Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 24 Juni 2018

PEDANG SINAR EMAS 8

=======

Pat pi Lo cu tertawa bergelak, kelihatannya senang
sekali. “Ha, ha, bagus! Kalau ada dua anak Thian te Kiam
ong, baru seimbang. Tokoh tokoh Tibet bilang bahwa ilmu
kepandaianku yang dangkal hanya kurang lebih setengah
kepandaian Thian te Kiam ong. Maka kalau kalian telah
mewarisi setengah dari ilmu pedang ayah kalian, benar
benar aku akan menghadapi bahaya yang hangat dan
menyenangkan.Majulah.”
Tek Hong tadinya tidak bermaksud mengeroyok, karena
sebagai seorang pendekar pantang baginya melakukan
pengeroyokan. Akan tetapi karena ia maklum bahwa
kepandaian kakek ini lebih tinggi daripadanya, dan melihat
pula betapa kakek ini menantang mereka berdua, ia merasa
girang dan lega bahwa adiknya telah maju membantunya.
“Kalau kau berkukuh hendak memberi pelajaran kepada
kami, silahkan, totiang!” kata Tek Hong sambil memasang
kuda kuda, diikuti oleh Siauw Yang. Dua orang ini adalah
ahli pedang ahli pedang yang ternama sebagai ahli waris
Thian te Kiam ong Song Bun Sam, di waktu mudanya
kedua orang ini telah menggemparkan dunia kang ouw.
Seorang diantara mereka saja sudah merupakan lawan yang
amat tangguh dan jarang dapat dikalahkan, apalagi
sekarang maju berbareng!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, yang mereka hadapi bukan orang
sembarangan. Pat pi Locu adalah seorang tokoh besar di
Tibet dan sekitarnya Untuk wilayah barat, nama besar Lo
cu Berlengan Delapan ini sudah terkenal sekali. Kiranya
hanya beberapa orang guru besar di Tibet atau para Lama
tua yang sakti saja yang dapat direndengkan dengan Pat pi
Lo cu. Dahulu banyak tokoh tokoh Tibet yang roboh oleh
Thian te Kiam ong, di antara mereka adalah Sim thauw
hud (Buddha Bekepala Tiga) dan Ang tung hud (Buddha
bertongkat Merah) yang menjadi ketua dari Lama aliran
Jubah Hitam di Tibet. Mereka berdua ini lihai sekali,
namun apabila di bandingkan dengan Pat pi Lo cu, mereka
kiranya masih kalah setingkat. Ketika mereka dahulu roboh
oleh Thian te Kiam ong, Pat pi Locu masih muda sekali.
Sudah sejak mudanya ia mendengar nama besar Thian te
Kiam ong yang berturut turut merobohkan tokoh tokoh
besar Tibet, bahkan juga See san Ngo sian (Lima Dewa dan
See san), para ketua Cheng i pai (Aliran Jubah Hijau) raboh
oleh Raja Pedang itu. Tentu saja Pat pi Lo cu menjadi
tertarik dan kagum, juga penasaran. Maka ia tidak mau
turun gunung, terus saja memperdalam ilmu silatnya
dengan idam idaman hati ingin menantang pibu dan
mengalahkan Thian te Kiam ong. Oleh karena itulah maka
ia khusus mempelajari ilmu pedang dan boleh dibilang
semua ahli pedang di daerah barat telah ia petik
kepandaiannya, kemudian semua ilmu pedang dari barat itu
ia olah sedemikian rupa menjadi ilmu pedang yang luar
biasa lihainya. Karena ia mempunyai nama julukan Nabi
Lo cu, maka ia memberi nama pada ilmu pedangnya itu Lo
cu Kiam hoat.
Pertempuran pedang itu terjadi dengan amat seru dan
hebatnya, jauh lebih ramai daripada pertempuran antara
dua orang cucu Thian te Kiam ong melawan dua saudara
kembar tadi. Gerakan Tek Hong tenang dan kuat,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sebaliknya Siauw Yang cepat dan cekatan, sehingga dua
buah pedang ini merupakan sepasang pedang yang saling
bantu dari kanan kiri dengan keistimewaan dan kelihaian
masing masing. Akan tetapi, pedang bersinar putih dari Pat
pi Lo cu yang berada ditengah tengah. sinarnya bergulung
gulung dan melayani dua pedang lawannya.
Pada saat yang baik, Pat pi Lo cu memutar cepat
pedangnya dan sengaja mengadu pedang putihnya
menghantam pedang kuning emas di tangan Tek Hong.
“Traang!” dan alangkah kagetnya hati Tek Hong ketika
melihat ujung pedangnya patah! Benar benar hal yang tidak
mungkin. Bagaimana Kim kong kiam bisa patah oleh lain
pedang? Ia melompat mundur dan memandang pedangnya.
Makin besar kagetnya melihat dari patahan itu bahwa
pedangnya hanya pedang biasa yang dibungkus emas
sehingga dari luar memang serupa benar dengan Kim kong
kiam.
“Ini bukan Kim kong kiam....” tak terasa lagi Tek Hong
berseru. Siauw Yang juga terkejut dan melompat mendekati
kakaknya.
Adapun Pat pi Lo cu tertawa mengejek akan tetapi
suaranya kecewa ketika ia berkata, “Ah, jangan kata
setengahnya, seperempatnya pun kalian belum menguasai
ilmu pedang Thian te Kiam ong. Sayang, kedatanganku sia
sia saja, ilmu pedang yang kalian miliki itu masih jauh
untuk pantas disebut raja raja pedang! Biarlah lain kali
kalau kalian atau anak anak kalian sudah maju ilmu
pedangnya dan sudah mewarisi semua kepandaian Thian te
Kiam ong, aku datang lagi!” Setetah berkata demikian, Pat
pi Lo cu mengjak dua orang muridnya pergi dan situ.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ong Siang Cu sudah mencabut pedangnya hendak
menyerang tosu itu, akan tetapi Tek Hong memegang
lengan isterinya dan berkata,
“Sudahlah, memang dia betul. Kepandaiannya masih
lebih tinggi daripada kepandaian kita. Yang lebih penting
adalah pedang Kim kong kiam ini. Mengapa tiba tiba saja
menjadi pedang palsu? Dimanakah pedang yang aslinya?”
Semua orang tak mengerti, dan setelah upacara pemakaman
itu selesai semua, Tek Hong cepat cepat mengajak semua
orang pulang karena a hendak mencari Kim kong kiam.
Akan tetapi, sia sia saja, Kim kong kiam yang aseli tidak
dapat mereka temukan. Hanya seorang saja yang tahu di
mana adanya Kim kong kiam dan orang ini adalah Beng
Han. Ingin ia membuka mulut memberi tahu kepada Tek
Hong yang sedang bingung, akan tetapi kalau ia teringat
akan pesan suhunya, ia tidak berani membocorkan rahasia
ini dan menutup mulutnya.
“Ayah tentu sudah tahu akan keadaan pedang palsu ini,”
kata Tek ong kepada isterinya dan adiknya, “tak mungkin
ayah yang berkepandaian tinggi dan waspada tak dapat
membedakan yang aseli dan palsu. Akan tetapi sengaja
ayah memesan supaya pedang ini disimpan di rumah Siauw
Yang. Apakah gerangan maksudnya? ”
“Benar benar aneh. Di mana adanya pedang yang
tulen?” tanya Siauw Yang mengerutkan kening. “Yang
palsu suruh menyimpan aku, habis yang tulen ayah berikan
kepada siapakah?”
Ong SiangCu sejak mudanya berwatak keras dan mudah
tersinggung, maka mendengar kata kata Siauw Yang ini, ia
berkata, “Adik Siauw Yang, sudah terang bahwa pedang
Kim kong kiam yang tulen tidak diberikan kepada kami!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Siapa menduga begitu, so so (kakak ipar)?” kata Siauw
Yang tersenyum masam.
Memang wanita paling mudah tersinggung dan paling
mudah cakar cakaran. Hal ini sudah di maklumi oleh Tek
Hong yang segera mengadang, “Sudahlah, tak perlu saling
menaruh curiga. Yang penting, marilah kita bersama
berusaha untuk mencari di mana adanya pedang pusaka
itu.”
“Betul apa yang dikatakan oleh twako,” kata Pun Hui.
“Lebih baik kami besok pulang saja, dan jangan lupa
kitapun harus menyelesaikan pesan tentang perjodohon
anak kita.”
Siauw Yang dan suaminya lalu mengundurkan diri dan
berkemas di kamar mereka, siap untuk berangkat besok
pagi.
0odwo0
Bi Hui duduk seorang diri di dalam taman bunga di
belakang rumahnya. Taman bunga ini luas dan indah,
apalagi malam itu ditimpa cahaya bulan purnama, amatlah
indahnya. Akan tetapi segala keindahan ini agaknya tidak
terlihat maupun terasa oleh dara itu, ia duduk sambil
menundukkan muka, keinginannya berkerut dan beberapa
kali ia menarik napas panjang panjang.
“Hui moi....” terdengar bisikan halus dari belakangnya.
Bi Hui tidak menoleh, juga tidak menjawab hanya kini
matanya menatap tanah di bawah kakinya menjadi basah
dan tak lama kemudian dua butir air mata menitik turun.
Kong Hwat menghampiri gadis itu, berjalan memutar
dan berdiri menghadapinya. Wajah pemuda ini nampak
muram.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bi Hui apakah kau juga.... seperti aku pula....
memikirkan tentang perjodohan yang tak menyenangkan
hati kita itu....?”
Bi Hui tetap bertunduk, hanya kini ia mengangguk
anggukkan kepalanya.
“Memang kong kong terlalu sekali! Mengapa ia
meninggalkan pesanan yang gila gilaan itu? Mengapa ia
hendak menghalangi kebahagiaan kita dan mencampuri
urusan kita? Celakanya orang orang tua kita sudah
menyetujui. Benar benar orarg orang tua itu mau enaknya
sendiri saja,” kata Kong Hwat dengan gemas dan orang
orang tentu akan terkejut mendengar kata kata seperti ini
keluar dari mulut pemuda yang biasanya berbakti dan
perdiam itu.
Biarpun Bi Hui sedang berduka karena keputusan kong
kongnya, dan biarpun ia seorang gadis keras kepala, keras
hati dan mudah marah, sekarang mendengar kong kongnya
dan orang tuanya di cela oleh Kong Hwat, ia segera
memandang pemuda itu dan menambah,
“Koko, jangan kau bicara seperti itu! Kita tidak boleh
menyalahkan kong kong, karena kong kong hanya
melakukan sesuatu demi kebaikan kita. Mana kong kong
tahu menahu tentang.... tentang.... kita? Karena kong kong
bersahabat baik dengan Sin tung Lo kai, maka ia
meninggalkan pesan itu. Dan tentang orang tuaku, mereka
juga tidak bersalah. Mereka hanya melakukan hal yang
sudah sewajarnya, yaitu mentaati pesan orang tua sebagai
anak anak yang berbakti. Bagaimana kau dapat mencela
mereka?”
“Akan tetapi, Hui moi....!” Kong Hwat berseru
penasaran sekali. “Apakah kau juga hendak nenyetujui
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pesanan gila itu? Apakah kau mau menjadi jodoh cucu
pengemis jembel itu?”
Kong Hwat masih terlalu muda untuk dapat mengerti
watak Bi Hui. Watak dara ini terlalu keras hati, dan
biasanya kekerasan hanya akan luluh oleh kelemasan.
Andaikata Kong Hwat bersikap lemah dan nelangsa,
kiranya Bi Hui akan menaruh kasihan dan aku membela
pemuda yang dicintai ini. Akan tetapi kekerasan tak dapat
dilawan dengan kekerasan pula, sebab bisa menimbulkan
bunga api. Bi Hui menjadi merah mukanya mendengar
ejekan Kong Hwat itu. Lalu balas bertanya,
“Kalau kau bagaimana?
“Aku? Hah, aku tidak sudi dengan cucu pengemis itu!”
Tiba tiba Bi Hui berdiri, kedua tangannya dikepalkan,
kepalanya dikedikkan dan ia berkata marah, “Kalau begitu
kau seorang pemuda yang tak tahu diri, seorang pemuda
yang tidak berbakti!”
Kong Hwat terkejut dan melangkah maju, dipegangnya
lengan tangan Bi Hui.
“Bi Hui....! Mengapa kau bilang begitu? Bukankah kita
saling.... mencinta.... .?”
“Siapa bilang....?”
“Bi Hui, bukankah dulu pernah kau bilang bahwa kau
akan berbahagia sekali kalau kelak menjadi jodohku....?
Bukan menjadi saksi....”
“Memang betul, akan tetapi aku bodoh. Aku tidak tahu
bahwa kau sesungguhnya seorang pemuda yang tidak
berbakti, seorang pemuda murtad dan berhati palsu.
Sebelum kong kong meninggal kau selalu mendekati kong
kong, aku tahu karena kau ingin sekali diwarisi Kim kong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kiam dan Kim kong Kiam sut. Sekarang, baru saja kong
kong meninggal kau sudah mencaci makinya, juga orang
orang tua kita kau caci maki. Aku tidak menyangka kau
seorang muda tak kenal budi !”
“Bi Hui, jangan kau bilang begitu.,.....! Semua ini karena
cintaku kepadamu. Aku lebih baik mati daripada melihat
kau bersanding dengan seorang pengemis dan aku sendiri
dipaksa menikah dengan perempuan pengemis. Bi Hui,
ingatlah akan kebahagiaan kita. Mari kita lari minggat saja
berdua!”
Sambil berkata demikian, Kong Hwat maju dan
mencoba memeluk pundak gadis itu.
“Tidak, aku tidak sudi!” teriak Bi Hui marah sambil
merenggutkan tangannya yang dipegang.
“Bi Hui, kekasihku, jantung hatiku.... tidak ingatkah kau
betapa aku telah bersumpah akan bersetia kepadamu,
mencintaimu sampai mati.....?” Kong Hwat merayu dan
menyambar pula tangan Bi Hui.
“Kau bersumpah, bukan aku!!” Kembali Bi Hui
merenggutkan tangannya.
“Bi Hui, tidak kasihankah kau kepadaku? Aku lebih baik
mati daripada kehilangan cinta kasihmu. Mari kita pergi
dari sini, sekarang juga, Bi Hui, manisku....” Dengan
gerakan cepat Kong Hwat memeluknya.
“Kau.... kurang ajar!” Bi Hui menampar.
Kong Hwat miringkan kepala dan menangkap
pergelangan tangan kanan yang menamparnya itu. Bi Hui
membalikkan lengan dan mengirimkan pukulan siku yang
disodokkan ke dada pemuda itu. Kong Hwat terpaksa
melepaskan pegangannya, dan pemuda yang telah bernapsu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
itu kembali hendak memeluk. Ia berlaku nekat dan hendak
membawa pergi piauw moinya dengan paksa.
Akan tetapi tiba tiba berkelebat bayangan yang gesit
sekali dan “plakk....!” Kong Hwat memekik kesakitan
ketika mukanya ditampar keras sekali oleh bayangan itu
yang ternyata adalah Ong Siang Cu! Bukan main kagetnya
hati Kong Hwat melihat bibinya ini yang berdiri di situ
dengan mata bercahaya marah.
“Jahanam! Tak kusangka bahwa kau ternyata seorang
keparat yang tak tahu malu dan kurang ajar!” Ditahan
tahannya kemarahannya. “Kalau tidak melihat muka ayah
bundamu, tentu belum puas hatiku kalau belum melihat
kepalamu menggelinding di atas tanah!”
Kong Hwat menutupi mukanya yang bengkak dan
berlari masuk ke rumah samping di mana ayah bundanya
bermalam.
Ong Siang Cu menghampiri puterinya yang duduk. Bi
Hui berkata lemah, “Ibu.... mengapa kau pukul dia....?
Biarpun dia kurang ajar, akan tetapi.... dia kan masih
keluarga kita sendiri....”
“Tidak perduli! Aku tidak takut! Biar siapa pun juga
maju kalau tidak terima dia kupukul, aku takkan mundur!”
kata Siang Cu yang sudah “naik pitam”! “Apakah dia tadi
mencoba untuk.... mengganggumu?”
Bi Hui menggelengkan kepala. “Dia hanya mengajak aku
minggat, ibu....”
“Minggat??? Jahanam besar, mengapa ia mengajak kau
minggat?”
“Karena.... karena katanya...... untuk menghindar ikatan
jodoh dengan cucu cucu Sin tung Lo kai....”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kurang ajar, ia memberi hasutan tidak baik kepadamu.
Hmm, akan kulaporkan kepada Siauw Yang....”
Akan tetapi hal ini tak perlu lagi karena terlihat
bayangan berkelebat, diikuti bayangan lain yang tidak
begitu gesit dan kelihatan Song Siauw Yang berdiri
menghadapi Ong Siang Cu dan di belakangnya berlari lari
Liem Pun Hui yang menyabar nyabarkan isterinya.
“Sabar.... sabar.... runding dulu....” kata Sasterawan ini.
Akan tetapi Siauw Yang sudah habis sabarnya. Tak dapat
disalahkan wanita yang hanya mempunyai seorang putera.
Tadi melihat Kong Hwat masuk dengan muka bengkak
bengkak dan mulut berdarah. Ketika ayah bundanya
bertanya kaget, terputus putus ia bilang bahwa ia di tampar
oleh Ong Siang Cu, lalu roboh pingsan.! Sebetulnya
pemuda itu bukan pingsan karena sakit di mukanya,
melainkan karena sakit di hatinya. Siauw Yang tak dapat
menahan marahnya, cepat berlari lari ke belakang.
Begitu tiba di depan Siang Cu yang masih marah marah,
Siauw Yang lalu menegur, “So so, kau apakan anakku
tadi?” Saking marahnya ia tidak memakai banyak peraturan
lagi dan tak dapat bicara banyak.
Ong Siang Cu terkenal memiliki watak keras sekali.
Melihat sikap Siauw Yang, ia mengira bahwa tentu pemuda
yang ditamparnya tadi telah mengadukannya kepada
ibunya.
“Kutampar mukanya!” jawabnya lantang dengan sikap
menantang, “Anakmu itu kurang ajar sekali, kalau bukan
dia, tentu sudah kubunuh tadi tadi juga!”
Merah muka Siauw Yang mendengar ini, dadanya
berombak dan alisnya berdiri. Bahkan Pun Hui ketika
mendengar ucapan ini, merasa kaget dan berkata,
“Mengapa? Apa salahnya Kong Hwat....???”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“So so, kau benar benar menghina kami. Kong Hwat
bukan anakmu, bagaimana kau berani turun tangan,
bahkan mengancam akan membunuhnya?”
“Kau yang tidak becus mengajar anak!” Siang Cu
membentak marah, “Dia berani sekali malam malam
mengajak bicara Bi Hui di sini, bahkan membujuk anakku
untuk lari minggat. Bukankah anakmu itu gila?”
“So so, kau mau enak sendiri saja. Mau menang sendiri
saja. Hanya orang buta yang tak dapat menyangka apa yang
tumbuh dalam hati dua anak muda itu. Kau menyalahkan
anakku, mengapa tidak menyalahkan anakmu sendiri yang
tak tahu malu? Sebagai seorang perempuan, anakmu harus
lebih tahu malu dan dapat menjaga diri. Sebaliknya, kau
tidak menyalahkan anak sendiri dan berani memukul
anakku sampai dia roboh pingsan. Aku tidak terima!”
Dada SiangCu serasa hendak meledak saking marahnya.
Dicabutnya pedangnya dan katanya menantang, “Habis
kau mau apa? Kau membela anakmu yang jahat? Rupanya
kaupun minta di hajar!”
“So so, kau begini sombong. Kapankah aku pernah kalah
olehmu? Kaukira hanya kau saja orang yang mempunyai
kepandaian? Demi membela anak majulah!” Siauw Yang
juga sudah mencabut pedangnya dan di lain saat dua orang
wanita itu sudah bertempur seru dengan pedang bagaikan
dua ekor singa betina berebut mangsa. Bi Hui merasa malu
dan tidak enak hati melihat dan mendengar percekcokan
tadi, sudah lari ke dalam kamarnya dan menangis.
Adalah Pun Hui yang menjadi bingung sekali. Ia
menjadi serba salah. Mau membela isterinya,
kepandaiannya tidak seberapa, pula memang ia tidak ingin
bertempur dengan keluarga sendiri. Mau melerai, ia tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kuat, maklum bahwa kepandaian dua orang wanita itu
tinggi sekali.
“Tahan.... jangan berkelahi....!” Ia berteriak berulang
kali, akan tetapi dua orang wanita yang sudah marah sekali
itu mana mau mendengarkan kata katanya? Akhirnya
saking bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, Pun Hui
berlari lari memasuki rumah untuk memanggil Tek Hong.
“Twako, lekas bangun! So so dan ibunya Kong Hwat
bertempur hebat!”
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Tek Hong
ketika kamarnya digedor oleh Pun Hui dan mendengar
laporan ini, ia cepat berdandan dan melompat keluar, tak
lupa menyambar pedangnya di atas meja.
Benar saja, isterinya dan adiknya itu sedang bertempur
dengan sengit, dua gundukan sinar pedang saling
menggulung dan menyelimuti bayangan tubuh mereka di
bawah sinar bulan. Hebat dan luar biasa pertempuran itu,
dan lebih lebih amat berbahaya bagi kedua pihak, karena
sedikit saja berlaku lambat tentu akan menjadi korban
pedang lihai.
“Tahan senjata!” seru Tek Hong sambil menyerbu ke
tengah pertempuran dan menggunakan pedangnya untuk
menangkis pedang adiknya.
Melihat suaminya, Ong Siang Cu melompat mundur.
Akan tetapi Siauw Yang menjadi marah ketika pedangnya
ditangkis hingga terpental oleh Tek Hong ia tidak mau
mundur bahkan menyerang Tek Hong sambil membentak,
“Kau mau membela isterimu yang menghina ku? Boleh!”
Tek Hong kaget sekali melihat serangan ini, cepat ia
mengerahkan tenaga menangkis pedang adiknya dan untuk
mencegah Siauw Yang menyarang terus, ia menggunakan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tangan kiri untuk mendorong. Tenaga lweekang dari Tek
Hong amat besar dan kali ini Siauw Yang tidak menyangka
akan serangan kakaknya, maka ia terkena dorongan sampai
terhuyung buyung ke belakang dan akan jatuh. Baiknya
suaminya cepat mendekatinya dan memeluknya.
Siauw Yang marah sekali, akan tetapi ia di pegang erat
erat oleh suaminya yang berkata, “Sabarlah.... sabarlah....
twako datang karena kupanggil....”
Sementara itu, Tek Hong sudah mendengarkan
penuturan isterinya tentang Kong Hwat. Mendengar betapa
Kong Hwat membujuk Bi Hui untuk minggat, maka Tek
Hong metjadi merah padam.
“Siauw Yang,” katanya, suaranya kaku. “Kau benar
benar tidak mau berpikir panjang. Anakmu perlu kauberi
pengertian, perlu kau tegur, kalau tidak ia kelak akan
menyeleweng. Urusan begini saja kau sampai ribut ribut
dengan so somu. Kalau so somu sampai menampar Kong
Hwat, apakah salahnya itu? Bukankah sudah sepatutnya
seorang bibi memberi hajaran kepada keponakannya?
Mengapa kau marah marah?”
“Kau berat sebelah! Kalau aku tampar muka Bi Hui
sampai bengkak bengkak dan mulutnya berdarah lalu
pingsan, apakah kau akan membolehkannya begitu saja?”
Siauw Yang balas membentak bentak kakaknya.
“Kalau memang Bi Hui bersalah seperti anakmu yang
kurang ajar itu, mengapa tidak boleh?” SiangCu berkata.
Dua orang ibu yang saling membela anaknya itu tentu
akan ribut ribut lagi kalau saja Pun Hui tidak cepat cepat
melangkah maju dan berlutut di depan Tek Hong dan Siang
Cu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Twako dan so so, siauwte sebagai orang muda rela
dihukum untuk menebus dosa isteriku. Memang kami yang
bersalah, sebagai orang orang muda telah berani menantang
kaum tua. Ampunkanlah kami....” Sikap dan ucapan Pun
Hui ini merupakan pukulan yang lebih hebat dan tepat
daripada Siauw Yang yang menggunakan pedangnya untuk
ribut ribut. Tek Hong memandang isterinya dan membalas
penghormatan iparnya itu dengan menjura.
“Jangan begitu. Pihak kami juga bersalah. Sebetulnya,
urusan antara keluarga harus diselesaikan dengan jalan
damai,” katanya.
Siauw Yang membetot tangan suaminya, “Hayo kita
pulang ke Liok can. Sekarang juga!”
“Malam malam begini....?” jawab Pun Hui, sengaja
untuk mencegah agar keberangkatan mereka yang ganjil ini
tidak memimbulkan perhatian dan kecurigaan para pelayan
dan orang luar.
“Kau tidak mau pulang? Baik, aku dan Kong Hwat akan
pulang berdua. Kau boleh tinggal di sini menerima
penghinaan orang!” kata Siauw Yang dan cepat cepat ia
berlari menuju ke kamarnya. Pun Hui menggeleng geleng
kepala dan menjura kepada Tek Hong, katanya, “Twako,
harap saja urusan kecil ini tidak meretakkan persatuan
keluarga Song.”
Tek Hong menjadi terharu dan malu karena sikap adik
iparnya yang ia anggap jauh lebih bijaksana daripada sikap
adiknya atau isterinya. Setelah Pun Hui pergi menyusul
isterinya dan keluarga itu malam malam pergi
meninggalkan Tit le, Tek Hong marah kepada isterinya dan
anaknya. Kemudian ia mengejar rombongan itu.
-ooo0dw0oooTiraikasihWebsite
http://kangzusi.com/
Jilid XXXIV
SIAUW YANG berkeras tidak mau bicara kepada
kakaknya, akan tetapi Pun Hui menyambut kakak iparnya.
Tek Hong menyerahkan pedang Kim kong kiam palsu itu
kepada Pun Hui sambil berkata,
“Memenuhi pesan mendiang ayah kita, biarpun pedang
ini bukan Kim kong kam tulen, akan tetapi harus berada di
keluargamu. Oleh karena ini harap moi hu (adik ipar) suka
menerima.”
Pun Hui menerima pedang itu dan berkata, “Sudah tentu
kami akan mentaati perintah mendiang gak hu dan akan
menjaga pedang ini baik baik.”
Akan tetapi Siauw Yang karena masih “panas” hatinya,
berkata menyindir, “Hemm, pedang picisan di berikan kita
dan pedang pusaka entah di mana?”
Tek Hong marah dan hendak menjawab, akan tetapi, ia
menahan kata katanya. Ia maklum bahwa kalau ia
membantah, tentu akan terjadi ribut mulut lagi. Ia kenal
baik watak adiknya yang sejak kecil memang tidak mau
kalah dalam segala hal, dan dalam hal keberanian dan
kekerasan hati, kiranya seimbang dengan watak Siang Cu!
Maka ia lalu mengucapkan selamat jalan dan segera
kembali ke rumahnya sedangkan Liem Pun Ha , Song
Siauw Yang, dan Liem Kong Hwat melanjutkan perjalanan
mereka ke Liok can.
0odwo0
Di kota raja terjadi pula hal yang amat hebat dan
menggegerkan. Pada hari itu terdapat sebuah pesta
pernikahan yang ramai dan gembira. Para penduduk yang
berpangkat dan hartawan, ramai ramai datang menghadiri
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pesta itu, sedangkan penduduk yang miskin dan “orang
biasa” saja cukup puas dengan menonton dari luar karena
tentu saja mereka ini tidak mendapat undangan. Yang
mengadakan pesta adalah keluarga Ma yang berpangkat
siupi. Siapa orangnya tidak mengenal Ma siupi yang selain
hartawan juga bangsawan yang berpengaruh! Ma siupi
hanya mempunyai seorang anak perempuan yang kini ia
rayakan pernikahannya dengan seorang pemuda yang baru
saja lulus dan ujian di kota raja, dan mendapat gelar tiong
goan. Pemuda ini bukan lain Thio Sui, yang telah kita
kenal.
Dua bulan sudah lewat sejak terjadi peristiwa
mengerikan di Soacouw, di mana keluarga Thio ditimpa
malapetaka yang dijatuhkan oleh tangan seorang wanita
seperti siluman yang membalas dendam. Tentu saja Thio
Sui mendengar akan peristiwa ini, menjadi berduka sekali
kehilangan ayah bundanya, akan tetapi juga takut sekali.
Biarpun tidak menyaksikan dengan mata sendiri,
perasaannya mengatakan bahwa yang datang itu tentulah
Kui Lian atau arwahnya yang sudah menjadi siluman. Dia
tahu bahwa kalau waktu itu ia berada di rumah tentu iapun
tidak terlepas daripada kematian yang mengerikan pula.
Oleh karena inilah maka ia tidak keberatan perkawinannya
dilangsungkan terus biarpun ia seharusnya masih
berkabung. Bahkan pemuda itu takut untuk pulang ke
Soacouw, terus tinggal saja di kota raja, di rumah
mertuanya karena di situ terdapat banyak penjaga dan
mertuanya adalah seorang berpangkat yang mempunyai
kekuasaan. Siapa dapat mengganggunya di situ?
Pernikahan dilanggungkan dengan pesta meriah. Para
tamu, laki laki dan wanita, memenuhi ruangan yang sudah
disediakan untuk mereka. Keadaan gembira dan meriah
sekali. Di luar orang berjejal hendak menyaksikan pesta ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tiba tiba Thio Sui merasa seakan akan kepalanya ditarik
dan di luar kehendaknya sendiri ia menoleh memandang ke
kiri di mana berkumpul tamu tamu wanita, dan.... ia
melihat Kui Lian duduk diantara para tamu itu. Wanita ini
sedang memandangnya dengan sepasang mata yang
mengeluarkan sinar ganjil akan tetapi berpengaruh sekali,
wajahnya masih seperti dulu akan tetapi membayangkan
sesuatu yang mengerikan. Thio Sui menjadi pucat sekali
ingin ia membuang muka jangan melihat wanita itu, akan
tetapi ia tak kuasa lagi menggerakkan lehernya! Bahkan
matanya terus terbelalak, tak kuasa ia memejamkannya.
Mulutnya yang hendak berteriak minta tolong itu
terkancing. Sekali saja pandang matanya bertemu dengan
sinar mata Kui Lian, ia sudah “tertangkap” dan seluruh
perasaan dan pikirannya sudah terpengaruh oleh kekuasaan
sihir. Kui Lian tersenyum simpul, senyum menyeringai
seperi seekor singa betina memperlihatkan taringnya.
Kui Lian bangkit dari tempat duduknya, berjalan dengan
lenggang yang menarik hati sambil mengoyang goyang
kebutannya. Kini orang orang mulai memperhatikan
pengantin pria yang terus menerus memandang wanita
berpakaian serba putih dan yang kini berjalan menghampiri
pengantin sambil membawa sebuah hudtim. Semua orang
terheran. Dari mana datangnya tokouw ini? Juga penganten
wanita dari balik tirai muka menoleh kepada Kui Lian yang
tersenyum senyum menghampiri mereka.
“Thio kongcu, kionghi (selamat)!” kata Kui Lian,
suaranya penuh ejekan sama sekali tidak membayangkan
kekecewaan atau kesedihan karena memang sedikitpun ia
tidak menpunyai perasaan apa apa terhadap Thio Sui yang
tampan itu. Kalau andaikata dahulu ada sedikit rasa cinta
maka cinta itu sudah musnah sama sekali oleh perbuatan
keluarga Thio kepadanya. Sekarang yang ada hanya benci,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
benci sampat ketulang tulangnya. Sambil mengucapkan
selamat, Kui Lian mengebutkan hudtimnya ke arah kepala
Thio Sui. Ujung kebutan itu secara keji telah menotok jalan
darah dan urat syaraf di kepalanya. Thio Sui mengeluh dan
terguling dari kursinya, pingsan.
“Hi hi hi.... pengantin perempuannya cantik sekali,” kata
Kui Lian, kembali kebutannya bergerak dan kali ini
disabetkan dengan sepenuh tenaga ke arah muka pengantin
wanita. Terdengar suara keras. Tirai muka hancur dan
patah patah, ujung kebutan terus mencambuk muka
pengantin wanita itu. Pengantin wanita menjerit kesakitan
dan terguling roboh. Pada mukanya yang cantik terdapat
goresan melintang yang dalam, darah mengucur dan
selamanya pengantin wanita itu akan mempunyai muka
yang cacad, bergores dari pipi kiri ke pipi kanan. Keadaan
merjadi geger di ruangan itu. Tamu tamu wanita menjerit
dan saling tabrak dalam usaha mereka melarikan diri dan
bersembunyi. Tamu tamu pria juga berjejal jejal, yang
penakut hendak menjauhkan diri, yang berani dan memiliki
kepandaian hendak menangkap Kui Lian.
“Perempuan siluman dari manakah berani bermain gila
di sini?” bentak para penjaga dan para tamu yang memiliki
kepandaian. Sebentar saja Kui Lian dikepung oleh puluhan
orang laki laki yang memegang senjata di tangan. Adapun
Thio Sui dan calon isterinya sudah diangkat orang ke dalam
untuk dirawat.
Kui Lian yang dikepung hanya senyum senyum saja.
Senyum manis yang mempunyai pengaruh menundukkan
hati pria sehingga para pengepung menjadi bengong. Dalam
pandangan semua pengepung, belum pernah mereka
melihat seorang wanita yang demikian cantik jelita,
demikian manis senyumnya. Akan tetapi karena mereka
tadi menyaksikan betapa perempuan ini menyerang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sepasang pengantin, dan dari belakang dikomando oleh Ma
siupi agar wanita itu ditangkap, maka para pengepung tetap
bergerak. Kepungan makin menyempit.
Kut Lian menggerak gerakkan bibirnya mengucapkan
mantera, kebutannya digerak gerakkan seperti menulis
huruf di udara matanya menyambar nyambar tajam kepada
semua orang yang mengepungnya, kemudian tangan
kirinya bergerak melambat kepada orang orang di sebelah
kirinya.
“Kalian bertiga roboh!”
Luar biasa sekali. Tiga orang yang berdiri di sebelah
kirinya, yang ikut mengepungnya dengan tangan kosong,
terhuyung huyung lalu terguling roboh di depan Kui Lian.
Kui Lian mengebut ngebutkan hudtimnya di atas kepalanya
dan.... dalam pandangan semua pengepung, tiga orang itu
berobah menjadi.... Kui Lian. Jadi ada empat orang Kui
Lian kini yang terkepung.
“Siluman....!”
“Ilmu hitam....! Ilmu sihir jahat.......!”
Ma siupi yang menyaksikan keanehan ini. menjadi
makin marah dan ia dapat menduga bahwa tentu wanita
inilah yang telah membinasakan keluarga calon mantunya
di Soacouw.
“Tidak perduli, biar ada empat atau sepuluh, tangkap
semua!” Barisan penjaga ditambah sehingga ruangan itu
penuh sesak.
Mendengar seruan Ma siupi, semua orang yang
mengepung bergerak maju untuk menangkap empat orang
wanita yang memegang kebutan semua itu. Kui Lan
tertawa bergelak, kebutannya digerak gerakkan ke kanan
kiri dan.... keadaan menjadi kalang kabut karena para
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pengepung itu sama sekali tidak mengganggunya melainkan
saling serang dan saling tangkap. Dalam pandang mata
mereka, orang orang di sebelah mereka kini telah berubah
semua menjadi Kui Lian. Inilah kekuatan sihir yang disebar
oleh Kui Lian yang mempengaruhi orang banyak seperti
penyakit menjalar. Dapat dibayangkan betapa kacau
balaunya dalam pandangan semua pengepung itu, setiap
orang yang berada di situ menjadi Kui Lian. Terdengar
pekik dan sumpah, orang saling terjang dan saling tangkap.
Di dalam keributan ini, dengan enak dan mudah Kui Lian
menyelinap keluar dari rumah gedungMa siupi.
Setelah Kui Lian pergi, perlahan lahan kekuasaan
sihirnyapun lenyap dan alangkah kaget semua orang ketika
mereka bertempur dengan kawan kawan sendiri. Bahkan
Ma siupi yang juga dalam pandangan mata para penjaga
berubah menjadi Kui Lian, tahu tahu telah dborgol oleh
penjaga.
Ramailah diadakan pengejaran. Sebentar saja seluruh
penduduk kota raja panik mendengar bahwa ada siluman
jahat mengganggu kota raja.
Kui Lian berjalan dengan lenggang kangkung keluar dari
kota raja. Kalau ia teringat akan nasib Thio Sui, ia
tersenyum senyum puas. Pemuda itu menjadi biang keladi
rusaknya penghidupannya, sekarang biarlah ia menjadi
sebab rusaknya hidup Thio Sui. Memang dugaannya tepat,
karena begitu siuman dari pingsannya Thio Sui menjerit
jerit dan menyerang calon isterinya yang terluka pada
mukanya. Tentu saja Ma siupi membatalkan perkawinan
itu, melihat bahwa Thio Sui telah menjadi gila. Sebaliknya,
anaknya yang dulu terkenal cantik, sekarang menjadi
seorang yang bercacat pada mukanya.
Ketika Kui Lian memperlambat jalannya karena sudah
merasa aman dan tidak mungkin dapat tertangkap oleh para
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pengejarnya menurut perkiraannya, tiba tiba terdengar
bentakan nyaring dari belakang.
“Siluman jahat, kau hendak lari ke mana?”
Kui Lian cepat membalikkan tubuhnya dan.... hatinya
berdebar debar. Ia melihat seorang pemuda yang gagah dan
tampan sekali. Belum pernah selama hidupnya ia melihat
pemuda segagah dan setampan ini. Pemuda ini
mengenakan pakaian seperti seorang pendekar silat,
mukanya yang bulat berkulit putih kemerahan, halus
kulitnya seperti muka wanita. Sepasang matanya bersinar
sinar seperti bintang, dilindungi sepasang alis yang hitam
lebat terbentuk golok melintang. Sekaligus jatuhlah hati Kui
Lian. Setelah sekarang ia berhasil membalas dendamnya,
satu satunya keinginan hanya hidup tenteram dan bahagia.
Dengan pemuda seperti ini di sampingnya, kiranya selama
hidupnya ia akan menikmati dan dapat bahagia, pikirnya.
Dengan sepasang matanya yang berpengaruh, Kui Lian
memandang pemuda itu, mulutnya tersenyum semanis
manisnya, lalu ia menjura dengan sikap hormat.
“Seorang enghiong yang gagah perkasa tidak akan
sembarangan saja menuduh orang sebagai siluman, apalagi
kalau orang itu seorang wanita yang tak berdaya, sama
sekali pantang baginya untuk mengganggu. Sahabat yang
gagah perkasa, mengapa kau datang datang menuduhku
seorang siluman?”
Pemuda itu menatapnya tajam penuh selidik, lalu
mencabut pedang sambil berkata, “Orang banyak
mengejarmu sampat keluar kota raja dan menurut mereka,
kau adalah seorang yang telah melakukan perbuatan keji
melukai sepasang pengantin yang sedang dirayakan
pernikahannya! Siapa tahu apakah kau benar benar salah
ataukah pura pura tidak sadar?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, Kui Lian tidak perdulikan kata kata ini
melainkan memandang penuh perhatian kepada pedang di
tangan pemuda itu, kemudian berseru perlahan,
“Kim kong kiam....” Ia sudah sering kali mendengar dari
suhunya tentang pedang Kim kong kiam dan bahkan
suhunya telah menyuruhnya mencuri pedang itu. teringat ia
akan kegagalannya ketika berusaha mencuri pedang itu dan
tangan Thian te Kiam ong yang sakti.
Di lain pihak, pemuda itu terkejut ketika melihat Kui
Lian mengenal pedangnya dan ia makin percaya bahwa
wanita cantik sekali di hadapannya itu teatulah bukan
wanita sembarangan, dan di pegangnya gagang pedangnya
erat erat. Siapakah pemuda yang memegang Kim kong
kiam ini? Dia bukan lain adalah Liem KongHwat.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, ibu pemuda ini
yang marah marah telah meninggalkan Tit le malam malam
bersama Pun Hui dan Kong Hwat sendiri pulang ke Liok
can. Sakit sekali hati Song Siauw Yang. Berhari hari ia
menangis dan memaki maki puteranya sendiri.
“Kau anak tidak berbakti, anak memalukan orang tua!
Kalau kau tidak mau belajar ilmu silat lagi sampai melebihi
Song Tek Hong dan Ong Siang Cu, kalau kau tidak mau
mencari seorang isteri yang jauh melebihi Bi Hui dalam
kecantikan dan kepandaiannya, aku benar benar malu
mempunyai anak engkau!” Kata kata ini diucapkan berkali
kali dan Siauw Yang tidak bisa dihibur oleh suaminya.
Melihat keadaan ibunya ini, Kong Hwat menjadi terpukul
hatinya dan ia merasa menyesal timbul perkara seperti ini
karena gara garanya. Saking menyesalnya melihat keadaan
ibunya, ia merasa benci sekali kepada ayah bunda Bi Hui,
terutama sekali kepada Ong Siang Cu, bibinya yang telah
menamparnya itu. Akhirnya, karena tidak tahan
menghadapi makian makian ibunya, tiga hari kemudaan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kong Hwat minggat dari rumahnya membawa pedang Kim
kong kiam! Dia pergi menghibur diri dan merantau sampai
kekota raja di mana secara kebetulan sekali ia melihat Kui
Lian di kejar kejar orang. Sebagai seorang pemuda gagah
perkasa dan keturunan pendekar, tentu saja Kong Hwat
tidak mau tinggal diam melihat kejadian ini dan segera
mempergunakan ilmu lari cepatnya untuk mengejar Kui
Lian.
Demikian, kini ia berhadapan dengan Kui Lian yang
ternyata mengenal pedang di tangannya.
“Hemm, kau mengenal Kim kong kiam, berarti kau
seorang wanita kang ouw. Bukan mustahil kalau kau benar
benar telah melakukan perbuatan kejam tadi.”
Kui Lian tersenyum lagi dan diam diam Kong Hwat
berdebar jantungnya. Senyum ini baginya begitu manis,
kalah senyum Bi Hui, kalah rasa madu. Tentu saja ia tidak
tahu bahwa Kui Lian telah mempergunakan ilmu sihirnya
sehingga senyum itu mempunyai pengaruh yang tidak
sewajarnya. Mata biasa akan menyatakan tanpa ragu ragu
lagi bahwa senyum Bi Hui sepuluh kali lebih manis
daripada senyum tokouw ini.
“Siangkong, kau benar benar galak sekali. Nanti dulu,
tentang perbuatanku atas diri sepasang pengantin itu ada
ceritanya tersendiri untuk urusan itu. Aku ingin sekali tahu
apakah hubunganmu dengan Thian te Kiam ong Song Bun
Sam maka pedang Kim kong kiam bisa berada di
tanganmu?” Sepasang mata yang bersinar ganjil itu dengan
amat tajamnya menentang pandang mata Kong Hwat
sehingga pemuda itu tak kuasa menentang lebih lama lagi
dan terpaksa menundukkan mukanya. Menghadapi wanita
ini, ia merasa seakan akan dilucuti senjatanya, seakan akan
hilang kekuasaannya. Wanita ini bersikap demikian ramah,
demikian wajar sehingga ia merasa malu sendiri mengapa ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tadi terburu nafsu memakinya siluman. Padahal, seperti
dikatakan oleh wanita ini, urusan yang terjadi tadi tentu ada
latar belakangnya dan ia belum tahu apa latar betakang itu
dan siapa pula gerangan yang bersalah.
“Thian te Kiam ong adalah mendiang kakekku.
Apakah.... suthai sudah mengenalnya?” Ia merasa tak enak
dan kaku sekali menyebut suthai kepada wanita ini. Akan
tetapi kalau tidak menyebut suthai, habis menyebut apa
lagi? Memang wajah secantik itu tidak patut menjadi wajah
seorang pertapa wanita, akan tetapi mengapa pakaiannya
serba putih dan kerudung kepalanya serta kebutannya
seperti yang biasa dipakai oleh para tokouw?
Melihat keraguan pemuda itu, Kui Lian tertawa geli.
“Siangkong, kau tak perlu menyebut suthai, karena aku
memang bukan pendeta, hanya karena aku murid pendeta
maka aku meniru niru pakaian guruku. Aku seorang wanita
biasa saja. Tentu saja aku sudah mengenal kakekmu yang
sakti itu. Menyesal sekali aku tidak mendengar bahwa ia
telah meninggal dunia. Ahh, kiranya kita ini masih
terhitung orang segolongan. Di antara orang segolongan,
biarlah aku tidak menyimpan nyimpan rahasia lagi.
Siangkong, harap kau menyimpan dulu Kim kong kiam itu
dan marilah kita saling berkenalan sebelum kita bicara lebih
lanjut. Ataukah.... barangkali cucu dari Thian te Kiam ong
merasa diri terlalu tinggi untuk berkenalan dengan seorang
hina dan bodoh seperti aku?”
Memang Kui Lian pandai sekali bicara dan dalam hal ini
Kong Hwat hanya seorang pemuda hijau yang belum
banyak pengalaman. Sekaligus pemuda itu menyerah dan
dengan malu malu ia menyarungkan pedangnya sambil
berkata, “Ah, bagaimana kau bisa bilang begitu? Biarpun
aku cucu Thian te Kiam ong, apa sih anehnya dan apa
bedanya dengan orang lain? Tentu saja aku tidak keberatan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
untuk berkenalan dengan.... nona. Aku bernama Liem
Kong Hwat dan tinggal di Liok can,” kata Kong Hwat
sambil menjura.
“Oh, kalau begitu seorang cucu luar dari Thian te Kiam
ong Sing Bun Sam?” tanya Kui Lian sambil menatap wajah
yang makin lama makin ganteng dalam pemandanganaya
itu.
“Betul. Ibuku adalah anak dari Thian te Kiam ong.
Ayahku she Liem, tadinya seorang siucai.”
Buru buru Kui Lian memberi hormat sambil tertawa,
memperlihatkan deretan gigi yang teratur rapi dan putih
bersih.
“Ahh, kiranya aku berhadapan dengan seorang bun bu
enghiong (orang gagah ahli silat dan sastera). Maaf, maaf
Aku telah berlaku kurang hormat.”
“Sudahlah, nona. Mengapa banyak sungkan dan
merendahkan diri? Kau membikin aku merasa malu saja.
Tidak tahu siapakah nona yang gagah dan siapa pula
gurumu?”
Dengan suara dibikin merdu dan halus, Kui Lian
menjawab, “Namaku Cia Kui Lian, seorang yatim piatu
yang sejak kecil ikut suhuku. Guruku itu adalah Koai Thian
Cu, seorang tokoh dari selatan dan kenal baik dengan Thian
te Kiam ong.”
Tentu saja Kong Hwat belum pernah mendengar nama
Koai Thian Cu yang memang jarang muncul di dunia kang
ouw.
Akan tetapi ia merasa malu kalau mengaku belum kenal,
dan pula memang ia merasa bahwa ia belum luas
perhubungannya di dunia kang ouw, maka ia hanya
berkata, “Ah, kiranya murid dari seorang guru besar yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
terkena! Nona, setelah kita berkenalan, harap kau suka
menceritakan tentang peristiwa keributan tadi.”
“Apakah tidak baik kita bicara sambil melanjutkan
perjalanan?” tanya Kui Lian. Kong Hwat menyetujui dan
berjalanlah dua orang muda itu berdampingan seperti dua
orang kenalan lama. Dengan secara licin sekali Kui Lian
telah dapat merobah suasana. Kalau tadinya Kong Hwat
hendak mengejar dan menangkap “siluman” adalah
sekarang pemuda itu berjalan berdampingan secara akrab
dan mesra dengan “siluman” itu sendiri! Bercakap cakap
dalam suasana persahabatan.
“Liem siangkong, sebetulnya aku menceritakan tentang
peristiwa tadi, aku ingin bertanya apakah kau pernah
merasa di bikin sakit hati orang?”
Pertanyaan ini hanya untuk menganbil hati dan tidak
disengaja oleh Kui Lian, akan tetapi secara tepat sekali telah
menancap di ulu hati pemuda itu yang teringat akan sakit
hatinya terhadap keluarga Song!
“Tentu saja pernah!” jawabnya.
“Lalu apa yang hendak kaulakukan terhadap orang yang
membikin kau sakit hati itu?” Kui Lian kembali
memancing, girang bahwa pemuda inipun hanya punya
musuh sehingga mudah baginya untuk menarik pemuda ini
sebagai kawan dan mengambil hatinya.
Kong Hwat masih terlalu muda untuk dapat melihat
betapa dengan amat cerdik keadaan kembali dibalikkan
oleh wanita itu. Kalau tadinya dia yang mengejar dan
hendak menyelidik, sekarang bahkan wanita cantik itu yang
selalu bertanya dan dia yang menjawab! Dia sama sekali
tidak merasa akan hal ini, sambil mengerutkan kening ia
menjawab, “Apa yang hendak aku lakukan? Tentu saja
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membalas hinaan orang kalau saja aku mampu. Sayang
kepandaianku masih terlampau rendah.”
Kui Lian kaget. Pemuda ini adalah cucu Thian te Kiam,
ong dan dapat diduga bahwa kepandaiannya tentu tinggi
sekali. Akan tetapi mengapa pemuda ini agaknya berputus
asa dan tidak berdaya menghadapi musuhnya? Alangkah
lihainya musuh itu gerangan! Biarpun hatinya ingin sekali
tahu, namun Kui Lian tidak mau mendesak, tahu betul
bahwa terlalu mendesak hanya akan menimbulkan
kecurigaan pemuda ganteng yang sudah memasuki
perangkapnya ini.
“Demikian pula aku, siangkong. Ketahuilah, bahwa
peristiwa yang terjadi di kota raja tadi, memang kuakui
bahwa itu adalah perbuatanku. Memang aku sengaja
menyerang dan menghina sepasang pengantin. Akan tetapi
perbuatanku itu pun hanya sekedar membalas dendam yang
seperti lautan dalamnya.”
Kong Hwat mengangguk angguk, penuh kepercayaan.
Makin lama ia makin tertarik kepada Kui Lian dan
dianggapnya bahwa seorang gadis seperti ini tak mungkin
jahat! Memang kecantikan yang sudah menggilakan hati
orang dapat membuat orang itu menjadi orang sebodoh
bodohnya dan dapat membuat matanya buta, pikiran
sempit, dan pertimbangannya patah!
“Nona Kui Lian, kalau boleh aku mengetahui, sakit hati
apakah yang kaudendam terhadap mereka?”
Mendengar pertanyaan ini, tiba tiba Kui Lian menangis
tersedu sedu. Air matanya mengucur deras melalui celah
celah jari tangan yang dipakai menutupi mukanya dan
tubuhnya bergoyang goyang sambil dari mulutnya keluar
isak isak tertahan.Menghadapi senjata ampuh kaum wanita
ini, Kong Hwat terperosok makin dalam!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Nona, tenanglah dan jangan berduka, Kalau sakit
hatimu belum terbatas seluruhnya, dengan adanya aku di
sini, aku siap sedia untuk membantumu.” Kata kata ini
sama sekali bukan kata kata seorang pendekar gagah
perkasa yang bijaksana lagi, melainkan kata kata seorang
pemuda yang sudah mulai tergila gila sehingga berani
menyatakan siap melakukan apa saja untuk si dia tanpa
dipertimbangkan apakah perbuatan itu salah ataukah benar.
Kui Lian menghentikan tangisnya, masih terisak isak.
lalu memperlihatkan kerling mata yang penuh pernyataan
terima kasih yang besar sekali sehingga KongHwat menjadi
terharu dibuatnya.
“Liem siangkong, ternyata olehku bahwa Thian masih
menaruh kasihan kepada diriku yang sebatangkara sehingga
hari ini aku bertemu dengan kau yang begini gagah dan
berbudi mulia. Biarpun musuhku itu telah kubalas dan aku
sudah puas, namun tetap saja aku menghaturkan banyak
terima kasih atas budimu yang mulia.” Tiba tiba Kui Lian
menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu dengan
sikap dan gerakan yang lemah gemulai dan memikat!
Kong Hwat tersipu sipu melangkah mundur.
“Ah, nona Cia Kui Lian, jangan begitu.... jangan kau
merendahkan diri seperti ini. Aku belum berbuat apa apa
untuk menolongmu!” Kong Hwat benar benar terharu dan
bingung.
Akan tetapi Kui Lian tetap tidak mau bangkit. “Kau
seorang berhati mulia dan aku amat berterima kasih telah
bertemu dengan orang sebaik ergkau, siangkong. Biarkanlah
aku berlutut delapan kali di depan kakimu....”
“Jangan! Jangan, nona. Kau bangunlah!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Aku tidak akan bangun kalau bukan kau yang
membangunkan aku, siangkong. Dengan begitu baru
percaya bahwa aku tidak seharusnya berlutut di depanmu.”
Terpaksa Kong Hwat melangkah maju, memegang
kedua pundak wanita itu dan menariknya berdiri. Hatinya
berdebar tidak karuan ketika jari jari tangannya menyentuh
pundak yang lunak halus dan hangat. Selama hidupnya
belum pernah Kong Hwat bersentuhan dengan wanita,
bahkan dengan Bi Hui yang dicintainya juga hanya saling
tukar pandang dan menyatakan isi hati dengan sinar mata
dan senyum saja. Apalagi ketika ia sudah menarik Kui Lian
berdiri, wanita itu lalu menangis dan menjatuhkan kepala di
dadanya, Kong Hwat merasa pening dan pandang matanya
berputar putar! Akan tetapi di dalam keadaan aneh ini ia
merasai suatu kenikmatan hati yang sukar dituliskan. Bau
sedap harum yang keluar dari rambut kepala Kui Lian
membuatnya sukar bernapas. Hatinya ingin sekali untuk
mendekap kepala itu, untuk memeluk tubuh wanita itu yang
menyandarkan kepala ke dadanya, akan tatapi rasa malu
mencegahnya. Dan ia khawatir kalau kalau ada orang
melihat keadaan mereka seperti itu, karena ia berada di
jalan raya.
“Nona, jangan begitu, nanti orang melihat kita....”
Kui Lian menjatuhkan dirinya, lalu memandang. Dua
pasang mata bertemu dan Kui Lian yang menundukkan
muka dengan sepasang pipi kemerahan. Cantik dan manis
sekali.
“Maafkan, Liem siangkong. Karena terlalu bersedih aku
sampai lupa diri, Ketahuilah bahwa pengantin laki laki itu
adalah seorang she Thio yang sebetulnya semenjak kecil
sudah ditunangkan dengan aku. Aku mau bersumpah
bahwa aku sama sekali tidak cinta dan tidak suka padanya,
akan tetapi karena dia memutuskan pertunangan begitu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
saja, hal ini berarti hancurnya hidupku. Aku telah menjadi
janda sebelum menikah. Pula, ia telah menghina orang
tuaku yang miskin sehingga ayah dan ibu sampai
membunuh diri saking malu dan berduka. Coba kaupikir,
apakah sakit hati dan penghinaan ini tidak hebat? Aku lalu
belajar ilmu dan hari ini berhasil aku membalas dendam.
Aku tidak tega membunuh, hanya membikin jahanam itu
kehilangan ingatannya.”
Mendengar ini, Kong Hwat bernapas lega. Tadinya ia
memang merasa kecewa dan khawatir sekali kalau kalau
gadis ini melakukan perbuatan kejam untuk merampok atau
bagaimana. Cepat ia mengangkat tangan memberi hormat.
“Maafkan, Cia tihiap, maafkan aku banyak banyak.
Seharusnya aku membantumu memberi hajaran kepada
pemuda Thio yang jahanam itu, akan tetapi sebaliknya, aku
malah mengejar ngejarmu dan menganggapmu seorang
penjahat. SUngguh aku bermata namun tak pandai
melihat.”
“Ah, jangan btang begitu, Liem siankong. Setelah kita
menjadi sahabat baik, mengapa mengeluarkan ucapan
sungkan? Bukankah kita sudah menjadi sahabat? Tentu saja
kalau kau sudi menganggap aku sebagai sahabat....”
“Tentu saja. Aku merasa amat terhormat dan beruntung
sekali bisa berjumpa dengan kau, apa lagi dapat menjad
sahabatmu.”
“Bagus!”Wajah Kui Lian berseri seri. “Kalau begitu. tak
perlu lagi kita saling merasa sungkan dan menggunakan
sebutan seperti orang orang asing. Berapakah usiamu?”
“Duapuluh tahun.”
“Luar biasa! Akupun duapuluh. Kalau begitu kita
terlahir dalam tahun yang sama, tapi karena kau laki laki
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
biarlah aku menyebutmu koko saja dan kau boleh
menyebutku moi moi. Bukankah sebutan ini lebih sedap
didengar dan menandakan bahwa kita benar menjadi
sahabat baik lahir batin?”
Wajah Kong Hwat menjadi merah sekali, ia heran
mengapa gadis ini demikian ramah dan lancar, sedangkan
dia yang mendengar saja merasa jengah. Akan tetapi tak
dapat disangka! pula bahwa hatinya berdebar aneh dan
girang mendengar kata kata Kui Lian.
“Baiklah.... Lian moi, aku memang tidak mempunyai
adik perempuan....”
Kui Lian cemberut “Aku bukan adikmu. Hwat ko. Aku
adalah sahabat baikmu, sahabat setia dan biasanya sahabat
lebih baik dan dekat hubungannya daripada hanya seorang
adik!”
Kong Hwat tertawa, tidak dapat melihat sindiran yang
genit dalam ucapan itu.Maklum dia masih mula dan belum
ada pengalaman.
“Sesukamulah, moi moi.”
“Hwat ko, setelah kita menjadi sahabat baik kurasa tidak
ada rahasia lagi di antara kita. Tadi sudah kuceritakan
kepadamu bahwa aku adalah seorang janda kembang,
sungguhpun aku belum pernah menikah dan hanya menjadi
tunangan semenjak bayi dengan jahanam Thio itu. Maka
perlu kiranya aku mengetahui apakah kau sudah
mempunyai isteri ataukah seorang tunangan?”
Kong Hwat menggelengkan kepala “Aku belum beristeri,
tentang tunangan.... juga belum.”
“Kekasih? Sudah adakah?” tanya Kui Lian berani.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Wajah KongHwat merah sekali. Teringat ia akan Bi Hui
dan teringat pula ia akan hinaan yang ia derita di rumah Bi
Hui di Tit le itu ia tidak menjawab, hanya menggelengkan
kepala sambil menundukkan mukanya. Sepasang alisnya
yang tebal itu berkerut dan wajahnya menjadi muram.
Kui Lian melangkah maju dan memegang tangan
kanannya Satu perbuatan yang amat berani dan menantang.
Kong Hwat merasa betapa kulit tangan yang halus hangat
meremas tangannya, ia kaget dan heran, juga bingung tak
tahu harus bagaimana, hanya memandang kepada Kui Lian
dengan mata bingung dan jengah.
“Koko, aku...... kasihan melihatmu. Kau menyimpan
rahasia yang menyedihkan hatimu, ini aku tahu pasti.
Tadinya kau bilang sudah pernah dihina orang, dan kiranya
hinaan itu ada hubungannya dengan kisah cintamu.
Bukankah begitu?” Ia meremas jari jari tangan Kong Hwat
sambil memandang dengan tajam dan mesra. “Koko ku
yang baik setelah kita bertemu dan merasa saling cocok,
mengapa kau menyimpan rahasia lagi? Percayalah seperti
juga kesanggupanmu, betapapun pandainya dia, aku akan
mempertaruhkan nyawaku yang tak berguna untuk
membelamu!”
Kali ini Kong Hwat benar kaget. Debar jantungnya
makin mengeras. Bagaimana dara itu sampai demikian mati
matian hendak membelanya? Berani mempertaruhkan
nyawa? Ah, jawaban untuk ini hanya satu. Cinta! Gadis
manis ini mencintainya! Ia memandang dan kembali untuk
kesekian kalinya, dua pasang mata memandang. Setiap kali
bertemu pandang, makin eratlah cengkeraman pengaruh
ilmu sihir yang memancar dari sepasang mata Kui Lian dan
makin robohlah pertahanan batin Kong Hwat. Pemuda itu
memegang tangan Kui Lian erat erat.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ah, adikku yang baik, adikku yang manis. Kau benar
benar baik hati sekali. Dalam keadaan putus asa dan
terhina, aku bertemu dengan seorang seperti engkau, benar
benar hatiku terhibur. Sampai mati aku takkan melupakan
budimu ini, Lian moi. Akan tetapi kau tidak tahu, orang
yang menghinaku itu sepuluh teah lebih pandai daripada
aku.”
“Ceritakanlah, siapa dia dan bagaimana dia
menghinamu?” Kai Lian mendesak.
“Dia itu adalah bibiku sendiri, isteri dari pamanku.
Kakekku Thian te Kiam ong mempunyai dua orang anak,
yang laki laki benama Song Tak Hong yaitu pamanku dan
yang perempuan adalah Song Siauw Yang ibuku. Paman
Song Tek Hong mempunyai seorang anak perempuan
bernama Song Bi Hui. Belum lama ini aku dan ayah
bundaku berkunjung ke Tit le untuk membantu merawat
kong kong sampai datang kematiannya. Pada malam hari....
ketika aku sedang barcakap cakap dengan.... Bi Hui,
muncul isteri pamanku itu yang dalam hal ilmu silat,
kiranya tidak kalah oleh ibuku sendiri! Dan di situlah aku
menerima tamparan dan hinaan!” Kong Hwat menutupi
mukanya dan menggigit bibirnya.
Jari jari tangan yang harus merenggut tangan nya itu dan
sepasang mata yang bening dan bersinar aneh menatapnya,
memaksanya menyambut pandang mata itu.
“Koko, kau.... kau mencinta Song Bi Hui adik misanmu
itu, bukan?”
Kong Hwat merasa sukar menjawabnya. “Dulu....
memang begitu....”
“Akan tetapi sekarang tidak lagi, bukan? Sekarang kau
tidak mencintai nya lagi setelah kau bertemu dengan aku?
Bukankah begitu?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kong Hwat memandang gadis itu dengan mata terbuka
lebar lebar, ia sudah jatuh betul betul di bawah pengaruh
sihir.
“Heran sekali, bagaimana kau bisa tahu begitu tepat?
Menang.... betul begitu, Lian moi.”
“Kau sekarang benci dia dan kau.... kau mercinta aku,
bukan?”
Kong Hwat mengangguk. “Lian moi, bagaimana kau
bisa tahu dan bagaimana kau berani menyatakan ini?
Biasanya seorang gadis akan malu malu bicara tentang
ini....”
Kui Lian tersenyum lalu memeluk pundak pemuda itu
dan menyandarkan kepalanya di dadanya.
“Koko ku yang baik, pujaan hatiku yang kucinta. Aku
memang seorang yang suka berterus terang suka bicara
secara langsung. Begitu aku melihatmu, hatiku sudah jatuh.
Aku cinta kepadamu dan badan serta nyawaku kusediakan
untuk membelamu, untuk membahagiakanmu. Ketika
tangan kita bersentuh, jari jarimu gemetar, maka aku
menduga bahwa kaupun suka kepadaku. Koko, jangan kau
ragu ragu, mari kita pergi ke rumah orang yang
menghinamu itu dan aku akan membantumu membalaskan
dendam ini!”
Kong Hwat memeluk tubuh Kui Lian, tanpa malu malu
lagi. Setelah mendengar pengakuan Kui Lian, ia merasa
berbahagia sekali dan menganggap bahwa gadis ini patut
menjadi calon jodohnya. Patut menjadi pengganti Bi Hui.
Gadis ini tidak kalah oleh Bi Hui! Bukankah ibunya bilang
bahwa dia harus mendapatkan seorang isteri yang melebihi
Bi Hui?
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi ajakan Kui Lian untuk membalas dendam,
kembali mendukakan hatinya.
“Moi moi yang tercinta, kau tidak tahu. Apa kaukira
mereka itu orang orang biasa saja? Paman Tek Hong adalah
putera kong kong Thian te Kiam ong, kepandaiannya tinggi
sekali, lebih tinggi daripada ibuku. Dan kepandaian
isterinya juga bukan main tingginya, lagi pula isterinya itu
ganas dan galak. Belum lagi ada Bi Hui di sana yang
kepandaiannya kiranya tidak kalah olehku. Bagaimana aku
dapat menghadapi tiga orang itu?”
“Koko, bukankah kau juga sudah mempelajari ilmu
pedang warisan Thian te Kiam ong? Buktinya Kim kong
kiam ada padamu. Bukankah kau cucu laki laki tunggal dan
kau yang menjadi ahli waris?”
Kong Hwat mencabut pedangnya dan melemparkannya
ke tanah dengan wajah kesal dan sebal.
“Kau bilang Kim kong kiam? Sungguh lucu. Inilah
celakanya. Aku sudah membanting tulang dan selalu
mendekati kakek sebelum meninggal, akan tetapi orang tua
yang aneh itu tidak meninggalkan apa apa kepadaku
melainkan pedang palsu ini!”
“Palsu?” Kui Lian cepat mengambil pedang itu dari atas
tanah dan terlihatlah olehnya ujung pedang itu patah dan
nampak bahwa warna kuning hanya sepuhan dari luar saja.
“Kalau ini palsu, habis yang aselinya di mana?”
“Itulah yang menyebabkan sakit hati. Tak seorangpun
tahu di mana pedang yang tulen, karena kong kong tidak
meninggalkan pesan apa apa, Akan tetapi, ibu mempunyai
dugaan bahwa pedang itu sengaja disembunyikan oleh
paman Tek Hong. Rupa rupanya paman Tek Hong tidak
rela pedang itu diwariskan kepada keluarga Liem oleh kong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kong. maka diam diam dibuatnya pedang ke dua dan yang
tulennya tentu mereka simpan sendiri!”
Kui Lian mengangguk angguk. “Bisa jadi.... bisa jadi....
Kalau begitu, lebih lebih perlunya kau pergi ke Tit le. Tidak
hanya untuk membalas hinaan, akan tetapi juga untuk
mengambil Kim kong kiam tulen yang sudah menjadi
hakmu.” Sambil berkata demikian, Kui Lian merenggutkan
tubuhnya dari pangkuan Kong Hwat, berdiri menatap
pemuda itu dengan dada membusung, kepala dikedikkan,
mata bersinar sinar dan nampak gagah sekali. Melihat
kekasihnya seperti ini, dengan gemas Kong Hwat
meraihnya dan memeluknya kembali.
“Kau manis dan gagah sekali, penuh semangat. Betul
betul makin lama aku makin cinta kepadamu, Lian moi.
Kau harus kubawa pulang, kuperkenalkan kepada ayah
bundaku dan kau harus menjadi.... isteriku. Kau maukah,
sayang?”
Kui Lian memejamkan mata, ingatannya melamun jauh,
penuh kebahagiaan. Menjadi isteri seorang pemuda seperti
ini, cucu Thian te Kiam ong, keluarga perkasa dan ternama.
Pemuda tampan ganteng dan berkepandaian tinggi. Ahh...
apalagi yang lebih dari ini. Ia mengangguk angguk dan
tanpa membuka mata ia berbisik, “Aku siap sedia, koko.
Sudah kukatakan tadi bahwa badan dan nyawaku ini
adalah milikmu. Akan tetapi.... kau harus membalas
dendammu lebih dulu, baru aku puas. Aku tidak suka
melihat kau selalu bermuram durja dan membawa dendam
dan hinaan yang membuat sakit hati di dalam dadamu.
Biarlah aku membantumu sehingga aku tidak malu kelak
menjadi isterimu setelah aku memperlihatkan kesetiaan dan
pembelaanku.”
Kong Hwat memeluknya erat erat penuh kasih sayang
“Kui Lian, kau berhati mulia. Akan tetapi, kalau kita
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyerbu ke sana hanya untuk menemui kematian,
bukankah itu akan sia sia belaka?”
“Apa susahnya kalau kita mati? Mati berdua dengan kau
merupakan kenikmatan bagiku, koko....”
Wajah yang cantik manis, tubuh yang menggairahkan,
sikap yang menarik penuh tantangan, kerling mata
memikat, senyum memadu dengan kata kata yang indah
penuh bujuk rayu, semua ini ditambah dan diperkuat oleh
ilmu sihir pengasihan yang memancar penuh daya pikat
dari sepasang mata dan ujung ujung jari tangan Kui Han.
Tidak mengherankan apabila Kong Hwat jatuh dan lupa
daratan. Jangankan baru Kong Hwat yang masih hijau,
biarpun seorang laki laki yang sudah kawakan dalam
menghadapi godaan wanita, kiranya takkan dapat
mempertahankan diri lama lama terhadap Kui Lian.
“Kui Lian.... Kui Lian....” Kong Hwat memeluk mesra
sambil membelai rambut kekasih nya. “Kau benar benar
seorang dewi! Akan tetapi aku tak ingin mati, kasihku. Aku
ingin hidup seribu tahun agar dapat menikmati kebahagiaan
di sampingmu.”
Tiba tiba Kui Lian merenggutkan tubuhnya dan ia
menarik Kong Hwat bangun dan berdiri dari atas rumput.
“Koko, kau agaknya tidak percaya akan kesanggupanku?
Mungkin dalam hal ilmu sitat aku tidak bisa menangkan
mereka, bahkan, mungkin ilmu silatku tidak setinggi
kepandaianmu. Akan tetapi, marilah kita buktikan. Apakah
kau dapat memukul roboh pohon di sana itu?”
Kong Hwat memandang. Pohon yang ditunjuk oleh Kui
Lian itu adalah sebatang pohan siong yang besarnya sama
dengan tubuh seorang biasa. Memukul roboh batang pohon
sebesar itu kiranya tak mungkin.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Memukul roboh aku tak sanggup, Lian moi. Kalau aku
mengerahkan tenaga lweekang mendorongnya, itupun
masih belum berani aku memastikan bahwa pohon itu akan
roboh.”
“Bukan! Bukan merobohkan dengan memukul dan
mendorongnya. Kumaksudkan merobohkannya dari tempat
ini.” kata Kui Lian menantang.
Kong Hwat tertawa. “Apa kau mengimpi? Bagaimana
bisa merobohkannya dari sini? Aku bukan dewa!”
“Hwat ko, apakah kiranya pamanmu, isteri nya, juga Bi
Hui akan sanggup melakukannya?”
“Tak mungkin. Memang kepandaian paman dan
isterinya amat tinggi, akan tetapi untuk merobohkan pohon
yang batangnya sebesar manusia dan jarak kurang lebih
lima tumbak, benar benar adalah hal yang mustahil. Tidak,
mereka takkan dapat melakukannya!”
“Mendiang kong kongmu bagaimana? Apakah Thian te
Kiam ong kiranya juga tidak mampu merobohkan pohon
itu dari tempat ini?”
“Aku pernah mendengar ibu berceritera bahwa kong
kong telah amat tinggi ilmunya. Bahkan ilmu pukulan
tangan kosong dari kong kong yang disebut Thai lek Kim
kong jiu warisan dari Kim Kong Taisu, juga ilmu pukulan
Soan hong pek lek jiu warisan dariMo bin Sin kun, katanya
sudah demikian tinggi hingga bisa memukul roboh seorang
lawan dari jarak lima tombak. Akan tetapi, memukul orang
mempergunakan tenaga pukulan atau hawa pukulan tidak
begitu sukar, biarpun tidak begitu kuat akupun sudah dapat
melakukannya. Berbeda sekali dengan memukul sebatang
pohon yang tumbuh dengan kokoh kuat. Tak mungkin, moi
moi, biarpun Thian te Kiam ong sendiri, takkan mungkin
merobohkan pohon itu.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Lian tertawa manis dan mencubit pipi Kong Hwat.
“Maka jangan kau memandang rendah pada ku.
Kekasihmu yang bodoh ini sanggup merobohkan pohon itu
dari tempat ini!”
“Kau bisa....?? Betul betulkah, Lian moi?”
“Kaulihat baik baik. Lihatlah pohon itu. Lihat daun
daunnya yang hebat. Ada cabangnya di sebelah kiri yang
bengkak bengkok seperti ular. Lihat baik baik, Hwat ko....
aku akan merobohkannya, roboh bersama sekalian cabang
dan daunnya, roboh seperti ditebang, roboh ke sebelah,
kiri.... kau lihatlah pukulan mautku!” Kui Han
mengeluarkan kata kata ini dengan suara mengguntur,
penuh pengaruh ilmu hitam yang dahsyat sehingga Kong
Hwat bagaikan terpaku memandang kearah pohon itu, ttak
kuasa lagi atas pandang mata dan pikirannya. Kui Lian
menggerak gerakkan kedua tangannya ke arah Kong Hwat
dan…. pemuda itu melihat betapa pohon besar itu benar
benar roboh ke kiri, mengeluarkan suara keras seperti
dtsambar petir!
“Hebat....! Hebat! Kepandaianmu seperti kepandaian
malaikat....” kata Kong Hwat terheran heran, akan tetapi
Kui Lian sudah memeluk dengan mesra.
“Apa kau masih tidak percaya kepada kekasihmu yang
bodoh ini?” tanyanya manja.
“Percaya penuh, sepenuh penuhnya. Ha, ha, ha,
keluarga Song yang sombong, sekarang kau akan tahu rasa.
Rasakanlah datangnya pembalasan dari Liem Kong Hwat
dengan calon isterinya.” Pemuda itu tertawa tawa girang
dan mereka melanjutkan perjalanan sambil bergandengan
tangan, mesra sekali. Kalau saja Kong Hwat tahu. Kalau
saja ia melihat bagaimana tak lama kemudian setelah ia dan
Kui Lian pergi dari situ, seorang anak penggembala kerbau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memanjat pohon itu sambil tertawa tawa dan pohon itu
sama sekali tidak tumbang, masih berdiri kokoh kuat seperti
biasa. Ia tidak tahu bahwa bukan pohon itu yang
dirobohkan oleh Kui Lian, melainkan dialah yang
dirobohkan, dia yang disihir sehingga dalam
penglihatannya pohon itu roboh seperti yang dikatakan oleh
Kui Lian.
Dan Kong Hwat tenggelam makin dalam ketika dalam
perjalanan itu, tiada hentinya Kui Lian menggoda
membujuk rayu, menghujani pelakuan perlakuan manis
sehingga mereka berdua melakukan perjalanan seperti
sepasang suami isteri yang sedang berbulan madu. Biarpun
belum diresmikan oleh pernikahan, Kui Lian telah menjadi
isteri dari Kong Hwat, dan mendapatkan cinta kasih
pemuda itu yang sudah jatuh di bawah telapak kakinya.
Dalam ketidaksadarannya Kong Hwat juga merasa
berbahagia sekali. Dalam kesadarannya Kui Lian juga
merasa berbahagia. Kiranya segalanya akan berjalan baik
dan mereka akan dapat menikmati hidup sampai tua, kalau
saja segala ini bisa lancar seperti diingini manusia. Akan
tetapi, kepuasan dan kekecewaan selalu datang bergandeng
tangan, mempermainkan manusia berganti ganti. Dan cerita
ini masih panjang.
0odwo0
“Beng Han, jangan kau memandang rendah ilmu tangan
kosong Soan hong pek lek jiu yang hendak kuturunkan
kepadamu ini. Mengapa kau begitu keras hati tidak mau
mempelajari ilmu silat lain kecuali ilmu Pedang Kim kong
Kiam sut? Apa kaukira gampang saja mempelajari ilmu
pedang itu?” tanya Tek Hong sambil mengerutkan
keningnya karena tidak senang melihat Beng Han menolak
pelajaran ilmu silat lain kecuati Kim kong Kiam sut.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Beng Han menjatuhkan diri berlutut di depan Song Tek
Hong, lalu berkata penuh hormat, “Suheng, harap kau sudi
memaafkan, karena bukan sekali kali aku memandang
rendah Soan hong pek lek jiu atau ilmu silat lain. Akan
tetapi sesungguhnya, aku hanya minta supaya suheng
melanjutkan kehendak mendiang suhn. Suhu telah mulai
memberi pelajaran dasar dasar ilmu Pedang Kim kong
Kiam sut kepadaku, oleh karena ini, kuharap sudilah
kiranya suheng melanjutkan usaha suhu dan menurunkan
kepadaku pelajaran dasar ilmu Pedang Kim kong Kiam
sut,”
Tek Hong mengerutkan keningnya. Dia maklum bahwa
Beng Han sutenya ini bukan seorang bocah biasa. Seorang
anak berusia enam tahun lebih dapat bicara dengan sikap
seperti orang dewasa, dapat berpikir secara mendalam dan
memiliki pandangan luas, benar benar bocah ini termasuk
bocah yang luar biasa. Apalagi memang ia tahu bahwa
Beng Han memiliki bakat yang baik sekali. Dia sendiri tidak
dapat mewarisi Kim kong Kiam sut sampai sempurna betul
dan boleh dibilang bahwa ilmu kepandaian ayahnya belum
ada yang mewarisi dan belum ada yang menggantikan
kedudukan ayahnya yang tinggi. Anak Beng Han inikah
yang kelak akan mengangkat tinggi tinggi nama keluarga
Song?
“Sute, yang kau katakan tadi memang tidak salah. Akan
tetapi kau harus tahu bahwa ilmu Pedang Kim kong Kiam
sut bukan ilmu biasa saja dan tidak sembarangan orang
mampu memilikinya. Ketahuilah bahwa aku sendiri setelah
berlatih puluhan tahun, masih belum dapat mewarisi
setengahnya saja dari ilmu pedang itu. Juga sucimu dewi-kz
Siauw Yang hanya memiliki kurang dan setengahnya,
hanya bedanya kalau kau lebih banyak mewarisi bagian
pertahanannya, adalah dia mewarisi lebih banyak bagian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
penyerangannya. Padahal ketika itu kami belajar di bawah
pimpinan langsung dari ayah. Apalagi sekarang, kalau kau
belajar dari aku, apakah hasilnya nanti? Jangan jangan
hanya akan menimbulkan buah tertawaan orang belaka dan
akan dianggap bahwa Kim kong Kiam sut amat janggal dan
tidak berarti.”
“Suheng, maafkan siauwte. Pertama tama, aku ingat
akan pesan dan nasihat suhu dahulu, bahwa ilmu silat
sebagai tanaman pohon. Yang perlu mempelajari pokok
pokok dan dasar dasarnya, atau diumpamakan batang
pohonnya. Tentang perkembangannya, itu tergantung
sepenuhnya kepada orang yang mempelajarinya, seperti
juga batang pohon yang sudah hidup, tentu akan bersemi,
mengeluarkan cabang, daun, kembang dan buah. Kuharap
suheng sudi memimpin aku dalam mempelajari dasar dasar
Kim kong Kiam sut sampai sempurna. Adapun tentang
perkembangannya, biarlah itu digantungkan kepada nasib
siauwte saja. Kalau nasib baik, kiranya aku akan dapat
memperkembangkan sendiri. Dengan mempelajari dasar
Kim kong Kiam sut, berarti aku dan suheng tidak menyia
nyiakan harapan mendiang suhu. Dan ke dua, aku
bersumpah takkan memperlihatkan Kim kong Kiam sut
kepada siapapun juga sebelum sempurna betul seluruhnya
agar ilmu kita ini tidak menjadi celaan orang.”
Terpaksa Tek Hong menuruti permintaan sutenya ini
yang memang mempunyai alasan kuat sekali. Dengan
sungguh sungguh ia mulai melanjutkan latihan sutenya,
memberi petunjuk petunjuk memecahkan semua rahasia
pokok dari gerakan dasar ilmu Pedang Kim kong Kiam sut.
Memang, tepat seperti dikatakan oleh Beng Han tadi, ilmu
Silat betapapun tingginya, dasar dasarnya adalah sama dan
tak dapat dirobah robah. Seperti hanya Kim kong Kiam sut,
dasar pergerakan kaki dan langkah sudah mempunyai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ketentuan sendiri. Langkah dan dasar ilmu silat ini tidak
begitu di pelajari, bahkan selain Tek Hong dan Siauw Yang
sendiri, anak anak mereka, Bi Hui dan Kong Hwat, sudah
lama hafal dan dapat menguasai sebaiknya. Akan tetapi,
yang sukar adalah kembang tembangnya. Setiap jurus ilmu
silat Kim kong Kiam sut ini dapat dipecah menjadi
tigapuluh enam gerakan disesuaikan dengan keadaan dan
siasat gerakan lawan pada saat dihadapi, oleh karena itu
amat sukar dipelajari. Apalagi ilmu pedang ini seluruhnya
mempunyai seratus duapuluh jurus!
Beng Han dengan amat tekun melanjutkan latihannya,
tak mengenal telah, tak mengenal siang malam. Berkat
kecerdikannya, akhirnya ia dapat menguasai pasangan dan
kedudukan kaki serta teori teorinya.
Song Bi Hui sering kali mengomel panjang pendek kalau
melihat ayahnya tekun melatih Beng Han.
”Ayah memang aneh sekali. Mengapa Kim kong Kiam
sut dtiurunkan kepada orang lain? Banyak macam ilmu silat
yang dikuasai ayah, mengapa justeru memberikan dasar
dasar Kim kong Kiam sut kepada Beng Han?” omelnya di
depan ibunya.
“Beng Han biarpun masih kecil terhitung susiok mu
(paman gurumu) karena dia murid mending kong kongmu.
Oleh karena itu sudah sepatutnya kalau dia mempelajari
Kim kong Kiam sut. Mengapa kau ribut?” ibunya
menegurnya.
“Aku sama sekali tidak mengiri, ibu. Aku sendiri sudah
mempelajari Kim kong Kiam sut dan terus terang saja, aku
tidak sanggup. Tidak mengapa ayah mengajarkan ilmu itu
kepada orang lain, asal saja jangan Beng Han. Harap ibu
pikir baik baik. Siapakah Beng Han itu? Kalau kita tanya
tentang asal usulnya, dia sama sekali tidak tahu siapa ayah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bundanya, dan dia dibawa ke sini oleh seorang tosu tukang
khoamia, seorang tosu gelandangan yang tidak karuan
riwayatnya lagi. Kalau kelak Beng Han sudah besar lalu
melakukan kejahatan mempergunakan ilmu silat keturunan
kita, bukankah nama baik keluarga Song yang akan hancur
lebur?”
“Kurasa tidak. Anaknya kelihatan baik dan andaikata
kelak dia menyeleweng, masih ada kita untuk memberi
hajaran,” kata pula Siang Cu menghibur puterinya. Namun
Bi Hui masih nampak ragu ragu dan tidak puas. Entah
mengapa, gadis ini merasa kurang suka terhadap Beng Han,
Hal ini mungkin ditimbulkan karena kong kongnya dan
ayahnya kelihatan begitu sayang kepada Beng Han. Makin
baik sikap anak itu terhadap ayah ibunya makin bencilah
dia karena mengira bahwa anak itu bersikap baik dan manis
untuk “mencuri” ilmu silat keturunan mereka. Memang
sikap Beng Han terlalu luar biasa bagi seorang anak berusia
enam tahun lebih, kelakuan dan kata katanya
membayangkan pikiran yang masak. Tentu saja seorang
dara manja seperti Bi Hui yang masih panas darahnya,
melihat gejala ganjil ini sebagai perbuatan sengaja yang
menyembunyikan maksud buruk.
Telah beberapa hari Tek Hong meraba tidak enak
hatinya ia telah menyuruh seorang utusan mengantarkan
suratnya kepada Sin tung Lo kai Thio Houw di Leng ting.
Dalam suratnya itu dia memberitahukan tentang pesan
terakhir dari Thian te Kiam ong tentang perikatan jodoh.
Sebagai orang tua pihak wanita, tentu saja Tek Hong
merasa tidak patut kalau ia datang mengajukan usul ikatan
jodoh, maka sebagai alasan ia katakan bahwa mereka
sekeluarga masih berkabung sehingga tidak ada waktu
untuk datang sendiri ke Leng ting menghadap pada jago tua
itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Telah sebulan lebih utusannya pergi, akan tetapi sampai
hari itu belum juga utusannya kembali. Diterimakah atau
ditolakkah usul ikatan jodoh itu? Tek Hong dan isterinya
belum pernah melihat cucu Sin tung Lo kai, sungguhpun
mereka tahu bahwa Bi sin tung Thio Leng Li, yaitu puteri
Sin tung Lo kai dan sahabat baik mereka, mempunyai
seorang putera yang sebaya dengan Bi Hui. Sebetulnya
mereka tidak ingin buru buru menjodohkan puterinya, akan
tetapi semenjak peristiwa di dalam taman dengan Kong
Hwat, Tek Hong suami isteri merasa tidak enak hati.
Sebagai orang tua, tentu saja mereka dapat menduga bahwa
sedikit banyak tentu ada “apa apa” antara Bi Hui dan Kong
Hwa. Setelah peristiwa ribut ribut itu, jalan satu satunya
yang paling baik adalah cepat cepat mengikat jodoh Bi Hui
dengan cucu Sin tung Lo kai seperti yang dipesan oleh
Thian te Kiam ong.
Bagaimana dengan Bi Hui sendiri? Gadis ini tentu saja
belum diberi tahu. Dan diam diam Bi Hui masih terkenang
kepada Kong Hwat. Sungguhpun ia sendiri belum dapat
menentukan dan belum yakin apakah ia sesungguhnya
jatuh cinta kepada Kong Hwat, akan tetapi tak dapat
disangkal pula bahwa pemuda itu mendapatkan tempat baik
di lubuk hatinya. Ia menganggap kakak misannya itu selain
tampan, juga gagah dan berwatak baik. Lebih lebih kalau ia
teringat betapa pemuda itu mendapat tamparan dari ibunya,
ia makin merasa kasihan dan diam diam merasa menyesal
mengapa ibunya berlaku begitu kejam, ia tidak
menyalahkan sikap Kong Hwat yang hendak mengajaknya
melarikan diri karena pemuda itu takut kehilangan dia yang
hendak dijodohkan dengan orang lain.
Perangai Bi Hui makin mudah marah dan mudah
tersinggung semenjak terjadnya peristiwa di taman itu.
Karena tidak ada orang lain yang boleh menerima timpaan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sesalnya, ia sering kali menimpakan kemarahannya kepada
Beng Han. Juga pada pagi hari itu ia marah marah kepada
Beng Han di taman bunga. Pagi hari itu Bi Hui berjalan
jalan di taman bunga, lalu termenung memikirkan di mana
adanya Kong Hwat sekarang dan apakah masih ada
harapan baginya untuk berjumpa dengan kakak misan itu
lagi. Tiba tiba renungannya tergoda oleh suara nyaring di
sebelah kiri taman.
“Satu...... satu dua.... satu dua tiga.... satu dua tiga
empat....satu dan tiga empat lima... satu dua tiga empat
lima enam tujuh....!” Bi Hui menoleh dengan muka sebal.
Itulah suara Beng Han dan ia tahu apa artinya suara itu.
Bocah itu sedang berlatih langkah langkah dasar ilmu silat
Kim kong Kiam sut dengan langkah yang disebut Jit seng
pouw (Langkah Tujuh Bntang). Memang Kim kong Kiam
sut berdasarkan langkah tujuh bintang. Tujuh bintang itu
dapat diatur dalam delapan penjuru sehingga jumlah
pergeseran kaki itu macamnya ada tujuh kali detapan,
limapuluh enam pasangan atau langkah! Bi Hui hafal benar
akan Jit seng pouw ini yang sekarang sedang dilatih secara
rajin sekali oleh Beng Han. Dahulu ketika ia mula mula
mepelajari Jit seng pouw ini tidak serajin BengHan. Bocah
ini pagi, sore, malam tak pernah berhenti berlatih Jit seng
pouw dan ini masih dibarengi dengan mulutnya menyebut
dan menghitung langkah langkah itu agar hafal betul dan
dapat mendarah daging dengan kakinya.
Makin di dengar suara itu makin memanaskan hati,
makin dilupakan makin merangsang telinga. Akhirnya Bi
Hui membanting kaki dan berdiri dari tempat duduknya,
berjalan cepat menghampiri Beng Han.
“Kau kira kau sudah jadi jagoan di sini? Baru bisa begitu
saja lagaknya bukan main! Cih, tak tahu malu!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Beng Han menghentikan latihannya, mukanya merah
sekali. Bukan baru kali ini ia menerima caci maki gadis ini,
akan tatapi ia tak pernah menaruh dendam. Biarpun masih
kecil, ia dapat menilai watak orang, dan ia tahu bahwa Bi
Hui tentu sedang terganggu hatinya maka kelihatan marah
marah selalu. Sambil menjura ia berkata,
“Cici Bi Hui, kau tahu bahwa aku tidak berlagak. Aku
hanya melatih diri sesuai dengan petunjuk ayahmu.”
“Tidak berlagak? Kau berlatih dengan mulut berteriak
teriak biar semua orang tahu bahwa kau sedang berlatih
Kim kong Kiam sut. Hemm, kau, sudah menjadi jagoan,
ya?”
“Tidak, Cici Bi Hui Aku hanya seorang sute dari ayah
bundamu, sorang yatim piatu yang menumpang di sini.”
Mendengar Beng Han merendahkan diri begini, Bi Hui
makin marah, seakan akan ia merasa disindir babwa dialah
yang jahat terhadap seorang anak yatim piatu!
“Apa kau bilang? Kau tidak berlagak? Kalau kau betul
betul tahu seorang yang menumpangkan diri mengapa kau
semalas ini? Kau hanya makan tidur dan berlatih silat. Kau
sudah menerima banyak sekali kebaikan dari kami, dan apa
balasmu? Membersihkan taman saja tidak mau.”
“Setiap hari kubersihkan, cici....“
“Apa? Berani kau membohong Lihat, kalau sudah
dibersihkan bagaimana begini kotor? Penuh daun kering!”
“Memang hari ini belum kubersihkan. Biasanya setelah
berlatih baru kubersihkan. Daun daun itu gugur malam
tadi.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tak tahu diri! Setelah beres pekerjaan baru main main.
Masa kau ini main main dulu baru bekerja. Benar benar tak
tahu diri kau!”
Pada saat itu, muncul Tek Hong dan Siang Cu. “Eh, ada
apa sih ribut nbut seperti ini?” tanya SiangCu.
“Anak ini sejak pagi main main dan berlatih silat dan
taman begini kotor. Ketika kutegur katanya baru
membersihkan dan bekerja sehabis main main. Mana ada
aturan begitu? Kusuruh dia bekerja dulu, baru main main.”
Siang Cu menoleh kepada Beng Han. Nyonya inipun
sedang merasa jengkel, mungkin karena utusan mereka ke
Leng teng belum juga datang.
“Beng Han, kau jangan selalu membantah kalau diberi
tahu oleh B Hui Betapapun juga, kau harus mentaati
perintahnya. Apalagi kau yang salah sepagi ini belum apa
apa sudah main main. Hayo bekerja!”
Beng Han menundukkan kepala dan memberi hormat.
“Memang siauwte yang salah, harap suci maafkan.”
“Beng Han, sikapmu yang selalu merendah rendah itu
lama lama menyebalkan!” tiba tiba Tek Hong juga
membentaknya. “Kau sudah kuanggap sebagai orang
sendiri, mengapa baru mendapat teguran begitu saja sudah
bersungkan sungkan dan minta minta maaf segala?”
Bang Han kaget sekali. Kalau ia mendapat hinaan atau
makian dari Bi Hui, itu dianggapnya malah lucu, kalau ia
ditegur oleh Siang Cu dia hanya akan menghela napas dan
tahu diri, akan tetapi teguran dan Tek Hong yang ia anggap
sebagai pengganti suhunya, benar benar menusuk hatinya
dan tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Nah, nah, dia menangis! Benar benar anak ini telah
diberi hati oleh ayah. Menjadi manja dan besar kepala!”
kata Bi Hui.
“Bi Hui, jangan kau berkata begitu!” Tek Hong
membentak anaknya. Ketika ia menoleh. Bang Han telah
pergi mengambil sapu untuk memulai bekerja. Ia hanya
menghela napas, lalu bersama isterinya pergi duduk di
dekat empang ikan. Memang hampir setiap pagi suami
isteri ini duduk di dekat empang itu, yaitu di waktu
matahari mulai muncul.Mereka tahu bahwa sinar matahari
pagi amat perlu bagi kesehatan mereka yang sudah mulai
tua.
Wajah Beng Han nampak muram saja sehari itu, dan
matanya selalu basah. Dengan sembunyi sembunyi ia
menahan isak dan kadang kadang menghapus air matanya.
Semua ini tidak terlepas dari penglihatan mata Bi Hui yang
tajam.
“Biarlah, kalau kau merasa sakit hati pergi saja dari sini
agar jangan menambahkan kejengkelan orang saja.” Bi Hui
berkata di dalam hatinya.
Malam tiba. Gelap sekali di luar. Hawa malam yang
amat dinginnya membuat seisi rumah sudah tidur nyenyak
sebelum tengah malam. Kecuali Beng Han. Bocah ini tidak
dapat tidur. Gelisah selalu. Ia teringat akan segala
pengalamannya. Diam diam ia merasa rindu kepada ayah
dan bunda, akan tetapi dimanakah ia dapat mencari
mereka? Tahu saja siapa mereka juga tidak! Di mana
adanya kong kongnya, Koai Thian Cu? Ah, hanya Koai
Thian Cu dan mendiang Thian te Kiam ong yang benar
benar jujur dan baik terhadap dia. Kebaikan suhengnya,
Tek Hong seperti dipaksakan. Dia merasa akan hal ini.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tengah malam lewat. Keadaan sunyi sekali, baik di
dalam maupun di luar ramah. Akan tetap, di dalam gelap
itu, tiba tiba berkelebat dua bayangan orang dengan gerakan
gesit sekali memasuki ruangan di dekat taman rumah
keluarga Song! Di bawah sinar pelita ruangan belakang ini,
nampaklah bahwa mereka ini adalah seorang pemuda
tampan dan dw-kz seorang wanita cantik. Liem Kong Hwat
dan Cia Kui Lian! Kong Hwat memegang Kim kong kiam
palsu sedangkan Kui Lian membawa pedang di tangan
kanan dan kebutan di tangan kiri.
Kong Hwat nampak ragu ragu dan takut takut, akan
tetapi Kui Lian menarik tangannya dan berbisik, “Jangan
takut.Mana kamar mereka?”
Kong Hwat menuding ke depan. Dengan kekuatan
sihirnya, Kui Lian dapat membuka pintu tanpa banyak
kesukaran dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara. Akan
tetapi, ketika mereka lewat di kamar tengah, seorang
pelayan yang tidur di atas lantai menjadi terbangun dan
dengan kaget pelayan itu duduk, matanya memandang
terbelalak kepada Kong Hwat. Akan tetapi, sekali kebutan
dengan hudtim ke arah muka orang itu, Kui Lian telah
berhasil membuat orang itu jatuh lagi, tidur atau setengah
pingsan! Ujung kebutannya telah dipasang racun penidur
yang luar biasa kuatnya.
Mereka maju terus dan tiba di depan kamar Song Tek
Hong. Kembali Kong Hwat ragu ragu dan jerih. Ia maklum
benar akan kelihaian Tek Hong dan Siang Cu. Akan tetapi
kembali Kui Lian menarik tangannya dan dengan kebutan
dan sihirnya, Kui Lian berhasil membuka pintu kamar itu
dengan amat mudah.
Biarpun jerih, akan tetapi Kong Hwat menjadi bernafsu
dan amarahnya timbul ketika ia memasuki kamar bibinya
yang pernah menghina dan membikin sakit hatinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Rasakan pembalasanku sekarang, geramnya di dalam hati.
Sementara itu. Kui Lian sudah membuka kelambu dan
menudingkan hudtimnya ke arah muka seorang wanita
setengah tua yang masih nampak kecantikan wajahnya.
“Dia inikah orangnya?” tanyanya kepada Kong Hwat.
Pemuda itu mengangguk, pedang di tangannya gemetar.
Kui Lian lalu mencambukkan kebutannya rada muka Siang
Cu yang sedang tidur sambil berkata, “Biar kubalaskan
tamparanmu!”
Serangan kebutan ini bukanlah serangan biasa,
melainkan serangan ke arah urat syaraf di kening dan
disertai hawa yang penuh dengan tenaga hoat sut. Orang
lain yang terkena serangan ini pasti akan roboh pingsan dan
ingatannya tidak beres lagi. Akan tetapi Ong Siang Cu
adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi sekali.
Begitu kulit mukanya tersentuh, otomatis hawa sinkang di
tubuhnya melindungi urat uratnya sehingga biarpun
totokan itu tepat kenanya, ia masih dapat melompat
bangun.Melihat KongHwat berdiri di situ bersama seorang
wanita, keduanya memegang pedang, tahulah ia bahwa
mereka ini datang dengan maksud jahat. Cepat ia
menyerang KongHwat sambil berseru,
“Bocah keparat, kau benar benar jahat!”
Serangan yang dilakukan oleh Siang Cu luar biasa
hebatnya, biarpun dengan tangan kosong saja, akan tetapi
kalau berhasil mengenai Kong Hwat, tentu akan dapat
merenggut nyawanya. Sayang sekali Siang Cu sudah
terpukul oleh kebutan Kui Lian sehingga serangannya tidak
jitu, jaga kakinya menjadi limbung. Kong Hwat mengelak
dan hanya pundaknya saja yang terlanggar membuat ia
berjumpalitan dan mengeluh kesakitan! Di lain saat, Siang
Cu yang berhadapan dengan Kui Lian telah kena disihir
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
oleh Kui Lian dan nyonya ini berdiri seperti patung
memandang kepada Kui Lian dengan sikap seperti hendak
menyerang.
Kong Hwat tidak tahu bahwa bibinya ini sudah tak dapat
bergerak lagi. Melihat sikapnya, dan marah karena pukulan
tadi, Kong Hwat cepat menggerakkan pedangnya, membuat
serangan balasan. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika
pedangnya itu dengan mudah amblas ke dalam perut
bibinya!
“Ayaaa....!” ia melompat ke belakang sambil mencabut
pedang yang sudah berlepotan darah, matanya terbelalak
memandang darah menyembur keluar dari perut bibinya
dan tubuh itu perlahan lahan roboh. Sepasang mata bibinya
memandang kepadanya, penuh keheranan dan kebencian,
Siang Cu roboh tanpa mengeluarkan suara lagi, masih
setengah berada dalam kekuasaan sihir Kui Lian.
Tek Hong melompat setelah tadi mendengar suara ribut
ribut dalam kamar. Tadinya Kui Lian memang sudah
memasang sihir ketika mulai memasuki kamar maka suami
isteri pendekar ini tidak mendengar apa apa dan agak
kepulasan. Alangkah kagetnya Tek Hong yang melihat
tubuh isterinya berlumur darah menggeletak di lantai dan
melihat Kong Hwat berdiam dengan pedang Kim kong
kiam palsu berlepotan darah, di sebelahnya dikawani
seorang gadis cantik yang bermuka mengerikan.
“Song Tek Hong, lihat padaku!” bentak Kui Lian. Tek
Hong tidak menduga apa apa dan menoleh kepada gadis
itu, masih belum sadar benar dari tidur. Biarpun dia seorang
pendekar besar yang sudah banyak pengalaman, akan tetapi
ia tak dapat disalahkan kalau sampai terjatuh ke dalam
kekuasaan Kui Lian. Siapa yang dapat menyangka bahwa
gadis muda ini seorang ahli sihir? Tek Hong sadar setelah
terlambat. Begitu ia memandang Kui Lian, ia merasa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
betapa sepasang mata gadis itu menembusi matanya dan
langsung menguasai hati dan pikirannya.
“Song Tek Hong, kau tak dapat bergerak.... kaku.... kaku
seperti balok....” Kui Lian menggerak gerakkan hudtimnya
dengan lambaian seperti menulis huruf huruf rahasia di
udara dan sepasaag matanya terus menatap wajah itu
dengan pandangan tajam menusuk.
Tek Hong meronta, berusaha sekerasnya untuk
melepaskan diri dari cengkeraman ilmu sihir yang luar
biasa. Nampak urat urat seluruh tubuhnya berkerotokan,
tanda bahwa lweekangnya dijalankan untuk memaksa dan
mendobrak pengaruh yang menyelubungi tubuhnya dan
membuat ia tak dapat bergerak itu.
“Koko, lekas tusuk mati dia....!” kata Kui Lian, terus
melanjutkan sihirnya. Ia hampir tidak kuat menguasai Tek
Hong, demikian tinggi kepandaian Tek Hong, demikian
dahsyat tenaga lweekangnya.
“Lian moi, aku.... aku tidak bisa.... dia.... pamanku....”
“Bodoh, dia melihat kau membunuh isterinya, dia
takkan mengampuni kau. Lebih baik lekas bunuh, siapa
akan tahu?” Kui Lian mulai terenggah engah dan Tek Hong
mulai dapat menggerakkan leher dan tangan. “Lekas, koko,
aku.... hampir tak dapat menguasainya lagi...” Kemudian
disambung dengan suaranya yang berpengaruh. “Song Tek
Hong, jangan bergerak.... kau tak kuasa bergerak.... kau
harus mentaati perintahku ...”
Akan tetapi Tek Hong makin keras berusaha melepaskan
diri. Melihat ini dan mendengar kata kata Kui Lian tadi,
Kong Hwat tahu bahwa jalan satu satunya untuk
menyelamatkan diri hanya mendahului pamannya. Dengan
mata dipejamkan ia lalu menggerakkan pedangnya,
menusuk dada Tek Hong. Akan tetapi ia berteriak keras dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
jatuh terguling! Dada Tek Hong begitu keras seperti baja
sehingga ketika pedang itu membentur dada, semacam
tenaga dahsyat telah menolak dan merobohkan Kong Hwat.
“Pilih bagian berbahaya….” Kui Lian sempat memberi
peringatan.
Tahulah Kong Hwat bahwa pamannya itu telah
mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya, maka dadanya
demikian kuat. Sekali lagi ia menggerakkan pedangnya, kali
ini dengan mata terbuka. Menusuk bagian pusar dan
pedang itu…. menancap dalam! Tubuh Tek Hong terguling
dan darahnya menyembur ke lantai, bercampur dengan
darah isterinya! Suami isteri pendekar yang berkepandaian
tinggi ini tewas dalam keadaan yang mengecewakan.
Pada saat itu, Beng Han dengan pedang pendek yang
biasa ia pakai berlatih, menyerbu masuk dan memaki maki,
“Jahanam terkutuk…. kau berani membunuh suheng?
Kau…. baru sekarang ia melihat bahwa penjahat itu adalah
Kong Hwat dan seorang wanita muda yang tidak
dikenalnya. “Kau…. yang…. melakukan ini….?” Saking
heran, marah, berduka melihat Tek Hong dan Siang Cu
menggeletak di atas lantai penuh darah, dan melihat Kong
Hwat, Beng Han sampai tak dapat bicara lagi! Ia segera
menubruk maju, pedang pendek yang biasa dipakai berlatih
itu ditusukkan ke arah Kong Hwat. Akan tetapi, sekali
menggerakkan pedangnya, pedang pendek di tangan Beng
Han terlempar dan sebuah dupakan membuat Beng Han
roboh bergulingan di atas lantai yang penuh darah sehingga
pakaian, tangan. Dan mukanya terkena darah. Melihat
bahwa Beng Han dapat menjadi saksi dari perbuatannya,
Kong Hwat sudah mengangkat pedang hendak membunuh
saja bocah ini. Akan tetapi tiba tiba Kui Lian berseru,
“Tahan, jangan bunuh dia!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kong Hwat memutar tubuh, memandang kepada
kekasihnya dengan heran. Akan tetapi Kui Lian tersenyum
manis dan tanpa berkata apa apa lagi kebutannya
menyambar ke muka Beng Han. Anak ini masih pening
karena terbanting dan dadanya terasa sesak oleh tendangan
Kong Hwat. Ia masih berusaha mengelak, akan tetapi racun
di ujung kebutan sudah bekerja dan ia terguling roboh,
pingsan.
Kui Lian lalu mengambil pedang pendek yang tadi
dibawa Beng Han, memasukkan ujung pedang itu ke dalam
genangan darah sampai di pegangan kemudian menaruh
gagang pedang di dalam genggaman tangan kanan Beng
Han. Setelah itu, ia lalu membongkar bongkar kamar itu,
mengeluarkan uang emas dan perak serta perhiasan
perhiasan berharga, membungkus barang barang ini dengan
sebuah kain dan meletakkan bungkusan di dekat Beng Han
pula. Setelah semua ini beres, barulah ia menarik tangan
kekasihnya diajak keluar.
Kong Hwat sekarang mengerti akan akal kekasihnya,
akan tetapi ia membantah, “Moi moi, bagaimana kalau ia
membuka mulut dan bercerita bahwa aku yang melakukan
itu?”
“Bodoh. Siapa percaya padanya? Bukti buktinya,
pedangnya yang berlepotan darah dan barang yang ada
padanya, menyatakan bahwa dia membunuh untuk
merampas. Bukankah kau sudah bercerita bahwa anak itu
adalah murid termuda dari Thian te Kiam ong, seorang
bocah yang tadinya hanya menumpang saja? Siapa percaya
kau yang melakukannya, sedangkan kepandaianmu sama
sekali bukan tandingan mereka berdua? Kalau bocah itu
lain lagi, dia tinggal di rumah ini, banyak kesempatan
baginya untuk melakukan pembunuhan di waktu tuan
rumah tidur nyenyak.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kong Hwat puas sekali, lalu hendak menuju ke kamar Bi
Hui. Akan tetapi Kui Lian melarangnya, bahkan cepat
cepat menariknya dan mengajaknya keluar dari rumah itu,
terus berlari cepat meninggalkan Tit le.
“Eh, Lian moi. Bagaimanakah kau ini? Bukankah kau
sudah berjanji hendak mendapatkan Bi Hui untukku? Kau
sendiri yang merencanakan semua ini dan sekarang, kau
yang melarangku mendapatkan Bi Hui. Apakah kau
cemburu, ataukah kau takut kalau kalau cinta kasihku
kepadamu akan berubah?”
Kui Lian tersenyum dan memeluk pemuda kekasihnya
itu “Koko, aku adalah isterimu yang setia dan aku sudah
percaya sepenuhnya kepadamu. Karena besarnya cintaku
kepadamu, maka aku hendak membikin kau bahagia,
hendak melihat kau bahagia, biarpun syaratnya harus rela
bermadu Bi Hui. Tidak, aku tidak cemburu, aku rela
membagi cintamu dengan Bi Hui, gadis yang telah kau
cinta sebelum kau berjumpa dengan aku. Akan tetapi, kau
laki laki bodoh. Kalau kau langsung memasuki kamar Bi
Hui, apakah artinya akal kita menimpakan kesalahan ke
pundak bocah gila itu? Memang dengan ilmuku, aku dapat
membikin Bi Hui cinta kepadamu, akan tetapi kalau semua
orang gagah tahu akan perbuatan kita, bukankah itu berarti
kita mencari penyakit? Biarlah, kita biarkan Bi Hui dan
yang lain lain mengira bahwa bocah itu yang bersalah.
Kelak, baru kita muncul untuk menaklukkan Bi Hui, agar
kita tidak menimbulkan kecurigaan. Muncul di waktu
peristiwa itu terjadi benar benar bodoh.”
Lagi lagi Kong Hwat harus mengakui kelicinan Kui Lian
dan sebagai upah ia merayu dan memuji mujinya.
“Lian moi, kau benar benar isteriku yang hebat! Selain
cantik manis dan berilmu tinggi, kau juga cerdik sekali,
tanpa kau, entah akan apa jadinya dengan aku!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ah, bisa saja kau memuji. Aku melakukan semua ini
karena cintaku kepadamu. Asal saja kau tidak gampang
melupakan bini mu yang hina ini. Asal aku dapat
berdampingan dengan kau selama hidupku, apa saja akan
kulakukan untukmu, koko.”
Sambil bergandengan tangan mereka melanjutkan
perjalanan, bahkan tak lama kemudian Kong Hwat
memondong tubuh Kui Lian ketika wanita itu mengeluh
kakinya sakit sakti dan lelah.Memang, dalam hal ilmu silat,
Kong Hwat menang jauh apalagi dalam ilmu lari cepat.
Benar benar harus disesalkan bahwa Liem Kong Hwat,
seorang pemuda berkepandaian tinggi yang tadi nya
seorang yang berhati lurus dan bersih pula keturunan orang
orang gagah, bertemu dengan seorang wanita iblis seperti
Kui Lian. Pemuda ini seakan akan sudah tak dapat
mempergunakan pikirannya sendiri, dia yang berbuat Kui
Lian yang mengemudi. Dengan kepandaian seperti yang
dimilikinya, dipimpin oleh otak yang cerdik licin dan watak
yang sudah seperti siluman seperti Kui Lian itu, benar benar
pasangan ini merupakan bahaya besar yang mengerikan
bagi siapa yang mereka musuhi.
0odwo0
Pada keesokan harinya, terdengar ribut ribut di dalam
rumah keluarga Song. Keadaan di dalam rumah menjadi
geger. Pelayan wanita menjerit jerit pelayan laki laki berlari
lari ke sana ke mari.
“Celaka.... ada penjahat.... !”
“Pembunuh....! Loya dan toanio terbunuh....!”
“Tolong.... tolong....!” Seorang pelayan menggedor
gedor pintu kamar Song Bi Hui.
“Siocia.....! Bangunlah....!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bi Hui melompat dari tempat tidurnya, kepalanya masih
agak pening. Seperti beberapa orang pelayan penjaga di
depan, iapun terkena pengaruh sihir yang membuat ia
tertidur seperti mati, tidak mendengar suara ribut ribut lagi.
Kini ia memlompat ke pintu, dibukanya dan mukanya
pucat sekali ketika mendengar kata kata “pembunuhan”!
Tanpa bertanya lagi ia lalu menerjang pelayan pelayan
itu dan berlari cepat ke kamar ayah bundanya, ia melihat
kamar itu sudah penuh pelayan dan ketika ia menerjang
masuk, ia melihat ayah bundanya menggeletak dalam
gelimangan darah, sudah kaku dan mati, dan di sudut
kamar, dua orang pelayan laki laki sedang memegangi Beng
Han yang diikat erat erat.
“Ayaaaaah....! Ibuuuuu.... !” Bi Hui memekik dengan
suara melengking tinggi, menubruk kedepan dan roboh
pingsan di antara jenazah ayah bundanya!
Bi Hui menerima pukulan batin yang hebat sekali ketika
melihat keadaan ayah bundanya yang sudah tewas itu. Ia
pingsan sampai lama, tubuhnya seperti sudah menjadi
mayat. Sia sia saja para pelayan mencoba untuk
menyadarkan sehingga terpaksa para pelayan wanita
mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas
tempat tidur di kamarnya sendiri.
Hari sudah siang ketika akhirnya Bi Hui dapat siuman
kembali dari pingsannya. Mukanya pucat dan tubuhnya
panas sekali. Begitu siuman, ia lalu membuka mata dan
mengeluh,
“Ayah.... ibu.... !”
Menangislah gadis ini tersedu sedu. Air matanya
membanjir seakan akan air bah memecahkan bendungan.
Para pelayan mendiamkannya saja karena maklum bahwa
pada saat seperti itu, tangis merupakan obat terbaik bagi Bi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hui. Kemudian gadis itu teringat dan matanya terbelalak
lebar. Ia memandang kepada pelayan pelayan itu dan
bertanya.
“Siapa membunuh ayah dan ibu? Siapa....??”
“Entahlah, sioca,” kata pelayan ini takut takut “Hanya
sekarang para pelayan laki laki sedang mendesak Beng Han
untuk mengaku. Kita mendapatkan loya dan toanio sudah
tewas dilantai kamarnya sedangkan di dalam itu terdapat
pula Beng Han yang memegang pedang pendek penuh
darah dan sebungkus emas permata milik toanio berada di
dekatnya. Agaknya.... agaknya iblis telah memasuki pikiran
anak itu dan.... menggunakan kesempatan selagi loya dan
toanio pulas, memasuki kamar dan....”
Belum habis pelayan ini bicara, Bi Hui sudah melompat,
menyambar pedangnya di tembok dan berlari cepat keluar
kamar. Sesamparnya di ruangan belakang, ia melihat Beng
Han duduk di bangku dengan muka pucat, rambut awut
awutan dan mukanya biru biru bekas pukulan. Di depan
nya berdiri dua orang pelayan laki laki yang marah marah
dan sedang mendesaknya memberi keterangan.
“Bukan aku.... bukan aku....!” Bi Hui mendengar Beng
Han menggeleng gelengkan kepala membantah. “Apa
kalian sudah gila? Bagaimana aku bisa membunuh suheng
sendiri? Aku bukan orang gila dan kalian tentunya belum
gila untuk mendakwa begitu keji!”
Bi Hui melompat ke depan Beng Han dan sekali tangan
kirinya terayun, pipi Beng Han sudah ditamparnya
sedemikian keras sehingga anak itu mencelat dan
membentur dinding, pipi kanannya menjadi bengkak
seketika dan giginya copot copot!
“Bukti apa yang ada padanya?” tanya Bi Hui kepada dua
orang pelayan itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Dia berada di kamar loya, tangannya memegang
pedang pendek yang berlumur darah, baju, tangan dan
mukanya penuh darah dan dia membawa pula sebungkus
uang emas dan barang perhiasan toanio. Sudah terang setan
cilik ini hendak mencuri dan membunuh loya dan toanio
selagi mereka tidur pulas, siocia. Terserah kepada siocia
bagaimana hendak menghukumnya. Apakah kita harus
menyeretnya ke pengadilan?”
“Biar aku adili anjing ini!” kata Bi Hui penuh kemarahan
ketika ia menghampiri Beng Han yang sudah bangun dan
mengusap usap pipinya.
“Bi Hui cici, aku bersumpah bahwa aku tidak
membunuh suheng dan suci,” kata Beng Han sambil
menatap wajah gadis itu dengan tabah.
“Apa kau bilang?” Bi Hui menjambak rambut anak itu
dan menyeretnya “Aku sudah tahu bahwa kau adalah
seekor anjing yang tak kenal budi. Kau disayang ayah dan
ibu, dan kau membalas dengan perbuatan terkutuk.
Anjingpun tidak sekeji engkau.” Bi Hui terus menyeret
rambut Beng Han dibawa ke ruang tengah di mana jenazah
ayah bundanya telah dimasukkan peti.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXV
MELIHAT dua peti itu, Beng Han menangis. Juga Bi
Hui menangis, mendorong tubuh Beng Han didepan meja
sembahyang. Beng Han jatuh berlutut dan menangis di
depan meja. Bi Hui juga berlutut lalu menangis. Dilihat
begitu saja nampaknya dua orang ini sedang sama sama
berkabung menangis di depan dua peti mati suami isteri
Song.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ayah dan ibu.... anak telah membawa anjing ini....
menghadap ayah dan ibu.... untuk mengakui dosanya....”
Bi Hui berbisik.
Beng Han menangis keras dan berkata lantang, “Suheng
dan suci, siauwte Beng Han bersumpah bahwa siauwte
kelak pasti akan dapat menangkap dan membalaskan
dendam suheng berdua kepada bangsat laki wanita jahanam
itu.”
Bi Hui berbangkit dan membentak marah. “Tutup mulut!
Hayo kau lekas mengakui dosa dosamu di depan ayah dan
ibu!”
“Cici Bi Hui, aku tidak berdosa.... ..” kata Beng Han,
suaranya bercampur isak.
“Jangan coba menyangkal. Ataukah kau harus kusiksa
lebih dulu?” Bi Hui menodongkan ujung pedangnya di dada
Beng Han. Ujung pedang itu menembus baju dan melukai
kulit didada. Akan tetapi BangHan tidak merasa takut.....
“Tusuklah dan belek dadaku agar kau dapat melihat
bahwa hatiku tidak keji seperti yang kau sangka, cici. Aku
benar benar tidak pernah melakukan dosa itu. Aku sama
sekali tidak membunuh suheng dan suci. Percayalah!”
“Mengapa pedang pendekmu berlumuran darah dan
mengapa tubuh dan pakaianmu juga berlumuran darah....
ayah dan ibu?”
“Aku.... aku bergumul dengan pembunuh pembunuh
itu, aku kalah.... terpelanting dilantai yang penuh darah....”
Bi Hui tersenyum sindir, “Hemm, kau mau jadi jagoan,
ya? Dan bagaimana kau dapat menjelaskan tentang
bungkusan barang barang berharga itu?”
“Itu.... itu aku tidak tahu, cici.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Duk!” Tubuh Beng Han terjengkang kena tendangan Bi
Hui dan dari mulut anak itu keluar darah.
“Hayo mengaku!” Bi Hui membentak. “Kalau tidak,
hmm, kupenggal lehermu!”
“Aku.... aku tidak membunuh mereka….” Beng Han
terengah engah, sukar bernapas. Tendangan tadi hebat
sekali dan telah mendatangkan luka di dalam dadanya.
“Kau tidak membunuh? Habis siapa yang membunuh
ayah dan ibu menurut pendapatmu?” Bi Hui mengecek.
“Pembunuhnya adalah.... Liem Kong Hwat....”
Bi Hui tersentak kaget, akan tetapi kemarahannya
memuncak. Tangan kirinya bergerak, leher Beng Han kena
dipukul dan bocah ini terpelanting tak dapat bangun lagi. Ia
telah pingsan.
“Guyur dia dengan air dingin!” seru Bi Hui tak puas
melihat Beng Han menjadi pingsan karena ia masih hendak
bertanya. Dua orang pelayan laki laki itu mengambil air dan
mengguyur kepala Beng Han. Anak itu siuman kembali,
kepalanya serasa berputaran, lehernya sakit sekali. Ia lalu
berlutut lagi di depan peti peti mati.
“Beng Han, manusia laknat. Kau tentu tahu bahwa
semua kata katamu tadi tidak ada artinya. Kau sudah
berlaku jahat dan melakukan pembunuhan mengapa harus
membawa bawa orang lain yang tidak berdosa?”
“Betul, cici. Aku tidak membohong. Pembunuh suheng
dan suci adalah Liem Kong Hwat. Tak salah lagi.”
“Keparat, siapa percaya akan obrolanmu? Melawan aku
saja belum tentu dia menang, bagaimana dia bisa
merobohkan ayah dan ibu? Kau bohong!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Dia dibantu oleh.... oleh seorang siluman wanita, muda
dan cantik, tetapi jahat.... siluman itulah yang mengalahkan
suheng dan suci....”
“Kaulah silumannya! Biar ada seribu orang siuman
perempuan muda, tak mungkin dapat mengalahkan ayah
dan ibu. Kalau kau yang berbuat selagi ayah dan ibu tidur
pulas, itu sangat boleh jadi! Kau masih tidak mau
mengaku?”
Beng Han yang dihajar sejak tadi oleh dua orang pelayan
kemudian oleh Bi Hui, mendengar ini menjadi panas juga.
“Cici. kau tetap menuduh aku dan bahkan membela
Liem Kong Hwat yang memang berdosa. Biarpun aku tahu
bahwa kau membelanya karena kau mencinta pemuda itu,
akan tetapi kelak kau akan menyesal cici, dan arwah suheng
berdua akan mengutukmu.”
Bukan main marahnya Bi Hui mendengar ini. “Bukti
bukti sudah jelas menyatakan bahwa kau hendak mencuri
barang berharga dan membunuh aah dan ibu, masih banyak
cerewet, berani sekali kau menghinaku dengan kata kata
kotor? Benar benar kau harus mampus di depan peti mati
ayah ibu untuk menebus dosa. Bersiaplah menghadap
arwah ayah dan ibu!”
Bi Hui melompat mengangkat pedangnya tinggi tinggi
hendak memenggal leher Beng Han sedangkan bocah itu
sambil berlutut memejamkan mata menanti binasa, Bi Hui
mengayun pedangnya dan…. “Trang…!”
Bi Hui melompat mundur cepat cepat karena tangan
yang memegang pedang tergetar hebat dan hamper saja
pedangnya terlepas dari pegangannya. Di depannya berdiri
seorang kakek pengemis yang memegang tongkat merah
yang pendek dan tongkat itulah yang tadi dipakai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menangkis pedang Bi Hui sebelum mengenai leher Beng
Han.
Kakek ini sudah tua sekali, pakaiannya tembel tembelan
dan biarpun semua rambutnya sudah putih dan mukanya
sudah penuh keriput, namun sepasang matanya
memancarkan pengaruh luar biasa.
“Nona, kau pernah dengan Thian te Kiam ong? Dan peti
mati siapakah ini? Mengapa pula kau hendak membunuh
bocah itu?”
Bi Hui maklum bahya ia berhadapan dengan seorang
sakti, maka ia menjawab kaku.
“Thian te Kiam ong adalah kong kongku, aku Song Bi
Hui dan iri adalah peti mati ayah bundaku yang malam tadi
dibunuh oleh anjing cilik ini. Maka aku hendak
membunuhnya di depan peti mati ayah dan bundaku. Kau
ini orang tua yang menolong pembunuh, siapakah?”
Kakek pengemis itu membelalakkan kedua matanya,
sebentar memandang kepada Bi Hui, kemudian kepada dua
buah peti mati itu, lalu kepada Beng Han.
“Apa kau bilang.....? Tek Hong dan Siang Cu mati
terbunuh malam tadi? Oleh bocah ini....?” Katek itu
melangkah maju, menjambak rambut Beng Han dan
mengangkat anak itu untuk memeriksa mukanya, seperti
seorang jagal memeriksa seekor kelinci, lalu melemparkan
tubuh Beng Han ke bawah sehingga anak yang sudah
setengah mati itu kembali jatuh di depan peti peti mati.
“Tak mungkin dia ini becus membunuh Song Tek Hong
putera Thian te Kiam ong dan Ong Siang Cu murid Lam
hai Lo mo,” kata kakek pengemis itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mendengar kakek itu menyebut nyebut nama ayah
bundanya, kakeknya dan guru ibunya, Bi Hui makin
terkejut dan ia segera berkata lebih hormat.
“Locianpwe, bukti bukti sudah ada yang menyatakan
bahwa bocah inilah pembunuh ayah ibu selagi tidur. Akan
tetapi siapakah locianpwe ini....?”
“Kau ini tentu cucu Thian te Kiam ong puteri Song Tek
Hong, bukan? Jadi kau ini yang hendak di jodohkan dengan
cucuku Kwan Sian Heng? Hemm, sungguh tidak kebetulan
sekali, kedatanganku disambut oleh peti peti mati.Mengapa
tidak kemarin aku datang hingga dapat mencegah
terjadinya hal menyedihkan ini? Benar benar sudah nasib,
sudah karma....”
“Bukankah locianpwee ini Sin tung Lo Kai?” Bi Hui
bertanya mendengar kata kata itu.
Kakek itu mengangguk angguk. “Benar, akulah Sin tung
Lo kai, sahabat baik kong kong mu, juga besannya karena
pateranya Song Siuw Yang berjodoh dengan putera
angkatku Liem Pun Hui.”
Bi Hui lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu
dan menangis tersedu sedu, teringat akan nasib orang
tuanya. Pada saat itu masuklah sepasang suami isteri
setengah tua, yang laki laki berpakaian seperti sasterawan,
yang wanita nampak gagah dan memegang sebatang
tongkat merah. Di belakang mereka berjalan seorang
pemuda tampan dan gagah, tinggi besar dan wajahnya
jujur, menggandeng seorang bocah perempuan berusia
enam tahun yang munggil dan manis.
Sepasang suami isteri itu bukan lain adalah puteri Sin
tung Lo kai Thio Houw yang bernama Thio Leng Li dan
berjuluk Bi sin tung (Nona Cantik Tongkat Sakti) bersama
suaminya, seorang sasterawan bernama Kwan Lee kawan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sekolah Liem Pun Hui. Adapun pemuda gagah tinggi besar
itu adalah Kwan Sian Hong putera mereka dan bocah
perempuan itu adiknya, Kwan Li Hwa.
Ketika mereka ini mendengar penuturan singkat dari Sin
tung Lo kai tentang peristiwa nebat yang menimpa keluarga
Song, semua memandang kepada Beng Han dengan mata
terbelalak, terkejut, heran juga marah. Bi sin tung Thio
Leng Li segera memeluk Bi Hui dan menghiburnya dengan
nasihat bahwa, mati hidup ditentukan oleh Thian Yang
Maha Kuasa.
Beng Han yang menjadi “tontonan” merasa betapa
semua orang membencinya. Darah yang mengucur dari
luka di jidatnya memasuki matanya, membuat matanya
pedas sekali. Dengan canggung dan kaku ia mencoba untuk
menghapus darah campur peluh ini, akan tetapi tidak
berhasil. Ia meraba raba saku mencari cari, tetapi tidak
mendapatkan saputangannya. Tiba tiba sebuah tangan yang
munggil menyerahkan sehelai saputangan jambon
kepadanya, diikuti kata kata halus.
“Ini, pakai saputanganku untuk menghapus darah di
mukamu itu.Mengerikan sekali....”
BengHan memaksa matanya yang pedas itu memandang
dan melihat seorang gadis cilik yang manis. Dengan
perasaan terima kasih ia menerima saputangan itu dan
menghapus darah di muka dan matanya.
“Siapa namamu?” Gadis cilik itu bertanya.
“Aku.... Thio BengHan....”
“Eh, kau seketurunan dengan kong kong! Kong kong
juga ber she Thio!”
“Li Hwa, mundur kau!” bentak Sin tung Lo kai Thio
Houw yang melihat cucunya bercakap cakap dan memberi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
saputangannya kepada Beng Han, bocah yang didakwa
menjadi pembunuh itu.
“Locianpwe, perkenankan saya melaksanakan hukuman
kepada pembunuh ayah bundaku agar sakit hati dan
penasaran ayah ibu dapat terbalas sekarang juga,” kata Bi
Hui kepada Sin tung Lo kai (Pengemis Tua Bertongkat
Sakti), lalu berdiri da dengan pedang di tangan
menghampiri Beng Han.
“Nanti dulu, kau mau apakan dia?” tanya Thio Houw.
“Saya hendak membunuhnya di depan meja
sembahyang,” jawab Bi Hui tenang.
“Jangan bunuh dia.... kasihan....” tiba tiba Li Hwa
menjerit dan Beng Han kembali memandang kepada gadis
cilik ini dengan kagum dan terima kasih. Selama hidupnya
ia takkan dapat melupakan wajah gadis cilik ini yang pada
saat itu merupakan satu satunya orang yang menaruh
kasihan dan perhatian kepada dirinya.
“Nona Bi Hui, nanti dulu, jangan kau tergesa gesa. Aku
masih meragukan apakah benar benar bocah ini mampu
membunuh ayah bundamu, biarpun dalam keadaan tidur
pulas. Apakah kau sudah bertanya kepada semua pelayan
dan mereka itu tidak melihat apa apa malam tadi?”
“Sudah, locianpwe. Tak seorangpun di antara mereka
melihat orang lain kecuali Beng Han,” jawab Bi Hui.
Memang demikian, pelayan pelayan yang semalam melihat
Kui Lian dan dirobohkan sudah tak ingat apa apa lagi
hanya lapat lapat merasa seperti mimpi. Tentu saja
menghadapi peristiwa hebat itu tak seorangpun di antara
mereka berani bicara tentang mimpi yang tak masuk akal
itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Nona Bi Hui, kuharap kau suka bersabar dulu dan
berpikir lebih dalam. Andaikata kau sekarang membunuh
bocah ini, lalu kelak terbukti bahwa dia itu tidak berdosa
bukankah kau akan menjadi pembunuh kejam. Tidak, aku
tidak ingin cucu mantuku membunuh bocah tidak berdosa
Nona Bi Hui, ayah bundamu mengirim surat kepada kami,
mengusulkan perjodohan antara kau dan cucuku Kwan
Sian Hong. Oleh karena itu, kuanggap bahwa aku boleh
mewakili orang tuamu mengamat amati segala hal yang
terjadi di sini dan kiranya aku tidak akan terlalu lancang
untuk mengambil keputusan pula dalam urusan bocah ini.”
Memang kalau dipikir pikir, Bi Hui juga masih ragu ragu
apakah betul Beng Han dapat membunuh ayah bundanya.
Tadi karena terlampau berduka, pula tidak melihat bukti
lain, ditambah rasa tidak sukanya kepada Beng Han maka
membuat ia kukuh menuduh Beng Han yang menjadi
pembunuh ayah bundanya. Sekarang ia mendengar kata
kata kakek pengemis itu, hanya menangis dan berkata,
“Terserah pada locianpwe....” Ia lalu menubruk peti
mati ibunya dan menangis tersedu sedu, segera ditolong dan
dipeluk serta dihibur oleh Bi sin tung Thio Leng Li, caton
ibu mertua nya.
Sin tung Lo kai menghadapi Beng Han dan berkata,
“Beng Han, bukti bukti menyatakan bahwa kau bersalah.
Sekarang hendak bicara apa?”
“Terserah kepada kalian apakah aku bersalah atau tidak.
Membela diri tidak ada gunanya, tetap takkan dipercaya.
Aku hanya mau bicara begini, bahwa apabila umurku
panjang aku akan nencari dan menyeret pembunuh
pembunuh suheng dan suci dan memenggal leher mereka di
depan makam suheng dan suci!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sin tung Lo kai mengangguk angguk. Kakek pengemis
sakti ini sekelebatan saja tahu bahwa anak di depannya
bukannya bocah sembarangan, maka ia makin sangsi
apakah benar bocah ini yang menjadi pembunuhnya.
“Baiklah, atas nama keluarga Song, aku membebaskan
kau, akan tetapi jangan kira bahwa kami akan menutup
mata begitu saja. Kelak sih belum terlambat untuk
menghukummu apabila ternyata kau yang bersalah dalam
pembunuhan ini.”
Beng Han tidak menjawab, sebaiknya ia lalu berlutut di
depan meja sembahyang dan berkata dengan suara tantang
dan air mata bercucuran.
“Suheng dan suci, siuwte bersumpah untuk
membalaskan sakit hati ini. Biar siauwte menebus dengan
nyawa kalau siauwte sampai gagal menyeret dua pembunuh
itu di depan makam suheng berdua. Harap suheng berdua
mengaso dengan tenang.” Setelah berkata demikian, ia
menjura kepada Bi Hui dan berkata, “Cici Bi Hui, aku tidak
menyesal kepadamu karena aku maklum betapa hancur
hatimu kehilangan ayah bunda. Juga aku terima kasih
sekali atas kebaikan keluargimu selama aku berada di sini.
Cici, baik baiklah menjaga dirimu sendiri. Kelak kita
bertemu kembali!”
Pergilah Beng Han ke kamarnya, mengambil pakaian
lalu keluar dari rumah itu dengan tubuh sakit semua dan
jalanya terhubung huyung, air matanya bercucuran karena
ia merasa amat kasihan kepada keluarga Song yang selama
ini ia junjung tinggi. Benar benar bocah luar biasa. Setelah
menerima siksaan yang menyakitkan semua tubuh, dalam
meninggalkan tumah itu ia masih bisa melupakan keadaan
diri sendiri dan sebaliknya merasa amat kasihan kepada Bi
Hui.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah Beng Han pergi, seperti kepada diri sendiri Sin
tung Lo kai berkata, “Bocah luar biasa.... ah, ingin sekali
aku dapat menyaksikan terlaksananya sumpahnya tadi.”
Kedatangan Sin tung Lo kai Thio Houw dan anak
cucunya merupakan hiburan besar bagi Bi Hui. Sin tung Lo
kai mengurus segalanya, juga mengutus seorang pelayan
untuk pergi ke Liok can memberi tahu tentang peristiwa
hebat itu kepada Liem Pun Hui dan Song Siauw Yang.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Siauw Yang
dan Pun Hui mendengar berita itu. Siauw Yang menangis
menjerit jerit. Biarpun ia pernah ribut dengan Siang Cu,
akan tetapi sebagai adik ipar, tentu ia merasa berduka sekali
mendengar kematian kakak dan iparnya. Cepat ia mengajak
suaminya pergi, ke Tit le.
Siauw Yang menubruk peti mati peti mati itu dan
menangis sampai jatuh pingsan. Bi Hui menangis bersama
bibinya, dan setelah Siauw Yang sadar, dua orang wanita
ini saling berpelukan sambil menangis. Lenyap kemarahan
lama. Ketika mendengar bahwa Beng Han dibebaskan oleh
Sin tung Lo kai, Siauw Yang mengerutkan kening dan
berkata, “Kalau bukti bukti menyatakan bahwa anjing cilik
itu yang melakukan pembunuhan, mengapa ia di bebaskan
dan tidak dihukum menebus nyawa di sini?”
Sin tung Lo kai berkata, “Kesalahannya belum nyata
betul, bahkan dipikir pikir, aku berani bertaruh nyawaku
yang sudah tua bahwa anak itu tidak berdosa. Selain itu,
apabila kelak ternyata dia yang berdosa, akulah yang akan
sanggup menyeretnya di depanmu.”
Pun Hui menghibur isterinya sehingga akhirnya Siauw
Yang mengalah dan ia sendiri bersumpah hendak menjadi
orang pertama yang menusukkan pedang ke dada
pembunuh kakaknya dan kakak iparnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ketika Siauw Yang bercakap cakap dengan Leng Li
sahabat lamanya, Leng Li bertanya mengapa Kong Hwat
tidak ikut datang.
“Ia di sebut sebut oleh mendiang kakakmu yang katanya
menurut pesanan Song lo enghiong, harus di jodohkan
dengan puteriku. Kau lihat, puteriku masih kecil, baru
betusia enam tahun, agaknya ayahmu itu lupa dan mengira
bahwa anak perempuanku sudah dewasa.”
Siauw Yang menarik napas panjang den teringatlah ia
akan semua peristiwa yang lalu di rumah kakaknya ini,
sehingga mengakibatkan Kong Hwat minggat dari rumah.
“Anak itu pergi merantau untuk meluaskan pengalaman,
tentang perjodohan, ah, mana bisa orang tua sekarang
memaksa puteranya? Kalau dia belum mempunyai niat, kita
ini bisa berbuat apakah?”
Juga sambil lalu Sin tung Lo kai bertanya tentang
pemuda itu, ketika dijwab bahwa Kong Hwat sedang
merantau untuk meluaskan pengalaman, ia mengangguk
angguk den berkata, “Memang baik sekali bagi seorang
muda untuk merantau meluaskan pengalaman. Apa
gunanya kepandaian tinggi tanpa pengalaman? Akan
mudah tertipu orang dan kadang kadang kepandaian tinggi
sama sekali tidak ada gunanya, sebaliknya pengalaman
membikin orang menjadi waspada dan tidak mudah tertipu.
Sayang dia tidak mengetahui tentang nasib paman dan
bibinya yang buruk....”
Setelah selesai menguruskan penguburan jenasah Song
Tek Hong dan isterinya di mana Bi Hui menangis sampai
beberapa kali pingsan, mereka lalu berunding. Sin tung Lo
kai Thio Houw tadinya mengharapkan supaya Bi Hui ikut
tinggal di rumah calon mertuanya, yakni Kwan Lee dan
Thio Leng Li di kota Leng ting. Akan tetapi Siauw Yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
minta dengan sangat supaya keponakannya itu untuk
sementara tinggal bersama dia di Liok can. Ternyata Bi Hui
memilih tinggal bersama bibinya, karena ia merasa sungkan
dan malu malu harus tinggal di runah calon suaminya, apa
lagi karena ia belum mengenal mereka semua kecuali Kwan
Li Hwa yang ternyata adalah seorang bocah perampuan
yang lucu dan pandai bergaul.
0odwo0
Dalam keadaan setengah mati Beng Han melakukan
perjalanan keluar dari kota Tit le. Tempat yang ia tuju
adalah Gunung Kui san. Ia hendak memenuhi pesan
gurunya, untuk pergi ke menara Kim hud tah dipuncak Kui
san dan mengambil pedang Kim kong kiam serta kitab
pelajaran ilmu pedang dari Thian te Kiam ong, mempelajari
itu sampai sempurna baru turun gunung dan membalas
dendam terhadap pembunuh pembunuh suheng dan
sucinya! Pikirannya sudah buntu, disaat itu tidak ada lain
cita cita melainkan mempelajari ilmu silat tinggi peningglan
gurunya lalu membalas dendam terhadap Liem Kong Hwat
dan siluman wanita itu!
Akan tetapi Kui san bukanlah tempat dekat, ia harus
melakukan perjalanan ratusan li, dan keadaannya sungguh
tidak baik untuk melakukan pejalanan jauh. Selain ia tidak
mempunyai uang sekepingpun, tubuhnyapun terasa sakit
sakit. Mukanya bengkak bengkak dan matang biru, leher
nya seperti salah urat dan dadanya masih sakit, kadang
kadang ia muntah muntah darah segar!
Betapapun juga sengsaranya, anak ini bukan anak
sembarangan. Ia mempunyai kekerasan hati seperti baja,
mempunyai ketekadan yang mengagumkan. Tak pernah
terdengar keluhan dari mulutnya. Bibirnya sampai berdarah
darah karena ia menggigit gigitnya menahan rasa sakit yang
kadang kadang merangsang dengan hebatnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ia melakukan perjalanan sebagai seorang pengemis,
mengisi perutnya dengan cara minta minta, bahkan kadang
kadang mencuri. Tadinya memang berat sekali baginya
untuk minta minta, apalagi mencuri.
Ketika untuk pertama kalinya, yaitu tiga hari kemudian
semenjak melarikan diri, saking tak kuat menahan lapar ia
mencoba untuk minta makan pada pintu rumah orang, ia
dibentak bentak dan diusir. Ada yang memaki makinya, ada
pula yang menyuruh anjing mengusirnya! Beng Han
menuju ke sebuah restoran di mana banyak terdapat orang
orang berpakaian mewah sedang makan minum.
Akan tetapi, belum juga mulutnya terbuka mengeluarkan
suara, baru saja kedua kakinya sampai di ambang pintu,
seorang tamu gendut yang menghadapi sepiring besar
masakan ikan sebesar paha dan tadinya kelihatan berseri
gembira, menjadi marah marah dan membentaknya,
“Pergi kau, jembel hina! Membikin jijik saja pada orang
makan!”
Mendengar bentakan ini, para pelayan datang membawa
tongkat dan mengusirnya setelah memberi pukulan
beberapa kali pada kepalanya. Persis seperti orang mengusir
anjing!
Sakit di hati Beng Han lebih hebat daripada rasa sakit di
kepalanya ketika ia duduk di bawah pohon di pinggir jalan.
Akan tetapi ia tidak putus asa. Mungkin orang tadi
kebetulan sedang marah marah atau memang kebetulan ia
bertemu dengan orang yang berhati kejam, pikirnya. Kalau
aku bertemu dengan orang orang yang baik hati, seperti
mendiang suhu dan suheng berdua yang tak pernah
menolak seorang pengemis, tentu aku akan mendapat
makan. Dengan pikiran ini Beng Han kembali pergi ke
rumah makan lain. Melihat beberapa orang sedang makan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
di dekat jendela, ia lalu berkata penahan, “Mohon kasihan
dan bantuan, sudah tiga hari saya tidak makan....”
Lima pasang mata menatapnya, disusul suara suara
menyindir dan memaki.
“Anak malas! Kalau kau tidak mau bekerja, biar setahun
kau takkan makan. Tak tahu malu, masih muda sudah
mengemis. Hayo pergi, kuketok kepalamu nanti!”
Beng Han menundukkan mukanya dan pergi. Kerja...???
Kalau ia bekerja kapan ia bisa sampai di Kui san? Karena
hinaan dan ejekan inilah maka Beng Han lalu berlaku
nekad, yaitu mencuri makanan! Dengan modal
kepandaiannya yang ia dapat dari Koai Thian Cu dan
Thian te Kiam ong, ia sudah lebih daripada orang orang
biasa. Mencuri makanan dari pelayan pelayan restoran bagi
nya mudah saja. Sekali sambar dan lari, para pelayan
restoran tak seorangpun yang mampu mengejarnya.
Andaikata ada yang dapat mengejarnya dengan
kepandaiannya Beng Han dapat merobohkannya dan lari
lagi.
Demikianlah, dengan cara mnta minta atau kalau perlu
mencuri makanan, Beng Han dapat melanjutkan
perjalanannya ke Kui san. Dengan bertanya tanya ia dapat
mengetahui di mana letaknya gunung itu. Akan tetapi
celakanya, keaadaan tubuhnya makin lama makin payah,
biarpun mukanya kini sudah tidak bengkak bengkak lagi
dan matang birunya sudah hilang akan tetapi rasa sakit
pada leher dan dadanya makin menghebat.
Bekal pakaiannya telah di jualnya semua untuk makan,
karena kadang kadang ia tidak mempunyai kesempatan
untuk mencuri dan terpaksa menukar pakaian dengan
makanan. Pakaian yang menempel ditubuhnya sudah kotor
dan compang camping, sepatunya sudah dibuang karena
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sudah rusak semuanya. Beng Han benar benar nenjadi
seorang jembel muda!
Pada suatu hari ia tiba di kota Liang ke. Kota ini berada
di kaki gunung Kui san. Dari kota itu nampak gunung Kui
San menjulang tinggi dan bentuknya seperti raksasa atau
iblis yang menakutkan. Dari bawah saja sudah kelihatan
bahwa gunung ini amat kaya akan hutan hutan liar dan
amat sukar didaki. Akan tetapi ini semua tidak membikin
gentar hati Beng Han, bahkan hatinya girang bukan main
melihat gunung ini. Setelah melakukan perjalanan yang
amat sengsara selama setengah tahun baru ia sampai di kaki
gunung itu. Tubuhnya sudah menjadi kurus kering, bukan
saja karena kurang makan, terutama sekali karena luka di
dalam dadanya. Mukanya selalu pucat dan hanya sepasang
matanya saja yang masih kelihatan hidup, bercahaya penuh
semangat dan keberanian hidup.
Setelah bertanya tanya ia mendapat keterangan dari
penduduk Liang ke yang ramah tamah. Memang ada
sebuah menara kuno sekali di puncak Kui san, sebuah
menara yang menurut dongeng dahulu pernah
dipergunakan oleh Kiang Cu Ge (Seorang tokoh besar
dalam dongeng Hong sin pong, yang mendapat kekuasaan
sebagai pemberi pangkat kepada roh roh) untuk mengurung
dan menghukum tiga ekor naga! Kemudian, menurut
dongeng itu, datang Ji Lai Hud (Budha) membebaskan naga
naga itu, dari hukuman mereka. Untuk tanda terima kasih,
tiga ekor naga sakti itu lalu membuat sebuah patung
Buddha daripada emas murni, ditaruh di dalam menara
sebagai pujaan.
“Apakah sampai sekarang patung itu masih ada?” tanya
BengHan kepada kakek penjual kipas di pinggir jalan itu.
“Tentu saja masih ada, akan tetapi siapa yang dapat
melihatnya? Gunung itu sendiri sudah amat sukar didaki,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
penuh jurang, hutan hutan liar dan belum lagi binatang
binatang buas. Bahkan kabarnya masih ada ular besar
seperti liong di dekat puncak. Setelah orang berhasil sampai
disana misalnya, tetap saja percuma, karena tidak mungkin
dapat memasuki menara, apalagi memanjat naik.”
“Mengapa, lopek?”
“Pintu menara di sebelah dalam sampai ke atas berlapis
tujuhbelas buah, semuanya dari baja yang amat kuat dan
selalu terkunci rapat. Selama ini, di dalamnya kabarnya ada
siluman siluman yang menjaganya, entah siluman entah
pertapa pertapa, hal ini banyak yang menduga duga.
Pendeknya, selama aku tinggal di sini sudah puluhan tahun,
belum pernah aku mendengar ada orang bisa masuk ke
dalam.”
Hati Beng Han menjadi kecil mendengar ini. Bagaimana
kalau dia sendiri tidak bisa masuk. Apakah waktu setengah
tahun dibuang begitu saja secara sia sia? Hampir ia
menangis mendengar penuturan itu, akan tetapi ia lalu
menenteramkan hatinya. Tak mungkin. Suhu adalah Thian
te Kiam ong, tak mungkin dia membohongiku. Kakek ini
tanya berceritera karena mendengar dongeng dongeng yang
tidak karuan ujung pangkalnya. Ingin sekali Beng Han
kalau dapat terbang ke puncak gunung itu, akan tetapi tak
dapat ia segera melakukan pendakian. Perutnya telah
kosong semenjak kemarin. Selain harus diisi, juga dia harus
membawa bekal, karena ia dapat menduga bahwa
pendakian itu memerlukan waktu lama dan takkan
mungkin ia mendapatkan makanan di tengah perjalanan
itu.
Setelah menghaturkan terima kasih kepada kakek yang
menganggapnya seorang jembel yang baru datang, ia lalu
pergi menuju ke pasar di mana banyak terdapat warung
warung nasi dan kedai kedai arak.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ketika ia tiba di depan sebuah restoran besar yang penuh
tamu, ia berhenti. Hidungnya kembang kempis ketika ia
mencium bau masakan yang amat sedap sehingga beberapa
kali menelan ludah.
“Aduh enaknya....” katanya perlahan. Timbul
pikirannya untuk merasakan masakan yang amat enak
baunya ini. Kalau ia mengemis di sini, tak mungkin ia akan
mendapatkan masakan yang baunya membuat ia makin
lapar itu. Paling paling hanya akan mendapat makanan
makanan bekas atau makanan basi. Jalan satu satunya
untuk dapat merasai masakan itu hanya satu, mencuri!
Cepat bagaikan seekor kucing ia menyelinap dan pura
pura mencari sisa sisa makanan di belakang restoran itu. Ia
mendengar seorang yang suaranya parau membentak
bentak pelayan, “Hayo cepat bawa bebek panggang itu ke
sini! Aku sudah lapar!”
Yang bicara itu adalah seorang hwesio gundul yang
gemuk sekali. Di atas meja di depannya sudah nampak
piring piring bekas yang sudah kosong, dan ia tengah
makan sepiring mie yang banyak sekali. Di sudut kiri
terdapat guci arak besar. Benar benar aneh sekali melihat
seorang hwesio makan minumdalam restoran!
Pelayan cepat cepat membawa bebek panggang yang
baunya membuat mulut Beng Han berliur tadi, dari dapur
hendak dibawa ke meja hwesio itu. Bebek itu masih
kelihatan utuh berikut kepalanya, seperti bebek tak berbulu
sedang duduk di atas piring yang diletakkan di atas
penampan lebar. Kulit bebek itu merah kekuningan masih
mengebul hangat dan kelihatan menantang setiap orang
kelaparan!
Beng Han menyelinap maju dan sekali melompat dari
belakang telah dapat menyambar bebek itu dan dibawanya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lari. Gerakannya cukup cepat dan gesit sehingga pelayan itu
sana sekali tidak merasa! Setelah ia tiba di dekat meja si
gundul dan menurunkan baki dari pundaknya, baru ia
melongo melihat piring telah kosong, bebek sudah lenyap.
“Mana bebek panggangnya?” hwesio itu membentak
sambil menggebrak meja.
Pelayan itu bengong seketika, lalu menjawab gagap.
“Tadi.... tadi bebek itu.... ada.... duduk di piring....
sekarang.... .. apa dia terbang pergi?”
Hwesio itu mengereng seperti harimau, bangkit berdiri
dengan kasar sampai bangku yang di dudukinya
terpelanting kemudian sekali ia menendang tubuh pelayan
itu melayang seperti bebek terbang Tubuh pelayan itu
melayang dan hendak jatuh menimpa meja penuh hidangan
di mana seorang tosu beserta dua orang laki laki gagah
sedang duduk makan minum. Tosu itu mengibaskan ujung
lengan bajunya dan.... tubuh pelayan itu terbang balik
seperti bola ditendang kembali ke tempat hwesio itu.
“Bagus!” Hwesio gemuk berseru sambil melirik ke arah
tosu, dan sekali ia mengulur tangan ia telah menjambak
leher baju pelayan tadi.
“Hayo bilang sungguh sungguh, ke mana perginya bebek
panggangku?”
“Ampun.... losuhu.... ampun. Sesungguhnya tadi aku
sudah membawanya dari dapur. Entah bagaimana dia
bisa.... terbang ….”
Hwesio itu melempar pandang ke arah meja tosu tadi
dengan curiga ia tidak melihat ada bebek panggang di situ.
Lalu sepasang matanya yang besar besar itu memandang
keluar restoran. Tiba tiba ia berkata.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Aku sudah melihat pencurinya, Hayo sediakan lagi
bebek panggang lain, aku hendak menangkap pencuri cilik
itu.” Dengan langkah lebar ia meninggalkan restoran itu
langsung mengejar Beng Han yang berlari lari kecil sambil
mengggerogoti bebek panggang.
“Pencuri, kau hendak lari ke mana?”
Beng Han kaget sekali, apalagi ketika tiba tiba saja
pundaknya dipegang orang dan tubuhnya diputar sehinga ia
menghadapi seorang hwesio gemuk dan bermuka
menyeramkan.
“Kau mencuri bebek panggangku!” bentak hwesio itu
marah.
“Maaf losuhu, teecu, merasa lapar sekali dan bau bebek
panggang itu membuat teecu tak dapat menahan keinginan
hati lagi. Harap losuhu sudi memaafkan. Kalau teecu tahu
nama besar losuhu, kelak kalau ada rejeki teecu akan
mengundang suhu dan menjamu seratus ekor bebek
panggung sebagai gantinya.”
Mendengar ini, tiba tiba hwesio itu tertawa bergelak.
“Ha, ha. ha, ha, kau serigala cilik! Kau tentu murid
orang pandai. Siapa gurumu?”
Melihat keadaan hweesio ini, tahulah Beng Han bahwa
ia berhadapan dengan seorang berilmu, maka ia tidak
berani membohong “Teccu adalah murid dari Thian te
Kiam ong Song Bun Sam.” Ucapan ini ia keluarkan dengan
suara bangga.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba tiba hwesio itu
kelihatan beringas, matanya terbeliak dan lain saat tubuh
Beng Han telah dilemparkan ke atas. Tenaga lemparan ini
demikian hebatnya sehingga tubuh anak itu melayang dan
jatuh di puncak wuwungan rumah yang amat tinggi! Beng
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Han memegangi balok melintang di dekat wuwungan,
dipegangnya erat erat karena takut kalau jatuh ke bawah.
Bebek panggang yang baru dimakan sedikit itu entah
terlempar ke mana.
“Ha, ha, ha, kau murid Thian te Kiam ong? Biar
kautunggu suhumu di sana untuk menurunkanmu. Ha, ha,
ha!” Hwesio gemuk itu berjalan kekenyangan kembali ke
rumah makan.
Biarpun keadaan Beng Han begitu tak berdaya dan
berbahaya, anak itu tetap tidak mau berteriak teriak minta
tolong. Orang orang yang melihat kejadian ini hanya
berkerumun di pinggir jalan menuding nuding ke atas dan
sebagian ribut ribut menceriterakan kepada pendatang
pendatang baru bahwa anak itu adalah seorang jembel yang
mencuri bebek panggang dan dihajar oleh seorang hwesio
lihai.
Beng Han yang sudah lemas tubuhnya itu tentu sebentar
lagi akan jatuh ke bawah dan akan patah patah tulangnya
karena ia sudah hampir tidak kuat mempertahankan diri.
Kedua tengahnya yang memeluk balok itu sudah gemetar
kelelahan dan ia sudah memejamkan kedua mata untuk
menghadapi kematian.
Tiba tiba pada saat itu berkelebat bayangan putih dan
tahu tahu Beng Han sudah direnggut orang. Para penonton
di jalan mengeluarkan seru kagum melihat seorang kakek
tua melayang ke atas seperti seekor burung garuda,
kemudian dengan mudahnya menyambar tubuh Beng Han,
menjejakkan kaki ke wuwungan dan melompat kembali ke
bawah membawa tubuh pengemis cilik itu.
Ketika Beng Han memandang, ternyata yang
menolongnya adalah seorang tosu tua yang ia tadi tidak
melihat telah lama duduk bersama dua orang muda gagah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
di dalam restoran. Melihat tosu tua ini, segera Beng Han
mengenalnya karena tosu itu bukan lain adalah Pat pi Locu,
tosu Tibet lihai yang pernah mengunjungi Tit le dengan
maksud menantang pibu (mengadu kepandaian) Thian te
Kiam ong akan tetapi karena kakek sakti itu telah
meninggal, lalu menyerang makam dan bertempur
melawan Song Tek Hong dan Song Siauw Yang. Melihat
orang yang memusuhi keluarga Song ini, Beng Han yang
tadinya hendak menghaturkan terima kasih, menelan
kembali kata katanya dan memandang dengan mata tajam
terbelalak.
“Ha, ha, ha, anak baik, kita saling berjumpa pula di sini.
Kau hendak kemanakah?”
Biarpun tidak suka kepada tosu ini, karena merasa
bahwa dirinya sudah ditolong dari bahaya maut, Beng Han
merasa tidak enak kalau tidak menjawab sejujurnya. Tidak
menghaturkan terima kasih atas pertolongan tadi kiranya
sudah cukup memperlihatkan rasa tidak sukanya kepada
Pat pi Lo cu. Kalau ia tidak mau menjawab penanyaan
yang diajukan dengan ramah, ia anggap kurang ajar.
“Aku hendak pergi ke gunung itu.” katanya sambil
menatar tubuh dan menudingkan telunjuk nya ke arah Kui
san yang nampak puncaknya dari tempat itu.
Sementara itu, dua orang gagah yang tadi duduk makan
minum bersama Pat pi Lo cu sudah sampai di situ pula.
Beng Han juga mengenai mereka, bukan lain dua orang
murid Pat pi Lo cu yang mukanya sama benar, dua saudara
kembar See thian Siang cu Ma Thian dan Ma Kian, yang
pernah bertempur melawan Kong Hwat dan Bi Hui.
“Hendak ke Kui san?” Pat pi Lo cu mendesak dengan
penuh perhatian. Beng Han mengangguk.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Heran, kau pergi ke gunung liar itu hendak
mengunjungi siapakah?”
Beng Han mulai tak senang. Kakek ini keterlaluan,
pikirnya, mendesak desak dan ingin tahu urusan orang.
Tentu saja tak mungkin ia mau menceriterakan tentang
niatnya yang dirahasiakan.
“Aku hendak pergi ke Kim hud tah di puncak gunung itu
dan selanjutnya harap totiang tidak banyak tanya tanya lagi
karena totiang tidak ada sangkut pautnya dengan
urusanku.”
Pat pi Lo cu bertukar pandang dengan kedua orang
muridnya kemudian ia tertawa tawa dan berkata, “Aha, jadi
kau hendak ke Kim hud tah? Eh, anak baik, siapakah yang
menyuruhmu kasana? Tentu Thian te Kiam ong yang
mengutusmu, bukan?”
Beng Han makin mendongkol. Kakek Tibet ini sudah
tahu bahwa suhunya telah meninggal dunia, bahkan kakek
ini melihat pula makamnya. Bagaimana sekarang masih
pura pura bertanya bahwa dia diutus oleh Thian te Kiam
ong? Mengingat ini, ia berkata mendongkol, setengah
menyindir, “Benar, guruku menyuruh aku ke sana.”
Wajah Pat pi Lo cu berseri “Bagus! Sudah kuduga!
Memang Thian te Kiam ong tukang membohong dan
menipu. Peti mati itu tentu kosong dan orangnya masih
hidup! Jadi dia juga hendak datang ke Kim hud tah dan kau
disuruh mengamat amati lebih dulu dan disuruh menanti di
sana?”
Karuan saja hati Beng Han menjadi makin gemas.
Gilakah tosu ini? Atau sengaja hendak mempermainkan
dia? Baik, diapun akan main main terus!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Memang begitulah kiranya....” jawabnya, lalu
dilanjutkan, “dan kalau nanti suhu melihat kau
menggangguku terus, aku tidak bertanggung jawab untuk
keselamatanmu, totiang.”
Pat pi Lo cu tertawa lagi, nampaknya gembira betul.
“Siapa mau mengganggumu? Aku bahkau hendak
mempermudah tugasmu. Kalau kau naik sendiri ke Kui san,
kiranya baru sampai di tengah jalan saja kau akan diterkam
harimau. Lebih baik mari ikut dengan kami. Kita sama
sama menanti munculnya Thian te Kim ong di sana.”
Sebelum Beng Han sempat menjawab, lengannya sudah
disambar oleh Pat pi Lo cu dan di lain saat ia telah dibawa
lari seperti terbang cepatnya menuju ke Gunung Kui san!
Mula mula Beng Han terkejut dan menyesal. Mengapa
dia mempermainkan kakek ini, akan tetapi ketika melihat
betapa sukar perjalanan mendaki bukit Kui san itu, diam
diam ia merasa girang. Memang betul andaikata dia harus
mendaki sendiri, belum tentu ia akan sanggup. Apalagi di
seranjang jalan banyak ia melihat binatang binatang buas
yang tidak berani berbuat sesuatu terhadap Pat pi Lo cu dan
dua orang muridnya yang dapat bergerak secepat kijang itu.
Betapapun cepatnya Pat pi Lo cu dan dua orang
muridnya mempergunakan ilmu lari cepat berlari mendaki
Kui san tetap saja gunung yang penuh jurang dan hutan liar
itu tak mudah begitu saja mereka daki dan setelah hari
menjadi gelap barulah mereka tiba di puncak, di mana
terdapat sebuah menara di dalam taman bunga yang amat
indahnya. Menara itu menjulang tinggi seperti raksasa
aneh, merupakan pagoda besar bertingkat tujuhbelas,
terbuat daripada batu batu putih yang keras.
Pat pi Lo cu menurunkan Beng Han dan mereka duduk
di atas batu batu putih yang banyak terdapat di taman itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
seperti bangku bangku yang enak diduduki karena licin dan
halus permukaannya. See thian Siang cu mengeluarkan
buntalan makanan dan mereka mulai makan kue kering dan
minum arak. Beng Han juga ditawari dan anak yang
kelaparan ini tanpa sungkan sungkan lalu makan
sekenyangnya karena persediaan kue kering itu memang
cukup banyak. Beng Han tidak biasa minum arak wangi
maka setelah habis lima cawan, anak ini menjadi merah
mukanya dan segala apa terputar putar di depan mukanya.
Akan tetapi, tetap saja pikirannya terang dan sadar sehingga
bicaranya tidak mengacau.
“Anak baik, kau bilang kapankah gurumu itu akan tiba
di sini?”
“Aku tidak pernah bilang kapan dia datang di sini,”
jawab Beng Han, suaranya lantang dan berkumandang di
dalam taman yang dikelilingi pohon kembang itu.
“Thian te Kiam ong gurumu itu datang hendak
mengambil Kim hud (Buddha Emas), bukan? Dan kau
disuruh menyelidiki siapa siapa yang datang di tempat ini?”
kembali Pat pi Lo cu memancing dan mendesak.
Sekarang Beng Han benar benar tidak mengerti. Tak
mungkin kakek ini main main, pikirnya. Benar benarkah
kakek gila ini mengira bahwa suhu nya masih hidup dan
dahulu yang dimakamkan itu hanya peti kosong? Benar
benar gila!
“Totiang, sebenarnya apakah kehendak totiang?
Bukankah totiang sudah melihat sendiri makam suhuku?
Suhu Thian te Kiam ong sudah meninggal dunia, hampir
setahun yang lalu. Bagaimana totiang mengharapkan
bertemu dengan dia disini?”
“Jangan kau bohong! Thian te Kiam ong masih hidup!”
Tosu itu membentak.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Totiang, entah aku sudah gila, entah kau yang tidak
beres pikiran. Aku bersumpah bahwa aku yang menjaga
suhu sampai datang maut merenggut nyawanya. Aku yang
selalu berada di samping suhu sampai suhu meninggal
dunia. Suhu Thian te Kiam ong benar benar telah
meninggalkan dunia ini!” Suara Beng Han lantang karena
ia gemas sekali.
Pat pi Lo cu dan murid muridnya menjadi tertegun,
bahkan seorang di antara murid muridnya mengeluarkan
seruan kecewa.
“Kalau beut begitu, mengapa kau tadi menipu kami?
Apa maksudmu naik ke puncak Kui san? Kau mau apakah
hendak pergi ke Kim hud tah? Hayo bilang sebelum
kupatahkan batang lehermu!” bentak Pat pi Lo cu.
Beng Han tentu saja tidak mau mengaku. Kalau ia
mengaku, tentu pedang dan kitab peninggalan suhunya
akan jatuh di tangan lain orang den ia lebih baik mati
daripada membuka rahasia ini.
“Aku.... aku mendengar akan keindahan puncak gunung
ini maka aku datang hendak bertapa di sini”, jawabnya.
“Kalau totiang tidak percaya, sudahlah.”
“Kau bohongi Mengapa kau bocah sekecil ini hendak
bertapa? Mengapa?Hayo jawab.”
“Itu urusanku sendiri.”
Pada saat itu, Pat pi Lo cu berseru kepada dua orang
muridnya, “Awas ada tiga orang datang!”
Akan tetapi terlambat, dua orang muridnya itu
mengeluarkan saruan kaget karena mereka di serang oleh
dua orang di malam gelap. Mereka menangkis karena
merasa ada angin menyambar dan tubuh mereka terpental
jauh ketika lengan mereka bertemu dengan lengan lawan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang amat tangguh. Juga Pat pi Lo cu diserang orang dan
telah menangkis. Tangkisannya membuat orang itu
mengeluh, akan tetapi juga Pat pi Lo cu sendiri merasa
lengannya sakit dan pedas. Ia tahu bahwa penyerangnya itu
memiliki lweekang yang hanya kalah sedikit olehnya.
Setelah penyerangan ini, keadaan menjadi sunyi lagi dan
ternyata Beng Han telah lenyap dari situ!
“Anak setan, dia telah lari ketika terjadi ribut.” Pat pi Lo
cu menggerutu, kemudian ia terkejut mendengar keluhan
dua orang muridnya. Dalam keadaan remang remang
karena bulan hanya muncul sepotong, ia meneriksa lengan
dua orang muridnya yang ternyata telah membengkak.
Segera ia mengobati mereka dan merasa penasaran sekali.
“Siapakah siluman yang berani main gila?” teriaknya
keras keras. “Suhu, jangan jangan Thian te Kiam ong yang
muncul dan menolong muridnya,” kata Ma Kian.
Pat pi Lo cu terkejut. Mungkin benar, karena siapakah
orangnya yang begitu berani dan lihai sehingga dapat
merampas bocah itu di depan dia dan dua orang muridnya?
“Thian te Kiam ong, kalau kau memang sudah datang,
jangan bersikap seperti pengecut. Keluarlah dan mari kita
bicara!” teriaknya berulang ulang akan tetapi hanya angin
malam mempermainkan daun dan bunga yang menjawab
teriakan teriakannya itu.
Sementara itu, Beng Han tadi ditotok orang sehingga
lumpuh dan tak dapat mengeluarkan suara, kemudian ia
dibawa lari oleh tiga orang hwesio tua yang gerakannya
seperti iblis saja. Tiga orang hwesio ini benar memutari
menara, lalu masuk dari sebuah pintu rahasia yang dapat
menutup sendiri setelah mereka memasuki menara itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah tiba di dalam, Beng Han dibebaskan dari
totokan, akan tetap masih dikempit oleh seorang hwesio
dan mereka bertiga lalu berjalan melalui anak tangga yang
tiada habisnya. Beng Han merasa heran melihat betapa di
dalam menara itu tidak segelap diluar menara. Di situ
terdapat anak tangga yang melenggok lenggok seperti ular,
terus naik dalam bentuk memutar di sepanjang dinding
menara dan di tiap tikungan terdapat lampu penerangan.
Setelah tiba di tingkat ke sembilan, tiga orang hwesio itu
melangkah ke kiri di mana terdapat sebuah ruangan duduk
yang lebar.Mereka menurunkan Beng Han dan pergi duduk
di atas bangku, berdampingan.
Beng Han baru sekarang melihat wajah mereka dengan
jelas kerena di situ digantungi tiga buah lampu penerangan.
Ternyata bahwa mereka itu adalah tiga orang hwesio
gundul yang sudah amat tua, dan muka mereka kehitaman
dan angker sekali. Beng Han teringat akan dongeng tentang
tiga ekor naga yang dikurung di menara ini dan diam diam
ia bergidik. Siapa tahu kalau kalau tiga orang kakek ini
adalah tiga ekor naga yang telah menjadi siluman dan
menjelma menjadi manusia? Baru sekarang ia merasa seram
dan ia menjatuhkan diri berlutut tanpa dapat mengeluarkan
suara.
“Siapa namamu?” tanya seorang di antara tiga hwesio
itu, yang tertua.
“Teecu bernama Thio Beng Han, sebatang kara dan
tidak mempunyai tempat tinggal tetap.”
“Apa betul kau murid Thian te Kiam ong Song Ban
Sam?”
“Betul, losuhu. Mendiang Thian te Kiam ong Song Bun
Sam adalah suhuku.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hemm, jadi benar benar sudah meninggal dunia?”
hwesio itu menarik napas panjang tanda kecewa. “Ji wi
sute. kalau begitu kita betul betul berada dalam bahaya,”
katanya kepada dua orang hwesio yang lain. Kemudian ia
berpaling kembali kepada BengHan.
“Kalau kau betul murid Thian te Kiam ong, coba kau
buktikan, pelajaran apa yang sudah kau terima dari suhumu
sebelumsuhumu meninggal.”
Beng Han tahu bahwa tiga orang hwesio ini adalah
penjaga menara seperti yang dimaksudkan oleh suhunya,
yaitu orang orang yang harus ia serahi surat suhunya. Dan
ia maklum pula bahwa mereka tidak percaya kepadanya.
Maka ia lalu berdiri dan mulai menggerak gerakkan kakinya
mainkan Chit seng pouw, dasar daripada kedudukan Ilmu
Pedang Kim kong Kiam sut.
“Cukup.... cukup.... kau memang murid Thian te Kiam
ong. Thio Beng Han, kalau kau murid Thian te Kiam ong
dan gurumu itu sudah meninggal, bagaimana kau sampai
terjatuh ke dalam tangan Pat pi Lo cu dan datang ke sini
tersama dia?”
Beng Han lalu menuturkan pengalamannya, bahwa ia
telah melakukan perjalanan setengah tahun dari Tit le
sampai di kaki Kui san. Kemudian bagaimana ia diserang
oleh seorang hwesio gemuk karena mencuri bebek
panggangnya, kemudian ditolong oleh Pat pi Lo cu dan
diajak bersama sama naik ke puncak Kui san sampai di
menara Kim hud tah.
Tiga orang hwesio itu mengangguk angguk.
“Dasar sudah jodohnya kau harus tiba di tempat ini.
Kalau kau seorang diri naik ke puncak, kiranya kau akan
tewas d tengah jalan. Akan tetapi, apa maksudmu jauh jauh
datang ke puncak Kui san.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Teecu hendak memenuhi perintah suhu di waktu masih
hidup. Suhu meninggalkan pesan kepada teeeu untuk
menghadap sam wi losuhu di menara Kin hud tah ini dan
menyerahkan sepucuk suratnya.” Ia lalu mengeluarkan
surat dari Thian te Kim ong yang selalu disimpannya baik
baik di sebehh dalam bajunya, tak pernah terpisah dari
tubuh seperti sebuah jimat yang keramat. Surat itu sampai
kumal dan kotor.
Segera hwesio tua itu membuka dan membaca dari
Thian te Kiam ong dan surat itu berpindah pindah tangan
di antara tiga orang hweso tadi. Mereka mengangguk
angguk dan memandang kepada Beng Han dengan mata
penuh selidik. Kemudian mereka berdiri, hwesio tertua
berkata,
“Beng Han, di dalam suratnya suhumu mengangkatmu
menjadi ahli warisnya dan meninggalkan kitab pelajaran
dan pedang kepadamu. Kitab itu harus kau pelajari sampai
tamat dan setelah kau dapat melawan kami dengan pedang
Kim kong kiam barulah kau diperbolehkan turun menara
ini. Hayo kau kuantar ke atas, tempat suhumu menitipkan
barang barang warisannya itu.”
Dengan hati girang sekali Beng Han lalu mengikuti tiga
orang hwesio itu bejalan melalui anak tangga yang
melingkar lingkar ke atas. Menara itu tinggi sekali, setiap
tingkat tidak kurang dari limabelas kaki, jadi tujuhbelas
tingkat tidak kurang dari duaratus limapuluh kaki!
Di puncak menara yang tinggi itu merupakan sebuah
kamar yang bersih dan berhawa sejuk dan di situ selain
terdapat sebuah pembaringan, juga terdapat meja dan
beberapa buah kursi. Dan di atas pembaringan itu terletak
sebuah peti panjang berwarna hitam.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Itulah barang peninggalan Thian te Kiam ong yang
dititipkan kepada kami, sekarang jadi milikmu. Buka dan
lihatlah.”
Dengan kaki menggigil saking terharu dan girang. Beng
Han menghampiri dan membuka peti hitam itu. Di
dalamnya terdapat pedang Kim kong kiam tulen, bercahaya
kuning menyilaukan mata. Di dekat pedang itu, terdapat
sebuah kitab tulisan suhunya. Pada sampul kitab tebal itu
tertulis
Menurunkan ilmu yang kudapat dari para suhu Kim kong
Taisu, Mo bin sin kun dan Bu Tek Kiam ong kepada murid
Thio Beng Han.
Bukan main girangnya hati Beng Han. Setelah
meletakkan pedang dan kitab di dalam peti kembali, ia lalu
menjatuhkan diri berlutut di depan tiga orang hwesio itu
sambil berkata,
“Boanseng telah menerima budi besar dari Sam wi
locianpwe. Harap sam wi sudi memberi tahu siapakah sam
wi locianpwe agar selama hidup boanseng takkan lupa.”
Hwesio tertua menarik napas panjang lalu berkata,
“Setelah kau ditetapkan menjadi ahli waris Thian te Kiam
ong dan tinggal di sini sampai bertahun tahun, kau
terhitung orang sendiri yang harus mengetahui segala
urusan ini.” Kakek ini berpaling kepada dua orang hwesio
lain. ‘Sute kalian turunlah dan amat amati mereka yang di
luar itu. Biar pinceng mendongeng dulu kepada bocah ini.”
Dua orang hwesio itu menjura, lalu keluar dari ruang
puncak itu dan menuruni anak tangga. Hwesio tua itu lalu
menyuruh Teng Han duduk di atas bangku, dan iapun
duduk menghadapi bocah itu. Waktu itu sudah menjelang
tengah malam dan hwesio tua ini mulai berceritera,
didengarkan dengan penuh perhatian oleh Beng Han.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwesio tua ini adalah Gwat Kong Hosiang dan dua
orang sutenya adalah Gwat Liong Hosiang dan Gwat San
Hosiang. Mereka ini sudah puluhan tahun tinggal di dalam
menara Kim hud tah, diwajibkan menjadi penjaga menara
dan penjaga serta perawat patung emas Buddha yang
berada ditingkat kesembilan. Mereka melanjutkan
pekerjaan guru mereka, yaitu Thian Le hwesio tokoh Go bi
pai.
Biarpun cerita bahwa patung Buddha emas itu dibuat
oleh tiga ekor naga hanya merupakan dongeng, namun tak
seorangpun dapat menceriterakan bagaimana asal usul
patung emas itu. Yang semenjak terang turun menurun
tokoh tokoh Go bi pai melakukan penjagaan pada patung
dan menara ini, dan tempat itu dianggap sebagai tempat
keramat. Kakek guru dari Go bi pai pernah meninggalkan
pesanan bahwa jangan sampai patung emas itu dicuri orang
karena kalau sampai di tangan orang jahat, akan timbul
huru hara besar dan dunia takkan aman. Oleh karena
kepercayaan pada kakek guru ini, maka pihak Go bi pai
selalu menugaskan hwesio hwesio berilmu tinggi untuk
melakukan penjagaan.
Ketika Thian Le Hwesio yang menjadi penjaga, maka
hwesio ini mendatangkan tiga orang muridnya, yaitu tiga
orang hwesio tersebut yang sekarang melanjutkan pekerjaan
guru mereka yang sudah tewas dalam pertempuran ketika
orang orang jahat mencoba merampas patung emas. Dan
tiga orang hwesio ini menerima pemberitahuan rahasia dari
suhu mereka bahwa patung emas itu mungkin akan
dijadikan rebutan oleh orang orang kang ouw karena di
dalam patung itu terdapat kitab pelajaran ilmu silat yang
luar biasa, peninggalan dari Tat Mo Couwsu (Sang Budha)
sendiri ketika pertama kali berkelana ke Go bi san.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Dengan Thian te Kiam ong, tiga orang hwesio ini kenal
baik karena Thian te kiam ong Song Bun Sam pernah naik
ke Kui san dan mengunjungi menara yang terkenal ini.
Pertemuan pendekar besar itu dengan tiga orang hwesio
penjaga menara menimbulkan tali persahabatan yang erat,
sehingga Thian te Kim ong sudah menyanggupi untuk
membantu tiga orang hwesio penjaga itu apabila sewaktu
waktu Kui san dikunjungi orang orang jahat dan menara
Kim hud tah diserbu orang yang ingin mencuri patung
emas. Di lain pihak, tiga orang hwesio itu bersedia pula
membantu Thian te Kiam ong sehingga pendekar sakti ini
bahkan diperbolehkan menyimpan Kim kong kiam dan
kitabnya di menara itu, tingkat paling atas. Inilah sebabnya
mengapa tiga orang hwesio itu menjadi amat kecewa
mendengar bahwa Thian te Kiam ong benar benar sudah
tewas.
“Kalau suhumu masih hidup dan sekarang berada di sini,
kami tidak perduli apakah di luar itu ada seratus orang
hendak menyerbu Kim hud tah.” Gwat Kong Hosiang
menutup ceriteranya.
Beng Han adalah seorang cerdik. Setelah mendengar
penuturan tadi, ia dapat menarik kesimpulan bahwa
kedatangan Pat pi Lo cu dan murid muridnya di tempat itu
bukan sekedar mengantarnya atau hendak bertemu dengan
suhu nya saja, tentu ada hubungannya dengan
kekhawatiran Gwat Kong Hosiang ini.
“Losuhu, selain Pat pi Lo cu dan dua orang muridnya,
teecu tidak melihat orang lain di luar. Kalau hanya tiga
orang ini saja, apakah sam wi losuhu tidak dapat
menghadapi mereka?”
Gwat Kong Hosiang tersenyum. Tentu saja kami tidak
takut menghadapi Pat pi Lo cu dan murid muridnya.
Buktinya kami sudah berhasil merampasmu dari tangannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Biarpun Pat pi Lo cu sendiri lihai, akan tetapi hanya dengan
dua orang muridnya saja dia tidak berdaya menghadapi
kami bertiga. Sayangnya yang datang bukan hanya bertiga.
Hwesio gemuk yang marah marah karena kau colong bebek
panggangnya juga sudah datang, dan selain itu masih ada
beberapa belas orang lain. Besok pagi pagi tentu akan
terjadi keributan di sini.”
Kembali kakek itu menarik napas panjang, nampaknya
agak gelisah.
“Sebenarnya mereka itu siapakah, losuhu?”
“Siapa lagi kalau bukan orang orang kang ouw, orang
orang ternama ahli silat yang tak pernah puas akan
kepandaian masing masing.”
“Apakah sudah pasti mereka itu datang dengan maksud
mencuri atau merampas patung emas, siapa tahu kalau
mereka itu mengetahui akan simpanan suhu di sini....?”
Gwat KongHosiang menggeleng kepalanya.
“Tak mungkin. Gerakan Thian te Kiam ong tak mungkin
dapat diikuti orang, betapapun lihai orang itu. Dan yang
mengetiahui akan simpanan itu hanyalah kami bertiga.
Tidak, mereka itu menang datang untuk merampas patung
emas.”
“Akan tetapi, losuhu. Teecu sering kali mendengar
bahwa orang orang kang ouw ini tidak perduli tentang harta
benda. Pula, dengan kepandaian mereka yang tinggi,
sewaktu waktu mereka dapat mencuri emas di rumah
rumah orang hartawan. Mengapa untuk mencuri emas saja
mereka harus datang jauh jauh ke sini?”
Gwat Kong Hosiang tertawa “ Kau tidak tahu. Beng
Han. Sudah kuceriterakan tadi bahwa patung emas itu
mengandung rahasia hebat. Di dalamnya terdapat kitab
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pelajaran ilmu silat luar biasa yang hanya diketahui oleh
suhu kami. Kami sedang menanti nanti untuk mencari
seorang anak murid Go bi pai yang betul betul berharga
menjadi ahli waris kitab ini, oleh karena kitab ini harus
menjadi kitab pusaka Go bi pai. Sebelum kami
mendapatkan murid itu, kami tidak berani
mengeluarkannya, takut kalau kalau terjatuh ke dalam
tangan orang jahat. Sayang sampai sekarang tidak ada anak
murid Go bi pai yang cukup berbakat. Kami bertigalah yang
menjadi murid murid terpandai di waktu sekarang ini....”
Hwesio itu menarik napas panjang. “Entah bagaimana,
hidung, mata, dan telinga orang orang kang ouw memang
tajam melebihi anjing anjing pemburu, mereka telah
mengetahui akan rahasia itu dan agaknya besok akan terjadi
perebutan hebat. Apa boleh buat, kami bertiga sudah
bersumpah untuk menjaga patung itu dengan taruhan
nyawa.”
“Losuhu, teecu merasa menyesal sekali mengapa teecu
begini bodoh. Kalau saja teecu mempelajari kitab suhu
sampai tamat, kiranya teecu akan sanggup mewakili suhu
membantu kepada sam wi lo suhu.”
Gwat Kong Hosiang tertawa, “Anak baik, tak perlu kau
berkhawatir. Apapun yang akan terjadi, kau takan terbawa
bawa. Pula, kami bertigapun tidak akan menyerah mentah
mentah begitu saja. Sebelum mereka berhasil merampas
patung emas, merekapun harus mempertaruhkan nyawa
lebih dahulu!”
Kemudian Gwat Kong Hosiang mengajak Beng Han
keluar dari ruangan itu dan menuju ke sudut menara. Ia
menudingkan telunjuknya ke atas, ke arah pian puncak
menara di mana terdengar bunyi burung bercuitan. Ribuan
burung telah membuat sarang di tempat tinggi itu. Pantas
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
saja tadi Beng Han lapat lapat mendengar suara gemuruh di
sebelah atas.
“Lihatlah, Beng Han! Kau selalu akan tinggal di puncak
ini dan tidak boleh turun sebelum tamat pelajaranmu
melatih ilmu silat dari kitab peninggalan suhumu! Selain
tekun belajar, kau pun mulai saat ini menjadi seorang
pertapa yang akan menghadapi hidup serba sukar, bahkan
mungkin menghadapi ancaman maut. Disini tidak ada
makanan lain kecuali apa yang dapat kau ambil dari sarang
sarang burung itu, juga untuk keperluan minum, kau hanya
mengandalkan sumur kecil yang berada di dasar menara.
Nah, sekarang aku akan turun dan besok apabila terdengar
ribut ribut dan kau melihat pertempuran di luar maupun
dalam menara jangan sekali kali kau keluar dari ruangan
ini! Kalau kau keluar dan menemui bencana, kami akan
merasa salah terhadap mendiang suhumu.Mengerti?”
Beng Han menjatuhkan diri berlutut. “Baik, losuhu.
Teecu akan memperhatikan dan mentaati semua petunjuk
losuhu dan teecu bersunpuh untuk belajar dengan tekun.”
Dengan muka puas Gwat Keng Hosiang lalu keluar dari
ruang itu dan berjalandw menuruni anak tangga. Biarpun
tubuhyya sakit dan lelah sekali, Beng Hankz tidak mau
tidur, sebaliknya ia mengeluarkan kitab peninggalan
suhunya dan mulai membuka buka lembaran pertama.
Saking lelahnya, Beng Han jatuh tertidur di atas
pembaringan dengan kitab ditangan dan ia tidur sampai
matahari snh naik dan sinarnya menembus celah celah dan
lobang hawa di puncak menara.
Tiba tiba ia terbangun oleh suara ribut ribut. Ia merasa
kaget dan menyesal mendapatkan dirinya tertidur dengan
kitab di tangan, cepat ia menyimpan kitab itu dan
menggosok gosok matanya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hwesio, hwesio Gwat Keng, Gwat Liong, dan Gwat
San! Kalian lekas keluarlah menyambut aku untuk
diperhitungkan nasibmu karena aku melihat hawa kematian
di sekitar tempat ini!”
Suara ini terdengar halus akan tetapi mengandung
getaran tinggi sehinga biarpun tempat di mana Beng Hjn
berada amat tinggi, tetap saja telinganya menjadi sakit
dimasuki gema suara itu. Akan tetapi ia menjadi berdebar,
kaget dan girang sekali. Ia mengenal suara ini. Tak bisa
salah lagi. Inilah suara kakeknya, Koai Thian Cu!
“Kong kong…” tak terasa lagi Beng Han berseru, akan
tetapi suaranya lenyap ditelan ruangan yang lebar dan tinggi
itu. Ia berlari menuruni anak tangga, akan tetapi tiba tiba ia
menghentikan larinya dan cepat cepat melompat kembali ke
dalam ruangan. Ia teringat akan pesan Gwat Kong Hosiang
malam tadi bahwa apa pun yang terjadi, ia sama sekali
tidak boleh keluar dari tempat itu!
Beng Han berlari menuju ke pinggir ruangan puncak
menara dan mengintai keluar menara melalui lubang
lubang angin. Dan ia benar benar melihat kong kongnya
berdiri di sana, jauh di bawah, kelihatan kecil sekali. Kong
kongnya masih seperti dulu satu setengah tahun yang lalu,
berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, tongkat di
tangan kanan dan kebutan di tangan kiri.
Dari tempat yang amat tinggi itu Beng Han dapat
melihat kesekeliling tempat dengan jelas. Ketika ia
memandang ke sana ke mari melalui lubang lubang hawa,
terlihat olehnya bahwa dugaan Gwat Kong Hosiang
semalam memang terbukti. Di sana sini kelihatan orang
orang yang sikap dan bentuknya aneh. Ada tosu, ada
hwesio, ada pengemis, bahkan ada pula beberapa orang
wanita tua muda, juga ada yang berpakaian seperti
panglima perang. Seluruhnya ada enambelas orang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
termasuk Koai Thian Cu dan Pat pi Lo cu beserta dua
orang muridnya. Ia juga melihat Sin tung Lo kai Thio
Houw berada di situ bersama dua orang cucunya. Melihat
gadis cilik yang amat baik terhadap dia ketika dia hendak
dihukum di rumah Bi Hui dahulu, wajah Beng Han berseri.
Alangkah inginnya ia memberi tanda kepada gadis cilik itu
bahwa dia berada di tempat ini. Gadis cilik itu tentu akan
senang sekali kalau bisa ikut naik kesini, melihat orang
orang itu dari tempat yang begini tingginya!
Baik kita tinggalkan Beng Han yang melihat semua
peristiwa di depan manara itu dari tempat tinggi dengan
amat jelas, sungguhpun orang orang yang bicara di bawah
banyak yang tak dapat ia tangkap dengan pendengarannya
dan kita menengok ke bawah dan di luar menara.
Memang betul seperti apa yang telah diceriterakan oleh
Gwat Kong Hosiang kepada Beng Han malam tadi. Orang
orang di dunia kong auw paling haus akan ilmu yang tinggi
tinggi. Ketika terdengar berita bahwa di dalam Buddha
Emas di Kim hud tah tersembunyi sebuah kitab ilmu silat
yang kuno dan tinggi, berbondong bondong orang kang
ouw datang dan mencoba untuk mencurinya. Akan tetapi
berkali kali para pencuri kang ouw ini gagal karena ketiga
orang hwesio Go bi pai yang menjaga di situ bukanlah
orang orang sembarangan.
Dan pada hari itu, seperti telah dijanji saja enambelas
orang dari kalangan atas datang berkumpul di bawah
menara. Sebetulnya bukan karena telah di janji, melainkan
mereka tidak mau didahului oleh orang lain. Mendengar
ada orang orang pandai datang ke Kui san hendak
merampas kitab, orang orang itu takut kalau didahului,
maka beramai ramai mereka datang dan kini berkumpul di
sekitar menara besar dan tinggi itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Suara Koai Thian Cu yang dikeluarkan dengan
pengerahan tenaga khikangnya tadi tentu saja terdengar
oleh Gwat Kong Hosiang dan dua orang sutenya. Tak lama
kemudian terdengar suara dari dalam menara sebelah
bawah,
“Koai Thian Cu, mati hidup di tangan Yang Maha
Kuasa, kami tak perlu tahu berapa panjangnya usia kami di
dunia. Pintu menara sudah kami buka, siapa bermaksud
baik akan disambut baik.Mati karena melakukan perbuatan
jahat, bukankah itu mengecewakan sekali?”
Terdengar suara berteriak dan pintu dan paling bawah
dari menara itu terbuka dari dalam. Pintu itu terbuka
merupakan gua yang lebar dan hitam, akan tetapi tidak
kelihatan seorangpun muncul dari pintu.
Koai Thian Cu dan lain lain tokoh yang hadir tak jauh
dari situ bukanlah orang orang bodoh yang suka berlaku
ceroboh. Kakek tukang gwamia ini hanya tertawa lebar
melihat pintu menara sudah terbuka, akan tetapi ia tidak
mau buru buru masuk. Sebaliknya ia menoleh ke kanan kiri
dan belakang, lalu berkata,
“Jauh jauh kalian sudah melakukan perjalanan ke
menara ini, setelah sekarang pintu menara terbuka,
mengapa tidak lekas lekas masuk. Tunggu kapan lagi? Ha,
ha, ha.... hi, hi, hi, ..!”
Kata kata ini terang merupakan ejekan bagi semua orang
gagah yang berkumpul di luar menara. Pat pi Lo cu
mendengar ejekan ini lalu tertawa bergelak.
“Koai Thian Cu, kau ini tua bangka benar benar tak tahu
malu. Kau menyindir orang orang yang datang di sini, habis
kau sendiri hari ini berada disini. Bukankah itu sama
dengan seorang maling berteriak copet??? Apa kau tidak
malu terhadap raja pengemis yang hadir di sini?” Dengan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyebut raja pengemis ini sudah terang sekali Pat pi Lo cu
maksudkan Sin tung Lo kai Thio Houw, ketua dari Ang sin
tung Kaipang yang terkenal itu.
Semenjak tadi, diam diam Sin tung Lo kai terkejut
melihat dua orang kakek ini. Apalagi setelah mendengar
mereka bicara. Tadinya ia hanya menduga bahwa dua
orang kakek itu tentu orang orang sakti yang berkepandaian
tinggi, ternyata dari gerak geriknya. Kemudian setelah ia
mendengar kakek dua menyebut nama kakek pertama
sebagai Koai Thian Cu lalu menyinggung nyinggungnya, ia
makin tercengang. Nama besar Koai Thiankz Cu tentu saja
ia pernah mendengar biarpun belum pernah ia melihat
orangnya. Jadi inikah orang sakti yang selain lihai ilmu
silatnya, juga lihai sekali ilmu hoat sutnya dan pandai pula
melihat nasib orang? Hanya ia belum tahu siapa gerangan
kakek tosu yang dikawani dua orang laki laki gagah
bermuka kembar itu, yang dari kata katanya ternyata telah
menyindirnya. Akan tetapi karena ia belum kenal kepada
dua orang itu, dan pada waktu itu di situ berkumpul banyak
orang orang gagah yang sebagian tak dikenalnya, ia pura
pura tidak tahu dan diam saja. Siapa tahu kalau dewi di situ
ada pula raja pengemis yang lain, pikirnya,
“Pat pi Lo cu, bagaimana kau berani main main
terhadap seorang raja pengemis? Biarpun ia hanya
pengemis dan berpakaian seperti jembel, tetap dia seorang
raja! Apa kau lupa bahwa Ang sin tung Kaipang amat
terkenal? Jangan main main, ah!”
Untuk kedua kalinya Sin tung Lo kai Thio Houw
tertegun. Jelas bahwa Koai Thian Cu juga mengenalnya,
dan sekarang baru ia tahu bahwa tosu ke dua yang aneh itu
adalah Pat pi Lo cu. Nama ini belum pernah ia dengar,
akan tetapi ia dapat menduga bahwa kakek inipun tentu
lihai bukan main. Akan tetapi sebagai seorang locianpwe
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang sudah terkenal memiliki kepandaian dan kedudukan
tinggi, biarpun ia menghormat, ia tidak mau berlebihan dan
menyapa mereka dengan sikap seperti orang orang
setingkat, ia menjura dan berkata, “Ji wi beng yu (dua
sahabat) dari selatan dan utara harap maafkan aku yang
bermata lamur dan berlaku kurang hormat.” Ia menjura
kepada Koai Thian Cu, kemudian kepada Pat pi Lo cu.
Akan tetapi alangkah mendongkolnya ketika dua orang
kakek itu sama sekali tidak membalas penghormatannya,
bahkan tertawa ha ha hi hi!
“He, Koai Thian Cu. Kau sebagai tosu tukang goamia
yang merantau ke sana kemari kadang kadang kelaparan,
datang ke sini masih dapat dimaklumi seperti aku sendiri.
Akan tetapi seorang raja datang hendak mencuri ilmu baru,
benar benar merendahkan martabatnya!” kata Pat pi Lo cu.
Merah telinga Sin tung Lo kai mendengar ejekan ini. Ia
menancapkan tongkat merahnya ke atas sebuah batu di atas
tanah dan.... ujung tongkat itu menancap pada batu kecil
itu, sama sekali tidak merusaknya seakan akan batu itu
terbuat daripada bahan yang basah dan empuk! Ia
membiarkan tongkatnya berdiri di atas batu itu, kemudian
ia berkata,
“Aku. si tua bangka tinggal menanti maut menjemput
nyawa, untuk apa segala kedudukan? Sebaliknya, ada
pepatah bilang bahwa untuk belajar, tidak ada usia tua. Aku
ingin belajar, apa sih jeleknya? Apalagi karena kepandaian
aku si tua bangka ini memang amat rendah, perlu diperbaiki
banyak sekali. Yang terlalu adalah mereka yang sudah
pandai dalam segala macam ilmu, bahkan pandai
menghitung bintang di langit, masih saja hendak
menambah ilmunya. Benar benar seperti hendak bersaing
dengan dewakz!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Karena hatinya panas, Sin tung Lo kai sampai berani
menyerang Koai Thian Cu dengan kata kata, atau lebih
tepat lagi, ia mengelak dari serangan kata kata Pat pi Lo cu
dan “mengopernya” kepada Koai Thian Cu!
Kakek tukang gwamia ini tertawa terkekeh kekek.
“Kakek kakek tua bangka mau mampus pada tidak tahu
diri. Ha, ha, ha, ha! Aku sih lain lagi. Aku mencarikan ilmu
untuk cucuku!”
Beng Han yang mendengar suara lantang kong kongnya
dari atas, menjadi amat terharu dan bertitiklah air matanya,
ia tahu bahwa yang dimaksudkan oleh kong kongnya itu
adalah dia sendiri. Kakek itu hendak mencari kitab kitab
pelajaran untuknya!
Selagi tiga orang kakek ini saling serang dengan kata
kata, dari dalam menara terdengar lagi suara orang, “Cu wi
yang datang harap maafkan, pinceng tidak dapat keluar
menyambut. Pintu menara terbuka tidak ada yang mau
masuk, bukan salah pinceng. Jalan menuju ke Kui san
memang tak pernah terbuka atau tertutup. Kami bertugas
menjaga dengan nyawa kami sebagai taruhan kami
melakukan tugas. Dunia sudah cukup kacau, pinceng akan
berterima kasih sekali kalau cu wi tidak menambahnya dan
suka pergi meninggalkan tempat ini dengan aman.” Kata
kata ini keluar dari mulut Gwat Sin Hosing yang bertugas
menjaga di tingkat paling bawah.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXVI
“Ada hawa kematian di sekitar tempat ini, tak mungkin
terlewat begitu saja,” kata Koai Thian Cu seperti kepada
diri sendiri akan tetapi kata katanya ini mendatangkan rasa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
serem kepada yang mendengarnya, apalagi bagi mereka
yang sudah mengenal betapa jitu ramalan ramalan kakek
itu.
Karena pintu sudah terbuka dan orang orang tua itu
masih juga belum bergerak, hal ini menimbulkan
ketidaksabaran dua orang laki laki setengah tua yang
pakainnya seperti guru silat. Memang mereka ini adalah
guru guru silat dari sebelah utara Bukit Kui San. Mereka
lalu melompat memasuki pintu menara dengan gerakan
gesit dan teratur, saling melindungi dan tentu saja
kepandaian mereka sudah tinggi, kalau tidak demikian,
selain tak mungkin mereka bisa sampai di tempat itu, juga
kalau tidak pandai mereka takkan berani mengganggu Kim
hud tah.
“Sudah mulai… sudah mulai...” kata Koai Thian Cu,
berseri seri wajahnya seakan akan seorang bocah menjadi
gembira menonton pertunjukan yang menarik dimulai!
Dua orang guru silat itu memasuki pintu menara yang
gelap dengan langkah seperti harimau harimau mengintai
korban, tangan kiri siap menjaga di depan dada, tangan
kanan meraba gagang golok yang tergantung di pinggang.
Akan terapi tidak terjadi sesuatu. Mereka melangkah terus
dan tiba di ruangan terbawah, di mana mereka melihat
seorang hwesio tua yang berwajah angker duduk bersila di
atas bangku, di dekatnya terdapat sebuah meja di mana
terletak sebatang pedang yang mengkilap. Ruangan ini
terang karena menerima cahaya penerangan dari luar
melalui lubang lubang di dinding atasnya. Inilah Gwat San
Hosiang yang bertugas menjaga di bawah ia duduk bersila
dengan muka tunduk seperti sedang semadhi.
Dua orang guru silat itu menyapu tempat itu dengan
pandang mata mereka. Tidak ada patung emas di situ.
Tentu ditingkat atas, pikir mereka saling pandang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kesunyian tempat itu mengejutkan hati, maka seorang di
antara mereka berkata kepada hwesio itu,
“Losuhu, kami dua saudara Kwee, kauwcu (guru silat)
dari Tin an bun, sudah memasuki pintu menara!”
Gwat San Hosiang membuka matanya dan mengangkat
muka tanpa menggerakkan tubuh. Kaget dua orang kauwsu
itu ketika melihat sepasang mata itu mengeluarkan
pandangan tajam menyambar.
“Ji wi kauwsu datang kesini mau apakah? Kim hud tah
bukan tempat pelesir.”
“Kami datang bukan mau pelesir, melainkan hendak
meminjam patung emas!”
Gwat SanHosiang tersenyum. “Kalian juga?”
Dengan muka merah guru silat pertama berkata,
nadanya membela diri, “Losuhu, kami berdua adalah guru
guru silat yang mengandaikan nafkah hidup dari mengajar
ilmu silat. Karena sekarang banyak sekali guru silat, maka
kami harus mempunyai modal yang baik, dan modal guru
silat hanya ilmu silat yang baik. Oleh karena itu maka kami
hendak menambah kepandaian untuk di jadikan modal.”
“Hendak menambah kepandaian mengapa mencari
patung emas?” Kembali Gwat San Hosiaog bertanya, masih
tersenyum menyindir.
“Bukan patung emasnya yang kami butuhkan,
melainkan isinya, kitab yang tersembunyi di dalam patung
itu. Patungnya boleh losuhu ambil kembali.”
“Dari mana ji wi kauwsu tahu akan hal itu? Pinceng
sendiri belum pernah membuka buka patung keramat itu.
Sayang sekali, ji wi kauwsu datang sia sia. Patung emas itu
tidak berada di dalam ruangan ini.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tentu berada di atas....” dua orang guru silat
memandang ke arah tangga yang menuju ke atas.
“Jalan itu terlarang bagi semua orang yang datang dari
luar, ji wi tidak boleh melalui anak tangga itu.”
“Losuhu, harap losuhu duduk saja, tak usah repot repot.
Biarkan kami berdua sendiri yang akan mencari kitab itu
dan terpaksa kami harus meminjam anak tangga itu untuk
mencari ke atas.”
“Tugasku menjaga di sini dan siapapun juga takkan
dapat mempergunakan anak tangga itu tanpa melewati
tubuh pinceng.” Setelah berkata demikian, tahu tahu tubuh
yang bersila itu melayang dan dalam keadaan masih bersila
tubuh kakek gundul ini telah berpindah ke bawah anak
tangga! Karena anak tangga itu sempit dan tubuh nya besar,
benar benar jalan ke anak tangga itu terhalang dan kalau
orang hendak mempergunakan anak tangga harus lebih
dahulu melangkahi atau melewati tubuh Gwat San
Hosiang!
“Losuhu, kau mencari penyakit!” bentak guru silat ke
dua sambil mencabut goloknya, diikuti oleh saudaranya.
Gwat San Hosiang tertawa. “Masih harus di buktikan
dulu siapa yang mencari penyakit, mungkin ji wi kauwsu
yang mencari penyakit.”
“Minggir!” bentak dua orang kauwsu itu dan hampir
berbareng golok mereka menyambar dari dua jurusan.
Serangan ini hebat sekali, karrna bukan saja dilakukan
dengan baik dan dari dua jurusan, akan tetapi juga
kedudukan hwesio itu amat lemah. Ia sedang bersila dikaki
anak tangga dan agaknya tidak mempunyai jalan keluar lagi
dari bahaya yang mengancam nyawanya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Akan tetapi, Gwat San Hosiang tidak saja pandai ilmu
silat dan pengalamannya sudah banyak, juga ia amat pandai
melihat orang dan menaksir kepandaian orang. Ketika dua
orang guru silat tadi memasuki pintu menara, sekali melihat
dan mendengar gerakan gerakan mereka saja ia sudah dapat
menaksir bahwa menghadapi mereka ini tak perlu ia
mengeluarkan seluruh kepandaian dan tenaga. Oleh karena
itu, sekarang melihat serangan mereka, iapun berlaku
tenang. Akan tetapi, ia menjadi mendongkol dan marah
melihat betapa serangan serangan itu bukanlah serangan
biasa, melainkan serangan mengarah matinya! Memang
dua orang guru silat yang maklum bahwa mereda
berhadapan dengan orang pandai, begitu bergerak terus
menyerang bagian bagian berbahaya dan sekali serangan
mereka mengenai sasaran, hwesio itu akan tewas atau
terluka parah.
“Ji wi mengajak bertaruh nyawa? Baik!” Hwesio tua ini
tidak bergerak dari tempat ia bersila, akan tetapi tulang
tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan dan tiba tiba
ia melakukan gerakan mendorong ke depan sambil berseru,
“Pergilah!”
Hebat sekali akibat dari pukulan lweekang yang lihat ini.
Bagaikan disambar kilat, tubuh dua orang guru silat itu
terlempar keluar dari ruangan itu, terus bergulingan keluar
dari pintu menara! Orang pertama terbentur pintu dan
goloknya menghantam leher sendiri, sedangkan orang ke
dua bergulingan seperti balok digelindingkan. Setelah
mereka berhenti terguling guling, mereka sudah tak dapat
bergerak lagi, menggeletak di dekat Koai Thian Cu dan....
mati!
“Sudah mulai.... sudah mulai....!” Kakek ini terus
mengeluarkan kata kata ini, akan tetapi suaranya seperti
orang mewek. Tanpa memperdulikan yang lain lain, kakek
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ini lalu mempergunakan tongkatnya untuk menggali tanah.
Caranya memang luar biasa. Tongkat sekecil itu ketika
dipergunakan untuk menggali tanah, ternyata melebihi
sebatang pacul hasil kerjanya. Sekali tongkat ditancapkan di
tanah, ketika dicabut segumpal besar tanah terbawa ke atas.
Dengan cara aneh dan luar biasa ini sebentar saja Koai
Thian Cu sudah berhasil membuat atau menggali lubang
yang cukup besar dan dalam. Kemudian ia memasukkan
dua mayat guru silat itu ke dalam lubang dan menimbuni
lubang kembali dengan tanah galian.
“Ha, ha, ha, sekarang Koai Thian Cu bertambah dengan
satu pekerjaan lagi. Tidak saja dia tukang silat, tukang sulap
dan tukang ramal, juga sekarang dia tukang mengubur
mayat!” kata Pat pi Lo cu sambil tertawa terbahak bahak.
Sementara ini, sambil mengeluarkan gerengan keras
seperti guntur, seorang hwesio gemuk dengan mata besar
melangkah lebar memasuki pintu menara. Dia ini bukan
lain adalah hwesio yang kemarin hari dicuri bebek
panggangnya oleh Beng Han. Hwesio ini bukan orang
sembarangan. Dia bersama Thai Ti Hwesio, seorang anak
murid Siauw lim pai yang sudah tinggi ilmu silatnya.
Sayang sekali dia menyeleweng, baik menyeleweng dari
perguruan silat Siauw lim pai maupun dari peraturan
sebagai seorang hwesio. Oleh karena itu, sudah lama Siauw
lim pai tidak mengakuinya lagi sebagai murid. Biarpun
kepalanya gundul dan jubahnya seperti jubah hwesio
pemeluk Agama Buddha, namun cara hidupnya sama sekali
tidak seperti seorang pendata. Dia makan daging apa saja,
minum arak sampai mabok mabokan dan tidak ada
pekerjaan jahat yang ia pantang! Thai Ti Hwesio telah
kembali ke asal mulanya, yaitu seorang perampok tunggal
Dahulu sebelum ia menjadi hwesio dia adalah seorang
perampok yang pada suatu hari di robohkan oleh Kian Wi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Taisu tokoh Siauw lim pai, lalu bertobat dan menjadi
muridnya. Akan tetapi satelah Kian Wi Taisu meninggal
dunia, ia menjadi binal kembali dan datang kembali sifat
sifat jahatnya sehingga ia diusir dari Siauw lim pai dan
berkeliaran sebagai seorang penjahat keji bersembunyi di
kedok hwesio dan jubah pendetanya.
Thai Ti Hwesio memasuki pintu menara itu dengan
menyeret tongkat besinya. Sebagai murid Siauw lim pai, ia
adalah seorang ahli bermain toya. Begitu masuk dan
melihat Gwat San Hosiang, ia berkata dengan suaranya
yang lantang dan sombong,
“Hwesio penjaga Kim hud tah. Hayo kau lekas ambil
kitab peninggalan Couwsu dan mengembalikannya
kepadaku. Kalau tidak aku akan mewakili Ji lai hud untuk
menghukummu dengan tiga kali kemplangan dengan toya!”
Melihat hwesio gemuk yang sombong ini. Gwat San
Hosiang segera berdiri dari dudaknya dan merangkapkan
kedua tangannya. “Omtiohud, yang datang ini seorang
hwesio ataukah seorang gila? Ji lai hud tak pernah
menghukum orang, melainkan sebaliknya menunjukkan
jalan kepada manusia supaya terlepas dari segala ikatan
perbuatan dan hukuman. Kau ini siapa dan dari manakah?”
“Kepala gundul bermata bulat. Tidak tahukah kau
bahwa kitab peninggalan dari Tat Mo Couwsu itu adalah
hakku! Aku adalah Thai Ti hwesio dari Siauw lim pai dan
Tat Mo Couwsu adalah guru besar Siauw lim pai.”
Gwat San Hosiang tertawa besar. “Entah kau benar
benar seorang murid Siauw lim pai atau bukan, akan tetapi
kata katamu ini menggelikan sekali. Ilmu silat biarpun
sekarang terpisah pisah dan berganti bulu dengan macam
macam nama, asalnya juga satu sumber dan satu pokok.
Benda apakah yang tidak berasal dan satu pokok? Thai Ti
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwesio, lebih baik, mengingat bahwa kau sudah rela
memakai jubah pendeta dan berkepala gundul, kau keluar
lagi saja agar jangan sampai ditertawai orang kalau dua
orang hwesio gundul saling gempur.”
“Setan, kau siapakah?” tanya Thai Ti Hwesio marah.
“Nama pinceng Gwat San Hosiang, terhitung anak
murid Go bi pai, akan tetapi sekarang bertugas menjaga
menara Kim hud tah.”
“Berikan patung emas itu kepadaku!” Thai Ti Hwesio
membentak.
“Apa kau tidak melihat bagaimana akibatnya ketika dua
orang guru silat tadi melanjutkan kehendak hatinya yang
jahat? Pinceng dan dua orang saudara pinceng bertugas
menjaga Kim hud tah dan sekalian isinya, bagaimana kau
mau begitu saja minta patung emas?”
“Banyak cerewet.Minggir, aku hendak naik!”
Thai Ti Hwesio memutar toyanya dan melompat ke anak
tangga. Akan tetapii, sebelum kakinya sampai di anak
tangga pertama, ia merasa ada sambaran angin dan kiri
yang membuat toyanya terbentur ke samping. Serangan
angin ini disusul dengan sambaran pada kakinya yang akan
menginjak anak tangga, datangnya demikian cepat sehingga
ia menjadi kaget bukan main. Secepat kilat Thai Ti Hwesio
lalu berjungkir balik, membuat poksai (salto) ke belakang
dengan menotolkan ujung tongkatnya pada lantai. Dengan
cara demikian barulah ia terbebas dan serangan ke arah
kakinya yang tadi disambar oleh Gwat San Hosiang dengan
ujung lengan bajunya.
Marahlah Thai Ti Hwesio Tongkatnya di putar putar di
atas kepala, kemudian ia melangkah maju dan menyarang
hebat dengan gerak tipu Kauw ong pai san (Raja Monyet
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Menolak Gunung). Ujung toya itu setelah terpular putar
cepat lalu tiba tiba meluncur dan menyambar ke arah
kepala Gwat San Hosiang dengan gerakan menghantam
lalu dilanjutkan dengan mendorong. Kepala akan pecah
dan muka akan bolong kalau serangan ini mengenai
sasaran.
Mendengar suara angin dan merasa sambarannya,
tahulah Gwat San Hosiang bahwa lawannya ini adalah
seorang ahli gwakang yang bertenaga besar sekali. Dari
langkah kaki dan gerakan toya, ia mulai percaya bahwa
orang ini benar benar murid Siauw lim pai yang pandai.
Terkejutlah dia. Sama sekali bukan terkejut karena jerih
terhadap hwesio ini, akan tetapi terkejut melihat kenyataan
bahwa Siauw lim pai sampai menyuruh orang untuk
mengambil kitab. Inilah hebat! Tentu saja ia tidak tahu
bahwa Siauw lim pai sama sekali tidak tahu menahu dan
tidak ada sangkut paut dengan perbuatan murid murtad ini.
Menghadapi serangan Kauw ong pai san yang hebat,
Gwat SanHosiang berlaku tenang sekali.
Dengan menggerak gerakkan dua ujung lengan jubahnya
yang panjang, Gwat San Hosiang berhasil menangkis
serangan roya yang hebat dari Thai Ti Hwesio. Hwesio
Siauw lim pai ini adalah seorang ahli gwakang, tenaganya
besar sekali. Sebaliknya, selain tinggi ilmu gwakangnya,
Gwat Sin Hosiang adalah seorang ahli lweekeh. Dengan
senjata istimewanya, yaitu dua ujung lengan jubah yang
terbuat daripada kain lemas, dengan mudah ia dapat
menghadapi serangan toya, senjata yang kaku dan kasar itu.
Biarpun hanya ujung lengan jubah yang lemas namun
berada di tangan seorang ahli lweekeh dapat berobah
menjadi senjata istimewa, dapat dipergunakan sebagai
cambuk lemas, dapat pula berubah menjadi kaku dan kuat
seperti toya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Gwat San Hosiang dan dua orang suhengnya adalah
murid murid seorang tokoh besar Go bi pai yang dulu
bertugas menjaga patung emas Buddha di dalam pagoda
itu, yakni Thian Lo Hwesio yang lihai. Oleh guru mereka,
tiga orang murid ini khusus diwarisi ilmu silat yang aseli
dari Tat Mo Couwsu, ilmu silat tangan kosong yang disebut
Im yang siang ju (Sepasang Kepalan Im dan Yang). Ilmu
silat ini tidak hanya dapat dimainkan dengan dua buah
tangan kosong, akan tetapi dalam menghadapi lawan
bersenjata yang lihai, tangan kosong dapat berubah menjadi
bersenjata ujung lengan baju Oleh karena inilah maka tiga
orang kakek ini jubahnya berlengan panjang. Mereka tak
pernah mempergunakan senjata dalam pertempnran, karena
sepasang kepalan mereka ditambah ujung lengan baju saja
jarang ada yang dapat menandingi.
Dengan ilmu silat Im yang siang ju ini, Gwat San
Hosiang dapat menghadapi lawan yang bagaimanapun
juga. Ia dapat mempergunakan Yang kang maupun Im
kang (tenaga kasar atau tenaga lemas) dalam ilmu silat ini,
disesuaikan dengan keadaan lawan.
Thai Ti Hwesio ternyata lihai sekali. Gerakan toyanya
kuat dan cepat, menyambar nyambar bagaikan seekor naga
mengamuk. Kedua ujung toyanya ganti berganti melakukan
serangan mengemplang, mendorong, menyerampang atau
memukul. Semua serangan merupakan jangkauan tangan
maut.
Sampai limapuluh jurus mereka bertempur, akan tetapi
sagera ternyata bahwa kapandaian Thai Ti Hwesio masih
kalah setingkat. Ia mulai terdesak dan tongkatnya tak dapat
lagi banyak menyerang, melainkan dipergunakan untuk
melindungi tubuhnya dari desakan serangan sepasang ujung
lengan jubah! Biarpun begitu. tidak mudah bagi Gwat San
Hosiang untuk cepat cepat mengalahkan Thai Ti Hwesio.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sute. mengapa begitu lama mengusir anjing gundul ini?
Mari kami bantu!” Kata kata ini di ucapkan oleh Gwat
Kong Hosiang yang ternyata sudah berada di ruangan
bawah ini bersama Gwat Liong Hosiang. Mereka tadinya
memang menjaga di tingkat atasan, akan tetapi karena
khawatir kalau kalau Gwat San Hosiang kalah, mereka lalu
turun tangan membantu.
Tiga orang hwesio penjaga pagoda Kim hud tah ini
dengan gerakan serentak melakukan dorongan dengan
tangan ke arah Thai Ti Hwesio dan…. tubuh Thai Ti
Hwesio yang gemuk itu bagaikan sebuah bola karet
terpental keluar pintu! Thai Ti Hwesio merasa dadanya
sakit dan ia berteriak kesaktian ketika tubuhnya melayang
terus keluar dengan toya masih dipegangnya, bahkan di
pegang di depan dada.
Celakanya, ia melayang ke arah seorang pengemis tua
yang duduk di atas tanah. Pengemis ini tubuhnya penuh
kudis dan selalu garuk garuk kaki dan tangannya ia seperti
tidak tahu bahwa hwesio gemuk itu melayang dan hendak
menimpanya dengan toya lebih dulu! Beng Han yang
melihat hal ini dari atas menara, menjadi kaget dan kasihan
sekali kepada pengemis tua itu. Akan tetapi segera semua
orang yang menyaksikan hal ini terkejut sekali. Pengemis
tua itu menggerakkan tangan kiri yang penuh kudis dan....
tubuh gemuk bundar dari Thai Ti Hwesio seperti daun
kering tertiup angin, melayang pergi ke kiri!
Kini tubuh Thai Ti Hwesio meluncur ke arah seorang
wanita tua. Nenek ini tubuhnya bongkok dan mukanya
penuh keriput, ia berdiri di situ bersama dua orang wanita
muda yang berwajah manis dan bersikap gagah. Melihat
datangnya tubuh Thai Ti Hwesio, dua orang gadis itu
membuang muka dan berkata,
“Menjemukan!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Menyebalkan!”
Akan tetapi nenek itu dengan mulut menyeringai
mengangkat tongkatnya ke atas dan.... tubuh Thai Ti
Hwesio diputar putar di atas tongkat seperti seorang penari
beetari pring. Sekali nenek ini menggerakkan tongkat, tubuh
hwesio sialan itu melayang lagi, kini nenuju ke arah Koai
Thian Cu. Toya panjang terlepas dari pegangan Thai Ti
Hwesio yang semenjak tadi sudah tak bersuara lagi.
Koai Thian Cu mengulurkan lengan dan menerima
tubuh itu, lalu melemparkannya ke atas tanah, ia tertawa
bergelak.
“Benar benar semua orang menghendaki aku menjadi
tukang urus mayat!” Tanpa banyak kata lagi ia kembali
membuat lubang di tanah dan mengubur tubuh Thai Ti
Hwesio. Ternyata bahwa setelah dewi tubuhnya dijadikan
“bola karet” dan di oper ke sana ke mari oleh orang orang
yang berilmu tinggi itu, Thai Ti Hwesio tewas sebelum
tubuhnya menyentuh bumi, tanpa diketahui orang pukulan
siapakahkz gerangan yang menewaskannya. Entah pukulan
tiga hwesio penjaga patung emas, entah pukulan pengemis
kudisan itu ataukah sodokan tongkat nenek bongkok.
Melihat betapa berturut turut orang yang menyerbu ke
dalam mengalami kekalahan bahkan kehilangan nyawa,
agaknya yang lain lain menjadi jerih. Mereka hanya saling
pandang dan saling mengharapkan orang lain akan
mencoba lebih dulu!
“Ha, ha, ha! Banyak pengecut, banyak pengecut!” kata
Koai Thian Cu sambil tertawa bergelak. “Pat pi Lo cu dan
kau Sin tung Lo kai, mengapa berdiri diam saja? Apakah
kalian takut menyerbu?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tua bangka tukang urus mayat. Kau hanya bicara saja
Mengapa kau sendiri tidak lekas lekas menyerbu?” jawab
Pat pi Lo cu tersenyum mengejek.
“Mereka maju bertiga, agak sukar....” kata Sin tung Lo
kai ragu ragu. “Pula, akupun tidak menghendaki
pertempuran yang tidak ada gunanya. Aku hanya mau
bicara dengan tiga orang sahabat di dalam.” Setelah berkata
demikian, Sin tung Lo kai lalu melangkah maju dan
memasuki pintu pagoda itu. Ia memberi tanda kepada dua
cucunya dan dua orang cucunya itu, Kwan Sin Hong dan
Kwan Li Hwa, berjalan dengan tenang dan tabah mengikuti
kong kong mereka.
Gwat Kong Hosiang dan dua sutenya tahu dengan siapa
mereda berhadapan. Gwat Kong Hosiang mewakili sute
sutenya dan menjura sambil menegur,
“Sin tung Lo kai Thio sicu yang terkenal gagah dan adil
ada keperluan apakah memasuki pagoda? Apakah sicu juga
mempunyai kehendak buruk yang serupa dengan orang
orang itu?” Suara Gwat Kong Hosiang terdengar kaku dan
dingin.
Sin tung Lo kai Thio Houw menggerak gerakkan tongkat
merah di tangannya dan menarik napas panjang. Lalu
katanya, “Dibilang serupa, sama juga. Dikatakan sama.
Sesungguhnya lain. Sam wi suhu harap maklum bahwa aku
berani menebalkan muka hanya demi kepentingan kedua
cucuku ini. Kuharap Sam wi suka menurunkan ilmu
warisan Tat Mo Couwsu itu kepada dua orang cucuku ini.
Adapun aku sendiri, tua bangka seperti aku ini, untuk apa
bersusah susah belajar silat? Kalau sam wi suka menerima
permintaanku, aku akan mempertaruhkan nyawa guna
membantu sam wi mengusir orang orang yang datang
mengganggu sam wi.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Gwat KongHosiang menggeleng gelengkan kepalanya.
“Thio sicu. Hal itu tidak mungkin. Menyesal sekali
pinceng bertiga tak mungkin memenuhi permintaanmu.
Banyak sekali orang menginginkan warisan Couwsu, kalau
pinceng berikan kepada sicu, bukankah dunia akan
menyebut pinceng bertiga orang orang yang tidak adil dan
berat sebelah?”
“Habis, bagaimana keputusan sam wi losuhu?” tanya Sin
tung Lo kai mengerutkan alisnya.
“Tidak ada jalan lain. Pinceng bertiga diwajibkan oleh
mendiang suhu untuk menjaga pagoda ini serta sekalian
isinya. Kalau ada orang datang hendak merampok sesuatu,
terpaksa pinceng bertiga mempertaruhkan nyawa untuk
mencegahnya.”
“Maaf kalau begitu aku si tua bangka terpaksa akan
mencoba kebodohan, kalau kalau ada nasib baik untuk cucu
cucuku.”
“Kami harap kalau dapat urungkan saja keherdakmu itu,
sicu. Kami bertiga akan amat menyesal kalau sampai terjadi
salah tangan terhadap sicu.”
Thio Houw tertawa bergelak. “Mati di tangan sam wi
merupakan kehormatan besar. Tunggulah sebentar, aku
akan datang lagi.” Setelah berkata demikian, Thio Houw
menggandeng tangan Kwan San Hong dan Kwan Li Hwa,
diajak keluar dari tempat itu. Baru saja tiba di ambang pintu
terdengar suara Gwat Kong.
“Thio sicu, kau dan yang lain lain tunggulah saja di luar.
Kami yang akan keluar melayani kalian, tak usah masuk
merusak tempat suci ini.”
Thio Houw berjalan keluar. Tiba tiba pintu itu tertutup
dari dalam.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Pat pi Lo cu, Koai Thian Cu.dan yang lain lain
mendekati Sin tung Lo kai.Mereka mengajukan pertanyaan
apa yang terjadi di dalam.
“Mereka hendak keluar menyambut kita. Agaknya
mereka sudah nekad hendak bertempur memperebutkan
patung itu. Kita tunggu saja di sini, mereka pasti akan
keluar,” jawab Thio Houw, kecewa karena ia tidak berhasil
membujuk tiga orang hwesio itu untuk menyerahkan
warisan Tat Mo Couwsu kepada cucu cucunya. Kalau
merebut dengan kekerasan, benar benar bukan hal mudah.
Andaikata ia berhasil menangkan tiga hwesio itu dan
merampas patung emas yang mengandung ilmu pelajaran
tinggi, di situ masih ada Pat pi Lo cu, Koai Thian Cu, dan
belum dihitung lagi kakek pengmis kudisan dan nenek
bongkok yang lihai lihai itu! Mereka ini sudah pasti takkan
tinggal diam dan tentu akan berusaha merampas patung itu
pula.
“Pat pi Locu dan kau Koai Thian Cu,” kata Thio Houw
setelah berpikir masak masak. “Gwat Kong Hosiang bertiga
bukanlah lawan ringan kalau kita maju seorang demi
seorang, aku berani bertaruh kita akan kalah semua karena
mereka bertekad untuk maju berbareag melindungi patung
itu. Di antara kita sudah tidak ada rahasia lagi. Kita masing
masing ingin memiliki kitab di dalam patung itu, bukan?
Nah, bagaimana kalau diatur begini? Kita bertiga maju
berbareng menghadapi mereka bertiga. Dengan cara ini kita
banyak harapan menang.”
Pat pi Lo cu mengangguk angguk, menyatakan
persetujuannya.
“Jembel tua, kalau kita maju bertiga sampai menang dan
patung itu berada di tangan kita, habis siapa di antara kita
bertiga yang berhak akan isi patung?” kata Koai Thian Cu,
memandang penuh curiga dan mulutnya tertawa mengejek.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kalau sudah demikian mudah saja. Tinggal melihat saja
nanti siapa di antara kita yang patut memilikinya!” jawab
Sin tung Lo kai sambil tertawa juga.
“Bagus, bagus….! Aku setuju. Memang kau jembel tua
bangka cerdik sekali, Lo kai!” kata Koai Thian Cu sambil
tertawa bergelak. Juga Pat pi Lo cu setuju dengan usul ini.
Tiba tiba terdengar suara keras dan berisik di dalam
pagoda seakan akan pagoda itu hendak runtuh. Dindingnya
yang tebal tergetar dan suara hiruk pikuk di sebelah dalam
menyatakan bahwa ada sesuatu yang runtuh di dalam.
Nampak debu mengebul ke luar dari lubang lubang angin di
sekeliling pagoda itu.
Semua orang terkejut sekali.
“Eh, apa yang dilakukan oleh tiga orang hwesio itu?”
kata Pat pi Lo cu sambil melompat maju. Juga Koai Thian
Cu dan Sin tung Lo kai melompat ke depan pintu dergan
maksud hendak melihat apa yang terjadi di dalam. Akan
tetapi tiga orang kakek ini segera mundur kembali ketika
pada saat ini pintu pagoda itu terbuka dari dalam dan
keluarlah debu mengebul tebal diikuti pecahan dan bubukan
dinding runtuh. Diantara debu dan pecahan dinding ini
berkelebat keluar tiga bayangan dan ternyata mereka ini
adalah Gwat Kong Hosiang, Gwat Liong Hosiang dan
Gwat San Hosiang. Pakaian dan muka serta kepala mereka
penuh debu, akan tetapi mereka tidak terluka. Gwat Kong
Hosiang membawa sebuah bungkusan yang tidak berapa
besar, panjangnya kurang lebih dua kaki.
“Bangunan lama dan lapuk, runtuh dimakan tahun dan
abad. Baiknya patung dapat pinceng selamatkan,” kata
Gwat Kong Hosiang kepada tiga orang kakek di depannya
sebagai penjelasan tentang suara hiruk pikuk tadi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Runtuh?” tanya Pat pi Lo cu. “Apanya yang runtuh?”
Akan tetapi biarpnn bertanya demikian, ia sama sekali tidak
perdulikan pagoda itu dan tatapan matanya selalu tertuju ke
arah bungkusan kain kuning yang dipondong oleh Gwat
Kong Hosiang.
“Anak tangga dari bawah ke atas runtuh semua! Baiknya
patung sudah di bawah dan kami semua di bawah,” jawab
Gwat Kong Hosiang kemudian disambungnya, “Cu wi
sekalian. Setelah pinceng bertiga mengetahui bahwa cu wi
datang hendak merampas patung emas dan pinceng sudah
siap sedia mempertahankan dengan nyawa, maka sekarang
terserah kepada cu wi. Yang Mulia Buddha telah memberi
tanda dengan runtuhnya anak tangga tentu karena marah
kepada pinceng bertiga yang sudah kelepasan tangan
membunuh orang. Sekarang sudah kepalang tanggung,
betapapun juga kami bertiga hendak melakukan tugas dan
kewajiban sampai saat terakhir dan hanya kalau kami sudah
kalah dan roboh, baru patung ini dapat berpisah dari kami.”
Kata kata ini dikeluarkan oleh Gwat Kong Hosiang dengan
sikap gagah.
Diam diam Sin tung Lo kai Thio Houw kagum sekali
melihat tiga orang hwesio Go bi pai itu. Memang Thio
Houw tidak ingin dalam urusan ini mengadu nyawa, ia
memang ingin sekali mendapatkan kitab untuk cucu
cucunya, akan tetapi seberapa bisa jangan sampai terjadi
pertumpahan darah dalam usaha memenuhi keinginannya
ini. Ia maju dan menjura, “Sam wi Losuhu, memang tak
dapat disesalkan sikap samwi yang gagah ini. Akan tetapi,
sebaliknya akan sayang sekali kalau ilmu yang tinggi
disimpan begitu saja sampai hilang tidak karuan, apalagi
kalau sampai terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Oleh
karena itu baik diatur begini saja. Sam wi bertiga main main
dengan kami bertiga, yaitu aku sendiri, Pat pi Lo cu, dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Koai Thian Cu. Apabila pihak sam wi kalah, patung harus
diserahkan kepada kami bertiga. Sebaliknya kalau kami
kalah, sudah tentu kami akan pergi dan menyatakan maaf
sebesarnya Bagaimana?”
Gwat Kong Hosiang tersenyum pahit. “Pinceng mengerti
baik maksud ini dan agaknya orang orang berusaha keras
untuk mendapatkan patung ini, tanpa dipikir sama sekali
bahwa biarpun pinceng bertiga kalah, tetap saja patung
menjadi rebutan dan mendatangkan malapetaka dan
permusuhan! Memang Hud couw sudah memberi alamat
tidak baik. Baiklah kalau begitu kehendak cuwi, kami sudah
siap menanti!”
Sin tung Lo kai tidak percaya akan kejujuran Pat pi Lo
cu maupun Koai Thian Cu, maka ia mendahului menerjang
Gwat Kong Hosiang sambil berseru, “Maafkan aku!
Dengan perbuatannya ini, terpaksa Pat pi Lo cu dan Koai
Thian Cu menghadapi Gwat Liong Hosiang dan Gwat San
Hosiang yang tidak membawa patung. Namun dua orang
kakek ini sudah mendengar akan kejujuran Sin tung Lo kai,
maka tidak merasa khawatir kakek pengemis itu akan
melarikan diri apabila dapat mengalahkan Gwat Kong
Hosiang dan merampas patungnya. Apalagi disitu ada dua
orang cucu Sin tung Lo kai yang merupakan tanggungan
berharga sekali.
Gwat Kong Hosiang menyambut serangan Sin tung Lo
kai mempergunakan ujung lengan baju kanan, sedangkan
tangan kiri memeluk patung erat erat. Pertempuran ini amat
dahsyat dan ramai karena ternyata kemudian bahwa
kepandaian dua orang kakek ini memang setingkat.
Sayangnya bahwa Gwat Kong Hosiang memeluk patung
sehingga sebelah tangannya tidak dapat dipergunakan
dalam pertempuran, maka ia agak terdesak juga oleh
tongkat merah yang amat lihai dari kakek pengemis itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sebaliknya, rombongan ke dua dan ke tiga dari
pertempuran itu kurang ramai, ilmu kepandaian dari Pat pi
Lo cu terlalu lihai bagi Gwat San Hosiang, sedangkan Koai
Thian Cu sebentar saja juga sudah membuat Gwat Liong
Hosiang bingung dengan serangan serangan tongkat dan
hudtimnya. Tukang gwamia iin memang lihai ilmu silatnya,
aneh dan banyak tipunya, ia tidak mempergunakan hoatsut
karena maklum bahwa kepandaiannya masih setingkat
lebih tinggi dari lawannya. Namun ia tidak menyangka
bahwa dalam keadaan yang amat terdesak, tiba tiba Gwat
Liong Hosiang mengeluarkan seruan keras sekali dan tiba
tiba kedua tangannya melakukan serangan pukulan bertubi
tubi dengan tenaga pukulan berbeda beda. Kadang kadang
tangan kanan mengeluarkan pukulan dengan hawa keras
dan panas sedangkan tangan kiri melakukan pukulan
lembek dan dingin, kadang kadang juga sebaliknya, inilah
puncak ilmu silat Im yang siang jiu yang hebat sekali. Kalau
saja Koai Thian Cu bukan seorang ahli yang
pengalamannya sudah banyak serta memang tingkatnya
lebih tinggi, tentu ia akan terkena pukulan pukulan yang
amat membingungkan dan sukar ditangkis ini. Sekali
tongkatnya menangkis pukulan dengan hawa Yang, akan
tetapi begitu pukulan itu bertemu dengan tongkatnya tiba
tiba ujung lengan baju yang tadinya keras berubah lemas
sekali, penuh dengan tenaga Im kang yang hebat. Ujung
kain itu seakan akan hidup, membelit tongkatnya dan
menyendalnya amat keras sehingga Koai Thian Cu tidak
menahannya lagi dan tongkatnya terlepas. Kakek ini tidak
mau mendapat malu, cepat hudtimnya menyambar seperti
kilat. Gwat Liong Hosiang memekik dan roboh tergiling tak
bernyawa lagi. Ujung hudtim itu dengan tepat sekali
mengenai urat syaraf dan jalan darah terpenting di
kepalanya sehingga ia tak dapat tertolong lagi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Melihat suhengnya tewas, Gwat San Hosiang menggigit
bibir dan mendesak Pat pi Lo cu untuk membalas
kekalahannya. Akan tetapi, berhadapan dengan Pat pi Lo
cu, Gwat San Hosiang tak banyak berdaya. Biarpun ia
sudah pula mengeluarkan gerakan seperti suhengnya tadi,
yakni dengan pukulan Im kang dan Yang kang dicampur
adukkan, namun Pat pi Lo cu tetap mendesaknya dengan
sepasang kepalan yang ketika dimainkan seakan akan telah
berubah menjadi delapan buah. Kedua kakinya bergerak
cepat dengan ginkang sempurna sehingga ia seakan akan
tidak menginjak tanah lagi. Benar benar tepat sekali julukan
Pat pi Locu atau Lo cu Berlengan Delapan dari kakek ini,
karena kalau menggerakkan ilmu silat dengan pengerahan
tenaga dan kepandaian, ia benar benar seperti Lo cu yang
cepat gerakannya karena Lo Cu naik roda api.
Pertempuran antara Sin tung Lo kai dan Gwat Kong
Hosiang masih berjalan seru. Dengan patung di dalam
pelukan tangan kiri, gerakan Gwat Kong Hosiang kaku dan
terhalang, namun sampai limapuluh jurus belum juga Sin
tung Lo kai merobohkannya. Hal ini bukan saja karena
tingkat kepandaian mereka memang seimbang, akan tetapi
terutama sekali oleh karena Sia tung Lo kai Thio Houw tak
pernah mau mengeluarkan serangan serangan mematikan.
Kakek pengemis ini hanya bermaksud mengalahkan Gwat
Kong Hosiang dan merampas patungnya, sama sekali ia
tidak berniat membunuh.
Akan terapi ketika Gwat Liang Hosiang roboh dan tewas
oleh Koai Thian Cu, tiba tiba berkelebat dua bayangan
orang yang datang datang menyerang Gwat Kong Hosiang.
Gerakan dua orang ini hebat sekali dan dalam saat, Gwat
Kong Hosiang terkena pukulan tangan dan totokan tongkat
sehingga hwesio inipun roboh tanpa dapat mengeluarkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
suara lagi dan patung yang masih tetap di tangannya itu
dirampas orang!
Kejadian ini cepat sekali dan tidak terduga oleh Sin tung
Lo kai Thio Houw. Ternyata olehnya bahwa yang
menyerbu secara pengecut tadi adalah pengemis kudisan
yang lihai tadi yang menyerang Gwat Kong Hosiang
dengan pukulan yang dahsyat. Adapun orang kedua adalah
nenek bongkok yang menyerang dengan tongkatnya.
Gerakan nenek ini cepat bukan main sehingga ia yang lebih
dahulu mendapat merampas patung dan dibawa lari!
“Soat Li Suthai, serahkan patung itu kepadaku!” teriak
pengemis kudisan itu sambil mengejar.
“Bu eng Lo kai, aku yang merampasnya!” nenek itu
membantah sambil berlari terus. Dua orang nona yang tadi
bersama dia adalah murid muridnya. Melihat gurunya
sudah berhasil merampas patung, merekapun diam diam
melarikan diri ke lain jurusan. Adapun pengemis kudisan
yang bernama Bu eng Lo kai, sama sekali tidak
memperdulikan murid murid nenek tadi melainkan
mengejar terus dengan gerakan kaki yang cepat sekali.
Sementara itu, Sin tung Lo kai Thio Houw menjadi
bingung. Tak disangkanya bahwa dua orang tadi adalah Bu
eng Lo kai dan Soat Li Suthai, dua orang kang ouw yang
aneh dan selalu menyembunyikan diri di daerah selatan,
namun nama mereka dikenal oleh tokoh tokoh besar
sebagai ahli silat kenamaan. Pantas saja gerakan meeka tadi
lihai sekali, pikir Thio Houw sambil menarik napas
panjang.
Hampir pada saat yang sama, Pat pi Lo cu juga sudah
merobohkan lawannya, Gwat San Hosiang roboh dan
tewas seperti dua orang suhengnya. Benar benar mereka
telah memenuhi tugas kewajiban mereka sampai titik darah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
terakhir. Setelah merobohkan Gwat San Hosiang, Pat pi Lo
cu segera lari mengejar pula di belakang Koai Thian Cu
yang sudah lebih dulu mengejar sambil berteriak teriak. See
thian Siang cu, dua murid kembar dari Pat pi Lo cu tak
dapat berbuat lain kecuali mengikuti suhu mereka, sedapat
mungkin berlari cepat untuk menyusul suhu mereka.
Juga tokoh tokoh lain yang tadi merasa ragu ragu dan
jerih untuk maju dan berusaha merampas patung setelah
sekarang melihat patung sudah terampas orang lain beramai
ramai lari mengejar Soat Li Suthai.Melihat ini, Sin tung Lo
kai Thio Houw tertawa bergelak. Orang orang itu benar
benar menjemukan, pikirnya. Melihat cara mereka berlari
cepat mengejar sudah terang mereka itu bukanlah lawan
tokoh tokoh besar yang sudah lari lebih dulu. Lagak mereka
ini seperti anjing anjing kelaparan berebut tulang.
Sin tung Lo kai merasa menyesal sekali bahwa perebutan
patung itu sampai berakibat tewasnya tiga orang hwesio
penjaga pagoda. Sesungguhnya hal ini tak ia kehendaki. Ia
memandang kepada jenazah tiga orang hwesio yang
menggeletak di atas tanah sambil menggeleng gelengkan
kepala.
“Sian Hong dan kau, Li Hwa, Lihatlah, mereka ini
adalah orang orang gagah yang patut dipuji. Mereka ini di
tugaskan menjaga pagoda merawat patung emas dan
mereka melakukan tugas mereka baik baik, menjaga dengan
sungguh sungguh dan rela mengorbankan nyawa demi
kesempurnaan tugas. Alangkah suci dan mulia manusia
yang dapat setia akan tugasnya seperti mereka ini. Patut
kalian jadikan contoh kesetiaan dan kegagahan mereka ini.”
Sambil memberi nasehat kepada dua orang cucunya, Sin
tung Lo kai lalu mengurus jenazah tiga orang hwesio itu,
dibantu oleh Sian Hong yang sudah dewasa. Pemuda ini
pendiam seperti ayahnya, juga ia sudah merasa cukup
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dengan kepandaian silat yang ia pelajari dari ibu dan kong
kongnya, maka tidak berhasilnya kakeknya merampas
patung tak membuat kecewa.
Tidak demikian dengan Li Hwa. Gadis cilik ini sudah
sejak mendengar tentang pelajaran yang terkandung dalam
patung emas sebagai pelajaran ilmu silat yang tinggi dan
peningaalan dari dewi Tat Mo Couwsu, selalu merengek
kepada kong kongnya. Gadis cilik ini selain tidak puas,
ingin memiliki kepandaian melebihi semua orang.
“Mengapa kong kong membiarkan patung itu dirampas
nenek jahat tadi? Sekarang habislah harapanku untuk
belajar ilmu silat warisankz Tat Mo Couwsu!” kata Li Hwa
dengan bibir cemberut.
Thio Houw tertawa, ”Li Hwa, enak saja kau bicara!
Mereka itu semua adalah orang orang lihai, kepandaian
mereka melebihi kepandaianku, bagaimana aku dapat
merampas patung itu dengan mudah saja?”
Li Hwa membanting banting kakinya yang kecil. “Di
dunia banyak sekali orang lihai, apalagi sekarang isi patung
telah mereka bawa pergi. Bagaimanakah kelak aku akan
dapat mengangkat tinggi nama keluarga kita!”
“Li Hwa, mengangkat tinggi nama keluarga bukan
dengan kepandaian silat tinggi, melainkan dengan
perbuatan yang mulia dan bijaksana. Tentang kepandaian,
selain kau adalah calon keluarga keturunan Thian te Kiam
ong, apa susahnya? Kau akan berada di dalam keluarga
orang orang gagah perkasa dan kiranya mudah kalau kelak
kau akan memperdalam ilmu silatmu.”
Wajah Li Hwa menjadi merah. “Kong kong, siapa sudi
mengandalkan orang lain? Justeru karena akan tinggal di
antara orang orang berkepandaian tinggi, aku tidak suka
kalau dipandang sebagai orang yang paling bodoh dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lemah. Sudahlah, dibicarakan juga tidak ada artinya. Kong
kong dan Hong ko mengurus jenazah dan aku akan berjalan
jalan di sekitar pagoda yang indah ini.” Sambil berkata
demikian, gadis cilik yang pandai bicara ini meninggalkan
kong kongnya dan kakaknya yang melanjutkan pekerjaan
mereka mengubur tiga jenazah para hwesio itu. Sin tung Lo
kai Thio Houw menggeleng gelengkan kepala sambil
melihat ke arah cucu perempuannya yang berjalan pergi
sampai cucunya itu lenyap di tikungan pagoda. Sambil
tersenyum senynm ia lalu melanjutkan pekerjaannya
menggali tanah. Semua peristiwa yang terjadi di halaman
pagoda itu tentu saja kelihatan jelas oleh Beng Han yang
menjadi penonton tersembunyi di atap menara. Ia
mengintai dari lubang angin dan melihat nyata bagaimana
dalam pertempuran dahsyat itu tiga orang hwesio penjaga
pagoda telah tewas dan bagaimana patung emas telah
dirampas dan dibawa lari oleh seorarg nenek yang lihai,
dikejar oleh yang lain lain. Juga dilihatnya dengan hati
kecewa bagaimana kong kongnya, Koai Thian Cu, selain
telah menewaskan Gwat Liong Hosiang, juga ikut pula
mengejar.
Beng Han melihat pula betapa Sin tung Lo kai Thio
Houw dan dua orang cucunya yang pernah ia lihat di Tit le,
mengubur jenazah Gwat Kong Hosiang dan dua orang
sutenya. Juga ia mendengar percakapan antara Thio Houw
dan Li Hwa tadi yang dilakukan dengan suara lantang.
Diam diam ia makin kagum dan suka kepada Li Hwa yang
dianggapnya bersemangat besar untuk menjadi seorang
pandai dan gagah perkasa. Dan terbayang pula sikap yang
amat mengasih dan baik dari gadis cilik itu terhadap dirinya
ketika di Tit le.
Beng Han berlari ke dalam mengambil sebuah
bungkusan kuning ketika melihat Li Hwa berjalan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mangitari pagoda. Ia menanti sampai gadis cilik itu tiba di
bagian lain dan pagoda itu sehingga tidak kelihatan oleh Sin
tung Lo kai, kemudian Beng Han membuka sebuah jendela
angin dan mengeluarkan tubuhnya sampai sebatas
pinggang.
“Haaaiii…!” serunya ke bawah. “Suara yang datangnya
dari atas sudah mencapai telinga orang yang berada di
bawah Li Hwa menengok ke atas dan setelah mengenal
Beng Han, ia malambaikan tangan Beng Han melemparkan
bungkusan kuning itu ke bawah bungkusan itu jatuh
beberapa tombak jauhnya dari tempat Li Hwa berdiri.
Dengan heran sekali Li Hwa mengambil bungkusan kain
kuning itu, memandang ke atas beberapa kali sambi
membuka bungkusannya. Ternyata isinya sebuah pedang
pendek yang bagus sekali dan sebuah kitab kuno. Hati Li
Hwa berdebar. Cepat ia membuka lembaran kitab itu dan
mendapatkan tulisan disampulnya, IM YANG CIN KENG
dan di bawahnya ditulis bahwa kitab itu adalah ciptaan Tat
Mo Couwsu dan diperuntukkan mereka yang berjodoh!
Adapun pedang itu pada gagangnya terdapat ukiran huruf
GIOK POKIAM (Pedang Pusaka Kemala).
Li Hwa menjadi girang, heran, kaget dan tidak tahu
maksud pemuda cilik di atas itu. Ketika ia memandang ke
atas, Beng Han berkata, suaranya terdengar lambat
perlahan akan tetapi jelas,
“Kuberikan padamu! Jangan bilang aku di sini!” Setelah
berkata demikian. pemuda cilik itu menarik diri dan lenyap
dari depan lubang angin di puncak menara itu.
Sin tung Lo kai Thio Houw adalah seorang
berkepandaian tinggi. Biarpun ia berada di sebelah depan
pagoda dan Beng Han bicara dari atas belakang pagoda,
kakek ini dapat mendengar suaranya. Akan tetapi ia tidak
mendengar jelas kata katanya, bahkan tidak tahu pula suara
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
siapakah itu. Ia merasa khawatir akan keselamatan Li Hwa
maka cepat ia meninggakan Sian Hong yang masih bekerja
menguruk kuburan tiga jenazah itu.
“Teruskan sendiri, aku mendengar suara di belakang
pagoda,” katanya sambil melompat cepat.
Ketika ia tiba di sebelah belakang pagoda, ia melihat Li
Hwa berdiri termangu mangu, tangan kanan memegang
sebatang pedang dan tangan kiri sebuah kitab. Tadinya
gadis cilik ini memandang ke atas pagoda, kemudian
setelah melihat kakeknya datang, ia memandang kakeknya
dengan wajah berseri.
“Kong kong, lihat! Aku mendapatkan ini!” serunya
girang.
Sin tung Lo kai memandang ke arah dua benda yang
berada di tangan cucunya. Melihat pedang itu ia tidak
tertarik karena memang tidak mengenalnya.
Akan tetapi ketika ia membaca tulisan pada sampul kuno
itu, ia terkejut sekali dan berseru keras saking girangnya.
“Inilah dia..!” Kemudian ia memandang ke kanan kiri
dan suaranya menjadi perlahan. “Inilah kitab yang tadinya
berada di dalam patung emas, peninggalan Tat Mo Couwsu
yang diperebutkan sampai mengorbankan jiwa beberapa
orang gagah tadi, Li Hwa dari mana kauperoleh ini?”
Li Hwa menggerakkan kepala memandang ke atas
menara. Sin tung Lo kai juga memandang ke atas akan
tetapi tidak melihat sesuatu yang menarik.Melihat pandang
mata kong kongnya penuh selidik ke atas, Li Hwa menjad
berdebar. Hampir saja ia membuka rahasia Beng Han dan
melanggar janjinya. Dengan suara tenang ia lalu berkata,
“Aku mendapatkan dua benda ini di atas sini, kong
kong.” Ditudingnya tanah di bawah kakinya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kau tadi melihat apa di atas? Mengapa kau
memandang ke atas menara?” tanya Sin tung Lo kai, masih
terus melihat ke puncak pagoda penuh kecurigaan.
“Aku tadi terheran mengapa dua benda yang luar biasa
ini berada di sini seakan akan terjatuh dari atas,” jawab Li
Hwa dan ia menjadi terkejut dan menyesal mendengar
jawabannya sendiri yang dianggap bodoh.
Jawaban ini mengingatkan Sin tung Lo kai akan suara
hiruk pikuk sebelum terjadi pertempuran di depan pagoda
tadi.
“Aku hendak menengok ke sana kau tunggu di sini!”
katanya sambl berlari memutar pagoda. Li Hwa menjadi
kaget dan cemas akan tetapi ia tak dapat berbuat apa apa
kecuali lari menyusul kong kongnya. Sementara itu, Kwan
Sian Hong sudah selesai dengan penguburan jenazah tiga
orang hwesio dan pemuda ini melihat adiknya berlari lari
dengan muka pucat, cepat ia menghampiri dan bertanya,
“Moi moi, kau kenapakah? Kenapa kau berlari lari
dengan muka pucat dan napas memburu?”
“Kong kong hendak naik ke atas menara,” jawab Li
Hwa. “Aku takut kalau kalau terjadi sesuatu dengan kong
kong. Tempat ini amat menyeramkan.”
Sian Hong mencari kong kongnya dengan pandang
matanya, ia melihat kakek itu sedang mendobrak daun
pintu pagoda yang tadi tertutup sendiri. Daun pintu itu
sukar sekali dibuka. Sin tung Lo kai mengeluarkan
tenaganya dan “braaakkk....” daun pintu itu didorongnya
dengan paksa sampai pecah. Akan tetapi ia cepat melompat
mundur lagi karena dari belakang pintu itu keluar debu dan
hancuran dinding. Setelah debu agak berkurang, Sin tung
Lo kai melongok ke dalam dan melihat bahwa ruangan
bawah pagoda itu penuh dengan hancuran dinding dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
anak tangga. Kakek itu merasa ngeri. Anak tangga yang
amat tinggi itu ternyata telah roboh ke bawah dan hancur,
berikut sebagian dari loteng di atas, entah berapa tingkat
yang hancur dan menimpa ke bawah itu. Tidak ada jalan
lagi untuk orang naik ke puncak pagoda, juga tidak
mungkin turun kalau orang sudah berada di atas menara.
“Mari kita cepat pergi dari sini,” kata kakek itu kepada
Li Hwa dan Sian Hong yang sudah memburu ke situ
“Agaknya sudah menjadi kehendak Thian bahwa kitab
peninggalan Tat Mo Cauwsu harus jatuh kepada Li Hwa.
Ini namanya jodoh. Tokok tokoh besar memperebutkannya,
tahu tahu kitab itu secara aneh terjatuh ke dalam tangan Li
Hwa. Bukankah ini jodoh namanya? Kita harus
menjaganya baik baik dan pergi dari sini sebelum mereka
mengetahui akan hal ini dan datang ke sini mendatangkan
kesukaran bagi kita.”
Dengan tergesa gesa namun gembira sekali Sin tung Lo
kai Thio Houw mengajak dua orang cucunya pergi cepat
cepat meninggalkan Kim hud tah, pagoda yang
mendatangkan keributan karena patung emasnya itu.
Bagaimana kitab peninggalan Tat Mo Couwsu dan
pedang Giok po kiam bisa berada di tangan Beng Han dan
mengapa pula bocah ini memberikan pedang dan kitab
kepada Li Hwa? Pembaca tentu masih ingat bahwa patung
emas yang dijadikan rebutan itu tadinya berada di tangan
Gwat Kong Hosiang yang menjaga di tingkat teratas.
Setelah Gwat Kong Hosiang dan Gwat Liong Hosiang
turun membantu sute mereka Gwat San Hosiang
menghadapi para penyerbu, dan melihat kedatangan Sin
tung Lo kai Thio Houw, Gwat Kong Hosiang lalu
mendapat firasat tidak enak. Para penyerbu ternyata banyak
dan terdiri dari orang orang pandai. Apalagi ia melihat
adanya Koai Thian Cu dan Pat pi Lo cu. Gwat Kong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hosiang sudah dapat menaksir bahwa dia dan dua orang
sutenya tentu akhirnya akan kalah juga. Oleh karena itu ia
minta Sin tung Lo kai keluar lebih dulu, lalu cepat ia
membuka patung emas dengan jalan memutar mutar
beberapa kali dengan pengerahan tenaga pada kedua kaki
patung. Tiba tiba terdengar suara dan terbukalah lubang
pada punggung patung. Diambilnya kitab dan pedang dari
dalam patung, lalu ditutupnya kembali dengan cara seperti
tadi. Kemudian Gwat Kong Hosiang berlari lari naik ke
atas pagoda di bagian paling tinggi, yakni di menara di
mana Beng Han berada. Ia menyerahkan kitab dan pedang
itu kepada Beng Han dan karena tidak banyak waktu lagi,
secara singkat ia berkata,
“Beng Han, kau kuserahi kitab dan pedang ini dan mulai
detik ini kaulah yang menjadi penjaganya, terserah
kepadamu apa yang akan kau lakukan terhadap dua benda
peninggalan Tat Mo Couwsu ini. Kau sudah dipercaya oleh
mendiang Thian te Kiam ong, kiranya patut pula kami
percaya.”
Beng Han menerima benda itu dan tidak dapat
menjawab apa apa karena hatinya diliputi ketegangan.
Ketika hendak pergi, Gwat Kong Hosiang menoleh lagi di
ambang pintu dan berkata,
“Ingat, kau takkan bisa turun lagi sebelum menamatkan
pelajaran dan memiliki kepandaian tinggi. Kami
menghadapi musuh musuh tangguh akan tetapi sebelum
kami roboh, kami akan menjaga agar tak seorangpun dapat
naik dan mengganggumu di tempat ini.” Setelah berkata
demikian Gwat Kong Hosiang keluar dari puncak menara
itu. Tak lama kemudian Beng Han mendengar suara hiruk
pikuk yang juga terdengar sampai di luar pagoda. Ternyata
bahwa tiga orang hwesio kosen itu dengan kepandaian
mereka telah memukul dan menghancurkan anak tangga
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang menghubungkan tingkat terbawah sampai ke tingkat
teratas! Jalan keluar atau jalan turun bagi Beng Han sudah
dimusnahkan!
Adapun Beng Han ketika menerima kitab itu dengan
amat ingin tahu ia membuka buka lembarannya dan
melihat tulisan di halaman kitab itu : IM YANG CIN
KENG. Ia membuka terus dan mendapat kenyataan bahwa
kitab itu mengandung pelajaran ilmu silat tinggi. Akan
tetapi alangkah kagetnya ketika tanpa disengaja ia
membuka lembaran di mana ada tulisan peringatan seperti
berikut :
Murid yang mempelajari Im Yang Cin Keng harus
bersumpah takkan mempelajari ilmu silat lain !
Melihat tulisan ini, Beng Han terkejut dan timbul
perasaan tidak suka akan kitab itu. Juga pedang pusaka
Giok po kiam itu biarpun amat indah, baginya tidak
seindah Kim kong kiam yang lebih panjang dan sinarnya
kekuningan. Pedang Giok po kiam gagangnya terhias batu
kemala, bentuknya dan gagangnya serba indah dan mewah
sekali, lebih pantas kalau dijadikan pedang penghias
dinding. Lebih patut dipakai oleh seorang wanita cantik
pesolek!
Inilah sebabnya mengapa tanpa ragu ragu lagi Beng Han
melemparkan pedang dan kitab itu kepada Li Hwa.
Memang ia amat berterima kasih kepada gadis cilik ini akan
sikapnya yang manis dahulu di Tit le, dan kiranya di dunia
hanya gadis cilik ini yang pantai memiliki Giak po kiam
daripadanya! Beng Han masih terlali kecil untuk
mengetahui siapa adanya Tat Mo Couwsu pencipta Im
yang cin keng, maka ia memandang rendah isi kitab itu
yang dianggapnya tak mungkin dapat menyamai kitab
peninggalan Thian te Kiam ong. Sungguh ia tidak tahu
bahwa kitab peninggalan Thian te Kiam ong yang berosikan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ilmu silat ilmu silat Kim kong kiam sut, Thai tek Kim kong
jiu, Soan hong Pek lek jiu, Tee coan Liok kiam sut, dan
Ngo heng Sin kiam hoat itu keseluruhannya adalah anak
cabang cabang yang bersumber kepada sari pelajaran yang
diturunkan oleh Tat Mo Couwsu juga! Jadi Im yang cin
keng dan ilmu silat ilmu silat yang diturunkan oleh Thian te
Kiam ong adalah secabang atau sesumber.
Setelah keadaan di bawah pagoda tenang kembali, Beng
Han mulai mengatur keadaannya. Pertama tama ia
membuka pintu dan hendak turun. Akan tetapi alangkah
kagetnya ketika ia melihat bahwa anak tangga sudah hancur
mulai dari tingkat sembilan ke bawah! Dengan hati hati
sekali ia menuruni sisa anak tangga dan hatinya agak lesa
ketika ia melihat belasan buah gentong besar yang berisi air
bersih! Kiranya tiga orang hwesio itu telah mempersiapkan
segalanya dan telah mengisi belasan gentong ini dengan air
sumber kecil di dasar pagoda yang kini sudah terhuruk oleh
puing anak tangga dan dinding! Akan tetapi Beng Han
maklum bahwa belasan gentong air ini takkan mencukupi
untuk diminum bertahun tahun, maka ia selalu berlaku
hemat sekali, kadang kadang menahan haus dan minum air
embun dan kalau datang hujan, tak lupa ia memenuhi
gentong gentongnya. Setiap hari, seperti yang dipesan oleh
Gwat Kong Hosiang, ia makan telur burung dan sarang
burung.
Pada bulan bulan pertama, ia merasa tubuhnya lemas
dan sakit sakit. Akan tetapi lambat laun ia merasa biasa,
bahkan tubuhnya terasa panas hangat dan kuat! Beng Han
benar benar menjadi seorang pertapa luar biasa yang setiap
harinya hanya makan telur dan sarang burung yang tinggal
beribu ribu di atap pagoda itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kita tinggalkan dulu Beng Han yang dengan amat rajin
dan prihatin mempelajari ilmu silat dari kitab peninggalan
Thian te Kiam ong, terutama sekali metatih Kim kong
Kiam sut yang amat sukar dipelajari itu. Mari kita ikuti
pengalaman Song Bi Hui, dara jelita yang bernasib malang
itu. Telah dituturkan di bagian depan betapa hancur dan
sedihnya hati Bi Hui atas kematian ayah bundanya secara
demikian. Setengah dipaksa paksa akhirnya ia ikut juga
dengan bibinya Song Siauw Yang, pergi dan untuk
sementara tinggal di Liok can.
Hati Siauw Yang pada dasarnya memang berbudi.
Semenjak peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarga
kakaknya itu, lenyap sama sekali rasa marah yang dahulu.
Ia merasa kasihan sekali kepada Bi Hui dan diam diam ia
berunding dengan suaminya.
“Kasihan sekali Bi Hui.... alangkah baiknya kalau dia
bisa menjadi isteri Kong Hwat. Aku tahu sejak dahulu
bahwa mereka itu saling suka dan akan menjadi suami isteri
yang beruntung. Kalau dia menjadi mantu kita, dia akan
hidup di antara keluarga sendiri.”
Liem Pun Hui menarik napas panjang mendengar kata
kata isterinya ini,
“Memang baik sekali maksud hatimu ini, akan tetapi....
bagaimana bisa dilaksanakan? Kau tentu masih ingat akan
pesan mendiang gak hu (ayah mertua)....”
“Bahwa kita harus menjodohkan Kong Hwat dengan
cucu perempuan Sin tung Lo kai?” sambung Song Siauw
Yang tak sabar. “Memang ayah dahulu berkata demikan,
akan tetapi dahulu ayah tidak tahu akan keadaan
sebenarnya. Kalau dipikir pikir perjodohan antara Kong
Hwat dan cucu Sin tung Lo kai sama sekali tidak tepat,
bahkan melanggar tata susila. Coba saja kau pikir. Kau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
adalah anak angkat dari Sin tung Lo kai Thio Houw, tentu
sedikti banyak kau tahu akan wataknya. Ketika kita
bertemu dengan dia di rumah Bi Hui, bukankah dia juga
mengatakan bahwa cucunya itu masih kecil sekali? Dengan
pernyataannya yang terus terang itu bukankah sudah
terbayang pernyatannya bahwa ia tidak setuju? Pula,
perjodohan belum terikat, kita belum pernah mengajukan
pinangan, maka kiraku takkan ada halangannya kalau kita
menjodohkan anak kita dengan gadis lain.”
Melihat sikap isterinya yang tegas ini, Pun Hui
tersenyum, ia paling suka melihat semangat isterinya yang
senantiasa berkobar dan berapi ini.
“Isteriku, kau memikirkan yang satu lupa akan yang ke
dua. Memang kiranya tidak berhalangan kalau kita
menjodohkan Kong Hwat dengan gadis lain, akan tetapi
dengan Bi Hui? Kau harus ingat bahwa Bi Hui juga sudah
dicalonkan menjadi mantu Kwan Lee, dijodohkan dengan
puteranya! Dan agaknya mereka itu sudah setuju sekali
mengambil Bi Hui menjadi mantu. Menurut pandanganku,
putera Kwan Lee dan Leng Li yang bernama Kwan Sian
Hong itu memang cukup gagah dan patut menjadi suami Bi
Hui. Perjodohan antara Kong Hwat dan Li Hwa yang
masih kecil itu boleh kita batalkan, akan tetapi mana
mungkin membatalkan perjodohan antara Bi Hui dan Sian
Hong?”
Mendengar kata kata suaminya, Siauw Yang bungkam,
tak dapat bicara lagi. Ia harus mengakui akan ketepatan
pendapat suaminya ini dan memang menggagalkan
perjodohan itu akan mendatangkan bibit kebencian dan
dendam.
“Ah, kalau saja Kong Hwat berada di sini....” akhirnya
Siauw Yang berkata menarik napas panjang. “Kalau dia
berada di sini dapat kita ajak berunding Aku ingin sekali
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tahu di mana dia berada dan bagaimana perasaan hatinya
terhadap Bi Hui sekarang....”
Harapan ibu ini ternyata terpenuhi kurang lebih sebulan
kemudian. Tanpa disangka sangka Liem Kong Hwat datang
bersama seorang gadis cantik yang sikapnya aneh sekali!
Tentu saja kedatangan Kong Hwat ini mendatangkan
kegirangan luar biasa. Begitu bertemu Siauw Yang
memeluk puteranya dan menangis terisak isak. Kong Hwat
memandang kepada ibunya dengan heran.
“Ibu, mengapa menangis? Apakah kedatanganku
menyusahkan hatimu?”
“Kong Hwat... kau tidak tahu.... pamanmu dan bibimu...
terbunuh orang....” Siauw Yang menerangkannya sambil
terisak isak. Mendengar ini, Bi Hui yang hadir pula di situ
tak dapat menahan tangisnya. Siauw Yang melepaskan
pelukannya dari pundak Kong Hwat dan menubruk Bi Hui,
memeluk dan mencoba menghiburnya.
Dapat di bayangkan betapa tertusuk rasa hati KongHwat
melihat ini dan diam diam ia mengerling ke arah gadis
cantik yang datang bersamanya tadi. Cia Kui Lian, gadis
cantik itu hanya berdiri seperti patung, sama sekali
wajahnya yang cantik tak berubah menghadapi semua itu,
hanya sinar matanya saja membayangkan ejekan dan
seakan akan ia merasa geli di dalam hatinya.
Kong Hwat bukan seorang pemain sandiwara yang baik.
Ia tidak dapat memperlihatkan kekagetan pura pura, maka
untuk menekan debar hatinya, ia menghadapi ayahnya dan
bertanya kepada ayahnya apakah sesungguhnya yang
terjadi. Liem Pun Hui menuturkan semua peristiwa yang ia
lihat di Tit le, juga tentang Beng Han yang tersangka
kemudian dilepas oleh Sin tung Lo kai.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kong Hwat membanting banting kakinya. “Sin tung lo
enghiong salah! Mengapa tidak menahan bocah setan itu
dan menyiksanya sampai ia mengaku?” katanya penasaran.
Kemudian ia berkata kepada Bi Hui, “Hui moi, jangan kau
penasaran. Akulah yang akan mencari setan cilik itu dan
menyeretnya di depanmu!”
Melihat Bi Hui yang jelita, cinta kasih lama timbul
kembali, membuat suara Kong Hwat ketika nenyebut
namanya terdengar penuh kasih mesra. Hal ini tentu saja
tidak terlewat begitu saja oleh pendengaran Kui Lian yang
amat tajam. Diam diam wanita ini melirik dan menyapu
wajah ke dua orang muda itu. Lalu tanpa terlihat orang
lain, bibirnya yang manis tersenyum aneh.
Setelah gelombang keharuan mereda, baru Siauw Yang
melihat dan memperhatikan Kui Lian.Wanita muda itupun
menatap pandang matanya. Dari sinar mata Kui Lian
memancar kekuatan tersembunyi yang amat berpengaruh
dan tak lama kemudian sudah timbul rasa suka dalam hati
Siauw Yang terhadap dara aneh itu! Tidak percuma Kui
Lian dahulu bertapa, lupa makan lupa tidur untuk
memperoleh kekuatan dalam melatih diri dengan ilmu
pemikat hati ini.
“Kong Hwat, nona ini siapakah?” akhirnya Siauw Yang
bertanya tanpa mengalihkan pandang mata dari wajah yang
tersenyum senyum manis dan ramah itu.
Cia Kui Lian cepat menjura dengan hormat kepada
Siauw Yang dan Pun Hui sambil mendengarkan kata kata
perkenan yang diucapkan oleh kekasihnya.
“Ibu, ayah, dia ini adalah nona Cia Kui Lian seorang
pendekar wantia yang berilmu tinggi. Kami bertemu di
tengah jalan dan menjadi sahabat.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ji wi yang mulia. Telah lama sekali aku yang bodoh
mendengar nama besar Thian te Kiam ong, maka alangkah
bahagia hatiku ketika aku bertemu dengan Liem Kong
Hwat taihiap yang menjadi cucu Thian te Kiam ong. Oleh
karena itu, tanpa ragu ragu lagi aku mengikat persaudaraan
dengan Liem taihiap dan aku ingin sekali menghadap ji wi
untuk minta petunjuk dalam ilmu silat.”
Mendengar kata kata ini Siauw Yang dan suaminya
merasa makin suka kepada Kui Lian. Hanya Bi Hui yang
diam diam memandang penuh kecurigaan, ia merasa
seakan akan ada sesuatu yang mengerikan dan
menyeramkan memancar keluar dari diri wanita muda ini.
Senyum dan keramahan yang terlihat pada muka manis itu
seperti dipaksakan dan merupakan kedok balaka. Mungkin
sekali perasaannya ini adalah rasa cemburu melihat Kong
Hwat datang bersama Kui Lian.
Ketika Siauw Yang mendengar bahwa Kui Lian adalah
seorang gadis perantau yatim piatu yang tidak tentu tempat
tinggalnya, ia menjadi kasihan dan berkata,
“Nona, karena kau sudah menjadi saudara angkat dari
anak kami, mengingat bahwa kau tidak mempunyai
keluarga lagi, kami harap kau suka tinggal di sini sampai
kau merasa bosan. Anggaplah kami sebagai wakil orang
tuamu dan rumah ini sebagai rumahmu sendiri.”
Kui Lian menjatuhkan diri berlutut dan dengan suara
terharu menghaturkan terima kasih.
Siauw Yang mengangkat bangun gadis itu dan berkata
ramah,
“Nona, di antara orang sendiri mengapa memakai
banyak peraturan sungkan? Jangankan kau telah menjadi
saudara angkat anak kami, biarpun tidak demikian,
mengingat sesama orang kang ow, kita harus bantu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membantu dan saling menyayang. Bolehkah kami
mengetahui siapa sebenarnya gurumu yang mulia?”
“Aku yang bodoh pernah belajar beberapa tahun di
bawah pimpinan guru Koai Thian Cu.”
Mendengar orang sakti ini, Siauw Yang dan Pun Hui
saling pandang. Nama besar Koai Thian Cu adalah nama
yang tidak begitu bersih di dalam pandangan orang orang
kang ouw karena Koai Thian Cu selain terkenal sebagai
tukang gwamia, juga terkenal sebagai ahli sihir dan ilmu
hitam. Akan tetapi, yang paling kaget adalah Bi Hui. Tak
terasa lagi ia bangkit berdiri dan berkata,
“Setan kecil Thio Beng Han dibawa ke rumah keluarga
kami oleh Koai Thian Cu siluman tua!”
Mendengar ini, tiba tiba Kui Lian menjadi pucat sekali
mukanya.
“Thio.... Beng Han....? siapa dia....?” tanyanya dengan
bibir terasa kering.
“Dia adalah anak yang tersangka membunuh orang tua
Bi Hui.” Siauw Yang menerangkan. “Memang dahulu
anak itu dibawa oleh Koai Thian Cu kepada mendiang
ayah untuk dijadikan murid. Anak itu diterima oleh ayah
dan menjadi murid hanya beberapa bulan sampai tiba
saatnya ayah meninggal. Beng Han lalu ikut dengan ayah
bunda Bi Hu serumah. Kemudian terjadi pembunuhan
ngeri itu dan Beng Han didakwa akan tetapi ini hanya
dakwaan yang belum ada buktinya dan sama sekali tak
masuk di akal, bahkan amat meragukan.”
Tiba tiba Kui Lian nampak beringas. “Kalau benar dia
dbawa datang oleh suhu, berarti dia itu masih ada
hubungan dengan suhu. Kalau memang betul dia yang
bersalah, bukan orang lain, melainkan aku sendiri yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
akan menghukumnya. Aku bersumpah demi darahku
sendiri!” Sambil berkata demikian, Kui Lian mencabut
pedangnya dan di lain saat, semua mata yang memandang
melihat wanita muda ini menggoreskan pedang pada lengan
tangan yang putih kulit nya sehingga kulit itu pecah dan
darah membanjr keluar!
“Eh, nona Cia.... tak perlu kau bersumpah demikian...!”
Siauw Yang mencegah. Akan tetapi di lain saat ia dan
orang orang lain tertegun melihat betapa dengan mengusap
luka di tangan beberapa kali saja dengan pinggiran pedang,
luka itu telah tertutup kembali dan setelah darah
dibersihkan, lengan itu pulih seperti tak pernah tergores
pedang!
“Nona, kau lihai sekali. Pantas menjadi murid Koai
Thian Cu!” kata Pun Hui sambil tertawa dan memandang
kagum. Ia dapat menduga bahwa nona cantik ini tadi hanya
“main sulap” saja.
“Sesungguhnya, ketika aku berguru kepada suhu Koai
Thian Cu, aku tidak pernah melihat adanya anak bernama
Beng Han itu. Mungkin sekali suhu memungutnya dari
jalan dan karena merasa enggan mengurus sendiri lalu
memberikannya kepada mendiang Thian te Kiam ong.
Akan tetapi dengan terjadinya peristiwa pembunuhan,
berarti suhu ikut bertanggung jawab dan tanggung jawab
suhu berarti tanggung jawabku pula. Aku yang akan
mencari dan menyeret bocah setan itu ke sini.” Kata Kui
Lian penuh semangat.
“Aku akan mencarinya sendiri” kata Bi Hui.
“Tidak, aku tadi sudah berjanji akan mencarinya dan
menyeretnya ke sini,” kata KongHwat tak mau kalah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siauw Yang tertawa. “Sudahlah, kita bicarakan hal ini
kelak saja, tak perlu berebut. Laginya, belum tentu bocah
itu yang berdosa.”
Kong Hwat dan Kui Lian disuruh mengaso. Kui Lian
memilih tidur bersama Bi Hui yang lambat laun lalu mulai
hilang kecurigaannya, karena Kui Lian pandai sekali
membawa diri, kelihatan alim dan sama sekali tidak
kelihatan dia mempunyai hubungan sesuatu dengan Kong
Hwat kecuali hubungan persaudaraan yang bersih. Lambat
akan tetapi pasti, sedikit demi sedikit Bi Hui mulai
terpengaruh oleh daya pemikat Kui Lian yang amat kuat.
Sama sekali Bi Hui tidak tahu bahwa kalau ia ingin mencari
pembunuh ayah bundanya, maka orang yang tiap malam
tidur di sampingnya di bawah satu selimut itulah orangnya!
Beberapa pekan kemudian, menjelang tengah malam Kui
Lian bangkit dan tempat tidurnya. Di dekatnya Bi Hui tidur
nyenyak sekali. Sampai beberapa lama Kui Lian duduk
memandang wajah Bi Hui, penuh kebencian. Sinar maut
memancar keluar dari sepasang matanya yang tajam.
Giginya dikerutkan menahan gemas dan marah. Kemudian
Kui Lian melompat turun dengan gerakan ringan tanpa
mengeluarkan suara, menghampiri pedang yang ia tetakkan
di atas meja dan mencabut ke luar pedangnya Penerangan
lilin kecil yang remang remang menimbulkan pemandangan
yang menyeramkan ketika wanita yang seperti kemasukan
iblis ini mendekati tempat tidur dengan pedang di tangan.
Kembali ia berdiri seperti patung menatap wajah Bi Hui,
seakan akan masih merasa ragu ragu akan kehendak
hatinya.
“Kong Hwat mencintaimu, kau harus mati!” bisik Kui
Lian sambil merenggut selimut yang menutupi tubuh Bi
Hui, pedangnya diangkat, mata mengincar arah jantung di
dada kiri.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Tok tok tok....!” Daun jendela diketok orang perlahan
lahan, ketokan yang tidak asing bagi Kui Lian karena
semenjak ia berada di situ hampir setiap malam Kong Hwat
datang mengetok daun jendela dan mengajaknya keluar
untuk mengadakan pertemuan di taman.
Kui Lian menahan marahnya, menarik pulang pedang
dan menyimpannya kembali di sarung pedang, membuka
jendela lalu melompat keluar di mana Kong Hwat sudah
menantinya. Pemuda itu memeluknya dan sambil
bergandengan tangan mereka pergi ke taman bunga di
belakang. Biasanya, sebelum meninggalkan kamarnya, Kui
Lian tentu melakukan sihr dulu atas diri Bi Hui, membuat
gads itu tidur nyenyak tak dapat bangun sebelum ia kembali
dari taman. Akan tetapi malam ini karena bermaksud
membunuh Bi Hui, dalam ketegangan tadi ia lupa menyihir
Bi Hui. Apalagi ia lupa mengembalikan selimut yang ia
renggut terlepas dari tubuh gadis itu. Angin memasuki
kamar dari daun jendela yang terbuka, meniup padam lilin
dan mendatangkan dingin pada tubuh Bi Hui yang tidak
terlindungi selimut.
Gadis ini bergerak dan terjaga dari tidurnya. Tangannya
meraba raba mencari selimut. Terheran ia karena tidak
menyentuh Kui Lian yang biasanya tidur di sebelah kirinya.
Dalam keadaan sadar betul kini, ia menggerakkan tangan di
dalam gelap, mencari terus sampai ke pinggir tempat tidur,
Kui Lian tidak ada! Angin yang meniup masuk menyatakan
kepadanya bahwa jendela terbuka. Ketika ia menengok
kearah jendela, benar saja ia melihat sinar bulan di luar
kamar yang gelap gulita itu. Bi Hui merasa heran dan
timbul kecurigaannya. Memang biarpun tidak ada alasan
baginya untuk mencurigai Kui Lian, namun sikap Kui Lian
yang aneh selalu merupakan teka teki baginya. Selalu terasa
sesuatu yang aneh dan menyeramkan pada diri Kui Lian.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bi Hui melompat turun dan menuju ke jendela. Sunyi
sekali. Hanya suara angin bermain dengan daun daun
pohon di luar.....
Kemana dia.... pikir Bi Hui dan hatinya merasa tidak
enak. Dengan hati hati sekali ia lalu melompat keluar dan
berindap indap tanpa mengeluarkan suara untuk mencari
Kui Lian. Akhirnya ia mendengar suara bisik bisik terbawa
angin dari arah taman bunga. Cepat namun hati hati ia
menuju ke sana, bersembunyi di balik pohon pohon
kembang. Di dalam sinar bulan yang remang remang ia
melihat dua bayangan orang di atas bangku di dalam taman
dan ketika ia mendekat ia melihat Kong Hwat dan Kui
Lian! Bi Hui merasa mukanya panas dan ia cepat
meramkan mata dan membalikkan tubuh, tak sudi ia
menyaksikan pertemuan yang hina dan tak tahu malu dari
dua orang itu. Ia tentu sudah pergi cepat cepat kalau saja
tidak mendengar namanya disebut sebut dalam bisikan
bisikan mereka. Tanpa disadarinya. Bi Hui berhenti dan
memasang telinga, mendengarkan.
“Kui Lian, kau tahu betapa aku mencintaimu dan bahwa
kau kuanggap sebagai isteriku biarpun belum ada
pengesahan dari orang tuaku. Akan tetapi sebelum aku
bertemu dengan kau, aku sudah cinta kepada Bi Hui! Dan
orang tuaku mengusulkan supaya aku mengawini gadis itu.
Pikirlah baik baik, kekasihku. Kalau aku menolak, orang
tuaku akan marah marah dan kiranya akan sukar bagi kita
untuk minta ijin dari mereka.”
“Enak saja kau bicara!” terdengar Kui Lian menjawab
dengan suara manja. “Kau menikah dengan Bi Hui dan
membuang aku? Lebih baik kubunuh siluman betina itu!”
“Hush. jangan bicara begitu, Lian moi. Aku mengawini
dia bukan hanya kareaa cinta, akan tetapi.... kau tahu
sendirilah! Pula, kalau aku sudah mengawininya, mudah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
saja bagiku untuk mengawinimu sebagai isteri ke dua.
Orang tuaku pasti tidak keberatan karena hal ini sudah
lazim terjadi, apalagi kaupun rupa rupanya disuka oleh
ayah ibuku.”
“Cih, Bi Hui menjadi nyonya besarmu dan aku hanya
menjadi bini muda? Menghina sekali.... menghina sekali...”
Terdengar Kui Lian terisak isak seperti menangis,
merengek rengek manja dan Kong Hwat menghibur hibur
dengan cumbu rayu! Bi Hui tidak kuat mendengar lebih
lanjut. Dadanya seperti hendak meledak, mukanya terasa
dibakar api. Cepat namun hati hati ia merayap pergi dan
kembali ke kamarnya. Di lain saat ia telah melompat ke atas
genteng dan melarikan diri, minggat dari rumah itu, dan
Kong Hwat dan Kui Lian yang dalam pandangannya
merupakan anjng anjing hina dina yang berbahaya baginya.
Tak disangkanya bahwa Kong Hwat berwatak sehina dan
serendah itu! Tadinya ia memang ada rasa suka kepada
pemuda ini, akan tetapi ah! Ia malu kepada diri sendiri
setelah sekarang mendapat kenyataan pemuda macam apa
adanya Kong Hwat. Ia merasa heran sekali. Dahulu Kong
Hwat tidak begitu. Bahkan beberapa kali ayah bundanya
dahulu memuji muji Kong Hwat sebagai seorang pemuda
yang baik.
Tentu karena wanita siluman itu! Tiba tiba Bi Hui
teringat akan kata kata Beng Han ketika ia dipaksa
mengaku tenang pembunuhan ayah bundanya? Dipandang
dari sudut tingkat kepandaian juga dipandang dari sudut
hubungan keluarga, adalah tidak mungkin. Akan tetapi
Kong Hwat pernah dihina oleh ibunya. pernah ditampar
oleh ibunya. Dan ada wanita iblis itu di samping Kong
Hwat. Sambil berlari lari di malam buta itu, Bi Hui berpikir
pikir. Tak terasa lagi air matanya mengalir di sepanjang
pipinya kalau ia teringat akan nasibnya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Mungkin aku dahulu salah terhadap Beng Han. Aku
terlalu terburu nafsu. Seharusnya aku tanyai Beng Han baik
baik tentang pengakuannya itu. Aku harus mencari Bing
Han. Hanya anak itu yang menjadi saksi utama tentang
pembunuhan ayah ibu. Kalau bukan Beng Han
pembunuhnya, sedikitnya ia tentu tahu siapa yang
membunuh.” Demikian Bi Hui mengambil keputusun. Ia
harus mencari Beng Han. Kalau ternyata bahwa Kong
Hwat dan Kui Lian pembunuh ayah bundanya, ah.... ia
akan.... akan apakah? Bi Hui ragu ragu. Dapatkah ia
menangkan Kong Hwat? Apa lagi di sana ada Kui Lian
yang katanya murid Koai Thian Cu yang lihai ilmunya?
Belum lagi diingat bahwa di sana masih ada bibinya, Song
Siauw Yang dan pamannya Liem Pun Hui yang
berkepandaian tinggi, lebih lebih bibinya. Tentu bibinya
takkan membiarkan puteranya diganggu.
“Aku harus mencari Beng Han. Dan aku harus belajar
lagi, baru membalas dendam!” dengan pikiran ini Bi Hui
melajukan larinya, kemana saja kedua kakinya
membawanya, tanpa tujuan.
Setelah matahari terbit, baru ia berhenti berlari ia telah
tiba di sebelah hutan kecil ia duduk di bawah pohon,
mengaso sambil termenung. Ke mana ia harus pergi? Ia
tidak tahu di mana adanya Beng Han. Teringatlah Bi Hui
akan Sin tung Lo kai sekeluarga. Bagaimana kalau ia ke
sana saja? Tiba tiba mukanya menjadi merah karena ia
teringat akan Kwan Sian Hong yang di calonkan sebagai
suaminya. Kalau tidak ada urusan perjodohan ini, tentu
tanpa ragu ragu lagi ia pergi ke Leng ting karena semenjak
dahulu keluarga Sin tung Lo kai adalah sahabat sahabat
baik orang tua dan kong kongnya.
Selagi ia termenung di bawah pohon, tibi tiba ia melihat
beberapa orang berkejar kejaran. Dua orang di antaranya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang amat cepat gerakannya telah lari ke dalam hutan iotu
dan Bi Hui melihat seorang pengemis tua buruk rupa dan
kudisan mengejar nenek bongkok yang membawa sebuah
bungkusan panjang dari kain kuning.
“Soat Li Suthai, kau masih belum menyerahkan Kim
hud (Buddha Emas) itu?” tegur pengemis kudisan itu sambil
melakukan gerakan lompatan luar biasa sekali. Tubuhnya
melayang ke atas disusul gerakan berjungkir balik sehingga
ia melewati atas kepala nenek itu dan di lain saat ia telah
berada di depan nenek itu, menghadang jalan!
“Bagus sekali gerakanmu Lo wan seng thian (Monyet
Tua Naik ke Langit) tadi, Lo kai (pergemis tua)!” Nenek
yang di sebut Soat Li Suthai itu memuji. “Akan tetapi
jangan kau kira aku jerih melihat aksimu itu. Kau mau
merampas patung? Boleh, tapi coba kau kalahkan dulu
tongkatku ini!” Setelah berkata demikian, nenek itu
menggerakkan tongkat di tangan kanannya, cepat bagaikan
kilat menyambar telah menyerang jembel kudisan,
sedangkan lengan kirinya memeluk patung erat erat.
“Ha, ha, ha ha! Kau masih sama betul dengan dulu, haus
pertempuran!” kata Bu Eng Lo kai kakek jembel itu sambil
cepat mengelak menghindarkan diri dan serangan nenek
yang lihai dan berbahaya. “Kau mau bertempur? Hayolah,
kulayani kau sampai seribu jurus!”
Dan mereka benar benar bertempur hebat sekali. Bi Hui
sampai menahan napas menyaksikan pertempuran ini.
Dalam gebrakan beberapa jurus saja tahulah gadis ini
bahwa dua orang yang sedang bertempur ini memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi sekali jauh lebih tinggi dari pada
tingkat kepandaiannya sendiri, bahkan lebih pandai
daripada mendiang ayah bundanya. Kiranya mereka ini
setingkat dengan kong kongnya, Thian te Kiam ong! Tentu
saja Bi Hui tak dapat menilai sampai di mana tingkat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kepandaian Thian te Kiam ong yang jarang tandingannya
itu, dan ia hanya mengira ngira belaka. Akan tetapi sudah
jelas bahwa tingkat kepandaian dua orang itu jauh lebih
tinggi daripada tingkat kepandaian ayah bundanya.
Tongkat di tangan nenek bongkok itu cepat bukan main
gerakannya, menyambar nyambar mengeluarkan angin dan
gerakannya sukar sekali diikuti oleh pandangan mata Bi
Hui. Juga setiap sambaran selalu mengarah jalan darah
lawan sehingga setiap gerakan merupakan serangan maut
yang sukar dihindarkan lagi. Melihat jalannya sinar
tongkat, Bi Hui dapat menduga bahwa ilmu silat itu hampir
sama dengan ilmu pedang karena gerakannya seperti ilmu
pedang. Agaknya ilmu itu dapat juga dimainkan dengan
pedang di tangan.
Akan tetapi kakek kudisan itu tidak kalah lihainya kalau
dibandingkan dengan lawannya. Biar pun ia bertangan
kosong, namun gerakannya lincah bukan main. Kaki
tangannya ringan sekali seakan akan bersayap. Dengan
kecepatan yang mengagumkan ia dapat mengelak dan
setiap serangan tongkat bahkan melakukan serangan
balasan yang cukup hebat karena setiap pukulan tangannya
selalu di elakkan cepat cepat oleh nenek itu, atau kalau
ditangkis, tongkat bambu itu terpental kebelakang. Dari
sini saja Bi Hui dapat menduga bahwa kakek itu seorang
ahli ginkang dan lweekang yang istimewa. Dengan gerakan
ringan cepat serta tenaga lweekang tinggi ia dapat
menghadapi lawan tangguh yang bersenjata hanya dengun
tangan kosong saja.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXVII
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
DIAM DIAM Bi Hui menjadi kagum bukan main. Sukar
baginya untuk dapat menyatakan, siapa di antara kedua
orang tua itu yang lebih lihai. Jangankan dia yang menjadi
penonton dan yang kepandaiannya jauh di bawah tingkat
mereka, sedangkan mereka sendiri yang bertempur juga tak
pernah dapat membuktikan bahwa yang seorang lebih
unggul daripada yang ke dua. Padahal semenjak mereka
berkejaran, dua orang tua ini sudah bertempur lebih dari
lima kali dan setiap kalinya tidak kurang dari tigaratus
jurus!
Tiba tiba terdengar suara keras dari jauh.
“Soat Li Suthai! Berikan Kim hud kepadaku!!”
Mendengar suara ini, Soat Li Suthai dan Bu eng Lo kai
otomatis menghentikan pertempuran mereka dan saling
pandang penuh pengertian.
“Pat pi Lo cu datang….” kata Bu eng Lo kai.
Soat Li Suthai mengangguk diam, lalu menatap wajah
kakek kudisan itu tajam tajam sambil berkata.
“Bu eng Lo kai, kiranya kita akan lebih senang kalau
benda ini terjatuh ke dalam tangan seorang di antara kita
daripada jatuh ke dalam tangan pendeta bau dan Tibet itu.”
“Cocok. Kita gempur saja dia, baru kemudian kita
melanjutkan pertempuran untuk menentukan siapa yang
lebih patut memiliki Kim hud,” jawab Bu eng Lo kai.
Nenek bongkok itu tersenyum sehingga nampak
mulutnya yang ompong. “Kau cerdik sekali, Lo kai,”
pujinya mengangguk angguk. Kemudian ia melambaikan
tangan kepada dua orang gadis manis yang sudah sampai di
situ pula. Mereka ini Kui Eng dan Kui Li, segera
menghampiri guru mereka dan berdiri di belakangnya. Dua
orang gadis ini setelah berdiri dengan gagahnya, kelihatan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
betapa sama wajah dan bentuk tubuh mereka. Sukarlah bagi
orang lain untuk membedakan mana yang bernama Kui
Eng dan mana Kui Li Mereka ini memang saudara kembar
yang manis manis dan berkepandaian tinggi. Hanya mereka
berdua inilah murid Soat Li Suthai.
Tak lama kemudian sampailah Pat pi Lo cu dan dua
orang muridnya, See thian Sian cu (Sepasang Mustika dari
Barat) Ma Thian dan Ma Kian. Sikap kedua orang murid
yang bertubuh tegap dan gagah ini gembira sekali melihat
bahwa akhirnya gurunya dapat menyusul nenek yang
membawa lari patung emas.
Pat pi Lo cu tertawa bergelak dan menuding jari
telunjuknya ke arah bungkusan kuning yang berada dalam
pondongan lengan kiri Soat Li Suthai.
“Ha, ha, ha, Soat Li Suthai, kau benar benar licin dan
curang sekali. Tanpa memetik kau telah makan buahnya.
Mana ada aturan begitu? Aku telah menewaskan seorang di
antara tiga orang hwesio penjaga, maka akulah yang berhak
memiliki patung itu. Kalau kau hendak merampas, kau
harus merampasnya dari tanganku. Ini aturan kang ouw!”
“Pat pi Lo cu, setan Tibet seperti kau mana tahu akan
aturan kang ouw? Aturanku adalah, barang siapa lebih
cepat dan cerdik, dia yang menang! Kau menghendaki
benda ini? Boleh, asal saja dapat mengalahkan tongkatku.”
“Juga dapat mengalahkan dua kepalan tanganku!” Bu
eng Lo kai menyambung sambil menyeringai.
Pat pi Lo cu menggerak gerakkan alisnya. “Eh, eh,
kalian maju bersama? Hemm, agaknya memang sejak
semula kalian sudah bersekongkol!”
Ma Thian dan Ma Kian melompat maju dan berkata
kepada Pat pi Lo cu,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Suhu, ijinkan teecu berdua maju merampas patung
emas dan mereka itu!”
Pada saat itu, Kui Eng dan Kui Li juga maju dan berkata
kepada Soat Li Suthai.
“Suthai, biarlah teecu berdua memberi hajaran kepada
kakek tak tahu diri ini!”
Pat pi Lo cu memandang ke arah dua orang gadis
kembar dengan mata terbelalak, sebaliknya Soat Li Suthai
juga memandang ke arah Ma Thian dan Ma Kian,
nampaknya tertarik dan bingung melihat persamaan
mereka. Dua orang tua yang masing masing mempunyai
murid kembar ini hanya mengangguk sebagai tanda bahwa
mereka setuju murid muridnya maju ke arah masing
masing, ingin sekali melihat siapa yang lebih unggul antara
dua pasang saudara kembar ini.
Sementara itu, Ma Thian dan Ma Kian berpandangan
dengan Kui Eng dan Kui Li. Melihat bahwa mereka sama
sama saudara kembar dua pasangan ini menjadi tertarik
sekali dan ingin mereka menguji kepandaian masing
masing.
Ma Thian mewakili adiknya berkata, “Ji wi lihiap,
majulah!”
Kui Eng dan Kui Li senang melihat sikap yang sopan
dan mengalah ini, mereka lalu mencabut pedang masing
masing. Juga Ma Thian danMa Kian mencabut pedang dan
bersiap sedia menghadapi dua lawannya.
Bu eng Lo kai, Soat Li Suthai dan Pat pi Lo cu berdiri
dengan muka berseri. Mereka ini gembira sekali melihat
pertempuran antara dua pasang saudara kembar yang benar
benar amat menarik. Bahkan Bi Hui yang duduk di bawah
pohon tak jauh dari situ memandang dengan hati tertarik
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pula. Kalau empat orang itu bertempur ia takkan tahu lagi
mana adik mana kakak.
Pertempuran dimulai. Ma Thian dan Ma Kian agaknya
sungkan sungkan dan mengalah. Akan tetapi tak mungkin
mereka mengalah terus karena pedang di tangan Kui Eng
dan hui Li bergerak cepat dan ganas sekali, merupakan dua
ekor burung elang menyambar korban, berbahaya dan lihai.
Terpaksa dua saudara Ma inipun menggerakkan pedang
dengan cepat untuk melindungi diri dan membalas dengan
serangan yang tak kalah hebatnya. Mereka berempat tak
mungkin dapat bertempur menjadi dua rombongan. Karena
persamaan wajah mereka sukar membedakan mana lawan
sendiri dan mana lawan saudaranya. Maka mereka
bertempur seperti seorang lawan saja.
Memang hebat. Kalau dua sekawan bertempur melawan
dua orang lawan, masing masing mengandalkan
kepandaian sendiri, atau mungkin juga mengandaikan kerja
sama. Akan tetapi tidak mungkin dapat bekerja sama seperti
dua pasang saudara kembar itu. Seakan akan mereka
masing masing merupakan dua orang dengan satu hati dan
satu pikiran sehingga gerakan pedang mereka dapat
otomatis saling melindungi. Oleh karena inilah maka
apabila menghadapi musuh bersama, baik Kui Eng dan Kui
Li maupun Ma Thian dan Ma Kian merupakan lawan
berat. Mereka seperti satu orang dengan dua kepala sampai
lengan dan sampai kaki!
Yang lebih hebat lagi dalam pertempuran ini adalah
karena tingkat kepandaian kedua pasangan itu berimbang.
Makin lama pertempuran berjalan makin seru dan ramai,
tubuh keempat orang itu sampai lenyap terbungkus empat
gulungan sinar pedang yang saling membelit dan saling
menyelimuti. Berkali kali tiga orang tua yang menonton
mengeluarkan suara pujian. Seratus jurus terlewat, namun
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
empat orang itu masih saja belum ada yang menang atau
kalah. Bahkan kini pertempiran menjadi makin hebat.
“Pasangan yang cocok sekali....” Bu Eng Lo kai berseru
memuji, kagum dan gembira sekali menyaksikan
pertempuran yang aneh dan indah ini.
“Jodoh yang baik....!” teriak Pat pi Lo cu tak disengaja,
akan tetapi ia terkejut mendengar suaranya sendiri. Ia
menoleh kepada Soat Li Suthai yang juga memandang
kepadanya ketika mendengar ucapan Pat pi Lo cu tadi.
Nenek itu mengangguk anggut dan berkata perlahan,
“Memang..... jodoh yang baik sekali....”
Mereka saling pandang sampai lama, lalu keduanya
tertawa bergelak. Dalam berpandangan ini, dua orang tua
itu sudah dapat membaca isi hati masing masing.
Kemudian mereka melompat ke tengah medan
pertempuran sambil berseru,
“Berhenti, tahan senjata!”
Dua pasang saudara kembar itu melompat mundur.
Peluh memenuhi kening mereka. Muka mereka merah
sekali karena di dalam pertempuran yang hebat tadi, masing
masing telah menjaga keras agar pedang di tangan jangan
sampai mencelakai lawan! Dengan sendirinya mereka telah
mengutarakan isi hati mereka lewat ujung pedang!
“Ha. ha, ha, Ma Thian dan Ma Kian. Aku berpendapat
bahwa kalian cocok sekali dengan dua nona kembar ini.
Bagaimana kalau Soat Li Suthai menerima kalian menjadi
calon suami kedua muridnya?”
Ma Thian dan Ma Kian nampak malu malu dan
menundukkan muka. Ma Thian akhirnya menjawab,
“Teecu berdua hanya mentaati perintah suhu dengan
senang hati.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Soat Li Suthai juga bertanya kepada dua orang
muridnya, Kui Eng dan Kui Li, bagaimana pendapat mu
dengan dua orang muda kembar ini? Sejak dahulu cita
citamu hanya mau menikah dengan dua orang saudara
kembar pula yang kepandaiannya tinggi. Nah, bukankah
mereka ini cukup memenuhi syarat? Apakah aku harus
menerima andaikata guru mereka melamar kalian untuk
menjadi calon isteri mereka?”
Kui Eng menjawab dengan pipi kemerahan.
“Terserah kepada Suthai Teecu berdua hanya
menurut....”
Pat pi Lo cu dan Soat Li Suthai tertawa bergelak. Juga
Bu eng Lo kai tertawa akan tetapi ketawanya masam ketika
ia bertanya,
“Pat pi Lo cu, setelah ikatan jodoh yang amat baik ini,
habis bagaimana kehendakmu dengan patung emas?”
Terhenti suara ketawa Pat pi Lo cu ketika ia diingatkan
akan patung emas, akan tetapi ia lalu berkata menyeringai.
“Tidak apa tidak mendapat patung emas, sebagai
gantinya mendapatkan dua mantu perempuan yang cantik
manis! Tentu saja Soat Li Suthai juga sependapat dengan
aku.“
Soat Li Suthai mengangguk. “Memang, patung emas ini
hendak kuberikan sebagai hadiah kepada dua pasang
pengantin. Adapun isi nya akan dimiliki oleh putera
pertama antara mereka, inilah kata kataku dan siapa berani
melanggar akan berhadapan dengan tongkatku!” Sambil
berkata demikian Loat Li Suthai memandang kepada Bu
eng Lo kai dengan sikap menentang.
“Bu eng Lo kai, kata kata Soat Li Suthai. tadi juga
menjadi pernyataanku pula,” kata Pat pi Lo cu. “Oleh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
karena itu, apabila engkau tetap menghendaki patung dan
isinya, kau tidak hanya akan menghadapi Soat Li Suthai,
akan tetapi juga menghadapi aku!”
Bu eng Lo kai memandang kepada dua orang tua itu,
lalu tertawa terkekeh kekeh.
“Lucu.... lucu....! Tadinya aku dan Suthai yang menjadi
sekutu, sekarang aku bahkan dihadapkan pada kalian yang
dari lawan menjadi kawan. Ha, ha, ha! Sudahlah,
mengingat akan pasangan pasangan yang cocok dan jarang
kujumpai ini, biarlah kali ini aku mengalah!”
Akan tetapi tiba tiba dan jauh terdengar suara ketawa
yang nyaring sekali. Semua orang menengok dan dari
jurusan barat datang berlari lari seorang kakek tua yang
mereka kenal baik karena dia bukan lain adalah Koai Thian
Cu.
“Bagaimana tukang gwamia itu bisa menyusul ke sini?”
Soat Li Suthai menggerutu.
“Takut apa? Dia seorang diri bisa berbuat apa terhadap
kita bertiga?” kata Pat pi Lo cu.
Setelah Koai Thian Cu tiba di tempat itu, kakek ini agak
tertegun melihat Bu eng Lo kai, Soat Li Suthai, dan Pat pi
Lo cu berdiri merupakan satu rombongan menghadapinya
bersama dua pasang saudara kembar itu. Ia memandang
kepada pat pi Lo cu dengan mata bertanya.
“Koai Thian Cu, kalau kau bermaksud mengingini Kim
hud, lebih baik kau batalkan maksud hatimu itu. Kini
patung emas telah kami sumbangkan kepada dua pasang
calon pengantin yang paling istimewa di dunia ini. Patung
dan isinya menjadi hak putera pertama yang terlahir di
antara mereka!” Pat pi Lo Cu menunjuk kepada dua orang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
muridnya yang berdiri di samping sepasang saudara kembar
Kui Eng dan Kui Li yang nampak kemalu maluan.
Koai Thian Cu melengak. “Jadi kalau aku tetap
menghendaki patung atau isinya, aku harus bertempur
melawan kalian bertujuh?”
“Demikianlah!” kata Soat Li Sothai dengan sikap
menantang. Koai Thian Cu tertawa bergelak sambil
mengangkat muka memandang ke atas.
“Sudahlah.... aku tua bangka untuk apa harus
mengorbankan nyawa untuk sebuah patung? Baiklah,
mengingat kepada dua pasang calon pengantin yang benar
benar cocok ini, aku mau mengalah. Akan tetapi harap kau
suka membikin puas hatiku membuka patung dan
mengeluarkan isinya. Biarpun aku tidak dapat mewarisi,
melihat saja benda peninggalan Tat Mo Couwsu sudah
dapat menambah panjang umur sedikitnya tiga tahun.”
Soat Li Suthai mengerutkan kening, akan tetapi Pat pi
Lo cu dan Bu eng Lo kai hampir barbareng mendesak.
“Aku cocok dengan permintaan Koai Thian Cu. Mari
kita sama sama melihat apa isinya patung ini.”
Ketika melihat sikap Soat Li Suthai yang ragu ragu, Pat
pi Lo cu berkata, “Soat Li Suthai, mengapa kau kelihatan
khawatir? Kita semua adalah orang orang tua yang boleh
dipercaya. Pula, seorang saja berlaku khianat, akan
menghadapi tiga orang. Kiraku di antara kita takkan ada
yang begitu bodoh.”
Mendengar ini, baru Soat Li Suthai hilang
kecurigaannya.
Akan tetapi ia mengerutkan alisnya den berkata, “Aku
tidak tahu cara membukanya. Untuk memaksa dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merusaknya, sayang sekali. Kelak saja kalau putera pertama
muridku terlahir, baru patung ini dibuka secara paksa.”
“Biarpun aku sendiri belum pernah membukanya, akan
tetapi aku pernah mendengar bahwa untuk membuka
patung itu tanpa merusak, orang harus memutar mutar kaki
kiri lima kali ke kanan dan kaki kanan empat kali ke kiri.”
Soat Li Suthai lalu memegang kaki patung dan memutar
mutarnya menurut petunjuk Koai Thian Cu. Benar saja, di
bagian punggung patung terbuka lubang besar. Dengan hati
ingin tahu sekali Soat Li Suthai merogoh ke dalam patung.
Akan tetapi wajahnya berubah pucat ketika tangannya tidak
menyentuh sesuatu kecuali sehelai kertas. Cepat ditariknya
keluar kertas itu dan dibacalah tulisan di atas kertas.
“Celaka.... Kita telah tertipu....!” kata nenek itu,
mukanya menjadi agak pucat.
Semua orang mendekat untuk melihat tulisan apa yang
terdapat pada kertas itu. Mereka membaca tulisan yang
jelas dan tebal seperti mengejek.
Kitab Im yang Cin keng dan Pedang Giok po kiam hanya
untuk dia yang berjodoh!
Koai Thian Cu tertawa bergelak gelak sampai keluar air
matanya. “Ha, ha, ha, ha, keterlaluan sekali hwesio hwesio
itu. Kita dipermainkan semau maunya. Ah, tentu arwah
mereka sekarang sedang terbahak bahak mentertawakan
kebodohan kita memperebutkan patung kosong. Ha, ha,
ha!”
“Hmm, Koai Thian Cu. Kalau aku tidak yakin bahwa
selama ini patung itu berada di tangan ku, tentu aku akan
mencurigai kau karena kau adalah seorang ahli ilmu hitam.
Betapapun juga aku akan mencari dua benda itu!” kata Soat
Li Suthai penuh kekecewaan dan malu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sudahlah, bagi aku biarpun tidak mendapat barang
pusaka akan tetapi mendapatkan dua orang mantu murid
yang baik, cukup menggembirakan. Soat Li Suthai, aku
akan mengajak kedua murid mu pergi bersama kami agar
pernikahan segera dapat ditanggungkan di utara,” kata Pat
pi Lo cu.
Soat Li Suthai memandang kepada dua orang muridnya
yang masih menundukkan mukanya.
“Kui Eng dan Kui Li, kau pergilah. Bawa patung emas
ini, lumayan untuk bekal dan beaya. Gurumu tak dapat
menghadiri pernikahanmu karena aku harus mencari kitab
dan pedang itu, untuk puteramu kelak. Hanya doa restuku
bersama kalian, semoga kalian hidup bahagia dengan suami
kalian.”
Kui Eng dan Kui Li menjatuhkan diri berlutut dan
berpamit sambil mencucurkan air mata, kemudian mereka
ikut pergi bersama Pat pi Lo cu dan dua orang muridnya,
yaitu See thian Siang cu Ma Thian dan Ma Kian.
Setelah mereka pergi, Koai Thian Cu kembali tertawa.
“Bagus, dengan begitu perjuangan masih belum habis.
Masih ada kegembiraan memperebutkan kitab dan pedang
itu. Bagus, bagus! Kita sama lihat saja nanti siapa yang
berjodoh dengan Im yang Cin keng dan Giok po kiam!”
Kakek ini hendak pergi, akan tetapi tiba tiba Bi Hui
melompat dari tempat duduknya dan menyerang Koai
Thian Cu dengan tusukan pedangnya sambil berseru.
“Kakek siluman, kaulah yang mendatangkan malapetaka
pada keluargaku!”
Serangan pedang dari Bi Hui hebat sekali karena ia
menggunakan gerak tipu dari ilmu Pedang Kim kong Kiam
sut yang baru sedikit ia pelajari. Biarpun demikian, Koai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Thian Cu yang jauh lebih tinggi ilmunya itu sampai terkejut
dan terpaksa melompat mundur sambil menggerakkan
kebutan menangkis pedang itu.
Namun Bi Hui mendesak terus, memutar pedangnya
yang menjadi amat ganas dan berbahaya karena ia telah
berlaku nekad Bi Hui tahu bahwa kakek ini kepandaiannya
amat tinggi dan sebetulnya dia bukanlah lawannya, akan
tetapi ia sudah nekad karena sakit hati dan marah.
Koai Thian Cu main mundur dan menangkis. Diam
diam ia terkejut sekali ketika mengenal ilmu pedang ini.
Ketika ia memperhatikan wajah Bi Hui ia makin terheran
lalu mengerahkan tenaga, menahan pedang gadis itu
dengan hudtim di tangannya sambil berseru.
“Tahan dulu, bukankah kau cucu Thian te Kiam ong?
Bicaralah dulu, nona. Jangan sembrono dan menyerang
orang tanpa penjelasan.”
Dari tangkisan hudtim yang membuat tangannya tergetar
ini saja Bi Hui maklum bahwa kalau kakek itu
menghendaki, ia sudah roboh sejak tadi.
Saking gemas dan sakit hatinya, ia menarik pedang nya
lalu.... menangis!
Soat Li Suthai dan Bu eng Lo kai ketika mendengar
bahwa gadis cantik ini cucu Thian te Kam ong. menjadi
tertarik sekali.
“He, Koai Thian Cu. Kau telah melakukan perbuatan
busuk apakah maka cucu Thian te Kiam ong sampai
menaruh dendam?” tanya Soat Li Suthai.
“Aku si tua bangka, biarpun berhati busuk, kiranya
belum pernah aku mencelakai cucu Thian te Kiam ong.
Aku sendiri tidak tahu mengapa nona ini datang datang
menyerangku kalang kabut, padahal aku berani bersumpah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tak pernah mengganggunya, jelaskan, nona mengapa kau
datang datang menyerangku? Kalau memang aku tua
bangka busuk bersalah, boleh kautusuk dadaku tanpa
kutangkis!”
Melihat sikap kakek ini, Bi Hui menjadi bingung.
Memang kakek ini tidak bersalah apa apa, tegasnya,
pribadinya sendiri tidak bersalah. Akan tetapi bukankah
malapetaka itu datangnya dari adanya Beng Han di sana,
juga, malapetaka ke dua, penghinaan yang ia dengar dari
mulut Kong Hwat, bukankah disebabkan oleh Cia Kui
Lian, wanita siluman murid Koai Thian Cu ?
“Mungkin kau sendiri tidak berdosa, Koai Thian Cu,”
katanya menahan isak, “akan tetapi karena kau telah
menyerahkan Beng Han kepada keluargaku, maka terjadi
malapetaka menimpa keluargaku. Juga murid
perempuanmu yang bernama Cia Kui Lian itu adalah iblis
wanita yang tak tahu malu!” Ia lalu menceritakan secara
singkat tentang pembunuhan atas diri ayah bundanya, juga
ia menuturkan sepintas lalu betapa Kui Lian telah berlaku
tak patut dengan Liem Kong Hwat kakak misannya.
Koai Thian Cu menjadi merah mukanya. “Tak kusangka
perhitunganku meleset! Aku sudah meramalkan bahwa
keluarga Thian te Kiam ong terancam oleh adanya pedang
Kim kong kiam, akan tetapi.... ah, ramalan manusia biasa
mana bisa benar? Tenangkan hatimu, nona Song. Aku akan
mencari Beng Han dan Kui Lian. Akan ku selidiki siapa
sebenarnya yang berdosa dalam pembunuhan orang
tuamu.” Setelah berkata demkian, Koai Thian Cu melesat
pergi dengan cepat sekali.
“Hemm, ucapan seorang ahli sihir dan tukang gwamia
seperti dia itu, mana boleh dipercaya?” kata Bu eng Lo kai.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sementara itu, Soat Li Suthai menatap wajah Bi Hui
dengan penuh perhatian. Gadis ini jauh lebih cantik dw
jelita daripada kedua orang muridnya yang sudah “keluar
pintukz”. Juga melihat gerak gerik dan bentuk tubuhnya,
nona ini memiliki bakat yang amat baik. Akan tetapi
sebagai cucu Thaian te Kiam ong, mengapa kepandaiannya
hanya sebegitu saja ketika tadi menyerang Koai Thian Cu?
Benar benar Soat Li Suthai merasa aneh. Ia tidak tahu
bahwa biarpun ilmu kepandaian Thian te Kiam ong amat
tinggi, namun anak cucunya tak dapat mewarisi
kepandaiannya, karena ilmu ilmu silatnya, terutama sekali
Kim kong Kiam sut, amat sukar dipelajari. Setelah
kehilangan dua orang muridnya, nenek ini belum apa apa
sudah merasa kesunyian dan ingin mempunya murid baru
dan melihat Bi Hui ia merasa suka sekali.
“Nona, kalau kau cucu Thian te Kiam ong, kau
behadapan dengan orang orang sendiri. Ketahuilah, aku
Soat Li Suthai adalah seorang yang selalu merasa kagum
dan mengenang kakek mu dengan hormat dan takluk.”
“Begtu pula aku, nona. Bu eng Lo kai biarpun belum
pernah bertemu dengan kakekmu selalu menganggap Thian
te Kiam ong sebagai sahabat dan guru. Aku ikut merasa
berduka mendengar tentang nasibmu yang buruk,” kata
pula Bu Eng Lo kai.
Bi Hui segera menjura dengan hormat.
“Terima kasih banyak atas perhatian dan hiburan
locianpwe.”
“Nona, setelah terjadi malapetaka kepada keluargamu,
lalu kau tinggal dengan siapa dan sekarang hendak pergi
kemana?” tanya Soat Li Suthai.
Kembali air mata bertitik di atas pipi Bi Hui yang kini
agak pucat itu. Pertanyaan ini menusuk hatinya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengingatkan padanya bahwa di dunia ini sekarang ia tidak
dapat menyandarkan diri kepada siapapun juga.
“Teecu hidup seorang diri dan tidak punya tempat
tinggal. Tujuan hidup teecu hanya merantau menambah
kepandaian sambil mencari pembunuh ayah bunda.”
“Bagus!” Tiba tiba Bu eng Lo kai melompat dengan
muka girang. “Mari kau ikut padaku, nona. Biarpun aku
sudah tua bangka tiada guna, kiranya aku masih dapat
menurunkan sedikit kepandaian kepadamu sebagai tanda
penghormatanku kepada Thian te Kiam ong.”
Soat Li Suthai mengerutkan kening dan menghadapi Bu
eng Lo kai sambil cemberut. “Eh, jembel tua! Kau ini
mengapa selalu ingin bersaing dan berebutan dengan aku?
Belum juga aku mengambil nona ini sebagai murid, kau
sudah mendahuluiku lagi.”
Bu eng Lo kai membelalakkan mata lalu tertawa lebar.
“Siapa tahu bahwa kaupun hendak mengambil murid
padanya? Aku melihat dia berbakat baik dan aku kasihan
melihat cucu Thian te Kiam ong, maka ingin menurunkan
sedikit kepandaianku, apa salahku?”
“Setan! Kau selamanya tidak punya murid. Mengapa
sekarang mendadak mau menurunkan kepandaian? Tidak,
nona ini akan ikut dengan aku dan mewarisi semua
kepandaianku.”
Agaknya dua orang tua itu kembali hendak ribut ribut
dan berebutan seperti tadi ketika mereka memperebutkan
patung emas. Sementara itu, Bi Hui sudah menjadi girang
sekali mendengar ucapan mereka yang masing masing
hendak mengambilnya sebagai murid. Cepat ia
menjatuhkan diri berlutut dan berkata nyaring,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Teecu Song Bi Hui menghaturkan terima kasih kepada
ji wi yang mulia. Tentu arwah kong kong juga amat
berterima kasih kepada ji wi. Teecu bersedia untuk menjadi
murid ji wi suhu dan mempelajari semua yang ji wi ajarkan
dengan penuh perhatian.”
Kakek dan nenek itu saling pandang, kemudian sama
sama tertawa.
“Memang tak perlu diperebutkan,” kata Soat Li Suthai,
“kita berdua mengajarnya, bukankah itu lebih baik lagi.”
Demikianlah, semenjak hari itu. Bi Hui diterima menjadi
murid Soat Li Suthai dan Bu eng Lo kai. Kedua orang itu
merasa bangga sekali dapat menjadi guru dari cucu Thian te
Kiam ong, maka mereka mengajar dengan sungguh
sungguh agar jangan memalukan nama sendiri. Apalagi
mereka mengajar berdua sehingga hal ini menguntungkan
Bi Hui oleh karena kedua orang gurunya seakan akan
berlumba dan tak mau saling mengalah, ingin lebih unggul
dalam hal mengajar. Tidak mengherankan apabila mereka
menuang semua ilmu yang mereka miliki dan otomatis Bi
Hui yang menerimanya memperoleh kemajuan pesat sekali.
0odwo0
Waktu yang nampaknya merayap lambat sekali itu tanpa
terasa telah lewat bukan main cepatnya, melebihi lajunya
anak panah yang terlepas dari busurnya. Tahun demi tahun
lewat tak terasa dan tak meninggalkan bekas kecuali kenang
kenangan samar. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang
terlalu panjang. Kalau kita mengenang segala peristiwa
yang terjadi sepuluh tahun yang lalu akan terasa oleh kita
seakan akan yang sepuluh tahun itu hanya baru sepuluh
hari saja!
Kim hud tah atau pagoda Buddha Emas kini kelihatan
menyeramkan, kotor tak terurus dan tak pernah dikunjungi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
orang. Semenjak orang orang mendengar bahwa di situ
terjadi pertempuran hebat sehingga tiga orang penjaga
pagoda tewas dan bahwa anak tangga dari bawah menuju
ke atas telah runtuh, tempat itu dijauhi orang. Bahkan
belakangan ini tersiar berita bahwa pagoda itu didiami iblis
iblis dan siluman siluman. Ada yang bilang bahwa di waktu
malam kelihatan cahaya berkelebatan di puncak pagoda.
Ada pula yang mendongeng melihat bayangan iblis
berkelebatan di atas menara. Bahkan ada yang berani mati
mendongeng bahwa siluman naga yang dikurung di bawah
pagoda sering kali keluar, menjelma menjadi manusia
untuk mencari korban.
Jangankan orang orang biasa, bahkan orang orang kang
ouw yang memiliki kepandaian sekalipun merasa jerih
mendekati pagoda ini. Selain sia sia saja dan tidak ada
gunanya serta tak mungkin naik ke atas juga mereka merasa
ngeri dan seram dengan keadaan pagoda yang tidak terawat
ini.
Tak seorangpun menyangka bahwa sebetulnya di
menara, di puncak pagoda yang amat tinggi itu, sudah
hampir sepuluh tahun lamanya tinggal seorang manusia.
Seperti kita ketahui Thio Beng Han bocah bernasib malang
itu berada di puncak pagoda, hidup dalam keadaan sunyi
dan sengsara sekali. Setiap hari hanya makan telur dan
sarang burung, minumnya mengandalkan air embun dan air
hujan. Sepuluh tahun ia menjadi seorang pertapa yang betul
betul bertapa.
Dalam keadaan nelangsa dan sengsara, manusia
mendekati Tuhan. Terbukalah mata betapa hidup ini
semata mata tergantung kepada kasih Tuhan dan setelah
tiada tempat mengeluh, tiada mahluk dapat menolong,
kembaliah manusia ke tempat semula, dekat dengan
Tuhannya. Kepada Tuhanlah di panjatkan doa dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
permohonan. Ada orang bilang bahwa dalam keadaan nasib
malang, Tuhan meninggalkannya. Ini bohong dan salah
pikir. Tuhan terhadap umat Nya tak pernah berkurang tak
pernah berubah seujung rambutpun. Tuhan Maha Kasih,
kasihNya suci murni. Buktinya, sejahat jahatnya orang,
masih diberinya hidup, masih diberiNya menikmati hidup
duniawi. Kalau mau bicara tentang perubahan sikap
manusialah yang berubah. Bukan Tuhan pernah
meninggalkan manusia, melainkan manusia yang
meninggalkan Tuhan, manusia yang menjauhkan diri dari
Tuhan. Nasib buruk itu hanya akibat daripada perbuatan
sendiri. Tuhan Maha Adil dan Maha Kasih. Tidak ada
kekhilafan, tidak ada kesalahan sedikitpun juga, tidak ada
cacat cela datang dari Tuhan.
Orang bijak jaman dahulu berkata bahwa untuk berhasil
merenungkan sesuatu, untuk memperkuat batin, untuk
mencuci diri dan membersihkan batin, paling baik orang
pergi mengasingkan diri ke tempat sunyi. Ini memang tepat
sekali dan tidak heran apabila orang jaman dahulu banyak
yang menjadi ahli tapa. Dari tapa orang dapat mencapai
tingkat luhur dan memudahkan manusia mencari jalan
mendekati tempat asalnya, di samping Tuhan. Memang
tidak mengherankan, karena di dalam tempat sunyi,
terpaksa oleh keadaan, sifat sifat jahat dalam batin manusia
lenyap sama sekali. Berada seorang diri di tempat sunyi,
mau berlaku jahat kalau ala orang lain yang dijahatinya.
Dalam bertapa di tempat sunyi, pikiran tidak terganggu
keduniawan yang palsu dan membangkitkan angkara, hati
dan pikiran menjadi hening bening memudahkan orang
teringat akan Tuhan nya.
Demikian pula dengan Beng Han, bocah yang hidup
terasing di puncak Kim hud tah itu. Selama sepuluh tahun
ia menjadi pertapa, melakukan tapa yang kiranya jarang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tandingannya dalam hal kesengsaraan dan kesunyian.
Selama sepuluh tahun ia tak pernah melihat manusia lain,
jangankan melihat, mendengar suaranyapun tak pernah.
Suara yang ia dengar hanya kicau burung, suara binatang
hutan sayup sampai, dan bunyi guntur di angkasa. Selama
sepuluh tahun ia hanya makan untuk menyambung nyawa,
tegasnya makan dan minum hanya untuk memenuhi
kebutuhan badan, sama sekali tak pernah menuruti selera
dan nafsu.
Keadaan semacam ini membuat Beng Han menjadi lain
daripada manusia biasa. Dirinya lebih bersih lahir batin,
dan perbedaannya dengan manusia lain tidak saja nampak
dalam gerak geriknya yang halus kuat, terutama sekali
kelihatan dalam sinar matanya, yang tajam penuh pengaruh
dan kekuatan. Sikapnya tenang sekali seakan akan
kepercayaannya kepada diri sendiri sudah penuh dan kokoh
kuat.
Di samping pembawaan diri yang amat luar biasa berkat
berprihatin dan bertapa selama sepuluh tahun ini, juga ia
telah melatih Kim kong kiam sut dan yang lain lain sampai
sempurna betul. Karena tidak pernah terganggu oleh orang
lain persoalan dunia, ia dapat mencurahkan seluruh
perhatiannya kepada pelajaran ilmu ilmu silat yang
ditinggalkan oleh Thian te Kiam ong. Maka ia dapat
mengisap sari pelajaran itu dan kiranya Thian te Kiam ong
sendiri yang dapat mengimbangi kesempurnaannya dalam
mainkan ilmu ilmu silat itu.
Di dalam pelajaran ilmu sitat yang terdapat di dalam
kitab peninggalan Thian te Kiam ong, terdapat pelajaran
ilmu lweekang tinggi yang melatih kedua telapak tangan
sehingga timbul tenaga menyedot dan kedua telapak
tangan. Pelajaran ini terutama di siapkan untuk menghadap
lawan bersenjata dengan tangan kosong sehingga sekali
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menangkap senjata lawan, takkan terlepas lagi. Akan tetapi
Beng Han yang berotak cerdik itu lalu menciptakan
semacam kepandaian dengan lweekang seperti ini ia tahu
bahwa baginya tidak ada jalan turun, kecuali apabila ia
dapat merayap melalui dinding di luar pagoda, ia telah
melihat betapa cecak dan kadal dapat merayap dengan
enaknya di sepanjang dinding. Mulailah ia belajar
“merayap” atau merangkak pada dinding kamarnya.
Dengan mempergunakan lweekang, ia menyedot dengan
kedua telapak tangannya pada dinding sehingga ia dapat
menahan tubuhnya. Mula mula ia hanya dapat merayap
beberapa meter saja. Akan tetapi berkat latihan hampir tiga
tahun, akhirnya ia dapat bertahan merayap di dinding
sampai lama mengandalkan kedua telapak tangannya.
Tanpa disadarinya Beng Han telah menciptakan ilmu
merayap di tembok yang lebih hebat daripada ilmu merayap
yang dikenal di dunia kang ouw sebagai ilmu Pek houw yu
chong (Cecak Bermain main Di Tembok).
Setelah ia merasa bahwa ilmu silat yang terdapat di
dalam kitab itu telah dikuasainya benar benar dan ilmu
merayap yang dilatihnya selama ini sudah cukup sempurna,
pada pagi hari sekali Beng Han memandang ke bawah
melalui lubang angin di tembok luar pagoda. Jarang ia
memandang ke luar seperti ini, karena baisanya ia khawatir
kalau kalau tempat sembunyinya diketahui orang.
“Aku harus mencari Kong Hwat dan wanita siluman
itu,” katanya pada diri sendiri. “Aku harus membuktikan
kepada cici Bi Hui bahwa aku tidak berdosa. Kasihan cici
Bi Hui...”
Setelah termenung sebentar, Beng Han lalu masuk
kembali ke dalam kamarnya, mengikat pedang Kim kong
kiam pada punggungnya, membawa pakaiannya yang
dibuntal. Sesungguhnya pemuda ini selama sepuluh tahun
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tidak kekurangan pakaian karena ia dapat menemukan
tinggalan pakaian tiga orang hwesio penjaga pagoda.
Biarpun besar besar dan tidak karuan potongannya, namun
kainnya cukup kuat dan bersih sehingga Beng Han dapat
berganti pakaian apabila dikehendakuya. Kini ia bahkan
mempunyai bekal beberapa potong pakaian hwesio! Yang
dipakainya juga pakaian hwesio yang longgar dan tidak
karuan. Sepatunya juga sepatu hwesio yang besar! Kalau
saja rambutnya tidak panjang menghitam, tentu ia menjadi
seorang hwesio muda.
Setelah sekali lagi memandang tempat di mata ia bertapa
selama sepuluh tahun itu dengan pandangan sayang ia
mulai melangkah keluar dari lubang angin dan mulai
mempergunakan ilmunya merayap turun. Ia tidak perduli
andaikata terlihat orang, karena memang ia sudah
mengambil keputusan untuk turun di dunia ramai.
Di luar sangkaannya semula, pagoda itu amat tinggi.
Biarpun ia sudah cukup berlatih dengan ilmunya merayap
tetap saja kedua telapak tangannya terasa sakit dan tenaga
lweekangnya hampir habis sebelum ia tiba di bawah.Masih
kurang lebih tujuh tombak dari tanah dan kedua tangannya
gemetar. Melihat bahwa jarak antara kakinya dan tanah
hanya tujuh tombak kurang lebih, Beng Han lalu
melepaskan kedua telapak tangannya dan mempergunakan
ginkang untuk melayang turun. Tubuhnya ringan seperti
daun kering tertiup angin dan kedua kakinya tidak
mengeluarkan suara ketika ia tiba di tanah.
BengHan memandang ke atas, ke arah puncak pagoda di
mana ia tinggal selama sepuluh tahun ini. Ia menarik napas
panjang dan merasa puas.
“Aku tidak melanggar pesan suhu,” pikirnya. “Aku baru
turun setelah tamat pelajaranku. Lebih baik aku lebih dulu
pergi ke makam suhu untuk menghaturkan terima kasih.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ia tidak tahu bahwa semenjak ia merayap turun tadi, dari
balik semak semak ada dua orang mendekam dan
mengintai dengan pandang mata kagum dan terheran
heran.
“Berhenti! Serahkan Kitab Im yang Cin keng dan pedang
Giok po kiam kepada kami!”
Beng Han terkejut juga mendengar bentakan yang tiba
tiba ini. Ia cepat menengok dan melihat dua orang hwesio
tua sekali yang sikapnya keren dan gagah. Yang seorang
memegang kipas besar sedangkan hwesio yang ke dua
memegang seuntai tasbeh perak. Kalau dua benda ini
merupakan senjata maka dapat dibayangkan betapa lihai
dua orang hwesio tua yang tadi mengintai turunnya Beng
Han dan pagoda ini. Di dalam dunia persilatan telah
menjadi kepercayaan bahwa barang siapa mempergunakan
senjata yang sederhana maka orang itu tentu berkepandaian
tinggi. Makin sederhana senjatanya, makin tinggilah ilmu
kepandaian orang itu.
Biarpun Beng Han tidak dapat menduga demikian
karena ia memang kurang pengalaman, namun ia masih
ingat akan tata susila dan sopan santun. Cepat ia menjura
sambil tersenyum dan bertanya,
“Mohon maaf kalau aku yang muda tidak mengerti apa
maksud ji wi losuhu. Aku Thio Beng Han tidak pernah
bertemu dengan ji wi losuhu. Siapakah ji wi losuhu dan apa
gerangan maksud teguran tadi?”
Dua orang hwesio tua itu nampak ragu ragu. Memang,
melihat kedudukan mereka yang tinggi, agak tidak patut
dan memalukan kalau mereka memperkenalkan diri kepada
seorang muda setengah bocah ini, akan tatapi kalau tidak
memperkenalkan diri, memang lebih tidak patut lagi. Tak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mungkin berurusan tanpa memperkenalkan diri dan
menceritakan sebab sebab teguran mereka.
“Pinceng adalah Thian Beng Hwesio.” kata hwesio tua
pemegang kipas, “dan ini adalah sute Thian Lok Hwesio
kami berdua adalah hwesio hwesio dari Go bi pai yang
sudah dua tahun mengintai di sini. Kami mendengar bahwa
para suheng kami yang menjaga di sini, Gwat Kong
Hosiang, Gwat Liong Hosiang, dan Gwat San Hosiang,
telah tewas dan Kim hud lenyap dicuri orang. Kemudian
kami mendengar bahwa patung emas itu di curi oleh Soat
Li Suthai. Telah kami serbu nenek itu. akan tetapi dia dapat
membuktikan bahwa benda benda yang terpenting, pusaka
Go bi pai yang tadinya berada di dalam patung telah lenyap
dicuri orang. Kami telah menduga bahwa tentu ketiga
orang suheng kami menyembunyikan kitab dan pedang itu
di sekitar pagoda. Ini hari kau orang muda turun dari atas
pagoda secara aneh. Tentu kau tahu tentang kitab dan
pedang itu!”
Tahulah Beng Han bahwa ia berhadapan dengan dua
orang tokoh Go bi pai yang tinggi ilmunya. Memang,
dahulu pernah Thian Beng Hwesio dan Thian Lok Hwesio
bersama seorang hwesio lain lagi bertempur melawan Song
Tek Hong dan Ong Siang Cu dan tiga orang hwesio Go bi
pai ini menderita kekalahan. Akan tetapi semenjak itu,
Thian Beng Hwesio dan sutenya memperdalam ilmunya
dan telah maju pesat sehingga kelihaian mereka sekarang
jauh lebih hebat daripada belasan tahun yang lalu. Kini
tingkat kepandaian mereka kiranya tidak berbeda jauh
dengan tingkat kepandaian Gwat Kong Hosiang bertiga!
“Ji wi losuhu,” jawab Beng Han dengan suara halus dan
tenang, “aku tidak menyangkal. Memang kurang lebih
sepuluh tahun yang lalu, Gwat Kong Hosiang pernah
menyerahkan sebuah kitab yang bernama Im yang Cin keng
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dan sebuah pedang Giok po kiam kepadaku. Akan tetapi
oleh karena aku tidak ingin memiliki dua benda itu dan
Gwat Kong Hosiang sudah memberikannya kepadaku, aku
telah memberikan dua benda itu kepada orang lain.”
Thian Beng Hwesio biarpun sudah amat tua, namun
hatinya masih keras dan ia masih berwatak berangasan.
“Kau bonong! Tak mungkin kitab dan pedang pusaka
yang dijadikan rebutan semua orang kang ouw itu kau
berikan kepada orang lain begitu saja!” Ia tidak ingat bahwa
pemuda ini mengatakan bahwa hal itu terjadi sepuluh tahun
yang lalu yang berarti bahwa pemuda itu tentu masih kanak
kanak ketika hal itu terjadi.
Beng Han tidak marah, hanya tersenyum ramah. “Kalau
losuhu tidak percaya, sudahlah....”
“Kepada siapa kau memberikan kitab dan pedang itu?
Hayo mengaku, kepada siapa kau berikan!” Thian Beng
Hwesio mendesak dengan sikap mengancam.
Mendengar penanyaan ini, terbayanglah dalam ingatan
Beng Han seorang bocah perempuan yang manis dan baik
hati. Ia tersenyum mengingat gadis cilik itu, lalu bertanya,
“Losuhu, andaikata aku beritahukan siapa dia, losuhu
berdua hendak berbuat apakah kepadanya? Mungkin sekali
isi kitab itu telah dipelajari nya sampai tamat. Habis, apa
yang hendak ji wi lakukan?”
“Kami akan minta kembali kitab dan pedang berikut
nyawanya!”
“Nyawanya....??” Beng Han terkejut sekali. “Mengapa
demikian, losuhu? Apa salahnya maka ji wi hendak
membunuhnya?”
“Karena tidak boleh orang lain bukan anak murid Go bi
pai mempelajari isi kitab warisan Tat Mo Couwsu! Maka
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
selain kitab dan pedang harus diserahkan kepada kami, juga
dia harus menyerahkan nyawanya. Hayo kau beritahukan
siapa dia yang membawa dua benda pusaka kami itu!”
Beng Han menjadi marah. “Keterlaluan sekali. Kejam
dan tidak adil! Bukankah kitab itu di perebutkan semua
oraang dan siapa yang berjodoh dia berhak mempelajari
dan memiliknya? Ji wi losuhu, kalau aku tidak mau
memberitahukan kepada siapa benda itu kuberikan, kalian
hendak berbuat apakah?”
“Akan pinceng paksa kau supaya mengaku!” kata Thian
Beng Hwesio sambil menggerak gerakkan kipasnya seakan
akan tubuhnya kepanasan. Padahal gerakan ini
menandakan bahwa dia sudah mulai kehilangan
kesabarannya dan siap menyerang lawan.
“Ji wi losuhu, tadinya aku memang bermaksud
memberitahukan kepada ji wi siapa orangnya yang
membawa dua benda itu, bahkan aku bersedia membantu
untuk mintakan kembali benda benda itu apabila benar
benar benda benda itu adalah pusaka dari Go bi pai. Akan
tetapi mendengar keputusan ji wi hendak membunuh
orangnya, aku menarik kembali niatku tadi. Orang itu tidak
bersalah, akulah yang bertanggung jawab karena aku yang
memberikan benda benda itu kepadanya. Kalau ji wi losuhu
hendak menghukum, hukumlah aku. Sampai mati aku
takkan mengkhianati orang itu, karena dia memang tidak
bersalah dalam hal ini.”
Ucapan yang gugah dari Beng Han disertai sikapnya
yang tenang sekali membuat dua orang hwesio itu saling
pandang dengan heran. Alangkah beraninya anak ini, dan
tadi mereka berduapun sudah menyaksikan kehebatan ilmu
merayap dari pemuda itu ketika menuruni pagoda.
Sungguhpun ilmu itu tidak membuktikan kelihaian dalam
pertempuran, namun sudah membayangkan bahwa pemuda
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ini memiliki lweekang tinggi dan bukan orang
sembarangan.
“Orang muda, kau tidak tahu dengan siapa kau
berhadapan maka kau bersikap sombong dan berani mati.
Kami berdua dari Go bi pai tidak biasanya pulang dengan
tangan kosong kalau sudah menggerakkan tangan. Agak
segan kami kalau harus bertempur denganmu karena
tingkat kami jauh lebih tinggi. Barangkali gurumu masih di
bawah kami tingkatnya. Coba kausebutkan nama gurumu
barangkali kami mengenalnya,” kata Thian Lok Hwesio
yang benar benar merasa agak malu kalau harus melayani
seorang pemuda dalam kedudukannya sebagai tokoh besar
Go bi pai.
Beng Han tersenyum, tahu bahwa dalam kata kata itu
tersembunyi kesombongan besar.
“Ji wi losuhu, guruku sudah meninggal dunia dan
dahulu orang orang menyebutnya Thian te Kiam ong. Aku
menjadi muridnya melalui pelajaran dalam kitabnya.”
“Thian te Kiam ong...??” Hampir berbareng dua orang
hwesio itu menyebut nama ini. Mereka kaget dan terheran
terheran karena melihat murid Thian te Kiam ong yang
sudah lama meninggal dunia itu masih begini muda.
“Bocah lancang jangan kau bohong!” bentak Thian Beng
Hwesio.
“Mengapa aku harus membohong?” balas Beng Han tak
senang. “Agaknya sudah menjadi kebiasaan ji wi losuhu
untuk tidak percaya kepada omongan orang lain dan
mencari kebenaran sendiri.”
“Tak usah banyak cakap, lekas beritahukan siapa adanya
orang yang membawa kitab dan pedang!” Thian Beng
Hwesio membentak marah.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Maaf terpaksa aku takkan memberi tahu karena sikap
losuhu buruk dan kasar,” jawab Beng Han.
“Kau manusia sombong....!” Thian Beng Hwesio sudah
menggerakkan kipasnya Kipas ini bukan sembarang kipas,
melainkan sebuah senjata yang amat lihay. Disebutnya
kipas Ngo heng san dan di dalam pertempuran merupakan
senjata berbahaya dimainkan dengan ilmu Silat Ngo heng
kun. Jarang ada orang mampu menghadapi hwesio dengan
kipasnya ini.
Akan tetapi Thian Lok Hwesio mencegah suhengnya
sambil memutar tasbeh peraknya dan berkata, “Suheng,
menghadapi seorang bocah cilik mengapa suheng harus
maju sendiri? Biar pinceng menghadapi dan
menundukkannya!”
Beng Han sudah siap sedia. Biarpun ia belum memiliki
pengalaman bertempur, namun di dalam kitab peninggalan
Thian te Kiam ong terdapat banyak penjelasan tentang cara
menghadapi lawan tangguh. Ia berlaku tenang dan hati hati
sekali, tidak tergesa gesa mencabut Kim kong kiam,
melainkan memasang kuda kuda Chit seng pouw dan
menaruh kedua tangan dalam sikap pembukaan ilmu Silat
Thai lek Kim kong jiu yang tinggi.
Angin dingin bersiut mendahului datangnya tasbeh perak
yang menyambar merupakan sinar putih menyilaukan
mata.Melihat senjata lawan yang ampuh itu menyambar ke
arah kepalanya, Beng Han berlaku tenang sekali ia tidak
terburu buru mengelak, melainkan menanti sampai tasbeh
itu datang dekat, sama sekali tidak menghiraukan hawa
pukulan tasbeh yang cukup dahsyat itu. Tiba tiba dengan
sedikit gerakan pundak, Beng Han telah mengangkat kedua
tangan ke atas dan menggunakan kedua tangan yang
dimiringkan untuk menabas ke bawah pada saat tasbih
datang menyerang kepalanya. Dia bukan menangkis,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
melainkan memukul atau membabat tasbeh itu dengan
kedua tangan seperti lakunya seorang membabat rumput
dengan golok!
Thian Lok Hwesio kaget sekali sampai hampir berteriak.
Bukan saja tasbehnya tidak mengenai lawan, bahkan
senjata istimewa itu seperti terdorong ke bawah dan tanpa
dapat ia cegah lagi senjatanya menghantam batu di atas
tanah. Batu itu remuk dan memuncratkan bunga api
sedangkan telapak tangan hwesio tua itu terasa perih sekali!
Untuk menutupi malunya, Thian Lok Hwesio
mengeluarkan gerengan seperti harimau terluka dan
tasbehnya menyambar nyambar cepat dalam serangan
bertubi tubi ke arah tubuh pemuda itu.
Beng Han tidak berani berlaku lambat dan sembrono.
Pemuda ini cukup maklum akan lihai nya tasbeh lawan,
juga maklum bahwa tenaga lweekang dari hwesio tua ini
besar sekali. Maka ia mengandalkan kelincahan tubuhnya,
bergerak ke sana ke mari seperti bayangan, bersilat dalam
ilmu Silat Soan hong pek tek jiu yang cepat sekali
gerakannya dan kadang kadang kedua tangannya bergerak
menyentil tasbeh kalau senjata terlampau mendekati
tubuhnya dan mengancam keselamatannya. Anehnya,
setiap kali senjata itu terkena sentilan jari tangannya,
senjata itu tentu menyeleweng arahnya! Diam diam Thian
Lok Hwesio merasa kaget, kagum dan juga penasaran.
Masa dia seorang tokoh besar Go bi pai sampai
dipermainkan oleh seorang bocah yang bertangan kosong?
Ia makin marah dan tasbehnya menyambar makin kuat dan
cepat.
Perlu diketahui bahwa seorang hwesio tua seperti Thian
Lok Hwesio yang menjadi tokoh besar Go bi pai, tentu saja
ilmu silatnya tinggi dan tenaganya kuat sekali. Ilmu
kepandaiannya biarpun tidak setinggi kepandaian Pat pi Lo
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
cu atau Koai Thian Cu umpamanya, akan tetapi kiranya
sudah mengimbangi kepandaian Sin tung Lo kai Thio
Houw, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan dahsyat
tasbeh peraknya ketika ia menyerang Beng Han dengan
penasaran dan marah.
Apabila kalau diingat bahwa Beng Han dapat diumpakan
sebagai seekor burung yang baru saja turun dari sarang
setelah sayapnya benar benar kuat, biarpun pandai terbang
akan tetapi belum banyak pengalaman. Demikian pula
Beng Han. Kalau saja ia tidak mewarisi ilmu ilmu silat yang
luar biasa tingginya disertai ketekunan yang hebat dan
ketenangan yang ia dapat dari “bertapa”, tentu ia takkan
kuat menahan gelombang serangan yang amat dahsyat dari
tasbeh di tangan Thian Lok Hwesio.
Baiknya pemuda itu benar benar telah menguasai ilmu
silatnya dengan sempurna. Boleh dibilang beberapa macam
ilmu silat tinggi yang ia pelajari dari kitab peninggalan
Thian te Kiam ong, sekarang telah mendarah daging dalam
dirinya, menjadi satu dengan urat syaraf dan perasaannya
sehingga semua gerakannya ketika melindungi diri terjadi
seperti otomatis tanpa disengaja atau diatur lagi.
Ketenangan dan kecekatannya membuat semua serangan
Thian Lok Hwesio gagal dan menghantam angin belaka.
Namun karena ia bertangan kosong sedangkan lawannya
menggunakan senjata tasbeh yang mempergunakan untuk
memukul, menotok dan mengemplang ke arah muka, Beng
Han menjadi keteter dan terdesak hebat. Pemuda ini
tadinya hanya membela diri sama karena ia tidak merasa
bermusuhan dengan hwesio ini. Akan tetapi oleh karena ia
berada dalam keadaan berbahaya apabila mengalah terus,
akhirnya ketika tasbih menyambar ke arah mukanya, ia
melompat mundur dan mengeluarkan suara keras dari
mulutnya sambil mendorongkan kedua tangannya dengan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
jari jari terbuka ke depan, inilah pukulan dari Soan hong
pek lek jiu yang hebat, ilmu warisan dari nenek sakti Mo
bin Sin kun, guru Thian te Kiam ong.
Pukulan sakti yang telah terlatih hebat oleh Beng Han
ini, mana Thian Lok Hwesio mampu menahannya?
Bagaikan sebuah balok dihanyutkan gelombang laut
membadai, tubuhnya terhuyung ke belakang tak dapat
tercegah lagi, tasbehnya membalik dan memukul perutnya
sendiri. Baiknya ia masih dapat mengerahkan tenaga
perutnya sehingga senjata itu tidak makan tuannya. Baru
setelah terhuyung mundur sejauh belasan langkah, Thian
Lok Hwesio dapat mengatur keseimbangan badan dan
berdiri tegak dengan muka pucat sekali.
“Omitohud.... hebat luar biasa....” Ia mengeluh terengah
engah.
Thian Beng Hwesio hampir tak dapat mempercayai
matanya sendiri melihat betapa sutenya dikalahkan
demikian mudahnya oleh pemuda ini. Ia menjadi penasaran
sekali.
“Bocah, kau berani menghina suteku?” bentaknya dan
kipasnya dikebutkan ke arah BengHan.
Pemuda ini merasa angin panas menyambar ke arahnya
dari kipas itu. Ia kaget dan maklum bahwa di depannya
bergerak seorang pandai, ia tidak berani sembrono. Cepat ia
menggerakkan kedua tangannya dan menolak hawa panas
itu dengan angin pukulan tangannya Angin pukulan kipas
di tangan Thian Beng Hwesio terpukul buyar. Hwesio itu
menjadi amat kagum, juga panas hati.
“Bocah, kaulihai juga. Lihat kipas!” Sambil berseru
demikian ia menerjang maju dengan serangan kipas yang
ternyata lebih hebat dan dahsyat daripada serangan tasbeh
dari Thian Lok Hwesio tadi.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Beng Han tidak mau terlalu mengalah seperti tadi.
Sekarang ia tidak hanya membela diri, melainkan
melakukan serangan balasan dengan pukulan pukulan Thai
lek Kim kong jiu di campur dengan Soan hong Pek lek jiu
yang ampuh. Menghadapi pukulan pukulan ini, sebentar
saja Thian Beng Hwesio main mundur dan kipasnya sudah
terkena pukulan sampai robek tengahnya.
“Kami harus memaksamu mengaku!” teriak Thian Beng
Hwesio nekad. Teriakan ini sebagai penutup malunya
karena ia segera memerintahkan sutenya untuk
mengeroyok.
Melihat bahwa suhengnya juga tidak mampu
mengalahkan pemuda yang masih bertangan kosong itu,
Thian Lok Hwesio lalu menyerang dengan tasbehnya
membantu Thian Beng Hweso. Untuk mencari dimana
adanya barang barang pusaka partainya, dua orang kakek
tua ini tidak segan segan atau malu malu lagi untuk
mengeroyok seorang muda remaja!
Menghadapi keroyokan dua orang kakek tokoh Go bi pai
itu, terpaksa Beng Han melompat mundur sampai dua
tombak dan di lain saat ketika dua orang kakek itu
mendesaknya, tangannya bergerak dan sinar keemasan
seperti pelangi menyambar dan menahan gerakan kipas dan
tasbeh. Terdengar suara keras disusul teriakan teriakan
Thian Beng Hwesio dan Thian Lok Hwesio. Ternyata kipas
dan tasbeh itu telah terbabat putus ujungnya oleh pedang di
tangan pemuda itu.
“Pedang Kim kong kiam di tanganku, apakah ji wi
losuhu tidak mengenalnya dan masih menyangkal bahwa
aku adalah murid suhu Thian te Kiam ong?”
Dua orang hwesio itu kaget setengah mati melihat betapa
dalam segebrakan saja pemuda itu dapat merusak senjata
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mereka. Kalau dilanjutkan pertempuran itu, tidak sukar
diduga kesudahannya, pasti mereka akan kalah dan roboh
di tangan pemuda yang luar biasa ini. Pula, mereka juga
mengenal Kim kong kiam, maka Thian Beng Hwesio
menarik napas panjang dan berkata,
“Kau lihai sekali, orang muda, dan patutlah kalau kau
menjadi ahli waris kepandaian Thian te Kiam ong. Akan
tetapi ketahuilah kami berdua bertugas untuk mencari dan
membawa kembali pedang dan kitab pusaka Go bi pai, oleh
karena itu biarpun kami harus kehilangan nyawa, kami
harus mencari orang yang membawa benda pusaka itu
sampai dapat.”
Beng Han dapat menghormati tugas orang lain. Ia
berkata, “Ji wi losuhu, aku sendiri akan membantu ji wi
untuk mendapatkan kembali kitab dan pedang. Akan tetap
aku tetap tidak dapat memberitahukan orangnya kalau ji wi
berkukuh hendak membunuh atau mengganggunya.
Ketahuilah bahwa orang yang kini membawa kitab dan
pedang itu sama sekali tidak berdosa. Dia hanya menerima
sebagai hadiah dari tanganku. Adapun aku sendiri juga
menerima sebagai hadiah dari Gwat Kong Hosiang, maka ji
wi jangan menuduh yang bukan bukan.Menghukum orang,
apalagi membunuhnya tanpa alasan yang kuat, sungguh
merupakan perbuatan dosa yang harus di pantang oleh ji
wi. Aku akan mencari orang itu dan minta kembali kitab
dan pedang, kelak kalau sudah berhasil, aku akan pergi ke
Go bi san mengembalikannya!”
Setelah berkata demikian, Beng Han menggerakkan
kedua kakinya dan sekejap mata saja ia sudah lenyap dari
depan dua orang hwesio yang menjadi bengong itu.
Memang Beng Han tidak mau mencari “penyakit”, yaitu
tidak mau memberi kesempatan kepada hwesio hwesio
keras hati agar jangan sampai timbul percekcokan baru Di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dalam hatinya ia berjanji untuk mencari Li Hwa, selain
untuk minta kembali kitab dan pedang karena isi kitab itu
toh sudah dipelajari sampai tamat oleh Li Hwa, juga untuk
memberi tahu akan bahaya yang mengancam dari pihak Go
bi pai. Dan terutama sekali karena ia amat ingin bertemu
dengan bocah perempuan yang dianggapnya sangat baik
budi terhadapnya itu.
0odwo0
Semenjak mendapatkan kitab Im yang cin keng dan
pedang Giok po kiam, Kwan Li Hwa melatih diri dengan
ilmu silat ini di bawah pimpinan Sin tung Lo kai Thio
Houw sendiri. Kakek sakti ini maklum bahwa kalau ada
orang kang ouw yang mengetahui akan hal ini, pasti mereka
takkan tinggal diam dan akan mencoba melakukan
perampasan kitab dan pedang. Oleh karena itu ia berlaku
keras sekali Cucu perempuannya ini disekap di dalam
rumah tak boleh keluar dan di dalam taman bunga di
belakang rumah mereka yang terkurung dinding tembok
tinggi, yaitu rumah mereka di Leng ting, setiap hari Sin
tung Lo kai mengawasi cucunya berlatih silat Biarpun
Kwan Siang Hong beberapa kali mengajukan permintaan
agar ia diperkenankan berlatih bersama adiknya, namun Sin
tung Lo kai berkeras tidak mengijinkannya.
“Kitab dan pedang ini bukanlah benda sembarangan dan
terjatuh ke dalam tangan Li Hwa sudah menjadi kehendak
Thian. Li Hwa yang berjodoh maka harus dia yang
mempelajarinya Kalau kuberikan kepadamu, aku khawatir
kita akan menerima kutukan Tat Mo Couwsu. Sian Hong,
kau seorang laki laki, selain kepandaianmu dari aku sudah
cukup, langkahmu lebar dan kau dapat mencari tambahan
kepandaian di dunia kang ouw. Tidak seperti adikmu,
seorang perempuan.” Demikian Sin tung Lo kai memberi
alasan. Sian Hong seorang pemuda yang taat, menerima
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
alasan ini dan tidak menaruh hati iri. Bahkan ia lalu
berpamit dari ayah bundanya untuk merantau agar
pengertiannya bertambah. Kedua orang tuanya hanya
memberi waktu dua tahun, demikian kata mereka, karena
pemuda ini sudah terikat oleh perjodohan dengan Song Bi
Hui, cucu Thian te Kiam ong.
Ketika Sin tung Lo kai melihat lihat kitab Im yang cin
keng, ia menjadi girang bukan main karena isi kitab itu
benar benar merupakan pelajaran ilmu silat yang amat aneh
dan tinggi. Di situ terdapat pelajaran lweekang dan ginkang
juga terdapat beberapa macam ilmu silat tangan kosong dan
ilmu pedang! Membaca sepintas lalu saja tahulah kakek ini
bahwa cucunya telah mendapatkan ilmu sitat yang amat
hebat, jauh lebih hebat daripada ilmu silatnya sendiri!Maka
kakek ini makin tekun melatih cucunya, dan biarpun dia
membacanya, ia hanya mengetahui teori teorinya saja agar
dapat membri petunjuk. Dia sendiri tidak mau melatih diri
karena merasa tidak berhak. Beginilah watak seorang gagah
sejati!
Setelah setahun lewat, Thio Leng Li dan suaminya,
Kwan Lee pergi ke Lok can mengunjungi Song Siauw Yang
dan suaminya. Mereka ini diterima dengan penuh
kegembiraan oleh Pun Hui dan Siauw Yang seperti
layaknya sahabat sahabat lama bertemu.
Dalam percakapan gembira, Leng Li dan Kwan Lee
menyatakan kepentingan dan kunjungan mereka, yakni
selain menengok, juga hendak mempererat dan
mengesahkan ikatan dan perjodohan antara Kwan Sian
Hong putera mereka dan Song Bi Hui, sebagaimana telah
diusulkan dahulu oleh mendiang Thian te Kiam ong.
Mendengar ini, wajah Siauw Yang menjadi muram
sekali, nampak berduka. Tentu saja Kwan Lee dan isterinya
menjadi heran dan kaget. Memang semenjak mereka
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
datang, mereka telah melihat wajah tuan dan nyonya
rumah nampak muram dan seperti tertutup awan gelap.
“Enci Siauw Yang, kau mengapa nampak berduka?”
tanya Leng Li.
Siauw Yang menarik napas panjang berkali kali lalu
berkata, “Aahh, semenjak ayah meninggal dunia. keluarga
kami seperti menerima kutukan. Mula mula terbunuhnya
kakakku Tek Hong dan so so secara mengerikan. Kemudian
setelah beberapa lama Bi Hui berada di sini, pada suatu
malam ia pergi tanpa pamit, entah ke mana perginya
sampai sekarang kami tidak tahu. Bahkan pada keesokan
harinya, Kong Hwat juga pergi menyusul untuk mencari Bi
Hui. Sekarang sudah hampir setahun, mereka belum ada
beritanya! Celakalah kami yang ditinggalkan, tak enak
makan tak nyenyak tidur. Tadinya kami hendak menyusul,
akan tetapi kemanakah? Pula, kalau kami pergi, kami takut
kalau kalau mereka pulang. Aaahhh…!” Tak terasa lagi dua
titik air mata membasahi pipi Siauw Yang. Tentu saja dia
tak mau berceritera tentang percekcokan dengan Siang Cu
dan Tek Hong sebelum dua suami isteri itu terbunuh. Juga
ia tidak mau berceritera tentang hal yang amat
menggelisahkan dan menyusahkan hatinya dan hati
suaminya, yakni tentang Kong Hwat. Pemuda ini pergi
sehari setelah Bi Hui pergi, dan perginya bersama dengan
Kui Lian yang makin lama makin dipikir makin
mencurigakan hati mereka. Diam diam mereka dapat
menduga bahwa tentu ada hubungan apa apa yang tidak
bersih antara putera mereka dengan wanita muda yang
cantik dan aneh itu.
Mendengar penuturan ini, Leng Li dan suaminya ikut
bingung. Mereka datang untuk bicara tentang perjodohan,
tidak tahunya dua orang muda yang bersangkutan semua
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
telah pergi tanpa diketahui ke mana perginya, sudah hampir
setahun!
Karena kasihan kepada sahabatnya, Leng Li dan
suaminya tinggal di Liok can sampai dua bulan lebih.
Adanya mereka berdua di situ merupakan hiburan besar
bagi Siauw Yang dan Pun Hui oleh karena sebagaimana
diketahui, Pun Hui adalah sahabat baik bahkan kawan
sekolah dati Kwan Lee, adapun Siauw Yang dan Leng Li
memang telah mengikat tali persahabatan sjak lama.
Hubungan mereka seperti saudara, apalagi memang Pun
Hui merupakan kakak angkat dari Leng Li.
Sama sekali Leng Li dan suaminya tidak mengira bahwa
sepergi mereka, di Leng ting telah terjadi hal hal yang amat
hebat!
Kota Leng ting cukup ramai dan di situ terkenal sebagai
pusat perkumpulan Ang sin tung Kai pang (Perkumpulan
Pengemis Tongkat Merah) yang masih diketuai oleh Sin
tung Lo kai Thio Houw dan diwakili oleh Thio Leng Li
yang berjuluk Bi sin tung. Perkumpulan ini bukan semata
mata merupakan perkumpulan pengemis, melainkan lebih
tepat disebut perkumpulan orang orang gagah yang selalu
memupuk perbuatan baik dan membantu rakyat yang
tertindas. Oleh karena Leng ting merupakan pusat di mana
sang ketua berada, tentu saja di situ terdapat banyak
pentolan pentolan Ang sin tung Kai pang yang seringkali
datang menghadap Thio Houw untuk memberi laporan
tentang keadaan dan minta nasihat nasihat.
Pada suatu hari, hanya tiga pekan semenjak Leng Li dan
suami nya berangkat ke Liok can, rumah gedung di mana
keluarga itu tinggal kedatangan seorang pemuda ganteng
dan seorang gdis cantik yang membawa hudtim.Mereka ini
adalah Kong Hwat dan Ku Lian. Sudah setahun mereka ini
merantau sampai jauh. Atas desakan Kong Hwat yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
selalu merengek manja, mereka mencari jejak Bi Hui,
namun sia sia. Ahirnya Kong Hwat mengajak kekasihnya
pergi ke Leng ting karena ia menduga bahwa Bi Hui besar
sekali kemungkinannya pergi ke rumah calon suaminya!
Memikirkan hal ini, ia merasa iri hati dan cemburu sekali
terhadap keluarga Sin Tung Lo kai.
Menang, tak salah apabila orang mengatakan bahwa
watak seorang sebagian besar terpengaruh dan tergantung
kepada pergaulan. Orang yang wataknya baik apabila
terpengaruh oleh orang jahat, lambat laun akan menjadi
jahat pula. Kong Hwat tadinya berwatak baik, akan tetapi ia
masih hijau dan kurang pengalaman. Setelah ia terjerumus
ke dalam cengkeraman berbisa dari siluman Kui Lian,
moralnya menjadi rusak. Wanita cabul yang menjadi jahat
seperti siluman itu menyeratnya ke dalam lembah kehinaan
yang penuh nafsu. Selama ia melakukan perjalanan dengan
Kui Lian, ia terjerumus makin dalam dan akhirnya pemuda
keturunan orang orang gagah ini tidak ragu ragu lagi
bersama Kui Lian melakukan segala perbuatan seperti
mencuri, merampok dan membunuh orang tanpa berkedip
mata! Bahkan, yang lebih hina lagi, mereka berdua
melakukan perbuatan perbuatan tak tahu malu yang akan
membikin merah muka orang orang sopan. Biarpun Kui
Lian betul betul cinta setulusnya kepada Kong Hwat,
namun wanita ini tak dapat mengekang nafsunya dan
dengan terang terangan dia berani bermain gila dengan laki
laki lain, sedangkan iapun memberi kesempatan kepada
Kong Hwat untuk mengganggu anak bini orang. Bahkan
wanita siluman ini membantunya mendapatkan wanita
yang kiranya menarik hati Kong Hwat. Tadinya memang
hal ini dilakukan secara sembunyi sembunyi. akan tetapi
kemudian, di bawah pengaruh sihir Kui Lian, Kong Hwat
dan kekasihnya bersepakat untuk memberi kesempatan
kepada masing masing mencari hiburan dan selingan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Benar benar perhubungan mereka amat kotor dan hina.
Tidak ada malu lagi, tidak ada cemburu lagi. Mereka
merupakan pasangan yang cocok, pasangan yang jahat dan
berbahaya sekali. Di samping itu mereka masih terus
memperdalam ilmu kepandaian, saling bertukar ilmu
hingga menjadi makin lihai.
Kedatangan Kong Hwat dau Kui Lian di rumah Sin
tung Lo kai disambut oleh tiga orang anggota Ang sin tung
Kai pang yang sudah setengah tua usianya. Mereka ini
merupakan tokoh tokoh Ang tin tung Kai pang yang
bertugas menjaga tempat tinggal dan mengatur segala
keperluan rumah tangga ketua mereka. Pada siang hari itu,
seperti biasa Sin tung Lo kai tengah melatih Li Hwa. Kakek
ini mempunyai pandangan yang amat jauh, oleh karena itu
pada bulan bulan pertama ia menyuruh Li Hwa menghafal
seluruh isi kitab itu diluar kepala. Memang pekerjaan ini
agak sukar bagi Li Hwa yang lebih pintar bersilat daripada
menghafal huruf. Akan tetapi Sin tung Lo kai memaksanya
sehingga Li Hwa terpaksa menghafal isi kitab itu. Juga kitab
dan pedang tidak ditaruh begitu saja di dalam kamar oleh
Sin tung Lo kai, melainkan disimpan di tempat rahasia
yang hanya diketahui oleh Li Hwa dan dia sendiri. Di
waktu berlatih, mereka tidak membutuhkan kitab itu,
kecuali apabila Li Hwa lupa bagian yang hendak dilatihnya.
Melihat bahwa yang menyambutnya tiga orang setengah
tua berpakaian tambal tambalan, hati Kui Lian menjadi tak
senang. Biarpun pakaian itu bersih sekali, namun bertambal
tambal seperti pakaian pengemis. Kalau Kong Hwat
menjura kepada tiga orang itu, sebaliknya Kui Lian
menjebikan bibir dan melihat lihat ke arah lukisan di
dinding ruangan depan yang amat lebar itu.
“Sicu siapakah dan hendak bertemu dengan siapa?”
tanya seorang diantara tiga penyambut itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Siauwte Liem Kong Hwat dari Liok can hendak
bertemu dengan Sin tung Lo kai Thio pangcu,” jawab Kong
Hwat yang belum melupakan sopan santun.
Tiga orang pengurus Ang sin tung Kai pang ini sudah
lama membantu Thio Houw, maka mendengar bahwa
pemuda ini datang dan Liok can, mereka dapat menduga
bahwa ini tentulah pemuda cucu Thian te Kiam ong yang
akan di jodohkan dengan Kwan siocia. Maka dengan muka
berseri mereka memberi hormat, kemudian seorang di
antara mereka berseru ke dalam, suaranya keras dan
mengandung tenaga khikang yang kuat sehingca suara itu
dapat terdengar sampai di tempat jauh.
“Pangcu, di sini ada Liem sicu dari Liok can mohon
menghadap pangcu!” Kong Hwat mengerutkan kening.
Alangkah kurarg ajarnya pengemis pengemis ini terhadap
ketua mereka. Masa melaporkan kedatangan tamu dengan
cara berteriak begitu saja. Ia tidak tahu bahwa aturan ini
memang diadakan oleh Sin tung Lo kai sendiri semenjak ia
melatih ilmu silat kepada Li Hwa, agar tidak ada orang
yang berani masuk ke dalam taman atau ruangan belajar
silat.
Tak tama kemudian dari belakang rumah terdengar suara
nyaring,
“Silahkan tamu yang terhormat duduk menanti sebentar,
aku segera keluar menyambut!”
Mendengar ini, tiga orang pengemis itu lalu
mempersilahkan Kong Hwat dan Kui Lian untuk duduk
menanti di ruang tamu, sedangkan mereka sendiri lalu
keluar dan duduk di bangku yang berada di luar rumah,
melanjutkan percakapan mereka yang tadi terganggu oleh
kedatangan dua orang muda itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Belum lama Kong Hwat dan Kui Lian duduk di ruang
tamu itu, pintu terbuka dan masuklah Sin tung Lo kai
bersama Li Hwa. Gadis cilik ini berpakaian ringkas dan
wajahnya kemerahan, masih basah oleh peluh karena baru
saja ia bertatih silat dengan penuh semangat.
Kong Hwat segera menjura dengan hormat kepada kakek
yang membawa tongkat merah itu.
“Harap Thio lopangcu baik bak saja selama ini,” katanya
sederhana.
Melihat Kong Hwat, kening Sin tung Lo kai berkerut.
“Eh, eh, kiranya kau? Anak dan mantuku juga pergi ke
rumah orang tuamu di Liok can. Apakah kau tidak bertemu
dengan mareka? Dan ada kepertuan apakah kau datang ke
sini, Liem sicu?”
Tadinya Li Hwa tidak tahu siapa gerangan tamu yang
datang, akan tetapi ketika ia melihat bahwa yang datang
adalah pemuda yang dicalonkan sebagai jodohnya, tanpa
berkata apa apa lagi dengan pipi kemerahan ia lalu berlari
masuk. Melihat ini, Thio Houw tertawa kecil akan tetapi
tidak berkata apa apa.
“Lo pangcu, sudah setahun aku pergi dari rumah,
mencari adik Bi Hui yang pergi tanpa pamit. Kedatanganku
ke sini juga untuk melihat apakah adik Bi Hui berada di
sini.”
Sin tung Lo kai memandang tajam dan keningnya makin
berkerut dalam. Melihat pemuda ini ia teringat akan
penuturan Beng Han bahwa pembunuh Song Tek Hong dan
isterinya adalah Kong Hwat dan seorang perempuan muda.
Kakek itu mengerling ke arah Kui Lian yang duduk dengan
sikap sombong tak mengacuhkannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hemm, kau mencari Song siocia? Dan siapakah bocah
ini?” ia menudingkan jari telunjuknya ke arah Kui Lian.
Kui Lian memiliki watak sombong karena merasa bahwa
ia berkepandaian. Ia biasa memandang rendah kepada
orang lain, maka terhadap kakek inipun ia memandang
rendah. Melihat sikap kakek itu yang dianggapnya
menghina, ia tertawa genit dan berdiri sambil berkata,
“Kakek ketua jembel, kau menuding nuding kepadaku
ada apakah? Aku Cia Kui Lian tidak mempunyai urusan
dengan kau. Lebih baik kau lanjutkan urusanmu dengan dia
ini dan lebih baik lagi kalau kau lekas lekas mengeluarkan
Bi Hui apabita gadis itu disembunyikan di sini agar urusan
lekas beres!”
Kong Hwat yang selama ini sudah biasa dengan watak
Kui Lian, tidak menjadi heran biarpun ia merasa agak tidak
enak, tahu orang macam apa adanya kakek ini.
Mendengar kata kata Kui Lian itu, alis kakek yang sudah
putih itu berdiri, matanya mengeluarkan sinar berapi.
“Kau ini siapakah berani bicara macam itu kepada Sin
tung Lo kai Thio Houw?” kata kakek itu menahan marah
dan sepasang matanya terus menatap tajam.
Kui Lian tersenyum manis dan sikapnya makin genit
“Kakek tua, kau ingin tahu namaku? Aku Cia Kui Lian.
Tadi sudah kusebutkan namaku, apakah satu kali saja
masih belum memuaskan hatimu?”
Thio Houw membuang muka dan kini mengalihkan
pandang matanya kepada Kong Hwat, sikapnya marah dan
penuh teguran.
“Liem sicu, mengapa kau membawa bawa perempuan
macam ini ke sini? Hemm, aku heran apakah roh Thian te
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kiam ong tidak menjadi marah marah melihat cucunya
seperti kau ini. Dan aku heran apakah perempuan ini tidak
hadir dalam pembunuhan Song taihiap dan isterinya!”
Mendengar ini, wajah Kong Hwat seketika menjadi
pucat.
“Lo pangcu jangan kau menghina orang. Cia lihiap ini
adalah sahabat baikku yang membantuku di mana mana.
Bagaimana kau berani menghinanya? Tentang pembunuhan
paman dan bibi, sudah jelas yang membunuhnya bocah
setan Beng Han. Lo pangcu, aku datang bukan untuk
membicarakan hal itu atau untuk memancing penghinaan,
akan tetapi hendak mencari Bi Hui. Dia tidak bisa menjadi
cucu mantumu, juga aku tidak, karena Bi Hui dan aku
sudah mengikat janji perjodohan sendiri. Kalau Bi Hui
bersembunyi di sini, harap kau suruh keluar agar aku dapat
mengajaknya pulang.”
Hampir saja Sin tung Lo kai Thio Houw tak dapat
percaya akan pendengarannya sendiri dan pandangan
matanya sendiri. Inikah pemuda putera Liem Pun Hui dan
Song Siauw Yang? Karena Liem Pun Hui masih putera
angkatnya, maka pemuda ini terhitung cucu angkatnya
pula! Dan pemuda ini juga cucu Thian te Kiam ong! Sudah
gilakah pemuda ini!
“Bangsat rendah, kau bicara apa? Hayo pergi dari sini!
Tak pantas kau menginjak lantai rumahku. Pergi sebelum
aku lupa diri dan menghancurkan kepalamu dan kepala
anjing betinamu!” Kemarahan Sin tung Lo koai meluap
luap, wataknya yang keras di waktu mudanya timbul
kembali karena merasa dihina orang orang muda.
Kong Hwat juga timbul marahnya, ia berdiri dan
tersenyum sindir.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sin tung Lo kai, kaulah yang lebih dulu menghina
kami. Kedatangan kami hanya untuk mencari Bi Hui, akan
tetapi kau bicara yang bukan bukan. Tentang pergi dari sini,
tanpa kau minta kamipun akan pergi. Akan tetapi lebih
dulu harus mendapat kepastian apakah Bi Hui tidak berada
di sini. Kami bukan percuma membuang waktu dari
perjalanan ke sini!”
“Koko, mengapa banyak urusan? Geledah saja di dalam,
habis perkara. Kau geledah ke dalam dan kalau ada Bi Hui
seret ia keluar. Aku yang menjaga di sini!” kata Kui Lian
sambil mencabut pedang menggerak gerakkan hudtimnya.
Dapat dibayangkan betapa memuncak kemarahan Sin
Tung Lo kai menghadapi dua orang muda itu.
“Jahanam keparat! Andaikata Bi Hui berada di sini
kalian mau apakah?” Tongkat merah di tangan nya sudah
tergetar dan hawa marah membayang d matanya.
“Kalau dia berada di sini, harus pulang ikut dengan
aku!” jawab Kong Hwat yang mengandalkan kepandaian
Kui Lian dan hendak memasuki ruangan dalam.
“Jangan injakkan kakimu yang kotor di sini! Pergilah!”
Sin tung Lo kai marah dan menggerakkan tongkatnya,
sekaligus menyerang Kong Hwat dan Kui Lian. Serangan
ini hebatnya bukan main mengeluarkan angin berputar
seperti angin taufan.
Kong Hwat dan Kui Lan cepat menangkis dengan
pedang mereka dan akibatnya, Kong Hwat terhuyung
huyung ke belakang dan Kui Lian terpental sampai ke
pintu! Memang, kepandaian Sin tung Lo kai amat tinggi
dari pada kepandaian dua orang muda itu.
Pada saat itu, tiga orang kakek penjaga yang mendengar
teriakan teriakan marah dari ketua mereka, sudah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyerbu masuk dengan tongkat di tangan. Tongkat
mereka juga merah seperti yang dipegang oleh Sin tung Lo
kai. Seorang di antara mereka berada di dekat Kui Lian.
Begitu ia memandang Kui Lian berseru nyaring.
“Berlutut kau....!” Suaranya penuh wibawa, pandang
matanya penuh hawa dan pengaruh menundukkan. Hebat
sekali, kakek pengemis ini tiba tiba seperti dipukul lututnya
dan berlututlah ia di depan Kui Lian. Sambil tertawa
menyeramkan Kui Lian menggerakkan kebutannya yang
menyambar ke arah kepala kakek itu. Tanpa menjerit kakek
ini roboh terguling di atas lantai dan tongkatnya terlepas
dari pegangan. Kui Lian dengan pandang mata penuh hawa
sihir menghampiri Sin tung Lo kai!
“Pangcu, harap jangan memandang matanya Dia ahli
ilmu hitam!” seru seorang di antara dua pengemis yang
masih hidup. Dia telah banyak merantau di dunia utara
maka ia mengenal ilmu hitam yang lihai dari Kui Lian.
Sin tung Lo kai juga bukan orang yang masih hijau.
Mendengar seruan pembantunya itu, tongkat merahnya
segera bergerak menyerang dengan hebat ke arah Kui Lian
tanpa ia memandang ke wajah wanita itu.
“Koko, kita pergi saja!” seru Kui Liankz sambil
menggandeng tangan Kong Hwat dan tangan kirinya
mengebutkan saputangan merah.
“Mundur....!” seru Thio Houw yang terpaksa menarik
kembali tongkatnya karena ia melihat uap hitam mengebul
keluar dari saputangan merah itu dan ia tahu bahwa uap itu
tentulah semacam bubuk berbisa yang amat berbahaya.
Baiknya Thio Houw dan dua orang pembantunya sudah
melompat mundur sehingga mereka terhindar dari
pengaruh bubuk berbisa itu. Akan tetapi ketika mereka
memandang, Kui Lian dan Kong Hwat sudah pergi dari
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
situ. Thio Houw hendak mengejar, akan tetapi
pembantunya berkata,
“Pangcu, perempuan siluman itu berbahaya sekali. Tidak
ada gunanya dikejar!”
“Aku harus menangkapnya!” seru Thio Houw yang terus
melompat mengejar. Akan tetapi tiba tiba terdengar ledakan
keras dan ruangan depan itu terbakar! Ternyata dalam
larinya, Kui Lian telah melepaskan semacam obat peledak
yang dapat membakar dan dengan jalan itu membebaskan
diri dari kejaran lawan!
Thio Houw terpaksa kembali dan menggeleng gelengkan
kepala.
“Berbahaya sekali....” katanya. Cepat api dapat
dipadamkan, agan tetapi pembantu yang tadi terpukul oleh
hudtim kepalanya, ternyata telah tewas!
“Aku akan cari dan bekuk perempuan itu!” Sin tung Lo
kai berkata seorang diri dengan kemarahan meluap luap.
“Mungkin Beng Han bicara betul, agaknya pembunuh Song
Tek Hong dan isterinya juga siluman wanita itu yang
membantu Kong Hwat.” Teringat akan Kong Hwat diam
diam kakek ini terheran heran mengapa pemuda itu
berwatak demikian jahat.
Malamnya kota Leng ting menjadi gempar dengan
terjadinya hal yang hebat. Rumah Sin turg Lo kai di serbu
orang, pertempuran hebat terjadi dan pada keesokan
harinya ketika orang orang berani mendekati, ternyata Sin
tung Lo kai Thio Houw dan lima orang anggota pimpinan
Ang sin tung Kai pang telah tewas, dan Kwan Li Hwa telah
lenyap! Tidak ada bukti bukti lain kecuali sebuah lengan
arang yang putus sebatas siku, lengan laki laki berbulu yang
berotot dan nampak kuat menyeramkan!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Apakah yang sesungguhnya terjadi di malam yang
menyeramkan itu? Memang mudah diduga bahwa orang
seperti Cia Kui Lian yang wataknya sudah seperti iblis saja,
tidak akan tinggal diam saja setelah terjadi pertempuran
siang tadi di rumah Sin tung Lo kai di mana boleh dibilang
ia dan Kong Hwat tidak berdaya menghadapi kakek yang
lihai itu.Malamnya ia mengajak Kong Hwat menyerbu lagi
dengan alasan bahwa sangat boleh jadi Bi Hui
disembunyikan oleh kakek itu!
“Kalau tidak disembunyikan, mengapa ia harus marah
marah? Dan mengapa pula pemuda yang hendak
dijodohkan dengan Bi Hui tidak kelihatan? Kemana pula
perginya ayah bunda pemuda itu? Agaknya mereka semua
berada di dalam dan sengaja tidak membolehkan Bi Hui
memperlihatkan diri,” demikian Kui Lian membujuk bujuk
sehingga Kong Hwat akhirnya dapat dibakar hatinya dan
setuju untuk menyerbu gedung itu pada malam hari. Ia
memang sudah tahu kelihaian Kui Lian di waktu malam
dengan senjata senjata rahasia dan sihirnya yang berbahaya.
Padahal Kui Lian tidak begitu perduli tentang Bi Hui.
Niatnya yang terutama ialah untuk membalas dendam
kepada kakek yang danggapnya telah menghinanya siang
hari itu.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XXXVIII
SEKIRANYA yang menyerbu hanya dua orang muda
itu, belum tentu kalau Sing tung Lo kai akan menemui
kematiannya. Akan tetapi, nasib dan nyawa manusia
memang sudah berada dalam kekuasaan Yang Maha
Kuasa. Kebetulan sekali di malam hari bukan hanya Kong
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hwat dan Kui Lian yang menyerbu rumah Sing tung Lo
kai!
Sebelum Kong Hwat dan Kui Lian yang menyerbu lewat
tengah malam tiba di situ, telah datang lain orang, seorang
laki laki tinggi besar yang usianya tigapuluhan, melompat
lompat ke atas genteng dan setibanya di atas rumah itu lalu
melayang turun dengan teriakan nyaring,
“Sing tung Lo kai, serahkan kitab dan pedang pusaka
warisan Tat Mo Couwsu kepadaku!”
Memang boleh dipuji keberanian orang kasar ini karena
tidak seperti penjahat biasa, ia langsung menuju ke ruangan
tengah dan berteriak teriak dengan cara laki laki
menantang!
Sin tung Lo kai sebentar saja keluar dengan tongkat
merahnya. Kakek ini melarang kawan kawannya ikut
menghadapi tamunya, melainkan menyuruh mereka
menjaga di luar, karena ia khawatir kalau kalau orang ini
mempunyai kawan kawan Thio Houw terkejut mendengar
ucapan itu, sama sekali tak pernah disangkanya bahwa
rahasianya diketahui orang. Biarpun ia menutup rahasia itu,
akan tetapi oleh karena ia melatih cucunya di rumah
sendiri, mau tak mau rahasia itu bocor juga dan diketahui
oleh beberapa orang anggota Ang sin tung Kai pang. Sudah
menjadi penyakit umum bahwa orang sukar sekali
menyimpan rahasia sehingga tanpa disengaja seorang di
antaranya membocorkan rahasia itu sampai terdengar oleh
seorang gagah di dunia kang ouw. Orang ini adalah Lee It
Kong yang berjuluk Thiat pi (Lengan Besi) Lee It Kong ini
seorang berusia tigapuluh tahun yang tinggi besar, berwatak
jujur dan kasar, terkenal sebagai perampok tunggal dan
maling budiman. Disebut maling budiman oleh karena
melakukan perampokan dan pencurian hanya terhadap
pembesar pembesar korup dan hartawan hartawan pelit.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kemudian hasil daripada rampokan dan pencuriannya
selalu ia bagi bagikan kepada orang orang melarat,
sedangkan dia sendiri tak pernah memakai pakaian indah
maupun hidup beroyal royalan. Hidupnya sederhana,
bahkan tidak karuan tempat tinggalnya, setengah
gelandangan. Akan tetapi kepandaiannya tinggi, karena Lee
It Kong ini adalah seorang anak murid Siauw lim pai yang
telah menamatkan pelajarannya masih belum puas lalu
belajar lagi ke Kun lun pai. Bahkan ia masih memperdalam
ilmunya dengan mempelajari segala macam ilmu silat yang
dianggapnya tinggi.
Thiat pi Lee It Kong ini tadinya ikut pula mencoba untuk
memperebutkan patung emas di Kim hud tah, akan tetapi
kalah dulu oleh nenek Soat Li Suthai yang memang
memiliki kepandaian lebih tinggi. Kemudian, karena
hubungannya memang luas dan orang orang kang ouw
amat suka kepadanya, tanpa disengaja ia mendengar bahwa
isi patung telah berada d tangan Sin tung Lo kai. Serta
merta ia berangkat ke Leng ting dan menyerbu rumah kakek
ketua pengemis itu.
Sin tung Lo kai mengenal Thiat pi Lee It Kong, maka
wajahnya menjadi merah karena marah.
“Orang she Lee, kau benar benar tidak tahu malu.
Malam malam datang ke sini apakah yang hendak menjadi
maling di rumah orang segolongan?” Bentak Sin tung Lo
kai, pura pura tidak mendengar tentang disebutnya kitab
dan pedang.
Lee It Kong tertawa bergelak. “Ha, ha, ha, Sin tung Lo
kai, seperti kau tidak tahu saja aku ini maling macam apa.
Di rumahmu seperti ini, apanyakah yang bisa dicuri? Aku
datang untuk minta kau sedikit mengalah. Setelah berada di
tanganmu setahun lebih kiranya sudah patut kalau aku
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mendapat giliran untuk membuka mata dan menambah
pengetahuan.”
“Apa yang kaumaksudkan, Thiat pi?” tanya Thio Houw,
masih pura pura.
“Apalagi kalau bukan rahasia peninggalan Tat Mo
Couwsu itu. Tentang pedang, biarlah melihat mukamu
yang sudah tua, aku mengalah. Akan tetapi kitab itu harus
kauberikan kepadaku!”
“Mengapa harus?”
“Karena akupun membutuhkannya.”
“Thiat pi Lee It Kong. Kau tahu bahwa untuk
mendapatkan benda pusaka membutuhkan kepandaian.
Kau memiliki kepandaian apakah maka berani kau
menghendaki kitab pusaka?”
Lee It Kong orangnya kasar dan jujur, akan tetapi agak
bodoh sehingga tidak dapat menangkap arti kata kata yang
sesungguhnya menantang ini. Ia membusungkan dadanya
dan berkata,
“Aku? aku adalah murid Siauw lim pai, aku dapat
memainkan delapanbelas macam senjata ringan dan berat.
Kedua lenganku sekeras besi dan aku sanggup mengalahkan
lawan yang bagaimana tangguhpun.”
“Hemm, ketahuilah bahwa untuk mendapatkan barang
pusaka dari tangan orang lain kau harus dapat mengalahkan
dulu orang itu.”
Tiba tiba Lee It Kong tertawa bergelak. “Begitukah?
Baik, kau siaplah dan rasai kekerasan tangan Thiat pi Lee
taihiap!”
Setelah berkata demikian, ia lalu melakukan serangan
dengan kedua tangannya yang bertenaga besar. Sin tung Lo
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kai mengeluarkan suara menyindir, lalu mengelak dan
membalas menerjang dengan hebatnya.
Pertempuran seru terjadi di ruangan tengah yang lapang
itu, di bawah penerangan lampu yang cukup terang. Kurang
lebih tigapuluh jurus mereka bertempur, terdengar suara
ramai ramai dan beradunya senjata di ruangan depan. Sin
tung Lo kai menjadi terkejut dan tahu bahwa di luar datang
musuh musuh lain menyerbu dan disambut oleh kawan
kawannya yang pada waktu itu hanya ada lima orang.
Akan tetapi lima orang itu kepandaiannya cukup tinggi
maka Sin tung Lo kai agak merasa lega.
Ia merasa gemas juga mengapa si kasar ini ternyata
tangguh juga dan ulet sekali. Sudah dua kali tongkat
merahnya mengenai pundak dan pinggang, akan tetapi oleh
karena Sin tung Lo kai tidak ingin mencelakai, maka kakek
ini tidak menggunakan semua tenagannya. Celakanya,
tubuh Si Lengan Besi itu ternyata kuat sekali sehingga
pukulan pukulan yang dilakukan dengan sebagian tenaga
itu seperti tidak dirasainya.
Teriakan teriakan di luar menyatakan bahwa kawan
kawannya terluka maka sambil memutar tongkatnya, Sin
tung Lo kai mengeluarkan serangan dahsyat Thian pi Lee It
Kong mana dapat menahannya? Ia menjerit keras karena
terdorong keras dan tubuhnya terlempar ke belakang
menabrak dinding dan ia roboh dengan kepala pening.
Kebetulan sekali pada saat itu Li Hwa berlari lari keluar
dengan pedang Giok po kiam di tangan. Lee It Kong yang
masih agak pening, melihat pedang pendek yang
mengeluarkan cahaya luar biasa itu, cepat mengulur tangan
hendak merampasnya. Akan tetapi Li Hwa yang kaget
mendengar adanya musuh musuh datang menyerbu dan
melihat kong kongnya baru saja mengalahkan seorang
musuh, kini melihat orang tinggi besar yang terlempar tadi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mengulur tangan seperti hendak menyerangnya cepat
menggerakkan pedangnya. Gerakannya luar biasa lihainya,
cepat dan menyamping tidak terduga sama sekali. Gadis ini
otomatis mempergunakan jurus ilmu Silat Im yang cin keng
dan.... di lain saat lengan tangan Lee It kong terbabat putus
sebatas sikunya!
Terdengar pekik dan jerit berbareng. Thiat pi Lee it Keng
Si Lengan Besi yang kini menjadi Si Lengan Buntung
memekik kesakitan dan menjadi jerih. Sambil menggigit
bibir menahan sakit ia masih melompat dan berlari cepat
meninggalkan rumah itu. Adapun jerit tadi keluar dari bibir
Li Hwa. Gadis cilik ini merasa ngeri juga setelah melihat
betapa pedangnya telah membabat putus lengan orang dan
sekarang lengan yang berbulu itu masih menggeletak penuh
darah di depan kakinya!
“Li Hwa, minggir....! Simpan pedang itu....!” seru Sin
tung Lo kai Thio Houw, akan tetapi ia tidak sempat lagi
karena tiba tiba dua orang muda menyerangnya dengan
pedang.Melihat bahwa mereka itu bukan lain adalah Kong
Hwat dan Kui Lian yang siang tadi sudah ia usir,
kemarahan Sin tung Lo kai memuncak. Apalagi melihat
Kui Lian yang telah menewaskan kawan nya.
“Bagus, kau mengantarkan nyawa sendiri! Tak usah aku
susah payah mencarimu!” seru Sin tung Lo kai sambil
memutar tongkatnya melakukan serangan serangan yang
dahsyat sekali kepada Kui Lian. Karena kakek ini tidak
mau memandang wajahnya, sukarlah bagi Kui Lian untuk
mempengaruhi dengan ilmu sihirnya, apalagi memang Sin
tung Lo kai seorang kakek yang banyak ilmunya. Batinnya
sudah kuat dan tidak mudah dipengaruhi ilmu pengasihan,
nafsunya terhadap wanita sudah beku.
Melihat kekasihnya didesak hebat, Kong Hwat cepat
membantu kekasihnya dan tak lama kemudian Sin tung Lo
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kai sudah dikeroyok dua. Lima orang pembantu kakek itu
ternyata sudah menggeletak tewas oleh dua orang muda
ini, roboh seorang demi seorang oleh pedang mereka
dibantu hoatsut dari Kui Lian.
Tusukan pedang Kong Hwat yang dilakukan cepat sekali
dan samping mengarah lambung Thio Houw membuat
kakek ini terpaksa menarik kembali serangannya yang
sudah mendesak Kui Lian. Dengan tubuh dimiringkan dan
tongkat diputar ia menangkis tusukan Kong Hwat,
membuat pedang pemuda itu menyeleweng saking kerasnya
tangkisan tongkat merahnya.
Akan tetapi pada saat itu Kui Lian sudah melakukan
serangan balasan dengan gerak tipu Giok li touw so (Sang
Dewi Menenun) pedangnya seperti jarum jarum keluar
masuk kain melakukan serangan gencar kepada kakek itu.
Thio Houw cepat membalikkan tongkatnya, memutar
tongkatnya merupakan segundukan sinar merah yang
“membungkus” pedang Kui Lian, kemudian tangan kirinya
dengan gerakan mencengkeram melakukan serangan ke
arah kepala Kui Lian dengan ganasnya. Jangan dipandang
ringan serangan kuku jari tangan kiri yang dipentang ini,
karena dengan mudah jari jari tangan ini dapat
menghancurkan tembok, apalagi kepala seorang wanita
muda yang halus seperti Kui Lian!
“Ayaaaa....!” Kui Lian berseru kaget dan cepat
melompat mundur sambil menarik pedangnya. Sin tung Lo
kai tentu akan mendesak terus kalau saja di saat itu pedang
Kong Hwat tidak sudah datang menyerangnya pula dari
belakang. Pemuda itu kini menyerangnya dengan sebuah
gerak tipu dari Ilmu Pedang Kim kong Kiam sut yang
biarpun belum sempurna dipelajarinya, namun sudah hebat
sekali bagi lawan.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Menghadapi serangan yang demikian hebat, terpaksa Sin
tung Lo kai meninggalkan Kui Lian untuk menghadapi
Kong Hwat. Demikianlah, biarpun kakek ini berusaha
mendesak dan merobohkan Kui Lian. namun ia selalu
dihalangi oleh KongHwat.
“Bangsat curang jangan main keroyokan!” tiba tiba
terdengar bentakan nyaring dari Li Hwa, bocah cilik yang
usianya baru delapan tahun itu, melompat maju menyerang
Kong Hwat dengan pedangnya! Li Hwa tadinya merasa
heran dan bingung sekali mendengar tentang keadaan
pemuda yang tadinya dicalonkan sebagai jodohnya.
Sekarang melihat pemuda itu datang lagi mengeroyok kong
kongnya, timbul rasa bencinya, maka tanpa dapat menahan
marahnya, bocah cilik yang tabah ini menyerang Kong
Hwat. Kong Hwat tersenyum mengejek dan cepat ia
menggerakkan pedangnya, membabat pedang di tangan
bocah perempuan itu sekuat tenaga.
“Traaanggg....!”
“Celaka!” Kong Hwat berteriak kaget karena pedangnya,
Kim kong kiam palsu telah patah menjadi dua oleh Giok po
kiam.
Kong Hwat cepat menubruk dan hendak merampas
pedang dari tangan Li Hwa. Akan tetapi ia meleset kalau
mengira bahwa ia akan dapat merampas pedang dengan
mudah. Li Hwa amat cepat dan ringan sekali gerakannya,
dan pedangnya digerakkan secara istimewa menyerang
Kong Hwat! Namun tentu saja ia yang baru belajar ilmu
silat tinggi selama setahun lebih, bukan tandingan Kong
Hwat yang cepat merangsek dan mendesaknya.
Dilain pihak, Kui Lian menjadi kewalahan sekali
menghadapi Sin tung Lo kai yang terus mengamuk dan
mendesaknya dengan tongkat merahnya,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sin lung Lo kai, tak tahu malu kau melawan orang
muda?” Tiba tiba terdengar suara mengejek disusul suara
ketawa menyeramkan seperti burung hantu.
“Suhu, tolong teecu....!” Cia Kui Lian berseru girang
mendengar suara ini. Ia sudah terdesak betul betul dan
berada dalam keadaan berbahaya. Menghadapi seorang
tokoh persilatan tua yang sudah banyak sekali
pengalamannya ini, hoat sutnya tak dapat
dipergunakannya.
“Sin tung Lo kai, kau tidak lekas lempar tongkatmu mau
tunggu kapan lagi?” tiba tiba Koai Thian Cu membentak
nyaring, suaranya penuh pengaruh. Biarpun Sin tung Lo kai
sudah menahan dengan tenaga lweekangnya dan
mengumpulkan semangat, tetap saja tangannya yang
memegang tongkat gemetar dan seperti lumpuh. Namun ia
berhasil menahan sehingga tongkatnya itu sudah terlepas
dari genggaman tangan.
Akan tetapi oleh karena serangan hoatsut dari Koai
Thian Cu ini amat hebat dan membutuhkan semua
perhatian untuk menghadapi, Sin tung Lo kai menjadi lalai
dan lupa akan adanya Kui Lian yang takkan segan segan
melakukan segala macam kecurangan. Sesaat kakek
pengemis itu berdiri membelakanginya menghadapi Koai
Thian Cu, siap melawan mati matian apabila kakek tukang
gwamia yang lihai itu menyerang, tiba tiba Kui Lian
mengebutkan saputangan merah dengan tangan kiri ke arah
mukanya Sin tung Lo kai yang merasa ada hawa
menyambar, cepat mengelak, namun hidungnya telah
mencium bau yang memabokkan, dan selagi ia terhuyung
huyung dengan pikiran kacau. Kebutan di tangan Kui Lian
sudah menyambar dan menotok jalan darah kematian di
belakang kepalanya. Kakek yang gagah perkasa itu roboh
dalam keadaan tak bernyawa pula.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sementara itu, Kong Hwat juga sudah berhasil
menangkap kedua lengan Li Hwa yang meronta ronta
dengan marah. Gadis cilik ini sama sekali tidak takut dan ia
tidak mau melepaskan pedang pusakanya biarpun lengan
kanannya dicengkeramoleh Kong Hwat.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil