendeta
Lama.
Setelah mengucapkan doa-doa di depan kuil bersama para tamu kuil yang datang
bersembahyang, Ci Leng memasuki halaman kuil di mana orang-orang itu secara
bergiliran menyerahkan kain-kain, harta dan barang sumbangan atau disebut juga
“korban” kepada seorang pendeta Lama yang bertugas untuk menerima barangbarang
berharga itu. Setelah menyerahkan barang sumbangannya, Ci Leng memasuki
bangunan sebelah kiri.
Ia berjalan melalui gang di mana penuh dengan lukisan-lukisan di tembok kanan kiri
lorong, lukisan tentang manusia-manusia lelaki perempuan bertelanjang bulat yang
sedang disiksa dan menderita di dalam neraka. Bermacam-macam lukisan yang
mengerikan, dan cukup mendatangkan rasa takut dalam hati para pengunjung kuil,
sehingga mereka itu takkan berani melakukan dosa-dosa di dalam hidup agar kelak
jangan disiksa seperti dalam lukisan itu?”
Lukisan-lukisan itu betapapun juga merupakan lukisan indah, dan patung-patung yang
tak terbilang banyaknya menghias di sana sini. Akan tetapi sepasang mata Ci Leng
seakan-akan tidak melihat ini semua. Ia langsung menuju ke sebelah bangunan kecil
yang letaknya di ujung kiri, di dekat dapur dan dekat tembok pagar pekarangan kuil.
Inilah ruang kerja di mana Lama-Lama yang ahli dalam membuat patung-patung
bekerja.
“Losuhu .....!” Ci Leng memberi hormat ketika ia melihat seorang hwesio seorang diri
bekerja di dalam ruangan itu.
Hwesio ini usianya sudah lima puluh tahun lebih, wajahnya lembut dan kulit mukanya
putih tak pernah terbakar sinar matahari, agak pucat. Kedua tangannya penuh dengan
lumpur karena ia tengah bekerja, membentuk tanah lihat untuk dijadikan patung. Di
seluruh ruangan itu penuh dengan patung-patung yang sudah jadi, setengah jadi dan
belum jadi. Pakaiannya yang butut penuh dengan kotoran lumpur dan cat.
Sepasang mata yang jernih dan muka yang agak muram itu berseri ketika Gi Hun
Hosiang pendeta Lama itu, memandang kepada Ci Leng.
“Eh, kaukah itu, saudara Ci Leng? Terima kasih bahwa kau tidak melupakan pinceng
dan mau menjenguk pinceng di tempat ini.”
Koleksi Kang Zusi
Akan tetapi pendeta itu menjadi heran dan kaget ketika tiba-tiba Ci Leng menjatuhkan
diri berlutut di depannya, mengangguk-angguk dan berkata dengan suara penuh
permohonan.
“Losuhu yang mulia, tolonglah kami .....”
Gi Hun Hosiang meletakan tanah lempung yang dikerjakannya dan mengangkat
bangun Ci Leng. “Eh, eh ada apakah, saudara yang baik? Sang Buddha telah memberi
jalan kepada semua manusia untuk menolong diri sendiri. Hanya dengan perbuatan
baik orang dapat menolong diri sendiri, tidak ada orang lain dapat menolong kita
terbebas kesengsaraan.”
“Malapetaka telah menimpa keluarga kami, losuhu. Dewa-dewa telah menampakan
kemurkaan kepada kami.” Dengan singkat Ci Leng menceritakan betapa tuan muda
hendak merampas Ci Ying dan betapa gadis itu karena tidak sudi dijadikan selir dan
karena sudah bertunangan dengan Wang Sin, telah melarikan diri membawa pergi
cucu nenek lumpuh.
“Sekarang Wang Sin dicari-cari dan kalau pemuda itu bisa ditangkap tentu akan
disiksa oleh mereka. Oleh karena itu, tolonglah losuhu beri jalan kepada Wang Sin
agar supaya dia bisa melarikan diri dari tempat ini. Malam nanti tentu dia akan datang
ke sini dan memohon perlindungan losuhu.”
“Omitohud ....!” Hwesio itu mengucapkan pujian sambil merangkap kedua tangan di
depan dada. “Tuan Yang dan anaknya terlalu menghumbar nafsu. Apa jadinya kelak
dengan mereka dalam penjelmaan mendatang? Jangan kau khawatir, saudaraku Ci
Leng. Pinceng tak dapat berbuat banyak akan tetapi kalau Wang Sin berada di sini,
tentu ia akan terlindung dan pinceng akan berusaha mencarikan daya upaya .....”
Ci Leng berlutut lagi menghaturkan terima kasih. “Keluarlah supaya jangan
menimbulkan kecurigaan. Semoga Sang Buddha melindungimu,” kata pendeta itu
sambil merangkap kedua tangan.
Ci Leng lalu keluar dari ruangan itu dan Gi Hun Hosiang berkemak-kemik membaca
doa, lalu disambungnya dengan kata-kata lirih. “Aku hendak membuatkan sebuah
patung Sang Buddha yang indah dan besar, patung emas yang akan menjadi
kebanggaan kuil ini. Itulah pekerjaanku terakhir setelah itu akan bersihlah aku dari
pada dosa-dosaku. Akan tetapi sebagai tambahan baik juga kutolong anak-anak yang
patut dikasihani itu ....” Kembali Hwesio yang baik hati dan saleh ini membaca
mantra sebelum ia melanjutkan pekerjaannya membuat patung.
Baru saja Ci Leng keluar dari ruangan pembuatan patung dan berjalan sampai di
lorong: “hukuman di neraka,” tiba-tiba ia dikejutkan oleh bentakan parau. “Hemm,
kau di sini?”
Ketika Ci Leng menengok, ia melihat Thouw Tan Hwesio, seorang Buddha hidup,
seorang pendeta besar yang mengepalai kuil itu. Thouw Tan Hwesio berjubah kuning
bersih, bertopi tinggi dan wajahnya keren sekali. Tubuhnya tinggi besar dan lengan
tangannya berbulu. Sepatunya juga dilapis besi dan sepasang matanya yang bundar itu
Koleksi Kang Zusi
kini menatap wajah Ci Leng yang ketakutan. Ci Leng cepat-cepat menjatuhkan diri
berlutut memberi hormat kepada manusia dewa ini.
“Hemmm, Ci Leng. Keluargamu telah membuat kacau. Anakmu yang tak tahu malu
minggat bersama setan cilik Wang Sin. Calon besanmu Wang Tun memberontak dan
membunuh beberapa orang penjaga sebelum ia sendiri terbunuh. Kau yang dilumuri
dosa-dosa keluargamu sekarang berani menginjak lantai kuil ini? Benar-benar kau
mengotori kuilku. Hayo, keluar cepat sebelum aku memanggil halilintar untuk
menyambarmu menjadi abu!”
Ci Leng dengan muka pucat, bukan hanya takut mendengar ancaman ini namun juga
terkejut mendengar tentang kematian Wang Tun, cepat-cepat ia keluar dari kuil itu.
Akan tetapi baru saja sampai di luar kuil, beberapa orang antek tuan tanah telah
menyergapnya, mengikatnya dan menyeretnya ke gedung tuan tanah Yang Can.
“Jahanam keparat tak kenal budi!” datang-datang ia dimaki oleh tuan tanah Yang
Can. “Semejak belasan tahun kau dan anakmu dapat hidup karena ada aku yang
menolong, setiap hari kau dan anakmu yang keparat itu makan dan minum dari
pemberianku. Dan semua ini kau balas dengan penghinaan hari ini?” Muka Yang Can
merah saking marahnya.
“Ampun tuan besar. Hamba sekali-kali tidak merasa telah melakukan penghinaan,”
bantah Ci Leng.
“Plakk!” tangan Yang Nam menampar pipi orang tua itu. Karena Yang Nam adalah
seorang pemuda ahli silat, tamparannya keras dan seketika darah menyembur dari
mulut Ci Leng karena beberapa buah giginya copot. Matanya berkunang-kunang, dan
terpaksa ia meramkan mata.
“Iblis tua, pintar kau bicara!” maki Yang Nam. “Kalau bukan kau yang mengaturnya,
mana bisa anakmu, seorang gadis muda, berani melarikan diri. Hayo mengaku di
mana sembunyinya Ci Ying dan Wang Sin?”
“Hamba tidak tahu .... hamba tidak tahu .....”
Beberapa kali pukulan dan tendangan jatuh di tubuhnya, akan tetapi Ci Leng hanya
mengucapkan, “Hamba tidak tahu .... hamba tidak tahu .....” Sampai akhirnya ia tidak
bisa mengeluarkan suara lagi karena telah pingsan.
“Jangan bunuh dia, kau merugikan kita saja,” bentak Yang Can. “Bawa dia pergi,”
perintahnya kepada para tukang pukul. “Suruh bekerja keras dan ikat kakinya dengan
rantai supaya tidak mencoba untuk lari.”
Tubuh Ci Leng yang sudah lemas itu diseret keluar dari halaman gedung tuan tanah
Yang Can.
******
Wang Sin memang memiliki tubuh yang sangat kuat. Sehari penuh tubuhnya
terendam di dalam air sungai tak sekejap pun ia berani memperlihatkan kepala ke atas
Koleksi Kang Zusi
permukaan air. Tak perlu diceritakan lagi penderitaannya selama sehari itu, direndam
di dalam air yang amat dingin. Beberapa kali ia hampir tidak kuat menahan, hampir
pingsan dan hasrat untuk naik ke dalam udara segar membuat ia hampir tak kuat
menahan lagi. Namun kekerasan hatinya memang luar biasa. Dengan hanya
menghisap hawa dari jerami panjang yang ia gigit, ia dapat bertahan menyelam
sampai sehari.
Setelah kegelapan malam menembus air, baru ia berani muncul. Paru-parunya serasa
akan meledak ketika tiba-tiba ia dapat menghisap hawa udara sepuasnya, tidak
melalui jerami kecil-kecil itu. Setelah melihat bahwa dipinggir sungai tidak ada orang
menjaga, ia berenang ke pinggir, mendarat dan sambil menahan hawa dingin yang
makin meresap ke dalam tulang, ia menyusup ke tempat gelap, hendak menuju ke kuil
untuk menemui Gi Hun Hosiang sebagaimana telah dipesan oleh Ci Leng.
Tiba-tiba ia merandek dan cepat bersembunyi ke balik batang pohon. Ia mendengar
suara berkeresekan, lalu terdengar keluhan perlahan sekali disusul suara bisikan,
“Wang Sin .....”
“Ayah .....!” Wang Sin mengenal suara ayahnya dan cepat menghampiri. Di lain saat
ia telah memangku ayahnya yang ternyata lebih baik mati dari pada hidup, dengan
tubuh rusak berlumur darah dan hanya hati dan semangat membaja saja yang dapat
menahan nyawa itu belum meninggalkan raga. Malah Wang Tun dengan kemauan
keras tiada bandingnya lagi, berhasil merangkak menuruni bukit dan sengaja
mencegat di situ untuk menemui anaknya untuk memberi pesan terakhir.
“Syukur .... Dewata masih kasihan kepadaku ....Wang Sin ..... dengar baik-baik .....” Ia
terengah-engah. Sukar sekali kata-kata keluar dari kerongkongannya yang sudah
tersumbat darah.
“Tuan muda .... dia curang ...Wang Sin, kalau kau bisa lari ..... kelak pergilah cari
guruku .... Cin Kek Tosu .... di Kun-lun-san .....kelak .... tolonglah para budak .....
tolonglah mereka, bebaskan dari cengkeraman tuan tanah .... ahhh ... selamat ...” Dan
kakek yang kuat ini akhirnya tak dapat menahan nyawanya yang melayang
meninggalkan raganya.
Wang Sin mengepal tinju. Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia mengamuk,
membalas dendam ini dan kalau mungkin membunuh tuan muda Yang Nam dan yang
lain-lain. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman getir membuat pemuda ini dapat
menahan nafsu dan dapat berpikir panjang. Tiada gunanya, pikirnya. Ayahnya yang
gagah perkasa sekalipun tak dapat menang.
Apalagi dia yang hanya memiliki kepandaian terbatas sekali. Ia harus dapat keluar
dari neraka ini, harus mempelajari kepandaian dan kelak kembali untuk membalas
dendam. Ah, tidak, ayahnya lebih betul. Bukan semata-mata membalas dendam,
melainkan yang terutama sekali membebaskan saudara-saudaranya para budak.
“Ayah, ampunkan anakmu tidak dapat merawatmu sebagaimana mestinya.” Dengan
airmata bercucuran saking sedih melihat mayat ayahnya rebah tak terawat atau
terurus, ia terpaksa meninggalkan mayat itu di situ kalau tidak mau tertangkap oleh
kaki tangan tuan tanah.
Koleksi Kang Zusi
Wang Sin mencari jalan di dalam gelap dan akhirnya ia berhasil memasuki kuil. Tak
seorangpun kaki tangan tuan tanah menjaga tempat ini. Siapa mengira bahwa pemuda
yang mereka kira sudah melarikan diri bersama Ci Ying itu berani bersembunyi di
dalam kuil?
Perhitungan Ci Leng memang tepat. Tempat sembunyi di kuil itu baik sekali.
Seandainya Wang Sin mengikuti jejak Ci Ying, melarikan diri menggunakan perahu,
tentu ia akan tertangkap karena para antek tuan tanah sudah menjaga sampai jauh di
bawah.
Gi Hun Hosiang menerimanya dengan ramah, tanpa banyak suara. Ternyata hwesio
ini sudah membuat persiapan lebih dulu karena begitu Wang Sin masuk ia lalu
mengambil satu stel pakaian hwesio berikut topinya yang tinggi.
“Buka pakaianmu dan pakai ini,” perintahnya.
Wang Sin juga tidak banyak cakap lagi, segera menanggalkan pakaian budak yang
butut dan melemparkan pakaian ini di sudut ruangan. Kemudian ia mengenakan
pakaian hwesio itu dan tak lama kemudian ia sudah menjadi seorang pendeta Lama.
“Kau sembunyi di sini dulu, pinceng akan memeriksa keadaan di luar,” kata hwesio
itu kemudian, lalu ia pergi ke luar dengan tenang.
4. Murid Cheng Hoa Suthai.
Wang Sin yang ditinggal seorang diri di ruangan penuh patung itu, merasa seram
juga. Semenjak kecil ia sudah dijejali dongeng dan kepercayaan bahwa patung-patung
itu menjadi tempat tinggal para roh suci, para dewa yang menghubungi manusia
melalui patung. Ia merasa seram dan takut, akan tetapi ketika melihat sebuah patung
Dewi Kwan Im yang berwajah cantik sekali dan membayangkan budi luhur.
Ia cepat berlutut di depan patung ini, bersujud dan merasa aman. Ia tahu bahwa
patung ini adalah pujaan Ci Ying dan patung yang mempunyai wajah demikian
lembut tak mungkin jahat. Tentu Ci Ying akan mendapat perlindungannya.
Menjelang tengah malam, Gi Hun Hosiang kembali. Melihat Wang Sin berlutut
memuja patung Dewi Kwan Im, ia mengangguk-angguk.
“Kau akan selamat,” gumamnya. Setelah Wang Sin berdiri, ia berkata lagi, lirih akan
tetapi bersungguh-sungguh. “Kau pergilah ke kandang kuda. Penjaganya sudah pulas
semua terkena obatku. Ambillah seekor kuda yang baik, kemudian tuntun kuda itu ke
luar terus ke tempat sepi. Kemudian kau boleh mulai dengan perjalananmu. Ke mana
tujuanmu pertama?”
“Menyusul Ci Ying, di mana air sungai Yalu-cangpo berbelok ke selatan,” jawab
Wang Sin dengan suara tetap.
“Baik, akan tetapi kalau sudah bertemu, harus pergi ke utara. Pergilah ke Kun-lunsan.”
Koleksi Kang Zusi
“Memang ayah memesan supaya teecu pergi ke Kun-lun-san mencari guru ayah, Cin
Kek Tosu.”
Gi Hun Hosiang mengangguk-angguk. Ia merogo saku dan mengeluarkan segumpal
emas. “Benda ini di dunia luar dihargai orang. Bawalah untuk bekal. Nah
berangkatlah, Wang Sin!”
Pemuda itu menghaturkan terima kasih, lalu menyelinap ke luar dengan hati-hati,
terus menuju ke kandang kuda milik tuan tanah. Tiga puluh ekor lebih kuda yang
berada di situ, akan tetapi Wang Sin yang sudah kenal baik kuda-kuda itu tahu harus
memilih yang mana. Ia pilih kuda berbulu putih tunggangan tuan tanah Yang Can
pribadi. Inilah kuda terbaik dan terkuat.
Karena kuda-kuda itu sudah mengenal Wang Sin, mereka tidak menimbulkan gaduh,
bahkan kuda putih yang dituntun ke luar juga menurut saja. Pemuda itu terus
menuntunnya dengan hati-hati sampai mereka berada jauh dari situ, baru ia melompat
dan mengaburkan kuda itu, jauh dari sungai, akan tetapi terus ke timur menurutkan
aliran sungai Yalu-cangpo.
Menjelang pagi Wang Sin masih terus larikan kudanya, kini sudah jauh sekali
meninggalkan perkampungan itu. Hatinya lega dan girang seperti seekor burung yang
terlepas dari sangkar. Akan tetapi kalau ia teringat akan nasib ayahnya, ia menjadi
sedih sekali.
“Aku akan kembali ..... aku akan kembali ....” katanya kepada diri sendiri, penuh
kebencian kepada tuan tanah dan antek-anteknya. Teringat akan ini, kedukaannya
lenyap dan ia menggigit bibir mengepalkan tinju, terus membedal kudanya lebih cepat
lagi, menyongsong matahari di timur, menyongsong kemerdekaan.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa bukan hanya ayahnya dan ayah Ci Ying saja yang
menjadi korban pelariannya. Pada keesokan harinya, gegerlah tuan tanah dan kaki
tangannya ketika melihat bahwa kuda milik tuan tanah telah lenyap dicuri orang.
“Tentu si bedebah Wang Sin, tak bisa lain orang!” maki tuan tanah Yang Can sambil
membanting-banting kaki dengan muka merah. “Kalian anjing-anjing tolol!” makinya
kepada semua anteknya yang menundukkan kepala. “Masa puluhan orang tidak
mampu menangkap seorang anak-anak seperti Wang Sin. Kalian melapor tidak ada,
sudah minggat dan lain-lain obrolan kosong. Ternyata malam tadi ia masih berada di
sini bahkan dapat mencuri kudaku. Setan!”
“Tuan besar, keparat itu dapat bersembunyi di sini, tentu ada pembantunya. Kalau
tidak ada orang yang membantunya, kiranya tak mungkin dia bisa bersembunyi,”
seorang di antara antek-anteknya memberanikan diri.
Yang Can berpikir. Betul juga pendapat ini. Akan tetapi pikiran ini malah
membangkitkan marahnya. “Tentu ada budak pengkhianat yang menyembunyikan di
gubuknya. Kalian semua buta barangkali, tidak dapat melihat dia bersembunyi di
gubuk para budak!”
Koleksi Kang Zusi
Tukang pukul yang mengajukan pendapat itu terkejut. Celaka, pendapatnya malah
memukul mereka sendiri.
“Tidak mungkin tuan besar, tidak mungkin. Hamba sekalian teliti, malah semalam
suntuk meronda di sekitar gubuk para budak dan di pinggir kali, sepanjang lembah
sungai.”
“Hemm, kalau begitu di mana sembunyinya?”
“Hamba rasa .... kalau tidak salah dugaan hamba, tentu di sekitar kuil. Di sanalah
yang tidak terjaga.”
Yang Can sadar, namun penuh kesangsian. Para pendeta Lama boleh dibilang semua
membantunya. Mungkinkah Wang Sin dapat bersembunyi di sana? “Kita selidiki ke
kuil!” akhirnya ia berkata dan beramai-ramai para anteknya mengikuti majikan
mereka ini menuju ke kuil pada pagi hari itu.
Thouw Tan Hwesio, pendeta Lama jubah kuning ketua kuil itu, mengerutkan kening
dan menggerak-gerakkan alisnya yang tebal ketika ia mendengar penuturan tuan tanah
Yang Can.
“Hemm, pinceng sudah menaruh curiga ketika kemaren Ci Leng berkeliaran di kuil.
“Jangan-jangan Gi Hun .....” Hwesio tinggi besar ini bangkit dari tempat duduknya.
“Harap duduk dulu, biar pinceng pergi menyelidiki.” Kemudian dengan langkah lebar
hwesio tua yang masih kuat itu memasuki kuil, langsung menuju ke ruangan
pembuatan patung, tempat kerja Gi Hun Hosiang.
Gi Hun Hosiang menyambut kedatangan pendeta kepala itu dengan tenang dan
hormat. Ia memberi hormat dan melanjutkan pekerjaannya yang dimulai pagi-pagi
sekali. Thouw Tan Hwesio pura-pura melihat-lihat patung, pura-pura memeriksa
pekerjaan hwesio bawahannya itu, akan tetapi matanya yang besar itu melirik ke sana
ke mari. Akhirnya ia melihat setumpuk pakaian butut, pakaian Wang Sin yang
dilemparkan di pojok. Ia menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia menghempaskan
kakinya ke atas lantai sambil membentak.
“Gi Hun. Apa yang telah kau lakukan malam tadi?”
“Apa yang dimaksudkan twa-suhu yang mulia?” balas tanya Gi Hun Hosiang penuh
ketenangan karena ia memang sudah siap sedia memikul semua akibat bantuannya
kepada Wang Sin.
“Ha! Kau masih berani berpura-pura? Kau penjahat yang masih bodoh, melakukan
perbuatan terkutuk tanpa membersihkan bekas kejahatanmu. Pakaian kotor siapa ini?”
“Itu bekas pakaian Wang Sin.”
Thouw Tan Hwesio tercengang juga mendengar pengakuan terang-terangan ini.
“Keparat, kau telah membantu seorang penjahat melarikan diri dan mencuri kuda, kau
telah membikin kotor kuil ini. Manusia tak tahu budi. Ketika kau datang keleleran,
Koleksi Kang Zusi
bukankah pinceng yang menolongmu dan memberi pekerjaan serta makan dan tempat
tinggal? Kiranya kau berkhianat, membantu orang jahat dan memalukan pinceng!”
“Twa-suhu yang baik, teecu tidak pernah melakukan pekerjaan jahat.”
“Keparat, kau telah membantu Wang Sin melarikan diri. Apa kau mau bilang itu tidak
jahat?”
“Tidak twa-suhu. Teecu mentaati pelajaran dari Sang Buddha yang menghajarkan kita
harus mengutamakan keadilan dan prikebajikan. Wang Sin adalah seorang budak
yang baik, seorang yang hidupnya penuh derita dan karenanya patut dikasihani. Akan
tetapi, oleh keganasan orang lain, ayahnya dibunuh, tunangannya dirampas dan dia
sendiri kalau tidak dapat melarikan diri tentu dibunuh pula. Teecu membantu dia
terlepas dari pada ancaman angkara murka, bukankah teecu berarti mengutamakan
keadilan dan kebajikan?”
“Tikus busuk! Dasar kau murid tosu gila. Kau hanya mengotorkan kuilku. Kau harus
dihukum mati!” Sambil berkata demikian Thouw Tan Hwesio yang sudah marah
sekali menyerang Gi Hun Hosiang dengan toyanya yang tadi memang sudah ia bawabawa.
Gi Hun Hosiang berlaku cepat, mengelak sambil berkata, suaranya keren.
“Thouw Tan Hwesio, kau lah yang tersesat. Ucapan dan sikapmu ini menyatakan
bahwa kau bukanlah murid Buddha yang baik.”
“Jahanam!” Thouw Tan Hwesio menyerang lagi lebih hebat, menghantamkan toyanya
ke arah kepala Gi Hun Hosiang. Gi Hun Hosiang kembali mengelak, dan “prakkkk!”
sebuah patung Buddha yang hampir jadi hancur berkeping-keping terkena pukulan
toya.
“Kau hwesio sesat! Berani kau menghancurkan patung suci, hasil jerih payahku!” Gi
Hun Hosiang berseru marah sambil menyambar sebuah pisau yang biasa ia
pergunakan untuk membuat patung. Terjadilah pertempuran yang seru di ruangan itu.
Toya di tangan Thouw Tan Hwesio menyambar-nyambar ganas dan beberapa buah
patung hancur lagi terkena angin pukulan toya.
Repot juga Gi Hun Hosiang menghadapi serangan in. Ia adalah seorang murid Kunlun,
murid dari Cin Kek Tosu seorang tokoh Kun-lun, akan tetapi dibandingkan
dengan Thouw Tan Hwesio, ia masih kalah jauh, baik dalam ilmu silat maupun dalam
kekuatan. Ia masih mencoba untuk membela diri, namun akhirnya ia mengakui
keunggulan Thouw Tan Hwesio ketika toya yang berat itu tepat menangkis pisaunya
sampai terlempar disusul oleh sambaran toya yang meremukkan kepalanya. Nyawa Gi
Hun Hosiang melayang pergi tanpa mulutnya sempat bersambat lagi.
Pada saat itu Yang Can dan Yang Nam mendengar suara ribut-ribut, menyusul ke
dalam dan melihat Thouw Tan Hwesio berdiri dengan muka merah dan memandang
mayat Gi Hun Hosiang.
Koleksi Kang Zusi
“Pinceng kehilangan ahli patung yang pandai. Apa boleh buat, dia telah berkhianat
dan membantu larinya Wang Sin. Akan tetapi, pinceng akan menyuruh beberapa
orang hwesio mengejarnya sampai dapat. Tak salah lagi tentu keparat itu lari ke Kunlun-
san.”
Setelah diketahui bahwa yang membantu Wang Sin melarikan diri adalah Gi Hun
Hosiang yang telah dibunuh, Yang Can tidak mengganggu para budak lainnya,
kecuali Ci Leng yang semenjak hari itu makin celaka hidupnya, disuruh bekerja berat
sampai jauh malam, dikurangi makannya sehingga orang tua ini menjadi kurus dan
pucat. Namun ia masih mempertahankan hidupnya karena di dalam hatinya, Ci Leng
menaruh kepercayaan akan kembalinya Wang Sin dan Ci Ying untuk membalas
dendam, untuk membebaskan para budak.
******
Kalau orang sudah menjelajah daerah Tibet, baru ia akan mengerti mengapa para
budak yang hidupnya diperas oleh para tuan tanah, jarang ada yang berani melarikan
diri. Selain bahaya besar yang merupakan kaki tangan tuan tanah yang tentu akan
mengejar mereka dan menyiksa mereka secara keji kalau mereka tertangkap kembali,
dan ancaman bahaya dari tuan tanah-tuan tanah di lain daerah yang tentu akan
menggencet hidup mereka seperti tuan-tuan tanah lainnya, juga daerah yang amat
sukar itu merupakan ancaman bagi hidup para pelarian.
Daerah Tibet sebagian besar terdiri dari bukit-bukit salju, padang rumput yang amat
luas, hutan-hutan di sana sini. Orang akan mudah sesat jalan dan dalam jarak ratusan
kilometer takkan bertemu dengan manusia. Selain bahaya kelaparan di jalan, juga
masih banyak bahaya mengancam, seperti binatang buas dan lain-lain.
Hanya oleh kenekatan luar biasa Ci Ying dapat mengemudi perahunya yang hanyut
oleh air sungai Yalu-cangpo. Baiknya Wang Sin membekali seekor domba yang dapat
ia ambil air susunya untuk Wang Tui, bayi yang ia bawa lari itu. Kalau tidak, tentu
bayi itu akan mati kelaparan. Baginya sendiri, daging domba yang ia bawa cukup
untuk menyambung nyawanya.
Siang malam perahunya bergerak terus ke depan, makin jauh meninggalkan
kampungnya yang telah merupakan neraka baginya itu. Ci Ying berlaku tabah dan ini
semua karena ia mempunyai harapan akan tersusul oleh Wang Sin. Kalau saja ada
pemuda itu di sisinya, tentu akan lebih besar dan tabah lagi hatinya.
Pada hari ke lima ia sudah mendekati belokan sungai Yalu-cangpo yang mengalir ke
selatan. Malam itu perahunya bergerak perlahan karena aliran sungai di daerah ini
tidak cepat. Wang Tui sudah tidur nyenyak setelah diberi air susu domba yang kini
kelihatan agak kurus karena kekurangan rumput segar.
Ci Ying duduk di kepala perahunya, memandang ke sekeliling. Hatinya agak gentar
juga ketika perahunya memasuki daerah berhutan yang nampak mengerikan. Ia
memperhatikan sungai terus menerus, mengharap-harap melihat sungai itu berbelok
untuk mendarat dan menanti Wang Sin di tempat itu.
Koleksi Kang Zusi
Malam itu indah sekali. Bulan purnama sudah muncul dan menyulap keadaan di
sekitar dan di sepanjang kanan kiri sungai menjadi pemandangan alam yang luar biasa
indahnya. Di permukaan air tampak bulan dan pohon-pohon yang menjadi bayangbayang
mengagumkan.
Tiba-tiba Ci Ying menahan napas wajahnya berubah pucat sekali. Anehnya, pada saat
itu Wang Tui menangis, agaknya digigit nyamuk, Ci Ying cepat mengangkat bayi itu
dan dipeluknya erat, disuruh diam.
Yang mengejutkan hatinya adalah munculnya bayangan orang di pantai sebelah kiri.
Orang itu agaknya sudah melihat perahu kecil itu dan seorang di antara mereka
berseru, “Hai, siapakah yang berperahu pada malam hari membawa anak kecil itu?”
Ci Ying tidak berani menjawab, takut sekali karena mengira bahwa mereka tentulah
kaki tangan tuan tanah yang berhasil mengejarnya. Otaknya sudah diperas untuk
mencari jalan melarikan diri dari mereka. Akan tetapi bagaimana? Ia melihat mereka
bertiga meloncat ke dalam sebuah perahu dan mendayung perahu itu ke tengah.
Ci Ying menaruh bayi yang menangis itu, lalu dengan kedua tangannya ia mendayung
sekuat tenaga untuk melarikan diri. Namun, perahu yang didayung oleh tiga orang itu
cepat sekali meluncur mendekati perahunya, malah kini melampauinya dan
menghadang di tengah, dan tiga orang laki-laki itu memberi isyarat supaya berhenti.
“Seorang perempuan muda!” seru seorang di antara mereka, heran dan terkejut. Ci
Ying menjadi lega hatinya. Bukan, melihat pakaian dan sikap mereka, tiga orang ini
bukanlah kaki tangan tuan tanah, biarpun mereka itu orang-orang Tibet, mungkin
pemburu-pemburu binatang. Ia tidak takut lagi. Biasanya, bangsanya sendiri adalah
orang-orang ramah dan hampir tak pernah terjadi ada orang lelaki mengganggu
wanita, kecuali tentu saja, kaki tangan tuan-tuan tanah yang merupakan serigalaserigala
liar.
“Kawan-kawan harap memberi jalan kepadaku. Biarkan aku meneruskan perjalanan,”
katanya ramah.
Bulan purnama memancarkan cahayanya sepenuhnya ke wajah Ci Ying, membuat
tiga orang itu dapat melihat bahwa dia adalah seorang gadis Tibet yang cantik dengan
bentuk tubuh yang menarik.
“Eh, bukankah ini gadis bernama Ci Ying yang melarikan diri dari tuan besar Yang
Can?” tiba-tiba seorang di antara mereka berseru.
Kekagetan Ci Ying seperti pada saat itu ia disambar geledek mendengar seruan itu,
sampai ia menjadi bengong terbelalak memandang mereka tanpa dapat mengeluarkan
suara lagi.
“Betul, tentu ini anaknya. Ah, pantas saja tuan muda Yang Nam itu mau
mengambilnya sebagai selir. Kiranya begini cantik. Aha, kalau kita tangkap dan bawa
kepada tuan muda Yang Nam, tentu kita mendapat hadiah besar!” kata orang kedua.
Koleksi Kang Zusi
“Apa tidak baik antarkan kembali kepada tuan tanah Yang Can? Tentu kita dihadiahi
....” kata yang ke tiga.
“Ah, keliru. Bunga begini cantik amat dibutuhkan oleh tuan tanah Nam, mengapa
harus jauh-jauh diantar kepada tuan tanah Yang Can?”
Mendengar percakapan mereka, makin takutlah hati Ci Ying. Tidak salah lagi, mereka
ini tentulah antek-antek tuan tanah lain yang tidak kalah kejam dan jahat dari pada
Yang Can. Akan tetapi ia masih mencoba dan meletakkan bayi itu di atas geladak
perahu.
“Saudara-saudara harap kasihani aku yang berusaha melarikan diri dari neraka,
melarikan diri dari tindasan tuan tanah yang selalu menggencet kita semua para
budak. Harap saudara lepaskan aku dan aku akan selalu berdoa kepada Dewi Putih
Sgrol-ma untuk kalian bertiga .....”
“Ha-ha-ha, berkah Dewi dan Dewa tidak akan sebaik berkah tuan tanah berupa
pakaian dan bahan makanan anak manis. Lebih baik kau menurut saja, menjadi selir
tuan Nam. Dia tentu akan membuat hidupmu serba cukup dan bahagia.”
Ci Ying tidak dapat mencari jalan untuk melarikan diri. Lebih baik mati, pikirnya. Ia
melarikan diri karena tidak sudi diselir tuan muda Yang Nam, masa sekarang harus
menyerahkan diri untuk diselir oleh tuan tanah lain yang selama hidupnya belum
pernah ia lihat? Lebih baik mati! Cepat sekali ia lalu melompat dari perahu dan
membuang diri ke dalam sungai.
“Setan, dia membuang diri ke sungai!” seru seorang di antara tiga orang laki-laki yang
ternyata adalah orang-orang Tibet yang biarpun bukan antek-antek tuan tanah namun
mereka itu adalah sebangsa keliaran yang pekerjaannya memburu atau berdagang atau
melakukan apa saja untuk mendapat hasil, termasuk pekerjaan jahat merampok atau
melakukan sesuatu untuk tuan tanah-tuan tanah dan mendapatkan upah.
Melihat Ci Ying melempar diri ke air, dua orang di antara mereka cepat melepas
pakaian dan terjun berenang dan tak lama kemudian mereka telah dapat menangkap
dan menaikkan ke perahu mereka tubuh Ci Ying yang sudah pingsan. Mereka
tertawa-tawa dan sama sekali tidak perdulikan lagi kepada Wang Tui, bayi yang
menangis menjerit-jerit terbawa oleh perahu yang sudah hanyut lagi ke depan.
Ketika siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di atas kuda dipeluk oleh
seorang di antara tiga orang penculiknya yang tertawa-tawa gembira, Ci Ying
merontah dan menangis, menjerit-jerit minta dilepaskan. Namun segala usahanya siasia
belaka, malah membuat gelak tiga orang itu makin menjadi. Ci Ying memaki-maki
saking marahnya.
“Ha-ha-ha, sekarang kau memaki-maki kami. Akan tetapi kelak kalau sudah menjadi
nyonya besar, kau akan bersyukur kepada kami dan memberi hadiah. “Ha-ha-ha!”
Pada saat itu, tiba-tiba mereka menjadi kaget dan menghentikan kuda mereka. Entah
dari mana datangnya, tahu-tahu di depan mereka. Di tengah jalan menghadang berdiri
seorang wanita tua berpakaian putih seperti pendeta, wajahnya bersih dan matanya
Koleksi Kang Zusi
bersinar terang, usianya kurang lebih lima puluh tahun sedangkan kedua tangannya
memegang seuntai tasbeh dan sebuah kebutan warna merah.
Tiga orang itu adalah orang-orang kasar yang tidak takut apapun juga, akan tetapi ada
sesuatu pada diri nenek ini yang membuat mereka tidak berani berlaku sembrono.
Mereka adalah orang-orang yang percaya akan tahyul, maka munculnya nenek ini
membuat mereka selain kaget dan heran, juga serem di hati. Apalagi nenek ini
berpakaian pendeta, golongan orang yang mereka pandang tinggi.
“Nenek tua, harap minggir agar jangan tertubruk kuda,” kata seorang di antara
mereka.
“Akan tetapi nenek itu tidak mau minggir, malah memandang tajam ke arah Ci Ying.
“Kalian mau apa dengan perempuan muda itu?” tanyanya, dalam bahasa Tibet yang
agak kaku tapi cukup jelas.
Tiga orang itu ketika mendengar suara ini, berkurang rasa hormat mereka karena
maklum bahwa nenek ini adalah bangsa Han dari timur dan karenanya tak mungkin
merupakan pendeta suci titisan para dewi. Orang yang memeluk Ci Ying tertawa
sambil menjawab.
“Ha-ha, perempuan ini adalah biniku yang bandel, tidak mau diajak pulang.”
Ci Ying merontah dan berteriak, “Bohong! Mereka ini orang-orang jahat yang
menculikku, hendak menjualku kepada tuan tanah ....” Ci Ying tak dapat bicara terus
karena tangan yang lebar dari orang itu menutupi mulutnya.
Sepasang mata nenek itu yang tadinya bening dan lembut, kini menyinarkan
pandangan tajam berapi. Mukanya yang putih menjadi kemerahan dan ia membentak
nyaring. “Keparat-keparat jahanam, di tempat sesunyi ini masih ada saja manusia
berhati binatang! Lepaskan dia!”
Akan tetapi tiga orang ini mana mau menurut? Terhadap orang-orang kuat belum
tentu mereka takut, apalagi menghadapi seorang nenek tua yang lemah? Yang paling
depan tertawa, menggerakkan kudanya sambil berkata, “Kau nenek bawel, tidak mau
minggir jangan menyesal kalau mampus terinjak kuda!”
Kudanya tersentak maju, akan tetapi tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan orang
yang menunggang kuda itu terguling roboh dari atas kudanya yang lari ketakutan ke
kanan. Ketika kedua orang kawannya memandang, ternyata orang itu sudah tak
bernapas lagi, mati dengan mata mendelik dan lidah keluar!
Bukan main herannya mereka. Nenek itu tidak terlihat menggerakkan tangan,
bagaimana kawannya bisa tewas secara demikian mengerikan? Akan tetapi
kemarahan mereka melebihi keheranan itu dan serentak orang kedua maju sambil
memaki. “Siluman dari mana berani kurang ajar?”
Untuk kedua kalinya terdengar pekik mengerikan dan sekarang karena orang ketiga
memandang penuh perhatian, ia melihat nenek itu menggerakkan kebutannya dan
Koleksi Kang Zusi
ujung kebutan merah itulah yang mengenai dada kawannya yang terguling sambil
menjerit dan tewas di saat itu juga. Gerakannya itu demikian cepat dan lemah
sehingga hampir tidak kelihatan.
Orang kedua juga tewas seketika itu juga. Sebelum orang ketiga yang menjadi pucat
itu dapat bergerak, nenek lihai ini sudah menggerakkan tubuh ke depan, tasbehnya
bergerak berbareng dengan kebutannya. Orang yang memeluk tubuh Ci Ying sudah
mencabut golok dan mencoba untuk menangkis tasbeh.
Namun goloknya terlepas dan tasbeh terus menimpa kepalanya. Terdengar suara
“prakk!” dan orang inipun terguling tak bernyawa lagi dengan batok kepala retakretak.
Adanya kebutan itu telah membelit tubuh Ci Ying dan tahu-tahu gadis ini telah
melayang turun dari kuda.
Kalau tidak mengalami sendiri, mungkin Ci Ying takkan mau percaya. Tak mungkin
ada manusia, apalagi wanita sesakti itu, kecuali kalau seorang dewi yang menjelma
menjadi manusia. Dewi! Ah, nenek itu memang masih kelihatan cantik dan kulitnya
putih. Tidak salah lagi, dia tentulah Dewi Putih Sgrol-ma! Serta merta Ci Ying yang
dipengaruhi oleh jalan pikirannya yang sudah penuh ketahyulan itu menjatuhkan diri
berlutut di depan nenek itu sambil berkata.
“Dewi yang mulia, terima kasih atas pertolongan Dewi. Harap Dewi sudi menolong
Wang Tui yang terbawa hanyut oleh perahu di sungai. Dewi tolonglah segera ....!”
Nenek itu memang kurang pandai bahasa Tibet. Ia tidak tahu apa yang dimaksudkan
oleh gadis itu menyebut-nyebutnya Dewi Sgrol-ma segala macam. Ia tidak tahu
bahwa ia dianggap Kwan Im Pousat oleh gadis itu.
“Aku bukan Dewi, jangan ngaco!” bentaknya dan suaranya berubah keren galak.
“Juga aku tidak sudi menolong orang lain. Kalau ia hanyut, biarkan hanyut. Masa
bodoh!”
Kaget sekali Ci Ying mendengar ini. Betapa jauh bedanya dengan tadi. Tadi nenek itu
menolongnya, mengapa sekarang bisa mengeluarkan kata-kata begitu kejam dan tidak
mau menolong Wang Tui?
“Nenek budiman, tolonglah dia. Wang Tui masih bayi, dia tadi bersamaku di perahu
sampai aku diculik oleh penjahat dan bayi itu dibiarkan hanyut di dalam perahu.
Kasihanilah dia, dia anak baik ....” ia memohon lagi, bingung teringat nasib Wang
Tui.
“Hu, anak baik? Tidak ada orang baik di dunia ini. Yang baik hanya kita sendiri.
Tidak usah kau banyak ribut, aku bukan orang yang biasa diperintah. Kau bernama
siapa dan dari mana? Bagaimana kau bisa diculik orang-orang rendah ini?”
Biarpun bingung sekali karena nenek itu tidak mau menolong, Ci Ying terpaksa
menjawab dengan singkat. “Aku bernama Ci Ying, seorang budak yang melarikan diri
karena hendak dipaksa menjadi selir tuan tanah. Nenek yang baik kalau kau tidak mau
menolong Wang Tui, biarlah aku mencoba untuk menolongnya.”
Koleksi Kang Zusi
Setelah berkata demikian, Ci Ying lalu lari secepatnya menuju ke sungai kembali
untuk mengejar perahu yang hanyut. Akan tetapi baru saja ia melangkah beberapa
tindak, tiba-tiba pinggangnya terlibat sesuatu dan ia tidak dapat maju lagi. Ternyata
kebutan di tangan nenek itu telah melibat pinggangnya.
“Berhenti kau!” bentak nenek itu, “Kau berjodoh untuk menjadi muridku. Kau telah
hidup tergencet, sengsara dan menderita. Apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian
dan kelak membasmi orang-orang jahat yang telah merusak hidupmu?”
Mendengar kata-kata ini, teringatlah Ci Ying akan semua sakit hatinya. Teringat ia
betapa ayahnya tentu akan disiksa atau mungkin dibunuh. Teringat pula akan
kesaktian wanita tua ini dan kalau saja ia bisa mempelajari ilmu seperti tadi, tentu ia
akan dapat menolong ayahnya, atau kalau sudah terlambat dapat menolong para
budak lain dan membasmi tuan tanah dan kaki tangannya. Tentang Wang Tui,
seandainya ia kejar juga, mana ia bisa menyusul?
Dengan tersedu-sedu menangisi nasib Wang Tui, Ci Ying lalu menjatuhkan diri
berlutut dan berkata perlahan, “Teecu bersedia menjadi murid Dewi....” Ia lupa dan
menyebut Dewi.
“Aku manusia biasa, namaku Cheng Hoa Suthai. Ci Ying marilah ikut aku ke
tempatku di gunung Heng-toan-san.”
“Baik, Suthai.” Dan berangkatlah dua orang wanita ini meninggalkan tempat itu.
Siapakah Cheng Hoa Suthai ini? Namanya tentu saja asing dan tidak ada yang kenal
di daerah Tibet, akan tetapi makin ke Timur, makin dikenal oranglah wanita perkasa
ini. Dia seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan, seorang sakti yang lihai dan
terkenal berwatak aneh dan ganas terhadap musuh-musuh atau orang-orang yang
dibencinya. Cheng Hoa Suthai bertapa di puncak gunung Heng-toan-san, akan tetapi
ia suka sekali berkelana sampai jauh ke timur, pernah menggegerkan pantai lautan
timur.
Sekarang ia sedang berkelana ke barat sampai di Tibet. Melihat Ci Ying, ia amat
tertarik dan ingin sekali mengambil murid gadis sengsara itu. Keanehan wataknya
terlihat ketika ia membantu Ci Ying membunuh para penculik gadis itu, akan tetapi
sama sekali tidak perduli akan nasib bayi yang hanyut terbawa perahu di sungai Yalucangpo.
Memang wanita ini aneh dan berwatak keras, malah lebih sering bersikap
ganas dan jahat dari pada baik sehingga di dunia kang-ouw ia terkenal sebagai tokoh
yang ganas dan jahat.
Ci Ying gadis yang semenjak kecil menderita sengsara lahir batin, sekarang menjadi
murid wanita aneh ini dan pengalaman-pengalaman pahit getir dalam hidupnya
membuat ia mudah saja mengoper watak gurunya, yakni membenci orang-orang dan
selalu menaruh dendam di dalam hatinya.
Ci Ying juga seorang gadis yang berwatak keras sekali, tahan uji dan sudah mengeras
oleh penderitaan-penderitaan, biarpun sebelah kakinya tidak bersepatu karena sepatu
bututnya yang kiri terlepas ketika ia meronta-ronta ditangkap tiga orang penjahat tadi.
Akan tetapi biarpun kakinya pecah-pecah ketika ia mengikuti Cheng Hoa Suthai, ia
Koleksi Kang Zusi
tidak mengeluh dan dengan keras kepala berjalan terus sampai akhirnya ia roboh dan
oleh gurunya ia diangkat dan dibawa lari cepat seperti angin.
5. Anak Murid Kun-lun-pai.
Bagaimana dengan nasib Wang Tui, bayi itu? Sungguh kasihan, anak yang usianya
baru beberapa hari ini menangis sampai megap-megap di atas perahu tanpa ada yang
menolongnya. Agaknya suara tangisnya menarik perhatian seekor ikan besar yang
sudah sejak tadi berenang mengikuti perahu, menyentuh-nyentuh perahu dengan
moncongnya yang besar.
Apalagi bunyi domba betina mengembik-embik di atas perahu membuat ikan itu
maklum bahwa di dalam perahu terdapat mangsa yang akan mengenyangkan
perutnya. Ketika perahu itu tiba di sebuah belokan di mana air memutar, ikan itu
menyabet dengan ekornya dan perahu itu terguling.
“Siancai .... siancai .... setelah pinto menyaksikan ini, bagaimana pinto bisa berpeluk
tangan saja?” terdengar suara halus dan ringan seperti kabut, sesosok bayangan
seorang kakek berjenggot panjang melayang ke tengah sungai, hinggap di atas perahu
yang sudah terbalik. Tangan kirinya bergerak dan di lain saat ia telah menyambar
tubuh bayi yang hampir tenggelam. Di saat itu juga, seekor ikan yang besar melebihi
orang dewasa menyambar domba betina dan sekali caplok domba itu lenyap dari
permukaan air.
Sambil mendukung bayi itu, kakek ini melompat kembali ke darat. Ia pegang kedua
kaki bayi itu sehingga kepala anak itu tergantung ke bawah dan air itu tumpah keluar
dari mulutnya. Setelah menggerak-gerakkan beberapa kali dan menepuk sana-sini,
bayi itu baru bisa menangis lagi.
“Kasihan, anak siapakah ini?” Kakek itu celingukan memandang ke kanan kiri, akan
tetapi sekitar tempat itu sunyi saja. Perahu yang tadi dibikin terbalik oleh ikan besar,
terus hanyut bersama sisa-sisa daging domba yang kini dijadikan rebutan oleh ikanikan
kecil.
Kakek itu menarik napas dan mendukung bayi di dalam bajunya supaya hangat. Ia
adalah seorang yang sudah sangat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya, tubuhnya
jangkung kurus dengan rambut dan jenggot panjang sudah putih semua. Pakaiannya
berwarna kuning sederhana potongannya, kuku tangannya panjang terawat bersih. Di
punggungnya tergantung sebatang pedang.
Kakek ini adalah seorang tokoh besar di Kun-lun-san, seorang kakek pertapa yang
tidak tentu tempat tinggalnya. Ia jarang dikenal orang, malah orang-orang kang-ouw
jarang ada yang mengenalnya kecuali para tokoh dan ketua partai persilatan yang
besar. Namun, nama julukannya, yaitu Pek-kong Kiam-sian (Dewa Pedang Sinar
Putih) selalu menjadi buah bibir para ahli silat biarpun mereka belum pernah melihat
orangnya. Nama aselinya adalah To Tek Cinjin dan dia seorang pertapa yang condong
kepada agama To sungguhpun ia bukan seorang tosu (pendeta To).
Koleksi Kang Zusi
“Anak baik, tidak kusangka setua aku ini masih menerima tugas yang berat. Kau
tercipta di tengah sungai Yalu-cangpo, biarlah kuberi nama Yalu Sun (cucu sungai
Yalu). Ha-ha-ha!”
Kemudian ia lalu membawa pergi anak itu dengan berlari cepat sekali, mencari
pedusunan di mana ia dapat mencarikan air susu untuk bayi itu.
******
Tanpa memperdulikan letih dan lapar, Wang Sin memacu kudanya, terus ke timur
mengikuti aliran sungai Yalu-cangpo. Kadang-kadang ia meninggalkan kudanya dan
dengan hati-hati ia menuju ke pinggir sungai sambil sembunyi-sembunyi, takut kalaukalau
terlihat oleh kaki tangan tuan tanah, untuk melihat apakah sungai itu masih
belum berkelok.
Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama beberapa hari, akhirnya ia tiba di
bagian sungai yang berbelok ke selatan. Akan tetapi alangkah kecewa dan gelisah
hatinya ketika ia tidak melihat Ci Ying di tempat itu. Ia turun dari kuda, menambatkan
kendali kudanya pada pohon dan berjalan menyusuri pantai sungai, mencari-cari.
Bukan main kagetnya ketika akhirnya ia melihat sebuah perahu kecil terbalik,
berhenti di pinggir tertahan batu karang. Tak salah lagi, itulah perahu yang
dipergunakan Ci Ying ketika melarikan diri. Hatinya berdebar-debar penuh
kekhawatiran. Terbalikkah perahu gadis itu? Celaka, apa jadinya dengan Ci Ying dan
bayi yang dibawanya? Setelah mencari-cari tanda tanpa menemukan sesuatu.
Wang Sin mencari-cari di dalam hutan dekat pantai itu, mengharapkan kalau-kalau Ci
Ying dapat berenang ke pinggir dan bersembunyi di dalam hutan. Akan tetapi
kegelisahannya memuncak ketika ia menemukan sebuah sepatu butut. Itulah sepatu Ci
Ying.
Wang Sin menjadi girang sekali. Ditemukannya sepatu ini di dalam hutan menjadi
tanda bahwa gadis ini tidak mati tenggelam dan sudah bisa mendarat. Akan tetapi
mengapa sepatunya tertinggal di situ? Biarpun butut, sepatu ini masih dapat
melindungi kaki dari tajamnya batu-batu karang. Ia memasukkan sepatu butut itu di
kantong bajunya, lalu menunggangi kudanya memasuki hutan, terus mencari sambil
memanggil-manggil, “Ci Ying ...... Ci Ying .....!”
Sehari semalam ia menjelajahi hutan itu sambil memanggil-manggil, lupa akan lapar
di perutnya, lupa bahwa kudanya sudah terlampau lama ia pacu sampai akhirnya kuda
itu terguling roboh kelelahan. Namun Wang Sin tidak memperdulikannya, malah
meninggalkan kuda itu dan melanjutkan usahanya mencari Ci Ying dengan jalan kaki.
Akhirnya iapun terpaksa menghentikan usahanya ini ketika pada keesokkan harinya ia
sendiri terguling roboh pingsan di bawah pohon saking lelah, lapar dan gelisah.
Matahari telah naik tinggi ketika Wang Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa
sekuruh tubuhnya lemas, akan tetapi tidak selemas semangatnya yang penuh diliputi
kekhawatiran. Di mana adanya Ci Ying? Apakah, setelah bersusah payah melarikan
diri, akhirnya gadis itu terjatuh juga ke dalam tangan tuan tanah, atau ke dalam tangan
orang lain yang jahat?
Koleksi Kang Zusi
“Ci Ying.......” keluhnya dan ia segera bangkit kembali dan berjalan terhuyunghuyung
melanjutkan perjalanannya mencari gadis yang dicintainya itu.
Lewat tengah hari ia tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba ia kucekkucek
matanya ketika melihat seorang gadis duduk membelakanginya. Gadis ini
pakaiannya sudah tambal-tambalan di sana sini, duduk seorang diri di atas sebuah
batu besar, melamun dan agaknya menikmati tiupan angin yang memberisik.
“Ci Ying...!” seru Wang Sin lemah sambil berjalan terhuyung menghampiri gadis itu
dari belakang. Mungkin karena berisiknya suara rumput saling bergesek, gadis itu
tidak mendengar ada orang mendekatinya.
“Ci Ying.......!” Wang Sin menjadi gembira sekali sampai ia lupa diri dan menubruk
gadis itu, merangkulnya dari belakang saking girangnya.
Gadis itu terkejut, tangannya bergerak dan “Plaakk!” kepala Wang Sin sudah
ditamparnya, tamparan ini keras sekali, membuat tubuh pemuda itu terpelanting dan
jatuh telentang di antara rumput-rumput tebal. Gadis itu berdiri membelalakkan
matanya sambil memaki.
“Keparat, berani kau kurang ajar kepadaku?!!”
Kagetnya Wang Sin bukan kepalang ketika kini ia melihat dengan jelas bahwa yang
dipeluknya itu bukanlah Ci Ying melainkan seorang gadis cantik, seorang gadis
bangsa Han yang memaki-maki kepadanya tanpa ia ketahui apa yang dimakinya
karena ia tidak mengerti sepatapun kata-kata Han. Akan tetapi ia dapat mengerti
bahwa gadis itu marah sekali malah kini gadis itu mencabut pedangnya dan
menghampirinya dengan mata mengancam.
Wang Sin sudah tidak berdaya lagi. Tubuhnya memang sudah lemah dan tidak
bertenaga saking lelah dan lapar, ditambah lagi oleh tamparan yang keras lagi
membuat pandang matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia hanya bisa
meramkan mata ketika gadis itu menodongkan ujung pedang yang runcing itu di hulu
hatinya. Juga tidak mengerti ketika gadis itu membentaknya.
“Keparat, siapa kau dan apa maksudmu berlaku begitu kurang ajar?”
Karena Wang Sin hanya rebah telentang tak bergerak sambil meramkan mata, gadis
itu makin marah. “Bangsat, apa kau sudah bosan hidup?” Ia angkat pedangnya hendak
membacok.
“Hui-ji (anak Hui)....... jangan bunuh orang!” tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan
muncullah seorang laki-laki gagah perkasa, berusia kurang lebih empat puluh tahun
bertubuh tegap dan di pinggangnya tergantung pedang. Dengan lompatan yang
cekatan laki-laki ini sudah berada di samping anak gadisnya dan mencekal
pergelangan tangan gadis itu yang sudah siap membacok leher Wang Sin. “Ada
apakah? Siapa dia ini dan kenapa kau hendak membunuhnya?”
“Dia kurang ajar, ayah. datang-datang ia...... ia menubruk dan memelukku. Biar
kubunuh anjing gila ini!!”
Koleksi Kang Zusi
“Ssttt, jangan. Kulihat dia seperti orang sakit,” kata ayahnya sambil memandang
kepada Wang Sin yang kini sudah membuka matanya dan bangun duduk dengan
kepala masih puyeng.
“Orang muda, kau siapakah?” tanya ayah gadis itu. Akan tetapi Wang Sin sama sekali
tidak menjawab karena tidak mengerti apa yang ditanyakan.
Orang tua itu memandang dengan tajam dan kini terlihatlah olehnya raut wajah Wang
Sin raut wajah seorang Tibet. Ia lalu mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Tibet
yang cukup lancar dan jelas.
“Agaknya kau orang pedalaman. Siapa kau dan mengapa kau bersikap kurang ajar?”
Wang Sin menjadi lega hatinya. Setidaknya orang Han ini bisa bicara dalam
bahasanya. Ia lalu merayap bangun dan memberi hormat. “Harap tuan besar sudi
memaafkan hamba tadi, hamba tidak mengenal nona ini, hamba kira dia....”
Kakek itu mengangguk. “Kau tentu seorang budak, bukan? Mencuri dan melarikan
diri, ya?”
Wang Sin kaget sekali dan seketika semangatnya bangkit untuk melakukan
perlawanan. Tak mungkin orang akan dapat menangkapnya begitu saja, tekadnya.
“Tidak...., tidak....! Jangan harap kau akan dapat menangkap aku kembali!” serunya
dan tiba-tiba ia melakukan serangan memukul dengan tangan kanannya ke arah dada
kakek itu dengan sepenuh tenaga. Biarpun tidak sangat sempurna Wang Sin pernah
mempelajari ilmu pukulan dari ayahnya dan pukulannya selain cepat, juga mantap
sekali.
Kakek itu mengeluarkan seruan heran sambil mengelak dari pukulan itu. Bukankah
itu gerakan Pek-wan-hian-ko (Lutung putih berikan buah), sebuah jurus dari ilmu silat
Kun-lun-ciang-hoat? Melihat pukulannya mengenai angin kosong, Wang Sin
menyusul dengan pukulan kedua, lebih hebat dari yang pertama.
Sekali lagi kakek itu terkejut. Inilah gerak tipu Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku
Sawah) tidak bisa keliru lagi, biarpun gerakannya kaku namun kedudukan kaki dan
tangan adalah seratus prosen ilmu silat Kun-lun-pai. Ia sengaja menyambut pukulan
itu dengan tangkisan lengannya dan ia merasa betapa tenaga pemuda ini besar sekali,
tenaga luar yang mengagumkan.
Namun ia belum mau merobohkan Wang Sin, memberi kesempatan kepada pemuda
itu untuk menyerang terus karena ia ingin melihat gerakan-gerakan pemuda yang bisa
mainkan Kun-lun-ciang-hoat ini. Dan makin lama kakek itu makin heran.
Wang Sin benar-benar telah mengeluarkan banyak jurus Kun-lun-ciang-hoat yang
kesemuanya kaku gerakannya, akan tetapi adalah ilmu silat aseli dari Kun-lun-pai,
belum bercampur ilmu pukulan lain cabang. Aneh, bagaimana seorang pemuda Tibet
bisa mainkan ilmu silat ini?
Koleksi Kang Zusi
“Tahan dulu, orang muda. Aku mau bicara!” kata kakek itu sambil menangkis sebuah
pukulan.
Namun Wang Sin yang sudah ketakutan kalau-kalau ia akan ditangkap oleh orang ini
dan dibawa kembali kepada tuan tanah, tidak perduli dan terus menyerang seperti
kerbau gila. Karena terlalu bernafsu melihat pukulannya selalu tidak mengenai lawan,
ia menjadi ngawur dan kini bergerak asal memukul saja. Juga tubuhnya mulai
menjadi lemas sekali.
Melihat kenekatan pemuda itu, kakek tadi lalu menggunakan jari tangannya menotok
dan robohlah Wang Sin tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi ia masih memandang
kakek itu dengan sepasang mata melotot, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut
atau menyerah.
“Jangan nekat menyerang terus, orang muda, mari kita bicara baik-baik,” kata kakek
itu sambil membebaskan totokannya tadi.
Begitu terbebas dari totokan, Wang Sin berkata, “Aku tidak sudi kembali, lebih baik
kau bunuh aku sekarang juga!”
Gadis yang sama sekali tidak mengerti percakapan antara ayahnya dan pemuda itu,
melihat sikap Wang Sin terus melawan dan melotot-lotot, menjadi gemas. “Ayah,
mampuskan saja orang kurang ajar ini, habis perkara!”
Ayahnya memberi tanda dengan tangan supaya gadisnya bersabar. Lalu ia berkata
kepada Wang Sin, “Orang muda kau salah duga. Aku sama sekali tidak akan
membawamu kembali, hanya ingin bertanya. Kau siapa dan kenapa tadi kau bersikap
kurang ajar? Pula, kau mempelajari ilmu silat dari siapakah?”
Wang Sin masih menaruh curiga maka ia segan untuk menceritakan keadaannya, akan
tetapi ia menjawab juga, “Aku belajar dari ayahku sendiri.”
“Siapa nama ayahmu?”
“Ayah bernama Wang Tun......”
Kakek itu nampak tercengang. “Apa? Ayahmu bernama Wang Tun? Ah, dia murid
suheng Cin Kek Tosu. Orang muda kita adalah orang-orang sendiri. Di mana
ayahmu? Mengapa kau sampai di sini?” Dia memegang pundak Wang Sin dengan
girang.
Wang Sin juga terkejut. Ayahnya telah berpesan supaya ia mencari guru ayahnya
yang bernama Cin Kek Tosu di Kun-lun-san dan kalau kakek ini masih adik
seperguruan Cin Kek Tosu, berarti kakek ini adalah paman guru ayahnya. Pantas
demikian lihai.
“Ayah...... ayah telah dibunuh oleh tuan tanah.....”
Kakek itu menarik napas panjang. “Hemmm, lagu lama terulang kembali. Tuan tanahtuan
tanah di Tibet mulai mengganas, memperlakukan hamba-hambanya seperti
Koleksi Kang Zusi
hewan. Anak, ceritakanlah dengan sejujurnya apa yang telah terjadi. Jangan raguragu,
ketahuilah bahwa aku adalah Ong Bu Khai, terhitung paman guru dari ayahmu
sendiri dan ini adalah puteriku, Ong Hui. Di antara orang sendiri kau tidak perlu
menyembunyikan sesuatu, barangkali kami akan dapat menolongmu.”
Kemudian ia berkata kepada gadis itu. “Hui-ji bocah ini bukan orang lain. Dia adalah
putera dari Wang Tun si pandai besi, murid dari supekmu Cin Kek Tosu.”
“Kenapa dia kurang ajar?”
“Hushh, dengarkan dulu riwayatnya, tentu ada sebab-sebabnya.”
Wang Sin mulai percaya dan berceritalah dia tentang semua penderitaannya. Tentang
para budak yang dijadikan “ternak berbicara” oleh tuan tanah Yang Can, tentang
semua penindasan dan akhirnya tentang Ci Ying yang melarikan diri karena hendak
dipaksa menjadi selir tuan muda, tentang ayahnya yang terbunuh dan dia sendiri yang
melarikan diri sampai ke tempat itu.
“Aku tidak dapat menemukan Ci Ying, hanya sepatunya...... dan anak bayi itu..... ah,
apa yang terjadi dengan mereka?” Wang Sin mengakhiri penuturannya yang disalin
dalam bahasa Han oleh Ong Bu Khai kepada puterinya.
Ayah dan anak itu terharu sekali mendengar penuturan Wang Sin.
“Ayah, dia memang patut dikasihani. Akan tetapi dia belum menceritakan tentang
sikapnya yang kurang patut kepadaku tadi,” kata Ong Hui kepada ayahnya setelah ia
mendengarkan pula penuturan itu melalui terjemahan ayahnya.
“Wang Sin, penuturanmu mengharukan kami, biarpun aku tidak heran lagi mendengar
akan kekejaman para tuan tanah. Akan tetapi, kenapa kau tadi bersikap tidak patut
kepada anakku?”
Wajah Wang Sin menjadi merah dan ia melirik kepada Ong Hui, kelihatan jengah
sekali. “Lo-enghiong, aku.... aku tadi mengira bahwa puterimu adalah Ci Ying. Dari
belakang ia seperti Ci Ying, yaitu.... bentuk tubuhnya dan...... dan pakaiannya yang
tambal-tambalan .....”
“Apanya sih Ci Ying itu?” tanya Ong Hui setelah mendengar jawaban ini, merasa lega
bahwa pemuda itu tadi memeluknya bukan karena kurang ajar, melainkan karena
salah lihat. Pertanyaan ini diulang oleh Ong Bu Khai dalam bahasa Tibet.
Mendengar pertanyaan ini, Wang Sin menjadi bingung dan ragu-ragu. “Dia.... dia
itu..... adalah adik misanku .... puteri tunggal paman Ci Leng yang pandai membaca
dan menulis dan juga berani berkorban menolong bayi cucu nenek lumpuh,” kata
Wang Sin dengan suara bangga.
Mendengar jawaban ini, Ong Hui mengangkat dadanya.
Koleksi Kang Zusi
“Akupun pandai membaca dan menulis kiranya tidak kalah oleh gadis bernama Ci
Ying itu. Akupun berani membela orang, kalau tuan tanah jahat itu berada di sini,
akan kupatahkan lehernya.”
Ayahnya tersenyum dan kata-kata ini tidak ia terjemahkan kepada Wang Sin yang
memandang kepada gadis itu dengan kagum. Ia tadi sudah merasai tamparan gadis ini
dan tahulah ia bahwa gadis ini tentulah pandai silat. Teringatlah ia akan pesan
mendiang ayahnya dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Bu Khai.
“Lo-enghiong, setelah mendengar riwayat teecu, harap lo-enghiong sudi memberi
pelajaran silat kepada teecu, agar kelak teecu dapat membalaskan kematian ayah,
dapat membebaskan kawan-kawan budak dari cengkeraman tuan tanah jahat dan
antek-anteknya.
Ong Bu Khai menarik napas panjang, teringat akan keadaan di tanah airnya sendiri, di
pedalaman Tiongkok. “Dunia ini di mana sama saja,” katanya mengeluh, “Si kaya
memeras si miskin, si kuat menindas si lemah. Nafsu jahat menguasai manusia,
hukum negara diinjak-injak, yang berwajib silau oleh harta dunia melupakan tugas,
pembesar-pembesar tidak merupakan pimpinan bijaksana hanya berusaha mati-matian
membesarkan kesenangan pribadi melupakan rakyat. Di Tiongkok, di Tibet dan di
mana-mana rakyat kecil menderita.....”
Diam-diam Wang Sin merasa heran mendengar ini. Apakah di lain tempat juga terjadi
penindasan seperti di Tibet?
“Lo-enghiong, apakah di negerimu juga terdapat budak-budak yang hidupnya lebih
sengsara daripada kuda atau kerbau?” ia memberanikan hatinya bertanya.
Kembali orang gagah itu menarik napas panjang. “Perbudakkan sudah hapus, tidak
ada lagi budak-budak yang dapat diperjual belikan. Akan tetapi apa bedanya? Yang
bekerja paling berat mendapatkan hasil paling sedikit. Para petani yang menggarap
sawah, dari meluku tanah sampai menanam dan menuai padi, mereka yang
menghasilkan bahan makan dengan pupuk peluh dan darah, malah kadang-kadang
tidak dapat makan dan mati kelaparan. Memang aneh, tidak sesuai dengan hukum
alam, akan tetapi nyata. Yang membuat tidak memakai, yang menanam tidak
memakan hasilnya. Celaka...... celaka......”
Wang Sin menjadi makin penasaran. “Kalau begitu, lo-enghiong, para dewa tidak
adil! Siapa menjadi penegak hukum yang adil kalau para pembesar sendiri tidak
melakukan kewajibannya dan silau oleh harta dunia?”
“Kita yang harus bertindak, kita yang harus turun tangan membela keadilan. Biarpun
tenaga kita terbatas, biarpun tindakan kita hanya merupakan setetes air dalam
samudera, setidaknya kita bisa menghukum orang-orang jahat dan membela yang
lemah tertindas. Itulah tugas pendekar-pendekar yang mempelajari ilmu semenjak
kecil dengan susah payah. Untuk membela keadilan, aku dan anakku ini tidak segansegan
mempertaruhkan nyawa.”
Wang Sin kagum bukan main dan kini ia memandang kepada gadis itu dengan
hormat. Ia lalu berlutut kembali. “Lo-enghiong kalau begitu mohon kau sudi
Koleksi Kang Zusi
menerimaku sebagai murid agar akupun dapat ikut-ikut membela kebenaran
membasmi yang jahat.”
Ong Bu Khai mengangguk-angguk, lalu berkata, “Wang Sin, oleh mendiang ayahmu
kau disuruh menemui suhengku Cin Kek Tosu di Kun-lun-san. Oleh karena itu
marilah kau ikut dengan kami ke Kun-lun-san dan sesampainya di sana terserah
keputusan suheng. Kalau suheng suka menerimamu sebagai murid, itu baik sekali.
Kalau seandainya suheng yang sudah tua itu sekarang malas mengajar, barulah kau
boleh belajar sedikit ilmu yang kumiliki.”
Bukan main girangnya hati Wang Sin. Sambil berlutut ia menghaturkan terima
kasihnya berulang-ulang. Dan beberapa hari kemudian ia telah kelihatan berjalan di
samping ayah dan anak itu, dengan rukun ia berjalan di sebelah Ong Hui sambil
mempelajari bahasa Han sedikit demi sedikit.
******
Cin Kek Tosu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal, sudah terlalu tua untuk
menerima murid baru. Akan tetapi mendengar bahwa Wang Tun dianiaya sampai
tewas oleh tuan tanah, dan mendengar pula penuturan tentang riwayat Wang Sin,
kakek ini menjadi marah dan minta kepada sutenya, Ong Bu Khai untuk mendidik
pemuda Tibet itu di bawah pengawasannya sendiri. Kesempatan baik ini
dipergunakan pula oleh Ong Hui untuk memperdalam ilmu silatnya dibawah petunjuk
supeknya yang memang memiliki tingkat lebih tinggi daripada ayahnya.
Sebetulnya, biarpun Wang Tun mengaku sebagai murid Cin Kek Tosu, akan tetapi
pandai besi Tibet ini sebetulnya hanya belajar selama setengah tahun saja kepada tosu
Kun-lun itu. Terjadi dua puluh tahun lebih yang lalu, ketika rombongan besar yang
mengantar Puteri Wen Ceng datang di Tibet. Karena peristiwa ini juga merupakan hal
yang menarik, baiklah kita mundur dua puluh empat tahun yang lalu dan mengikuti
jalannya peristiwa pernikahan antara seorang raja Tibet dengan seorang Puteri dari
Tiongkok, yaitu Puteri Wen Ceng puteri dari maharaja Tai Cung dari dinasti Tang.
Pada masa itu, raja di Tibet yang bernama Turfan atau Sron Can Gampo yang baru
berusia enam belas tahun, mendengar berita dari orang-orang yang datang dari timur
bahwa puteri maharaja yang cantik jelita dan terkenal cerdas dan pandai dalam hal
bermacam-macam pekerjaan tangan, juga pengetahuannya tentang ilmu luas sekali.
Gandrunglah raja yang masih muda ini dan ia segera mengutus seorang menterinya
yang terkenal cerdik dan gagah perkasa bernama Gar untuk pergi ke Tiang-an dan
meminang puteri itu.
Berangkatlah menteri ini dengan membawa berpeti-peti barang berharga, pusakapusaka
terbuat daripada emas dan perak, dihias ratna mutu manikam yang tidak
ternilai harganya. Benda-benda ini dibawa untuk dihaturkan kepada maharaja Tang
sebagai mahar atau boleh juga disebut sebagai mas kawin.
Ketika menteri Gar tiba di Tiang-an, ternyata bahwa selain dia, banyak juga utusanutusan
dari negara lain yang berdatangan di ibukota kerajaan Tang untuk meminang
Puteri Wen Ceng. Maharaja Tai Cung yang tidak ingin membeda-bedakan dan
Koleksi Kang Zusi
menyinggung perasaan negara lain, lalu mengadakan sayembara, yaitu ia menguji
kecerdikan para utusan itu.
Akhirnya, berkat kecerdikan Menteri Gar, ia menang dan pinangan rajanya diterima.
Dengan diantar rombongan-rombongan ahli kerajinan tangan, ahli pertanian, ahli
musik dan lain-lain, Puteri Wen Ceng diboyong ke Tibet. Dalam rombongan inilah
Cin Kek Tosu ikut, yaitu diperintahkan oleh pembesar yang bertugas mengumpulkan
orang-orang gagah untuk mengawal perjalanan Puteri Wen Ceng ke barat.
Setelah puteri itu tiba dengan selamat di Lasha ibu kota Tibet, Cin Kek Tosu lalu
menjelajah daerah Tibet. Ia tertarik oleh keadaan penduduknya yang masih amat
sederhana hidupnya, dan terutama ia mencari bahan pedang yang baik, yang kabarnya
banyak terdapat di daerah liar ini.
Dalam penjelajahannya inilah ia bertemu dengan Wang Tun, pandai besi yang pandai
membuat pedang. Ketika itu Wang Tun baru berusia dua puluhan tahun, biarpun
sudah menjadi budak, namun masih berdarah panas dan suka memberontak.
Cin Kek Tosu tertarik ketika kebetulan datang di dusun itu dan mendengar bahwa di
situ terdapat seorang pandai besi yang pandai. Didatanginya pondok pandai besi ini
dan ia melihat dengan kagum seorang pemuda Tibet sedang menempa besi merah
dengan kuatnya. Melihat sinar kebiruan yang berpijar setiap kali besi merah itu
dipukul, diam-diam Cin Kek Tosu mengagumi baja tulen itu. Ia lalu masuk dan
pandai besi menunda pekerjaannya, memandangnya dengan mata marah.
Wang Tun ketika itu sedang marah. Terlalu banyak pesanan pekerjaan dihujankan
oleh tuan tanah kepadanya. Hendak menolak tidak berani karena antek-antek tuan
tanah selalu siap mengeroyok dan menyiksanya. Kalau diterima, berarti siang malam
ia akan bekerja keras.
“Kau siapa dan mau apa?” bentaknya melihat seorang berpakaian pendeta berwajah
asing dan kepucatan.
Cin Kek Tosu tersenyum. Ia sudah cukup lama berada di Tibet dan sudah mempelajari
bahasa daerah itu. “Namaku Cin Kek Tosu dan aku datang hendak menonton kau
bekerja.”
Wang Tun merasa diejek. Pekerjaan baginya bukan pekerjaan lagi, melainkan siksaan
dan orang yang menonton dia disiksa tiada lain artinya hanya untuk mengejek.
“Apa kau datang hendak menertawakan aku?” bentaknya dengan mata merah.
Cin Kek Tosu terheran, lalu tersenyum melihat sikap yang galak dari pandai besi yang
hitam penuh arang dan debu tubuhnya itu. “Tidak kawan. Aku tidak mengejek
melainkan mengagumi pekerjaanmu. Mengapa pula aku harus mengejek?”
“Apalagi kerjaan orang-orang Han selain untuk mengejek kami para budak?”
“Eh, kenapa kau bilang begitu? Apa salahnya orang Han?”
Koleksi Kang Zusi
6. Kembalinya Budak Pelarian.
Wang Tun makin mendongkol. Ditinggalkannya pekerjaannya dan ia menghampiri
Cin Kek Tosu dengan langkah lebar dan sikap mengancam. “Kau masih pura-pura
bertanya? Katanya negara orang Han adalah negara besar, orang-orangnya adalah
orang-orang pandai, tidak tahunya tiada bedanya dengan bangsa penjilat. Kalian
datang hanya untuk menyenangkan hatinya para bangsawan dan para tuan tanah. Apa
peduli kalian akan budak-budak yang hidup tersiksa? Siksaan yang diderita para
budak kalian anggap tontonan yang menyenangkan, ya? Hayo lekas minggat dari sini,
jangan sampai kesabaranku hilang. Kalau terjadi begitu, jangan salahkan Wang Tun
kalau sampai lehermu patah-patah.”
Diam-diam Cin Kek Tosu merasa terharu, juga mendongkol melihat kecongkakan
pandai besi ini. Namun ia harus akui bahwa dalam ucapan kasar tadi terkandung
kebenaran. “Kawan, sebetulnya aku mencari baja yang baik untuk bahan membuat
pedang. Kulihat bahan baja yang kau tempa itu amat baik, maka kalau kau mau
memberi untuk bahan pedang aku mau menukarnya dengan apa yang kau minta.”
“Setan, kau malah hendak mencuri dan membujuk aku menjadi pencuri? Wang Tun
biarpun budak hina dina kurang makan, belum begitu rendah untuk mencuri barang
orang lain. Tahu?”
Cin Kek Tosu menarik napas panjang, kagum sekali. “Sukar mencari orang sejujur
engkau, segagah engkau, akan tetapi juga sebodoh engkau.”
“Keparat, kalau tidak pergi kupatahkan batang lehermu.”
“Cobalah kalau bisa,” Cin Kek Tosu menantang karena ia ingin menyaksikan gerakan
dan tenaga orang yang diam-diam menimbulkan rasa suka dihatinya ini.
“Kau.... kau menantang?” Terbayang keheranan dalam pandang mata Wang Tun. Ia
melangkah maju dan kedua lengan tangannya yang kuat berotot itu sudah bergerak
maju hendak mencekik leher tosu tua kurus di depannya, akan tetapi ia turunkan lagi
tangannya dan menggeleng-geleng kepalanya.
“Tidak, aku tidak mau menjadi pengecut, hanya berani menyerang seorang kakek
kurus selemah engkau. Pergilah!” Wang Tun kembali ke tempat kerjanya dan
menempa besi lagi dengan kuatnya untuk menghilangkan kegemasan hatinya.
Cin Kek Tosu tertawa, makin suka kepada pemuda sederhana ini. Ia melihat sebatang
tombak di dekat situ, diambilnya tombak ini dan dengan mudah ia membekuk dan
membelit-belitkan besi itu ke lengannya.
Wang Tun menghentikan pekerjaannya dan memandang dengan mata terbelalak.
“Kau mempunyai ilmu sihir...... seperti pendeta-pendeta Lama......!” serunya.
“Bukan ilmu sihir, orang muda. Melainkan ilmu mempergunakan tenaga secara baik.
Oleh karena itu aku tadi berani menantangmu untuk mencoba tenagamu kepadaku.
Kau takkan menang.”
Koleksi Kang Zusi
“Betulkah? Kalau begitu, coba kau menerima pukulanku, hendak kulihat sampai
bagaimana kuat tanganmu.”
Wang Tun meloncat maju dan tangannya yang besar melayang mengirim pukulan ke
arah dada tosu itu. Akan tetapi hampir saja ia terjungkal karena pukulannya yang ia
lakukan dengan sekuat tenaga itu mengenai angin belaka dan tahu-tahu kakek itu
sudah berada di sebelah kanannya. Ia membalik dan memukul lagi bertubi-tubi
sampai lima kali, akan tetapi sia-sia belaka.
“Kau curang! Kenapa tidak membiarkan aku memukulmu?”
“Ini namanya ilmu silat, orang muda. Ilmu silat mengajar orang supaya jangan sampai
terpukul oleh lawan.”
“Kalau begitu, balaslah memukul!”
Cin Kek Tosu tersenyum. Sambil mengelak sekali lagi ia berkata, “Coba kau terima
tamparan ini.” Dan tangan kirinya menampar pundak Wang Tun.
Wang Tun berseru kesakitan dan terguling roboh. Ia merasa seakan tadi ditumbuk
oleh sebuah toya besi yang amat kuat. Ia menjadi penasaran marah. Tangannya
bergerak dan sebuah pisau belati telah berada ditangannya. Tanpa banyak cakap lagi
ia menyerbu, pisau itu bergerak dan sinar kebiruan meluncur ke arah dada Cin Kek
Tosu.
Tosu itu mengeluarkan seruan kaget, cepat mengelak dan ketika tangannya
menyambar, pisau itu sudah terampas olehnya. Wang Tun menubruk, tapi sebuah
dorongan tangan kiri tosu itu lagi-lagi membuat ia tercengang. Pemuda itu tidak
segera berdiri, hanya memandang dengan mata terbelalak keheranan. Ia melihat kakek
itu memegang belatinya, bukan untuk balas menyerangnya melainkan untuk diamatamati
secara seksama sambil berkali-kali mengeluarkan seruan kagum.
“Baja bagus..... luar biasa.....” Ditekan-tekannya pisau itu, dikerahkannya tenaga
untuk membuat pisau itu patah atau melengkung, namun sia-sia. Pisau itu terbuat dari
pada bahan yang benar-benar kuat luar biasa.
Wang Tun tertawa dan merayap bangun. “Biarpun kau sekuat seratus ekor lembu yak,
tidak nanti kau dapat membuat pisau itu patah,” katanya.
Cin Kek Tosu memandang kepadanya.
“Orang muda, dari mana kau memperoleh bahan baja sehebat ini?”
“Sukar..... carinya sukar, orang tua yang gagah. Akan tetapi, betapun baiknya pisau
itu, menghadapi orang sepandai engkau, tiada gunanya.....” Pemuda itu menarik napas
panjang dan mukanya membayangkan kekecewaan hatinya. Baru sekarang ia tahu
bahwa dia adalah seorang yang tidak ada artinya. Menghadapi seorang kakek tua
kurus lemah saja ia kalah dan tidak berdaya sama sekali.
Koleksi Kang Zusi
“Dengar orang muda. Mari kita berjanji dan mengadakan pertukaran. Kau carikan
bahan baja seperti ini untukku dan aku akan memberi pelajaran ilmu berkelahi seperti
yang kupergunakan mengalahkan kau tadi kepadamu. Bagaimana?”
Wang Tun girang sekali. “Bagus, aku suka sekali. Akan tetapi ketahuilah, bahan baja
itu adanya hanya di dasar sungai, merupakan pasir-pasir biru yang hanya seperseratus
bagian daripada pasir-pasir di dasar sungai. Untuk membuat pisau itu saja, aku
mengumpulkan pasir-pasir biru itu selama berbulan-bulan.”
“Aku membutuhkan bahan untuk membuat pedang,” kata kakek itu. “Carikanlah, biar
sampai berapa lama akan kunanti dan selama itu pula kau boleh belajar ilmu silat
kepadaku.”
Demikianlah, selama setengah tahun lebih Wang Tun belajar ilmu silat dari Cin Kek
Tosu dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan pasir biru itu. Setelah cukup banyak
untuk membuat sebatang pedang pendek, selesai pula Cin Kek Tosu mengajarnya dan
pada waktu itu Wang Tun telah mewarisi ilmu silat Kun-lun-pai yang cukup kuat.
Demikian pula riwayat singkat bagaimana Wang Tun mengaku sebagai murid Cin
Kek Tosu. Tosu ini lalu kembali ke Kun-lun-pai dan bahan baja yang biru itu
dibuatnya menjadi sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kebiruan, amat tajam
dan kuat mengalahkan semua bahan logam yang bagaimanapun kerasnya.
Kemudian ketika ia mendengar riwayat Wang Sin, hatinya tergerak dan biarpun sudah
amat tua, ia menyediakan tenaga untuk memimpin pemuda putera Wang Tun itu
untuk mempelajari ilmu silat Kun-lun-pai. Malah dengan suka rela ia memberikan
pedang sinar biru yang dulu bahannya ia dapatkan dari Wang Tun kepada pemuda
Tibet ini sehingga Wang Sin memperoleh ilmu silat pedang yang luar biasa.
Waktu berjalan amat cepatnya dan lima tahun terlewat sudah selama Wang Sin belajar
ilmu silat di Kun-lun. Dia memang berbakat baik dan berkemauan keras. Susioknya
(paman guru) Ong Bu Khai dan suhunya Cin Kek Tosu, merasa amat kagum melihat
pemuda ini tiada hentinya siang malam berlatih diri sehingga sebentar saja sudah
melampaui kepandaian Ong Hui, malah sudah dapat menyamai tingkat Ong Bu Khai
sendiri.
Melihat watak yang baik dari Wang Sin, diam-diam Ong Bu Khai timbul niatan untuk
mengambil mantu pemuda Tibet ini. Dengan terus terang ia merundingkan hal ini
dengan suhengnya, Cin Kek Tosu yang juga merasa setuju dan girang sekali bahwa
sutenya tidak memiliki watak tinggi hati seperti kebanyakan orang Han yang
memandang suku bangsa-suku bangsa lain lebih rendah derajatnya dari pada tingkat
bangsa mereka sendiri.
Adapun hubungan antara Wang Sin dan Ong Hui juga akrab. Ong Hui memang
seorang gadis lincah yang peramah dan jujur. Juga gadis ini menaruh simpati kepada
pemuda Tibet yang telah mengalami hidup penuh penderitaan ini. Setelah Wang Sin
menjadi saudara seperguruannya, ia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini memang
berjiwa gagah dan berwatak baik, sayang agak pendiam.
Koleksi Kang Zusi
Di pihak Wang Sin, semenjak pertama bertemu memang ia menaruh kekaguman
terhadap gadis ini. Hal ini adalah wajar. Di tempatnya yang dahulu, orang-orang
perempuan merupakan makhluk lemah yang selalu hanya menjadi permainan lakilaki.
Maka melihat Ong Hui yang selain cantik jelita juga gagah perkasa dan
berkepandaian tinggi, siapa orangnya tidak menjadi kagum? Malah sering kali
sebelum matang ilmu silatnya, ketika mula-mula sedang belajar seringkali ia
mendapat petunjuk dan bantuan gadis ini sehingga timbul kasih sayang dan
hormatnya kepada sumoi (adik seperguruan) ini.
Biarpun kalau menurut tingkat, Ong Hui lebih dulu belajar daripadanya dan terhitung
suci (kakak seperguruan), akan tetapi karena dia adalah murid Cin Kek Tosu yang
menjadi kakak seperguruan ayah gadis itu, maka ia menjadi lebih tua kedudukannya
dan menyebut sumoi kepada Ong Hui. Sebaliknya gadis itu menyebut suheng.
Tidak bisa dibilang bahwa dua orang muda ini mengandung hati saling mencintai,
terutama di pihak Wang Sin, akan tetapi tak dapat disangkal pula bahwa mereka
saling suka dan menaruh simpati. Wang Sin yang pendiam tak pernah menceritakan
hubungannya dengan Ci Ying kepada orang lain, akan tetapi sebetulnya tak pernah ia
dapat melupakan Ci Ying. Yang menjadi kenangan malam menjadi impian.
Pada suatu hari Wang Sin dipanggil oleh suhunya dan ia menjadi agak heran melihat
suhunya sudah duduk di situ bersama susioknya, menanti kedatangannya. Wajah
mereka berisi dan pandangan mata mereka kepadanya membuat hatinya berdebar
karena tidak seperti biasa. Tentu ada sesuatu yang amat penting, pikirnya. Setelah ia
maju berlutut dengan hormat, suhunya yang sudah tua sekali itu mengurut-urut
jenggot sambil berkata.
“Wang Sin, muridku. Kau telah lima tahun belajar di sini dan pinto harus mengaku
bahwa kami merasa puas melihat ketekunanmu. Karena itu, pinto hadiahkan pedang
sinar biru itu kepadamu. Sebetulnya bukan hadiah karena sesungguhnya pedang itu
tadinya ayahmu yang mencari bahannya, maka sudah semestinya pinto kembalikan
kepadamu. Pergunakanlah pokiam ini baik-baik, jangan sekali-kali kau pergunakan
untuk menurutkan nafsu belaka. Tentu kau masih ingat akan semua nasehat pinto.”
Berdebar hati Wang Sin. Ucapan ini sekaligus memperingatkan dia bahwa tentu dia
sudah akan diperbolehkan turun gunung, kembali ke Tibet untuk membalas dendam,
eh.... salah, seperti yang dinasehatkan oleh suhunya, soal balas dendam itu hanya
akibat, yang terutama adalah menolong para budak dari penindasan.
“Segala nasehat suhu akan tetap teecu ingat dan taati,” jawabnya tegas.
“Wang Sin,” kata lagi tosu itu, “karena usiamu sudah lebih dari cukup dan mengingat
sudah sepatutnya kalau kau mempunyai teman hidup, pinto dan susiokmu sudah
bersepakat untuk menjodohkan kau dengan sumoimu. Kalian akan menjadi suami
isteri yang cocok sekali.”
Bukan main kagetnya hati Wang Sin mendengar ini, apalagi ketika ia melihat
susioknya memandang kepadanya sambil mengangguk-angguk membenarkan kataKoleksi
Kang Zusi
kata suhunya itu. Inilah suatu kejadian yang amat langka, malah terhitung aneh dan
tak masuk akal baginya. Dia, seorang bekas budak, hendak dijodohkan dengan Ong
Hui? Ia telah ditolong oleh Ong Bu Khai.
Di dalam lubuk hatinya ia menganggap susioknya ini seperti tuan penolongnya,
seperti tuan besar, Ong Hui seperti nona muda. Mana ia pantas menjadi suami Ong
Hui? Jodohnya yang paling tepat adalah seorang budak pula, Ci Ying. Teringat
kepada Ci Ying ia lalu menundukkan mukanya yang tadi merah, sekarang berubah
pucat.
“Wang Sin, kau tidak lekas menghaturkan terima kasih susiokmu, calon mertuamu?”
Cin Kek Tosu berkata lagi, tertawa melihat muridnya tunduk kemalu-maluan.
Sambil berlutut Wang Sin berkata, suaranya terharu.
“Teecu menghaturkan banyak terima kasih kepada suhu dan susiok yang sudah
demikian baik terhadap diri teecu yang miskin dan yatim piatu. Sesungguhnya kalau
tidak ada suhu dan susiok, entah menjadi apa orang macam teecu ini, oleh karena itu,
sampai matipun teecu takkan dapat melupakan budi suhu berdua dan akan selalu
mentaati perintah suhu dan susiok. Hanya saja..... tentang perjodohan.......” Pemuda
itu ragu-ragu dan tidak berani melanjutkan ucapannya.
“Ada apa dengan perjodohan? Lanjutkan, jangan takut dan ragu,” kata Cin Kek Tosu
ramah.
Dengan kepala masih tunduk Wang Sin menjawab. “Sesungguhnya ..... teecu..... telah
bertunangan, ditunangkan oleh ayah semenjak kecil. Dan tunangan teecu itu...... Ci
Ying...... entah kemana. Setelah oleh ayah ditunangkan, bagaimana teecu bisa
menerima ikatan jodoh lain?”
Mendengar ini, Ong Bu Khai mengerutkan keningnya. Baru sekarang ia tahu akan hal
ini dan mengerti pula ia kenapa lima tahun yang lalu pemuda itu bersikap kurang ajar
ketika melihat Ong Hui yang disangkanya Ci Ying tunangannya itu.
“Ah, kiranya gadis yang hilang itu tunanganmu?” katanya. “Wang Sin, kau memang
betul sekali menyatakan hal ini kepada kami. Memang seorang anak harus berbakti
terhadap pesan orang tua, juga harus mempunyai watak setia. Akan tetapi gadis
tunanganmu itu lenyap tidak meninggalkan bekas.
Selama ini, belum pernah aku mendengar tentang dia, biarpun diam-diam aku ikut
menyelidiki untuk mencari gadis yang tadinya kusangka hanya adik misanmu itu.
Usiamu sudah dua puluh lebih, demikianpun anakku sudah cukup usia, tidak bisa
menanti lagi. Andaikata tunanganmu itu sudah tidak berada lagi di dunia ini seperti
kukhawatirkan, apakah kau juga tidak menerima ikatan jodoh lain?”
Wang Sin bingung. Memang iapun sudah bersangsi apakah Ci Ying masih hidup? Ke
mana mencarinya? Sudah lima tahun tiada kabar ceritanya tentang gadis itu masih
hidup. Susioknya sudah begitu baik kepadanya, tidak saja ia berhutang budi malah
boleh dibilang berhutang jiwa karena tanpa bantuan susioknya sukarlah hidup
merdeka di daerah Tibet.
Koleksi Kang Zusi
Kalau sekarang ikatan jodoh itu ia tolak, bukankah itu berarti ia membalas kebaikan
dengan penghinaan? Ia menjadi bingung, hatinya masih berat terhadap Ci Ying.
Menolak sukar menerimapun sulit.
“Wang Sin, kau tidak usah ragu-ragu. Baiknya diatur begini,” kata pula Ong Bu Khai.
“Kau menikah dengan anakku dan kalau kelak ternyata Ci Ying masih hidup dan ia
mau melanjutkan ikatan jodohnya denganmu, kau boleh menikah lagi dengan dia.”
Kembali Wang Sin terkejut mendengar ini. Memang iapun tahu bahwa pada waktu
itu, menikah dengan lebih dari dua orang gadis adalah wajar, yakni bagi kaum
bangsawan dan mungkin orang-orang Han. Akan tetapi bagi seorang bekas budak
seperti dia, benar-benar merupakan hal yang amat ganji dan aneh. Betapapun juga,
terhadap pemecahan persoalan jodoh ini ia tidak dapat membantah lagi dan terpaksa
ia berkata.
“Teecu hanya dapat mentaati semua perintah susiok dan suhu.”
“Bagus!” Cin Kek Tosu berseru girang. “Wang Sin perjalananmu kelak ke selatan
bukannya perjalanan mudah dan kau memerlukan seorang pembantu yang kuat dan
boleh dipercaya. Hanya sumoimu yang dapat menjadi kawan seperjalanan yang tepat.
Akan tetapi kalau kalian belum menikah, hal itu bukan merupakan sesuatu yang patut
dan baik. Karena itu, sebelum kau turun gunung mengembara ke Tibet, lebih baik kau
melangsungkan perjodohanmu lebih dulu dengan Ong Hui.”
Demikianlah, secara sederhana dan hanya diramaikan oleh para penduduk di sekitar
pegunungan Kun-lun-san, dirayakan perjodohan antara Wang Sin dan Ong Hui. Dan
pada malam harinya, Ong Hui menangis di dalam kamar penganten.
“Mengapa kau menangis, sumoi?” tanya Wang Sin perlahan.
Mula-mula Ong Hui tidak menjawab, malah tangisnya makin menjadi.
“Sumoi, apakah.... apakah sedih hatimu karena pernikahan ini? Tidak sukakah kau......
?”
Ong Hui menggeleng kepala dan menyusut air matanya.
“Aku berjanji......” katanya terputus-putus, “aku.... akan mencari Ci Ying..... mencari
dia untukmu......”
Wang Sin terkejut, juga terharu. Tidak disangkanya bahwa gadis ini sudah tahu akan
hal ini. Tentu susioknya yang berterus terang kepada gadisnya. Memang aneh watak
orang-orang kang-ouw ini. Dengan terharu Wang Sin memegang tangan isterinya.
“Harap kau tidak menaruh hati cemburu. Pertunanganku dengan Ci Ying adalah
pertunangan semenjak kecil, oleh orang tua kami. Kini Ci Ying sudah lenyap dan
sebagai gantinya aku mendapatkan kau. Aku tidak menyesal, malah girang sekali,
karena... karena aku cinta padamu Hui-moi, mencinta semenjak pertama kali aku
melihatmu.......”
Koleksi Kang Zusi
Ong Hui menarik napas panjang, lega dan bahagia.
Sebagai isterimu, aku akan membantumu, suamiku. Membantumu mengangkat
kehidupan saudara-saudara di Tibet, membantumu mencari Ci Ying cici.......”
Suasana menjadi sunyi, sunyi yang mengamankan hati dan mendatangkan
kebahagiaan bagi dua suami isteri baru itu.
******
Semenjak itu, selama lima tahun itu telah terjadi perubahan di dusun Loka, dusun
sebelah utara sungai Yalu-cangpo itu. Tuan tanah Yang Can sudah mulai tua dan tidak
lagi dibantu oleh puteranya karena Yang Nam sudah menikah dengan puteri seorang
bangsawan dari ibukota Lasha dan pindah ke sana karena berkat pertolongan
mertuanya Yang Nam mendapat kedudukan pula di sana.
Akan tetapi, perubahan yang banyak terjadi hanya di dalam rumah tangga tuan tanah
itu. Nasib para budak tetap saja buruk seperti dulu, tetap mereka diperas dan bekerja
seperti binatang ternak. Kalau di dalam rumah tuan tanah sudah lupa akan peristiwa
lima tahun yang lalu, mereka ini, para budak masih ingat dan sering kali mereka
menarik napas panjang kalau mereka teringat akan keluarga Ci Ying dan Wang Sin.
Pada suatu pagi, para budak sudah sibuk bekerja di sawah. Hari itu panen dimulai dan
keadaannya tidak ada bedanya dengan lima tahun yang lalu ketika peristiwa
pembasmian dua keluarga itu mulai terjadi. Tiada bedanya.
Para budak bekerja mati-matian dan di pinggir sawah nampak tukang pukul-tukang
pukul dan pendeta-pendeta Lama menjaga dan mengawasi, untuk mencegah para
budak bekerja lambat atau mencuri hasil panen. Juga Thiat-tung Hwesio, si pendeta
bertongkat besi, masih tetap berjaga di situ, berdiri dengan kedua kaki terpentang
lebar, memanggul tongkat besinya dan diam tak bergerak seperti sebuah patung yang
menakutkan.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari sebelah timur datang dua ekor kuda yang
ditunggangi oleh sepasang orang muda. Kejadian yang ganjil ini tentu saja menarik
perhatian orang. Para budak sampai berani melupakan pekerjaan mereka dan para
tukang pukul memandang pula ke arah dua orang penunggang kuda itu.
Setelah dua orang penunggang kuda itu dekat, terdengar seruan-seruan perlahan di
antara para budak.
“Wang Sin..... bukankah dia itu Wang Sin.”
Memang, seorang di antara dua orang penunggang kuda itu adalah Wang Sin. Mudah
saja mengenal wajahnya yang tampan dan keras penuh garis-garis yang yang
membuat ia kelihatan gagah, tubuhnya yang makin tegap berisi. Akan tetapi dia
sekarang mengenakan pakaian Han dan dipinggangnya tergantung sebatang pedang.
Orang kedua adalah isterinya, Ong Hui yang cantik jelita dan bersikap gagah pula.
Koleksi Kang Zusi
Setelah para budak mengenalnya, semua tidak memperdulikan lagi pekerjaan mereka,
yang jauh datang berlari dan berkumpullah para budak menjadi gerombolan, penuh
keheranan, kekaguman, dan kecemasan. Bagaimana pemuda yang telah berhasil
melarikan diri, membebaskan diri dari mereka ini sekarang datang kembali?
Demikian mereka bertanya-tanya.
Sebaliknya para tukang pukul dan hwesio yang tua, yang masih mengenal Wang Sin,
menjadi terheran dan marah bercampur gelisah. Mau apakah pemuda setan ini
sekarang tiba-tiba muncul? Toya, tongkat, dan golok dipegang erat-erat, para antek
tuan tanah itu siap menghadapi segala kemungkinan. Malah beberapa orang di antara
mereka sudah gatal-gatal tangan untuk menangkap pemuda yang telah melarikan diri
dan berdosa kepada tuan tanah maupun kepada pendeta kepala itu.
Sementara itu, ketika Wang Sin melihat para budak, mengenal banyak wajah-wajah
lama di antara wajah budak-budak baru, tak tertahan lagi dua titik air mata menuruni
pipinya. Namun ia memaksa sebuah senyum lebar dan tangan kanannya ia angkat,
dilambaikan. “Selamat bertemu kembali saudara-saudaraku yang tercinta.”
Beberapa orang petani sudah meninggalkan sawah dan hendak lari menjemputnya,
akan tetapi sekarang para antek tuan tanah yang melihat betapa budak-budak itu
melalaikan pekerjaan mereka, segera bertindak. Tendangan, pukulan dan makian
menghujani budak-budak itu. Terdengar jeritan kesakitan dan para budak itu dengan
panik kembali ke pekerjaan masing-masing.
Akan tetapi seorang budak perempuan yang bertubuh kurus kering tak dapat bangun
setelah terkena tendangan kaki Thiat-tung Hwesio yang marah sekali, matanya
melotot lebar, tongkat besinya sudah diayun-ayun mengancam para budak.
Tiba-tiba berkelebat bayangan hijau disertai bentak lembut. “Keparat keji!” dan tubuh
Ong Hui sudah melompat dari atas kudanya, menyerbu para centeng yang sedang
menghajar hamba-hamba tani. Dalam segebrakan saja dua orang kaki tangan tuan
tanah roboh terpukul lehernya dan yang seorang lagi ditendang lambungnya.
Para centeng lain menjadi marah dan kaget melihat terjangan nyonya muda cantik ini.
Sambil berteriak-teriak marah lima orang centeng dengan golok atau tongkat di
tangan mengurung Ong Hui yang juga sudah mencabut pedangnya.
“Anjing-anjing srigala! Setelah aku datang, tidak bisa nyonya besarmu membiarkan
kalian berbuat sewenang-wenang!” seru Ong Hui sambil memutar pedangnya yang
berkelebatan cepat dan kuat sekali. Antek-antek tuan tanah itu adalah sebangsa
manusia tiada gunanya, pandainya hanya menjilat majikan, gagahnya hanya kalau
menghadapi hamba-hamba tani yang lemah, setiap hari kerjanya hanyalah berlagak
gagah-gagahan dan menyiksa para budak.
Sekarang menghadapi amukan Ong Hui yang gagah perkasa, mana mereka sanggup
melayani? Baru belasan jurus saja, dua di antara lima orang tukang pukul sudah roboh
mandi darah dan yang tiga lalu berteriak-teriak ketakutan.
“Losuhu, tolong......!”
Koleksi Kang Zusi
Thiat-tung Hwesio melompat maju mengayunkan tongkat besinya dan tiga orang
tukang pukul itu segera melompat mundur dan melarikan diri. Memang sebangsa
pengecut baru kelihatan belangnya kalau sudah menghadapi keadaan genting dan
berbahaya bagi mereka.
Thiat-tung Hwesio lihai sekali. Dia bertenaga besar dan toyanya yang berat itu
menyambar-nyambar mengeluarkan angin. Dalam pertemuan pertama antara toya dan
pedang di tangan Ong Hui, nyonya muda ini tergetar tangannya, maka cepat ia
menarik kembali pedangnya, menyelusup ke kiri dan mengirim serangan cepat
menusuk ke arah lambung pendeta itu. Inilah gerak tipu Giok-wi-yauw (Sabuk
Kumala Melilit Pinggang), sebuah jurus ilmu pedang Kun-lun Kiam-hoat yang indah
dan lihai.
Thiat-tung Hwesio tidak hanya bertenaga besar tetapi dia telah mendapat latihan dari
Thouw Tan Hwesio, Lama yang berkepandaian tinggi, maka tentu saja ilmu silatnya
juga lumayan. Menghadapi serangan yang cepat dan tidak terduga dari samping ini ia
tidak gugup, cepat ia miringkan tubuh dan memalangkan toya melindungi
lambungnya.
Kembali dua senjata bertemu yang mengakibatkan Ong Hui merasa telapak tangannya
menjadi panas. Nyonya muda ini tidak gentar, segera menggunakan kelincahannya
untuk mengirim serangan-serangan selanjutnya.
Wang Sin melihat bahwa isterinya akan sukar mengalahkan hwesio kosen itu, tidak
tinggal diam dan cepat ia melompat sambil memutar pedangnya.
“Thiat-tung Hwesio pendeta keparat. Sekarang tiba saatnya aku Wang Sin membalas
dendam!” Pedang di tangan orang muda ini menyambar dan kagetlah hati hwesio itu.
Tidak disangkanya bahwa Wang Sin masih hidup dan lebih-lebih di luar dugaannya
pemuda itu sekarang memiliki kepandaian yang begini lihai. Sambaran pedang di
tangan pemuda itu cepat dan kuat sekali. Dalam tangkisan toyanya menghadapi
pedangnya amat berbahaya. Namun ia masih membuka mulut besar.
“Ha-ha-ha, budak hina dina. Baik sekali kau mengantarkan diri, tidak susah-susah aku
mencari. Ha-ha!” Suara ketawanya terpaksa berhenti ketika pedang di tangan Wang
Sin dan isterinya berkelebatan merupakan tangan-tangan maut yang berlumba
merenggut nyawanya. Hwesio ini memutar tongkatnya dan berusaha memukul runtuh
pedang dua orang lawannya menghandalkan tenaganya.
Akan tetapi, Ong Hui adalah puteri seorang tokoh Kun-lun-pai yang cerdik. Tidak
mau ia mengadu senjatanya dengan tongkat musuh, sedangkan Wang Sin yang
memiliki tenaga besar tidak takut menghadapi toya itu.
Di lain saat hwesio itu sudah tidak mempunyai kesempatan untuk tertawa sama sekali.
Ia didesak hebat dan hanya sanggup bertahan saja sambil main mundur, tiada
kesempatan lagi baginya untuk membalas serangan dua orang lawannya yang gagah.
7. Membasmi Tuan Tanah atau Mati.
Koleksi Kang Zusi
Para hamba tani yang tadinya ketakutan diamuk kaki tangan tuan tanah, sekarang
berdiri menonton dengan mata terbelalak kagum. Tidak ada lagi antek-antek tuan
tanah di situ, kesemuanya lari ketakutan untuk melapor kepada majikan mereka, maka
para hamba tani itu tidak takut untuk meninggalkan sawah. Maka sekarang terbangun
semangat mereka ketika melihat betapa seorang bekas kawan mereka, Wang Sin,
sekarang dengan gagahnya berani melawan Thiat-tung Hwesio, malah kelihatan
mendesak hwesio yang mereka semua amat benci itu.
“Kawan-kawan, kenapa kita diam saja? Wang Sin telah datang mari kita bantu dia!”
teriak seorang kakek dengan semangat meluap dan gembira. Mendengar ini, mereka
bersorak dan majulah puluhan orang yang bekerja di bagian itu sambil mengamangamangkan
tinju, cangkul, pikulan, batu, dan alat-alat lain dengan sikap mengancam.
Bagaikan arus gelombang, mereka mendatangi tempat pertempuran. Empat orang
tukang pukul yang tadi roboh oleh Ong Hui dan belum tewas akan tetapi belum
sempat melarikan diri karena luka mereka, mereka memandang dengan mata
terbelalak ke arah gelombang para budak ini. Mereka seperti mendapat firasat akan
datangnya malapetaka, apalagi ketika para budak itu sudah datang dekat dan mereka
melihat sinar kebencian memancar keluar dari mata para budak itu.
Seorang budak yang membawa arit, yaitu seorang perempuan setengah tua yang
bertubuh kurus sekali menghampiri seorang antek yang tadi terkena pukulan Ong Hui.
Dengan mata melotot penuh kebencian ia mengangkat aritnya yang tajam. Perempuan
ini teringat akan puteranya yang dulu disiksa sampai mati oleh antek tuan tanah ini
dan sekarang tiba saatnya untuk membalas dendam yang sudah ia tahan bertahuntahun
lamanya.
Anjing tuan tanah itu memekik ketika sabit diayun ke arah kepalanya. Ia berusaha
mengelak, akan tetapi karena tadinya terkena pukulan Ong Hui dan membuat seluruh
tubuhnya lemas, elakannya kurang cepat dan “crakkk!” ujung arit itu menembus kulit
dan daging pundak, menghantam tulang punggungnya.
“Aduuhhh....... ampunnnn..... nenek Namal...... ampunkan aku......” Ia merengekrengek
dan terdengar suara mengejek dari nenek itu, diikuti oleh suara ketawa para
hamba tani lainnya. Kembali arit itu diayun “crak-crak-carak!” Darah menyembur
keluar dan terdengar anjing tuan tanah itu melolong-lolong kesakitan dan ketakutan.
Pekik dan jerit pengecut para tukang pukul yang tiga orang lagi segera menyusul
kawannya ketika para hamba tani mendatangi mereka dan menghujankan senjatasenjata
kepada empat orang tukang pukul yang apes itu. Akan tetapi tidak lama,
karena sebentar saja tubuh mereka sudah hancur lebur, habis dihajar oleh puluhan
orang yang rata-rata menyimpan sakit hati dan dendam yang amat besar turun
temurun.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati Thiat-tung Hwesio melihat hal ini.
Permainan tongkatnya kacau balau dan ujung pedang Wang Sin sudah melukai
pahanya, membuat celananya penuh darah. Para hamba bersorak girang dan mereka
ini tiada ubahnya seperti harimau-harimau yang haus darah.
Koleksi Kang Zusi
Mereka mendesak maju hendak membantu Wang Sin dan isterinya. Mereka tidak
kenal takut dan sama sekali tidak mau mundur ketika tongkat hwesio itu yang
disapukan ke belakang membuat dua orang hamba terjungkal roboh dengan kaki lukaluka.
Mereka maju terus.
Sakit hati dan dendam yang ditahan-tahan bisa membuat orang menjadi kejam hati.
Kebencian yang meluap-luap dapat membuat orang mata gelap. “Tangkap pendeta
cabul ini!” teriak seorang wanita muda dengan rambut riap-riapan dan mata
berputaran penuh kebencian.
“Jangan bunuh dulu, siksa biar dia minta-minta ampun.”
“Potong sedikit-sedikit dagingnya.”
“Kubur dia hidup-hidup.”
“Bakar dia.”
Demikianlah teriakan-teriakan para hamba tani, laki-laki dan perempuan, kakekkakek,
nenek-nenek, dan kanak-kanak. Mendengar teriakan-teriakan ini, wajah
hwesio itu menjadi pucat sekali dan diam-diam ia memeras otak mencari hafalan doadoa
selamat yang pernah ia pelajari sebagai seorang pendeta. Akan tetapi karena
selama ini kerjanya hanya menurutkan nafsunya menjadi kaki tangan tuan tanah Yang
Can, ia sudah lupa lagi akan semua doa.
Rasa takut dan ngerinya membuat ia tidak dapat bertahan lagi menghadapi pedang
Wang Sin dan Ong Hui. Ujung pedang Ong Hui lagi-lagi mencium pundaknya dan
sekali pedang Wang Sin menyambar darah mengucur dari dadanya.....
“Mati aku......!” Thiat-tung Hwesio mengeluh ketika ia terhuyung roboh. Puluhan
pasang tangan hamba tani menyambutnya dan di lain saat tubuhnya sudah diseretseret
ke tengah sawah seperti seekor babi hutan yang baru saja ditangkap untuk
disembelih beramai-ramai.
Melihat semangat para hamba tani bangkit, Wang Sin gembira. Apalagi ketika
melihat dari kanan kiri, hamba-hamba tani yang lain datang pula berlari-lari untuk
berkumpul sehingga mereka merupakan serombongan hamba tani yang jumlahnya
seratus orang lebih, hatinya menjadi makin gembira.
Ternyata bahwa para kaki tangan tuan tanah di bagian lain segera melarikan diri
meninggalkan pekerjaan ketika mendengar bahwa Wang Sin datang bersama seorang
wanita Han yang cantik dan mengamuk.
“Kawan-kawan, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk menghancurkan tuan tanah
Yang Can. Aku, Wang Sin yang kalian sudah kenal, dan ini isteriku, Ong Hui, kami
sudah bertekad untuk membasmi tuan tanah Yang Can dan membebaskan kalian dari
penindasan. Siapa ikut?”
Koleksi Kang Zusi
Para hamba tani bersorak dan semua mengacungkan tangan yang kini sudah berlumur
darah, darah empat orang centeng dan darah Thiat-tung Hwesio, di mana mereka
bercucuran air mata.
Wang Sin membawa kepalan tangan kirinya ke muka untuk menghapus dua butir air
matanya sendiri. “Bagus, mari kita serbu tuan tanah Yang Can dan kaki tangannya!”
Demikianlah, dipimpin oleh Wang Sin dan Ong Hui, mereka ini merupakan
sepasukan orang-orang yang nekad, yang pada saat itu hanya mengenal satu tekad :
Membasmi Tuan Tanah atau Mati!
Sementara itu, Yang Can sudah bersiap sedia. Ia terkejut setengah mati ketika melihat
kaki tangannya berlari-lari mendatangi dengan muka pucat melaporkan segala
kejadian. Hampir ia tidak dapat percaya ketika mendengar laporan bahwa Thiat-tung
Hwesio juga sudah tewas di tangan Wang Sin. Thiat-tung Hwesio amat gagah,
bagaimana bisa tewas di tangan pemuda hina itu?
“Lekas beritahukan Thouw Tan Losuhu dan panggil semua pendeta lama untuk
membantu!” teriaknya dengan muka pucat.
Thouw Tan Hwesio, Lama jubah kuning yang bertubuh tinggi besar, tokoh pertama di
dusun Loka dan dianggap sebagai manusia dewa, menjadi marah bukan main
mendengar bahwa Wang Sin datang membuat ribut. Apalagi ketika mendengar betapa
Wang Sin sudah membunuh Thiat-tung Hwesio, kemarahannya memuncak.
“Bocah ingusan itu berani membunuh seorang pendeta di sini? Biarkan dia datang,
lihat akan pinto patahkan lehernya!”
Ucapan hwesio ini sombong sekali, akan tetapi tidak aneh kalau dia menyombong.
Thouw Tan Hwesio bukanlah orang sembarangan. Dia menjadi kepala pendeta di kuil
Loka adalah karena pengangkatan dari kuil pusat di Lasha. Dan sudah tidak asing
lagi, bahwa pendeta yang datang dari Lasha tentulah orang gemblengan yang
memiliki kepandaian tinggi, baik dalam bidang ilmu silat maupun ilmu kebatinan dan
agama.
Tentu saja mendengar tentang diri Wang Sin, dia memandang rendah. Apa sih
kelihaian seorang pemuda yang baru menekuni ilmu selama lima tahun. Biarpun
dididik oleh orang sakti, tidak mungkin akan dapat melawannya. Apalagi di situ
terkumpul banyak murid-muridnya dan kaki tangan tuan tanah yang rata-rata juga
memiliki kepandaian silat.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati tuan tanah Yang Can ketika ia mendengar
bahwa Wang Sin dan isterinya orang Han itu kini menyerbu ke dusunnya diikuti oleh
seratus lebih budak-budak yang kini telah memberontak. Dari kaget ia menjadi marah
bukan main. Saking marahnya tuan tanah ini merenggut topi dari kepalanya, dan
membanting-banting topinya di atas tanah.
“Setan jahanam! Keparat Laknat! Bunuh budak Wang Sin itu bersama siluman wanita
yang dibawanya. Tangkap semua budak dan beri rangketan lima puluh kali setiap
orang, jangan beri makan sampai tiga hari!”
Koleksi Kang Zusi
Kemudian ia menghadap Thouw Tan Hwesio sambil berkata. “Losuhu, tolonglah
kami, harap jangan biarkan orang-orang hina itu menginjak-injak kehormatan kita.”
Thouw Tan Hwesio yang sedang menghadapi meja, sedang dijamu hidanganhidangan
lezat dan arak wangi, tertawa bergelak sampai tubuhnya yang tinggi besar
itu bergerak-gerak. “Ha-ha-ha, jangan khawatir ..... jangan khawatir. Sekali pinceng
menggerakkan tongkat, akan remuk batok kepala orang berdosa Wang Sin itu. Dua
kali pinceng menggerakkan tongkat, siluman perempuan itu takkan dapat bernyawa
lagi!”
Baru saja ia berkata demikian, di luar terdengar sorak sorai ramai di susul pekik yang
riuh rendah. Para budak yang dipimpin Wang Sin dan Ong Hui telah tiba di situ dan
sudah mulai “perang” melawan antek-antek tuan tanah.
Tentu saja para budak yang tidak bisa ilmu silat itu bukan tandingan para anjing tuan
tanah, akan tetapi mereka berjumlah banyak, bersemangat tinggi dan sudah nekat.
Apalagi di situ terdapat Wang Sin dan Ong Hui yang mengamuk bagaikan dua ekor
naga sakti. Pedang suami isteri ini berkelebatan dan sukar ditahan. Karena para kaki
tangan tuan tanah yang hanya berjumlah tiga puluh orang itu mulai terdesak mundur.
Beberapa orang di antara mereka sudah roboh oleh pedang Wang Sin dan Ong Hui,
atau roboh oleh serbuan para budak yang sudah nekat dan tidak takut mati itu. Tentu
saja di pihak para pemberontak sudah banyak pula yang roboh dikemplang toya atau
dibacok golok.
Pertempuran makin hebat, para pemberontak makin mendesak dan mulai mendekati
gedung besar tempat tinggal tuan tanah Yang Can. Keadaan amat mengancam bagi
keselamatan keluarga tuan tanah itu.
Pada saat keadaan sedang ramai-ramainya, tiba-tiba dari samping gedung itu berlari
seorang kakek yang terbungkuk-bungkuk dan tangannya meraba-raba ke depan. Ia
nampak bingung dan mulutnya keluar kata-kata penuh gairah.
“Wang Sin pulang, Wang Sin pulang..... mana anakku Ci Ying?” Lalu ia berlari ke
depan, tersandung jatuh, berdiri lagi dan berteriak-teriak. Ci Ying......! Ci Ying......!
Kesinilah kau.......!”
Semua orang yang sedang bertempur, baik dari pihak para budak maupun pihak tuan
tanah, tidak memperhatikan atau memperdulikan orang ini. Akan tetapi ketika Wang
Sin mendengar suara ini, ia cepat menengok sambil melompat mundur dari kepungan
lawan. Bukan main kaget dan terharunya ketika melihat bahwa orang itu adalah ayah
Ci Ying.
“Paman Ci Leng.....!” serunya sambil menubruk maju melihat orang tua itu lagi-lagi
tersandung dan terguling roboh sehingga ia masih sempat memeluknya.
Wang Sin merasa kasihan sekali. Bagaimana kakek ini sekarang menjadi begini rusak
tubuhnya dan buta matanya?
Koleksi Kang Zusi
Ci Leng memeluk Wang Sin sambil meraba-raba pundak dan muka orang muda itu,
mulutnya tertawa lebar. “Wang Sin ..... ah, kau benar Wang Sin...... aku mendengar
kau datang bersama seorang wanita cantik, tentu dia Ci Ying....... mana dia?”
Tertikam hati Wang Sin mendengar ini. Tidak boleh disalahkan orang tua ini.
Memang tentu saja semua orang pun mengharapkan dia kembali bersama Ci Ying,
karena bukankah dia dahulunya melarikan diri bersama gadis itu?
“Bukan paman, bukan Ci Ying.....” katanya lemah.
Naik sedu sedan putus asa di kerongkongan kakek itu.
“Bukan Ci Ying.....? Habis siapa dia..... dan mana Ci Ying........?”
Belum sempat Wang Sin menjawab, terdengar bentakan nyaring, “Budak hina, kau
berani kembali mengantarkan nyawa?”
Wang Sin kaget mendengar sambaran angin yang amat kuat. Cepat ia mengayun
pedangnya ke belakang sambil melompat meninggalkan Ci Leng. “Traangggg.....!”
Tangannya tergetar dan ia kaget melihat tongkat di tangan penyerangnya tidak patah
seperti tongkat-tongkat lain ketika bertemu dengan pedang pusakanya. Ketika ia
memandang, ternyata bahwa penyerangnya itu bukan lain adalah Thouw Tan Hwesio,
si pendeta jubah kuning yang dulu amat ia takuti.
“Pendeta keparat, aku kembali untuk membasmi setan-setan macam-macam engkau!”
seru Wang Sin yang cepat melakukan serangan. Di lain saat kedua orang ini sudah
bertempur hebat dan segera Wang Sin mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian
pendeta kepala ini benar-benar hebat dan masih jauh di atas tingkat kepandaiannya
sendiri. Ketika ia melirik dan melihat isterinya pun didesak oleh tujuh orang pendeta
murid Thouw Tan Hwesio, diam-diam ia mengeluh.
Sementara itu, para budak masih terus menerjang maju, berkelahi dan bergumul
melawan kaki tangan tuan tanah. Pekik kemarahan dan jerit kesakitan bercampur aduk
membuat keadaan di situ makin kacau dan mengerikan. Yang Can sendiri bersama
keluarganya sudah sejak tadi menyembunyikan diri di dalam gedung.
Ci Leng yang tidak dapat melihat lagi, ketika mendengar bahwa anaknya tidak ikut
Wang Sin datang, menangis tersedu-sedu dan menjadi putus harapan.
Lima tahun ia menguatkan diri, menahan segala macam siksaan, dipukuil, dihina,
dicokel matanya, akan tetapi ia masih hidup karena memang ia ingin hidup, ingin
anaknya datang kembali menolong dan membalaskan dendam untuknya. Benar saja
Wang Sin kembali dan melakukan pembalasan, akan tetapi Ci Ying, anaknya, calon
isterinya Wang Sin, kenapa tidak datang? Itu tentu hanya satu artinya, yaitu Ci Ying
anaknya itu sudah mati.
“Ci Ying......! Ci Ying......!” Kakek buta ini menangis.
Koleksi Kang Zusi
Seorang tukang pukul yang kebetulan berada di dekat situ, melihat Ci Leng menjadi
meluap kemarahannya. Inilah orangnya yang menjadi biang keladi sampai sekarang
Wang Sin datang menggerakkan semua budak untuk memberontak.
“Anjing buta, mampuslah dulu kau!” serunya sambil mengayun golok membacok ke
arah leher Ci Leng. Orang tua ini maklum bahwa dia yang dimaki dan hendak
diserang, akan tetapi ia sudah tidak mempunyai nafsu untuk hidup, maka tanpa takut
sedikitpun ia menanti datangnya maut.
Pada saat golok itu hampir menyentuh leher Ci Leng, terdengar jerit melengking yang
amat tinggi dan nyaring, jerit yang membuat semua orang merasakan bulu tengkuknya
berdiri. Malah hebatnya, jerit ini membuat banyak orang menggigil karena
mengandung pengaruh yang mujijat. Bahkan Wang Sin dan Ong Hui sendiri sampai
melompat mundur ketika merasakan goncangan hebat dalam dada mereka mendengar
jerit itu.
Lebih hebat lagi, terdengar suara “krakk!” dan tukang pukul yang tadi menyerang Ci
Leng, telah terlempar dengan kepala remuk. Di lain saat orang-orang melihat Ci Leng
telah dipeluk oleh seorang perempuan cantik yang menangis dan mendekap kepala
orang buta itu ke dadanya.
“Ayah...... ayah.....!” wanita itu menangis sambil mengeluh.
“Ci Ying.......” Wang Sin terbelalak dan girang, akan tetapi ia harus cepat mengelak
karena kembali Thouw Tan Hwesio sudah menyerangnya. Juga Ong Hui sudah
dikeroyok lagi. Nyonya muda ini sudah lelah sekali dan pundaknya sudah terpukul
toya, maka geraknya amat lambat dan ia terancam bahaya besar. Keadaan Wang Sin
tidak lebih baik, ia didesak habis-habisan oleh Thouw Tan Hwesio yang lihai.
“Ci Ying datang .....! Ci Ying datang .....!” Para budak meningkat semangat bertempur
mereka melihat kedatangan Ci Ying. Mereka mengamuk terus biarpun sudah banyak
di antara mereka yang tewas.
Ketika pertempuran sudah berlangsung lagi hebat dari pada tadi, kini tak seorangpun
dapat memperhatikan Ci Ying. Gadis ini masih seperti dulu, lima tahun yang lalu,
masih cantik manis. Hanya pakaiannya yang kini sudah berganti seperti pakaian
wanita Han. Rambutnya digelung tinggi, membuat wajahnya makin manis dipandang.
Senyumnya yang dulu masih membayang di bibirnya dan pipinya masih tetap
kemerahan dihias lesung pipit di sebelah kiri. Akan tetapi kalau orang melihat
sepasang matanya, ia akan menjadi kaget sekali. Mata ini luar biasa sekali, tajam dan
mempunyai sinar yang aneh, malah menyeramkan.
Ci Leng menggerak-gerakkan pelupuk matanya yang buta dan dari mata yang sudah
bolong itu mengalir air mata, akan tetapi mulutnya tersenyum. “Ci Ying ....anakku
....., syukurlah kau masih hidup...”
Kakek ini terengah-engah, memeluk anaknya erat-erat dan di lain saat ia telah
menghembuskan napas terakhir dalam pelukan anaknya. Rupa-rupanya karena selama
bertahun-tahun menderita sengsara dan mempertahankan diri untuk hidup karena
Koleksi Kang Zusi
ingin bertemu kembali dengan anaknya, setelah sekarang bertemu, kegirangan luar
biasa menyebabkan kakek ini tidak kuat menahan dan jantungnya menjadi pecah
mendatangkan kematiannya,
“Ayah .... Ayah....!” Ci Ying meraung-raung, akan tetapi hanya sebentar saja ia
menangis. Tiba-tiba ia terdiam dan meletakkan tubuh ayahnya di atas tanah.
Kemudian bangkit berdiri, memutar tubuh dan sepasang matanya yang aneh itu
menyapu-nyapu semua orang di situ. “Ayah, kau telah dibikin buta, disiksa, dibunuh
.... lihat, lihat baik-baik ayah. Anakmu akan membasmi mereka!”
Tubuhnya mencelat ke tengah pertempuran, sambil mengeluarkan pekik
menyeramkan. Hebat sepak terjangnya. Sekali mengulurkan tangan ia menyerang dua
orang tukang pukul. Dua orang itu dengan penuh kengerian mengangkat senjata
mereka, seorang membacok dengan golok dan yang kedua mengemplang dengan toya
besi.
Akan tetapi Ci Ying tidak mempedulikan serangan ini. Tangan kirinya menyampok
golok yang segera terpental patah dan toya yang mengemplang pundaknya tidak
ditangkis, akan tetapi terpental ketika mengenai pundak. Di lain saat kedua tangannya
sudah menyambar, tepat dua orang itu kena dicengkeram lehernya dan sekali remas
terdengar suara keras dan .... tulang leher dua orang itu patah-patah. Tubuh mereka
terkulai tak bernyawa lagi.
Sambil mengeluarkan lagi pekik mengerikan, Ci Ying melemparkan dua mayat itu ke
arah tukang pukul-tukang pukul yang lain. Hebatnya, lemparan ini mengandung
tenaga luar biasa kuatnya sehingga sekali gus dua orang tukang pukul dan seorang
budak yang kena tertumbuk dua mayat itu terjungkal tak dapat bangun lagi.
Kembali dia melompat maju dan menangkap dua orang tukang pukul yang sekali gus
ia bunuh dalam cengkeraman kedua tangannya yang lihai. Terdengar suara keras dan
ternyata sekarang sebuah lengan tangan dari masing-masing tukang pukul telah .....
putus terlepas dari pundak karena dibetot oleh Ci Ying. Dengan dua buah lengan ini ia
lalu mengamuk ke kanan kiri dan dalam sekejap mata saja roboh enam orang tukang
pukul lagi yang mengeroyok Ong Hui yang sudah kepayahan.
Melihat Wang Sin didesak oleh hwesio tinggi besar, Ci Ying melemparkan dua buah
lengan itu ke arah pertempuran. Terdengar suara angin bersiut dan Wang Sin cepat
mengelak sambil menangkis dengan tangan kiri. Alangkah terkejutnya ketika ia
merasa lengan tangan kirinya itu menjadi sakit dan linu sekali. Bukan main,
bagaimana Ci Ying bisa memiliki tenaga demikian hebat dan kepandaian demikian
lihai?
“Ci Ying.......!” Ia berseru girang, kaget dan ngeri.
“Hi, hi, hi Wang Sin. Serahkan saja anjing budak bangkotan ini kepadaku!”
Adapun Thouw Tan Hwesio yang juga menangkis lengan itu dengan toyanya, merasa
pula betapa telapak tangannya pedas. Ia kaget sekali dan jerih, akan tetapi serangan Ci
Ying sudah tiba secara mendadak sehingga terpaksa ia melayani wanita aneh ini.
Koleksi Kang Zusi
Tahu-tahu Ci Ying sudah menggunakan senjata yang istimewa, yaitu sehelai sabuk
merah yang bergerak-gerak lemas bagaikan ular, akan tetapi jangan dipandang ringan
sabuk sutera ini karena setiap ujung sabuk tidak kurang ganasnya dari pada seekor
ular beracun. Sabuk ini digerakkan dengan tenaga lweekang yang mujijat, di samping
dapat menotok urat-urat kematian, juga sabuk ini telah direndam racun yang hebat
dan berbahaya sehingga andaikata pukulan sabuk dapat ditahan oleh ahli lweekang,
namun pengaruh racun tetap saja merupakan ancaman maut.
Melihat dua ujung sabuk itu dengan ganasnya menyambar ke arah kepala dan
dadanya, Thouw Tan Hwesio kaget sekali dan cepat ia memutar toyanya untuk
menangkis sambil mengerahkan tenaganya. Akan tetapi kali ini ia bertemu tandingan.
Toyanya adalah senjata yang keras dan kaku, mana bisa mempengaruhi senjata sabuk
sutera yang lemas.
Di lain saat toyanya sudah dilibat dan begitu Ci Ying membetot, hampir saja toya itu
terlepas dari tangannya. Dalam kekagetannya, Thouw Tan Hwesio mengeluarkan
seruan keras dan kedua kakinya secara bertubi-tubi mengirim tendangan, sedangkan
keringat dingin membasahi mukanya.
Ci Ying mengeluarkan suara ketawa mengejek sambil menarik sabuknya dan
mengelak ke belakang, kemudian ujung sabuknya kembali menyambar untuk
menyambut kaki yang menendang, Thouw Tan Hwesio cepat-cepat menahan
tendangannya. Celakalah kalau sampai kakinya kena terlibat.
Segera keduanya mengeluarkan kepandaian masing-masing dan bertempur seru, akan
tetapi selalu hwesio itu berada di pihak terdesak oleh permainan sabuk yang amat
aneh dan ganas sekali itu. Melihat ini, Wang Sin timbul kegembiraannya, dan cepat ia
melompat dan menggerakkan pedangnya membantu Ci Ying.
Melihat majunya pemuda ini Thouw Tan Hwesio menjadi khawatir sekali. Ia memutar
toyanya dan tiba-tiba mulutnya kemak-kemik dan di lain saat ia berseru dengan suara
keras dan amat berpengaruh. “Rebahlah kalian!”
Hebat sekali suara Thouw Tan Hwesio ini. Dia adalah seorang ahli hoat-sut (sihir)
yang merupakan ilmu hitam dan yang biasanya dipergunakan para pendeta Lama
untuk mempengaruhi dan menakut-nakuti para budak. Seruan itu adalah semacam
ilmu sihir yang pengaruhnya merampas semangat orang, membuat orang menurut
akan kehendak yang menjalankan ilmu ini.
Wang Sin ketika mendengar seruan ini, tanpa dapat ditahan lagi lalu terhuyung dan
hampir roboh. Andaikata dia hanya menghadapi hwesio itu seorang diri, tentu dalam
keadaan seperti itu ia akan dapat diserang dan mengalami kecelakaan. Akan tetapi,
alangkah heran dan terkejutnya hati Thow Tan Hwesio ketika melihat Ci Ying tertawa
terkekeh-kekeh menghadapi serangannya dengan ilmu hitam tadi.
“Hi, hi, hi, anjing tua bangkotan, jangan membadut di depanku!” Dan Ci Ying terus
menyerang sambil berkata kepada Wang Sin. “Wang Sin, mundurlah. Biarkan aku
merampas kepala anjing gundul ini.”
Koleksi Kang Zusi
Wang Sin tidak berani maju lagi. Ia menoleh dan melihat isterinya masih mengamuk
dan dikeroyok lagi oleh beberapa orang hwesio dan tukang pukul, ia melompat dan
membantu isterinya. Semangat suami isteri ini bangkit kembali melihat datangnya
bantuan Ci Ying yang lihai.
Mereka tidak menghiraukan luka-luka mereka dan dalam beberapa jurus telah
merobohkan pula empat orang hwesio murid Thouw Tan Hwesio. Para budak juga
terus menyerbu, malah sekarang sudah mulai memasuki ruangan sebelah dalam
gedung keluarga tuan tanah Yang Can.
Tuan tanah Yang Can ketika melihat keadaan yang amat berbahaya itu, telah
mempersiapkan kuda dan berlari dari pintu belakang. Tuan tanah yang pengecut ini
tidak memperdulikan lagi nasib keluarganya. Dengan sepuluh orang tukang pukul
sebagai pelindung, ia melompat ke atas kuda dan melarikan diri.
“Tuan tanah keparat lari!” teriak Wang Sin. “Tahan dia jangan sampai lolos!”
Besama-sama isterinya, ia meninggalkan pengeroyok-pengeroyoknya dan mengejar.
Akan tetapi sepuluh orang tukang pukul menghalangi mereka dan kuda yang
ditunggangi oleh Yang Can sudah mulai kabur.
Tiba-tiba kuda itu meringkik dan roboh, membawa tuan tanah itu roboh bersama.
Ternyata sebuah pisau belati telah dilontarkan oleh Ci Ying dan tepat menancap di
leher kuda itu. Melihat tuan tanah yang dibencinya itu hendak lari, Ci Ying
mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa. Sebuah ujung sabuknya menotok
pergelangan tangan kiri Thouw Tan Hwesio membuat hwesio itu memekik kesakitan
dan melepaskan toya, akan tetapi tangan kanan yang memegang toya masih
digerakkan, mengayun toya ke arah leher Ci Ying.
Anehnya, Ci Ying sama sekali tidak mengelak, menerima saja gebukan ini. Benarbenar
hebat gadis ini. Toya yang menghantam lehernya terpental dan sebelum Thouw
Tan Hwesio hilang kagetnya, lengan kanannya sudah kena dicengkeram sampai patah
tulangnya. Ia menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi tidak sempat mengelak
ketika ujung sabuk merah menyambar dan melilit lehernya.
Hwesio tinggi besar ini kaget sekali. Tangan kanannya sudah patah dan tidak dapat
digerakkan. Dengan tangan kiri ia merenggut sabuk yang melibat leher, ditariktariknya
sekuat tenaga namun sia-sia. Sabuk itu membalut leher makin erat, ia
terhuyung dan roboh, namun bagaikan ular hidup sabuk merah itu membelit terus
sampai akhirnya kedua matanya melotot dan lidahnya keluar. Ia menghembuskan
napasnya dalam keadaan mengerikan setelah kaki tangannya berkelonjotan.
Sambil tertawa mengerikan Ci Ying melompat dan mengejar Yang Can. Tuan tanah
ini ketika roboh dari kuda, dengan ketakutan merangkak-rangkak hendak melarikan
diri. Akan tetapi tiba-tiba lehernya ditangkap orang dan tubuhnya diangkat ke atas.
Sekelebatan ia melihat wajah Ci Ying yang cantik akan tetapi dengan sinar mata yang
membuat rambut kepalanya sampai berdiri saking takutnya. Sinar mata itu bukan
sinar mata manusia lagi, melainkan sinar mata iblis yang haus darah. Ia memekikKoleksi
Kang Zusi
mekik sampai lehernya kering dan tidak ada suara lagi keluar dari lehernya ketika Ci
Ying menyeretnya ke depan mayat Ci Leng.
8. Keganasan Calon Isteri Tercinta.
Pada saat itu, semua budak di dusun Loka ternyata sudah ikut berontak dan menyerbu
rumah tiga orang tuan tanah yang lain. Tidak terdapat banyak perlawanan pada tuan
tanah yang lain itu karena semua pendeta Lama mementingkan tuan tanah Yang Can
untuk mereka lindungi.
Tuan-tuan tanah yang lain itu siang-siang sudah melarikan diri, meninggalkan rumah
dan harta benda mereka. Kini para budak sudah menggabungkan diri dengan budakbudak
tuan tanah Yang Can sehingga kekuatan mereka benar-benar tak dapat
dibendung oleh para tukang pukul yang biasanya galak-galak dan kejam-kejam.
Akan tetapi, ketika melihat sepak terjang Ci Ying, semua pemberontak menjadi ngeri.
Wang Sin dan Ong Hui yang sudah kehabisan lawan karena tukang pukul-tukang
pukul yang masih hidup sudah pada melarikan diri cepat-cepat dari tempat
pertempuran, kinipun memandang ke arah Ci Ying.
Gadis ini menyeret tuan tanah Yang Can dan melemparkannya ke depan mayat Ci
Leng. Kemudian sambil terisak-isak gadis ini menyambar sebuah kursi, lalu ia
mengangkat mayat ayahnya dan mendudukkan mayat itu di atas kursi.
Yang Can sudah menggigil seluruh tubuhnya, mukanya menyaingi muka mayat itu
pucatnya dan ia mendeprok di atas tanah tidak bergerak lagi.
Setelah puas menangis di depan mayat ayahnya yang sekarang duduk di kursi dengan
kepala disandarkan ke belakang sehingga seperti sedang berdongak, Ci Ying
membentak tuan tanah itu. “Hayo berlutut memberi hormat kepada tuan besar Ci
Leng!”
Sambil berkata demikian tangannya mendorong pundak sampai tuan tanah itu roboh
terguling. Dengan ketakutan hebat Yang Can lalu merangkak dan berlutut di depan
mayat Ci Leng, mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tiada hentinya meminta
ampun.
“Ayah, ini musuh besarmu, anjing hina dina Yang Can minta ampun atas semua
perbuatannya yang keji kepadamu. Ayah, sukakah kau mengampuninya?” Ci Ying
berkata lagi sambil memandang ayahnya. Sikapnya demikian sungguh-sungguh
seperti sedang bicara dengan seorang hidup dan hal ini membuat semua orang yang
berada di sini melongo dan ngeri.
Mayat Ci Leng masih lemas, belum kaku dan karena disandarkan tanpa ada yang
memegangnya, tiba-tiba kepalanya terkulai ke kiri, Ci Ying cepat menahan tubuh
ayahnya supaya jangan terguling dan membenarkan letak duduknya.
“Ah, jadi kau tidak mau mengampuninya, ayah? Baik, anak akan mengambil
jantungnya untuk ayah dahar.”
Koleksi Kang Zusi
Mendengar ini, Wang Sin sendiri sampai menjadi pucat mukanya. Tidak salah lagi,
gerak gerik dan omongan gadis yang menjadi tunangannya itu menandakan bahwa Ci
Ying sudah miring otaknya. Tiba-tiba gadis itu yang sudah menggerakkan tangan,
tertawa bergelak melihat Yang Can menggigil minta-minta ampun.
“Ayah, biar dia merasai penderitaanmu lebih dulu.” Setelah berkata demikian, begitu
tangan kirinya bergerak dengan dua jari dibuka, sepasang mata tuan tanah itu telah ia
korek keluar. Yang Can menjerit melolong-lolong kesakitan, dari dua matanya yang
bolong keluar darah.
Bukan main ngerinya. Sambil tertawa-tawa Ci Ying membawa dua biji mata itu
kepada ayahnya dan memasukkan dua biji mata itu ke dalam rongga mata ayahnya
yang sudah bolong. “Biar matanya menggantikan matamu, ayah,” katanya lagi,
suaranya nyaring tinggi dan masih merdu, akan tetapi mengandung pengaruh yang
membuat orang merasa bulu tengkuknya meremang.
“Anjing hina, sekarang berikan jantungmu kepada ayah!” Tangan kanannya bergerak
dengan jari-jari terbuka dan..... sekali tusuk tangannya itu telah masuk ke dalam dada
Yang Can dan di lain saat tangan itu sudah membetot keluar sebuah benda kecil
kemerahan yang berlepotan darah.
Itulah jantung Yang Can. Tubuh tuan tanah itu berkelonjotan tapi hanya sebentar,
karena nyawanya telah meninggalkan tubuhnya. Dadanya terbuka lebar dan darah
membanjir di lantai itu.
Ci Ying mengambil sebuah meja, dan menaruh jantung manusia di atas meja yang
dipasang di depan mayat ayahnya. Kemudian matanya menyambar ke sana-sini, lalu
tubuhnya mencelat dan di lain saat ia telah menghampiri dua orang tukang pukul yang
masih rebah merintih-rintih. Dua kali tangannya bekerja dan leher tukang pukul itu
telah ia tabas hancur dan putus hanya dengan tangan kosong. Ia membawa dua kepala
itu dan ditaruhkan di atas meja pula.
Melihat ini, semua orang merasa ngeri. Wang Sin dan Ong Hui terkejut bukan main.
Dengan tangan kosong sekali tabas memutuskan leher orang inilah kepandaian yang
selain mengerikan, juga luar biasa lihainya. Saking heran dan seram, mereka tidak
dapat mengeluarkan kata-kata, hanya mengikuti Ci Ying dengan pandangannya.
Sambil tertawa Ci Ying masih mencari tukang pukul-tukang pukul yang belum mati
dan seperti tadi, ia memutus leher mengambil kepala orang sampai sebentar saja meja
itu penuh kepala tukang-tukang pukul dan pendeta-pendeta Lama yang belasan
jumlahnya.
“Itulah Thai-lek Pek-kong-jiu.....” bisik Ong Hui, suaranya gemetar. Gadis ini adalah
puteri seorang jagoan, sudah banyak ia menghadapi pengalaman-pengalaman hebat,
sudah sering ia melihat orang-orang pandai dan ilmu-ilmu yang lihai, akan tetapi baru
kali ini dia menghadapinya dengan hati berdebar ngeri. Ia pernah mendengar dari
ayahnya tentang ilmu pukulan Thai-lek Pek-kong-jiu yang amat lihai, yang membuat
tangan orang menjadi sekuat baja, setajam golok. Maka melihat perbuatan Ci Ying,
tanpa terasa lagi ia mengeluarkan ucapan itu.
Koleksi Kang Zusi
Biarpun ia hanya berbisik di dekat suaminya, namun ternyata Ci Ying mendengarnya
juga. Gadis ini cepat memutar tubuh dan sepasang matanya liar menentang Ong Hui.
Tiba-tiba ia mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya menyambar ke arah Ong Hui
dengan tangan mencengkeram.
Ong Hui kaget, cepat mengelak ke kanan. Ia merasai dinginnya hawa pukulan yang
lewat di dekat lehernya, membuat ia bergidik. “Berbahaya......” katanya dalam hati.
Sementara itu, Ci Ying kelihatan heran melihat serangannya tidak berhasil.
Dikeluarkannya sabuk merahnya yang lihai dan ia hendak menyerang lagi. Akan
tetapi Wang Sin melompat maju dan mencegat.
“Ci Ying, jangan .....!”
Mendengar suara Wang Sin, gadis ini menengok dan agaknya baru ia teringat bahwa
Wang Sin berada di situ. Ia ragu-ragu dan sambil memandang ke arah Ong Hui
dengan mata liar penuh ancaman, ia bertanya.
“Siapa dia .....?”
Wang Sin bingung. Kalau keadaan Ci Ying tidak seperti itu, tentu ia akan mengaku
terus terang malah hendak bicara dengan jelas mengapa ia sampai menikah dengan
gadis lain. Akan tetapi di situ banyak orang, pula keadaan Ci Ying demikian
menyeramkan, ia khawatir akan terjadi hal-hal lebih hebat kalau berterus terang.
“Dia .... dia orang sendiri, Ci Ying, bukan musuh.”
Ci Ying tersenyum mengejek dan melempar rasa ejekan kepada Ong Hui. “Hemmm,
baiknya ada tunanganku ini yang mengingatkan. Baiklah, melihat muka tunanganku,
aku bebaskan kau dari kewajiban mengantar roh ayah.”
Sebelum Ong Hui yang menjadi marah sekali itu sempat menjawab, seperti orang
diingatkan, Ci Ying berpaling kepada Wang Sin, memegang tangannya dan berkata
girang, “Ah, hampir aku lupa, Wang Sin. Cita-cita kita sejak dulu belum juga
terlaksana. Sekarang selagi ayah masih duduk di sana, mari kita langsungkan
perkawinan kita di depan ayah.” Ia menarik tangan Wang Sin, diajak bersembahyang
di depan mayat ayahnya.
Wang Sin menjadi pucat. Tak terasa lagi ia merenggut tangannya, terlepas dari
pegangan Ci Ying. Gadis itu memandangnya dengan kerling dan senyum seperti dulu
ketika mereka masih berada di situ. Manis dan menarik. Ternyata gadis ini masih
belum kehilangan sifat-sifat cantiknya masih menarik dan manis. Hanya sepasang
matanya itu saja yang membuat jantung Wang Sin berdenyut tak enak. Sepasang mata
yang membayangkan sinar aneh menakutkan. Apa yang sudah terjadi atas diri gadis
ini?”
Melihat keraguan Wang Sin, Ci Ying bertanya, “Wang Sin, kanda Wang Sin yang
baik, kenapa kau ragu-ragu?”
Wang Sin bingung tak dapat menjawab. Akhirnya ia menarik napas panjang dan
Koleksi Kang Zusi
bertanya, “Ci Ying, alangkah berubahnya engkau. Apakah yang sudah terjadi dengan
dirimu? Bagaimana kau tahu-tahu bisa memiliki kepandaian sehebat ini?”
Ci Ying tertawa, masih merdu dan nyaring, akan tetapi kembali jantung Wang Sin
berdenyut aneh mendengar suara ketawa yang seram ini. Setelah tertawa bergelak
tanpa menjawab pertanyaan Wang Sin, Ci Ying tiba-tiba mengangkat kedua
tangannya, memandang kepada semua budak yang berdiri di situ sambil berseru,
“Hai, kawan-kawan semua! Hayo kalian semua berlutut dan memberi hormat kepada
tuan besar Ci Leng, ayahku!”
Para budak tidak ada yang berani membantah. Serentak mereka menjatuhkan diri
berlutut, bahkan di antaranya ada yang mulai menangis untuk menyatakan kesedihan
karena kematian Ci Leng. Wang Sin sendiri yang menaruh hormat kepada orang tua
itu, tanpa ragu-ragu lalu berlutut pula memberi hormat. Ci Ying menangis dan tertawa
bergantian seperti orang gila, kemudian ia berkata.
“Wang Sin, ketika aku melarikan diri, aku diculik oleh anjing-anjing tuan tanah.
Kemudian aku ditolong oleh Cheng Hoa Suthai yang selanjutnya membawaku ke
Heng-toan-san dan aku menjadi muridnya. Guruku itu setuju aku turun gunung
membasmi para tuan tanah, dan setuju pula aku menikah denganmu, dengan siapa saja
yang ku suka. Aku hanya suka kepadamu seorang Wang Sin. Sekarang mari kita
bersumpah di depan ayah untuk menjadi suami isteri seperti yang kita cita-citakan
dulu.”
Wang Sin sudah mengambil keputusan untuk memutuskan tali perjodohannya dengan
Ci Ying, gadis yang sekarang berubah menjadi wanita menyeramkan ini. Ia tahu
bahwa tidak akan mungkin ia mengawini gadis ini disamping isterinya. Maka dengan
suara gemetar saking tegang hatinya akan tetapi dengan pandangannya jujur ia
berkata.
“Hal itu tak mungkin dilakukan, Ci Ying, karena .....”
“Apa katamu? Karena apa .....? Hayo katakan, kenapa kau menolak?” Suara Ci Ying
berubah beringas, penuh ancaman.
“Karena .....karena aku sudah menikah! Dia itu, Ong Hui puteri suhuku, dialah
isteriku,” jawab Wang Sin sambil menunjuk ke arah Ong Hui.
Ci Ying menengok dan memandang Ong Hui yang tentu saja kelihatan jelas karena
dia ini tidak ikut berlutut seperti semua orang yang berada di situ. Melihat bahwa
isteri Wang Sin adalah wanita yang tadi hendak diserangnya, kekagetan hati Ci Ying
berubah menjadi kemurkaan hebat. Mukanya yang tadi berubah agak pucat
mendengar jawaban Wang Sin, kini menjadi merah dan matanya makin liar berapi.
“Hei, kau berani merampas kekasihku? Kau sudah bosan hidup!” Sambil
mengeluarkan pekik keras, tubuh Ci Ying mencelat dan ia mengirim serangan ke arah
dada Ong Hui.
Wang Sin yang sudah menaruh hati khawatir dan sudah siap siaga, melompat maju
dan cepat menangkis. Serangan Ci Ying tadi hebat sekali, sampai-sampai Wang Sin
Koleksi Kang Zusi
yang menangkis dari samping terpental mundur tiga langkah dengan lengan terasa
sakit. Akan tetapi pukulan Ci Ying itupun meleset tidak mengenai Ong Hui yang
sudah meloncat ke kiri.
Semenjak tadi, muka Ong Hui yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah.
Sebetulnya ia merasa amat kasihan kepada Ci Ying yang sudah ia dengar riwayat
hidupnya dari Wang Sin. Semenjak dulu iapun sudah siap sedia dan rela untuk
membiarkan suaminya itu menikah dengan Ci Ying kalau mereka dapat saling
bertemu kembali. Hanya sama sekali ia tidak mengira bahwa Ci Ying tunangan
suaminya itu ternyata demikian ganas wataknya. Betapapun juga ia mengenal aturan
maka ia merasa berat hatinya seperti tertikam pedang ketika mendengar tuduhan Ci
Ying bahwa ia telah merampas kekasih orang.
“Enci Ci Ying......, sudah lama kami mencari-carimu. Kau menikahlah dengan dia
kalau kau menghendaki....., aku..... aku biarlah aku pergi kalau kau tidak suka menjadi
saudara tuaku.....” Setelah berkata demikian, dengan isak ditahan nyonya muda ini
membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.
“Hui-moi......!” Wang Sin memanggil isterinya. Ketika Ong Hui tidak menoleh dan
juga tidak kembali ia melompat mengejar. Tiba-tiba angin bersiut di pinggir kanannya
dan tahu-tahu Ci Ying sudah berdiri menghadang di depannya, memandang
kepadanya dengan sinar mata marah dan mulut tersenyum mengejek.
“Dia telah merampas hak orang lain dan sekarang pergi dengan aman, aku tidak turun
tangan membunuh ia, juga sudah amat baik baginya.”
:Ci Ying, dia.... dia isteriku....” kata Wang Sin dengan hati terpukul.
“Hemmm, kalau aku.... apamukah? Sungguh rendah, dapat yang baru lupa yang lama.
Apa kau hendak mengingkari janji lama yang diadakan oleh orang-orang tua kita?”
Wang Sin tidak dapat menjawab, ia bingung. Ia melihat bayangan isterinya sudah jauh
sekali. Kembali ia hendak mengejar, akan tetapi dengan sekali dorong di pundaknya
Ci Ying dapat menahannya, membuat Wang Sin hampir terjengkang. Orang muda ini
kaget sekali dan maklum bahwa Ci Ying sudah memiliki kepandaian yang luar biasa
dan ia takkan dapat melawannya.
“Akan tetapi dia..... dia sudah mengandung. Ci Ying, kau kasihanilah dia......”
Wajah Ci Ying yang cantik itu berubah ketika sinar matanya kembali menjadi liar. Ia
bertolak pinggang dan suaranya penuh ancaman. “Wang Sin, hanya ada dua jalan
kalau kau hendak kembali kepada kuntilanak itu. Pertama kau bunuh aku kalau kau
bisa, dan kedua aku akan mencari dia dan membunuh dia dan anaknya!”
Inilah kata-kata yang hebat, yang membuat jantung Wang Sin berdebar keras. Tak
dapat ia mengambil keputusan di saat itu. Hati kecilnya berkata bahwa dalam hal ini,
dialah yang salah. Ci Ying hanya menuntut haknya sebagai akibat dari ikatan jodoh
yang lalu. Dia maklum akan hal ini maka ketika ia hendak dinikahkan dengan Ong
Hui dahulu, dia sudah ragu-ragu dan sudah berterus terang kepada Ong Hui dan
Koleksi Kang Zusi
ayahnya. Akhirnya dia menerima karena dia berpengharapan kalau Ci Ying masih
hidup, ia dapat mengawini tunangannya itu disamping Ong Hui.
Siapa kira bahwa Ci Ying benar-benar masih hidup dan gadis ini tidak rela
membiarkan dia menikah dengan wanita lain. Siapa kira Ci Ying sudah begini
berubah, membuat cintanya yang dahulu lenyap. Cinta kasihnya yang dulu terhadap
Ci Ying telah diganti dengan cinta kasih terhadap Ong Hui, terhadap isterinya, ibu
dari calon anaknya.
“Wang Sin, di mana semangatmu?” Ci Ying menegur. “Bukankah kau kembali untuk
menolong kawan-kawan dan saudara-saudara kita? Benar kita sudah berhasil
membasmi tuan tanah-tuan tanah dan kaki tangannya di Loka, akan tetapi bukankah
musuh besar kita yang utama, si anjing Yang Nam, masih hidup?”
Wang Sin sadar mendengar ini. Baiklah, pikirnya, urusan penting ini diselesaikan
dulu. Kelak mudah dia menyusul isterinya. Adapun tentang perjodohannya dengan Ci
Ying, perlahan-lahan ia dapat menyadarkan gadis ini bahwa ikatan jodoh itu tidak
mungkin dilanjutkan mengingat bahwa dia sudah mempunyai isteri lain, malah sudah
hampir menjadi seorang bapak. Akan ia ceritakan perlahan-lahan kepada Ci Ying
tentang pertemuannya dengan Ong Hui dan mengapa ia sampai menikah dengan gadis
Han itu.
Setelah kembali memikirkan nasib kawan-kawannya, para budak itu, bangkit kembali
semangat Wang Sin dan ia dapat melupakan kebingungannya karena urusan
pribadinya. Ia melihat semua budak dari dusun Loka sudah berkumpul di tempat itu
dan segera ia mendengar laporan mereka.
Ternyata bahwa semua tuan tanah telah melarikan diri berikut keluarga mereka,
dilindungi oleh beberapa orang tukang pukul, pendeta dan alat-alat negara yang ikut
melarikan diri ke utara. Dusun Loka sudah kosong ditinggalkan, yang ada hanya sisa
para budak yang tidak tewas dalam pertempuran.
“Nak Wang Sin dan Ci Ying, kalian telah menolong kami dari penindasan para tuan
tanah di Loka, untuk itu kami merasa beruntung dan berterima kasih sekali. Impian
yang sudah berabad-abad dimimpikan oleh para budak hari ini menjadi kenyataan.
Akan tetapi, harap kalian tidak kepalang tanggung menolong kami,” kata seorang
budak tua yang bersemangat dan tadi ikut bertempur mati-matian.
“Apa maksudmu paman tua?” tanya Wang Sin.
“Masih ada tuan tanah dan kaki tangannya yang berhasil melarikan diri,” jawab budak
itu. “Sudah dapat dipastikan bahwa mereka tentu akan melaporkan diri ke Lasha.
Kejadian hari ini di Loka tentu takkan dibiarkan begitu saja oleh pembesar-pembesar
di Lasha, juga kematian pendeta-pendeta Lama yang membantu tuan-tuan tanah tentu
takkan dibiarkan oleh pendeta-pendeta kepala di sana. Pembalasan tentu akan segera
tiba dan sukar dibayangkan apa yang akan terjadi kalau bala tentara dan para pendeta
itu datang membalas dendam ke sini,”
“Takut apa?” tiba-tiba Ci Ying berseru keras mengagetkan semua orang. “Biarkan
mereka datang akan kuganyang satu demi satu?”
Koleksi Kang Zusi
Wang Sin mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya.
“Tidak bisa begitu, Ci Ying. Kau dan aku mungkin bisa menjaga diri dan melakukan
perlawanan. Akan tetapi bagaimana dengan kawan-kawan yang lemah ini? Kalau
pembalasan dari Lasha datang jumlah mereka tentu akan lebih banyak dan tidak dapat
kita membiarkan kawan ini menjadi korban.”
Ci Ying hendak membantah, akan tetapi setelah ia mulai berbaik kembali dengan
tunangannya ini, tidak mau ia bertengkar. Ia tertawa dan berkata. “Kanda Wang Sin
yang baik, terserah kau yang urus. Sebagai istrimu aku menurut saja.”
Kecut-kecut hati Wang Sin mendengar ini, akan tetapi ia tidak dapat membantah,
hanya tersenyum saja. Lalu ia menghadapi semua budak dan berkata, suaranya keras
dan nyaring.
“Kawan-kawan semua! Urusan menghadapi musuh kalian serahkan saja kepada aku
dan Ci Ying. Sekarang harap kalian suka memenuhi permintaanku ini. Lebih dulu
kalian urus semua jenazah kawan-kawan kita yang gugur, kubur baik-baik dan rawat
yang terluka. Kemudian kumpulkan semua harta milik tuan tanah dan bagi-bagi yang
rata. Setelah itu kalian harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan carilah
penghidupan baru di tanah timur di mana kalian akan terbebas dari penghisapan dan
penindasan tuan tanah yang kejam. Biar aku dan Ci Ying menjaga keamanan kalian
sampai kalian dapat keluar dari tapal batas Tibet.”
Semua budak setuju dan beramai-ramai mereka lalu bekerja siang malam. Permintaan
Wang Sin ini dapat diselesaikan dalam waktu dua hari dan pada hari ketiga
berangkatlah mereka itu, lebih dari tiga ratus orang budak, berbondong-bondong
melarikan diri ke timur.
Setelah mengawal rombongan pengungsi ini selama dua hari, Ci Ying lalu berkata
kepada Wang Sin. “Cukup, kita tidak boleh mengawal terus. Kita harus kembali!”
“Kenapa?” tanya Wang Sin kaget.
“Kita harus mengejar ke Lasha. Anjing Yang Nam masih belum mampus!” Ketika
menyebut nama ini matanya memancarkan sinar kilat.
Wang Sin mengangguk. “Kau betul, setelah sampai di sini, sebelum membasmi Yang
Nam, tugas kita belum selesai. Membasmi pohon jahat harus dengan akar-akarnya,
dan di antara semua musuh kita, Yang Nam paling busuk.” Sama sekali dia tidak
menyangka bahwa sebetulnya adanya Ci Ying mengajak dia kembali ke barat untuk
menyerbu ke Lasha, sebetulnya karena gadis ini khawatir kalau-kalau Wang Sin
hendak menyusul Ong Hui.
Wang Sin lalu mengumpulkan para pengungsi dan berkata.
“Sekarang kalian boleh melanjutkan perjalanan dan sebaiknya dilakukan secara
berpencar. Kalau terlalu banyak bergerombol bisa menimbulkan kecurigaan dan juga
lebih mudah terdapat jejak kalian kalau ada pengejaran.”
Koleksi Kang Zusi
Wang Sin maklum bahwa nasib para budak ini belum tentu baik semua. Ada bahaya
mereka bertemu orang jahat atau dapat dikejar oleh kaki tangan tuan tanah. Maka
kalau berpencar, setidaknya bukan semua yang akan celaka.
Para budak kecewa akan tetapi tak dapat membantah. Ketika mereka berkemas
terdapat keributan tentang kawan-kawan yang terluka. Mereka saling menolak,
keberatan kalau harus membawa kawan-kawan yang terluka berat dan tidak dapat
berjalan sendiri.
Memang, dalam penderitaan dan menghadapi bahaya orang-orang dapat bersatu padu
dan saling membela, akan tetapi sekali keluar dari bahaya, sifat mementingkan diri
sendiri timbul dan masing-masing hendak menyelamatkan diri dan keluarga sendiri.
Wang Sin menjadi bingung melihat kegaduhan ini. Di antaranya para budak, yang
terluka berat dan harus ditolong ada tiga puluh orang lebih. Mereka hendak
berpencaran dan saling menolak untuk membawa kawan-kawan terluka. Bagaimana
baiknya?
“Coba kumpulkan mereka yang terluka berat ke sini!” tiba-tiba Ci Ying yang tidak
sabar lagi membentak.
Semua orang lalu sibuk, mengangkuti mereka yang terluka berat, dikumpulkan di
lapangan. Yang luka-luka berat ini menyedihkan sekali keadaannya. Mereka terluka
karena bacokan senjata tajam dan keluhan mereka menimbulkan sedih dalam hati.
“Selain tiga puluh satu orang ini, yang lain-lain dapat berjalan sendiri?” tanya Ci
Ying.
“Bisa!” jawab para budak serampak.
Tiba-tiba Ci Ying meloncat dan tubuhnya berkelebat seperti burung walet menyambar
ke sana ke mari, tangannya kiri kanan digerakkan ke arah orang-orang yang terluka
berat.
“Ci Ying......!!” Wang Sin berseru kaget sekali melihat gadis itu sekali pukul
membunuh orang yang terluka itu satu demi satu. Ia juga melompat hendak
mencegah, akan tetapi gerakan Ci Ying luar biasa cepatnya, pukulan tangannya
ampuh sekali sehingga dalam beberapa menit saja tiga puluh satu orang itu telah
menggeletak tak bernyawa lagi.
“Ci Ying, apa yang kaulakukan ini?” kata Wang Sin, suaranya gemetar karena ia
menahan marahnya.
Ci Ying tersenyum manis padanya. “Dibawa pergi, tidak seorangpun mau
melakukannya. Ditinggal di sini, akan mati kelaparan. Tertangkap tuan tanah, akan
mati disiksa. Bukankah lebih baik mati begini, tidak menderita?” jawaban ini tenang
saja seakan-akan membunuh tiga puluh satu orang itu hanya soal kecil tak berarti saja.
Kemudian ia berteriak kepada semua orang. “Hayo kubur mereka lalu lanjutkan
perjalanan kalian!”
Koleksi Kang Zusi
Semua budak yang tadinya menjadi pucat karena ngeri, tidak berani membantah
perintah nona yang hebat itu. Cepat mereka mengubur mayat tiga puluh satu orang
kawan mereka itu, lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat dan ketakutan,
khawatir kalau-kalau dapat dikejar tuan tanah.
“Kanda Wang Sin, mari kita kembali, menuju ke Lasha.”
Ketika mengucapkan kata-kata, sikap Ci Ying sudah berubah lagi, lemah lembut dan
manis. Sepasang mata dan senyumnya membayangkan cinta kasih mesra. Ia malah
menggandeng lengan tangan Wang Sin untuk diajak pergi. Orang muda itu menurut
saja, berkali-kali menarik napas panjang. Tak dapat disangkal lagi, setelah Ci Ying
bersikap manis seperti ini, terbayanglah hubungan mesra di waktu mereka masih
remaja dahulu dan harus ia akui bahwa sebetulnya cinta kasih pertama yang bersemi
di dalam hatinya masih belum mati.
“Kanda Wang Sin, kau kenapa menghela napas?” tanya Ci Ying, bibirnya tetap
tersenyum akan tetapi matanya yang jeli memandang penuh selidik.
Wang Sin tidak mau kalau disangka ia menyedihkan perpisahannya dengan isterinya.
Ia tidak mau membangkitkan cemburu di dalam hati gadis ini yang sekarang berubah
menjadi seorang berwatak aneh. Ia hendak menyadarkan gadis ini perlahan-lahan.
“Ci Ying, aku bingung melihat perubahan pada dirimu. Terhadap tuan tanah kau
berlaku kejam, itulah sudah semestinya dan aku mengerti karena kita memang sejak
lahir di dunia selalu menderita sengsara karena mereka. Akan tetapi tadi..... kau
membunuh kawan-kawan sendiri yang terluka begitu saja seperti orang membunuh
tikus.... ah, benar-benar aku tidak mengerti!”
“Membunuh orang-orang luka yang tidak ada harapan lagi, untuk menolong banyak
orang yang masih sehat, bagaimana bisa dibilang kejam? Apalagi kalau diingat
pembunuhan itu untuk menolong keselamatan mereka dan diri sendiri, lebih-lebih
bukan kejam namanya. Kejam adalah tuan-tuan tanah dan kaki tangannya yang
membunuh orang untuk kesenangan diri sendiri.”
“Menolong diri sendiri?” tanya Wang Sin heran.
“Tentu saja. Kalau mereka tidak dibunuh, perjalanan terlambat dan kita terpaksa
mengawal terus. Kalau kita mengawal terus, kita tidak akan bergerak leluasa dan
bebas kalau terjadi pertempuran. Tentu kita menjadi rugi dan terancam.”
“Eh, kenapa begitu?”
Ci Ying cemberut. “Kau carilah sendiri. Hayo kita percepat jalan, sudah gatal-gatal
tanganku untuk mencekik leher jahanam Yang Nam dan membetot keluar
jantungnya.”
Wang Sin tidak berkata-kata lagi, melainkan mengerahkan tenaga untuk mengimbangi
kecepatan larinya gadis itu yang bergerak ringan sekali. Diam-diam hatinya
mengeluh. “Ganas....... ganas.......”
Koleksi Kang Zusi
9. Kembang Hijau Batu Kumala.
Ketika hari menjadi malam, dua orang muda ini tiba di sebuah padang rumput yang di
sana sini ditumbuhi beberapa batang pohon. Di waktu musim salju, tempat ini penuh
salju dan pohon-pohon itu gundul tak berdaun. Baiknya waktu itu musim salju sudah
lewat dan biarpun tidak gemuk tanah di situ ditumbuhi rumput hijau dan pohon-pohon
itu mengeluarkan daun. Mereka berhenti di bawah sebatang pohon dan duduk di atas
rumput yang lunak.
Dari jauh terdengar menguaknya beberapa ekor binatang yak dan mengembiknya
kambing-kambing yang berkeliaran. Itulah binatang peliharaan tuan tanah di Loka
yang dalam keributan tadi telah lari cerai berai.
“Tunggu aku mencari susu dan makanan!” kata Ci Ying. Tubuhnya berkelebat dan
sebentar saja ia lenyap dari dari depan Wang Sin. Orang muda ini kagum sekali. “Dia
begitu hebat kepandaiannya. Benar-benar mengherankan. Aku yang berlatih siang
malam dibawah pimpinan suhu yang pandai, ternyata masih kalah jauh olehnya,
padahal dia dahulu seorang gadis lemah,” pikirnya.
Tak lama gadis ini pergi. Ia telah kembali lagi membawa sebuah paha domba yang
gemuk dan di lain tangan memegang sebuah tempat minum yang tadi dibawanya,
penuh dengan susu murni yang segar. Ia tertawa-tawa gembira dan lagaknya kembali
sebagai Ci Ying lima tahun yang lalu.
“Kanda Wang Sin. Aku memanggangkan daging domba yang gemuk dan
memanaskan susu yang segar untukmu.”
Timbul lagi kegembiraan Wang Sin melihat sikap gadis ini. Ah, kalau saja Ci Ying
seterusnya seperti ini, seperti dahulu lagi. Mudah mengajaknya berunding.
“Aku membuat apinya,” katanya sambil tertawa. Melihat pemuda itu sudah mau
tersenyum, Ci Ying makin gembira.
Wang Sin membuat api unggun sedangkan gadis itu memotong-motong daging
domba. Entah dari mana dapatnya, ia mengeluarkan bumbu-bumbu dari dalam saku
bajunya. Tak lama kemudian tercium bau sedap daging domba dipanggang dan segera
kedua orang muda yang sudah lapar itu makan daging panggang dengan air susu.
Nikmat sekali rasanya, apalagi dimakan di bawah sinar bulan yang sudah muncul di
langit yang bersih cerah.
Hawa malam itu sangat dingin. Ci Ying merebahkan diri di atas rumput dengan
kepala di atas pangkuan Wang Sin. Pemuda itu tidak menolak dan membiarkan saja
Ci Ying menaruh kepalanya di atas paha. Sebentar saja Ci Ying tertidur dengan
senyum manis di bibirnya.Wang Sin memandang wajah manis di pangkuannya itu
yang nampak luar biasa cantiknya di bawah sinar bulan. Kembali ia menarik napas
panjang.
“Alangkah cantik manisnya Ci Ying ....sayang sekali ia berubah menjadi seorang
berhati ganas.” Kemudian ia melamun, teringat akan pengalaman-pengalaman Ci
Ying dahulu. Belum sempat ia mendengarkan cerita Ci Ying semenjak mereka
Koleksi Kang Zusi
berpisah. Bagaimana nasib bocah kecil yang dulu dibawa oleh gadis ini? Besok akan
kutanyakan dia dan perlahan-lahan akan kujelaskan tentang pernikahanku dengan
Ong Hui, demikian pikir Wang Sin.
Dengan pikiran ini ia menjadi lega. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon.
Dilihatnya tubuh Ci Ying bergerak seperti kedinginan ketika angin bertiup. Ia melepas
baju luarnya dan menyelimuti gadis itu.
“Kanda Wang Sin.....” gadis itu berbisik perlahan tanpa membuka matanya. Kiranya
dia sedang bermimpi, Wang Sin lalu memeramkan matanya dan saking lelahnya ia
tertidur sambil bersandar pada pohon. Api unggun masih menyala, lidah api mobat
mabit (bergoyang-goyang) tertiup angin. Wang Sin telah menaruh sebatang cabang
kering yang besar sehingga dalam waktu dua tiga jam api itu takkan padam.
Tiba-tiba Wang Sin terkejut ketika mendengar suara berisik. Ia membuka matanya
dan segera melompat bangun ketika melihat Ci Ying tertawa-tawa sambil bergerakgerak
ke sana ke mari. Dia sedang dikeroyok tiga orang laki-laki tinggi besar yang
wajahnya tidak kelihatan nyata dalam sinar yang suram itu. Api unggun sudah hampir
padam sedangkan bulan bersembunyi di balik awan hitam yang tebal.
Sebelum ia sempat bergerak, terdengar suara “Krakkk!” disusul jerit mengerikan.
Ternyata seorang pengeroyok telah kena dihantam dadanya oleh tangan kiri Ci Ying
sehingga ia terjungkal roboh di dekat api unggun. Sambil melayani lawan yang dua
orang lagi, Ci Ying tertawa dan kakinya menyambar. Tubuh orang itu terlempar dan
...... jatuh ke atas api yang masih marong dan merah.
Orang itu berkelojotan, Wang Sin mengkirik. Cepat ia melompat dan menggunakan
kakinya menyingkirkan orang yang mulai terbakar itu dari atas api unggun. Siapa pun
juga itu, tidak tega ia melihat orang dibakar hidup-hidup.
“Kanda Wang Sin, kau sudah bangun? Lihat aku robohkan dua ekor kadal busuk ini!”
kata Ci Ying. Cepat sekali sabuk merahnya bergerak-gerak seperti ular dan dua orang
yang bersenjata golok itu repot sekali menghadapi desakan Ci Ying yang lihai. Bagi
mereka, ujung sabuk merah itu berubah menjadi belasan, membuat mata mereka
kabur dan permainan golok mereka kacau.
Padahal menurut penglihatan Wang Sin, ilmu golok dua orang itu tidak lemah, bahkan
cepat dan kuat sekali. Pada waktu sebuah golok menyambar leher Ci Ying dan golok
kedua menusuk perutnya, gadis itu menggunakan ujung sabuknya melibat golok
pertama dan kakinya menendang golok kedua yang mengancam perut. Hebat sekali
gerakan gadis ini. Tangkisan golok menggunakan tendangan kaki membuktikan
bahwa tingkat kepandaiannya memang sudah tinggi, kalau tidak demikian tidak nanti
dia berani menendang golok yang sedang menusuk perutnya.
Golok terpental dan tendangan susulan tepat mengenai perut orang yang gemuk.
“Blukkk!” Perut yang besar seperti perut kerbau itu terkena ciuman ujung sepatu Ci
Ying mengeluarkan suara seperti tambur dipukul. Orangnya terjengkang dan tidak
bangun lagi.
Koleksi Kang Zusi
Adapun orang ketiga yang goloknya terkibat, mencoba untuk membetot senjatanya,
akan tetapi sia-sia. Malah tiba-tiba goloknya itu terbang terlepas dari tangannya,
terayun-ayun dibelit ujung sabuk dan alangkah kaget ia melihat goloknya sendiri itu
membalik dan “terbang” ke arah kepalanya. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi
golok itu yang dipegangi oleh libatan sabuk terus mengejarnya dan akhirnya
“Crakkk!” kepalanya terbela oleh goloknya sendiri.
“Hi-hi-hi, baru kalian merasa kelihaian nonamu!” Ci Ying tertawa girang. Golok
rampasan di ujung sabuknya itu ia gerak-gerakan lagi, kini menyambar kepada dua
orang yang lain yang sudah ia robohkan lebih dulu. Terdengar bunyi “crakk-crakk!”
dua kali dan kepala dua orang inipun terbelah dua.
Wang Sin hendak mencegah sudah tidak keburu lagi. Apalagi ia sedang terkejut
mendengar datangnya suara kaki kuda dan kaki orang yang banyak sekali, disertai
teriakan-teriakan marah. Tiba-tiba angin besar bertiup dan api unggun yang sudah
kehabisan umpan itu padam, tinggal bunga apinya yang berterbangan ke sana sini
mendatangkan penglihatan yang amat indah. Keadaan menjadi gelap sekali dan angin
bertiup makin keras sampai hampir tidak tertahan lagi.
Wang Sin bertiarap dan di lain saat ia meraba muka Ci Ying yang ternyata juga sudah
bertiarap dekat sekali dengannya. Muka gadis itu begitu dekat sampai ia dapat
merasai napas yang hangat dan bau yang harum. Hatinya berdebar lagi seperti tadi
ketika gadis itu tertidur di atas pangkuannya. Benar aneh, ganas dan lihai sekali,
pikirnya.
“Hi-hi, kanda Wang Sin. Bagaimana kau melihat jurus-jurusku tadi?” Gadis itu
berkata kuat-kuat karena suara angin membuat orang sukar bicara dan takkan
terdengar kalau tidak berteriak. “Kau mau tahu namanya? Ketika aku robohkan orang
pertama, itulah jurus Hek-mo-to-sim (Iblis Hitam Menyambar Hati), ketika aku
menendang perut kerbau gemuk itu aku menggunakan jurus tendangan Toat-beng-twi
(Tendangan Merenggut Nyawa) dan yang terakhir tadi sabuk merahku bergerak
merampas golok dengan jurus Iblis Terbang Mencari Mayat. Bagus, bukan?”
Wang Sin bergidik. Sudah banyak ia mendengar ilmu-ilmu silat di dunia Kang-ouw
dari suhunya, juga dari Ong Hui, akan tetapi belum pernah ia melihat jurus-jurus yang
demikian ganas dan lihai, malah juga nama jurus-jurus itupun mengerikan.
“Memang lihai......” jawabnya, “akan tetapi....... terlalu ganas. Ci Ying, kenapa kau
bunuh orang-orang itu, malah kau membunuh secara demikian mengerikan?” Iapun
harus bicara keras untuk melawan riuhnya suara angin ribut.
“Apa kau bilang? Bicara dekat telingaku sini!” Ci Ying mendekatkan mukanya
sehingga mulut Wang Sin sampai menempel di pipinya, dekat telinga. Jantung Wang
Sin berdebar dan mukanya terasa panas saking jengahnya.
“Eh, bibirmu kok panas amat?” Ci Ying berseru.
Wang Sin menjauhkan mukanya akan tetapi, Ci Ying menempelkannya lagi. “Biarlah,
panaspun tidak apa. Lekas kau bilang, apa yang kaukatakan tadi.” Wang Sin
mengulangi kata-katanya.
Koleksi Kang Zusi
“Hi-hi, kau bilang ganas? Kau anggap aku keji membunuh tiga ekor kadal busuk itu?
Kanda Wang Sin, tahulah kau siapa mereka itu? Mereka adalah sebangsa srigalasrigala
hitam.”
Wang Sin kaget. Pernah ia mendengar tentang orang-orang yang berkeliaran di daerah
itu, orang-orang jahat sekali yang tidak segan melakukan kejahatan macam apapun
juga. Kadang-kadang menjadi saudagar-saudagar, bisa juga menjadi pencuri kuda,
perampok atau penculik. Orang-orang begini disebut srigala hitam.
Ia sekarang mengerti mengapa Ci Ying membunuh mereka, akan tetapi kalau ia ingat
akan cara keji yang dipergunakan gadis itu, ia berkata perlahan. “Membunuh orangorang
jahat memang tugas orang gagah, hanya cara kau membunuh mereka itu terlalu
ganas.”
Rambut Ci Ying terlepas dari sanggulnya karena tiupan angin yang amat keras.
Rambut itu menyambar-nyambar muka Wang Sin, mendatangkan rasa geli dan gatal.
Sia-sia saja ia mencoba untuk menyingkirkan rambut itu karena amat banyak dan
panjang. Di saat itu juga ia mencium bau harum yang keluar dari rambut panjang itu.
Ci Ying di dalam gelap cepat mengetahui ini, dengan tertawa kecil ia menyingkap
rambut dan membetulkan lagi.
“Kau tahu apa yang terjadi dengan diriku kalau sampai aku terjatuh ke dalam tangan
kadal-kadal itu? Lebih ganas lagi mereka!”
Wang Sin tadinya tidak mau melayani gadis ini berbicara, hatinya sudah tak senang
dan marah menyaksikan gadis ini begitu ganas dan kejam. Akan tetapi suara gadis ini
menimbulkan ingin tahunya.
“Bagaimana?” tanyanya singkat.
Suara Ci Ying berubah dingin ketika menjawab. “Hemm, kalau mereka tidak kubunuh
dan sampai aku dapat tertawan, mereka itu bertiga, mungkin dengan konco-konconya
yang lebih banyak lagi, akan mempermainkan diriku sampai mereka merasa bosan,
kalau sudah bosan mereka akan menjual diriku kepada siapa juga yang berani
membayar. Huh!”
Merah muka Wang Sin dan kembali ia bergidik. Sebagai seorang gadis, bagaimana Ci
Ying bisa bicara tentang hal ini demikian terang-terangan terdengarnya tanpa malumalu.
Ia makin tak puas.
Angin ribut masih terus mengamuk sehingga kedua orang muda itu belum berani
bangun, masih bertiarap di atas rumput. Sampai lama mereka diam saja. Kemudian
Wang Sin yang mengetahui keadaan gadis itu mengajukan pertanyaan.
“Ci Ying, dulu kau pergi membawa anak kecil itu, di mana sekarang?”
Gadis itu menghela napas. “Kau maksudkan Wang Tui? Ah, dia telah mati.”
“Mati?” Suara Wang Sin mengandung iba, “Bagaimana dia sampai mati?”
Koleksi Kang Zusi
“Aku ditangkap anjing-anjing hina dan anak itu hanyut terus dalam perahu.
Bagaimana lagi kalau tidak mati?”
Wang Sin dapat menduga apa yang terjadi kemudian. “Lalu kau ditolong oleh orang
yang menjadi gurumu, bukan? Orang macam apakah gurumu itu Ci Ying.
“Orang macam apa? Guruku adalah Cheng Hoa Suthai, ratu dari Heng-toan-san.
Siapa tidak mengenalnya?” kata Ci Ying bangga. Wang Sin diam saja, ia anggap
ucapan gadis ini sombong. Mana ada ratu di Heng-toan-san?
“Kanda Wang Sin, masih ingatkah kau ketika dahulu kau suka bernyanyi untukku
ketika kau menggembala domba-domba? Sekarang angin ribut masih mengganas,
tidak dapat kita duduk dengan enak. Supaya tidak membosankan dan mengusir hawa
dingin, maukah kau bernyanyi untukku seperti dulu lagi?”
Hati Wang Sin sebetulnya sudah dingin, akan tetapi ia merasa tidak enak juga kalau ia
bersikap terlalu kaku kepada bekas tunangannya ini. Apalagi bau rumput di bawa
mukanya dan keadaan di situ mengingatkan dia akan penghidupan masa lalu, lalu
membuka mulut bernyanyi.
Nyanyian yang merupakan keluhan para budak yang hidupnya tertindas. Suaranya
keras dan nyaring. Nyanyian ini membangkitkan kembali semangatnya dan membuat
ia merasa lebih dekat dengan Ci Ying malah menghidupkan lagi cinta kasih terhadap
gadis itu.
“Wahai, Himalaya yang tinggi.
Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang.
Dapatkah kalian memberi jawaban?
Kedua tanganku kuat bekerja berat.
Tapi tiada seperseratus hasilnya.
Menjadi bagianku!
Aku punya mulut.
Tak dapat mengeluarkan suara hati.
Telingaku disusur tuli.
Mataku disusur buta.
Aku punya nyawa.
Tak lebih berharga seekor domba!
Wahai, Himalaya sembunyikan aku
dipuncak-puncakmu!
Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku
di muaramu!”
Setelah selesai bernyanyi, Wang Sin melihat gadis itu telah merebahkan kepala di atas
dadanya sambil memeluknya. Ia makin terharu dan mengira bahwa gadis itu tentu
menangis. Di dalam gelap itu mana ia tahu bahwa Ci Ying sama sekali tidak
menangis malah tersenyum? Agaknya bagi gadis ini yang sudah menjadi keras hati,
tidak ada lagi watak untuk menangis. Karena terharu dan mengingat akan nasib gadis
yang sudah yatim piatu dan tidak mempunyai seorangpun di dunia yang dapat
memikirkannya kecuali dia sendiri, Wang Sin mengelus-elus kepala Ci Ying, cinta
kasih yang lama terpendam sekarang timbul kembali.
Koleksi Kang Zusi
“Ci Ying, jangan berduka, jangan kau menangis. Aku kan sudah berada di
sampingmu?” katanya perlahan.
Ci Ying tidak menjawab, agaknya memperhatikan sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara
berbisik, sama sekali di dalam suara ini tidak ada tanda-tanda bekas menangis.
“Kanda Wang Sin, tahukah kau bahwa telah datang banyak orang?”
“Aku tahu. Tadi sebelum datang angin ribut aku mendengar suara kaki orang dan
kuda.”
“Kita telah dikurung oleh belasan orang.”
Wang Sin terkejut dan tubuhnya bergerak hendak bangun. Angin ribut telah mereda.
Akan tetapi Ci Ying menahannya untuk rebah terus.
“Perlu apa ribut-ribut ? Kita perlu mengaso, lebih baik kita tidur dulu. Di dalam gelap
mereka takkan menyerang. Andaikata menyerang juga, dengan kepandaian kita
berdua, apa yang kita takuti? Kau lihat, besok terang tanah aku akan menghajar
mereka dan kita merampas dua ekor kuda.” Gadis itu tertawa perlahan.
Terpaksa Wang Sin rebah kembali, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Musuh
mengepung, jumlah mereka belasan orang, Inilah berbahaya! Bagaimana Ci Ying bisa
enak-enak tidur? Ia bangun duduk dan melihat gadis itu benar-benar sudah pulas
dengan kepala rebah di pangkuannya.
Napas gadis itu perlahan dan rata, tanda sudah pulas. Dia sendiri tidak dapat tidur dan
duduk diam melakukan siulan (samadhi) seperti yang ia pelajari dari gurunya untuk
mengumpulkan semangat dan tenaga.
Menjelang pagi ia sudah dapat melihat bayangan-bayangan orang dan benar seperti
ucapan Ci Ying malam tadi, ada belasan orang yang berdiri merupakan pagar
mengurung mereka. Dia menghitung. Enam belas orang dan di tangan tiap orang
terlihat golok besar. Tiga orang yang malam tadi dibunuh Ci Ying sudah tidak
kelihatan mayatnya lagi. Mungkin diambil oleh kawan-kawannya.
Agak jauh dari situ tampak segerombolan kuda diikat pada pohon. Dia tidak dapat
melihat jelas muka belasan orang itu, hanya dari bayangan mereka ia tahu bahwa
mereka semua adalah laki-laki yang bertubuh tinggi besar.
Sementara itu, enam belas orang yang mengurung ketika melihat gadis tidur pulas
dengan kepala di pangkuan seorang pemuda, mengeluarkan seruan marah. Mereka
mulai bergerak maju dan mengurung makin rapat.
Wang Sin melihat ini menjadi khawatir. Ia hendak menurunkan kepala Ci Ying dari
atas pangkuannya agar ia dapat melompat berdiri untuk menghadapi keroyokan
mereka itu. Akan tetapi hebatnya ketika ia mengangkat kepala gadis itu, ternyata tidak
bergeming. Kepala itu terasa amat berat olehnya dan tak dapat didorong turun.
“Ci Ying..... Ci Ying...... bangunlah! Mereka mulai mengancam......!” katanya di dekat
telinga gadis itu.
Koleksi Kang Zusi
Gadis itu mengeluarkan suara lirih, menggeliat dan mengangkat dua lengannya ke
atas. Dengan belakang tangan kiri ia menutupi mulutnya yang menguap kecil.
“Aiiihhh, enaknya aku tidur.......” katanya lirih, matanya disipitkan dan mulutnya
tersenyum. Bertahun-tahun baru kali ini aku tidur nyenyak.” Ia lalu mengulur
tangannya mengusap dagu Wang Sin yang licin.
Wang Sin menjadi kaget dan jengah sendiri. Bagaimana gadis ini begitu tak tahu
malu, di depan banyak orang asing membelai-belainya? Perlahan ia mendorong
tangan gadis itu dan berkata. “Ci Ying, orang-orang mulai mengurung rapat dan
hendak menyerang. Kita harus siap sedia!”
Akan tetapi gadis itu malah meramkan matanya kembali lalu berkata sambil
tersenyum. “Sepagi ini sudah banyak kadal berkeliaran, sungguh menjemukan!”
Ketika tiga orang malam tadi terbunuh, keadaan hanya remang-remang, maka semua
orang itu tidak melihat jelas bagaimana kawan-kawan mereka terbunuh dan siapa di
antara dua orang muda itu yang membunuh. Sekarang mendengar gadis itu memaki
kadal kepada mereka, tentu saja mereka menjadi marah sekali.
Seorang di antara mereka, yang berkumis panjang, mengangkat golok dan berseru
memberi komando. “Tangkap yang betina, bikin mampus yang jantan!”
Wang Sin mendongkol sekali. Sikap dan kata-kata semua orang itu seakan-akan
sedang mengurung dua ekor atau sepasang binatang hutan saja. Ia kembali hendak
melompat, akan tetapi tetap saja ia tidak kuat menurunkan kepala Ci Ying yang masih
meramkan mata sambil tersenyum manis.
Pada saat itu, belasan orang itu sudah mendesak maju dan di antara mereka sudah
mengangkat golok hendak menyerang. Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan
kedua tangan Ci Ying bergerak. Sinar perak berkelebat dan tahu-tahu terdengar jeritjerit
kesakitan.
Lalu empat orang di antara para penyerbu itu roboh terjengkang, berkelonjotan dan
diam tak bergerak lagi. Ternyata di tenggorokan mereka sudah menancap sebatang
jarum perak.
Selagi semua pengeroyok tertegun, Ci Ying sudah melompat bangun sambil tertawa
mencabut sabuk suteranya.
“Kanda Wang Sin, kau lihat baik-baik ujung sabukku!” kata Ci Ying tertawa dan tibatiba
sinar merah berkelebat ke depan. Tahu-tahu ujung sabuknya yang kanan kiri
sudah menyerang. Dua orang yang diserang mencoba untuk menyabet sabuk itu
dengan golok mereka. Akan tetapi gerakan sabuk ini terlalu cepat bagi mereka
sehingga yang nampak hanya sinarnya. Sabetan golok mereka meleset dan tanpa
dapat dicegah lagi, kedua ujung sabuk itu telah menotok jalan darah di dekat leher.
“Auukkk!” Dua orang itu melepaskan golok dan memuntahkan darah segar, tubuh
mereka terguling dan napas mereka empas-empis.
Koleksi Kang Zusi
Kagetnya para penyerang itu bukan kepalang. Dalam dua kali gerakan saja
berkuranglah mereka dengan enam orang anggauta. Si Kumis Panjang tahu bahwa
wanita cantik di depannya ini bukan sembarangan orang maka sambil melintangkan
golok ia berseru menahan kawan-kawannya jangan maju, kemudian ia merangkapkan
kedua tangannya ke dada sambil menghadapi Ci Ying dan bertanya.
“Nona muda yang gagah siapakah dan dari partai mana? Harap sudi memberi tahu
agar kami tidak salah tangan menyerang orang segolongan!”
Ci Ying mengeluarkan suara mengejek, “Apa matamu buta dan kau tidak melihat
ini?” Ia menunjuk ke arah kepala sendiri di mana terdapat sebuah penghias rambut
terbuat dari perak dan batu permata hijau, merupakan setangkai bunga berwarna hijau.
Terdengar seruan-seruan kaget dan si kumis panjang itupun pucat. “Cheng-hoa-pai
....!” Memang Cheng Hoa Suthai, guru Ci Ying, adalah pendiri dari partai yang ia beri
nama Cheng-hoa-pai (Partai Bunga Hijau) yang ia ambil dari namanya. Tak
seorangpun sebetulnya mengetahui siapa nama asli Cheng Hoa Suthai.
Ia mendapat panggilan Cheng Hoa Suthai adalah karena rambutnya selalu dihias
bunga hijau, biarpun ia sudah menjadi seorang pendeta. Karena banyak pengikut dan
anak muridnya, maka ia mendirikan Cheng-hoa-pai yang berkedudukan di Heng-toansan.
Cheng-hoa-pai ini terkenal sekali di dunia kang-ouw, anak-anak murid Cheng-hoa-pai
adalah wanita-wanita yang selalu berwatak ganas dan berilmu tinggi, maka nama
partai itu ditakuti orang. Apalagi oleh para penjahat karena biarpun ganas dan kejam,
harus pula diakui bahwa yang dimusuhi oleh Cheng-hoa-pai memang sebagian besar
adalah penjahat-penjahat. Hal ini bukan berarti bahwa partai ini, adalah partai bersih.
Bagi Cheng-hoa-pai, tidak ada istilah baik maupun buruk, pendeknya yang
menghalangi dan menentang, mereka ganyang semua, baik maupun buruk. Adanya
nama ini ditakuti sebagian besar oleh kalangan penjahat, mudah pula dimengerti,
Cheng-hoa-pai adalah perkumpulan wanita dan banyak di antaranya yang cantikcantik,
tentu saja membuat orang-orang jahat suka datang mengganggu. Maka
banyaklah orang jahat yang sudah menjadi korban keganasan Cheng-hoa-pai.
Demikianlah, tidak mengherankan apabila si kumis panjang itupun menjadi pucat
ketika mengenal bunga hijau di rambut Ci Ying. Akan tetapi ia kelihatan bersangsi.
Dia sudah banyak mendengar tentang Cheng-hoa-pai.
Anak-anak murid atau anggauta-anggauta Cheng-hoa-pai biasanya mempunyai hiasan
kembang hijau yang hidup dan yang memakai kembang hijau dari batu kumala
hanyalah Cheng Hoa Suthai sendiri dan beberapa orang anak murid yang bertingkat
tinggi, yang sudah berusia tua. Masa gadis remaja ini sudah memakai kembang
tiruan? Jangan-jangan gadis ini hanya mendapatkan di jalan lalu dipakai dan
dipergunakan untuk menggertak.
“Nona..... nona dari Cheng-hoa-pai ....? Akan tetapi......” Ia menggagap.
Koleksi Kang Zusi
Ci Ying belum lama turun gunung. Ia tahu bahwa orang belum mengenalnya, maka
menjadi sangsi dan mengira dia membohong. Sambil tertawa sabuk merahnya
bergerak, meluncur ke depan, ke arah si kumis panjang. Orang ini kaget sekali dan
melangkah mundur, namun tiba-tiba golok di tangannya terbetot secara tiba-tiba
sehingga terlepas dari pegangannya. Ia melihat ujung sabuk merah yang membetot
goloknya itu membawa goloknya terbang.
Sekali menggerakkan tangan gadis itu membuat golokanya terlempar ke udara,
kemudian gerakan kedua menggetarkan ujung sabuk yang menyambar ke arah golok
ditengah-tengah. “Krakk!” Golok itu patah menjadi dua kena dipecut oleh sabuk.
“Hebat ....!” seru si kumis panjang. Ia sudah mendengar akan kelihaian Cheng Hoa
Suthai bermain kebutan atau hudtim, dan permainan sabuk inipun menunjukkan
bahwa gadis ini luar biasa lihainya. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri
berlutut, diturut oleh kawan-kawannya, yang kesemuanya dengan dia tinggal sepuluh
orang itu.
“Siauwjin (hamba yang rendah) mempunyai mata tapi tidak melihat Gunung Thaisan
di depan mata. Hamba sekonco telah membikin marah lihiap (pendekar wanita),
mohon lihiap sudi memberi ampun.” Kata si kumis panjang dengan muka ketakutan.
Kembali Ci Ying mengeluarkan suara menghina dari hidungnya. “Hemmm, sebelum
dihajar mana kalian bisa melihat orang. Kalian sudah kurang ajar, sekarang aku mau
membunuh kalian semua. Kalian mau apa?” Sambil berkata demikian, nona ini
melangkah maju, sikapnya mengancam.
“Ampun, lihiap.... ampun....!” Suara minta ampun dari sepuluh orang ini riuh rendah.
Benar-benar hebat dan mengherankan sekali. Sepuluh orang ini adalah bangsa kasar
yang biasanya tidak takut pada setan sekalipun, dapat membunuh orang tanpa
berkedip, dapat menyiksa orang sampai mati sambil tertawa-tawa. Akan tetapi
menghadapi Ci Ying mereka minta ampun.
Melihat ini Ci Ying kelihatan gembira sekali. “Hi-hi-hi-hi, aku mau bunuh kalian.
Akan kubeset kulit dadamu seorang demi seorang, kucabut jantungmu untuk
diberikan kepada srigala-srigala liar. Hi-hi-hi!”
Seperti ayam-ayam makan padi di tanah, sepuluh orang itu mengangguk-anggukkan
kepala sampai jidat mereka berdarah membentur batu, minta ampun dengan suara
mohon dikasihani.
Wang Sin melompat bangun. “Ci Ying kauampunkan mereka!” Suaranya keren, ia
menahan kemarahannya karena tidak tahan melihat sikap Ci Ying yang amat ganas
itu.
Ci Ying menengok kepadanya dan wajah yang tadinya keren itu berubah lembut.
“Kau menghendaki demikian kanda Wang Sin? Baiklah, aku ampuni jiwa sepuluh
ekor kadal ini, akan tetapi aku tidak bisa mengampuni matanya yang tidak melihat
orang.” Ia memutar tubuh dan membentak. “Bekas-bekas bangkai! Hayo kalian copot
mata kirimu dan berikan kepadaku. Baru aku mau ampuni kalian!”
Koleksi Kang Zusi
10. Hwesio Murtad dari Tibet.
Wang Sin hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Sepuluh orang itu terlalu girang
kalau hanya menerima hukuman seperti itu, dianggap amat ringan. Dengan cepat
mereka hampir berbareng menggunakan telunjuk menusuk mata kiri masing-masing,
mencokelnya keluar dan berganti-ganti menyerahkan biji mata mereka itu kepada Ci
Ying. Gadis ini sambil tertawa-tawa menerima sepuluh buah biji mata itu dan
memasukkannya ke dalam kantong jarum rahasia.
“Kalian boleh pergi. Bawa pergi bangkai-bangkai yang bau ini dan tinggalkan dua
kuda terbaik lengkap dengan perbekalan jalan!”
Sepuluh orang itu sambil menggunakan tangan kiri menutupi mata kiri yang sudah
bolong dan mengalirkan darah, tergesa-gesa pergi dari situ membawa mayat sembilan
orang dan meninggalkan dua ekor kuda besar yang paling baik. Sebelum pergi, tidak
lupa mereka menjura menghaturkan terima kasih kepada Ci Ying.
Hebat pemandangan ini. Wang Sin sampai merasa betapa kedua kakinya menggigil.
Orang lain boleh takut setengah mampus kepada Ci Ying, akan tetapi dia tidak.
Dalam pandangannya, gadis itu masih tetap Ci Ying yang dahulu, tunangannya yang
lincah jenaka. Mengapa sekarang berubah begini?
“Ci Ying, kau benar-benar mengerikan. Untuk apa kau simpan sepuluh mata itu?”
tanyanya, suaranya masih gemetar.
Ci Ying tertawa, lalu mengambil sebotol minyak dari sakunya. Dengan muka
tersenyum ia menuang isi botol ke dalam kantong sehingga sepuluh buah mata itu
terendam minyak yang berwarna merah.
“Kau tidak tahu. Dengan obat ini kesepuluh buah mata itu menjadi keras seperti
gundu-gundu beling yang indah. Selain indah untuk permainan, juga berguna untuk
dijadikan senjata am-gi (senjata gelap). Bukankah lebih bagus dari segala macam
pelor besi ? Hi-hi-hi!”
“Kau terlalu ganas, Ci Ying, terlalu kejam kepada mereka.....”
“Mereka orang-orang jahat!”
“Biarpun begitu, cukup kau mengancam dan menakuti mereka, agar mereka
mengubah hidup menjadi orang-orang baik.”
“Heh, tidak ada orang baik di dunia ini, semuanya jahat. Yang baik hanya kita, eh,
kanda Wang Sin, yang tidak hanya kau dan aku!” Inilah “filsafat” yang selalu
diajarkan oleh Cheng Hoa Suthai ketua Cheng-hoa-pai. Semua anggota Cheng-hoapai
menganggap bahwa di dunia ini hanya sendiri yang baik. Orang-orang lain semua
jahat, karena harus dimusuhi, dibasmi dan kalau perlu dibunuh.
Dua orang muda itu melanjutkan perjalanan mereka. Sekarang perjalanan dapat
dilakukan dengan cepat karena mereka sudah mendapatkan dua ekor kuda yang baik
dan yang sudah sering kali dipergunakan orang menjelajah daerah pegunungan itu.
Koleksi Kang Zusi
Mula-mula Wang Sin berpikir bahwa nanti kalau dia dan Ci Ying sudah berhasil
membunuh Yang Nam, ia akan menjauhkan diri dari gadis ini, untuk kembali ke Kunlun,
mencari isterinya.
Akan tetapi makin lama melakukan perjalanan dengan Ci Ying, makin tahulah ia akan
sifat gadis ini dan hatinya menjadi terharu. Ci Ying sebetulnya masih seperti dulu,
lincah jenaka. Hanya saja, ada pengaruh aneh yang meliputi diri gadis ini dan
pengaruh ini seperti penyakit dan kadang-kadang datang kadang-kadang pergi. Kalau
lagi waras, gadis ini tiada bedanya dengan Ci Ying tunangannya dulu. Akan tetapi
kalau “kumat”, wah, benar mengerikan. Watak lincah jenaka berubah menjadi dingin
keras, kehalusan berubah kekasaran, seorang dewi berubah menjadi seorang siluman
betina.
Ia dapat menduga bahwa ini tentu akibat dari pelajarannya, akibat dari hubungannya
dengan Cheng-hoa-pai dan diam-diam ia menaruh kasihan. Akan tetapi dalam
keadaan bagaimanapun juga, sedang waras atau sedang gila, gadis itu tetap baik
kepadanya dan selalu menunjukkan cinta kasih yang amat besar. Bagaimana ia tega
untuk meninggalkan gadis ini?
Dalam hal ilmu silat, ia kalah jauh. Ia mengerti bahwa hal ini bukan sekali-kali karena
ia kalah rajin belajar, melainkan karena orang yang menggembleng diri Ci Ying
memiliki kesaktian luar biasa, memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada
guru-gurunya di Kun-lun-pai. Diam-diam ia sering bergidik kalau memikirkan
bagaimana hebatnya kepandaian dari Cheng Hoa Suthai orang yang menjadi guru Ci
Ying, yang menjadi ketua Cheng-hoa-pai di Heng-toan-san
Hari masih pagi sekali ketika dua orang muda ini sudah tiba di luar kota Lasha. Dari
jauh sudah nampak bangunan-bangunan yang tinggi dan megah. Mereka menjadi
kagum dan terpesona. Sampai lama mereka menghentikan kuda dan memandang ke
depan, merasa seperti mimpi. Sudah semenjak kecil mereka mendengar hebatnya
pemandangan di kota Lasha. Kota tempat tinggal para dewa.
******
Pada masa itu, Tibet masih diperintah oleh seorang raja. Akan tetapi, biarpun Tibet
merupakan kerajaan, namun sebetulnya yang berkuasa adalah para pendeta Lama.
Mereka ini besar sekali pengaruhnya dan tidak ada keputusan raja dikeluarkan tanpa
lebih dulu minta persetujuan dari para pendeta-pendeta kepala.
Sudah terkenal sampai ke daratan Tiongkok bahwa di Lasha ini adalah kedungnya
ilmu-ilmu yang aneh dan bahwa para pendeta Tibet ini banyak yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Kabarnya Tat Mo Couwsu banyak meninggalkan kitab-kitab yang
tinggi luar biasa di daerah ini yang menjadi kedungnya agama Buddha.
Tempat inilah merupakan “stasiun”, tempat agama Buddha menyeberang dari India ke
Tiongkok, maka tidak mengherankan apabila di situ terdapat banyak sekali pendetapendeta
yang pandai. Raja yang masih muda seakan-akan hanya boneka di tangan
para pendeta kepala.
Koleksi Kang Zusi
Sudah jamak di dunia ini bahwa segala keadaan adalah dwipura. Ada tinggi ada
rendah, ada besar ada kecil, ada baik ada buruk. Bukan hanya jamak, memang sudah
seharusnya demikian menurut hukum Im-Yang. Tidak ada Im, mana bisa ada Yang?
Tidak ada sebutan tinggi, mana bisa muncul sebutan rendah?
Kalau manusia tidak mengenal apa itu artinya buruk, mana bisa mengenal pula artinya
baik? Dua sifat bertentangan, Im dan Yang inilah yang menghidupkan sesuatu yang
menjadi sumber dari pada pengertian kita sehingga timbullah pengertian untuk
mengenal, membedakan, dan karenanya panca indera kita dapat dipergunakan.
Demikian pula kehidupan di kalangan para pendeta Lama. Sungguhpun mereka itu
semenjak kecil dijejali ajaran-ajaran agama yang selalu mengutamakan kebaikan
melulu, namun dasar manusia ada yang baik tentu ada yang buruk. Kalau semua
manusia baik, dunia tidak sekacau sekarang ini, tentu berubah menjadi taman
sorgaloka.
Bukan hanya terdapat perbedaan-perbedaan, malah di antara pendeta-pendeta yang
sudah tinggi tingkatnya, timbul bermacam aliran. Memang banyak terdapat pendetapendeta
Lama yang betul-betul penganut agama yang amat saleh, beribadat dan taat
sehingga merupakan orang-orang alim yang menyucikan diri.
Akan tetapi, tidak kurang-kurang pula banyaknya yang tersesat, menyeleweng dari
ajaran agama atau lebih tegas menyelewengkan agama menjadi ilmu-ilmu setan atau
ilmu-ilmu hitam. Malah banyak diantaranya yang begitu rendah sampai mau menjadi
penjilat-penjilat para bangsawan untuk dapat mengecap kenikmatan duniawi sepuaspuasnya
dan sekenyang-kenyangnya.
Seperti telah diketahui, putera tuan tanah Yang Can di Loka, yaitu Yang Nam, setelah
menikah dengan puteri seorang berpangkat di Lasha, dia mendapat kedudukan
pangkat yang lumayan. Di Lasha pada waktu itu, seperti di kota-kota besar lain di
negara yang belum sempurna keadaannya, kemuliaan seseorang ditentukan oleh
pangkat dan hartanya. Kalau ia berpangkat, apa pula berharta, mulialah dia. Besarlah
pengaruh dan kekuasaannya.
Yang Nam adalah putera tuan tanah yang kaya raya, maka dengan menggunakan
hartanya, amat mudah baginya untuk menarik bantuan para pendeta Lama yang silau
matanya oleh emas untuk menjadi pelindungnya. Malah ia berhasil pula
mempengaruhi Thu Bi Tan, seorang di antara “empat besar” yaitu empat orang guru
besar di antara pendeta Lama yang dianggap paling pandai dan paling tinggi
kedudukannya.
Memang banyak di antara para hwesio yang menyeleweng, akan tetapi selama ini,
empat orang guru besar itu tetap dapat menjaga kesucian diri. Hanya setelah Yang
Nam pindah ke Lasha dan diam-diam mengadakan perhubungan dengan Thu Bi Tan,
hwesio kepala ini akhirnya kena dipengaruhi dan merupakan pelindung Yang Nam.
Makin besarlah kekuasaan Yang Nam setelah semua orang mengetahui bahwa orang
muda ini adalah “sahabat baik” Thu Bi Tan yang ditakuti orang.
Ketika Yang Nam mendengar tentang kejadian di Loka, di mana ayahnya dan antekanteknya
tewas oleh Ci Ying dan Wang Sin, ia terkejut setengah mati. Sambil berlutut
Koleksi Kang Zusi
ia menangis di depan Thu Bi Tan Hwesio, menceritakan malapetaka yang menimpa
keluarga ayahnya di Loka. Sebetulnya, Yang Nam lebih banyak merasa takut dari
pada berduka, karena ia maklum bahwa tentu dua orang bekas budak itu akan
mengetahui bahwa ia telah pindah ke Lasha dan mencarinya untuk membalas dendam.
“Sudahlah, Taijin, jangan berduka. Mati hidup bukan milik raga kita dan ayahmu
sudah mati biarlah ia mendapat tempat yang tenteram. Adapun dua orang
pemberontak itu, biar mereka berkepala tiga berlengan enam, ada pinceng yang akan
menangkapnya agar kau dapat menghukumnya,” kata Thu Bi Tan menghibur.
Akan tetapi ketika mendengar dari para hwesio yang dapat melarikan diri dari Loka
ke Lasha betapa banyak pula pendeta dikepalai Thouw Tan Hwesio terbinasa di Loka,
Thu Bi Tan Hwesio menjadi marah sekali. Tidak hanya dia seorang yang marah,
malah tiga orang pendeta kepala yang lain diam-diam merasa tak senang.
Mereka dapat mengerti kalau ada budak yang memberontak dan membunuh tuan
tanah, akan tetapi membunuh pendeta-pendeta, itulah keterlaluan, pikir mereka. Tentu
saja para pendeta kepala kerjanya hanya bersembahyang di dalam kelenteng ini tidak
tahu akan sepak terjang murid-murid mereka yang menyeleweng itu.
Biasanya tiga orang pendeta kepala yang lain, adalah orang-orang yang beribadat dan
tidak mudah marah, akan tetapi kali ini mereka tidak membantah ketika Thu Bi Tan
Hwesio memberi tugas kepada seorang murid kepala yang bernama Ga Lung Hwesio
untuk membawa beberapa orang saudara dan melakukan pengejaran serta menangkap
dua orang muda yang telah mengamuk di Loka itu.
Ga Lung Hwesio adalah seorang pendeta gemuk yang berilmu tinggi. Kepandaiannya
masih jauh lebih tinggi daripada Thouw Tan Hwesio dan dia merupakan murid nomor
satu Thu Bi Tan Hwesio, Peribahasa “guru kencing berdiri murid kencing berlari”
terbukti kebenarannya di sini. Karena Thu Bi Tan Hwesio menjadi “sahabat” Yang
Nam, tentu saja murid-murid ini bukan hanya sekedar bersahabat, malah boleh
dibilang dia menjadi antek pembesar muda itu.
Kalau di Loka Yang Nam dahulu mengandalkan Thouw Tan Hwesio, maka di Lasha
ia mempunyai Ga Lung Hwesio sebagai pengawal pribadinya. Maka terdengar
perintah guru besar ini kepada muridnya. Diam-diam Yang Nam lalu cepat
menghujani Ga Lung Hwesio dan empat orang sutenya dengan hadiah-hadiah dan
janji-janji muluk sambil dibisiki supaya kalau sukar menangkap hidup, dua orang
muda yang mengamuk di Loka itu “dibereskan” saja yang artinya dibunuh.
Demikianlah, Wang Sin dan Ci Ying yang telah tiba di luar kota Lasha, tiba-tiba
melihat lima orang hwesio datang dengan langkah lebar dan cepat. Melihat gerakan
kaki lima orang hwesio yang amat ringan ini, diam-diam Wang Sin dan Ci Ying
terkejut dan dapat menduga bahwa yang datang ini adalah orang-orang dengan
kepandaian tinggi.
“Kanda Wang Sin, kita telah disambut. Tapi jangan takut, aku akan menghadapi
mereka!” kata Ci Ying, sikapnya memandang rendah sekali.
Koleksi Kang Zusi
“Ci Ying, musuh kita hanya Yang Nam. Jangan mencari gara-gara dengan para
hwesio di sini.” Wang Sin memperingatkan akan tetapi gadis itu tersenyum mengejek.
Lima orang hwesio itu bukan lain adalah Ga Lung Hwesio yang memimpin empat
orang sutenya. Baru saja hendak berangkat mencari dua orang muda yang mengamuk
di Loka, mereka sudah mendengar laporan mata-mata di luar tembok kota bahwa
yang mereka cari sudah datang. “Bagus,” kata Ga Lung Hwesio, anjing-anjing sudah
datang tinggal menggebuk saja!”
Lalu bersama empat orang sutenya, ia berlari keluar kota untuk menghadang Wang
dan Ci Ying.
Melihat bahwa pasangan muda mudi itu benar-benar masih amat mudah, Ga Lung
Hwesio menjadi heran sekali. Masa Thouw Tan Hwesio sampai kalah oleh dua orang
muda ini?
“Apakah kalian yang bernama Wang Sin dan Ci Ying, dua orang bekas budak yang
menimbulkan huru-hara di Loka?” tanya Ga Lung Hwesio sambil mengangkat muka
dengan sikap angkuh.
Dengan tenang Wang Sin menjawab. “Betul.” Akan tetapi Ci Ying tertawa dan
menyambung, “Hwesio cebol, kalau nonamu yang membikin huru-hara di Loka, kau
mau apa?”
Ga Lung Hwesio adalah seorang yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya.
Mendengar makian ini ia dapat menindas perasaan marahnya dan ia hanya tersenyum.
“Orang-orang muda suka besar kepala, mengira di dunia ini tidak ada yang bisa
mengalahkan mereka. Ah, anak-anak yang masih hijau, lekas kalian turun dan
berlutut. Pincengan tidak akan menggunakan kekerasan, hanya akan menggiring
kalian ke kota di mana kalian akan dihadili.”
“Hwesio sialan, siapa sudi dengar omonganmu yang busuk? Menyingkirlah biar kami
lanjutkan perjalanan!” bentak Ci Ying, tangan kirinya bergerak dan lima benda
bundar mengkilap menyambar ke arah jalan darah berbahaya di tubuh Ga Lung
Hwesio dan adik-adik seperguruannya. Itulah serangan gelap yang amat cepat dan
sukar dikelit. Akan tetapi dengan tenang lima orang hwesio itu menggerakkan tangan
dan lima buah benda bundar itu sudah dapat mereka tangkap dengan telapak tangan.
Ga Lung Hwesio melihat benda itu dengan keningnya berkerut. Dengan tongkatnya
yang kecil panjang, tongkat terbuat dari sebangsa bambu kuning, ia mencongkel tanah
di depannya kakinya, melempar benda itu ke dalam tanah dan menguruknya lagi
dengan ujung tongkat.
Sambil mengeluarkan seruan kaget, empat hwesio yang lain juga mengikuti perbuatan
ini, lalu kelimanya mengucapkan doa-doa pendek sambil merangkap kedua tangan ke
depan dada. Kemudian Ga Lung Hwesio membuka matanya, memandang Ci Ying
sambil membentak.
“Bocah keji! Dari mana kau mendapatkan mata manusia itu?”
Koleksi Kang Zusi
“Orang-orang telah dengan suka rela. menyumbangkan sebelah matanya kepadaku,
semua ada sepuluh biji. Sekarang kalian lima orang hwesio sinting membuang lima
biji, harus ditukar dengan sebelah mata kalian?” jawab Ci Ying sambil mendelikkan
matanya.
Dua orang hwesio mengeluarkan seruan keras, tak dapat menahan kemarahannya.
Serentak mereka melompat ke depan, seorang menubruk Ci Ying dan yang seorang
lagi menubruk Wang Sin untuk menyeret dua orang muda itu turun dari kuda.
Sambaran mereka ini hebat sekali, tangan kanan mencengkeram ke arah pundak dan
tangan kiri dihantamkan kepada punggung kuda.
Wang Sin yang merasai datangnya angin pukulan yang amat keras, kaget bukan main.
Ia melompat ke arah lain sambil menggulingkan tubuh, hampir saja ia roboh terguling
kalau tidak lekas-lekas ia menggunakan tangannya mendorong tanah, sehingga ia
dapat berdiri tegak lagi.
Adapun Ci Ying sambil mengeluarkan suara nyaring, dengan ringan sekali tubuhnya
melompat dari atas kuda menghindarkan cengkeraman, akan tetapi tidak seperti Wang
Sin, sambil melompat sabuk merahnya meluncur ke arah leher lawan merupakan
serangan balasan yang sekali gus mengarah urat kematian.
Terdengar suara keras ketika tangan kiri dua orang hwesio itu mengenai punggung
kuda. Dua ekor binatang itu meringkik hebat, melompat jauh dan berlari keras. Akan
tetapi baru beberapa belas meter mereka lari, sekali lagi mereka meringkik dan
terguling roboh berkelonjotan terus mati. Kiranya hajaran tangan kiri dua orang
hwesio tadi telah meremukkan isi perut mereka.
Adapun hwesio yang menyerang Ci Ying, ketika melihat datangnya ujung sabuk
mengarah jalan darah di lehernya, kembali mengeluarkan seruan keras, tangan
kanannya yang luput mencengkeram tadi ditarik untuk menangkap ujung sabuk dan
merampasnya. Akan tetapi, Ci Ying lihai sekali.
Sekali sendal ujung sabuknya melejit dan lolos dari cengkeraman malah dapat
memecut lengan hwesio itu yang cepat mundur dengan seruan kaget. Kulit lengannya
itu pecah dan biarpun tak mendatangkan luka berbahaya tetap saja terasa amat sakit.
Di lain saat Ci Ying sudah tertawa ha-ha-ha-hi-hi sambil mengobat-abitkan sabuknya.
“Mari, mari, cucuku gundul, mari kalau hendak menerima hajaran nenekmu!”
katanya.
Dua orang hwesio itu memuncak kemarahannya. Dengan geram mereka
mengeluarkan senjata mereka, sebuah toya yang besar dan berat. Langsung mereka
menerjang maju, seorang menyerang Wang Sin yang kedua menyerang Ci Ying.
Wang Sin sudah menarik pedangnya dan segera ia bertempur dengan hwesio itu.
Diam-diam ia mengeluh karena selain toya lawannya amat kuat tidak terpatahkan
pedang mustikanya, juga tenaga lawannya ini besar sekali, membuat telapak
tangannya sakit-sakit tiap kali senjatanya menangkis toya. Ia segera mengeluarkan
semua kepandaiannya, mainkan ilmu pedang Kun-lun-pai yang amat cepat. Benar
juga, setelah ia menggunakan kecepatannya, ia dapat mengimbangi lawan.
Koleksi Kang Zusi
Di lain pihak, sambil tertawa-tawa mengejek, Ci Ying melayani dan mempermainkan
hwesio kedua. Toya adalah sebuah senjata yang kaku dan keras, maka menghadapi
senjata sabuk yang amat lemas dan digerakkan dengan amat cepat secara aneh,
hwesio itu segera terdesak hebat.
Harus diakui bahwa dalam hal tenaga dalam, Ci Ying masih tidak mampu menangkan
hwesio ini yang sudah memiliki pengalaman dan latihan puluhan tahun. Akan tetapi
Ci Ying mewarisi ilmu silat yang aneh dan ganas. Setiap pukulan merupakan tangan
maut yang mengarah jalan darah-jalan darah yang paling berbahaya, tidak
mengherankan apablia hwesio lawannya menjadi bingung dan kacau permainan
toyanya.
“Hi-hi-hi, hwesio bau. Orang macam kau biar ada sepuluh, mana bisa melawan aku?
Konco-koncomu itu apa jerih menghadapi aku? Biar mereka maju bersama!”
tantangnya, sombong dalam kemenangannya.
Melihat seorang saudaranya menghadapi Wang Sin sudah cukup dan dapat mendesak,
hwesio-hwesio itu tidak mau membantu. Akan tetapi melihat saudaranya yang
terdesak oleh Ci Ying mereka gelisah.
Akan tetapi Ga Lung Hwesio dan empat orang adik seperguruannya ini adalah
hwesio-hwesio berkedudukan tinggi di Tibet, mana mereka sudi mengeroyok ? Hanya
setelah mendengar tantangan Ci Ying, seorang di antara mereka menjadi panas hati
dan mendapatkan kesempatan selagi lawan menantang, ia segera melompat maju
memutar tongkatnya.
“Bocah ganas, lihat toya!” serunya sambil menyerang dengan hebat.
Ci Ying diam-diam sudah siap sedia. Melihat hwesio itu maju, ia tertawa dan sekali
tangan kirinya bergerak kembali lima biji mata yang masih berada di kantongnya, ia
sambitkan kepada hwesio itu, mengarah lima jalan darah di tubuhnya. Jarak antara
mereka hanya tiga empat meter, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan
mendesak ini.
“Makan ini!” seru Ci Ying. Sebetulnya, menurut sopan santun dunia persilatan,
menyerang secara menggelap merupakan pantangan besar. Oleh karena itu, setiap kali
hendak membuka serangan, orang selalu membentak dan setiap kali menggunakan
senjata rahasia, selalu didahului dengan seruan agar lawan bersiap sedia. Akan tetapi
Ci Ying yang licik sekali berseru setelah senjata rahasianya menyambar lawan.
Bukan main kagetnya hwesio ini. Hwesio pertama yang tahu kawannya diserang
secara menggelap, hendak mencegah dengan mengirim serangan ke arah kepala Ci
Ying, akan tetapi ia terlambat. Lima buah benda itu sudah dilontarkan dan dengan
cekatan Ci Ying sudah dapat mengelak dari serangannya.
Hwesio yang menghadapi ancaman maut dari lima butir biji mata itu, melempar diri
ke belakang untuk menghindarkan serangan, akan tetapi dua butir biji mata yang
menyambar lutut kiri dan bawah pusarnya sukar dikelit dan agaknya ia akan segera
mendapat celaka.
Koleksi Kang Zusi
Pada saat itu terdengar bentakan keras dan sebatang tongkat kecil panjang meluncur
memapak dua butir biji mata itu sehingga terdengar suara “tak-tak” dan biji mata itu
terlempar ke pinggir, tidak mengenai sasaran. Itulah tongkat dari Ga Lung Hwesio
yang dilontarkan untuk menangkis.
Hwesio yang baru saja terbebas dari bahaya maut, melompat bangun dengan muka
pucat. Keringat dingin membasahi jidatnya. Ia bersyukur bahwa suhengnya sudah
bergerak cepat dan dapat menyelamatkan nyawanya.
Ia memungut tongkat itu dan menyerahkan kepada Ga Lung Hwesio dengan sinar
mata terima kasih. Kemudian ia menerjang Ci Ying, memaki. “Setan licik, kau benarbenar
ganas dan pantas menjadi penghuni neraka!”
Hi-hi-hi, hwesio bau. Suruh kawanmu yang dua lagi maju. Itu hwesio cebol mana
berani?”
Ga Lung Hwesio hanya tersenyum biarpun hatinya mendongkol sekali dimaki oleh
gadis itu. Akan tetapi sutenya seorang lagi marah lalu memutar toya dan menyerbu
sehingga di lain saat Ci Ying sudah dikeroyok tiga. Tentu saja Ci Ying menjadi repot
sekali.
Melawan seorang hwesio saja, ia dapat mengimbangi dan menang di atas angin hanya
karena ia mengandalkan kecepatannya pada hal ia kalah tenaga. Apalagi sekarang
dikeroyok tiga. Lebih-lebih lagi kegelisahannya ketika melihat Wang Sin sudah repot
sekali dan dalam jurus berikutnya Wang Sin terkena serampangan kakinya. Ia
mencoba untuk melompat, akan tetapi kurang cepat dan tulang keringnya terkena
hajaran toya sampai patah tulangnya.
Orang muda itu mengeluh dan melompat jauh menggunakan satu kakinya yang belum
terluka. Hwesio itu hendak mengejar, akan tetapi Ci Ying keburu melompat jauh
menghadang di depan Wang Sin sambil berseru.
“He, hwesio tengik! Kawanku sudah terluka dan kalah, kau masih mendesak terus,
apakah tua bangkotan tidak malu menghina yang muda?”
Mendengar ucapan ini, hwesio itu melengak dan otomatis ia bergerak mundur. Tentu
saja, sebagai seorang yang berkedudukan tinggi ia pantang sekali dianggap “yang tua
menghina yang muda”, ia ragu-ragu dan menengok ke arah Ga Lung Hwesio sambil
menanti keputusan.
“Bocah ganas, apakah setelah kawanmu terluka kau masih tidak mau menyerah?”
tanya Ga Lung Hwesio.
Ci Ying cerdik sekali, akan tetapi ia maklum bahwa kali ini ia tidak berdaya. Maka ia
sengaja hendak mengulur waktu dan tidak mau menyerah secara mentah-mentah.
“Hwesio cebol, siapa sudi menyerah? Kawanku terluka, akan tetapi, aku belum kalah,
kau tahu?”
“Kalau begitu, kami akan merobohkan kau lebih dulu!” seru hwesio yang tadi hampir
menjadi korban senjata rahasia dan ia melompat maju dengan serangannya, diikuti
Koleksi Kang Zusi
dua orang kawannya. Mereka bertiga yang tadi mengeroyoknya hendak cepat-cepat
mengalahkan Ci Ying, maka begitu menerjang mereka menggunakan tongkat mereka
mainkan jurus yang paling ampuh.
Ci Ying cepat mengelak sambil mengebut dengan sabuknya, “Cih, tak tahu malu!
Tiga monyet bangkotan mengeroyok seorang nona muda. Mana di dunia kang-ouw
ada macam aturan itu? Tebal muka!”
Tiga orang hwesio itu menjadi bohwat (tak berdaya). Mereka merasa malu sekali dan
terpaksa mereka menahan senjata mereka.
“Kau sendiri yang tadi menantang minta dikeroyok!” seorang di antara mereka
mencoba untuk membentak.
“Celaka, aku bicara main-main, kiranya kalian kakek-kakek tua begitu tidak tahu
malu menggunakan kesempatan orang muda main-main lalu mengeroyok sungguhsungguh.”
Ci Ying memang sejak dulu berwatak lincah jenaka dan pandai bicara. Sekarang
menghadapi ancaman pihak yang lebih kuat, keganasannya bersembunyi dan
muncullah sifat-sifatnya dahulu yang cerdik.
Melihat tiga orang sutenya nampak bengong, Ga Lung Hwesio tertawa sambil
memukul-mukulkan tongkatnya ke atas tanah. “Sute sekalian mundurlah. Biar
pinceng menghadapinya seorang lawan seorang.”
Ci Ying melihat akalnya berhasil membuat ia tidak akan dikeroyok lagi. Apa pula
yang maju adalah hwesio cebol gemuk ini. Yang lain-lain boleh lihai, akan tetapi si
cebol gemuk ini mana bisa main silat dengan baik?
Ia cepat menghampiri Ga Lung Hwesio dan menyerang dengan serentak. “Bagus!
Siapa kalah dalam pertempuran ini berarti haknya kalah dan harus mundur. Janji
orang gagah tak dapat ditarik kembali!”
Para hwesio itu melengak. Siapa yang berjanji? Benar-benar seorang bocah yang licik
sekali, lihai ilmu silat dan mulutnya. Akan tetapi Ga Lung Hwesio yang sudah melihat
ilmu silat Ci Ying, tanpa ragu-ragu lagi berkata, “Baiklah, siapa kalah berarti
pihaknya kalah. Majulah!”
Ci Ying tidak berlaku seji (sungkan) lagi. Sabuknya menyerang cepat, mengarah jalan
darah yang-goat-hiat dan kin-ceng-hiat. Anehnya Ga Lung Hwesio tidak mengelak
mundur, bahkan melangkah setindak dan menyodokkan tongkatnya ke arah leher
nona itu. Gerakan tongkatnya yang kecil panjang itu cepat bukan main, tahu-tahu
sudah mengancam leher Ci Ying.
Gadis ini terkejut. Kalau dia melanjutkan serangannya, sebelum ujung-ujung
sabuknya mengenai tubuh lawan, lebih dulu ia akan “dimakan” tongkat. Terpaksa ia
mengelak sambil menggerakkan sabuknya lagi, sekali gus menotok ke arah iga dan
pergelangan tangan Ga Lung Hwesio. Gerakannya indah dan cepat lagi ganas,
membuat hwesio pendek gemuk itu mengeluarkan seruan memuji.
Koleksi Kang Zusi
Akan tetapi secepat-cepatnya Ci Ying, ia masih kalah cepat oleh hwesio murid kepala
Tibet itu. Tongkat sudah diputar lagi, sekali gus menangkis dua ujung sabuk. Ci Ying
menggetarkan sabuknya hendak membelit tongkat, namun lawannya sudah menarik
kembali tongkatnya dan di lain saat ia sudah berjongkok dan dua kali ujung
tongkatnya menusuk sambungan lutut kedua kaki Ci Ying.
Gadis itu berseru kesakitan dan roboh terguling. “Ikat gadis liar ini!” seru Ga Lung
Hwesio kepada seorang sutenya. Akan tetapi sesosok bayangan berkelebat dan Wang
Sin sudah berdiri dengan sebelah kaki pincang.
Orang muda ini menghadang dengan sikap gagah, pedang melintang di dada sambil
berseru. “Jangan kurang ajar! Siapa berani mengganggu Ci Ying akan menjadi
makanan pedangku!”
11. Pembalasan Para Pendeta Lama.
Ga Lung Hwesio tertawa dan tongkatnya digerakkan, Wang Sin menangkis dengan
pedangnya, mengerahkan tenaganya.
“Tranggg....!” Pedangnya terlepas dan terlempar jauh dengan cepat, meluncur
merupakan sinar kebiruan dan dia sendiri segera roboh ketika tongkat hwesio pendek
itu menotok pundaknya.
Selagi lima orang hwesio itu kegirangan karena melihat dua orang muda yang
mengamuk sudah tertawan, tiba-tiba mereka kaget karena sinar biru dari pedang
Wang Sin yang terlempar tadi terhenti di tengah jalan dan tahu-tahu sudah disambar
oleh tangan seorang wanita yang berusia lima puluh tahun lebih.
Wanita ini berpakaian serba putih seperti seorang pendeta, tangan kirinya memegang
kebutan merah dan tangan kanan memegang seuntai tasbeh. Tasbeh inilah yang tadi
diputar dan “menangkap” pedang yang sedang terbang itu.
Ga Lung Hwesio dan empat orang sutenya melihat wanita ini menjadi kaget karena di
rambut kepala wanita ini terdapat sekuntum bunga hijau yang mengeluarkan sinar
gemilang. Mereka teringat akan bunga hijau yang menghias kepala Ci Ying dan
tahulah mereka siapa orangnya yang telah datang ini.
Akan tetapi Ga Lung Hwesio pura-pura tidak mengenalnya dan segera menjura
dengan hormat. Sebagai seorang hwesio, melihat pendeta dari aliran agama lain, ia
berlaku hormat.
“Omitohud...... ada saudara datang tidak keburu menyambut karena gangguan anakanak
muda. Harap toyu sudi memaafkan pinceng berlima.”
Nenek itu mengeluarkan suara dingin sambil memandang tajam. “Hwesio-hwesio
bangkotan menindas orang-orang muda, sungguh tak tahu malu!”
“Suthai, bikin mampus mereka. Mereka telah menghina muridmu!” kata Ci Ying yang
girang sekali melihat kedatangan nenek itu yang bukan lain adalah gurunya, Cheng
Hoa Suthai ketua dari Cheng-hoa-pai di Heng-toan-san.
Koleksi Kang Zusi
Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya sudah mendengar kehebatan nenek tua Cheng-hoapai
ini, akan tetapi karena belum pernah melihat sendiri kelihaiannya, mereka tidak
takut. Adalah karena mendengar ucapan Ci Ying tadi mereka menjadi khawatir sekali
kalau-kalau nenek itu terlalu memihak murid sendiri, maka Ga Lung Hwesio cepat
menjawab.
“Kiranya Cianpwe adalah ketua dari Cheng-hoa-pai yang ternama. Harap cianpwe
suka mempertimbangkan urusan ini. Semua adalah kesalahan muridmu sendiri yang
telah membunuh sute Thouw Tan Hwesio dan banyak pendeta-pendeta lain. Dia
memberontak di Loka dan.......”
“Ci Ying, kenapa kau membunuh keledai-keledai gundul di Tibet?” tanya Cheng Hoa
Suthai kepada muridnya. Pertanyaan ini terdengar keren, akan tetapi dengan
menggunakan sebutan “keledai gundul” berarti dia telah memaki para hwesio di Tibet
yang agaknya tak diindahkan olehnya.
Ci Ying sudah mengenal baik watak gurunya. Nenek ini amat ganas dan kejam
hatinya, akan membunuh setiap orang tanpa berkejap mata. Akan tetapi dia amat
pantang untuk menodai nama baik Cheng-hoa-pai dan berlaku keras kepada muridmuridnya.
Setiap orang murid harus menjunjung tinggi nama baiknya Cheng-hoa-pai.
Siapa melanggar berarti mati. Maka dengan suara tetap ia menjawab.
“Suthai telah mengerti bahwa teecu pergi hendak membalas sakit hati kepada tuan
tanah di Loka yang telah menyiksa teecu dan semua budak, malah sudah membunuh
ayah. Manusia binatang macam tuan tanah itu sudah sepatutnya dibasmi, bukan?”
Cheng Hoa Suthai mengangguk-angguk sambil melirik tajam ke arah lima orang
hwesio itu. “Memang lebih dari patut dibasmi sekeluarganya berikut antek-anteknya!”
Ci Ying tersenyum. “Nah, teecu hanya berhasil membunuh tuan tanah yang tua
berikut antek-anteknya di Loka, sedangkan yang muda sudah pindah ke Lasha, para
pendeta bangkotan palsu di Loka membantu tuan tanah, kiranya bangkotan ini yang
berkepala gundul berpakaian pendeta, juga menjadi kaki tangan mereka. Mereka
inipun pantas dibasmi!”
Terkejut hati Ga Lung Hwesio mendengar ini dan melihat wajah Cheng Hoa Suthai
berubah keras, mereka siap sedia.
“Pantas....... pantas sekali dibasmi. Eh, hwesio-hwesio Tibet yang tahu malu,
perbuatan kalian membantu tuan-tuan tanah jahat benar-benar tidak cocok dengan
kedudukan kalian. Apakah Su Thai Losu (Empat Guru Besar Tua) di Lasha akan
membiarkan saja penyelewengan kalian?”
Mendengar sebutan ini, Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya dengan girang dapat
menduga bahwa nenek yang lihai ini masih gentar terhadap guru-guru besar mereka,
maka Ga Lung Hwesio segera menjawab.
“Cianpwe, pinceng dan sute-suteku ini adalah murid-murid Su Thai Losu, malah
guru-guru pinceng yang menitahkan pinceng menangkap dua orang pemberontak ini.
Harap Cianpwe ketahui bahwa dosa mereka ini besar sekali tidak saja mengacau
Koleksi Kang Zusi
malah merendahkan nama besar guru-guru kami. Pinceng berjanji akan membawa dua
orang muda ini supaya menerima pengadilan di Lasha.”
“Hwesio bau! Kau tidak melihat aku, ya? Kau kira aku takut kepada empat keledai tua
di Lasha? Rebahlah kau!” Cepat sekali gerakan tangan Cheng hs, tahu-tahu pedang
biru sudah melayang ke arah Ga Lung Hwesio sedangkan tasbeh dan kebutannya
bergerak ke arah empat orang hwesio yang lain.
Ga Lung Hwesio adalah seorang hwesio yang sudah memiliki kepandaian tinggi.
Melihat sinar biru menyambar dadanya, ia menangkis dengan tongkat. Terdengar
suara keras dan bunga api berhamburan, akan tetapi pedang itu sudah dapat
ditangkisnya sehingga menyeleweng dan menancap sampai ke gagangnya di atas
tanah. Sedangkan dia sendiri mundur tiga langkah dengan kedua tangan merasa
tergetar hebat.
Wajahnya menjadi pucat, apalagi ketika ia melihat betapa empat sutenya berturutturut
terjungkal, tak dapat menahan serangan Cheng Hoa Suthai. Dua orang yang
terpukul tasbeh patah-patah tulang iganya sedangkan yang dua orang lagi terkena
sambaran kebutan, terlepas sambungan tulang pundaknya.
Ga Lung Hwesio terkejut sekali. Keempat orang sutenya itu sudah memiliki
kepandaian yang cukup tinggi, akan tetapi sekali serang saja Cheng Hoa Suthai sudah
dapat merobohkan mereka. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan betapa lihainya
nenek ini.
Akan tetapi karena marah sekali, Ga Lung Hwesio menjadi nekad. Ia memutar
tongkatnya lalu menyerbu sambil mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan
semua tenaganya.
Sebagai seorang berkedudukan tinggi, yaitu menjadi ketua partai, Cheng Hoa Suthai
memiliki keangkuhan. Terhadap orang-orang yang tingkatnya lebih rendah, dia tidak
mau terlalu mendesak. Sekali turun tangan ia harus berhasil dan tidak sudi
mengulangi lagi. Kalau Ga Lung Hwesio tidak menyerangnya, dia tentu mengampuni
hwesio ini karena tadi ia sudah menyerang hwesio ini dengan lontaran pedang Wang
Sin dan hwesio itu sudah dapat menyelamatkan diri.
Akan tetapi sekarang Ga Lung Hwesio menyerangnya, maka bangkitlah
kemarahannya. Begitu melihat tongkat Ga Lung Hwesio menyambarnya, kebutan di
tangan kiri bergerak menggulung ujung tongkat. Ga Lung Hwesio adalah seorang
yang sudah banyak pengalamannya bertempur. Melihat senjatanya kena terlibat, ia
mengerahkan tenaga untuk membetot akan tetapi tongkat itu seakan-akan telah
tertanam buluh kebutan menjadi akar-akarnya, tak dapat ditarik kembali.
Dan pada saat itu tiba-tiba Cheng Hoa Suthai mengendurkan kebutannya, sehingga
oleh tenaga yang dilepas tiba-tiba ini, Ga Lung Hwesio hampir terjengkang ke
belakang. Di saat itu bayangan putih berkelebatan, ialah tasbeh di tangan kanan
Cheng Hoa Suthai yang menyambar ke arah kepalanya.
“Celaka......!” seru Ga Lung Hwesio sambil melepaskan tongkatnya dan menjatuhkan
diri kebelakang.
Koleksi Kang Zusi
“Melihat muka Su Thai Losu, aku mau mengampuni jiwa anjingmu!” terdengar ketua
Cheng-hoa-pai itu berkata dengan suara dingin, gerakan tasbehnya diturunkan dan
sebagai pengganti kepala hanya pundak Ga Lung Hwesio saja yang “dimakan” tasbeh,
“Krakkk!” patahlah pundak kiri hwesio itu yang menjerit kesakitan terus roboh tak
berdaya lagi.
Cheng Hoa Suthai menghampiri muridnya dan menotok lutut untuk membebaskan
totokan tongkat Ga Lung Hwesio tadi. Ci Ying segera melompat dan berlutut di depan
gurunya, girang bukan main.
“Siapa pemuda yang membantumu itu?” tanya Cheng Hoa Suthai, menunjuk ke arah
Wang Sin.
Dengan muka merah akan tetapi dengan suara nyaring, Ci Ying mengaku terus terang.
“Suthai, dia itulah Wang Sin tunanganku yang pernah teecu tuturkan kepada suthai
dulu.”
Cheng Hoa Suthai mengangguk-angguk. “Kita pergi dari sini. Ajak tunanganmu itu
bersama.”
“Tetapi Suthai, teecu belum berhasil membunuh Yang Nam, tuan tanah muda yang
paling kurang ajar di dunia ini....” bantah Ci Ying.
“Jangan membantah! Dengan kepandaianmu menghadapi ke lima ekor anjing ini saja
tidak bisa menang apalagi menghadapi Su Thai Losu? Jangan mimpi. Pulang!”
Ci Ying tidak berani membantah. Kalau gurunya saja gentar menghadapi pendetapendeta
kepala di Lasha, dia sendiri bisa berbuat apakah? Tanpa banyak cakap lagi ia
lalu menghampiri Wang Sin dan memondong tubuh tunangannya itu, lalu berlari
cepat meninggalkan tempat itu.
Di lain saat gurunya telah berkelebatan di sampingnya dan nenek ini agaknya tidak
tega melihat muridnya harus memondong laki-laki yang tentu berat, maka diulurnya
tangannya dan tiba-tiba Ci Ying merasa tubuhnya ringan sekali dan kakinya bergerak
maju seperti terbang.
Yang paling tidak enak hatinya adalah Wang Sin. Karena sebelah kakinya pincang
dan tulangnya patah, ia terpaksa harus dipondong oleh Ci Ying. Ia mengeluh perlahan
dan hal ini dikira oleh Ci Ying karena sakit di kakinya. Murid ini lalu minta gurunya
berhenti untuk memeriksa luka di kaki Wang Sin.
“Hemmm, tulangnya patah,” kata Cheng Hoa Suthai. Tanpa banyak cakap lagi nenek
ini lalu menyambung tulang patah itu dan memberi obat, dan lenyaplah rasa nyeri,
diam-diam Wang Sin makin berterima kasih kepada Ci Ying dan gurunya.
Tanpa bantuan Ci Ying di Loka saja, dia dan isterinya sudah gagal dan besar
kemungkinan akan berkorban nyawa dan tadi untuk kedua kalinya, tanpa ada Cheng
Hoa Suthai kiranya tak dapat disangsikan lagi ia akan tewas di tangan hwesio Tibet.
Makin tidak enak hatinya karena tahu bahwa makin sukarlah ia melepaskan diri dari
ikatan Ci Ying.
Koleksi Kang Zusi
******
Enam belas tahun kemudian .............................
Pegunungan Kun-lun merupakan barisan gunung yang panjang dan luas sekali. Di
puncak ini tersebar tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang banyak, akan tetapi yang
merupakan pusat dari pada partai persilatan Kun-lun-pai berada di puncak paling
timur yang menjadi sumber atau mata air dari sungai Cin-sa dan puncak ini yang
menjadi tapal batas antara pegunungan Kun-lun dan Bayangkara.
Di pusat ruangan ini pula duduk guru besar dari partai Kun-lun-pai bernama To Gi
Couwsu yang sudah sangat tua. Sudah belasan tahun tosu tua ini tidak menguruskan
lagi keramaian dunia dan hanya bertapa di puncak gunung. Murid-murid dan cucucucu
muridnya cukup banyak untuk mengurus semua kewajiban dan menjaga nama
baik Kun-lun-pai sehingga partai persilatan ini mempunyai nama besar yang amat
harum di dunia kang-ouw, ditakuti orang jahat disegani orang gagah.
Tidak seperti biasanya pada hari itu di dalam markas besar Kun-lun-pai, di ruangan
lian-bu-thia (ruang belajar silat) nampak tosu-tosu kepala berkumpul, duduk di kursikursi
yang diatur memutari ruangan itu. Para anak murid lain berdiri di belakang,
menonton sambil memanjangkan leher agar dapat melihat lebih jelas ke tengah
ruangan.
Di kursi kepala duduk To Gi Couwsu yang sudah amat tua, duduknya tegak dan di
tangan kirinya memegang sebatang tongkat yang tak pernah berpisah dari badannya.
Tosu ini sudah begitu tua sehingga untuk berjalan saja ia harus dibantu oleh
tongkatnya.
Di tengah ruangan itu terdengar angin mendesir-desir dan berkelebatannya bayangan
putih yang meloncat ke sana ke mari. Itulah hawa pukulan yang dahsyat, menandakan
bahwa di ruangan itu ada seorang yang sedang bermain silat dengan hebatnya.
Ketika bayangan itu berhenti bersilat, baru dapat dilihat bahwa dia adalah seorang
gadis muda berusia kurang lebih enam belas tahun, berpakaian serba putih, berwajah
cantik berkulit putih. Pakaian gadis ini sederhana sekali, akan tetapi hal ini malah
menonjolkan kecantikannya yang wajar.
Setelah ia berhenti bersilat, para tosu kepala ruangan itu mengangguk-angguk dan
mengeluarkan suara pujian.
“Sumoi benar-benar telah mencapai kemajuan yang pesat,” kata mereka. Akan tetapi
To Gi Couwsu menggeleng-gelengkan kepalanya nampak tidak puas.
“Bi Hong, coba kau mainkan ilmu pedangmu biar dinilai oleh para suhengmu,” kata
To Gi Couwsu, suaranya perlahan dan lambat seperti orang lelah.
Bi Hong, gadis cantik itu, memberi hormat kepada gurunya lalu menjurus kepada para
tosu yang duduk mengitari tempat itu, belasan orang banyaknya. “Suheng sekalian
harap jangan mentertawakan permainan pedang siauwmoi yang masih buruk,”
katanya.
Koleksi Kang Zusi
Di lain saat tangan kanannya bergerak dan tampak sinar kuning emas berkelebat,
disusul oleh gulungan sinar pedang yang ternyata telah dimainkan dengan amat
dahsyatnya. Apalagi yang dimainkan adalah sebuah pedang pusaka dari Kun-lun-pai,
yaitu Kim-Hui-Kiam (Pedang Emas Terbang) yang dihadiahkan oleh To Gi Couwsu
kepada muridnya ini, cepat dan dahsyat sampai tubuh gadis itu lenyap terbungkus
gulungan sinar pedang yang kuning emas.
Para anak murid Kun-lun-pai yang masih belum tinggi tingkatnya, yang menonton di
belakang sambil berdiri, menjadi kabur pandangannya dan mereka memuji dengan
penuh kekaguman dan kebanggaan. Bukankah gadis itu murid Kun-lun-pai yang patut
mereka banggakan?
Setelah mainkan jurus-jurus yang sulit, tiba-tiba gadis itu berseru, “Suhu, teecu
mohon diijinkan menggerakkan jurus terakhir!”
To Gi Couwsu menganggukkan kepalanya dan tahu-tahu sinar pedang itu melesat
keluar ruangan, melampaui kepala para anak murid Kun-lun-pai yang berdiri di luar.
Semua orang mengikuti sinar pedang ini dan melihat betapa dengan gerakan amat
indah, gadis itu telah mainkan jurus terakhir dari Kun-lun Kiam-hoat yang disebut
Hui-kiam-kan-goat (Pedang Terbang Mengejar Bulan), jurus yang amat sukar
dimainkan karena banyak orang harus memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh)
yang sudah tinggi dan kesempurnaan menggerakkan pedang.
Ketika semua orang sedang ternganga kagum, gadis itu sudah turun kembali dan di
tangan kirinya ia memegang seekor burung yang kedua sayapnya telah ia sabet putus
dengan pedangnya. Burung gereja itu tadi sedang terbang dan burung inilah yang
menjadi sasaran jurus Hui-kiam-kan-goat tadi sehingga putus kedua sayapnya.
Burung itu kini mencicit di atas telapak tangan kiri Bi Hong, tidak dapat terbang lagi.
Semua tosu kepala yang duduk di situ kembali memuji.
“Siancai..... hebat ilmu pedang sumoi.”
Akan tetapi lagi-lagi To Gi Couwsu, guru kepala Kun-lun-pai, menggeleng-gelengkan
kepalanya dan tanpa berkata apa-apa ia menggapai kepada Bi Hong supaya mendekat.
Setelah gadis itu menghampirinya, tosu ini lalu mengambil burung gereja dari tangan
gadis itu, mengelus-elusnya penuh kasih sayang, dan memeriksa kedua sayap yang
sudah tidak berbulu lagi.
“Kau harus bersabar tiga puluh hari lebih, menanti sayapmu tumbuh, burung.......”
katanya perlahan lalu memasukkan burung yang tak bersayap itu ke dalam kantong
bajunya yang lebar.
“Bi Hong, apa yang kauperlihatkan tadi indah dilihat, akan tetapi belum ketahuan
bagaimana kalau menghadapi lawan. Coba kau minta twa-suhengmu untuk menguji,”
kata pula To Gi Couwsu dengan suaranya yang perlahan dan tenang.
Gadis itu nampak gembira sekali. Cepat ia menghampiri seorang tosu, murid paling
tua di Kun-lun-pai, berusia lima puluh tahun lebih. Di antara semua murid To Gi
Couwsu, yaitu para tosu di Kun-lun-pai, dia inilah yang paling tinggi ilmu silatnya,
Koleksi Kang Zusi
juga paling alim dan selalu mengutamakan kebajikan dan berwatak sabar sekali
seperti gurunya.
Gadis itu menjura kepada tosu ini dan berkata sambil tersenyum. “Twa-suheng, di
antara para suheng, hanya kau yang selalu menolak untuk menguji kebodohan
siauwmoi. Sekarang atas perintah suhu, siauwmoi harap twa-suheng tidak berlaku
pelit lagi.”
Lee Kek Tosu menarik napas panjang lalu berdiri dari tempat duduknya. “Suhu yang
memerintah siapapun tak boleh menolak. Siauwmoi, kepandaianmu tinggi, darahmu
panas, pinto seorang tua lemah mana bisa menangkan kau?”
Bi Hong tertawa dan dengan sikap yang manja ia menarik tangan tosu itu ke tengah
ruangan, diikuti senyum para tosu lain. Setelah sampai di tengah ruangan itu, Bi Hong
berkata. “Suheng yang baik, harap kau menaruh kasihan kepadaku dan jangan
menurunkan tangan besi.”
Gadis itu pintar sekali. Ia maklum bahwa di antara semua tosu yang menjadi
suhengnya, twa-suheng ini adalah orang yang paling pandai, maka ia sengaja hendak
menjajal kepandaiannya sendiri dengan tangan kosong dan kemudian baru
menggunakan pedang. Sebelum tosu itu menjawab, ia sudah menerjang maju sambil
berkata, “Twa-suheng, awas, siauwmoi mulai menyerang!”
Bi Hong yang maklum akan kelihaian twa-suhengnya, tidak mau membuang waktu
dengan jurus-jurus biasa, melainkan segera menyerang dengan jurus-jurus yang paling
lihai dari Kun-lun Ciang-hoat. Mula-mula ia membuka serangannya dengan gerak
tipu Kong-ciak-khai-peng (Merak Membuka Sayap) lalu diteruskan dengan Pai-buntwi-
san (Atur Pintu Tolak Gunung). Gerakannya cepat dan bertenaga sekali ketika
tangan kanannya mendorong ke arah dada twa-suhengnya.
“Bagus!” Lee Kek Tosu memuji ketika merasa betapa sambaran angin dorongan ini
amat kuat tanda lweekang dari adik seperguruannya sudah mencapai tingkat tinggi.
Dengan sigapnya ia miringkan tubuh, tangan kiri menangkis dan tangan kanannya
membalas dengan serangan To-tui-kim-ciang (Merobohkan Lonceng Emas),
disabetkan dengan jari tangan miring ke arah leher gadis itu.
Bi Hong cepat mengelak dan mengebutkan tangan kirinya. Ia merasai betapa pukulan
tangan twa-suhengnya amat berat membuat tangannya tergetar. Tahulah ia bahwa
dalam hal tenaga lweekang, ia masih kalah jauh. Maka ia lalu menggunakan
kelincahan tubuhnya menerjang dengan mempercepat gerakannya.
Namun dengan tenang sekali tosu itu menghadapinya dan demikianlah, dalam serang
menyerang selama belasan jurus kelihatan perbedaan antara mereka. Si tosu bersikap
tenang, gerak geriknya lambat tapi mantap dan bertenaga penuh. Sebaliknya Bi Hong
bergerak cepat sekali sehingga ia dapat mengimbangi twa-suhengnya dan menutup
kekurangannya dalam kekalahan tenaga lweekang.
Makin lama gerakan Bi Hong makin cepat, pukulan-pukulannya makin berbahaya dan
setelah berlangsung empat puluh jurus lebih, gadis ini sudah bukan main-main atau
berlatih lagi melainkan menyerang dengan sungguh-sungguh. Di lain pihak, tosu itu
Koleksi Kang Zusi
masih tenang saja dan selalu menjaga agar jangan sampai ia kesalahan tangan melukai
sumoinya.
“Cukup, ganti dengan pedang,” terdengar To Gi Couwsu berkata. Keduanya
melompat mundur, wajah Bi Hong merah sekali namun suhengnya masih biasa saja.
Gadis ini diam-diam merasa penasaran bagaimana setelah menyerang sehebathebatnya
ia masih belum dapat mendesak suhengnya yang berlaku lambat-lambatan
itu. Harus ia akui bahwa dalam ilmu silat tangan kosong suhengnya itu terlalu tangguh
baginya. Ia boleh dibilang sudah jauh di bawah angin dan kini ia hendak menebus
kekalahannya dengan pedang.
“Suhu sudah memerintahkan, mari keluarkan pedangmu, suheng,” katanya sambil
menghunus Kim-hui-kiam.
Si tosu tua tertawa. “Sudah kukatakan tadi, sumoi. Kau lihai dan darahmu panas,
mana pinto bisa mengatasimu?” Ucapan ini sabar sekali kedengarannya dan dengan
gerakan lambat tosu ini mencabut sebatang pedang dari balik bajunya.
Pedang ini biasa saja kelihatannya, malah tidak bersinar dan kelihatan kotor. Logam
yang dijadikan pedang ini kelihatan seperti batu saja. Namun Bi Hong sudah tahu
bahwa pedang twa-suhengnya itu adalah pedang pusaka yang tidak kalah ampuhnya
dari Kim-hui-kiam dan disebut Toan-kang-kiam (Pedang pemotong baja).
“Twa-suheng, lihat pedang!” bentak Bi Hong dan pedangnya meluncur cepat ke arah
tenggorokan orang. Tosu itu menangkis, terdengar suara nyaring dibarengi bunga api
berhamburan. Di lain saat keduanya sudah sudah bertempur hebat. Seperti juga tadi,
gerakan-gerakan Bi Hong lincah dan teguh penjagaannya.
Biarpun demikian, diam-diam Lee Kek Tosu terkejut ketika mendapat kenyataan
bahwa ilmu pedang sumoinya ini benar-benar hebat dan sudah mewarisi dari ilmu
pedang Kun-lun-pai. Harus ia akui bahwa biarpun dengan lweekangnya ia dapat
menahan, namun untuk menjatuhkan sumoinya ini bukanlah soal mudah lagi baginya.
Setelah lewat seratus jurus, ia melompat mundur, menghela napas panjang dan
berkata, “Hebat.... hebat sekali kiam-hoatmu, sumoi. Pinto merasa girang sekali dan
bangga.”
Juga semua tosu memuji gadis ini yang cepat menjura sambil berkata. Twa-suheng
terlalu mengalah. Semua yang siauwmoi dapatkan ini semata-semata berkat
kemurahan hati suhu yang mulia dan para suheng yang berbudi.”
To Gi Couwsu menggerak-gerakan tongkatnya di atas lantai. Bi Hong, twa-suhengmu
berkali-kali mengingatkan kepadamu, apakah kau masih tidak sadar?”
Bi Hong terkejut, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya. “Suhu, teecu
mohon penjelasan.”
“Eh, bocah bodoh. Suhengmu berkali-kali mengatakan darahmu panas, itulah
peringatan yang harus kau ingat betul. Kalau kau tidak terlalu panas darah, kalau kau
ingat akan pelajaran lweekang dan menekan perasaan, dapat berlaku tenang seperti
suhengmu, kau malah lebih kuat dari pada twa-suhengmu. Menghadapi lawan ringan
Koleksi Kang Zusi
kau dapat berlaku sesukamu menurut perasaan, akan tetapi sekali berhadapan dengan
lawan berat, darah panasmu akan merugikan gerakan-gerakanmu. Kenapa kau begitu
bernafsu dalam gerakan-gerakanmu?”
Tiba-tiba Bi Hong menangis. “Maaf, suhu. Teecu terlalu bernafsu karena selalu
teringat akan musuh-musuh besar yang belum terbalas. Teecu ingin segera turun
gunung untuk membalas sakit hati, ingin membasmi orang-orang yang telah
membunuh Kong-kong dan membikin ibu mati karena duka.”
To Gi Couwsu menarik napas panjang, terbayanglah semua peristiwa enam belas
tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat tosu tua ini terpaksa menerima lagi seorang
murid, padahal tadinya sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri karena
terlalu tua.
Gadis itu Wang Bi Hong, bukan lain adalah puteri dari Ong Hui. Seperti telah
diceritakan di bagian depan setelah bersama suaminya menyerbu ke Loka dan
bertemu dengan Ci Ying yang membencinya.
Ong Hui mengalah dan pergi meninggalkan suaminya, kembali ke rumah ayahnya di
Kun-lun-san. Sambil menangis sedih, ia menuturkan semua pengalamannya kepada
ayahnya dan supeknya, Cin Kek Tosu. Ayahnya menghela napas panjang.
“Hui-ji, semua ini kesalahanku. Sudah tahu Wang Sin mempunyai seorang tunangan,
aku setengah memaksanya untuk menjadi mantuku. Biarlah, aku akan mencari dia dan
tentu dia bisa menerima usulku untuk disamping tunangannya itu, mempunyai isteri
kedua.”
“Tidak usah, ayah. Enci Ci Ying tidak rela melihat dia mempunyai isteri lain,” kata
Ong Hui sambil menyusut air matanya.
Cin Kek Tosu membanting kakinya, “Kurang ajar anak itu! Mana bisa dia menyianyiakan
isterinya yang sudah hampir mempunyai anak? Pinto yang akan
menghajarnya, kalau kelak dia tidak mau kembali kepadamu.”
Demikianlah, Ong Hui melewatkan hari-hari yang sunyi di atas gunung dengan hati
selalu mengandung kedukaan hebat. Beberapa bulan kemudian ia melahirkan seorang
anak perempuan yang diberi nama Wang Bi Hong. Semenjak melahirkan anak,
tubuhnya menjadi lemah dan sering kali sakit. Ini semua disebabkan oleh penderitaan
batinnya yang amat berat.
Beberapa bulan kemudian, terjadilah serbuan hebat ke gunung itu. Ga Lung Hwesio
dan empat orang sutenya, dikawani oleh Thu Bi Tan Hwesio sendiri yang berilmu
tinggi menyerbu ke situ.
Hwesio-hwesio Tibet ini datang untuk membalas dendam atas kematian Thouw Tan
Hwesio dan karena mereka tahu bahwa Wang Sin adalah murid Cin Kek Tosu.
Mereka lalu mencari ke gunung itu dan terjadilah pertempuran hebat antara hwesiohwesio
Tibet itu melawan Cin Kek Tosu yang dibantu oleh sutenya, Ong Bu Khai,
ayahnya Ong Hui.
Koleksi Kang Zusi
Ong Bu Khai dan Cin Kek Tosu adalah jago-jago Kun-lun-san yang berkepandaian
tinggi. Akan tetapi, Cin Kek Tosu sudah amat tua dan pula enam orang lawannya
adalah hwesio-hwesio Tibet yang berilmu tinggi, maka keduanya tidak dapat
menandingi mereka. Biarpun melakukan perlawanan mati-matian dan dengan gagah,
akhirnya dua orang jago tua ini tewas di tangan Thu Bi Tan dan keponakankeponakan
muridnya.
Untung bagi Ong Hui yang sakit-sakitan ia terlalu lemah untuk melakukan
perlawanan. Andaikata dia tidak sedang sakit, tentu nyonya muda ini tidak akan
melihat saja ayah dan supeknya menghadapi para penyerbu itu dan tentu iapun akan
mengalami nasib serupa, tewas di tangan para hwesio Tibet. Karena tubuhnya lemah,
ia tidak membantah ketika ayahnya menyuruh dia melarikan diri bersama puterinya
yang baru berusia beberapa bulan itu.
Sambil menangis sedih, nyonya muda ini membawa anaknya melarikan diri naik
seekor keledai. Tujuannya adalah puncak Kun-lun di mana berdiri pusat Kun-lun-pai,
tempat tinggal susiok-couwnya, yaitu To Gi Couwsu yang masih terhitung supek dari
ayahnya.
12. Barisan Ngo-heng-tin Pendeta Lama
Baru tiga empat jam ia melarikan keledainya, ia mendengar suara teriakan-teriakan
dari belakang dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat enam orang
hwesio itu berlari-lari cepat sekali melakukan pengejaran.
“Bunuh dia! Dialah isteri Wang Sin si pemberontak. Bunuh saja anaknya!” demikian
teriakan Ga Lung Hwesio dan jarak antara dia dan para pengejarnya makin dekat.
Ong Hui adalah puteri seorang pendekar. Dia tidak takut mati, juga tidak jerih
menghadapi lawan betapa kuatpun. Apabila lawan yang sudah membunuh ayahnya.
Hanya ia mengkhawatirkan nasib puteranya yang baru berusia empat bulan itu.
Terpaksa Ong Hui mencambuk keledainya dan membalapkan binatang itu.
Usahanya sia-sia belaka. Para pengejarnya sudah datang dekat sekali. Empat buah
kaki keledai itu tidak dapat berlari lebih cepat dari pada enam orang hwesio yang
berilmu tinggi.
“Perempuan busuk, kau hendak lari ke mana?” bentak Ga Lung Hwesio.
Tahu bahwa ia tidak akan dapat lolos, timbullah kegagahan Ong Hui. Nyonya muda
ini melompat turun, menghunus pedangnya. Dengan anak dipondongan tangan kiri
dan pedangnya di tangan kanan, ia menanti dengan sikap gagah. Mukanya pucat akan
tetapi sepasang matanya memancarkan sinar berapi.
“Keledai-keledai gundul keji! Majulah, hari ini nyonya besarmu akan mengadu nyawa
dengan kalian!” bentaknya nyaring.
Ga Lung Hwesio tertawa bergelak. Seorang sutenya lalu menerjang maju sambil
memutar toyanya. Toya baja itu berat dan diayun dengan tenaga besar. Dalam sekali
sambar saja pedang Ong Hui tentu akan dipukul patah atau jatuh. Karena tidak dapat
Koleksi Kang Zusi
mengelak, nyonya muda itu terpaksa mengerahkan tenaga dan mengangkat pedang
menangkis.
“Traaaaanngg.....!!”
Aneh bin ajaib! Bukan pedang di tangan Ong Hui yang patah atau terpental,
sebaliknya nyonya muda ini tidak merasakan kehebatan tenaga lawan dan malah si
hwesio yang memekik kaget, toyanya terlepas dari tangannya dan telapak tangannya
berdarah karena kulitnya terbeset.
Semua hwesio melengak terheran-heran. Hwesio itupun penasaran dan dengan tangan
kosong ia menubruk maju, mengerahkan tenaga dan menggunakan ilmu Kim-na-jiu
untuk merampas pedang orang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan
mengancam ke arah bocah digendongan Ong Hui.
“Celaka!” jerit nyonya itu yang tidak kuasa melindungi puterinya. Akan tetapi
kembali terjadi keanehan yang langka. Sebelum kedua tangan hwesio itu mengenai
sasaran, tiba-tiba kedua lututnya lemas dan ia jatuh berlutut di depan Ong Hui.
Ia hendak menggerakkan tubuh atasnya, akan tetapi kembali kedua pundaknya terasa
lemas seperti tertotok dan mau tak mau ia membungkukkan tubuh, benar-benar kini
berlutut dan menyembah.
Ga Lung Hwesio melangkah maju dan menepuk punggung sutenya itu sambil
mengurut tulang belakang. Baru sutenya itu dapat bangun berdiri dan melompat ke
belakang dengan mata terbelalak heran dan takut. Sementara itu, hwesio kedua
melompat maju lagi, diikuti dua orang hwesio lain dan segera Ong Hui diserang oleh
tiga orang hwesio kosen itu dari tiga jurusan.
Ong Hui sendiri masih terheran-heran melihat hwesio yang menyerangnya tadi tibatiba
roboh. Ia menduga tentu ada orang sakti membantunya, akan tetapi dari mana,
siapa dan bagaimana? Ia tidak ada waktu lagi untuk menyelidiki melihat tiga orang
hwesio menyerangnya dengan hebat.
Ia cepat memutar pedangnya melindungi diri dan anaknya. Kembali terdengar suara
nyaring tiga kali ketika pedangnya menangkis, terlempar tiga batang toya dan seperti
juga tadi, tiga batang toya itu terlempar dan di lain saat angin besar dari arah belakang
Ong Hui yang membuat tiga orang hwesio itu terjengkang roboh dan babak
bundas(luka-luka). Empat orang sute Ga Lung Hwesio itu telah mendapat hajaran
tidak berani maju lagi.
Ga Lung Hwesio berseru keras. “Perempuan rendah! Ilmu siluman apa yang kau
keluarkan?” Ia menyangka bahwa robohnya empat orang sutenya itu adalah karena
Ong Hui mempergunakan ilmu siluman, karena kalau menggunakan ilmu silat saja
tidak mungkin wanita muda ini dapat merobohkan empat orang sutenya. Ia lalu
membaca mantera berkemak-kemik lalu membentak dengan disertai tenaga dalamnya
yang amat hebat. “Berlututlah engkau!”
Ilmu yang dikeluarkan oleh Ga Lung Hwesio ini adalah ilmu “mentaklukkan
semangat”. Lweekang yang disertai ilmu hitam ini memang luar biasa dan semacam
Koleksi Kang Zusi
tenaga luar biasa memaksanya dari dalam untuk segera menjatuhkan diri berlutut di
depan Ga Lung Hwesio yang bertubuh pendek gemuk dan mengangkat tongkat
bambu kuning itu ke atas dengan sikap agung.
Tiba-tiba nyonya muda merasa ada hawa hangat meresap ditubuhnya dan seketika itu
lenyaplah semua perasaan yang hendak memaksa ia berlutut. Sebaliknya Ga Lung
Hwesio menggigil kedua kakinya. Ia mengerahkan tenaga dan membentak lebih
keras. “Berlutut!”
Celaka baginya. Makin kerasnya ia mengerahkan tenaga menyuruh orang berlutut,
makin keras tak tertahan lagi ia menguasai kedua kakinya dan mendadak ia
menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Hui sambil mengangguk-anggukan kepalanya
yang gundul.
Ia merasa terkejut dan heran sekali. Mengapa ilmunya itu malah menguasai dirinya
sendiri? Dia mencoba untuk menahan diri, namun tidak berhasil. Terdengar suara
ketawa perlahan dibelakangnya dan tongkat di tangan Thu Bi Tan mencongkel
pantatnya membuat tubuhnya melayang ke atas dan dapat berdiri lagi.
Marahlah Ga Lung Hwesio. “Iblis betina, mampuslah!” Tongkat bambu kuning di
tangannya menyambar. Ong Hui melompat mundur karena merasa betapa hebatnya
serangan ini.
Tiba-tiba Ga Lung Hwesio menghentikan serangannya dan terhuyung mundur karena
semacam hawa pukulan datang dari belakang nyonya muda itu menyambar dadanya.
Ia sudah mengerahkan lweekang dengan muka pucat saking kagetnya.
Sementara itu sabil tertawa bergelak, Thu Bi Tan melompat jauh, tahu-tahu tiba di
dekat sebuah batu besar yang berada di belakang Ong Hui. Tongkatnya diayun
menghantam batu sambil berseru. “Siluman, keluarlah kau!”
Terdengar suara keras dan batu itu pecah berhamburan. Demikian hebatnya pukulan
Thu Bi Tan yang menandakan bahwa ilmu kepandaian dan tenaganya bukan main
hebatnya. Selenyapnya debu batu yang terpukul hancur, muncullah dari balik batu itu
seorang kakek tinggi kurus yang rambut, jenggotnya panjang putih, sikapnya agung
lagi tenang.
Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Bocah ini bermuka
tampan dan bermata tajam. Melihat Ong Hui didesak Ga Lung Hwesio, bocah itu
berlari-larian dengan beberapa loncatan saja ia sudah tiba di dekat Ong Hui.
“Bibi, larilah lekas dengan keledai, jangan layani orang-orang jahat ini!”
Sambil berkata demikian, ia menghadang di depan Ong Hui untuk mencegah Ga Lung
Hwesio mendesak terus. Ong Hui ragu-ragu akan tetapi mengingat akan keselamatan
anaknya, lalu melompat ke atas keledainya dan membalapkan keledai itu sambil
berseru. “Terima kasih atas pertolongan Locianpwe!”
Koleksi Kang Zusi
Melihat Ong Hui hendak melarikan diri, tanpa memperdulikan bocah yang
menghadang di depannya, Ga Lung Hwesio membentak sambil mengejar.
“Perempuan hina, kau hendak lari ke mana?”
Akan tetapi bocah itu dengan gerakan yang amat ringan sudah melompat di depannya,
mementangkan kedua tangan dan berseru.
“Orang jahat, mau apa kau mengejar?”
Baru sekarang Ga Lung Hwesio memperhatikan bocah ini. Usianya paling banyak
tujuh tahun, pakaiannya sederhana dari kain kasar. Tidak ada apa-apa yang istimewa
pada bocah ini kecuali sinar matanya yang tajam dan sepasang alisnya yang hitam
panjang.
“Setan cilik, minggirlah!” Tongkatnya menyambar untuk menghantam bocah itu ke
samping. Akan tetapi dengan amat mudah bocah itu mengelak dan tongkatnya
mengenai tempat kosong.
Ga Lung Hwesio terkejut dan marah. Kalau saja ia tidak ingin mengejar Ong Hui,
tentu ia mengirim serangan lagi. Melihat bocah itu sudah mengelak ke samping, ia
lalu melompat dan mengejar terus.
Alangkah heran, kaget dan marahnya ketika tiba-tiba ia melihat bocah itu sudah
berada di depannya lagi menghadang dan mencegah ia mengejar terus.
“Anak setan, apa kau ingin mampus?” bentaknya.
“Hidup bukan kau yang menghidupkan, matipun mana bisa kau yang mematikan?”
jawab bocah itu sambil tersenyum simpul. Ga Lung Hwesio tertegun sejenak. Ucapan
seperti itu benar-benar tidak pantas keluar dari mulut seorang bocah berumur tujuh
tahun.
Akan tetapi kemarahannya masih kalah oleh keinginannya mengejar Ong Hui, maka
tanpa memperdulikan bocah itu, ia menggerakkan kaki melompati bocah di depannya.
Tentu saja bagi orang sepandai dia, melompati atas kepala bocah itu adalah mudah
sekali.
Akan tetapi kali ini ia kecele. Bocah itupun melompat ke atas dan ketika kedua
tangannya di ayun, dua batu menyambar ke arah jalan darah di kedua pundak hwesio
itu.
Ga Lung Hwesio kaget dan marah sekali, akan tetapi mana ia memandang mata
seorang bocah? Tangan kirinya digerakkan menyampok dua butir batu dan tubuhnya
terus bergerak maju dengan tangan kanan mencengkeram dada bocah itu untuk
menangkap dan melemparkan bocah itu ke samping agar ia dapat terus mengejar Ong
Hui.
“Hayaaaa, hwesio palsu lihai sekali!” Dengan lucu bocah itu membanting diri ke
belakang, berpoksai tiga kali dan turun ke atas tanah, masih menghadapi hwesio itu
dan menghadang.
Koleksi Kang Zusi
Ga Lung Hwesio adalah seorang hwesio yang kedudukannya tinggi sekali di Tibet. Di
ibukota Lasha, jangankan penduduk biasa, bahkan tuan tanah dan pembesar menaruh
hormat kepadanya. Sekarang ia digoda dan dipermainkan seorang bocah tentu saja
amarahnya naik ke ubun-ubunnya dan ia menggertak giginya.
“Kau benar-benar bosan hidup!” bentaknya dan tiba-tiba ia harus mengelak karena
ada debu berhamburan di depan mukanya, debu dari tanah dan pasir yang tengah
disambitkan oleh bocah itu kepadanya. Celakanya, setelah mengelak lagi-lagi ada
hujan batu kecil dan pasir dicampur debu mengebul menyerang muka. Untuk
sambitan ini tentu saja Ga Lung Hwesio tidak takut, akan tetapi kalau sampai
mukanya terkena hujan debu, tentu mata hidung, mulut, dan telinganya terancam
bahaya kemasukkan debu kotor.
Saking marahnya, Ga Lung Hwesio lupa akan kedudukannya sebagai seorang tokoh
besar dan ia mulai mengamuk, menyerang bocah itu dengan tongkatnya bukan hanya
serangan gertakan lagi, melainkan serangan maut dengan maksud membunuh. Akan
tetapi ternyata bocah itu lincah sekali gerakan-gerakannya.
Bagaikan seekor burung walet saja layaknya ia “terbang” di antara sambaran tongkat
sambil mulutnya tiada hentinya berseru. “Hwesio palsu! Hwesio jahat!” dan
sebagainya, membuat Ga Lung Hwesio menjadi makin marah dan lupalah ia akan
Ong Hui yang sekarang sudah kabur jauh sampai tidak kelihatan lagi.
Sementara itu, Thu Bi Tan Hwesio yang tadi sudah dapat menduga bahwa Ong Hui
dibantu orang pandai yang bersembunyi di belakang batu, telah memukul hancur batu
besar itu sehingga kelihatan bocah itu bersama seorang kakek tinggi kurus berjenggot
panjang dan putih. Sudah banyak Thu Bi Tan mengenal orang-orang kang-ouw di
daerah Kun-lun, akan tetapi kakek tua ini belum pernah dilihatnya. Namun sebagai
seorang tokoh utama di Tibet, ia tidak mau berlaku sembrono. Ia mengawasi kakek itu
lalu berkata.
“To-yu siapakah dan pernah apa dengan perempuan Kun-lun-pai yang kami kejar?”
Pertanyaan yang dikeluarkan dengan bahasa Han yang kaku ini adalah pertanyaan
yang biasa dipergunakan orang berkedudukan tinggi, singkat akan tetapi sudah
mencakup semua persoalan antara mereka.
Kalau tosu tua itu mengaku masih ada hubungan, maka otomatis tosu inipun musuhmusuh
para hwesio Lama. Kalau bukan apa-apa, berarti tosu itu melanggar peraturan
kang-ouw, mencampuri urusan orang lain.
Kakek itu tersenyum ramah, “Hwesio, wanita muda itu dan anak kecil yang
digendongnya adalah saudaraku, juga kau dan kawan-kawanmu adalah saudaraku.”
Thu Bi Tan Hwesio melengak mendengar jawaban yang aneh ini. Selagi ia hendak
membentak minta penjelasan, kakek itu lalu mengucapkan kata-kata bersyair,
“Di empat penjuru samudra semua adalah saudara!”
Koleksi Kang Zusi
Kemudian ia memandang Thu Bi Tan Hwesio dan melanjutkan kata-katanya.
“Sebagai saudara aku berkewajiban untuk membantu yang lemah, mengingatkan yang
sesat, wajib menolong yang lemah tertindas, memberantas yang menindas.”
Thu Bi Tan Hwesio juga seorang tokoh agama maka ia mengerti akan maksud katakata
ini. Dia tertawa menyindir lalu berkata keras, “Tosu sombong! Sekali bertemu
bagaimana kau tahu mana yang benar mana yang keliru? Apa kau tidak tahu sedang
berhadapan dengan siapa? Pinceng adalah Thu Bi Tan, seorang di antara Su Thai
Losu di Lasha. Apa kau sengaja mengandalkan kepandaian dan berani menentang Su
Thai Losu?”
Nama Su Thai Losu di Tibet dan daerah Kun-lun terkenal sekali dan selama ini tidak
pernah ada orang berani menentangnya. Dengan memperkenalkan diri, Thu Bi Tan
ingin menggebah pergi tosu ini supaya jangan banyak rewel lagi agar dia dan para
keponakan muridnya dapat melanjutkan pengejaran terhadap Ong Hui.
Akan tetapi dengan masih tenang-tenang saja, kakek itu menjawab, “Tidak ada
persoalan berani atau tidak dan siapa menentang siapa tidak, yang ada hanya
menolong yang lemah dan memberantas yang menindas.”
Marahlah Thu Bi Tan. Tongkat kecil panjang ia keluarkan dan tangannya gemetar
menahan nafsu. “Kakek tua, beritahukan namamu sebelum pinceng turun tangan.”
“Apa artinya nama? Diberitahukan juga kau tidak akan mengenalku. Aku tidak
terkenal seperti Su Thai Losu. Thu Bi Tan, aku tidak ingin berkelahi. Lebih baik kau
dan lima orang kawanmu dengan damai kembali ke Lasha, biarkan perempuan lemah
dan anaknya itu pergi dengan aman.”
“Tosu siluman, enak saja kau bicara. Keluarkan senjatamu!”
Kini sikap kakek tua itu keren sekali dan ia pandang Thu Bi Tan Hwesio seperti
seorang guru memandang muridnya. “Senjata hanyalah alat penyambung tangan dan
dipergunakan untuk melindungi diri, bukan untuk menindas sesamanya. Kalau ada
bahaya mengancam diri, barulah senjata dikeluarkan.”
Ucapan ini biarpun dapat diartikan menegur Thu Bi Tan Hwesio yang menggunakan
kepandaian dan senjata untuk menindas orang lain akan tetapi juga bersikap
mengejek, menyatakan bahwa menghadapi Thu Bi Tan tanpa senjatapun kakek itu
merasa tidak berbahaya.
“Kakek tua bangka, siapapun adanya engkau, hari ini pasti tubuhmu hancur seperti
batu itu!” bentak Thu Bi Tan yang menjadi makin marah karena sikap kakek itu yang
ia anggap amat sombong dan tidak memandang sebelah matapun kepadanya. Ia dapat
menduga, bahwa kalau seorang bisa bersikap demikian tenang dan sombong tak kenal
takut, sudah tentu memiliki kepandaian tinggi, maka paling perlu menghantamnya
sehingga tewas agar tidak rewel-rewel lagi.
Dengan gerakan perlahan ia menghantam. Tongkatnya kelihatannya bergerak lambat
ke arah dada kakek itu, akan tetapi sebetulnya apa yang kelihatan ini adalah
sebaliknya dari pada kenyataannya.
Koleksi Kang Zusi
Seorang ahli lweekeh seperti dia ini, memang di dalam serangannya terkandung unsur
“kosong berisi” atau “lemah kuat”, kelihatan lemah dan perlahan akan tetapi
sebetulnya luar biasa kuatnya. Dengan kekuatannya seperti inilah maka tongkat kayu
bisa menghancurkan batu, dan pukulan yang kelihatan perlahan dapat merusak bagian
dalam tanpa merusak bagian luar.
Kakek itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, hanya berdiri diam acuh tak
acuh, seakan-akan tidak tahu bahwa dirinya sedang diserang, bahkan diancam
serangan maut yang sekali kena akan mengakibatkan kematiannya. Thu Bi Tan bukan
seorang biasa, dia tokoh besar dan tentu saja dia tidak sudi membunuh seorang lemah
yang tidak melawan sama sekali.
Melihat kakek ini tidak mengelak dan tidak menangkis, hatinya terguncang dan
otomatis ia menarik kembali tenaganya sehingga tongkat itu kini bergerak cepat sekali
akan tetapi tidak mengandung tenaga lweekang sehingga apabila mengenai dada
kakek itu hanya akan membuat kakek itu terguling roboh tanpa menderita luka hebat.
“Werrrr......!” Tongkat menyambar cepat sampai tidak kelihatan bayangannya. Kakek
tetap tidak bergerak tapi ..... alangkah herannya hati Thu Bi Tan ketika tongkatnya itu
mengenai angin, sama sekali tidak menyentuh tubuh orang tua itu.
Padahal menurut penglihatannya, kakek itu sama sekali tidak mengelak dan
sekarangpun masih berdiri di tempat yang tadi tanpa mengubah kedudukan kaki,
masih tersenyum ramah memandangnya.
“Setankah dia......??” ia berpikir dengan penasaran lalu menghantam lagi, kali ini
lebih cepat dan lebih keras daripada tadi, masih belum mengisi gerakannya dengan
tenaga lweekang. Sekali lagi luput serangan itu tanpa lawannya berpindah tempat.
Karena Thu Bi Tan sekarang menyerang sambil memasang mata ia melihat betapa
serangannya tadi digagalkan oleh gerakan kakek itu dengan amat cepat dan halus,
yaitu menyedot bagian tubuh yang yang terserang sehingga legok dan tongkat itu
tidak menyentuh kulit. Ia kaget sekali.
Sedemikian tingginya lweekang kakek ini sehingga semua bagian tubuhnya seakanakan
bermata? Ia menjadi penasaran karena terang-terangan kakek itu tidak
memandang sebelah mata kepadanya sehingga menghadapi dua serangannya seperti
seorang guru menghadapi serangan murid.
“Bagus! Coba tahan serangan ini!” bentaknya dan kini tongkatnya diputar tiga kali di
atas kepala, lalu langsung dipakai membabat tubuh lawannya bagian tengah. Tak
mungkin dapat mengelak tanpa memindahkan kaki, pikirnya. Akan tetapi sekali lagi
pukulannya mengenai angin dan tiba-tiba tubuh kakek itu lenyap dari depan matanya.
Setelah tongkatnya menyambar lewat, tubuh kakek itu kelihatan lagi, masih berdiri
tersenyum seperti tadi.
Thu Bi Tan kaget setengah mati. Ia dapat menduga bahwa tanpa mengubah
kedudukan kaki, kakek tua ini telah membuang diri ke belakang tanpa menggeser kaki
sehingga tubuhnya telentang di atas tanah, akan tetapi hanya sebentar saja karena
begitu tongkat lewat, ia sudah menarik kembali tubuhnya dan berdiri tegak. Inilah
Koleksi Kang Zusi
perbuatan yang benar-benar hebat dan sukar dilakukan biarpun oleh seorang ahli yang
amat ulung.
“Mengalah hanya bertingkat tiga,” kata kakek tua itu masih tersenyum, “pertama
berdasarkan kesabaran, ke dua berdasarkan anggapan bahwa orang telah mendesak
karena terburu nafsu, dan ke tiga berdasarkan anggapan bahwa orang melakukan
karena kebodohannya.
Kalau sudah mencapai tingkat ke empat, berarti orang itu memang berwatak jahat dan
suka mencelakakan sesamanya. Hwesio, sekali lagi kuperingatkan kau dan kawankawanmu,
pergilah dengan damai.”
Pada saat itu bocah berusia tujuh tahun tadi masih digempur hebat oleh Ga Lung
Hwesio. Hwesio ini sudah marah sekali, mencak-mencak dan memaki-maki karena
sampai puluhan jurus belum juga ia berhasil merobohkan bocah itu, belum berhasil
tongkatnya mengenai tubuh si bocah. Benar-benar hal ini merupakan hal yang amat
menakjubkan sampai empat orang sutenya berdiri melongo saking herannya.
Bocah itu lebih gesit daripada seekor monyet dan biarpun tubuhnya kadang-kadang
terbawa oleh hawa pukulan Ga Lung Hwesio yang mengandung tenaga lweekang,
namun tetap saja selalu dapat menghindarkan diri. Yang aneh adalah gerakan kaki
bocah itu yang diatur sedemikian sempurna merupakan langkah-langkah kedudukan
bintang di langit.
“Eh, eh, bukan aku yang pintar melainkan kau yang goblok tidak dapat mengenaiku.
Kenapa marah?” balas bocah itu tertawa-tawa ketika Ga Lung Hwesio mulai memakimaki.
Ga Lung Hwesio segera sadar. Dia seorang ahli silat tinggi dan sekarang tahulah ia
bahwa kegagalannya itu sebagian besar karena kesalahannya sendiri. Dia terlalu
bernafsu dan menganggap lawannya hanya seorang bocah.
Padahal sekarang kenyataannya bahwa biarpun masih cilik, bocah ini sudah
mengetahui dasar-dasar ilmu silat tinggi dan memiliki kedudukan kaki yang amat
teratur. Biarpun menghadapi bocah, ia harus menggunakan taktik pertempuran, bukan
membabi buta seperti tadi. Ia mulai mengurangi serangannya dan maju dengan
tongkat dan tangan kiri, menyerang dengan mantap dan kuat.
“Suhu, susah teecu kalau begini ....” bocah itu melompat ke kiri menghindarkan
sambaran tongkat dan membuang diri ke belakang ketika pundaknya hampir kena
dicengkeram oleh Ga Lung Hwesio.
Pada saat itu kakek tua tadi menoleh dan dengan sabar kakek itu menjemput sebatang
ranting yang menggeletak di dekat kakinya. Dilontarkan ranting itu ke arah bocah tadi
sambil berseru, “Sun-ji, sambutlah!”
Bocah itu biarpun sudah menjauhkan diri ke belakang, begitu melihat sambaran
ranting ke arahnya, cepat mengulur tangan menangkap ujung ranting. Hebat tenaga
sambaran ranting ini karena begitu terpegang, bocah itu terbang terbawa oleh ranting
melayang-layang lalu membelok dan kembali kepada si kakek.
Koleksi Kang Zusi
“Duduk di punggungku!” kata kakek itu dan bocah tadi dengan gembira lalu
menjambret pundak si tua dan duduk nongkrong di punggung, kepalanya dengan
wajah yang berseri mengintai dari balik pundak ke depan. Benar-benar dia seperti
seekor monyet kecil yang nakal. Hidungnya dicungar-cungirkan kepada Thu Bi Tan
dengan lagak mengejek sekali.
“Hwesio tua, apa kau sudah makan?” tanyanya tiba-tiba.
Thu Bi Tan yang sedang terheran-heran dan kagum menyaksikan kepandaian kakek
yang luar biasa ketika “mengambil” muridnya tadi, mendengar pertanyaan tiba-tiba
ini, tanpa disadarinya lagi menjawab.
“Apa..... belum ..... belum makan.”
Bocah itu memperlihatkan muka menaruh kasihan, lalu menyodorkan sepotong kue
kering dari sakunya. “Nah, kau makanlah.” Tapi tiba-tiba ia menarik kembali kuenya
dan berkata cepat-cepat. “Eh, maaf aku lupa. Kue ini mengandung minyak babi. Nih,
sayang hanya tinggal tiga helai dan sudah agak kering.”
Ia menyodorkan ranting yang masih dipegangnya. Di ujung ranting itu terdapat tiga
helai daun yang sudah hampir kering.
Thu Bi Tan menjadi merah mukanya. Bocah itu secara memutar telah memakinya.
Para hwesio memang biasanya tidak makan daging dan selalu makan sayur-sayuran,
maka selalu dimaki keledai. Sekarang bocah itu menawarkan daun, sama saja dengan
memaki keledai. Akan tetapi karena ia maklum bahwa lawannya amat lihai, ia segera
membentak lima orang murid keponakannya. “Kurung dengan Ngo-heng-tin!”
Ga Lung Hwesio dan sute-sutenya tadipun melongo menyaksikan kepandaian kakek
yang mereka anggap mengeluarkan ilmu siluman itu. Sekarang mendengar bentakan
Thu Bi Tan, mereka cepat melompat maju sambil memegang toya masing-masing.
Dengan teratur lima orang ini lalu mengurung dan di lain saat sudah membentuk
barisan Ngo-heng-tin.
Maju seorang saja mereka ini mungkin tidak berarti bagi lawan, akan tetapi sekali
maju bersama dalam bentuk barisan yang disebut Ngo-heng-tin, biarpun lawan
memiliki kepandaian tinggi, tidak mudah mengalahkan mereka.
Dengan terbentuknya barisan ini, tidak saja tenaga mereka tergabung menjadi satu
sehingga lima kali lebih kuat, juga mereka seperti seorang sakti yang mempunyai lima
macam kedudukan, lima macam tenaga, dan lima macam keampuhan. Disamping
Ngo-heng-tin ini, di situ masih ada lagi Thu Bi Tan yang sudah merupakan seorang
lawan sakti yang tidak boleh dipandang ringan.
Tapi kakek tua itu kelihatannya masih tenang saja, malah berkata kepada bocah di
gendongannya. “Yalu Sun, berlatih kau, lawanlah enam orang hwesio ini.”
Bocah itu nampak gembira. “Baik, suhu. Hei, liok-wi losuhu, majulah!” Sambil
berkata demikian ia menggerak-gerakkan ranting di tangannya.
Koleksi Kang Zusi
Thu Bi Tan tercengang. Orang terlalu memandang rendah kepadanya karena dia yang
berkedudukan tinggi sudi melawan seorang bocah? “Binasakan saja kakek dan bocah
ini, mereka terlampau memandang rendah dan menghina kita!” serunya kepada lima
orang murid keponakannya.
Ngo-heng-tin bergerak mengitari kakek itu yang berdiri tegak sambil menggendong
bocah itu. “Perhatikan gerakan mereka, rasakan bagaimana aku mengambil
kedudukan dan buka mata telinga dengarkan jurus-jurus yang kau mainkan,” dengan
suara tenang sekali kakek itu memberitahukan kepada bocah di gendongannya.
“Baik, suhu,” jawab bocah itu dengan gembira dan wajah berseri.
Barisan Ngo-heng-tin bergerak-gerak makin lama makin cepat mengitari tubuh kakek
itu. Tiba-tiba Ga Lung Hwesio yang menjadi pemimpin Tin (barisan) ini berseru
dalam bahasa Tibet memberi perintah kepada sute-sutenya. Dua orang yang ketika itu
kedudukannya di depan dan di belakang si kakek, serentak mengayun toya melakukan
serangan, yang di depan menghantam kepala dan yang di belakang menyerampang
kaki. Serangan atas bawah ini cepat, kuat dan berbahaya sekali.
“Pek-in-ci-tiam (Awan Putih Keluarkan Kilat)” seru kakek itu sambil melompat ke
atas sehingga serampangan toya dari belakang yang mengarah kakinya mengenai
angin, sedangkan bocah itu yang mendapat petunjuk gurunya lalu menggunakan
ranting kayu seperti pedang digerakkan ke atas menangkis datangnya toya ke arah
kepalanya.
Melihat bocah itu menangkis toyanya menggunakan ranting kecil, hwesio yang
menyerangnya menjadi girang dan cepat mengempos semangatnya. Ia tidak ragu-ragu
lagi bahwa toyanya tentu akan mematahkan ranting terus menghancurkan kepala
orang, karena mana ada seorang bocah kecil dapat menangkis tongkatnya dengan
ranting?”
13. Cucu Sungai Yalu-cangpo
Akan tetapi kesudahannya membuat ia berteriak kesakitan dan melompat mundur
dengan kaget karena telapak tangannya sakit-sakit ketika toyanya tertangkis oleh
ranting itu. Tentu saja bocah ini menjadi lihai karena secara diam-diam kakek yang
menggendongnya menyalurkan hawa sinkang ke dalam tubuh bocah itu dan
disalurkan ke arah tangan yang memegang ranting........
Ternyata kakek itu hanya “meminjam” tangan muridnya untuk menangkis pukulan
tadi. Ga Lung Hwesio melihat kegagalan serangan pertama lalu berteriak lagi
memberi aba-aba. Mendengar aba-aba ini empat orang hwesio serentak memutar toya
dan barisan ini menyerang kalang kabut dan secara bertubi-tubi. Dari lima jurusan
datanglah hujan toya ke arah kakek dan muridnya ini.
“Hui-po-lui-hong (Air Tumpah Terbang, Bianglala Melengkung), Im-mo-sam-bu
(Payung Awan Tiga Kali Menari). Hui-in-toan-san (Awan Terbang Memutus
Gunung)!” Kakek itu berloncatan ke sana ke mari pula sambil memberi perintah
muridnya.
Koleksi Kang Zusi
Dengan penuh ketekunan dan perhatian, bocah itu secara otomatis mainkan
rantingnya menurut petunjuk suhunya dan....... semua serangan toya dapat ditangkis
dan dipunahkan oleh jurus-jurus yang ia mainkan itu.
Ga Lung Hwesio mendesak terus bersama empat orang kawannya. Gerakan kakek itu
halus seperti tidak bergerak, tetapi selalu dapat mengisi tempat kosong dan ranting di
tangan si bocah itupun selalu dapat mengusir bahaya yang datang mengancam. Lima
puluh jurus lebih tin ini mengurung tanpa dapat melukai guru dan murid itu karena
penjagaan ranting amat kuat.
Tiba-tiba kakek itu berkata. “Yalu Sun, sekarang kita membalas. Awas! Sian-jinhoan-
eng (Dewa Menukar Bayangan)! Sian-jin-sia-ciok (Dewa Memanah batu)! Katin-
liok-liong (Menunggangi Enam Ekor Naga)!”
Hebat sekali ranting di tangan bocah itu. Selain ranting membuat gerakan menyerang,
barisan itu kalang kabut dan kacau balau. Ga Lung Hwesio masih berseru ke sana sini
untuk menjaga agar barisan tidak kacau, namun tetap saja serangan-serangan bocah
yang digendong oleh si kakek membuat mereka terdesak hebat.
Melihat ini, Thu Bi Tan yang tadinya merasa terheran-heran kini menjadi marah
bukan main. Sambil mengeluarkan seruan keras ia menerjang maju dan menyerang
dengan tongkatnya. Bocah itu terkejut sekali karena seruan yang merupakan pekik
dahsyat ini membuat tubuhnya bergoyang-goyang dan kedua tangannya tergetar.
Itulah pekik yang dikerahkan dengan lweekang tinggi dan dia sendiri yang belum
memiliki tenaga lweekang cukup kuat terpengaruh oleh pekik ini.
Gurunya mengulur tangan dan menepuk punggungnya sehingga pengaruh itu lenyap
kembali akan tetapi ranting yang dipegangnya sudah berpindah ke tangan gurunya.
Kini kakek itu sendiri yang menggerakkan ranting menangkis serangan tongkat Thu
Bi Tan.
Terdengar suara keras, ranting patah akan tetapi tongkat itupun terlepas dari tangan
Thu Bi Tan. Kakek tua itu tertawa nyaring lalu berkata. “Yalu Sun, sudah cukup
berlatih, mari kita pergi!”
Tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu kakek itu sudah melompat jauh sekali, seperti
terbang saja. Tiga empat lompatan lagi dan kakek itu lenyap bayangannya,
meninggalkan enam orang hwesio yang berdiri bengong.
“Sudahlah...... sudahlah......!” Thu Bi Tan Hwesio membanting-banting kaki sambil
menghela napas berulang-ulang. “Benar kata mendiang suhu bahwa di timur banyak
sekali orang Han yang sakti. Tidak perlu kita mengejar bocah murid Kun-lun-pai itu.
Dengan hati penuh penasaran enam orang hwesio itu lalu kembali ke barat. Enam
orang murid kepala itu tidak membantah karena hati mereka juga sudah gentar
menghadapi kakek tua dan bocah yang aneh sekali itu.
Demikianlah, dengan selamat Ong Hui membawa anak perempuannya ke puncak
Kun-lun untuk mengungsi ke Kun-lun-pai dan melaporkan malapetaka yang menimpa
ayah dan supeknya kepada To Gi Couwsu ketua Kun-lun-pai. Ia sama sekali tidak
Koleksi Kang Zusi
tahu. siapa kakek dan bocah yang telah menolongnya dari tangan enam orang hwesio
dari Lasha itu.
Sambil menangis ia melaporkan keadaannya kepada para tokoh Kun-lun-pai. Karena
kejadian itu merupakan pukulan hebat bagi Kun-lun-pai, yaitu tewasnya Cin Kek
Tosu yang menjadi murid keponakan To Gi Couwsu sendiri, maka para murid Kunlun-
pai memberanikan diri melaporkan hal ini kepada To Gi Couwsu yang sudah
mengasingkan diri di dalam kamarnya.
Tosu tua itu menarik napas panjang, “Siancai...... para hwesio di Tibet benar-benar
masih tidak dapat mengekang nafsu duniawi, Cin Kek tewas dalam kebenaran, biarlah
tak usah dipikirkan lagi.”
Ketika ia mendengar penuturan Ong Hui tentang kakek dan bocah yang menolongnya,
wajah kakek ini berseri. “Ah, kiranya twa-suheng (kakak seperguruan tertua) masih
hidup dan masih suka main-main. Heran sekali mengapa dalam usia tua dia masih ada
kesempatan menerima murid?”
Kakek ini memandang bayi dalam pondongan Ong Hui, kembali ia menghela napas
panjang. “Bocah ini telah mengalami penasaran, sebelum lahir ditinggalkan ayah,
sesudah lahir dikejar-kejar maut. Twa-suheng telah mengambil murid dihari tua,
kenapa aku tidak meniru? Biarlah bocah ini kelak mewarisi ilmu di Kun-lun.”
Kedukaan hati Ong Hui membuat tubuhnya tidak kuat menahan derita. Suaminya
terpisah darinya, ayahnya terbunuh dan hal ini membuat ia begitu berduka sampai tak
kuat ia menahan. Baru saja Bi Hong berusia satu tahun, nyonya muda ini meninggal
dunia di Kun-lun-san.
Bi Hong dirawat oleh para tosu dan menjadi kesayangan semua tosu di situ. Malah To
Gi Couwsu sendiri amat menaruh kasihan dan menyayanginya sehingga guru besar ini
kemudian berkenan menurunkan kepandaiannya, melatih dan memberi pimpinan
kepada Bi Hong.
Demikianlah, enam belas tahun kemudian, Bi Hong telah menjadi seorang nona yang
berjiwa sederhana, berwatak riang jenaka, dan mewarisi ilmu kepandaian tinggi dari
Kun-lun-pai.
******
Kita kembali ke puncak Kun-lun-san di mana Bi Hong baru saja diuji ilmu
kepandaiannya oleh para tosu. Kemudian gadis itu menangis karena teringat akan
musuh-musuh besarnya, hwesio-hwesio di Lasha yang telah membunuh kongkongnya
dan supekcouwnya, malah yang sudah membuat ibunya sampai mati dalam usia muda
karena berduka. Mendengar gadis itu keras sekali kehendaknya hendak turun gunung
dan mencari musuh besar menuntut balas. To Gi Couwsu menghela napas.
“Balas membalas, bunuh membunuh, ahh...... dunia suram-muram penuh hawa
kebencian. Bi Hong, kau bicara tentang membalas dendam, tahukah engkau siapa
yang telah membunuh kong-kongmu dan yang menyerbu ke tempat tinggal supekcouw
mu?”
Koleksi Kang Zusi
“Menurut keterangan yang teecu kumpulkan dari para suheng yang mendengar cerita
mendiang ibu, yang menyerbu adalah Thu Bi Tan Hwesio bersama Ga Lung Hwesio
dan empat orang hwesio lain dari Lasha.”
“Jadi kau hendak mencari enam orang hwesio itu.
“Betul suhu. Setidaknya teecu harus dapat membalas dendam kepada Thu Bi Tan
Hwesio dan Ga Lung Hwesio, karena mereka itu yang memimpin penyerbuan?”
“Bi Hong, tahukah kau siapa ayahmu?”
Ditanya begini, muka gadis itu berubah. Dia menggigit bibir menahan gelora hatinya
lalu mengangguk menjawab, “Teecu mendengar dari para suheng bahwa dahulu ibu
pernah menyatakan siapa adanya ayah teecu. Ayah adalah suheng ibu sendiri, murid
supek-couw bernama Wang Sin.”
“Anak, kau tidak tahu banyak. Ketahuilah urusan permusuhan dengan hwesio Tibet
sebetulnya adalah urusan ayahmu. Ibumu hanya terbawa-bawa dan karena ayah
ibumu sudah membunuh beberapa orang hwesio Tibet, maka hwesio-hwesio dari
Lasha itu membunuh kong-kong dan supek-couwmu.
Pinto tidak keberatan kau membalas dendam kong-kongmu, akan tetapi agar tidak
terjadi urusan permusuhan sampai terlalu mendalam, dan untuk mengetahui duduk
perkaranya urusan yang berbelit-belit ini, sebelum membalas lebih dulu kau carilah
ayahmu itu. Segala sepak terjang harus didasarkan atas keadilan, tidak boleh membabi
buta menurutkan nafsu membenci dan dendam.”
Bi Hong mengangkat mukanya. “Suhu, ke manakah teecu harus mencari ayah? Yang
teecu ketahui hanya berita tidak jelas bahwa....... bahwa ayah sudah meninggalkan
ibu.......” suaranya berubah perlahan, wajahnya nampak berduka dan penasaran. Sejak
kecil, sejak mendengar bahwa ayahnya meninggalkan ibunya, diam-diam anak ini
membenci atau setidaknya tidak suka kepada ayahnya.
“Ayahmu seorang Tibet, ke mana lagi mencari dia kalau tidak ke barat? Dahulu
ayahmu tinggal di desa Loka, kau bisa mencarinya di sana atau di sekitarnya.”
Bi Hong girang. Ia memberi hormat lalu berkata, “Kalau begitu, harap suhu
mengijinkan teecu pergi sekarang juga.”
Tosu tua itu mengangguk-angguk. “Pergilah Bi Hong, Hanya pesanku, hati-hatilah
kau. Hwesio di Lasha adalah orang-orang sakti dan tidak boleh dipandang ringan.”
“Teecu akan memperhatikan semua nasehat suhu.” Setelah memberi hormat lagi
kepada suhu dan suhengnya, nona ini lalu pergi ke kamarnya untuk membawa
perbekalan.
Para tosu di Kun-lun diliputi suasana sunyi. Semua tosu di situ menyayangi gadis itu
dan mereka tahu bahwa sepergi gadis itu dari puncak, tempat itu akan menjadi sunyi
bagi mereka. To Gi Couwsu sendiri merasa kehilangan ini.
Koleksi Kang Zusi
Semenjak Bi Hong masih kecil, dia melatih anak itu dan menyayanginya seperti cucu
sendiri. Tosu ini maklum bahwa kepergian gadis itu akan menempuh bahaya yang
tidak kecil dan masih diragukan apakah dia yang sudah amat tua akan dapat bertemu
kembali dengan Bi Hong.
“Lee Kek, jangan tegakan hatimu. Kau kawanilah sumoimu itu pergi mencari ayahnya
ke barat!”
Bukan main girangnya hati Lee Kek Tosu murid kepala Kun-lun-pai itu. Ia cepat
berlutut dan berkata, “Suhu, teecu akan menjaga sumoi dengan segenap jiwa raga
teecu.” Ia lalu mengundurkan diri menyusul sumoinya.
Tak lama kemudian, dua orang itu, seorang tosu tua dan seorang gadis muda belia
turun dari puncak diikuti pandang mata puluhan orang tosu. Beberapa kali Bi Hong
menengok dan melambaikan tangan. Semua tosu di situ, suheng-suhengnya, baginya
seperti paman-paman sendiri, maka iapun merasa terharu harus meninggalkan puncak
yang sudah dialami selama belasan tahun itu.
******
Kiranya tidak sukar untuk diduga siapa adanya kakek tua aneh dan bocah nakal yang
telah menolong Ong Hui belasan tahun yang lalu itu. Bocah itu bukan lain adalah
Wang Tui yang sudah berganti nama menjadi Yalu Sun. Seperti telah dituturkan di
bagian depan, Wang Tui, bayi cucu nenek lumpuh yang kehilangan kedua orang
tuanya karena kekejaman tuan tanah di Loka, akhirnya dibawa lari oleh Ci Ying.
Akan tetapi bayi itu berpisah dari Ci Ying dan hanyut terbawa perahu. Tentu akan
habis riwayat bayi itu kalau saja ia tidak ditolong oleh seorang kakek sakti yang
kemudian menjadi gurunya. Kakek itu sebetulnya adalah seorang tokoh Kun-lun-pai
yang sudah mengasingkan diri puluhan tahun lamanya. Ia malah masih pernah kakak
seperguruan dari To Gi Couwsu, pada saat itu merupakan orang terutama di Kun-lun
memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.
Orang-orang sudah tidak mengenalnya lagi dan dia hanya disebut Pek-kong Kiamsian
(Dewa Pedang Sinar Putih). Adapun Wang Tui, bocah itu, tentu saja tidak
diketahui namanya dan oleh Pek-kong Kiam-sian diberi nama Yalu Sun (cucu sungai
Yalu-cangpo), sesuai dengan keadaannya, ditemukan di atas perahu yang berada di
sungai Yalu-cangpo.
Selama dua puluh tahun lebih, Pek-kong Kiam-sian yang dahulunya bernama Tok Tek
Cinjin, menurunkan ilmu kepandaiannya kepada muridnya ini, yang ternyata amat
cerdik dan berbakat. Bakatnya ini sudah dibuktikan ketika dalam usia tujuh tahun dia
sudah dapat menghadapi Ga Lung Hwesio mengandalkan kelincahan tubuhnya.
Dengan amat tekun Wang Tui atau Yalu Sun, (lebih baik kita menyebutnya Yalu Sun
karena bocah itu sendiri tidak tahu bahwa ia bernama Wang Tui) belajar ilmu dan
akhirnya ia berhasil mewarisi ilmu kepandaian suhunya. Melihat muridnya telah
tamat dan tidak ada apa-apa lagi yang dapat ia ajarkan, Pek-kong Kiam-sian lalu
berpisah dari muridnya.
Koleksi Kang Zusi
“Muridku, ada saat berkumpul harus ada saat berpisah. Kau sudah tamat belajar,
kepandaianmu sudah tak kalah olehku hanya tinggal mematangkan dalam latihan saja.
Sekarang tugasku selesai, kau boleh pergi kemana sesukamu.”
Yalu Sun berlutut dan menangis. “Suhu, mohon kasihan. Teecu tidak sanggup
meninggalkan suhu. Biarlah teecu merawat suhu yang sudah tua, teecu tidak tega
meninggalkan suhu seorang diri dalam usia tua.”
“Anak bodoh, berapa lama kau hendak mengeram dirimu di sampingku? Kalau
umurku masih panjang, apakah kau hendak mengawaniku sampai kau menjadi
seorang tua pula? Usiamu kini sudah dua puluh dua tahun, sudah lebih dari dewasa
untuk hidup sendiri mencari pengalaman.”
“Suhu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang teecu kenal, suhu adalah guruku
juga pengganti orang tuaku. Bagaimana teecu tega untuk berpisah selagi suhu sudah
amat tua?”
“Heh, apa kau masih banyak bantahan? Tidak terpisah sekarang, tentu akan datang
saatnya berpisah. Mana ada manusia hidup kekal di dunia ini? Kau seorang manusia,
tentu dahulu ada yang melahirkan kau, tentu ada ayah dan ibumu. Sudah menjadi
kewajibanmu setelah kau sekarang memiliki kekuatan dan kepandaian, kau mencari
ayah ibumu itu. Aku sendiri tidak tahu siapa mereka, akan tetapi karena kau
mempunyai darah Tibet, tidak salah lagi orang tuamu tentulah tinggal di barat.
Berangkatlah ke Lasha dan di sana kau boleh mencari-cari keterangan tentang ayah
bundamu itu. Pekerjaan ini tidaklah mudah, Sun-ji, karena aku sendiri tidak tahu siapa
mereka itu dan siapakah kau ini sebenarnya. Nah, berangkatlah dan berhati-hatilah.
Aku sendiri hendak merantau, mencari tempat yang cocok untuk melewati hari tua
dengan aman dan damai.”
Terbangun semangat Yalu Sun ketika gurunya bicara tentang orang tuanya. Memang
semenjak kecil ia amat rindu untuk mengetahui dan mencari ayah bundanya yang
sama sekali tidak dikenalnya, tidak diketahui pula namanya. Ia berlutut lagi untuk
menghaturkan terima kasih atas pimpinan yang penuh cinta kasih selama dua puluh
tahun lebih dari suhunya.
Akan tetapi sebelum ia mengucap sesuatu, berkelebat bayangan putih dan kakek itu
sudah lenyap dari depannya. Hanya sebatang pedang terletak di depan Yalu Sun
sebagai pengganti kakek itu. Yalu Sun menghela napas dan mengambil pedang itu.
“Suhu benar-benar mengharuskan aku turun gunung, pedang Pek-kong-kiam
ditinggalkan untukku. Kalau aku tidak dapat mencari orang tuaku sampai berhasil
bukankah sia-sia saja pengharapan suhu?”
Tak lama kemudian pemuda inipun meninggalkan puncak itu mulai dengan
perjalanannya ke barat. Yalu Sun berusia dua puluh satu tahun atau dua puluh dua
tahun, tubuhnya tegap, wajahnya berseri matanya kocak tanda wataknya periang.
Pakaiannya sederhana sekali dan pedang Pek-kong-kiam tergantung di pinggang kiri.
Dengan ilmu meringankan tubuh, ia berlari cepat sekali.
******
Koleksi Kang Zusi
Sungguh merupakan hal yang amat kebetulan bahwa waktu Yalu Sun turun gunung,
hanya sebulan yang lalu Bi Hong juga meninggalkan Kun-lun-pai menuju ke barat.
Marilah kita mengikuti perjalanan Bi Hong yang juga melakukan perjalanan cepat dan
hanya terpisah dua-tiga ratus lie saja dari Yalu Sun.
Dengan penuh semangat, gadis itu bersama twa-suhengnya, yaitu Lee Kek Tosu,
melakukan perjalanan ke barat. Menurut keterangan yang mereka dapatkan di tengah
perjalanan, dusaun Loka berada di lembah sungai Yalu-cangpo dan ke dusun inilah
mereka menuju.
Pada suatu sore ketika mereka tiba di luar sebuah hutan kecil, mereka mendengar
suara laki-laki yang amat nyaring memaki-maki dan suara ketawa perlahan. Lee Kek
Tosu terkejut mendengar suara ketawa ini yang menunjukkan bahwa orangnya
tentulah seorang ahli lweekang yang berkepandaian tinggi.
Agaknya orang sedang bertengkar di dalam hutan. Mari kita lihat, twa-suheng,” kata
Bi Hong.
“Marilah, akan tetapi di tempat asing ini harap kau suka bersabar dan jangan
mencampuri urusan orang lain,” tosu itu memperingatkan sumoinya.
Sambil beridap mereka menghampiri tempat itu dan bersembunyi di balik pohonpohon.
Ternyata bahwa suara ribut-ribut itu datang dari tengah hutan dan di situ
mereka melihat seorang pemuda sedang berdiri berhadapan dengan dua orang hwesio
Tibet.
Pemuda ini masih muda sekali, paling banyak berusia enam belas atau tujuh belas
tahun, akan tetapi tubuhnya tegap dan kelihatan amat kuat, wajahnya membayangkan
kegagahan dan dipunggungnya tampak sebatang pedang panjang. Pemuda ini sedang
marah-marah dan sambil membanting kaki ia berseru.
“Hwesio-hwesio bau! Sudah kukatakan namuku Kalisang dan aku bertanya baik-baik
kepada kalian tentang kota Lasha. Mengapa sebaliknya kalian tidak tahu malu
bertanya-tanya tentang keluargaku? Minggirlah, aku Kalisang tidak sudi bicara lagi
denganmu.”
Bi Hong yang mengintai dari balik pohon menjadi heran sekali. Pemuda tegap itu
berpakaian seperti orang Han, akan tetapi air muka dan bahasanya membayangkan
bahwa dia adalah seorang Tibet.
Seorang di antara dua orang hwesio itu, yang tua bertubuh gemuk dan memegang
tongkat bambu kuning kecil panjang tertawa. Suara ketawanya perlahan akan tetapi
menggetarkan dan inilah suara ketawa yang tadi mengejutkan hati Lee Kek Tosu.
“Ha-ha-ha, pemuda bernyali harimau. Biarpun kau berlagak seperti orang Han, semua
orang dapat melihat bahwa kau seorang bocah Tibet. Sebagai orang Tibet, mengapa
kau begini kurang ajar berani bersikap kasar terhadap seorang pendeta Lama? Bahkan
srigala-srigala hitam yang berkeliaran di sini tidak berani berlaku kurang patut
terhadap pinceng. Hayo lekas katakan kau anak siapa, murid siapa dan apa
Koleksi Kang Zusi
keperluanmu mencari kota Lasha?”Ucapan terakhir ini mengandung ancaman dan
tekanan.
“Pendeta bau! Justeru aku tidak mau menghormat semua pendeta Lama yang jahatjahat,
habis kau mau apa? Orang tuaku tidak ada sangkut paut, gurukupun tidak, tak
perlu kau kenal mereka. Kau mau tahu mengapa aku hendak ke Lasha? Dengarlah,
aku hendak membasmi keledai-keledai gundul!”
Hwesio gemuk pendek itu marah sekali, kawannya mengeluarkan suara. “Iihhh.....”
dan meraba-raba kepalanya yang gundul. Bi Hong juga kaget dan twa-suhengnya
berbisik, “Hemmmm, bocah ini lancang mulut dan nekad sekali.”
Akan tetapi Bi Hong memuji kagum. “Dia benar-benar bernyali harimau.”
“Bocah gila!” hwesio yang tadi meraba kepalanya membentak. “Setan cilik macammu
ini berani mengeluarkan omongan seperti itu? Lihat, kedua tanganku cukup untuk
membekuk lehermu, jangan sebut lagi para guru besar di Lasha itu? Jagalah!” Hwesio
ini yang memegang sebuah tongkat kayu sebesar mulut mangkuk, benar-benar
melemparkan tongkatnya ke tanah, lalu dengan kedua tangan kosong ia menubruk,
tangan kiri menghantam kepala, tangan kanan mencengkeram dada pemuda tanggung
itu.
Serangan ini hebat sekali dan dari bunyi angin pukulannya dapat diketahui bahwa
hwesio yang mukanya putih ini memiliki kepandaian lumayan dan tenaganya besar.
Akan tetapi lebih hebat sambutan anak muda itu. Pukulan ke arah kepalanya ia
tangkis dengan tangan kanan, sedangkan cengkeraman ke arah pundak ia biarkan saja.
Sambil mengerahkan tenaganya ia malah membalas dengan pukulan telapak tangan ke
arah jidat hwesio itu.
“Plakkk......!!” Hwesio itu terkena tampar jidatnya, menjerit ngeri dan tangannya yang
sudah mencengkeram pundak pemuda itu terlepas, tubuhnya lemas dan ia roboh
telentang di atas tanah, tak bernapas lagi. Di atas jidatnya terdapat tanda lima buah
jari tangan hitam dan seluruh mukanya berubah hijau.
“Ganas sekali.......!” Bi Hong bersru kaget.
Hwesio pendek gemuk itupun kaget melihat kawannya tewas seketika, lebih-lebih
kagetnya melihat muka kawannya itu yang berubah kehijauan. Hampir berbareng,
hwesio gemuk pendek ini dan Lee Kek Tosu berseru kaget. “Cheng-hoa-pai .....!”
Hwesio gemuk pendek itu dengan seruan marah lalu menyerang si pemuda,
menggunakan tongkat bambunya dan ternyata ia lihai bukan main. Pemuda itupun
mencabut pedangnya, pedang yang mengeluarkan sinar ungu. Ilmu pedangnya juga
dahsyat dan ganas dan di lain detik mereka sudah bertempur mati-matian.
“Twa-suheng, apakah itu Cheng-hoa-pai?” tanya Bi Hong terheran-heran sambil
memandang ke arah pertempuran.
Koleksi Kang Zusi
Lee Kek Tosu menggelengkan kepalanya. “Tidak baik..... tidak baik....... maka suhu
tidak pernah bercerita, juga pinto dan para sute tidak mau menceritakan kepadamu.
Cheng-hoa-pai berpusat di Heng-toan-san, jadi masih tetangga kita.
Akan tetapi oleh karena sepak terjang mereka tidak cocok dengan kita, maka di antara
kita dengan mereka tidak ada hubungan sesuatu. Ketuanya adalah Cheng Hoa Suthai,
seorang pendeta wanita yang amat lihai.”
Tadinya Bi Hong menengok suhengnya, kini ia melirik lagi ke arah pemuda itu dan
melihat bahwa pertempuran makin hebat di mana kedua pihak sama kuatnya. Ia
makin heran. Pemuda itu baru belasan tahun, dan pendeta gundul yang melawannya
amat lihai, akan tetapi kenyataannya pemuda itu dapat mempertahankan diri dengan
amat baiknya.
“Suheng tadi menyebut Cheng-hoa-pai setelah melihat dia, apakah dia anggautanya?”
“Sukar dikatakan demikian. Menurut pendengaran dan setahuku, Cheng-hoa-pai
adalah perkumpulan wanita, tidak pernah mempunyai anak murid pria. Akan tetapi
pukulannya tadi, yang mematikan hwesio itu, tidak salah lagi, itulah pukulan Chenghoa-
tok-jiu (Pukulkan Beracun Kembang Hijau) dari Cheng-hoa-pai.” Pendeta Kunlun
ini menggeleng-geleng kepala lalu menggerendeng. “Apakah Ceng Hoa Suthai
telah mengambil murid seorang pria?”
Sementara itu, pertempuran di depan makin seru. Hwesio pendek itu tadinya masih
tertawa-tawa dalam marahnya, akan tetapi sekarang tidak bisa ia ketawa lagi, tidak
sempat. Ternyata bocah itu benar-benar lihai dan gerakan-gerakannya amat dahsyat
dan ganas.
“Setan kecil, pernah apa kau dengan siluman betina Ci Ying?” bentak pendeta gundul
itu sambil menahan pedang lawan dengan tongkatnya.
Mendadak pemuda itu marah sekali mendengar pertanyaan ini. “Tutup mulutmu yang
kotor, hwesio keparat!”
Dan pedangnya menyerang lagi dengan hebat. Akan tetapi hwesio itu menang
pengalaman. Agaknya sekarang ia tahu bagaimana harus menghadapi pedang si
pemuda. Ia berlaku lambat dan menghadapi lawannya dengan mengerahkan tenaga
“lembek”.
Seorang ahli lweekang dapat menguasai tenaganya dan dapat menggunakan
tenaganya dalam bentuk keras maupun lembek. Tahu bahwa pemuda itu keras hati,
bernafsu dan bertenaga besar, ia lalu menggunakan siasat, melawan dengan tenaga
lembek.
Pemuda itu kaget sekali ketika mendadak pedangnya terbetot dan seperti mengenai
tempat kosong apabila bertemu dengan tongkat lawan. Dalam kagetnya, ia segera
didesak dan sebentar saja repotlah ia karena berada dalam keadaan terdesak.
“Twa-suheng, mari kita bantu dia.”
Koleksi Kang Zusi
“Bantu siapa?” tanya Lee Kek Tosu sambil memandang sumoinya. “Kedua-duanya
kita tidak kenal, mengapa mesti mencampuri urusan orang lain?”
Merah wajah Bi Hong, lalu gadis ini tersenyum. “Twa-suheng, jangan salah sangka.
Sekali-kali siauwmoi bukan hendak mencampuri urusan orang dan juga tidak hendak
pilih kasih dan berat sebelah. Aku hendak turun tangan dengan alasanku yang kuat.”
“Alasan apa? Siapa yang hendak kau bantu?”
“Tentu saja membantu si pemuda itu. Dengan dia kita tidak pernah kenal, akan tetapi
bukankah lawannya itu seorang pendeta Lama dari Tibet? Twa-suheng maklum
bahwa yang membunuh kong-kong dan supek-couw adalah hwesio-hwesio dari Tibet.
Semua hwesio Lasha jahat dan harus dibasmi. Karena itu biarpun tidak tahu
urusannya, sudah terang yang jahat adalah si hwesio itu.”
Lee Kek Tosu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya. “Alangkah
banyaknya penganut-penganut To yang menyeleweng. Apakah dengan adanya tosutosu
yang menyeleweng, kaupun lalu menganggap bahwa semua tosu itu jahat? Tidak
bisa demikian, sumoi. Memang banyak hwesio Tibet yang jahat, akan tetapi tidak
mungkin kita menyama ratakan saja dan menganggap seluruh hwesio Tibet itu jahatjahat
belaka. Kita harus berhati-hati, dapat membedakan mana yang buruk dan mana
yang baik. Kalau kita turun tangan secara sembrono lalu salah tangan membantu yang
jahat mencelakakan yang baik dan benar, ke mana kita hendak menaruh muka sebagai
murid-murid Kun-lun-pai?”
14. Pencaharian Sang Ayah.
Bi Hong terbelalak memandang suhengnya, baru ia sadar bahwa ia tadi memang
terburu nafsu. Ia menepuk pipi sendiri sambil berkata. “Ah, bocah tolol, hampir saja
kau menimbulkan onar!” Melihat lagak sumoinya, mau tak mau tosu itu tersenyum.
“Biarpun begitu, kalau didiamkan saja, seorang di antara mereka tentu akan tewas.
Mari, kita pisahkan mereka, sumoi!”
Ajakan Lee Kek Tosu ini pada saat yang tepat karena pada waktu itu pemuda tegap
itu sudah kena ditendang lututnya dan roboh terguling. Hwesio itu tertawa mengejek
dan mengejar dengan tongkat diputar-putar, siap menjatuhkan pukulan maut.
Tiba-tiba hwesio gemuk pendek itu melihat sinar kuning emas yang panjang dan cepat
menyambar tongkatnya. Tongkatnya terpental dan ia kaget sekali melihat bahwa
penangkisnya adalah seorang gadis cantik yang memegang sebatang pedang.
Ia kaget dan kagum sekali akan gerakan pedang yang demikian cepatnya dan tahu
bahwa yang datang adalah seorang lawan yang berat pula. Namun ia penasaran sekali
karena datang-datang gadis itu menolong pemuda itu, maka ia lalu mengayun tongkat
menyerang Bi Hong.
“Siancai.....!” terdengar orang memuja dan tongkatnya kembali tertangkis pedang
lain. Tangan hwesio itu tergetar dan ia merasa telapak tangannya sakit sekali. Ia
Koleksi Kang Zusi
menjadi semakin kaget melihat penangkisnya seorang tosu tua yang memegang
pedang di tangan.
Celaka, pikirnya, kalau gadis tadi memiliki kiam-hoat yang amat cepat dan lihai,
adalah tosu ini memiliki lweekang yang luar biasa kuatnya. Ia menarik napas panjang,
cepat membungkuk untuk memberi hormat akan tetapi sekalian ia menyambar mayat
kawannya, lalu memutar tubuh dan berlari cepat.
“Pinceng Ga Lung Hwesio tidak bersedia untuk bertempur, lain kali bertemu
kembali.” Dengan kata-kata ini, ia lalu melompat ke atas punggung seekor kuda yang
ternyata dilepas begitu saja di dekat tempat itu, lalu membalapkan tunggangannya.
Baik Bi Hong maupun Lee Kek Tosu terkejut bukan main mendengar hwesio itu
menyebut namanya Ga Lung Hwesio. Itulah orangnya, atau seorang di antaranya,
yang dicari-cari oleh Bi Hong, musuh besar yang dulu sudah menyerbu tempat tinggal
kong-kong dan ibunya. Akan tetapi mereka tidak berdaya mengejar karena hwesio itu
sudah membalapkan kudanya dan sudah jauh sekali, tidak mungkin dikejar dengan
lari cepat.
“Manusia-manusia sombong! Perlu apa kalian datang mengganggu aku?” tiba-tiba
suara yang galak dan nyaring ini membuat dua orang kakak adik seperguruan itu
memutar tubuh dan memandang kepada pemuda tegap yang kini sudah berdiri
menghadapi mereka dengan dada terpentang. Pemuda itu benar-benar gagah sekali,
akan tetapi mudah diduga bahwa dia keras hati dan keras kepala.
Bi Hong adalah seorang gadis yang lincah gembira, akan tetapi mendengar suara dan
melihat sikap yang galak ini naiklah darahnya. Ia menghadapi pemuda itu dan berkata
mengejek.
“Setan, kenapa tingkahmu begini? Kalau tidak twa-suheng dan aku datang
mengganggu, apakah kau sekarang bukannya sudah menjadi setan tak berkepala?
Huh, ditolong orang tidak mengerti, malah memaki orang sombong. Yang sombong
engkau, bukan kami.”
Ditegur begitu, pemuda itu merah mukanya, akan tetapi matanya melotot berani
kepada Bi Hong. “Siapa membutuhkan pertolonganmu?”
“Eh, eh, sudah terang kau jatuh dan hampir dibinasakan hwesio itu, masih bilang tidak
butuh pertolonganmu!” kata Bi Hong penasaran.
Pemuda itu tersenyum mengejek. “Aku belum mati, mana bisa dihitung kalah? Kalau
kalian tidak datang mengganggu, hwesio jahanam itu pasti sudah mampus di
tanganku. Hemm, kalian benar-benar mengganggu. Sudahlah!” Pemuda itu memutar
tubuh dan hendak pergi.
“Congsu (tuan gagah), tunggu dulu!” Lee Kek Tosu berseru dan mengejar. Setelah
pemuda itu membalikkan tubuh menghadapinya, sambil menjura tosu tua ini bertanya.
“Bolehkah pinto mengetahui congsu masih ada hubungan apa dengan Cheng Hoa
Suthai dan kenapa congsu memusuhi Ga Lung Hwesio dari Lasha?”
Koleksi Kang Zusi
Mendengar pertanyaan ini, baru Bi Hong ingat bahwa pertanyaan kedua itu penting
sekali. Dia sendiri turun gunung dengan maksud membalas dendam kepada Ga Lung
Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio, mengapa sekarang bocah kepala batu ini juga
memusuhi Ga Lung Hwesio?
Dengan matanya yang lebar dan bersinar tajam, bocah itu memandang Lee Kek Tosu
lalu menjawab, suaranya nyaring dan mantap, tanda bahwa dia orang jujur, terbuka,
keras hati dan tidak mau mengalah akan tetapi penuh dengan kegagahan dan keadilan.
“Cheng Hoa Suthai adalah sucouwku (nenek guru) dan aku tidak mengenal siapa itu
Ga Lung Hwesio. Pendeknya, semua hwesio Tibet kepala gundul adalah musuhmusuhku
yang harus kubunuh semua. Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi, harus
mengejar keledai gundul itu!” Setelah berkata demikian pemuda itu melompat jauh
dan berlari cepat sekali melakukan pengejaran.
“Twa-suheng, pemuda itu agaknya juga mempunyai permusuhan yang sama dengan
kita,“ kata Bi Hong. “Mari kita juga menuju ke Lasha. Jika kita dan dia bekerja sama,
kedudukan kita lebih kuat.”
Lee Kek Tosu memandang sumoinya dengan sinar mata tajam menyelidik. “Sumoi,
bukankah karena kau mengkhawatirkan bocah itu dan ingin membantunya
menghadapi para pendeta Lasha yang lihai?”
Bi Hong menjadi merah mukanya. Karena berkumpul sejak kecil, ia maklum bahwa
pandangan twa-suheng ini tajam luar biasa.
Iapun tidak bisa membohong terhadap twa-suheng ini, maka sambil mengangguk, ia
menarik napas dan berkata, “Pemuda itu kasar dan keras hati, suheng. Akan tetapi
entah mengapa, aku mendapat perasaan bahwa dia bukan orang sembarangan, ada
sifat-sifat gagah pada dirinya, dan tentu ia mengandung sakit hati besar sekali
terhadap para pendeta di Lasha. Akan tetapi karena dia kasar dan sembrono, pasti dia
akan celaka. Kitapun bertujuan mencari musuh besar kong-kong, terutama Ga Lung
Hwesio yang lari ke Lasha, apakah tidak baik kita sekalian menyusul dan membantu
pemuda itu?”
Lee Kek Tosu mengangguk-angguk, lega hatinya karena sumoinya tertarik dan kagum
melihat pemuda itu adalah sewajarnya, bukan terselip kekaguman wanita terhadap
pria.
“Memang perasaanmu tidak jauh dengan perasaanku, sumoi, Pemuda itu itu bukan
sembarangan, dia murid Cheng Hoa Suthai yang terkenal ganas, akan tetapi pemuda
itu sendiri gagah dan jujur. Akan tetapi, di daerah Tibet ini sejak dulu penuh dengan
soal-soal penasaran, banyak terjadi penindasan dan sakit hati. Kalau kau menuruti hati
dan perasaan, jangan-jangan akan terjadi apa yang dikhawatirkan oleh suhu, yaitu
permusuhan yang tiada habisnya antara Tibet dan Kun-lun. Persoalanmu dengan para
pendeta di Lasha seperti kata suhu adalah urusan ayahmu, maka lebih baik kita
mencari dulu ayahmu sebelum turun tangan. Kalau kita salah tangan, bukankah suhu
akan marah sekali?”
Koleksi Kang Zusi
Bi Hong tidak dapat membantah. Memang ia tadi terlalu menurutkan nafsu, ingin
lekas-lekas membalas musuh besarnya dan juga khawatir melihat pemuda tadi
melakukan pengejaran seorang diri. Urusan sendiri belum beres, mengapa melibatkan
diri dengan urusan orang lain? Ia mengangguk dan dua orang itu lalu melanjutkan
perjalanan mereka, tidak ke Lasha, melainkan ke Loka, dusun di lembah sungai Yalucangpo.
Memang mendiang Ong Hui tidak banyak bercerita kepada para tosu Kun-lun-pai.
Bagaimana nyonya muda itu dapat bercerita mengeluarkan isi hatinya tentang
suaminya yang dirampas wanita lain? Ia menderita seorang diri, sama sekali tidak
mau menceritakan pengalamannya ketika berhadapan dengan Ci Ying yang merampas
suaminya. Oleh karena itulah, puterinya tidak mendengar banyak dari para tosu di
Kun-lun.
Bahkan To Gi Couwsu sendiri hanya tahu bahwa anak itu puteri Wang Sin murid Cin
Kek Tosu dan bahwa Wang Sin berasal dari Loka. Ong Hui menceritakan ke mana
perginya Wang Sin, hanya bilang bahwa suaminya itu meninggalkannya untuk
menyelesaikan urusan dendam para budak di Tibet.
Maka ketika memasuki dusun Loka, Bi Hong dan Lee Kek Tosu sama sekali tidak
tahu bahwa dusun ini sudah berubah banyak. Para hamba taninya sudah berganti lain
orang, juga tuan tanahmya.
Akan tetapi melihat cara para budak bekerja di sawah, tidak dijaga tukang-tukang
pukul, bekerja rajin sambil bernyanyi-nyanyi, Bi Hong dan Lee Kek Tosu mengerti
bahwa keadaan para budak itu tidak boleh dibilang sengsara, dan kenyataan bahwa
mereka suka bekerja dengan gembira tanpa dijaga tukang pukul, membuktikan bahwa
jaminan hidup mereka tentu saudah mencukupi. Mereka berhenti bekerja dan
memandang dengan heran dan kagum ketika melihat kedatangan seorang gadis Han
yang cantik jelita bersama seorang tosu.
“Apakah di antara saudara ada yang tahu di mana tempat tinggal seorang bernama
Wang Sin?” tanya Bi Hong dalam bahasa Tibet yang fasih. Memang gadis ini, juga
Lee Kek Tosu, paham bahasa Tibet, bahkan Bi Hong sejak kecil sudah diberi
pelajaran bahasa ini oleh To Gi Couwsu yang tahu bahwa ayah anak ini adalah
seorang Tibet. Tidak mengherankan apabila bahasanya cukup baik.
Akan tetapi para budak itu tidak mengenal Wang Sin dan mereka menggeleng-geleng
kepala setelah saling bertanya kalau-kalau ada yang mengenalnya. Tiba-tiba seorang
kakek tua yang memegang cangkul membungkuk-bungkuk maju menghadapi Bi
Hong. Wajah orang tua ini keriputan dan kulitnya coklat karena dimakan panas
matahari. Matanya yang sipit hampir meram itu mengamat-amati Bi Hong, lalu ia
bertanya.
“Nona masih ada hubungan apakah dengan orang yang bernama Wang Sin?”
Suaranya mengandung curiga dan pandang matanya menyelidik. Bi Hong dapat
menangkap suara curiga ini, maka ia tersenyum manis untuk melegakan hati orang.
“Lopek,” katanya manis budi, “Aku masih ada hubungan dekat dengan Wang Sin itu,
apakah lopek kenal padanya dan di mana adanya dia sekarang?”
Koleksi Kang Zusi
Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya lalu menarik napas panjang. “Dia pahlawan
besar ..... pahlawan besar....” setelah berkata demikian ia lalu kembali ke tempat
kerjanya sambil berkata kepada kawan-kawannya. “Kawan-kawan, hayo kita bekerja
lagi, kita tidak bisa meninggalkan pekerjaan!”
Semua orang teringat akan pekerjaannya dan kembalilah mereka sibuk dengan
pekerjaannya di sawah. Bi Hong girang sekali mendengar ucapan tadi, akan tetapi
iapun heran mengapa kakek itu agaknya tidak suka banyak bercerita tentang Wang
Sin, ayahnya. Sambil berkedip pada twa-suhengnya, ia lalu menghampiri kakek itu
dan berbisik.
“Lopek kau curiga padaku, itu sudah sepatutnya. Akupun tahu bahwa dia itu seorang
pahlawan besar. Ketahuilah, aku ini puterinya dan semenjak kecil aku tidak melihat
ayahku itu. Aku hendak mencari dia, tolonglah kau memberi petunjuk.”
Kakek itu tampak kaget lalu memandang Bi Hong penuh perhatian. “Kau..... kau tidak
sama dengan Ci Ying, apa betul kau anak Ci Ying?”
“Bukan, lopek. Ibuku she Ong....”
“Ah, nyonya muda Han itu?”
Bi Hong terkejut dan makin girang. Tentu orang tua ini dapat bercerita banyak, maka
ia lalu menggandeng tangannya diajak keluar dari sawah. “Lopek tolonglah aku,
ceritakanlah tentang ayah. Biarkau tinggalkan pekerjaanmu sebentar, aku yang
bertanggung jawab kalau tuan tanah marah kepadamu.” Bi Hong menepuk-nepuk
gagang pedangnya.
Kakek itu memandang kagum. “Kau gagah, seperti dia......! Baiklah, dengar ceritaku.”
Ia lalu duduk di galengan sawah dan bercerita, didengarkan oleh Bi Hong dan Lee
Kek Tosu yang duduk di depannya, di atas tanah lempung.
Berceritalah kakek itu tentang diri Wang Sin dan Ci Ying, bagaimana mereka menjadi
korban tuan tanah sampai mereka itu lari minggat, bagaimana ayah dua orang muda
itu tewas oleh kaki tangan tuan tanah.
Kemudian ia bercerita pula dengan gembira, betapa Wang Sin enam belas tahun yang
lalu datang lagi dengan isterinya, seorang nyonya muda bangsa Han yang cantik dan
gagah dan betapa suami isteri ini membasmi tuan tanah di Loka dan membebaskan
semua budak yang tertindas.
Juga ia ceritakan bagaimana kemudian muncul Ci Ying yang sudah berubah menjadi
seorang wanita gagah yang amat ganas dan mengerikan, dan kemudian betapa isteri
Wang Sin itu diserang oleh Ci Ying lalu pergi meninggalkan suaminya.
Bi Hong mendengarkan cerita itu dengan amat terharu. Ia sampai mengucurkan air
mata ketika mendengar penuturan tentang ayahnya di waktu muda dan
menggertakkan giginya mendengar penindasan tuan tanah. Akan tetapi ia berdebar
dan menjadi pucat ketika mendengar tentang pertemuan Ci Ying, tunangan ayahnya
Koleksi Kang Zusi
itu dengan ibunya sampai ibunya diserang kemudian ibunya pergi meninggalkan
ayahnya dan gadis Tibet itu.
“Kemudian bagaimana, lopek yang baik?” tanyanya, suaranya gemetar dan wajahnya
masih pucat.
Kakek itu sekarang percaya bahwa gadis ini benar-benar puteri Wang Sin dan nyonya
Han itu, sekarang ia ingat bahwa wajah gadis ini memang sama dengan wajah nyonya
Han yang menjadi isteri Wang Sin. Ia menghela napas dan melanjutkan penuturannya.
“Memang Ci Ying, gadis yang dulu riang jenaka itu telah berubah menjadi wanita
ganas sekali. Ia membunuh-bunuhi kaki tangan tuan tanah dengan amat kejam.
Kemudian Wang Sin dan Ci Ying mengawal kami para budak untuk melarikan diri ke
timur. Semua budak sudah pergi membawa bekal yang cukup untuk memulai hidup
baru. Jasa mereka amat besar, selama hidup akan diingat oleh kami bangsa budak.
Sayang sekali dalam kehidupan Wang Sin muncul peristiwa yang amat sulit dan ruwet
antara dia, isterinya orang Han itu, dan tunangannya. Aku sendiri setelah merantau
sepuluh tahun lebih, tidak dapat menahan rinduku akan kampung halaman di Loka di
mana aku dilahirkan dan dibesarkan, biarpun dalam keadaan menderita maka aku lalu
kembali ke sini, bekerja lagi sebagai budak. Akan tetapi, keadaannya sekarang lain.
Para budak tidak tertindas seperti dulu. Kalau masih seperti dulu, mana aku sudi
bekerja lagi seperti budak?”
Saking bingung dan terharunya mengingat akan nasib yang diderita oleh ibunya,
sampai lama Bi Hong tidak dapat berkata-kata. Adalah Lee Kek Tosu yang berkata.
“Terima kasih banyak atas semua penuturanmu, loheng. Hanya sekarang kami mohon
keterangan penting darimu. Apakah kau tahu, di mana sekarang kami dapat
menjumpai Wang Sin?”
“Mana aku bisa tahu? Dia dan Ci Ying setelah mengantar kami sampai jauh, lalu
pergi dan sampai sekarang tidak pernah muncul kembali. Akan tetapi, perbuatannya
yang gagah dan mulia itu ternyata telah membuat para tuan tanah berubah dan
kehidupan para budak sekarang tidak begitu buruk seperti dahulu. Sampai mati aku
tak dapat melupakan Wang Sin dan Ci Ying!”
Karena tidak bisa mendapatkan keterangan yang lebih jelas tentang di mana adanya
ayahnya, setelah berada di dusun tempat kelahiran ayahnya itu selama tiga hari, Bi
Hong dikawani twa-suhengnya, lalu mulai dengan perjalanannya mencari Wang Sin.
Banyak dusun mereka jelajahi dan ternyata nama Wang Sin dan Ci Ying terkenal
sekali, dikenal oleh hampir semua budak di daerah itu.
Akan tetapi sungguh menyedihkan sekali, keadaan para budak yang baik nasibnya
atau setidaknya yang tidak begitu tertindas lagi oleh tuan tanah dan begundalbegundalnya
hanyalah di dusun Loka itulah. Di dusun-dusun lain, keadaan masih
seperti dahulu ketika Wang Sin masih menjadi budak.
Sampai berbulan-bulan Bi Hong dan Lee Kek Tosu mencari Wang Sin di dusundusun
sekitar Tibet, namun hasilnya sia-sia, bukan saja Wang Sin tidak dapat
ditemukan, bahkan namanya hanya dikenal di kalangan budak sebagai dongeng
Koleksi Kang Zusi
seorang pahlawan budak. Memang, semenjak berabad-abad para budak ini hidup
seperti hewan ternak, tidak ada yang memikirkan nasib mereka, jangankan membela.
Maka pembelaan Wang Sin untuk membebaskan para budak di Loka merupakan hal
yang mirip dengan dongengan bagi mereka itu.
“Suheng, kiranya sudah cukup kita mencari ayah di daerah ini. Ayah tidak ada di sini
dan kurasa kalau ayah tidak pindah ke timur, tentu ayah berada di Lasha,” akhirnya Bi
Hong berkata kepada suhengnya dengan hati kecewa.
“Tidak mungkin di Lasha. Di sana berkumpul musuh-musuh besar ayahmu, mana bisa
ia tinggal di sana? Agaknya betul kalau dia sudah pindah jauh dari Tibet yang kini
menjadi tempat berbahaya baginya karena semua pendeta tentu memusuhinya setelah
dia membunuh pendeta-pendeta di Loka.”
“Suheng, pesanan suhu untuk mencari ayah lebih dulu sudah kita penuhi, sekarang
setelah tidak berhasilmencari ayah, aku mau langsung saja pergi ke Lasha untuk
mencari Ga Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio.”
“Apa kau sudah pikir masak-masak akan hal ini, sumoi? Di Lasha berkumpul banyak
pendeta-pendeta yang sakti.”
“Apa kau takut, suheng? Biarlah siauwmoi pergi sendiri dan twa-suheng kembali saja
ke Kun-lun-pai memberi laporan kepada suhu.”
Lee Kek Tosu mengerutkan keningnya. “Kau bicara apa ini, sumoi? Kau yang masih
begini muda tidak gentar menghadapi musuh, apakah kau kira aku yang sudah tua
takut mati? Tugasku membantu dan melindungimu, biar bertaruhkan nyawa sekalipun
pinto harus mengawanimu ke Lasha.”
Bi Hong cepat-cepat menjura kepada suhengnya minta maaf, hatinya gembira.
Memang dengan bantuan suhengnya ini, ia tidak takut biarpun mendengar di Lasha
banyak terdapat orang-orang sakti. Sebagai seorang harimau betina yang muda mana
ia takut melawan musuh? Maka ia segera mengajak suhengnya berangkat ke Lasha
dengan penuh kegembiraan.
Berbeda dengan sumoinya, diam-diam Lee Kek Tosu berkhawatir karena tosu ini
sudah cukup maklum bahwa tempat yang mereka tuju adalah pusat di mana
berkumpul hwesio-hwesio Tibet yang berilmu tinggi. Ia tidak takut akan keselamatan
diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatan sumoinya yang masih begini
muda.
Pada suatu hari mereka tiba di luar kota Lasha, di sebelah timur kota kurang lebih dua
puluh lie dari kota Lasha. Karena hari itu amat panasnya, mereka menjadi lelah dan
beristirahat di bawah pohon yang teduh, yang tumbuh di pinggir jalan. Bi Hong
mengeluarkan makanan kering yang dibekalnya dan Lee Kek Tosu mengeluarkan
tempat airnya untuk minum. Sudah hampir satu tahun dua kakak beradik seperguruan
ini merantau di daerah Tibet dan perhubungan mereka sudah seperti kakak dan adik
atau malah seperti keponakan dan paman.
Koleksi Kang Zusi
“Twa-suheng, kau banyak membuang waktu dan tenaga untuk kepentinganku. Benarbenar
kau seorang suheng yang amat baik,” kata Bi Hong terharu melihat kakek yang
sudah tua itu menenggak air.
Lee Kek Tosu tersenyum. “Sumoi, mengapa kau mengeluarkan kata-kata sungkan?
Semenjak kau masih bayi, aku sudah berada di sampingmu, malah dahulu akulah
yang menggendongmu dan menimang-nimangmu. Terhadap kau, aku adalah suheng
menurut hubungan perguruan, akan tetapi di dalam hatiku kau tiada bedanya seperti
anak, keponakan, atau cucuku sendiri.”
Bi Hong terharu, akan tetapi karena dia mempunyai watak gembira, ia tertawa. “Twasuheng,
mana kau pantas menjadi engkong (kakek). Eh, twa-suheng, apakah kau
dahulu tidak mempunyai keluarga sama sekali?”
Ditanya begini, wajah kakek itu menjadi muram. “dahulu aku mempunyai seorang
isteri, akan tetapi..... kami tidak cocok pikiran, kami cekcok lalu.....lalu bercerai.
Semenjak itu aku masuk menjadi tosu.”
Bi Hong menyesal telah mengajukan pertanyaan itu yang berarti mengingatkan twasuhengnya
kepada pengalaman yang tidak bahagia itu. Ia tidak tahu bahwa sebetulnya
dahulu ketika masih muda, isteri twa-suhengnya itu tidak setia dan melakukan
perbuatan hina dengan seorang teman baik suhengnya itu sendiri.
Dalam kemarahannya, twa-suhengnya itu membunuh teman dan isterinya, kemudian
merasa menyesal dan menjadi seorang tosu di Kun-lun-pai, menjadi murid kepala dari
To Gi Couwsu. Ini pula sebabnya mengapa melihat nasib Ong Hui, seorang isteri
yang amat setia akan tetapi ditinggalkan suaminya, Lee Kek Tosu merasa kasihan dan
terharu sekali karena Ong Hui mempunyai watak baik dan nasib yang sebaliknya dari
pada isterinya. Maka tidak mengherankan apabila ia menyayang puteri Ong Hui dan
menganggap Bi Hong seperti anak sendiri.
Selagi Lee Kek Tosu dan Bi Hong bercakap-cakap sambil mengasoh di bawah pohon
yang rindang, tiba-tiba dari jurusan timur mendatangi empat orang hwesio. Langkah
kaki mereka yang ringan dan gerakan yang cepat dalam berlari menandakan empat
orang hwesio itu adalah orang-orang yang memiliki ginkang tinggi dan
berkepandaian.
“Hwesio-hwesio itu tentu hwesio dari Lasha dan hendak pergi ke kota itu,” kata Lee
Kek Tosu. “Lebih baik kita jangan mencampuri urusan di sini, kita baik menyimpan
tenaga untuk menghadapi musuh-musuh kita yang sebenarnya.”
Akan tetapi setelah hwesio-hwesio itu datang dekat Bi Hong mengeluarkan seruan
marah. “Ihhh, bukankah dia si jahanam Ga Lung Hwesio!” Ia melompat sambil
menghunus pedangnya. Lee Kek Tosu juga melihat bahwa seorang yang berlari di
pinggir kiri adalah Ga Lung Hwesio, maka iapun ikut bersiap sedia. “Bagus,” katanya,
“kita tak usah sukar-sukar mencari!”
Ga Lung Hwesio juga sudah melihat nona dan tosu itu. Ia menghentikan larinya dan
berkata kepada kepada tiga orang kawannya itu. “Harap samwi suheng (kakak
Koleksi Kang Zusi
seperguruan bertiga) berhenti sebentar. Siluman betina dan tosu bau dari Kun-lun-pai
ini agaknya hendak menghadang kita.”
Lee Kek Tosu memperhatikan tiga orang hwesio yang disebut suheng oleh Ga Lung
Hwesio. Mereka ini adalah orang-orang Tibet asli, bertubuh tinggi besar berkulit
hitam. Melihat sinar mata mereka, dapat diduga bahwa mereka adalah ahli-ahli
lweekang yang tidak boleh dipandang ringan.
Sebelum Bi Hong mengeluarkan suara, Lee Kek Tosu yang tidak ingin menanam bibit
permusuhan dengan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan
mereka, cepat menjura kepada tiga orang hwesio hitam itu dan berkata.
“Pinto dan sumoi mempunyai permusuhan dengan dua orang hwesio Lasha, yaitu Ga
Lung Hwesio dan Thu Bi Tan Hwesio. Dengan para losuhu yang lain, kami berdua
tidak mempunyai urusan dan tidak ingin menimbulkan keributan.”
Ga Lung Hwesio mengeluarkan suara mengejek dan seorang di antara tiga orang
hwesio tinggi besar itu menjawab, “Kami bertiga, Ge Khan, Ge Bun, dan Ge Thun
adalah tiga orang murid Thu Bi Tan suhu. Entah urusan apa yang hendak toyu
bereskan dengan suhu dan Ga Lung sute?”
Kagetnya hati Lee Kek Tosu bukan main mendengar bahwa tiga orang hwesio ini
adalah murid-murid Thu Bi Tan Hwesio. Tidak bisa lain, ia harus menggempur
mereka semua karena sebagai murid-murid Thu Bi Tan, tentu saja mereka akan
membela guru mereka. Sementara itu Bi Hong sudah membentak Ga Lung Hwesio.
“Ga Lung Hwesio, bukankah kau bersama Thu Bi Tan Hwesio belasan tahun yang
lalu telah menyerbu ke Kun-lun dan membinasakan Ong Bu Khai, Cin Kek Tosu, dan
merusak tempat tinggalnya?”
Ga Lung Hwesio tertawa lagi. “Betul kata-katamu. Dua orang itu telah membiarkan
murid-murid mereka melakukan pengacauan di Loka dan karenanya kami telah
menghukum mereka. Apa hubungannya dengan kamu?”
Muka Bi Hong menjadi merah dan matanya berapi-api, “Hwesio keparat! Ketahuilah,
bahwa aku Wang Bi Hong adalah cucu Ong Bu Khai. Ga Lung Hwesio, hutang nyawa
bayar nyawa, bersiaplah kau untuk mati!”
“Ha-ha-ha, begitukah? Kiranya masih ada buntutnya peristiwa itu. Kau ini bocah
kemaren sore, sombong amat hendak melawan Ga Lung Hwesio? Ha-ha-ha!”
“Hwesio tengik lihat pedang!” Cepat sekali pedang Bi Hong menyambar ke arah leher
hwesio itu. Ga Lung Hwesio sudah pernah menyaksikan kelihaian dan kecepatan
pedang Bi Hong ketika nona ini membantu Kalisang, maka ia tidak berani berlaku
sembrono.
Biarpun mulutnya mentertawakan karena ia berada di dekat para suhengnya, namun di
dalam hati ia tidak berani memandang rendah. Ia lalu mengelak dan menggerakkan
toyanya. Di saat lain mereka sudah bertempur hebat sekali.
Koleksi Kang Zusi
Tiga orang hwesio itu bukanlah hwesio sembarangan. Tingkat mereka malah lebih
tinggi dari tingkat Ga Lung Hwesio yang terhitung sutenya, karena mereka ini adalah
tiga orang murid Thu Bi Tan Hwesio dan di Lasha mereka mempunyai kedudukan
yang cukup tinggi. Oleh karena itu, mereka tentu saja tidak sudi melakukan
pengeroyokan dan hanya melihat saja sute mereka bertanding dengan gadis itu.
Apalagi kalau mereka ingat bahwa sute mereka itu jauh lebih tua dari pada lawannya
dan dalam hal ilmu silat, dilihat sekelebatan saja sute mereka takkan kalah.
Lee Kek Tosu juga maklum akan hal ini dan iapun tidak berani sembarangan turun
tangan membantu sumoinya yang berarti mengeroyok Ga Lung Hwesio. Kalau ia
terjun mengeroyok, maka tiga orang hwesio itupun mendapat alasan untuk turun
tangan mengeroyok pula. Oleh karena itu, tosu yang cerdik ini lalu menjura kepada
mereka sambil berkata.
“Karena Thu Bi Tan adalah suhu sam-wi, untuk menentukan siapa yang lebih unggul,
pinto persilahkan di antara sam-wi maju mewakili suhu sam-wi. Pinto percaya penuh
mengingat kedudukan kita, sam-wi tidak akan begitu rendah untuk melakukan
pengeroyokan!”
Di antara tiga orang hwesio ini, kepandaian Ge Khan hwesio yang paling tinggi, juga
dia yang paling tua dan paling berangasan. Mukanya menjadi makin hitam ketika
mendengar ucapan itu.
“Tosu Kun-lun! Kau anggap pinceng ini siapakah maka mengeluarkan kata-kata
demikian? Untuk menghadapi seorang tosu seperti kamu, pinceng seorang diri, sudah
lebih dari cukup, untuk apa mencapaikan suhu? Sambutlah toyaku!”
Ge Khan Hwesio sudah menerjang maju dengan memutar toyanya yang
mendatangkan angin bersiutan. Lee Kek Tosu bersikap waspada, cepat melompat
mundur mencari tempat yang lega sambil menghunus pedangnya. Dua orang kakek
jagoan ini lalu mulai bertempur.
Dua orang hwesio yang lain hanya menonton sambil menahan napas karena sudah
dapat dilihat bahwa pertempuran-pertempuran itu, baik sute mereka Ga Lung Hwesio
yang melawan nona itu, maupun Ge Khan Hwesio yang melawan tosu, adalah
pertempuran mati-matian yang seimbang. Pedang nona itu cepat dan lihai, sedangkan
pedang di tangan tosu itu mantap dan tenang, keduanya merupakan lawan yang amat
berat.
15. Bercinta dengan Puteri Musuh besar
Pertempuran antara Ga Lung Hwesio dan Bi Hong lebih ramai kelihatannya karena
jalannya lebih cepat. Hal ini adalah karena kelihaian ilmu pedang Bi Hong memang
terletak kepada kecepatan dan kelincahannya. Ilmu pedangnya memang tidak ada
bedanya dengan suhengnya, akan tetapi kalau Bi Hong dapat mewarisi kecepatannya
adalah Lee Kek Tosu mewarisi kekuatannya.
Inipun tidak aneh kalau diingat bahwa waktu yang dipergunakan oleh Lee Kek Tosu
lebih lama dan tosu inipun lebih kuat ilmu batinnya, maka tentu saja memiliki
lweekang yang lebih dalam. Dengan kecepatan gerakan pedangnya Bi Hong dapat
Koleksi Kang Zusi
membuat Ga Lung Hwesio menjadi sibuk sekali. Dalam jurus ke tujuh puluh ujung
pedang Bi Hong yang berkelebat-kelebat seperti kilat menyambar telah berhasil
melukai ujung pundak kiri Ga Lung Hwesio.
Bukan main marah, kaget dan penasaran rasa hati hwesio ini. Ia mengempos
semangatnya, mengerahkan lweekangnya dan pandangannya menjadi amat tajam
menusuk, mulutnya bergerak-gerak dan sambil melayani serangan-serangan Bi Hong,
ia berkata, suaranya halus dan manis seperti seorang ibu membujuk anaknya.
“Nona Wang Bi Hong, kau tentu lelah...... lelah sekali. Untuk apa bertempur terus?
Lebih baik mengaso..... ah, nyamannya angin, enaknya mengaso dan tidur......”
Inilah ilmu yang disebut “merampas semangat” atau semacam ilmu hypnotisme yang
menguasai semangat dan pikiran orang. Suaranya lemah lembut dan manis, sungguh
jauh bedanya dengan mata yang berubah seperti mata setan itu.
Bi Hong tidak tahu mengapa musuhnya bicara seperti itu, akan tetapi ia benar-benar
merasa lelah dan ingin sekali mengaso. Hanya karena merasa heran akan sikap
musuhnya, ia mempertahankan diri dan mencoba untuk membantah kehendak
pikirannya.
“Nona, bukankah kita sudah bertempur seratus jurus lebih?” kembali hwesio itu
bertanya dengan suara halus.
Entah mengapa, di luar kehendaknya mulut Bi Hong menjawab. “Betul, seratus jurus
lebih.” Sambil berkata demikian, ia masih mengirim tusukan yang dapat ditangkis
oleh hwesio itu. Bi Hong merasa bahwa tangkisan itu tidak bertenaga, maka ia girang
sekali dan terus mendesak.
Ia tidak tahu bahwa karena tenaga lweekangnya dikerahkan untuk menjalankan ilmu
“merampas semangat” itu, maka tentu saja tenaga Ga Lung Hwesio menjadi banyak
berkurang.
“Kalau begitu, tentu enak mengasoh, bukan?” hwesio itu menyusul pertanyaannya
cepat-cepat.
“Yah..... tentu enak sekali.....” jawab Bi Hong dan otomatis ia memperlambat
serangannya, merasa lelah dan ingin mengaso.
“Kalau begitu mengasohlah, duduklah, tidurlah.....” suara Ga Lung Hwesio itu
mendesak dan mempunyai pengaruh luar biasa besarnya.
Lee Kek Tosu sudah berpengalaman luas, mendengar pula suara-suara ini dan tahulah
ia apa yang akan dilakukan oleh Ga Lung Hwesio terhadap sumoinya. Ia melihat
gerakan sumoinya makin lemah dan bukan main gelisahnya.
“Sumoi, jangan dengarkan dia. Lawan terus!” Ia berseru dan karena perhatiannya
terpecah inilah maka dia membuka lowongan dalam pertahanan sinar pedangnya.
Lawannya Ge Khan Hwesio yang berilmu tinggi melihat lowongan ini. Tadinya
hwesio ini biarpun memiliki tenaga yang lebih besar, merasa bingung karena biarpun
Koleksi Kang Zusi
ia berada di pihak yang mendesak, namun pertahanan pedang lawannya amat kuat dan
tidak dapat ditembus oleh toyanya.
Sekarang, pada saat tosu itu mengkhawatirkan keselamatan sumoinya dan
memecahkan perhatian, kelihatan lowongan itu. Cepat toyanya menyambar ke depan,
dan....... lambung Lee Kek Tosu sudah terkena sodokan toya dengan tepat sekali. Tosu
itu mengeluarkan jerit tertahan, mukanya pucat dan tubuhnya terdorong ke belakang.
Dengan tangan kiri ia menekan lambungnya lalu mulutnya dipentang dan darah segar
tersembur keluar.
Ge Khan Hwesio tertawa terbahak, akan tetapi tiba-tiba berseru kesakitan. Ketika ia
sedang tertawa karena girang tadi, Lee Kek Tosu yang sudah menderita luka hebat
sekali, setelah memuntahkan dara segar lalu mengayunkan tangannya yang
memegang pedang.
Pedang meluncur bagaikan naga terbang menyambar ke arah tenggorokan Ge Khan
Hwesio. Inilah gerak tipu Sin-liong-hian-bwe (Naga Sakti Mengulur Ekornya),
sebuah jurus terakhir dari ilmu pedangnya yang amat lihai. Jurus ini memang
dipelajari untuk dipergunakan pada saat terakhir setelah menderita luka untuk
membalas lawan.
Ge Khan Hwesio melihat berkelebatnya sinar pedang cepat miringkan tubuh, namun
tetap saja pedang itu mengenai pundak kirinya, amblas dibawah tulang pundak sampai
menembus ke belakang. Biarpun tidak binasa karena luka itu, harus diakui bahwa rasa
sakitnya luar biasa sekali dan merupakan luka yang cukup hebat.
Ge Khan Hwesio terhuyung dan roboh pingsan dalam pelukan Ge Bun Hwesio yang
cepat menolong suhengnya itu. Adapun Lee Kek Tosu sendiri sudah roboh dan tewas
tak lama kemudian. Isi perutnya telah rusak oleh sodokan toya yang dilakukan dengan
pengerahan tenaga lweekang.
Sementara itu, ketika Bi Hong tadi sudah hampir terjatuh ke dalam pengaruh sihir Ga
Lung Hwesio, tiba-tiba suhengnya memberi ingat. Ia kaget dan mengempos semangat
untuk melawan pengaruh itu sambil mempercepat gerakan pedangnya. Namun Ga
Lung Hwesio juga memperhebat tenaga batinnya, lalu berkata keras.
“Nona, kau lelah sekali. Kau sudah tidak kuat lagi. Kau duduklah!”
Seperti ada dua tangan yang tidak kelihatan menekan pundak Bi Hong. Gadis ini tidak
dapat mempertahankan diri lagi, tubuhnya tiba-tiba terasa lemah tidak bertulang
agaknya dan otomatis mendengar seruan ini ia lalu jatuh duduk di atas tanah dengan
pedang masih di tangannya. Ga Lung Hwesio tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Ia cepat melangkah maju untuk menjatuhkan pukulan maut dengan tongkat
bambunya.
Tiba-tiba pada saat itu terdengar suara melengking keras dan tinggi, suara aneh sekali,
yang bukan seperti suara manusia, lebih menyerupai suara seruling yang ditiup
dengan tenaga luar biasa dan dengan nada yang amat tinggi. Berbareng dengan suara
itu, tanpa terlihat oleh mata semua orang, dua butir batu kecil sekali menyambar dan
Koleksi Kang Zusi
sebutir menyambar tongkat Ga Lung Hwesio menahan serangan maut tongkat itu,
yang sebutir lagi menotok jalan darah di tengkuk Bi Hong.
Sambaran batu kecil yang tidak kelihatan pada tongkat amat hebat karena tiba-tiba Ga
Lung Hwesio merasa tongkatnya tertolak balik ke arah dirinya. Ia mengira bahwa
gadis yang diserangnya masih bisa menangkis. Akan tetapi totokan batu pada tengkuk
gadis itu lebih lihai. Begitu terkena sambaran batu pada jalan darah di tengkuknya,
sekali gus Bi Hong sadar dari pengaruh ilmu sihir Ga Lung Hwesio.
Seperti disiram air dingin gadis itu sadar dari keadaannya yang lemah tadi. Ia melihat
hwesio musuhnya itu sedang melangkah dua tindak ke belakang sambil mengawasi
tongkatnya dengan mata heran.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bi Hong. Dengan pekik dahsyat gadis ini lalu
meloncat, menggunakan gerakan Sin-wan-teng-ki (Monyet Sakti Loncat Cabang)
disusul dengan gerak tangan Giok-li-sia-niau (Dewi Memanah Burung) pedangnya
meluncur ke depan mengirim tusukan maut.
Ga Lung Hwesio yang sedang terkejut dan heran, mana bisa menduga datangnya
serangan ini? Ia terkejut akan tetapi tahu-tahu pedang itu telah menikam hulu hatinya.
Ia memekik dan ketika pedang ditarik kembali, tubuhnya terjengkang roboh mandi
darah dan tewas seketika itu juga.
Ge Bun Hwesio sedang memondong suhengnya, Ge Khan Hwesio yang terluka berat
di pundaknya. Melihat Ga Lung Hwesio tewas, Ge Thun Hwesio dengan marah maju
hendak menyerang Bi Hong. Akan tetapi lagi-lagi sebuah batu kecil memukul
pergelangan tangannya.
“Traaanggg...!” Toya yang dipegangnya terlepas. Hwesio ini kaget sekali dan tidak
jadi menyerang melainkan menyambar mayat Ga Lung Hwesio, kemudian bersama
Ge Bun Hwesio yang memondong tubuh Ge Khan Hwesio, mereka lari cepat-cepat
meninggalkan tempat itu menuju ke Lasha.
Bi Hong tidak memperdulikan mereka. Musuh besarnya hanyalah Ga Lung Hwesio
dan tiga orang hwesio lain itu bukan musuhnya. Akan tetapi ia terkejut dan sedih
sekali ketika menengok ke arah suhengnya dan melihat tosu itu sudah roboh tak
bernyawa lagi. Ia menubruk tosu itu dan menangis sedih.
“Twa-suheng kau....... kau telah mengorbankan nyawa untukku.....” Ia ingat bahwa
tadi lawan twa-suhengnya juga terluka hebat, pedang suhengnya menancap di dada
lawan itu yang tubuhnya dibawa pergi oleh hwesio lain. Ia menduga bahwa lawan
twa-suhengnya itupun tewas.
Setelah menangis sedih, gadis itu lalu berlutut dengan kedua tangan dibentangkan ke
atas, ia berkata.
“Kong-kong, ibu....., supek-couw....., aku telah berhasil membunuh Ga Lung Hwesio.
Seorang musuh besar yang menyebabkan kematian kalian dan menebus dosa. Hwesio
jahat yang menghina Kun-lun-pai telah berkurang satu. Hanya tinggal seorang lagi.
Koleksi Kang Zusi
Thu Bi Tan si keparat!” Setelah berdoa demikian ia lalu menangisi lagi mayat twasuhengnya.
Pada saat itu, terdengar suara orang batuk-batuk dan muncullah seorang pemuda yang
berpakaian sederhana, berwajah tampan gagah dan bertubuh kekar. “Aduh, kasihan!”
kata pemuda itu sambil memandang dan tidak berani terlalu mendekati nona itu.
Sinar mata pemuda itu yang tadinya berseri, dan wajahnya yang membayangkan
kegembiraan, untuk sedetik menjadi lembut. “Nona, apakah dia ayahmu?”
Mendengar suara orang, Bi Hong menengok dan memandang pemuda itu melalui air
matanya. Akan tetapi mendengar orang bertanya apakah yang mati itu ayahnya,
sekaligus membuat dia teringat akan ayah bundanya, ibunya sudah mati dan ayahnya
tidak tahu di mana adanya. Tadinya masih ada twa-suhengnya yang amat baik
kepadanya seperti ayah sendiri, sekarang dia benar-benar merasa sebatang kara
sehingga pertanyaan ini memancing keluar air matanya lebih deras.
Pemuda ini menduga bahwa si tosu adalah ayah nona itu karena tadi ia mendengar
nona itu berdoa kepada kong-kong, ibu dan supek-couw, tanpa menyebut ayahnya.
Maka ia menduga yang tewas adalah ayah nona itu. Sekarang melihat nona itu makin
sedih, dugaannya makin kuat. Ia berlutut dan berkata menghibur.
“Nona, setiap orang takkan terluput dari pada kematian. Ada lahir dan mati, maka soal
kematian adalah wajar dan tidak perlu disedihkan. Yang penting adalah cara manusia
mati. Sekelebatan tadi aku melihat bahwa kau dan ayahmu bertempur melawan orangorang
berkepala gundul. Tentu mereka itu orang jahat dan kalau ayahmu tewas dalam
melawan orang jahat, boleh dibilang matinya itu mati sebagai orang gagah. Tidak
perlu penasaran.”
Ucapan itu dikeluarkan dengan nada menghibur dan amat halus penuh perasaan, maka
sedikit banyak dapat menghibur juga hati Bi Hong. Ia menyusuti air matanya lalu
berkata. “Dia bukan ayahku, dia twa-suhengku. Aku berduka karena twa-suheng telah
tewas dalam membela urusanku, dia tewas karena aku. Siapa tidak menjadi sedih dan
terharu?”
Pemuda itu mengangguk-angguk, diam-diam heran sekali bagaimana seorang nona
muda belia ini menjadi saudara seperguruan seorang kakek tua. Akan tetapi mulutnya
berkata memuji, “Kalau begitu lebih sempurna lagi matinya. Mati dalam membela
orang lain hanya dapat dilakukan oleh orang gagah dan mulia. Lebih baik kau segera
menguburnya nona, dan mari aku membantumu.”
Tiba-tiba Bi Hong meloncat berdiri. Ia makin bernafsu untuk segera mengejar hwesiohwesio
itu dan memasuki Lasha untuk mencari Thu Bi Tan Hwesio dan sekalian
membalaskan kematian twa-suhengnya. Akan tetapi pemuda ini tidak dikenalnya dan
bagaimana dia bisa muncul di tempat sunyi ini. “Siapakah kau?” tanyanya sambil
meraba gagang pedang.
Pemuda itu nampak terkejut melihat nona itu meraba gagang pedang. “Aku.... aku
seorang pelancong, nona. Namaku Yalu Sun. Bolehkah aku ketahui siapa nona dan
kenapa bersama totiang ini sampai bertempur dengan hwesio di tempat ini?”
Koleksi Kang Zusi
Melihat pemuda itu terkejut ketika ia meraba gagang pedang dan melihat sikap dan
gerak gerik pemuda itu seperti seorang yang lemah, Bi Hong tidak menaruh banyak
perhatian. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sepotong emas, lalu memberikan
potongan emas itu kepada si pemuda sambil berkata.
“Saudara, kau tolonglah aku, kuburkan jenazah suhengku ini di sini. Terimalah sedikit
hadiah ini dariku. Aku sendiri hendak cepat-cepat mengejar hwesio-hwesio jahat itu
untuk membalaskan kematian twa-suheng.”
Pemuda itu mengerutkan kening dan memandang potongan emas di tangan nona itu
tanpa menggerakkan tangan untuk menerimanya. Ia menggelengkan kepala lalu
berkata, “Sudah semestinya sesama manusia saling menolong di tengah jalan. Aku
akan mengurus penguburannya, nona, dan aku tidak membutuhkan hadiah. Yang
perlu hanya mengenal namamu dan nama totiang ini agar kalau ada orang lewat dan
bertanya, aku dapat menjawab dan tidak timbul persangkaan yang bukan-bukan.”
Muka Bi Hong menjadi merah. Ia merasa jengah menghadapi orang yang bersikap
begini baik, tidak mau menerima hadiah emas. Padahal jarang ada orang yang
menolak hadiah sebanyak itu.
Dengan bersyukur ia menjura sambil berkata, “Aku Wang Bi Hong, merasa berterima
kasih kepadamu, saudara Yalu Sun. Namamu akan selalu kuingat dan biarlah lain
waktu aku akan mendapat kesempatan untuk membalas budimu ini.”
Pemuda itu memandang kepadanya dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar dan
pada saat itu, hati Bi Hong berdebar aneh. Entah bagaimana, dalam saat itu si pemuda
kelihatan gagah dan tampan sekali dalam pandangan matanya dan ia makin berterima
kasih.
“Jangan sungkan-sungkan nona Bi Hong. Aku hanya mewakili kau mengurus jenazah,
akan tetapi .... dia ini, dia telah mengorbankan nyawa untukmu. Totiang ini jauh lebih
baik daripadaku.” Ia balas menjura dan berdiri memandang seperti orang termenung
ketika nona itu membalikkan tubuh dan mempergunakan ilmu lari cepat melesat ke
arah kota Lasha.
Kemudian ia menarik napas panjang dan mulai menggali tanah dengan...... sepuluh
jari tangannya. Kalau saja Bi Hong berada di situ tentu gadis ini akan melongo
keheranan melihat betapa jari tangan dapat dipergunakan seperti cangkul dan dapat
membongkar tanah keras demikian mudahnya. Hanya seorang yang memiliki
lweekang tinggi sekali yang mampu bekerja seperti itu.
Padahal kejadian ini tidak perlu mendatangkan keheranan kalau saja orang tahu
bahwa pemuda ini, Yalu Sun namanya, adalah ahli waris tunggal dari ToTek Cinjin
yang berjuluk Pek-kong Kiam-sian, tokoh sakti yang aneh jarang keduanya.
Biarpun di ibukota Tibet pada waktu itu sudah bukan merupakan pemandangan asing
lagi kalau melihat orang-orang Han, namun sekiranya bukan pada hari itu Bi Hong
memasuki Lasha, tentu ia akan menarik perhatian orang juga.
Koleksi Kang Zusi
Orang-orang Han yang terdapat di kota Lasha adalah orang-orang pria adapun
wanitanya biarpun ada juga, yakni keluarga-keluarga para pendatang bangsa Han,
namun jarang keluar dari rumah. Apalagi Bi Hong merupakan seorang gadis muda
cantik dan gagah membawa-bawa pedang. Pasti menimbulkan kecurigaan.
Akan tetapi untung baginya, hari itu adalah hari istimewa. Hal ini dapat dilihat ketika
ia memasuki pintu gerbang kota Lasha, selain dia juga banyak terdapat orang-orang
Han, malah ada juga beberapa orang wanita tua yang nampaknya gagah dan orangorang
perantauan atau orang kang-ouw. Maka penjaga pintu gerbang juga tidak
bercuriga kepoadanya, malah seperti terhadap para tamu bangsa Han yang lain,
penjaga-penjaga itu menjura dengan hormat sambil mulutnya mengucapkan dalam
bahasa Tibet. “Selamat datang di Lasha.”
Bi Hong dapat merasai keramaian ini maka ia lalu mengikuti orang-orang Han yang
berbondong-bondong menuju ke suatu tempat. Di antara rombongan ini terdapat
banyak pula orang-orang suku bangsa lain, akan tetapi semua kelihatan gagah dan
orang-orang yang sudah biasa melakukan perjalanan jauh.
Memang ada kejadian luar biasa di Lasha. Hari itu seorang tuan tanah kaya raya
sedang merayakan pesta pernikahan seorang puterinya, dan selain tuian tanah kaya,
dia juga seorang bangsawan yang menduduki pangkat tinggi. Karena calon mantunya
adalah ahli silat, seorang murid Cheng-hoa-pai, tentu saja tamu-tamunya terdiri dari
ahli-ahli silat dari barat dan timur, maka munculnya banyak orang kang-ouw di situ
bukan soal yang mencurigakan.
Siapakah yang mengadakan pesta? Bukan lain ialah Yang Nam, bekas putera tuan
tanah di Loka yang kini sudah menjadi seorang bangsawan di Lasha. Dan siapa
mantunya? Dia adalah.... Kalisang, pemuda kasar pemarah tapi gagah yang pernah
dijumpai Bi Hong dan suhengnya, ketika pemuda ini bertempur dengan Ga Lung
Hwesio beberapa bulan yang lalu.
Siapakah sebetulnya pemuda gagah itu dan bagaimana dia bisa menjadi mantu Yang
Nam? Untuk mengetahui semua ini, baiklah kita mundur dulu dan berkenalan dengan
pemuda itu yang bernama Kalisang.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Wang Sin dan Ci Ying telah mendapat
pertolongan tepat pada waktunya oleh Cheng Hoa Suthai ketika kedua orang muda itu
terancam bahaya di tangan Ga Lung Hwesio dan kawan-kawannya. Kemudian mereka
diajak oleh ketua Cheng-hoa-pai itu ke Heng-toan-san.
Wang Sin tidak dapat membantah lagi, pertama karena sudah timbul lagi kasih
sayangnya yang dahulu kepada Ci Ying, kedua karena dia merasa kasihan dan berat
untuk meninggalkan tunangannya, dan ketiga karena ada tekanan dari Cheng Hoa
Suthai yang lihai. Malah ia tidak dapat membantah lagi ketika di Heng-toan-san ia
dikawinkan dengan Ci Ying oleh partai itu.
Wang Sin hidup cukup senang di Heng-toan-san. Dia dan isterinya tinggal di lereng
bukit dekat puncak, karena Cheng-hoa-pai yang tidak pernah mempunyai anggauta
pria, merasa tidak enak kalau di situ terdapat seorang laki-laki. Akan tetapi biarpun
tidak tinggal di tempat ketua Cheng-hoa-pai, hubungan antara mereka dengan Cheng
Koleksi Kang Zusi
Hoa Suthai amat dekat, malah Ci Ying dan Wang Sin dapat memperdalam ilmu
silatnya di bawah petunjuk ketua itu sendiri.
Setahun setelah mereka menikah, Ci Ying melahirkan seorang anak laki-laki yang
mereka beri nama Kalisang. Wang Sin dan Ci Ying adalah orang-orang Tibet asli,
maka tentu saja anak mereka juga diberi nama Tibet, biarpun pakaian mereka dan
bahasa mereka adalah bahasa Han karena mereka hidup di lingkungan Cheng-hoa-pai.
Cheng Hoa Suthai amat mencinta Kalisang yang dianggap sebagai cucunya sendiri.
Malah nenek ini sendiri yang memberi gemblengan kepada Kalisang setelah bocah ini
agak besar. Kalisang ternyata memiliki tubuh yang amat kuat, sayang kecerdasan
otaknya sedang-sedang saja maka dalam hal ilmu silat, ia tidak bisa mewarisi
kelihaian Cheng Hoa Suthai.
Betapapun juga, karena menjadi muridseorang pandai, ilmu silatnya sudah amat jauh
kalau dibandingkan dengan ahli-ahli silat kebanyakan. Dia sudah menjadi seorang
pemuda yang tangguh, kuat dan lihai ilmu silatnya. Semenjak masih kecil, sudah
kelihatan nyata bahwa anak ini memiliki watak yang amat keras, akan tetapi jujur dan
tidak kenal takut.
Ketika Kalisang berusia enam belas tahun, ibunya menceritakan pengalamannya
dahuluketika masih menjadi budak di Loka. Bercerita tentang kekejaman tuan-tuan
tanah dan tentang kesengsaraan para budak. Mendengar penuturan ibunya tentang
pengalaman-pengalaman pahit getir yang dialami ayah bundanya, darah Kalisang
mendidih dan dengan marah ia berkata keras.
“Ibu kenapa tidak kita sapu bersih saja anjing-anjing tuan tanah itu?”
Ibunya tersenyum, girang melihat semangat puteranya.
“Sudah dilakukan oleh ayah bundamu, Kalisang.” Lalu ia berbicara tentang
pembasmian terhadap tuan tanah dan begundal-begundalnya di Loka. “Sayang sekali
putera tuan tanah yang bernama Yang Nam sudah pindah ke Lasha maka ia terluput
dari hukuman.”
“Kenapa tidak disusul ke Lasha, ibu?” desak Kalisang.
Ci Ying menggeleng kepala. “Berbahaya sekali. Bahkan Suthai sendiri menyatakan
terlalu berbahaya untuk menyerang ke Lasha. Di sana berkumpul pendeta-pendeta
Lama yang sakti dan sukar dilawan.”
Setelah mendengar penuturan ibunya, beberapa malam Kalisang tidak dapat tidur. Ibu
dan ayahnya adalah orang gagah. Dia sendiri putera tunggal mereka, masa ia akan
berpeluk tangan saja melihat bahwa seorang musuh besar masih hidup enak-enak di
Lasha?
Para pendeta Lama itu menurut ibunya juga merupakan pelindung-pelindung tuan
tanah, jadi mereka juga jahat, perlu dibasmi. Kalau aku tidak memperlihatkan
kepandaian dan menyerang ke Lasha, apakah pantas aku menjadi putera ayah ibu dan
murid ketua Cheng-hoa-pai? Demikian pikirnya dan pada malam hari yang amat
Koleksi Kang Zusi
sunyi, pemuda ini diam-diam meninggalkan orang tuanya lalu melakukan perjalanan
cepat ke Lasha untuk mencari Yang Nam dan kaki tangannya.
Demikianlah, dalam perjalanan ke Lasha, pemuda yang baru berusia enam belas tahun
dan sudah memiliki keberanian luar biasa itu bertemu dengan Ga Lung Hwesio dan
kawan-kawannya sehingga terjadi pertempuran dan ia ditolong Bi Hong dan Lee Kek
Tosu. Karena wataknya yang keras dan sedikit memiliki kesombongan ibunya,
Kalisang bersikap kasar terhadap Bi Hong dan melanjutkan perjalanannya ke Lasha
dengan tabah, sedikitpun tidak gentar biar dia sudah tahu akan kelihaian para pendeta
di Lasha.
Karena dia sendiri seorang Tibet, pandai berbahasa Tibet, maka gerak geriknya dan
air mukanya sebagai orang Tibet banyak menolongnya, membuat ia dengan mudah
dapat memasuki Lasha tanpa menimbulkan kecurigaan. Dengan mudah ia dapat
menyelidik di mana tempat kediaman Yang Nam. Setelah mendapat tahu bahwa Yang
Nam telah menjadi seorang pembesar di kota itu, ia sama sekali tidak takut dan pada
suatu malam ia meloncat ke atas genteng dan mengunjungi gedung Yang Nam.
Malam itu terang bulan, akan tetapi di langit terdapat beberapa kelompok awan putih
sehingga kadang-kadang bulan teraling awan. Mempergunakan kesempatan selagi
puteri malam bersembunyi, Kalisang melompat tembok yang mengurung gedung
besar itu, lalu melompat ke dalam.
Ternyata ia tiba di taman bunga di belakang gedung. Karena bulan muncul pula dari
balik awan, ia cepat menyelinap di balik gerombolan pohon bunga, bersembunyi dan
memperhatikan keadaan di situ. Benar-benar taman bunga itu indah sekali. Pelbagai
macam bunga dari timur sengaja didatangkan dan ditanam di taman itu.
Sayup-sayup Kalisang mendengar suara orang di sebelah depan. Ia berindap-indap
menghampiri dan alangkah kagetnya ketika ia melihat dua bayangan hitam melompat
dari balik pohon dan langsung menyerbu ke depan di mana terdapat seorang nona
muda bersama bujangnya.
Nona itu berpakaian indah dan wajahnya demikian cantik, membuat Kalisang
melongo saking kagum dan herannya. Belum pernah Kalisang selama hidupnya
melihat seorang gadis demikian cantiknya. Akan tetapi melihat gerak gerik dua
bayangan itu, ia mengkhawatirkan keselamatan gadis itu dan bersiap-siap sedia untuk
menolongnya.
Akan tetapi dua bayangan yang ternyata adalah dua orang laki-laki bertubuh tinggi
besar itu, agaknya tidak bermaksud mencelakakan si gadis dan bujangnya. Mereka
tidak mencabut senjata dan begitu tiba di situ, sebelum gadis dan bujangnya sempat
berteriak, dua orang itu bergerak cepat dan gadis itu bersama bujangnya sudah ditotok
roboh.
Seorang di antara mereka lalu memondong tubuh gadis cantik itu sambil berkata.
“Nona jangan takut, kami hanya ingin menahan kau sebentar untuk minta uang
tebusan kepada ayahmu yang kaya raya. Ha-ha-ha.”
Koleksi Kang Zusi
Dua orang itu setelah berhasil menculik gadis tadi, sambil tertawa-tawa hendak pergi
dari situ. Akan tetapi tiba-tiba muncul Kalisang yang memegang pedangnya di tangan
sambil membentak marah. “Anjing-anjing hina dina! Lepaskan nona itu!” Sambil
berseru demikian ia sudah menyerang dengan pedangnya kepada orang yang
memondong gadis tadi.
Bukan main kagetnya dua orang penculik itu. Mereka menyangka bahwa yang
muncul tentulah kaki tangan tuan tanah atau pembesar pemilik gedung. Mereka cukup
maklum bahwa di tempat ini mereka tidak boleh main-main. Sekali perbuatan mereka
ketahuan, akan celakalah mereka karena banyak terdapat pendeta-pendeta yang
pandai.
“Angin ribut, lari!” bentak orang kedua sambil menarik tangan kawannya. Orang
yang memondong gadis tadi juga tahu diri. Kalau sudah ketahuan, tidak mungkin
mereka bisa membawa pergi gadis yang diculiknya. Dengan marah ia lalu
melontarkan tubuh gadis itu ke arah pemuda yang sedang menyerangnya.
Kalisang terkejut. Ditariknya kembali pedang yang sudah ia serangkan, lalu cepat
tangan kirinya diulur untuk menjambret baju gadis itu sehingga tidak terbanting jatuh.
Akan tetapi ketika ia sudah menurunkan gadis itu ke tanah, dua orang penjahat tadi
sudah lari menghilang di luar tembok. Kalisang tidak mengejar melainkan cepat ia
membebaskan gadis itu dan pelayannya dari totokan.
Begitu terbebas dari totokan, gadis itu tertawa manis dan memandang kepada
Kalisang dengan sinar mata penuh kekaguman. Sama sekali ia tidak kelihatan takut.
“Ah, kau gagah sekali, telah bisa mengusir penjahat dan membebaskan totokan. Entah
bagaimana aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu!” katanya.
Berdebar aneh jantung Kalisang melihat gadis itu tertawa begitu manisnya dengan
sinar mata berseri-seri menatap wajahnya. Ia tiba-tiba menjadi bingung dan kikuk.
“Aku..... aku..... hanya kebetulan melihat kejahatan itu, mana bisa aku
mendiamkannya saja? Sayang mereka keburu pergi, kalau tidak, belum puas hatiku
sebelum memenggal leher mereka. Bedebah-bedebah itu!”
“Kau memang hebat! Siapa namamu dan..... eh, bibi, di mana kau? Lekas beritahukan
ayah!” Nona itu menengok dan melihat pelayan masih berjongkok sambil gemetar
seluruh tubuhnya, ia tertawa. “Penjahat-penjahat sudah pergi, kenapa kau masih
ketakutan?”
16. Syarat Ikatan Jodoh.
Pelayan-pelayan itu menunjuk kepada Kalisang yang membawa pedang dengan
menggigil ketakutan. “Bibi yang bodoh, tuan muda ini adalah penolong kita, kau mau
samakan dia dengan orang-orang jahat? Hayo pergi beritahukan ayah!”
Setelah berkata demikian, dengan ramah dan tanpa malu-malu lagi gadis itu menarik
tangan Kalisang. “Akupun pernah belajar silat, akan tetapi tidak tahu tentang ilmu
menotok. Kau bisa membebaskan totokan tadi, tentu kau pandai ilmu menotok!” Sifat
gadis itu masih kekanak-kanakan akan tetapi polos dan amat ramah, sungguh
membuat Kalisang tercengang girang, dan juga jengah.
Koleksi Kang Zusi
“Kakakku yang gagah, aku bernama Kiang, siapakah kau? Dan kau malam-malam
datang ke sini benar-benar amat kebetulan sekali. Kau dari mana, putera siapa?”
Kalisang terpaksa duduk di atas bangku ke mana gadis itu menariknya. Setelah
menyimpan pedangnya, ia lalu berkata, suaranya agak gemetaran.
“Namaku Kalisang, aku..... aku......”
Gadis itu bersorak girang. “Sudah kuduga. Kau tentu bangsaku sendiri, biarpun
pakaianmu seperti orang Han, akan tetapi mukamu adalah muka bangsaku. Ah, aku
girang sekali, Kalisang. Baru sekarang aku melihat seorang pemuda bangsa kita yang
gagah. Biasanya, yang pandai ilmu silat hanyalah pendeta-pendeta Lama yang
berwajah buruk dan sudah kakek-kakek.”
Kembali gadis itu tertawa dan sekali lagi jantung pemuda itu berjungkir balik dalam
dadanya. Dalam pandang matanya, gadis ini cantik sekali, manis dan menarik hati
sikapnya yang lincah jenaka dan peramah. Di Lain saat, semua maksud hatinya yang
membawanya ke kota Lasha, telah dilupakan sama sekali.
Di lain saat, pemuda yang keras hati dan berani ini sudah duduk di atas bangku,
sejajar dengan nona yang mengaku bernama Kiang itu dan bicara ke barat ke timur
dengan asyiknya seperti dua orang sahabat baik, bicara tentang ilmu silat. Si nona
tersenyum-senyum dan Kalisang berseri wajahnya.
Tak lama kemudian dari dalam gedung terdengar suara ribut-ribut dan muncullah
banyak orang menuju ke taman bunga. Yang berjalan paling depan adalah seorang
laki-laki setengah tua berpakaian indah seperti seorang pembesar, diikuti oleh seorang
wanita cantik yang bermuka agak pucat seperti orang dalam kegelisahan. Di belakang
mereka, dengan toya-toya besar di tangan berjalan beberapa orang pendeta Lama dan
di belakang sekali ada belasan orang laki-laki yang berpakaian seperti ahli-ahli silat,
mereka ini adalah tukang pukul.
“Anakku......” Wanita cantik itu berseru girang ketika melihat nona Kiang sedang
duduk mengobrol dengan seorang pemuda dan berada dalam keadaan sehat.
Tadi ia gelisah bukan main ketika mendengar laporan pelayan bahwa di taman datang
orang-orang jahat yang hendak menculik nonanya. Sebelum pelayan itu bercerita
lebih lanjut, Yang Nam pembesar yang menjadi ayah nona itu, bersama isterinya dan
dilindungi oleh pendeta-pendeta kosen dan kaki tangannya, segera berlari-lari ke
taman bunga.
Melihat anaknya sehat dan tidak apa-apa, nyonya itu memeluk dan menangis
kegirangan. Juga Yang Nam kelihatan girang sekali. Dalam pernikahannya dengan
puteri Lasha itu, dia hanya mempunyai seorang anak, malah dari selirnya ia tidak
mempunyai lain anak. Maka kasih sayangnya terhadap Yang Kiang, puterinya itu,
luar biasa besarnya.
“Ayah, ibu....... dia ini Kalisang, dialah yang menolong aku dan mengusir dua orang
penjahat yang menculikku tadi. Penjahat-penjahat itu hendak menculikku dan minta
Koleksi Kang Zusi
uang tebusan dari ayah. Baiknya dia ini, eh, kakak Kalisang yang gagah perkasa dan
berkepandaian tinggi, datang mengusir mereka.”
Dengan sikapnya yang lincah dan suaranya yang ramai gadis ini lalu menceritakan
pengalamannya tadi. Wajah Kalisang menjadi merah karena dalam penuturannya itu
gadis itu melebihkan secara keterlaluan dan memuji-mujinya setinggi langit.
Yang Nam memandang kepada Kalisang dengan wajah berseri. Biarpun dia seorang
berpangkat dan hartawan besar, juga jauh lebih tua dari pada pemuda itu, namun
mendengar bahwa pemuda itu telah menolong puterinya, ia tidak ragu-ragu lagi
menjura dengan hormat dan berkata.
“Budi tuan penolong yang besar takkan dilupakan oleh aku Yang Nam dan
keluargaku ......”
Baru saja dia menyebutkan namanya, tiba-tiba wajah Kalisang berubah pucat dan
seperti kilat cepatnya pemuda ini mencabut pedangnya lalu berteriak. “Kau bernama
Yang Nam? Bagus! Hari ini sakit hati ayah Wang Sin dan ibu Ci Ying terbalas.
Siaplah untuk mati!”
Ia lalu menyerang dengan tusukan dahsyat ke arah dada pembesar itu. Serangan itu
demikian cepatnya sehingga para pendeta dan tukang pukul yang mengiringkan Yang
Nam dan tidak menduga jelek, tidak keburu melindungi tuan mereka. Akan tetapi,
Yang Nam bukanlah orang lemah.
Semenjak mudanya ia sudah belajar ilmu silat, maka begitu mendengar bentakan
pemuda itu dan melihat berkelebatnya pedang, ia sudah membanting tubuhnya ke
kanan. Ia lolos dari serangan akan tetapi terhuyung-huyung karena terlalu keras ia
membanting diri. Kalisang mengejar, akan tetapi tiba-tiba terdengar jerit dan Yang
Kiang telah berlari, menghadangnya. Gadis itu dengan muka pucat memandangnya,
mengangkat dada dan berkata.
“Kakak Kalisang, kau tidak boleh membunuh ayah!” teriaknya dengan mata
terbelalak.
Menghadapi Yang Kiang, Kalisang menjadi lemas.
“Dia.... dia musuh besar ayah ibuku!” jawabnya.
“Tidak.... tidak .... kalau kau memaksa, lebih baik kau bunuh aku lebih dulu. Marilah,
kau bunuh aku lebih dulu!” tantang gadis itu dengan air mata bercucuran.
Kalisang terpukul hatinya. Begitu bertemu dengan gadis ini, semangatnya terbetot dan
setelah tadi mengobrol dengan senangnya ia sudah jatuh hati. “Aku..... aku tidak bisa
membunuhmu..... melukaimu saja aku tidak mau.....”
“Kakak Kalisang, apakah...... apakah kau suka kepadaku?”
Koleksi Kang Zusi
Ditanya secara terang-terangan didepan orang banyak, wajah Kalisang menjadi merah
sekali. Akan tetapi dia seorang pemuda yang berani, jujur dan tidak peduli akan orang
lain. Ia mengangguk.
“Aku suka padamu, nona Kiang!”
“Kalau begitu, jangan kau bunuh ayahku. Kalau kau bunuh dia, aku akan bunuh diri
dan setanku akan selalu mengejar-ngejarmu selama kau hidup.”
Kalisang menjadi pucat mendengar ini. “Tidak..... tidak.......”
“Berjanjilah, kau takkan membunuh ayahku. Hayo, berjanjilah, baru aku senang dan
suka padamu.” Gadis itu mendesak sambil memegang kedua tangan pemuda itu.
“Aku berjanji....” Kalisang menundukkan kepalanya. Betapapun besar semangatnya
untuk membunuh musuh-musuh ayah bundanya, menghadapi gadis ini, mati kutunya.
Sementara itu, para pendeta dan tukang pukul yang tadi melongo dan kaget sekali
melihat sikap pemuda itu, putera Wang Sin dan Ci Ying, lebih heran melihat sikap
puteri majikan mereka terhadap pemuda itu. Sekarang mereka sadar dari kaget dan
heran, maka serentak maju dengan sikap mengancam sambil menggerakkan
senjatanya.
“Bagus, bocah setan. Jadi kau anak dari pemberontak Wang Sin dan Ci Ying? Syukur
kau sudah datang, tak usah kami mencari jauh-jauh!” bentak seorang pendeta yang
cepat menggerakkan toyanya memukul kepala Kalisang. Pemuda itu cepat menangkis
dengan pedangnya, namun tetap saja ia mundur tiga langkah karena pukulan toya itu
ternyata mengandung tenaga yang hebat sekali.
Diam-diam Kalisang terkejut dan maklum bahwa ia berada dalam bahaya besar. Baru
seorang pendeta saja sudah begini kuat, apalagi di situ banyak terdapat pendetapendeta
Lama dan tukang-tukang pukul, kalau mereka itu maju semua, celakalah ia.
Tiba-tiba Yang Kiang menarik tangan Kalisang dan dia sendiri berdiri di depan
Kalisang, melindungi pemuda itu.
“Mundur semua! Mundur kalian, jangan mengganggu dia seujung rambutpun!”
Dengan kedua mata terbelalak gadis itu dengan sikap gagah melindungi Kalisang.
Tentu saja pendeta kaki tangan tuan tanah menjadi kaget dan tidak berani turun
tangan terhadap puteri majikan mereka itu.
Karena bingung tidak tahu harus berbuat apa, mereka hanya bisa memutar tubuh dan
memandang kepada Yang Nam minta keputusan. Juga Yang Kiang kini menatap
wajah ayahnya, sinar matanya penuh permohonan akan tetapi agak menantang.
Memang anak ini semenjak kecil dimanja sekali sehingga ia tidak takut ayah
bundanya.
Yang Nam adalah seorang cerdik. Ia maklum bahwa anaknya jatuh hati kepada
pemuda itu. Dia sendiri sejak tadi memandang Kalisang dan di dalam hatinya ia harus
Koleksi Kang Zusi
mengakui bahwa Kalisang adalah seorang pemuda Tibet yang gagah dan tampan,
jarang dicari bandingannya di Lasha.
Kalau aku mengambil dia sebagai mantu, pikirnya, tentu aku akan terbebas dari pada
ancaman dari pihak Wang Sin dan Ci Ying. Selama ini ia selalu ketakutan karena
maklum bahwa dua orang itu tentu akan mencarinya. Akhirnya ia mengambil
keputusan dan ia tertawa bergelak, mengherankan semua orang.
“Kalisang bagus sekali bahwa kau adalah putera Wang Sin dan Ci Ying. Kau tahu,
diwaktu masih kecil, dua orang tuamu adalah kawan-kawanku bermain-main. Ha-haha,
sekarang mereka sudah mempunyai putera begini gagah. Bagus, kita orang-orang
sendiri, mari, nak. Mari kita masuk ke dalam dan bercakap-cakap.”
Ia lalu membubarkan semua pendeta dan kaki tangannya, lalu digandengnya sebelah
tangan Kalisang. Karena pemuda itupun digandeng sebelah tangannya oleh Yang
Kiang, ia tidak berani melawan. Apalagi ia terheran-heran melihat sikap Yang Nam
dan diam-diam dia merasa ragu-ragu apakah orang yang begini ramah, ayah dari
seorang gadis seperti Yang Kiang, bisa menjadi seorang jahat.
Demikianlah, dengan bujukan dan kata-kata manis dari Yang Nam, dan terutama
sekali karena hatinya sudah jatuh betul-betul kepada Yang Kiang, akhirnya Kalisang
menerima ikatan jodoh antara dia dan Yang Kiang.
“Dalam hal ini, aku harap Taijin (panggilan untuk pembesar) suka memberitahukan
kepada ayah dan ibu,” katanya.
“Tentu saja, tentu saja. Bahkan gurumu Cheng Hoa Suthai yang mulia, akan kukirim
undangan.”
Segera Yang Nam menulis surat kepada Wang Sin dan pemuda itupun menulis surat
kepada ayah bundanya, menceritakan semua pengalamannya. Pendeta-pendeta pandai
dikirim ke Cheng-hoa-pai membawa surat itu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya
Wang Sin membaca surat ini. Akan tetapi setelah berunding masak-masak dengan
isterinya, ia menghela napas dan berkata.
“Kalau dipikir-pikir, belum tentu Yang Nam jahat seperti ayahnya. Dahulu itu adalah
di masa ia masih muda, karena terlampau dimanja, mungkin ia ketularan sifat
ayahnya. Sekarang setelah menjadi orang tua, agaknya ia berubah sikapnya. Kalau ia
jahat, mana ia sudi mengambil mantu anak kita?”
Ci Ying mengangguk-angguk. “Betapapun juga, kita harus mengajukan syarat.”
Setelah mereka berunding, suami isteri ini mengajukan syarat bahwa ikatan jodoh
mereka setuju asal Yang Nam mau berjanji untuk memperbaiki nasib kehidupan
semua budak di Tibet.
Yang Nam menerima syarat ini dan berjanji akan membujuk pemerintahnya untuk
melindungi nasib para budak. Surat menyurat antara mereka ini terjadi berbulan-bulan
dan akhirnya ditetapkan hari kawinnya dan pada hari pernikahan itu, suami isteri
Wang Sin dan Ci Ying akan datang ke Lasha, bahkan Cheng Hoa Suthai juga akan
datang berkunjung.
Koleksi Kang Zusi
Ga Lung Hwesio dan kawan-kawannya yang bertemu dengan Bi Hong di tengah
jalan, adalah utusan terakhir yang pergi untuk menyambut suami isteri itu dari Hengtoan-
san. Akan tetapi Wang Sin menyuruh mereka pulang lebih dulu dan berjanji
akan segera menyusul bersama isterinya dan ketua Cheng-hoa-pai.
Tentu saja ia tidak mau melakukan perjalanan bersama para pendeta Lama. Hal ini
tidak enak bagi ketua Cheng-hoa-pai. Maka pertempuran di tengah jalan itupun tidak
diketahuinya.
******
Kita kembali mengikuti perjalanan Bi Hong yang berhasil memasuki kota Lasha dan
bersama orang-orang yang hendak bertamu pada pesta pernikahan di gedung Yang
Nam ia menuju ke tempat keramaian itu. Ditelan dalam gelombang manusia yang
menjadi tamu, Bi Hong juga ikut masuk ke ruangan depan gedung.
Dia sengaja masuk ke situ ketika melihat betapa di tempat keramaian ini penuh
dengan pendeta-pendeta Lama yang menduduki tempat tersendiri di pojok kiri. Tentu
di antara mereka terdapat musuh besarnya, Thu Bi Tan, pikirnya.
Para penyambut juga menyambut tanpa curiga dan mempersilakan duduk di antara
tamu-tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw. Kebetulan sekali Bi Hong duduk
di dekat seorang wanita tua, maka tanpa membuang banyak waktu lagi ia lalu
mengajak wanita itu berbicara. Dengan pandai gadis ini mengaku sebagai puteri
seorang penjual obat keliling dan ia menanyakan kepada wanita itu apakah di antara
para hwesio yang hadir ada yang bernama Thu Bi Tan Hwesio. Wanita tua itu nampak
kaget.
“Thu Bi Tan losuhu? Tentu saja ada. Dia seorang di antara Su Thai Losu di sini,
seorang pendeta lama yang memiliki kedudukan besar. Masa ia tidak hadir?”
Dengan sikap menghormat nenek ini menunjuk ke arah seorang hwesio, tua tinggi
besar yang duduk di deretan paling muka. Di deretan ini duduk empat orang hwesio
tua, kesemuanya mengenakan jubah pertapaan yang indah, memakai topi hwesio dan
memegang tongkat-tongkat besar, sikap mereka agung dan angker.
Melihat musuh besarnya duduk di situ, Bi Hong yang sudah berbulan-bulan
menyimpan dendam, menjadi panas hatinya dan tidak dapat menahan sabar lagi.
Apalagi kalau ia ingat betapa twa-suhengnya juga sampai tewas dalam usaha
membalas dendam. Ia menjadi nekad dan tidak memperdulikan segala apa lagi.
Dengan cepat ia melompat ke tengah ruangan dan di lain saat ia sudah menghadapi
Thu Bi Tan Hwesio.
“Apakah kau yang bernama Thu Bi Tan Hwesio?” tanyanya dalam bahasa Tibet.
Hwesio itu terkejut dan heran, akan tetapi sebagai seorang yang mempunyai
kedudukan tinggi ia hanya tersenyum dan menjawab tenang. “Benar dan kau ini anak
siapa dan apa kehendakmu?”
Koleksi Kang Zusi
Semua tamu kaget bukan main melihat ada seorang gadis muda begini berani mati
bersikap tidak sopan terhadap guru besar itu. Apalagi ketika mereka mendengar suara
gadis itu nyaring berseru.
“Thu Bi Tan, aku datang dari tempat yang ribuan lie jauhnya sengaja hendak
mencarimu dan menantangmu. Berdirilah dan mari kita bertempur untuk
membereskan perhitungan lama!”
Thu Bi Tan menjadi marah. Gadis ini benar-benar kurang ajar, pikirnya. Orang
mencari dia untuk bertempur, inilah tidak aneh dan sudah ratusan kali ia menghadapi
musuh. Akan tetapi gadis begini muda, pula menantangnya di depan ratusan orang,
dalam tempat pesta pula, benar-benar keterlaluan. Ia membanting ujung tongkatnya di
lantai dan bangkit berdiri dengan mata melotot.
Pada saat itu Yang Nam buru-buru lari menghampiri dan menjura kepada Thu Bi Tan.
“Mohon losuhu suka mengalah dan bersabar demi mengingat saat bahagia ini.”
Hwesio itu mengangguk.
Kemudian tuan rumah itu memutar tubuhnya memandang Bi Hong. Ia tercengang
melihat kecantikan gadis yang masih muda ini. “Nona, apa maksudmu membikin
ribut dan mengacau tempat pesta kami?” tegurnya.
Bi Hong menjadi malu hati. Ia memang tidak tahu siapa Yang Nam, tidak tahu bahwa
sebetulnya yang berdiri di depannya juga musuh besar ayahnya ketika dahulu.
Ia balas menjura dan berkata, “Harap tuan maafkan kelancangan saya. Sebetulnya
saya adalah tamu yang tak diundang dan kedatanganku bukan menjadi tamu,
melainkan untuk mencari hwesio ini. Setelah bertemu, aku menantangnya dan ini
merupakan urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut paut dengan tuan atau orang
lain. Kurasa Thu Bi Tan Hwesio yang sudah berani membunuh-bunuhi orang, tidak
akan takut menghadapi tantanganku sebagai akibat dosa-dosanya.”
Thu Bi Tan marah bukan main. “Siluman betina, kau siapa dan apa sebabnya kau
berani kurang ajar kepada pinceng?”
“Hemm, hwesio jahat, Ingatkah kau belasan tahun yang lalu ketika kau menyerbu
Kun-lun-san dan membunuh beberapa orang tokoh Kun-lun-pai?”
Hwesio itu tertawa bergelak. Ha-ha-ha, kukira siapa, tidak tahunya hanya seorang
budak Kun-lun. Ha-ha-ha, bocah andaikata To Gi Couwsu sendiri yang datang
mencari pinceng, akupun tidak takut. Apalagi kau!”
“Majulah, biar aku mengadu nyawa denganmu!” bentak Bi Hong.
Yang Nam berkata perlahan. “Losuhu, harap jangan merusak suasana pesta. Tidak
boleh ada pertempuran di ruang ini.”
“Yang-taijin, biar pinceng membereskan pengacau cilik ini di luar. He, bocah! Kalau
kau memang hendak berkenalan dengan kelihaian Thu Bi Tan, mari keluar!”
Koleksi Kang Zusi
Dengan langkah tegap dan sikap gagah, Bi Hong mendahului hwesio itu keluar ke
halaman depan rumah gedung itu. Di halaman depan tadinya banyak orang menonton
keramaian, sekarang mereka mundur keluar karena takut.
Bi Hong menanti musuhnya besarnya di tengah halaman yang luas, pedangnya sudah
berada di tangannya. Ia maklum bahwa musuhnya tentulah orang pandai, akan tetapi
ia sudah nekad hendak membalas dendam, sama sekali tidak takut.
Bi Hong memandang penuh kebencian kepada hwesio yang sudah membunuh kongkongnya,
supek-couwnya, dan yang sudah menjadi gara-gara kematian ibunya itu,
begitu melihat hwesio itu sudah datang di depannya, segera ia membuka serangan
sambil membentak. “Jahanam, lihat pedang!”
Tadinya Thu Bi Tan Hwesio tentu saja memandang rendah kepada nona muda ini.
Biarpun murid Kun-lun-pai, kalau hanya seorang gadis muda, sampai dimanakah
kepandaiannya maka berani melawan dia? Akan tetapi tiba-tiba ia teringat akan
kematian Ga Lung Hwesio yang katanya juga diserang oleh seorang nona muda, maka
ia membentak.
“Tahan dulu! Apakah pembunuhan terhadap Ga Lung Hwesio baru-baru ini dilakukan
olehmu?”
Bi Hong tertawa. “Betul, dan sekarang aku akan mengirim kau menyusul setan Ga
Lung Hwesio!”
Thu Bi Tan kaget dan juga marah sekali. Kalau sudah dapat mengalahkan murid
keponakannya itu maka kepandaian nona ini tidak boleh dipandang ringan. Ia
membentak keras dan toyanya bergerak cepat, namun Bi Hong tidak gentar. Dengan
lincah ia mengelak lalu balas menikam sehingga dilain saat mereka sudah terlibat
dalam pertempuran yang hebat.
Dalam mempelajari ilmu pedang Kun-lun-pai, To Gi Couwsu menyesuaikan ilmu
dengan bakat pada di Bi Hong, maka gadis ini menerima sari pelajaran “lembek” yang
mendasarkan kelincahan dan kelemasan, berpegang kepada huikang (lweekang) yang
mengutamakan kehalusan dan meminjam tenaga lawan. Sedangkan lawannya, Thu Bi
Tan Hwesio adalah seorang ahli gwakang yang memiliki tenaga dahsyat sekali.
Maka Bi Hong dapat menghadapi lawannya ini dan setiap kali toya menyambar yang
tak dapat dielakkan lagi, pedangnya lalu menempel toya lawan dan mencuri tenaga
serangan lawan untuk balas menyerang. Thu Bi Tan beberapa kali kaget sekali karena
toyanya yang diserangkan dengan tenaga sepenuhnya, seperti amblas dan hilang
bertemu dengan tenaga yang menghisap, malah tiba-tiba pedang lawan muda yang
menempel toyanya dapat menyelinap dari bawah toya dan melakukan serangan
mendadak.
Ia kaget sekali karena tidak pernah disangkanya bahwa lawan semuda ini ternyata
sudah memiliki kepandaian tinggi dan kecerdikan seorang ahli. Akan tetapi, Thu Bi
Tan sudah berpengalaman, jauh lebih berpengalaman kalau dibandingkan dengan Bi
Hong.
Koleksi Kang Zusi
Segera ia dapat melihat bahwa biarpun ilmu pedang gadis itu lihai dan cepat, namun
tenaganya kurang dan gerakannya biarpun sempurna kurang terlatih sehingga masih
kurang isi. Kalau ia mendesak dengan ujung toyanya dibarengi pukulan ujung lengan
bajunya yang kiri, ia percaya akan dapat menjatuhkan gadis ini dalam waktu yang
tidak berapa lama.
“Bocah, lihatlah kelihaian kakekmu!” Sambil berkata demikian, hwesio itu mengubah
gerakan toyanya, kini dimainkan dengan tangan kanan, diputar cepat seperti kitiran
angin menahan semua serangan pedang sedangkan tangan kirinya bergerak dan ujung
lengan bajunya yang panjang itu lalu menotok-notok ke arah jalan darah di bagian
tubuh yang berbahaya.
Sekejap saja keadaan berubah. Kalau tadi mereka masih saling serang, sekarang
keadaan Bi Hong terdesak sekali. Gadis itu merasa betapa pedangnya menghadapi
dinding baja yang amat kuat, yang dibentuk oleh putaran toya lawan, sedangkan
serangan ujung baju yang kadang-kadang menyambar dari balik dinding baja ini
benar-benar membuat ia repot kewalahan sekali. Pada saat yang malang baginya,
ujung lengan baju itu berhasil menotok pergelangan tangan kanannya, disusul
sambaran kaki ke arah lututnya.
Bi Hong mengeluarkan keluhan tertahan, pedangnya terlepas jatuh di atas lantai
mengeluarkan suara nyaring dan biarpun ia sudah meloncat untuk menghindarkan
sambaran kaki ke arah lututnya yang akan mencelakakannya, tidak urung betisnya
kena ditotol ujung sepatu dan ia roboh terguling.
Sementara itu, para tamu yang terdiri dari ahli-ahli silat yang sudah memburu keluar
dan menonton pertandingan. Bahkan Yang Nam dan Kalisang juga terdapat di antara
mereka.
Kalisang yang melihat bahwa gadis yang mengacau adalah gadis yang dulu
menolongnya ketika ia menghadapi Ga Lung Hwesio, diam-diam terkejut dan
berkhawatir sekali. Sekarang melihat gadis itu roboh dan Thu Bi Tan hendak
mengirim pukulan maut, ia lupa diri dan melompat ke depan.
“Thu Bi Tan Losuhu, jangan bunuh dia!” Ia lalu menghampiri Bi Hong dan berkata
halus.
“Nona, Thu Bi Tan Losuhu amat lihai bukan lawanmu. Harap kau tahu diri dan
mundur. Betapapun juga kau takkan menang. Lebih baik hilangkan semua
permusuhan dan kau menjadi tamu kami yang terhormat. Untuk apa menanam
permusuhan dan saling mendendam?”
Bi Hong adalah seorang gadis yang tidak mengenal takut. Ia sudah melompat berdiri
lagi. Betisnya mengucurkan darah akan tetapi hanya terasa sakit, tidak merupakan
luka berat. Cepat ia menyambar pedangnya kembali dan ia membentak.
“Siapa membutuhkan pertolonganmu? Manusia sombong, menyingkirlah kau. Aku
belum mati, berarti belum kalah!” Bi Hong menggunakan kata-kata Kalisang sendiri
yang marah-marah ketika dahulu ia tolong bersama suhengnya.
Koleksi Kang Zusi
Merah wajah Kalisang. “Nona, kau takkan menang!”
“Huh! Begitu anggapanmu? Lihat!” Secepat kilat gadis yang nekad ini sudah
menyerang lagi kepada Thu Bi Tan Hwesio. Terpaksa Kalisang menarik napas
panjang dan mundur. Bi Hong terheran melihat pemuda itu berada di situ dan
berpakaian sebagai mempelai, akan tetapi ia tidak perduli akan hal itu dan menyerang
makin hebat pada musuh besarnya.
“Ho-ho-ho, siluman cilik. Kau benar-benar sudah bosan hidup,” bentak Thu Bi Tan
Hwesio dan menggunakan siasatnya seperti tadi. Sebentar saja Bi Hong kembali
terdesak, malah lebih hebat lagi karena luka kecil di betisnya sedikitnya
memperlambat gerakan kakinya.
Setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, ia tidak dapat mengelak lagi ketika ujung
lengan baju hwesio itu menotok pundak kirinya. Bi Hong terhuyung mundur,
wajahnya pucat. Ia tahu bahwa sambungan tulang pundak kirinya terlepas. Akan
tetapi sambil menggigit bibir menahan sakit ia maju lagi mengirim serangan maut.
Diam-diam Thu Bi Tan Hwesio terkejut dan kagum.
Bocah ini benar-benar ulet dan nekad, kalau tidak segera dirobohkan bisa
mendatangkan kekacauan hebat, pikirnya. Maka kedua tangannya bekerja makin
cepat, tangan kirinya mengirim totokan-totokan ke arah jalan darah yang mematikan.
Pada saat itu terdengar suara yang halus tapi nyaring yang diucap seperti orang
bersajak.
“Yang terlembut,
dapat menembus yang terkeras.
Yang tak berujud,
dapat memasuki benda berujud
Karena ini diketahui bahwa,
tidak bertindak ada gunanya.
Mengajar tanpa berkata.
Berguna tanpa bertindak.
Di kolong langit jarang yang mencapainya!”
Inilah kata-kata dalam kitab To-tek-keng, kitab para tosu penganut agama To. Dasar
pelajaran ilmu silat dari Kun-lun-pai memang berhubungan erat dengan pelajaran
Agama To, karena sebagian besar guru besarnya adalah pendeta-pendeta To. Maka
ilmu pedang Kun-lun-pai juga intisarinya diambil dari sajak-sajak dan kitab-kitab suci
agama To. Tentu saja bagi orang lain sajak itu tidak ada artinya untuk ilmu silat, akan
tetapi tidak demikian bagi Bi Hong.
17. Kepergian Pahlawan Jantan Para Budak.
Gadis ini semenjak kecil hidup di Kun-lun-pai di antara para tosu, tentu saja ia hafal
akan isi kitab-kitab sucinya. Mendengar ini sadar dan tahu bagaimana harus
menghadapi keganasan lawannya. Terbukalah matanya sejak tadi ia memang salah
siasat.
Koleksi Kang Zusi
Ia dibikin bingung oleh terputarnya toya di tangan kanan lawannya, toya yang
diputar-putar seperti kitiran yang mengeluarkan angin mengaung seakan-akan
harimau hendak menerkam. Sejak tadi pedangnya selalu sibuk ia pergunakan untuk
menghadapi dinding baja dari tosu itu, maka pertahanannya terhadap serangan
totokan ujung lengan kiri lawannya menjadi amat lemah.
Setelah mendengar suara itu, tiba-tiba Bi Hong mengubah ilmu silatnya. Kalau tadi ia
menggunakan delapan puluh prosen dari tenaga dan perhatiannya untuk menghadapi
toya dan hanya dua puluh prosen untuk menghadapi tangan lawan sekarang tiba-tiba
ia balik.
Ia hampir tidak perdulikan gerakan toya lawan itu dan mencurahkan semua kegesitan
dan perhatiannya kepada lengan baju itu. Ia menggerakkan pedang dengan cepat
ketika lengan baju menyambar dan pada saat yang tepat, pedangnya berkelebat
menembus tangan kiri lawannya.
“Celaka....!” Thu Bi Tan Hwesio mengeluh dengan kaget sekali. Cepat-cepat ia
menarik lengan kirinya dan biarpun ia dapat menyelamatkan pergelangan tangannya,
tidak urung jari kelingking tangan kirinya terbabat putus berikut ujung lengan
bajunya.
Bi Hong girang sekali melihat hasil serangannya dan ia mendesak hebat. Luar biasa
sekali ilmu silat yang sudah mencapai tingkat tinggi. Kalau tadi Bi Hong terdesak
hebat, sekarang hanya karena melihat cara-caranya sendiri yang keliru dan dapat
mengubah, dalam sedetik saja ia sudah dapat menebas putus kelingking kiri lawan
dan balas mendesaknya dengan hebat sekali.
Thu Bi Tan Hwesio bukan orang bodoh. Ia cepat dapat menenangkan hatinya yang
kaget dan cepat ia mengubah ilmu silatnya. Kini toyanya tidak hanya diputar
melindungi diri seperti tadi, melainkan diputar untuk menyerang, malah ia
menggunakan kedua tangan untuk memutarnya.
Makin lama lingkaran toya makin luas dan angin menyambar makin hebat. Toya itu
sudah berputar-putar seperti sebuah roda besar yang hendak menggilas hancur tubuh
gadis itu.
Bi Hong kaget sekali dan kembali keadaan berubah. Ia terdesak hebat dan sibuk sekali
menangkis gulungan sinar toya yang menindihnya itu. Makin lama ia makin mundur
dan jalan keluar makin sempit.
Akan tetapi suara seperti tadi terdengar lagi. “Tiga puluh ruji berpusat pada roda. Dari
tanah lempung membuat jembangan. Pada tempat yang kosonglah terletak
kegunaannya!”
Kata-kata inipun adalah ayat-ayat dari kitab To-tek-kheng yang menunjukkan bahwa
pada kekosongan itulah terletak kegunaannya, karena apa artinya roda kalau hanya
ada lengkungannya di luar? Juga jembangan takkan ada artinya kalau tidak ada
“kekosongan” di dalamnya.
Koleksi Kang Zusi
Bagi orang lain sajak ini tidak ada artinya, namun bagi Bi Hong berarti sekali. Tadi ia
sibuk menghadapi ilmu toya yang diputar-putar merupakan lingkaran-lingkaran besar
yang menutup semua jalannya, akan tetapi begitu mendengar ini, ia segera teringat
bahwa ia terlampau memperhatikan gulungan sinar toya yang melingkar-lingkar.
Begitu mendengar sajak itu, Bi Hong cepat menggerakkan pedang dan menyerang
hebat ke arah tengah-tengah lingkaran.
Thu Bi Tan Hwesio terkejut sekali. Ia mengeluarkan teriakan kaget dan marah, namun
tetap saja ujung pedang Bi Hong berhasil melukai pangkal lengannyasehingga
mengeluarkan banyak darah. Setelah dua kali melihat bahwa sajak-sajak itu ternyata
membantu Bi Hong, hwesio ini terperanjat dan kemarahannya memuncak.
“Bangsat, kau dulu kubikin habis!” Ia melompat dan menyerang seorang pemuda
yang berdiri di antara para penonton. Pemuda itu bukan lain adalah Yalu Sun dan
melihat hwesio menerjang keluar, para penonton menjadi geger, dan cepat-cepat lari
mundur.
Pada saat itu, dari luar datang tiga orang tamu. Begitu toya Thu Bi Tan Hwesio
menyambar, Yalu Sun melangkah mundur. Hwesio yang sudah marah sekali itu tidak
memperdulikan apa-apa lagi, toyanya terus menghantam dan hampir saja mengenai
kepala seorang nenek tua.
Dengan senyum mengejek nenek ini tenang-tenang saja mengangkat tangan kiri
dengan dua jari terbuka, dijepitnya toya itu dan dilain saat Thu Bi Tan Hwesio sudah
teruyung ke belakang sampai lima tindak ketika toyanya didorong oleh nenek itu.
Semua orang terheran-heran, akan tetapi tanpa memperdulikan sesuatu nenek itu terus
berjalan masuk, diikuti oleh dua orang yakni sepasang suami isteri yang setengah tua
dan nampaknya gagah sekali.
“Ayah .... ibu....!’ Kalisang menyambut dan pihak tuan rumah juga juga buru-buru
menyambut. Nenek itu ternyata Cheng Hoa Suthai ketua dari Cheng-hoa-pai. Thu Bi
Tan Hwesio juga mengenalnya maka ia menjura dan berkata.
“Harap suthai sudi memaafkan karena tadi dalam mengejar seorang bangsat pinceng
hampir kesalahan tangan.”
Akan tetapi Cheng Hoa Suthai tidak meladeninya dan duduk di kursi yang sudah
disediakan untuknya. Yang Nam maju dan menyambut Wang Sin dan Ci Ying dengan
ramah tamah sekali.
Akan tetapi sebelum tamu baru ini sempat bercakap-cakap, tiba-tiba Thu Bi Tan
Hwesio sudah berseru marah dan menyerang lagi pemuda yang masih berdiri di situ
dengan senyum tenang. Serangannya hebat mengarah kepala, akan tetapi lebih hebat
lagi sambutan pemuda itu.
Dengan tangan kiri ia menyambut toya, ditangkapnya lalu digentakkan ke kiri. Tubuh
Thu Bi Tan Hwesio terbawa dan terguling roboh. Pada saat itu, Bi Hong sudah
melompat maju dan sekali pedangnya disabetkan, leher Thu Bi Tan Hwesio sudah
putus.
Koleksi Kang Zusi
Suami isteri yang datang bersama Cheng Hoa Suthai tadi adalah Wang Sin dan Ci
Ying. Mereka dengan bingung memandang Bi Hong. Wajah Wang Sin menjadi agak
pucat dan Ci Ying juga memandang dengan mata terbelalak.
Tangannya otomatis menyentuh lengan suaminya, dan biarpun keduanya tidak
mengucapkan sepata perkataan, hati mereka sama-sama terkejut melihat seorang gadis
yang wajahnya serupa benar dengan wajah Ong Hui. Siapakah gadis ini? Demikian
pikir mereka dengan hati berdebar.
Sementara itu, melihat Thu Bi Tan Hwesio sudah menggeletak tak bernyawa lagi di
depan kakinya, tiba-tiba Bi Hong menangis dan berkata nyaring sambil berdongak ke
atas.
“Kong-kong Ong Bu Khai! Supek-couw Cin Kek Tosu! Ibu Ong Hui, kalian lihatlah,
aku telah berhasil mengirim roh musuh besar kita kepada kalian!” Kemudian nona ini
menangis tersedu-sedu.
Terdengar teriakan menyayat hati dan Wang Sin sudah melompat ke depan Bi Hong
terus memeluknya. Gadis itu tentu saja kaget sekali dan hendak menggerakkan tangan
memukul, akan tetapi Wang Sin cepat berkata. “Anakku.... kau.... kau anak Ong
Hui....? Ah, kalau begitu, akulah ayahmu nak....”
Wajah Bi Hong menjadi pucat, tubuhnya menggigil. Ia masih tidak percaya dan
membentak. “Kau siapa?”
“Namaku Wang Sin, aku ayahmu..... apakah ibumu tak pernah memberitahu?”
Mendengar ini, Bi Hong lalu memeluk ayahnya sambil berkata. “Ayah..... anakmu Bi
Hong setengah mati mencari kau.....”
“Bi Hong anakku. Di mana ibumu....? Mengapa kau tadi..... kau sebut ibumu.....”
Tiba-tiba Bi Hong merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan ayahnya, lalu melompat
mundur. Wajahnya masih pucat akan tetapi matanya menatap wajah ayahnya dengan
sinar kemarahan.
“Ayah, kalau betul kau suami mendiang ibuku, kenapa kau meninggalkan ibu?
Kenapa kau tidak muncul sampai ibu meninggal karena duka? Kenapa kau diam saja
ketika Kong-kong dibunuh Thu Bi Tan Hwesio si keparat ini. Ayah, apa artinya ini
semua? Kenapa kau malah tak pernah..... tak pernah menengok aku?”
Wang Sin menundukkan mukanya. “Aku salah.... aku bersalah, anakku. Sekarang kau
turut aku, dia itu dia.... ibu tirimu,” ia menuding ke arah Ci Ying, lalu ke arah
Kalisang. “Dan dia itu, yang sekarang akan menjadi penganten, dia itu adik tirimu. Bi
Hong mulai sekarang ayahmu akan merawatmu.”
Tiba-tiba Bi Hong mengeluarkan suara ketawa, suara ketawa yang menegakkan bulu
roma karena suara itu lebih banyak menangis daripada tertawa. “Huh, jadi kau
meninggalkan ibu, lupa anak isteri, karena.... karena perempuan ini? Jadi kau menyiaKoleksi
Kang Zusi
nyiakan ibu untuk menikah lagi? Ayah, biarpun aku anakmu, aku harus katakan
bahwa kau bukan seorang berjiwa gagah!”
“Tutup mulutmu, setan!” terdengar teriakan nyaring dan sesosok tubuh melompat
cepat. Tahu-tahu sebatang pedang berkelebat ke arah leher Bi Hong. Melihat bahwa
yang menyerangnya adalah wanita yang disebut ibu tirinya. Bi Hong bangkit
marahnya, cepat menangkis dengan pedangnya dan di lain saat dua orang wanita
garang ini sudah saling serang dengan hebatnya.
Selagi Wang Sin dan semua orang kebingungan melihat peristiwa yang berlarut-larut
menjadi makin hebat itu, tiba-tiba terdengar suara ketawa aneh dari Cheng Hoa Suthai
dan nenek ini tahu-tahu sudah melayang dan dengan kedua tangannya menyerang
kepala seorang pemuda yang bukan lain adalah Yalu Sun.
Pemuda ini terkejut dan mengelak sambil membentak. “Nenek tua apa kau sudah gila
tiada hujan tiada angin menyerangku?”
“Huh-huh, kau tentu takkan tinggal diam kalau gadis itu kalah. Lebih baik aku
menghalangimu lebih dulu.”
Memang nenek ini tadi sudah melihat gerakan Yalu Sun dan maklum akan kelihaian
bocah itu. Ia tahu pula bahwa kalau bocah itu turun tangan membela Bi Hong,
muridnya takkan menang. Maka sebelum hal itu terjadi, ia sengaja menyerang lebih
dulu.
Siapa kira, serangannya gagal dan pemuda itu ternyata lebih lihai dari pada
dugaannya semula. Dengan marah ia lalu mengeluarkan senjatanya, yaitu sebuah
tasbeh di tangan kanan dan sebuah kebutan merah di tangan kiri. Dengan sepasang
senjatanya ini, Cheng Hoa Suthai menyerang Yalu Sun.
Pemuda itu kaget sekali melihat kehebatan si nenek, cepat ia mencabut pedang Pekkong-
kiam yang selalu ia sembunyikan di balik baju, lalu memutar pedangnya dengan
tenaga menyambut. Cheng Hoa Suthai menggerakkan kebutan merahnya dengan
tenaga Im-jiu, sedangkan tasbehnya dengan tenaga Yang-kang. Kedua senjata ini
menyambar-nyambar, angin yang menyambar dari senjata itu sangat dahsyat.
Akan tetapi Yalu Sun yang telah menerima warisan ilmu pedang dari Pek-kong Kiamsian,
dengan tenang menyambut semua serangannya, bahkan dapat balas menyerang
tak kalah hebatnya. Melihat dua pertandingan silat tinggi ini, semua tamu menjadi
gembira dan tegang, karena tidak mereka sangka-sangka di tempat ini mereka akan
disuguhi pertandingan yang demikian hebat.
Orang yang paling bingung adalah Wang Sin. Yang seorang isterinya, yang seorang
lagi anaknya. Bagaimana dia tidak menjadi bingung? Di samping kebingungannya,
iapun gelisah dan menyesal bukan main, insyaf bahwa kejadian hari ini adalah akibat
dari sikapnya yang kurang jantan ketika dahulu menghadapi Ci Ying.
Apalagi mendengar bahwa Ong Hui mati karena berduka memikirkannya. Hatinya
seperti ditusuk-tusuk dan tak terasa lagi kedua matanya menjadi basah. Ia
menghampiri tempat pertempuran itu.
Koleksi Kang Zusi
Melihat Wang Sin maju, Bi Hong berseru. “Ayah, kau mau membantu dia? Baik, kau
bunuhlah anakmu ini!”
Ci Ying membentak. “Mau membantu anakmu? Boleh kau serang aku!”
Wang Sin mencoba untuk memisah mereka, katanya. “Ci Ying.... Bi Hong.....
kasihanilah aku, sudahilah pertempuran ini.....”
Akan tetapi mana mau dua jago betina berhenti? Keduanya panas hati dan keduanya
hendak saling bunuh. Bukannya berhenti, malah pertempuran makin hebat.
“Sudahlah.... sudahlah Ci Ying..... Ong Hui, kalian semenjak dulu tidak mau
bersatu.... aku yang bodoh dan berdosa, biar aku menebus dosa. Ong Hui, kau
tunggulah, aku!” Dan dengan pedangnya, orang gagah ini menusuk dadanya sendiri
sampai hampir tembus. Ia memekik dan roboh mandi darah.
“Wang Sin....!” Ci Ying memburu dan menjerit.
“Ayah....!” Bi Hong melempar pedangnya dan loncat menubruk.
Kalisang membelalakkan matanya, lalu menubruk sambil menjerit pula. Tiga orang
itu menangis dan mendekati tubuh Wang Sin.
Wang Sin membuka matanya, terengah-engah. Melihat tiga orang itu berlutut dan
menangis, ia berkata terputus-putus.
“Ci Ying.... Bi Hong..... setelah aku mati.... janganlah.... jangan kalian bermusuhan
lagi.....”
Ci Ying sesenggukan. Bi Hong menangis terisak-isak.
“Berjanjilah.....” Wang Sin mendesak.
Dua orang itu saling pandang, tak dapat menjawab karena kebencian masih meracuni
hati.
“Berjanjilah.... kalau kalian tidak .... mau menurut.... aku takkan mati meram.....”
Bi Hong menggelengkan kepala. “Aku akan, menurut ayah. Aku.... aku takkan
memusuhi..... dia....”
“Ci Ying berjanjilah..... dia sudah yatim piatu, apa... masih ....masih benci padanya?”
Ci Ying yang lebih dulu menjawab. “aku berjanji, pesanmu.....”
Wang Sin menarik napas panjang, kelihatan lega sekali. Ia memandang puteranya,
tersenyum. “Ci Ying kulihat Yang Nam berubah baik..... kau langsungkan pernikahan
anak kita.... jangan lupa syarat-syarat yang kita ajukan dahulu.... harus dipenuhi....
kasihan para budak.... sudahlah selamat semua.... aku pergi....”
Koleksi Kang Zusi
Orang gagah yang menjadi buah bibir sebagai seorang pahlawan jantan para budak di
Tibet itu menghembuskan napas yang terakhir diiringi tangisan Ci Ying, Bi Hong dan
Kalisang.
Yang Nam melihat ini segera maju dan menghibur, lalu mengurus jenazah itu dibawa
ke dalam. Sementara itu pertempuran antara Cheng Hoa Suthai dan Yalu Sun masih
berlangsung terus dengan hebatnya. Mereka berdua tidak memperdulikan akan semua
kejadian di situ.
Sebetulnya Yalu Sun merasa tidak enak sekalipun ingin menghentikan pertempuran
akan tetapi mana dia bisa? Cheng Hoa Suthai yang selama ini belum pernah
menemukan tandingan, sekarang menghadapi pemuda itu ia tidak mampu
merobohkannya, sudah menjadi penasaran dan marah sekali, menyerang dengan hebat
dan tidak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk keluar dari kalangan
pertandingan. Mereka sudah bertempur selama tiga ratus jurus lebih dan Yalu Sun
mulai terdesak.
Tiba-tiba terkesiur angin dan tahu-tahu di dekat pertempuran sudah berdiri seorang
kakek tua yang bertubuh jangkung kurus. Kakek ini mengelus-elus jenggotnya yang
sudah panjang, lalu berkata halus.
“Cheng Hoa, sampai tua kau masih saja galak sekali!” Ia menghela napas dan
mengebutkan tangan kirinya. Ujung bajunya menyambar ke tengah pertempuran dan
dua orang yang sedang bertanding itu terhuyung mundur dan perkelahian mereka
terhenti.
“Suhu.....” Yalu Sun berseru girang dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
“Kau.....?” kata Cheng Hoa Suthai dan.... aneh sekali, wajah nenek itu menjadi merah
seperti orang malu, akan tetapi matanya memancarkan sinar ganjil, seperti orang yang
tiba-tiba teringat akan sesuatu yang mesra. “Jadi dia ini muridmu? Lihai sekali kau,
makin tua makin hebat!”
“Cheng Hoa, pertempuran kali ini sebetulnya menggirangkan, sayang terjadi peristiwa
menyedihkan dengan kematian mantu muridmu.”
Pada saat itu, Ci Ying, Bi Hong, dan Kalisang juga sudah keluar dan semua mata
memandang kakek yang baru datang ini dengan heran. Cheng Hoa Suthai lalu
memperkenalkan kakek itu kepada Ci Ying.
“Dia ini.... dia Pek-kong Kiam-sian To Tek Cinjin, dia dahulu..... dia dahulu....
suhengku.” Tentu saja nenek ini malu untuk mengaku bahwa sebenarnya kakek ini
dahulu adalah kekasihnya. Mereka berpisah karena watak Cheng Hoa Suthai yang
amat galak sehingga terjadi percekcokan yang memisahkan mereka.
Cheng Hoa Suthai memandang kepada Yalu Sun dan berkata kagum. “Orang muda,
kau tidak memalukan menjadi muridnya.”
To Tek Cinjin tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya, memandang Ci Ying dan
berkata. “Muridmu ini juga hebat, biarpun galak seperti kau tapi dapat memaafkan
Koleksi Kang Zusi
anak tirinya. Ci Ying, ketika kau ditolong oleh gurumu, ingatkah kau akan bocah yang
dulu kau bawa minggat dari Loka? Dia itulah bocah itu. Aku tidak tahu namanya,
maka kuberi nama Yalu Sun.”
Ci Ying terkejut dan memandang kepada pemuda itu. Lalu ia terisak dan berlari maju,
memegang kedua tangan Yalu Sun. “Kau.... kau Wang.....!”
Yalu Sun melongo, tidak tahu apa artinya ini semua. Dengan ringkas Ci Ying lalu
menuturkan riwayatnya ketika masih bayi, bagaimana orang tuanya terbunuh oleh
kaki tangan tuan tanah Yang Can dan bagaimana ia membawa anak itu melarikan diri.
Mendengar ini, Yalu Sun menjatuhkan diri di depan Ci Ying dan berkata sambil
menangis. “Kalau begitu, kau sudah menolong jiwaku.... banyak terima kasih atas
semua budimu, bibi.....”
Semua orang terharu melihat adegan ini dan tidak ada orang yang membuka suara.
Maka amat jelas kedengaran suara Pek-kong Kiam-sian ketika ia berkata.
“Dunia ini merupakan tempat ujian bagi manusia, juga tempat hukuman. Siapa tidak
kuat pasti tergoda dan melakukan perbuatan-perbuatan sesat. Makin besar
penyelewengannya makin besar pula hukumannya. Namun betapapun besar
penyelewengannya, asal orang itu dapat sadar, insaf, dan bertobat kembali ke jalan
benar, dia boleh dibilang manusia berbahagia. Kasihanilah orang yang tidak
menyadari kesalahan sendiri dan terus membuta dan tidak tahu bahwa dia menindak
ke jalan sesat, menganggap diri sendiri baik dan menimpakan semua kesalahan
kepada orang-orang lain. Permusuhan antara Yang Nam dan Wang Sin disudahi
dengan pengikatan jodoh anak-anaknya, itulah baik sekali. Semoga selanjutnya
masing-masing akan dapat bekerja sama demi kebahagiaan orang-orang yang patut
ditolong. Dan kau, Bi Hong. Gurumu To Gi Couwsu adalah suteku sendiri, maka kau
adalah murid keponakanku. Kau sudah membunuh hwesio-hwesio Tibet, akan tetapi
hal ini adalah karena Thu Bi Tan Hwesio dan Ga Lung Hwesio atas kehendak mereka
sendiri telah menyerbu ke Kun-lun dan membunuh Cin Kek Tosu dan Ong Bu Khai.
Maka dengan pembalasan ini, hutang piutang sudah lunas.”
Setelah berkata demikian, kakek ini memandang ke arah para hwesio Tibet dengan
mata berpengaruh. Adapun Bi Hong ketika mendengar bahwa kakek itu adalah
supeknya sendiri lalu memberi hormat.
Dari golongan hwesio yang berkedudukan tinggi, berdiri seorang hwesio yang sudah
tua, bertubuh kurus dan bersikap agung. “Omitohud, apa yang To-yu katakan tiada
salahnya. Baru sekarang pinceng beramai tahu bahwa sute Thu Bi Tan telah
membinasakan orang-orang Kun-lun-pai. Biarlah hutang nyawa, bayar nyawa, semua
sudah ditentukan oleh Karma masing-masing. To-yu suka menghabiskan sampai di
sini saja, pinceng mengucapkan banyak terima kasih.”
Diam-diam To Tek Cinjin kagum sekali dan ia berkata kepada muridnya.
“Yalu Sun, Bi Hong, marilah kau ikut pinto kembali ke Kun-lun-san.” Dua orang
muda itu tidak membantah, setelah berpamitan kepada Ci Ying yang menjadi terharu
sekali. Kedua orang muda itu lalu mengikuti Pek-kong Kiam-sian kembali ke timur.
Koleksi Kang Zusi
Pernikahan dilangsungkan dan semenjak saat itu, terjadi perubahan besar bagi para
budak di Tibet. Kalisang mendapat pangkat di Lasha dan pemerintahan mengeluarkan
undang-undang supaya para tuan tanah lebih memperhatikan nasib para budak.
Adapun Ci Ying, dia bertindak sebagai pemeriksa. Dia berkelana di Tibet untuk
memeriksa apakah perintah ini dijalankan baik-baik oleh para tuan tanah di dusundusun
sehingga nasib para budak agak terjamin.
Akan tetapi usia manusia terbatas. Setelah orang-orang seperti Ci Ying dan Kalisang
meninggalkan dunia ini, siapa lagi yang memperdulikan nasib para budak? Tuan
tanah, mereka mempunyai pegangan sendiri bahwa tanpa memeras para budak,
kekayaan mereka takkan bertambah dengan mudah.
Bagi mereka, mengeluarkan modal setail harus mendapat keuntungan sepuluh tail,
biarpun dengan jalan apa juga, kalau perlu menindas para budak agar mereka bekerja
lebih hebat dengan mendapat upah lebih rendah. Selama sistem tuan tanah dan
perbudakan belum hapus dari muka bumi, selama itu pula nasib para budak, para
buruh tani akan tergencet.
Banyaknya peluh yang keluar dari badan tidak cukup untuk memuaskan dahaga,
untuk mengenyangkan kelaparan, untuk menyelimuti tubuh yang telanjang. Beberapa
puluh tahun kemudian, kembali para budak di Tibet mengalami penindasan, kembali
tuan-tuan tanah menjadi raja kecil dengan begundal-begundalnya berikut pendetapendeta
yang hanya bersih kulit kepalanya, namun kotor hatinya.
Rakyat kecil tetap menderita. Akan tetapi Tuhan bersifat Adil, pasti akan tiba saatnya
si penderita menang, si penindas hancur.
TAMAT
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil