Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 03 Juni 2018

Mestika Golok Naga 2

=====
Sung Hiang Bwee adalah puteri kaisar dari selir yang
ke empat. Seorang gadis berusia delapanbelas tahun
yang cantik jelita seperti bidadari dan sejak kecil puteri ini
telah mempelajari segala macam kesenian, terutama
sekali seni tari. Demikian indah dan pandainya ia menari
sehingga setiap kali kaisar menyambut datangnya tamu
agung sang puteri menerima perintah Ayahnya untuk
memperlihatkan kemahirannya menari.
Karena ia seorang puteri, tentu saja martabatnya tidak
dapat disamakan dengan para penari biasa, dan kalau ia
menari, karena semua orang tahu bahwa ia puteri kaisar,
tidak ada yang berani mengeluarkan kata-kata yang
menyinggung, kecuali tepuk tangan memuji keidahannya
menari.
Banyak sudah para putera bangsawan dan hartawan
yang tergila-gila kepada puteri ini, akan tetapi sang puteri
belum senang bergaul dengan pria. Juga kaisar belum
melihat adanya seorang pemuda yang pantas menjadi
suami puterinya yang cantiê itu, maka sampai berusia
delapanbelas tahun Sung Hiang Âwee masih belum
bertunangan. la tinggal di istana bagian puteri dan
mengajarkan seni tari kepada para puteri istana lain yang
masih kecil, yaitu adik adik dan keponakankeponakannya,
puteri dari para pangeran tua dan muda.
Pada malam itu, setelah puteri mengajarkan tari
kepada para muridnya, la beristirahat di bangunan
tengah ta- man yang indah. Di bangunan terbuka ini ia
merasa sejuk setelah tadi berkeringat mengajarkan tari.
Angin malam yang sejuk seperti mengipasi dirinya
sehingga ia yang duduk di atas bangku menjadi
mengantuk. Dua orang dayang yang melayaninya, duduk
di atas lantai, menunggu sang puteri yang duduk
melenggut.
Tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan dua orang
dayahg itu tiba-tiba merasa tubuh mereka kejang, lalu
lemas dan tahu-tahu mereka telah jatuh pingsan tertotok.
Mendengar suara kedua orang dayang pelayannya
roboh, Sung Hiang Bwee terkejut dan menengok.
la melihat seorang laki-laki berpakaian dan berkedok
hitam sudah berdiri di depannya. Sebelum ia sempat
berteriak, laki-laki itu sudah menotoknya dan iapun roboh
dengan lemas tak ingat apa- apa lagi.
Orang behpakaian dan berkedok hitam itu
mengeluarkan sebuah kantung hitam besar,
memasukkan tubuh sang puteri ke dalam karung sutera
itu, lalu memanggulnya dan sekali berkelebat dia sudah
melayang pergi dengan cepat sekali dari tempat itu.
Tidak ada orang lain melihat àðà yang dia lakukan ini.
Ternyata orang itu adalah Ciang Sun Hok, pengawal
pribadi Perdana Menteri Jin Kui. Dia sudah melakukan
persiapan dengan baiknya, mengenakan pakaian dan
kedok hitam sehingga andaikata ada juga yang
melihatnya, tentu tidak akan mengenalnya. Dia sudah
membuat perhitungan, tahu akan kebiasaan sang puteri
yang setelah melatih tari biasanya memang mencari
angin sejuk di taman itu.
Ìàêà mudah saja dia menculik.puteri itu, dan
sekarang setelah menangkap sang puteri, dia juga
mengambil jalan rahasia yang hanya diketahui oleh para
pengawai istana. Sebentar saja dia sudah keluar dari
daerah istana, menyelinap di antara rumah-rumah orang
dan tanpa ada yang mengetahuinya, dia sudah
melompat naik ke atas atap rumah penginapan An-lok.
Dia memang sudah memesan kepada pemilik rumah
penginapan untuk mendapatkan sebuah kamar paling
belakang dan tidak boleh siapapun juga mendekati
kamar itu.
Dengan jalan melalui jendela, dia memasuki kamar itu,
mengeluarkan sang puteri dari karung sutera dan
merebahkan sang puteri yang masih dalam keadaan
lemas tertotok itu ke atas pembaringan. Sung Hiang
Bwee yang sudah sadar hanya dapat memandang
dengan wajah ketakutan, akan tetapi ia tidak mampu
bergerak atau bersuara. la hanya melihat betapa orang
itu tidak mengganggunya, setelah merebahkan ia di atas
pembaringan, orang berkedok hitam itu lalu
meninggalkan kamar dan menutupkan daun pintunya
dari luar.
Ciang Sun Hok memang keluar untuk mendengarkan
berita. Ternyata sunyi saja, tanda bahwa hilangnya sang
puteri belum diketahui orang dan hatinya merasa lega.
Sekarang tinggal melanjutkan sesuai rencana, yaitu pada
besok pagi-pagi menunggu Menteri Jin Kui yang akan
mengirim para selirnya berpesiar keluar kota raja dan
menyelundupkan sang puteri dalam kereta para selir itu.
Akan tetapi perhitungan rencana siasat yang sudah
diatur sebaiknya itu ternyata tidak memperhltungkan halhal
yang terjadi secara kebetulan. Tanpa mereka duga,
kebetulan sekali Tiong Li yang berada di kota raja malam
itu juga bermalam di hotel An-lok! Kamarnya agak di
belakang dan karena malam itu dia belum tidur, masih
duduk melamun, dia mendengar jejak êàêi di atas
genteng itu, betapapun hati-hati Ciang Sun Hok
berlompatan. Andaikata penculiê itu tidak membawa
beban, belum tentu Tiong Li dapat mendengarkan jejak
kakinya, akan tetapi beban itu cukup be rat dan membuat
kakinya agak berat menginjak atap sehingga terdengar
oleh telinga Tiong Li yang terlatih baik.
Tentu saja Tiong Li menjadi curiga mendengar jejak
kaki di atas genteng itu. Cepat dia lalu berpakaian,
mengenakan sepatu dan tak lama kemudian dia sudah
melompat naik ke atas atap rumah. Sunyi saja di atas
rumah itu dan mulailah Tiong Li mengintai ke kamarkamar
belakang.
Dan di kamar paling belakang itulah dia melihat
seorang gadis sedang rebah telentang, tidak bergerak
sama sekali, hanya matanya saja yang memandang ke
sana sini dengan ketakutan. Sekali pandang saja dia
sudah dapat menduga bahwa gadis itu rebah secara
tidak wajar dan mungkin sekali dalam keadaan tertotok.
Maka, setelah membongkar jendela dengan mudahnya,
dia melompat ke dalam kamar.
Sung Hiang Bwee terkejut, sekali melihat seorang
pemuda berpakaian putih tiba-tiba meloncat masuk darl
jendela. la terbelalak akan tetapi pemuda itu menaruh
telunjuk di depan, mulut dan berbisik,
"Jangan takut, nona. Aku datang untuk menolongmu!"
Setelah berkata demlklan, dia menotok jalan darah di
tubuh gadis itu. sehingga Hiang Bwee dapat bergerak
lagi. Akan tetapi karena sudah mendapat isyarat, ia tidak
berteriak.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan masuklah Ciang
Sun Hok yang masih berkedok. Dia terkejut dan heran
melihat seorang pemuda berpakaian putih sudah berada
di kamar dan sang puteri sudah dapat duduk di
pembaringan. Tahu lah dia bahwa pemuda itu yang
menolongnya, maka tanpa banyak cakap lagi dia
menyerang Tiong Li dengan pukulan dahsyat.
Ciang Sun Hok adalah seorang jagoan yang lihai
sekali, memiliki tenaga yang amat kuat. Pukulan yang
ditujukan ke arah Tiong Li mendatangkan angin berdesir
keras.. Akan tetapi dengan tenang sekaii Tiong Li
menangkis pukulan itu dengan lengannya.
" Dukk ........ "
Dua lengan bertemu dan Ciang Sun Hok terkejut
sekali, merasa seperti bertemu dengan lengan yang amat
lunak sehingga tenaganya lenyap begitu bertemu dengan
lengan itu! .
Dia melompat ke samping lalu menyerang lagi dengan
pukulan yang lebih hebat, sekali ini dia memukul dengan
jari tangan terbuka, seperti orang mendorong. Inilah jurus
"Mendorong Kereta Emas" sebuah pukulan yang disertai
tenaga sln-kang yang kuat sekali.
Melihat ini, Tiong Li juga mendorongkan tangan
kanannya sehingga kedua telapak tangan bertemu di
udara.
" Desss ....... " Sekali ini Ciang Sun Hok merasa
betapa telapak tangannya bertemu dengan dinding baja
yang amat keras dan akibatnya, dia terdorong ke
belakang sampai menabrak dinding.
Pengawal Itu terkejut sekali dan maklumlah dia bahwa
lawannya amat tangguh. Dia khawatir bahwa suara
gaduh perkelahian itu akan terdengar orang dan
rahasianya akan terbuka, maka tanpa bicara apa-apa lagi
tubuhnya menyelinap keluar dari pintu kamar itu, pergi
melarikan diri. Lebih baik pergi sekarang sebelum
terbuka kedoknya!
Tiong Li tidak mengejar, melainkan menoleh kepada
gadis yang duduk ke takutan di atas pembaringan itu.
"Nona siapakah dan àðà yang telah terjadi ? Siàðà
pula si kedok hitam itu?"
"Terima kasih atas pertolonganmu, tai-hiap. Aku
bernama Sung Hiang Bwee, seorang puteri istana. Tadi
ketika berada di taman istana, muncul si kedok hitam itu
membuatku pingsan dan membawaku ke tempat ini. Aku
tidak tahu siàðà dia dan mengapa dia menculikku."
Tiong LI terkejut sekali dan sejenak dia hanya dapat
menatap wajah yang cantik jelita itu. Pantas demikian
cantik dan pakaiannya demikian indah, pikirnya. Kiranya
seorang puteri Kaisar
"Maafkan saya, nona. Saya tidak tahu bahwa ïîëà
seorang puteri istana !" katanya sambil memberi hormat.
"Sudahlah, dalam keadaan begini tidak perlu bersikap
sungkan," kata Hiang Bwee. "Engkau telah
menyelamatkan aku dari penculikan, tolonglah antar aku
pulang ke istana !"
"Baik, tuan puteri," kata Tiong Li dengan siêàð hormat.
Sementara itu, Ciang Sun Hok melarikan diri dari
hotel, langsung menghadap Perdana Menteri Jin Kui
untuk melaporkan kegagalannya karena munculnya
seorang pemuda baju putih di dalam kamar hotel di mana
dia menyekap puteri Sung Hiang Bwee.
Mendengar ini, Jin Kui menjadi marah.
"Apakah mungkin pemuda itu yang telah
menyebabkan tewasnya Hak Bu Cu?"
"Mungkin sekali, tai-jin. Ilmu silatnya sungguh hebat
sekali dan karena saya khawatir kalau keributan itu
menarik perhatian banyak orang, terpaksa saya
menlnggalkan pergi sebelum ada orang datang."
"Tentu puteri itu akan diantar pulang ke istana. Biar
aku sendiri membawa pasukan menghadangnya " kata
Jin Kui yang merasa penasaran sekali karena
rencananya gagal.
Dia lalu membawa dua losin pengawal, diikuti pula
oleh jagoan Ciang Sun Hok untuk menghadang
perjalanan pulang puteri Sung Hiang Bwee.
Demikianlah, ketika Tiong Li mengantar sang puteri
kembalI ke istana dengan berjalan kaki, mereka berdua
bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Perdana
Menteri Jin Kui.
"Tangkap penculik!" teriak sang perdana menteri.
Ciang Sun Hok dan para pengawal sudah mengepung
Tiong LI dengan siêàð mengancam.
"Tahan ......... !"
Seru puteri Sung Hiang Bwee sambil mengangkat
tangan ke atas.
"Jin-taijin harap jangan salah sangka. Pemuda ini
sama sekali tidak menculikku, bahkan dia yang
membebaskan aku dari tangan penculik! Kalau kalian
mengeroyok dan mencelakai dia, aku akan melapor
kepada ayahanda Kaisar!"
Gertakan ini mengena. Jin Kui segera memberi abaaba
agar pasukannya mundur.
"Ah, begitukah? Kalau begitu kami salah sangka.
Siapakah namamu, orang muda?"
"Nana saya Tan Tiong Li, taijin,"! jawab Tiong Li
dengan hormat. "Kebetulan saja saya membebaskan
sang puteri dari tangan penculik dan saya memenuhi
perintah sang puteri untuk mengantarkannya pulang ke
istana."
"Bagus, jasamu akan dicatat, Tiong Li. Sekarang
pergilah dan serahkan sang puteri kepada kami. Kami
yang akan mengantarkannya pulang ke istana."
"Baiê, tai-jin."
"Tidak, Jin-taijin. Saya ingin m¸ngajak penolong saya
ini ke istana dan melaporkan tentang jasanya kepada
àóàhanda kaisar !" kata puteri itu dan terpaksa Jin Kui
tidak dapat membantah. Maka, bersama pasukannya dia
lalu mengawal kedua orang itu memasuki istana .
Malam itu juga kaisar menerima puterinya yang
dikawal Tiong Li. Kaisar marah sekali ketika mendengar
bahwa puterinya diculik orang. Jin Kui yang ikut
menghadap segera mendahului,
"Tidak salah lagi, Yang Mulia. Ini pasti perbuatan
kaum pemberontak laknat itu!"
"Benar, kita harus hancurkan pemberontakpemberontak
itu. Kalau tidak, tindakan mereka akan
menjadi semakin- kurang ajar!"
Kaisar lalu memandang kepada Tiong Li, "Siapakah
namamu, orang muda?"
"Nama hamba Tan Tiong Li, Yang Mulià."
"Tiong Li, jasamu besar sekali telah menyelamatkan
puteri kami. Karena itu, kami hendak menghadiahkan
pangkat perwira pengawal kepadamu."
"Ampun beribu ampun,Yang Mulia. Banyak terlma
kasih atas anugerah yang paduka berikan kepada
hamba. Akan tetapi hamba minta waktu, Yang Mulia
pada saat ini hamba masih mempunyai banyak urusan
pribadi yang harus diselesaikan, maka perkenankan
hamba menyelesaikan urusan pribadi lebih dahulu,
barulah kelak hamba akan menaati perintah paduka. "
"Hemm, baiklah. Kalau engkau sudah selesai dengan
urusanmu, datanglah menghadap kepada kami dan kami
akan memberi anugerah pangkat kepadamu."
Setelah mendapat perkenan dari Kaisar, Tiong Li lalu
meninggalkan istana Akan tetapi ketika dia sudah tiba di
ruangan paling depan, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Tan-taihiap .......... !"
Tiong Li menengok dan alangkah herannya melihat
bahwa yang memanggiInya itu adalah sang puteri, Sung
Hiang Bwee. Tentu puteri itu telah mengambil jalan
pintas maka dapat mendahuluinya tiba di ruangan luar
itu.
"Tuan Puteri .........." Dia memberi hormat.
"Ah, Tai-hiap, jangan menyebutku tuan Puteri.
Namaku Sung Hiang-Bwee," kata puteri itu dengan
ramah dan manis .
"Eh, nona Sung Hiang Bwee ........ "
"Hah, begitu lebih akrab, bukan Tai-hiap, kenapa
engkau menolak pemberian pangkat oleh ayahanda
kaisar? Akti ingin sekali engkau menerimanya sehingga
engkau dapat tinggal di istana, menjadi pengawal dan
kita dapat setiap saat saling berjumpa....."
"Saya belum siap untuk menjadi pengawal, nona.
Saya masih mempunyai banyak urusan pribadi dan
masih ingin bebas dari ikatan pekerjaan."
"Akan tetapi, tai-hiap, kalau engkau pergi, sampai
kapan kita akan dapat saling bertemu kembali?" gadis itu
bertanya, suaranya terdengar penuh kecewa dan
penyesalan.
"Sekali waktu kita tentu akan dapat bertemu kembali,
nona. Setelah saya merasa bahwa saatnya tiba, saya ten
tu akan menghadap Sribaginda Kaisar kembali untuk
membantu beliau."
"Benarkah, tai-hiap? Saya akan selalu menanti
kedatanganmu. Saya akan merasa kehilangan sekali
kalau taihiap tidak segera datang kembali. Selamat
Jalan, tai-hiap."
"Selamat tinggal, nona."
Mereka berpisah karena sudah nampak beberapa
orang dayang dan pengawal memandang mereka dari
kejauhan dengan sinar mata heran. Dan diam-diam
Tiong Li merasa heran akan sikap gadis puteri kaisar itu.
Kenapa sikapnya demikian ramah dan akrab? Apakah
karena merasa telah ditolongnya? Dia merasa tidak enak
sendiri. Hiang Bwee adalah puteri kaisar, dan dia hanya
seorang pemuda miskin putera petani dan pemburu
sederhana. Agaknya tidak pantas kalau mereka
bersahabat.
Tiong Li sama sekali tidak tahu bahwa ketika dia
bercakap-cakap dengan Hiang Bwee tadi, terdapat
sepasang mata yang mengintai dengan sinar mata
mencorong penuh iri hati dan kemarahan. Mata itu
adalah mata Jin Êiat! .
Sebetuliya, sudah lama Jin Kiat tergila-gila kepada
Hiang Bwee dan beberapa kali dia dengan jelas
menyatakan perasaan hatinya kepada gadis itu. Akan
tetapi Hiang Bwee tidak menanggapinya, bahkan
membelakanginya, tidak perduli bahkan kelihatan tidak
suka kepadanya. Êarena itu, untuk membalas sakit
hatinya, dia mengusulkan kepada ayahnya agar menculik
dan menyerahkan gadis itu kepada Wu Chu, panglima
Kin itu.
Akan tetapi, penculikan itu digagalkan seorang
pemuda dan kini dia melihat dengan mata kepala sendiri
betapa Hiang Bwee bercakap-cakap dengan pemuda itu,
dengan sikap demikian mesra. Hati siapa takkan menjadi
panas dan cemburu ?
0oo-dw-oo0
Jin Kiat mengerahkan pasukan untuk melakukan
pengejaran terhadap Tiong Li.Akan tetapi dia tidak berani
turun tangan di kota raja. Tiong Li baru saja akan
dihadiahi pangkat oleh kaisar. Kalau dia menyerangnya,
maka tentu kaisar yang berterima kasih kepada pemuda
itu menjadi tidak senang kepadanya. Dia hanya
membayangi dengan dua losin pasukan dan ditemani
pula oleh seorang ,yang berusia enampuluh tahun, tinggi
kurus dengan muka seperti tengkorak.
Itulah Tang Boa Lu, Manusia Tengkorak, guru dari
mendiang Hak Bu Cu. Manusia Tengkorak ini yang
dahulu bersama Hak Bu Cu telah menyerang Ðåê Hong
San jin sehingga mengakibatkan tewasnya hwe-shiî
pertapa di Liong San itu.
Tang Boa Lu ini memang diperbantu kan kepada
Perdana Menteri Jin Kui oleh pang lima Bangsa Kin yaitu
Wu Chu. Melihat sepak terjang Tiong Li, Jin Kiat
menduga bahwa agaknya pemuda yang lihai inilah yang
telah menyelamatkan Hiang Bwee dari penculikan, yang
dulu pernah mengalahkan dan mengakibatkan kematian
Hak Bu Cu.
Menurut para pengawal, pemuda yang mengalahkan
Hak Bu Cu dan menyebabkan Hak Bu Cu tewas di
tangan Ban-tok Sian-li, adalah seorang pemuda yang
terlalu cepat gerakannya sehingga tidak dapat dikenali
wajahnya, akan tetapi para pengawal itu mengetahui
bahwa pemuda itu lihai bukan main. Dan pemuda yang
menolong Hiang Bwee inipun amat lihai sehingga jagoan
istana Ciang Sun Hok tidak mampu menandinginya.
Inilah sebabnya ketika melakukan pengejaran, dia
mengajak Tang Boa Lu. Dan Manusia Tengkorak ini pun
ikut dengan penuh semangat ketika diberitahu bahwa
mungkin pemuda yang dikejarnya itu yang telah
menewaskan Hak Bu Cu, muridnya.
Betapa senang rasa hati Jin Kiat, ketika dia melihat
Tiong Li pergi ke rumah penginapan An-lok untuk
mengambil pakaiannya dan membayar sewa kamar,
kemudian pemuda itu langsung saja pergi keluar dari
kota raja. melalui pintu selatan.
Terbukalah kesempatannya untuk menyerang dan
membunuh pemuda itu! Mereka segera melakukan
pengejaran dan setelah tiba di tempat yang sunyi, cukup
jauh dari pintu gerbang selatan, Jin Kiat dan Tang Boa
Lu membawa dua losin pasukan itu menyusul dan
mengepung Tiong Li.
"Berhenti!" bentak Jin Kiat sambil mencabut
pedangnya.
Dihadang dan dikepung duapuluh enam orang itu,
Tiong Li bersikap tenang saja, àðà lagi ketika melihat
ðàêà ian para anak buah pasukan itu adalah ðàêàian
perajurit; Kerajaan Sung. Baru saja dia hendak diangkat
perwira oleh kaisar, maka tentu saja kini dia tidak
berprasangka buruk terhadap pasukan Sung.
"Ciang-kun," katanya kepada Jin Kiat yang berpakaian
panglima. "Ada keperluan apakah ciang kun menyusul
saya? Apakah ada perintah dari Sribaginda Kaisar-?"
"Benar, Sribaginda Kaisar mengutus kami untuk
menangkapmu!" bentak Jin Kiat.
Tentu saja Tiong Li merasa terkejut sekali mendengar
ucapan yang ketus ini. Dia mengerutkan alisnya dan
bertanya, "Àðà kesal ahanku?"
"Kesalahanmu sudah jelas! Engkau s¸îãàng
pemberontak! Engkau membantu dua orang wanita
pemberontak melawan pasukan pemerintah. Engkau
harus ditangkap!"
Tiong Li teringat akan pertempurannya ketika dia
membantu Ban-tok Sian Li dari The Siang Hwi, dan
tentang pertandinqannya melawan Si Golok Naga.
"Hemm, kalau benar Sribaginda Kaisar
memerintahkan untuk menangkap aku, Coba perlihatkan
surat perintahnya " Dia merasa curiga.
"Tidak perlu surat perintah! Engkau menyerah atau
kami akan menggunakan kekerasan membunuhmu!"
bentak Jin Kiat.
"Kukira tidak akan semudah itu, sobat! Tanpa surat
perintah Kaisar, aku tidak akan menyerah!"
Mendengar ini, Jin Kiat lalu båãseru keras, "Serang!
Bunuh!!"
Jin Kiat sendiri sudah menggerakkan pedangnya
menyerang Tiong Li sedangkan Si Muka Tengkorak juga
sudah menggerakkan kedua tangannya memukul dari
jarak jauh.
Melihat Si Muka Tengkorak, walaupun kini
mengenakan pakaian panglima, Tiong Li tiba-tiba
teringat. Orang inilah yang dulu bersama Si Golok Naga
mengeroyok suhunya, Ðåê Hong San-jin! Kini
mengertilah dia m¸ngapa kelompok pasukan ini, yang
dipimpin oleh pemuda tampan dan Si Muka Tengkorak,
menghadangnya dan hendak menangkapnya.
Tentu Si Muka Tengkorak itu akan membalaskan
kematian Si Golok Naga!
0oo-dw-oo0
Jilid V
Dengan mudah dia mengelak dari sambaran pedang
Jin Kiat, akan tetapi ketika pukulan jarak jauh dari Muka
Tengkorak itu melandanya, dia terkejut. Kiranya tenaga
Si Muka Tengkorak ini luar biasa kuatnya, maka tidak
heran ketika dahulu dia terkena pukulan jarak jauh itu,
dia sampai pingsan dan Ðåê Hong San-jin sampai terluka
parah yang menyebabkan kematiannya.
Cepat dia mengerahkan tenaga Jian-kin-lat (Tenaga
Seribu Kati) untuk melawan hantaman itu dan ketika
kedua tangan bertemu, keduanya terdorong mundur,
tanda bahwa tenaga yang terkandung dalam dorongan
dan tangkisan itu seimbang kekuatannya.
Si Muka Tengkorak yang menjadi heran dan terkejut
bukan main. Kini diapun teringat setelah memandang
wajah Tiong Li. Tidak salah lagi, pemuda ini adalah
pemuda remaja belasan tahun yang dulu pernah
dilihatnya di Pek-hong San-êîê, murid daãi Ðåê Hong
San-jin.
Dahulu, ketika baru berusia limabelas tahun saja
sudah mampu menandingi Hak Bu Cu, dan sekarang
ternyata telah memiliki tenaga sinkang yang mampu
menandingi pukulan Angin Badai yang tadi dia lontarkan!
"Kau ..... ?" bentaknya. "Kau murid Ðåê Hong San-jin?
Engkau yang telah membunuh muridku?"
"Hemm, kiranya engkau Si Muka Tengkorak yang
dahulu datang bersama Si Golok Naga! Benar aku yang
merobohkan muridmu, dia jahat sekali. Habis engkau
mau àðà!? Bagaimana engkau dapat bergabung dengan
pasukan kerajaan?"
Mendengar percakapan itu, Jin Kiat sudah membentak
dan memerintahkan anak buahnya, "Cepat, serang dan
bunuh pemuda pemberontak ini "
Dan Tiong Li sudah diserang dari semua jurusan.
Karena lawannya yang mengeroyok amatlah banyaknya,
Tiong Li lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh
Jouw-sang-hui dan tubuhnya berkelebatan seperti
berubah menjadi bayang-bayang menghindarkan semua
senjata yang menyambar ke arahnya.
Pada saat itu terdengar sorak sorai dan muncullah
duapuluh orang yang berpakaian seperti petani, dipimpin
seorang pemuda tinggi besar yang gagah perkasa.
Pemuda ini bersenjatakan sepasang kapak dan begitu
terjun ke pertempuran, pemuda itu sudah merobohkan
dua orang yang mengeroyok Tiong Li.
Melihat ini, Jin Kiat dan para perajurit menyambut dan
terjadilah pertempuran sengit, sedangkan Si Muka
Tengkorak bertanding melawan Tiong Li.
"Bunuh para pemberontak !"
Jin Kiat berseru nyaring, akan tetapi hatinya gentar
sekali ketika dia mengenal pemuda tinggi besar
bersenjatakan sepasang kapak itu. Pemuda itu bukan
lain adalah Gak Liu, putera mendiang Jenderal Gak Hui
yang semenjak kematian ayahnya, tetap melanjutkan
perjuangan menghimpun tenaga rakyat dan kadang juga
menentang pasukan Sung sendiãi kalau melihat pasukan
itu melakukan pe- nindasan terhadap rakyat jelata!.
Ketika tadi Gak Liu melihat Jin Kiat dan Orangorangnya
mengeroyok serang pemuda, tidak sukar
baginya untuk membantu pemuda itu karena dia tahu
siàðà Jin Kiat. Putera Perdana Menteri ini sudah berbuat
dosa yang tak terhitung banyaknya. Terutama sekali
merampas dan menodai wanita-wanita, baiê yang sudah
bersuami maupun gadis-gadis yang dipaksanya,
mengandalkan kedudukan, harta benda dan kekuatan.
Gak Liu memang membenci sekali putera Perdana
Menteri ini, sebagai putera musuh besarnya dan dia
segera mengamuk dengan kapaknya, mendekati Jin Kiat.
Jin Kiat mengamuk dengan pedangnya dan dia
mencari jalan untuk meloloskan diri. Setelah merobohkan
dua orang pengikut Gak Liu, dia melompat ke luar dari
pertempuran dan hendak melarikan diri. Memang Jin Kiat
ini mempunya i watak pengecut. Melihat Si Muka
Tengkorak belum juga dapat menang melawan pemuda
itu, dan kemudian melihat Gak Liu, dia menjadi ketakutan
dan ber usaha meloloskan diri.
Akan tetapi dengan tiga kali lompatan jauh, Gak Liu
sudah dapat menghadangnya. Kedua tangannya
memegang kapaknya yang berlumuran darah dan
wajahnya yang gagah itu nampak bengis sekali sehingga
Jin Kiat menjadi semakin jerih.
"Gak Liu, minggir kaul Apakah engkau ingin dlhukum
mati pula seperti ayahmu!"
Bentakan ini sungguh salah alamat. Gak Liu tidak
menjadi takut atau mundur mendengar bentakan ini,
bahkan amarahnya màêin berkobar.
"Jahanam busuk, engkaulah yang akan menerima
hukuman mati dari ku!"
Dia menyerang dengan sepasang kapaknya dan Jin
Kiat terpaksa melayaninya bertanding.
Pertandingan mati-matian karena keduanya mengerti
bahwa siapa yang kalah tidak akan lolos dari maut. Jin
Kiat mengerahkan seluruh tenganya dan mengeluarkan
semua iImu pedangnya untuk memenangkan
pertandingan itu.
Sementara itu, rombongan perajurit itu mendapat
serangan hebat dari para pejuang sehingga mereka
terdesak. Juga pertandingan antara Tang Boa Lu dengan
Tiong Li berlangsung tidak seim bang lagi.
Betapapun lihainya Si Muka Tengkorak, namun
menghadapi Tiong Li akhirnya dia kewalahan juga. Àðà
lagi ketika Tiong Li memainkan ilmu silat Ngo-heng-lianhoan-
kun, dia menjadi repot sekali.
Dalam hal tenaga sinkang, dia juga tidak mampu
menandingi pemuda itu. Setelah bertanding lewat
limapuluh jurus, Si Muka Tengkorak mulai terengahengah
dan mandi keringat. Terlalu banyak tenaga yang
dia kerahkan. Padahal, lawannya masih nampak segar
dan bahkan makin lama tenaganya menjadi semàkin
kuat. Tahulah Tang Boa Lu bahwa kalau dia nekat
melanjutkan pertandingan itu, dia akan menderita
kekalahan.
Dia tidak mau nekat mengadu nyawa karena dia
hanya menjadi orang yang diperbantukan kepada
Perdana Menteri Jin Kui. Untuk àðà dia membela Jin Kiat
sampai mati? Melihat pemuda itu terus mendesaknya,
dia mengerahkan tenaga terakhir dan mengirim pukulan
jarak jauh sambil mengeluarkan bentakan dahsyat.
Kembali dia telah mengirim dengan pukulan jarak jauh
yang bernama ilmu pukulan Angin Badai !.
Akan tetapi sekali ini Tiong Li tidak mau memberi hati
kepadanya. Dia sudah menyambut pukulan itu dengan
Tal lek-kim-kong-jiu! Dua tenaga sakti bertemu di udara
menggetarkan bumi di sekitarnya dan akibatnya tubuh Si
Muka Tengkorak terpental dan jatuh bergulingan, dari
mulutnya keluar darah segar tanda bahwa dia telah
terluka dalam!
Dia tahu akan bahaya, maka tubuhnya bergulingan
terus, lalu dia melompat Jauh dan melarikan diri. Tiong Li
tidak mengejarnya. Biarpun Si Muka Tengkorak itu yang
menyebabkan kematian suhunya, namun dia tidak
mendendam, sesuai dengan ajaran mendiang Ðåê Hong
San-jin. Dia hanya membantu para pejuang yang
menghadapi para perajurit.
Tinggal enam orang perajurit yang masih melawan
dan melihat keadaan mereka demikian terdesak, enam
orang ini lalu melarikan diri cerai berai tanpa pimpinan
lagi.
Cuma tinggal Jin Kiat kini yang masih melawan Gak
Liu mati-matian. Dia tidak mempunyai kesempatan untuk
melarikan diri lagi karena sepasang kapak di tangan Gak
Liu mendesaknya dengan hebat.
Wajah Jin Kiat sudah menjadi pucat hatinya diliputi
ketakutan yang amat sangat. Si Muka Tengkorak sudah
melarikan diri, semua anak buahnya juga sudah tewas
atau lari, tinggal dia sendiri. Akan tetapi Gak Liu juga
tidak mengandalkan kawan-kawannya. Dia melarang
anak buahnya yang hendak mengeroyok.
"Biarkan aku menghadapinya sendiri!" teriaknya ketika
ada yang hendak membantunya.
Para anak buahnya tidak berani maju dan hanya
menjadi penonton sambiI mengepung tempat itu. Tentu
saja Jin Kiat makin tak dapat lolos karena pengepungan
itu, maka diapun melawan dengan nekat dan matimatian.
Dia mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya untuk
melawan, akan tetapi sepasang kapak di tangan Gak Liu
itu hebat bukan main, seperti sepasang naga berebut
mestika, menyambar-nyambar dari segala jurusan.
"Singggg ...... tranggg ....!!"
Pedang yang menyambar itu ditangkis oleh sepasang
kapak yang menjepitnya dan pedang itu patah menjadi
dua! Sebuah tendangan kaki Gak Liu membuat Jin Kiat
jatuh tersungkur. Kini Jin Kiat tidak dapat lagi menahan
rasa takutnya. Dia merangkak dan berlutut mengangkat
kedua tangannya ke atas dan minta-minta ampun.
"Hemm, ingat engkau ketika para gadis dan wanita itu
minta-minta ampun kepadamu? Apakah engkau
mengampuni dan melepaskan mereka! Engkau malah
menertawakan mereka. Rasakan ini!" Kapak itu
menyambar dan mengenai kepala Jin Kiat yang seketika
roboh terpelanting dengan kepala pecah.
"Ini untuk hukumanmu.
Terimalah ini, dan ini, dan
ini ...! "
Kedua kapak itu bertubitubi
menghantami tubuh
yang sudah tidak
bernyawa lagi Itu. Di
antara anak buah Gak Liu
yang memaling kan muka
karena tidak tahan melihat
peristiwa yang mengerikan
itu. Agaknya Gak Liu
melampiaskan semua
dendam atas kematian ayah dan saudara-saudaranya'
dan melampiaskan amarahnya kepada putera perdana
Menteri Jin Kui yang dibencinya itu.
Tiba-tiba kapaknya tertahan di udara. Ada orang yang
memegangi kedua lengannya dan dia tidak mampu
menggerakkan tangan lagi walaupun dia sudah
mengerahkan tenaga! Gak Liu terkejut dan menoleh.
Ternyata yang menahan kedua tangannya adalah
pemuda yang tadi bertanding dengan Si Muka
Tengkorak.
"Sudah cukup, twa-ko. Menyiksa tubuh yang sudah
menjadi mayat dan yang tak dapat melawan lagi
bukanlah perbuatan seorang gagah, melainkan
perbuatan seorang yang gila karena dendam."
Mendengar perkataan itu, Gak Liu menurunkan kedua
kapaknya dan memandang kepada Tiong Li penuh
perhatian, lalu dia memandang kepada mayat Jin Ki at
yang hancur, kemudian menghela na- pas panjang.
"Engkau benar, sobat,"
Lalu dia memerintahkan semua anak buahnya untuk
mengubur semua jenazah, bukan hanya jenazah temanteman,
akan tetapi juga jenazah semua perajurit
termasuk jenazah Jin Kiat.
Kemudian dia mengajak Ti ong Li duduk di bawah
pohon untuk bercakap-cakap dan berkenalan,
"llmu silatmu hebat sekali, sobat muda. Siapakah
namamu dan bagaimana engkau tahu-tahu dapat
dikeroyok oleh Jin Kiat dan anak buahnya?"
"Nama saya Tan Tiong Li, dan sebelum saya
menceritakan mengapa saya diserang mereka, lebih dulu
saya ingin tahu siapakah twa-ko yang gagah perkasa
ini?"
"Hemm, namaku Gak Liu."
"She Gak? Mengingatkan aku akan Jenderal Gak
Hui," kata Tiong Li lebih ramah karena melihat Gak Liu
juga ramah kepadanya.
"Mendiang Jenderal Gak Hui adalah ayahku."
Tiong Li terkejut dan cepat bangkit lalu memberi
hormat.
"Ah, kirariya putera mendiang Jenderal Gak Hui yang
amat terkenal gagah perkasa dan budiman itu!? Maafkan
kalau saya bersikap kurang hormat!"
Gak Liu menghela napas panjang, "Aihhh, mendiang
ayahku memang seorang gagah perkasa dan budiman.
Akan tetapi aku .......aku hanya seorang pejuang biasa
yang kadang naik darah, sama sekali tidak budiman. Aku
tidak mau membonceng ketenaran nama ayahku.
Saudara Tiong Li, aku melihat IImu silatmu tinggi sekali.
Bagaimana sampai engkau tadi dikeroyok oleh iblis kecil
putera Perdana Menteri Jin Kui itu?"
Kembali Tiong Li terkejut, Dia sudah lama mendengar
nama Perdana Menteri Jin Kui yang dibenci, banyak
orang dan dimaki sebagai seorang menteri durna yang
menghasut dan membujuk Kaisar sehingga mau
mengalah terhadap Bangsa Kin, Jadi pemuda yang
dibantai tadi adalah putera Menteri Jin Kui itu? Kini
mengertilah dia. Dia sudah mendengar bahwa kematian
Jenderal Gak Hui adalah gara-gara Perdana Menteri Jin
Kui. Jadi sekarang putera Jenderal Gak Hui membuat
pembalasan terhadap putera Perdana Menteri Jin Kui!
"Hemm, kiranya dia itu putera Perdana Menteri Jin
Kui? Pantas engkau begitu membencinya, Gak-twako,
tentu karena dendam."
"Bukan hanya dendam, Tan-te (adik Tan), akan tetapi
pemuda itu memang seorang yang tidak kalah jahat dari
ayahnya. Dia suka mempermainkan wanita dan diapun
menindas rakyat yang tidak mau menjilat-jilat kepadanya.
Dia sudah pantas mati seperti itu. Lalu bagaimana
engkau sampai dimusuhi olehn dia?"
"Aku sendiri tidak tahu dengan jelas, twa-ko. Aku
pernah menolong seorang puteri kaisar yang diculik
penjahat. Aku mengantarnya pulang ke istana. Kaisar
hendak memberi anugerah pangkat, akan tetapi aku
tidak mau dan aku pergi meninggalkan istana. Eh, tahutahu
di sini dikejar oleh rombongan itu dan pemuda tadi
mengatakan bahwa dia diperintah oleh kaisar untuk
membunuhku dengap alasan bahwa aku seorang
pemberontak. Aku minta tanda perintah kaisar, akan
tetapi dia tidak dapat membuktikannya maka aku
melawan ."
"Hemm, bedebah itu! Sama dengan ayahnya.
Menggunakan nama Kaisar yang lemah untuk menuduh
semua orang pemberontak. Tan-te, engkau seorang
yang berilmu tinggi, marilah engkau bergabung dengan
kami!"
"Maaf, Gak-twako. Aku setuju sekali dengan
perjuangan rakyat menentang Kerajaan Kin dari utara
dan usaha untuk mengusir mereka dari tanah air. Akan
tetapi akupun setia kepada Kerajaan Sung dan
karenanya aku tidak suka memusuhi Kaisar yang harus
kubela. Aku amat setuju dengan siêàð dan tindakan
mendiang Jenderal Gak, ayahmu sendiri."
"Aaahh, itu merupakan suatu titik kelemahan! Karena
kekerasan hatinya mempertahankan kelemahan itulah
ayah sampat diracuni dan menemukan kematian nya
secara menyedihkan sekali. Tidak, Tan-te, sikap itu
keliru. Musuh besar kita memang Bangsa Kin yang harus
kita usir dari tanah air, akan tetapi banyaê sekali pejabat
korup dan penindas rakyat, pejabat yang pada lahirnya
saja setia kepada kaisar akan tetapi pada dasarnya
hanya mencari keuntungan sendiri, pejabat demikian itu
malah melemahkan kerajaan dan perlu dibasmi.
Kerajaan perlu dibersihkan dari para pejabat semacam
itu ! "
"Akan tetapi itupun merupakan pemberontakan karena
mereka adalah pejabat pemerintah. Kecuali urusan
pribadi, maka tidak akan melibatkan pemerintah. Kalau
sudah merupakan permusuhan terbuka dengan pasukan
mereka itu merupakan pemberontakan. Pantas saja
kalian dianggap pemberontak."
Gak Liu tertawa. "Íà-ha-ha, engkau masih hijau dalam
hal perjuangan, Tan-te. Nanti kalau engkau sudah
mengalami sendiri, àðà lagi kalau sudah bentrok dengan
Perdana Menteri Jin Kui, baru engkau mengerti àðà yang
kumaksudkan dengan membasmi para pejabat korup dan
jahat,"
"Maaf, Gak-twako. Aku sendiri biarpun bersimpati
kepada para pejuang, belum ingin melibatkan diri. Aku
hanya ingin melangkah sebagai seorang pendekar yang
membela kebenaran dan keadilan, melindungi mereka
yang tertindas dan menentang mereka yang melakukan
ke kerasan untuk memaksakan kehendaknya."
"Baiklah, Tan-te. Aku yakin akhirnya engkau akan
bergabung juga dengan para pejuang."
Mereka lalu berpisah dan Tiong Li memandang
kepergian orang gagah itu bersama anak buahnya
dengan termenung. Dia sudah banyak mendengar dari
para gurunya tentang Jenderal Gak Hui, dan dia melihat
betapa Gak Liu itupun memiliki kegagahan yang
mengagumkan. Kalau para pejuang seperti Gak Liu itu
pendiriannya, agaknya Bangsa Kin akan dapat diusir
keluar dari tanah air.
Sayang, Kaisar memang lemah dengan adanya
banyak pejabat macam Jin Kui yang mempe ngaruhlnya.
0oo-dw-oo0
Si Muka Tengkorak melarikan diri kembali ke gedung
Perdana Menteri Jin Kui membawa luka dalam dan
membawa berita buruk. Dia masih sempat mengintai
ketika Jin Kiat terbunuh oleh Gak Liu dan dia bergegas
kembali ke rumah Perdana Menteri Jin Kui untuk
melapor.
Sepasang mata sipit yang biasanya bergerak cepat
dengan cerdiknya Itu kini terbelalak, mukanya sebentar
pucat Sebentar merah ketika dia mendengar laporan
tentang kematian puteranya.
"Apa ....... ? Gak Liu membunuh Jin Kiat puteraku?
Celaka......! Jahanam betul ! Ahhhhh ... "
Hampir gila Jin Kui dibuatnya karena marah dan sedih
hatinya. Dia berjalan hilir mudik di ruangan itu, sebentar
mengepal tinju, sebentar menangis seperti orang gila.Dia
segera mengumpulkan semua orang kepercayaannya
untuk diajak berunding.
Ciang Sun Hok, jagoan yang dipercaya itu, lalu Kui To
Cin-jin yang menjadi guru Jin Kiat, Ma Kiu It panglima
pengawal Jin Kui, dan Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak
hadir sambil menundukkan muka karena maklum bahwa
majikan mereka sedang marah dan berduka.
"Celaka....! Mereka membunuh anak ku! Àðà yang kita
perbuat sekarang?" Berulang kali Jin Kui berteriak dan
akhirnya Kui To Cin-jin memberanikan dirinya untuk
bicara.
"Tai-jin, karena jelas bahwa pembunuhnya adalah Gak
Liu, maka kita kerahkan pasukan untuk mencari dan
menangkap pemberontak itu."
"Akan tetapi semua ini gara-gara puteri selir itu!, Kalau
Jin Kiat tidak mengejar pemuda bernama Tan Tiong Li itu
tentu dia tidak akan tewas di tangan Gak Liu. Puteri selir
itu harus tetap ditangkap dan terutama Tiong Li itu harus
dapat dibunuh!"
Kui To Cin-jin berkata,
"Maaf,Tai-jin. Untuk menghadapi Tan Tiong Li tidaklah
mudah. Saya sendiri sudah merasakan ? kehebatan ilmu
kepandaiannya .seorang pemuda sakti. Karena itu, kalau
tai-jin setuju, saya akan memanggil beberapa orang
kawan yang berilmu tinggi dari utara untuk bersamasama
menghadapinya."
"Baik, engkau boleh berangkat sekarang juga untuk
memanggil mereka!" kata Jin Kui yang sudah marah dan
bernafsu sekali untuk membalas penyebab kematian
puteranya.
"Setelah berunding, dia lalu menetapkan
keputusannya. Pertama, puteri Sung Hiang Bwee harus
tetap ditangkap dan diserahkan kepada Panglima.Wu
Chen dari Kerajaan Kin. Kedua, sebarkan fitnah bahwa
yang menculik sang puteri adalah; para pemberontak
yang dipimpin oleh Gak Liu. Ke tiga mengerahkan
pasukan untuk melakukan pembersihan terhadap para
pemberontak. Ke empat, mencari.Tan Tiong Li dan Gak
Liu sampai dapat dan membunuh mereka. Dan kelima
dari para penyidik kini telah diketahui bahwa dua orang
wanita yang membantu para pemberontak adalah Bantok
Sian-li dan muridnya dari Lembah Maut dan harus
diserbu.
Dan untuk pelaksanaan semua ini, Kui To Cin-jin akan
memanggil dua orang sutenya dari utara. Dua orang
sutenya itu adalah pertapa-pertapa dari Kui-san dan
memiki ilmu kepandaian yang tidak dibawah tingkat ilmu
kepandaian Kui To Ñin jin sendiri.
Mereka adalah êàêàê b¸ãadik, yang tua berusia
limapuluh tujuh tahun dan bernama Ouw Yang Êian
berjuluk Toat-beng-jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) dan
adiknya Ouw Yang Sian berusia limapuluh tahun berjuluk
Hek-bin- kwi (Setan Muka Hitam).
Sebagai para sute dari Kui To Cin-jin memang
kepandaian masing-masing tidak setinggi kepandaian Kui
To Cin-jin, akan tetapi kalau mereka maju bersama, Kui
To Cin- jin itupun tidak akan mampu menandingi mereka.
Malam yang sunyi. Kembali di Istana ada bayangan
hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu dia sudah
berada di atas genteng kamar Sung Hiang Bwee.
Semenjak terjadi penculikan atas diri puteri selir ini,
Kaisar memerintahkan kepada para pengawal agar
setiap malam diadakan penjagaan secara bergantian di
depan kamar sang puteri.
Ìàêà pada saat itupun nampak empat orang
pengawal berdiri di depan kamar sang puteri, Akan tetapi
bayangan hitam yang memakai kedok ini tidak merasa
gentar, bahkan dia lalu melayang turun di depan empat
orang itu. Sebelum empat orang itu sempat berteriak,
baru menggerakkan senjata mereka, tahu-tahu mereka
trlah roboh semua, tertotok dengan kecepatan luar biasa.
Kemudian si kedok hitam mendobrak daun pintu. Dua
orang dayang yang menemani Hiang Bwee terkejut dan
berteriak, akan tetapi sebelum suara mereka sempat
keluar dengan nyaring, tubuh mereka juga sudah roboh
pingsan.
Tinggal sang puteri yang terbelalak memandang, lupa
untuk menjerit saking kaget dan takutnya. Orang
berkedok yang amat lihai itu cepat menyambarnya,
menotoknya dan memanggulnya setelah memasukannya
kedalam karung sutera. Seperti yang dilakukan oleh
Ciang Sun Hok dahulu, sekarang ini diapun melarikan diri
melalui jalan rahasia sehingga dia tiba di luar istana
tanpa diketahui orang lain.
Kini, berbeda dengan penculikan terdahulu, di luar
istana sudah menanti sebuah kereta yang ditumpangi
oleh perdana Menteri Jin Kui sendiri! Si kedok hitam lalu
membawa masuk puteri da lam karung sutera hitam itu.
kemudian setelah memberi Isyarat dia lalu berkelebat
lenyap.
Pelaku penculIkan yang amat lihai ini bukan lain
adalah Si Muka Tengkorak sendiri. Kereta lalu dijalankan
oleh kusir kereta menuju ke rumah gedung Perdana
Menteri Jin Kui.
Andaikata ada orang melihat kereta itu, tentu takkan
ada yang berani mencoba untuk menegur atau
menyelidiki karena siàðà orangnya berani menegur
Perdana Menteri Jin Kui ? Kereta itu masuk halaman
gedung terus ke belakang, ke arah istana dan di sini,
tanpa terlihat orang lain, sang puteri diturunkan dan
dimasukkan ke dalam sebuah kamar.
Hiang bwee dikeluarkan dari karung sutera dan
direbahkan di pembaringan dalam keadaan tertotok,
kemudian kaki tangannya diikat dengan kain sehingga
seandainya totokannya sudah punah, iapun tidak akan
mampu bergerak.
Hiang Bwee hanya melihat dua orang berkedok hitam
yang mengeluarkannya dari dalam karung hitam dan
yang mengikat kaki tangannya. Ketika ia sudah terbebas
dari totokan, ia meronta- ronta-namun usahanya sia-sia
karena ka ki tangannya terikat kuat oleh kain sehingga ia
tidak merasa nyeri, hanya tidak mampu bergerak. ia
membuka mulut hendak mengeluarkan teriakan minta
tolong, akan tetapi seorang berkedok masuk kamarnya
dan berkata,
"Nona, sebaiknya nona tidak mengeluarkan suara
kalau tidak ingin kutotok lagi sehingga tidak mampu
bergerak."
Hiang Bwee tentu saja merasa tidak enak kalau
ditotok, maka ia lalu mengangguk. "Kalau nona berjanji
akan diam saja dan menurut, kami tidak akan
mengganggu nona dan tidak akan membe- lenggumu
lagi."
"Aku akan menurut. Lepaskan ikatan kaki tanganku,"
kata puteri itu.
Si kedok hitam itu bukan lain adalah Tang Boa Lu Si
Muka Tengkorak. Dia merasa yakin bahwa gadis ini tidak
akan mampu berbuat sesuatu. Andaikata berteriak
sekalipun, tidak akan terdengar oleh orang di luar
gedung.
Ìàêà, sesuai dengan pesan Perdana Menteri Jin Kuibahwa
nona yang akan dipersembahkan kepada
Panglima Besar Wu Chu itu jangan sampai menderita,
dia lalu melepaskan ikatan kaki tangannya. Hiang Bwee
lalu bangkit duduk, menggosok gosok kaki tangan bekas
ikatan. la memandang ke kanan kiri. Kamar itu indah dan
besar, bukan kamar orang biasa. Tentu kamar seorang
yang kaya raya, pikirnya. la bangkit dan hendak
menghampiri pintu. Akan tetapi Si Muka Tengkorak
berkata,
"Sebaiknya nona tidak beranjak dari kamar ini. Kamar
ini terjaga ketat dan nona tidak akan bisa melarikan diri."
Setelah berkata demikian, Si Mijka Tengkorak yang
berkedok itupun keluar dari kamar itu dan menjaga di luar
kamar bersama para pengawal .
Hiang Bwee membuka daun pintu yang segera
ditutupnya kembali ketika la menghadapi todongan
tombak empat orang pengawal. Ketika ia membuka daun
jendela, iapun melihat ujung tombak dan dua orang
penjaga di luar jendela.
Ditutupkannya kembali daun jendela itu dan iapun
duduk di atas kursi. Mengapa ia diculik ? Siapa
penculiknya ? Tidak, bukan orang berkedok itu. Tentu
orang berkedok itu hanya seorang utusan, dan ada orang
di balik semua ini yang mendalanginya. Akan tetapi àðà
maunya orang itu menyuruh menculiknya? Hatinya mulai
merasa takut dan teringatlah ia kepada Tan Tiong Li! Ah,
kalau saja Tiong Li menjadi pengawalnya dan berada di
Istana, belum tentu ia akan dapat diculik orang. Akan
tetapi, siapa tahu pendekar itu akan muncul lagi
menolongnya.
la ingin berteriak, ingin menjerit minta tolong. Akan
tetapi ia teringat dan menahan keinginannya. Menjerit
belum tentu terdengar orang dan akibatnya ia akan
ditotok kembali. Ah, tidak enak. Lebih baik begini.
Setidaknya ia masih dapat bebas bergerak dan bicara.
Akhirnya sang puteri melupakan segalanya dan
merebahkan dirinya di tempat tidur yang indah itu dan
dapat tidur pulas.
Pada keesokan harinya, pagi pagi sudah muncul dua
orang dayang yang membawa air untuk mencuci badan,
bahkan melayaninya. Akan tetapi ketika ia mencoba
untuk menanyai mereka, keduanya hanya menggeleng
kepala dan tidak mengeluarkan suara, tidak berani bicara
sepatah katapun! Hiang Bwee tidak perduli, setelah
membersihkan badan ia lalu makan sarapan yang
dibawa oleh dua orang wanita pembantu itu. Setelah
selesai, dua orang wanita itu keluar lagi .
Òàk lama kemudian, si kedok hitam masuk lagi. Hiang
Bwee segera meregurnya.
"Siapakah engkau? Mengapa engkau menculikku dan
membawaku ke sini? Àðàkah engkau tidak takut akan
hukuman berat kalau sampai tertangkap?"
"Nona, harap jangan banyak bertanya dan menurutlah
saja," kata si kedok hitam dan tiba-tiba saja tangannya
menyambar. Hiang Bwee terkulai dalam keadaan
pingsan.
la lalu dipondong dan diangkat keluar dari dalam
kamar dan tak lama kemudian la sudah berada di dalam
sebuah kereta, di tengah-tengah antara empat orang
selir Perdana Menteri Jin Kui! Karena dijepit di tengahtengah,
puteri itu nampaknya seperti seorang di antara
selir-selir itu. Pada hal puteri itu berada dalam keadaan
pingsan.
Kereta itu dijalankan menuju ke pintu gerbang utara,
dikawal oleh seorang perwira pengawal yang
menunggang kuda. Ketika melewati penjagaan pintu
gerbang, Semua perwira memberltahukan kepada para
penjaga bahwa para selir Perdana Menteri pagi Itu
hendak pergi mengunjungi kuiI yang berada di luar kota.
Para penjaga tidak berani banyak rewel, hanya
menjenguk sebentar ketika tirai kereta disingkap oleh
seorang selir dan melihat bahwa yang berada di dalam
kereta adalah selir-selir yang muda dan cantik. Kereta
lalu malewati plntu gerbang dan menuju ke utra.
Setelah agak jauh dari pintu gerbang, telah menanti
sebuah kereta lain yang lebih kecil. Kereta ini dikusiri
oleh Ciang Sun Hok sendiri dan bahkan dikawal oleh Si
Muka Tengkorak. Sang puteri lalu dipindahkan ke dalam
kereta dan kemudian kereta para selir melanjutkan
perjalanan ke kuil.
Setelah sang puteri dipindahkan ke dalam kereta kecil,
ditemani Si Muka Tengkorak, dengan cepat tangan Tang
Boa Lu membebaskan totokannya. Hiang Bwee sadar
kembali, membuka matanya dan ia menahan jerltnya
ketika melihat seorang yang mukanya seperti tengkorak
duduk dl depannya.
"Sssst, tidak perlu menjerit nona. Tidak akan ada yang
mendengar dan kalau engkau menjerit, terpaksa aku
akan menotokmu pingsan lagi. Aku tidak akan
mengganggumu!"
Hiang Bwee memandang muka itu dengan jijik dan
ngeri. "Siapakah engkau? Dan aku.... akan dibawa ke
manakah?"
"Aku adalah seorang panglima Kerajaan Kin ....... "
"Ohhh ......... .!" Hiang Bwee terkejut sekali mendengar
bahwa ia telah terjatuh ke tangan musuh!"
"Jangan takut, nona kami tidak akan mengganggumu
engkau hanya dijadikan tawanan dan akan kuserahkan
kepada panglima kami. Kalau nona diam saja dan
menurut, kami akan memperlakukanmu dengan baik."
Hiang Bwee hanya mengangguk-angguk,matanya
masih terbelalak, mukanya masih pucat. la maklum
bahwa untuk sementara ini ia tidak dapat berbuat
sesuatu dan memang lebih baik menurut saja dari pada
dibuat pingsan seperti tadi.
Kereta lalu dibalapkan menuju ke utara, memasuki
daerah antara Kin dan Sung yang merupakan daerah tak
bertuan.
Kereta itu berjalan dengan cepat karena ditarik oleh
empat ekor kuda. Akan tetapi ketika kereta sudah
mendekati daerah Kin, tiba-tiba saja dari balik rumpun
alang-alang dan batang-batang pohon berlompatan
belasan orang, Kereta terpaksa berhenti karena
dihadang orang-orang yang memegang pedang dan
golok, Jumlah mereka ada limabelas orang, dipimpin
seorang pemuda yang tampan dan gagah memegang
pedang.
"Berhenti! Siapa di kereta dan hendak pergi kemana?"
Bentak pemuda itu.
Mendengar ini, dan melihat ada belasan orang
menghadang kereta Hiang Bwee berteriak,
"Aku puteri Kaisar diculik ...." Suaranya terhenti karena
Si Muka Tengkorak sudah menotoknyal Tafig Boa Lu
segera meloncat keluar dari dalam kereta dan bersama
Ciang Sun Íák menghadapi belasan orang itu.
"Kalian Jangan mencampuri urusan êàmi ...!!" bentak
Ciang Sun Hok. "Aku adalah Seorang panglima
perrgawal dari Perdana Menteri Jin Kui, dan harus
mengantarkan gadis ini ke suatu tempat."
"Bebaskan sang puteri!" terdengar teriakan.
"Bunuh antek Menteri Jin Kui yang jahat!" terdengar
teriakan lain.
Akan tetapi pemuda yang memimpin gerombolan itu
mengangkat tangan kiri ke atas menyuruh anak buahnya
berhenti berteriak, kemudian dia berkata kepada Ciang
Sun Hok.
"Benarkah gadis itu puteri kaisar yang diculik? Tidak
mungkin engkau panglima Perdana Menteri kalau
engkau menculik seorang puteri istana!"
Karena didesak demlklan itu, Ciang Sun Hok menjadt
marah dan dia membentak,
"Kalian memang harus dlbasmi!"
Dan dia sudah menubruk kedepan dengan
cengkeramannya. Pemuda Itu terkejut melihat serangan
yang amat dahsyat Itu. Dia melompat ke belakang dan
menggerakkan pedangnya menyerang dan begitu dia
malnkan pedangnya, tahulah Ciang Sun Hok bahwa dia
berhadapan dengan seorang murid Kun-lun-pai yang
hebat sekali llmu pedangnya. Ìàêà diapun mencabut
pedang dari punggungnya dan mereka sudah terlibat
dalam perkelahian yang seru.
Sementara itu, belasan orang sudah mengepung dan
hendak membantu pimpinan mereka, akan tetapi Si
Muka Teng korak mengamuk. Amukannya demikian
hebatnya sehingga dalam beberapa detik saja empat
orang sudah roboh oleh hantaman tangannya. Àðà lagi
ketika dia melolos sehelai sabuk rantai baja yang
ujungnya runcing tajam lebih banyak lagi anak buah para
pejuang itu yang roboh bermandikan darah.
Melihat ini, pemuda Kun-lun-pai terkejut bukan main
dan sebelum dia dapat berbuat sesuatu, Si Muka
Tengkorak sudah melompat dekat membantu Ciang Sun
Hok. Rantainya yang panjang sudah melibat pedang
pemuda itu dan sekali renggut pedang itupun terampas
dan di lain saat Ciang Sun Hok sudah mengirim sebuah
tendangan yang membuat pemuda itu terjungkal dan
pingsan! Para anak buah pejuang yang tinggal lima
orang itu lalu melarikan diri, tak sanggup melawan dua
orang yang ilmunya tinggi itu.
"Kita tangkap pemuda Kun-lun-pai ini, bawa
menghadap sebagai hadiah kepada panglima!" kata Si
Muka Tengkorak dan Ciang Sun Hok setuju saja.
Pemuda itu lalu dibelenggu dan dilemparkan ke dalam
kereta, sedangkan Si Muka Tengkorak duduk di depan
bersama Ciang Sun Hok. Kereta lalu dibalapkan lagi
menuju ke utara, memasuki perbatasan daerah Kin.
Hiang Bwee terkejut dan juga khawatir sekali melihat
pemuda yang dilempar masuk. Tadinya ia mengira
bahwa pemuda itu Tan Tiong Li, akan tetapi ternyata
bukan dan hatinya menjadi agak lega.
Kini ia memperhatikan pemuda itu. Seorang pemuda
yang tampan dan dalam keadaan terbelenggu kaki
tangannya. Ketika pemuda itu merintih, Hiang Bwee
membantunya untuk bangkit dan duduk di atas bangku
kereta di depannya. Pemuda itu membuka matanya dan
menjadi bengong ketika memandang wajah seorang
gadis cantik jelita yang duduk didalam kereta.
Kemudian dia teringat dan berusaha untuk meronta
dan melepeskan diri dari ikatan, namun sia-sia, ikatan itu
terlampau kuat, Dia lalu menyadari keadaannya. Kedua
orang itu terlalu kuat buat dia dan mereka duduk
didepan. Andaikata dia mampu melepaskan
ikatannyapun akan percuma saja.
Dia ti dak dapat melepaskan diri dari mereka berdua.
Dia teringat akan teriakan tadi lalu mengangkat muka,
memandang lagi kepada gadis itu. Hiang Bwee juga
sedang memandang kepadanya. Dua sorot mata
bertemu dan Hiang Bwee menunduk.
"Nona, benarkah engkau puteri Sri baginda Kaisar?"
"Benar., aku diculik dari Istana," kata Hiang Bwee lirih.
Akan tetapi betapapun lirihnya mereka bicara, tetap saja
dapat terdengar oleh dua orang yang duduk dl depan.
Dan agaknya kedua orang itu tidak perduli karena yakin
bahwa dua orang tawanan mereka itu tidak akan dapat
berbuat sesuatu untuk membebaskan diri.
"Mau dibawa ke mana, nona?"
"Aku tidak tahu. Siapakah namamu?"
"Saya bernama Souw Cun Ki, murid Kun-lun-pai yang
bergabung dengan para pejuang."
"Souw-enghiong (pendekar Souw), engkau harus
berusaha untuk membebaskan aku namaku Sung Hiang
Bwee,puteri kaisar ..."
"Ha-ha-ha, jangan bermimpi!" tiba tiba terdengar
Ciang Sun Hok tertawa. "Kalian tidak akan dapat bebas
dan kalau banyak membuat ulah, kami akan memukul
pingsan kalian!"
Mendengar ini, Cun Ki memberi isyarat dengan
matanya kepada puteri itu agar berdiam diri. Dia maklum
bahwa ucapan itu bukan bualan kosong belaka. Kedua
orang itu memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi,
dan andaikata dia dapat membebaskan kedua kaki
tangannya sekalipun, dia tidak akan mampu menandingi
mereka. Àðà lagi dia telah kehilangan pedangnya.
Akhirnya kereta dapat mencapai perbentengan di
mana Panglima Besar Wu Chu berada. Panglima ini
seorang laki- laki yang gagah, berusia empatpuluh tahun
lebih, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya gagah
perkasa dengan jenggot lebat, matanya lebar dan dia
memang sejak mudanya menjadi perwira. Ketika dia
mendengar laporan pembantunya, Si Muka Tengkorak
bahwa Hak Bu Cu tewas di tangan seorang
pemberontak, dia marah sekali.
"Kenapa Perdana Menteri Jin tidak suruh tangkap
pembunuh itu dan menghadapkannya kepadaku?"
Bentaknya marah.
Ciang Sun Hok yang menjadi utusan Perdana Menteri
Jin Kui segera memberi hormat.
"Harap thai-ciangkun tidak berkecil hati. Kami akan
mencari sampai dapat pembunuh itu dan sekarangpun
sudah menjadi buruan kami. Sementara itu, Jin-taijin
mohon maaf dan untuk menghibur hati thai-ciangkun, Jintai-
jin mengirimkan seorang siuli (wanita cantik) untuk
menghibur hati Ciang- kun."
"Hemm, terima kasih atas perhatian Jin-taijin. Akan
tetapi aku sudah mempunyai cukup banyak selir dan
tidak membutuhkan wanita cantik," kata panglima besar
itu dengan suara masih mengandung kemarahan.
"Akan tetapi thai ciangkun belum tahu siapa yang
dikirimkan kepada thai ciangkun. ia adalah puteri Kaisar
Sung!"
"Aha! Puteri Kaisar Sung?"
"Ya, dan puteri yang pernah membuat thai-ciangkun
terkagum-kagum ketika ciangkun berkunjung ke istana,"
tambah pula Ciang Sun Hok.
"Cepat bawa ia masuk ke sini !" perintah panglima
besar itu dengan hati tertarik sekali.
Mendengar bahwa wanita itu adalah puteri Kaisar
Sung, tentu saja persoalannya menjadi lain lagi. Ketika
puteri itu sudah dibawa masuk dan berdiri dengan kepala
tunduk di hadapannya, ia tersenyum lebar dan wajahnya
yang gagah itu menjadi berseri-seri. Dia teringat akan
puteri yang pandai menari dan ketika dia berkunjung ke
Istana Kaisar Sung dan disuguhi tarian puteri ini, dia
memang sudah tergila-glla, akan tetapi tidak berdaya
karena penari itu adalah puteri Kaisar! Dan sekarang,
ternyata Perdana Menteri Jin dapat mengirim puteri yang
pernah membuatnya terglila-gila itu kepadanya, bahkah
mempersembahkan kepadanya! .
"Ah, puteri yang pandai menari itu!" katanya sambil
memandang dengan penuh kagum.
Sung Hiang Bwee mengangkat muka dan memandang
kepada panglima utu dengan alis berkerut.
"Kalau engkau sudah tahu bahwa aku puteri Kaisar,
cepat kirim aku kembali kalau engkau tidak menghendaki
ayahanda Kaisar marah kepadamu ! "
Panglima besar itu hanya tertawa dan memerintahkan
beberapa orang dayang untuk membawa sang puteri ke
dalam gedungnya. Hiang Bwee lalu di iringkan beberapa
orang dayang ke dalam, dengan memegang! kedua
lengannya dari kanan kiri.
Kini wajah panglima itu. menjadi cerah dan agaknya
dia sudah melupakan lagi tentang kematlan pembantu
yang di sayangnya, yaitu Hak Bu Cu.
Kini Si Muka Tengkorak yang ingin mendapat pujian
melaporkan bahwa dia juga menangkap seorang
pemimpin pemberontak yang penting karena pemuda itu
lihai sekali dan masih tokoh Kun-lun- pai .
"Hemm, Kun-lun-pai berani terang-terangan memusuhi
kita? Bawa dia masuk!"
Souw Cun Ki diseret masuk dalam keadaan
terbelenggu. Dia berdiri tegak di depan Panglima Wu
Chu dan baru berlutut setelah dari belakang lututnya
ditendang oleh Si Muka Tengkorak.
"Benarkah engkau seorang tokoh Kun-lun-pai?" tanya
Panglima Wu Chu sambi1 memandang wajah yang
tampan itu. "Siapa namamu dan siapa menyuruh engkau
melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Kin?"
"Aku memang murid Kun-lun-pai bernama Souw Cun
Ki, akan tetapi aku melawan penjajah Kin tidak atas
suruhan siapa-siapa, melainkan kehendakku sendiri!
Kalau mau hukum, laksanakanlah, aku tidak takut mati !"
"Hemm, kamipun tidak percaya bahwa Kun-lun-pai
terang-terangan memusuhi kami! Kalau demikian halnya,
kami akan mengutus pasukan untuk membasmi Kun-lunpai!
Pengawal, masukkan dia dipenjara sambil menanti
penyelidikan apakah benar Kun-lun-pai memusuhi kita!"
Empat orang pengawal lalu maju dan menyeret Cun Ki
untuk dibawa dan dimasukkan ke dalam penjara..
Setelah itu, Panglima Wu Chu menjamu Ciang Sun Hok
sebagai utusan Perdana Menteri Jin Kui sambil
bercakap-cakap membicarakan keadaan di Kerajaan
Sung.
"Harap thai-ciangkun jangan khawatir. Jin-taijin
sedang berusaha sekuatnya untuk menghancurkan para
pemberontak itu dan kami yakin akan dapat menangkap
pembunuh Hak Bu Chu," kata Ciang Sun Hok ketika
mereka menghadapi perjamuan.
"Aku percaya akan hal itu dan sampaikan terima
kasihku kepada Jin-tai jin atas pengiriman puteri itu."
KataWu Chu dengan gembira membayangkan betapa dia
akan dilayani oleh seorang puteri tulen, bahkan puteri
dari Kaisar Sung.
Sebuah penghormatan yang teramat besar! Bahkan
rajanya sendiri tidak memperoleh kehormatan seperti itu!
Akan tetapi, betapa kecewa hati Pangiima besar Wu
Chu. Ketika malam itu dia memasuki kamar Sung Wang
Bwee, puteri itu sama sekali tidak mau menerimanya
dengan Üàik, àðà lagi mela- yaninya. Puteri itu bahkan
memaki-maêi ia sebagai orang tidak tahu malu.
"Engkau dulu menjadi tamu ayahanda Kaisar dan
diterima dengan penuh penghormatan. Siapa tahu
engkau hanya seorang manusia rendah budi, seorang
pengecut besar yang menyuruh orang mencullk aku.
Jangan dekati aku. Kalau sampai meraba tubuhku, aku
akan membunuh diri!"
Panglima Besar Wu Chu adalah seorang jantan.
Selama ini, hampir setiap wanita mengharapkan untuk
menjadi selirnya. Dia adalah orang mempunyai
kekuasaan besar di Kerajaan Kin, menjadi orang kedua
setelah raja. Dia gagah perkasa dan royal, maka mana
ada wanita menolaknya.
Kini, berhadapan dengan puteri Sung Hiang Bwee, dia
malah dimaki-maki! Dia bukan seorang laki-laki yang
suka memaksa atau memperkosa wanita. Maka tentu
saja dia menjadi marah bukan main karena merasa
terhina.
"Bawa ia ke penjara! Jebloskan ke dalam kurungan
sampai ia bersedia melayani aku!" bentaknya dengan
marah setelah dia membujuk-bujuk dengan halus sampai
kasar tidak dapat menundukkan hati puteri itu..
Para pengawal lalu menggiring Hiang Bwee masuk ke
dalam penjara. Agaknya panglima itu hendak memancing
agar sang puteri dan orang Kun-lun-pai itu bercakapcakap
mengenai rahasia pemberontakan, maka dia
menyuruh kurung puteri itu berdekatan dengan kamar
tahanan Souw Cun Ki hlngga mereka dapat saling bicara
melalui celah-celah jeruji baja yang memisahkan mereka.
Ketika melihat penolongnya berada di kamar sebelah,
hati Hiang Bwee agak terhibur dan segera ia mendekati
dan memegang jeruji baja itu sambil memandang ke
kamar sebelah.
Souw Cun Ki terkejut dan heran melihat sang puteri
dimasukkan dalam kamar penjara sebelahnya.
"Eh, kenapa engkau
Juga dipenjara, nona?"
katanya dan dalam
keadaan seperti itu, dia
lupa akan peradatan
bersikap dan berbicara
kepada sang puteri
kaisar! Hiang Bwee
juga tidak
memperdulikan
pemuda itu
menyebutnya nona dan
berengkau ke padanya.
"Aku menolak
kehendaknya yang terkutuk dan dia marah lalu aku
dipenjarakan!" jawabnya."Biar aku dibunuh mati
sekalipun, aku tidak akan sudi menyerah kepadanya!"
Cun Ki memandang kagum. Heran dia melihat
seorang puteri kaisar demikian tabahnya menghadapi
segala kesulitan yang demikian menyudutkannya.
"Ah, engkau seorang pemberani, nona. Sungguh aku
kagum dan hormat kepadamu."
"Akan tetapi engkau, Souw-enghiong. Demi menolong
aku, engkau sendiri sampai tertangkap dan nyawamu
terancam."
"Àêö tidak takut mati, nona. Mati dalam perjuangan
merupakan suatu kehormatan bagiku. Mati bukan apaapa
bagiku, akan tetapi aku amat memprihatinkan dirimu,
nona.. Engkau terancam bahaya yang hebat, bahkan
mungkin bahaya maut."
Gadis itu tersenyum! Hampir Cun Ki tidak percaya
kepada matanya sendiri. Dalam keadaan seperti ttu,
gadis itu masih dapat tersenyum demikian manisnya.
" Dalam hal keberanian menghadapi kematian, engkau
bukan seorang diri, enghiong. Aku sendiripun tidak takut
mati kalau kehormatanku terancam. Aku lebih
menghargai kehormatan dari pada kematian."
"Nona...... engkau.... engkau Seorang Wanita yang
mulia dan bijaksana, aku kagum sekali !" kata Cun Ki
dengan suara terharu.
Panglima Wu Chu marah sekali mendengar laporan
penjaga akan isi percakapan mereka itu dan dia
memerintahkan menahan terus kedua orang itu.
0oo-dw-oo0
Istana gempar lagi pada keesokan harinya ketika
kaisar mendengar laporan para pengawal dan dayang.
Puteri Sung Hiang Bwee kembali dicuHk orang berkedok
hitam! Kaisar lalu memanggil semua menteri dan
panglima dan memerintahkan mereka semua untuk
berusaha menemukan puteri dan menghukum
penculiknya dengan hukuman yang paling berat.
"Ampun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba,
penculiknya pastilah pemuda yang bernama Tan Tiong Li
itu."
Kaisar mengerutkan alisnya. "Ah, tidak masuk diakal!
Pemuda itu bahkan yang menolongnya dari penculiknya
yang pertama kali. Bagaimana kini engkau menuduh dia
menjadi penculiknya?"
"Dengan perhitungan yang tepat, Yang Mulia. Menurut
basil laporan para penyelidik, terjalin hubungan antara
pemuda itu dengan tuan puteri sejak ia ditolong. Dan
mengingat bahwa pemuda itu belum lama ini bergabung
dengan pemberontak Gak Liu, bahkan mengakibatkan
kematian anak laki-laki hamba, maka hamba yakin
bahwa penculiknya tentulah dia ! Bukan menculik,
melainkan sudah bersekutu dengan sang puteri yang
ingin melarikan diri dari istana untuk dapat berkumpul
dengan pemuda itu!"
"Jin Kui, kalau engkau ternyata tidak mengucapkan
tuduhan yang benar, kami dapat marah sekali kepadamu
! " bentak kaisar.
"Akan tetapi kalau hamba berkata benar bagaimana,
Yang Mulia ? Kalau pemuda itu dapat tertangkap, tentu
akan dapat ditemukah di mana adanya puteri paduka."
"Kalau begitu tangkap dia!"
'Àêàn tetapi, dahulu paduka pernah menjanjikan
kedudukan kepadanya, kalau sekarang tanpa perintah
penangkapan paduka, bagaimana hamba dapat
melaksanakannya?"
"Baik, kubuat perintah penangkapan Tan Tiong Li!"
kata Kaisar yang sedang sedih dan khawatir karena
terculiknya Sung Hiang Bwee.
Perdana Menteri Jin Kui memang cerdik sekali. Tentu
saja dia tahu bahwa yang menculik Hiang Bwee bukan
Tiong Li melainkan Si Muka Tengkorak, bahkan dia yang
mengatur semua itu. Dan untuk memperkuat pengejaran
terhadap Tiong Li pertu sekali ada surat perintah Kaisar
sehingga dia dapat mengerahkan seluruh tenaga
pasukan.
Bagaimana kalau nanti Tiong Li tertangêàð dan Hiang
Bwee tidak dapat diajak pulang? Mudah saja. Bunuh
pemuda itu, habis perkara dan katakan kepada Kaisar
bahwa Hiang Bwee telah terbunuh oleh pemuda itu.
Mulailah Perdana Menteri Jin Kui melaksanakan
semua rencananya untuk membalas kematian puteranya.
Hiang Bwee yang menjadi gara-gara kematian puteranya
sudah terbalas, dan sekarang tentu telah menjadi selir
Panglima Besar Wu Chu, dan Tiong Li sudah dijadikan
buronan pemerintah.
Kemudian dia mengerahkan pasukan yang dipimpin
oleh Kui To Cin-jin dan dua orang sutenya yang sudah
datang dari utara, yaitu kaêàê beradik Ouw Yang,
menyerbu ke Lembah Maut untuk membasmi Ban-tok
Sian-li dan anak buahnya yang dianggap telah
membantu pemberontak! Juga pasukan ini ditugaskan
untuk mencari para gerombolan pemberontak dan
membasminya, terutama sekali yang dipimpin oleh Gak
Liu.
Dengan surat perintah penangkapan atas diri Tan
Tiong Li dari Kaisar, maka kini di mana-mana terpasang
pengumuman tentang pelarian Tan Tiong Li sebagai
orang buruan. Pada saat itu Tiong Li sedang berkunjung
ke dusun lereng Liong-san untuk bersembahyang
didepan makam ayahnya dan juga untuk ber
sembahyang di bekas pondok gurunya, Ðåê Hong San-jin
yang dulu dibakarnya bersama jenazah kakek itu.
Setelah selesai bersembahyang dia meninggalkan
pegunungan Liong-san dan beberapa hari kemudian
tibalah dia di kota Cun-keng. Begitu memasuki kola itu,
dia melihat banyak orang berkerumun membaca sehelai
pengumuman yang di tempel di dinding. Dia ikut
berdesakan untuk membacanya dan betapa terkejutnya
melihat wajahnya terpampang di pengumuman itu dan di
situ disebutkan bahwa siapa yang dapat menangkap
Tiong Li, pemberontak dan penculik puteri akan diberi
hadiah oleh Kaisar!.
Tiong Li terkejut bukan main dan pada saat itu dia
mendengar orang berteriak di sebelahnya. "Wah, ini dia
orangnya, pemberontak dan penculik puteri itu!"
"Bukan! Aku bukan pemberontak apalagi penculik
puteri!" bantah Tiomg Li.
Akan tetapi orang-orang itu sudah mengenalnya dari
gambar yang terlukis di pengumuman dan banyak orang
segera mengulur tangan untuk menangkaprnya. Tiong Li
tidak mau melawan mereka yang hanya bertindak karena
pengumuman itu dia mengelak lalu melarikan diri dengan
cepat keluar kota Cun-keng, dikejar orang banyak dan
tak lama kemudian ada pasukan penjaga kota yang ikut
mengejar. Akan tetapi dia telah lari jauh meninggalkan
kota dan tiba dalam hutan di luar kota.
Dia berhenti berlari dan duduk di atas batu,
termenung. Dia menjadi orang buruan. Dan kaisar sendiri
yang mengumumkan bahwa siàðà dapat menangkapnya
akan diberi hadiah. Puteri telah diculik orang.
Siapakah puteri itu? Apakah Hiang Bwee kembali
dicilik orang dan kaisar menyangka dia yang me
lakukannya? Fitnah keji ! .
Kata fitnah ini mengingatkan dia kepada Jin Kui.
Orang itu penuh dengari siasat licik dan fitnah keji.
Dahulupun ketika dia menolong Hiang Bwee malah akan
di fitnah sebagai penculiknya, dan ketika dia keluar kota,
dia malah diserang puteranya dengan fitnah
memberontak.
Perdana Menteri Jin Kui patut dicurigai sebagai
pelempar fitnah dan kalau dia yang melempar fitnah,
tentu dia tahu pula siapa yang menculik sang puteri.
Tidak ada lain jalan, dia harus ke kota raja untuk
melakukan penyelidikan. Akan tetapi karena gambarnya
terpampang di mana-mana, tidak mungkin dia memasuki
kota raja begitu saja. Dia akan ditangkap sebelum dapat
melakukan apa-apa, baru memasuki pintu gerbang saja
dia akan dikepung pasukan dan ditangkap.
Setelah mencari akal, Tiong Li melanjutkan
perjalanannya dengan menyamar sebagai pengemis. Dia
mengotori muka dan tangannya, memakai sepatu butut,
pakaiannya juga butut dan penuh tambalan, memakai
sebuah caping butut: yang lebar menutupi mukanya.
Dengan pakaian seperti itu, benar saja dia tidak
diperhatikan orang dan dapat melakukan perjalanan
dengan leluasa.
Siapa orangnya yang akan mencurigai seorang
pengemis berpakaian. butut, bersepatu butut, memakai
caping rusak pula dan kaki tangan dan mukanya kotor
seperti orang yang sudah berhari-hari tidak pernah
mandi? .
Demikian pula ketika Tiong Li memasuki pintu gerbang
kota raja Hang-couw, para penjaga keamanan di pintu
gerbang itu tidak memperdulikan, bahkan memandang
jijik dan menghardiknya agar cepat pergi jangan terlalu
lama berada di pintu gerbang! .
Akan tetapi tanpa setahu Tiong Li, ada seorang yang
memperhatikannya sejak dia memasuki pintu gerbang,
bahkan ketika dia berjalan memasuki kota, orang itu
membayanginya dari jauh, tanpa sadar bahwa dia
dibayangi orang karena yang berjalan di belakang nya,
agak jauh itu adalah seorang pengemis yang memegang
tongkat hitam. Orang itu masih muda dan wajahnya
tampan gagah biarpun bajunya baju pengemis.
Memang, pengemis muda itu bukan lain adalah Gan
Kok Bu, putera ketua Hek-tung Kai-pang yang pernah
menolong Bàn-tok Sian-li dan yang jatuh cinta kepada
The Siang Hwi. Ketika Kok Bu melihat seorang pengemis
baju butut masuk ke pintu gerbang, orangnya tidak
dikenalnya, dan juga tidak ada tanda-tanda dari sebuah
perkumpulan pengemis, dia menjadi curiga dan
membayangi. Dia menduga bahwa pengemis bercaping
butut itu adalah seorang yang menyamar, dan dia tidak
tahu orang itu berdiri di pihak mana.
Seorang pejuang ataukah seorang mata-mata
Kerajaan Kin yang menyelundup masuk, Karena curiga,
dia lalu membayangi. Kecurigaannya semakin bertambah
ketika dia tidak melihat pengemis itu pergi ke pasar atau
tempat-tempat ramai melainkan berjalan keliling kota dan
beberapa kali melewati rumah gedung Perdana Menteri
Jin Kui.
Kalau sedang lewat di depan gedung ini, pengemis
muda itu memandang penuh perhatian. Juga ketika
melewati papan pengumuman tentang pemberontak
yang akan ditangkap, pengemis muda itu memandang
dengan penuh perhatian. Gan Kok Bu semakin curiga
dan dia kini mendekati, memandang penuh perhatian
dan akhirnya matanya yang tajam mengenal pengemis
muda itu seperti lukisan orang yang diburu pemerintah,
yang bernama Tan Tiong Li. Mengertilah dia. 0rang ini
adalah buruan itu, seorang pemberontak, berarti seorang
pejuang! Dia harus memperingatkannya karena dalam
kota raja disebar banyak mata-mata Oleh Perdana
Menteri Jin Kui.
Tiong Li menjadi terkejut sekali ketika melihat seorang
pengemis muda mendekatinya dan berbisik,
"Saudara Tan Tiong Li, mari kau ikuti aku dan kita
bicara ..... "
Karena orang itu jelas sudah mengenalnya, Tiong Li
terpaksa mengikuti ke mana orang itu pergi. Dia tidak
menyangka buruk, akan tetapi tetap bersiêàð waspada
sehingga kalau orang itu berniat buruk, dia sudah dapat
menjaga diri. Orang itu mengajaknya keluar masuk
1orong-lorong sempit yang sunyi kemudian mengajaknya
memasuki sebuah bangunan lama yang kosong. Di situ
berkumpul banyak pengemis dari bermacam usia dan
keadaan. Ada yang timpang, ada yang buta, dan ada
yang membawa anak, ada laki-laki dan perempuan.
Ketika orang itu lewat, para pengemis itu kelihntan
tunduk kepadanya dan mereka memberi jalan dengan
siêàð hormat, bahkan di sebuah ruangan sebelah dalam
ketika orang itu masuk dan memberi isyarat, para
pengemis yang tadinya berada di situ lalu menyingkir
tanpa berkata apapun.
Dalam rumah gedung tua kosong itu terdapat
sedikitnya duapuluh orang pengemis dan agaknya
menjadi Semacam tempat berteduh atau bermalam
mereka.
Setelah ruangan itu kosong, orang itu mempersilakan
Tiong Li duduk di lantai, berhadapan dengan dia.
Sejenak mereka saling pandang dan Tiong Li ber kata
dengan suara berbisik.
"Saudara siapakah dan bagaimana bisa
mengenalku?"
"Namaku Gan Kok Bu, putera dari ketua Hek-tung Kaipang.
Aku dapat mengenalmu karena betapa baikpun
penyamaranmu, kalau orang sudah menaruh curiga dan
mengamati penuh perhatian, tentu akan dapat melihat
persamaan antara saudara dengan gambar di papan
pengumuman itu."
"Dan dengan maksud apa engkau mengundangku ke
sini?" tanya Tiong Li, memandang tajam.
Kok Bu tersenyum. "Tidak dengan maksud buruk,
sobat. Ketahuilah bahwa kami semua bersimpati dan
membantu perjuangan para pejuang."
"Akan tetapi aku bukan seorang pejuang " kata Tiong
Li.
Gan Kok Bu tersenyum. "Orang yang disebut
pemberontak oleh Perdana Menteri Jin Kui, adalah
seorang pejuang."
"Perdana Menteri Jin Kui?"
"Ya, tentu dia yang berdiri di belakang pengumuman
itu. Entah kesalahan àðà yang kau lakukan terhadap
dirinya maka dia memasang pengumuman itu atas nama
kaisar. Engkau berhati-hatilah,sobat, karena Perdana
Menteri itu licik sekali dan dia telah menyebar banyak
mata-mata di kota raja."
Maklumlah Tiong Li bahwa orang ini tentu sudah lama
tadi membayanginya dan melihat dua kali dia lewat di
depan rumah Perdana Menteri. Ìàêà dia tidak perlu tagi
pura-pura.
"Begini, saudara Gan Kok Bu. Memang benar bahwa
aku hendak melakukan penyelidikan karena
sesungguhnya aku, sama sekali tidak bersalah. Aku tidak
menculik puteri istara. Nah, dapatkah engkau memberi
keterangan kepadaku mengenai hal itu? Pertama, puteri
siapakah yang diculik orang? Siapa namanya nya?"
"Puteri yang paling terkenal di kota raja, namanya
Sung Hiang Bwee. la diculik orang beberapa hari yang
lalu, diculik di waktu malam oleh orang berkedok yang
melumpuhkan para pengawal dan dayang."
Diam-diam Tiong Li merasa khawatir sekali. Kembali
Sung Hiang Bwee di culik orang! Mungkin penculiknya
yang dulu bergerak lagi. Memang orang itu lihai sekali,
dan agaknya tidak sukar bagi orang itu untuk
merobohkan ðàãa pengawal dan menculik sang puteri.
Akan tetapi siapa berdiri di baliê Ini semua ? Melihat
betapa Perdana Menter Jin Kui yang berdiri di belakang
fitnah yang dilemparkan kepadanya, mungkin juga
pembesar itu yang mengetahui perihal penculikan puteri
itu.
"Agaknya kalau Perdana Menteri Jin Kui melakukan
fitnah terhadap diri ku bahwa aku yang menculik sang
puteri, dia tahu. siapa pelakunya."
Gan Kok Bu mengangguk-angguk sangat boleh jadi
walaupun aku masih sangsi apakah dia yang mendalangi
penculikan, Kalau benar demikian, untuk àðà? Kalau
yang mendalangi itu puteranya, Jin Kiat, memang sangat
boleh jadi karena puteranya itu mata keranjang. Akan
tetapi Jin Kiat telah tewas oleh Pendekar Gak Liu, maka
sulit lah menduga siapa dalangnya."
"Akan tetapi setidaknya Perdana menteri itu tentu
mengetahuinya ," kata Tiong Li.
"Akupun menduga demikian. Lalu, àðà yang hendak
kaulakukan, Tan tai- hiap? Aku sudah mendengar pula
bahwa engkau bentrok dengan Jin Kiat dan justeru ketika
engkau dikeroyok itu muncul Gak Liu yang kemudian
berhasil membunuh Jin Kiat. Mungkin juga karena itulah
maka engkau difitnah karena sekarang Perdana Menteri
Jin Kui juga berusaha keras untuk menangkap Gak Liu."
"Aku harus menyelidiki ke rumah Jin Kui ! "
Kok Bu nampak terkejut sekali. ."Akan tetapi itu amat
berbahaya! Rumah itu dikepung dan dijaga ketat sekali!"
"Aku tidak takut dan dapat mengatasi bahaya itu."
"Akan tetapi, kalau engkau masuk ke sana lalu
diketahui dan dikejar-kejar, bagaimana mungkin engkau
akan dapat melakukan penyelidikan? Ah, aku
mempunyai akal dan aku akan membantumu, Òàë-
taihiap! Aku akan membawa beberapa orang kawan
untuk mengacau dipintu gerbang, untuk menarik para
penjaga agar berdatangan ke pintu gerbang. Nah, dalam
keadaan panik itu tentu engkau dapat menyusup melalui
tembok yang ditinggalkan para penjaganya. Bagaimana
pendapatmu, taihiap?"
Wajah Tiong Li berseri. "Akal yang bagus sekali !
Terima kasih banyak atas bantuanmu, saudara Gan.
Akan tetapi hal ini akan merepotkan engkau saja."
"Aih, tidak ada kata repot! Bukankah kita sama-sama
pejuang yang membela kepentingan rakyat jelata?
Malam ini kita bergerak, Tan-taihiap."
Demikianlah, pada malam hari itu,Tiong Li sengaja
mengenakan ðàêàian serba hitam dan Kok Bu membawa
belasan orang rekan dari Hek-tung Kai-pang tanpa
setahu ayahnya karena sejak ayahnya mencela Siang
Hwi sebagai murid Ban-tok Sian-li dan melarang dia
bergaul dengan gadis itu, Kok Bu masih marah kepada
ayahnya.
0o-dw-o0
JILID VI
Dia mencari jejak Siang Hwi namun tidak berhasil
sehingga kembalilah dia ke kota raja. Dengan belasan
orang rekan itu, Kok Bu menyamar dan berpakaian
biasa, tidak seperti ðàkàian anggauta hek-tung Kai-pang.
Pada saat yang ditentukan, Kok Bu dan kawankawannya
membakar api besar di dekat pintu gerbang
rumah kediaman Jin Kui. Ketika melihat api berkobar dan
melihat belasan orang menyerang para penjaga di pintu
gerbang, para penjaga lain datang berlarian ke tempat itu
untuk menghadapi para perusuh.
Akan tetapi setelah para penjaga semua berkumpul
dan tidak kurang dari tigapuluh orang pasukan jaga
melakukan perlawanan, Kok Bu memberi isyarat kepada
kawan-kawannya dan segera melarikan diri. Òàk
seorangpun di antara mereka terluka karena merekapun
tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya me
mancing saja agar semua penjaga berdatangan ke pintu
gerbang.
Sementara itu, dengan gerakannya yang ringan dan
gesit seperti seekor burung walet, Tiong Li menggunakan
ilmu Jouw-sang-hui, melompat ke atas tembok yang
sudah ditinggalkan penjaganya dan melompat masuk ke
sebelah dalam tembok pagar. Dia menyusup ke dalam
taman sehingga tidak nampak, bersembunyi dan
menyelinap di balik rumpun bunga, atau batang pohon
yang tumbuh di dalam taman itu. Akhirnya, tak lama
kemudian dia sudah berada di atas atap gedung tempat
tinggal Perdana Menteri Jin Kui .
Di atas sebuah ruangan di mana duduk Perdana
Menteri Jin Kui, dia mendekam dan mengintai ke bawah.
Dilihatnya Perdana Menteri Jin Kui duduk dijaga oleh
lima orang pengawal dan tak lama kemudian muncullah
seorang yang amat dikenalnya, yaitu Si Muka Tengkorak
yang lihai ! .
"Bagaimana Àðà yang terjadi di luar?" tanya Perdana
Menteri Jin Kui kepada Si Muka Tengkorak.
Tang Boa Lu melapor. "Hanya ada belasan orang
pengacau yang membikin ribut di pintu gerbang. Akan
tetapi setelah para penjaga datang menyerang, mereka
kabur dan menghilang di kegelapan malam. Mereka itu
hanya beberapa orang pemberontak pengecut yang
agaknya hendak mencoba untuk menyerang para
penjaga akan tetapi setelah mendapat perlawanan lalu
melarikan diri."
"Ah, para pemberontak itu memperhebat
pengacauannya. Jangan-jangan mereka tahu tentang
puteri ....."
"Aih, àðà yang mereka ketahui, tai-jin? Puteri Sung
Hiang Bwee kini telah berada di tangan Panglima Besar
Wu Chu di Kerajaan Kin, tidak ada seorangpun yaog
mengetahui, harap tai-jin jangan khawatir."
Kemudian bermunculan Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan
juga Kui To Cin-jin.
"Sungguh celaka. Di kota raja terdapat belasan orang
pemberontak dan kalian tidak mengetahuinya. Ini
sungguh berbahaya sekali."
"Hemm, bagaimana dengan tugas kalian? Apakah
dapat menangkap para pengacau itu?"
"Kami telah melakukan pengejaran akan tetapi mereka
itu lenyap dalam kegelapan malam, tai-jin," Ciang Sun
Hok melapor.
Ma Kiu It, panglima pengawal Jin Kui, segera berkata,
"Jangan khawatir, tai-jin. Besok pagi saya akan
mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan di
dalam kota. Saya juga mencurigai para pengemis Hektung
Kai-pang."
"Ada àðà dengan mereka? Bukankah selama ini para
pengemis Hek-tung Kai-pang tidak pernah melakukan
pelanggaran?" tanya Jin Kui.
"Memang benar, mereka tidak melakukan kejahatan
atau pelanggaran apapun. Akan tetapi saya mendengar
bahwa mereka semua mempelajari iImu silat dan
kabarnya malah mereka memiliki banyak jagoan. Hal ini
amat berbahaya karena siàðà tahu diam-diam mereka itu
membantu para pemberontak!"
"Kalau begitu lakukan penggeledahan dalam sarang
mereka Kalau mendapatkan senjata tajam, sita dan kalau
sikap mereka mencurigakan, lakukan penangkapan!"
"Baik, tai-jin."
Tiong Li sudah mendengar cukup. Pertama, dia sudah
tahu bahwa yang diculik adalah Sung Hiang Bwee dan
kiranya puteri itu diserahkan kepada Panglima Besar Wu
Chu dari kerajaan Kin. Siapa lagi yang punya ulah seperti
itu kalau bukan Perdana Menteri Jin Kui ? Tiong Li
mengepal tinjunya kalau ingat betapa puteri yang cantik
jelita itu telah diserahkan kepada panglima Bangsa Kin!
Dan berita kedua juga amat penting. Besok pagi akan
diadakan penggeledahan di Hek-tung Kai-pang yang mulau
dicurigai! Dia harus memberitahu kepada Kok Bu
secepatnya. Karena itu, dengan hati-hati dia
meninggalkan gedung itu dan memasuki taman.
Akan tetapi sekarang, jalan keluarnya sudah tertutup.
Semua tembok terdapat penjaganya, di sebelah dalam
dan luar tembok sehingga tidak mungkin dia keluar tanpa
diketahui orang. Akan tetapi dia tidak perduli.
Dengan menggunakan iImu Jouw-sang-hui, dia
melompat ke atas tembok. Para penjaga melihat dan
mengejarnya, akan tetapi dua orang penjaga yang
terdekat segera roboh begitu Tiong Li menggerakkan
kakinya. Dan sebelum para penjaga lain dapat
menyerangnya, dia sudah berkelebat dan lenyap ditelan
kegelapan malam.
Tentu saja para penjaga menjadi gempar dan segera
melaporkan kepada Perdana Menteri Jin Kui. Perdana
Menteri Jin Kui menjadi pucat wajahnya mendengar
laporan bahwa baru saja ada orang keluar dari dalam
tembok pagar rumahnya.
Berarti tadi ada orang yang berkeliaran di rumahnya!
Pada hal di situ terdapat Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui
To Cin-jin dan bahkan Tang Boa Lu. Dan mereka semua
tidak mengetahuinya. Ini hanya membuktikan betapa
lihainya orang yang menyusup masuk tadi. Dan mungkin
orang itu sudah mendengarkan percakapan antara dia
dan para pembantunya.
" Celaka! Kejar, cari dan tangkap orangnya!" teriaknya
kepada para pembantunya.
Empat orang itu segera berlompatan mengejar, akan
tetapi tentu saja mereka hanya berputar-putar dalam
kegelepan malam tanpa menemukan siapa- siapa!.
Tiong Li yang mengenakan pakaian hitam itu kembali
ke rumah gedung kosong dl mana Gan Kok Bu sudah
menanti nya. "Bagaimana hasilnya, taihiap?"
"Ada berita amat penting dapat kudengar," kata Tiong
Li. "Puteri Sung Hiang Bwee itu ternyata diculik untuk
diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari
Kerajaan Kin dan sekarang sudah berada di sana!"
"Jahanam busuk! Puteri kaisar diserahkan kepada
Panglima Kin? Jin Kui memang seorang pengkhianat
busuk!"
"Ada berita yang lebih penting sekali untuk kalian,"
kata Tiong LI. "Besok pagi-pagi panglima pengawal dari
Jin Kui akan mengadakan pembersihan terhadap Hek-
Tung Kai-pang."
"Ah, àðà alasannya?" seru Kok Bu terkejut sekali .
"Agaknya Hek-tung Kai-pang mulai dicurigai karena
anggautanya banyak yang mempelajari silat. Besok akan
dilakukan pernggeledahan di sarang Hek- tung Kai-pang.
Kalau bertemu senjata tajam akan disita dan kalau si kàð
kalian mencurigakan akan dilakukan penangkapan ! "
"Terima kasih, Tan-taihiap. Berita ini memang penting
sekalI untuk kami. Nah, selamat tinggal. Sekarang juga
aku harus memberitahu ayah dan kawan-kawan agar
mereka bersiap-siap menghadapi pemeriksaan besok
pagi."
Kok Bu meninggalkan Tiong Li yang kembali
menyamar sebagai seorang pengemis dan malam itu
juga meninggalkan kîta raja. Untung baginya bahwa
kecurigaan terhadap para pengemis belum sampai
kepada para petugas jaga di pintu gerbang sehingga
dengan mudah dia menyelinap keluar dari pintu gerbang
tanpa banyak halangan.
-o0dw0o-
Perkumpulan Ceng-liong-pang yang berpusat di
pegunungan Ceng-liong-san adalah sekelompok pejuang
yang gigih. Ketuanya, Gui Kong Sek adalah seorang
patriot sejati. Biarpun usianya sudah limapuluh tahun
lebih, akan tetapi dia masih menjadi pejuang yang gigih,
memimpin anak buahnya yang sebanyak dua ratus orang
itu untuk melawan dan menentang penjajah Bangsa Kin.
Karena letaknya berada di perbatasan antara Kerajaan
Sung dan Kerajaan Kin, terletak di daerah tak bertuan
yang amat luas, maka mudah bagi para pejuang Cengliong-
pang untuk mengganggu pasukan Kin.
Baik pasukan Kerajaan Kin maupun pasukan Sung
yang menganggap mereka itu pemberontak, mengalami
kesulitan untuk membasmi kelompok ini, Setiap kali
diserbu, ketompok ini cerai berai bersembunyi di
pegunungan Ceng-liong-san, dan mengadakan
perlawanan gerilya yang merugikan pasukan yang
hendak membasmi mereka.
Gui Kong Sek adalah seorang ahli silat Butong-pai
yang berkepandalan tinggi, juga berwatak gagah. Dalam
waktu luang, kalau tidak ada pertempuran, dia bisa
mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk bersamadhi.
Kalau sudah berada di dalam gua itu tak seorangpun
anak buah boleh mengganggunya, kecuali terjadi hal
yang penting sekali dan dia dapat bertahan sampai
beberapa hari bersamadhi di dalam gua itu.
Pada suatu hari Gui Kong Seng menyudahi
samadhinya setelah lima hari berada di dalam gua, dan
semua anggauta Ceng-liong-pang merasa heran melihat
si kàð ketua mereka begitu pendiam, tidak sepertl
biasanya. Bahkan berhari hari ketua itu tidak pernah lagi
mengadakan pertemuan dengan para murid dan
pembantunya untuk membicarakan ð¸rjangan.
Pada suatu hari sang ketua memanggil para murid
dan pembantunya, dan dengan suara tenang dan
berwibawa dia berkata kepada mereka,
"Selama ini kita telah salah jalan. Dalam samadhiku
aku merenungkan semua yang telah kita lakukan selama
ini dan aku merasakan suatu kesalahan yang besar, Kita
harus mencontoh mendiang Jenderal Gak Hui yang setia
kepada kaisar sampai mati. Kita juga harus setia kepada
pemerintah Sung dan kaisar, maka kita harus mencegah
adanya pemberontakan terhadap Kerajaan Sung! Kita
harus membantu kerajaan untuk membasmi para
pemberontak!"
Tentu saja semua murid, dan sute dan pembantu
menjadi heran sekali melihat perubahan ini. Sang Ketua
yang hidup sebatang kara dan tidak berkeluarga itu
kelihatan amat berubah!
"Akan tetapi, pangcu," kata seorang sutenya. "Apakah
itu berarti bahwa kita tidak lagi memusuhi Bangsa Kin?"
"Semua tergantung keputusan pemerintah. Kalau
Kerajaan Sung memusuhi Kin, kita juga harus
memusuhinya. Akan tetapi kalau Kerajaan Sung
berdamai dengan Kin, kita tentu saja tidak boieh
menentangnya. Pendcknya, kita harus bekerja untuk
Kerajaan Sung dan tidak menentang politik dan
pendiriannya!"
Dia lalu membubarkan pertemuan itu dan tentu saja
keputusan ini amat menghebohkan para angguta Cengliong-
pang. Selama ini perkumpulan itu disegani kawan
dan lawan sebagai pejuang yang amat gigih, dan kini
tahu-tahu ke tuanya membanting haluan ke arah yang
ber lawanan ! .
Dan keheranan itu bertambah menjadi penasaran
ketika dua pekan kemudian, perkumpulan itu menerima
kunjungan tamu, yaitu para jagoan dari kota raja para
pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang membicarakan
tentang pembasmian para pemberontak!.
Hal ini tentu saja membuat para anggauta Ceng-liongpang
menjadi penasaran sekali, terutama dua orang sute
dari Hui Kong Sek. Mereka merasa curiga dan hendak
melakukan penyelidikan. Akan tetapi, pada malam hari
itu, kedua orang sute ini kedapatan tewas di kamar sang
ketua yang segera memanggil semua anggauta dan
menunjuk mayat kedua orang sutenya sambil berkata,
"Lihat, mereka ini hendak berkhianat dan bermaksud
membunuhku! Akan tetapi mereka tidak berhasil dan
berbalik terbunuh olehku. Hendaknya mereka ini menjadi
contoh kepada kalian. Siàðà yang hendak berkhianat
akan mengalami nasib yang sama! Nah, siàðà lagi yang
hendak membantah keputusanku bahwa mulai sekarang
kita harus setia kepada Kerajaan Sung dan membasmi
para pemberontak?"
Semua anggauta menjadi ketakutan dan tidak ada
yang berani membantah, Bukan itu saja. Setelah Gui
Kong Sek bersekutu dengan orang orang kepercayaan
Menteri Jin Kui, mulai berdatangan utusan dari Kerajaan
Kin!.
Dan berkat bantuan Gui Kong Sek, banyak kelompok
pejuang yang dapat dibasmi. Sarang mereka diserbu
atas petunjuk ketua Ceng- liong-pang itu, bahkan para
anggauta Ceng-liong-pang dipaksa untuk ikut menyerbu .
Pada suatu hari, Tiong Li yang melakukan perjalanan
untuk mencari puteri Sung Hiang Bwee, tibalah di daerah
kekuasaan Ceng-liong-pang. Selagi dia berjalan seorang
diri, kini dia tidak lagi menyamar sebagai pengemis sejak
keluar dari kota raja, mendadak bermunculan duapuluh
orang lebih yang menghadangnya.
Tadinya dia mengira bahwa mereka adalah perampokperampok,
akan tetapi melihat pakaian mereka yang
pantas, dia mengira mereka itu kelompok pejuang.
Dengan tenang Tiong Li menghadapi seorang tinggi
kurus yang agaknya menjadi pemimpin dari kelompok
orang itu.
"Sobat-sobat sekalian,ada keperluan apakah anda
sekalian menghadang perjalananku?"
Mendadak seorang di antara mereka berseru,
"Aku mengenal orang ini. Gambarnya terpampang di
mana-mana. Dia adalah Tan Tiong Li, pemberontak yang
melarikan puteri istana itu!"
"Tangkap dia!"
"Jangan sampai lolos pemberontak ini !"
Orang-orang itu berteriak-teriak dan menghunus
senjata, mengepung Tiong Li .
Tiong Li berusaha menyabarkan mereka,
"Kawan-kawan, harap jangan terburu nafsu. Memang
benar aku bernama Tan Tiong Li dan memang benar
gambarku terpampang di papan pengumuman di manamana,
akan tetapi semua itu hanyalah fitnah belaka. Aku
bukan seorang pemberontak dan aku sama sekali tidak
menculik puteri Istana."
"Bohong ...... !"
"Mana ada maling mengaku pencuri?"
"Serang dia! Bunuh!"
Orang-orang itu sudah tidak terkendalikan lagi,
beramai-ramai mereka menyerang Tiong Li. Pemuda itu
mengelak dari semua serangan itu, tubuhnya
berkelebatan dan begitu dia menggerakkan tangan kaki,
para pengeroyok itu berpelantingan seperti daun-daun
kering di terbangkan angin!
Si Tinggi kurus sendiri menggunakan pedangnya
menusuk dada Tiong Li, akan tetapi dengan mudah
Tiong Li meloncat ke samping dan sebelum si kurus
sempat menyerang lagi, sebuah totokan membuatnya
roboh dengan lemas dan tidak dapat bangkit kembali.
Tiong Li terus mengamuk dan dalam waktu singkat
semua orang yang berjumlah duapuluh tlga orang itu
telah roboh semua! Dia memang tidak bermaksud
membunuh, maka mereka itu hanya mengalami salah
urat atau tertotok saja, tidak ada yang terluka berat
ataupun tewas.
Tiong Li mendekati si tinggi kurus dan sekali tepuk
dengan tangannya, dia membebaskan totokannya, lalu
bertanya,
"Sebetulnya kalian siapakah dan mengapa
memusuhiku ? Kulihat kalian bukan perampok."
Si tinggi kurus maklum bahwa dia berhadapan dengan
seorang pemuda yang memiliki kesaktian. "Kami adalah
anggauta Ceng-liong-pang."
"Hemmm.. !" Tiong Li mengerutkan alisnya dengan
heran. "Bukankah menurut pendengaranku Ceng-Iiongpang
adalah sebuah perkumpulan para pejuang patriot
yang menentang penjajah Kin? Kenapa menyerang aku
yang difitnah oleh Perdana Menjeri Jin Kui?"
Si tinggi kurus itu menghela napas panjang,
"Ini semua atas perintah pang-cu. Entah àðà yang
terjadi, pangcu kami telah berubah sama sekali. Bukan
saja berhubungan dengan para utusan Perdana Menteri
Jin Kui, akan tetapi juga dengan utusan dari Kerajaan
Kin!"
"Ah ...... !" Tiong Li terkejut sekali. "Àðà yang telah
terjadi?"
Si tinggi kurus ini adalah seorang murid tertua dan dia
sendiri sebenarnya tidak setuju dengan tindakan
gurunya, àðà lagi setelah kedua orang paman gurunya
tewas oleh gurunya sendiri. Kini, bertemu dengan
seorang pemuda sakti yang dimusuhi Perdana Menteri
Jin Kui, timbul harapannya kalau-kalau pemuda ini dapat
membongkar rahasia àðà yang terkandung di balik
perubahan sikàð ketua mereka itu.
"Terjadinya beberapa bulan yang lalu, Setelah keluar
dari tempat samadhinya, pangcu menjadi berubah sama
sekali. Dia melarang kami melakukan gerakan
menyerang pasukan Kin, bahkan tak lama kemudian dia
menerima utusan dari Menteri Jin Kui, dan utusan dari
pasukan Kin. Dan kemudian dia bahkan memaksa kami
untuk memusuhi para pejuang yang disebutnya sebagai
pemberontak-pemberontak yang patut dibasmi."
"Àðà alasannya?"
"Katanya kita harus mengikuti jejak mendiang Jenderal
Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita tidak
boleh menentang kebijaksanaan Kaisar dan kalau Kaisar
berbalik dengan penjajah Kin, kitapun harus mengikuti
jejak Kaisar. Dengan sikapnya itu, dia membantu
pasukan Sung untuk membasmi kaum pejuang. Hal ini
amat mendukakan kami semua akan tetapi kami tidak
berdaya, tai-hiap."
"Ah, sungguh mencuãigakan!" kata Tiong Li. "Mungkin
ketua kalian itu di ancam dan dipaksa. Aku harus
menyelidiki persoalan ini!"
Si tinggi kurus itu menjatuhkan dirinya berlutut di
depan kaki Tiong Li dan perbuatan ini diturut oleh semua
anak buahnya.
"Kami akan merasa berterima kasih sekali kalau
taihiap suka menyelidiki. Dua orang paman guru kami
yang hendak menyelidiki masalah itu bahkan dibunuh
sendiri oleh ketua kami."
"Jangan khawatir, aku akan menyelidikinya. Pasti ada
sebabnya yang membuat ketua kalian berubah pendirian
secara mendadak seperti itu. Nah, mari bawa aku
menghadap dia !"
Duapuluh tiga orang itu lalu berramai-ramai mengantar
Tiong Li ke sarang mereka. Kedatangan mereka
disambut oleh para anggauta lainnya yang berjumlah
kurang lebih duaratus orang itu, dan ketika mereka
mendengar bahwa pemuda itu adalah Tan Tiong Li yang
di cari-cari oleh pemerintah, dan mendengar bahwa
pemuda itu hendak menyelidiki sang ketua yang berubah
pendirian, sebagian besar dari mereka merasa senang
sekali. Ada memang beberapa orang di antara mereka
yang berplhak ke pada sang ketua, akan tetapi. jumlah
mereka tidak banyak dan mereka disuruh diam oleh para
anggauta yang menghendaki agar Tiong Li menyelidiki
perubahan sikàð ketua mereka. Berbondong-bondong
mereka lalu mengantar Tiong Li menghadap Gui Kong
Sek, ketua mereka.
Gui Kong Sek sedang berbincang- bincang dengan
seorang tamunya, yaitu utusan dari pasukan Kin yang
datang ke marin. Tamu ini adalah seorang utusan
panglima Besar Wu Chu yang bernama Un Ci Siang,
seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan
nampaknya kuat sekal!.
Begitu mendengar suara ribut-ribut di luar, ketua
Ceng-liong-pang bersama tamunya lalu berlari keluar.
Mereka melihat para angguta berbondong datang
mengiringkan seorang pemuda tampan. Melihat pemuda
ini, Gui Kong Sek terbelalak dan berteriak sambil
menudingkan telunjuknya kepada Tiong Li.
"Dia pemberontak itu, penculik puteri kaisar! Tangkap
dia!"
Akan tetapi anak buahnya tidak ada yang bergerak,
dan Tiong Li sambil tersenyum melangkah maju
menghampiri Gui Kong Sek.
"Anak buahmu tidak akan menangkap aku, pangcu.
Bahkan mereka mempercayaiku untuk bicara denganmu.
Harap pangcu menjawab terus terang saja semua
pertanyaanku."
Gui Kong Sek mengerutkan alisnya.
"Bicara denganmu? Bicara àðà lagi !? Engkau seorang
pemberontak laknat !"
"Aku bukan pemberontak dan bukan pula penculik
puteri. Hal ini tentu engkau tahu benar kalau memang
engkau telah bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui.
Pangcu, aku mewakli para anggauta Ceng-liong-pang
untuk bertanya kepadamu. Kenapa engkau mengubah
sikàð mu sebagal seorang pejuang ? Engkau bersekutu
dengan Perdana Menteri Jin Kui dan engkau berbaik
dengan orang-orang Kin yang seharusnya kau musuhi.
Àðà artinya ini semua?"
"Aku taat kepada Perdana Menteri berarti taat kepada
pemerlntah. Kami bukan pemberontak melainkan
pejuang yang membela kepentingan. Kerajaan Sung."
"Akan tetapi mengapa bersekutu dengan orang Kin?"
"Kerajaan Sung tidak memusuhi kerajaan Kin,
melainkan ingin bersahabat, kita hanya mendukung
politik yang digariskan oleh Kaisar! Tan Tiong Li, engkau
lancang mencampuri urusan dalam perkumpulan kami!"
"Urusan dalam perkumpulan Ceng-liong-pang adalah
urusan kita semua yang merasa sebagai pejuang yang
hendak mengusir bangsa Kin dari tanah air Engkau telah
berbalik haluan, mengubah pendirian tentu ada sebab
tertentu. Apakah engkau dipaksa oleh Perdana Menteri
Jin Kui, atau engkau telah makan suapan Bangsa Kin?
Kenapa pula engkau membunuh dua orang sutemu yang
hendak menyelidiki masalah perubahan sikapmu itu?"
Mendengar ini, Un Ci Siang yang tinggi besar itu telah
menjadi marah dan tidak sabar lagi.
"Pang-cu, kalau bocah ini mengganggumu, biarkan
aku yang mengusirnya untukmu!"
"Jangan usir, melainkan tangkap hidup atau mati
karena dia seorang buronan pemerintah Sung!" kata Gui
Kong Sek.
Tiong Li sudah mendengar dari orang-orang Cengliong-
pang tadi bahwa tamu inipun utusan panglima Kin,
maka dia memandang dengan mata bersinar.
"Engkau seorang perwira Kin, musuh besar kami!
Engkaulah yang harus menyerah kepada kami!"
Si tinggi besar itu sudah mencabut sebatang golok
yang besar dan mengkilap tajam, membentak,
"Pemberontak laknat, kematian sudah di depan mata,
jangan banyak mulut tagi!" Dan diapun sudah menyerang
dengan goloknya. Serangannya dahsyat sekali karena
memang raksasa ini memiliki tenaga yang besar .
Tiong Li mengelak dan membalas dengan tendangan
yang juga dapat dielakkan lawan.Ternyata raksasa itu
adalah seorang jagoan dari Kin, memiliki ilmu siat yang
cukup tangguh. Akan tetapi lawannya adalah Tiong Li,
seorang pemuda yang telah memiliki kesaktian, maka
biarpun hanya bertangan kosong, Tiong Li sama sekali
tidak terdesak, bahkan ketika dia memainkan ilmu silat
Ngo-heng Lian-hoan-kun, si raksasa menjadi repot sekali
harus mengelak ke sana sini.
Pertandingan seru itu
menjadi perhatian semua
anggauta Ceng-liong-pang
dan melihat betapa
tamunya belum juga
berhasil merobohkan
Tiong Li, mendadak Gui
Kong Seng mengeluarkan
teriakan nyaring dan dia
sudah melompat ke depan
menggunakan pedangnya
untuk mengeroyok!
Pada saat itulah para
murid dan anggauta Ceng-liong-pang memandang
heran. Mereka sama sekali tidak mengenal ilmu pedang
yang dimainkan ketua merekà! Bukan ilmu pedang dari
Ceng-Iiong-pang yang dimainkan ketua itu, melainkan
ilmu pedang yang asing sama sekali bagi para murid
Ceng-Iiong-pang, namun harus diakui bahwa ilmu
pedang itupun dahsyat sekali! .
Biarpun dikeroyok dua oleh orang yang bergolok dan
berpedang sedangkan dia sendiri bertangan kosong,
namun sama sekali Tiong Li tidak pernah terdesak.
Memang kedua orang lawannya memainkan pedang dan
golok dengan dahsyat dan cepat, membentuk dua
gulungan sinar yang melingkar-iingkar, namun tubuh
Tiong Li seperti berubah menjadi bayangan yang
berkelebatan di antara dua gulungan sinar itu.
Òàk pernah golok dan pedang itu dapat mengenai
tubuhnya dan ketika dia menggunakan ilmu pukulan
Thai-lek Kim-kong-jiu, golok yang berada di tangan Un Ci
Siang terlepas karena lengannya kena dihantam tenaga
sakti itu sehingga tergetar hebat.
Di lain saat, ketika Tiong Li membalik untuk
menghantam Gui Kong Sek, orang ini sudah meloncat ke
belakang dan bersama tamunya dia melarikan diri !
Agaknya baik Un CI Siang maupun Gui Kong Sek
màklum bahwa mereka berdua tidak akan mampu
menandingi Tiong LI, maka keduanya segera kabur cerai
berai !.
"Jangan biarkan orang Kin itu lolos!" teriak Tiong LI
kepada anak buah Ceng-liong-pang dan dia sendiri
segera mengejar Gui Kong Seng. Orang-orang Cengliong-
pang bagalkan baru sadar dari mimpi, Tadi mereka
bengong dan terkagum-kagum melihat betapa Tiong Li
mampu menandingi pengeroyokan dua orang itu dan
kini, melihat Un Ñi Siang melarikan diri, mereka segera
beramai- ramai mengejar dan mengepung sambil me
ngacung acungkan senjata untuk mengeroyok.
Un Ci Siang terkepung dan mengamuk dengan tangan
kosong. Amukannya merobohkan sedikitnya lima orang
anggauta Ceng-liong-pang, akan tetapi karena jumlah
mereka amat banyak, akhirnya jagoan dari Kerajaan Kin
itu jatuh juga menjadi korban puluhan senjata yang
membuat tubuhnya hancur dan tewas.
Setelah menewaskan Un Ci Siang, para anggauta
Ceng-liong-pang itu lalu ikut mengejar ketua mereka
sendiri yang dikejar oleh Tiong Li.
Dengan panik Gui Kong Sek lari ke gua di mana dia
biasa bertapa. Akan tetapi Tiong Li tetap mengejarnya
dan melihat bahwa dia tidak dapat melepaskan diri dari
pengejarnya, ketua Ceng-liong-pang ini lalu masuk ke
dalam gua tempat dia biasa bertapa itu.
Gua itu besar dan gelap dan ketika tubuh ketua Cengliong-
pang itu masuk ke dalamnya dia segera ditelan
kegelapan gua itu. Dengan berani Tiong Li mengejar
masuk dengan sikap hati-hati dan waspada sekali. Tibatiba
dia mendengar desir angin dari depan dan sangat
cepat tubuh nya mengelak ke samping. Tiga batang
piauw (pisau terbang) meluncur lewat tubuhnya dan dia
terus mengejar ke da1am.
Kiranya gua itu bukan hanya lebar, akan tetapi juga
dalam dan merupakan semacam terowongan yang
berlika-liku. Di sebelah dalam keadaannya tidak segelap
di bagian luar karena mendapat sorotan sinar dari atas,
mungkin dari celah-celah di mana sinar matahari dapat
masuk.
Ketika dia masuk terus akhirnya dia tiba di sebuah
ruangan dan Tiong Li berhenti melangkah dan
memandang dengan mata terbelalak. Dia melihat ketua
Ceng-liong-pang yang tadi sudah berdiri didekat seorang
laki-laki yang terbelenggu kaki tangannya sambil
menodongkan pedangnya ke dada laki-lakl itu.
Dan laki-laki itu memiliki bentuk wajah yang serupa
benar dengan ketua Ceng-liong-pang itu! Sekarang
mengertilah Tiong Li. Ketua Ceng-liong-pang yang
dikejarnya tadi adalah ketua yang palsu, sedangkan
ketua aselinya menjadi menjadi orang tahanan di dalam
gua ini, dibelenggu kaki tangannya! .
Pantas saja ketua Ceng-liong-pang membawa anak
buahnya menyeleweng dan bersengkongkol dengan
Perdana Menteri Jin Kui dan orang Kin, kiranya dia
adalah ketua palsu! .
"Jangan mendekat, atau orang ini akan kubunuh lebih
dulu !" bentak ketua palsu itu.
"Hemm, biar engkau membunuhnya juga bagaimana
engkau akan dapat lolos dari sini? " Tiong Li balas
menggertak. Diam-diam mendengar lapat-lapat suara
para anggauta Ceng-liong-pang yang mengejar menuju
tempat itu.
"Aku punya usul. Bagaimana kalau engkau
membebaskan dia sedangkan aku membebaskanmu,
membiarkan engkau keluar dari sini dan melarikan diri?"
Ketua palsu itu memang menghendaki demikian.
"Bagaimana aku dapat percaya kepadamu?"
bentaknya.
"Aku Tan Tiong LI bukan orang yang suka melanggar
janji. Aku bersumpah tidak akan mengganggumu dan
membiarkan engkau keluar dari sini kalau engkau
membebaskan tawanan itu! Kalau engkau tidak percaya
dan tidak mau, silakan lakukan àðà saja akan tetapi
jangan harap dapat lolos dari tanganku! "
Gertakan ini mengenal sasaran. "Baik, aku akan
membebaskan dia dan minggirlah!"
Tiong Li minggir memberi Jalan kepada orang itu yang
segera meloncat melewati Tiong Li dan berlari keluar
terowongan gua. Tiong Li tidak memperdulikannya lagi
karena dia percaya bahwa ketua palsu itu tentu akan
bertemu dengan para anggauta Ceng-liong-pang yang
melakukan pengejaran dan sudah tiba di depan gua!
Dia lalu meloncat ke dekat orang yang terbelenggu itu.
"Apakah engkau ini pangcu Gui Kong Sek yang aseli?"
Orang itu mengangguk lemah. "Benar, dan orang tadi
adalah seorang kaki tangan Bangsa Kin yang menyamar
sebagai diriku, ketika aku bersamadhi disini, tiba-tiba aku
diserang dan ditotok sehingga tidak berdaya."
Tiong Li lalu membebaskan kaki tangan orang itu dan
mengajaknya keluar. Mereka mendengarkan suara ributribut
di luar gua .
"Aku adalah ketua kalian! Kalian mau àðà? Apakah
hendak berkhianat kepadaku? Apakah kalian semua
minta mati?"
Tiba-tiba Gui Kong Sek yang aseli meloncat ke depan.
"Jangan percaya, dia pembohong. dan dia menyamar
sebagai aku. Akulah Gui Kong Sek yang aseli, yang
selama ini dia tahan, di dalam gua!"
Semua orang terkejut melihat ada dua Gui Kong Sek,
akan tetapi mereka semua percaya kepada Gui Kong
Sek yang pakaiannya kumal dan kurus ini, maka segera
mereka mengepung Gui Kong Sek yang palsu. Orang itu
menggunakan pedangnya mengamuk, akan tetapi dia di
keroyok dan kini Gui Kong Sek yang aseli juga sudah
menerima sebatang pedang dari anak buahnya dan
dengan sengit ikut menyerang.
Tiong Li hanya menonton saja. Dia sudah bersumpah
tidak akan mengganggu Gui Kong Sek palsu itu, dan dia
sudah memperhitungkan bahwa ketua palsu Itu tidak
akan dapat meloloskan diri karena para anggauta Cengliong-
pang sudah tlba di depan gua. Perhitungannya
tepat sekali dan kini ketua palsu itu di keroyok oleh
banyak sekali anggauta Ceng-liong-pang yang
membantu ketuanya yang aseli.
Biarpun ketua palsu itu cukup lihai, akan tetapi kini dia
menghadapi ketua aseli yang juga hebat Ilmu
pedangnya, ditambah lagi pengeroyokan puluhan orang
anggauta Ceng-Iiong-pang. Akhirnya diapun roboh dan
menjadi sasaran puluhan batang senjata tajam sehingga
tubuhnya hancur lebur.
Tiong Li hendak mencegah akan tetapi sudah
terlambat. Dia hanya menyatakan penyesalannya kepada
Gui Kong Sek ketua Ceng-liong-pang.
"Sayang sekali, kalau dia ditangkap hidup-hidup tentu
kita dapat bertanya siapa dalang semua ini ? "
"Maafkan kami, taihiap. Kami tidak lagi dapat
menahan kemarahan."
"Sudahlah, sekarang pangcu mempunyai tugas baru
yang amat berat dan penting, yaitu membersihkan nama
Ceng-liong-pang yang sudah terlanjur buruk di mata para
pejuang."
Setelah itu Tiong Li berpamit dan diantar sampai
keluar dari daerah Ceng Iiong-pang oleh ketuanya dan
para anggautanya yang berterima kasih sekali. Kalau
tidak ada pertolongan pemuda perkasa itu tentu Cengliong-
pang terlanjur menjadi sebuah perkumpulan yang
menyimpang dan menyeleweng! .
Tiong Li melanjutkan perjalanannya, hatinya diliputi
kekhawatiran melihat betapa plhak Bangsa Kin agaknya
berusaha benar-benar untuk bersama Perdana Menteri
Jin Kui menumpas para patriot pejuang.
-0odwo0-
Ban-tok Sian li Souw Hian Li tinggal di Lembah Maut,
sebuah lembah yang curam dan berbahaya di tepi
Sungai Yang-ce, Karena tempat itu memang merupakan
perbukitan dengan lembahnya yang curam dan banyak
terdapat jurang, berbahaya sekali, maka disebut Lembah
Maut. Di tempat berbahaya ini Ban-tok Sian-li
mempunyai sebuah rumah gedung yang megah, tinggal
di situ bersama muridnya, The Siang Hwi dan beberapa
orang pembantu wanita.
Di sekeliling rumahnya terdapat pondok-pondok
mungil dan ini merupakan tempat tinggal anak buahnya
yang berjumlah sekitar tigapuluh orang. Para anggauta
itu, yang juga merupakan murid-murid yang dilatih oleh
The Siang Hwi yang mewakili gurunya, adalah wanita
yang berusia dari duapuluh sampai tigapuluh tahun.
Biarpun namanya Lembah Maut, akan tetapi tempat ini
mempunyai bagian yang subur sekali sehingga mereka
dapat bercocok tanam di tanah subur itu.Ada pula yang
setiap hari mencari ikan di Sungai Yang-ce.
Pada suatu hari, setelah mandi Siang Hwi bertemu
dengan gurunya di beranda depan, Ban-tok Sian-li Souw
Hian Li sepagi itu juga sudah mandi dan namðàk segar
sehingga Siang Hwi menjadi kagum. Gurunya itu nampak
selalu tetap muda, pantas menjadi kakaknya yang hanya
berbeda satu dua tahun. Pada hal, gurunya itu sepuluh
atau sebelas tahun lebih tua darinya.
"Selamat pagi, subo."
"Selamat pagi, Siang Hwi. Kenapa engkau kelihatan
wajahnya agak pucat dan muram?"
"Semalam aku kurang tidur, subo Aku mendapatkan
mimpi buruk sekali membuat aku sukar tidur."
Gurunya tersenyum. "Ihh, seperti anak kecil saja
engkau, Siang Hwi. Keïàðà mimpi saja dipikirkan sampai
tidak dapat tidur?"
"Entahlah," subo. Akan tetapi sungguh mimpi itu
membuat teecu tidak dapat tidur dan hati merasa gelisah.
S ngai Yang-ce meluap dan airnya sampa
menghanyutkan semua yang berada di sini !"
Senyum Ban-tok Sian-li semakin melebar.
"Anak bodoh! Mana mungkin air Sungai Yang-ce
dapat naik ke lembah ini? Andaikata benar terjadi banjir,
tidak mungkin air sungai dapat naik ke tempat yang tinggi
ini!"
Baru saja percakapan mereka sampai ke situ, tiba-tiba
terdengar suara hiruk plkuk dan sorak sorai. Seluruh
anak buah Lembah Maut menjadi gempar karena tibatiba
sekali tempat itu sudah diserbu oleh pasukan yang
besar jumlahnya! Tidak kurang dari seratus orang
perajurit Kerajaan Sung menyerbu tempat itu, dan tanpa
banyak cakap ,lagi telah menyerang.
Siang Hwi dan Ban-tok Sian-li ñåðàt berlari keluar
sambil membawa pedang dan mereka segera disambut
oleh Kui To Cin-jin dan Tang Boa Lu Si Muka
Tengkorak!. Segera terjadi pertempuran hebat antara
Ban-tok Sfan-li dan Tang Boa Lu, sedangkan The Siang
Hwi sudah bertanding melawan Kui To Cin-jin yang
bersenjatakan rantai baja.
"Tangkap pemberontak!"
"Hancurkan mereka!"
Teriakan-teriakan itu terdengar dan Ban-tok Sian-li
tidak merasa perlu untuk bertanya lagi. Memang ia kini
bersimpati kepada para pejuang dan semenjak peristiwa
di kota raja, yaitu tewasnya An Kiong hartawan dl kota
raja yang dibelanya itu, la sudah dianggap sebagai
pemberontak pula.
Ìàkà, iapun mengamuk dan mengerahkan seluruh
kepandaiannya untuk merobohkan lawan, Akan tetapi
lawannya, Si Muka Tengkorak, merupakan lawan yang
setingkat dengannya sehingga pertandingan itu men--
jadi amat seru.
Sementara itu, para anggauta pasukan Kerajaan Sung
ketika mendapat kenyataan bahwa lawan mereka semua
adalah wanita yang rata-rata masih muda dan cantik,
mereka merasa gembira sekali dan berusaha keras untuk
menangkap mereka hidup-hidup. Karena jumlah mereka
seratus orang lebih sehingga jauh lebih besar dari pada
jumlah anak buah Lembah Maut yang hanya tigapuluh
orang, maka dengan cepat mereka dapat mendesak
lawan.
The Siang Hwi yang mendapatkan lawan Kui To Cinjin,
merasa kewalahan. Orang yang berjubah seperti
pendeta dan bersenjata rantai baja ini memang lihai
bukan main. Mukanya yang seperti tikus, kini tersenyum
dan Jenggotnya yang panjang bergoyang-goyang.
Biarpun tubuhnya tinggi kurus, namun rantai yang
menyambar-nyambar dengan amat kuat dan setiap kali
bertemu dengan pedangnya, Siang Hwi merasa betapa
telaðàk tangannya panas dan tergetar hebat .
Setelah lewat limapuluh jurus, Siang Hwi sudah tidak
kuat bertahan lagi.
"Trangggg ..... !"
Dengan keras sekali pedangnya bertemu rantai baja
dan pedang itu terlepas dari pegangannya dan sebelum
sempat menghindar, sebuah tendangan membuat ia
terpelanting dan sebuah totokan menyusul, membuat ia ti
dak mampu bergerak lagi.
Pada saat itu, sebagian besar anak buah Lembah
Maut juga sudah tertawan dan ada pula beberapa orang
yang terluka parah dan tewas. Akan tetapi lebih banyak
yang tertawan hidup-hidup.
Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Bantok
Sian-li memutar pedangnya dengan kecepatan hebat
dan ia dapat membuat lawannya terpaksa mundur.
Kesempatan ini ia pergunakan untuk meloncat jauh ke
belakang dan Ban- tok Sian-li melarikan diri. la tidak ingin
tertangkap atau terbunuh pula karena maklum bahwa
pihaknya sudah menderita kekalahan.
Akhirnya semua anggauta Lembah Maut telah kalah.
Duapuluh orang tertawan hidup-hidup dan mereka itu
berada dalam rangkulan para perajurit yang tertawa-tawa
penuh kemenangan. Kui To Cin-jin menawan Siang Hwi
karena dia tahu bahwa muridnya, mendiang Jin Kiat
pernah tergila-gila kepada gadis ini dan seolah gadis ini
yang patut dimintai pertanggungan jawab. Ìàkà dia
bermaksud membawanya kepada Perdana Menteri Jin
Kui untuk diadili karena gurunya dapat melarikan diri.
Sarang itu lalu dirampok habis-habisan, kemudian
rumah gedung dan semua pondok yang mengelilinginya
dibakar oleh pasukan itu.
Kui To Cin-jin tidak memperdulikan nasib para
anggauta Lembah Maut. Dia menyerahkan mereka
kepada anak buahnya yang bagaikan segerombolan
serigala yang haus darah lalu mempermainkan dan
memperkosa mereka sampai puas dan merekapun di
tinggalkan mati di tempat itu. Melihat ini, Tang Boa Lu Si
Muka Tengkorak juga tidak perduli sama sekali.
The Siang Hwi yang melihat ini merasa sakit sekali
hatinya dan diam-diam ia bersumpah bahwa kelak ia
akan berusaha untuk membalas sakit hati ini kepada
dalangnya yang ia duga bukan, lain adalah Perdana
Menteri Jin Kui, Akàï tetapi pada saat itu ia tidak berdaya
sama sekali, menjadi tawanan Kui To Cin-jin.
la memang tidak diganggu dan Kul To Ñ in jin
melarang para perajurit mengganggunya karena ia
hendak diserahkan kepada Perdana Menteri Jin Kui
untuk diadili, akan tetapi ia di ikat kedua tangannya dan
dinaikkan kuda di depan Kui To Cin-jin, ditelungkupkan
melintang di atas punggung kuda .
Kui To Cin-jin dan Tang Boa Lu menunggamg kuda di
depan pasukan itu. Mereka berdua merasa gembira
karena telah berhasil membasmi para pemberontak di
Lembah Maut. Perdana Menteri Jin Kui memerintahkan
jagoannya yang diandalkan, yaitu Kui To Cin-jin untuk
memimpin penyerangan itu, dan mengingat bahwa
Bantok Sian-li amat lihai, maka dia minta agar Tang Boa
Lu Si Muka Tengkorak membantunya.
Dan ternyata mereka berhasil. Biarpun Ban-tok Sian-li
dapat melarikan diri, akan tetapi muridnya dapat
ditangkap dan semua anak buahnya dibasmi habis!.
Dua orang jagoan ini sama sekali tidak tahu bahwa
ketika mereka tiba di sebuah jalan sunyi dan berpapasan
dengan seorang pria muda yang memakai caping dan
menutupi mukanya dengan caping, pria muda itu lalu
membayangi mereka dari belakang. Tidak menyangka
sama sekali bahwa pria muda itu adalah orang yang
selama ini mereka cari-cari, yaitu Tan Tiong Li .
Tan Tiong Li sedang dalam perjalanan mencari puteri
Sung Hiang Bwee yang terculik orang dan dibawa ke
daerah Kin, dan baru saja dia meninggalkan Ceng-liongpang
ketika dia dari jauh melihat rombongan pasukan itu.
Dia menutupi mukanya dengan caping dan betapa
kagetnya ketika ia melihat The Siang Hwi rebah
melintang di atas kuda yang ditunggangi oleh Kui To Cinjin!.
Tahulah dia bahwa gadis itu ditawan, maka dia lalu
membayangi dengan cepat. Bahkan tanpa mereka
ketahui, dengan mengambil jalan pintas dia mendahului
mereka dan naik ke atas pohon tepi jalan.
Dia sudah memperhitungkan dengan cermat sekali,
maka ketika rombongan itu lewat, dan tepat ketika kuda
yang ditunggangi Kui To Cin-jin berada di bawah pohon,
pemuda itu lalu melayang turun. Bagaikan seekor burung
garuda yang besar dia menyambar tubuh Siang Hwi dari
atas kuda Kui To Cin-jin, tanpa pendeta itu dapat
menghalangi karena gerakan dengan ilmu Jouw-sang-hui
itu cepat bukan main dan tahu-tahu Siang Hwi telah
berada dalam pondongan nya ! .
Ketika melihat siàðà orangnya yang merampas gadis
tawanannya itu,Kui To Cin-jin terkejut sekali dan cepat
dia berteriak,
"Tangkap orang itu ........ !! "
Tang Boa Lu yang lebih dulu dapat mengejar dengan
loncatannya, akan tetapi Tiong Li yang sudah
membebaskan ikatan tangan gadis itu, membalik dan
melontarkan pukulan Thai-lek Kim-kong- jiu kepada Si
Muka Tengkorak. Tang Boa Lu terkejut dan menangkis
dengan pengerahan tenaga.
"Desssss ...... !"
Dua tenaga sinkang yang kuat itu bertemu di udara
dan akibatnya Si Muka Tengkorak hampir terpelanting!.
"Mari kita pergi!" kata Tiong Li sambil menggandeng
tangan Siang Hwi dan membawanya loncat jauh.
Melihat ke tangguhan pemuda itu, Si Muka Tengkorak
menjadi jerih kalau harus melawan sendiri, sedangkan
yang lain-lain masih belum cukup kepandaian mereka
untuk dapat melakukan pengejaran.
Terpaksa Kui To Cin-jin hanya dapat menyumpahnyumpah
dan mengajak mereka melakukan pengejaran.
Akan tetapi semua usaha itu sia-sia belaka. Yang dikejar
sudah lenyap entah ke mana. Dengan uring-uringan Kui
To Cin-jin terpaksa mengajak mereka kembali ke kota
raja, melapor kepada Perdana Menteri Jin Kui bahwa
usaha pembasmian ke Lembah Maut sudah berhasil baik
akan tetapi Ban-tok Sian-li dan muridnya telah berhasil
melarikan diri.
-o0odwo0o-
Tiong Li berhenti berlari dan memandang kepada
Siang Hwi yang terengah engah kelelahan karena
dipaksa melarikan diri dengan cepat sekali itu. Dia
melihat wajah gadis itu pucat dan wajahnya yang cantik
jelita itu diliputi kedukaan besar.
"Hwi-moi....." tegurnya sambil memandang kepada
gadis itu dengan penuh iba.
"Li-koko ...... !" Dan tiba-tiba saja gadis itu menangis.
Tiong Li terkejut dan merangkulnya,
"Hwi-moi, ada apakah ...... ?"
Siang Hwi menangis di dada pemuda itu, lupa bahwa
ia telah berada dalam pelukan orang. la hanya ingin
menumpahkan semua kedukaan pada saat itu dan
baginya dada pemuda itu merupakan tempat bersandar
yang sentausa dan aman. Karena maklum bahwa gadis
itu baru saja mengalami hal yang hebat dan mungkin
mendukakan, Tiong Li mendiamkan saja menangis,
bahkan menahan dirinya untuk tidak bertanya tentang
gurunya yang tidak nampak.
Setelah tangis itu
mereda, barulah Siang
Hwi sadar bahwa ia
berada dalam pelukan
Tiong Li. la menjauhkan
diri, melihat betapa baju
bagian dada Tiong Li
sudah basah air matanya.
"Ah, maaf, koko,
bajumu menjadi basah
....... " katanya tersipu.
"Tidak mengapa, Hwimoi.
Sekarang ceritakan, àðà yang telah terjadi
denganmu dan bagaimana engkau sampai tertawan oleh
orang-orangnya Perdana Menteri Jin Kui itu ? "
"Tempat kami .telah dlserang pasukan tadi, koko.
Semua anak buah telah ...dibunuh ....... " la tidak sampai
hati menceritakan betapa semua anak buah itu dihina
dan diperkosa sebelum di bunuh.
"Ah, dan di mana subomu?"
"Subo dapat melarikan diri akan tetapi aku tertawan.
Tempat kami diramðîk dan dibakar habis. Aku.... ah,
entah àðà yang akan terjadi dengan diriku kalau saja
tidak ada engkau yang menolongku, koko. Aku berterima
kasih kepadamu...."
"Hussh, tidak perlu bicara tentang terima kasih. Sudah
selayaknya kita saling bantu. Dahulupun kalau bukan
engkau yang menolong, aku sudah lama mati dl tangan
subomu. Sekarang, bagai mana, Hwi-moi? Àðà yang
akan kaulakukan?"
Siang Hwi menghela napas panjang dan memandang
pemuda itu dengan memelas.'"Aku tidak tahu, koko. Aku
sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Tempat sudah
dibakar, subo juga entah pergi ke mana. Aku tidak tahu
ke mana harus pergi dan àðà yang harus kulakukan,"
katanya bingung.
"Kalau engkau hendak mencari subomu, mari
kutemani dan kubantu mencarinya."
"Ke mana kita harus mencarinya?
la melarikan diri dan kami berdua tentu kini menjadi
buruan pemerintah. Ke manapun kita pergi tentu akan
diburu dan kalau ketahuan akan ditangkap. Aih koko, aku
tidak mengira sekali........nasibku akan menjadi begini."
"Sudahlah, moi-moi. Bagaimana kalau engkau kembali
kepada keluargamu? Aku akan mengantarmu ke sana."
Gadie itu memejamkan jnatanya dan kembali
beberapa butir air mata mengalir keluar dan cepat
dihapusnya.
"Li koko, aku sudah tidak mempunyai keluarga, sudah
tidak mempunyai orang tua. Aku hidup sebatang kara di
dunia ini, tadinya aku hanya mempunyai subo, akan
tetapi sekarang ... " Gadis Itu memandang sedih sekali.
Tiong Li memegang kedua lengan gadis itu.
"Besarkan hatimu, Hwi-moi, Ketahuilah bahwa aku
sendiri juga seorang yatim piatu yang tidak mempunyai
siapa-siapa lagi, kita sama-sama sebatang kara akan
tetapi.... bukankah kita ini sekarang saling... memiliki ?
Aku akan membantumu dalam segala hal, dan akan
melindungimu, kalau perlu dengan taruhan nyawaku,
Hwi-moi...."
"Li-koko ..... engkau begini baik. Sejak dahulu engkau
amat baik kepadaku. Kenapa engkau begini baik kepada
ku, koko? Bahkan subo yang biasanya baik kepadaku
meninggalkan aku ketika aku tertawan. Akan tetapi
engkau... ah, mengapa engkau begini baik kepadaku?"
"Mengapa? Aku sejak pertama kali bertemu sudah
amat tertarik kepadamu, Hwi-moi, tertarik karena
kebaikan hatimu ketika engkau mencegah subomu untuk
membunuhku. Aku sudah suka sekali kepadamu dan aku
.... ah, aku cinta padamu, Hwi-moi. Tidak terasakah
olehmu?"
Tlba-tiba Siang Hwi menundukkan mukanya yang
menjadi merah sekali. "Aku.... aku merasakan itu.koko."
"Dan bagaimana dengan perasaan hatimu, Hwi moi?
Bagaimana perasaan hati mu terhadap aku?"
Sampai lama Siang Hwi tidak mampu menjawab.
Bagaimana seorang gadis dapat membuka rahasia
hatinya begitu saja ? la merasa tersipu dan malu sekali.
"Koko, aku.... aku hanya pasrah kepadamu. Aku....
kalau engkau tidak berkeberatan, aku akan ikut
denganmu ke manapun engkau pergi. Aku akan
membantumu sekuat kemampuanku dan aku.... aku akan
setia kepadamu."
Tiong LI merasa gembira sekali dan berbesar hati
"Akan tetapi bagaimana kalau kita bertemu lagi
dengan.su bomu? Engkau akan meninggalkan aku dan
ikut lagi kepada subomu? "
"Tidak! Subo telah meninggalkan aku ketika aku
tertawan. Aku tidak lagi mau ikut subo. Aku ingin Ikut
engkau, koko!"
"Hanya ikut saja? Sebagai àðà?"
"Terserah kepadamu, aku hanya me nurut. Sebagai
muridmu, atau sebagai pelayanmu, aku tidak akan
menolak."
Tiong Li merasa terharu sekalI dan tlba-tlba dia
merangkul lagi gadis Itu, Dikecupnya kening yang halus;
itu dan dia berbisik,
"Bagaimana kalau engkau Ikut denganku sebagai....
tunangan ku, sebagai kekasihku, sebagai calon isterlku?
Aku cinta padamu, Hwi-moi."
Dengan tersipu Siang Hwi menyembu nylkan mukanya
di dada pemuda itu. "Sudah kukatakan aku pasrah dan ø
menurut saja semua keinginanmu, koko."
"Akan tetapi, cintakah engkau kepadaku?" Tiong Li
mencium rambut kepala yang bersandar di dadanya itu.
Siang Hwi tidak menjawab, akan tetapi Tiong Li
merasa dengan dadanya betapa kepala itu menganggukangguk!
Dan itu sudah cukup baginya. Hatinya merasa
demikian besar dan gembira. Dia menangkap tubuh itu,
lalu dilemparkannya ke atas, ditangkap dan dilemparkan
lagi.
Siang Hwi terkekeh dan menjerit-jerit kecil,akan tetapi
Tiong Li tetap melambungkannya ke atas dan
menangkapnya lagi seperti sebuah bola. Siang Hwi lalu
mengerahkan tubuhnya sehingga berat. Akan tetapi
Tiong LI dapat menangkapnya dan ketika
melambungkannya lagi gadis itu menggunakan
ginkangnya untuk meloncat dan berjungkir balik se
hingga ketika ia turun kepalanya terlebih dulu. la
menjulurkan kedua tangannya untuk menangkis
tangkapan kekasihnya sambil terkekeh. Tiong Li
menerimanya dan merangkul, memondongnya seperti
anak kecil dan mengecup kedua pipinya.
"Aih, engkau nakal, Li-ko ! " Siang Hwi berkata, akan
tetapi ia merangkulkan lengannya ke leher pemuda itu.
Demikianlah, kedua orang muda itu bermain-main dan
bermesraan dengan hati penuh kasih sayang.
0o-dw-o0
Jilid VII
Setelah semua gejolak cinta itu mereda. Siang Hwi
bertanya, "Sekarang kita hendak pergi ke mana, koko?"
Tiong Li lalu menceritakan tentang lenyapnya puteri
Sung Hiang Bwee.
"Puteri itu menurut keterangan yang kudapatkan dari
percakapan Perdana Menteri Jin Kui, telah dibawa, ke
utara dan diserahkan kepada Panglima Wu Chu,
panglima besar Bangsa Kin. Akan tetapi Perdana Menteri
melakukan fitnah sehingga Kaisar mengumumkan
penangkapan atas diriku dengan tuduhan menculik puteri
itu."
"Ihh, betapa jahatnya Perdana Menteri itu!" kata Siang
Hwi.
"Jahat dan licik sekali, Hwi-moi Karena itu, aku harus
menyusul ke utara untuk menemukan kembali sang
puteri dan mengembalikan kepada Kaisar. Barulah
dengan demikian namaku akan bersih dan kedok
Perdana Menteri Jin Kui akan terbuka. Dan engkau ikut
menemaniku mencari sang puteri."
"Ke daerah kekuasaan Kin?"
"Ya benar, ke utara."
"Baiklah, koko, ke manapun engkau pergi, aku ikut."
Demikianlah, sepasang kekasih ini lalu melanjutkan
perjalanan menuju ke utara, melewati perbatasan atau
daerah tak bertuan dan memasuki wilayah Kerajaan Kin.
0o-dw-o0
Pada suatu pagi Tiong Li dan Siang Hwi memasuki
kota Lok-yang. Kota ini menjadi ibu kota ke dua sesudah
Kai Feng yang tetap dijadikan kota raja oleh Bangsa Kin.
Bangsa Kin memerintah dengan tangan besi sehingga
rakyat Bangsa Han merasa tertindas akan tetapi mereka
tidak berani berbuat sesuatu.
Pasukan Bangsa Kin adalah pasukan yang kuat dan
kejam, terutama sekali terhadap rakyat jelata Bangsa
Han. Betapapun juga, Kerajaan Kin membiarkan rakyat
berdagang seperti biasa sehingga keadaan kota-kota
cukup ramai dengan perdagangan. Yang memberatkan
rakyat adalah pajak yang dipungut secara liar dan
sembarangan. Para pejabatnya mempunyai wewenang
sehingga siàðà yang dapat memberi suapan besar,
merekalah yang lolos dari himpitan pajak.
Di antara para orang Han yang pandai banyak pula
yang mengabdi kepada Kerajaan Kin dan mereka yang
benar-benar setia mendapat penghargaan dan
menduduki pangkat tinggi. Akan tetapi banyak pula orang
pandai yang bahkan menyembunyikan diri. tidak mau
membantu pemerintah Kin walaupun mereka juga tidak
melakukan pemberontakan biarpun diam-diam mereka
masih mengharapkan kembalinya pemerintah Kerajaan
Sung.
Tiong Li dan Siang Hwi memasuki kota Lok-yang
karena mereka mendengar bahwa PangIima Besar Wu
Chu berkedudukan di Lok-yang walaupun perbentengan
besarnya berada di luar kota Lok-yang. Di sini mereka
tidak dikenal maka merka merasa aman untuk
melakukan penyelidikan. Di Kerajaan Sung, Tiong LI
sudah merupakan buronan pemerintah yang gambarnya
terpampang di mana-mana sehingga tentu saja dia tidak
dapat melakukan perjalanan dengan aman.
Setelah mendapatkan dua kamar di Sebuah rumah
penginapan, Tiong Li mengajak kekasihnya untuk keluar
dan mereka memasuki sebuah rumah makan yang tidak
jauh letaknya dari gedung tempat tinggal Panglima Wu
Chu. Mereka tadi sudah berjalan-jalan di sekitar gedung
itu dan melihat betapa gedung itu terjaga ketat oleh para
perajurit.
Sambil memesan makan, mereka menanti datangnya
masakan sambil bicara berbisik-bisik. "Mungkinkah sang
puteri berada di gedung tadi?" tanya Siang Hwi berbisik.
"Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya, koko?"
"Kita harus menyelidiki hal itu. Hwi-moi. Penjagaan
amat ketat, maka biarlah aku sendiri yang malam nanti
me-akukan penyelidikan ke dalam gedung tu untuk
melihat apakah sang puteri berada di dalam ataukah
tidak. Engkau menanti saja di rumah penginapan, Hwimoi."
Siang Hwi mengangguk, maklum bahwa ilmu
kepandaiannya masih jauh untuk dapat menyelinap
masuk kedalam gedung itu tanpa diketahui penjaga dan
kalau ia ikut, ia hanya akan mengganggu dan
merepotkan saja. Mungkin ia masih dapat menggunakan
ginkangnya untuk menyelinap masuk, akan tetapi
andaikata ketahuan, maka sukarlah baginya untuk
meloloskan diri tanpa ketahuan mengingat bahwa di
gedung panglima besar itu tentu terdapat banyak jagoan
yang lihai.
Hidangan datang dan keduanya makan minum tanpa
bercakap-cakap. Pada saat itu masuk tiga orang
berpakaian perwira Kin dan dengan lagak sombong dan
suara keras mereka minta disediakan arak baik dan
bebek panggang.
"Cepat sediakan dan araknya yang terbaik! Panggang
bebeknya yang kering sehingga kulitnya renyah dan
sedap!" teriak mereka. Mereka berusia antara tigapuluh
sampai empatpuluh tahun.
Tiong Li melirik ke arah kiri. Di sana duduk seorang
kakek berusia enam puluhan tahun dan kakek ini duduk
seorang diri, capingnya yang lebar diletakkan di atas
meja dan rambutnya panjang digelung ke atas. Dia
melihat betapa kakek itu memandang kepada tiga orang
perwira dengan alis berkerut tanda tidak senang hatinya.
Seorang perwira yang termuda kebetulan melihat
Slang Hwi dan dia menyeringai. "Wah, ada bidadari di
sini!" katanya kepada dua orang kawannya. Mereka
semua menengok dan memandang kepada Siang Hwi.
"Hebat! Kalau engkau berhasil mengajak ia minum
bersama kita,, barulah engkau patut disebut jagoan
jantan!" kata seorang di antara mereka kepada perwira
termuda.
"Hem, mengapa tidak? Kalian lihat saja!" kata perwira
itu sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian
dengan langkah agak terhuyung karena dia sudah
minum setengah mabok sebelum masuk rumah makan
itu, dia menghampiri meja Siang Hwi dan Tiong Li.
."Nona yang jelita, kami mengundang nona untuk
minum-minum bersama kami sambil menikmati bebek
panggang. Harap nona tidak menolak, dan kami akan
memberi hadiah yang besar."
Siang Hwi mengerutkan alisnya dan menurutkan
hatinya, ingin ia menghajar perwira itu. Akan tetapi
pandang mata Tiong Li melarangnya dan iapun
menjawab ketus.
"Aku sudah makan dan minum," katanya sambil
menunjuk ke atas meja.
"Aih, makan sayur begini mana enaknya? Kami
mengundangmu dengan hormat, nona kami perwiraperwira
dari panglima besar. Marilah!" Perwira itu
memegang lengan kiri Siang Hwi. dan ber usaha
menariknya. Dengan gemas sekali Siang Hwi lalu
menggunakan telunjuk tangan kanannya, menggunakan
kuku telunjuk itu menggurat lengan yang memeganginya
sambil berkata.
"Aku tidak mau. Lepaskan tanganku!"
Tiong Li bangkit berdiri dan memberi hormat kepada
perwira itu.
"Ciangkun, isteriku sudah makan minum bersama aku
suaminya, dan tidak menghendaki makan minum
bersama ciangkun, harap tidak memaksa."
Perwira itu melepaskan tangan Siang Hwi dan
memandang kepada Tiong Li dengan mata melotot.
"Isterimu? Apa salahnya kalau hanya menemani kami
makan minum?"
Pada saat itu, tiba-tiba kakek di meja sebelah kiri itu
berkata. "Hemmm, agaknya Panglima Besar Wu Chu
tidak dapat mendidik para perwira pembantunya.Hendak
kulihat apa yang akan dilakukan kalau aku melaporkan
Hal ini kepadanya!"
Perwira itu terkejut dan memandang kepada kakek itu.
Dia tidak mengenal kakek itu, akan tetapi kata-kata kakek
itu agaknya membuatnya jerih. Dia menghampiri meja
kawan-kawannya, berbisik-bisik kemudian mereka
bertiga meninggalkan rumah makan tanpa menanti
pesanan mereka.
Tiong Li dan Siang Hwi mengerling ke arah kakek itu,
akan tetapi kakek itu minum arak dari cawannya dan
tidak memperdulikan mereka. Karena peristiwa itu
keduanya merasa tidak enak, takut menjadi perhatian
orang maka keduanya segera menghabiskan makanan
dan membayar lalu meninggalkan rumah makan itu.
Mereka berdua lalu mengunjungi taman rakyat yang
terkenal indah di Lok yang, akan tetapi baru saja mereka
memasuki taman itu, mereka melihat kakek yang tadi
sudah berada di depan, duduk di atas sebuah bangku!
Melihat mereka kakek itu mengangkat capingnya sambil
tersenyum.
Diam-diam Tiong Li terkejut. Begitu cepatnya kakek itu
mendahului mereka ke tempat ini, sungguh mengejutkan
dan betapa cepatnya. Dia lalu mengambil Keputusan
untuk berkenalan karena dia merasa dibayangi oleh
kakek itu. Di ajaknya Siang Hwi menghampiri kakek yang
duduk di atas bangku itu. Untung di tempat itu tidak ada
orang lain sehingga dia dapat bicara dengan leluasa.
"Maafkan kami, paman. Kami ingin menghaturkan
terima kasih atas pertolongan paman di rumah makan
tadi, mengusir tiga orang perwira yang hendak kurang
ajar," kata Tiong Li sambil mengangkat tangan memberi
hormat, di turut oleh Siang Hwi.
"Hemm, kalian bukan suami isteri, mengapa mengaku
suami isteri?" tanya kakek itu dengan suara mengejek.
Kedua orang muda itu terkejut.
"Bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa......"
kata Siang Hwi .
"Sikap kalian menunjukkan bahwa kalian bukan atau
belum menjadi suami isteri !" kata kakek itu .
"Alasan itu hanya untuk menolak ajakan perwira tadi,
paman," kata Tiong Li cepat.
"Kalian tidak perlu berterima kasih kepadaku. Kalian
dapat menjaga diri dengan baik, tanpa bantuanku
mereka bertiga tidak akan dapat berbuat sesuatu
terhadap kailan. Akan tetapi kenapa nona begitu kejam?
Perwira itu memang kurang ajar, akan tetapi perlukah
membuat dia terluka beracun yang amat berbahaya? "
Tiong Li terkejut. Dia sendiri tidak melihat kekasihnya
menyerang orang tadi, bagaimana dapat dikatakan
melukai beracun yang berbahaya? Dia menoleh kepada
Siang Hwi dan melihat kekasihnya merasa terkejut dan
heran pula. "Engkau melihat apakah, paman?".
"Hemm, engkau menggurat lengannya dengan kuku
jarimu dan aku melihat guratan itu sudah menimbulkan
warna merah kebiruan yang membengkak!"
"Hwi-moi......!!" Tiong Li kini memandang kekasihnya
dengan mata terbelalak.
Siang Hwi tersenyum. "Hebat sekali ketajaman
pandanganmu, paman. Akan tetapi engkau jangan
khawatir, koko. Aku hanya menggurat kulit lengannya
dan dia hanya akan menderita sakit bengkak pada
lengannya itu tanpa membahayakan nyawanya. Apa
kaukira aku begitu mudah membunuh orang? Biarlah
sekedar memberi hajaran agar lain kali dia tidak akan
memandang rendah kaum wanita, dan diapun tidak akan
tahu bahwa aku yang membuat lengannya
membengkak."
Tiong Li kini menghadapi kakek itu .dan memberi
hormat pula. "Kiranya paman seorang yang amat lihai,
harap maafkan kami yang tidak mengenal paman."
"Sudahlah, akan tetapi pesanku agar kalian berhatihati
di sini. Banyak terdapat jagoan yang amat lihai dan
tinggi ilmu kepandaiannya. Kalau perbuatan nona tadi
diketahui oleh seorang di antara para jagoan, tentu kalian
dicurigai sebagai mata-mata Kerajaan Sung dan
keadaan bisa berbahaya.Selamat tinggal!"
Setelah berkata demikian, kakek bercaping itu lalu
bangkit dan berjalan pergi dengan cepat. Karena di
taman itu terdapat banyak orang yang mulai
berdatangan, Tiong Li dan Siang Hwi tidak berani
melakukan pengejaran.
"Wah, belum apa-apa sudah bertemu dengan perwira
kurang ajar dan seorang kakek yang lihai ," kata Tiong Li.
"Mulai sekarang kita harus berhati-hati dan waspada,
jangan mencari keributan."
"Akan tetapi bagaimana kalau ada orang berbuat atau
berkata kurang ajar terhadap diriku, koko? Apakah harus
di diamkan saja?"
"Tentu saja tidak,.akan tetapi dari pada menanggapi
mereka, lebih baik kita tinggal pergi."
"Kalau mereka mengejar dan memaksa?"
"Wah, kalau begitu, aku sendiri akan turun tangan
menghajar mereka. Aku tidak ingin siapa saja
mengganggumu, Hwi-moi !"
Mendengar jawaban ini barulah puas hati Siang Hwi.
"Aku menaati semua pesanmu, koko."
"Nah, malam ini aku jadi melakukan penyelidikan ke
rumah Panglima Besar Wu Chu dan engkau menanti aku
di kamar penginapan."
"Baik, koko."
0o0-d-w-o0o
Bayangan Tiong Li berkelebat seperti burung malam
ketika dia berlompatan di luar tembok pagar rumah
gedung Panglima Besar Wu Chu. Dengan mudah dia
dapat melompati pagar tembok yang tidak ada
penjaganya dan melompat masuk ke bagian dalam pagar
tembok itu. Setelah mendekam agak lama di taman dan
melihat keadaan sudah aman, para petugas jaga sudah
meronda lewat, dia lalu menyelinap di antara pohonpohon
dan rumpun bunga, menuju ke bagian belakang
gedung itu. Dia pikir kalau benar sang puteri berada
disitu, tentu berada di bagian belakang gedung, di bagian
puteri.
Setelah melihat sekeliling tidak nampak penjaga, dia
lalu melompat ke atas genteng. Akan tetapi baru saja dia
berjalan beberapa meter, kakinya menyangkut tali yang
agaknya banyak di pasang di situ. Segera terdengar
suara hiruk pikuk disusul suara kentungan dan terompet
dibunyikan orang..
Celaka kiranya kakinya tadi menyangkut alat yang
sengaja dipasang orang sehingga menimbulkan suara
hiruk pikuk. Kedatangannya telah ketahuan! Tentu saja
dia tidak berani mengambil resiko. Dilihatnya dari atas
genteng betapa para penjaga sudah banyak berlarian,
bahkan ada yang dengan gesitnya melompat Keatas
genteng.
Di antara para penjaga itu terdapat banyak orang lihai
...... pikirnya dan diapun cepat melompat turun dan lari ke
dalam taman. Ada penjaga yang melihat bayangannya
lalu berteriak mengejar. Banyak penjaga melakukan
pengejaran. Akan tetapi dengan cepat sekail tubuh Tiong
Li sudah melayang naik ke pagar tembok, lalu melompat
keluar dan menghilang dalam kegelapan malam. Dia
berhasil lolos, akan tetapi nyaris saja dia terkepung!
Karena tidak mungkin malam itu mengadakan,
penyelidikan, dia lalu berlari cepat menuju ke rumah
penginapan. Akan tetapi ternyata dua kamar mereka
telah kosong. Tidak nampak Siang Hwi di dalamnya dan
sebagai gantinya dia melihat sebatang pisau belati
tertancap di atas meja menusuk sehelai surat. Dengan
jantung berdebar tegang dia membaca surat itu.
"Kalau hendak bertemu dengan gadis itu, pergilah
kelereng bukit Fu-niu-san di selatan."
Tiong Li membuang pisau itu dan mengantungi
suratnya, lalu tubuhnya melesat lagi keluar dari jendela.
Jantungnya berdebar penuh kegelisahan.. Mencari puteri
Sung Hiang Bwee yang di culik orang belum berhasil, kini
Siang Hwi telah diculik orang pula! Atau demikian
mudahkah Slang Hwi diculik orang? Dia tidak percaya.
Gadis itu memiliki kepandaian tinggi dan cukup lihai
untuk membela diri, bahkan memiliki banyak macam
pukulan beracun yang ampuh. Hanya orang yang amat
tinggi ke pandaiannya saja yang akan mampu menun
dukkan dan menculik Siang Hwi. Akan tetapi mengapa
penculik meninggalkan surat? Jelas, penculik itu sengaja
memancingnya untuk datang ke Fu-niu-san. Dia tidak
takut. Biar harus ke neraka sekalipun, untuk menolong
Siang Hwi, akan didatanginya juga!.
Fu-niu-san terletak di sebelah selatan kota Lok-yang,
maka dia lalu keluar dari kota itu melalui pintu gerbang
selatan, dan terus berlari cepat menuju ke bukit itu. Akan
tetapi malam terlalu gelap baginya. Terpaksa dia berjalan
perlahan melanjutkan tujuannya ke bukit itu.
Baru pada keesokan harinya, ketika matahari, mulai
bersinar, dia tiba di kaki bukit Fu-niu-san. Ke mana dia
harus pergi? Perbukitan itu terlalu luas dan tentu saja
mempunyai lereng yang tak terhitung banyaknya! Akan
tetapi tiba-tiba, dalam keremangan fajar itu; dia melihat
api berkelap-kelip di atas sebuah lereng di depannya. Di
seluruh tempat itu hanya ada api itu yang nampak, tidak
ada di tempat lain lagi dan ini tentu bukan hal yang
kebetulan saja. Agaknya orang telah memberi tanda
kepadanya! Diapun tanpa ragu lagi terus mendaki lereng
di depan itu.
Api itu ternyata sebuah api unggun yang sengaja
dibuat orang di depan sebuah pondok besar yang
terpencil! Dan di sekitar pondok itu berdiri belasan orang
yang semua memegang sebatang golok. Dari sinar api
unggun itu Tiong Li melihat bahwa golok yang mereka
pegang itu merupakan sebatang golok besar yang
berukir naga. Mestika Goloki Naga! Kenapa begitu
banyak? Tiong Li teringat akan golok yang dahulu
dirampasnya dari Si Golok Naga. Mestika Golok Naga
yang dipegang oleh Hak Bu Cu itu ternyata palsu, dan
kini begitu banyak orang memegang golok yang persis
seperti Mestika Golok Naga. Tentu saja semuanya
palsu!.
Dia menjadi khawatir sekali akan nasib Siang Hwi.
Maka, diapun dengan berani meloncat ke depan belasan
orang itu yang segera mengepungnya.
Pintu pondok itu terbuka dan dengan heran sekali
Tiong Li melihat seorang laki-laki tinggi besar yang
berusia kurang lebih empatpuluh tahun berdiri tegak
dengan golok semacam pula di tangan. Dan di
sebelahnya berdiri Siang Hwi! Akan tetapi gadis ini
bebas, dan bahkan tersenyum kepadanya!
"Hwi-moi......!"
"Koko, akhirnya engkau datang juga."
Siang Hwi lari menghampiri Tiong Li dan pemuda itu
memegang kedua tangannya. "Hwi-moi, apa yang
terjadi? Kenapa engkau berada di sini?"
"Perkenalkan, koko. ini adalah Ciu-ciangkun. Dialah
yang mengajak aku ke sini karena katanya kalau aku
berada di rumah penginapan, akan berbahaya sekali.
Katanya engkau belum tentu berhasil dan diketahui
rumah penginapan di mana-kita bermalam, kita tentu
akan dikejar dan ditangkap. Maka dia mengajakku ke sini
dan sengaja mengundangmu datang ke sini. Mereka
memperlakukan aku dengan hormat dan baik, koko. Dan
Ciu-ciangkun ini telah mengenal subo."
Ciu Bhok Hi, perwira itu,.memberi hormat kepada
Tiong Li. "Kami telah mendengar tentang.namamu,
saudara Tiong Li. Bukankah engkau yang menjadi orang
buronan Kerajaan Sung? Dan nona ini adalah murid Bantok
Sian-li yang kebetulan telah kukenal. Namaku. Ciu
Bhok Hi dan aku menjadi komandan dari pasukan Golok
Naga yang membantu Panglima Besar Wu Chu. Kami
semua sudah mengetahui bahwa engkau hendak
mendatangi gedung panglima besar.".
"Akan tetapi kalau sudah mengetahui, mengapa
memancing aku ke sini, dan tidak mengepung dan
menyerangku di sana saja? Apa artinya semua ini?"
"Ha-ha-ha engkau begitu tidak sabar. Marilah masuk
kedalam pondok, saudara Tan Tiong Li. Kita bicara di
dalam!"
Dengan berani Tiong Li menghampiri dan mereka
bertiga, Tiong Li Siang Hwi dan komandan itu memasuki
pondok. Sementara itu, cuaca sudah mulai terang, akan
tetapi api lampu penerangan dalam pondok masih
dinyalakan.
Tiong Li dan Siang Hwi duduk di atas kursi
menghadapi meja bundar yang besar, berhadapan
dengan Ciu Bhok Hi. Setelah memandang tamunya
dengan penuh perhatian, Ciu Bhok Hi menghela napas
panjang.
"Tidak kusangka bahwa orang yang menggegerkan
Kerajaan Sung masih begini muda. Bahkan engkau telah
dapat menandingi jagoan-jagoan seperti mendiang Hak
Bu Cu dan juga Tang Boa Lu, sungguh mengagumkan
sekali!"
"Ciangkun terlalu memuji. Sebaiknya ciangkun cepat
menceritakan apa maksud ciangkun memancing kami
berdua datang ke tempat ini."
"Semua ini menunjukkan bahwa Panglima Besar Wu
Chu adalah seorang yang dapat menghargai dan
menghormati orang orang pandai seperti taihiap.
Panglima kami tidak menghendaki menyambut tai-hiap
sebagai musuh, melainkan ingin sekali jika taihiap sudi
membantu pemerintah Kin. Di Kerajaan Sung taihiap
sudah dimusuhi, dijadikan orang buronan, karena itu
alangkah baiknya kalau taihiap mulai sekarang hidup di
sini. Panglima Besar Wu Chu sudah menyediakan
pangkat yang tinggi untuk taihiap dan siocia."
Tiong Li mengerutkan alisnya. Agaknya kedatangan di
Kerajaan Kin disalah tafsirkan oleh mereka, disangka dia
melarikan diri karena menjadi orang buruan pemerintah
Sung.
"Hemm, aku menjadi orang buruan karena di fitnah,
disangka menculik seorang puteri Istana. Karena itu, aku
harus membuktikan bahwa bukan aku penculiknya, dan
aku mendengar bahwa sang puteri itu telah berada di
rumah gedung Panglima Wu Chu."
"Memang benar, akan tetapi Panglima Wu Chu bukan
seorang yang suka menculik wanita. Beliau menerima
puteri itu sebagai hadiah dari seseorang...."
"Aku tahu! Tentu dari Perdana Menteri Jin Kui, bukan?
Sungguh laknat Perdana Menteri itu!"
"Sudahlah, taihiap. Tugasku hanya untuk
membujukmu agar suka bekerja dengan panglima besar
kami. Bagaimana jawabanmu?"
"Kalau aku menolak?"
"Taihiap, kepandaianmu boleh jadi tinggi, akan tetapi
ketahuilah bahwa pasukan golok naga kami adalah
pasukan yang amat tangguh dan kami kira taihiap berdua
tidak akan dapat lolos dari sini dengan selamat. Akan
tetapi kami. tidak menghendaki hal ini terjadi, maka harap
taihiap suka mempertimbangkan dengan baik."
"Hemm, kalau aku menerima, apa tugasku?"
"Kerajaan Kin dan Kerajaan Sung telah bersahabat
baik. Antara raja dan Kaisar Sung telah ada kesepakatan
untuk tidak saling menyerang. Akan tetapi, masih banyak
bekas pengikut Panglima Gak Hui yang tidak mau
menerima perdamaian itu dan mereka masih suka
membuat kacau dan menyerang pasukan kami. Tugas
taihiap adalah membasmi pengacau itu yang berada di
perbatasan, demi berlangsungnya hubungan baik antara
ke dua negara."
"Hemm, bagaimana, Hwi-moi, pendapatmu?"
"Aku hanya menyerah kepadamu, koko," kata gadis itu
sejujurnya karena memang ia bingung memikirkan hal
itu.
"Yang aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana
engkau dapat mengetahu gerak-gerik kami, ciangkun?"
tanya Tiong Li kepada Ciu Bhok Hi. Orang yang ditanya
tertawa.
"Ha-ha-ha, ini menunjukkan ketelitian kami, taihiap.
Semenjak taihiap memasuki wilayah kami, kami telah
menerima kabar bahwa taihiap berdua mungkin masuk
daerah kami dan kami telah menyebar mata-mata untuk
menyelidiki. Dan ketika taihiap berdua berada di rumah
penginapan, di rumah makan, peristiwa dengan para
perwira yang kurang ajar, semua peristiwa itu telah kami
ketahui belaka."
"Ahhhh!" Tiong Li terbelalak. "Mengerti aku sekarang!
Kakek yang bercaping itu!".
"Ha-ha-ha, dia hanya seorang di antara mata-mata
kami, taihiap. Nah, ketahuilah bahwa kami semua telah
siap siaga dengan baik sekali. Kalau semua kekuatan
kami ini ditambah lagi dengan kekuatan taihiap yang
lihai, pasti Panglima Besar Wu Chu akan menjadi girang
sekali dan dengan bantuan taihiap, semua perusuh di
perbatasan itu akan dapat dibasmi habis."
"Tidak, aku terpaksa tidak dapat menerima penawaran
kedudukan oleh panglima kalian. Selain aku sendiri
masih mempunyai banyak urusan pribadi, juga aku tidak
ingin terikat oleh kedudukan di manapun. Sampaikan
maafku kepada panglimamu."
"Taihiap, apa lagi yang menjadi penghalang bagi
taihiap untuk membantu Kerajaan Kin? Banyak pendekar
yang membantunya, bahkan tokoh-tokoh kang-ouw juga
membantu. Kalau ada urusan pribadi, taihiap dapat
mengandalkan kami untuk membereskannya."
"Ciu-ciangkun, Li-koko sudah jelas menyatakan tidak
setuju, apakah masih belum jelas bagimu? Ketahuilah,
sekali Li-koko mengeluarkan pernyataan tidak akan
ditarik kembali dan kami berdua tidak akan menuruti
permintaanmu!" kata Siang Hwi yang agaknya gembira
dengan penolakan Tiong L i itu.
"Bagus! Kalau begitu jangan harap dapat keluar dari
tempat ini dengan selamat! Hanya ada dua pilihan,
menjadi kawan atau menjadi lawan!" kata Ci Bhok Hi
sambil melompat keluar.
"Bagaimana, koko?"
"Kita lawan mereka dan melarikan diri!" kata Tiong Li
dengan tenang "Siapkan pedangmu, karena mungkin
pasukan Golok Naga ini berbahaya."
Siang Hwi mencabut pedangnya dan mereka berdua
keluar pula dari pondoik itu. Dan mereka melihat bahwa
mereka telah terkepung oleh delapanbelas orang yang
semua memegang golok, dipimpin oleh Ciu Bhok Hi.
Melihat sikap dan kedudukan mereka, barisan golok
itu nampaknya memang teratur rapi sekali .
"Ciu-ciangkun, kami tidak menghendaki permusuhan.
Maka, biarkan kami pergi !" Tiong Li masih membujuk.
"Menyerah atau mati!" bentak Ciu Bhok H i dan diapun
sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.
Tiga orang menerjang maju dan menyerang dengan
golok mereka terhadap diri Tiong Li sedangkan tiga
orang lagi menyerang Siang Hwi.
Gadis itu memutar pedangnya dan menangkis tiga
batang golok itu lalu balas menyerang, akan tetapi
pedangnya bertemu dengan golok-golok lain yang
menangkis.
Tiong Li menggunakan gerakan Jauw sang-hui,
dengan cepat tubuhnya berkelebat di antara gulungan
sinar golok dan semua bacokan golok. Akan tetapi tiga
batang golok lain sudah menyusui! dan segera kedua
orang itu dikepung dan dikeroyok dengan hebatnya.
Meman hebat sekali barisan golok itu.
Akan tetapi tidak terilalu hebat bagi Tiong Li, bahkan
Siang Hwi juga dapat membela diri dengan pedangnya.
Memang rapi sekali susunan penyerangan golok itu,
akan tetapi karena kepandaian pribadi masing-masing
tidaklah terlalu tinggi, tenaga sinkang mereka tidak terlalu
kuat, maka mudah bagi Tiong Li untuk mulai membalas
beberapa orang sudah bergelimpangan jatuh bangun.
Setelah merobohkan delapan orang dengan
tendangan dan tamparan tangannya, Tiong Li mengajak
Siang Hwi untuk melarikan diri, Dia bahkan menyambar
tangan gadis itu dan diajaknya berlari cepat
menggunakan ilmu Jouw-sang-hui.Biarpun para
anggauta barisan golok itu melakukan pengejaran,
namun sebentar saja kedua orang itu lenyap di balik
pohon-pohon .
Selagi Tiong Li dan Siang Hwi berlari cepat tiba-tiba
muncul seorang hweshio tua di depan mereka yang
mengangkat tangan ke atas menahan mereka. Tiong Li
dan Siang Hwi berhenti akan tetapi mereka curiga.
Jangan-jangan hwe-shio inipun kaki tangan Panglima
Besar Wu Chu, seorang mata-mata! .
"Siapakah lo-suhu dan ada keperluan apakah
menghadang perjalanan kami?" tanya Tiong Li dengan
suara tegas.
"Omitohud, pinceng melihat kailan dikejar-kejar
pasukan Golok Naga, sebaiknya kalau pinceng
membantu kalian bersembunyi, Bukankah kalian ini
warga Sung yang setia?"
"Dan lo-cianpwe, bukankah seorang mata-mata dari
Panglima Wu Chu?" tanya Siang Hwi yang juga curiga,
dan pedangnya sudah siap-untuk menyerangnya.
"Omitohud, kalau benar pinceng mata-mata, engkau
lalu mau apa nona?"
"Engkau layak mampus!" Bentak Siang Hwi yang
segera membacokkan pedangnya. Akan tetapi dengan
lincah sekali hwe-shio tua gemuk itu mengelak. Siang
Hwi menyerang terus sampai tujuh kali beruntun, akan
tetapi semua serangannya mengenai tempat kosong dan
hwe-shio itu kini meloncat ke atas sebuah dahan pohon
yang tinggi.
Tiong Li melihat gerakan ginkang yang hebat itu dan
mencegah Siang Hwi mengejar terus.
"Lo-suhu, benarkah lo-suhu mata-mata dari Wu Chu
yang ditugaskan menangkap kami?" tanyanya karena
kalau benar demikian, dia sendiri hendak melawannya.
Hwe-shio itu melayang turun. "Omitohud, ilmu pedang
yang hebat sekali. Nona, harap jangan terburu nafsu.
Aku juga seorang yang setia kepada Kerajaan Sung.
Bagaimana engkau tega menyangka pin-ceng itu
pengkhianat yang mengabdi kepada Kin ? Percayalah,
pinceng bermaksud untuk menyembunyikan kalian dan
kalau keadaan sudah mereda, baru kalian boleh
melanjutkan perjalanan. Sekarang ini setelah kalian
dikejar Barisan Golok Naga, keadaan kalian berbahaya
dan kemanapun kalian pergi ke wilayah ini, tentu akan
menjadi orang buruan. Pinceng Ceng Ho Hwe-shio,
seorang murid Siauw-lim-pai, apakah kalian masih juga
tidak percaya?"
Tiong Li cepat memberi hormat. "Kalau begitu, kami
percaya dan sebelumnya kami menghaturkan terima
kasih atas kebaikan lo-suhu."
"Marilah, jangan bicara saja, ikuti pin-ceng," kata hweshio
Itu yang lalu mendaki sebuah lereng menuju ke kuil
yang berada di puncak bukit. Tiong Li dan Siang Hwi
mengikutinya dan ternyata hweshio itu dapat berlari
cepat sekali sehingga Siang Hwi terpaksa harus
mengerahkan tenaga agar jangan sampai tertinggal.
Tentu saja tidak demikian dengan Tiong Li yang dapat
mengikuti hwe-shio itu tanpa, banyak mengerahkan
tenaga.
Kuil itu cukup besar dan dihuni oleh duapuluh orang
hwe-shio. Dan ternyata mereka ini, walaupun tidak
menentang pemerintah Kin secara terang-terangan,
semua adalah orang-orang yang masih setia kepada
Kerajaan Sung.
Tiong Li dan Siang Hwi mendapatkan dua buah kamar
di sebelah dalam, dan mereka mendengar pula ketika
diluar banyak orang berdatangan. Rombongan itu adalah
Barisan Golok Naga yang mengejar sampai ke kuil, akan
tetapi ketika Ceng Ho Hwe-shio mengatakan bahwa dua
orang yang dicari tidak kelihatan datang ke kuil,
rombongan itu tanpa memeriksa percaya saja lalu pergi.
Hal ini menunjukkan bahwa para hwe-shio itu
dipercaya oleh pemerintah Kin. Dan memang hal ini
adalah karena Siauw-lim pai tidak pernah memberontak
atau memperlihatkan sikap melawan. Dan di antara para
pejabat Bangsa Kin yang menganut agama Buddha,
maka mereka itu menghormati para hwe-shio dari kuil
itu.
Setelah percaya benar kepada Ceng Ho Hwe-shio,
Tiong Li dan Siang Hwi dengan terus terang
menceritakan pengalaman mereka dan maksud mereka
memasuki wilayah Kin.
"Lo-suhu, saya adalah orang yang difitnah oleh
Perdana Menteri Jin Kui, di tuduh menculik puteri Sung
Hiang Bwee sehingga di Kerajaan Sung saya menjadi
buruan pemerintah yang hendak menangkap saya
sebagai seorang pemberontak. Kemudian saya
mendengar bahwa sebetulnya yang menculik sang puteri
adalah kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui sendiri, dan
sang puteri diserahkan kepada Panglima Wu Chu
sebagai hadiah. Oleh karena itulah maka kami datang ke
sini untuk membuktikan apakah benar sang puteri berada
di sini dan kalau mungkin saya akan menolongnya untuk
dikembalikan ke kota raja sehingga nama saya dapat
menjadi bersih, dan ke kejaman dan pengkhianatan
Perdana Menteri Jin Kui dapat terbongkar."
"Omitohud! Perdana Menteri Jin Kuj adalah seorang
yang amat jahat dan licik. Jenderal Gak Hui yang gagah
perkasa dan setia itu sampai tewas secara sia-sia hanya
karena kelicikan Perdana Menteri Jin Kui itu. Andai kata
engkau dapat menolong sang puteri keluar dari sini dan
kembali ke kota raja Hang-couw, bagaimana engkau
dapat menuduhnya? Tidak ada bukti bahwa yang
menculik adalah orangnya. Engkau harus berhati-hati
sekali berhadapan dengan orang macam Jin Kui itu,
orang muda."
"Biarpun begitu, saya harus menolong sang puteri.
dengan kesaksian sang puteri bahwa saya bukan
penculiknya, nama saya akan dapat dibikin bersih, tidak
lagi dicap sebagai pemberontak. Akan tetapi saya tidak
tahu dengan pasti, apakah berita yang saya terima itu
benar bahwa sang puteri berada di tempat tinggal
Panglima Wu Chu?"
"Pin-ceng juga mendengar bahwa Panglima Besar Wu
Chu menerima hadiah seorang puteri kaisar. Dan dari
keluarga wanita panglima itu yang bersembahyang di
sini, pinceng mendengar bahwa sang puteri menolak
dijadikan selir panglima itu, dan karenanya sekarang
masih menjadi orang tahanan."
"Di rumah panglima itu?"
"Tentu saja, karena tahanan itu merupakan tahanan
istimewa, agaknya untuk membujuk agar sang puteri
mau menjadi selirnya."
Tiong Li mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga,
dia harus menyelidiki sendiri ke tempat tinggal panglima
itu. "Lo-suhu, saya melihat Barisan Golok Naga itu amat
tangguh. Dan senjata golok mereka hebat sekali. Apakah
lo-suhu mengetahui asal usul barisan golok itu?"
"Barisan Golok Naga itu merupakan pasukan khusus
yang dibentuk oleh Panglima Besar Wu Chu, dan
memang terdiri dari orang-orang yang lihai. Dibentuknya
juga belum begitu lama, mungkin mendapat latihan
khusus di benteng panglima itu. Engkau harus berhatihati
menghadapi mereka, orang-muda. Mereka itu selain
lihai, juga kabarnya kejam dan dengan mudah
membunuh orang yang dimusuhi."
Kini Tiong Li merasa yakin. Agaknya Mestika Golok
Naga ada pula pada panglima besar Bangsa Kin itu.Ini
berarti bahwa pencuri Mestika Golok Naga, yaitu Hak Bu
Cu yang tewas ditangan Ban-tok Sian-li telah
menyerahkan pusaka itu kepada panglima besar itu. Dia
percaya bahwa Hak Bu Chu, seperti juga Tang Boa Lu,
adalah kaki tangan Kin yang sengaja dikirim untuk
membantu usaha Perdana Menteri Jin Kui untuk
menghadapi golongan yang membenci pemerintah Kin.
Orang-orang seperti Hak Bu Cu dan Tang Boa Lu itu
cukup lihai untuk melakukan penculikan itu, di samping
beberapa orang jagoan yang menjadi kaki tangan
perdana menteri itu. Menurut dugaannya, baik Mestika
Golok Naga maupun puteri Sung Hiang Bwee berada di
rumah Panglima Besar Wu Chu ! .
Sehari itu Tiong Li memeras otaknya untuk mencari
jalan bagaimana dia akan dapat merampas kembali
Mestika Golok Naga dan sekaligus membebaskan sang
puteri. Dia harus menggunakan akal. Kalau hanya
mempergunakan kepandaian silatnya saja, mungkin dia
akan dapat keluar masuk dari tempat itu mengandalkan
kepandaian, akan tetapi untuk membawa keluar sang
puteri? Sungguh merupakan pekerjaan yang amat sukar,
bahkan tidak mungkin dilaksanakan! .
"Lo-suhu," dia ninta keterangan kepada Ceng Ho
Hweshio. "Apakah lo-suhu mengetahui, siapa yang
menjadi orang kesayangan Panglima Besar Wu Chu.?
Barangkali seorang di antara puteranya, atau selirnya?"
"Dia hanya mempunyai seorang putera biarpun ada
beberapa orang puterinya, karena itu dia amat
menyayang puteranya itu lebih dari segalanya."
"Berapa usia puteranya itu?"
"Masih kecil, paling banyak lima tahun usianya.
Kenapa engkau menanyakan hal itu?"
"Tidak apa-apa, lo-suhu. Saya hanya sedang berpikir
dan mencari akal bagaimana saya dapat membebaskan
sang puteri dan sekaligus mencari kembali pusaka
Kerajaan Sung yang dicuri orang."
Tiong Li kini mendapat akal. Dia harus menggunakan
akal itu, kalau dia ingin berhasil. Malam itu dia menemui
Siang Hwi di kuil itu, dan mengajaknya bercakap-cakap.
"Hwi-moi, aku Sudah mendapatkan, akal. Kuharap
saja akal ini berhasil baik, karena kalau tidak, akan siasia
perjalanan kita, bahkan mungkin berbalik akan
membahayakan kita."
"Bagaimana akalmu itu, koko?"
Dengan berbisik-bisik Tiong LI berkata kepadanya.
"Kita sekarang, malam ini juga, pergi ke gedung
Pangiima Besar Wu Chu. Engkau tidak perlu ikut masuk,
melainkan menanti di luar sambil bersembunyi. Aku akan
memaksa panglima itu untuk menyerahkan pusaka itu
dan membebaskan sang puteri. Setelah berhasil, engkau
membawa sang puteri ke sini dan menyembunyikan di
sini."
"Bagaimana engkau akan dapat memaksanya, koko?"
tanya Siang Hwi khawatir.
"Jangan khawatir, aku telah mengetahui
kelemahannya. Aku tentu akan dapat memaksanya
melakukan itu. Tugasmu hanya mengantar sang puteri
ketempat ini dan bersembunyi di sini menanti sampai aku
datang."
"Baik, koko. Akan tetapi berhati hatilah. Ciu Bhok Hi itu
dengan Pasukan Golok Naganya amat berbahaya."
"Aku tahu dan aku akan selalu berhati-hati. Kita harus
mengenakan pakaian serba hitam, Hwi-moi dan
setelah berganti pakaian, kita berangkat."
Demikianlah, diantar oleh Ceng Ho Hwe-shio sampai
keluar dari kuil, dua orang muda itu meninggalkan kuil
melalui tembok belakang kuil agar tidak kelihatan oleh
orang lain. Kemudian, keduanya mempergunakan ilmu
lari cepat menuruni lereng bukit itu dan menuju ke Lokyang.
dengan mudah mereka melompati pagar tembok
tinggi yang mengelilingi kota Lok-yang, kemudian
memasuki kota itu, menyelinap di antara rumah-rumah
penduduk. Karena gerakan mereka memang ringan dan
cepat, maka mereka hanya nampak seperti dua
bayangan hitam saja.
Akhirnya mereka dapat mendekati rumah gedung
Panglima Besar Wu Chu. "Engkau menanti di sini. Baru
keluar dari sini kalau engkau melihat aku keluar dari pintu
gerbang itu membawa sang puteri. Sebelum aku muncul,
jangan sekali-kali memperlihatkan diri, Hwi-moi."
"Baik, koko."
"Nah, aku pergi, Hwi-moi!"
"Nanti dulu, koko."
Tiong LI menahan langkahnya dan membalik. "Ada
apa lagi, Hwi-moi?"
Gadis itu menghampiri dan merangkul leher Tiong Li.
"Engkau...... yang hati-hati menjaga dirimu, koko."
Tiong Li menunduk dan mencium dahi gadis itu. "Aku
tahu, aku masih belum ingin berpisah darimu, Hwi-moi.
Rngkau juga berhati-hatilah. Menyingkirlah kalau ada
orang mendekat tempat ini ."
Kemudian Tiong Li berkelebat dan lenyap ditelan
kegelapan malam.
Untung bagi mereka. Malam itu gelap sekali karena
udara mendung dan angin bertiup mendatangkan hawa
dingin. Karena udara buruk, maka jarang ada orang
keluar dari rumahnya dan suasana di sekeliling tempat itu
sunyi sekali. Akan tetapi penjagaan di rumah gedung
Panglima Besar Wu Chu tetap ketat. Di depan pintu
gerbang berkumpul belasan orang perajurit yang berjaga.
Dan Tiong Li sudah tahu bahwa di atas genteng terdapat
alat-alat rahasia yang dapat memberi tahu kalau ada
orang datang melalui atap.
Dia sudah melompati pagar tembok dan tiba di taman.
Agaknya taman ini yang paling aman karena banyak
pohon-pohon. Dia mengintai dari balik rumpun bunga
yang tebal dan melihat dua orang peronda membawa
lampu teng berjalan datang sambil bercakap-cakap.
Tiong Li berpikir sejenak dan mengambil keputusan yang
amat berani. Dia menanti sampai dua orang itu datang
dekat. lalu tiba-tiba dia meloncat dan sekali kedua
tangannya bergerak, dua orang itu sudah menjadi
lumpuh tertotok dan lampu teng sudah berpindah ke
tangannya! .
Dia memandangi kedua orang itu dengan lampu teng
menyinari wajah mereka. Orang yang tinggi besar Itu
memandang dengan wajah ketakutan sedangkan yang
kurus bahkan mendelik dengan marah. Dia lalu menotok
lagi yang kurus sehingga roboh pingsan, mengikat kaki
tangannya dengan sabuk orang itu sendiri, juga mulutnya
ditutup kain, lalu menyeretnya ke balik semak belukar.
Sedangkan yang tinggi besar itu dia to-tok urat gagunya
sehingga tidak dapat bicara. dan dalam keadaan masih
tertotok lemas itu, diancamnya orang itu sambil
menodongkan golok di batang lehernya.
"Engkau ingin hidup?" gertaknya.
Orang tinggi besar itu mengangguk-angguk lemah.
Hanya kaki tangannya saja yang tidak mampu
digerakkan.
"Engkau tidak ingin mampus?" kembali dia bertanya.
Orang itu menggeleng-gelengkan kepala dengan mata
terbelalak penuh ketakutan.
"Baik, kalau begitu, aku minta engkau mengantarkan
aku ketempat di mana Panglima Wu Chu berada.
Sanggup?"
Orang itu memandang liar ke kanan kiri, nampak
ketakutan dan agaknya sulit untuk mengambil keputusan.
"Hayo jawab, atau engkau ingin aku menyembelihmu
sekarang juga!" Goloknya ditempelkan ke kulit leher.
Orang itu cepat mengangguk-angguk, menyatakan
sanggup.
Tiong Li lalu melucuti pakaian si kurus dan dipakainya
pakaian itu. Dia menyamar sebagai seorang petugas
ronda. Kemudian, dengan golok telanjang di tangan, dia
membebaskan si tinggi besar yang ketakutan, akan tetapi
orang tinggi besar itu biarpun sudah dapat
menggerakkan kaki tangan, tetap saja dia tidak dapat
mengeluarkan suara :
"Nah, sekarang bawa aku ke sana. Awas, sekali saja
engkau melakukan gerakan yang tidak kukehendaki,
golok ini akan memenggal lehermu!"
Kembali dia menempelkan golok di leher orang itu
yang nampak menggigil saking takutnya. Tiong Li merasa
senang. Pilihannya tepat. Orang tinggi besar ini berhati
kecil dan penakut sehingga dapat diharapkan akan
menaati semua perintah nya.
"Bawa lampu teng ini dan berjalanlah di depan,"
bisiknya. "Bersikap biasa saja kalau bertemu penjaga lain
se olah tidak terjadi sesuatu. Dan cepat bawa aku ke
tempat di mana Wu Chu berada!" Dari belakang dia
menodongkan goloknya ke punggung orang itu dan
bergeraklah mereka meninggalkan taman.
Orang itu benar-benar ketakutan, mereka memasuki
gedung itu dari pintu belakang dan empat orang penjaga
yang melihat dua orang peronda ini tidak menaruh
perhatian. Apa lagi wajah Tiong Li terhalang bayangan si
tinggi besar yang membawa lampu di depannya,
sehingga wajah Tiong Li terliputi kegelapan.
Setelah melalui jalan berlika liku, dari jauh orang itu
menunjuk ke sebuah ruangan. Tiong Li melihat seorang
laki-laki berusia limapuluhan tahun, tinggi besar dan
mukanya brewok, sedang bermain-main dengan seorang
anak laki - laki.
"Itukah Wu Chu?" bisik Tiong Li dan 'tawanannya
mengangguk.
"Antarkan aku ke kamar puteranya !" kata pula Tiong
Li.
Orang Itu menunjuk ke depan, ke arah-anak yang
sedang bermain-main dengan orang tinggi besar itu.
"Kaumaksudkan anak itu puteranya?"
Orang itu mengangguk. "Engkau tindak berbohong?"
tanya Tiong Li yang merasa gembira.bukan main.
Sungguh baik sekali peruntungannya, sekaligus dapat
menemukan Panglima Besar Wu Chu dan puteranya.
Sebetulnya dia ingin menculik putera itu yang masih kecil
dan yang di sayang untuk ditukar dengan sang puteri dan
Mestika Golok Naga. Akan tetapi sekarang keduanya
berada di situ. Sungguh kebetulan yang menguntungkan
sekali.
Orang itu menggeleng kepalanya. "Awas. engkau
kutinggal dulu di sini dalam keadaan tertotok, kalau
engkau berbohong, aku akan kembali di sini untuk
memenggal lehermu. Benar engkau tidak membohong?"
Orang itu kembali menggeleng kepala keras-keras dan
Tiong Li segera merampas lampu teng sambil menotok
orang itu sehingga roboh pingsan tanpa mengeluarkan
suara karena dia sudah menahan tubuhnya.
Kemudian, sambil membawa lampu teng dia
menghampiri ruangan yang terbuka itu. Orang tinggi
besar yang sedang main-main dengan anak itu. ketika
melihat seorang peronda menghampiri, segera
memondong anak itu dan menghardik, "Mau apa engkau
ke sini!"
"Maafkan saja,
ciangkun. Ada seorang
yang menanyakan di mana
adanya Panglima Besar
Wu Chu."
"Siapa orang yang
bertanya tentang aku itu?"
bentak sang panglima
marah karena dia merasa
terganggu dengan
kemunculan peronda itu.
"Aku yang
menanyakannya!" kata Tiong Ll dan tiba-tiba dia
meloncat ke depan, tangan kirinya menyambar tahu-tahu
anak itu telah berada dalam cengkeraman tangan kirinya.
"Keparat! Kembalikan anakku!" teriak Wu Chu sambil
menubruk untuk merampas anaknya. Akan tetapi,
biarpun dia seorang panglima besar dan ahli dalam
urusan peperangan, namun dalam hal ilmu silat, dia
masih jauh kalau dibandingkan Tiong LI. Sambarannya
luput dan sebaliknya, tiba-tiba golok di tangan Tiong Li
sudah menodong dadanya.
"Sedikit saja bergerak, golok ini akan menembus
jantungmu, ciangkun!" bentak Tiong Li sementara itu
anak kecil yang berada dalam pondongan tangan kirinya
sudah menjerit-jerit menangis.
PangTima Besar Wu Chu tidak berani bergerak lagi
akan tetapi dia sempat berteriak memanggil pengawal.
Tak lama kemudian sedikitnya tigapuluh orang pengawal
memenuhi tempat itu, akan tetapi mereka tidak berani
bergerak ketika melihat panglima mereka di todong dan
putera panglima mereka dipondong seorang pemuda
yang berpakaian peronda. Di antara para pengawal itu
terdapat lima orang anggauta Golok Naga, dan mereka
segera mengenal pemuda itu yang mereka sudah
rasakan kelihaiannya ketika mengepung dan
mengeroyoknya.
"Semua mundur! Siapa berani bergerak berarti
matinya panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dan
para pengepung itu dengan sendirinya melangkah
mundur. Ada pula yang berlari keluar memanggil bala
bantuan sehingga sebentar saja tempat itu penuh
dengan pasukan.
"Orang muda, apa sebenaknya yang kaukehendaki?"
Panglima Wu Chu yang masih tenang itu bertanya.. Dia
adalah seorang panglima besar, tidak mudah panik
walaupun ditawannya puteranya membuat dia khawatir
sekali.
"Tidak banyak," kata Tiong LI, "Nyawamu dan nyawa
anakmu ini hendak kutukar dengan kebebasan puteri
Sung Hiang Bwee dan Mestika Golok Naga!"
"Akan tetapi ....... "
"Jangan banyak cakap lagi. Kalau tidak setuju, aku
akan membunuh puteramu dulu baru engkau!"
Para pasukan itu hendak menerjang maju, akan tetapi
Panglima Wu Chu membentak mereka agar tidak
bergerak. "Kalian jangan bergerak! Perwira Tong, cepat
ambilkan sebuah golok naga!"
Yang disebut perwira Tong itu seorang yang pendek
gendut segera maju dan menyerahkan sebatang golok
yang berukir naga kepada Tiong Li.
"Apakah ini Mestika Golok Naga7" tanyanya kepada
Wu Chu.
"Benar!"
Tiong Li mengambil golok itu, menekuk dengan kedua
tangan sambil memodong anak itu dan golok itu patah
menjadi dua potong!
"Kau bohong!" dia menghardik dan menodongkan
senjatanya sehingga sedikit melukai kulit dada panglima
itu. "Serahkan yang aselinya atau anakmu akan
kusembelih!" Kini dia menempelkan goloknya ke leher
anak itu yang menjerit-jerit ketakutan.
Panglima Wu Chu memandang dengan khawatir
sekali. "Cepat ambilkan Mestika Golok Naga di kamarku,
tergantung di dinding!" perintahnya dan perwira Tong itu
segera berlari pergi. Tak lama kemudian dia telah
kembali membawa sebatang golok dalam sarung.
"Cabut golok itu dan serahkan kepadaku!" bentak
Tiong Li.
Perwira itu memandang atasannya dan Panglima Wu
Chu mengangguk-anggukkan kepalanya.Tiong Li
menerima golok itu dan baru memegangnya saja dia
sudah yakin bahwa inilah golok aselinya. Dia
mengadukan golok yang dipegangnya dengan golok itu
dan goloknya patah menjadi dua dengan mudah! Kini dia
memegang Mestika Golok Naga itu dan mengikatkan
sarungnya di pinggang. Karena anak itu masih
dipondongnya, Panglima Wu Chu tidak berani bergerak.
"Sekarang bawa keluar sang puteri. Cepat!"
"Bawa ia keluar!" kata Panglima Wu Chu.
Kembali perwira Tong yang berlari lari dan tidak terlalu
lama kemudian dia sudah datang lagi mengikuti seorang
wanita yang bukan lain adalah Sung Hiang Bwee. Puteri
itu masih menjadi orang tahanan karena ia selalu
menolak keinginan Wu Chu dan begitu melihat Tiong Li,
sang puteri menangis menghampiri.
"Akhirnya engkau datang juga menolongku.....!" Sang
puteri saking girangnya hendak merangkul Tiong Li akan
tetap! pemuda itu berkata.
"Nona, bersiaplah untuk keluar dari tempat ini. Harap
engkau berjalan di belakangku," kata Tiong Li dengan
singkat. Melihat kesungguhan sikap pemuda ini yang
menodong Panglima Wu Chu dengan goloknya, puteri
itupun maklum akan gawatnya keadaan.
"Baik, taihiap. Sungguh aku girang sekali melihat
engkau," katanya lalu iapun berdiri di belakang pemuda
itu.
Tiba-tiba dua orang pengawal dengan nekat menubruk
dan menyerang Tiong Li. Tiong Li menggerakkan
goloknya dan nampak sinar terang berkelebat di susul
robohnya kedua orang itu, mandi darah.
"Sekali lagi ada yang bergerak, yang akan kubunuh
adalah panglima dan puteranya!" bentak Tiong Li dengan
hati khawatir juga karena kalau sekian banyaknya
pasukan mengeroyoknya, biarpun dia akan dapat
membunuh panglima itu, dia tentu tidak tega membunuh
puteranya dan dia tidak akan mampu melindungi sang
puteri!
"Tolol ! Jangan ada yang menyerang!" teriak sang
panglima yang tentu saja mengkhawatirkan dirinya
sendiri dan puteranya.
"Ciangkun, sekarang engkau berjalan di depanku dan
mengantarku keluar dari rumah ini. Hayo cepat dan
jangan ada yang mendekat!"
Panglima itu terpaksa menurut dan semua pengawal
hanya dapat mengikuti saja tidak berani terlalu
mendekat.
Tiong Li sambil memondong anak yang kini sudah
agak mereda tangisnya, menodongkan goloknya ke
punggung sang panglima dan Sung Hiang Bwee
melangkah di belakangnya.
Setelah tiba. di luar pintu gerbang Sehingga tentu
akan kelihatan oleh Siang Hwi, Tiong Li berteriak, "Hwimoi,
cepat kau ke sini!"
Gadis itu meloncat dekat dan semua pasukan tidak
sempat menghadangnya. "Bawa sang puteri pergi dari
sini. Awas, kalau ada yang menghalangi atau mengejar,
aku akan membunuh panglima dan puteranya!" Tiong Li
berseru dengan suara berwibawa.
"Mari, sang puteri!" kata Siang Hwi sambil
menggandeng tangan Sung Hiang Bwee, diajak pergi
dari situ dengan cepat. Tidak ada seorangpun berani
menghalangi dan tidak ada pula yang berani melakukan
pengejaran. Sebentar saja bayangan kedua orang gadis
itu lenyap ditelan kegelapan malam. Siang Hwi
membawa puteri itu keluar dari kota melalui pagar
tembok yang dilompatinya sambil menggendong puteri
itu. dani ia segera mengajak puteri itu berlari menuju ke
perbukitan Fu-niu-san.
Sementara itu, Tiong Li yang masih memondong anak
itu, minta diantar keluar dari pintu gerbang timur untul
mengalihkan perhatian. Sedikitnya seratus orang
perajurit tetap saja mengikutinya dari jarak yang tidak
terlaui dekat dan panglima itu masih terus di todong di
depannya. Setelah agak jauh dari pintu gerbang, barulah
Tiong Li menurunkan anak itu dari pondongannya dan
anak itu segera dipondong ayahnya!.
"Ciangkun, maafkan aku. Terpaksa aku mengambil
cara ini untuk membebaskan sang puteri dan untuk
mengambil kembali Mestika Golok Naga. Engkau tidak
berhak atas keduanya. Kalau aku menjadi engkau, aku
tidak akan mengerahkan orang mencariku. Selain
percuma, juga kalau aku menjadi marah mungkin
peristiwa seperti ini akan terulang lagi. Akan tetapi belum
tentu aku akan membebaskanmu! Nah, selamat tinggal!"
Tiba-tiba Tiong Li meloncat dan berkelebat menghilang di
dalam kegelap an malam.
"Kejar dan Tangkap dia!" Kini panglima itu berteriakteriak
dan dia sendiri mendekap dan menciumi puteranya
dengan hati lega karena putera yang disayangnya itu
selamat.
Saking marahnya hati Panglima Wu Chu, dia
memerintahkan pada malam hari itu juga untuk
membunuh Souw Cun Ki, pemuda Kun-lun-pai yang dulu
pernah hendak menolong sang puteri. Tanpa banyak
alasan lagi malam hari itu juga Souw Cun Ki dibunuh
oleh para pengawal di dalam kamar tahanannya!
-o0o-d.w-o0o-
Siang Hwi mengajak Hiang Bwee ke puncak bukit di
mana kuil Siauw-lim-si itu berada dan cepat mereka
diterima oleh Ceng Ho Hwe-shio dan diajak ke sebelah
dalam.
"Enci, siapakah engkau?" tanya puteri itu kepada
Siang Hwi.
"Saya bernama The Siang Hwi, nona," jawab Siang
Hwi dengan hormat. "Dan ini adalah Ceng Ho Hwe-shio,
ketua kuil ini yang melindungi dan menyembunyikan kita.
Di sini, engkau tidak usah khawatir karena tidak ada yang
akan berani mencari ke dalam."
"Aku tidak khawatir selama Tan-taihiap berada
bersamaku," jawab puteri Itu. "Bukan main gagah dan
lihainya Tan-taihiap. Berani menawan Panglima, Wu Chu
dan memaksanya membebaskan aku Akan tetapi,
bagaimana dia akan dapat membebaskan diri dari
kepungan pasukan sebanyak itu?"
"Harap jangan khawatir, aku yakin, bahwa Li-koko
akan mampu membebaskan diri."
"Hemm, apa hubunganmu dengan Tan-taihiap, enci?"
Wajah Siang Hwi berubah kemerahan ditanya seperti
itu. "Kami... kami adalah sahabat baik yang bekerja sama
untuk membebaskanmu dari tempat tinggal Panglima Wu
Chu. Sudahlah, nona. Engkau telah melakukan
perjalanan melelahkan dan mengalami banyak hal yang
menggelisahkan, harap beristirahat dan tidur."
"Bagaimana aku dapat tidur sebelum Tan-taihiap
datang? Aku harus melihat dia selamat dulu dan tiba di
sini," kata puteri itu dan Siang Hwi merasa hatinya tidak
enak sekali. Dari sikapnya, jelas baginya bahwa sang
puteri ini rupanya amat tertarik dan memperhatikan Tiong
Li. Dan ia sudah mendengar dari Tiong Li betapa
pemuda itu pernah membebaskan puteri ini dari tangan
seorang penculik dahulu. Mereka sudah saling
mengenal.
Baru menjelang pagi Tiong LI yang melarikan diri dari
pintu gerbang timur itu tiba di situ. Bayangannya
berkelebat dan tahu-tahu dia sudah berada di depan dua
orang gadis itu.
"Tan-taihiap.....!" Sang puteri berseru gembira, bangkit
berdiri dan menyongsong pemuda itu, lalu tanpa ragu
dan sungkan lagi ia memegang kedua tangan Tiong Li.
"Engkau membuatku tidak dapat tidur, khawatir kalau
engkau tidak dapat lolos dari kepungan mereka!
Bagaimana, taihiap? Apakah engkau sudah membunuh
jahanam Wu Chu itu?"
"Tidak, nona. Aku sudah berjanji menukarkan
nyawanya dan nyawa puteranya dengan dirimu dan
Mestika Golok Naga!"
"Ah, sayang. Orang macam itu sebaiknya dibunuh
saja!" kata sang puteri dengan kecewa. "Dan kapan
engkau akan mengantar aku pulang ke istana? Sekali ini
ayah tentu akan girang sekali dan engkau tidak boleh lagi
menolak anugerah pemberian ayahanda Kaisar'"
"Kita tidak boleh tergesa meninggalkan tempat ini,
nona. Panglima Wu Chu tentu sedang mengerahkan
pasukannya untuk melakukan pengejaran sampai di
perbatasan. Bahkan mungkin dia sudah menghubungi
Perdana Menteri Jin Kui untuk membantunya melakukan
penangkapan terhadap diriku kalau aku berhasil melewati
perbatasan. Sebaiknya untuk selama beberapa hari ini
kita tinggal dulu di sini."
"Omitohud! Selamat, selamat, Tan-sicu. Engkau telah
berhasil! Benar sekali, tuan puteri. Sebaiknya cu-wl
tinggal di sini dulu sampai pengejaran itu mereda. Pinceng
akan menyuruh para murid menyelidiki. Kalau
sudah mereda, barulah kalian pergi meninggalkan kuil
dan kembali ke selatan," kata Ceng Ho Hweshio yang
muncul dan tersenyum lebar kepada Tiong Li.
Tiong Li memberi hormat kepada hwe-shio tua Itu.
"Kalau tidak ada pertolongan dari lo-suhu, semua usaha
kami akan sia-sia belaka. Juga jasa Hwi-moi tidak boleh
dilupakan, ia yang telah mengawal sang puteri sampai
kesini tanpa diketahui orang. Engkau memang hebat,
Hwi-moi!"
Slang Hwi tersenyum dengan hati senang, la tahu
bahwa kekasihnya iti sengaja memujinya untuk
menyenangkan hatinya. "Ahh, aku hanya membantumu,
koko. Tidak usah terlalu memujiku! Engkaulah yang
hebat. Tak kusangka engkau akan dapat menawan
mereka semudah itu. Dan engkau telah berganti pakaian
seorang di antara penjaga. Lucu sekali. Ceritakan, koko,
bagaimana engkau melakukannya?"
Sang puteri mengerutkan alisnya. Dilihatnya betapa
akrab kedua orang muda itu dan dari pandang mata
mereka saja ia sudah dapat tahu bahwa ada apa-apa di
antara mereka!
"Ya, ceritakanlah, Tan-taihiap. Akupun ingin
mendengarnya, " akhirnya ia berkata agar jangan merasa
terlalu tersisih.
Tiong Li lalu menceritakan pengalamannya ketika
menyandera Wu Chu dan puteranya sambil menyamar
sebagai seorang peronda. Semua yang mendengarnya
memuji, bahkan Ceng Ho Hwe-shio menarik napas
panjang sambil berkata. "Omitohud, engkau memang
luar biasa sekali, Tantaihiap! Biarpun aku belum
melihatnya sendiri, aku yakin bahwa engkau memiliki
ilmu kepandaian yang amat tinggi. Kalau boleh pin-ceng
mengetahui, siapakah gurumu, sicu?"
Terhadap hwe-shio yang sudah menolongnya itu,
Tiong Li tidak ingin menyembunyikan keadaan dirinya.
"Saya mempunyai tiga orang guru, lo-suhu. Guru saya
yang pertama adalah mendiang Pek Hong San-jin, yang
kedua adalah suhu Thian Kui Lo-jin dan ke tiga Tee Kui
Lo-jin."
Ceng Ho Hwe-shio terbelalak. "Omitohud....! Pin-ceng
mengenal siapa mereka! Kiranya sicu murid orang-orang
sakti itu. Pantas saja kalau begitu dan pinceng merasa
girang sekait dapat membantu murid mereka."
Demikianlah, setelah tinggal disitu selama sepekan
dan dari para hwe-shio yang melakukan penyelidikan di
peroleh keterangan bahwa kini tidak ada lagi pasukan
yang mencari-cari mereka, Tiong Li lalu mengajak Siang
Hwi dan puteri itu untuk meninggalkan kuil.
Mereka membeli tiga ekor kuda atas bantuan para
hwe-shio dan mereka meninggalkan kuil itu dengan
menunggang kuda. Untung bahwa puteri Hiang Bwee
biarpun tidak pandai silat akan tetapi mempunyai
kegemaran ikut ayahanda kaisar pergi berburu binatang
buas sehingga ia pandai menunggang kuda.
-0oodwoo0-
JILID VIII
Puteri dan Siang Hwi tidur sekamar ketika berada di
kuil dan dalam kesempatan ini, sang puteri yang tadinya
merasa cemburu kepada Siang Hwi, mendengar
pengakuan Siang Hwi bahwa gadis itu saling mencinta
dengan Tiong Li.Setelah mendengarkan pengakuan ini,
Hiang Bwee dapat menerima kenyataan, ia adalah
seorang puteri, tidak mungkin begitu saja menjatuhkan
cintanya kepada setiap orang pria. Baginya, per
jodohannya berada di tangan Kaisar dan ia tidak
mungkin dapat memilih jodohnya sendiri.
Perjalanan itu melalui padang luas dan pada suatu
hari mereka sudah tiba di daerah Kerajaan Sung. Ketika
mereka menjalankan kudanya perlahan-lahan karena
sudah lelah dan mencari tempat yang baik untuk
mengaso, tiba-tiba muncul seorang wanita di tempat
sunyi itu yang menghadang perjalanan mereka.
"Subo......!!" Siang Hwi berseru dan cepat ia melompat
turun dari kudanya untuk menghampiri Ban-tok Sian-li
yang berdiri tegak memandang mereka dengan sinar
mata tajam, terutama pandang matanya kepada Tiong Li
ia bahkan acuh saja terhadap muridnya yang
menghampirinya .
"Subo, kami telah berhasil membebaskan tuan puteri
Sung Hiang Bwee dan merampas kembali Mestika Golok
Naga!" kata Siang Hwi yang hendak mengabarkan berita
menggembirakan itu kepada subonya, juga hendak
memamerkan jasa besar yang telah dibuat oleh Tiong Li.
Akan tetapi gurunya tidak menjawab, melainkan maju
menghampiri Tiong Li dan juga sang puteri yang sudah
melompat turun dari atas kuda mereka Tiong Li memberi
hormat.
"Sian-li, apakah selama ini engkau baik-baik saja?"
tegurnya ramah. Bagaimanapun juga, wanita ini adalah
guru dari kekasihnya yang selayaknya dihormatinya.
Akan tetapi Ban-tok Sian-li memandang ke arah
pinggangnya di mana tergantung Mestika Golok Naga
dalam sarungnya .
"Tan Tiong Li, engkau sudah berhsil merampas
kembali Mestika Golok Naga?"
"Benar, Sian-li. Inilah dia!" kata Tiong Li. "Kami akan
mengembalikan kepada Sri baginda Kaisar, bersama
sang puteri."
"Berikan kepadaku! Golok Pusaka itu tidak sepatutnya
berada di tangan Kaisar yang lemah. Berikan kepadaku
untuk kupakai membasmi Bangsa Kin dan mengusirnya
dari tanah air."
"Subo.....!" seru Siang Hwi.
"Maafkan, Sian-li. Akan tetapi golok pusaka ini
memang milik istana, maka harus kembali ke istana
juga."
Tiba-tiba Ban-tok
Sian-li melompat
kedekat puteri Hiang
Bwee dan sekali
mencengkeram pundak
puteri itu, ia membuat
puteri itu terkulai roboh.
Sambil tersenyum
mengejek Ban-tok Sian li
melompat ke belakang.
"Subo, apa yang kau
lakukan ini?" teriak
Siang Hwi terkejut.
"Nona Hiang Bwe.....!" Tiong Li juga berseru, sama
sekali tidak mengira bahwa Ban tok Sian-li akan
melakukan hal itu sehingga dia tidak keburu
mencegahnya. Wajah puteri itu menyeringai kesakitan
dan pucat sekali. Baju di pundaknya robek dan nampak
pundaknya merah menghitam! Melihat ini, terkejutlah
Tiong Li karena dia maklum bahwa pundak itu telah
terluka beracun yang amat hebat.
"Subo, kenapa engkau melakukan ini?" tanya Siang
Hwi dengan bingung, dan kepada Tiong Li ia berkata,
"Koko, inilah luka Ban-tok-ciam (Jarum Selaksa Racun),
tidak ada obatnya, Kecuali subo, tidak ada seorangpun
yang akan mampu menyembuhkannya dan dalam waktu
sehari semalam, yang terluka akan tewas!"
Tiong Li marah sekali. Kiranya ketika mencengkeram
tadi, tangan Ban-tok Sian-li menggunakan jarum beracun
yang dimasukkan ke dalam pundak puteri itu.
"Ban-tok Sian-li, apa maksudmu dengan perbuatan
ini? Engkau telah meracuni puteri Kaisar? Kenapa
engkau hendak membunuhnya?" Tiong Li sudah siap
untuk menyerang wanita itu. Akan tetapi Ban-tok Sian-li
bertolak pinggang dan tersenyum.
"Siapa mau membunuhnya? Ingat, aku mempunyai
obat pemunahnya seperti yang dikatakan Siang Hwi. Biar
Siang Hwi sendiri tidak kuberi obat pemunahnya maka
kalau engkau menghendaki puteri itu sembuh, serahkan
Mestika Golok Naga kepadaku!"
"Subo......!" Siang Hwi kembali berseru penasaran.
"Diam! Engkau tidak boleh mencampuri urusan ini!"
bentak gurunya, "Bagaimana. Tiong Li? Maukah engkau
menukar nyawa puteri itu dengan Mestika Golok Naga ?"
Tiong Li berdiri dengan kedua tangan terkepal dan dia
ragu ragu. Dia dapat mengalahkan wanita itu. akan tetapi
dia meragu apakah dia dapat memaksanya menyerahkan
obat pemunah. Wanita seperti itu memiliki kekerasan hati
yang aneh, mungkin sampai mati dia tidak akan dapat
memaksanya.
"Tiong Li, jangan mencoba-coba untuk menyerangku.
Selain belum tentu engkau akan dapat mengalahkan aku
dengan mudah, juga andaikata engkau menang dan aku
mati, apa gunanya? Puteri itu akan mati pula bersamaku
Nah, serahkan Mestika Golok Naga kepadaku!"
"Sian-li, jangan menggertak aku. Aku masih
mempunyai sinkang cukup kuat untuk mengusir hawa
beracun dari tubuh sang puteri!" Tiong Li balas
menggertak.
"Hi-hik, boleh kau coba kalau engkau ingin melihat
puteri itu cepat mati. Bukan hawa beracun yang
mematikannya, melainkan darahnya sudah keracunan.
Betapapun kuatnya sinkangmu, tidak akan dapat
membersihkan darahnya."
Tiong Li memandang kepada Siang Hwi untuk
bertanya pendapat gadis itu yang tentu saja lebih
mengerti dan gadis itu mengangguk dengan muka sedih,
"la tidak berbohong, koko. Racun Ban-tok ciam langsung
membuat darah keracunan dan tidak dapat diusir dengan
sin-kang, hanya dapat disembuhkan dengan racun
pemunah lain yang hanya dimiliki subo."
Tiong Li menghela napas panjang. Tidak percuma
kiranya wanita itu berjuluk Ban-tok Sian-li! Ternyata
penggunaan racunnya amat jahat. Hanya lawan, yang
amat tangguh saja. yang akan mampu mengalahkan
seorang wanita berbahaya seperti ini. Entah bagaimana
nanti kalau ia sudah memiliki Mestika Golok Naga! Akan
tetapi, bagaimanapun juga ia tidak mungkin
mengorbankan nyawa sang puteri.
"Tan-taihiap, bawalah pulang pusaka itu dan serahkan
kepada ayah. Katakan bahwa aku tewas di tangan
wanita ini. Ayah tentu akan mengerahkan seluruh
pasukan untuk menangkapnya dan biarpun ia akan
terbang ke langit, tentu akhirnya ayahanda kaisar akan
dapat menangkapnya !"kata Hiang Bwee dan mendengar
ucapan puteri ini, diam-diam Ban-tok Sian-li menjadi
ketakutan sekali. Kalau ucapan gadis itu dituruti Tiong Li,
ia tidak akan mendapatkan Mestika Golok Naga malah,
akan menjadi buronan pemerintah. Ucapan gadis
bangsawan itu bukan gertak kosong belaka. Kalau Kaisar
marah dan mengerahkan pasukan mencarinya, ke mana
ia akan dapat melarikan diri?
Akan tetapi Tiong Li berpendapat lain. Dia tidak mau
mengorbankan nyawa puteri itu. Dia akan menyerahkan
golok dan setelah puteri terbebas dari ancaman maut
dan kembali ke istana, dia akan mulai lagi dan berusaha
merampasnya dari tangan Ban-tok Sian-li kelak. Dia
melepaskan ikatan sarung golok dari pinggangnya.
"Baik, aku akan menyerahkan golok pusaka, akan
tetapi bagaimana aku dapat yakin bahwa engkau akan
memberikan obat pemunahnya yang benar? "
"Hemm, ada Siang Hwi di sampingmu, ia tentu akan
dapat mengetahui mana obat pemunah aseli mana yang
palsu," kata Ban-tok Sian-li. "Akan tetapi siapa berani
tanggung bahwa setelah menerima obat pemunah,
engkau tidak akan menyerangku dan tidak memberikan
golok itu?"
"Aku adalah seorang laki-laki sejati. Aku berjanji
bahwa setelah menukar golok dengan obat pemunah di
sini, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau lain
kali kita bertemu jangan salahkan aku kalau aku memberi
hajaran kepadamu dan merampas kembali golok
pusaka!"
"Baik, berikan golok itu dan akan kuberikan obat
pemunah," katanya.
"Perlahan dulu!" kata Tiong Li. "Berikan dulu obat
pemunah dan. setelah dipastikan tidak palsu, baru akan
kuserahkan golok ini kepadamu. Nama dan
kehormatanku menjadi jaminan janjiku!"
Ban-tok Sian-li lalu melemparkan sebungkus obat
bubuk kepada Tiong Li dan pemuda Itu lalu
menyerahkan kepada Siang Hwi. Gadis ini membuka
buntalan, mencium obat bubuk itu dan ia lalu
menghampiri sang puteri yang masih menyeringai
kesakitan. "Tuan puteri, minumlah semua obat bubuk ini."
Dikeluarkannya sebotol arak ringan dan obat itu lalu
diminumkan dengan arak ringan. Setelah minum obat itu,
perlahan-lahan rasa nyeri itu menghilang dan warna biru
kehitaman pada pundak juga mulai berkurang. Siang Hwi
lalu menyedot keluar jarum itu dengan isapan mulutnya
dan menggigit jarum itu lalu membuangnya. Kemudian ia
minum sisa obat yang memang disediakan untuk dirinya
agar ia tidak terpengaruh sisa racun yang berada di
jarum. Setelah itu ia memandang kepada Tiong Li dan
mengangguk.
"Sekarang tuan puteri sudah aman," katanya lirih.
Tiong Li menyerahkan Mestika Golok Naga kepada
Ban-tok Sian-li yang menerimanya sambil tersenyum
dan wajahnya cerah gembira sekali. Dicabutnya golok itu
untuk memeriksanya.Nampak sinar berkilat ketika golok
dicabut dan wanita itu mengangguk senang, lalu
disimpannya kembali golok ke dalam sarungnya, di
ikatkan sarung itu di punggungnya dan iapun melompat
pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Subo, tunggu dulu...!" teriak Siang Hwi dan gurunya
berhenti berlari, lalu membalikkan tubuh memandang
kepada muridnya.
"Mau bicara apa lagi?" bentaknya. "Bukan aku yang
bicara, akan tetapi koko Tiong Li mempunyai sesuatu
yang ingin ia sampaikan kepadamu!" kata Siang Hwi
sambil memandang kepada kekasihnya. Pemuda ini
maklum apa yang berada dalam pikiran gadis itu, maka
diapun melangkah maju dan memberi hormat kepada
Dewi Selaksa Racun itu.
"Sian-li, aku dan Hwi-moi sudah saling mencinta dan
saling berjanji untuk menjadi suami isteri. Mengingat
bahwa Hwi-moi sudah tidak mempunyai keluarga lagi,
maka aku mengajukan pinangan kepadamu sebagai
gurunya untuk meminang Hwi-moi menjadi jodohku!"
Puteri Sung Hiang Bwee memandang semua ini
dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kengerian.
Bagaimana orang-orang kang-ouw itu bersikap ketika
mengajukan pinangan. Pinangan diajukan di antara
mereka, secara terus terang tanpa perantara lagi. Seolah
bukan gadis yang diminta untuk diperisteri, seperti minta,
sebuah benda saja! .
Ban-tok Sian-li memandang kepada muridnya. "Siang
Hwi sudah dewasa, ia boleh memutuskannya sendiri.
Andaikata aku ikut campur sekalipun ia tidak akan taat
kepadaku. Terserah kepada kalian!" Setelah berkata
demikian wanita itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Siang Hwi saling pandang dengan Tiong Li dan tibatiba
terdengar orang bertepuk tangan. Mereka berpaling
dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah puteri
Sung Hiang Bwee. ini berarti bahwa sang puteri telah
Sembuh, atau setidaknya pundaknya sudah tidak terasa
nyeri lagi dipakai bertepuk tangan.
"Kiong-hi, kiong-hi (selamat)! Wah, aku harus
mengucapkan selamat atas pertunangan kalian," katanya
sambil menghampiri Siang Hwi. Di lolosnya sehelai
kalung emas permata hiasan batu kemala, dan
dikalungkan kalung itu ke leher Siang Hwi. "Ini hadiah
dariku untukmu, enci Siang Hwi."
"Terima kasih, tuan puteri. Paduka baik sekali."
"Ih, apanya yang baik. Kalau tidak ada kalian berdua,
entah sudah menjadi apa aku ini? Menjadi makanan
burung gagak berangkali," kata puteri itu tertawa. Di
dalam waktu yang amat singkat ternyata puteri itu telah
telah bebas dari ancaman racun Ban-tok-ciam.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan setelah
mengumpulkan kuda mereka. Di tengah perjalanan Tiong
LI bertanya, "Hwi-moi, apakah engkau juga pandai
mempergunakan Ban-tok-ciam?"
"Subo pernah mengajarkan kepadaku. Jarum halus itu
dapat disembunyikan dalam kepalan tangan dan sambil
memukul jarum itu dapat dilepaskan. Akan tetapi subo
tidak pernah memberikan obat pemunahnya atau cara
membuatnya sehingga aku tidak pernah mau
menggunakan jarum selaksa racun itu. Terlalu keji kalau
aku tidak mengetahui pemunahnya."
"Kau benar, Hwi-moi. Kalau engkau tidak dapat
memunahkan racunnya, memang tidak perlu
menggunakan senjata rahasia macam itu. Kurasa kalau
yang diserang itu memiliki sin-kang yang kuat, dia akan
mampu mencegah menjalarnya racun ke dalam darah
dan hanya meracuni setempat saja yang mudah
disembuhkan dengan pembedahan di tempat dan
mengeluarkan racunnya."
"Engkau benar, koko”
Karena kini mereka sudah tiba di daerah Sung, maka
perjalanan dapat mereka lakukan dengan lancar tanpa
halangan. Tidak lama kemudian mereka bertemu dengan
sepasukan Sung yang dipimpin oleh seorang perwira
kerajaan. Melihat Tiong LI yang dianggap buronan dan
penculik sang puteri, perwira Itu tentu saja terkejut bukan
main. Apa lagi melihat sang puteri menunggang kuda
bersama orang buruan itu.
"Kepung! Tangkap pemberontak!"
"Tangkap pencuiik!"
"Selamatkan sang puteri!"
Mereka itu berteriak teriak sambil mengepung dan
mengacung-acungkan senjata. Melihat ancaman
kepungan ini, Sung Hiang Bwee mengajukan kudanya
dan membentak, "Apa yang hendak kalian lakukan ini?
Tan-taihiap dan nona The ini adalah penolong
penolongku dari tangan penculik. Jangan menuduh
sembarangan! Hayo sediakan sebuah kereta untukku,
agar dapat kupakai pulang ke istana!"
Perwira itu terkejut dan heran, lalu memerintahkan
pasukannya untuk mundur dan menyediakan sebuah
kereta itu mengawal sang puteri yang duduk di dalam
kereta bersama Siang Hwi, dan Tiong Li juga mengawal
naik kuda di dekat kereta.
Ketika mereka dihadapkan Kaisar, Kaisar girang
bukan main melihat puterinya pulang dalam keadaan
sehat dan dia mendengarkan laporan puterinya, betapa
ia diculik oleh penjahat dan diberikan kepada Panglima
Bangsa Kin, kemudian diselamatkan oleh Tiong Li dan
Siang Hwi. Mendengar ini, Kaisar merasa girang dan
berterima kasih kepada, Tiong Li .
Biarpun Tiong Li menduga keras bahwa penculikan
sang puteri itu adalah perbuatan yang didalangi oleh
Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi karena tidak ada
bukti, diapun tidak berani sembarangan menuduh.
"Tiong Li, engkau sudah berjasa besar sebanyak dua
kali. Sekarang kami hendak menganugerahkan pangkat
pengawal istana untuk menjaga keselamatan keluarga
kerajaan."
"Ampun beribu ampun. Yang Mulia. Bukan sekali-kali
hamba menolak anugerah paduka yang berlimpah,
melainkan hamba masih memiliki tugas yang penting,
yaitu merampas kembali Mestika Golok Naga yang
lenyap diambil pencuri dari gedung pusaka."
"Ah, pusaka itu sudah lama dicuri orang dan sampai
sekarang para pengawal belum juga mampu
menemukannya."
"Hamba sudah tahu siapa yang mengambilnya, Yang
Mulia. Dan hamba berjanji untuk mendapatkannya
kembali untuk paduka."
"Ayahanda, sebetulnya Mestika Golok Naga itupun
diambil oleh Panglima! Wu Chu dan sudah berhasil
dirampas kembali oleh Tan-taihiap. Akan tetapi di tengah
perjalanan, saya dilukai orang dan orang itu memaksa
Tan-taihiap menyerahkan golok pusaka itu untuk ditukar
dengan obat yang akan menyelamatkan nyawa saya.
Tan-taihiap terpaksa menukarkan golok itu dengan obat
pemunah racun yang melukai saya."
"Jahanam betul! Siapa orang itu?"
"Seorang wanita kang-ouw, Yang Mulia," kata Tiong Li
tanpa menyebutkan nama karena merasa tidak enak
kepada Siang Hwi sebagai murid perampas golok pusaka
itu.
"Baiklah, kalau begitu engkau pergilah untuk
merampas kembali golok itu. Tiong Li," katanya
kemudian.
"Akan tetapi Yang Mulia, gambar hamba terpampang
di mana-mana sebagai pemberontak dan penculik sang
puteri. Hal ini akan menghambat perjalanan hamba dan
bahkan menghalangi hamba. Hamba mohon paduka
memberi perintah penghapusan dakwaan terhadap
hamba itu. Dengan surat perintah paduka, hamba tentu
akan dapat membersihkan nama hamba dari noda dan
dapat bergerak dengan leluasa."
Kaisar menghela napas panjang. "Kami menyesal
telah memerintahkan pengumuman yang agak tergesagesa
itu, Tiong Li, sehingga engkau menjadi orang
buronan. Siapa tahu engkau justru malah dua kali
menyelamatkan puteri kami dari tangan penculik. Baik,
akan kami buatkan surat perintah dan pengumuman itu
untuk membersihkan namamu."
Kaisar lalu memerintahkan pembantunya untuk
menuliskan surat perintah itu, kemudian
menandatanganinya dan membubuhi cap kerajaan.
Tiong LI menerima dengan hati lega.
"Ada sebuah lagi permohonan hamba, Yang Mulia.
Sepanjang yang hamba ketahui, para pemberontak itu
sebenarnya bukanlah pemberontak. Mereka itu pejuangpejuang,
para patriot yang hendak memperjuangkan
kebebasan tanah air dari penjajah Bangsa Kin. Mereka
bahkan setia kepada Kerajaan Sung dan hendak
mengembalikan kejayaan Kerajaar Sung untuk
menguasai kembali daerah utara. Maka, tidak
semestinya mereka itu dikejar-kejar seperti pemberontak,
Yang Mulia."
Kaisar mengerutkan alisnya. ''Kami mengadakan
persahabatan dengan Bangsa Kin agar mencegah
mereka menyerang keselatan dan menimbulkan korban
di antara rakyat. Kami mencegah perang demi rakyat.
Kalau mereka itu menyerang Kerajaan Kin, dan kalau
kami mendiamkannya saja, tentu Kerajaan Kin akan
memusuhi Kerajaan Sung. Akan tetapi, baiklah kami
melihat perkembangannya dulu Kalau mereka itu tidak
mengganggu pemerintah Kerajaan Sung, mereka tidak
akan dianggap pemberontak."
"Tan-taihiap, engkau sudah berulang kali berjasa dan
ayahanda Kaisar hendak menganugerahkan pangkat
kepadamu, kenapa engkau menolaknya? Sudah
sepatutnya kalau engkau menerima imbalan jasajasamu,"
kata sang puteri kepada Tiong Li.
"Terima kasih, tuan puteri. Akan tetapi apa yang
hamba lakukan Ini adalah merupakan kewajiban hamba
yang selalu hendak menjunjung tinggi kebenaran dan
keadilan dan menentang yang jahat. Kalau hamba
mengharapkan Imbalan jasa, maka perbuatan itu sama
sekali bukan perbuatan gagah. Pula, hamba masih
mempunyai kewajiban untuk merampas kembali Mestika
Golok Naga, harap tuan puteri dapat memakluminya."
Bagi kebanyakan orang, tentu alasan yang
dikemukakan Tiong Li itu tidak dapat diterima. Orang
yang berjasa mendapat imbalan, hal itu sudah
semestinya dan sepatutnya, demikian anggapan kita
pada umumnya. Justeru karena pendapat inilah, maka
kita semua terjerumus ke dalam perbuatan yang selalu
berpamrih untuk mendapatkan imbalan. Semua
perbuatan kita itu kita perhitungkan untung ruginya
seperti berdagang. Apa artinya sebuah pertolongan
kalau, pertolongan itu dilakukan dengan harapan
memperoleh imbalan ? Apakah artinya sebuah kebaikan
kalau dibaliknya terkandung harapan memperoleh
balasan?! Perbuatan itu bukan lagi baik, bukan lagi
pertolongan, melainkan suatu alasan untuk mendapatkan
sesuatu. Kalau tidak akan ada imbalan, mungkin
pelakunya akan mundur. Perbuatan yang seutuhnya
adalah perbuatan yang dilakukan tanpa pamrih bagi
dirinya sendiri, tanpa pamrih memperoleh sesuatu
sebagai buah dari perbuatannya itulah. Bahkan
mengharapkan imbalan dari Tuhan atas perbuatannya
yang "baik" pun merupakan pamrih dan karenanya
menodai perbuatan itu sendiri. Perbuatan baik muncul
dari hati sanubari, digerakkan oleh perasaan iba melihat
orang lain sengsara, merasa penasaran melihat
perlakuan yang tidak adil dan sebagainya lagi. Bukan
oleh pamrih untuk kesenangan diri sendiri yang akan
memperoleh buah dari hasil perbuatannya. Imbalan ini
justeru melahirkan munafik-munafik dipermukaan bumi.
Orang-orang "baik" yang sesungguhnya hanyalah
pengejar-pengejar keuntungan bagi dirinya sendiri.
Tiong Li dan Siang Hwi meninggalkan istana dengan
diberi bekal sekantung emas oleh Kaisar. Hiang Bwee
mengantarkan mereka sampai ke pintu depan di mana
Hiang Bwee merangkul Siang Hwi sambil berbisik, "Enc!
Hwi, jagalah Tan-taihiap baik-baiki"
Siang Hwi terharu sekali, la merasa betapa puteri itu
sesungguhnya mencinta Tiong Li! Akan tetapi ia hanya
mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja Tiong Li yang
berpendengaran tajam itu dapat mendengar bisikan ini
namun dia pura-pura tidak mendengar dan memberi
hormat kepada gadis yang ketika berada di depan Kaisar
disebutnya tuan puteri itu.
"Sung-siocia (Nona Sung), selamat tinggal." katanya
hormat.
"Tan-taihiap, selamat jalan dan selamat berpisah.
Mudah-mudahan kita akan dapat saling bertemu kembali
dan Enci Siang Hwi, selamat jalan dan jagalah diri kalian
baik-baik." kata puteri itu yang merasa sedih juga
ditinggalkan dua orang yang begitu baik kepadanya.
Rasanya ingin ia meninggalkan! keputriannya untuk ikut
mereka berpetualang di dunia bebas! .
0o—dw—o0
Nasihat Tiong Li kepada Kaisar agar tidak memusuhi
para pejuang membuat Kaisar berpikir-pikir dan dia
segera memanggil seorang puteranya. Putera ini adalah
Pangeran Kian Cu, seorang yang merasa kagum kepada
kesetiaan Gak Hui.
"Pergilah menghubungi para pejuang dan selidiki
apakah benar para pejuang itu sama sekali tidak
mempunya keinginan untuk memberontak, melainkan
hanya membenci bangsa Kin." demikian perintah kaisar.
Pangeran Kian Cu, seorang Pangeran berusia
duapuluh lima tahun adalah putera dari selir dan dia
seorang pangeran yang sejak lama mengagumi sepak
terjang para pejuang yang menjadi pengikut Gak Hui.
Mendengar perintah ayahnya itu, Pangeran Kian Cu
merasa gembira dan dia segera berangkat meninggalkan
istana dan menghubungi para pejuang. Dengan mudah
saja dia dapat mengadakan hubungan dengan pimpinan
pejuang, bahkan para pejuang dapat membawanya
menemui Gak Liu. yaitu pejuang putera mendiang
Panglima Gak Hui yang terkenal.
Gak Liu menerima pangeran itu dengan baik dan
mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pejuang
lainnya. "Sebetulnya aku datang mengadakan hubungan
dengan kalian ini atas perintah ayahanda Kaisar," kata
sang pangeran. "Selama ini beliau berpendapat bahwa
kalian adalah pemberontak pemberontak yang ingin
merebut kedudukan Ayahanda Kaisar. Akan tetapi
menurut laporan dari seorang pendekar muda bernama
Tan Tiong Li, kalian adalah patriot-patriot, pejuang yang
hanya memusuhi penjajah Kin dan sama sekali tidak
memusuhi pemerintah Sung. Benarkah keterangan itu?"
Gak Liu memberi hormat kepada sang pangeran dan
berkata dengan suaranya yang lantang. "Sebetulnya hal
ini seharusnya sudah diketahui oleh Sribaginda sejak
dahulu. Mendiang ayah saya, seorang patriot sejati yang
setia kepada Sri baginda, bahkan dituduh pemberontak
dan dihukum mati! Sebetulnya kami sama sekali tidak
berniat memberontak, bahkan ingin mengembalikan
kejayaan kerajaan Sung dan merebut kembali wilayah
utara yang dikuasai bangsa Kin. Akan tetapi kalau kami
dianggap pemberontak dan diserang, tentu saja kami
membalas."
"Kalau begitu, selama ini hanya terdapat kesalah
pahaman belaka dan aku akan melaporkan kepada
Ayahanda Kaisar." kata Pangeran Kian Cu dan setelah
selesai pertemuan itu, dia menyumbangkan sejumlah
besar uang untuk keperluan perjuangan, dan
mengharapkan agar seluruh kekuatan pejuang digalang
persatuannya.
Usaha Pangeran Kian Cu menghubungi para pejuang
atas perintah Kaisar ini telah diketahui oleh Jin Kui
melalui mata-mata yang disebarnya diantara para thaikam
di istana. Dia merasa khawatir sekali. Kalau Kaisar
sudah menaruh kepercayaan kepada para pejuang, ini
berbahaya sekali. Berarti hubungan antara Sung dan Kin
dapat menjadi renggang, dan dia sendiri tentu akan
mendapat kemarahan dari Raja Kin. Juga mungkin
Kaisar lambat laun akan terpengaruh dan bahkan
memusuhinya, yang sejak semula memang memusuhi
para pejuang. Cepat dia memanggil Si Muka Tengkorak
Tang Boa Lu, Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cinjin
dan kedua orang sutenya yang baru saja dipanggil
membantu mereka, yaitu Ouw Yang Kian dan Ouw Yang
Sian. Mereka lalu mengadakan perundingan dan
akhirnya Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan marah.
"Hal ini tidak dapat didiamkannya saja! Kaisar melalui
Pangeran Kian Cu mengadakan pertemuan dengan para
pemberontak! Ini berbahaya sekali dan aku tahu jalan
apa yang harus ditempuh untuk menggagalkan itu!"
"Jalan apakah yang taijin maksudkan? Harap memberi
tahu kami agar dapat segera kami laksanakan." kata Kui
To Cinjin sambil mengelus jenggotnya yang tipis panjang.
"Pangeran itu harus dibunuh dan kita fitnah para
pemberontak itu sebagai pembunuhnya. Dengan begini
selain pertemuan itu akan gagal, juga Kaisar akan marah
dan sakit hati kepada para pemberontak!"
Para kaki tangan Perdana Menteri Jin Kui
mengangguk-angguk setuju dan menganggap akal itu
baik sekali.
"Akan tetapi bagaimana pembunuhan itu dapat
dilaksanakan tanpa menimbulkan kecurigaan?" tanya
pula Kui To Cin jin.
"Sekarang juga harus dilaksanakan. Kalau pangeran
kembali dari tempat para pemberontak, itulah
kesempatan yang baik sekali. Karena itu aku perintahkan
Ouw Yang Kian dan Ouw Yang Sian dibantu oleh Tang
Boa Lu untuk melaksanakan pembunuhan itu."
Tiga orang itu menyatakan kesanggupan mereka dan
segera mereka berangkat setelah mengetahui jalan
mana yang ditempuh pangeran untuk menemui para
pemberontak.
Bagi orang yang lemah dan menjadi budak nafsunya
seperti Jin Kui. memang selalu berlaku pegangan bahwa
yang terpenting adalah tujuan, dan tujuan menghalalkan
segala cara. Kita sendiri memang seringkali lupa akan
hal ini. Kita mengagungkan tujuan dengan sebutan citacita
yang muluk-muluk, yang kita kejar-kejar. Padahal,
dalam pengejaran tujuan inilah letak bahayanya, yaitu
dalam caranya. Cara atau jalan untuk mengejar cita-cita
ini kadang berbahaya sekali. Kita terbius oleh gemer
lapnya tujuan sehingga untuk mendapatkannya, kita lupa
bahwa cara yang kita pergunakan tidak benar. Padahal,
bukan tujuannya yang menjadi ciri baik buruknya
perbuatan, melainkan cara itu sendiri. Kalau cara yang
dipergunakan itu buruk, bagaimana mungkin dapat
mencapai tujuan yang baik ? Gemerlapnya tujuan
memang condong untuk membuat kita lupa akan cara
kita yang kita pergunakan. Misalnya, demi untuk tujuan
memberi kehidupan mewah kepada anak isteri, kita
melakukan korupsi atau mencuri. Demi untuk tercapainya
tujuan menjadi, sarjana kita melakukan sogokan dan
suapan atau membeli ijazah. Tujuan itu tentu sifatnya
menyenangkan dan menyenangkan itu mendorong nafsu
untuk mendapatkannya. Segala nafsu itu wajar saja,
akan tetapi kalau kita sudah diperbudaknya, celakalah
kita, Nafsu mencari keuntungan itu wajar saja, akan
tetapi kalau kita diperbudak, kita bisa saja menipu atau
mencuri. Nafsu sex itu wajar saja, akan tetapi kalau kita
diperbudak, kita bisa saja melacur memperkosa dan
sebagainya lagi. Demikian dengan mengejar kedudukan,
harta benda, nama dan pengejaran apa saja yang
menjadi cita-cfta dapat menyelewengkan kita. Betapa
baik dan muliapun tujuan yang hendak kita capai, bisa
saja melahirkan cara pengejaran yang menyeleweng.
Demikian pula dengan Jin Kui. Demi tercapainya
segala cita-citanya, demi terlaksananya tujuannya, maka
dia pun menghalalkan segala cara. Cara yang curang
dianggapnya cerdik dan benar. Cara yang kejam
dianggapnya gagah! .
Setelah selesai mengadakan pertemuan dan
perundingan dengan Gak Liu dan para pejuang lainnya,
sang pangeran lalu berangkat pulang naik kuda di antar
oleh lima orang anggauta pejuang. Enam orang
penunggang kuda itu melarikan kuda mereka menuju ke
Hang-couw. Akan tetapi ketika mereka menuruni sebuah
lereng bukit dan tiba di daerah yang sunyi, nampak tiga
orang menghadang perjalanan mereka. Sang pangeran
menahan kudanya, demikian pula lima orang
pengawalnya. Dan pada saat mereka menahan kuda
mereka itulah Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak, Toatbeng-
jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) Ouw Yang Kian dan
Hek-bin-kui (Setan Muka Hitam) Ouw Yang Sian
bergerak menyerang!! Si Muka Tengkorak sendiri yang
menyerang Pangeran Kian Cu tanpa peringatan lagi.
Pangeran itu meloncat turun dari kudanya, akan tetapi
bagaimana mungkin dia dapat menghindarkan serangan
Si Muka Tengkorak yang amat lihai itu? Hanya dua kali
dia dapat mengelak, akan tetapi pukulan yang ke tiga
kalinya mengenai kepalanya. Pangeran Kian Cu tidak
sempat mengaduh lagi, langsung terpelanting dengan
kepala retak dan tewas seketika. Lima orang
pengawalnya tidak mampu melindunginya karena
mereka berlima juga sudah diserang kalang kabut oleh
dua orang kakak beradik yang amat lihai itu. Para
pejuang yang mengawal itu hanya memiliki Ilmu silat
biasa saja, mana mungkin mereka mampu menandingi
kedua saudara Ouw Yang Ini. Dalam belasan jurus saja
mereka berlima juga sudah roboh semua dan tewas!
Pada hari itu juga Kaisar menerima laporan bahwa
Pangeran Kian Cu telah tewas terbunuh lima orang
pemberontak yang sebaliknya terbunuh pula oleh kedua
adik seperguruan Kui To Cin-jin.
Kaisar terkejut dan sedih Sekail mendengar ini dan dia
segera memanggil kedua orang saudara Ouw Yang
untuk menceritakan apa yang telah terjadi.
"Hamba berdua sedang melakukan perjalanan ke luar
kota ketika dari jauh hamba melihat kuda sang pangeran
di kepung lima orang dan mereka itu mengeroyok
Pangeran Kian Cu. Hamba berdua segera lari
menghampiri akan tetapi hamba terlambat dan melihat
sang pangeran sudah terguling dan roboh ,terkena
hantaman ruyung. Melihat Ini, hamba berdua lalu
mengamuk, menyerang lima orang itu dan akhirnya
hamba berdua dapat membunuh mereka. Hanya itulah
yang hamba ketahui, Yang Mulia," kata Ouw Yang Kian.
"Mereka itu adalah pimpinan para pemberontak, Yang
Mulia!" sambung Ouw Yang Sian yang bermuka hitam.
"Keparat jahanam!" Kaisar memaki, sambil mengepal
tinju. "Dibaiki bahkan membunuh. Ciang Sun Hok,
kerahkan pasukan dan basmi para pemberontak yang
berada di daerah itu!" perintahnya ke pada Ciang Sun
Hok. Panglima jagoan ini menyatakan kesanggupannya
dan pertemuan itu dibubarkan karena kaisar sedang
berduka atas kematian puteranya.
Perdana Menteri Jin Kui di rumahnya mengadakan
pesta menjamu para pembantunya. Mereka berpesta
karena kegirangan. Mereka telah menang. Kaisar
kembali membenci dan tidak percaya kepada kaum
pejuang! Inilah tujuan mereka dan berhasil.
"Kui To Cin Jin, sekarang kita tinggal menghadapi Tan
Tiong Li, Pemuda itu berbahaya sekali. Kita harus dapat
segera membunuhnya karena dia dapat menjadi bahaya
besar bagi kita. Akan tetapi ilmu kepandaiannya tinggi
sekali. Siapa yang akan dapat melawan dan
membunuhnya?"
"Harap tai-jin jangan khawatir, Pinto mempunyai tiga
orang kenalan diutara. Mereka itu pertapa-pertapa di
Luliang-san, Thai-hang-san, dan di lembah Sungai Fenho.
Mereka adalah datuk datuk dunia kang-ouw yang
berilmu tinggi. Dan pinto mengetahui benar bahwa
biarpun mereka tidak berbuat sesuatu di daerah Kerajaan
Kin itu, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang
setia kepada Kerajaan Sung. Kalau pinto minta bantuan
mereka untuk menghadapi orang yang memberontak
terhadap Kerajaan Sung, kiranya mereka akan sanggup
membantu."
"Bagus sekali! Undang mereka ke sini, Kui To Gin-jin.
Sukur kalau mereka suka menjadi pembantu tetap kita,
kalau tidak, cukup baik kalau mereka mau menghadapi
dan mengalahkan Tan Tiong Li!"
"Baik, tai-jin. Akan pinto usahakan agar mereka mau
membantu kita."
Pesta dilanjutkan sampai jauh malam dan sampai
mereka Semua menjadi mabok, mabok arak dan mabok
kemenangan Pikiran yang sudah bergelimang nafsu
selalu menjadi pembela dari semua perbuatan yang
dilakukan manusia. Biarpun hati akal pikiran mengerti
dan tahu bahwa perbuatan itu tidak benar, akan tetapi
nafsu dalam pikiran membuat pikiran menjadi pembela
dan berusaha membenarkan perbuatan itu, melawan hati
nuraninya sendiri. Setiap orang manusia tahu mana yang
benar dan mana yang tidak benar.
Adakah di dunia ini pencuri yang tidak tahu bahwa
perbuatan mencuri adalah tidak benar ? Semua pencuri
tentu telah mengetahuinya. Akan tetapi tetap saja dia
mencuri dan pikirannya yang sudah bergelimang nafsu
membenarkan perbuatannya mencuri Itu dengan segala
macam dalih. Pengertian dan pengetahuan tidak dapat
melawan nafsu, kalau nafsu sudah mencengkeram hati
akal pikiran. Nafsu merupakan hamba yang amat penting
dan amat baik, akan tetapi menjadi majikan yang amat
jahat.
Akan tetapi siapa yang dapat menjadikan nafsu
sebagai hamba yang baik dan mengekangnya agar tidak
menjadi majikan? Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang
akan mampu. Kita dengan hati akal pikiran kita tidak
akan mampu menguasai nafsu. Jalan satu-satunya
hanya menyerah dan pasrah kepada Tuhan dengan
segenap ketawakalan dan kepercayaan. Hanya itu yang
dapat kita lakukan dan jika Tuhan menghendaki, maka
kitalah yang akan menjadi majikan atas nafsu kita sendiri,
menjadikannya hamba yang baik. pembantu datam
kehidupan yang amat berguna.
Bukan menjadi majikan yang merajalela dan yang
mendorong kita melakukan segala macam perbuatan
yang tersesat.
0o—dw—o0
Dengan susah payah Tiong Li bersama Siang Hwi
mencoba untuk mencari jejak Ban-tok Sian-li. Akan tetapi
kemana mereka harus mencarinya. Sudah pasti wanita
Itu tidak lagi berada di Lembah Maut Sungai Yang-ce
yang sudah diobrak-abrik dan dibakar oleh pasukan
pemerintah. Dan wanita itu pandai menghilangkan jejak,
gerakannya bagaikan! tidak meninggalkan jejak. Maka
Tiong Li dan Siang Hwi hanya berkeliaran saja sampai ke
daerah perbatasan utara. Akhirnya Siang Hwi berkata
kepada kekasihnya.
"Koko, kurasa percuma saja mencari jejak subo.
Agaknya ia tidak pergi jauh. Subo tentu merasa sakit hati
sekali kepada pemerintah karena dibasminya Lembah
Maut. Dan watak subo tidak akan mendiamkan saja hal
itu terjadi tanpa dibalas. Kalau menurut dugaanku, subo
tidak akan pergi jauh dari kota raja, mencari kesempatan
untuk membalas dendam."
"Kepada siapa ia hendak membalas dendam?"
"Mungkin subo sedang menyelidi siapa biangkeladi
penyerangan ke Lembah Maut itu."
"Jelas biangkeladinya adalah Perdana Menteri Jin
Kui."
"Kalau begitu, subo tentu akan mengetahui dan akan
membalas kepada Pei dana Menteri Itu. Maka sebaiknya
kita kembali saja ke kota raja. Siapa tahu kita dapat
menemukan ia di sana."
Demikianlah, keduanya lalu melakukan perjalanan
kembali ke Hang-couw. Begitu mendekati Hang-couw,
segera mereka ketahuan oleh para penyelidik anak buah
Perdana Menteri Jin Kui, dan mereka cepat melaporkan
kepada Perdana menteri itu.
Pada waktu itu, di kediaman Perdana Menteri Jin Kui,
baru dua hari kedatangan tiga orang tamu. Mereka
adalah tiga orang pertapa yang baru saja didatangkan
oleh sahabat mereka, Kui To Cin-jin yang berhasil
membujuk mereka untuk menghadapi Tan Tiong L i yang
dikatakannya sebagai seorang pimpinan pemberontak di
samping Gak Liu.
Tiga orang itu adalah Im Seng Cu, to-su pertapa di
Luliang-san, Ban Hok Seng-jin, pertapa di Lembah
Sungai Fen ho, dan Sin Gi To-su, pertapa dari Thaihang-
san. Tiga orang pertapa ini memang merupakan
sahabat-sahabat dari Kui To Cin-jin, ketika Kui To Cin-jin
belum menjadi jagoan yang menghambakan diri kepada
Jin Kui. Bagi tiga orang tokoh itu, Kui To Cin-jin
menghambakan diri kepada Kerajaan Sung dan hal ini
mereka setujui sekali. Memang mereka bertiga adalah
tokoh-tokoh yang sangat mengagumi mendiang
Panglima Gak Hui yang dianggapnya amat setia kepada
Kerajaan Sung sampai akhir hayatnya. Biarpun di
sepanjang Sungai Huang-ho sampai ke utara sudah
diduduki oleh Bangsa Kin, mereka bertiga dalam hati
tetap setia kepada Kerajaan Sung. Kalau saja Kerajaan
Sung menyerang ke utara, mereka biarpun merupakan
pertapa-pertapa tentu akan membantunya.
Maka, ketika Kui To Cin-jin yang mereka anggap
seorang hamba yang setia dari Kerajaan Sung itu
berkunjung kepada mereka dan minta bantuan mereka
agar menghadapi dan menangkap seorang pemberontak
yang lihai, mereka tidak merasa keberatan dan
berangkatlah mereka ke selatan untuk menunjukkan
baktinya kepada Kerajaan Sung Selatan.
Maka, ketika para penyelidik melaporkan tentang
munculnya Tiong Li, dan Siang Hwi lalu perdana menteri
itu minta kepada mereka bertiga untuk menghadapi
"pemberontak", tiga orang datuk itu segera berangkat.
Mereka juga merasa penasaran sekali mendengar bahwa
Pangeran Kian Cu telah dibunuh oleh para pemberontak.
Tiong LI dan Siang Hwi yang melakukan perjalanan ke
kota raja, bertemu dengan para pejuang dan merekapun
mendengar tentang terbunuhnya Pangeran Kian Cu, dan
bahwa Jin Kui menuduh para pejuang yang
membunuhnya. Mendengar ini, mereka merasa terkejut
sekali. Para pejuang mengatakan bahwa pahlawan Gak
Liu yakin bahwa anak buahnya yang lima orang dan
yang mengawal sang pangeran itu tidak mungkin
membunuhnya. Mereka sendiri juga terbunuh dan walau
pun para pejuang menduga bahwa ada pihak ke tiga
yang membunuh pangeran dan melakukan fitnah kepada
para pejuang, akan tetapi mereka tidak mempunyai bukti
dan saksi.
"Ini tentu perbuatan si laknat Jin Kui!" kata Tan Tiong
Li, akan tetapi tanpa saksi dan bukti, bagaimana dia akan
dapat melapor kepada Kaisar ? Dia merasa sedih sekali
mendengar bahwa kaisar marah sekali dan semakin
memusuhi para pejuang yang dianggap pemberontak.
Dia melakukan perjalanan cepat menuju ke kota raja
untuk dapat mendengar sendiri apa yang telah terjadi.
Tiba-tiba, perjalanan mereka dihadang oleh tiga orang
yang berjubah seperti pertapa. Seorang di antara mereka
memegang sebatang tongkat hitam dan ke tiganya
memandang kepadanya seperti orang yang tidak
senang, dengan alis berkerut. Melihat tiga orang
menghadang di depannya, Tiong Li segera memberi
hormat kepada tiga orang tosu itu dan berkata dengan
hormat dan ramah.
"Selamat siang, sam-wi to-tiang (tiga orang pendeta
To)."
"Orang muda," kata Im Seng Cu yang memegang
tongkat. "Engkaukah yang bernama Tan Tiong Li?"
Tiong L i memandang heran. "Benar sekali, to-tiang.
Saya bernama Tan Tiong Li dan samwi to-tiang ini siapa
kah? Dan ada keperluan apakah dengan saya?"
"Tiong Li, engkau pemberontak! Menyerahlah untuk
kami tangkap!"
"Aih, to-tiang! Kenapa to-tiang berkata demikian? Saya
sama sekali bukan pemberontak, bahkan saya
melaksanakan perintah Yang Mulia Kaisar untuk
menemukan kembali Mestika Golok Naga!" bantah Tiong
Li. "Siapakah sam-wi?"
"Pinto adalah Im Seng Cu dari Lu-liang-san," kata
yang memegang tongkat, dan bertubuh kurus tinggi,
"Pinto Ban Hok Seng jin pertapa Lembah Fen-ho!"
kata tosu pendek gendut yang membawa sebatang
pedang di punggungnya.
"Dan pinto Sin G i Tosu, pertapa dari Thai-hang-san!"
kata yang tinggi besar dan memegang sebuah kebutan
berbulu putih .
Kembali Tiong Li memberi hormat. "Seperti saya
katakan tadi, nama saya Tan Tiong Li dan ini adalah
sahabat saya bernama The Siang Hwi. Kami berdua
tidak pernah memberontak dan ......
"Tidak perlu mengganjal lagi! Pinto bertiga sudah
mendengar bahwa engkau bergabung dengan para
pemberontak, yang dipimpin oleh pemberontak Gak Liu!"
"Memang benar saya bersahabat dengan pendekar
Gak Liu dan saudara-saudaranya. Akan tetapi Gak Liu
adalah putera mendiang Panglima Gak Hui dan sama
sekali bukan pemberontak, melainkan pejuang!"
"Hemm, kami mengenal Gak Hui sebagai seorang
pahlawan yang setia sampai mati kepada Kaisar. Kami
semua menghormatinya. Akan tetapi Gak Liu puteranya
itu sama sekali tidak mengikuti jejak ayahnya. Dia
menggerakkan orang-orang untuk menjadi pemberontak
!" kata Sin Gi Tosu yang tinggi besar sambil menggerakgerakkan
kebutannya.
"Sam-wi to-tiang salah sangka Gak Liu sama sekali
bukan pemberontak! Dia berjuang mati-matian untuk
menentang pemerintah Kin, berusaha keras untuk
mengusir penjajah Kin dari tanah air."
"Akan tetapi dia menentang dan seringkali bentrok
dengan pasukan Sung, bahkan sudah banyak
membunuh anggauta pasukan Sung. Apakah itu tidak
memberontak namanya?" kata Im Seng Cu.
"To-tiang salah sangka. Perdana Menteri Jin Kui amat
membenci para pejuang yang gagah perkasa. Perdana
Menteri Jin Kui seringkali mengirim pasukan untuk
membasmi para pejuang, maka tentu saja para pejuang
membela diri. Perdana Menteri Jin Kui itulah yang
menghasut Yang Mulia Kaisar dan menyebut para
pejuang itu pemberontak. Kalau para pejuang yang
bersatu padu berniat untuk memusuhi Kerajaan Sung
yang lemah, tentu sudah lama berhasil. Tidak to-tiang.
Para pejuang bukan, pemberontak, melainkan patriot
sejati yang hendak mengusir penjajah dari tanah air!
Sayang sekali Yang Mulia Kaisar tidak mendengarkan
pendapat mendiang Panglima Gak Hui untuk menyerang
Bangsa Kin. Dia bahkan mendengarkan Perdana Menteri
Jin Kui yang menghendaki perdamaian dan persekutuan
dengan penjajah."
"Sian-cai, engkau pandai bicara orang muda!" kata
Ban Hok Seng-jin yang pendek gemuk.
"Lalu apa katamu tentang Mestika Golok Naga yang
dicuri dari gudang pusaka istana? bukankah itu
perbuatan para pejuang pula? Bukankah itu berarti
memberontak?"
"Berita bohong itupun di tiup-tiupkan oleh Perdana
Menteri Jin Kui sebagai fitnah. Sesungguhnya yang
mencuri golok pusaka, itu adalah kaki tangani Panglima
Kin yang bernama Wu Chu. Saya sendiri yang merampas
kembali golok pusaka itu dari tangan Panglima Wu Chu,
akan tetapi sayang golok itu terampas oleh seorang
tokoh kang-ouw yang hendak mempergunakannya untuk
menentang pasukan Kin. Dan sekarang saya sedang
berusaha untuk merampasnya kembali," jawab Tiong Li
dengan suara tegas.
"Ho-ho, engkau sudah siap untuk menjawab semua,
pertanyaan. Bagus sekali! Dan bagaimana engkau akan
menjawab kalau pinto bertanya tentang kematian
Pangeran Kian Cu yang terbunuh oleh lima orang
pemberontak itu, orang muda ? "
"Sam-wi To-tiang, ketahuilah bahwa Pangeran Kian
Cu pergi berunding dengan para pejuang atas perintah
Yang Mulia Kaisar, bahkan pangeran itu telah memberi
sumbangan yang cukup banyak kepada para pejuang.
Kemudian ketika pangeran meninggalkan para pejuang,
pendekar Gak Liu sendiri yang menyuruh lima orang
rekannya untuk mengawal pangeran itu. Kemudian
diketahui bahwa mereka berlima itu tewas, demikian pula
sang pangeran. Bagaimana mungkin mereka berlima itu
membunuh sang pangeran yang telah menjadi sahabat
baik ? Ini sungguh tidak masuk akal. Tentu ada pihak lain
yang membunuh pangeran, kemudian membunuh pula
lima orang pengawal itu, kemudian melemparkan fitnah
bahwa lima orang pejuang itu yang membunuh sang
pangeran. Harap sam-wi to-tiang dapat
mempertimbangkannya dengan adil dan tidak hanya
mendengarkan keterangan satu pihak sana."
Tiga orang tosu itu menjadi bingung dan saling
pandang penuh kebimbangan dan keraguan. Semua
keterangan yang diucapkan pemuda itu dengan lancar
dan tegas membuat mereka merasa bimbang. Semua
jawaban itu mengandung kemungkinan besar akan
kebenarannya! Tiga orang ini adalah para datuk yang
terbujuk oleh Kui To Cin-jin dan mereka hendak berjuang
tanpa pamrih membela Kerajaan Sung. Mereka tidak
mengharapkan imbalan jasa. juga tidak mengingat akan
kepentingan diri pribadi. Semua hanya dilakukan dengan
tujuan satu, yalah membela Kerajaan Sung dan
membersihkan pemberontak yang mengacau Kerajaan
Sung. .Akan tetapi kini mereka mendapat jawaban yang
berlainan sama sekali dengan yang didengarnya dari Kui
To Cin-jin dan Perdana Menteri Jin Kui .
"Bagaimana pendapatmu, Im Seng Cu ?" tanya Ban
Hok Seng-jln kepada rekannya.
"Sian-cai...... ! Keterangan pemuda ini memang masuk
diakal. Pinto menjadi bingung memikirkan persoalan ini,"
jawab.yang ditanya.
Sin Gi Tosu juga berkata sambil menghela napas
panjang. "Pinto juga menjadi ragu karena pinto sudah
mendengar bahwa Perdana Menteri Jin Kui amat licik
dan tidak disuka oleh para menteri lain yang setia. Akan
tetapi kekuasaannya besar sehingga para menteri tidak
ada yang berani berkutik."
"Sian-cai, apakah benar kita yang dibohongi?" tanya
Ban Hok Seng-jin. "Kui To Cin-jin ternyata juga tidak
menghambakan diri kepada Kaisar, melainkan kepada
Perdana Menteri Jin Kui, Hal itu saja tadinya sudah
menimbulkan kekecewaanku. Pinto kira dia
menghambakan diri kepada Kaisar."
"Sam-wi To-tiang yang bijaksana," kata Tiong LI.
"Harap sam-wi berpikir dengan pertimbangan seadilnya.
Jin Kui itu adalah seorang penjilat yang telah mampu
menguasai Yang Mulia Kaisar, akan tetapi dia bukanlah
seorang pejabat yang baik. Dialah yang bersekutu
dengan orang-orang Kin. Bahkan saya merasa yakin dia
yang menyuruh orang menculik sang puteri Sung Hiang
Bwee untuk dihadiahkan kepada Panglima Kin yang
bernama Wu Chu itu. Masih untung saya dapat
membebaskan sang puteri yang telah dua kali diculik
orang. Dan mengapa Perdana Menteri Jin Kui membenci
para pejuang? Pertama karena para pejuang itu
menentang Bangsa Kin yang menjadi sekutunya, dan
kedua kalinya belum lama ini puteranya yang bernama
Jin Kiat, yang terkenal mata keranjang dan amat jahat,
terbunuh oleh pendekar Gak Liu. Itulah yang membuat
Jin Kui selalu mengejar-ngejar para pejuang dan
mengatakannya bahwa mereka pemberontak yang harus
dibasmi."
Tiga orang tosu itu mengangguk-angguk. Mereka
adalah orang-orang bijaksana yang mudah disadarkan
dan begitu menyadari kekeliruan mereka, seketika dapat
mengubah sikap. Tidak seperti kebanyakan dari kita yang
kalau menyadari kekeliruan diri sendiri, pikiran lalu
mencari akal untuk membela kekeliruan itu, untuk
mencari alasan dan menyalahkan orang lain untuk
menutupi ke salahan sendiri.
"Sian-cai.....! Ban Hok Seng-jin dan Sin Gi Tosu, kita
bertiga ini orang-orang tua yang berpikiran seperti anak
kecil, mudah dibujuk dan mudah di kelabuhi. Kita telah
tertipu oleh Kui To Cin-jin yang agaknya telah ketularan
penyakit Jin Kui dan menjadi seorang penjilat. Tan Tiong
Li,. terima kasih. Kami menyadari kekeliruan kami. Akan
tetapi dari tempat jauh sekali kami datang dan kami telah
mendengar tentang kelihaianmu. Rasanya akan sia-sia
perjalanan kami kalau kami belum mencoba kelihaianmu.
Nah, mari kita main main sebentar, hendak kubuktikan
apa yang telah kudengar tentang dirimu!"
Tiong Li mengerutkan alisnya. "Totiang, perlukah itu?
Kita bukan musuh dan tidak ada urusan apapun di antara
kita. Kita belajar ilmu untuk dipergunakan membela
kebenaran dan keadilan, bukan untuk saling serang di
antara orang-orang sehaluan. Bukankah totiang juga
membela kebenaran dan keadilan?"
"Ha-ha-ha, lupakah engkau akan kebiasaan orang
kang-ouw, belum berarti berkenalan dengan baik kalau
belum mengenal kepandaian masing-masing? Ini bukan
perkelahian, hanya saling menguji kepandaian saja."
Tiong Li menghela napas panjang dia mengerti akan
kebiasaan orang-orang kang-ouw yang sangat suka
untuk mengenal orang lain melalui ilmu silatnya.
"Baiklah, to-tiang. Kalau totiang menghendaki
demikian."
To-su yang tinggi kurus itu menggerakkan tongkatnya.
Im Seng Cu memang seorang ahli dengan senjata
tongkatnya yang telah mengangkat namanya sebagai
seorang datuk persilatan yang lihai "Orang muda,
pergunakanlah senjatamu untuk menandingi tongkatku
Ini!"
"Maaf, to-tiang. Saya tidak memiliki senjata apapun
selain kaki dan tangan ini. Biarlah saya menghadapi
tongkat to-tiang dengan kaki dan tanganku. Nah, saya
sudah bersiap, to-tiang!" kata Tiong Li sambil memasang
kuda-kuda di depan tosu itu .
Im Seng Cu mengerutkan alisnya. Bagaimana
mungkin dia melawan seorang pemuda yang bertangan
kosong dengan tongkatnya? Akan tetapi karena dia
sudah mendengar akan kelihaian Tiong Li, diapun ingin
sekali mengujinya.
"Baik, engkau yang menghendaki demikian, bukan
pinto. Nah, sambutlah seranganku ini!"
Tongkatnya menyambar dengan dahsyat dan cepat
sekali, mengirim totokan bertubi-tubi ke arah tiga jalan
darah di pundak dan dada Tiong Li. Pemuda ini tidak
memandang rendah dan sudah menduga bahwa tosu itu
tentu lihai sekali, maka sejak tadi dia sudah bersikap
waspada dan begitu lawan menyerang, dia mengerahkan
Ilmu meringankan tubuh Jauw-sang-hui dan memain kan
ilmu silat Ngo-heng-lian-hoan-kun yang amat lihai.
Tubuhnya berkelebatan dan tidak dapat tersentuh ujung
tongkat. Im Seng Cu terkejut sekait melihat tubuh
pemuda itu berubah seperti bayangan yang berkelebatan
dan tahu-tahu tangan pemuda itu menampar ke arah
pergelangan tangannya sedangkan kakinya menyusul
dengan sapuan yang cepat, dan kuat sekali!
Cepat sekali dia menarik lengannya dan meloncat
tinggi ke atas, lalu memutar tongkatnya dan menyerang
lebih hebat lagi karena dia maklum bahwa pemuda itu
benar-benar amat tangguh.Tiong Li sendiri juga terkejut.
Tongkat itu memang hebat. Ujungnya seolah berubah
menjadi puluhan batang dan semua ujung itu
mengancam jalan darahnya. Totokan yang bertubi-tubi
membuat dia terpaksa harus menggunakan kecepatan
gerakannya, mengelak dan kadang menangkis tongkat
itu dengan lengannya.
"Dukkk.....!"
Ketika tingkat bertemu dengan lengan kiri Tiong Li
yang menangkisnya, kembali tosu itu terkejut karena dia
merasa betapa kedua lengannya yang memegang
tongkat tergetar hebat. Hal ini tidaklah mengherankan
karena ketika menangkis Tiong Li telah mengerahkan
tenaga Jian-kin-lat. Akan tetapi kakek Itu menggerakkan
tongkatnya secara istimewa sekali dan tahu-tahu sudah
menotok pundaknya! Tidak ada kesempatan lagi bagi
Tiong Li untuk mengelak atau menangkis, maka cepat
dia mengerahkan ilmu I-kiong-hoan-hiat.
"Tukkk!"
Jalan darah di pundak itu tertotok dengan cepat sekali
oleh ujung tongkat. Im Seng Cu memang seorang ahli
totok yang hebat, akan tetapi sekali ini dia terkejut,
setengah mati melihat totokannya itu tidak merobohkan si
pemuda, sebaliknya dengan Tai-lek-kim-kong-jiu Tiong Li
menyerangnya dan menangkap tongkatnya. Demikian
hebatnya pukulan kilat itu sehingga Im Seng Cu terpaksa
melompat ke belakang dan melepaskan tongkatnya yang
terampas oleh Tiong Li !. Kiranya ilmu I-kiong-hoan-hiat
yang dapat memindahkan jalan darah dan menahan
aliran darah itu membuat dia kebal terhadap totokan
yang tepat mengenai jalan darah di pundaknya itu tidak
mengenai jalan darah yang sudah dipindahkan, maka dia
pun tidak terpengaruh.
"Siancai.....! Engkau memang hebat sekali, orang
muda!" kata Im Seng Cu memuji dan dia menyambut
ketika Tiong Li mengembalikan tongkatnya, lalu
melangkah kebelakang dengan wajah agak basah oleh
keringat. Melihat ini, dua orang Tosu yang lain menjadi
gembira bukan main. Pemuda itu dapat menandingi
bahkan mengugguli Im Seng Cu, ini hebat!
Ban Hok Seng-jin lalu maju dan mencabut pedangnya.
"Tan-sicu, pinto juga ingin sekali merasakan kelihaianmu.
Akan tetapi karena pinto biasa menggunakan pedang,
maka sekarangpun terpaksa pinto mempergunakan
pedang. Harap kau orang muda suka menggunakan
senjata pula, karena kalau bertangan kosong sungguh
membuat pinto merasa tidak enak."
"Koko, kau pergunakanlah pedangku ini!" Tiba-tiba
Siang Hwi berkata sambil memberikan pedangnya
kepada Tiong Li. Pemuda itu meragu. Kekasihnya adalah
murid Ban-tok Sian-li maka pedangnya tentu pedang
beracun dan dia tidak mau mempergunakan pedang
beracun, akan tetapi untuk menolaknyapun dia merasa
tidak enak terhadap kekasih nya. Agaknya Siang Hwi
memaklumi keraguan kekasihnya, maka ia tersenyum
manis dan berkata :
"Koko, jangan khawatir. Pedangku ini bersih!"
Tiong Li menjadi girang sekali dan tanpa ragu lagi dia
menerima pedang itu, sebatang pedang yang terbuat dari
baja yang baik sehingga mengkilat bersih. Tidak ada
tanda-tanda bahwa pedang itu mengandung racun. Dia
memegang pedang menghadapi Ban Hok Seng-jin.
"Kalau to-tiang memaksa hendak menguji ilmu
pedang, silakan, to-tiang. Saya sudah bersiap!" katanya
sambil melintangkan pedangnya di depan dada. Biarpun
kelihatannya dia hanya melintang kan pedangnya depan
dada bertemu dengan ujung jari tangan kirinya yang juga
berada di depan dada dengan lengan terlipat, namun
sesungguhnya itu adalah sebuah pasangan dari ilmu
pedang Hui-eng-kiam-hoat (ilmu Pedang Garuda
Terbang), yaitu pasangan Garuda Melipat sayapnya.
"Bagus, kalau begitu sambutlah seranganku ini, orang
muda!" bentak Ban Hok Seng-jin yang sudah menyerang
dengan sabetan pedangnya dari kiri ke kanan. Sepasang
lengan yang membentuk sayap dilipat itu terbuka dan
pedang di tangan Tiong Li menangkis. Pedang beradu
beruntun sampai tiga kali dan mereka masing-masing
menarik pedangnya untuk diperiksa.
Ternyata pedang tidak menjadi rusak hanya Ban Hok
Sen-jin merasa betapa tangannya tergetar keras. Maka
dia lalu menyerang lebih hebat lagi. Pedangnya lenyap,
bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung
menyilaukan mata. Tosu ini memang seorang ahli
pedang yang pandai sekali, Akan tetapi Tiong Li
mengimbanginya dengan ilmu meringankan tubuh Jauwsang-
hui.
Tubuh pemuda yang memainkan ilmu pedang Huieng-
kiam-hoat ini seperti berubah menjadi seekor burung
walet yang amat lincah. Beterbangan ke sana sini di
antara sambaran pedang lawan dan pedangnya sendiri
pun digerakkan membalas dengan serangan yang tidak
kalah hebatnya.
Terjadi saling serang dengan hebatnya, ditonton dua
orang tosu dan juga Siang Hwi yang merasa semakin
kagum kepada kekasihnya, ia melihat tubuh kekasihnya
itu seperti berubah. menjadi bayangan yang
berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang.
Tentu saja Tiong Li tidak ingin merobohkan atau
melukai lawan maka dia mencari akal bagaimana untuk
mencapai kemenangan tanpa harus melukai lawan.
Akhirnya dia mendapatkan akal. Pada saat pedang
lawan menusuk ke arah lehernya, dia memapak! dengan
pedangnya dan mengerahkan sin-kang menyedot
pedang itu sehingga pedang tosu itu melekat pada
pedangnya. Diputarnya pedang itu dengan pengerahan
sin-kang sehingga mau tidak mau pedang tosu itu ikut
berputar. Pada saat kedua pedang berputar itulah, Tiong
LI menyerongku pedangnya dan menusuk ke depan,
mengancam pergelangan tangan lawan!
Ban Hok Seng-jin terkejut bukan main ketika tahu-tahu
pergelangan tangannya sudah terancam ujung pedang
laan. Untuk melindungi pergelangan tangannya. terpaksa
dia melepaskan pedang yang menempel pada pedang
lawan itu dan melompat ke belakang!. Pedangnya masih
menempel pada pedang Tiong Li yang kemudian
mengambilnya dan menyodorkan kepada pemiliknya,
mengembalikannya sambil berkata, "Terima kasih bahwa
to-tiang telah mengalah kepada saya."
"Siancai ....... !" Ban Hok Seng-jin menerima kembali
pedangnya dan memandang penuh kagum. "Belum
pernah pinto bertemu tanding seperti engkau, orang
muda. Kalau boleh pinto bertanya, ilmu pedang apakah
yang kaumainkan itu?"
"Itu adalah Hui-eng-kiam-hwat, to-tiang."
"Hui-eng-kiam-hwat? Bukankah ilmu pedang itu
menjadi ilmu Pek Hong Sa jin, pertapa di Pek-hong-san?"
"Beliau adalah seorang di anta guru-guru saya, totiang."
"Siancai. ... ! Pantas engkau begitu lihai!" kata Ban
Hok Seng-jin kagum,"Dan siapakah guru-gurumu yang
lain, orang muda?" kini Sin Gi Tosu yang bertubuh tinggi
besar.
"Saya masih mempunyai dua orang guru lagi, to-tiang,
yaitu Thian Kui lo-jin dan Tee Kui Lo-jin."
"Wah, sepasang pendekar sakti dari puncak Ki linsan?
Bukan main!" seru Sin Gi Tosu sambil menyelipkan
kebutannya di pinggangnya. "Kalau begitu pinto tidak
ingin mencoba ilmu silatmu, orang muda, karena Ilmu
silatmu yang diajarkan oleh tiga orang sakti itu pasti
hebat. Pinto ingin menguji ketangguhan tenagamu."
"Silakan, to-tiang," kata Tiong Li sambil
mengembalikan pedang kepada Siang Hwi.
"Nah, sambutlah ini, orang muda!" kata Sin Gi Tosu
sambil mendorong dengan kedua tangan terbuka ke
depan, kearah dada Tiong Li. Pemuda itu melihat
dorongan itu mengandung kekuatan yang hebat dan
angin dahsyat menyambar, segera memasang kudakuda
dan diapun menggerak kan kedua tangan terbuka
ke depan dengan ilmu Thai-lek-kim-kong-jiu. Dua tenaga
sin-kang amat kuat bertemu di udara dan keduanya
seolah bertemu dengan dinding baja yang kuat.
Keduanya saling dorong dan mengerahkan tenaga.
0o—dw—o0
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil