Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 03 Juni 2018

Pedang Sinar Emas 1

=======
baca juga
Jilid I
“ANG BI TIN….! Ang bi tin….!”
Terdengar seruan berkali kali di dalam kota Tong seng
kwan pada suatu senja yang sunyi. Ketika seruan ini
terdengar untuk pertama kali, keadaan menjadi geger.
Orang orang berlarian dengan wajah pucat, pergi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyembunyikan diri, seperti anak anak ayam mendengar
suara burung rajawali terbang di atas kepala. Tak lama
kemudian, kota Tun seng kwan menjadi sunyi dan mati,
seakan akan tiada seorangpun penghuninya. Pintu pintu
rumah tertutup rapat, bahkan banyak toko warung tidak
sempat ditutup dan dibiarkan begitu snja, ditinggalkan oleh
pemiliknya masing masing. Dari rumah rumah yang ada
anak kecilnya, tiap kali terdengar tangis anak anak, segera
disusul oleh suara orang tua. “Sst, diam... suara ini
terdengar amat gelisah dan mulut anak kecil itu lalu ditutup
dengan tangan oleh orang tuanya.
“Ang bi tin…” kini sebutan ini hanya terdengar dalam
bisikan saja seolah olah orang merasa takut kalau kalau
menyebutnya saja akan mendatangkan bencana. Apa dan
siapakah Ang bi tin?
Ang bi tin berarti Barisan Alis Merah yang pada masa
cerita ini terjadi, merupakan segerombolan manusia iblis
yang amat ditakuti.
“Ang bi tin, mereka muncul lagi. Kini siapakah yang
hendak mereka jadikan korban ?” Terdengar suara orang
bicara di dalam suasana yang sunyi mencekam itu. Suara
ini diucapkan dengan tenang oleh seorang laki laki yang
berdiri di depan pintu rumahnya, ia berusia tigapuluh tahun
lebih, berwajah sederhana dan tampan, beralis tebal dan
hitam dan sepasang matanya menyatakan bahwa ia
memiliki keberanian dan berhati juiur. Inilah Song Hak Gi,
bekas perwira yang kini telah mengundurkan diri setelah
pemerintah boneka Goan tiauw berdiri. Dalam Keadaan
amat miskin, Song Hai Gi kini tinggal di kota Tong Seng
kwan bersama isterinya dan seorang putranya yang baru
berusia enam tahun. Tadi ketika ia mendengar di sebtnya
Ang bi tin oleh orang orang yang berlari larian, ia segera
menyuruh isteri dan puterapya masuk ke dalam rumah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi dia sendiri tidak bersembunyi, bahkan lalu
diam diam menyiapkan peadangnya disembunyikan di
bawah bajunya yang penuh tambalan. Dengan tenang akan
tetapi agak pucat, bekas perwira she Song ini lalu berdiri di
depan pintu rumahnya yang buruk dan kecil. Ia tidak akan
merasa aneh apabila gerombolan Ang bi tin ini datang
untuk menyerangnya. Sudah banyak bekas perwira yang
benar benar berjiwa patriot yang tidak mau menjadi tentara
boneka dari Kerajaan Goan tiauw yang tunggangi oleh
Bangsa Mongol, dibunuh oleh gerombolan manusia iblis
ini.
Song Hak Gi adalah orang gagah, ia tidak sudi untuk
bersembunyi memperlihatkan rasa takutnya terhadap Ang
bi tin yang diketahuinya terdiri orang orang Mongol dan
kaki tangannya itu. Pula, ia juga sudah cukup maklum akan
kelihaian Ang bi tin, bahwa gerombolan ini disokong
sepenuhnya oleh pemerintah dan mempunyai banyak sekali
kaki tangan dan mata mata. Biarpun ia bersembunyi, tetap
saja mereka akan dapat mengetahui di mana tempat
tinggalnya.
“Seandainya mereke benar datang mencariku, aku lebih
suka mati dengan pedang di tangan dari pada mati
disembelih seperti seekor babi, demikian bekas perwira yang
gagah perkasa ini berkata di dalam hatinya.
Suasana yang amat sunyi itu lebih menggelisahkan hati
daripada kalau ia benar benar melihat gerombolan itu
muncul dengan golok besar mereka yang amat terkenal.
“Ibu, biarkan aku keluar,” tiba tiba ia mendengar suara
puteranya yang bening dan nyaring suaranya. Song Hak Gi
tersenyum. Putera tunggal nya Song Bun Sam, amat
disayanginya dan ia merasa bangga melihat puteranya
memiliki keberanian.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Jangan. Sam ji, ada Ang bi tin … tidak takutkah kau?”
bisik ibunya yang terdengar juga oleh bekas perwira itu.
“Aku tidak takut, bersama ayah aku tidak takut siapan
pun juga,” Bun Sam menjawab dengan tegas dan larilah
anak itu keluar menyusul ayahnya.
“Sam ji…” ibunya memanggil dan menyusul pula keluar.
Pada saat itu juga, Song Hak Gi mendengar suara
bertiup keras dibarengi berkelebatnya tiga sinar putih ke
arahnya.
“Bun Sam cepat kau masuk ke dalam bersama ibumu!”
Pererwira ini masih sempat berteriak kepada putranya yang
sudah muncul di ambang pintu dan secepat kilat ia lalu
mengelak ke kiri sambil mencabut pedangnya. Tiga sinar
putih itu seperti yang diduganya, adalah tiga batang piauw
(senjata rahasia) yang melayang dengan cepat sekali ke arah
nya. Hak Gi menggerakkan pedangnya.
“Traang….!” Sebatang piauw yang tadi nya melayang ke
arah rumahnya di mana puteranya masih berdiri, terkena
tangkisan dan terlempar jauh.
“Sam ji, cepat bawa ibumu lari dari pintu belakang!”
Song Hak Gi kembali berseru kepada puteranya. Sebelum
Bun Sam dapat menjawab, ibu nya telah menarik tangan
anak itu dan dibawa lari masuk ke dalam kamar lagi. Muka
nyonya muda ini pucat dan tubuhnya menggigil ia
menahan isaknya ketika mendengar suara senjata beradu di
luar rumah.
“Sam ji, kau berdiam di sini saja aku hendak membantu
ayahmu,” kata nyonya muda ini. Sebenarnya dia hanya
mengerti sedikit saja ilmu silat, akan tetapi melihat
suaminya agaknya diserang oleh gerombolan Ang bi tin,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
nyonya muda ini menjadi nekat. Dengan sebatang pedang
di tangan, berlarilah ia keluar dari rumahnya yang kecil.
Sementara itu, sebagaimana telah diduga oleh Hak Gi,
pelempar senjata rahasia tadi setelah melihat serangan gelap
mereka gagal, lalu melompat keluar. Mereka ini terdiri dari
tujuh orang. Bermacam macam pakaian mereka, ada
pakaian orang Mongol, ada orang berpakaian seperti orang
Han akan tetapi alis mereka semua dicat merah.
“Ha, ha, ha, Song ciangkun, marilah kau kami angkat
menjadi perwira di kerajaam Giam lo Ong. Ha, ha, ha!”
terdengar seorang di antara mereka berseru sambil tertawa
tawa.
“Anjing penjilat Bangsa Mongo! Kalian kira aku Song
Hak Gi takut menghadapi anjing anjing hina dina seperti
kau ini?” bentak Hak Gi yang segera memutar pedangnya,
maju menyerang orang yang bicara tadi. Akan tetapi tujuh
batang golok berkelebat dan sebentar saja ia dikurung oleh
tujuh orang lawannya itu.
Song Hak Gi bertempur dengan hati gelisah, ia bukan
merasa takut dan mengkhawatirkan keadaan diri sendiri,
akan tetapi ia merasa gelisah kalau memikirkan putera dan
isterinya. Ternyata bahwa tujuh orang manusia iblis itu
memilik ilmu golok yang amat kuat. Kepandaian silat
mereka ini ternyata tidak berada di sebelah bawah tingkat
kepandaiannya dan ia maklun bahwa mereka masih
mempunyai banyak kawan kawan yang belum muncul.
Kalau sampai ia roboh, bagaimanakah nasib anak isterinya
?
Tiba tiba terdengar teriakan sengit dan isterinya
melompat maju dengan pedang di tangan! Hak Gi merasa
terkejut dan terharu, akan terapi tentu saja gerakan isterinya
ini bahkan mengganggu pertahanannya. Kini ia harus
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
melindungi dua orang dari sambaran golok golok yang lihai
itu.
Tak lama kemudian, selagi Hak Gi dengan mati matian
membela diri dan melidungi isterinya, terdengar pekik pekik
mengerikan dan rumah lain di barengi suara tertawa gelak
yang amat menyeramkan. Hak Gi menggigit bibirnya ia
maklum bahwa suara itu tentu keluar dari rumah seorang
kawannya, yakni Oey ciangkun yang tinggal tak jauh dari
situ, Oey ciangkun yang sudah tua itu dan yang hania
tinggal berdua dengan isterinya, tentu menjadi korban pula.
Ia menggigit bibir dan melakukan perlawanan makin cepat.
Akan tetapi, segera datang lima orang lagi anggota Ang bi
tin dan sambil tertatwa tawa mereka ini menyerbu pula.
Bahkan ada tiga orang di antara mereka yang menyerbu ke
arah pintu, hendak masuk ke dalam. Hak Gi ingat kepada
puteranya dan dengan amat khawatir ia lalu melompat
maju, memutar pedang menghalangi tiga orang itu
memasuki rumah.
Kesempatan ini tidak disia siakan oleh para
pengeroyoknya. Ketika Hak Gi menyerbu ke arah tiga
orang angota Ang bi tin yang hendak masuk ke dalam
rumah dan berhasil melukai pundak seorang di antara
mereka, beberapa batang golok sekaligus menerjangnya dari
belakang. Hak Gi mencoba untuk menangkis, akan tetapi
kurang cepat dan sebatang gelok menancap di
punggungnya.
Berbareng dengan robohnya tubuh Hak Gi, terdengar
jerit isterinya yang mengerikan. Nyonya muda ini maklum
bahwa nasibnya akan lebih mengerikan daripada maut
apabila ia sampai tertawan hidup hidup oleh gerombolan
Alis Merah ini, maka begitu melihat suaminya roboh mandi
darah, nyonya muda ini lalu mengangkat pedangnya dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dengan satu bacokan kearah leher sendiri, nyonya ini roboh
dengan leher hampir putus.
Bun Sam, putera tunggal keluarga Song yang telah
berusia enam tahun, memandang dengan mata terbelalak
dari celah celah pintu betapa ayahnya roboh mandi darah
dan ibunyapun telah menggorok leher sendiri.
“Ayah…!!” Tak terasa lagi ia menjerit ngeri, tetapi segera
ia mendekap mulutnya sendiri dengan tangan karena
jeritamya ini membuat beberapa orang anggauta Ang bi tin
cepat menengok dan berlari menuju ke pintu rumah.
Perasaan takut lebih besar daripada perasaan sedih dan
ngeri di dalam hati Bun Sam. Melihat tiga orang Mongol
tinggi besar dengan alis merah itu mengangkat golok dan
menerjang ke arah pintu rumahnya, ia cepat melompat ke
dalam dan terus berlari ke belakang. Dalam kegugupannya
ia menendang bangku dan jatuh tersungkur. Akan tetapi ia
bangun lagi dan tanpa memperdulikan lututnya yang
berdarah karena jatuh tadi, ia berlari lagi, keluar dan pintu
belakang dan terus lari ke dalam gelap. Memang, pada saat
itu senja telah berganti malam dan cuaca sudah mulai gelap.
“Kejar! Kejar dan bunuh sekalian!” Terdengar teriakan
seorang anggauta Ang bi tin dan sebentar saja ada lima
orang anggauta manusia iblis itu yang melakukan
pengejaran terhadap Bun Sam.
Bun San merasa bahwa ia takkan dapat membebaskan
diri lagi dari kekejaman gerombolan Ang bi tin itu. Ngeri ia
membayangkan keadaan ayah bundanya dan perasaan
takutnya ini membuat sepasang kakinya seakan akan
tumbuh sayap. Perlumbaan antara Bun Sam dengan lima
orang pengejarnya untuk memperebutkan nyawanya ini
terjadi dengan diam diam. Agaknya lima orang pengejar itu
sengaja tidak mau lari cepat dan hanya membayangi anak
itu saja. Diam diam mereka menikmati ketakutan anak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang mereka kejar dan sengaja hendak mempermainkan
Bun Sam. Kalau anak itu sudah kehabisan tenaga saking
lelah dan takutnya barulah mereka akan turun tangan.
Mereka memiliki watak seperti seekor kucing yang
mempermainkan tikus kecil.
Bun Sam berlari lari di sepanjang jalan di kota Tong seng
kwan yang nampak seperti kota mati itu. Orang orang tadi
bersembunyi, belum ada yang berani memperlihatkan diri.
Bahkan mereka menjadi makin ketakutan setelah
mendengar teriakan teriakan dan jeritan jeritan. Kini
mereka mendengar kaki berlari lari maka tahulah mereka
bahwa gerombolan liar itu masih berada di dalam kota dan
keadaan masih belum aman.
Bun Sam berlari dengan napas makin lama makin
terengah engah. Kepalanya berdenyut keras, dadanya terasa
panas sekali sakit seperi mau meledak, kedua kakinya lemas
dan gemetar. Ia mendengar dengan jelas betapa di sebelah
belakangnya beberapa orang penjahat terus mengejar.
“Ayah… ibu...!” berkali kali Bun Sam mengeluh dan
bersambat menyebut ayah bundanya, akan tetapi untuk
kesekian kalinya keluhannya ini ditutup dengan isak tangis
karena teringat bahwa orang tua yang ia sambati itu telah
tewas dalam keadaan yang amat mengerikam. Teringat
kepada ayah bundanya yang sudah menjadi korban
keganasan Ang bi tin ini, makin besarlah perasaan takut
yang menyelubungi hatinya dan makin kuat ia berusaha
untuk melarikan diri secepat mungkin. Akhirnya setelah ke
mana saja ia lari bertemu dengan orang orang beralis merah
yang berkeliaran di kota itu ia lalu membelok dan berlari ke
luar kota, melalui pintu gerbang sebelah selatan.
“Ha, ha, ha, anjing kecil, kau hendak lari ke mana?”
seorang di antara para pengejar mengejek sambil tertawa
tawa dan menyabet nyabetkan golok nya sehinggs terdengar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bunyi angin bersiutan amat mengerikan hati. “Anjing kecil,
jantungmu yang berdenyut denyut penuh darah segar tentu
enak sekali di makan dengan arak. Ha, ha, ha!”
Bukan main ngeri dan takutnya hati Bun Sam
mendengar ancaman ini. Saking takutnya ia menjadi
demikian gugup, sehingga seketika kakinya tersandung akar
pohon yang melintang di jalan tergulinglah dia dan rebah
tertelungkup di atas tanah tanpa dapat bangun lagi.
“Ha, ha, ha, anjing kecil, akhirnya kau kehabisan napas
juga, terdengar suara di belakangnya dan pengejar yang
terdepan segera mengangkat golok dan diayunkan ke arah
leher Bun Sam.
“Trang!” anggauta Ang bi tin itu terkejut ketika goloknya
terpental kembali, tertangkis oleh sebatang toya yang
digerakkan oleh tenaga yang amat kuat. Cepat ia
memandang dan ternyata bahwa yang menolong nyawa
Bun Sam tadi adalah seorang laki laki setengah tua, berusia
paling banyak empatpuluhan tahun, berpakaian sebagai
seorang guru silat yang miskin.
“Orang orang Ang bi tin, kalian benar benar iblis iblis
bermuka manusia!” seru guru silat ini dengan suara
menyatakan keheranan yang ditahan tahan. “Terhadap
seorang anak anakpun kalian tidak bisa memberi ampun!”
Seorang di antara gerombolan Alis Mereh yang
berjenggot kaku dan kacau balau, bermuka hitam melompat
ke depan menghadapi guru silat itu.
“Hm, Can kausu (guru silat Can) kau ini orang apakah
berani sekali mencampuri urusan Ang bi tin? Mengapa kau
tidak tinggal saja di rumah dan hidup aman, sebaliknya,
berkelieran dan berani mengganggu kami? Sudah bosan
hidupkah kau!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sebentar saja guru silat she Can ini telah dikurung oleh
tujuh prajurit anggota Ang bi tin yang berwajah
menyeramkan.
Can Goan adalah seorang guru silat di kota Tong seng
kwan yang terkenal jujur dan gagah. Dia adalah sahabat
baik dari Song Hak Gi. Biarpun ia sudah tahu akan
pengeruh besar dan kekuasaan orang orang Ang bi tin
dengan segala keganasan mereka, namun kali ini
mendengar bahwa sahabat baiknya menjadi korban, ia tidak
dapat tinggal diam lagi. Cepat ia datang ke rumah
sahabatnya dan alangkah remuk hatinya menyaksikan
sahabatnya itu menggeletak tak bernyawa bersama
isterinya. Ia mendengar pula tentang Bun Sam yang dikejar
kejar oleh barisan siluman itu, maka cepat ia lalu
melakukan pengejaran dan dapat menolong nyawa Bun
Sam pada saat yang tepat sekali.
Ketika Can Goan mendengar ucapan si brewok anggota
Ang bi tin itu, ia menjadi heran karena orang itu ternyata
telah mengenalnya dan iapun seperti pernah mendengar
suara orang ini. Ia lalu memandang tajam dan mencoba
untuk mengenal wajah yang kini beralis merah itu.
Akhirnya ia teringat dan marahlah ia, “Ah, kiranya Toa to
Hek mo (Setan Hitam Bergolok Besar) yang kini menjadi
iblis alis merah! Pantas saja Ang bi tin terkenal ganas dan
kejam, tidak tahunya anggota anggotanya terdiri dari
penjahat penjahat besar. Tadinya aku merasa heran
mendengar betapa orang orang gagah BangsaHan ada yang
menjadi anggota Ang bi tin akan tetapi sekarang setelah
melihat mukamu, tahulah aku bahwa yang menjadi
pengkhianat pengkhianat bangsa tidak lain adalah sampah
sampah semacam ini!”
“Orang she Can, tutup mulutmu yang sombong!” teriak
si brewok itu dan secepat kilat ia lalu mengayunkan golok
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
besarnya ke arah kepala Can Goan. Tentu saja guru silat ini
tidak mau kepalanya dibacok begitu saja dan secepat kilat
iapun lalu menggerakkan toya panjangnya untuk
menangkis. Kembali terdengar suara nyaring bunga api
berpijar ketika dua senjata ini beradu.
Toa to Hek mo pernah merasai kelihaian Can Goan,
yakni dulu ketika Can Goan masih menjadi piauwsu
(pengantar barang ekspedisi) dan dia masih menjadi kepala
rampok, maka kini menghadapi Can Goan, ia merasa jerih.
Ia bersiul memberi tanda rahasia kepada kawan kawannya
yang segera maju mengeroyok. Bagaikan seekor harimau
terluka, Gan Goan memutar toyanya ke empat penjuru dan
mengamuk. Tidak percuma ia mendapat julukan Dewa
Toya, karena permaiaan toyanya benar benar hebat sekali.
Toa to Hek mo sama sekali tidak mendapat kesempatan
untuk mendekatinya dan tiap kali sebuah di antara tujuh
batang golok yang mengeroyoknya itu terbentur toya,
tangan pe megangnya merasa perih dan sakit, tanda bahwa
tenaga dari Dewa Toya ini benar benar hebat. Beberapa
jurus kemudian ujung toya bahkan berhasil menyambar
tulang kering seorang pengeroyok sehigga orang itu
memekik kesakitan dan roboh dengan tulang kering kakinya
patah patah!
Melihat hal ini, Bun Sam yang kini sudah berdiri di
bawah pohon menjadi girang sekali. Hampir saja ia
bersorak dan anak ini lupa untuk berlari atau
menyembunyikan diri. Ia kenal baik kepada Cau kauwsu ini
yang sering datang mengobrol dengan ayahnya.
“Bagus! Can pekhu, bagus! Pukul mampus orang orang
jahat ini!” teriaknya dengan girang sekali. Can Goan
terkejut sekali ketika mendengar suara ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Eh Bun Sam, kau masih di sini! Lekas kau lari!” Guru
silat ini menjadi gelisah sekali. Tak disangkanya bahwa
anak itu masih berada di situ.
Pada saat itu, tiba tiba enam orang anggota Ang bi tin
masih mengeroyok Can kauwsu melompat mundur untuk
memberi jalan pada seorang yang baru datang. Orang ini
tinggi kurus alisnya dicat merah mata dan hidungnya yang
seperti burung betet itu menyembul tertarik menjeling.
Can Goan kaget bukan main melihat orang ini. Biarpun
ia bisa melupakan wajah orang ini yang sekarang sudah
memakai hiasan alis merah, namun ia tak dapat melupakan
___ ___ Lui Hai Siong, seorang tokoh kang ouw yang
berjuluk Ngo jiauw eng (Garuda Cakar Lima). Bagaimana
orang inipun bisa menjadi anggota Ang bi tin, bahkan
agaknya menjadi kepala?
“Can Goan, kau jangan menjual lagak disini!” kata
orang tinggi kurus yang baru datang ini. Berbareng dengan
ucapannya ini tangan kirinya bergerak cepat sekali
merupakan cakar garuda diserangkan ke arah muka Can
Goan. Can kauwsu cepat mengerakkan toya menangkis
tangan yang tidak di duga amat lihai itu. Akan tetapi,
sambil mengeluarkan ringkikan seperti seekor kuda Ngo
jiauw eng Lui Hai Siong menangkap toya itu dan sekali ia
menbetot, terlepaslah toya itu dari pegangan Can Goan.
Can kauwsu amat terkejut, akan tetapi tiba tiba ia merasa
pundaknya telah tercengkeram oleh tangan kanan lawannya
dan sekali dorong ia tak dapat bertahan lagi dan roboh
tertelungkup. Lui Hai Song tertawa terbahak bahak sambil
menginjak punggungCan Goan dengan kaki kirinya.
“Ha, ha, ha, orang she Can. Baru memiliki kepandaian
sebegini saja kau sudah berani menghadapi Ang bi tin.
Sungguh menggelikan!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Can Goan maklum bahwa nyawa nya tak dapat ditolong
lagi. Kaki yang menginjak punggungnya dirasakan amat
berat bagaikan gunung yang menggencetnya.
“Bun San… lari...! Bawalah Sian Hwa... lari!” Can
kauwsu dalam saat terakhir masih dapat berseru keras.
Bun San yang tadi kegirangan melihat betapa
pembelanya dapat merobohkan seorang pengeroyok, kini
menjadi pucat sekali. Ia memandang kepada mata Lui Hai
Siong yang berhidung ekek itu dengan ketakutan, kemudian
setelah mendengar seruan terakhir dari Can Goan anak ini
lalu melarikan diri.
“Aku disuruh membawa Sian Hwa...” pikirnya dengan
bingug, karena Sian Hwa adalah anak tunggal dari Can
kauwsu dan kalau ia harus membawa lari Sian Hwa, berarti
ia harus kembali lagi ke dalam kota. Ia takut sekali untuk
kembali ke dalam kota akan tetapi bagaimana ia bisa
menyia nyiakan pesanan terakhir dari penolongnya?
Can Goan benar saja tak dapat menolong nyawanya lagi.
Sekali si hidung ekek itu mengerahkan tenaga kakinya,
terdengar suara “krak!!” dan patahlah tulang tulang
punggung dan iga dari guru silat itu. Can kauwu tewas
tanpa dapat mengeluarkan suara dan sampai mati ia tidak
dapat menduga bahwa sebenarnya Lui Hai Siong inipun
baru menjadi pemimpin rendah saja dari barisan Ang bi tin.
Dengan kedatangan Ngo jiauw eng Lui Hai siong, para
anggauta Ang bi tin tidak berani berlaku sesuka hatinya
sendiri, maka mereka ini lupa kepada Bun Sam yang telah
melarikan diri. Tanpa perintah dari Lui Hai Siong setelah
pemimpin regu ini hadir, mereka tidak berani bertindak
dan di bawah pimpinan Lui Hai Siong, kembalilah
rambongan itu ke dalam kota yang masih sunyi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kurang ajar sekali guru silat she Can itu,” kata Lui Hai
Siong yang masih marah, “mari kita periksa rumahnya,
siapa tahu di sana masih bersembunyi pemberontak
pemberontak lainnya.”
Akan tetapi ketika mereka melewati pintu gerbang, tiba
tiba seorang di antara mereka menunjuk ke depam. “Itu
adalah anak yang tadi.”
“Anak siapa?” tanya Lui Hai Siong.
“Dia putera tunggal dari Song ciangkun yang telah kami
tewaskan,” jawab seorang anggauta.
“Hei, membasmi rumput harus dengan akar akarnya.
Tangkap dan bunuh anak itu!” Sambil berkata demikian,
Lui Hai Siong mengayunkan tangan kanannya dan
sebatang jarum melayang cepat sekali kearah bayagan anak
yang sedang berlarian itu. Bun San, bayangan itu. berteriak
dan tubuhnya terguling. Jarum itu dengan amat jitu telah
menancap di pundaknya, tepat mengenai jalan darahnya.
Lima orang anggota Ang bi tin mengejar dengar golok
terangkat, siap untuk memenggal leher anak yang sudah
rebah tidak berdaya itu. Tahu tahu seperti seekor burung
bersayap, anak itu dapat mumbul seperti terbang ke udara
dan menghilang di dalam gerombolan daun daun pobon
yang hijau dan gemuk.
Tentu saja lima orang anggota gerombolan Ang bi tin itu
menjadi bengong dan berdiri terpaku di bawah pohon yang
tinggi dan besar itu. Tidak salahkah pandangan matanya?
Betul betulkah tubuh anak kecil itu dapat mumbul dan
lenyap dari depan mereka tanpa sebab? Benar benar aneh!
Mereka berlima hanya berdiri menengadah dan mencari
cari dengan pandangan mata, akan tetapi malam itu gelap
dan daun daun pohon itu hanya nampak hitam dan gelap
saja.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ngo jiauw eng Lui Hai Siong yang dari jauh melihat
betapa lima orang anak buahnya berdiri bengong tak
bergerak, menjadi terheran. Ia masih belum tahu bahwa
anak yang tadi telah dirobohkan dengan jarumnya yang
lihai yakni semacam senjata rahasia kecil yang disebut bwe
hwa ciam (Jarum Bunga Bwe), telah lenyap dengan secara
amat rahasia. Dengan beberapa kali lompatan, Si Garuda
Cakar Lima ini telah tiba di bawah pohon.
“Mana anak itu ?” tanyanya, baru sekarang ia melihat
kehilangan itu.
“Lenyap, ke sana…” serorang di antara anak buahnya
berkata dan jari telunjuknya menuding ke atas.
Untuk sesaat Lui Hai Siong memandang heran,
kemudian tersenyum, “Hm, ada pula yang berani main gila,
ya? Turunlah!” Seruan ini diucapkan dengan keras dan tiba
tiba kedua tangannya bergerak, diayunkan ke arah pohon
itu. Beberapa batang jarum yang berbahaya melayang ke
arah pohon.
Terdengar daun daun pohon bergeresekan, di barengi
cabang cabang pohon itu bergoyang goyang dan tiba tiba
sesosok bayangan yang tinggi sekali melayang turun.
Tangan kiri bayangan itu memeluk tubuh Bun Sam dan
tangan kanannya memegang sebuah ranting pohon yang
masih penuh dengan daun. Sekali ia putar ranting itu semua
jarum yang dilepaskan oleh Lui Hai Siong terpukul runtuh
dan tiba tiba bayangan yang melompat turun itu, sebelum
kedua kakinya tiba di tanah, ia mengeluarkan suara
melengking yang aneh, setengah tangis setengah tertawa
dan ranting di tangan kanannya digerakkan keras. Daun
daun yang tadi melekat pada ranting itu tiba tiba rontok dan
melayang cepat menyerang kepada Lui Hai Siong dan
beberapa kawan kawannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Jerit kesakitan susul menyusul ketika anak anak buah
Ang bi tin itu terpukul oleh daun daun ini. Ada yang
terkena pipinya, pundaknya akan tetapi bagian tubuh mana
saja yang terkena sambaran daun ini, terasa pedas dan sakit
sekali. Hanya Lui Hai Siong seorang yang siap menyampok
jatuh dua daun yang melayang ke arah dadanya.
Akan tetapi orang orang itu tidak hanya terkejut karena
rasa sakit yang ditimbulkan oleh daun daun itu, terutama
sekali mereka terkejut dan ngeri ketika melihat muka
bayangau orang yang telah menolong anak itu. Ketika
bayangan itu melompat turun biarpun hanya sejenak,
semua orang dapat melihat betapa bayangan yang tinggi
kurus itu mempunyai muka seperti tengkorak. Pakaiannya
yang hitam membuat wajahnya nampak lebih
menyeramkan lagi. Maka bukan main kaget dan ngerinya
semua orang bahkan Lui Hui Siong sendiri saking kaget dan
herannya sampai berdiri terpukau, lupa untuk mengejar
ketika bayangan itu melompat dan menghilang ke dalam
gelap.
“Kejar….!” Lui Hai Siong berteriak setelah orang
bermuka tengkorak itu sudah tidak nampak bayangannya
lagi. Semua orang mengejar akan tetapi di mana mana
sunyi saja, tidak terlihat bayangan seorang manusiapun.
“Kurang ajar, itu tentulah seorang kawan dari Song
ciangkun atau Can kauwsu yung sudah mampus. Biarlah,
tak perlu kita mencarinya. Yang perlu sekarang cepat
menyerbu ke rumah Can kauwsu.”
Baru saja mereka hendak bergerak menuju ke rumah Can
kauwsu, tiba tiba bertiup angin keras dibarengi oleh suara
berkerincing yang ramai dan entah dari mana datangnya,
tahu tahu seorang Mongol yang bertubuh kate dan gemuk
telah berdiri di depan Lui Hai Song. Garuda Cakar Lima itu
terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya, cepat cepat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memberi hormat dengar menjura rendah sekali. Juga semua
kawan kawannya anggota anggota Alis Merah, memberi
hormat dengan sikap yang amat merendah.
“Taijin (orang besar), semua tugas telah dilakukan
dengan baik!” Kata katanya yang merupakan laporan ini
menunjukkan bahwa orang Mongol yang pendek ini adalah
seorang kepala yang lebih tinggi kedudukannya
daripadanya. Memang orang ini adalah Bucuci. seorang
Mongol yang mempunyai pengaruh besar sekali dan juga
amat lihai ilmu silatnya. Pakaiannya mewah dan bentuk
pakaian seperti pakaian perang, akan tetapi di tiap sudut
dipasangi kerincingan kuningan yang selalu berbunyi ramai
setiap kali ia bergerak. Akan tetapi, di waktu ia berkelahi,
kalau dikehendakinya, Bucuci dapat bersilat sedemikian
ringan dan cepatnya hingga tak sebuah pun kerincingan di
pakaiannya itu berbunyi. Bucuci merupakan tokoh tingkat
dua dalam barisan gerombolan Ang bi tin yang amat
terkenal ini.
“Aku tidak tanya tentang tugasmu, yang penting apakah
kalian tadi melihat manusia bermuka tengkorak, berbaju
hitam ?” tanya Bucuci dengan angkuh sekali, tanpa
memperdulikan kepada Lui Hai Siong. Jelas sekali bahwa
Bucuci amat memandang rendah kepada Lui Hai Siong.
Akan tetapi manusia penjilat ini dengan sikap merendah
sekali berkata,
“Betul, taijin, baru saja kami mengejar seorang bermuka
tengkorak yang menolong dan membawa lari putera Song
ciangkum .” Kemudian dengan singkat Lui Hai Song
menceritakan yang dilihat nya tadi.
Bucuci nampak tak puas. “Sayang sekali kalian tadi tidak
memberi tanda sehingga setan tengkorak itu dapat
meloloskan diri. Bagaimanakah putera orang she Song itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sampai dapat terhindar dari kematian? Ia kelak akan dapat
mendatangkan kesulitan saja.”
“Semua itu karena salahnya Can Goan si guru silat yang
telah kami bunuh itu, taijin”, kata Lui Hai Song, yang lalu
menceritakan betapa Bun Sam anak kecil itu tertolong oleh
Can kauwsu. Sungguh menggelikan melihat sikap Lui Hai
Siong terhadap orang Mongol itu, bagaikan seekor anjing
menjilat jilat sepatu majikannya yang berdebu. Baru
sebutan “taijin” saja sudah amat menggelikan, karena
sebutan ini sesungguhnya biasanya hanya diucapkan
terhadap seorang pembesar saja.
Ketika Bucuci mendengar laporan itu, iapun menjadi
marah.
“Kalau begitu, seisi rumah guru silai she Can itu harus
dibasmi habis. Ayo, antarkan aku ke sana.”
Dengan tindakan kaki lebar, Bucuci lalu diantarkan oleh
rombongan Ang bi tin inni menuju ke rumah Can Goan
yang sudah tewas.
Siapakah yang berada di dalam rumah Can Kauwsu ini?
Sesungguhnya Can Goan hanya hidup berdua dengan
seorang anak perempuannya yang ______ Can Sian Hwa
_______ tahun yang lalu dari ______puterinya. Can Goan
____ menikah lagi. Ia mendidik puterinya ini dengan penuh
kasih sayang, akan tetapi siapa kira, baru saja anaknya
berusia empat tahun ia telah tewas dalam tangan kawanan
Alis merah yang amat kejam.Ayah ___ ini tadi masih ingat
kepada puterinya dan member pesan kepada Bun Sam yang
sudah kenal Sian Hwa, untuk mengajak puterinya itu lari
bersama, akan tetapi ia tidak tahu bahwa Bun Sam sendiri
hamper saja tewas dalam tangan Ang bi tin kalau saja tidak
keburu tertolong oleh seorang manusia gaib yang bermuka
tengkorak itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sian Hwa ketika ditinggalkan oleh ayahnya ia diam
duduk saja di dalam kamar seorang diri. Ia masih terlalu
kecil untuk mengetahui apakah dan siapakah sebenarnya
Ang bi tin yang ditakuti itu. Apa lagi ayahnya selalu
menjaga agar anak ini tidak menjadi seorang penakut, maka
boleh dibilang Sian Hwa tidak kenal nama Ang bi tin yang
oleh anak lain dikenal sebagai sesuatu yang amat
menyeramkan. Setelah terlalu lama ayahnya tidak datang,
anak ini mulai menjadi kesal can tertidurlah ia di atas
pembaringan di mana biasanya ia tidur bersama ayahnya.
Tiba tiba Sian Hwa terkejut dan bangun dari tidurnya, ia
mendengar suara keras sekali di depan. Ternyata bahwa
daun pintu rumahnya telah ditendang roboh oleh kaki
kanan Lui Hai Siong yang kuat dan Bacuci sendiri lalu
melompat masuk sambil memandang ke kanan kiri dengan
sikapnya yang tenang menakutkan. Tiba tiba terdengar
gelak dua ekor aajng, yakni anjing peliharaan Can kauwsu.
Sian Hwa dari dalam kamarnya mendengar betapa dua ekor
anjingnya itu meraung raung dan menyalak nyalak akan
tetapi tiba tiba terdengar kedua binatang ini menguik keras
lalu keadaan menjadi sunyi lagi. Sian Hwa tentu saja tidak
tahu betapa Bucuci dengan sekali tendang dan sekali pukul
sudah berhasil membuat dua ekor anjing itu remuk
kepalanya.
Tiba tiba, sedikit sinar penerangan dari dian yang
menyala di dalam kamar di mana SianHwa berada, padam.
Ternyata bahwa Sian Hwa, anak umur empat tahun itu,
sudah mempunyai kecerdikan dan ketabahan. Mendengar
suara di luar, anak ini cepat meniup padam lampu di atas
meja kamarnya sehingga keadaan di dalam kamar menjadi
luar biasa gelapnya. Sebaliknya ia yang berada di dalam
kamar, dapat melihat ke arah pintu karena dari luar rumah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
terdapat sinar lampu depan rumah yang menerangi pintu
itu.
“Siapa di dalam kamar? Ayoh keluar!” bentak suara
Bucuci yang parau dan menyeramkan. Tidak ada jawaban.
Sian Kwa mulai takut. Itu bukan suara ayah nya!
Dengan perlahan ia turun dari pembaringan. Biarpun
kakinya telanjang dan kulit telapak kakinya yang hakus itu
hampir tidak bersuara ketika diturunkan ke atas lantai,
namun masih cukup dapat tertangkap oleh pondengaran
telinga Bucuci yang luar biasa.
“Siapa itu? Ayoh keluar!”
Berbareng dengan bentakan itu, Sian Hwa yang amat
terkejut itu menyusup ke bawah pembaringan bagaikan
seekor tikus kecil yang bersembunyi di dalam lobang, takut
kepada kucing yang menanti di luar lobang, anak
perempuan ini dengan napas empas empis saking menahan
getaran jantungnya, diam tak berani bergerak sedikitpun
juga. Matanya menatap ke arah pintu kamar yang tertutup
oleh kain tirai.
“Kau tidak mau keluar? Baiklah, aku akan menyeret
mayatmu keluar!” terdengar pula suara bentakan yang
penuh ancaman itu dan tiba tiba Sian Hwa dari kolong
pembaringan melihat betapa tirai kain itu bergoyang dan
tiba tiba “brett!” tirai itu telah direnggutkan orang, sehingga
putus dan kini pintu itu merupakan lobang besar. Terdengar
derap sepasang kaki memasuki kamar dan Sian Hwa
merasa betapa ada angin menyambar nyambar yang
membuat meja terguling dan dinding kamar bergetar
bagaikan ada lindu! Ia hanya melihat bayangan orang
bergerak gerak sama sekali tidak tahu bahwa Bucuci sedang
melakukan serangan ke sekitar sudut kamar dengan
pukulan pukulan tangan penuh tenaga lweekang dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
khikang semacam pukulan Pek lek jiu (Pukulan Tangan
Geledek) yang akan merobohkan dan membinasakan orang
dari jarak jauh.
Setelah melakukan pukulan pukulan dan merasa yakin
bahwa tak seorangpun akan dapat menyelamatkan diri
kalau ada orang di dalam kamar itu, Bucuci berdiri diam
sambil mendengarkan. Matanya yang tajam hanya dapat
memandagg remang remang saja dalam kamar yang gelap
itu. Dan ia terheran. Ternyata di situ tidak ada orang sama
sekali dan pembaringan yang berada di sudut kamar juga
kosong. Selagi ia merasa kecele dan mendongkol lalu
hendak meninggalkan kamar itu, tiba tiba terdengar suara
“Hacih…! Hacih…!”
Bucuci cepat membalikkan tubuhnya. Itu adalah suara
anak kecil berbangkis, pikirnya! Memang betul, tadi ketika
ada angin menyambar nyambar Sian Hwa demikian takut,
sehingga ia menelungkup dan bertiarap di bawah
pembaringan. Debu yang mengebul dari dinding yang
tergetar karena pukulan Bucuci, membuat ia merasa
hidungnya gatal gatal dan tak dapat tertahan lagi ia
berbangkis dua kali.
Bucuci menjadi merah mukanya. Ternyata ia telah
berlaku terlalu ketakutan dan terlalu hati hati di dalam
kamar yang ternyata hanya didiami oleh seorang anak kecil.
Dengan gerakan tiba tiba ia melompat ke arah pembaringan
itu. Sekali renggut saja dengan tangan kiri, pembaringan itu
telah terlempar jauh dan nampaklah kini Sian Hwa
meringkuk di atas lantai.
Bucuci tertawa gelak gelak dan ketika tangan kanannya
menyambar Sian Hwa telah dijambak rambutnya dan
diangkatnyalah anak itu dengan rambut dijambak ke atas.
Lalu orang Mongol itu melangkah lebar kelaur dari rumah,
anak perempuan itu meronta ronta berusuha melepaskan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
rambutnya yang dijambak pedas itu, Sian Hwa sama sekali
tidak mengeluarkan teriakan, hanya air matanya saja turun
amat derasnya dan kedua tangatnya memukul mukul ke
atas untuk memaksa tangan yang menjambaknya itu
melepaskan rambutnya, ia seperti seekor kelinci yang
tertangkap telinganya dan di gantung. Bucuci masih tertawa
tawa ketika ia membawa anak perempuan yang baru
berusia empat tahun itu keluar dari rumah kecil itu dan
memperlihatkan anak itu dengan muka lucu kepada kawan
kawannya.
“Hanya ada tikus kecil ini,” katanya kepada para angota
Ang bi tin, kemudian disambungnya dengan suara bengis.
“Bakar rumah ini!”
Segera Lui Hai Siong sendiri turun tangan untuk
membakar rumah itu dan sebentar saja rumah dari keluarga
Can ini dimakan api. Bicuci semenjak tadi merasa heran
dan juga kagum sekali melihat anak pempuan yang masih
dipegang pada rambutnya yang panjang itu sama sekali
tidak menangis. Bagaimana ada anak kecil sekeras ini
hatinya? Ketika rumah itu terbakar, ia hendak melemparkan
Sian Hwa ke dalam lautan api, akan tetapi cahaya api yang
membakar rumah itu menerangi segala apa di sekitarnya
dan tanpa disengaja Bucuci memandang muka anak kecil
itu. Tertegunlah ia dan kalau tadinya ia hendak
melemparkan anak itu kedalam api, sebaliknya kini
melepaskan jambakannya dan memondong anak itu, sambil
menatap wajahnya dengan penuh perhatian. Hatinya
berdebar keras temudian ia berkata kepada Lui Hai Siong.
“Besok bikin laporan kepada Liem gonswe, aku hendak
pulang lebih dulu.” Setelah berkata demikian, sekali ia
menggerakkan tubuhnya orang Mongol yang pendek gemuk
ini lenyap dari pandangan mata sambil memondong anak
perempuan kecil itu!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mengapa Bucuci tidak jadi membunuh Sian Hwa?
Apakah tiba tiba di dalam dada orang kejam ini timbul
perasaan kasihan? Tidak, agaknya tidak mungkin seorang
seperti Bucuci dapat menaruh hati kasihan kepada orang
lain, kecuali untuk diri sendiri atau untuk orang orang yang
disukainya. Sesungguhnya ketika tadi cahaya api yang
membakar rumah kecil itu menerangi wajah Sian Hwa dan
Bucuci memandang wajah gadis cilik ini, ia tertegun
meilhat persamaan raut muka anak ini dengan Kui Eng
isterinya yang baru, yang benar benar benar amat di
cintainya. Telah berkali kali semenjak orang orang Mongol
berhasil membobolkan pertahanan orang orang Han dan
memegang kekuasaan di Tiongkok, Bucuci telah berkali kali
bertukar isteri. Akhir akhir ini, kira kira tiga bulan yang
lalu, kembali ia dapat merampas seorang wanita muda,
setelah membunuh suami dan seorang anak dari wanita ini.
Wanita ini adalah Kui Eng yang dulu tinggal di kota Heng
sian di selatan. Kui Eng atau lengkapnya Ciok Kui Eng,
adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik sekali.
Dia isteri seorang bekas perwira Han yang terbunuh oleh
Bucuci dan anak perempuannya yang baru berusia tiga
tahun telah terbunuh pula oleh kaki tangan Bucuci, anggota
anggota Ang bi tin yang amat ganas dan keji. Kemudian,
tetarik oleh kecantikan nyonya muda ini, Bucuci tidak
membunuhnya melainkan menculik dan membawa pulang
isterinya, juga seorang Han yang dulu dirampasnya pada
saat itu juga ia “berikan” kepada seorang sahabatnya untuk
dijadikan selir, lalu ia menempatkan Kui Eng di dalam
gedungnya sebagai isterinya. Akan tetapi, sungguh amat
mengecewakan hatinya, Kui Eng tak sudi berlaku manis
kepadanya, bahkan nyonya muda yang cantik jelita ini
selalu marah marah dan bahkan ada tanda tanda bahwa
ingatan nyonya ini berubah. Setiap saat memanggil manggil
anaknya saja. Bahkan di dalam keadaan pikiran tidak sehat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Eng berjanji kepada Bucuci bahwa suami paksaan ini
dapat membawa pulang anaknya, ia akan suka menjadi
isterinya dalam arti yang sebenarnya, bukan isteri paksa.
Ketika menculik Kui Eng Bucuci pernah melihat anak
kecil yang di__ oleh anak buahnya itu. Maka setelah
melihat wajah Sian Hwa yang hampir sama dengan wajah
Kui Eng dan anaknya, timbul pikiran baik dalam benaknya.
Ia hendak membawa Sian Hwa pulang, hendak diberikan
kepada Kui Eng, siapa tahu kalau isterinya itu akan terhibur
hatinya. Memang cinta itu amat aneh dan berkuasa besar.
Sejahat jahatnya hati orang apabila ia telah dikuasai oleh
rasa cinta, akan timbul kelembutan yang amat mesra, akan
timbul kebajikan tertinggi dalam perikemanusiaan, yakni
kehendak untuk menyenangkan hati lain orang. Tentu saja
dalam hal ini, hati orang yang dicintainya.
“Kui eng, manisku, bergiranglah engkau, aku telah
datang membawa pulang anakmu...” berkali kali Bucuci
berbisik seorang diri sambil berlari cepat sekali, sehingga
kali ini Sian Hwa menjadi ketakutan dan meramkan
matanya, Bucuci membayangkan betapa bibir Kui Eng yang
manis itu kini akan dapat tersenyum dan hatinya menjadi
besar. Tak terasa lagi ia lalu mendekap tubuh anak itu dan
menyelimutinya dengan baju luarnya karena malam itu
amat dingin, apalagi ia mempergunakan ilmu ilmu lari
cepat, sehingga angin berdesir meniup anak itu yang
menggigil kedinginan. Ia harus merawat anak ini baik baik,
karena siapa tahu kalau kalau kebahagiaannya datang
karena adanya anak ini.
Peristiwa di atas itu terjadi di abad ke dua belas, pada
waktu itu pemerintah yang menguasai Tiongkok adalah
pemerintah Goan tiauw. Pemerintah ini sebenarnya tidak
lebih hanyalah sebuah pemerintah boneka yang bekerja di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bawah injakan kaki Bangsa Mongol. Setelah bala tentara
Mongol yang amat kuat di bawah pimpinan Jengis khan,
kemudian dilanjutkan oleh pimpinan yang amat kuat dari
Mancu yang disebut Raja besar dan setelah raja besar ini
tewas dalam peperangan lalu diganti oleh Kubilai khan lalu
mengalahkan seluruh raja raja kecil di Tiongkok seperti
Kerajaan Hsia, Kin dan Song, maka Kubilai khan lalu
mendirikan Kerajaan Goan tiauw.
Pemerintah Mongol ini amt kuat dan pandai
melumpuhkan semangat perlawanan rakyat Tiongkok.
Rakyat dibagi menjadi empat tingkat, yakni yang
pertantama tentu saja orang orang Mongol sendiri, ke dua
adalah orang orang Semu (yang bermata bitu atau coklat)
ke tiga orang orang Han dan ke empat adalah orang orang
Selatan. Tentu saja yang memegang kekuasaan adalah
orang orang Mongol, dibantu oleh orang Semu. Banyak
juga orang orang Han yang menduduki pangkat tinggi, akan
tetapi dapat dipastikan bahwa orang orang Han ini adalah
orang orang yang berhati pengecut dan penjilat, yang tidak
segan segan untuk menindas bahkan memfitnah secara keji
kepada bangsa sendiri hanya untuk menjilat telapak kaki
orang orang Mongol agar mereka mendapatkan kedudukan
baik.
Orang orang Han dan orang selatan, amat dihina dan
ditindas. Contohnya mereka ini tidak boleh membawa
bawa senjata tajam, tidak boleh memelihara kuda, tidak
boleh berburu binatang dan tidak boleh lagi main silat.
Siapa saja yang berani melakukan pelanggaran ini, langsung
dicap sebagai pemberontak dan dibunuh! Oleh karena itu,
orang orang Han menjadi ketakutan dan hidup penuh
penderitaan. Mereka ini dikumpulkan dan setiap duapuluh
orang keluarga disatukan dan dibentuklah sekelompok yang
disebut “cia”, yakni sekelompok rakyat terdiri dari
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
duapuluh keluarga itu lalu setiap cia ini dikepalai oleh
seorang Mongol yang biasanya lalu memeras dan
mengancam mereka, mengganggu anak bini mereka secara
kurang ajar sekali.
Masih banyak contoh contoh pemerasan dan penindasan
yang tidak saja mendirikan bulu tengkuk saking ngerinya,
akan tetapi juga mendirikan semangat perlawanan dalam
dada setiap putera Han yang menjadi marah sekali. Akan
tetapi apa daya mereka? Pemerintah Goan tiauw amat kuat
dan selain perwira perwira Mongol amat pandai dan tinggi
ilmu kepandaiannya, juga banyak orang orang Han yang
berkepandaian tinggi kini menjadi kaki tangan mereka.
Contoh perbedaaan yang amat menyolok dapat dilihat di
pengadilan. Orang orang Mongol dan Semu yang
melakukan kejahatan diperiksa oleh pengadilan istimewa.
Apabila seorang memukul atau memaki seorang Han atau
selatan orang Han ini tidak membalas pukulan atau makian
itu. Kalau seorang Han atau selatan memukul atau memaki
seorang Mongol, maka ia akan dihukum berat bahkan
mungkin dihukum mati. Sebaliknya kalau seorang Mongol
atau Semu membunuh seorang Han hukumannya hanyalah
sebuah dendaan yang ringan saja!
Dan di dalam keadaan yang kacau balau dan amat
sengsara bagi rakyat ini, timbullah barisan Ang bi tin yang
lebih lebih merupakan tindasan hebat bagi rakyat jelata.
Nama Ang bi tin atau Barisan Alis Merah ini sebetulnya
hanya dikenal hampir tiga belas abad yang lalu. Memang
pernah ada bala tentara Alis Merah yang amat terkenal di
masa itu, yakni barisan pemberontak yang dipimpin oleh
Fan Cung dan barisan Alis Merah ini demikian hebat sepak
terjangnya, sehingga terkenal sekali di dalam sejarah. Pada
masa itu, para anggota pemberontak mengecat merah alis
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mereka hanya dengan maksud agar dapat saling
mengetahui.
Akan tetapi, Ang bi tin yang sekarang merajalela, yang
dipimpin oleh orang orang Mongol yang berkepandaian
tinggi itu mempunyai latar belakang yang___ sama sekali
dengan Ang bi tin tiga belas abad yang lalu. Ang bi tin yang
sekarang ini sebetulnya ______ dendam dan sakit hati
bangsa Mongol ___ orang orang gagah BangsaHan.
Beberapa ___ yang lalu, ketika peperangan yang timbul
dari penyerbuan bala tentara Mongol masih sedang
berkobar, seorang jenderal Bangsa Mongol keturunan
Semu, yakni seorang Mongol bermata biru dan rambutnya
kemerahan erbunuh oleh orang Han yang gagah perkasa,
jenderal Mongol yang berambut merah dan beralis merah
ini terkenal gagah berani dan amt dicintai serta dihargai
oleh orang orang Mongol, maka tentu saja kematiannya
menimbulkan kegemparan besar. Terutama sekali putera
jenderal yang bernama Salinga, ia bersumpah untuk
menghancurkan semua orang Han yang pernah menjadi
perwira atau yang disebut orang kang ouw yang memiliki
kepandaian silat. Salinga juga pandai ilmu silat seperti
ayahnya, akan tetapi matanya tidak sebiru mata ayahnya,
rambut dan alisnya tidak semerah rambut dan alis ayahya
karena ia menurun dari ibunya seorang Mongol tulen. Di
dalam sumpahnya ini, Salinga mencat alisnya menjadi
merah dan sebelum semua orang gagah bangsa Han
ditumpasnya, ia tidak mau membuang warna merah pada
alisnya itu.
Salinga amat kaya raya dan juga berpengaruh, maka
banyak sekali pengikutnya. Ia membentuk Ang bi tin atau
Barisan Alis Merah dan beberapa tahun kemudian, agaknya
Ang bi tin ini menjadi populer di kalangan Mongol dan
dianggap sebagai semacam “hobby” atau olah raga! Bagi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mereka, memburu dan membasmi orang orang Han yang
dicurigai dan dianggap seorang ahli silat berbahaya sama
halnya dengan memburu dan membunuh binatang ganas!
Demikianlah, makin lama gerakan Ang bi tin ini makin
nyasar dari sebab semula. Kini banyak anggota Ang bi tin
yang tidak tahu apa artinya alis yang dimerah merahkan itu.
Orang orang Mongol yang menjadi anggota hanya senang
memburu orang Han saja sedangkan orang orang Han
seperti Lui Hai Siong dan lain lain yang ikut masuk menjadi
anggota, tentu tadinya adalah golongan buaya buaya darat
dan kini ingin menjilat pantat orang orang Mongol. Banyak
sekali jumlahnya orang orang gagah dan bekas bekas
perwira Bangsa Han yang menjadi korban keganasan Ang
bi tin ini. Tidak saja orang orang gagah dan bekas bekas
perwira, bahkan rakyat jelata juga ikut diganggu.
Pendeknya Ang bi tin sudah berubah dari sepasukan orang
orang yang hendak membalas dendam, menjadi
gerombolan peajahat yang kejam, ganas dan ditakuti oleh
seluruh rakyat, dari yang tua sampai yang masih anak anak!
Bun Sam, putera tunggal dari perwira Song yang
terbunuh mati oleh gerombolan Ang bi tin dan yang dilukai
oleh jarum bwe hoa ciam dari Lui Hai Siong ____ dibagian
____ sakit, panas dan pe_____ dan dapat melihat dengan
baik apa yang terjadi dengan dirinya. Ketika ia roboh
terkena jarum bwe hoa ciam yang dilepaskan oleh penjilat
she Lui itu, tiba tiba ia merasa ditarik ke atas oleh orang
berpakaian hitam dan di pondong oleh orang itu yang
duduk di atas cabang pohon, tinggi sekali. Bun Sam
terheran heran dan merasa seolah olah ia sedang berada
dalam mimpi. Apalagi ketika kemudian ia dibawa
melompat turun dan di dalam pondongan orang itu, Bun
Sam merasa seakan akan dibawa terbang oleh seekor
burung yang besar. Malam itu gelap sekali, maka ia tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dapat melihat wajah penolongnya dan pundaknya terasa
demikian sakitnya, sehingga ia mengeluh.
“Aduh… panas….”
Orang yang memondongnya itu berhenti berlari.
Ternyata mereka telah berada jauh sekali dari kota Tong
Seng kwan, berada di dalam sebuah hutan yang amat gelap.
Hanya cahaya cahaya redup dari ribuan bintang di langit
hitam memberi sedikit penerangan. Orang itu tanpa berkata
sesuatu lalu menurunkan anak yang tubuhnya terasa panas
sekali itu di atas rumput. Kemudian orang itu meraba raba
pundak Bun Sam yang terkena jarum.
“Aduh….!” anak itu menjerit lalu pingsan saking
hebatnya rast sakit menyerang dadanya.
Orang aneh itu mengeluarkan suara haha huhu seperti
biasa dikeluarkan oleh mulut seorang gagu kemudian ia lalu
mencabut sebatang pedang yang disembunyikan di balik
bajunya yang panjang. Sekali ia membacokkan pedang itu
pada batu karang, berpijarlah banyak bunga api. Tak lama
kemudian ia telah berhasil membuat api unggun yang
cukup besar. Dengan pertolongan sinar api unggun, ia lalu
membuka baju Bun Sam dan memeriksa pundak yang
terluka. Jarum Bwe hwa ciam yang menancap pada pundak
anak itu ternyata mendatangkan warna hitam kebiruan di
sekitar luka dan jarum itu telah masuk setengahnya lebih.
Kembali orang itu mengeluarkan suara haha huhu
menyatakan kemarahannya. Ia menjepit jarum itu dengan
dua jari tangan dan mencabutnya dengan cepat. Darah
hitam menitik keluar dari luka, darah yang hampir
mengental. Orang aneh itu lalu mendekatkan mulutnya
pada luka di pundak Bun Sam dan disedotlah luka itu
dengan mulutnya, sambil kedua tangatnya memencet
mencet pundak itu untuk mengeluarkan darah yang telah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
terkena racun. Berkali kali ia menyedot dan meludahkan
darah hitam akhirnya racun di pundak Bun Sam telah
bersih. Dengan amat cekatan, orang ___ merobek pinggir
baju Bun Sam dan ___ pundak ini dengan erat. Terdengar
Bun Sam mengerang perlahan dan orang itu lalu
memberinya minum arak hangat dari sebuah guci yang
tengantung di pinggangnya. Setelah minum dua teguk arak,
tanpa mambuka matanya Bun Sam lalu jatuh tertidur.
Orang itu membiarkannya saja, membuka jubah luarnya
dan menyelimutkannya di atas tubuh anak itu, kemudian ia
duduk merenung di depan api unggun. Entah apa yang
dilihatnya di dalam api yang bernyala nyala itu, akan tetapi
ia nampak tertarik sekali dan terus duduk tak bergerak
sampai pagi. Bahkan air mata yang mengalir turun
membasahi pipinya entah ___ karena matanya pedas atau
mengantuk, entah, karena memang ada yang disusahkan
sama sekali tidak pernah dihapusnya.
Pagi hari itu Bun Sam dibangunkan oleh kicau burung di
atas kepalanya, ia membuka kedua matanya dan menarik
napas panjang, akan tetapi tiba tiba ia terkejut dan cepat
cepat bangun duduk. Tadinya ia mengira bahwa ia telah
bemimpi yang amat hebat buruknya, akan tatapi ternyata
semua itu bukan impian, ia merasa pundaknya sakit dan
ketika matanya terbuka terang, ternyata ia berada di tempat
yang sama sekali asing baginya, ia telah tentidur di atas
rumput yang kini menjadi agak basah, di bawah sebatang
pohon besar dalam hutan yang liar, ia mendengar suara api
bernyala. Dengan hati ngeri karena teringat kepada
peristiwa semalam, ia menengok ke belakang ke arah suara
api. Makin kagetlah ia ketika melihat seorang laki laki
duduk tak bergerak di dekat api unggun, hanya tangannya
saja kadang kadang bergerak untuk menambah kayu kering
ke dalam api uggun.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Muka Bun Sam yang sudah pucat menjadi makin pucat
ketika ia melihat wajah orang itu. Kedua matanya lebar dan
cekung seakan akan hanya merupakan dua lobang yang
kosong dan hitam. Kulit mukanya berkerut kerut dan rusak
sama sekali, sedikitpun tidak ada dagingnya lagi sehingga ia
benar benar menyerupai seperti seorang tengkorak hidup.
Kepala orang itu tertutup sama sekali oleh pengikat kepala
dari kain hitam __ demikian pula pakaiannya semua
berwarna hitam terbuat dan kain kasar. Tiba tiba Bun Sam
melihat jubah luar warna hitam pula yang menyelimuti
tubuhnya. Ia menggigil, setengah kedinginan, setengah
ketakutan,
Akan tetapi, tiba tiba saja pikirannya teringat kembali
akan keadaan ayah bundanya dan tidak mempunyai
harapan untuk hidup lagi, orang aneh atau tengkorak hidup
inilah yang menolongnya. Dan tengkorak hidup ini telah
membawanya lari seperti terbang cepatnya. Bun Sam
adalah putera seorang bekas perwira dan ayahnya, Song
Hak Gi adalah seorang yang memiliki ilmu silat cukup
tinggi. Tidak jarang ayah yang mencintai anaknya ini
sambil memberi pelajaran dasar ilmu silat, menceritakan
bahwa di dunia ini banyak sekali hiapkek hiapkek
(pendekar pendekar silat) yang tinggi kepandaiannya.
Tengkorak hidup ini dapat berlari cepat seperti terbang,
apakah dia bukan seorang hiapkek? Demikianlah, pikiran
ini membuat Bun Sam yang baru berusia enam tahun itu
memutar otaknya. Karena dia memang cerdik, diusirnya
rasa takut yang timbul karena melihat muka yang
menyeramkan itu dan desngan perlahan ia berdiri lalu
menghampiri tengkorak hidup yang masih duduk
termenung di depan api unggun itu.
Dengan amat hormat ia lalu menjatuhkan diri berlutut di
depan orang itu sambil menempelkan jidat pada tanah dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berkata, “Inkong (tuan penolong) yang budiman, saya
menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan in kong
yang lelah menyelamatkan nyawa saya dari kematian. Akan
tetapi apakah artinya pertolongan inkong itu? Ayah
bundaku telah dibunuh orang, saya sendiri dikejar kejar
oleh gerombolan Ang bi tin, agaknya mereka hendak
membunuhku pula. Untuk apa inkong menolong saya?
Untuk apa saya dibiarkan hidup lebih lama lagi, hidup
seorang diri dan tidak berdaya?” Setelah berkata demikian,
tak tertahan lagi Bun Sam mengucurkan air mata.
Semenjak anak itu menjatuhkan diri berlutut, orang aneh
itu telah menatap wajahnya. Agaknya baru sekarang orang
ini melihat wajah Bun Sam dan sepasang matanya yang
lebar dan cekung itu nampak berkilat. Bun Sam memang
seorang anak yang menyenangkan hati orang yang
memandangnya. Kepalanya yang gundul nampak bersih
dan bundar, sepasang matanya jeli dari lebar dengan manik
mata yang bening alisnya hitam dan tebal memanjang dan
mudah sekali diduga bahwa anak dengan wajah seperti ini
kelak tentu akan menjadi seorang yang berhati jujur dan
budiman. Ketika Bun Sam mengucapkan kata katanya yang
penuh keluh kesah dan sesalan, tengkorak hidup ini hanya
memandangnya saja tanpa menjawab. Kemudian setelah
Bun Sam selesai bicara, ia lalu memegang pundak anak itu,
membuka balutannya dan memeriksa lukanya. Bun Sam
neringis kesakitan ketika balut itu dibuka, karene sebagian
kain pembalut telah melekat pada lukanya. Akan tetapi, ia
menggigit bibirnya ketika orang itu memaksa dan membuka
kain pembalut itu sehingga luka pada pundaknya berdarah.
Karena muka orang itu kini amat dekat dengan dia, Bun
Sam dapat memandang dengan amat teliti dan ia kini dapat
melihat bahwa orang ini bukanlah seorang tengkorak,
melainkan seorang manusia biasa. Seorang manusia yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mukanya telah rusak kulitnya, entah kenapa. Sepasang
mata yang bersembunyi di dalam dua lobang gua itu
ternyata amat tajam, sehingga Bun Sam tidak berani beradu
pandang lama lama. Orang itu memeriksa lukanya,
kemudian mengangguk angguk, mengeluarkan suara haha
huhu, lalu meninggalkan Bun Sam. Tak lama kemudian ia
datang lagi membawa beberapa batang ranting penuh daun
daun hijau yang basah oleh embun. Dengan daun daun
basah itu ia mencuci luka di pundak Bun Sam dan dengan
beberapa helai daun muda yang hijau kekuningan yang
amat halusnya, ia menutup llka itu yang lalu dibalutnya
kembali.
“Inkong, kau baik sekali. Akan tetapi, siapakah Inkong
ini dan saya hendak dibawa kemanakah?” Tanya Bun Sam
pula sambil memandang penuh perhatian, kini rasa
takutnya lenyap sama sekali, berganti rasa kagum,
berterima kasih dan juga kasihan. Ya, di dalam hati anak ini
timbul perasaan kasihan melihat muka orang yang
menolongnya ini.
Akan tetapi si muka tengkorak itu tidak menjawab,
hanya memandangnya dengan bibir bergerak mengarah
senyum. Kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah
dada Bun Sam, kemudian kepada dadanya sendiri, lalu ia
menuding ke timur, agaknya ke arah puncak sebuah bukit
yang nampak samar samar dari tempat itu.
“Inkong hendak membawaku ke bukit yang tinggi dan
jauh itu? Ke tempat siapa dan mau apa?”
Akan tetapi orang itu hanya menggelengkan kepala
kemudian menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Bun
Sam mengerti bahwa penolongnya tidak bisa bicara dan
agaknya tidak mau memberi penerangan, bahkan minta
kepadanya supaya menutup mulut seperti yang
diisyaratkannya, maka ia pun diam saja. Tidak ada jalan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lain baginya tidak ada pilihan lain. Orang aneh ini telah
menolongnya dan tentu telah mempunyai rencana untuk
dirinya. Betapapua juga rencana tentang hidupnya di
tangan orang aneh ini, sudah pasti akan jauh lebih baik dan
aman apabila dibandingkan dengan keadaan hidupnya jika
tidak ditolong oleh orang ini. Maka ia menerima nasib dan
menananti saja ke mana orang ini akan membawanya.
Si muka tengkorak itu tidak segera berangkat, melainkan
menangkap seekor kelinci lebih dulu yang dipanggang
dagingnya, kemudian ia bagi daging kelinci itu dengan Bun
Sam. Melihat cara orang aneh itu menangkap kelinci,
makin yakinlah hati anak itu bahwa penolongnya tentulah
seorang hiapkek yang berkepandaian tinggi. Amat luar
biasa dan mudah dia menangkap kelinci yang gemuk itu.
Bun Sam sendiri tidak pernah menduga bahwa di dalam
sebuah rumpun terdapat seekor kelinci yang gemuk sekali.
Tiba tiba saja si muka tengkorak itu memungut sebutir batu
dan dilemparkatnya batu itu ke dalam semak belukar.
Seekor kelinci yang ketakutan karena sambitan batu itu
melompat keluar dan hendak melarikan diri. Akan tetapi si
muka tengkorak itu mengeluarkan seruan aneh dan tangan
kanannya dengan jari terbuka dipukulkan ke depan ke arah
kelinci itu dan aneh, kelinci itu tenguling seperti lumpuh
kakinya. Dengan enaknya orang aneh itu lalu memegang
telinga binatang itu dan menggunakan, kuku jarinya yang
panjang untuk memotong leher kelinci dan mengulitinya.
Benar benar mengherankan. Hanya dengan menggunakan
kuku yang panjang, leher itu disembelihnya kemudian
dengan guratan kuku pula, kulit binatang itu dapat
dikupasnya semua. Tulang tulang kaki yang dibuang, ___
dengan sekali renggutsaja, seakan akan ___ kelinci itu ___
dari pada lidi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah selesai makan tanpa banyak membuang waktu
lagi, orang aneh itu lalu memondong tubuh Bun Sam dan
dibawa lari cepat menuju ke timur, simana sebuah bukit
menjulang tinggi dengan puncaknya menyundul awan dan
lenyap dikurung mendung. Orang aneh itu sengaja memilih
jalan melalui hutan hutan dan tempat yang sunyi tidak ada
manusia. Agaknya ia takut atau malu kalau kalau bersua
dengan orang tentu akan menjadi kaget dan mengira bahwa
dia seorang siluman yang menculik seorang anak kecil.
Satu hari penuh orang itu berlari tiada hentinya. Bun
Sam merasa heran sekali, heran melihat kekuatan orang ini
yang berlari terus tanpa mengaso, lupa lelah lupa lapar.
Juga ia merasa heran mengapa bukit yang sudah kelihatan
itu, setelah orang ini berlari cepat sehari lamanya, masih
juga kelihatan menjulang tinggi, kebiru biruan. Ia merasa
lapar sekali. Denga kelinci yang pagi tadi memasuki
perutnya sudah tidak ada bekasnya lagi.
“Turunkan saya, inkong!” katanya, akan tetapi orang itu
agaknya tidak mendengarnya atau tidak mau
mendengarnya.
“Inkong, kau sudah sehari menggendongku, dari pagi
buta sampai senja hari. Kau tentu lelah, turunkan saya,
inkong!” Akan tetapi, orang ini hanya memandangnya
sambil menggelengkan kepala satu kali, seakan akan
hendak menyatakan bahwa ia tidak lelah sama sekali.
“Inkong, turunkanlah saya! Saya… lelah dan lapar!” kata
Bun Sam pula dan berbareng dengan ucapan itu, perutnya
berkeruyuk keras. Kini orang aneh itu agaknya menaruh
perhatian. Mereka berada di luar sebuah dusun yang amat
miskin. Pohon pohon yang tumbuh di luar dusun pada
gundul agaknya segala macam tumbuh tumbuhan yang
masih muda sudah diambil orang. Janganlah terlihat kelinci
liar di tempat itu atau binatang lain, bahkan seekor ayam
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
peliharaanpun tidak nampak. Alangkah miskinnya dusun
ini.
Orang itu kelihatan bingung. Anak itu lapar dan ia harus
mencarikan sesuatu yang dapat dimakan. Akan tetapi di
manakah ia bisa mendapatkan makanan? Ia memandang ke
sana ke mari dan wajahnya yang seperti kedok itu nampak
tidak berubah sama sekali, Bun Sam yaqg cerdik dapat
menduga pikiran orang aneh itu.
“Inkong, kalau di sini tidak ada makanan, mengapa kita
tidak masuk saja ke dalam kampung itu untuk membeli atau
minta kalau inkong tidak punya uang, kita dapat minta
makanan pada orang didusun.” Sambil berkata demikian
Bun Sam melangkah menuju ke kampung itu. Penolongnya
yang aneh itu tidak menaruh keberatan dan sambil
memegang tangan Bun Sam, ia juga berjalan bersama anak
itu menuju ke kampung.
Seperti sebagin besar dusun dusun lain di masa itu,
dusun ini amat miskin. Begtu luar biasa miskinnya,
sehingga gubuk yang kelihatan di dalam dusun itupun
nampaknya lebih kotor dan buruk dari pada kandang kuda.
Hampir semua hasil sawah ladang diperas habis oleh kepala
kampung, seorang kaki tangan pemerintahan Mongol yang
merupakan raja kecil di dusun itu.
Tidak nampak sebuahpun warung nasi di situ. Bahkan
sebagian besar pintu piatu rumah telah ditutup pada waktu
senja hari itu, seakan akan penghuninya ingin siang siang
tidur agar perutnya yang kosong tidak terlalu mengganggu.
Beberapa kali Bun Sam mengetok pintu rumah orang dan
dibuka oleh orang orang bertubuh kurus dan bermuka
pucat.
“Maaf, lopek. Kami berdua adalah orang orang
pengembara yang menderita kelaparan. Di manakah kami
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dapat membeli makanan untuk mengisi perut di tempat
ini?”
Tiap kali ia bertanya, yang ditanya memandang penuh
keheraaan dan menjawab lesu, “Kau mengimpi, nak dan
kau benar benar sial datang ke dusun ini. Jangankan untuk
dijual, untuk dimakan sendiri saja masih kurang banyak.
Setiap hari ada orang mati kelaparan di sini maka jangan
kau datang membawa berita bahwa kau kelaparan.” Setelah
melihat wajah orang aneh yang berdiri agak jauh, orang itu
menjadi makin kaget, dan tanpa banyak cakap lalu
membanting daun pintu di depan hidung Bun Sam.
Bun Sam menjadi bingung dan juga penasan. Ia
memandang penolongnya yang memberi tanda dengan
tangannya agar supaya Bun Sam menunggu di tempat itu,
yakni di depan rumah gubuk yang menutup pintunya
terhadap mereka Di depan rumah itu terdapat sebuah
bangku kayu dan anak ini lalu duduk di situ. Setelah
memberi tanda dengan tangan bahwa ia hendak mencari
makanan, si muka tengkorak itu lalu menggerakkan kedua
kakinya dan bagaikan seekor burung rajawali, ia melayang
naik ke atas dan lenyap di pohon pohon.
Bun Sam menjadi kagum bukan main. Ayah nya juga
pandai melompat ke atas genteng akan tetapi tidak secepat
orang aneh ini. Alangkah akan senang hatinya kalau ia
dapat memiliki kepandaian seperti penolongnya yang aneh
itu. Ah, ia akan mencari gerombolan Ang bi tin dan hendak
dibasminya semua sebagai pembalasan dendam atas
kematian ayah bundanya.
Sementara itu, bagaikan seekor kucing, si muka
tengkorak itu berlari lari di atas genteng, mencari rumah
yang paling besar dan bagus. Sebentar saja ia bisa
mendapatkan rumah ini karena di tengah tengah kampung
itu di antara rumah rumah kecil pendek macam gubuk di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sawah menjulang tinggi sebuah bangunan rumah gedung
sehingga nampak menyolok dan ganjil sekali. Rumah ini
gentengnya pun tebal dan kuning, bangunannya tinggi dari
tembok tebal pula diri cahaya penerangan yang keluar dari
celah celah genteng dan jendela, amat terang.
Rumah ini adalah milik dari kepala kampung she Cia.
seorang pemeras rakyat, penjilat pembesar atasan. Malam
hari itu, seorang diri ia sedang duduk di kamar kerjanya dan
biarpun berkali kali dan benganti ganti lima orang isteri dan
selirnya datang membujuknya untuk pengi tidur, ia
menolak dengan keras. Apakah yang menahan orang ini,
sehingga ia sanggup menolak bujukan selir selirnya yang
muda dan cantik? Tak lain tak bukan satu satunya benda
yang dapat mengalahkan keserakahannya terhadap wanita
cantik, hanya uang! Ia sedang menghitung uang emas dan
peraknya yang di tumpuk di atas meja, sambil
mengakurkannya dengan catatan di bukunya. Ada selisih
beberapa tail perak dan bagi seorang hartawan atau lebih
tepat bagi sebagian besar orang orang hartawan termasuk
Cia thungcu (kepala kampung she Cia) ini, uang merupakan
nyawanya dan beberapa tail perak atau bahkan beberapa
potong uang tembaga merupakan sebagian daripada
nyawanya itu. Kehilangan sedikit uang tembaga
mendatangkan kemarahan kepadanya, kehilangan beberapa
banyak uang perak mendatangkan kesedihan, kehilangan
lebih banyak dapat mendatangkan penyakit dan kalau
seandainya semua uangnya lenyap, sama halnya dengan
nyawanya yang lenyap dan dapat mendatangkan maut!
Pada saat Cia thungcu sekali lagi menghitung uang
peraknya, tiba tiba matanya terbelalak kaget dan heran kini
tumpukan uang peraknya yang tadinya ada tujuh tumpuk,
kini tinggal lima tumpuk lagi! Bagaikan seorang ibu muda
kehilangan anak bayinya, lurah Cia itu mencari ke sana ke
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mari dengan muka pucat, ia sampai sampai menjenguk ke
bawah meja dan membalik balik bukunya yang tadi diisi
catatan catatan, lupa bahwa tak mungkin sekali dua tumpuk
uang itu dapat terselip di antara lembaran lembaran
bukunya. Ketika ia mengangkat kepalanya lagi dan
memandang ke atas meja, ia kini tidak hanya membuka
kedua matanya, akan tetapi juga membuka mulutnya lebar
lebar. Sekarang tumpukan uang emasnya sebanyak tiga
tumpuk itupun lenyap sama sekali.
“Ce…la…ka…” ia bermaksud menjerit, akan tetapi tidak
ada suara keluar dari tenggorokannya, karena pada saat itu
sesosok bayangan hitam bagaikan setan telah menerjang
dari belakang dan menotok lehernya sehingga lurah itu tak
dapat berteriak atau bengerak sama sekali. Dengan mata
melotot, Cia thungcu hanya dapat memandang ke depan di
mana kini terlihat seorang yang berpakaian hitam dan
bermuka seperti tengkorak. Cia thungcu merasa seakan
akan jantungnya hendak copot saking takut dan ngerinya.
Yang berada di depannya ini tak mungkin manusia.
Bayangan hitam itu mengambil pena diatas meja,
mencelupkannya di dalam bak tinta lalu ia mencorat coret
di dalam lembaran kertas yang terbuka. Di situ ia menulis
beberapa huruf besar yang gagah dan indah dan berbunyi :
ATUR BAIK BAIK KEHIDUPAN RAKYAT, KALAU
TIDAK, LAIN KALI AKU DATANG MENGAMBIL
KEPALAMU!
Setelah menuliskan ini, orang itu berkelebat keluar dari
jendela. Lurah she Cia itu masih saja duduk seperti patung
dan menjelang tengah malam ketika seorang selir mudanya
datang, selir ini menjerit dan gegerlah seisi rumah.
Akan tetapi di luar rumah lurah itu terjadi hal hal yang
lebih aneh dan menggemparkan lagi. Kepala pengawal
lurah Cia, yang dianggap jagoan paling kejam di dalam
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dusun itu, yang menjadi tukang pukul lurah Cia, ketika
sedang berjaga dengan kawan kawannya dan main kartu,
tiba tiba kehilangan dua lembar daun telinganya dan meja
kursi di mana mereka bermain kartu, beterbangan sendiri
menghantam para pengawal, sehingga tak seorangpun di
antara mereka yang selamat. Semua babak belur dan benjol
benjol matang bitu.
Ini masih belum hebat. Di ujung dusun itu terdapat
sebuah rumah besar juga yang sudah amat kuno dan seram
sekali. Rumah ini sekelilingnya penuh dengan alang alang
yang tinggi. Dilihat dari luar, rumah ini seperti tidak ada
penghuninya, akan tetapi sebetulnya di situ terdapat
penghuninya yang disegani orang karena dianggap gila.
Orang gila ini bernama Gan Kiat dan sudah duda, hanya
tinggal berdua dengan seorang anak laki lakinya yang baru
berusia enam tahun. Akan tetapi semenjak pemerintah
Mongol menguasai Tiongkok dan rakyat hidup amat
sengsara, orang she Gan ini tiba tiba menjadi gila dan tidak
mau bergaul dengan orang lain. Untuk makan dia dan
anaknya, ia menjual semua perabot rumah dan barang
barang miliknya satu demi satu, sehingga akhirnya rumah
yang besar itu menjadi kosong seperti gua yang seram.
Malam hari ia tak pernah menyalakan penerangan dan
rumah itu nampak gelap dan hitam. Juga sudah setahun
lebih orang orang tidak melihat anaknya yang bernama Gan
Kui To.
Pada malam hari terjadinya serangan atas diri lurah Cia
dan para pengawalnya itu, terdengarlah jerit mengerikan di
dalam rumah besar milik keluarga Gan yang kini disebut
rumah setan itu. Orang orang yang mendengar jeritan ini,
segera memburu keluar dan berdiri di depen rumah, ingin
tahu apa yang terjadi. Nampak oleh mereka Gan Kiat yang
sudah setengah tua dan kurus kering itu berlari ke luar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
terhuyung huyung dan di belakangnya nampak seorang
anak mengejarnya dan memukulinya dengan sepotong besi.
Anak itu ternyata adalah Gan Ku To yang berusia enam
tahun, akan tetapi alangkah mengerikan keadaan anak itu.
Mukanya dan seluruh tubuhnya kotor, matanya merah,
mulutnya berbusa dan berdarah seperti seorang iblis kecil
menyeramkan sekali.
Dengan pukulan bertubi tubi akhirnya Gan Kiat
menggeletak dan tak bergerak lagi. Semua orang memburu
dan berhasil merampas besi, dan menangkap anak kecil itu
dan barulah mereka tahu bahwa anak itu telah gila.
“Aku bunuh kau! Orang tua gila. Aku bunuh kau!”
berkali kali Kui To berteriak teriak dengan marah dan
mencoba untuk meronya ronta.
Orang orang menghampiri Gan Kiat yang masih dapat
merintih rintih. Ketika ia melihat orang orang
mendekatinya, ia berbisik ___ sendiri kenapa dia tidak
kubunuh dalam setahun kukurung di … di dalam kamar
gelap hanya kuberi makan kalau aku ingat saja… akan
tetapi… setan itu tidak mau mampus.” Ternyata bahwa
dalam gilanya, Gan Kiat telah mengurung anaknya sendiri
sampni setahun lamanya di dalam gelap, hanya diberi
makan kalau ia teringat saja. Dapat dibayangkan betapa
hebat penderitaan anak itu dan agaknya keadaan yang
sedemikian hebatnya itu telah merubah jiwa anak ini dan
ketika pada senja hari itu ayahnya membuka pintu
kamarnya tiba tiba ia menyerang ayahnya sendiri dengan
pukulan, tendangan, gigitan dan dengan nekad sekali.
Ayahnya yang masih lemah dan juga pikirannya terganggu,
melarikan diri dan dikejar kejar nya terus. Anak itu
memungut sepotong besi dan memukuli ayahnya sampai
ayahnya menggeletak di halaman depan dan ia ditangkap
oleh penduduk ___
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
_____ dengan lemah. Gan Kiat ____ nafas terakhir.
Orang orang ____ jadi marah sekali.
“Anak ini sudah gila! bunuh saja, kalau dilepas, ia akan
nencari korban lain! Bunuh saja dan kita kubur bersama
ayahnya! Bakar rumah setan itu!”
Mereka menyeret Gan Kui To yang kini sudah nampak
lepas dan tak berdaya. Pergumulan nya dengan ayahaya
tadi telah menghabiskan tenaganya dan ia menjadi lemah
sekali, ia tak melawan dan beberapa pukulan tangan orang
orang dusun yang marah itu sudah membuat hidung dan
bibir nya berdarah dan kepalanya benjol benjol.
Akan tetapi, tiba tiba anak itu lenyap dari tengah tengah
orang orang dusun yang mengeroyok nya. Tentu saja semua
orang menjadi terkejut sekali. Bagaimana anak yang sudah
hampir pingsan itu tiba tiba saja bisa lenyap?
“Setan… setan…! Ini tentu perbuatan setan…” dan
bubarlah orang orang itu, berlari kembali ke rumah masing
masing dan biarpun orang orang di rumah lurah Cia ribut
rebut, mereka tidak berani keluar, menanti sampai besok
pagi.
Adapun Gan Kui To, anak yang dikeram ayah nya
sendiri sampai menjadi nekat dan membunuh ayahnya itu,
kini telah dipondong dan dibawa lari oleh si muka
tengkorak dan dibawa ke tempat di mana Bun Sam menanti
kedatangannya. Anak itu masih saja duduk di tempat tadi
dan nampaknya mengantuk sekali.
Memang penolongnya pergi amat lama. Orang aneh ini
setelah mendatangi rumah Cia thungcu dan mengganggu
para pengawal, lalu membagi bagikan uang kepada rumah
rumah penduduk, ia telah mengambil tiga tumpuk uang
emas dan dua tumpuk uang perak dan kini setiap rumah ia
datangi, ia buka gentengnya dan ia lemparkan beberapa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
potong uang perak dan emas ke dlam rumah itu. Hal ini
baru pada keesokan harinya menimbulkan kegemparan
karena ketika orang aneh ini melakukan perbuatan itu, tak
seorangpun dapat melihat atau mendengarnya.
“Ah, mengapa begitu lama, inkong ?” tanya Bun San
kepada penolongnya, akan tetapi ia menahan pertanyaan
selanjutnya dan memandang heran ketika melihat bahwa
penolongnya itu telah memondong seorang anak laki laki
yang kepala dan mukanya luka luka. Tanpa berkata
sesuatu, orang aneh itu mengeluarkan bungkusan dari
sakunya dan memberikan bungkusan itu kepada. Ternyata
itu adalah sebungkus kue terigu yang cukup banyak. Saking
heran dan ingin tahunya, Bun Sun hanya sedikit saja makan
kue itu. Dan penolongnya juga segera memegang
tangannya dan menariknya pergi dari dusun itu.
Pertiwa yang terjadi seperti yang dituturkan di atas itu,
yakni tentang keluarga Gan yang menjadi gila kembali
adalah akibat dari pada penggantian pemerintahan. Tentu
saja memang harus diakui bahwa akal yang lemah dari Gan
Kiat juga merupakan sebab yang amat utama.
Gan Kiat dahulunya adalah seorang pembesar sipil
berpangkat pembantu tikoan di kota Kun tong. Ia adalah
seorang pembesar yang korup dan di dalam pekerjaannya ia
hanya mengenal satu tujuan, yakni mengumpulkan uang
dan harta sebanyak banyaknya dengan jalan yang paling
nudah. Tentu saja, sesuai dengan pekerjaannya di kantor
peradilan, usaha mengumpulkan uang ini dengan mudah ia
dapatkan dengan jalan menerima uang sogokan dari mereka
yang ingin dimenangkan dalam perkaranya, tidak perduli ia
yang bersalah. Uang sogokan dari mereka yang ingin
melihat keluarga atau sanaknya di perlakukan baik baik di
dalam penjara, tidak perduli sanak itu adalah seorang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
penjahat besar. Pendeknya, segala hal akan dapat terjadi
dan akan dilakukan berakt “bantuan” dari pembesar she
Gan ini asal saja, orang berani memberi “tanda mata” atau
tanda jasa.
Akan tetapi ketika pemerintah Goan tiauw berdiri,
bintang orang she Gan ini mulai menyuram. Isterinya
terserang penyakit panas sampai meninggal dunia. Hai ini
amat dalam menggores hatinya karena Gan Kiat amat
mencintai isterinya. Kini ia hidup berdua dengan putera
tunggalnya, ialah Gan Kui To. Rupa rupanya nasibnya
masih makin menurun. Bala tentara Mongol yang
melakukan gedoran dan perampokan di sana sini juga
mengganggu rumah nya dan menghabiskan harta benda
Gan Kiat. Lebih berat lagi, Gan Kiat tidak berhasil
menguasai pangkat lagi setelah ia terpaksa berhenti karena
pemerintah lama telah bangkrut.
Terpaksa ia menjual semua barang barangnya yang
masih ada dan pindah ke dusun di kaki GunungOei san. Di
sini ia memang memiliki sebuah rumah gedung kuno
peninggalan orang tuanya, Bersama anaknya, ia tinggal di
rumah kuno ini dan saking sedihnya, akhirnya otaknya
tenganggu dan ia seperi orang gila. Keadaannya yang
tadinya kaya raya berobah menjadi miskin dan makan dari
barang barang yang dijualnya membuat Gan Kiat tidak
dapat menahan lagi dan ia lalu mengeram puteranya di
dalam kamar.
Demikianlah sedikit riwayat singkat dari Gan Kui To
yang telah membunuh ayahnya sendiri. Akan tetapi hal itu
tidak diketahui penolongnya. Yang diketahtinya hanya
bahwa ____ itu sedang dikeroyok dan hendak dibunuh oleh
orang orang dusun yang kelaparan.
Pada keesokan harinya, nampak tiga orang itu, seorang
setengah tua yang sukar ditaksir berapa usianya, dengan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
muka seperti tengkorak dan pakaian hitam, bersama dua
orang anak laki laki yang sebaya, kurang lebih enam tahun,
mendaki bukit yang tinggi dan penuh dengan hutan hutan
liar dan pohon pohon indah, yakni Bukit Oei san yang
tersohor.
Gunung Oei san memang benar benar indah dan megah.
Tidak saja puncak puncaknya menjulang tinggi menembus
mega, juga di situ pemandangan amat aneh dan menarik.
Pohon pohon tusam yang berwarna hijau dan berbentuk
artistik, batu batu karang, yang amat aneh bentuknya
seakan akan sengaja diukir oleh tangan alam yang perkasa,
awan yang melaut biru dan dihias awan awan putih dan
hitam gelap di sana sini, sungguh merupakan tamasya alam
yang jarang terlihat di tempat lain.
Terutama sekali pohon pohon tusam yang tumbuh di
gunung itu benar benar ajaib, baik bentuk cabang cabang
dan daunnya, maupun letak tumbuh nya. Pohon pohon ini
dapat tumbuh di tempat tempat yang sama sekali tidak
disangka orang. Di atas tebing tebing yang curam, di atas
puncak puncak yang berkabut, di antara batu batu karang
dan di atas tanah yang keras berbatu batu seakan akan
pohon pohon itu tidak menghiraukan kebutuhan akar
akarnya akan air. Bahkan ada pohon tusam yang tumbuh di
atas batu karang. Hal ini tentu saja merupakan keanehan
yang tak masuk di akal, akan tetapi kalau kita mendekati
batu karang itu, kita akan melihat bahwa batu karang itu
telah pecah dan di antara retakan itulah, maka dapat
tumbuh pohon aneh itu, keadaan di gunung itu awan yang
menghalangi matahari, batu batu karang tinggi yang
mengapit pohon, angin gunung yang selalu bertiup, hawa
yang amat dingin, pendeknya keadaan gunung yang hebat
inilah yang membentuk pohon pohon tusam, sehingga
merupakan pemandangan yang ___. Banyak pohon tusam
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
di dunia ini, akan tetapi tidak ada yang seindah, seaneh dan
semenarik pohon pohon tusam di GunuagOei san.
Setelah jalan mendaki gunung itu mulai sukar terhalang
oleh batu batu karang yang tinggi serta jurang jurang yang
dalam, orang tak aneh itu lalu memeluk pinggang Bun Sam
dan Kui To dengan ke dua tangannya dan secepat burung
terbang, ia melompati batu batu karang dan jurang jurang,
mendaki dengan amat cepatnya.
Siapakah sebetulnya orang aneh yang mukanya
mengerikan seperti tengkorak ini? Tak seorangpun yang
mengetahui akan hal ini dan sebaiknya kita pun mengikuti
saja perjalanannya, karena kelak tentu akan tiba masanya
rahasianya terbuka. Hanya dapat diceritakan di situ bahwa
ilmu kepandaian orang ini benar benar hebat. Cara ia
melompat lompat naik ke atas gunung Oei san sambil
mengempit dua orang anak itu, benar benar menunjukkan
bahwa ia telah memiliki ginkang yang sempurna.
Bun Sam adalah seorang anak yang tabah dan ia sama
sakali tdak memperlihatkan rasa takut melihat betapa
tubuhnya melayang di atas jurang jurang yang dalam sekali.
Sekali saja penolongnya ini merasa lelah dan kempitannya
terlepas, tubuhnya akan jatuh ke dalam jurang dan akan
hancur menerpa batu batu karang yang runcing merupakan
mulut naga ternganga penuh gigi yang runcing dan tajam,
itu. Akan tetapi, agaknya ketabahan hati Bun Sam masih
kalah oleh Gan Kui To, anak yang tadinya disangka gila
itu, setelah tertolong oleh si muka tengkorak, Kui To jatuh
pingsan dan baru siuman setelah melakukan perjalanan
setengah hari. Ia sadar seperti orang baru bangun dari tidur
dan dari mimpi buruk, ia hanya merintih sedikit, akan tetapi
setelah membuka matanya dan melihat Bun Sam, ia
menggigit bibir, tidak pernah ia mengeluh lagi. Tanpa
mengeluarkan ucapan sesuatu, ia lalu ikut berjalan dan tak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pernah bertanya kemana si muka tengkorak akan
membawanya. Juga kepada Bun Sam ia tidak pernah bicara
sepatah katapun.
Akan tetapi setelah si muka tengkorak itu membawa
mereka melompati batu batu karang dan jurang, Kui To tak
dapat menahan kegirangan dan kegembiraan hatinya.
Tadinya ia hanya diam saja, karena ia masih merasa
terharu, menyesal, bingung, juga sedih dan ngeri mengingat
keaadaan ayahnya yang dibunuhnya sendiri. Akan tetapi
ingatan bahwa laki laki yang dibunuhnya itu ayahnya,
sudah merupakan ingatan yang suram. Selama setahun
dikeram ia menganggap laki laki itu sebagai musuh yang
harus dibunuh nya, seperti tikus tikus yang dibunuhnya di
dalam kamar tahanannya. Setahun ia tidak bicara dan
biarpun di dalam otaknya ia masih dapat bicara, namun
mulutnya tidak kuasa mengeluarkan kata kata.
“Bagus…! Bagus…!” hanya dua kali ia berteriak bagus
dan tiba tiba mendengar suaranya sendiri, Kui To menjerit
dan terus pingsan dalam kempitan si muka tengkorak itu
Bun Sam dapat melihat betapa kepala. tangan dan kaki
anak itu terkulai dengan lemas, maka ia cepat berkata,
“Inkong. dia pingsan…. dia sakit…”
Akan tetsapi, orang aneh itu tidak menjawab dan tidak
mengurangi larinya yang cepat. Mereka telah tiba di lereng
dan kini bahkan berlari lebih cepat lagi, menuju ke puncai
yang tertutup oleh halimun yang putih keruh, membuat
pandangan mata menjadi gelap. Bun Sam tidak dapat
melihat apa apa lagi, kecuali uap putih yang membuat
matanya terasa pedas dan seluruh tubuhnya terasa dingin
sekali.
Si muka tengkorak terus saja berlari. Mereka telah
melewati dua buah puncak yang tinggi dan akhirnya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
setelah Bun Sam hampir membuka mulut menyatakan tidak
kuat lagi, sampailah mereka di sebuaah puncak. Bun Sam
diturunkan dari kempitan, akan tetapi Kui To masih
dipondong, karena anak ini masih pingsan.
Ketika Bun Sam ___ hampir ia berteriak saking kagum
dan heran. Puncak ini ternyata paling tinggi di antara
semua puncak di Pegunungan Oei san, akan tetapi aneh dan
ajaib. Kalau puncak yang lain, yang iebih rendah daripada
puncak ini, tertutup oleh halimun yang merupakan awan
awan putih, adalah puncak tertinggi ini amat bersih dan
mendapat penerangan matahari yang kuning keemasan.
Pohon pohon tusam yang luar biasa anehnya tumbuh di
puncak ini dan puncak ini dikelilingi oleh batu batu karang,
jurang jurang yang semua terbentang di bawah.
Jilid II
“Bukan main indahnya….” Bun Sam berseru dan
lupalah ia akan kelaparan perutnya, kelelahan tubuhnya
dan kesedihan hatinya. Ia tentu akan berdiri di situ terus,
memutar mutar tubuh memandang ke sekeliling puncak,
kalau saja si muka tengkorak tidak memegang tangannya
dan mengajaknya melanjutkan perjalanan, menuju
kesebuah hutan kecil dari pohon pohon tusam yang berada
di tempat paling tinggi.
Di hutan yang indah, penuh dengan pohon pohon tusam
yang tua dan bunga bunga beraneka warna ini, terdapat
pula banyak sekali batu batu karang besar yang bentuknya
bermacam macam, ada yang seperti mulut naga, ada pula
yang berbentuk empat segi dan bundar.
Dan di tengah tengah hutan kecil ini, terdapat sebuah
pondok bambu yang sederhana dan bersih. Ketika mereka
berjalan menuju ke pondok itu, seorang kakek ke luar dari
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pintu pondok yang tidak berdaun pintu. Kakek ini sudah
tua sekali, berpakaian kuning dan membiarkan rambutnya
yang putih dan panjang tarurai di punggungnya.
“Yap Bouw, kau baru datang?” terdengar suara kakek itu
berkata dengan halus akan tetapi di dalam kehalusan
suaranya ini mengandung sesuatu tenaga yang
menggetarkan hati Bun Sam.
Si muka tengkorak ketika melihat kakek ini lalu
menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan orang
tua itu, lalu menggerak gerakkan kedua tangannya. Sepuluh
buah jari tangannya bergerak gerak seperti seorang penari
dan kakek itu memandang dengan penuh perhatian.
Ternyata bahwa dengan bahasa gerak jari, si muka
tengkorak itu sedang menceritakan kepada kakek ini
tentang kedua orang anak yang dibawanya.
Bun Sam adalah anak yang cerdik. Melihat sikap
penolongnya terhadap kakek yang lemah lembut ini,
tahulah ia bahwa kakek ini tentu bukan orang sembarangan.
Kalau penolongnya yang demikian gagah perkasa masih
memperlihatkan penghormatan sebesar itu, tentulah kakek
ini seorang sakti yang sering kali didongengkan oleh
ayahnya sebagai pertapa pertapa yang sudah menjadi
manusia setengah dewa. Oleh karena itu, tanpa ragu ragu
lagi ketika kakek itu memandangnya, ia lalu menjatuhkan
diri berlutut di depan kakek itu dan berkata, “Teecu (murid)
bernama Song Bun Sam, ayah bunda teecu terbunuh oleh
gerombolan Ang bi tin dan kalau teecu tidak tertolong
inkong (tuan penolong) ini, entah bagaimana jadinya
dengan diri teecu”
“Aku tahu, aku tahu... Yap Bouw sudah menceritakan
padaku tentang keadaanmu. Sudahlah, Bun Sam, tak perlu
kau memikirkan hal hal yang sudah lalu, tak perlu kau
mengingat ingat peristiwa yang terjadi. Paling baik kau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memandang ke depan ke masa mendatang. Kau tentu tidak
mempunyai keluarga lagi, bukan?”
Bun Sam menggelengkan kepalanya “Keluarga ayah dan
ibu memang ada, akan tetapi teecu tidak tahu lagi di mana
tempat tinggal mereka.”
“Kalau begitu, sukakalah kau tinggal di sini bersama aku
dan Yap Bouw dan Siauw liong (Naga Kecil)! Aku disebut
orang Kim Kong Taisu dan kau boleh belajar apa saja tang
kau sukai di tempat ini.”
Bun Sam cepat mengangguk anggukkan kepalanya dan
berkata, “Kalau suhu dan inkong sudi memberi tempat
kepada teecu, teecu akan suka sekali tinggal di sini. Biarpun
dijadikan pelayan, teecu akan menerima dengan penuh
perasaan terima kasih.” Sambil berkata demikian, Bun Sam
diam diam mengerling ke arah pondok kecil itu. Karena
tadi kakek ini menyebut nama Siauw liong, tidak tahu siapa
dan apakah Siauw liong itu? Kalau orang, tentulah seorang
anak karena sebutan siauw (kecil) itu biasanya
dipergunakan untuk seorang anak anak. Akan tetapi tidak
ada sesuatu yang muncul dari gubuk itu.
Pada saat itu. Gan Kui To, siluman kembali dari
pingsannya. Tadi ketika ia mengeluarkan seruan “bagus”
sampai dua kali, ia merasa terkejut mendengar suaranya
sendiri dan suaranya inilah yang mengembalikan
ingatannya. Ia teringat akan ayahnya yang telah
dibunuhnya, ingat akan pengeroyokan orang orang dusun
yang hampir menewaskannya. Semua terbayang dalam
ingatannya dan demikian mengerikan, sehingga ia menjadi
pingsan.
Kini, setelah ia mengerang dan membuka mata, ia
memandang kepada si muka tengkorak, kepada kakek itu
dan kemudian melirik ke arah Bun Sam. Kui To biarpun
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memiliki wajah yang tampan, akan tetapi matanya terlalu
sipit sehingga hanya merupakan garis yang kecil melintang
di antara telinganya. Kemudian ia menangis keras, tersedu
sedu dan menyembunyikan mukanya di dalam kedua
tangannya.
Kakek itu mengerutkan keningnya. Agaknya ada sesuatu
yang pengganjal hatinya akan tetapi ia kasihan juga melihat
Kui To yang menangis terisak isak itu.
“Diamlah, nak. Tak perlu air mata dihamburkan
menyesali hal yang sudah lalu, yang tak dapat diperbaiki
lagi. Kau anak siapakah, di mana orang tuamu dan
mengapa kau sampai dikeroyok dan akan dibunuh oleh
orang orang dusun? Apa salahmu?” Kui To biarpun baru
berusia enam tahun, namun iapun memiliki kecerdikan
yang luar biasa. Kecerdikan ini diperolehnya ketika setahun
lamanya ia di keram dalam kamar. Ia biasa
mempergunakan otaknya dengan diam diam dan kini
mendengar pertanyaan kakek ini, legalah hatinya. Ternyata
bahwa orang orang ini tidak tahu bahwa ia telah
membunuh ayahnya! “Aku… aku kelaparan dan mencuri
makanan.... ketahuan oleh pemiliknya lalu dikeroyok....”
katanya di antara isak tangisnya.
Kembali kakek itu menarik napas panjang sambil
mengerutkan keningnya. Pandang matanya kepada Kui To
amat tajam dan Bun Sam amat terkejut melihat betapa sinar
kilat bercahaya dalam manik mata orang tua itu. Juga Yap
Bouw dengan cepat menggerak gerakkan kedua tangannya
seakan akan ia menceritakan sesuatu. Memang
sesungguhnya Yap Bouw menceritakan kepada Kim Kong
Tahu bahwa ia mendengar orang orang dusun menyebut
anak itu gila.
Kakek itu mengangguk angguk dan nampak sabar lagi.
“Betapapun juga, kau patut dikasihani dan memang tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
salah Yap Bouw menolong dan membawamu ke sini. Siapa
namamu dan di mana orang tuamu?
Sebelum menjawab, Kui To mengeringkan air matanya
dengan gerakan yang dapat menimbulkan kasihan.
Aku bernama Gan Kui To, kedua orang tua ku telah
meninggal dunia. Aku seorang yatim piatu yang hidup
sebatatng kara, mohon kau orang tua suka menolongku....”
Memang sungguh mengherankan juga bagi Kui To sendiri,
mengapa sekarang ia dapat bicara amat lancarnya, padahal
tadi nya, sering kali di dalam kamar tahanan ia meragukan
apakah ia bisa bicara pula selelah setahun lebih tak pernah
bicara itu, kini ternyata bahwa suaranya amat nyaring dan
bening, penuh tenaga dan semangat, sungguhpun dibuka
untuk mengucapkan kata kata sedih.
“Hm, Kui To, sukakah kau tinggal di sini menjadi
muridku, seperti Bun Sam ini?”
Kui To melirik kepada Bun Sam. Ia tidak tahu asal usul
pemuda cilik ini dan tadinya ia mengira bahwa anak ini
tentulah kawan dari penolongnya yang bermuka tengkorak
itu. Kini mendengar pernyataan kakek itu, ia dapat
menduga bahwa anak inipun seorang yang baru datang.
“Pelajaran apakah yang hendak kau berikan kepadaku,
maka aku harus menjadi muridmu?”
Bun Sam yang mendengar gaya bahasa dari Kui To yang
diucapkan terhadap suhunya, amat mendongkol. Akan
tetapi, tidak demikian dengan Kim Kong Taisu. ia
tersenyum dan berkata, “Tergantung dari bakatmu sendiri.
Tidak ada guru yang lebih pandai daripada watak dan bakat
sendiri, guru luar hanya memberi petunjuk dan bimbingan
belaka.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sesungguhnya, di dalam hatinya, Kui To tidak suka
tinggal di tempat yang sunyi dan tidak menarik hatinya ini.
Akan tetapi ketika ia mengerling ke arah Bun Sam, timbul
rasa hatinya yang tidak mau kalah oleh anak ini. Kalau
anak itu dapat belajar di sini, mengapa aku tidak? Dan
kalau tidak mau hendak pergi ke mana? Maka iapun lalu
berlutut dan berkata,
“Baiklah, suhu. Teecu mau tinggal di sini menjadi murid
dari suhu.”
Demikianlah, Bun Sam dan Kui To semenjak hari itu
tinggal di puncak Gunung Oel san dan menjadi murid Kim
Kong Taisu. Pada malam hari itu, Bun Sam yang disuruh
bermalam bersama Kui To di dalam pondok sedangkan
Kim Kong Taisu dan Yap Bouw tidak diketahuinya di
mana bermalamnya, dengan diam diam keluar dari biliknya
dan menuju ke tempat terbuka di depan pondok. Langit
penuh dengan bintang bintang, mendatangkan
pemandangan yang luar biasa sekali. Karena tempat di
mana ia berdiri itu memang tinggi sekali, kini ia dapat
melihat betapa langit di atasnya amat luas. Bun Sam berdiri
tak bergerak, merasa heran mengapa makin jauh, bintang
bintang itu nampaknya makin rendah. Melihat bintang
bintang itu tak terasa pula air mata menitik turun dari kedua
matanya. Baru beberapa malam yang lalu, ia bersama
ibunya juga melihat bintang bintang di langit. Ibunya
pernah mempelajari ilmu perbintangan dan sering kali
ibunya mendongeng tentang bintang bintang di langit.
“Bintang kita amat suram, Sam ji,” kata ibunya pada
malam itu. “Bukan hanya bintang kita, melainkan bintang
semua rakyat dan bangsa kita. Entah apa yang akan terjadi
dengan nasib kita sekalian rakyat Tiongkok....”
Teringat akan ini semua, Bun Sam terbayang betapa
ayah bundanya roboh mandi darah di depan ramah mereka.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hanya dengan mencekik lehernya sendiri Bun Sam dapat
mencegah suara tangisnya.
“Ayah… ibu… aku bersumpah, disaksikan oleh semua
bintang di langit, bahwa kelak anakmu Bun Sam pasti akan
dapat membasmi semua pembunuhmu....” Setelah berkata
demikian, Bun Sam lalu berlutut dan melakukan
penghormatan pai kwi (berlutut sambil mengangguk
anggukkan kepalanya) sebanyak puluhan kali. Saking sedih
dan terharunya ia tidak mau berhenti henti melakukan
penghormatan yang ditujukan kepada arwah ayah
bundanya. Semua perbuatan ini ia lakukan sambil
bercucuran air mata.
“Eh, eh, eh, kau sedang apa apaan ini?” tiba tiba di
belakang Bun Sam sudah berdiri Kui To yang menegurnya
dengan suara ejekan.
Bun Sam sadar dari hikmat yang mempersonakan
seluruh ingatannya tadi. Ia berhenti mengangguk
anggukkan kepalanya, membuka kedua mata yang
semenjak tadi ditutupnya lalu berbisik.
“Ayah.... ibu… dengarlah semua doaku tadi.” Kemudian
ia bangkit dan bangun menghadapi Kui To.
“Kau belum tidur?” tanyanya karena memang
pertanyaan Kui To tadi tidak didengarnya jelas hanya
cukup keras untuk menyadarkan nya.
“Tentu saja belum, kalau sudah sudah tidur engkau
mana bisa berada di sini? Eh, Bun Sam kau sedang
melakukan apakah tadi?” Kedua orang anak ini sebelum
tidur tadi telah saling berkenalan dan biarpun mereka tidak
merasa cocok satu kepada yang lain, akan tetapi kehadiran
masing masing merupakan hiburan juga dan mereka telah
saling mengenal nama.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Aku sedang melihat bintang bintang di langit!” jawab
Bun Sam.
“Bohong! Masa melihat bintang di langit sambil berlutut
dan bersembahyang?”
Bun Sam kewalahan terpaksa mengaku. “Aku sedang
bersembahyang kepada ayah bundaku,” suaranya tercekik
karena keharuan memenuhi lehernya.
Tiba tiba Kui To tertawa terbahak, sehingga Bun Sam
memandang dengan heran sekali.
“Kenapa kau tertawa?”
Akan tetapi Kui To masih saja tertawa seakan akan
merasa gembira dan geli hati sekali, kemudian ia berhasil
juga menekan suara ketawanya dan berkata, “Aku girang
karena nasib kita sama. Akupun tidak punya ayah ibu lagi!
Bagaimana ayah ibumu bisa mati?”
Bun Sam mendongkol sekali. Alangkah anehnya tabiat
kawan ini.
“Biarpun kau girang karena nasib kita sama, tidak perlu
kau mentertawakan aku yang sedang teringat kepada orang
tuaku. Kau tidak tahu, Kui to, ayah bundaku telah terbunuh
dengan amat kejam oleh gerombolan Ang bi tin! Bahkan
Can pekhu yang hendak menolongku telah terbunuh pula.
Aku bersumpah hendak belajar ilmu silat dan hendak
kubasmi semua Gerombolan Alis Merah itu!”
Kembali Kui To tertawa. Suara ketawanya nyaring dan
kerat sekali, sehingga bergema di bawah gunung.
“Eh, Kui To, apakah kau gila? Mengapa kau tertawa
terus?” Bun Sam benar benar menjadi gemas.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bagaimana aku tidak tertawa? Kau....yang bertubuh
kurus dan bermuka pucat ini hendak membasmi Ang bi tin?
Ha, ha, ha! Seperti cacing hendak menantang ayam! Aku
sih tidak benci kepada Ang bi tin dan tidak akan memusuhi
mereka!”
Bun Sam menjadi panas hatinya. “Tentu saja aku akan
belajar ilmu kepandaian dulu. Aku akan belajar dari suhu
dan akan belajar dari Yap suheng. Yap Suheng yang
menjadi murid suhu, biarpun gagu memiliki kepandaian
tinggi. Kalau aku sudah belajar sampai tamat, mengapa aku
takkan dapat membasmi gerombolan siluman jahat itu?”
“Kau lupa kepadaku?”.
“Kau....”
“Ya, aku! Apa kau kira hanya kau sendiri yang akan
dapat memiliki ilmu kepandaian? Dengan adanya aku di
Ang bi tin, kau tak mungkin aka dapat membasmi mereka!”
“Kau di Ang bi tin...??” Bun Sam benar benar tertegun
dan memandang dengan mata terbelalak.
“Mengapa tidak? Mereka bukan musuh musuh ku dan
kalau kau boleh memusuhi mereka dan hendak
menghancurkan mereka, akupun bebas untuk memihak dan
membantu mereka. Kenapa, apakah kau takut kepadaku?
Ha, ha, ha!” Kembali anak ini tertawa gelak gelak dan
matanya yang sipit itu makin mengecil. Giginya nampak
berkilat tertimpa cahaya bintang bintang yang suram.
“Manusia jahat!” Bun Sam tiba tiba menjadi benci sekali
dan ia memukul muka bermata sipit itu. Kui To terguling,
akan tetapi ia cepat bangun kembali.
“Eh, kau berani memukulku?” Dan anak ini lalu
menerkam Bun Sam seperti seekor binatang buas,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mempergunakan kedua tangan, kedua kaki, bahkan giginya
ikut pula menyerang!
Bun Sam pernah mendapat latihan ilmu silat dari
ayahnya yang menjadi bekas perwira, maka melihat
serangan ini, ia cepat dapat mengatur langkah dan mundur
dua tindak dan ketika Kui To mendesak terus, ia mengirim
tendangan yang tepat mengenai dada anak itu. Kembali Kui
To terguling dan mengaduh ketika kepalanya terbentur
karang. Akan tetapi semangat perlawanan anak ini benar
benar luar biasa sekali. Biarpun mulutnya mengeluarkan
keluhan, namun ia bangkit lagi dengan cepat sekali dan
kembali ia menerjang Bun Sam, bahkan jauh lebih ganas
daripada tadi.
“Kubunuh kau… kubunuh kau.....” desis nya sambil
menyerang.
Biarpun Bun Sam sudah pernah mempelajari ilmu silat
dan mempunyai dasar dasar gerakan yang teratur dan
teguh, namun mengadapi serangan membabi buta dan
nekat ini, ia tidak berdaya. Akhirnya Kui To berhasil
menangkapnya dan bergumullah dua orang anak ini di atas
tanah. Bun Sam lebih sehat tubuhnya dan lebih besar
tenaganya, juga kedua tangannya terlatih dan lebih kuat.
Akan tetapi ia kalah nekat, maka pergumulan itu amat seru
dan ramai.
Tiba tiba terdengar suara perlahan, “Siauw liong (Naga
Kecil), kau pisahkan dua orang anak nakal itu!”
Bun Sam dan Kui To mendengar suara ini dan Bun Sam
yang mengenal suara Kim Kong Taisu segera melepaskan
kedua tangannya yang tadi mencengkeraman pundek Kui
To. Akan tetapi, Kui To yang juga mengenal suara kakek
itu tidak mau berhenti bergumul, bahkan ia
mempergunakan kesempatan ketika Bun Sam melepaskan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kedua tangannya untuk secepat kilat mencekik leher Bun
Sam. Cekikan ini kuat sekali dan Bun Sam berusaha
melepaskannya dengan sia sia.
Akan tetapi pada saat itu, Kui To merasa betapa
pinggangnya dipegang oleh sesuatu yang amat kuat dan
sekali renggut saja tubuhnya telah terlepas dari Bun Sam.
Hampir ia berteriak saking kagetnya ketika ia melihat
bahwa yang “memegangnya” itu adalah ekor dari seekor
ular yang amat besar. Juga Bun Sam menjadi pucat
ketakutan ketika melihat kepala Seekor ular yang besar
mengerikan berada dekat dengannya. Ia cepat melompat
bangun dan berlari ke arah Kim Kong Taisu kemudian ia
menjatuhkan diri berlutut tanpa berani mengangkat
mukanya.
“Siauw liong, kau lepaskan dia!” kembali terdengar suara
halus kakek itu. Seperti mengerti maksud ucapan kakek itu,
ular yang tadi membelitkan ekornya pada pinggang Kui To,
lalu melepaskan belitannya, sehingga tubuh Kui To
terguling dan jatuh di atas tanah. Akan tetapi keberanian
anak ini benar benar luar biasa sekali. Bukan hanya karena
keberaniannya, akan tetapi juga oleh karena ia memiliki
kecerdikan dan kelicikan yang hebat, maka begitu ia
dilepaskan oleh ular itu ia lalu menerjang ular itu,
menendang dan memukul tubuh ular yang besarnya lebih
sepelukan lengannya.
Ular itu mendesis marah dan menggerakkan kepalanya
ke arah Kui To, akan tetapi kembali Kim Kong Taisu
mencegahnya, “Siauw liong, jangan melayani dia dan
kembalilah ke gua!” Ular bernama Siauw liong (Naga
Kecil) itu lalu merayap pergi dan tubuhnya yang berlenggak
lenggok itu nampak berkilau tertimpa sinar bintang bintang
di langit yang kini tampak makin gemilang karena langit di
belakangnya menjadi makin hitam. Memang Kui To amat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
cerdik, ia tadi sudah mendengar betapa ular besar itu dapat
diperintah oleh Kim Kong Taisu, maka dengan adanya
kakek itu di situ, ia menjadi berani, ia dapat menduga
bahwa kalau ular itu hendak mengganggunya, tentu akan
dicegah oleh Kim Kong Taisu yang telah menjadi suhunya
dan ternyata benar dugaannya itu.
“Kalian ini mengapa tidak pergi tidur, sebaliknya
bergumul di sini?” kakek ini menegur dengan suara keras.
“Suhu, Bun Sam memukul lebih dulu kepada teecu,”
kais Kui To yang kini andai berlutut juga.
Kim Kong Taisu memandang tajam kepada Kui To,
kemudian ia menengok ke arah Bun Sam yang masih
menundukkan mukanya.
“Benarkan, Bun Sam?”
“Benar, suhu. Memang teecu yang memukulnya lebih
dulu!”
“Hm, sudahlah, kalian pergi tidur. Lain kali tidak boleh
berkelahi dan lupakan perkara yang sudah sudah.” Setelah
berkata demikian, Kim Kang Taisu berlalu dan lenyap di
balik pohon tusam kembar yang tumbuh di situ.
“Kui To maafkan aku.”....Bun Sam berkata kepada
tawannya.
“Maaf...........? Ha, ha, ha! Perlu apa mesti maaf
memaafkan! Aku sudah lupa lagi, seperti perintah suhu
tadi. Ayoh tidur!” Bun Sam kembali tertegun dan
memandang kepada Kui To yang berlenggang masuk ke
arah pondok yang mereka tinggali. Orang macam apakah
yang menjadi kawannya ini? Demikian aneh wataknya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Luka di pundak Bun Sam dan juga bekas bekas pukulan
orang dusun di seluruh tubuh Kui To belum sembuh benar.
Ditambah pula oleh pergumulan malam tadi, tidak
mengherankan apabila pada keesokan harinya ketika
mereka bangun tidur, keduanya merasa seluruh tubuhnya
sakit sakit.
Hari masih pagi sekali dan di dalam bilik mereka masih
gelap dan dingin. Agaknya matahari belum muncul. Sayup
sayup terdenyur bunyi ayam ayam hutan berkeruyuk, akan
tetap di luar pondok telah ramai kicau burung pagi yang
tadi membangunkan dua anak itu.
“Bangun, Kui To. Suhu kemarin memesan supaya kita
bangun pagi pagi dan mengisi kolam itu dengan air dari air
terjun di bawah lereng.”
“Aku masih mengantuk..... tubuhku terasa penat penat
dan sakit sakit....” Kui To menggeliat geliat beberapa kali.
Kasihan juga. Bun Sam melihat keadaan kawannya ini.
Betapapun ganjil watak kawan ini, akan tetapi pada waktu
itu, hanya Kui To seoranglah kawannya, kawan senasib,
kawan seperguruan.
“Kalau begitu, biarlah aku sendiri yang mengisi kolam,
Kui To. Dan kalau suhu tahu, biarlah kukatakan bahwa kau
masih sakit sakit tubuhmu dan belum kuat mengambil air.”
Ucapan ini membuat Kui To melompat turun cepat
sekali.
“Apa? Kau mau bikin aku malu kepada Suhu? Biar aku
dianggap anak malas tidak mau bekerja? Tidak!”
Sekali lagi Bun Sam melengak menyaksikan tabiat yang
aneh ini mudah tersinggung dan juga mudah sekali
melupakannya kembali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sesukamulah maksudku hanya menolongmu,” katanya
sambil berjala keluar, ke dalam hawa pagi yang sejuk dan
dingin. Sambil mengomel panjang pendek, Kui To juga
melompat turun dan mengikutinya menuju ke bawah lereng
sebelah selatan di mana terdapat air terjun. Sebelum
berangkat, Bun Sam mengambil pikulan yang digantungi
dua tempat air dari kayu. Di situ terdapat dua buah pikulan
dan sengaja Bun Sam mengambil pikulan yang paling besar.
Sambil bersungut sungut Kui To mengambil pikulan yang
kecil dan mengikuti Bun Samtanpa bercakap cakap lagi.
Tempat air mancur itu jauhnya ada dua li dari pondok
dan dua buah kolam yang harus diisi cukup besar, sehingga
kalau mereka berdua mempergunakan dua pikulan itu diisi
penuh, agaknya kolam kolam itu tidak akan penuh dengan
duapuluh kali isian! Ketika berangkat ke air terjun itu
memang tidak berat selain jalannya turun, pikulannya
kosong, juga badan belum lelah. Akan tetapi setelah tong
tong air itu diisi dan pikulan dipanggul, terasalah beratnya.
Baik Bun Sam yang memikul tong besar maupun Kui To
yang memanggul tong lebih kecil, kuat memikulnya. Akan
tetali setelah mereka mulai mendaki jalan yang berbatu batu
dan naik meninggi makin lama langkah mereka makin berat
dan tulang pundak serasa hendak patah patah. Terpaksa air
di dalam tong dikurangi, dibuang sebagian dan
demikianlah, makin meninggi, makin berkurang isi tong,
sehingga ketika mereka tiba di kolam, air di dalam tong
tong yang dipikul itu tinggal seperempat bagian saja.
Kedua anak itu tentu saja menderita sekali dan dari sikap
mereka menghadapi pekerjaan berat ini, mudah saja dilihat
watak mereka. Kalau Bun Sam bekerja dengan diam saja
dan mengerahkan seluruh tenaga dan ketekunannya,
sebaliknya Kui To mengeluh panjang pendek dan segala
apa disumpahinya. Dari air terjun, sampai pikulan dan tong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kolam, batu batu karang yang tajam dan melukai telapak
kakinya, semuanya dimaki maki sepanjang jalan. Akan
tetapi, ia tidak berhenti bekerja, bukan saja takut terhadap
Kim Kong Taisu, terutama sekali malu hati dan tidak mau
kalah melihat betapa Bun Sam masih melanjutkan
pekerjaan!
Agar jangan terlalu terasa beratnya pekerjaan itu di
waktu mereka berangkat lagi ke air terjun memikul pikulan
dan tong kosong, Bun Sam mengajak Kui To bercakap
cakap.
“Kui to, ingatkah kau kepala Siauw liong? Ia hebat sekali
bukan !”
“Naga siluman itu? Kelak kalau aku sudah besar, akan
kupukul pecah kepalanya!” kata Ke To sambil cemberut
marah karena ia teringat betapa ular itu telah membelit
pinggangnya.
“Hush, Kui To. Ular besar itu adalah binatang
peliharaan suhu.”
“Tidak peduli, kalau dia mengganggu aku, dia menjadi
musuhku. Suhu tentu akan membantuku, berat mana murid
atau binatang peliharaan?”
Diam diam dari samping, Bun Sam melirik ke arah
kawannya ini. Melihat betapa kawannya itu berjalan
terpincang pincang, ia merasa geli dan kasihan juga. Ia
dapat menduga bahwa kawannya ini selama hidupnya tak
pernah bekerja berat dan belum pernah berlatih silat, maka
tubuhnya lemah dan tidak kuat bekerja kasar. Hanya
semangat dan keberaniannya saja yang benar benar amat
mengagumkan. Hal ini harui ia akui, karena biarpun ia
sendiri menang tenaga dan sudah berlatih silat, malam tadi
sukar baginya untuk memenangkan kawan yang amat
bandel dan berani ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sudah empat kali mereka membawa air dari air terjun ke
kolam di belakang pondok itu. Kim Bun Sam dapat
membawa setengah tong air, sedangkan Kui To dalam
malasnya masih saja hanya mengisi tongnya seperempat
saja, padahal tongnya itu lebih kecil daripada tong Bun
Sam.
“Bun Sam, mengapa suhu dan si gagu itu tidak
kelihatan? Alangkah malas mereka itu, matahari sudah naik
tinggi masih mendengkur, membiarkan kita anak anak kecil
bekerja setengah mampus!”
“Hush, Kui To, jangan kau bicara seperti itu! Juga kau
salah sekali kalau menyebut Yap suheng dengan sebutan
menghina. Lupakah kau bahwa dia yang menolong nyawa
kita berdua? Kalau tidak ada Yap suheng, kau dan aku
sudah mati. Pula suhu menyuruh kita bekerja tentu ada
maksudnya, baru bekerja seringan ini saja kau sudah
mengeluh, apalagi kalau harus mempelajari ilmu silat yang
amat sukar dan berat. Jangan jangan baru setengah nya kau
sudah tak kuat lagi !”
“Bun Sam, kau selalu memandang rendah kepadaku.
Kaukira aku takut kepadamu dan mengaku kalah? Kita
sama lihat saja, kawan. Boleh kita lihat kelak, apakah kau
yang rajin ini akan dapat memiliki kepandaian yang lebih
tinggi dari padaku.”
Melihat Kui To memandang marah dan kedua matanya
mengecil, tahulah Bun Sam bahwa kalau menjawab, tentu
Kui To akan mencari urusan lagi. Ia tidak mau meladeni
kawan yang otak otak an ini, lalu berkata sabar, “Matahari
telah naik tinggi, ayoh kita percepat jalan!”
Akan tetapi ketik mereka tiba di tempat air terjun,
keduanya menahan tindakan kaki dan berdiri memandang
dengan heran. Di tempat itu telah duduk seorang laki laki
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tua yang bicara seorang diri sambil bersila menghadapi
sebuah keranjang kembang. Keadaan orang itu benar benr
aneh sekali, ia sudah berusia enampuluh tahun lebih,
rambutnya yang putih itu digelung ke aras dan ditusuk
dengan sebatang tulang putih. Sepasng matanya selalu
melotot sepsrti mata katak yang jarang berkedip.
Pakaiannya lebih mengherankan, karena pakaiannya itu
terdiri dari celana lebar dan jubah komprang yang
kesemuanya terbuat daripada kain berkembang kembang
seperti yang biasa dipakai olah orang orang perempuan.
Kui To berjalan mendekat, diikuti oleh Bun Sam yang
ragu ragu dan curiga. Keadaan kakek ini benar benar amat
menimbulkan curiga dan keheranan. Setelah mereka dekat,
ternyata bahwa keranjang yang dihadapi oleh kakek ini,
dipasangi tongkat yang berkepala naga dan di atas kepala
tongkat ini masih dipasangi sebatang hio (dupa biting) yang
mengebulkan asap. Keranjang itu diletakkan di atas tanah
dan di tengah tengahnya dipasang sebatang ranting kering
yang runcing.
Biarpun kedua orang anak itu sudah berada dekat sekali,
kakek itu tidak memperdulikannya, karena agaknya ia
sedang asyik sekali bercakap cakap dengan keranjang itu.
“Ha, ha, ha, Lak Mou Couwsu, kau tidak usah
penasaran. Ilmu silat ciptaanmu memang hebat dan besar
pada zamanmu, akan tetapi sekarang tidak ada gunanya
lagi bagimu, apalagi orang orang sekarang yang masih
hidup mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi
daripadamu! Apalagi aku, Seng Jin Siansu … ha, ha, ha!
Jawablah! Lak Mou Couwsu, bagaimanakah cara
memecahkan jurus terakhir dari Ilmu silatmu, jurus yang
disebut Seng Thian cui siauw (Naik Ke Langit Meniup
Suling) itu?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tadinya Kui To dan Bun Sam merasa geli dan
menganggap bahwa kakek ini tentulah seorang yang miring
otaknya. Akan tetapi apa yang mereka lihat selanjutnya
mengusir semua rasa geli dan kini mereka memandang ke
arah keranjang itu dengan mata terbelalak heran dan
terkejut. Ternyata bahwa keranjang itu telah dapat bergerak
gerak sendiri di atas tanah. Pada leher tongkat itu diikatkan
sehelai kain pengikat kepala yang merupakan dua buah
tangan dan kini setelah keranjang itu bergerak gerak, maka
kedua lengan dari kain ini juga bergerak seperti lengan
orang saja. Anehnya keranjang itu bergeser ke kanan, kiri
dengan tetap dan tegap seakan akan mempunyai dua buah
kaki yang melangkah dengan sigapnya, sedangkan kedua
tangan kain itu bergerak seperti sepasang tangan orang yang
bermain silat.
“Terima kasih. Lak Mou Cuowsu, terimakasih. Jadi
rahasianya terletak dalam pukulan tangan kiri, ya? Bagus,
bagus. Nah, pulanglah, kau Lak Mou Couwsu, aku tidak
perlu lagi padamu,” kata kakek ini setelah keranjang itu
bergerak. Keranjang itu kini diam dan terletak di atas tanah,
yang bergerak hanya asap hionya saja yang masih mengebul
dan bergerak tertiup angin.
Bun Sam dan Kui To saling pandang, akan tetapi
sebelum mereka dapat mengeluarkan ucapan, kakek itu
telah menengok dan mamandang kepada mereka. Kalau
tadi perhatian kedua orang anak ini dicurahkan kepada
keranjang yang bisa bergerak gerak sendiri, kini mereka
menatap wajah kakek itu dan diam diam mereka merasa
ngeri ketika melihat bahwa kakek itu hanya mempunyai
mata sebuah saja. Entah apa yang terjadi dengan mata
kanannya, karena tempat di mana mata kanannya
seharusnya berada, kini hanya kelihatan hitam dan bundar
saja seakan akan matanya yang kanan itu ditutup oleh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sepotong kain hitam yang bundar. Akan tetapi matanya
yang hanya satu di sebelah kiri itu amat tajam
pandangannya dan lebar sekali. Hidungnya bengkok ke
bawah dan mulutnya selalu menyeringai seperti orang
mengejek. Mukanya kurus sekali, seperti juga tubuhnya
yang terbungkus oleh pakaian berkembang kembang itu.
Kakek yang tadi menyebut namanya sendiri sebagai Seng
Jin Siansu ini tertawa terkekeh kekeh dan nampak giginya
yang hanya tinggal tiga buah di sebelah atas.
“Aha, anak anak kecil memikul tong air di puncak Oei
san! Apakah Kim Kong Taisu sekarang sudah malas dan
manja, sehingga perlu memelihara dua orang kacung?”....
Mendengar kakek aneh itu menyebut nama gurunya Bun
Sam dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang aneh
pula yang menjadi sahabat suhunya, maka cepat ia maju
dan memberi hormat sambil menjura, lalu menjawab,
“Totiang teecu berdua bukanlah kacung atau pelayan dan
Kim Kong Taisu, melainkan murid muridnya. Mohon
tanya totiang siapakah dan apakah hendak bertemu dengan
suhu?”
Akan tetapi, sebagai jawaban, kakek ini tertawa tergelak
gelak dan ia nampaknya demikian geli, sehingga matanya
yang hanya sebelah itu mengeluarkan air mata.
“Kim Kong si tua bangka memungut dua orang murid?
Ha. ha, ha! Dunia sudah hendak kiamat rupanya dan tua
bangka itu takut kalau kalau ia mampus membawa pergi
kepandaiannya!” Kemudian matanya dengan amat tajam
menatap kedua orang anak itu berganti ganti, lalu dengan
suaranya yang parau, “Dan kalian mendapat pelajaran
memikul air?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kami harus penuhkan kolam di belakang pondok!” kata
Kui To dan dari suaranya orang dapat mengetahui bahwa
dia merasa jengkel dan tak senang dengan pekerjaan itu.
“Apa susahnya mengisi air di dalam tong saja?” Seng Jin
Siansu tertawa. “Lihat!” ia menudingkan jari telunjuknya
ke arah sebuah tong yang tadi dipikul oleh Kui To dan tong
itu bagaikan dilempar telah melayang ke arah air terjun,
selelah penuh lalu melayang kembali ke tempat semula
dekat Kui To dan sudah penuh dengan air. Kembali kakek
itu tertawa dan empat kali ia menudingkan jari telunjuknya
dan empat buah tong itu telah penvh air semua dengan cara
yang san.a seperti tadi. yakni dengan mengisi sendiri
sampai penuh.
“Kalau aku yang mengisi kata kakek itu sambil tertawa
tawa mengejek, “tanpa turun dari puncak kolam itu telah
penuh sendiri dengan air.”
Tentu saja Bun Sarn dan Kui To melengak dan saling
memandang dengan bengong.
“Bagus, bagus! Alangkah senangnya memiliki
kepandaian seperti itu. Dan ini… apakah ini totiang?” kata
Kui To yang bersorak kegirangan.
“Ini?” Song Jin Siansu menunjuk ke arah keranjang yang
dipasangi tongkat dan hio itu. “Dengan keranjang sayur tjoi
lan ini, aku dapat memanggil roh roh orang yang sudah
meninggal.”
Mau tak mau seram juga hati kedua orang anak itu, akan
tetapi tiba tiba terdengar Bun Sam berkata, “Aku tidak suka
akan ilmu hitam dan sihir!”
Kakek itu menengok ke arah Bun Sam dan matanya
yang hanya sebelah berkilat.
“Siapa bilang bahwa ilmuku adalah ilmu hitam, nak?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ayah sering kali bilang bahwa ilmu sihir yang aneh
aneh adalah ilmu hitam yang tidak baik. Aku dilarang
untuk mempelajari ilmu hitam seperti itu. Totiang, bukan
sekali kali teecu menyatakan bahwa kepandaian totiang
adalah ilmu hitam, akan tetapi... sesungguhnya memang
aneh....”
“Ayahmu bermulut lancing! Siapa namamu, siapa nama
ayahmu dan dimana dia?” Ucapan ini dikeluarkan dengan
nada marah, akan tetapi Bun Sam tidak merasa takut
karena tidak merasa bersalah.
“Teecu bernama Song Bun Sam, ayah bernama Song
Hak Gi, akan tetapi ayah telah meninggal....” tiba tiba Bun
Sam menahan bicaranya karena sinar mata kakek itu
nampak begitu ganjil dan mulutnya menyeringai makin
lebar. Ia mendapatkan firasat yang amat tidak enak melihat
wajah kakek ini.
“Ha, biarlah aku bicara dengan ayahmu sendiri, hendak
kulihat dan kudengar bagaimana pendapatnya tentang ilmu
kesaktianku!”
“Jangan, totiang… jangan…!” seru Bun Sam dengan
wajah pucat, ia tadi sudah melihat betapa keranjang itu
dimasuki oleh roh seorang yang disebut Lak Mou Couwsu
oleh kakek ini dan keranjang itu bergerak gerak sendiri.
Kini kakek aneh ini hendak memanggri roh ayahnya dan
hal ini ia tidak rela. Tidak boleh ayahnya yang sudah
meninggal itu diganggu dan dipermainkan orang.
Melihat kakek itu tidak memperdulikan dan mulutnya
mulai berkemak kemik dan menghadapi keranjang itu, Bun
Sam lalu menubruk maju, hendak merampas keraniang itu
sambil berseru, “Totiang, jangan kau main main dengan
ayahku….!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi. Seng Jin Siansu mengulur tangan kirinya
dengan jari jari terbuka, ditodongkan ke arah Bun Sam
sambil membentak, “Diam kau.... !”
Sungguh aneh. Bun Sam tiba tiba merata seakan akan
seluruh tubuhnya kehilangan tenaga dan ia berdiri diam tak
mampu bergerak sedikitpun. Ia seperti sebuah patung batu
dan hanya dapat memandang dengan panca indera bekerja
yang tidak lengkap. Hanya urat urat di seluruh tububnya
saja yang tidak dapat ia gerakkan.
Kakek itu melanjutkan doanya dan asap hio bergulung
gulung ke atas.
“Song Hak Gi… datanglah… aku panggil padamu,
datanglah atas kekuasaan Penjaga Keranjang Sayur yang
keramat,” Suara kakek ini terdengar amat berpengaruh dan
tsk lama kemudian baik Bun Sam yang berdiri seperti
patung maupun Kui To yang memandang dengan penuh
perhatian, melihat betapa keranjang itu mulai bergerak
gerak. Tiba tiba gerakan itu mengeras dan keranjang itu
tentu akan terguling kalau tidak cepat cepat dipegang oleh
Seng Jin Siansu.
“Song Hak Gi, tak perlu kau melawan. Anakmu bilang
bahwa kau melarang dia mempelajari kesaktian yang
kumiliki dan kau anggap kepandaianku ini ilmu hitam.
Coba jawab, bagaimana pendapat mu? Jangan kau main
main, lihat, anakmu akan kujadikan batu kalau kau tidak
menjawab sebaiknya.” Kembali kakek itu bicara yang
ditujukan kepada keranjang itu.
Keranjang itu bergerak gerak ke kanan kiri kemudian
miring dan ranting yang berada di tengah tengahnya itu
menggurat gurat tanah merupakan huruf huruf yang jelas.
Setelah mencoret coret tanah, keranjang itu bergerak gerak
keras lagi dan hampir terguling, sehingga kembali kakek itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
turun tangan memegangnya, akan tetapi keranjang itu
kosong dan ringan, dan kini berdiri tak bergerak kembali.
Dengan peluh membasahi jidatnya, Bun Sam yang
belum dapat bergerak itu dapat membaca tulisan itu yang
berbunyi singkat : “Ilmu hitam, jahat, Bun Sam tidak boleh
mempelajarinya.”
Seng Jin Siansu membaca tulisan itu lambat sekali
karena kakek ini memang setengah buta huruf, adapun Kui
To” yang juga ikul memandang, sama sekali tidak mengerti
karena ia tidak pernah belajar membaca.
Ketika Seng Jin Siansu menengok kepada Bun Sam, ia
melihat betapa mata anak ini memandangnya dengan
menantang, bangga dan juga berani. Diam diam ia menjadi
mendongkol sekali, “Kau memang betul, ayahmu keras
kepala dan goblok!” katanya dengan uring uringan.
“Totiang, bisakah kau memanggil ayahku?”
Pendeta bermata satu itu kini memandang ke arah Kui
To dan nampaknya tertarik melihat anak yang agaknya
suka kepada ilmu kepandaiannya ini.
“Apakah ayahmu juga sudah mampus?” tanyanya sambil
menyeringai. Tadinya menduga bahwa anak ini seperti Bun
Sam, akan menjadi marah, akan tetapi di luar dugaannya,
Kui To menjawab.
“Betul, totiang, ayahku sudah mati! Akan tetapi, aku
ingin juga mendengar atau melihat pendapatnya tentang
ilmu kepandaianmu dan apakah aku boleh
mempelajarinya?”
“Sebutkan nama ayahmu!” pendeta itu bertanya cepat.
“Dia bernama Gan Kiat,” jawab Kui To menjawab
singkat pula.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kembali asap hio mengebul dan Seng Jin Siansu
berkemak kemik membaca mantera dan mengeluarkan kata
kata memanggil roh Gan Kiat seperti yang dilakukannya
ketika memanggil roh ayah Bun Sam tadi. Tak lama
kemudian, keranjang sayur itu tiba tiba bergerak, kini
gerakannya tidak karuan, terhuyung huyung ke kanan kiri
seperti gerakan orang mabuk.
“Apakah yang datang ini roh dari Gan Kiat? Jawab!”
terdengar suara Seng Jin Siansu yang berpengaruh.
Keranjang sayur itu lalu miring dan ranting di tengahnya
membuat tulisan di atas tanah yang sudah diratakan oleh
kakek itu. Terlihat huruf huruf besar dan terang yang ditulis
di atas dengan amat indahnya, tulisan seorang pegawai
negeri. Bun Sam yang amat tertarik lalu membaca tulisan
itu. Sebaliknya Kui To yang buta huruf lalu berbisik
kepadanya. .
“Bun Sam, bacalah keras keras, aku ingin mendengar
apa yang ditulis olehnya!”
Karena tulisan itu amat terang, dengan mudah Bun Sam
membaca, “Aku memang benar Gan Kiat”
Wajah kakek itu berseri dan kembali ia bertanya dengan
suara keras, “Gan Kiat, jawablah bagaimana kalau
puteramu menjadi murid Seng Jin Siansu, mempelajari
ilmunya yang tinggi dan sakti?”
Kembali ranting di tengah keranjang itu mencoret coret
tanah. diikuti oleh suara Bun Sam yang membacanya.
“Anak itu boleh belajar apa saja dari siapan juga, aku tidak
perduli.”
Seng Jin Siansu tertawa tarkekeh kekeh dan keranjang
itupun diamlah. Akan tetapi Bun San merasa heran sekali
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dam lebih terkejutlah anak ini ketika melihat betapa Kui To
menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
“Teecu Kui To mohon menjadi murid Seng Jin Siansu.”
“Kui To!” Bun Sam menegur dengan suara keras.
“Apakah kau sudah gila? Kau sudah menjadi murid suhu
kita, Kim Kong Taisu. Bagaimana kau dapat mengangkat
totiang ini sebagai gurumu tanpa persetujuan suhu?”
“Siapa sudi menjadi murid tosu tua yang tak berguna itu?
Siapa sudi diberi pelajaran memikul air sampai tulang
pundak rasanya. hampir patah? Tidak, aku tidak mau
menjadi muridnya!” jawab Kui To dengan suara
menantang.
“Ha, ha, ha, ha! Bagus, bagus! Inilah suara laki laki
sejati. Aku suka padamu, kau boleh menjadi muridku, Kui
To!” kata Seng Jin Siansu tertawa bergelak gelak dan
matanya yang hanya sebelah itu bersinar sinar gembira.
“Tidak boleh Kui To diambil murid tanpa izin suhu.”
Kakek itu menahan ketawanya dan memandang kepada
Bun Samdengan heran. “Apa? Siapa melarangnya? Kau ?”
“Ya, totiang. Akulah yang melarangnya dan aku berhak
melarang, karena Kui To adalah saudara seperguruanku.
Aku tidak rela melihat saudara seperguruanku dibawa sesat
dan mempelajari ilmu yang jahat dan rendah.”
“Bun Sam, kau perduli apa?” Kui To berseru keras “Aku
tidak sudi menjadi saudaramu dan kau tidak boleh
mencampuri urusanku. Ayoh pergi kepada gurumu! Ayoh
kaulanjutkan pekerjaanmu mengisi kolam, jangan
kauperdulikan aku. Pergi!” Sambil membentak bentak Kui
To menghampiri Bun Sam dengan dan tangan terkepal dan
dengan sikap hendak menyerang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kui To, kau tersesat. Ingatlah bahwa kau telah ditolong
oleh Yap suheng dan suhu adalah seorang pertapa yang
suci. Ingat betapa tinggi kepandaian Yap suheng dan betapa
gagah sepak terjangnya. Kita harus mencontohnya dan
jangan mempelajari segala macam ilmu hitam!” Akan tetapi
Bun Sam tak dapat melanjutkan kata katanya karena tiba
tiba Kui To menampar mulutnya, sehingga terhuyung ke
belakang. Kui To mengejar dan memukul dadanya akan
tetapi Bun sam yang sudah pernah mempelajari ilmu silat,
cepat mengelak ke kiri dan berkata,
“Kalau kau tersesat, aku berhak untuk memberi hajaran
!” Cepat tangannya diulur dan ditangkapnya pundak Kui
To lalu ditariknya dengan keras, sehingga Kui To terguling.
Di tempat itu banyak terdapat batu maka ketika jatuh, dagu
Kui To terbentur batu, sehingga berdarah. Melihat
darahnya sendiri, Kui To menjadi marah sekail. Sambil
mengeluarkan geraman seperti seekor harimau kecil ia
melompat bangun dan menerjang lagi dengan nekad. Akan
tetapi kembali ia dijatuhkan oleh Bun Sam dan sekali lagi
ketika kaki Bua Sam menendang, ia terguling guling sampai
di depan Seng Jin Siansu yang duduk bersila sambil
tersenyum menonton pertempuran itu.
“Hm, murid Seng Jin Siansu tidak boleh kalah,” kata
kakek ini lalu memegang kepala Kui To dan meniup ubun
ubunnya. “Maju dan lawanlah!”
Sungguh aneh, ketika kepalanya ditiup oleh Seng Jin
Siansu, Kui To merasa betapa tiupan itu mendatangkan
hawa yang mengalir masuk dari ubun ubunnya, hawa yang
hangat dan mendatangkan kekuatan yang luar biasa, ia
serentak bangun kembali dan ketika ia maju menerjang,
Bun Sam terkejut bukan main. Tiba tiba saja Kui To
melakukan serangan serangan dengan gerakan ilmu silat
yang aneh dan lihai sekali. Tidak saja gerakan kaki
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tanganaya cepat seperti orang ahli silat tinggi, bahkan
tenaganya juga menjadi berlipat ganda. Bun Sam yang
masih kecil itu sudah mempunyai pandangan tajam dan
pikiran cerdik, ia maklum bahwa Kui To telah kemasukan
kekuatan yang tidak sewajarnya dan bahwa Seng Jin Siansu
telah mempergunakan ilmu hitam atau ilmu sihir untuk
membantu Kui To. Maka iapun berlaku hati hati
menghadapi Kui To sambil berkali kali berseru,
“Kui To, ingatlah. Kau adalah murid Kim Kong
Taisu....!”
Ia mencoba untuk berlaku cepat dan menangkis serangan
Kui To, akan tetapi kali ini ternyata ilmu silat yang baru
sedikit dipelajarinya itu tidak cukup untuk
mempertahankan diri dari serangan Kui To yang ganas dan
cepat. Pukulan demi pukulan jatuh bertubi tubi, pada
tubuhnya dan Kui To yang melihat hasil tiupan kakek itu,
menjadi gembira dan makin buas. Tanpa mengenal kasihan
atau ampun, kedua tangan dan kakinya bekerja menghajar
tubuh Bun Sam yang sudah terhuyung huyung ke belakang.
Akhirnya Bun Sam tak dapat mempertahankan diri lagi dan
robohlah ia ketika sebuah tendangan yang keras mengenai
lambungnya. Kui To memekik buas dan menubruk Bun
Sam. Ia menduduki dada Bun Sam yang jatuh terlentang
dan sambil menggerakkan kedua tangannya yang gencar
memukul muka Bun Sam bertubi tubi! Darah muncrat dari
hidung dan bibir Bun Sam ketika kedua tangan yang tidak
mengenal kasihan itu menghujam mukanya. Bun Sam tidak
mengeluh, hanya mencoba untuk menangkis dengan kedua
tangannya. Sementara itu, Seng Jin Siasu terrtawa bergelak
gelak sambil menepuk tepuk pahanya dengan girang sekali.
Keadaan Bun Sam payah dan juga berbahaya sekali.
Kalau diteruskan, bukan tidak mungkin Kui To akan
memukulinya sampai mati. Kui To sudah menjadi mata
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
gelap, matanya hampir tertutup sama sekali dan mulutnya
menyeringai menakutkan. Tiba tiba berkelebat bayangan
hitam dan tahu tahu Kui To terlempar ke belakang dan
bayangan Yap Bouw telah berdiri di situ dengan kedua
tangan di pinggang! Ia memandang dengan mata tajam dan
marah kepada Kui To yang terjengkang karena
didorongnya tadi. Akan tetapi ketika orarg bermuka
tengkorak ini melihat Seng Jin Siansu, ia nmpak terkejut
sekali dan melangkah mundur tiga tindak sambil menutup
mulutnya dengan tangan kanan!
Sementara itu, Sang Jin Siansu tadinya juga heran dan
terkejut melihat orang yang mukanya mengerikan ini, akan
tetapi ketika mata tunggalnya bertemu pandang dengan
sepasang mata Yap Bouw yang tajam berkilat, kakek ini
tertawa terpingkal pingkal seperti orang melihat
pemandangan yang amat lucu.
“Ha, ha. ha, aku kenal kau.... aku kenal kau.... ha, ha!
Kau adalah Yap Goanswe (Jendral Yap) yang gagah
perkasa, pahlawan besar.....! Ha, ha, lihat bagaimana muka
jendral besar Yap Bouw sekarang telah menjadi setan
berkeliaran!”
Akan tetapi pada saat itu, Yap Bouw telah melompat dan
menerkamnya dengan serangan yang luar biasa dahsyatnya.
Dengan kedua tangan terpantang akan tetapi sepasang kaki
dirapatkan, dengan jari tangan terbuka, orang she Yap ini
menyerang dengan gerakan tipu Sin tiauw bo coa (Rajawali
Menerkam Ular).
“Ha, ha, orang she Yap! Dulu kalau tidak ada aku,
nyawamu sadah putus, apa sekarang kau minta kepadaku
untuk mengantarmu ke neraka jahanam?” Sambil berkata
demikian Seng Jin Siansu dengan tubuh ringan sekali
melompat berdiri dan mengangkat kedua lengannya
menangkis serangan si muka tengkorak itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Dua pasang tangan beradu tanpa menerbitkan suara,
akan tetapi akibatnya hebat sekali. Tubuh Yap Bouw
terpental kembali dan dengan berjungkir balik, si muka
tengkorak ini dapat juga menahan tubuhnya dari kejatuhan.
Adapun Seng Jin Siansu hanya melangkah mundur dua
tindak, akan tetapi benturan itu cukup untuk
menghilangkan senyum dan ejekan dari wajahnya yang jaga
amat buruk itu.
“Hm, agaknya si tua bangka Kim Kong sudah memberi
pelajaran kepadamu, ya? Amat banyak bedanya dengan
dulu. Kepandaianmu sudah bertambah banyak. Akan
tetapi, jenderal busuk, jangan kira bahwa kau sudah dapat
melampaui kemampuan Seng Jin Siansu. Ah, masih jauh,
sobat. Biarpun Kim Kong sendiri yang maju, belum tentu
akan dapat melawanku.”
Setelah berkata demikian Seng Jin SianMi mencabut
tongkat butut yang tadinya dipasang pada keranjang sayur,
karena ia melihat betapa Yap Bouw lelah mencabut
sebatang pedang yang tipis dan berkilauan.
Yap Bouw nampak marah sekali. Matanya
memancarkan cahaya berkilat dan mukanya yang seperti
tengkorak itu menjadi makin menyeramkan. Kemudian
terdengar seruan tertahan dalam tenggorokannya dan
tubuhnya berkelebat cepat. Bun Sam dan Kui To yang
masih rebah di tanah hanya melihat betapa bayangan tubuh
Yap Bouw lenyap dan berobah menjadi sinar yang terang,
yakni sinar pedangnya yang telah diputar hebat dan sinar
pedang ini lalu menyerbu ke arah Seng Jin Siansu yang
tertawa terbahak bahak. Dengan tenang sekali kakek ini lalu
mengangkat tongkatnya. Biarpun gerakannya amat ringan
dan lambat, namun tiap kali sinar pedang itu mendekatinya,
dengan sekali mengelebatkan tongkatnya saja terdengarlah
suara keras dan sinar pedang itu menjadi buyar dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mencelat mundur. Dari sini saja sudah dapat dibuktikan
bahwa kepandaian Yap Bouw masih kalah jauh. Memang
Seng Jin Siansu adalah tokoh persilatan yang berada di
tingkat tertinggi. Tak saja ilmu silatnya amat lihat, bahkan
ilmu sihirnya pun telah menggemparkan dunia kang ouw.
Ia adalah tokoh yang muncul dari selatan dan dalam dunia
kang ouw ini disebut Lamhai Lo mo (Setan Tua Dari Laut
Satatan). Pendeknya, ia dianggap sebagai benggolan dari
segala macam pendekar maupun penjahat, dianggap
sebagai orang pertama dari kang ouw dan liok lim di dunia
bagian selatan.
Yap Bouw yang memiliki ilmu silat tinggi dan ilmu
pedang yang sudah hampir sempurna itu hanya dapat
bertahan tigapuluh jurus saja menghadapi kakek lihai ini.
Setelah lewat tigapuluh jurus Seng Jin Siansu mengerahkan
tenaganya dan melakukan serangan kilat yang aneh
gerakannya Terdengar suara keras dan. pedang yang tadi
dipegang oleh Yap Bouw, kini telah menancap di atas tanah
sedangkan Yap Bouw berdiri dengan kaget dan heran.
“Ha, ha, ha, orang macam kau berani untuk mencoba
coba kepandaianku? Ha, ha, ha! Tanpa kupegangpun
tongkatku akan dapat mengantarmu ke neraka. Lihat baik
baik!” Sambil berkata demikian, kakek yang lihai ini lalu
membaca mantera, kemudian sekali ia berseru keras dan
melemparkan tongkatnya, tongkat itu melayang dan
bagaikan hidup, tongkat ini lalu meluncur ke arah Yap
Bouw dan menyerangnya dengan hebat.
Melihat pemandangan hebat ini, Bun Sam dan Kui To
hanya bisa memandang dengan mata terbelalak. Adapun
Yap Bouw yang sudah tahu akan kelihaian tongkat dari
Iblis Tua dari Laut Selatan ini, cepat menggerakkan
tubuhnya untuk mengelak. Akan tetapi, benar benar seperti
telah berobah menjadi seekor ular terbang yang hidup,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tongkat butut itu mengejarnya dan mengirim serangan
bertubi tubi sehingga Yap Bouw terpaksa harus
mengerahkan seluruh ginkangnya untuk mengelak dan
menghindarkan diri dari bencana ini. Ia tidak berani
menangkis dengan tangan dan maklum bahwa sekali saja ia
terkena serangan tongkat ini nyawanya pasti akan
melayang.
Sesungguhnya yang dilakukan oleh Seng Jin Siansu, baik
ketika menggunakan ilmu sihir untuk mengisi tong air tadi
maupun sekarang ketika tongkatnya bisa terbang sendiri,
hanya ilmu hitam yang berdasarkan kekuatan pandangan
mata tunggalnya dan tenaga batinnya yang amat tinggi dan
terlatih. Bagi pandangan mata Yap Bouw, ia melihat seakan
akan tongkat itu terbang sendiri dan menyerangnya, akan
tetapi dalam pandangan mata orang yang tidak terpengaruh
ilmu sihir ini, sebetulnya yang memegang tongkat dan
menyerang Yap Bouw itu adalah Seng Jin Siansu sendiri, ia
hanya menggunakan kekuatan batinnya dan dua orang
anak anak yang berada di situpun terpengaruh pula,
sehingga bertiga melihat seolah olah tongkat itu terbang dan
hidup. Inilah ilmu sihir atau ilmu hitam yang oleh Seng Jin
Siansu dipergunakan untuk mengangkat nama besar, ilmu
kesaktian yang disebutnya Ilmu “Merebut Semangat dan
Panca Indriya.” Mungkin sekali hampir sama dengan ilmu
hipnotisme dalam zaman sekarang, akan tetapi jauh lebih
tinggi tingkatnya.
Oleh karena sesungguhnya yang memegang dan
memainkan tongkat adalah Seng Jin Siansu sendiri, tentu
saja tongkat itu bergerak dengan amat lihainya dan Yap
Bouw yang bertangan kosong itu telah mengeluarkan peluh
di seluruh tubuhnya.
Nyawanya berada di ujung maut dan makin lama
gerakannya menjadi makin lemah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi tiba tiba Yap Bouw bersemangat kembali
ketika tiba tiba keranjang sayur yang tadi dipergunakan oleh
Seng Jin Siansu untuk memanggil roh, kini bergerak gerak
dan melayang ke udara menahan gerakan tongkat, dan
melindungi Yap Bouw!
Yap Bouw maklum bahwa suhunya telah turun tangan,
maka cepat ia melompat mundur dan menyambar tubuh
Bun Sam, dibawanya berlari dari tempat itu. Adapun Seng
Jin Siansu ketika melihat keranjang itu, menjadi marah
sekali. Ia menancapkan tongkatnya pada keranjang itu dan
melepaskannya. Keranjang jatuh di atas tanah dan setelah
bergerak gerak sebentar, lalu keranjang itu miring dan
ranting yang terpasang pada perutnya menuliskan beberapa
huruf di atas tanah yang berbunyi begini : “Kim Kong Taisu
menghaturkan selamat jalan kepada Seng Jin Siansu!”
Merahlah wajah pendeta bermata satu itu. Terang bahwa
secara halus, Kim Kong Taisu telah menegurnya agar
jangan membikin rusuh di puncak Oei san dan agar suka
pergi dari situ dengan damai. Jadi dengan kata lain, dengan
halus tuan rumah telah mengusirnya. Seng Jin Siansu
menggigit gigit dengan giginya yang ompong. Kurang ajar
sekali Kim Kong Taisu, pikirnya. Ilmu silatnya belum tentu
kalah, sungguhpun harus diakui bahwa ia merasa agak jerih
menghadapi ilmu pedang dari Kim Koag Taisu yang luar
biasa dan iapun maklum bahwa dalam hal tenaga batin, ia
masih kalah kuat oleh kakek pertapa itu. Orang lain boleh ia
gertak dengan ilmu hoatsut (sihir) karena ia dapat
menguasai semangat dan pikiran orang lain yang kalah kuat
olehnya, akan tetapi menghadapi kakek yang bertapa di
puncak Oei san ini, ia tidak sanggup mempengaruhinya.
Ia menengok kepada Kui To yang memandangnya
dengan mata kagum. Hm, anak ini... pikirnya. Anak inilah
yang kelak akan dapat mewakilinya untuk menguasai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dunia. Ia sendiri sudah terlalu tua, tenaganya sudah banyak
berkurang dan semangatnyapun tidak sesegar dahulu. Anak
ini.... anak yang suka menjadi muridnya ini, dia inilah yang
kelak akan menguasai dunia, menjujung tinggi namanya,
mengalahkan Kim Kong Taisu dan muridnya.
Teringat akan hal ini, tiba tiba ia tertawa lagi terkekeh
kekeh dan kemudian ia mengumpulkan khikangnya lalu
berkata, “Kim Kong tua bangka! Aku tidak sudi main main
dengan kau seperti anak kecil! Biarlah kita sama melihat
saja siapa yang lebih berhasil menurunkan kepandaian
kepada murid masing masing.” Suaranya ini dikeluarkan
dengan biasa saja, akan tetapi karena terbungkus oleh
tenaga khikang, maka suara ini bergema sampai di seluruh
permukaan puncak Gunung Oei san. Setelah mengeluarkan
ucapan ini dan menanti jawaban tak juga kunjung tiba.
Seng Jin Siansu lalu menggandeng tangan Kui To dan
mengajak anak itu turun gunung.
Sementara itu, Kim Kong Taisu yang berdiri di depan
pondok di puncak gunung, dihadap oleh Yap Bouw dan
Bun Sam yang berlutut di depannya, mengelus elus
jenggotnya dan menarik napas panjang beberapa kali.
“Dunia takkan ada amannya. Pengacau dunia muncul
silih berganti. Semenjak kau membawa datang anak itu,
Yap Bouw, pinto telah mendapat firasat tidak enak.
Sekarang anak itu yang memang cocok wataknya dengan
Seng Jin Siansu, telah di bawa pergi untuk menjadi
muridnya. Aaah.... agaknya dunia akan makin tak enak
didiami setelah aku pergi kelak.” Ia memandang kepada
Bun Sam yang berlutut sambil merundukkan mukanya yang
biru dan bengkak bengkak bekas pukulan tangan Kui To
tadi. “Bun Sam, hanya kepadamu seorang aku
menggantungkan harapanku. Hanya kau seorang agaknya
yang kelak akan dapat menahan sepak terjang anak itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Semenjak saat ini juga aku menyerahkan tugas yang amat
berat ini pada pundakmu yang kecil, Bun Sam. Kau
belajarlah baik baik dan bukalah matamu lebar lebar untuk
melihat dunia dan kehidupan, buka telingamu untuk
menangkap segala suara yang patut kau dengar. Jadilah
seorang bijaksana yang menguasai diri, sehingga kau dapat
membebaskan diri daripada libatan tali temali yang disebut
sebab dan akibat.”
Tentu saja Bun Sam tidak mengerti sama sekati apa yang
dimaksudkan oleh gurunya ini, akan tetapi, ia mengingat
baik baik semua ncapan ini untuk dipelajari dan kemudian
dicari artinya.
Semenjak hari itu, mulailah Bun Sam belajar dengan
tekun dan rajin sekali. Semua pekerjaan seperti yang
diperintahkan oleh suhunya, dilakukan dengan penuh
ketekunan dan kesabaran. Demikian pula segala macam
ilmu kepandaian, dari ilmu silat sampai ilmu kebatinan,
dipelajarinya dengan rajn.
Ucapan Seng Jin Siansu yang menyebut Yap Bouw
sebagai jenderal besar itu tentu amat mengherankan. Akan
tetapi memang betul, Seng Jin Siansu bukan mengejek atau
memperolok olok ketika ia mengeluarkan ucapan itu. Yap
Bouw memang seorang bekas jenderal.
Bahkan lebih dari itu, Yap Bouw inilah orangnya yang
pernah menewaskan Ulan Tanu. Panglima Mongol yang
bermata biru dan beralis merah atau ayah dari Salinga,
pembentuk Ang bi tin. Ketika itu Yap Bouw karena
kegagahannya, selalu naik pangkat hingga ia menjadi
jenderal. Ketika tentara Mongol menyerbu dan menyebar
maut di tanah Tiongkok, Yap Bouw merupakan seorang di
antara sekian banyak patriot dan pahlawan gagah yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
melakukan perlawanan dengan gigih. Berkat pimpinannya,
maka banyak sekali bala tentara Mongol yang berhasil
dihancurkan. Bahkan ketika tentara Mongol mengeluarkan
seorang panglima gagah perkasa yang bernama Ulan Tanu,
hanya Yap Bouw seoranglah yang mampu menghadapi.
Ulan Tanu adalah seorang Panglima Mongol yang
tersohor tidak hanya karena ilmu silatnya yang tinggi akan
tetapi juga karena ia tersohor sebagai seorang yang
berwajah tampan dan gagah. Matanya biru, alisnya merah
dan bentuk mukanya benar benar membayangkan
kejantanan. Oleh karena itu, namanya amat dipuja di
negerinya dan nama Ulan Tanu diberi julukan Si Alis
Merah yang menjadi kembang bibir semua pria dan wanita
di Mongol, bahkan ia dijadikan contoh dan simbol
ketampanan dan kegagahan.
Ketika bala tentara Mongol menghadapi perlawanan
yang gigih dari tentara dan rakyat Tiongkok, terpaksa
Kubilai Khan yang ketika itu menjadi kaisar orang Mongol,
mengajukan Ulan Tanu sebagai panglimanya. Betul saja,
setelah Ulan Tanu maju, banyak sekali panglima Tioigkok
roboh di bawah ujung tombak Ulan Tanu yang lihai sekali.
Robohnya perwira perwira Tiongkok melemahkan
semangat bertempur barisan dan dengan demikian, barisan
Mongol maju pesat dan pasukan pasukan dari bala tentara
Tiongkok dipukul mundur.
Akhirnya amukan Ulan Tanu ini membawa tentaranya
sampai di tempat pertahanan barisan yang dipimpin oleh
Jendral Yap Bouw. Perang hebat terjadi, pertempuran besar
besaran dan mati matian yang mengakibatkan banyak sekali
tentara dan perwira dari kedua fihak tewas. Yap Bouw dan
Ulan Tanu benar benar merupakan tandingan yang
seimbang, baik dalam hal kepandaian mengatur barisan
maupun kepandaian ilmu silat! Sampai tiap hari berturut
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
turut kedua orang panglima ini bertemu dan bertempur,
pedang di tangan Yap Bouw menghadapi tombak dari Ulan
Tanu. Pagi hari mereka bertempur sampai setengah hari
tidak ada yang kalah, kemudian mundur dan dilanjutkan
pada keesokan harinya.
Di dalam tenda masing masing, Yap Bouw dan Ulan
Tanu diam diam memuji kepandaian lawannya. Telah
banyak perwira perwira pilihan dari fihak mereka yang
gugur, banyak pula perajurit tewas dalam pertempuran
pertempuran selama tiga hari itu. Akan tetapi Ulan Tanu
dan Yap Bouw sendiri belum dapat mengalahkan
lawannya. Tombak Ulan Tanu terlampau kuat bagi Yap
Bouw, sebaliknya pedang Yap Bouw terlalu lihai bagi Ulan
Tanu.
Dalam saat yang sukar ini, datanglah guru Yap Bouw,
yakni Kim Kong Taisu. Kakek sakti ini hanya datang
sebentar saja, di waktu malam dan tanpa diketahui oleh
orang lain kecuali Yap Bouw sendiri. Dan di dalam waktu
yang amat singkat ini, Kim Kong Taisu menurunkan
beberapa jurus ilmu padang lihai sekali kepada muridnya.
“Pinto tidak suka mencampuri urusan dunia. Akan tetapi
negara dan bangsa kita diserang orang lain, bagaimana
pinto bisa tinggal berpeluk tangan saja? Sumbanganku ini
tak banyak, hanya memungkinkan kau mengalahkan jago
nomor satu dari fihak musuh itu. Namun.... semua inipun
tiada gunanya.... tiada gunanya dan sia sia seperti juga
orang hendak mencegah terbitnya matahari di ufuk timur di
waktu pagi.... Setelah berkata demikian dan melihat bahwa
muridnya itu telah faham benar mempelajari beberapa jurus
ilmu pedang itu, Kim Kong Taisu lalu meninggalkan
tempat itu.
Tentu saja Yap Bouw tidak mengerti apa yang
dimaksudkan oleh suhunya itu. Kelak baru ia tahu bahwa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
suhunya memang sakti dan dapat melihat hal hal yang
belum terjadi. Suhunya telah meramalkan bahwa serbuan
orang orang Mongol itu memang tak mungkin dibendung
dan agaknya sudah menjadi kehendak sejarah. Orang orang
Han tak mungkin mencegah penjajahan Bangsa Mongol,
seperti juga tidak mungkin mencegah munculnya matahari
pagi dari timur.
Setelah mempelajari ilmu pedang yang hanya tiga jurus
dari suhunya, besarlah hati Yap Bouw, besok pagi pagi
sekali, ia telah memerintahkan membunyikan tambur
penantang. Ulan Tanu menjadi marah dan sambil menyeret
tombaknya, panglima Mongol ini lalu keluar untuk
menghadapi lawannya. Kembali perang besar terjadi,
perwira lawan perwira, tentara melawan tentara dan
panglima besar Ulan Tanu menghadapi Jenderal Yap
Bouw.
Seperti juga hari hari kemarin, pertempuran antara dua
orang gagah ini hebat sekali. Tombak di tangan Ulan Tanu
bergulung gulung seperti seekor naga di angkasa, sedangkan
pedang Yap Bouw menyambar nyambar bagaikan petir di
antara air hujan. Yap Bouw mentaati pesan suhunya dan
setelah keduanya mulai lelah karena pertempuran berjalan
hampir setengah hari, tiba tiba Yap Bouw berseru keras dan
mengeluarkan ilmu pedangnya yang hanya tiga jurus itu.
Ulan Tanu terkejut sekali. Ilmu pedang yang selama ini
dikeluarkan oleh Yap Bouw dapat dilawannya dengan
mudah. Akan tetapi ketika jurus pertama dimainkan oleh
Yap Bouw, ia mulai menjadi bingung. Ilmu tombaknya
berdasarkan Ilmu Tombak Sin eng chio hoat (Ilmu Tombak
Garuda Sakti) yang masih merupakan cabang dari ilmu
tombak dari Go bi san yang paling tinggi. Adapun ilmu
pedang yang selama ini dimainkan oleh Yap Bouw adalah
ilmu pedang dari Kun lun pai yang dikenal baik oleh Ulan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tanu. Akan tetapi ilmu pedang yang dimainkan oleh Yap
Bouw terakhir ini, benar benar amat meagherankan dan
gerakannya merupakan gerakan berlawanan dengan ilmu
tombaknya. Berkat keuletan dan kegesitannya, jurus
pertama yang banyak pecahan dan gerak tipunya itu dapat
dipertahankan dan dielakkannya. Juga jurus ke dua dari
serangan Yap Bouw yang kian menghebat itu masih juga
dapat ditangkisnya akan tetapi serangan jurus ke tiga benar
benar membuat kepalanya pening dan pandangan matanya
berkunang. Tanpa dapat dicegah lagi, rangsekan pedang
Yap Bouw ini dengan tepat telah berhasil dan tahu tahu
ujung pedang Jenderal Yap itu telah menyambar lehernya.
Putuslah batang leher Ulan Tanu terkena sambaran pedang
itu dan hal ini disaksikan oleh semua perajurit, baik di fihak
Mongol maupun di fihak Tiongkok. Pecahlah sorak sorai
yang gegap gempita dan terbangun semangat perlawanan
dan bala tentara yang dipimpin oleh Yap Bouw. Sebaliknya
bala tentara Mongol ketika melihat betapa Ulan Tanu benar
benar telah tewas, seketika itu juga lenyap semua ketabahan
mereka. Sambil membawa lari tubuh dan kepala Ulan
Tanu, mereka mengundurkan diri dan Yap Bouw
mendapatkan kemenangan besar.
Bagi fihak Mongol, kematian Ulah Tanu itu benar benar
menggemparkan, baik di kalangan pasukan maupun pada
kaisarnya sendiri. Ulan Tanu amat disayangi dan penjadi
panglima yang paling dipercayai oleh Kubilai Khan.
Apalagi para perajurit Mongol, mereka ini tadinya
mempunyai anggapan bahwa Ulan Tanu atau Si Alis
Merah tidak bisa kalah, apalagi sampai mati. Kenyataan
yang pahit, melihat betapa leher panglima besar ini putus
oleh pedang seorang jenderal musuh, benar benar
mengagetkan dan juga menimbulkan dendam yang hebat.
Dendam ini menambah semangat pertempuran dan
akhirnya, benar seperti yang dikhawatirkan oleh Kim kong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Taisu, Tiongkok dikuasai oleh bala tentara Mongol. Di
bawah pimpinan Salinga, putera dari Ulan Tanu, beberapa
orang panglima yang merasa sakit hati, menggempur
pasukan pasukan dari bala tentara yang dipimpin oleh Yap
Bouw dan terjadi pertempuran pertempuran yang lebih
hebat. Akan tetapi tak seorangpun di antara panglima
Mongol yang dapat menandingi Yap Bouw dan biarpun
pasukan pasukan Yap Bouw mengalami kekalahan besar
akibat gempuran gempnran fihak musuh yang jauh lebih
besar jumlahnya, namun jenderal muda ini sendiri tidak
pernah dapat dikalahkan.
Pada suatu hari, Salinga pergi untuk setengah bulan
lamanya dan ketika ia kembali, ternyata putera dari Ulan
Tanu ini telah melakukan perjalanan jauh ke selatan untuk
minta bantuan dari satu orang tosu yang bermata satu. Tosu
ini bukan lain adalah Seng Jin Siansu atau Iblis Tua dari
Laut Selatan (Lam hai Lomo) yang masih menjadi kakak
seperguruan dari guro Ulan Tanu seorang pertapa di Go bi
san.
Mendengar tewasnya Ulan Tanu di tangan Yap Bouw
dan mendengar keterangan pula dari orang orang Mongol
yang pandai mencari tahu rahasia musuh itu bahwa Yap
bouw adalah murid dari Kim Kong Taisu, Seng Jin Siansu
tersenyum menyeringai.
“Pantas saja Ulan Tanu kalah oleh Yap Bouw karena
ilmu tombak Sin eng cio hwat itu bersumber satu dengan
ilmu pedang dari Kun Lun pai. Si tua bangka Kim Kong
memang ahli pedang yang luar biasa sekali dan tentu Yap
Bouw mendapat petunjuk petunjuk dari gurunya itu
bagaimana harus menghadapi Siu eng cio hwat. Tua
bangka itu sebetulnya orang baik dan jarang mau
mencampuri urusan dunia maka aku sebenarnya segan
untuk mencari permusuhan dengan dia. Akan terapi, karena
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ulan Tanu adalah murid keponakanku, biarlah aku
membantu kalian menangkapnya. Akan tetapi, kalian harus
bersumpah lebih dulu kepadaku bahwa kalian takkan
membunuh Yap Bouw murid Kim Kong Taisu itu!”
Tentu saja Salinga yang merasa sakit hati dan menaruh
hati dendam kepada Yap Bouw yang sudah membunuh
ayahnya merasa berat untuk bersumpah tidak membunuh
Yap Bouw.
“Tanpa sumpah itu, aku tidak bisa membantu kalian
menangkap Yap Bouw: Menawannya dalam perang
menyiksanya takkan mengapa. Akan tetapi kalau tua
bangka itu mendengar bahwa aku membantu kalian
menangkap Yap Bouw untuk dibunuh, tentu akan berakibat
yang cakup memusingkan kepalaku. Bersumpahlah!”
Karena memang sudah tidak berdaya menghadapi Yap
Bouw yang benar benar tangguh terpaksa Salinga dan
kawan kawaanya bersumpah kalau Yap Bouw tertangkap,
mereka hanya hendak menyiksa dan menghinanya saja.
Lam hai Lomo Seng Jin Siansu tertawa sinis. “Ha, ha,
ha, apakah sukarnya menangkap jenderal muda.itu? Sama
mudahnya dengan melanggar sumpah. Ha, ha, ha, akan
tetapi ada aku di sini. Jenderal akan tertawan dan sumpah
akan tetap dipenuhi Ha, ha, ha !”
Salinga dan kawan kawannya maklum akan sindiran
kakek aneh ini, akan tetapi mereka tidak berani banyak
bicara. Hendak mereka buktikan lebih dulu apakah betul
betul Seng Jin Siansu akan dapat mengalahkan Jenderal
Yap Bouw yang kosen ini.
Pada keesokan harinya, benteng pertahanan Jenderal
Tap Bouw yang tentaranya baru saja mengalami kekalahan
hebat ini dikurung oleh barisan Mongol yang banyak sekali
jumlahnya. Yap Bouw ditantang perang oleh Salinga. Tentu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
saja jenderal yang perkasa ini tidak menjadi jerih. Ia
memerintahkan agar supaya barisannya, tetap memperkuat
penjagaan benteng dan jangan melayani musuh untuk
bertempur di luar benteng, kemudian sambil membawa
pedangnya ia keluar dari pintu benteng untuk memenuhi
tantangan Salinga. ia tahu bahwa ia akan dikeroyok, maka
iapun membawa lima orang pembantunya dengan pesanan
jangan turun tangan biarpun ia dikeroyok sebelum kelihatan
ia terdesak!
Akan tetapi ia kecele karena kali ini yang
menghadapinya hanya Salinga seorang.
“Orang she Yap, sekarang tiba saatnya kau harus
membayar hutangmu kepada ayahku!”
“Salinga, tidak ada hutang piutang dalam perang! Yang
lemah akan gugur, yang kuat akan menang. Tidak ada
hutang, tidak ada dendam, yang ada hanya menang atau
kalah!”
“Bangsat, enak saja kau bicara! Lihat pembalasan Alis
Merah!” Sambil berkata demikian Salinga lalu memainkan
tombaknya yang biarpun masih belum dapat menyamai
kelihaian ilmu tombak mendiang ayahnya, namun cukup
hebat gerakannya. Akan tetapi Yap Bouw hanya
memandangnya dengan senyum mengejek, lalu ia
menggerakkan pedangnya yang sekaligus membuat tombak
di tangan Salinga terpental dan hampir terlepas dari
pegangan! Salinga terkejut sekali dan cepat ia melompat
mundur uutuk bersiap dan kemudian ia berkelahi lebih hati
hati menghadapi musuh besar yang kepandaiannya lebih
tinggi ini.
Akan tetapi pada saat itu, Yap Bouw berseru keras dan
melompat ke belakang dengan terkejut sekali ketika ia
melihat sebatang tongkat melayang dan menyerangnya dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyerangnya dengan hebat sekali. Yang membuat ia
menjadi terkejut tidak saja kelihaian gerakan tongkat ini,
terutama sekali karena tongkat itu bergerak sendiri di udara,
tidak dipegang orang. Juga lima orang perwira yang
menonton di situ tidak dapat melihat Seng Jin Siansu yang
memegang tongkat itu, sehingga mereka berdiri bingung
dengan muka pucat. Tentu saja Salinga dan kawan
kawannya dapat melihat Seng Jin Siansu dan Salinga
dengan amat lega lalu melompat mundur, membiarkan
Seng Jin Siansu sendiri menghadapi Yap Bouw.
“Salinga, pengecut besar!” Yap Bouw berseru sambil
menangkis serangan tongkat aneh itu dengan pedangnya
yang membuat tangannya tergetar. “Ilmu siluman apakah
yang kau pergunakan?”
Akan tetapi Salinga hanya tertawa saja dan tongkat itu
makin hebat menyerang Yap Bouw. Lima orang perwira
pembantu Yap goanswe lalu menerjang maju, mencabut
senjata masing masing untuk menghadapi tongkat iblis itu.
Akan tetapi, sekali saja terbentur oleh tongkat itu, senjata
mereka semua terlempar dari pegangan dan beberapa belas
jurus kemudian, tongkat itu berhasil menotok pundak Yap
Bouw. Jenderal yang gagah ini mengeluh dan roboh tak
berdaya lagi Setelah ia roboh, terdengar suara ketawa
menyeramkan dan barulah kini matanya melihat seorang
kakek tua yang bermata sebelah, kakek inilah yang
memegang tongkat secara luar biasa hebatnya itu. Pada saat
itu, Yap Bouw masih belum kenal siapakah adanya kakek
mata satu yang lihai ini dan ia tidak sempat pula bertanya.
Terdengar sorak sorai hebat dan melihat ia roboh, tentara
Mongol lalu menyerbu bentengnya. Perang hebat terjadi
sehari semalam lamanya dan akhirnya benteng itu jatuh ke
tangan musuh. Sebagian besar tentara anak buahnya Yap
Bouw binasa.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Yap Bouw mendiri bagaimana? Kalau tidak ada Seng Jin
Siansu pasti ia dibunuh oleh Salinga dan kawan kawannya.
Salinga telah membawanya ke dalam kemahnya dan sambil
menangis menyebut ayahnya, ia menyiksa Yap Bouw,
disaksikan ribuan orang Mongol yang ikut pula menangisi
Ulan Tanu, Si Alis Merah yang mereka kagumi! Seng Jin
Siansu duduk diam saja, akan tetapi siap sedia untuk
menolong nyawa Yap Bouw , karena sesungguhnya kalau
sampai Yap Bouw tewas, ia gentar menghadapi kemurkaan
Kim Kong Taisu!
Sungguh amat mengerikan nasib penderitaan Yap
Bouw. Dalam cengkeraman nafsu membalas dendam
Salinga seperti gila dan kekejamannya melebihi binatang
buas atau iblis sendiri. Dengan pisaunya yang tajam, ia
mencacah muka Yap Bouw, sehingga boleh dibilang ia
menguliti muka jenderal itu. Bahkan lidahnyapun
dipotongnya. Akhirnya di bawah seruan seruan semua
kawan kawannya yang sudah keranjingan iblis, Salinga
mengayunkan pisaunya ke arah ulu hati Yap Bouw yang
sudah pingsan.
Akan tetapi tiba tiba terdengar suara nyaring dan pisau
itu terlepas dari tangan Salinga. Ternyata pada saat terakhir
itu, Seng Jin Siansu telah bertindak dan menolong nyawa
Yap Bouw.
“Ha, ha, ha, apa kataku kemarin?” kakek mata satu ini
tertawa seram. “Amat mudahnya melanggar sumpah!
Orang ini tidak boleh dibunuh!”
“Akan tetapi, supek couw (uwa kakek guru)! Dia adalah
pembunuh dari ayahku! Kami harus membalas dendam.
Hutang nyawa bayar nyawa!”
Kembali Salinga mencabut tombaknya dan hendak
ditancapkan ke dada Yap Bouw, akan tetapi dengan sekali
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengulurkan tangannya, Iblis Tua dari Laut Selatan ini
telah dapat merampas tombak ini.
“Salinga!” Suara Seng Jin Siansu terdengar marah. “Aku
Seng Jin Siansu bukanlah seorang yang biasa melanggar
janji! Dan juga bukan seorang yang membiarkan orang lain
melanggar janjinya terhadap aku! Aku sudah menangkap
Yap Bouw dan dia sudah menerima siksaan yang lebih dari
setengah mati! Akan tetapi kita sudah saling berjanji bahwa
dia takkan dibunuh! Sekarang aku akan membebaskannya!
Setelah berkata demikian, Seng Jin Siansu lalu
menyambar tubuh Yap Bouw yang berlumuran darah itu,
dikempit di bawah ketiak lengan kirinya. Akan tetapi,
serentak orang orang Mongol yang seribu lebih banyaknya
itu berseru keras,
“Berikan dia kepada kami! Anjing she Yap itu harus
dibunuh! Sakit hati Ang bi tin (Pendekar Alis Merah) harus
dibalas!” Di bawah pimpinan Salinga, orang orang itu
menghadang perjalanan Seng Jin Siansu dengan sikap
mengancam.
“Dia adalah seorang Han pula, tentu saja dia membela
Jenderal Yap Bouw! Keroyok dia, bunuh pendeta iblis ini!”
terdengar seruan dua orangMongol yang berdiri di depan.
Mendengar seruan ini, tiba tiba Seng Jin Siansu
membalikkan tubuhnya menghadapi dua orang itu.
Matanya yang tinggal sebelah itu seakan akan
mengeluarkan api, ditujukan kepada dua orang perwira
pembantu Salinga itu. Melihat cahaya pandangan mata
yang luar biasa ini, dua orang Mongol yang ternyata adalah
dua orang perwira Mongol itu menjadi terkejut dan tubuh
mereka menggigil.
“Kalian berdua hendak membunuhku?Ha, ha, ha, kalian
yang mengeluarkan ucapan bunuh, maka kalianlah yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
akan melakukan pembunuhan dan kalian pula yang akan
dibunuh! Ayoh maju ke sini!”
Perintah ini dikeluarkan dengan keras dan suaranya
demikian berpengaruh, sehingga semua orang
menundukkan muka sesaat. Adapun dua orang perwira
Mongol itu ketika mendengar perintah ini, di luar kemauan
sendiri, kedua kaki mereka melangkah maju dan
menghampiri kakek mata satu yang hebat itu.
Nampak bibir Seng Jin Siansu berkemak kemik dan mata
tunggalnya tetap ditujukan ke arah dua orang itu dengan
pandangan tajam.
“Ayoh lakukan pembunuhan atas diri kalian sendiri.
Cepat!”
Bukan main hebatnya bunyi perintah ini dan semua
orang merasa bulu tengkuk mereka berdiri ketika melihat
dua orang perwira Mongol itu tiba tiba mencabut golok
mereka sendiri dan sebelum ada orang yang dapat
mencegahnya, mereka menyabetkan golok itu ke arah leher
sendiri. Robohlah dua orang Mongol itu dengan leher
hampir putus dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Seng Jin Siaasu tertawa sebal, menambah geramnya
keadaan.
“Ha, ha, ha! Dua orang lancang ini telah mencari
kematian mereka sendiri. Mereka lancang sekali
mengatakan bahwa Seng Jin Siansu membela orang Han,
bahkan mereka hendak membunuhku! Dengar kalian
semua! Aku, Seng Jin Siansu tidak boleh disamakan dengan
kalian orang orang biasa, juga tidak sama dengan Yap
Bouw yang kubawa ini! Kalian semua boleh dipengaruhi
oleh perang boleh diperbudak oleh pemerintah kalian
masing masing, akan tetapi aku, Seng Jin Siansu tidak! Aku
adalah raja dari diriku. Kaisar Mongol atau Raja Han
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sendiri pun tidak lebih besar dari padaku dan sekali kali
tidak boleh memerintahku! Siapa bilang aku ikut ikut
mencampuri urusan parang di antara mereka? Aku tidak
membantu orang Mongol, tidak membantu orang Han,
akan tetapi siapa yang bersalah kepadaku, awas, akan
kujadikan setan tak berkepala seperti dua ekor anjing ini.
Nah aku sudah bicara !” Setelah berkata demikian diiringi
oleh suara ketawanya yang panjang dan menyeramkan,
bagaikan seorang iblis saja Seng Jin Siansu menggerakkan
tubuhnya dan lenyaplah ia dari hadapan ribuan orang
Mongol itu.
Salinga menarik napas panjang dan berkata, “Dia benar!
Pernah aku mendengar dari mendiang ayah bahwa Supak
couw memang seorang yang aneh, akan tetapi memiliki
kepandaian yang hebat sekali. Biarlah, biarpun kita tidak
bisa membunuh Yap Bouw, akan tetapi masih banyak
perwira perwira Han yang boleh kita bunuh sebagai
pengganti jenderal itu.”
Demikianlah, selelah bala tentara Mongol berhasil
menduduki Tiongkok, Salinga lalu membentuk Ang bi tin
atau Barisan Alis Merah itu, yang bertugas membasmi
semua perwira Han yang masih ada dan menyamar sebagai
rakyat biasa. Dengan usaha ini, Salinga hendak membalas
dendam ayahnya.
Adapun Yap Bouw dibawa pergi oleh Seng Jin Siansu
yang memberi obat padanya agar supaya Yap Bouw tidak
meninggal dunia karena luka lukanya, kemudian Iblis Tua
Laut Selatan ini lalu meninggalkan Yap Bouw di dalam
sebuah hutan. Yap Bouw maklum akan hal ini, akan tetapi
ia tahu pula bahwa yang membuat ia jatuh ke tangan orang
orang Mongol juga kakek mata satu itulah. Keadannnya
amat berat. Lidahnya sudah putus dan mukanya sudah tak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berkulit lagi, sehingga ia yang tadinya berwajah tampan dan
gagah, kini merupakan tengkorak hidup.
Jilid III
PENDERITAAN lahir bagi Yap Bouw tidak begitu
berat, karena sebagai orang gagah perkasa yang sering kali
menghadapi pertempuran hebat, apalagi sebagai seorang
jenderal perang yang melihat penderitaan seperti hal yang
biasa, cacad dan luka lukanya pun dapat dideritanya
dengan hati tenang. Akan tetapi, penderitaan yang lebih
hebat dan membuat nya seperti gila adalah penderitaan
bathin. Semenjak memimpin bala tentara untuk
menghadapi serbuan bala tentara Mongol, Yap Bouw
meninggalkan isterinya yang telah mengandung tua.
Kemudian, ketika ia masih berada di dalam benteng, jauh
di utara ia mendengar kabar bahwa isterinya telah
melahirkan sepasang anak kembar, laki laki dan wanita.
Alangkah girang hatinya mendengar ini. Akan tetapi,
serbuan serbuan musuh membuat ia pindah dari satu ke lain
tempat untuk menghadapi musuh musuh negara yang pada
waktu itu muncul berganti ganti. Bangsa Tartar dan paling
akhir Bangsa Mongol yang amat kuat. Tugasnya membuat
Jenderal Yap Bouw tak sempat pulang selama tiga tahun.
Sekarang tidak saja negaranya kalah dan tentaranya
hancur bahkan dia sendiri telah menjadi seorang yang
bermuka tengkorak. Bagaimana ia dapat pulang?
Bagaimana ia berani menghadapi isterinya dan anak
anaknya sebagai seorang jenderal yang tidak saja kalah
perang, bahkan telah menjadi seorang yang demikian
menjijikkan dan mengerikan? Kalau dia melihat mukanya
sendiri, bercermin di dalam air telaga, keluarkan keluhan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dari dadanya dan pipinya yang sudah tak karuan
macamnya itu basah oleh air mata. Tidak, ia tidak dapat
pulang. Ia tidak boleh menjumpai isteri dan anak anaknya.
Isterinya yang setia dan mencintanya mungkin takkan jijik
melihatnya, mungkin takkan berobah. Akar tetapi anak
anaknya? Ah, ia belum pernah melihat anak kembarnya,
hanya dari surat isterinya saja ia mendengar bahwa dua
orang anaknya itu elok dan sehat. Ah, kalau ia pulang dan
kedua anaknya melihat mukanya, bukankah mereka akan
lari ketakutan? Kemudian, kalau mereka sudah besar,
apakah mereka itu takkan malu sekali mempunyai seorang
ayah bermuka setan? Apakah mereka takkan menjadi hahan
olok olok semua orang?
Tidak, tidak! Lebih baik membiarkan mereka
menganggap bahwa ayah mereka telah mati. Lebih baik
membiarkan mereka menganggap ayah mereka telah tewas
dan gugur dalam peperangan. Gugur sebagai seorang
pahlawan bangsa. Kalau ia tidak pulang, orang orang akan
memandang anak kembar nya dengan menghormat, akan
menganggap mereka sebagai keturunan seorang pejuang
besar.
Pikiran inilah yang membuat Yap Bouw mengambil
keputusan untuk menjauhkan diri dari isteri dan anak
anaknya. Ia tidak mau menyusul isteri nya yang telah lama
mengungsi di sebuah dusun kecil di Propinsi Santung dekat
pantai laut timur, yakni dusun Kan leng di mana isterinya
tinggal bersama orang tua isteri nya itu. Tentu saja kalau
Yap Bouw mau menyusul ke sana, ia akan dapat pergi
dengan aman karena siapakah yang akan mengenalnya
seorang jenderal Yap Bouw yang ternama? Akan tetapi ia
tidak mau merusak kehidupan keluarganya, tidak mau
mendatangkan cemar dan malu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kemudian ia teringat kepada suhunya, Kim Kong Taisu
yang mengasingkan diri bertapa di puncak bukit Oei san.
Kesanalah Yap Bouw menuju, membawa tubuhnya yang
sudah bercacat. Siksaan yang hebat itu sudah membuat Yap
Bouw berobah apa lagi siksaan batin itu, rindunya kepada
keluarganya yang tak mau ia jumpai, membuat ia merasa isi
dadanya seakan akan pecah dan lemahlah semangatnya
Yap Bouw sekarang jauh bedanya dari Yap Bouw ketika
masih menjadi jenderal, ia telah menjadi seorang yang
kehilangan semangat dan tidak ingat lagi akan
permusuhannya dengan Ang bi tin. Ia tidak menaruh hati
dendam, bahkan tidak mau memperdulikan lagi urusan
dunia.
Kim Kong Taisu menerimanya dengan terharu sekali.
Kakek yang sakti ini tahu akan isi hati muridnya dan kakek
yang tahu pula akan keadaan dunia dan rahasia alam ini
hanya menarik napas panjang, memuji nama Thian Yang
Maha Agung dan Maha Kuasa, yang kuasa mengadakan
perubahan apada segala apa yang nampak disunia ini. Ia
menghibur murindnya itu dengan member pelajaran ilmu
bathin ilmu silat yang lebih tinggi.
Setahun kemudian, pada suatu hari Kim Kong Taisu
menyuruh muridnya ini pergi ke kota Tong seng kwan
untuk menolong keluarga Song bekas perwira itu dari
amukan barisan Ang bi tin.
Kim Kong Taisu memang seorang pendeta yang berilmu
tinggi. Tidak saja ilmu silatnya mencapai tingkat yang sukar
diukur tingginya, bahkan ilmu bathinnya sudah sempurna,
sehingga ia boleh disebut setengah dewa. Di dalam
kewaspadaannya kakek ini dapat melihat hal hal yang telah
dan akan terjadi tanpa pindah dari tempat dia duduk
bersamadhi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Puluhan tahun yang lalu, Kim Kong Taisu adalah
seorang tokoh besar dari Kun lun pai, akan tetapi semenjak
fihak Kun lun pai bentrok dengan cabang persilatan lain,
sehingga terjadi serang menyerang dan berlumba atau
bersaingan dalam memainkan ilmu silat. Kim Kong Taisu
mencuci tangan dan pergi mengasingkan diri di puncak
Gunung Oei san yang indah itu.
Demikianlah riwayat singkat dari Yap Bouw yang
sekarang telah menjadi seorang bermuka tengkorak, gagu
dan berwatak aneh. Ia amat sayang kepada Bun Sam yang
kini telah diambil murid oleh suhunya. Ia sayang seperti
kepada anak sendiri, karena Bun Sam yang tampan dan
berwatak halus itu merupakan pengganti anaknya bagi
bekas jenderal ini. Dengan amat tekun dan penuh kasih
sayang. Yap Bouw memimpin sute (adik seperguruan) yang
seperti anaknya ini dalam hal dasar dasar ilmu silat.
Memang Kim Kong Taisu telah memberi kepercayaan
penuh kepadanya untuk memberi bimbingan dasar pada
Bun Sam. Selain ilmu silat juga Yap Bouw memberi
pelajaran ilmu surat kepada Bun Sam. Biarpun Yap Bouw
gagu, akan tetapi mengatar menulis huruf Tiongkok
memang lebih sederhana. Ia menulis dan menunjuk benda
apa yang ditulisnya dan tanpa mengeluarkan suara, Bun
Sam akan dapat membaca huruf itu selelah melihat benda
yang ditunjuk oleh Yap Bouw.
Memang tidak sukar bagi Yap Bouw untuk mengajar
ilmu surat, karena Bun Sam sendiripun bukanlah seorang
anak buta huruf sama sekali, ia pernah belajar menulis dari
ayahnya dan kini Yap Bouw hanya memberi tambahan
belaka. Sedikit demi sedikit, Yap Bouw bahkan memberi
pelajaran ilmu perang kepada Bun Sam yang amat rajin
belajar dan rajin pula bekerja itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Beberapa hari sekali Kim Kong Taisu memanggil mereka
berdua yang segera datang menghadap untuk
mendengarkan wejangan wejangan yang amat bijaksana.
Juga adakalanya Kim Kong Taisu menyaksikan Bun Sam
berlatih silat. Melihat ketekunan dan bakat besar yang ada
pada diri anak ini. Kim Kong Taisu menarik napas panjang
dan berkata,
“Bun Sam, bakatmu lebih besar daripada aku sendiri dan
ketekunanmu bahan masih melebihi suhengmu. Dengan
bakat dan ketekunan seperti yang kau miliki, apakah
sukarnya mengejar segala macam ilmu? Akan tetapi, di
samping semua ini, kau masih harus memelihara semacam
sifat yang amat penting, Bun Sam, yakni sifat waspada dan
sabar. Hanya sifat inilah yang akan menjadi kemudi bagi
semua kepandaian seseorang dan menjauhkan nya dari
jurang yang ditimbulkan oleh kesombongannya.”
Bun Sam mendengarkan nasihat nasihat suhu nya
dengan penuh perhatian. Ketika ia mendapat kesempatan,
dengan hormat bertanyalah ia akan sesuatu yang pernah
didengarnya ketika untuk pertama kalinya ia mendengar
ucapan suhunya, yakni ketika Kui To dibawa pergi oleh
kakek mata satu.
“Suhu, maaf apabila teecu berani mengajukan
pertanyaan ini, suhu Pernah teecu mendengar kata kata
suhu tentang sebab dan akibat, nasihat suhu bahwa teecu
harus dapat melepaskan diri dari tali lemah yang disebut
sebab dan akibat. Apakah sesungguhnya arti kata kata itu,
suhu?”
Kim Kong Taisu tersenyum. Diam diam ia merasa
girang sekali oleh karena pertanyaan yang diajukan oleh
muridnya ini menjadi bukti nyata bahwa anak ini memang
benar benar amat memperhatikan segala nasihatnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Betulkah aku pernah bicara sebab dan akibat? Aku
malah sudah lupa lagi, muridku. Sebetulnya hal ini masih
terlalu sukar, atau lebih tepat lagi, kau masih terlalu kecil
untuk mendengar tentang hal ini. Akan tetapi biarlah, agar
kau tidak menjadi penasaran. Aku akan memberi contoh
kepadamu.”
Setelah berkata demikian, kakek ini lalu mengajak Bun
Sam berjalan menuju ke pinggir sebuah jurang yang amat
curam.Matahari yang telah naik tinggi menyinari jurang itu
sehingga nampak nyata oleh Bun Sam betapa batu batu
karang yang aneh aneh bentuknya dan ribuan banyaknya
berada di sepanjang jurang yang terjal itu. Berdiri di pinggir
jurang yang amat terjal membuat orang membayangkan
betapa akan ngerinya apabila orang sampai tergelincir ke
dalamnya! Bun Sam diam diam bergidik.
“Nah, kau lihatlah baik baik !” Kim Kong Taisu
membungkuk untuk mengambil sebuah batu sebesar kepala
manusia kemudian setelah memandang tajam ke arah
jurang, ia lalu menyambitkan batunya itu yang tepat
mengenai sebuah batu yang empat kali besarnya dan yang
berada di mulut jurang. Batu itu terbentur oleh batu yang
disambitkan oleh Kim Kong Taisu dan ternyata batu itu
bergerak dan terdorong oleh sambitan yang keras itu
sehingga menggelinding dari tempatnya. Tentu saja karena
tempat itu menurun amat terjalnya, sebentar saja batu itu
menggelinding turun dan membentur lain batu di bawahnya
yang kembali terdorong dan menggelinding ke bawah.
Demikianlah, tak lama kemudian, terdengar suara gaduh
sekali di dalam jurang itu karena batu batu yang
menggelinding dari atas itu menimpa lain batu dan
membuat batu batu yang di bawahnya jatuh menggelinding
pula ke bawah. Suara hiruk pikuk itu terdengar sambung
menyambung seperti suara guntur di waktu hujan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kemudian setelah batu batu itu menimpa dasar jurang,
suara dentaman dentaman itu makin keras dan diakhiri
dengan debu yang mengebut ke atas.
Setelah keadaan menjadi sunyi kembali, Kim Kong
Taisu berkata “Nah, kau lihat tadi? Betapa hebatnya dan
banyaknya batu batu besar jatuh ke dalam jurang?”
“Hebat sekali, suhu. Seperti gunung meletus aja?”
“Dan tahukah kau hubungannya dengan sebab dan
akibat?”
Bun Sam memandang kepada suhunya dan betapapun
juga memutar otaknya, belum juga ia mengerti apakah
artinya perbuatan suhunya tadi. Ia menggeleng geleng
kepala nya dan berkata dengan sejujurnya.
“Teecu belum mengerti, suhu. Mohon penjelasan dari
suhu.”
“Kau tentu mengerti bahwa peristiwa hebat di dasar
jurang itu terjadi karena runtuhnya banyak sekali batu batu
besar kecil. Kenapa batu batu ini runtuh? Karena saling
mendorong. Kalau saja batu batu itu dan jurang bisa
bercakap cakap, tentu akan terdengar tuduh menuduh yang
berdasarkan sebab dan akibat. Jurang tentu akan bertanya
kepada batu yang terbawa mengapa ia terjatuh. Dan
jawabannya tentu karena ia terdorong oleh batu di atasnya
dan demikian selanjutnya. Peristiwa yang terjadi umumnya
disebut akibat dan orang orang selalu mencari sebab dan
pada akibat itu. Padahal seperti juga batu terbawah
menyalahkan batu di atasnya yang mendorongnya, sebab
yang menimbulkan akibat itu sendiripun tak lain hanya
merupakan akibat dari pada sebab lain lagi. Oleh karena
manusia menjadi hamba dari pada sebab dan akibat yang
ruwet, maka terjadilah kerusuhan di dunia ini. Terjadi
dendam, balas membalas tiada habisnya. Padahal kalau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
diusut benar benar, seperti halnya peristiwa di dasar jurang
tadi, siapakah yang salah? Apakah batu batu terbawah,
apakah batu teratas, ataukah batu yang pertama kali
kulemparkan ke bawah?”
“Batu batu itu tidak bersalah, suhu, yang salah adalah
suhu!” kata Bun Sam.
Kim Kong Taisu tertawa gembira. “Kau juga masih
terikat oleh sebab akibat, muridku. Ingat, bukan sebabnya
karena aku melemparkan batu itupun hanya menjadi akibat
dari keinginanku memberi contoh dan penerangan
kepadamu.”
“Kalau begitu, teceu yang menjadi sebabnya dan teecu
yang bersalah.”
“Juga keliru, Bun Sam, karena kaupun hanya menjadi
akibat daripada keadaanmu menjadi muridku. Kalau kau
tidak menjadi muridku, tentu kau takkan bertanya tentang
pengertian ini dan takkan terjadi ribut ribut di dasar
jurang.”
Bun Sam melengong. “Habis, sampai di mana akhirnya
kalau dicari terus sebab sebab pokok, suhu ?”
Gurunya menggelengkan kepala. “Itulah! Oleh karena
itu, aku ingin melihat kau tidak diperhamba oleh sifat ini.
Janganlah segala perbuatanmu didasarkan atas kekeliruan
pendapat atau jelasnya jangan kau melakukan sesuatu
terdorong oleh pandangan yang salah, yang timbul dari
nafsu dan perasaan. Jangan mencari sebab sebab dari
sesuatu peristiwa, akan tetapi jadilah seorang yang menjaga
agar jangan terjadi peristiwa peristiwa yang merugikan
dunia!”
Bun Sam baru berusia enam tahun lebih. Mana bisa ia
menangkap pelajaran ini dengan baik? Namun, samar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
samar ia dapat juga mengerti dan tiba tiba ia memandang
pada suhunya dengan tajam dan bertanya, “Kalau begini,
suhu. Apakah tecu kelak tidak boleh membalas dendam
kepada barisan Ang Bi Tin yang membunuh ayah? Apakah
teecu tidak boleh menganggap mereka itu sebagai sebab
yang mendatangkan kecelakaan kepada teecu sekeluarga?”
Mata kakek itu bersinar, ia girang bahwa muridnya yang
masih kecil ini mempunyai kecerdikan luar biasa.
“Memang demikianlah maksudku, Bun Sam. Seperti
halnya batu batu tadi, mereka itu terdorong oleh sesuatu,
maka mereka melakukan pembunuhan terhadap ayah
bundamu. Sebagai muridku, kelak kau hanya boleh
melakukan sesuatu demi kebenaran sama sekali tidak boleh
kau melakukan perbuatan berdasarkan perasaan sakit hati
atau marah!”
Ketika Bun Sam masih berdiri bingung karena
sesungguhnya kata kata suhunya ini merupakan pukulan
hebat bagi perasaannya yang selalu mengandung dendam
terhadap Ang bi tin. Tiba tiba terdengar suara keras di
sebelah kanan. Bun Sam cepat menengok dan ia
menyaksikan sesuatu yang benar benar mendebarkan
hatinya. Di tempat terbuka terjadi pertempuran mati matian
dan hebat sekali antara Siauw liong ular peliharaan
suhunya, melawar seekor burung rajawali besar dan gagah
sekali.
Burung itu menyambar nyambar dari atas dengan
sepasang cakar dan patuknya bergerak ke arah ular itu.
Akan tetapi Siauw liong ternyata bukan seekor ular biasa
yang mudah menyerah terhadap serangan burung
rajawalitu. Dengan cepat nya Siauw liong lalu
melingkarkan tubuhnya dan kini hanya kepala dan ekornya
saja yang berdiri di atas lingkaran tubuhnya, merupakan
dua penjaga yang amat kuat ! Ular ini siap sedia dan tiap
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kali rajawali itu datang menyambar, selain mengelak ia pun
lalu menyabetkan ekornya ke arah burung itu dan mulutnya
yang terbuka lebar dengan gigi runcing membalas dengan
serangan hebat! Tentu saja pemandangan ini amat menarik
hati Bun Sam. Ketika Siauw liong berhasil menyabetkan
ekornya untuk menangkis terkaman rajawali, beberapa helai
balu burung itu terlepas dan melayang ke bawah.
“Bagus, Siauw liong, bagus sekali! Pukul jatuh padanya!”
Bun Sam berteriak girang sambil bertepuk tangan.
Burung rajawali yang sedang berkelahi dengan Siauw
liong dan terkena sabetan ekor ular besar itu, ketika
mendengar sorakan Bun Sam, agaknya menjadi marah
sekali kepada anak ini! Seakan akan mengerti ucapan Bun
Sam yang menjadi lawannya, ia menjadi marah kepada
anak ini dan cepat ia menyambar ke arah Bun San sambil
mengeluarkan pekik nyaring.
Biarpun serangan itu cukup cepat namun mata Bun Sam
yang sudah terlatih baik itu dapat melihatnya dengan baik
dan dengan tenang ia dapat melompat untuk
menghindarkan diri dari serangan ini. Akan tetapi tetap saja
ia menjadi pucat bukan karena serangan itu, akan tetap
karena melihat betapa burung ini benar benar hebat dan
menyeramkan. Setelah dekat barulah ia melihat betapa
burung ini besar sekali dan matanya seperti emas berkilauan
dan pekiknya nyaring memekakkan telinga.
Melihat serangannya dapat dielakkan, burung itu makin
marah dan ia agaknya telah lupa kepada ular yang tadi
diserangnya. Kemarahannya telah pindah kepada Bun Sam
yang berdiri sambil tersenyum mentertawakannya. Kembali
ia menyambar anak itu, kini dengan cakar dan sayap
memukul, akan tetapi Bun Sam yang gesit kembali
melompat ke kiri dan burung itu menerkam tempat kosong.
Akan tetapi ternyata burung ini luar biasa sekali karena
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
biarpun menubruk tempat kosong, ia dapat membalikkan
tubuh di udara demikian cepatnya, sehingga sebelum Bun
Sam dapat bersiap siap burung itu kembali telah
menubruknya dari samping.
Kim Kong Taisu semenjak tadi hanya menonton saja
sambil mengelus elus jenggotnya yang panjang. Bahkan
sekarangpun ketika Bun Sam terancam bahaya serangan
yang ketiga kalinya ini, kakek itupun masih tenang tenang
saja. Akan tetapi pada saat itu, bayangan hitam dari Yap
Bouw menyambar dan burung itu terpental jauh ketika
tangan Yap Bouw yang kuat mendorongnya ke belakang
dalam usahanya menolong Bun Sam.
Burung itu mengeluarkan pekik lebih nyaring dari pada
tadi dan kini ia melayang layang di atas kepala Yap Bouw,
kembali berganti lawan.
“Yap Bouw, jangan bunuh dia! Tangkap hidup hidup!”
kata Kim Koog Taisu dengan wajah berseri gembira.
Burung itu setelah melayang layang beberapa kali
agaknya lebih berhati hati menghadapi si baju hitam yang
ternyata sanggup mendorongnya sedemikian kerasnya.
Kemudian ia memekik keras dan tubuhnya menyambar ke
bawah bagaikan batu besar jatuh dari atas, menuju ke arah
kepala Yap Bouw. Si muka tengkorak ini cepat mengejek,
tidak seperti Bun Sam tadi dengan jalan melompat jauh,
melainkan hanya miringkan tubuhnya, sehingga sayap dan
ekor burung itu hanya lewat beberapa dim saja dari
tubuhnya. Sambil miringkan tubuh, Yap Bouw mengulur
tangan kirinya, merangkap kedua kaki burung itu. Akan
tetapi tak disangkanya bahwa burung itu demilikan
cerdiknya. Ketiki melihat lawan nya menyambar kaki,
burung itu menarik kakinya, menyembunyikan di dalam
bulu di bawah dada, sehingga Yap Bouw menangkap angin.
Burung itu terbang lagi melayang layang di atas kepala Yap
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bouw sampai beberapa kali sambil mengeluarkan pekik
pendek pendek yang bunyinya seperti suara ketawa orang
yang tua mengejek.
Yap Bouw yang tidak bisa bicara itu nampak nya gemas
juga. Ia mengepalkan tangan kanannya dan diacung
acungkan ke atas, ke arah burung itu dalam sikap
menantang. Tentu saja bekas jenderal ini marah dan
mendongkol sekali. Dia bekas jenderal yap Bouw yang
pernah menjadi seorang panglima gagah perkasa dan telah
merobohkan entah berapa banyak panglima besar musuh,
seorang yang terkenal ahli siasat perang dan memiliki ilnu
silat tinggi, yang pernah menjatuhkan Ulan Tanu dari
Mongol yang tersohor, sekarang tidak berdaya menghadapi
seekor burung.
Kembali burung rajawali bermata emas itu menyambar
turun kini dengan kedua cakar terpentang di kanan kiri agak
berjauhan dan selain itu juga sepasang sayapnya menyabet
nyabet dan patuknya yang panjang besar dan kuat itu
menyerang seperti sebatang tombak. Akan tetapi Yap Bouw
tidak menjadi gugup. Kalau saja burung itu tidak memiliki
kelebihan daripadanya, yakni sepasang sayap yang
membuat binatang itu dapat terbang, dalam segerakan saja
Yap Bouw sanggup menangkap atau setidaknya
mengalahkannya. Yap Bouw menghadapi serangan yang
hebat ini dengan menyuruk ke depan dan mengibaskan
kedua lengannya melindungi kepala, sehingga ia berbasil
menerobos melalui bawah tubuh burung itu dan berhasil
pula menangkap kedua kaki yang mencengkeram.
Kemudian secepat kilat ia membalikkan tubuhnya dan
sekali menggerakkan tangan, ia dapat menangkap ekor
burung dengan tangan kanan dan leher burung itu dengan
tangan kiri.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ha, sekarang tertangkaplah kau!” Bun Sam yang
semenjak tadi menonton pertempuran itu dengan mulut
ternganga saking kagumnya, kini bersorak kegirangan.
“Suhenng, jangan lepaskan ayam terbang itu!” Sengaja Bun
Sam menyebut burung itu ayam terbang untuk
mengejeknya.
Akan tetapi benar benar di luar dugaan Yap Bouw
bahwa burung itu masih dapat melepaskan diri. Ketika
merasa lehernya, terpegang oleh tangan yang amat kuat,
kedua cakarnya lalu mencengkeram ke depan. Untuk
melindungi kulit lengannya dari cakaran kuku yang lebih
runcing daripada pedang itu, terpaksa Yap Bouw
melepaskan leher dan berganti memegang sebelah kaki.
Akan tetapi kembali patuk yang kini lehernya telah bebas
itu menyerang bukan ke arah tangan lawan, melainkan ke
arah mata Yap Bouw. Bukan main hebatnya serangan itu.
Kalau bukan Yap Bouw yang diserang, mungkin orang
akan menjadi buta atau sedikitnya rusak mukanya. Yap
Bouw berlaku waspada. Ia melepaskan pegangannya pada
kaki burung, menangkis ___ sambil membetot ekor burung
sekerasnya, sehingga serangan burung itu terbetot ke
belakang dan tiga helai bulu pada ekornya yang panjang
dan ___ itu terlepas trcabut oleh Yap Bouw yang
mempergunakan tenaganya.
Burung itu memekik keras seperti merasa kesakitan lalu
meronta sekuat tenaga, sehingga tak tertahan lagi oleh Yap
Bouw, kemudian terbang ke atas sambil melepas kotoran
dari bawah ekornya. “Serangan” yang curang ini benar
benar tak disangka oleh Yap Bouw, sehingga biarpun ia
melompat pergi, tetap saja beberapa bagian dari kotoran
yang cair menghitam itu masih mengenai lengan nya,
menimbulkan bau yang tidak sedap.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mau tak mau Bun Sam tertawa geli dan baru mendekap
mulutnya ketika Yap Bouw memandang nya dengan mata
mendelik. Kim Kong Taisu iuga tersenyum, lalu berkata,
“Benar benar seekor Kim gan tiauw (Rajawali Bermata
Emas) yang cerdik dan kuat.” Selelah berkata demikian
kakek ini mengulur tangannya dan tahu tahu kain pengikat
kepala Bun Sam telah di renggutnya terlepas. Kakek ini lalu
memutar mutar kain pengikat kepala itu dan tiba tiba
dilontarkannya kain yang sudah berbentuk tali itu ke atas,
ke arah Kim gan tiauw yang masih terbang berputaran
sambi1 matanya memandang ke arah tiga orang manusia
yang menggangunya.
Tali kain itu melayang cepat sekali bagaikan seekor ular
terbang dan dengan tepat menyambar ke arah paruh Kim
gan tiauw. Burung itu mungkin mengira bahwa yang
menyerangnya ini tentulah seekor ular, maka cepat ia
mematuknya. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia
mematuk tengah tengah tali seperti ular itu, patuknya
merasai tubuh yang lunak dan kepala serta ekor dari “ular”
ini terus membelit kedua sayapnya. Burung ini menggerak
gerakkan sayap dan kedua kakinya, akan tetapi makin keras
ia bergerak makin ruwetlah tali itu melibat leher dan sayap.
Sambil memekik mekik ketakutan, bagaikan sebuah batu
besar dilepaskan dari atas, burung itu jatuh ke bawah.
“Yap Bouw sambut dia! Kalau menimpa karang ia akan
mati!” kata Kim Kong Taisu.
Si muka tengkorak cepat melompat dan dengan tepat
sekali ia dapat menyambar kaki burung itu sebelum tubuh
burung itu hancur menimpa batu karang. Tanpa menanti
perintah lagi, Yap bouw lalu melepaskan tali pengikat
kepalanya yang panjang untuk diikatkan kepada kedua kaki
binatang itu dan sambil memegangi lehernya agar patuk
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
nya tidak menyerangnya, Ia memanggul binatang yang
besar itu menghampiri gurunya.
Kim Kong Taisu memandang ke arah burung itu dan
meneliti kepala dan sayapnya.
“Benar benar Kim gan tiauw yang datang dari utara.
Bagaimana ia bisa sampai di sini? burung ini adalah raja
burung di daerah utara dan dalam hal kecerdikan serta
kekuatan, mungkin hanya Pek bin eng (Garude Muka
Putih) saja yang dapat mengimbanginya. Berbeda dengan
garuda, burung rajawali ini mudah dijinakkan.” Setelah
berkata demikian, Kim Kong Taisu lalu menotok pangkal
leher dan pangkal kedua sayap burung itu.
“Sekarang boleh dilepaskan ikatannya,” kata nya
kemudian. Yap Bouw lalu melepaskan ikatan pada burung
itu, burung itu berdiri di atas kedua kakinya dan Bun Sam
menjadi makin kagum saja karena tinggi burung itu tidak
kalah olehnya. Dengan amat gagah burung itu berdiri
dengan dada di angkat kedepan dan kepala tegak. Akan
tetapi ketika ia hendak menggerakkan leher dan sayap
untuk terbang ia kecele, karena sayapnya telah menjadi
lumpuh oleh totokan tadi. Juga ketika ia hendak menverang
dengan petuknya, lehernya terasa sakit sekali.Maka tahulah
dia bahwa kakek di depannya ini bukan tandingannya. Ia
diam saja dan menurut saja ketika Yap Bouw mengajaknya
pergi dari situ. Bahkan ketika Siauw liong merayap
menghampri nya dan dengan hidungnya mencium cium
kakinya burung ini hanya melirik dengan gelisah saja. Bun
Sam mau tidak mau tertawa juga ketika melihat sikap
Siauw liong, ular jinak ini yang seperti seekor anjing saja.
Berkat kesaktian Kim Kong Taisu, Kim gan tiauw ini
dapat dijinakkan dan mulai hari itu Bun Sam mempunyai
seorang sahabat.baru lagi. Oleh Kim Kong Taisu, burung
rajawali itu diberi sama Sin tiauw (Rajawali Sakti).
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Datangnya burung ini merupakan keuntungan besar bagi
Bun Sam karena pertempuran antara burung dan ular itu
memberikan inspirasi kepada kakek ini untuk menciptakan
sebuah ilmu silat yang diambil dari gerakan ular dan
rajawali itu. Setelah burung itu menjadi jinak benar,
beberapa kali Kim Kong Taisu menyuruh kedua binatang
itu bertempur dan dengan penuh perhatian ia menonton
pertempuran ini untuk dipetik gerakan gerakan yang baik
untuk memperlengkapi ilmu silat yang diciptakannya.
Beberapa bulan kemudian, terciptalah dua macam ilmu
silat, keduanya ilmu silat tangan kosong yang disebut Ilmu
Silat Sin tiauw ciang hwat dan Siauw liong kun hwat (Ilmu
Silat Rajawali Sakti dan Ilmu Silat Naga Kecil). Ilmu silat
ini sama kuat, sungguhpun masing masing mempunyai
keistimewaan sendiri dan Bun Sam menerimma latihan
ilmu silat dua macam ini sebagai pemilik tunggal. Yap
Bouw sendiri tidak mempelajari ikmu silat ini.
Karena Setiap hari Bun Sam bermain main dengan Sin
tiauw dan Siauw liong dan ada kalanya secara main main
“bertempur” melawan kedua binatang yang telah jinak
seperti kucing atau burung peliharaan ini, maka diam diam
ia dapat menyempurnakan gerakan ilmu silatnya meniru
gerakan kedua kawannya ini. Bahkan ia menemukan
gerakan gerakan kedua binatang ini yang benar benar lihai,
gerakan gerakan yang terlewat oleh pandang mata kim
Kong Taisu yang tidak begitu dekat perhubungannya
dengan Siauw liong dan Sin tiauw. Oleh karena itu, tanpa
disadarinya ilmu silat Sin tiauw ciang hwat dan Siauw liong
kun hwat yang dimiliki oleh Bun Sam menjadi lebih masak
dan sempurna.
Kita tinggalkan dulu Bun Sam yang belajar ilmu
kepandaian dengan amat tekun dan rajin di puncak Gunung
Oei san di bawah gemblengan suhunya, Kim Kong Taisu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dengan bantuan suheng nya, Yap Bouw bekas jenderal yang
ternama itu.
Sian Hwa, puteri tunggal dari Can kauwsu (guru silat
Can) atau Can Goan, semenjak berusia tiga tahun telah
ditinggal mati oleh ibunya. Dan semenjak itu, sampai
berusia empat tahun ia hidup berdua saja dengan ayahnya.
Can Goan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang
dan semenjak anak ini dapat bicara, ia telah menceritakan
segala macam dongeng tentang kegagahan pada Sian Hwa.
Can Goan sebagai seorang ahi silat yang gagah dan tabah
sekali, tanpa disadarinya telah menjejali ketabahan dan
keberanian yang luar biasa dalam diri puterinya. Bahkan ia
sering kali menceritakan tentang pendekar pendekar wanita
yang pantang menangis, sehingga Sian Hwa setelah berusia
empat tahun merasa malu untuk menangis. Memang anak
ini kadang kadang menangis, akan tetapi tangisnya tidak
bersuara. Hanya air matanya saja yang membasahi pipi
akan tetapi ia menekan isak dan sedu sedan. Ayahnya
sendiri sering kali merasa heran melihat kekerasan hati
anaknya yang masih kecil itu.
Demikian pula, ketika ditangkap oleh Bucuci setelah
ayahnya dibunuh dan rumahnya dibakar, Sian Hwa sama
sekali tidak menangis. Memang betul air matanya mengalir
saking menahan sakit ketika ia dibawa keluar dari
rumahnya dengar rambut di jambak oleh Bucuci, seperti
seekor kelinci. Akan tetapi tak pernah ia berteriak atau
mengeluh. Sungguh seorang anak yang luar biasa dan
jarang dicari duanya.
Ketika Bucuci memondongnya dan tidak jadi
melemparnya ke dalam api, bahkan lalu membawanya lari,
Sian Hwa tidak menjadi takut. Baru ia merasa ngeri ketika
melihat betapa cepat larinya orang yang pakaiannya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dipasangi kerincingan ini. Memang luar biasa sekali
cepatnya, seakan akan kedua kaki Bucuci tidak menginjak
tanah.
“Ha. ha, ha, kau patut menjadi anakku, kau tabah dan
berani sekali,” berkali kali Bucuci tertawa seorang diri
sambil mempercepat larinya.
“Aku tidak mau menjadi anakmu. Aku anak ayah, aku
ingin pulang kepada ayah!” tiba tiba Sian Hwa menjawab
kata kata Bucuci dengan suara nyaring.
Bucuci tertawa lagi. “Ayahmu? Ha, ha, ha! Akulah
ayahmu, kau harus menjadi puteri seorang yang gagah
perkasa, harus mempunyai seorang ibu yang cantik jelita
seperti Kui Eng.”
“Ayahku seorang gagah perkasa,” kata Sian Hwa lagi.
Mendengar ini, Bucuci menunda larinya. Ia memandang
kepada wajah anak itu yang menentang matanya dengen
berani.
“Anak tikus! Ayahmu itu orang apa Menghadapi Ngo
jiauw eng saja sudah mampus. Kau mau lihat orang gagah?
Inilah dia, aku Bucuci ayah mu. Lihat, apakah orang she
Can itu sanggup menandingi tenaga dan kepandaianku?” ia
menurunkan Sian Hwa di pinggir jalan, kemudian bagaikan
seorang mabuk, Bucuci tertawa tawa dua menghampiri
sebatang pohon yang besarnya melebihi tubuhnya sendiri.
Dengan cepat ia menggerakkan kedua tangannya sambil
berseru keras sekali dan… batang pohon itu patah pada
tengah tengahnya, lalu tumbang bagaikan ditebang saja.
“Ha, ha, ha, dapatkah dia menyamai tenagaku?
Dapatkah dia menandingi kecepatanku ?” Sambil berkata
demikian, tubuhnya yang pendek tiba tiba lenyap dari
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pandangan mata Sian Hwa yang sejak tadi memandang
dengan kagum.
“Ha, aku di sini, anakku!” Ketika Sian Hwa
menengadah, ternyata orang itu telah berada di puncak
pohon yang tinggi, kemudian bagaikan seekor burung saja,
Bucuci melayang turun, menyambar tubuh Sian Hwa yang
dibawanya melompat naik ke atas pohon yang tadi pula.
Sian Hwa merasa seakan akan jantungnya hendak copot,
mukanya pucat akan tetapi biarpun ia ketakutan sekali
melihat tanah yang demikian dalamnya di bawah kakinya.
ia tidak mau berteriak.
“Katakan sekarang, apakah aku tidak lebih gagah
perkasa dari pada ayahmu yang telah mampus itu?”
Sian Hwa baru berusia empat tahun. Tentu saja belum
begitu pandai menangkap pembicaraan orang. Akan tetapi
harus diakui bahwa kepandaian orang ini benar benar
hebat, melebihi ayahnya. Dia semenjak kecil telah dididik
kejujuran oleh ayahnya, maka katanya terus terang,
“Memang kau lebih gagah perkasa.”
Bukan main girangnya hati Bucuci. Sungguh
mengherankan, ribuan orang dewasa setiap hari memuji
muji kepandaiannya akan tetapi semua pujian itu
diterimanya dengan perasaan jemu. Akan tetapi sekarang,
pujian yang keluar dari mulut anak kecil ini, membuat ia
berdebar girang dan bangga, ia membawa Sian Hwa
melompat turun lagi sehingga anak itu terpaksa
memicingkan kedua matanya.
“Sekarang akulah ayahmu karena aku lebih gagah,” kata
Bucuci pula. “Dan kau akan mempunyai ibu yang bijaksana
dan cantik seperti bidadari. Dan kau akan menjadi puteri
Bucuci yang cantik seperti ibunya dan gagah seperti
ayahnya.” Sambil berlari lari cepat, Bucuci berkata kata
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
terus didengar tanpa dijawab oleh Sian Hwa yang hanya
mengerti setengah setengah.
Bucuci membawa lari Sian Hwa sampai setengah malam
lebih dan setelah fajar menyingsing barulah ia tiba di tempat
tinggalnya, yakni di sebuah kota yang berada di sebelah
barat kota raja Sian Hwa telah tidur nyenyak dalam
gendongannya karena lelah.
Rumah Bucuci adalah sebuah rumah besar dan kuno,
bekas rumah seorang panglima Han yang telah gugur dan
semua penghuninya telah dibasmi habis. Baru saja sampai
di pekarangan depan, Bucuci telah berseru girang dengan
suara yang amat keras dan nyaring.
“Kui Eng,... manis….! Keluarlah dan lihat apa yang
kubawa untukmu….!”
Teriakannya ini amat keras, sehingga Sian Hwa yang
tidur menjadi kaget dan terbangun. Akan tetapi, lebih cepat
lagi adalah gerakan Bucuci karena baru saja gema suaranya
lenyap, ia telah berada di ruang depan. Memang Kui Eng,
isterinya yang baru itu mendengar suaranya ini, akan tetapi
sebelum ia keluar, Bucuci telah masuk ke dalam kamarnya.
Hal ini tidak mengherankan Kui Eng, karena ia tahu bahwa
suaminya ini memang memiliki kepandaian yang luar biasa
tingginya.
Kui Eng bukanlah seorang wanita yang keras hati dan
yang berani berlaku nekat.Memang ia amat berduka karena
suami dan keluarganya dibunuh dan ia dipaksa menjadi
isteri Bucuci, akan tetapi ia tidak berani membunuh diri.
Dengan hati hancur ia menyerahkan diri kepada nasib dan
berusaha sedapat mungkin untuk menjadi isteri yang baik
dan untuk mencari kebahagiaan baru dalam pernikahan
paksaan ini. Ia akui bahwa terhadap dia, Bucuci amat
menyayang, penuh perhatian dan cinta kasih, sehingga
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
boleh dibilang suami baru ini akan suka minum arak dari
sepatunya. Akan tetapi, biarpun Kui Eng hidup mewah dan
terkasih, ia selalu tak dapat melpakan anaknya yang
terbunuh pula dalam amukan barisan Ang bi tin. Biarpun
bukan Bucuci yang membunuh anaknya, akan tetapi ta
menganggap secara tidak langsung, suaminya yang baru
inilah yang mengakibatkan kematian anaknya yang
terkasih.
Kui Eng memang cantik jelita, benar seperti yang
dikatakan oleh Bucuci terhadap Sian Hwa. Nyonya ini
berusia antara duapuluh dua tahun dan selain cantik jelita,
juga amat pandai membuat syair, melukis dan menyulam.
Wataknya halus dan lemah lembut maklum seorang wanita
terpelajar dan bekas isteri seorang panglima.
Di pagi hari itu, Kui Eng nampak makin cantik dengan
rambutnya yang kusut, sehingga untuk kesekian kalinya
Bucuci berdiri di ambang pintu dengan mata terpesona.
Untuk kesekian kalinya ia jatuh cinta kembali kepada
isterinya yang baru ini.
Akan tetapi Kui Eng tidak melihat kepadanya karena
nyonya ini sedang memandang dengan mata terbelalak
kepada SianHwa.
“Siapakah dia…..?” ia bertanya dengan suara perlahan.
Bucuci tertawa girang. “Coba terka siapa dia? Dia
adalah… anakmu, Kui Eng, anak kita. Manis bukan? Kau
suka padanya?” Kemudian sambil membelai rambut Sian
Hwa. Bucuci berkata. “Nah itulah ibumu, nak. Camtk
sekali bukan? Kalian memang cocok sekali menjadi ibu dan
anak.”
Akan tetapi Kui Eng telah melompat, turun dan setengah
berian menghampiri mereka. Dipondong nya Sian Hwa
dengan mata basah dan mulut tersenyum karena ia merasa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
terharu, girang dan sedih. Ia dapat menduga bahwa anak ini
tentulah anak yang dipilahkan dengan paksa dari orang
ruanya. Ia telah mendengar tentang pekerjaan suaminya
sebagai perwira Ang bi tin.
“Anakku manis, siapakah namamu?” sambil mencium
jidat Sian Hwa, Kui Eng bertanya. Sikap dan suaranya
amat manis dan halus, sehingga San Hwa menjadi suka
sekali. Anak ini sudah hampir lupa akan ibunya dan kini
mendapatkan ibu yang demikian ramah tamah, tentu saja ia
menjadi amat terhibur. Hati yang kecil itu penuh oleh
perasaan terharu dan ketika ia didekap oleh nyonya itu ke
dadanya, tak dapat tertahan lagi menangislah Sian Hwa
terisak isak.
Bucuci menjadi bengong menyaksikan hal ini. Anak itu
tadi tak pernah menangis, bahkan ketika dijambak keluar
dan rumah dan hendak dilempar ke dalam api, tak pernah
mengeluh atau menangis, akan tetapi sekarang sekali saja
dipeluk atau dicium oleh Kui Eng, lalu menangis
sedemikian sedihnya.
“Aneh… aneh… perempuan memang makhluk aneh,
masih sebegini kecilpun sudah merupakan teka teki bagiku
!” kata orang kate ini sambil menggeleng gelengkan kepala.
“Keluarlah kau dulu, berganti pakaian. Biar aku
membujuk anak ini.” kata Kui Eng hulus kepadanya.
Bucuci tak pernah menolak permintaan Kui Eng, akan
tetapi ketika hendak keluar dari pintu, ia mendekati
isterinya itu dan menyentuh pipinya dengan mesra.
“Katakan bahwa kau senang dengan oleh oleh yang kubawa
ini, manis.”
Kui Eng mencium rambut Sian Hwa dengan penuh kasih
sayang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Aku senang sekali, terima kasih…. Aku senang sekali!”
Dengan hati sebesar gunung Bucuci lalu keluar dari
kamar itu. Memang amat mengherankan sekali pengaruh
dari cinta kasih. Seorang manusia seperti Bucuci yang
sudah bertahun tahun berkecimpung dalam peperangan,
yang sudah banyak sekali membunuh lain manusia tanpa
berkejap mata, membakar rumah, menganiaya orang,
membinasakan keluarga perwira Han dan lain kebuasan
lagi sambil tersenyum, seorang perwira yang sudah
mengeras hatinya dan tidak mengenal kasihan lagi, setelah
menjadi korban cinta kasih, dapat menjadi demikian lemah
lembut dan mesra di depan kekasih nya ! Benar benar aneh
kalau bagi orang lain mungkin Bucuci kelihatan seperti
seekor harimau yang galak dan ganas, tapi dalam
pandangan Kui Eng, laki laki ini merupakan seekor domba
yang jinak dan penurut!
Sian Hwa masih terlalu kecil untuk dapat mengingin she
nya (nama turunannya) yang sebenarnya, maka ketika Kui
Eng mengganti shenya (nama keturunan) dari Can menjadi
Tan, ia tidak mengetahui perbedaannya. Semenjak hari ini,
namanya menjadi Tan Sian Hwa. Nama keturunan ini
adalah nama keturunan Kui Eng sendiri.
Bucuci mendapatkan kebahagiaan besar setelah Sian
Hwa menjadi anak mereka. Benar saja, kini Kui Eng
bagaikan sebuah lampu minyak mendapat tambahan
minyak lagi. Wajahnya berseri dan ia mulai tersenyum
senyum, apalagi kalau ada Sian Hwa di sampingnya. Kini
kehidupan nyonya ini ada isinya lagi, tidak kosong dan
hampa, ia bahkan dapat membalas cinta kasih suaminya
sebagai perasaan terima kasih bahwa Bucuci telah
mendapatkan Sian Hwa. Selain perobahan sikap Kui Eng,
yang amat menyenangkan hatinya itu, Bucuci juga
mengalami perasaan yang aneh sekali terhadap Sian Hwa.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ia menjadi sayang kepada anak yang mungil dan lucu itu,
apalagi setelah Sian Hwa benar benar lupa kepada ayah
bundanya sendiri dan menyebut Bucuci “ayah” dengan
sepenuh hatinya. panglima Ang bi tin yang kate ini
merasakan kebahagiaan seorang ayah sejati. Sering kali ia
merasa bersukur bahwa dahulu ia tidak jadi membunuh
Sian Hwa.
Suami isteri ini lalu berlumba untuk mendidik Sian Hwa.
Kui Eng mendidiknya dalam ilmu surat dan kerajinan
tangan, adapun Bucuci mulai menurunkan ilmu silatnya
yang lihai. Semenjak berusia empat tahun. Sian Hwa telah
ia didik dengan dasar dasar ilmu silat, bahkan tidak pernah
lupa untuk memberi minum obat obat yang besar sekali
khasiatnya guna perkembangan jasmani dan penguat tulang
serta pembersih darah.
“Aku akan membikin anakku kelak menjadi gadis yang
cantik dan tergagah di seluruh dunia?” Sering kali Bucuci
berkata kepada isterinya.
Kui Eng hanya tersenyum dan biarpun sakit hatinya
terhadap pembasmian keluarganya yang dahulu telah mulai
menghilang, ia masih saja merasa tidak senang melihat
suaminya ini menjadi perwira dari barisan Ang bi tin yang
ditakuti semun orang.
“Mengapa kau tidak mencari pekerjaan lain? Dengan
kepandaianmu kau tentu dapat memilih kedudukan baru di
kota raja, tidak seperti sekarang, menjadi perwira Ang bi tin
yang pekerjaannya sama dengan algojo. Sungguh
mengerikan! Sesungguhnya sering kali di waktu malam
apabila aku teringat akan pekerjaanmu, aku menjadi takut
dan merasa ngeri kepadamu !”
Bucuci tertawa geli. Lalu memegang tangan isterinya
sambil berkata dengan halus, jauh sekali bedanya dengan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
suaranya yang keluar dari mulutnya apabila ia berada jauh
dari isterinya.
“Isteriku yang kusayangi, memang dipandang sepintas
lalu saja tuduhanmu itu ada betulnya juga. Akan tetapi kau
agaknya tidak tahu bahwa Ang bi tin adalah pasukan yang
sebetulnya dikendalikan oleh pemerintah juga. Ang bi tin
merupakan pasukan rahasia, pasukan yang tugasnya
mencari dan membinasakan orang yang dicurigai dan yang
mempunyai kehendak akan memberontak. Kalau orang
orang ini dibiarkan saja mereka yang terdiri dari orang
orang berkepandaian silat itu tentu akan merupakan
kesatuan yang amat kuat dan membahayakan ketenteraman
pemerintah. Tunggulah saja, isteriku. Setelah pemberontak
pemberontak itu dapat dibersihkan, sebuah pangkat yang
tinggi telah tersedia untuk suamimu ini!”
Kui Eng yang tidak mengerti tentang siasat dan
peraturan pemerintah baru itu, percaya saja.
Dan memang sebetulnya ucapan Bucuci tadi benar
belaka. Ang bi tin walaupun bukan merupakan pasukan
resmi, namun didukung dan dibantu oleh pemerintah Goan
tiauw.
Kurang lebih setahun kemudian, ketika Sian Hwa sudah
berusia lima tahun, anak ini telah diberi pelajaran ilmu silat
yang lumayan juga. Dan alangkah girangnya hati Bucuci
setelah ternyata bahwa anak ini lebih suka melatih ilmu silat
dari pada melatih kepandaian menyulam atau membaca
buku. Ternyata bahwa bakat ilmu silat anak ini amat baik.
Sesungguhnya hal ini tidak amat mengherankan hati Bucuci
karena ia ingat bahwa anak ini adalah puteri dari seorang
guru silat.
Pada suatu hari yang cerah, di dalam kebun bunga yang
terkurung tembok dari rumah gedung Bucuci, nampak Sian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwa pagi pagi telah melatih diri dan memainkan ilmu silat
yang dipelajarinya dari ayahnya. Anak ini memang rajin
sekali dan mempunyai kebiasaan yang amat baik, yakni
pagi pagi benar pada waktu ayam berkokok telah bangun
dan berlatih silat di dalam kebun.
Semenjak tadi ia melatih ilmu pukulan yang hanya
beberapa jurus itu berulang ulang, sehingga tubuhnya
menjadi basah oleh peluh. Karena hawa pagi itu dingin,
maka peluh yang keluar dari tubuhnya itu dibarengi oleh
uap putih yang keluar dan laher dan kepalanya.
Ketika untuk kesekian kulinya Sian Hwa mengulangi lagi
latihannya, tiba tiba terdengar suara ketawa dan disusul
oleh suara mengejek, “Ha, ha ilmu silat yang buruk sekali!
Buruk dan lucu!”
Sian Hwa menjadi kaget dan marah, lalu cepat
menengok, ia melihat seorang anak laki laki berusia. kurang
lebih tujuh tahun berdiri di atas tembok yang mengurung
kebun itu. Anak ini berpakaian indah, berwajah tampan dan
rambutnya agak kemerahan.
“Monyet kurang ajar, ayoh kau pergi dari sini!” Sian
Hwa memaki sambil menudingkan telunjuknya.
Akan tetapi anak laki laki itu tdak pergi, bahkan lalu
melompat ke dalam kebun. Dari lompatan ini saja dapat
diketahui bahwa ia telah mempelajari ilmu silat dan ilmu
ginkang dari guru yang pandai. Akan tetapi Sian Hwa
belum dapat berpikir sejauh itu dan pula, dalam hal
keberanian anak ini takkan kalah oleh anak laki laki yang
manapun juga.
Melihat anak itu melompat ke dalam kebun dan berdiri
bertolak pinggang di hadapannya, merahlah wajah Sian
Hwa saking marahnya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kau kurang ajar! Apakah kau masuk hendak mencuri?”
“Ya, aku memang hendak mencuri. Hendak mencuri
kembang!” anak itu berkata sambil menghampiri sebatang
pohon bunga cilan yang penuh dengan bunga.
“Tidak boleh, jangan mencuri kembangku!” Sian Hwa
membentak, akan tetapi anak laki laki itu telah memetik
setangkai bunga cilan dan dengan sengaja ia menciumi
bunga itu sambil mengejek dan tertawa, “Hm, alangkah
wanginya !”
“Kembalikan kembangku, maling jahat! Dan pergilah,
kalau tidak, kupakui kau !” Kini Sian Hwa menjadi marah
sekali. Gadis cilik berusia lima tahun ini melangkah maju
dengan dua tangan terkepal.
“Kau hendak memukul aku? Ha, ha, ha kau mau
memukul dengan kepalan tahu itu? Aduh ___aya, jangan
jangan tanganmu menjadi patah nanti!” Anak laki laki itu
mentertawakan sambil melempar bunga cilan yang tadi
dipetiknya di atas tanah.
Makin marahlah Sian Hwa mendengar sindiran dan
ejekan ini, maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang
maju, memukul dengan ilmu pukulan yang tadi
dipelajarinya. Sungguhpun pukulun seorang anak kecil
seperti Sian Hwa ini tentu saja amat lemah, namun oleh
karena pukulan itu dilakukan dengan cara yang tepat,
kedudukan kaki yang kuat dan datangnya mengarah bagian
tubuh yang berbahaya, yakni di ulu hati, kalau mengenai
sasaran akan lumayan juga. Akan tetapi.anak laki laki itu
sambil memperdengarkan suara ketawa menghina,
memiringkan tubuh dan sekali tangannya bergerak, ia telah
menangkap pergelangan tangan Sian Hwa. Gadis cilik ini
marah sekali dan segera menggunakan tangan kiri untuk
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyusul dengan sebuah pukulan pula, akan tetapi kembali
tangan kiri ini dapat tertangkap.
Sian Hwa tidak berdaya lagi. Ia mendongkol dan marah
sekali, akan tetapi betapapun juga ia meronta ronta untuk
melepaskan kedua tangannya, tenaga laki laki itu jauh lebih
besar dari padanya dan pegangan itu tak dapat dilepaskan.
“Lepaskan....! Lepaskan, kau bangsat! Awas, kalau ayah
keluar kepalamu akan dipukul hancur!” Sian Hwa berteriak
teriak, memaki maki akan tetapi anak laki laki itu tidak mau
melepaskan pegangannya dan berkata,
“Tidak akan kulepaskan sebelum kau mengaku bahwa
ilmu silatmu buruk dan lemah sekali. Kalau aku tidak
sayang melihat kulitmu lecet lecet dan berdarah, aku sudah
melemparkan kau ke pohon kembang berduri itu!”
Akan tetapi tentu saja Sian Hwa yang keras hati dan
berani itu tidak sudi mengaku bahwa ilmu ulat yang ia
pelajari dari ayahnya itu buruk dan lemah, “Ayah akan
menghancurkan kepalamu membeset kulitmu,
mengeluarkan isi perutmu!” berkali kali ia mengancam
dengan marah sekali.
Akhirnya muncul juga Bucuci. Setelah seorang pelayan
mengabarkan kepadanya tentang keributan yang terjadi di
dalam kebun itu. Bucuci marah sekali mendengar bahwa
anaknya ada yang mengganggu. Sekali ia melompat,
tubuhnya berkelebat keluar dari rumah dan tiba di dalam
kebun itu. Kerincingan kerincingan di bajunya berbunyi
nyaring karena kalau Bucuci sedang marah, gerakan
tubuhnya kasar dan kerincingan kecil kecil itu bergerak
gerak terdengar dari jauh, Sian Hwa sudah kenal baik suara
ini, maka ia lalu berseru, “Ayah, ada maling kecil
memasuki kebun kita. Lemparkan dia keluar, ayah!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi sungguh aneh sekali. Ketika melihat anak
laki laki ini, tiba tiba muka Bucuci yang tadinya muram dan
marah, kini berubah menjadi terang, bibirnya tersenyum
dan matanya berseri.
“Ah, tidak tahunya Liem kong cu (tuan muda Liem)
yang datang! Sian Hwa, dia bukan maling, dia adalah
kawan baik sendiri Liem kong cu, dengan siapa kau datang
dan mengapa jalan dari belakang? Sementara itu,
mendengar suara kerincingan baju Bucuci, anak laki laki
yang tampan dan berpakaian mewah itu telah melepaskan
kedua tangan SianHwa dan menjura kepada Bucuci.
“Paman Bucuci, aku mendahului ayah yang sebentar lagi
tentu akan tiba di sini juga.”
“Ayahmu....? Liem goanswe akan datang....“ tanya
Bucuci girang, akan tetapi pada saat itu juga terdengar suara
keras dari jauh.
“Bucuci, sediakan arak wangi dan daging harimau!”
Suara ini terdengar masih jauh, akan tetapi telah bergema
seperti suara yang keluar dari mulut seekor singa.
Bucuci lalu bertepuk tangan tiga kali dengan kerasnya.
Dua orang pelayan yang sudah tahu akan tanda dari
majikannya ini cepat datang ke kebun itu dengan berlari
lari.
“Lekas sediakan meja pertemuan di kebun ini. Ambillah
arak wangi yang paling baik dan katakan kepada hujin
(nyonya) untuk mengeluarkan daging harimau yang
direndam dalam arak kemudian minta kepada hujin supaya
keluar untuk menemani Liem goanswe beserta Liem
kongcu!”
Dua orang pelayan itu berlari lari pergi untuk melakukan
perintah ini. Baru saja mereka pergi dari atas tembok yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengurung kebun itu melayang tubuh seorang laki laki
yang bertubuh tinggi besar sekali seperti seorang raksasa.
Iapun berpakaian baju perang yang amat gugah bernama
hijau, pedangnya yang panjang menempel pada
punggungnya dan mukanya yang lebar itu benar benar
gagah, mengingatkan orang akan muka Kwan In Tiang,
seoarang tokoh besar dari jaman Sam kok. Sepasang
matanya bundar seperti mata harimau galaknya, berputar
putar memandang ke depan dengan berani dan gembira.
Ketika kedua kakinya turun ke atas tanah. Tidak terdengar
sesuatu, akan tetapi Sian Hwa merasa betapa tubuhnya
tergetar terbawa oleh getaran tanah yang diinjaknya, seakan
akan baru saja ada benda yang amat berat jatuh di
dekatnya.
Bucuci cepat memberi hormat dengan menjura dalam
dalam, dan laki laki tinggi besar yang berpakaian jenderal
itu tertawa terbahak bahak.
“Tak usah banyak penghormatan Bucuci. Akupun
datang bukan sebagai jenderal dan atasanmu, melainkan
sebagai seorang kawan. Kalau sebagai jenderal, tentu
banyak pengikutku dan masukkupun bukan dari tembok
belakang. Ha, ha, ha!” Kemudian ia mengusap usap rambut
anak laki laki tadi sambil berkata lagi “Aku sedang berjalan
jalan dengan Swee ji (anak Swee) dan kebetulan saja lewat
di sini. Swee ji yang memaksaku untuk mampir di sini
karena katanya sudah amat lama tidak berkunjung ke
rumahmu.”
“Kami girang sekali, Liem goanswe. Kami mendapat
kehormatan besar sekali.” Dengan ramah tamah sekali
Bucuci lalu mengatur meja kursi yang dibawa oleh pelayan
lalu mempersilakan Jenderal Liem duduk di situ. Juga Liem
Swee. Anak itu, yang tersenyum senyum memandang Sian
Hwa duduk di samping ayahnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Inikah anakmu itu, Bucuci?” tanya Liem Po Coan atau
Jenderal Liem sambil menandang kepada Sian Hwa dengan
matanya yang bundar.
“Betul, goanswe, betul. Inilah anak kami. Sian Hwa,
lekaslah kau memberi hormat kepada Liem Goanswe.”
Ketika Bucuci melihat keraguan anaknya cepat cepat
menambahkan, “Kau tidak tahu Sian Hwa, Liem goanswe
adalah orang yang paling tinggi ilmu silatnya di kota ini!
Kepandaian ayahmu tidak ada sepersepuluh bagian dari
kepandaiannya, anakku!”
Bucuci mengerti betul watak anaknya. Sian Hwa
memang angkuh dan tidak mau merendahkan diri kepada
siapapun juga, akan tetapi anak itu sungguh tunduk kepada
orang orang yang memiliki kepandaian silat tinggi! Tiap kali
ayahnya bercerita tentang orang orang yang gagah perkasa,
matanya bersinar dan ia menyatakan penghormatan dan
kekaguman. Kini mendengar pengakuan ayahnya bahwa si
raksasa yang baru tiba ini adalah orang terpandai diseluruh
kota raja, dengan sendirinya sepasang matanya yang sudah
berang itu menatap wajah jenderal itu dengan kepala
mengadah, karena jenderal itu amat tinggi besar. Kemudian
anak ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Liem
goanswee.
Liem Po Coan senang sekali melihat Sian Hwa.Matanya
yang tajam sekilas saja dapat melihat bahwa gadis cilik ini
memiliki bakat yang luar biasa dan pula memiliki
kecantikan yang amat mengagumkan, ia dapat
membayangkan bahwa kelak gadis cilik ini tentu akan
menjadi seorang wanita yang elok dan gagah. Timbul
pikiran baik dalam kepalanya. Ia hanya memiliki seorang
putera, yakni Liem Swee dan biarpun anaknya itu bukan
seorang bodoh dan juga memiliki bakat yang baik akan
tetapi ia tahu bahwa anaknya takkan dapat mewarisi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
seluruh kepandaiannya. Kalau saja anak perempuan yang
berbakat baik sekali ini dapat menjadi muridnya dapat
menjadi kawan baik atau saudara seperguruan dengan Liem
Swee, alangkah baiknya hal itu. Dan siapa tahu, kalau
kalau mereka kelak berjodoh!
“Anak baik, anak baik....” ia berkata sambil maju dan
mengangkat tubuh Sian Hwa dan dipandanginya muka
anak yang manis itu.
“Benarkah kau memiliki kepandaian lebih tinggi dari
ayah?” SianHwa bertanya sambil memandang berani.
“Ha, ha, tentu saja! Kepandaian ayah tidak ada
bandingannya di dunia ini!” Liem Swee berkata dengan
bangga.
“Aah, ayahmu terlalu merendahkan diri, anak baik.
Sampai di mana batas kepandaian seseorang?” kata jenderal
raksasa itu.
“Ilmu pedangnya belum pernah ada yang mengalahkan,”
kata Bucuci sambil memandang kagum.
“Hal itu harus kuakui.Memang belum pernah pedangku
ini dikalahkan orang,” Liem Po Coan menepuk nepuk
gagang pedangnya yang berada di atas pundak, di belakang
punggungnya.
Pada saat itu, datang Kui Eng, diiringkan oleh beberapa
orang pelayan wanita yang membawa hidangan. Kui Eng
cepat memberi hormat kepada Liem goanswe, lalu berkata
kepada SianHwa yang masih dipondong oleh jenderal itu.
“Sian Hwa, jangan kurang ajar! Kau nanti mengotorkan
pakaian goanswe....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mendengar teguran ibunya ini, Sian Hwa lalu meronta
minta diturunkan Liem goanswe menurunkannya, lalu
tertawa girang sambil memandang kepada Kui Eng.
“Bagus, anak itu bagus sekali, baik seperti ibunya,” ia
memandang tajam kepada Kui Eng dan melihat betapa
nyonya muda yang cantik itu sekarang makin cantik dan
mukanya kemerahan tanda sehat badan dan pikiran, ia
mengangguk anggukkan kepalanya kepada Bucuci. “Kau
seorang suami dan ayah yang beruntung!”
Bucuci tertawa senang lalu menuangkan arak di dalam
cawan dan mempersilahkan tamunya minum arak dan
makan daging harimau yang menjadi kesukaan jenderal itu.
Siapakah Jenderal Liem Po Coan yang tinggi besar dan
berkepandaian tinggi ini? Dia ini sebetulnya adalah seorang
tokoh kang ouw yang amat terkenal dengan julukannya
yang seram, Pat jiu Giam ong (Dewa Maut Tangan
Delapan). Seperti juga Bucuci dia sebetulnya adalah
seorang Mongol, akan tetapi semenjak kecil telah merantau
dan hidup di dalam tombok besar, bahkan tetah menerima
pendidikan silat tinggi dan seorang sakti bangsa Han. Dia
ini tak lain adalah adik sepeguruan (sule) dari Seng jin
Siansu, tokoh aneh dan lihai dari selatan yang berjuluk Lam
Hai Lo mo (Setan Tua Laut Selatan) itu. Dan selain
menjadi sute dari Seng Jin Siansu, juga dia masih terhitung
saudara misan dari Ulan Tanu Si Alis Merah.
Liem Po Coan telah menikah dengan seorang wanita
Han atas dasar suka sama suka. Isteinya juga bukan seorang
sembarangan, karena isterinya pun pandai ilmu silat dan
masih menjadi murid dari cabang persilatan Hoa san pai.
Semenjak menikah dengan isterinya itu, Liem Po Coan lalu
berubah menjadi seorang Han, bahkan namanyapun ia
ganti dari nama Mongol menjadi Liem Po Coan! ia tadinya
hidup bertani dan mengasingkan diri bersama isterinya dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sama sekali tidak mau muncul ketika bangsanya menyerbu
Tiongkok. Akan tetapi ketika ia mendengar tentang
kematian Ulan Tanu, tergeraklah hatinya dan pergilah ia ke
kota raja bersama isteri dan anaknya. Kaisar yang
mengetahui tentang kepandaiannya, menawarkan pangkat
tinggi, yang segera di terimanya. Ia di angkat merjadi
goanwse (jenderal) yang berkedudukan di kota raja menjadi
pelindung kaisar dan bertanggung jawab keamanan di
dalam kota raja. Disamping itu, diam diam dialah yang
memegang kendali pasukan Ang bi tin dan dia pulalah
sebetulnya yang menggerakkan pasukan ini, Liem Po Coan
sesungguhnya mengadakan atau melanjutkan gerakan
pasukan Ang bi tin, yang dipelopori oleh keponakannya
yakni putera dari Ulan Tanu yang bernama Salinga, bukan
semata mata terdorong karena kebenciannya terhadap
perwira perwira Han. Ia mau membantu Salinga bukan
untuk membalas dendam dari Ulan Tanu akan tetapi
semata mata berdasarkan perhitungan yang masak dan
demi kedudukannya sebagai penanggung jawab
keselamatan kota raja. Jenderal ini maklum bahwa di antara
Bangsa Han yang besar itu terdapat banyak sekali orang
orang sakti yang berkepandaian tinggi dan orang orang
gagah yang merasa sakit hati kepada pemerintah yang baru,
terutama sekali adalah bekas bekas perwira pemerintah
lama. Oleh karena itu, pembasmian terhadap mereka ini
dianggapnya suatu usaha yang baik dan tepat.
Putera tunggalnya yang tadi menggoda Sian Hwa,
bernama Liem Swee dan semenjak kecil telah dilatih ilmu
silat oleh ayahnya, sehingga di dalam usia enam tahun saja
ia sudah memiliki kepandaian yang lumayan.
Liem Swe memiliki watak yang gembira dan jenaka
seperti ibunya yang dulunya adalah seorang pendekar
wanita perantau yang centil dan jenaka. Akan tetapi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
agaknya diapun mewarisi watak ayahnya yang amat keras
dan juga kejam. Ketika tadi melihat Sian Hwa yang mungil,
Liem Swee ___ suka sekali kepada anak perenpuan ini,
apalagi ketika melihat bahwa Sian Hwa juga suka ____
dengan ilmu silat seperti kesukaannya juga. Maka demi
melihat betapa ayahnya juga tertarik dan suka kepada anak
itu ia lalu berseru,
“Ayah tadi aku melihat Sian Hwa bersilat buruk sekali.
Kalau dia suka ilmu silat mengapa tidak ayah ambil murid
saja supaya aku bakal punya kawan belajar.”
Mendengar kata kata Liem Swee yang jelas terang ini,
semua orang saling pandang. Bucuci merasa tidak enak
sekali karena merasa betapa ilmu silatnya dicela oleh Liem
Swee, akan tetapi tentu saja ia tidak berani memperlihatkan
ketidaksenangan hatinya. Apalagi ia tahu bahwa memang
kepandaiannya masih jauh dibawah kepandaian Jenderal
Liem ini dan pula tidak terlalu adalah kalau ilmu silat Sian
Hwa dicela, karena anak ini memang masih terlalu kecil
untuk dapat memiliki kepandaian yang berarti.
Pat jiu Giam ong Liem Po Coan tertawa tawa
mendengar kata kata puterinya itu. Memang kata kata ini
cocok sekali dengan suara hatinya akan tetapi tentu saja ia
tidak mau mendahului Bucuci karena hal itu akan berarti
merendahkan ilmu kepandaian Bucuci sendiri. Ia hanya
berkata, “Anak bodoh! Enak saja kau bicara. Bagaimana
anak ini bsa menjadi muridku kalau ayahnya sendiri sudah
memiliki kepandaian cukup tinggi? Dan juga, belum tentu
anak yang manis ini mau menjadi muridku!
Bucuci menjadi serba salah. Biarpun ia tahu bahwa kalau
puterinya menjadi murid Pat jiu Giam ong berarti bahwa
puterinya menemukan guru yang terpandai, akan tetapi ia
tidak ingin berpisah dari puterinya. Demikianpun suara hati
Kui Eng, yang merasa khawatir sekali kalau kalau ia harus
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berpisah dari Sian Hwa yang disayanginya. Akan tetapi,
sungguh tak dikira sama sekali, Sian Hwa telah mendahului
mereka dan anak yang cerdik ini karena tahu bahwa orang
tinggi besar itu kepandaiannya lebih tinggi dari ayahnya,
tiba tiba maju dan berlutut di depan Pat jiu Giam ong
sambil berkata.
“Aku suka sekali menjadi muridmu !”
Bucuci dan Kui Eng tertegun dan ibu yang khawatir ini
segera berkata, “Sian Hwa, bagaimana kau bisa
meninggalkan ibumu?”
Adapun Liem Po Coan yang melihat sikap Sian Hwa
menjadi makin tertarik hatinya, ia lalu berkata kepada
Bucuci.
“Saudara Bucuci, rumah gedungku yang ke dua yang
berada di ujung selatan kota raja, tidak kami pakai dan
hanya untuk persediaan kalau ada tamu tamu datang.
Gedung itu cukup baik, agaknya lebih menyenangkan
daripada rumah ini. Kalau kau dan isterimu suka, kau boleh
pindah ke kota raja dan tinggal di gedung itu. Dengan
demikian anakmu tidak akan berpisah dari ayah bundanya,
akan tetapi masih dapat belajar ilmu silat dariku. Bukankah
ini baik sekali?”
Tentu saja Bucuci merasa girang sekali dan bersama
isterinya cepat menghaturkan terima kasih. Setelah
bercakap cakap beberapa lamanya. Pat jiu Giam ong Liem
Po Coan lalu mengajak Liem Swee yang semenjak tadi
bermain main dengan SianHwa pulang.
Beberapa hari kemudian, pindahlah keluarga Bucuci ke
kota raja dan ternyata benar seperti ucapan Liem goanswe,
rumah gedung yang disediakan untuk mereka itu jauh lebih
baik dan baru dari pada yang ditinggalkan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Semenjak saat itu, hubungan antara Bucuci dan Jenderal
Liem lebih erat, kunjung mengunjungi lebih sering karena
mereka sekarang tinggal sekota. Tentu saja Sian Hwa
menjadi kawan bermain Liem Swee yang suka kepadanya,
lebih dari itu, Sian Hwa mulai menerima latihan dan
petunjuk dari Pat jiu Giam ong dan ia menyebut jenderal itu
“suhu” atau guru sedangkan kepada Liem Swee ia
menyebut suheng (kakak seperguruan).
Dapat dibayangkan kemajuan Sian Hwa dalam ilmu
silatnya karena anak ini menerima latihan dari dua orang
gagah yang terkenal memiliki ilmu silat amat tinggi. Di
rumah ia masih tetap menerima petunjuk ilmu silat dari
ayahnya dan ilmu surat dari ibunya, adapun dua hari sekali
ia dikirim ke gedung Liem goanswe untuk bersama sama
Liem Swee melatih ilmu silat yang mereka pelajari dari Pat
jiu Giam ong.
Karena hidup dalam lingkungan keluarga bangsawan
Sian Hwa menganggap bahwa ayahnya dan gurunya
menduduki pangkat tinggi dan mempunyai tugas yang amat
mulia yakni sebagai pembasmi orang orang jahat yang
disebut oleh ayahnya pengacau dan perampok. Iapun mulai
menaruh pandangan tinggi terhadap pasukan Ang bi tin
yang dipimpin oleh ayahnya dan juga gurunya. Dalam
beberapa tahun saja, Sian Hwa sudah lupa sama sekali akan
asal usulnya sendiri dan menganggap sebagai hal yang
seharusnya bahwa ia adalah puteri dari panglima besar
Bucuci.
Sepuluh tahun lewat cepat sekali tanpa terasa, menyeret
insane makin mendekati kemusnahan tanpa ada yang
merasa. Tahun demi tahun menyeret manusia sejengkal
lebih dekat kepada makamnya dan manusia masih enak
enak saja tidak berprihatin tidak bersedia masih melamun
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
seakan akan ia akan hidup selamanya di dalam mayapada
ini.
Sepuluh tahun lewatlah sudah semenjak semua peristiwa
yang diturunkan di bagian depan itu terjadi.
Kota Lok yang di Propin Honan terkenal ramai dan
makmur, banyak terdapat toko toko dan restoran restoran
besar. Akan tetapi di antara semua restoran yang terdapat
itu, tidak ada yang menyamai restoran Lok thian yang
berada di tengah kota. Restoran ini amat terkenal karena
lengkap dan karena masakannya yang lezat lezat. Araknya
terkenal arak tua dan wangi arak tulen yang tidak
bercampur air. Masakan masakannya istimewa. Karena di
situ terdapat masakan bebek dari utara dan masakan ular
dari selatan. Tentu saja tak perlu diceritakan lagi bahwa
masakan di restoran Lok thian lebih mahal harganya
daripada harga masakan di restoran lain. Dan karena inilah
maka langganan restoran ini sebagian besar hanyalah para
hartawan dan bangsawan saja.
Pemilik restoran itu bukanlah orang sembarangan ia
adalah seorang gemuk pendek yang berkepala bulat seperti
bal dan yang selalu tertawa ramah tamah terhadap para
langganannya. Biarpun orang hanya mengenal sebagai
seorang pemilik restoran yang peramah, kaya raya dan suka
menolong orang miskin dan mendermakan uang kepada
kelenteng kelenteng, akan tetapi di kalangan kang ouw dia
terkenal sebagai seorang yang memiliki kepandaian silat
yang cukup tinggi. Namanya Lai Seng, akan tetapi di
kalangan kang ouw ia lebih terkenal dengan nama julukan
Lo kun gu (Kerbau Tunggangan Nabi Lo Cu). Oleh karena
Lai Seng termasuk orang yang selalu mengutamakan
perbuatan baik, maka ia tidak mendapat gangguan dari
pemerintah baru dan dianggap seorang pengusaha restoran
yang pandai. Tidak jarang pembesar pembesar di kota raja
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang mendengar nama restorannya, sengaja memesan
masakan masakan dari Lok yang atau mengundang Lai
Seng ke kota raja untuk membikin masakan bagi mereka.
Hari itu masih pagi sekali Lai Seng telah duduk di depan
restorannya, melihat pegawai pegawainya yang membuka
pintu, mengatur meja kursi, membersihkaa meja meja dan
ada pula yang menyapu lantai. Lo kun gu Lai Seng ini
duduk dengan senangnya mengisap huncwenya dan
mengebulkan asap tembakau yang wangi dan mahal.
Diam diam ia memuji keuntungannya sendiri yang
demikian baiknya. Tidak banyak orang orang kang ouw
dapat hidup seperti dia dalam keadaan seperti sekarang ini.
Sebagian besar orang orang kang ouw bahkan menjadi
orang orang buruan pemerintah dan banyak pula yang telah
menjadi korban keganasan pasukan Ang bi tin yang
sekarang sudah tinggal namanya saja. Akan tetapi dia,
bahkan kini dapat menikmati kehidupan yang mewah,
banyak untung dan sama sekali tidak dimusuhi oleh orang
orang Mongol dan bangsawan bangsawan dari pemerintah
Goan tiauw.
Lai Seng telah menjadi orang kaya, istrinya manis dan
anaknya tiga orang, dua laki laki seorang perempuan, mau
apa lagi hidup di dunia ini? Demikian Lai Seng menghisap
asap tembakaunya dengan bati puas dan senang. Pada
waktu hari sepagi itu, belum ada tamu datang untuk
berbelanja.
Tiba tiba, ketika Lai Seng sedang mendekatkan mulut
huncwenya kepada bibirnya untuk disedot ia memandang
terbelalak ke arah jalan dengan muka pucat dan lupalah ia
kepada huncwenya yang masih dipegang di depan
mulutnya ia seperti tidak percaya kepada kedua matanya
sendiri ketika melihat datangnya lima orang yang aneh
aneh, baik bentuk tubuh maupun pakaiannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sin beng Ngo hiap (Lima PendekarMalaikat).....” bibir
pemilik rostorn itu bergerak tanpa mengeluarkan suara dan
cepat ia bangkit berdiri, menjura dengan amat hormatnya
kepada lima orang yang kini telah tiba di depan itu.
“Ngo wi locianpwe (lima orang orang gagah) yang
mulia, sungguh merupakan penghormatan besar
menganjungi rumah siauwte yang buruk. Silakan duduk ....
silakan masuk ....”
“Hai, kebetulan kau sendiri yang menyambut kami, Lo
kun gu. Kami menanti datangnya tamu kami, Mo bin Sin
kun. Sebelum kami pergi, jangan menerima tamu lain
kecuali Mo bin Sin kun Mengerti?” seorang diantara lima
orang tamu aneh ini berkata dengan suara menggetar seperti
suara orang yang sudah tua sekali. Akan tetapi, Lo kun gu
Li Seng yang terkenal sebagai tokoh kang ouw itu
mengangguk anggukkan kepalanya seperti ayam makan
padi.
“Baik, locianpwe. Baik....!”
Lima orang tua itu lalu bertindak masuk dan terus saia
menaiki anak anak tangga menuju ke loteng. Semua
pegawai yang sedang membereskan meja kursi,
memandang dengan penuh keheranan ketika melihat betapa
majikan mereka mengantar tamu tamu aneh ini ke atas
dengan sikap yang sedemikian hormatnya. Jika tihu sendiri
yang datang bertamu, belum tentu majikan mereka akan
menerimanya sedemikian hormatnya. Apalagi setelah lima
orang tamu itu tiba di atas, para pegawai melihat majikan
mereka berlari lari turun dan sekali melompat menginjak
tiga tingkat anak tangga dan dengan gugup berkata,
“Sediakan masakan yang paling baik! Keluarkan arak
yang paling tua. Arak simpanan kita! Layani kelima
locianpwe di atas itu baik baik dan penuh penghormatan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Jaga di pintu, jangan diperbolehkan lain orang tamu masuk
.... atau, tunggu dulu biar aku sendiri yang menjaga di
depan pintu!” Dan ketika ia melihat semua orangnya berdiri
bengong ia membentak keras, “Ayoh kerjakan perintahku,
babi!!”
Tentu saja semua orang pegawai itu makin terheran
heran. Siapakah lima orang tua yang aneh itu ? Mungkin
para pembaca akan bertanya demikian pula, maka marilah
kita berkenalan dengan lima orang tamu yan membuat Lo
kun gu Lai Seng demikian ketakutan.
Seperti telah dibisikkan oleh Lai Seng tadi, mereka itu
adalah Sin beng Ngo hiap lima orang tokoh kang ouw yang
dahulu menggemparkan dunia kang ouw dengan sepak
terjang mereka yang aneh dan kepandaian mereka yang luar
biasa tingginya.
Sin beng Ngo hiap atau Lima Pendekar Malaikat ini
terdiri dari lima orang saudara seperguruan. Yang pertama
adalah seorang tua yang tinggi kurus seperti pohon bambu,
memelihara rambut seperti seorang tosu dengan pakaian
berkembang kembang merah kuning biru, sehingga nampak
lucu sekali. Namanya Bouw Ek Tosu yang lebih terkenal
denin julukan Hwa ie sianjin (Manusia Dewa Baju
Kembang).
Orang ke dua dan ke tiga benar benar sukar
diperbedakan, baik muka, potongan tubuh maupun
pakaian. Mereka ini adalah sepasang sudara kembar yang
kin telah menjadi hwesio berkepala gundul dan bertubuh
gemuk pendek, lebih gemuk dan pendek dari pemilik
restoran itu. Mereka ini lebih terkenal dengansebutan Lam
san Mi siang mo (Sepasang Iblis dari Gunung Selatan).
Sebagai orang ke dua dan ke tiga dari Sin beng Ngo hiap
tentu saja kepandaian ke dua orang hwesio gundul
pakaiannya serba kuning ini juga amat lihai sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Orang ke empat adalah seorang yang berpakaian sebagai
petani, mengenakan topi petani yang terbuat daripada
bambu dan ia selalu membawa sebatang pacul di
pundaknya. Seperti juga ke tiga suhengnya (kakak
seperguruannya), orang ini usianya sudah selengah abad
dan biarpun tubuhnya kurus kering seperti cecak mati,
namun gerakan kedua kakinya tegap dan gesit sekali. Orang
ke empat ini bernama Kui Hok yang berjuluk Pacul Kilat.
Berbeda dengan empat orang dari Sin beng Ngo hiap,
orang ke lima benar benar tidak pantas menjadi angouta
dari Sin beng Ngo hiap, karena murid termuda ini adalah
seorang nona yang berwajah cukup manis dan gagah.
Dilihat sepintas lalu orang akan mengira bahwa usianya
baru duapuluh tahun lebih. Sesungguhnya ia telah berusia
tigapuluh lima tahun. Dia bernama Coa Hwa Hwa, akan
tetapi lebih terkenal dengan sebutan Hwa Hwa Niocu. Hwa
Hwa Niocu ini tidak mau menikah dan biarpun ia kelihatan
manis, akan tetapi sesungguhnya ia berwatak ganas dan
galak sekali! Dua gagang sepasang pedang tipis nampak
menjenguk dari belakang pundaknya, membuat ia kelihatan
gagah.
Lima orang aneh ini mengambil tempat duduk
mengelilingi meja terbesar di atas loteng. Meja itu memang
yang paling besar di restoran Lok thian, disediakan khusus
untuk perjamuan banyak orang. Kalau ada rombongan
tidak lebih dari duabelas orang saja, cukup duduk di
sekeliling meja itu, di atas bangku bagku kecil yang diukir
dan dicat indah.
“Terlalu banyak meja kursi di sini. Sungguh sempit dan
tidak leluasa!” kata Hwa Hwa Niocu sambil menyapu
ruang loteng itu dengan sepasang matanya yang tajam, ia
maksudkan bahwa tempat ini karena banyak terdapat meja
kursi, tentu saja kurang leluasa untuk tempat mengadu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kepandaian silat. “Apakah kau tidak memikir begitu, twa
suheng?” sambungnya sambil memandang kepada Hwa ti
sianjin Bouw Ek Tosu.
Pendeta tua tinggi kurus yang berpakaian kembang
kembang ini hanya mengangguk angguk aja. Melihat
anggukan ini, Hwa Hwa Niocu lalu menggerakkan kedua
kaki tangannya dengan cepat. Tidak tahu bagaimana ia
menggerakkan kaki tangannya akan tetapi tiba tiba dua
buah meja dan enam buah bangku yang berada di sebelah
maja besar itu terlempar ke sudut ruangan bagaikan tertiup
angin. Tentu saja terdengar suara hiruk pikuk ketika meja
dan bangku itu jatuh tunggang langgang.
Lam san siang mo si hwesio kembar gelak tertawa,
meras geli melihat perbuatan adik seperguruan yang bungsu
ini, akan tetapi si Pacul Kilat Kui Hok, mengerutkan
kening. Pada saat itu kembali Hwa Hwa Niocu sudah
menggerakkan kakinya dan sebuah meja yang besar juga
terlempar. Kalau dibiarkan saja, meja itu tentu akan
menabrak meja dan bangku bangku lain dan kesernuanya
akan terbawa ke sudut tadi oleh tenaga tendangan hebat ini,
akan tetapi tiba tiba meja yang tertendang itu berhenti dan
tahu tahu kaki meja telah terkait oleh gagang pacul yang
bengkok di tangan Kui Hok, orang ke empat dari Sin beng
Ngo hiap.
“Hwa Hwa!” tegur si Pacul Kilat, “apakah kau masih
belum dapat mengurangi watakmu yang kasar? Sungguh
tidak cocok dengan wajahmu yantr makin manis, sumoi.
Kita harus ingat bahwa pemilik restoran ini, Lo kun gu,
telah berlaku baik dan menerima kita dengan ramah tarnah.
Sebagai tamu tamu yang dihormati, kita tidak boleh berlaku
sewenang wenang terhadap tuan rumah dan merusak
perabot rumahnya,”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwa Hwa Niocu tersenyum mengejek “Kui suheng
masih selalu berwatak lernah lembut.Maafkanlah aku yang
kasar, suheng.”
“Aku dapat iuga bersikap kasar, sumoi hanya melihat
dengan siapa kita berhadapan. Lo kun gu yang menerima
kita baik baik dan yang sebentar lagi hidangannya kita
nikmati, tidak seharusnya diperlakukan kasar. Lihat,
perlahan lahan juga dapat kita singkirkan meja dan bangku
yang menghidangi kita.” Sambil berkata demikian, ia
menggerakkan paculnya dan meja yang tadi tertengang oleh
Hwa HwaNioncu dan yang ditahannya, kini berputar di
udara dan melayang ke sudut tadi. Akan tetapi sungguh
aneh, ketika meja itu melayang turun, benda itu tidak jatuh
tunggang langgang dan tidak menerbitkan suara gaduh,
melainkan jatuh dengan kaki di bawah seperti diletakkan
oleh tenaga orrang saja.
Hwa Hwa Niocu tertawa kagum dan sesungguhnya
kalau ia sudah tertawa, wajahnya amat cantik menarik. Ia
lalu berkata,
“Suheng, benar hebat kepandaianmu. Biarlak aku
mencoba untuk menirumu” Iapun lalu menggunakan kedua
tangan, memegang dua buah bangku dan dilontarkannya
dua bangku itu menuju ke sudut dengan menggerakkan
pergelangan tangannya sehingga bangku bangku itu
melayang sambil berputar putar cepat sekali dan ketika
turun, hanya menerbitkan sedikit suara saja,
“Hm, kalian ini selalu ribut ribut ____ anak saja. Ayoh
bekerja dan jangan banyak ribut!” kata Bouw Ek Tosu.
Sambil berkata demikian, iapun menghampiri sekumpulan
meja dan bangku. Bagaikan orang melempar lemparkan
benda kecil dan ringan, ia memunguti bangku dan meja itu
satu demi satu, dilempar lemparkan ke arah sudut dan
bukan main! Meja dan bangku bangku itu bertumpuk
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tumpuk dengan rapinya, seperti di susun oleh beberapa
orang yang bekerja dengan hati hati.
Kedua hwesio gundul sambil tertawa tawa juga ikut
melempar lemparkan meja kursi, sehingga sebentar saja
ruang loteng itu kosong dan hanya terisi sebuah meja besar
di tengah tengah dengan dua buah bangkunya mengelilingi
meja itu.Mereka lalu mengambil tempat duduk.
“Kata kata Kui sute tadi benar,” kata seorang diantara
Lam san sian mo si hwesio gundul. “Memang kita tidak
perlu mengganggu pemilik restoran yang ramah tamah.
Kita harus menyiapkan tenaga untuk menghadapi Mo bin
Sin kun yang lihai!”
“Aku merasa heran sekali mengapa untuk menghadapi
seorang Mo bin Sin kun saja, twa suheng harus
mengumpulkan kita di tempat ini. Sebetulnya apakah yang
terjadi dan sampai di manakah kelihaian Mo bin Sin kun ini
twa suheng?” tanya Hwa Hwa Niocu kepada Bouw Ek
Tosu dan orang memandang kepada twa suheng mereka
karena seperti juga Hwa HwaNiocu mereka itu belum tahu
dengan betul apakah sebetulnya yang terjadi antara twa
suheng mereka dan Mo bin Sin kun (Kepalan Sakti Muka
Iblis) itu.
KetiKa Bouw Ek Tosu hendak menjawab, terdengnr
suara tindakan kaki melangkah anak tangga, maka tosu ini
menunda pembicaraannya. Empat orang pelayan dengan
muka takut takut dan sikap menghormat sekali, naik ke
loteng sambil membawa arak dan hidangan yang mengebul
panas. Tadi mereka mendengar hiruk pikuk di atas loteng
akan tetapi majikan mereka, sambil menghapus keringat
yang mengalir di mukanya yang bulat sungguhpun hari
maih sepagi dan sedingin itu, memberi sanda agar mereka
jangan ikut carnpur. Memang sesungguhnya Lo kun gu Lai
Seng sudah kenal baik dengan lima orang lihai ini, maka ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menjadi demikian takutnya. Ia sendiri duduk di atas bangku
menjaga pintu dan dengan muka manis ia selalu menolak
datangnya para tamu dengan alasan bahwa hari itu ia tidak
buka karena tidak bisa mendapatkan barang belanjaan dari
luar kota.
Yang sibuk dan penasaran adalah para tukang masak
dan pelayan. Yang datang hanya lima orang tamu yang
aneh, akan tetapi mereka semua harus bekerja keras,
mempersiapkan masakan masakan yang termahal dalam
waktu cepat. Namun, kalau majikan mereka saja demikian
takut terhadap lima orang tamu itu, bagaimana mereka
berani memperlihatkan ketidaksukaan hati mereka? Dan
para pelayan mulai saling mendorong dan akhirnya, empat
orang pelayan yang paling berani saja yang mau
mengantarkan arak dan hidangrn ke atas loreng.Mereka ini
hanya mengerling sedikit saja ke sudut ruang loteng dimana
meja meja dan bangku bangku telah bertumpuk tumpuk
dalam keadaan rapi sekali dan ruangan itu menjadi kosong.
Tanpa banyak cakap dan tidak berani memandang langsung
kepada wajah para tamu, empat orang pelayan itu lalu
mengatur arak, hidangan, cawan mangkuk, sendok dan
supit ke atas meja besar itu.
Seorang di antara meraka, nelayan termuda, amat gugup
dan ketakutan sehingga kedua tangan nya menggigil. Ketika
tanpa sengaja ia menengok dan memandang ke arah muka
Hwa Hwa Niocu, dengan heran ia melihat bahwa nona ini
sama sekali bukanlah seorang yang menakutkan, bahkan
sebaliknya manis sekali. Maka ia lalu memberanikan diri,
untuk menetapkan hatinya yang gelisah, untuk memandang
kepada Hwa Hwa Niocu dengan muka manis dan
memperlihatkan senyumdi bibirnya.
Tidak tahunya, Hwa Hwa Niocu adalah seorang nona
yang paling benci kalau melihat laki laki tersenyum senyum
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dan bermuka manis kepadanya. Kini melihat pelayan muda
yang melayaninya ini terseyum senyum dan memadang
dengan mata penuh arti, ia menjadi gemas. Dengan kening
berkerut ia mengambil sebatang sumpit dan seperti seorang
main main ia menancapkan sumpit itu amblas dan tembus
pada meja yang tebal itu, seakan akan meja itu bukan
terbuat daripada kayu yang keras melainkan terbuat
daripada agar agar saja.
Pelayan muda yang masih tersenyum itu tiba tiba
menjadi pucat sekali, apa lag i ketika pandang matanya
bertemu dengan pandang mata Hwa Hwa Niocu, hampir
saja cawan mangkok yang dipegang nya terlepas. Sepasang
mata wanita itu bagaikan ujung tombak tajamnya
menyerang kedua matanya, sehingga menembus ke ulu hati
dan mendatangkan rasa seram. Pelayan itu cepat
menundukkan mukanya dan dengan bulu tengkuknya
serasa berdiri semua ia melanjutkan pekerjaannya cepat
cepat untuk segera bersama kawan kawannya
meninggalkan tempat berbahaya itu.
Setelah para pelayan itu pergi, barulah Bouw Ek Tosu
menarik nafas panjang dan melanjutkan niatnya bercerita
tadi, “Kalian tentu telah mendengar nama Mo bin Sin kun,
biarpun mungkin belum pernah bertemu.”
Empat orang adik seperguruannya mengangguk.
Siapakah orangnya yang tidak mengenal nama Mo bin Sm
kun? Sebelum pemerintah Goan tiauw berdiri, sudah amat
terkenal nama dari lima orang tokoh persilatan yang sering
kali disebut “Lima Besar”. Mereka itu ialah Kim Kong
Taisu, tokoh yang paling dihormati dan disegani oleh
karena memang menganut penghidupan sebagai seorang
suci yang selain berilmu tinggi juga memiliki ilmu bathin
yang tinggi pula. Ke dua adalah Seng Jin Sian Su yang
disebut Lam Hai Lo mo (Iblis Tua Laut Selatan), tokoh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang paling ditakuti dan di benci oleh karena memang
terkenal luar biasa dan jahat, selain memiliki ilmu silat yang
luar biasa tingginya, juga mahir dalam ilmu hoatsut (sihir).
Orang ketiga adalah Mo bin Sin kun seorang yang menurut
berita berwajah amat buruk seperti iblis sendiri, akan tetapi
jarang sekali ada orang dapat melihatnya karena sepak
terjang Kepalan Sakti Muka Iblis ini amat cepat dan hanya
bayangannya saja yang nampak oleh orang. Akan tetapi
ilmu silatnya juga tinggi sekali dan celakalah mereka yang
bentrok denganMo bin Sin kun.
Jilid IV
ORANG Keempat dari “Lima Besar” itu bukan lain
adalah Pat jiu Giam ong Liem Po Coan atau jenderal Liem,
adik seperguruan Seng Jin Siansu yang karena
kedudukannya menjadi makin disegani orang orang
kangouw. Ilmu silaat dari Raja Maut Tangan Delapan ini
diberitakan orang tidak kalah oleh kepandaian Seng Jin
Siansu. Adapun orang ke lima merupakan tokoh yang
penuh rahasia, puluhan tahun yang lalu orang mengenal
tokoh ini dengan nama julukan Bu tek Kiam ong (Raja
Pedang Tanpa Tandingan). Akan tetapi nama ini terkenal
kurang lebih tigapuluh tahun yang lalu sedangkan pada
waktu itu, Bu tek Kiam ong ditaksir orang usianya sudah
ada lima puluh tahun.Masih hidupkah raja pedang itu? Tak
seorangpun dapat menjawabnya, karena orang tua itu tak
pernah muncul lagi dan orang tidak tahu di mana dia
berada. Betapapun juga, julukan “Lima Besar” tetap
terdengar dan tidak seorangpun di antara empat besar itu
berani meniadakan nama Bu tek Kiam ong sebagai seorang
tokoh di antara Lima Besar.
Empat orang adik seperguruan dari Bouw Ek Tosu ketika
mendengar pertanyaan apakah mereka sudah mendengar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
nama Mo bin Sin kun, tentu saja menganggukkan
kepalanya. Akan tetapi, Hwa Hwa Niocu yang berwatak
keras dan berani, segera berkata.
“Twa suheng, biarpun Mo bin Sin kun amat terkenal dan
boleh kita sebut sebagai tokoh tinggi, akan tetapi perlu apa
kita harus takut kepadanya? Kita berlimapun bukanlah
orang orang yang boleh ditakut takuti begitu saja dan
kurasa mendiang suhu kita masih setingkat lebih tinggi
kedudukannya daripadaMo bin Sin kun!”
Mendengar ucapan sumoinya ini, Bouw Ek Tosu
mengerutkan kening dan diam diam ia melirik ke sana ke
mari. “Sumoi, jangan berkata demikian. Memang di dalam
urusan orang orang seperti kita, tidak ada kata kata takut,
akan tetapi harap kau berlaku lebih hati hati dan jangan
memandang rendah kepada lawan yang bagaimanapun
juga, apalagi seorang di antara Lima Besar!”
“Twa suheng, cukuplah membicarakan keadaan lain
orang,” tiba tiba Si Pacul Kilat Kui Hok mencela. “Lebih
baik kau jelaskan, mengapa suheng memanggil kami
berempat supaya berkumpul di sini dan mengapa pula Mo
bin Sin kun kita tunggu kedatangannya?”
Kembali Bouw Ek Tosu menarik napas panjang dan
berkata,
“Murid keponakanmu Ngo jiauw eng Lui Hai Siong
yang menjadi gara gara. Kalian tahu bahwa muridku Hai
Siong itu telah menjadi seorang pemimpin pasukan Ang bi
tin beberapa tahun yang lalu dan agaknya dalam sepak
terjangnya Ang bi tin yang membasmi bekas bekas perwira
Han ini, terdapat sesuatu yang tidak menyenangkan hati
Mo bin Sin kun! Dua pekan yang lalu, pada suatu malam
aku mendengar suara nyaring di atas genteng kuilku dan
ternyata bahwa yang datang adalah Mo bin Sin kun.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Apa yang dikatakannya, suheng?” tanya Kui Hok dan
yang lain lain juga mendengarkan dengan amat tertarik.
“Ia hanya berkata singkat saja. yaitu bahwa hari ini aku
harus menanti di sini, kalau tidak, muridku Hai Siong akan
dibunuhnya! Oleh karena itulah, maka aku dapat menduga
bahwa kemarahannya ini tentu timbul karena muridku Hai
Siong itu.”
“Urusan Ang bi tin mengapa harus marah kepada
muridmu Ngo jiauw eng, suheng? Bukan Lui Hai Siong
yang mendirikan Ang bi tin dan kuanggap Mo bin Sin kun
tidak adil. Kalau dia memang tidak suka dengan Ang bi tin
mengapa tidak mencari Pat jiu Giam ong saja?” kata Kui
Hok.
“Barangkali dia takut kalau harus mengganggu Pat jiu
Giam ong!” kata Hwa Hwa Niocu sambil tersenyum
menyindir. “Sudah sepatutnya ia berurusan dengan Pati jiu
Giam ong, sama sama seorang di antara lima besar !”
“Sumoi. jangan bicara sembarangan. Kita tunggu saja
dan lihat bagaimana sikap Mo bin Sin kun. Sementara
menanti, mari kita makan minum lebih dulu.”
Sementara kelima orang Sin Beng Ngo hiap ini makan
minum di atas loterng sambil diam diam memasang telinga
dan mata dan selalu bersikap waspada, ternyata di bawah
loteng, di depan rumah makan itu terjadi pula peristiwa
yang cukup menarik hati.
Lo kun gu Lai Seng si pemilih restoran, dengan peluh
mengalir membasahi pakaiannya, menanti dan menjaga di
depan pintu restoran. Sudah banyak langganan yang
hendak masuk, dicegahnya dan diberi alasan bahwa hari ini
restoran tidak buka. Diam diam ia merasa gelisah dan
berkata dalam hati bahwa kalau lima orang tamu aneh di
atas loteng itu berlama lama, ia akan keshilangan banyak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
langganan, bagaimana kalau ada pembesar yang datang
hendak makan?
Semua orang yang hendak memasuki restorannya, ia
tolak dengan tergesa gesa. Akan tetapi ketika tiba tiba ia
menghadapi dua orang yang baru datang, ia menjadi
gelagapan dan mukanya menjadi makin pucat. Ia berdiri
bagaikan patung dan dengan mulut celangap dan mata
terbelalak, ia berdiri memandang kepada dua orang tamu
baru yang hendak memasuki restorannya. Dua orang itu
baru saja datang dan melihat pakaian mereka yang penuh
debu, dapat diduga bahwa mereka berdua baru saja datang
dari tempat jauh sekali.
Yang seorang adalah seorang pemuda remaja berusia
paling banyak tujuhbelas tahun, bermuka tampan, dan
gagah sekali, akan tetapi sikapnya lemah lembut. Dengan
amat hormat, pemuda ini menjura di depan Lai Seng sambil
berkata,
“Tuan, bolehkah kami membeli makanan di restoran
ini?”
Akan tetapi Lai Seng seakan akan tidak mendengar
pertanyaan anak muda itu karena ia sedang memandang
kepada orang yang berdiri di sebelah anak muda itu. Orang
ini pakaiannya hitam seluruhnya, tidak bersepatu dan
mukanya benar benar menyeramkan, seperti muka
tengkorak, seperti muka… iblis! Teringatlah Lai Seng
bahwa lima orang tokoh kangouw di atas loteng itu sedang
menanti datangnya tokoh besar yang disebut Mo bin Sin
kun atau Kepalan Sakti Muka Iblis! Ia belum pernah
melihat bagaimana macamnya Mo bin Sin kun yang amat
tersohor itu, akan tetapi adakah orang yang mukanya lebih
buruk daripada orang berpakaian hitam yang kini berdiri di
hadapannya? Ini tentulah orang yang disebut Kepalan Sakti
Muka Iblis itu!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Dengan amat hormat dan ramah tamah, Lai Seng lalu
menjura kepada si muka iblis atau muka tengkorak itu
sambil berkata.
“Silahkan, locianpwe! Silakan naik saja ke loteng, lima
orang locianpwe telah menanti di atas semenjak tadi!” Ia
bicara sambil tersenyum ramah dan diam diam ia bergidik
ketika memandang kepada muka itu. Bagaikan kedok mati,
orang baju hitam itu memandangnya tanpa berkata sesuatu,
bahkan orang muda itupun memandangnya dengan
terheran. Akan tetapi si baju hitam itu tanpa berkata apa
apa lalu menggandeng tangan anak muda itu dan masuklah
mereka ke dalam restoran itu.
Siapakah si baju hitam yang mukanya seperti tengkorak
itu? Dan siapa pula anak muda yang tampan dan sopan
santun ini? Mereka itu bukan lain adalah Yap Bouw dan
Bun Sam yang sudah lama kita kenal. Sudah sepuluh tahun
lamanya Bun Sam mendapat gemblengan ilmu kepandaian
dari Kim Kong Taisu, gurunya Yap Bouw yang menjadi
penolongnya, juga gurunya, dan akhir akhir ini lebih tepat
menjadi suhengnya, sudah tidak sanggup mengajarnya dua
tahun yang lalu, karena kepandaian anak muda itu sudah
menyusul kepandaiannya sendiri. Oleh karena itu,
semenjak dua tahun yang lalu, Bun Sam menerima latiban
langsung dari Kim Kong Taisu, Beberapa kali Yap Bouw
disuruh turun gunung oleh gurunya dan dalam kesempatan
itu, Bun Sam diperbolehkan ikut untuk memperluas
pengetahuan dan pengalaman. Kali inipun Bun Sam
disuruh ikut suhengnya oleh Kim Kong Taisu, Yap Bouw
hendak pergi ke kota raja. Dahulu, di luar tahu siapapun
juga, bahkan isterinya sendiripun tidak tahu, ia menyimpan
sepeti harta pusaka terdiri dan emas dan batu permata, hasil
rampasan ketika ia menang perang melawan orang orang
Tartar. Sekarang atas perinlah Kim Kong Taisu, ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
diharuskan menyelidiki dan kalau mungkin mengambil
harta pusaka itu untuk menolong rakyat yang banyak
menderita kelaparan di daerah selatan dan timur.
Sebetulnya Yap Bouw enggan pergi ke kota raja, akan tetapi
ia tidak berani membantah perintah suhunya. Yap Bouw
tidak takut, hanya ia khawatir kalau ia teringat kepada anak
isterinya yang dulu tinggal di kota raja. Kalau ia sampai
mendengar nasib buruk mereka, tentu hatinya akan hancur
dan kesedihan baru akan menyerangnya.
Akan tetapi, justeru inilah yang dikehendaki oleh Kim
Kong Taisu, yakni agar Yap Bow suka mencari
keluarganya kembali dan kalau mungkin bertemu dan
berkumpul, ia merasa amat kasihan melihat muridnya yang
bernasib buruk itu. Dan selain maksud ini, juga Kim Kong
Taisu menghendaki agar supaya Bun Sam dapat meluaskan
pengalaman di kota raja. Siapa tahu kalau kalau anak ini
berjodoh dengao tokah tokoh lain, pikir kakek sakti yang
waspada ini.
Di dalam perjalanan itu, Yap Bouw yang hendak
menyembunyikan keadaan dirinya dan merahasiakan
namanya, telah memberi pesan kepada Bun Sam agar
jangan memberitahukan namanya kepada siapapun juga.
Dan bekas jenderal ini selalu menghindarkan diri dari
bentrokan bentrokan dan pertemuan yang tidak enak
dengan orang orang kang ouw.
Ketika pada hari itu mereka tiba di Lok yang, Bun Sam
merasa amat gembira melihat kota yang ramai ini. Dan jauh
dari restoran Lok thian. Bun Sam sudah menuding dengan
jari tangan nya sambil berkata, “Suheng. lihat alangkah
indahnya rumah makan berloteng itu. Hm, seperti telah
tercium olehku bau sedap yang keluar dari dapurnya.”
Yao Bouw di dalam hatinya tersenyum dan timbul rasa
kasihan terhadap anak muda ini, ia amat sayang kepada
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bun Sam dan tidak hanya menganggap pemuda itu sebadai
sutenya, bahkan ada perasaan seorang ayah terhadap
puteranya. Dengan jari jari tangannya ia lalu memberi
tanda kepada Bun Sam, mengajak pemuda itu untuk
mampir di restoran itu untuk membeli makanan.
Ditambahkannya pula dengan bahasa gerak jari bahwa
restoran ini amat terkenal serta tersohor lezat masakannya.
Demikianlah, ketika keduanya menghampiri pintu
restoran kemudian disambut dengan cara yang amat
mengherankan oleh pemilik restoran yang gendut, tentu
saja Bun Sam terheran heran dan tidak mengerti sama
sekali. Akan tetapi Yap Bouw sebagi seorang tokoh kang
ouw yang sudah ulung telah mengenal wajah Lo kun gu Lai
Seng. Ia dapat melihat pula sikap aneh dari Lo kun gu dan
melihat sinar mata pemilik restoran yang gugup dan gelisah,
timbullah niat Yap Bouw untuk menyelidikinya ia maklum
bahwa Lai Seng adalah seorang yang tidak tercela, maka
sudah sepatutnya kalau dia membantunya apabila si gemuk
ini mengalami kesukaran. Ketika ia mendengar Lai Seng
menyebut nyebut tentang “lima orang locianpwe” yang
menantinya di loteng, ia menjadi makin tertarik. Kalau saja
Yap Bouw tahu bahwa yang dimaksudkan dengan Lima
orang tua gagah iru adalah Sin beng Ngo hiap tentu ia akan
menyingkir dan lebih baik tidak bertemu dengan orang
orang ini yang terkenal suka mencari perkara.
Sementara itu, kelima orang yang berada di atas loteng,
ketika Lai Seng mempersilakan Yap Bouw dan Bun Sam
masuk, telinga mereka yang terlatih dan tajam telah
mendengarnya. Berobahlah wajah orang orang itu kecuali
Hwa Hwa Niocu yang memang bernyali besar sekali.
Mereka menunda makan minumnya dan memasang
pendengaran dengan penuh perhatian ke arah anak tangga
yang menuju ke loteng. Terdengar tindakan kaki melangkah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tetap di atas anak tangga dan Bouw Ek Tosu saling
memandang dengan adik adik seperguruannya. Mereka
merasa heran sekali mengapa tindakan kak Mo bin Sin kun
ternyata seperti tindakan kaki orang biasa saja, demikian
berat dan kasar. Hwa Hwa Niocu sudah menarik mulut
mengejek ketika mendengar tindakan kaki dua orang yang
naik melalui anak tangga itu. Tindakan kaki orang orang
macam ini saja apanya yang harus ditakutkan?
Memang Yap Bouw dan Bun Sam selaju bersikap
merendah, sesuai dengan ajaran Kim Kong Taisu, Kalau
tidak perlu, mereka tidak sudi nyombongkan atau
memperlihatkan kepandaian mereka. Oleh karena itu,
dalam keadaan biasa, mereka jua berlaku dan bergerak
seperti orang orang biasa saja agar tidak menarik perhatian
orang orang, terutama sekali agar jangan sampai terlihat
oleh orang orang kang ouw bahwa mereka itu “berisi”.
Ketika Yap Bouw dan Bun Sam muncul dari pintu anak
tangga loteng itu, Sin beng Ngo hiap dan Yap Bouw
terkejut sekali Yap Bouw yang mukanya sudah rusak dan
tidak berkulit lagi itu, tentu saja tidak kentara bahwa dia
terkejut ia hanya memandang sekilas saja dan ketika
melihat bahwa yang berada di situ adalah Sin beng Ngo
hiap lengkap lima orang, diam diam ia berlaku hati hati dan
waspada, lalu menggandeng tangan Bun Sam menuju ke
sudut ruang loteng di mana meja dan kursi bertumpuk
tumpuk Dengan gerakan biasa saja, Yap Bouw lalu
menurunkan dua buah bangku dan menyeret sebuah meja
untuk tempat duduk mereka. Adapun Sin beng Ngo hiap
amat terkejut ketika menyaksikan orang yang mukanya
begitu menyeramkan. Bahkan Hwa Hwa Niocu sendiri
yang terkenal tabah merasa bulu tengkuknya berdiri ketika
ia memandang wajah Yap Bouw. Kelima orang ini belum
pernah melihat muka Mo bin Sin kun, maka melihat Yap
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bouw, seperti juga Lai Seng, mereka tidak ragu ragu lagi
bahwa tentulah dia ini orangnya yang berjuluk Kepalan
SaktiMuka Iblis!
Satu satunya orang yang tidak terkejut dan tidak
mengalami perobahan sesuatu hanya Bun Sam seorang.
Anak muda ini tidak kenal siapa adanya lima orang aneh
yang duduk mengelilingi meja di atas loteng dan yang
menatap mereka dengan pandangan tajam. Bun Sam terlalu
gembira untuk memperhatikan mereka ini. Baru sekali itu
Bun Sam naik loteng sebuah rumah makan, yang dianggap
suatu kemewahan yang berlebih lebihan. Maka ia menurut
saja ketika Yang Bouw mengajaknya duduk. Dengan
sengaja Yap Bouw duduk berhadapan dengan Bun Sam dan
meja lima orang itu berada di samping kanannya atau di
samping kiri Bun Sam. Dengan mengambil kedudukan
seperti ini ia tidak usah merasa khawatir kalau kalau ada
serangan curang atau gelap datang dan fihak lima orang itu.
Selain untuk maksud ini, juga mengambil kedudukan
seperti ini berarti menghormati kepada lima orang itu,
karena berarti tidak membelakangi.
Sin beng Ngo hiap menanti nanti dengan hati berdebar
dan akhirnya menjadi keheran heranan dan saling
memandang ketika orang yang disangka nya Mo bin Sin
kun itu diam saja tidak memperdulikan mereka. Mereka
berlima telah bersiap siap, semua urat di dalam tubuh telah
menegang dan sedikit saja gerakan mencurigakan dari
orang bermuka iblis itu mereka tentu akan bergerak
menyerang. Akan tetapi, Yap Bouw hanya duduk diam
seperti patung. Adapun Bun Sam yang sudah beberapa kali
masuk restoran, merasa heran dan tidak sabar ketika dinanti
sampai beberapa lama tidak ada seorangpun pelayan
datang; menghampiri mereka seperti biasa dalam setiap
rumah makan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Eh, mengapa tidak ada pelayan datang melayani kita?”
akhirnya Bun Sam berkata perlahan kepada Yap Bouw
“Apakah di sini tidak ada pelayannya?”
Yap Bouw hanya menudingkan jarinya ke bawah,
memberitahukan dengan isyarat bahwa pelayan berada di
bawah loteng. Akan tetapi pada saat itu terdengar kata kata
dari Bouw Ek Tosu,
“Jiwi, mengapa tidak makan minum saja dengan kami?
Hidangan cukup banyak arak berlimpah limpah, meja kami
besar dan masih banyak bangku kelebihan.”
Bun Sam cepat berdiri dari bangkunya dan menjura ke
arah Bouw Ek Tosu sambil tersenyum dan menjawab,
“Banyak terima kasih atas kebaikanmu, lotiang. Akan tetapi
kami berdua tidak suka mengganggu ngo wi.” Setelah
berkata demikian, ia duduk kembali. Akan tetapi Yap Bouw
pura pura tidak melihat dan tetap saja duduk sambil
menundukkan mukanya.
Bun Sam habis kesabarannya dan ia lalu menghampiri
anak tangga. Dari atas anak tangga, melalui pintu, ia
berseru keras ke bawah, “Pelayan, lekas sediakan arak dan
sayur! Cepat…!”
Dari bawah terdengar jawaban dan tak lama kemudian,
dua orang pelayan naik melalui anak tangga sambil
membawa baki berisi masakan dan arak. Karena meja besar
tempat duduk Sin beng Ngo hiap berada di tengah ruangan
loteng, maka ketika mengantarkan masakan dan minuman
itu ke meja Bun Sam, dua orang pelayan itu terpaksa harus
melalui meja besar tadi.
“Tamu tamu pertama harus mendapat pelayanan terlebih
dulu!” tiba tiba Hwa Hwa Niocu berkata perlahan dan
sekail tubuhnya bergerak sambil mengulurkan kedua
tangan, tahutrahu dua baki yang dibawa oleh dua orang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pelayan itu telah berpindah ke tangan Hwa Hwa Nioca
yang dengan tenangnya lalu menaruh isi baki ke atas
mejanya sendiri! Dua orang pelayan itu hanya bisa berdiri
bingung dan memandang kepada Bun Sam dengan bingung,
“Mengapa berdiri seperti patung?” Si Pacul Kilat Kui Hok
membentak dua orang pelayan itu.
“Ahh kalian ambilkan ke sini arak wangi dalam guci
terbesar. Kami hendak menjamu seorang gagah dan
muridnya !” Sambil berkata demikian, Kui Hok melirik ke
arah Yap Bouw yang masih saja bersikap tenang dan pura
pura tidak melihat semua itu.
Setelah kedua orang pelayan itu berlari turun, Bun Sam
menjadi merah mukanya. Ia maklum bahwa lima orang itu
mencari perkara dan ia merasa heran sekali. Baru sekarang
ia memperhatikan mereka seorang demi seorang, kemudian
ia memandang Yap Bouw. Aneh sekali! Suhengnya ini
malah memberi tanda dengan gerak jari agar supaya mereka
pergi saja dari tempat itu! Akan tetapi Bun Sam yang lebih
muda dari Yap Bouw, tentu saja merasa tidak puas dan
penasaran sekali kalau harus melarikan diri begitu saja.
“Kitapun mempunyai uang untuk bayar makanan dan
minunan, apa salahnya kalau kita makan minum di sini,”
kata Bun Sam perlahan kepada Yap Bouw. Akan tetapi,
Yap Bouw tetap saja memberi tanda dengan jari jari tangan
agar mereka pergi saja, bahkan si muka iblis itu telah
bangkit berdiri!
“Lain muka lain kepalan, sungguh seperti bumi langit
perbedaannya. Muka terkenal seperti iblis, kepalan tersohor
seperti malaikat, akan tetapi baru sekarang aku tahu bahwa
nyalinya hanya sebesar nyali ayam,” kata kata ini
diucapkan oleh Hwa Hwa Niocu dan ketika Bun Sam
menengok ke arah nyonya itu, Hwa Hwa Niocu
menatapnya dengan pandangan tajam dan galak. Akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tetapi Bun Sam tidak merasa takut, hanya mengangkat
kedua alisnya yang hitam dan tebal itu ke atas, tanda bahwa
dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh nyonya
muda itu. Betepapun juga, Bun Sam menjadi mendongkol
karena muka buruk seperti iblis di bawa bawa, mudah saja
diduga bahwa ini merupakan sindiran bagi suhengnya.
Akan tetapi Yap Bouw tetap saja tidak ambil perduli dan
bahkan melangkahkan kaki sambil memberi isyarat kepada
Bun Sam untuk menuruni anak tangga. Bun Sam terpaksa
mergikuti suheng nya, akan tetapi sebelum mereka tiba di
anak tangga, Bouw Ek Tosu telah menggerakkan tubuhnya
dan tahu tahu tubuhnya yang tinggi kurus seperti batang
pohon bambu itu telah menghadang Yap Bouw.
“Mo bin Sin kun, sungguh pinto tidak mengerti sikapmu
ini. Kau yang mengundang kepada pinto untuk datang ke
sini dan sekarang kau bersikap seperti tidak mengenal
kepada Bouw Ek Tosu. Apa kau sengaja hendak
mempermainkan pinto?”
“Twa suheng sih yang membawa bawa kami berempat,
tentu saja melihat Sam beng Ngo hiap lengkap di sini, Mo
bin Sin kun kehilangan keberaniannya.” Kata kata ini
disusul oleh ketawa mengejek dari Hwa HwaNiocu.
Yap Bouw memberi isyarat kepada Bun Sam untuk
mewakilinya menjawab. Bun Sam cepat menjura kepada
Bouw Ek Tosu dan berkata, “Totiang, kau tadi begitu baik
hati untuk menawari kami makan minum mengapa
sekarang berbalik menghalangi kami yang hendak pergi?
Apakah benar kata kata orang bahwa tabiat seorang pertapa
itu seperti angin dan mega (mudah berobah). Juga totiang
telah salah lihat, dia ini bukanlah orang yang bernama Mo
bin Sin kun.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Biarpun wajah Bun Sam amat tampan dan gagah,
sedangkan sepasang matanya membayangkan kekuatan
yang besar dan suaranya juga bening dan nyaring, namun ia
tidak dipandang sebelah mata oleh Bouw Ek Tosu. Pendeta
ini mengira bahwa anak muda ini paling banyak tentulah
murid dariMo bin Sin kun, maka tidak usah dikhawatirkan
akan menimbulkan banyak kesukaran.
“Anak muda, jangan kau mencampuri urusan orang tua!
Pergilah, biarkan aku bicara sendiri dengan Mo bin Sin kun
!” Sambil berkata demikian, Bouw Ek Tosu lalu
mempergunakan tangan kirinya untuk mendorong Bun Sam
ke pinggir, dengan sikap tidak memandang mata sama
sekali.
Biarpun hanya dengan tangan kiri dan dilakukan
perlahan saja, namun dorongan dari seorang seperti Hwa ie
sianjin Bouw Ek Tosu tidak boleh dipandang ringan.
Dengan dorongan yang perlahan lahan ini, tenaganya
sudah cukup besar untuk dapat mendorong roboh sebatang
pohon yang lima kali lebih besar daripada tubuh Bun Sam!
Ia merasa pasti bahwa dorongan ini sudah cukup untuk
membikin terguling dan jerih murid Mo bin Sin kun yang
lancang ini. Akan tetapi, ternyata terjadi hal yang membuat
Bouw Ek Tosu untuk pertama kalinya selama hidupnya
melongo! Ketika merasa angin dorongan yang luar biasa
menyerang dadanya, sambil tersenyum Bun Sam lalu
mengerahkan tenaga khikangnya ke dada. kemudian
membarengi mengangkat kedua tangan dari bawah dengan
sikap menyoja ( memberi hormat) sambil menyalurkan
tenaga Lweekang ke arah kedua lengannya itu. Dengan
cara ini, pada saat angin dorongan tosu itu terpental oleh
tangkisan khikang pada dadanya, kedua tangannya telah
sampai mendorong dari bawah, sehingga tangan kiri tosu
yang mendorong itu lalu berbalik terdorong ke atas! Bouw
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ek Tosu hanya merasa betapa tangan kirinya yang
mendorong itu meleset seperti sebuah palu yang dipukulkan
pada permukaan batu yang kuat, bulat dan licin berminyak!
Tenaga dorongan nya tadi menjadi menceng arahnya dan
dengan sendirinya menjadi lenyap.
“Totiang,” kata Bun Sam tanpa memperdulikan
keheranan pendeta itu, “sesungguhnya, dia ini belum
pernah menggunakan nama Mo bin Sin kun dan dalam hal
percakapan dengan totiang, dia telah mewakilkannya
kepadaku. Maka harap totiang suka memaafkan kami dan
membiarkan kami pergi dari sini.”
Kalau tadinya Bouw Ek Tosu merasa heran mengapa
dorongannya tidak berhasil, kini ia mulai menjadi marah, ia
dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah murid Mo bin
Sin kun yang sudah memiliki tenaga lumayan, maka dapat
menangkis dorongannya.
“Apakah Mo bin Sin kun tiba tiba menjadi gagu?
Sungguh lucu, dua pekan yang lalu ketika ia mengundang
pinto ke sini, ia dapat bicara dan suaranya nyaring sekali.
Atau, barangkali betul dugaan sumoiku tadi bahwa Mo bin
Sin kun merasa jeri melihat Sin beng Ngo hiap lengkap
berkumpul di sini?”
Biarpun Bouw Ek Tosu menatap wajah Yap Bouw yang
hanya diam saja, akan tetapi kembali Bun Sam yang
menjawab, “Mungkin sekali, totiang. Mungkin sekali orang
yang bernama Mo bin Sin kun itu takut kepada Sin beng
Ngo hiap. Siapa tahu??”
Tiba tiba terdengar suara ketawa bergelak dan dua tubuh
gemuk pendek dari Lam san Siang mo si hwesio kembar
telah berada di kanan kiri Bouw Ek Tosu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ha, ha, ha, jadi benar benar Mo bin Sin kun takut
menghadapi Sin beng Ngo hiap? Benar benar kalian takut
kepada kami berlima? Ha, ha!”
“Siapa yang takut kepada ngo wi? Kami tidak takut!”
tiba tiba Bun Sam berkata dengan tegas, sehingga hwesio
kembar yang sedang tertawa iiu tiba tiba menghentikan
suara keiawanya seperti jam:kerik terpijak. Juga Bouw Ek
TDSU memandang dengan tajam, laiu bertanya, “Anak
muda, jangan kau main main denpan kami! Bukankah tadi
kau menyatakan bahwa mungkin sekali Mo bin Sin kun
merasa jeri terhadap kami?”
Bun Sam mengangguk anggukkan kepalanya. “Memang,
mungkin sekali orang yang bernama Mo bin Sin kun merasa
jeri terhadap Sin beng Ngo hiap. Akan tetapi kami berdua
tidak takut, jangankan kepada Sin beng Ngo hiap (lima
pendekar), biarpun terhadap ngo koai (lima siluman)
sekalipun kami tidak takut.”
“Kurang ajar! Orang muda, kau benar benar bermulut
lancang. Tidak tahukah kau bahwa kami berlima adalah Sin
beng Ngo hiap? Apakah kau tidak takut kepada kami?”
“Mengapa takut, totiang? Pernah siauwte (aku yang
muda) mendengar nasehat bijaksana bahwa apabila kita
berada di fihak benar dan tidak berbuat salah, tak perlu kita
takut kepada siapapun juga. Hanya orang yang mempunyai
kesalahan saja yang patut merasa takut dan sepanjang
ingatanku, kami berdua tidak bersalah terhadap ngo wi
(tuan berlima)!”
Kini Kui Hok dan Hwa Hwa Niocu juga sudah datang
menghampiri, sehingga lima orang Sin beng Ngo hiap
lengkaplah kini menghadang di depan Yap Bouw dan Bun
Sam.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bouw Ek Tosu saling memandang dengan adik adik
seperguruannya dengan sikap mulai ragu ragu.
“Anak muda, benar benarkah orang ini bukan Mo bin
Sin kun?”
“Bukan, aku berani bersumpah,” kata Bun Sam.
“Kalau bukan Mo bin S n kun, siapa dia? Siapa
namanya? Ayoh lekas kau beri tahu kepadaku!” kata Kui
Hok yang juga merasa ragu ragu dan tidak sabar lagi.
“Kawanku ini tidak biasa memperkenalkan namanya
kepada sembarang orang dan juga tidak perlu mengetahui
nama orang lain. Kami adalah orang orang perantau yang
tidak mempunyai sangkut paut dengan ngo wi atau dengan
siappun juga.”
“Namanya! Siapa namanya?” Hwa Hwa Niocu yang
berangasan itu mendesak dan membentuk.
Bun Sam tersenyum, “Namaku? Namaku Bun Sam,
tidak berarti, bukan?”
“Bangsat, siapa tanya namamu? Nama gurumu ini yang
kutanyakan!” Hwa Hwa Niocu membentak. Akan tetapi
Bun Sam masih tersenyum dan menggeleng gelengkan
kepalanya.
“Tak perlu kau ketahui”
Dua orang ini saling berhadapan dengan lima orang
tokoh besar itu, saling menatap bagaikan ayam ayam jago
berlagak. Yap Bouw bersikap hati hati dan waspada, akan
tetapi tenang. Bun Sam tersenyum senyum biarpun
matanya tajam memperhatikan gerak gerik lima orang yang
menghadangnya. Kelima orang Sin beng Ngo hiap ragu
ragu dan memandang dengan mata menduga duga siapa
gerangan orang bermuka iblis di depan mereka itu. Mereka
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
masih ragu ragu untuk segera turun tangan, karena kalau
belum orang ini Mo bin Sin kun, tidak baik berlaku
sembrono.
Pada saat itu empat orang pelayan naik melalui anak
tangga itu dengan sukar, karena mereka memikul segentong
arak. Melihat besarnya gentong itu, maka berat gentong
yang penuh arak itu sedikitnya tentu ada duaratus kati.
Berempat memikul gentong arak duaratus kati memang
tidak begitu berat, akan tetapi kalau sambil menaiki anak
tanga ke loteng, berat juga!
Dengan napas terengah engah, akhirnya empat orang
pelayan itu sampai juga di atas. Hwa Hwa Niocu lalu
melangkah maju dan nona muda ini menggunakan kaki
kanannya untuk menendang atau mendorong dari bawah
gentong itu ke atas. Tiba tiba empat orang pelayan ini
merasa pikulan mereka ringan sekali karena ternyata
gentong itu telah terbang ke atas. Pelayan pelayan itu
menjadi ketakutan dan cepat melarikan diri ke bawah,
bahkan orang ke empat saking gugupnya telah
menggelinding saja ke bawah seperti sebuah bal dan
setibanya di bawah, kepalanya benjol benjol.
Ketika gentong arak ini terlempar ke atas. Hwa Hwa
Niocu lalu mempergunakan kedua tangannya untuk
menyambut bawah gentong lalu dengan tenaga sepenuhnya
ia mendorong gentong arak itu ke arah kepala Yap Bouw.
Si muka tengkorak ini adalah murid dari Kim Kong Taisu
dan seorang bekas jenderal yang berkepandaian tinggi maka
melihat datangnya serangan gentong arak ini tentu saja ia
tidak menjadi gugup sama sekali. Ia mengulur tangan
kanannya, menyangga dasar gentong dan menurunkan
luncuran gentong itu melanjutkan luncuran ke bawah, lalu
mendorongnya ke depan lagi, sehingga kini gentong itu
melayang kembali ke arah kepala HwaHwa Niocu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Terdengar suara ketawa bergelak, “Siapa lagi kalau
bukan Mo bin Sin kun?” Ucapan ini disusul dengan uluran
gagang pacul dan ternyata Si Pacul Kilat Kui Hok telah
dapat “memetik” gentong arak itu dan atas kepala Hwa
Hwa Niocu, yakni dengan jalan menyangga dasar gentong
dengan ujung paculnya.
Benar benar amat mengagumkan kepandaian Kui Hok.
Ia menggerak gerakkan pergelangan tangannya dan gagang
pacul itupun bergerak sedikit saja, akan tetapi kalau orang
memandang kepada gentong arak yang berat itu, orang
akan merasa heran karena gentong itu telah berputar putar
cepat sekali di atas ujung gagang paculnya.
“He, muka iblis, minumlah arak ini !” teriak Si Pacul
Kilat dan tiba tiba ketika ia menggerakkan gagang
paculnya, gentong arak yang berat itu melayang ke arah
kepala Yap Bouw kembali, akan tetapi kini bukan seperti
ketika tadi Hwa Hwa Niocu melemparkannya, gentong
arak itu menyerang ke arah kepala dengan beputar putar.
Tentu saja tidak mudah untuk menyambut datangnya
gentong seberat itu, apabila tidak berputar masih belum
hebat, akan tetapi kini gentong itu berputar putar cepat,
tentu saja jauh lebih berat dan sukar menyambutnya
daripada tadi. Akan tetapi, tentu saja biarpun tidak mau
memperkenalkan diri, Yap Bouw tak mau menyeah mentah
mentah terhadap permainan seperti ini dari Si Pacul Kilat.
Ia cepat mengulurkan tangan kanannya dengan jari telunjuk
menuding dan sebelum gentong yang berputar putar itu
menimpa kepalanya, ia mendahuluinya dengan menyentil
dasar gentong itu. Aneh sekali karena tiap kali telunjuknya
mendorong dasar gentong gentong yang masih berputar
putar cepat itu bagaikan disendal ke atas dan membuat
lompatan kecil. Oleh lompatan ini, maka sedikit arak
terpercik keluar dari gentong dan dengan tenang Yap Bouw
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lalu menengadah dan membuka mulutnya untuk menerima
percikan arak itu! Sampai tiga kali ia melakukan hal ini dan
tiga kali ia minum arak itu seperti yang diminta oleh Si
Pacul Kilat. Kemudian, tiba tiba ia mengulur kedua tangan
dengan sepuluh jari tangan terbuka dan dengan gerakan
memantul, sepuluh jarinya itu menendang bawah guci arak
besar itu, sehingga gentong ini terpental tinggi sekali hampir
mengenai langit langit loteng. Kini gentong mi meluncur
turun ke arah kepala dua orang hwesio kembar!
“Sute, biarkan aku menyambutnya!” tiba tiba Bouw Ek
Tosu berseru keras, ia maklum bahwa sutenya belum tentu
akan kuat menyambut datangnya gentong yang jatuh dari
tempat begitu tinggi. Bahkan Lam san Siang mo sendiripun
telah dapat mengetahui akan bahaya ini dan tadinya mereka
hendak menyambut gentong itu bersama sama. Sebagai
orang tertua dan Sin beng Ngo hiap Bouw Ek losu tentu
saja tidak akan memikirkan kedua sutenya maju bareng,
karena hal ini akan mencemarkan nama besar mereka!
Pula, tosu tinggi kurus ini ingin sekaligus memperlihatkan
kelihaiannya kepada si muka iblis yang lihai ini, siapapun
juga adanya si muka iblis.
Dengan kedua kaki terpentang dan kedua tangan
bertolak pinggang, Bouw Ek Tosu berdiri tepat di bawah
gentong yang sedang meluncur ke arah kepalanya dengan
kecepatan luar biasa itu! Diam diam Bun Sam memandang
dengan penuh perhatian, hendak melihat apa yang akan
diperlihatkan oleh tosu tinggi ini yang tentu lihai sekali dan
memiliki lweekang yang sempurna, karena kalau tidak,
mana berani ia menerima gentong dengan cara demikian?
Yap Bouw sendiripun diam diam merasa khawatir
karena sesungguhnya ia telah dapat menduga kehendak
tosu yang berbahaya ini. Memang benar dugaan Yap Bouw
bahwa tosu itu tidak hendak mempergunakan kedua
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tangannya, karena ketika gentong itu meluncur turun,
Bouw Ek Tosu menerimanya dengan… kepalanya yang
berambut putih!
“Bagus…!!” Tak terasa lagi Bun Sam berseru memuji,
karena gembiranya. Kalau orang tidak memiliki ketenangan
serta perasaan yang halus di barengi tenaga Lweekang yang
tinggi, kepala orang yang menerima gentong arak berat
seperti itu pasti akan remuk! Akan tetapi dengan gerakan
lemas dan indah namun kuat sekali, leher tosu itu bergerak
dan kepalanya membuat gerakan melengkung ke bawah
kemudian ke atas lagi dan gentong arak itu tetap saja
menempel di atas kepalanya. Gerakan ini dilakukan dengan
amat tenang dan tetap sehingga setitikpun arak tidak
tertumpah keluar dari gentong!
Diam diam Yap Bouw memuji kepandaian tosu ini dan
ia maklum bahwa apabila terjadi pertempuran, belum tentu
ia akan dapat menangkan tosu tinggi kurus ini. Akan tetapi
ketika ia melirik ke arah sutenya. ia melihat Bun Sam
memandang dengan mata berseri, ia melihat alis kiri
sutenya yang masih muda itu bergerak gerak dan giranglah
hatinya. Berkat hidup berdekatan semenjak Bun Sam masih
kanak kanak, Yap Bouw telah dapat mengetahui tanda
tanda anak ini. Apabila bibirnya tersenyum senym dan
lubang hidungnya berkembang kempis itu adalah tanda
bahwa Bun Sam medang marah hebat yang ditahan
tahannya. Apabila alis kiri pemuda tampan ini bergerak
gerak, itulah tanda bahwa pemuda itu sedang memikirkan
akal yang amat nakal dan bahwa ia merasa aman.
Tiba tiba terdengar Bun Sam tertawa geli yang
disambung dengan kata kata keras, “Yah totiang, kau
mengingatkan daku kepada tukang menjual gentong
kosong. Seperti itu pulalah ia membawa gentong
kosongnya! Apakah totiang dahulu juga penjual gentong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kosong, maka totiang pandai menggunakan kepala untuk
mengangkat gentong?”
Kata kata ini memang disengaja oleh Bun Sam untuk
memanaskan hati tosu itu dan untuk memindahkan
perhatian tosu kepadanya. Dan akalnya ini berhasil karena
Bouw Ek Tosu menjadi marah sekali mendengar ucapan
yang dianggapnya merupakan penghinaan itu.
“Bocah tidak tahu aturan! Tadi kau bilang bahwa kau
tidak takut kepada Sin beng Ngo hiap? Bagus untuk nyali
yang demikian besar, kau patut diupah minum arak wangi.
Terimalah!” Sambil berkata demikian, tosu ini
mengerahkan tenaganya dan tiba tiba gentong arak yang
tadi terletak di atas kepalanya, kini melayang dengan amat
cepatnya ke atas dan jatuh menimpa ke arah kepala Bun
Sam! Memang nampaknya saja gentong itu melayang
sendiri, akan tetapi sesungguhnya tosu lihai ini telah
menggunakan kepandaiannya dan menggerakkan leher dan
kepalanya dalam getaran yang penuh mengandung hawa
melontarkan yang hebat yang timbul dari tenaga dalamnya.
“Siauwte ingin mempelajari ilmu menyunggi gentong
yang totiang perlihatkan tadi!” Bun Sam berkata penuh
senda gurau dan tepat seperti gerakan Bouw Ek Tosu tadi,
iapun dapat “menerima” gentong arak itu dengan
kepalanya!
“Ah, siauwte lupa....” kata Bun Sam pula, “bukankah
totiang tadi menawarkan siauwte minum arak kalau
gentongnya berdiri di atas kepalanya?” Setelah berkata
demikian, tiba tiba tubuh pemuda yang baru berusia
tujuhbelas tahun itu roboh terlentang dengan cepat sekali.
Tahu tahu tubuhnya telah telentang di atas lantai dan
gentong arak yang tadinya berada di atas kepalanya, kini
cepat meluncur turun akan menimpa perutnya!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hampir saja Yap Bouw melompat maju untuk menolong
nyawa sutenya dari bahaya, akan tetapi ternyata bahwa
kekhawatirannya itu tiada gunanya karena dengan gerakan
cepat sekali Bun Sam telah mengangkat kedua kakinya ke
atas dan menerima gentong itu dengan kedua kakinya.
“Totiang, mari minum arak !” kata pemuda ini.
“Maafkan karena tidak ada cawan, terpaksa siauwte minum
lebih dulu tiga teguk” Sambil berkata demikian, Bun Sam
menggerakkan kedua kakinya dan gentong arak ini menjadi
miring. Sedikit arak tumpah dan dengan tepat sekali
memasuki mulut Bun Sam yang dibuka sedikit. Tiga kali
anak muda ini miringkan gentong arak dan tiba tiba ia
melontarkan gentong arak itu ke atas dan ia sendiri lalu
melompat berdiri. Dengan kedua tangannya ia menerima
gentong itu dan memeluk gentong seakan akan merasa
amat berat. Kedua kakinya terhuyung huyung dan kedua
tangannya yang memeluk gentong menggigil.
“Totiang berlima, silakan minum. Gentong ini terlalu
berat untukku!” Dengan ucapan ini, Bun Sam melemparkan
gentong arak itu kepada Bouw Ek Tosu dan adik adiknya.
Bouw Ek Tosu sudah mengulur kedua tangan untuk
menyambut gentong ini, akan tetapi tiba tiba terdengar
bunyi aneh di atas kepalanya dan gentong itu sambil
mengeluarkan suara berkeretak, pecah dengan araknya
muncrat berhamburan. Bouw Ek Tosu dan adik adiknya
dengan kagetnya cepat melompat untuk menyingkir, akan
tetapi tetap saja pakaian mereka terkena noda arak dan
rambut mereka menjadi basah!
Tentu saja Sin heng Ngo hiap menjadi marah sekali,
terutama Hwa Hwa Niocu. Wanita galak ini belum pernah
dihina orang, apalagi dipermainkan oleh seorang pemuda
tanggung. Dengan pipinya yang berkulit halus itu berobah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merah dan matanya bersinar marah, ia lalu mencabut
pedangnya dan membentak.
“Anjing kecil, berani sekali kau main gila di depan Hwa
Hwa Niocu!” Secepat kilat, bentakan ini dibarengi oleh
berkelebatnya tubuhnya yang didahului oleh sinar pedang,
menusuk ke arah tenggorokan Bun Sam!
“Aih, aih,. . . galak amat !” Bun Sam berseru sambil
tertawa dan dengan gerakan yang lincah dan seperti orang
mabok ia terhuyung ke belakang, Bouw Ek Tosu dan adik
adiknya terkejut dan khawatir juga melihat gerakan
pemuda, itu. Ternyata pemuda ini tak memiliki kepandaian
tinggi dalam ilmu silat dan kalau Hwa Hwa Niocu sudah
marah, bukankah pemuda ini akan mati? Hal itu kurang
baik bagi mereka, karena membunuh seorang muda yang
biasa saja merupakan salah satu pantangan bagi Sin beng
Ngo hiap. Memalukan sekali dan merendahkan nama besar
mereka dalam dunia kang ouw.
“Sumoi, jangan melayani pemuda tolol ini….” Si Pacul
Kilat Kui Hok menegur adik seperguruannya. Akan tetapi
terlambat karena ketika melihat betapa Bun Sam dapat
mengelak ke belakang dengan gerakan kaku, Hwa Hwa
Niocu menjadi girang dan cepat mengejar dengan dua
langkah dan pedangnya bagaikan halilintar menyambar
kembali telah menyerang dengan sebuah bacokan ke arah
leher Bun Sam!
Kui Hok terkejut sekali. “Celaka....” seru nya, Sumoinya
telah mempergunakan gerak tipu Seng thian jip te (Naik Ke
Langit,Masuk Ke Tanah) semacam tipu serangan yang luar
brasa sekali ganasnya, mana pemuda itu dapat
menghindarkan diri? ia tidak keburu turun tangan
menghalangi serangan sumoinya, maka ia lalu cepat
menubruk maju hendak menyambar tangan Bun Sam dan
di tariknya agar dapat terlepas dari bahaya maut. Akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tetapi terjadilah hal yang amat tidak terduga duga baik oleh
Hwa Hwa Niocu maupun oleh Kui Hok atau lain anggauta
dari Sin beng Ngo hiap.
Ketika pedang di tangan Hwa Hwa Niocu menyambar
leher Bun Sam, pemuda ini cepat melemparkan diri ke
kanan sambil menekuk kedua lutut kakinya. Pedang tadi
telah melakukan bagian gerak tipu seng thian (naik ke
langit), maka ketika bacokan bagian atas ini meleset, lalu
cepat dilanjutkan dengan gerakan jip te (masuk ke bumi).
Pada saat pedangnya diluncurkan ke bawah menuju ke
perut Bun Sam yang hendak disate, datanglah Kui Hok
yang hendak menangkap tangan pemuda itu untuk ditarik
pergi dari ancaman ujung pedang Hwa Hwa Niocu. Tiba
tiba Bun Sam membuat dua macam gerakan dengan
berbareng. Ia membiarkan lengannya disambar oleh
tangkapan Kui Hok, akan tetapi setelah dekat, ia lalu
memutar tangannya dan bahkan menjambret ujung lengan
baju Si Pacul Kilat itu dan ditariknya ke depan. Adapun
kaki kanannya dengan amat cepat, tepat dan berani sekali,
dari samping melayang ke arah pergelangan tangan Hwa
Hwa Niocu yang memegang pedang. Nyonya ini terpaksa
membatalkan maksudnya menusuk perut dan pedangnya
berobah tujuan. Karena Kui Hok yang terbetot ujung lengan
bajunya itu tidak dapat mempertahankan diri dan
terhuyung ke depan, maka hampir saja dia yang termakan
oleh pedangHwa Hwa Niocu !
Kui Hok cepat melompat ke belakang dan berjumpalitan,
adapun Hwa Hwa Niocu juga cepat menarik kembali
pedangnya. Keduanya merasa kaget dan heran sekali. Lebih
lebih Kui Hok. Tadi ketika ia tertarik ujung lengan bajunya,
ia merasa tenaga yang luar biasa besarnya mencengkeram
dan menarik baju itu. Kalau berkeras melawan tarikan ini.
tentu saja ia sanggup, akan tetapi lengan bajunya tentu akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tersobek dan hal ini tidak mau ia alami. Maka ia menurut
saja dan hanya terhuyung maju. Tidak tahunya gerakan
pedang sumoinya berobah dan bahkan mengancamnya.
Ketika Kui Hok dan Hwa Hwa Niocu memandang
kearah pemuda itu, mereka melihat Bun Sam sudah berdiri
jauh sambil tersenyum senyum. Makin panaslah hati Hwa
Hwa Niocu dan merah jugalah muka Kui Hok. Mereka,
dua orang anggota dari Sin beng Ngo hiap, dengan
berbareng maju menghadapi seorang pemuda, biarpun Kui
Hok tadi maju bukan dengan maksud buruk. Akan tetapi,
kedua nya dapat dipermainkan oleh pemuda itu, benar
benar satu hal yang amat memalukan hati mereka.
“Bangsat kecik kau layak dihajar!” Hwa Hwa Niocu
memaki dan melangkah maju lagi. Akan tetapi tiba tiba
berkelebat bayangan Bouw Ek Tosu yang mencegah
sumoinya.
“Sumoi. jangan turun tangan. Biarkan aku sendiri
mencoba gurunya. Tak perlu kita ribut ribut melawan murid
Mo bin Sin kun!”
Setelah berkata demikian, Bouw Ek Tosu lalu
menghadapi Yap Bouw dan berkata, “Mo bin Sin kun, kau
ini sebenarnya mempunyai niat bagaimanakah? Kau sendiri
yang memanggil dan mengundang pinto untuk datang ke
sini dan telah mengancam muridku. Hai Siong. Nah, pinto
dan saudara saudara telah datang, apakah kehendakmu?
Apa kesalahan muridku, maka kau mengancam hendak
membunuhnya?”
Tentu saja Yap Bauw tak dapat menjawab dan Bun Sam
yang merasa khawatir kalau kalau Yap Bouw akan terbuka
rahasianya, lalu melompat maju ke depan Bouw Ek Tosu.
“Totiang, sudah berkali kali kukatakan tadi bahwa
kawanku ini namanya bukan Mo bin Sin kun dan sama
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sekali tidak mempunyai urusan dengan orang yang bernama
Hai Siong! Totiang janganlah mengganggu kami lagi dan
biarkan kami pergi dari sini dengan aman.”
Bouw Ek Tosu dengan mendongkol sekali mengerling ke
arah Bun Sam. “Anak muda, sejak tadi aku masih bersabar
terhadap kau, karena kau hanyalah seorarg murid muda
dari Mo bin Sin kun. Akan tetapi kau selalu lancang mulut.
Murid macam apakah kau ini? Mengapa suhumu ini diam
saja dan tidak mau menjawab percakapan kami? Apakah
dia gagu? Atau…. apakah kiranya dia takut terhadap
kami Sin beng Ngo hiap??”
Kini Bun Sam yang merasa mendongkol. “Ngo wi
taihiap (tuan pendekar besar berlima) sungguh terlalu!
Ketahuilah bahwa mungkin sekali setan yang bernama Mo
bin Sin kun itu takut menghadapi Sin beng Ngo hiap, akan
tetapi aku dan kawanku ini bukanlah Mo bin Sin kun dan
karenanya kami berdua tidak takut sedikitpun juga terhadap
ngo wi. Mengapa kami mesti takut? Ngo wi boleh
berurusan dengan Mo bin Sin kun atau siapapun juga di
dunia ini, akan tetapi jangan mengganggu kami, dan
biarkan kami pergi!” Setelah berkata demikian Bun Sam
menggandeng tangan Yap Bouw dan hendak mengajaknya
pergi.
Akan tetapi Bouw Ek Tosu yang masih merasa
penasaran, mana mau membiarkan mereka pergi?
“Kawan, perlahan dulu. Tak boleh pergi sebelum pinto
tahu pasti bahwa kau bukanlah Mo bin Sin kun. Siapa tahu
kalau benar benar dia yang kini merasa tidak kuat
menghadapi kami dan menggunakan akal ini untuk
melarikan diri? Hm tidak mudah, kawan. Kau telah
mengundang kami dan tanpa melayani kami, itu berarti
tidak memandang kami.” Sambil berkata demikian, ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengulurkan tangan kanannya ke arah pundak Yap Bouw
sambil mengerahkan tenaganya.
Inilah serangan tiam hwat dari ilmu menotok jalan darah
yang menjadi kepandaian tunggal terlihai dari Bouw Ek
Tosu, yakni Ilmu Silat Pek tiauw thiam hwe louw (Ilmu
Menotok Jalan Darah Rajawali Putih)! Serangan yang
keluar dari ilmu totokan ini memang lihai dan luar biasa
sekali, karena tidak saja sepuluh buah jari tangan tosu itu
yang pandai menotok dan melumpuhkan jalan darah, juga
setiap kali serangannya selalu disusul oleh dua ujung lengan
bajunya yang merupakan alat alat totok yang hebat sekali!
Yap Bouw sebagai seorang ahli silat tinggi, tentu saja
tahu akan kelihaian serangan ke arah pundaknya ini, maka
cepat sekali ia mengelak kekiri. Si muka tengkorak ini yang
maklum bahwa melawan lima tokoh itu bukanlah hal yang
mudah dan tidak baik mencari permusuhan tanpa alasan
dengan mereka, masih berlaku sabar dan tidak mau
membalas serangan Bouw Ek Tosu. Akan tetapi ketika tosu
itu melihat betapa totokannya dengan mudah dielakkan
oleh si muka tengkorak, menjadi makin tebal keyakinannya
bahwa inilah tentu orang yang bernama Mo bin Sin kun ia
tidak menghentikan serangannya. Kalau tadi ia hanya
menyerang ke arah pundak sebagai coba coba saja, kini
tangan kirinya menyusul cepat dan menotok ke arah tulang
rusuk sebelah kanannya dari Yap Bouw. Serangan ini ber
bahaya sekali karena kalau mengenai sasarannya dapat
melayangkan nyawa yang di serang!
Kini Yap Bouw mulai marah dan sepasang matanya
yang tajam dan berpengaruh itu mulai bercahaya. Ia tidak
mau mengelak lagi, bahkan lalu mengerahkan tenaga pada
lengan kanannya, kemudian ia menyabetkan lengan itu ke
bawah untuk menangkis serangan lawan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Duk” dua batang lengan beradu keras dan keduanya
merasa tulang lengannya sakit, tanda bahwa tenaga mereka
seimbang. Akan tetapi Yap Bouw terkejut sekali ketika
merasa betapa ujung lengan baju dari lawannya itu,
bagaikan seekor ular hidup tahu tahu telah melilit pada
pergelangan tangannya!
Si muka tengkorak ini cepat mengadakan serangan
balasan. Kepalan tangan kirinya menonjok ke depan,
mengarah ulu hati Bouw Ek Tosu. Sungguh hebat kalau
dua orang ahli silat tinggi bertempur. Dari jurus jurus
pertama saja sudah saling menukar bahaya maut!
Bouw Ek Tosu juga maklum bahwa kalau dadanya
terkena tonjokan ini pasti ia akan menyusul mendiang
nenek moyangnya, maka dia yang masih suka hiaup lalu
menggerakkan tangan kanannya dan tahu tahu ujung
lengan bajunya telah meluncur mendahului jari jari
tangannya untuk menangkis pukulan lawan dan bahkan
untuk membelit pergelangan tangan pula!
Tentu saja Yap Bouw tidak sudi membiarkan kedua
tangannya terikat oleh ujung lengan baju, maka ia cepat
menarik kembali tangan kirinya dan mengerahkan tenaga
untuk melepaskan tangan kanannya yang terbelenggu.
Akan tetapi ternyata bahwa ujung lengan baju yang
mengikat pergelangan tangan kanannya itu kuat dan erat
sekali! Kedua orang tokoh persilatan ini bersitegang. Yap
Bouw hendak melepaskan tangannya, sebaliknya Bouw Ek
Tosu hendak mempertahankannya! Diam diam keduanya
mengerahkan tenaga dan usaha itu sudah merupakan
sebuah pibu (adu kepandaian) yang hebat.
Tiba tiba Bouw Ek Tosu merasa leher belakangnya
dingin dan rambutnya bergerak gerak seperti tertiup angin
keras dari berakang. Ia terkejut sekali dan tak terasa pula ia
menengok ke belakang. Dilihatnya bahwa yang melakukan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
perbuatan itu adalah pemuda tadi Bun Sam yang melihat
keadaan Yap Bouw, lalu meruncingkan mulutnya dan ia
meniup sambil mengerahkan khikang ke arah leher
belakang Bouw Ek Tosu. Pendata ini merasa bahwa ia
hanya ditipu saja agar perhatiannya terbagi, maka cepat
cepat ia menoleh lagi kepada Yap Bouw dan mengerahkan
tenaga, akan tetapi terlambat, Yap Bouw yang melihat
gerakan Bouw Ek Tosu menoleh ke belakang segera
mempergunakan kesempatan tadi untuk merenggutkan
tangannya yang terpegang dan terlepaslah pegangan Bouw
Ek Tosu yang erat tadi.
Marahlah Bouw Ek Tosu kepada Bun Sam. Ia
menudingkan jari tangannya kepada pemuda itu sambil
memaki, “Bocah yang curang! Agaknya gurumu tidak becus
mengajar adat kepadamu! Biarlah pinto yang mewakili
gurumu untuk memberi pengajaran kepadamu !” Sambil
berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan ujung
lengan bajunya menyambar ke arah kepala Bun Sam. Akan
tetapi kali ini Bun Sam sudah bersiap sedia dan begitu ia
melihat gerakan tosu itu, tangan kanannya bergerak
menepuk punggungnya dan tahu tahu pedang yang kecil
dan tipis telah berada di tangan nya!
“Totiang, kau keterlaluan sekali!” seru pemuda ini
sambil menyambut datangnya sambaran ujung lengan baju
itu dengan sebuah gerakan membabat dengan pedangnya.
Bouw Ek Tosu tentu saja masih memandang rendah kepada
anak muda ini, maka ia melanjutkan pukulannya dan
mengerahkan tenaga, ia merasa yakin bahwa pedang di
tangan pemuda itu tentu akan terpukul jatuh oleh ujung
lengan bajunya.
Akan tetapi bukan demikianlah akibat benturan pedang
dan ujung baju, karena ketika pedang bertemu dengan
ujung baju, memang benar terdengar suara nyaring seakan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
akan pedang itu bertemu dengan logam keras, akan tetapi
segera disusul oleh seruan kaget dari pendeta ini ketika
melihat betapa sepotong kain ujung lengan bajunya terbang
karena terbabat putus!
Bouw Ek Tosu mengeluarkan suara gerengan seperti
seekor harimau terluka, ia menjadi marah dan segera ia
mengeluarkan sebuah hud tim (kebutan pertapa) yang
terselip di ikat pinggang sebelah dalam jubahnya. Mukanya
berubah merah dan matanya bergerak penuh ancaman
maut.
“Twa suheng, biarkan aku menghadapi monyet kecil
ini!” kata Si Pacul Kilat Kui Hok, orang ke empat dari Sin
beng Ngo hiap. Sesungguhnya, biar pun Kui Hok dalam
tingkat perguruan mereka hanya menjadi saudara ke empat,
namun kepandaiannya hanya di bawah tingkat Bouw Ek
Tosu saja. Kalau dibandingkan dengan Lam san Siang mo,
Sepasang Iblis dari Ganung Selatan itu, ia tidak kalah.
Bouw Ek Tosu mengalah terhadap adiknya ini dan ia lalu
melangkah mundur dua tindak sambil berkata,
“Silahkan, si sute, akan tetapi jangan kepalang, memberi
ajaran yang keras kepadanya. Biar aku yang mengawasi
gurunya kalau kalau akan mengeroyok!”
Kini Bun Sam yang menjadi marah. Tidak saja gurunya
dimaki orang, akan tetapi juga mereka berdua dihina dan
dipandang rendah. Ketika ia melihat Si Pacul Kilat
melompat maju sambil membawa paculnya, ia berseru
keras,
“Sam beng Ngo koai!! Ia sengaja mengganti sebutan Ngo
hiap (Lima Pendekar) menjadi Ngo koai (Lima Setan).
Kalian ini orang orang tua benar benar keterlaluan. Apakah
dikira aku Bun Sam takut menghadapi kalian berlima?
Mungkin sekali orang yang kau sebut namanya Mo bin Sin
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kun itu takut menghadapi kalian berlima, akan tetapi aku
Bun Sam yang tidak merasa salah sedikitpun sama sekali
tidak takut akan ancaman ancamanmu!” Pemuda ini
dengan sikap gagah, akan tetapi juga lucu mengejek,
menggerak gerakkan pedangnya di depan hidungnya.
Kui Hok menggerakkan paculnya, menyerang dengan
hebat sekali ke arah Bun Sam, Gerakan pacul ini memang
hebat dan jauh berbeda dengan gerakan senjata tajam lain.
Biasanya senjata senjata dipergunakan dengan cara
menusuk, mengemplang, membacok menyabet atau
menotok jalan darah, akan tetapi pacul ini dipergunakan
dengan ayunun miring dan mata pacul yang tajam sekali itu
meluncur cepat dengan tujuan mencangkul kepala orang!
Bun Sam tidak menjadi ngeri dan dengan tenang serta
tabah ia menggerakkan kaki ke kiri dan mengebalkan
pedangnya untuk menyabet gagang pacul. Akan tetapi tiba
tiba terdengar suara seperti jerit nyaring dan angin pukulan
luar biasa sekali menyambar ke arah mereka yang sedang
bertempur. Bun Sam merasa terdorong keras dan biarpun ia
mempertahankan diri, tetap saja ia terdorong mundur
sampai tiga langkah. Yang lebih hebat adalah Kui Hok,
karena Si Pacul Kilat ini terdorong lebih hebat, sehingga
terjungkal ke belakang! Hanya karena kegesitan dan
kelihaiannya saja, maka ia dapat mengerahkan tenaga dan
berjungkir balik, mempergunakan ilmu lompat Koai liong
hoan sin (Naga Siluman Memutar Badan). Setelah dapat
menetapkan hati dan keseimbangan tubuhnya, Kui Hok
cepat menengok dan berbareng dengan Bun Sam ia melihat
bayangan orang berkelebat dan tahu tahu seorang yang
bertubuh kecil langsing telah berdiri di depan mereka.
Terkejutlah semua orang ketika melihat orang ini, tidak
terkecuali Bun Sam dan Yap Bouw. Orang yang baru
datang ini, pakaiannya serba putih bersih dengan ikat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pinggang dan sepatu berwarna kuning. Akan tetapi yang
nampak bersih dan menyenangkan hanya dari leher ke
bawah saja, karena dari leher ke atas, sungguh merupakan
pemandangan yang menyeramkan. Kepala orang ini
tertutup oleh kain pengikat kepala berwarna hitam dan
mukanya hampir sama hitamnya dengan kain penutup
kepala itu.Muka orang ini benar benar amat buruk, dengan
kulitnya menghitam dan totol totol, sehingga tidak
kelihatan lagi garis garis mulut atau hidungnya. Bibirnya
juga hitam, sama dengan kulit mukanya dan hanya
sepasang matanya saja yang bercahaya bening, akan tetapi
pelupuk matanya juga berkerut kerut mengerikan. Sungguh
tak mungkin ada keduanya muka orang yang seburuk itu,
terkecuali muka Yap Bouw yang sudah rusak itu.
“Hm, Sin beng Ngo koai! Anak yang lancang mulut ini
betapapun juga telah memilihkan julukan baru yang tepat
untuk kalian. Sin beng Ngo koai, lima orang iblis. Ha, ha,
ha, benar benar cocok dan karena jasamu memilih nama
itu, bocah bermulut lancang, maka aku Mo bin Sin kun
dapat mengampuni nyawamu.”
Bun Sam tadinya merasa terkejut dan ngeri, bukan hanya
kareua muka orang ini, akan tetapi terutama sekali karena
kelihaiannya, ia maklum bahwa orang tadi telah
mempergunakan tenaga pukulan hebat sekali untuk
mendorong dia dan Kui Hok dan biarpun dari jarak jauh,
dorongan yang baru datang anginnya itu saja telah
membuat ia terhuyung mundur dan Kui Hok berjumpalitan.
Agaknya tenaga dorongan si muka iblis ini tidak kalah
hebatnya oleh tenaga pukulan Thai lek Kim kong jiu dari
suhunya! Akan tetapi setelah mendengar suara orang itu,
lenyaplah rasa takutnya dan tiba tiba ia tertawa tawa.
Semua orang terheran heran, bahkan Yap Bouw sendiri
memandang ke arah Bun Sam dengan penuh kegelisahan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Anak ini terlampau sembrono, pikirnya. Yang dihadapinya
kini bukanlah orang orang sembarangan. Nama Sin beng
Ngo hiap saja sudah ternama sekali, apalagiMo bin Sin kun
yang termasyhur itu memiliki kepandaian yang sejajar
dengan suhunya, yakni Kim Kong Taisu.
“Bocah bernyali iblis, mengapa kau tertawa? Awas,
jawab yang benar, siapa tahu kalau kalau tadi adalah
merupakan ketawamu yang terakhir!” Mo bin Sin kun
menghardik dan kerling matanya menyambar.
Akan tetapi Bun Sam tetap tenang. Ia percaya akan
kepandaiannya sendiri dan juga akan bantuan suhengnya
apabila sewaktu waktu diserang orang.
“Aku tertawa karena mendapat kenyataan yang amat
mengecewakan dan juga lucu. Melihat kalian ini, Sin beng
Ngo koai dan Mo bin Sin kun, orang orang yang lelah
terkenal di kalangan kang ouw sebagai orang orang
berkepandaian tinggi, sekarang tidak tahunya ternyata
hanyalah orang orang yang suka sekali membunuh dan
mengancam seakan akan kalian ini adalah kaki tangan dari
Giam lo ong (Raja Dewa Pencabut Nyawa) saja. Salahkah
pendengaranku bahwa orang orang ternama di dunia kang
ouw adalah orang orang gagah perkasa?”
“Omonganmu ada isinya, bocah lancang! Memang
banyak sekali orang orang kang ouw melakukan perbuatan
ang tidak patut. Seperti halnya pendeta ini yang bernama
Bouw Ek Tosu, dia mengaku sebagai pendekar bahkan
sudah berani memakai julukan Sianjin, akan tetapi ia
membiarkan muridnya, anjing yang bernama Ngo jiauw
eng (Garuda Kuku Lima) untuk membinasakan banyak
sekali keluarga orang orang gagah bangsa sendiri.”
“Mo bin Sin kun, jangan kau bicara sembarangan saja!”
tiba tiba Bouw Ek Tosu melangkah maju dan menuding
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
marah. “Ang bi tin adalah pasukan yang dipergunakan oleh
pemerintah untuk menjaga keamanan, maka siapa saja yang
kiranya membahayakan pemerintah, tentu saja dibasmi.
Lagi pula, bukan hanya muridku yang melakukan pekerjaan
yang tidak kau setujui itu, mengapa agaknya kau hanya
berani menegur kepada pinto? Mengapa kau tidak
mendatangi saja langsung kepada pemimpin besarnya, yaitu
Pat jiu Giam ong Liem goanswe? Atau, apakah kau takut
menghadapi Jenderal Liem?”
“Orang tua pikun! Siapa bilang aku takut kepada Pat jiu
Giam ong? Lain kali pasti aku akan bertemu dengan dia
akan tetapi tidak ada hubungannya dengan ini. Jangan kau
berpura pura tidak tahu, Bouw Ek Tosu, bahwa Pat jiu
Giam ong biarpun sekarang sudah memakai she Liem.
namun dia adalah seorang Mongol. Demikianpun Bucuci
dan yang lain lain. Kalau orang Mongol yang menjadi
pemimpin atau anggauta Ang bi tin, itu masih dapat
dimengerti karena mereka itu bekerja berdasarkan membela
pemerintahnya sendiri. Akan tetapi muridmu itu? Dia
adalah seorang Han, mengapa dia membantu orang orang
Mongol untuk membasmi orang gagah bangsanya sendiri?
Pendeknya, kau harus menyuruh muridmu itu
mengundurkan diri.”
“Kalau pinto tidak mau?” tanya Bouw Ek Tosu yang
merasa penasaran.
“Kau harus menerima hajaran lebih dulu sebelum
muridmu!” Baru saja kata kata ini habis di keluarkan, tiba
tiba tubuh Mo bin Sin kun bergerak cepat dan tahu tahu
tangannya telah menotok ke arah pundak Bouw Ek Tusu.
Pendeta ini terkejut sekali dan cepat menangkis totokan
yang cepat sekali datangnya ini. Akan tetapi serangan dan
gerakan Mo bin Sin kun Si Tangan Sakti Bermuka Iblis ini
benar benar luar biasa sekali. Tangan kanan yang tadinya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menotok, tiba tiba jarinya terbuka dan berubah menjadi
cengkeraman yang cepat sekali telah dapat mancengkeram
ujung kebutan, sedangkan tangan kiri dengan gerakan yang
berbareng telah menyodok ke arah lambung pendeta itu!
Bouw Ek Tosu yang masih terkejut melihat betapa
kebutannya yang lihai lelah kena dipegang orang, kini
ditambah lagi dengan serangan sodokan ke arah
lambungnya, segera melepaskan gagang hudtimnya.
Namun ia kalah cepat. Mo bin Sin kun benar benar tidak
percuma mendapat julukan Tangan Sakti, karena baru saja
lawannya mengelak, ia telah dapat mengejar dengan tangan
kiri dan terdengar suara berdebuk keras ketika tubuh Bouw
Ek Tosu kena didorong, sehingga terlempar sampai
setombak lebih!
Bukan main marahnya empat orang adik seperguruan
dari Bouw Ek Tosu ketika melihat suheng mereka
dirobohkan dengan demikian mudahnya. Sambil berseru
keras, Lam san Siang mo si hwesio kembar, Kui Hok si
Pacul Kilat, dan Hwa Hwa Niocu lalu maju menyerang
dengan sengit.
Bun Sam mendekati Yap Bouw dan keduanya berdiri di
sudut ruang itu sambil menonton dengan enaknya!
Terutama sekali Bun Sam amat memperhatikan gerakan
gerakan Mo bin Sin kun yang diketahuinya memiliki
kepandaian amat tinggi itu. Amat hebatlah pertempuran itu.
Tubuh berbaju putih itu lenyap merupakan bayangan putih
yang lincah sekali dan sukar diikuti gerakannya. Di antara
sambaran pedang Hwa Hwa Niocu dan Pacul Kilat dari
Kui Hok nampak gerakan dua pasang golok dari Lam san
Siang mo yang juga amat lihai. Akan terapi tubuh Mo bin
Sin kun lebih cepat lagi gerakannya.
Bagi mata orang orang yang tidak memiliki ilmu silat
tinggi, tentu pemandangan yang ditimbulkan oleh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pertempuran ini akan membuat mereka menjadi silau dan
tak dapat mengikuti semua gerakan itu. Akan tetapi bagi
Bun Sam dan Yap Bouw tentu saja mereka berdua dapat
mengikuti setiap gerakan dan bukan main kagum hati
mereka menyaksikan ilmu silat Mo bin Sin kun yang benar
benar hebat. Si Tangan Sakti Muka Iblis ini dengan tangan
kosong saja menghadapi semua senjata ke empat orang
pengeroyoknya dan baru setelah para pengeroyoknya
menyerang sampai dua puluh jurus, ia berseru,
“Rebahlah kalian berempat!” Kalau dibicarakan sungguh
amat mengherankan, karena baru saja ucapan ini keluar
dari mulutnya yang hitam mengerikan, segera disusul oleh
seruan kaget dan kesakitan. Pertama tama Kui Hok roboh
tertotok, kemudian Hwa Hwa Niocu terpental karena
ditendang dan paling akhir si hwesio kembar itu berteriak
keras karena terdorong oleh tenaga pukulan yang tadi
pernah dirasakan oleh Bun Sam dan Bouw Ek Tosu. Dalam
sekali gerak saja, Mo bin Sin kun telah merobohkan empat
orang dari Sin beng Ngo hiap setelah lebih dulu
merobohkan Bouw Ek Tosu dalam sejurus. Dan yang lebih
hebat lagi, ia telah merobohkan lima orang itu tanpa
membuat mereka terluka hebat, akan tetapi juga yang
membuat mereka untuk beberapa lama takkan dapat
bangun.
“Hebat sekali kepandaianrnu,Ma bin Sin kun!” kata Bun
Sam sambil melangkah mendekati orang bermuka buruk
itu. “Hanya sayang sekali ada beberapa bagian yang kurang
praktis.”
Kalau Yap Bouw tak terasa menutup mulutnya saking
terkejut dan heran melihat kelancangan sutenya ini, adalah
Mo bin Sin kun cepat membalikkan tubuh dan menghadapi
Bun Samdengan mata bersinar marah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Apa katamu? Kurang praktis? Apanya yang menurut
anggapanmu kurang baik?”
“Kau tadi melakukan gerakan seperti ini kalau tidak
salah,” kata Bun Sam dan pemuda yang mempunyai
ingatan amat kuat dan cerdas ini lalu menirukan gerakan
Mo bin Sin kun ketika merobohkan keempat orang
pengeroyoknya. Mula mula jari tangan kanannya
ditusukkan, yakni totokan yang telah merobohkan Si Pacul
Kilat, kemudian cepat dibarengi dengan sebuah tendangan
yang telah membuat Hwa Hwa Niocu jatuh tunggang
langgang, kemudian sekali ia lalu memasang kuda kuda
dengan kedua kaki dipentang dan tubuh direbahkan,
kemudian ia melakukan dorongan dari Thai lek Kim kong
jiu sebagai pengganti tenaga dorongan yang tadi dilakukan
oleh Mo bin Sin kun.
“Nah, aku bilang tidak praktis karena pukulan
mendorong yang paling hebat itu kau lakukan paling akhir
setelah lawan tinggal dua orang. Sedangkan ketika lawan
masih ada empat orang, kau hanya melakukan totokan dan
tendangan yang biasa saja. Bukankah ini berarti menyia
nyiakan ilmu pukulan yang luar biasa hanya untuk
merobohkan dua ekor monyet gundul saja? Dengan tenaga
dan angin pukulan seperti itu, kalau dilakukan dengan baik
dan diatur setepatnya, bukankah dengan mendorong satu
kali saja, semua orang tadi akan terpukul roboh? Inilah
yang tidak praktis, kataku.”
Mula mula Mo bin Sm kun membelalakkan matanya
ketika melihat pemuda itu menirukan gerakan gerakannya
yang biarpun tak dapat dikatakan sempurna dan persis
sekali, akan tetapi sudah dapat dibilang cukup baik, bahkan
terlalu baik bagi seorang yang belum pernah
mempelajarinya. Kemudian, melihat pukulan Thai lek Kim
kong jiu itu ia cepat bertanya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Anak bengal, gurumu si tua Kim Kong Taisu telah
memberikan pelajaran Thai lek Kim kong jiu kepadamu,
mengapa kau masih suka menaruh perhatian kepada ilmu
pukulan orang lain ?”
“Mo bin Sin kun, biarpun begitu, tetap saja aku merasa
amat kagum dan ingin sekali mempelajari ilmu pukulanmu
yang terakhir tadi. Kalau kau sudi memberi petunjuk
kepadaku tentang ilmu pukulan ini, suhu tentu akan
memujimu sebagai seorang yang baik budi.”
Tiba tiba Mo bin Sin kun tertawa senang dan tidak hanya
Bun Sam yang terheran, bahkan Yap Bouw sendiri kini
menghampiri mereka dan memandang kepada Mo bin Sin
kun dengan heran. Alangkah ganjilnya suara ketawa orang
lihai ini. Baik Bun Sam maupun Yap Bouw berani
bersumpah bahwa itu adalah suara ketawa dari seorang
wanita. Suara ketawa yang nyaring, halus dan merdu.
“Ha, ha, ha, si tua bangka Kim Kong Taisu ternyata
mempunyai murid yang lidahnya tak bertulang dan pandai
sekali membujuk orang. Kau kira mudah saja hendak
membujuk rayu kepadaku? Kalau kaudapat mengalahkan
kepandaian muridku, baru aku akan memikir mikir tentang
permintaanmu itu. Ha. ha, ha!” Dengan ketawa geliMo bm
Sin kun lalu berkelebat pergi dan lenyap dan situ.
“Mo bin Sin kun!” Bun Sam berseru. “Aku berani
menghadapi muridmu, di mana aku dapat bertemu dengan
kau dan muridmu?”
Terdengar suara orang lihai itu dari jauh, “Tidak biasa
Mo bin Sin kun memberitahukan tempatnya. Malam nanti
kami akan datang kepadamu.”
Bun Sam dan Yap Bouw saling pandang dan dari
pandangan mata Yap Bouw, Bun Sam yang sudah
mengenal akan watak suhengnya ini tahu bahwa suhengnya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menegurnya dan tidak setuju dengan sikapnya yang lancang
tadi.
“Suheng, aku memang ingin sekali mempelajari ilmu
pukulannya tadi. Suhu pernah berkata bahwa ilmu pukulan
dari jarak jauh, yang paling lihat adalah Ilmu Pukulan Soan
hong pek lek jiu (Pukulan Tangan Angin Puyuh) dari Mo
bin Sin kun. Kukira yang ia pergunakan tadilah adanya
Soan hong pek lek jiu.”
Yap Bouw menggeleng gelengkan kepala, di dalam
hatinya merasa heran akan kesukaan sute nya yang tiada
bosannya hendak memperdalam ilmu silatnya. Ia lalu
menghampiri lima orang yang masih bergeletakan di atas
lantai. Setelah memeriksa sebentar, akhirnya ia
menghampiri Si Pacul Kilat dan mengurut serta menotok
pundaknya, sehingga jalan darah Kui Hok menjadi pulih
kembali. Si Pacul Kilat Kui Hok lalu menghampiri saudara
saudaranya dan menolong mereka. Sementara itu Yap
Bouw lalu menggandeng tangan sutenya dan dibawanya
berlari turun.
Di bawah loteng itu telah berkumpul Lo kun gu Lai Seng
si pemilik restoran Lok thian bersama para pegawainya.
Mereka itu tidak berani bergerak dan hanya berkumpul
sambil bicara bisik bisik. Diam diam Lai Seng merasa
berdebar juga karena peristiwa ini merupakan berita baik
sekali sebagai propaganda kemasyhuran nama restorannya.
Jarang sekali ada restoran yang dijadikan tempat pertemuan
dan pertempuran tokoh tokoh besar seperti Sin beng Ngo
hiap dan Mo bin Sin kun! Dia dan kawan kawannya hanya
mendengar suara gaduh di atas loteng, sama sekali tidak
melihat kedatangan maupun kepergian Mo bin Sin kun.
Ketika Yap Bouw dan Bun Sam turun, Lai Seng lalu
menjura dengan penuh hormat, diam diam memuji
kelihaian si muka iblis ini yang melihat ketenangannya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tentu telah memperoleh kemenangan. Yap Bouw merogoh
sakunya, mengeluarkan sepotong uang emas dan sekali ia
menggerakkan tangannya, uang emas itu telah menancap di
atas lantai tembok!
“Tidak usah, locianpwe, tidak usah bayar....” kata Lai
Seng, akan tetapi Yap Bouw dan Bun Sam telah melompat
pergi dan lenyap dari situ.
“Jangan ambil uang emas itu!” kata Lai Seng gembira
sekali sambil mengamat amati potongan uang emas yang
telah amblas dan hanya kelihaian mengkilat kuning seperti
tambalan pada lantai tembok. “Biar semua orang yang
makan di sini melihat bahwa Mo bin Sin kun makan di sini
dan membayar dengan cara yang luar biasa ini!” Kembali
Lo kun gu Lai Seng hendak mempergunakan peristiwa ini
sebagai reklame untuk restorannya!
Pada saat itu, terdengar suara berisik dari atas loteng dan
nampaklah lima orang Sin beng Ngo hiap itu turun dengan
muka lesu, bahkan Hwa Hwa Niocu dan sepasang hwesio
kembar itu masih meringis ringis menahan rasa sakit.
Kembali Lai Seng menjura dengan amat hormatnya
sambil tersenyum senyum.
Melihat orang tersenyum, Hwa Hwa Niocu yang sedang
mendongkol menjadi marah. “Kau mau apa? Mau minta
bayaran?” Ia mengharapkan Lai Seng benar benar akan
minta bayaran, karena ia tentu akan membayarnya dengan
beberapa kali tamparan untuk melampiaskan hatinya yang
mendongkol. Akan tetapi Lai Seng bukalnah anak kecil
yang tidak tahu gelagat, ia maklum bahwa lima orang ini
tentu sudah dapat dikalahkan, maka sambil tersenyum ia
berkata,
“Tidak sekali kali, mana siauwte berani minta bayaran
kepada ngo wi? Lagi pula, untuk makanan tadi yang tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
seberapa banyak siauwte telah mendapat bayaran lebih dan
cukup yang diberikan oleh Mo bin Sin kun Locianpwe.” Lai
seng menunjuk ke arah lantai di mana masih terlihat
dengan jelas potongan uang emas yang kuning mengkilat.
“Hm, kau kira Sin beng Ngo hiap tidak mampu bayar?”
tiba tiba Bouw Ek Tosu tersenyum pahit, ia merogoh
sakunya dan dari jubahnya yang berkembang itu ia
mengeluarkan sepotong uang emas pula. Ia menggerakkan
tangannya dan uang emas itu meluncur ke bawah,
menancap dan amblas ke dalam lantai tembok, dekat sekali
dengan uang emas yang dilemparkan oleh Yap Bouw tadi!
Tentu saja Bouw Ek Tosu yang mempunyai ilmu
kepandaian setingkat dengan Yap Bouw, dapat melakukan
pula hal yang tadi dilakukan oleh Yap Bouw.
Setelah lima orang ini pergi, Lai Seng hampir berjingkrak
saking girangnya. Tidak saja ia mendapatkan dua potong
uang emas yang sudah lebih daripada cukup sebagai
pembayaran harga makanan dan minuman, bahkan dua
potong tiang emas itu dapat dijadikan sebagai daya penarik
para pelancong dari lain kota yang tentu ingin sekali
melihat cara pembayaran yang aneh ini dariMo bin Sin kun
dan Sin beng Ngo hiap!
Jalan dari Lok yang menuju ke kota raja ada dua
macam. Pertama mengambil jalan air, yakni mengikuti
aliran Sungai Hoang ho (Sungai Kuning) memasuki
Propinsi Sanung lalu turun mendarat dan melanjutkan
perjalanan darat melalui Propinsi Hopak. Atau yang ke dua
mengambil jalan darat melalui Propinsi Shansi, terus
menyusur perbatasan antara Propinsi Shansi dan Propinsi
Hopak.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Oleh karena dalam perjalanan menuju ke kota raja ini,
bagi Yap Bouw adalah untuk membimbing sutenya adapun
bagi Bun Sam sendiri untuk menambah pengalaman dan
meluaskan pengertian, maka mereka berdua mengambil
keputusan untuk melalui jalan darat. Setelah keluar dari
kota Lok yang dan menyeberangi Sungai Hoang ho yang
mengalir di sebelah utara kota, mereka melanjutkan
perjalanan dengan cepat sekali, mempergunakan ilmu lari
cepat yang membuat mereka berlari lebih cepat dari kuda.
Hari telah menjadi gelap ketika mereka memasuki kota
Kin bun, sebuah kota kecil yang tak berapa ramai.
Semenjak pagi, keduanya hanya mengisi perut dengan buah
buah yang mereka petik dari hutan yang mereka masuki
dalam perjalanan tadi. Kini perut mereka terasa lapar sekali.
Baiknya dalam kota Kin bun terdapat sebuah hotel yang
cukup besar dan yang juga menyediakan hidangan bagi
para tamu.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka
lalu makan. Dengan gerakan tangannya Yap Bouw
memberi ingat agar supaya Bun Sam berlaku hati hati sekali
karena mungkin malam ini akan ada orang datang
menggangu, Bun Sam mengangguk angguk karena ia
teringat akan ucapan Mo bin Sin kun yang malam hari ini
hendak mengunjunginya bersama muridnya dengan
maksud mengadu kepandaian!
“Suheng, kalau kuingat suara bicara dan ketawa Mo bin
Sin kun tadi timbul dugaanku bahwa dia adalah wanita.
Apakah kau tidak pikir begitu suheng?”
Dengan bahasa gerak jari tangannya, Yap Bouw
membenarkan sangkaan ini, karena ia sendiri pun berpikir
demikian. Dan ia menambahkan keterangan bahwa
suhunya sendiri belum pernah menyatakan apakah Mo bin
Sin kun seorang laki laki atau wanita. Kemudian Yap Bouw
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memperingatkan agar berlaku hati hati sekali, karena murid
Mo bin Sin kun tentulah seorang yang berkepandaian amat
tinggi seperti gurunya. Bun Sam tersenyum dan menjawab,
“Jangan khawatir, suheng. Mo bin Sin kun demikian
galak, tentu muridnya tidak jauh berbeda. Dan orang yang
mudah marah seperti itu, tidak berbahaya untuk dilawan
asalkan kepandaian kita tidak kalah jauh. Bukankah begitu,
kata suhu?”
Yap Bouw mengangguk angguk dan berkata dengan
tangannya bahwa memang betul demikianlah. Orang yang
mudah dikuasai oleh tujuh perasaan (marah, malu, kecewa,
takut, suka, duka, gembira) tak dapat berlaku tenang dan
oleh karenanya tak dapat bertempur dengan baik. Akan
terapi, demikian Yap Bouw yang sudah banyak pengalaman
dan berpemandangan luas ini memperingatkan amat tidak
baik kalau memandang rendah kepada lawan, apalagi
lawan yang belum diketahui sampai di mana tingkat
kepandaiannya. Memandang rendah kepada lawan berarti
sudah kalah satu bagian dalam pertempuran, katanya,
karena perasaan ini mengurangi kewaspadaan sendiri.
Selelah makan, mereka lalu masuk ke dalam kamar
untuk beristirahat. Keduanya duduk di pembaringan masing
masing, bersila mengatur pernapasan dalam samadhi sambil
menanti datangnya Mo bin Sin kun. Biarpun dilihatnya
sama, keduanya duduk bersila memejamkan mata dan
napas mereka teratur baik, namun isi pikiran kedua orang
ini amat jauh berbeda. Kalau Bun Sam pada waktu itu
merasa senang untuk menghadapi murid dari Mo bin Sin
kun, adalah Yap Bouw melayangkan ingatannya pada
waktu waktu dahulu ia girang sekali melihat anak yang dulu
ditolongnya itu, kini telah menjadi seorang pemuda yang
tampan dan gagah, telah menjadi sutenya yang memiliki
kepandaian lebih tinggi daripadanya sendiri. Ia telah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menganggap Bun Sam seperti anak sendiri dan kasih
sayangnya terhadap pemuda ini adalah kasih sayang
seorang ayah terhadap seorang putera nya. Akan tetapi
kalau ia teringat kepada rumah tanggannya, kepada isteri
dan putera puterinya, mengalirlah darah dari hatinya yang
terluka. Akan tetapi bekas jenderal yang bernasib malang ini
cepat cepat menguatkan tenaga batinnya untuk menekan
perasaan itu dan napasnya yang tadinya tersengal sengal
menjadi tenang kembali.
Biarpun sedang duduk bersamadhi namun Bun Sam
yang amat tajam pendengarannya itu dapat membedakan
perubahan napas dari suhengnya, maka ia membuka
matanya sebentar. Dilihatnya peluh memenuhi jidat
suhenenya itu dan wajah suhengnya yang rusak dan
bercacat itu menjadi makin menyeramkan. Ia menghela
napas panjang. Sudah terlalu sering ia melihat suhengnya
berhal demikian dan karena ia pernah mendengar riwayat
suheng nya, maka maklumlah ia akan kedukaan yang
kadang kadang mengganggu pikiran bekas jenderal yang
bernasib malang ini. Tiba tiba ia menjadi amat terharu.
Dengan perlahan Bun Sam turun dari pembaringannya,
menghampiri Yap Bouw dan menggunakan saputangannya
untuk menghapus peluh yang memenuhi jidat Yap Bouw
dengan perasaan penuh kasih sayang seperti seorang anak
terhadap ayahnya atau seorang adik terhadap kakaknya.
Perbuatan Bun Sam ini mendatangkan keharuan besar
kepada Yap Bouw, akan tetapi sekaligus juga
menghilangkan kesedihannya karena dalam diri pemuda ini
ia mendapatkan pengganti putera yang amat dikasihinya.
Dengan gerakan tangannya ia mengisaratkan agar pemuda
itu kembali ke pembaringannya dan mengaso.
Kembali mereka duduk bersamadhi sampai menjelang
tengah malam. Keadaan sangat sunyi dan hotel yang hanya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
didatangi sedikit orang tamu itu telah menjadi sepi. Semua
orang termasuk penjaga hotel, telah tidur pulas dalam
malam yang dingin itu.
Tiba tiba terdengar suara dari kamar Bun Sam, “Bocah
sumbong, lekas keluar, kami menunggu!”
Bun Sam mengenal suara Mo bin Sn kun, maka cepat ia
melompat turun dari pembaringannya. Ternyata bahwa
Yap Bouw juga sudah melompat turun dan keduanya saling
pandang dengan heran mengapa gerakan Mo bin Sin kun di
atas genteng sama sekali tidak pernah terdengur oleh
mererka. Hal ini telah membuktikan bahwa Tangan Sakit
Bermuka Iblis ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang
amat tinggi.
Bun Sam membuka daun jendela, lalu melompat keluar
diikuti oleh suhengnya. Memang mereka semenjak tadi
telah bersiap sedia dan tidak menanggalkan pakaian ketika
naik ke pembaringan.
Selelah tiba di luar hotel, mereka melihat bayangan
berkelebat turun dari atas genteng dan nampaklah dua
bayangan orang berdiri menanti mereka. Malam itu terang
bulan, akan tetapi cahaya bulan belum cukup terang untuk
menerangi wajah kedua orang itu.
Bun Sam mengenal bahwa yang melompat turun dari
atas genteng tadi adalah Mo bin Sin kun. Biarpun tidak
nyata mukanya, namun ia masih dapat mengenal pakaian
serba putih dan kemudian dari leher ke atas hanya hitam
saja itu. Ketika ia memandang kepada orang ke dua, diam
diam ia merasa mendongkol sekali. Apakah Mo bin Sin kun
hendak mempermainkannya?
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Jilid V
ORANG yang berdiri di dekat Mo bin Sin kun bertubuh
langsing kecil dan pendek, melihat bentuk tubuhnya, ia
menaksir bahwa, murid itu usianya tidak akan lebih dari
dua tiga belas tahun. Seorang anak kecil, bagaimana ia
mempunyai muka untuk melawan seorang anak kecil?
Dengan muka terasa panas pada malam sedingin itu,
Bun Sam lalu melompat ke depan dua sosok bayangan itu,
tetap diikuti oleh Yap Bouw yang juga merasa aneh.
Benar saja, yang berpakaian putih dan yang melayang
turun tadi adalah Mo bin Sin kun yang berdiri sambil
bertolak pinggang dan wajahnya tidak kelihatan saking
hitamnya. Di sebelah kanan berdiri seorang yang sekaligus
membuat Bun Sam menjadi bengong. Orang yang dikiranya
anak kecil tadi ternyata seorang gadis kecil yang bermuka
bulat telur, bertubuh cilik ramping dan padat dan pada
mukanya yang elok itu membayangkan keberanian besar
yang kini, ditujukan kepadanya dengan sikap menantang!
“Eh, siapakah dia ini? Dan mengapa selalu berada di
sampingmu seperti seorang pelindung?” tiba tiba Mo bin
Sin kun bertanya dan karena Bun Sam kini telah berdiri
dekat dan matanya sudah biasa dengan keadaan yang
suram itu, ia dapat melihat betapa sepasang mata dari si
muka iblis tangan sakti ini memperlihatkan sinar kasihan
terhadap suhengnya! Juga dalam mengajukan pertanyaan
ini, suaranya terdengar halus dan tidak galak. Mendengar
ucapan itu, si gadis cilik juga menengok dan memandang
kepada muka Yap Bouw. Terdengar ia menahan jeritan
kaget dan ngeri.
Bun Sam menoleh kepada gadis cilik itu dan ketika
melihat betapa gadis itu seakan akan hendak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyembunyikan pandangan matanya dari muka
suhengnya yang rusak dan cacat, ia berkata,
“Betapapun juga, kerusakan muka suhengku tidak
seburuk muka gurumu!” Bua Sam menunjukkan kata kata
ini kepada gadis yang tampaknya jijik melihat muka
suhengnya dan ia sudah mengkhawatirkan bahwa Mo bin
Sin kun akan menjadi marah karena ucapan ini, akan tetapi
aneh, Mo bin Sin kun tidak menjadi marah, bahkan
menarik napas panjang dan berkata,
“Kasihan dia.... memang, tidak hanya dia yang buruk
rupa di dunia ini, maka tak perlu dijadikan kekecewaan.
Akan tetapi, siapakah dia dan mengapa dia tak pernah
bicara ?”
“Dia adalah suhengku dan dia tak pernah bicara karena
memang dia tidak bisa bicara.”
“Ah.....” Hampir berbareng terdengar seruan ini dariMo
bin Sin kun dan muridnya dan kembali, Bun Sam
mengerutkan keningnya. Tak salah lagi Mo bin Sin kun ini
tentu seorang wanita seperti muridnya itu pula!
“Belum pernah aku mendengar Kim Kong Taisu
mempunyai seorang murid yang cacad dan gagu. Ada aku
mendengar dia mempunyai murid seorang yang....... ah, tak
perlu dia disebut sebut, dia sudah tewas sebagai seorang
pahlawan bangsa.” Sambil berkata demikian Mo bin Sin
kun menengok ke arah muridnya yang berdiri sambil
menundukkan muka. Untuk sesaat keadaan sunyi dan
semua orang diam saja, seakan akan mengenangkan sesuatu
yang menyedihkan hati. Tentu saja dapat diduga betapa
hancur hati Yap Bouw mendengar ucapan itu. Ia maklum
bahwa yang dimaksudkan oleh Mo bin Sin kun tadi tentu
dia sendiri!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sudahlah, sudahlah, di waktu terang bulan seperti ini
tidak layak membicarakan hal hal yang telah lalu. Hai,
bocah sombong, apakah benar benar kau berani
menghadapi muridku ini ?”
Bun Sam mengerling kepada gadis cilik itu. “Sebenarnya
aku merasa enggan dan malu harus melawan seorang anak
perempuan yang masih begini kecil, paling banyak baru dua
belas tahun dan.......”
“Usiaku sudah empatbelas! Dan aku tidak takut
kepadamu, buyung !” tiba tiba gadis cilik itu
mendampratnya dan suaranya ternyata keras dan nyaring
sekali.
Tadinya Bun Sam mengira bahwa gadis ini galak dan
sombong, akan tetapi tidak demikian. Gadis itu bicara
dengan sikap sungguh sungguh dan nampak tetap tenang
saja, tidak memandang rendah, juga tidak takut.
Menghadapi seorang gadis cilik yang dapat bersikap hati
hati seperti ini, ia harus berlaku wapada pikirnya.
“Mo bin Sin kun, karena kau yang membawa dia ke sini
dan kau pula yang menantangku mengadakan pibu dengan
muridmu, baiklah kuterima tantangan ini. Akan tetapi
taruhannya. Ilmu pukulan Soan hong pek lek jiu harus kau
ajarkan kepadaku!”
Mo bin Sin kun nampak terkejut. “Dari mana kau bisa
tahu bahwa ilmu pukulan itu adalah Soan hong pek lek
jiu?”
“Kalau bukan suhu yang memberi tahu kepadaku siapa
lagi yang akan mengenal ilmu pukulan mu yang lihai itu?”
Mo bin Sia kun mengangguk angguk. “Memang
matamu tajam sekali. Baiklah. Soan hong pek lek jiu akan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kuajarkan kepadamu kalau kau dapat mengalahkan
muridku ini. Akan tetapi bagaimana kalau kau yang kalah?”
“Kalau aku kalah,....?” Bun Sam memandang kepada
gadis cilik itu, kemudian kepada Mo bin Sin kun dan
memutar otaknya, “kalau aku kalah, biar aku berlutut di
depanmu delapan kali dan mengangkat kau sebagai guruku
yang ke dua !”
Mo bin Sin kun tiba tiba tertawa terbahak bahak dengan
suara ketawanya yang merdu, lalu katanya geli.
“Kau memang tukang bujuk yang pandai !” Kemudian ia
berpaling kepada muridnya dan berkata, “Lihat,
menghadapi seorang pemuda seperti ini di kemudian hari,
kau harus berhati hati.” Lalu ia kembali berkata kepada
Bun Sam. “Baiklah, hendak kulihat sampai di mana Kim
Kong Taisu mengajar muridnya dan biar kusaksikan dulu
apakah kau berbakat untuk menerima Soan hong pek lek
jiu.”
Sementara itu, gadis cilik murid Mo bin Sin kun ini yang
sudah mendengar dari suhunya bahwa ia hendak diadu
dengan pemuda sombong itu, sudah melompat ke tempat
yang lapang dan bersiap sedia.
“Majulah, buyung !”
Bun Sam mendongkol juga karena berkali kali disebut
buyung oleh gadis itu, seakan akan gadis itu jauh lebih tua
daripadanya. “Bocah masih ingusan! Kau sombong sekali.
Tunggu aku akan menjewer telingamu sampai mulur !”
Iapun menyusul dan melompat ke lapangan itu,
menghadapi lawannya.
Betapapun juga tenangnya, murid Mo bin Sin kun hanya
seorang anak perempuan yang lebih mudah tersinggung
hatinya. Mendengar sindiran dan ejekan Bun Sam ini, tiba
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tiba marahlah dia. Sepasang matanya mengeluarkan cahaya
berapi dan tanpa banyak bercakap lagi ia lalu menerjang
Bun Samsambil membentak, “Lihatlah pukulan!”
“Bagus sekali!” jawab Bun Sam sambil cepat mengelak
dan membalas dengan serangan kilat pula.
Maka bertempurlah kedua orang remaja itu dan ternyata
oleh Mo bin Sin kun dan Yap Bouw yang menonton di situ
bahwa keduanya memiliki kegesitan yang setingkat. Yap
Bouw yang semenjak tadi menatap wajah anak perempuan
itu dan memperhatikannya, diam diam memuji. Bagaimana
seorang anak perempuan yang belum dewasa dapat
memiliki ilmu kepandaian setinggi itu? Dalam hal ilmu
silat, ia harus mengakui bahwa dia sendiri kalah tinggi oleh
gadis cilik itu. Apalagi ginkang nya, sungguh hebat karena
bertempur melawan Bun Sam, gadis itu merupakan seekor
burung walet yang lincah dan gesit sekali, yang menyambar
nyambar dari segala jurusan untuk merobohkan Bun Sam.
Akan tetapi, Bun Sam telah mempelajari Ilmu Silat Sin
tiauw ciang hwat dan Siauw hong kun hwat ciptaan
gurunya dari pertempuran antara ular besar dan burung
rajawali, maka gerakannya selain tenang seperti ular juga
gesit seperti burung rajawali. Tadinya Bun Sam tidak
mengeluarkan ilmu silat ini, hanya memainkan ilmu silat
biasa yang mengandalkan tenaga dan kegesitan. Akan tetap
setelah dilihatnya betapa lawannya benar benar hebat sekali
gerakannya dan. khawatir kalau kalau ia sampai kalah
segera ia mengeluarkan Ilmu silat Siauw liong kun hwat
yang diseling seling dengan Ilmu Silat Sin Tiauw ciang
hwat. Dengan demikian kadang kadang tubuh pemuda itu
diam dan tegak dengan amat tenangnya, hanya menanti
datangnya lawan yang lain ditangkis juga berbareng diberi
serangan balasan, akan tetapi kadang kadang tubuhnya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bergerak gerak dengan lompatan lompatan tinggi seperti
seekor burung sedang terbang.
Menghadapi dua macam ilmu silat ini, barulah anak
perempuan itu terdesak dan bingung. Bahkan Mo bin Sio
kun terdengar berseru perlahan, “Bagus sekali gerakan
gerakan itu.”
Gadis cilik itu terdesak mundur terus, tidak kuat
menghadapi serangan serangan Bun Sam yang
mengeluarkan ilmu silat baru yang belum pernah terlihat
oleh dunia luar ini. Tiba tiba ia berseru, “Bolehkah teecu
mempergunakan Soan hong jiu?”
Mo bin Sin kun menjawab, “Apa boleh buat, lawanlah
dengan Soan hong pek lek jiu!”
Tiba tiba gadis itu melompat ke belakang dan berjungkir
balik beberapa kali. Ketika ia menurunkan kedua kakinya,
ia telah terpisah dua tombak lebih dari tempat Bun Sam
berdiri. Pemuda ini tidak takut dan maju mengejarnya dan
pada saat itu gadis cilik ini lalu memasang kuda kuda
setengah berjongkok, menyimpan kedua tangan di bawah
pangkal lengan, kemudian ia berseru keras sambil
mendorang kedua lengannya dengan tiba tiba ke depan.
Bun Sam mencoba untuk mempertahankan diri dari
serangan angin pukulan yang luar biasa itu. Ia
menggerakkan tubuh ke atas, melompat dengan gerak tipu
Lee hi ta teng (Ikan Lehi Melompat Ke Atas) kemudian
dari atas ia melanjutkan gerakannya dengan tipu Sin tiauw
kiun jiauw (Rajawali Sakti Menyabetkan Cakar) sebuah
tipu dari Ilmu Silat Sin tiauw ciang hwat.
Gadis cilik ini terkejut sekali ketika ia mengerahkan
pukulan Soan hong jiu ke arah pemuda yang
menyambarnya, tiba tiba tangan kanannya kena terpegang
oleh Bun Sam. Sekali pemuda itu membetot, gadis itu tak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dapat mempertahankan diri dan terhuyung ke depan. Tentu
ia akan jatuh terjerembab ke depan kalau Bun Sam tidak
cepat cepat menjambret bajunya dan menahannya.
Merahlah muka gadis cilik itu. Ia telah kena diakali dan
hampir saja ia jatuh tertelungkup. Akan tetapi ia terheran
karena ia tadi merasa betul bahwa pukulannya telah
mengenai pundak kanan pemuda itu. Apakah pemuda itu
kebal dan dapat menahan pukulan Soan hong jiu?
Sebetulnya tidak demikian, karena pada saat itu Bun
Sam meraba raba pundaknya sambil meringis ringis
kesakitan. Tadi ketika ia menggunakan gerak tipu Sin tiauw
kian jiauw, ia telah memapaki pukulan Soan hong jiu yang
hebat dan merasa pundaknya sakit seperti tertusuk jarum.
Ketika ia merabanya, rasa sakit itu bukan main, seakan
akan tulang tulang pundaknya telah terluka hebat!
Terdengar Mo bin Sin kun tertawa nyaring. “Kalau
dipandang dari sudut pibu (adu kepandaian silat), kau kalah
karena kau telah terluka oleh pukulan Soan hong jiu. Akan
tetapi, dipandang dari sudut ukuran, ternyata
kepandaianmu lebih baik setingkat dari kepandaian
muridku. Dan biarpun kau sudah terluka, kau masih mau
menolong, sehingga muridku tidak jatuh, ini menunjukkan
bahwa Kim Kong Taisu tidak keliru memilih murid.
Baiklah, bocah bernasib baik, aku akan menurunkan Soan
hong jiu kepadamu!”
Bukan main girangnya hati Bun Sam dan cepat cepat ia
menjatuhkan diri berlutut di depan Mo bin Sin kun. Akan
tetapi ketika ia berlutut, tiba tiba ia meringis lagi karena
pundaknya yang terluka terasa sakit sekali.
“Mari kau ikut aku masuk ke kamarmu. Malam hari ini
kau harus sudah dapat menghafal ilmu pukulan Soan hong
jiu. Besok pagi pagi aku akan pergi dan bisa atau tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menghafal Soan hong jiu tergantung kepadamu sendiri,
waktunya hanya semalam ini!”
Memang amat aneh watak Mo bin Sin kun ini, akan
tetapi Bun Sam yang tahu bahwa orang orang pandai di
dunia ini memang berwatak aneh, tidak menjawab, hanya
mengangguk dan beramai mereka lalu masuk ke dalam
kamar Bun Sam di hotel itu. Adapun gadis cilik itu seperti
sudah berjanji dengan suhunya, tanpa memperlihatkan
muka iri atau kesal pergi duduk di atas bangku yang berada
di luar kamar Bun Sam.
Yap Bouw yang semenjak tadi memperhatikan gadis itu
dengan mata bersinar kagum, juga ikut masuk, akan tetapi
ia tidak segera masuk ke dalam kamarnya, melainkan
duduk di depan kamarnya pula, di atas bangku dan terus
menerus memandang ke arah gadis cilik yang duduk di
depan kamar Bun Sam. Agaknya ingin sekali ia mengajak
gadis itu bicara, akan tetapi karena gagu, ia menahan
kehendaknya itu dan hanya menatap dengan penuh
perhatian.
Gadis itu tentu saja merasa betapa orang itu
memandangnya terus menerus. Ia tidak takut melihat wajah
orang itu, karena ia sudah biasa melihat wajah jurunya yang
lebih buruk lagi, akan tetapi dipandang terus menerus, ia
merasa gelisah juga. Beberapa kali ia mencoba untuk
tersenyum kepada Yap Bouw, akan tetapi si muka
tengkorak itu tidak membalas senyumannya, bahkan
memandang makin tajam.
Memang elok sekali wajah gadis cilik itu.Mukanya bulat
telur, dagunya runcing manis, air mukanya terang dengan
bibir tipis dan mata bersinar sinar. Sebuah titik merah
semacam tahi lalat menghias leher di bawah dagunya,
menambah ke manisannya. Rambutnya halus, hitam dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
panjang, dikuncir dua dan kuncir itu digelung di kanan kiri
kepalanya.
“Orang tua, kenapa kau memandang saja kepadaku?”
akhirnya gadis itu menjadi tak sabar dan bertanya juga
kepada Yap Bouw yang tiba tiba merasa gugup sekali.
Gadis cilik itu melihat sikap Yap Bouw seperti orang malu
malu dan gelisah, menjadi terheran dan timbul perasaan
kasihan kepada orang bermuka rusak ini. Ia berdiri dari
tempat duduknya dan berjalan dengan lenggang halus
menghampiri Yap Bouw yang menundukkan mukanya.
“Lopeh (uwak),” katanya sambil menyentuh tangan Yap
Bouw. “Apakah yang kau pikirkan? Apakah kau tidak
setuju melihat sutemu (adik seperguruanmu) menerima
latihan Soan hong jiu hwat dari garuku?”
Yap Bouw menggeleng gelengkan kepalanya dan
matanya hanya sekali sekali saja memandang wajah gadis
cilik itu.
“Lopeh, kau tidak bisa bicara, apakah semenjak lahir kau
sudah menjadi gagu? Siapakah namamu, lopeh dan apakah
kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada sutemu tadi?”
Gadis itu menghujani Yap Bouw dengan pertanyaan
pertanyaan lupa bahwa yang ditanyanya tentu saja tak
dapat menjawab. Ketika ia melihat pandangan mata Yap
Bouw yang seakan akan merasa tertusuk hatinya, gadis itu
cepat berkata.
“Ah, benar. Kau tidak bisa menjawab pertanyaan
penrtanyaanku, lopeh. Aku..... entah mengapa, aku merasa
kasihan sekali kepadamu dan ingin sekali bercakap cakap
dengan kau. Kau kelihatan sabar dan baik hati, lopeh.”
Yap Bouw makin suka kepada anak perempuan ini. Ia
teringat bahwa anak sebesar ini sudah semestinya tidur
pada waktu itu; maka ia lalu menunjuk ke kamarnya dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memberi tanda dengan isarat tangannya bahwa gadis itu
boleh tidur di dalam kamarnya dan ia sendiri akan duduk di
luar saja.
Gadis itu ternyata cerdik sekali dan sekali pandang saja
ia mengerti isarat tangan si gagu ini. Ia tersenyum dan
melihat senyum gadis cilik; ini terpaksa Yap Bouw
memeramkan matanya untuk menghilangkan perasaan dan
bayangan yang bukan bukan.
“Lopeh, kau baik sekali, benar seperti dugaanku. Kau
tentu lebih baik daripada sutemu yang sombong dan keras
kepala! Aku tidak mau tidur, lopeh, sudah biasa aku tidur
sampai jauh malam. Kalau kau mengantuk, tidurlah kau.”
Yap Bouw menggelengkan kepala dan untuk beberapa
lama keduanya berdiam saja. Gadis itu memandang dan
menatap wajah Yap Bouw, sedangkan orang tua yang gagu
ini hanya menundukkan mukanya. Benar benar
pemandangan yang amat aneh.
“Lopeh, tahukah kau bahwa aku amat benci kepada
suhumu, kepada Kim Kong Taisu?” tiba tiba gadis cilik itu
berkata.
Yap Bouw terkejut sekali dan memandang kepada gadis
itu dengan mata penuh pandangan menyelidik.
“Kau tentu heran, lopeh. Akan tetapi aku harus
membenci suhumu yang belum pernah kulihat itu. Bahkan
guruku sendiripun amat benci, kepadanya dan ingin sekali
sewaktu waktu mengadakan pertandingan untuk
menentukan siapa yang lebih unggul kepandaiannya.”
Kembali Yap Bouw terheran, bahkan kali ini tanpa
disengaja bibirnya bergerak mengucapkan kata kata,
“Mengapa?” yang tidak bersuara.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Wajah gadis itu berseri girang. “Ah, dahulu kau tentu
dapat bicara, lopeh. Orang yang gagu semenjak lahir tentu
tak dapat menggerakkan bibir untuk mengucapkan kata
kata! Kau ingin tahu mengapa guruku dan aku membenci
Kim Kong Taisu?” Gadis itu menghentikan kata katanya
dan keningnya berkerut, tanda bahwa ia sedang berpikir
pikir dan mempertimbangkan apa yang hendak dikatakan
selanjutnya. Yap Bouw menatap wajah yang elok dan
manis itu dan kembali hatinya berdebar keras dan aneh.
“Ah, haruskah aku menceritakan hal ini kepadamu?” kata
gadis itu pula dengan perlahan, kepada diri sendiri.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil