Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 24 Juni 2018

PEDANG SINAR EMAS 9 TAMAT

====
BACA JUGA

“Lepaskan pedangmu!” berkali kali Kong Hwat berkata.
“Tidak sudi!” jawab
Li Hwa yang tetap
meronta ronta dan
menendang nendang
dengan kedua kakinya.
Kemudian melihat
kakeknya tewas,
kemarahan Li Hwa
meluap. Ia menangis
sambil meronta ronta,
bahkan menggunakan
gigi untuk menggigit
tangan Kong Hwat yang
memegangi tangannya,
sambil menyumpah
nyumpah.
“Siluman betina, aku bunuh kau....! Aku bunuh kau!
Kong kong....!” Li Hwa berteriak teriak.
“Kau harus dipukul! Pergilah menyusul kong kongmu!”
kata Kong Hwat marah. Ia melepaskan pegangan tangan
kanan untuk diangkat dan memukul kepala bocah itu.
Akan tetapi tiba tiba kepalan tangannya terasa sakit dan
ia sampai terhuyung huyung. Koai Thian Cu telah
menangkis kepalan itu dan mendorongnya. Di lain saat
tubuh Li Hwa sudah di kempit oleh Koai Thian Cu.
Sepasang matanya merah dan mengerikan memandang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kepada Kong Hwat sehingga pemuda ini menjadi kaget dan
ketakutan, Koai Thian Cu kini mengalihkan pandangan
matanya kepada Kui Lian. Suaranya parau dan penuh
penyesalan ketika ia berkata,
“Kui Lian, tak kusangka kau berubah menjadi siluman
ganas. Kau membunuh Sin tung Lo kai secara curang dan
memalukan sekali! Hayo kau ceritakan tentang
pembunuhan atas diri putera dan mantu Thian te Kiam
ong! Ada sangkut paut apakah dengan kau pembunuhan
keji itu?”
Muka Kui Lian menjadi pucat dan Kong Hwat merasa
tubuhnya menggetar ketakutan. Akan tetapi Kui Lian dapat
menetapkan hatinya. Sambil tersenyum manis sekali kepada
suhunya, ia menjawab,
“Suhu, teecu tidak mengerti maksud pertanyaanmu. Apa
sih hubunganku dengan kematian putera dan mantu Thian
te Kiam ong? Teecu tidak tahu....”
Koai Thian cu nampak marah “Kau tidak tahu menahu?
Betulkah? Kui Lian, kau berani membohong gurumu?
Berlutut kau....!!”
Seruan ini demikian nyaring berpengaruh sehingga
bukan saja Kui Lian, bahkan Kong Hwat juga sampai lemas
kakinya dan tanpa disadarinya iapun menjatuhkan diri
berlutut! Kui Lian sudah mewarisi ilmu hoatsut dan
karenanya ia lebih dapat bertahan terhadap daya perintah
suara gurunya. Iapun tahu bahwa kalau suhunya
menggunakan ilmunya memaksa, ia tak dapat tidak akan
mengaku. Oleh karena itu ia lalu mendahului memberi
pengakuan dengan suara lantang,
“Suhu, ketika suhu menyuruh mencari Kim kong kiam,
teecu bertemu dengan koko Liem Kong Hwat ini. Apa
dayaku, suhu, teecu jatuh cinta dan akhirnya mengikat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
perjodohan selama hidup dengan koko Kong Hwat. Kerena
cintaku kepadanya, maka teecu membantunya membalas
dendam atas diri Song Tek Hong dan isterinya. Jadi bukan
semata mata teecu membunuh mereka, akan tetapi ini
adalah urusan antara koko Kong Hwat dengan paman dan
bibinya. Bukan urusan kita, suhu!”
“Hemm, pandai kau bicara. Memang bukan urusanku,
akan tetapi mempunyai seorang murid yang begini jahat
seperti engkau, kau benar benar mengotorkan namaku. Kau
telah berbuat jina, kau merampok, membunuh dan
melakukan hal hal tak tahu malu dengan pemuda keparat
ini. Harus ku taruh di mana mukaku?”
“Suhu, apa salahnya orang bercinta? Apakah suhu
hendak memaksa teecu selalu melayani cinta suhu seperti
dulu? Apakah suhu menghendaki teecu kembli kedalam gua
gua yang gelap bersama suhu? Suhu, setiap orang
mempunyai kelemahannya terhadap cinta kasih!”
Wajah Koai Thian Cu sebentar pucat sebentar merah.
Diingatkan akan hal yang amat memalukan ini, ia seperti
menerima pukulan yang luar biasa hebatnya sehingga ia tak
dapat menjawab! Terbayang di depan matanya betapa
dahulu, ketika Kui Lan masih menjadi muridnya di dalam
gua gua yang sunyi, perempuan muda itu untuk dapat
memaksanya menurunkan ilmu ilmu hoatsut yang tinggi,
tidak ragu ragu menggoda batin kakek itu secara tidak tahu
malu. Karena bathin Koai Thian Cu memang tidak begitu
kuat, akhirnya kakek ini jatuh dan merendahkan
martabatnya dengan perbuatan jina. Sekarang Kui Lian
mempergunakan kesempatan ini untuk memukul gurunya
sendiri!
Diingatkan akan perbuatannya yang tidak patut itu, Koai
Thian Cu tidak kuasa menatap wajah Kui Lian lama lama
dan ia tidak ingin wanita itu akan bicara lebih banyak lagi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sehingga terdengar orang lain. Sambil mengeluarkan suara
seperti orang mengeluh panjang penuh penyesalan, Koai
Thian Cu menggerakkan kedua kakinya dan di lain saat ia
telah lenyap membawa tubuh Li Hwa bersamanya.
Ku Lian mengeluarkan suara seperti setan tertawa,
kemudian setelah meggeledah dan mendapatkan kenyataan
bahwa di situ tidak ada Bi Hui dan bahwa yang tinggal
didalam rumah hanya kakek pengemis itu bersama Li Hwa
dan kawan kawannya, Kong Hwat dan Kui Lian lalu pergi
meninggikan tempat itu cepat cepat.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedihnya hati Leng
Li dan suaminya ketika mereka mendapat berita dari para
anggauta Ang sin tung Kai pang tentang malapetaka yang
menimpa keluarganya di Leng ting. Cepat mereka berdua
pulang ke Leng ting dan dengan penuh duka mereka
mengurus pemakaman jenazah Sin tung Lo kai dan kawan
kawannya. Yang amat mendukakan dan menggoyahkan
hati Kwan Lee dan Thio Leng Li adalah hilangnya Li Hwa
tanpa bekas. Tak seorangpun tahu siapa yang menculik
anak itu, juga tak seorangpun tahu siapa yang membunuh
Sin tung Lo kai dan kawan kawannya tidak ada saksi hidup
lainnya kecuati Li Hwa yang lenyap. Bukti yang terdapat
hanyalah sebuah lengan tangan yang menyeramkan. Leng
Li tidak membuang potongan lengan ini, melainkan
memberinya obat supaya lengan itu tinggal utuh dan kering.
Perlu ia menyimpan lengan itu untuk dipergunakan dalam
penyelidikannya, karena sudah gagah ini akan menuntut
balas dan mencari jejak anaknya yang hilang.
Di antara para anggauta Ang sin tung Kai pang yang
banyak jumlahnya, ada yang melihat Kong Hwat dan Kui
Lian pada hari pembunuhan itu di kota Leng ting. Mereka
melaporkan hal ini kepada Leng Li yang menjadi terkejut
dan bingung sekali. Tak mungkin mereka itu ada
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hubungannya dengan pembunuhan ini, pikirnya. Lagi pula,
tak salah lagi, pembunuhnya tentu orang yang tatah
kehilangan lengan, agaknya biarpun pembunuh itu berhasil
membunuh Sin tung Lo kai dan kawan kawannya, namun
ia harus mengorbankan lengan tangannya. Maka Leng Li
lalu menyebar anak buahnya untuk menyelidiki seorang
kang ouw yang lengan kanannya buntung! Ia sendn lalu
pergi ke Liok can untuk berunding dengan Song Siauw
Yang tentang Liem Kong Hwat.
“Enci Siauw Yang, harap kau jangan salah mengerti dan
menaruh dugaan yang bukan bukan terhadap diriku,” kata
Leng Li. “Akan tetapi, sesungguhnya ada hal yang aneh
dengan putera mu Liem Kong Hwat itu. Ketika Song
taihiap dan istrinya terbunuh, bocah bernama Beng Han itu
menuduh bahwa pembunuhnya adalah Liem Kong Hwat
dan seorang wanita muda. Sekarang ketika terjadi peristiwa
pembunuhan ayahku juga orang orang melihat puteramu
bersama seorang wanita muda yang aneh berada di kota
Teng ing. Bukan sekali kali aku menuduh yang tidak ada
buktinya, akan tetapi kuharap demi kebaikan puteramu
sendiri, kau seharusnya melakukan penyelidikan.”
Siauw Yang mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya
itu. Hatinya sudah lama kesal melihat kelakuan Kong
Hwat. Sebagai seorang wanita ia dapat menduga bahwa
tentu ada apa apa yang tidak bersih antara pureranya dan
Cia Kui Lian murid Koai Thian Cu itu. Ia hanya
mengangguk angguk dan berkata,
“Kami sendiri tidak tahu Kong Hwat berada di mana,
akan tetapi ucapanmu itu menang baik sekali, adik Leng Li.
Kalau orang lain yang bicara agaknya aku akan
tersinggung. Akan tetapi kau bicara sebagai seorang
anggauta keluarga, maka terima kasih atas
pemberitahuanmu. Aku memang sudah mengambil
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
keputusan untuk sekali kali merantau di dunia kang ouw
untuk mencari Kong Hwat.”
“Sukurlah cici. Tentang mencari puteramu aku berjanji
akan mengerahkan anak buahku membantumu.”
Demikianlah, dua pasang orang tua yang berprihatin ini
lalu merantau untuk mencari anak masing masing. Biarpun
Ang sin tung Kai pang merupakan perkumpulan besar yang
banyak anggotanya, namun sia sia saja mereka mencari
jejak Li Hwa. Hal ini tidak mengherankan, oleh karena
mencari jejak Li Hwa berarti mencari jejak Koai Thian Cu,
padahal jejak kakek aneh dan sakti ini mana dapat diikuti
orang? Koai Thian Cu membawa pergi Li Hwa karena
selain untuk menolong nya, juga ia merasa berdosa kepada
Sin tung Lo kai dan ingin menebus dosanya dengan
menurunkan kepandaiannya kepada Li Hwa. Juga ia
melihat pedang di tangan Li Hwa dan gerakan gerakan
anak ini mencurigakan. Akhirnya dengan girang ia lalu
bahwa murid barunya inilah yang berhasil mewarisi kitab
dan pedang peninggalan Tat Mo Couwsu!
Dipinggir kota Kwan leng si sebelah baru terdapat
sebuah rumah besar yang megah dan mewah. Melihat
betapa setiap hari di pintu gerbang pekarangan depan
gedung ini selalu terjaga kuat oleh sedikitnya enam orang
yang membawa senjata tajam, orang tentu akan mengira
bahwa gedung itu milik seorang pembesar atau bangsawan
tinggi. Sebetul nya bukan demikian, karena rumah ini
hanya milik seorang hartawan she Bhok yang terkenal di
kota Kwan leng si sebagai Bhok wangee (hartawan Bhok)
yang dermawan dan kaya raya, memiliki sebagan besar
sawah yang terbentang di sekitar pinggir kota. Akan tetapi
bagi para perjaga dan tamu tamu yang banyak pergi datang
di rumah itu, dia terkenal sebagai Sin siang to Bhok Coan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
(Sepasang Golok Sakti), seorang bekas kepala perampok
besar yang amat terkenal di dunia pok lim!
Bhok Coan ini semenjak mudanya menjadi perampok
dan menjagoi dunia penjahat dengan sepasang goloknya.
Diapun amat terkenal di dunia kang ouw, terkenal diantara
orang orang gagah oleh karena Bhok Coan biarpun seorang
perampok, namun amat menghargai persahabatan dengan
orang orang gagah. Setelah berhasil dengan “pekerjaannya”
itu, dalam usia lamapuluh tahun mulailah Bhok Coan “cuci
tangan” dan hidup sebagai seorang hartawan di pinggir kota
Kwan leng si itu. Sampai sepuluh tahun ia hidup dalam
keadaan aman dan tenteram bersama keluarganya dan
terkenal sebagai seorang hartawan yang dermawan. Hanya
orang orang dari kalangan liok lim dan kang ouw saja yang
suka datang mengunjunginya tahu bahwa hartawan alim ini
sebetulnya adalah bekas perampok yang dahulu ditakuti
semua orang!
Berbeda dengan biasanya, pada hari itu rumah gedung
Bhok wangwe dihias dengan kertas kertas berwarna dan di
pekarangan depan dipasangi tarup. Orang orang kota Kwan
leng si dan penduduk dusun di sekelilingnya sudah
mendengar akan diadakannya pesta di rumah hartawan ini,
pesta untuk merayakan she jit (ulang tahun) hartawan itu
yang sudah berusia enampuluh tahun tepat.
Sudah lajim apabila seorang tokoh dunia liok lim atau
kang ouw mengadakan pesta, yang datang tentu orang
orang dan rimba persilatan, baik diundang maupun tidak
asal sudah kenal nama pasti memerlukan dalang memberi
selamat. Akan tetapi ada keistimewaannya dengan orang
she Bhok ini Di depan gedungnya dipasangi tulisan yang
berbunyi :
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setiap orang gagah di dunia diharapkan kehadirannya
untuk bergembira dan bantu menghabiskan harta keluarga
BHOK yang disediakan untuk pesta ini
Tidak saja di depan gedungnya sendiri, juga di lain lain
kota, di rumah tokoh tokoh kang ouw terkemuka yang
menjadi sahabat baiknya, Bhok Coan memasang
pengumuman seperti ini dengan mencatat hari dan tanggal
pesta she jitnya dirayakan! Tentu saja tulisan yang amat
kasar namun ramah dan jujur ini menarik perhatian semua
orang gagah, biar pun yang belum kenal kepada Bhok
Coan, menjadi berani untuk melangkah kaki menyimpang
dari tujuan perjalanan untuk ikut hadir dalam pesta orang
she Bhok yang aneh itu.
Pada hari yang ditentukan, banyak sekali tamu datang
berbondong bondong mengunjungi gedung ini. Tamu tamu
terdiri dan bermacam macam orang yang aneh aneh baik
bentuk tubuh maupun pakaian mereka. Tentu saja pesta ini
amat menarik perhatian penduduk setempat sehingga
mereka semenjak pagi sekali sudah memenuhi jalan di luar
pekarangan keluarga Bhok, berdesak desakan nenonton
para tamu.
Bhok Coan sendiri menyambut kedatangan para tamu.
Biarpun usianya sudah enampuluh tahun, Sin siang to Bhok
Coan masih kelihatan gagah. Tubuhnya gemuk pendek,
dadanya bidang dan membusung ke depan. Di pinggang
kirinya tergantung sepasang goloknya yang sudah menjadi
kawan setianya semenjak ia berumur dua puluh tahun dan
terjun di dunia kang ouw, golok sepasang yang
membantunya sehingga namanya menjadi tenar.
Ketika melihat datangnya ketua ketua partai besar seperti
Thian Beng Hwesio dari Go bi pai, Thian Cin cu Tosu dari
Kun lun pai, Pak Kong Hosiang dan Siauw lim pai, Tiauw
Beng Cinjin dan Kim lian pai, dan beberapa tokoh besar
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dari pelbagai partai terkemuka, diam diam Bhok Coan
menjadi berdebar hatinya. Tak disangkanya bahwa ulang
tahunnya akan mendapat kunjungan tokoh tokoh besar ini.
Akan tetapi tentu saja ini merupakan kehormatan besar
sekali baginya dan cepat cepat ia menyambut para
“locianpwe” ini dengan segala kehormatan dan
menempatkan mereka diruangan terhormat, yaitu di
ruangan tengah yang terlihat oleh para tamu yang berada di
ruangan lainnya.
Di anara para tamu, banyak juga terlihat tokoh tokoh
wanita di dunia kang ouw, bahkan banyak yang tidak
dikenal oleh Bhok Coan. Akan tetapi karena percaya bahwa
mereka ini tentu orang orang gagah yang memiliki
kepandaian, semua diterima oleh tuan rumah dengan
ramah tamah. Di antara para wanita ini terdapat seorang
wanita muda yang cantik jelita dan amat gagah sikapnya. Ia
memberi hormat kepada Bhok Coan dengan kata kata
singkat,
“Aku Song Bi Hui, mewakili suhu Bu eng Lo kai dan
suthai Soat Li Suthai menghaturkan selamat kepada Bhok
Lo enghiong dan mendoakan panjang usia.”
Nama Song Bi Hui tidak dikenal oleh Sin siang to Bhok
Coan, akan tetapi demi mendengar nama Bu eng Lo kai
dan Soat Li Suthai, ia cepat cepat memberi hormat kepada
nona jelita itu sambil berkata,
“Terima kasih, terima kasih.... selamat datang dan
silahkan lihiap duduk!” Ia sendiri mengantar tamu ini ke
ruangan tengah, tempat terhormat. Siapa yang tidak pernah
mendengar nama Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai yang
amat terkenal? Sudah tentu ia harus menempatkan murid
dua orang sakti itu di tempat terhormat, kalau tidak ia
khawatir akan merendahkan dua orang terkenal itu dan
membuat mereka tak enak hati.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Semua tokoh di ruangan terhormat itu melirik penuh
perhatian ketika nona cantik itu memasuki ruangan diantar
oleh tuan runah sendiri. Melihat semua locianpwe yang
berada di situ memandang dengan perasaan heran, Sin
siang to Bhok Coan menjadi tidak enak sendiri dan sambil
menjura dan menggangguk ke kanan kiri ia berkata,
“Kiranya dua orang lo cianpwe bernama Bu eng Lo kai dan
Soat Li Suthai berhalangan hadir dan mewakilkannya
kepada murid mereka, Song lihiap ini.”
Semua orang baru mengerti bahwa nona yang baru
masuk ini adalah murid Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai,
maka mereka tidak lagi terheran heran, hanya memandang
ringan karena biarpun dua orang tokoh besar itu lihai sekali,
namun nona ini hanyalah murid saja.
Adapun Bhok Coan yang makin lama merasa makin tak
enak hati melihat hadirnya banyak tokoh besar yang sama
sekali tidak diduga duganya, lalu mendekati seorang kawan
baiknya, yaitu Thio Kun seorang yang terkenal banyak
hubungannya dan selalu tahu akan peristiwa peristiwa
penting di dunia kang ouw. Ia menyatakan keheranannya
tentang kehadiran tokoh tokoh besar ini. Thio Kun
menariknya ke samping lalu berkata perlahan,
“Mungkin ada hubungannya dengan muncul nya partai
baru yang menyebut diri Thian hwa kauw (Agama Bunga
Surga). Kabarnya para locianpwe hendak melakukan
pertemuan dan agaknya di sinilah tempatnya,” kata Thio
Kun.
Bhok Coan sudah mendengar tentang munculnya
perkumpulan agama sesat itu.Memang banyak sekali pihak
Mo kauw (agama sesat) yang mendirikan perkumpulan
bermacam macam dan yang selalu bertentangan dengan
cabang cabang persilatan yang sudah ada, akan tetapi
kabarnya Thian hwa kauw ini merupakan perkumpulan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
agama yang lain daripada yang lain. Kabarnya banyak
sekali orang gagah yang menceburkan diri dan mau menjadi
anggauta perkumpulan ini, bahkan banyak anak murid
partai partai besar meninggalkan perguruan dan
menggabungkan diri dengan Thian hwa kauw ini. Tentu
saja hal ini menimbulkan kegemparan dan kiranya sekarang
para locianpwe itu hendak merundingkan soal ini di
tempatnya, sekalian menghadiri perayaan she jit nya! Diam
diam di samping kebanggaan mendapat kehormatan besar
ini, juga Sin siang to Bhok Coan merasa gentar. Siapa tahu,
kalau kalau akan terjadi sesuatu yang hebat di sini!
Akan tetapi, dalam kegembiraannya Bhok Coan tidak
memikirkan pula akan hal itu. Ia menerima ucapan ucapan
selamat dan banyak pula menerima sumbangan sumbangan
dan tanda mata tanda mata dari para kawannya. Pesta
berjalan gembira seakan akan takkan pernah terjadi sesuatu.
Song Bi Hui duduk di antara para locianpwe, kakek
kakek dan dan nenek nenek yang sikapnya garang. Namun
Bi Hui bersikap tenang saja, sepasang matanya menatap
wajah setiap orang penuh perhatian, akan tetapi mulutnya
diam saja tak pernah mengeluarkan suara.
Gadis ini banyak sekali berubah kalau di bandingkan
dengan sepuluh tahun yang lalu. Dahulu ia terkenal sebagai
seorang gadis yang lincah gembira dan cantik jelita.
Sekarang dia masih cantik, biarpun usianya sudah duapuluh
delapan tahun lebih, bahkan kecantikannya lebih matang
dan lenyap sifat kekanak kanakannya yang dahulu.
Wajahnya masih nampak segar dan penuh kelembutan,
akan tetapi sinar mata dan tekukan mulutnya
membayangkan kegagahan dan kekerasan karena
penderitaan. Memang, gadis ini banyak mengalami derita
batin semenjak kedua orang tuanya terbunuh. Seperti telah
dituturkan di bagian depan, Bi Hui bertemu dengan dua
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
orang sakti, yaitu Bu eng Lo kai pengemis kudisan dan Soat
Li Suthai nenek bongkok. Dua orang ini kepandaiannya
tinggi sekali. Lebih tinggi daripada ilmu kepandaian kedua
orang tua Bi Hui. Oleh karena itu, menjadi murid mereka
berarti kemajuan yang hebat juga untuk Bi Hui. Dari Bu
eng Lo kai ia mendapat warisan ilmu ginkang dan silat
tangan kosong sedangkan dari Soat Li Suthai ia menerima
pelajaran ilmu pedang yang diciptakan dari tongkat nenek
yang lihai itu.
Setelah menamatkan pelajarannya, kedua orang gurunya
memberi ijin kepada Bi Hui untuk mulai merantau seorang
diri dengan tujuan hanya satu, yaitu menyelidik tentang
kematian ayah bundanya dan mencari serta membalas
pembunuh orang orang tuanya.
“Bi Hui, kau pergilah ke kota Kwan leng si. Di sana Sin
siang to Bhok Coan sedang mengadakan pesta she jit nya.
Kabarnya tokoh tokoh kang ouw juga hendak mengadakan
pertemuan di sana untuk membicarakan tentang munculnya
Thian hwa kauw yang menghebohkan itu. Kau wakililah
kami untuk datang ke sana. Selain kau akan bertemu
dengan orang orang kang ouw, siapa tahu akan dapat
mencari keterangan tenang pembunuh pembunuh orang
tuamu, juga kau harus mewakili kami mendengar apa yang
mereka lakukan terhadap agama baru itu. Sebagai murid
kami kaupun harus memperlihatkan kesanggupanmu
membantu usaha mereka, asal saja usaha itu menurut
pendapatmu baik. Terserah kepadamu untuk
mempertimbangkannya. Kami sudah terlalu tua untuk
segala urusan macam itu. Nah, kau berangkatlah.”
Maka pergilah Bi Hui, langsung ke Kwan leng si. Ia tidak
memperdulikan pandang mata para tamu laki laki, terutama
yang muda muda, pandang mata yang mengandung
kekaguman dan agak kurang ajar. Diam diam ia mencari
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
cari dan mengharapkan untuk dapat bertemu dengan tiga
orang, yaitu Liem Kong Hwat atau Cia Kui Lian atau Sin
tung Lo kai Thio Houw. Dari tiga orang ini kiranya ia akan
dapat mulai penyelidikannya tentang pembunuhan orang
tuanya. Akan tetapi ia tidak melihat seorangpun di antara
mereka, maka ia menjadi kecewa dan membuka telinga
mendengarkan percakapan para locianpwe yang duduk di
dalam ruangan itu.
Tiba tiba seorang kakek tua menepuk meja keras keras
sehingga cawan cawan arak berkerontangan.
“Sayang seribu sayang....!” katanya sambil menarik
napas panjang. “Kalau Sin tung Lo kai Thio Lo enghiong
dapat hadir di sini, alangkah senangnya mengadu kekuatan
minum arak dengan dia!”
Seorang kakek lain yang berpakaian seperti tosu di
sebelah kiri kakek tadi juga menarik napas.
“Jaman sekarang ini para penjahat tidak seperti dulu.
Sekarang banyak oang tak tahu malu, banyak tikus tikus
curang dan pengecut. Sin tung Lo kai yang gagah perkasa
itu terpaksa tewas dalam keadaan penasaran, tak tahu siapa
yang telah membunuhnya.”
Mendengar ini, Bi Hui mengeluh di dalam hatinya. Jadi
Sin tung Lo kai juga mengalmi nasib seperti ayah
bundanya?
“Pembunuhan pembunuhan keji dan penuh rahasia yang
seperti terjadi pada Sin tung Lo kai itu juga terjadi pada diri
ketua Leng san pai di timur dan ketua Hek mau pang di
pantai Huang ho. Hemm, ini bersamaan benar dengan
anehnya kemunculan perkumpulan Thian hwa kauw!” kata
Thian Beng Hwesio tokoh Go bi san yang mengebut ngebut
kepalanya dengan kipas.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mendengar disebutnya perkumpulan Thian hwa kauw
ini, tidak hanya Bi Hui, juga yang lain lain segera menaruh
perhatian besar. Tokoh Go bi pai itu melanjutkan kata
katanya ketika melihat semua mata memandang ke
arahnya.
“Bukan rahasia lagi bahwa munculnya Thian hauw
kauw amat mencurigakan dan tak perlu di tutup tutupi lagi
bahwa banyak anak murid partai partai besar telah murtad
dan memasuki agama sesat itu.”
“Ha, Thian Beng Losuhu lupa menyebutkan bahwa ada
tiga orang murid Go bi pai, dua laki laki dan seorang gadis,
semua masih amat muda muda, juga menjadi murtad dan
ikut ikutan memasuki perkumpulan itu,” berkata seorang
kakek dengan tiba tiba sambil mengerling ke arah hwesio
yang mengebutkan kipasnya itu.
Thian Beng Hwesio melirik ke arah kakek itu dan
mukanya berubah.
“Kirarya Thian Cin Ciu Tosu juga sudah tahu akan hal
itu. Hemm, memang memalukan sekali akan tetapi pinceng
juga mendengar tentang murid murid Kun lun pai....”
“Memang, memang....” Thian Cin Cu kakek tokoh Kun
lun pai mengangguk anggukkan kepala dengan cepat. “Tak
perlu pinto menyangkal pula. Bahkan ada lima orarg
pemuda anak murid kami yang lenyap dan kabarnya
memasuki perkumpulan jahat itu. Benar benar memalukan
nama baik kita…”
“Thian hwa kauw harus dibasmi dari muka bumi. Hanya
tidak tahu di mana pusatnya, mohon cuwi beri tahu agar
pinceng bisa pergi ke sana menangkap kepalanya,” kata Pak
Kong Hosiang hwesio tokoh Siauw lim pai dengan suara
besar. Tiba tiba seorang pelayan memasuki ruangan itu dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyerahkan kartu nama kepada Sin siang to Bhok Coan
yang berseru gembira ketika membaca nama itu,
“Thiat pi Lee It Kong taihiap datang, lohu harus
menyambutnya sendiri!” Cepat ia bangkit dari tempat
duduknya dan keluar untuk menyambut tamu baru itu. Tak
lama kemudian tuan rumah datang lagi mengiringkan
seorang laki laki gagah, berusia kurang lebih empatpuluh
tahun, tubuhnya tinggi besar, mukanya tampan dan
membayangkan perasaan kejujuran, lengannya buntung
sebatas siku sehingga lengan bajunya tampak kosong dan
tergantung tak berdaya di dekat pinggangnya. Di sebelah
kiri laki laki buntung gagah yang bernama Thiat pi Lee It
Kong ini, berjalan dua orang kakek terbongkok bongkok
dibantu oleh tongkat mereka yang butut. Dua orang kakek
ini tidak menarik perhatian orang, mereka ini kelihatan
seperti pelayan atau anak buah orang gagah she Lee itu.
Padahal mereka itu bukan lain adalah guru dan paman guru
orang she Lee itu.
Ketika Thiat pi Lee It Kong dan dua orang kakek itu
diantar oleh tuan rumah lewat di dekat ruangan para tamu
di bagian kiri, yaitu bagian tamu tamu “biasa” dan bukan
tempat terhormat, tiba tiba terdengar seruan tertahan.
Karena para tamu sedang bicara gembira, tak seorangpun
memperhatikan seruan ini.
Baru saja Thiat pi Lee It Kong dan dua orang kakek itu
dipersilahkan duduk di ruangan terhormat, seorang wanita
setengah tua yang masih nampak cantik dan keren,
memasuki ruangan itu, membawa sebuah bungkusan yang
panjangnya ada dua kaki. Wanita ini langsung
menghampiri Sin siang to Bhok Coan, lalu memberi hormat
dan menyerahkan bungkusan itu kepada tuan rumah sambil
berkata,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bhok lo enghiong, sudilah memberikan bingkisan ini
untuk salah seorang tamu yang terhormat!”
Bhok Coan menatap wanita itu. Wanita yang usianya
paling banyak limapuluhan tahun, namun potongan muka
yang cantik masih membayang jelas. Wanita ini tidak
membawa senjata tajam seperti orang orang kang ouw oleh
karena tadi ia menempatkan wanita itu di ruangan biasa
dan mengira bahwa dia hanya seorang kang ouw biasa saja.
Biarpun tidak senang melihat gangguan ini, namun sebagai
tuan rumah yang tidak mengenal siapa adanya wanita ini,
Bhok Coan menjawab sambil tertawa memperlihatkan
keramahan tuan rumah,
“Toanio, bingkisan ini harus disampaikan kepada
siapakah? Aku tidak melihat ada tulisan alamatnya di luar
bungkusan,”
“Kau bukalah saja, lo enghiong. Nanti kau akan tahu
sendiri,” jawab wanita itu, tegas dan sikapnya keren.
Melihat peristiwa ini, semua orang di dalam ruangan
terhormat itu menaruh perhatian. Hanya satu orang saja di
ruangan itu yang kaget sekali melihat wanita setengah tua
itu dan dia ini adalah Song Bi Hui. Akan tetapi, diapun
heran dan ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Adapun Sin siang to Bhok Coan sambil tersenyum
senyum lalu membuka bungkusan itu mulutnya berkata
perlahan,
“Kau aneh sekali, toanio....”
Akan tetapi, tak dapat di lukiskan betapa terkejutnya
ketika bungkusan itu telah di bukanya. Sin siang to Bhok
Cian adalah seorang kang ouw yang kawakan, bekas
perampok besar yang tidak segan segan melakukan
pembunuhan dan sudah sering kali menghadapi hal tebat.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Namun, begitu bungkusan itu ia buka, serta merta matanya
terbelalak, ia mengeluarkan seruan kaget dan isi bungkusan
itu jatuh ke bawah, terlepas dari pegangannya, isi
bungkusan itu sebuah lengan tangan lengkap dengan lima
buah jari tangannya, jatuh berdebuk di atas lantai di tengah
ruangan, mengerikan.
“Toanio, mengapa kau main main?” tegurnya gelisah,
tahu bahwa ini adalah tanda yang tidak baik, tanda
datangnya kekacauan dalam pesta she jit nya. “Apa kau
sengaja hendak mengacaukan pestaku?”
Wanita itu memandang tajam, sikapnya galak. “Bhok
enghong, siapa main main denganmu? Bingkisan ini
memang diperuntukkan seorang tamumu. Suruh dia datang
menerimanya!”
Kini Bhok Coan dan semua orang menoleh ke arah Thait
pi Le It Kong. Orang gagah yang buntung lengannya ini
satu satunya orang yang kiranya ada hubungan dengan
persoalan ini. Akan tetapi Sin siang to BhokCoan tentu saja
tidak mau menghina tamunya dan dengan marah ia
kembali berpaling kepada wanita itu dan berkata keras,
“Toanio, sebagai tamu tentu saja kau mendapat
penghormatanku. Akan tetapi perbuatan toanio ini benar
benar keterlaluan sekali. Harap toanio tidak menghina
orang dan mencari gara gara. Ambillah kembali benda
menjijikkan ini dan bawalah.”
“Orang she Bhok! Aku hanya minta kau
mempersilahkan orang yang berhak menerima bingkisan
ini, mengapa kau banyak cerewet? Biarpun hal ini terjadi di
rumahmu, akan tetapi sesungguhnya tiada sangkut pautnya
denganmu. Mengapa kau seperti hendak melindungi orang
itu?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Siapakah dia? Bagaimana aku bisa mengerti siapa
orangnya yang wajib menerima benda mengerikan ini?”
kata Bhok Coan membela diri.
Wanita itu menggerakkan bibirnya mengarah senyum
penuh ejekan dan matanya menyapu ke arah para tamu
untuk kemudian berhenti pada wajah Thiat pi Lee It Kong.
“Apa sih sukarnya untuk mengetahui orang nya. Anak
kecilpun dapat melihat siapa yang kehilangan lengan di
dalam ruangan ini.”
Kini semua mata memandang kembali ke arah Lee It
Kong dan semua orang menahan napas, merasa tegang.
Tak salah lagi, pikir mereka. Tentu Lee It Kong ada
hubungannya dengan peristiwa ini.
Thiat pi Lee It Kong berubah air mukanya ketika tadi ia
melihat lengan itu menggelinding ke luar dari bungkusan
dan kini menggeletak di atas lantai. Ia masih mengenal
lengannya sendiri biarpun lengan itu kulitnya sudah
berkerut kerut, sedikitnya ia mengenal bentuk jari jari
tangannya Kini melihat semua mata memandang ke
arahnya, ia lalu membusungkan dada membesarkan hati,
melangkah maju dan menjura kepada wanita itu sambil
berkata kepada Sin siang to Bhok Coan,
“Bhok lo enghiong, karena di dalam mangan ini hanya
siauwte seorang yang buntung lengannya, tentulah toanio
ini ingin berurusan dengan siauwte. Biarkan siauwte
membereskan urusan ini.”
Bhok Coan terpaksa mengundurkan diri dan seperti tamu
tamunya, iapun kini memandang ke arah dua orang yang
telah berhadapan itu. Wanita itu kini memandang kepada
Lee It Kong, matanya tajam menyelidik. Adapun Lee lt
Kong membungkuk dan berkata,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Toanio memang benar lenganku yang kiri telah
buntung, akan tetapi belum tentu kalau lengan yang kau
bawa ini adalah benar lenganku. Bagaimana kau bisa
memastikan bahwa itu adalah lenganku dan kau sengaja
datang ke sini untuk mengacaukan dan menghina tuan
rumah?”
Tiba tiba wanita itu melangkah maju, sepasang matanya
mengeluarkan cahaya berapi dan kata katanya keras dan
nyaring sekali, “Thiat pi Lee It Kong, tidak percuma aku
melakukan penyelidikan sampai hampir sepuluh tahun
lamanya. Kalau kau benar laki laki, coba katakan di mana
kau kehilangan lenganmu?”
Merah muka Thiat pi Lee It Kong dan ia menjawab
gagap, “Di.... di. ..” tiba tiba ia menjadi marah karena ia
merasa malu sekali kalau harus membuka rahasia mengapa
dan bagaimana ia kehilngan lengannya “Hm, kau ini
siapakah berani kurang ajar di hadapanku? Di mana aku
kehilangan lenganku, sama sekali bukan urusanmu!”
Wanita itu tertawa mengejek “Orang she Lee, potongan
lenganmu berada di dalam tanganku. Bagaimana kau ada
muka untuk bilang bahwa aku tidak ada urusan dengan hal
itu? Kalau kau benar benar jantan dan tahu malu, coba
jawab, bukankah kau kehilangan lenganmu itu di Leng
ting?”
Thiat pi Lee It Kong adalah seorang laki laki yang
mengutamakan kegagahan dan berwatak kasar jujur. Kini
kehormatannya dalam ujian. Memang ia merasa malu
kalau diketahui orang bagaimana ia kehilangan lengan,
akan tetapi ia akan merasa lebih malu lagi kalau tak dapat
menjawab pertanyaan wanita ini, apalagi untuk
membohong, ia tidak sudi. Sambil membusungkan dada
dengan suara keras menjawab,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Betul, aku kehilangan lengan di Leng ting, kau mau
apa?”
“Di Leng ting dalam rumah Sin tung Lo kai?” wanita itu
mendesak dengan mata berapi.
Wajah Lee It Kong makin merah, rahasia itu agaknya
takkan dapat ditutup tutupi lagi. Ia mengangguk, “Betul.”
“Bagus, keparat jahanam. Terimalah pembalasanku!”
Wanita itu tiba tiba mencabut sesuatu dan tahu tahu
sebatang tongkat merah pendek telah berada di tangannya.
Dengan tongkat ini ia melakuan serangan dahsyat ke arah
tenggorokan dan ulu hati Lee It Kong. Sekali serang, ujung
tongkat itu telah menotok dua bagian jalan darah yang akan
mengantar nyawa orang pulang ke asal kalau mengenai
tepat. Lee It Kong mengeluarkan seruan kaget dan cepat
menggunakan gerak loncat Koai liong hoan sin (Naga
Siluman Berjungkir Balik) untuk menghindarkan diri dari
dua totokan tongkat itu. Akan tetapi baru saja tubuh nya
yang berjutmpalitan itu turun ke atas lantai, ujung tongkat
lawannya kembali telah mengejar dan mengurungnya
dengan totokan totokan berbahaya!
“Nanti dulu! Bukan sikap orang gagah menyerang orang
tanpa alasan kuat. Aku mau bicara dulu!” teriak Lee It
Kong sambil mengelak ke kanan kiri dengan sibuk dan
terdesak hebat. Wanita itu mengeluarkan suara ketawa
mengejek dan benar benar menahan tongkatnya sehingga
Lee It Kong dapat bernapas lega karena untuk sementara
terlepas dari ancaman maut.
“Jahanam she Lee, kau masih mau bicara apalagi?”
“Kau ini perempuan liar siapakah? Selama hidupku
belum pernah aku berjumpa denganmu, mengapa kau
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
datang datang menyerangku kalang kabut? Coba
kaukatakan, apa dosaku?”
Wanita itu tersenyum, masih manis senyumnya namun
di balik kemanisan itu tersembunyi ancaman maut yang
mengerikan, sambil menudingkan ujung tongkat merahnya
ke arah dada Lee It Kong, ia berkata,
“Orang she Lee, kau sudah melakukan dosa besar di Ang
sin tung Kai pang, masih tidak mengenal tongkat ini? Aku
adalah Thio Leng Li, puteri dan Sin tung Lo kai! Hemm,
kau masih ingin mengetahui dosa dosamu? Baiklah,
sebelum mampus kau dengarkan lagi dosa dosamu agar di
saksikan oleh para enghiong d sini dan agar kau jangan
mampus penasaran! Kau telah menyerbu Ang sin tung Kai
pang telah membunuh ayahku Sin tung Lo kai dan
menculik puteriku, Kwan Li Hwa! Sekarang aku hendak
menawanmu, menyiksamu sampai kau mengaku di mana
kau sembunyikan anakku kemudian kau akan ku bunuh,
kubelek dadamu kucabut jantungmu untuk dipakai
bersembahyang di depan makam ayah!”
Tidak hanya Lee It Kong yang mengeluarkan keringat
dingin, juga banyak orang menjadi pucat mendengar kata
kata yang amat menyeramkan ini. Lee It Kong membanting
banting kakinya di lantai sambil berkata,
“Celaka.... celaka....! Lee It Kong, kau memang bernasib
sial sekali.” Dia memukuli kepala nya sendiri. “Ingin
merebut kitab dan pedang, akibatnya lengan buntung dan
masih didakwa menjadi pembunuh dan penculik. Celaka,
Thio toanio aku bersumpah bahwa aku tidak membunuh
ayah mu dan tidak menculik anakmu.”
“Pengecut rendah! Bukti utama adalah lenganmu yang
buntung dan tertinggal di rumah kami masih hendak
menyangkal? Benar tak tahu malu!” Sambil berkata
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
demikian Thio Leng Li, wanita itu, kembali menggerakkan
tongkat merahnya dan menyerang Lee It Kong dengan
dahsyat.
“Bukan aku.... aku tidak berdosa....” seru Lee It Kong
sambil melompat ke belakang. Namun Leng Li tidak
memperdulikan kata katanya lagi, tongkat merahnya
mendesak terus dengan gerak gerak tipu paling lihai dari
ilmu tongkat warisan Sin tung Kai pang. Sebelum Lee It
Kong sempat membalas, tiba tiba ujung tongkat merah telah
menotok jalan darah tai twi hiat dan seketika itu juga tubuh
yang tinggi besar dari Lee It Kong menjadi tegang dan kaku
seperti sebuah patung kayu! Thio Leng Li mengangkat
tongkatnya, memukul ke arah pundak lawannya dengan
maksud membikin hancur tulang pundak agar selanjutnya
orang she Lee itu tidak akan dapat melawan lagi.
Tiba tiba berkelebat bayangan hitam.
“Plak!!” Tongkat merah bertemu dengan tongkat bambu
yang menangkis. Thio Leng Li merasa tangannya sakit dan
cepat melompat mundur. Di depannya telah berdiri seorang
kakek bongkok yang dandanannya sederhana saja. Dia
adalah seorang di antara dua kakek yang tadi datang
bersama Lee It Kong. Dengan tenang kakek ini
menggerakkan tongkatnya menotok punggung Lee It Kong
yang segera roboh akan tetapi terbebas dan totokan Leng
Li. Dia segera berlutut di depan kakek itu dan berkata,
“Harap suhu lindungi teecu.”
“Hemm, Lee It Kong. Aku tahu bahwa Sin tung Lo kai
adalah seorang gagah dan bahwa perkumpulannya Ang sin
tung Kai pang adalah perkumpulan terhormat. Tentu anak
perempuannya juga bukan orang sembarangan dan dapat
dipercaya. Hayo kau ceriterakan dengan sejujurnya,
bagaimana kau kehilangan lengan di rumah Sin tung Lo
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kai? Awas, kalau kau membohong, aku sendiri yang akan
menghancurkan tulang dipundakmu kemudian
menyerahkan kau kepada Thio Lihiap!”
“Ampun, suhu. Sesungguhnya teecu tidak membohong
kepada Thio toanio dan teecu tidak sekali sekali merusak
nama baik suhu….”
“Cukup! Aku tidak perduli tentang nama. Selamanya
aku tak pernah menonjolkan nama. Hayo cerita yang jelas!”
bentak kakek itu.
“Kurang lebih sepuluh tahun, teecu mendengar sepintas
lalu dari percakapan dua orang anggauta Ang sin tung Kai
pang bahwa di rumah Sin tung Lo kai tersimpan kitab dan
pedang peninggalan Tat Mo Couwsu, yaitu Im yang cin
keng dan Giok po kiam. Karena sudah lama teecu
mendengar akan kehebatan dua benda ini dan akan
membuat pemiliknya menjadi gagah tak terlawan, teecu
memberanikan hati mendatangi Sin tung Lo kai dan minta
dua benda itu. Akan tetapi dalam pertempuran dengan Sin
tung Lo kai, teecu telah dikalahkan.”
“Jadi kau tidak membunuh Sin tung Lo kai?” tanya
gurunya.
“Mana teecu bisa? Dalam pertempuran beberapa belas
jurus saja teecu sudah dirobohkan. Bagaimana teecu bisa
membunuhnya? Juga, kedatangan teecu itu bukan
bermaksud membunuh, melainkan menguji kepandaian
sekalian minta pedang dan kitab.”
Kakek itu memutar tubuh menghadapi Thio Leng Li.
“Thio toanio, kiranya omongan muridku ini boleh
dipercaya Aku sendiri tidak percaya dia mampu membunuh
ayahmu.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Memang tadinya Leng Li juga ragu ragu, masa orang
yang dalam beberapa gebrakan saja sudah dapat ia totok ini
dapat membunuh ayahnya. Akan tetapi siapa tahu kalau
kalau Lee It Kong datang dengan bantuan orang orang
pandai. Maka ia masih belum mau mengalah, lalu bertanya
kepada Lee It Kong.
“Kalau kau tidak membunuh ayahku, kau apakan
anakku Li Hwa? Mengapa ia hilang terculik?”
Jawaban Lee It Kong benar benar mengagetkan dan di
luar dugaan orang. “Kau mau tahu tentang anakmu itu?
Bukankah dia seorang anak perempuan tujuh delapan
tahun, membawa sebatang pedang pendek bertabur
kemala?”
“Betul.... betul dia. Li Hwa anakku....!” kata Leng Li
penuh gairah dan harapan.
Lee It Kong menarik napas parjang. “Satu satunya hal
yang kuketahui adalah bahwa anak perempuanmu itulah
yang membikin buntung lenganku ini....”
“Apa kau bilang?” seru Leng Li terheran heran.
“It kong betulkah kata katamu itu?” kakek tadi ikut
bertanya kepada muridnya dengan hati mengkal karena
sungguh memalukan hatinya sekali mendengar muridnya
kena dibuntungi lengannya hanya oleh seorang anak
perempuan berusia tujuh delapan tahun.
“Memang betul demikian, suhu.” Kemudian ia menoleh
kepada Leng Li sambil berkata, “Ketika aku sudah terpukul
roboh oleh Sin tung Lo kai, aku melihat seorang anak
perempuan keluar membawa sebatang pedang yang luar
biasa, terhias kemala. Aku mengira bahwa tentu itulah
pedang pusaka Giok po kiam maka aku berusaha
merampasnya. Tidak tahunya sekali bergerak bocah itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
telah menebas buntung lengan kiriku! Aku lalu melarikan
diri meningkatkan buntungan lengan. Nah, aku sudah
berceritera kau percaya atau tidak terserah.”
Thio Leng Li termenung sejenak. Agaknya Lee It Kong
tidak membohong, oleh karena ceritra seperi itu
sesungguhnya merendahkan nama sendiri. Akan tetapi ia
merasa amat penasaran dan terutama sekali kecewa oleh
karena keterangan Thiat pi Lee It Kong itu membuyarkan
semua harapannya. Dengan keterangan tadi keadaan masih
sama gelap nya seperti sebelum ia bertemu dengan si lengan
buntung ini. Dia masih belum juga tahu siapa pembunuh
ayahnya dan terutama sekali tidak tahu di mana adanya Li
Hwa.
“Aku baru percaya kalau kau katakan siapa yang
membunuh ayah dan siapa penculik anakku. Kau telah
menyerbu ke rumahku dan kau telah bertempur dengan
ayah. Tentu kau tidak datang seorang diri dan kau tahu
siapa orangnya yang berdosa kalau bukan kau. Peristiwa itu
terjadi pada satu malam, mustahil kalau kau tidak tahu.
Kalau kau tidak mau mengaku terpaksa aku akan
menawanmu dan memaksamu!”
Karena di situ ada suhunya, biarpun ia jerih terhadap
nyonya kosen ini, Thiat pi Lee It Kong menjadi marah.
“Thio toanio, kau terlalu sekali. Kau terlalu
mengandalkan kepandaian sendiri hendak menghina orang
lain! Aku adalah seorang laki laki, semua perbuatan
kupertanggungjawabkan. Aku berani menanggung
resikonya. Mengapa aku harus membawa bawa orang lain
malam itu? Hanya, terus terang saja kukatakan bahwa
ketika aku melarikan diri setelah terluka, kelihatan
bayangan dua orang berkelebat cepat ke arah rumahmu
itu.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Sapa mereka?” Leng Li tertarik sekali, kembali timbul
harapannya.
“Sayang keadaan gelap, aku tidak mengenal muka
mereka, hanya dari bayangan mereka aku dapat menduga
bahwa mereka adalah seorang laki laki dan seorang wanita
muda.”
Leng Li tertegun. Juga Bi Hui yang sejak tadi
mendengarkan percakapan ini terkejut. Dua orang wanita
ini mempunyai pikiran dan dugaan yang sama.
Tiba tiba pada saat itu, dari luar rumah terdengar suara
nyaring sekali, membuat para tamu terkejut karena suara ini
keluar dan pengerahan khikang yang tinggi, “Rombongan
utusan Thian hwa kauw tiba, Sin siang to Bhok Coan
diminta keluar menyambut... !”
Semua tamu saling pandang dengan muka tercengang,
dan biarpun hatinya berdebar gelisah, Sin siang to Bhok
Coan tentu saja tidak sudi keluar, bahkan lalu menyuruh
seorang pelayan untuk keluar dan melihat siapa yang
datang serta menanyakan apa keperluan mereka.
Akan tetapi sebelum pelayan itu sampai di luar,
terdengar pula suara tadi. “Sin siang to benar benar tak
memandang kepada Thian hwa kauw, perlu diberi rasa!”
Dan dari luar masuklah serombongan orang yang amat
menarik perhatian semua tamu. Rombongan ini terdiri
enam orang pemuda tampan dan enam orang dara cantik.
Mereka berjalan merupakan barisan pasangan yang amat
menarik dengan pakaian mereka yang mewah dan indah.
Hanya satu hal yang amat menyolok pada para muda itu
bahwa muka mereka rata rata pucat pias dan mata mereka
tak bersinar seperti orang orang kehilangan semangat.
Namun harus diakui bahwa mereka itu tampan dan cantik!
Di depan duabelas orang pemuda pemudi yang rata rata
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berusia kurang lebih duapuluh tahun ini berjalan seorang
laki laki yang buruk sekali rupanya. Sukar menaksir usianya
karena mukanya kerut kerut dan hitam seperti muka
monyet, juga tubuhnya bongkok seperti udang mati.
Matanya besar besar melotot keluar, nampak lebih tepat
menjadi iblis daripada manusia.
Rombongan ini berjalan dengan tenang seperti penuh
khidmat. Bahkan kaki pasangan duabelas orang itu
melangkah dengan gerakan berbareng seperti barisan
tentara terlatih.Mereka ini kedua tangannya masing masing
dirangkapkan di depan dada di mana mereka memegang
setangkai bunga teratai, ada yang putih, ada yang merah,
ada yang ungu. Akan tetapi semua teratai yang mereka
pegang itu nampak masih segar seakan akan baru saja
mereka petik. Juga kakek atau nenek seperti iblis itu kedua
tangannya memegang setangkai bunga teratai yang kiri biru
yang kanan ungu, nampaknya lebih besar dari teratai biasa
dan di pegangnya dengan cara mengangkatnya tinggi tinggi
di atas pundak dekat telinga. Benar benar rombongan yang
lucu namun ada juga sifat angker karena muka mereka yang
bersungguh sungguh itu.
Sin siang to Bhok Coan merasa gelisah sekali, namun ia
membesarkan hatinya, mengangkat dada dan menekan
kegelisahanaya, lalu bertindak maju menghampiri
rombongan yang sudah memasuki ruangan terhormat itu.
Ia menjura dengan hormat lalu berkata kepada si bongkok
yang agaknya memimpin rombongan itu.
“Lohu orang she Bhok tak pernah merasa ada urusan
dengan fihak Thian hwa kauw, sekarang cu wi datang
mengunjungi lohu, tidak tahu apakah hendak ikut
bergembira ataukah ada urusan lain?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Orang tua bongkok itu memutar mutar biji matanya,
jelilatan memandang ke kanan kiri, suaranya parau dan
serak.
“Sin siang to Bhok Coan, kau masih belum menginsyafi
dosa dosamu? Kau telah memandang rendah kepada kauw
cu (ketua agama) kami, dengan tidak mengundang kauw cu
kami berarti kau telah menghina kauw cu yang terhormat.”
Sin tiang to Bhok Coan terkejut dan cepat cepat ia
menjura sambil berkata ramah. “Ahh, kiranya begitu?
Maafkan lohu yang pelupa. Sesungguhnya oleh karena
Thian hwa kauw baru berdiri dan lohu belum mengenal
kauw cu cu wi sekalian maka lohu tidak berani
mengundang. Sekarang, baiklah lohu mengundang cu wi
sebagai wakil wakil Thian hwa kauw untuk duduk di
ruangan terhormat.”
“Huh, huh, orang she Bhok. Siapa sudi akan
undanganmu? Kauw cu kami belum tentu doyan hidangan
di sini yang serba kotor. Laginya, kauw cu kami tidak butuh
undanganmu melainkan mengutus kami untuk datang
menyampaikan hukuman atas dirimu yang sudah menghina
perkumpulan kami.”
Sin siang to Bhok Coan menjadi panas perutnya. Belum
pernah selama hidupnya ia mengalami aturan yang luar
biasa ini. Orang ber she jit tidak mengirim undangan, masa
dianggap menghina, berdosa dan mereka datang hendak
menjalankan hukuman. Banyak sudah ia mendengar akan
keanehan sikap orang orang sakti yang kadang kadang
sewenang wenang dan luar biasa, akan tetapi aturan seperti
yang dilakukan oleh kauw cu dari Thian hwa kauw ini baru
sekarang ia mendengar dan mengalaminya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Hukuman kepadaku? Hmm, hukuman apakah
gerangan?” tanya Sin siang to Bhok Coan menahan
dongkolnya.
Orang tua yang masih belum diketahui laki laki atau
wanita itu mengeluarkan sehetai kertas bergulung dari saku
bajunya, membuka gulungan kertas dengan kedua lengan
dilempangkan lalu membaca dengan lagak seorang perajurit
membaca surat titah raja,
“Atas perintah kauwcu yang maha mulia dari
perkumpulan Agama Thian hwa kauw, kami para pengurus
bagian pengadilan memutuskan bahwa orang yang bernama
Bhok Coan berjuluk Sin siang to tinggal di kota Kwan leng
si telah melakukan pelanggaran dosa besar dengan
penghinaan terhadap Thian hwa kauw dan memandang
rendah kepada kauw cu yang mulia, tidak mau
mengirimkan undangan pada pesta she jitnya. Oleh karena
itu diputuskan hukuman kepada Sin siang to Bhok Coan
seperti berikut : Semua barang sumbangan yang ia peroleh
dari para tamu, harus di bawa ke Thian hwa kauw lebih
dulu di mana kauw cu akan mengadakan pemilihan dan
mengambil mana yang disukai beliau, baru sisanya boleh
diambil olehnya, sepasang siang to di pinggang Bhok Coan
harus dibawa ke Thian hwa kauw dan sepuluh hari
kemudian setelah Bhok Coan datang menghadap kauw cu
dan mohon maaf baru senjatanya akan dikembalikan.
Demikianlah perintah ini yang....”
Baru saja orang tua itu membaca sampai di sini, Thiat pi
Lee It Kong sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia berderu keras dan dengan lengannya yang tinggal sebelah
itu ia menyerang kakek atau nenek yang sedang membaca
“surat perintah” menghantam ke arah dadanya dengan
keras sekali. julukan Lee It Kong adalah Thiat pi atau
Tangan Besi, maka dapat dibayangkan betapa keras dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dahsyat pukulannya ini. Tadi Lee It Kong telah menderita
malu di depan orang banyak, kini untuk menebus malunya,
ia hendak memperlihatkan kegagahannya dengan jalan
membela tuan rumah yang diperlakukan sewenang wenang
oleh orang orang Thian hwa kauw itu.
Orang tua itu ternyata tidak menghentikan bacaannya,
bahkan tidak bergerak sedkitpun juga, sama sekali tidak
perduli akan datangnya hantaman tangan Lee It Kong yang
menyambar dadanya. Ia melanjutkan bacaannya,
“Demikianlah perintah ini yang harus ditaati oleh Sin sang
to Bhok Coan kalau ia sayang akan nyawa “ Baru sa ia
selesai membaca, tangan Lee It Kong sudah dekat dengan
dadanya, akan tetap tiba tiba Lee It Kong memekik keras,
tubuhnya terjengkang ke belakang dan ketika dilihat, jago
lengan buntung ini telah tewas dalam keadaan mendelik
dan mukanya berubah hitam.
Keadaan menjadi ribut. Guru dan paman guru Lee It
Kong tadi melihat betapa dua orang pemuda pemudi yang
berdiri di dekat orang tua itu menggerakkan tangan dan dua
benda bersinar hitam menyambar ke arah leher Lee It
Kong. Tahulah mereka bahwa orang orang Thian hwa
kauw itu mempergunakan senjata rahasia berbisa.
“Jahanam Thian hwa kauw, kalian main curang,” seru
dua orang kakek ini sambil menggerakkan tongkat bambu
mereka menyerbu ke depan. Guru Lee it Kong bernama
Tan Lui dan sutenya juga adiknya sendiri bernama Tan
Kui, kedua orang kakek ini adalah orang orang dusun yang
menjadi petani, namun mereka memiliki kepandaian tinggi.
Tan Lui menyerang kakek bongkok seperti udang ini,
sedangkan Tan Kui menggerakkan tongkatnya menyerang
dua orang pemuda pemudi yang tadi merobohkan Lee It
Kong dengan senjata rahasianya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kakek atau nenek bongkok itu sebetulnya seorang laki
laki tua yang mukanya buruk sekali. Dia adalah kepala
pelayan dari Thian hwa kauw, kepandaiannya tinggi dan ia
bernama julukan Hak tok kwi (Setan Racun Hitam), nama
aslinya tidak di kenal orang lagi. Ketika melihat datangnya
serangan Tan Lui ke arah kepalanya, dan mendengar
sambaran angin menderu keluar dari tongkat bambu,
maklumlah Hek tok kwi bahwa lawannya adalah seorang
yang berkepandaian tinggi ia mengeluarkan suara ketawa
cekikikan, cepat menyimpan gulungan kertas yang tadi
dibacanya dan tahu tahu sepasang bunga teratai biru dan
ungu yang tadinya dimasukkan saku ketika ia membaca
surat perintah, kini telah berada di tangannya kembali.
Begitu tongkat menyambar dekat kepalanya, kakek ini
mangelak ke kiri dan tangan kanannya yang memegang
bunga teratai ungu itu, bergerak membalas serangan lawan
dengan memukulkan bunga itu! Benar benar aneh bunga
teratai segar dipakai sebagai senjata untuk menyerang!
Akan tetapi akibat serangan bunga teratai ungu ini lebih
hebat lagi. Memang betul Tan Lui dapat cepat mengelak,
namun tiba tiba ia sempoyongan ke belakang seperti orang
mabuk dan di lain saat, sambil membalikkan tangkai bunga
yang dipakai nya, Hek to kwi sudah menusuk iganya
dengan jari jari tangan kanan. Tan Lui roboh terjungkal
dalam keadaan tidak bernyawa lagi!
Tan Kui yang menyerang sepasang muda mudi itupun
disambut dengan luncuran sinar sinar hitam yang ternyata
adalah duri duri pohon berwarna hitam yang berbau keras.
Tan Kui sudah maklum akan bahaya ini karena tadipun
murid keponakannya tewas oleh duri duri ini. Cepat ia
memutar tongkatnya dan semua senjata rahasia itu runtuh.
Akan tetapi tiba tiba dua orang muda mudi itu telah
menyerangnya dengan gerakan aneh dan cepat, adapun
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
senjata yang mereka pergunakan juga kembang teratai di
tangan yang masih segar. Seperti Tan Lui tadi, iapun
memandang rendah dan cepat mengelak sambil membalas
dengan penyerangan tongkatnya. Namun, tiba tiba ia
mencium bau harum yang menyesakkan napas dan
memusingkan kepalanya dan tanpa dapat dicegah lagi ia
terhuyung huyung. Kembali sinar sinar hitam menyambar
dan kali ini dalam keadaan pusing itu Tan Lui tidak
berdaya menangkis atau mengelak. Beberapa buah duri
berbisa menancap di tempat berbahaya, tepat mengenai
jalan darahnya dan ia terjungkal di dekat mayat suheng dan
murid keponakannya dalam keadaan tewas pula!
Orang orang kang ouw yang duduk di situ menjadi
marah sekali. Memang semenjak tadi mereka sudah
membicarakan tentang perkumpulan Thian hwa kauw.
Sekarang mereka menyaksikan sendiri sepak terjang
perkumpulan itu yang dalam waktu singkat secara keji telah
membunuh tiga orang gagah. Serentak para locianpwe yang
hadir di situ bangkit dari tempat duduk mereka dan
melompat sambil mencabut senjata.
“Jahanam Thian hwa kauw harus dibasmi!” teriak
mereka dengan marah. Juga Thio Leng Li yang melihat
sikap orang orang Thian hwa kauw ini menjadi tak senang.
Apalagi melihat Thiat pi Lee It Kong yang hendak
dilawannya itu sudah terbunuh oleh mereka, ia menjadi
penasaran sekali.
Hek tok kwi tertawa bergelak melihat mereka semua
berdiri. Sama sekali ia tidak menjadi gentar. Juga duabelas
muda mudi yang berada di belakangnya, bersikap tenang
tenang dan sudah siap sedia menghadapi keroyokan para
tamu itu dengan senjata mereka di tangan, senjata yang luar
biasa sekali, yaitu setangkai kembang teratai dan duri duri
berbisa!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“He he he he heh!Masa para locianpwe dari partai partai
besar ada muka untuk maju melakukan pengeroyokan
seperti sifatnya bajingan bajingan kecil?” Ketika melihat
para locianpwe itu melengak dan ragu ragu karena ejekan
ini, kembali Hek tok kwi tertawa,
“Heh heh heh! Para suuli dan siulam (dara jelita dan
teruna tampan), lepas tirai asap dan laksanakan perintah
kauw cu!”
Baru saja kata kata ini keluar dari mulut kakek itu,
serentak mereka mengeluarkan sesuatu dari saku baju dan
membantingnya di atas lantai di sekeliling mereka.
“Dar dar dar dar....!” Ramai terdengar letusan letuaan
dan dalam sekejap mata saja ketika para locianpwe itu
melompat mundur dengan kaget, ruangan itu telah penuh
asap putih bergumpal gumpal. Asap ini mengandung hawa
panas dan amat pedas kalau menyerang mata, maka
biarpun para locianpwe di situ berilmu tinggi, mereka
terpaksa menutup mata masing masing dan menahan
napas. Terdengar orang terbatuk batuk di sana sini, yaitu
mereka yang mengisap asap putih itu, dan di sana sini orang
berteriak teriak untuk menganjurkan menangkap orang
orang Thian hwa kauw. Akan tetapi siapakah yang dapat
bergerak dalam keadaan seperti itu? Mata tak dapat dibuka,
bernapaspun tidak berani, dan tak dapat dilihat lagi mana
kawan mana lawan!
Ketika asap putih itu bergulung gulung naik dan mulai
menipis sehingga orang orang dapat membuka mata dan
bernapas lagi, ternyata orang orang Thian hwa kauw itu
sudah lenyap dari situ. Dan bersama dengan lenyapnya
mereka ini, lenyap pula semua benda sumbangan yang
tadinya dijajarkan di atas meja panjang, dan lenyap pula
sepasang golok di pinggang Bhok Coan sedangkan tuan
rumah itu sendiri menggeletak di atas lantai dalam keadaan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lemas tertotok. Ketika itu di ruangan lain juga ribut ribut
karena ternyata di situ telah lenyap tiga orang pemuda
tampan dan tiga orang dara cantik. Menurut mereka yang
melihat ketika terjadi ribut ribut tadi, dara dara cantik itu
diculik oleh pemuda pemuda Thian hwa kauw yang
tampan, sedangkan pemuda pemuda tampan yang menjadi
tamu diculik oleh pemudi pemudi Thian hwa kauw. Benar
benar hal yang amat hebat. Dalam keadaan cepat sekali
tigabelas orang anggauta Thian hwa kauw itu dapat
melakukan perbuatan perbuatan itu, benar benar
membuktikan kelihaian mereka.
Keadaan menjadi ribut dan para tamu banyak yang
berpamit meninggalkan tempat itu, kecuali para locianpwe
yang dengan hati mengkal dan malu berunding untuk
melawan perkumpulan agama baru yang jahat itu. Juga
Thio Leng Li ikut bersidang kemudian diambil keputusan
untuk menyerbu Thian hwa kauw sepuluh hari kemudian,
yaitu mengantar Sin siang to Bhok Coan yang akan datang
di sarang Thian hwa kauw di Kwi ciu.
Tak seorangpun tahu bahwa diam diam Song Bi Hui
lenyap pula dari ruangan itu.Mereka hanya mengira bahwa
wanita muda itu ketakutan dan lari lebih dulu tanpa pamit.
Diam diam mereka mentertawakan gadis yang mengaku
murid Bu eng Lo kai dan Soat Li Suthai itu.
Kemanakah perginya Song Bi Hui? Apakah benar dia
ketakutan dan melarikan diri di dalam keadaan ribut tadi?
Tak mungkin! Tidak mungkin seorang seperti Bi Hui
melarikan diri. Semenjak tadi ia mengawasi gerak gerik
mereka itu dan diam diam ia merasa amat heran melihat
sikap duabelas orang muda mudi yang seakan akan
bertindak bukan atas kehendak sendiri.
Memang ketika senjata peledak itu diledakkan, Song Bi
Hui tidak berdaya apa apa. Diapun tidak kuat menahan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
serangan asap putih yang membikin mata pedas, maka
diam diam ia lalu berlari keluar mencari hawa yang segar,
keluar dari daerah asap putih bergulung gulung itu. Tak
lama kemudian, di antara hiruk pikuk dan kepanikan para
tamu, ia melihat bayangan bayangan putih dari para
angauta thian hwa kauw itu berkelebat keluar. Cepat cepat
Bi Hui mengikuti mereka dari belakang, ilmu lari cepat Bi
Hui amat tinggi karena gurunya, Bu eng Lo kai (Pengemas
Tua Tanpa Bayangan) adalah seorang ahli ginkang yang
jarang tandingannya. Maka biarpun para anggota Thian
hwa kauw itu rata rata dapat berlari cepat sekali, tidak sukar
bagi Bi Hui untuk mengejar mereka. Ketika ia melihat
bahwa di antara para orang muda itu ada yang memondong
pemuda tampan dan gadis cantik, ia dapat menduga bahwa
tentu dalam keributan tadi, orang orang sesat itu telah
menculik pemuda pemuda dan pemudi pemudi cantik yang
menjadi tamu di rumah Sin sang to Bhok Coan. Hati Bi Hui
marah sekali. Sekali ia melompat, tubuhnya bagaikan
seekor burung telah melayang melewati rombongan itu dan
dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya rombongan
orang Thian hwa kauw itu ketika tahu tahu di depan
mereka berdiri seorang wanita muda yang cantik dan gagah,
dengan pedang melintang di depan dada.
“Siluman siluman Thian hwa kauw, berhenti dulu!”
bentakan Bi Hui amat berpengaruh dan nyaring. Enam
pasang muda mudi itu sudah berlari cukup jauh, apa lagi
mereka itu semua membawa barang barang berat, bahkan
tiga pasang di antara mereka masing masing membawa
seorang tawanan, tentu saja mereka sudah telah. Kini
melihat adanya rintangan dan melihat tanda dari Hek tok
kwi supaya mereka berhenti, enam pasang orang muda itu
menurunkan beban masing masing di atas tanah. Barang
barang sumbangan yang tadinya berada di atas meja di
dalam rumah Sin siang to Bhok Coan, kini diletakkan di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
atas tanah. Juga tiga pasang orang muda yang diculik,
dalam keadaan tertotok dilepaskan diatas tanah, di mana
mereka rebah tak berdaya sama sekali.
Hek tok kwi memandang kepada Bi Hui dan matanya
yang bulat lebar itu terputar putar membayangkan
kekaguman.
“Heh heh heh, ini dia wanita ayu yang gagah perkasa,
twa kongcu tentu akan berterima kash sekali kalau kita bisa
membawanya pulang. Heh heh heh...” Anehnya,
mendengar kata kata ini, duabelas orang muda dalam
barisan itupun tertawa gembira. Bergidik bulu tengkuk Bi
Hui melihat cara mereka tertawa. Macam mayat tertawa,
mulutnya tertawa akan tetapi muka dan matanya tidak ikut
tertawa! Benar aneh keadaan mereka itu.
“Nona yang baik, kau mau apakah?” tanya Hek tok kwi
sambil tertawa tawa.
Bi Hui menudingkan pedangnya ke muka orang bermuka
iblis itu.
“Siluman siluman Thian hwa kauw! Urusanmu dengan
Sin siang to Bhok Coan, aku tidak perduli karena kalian dan
dia sama sama bangsa bangsa perampok dan penjahat!
Akan tetapi kalau kalian membunuhi orang begitu saja,
mencuri barang barang dan menculik orang orang di depan
mataku, aku Song Bi Hui tentu saja takkan mengampuni
kalian lagi!”
Mendengar disebutnya sama Song Bi Hui, kakek
bongkok itu nampak terkejut, ia melangkah maju dan
bertanya penuh perhatian, “Nona bernama Song Bi Hui??”
“Betul!” Bi Hui mengelebatkan pedangnya. Sikapnya
menantang.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tiba tiba kakek itu menoleh ke belakang memberi aba
aba cepat, “Para siuli dan siulam, hayo kepung dan tawan
nona ini hidup hidup! Hati hati, jangan sampai dia terluka
parah, twa kongcu akan marah. Tangkap!!”
Serentak duabelas orang muda mudi itu bersama kakek
yang lihai tadi, menubruk Bi Hui! Namun Bi Hui telah
mendapat gemblengan dari dua orang gurunya.
Kepandaiannya sudah jauh meningkat, tidak seperti dahulu
lagi. Melihat tigabelas orang lawan itu bergerak maju,
tubuhnya berkelebat dan di lain saat pedangnya yang
menyambar laksana kilat telah berhasil membacok runtuh
empat tangkai bunga teratai dari tangan empat orang
pengeroyoknya! Ia tidak memberi kesempatan kepada
mereka untuk mempergunakan bunga bunga yang
mengandung racun itu guna merobohkannya. Ia maklum
bahwa hawa yang terkandung oleh bunga teratai itu semua
beracun dan dapat merobohkannya, maka ia sengaja
mengeluarkan ginkangnya, berkelebatan ke sana ke mari
sambil pedangnya menyambar ke arah lawan.
Namun para pengeroyoknya itu benar benar lihai. Dalam
soal ilmu silat, kiranya mereka itu bukan tandingan Bi Hui.
Akan tetapi, duabelas orang muda itu dapat bergerak
seirama, begitu teratur sehingga mereka merupakan
duabelas orang dengan satu otak, seakan akan Bi Hui
menghadapi seorang lawan yang mempunyai duapuluh
empat buah lengan! Setiap kali Bi Hui keluar dari
kepungan, otomatis ia terhadang dan terkepung lagi! Setiap
kali pedangnya hendak merobohkan seorang pengeroyok,
sebelas orang lain sudah menyerangnya sambil menolong
yang seorang itu. Dan semua ini hanya di lakukan dengan
bunga bunga teratai berwarna! Mereka meloloskan diri dari
serangan pedang dengan jalan mengelak dan membalas
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
serangan dengan pukulan bunga ke arah muka lawan.
-oo0dw0oo-
Jilid XXXIX
YANG aneh adalah kakek itu. Ia tidak ikut bertempur,
melompat ke sana ke mari sambil memperhatikan gerak
gerik Bi Hui. Melihat ini, dengan kaget Bi Hui tahu bahwa
kakek itu sedang mempelajari ilmu silatnya dan agaknya
mencatat dalam otak semua gerak serangan serangannya. Ia
menjadi marah sekali dan cepat menggerakkan pedangnya
dengan cara membengkok. Ia menyerang seorang pemuda
di depannya, akan tetapi ketika sebelas yang lain menyerbu
dari belakang, ia melompat cepat ke kiri dan dalam keadaan
tak terduga kakinya berhasil menendang roboh seorang
pemuda lain yang tak sempat mengelak. Pemuda itu roboh
tak dapat bangun kembali.
Robohnya seorang di
antara mereka agaknya
membikin jerih yang lain
lain, buktinya gerakan
mereka menjadi lambat
dan agaknya kini hanya
hendak mempertahankan
diri saja tidak bernafsu
lagi dalam usaha mereka
menangkapnya.
Tiba tiba kakek itu
bersuit aneh dan
melemparkan sesuatu di
dekat Bi Hui. Gadis ini menyabet benda itu dengan
pedangnya, dan..... asap hijau kehitaman bergulung naik. Bi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Hui mengerahkan lweekangnya mengayun tangan ke arah
uap itu yang menjadi buyar, lalu mengerahkan khikang
meniup ke arah uap itu yang seperti terkena angin besar lalu
membalik. Akan tetapi pada saat itu, sebelas orang muda
itu telah mengurungnya lagi dan dalam rombongan itu
melayang tubuh kakek tadi. Dari kedua tangan kakek itu
kini menyambar asap hitam ke arah Bi Hui. Gadis ini
terkejut sekali, dengan gerakan tubuh nya ia dapat
mengelak, dan terpaksa ia menahan napas agar hidungnya
jangan kemasukan asap hitam. Namun perhatiannya yang
terpecah pecah ini membuat ia tak dapat menghindarkan
lagi ketika kakek itu menotok punggungnya dengan ilmu
totok yang baik, dilakukan dengan dua jari. Bi Hui
terhuyung huyung, mencoba mengerahkan lweekang untuk
menolak pengaruh totokan. Akan tetapi sebelas orang itu
sudah menubruknya, banyak tangan memegang dan
menekannya dan di lain saat tubuh Bi Hui sudah diikat erat
erat sehelai tali sutera yang amat kuat. Bi Hui marah bukan
main, marah dan gemas sekali, apalagi karena lima orang
pemuda tampan itu ikut memeganginya tadi. Ia merasa
malu sekali dan terhina.
Kakek itu tertawa bergelak ketika melihat Bi Hui sudah
tak berdaya lagi.
“Ha, ha, ha, ha, kali ini perjalanan kita berhasil baik
sekali. Tidak saja siocia akan memberi hadiah besar kepada
kita, juga twa kongcu pasti akan memberi hadiah besar. Ha,
ha, ha! Hayo kita berjalan terus, rawat dan bawa siulam
yang terluka.”
Rombongan itu mulai bergerak lagi. Kini tidak begitu
cepat mereka lari karena mereka merasa lelah setelah
mengeroyok Bi Hui yang kosen tadi. Bi Hui dipangul
sendiri oleh kakek yang buruk itu yang memanggulnya di
pundak seperti orang memanggul kayu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Bi Hui merasa lega ketika kakek itu yang
memanggulnya, bukan seorang diantara pemuda pemuda
itu ia merasa ngeri melihat pemuda pemuda tampan itu rata
rata berwatak cabul dan genit seperti juga pemudi pemudi
itu. Dan diam diam ia merasa heran sekali karena dalam
pertempuran tadi, ia melihat beberapa gerakan mereka
menyerupai gerak tipu dari ilmu Silat Thai lek kim kong jiu,
ilmu silat warisan keluarganya!
“Nasib,” pikirnya, “baru saja meninggalkan dua orang
guruku, sebelum dapat menangkap pembunuh ayah ibu,
aku telah terjatuh ke dalam tangan mereka ini...” Ia tidak
tahu nasib apa selanjutnya yang akan menimpa dirinya,
akan tetapi sudah pasti bukan nasib baik, melihat sifat
Thian hwa kauw yang keji dan jahat itu.
“Aduuhh….” mendadak seorang pemuda Thian hwa
kauw yang memondong seorang gadis tawanan menjerit
dan roboh, gadis tawanan itu ikut terguling.
Semua orang dalam rombongan itu terhenti dan ketika
mereka memandang, ternyata pemuda itu roboh dalam
keadaan kaku seperti terkena totokan yang lihai. Hek tok
kwi cepat menghampiri pemuda itu dan menotok
punggungnya untuk memulihkan jalan darahnya. Akan
tetapi tidak berhasil, ia menepuk nepuk pundak dan
mengurut urut iga, tetap tidak ada hasilnya Bukan main
kagetnya. Hek tok kwi adalah seorang ahli dalam ilmu
menotok dan senjata rahasia, sekarang ia menghadapi
totokan yang tak mampu ia punahkan! Selagi ia
kebingungan, tiba tiba menyambar dua butir batu kecil.
Sebutir menyambar ke arah pundaknya dan sebutir lagi
yang beberapa detik lebih lambat menyambar ke arah
mukanya. Keduanya dengan kecepatan kilat akan tetapi
datangnya aneh sekali. Yang kedua datang lebih dulu,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
padahal ketika menyambar jelas berada di belakang batu
pertama.
Hek tok kwi kaget bukan kepalang. Tentu saja ia dapat
mengelak dari batu kedua yang lebih dahulu menyambar
mukanya itu, akan tetapi batu yang menyambar pundaknya
tak dapat di elakkan lagi. Terpaksa ia melepaskan tubuh Bi
Hui. dan menggunakan tangan baju untuk menyampoti
batu itu.
“Brett...” Hek tok kwi berseru kaget karena ujung tangan
bajunya sobek.
Sementara itu, Bi Hui yang terlempar ke atas tanah, tiba
tiba merasa pundaknya tertotok sesuatu dan ia merasa
tubuhnya bebas dari pengaruh totokan Hek tok kwi. Cepat
gadis ini mengerahkan tenaganya untuk memutuskan
semua tali yang mengikatnya. Namun terlambat, Hek tok
kwi sudah melangkah maju dan sekali mengulur tangan, Bi
Hui tak dapat mengelak lagi. Kembang biru didekatkan
pada hidungnya dan seketika itu juga Bi Hui mencium bau
harum yang luar biasa sekali, dan ia pingsan.
Sebelum Hek tok kwi sempat menyambar tubuh Bi Hui
yang sudah pingsan, tiba tiba kembali menyambar batu batu
kecil ke arahnya, kini tiga butir sekaligus. Betapapun
lihainya Hek tok kwi hanya dua butir batu yang dapat ia
tangkis. Yang ke tiga tepat mengenai lehernya. Ia berteriak
kesakitan akan tetapi tidak roboh karena secepat kilat ia tadi
telah mengerahkan tenaga lweekang menutup jalan
darahnya sehingga batu kecil itu hanya melukai kulit dan
dagingnya saja. Akan tetapi kembali dua orang roboh, kini
dua orang gadis anggauta Thian hwa kauw. Tentu saja Hek
tok kwi menjadi marah sekali. Sambil melompat lompat
membebaskan totokan batu yaug merobohkan dua orang
gadis itu, ia berteriak teraik.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Bangsat curang pengecut dari mana berani main gila
terhadap Thian hwa kauw?” Teriakannya dilakukan dengan
pengerahan tenaga khikang sehingga dapat terdengar dari
jarak jauh.
Tiba tiba dari selatan terdengar suara jawaban, “Siluman
siluman Thian hwa kauw jangan sombong. Aku Song
Siauw Yang tidak takut kepada kalian....”
Lenyapnya suara itu membawa munculnya dua orang
penunggang kuda dari selatan. Mereka ini adalah seorang
nyonya yang gagah bersama seorang laki laki setengah tua
yang bersikap dan berpakaian seperti sasterawan. Inilah
Song Siauw Yang dan suaminya, Liem Pun Hui.
Sungguh aneh. Hek tok kwi yang terkenal galak dan keji
itu, tiba tiba nampak gugup.
“Hayo kita pergi, cepat cepat....!” serunya kepada semua
orang muda anggauta rombongannya. Para muda itu kini
menjadi gentar juga menghadapi sambitan sambitan batu
yang amat lihai, cepat mengangkat bawaan masing masing
sumbangan dari rumah Bhok Coan dan enam orang
tawanan, lalu melarikan diri cepat cepat. Hek tok kwi
sendiri lalu membungkuk untuk menyambar tubuh Bi Hui.
Akan tetapi ia dihujani batu kerikil. Dua kali ia terkena
sambitan, pada pangkal lengan dan paha. Yang mengenai
pangkal lengannya tepat dan hebat sekali, membuat lengan
kirinya menjadi setengah lumpuh.Menghadapi ini, Hek tok
kwi menjadi bingung. Apalagi dua orang penunggang kuda
itu sudah datang dekat. Sambil mengeluarkan seruan
kecewa si bongkok ini lalu melompat pergi meninggalkan Bi
Hui
“Siluman siluman keji kalian hendak pergi ke mana?”
bentak Song Siauw Yang dan bersama suaminya ia
mengejar larinya rombongan itu. Mereka tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
memperdulikan tubuh yang ditinggalkan, karena lebih
penting mengejar anggauta perkumpulan yang terkenal
jahat itu.
Setelah rombongan itu lenyap dikejar oleh dua orang
penunggang kuda, dari balik batu karang muncullah tubuh
seorang pemuda yang amat ringan dan cekatan gerak
geriknya. Dia ini bukan lain adalah Beng Han. Pemuda ini
menghampiri tubuh Bi Hui yang masih mengeletak pingsan,
memeriksa sebentar lalu mengangkat tubuh itu,
dipondongnya dan dibawa pergi.
Tak lama kemudian, dua orang penunggang kuda yang
tadi mengejar rombongan Hek tok kwi telah datang kembali
ke tempat itu. Mereka Song Siauw Yang dan Liem Pun
Hui, saling pandang dan Siauw Yang mengerutkan kening
ketika melihat gadis yang tadi ditinggal oleh rombongan
orang orang Thian hwa kauw itu.
“Eh, ke mana perginya?” kata Siauw Yang. Nyonya ini
masih cantik dan gagah seperti dulu biarpun usianya sudah
limapuluh tahun, hanya kerut pada keningnya menandakan
bahwa selama ini ia banyak menderita batin. Sebaliknya,
suaminya nampak sudah tua dengan rambut yang sudah
putih semua, padahal usianya juga baru limapuluh tahun
lebih.
“Mungkin dia telah dapat melarikan diri,” jawab Liem
Pun Hui, suaranya lebih tenang dan sabar daripada dahulu.
“Mungkin juga.... kalau begitu, tentu dia seorang yang
memiliki kepandaian....” kata Siauw Yang. Kedua orang ini
sama sekali tidak mengira bahwa gadis yang tadi mereka
lihat ditinggalkan oleh orang orang Thian hwa kauw itu
bukan lain adalah Song Bi Hui. Kalau saja mereka tahu
akan hal ini, sudah tentu mereka takkan mengejar
rombongan itu melainkan segera menolong Bi Hui.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Seperti diketahui, suami isteri ini semenjak mendengar
dari Bi sin tung Thio Leng Li tentang pembunuhan atas diri
Kwa Li Hwa, lalu merasa cemas dan khawatir. Dengan
terus terang Leng Li menceritakan tentang terlihatnya Liem
Kong Hwat di kota Leng ting pada saat peristiwa itu terjadi.
Hal ini amat menggelisahkan hati Siauw Yang, maka
bersama suaminya ia lalu merantau mencari puteranya itu.
Akan tetapi sampai bertahun tahun mereka tidak
mendengar apa apa tentang Kong Hwat yang seakan akan
lenyap ditelan bumi tanpa meninggalkan bekas. Sepasang
suami isteri ini menjadi berduka sekali. Setahun sekali
mereka kembali ke Liok can untuk melihat kalau kalau
Kong Hwat sudah pulang ke rumah yang ditinggalkan
dalam rawatan seorang pelayan tua. Namun sampai
sepuluh tahun lamanya tidak ada berita dari pemuda itu.
Akhir akhir ini Siauw Yang mendengar desas desus
tentang berdirinya perkumpulan Agama Thian hwa kauw
yang amat aneh dan kabarnya jahat sekali. Suami isteri ini
mendengar betapa perkumpulan ini suka menculik orang
orang muda dan mendengar pula betapa secara aneh anak
murid partai partai besar yang berkepandaian tinggi dan
berwajah cantik atau tampan, banyak yang meninggalkan
perguruan dan masuk menjadi anggauta perkumpulan
agama sesat itu, menjadi makin curiga.
“Kong Hwat masih hijau dalam dunia kang ouw, dia
masih muda dan aku tahu hatinya agak lemah, jangan
jangan dia terkena bujukan pula oleh perkumpulan itu
seperti pemuda pemuda lainnya,” kata Siauw Yang kepada
suaminya.
“Kalau begitn lebih baik kita menyelidiki ke sana. Akan
tetapi, tahukah kau di mana pusat perkumpulan itu?” kata
Liem Pun Hui.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Kabarnya di utara, akan tetapi entah di mana. Hal itu
tidak sukar, kita bisa mencari keterangan di jalan. Kiranya
banyak orang gagah yang sudah mengetahui di mana
sarangnya.”
Demikianlah, untuk kesekian kalinya sepasang suami
isteri ini berangkat. Berbeda dengan biasanya mereka selain
mencari jejak outera mereka, kini mereka mencari jejak
perkumpulan Thian hwa kauw. Akhirnya mereka
mendengar berita tentang usaha para tokoh partai besar
untuk mengadakan pertemuan di rumah Sin siang to Bhok
Coan di Kwan leng si sekalian menghadiri pasta she jit
orang she Bhok ini. Kabarnya para tokoh besar itu hendak
merundingkan tentang perkumpulan Thian hwa kauw yang
selain melakukan banyak kejahatan, juga mencemarkan
nama baik partai partai besar dengan membujuk anak anak
murid muda menjadi anggauta.
Mendengar berita ini, Siauw Yang dan Pun Hui lalu
berangkat menuju Kwan leng si yang amat jauh. Akan
tetapi sebelum tiba di kota itu, mereka menghadapi
peristiwa yang membuat mereka untuk pertama kali
berkenalan dengan orang orang Thian hwa kauw.
Ketika itu mereka tiba di kota Leng ok. Siauw Yang
ingat bahwa di kota ini tinggal seorang guru silat she Can
yang pernah mengunjungi ayahnya dahulu untuk
menyatakan penghormatan dan kekaguman. Karena sudah
kenal, Siauw Yang menyatakan kepada suaminya untuk
mengunjungi rumah sahabat ini dan menanyakan
keterangan tentang Thian hwa kauw.
Akan tetapi, ketika Siauw Yang dan suami nya tiba di
depan rumah Can kauwsu (guru silat) ini, pintu rumah
tertutup rapat dan keadaan di situ sunyi saja. Padahal tentu
penghuninya berada di dalam karena dari rumah bagian
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
belakang mengebul asap, tanda bahwa di dalamnya ada
orang masak.
Siauw Yang mengetuk pintu dengan keras, kemudian
mengerahkan khikang dan berseru nyaring, “Apa Can
kauwsu ada di rumah? Aku anggauta keluarga Song dari Tit
le datang berkunjung!”
Sengaja Siauw Yang menyebut nyebut keluarga Song
dari Tit le agar guru silat itu ingat akan mendiang ayahnya,
Thian te Kiam ong Song Bun Sam. Setelah mengeluarkan
teriakan itu, ia dan suaminya menanti. Sunyi senyap untuk
beberapa lama, akan tetapi pendengaran Siauw Yang amat
tajam sehingga ia dapat mendengar suara kaki bergeser di
balik pintu.
“Kreetttt.... !” Sebuah lubang sebesar kepala orang
terbuka di tengah tengah daun pintu dan dari dalam
menjenguk sebuah muka yang hampir saja Siauw Yang
tidak kenal lagi kalau saja ia tidak melihat sebuah tahi lalat
merah di ujung hidung orang itu. Inilah Can kauw su tak
salah lagi. Jarang di dunia ini ada orang dengan tahi lalat
merah di ujung hidung. Akan tetapi mengapa muka ini
begitu berubah? Nampak tua sekali dan kerut merut pada
muka itu membayangkan ketakutan hebat. Sepasang mata
yang kemerahan, agaknya kurang tidur, menatap mereka
dan nanpak kecewa, lalu terdengar suaranya bertanya
parau,
“Kalian siapa dan ada keperluan apa?”
Siauw Yang terkejut. Dari gerak pundak orang itu yang
kelihatan sedikit, ia dapat menduga bahwa tangan orang itu
memegang senjata tajam siap untuk bertempur. Ia lalu
tersenyum ramah dan berkata,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Can kauwsu, apakah kau baik baik saja? Aku Song
Siauw Yang puteri Thian te Kiam ong, dan ini suamiku,
Liem Pun Hui. Apakah kau lupa kepadaku?”
Akan tetapi keramahan Siauw Yang ini tidak mendapat
sambutan yang layak. Muka itu bahkan makin masam
nampaknya dan bertanya kaku,
“Hemmm, ada keperluan apakah mencari aku seorang
she Can yang bodoh?”
“Can kauwsu, mengapa kau berkata demikian?
Kami.….”
“Katakanlah ada urusan apa, aku tidak punya banyak
waktu. Aku akan membantu sebisaku.” Setelah berkata
demikian, muka itu memandang jelalatan ke kanan kiri,
sama sekali tidak memperdulikan sepasang suami isteri itu.
Siauw Yang membanting banting kaki kirinya dan ini
dikenal baik oleh Pun Hui. Kalau isterinya sudah
membanting banting kaki kiri, ini berarti Siauw Yang mulai
panas perutnya dan akan marah. Maka ia mendahului
isterinya itu menjura kepada “muka” di tengah daun pintu
itu sambil berkata,
“Can kauwsu, harap maafkan kalau kedatangan kami ini
mengganggu. Sebetulnya kami hanya ingin bertanya sedikit
kepada kauwsu tentang Thian hwa kauw dan....”
“Ayaaaaa.... !” Muka di pintu itu berseru dan lubang itu
tertutup cepat cepat, kemudian dari balik daun pintu itu
terdengar suara Can kauwsu, “Aku tidak kenal Thian hwa
kauw. Aku tidak tahu menahu tentang Thian hwa kauw.....
Pergilah kalian dari sini!” Setelah itu terdengar suara kaki
berlari pergi menjauhi pintu.
Siauw Yang sudah mencabut pedangnya dan hendak
menggempur pintu. Wataknya yang dulu timbul lagi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menghadapi sikap orang yang keterlaluan ini. Akan tetapi
suaminya segera memegang tangannya.
“Sabar, niocu. Orang tidak mau menerima tamu,
mengapa kita harus memaksa tuan rumah? Lebih baik kita
mencari keterangan di lain tempat.” Ia menarik narik
lengan isterinya yang masih marah itu.
Malamnya, di dalam kamar hotel setelah kepalanya
menjadi dingin biarpun hatinya masih panas Siauw Yang
berkata kepada suaminya,
“Aku benar benar merasa curiga sekali. Sikap Can
kauwsu tadi seperti bukan sewajarnya Dia semenjak kita
datang sudah kelihatan ketakutan. Buktinya pintu ditutup
rapat rapat dan mukanya kelihatan sedang menghadapi
kesulitan yang hebat. Apalagi setelah kita menyebut Thian
hwa kauw, ia kelihatan terkejut dan makin ketakutan.
Suamiku, aku merasa penasaran sekali. Siapa tahu kalau
kalau orang she Can ini ada hubungannya dengan Thian
hwa kauw, siapa tahu kalau kalau dia menjadi
anggautanya. Malam ini aku harus pergi menyelidik ke
sana.”
Liem Pun Hui cukup mengenal watak isterinya yang
pantang mundur dalam menghadapi urusan apa saja. Dia
sendiripun tadi menaruh curiga dan melihat sikap ketakutan
dari Can kauwsu, maka ia tadi melarang isterinya marah
marah. Dia sendiri biarpun sudah mendapat banyak
kemajuan dalam ilmu silat karena petunjuk petunjuk
isterinya, namun masih kurang leluasa kalau harus
menyelidiki rumah orang di waktu malam, apalagi di
rumah seorang guru silat. Maka ia tidak dapat mencegah
kehendak isterinya itu dan hanya dapat memesan,
“Kau berhati hatilah, niocu. Jangan mencari perkara.
Kau menyelidik saja untuk mengetahui mengapa ia
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
bersikap ketakutan. Jangan kau terlalu membikin aku
gelisah menanti di sini!”
Siauw Yang mengangguk, kemudian setelah berpakaian
serba ringkas dan membawa pedangnya, nyonya yang
gagah ini melompat keluar melalui jendela, terus naik ke
atas genteng dan menuju ke rumah Can kauwsu melalui
genteng rumah rumah orang. Gerakannya masih lincah dan
ringan seperti di waktu mudanya dan di dalam malam yang
remang remang diterangi sinar bulan itu, bayangannya
masih memperlihatkan bentuk tubuh yang singset dan
ramping.
Ketika tubuhnya melayang di atas genteng rumah dekat
rumah Can kanwsu, ia melihat berkelebatnya tujuh
bayangan orang yang gesit gesit tanda bahwa mereka itu
memiliki lweekang dan ginkang yang tinggi. Melihat tujuh
orang itu masing masing memegang setangkai bunga,
hatinya berdebar, inilah orang Thian hwa kauw, pikirnya.
Memang ia sudah sering kali mendengar bahwa orang
orang Thian hwa kauw itu selalu membawa setangkai
bunga yang dapat dipergunakan sebagai senjata. Dengan
hati hati sekali Siauw Yang mendekam di atas genteng
bersembunyi, kemudian ia melompat dan mengikuti gerak
gerik tujuh orang itu.Mereka bertujuh berlompatan bagikan
kucing memasuki pekarangan rumah Can kauwsu. Tak
lama kemudian terdengar jerit ketakutan.
Siauw Yang cepat melompat ke atas genteng ruangan
tengah dari mana suara jeritan itu keluar, membuka genteng
dan dengan gerakan Lee hi Ta teng, ia melompat ringan
dan ketika tubuhnya melayang turun, kakinya mengait tiang
melintang dan demikianlah, dengan tubuh berjungkir
kepala di bawah kaki mengait tiang, nyonya yang gagah ini
mengintai apa yang sedang terjadi di bawah. Ia melihat
tujuh bayangan tadi telah berdiri di bawah, merupakan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
barisan dua dua, anehnya barisan itu ternyata merupakan
tiga pasang muda mudi yang tampan dan cantik, sedangkan
orang ke tujuh yang berdiri di depan adalah seorang kakek
tua bongkok yang buruk sekali rupanya. Tiga orang pemuda
dan tiga orang dara yang tampan tampan itu berdiri tegak
seperti patung, sedangkan kakek itu nampak marah marah.
Di depan mereka bertujuh ini berdiri Can kauwsu dengan
golok di tangan. Guru silat ini nampak ketakutan, akan
tetapi sepasang matanya menyinarkan kenekatan seperti
orang gila. Di sebelah kirinya berdiri seorang gadis cantik
berusia paling banyak enambelas tahun, juga gadis ini
nampak pucat, akan tetapi ia berdiri di samping ayahnya
sambil memegang sebatang pedang. Dia adalah puteri Can
kauwsu yang tentu saja sebagai anak guru silat telah belajar
ilmu silat pula yang tidak rendah. Adapun di belakang
mereka ini, nampak beberapa orang wanita yang saling
peluk dan berlutut dengan tubuh menggigil. Mereka ini
adalah isteri Can kauwsu dan beberapa orang pelayan.
Suara jeritan tadi keluar dari mulut mereka inilah yang
sudah setengah mati karena ketakutan.
“Can kauwsu, apakah kau sudah tahu akan dosamu yang
amat besar terhadap Thian hwa kauw?” Terdengar kakek
itu bertanya dengan suara penuh ancaman. Mendengar
penanyaan ini nampak Can kauwsu gementar, namun
dengan suara tegas ia menjawab,
“Aku tidak ada hubungan dengan Thian hwa kauw, aku
tidak tahu apa apa tentang Thian hwa kauw, jangan
mengganggu kami serumah tangga yang tak berdosa !”
Mendengar suara ini, Siauw Yang teringat akan sikap guru
silat itu siang tadi. Ia menjadi tertarik sekali dan
memandang dengan penuh perhatian.
Kakek itu mengeluarkan suara ketawa mengejek.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Heh heh heh heh, Can kaowsu masih berani
membohong? Kau telah membunuh mati seorang siulam
(pemuda tampan) anggauta Thian hwa kauw, dan kau
masih hendak menyangkal?”
“Tidak! Aku tidak membunuh anggauta Thian hwa
kauw! Kapankah aku berhubungan dengan Thian hwa
kauw sehingga dapat nembunuh angautanya?” jawab Can
kauwsu tegas.
“Heh heh heh heh, Thian hwa kauw takkan bertindak
tanpa bukti. Sam wi kongcu (tiga orang tuan muda) harap
ambil buktinya dan bawa ke sini!” kata kakek itu dan tiga
orang pemuda tampan dari rombongannya melompat cepat
menuju ke pekarangan atau kebun di belakang rumah Can
kauwsu.
Melihat ini, nona cilik di samping Can kauwsu nampak
gemetar tubuhnya dan tangan kanannya memegang lengan
ayahnya dengan memindahkan pedang di tangan kiri.
Kemudian ia memindahkan pula pedang itu ke tangan
kanan sedangkan tangan kiri menyusuti peluh di leher dan
keningnya. Biarpun malam itu cukup dingin, agaknya nona
ini merasa gerah dan gelisah sekali. Juga Can kauwsu yang
bertubuh tinggi besar dan kelihatan gagah itu nampak
cemas dan takut ia mencoba menenangkan hatinya sambil
melangkah maju dan berkata kepada kakek itu,
“Locianpwe, sesungguhnya aku orang she Can selama
hidup tak pernah mengganggu orang, apalagi mengganggu
Thian hwa kauw yang belum kukenal. Mengapa locianpwe
sekalian mencampuri urusan rumah tanggaku?”
“He he he, orang she Can, tak perlu banyak cakap.
Tunggu sampai buktinya di depan mata baru boleh bicara!”
jawab kakek itu galak.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tak lama kemudian tiga orang pemuda tampan tadi
nampak muncul dari belakang. Mereka bertiga menyeret
sesuatu dan Siauw Yang terpaksa menutupi hidungnya
dengan ujung lengan bajunya. Bau yang amat tidak enak
menyerang hidungnya, bau.... bangkai! Ketika tiga orang itu
telah datang dekat, mereka melempar benda yang mereka
bawa itu dan ternyata itu adalah sebuah.... mayat manusia
yang sudah mulai membusuk! Can kauwsu melangkah
mundur dengan muka pucat, puterinya mengeluarkan jerit
tertahan sedangkan para wanita yang tadi berlutut kini
menjadi makin ketakutan. Nyonya Can yang berjantung
lemah sudah hampir pingsan, saking ngeri dan takut.
“Heh heh heh, orang she Can, bukti sudah di depan
mata. Jenazah orang siulam dari Thian hauw kauw sudah
berada di sini, baru saja digali dari kebunmu. Apakah kau
masih hendak berpura pura dan berani bilang tidak tahu
menahu tentang jenazah terkubur di kebunmu?”
“Dia.... dia adalah jenazah Coa Lok, pemuda hidung
belang....”
“Tak perduli siapa namanya, dia adalah anggauta Thian
hwa kauw dan kau sudah berani membunuhnya!” kakek
bongkok yang bukan lain adalah Hek tok kwi itu berkata
marah.
“Aku.... aku tidak tahu bahwa dia adalah anggauta
Thian hwa kauw..... dia.... dia datang untuk mengganggu
puteriku ini, tentu saja kami melawan dan dia.... dia roboh
dan tewas. Kami menguburnya di dalam kebun.”
“Heh heh heh kau memutar balikkan urusan. Siulam
kami yang telah kau bunuh ini hendak mendatangkan
kebahagiaan kepada puterimu, hendak menjadikan
puterimu seorang siuli di dalam perkumpulan kami.
Maksudnya yang amat mulia itu, mengangkat puterimu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
dari dara biasa menjadi seorang siuli yang kedukannya
sama dengan Thian hwa (Bunga Surga), mengapa kau
menuduhnya yang bukan bukan dan membunuhnya?”
“Tidak! Tidak demikian. Dia datang pada tengah malam,
menggunakan asap beracun dan memasuki kamar anakku
dengan maksud keji. Baiknya kami sudah siap sedia dan....”
“Heh heh heh, maksud keji, katamu? Dia akan
menyempurnakan keadaan puterimu agar dapat diterima
menjadi siuli oleh kauwcu kami, kau bilang bermaksud keji?
Eh, Can kauwsu, kau dengarlah baik baik. Kauwcu sudah
mendengar tentang urusan ini, maka hukumannya
sekarang, kau harus mampus dan puterimu akan dibawa
kesana, bukan untuk mernjadi siuli melainkan menjadi
pelayan yang paling rendah kedudukannya. Kalau ketak dia
pandai membawa diri, baru ada harapan dia naik
kedudukannya.”
Can kauwsu melintangkan goloknya. “Siluman siluman
Thian hwa kauw, kami selalu mengalah dan kalian masih
mendesak terus. Biarpun aku harus mampus, apa kau kira
aku sudi memberikan anakku menjadi anggauta
perkumpulan siluman?”
“Terjang....!!” Hek tok kwi memberi aba aba dan ia
pasang muda mudi itu menyerbu. Hek tok kwi sendiri
melompat ke depan dan di lain saat ia telah berhasil
menyambar pundak gadis cilik anak Can kauwsu itu dan
sekali kempit gadis cilik itu tak berdaya lagi. Can kauwsu
tidak sempat menolong puterinya dan pada saat itu, Hek
tok kwi juga telah menggerakkan tangannya ke arah kepala
nyonya Can untuk membunuhnya.
“Siluman keji, jangan kurang ajar!” Tiba tiba terdengar
bentakan nyaring dan dari atas tiang menyambar turun
tubuh orang yang gesit gerakannya. Setelah orang itu
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyambar dengan pedang digerakkan, hampir saja tangan
Hek tok kwi terbabat putus kalau saja kakek itu tidak cepat
cepat menarik kembali tangannya yang hendak membunuh
nyonya Can tadi! Akan tetapi di lain saat bayangan itu,
bukan lain Song Siauw Yang, sudah berhasi merobohkan
seorang Siulam dan seorang Siuli dengan tendangan dan
pukulan tangan kirinya yang menggunakan hawa pukulan
Soan hong pek lek jiu yang dahsyat.
Melihat cara nyonya kosen ini menyerang dengan
pedang dan pukulan tangan kirinya, Hek tok kwi berseru,
“Tahan dulu Toanio yang baru datang ini siapakah dan
mengapa memusuhi Thian hwa kauw?”
Siauw Yang mengeluarkan ejekan di dalamhidungnya.
“Hah, sekalian siluman keji tak tahu malu! Aku belum
pernah meninggalkan she
menyembunyikan nama.
Aku Song Siauw Yang
dan hari ini kebetulan
sekali aku mendapat
kesempatan untuk
membasmi kalian siluman
siluman jahat!”
Mendengar ini, Hek
tok kwi lalu melompat
mundur dan berkata,
“Melihat muka Song
toanio kami melupakan
dosa dosamu, keparat Can! Biarlah kali ini kami
mengampuni jiwamu!” Setelah berkata demikian, ia
memberi aba aba, “Pergi!” Dan tubuhnya berkelebat cepat
sekali ke atas genteng sambil memanggul tubuh nona Can
yang masih belum di lepaskannya. Empat orang muda
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mudi yang belum roboh segera menyambar tubuh dua
orang yang terluka, bahkan yang dua orang lagi menyambar
jenazah yang bau itu, kemudian cepat melompat ke atas
menyusul Hek tok kwi.
“Kau lepaskan nona itu!” Siauw Yang membentak
sambil mengayun kaki mengejar Hek tok kwi. Ginkang dari
nyonya ini memang hebat sehingga di lain saat ia berada di
atas genteng.
“Tak berani membantah perintah Song toanio!” kakek
itu tertawa dan tiba tiba Siauw Yang mengulurkan tangan
kiri karena tubuh nona cilik itu telah dilontarkan ke
arahnya. Lontaran ini keras sekali. Terpaksa Siauw Yang
mengerahkan lwekangnya dan berlaku hati hati agar nona
yang lemas tubuhnya itu tidak terbanting jauh. Kemudian ia
melompat turun dan melepaskan tubuh nona Can di depan
ayahnya. Setelah itu, cepat ia melompat lagi ke atas untuk
mengejar dan memberi hajaran kepada orang orang Thian
hwa kauw namun mereka sudah lenyap ditelan kegelapan
malam.
Ketika Siauw Yang kembali ke ruangan tengah rumah
Can kauwsu, ia disambut oleh Can kauwsu seanak isteri
sambil berlutut dan bercucuran air mata.
“Song lihiap, mohon sudi mengampunkan boanpwe
yang tak tahu diri, terutama sekali atas sikap boanpwe siang
tadi yang amat kasar. Siapa kira sekarang Song lihiap yang
menyelamatkan nyawa kami sekeluarga. Sungguh boanpwe
layak di pukul mati!” Setelah berkata demikian, Can
kauwsu memukuli kepala sendiri, tanda bahwa ia merasa
menyesal sekali atas sikapnya siang tadi,
“Sudahlah,” Siauw Yang mengangkat tangan memberi
tanda mencegah kelakuan guru silat itu. “Aku tahu bahwa
kau berada dalam ketakutan. Karena sikapmu yang tidak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sewajarnya itulah aku malam malam datang dan kebetulan
melihat sepak terjang orang orang Thian hwa kauw yang
tidak patut. Sebetulnya, siapakah pemuda yang kau bunuh
itu dan bagaimana duduknya perkara?”
Dengan singkat Can kauwsu bercerita. Pemuda itu
bernama Coa Lok, seorang pemuda yang memiliki bakat
baik dalam ilmu silat, juga biasanya berwatak sopan dan
baik. Pemuda ini menarik hati Can kauwsu sehingga pernah
Coa Lok diberi pelajaran ilmu silat. Bahkan diam diam
guru silat ini mempunyai rencana untuk menjodohkan
puteri tunggalnya dengan pemuda yang berasal dari Hok
kian ini. Coa Lok adalah seorang pemuda perantau dan
sekarang bekerja di Leng ok sebagai pembantu seorang
pedagang hasil bumi. Beberapa pekan akhir akhir ini sikap
Coa Lok berubah, matanya liar dan beberapa kali ia
mengucapkan kata kata tidak sopan di depan Can Goat Li
puteri Can kauwsu itu. Kemudian pemuda ini sering kali
menjumpai Goat Li secara sembunyi sembunyi dan
membujuk bujuk gadis itu supaya suka pergi bersama dia
meninggalkan rumah dan menjadi anggauta Thian hwa
kauw! Tentu saja Goat Li tidak sudi melakukan perbuatan
rendah ini, yaitu minggat bersama seorang pemuda
meninggalkan rumah. Bahkan dia menegur Coa Lok dan
menyatakan bahwa kalau pemuda itu orang baik baik dan
suka kepadanya, mengapa tidak mengajukan pinangan saja
kepada orang tuanya sebagaimana orang lajimnya. Namun
Coa Lok tidak mau, hanya mendongengkan tentang
kesenangan menjadi anggauta Thian hwa kauw, di sana
mereka akan hidup seperti pangeran dan puteri istana,
kerjanya setiap hari bersenang senang!
Goat Li lalu melaporkan hal ini kepada ayahnya. Can
kauwsu marah bukan main. Coan Lok dipanggil dan di beri
hadiah maki dan caci bahkan diusir dan dilarang menginjak
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
lantai rumah itu lagi. Coa Lok pergi sambil tersenyum
senyum.
Malamnya menjelang tengah malam, Coa Lok datang
dan mempergunakan hio yang asapnya memabokkan,
mencoba untuk masuk ke kamar Goat Li dengan maksud
keji, dan mungkin sekali hendak menculik gadis itu. Akan
tetapi, Can kauwsu sudah curiga melihat senyum di bibir
pemuda itu siang tadi maka sebagai seorang kang ouw yang
sudah banyak pengalaman, ia sengaja berjaga. Dengan
marah sekali ia lalu menyerang Coa Lok dan dalam
kemarahannya ia membunuh pemuda itu. Akan tetapi,
dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat bahwa
pemuda itu menyimpan setangkai bunga teratai di dalam
saku bajunya, tanda bahwa dia memang betul anggauta
Thian hwa kauw. Hal ini benar benar tak pernah diduga
oleh Can kauwsu. Maka ia cepat mengubur jenazah Coa
Lok di dalam kebun dan semenjak hari itu ia menutup pintu
dan tidak pernah keluar. Ia menyimpan rahasia
pembunuhan itu secara rapat, dan setiap malam ia
ketakutan. Demikianlah mengapa ia bersikap kaku kepada
Siauw Yang dan suaminya, apalagi ketika mendengar
Siauw Yang bertanya tentang Thian hwa kauw.
Dan ternyata, seminggu kemudian setelah pembunuhan
itu terjadi, rombongan Thian hwa kauw datang membikin
pembalasan seperti telah dituturkan di bagian depan.
Siauw Yang menggeleng geleng kepalanya. “Benar benar
jahat dan keji, akan tetapi juga aneh sepak terjang Thian
hwa kauw Can kauwsu, apakah kau tahu di mana sarang
mereka? Aku merasa penasaran sekali dan hendak melihat
siapakah adanya kauwcu mereka itu dan sampai di mana
pengaruh perkumpulan ini. Aku mendengar bahwa sudah
banyak sekali jago jago muda dari pelbagai partai besar
terbujuk dan masuk menjadi anggauta Thian hwa kauw.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Memang sudah boanpwe dengar tentang hal itu, sayang
sekali hamba sendri tidak tahu di mana gerangan pusat
perkumpulan itu. Akan tetapi tak jauh dan sini, di Kwan
leng si akan diadakan pesta hari she jit Si siang to Bhok
Coan. Dia adalah seorang bekas perampok ulung dan tentu
dalam pestanya itu akan datang tokoh tokoh terkemuka
baik dari golongan kang ouw, liok lim maupua hek to.
Wah, kalau lihiap mencari keterangan di sana kiranya akan
tercapai maksud lihiap.”
Memang Siauw Yang sudah mempunyai niat menuju
Kwan leng si, maka ia lalu berpamit dan menolak segala
ucapan terima kasih guru silat itu sekeluarga. Sesamparnya
di hotel, suaminya sudah gelisah tidak karuan.
“Mengapa begitu lama? Ada terjadi apakah?” Tegur
suami ini, lega melihat istrinya pulang dalam keadaan
selamat.
“Terjadi hal hebat. Aku bertemu dengan orang orang
Thian hwa kauwdi sana!”
“Jadi betul betul Can kauwsu menjadi anggauta Thian
hwa kauw?” tanya Liem Pun Hui.
“Hush, bukan demikian. Sebaliknya, dia sekeluarga
hampir saja menjadi korban Thian hwa kauw.” Setelah
berganti pakaian dan menyimpan pedangnya, sambil duduk
di atas ranjang menghadapi suaminya, Siauw Yang
menceritakan semua pengalamannya tadi.
Mendengar penuturan isterinya, Liem Pun Hui bergidik
dan kemudian menarik napas panjang.
“Mudah mudahan saja anak kita jangan terjerumus ke
dalam perkumpulan semacam itu....!”
Demikianlah, suami isteri ini pada keesokan harinya
melanjutkan perjalanan menuju ke Kwan leng si. Karena
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
mereka belum kenal jalan, pula memang tidak tergesa gesa,
mereka datang terlambat dan di tengah jalan mereka
bertemu dengan rombongan lain dari Thian hwa kauw yang
sedang lari membawa barang barang dan orang orang muda
culikan. Melihat kakek bongkok berada pula di antara
rombongan itu, mudah saja bagi Siauw Yang untuk
mengenal bahwa mereka itu adalah orang orang Thian hwa
kauw, maka sambil berseru keras ia mengejar. Akan tetapi
ia tidak berhasil karena ketika ia dan suaminya mengejar
dengan menunggang kuda, orang orang Thian hwa kauw
itu melemparkan obat obat peldak yang mengeluarkan
suara keras dan membikin kaget dan takut kuda tunggangan
Siauw Yang dan suaminya sehingga tidak dapat dipaksa
melanjutkan pengejaran. Siauw Yang hanya mengira bahwa
orang orang Thian hwa kauw itu sudah mengenal
kelihaiannya dan hilang semangat melihat dia muncul.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa di balik ini tersembunyi hal
lain, karena sebetulnya agak mustahil kalau orang orang
Thian hwa kauw yang lihai itu takut kepada nyonya kosen
ini. Terhadap Song Bi Hui, gadis yang kini memiliki
kepandaian jauh di atas tingkat kepandaian Song Siauw
Yang, mereka masih tidak takut bahkan berhasl
menawannya, masa mereka takut kepada Siauw Yang?
Akan tetapi kalau melihat sikap kakek bongkok Hek tok
kwi. memang begitulah agaknya, dia seperti takut sekali
terhadap Song Siauw Yang.
Siauw Yang dan suaminya karena tidak melihat gadis
yang tadi ditinggalkan oleh rombongan Thian hwa kauw,
mengira gadis itu telah lari pergi. Sama sekali mereka tidak
tahu bahwa gadis itu adalah Bi Hui dan bahwa gadis itu
dalam keadaan pingsan telah dibawa pergi oleh Beng Han.
Kini mereka melanjutkan perjalanan ke Kwan leng si.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Sin sian to
Bhok Coan. Apalagi Thio Leng Li, melihat siapa yang
datang, nyonya ini lalu menyambut dengan pelukan, dan
tanpa malu malu lagi Leng Li menangis di pundak Siauw
Yang mendengar akan nasib Leng Li yang kiranya malah
jauh lebih sengsara daripada nasibnya sendiri. Seperti
diketahui, Thio Leng Li kematian ayahnya yang dibunuh
orang tanpa di ketahui siapa pembunuhnya. Juga anak
perempuannya diculik orang. Puteranya, Kwan Sian Hong,
lima tahun yang lalu pergi hendak mencari pembunuh kong
kongnya dan mencari jejak adiknya, akan tetapi hingga kini
juga belum ada kabar beritanya. Lebih celaka lagi,
suaminya, Kwan Lee yang agaknya amat berduka karena
lenyapnya Kwan Li Hwa puteri kesayangannya, telah jatuh
sakit berat sampai datang kematiannya.
“Kasihan sekali kau, adik Leng Li. Biarlah, mari kita
sama sama berusaha mendapatkan kembali anak anak kita
yang hilang dan percayalah, aku akan membantumu
mencari sampai dapat pembunuh ayahmu,” kata Siauw
Yang menghibur.
Kemudian para tokoh kang ouw yang berada di situ
mengadakan perundingan kembali, hati mereka besar
karena kini di situ bertambah seorang berilmu tinggi yaitu
Song Siauw Yang. Hampir semua orang kenal siapa adanya
nyonya ini karena siapakah yang tidak kenal ayah nyonya
ini, Thian te Kiam ong Song Bun Sim Si Raja Pedang?
“Sebelum diadakan perundangan untuk menghadapi
Thian hwa kauw, adakah di antara cu wi sekalian yang
hadir ini tahu apakah sebetulnya perkumpulan itu?
Bagaimana sifat sifatnya dan mengapa pula banyak orang
orang muda sampai terbujuk dan banyak yang suka masuk
menjadi anggotanya?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Oran orang di situ saling pandang, karena memang
sebagian besar atau hampir semua di antara mereka tidak
tahu. Akhirnya setelah ragu ragu sejenak, seorang tosu
menarik napas dan berkata,
“Kiranya pinto dapat menjawab pertanyaan toanio ini.”
Semua orang memandang dan ternyata yang bicara adalah
Tiauw Beng Cinjin, ketua Kim lian pai. Melihat semua
mata memandang penuh gairah untuk segera
mendengarkan penuturannya, kakek Kim lian pai itu
menyambung kata katanya, “Bukan rahasia lagi bahwa
banyak orang orang muda yang tadinya menjadi murid
partai partai besar dan hidup sebagai pendekar muda yang
gagah perkasa, secara tak terduga telah terjerumus masuk
menjadi anggauta perkumpulan sesat itu. Demikian pula
seorang diantara anak murid Kim lian pai terseret masuk.
Pinto sendiri turun gunung untuk mencari anak murid itu.
Tiga bulan kemudian, secara kebetulan sekali ketika pinto
berada di sebuah dusun, serombongan orang Thian hwa
kauw mendatangi rumah hartawan di situ, merampok emas
dan menculik anak gadisnya. Pinto turun tangan dan
ternyata anak murid Kim lian pai itu berada di antara
mereka!” Kakek itu menarik napas panjang sambil
menunda ceritanya.
“Selanjutnya bagaimana, totiang?” Siauw Yang bertanya
mendesak, tertarik oleh penuturan itu.
“Mereka terdiri dari enam orang, tiga pemuda dan tiga
orang gadis. Agaknya untuk melakukan pekerjaan yang
dianggap ringan itu rombongan ini tidak disertai
gembongnya yang berkepandaian tinggi. Pinto dikeroyok,
akan tetapi kepandaian sitat mereka itu sebetulnya tidak
berapa hebat. Yang membikin pinto marah dan
mendongkol sekali adalah anak murid Kim lian pai itu yang
ikut pula mengeroyok pinto! Hayaaa, sakit hati sekali
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
melihat anak murid sendiri membantu musuh. Dengan
marah pinto memukul murid itu sehingga roboh dan
menangkapnya merobohkan pula seorang pengeroyok lain.
Akan tetapi empat orang Thian hwa kauw itu melepaskan
obat obat peledak mereka, dan ketika pinto melompat pergi
membawa tubuh anak murid itu, mereka melarikan diri
membawa seorang kawan mereka yang terluka.” Kembali
kakek itu berhenti, agaknya merasa menyesal bukan main
atas kejadian itu.
“Tentu totiang mendengar cerita tentang Thian hwa
kauw dari anak murd itu, bukan?” kata pula Siauw Yang.
“Betul. Dalam kemarahan, pinto telah mengirim pukulan
maut kepadanya. Nyawanya tak tertolong lagi, akan tatapi
sebelum ia mati, bocah itu telah mengakui kesalahannya
dan menceritakan kedaan Thian hwa kauw kepada pinto.”
Kembali ia berhenti dulu menarik napas panjang, kemudian
dilanjutkannya.
“Menurut penuturannya yang terputus putus dan kurang
jelas, Thian hwa kauw mempunyai anggauta kurang lebih
empatpuluh orang banyaknya, yaitu anggauta anggauta
yang disebut siulam dan siuli, terdiri dari pemuda pemuda
tampan dan gadis cantik. Di samping itu masih ada tujuh
orang kakek dan nenek yang buruk rupa dan lihai sekali
ilmu silatnya. Mereka ini menjadi kepala rumah tangga,
mengepalai semua pelayan di situ, bahkan juga mereka itu
berkuasa atas diri para siulam dan siuli. Yang menjadi
kauwcu adalah seorang wanita cantik sekali. Adapun
praktek praktek yang dijalankan oleh perkumpulan agama
sesat itu amat mengerikan, cabul dan hina. Para siulam dan
siuli itu memang selain bertugas melakukan perintah
kauwcu seperti merampok, menculik anggauta baru dan
lain lain, hidup mereka seperti pangeran dan puteri istana
saja. Di antara para siulam dan para siuli tidak terdapat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
batas dan larangan, mereka hidup bebas berpasangan seperti
binatang binatang di hutan, di pelopori dan diberi contoh
oleh kauwcu sendiri yang mempunyai banyak kekasih.
Benar benar menjemukan sekali dan patut dibasmi!”
“Aneh....” sela Pak Kong Hosiang tokoh Siauw lim pai,
“kalau mereka itu melakukan hal hal cabul dan rendah
semacam itu, mengapa orang muda muda gagah perkasa
sampai dapat terbujuk? Mengapa mereka sudi melakukan
hal hal seperti itu?”
Tiauw Beng Cinjin menghela napas. “Sudah kutanyakan
dan kutegur kepada anak murid Kim lian pai itu tentang hal
ini. Murid pinto yang dalam menghadapi kematiannya
agaknya tetapi sadar dari keadaan tidak sewajarnya itu,
menyatakan bahwa mula mula mereka tertarik karena
melihat banyaknya pemuda tampan dan gadis cantik yang
menjadi anggauta. Akan tetapi sekali datang di tempat itu,
mereka merasa tidak kuasa mengatur jalan pikiran sendiri.
Sangat boleh jadi mereka itu diberi minum semacam racun
yang merampas semangat dan yang dapat membius mereka
sehingga mereka tidak dapat menguasai pikiran sendiri.
Pendeknya, Thian hwa kauw merupakan semacam harem
seperti di istana kaisar, dan para siulam itu sengaja
dikumpulkan untuk menyenangkan hati kauwcu dari Thian
hwa kauw, sebaliknya para siuli itu dikumpulkan untuk
menghibur kekasih kauwcu yang mereka sebut twa kongcu.
Selanjutnya pinto tidak mendengar penjelasan apa apa lagi
karena anak murid itu keburu menghembuskan napas
terakhir. Menyesal sekali dia tidak sempat memberi tahu di
mana adanya pusat perkumpulan terkutuk itu.”
Tiba tiba Sin siang to BhokCoan berkata,
“Aku tahu tempatnya. Lihat, ketika mereka tadi
membawa pergi siang to (sepasang golok) yang tergantung
di pinggangku tanpa kuketahui, mereka meninggalkan ini di
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ikat pinggang sebagai gantinya.” Ia memperlihatkan sehelai
kain berwarna dadu yang ada tulisannya,
“Kalau mau ambil kembali sepasang golok, Datanglah di
hutan Harimau Siluman!”
Di bawahnya terdanat gambar kembang teratai yang
kelopaknya berwarna macam macam.
“Hutan Harimau Siluman adalah hutan Koai houw lim
yang letaknya di kaki gunung Siu sau tak jauh dari sini,”
kata Bhok Coan. “Dan si bongkok tadi mengharapkan
kedatanganku di sana dalam waktu sepuluh hari.
Bagaimanapun juga, kalau tidak ada cu wi yang membantu,
mana aku berani mengantar nyawa ke sana? Lebih baik aku
kehilangan golok, barang sumbangan, dan muka daripada
kehlangan nyawa.” Kata kata Sin siang to Bhok Coan ini
benar benar tak dapat dihargai oleh para orang gagah di
situ, akan tetapi mereka maklum betapa takut dan jerihnya
orang she Bhok ini terhadap Thian hwa kauw. Dan melihat
sepak terjang Thian hwa kauw, ketakutan Bhok Coan dapat
di mengerti.
“Bhok enghiong tak usah khawatir,” kata Thian Cin Cu
tosu Kun lun pai dengan suara mengejek, “memang kami
sudah bersepakat hendak sama sama membasmi
perkumpulan itu. Sudah tentu kami semua berada di
belakangmu.”
“Betul,” kata Pak Kong Hosiang, “memang sebaiknya
kalau Bhok sicu memenuhi undangan mereka itu dan kami
beramai menjadi pengantar Bhok sicu agar kita dapat
masuk dengan mudah. Setelah sampai di sana, baru kita
semua bergerak.”
Demikianlah perundingan dilanjutkan dan diatur masak
masak untuk bersama menggempur Thian hwa kauw yang
selain merupakan gangguan bagi rakyat jelata, juga amat
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
merugikan nama baik partai partai besar karena memikat
anak anak murid partai persilatan yang ternama.
-oo0dw0oo-
Song Bi Hui mengeluh perlahan, kedua matanya masih
dipejamkan. Ia merasa kepalanya pening sekali dan biarpun
matanya dipejamkan, kepalanya merasa seakan akan segala
apa di sekelilingnya berputar putar.
“Kepalaku... berdenyut denyut pusing sekali....”
keluhnya tanpa disadarinya.
Tiba tiba ia merasa ada tangan mengelus elus kening dan
memijat mijat kepalanya dengan halus sekali, dan terdengar
suara orang berkata perlahan.
“Kasihan kau, enci Bi Hui....”
Pijatan pada kepalanya itu sekaligus mengusir rasa
peningnya, akan tetapi Bi Hui tidak memperhatikan ini. Ia
terlalu kaget mendengar suara laki laki, cepat dibukanya
matanya. Melihat seorang pemuda tampan berpakaian
sederhana sedang memijat mijat kepalanya, Bi Hui
menjerit, melompat berdiri dan tangan kanannya
menampar.
“Plak plak....” pipi pemuda itu telah di tampar keras
keras akan tetapi tiba tiba kepalanya pening sekali dan ia
terhuyung huyung sambi memejamkan mata.
“Hati hati, enci Bi Hui, kau belum sembuh betul...”
Dua lengan yang kuat menyambar pinggangnya dan
dengan halus ia dituntun untuk duduk kembali ke bawah
pohon.
“Duduk dan mengasolah, jangan terburu nafsu, kau
masih lemah....!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah peningnya mereda, Bi Hui membuka matanya
dan memandang pemuda itu. Kembali ia cepat cepat
meramkan matanya, mukanya terasa panas saking
jengahnya, bibirnya digigit sendiri untuk menekan debaran
jantung yang terasa cemas. Sejak bilakah dia bersama
pemuda ini? Hatinya tidak enak sekali.
“Kau.... kau siapakah....?” tanyanya, suaranya gemetar,
penuh bayangan yang bukan bukan.
“Enci Bi Hui, kau masih pusing. Nanti kalau kau sudah
sadar betul, kau tentu akan mengenal aku…” jawab
pemuda itu, suaranya halus dan ramah. Siapakah dia ini?
Dia kutampar dua kali, akan tetapi dia tidak marah, bahkan
menolongku tidak sampai jatuh. Bi Hui mengingat ingat,
kemudian ia membuka mata kembali. Pemuda itu duduk
tak jauh dari situ, memandangnya dengan bibir tersenyum
dan sinar mata mengandung iba hati. Ketika memandang
ke sekeliling, Bi Hui mendapat kenyataan bahwa mereka di
dalam sebuah hutan yang sunyi. Hatinya agak lega. Tadi ia
mengira bahwa ia sudah terjatuh ke dalam tangan Thian
hwa kauw. Akan tetapi, hatinya tercekat kembali, siapa
tahu kalau kalau pemuda ini anggauta Thian hwa kauw...?
“Siapa kau….?” Ia menatap tajam penuh selidik. Serasa
ia kenal akan wajah ini, akan tetapi lupa lagi di mana
pernah bertemu.
Pemuda itu tersenyum. “Sukur, kau sudah sembuh, enci
Bi Hui. Aku sudah merasa gelisah sekali. Tiga hari tiga
malam kau pingsan dan baru sekarang siuman kembali.”
“Tiga hari tiga malam? Dan selama itu aku di sini....?”
Pemuda itu mengangguk.
“Di tempat ini dengan......... dengan engkau…?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kembali pemuda itu mengangguk tenang dan mukanya
bersih seperti muka orang yang tidak berdosa.
“Dan kau.... kau ini siapakah, mengapa menjaga aku di
sini dan kita berada di mana?” Bi Hui bangkit hendak
berdiri akan tetapi kembali ia terduduk karena kepalanya
masih pening kalau ia berdiri.
“Enci Bi Hui, aku kebetulan lewat dan mendapatkan kau
rebah pingsan di tengah jalan. Aku lalu membawamu ke
tempat ini agar kau dapat tidur di bawah pohon, tak
kusangka kau pingsan sampai tiga hari tiga malam. Hutan
ini tidak begitu jauh dari tempat kau pingsan.”
“Hem, aku ingat sekarang. Siluman itu menyerangku
dengan kembang.... baunya harum bukan main.... Lalu aku
lupa segala.... eh, kau ini siapakah?” kembali ia menatap
wajah yang ramah dan tampan itu. Pemuda itu paling
banyak berusia sembilan belas tahun, kulit mukanya putih
dan alisnya hitam tebal. Muka yang tampan sekali, akan
tetapi yang paling menarik adalah sepasang matanya yang
tajam menyambar nyambar seperti kilat. Mata yang amat
berpengaruh dan mengandung kelembutan.
“Enci Bi Hui, betul betulkah kau tidak kenal lagi
kepadaku? Belum juga begitu lama, baru sepuluh tahun.
Bagiku kau masih sama seperti dulu, enci, belum berubah.
Apakah kau lupa padaku?”
Bi Hui teringat dan ia tertegun sejenak. Kemudian ia
berkata perlahan.
“Kau.... kau Beng Han....?” Ia ragu ragu, benarkah
pemuda tampan in Beng Han? Memang ada persamaan
pada wajah itu, akan tetapi mungkinkah bocah itu sekarang
menjadi seorang pemuda begini .... begini.... ganteng?
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Ketika pemuda ini mengangguk membenarkan ia segera
menyambung untuk menutupi perasaan kagumnya dengan
teguran penuh curiga.
“Kau mengapa berada di sini? Kau mau apa dan apa
hubunganmu dengan Thian hwa kauw?”
BengHan tersenyum pahit melihat sikap gadis itu.
“Enci Bi Hui, agaknya masih belum lenyap keraguanmu
terhadap diriku. Telah kuceritakan tadi bahwa tanpa
disengaja aku mendapatkan kau pingsan di tengah jalan,
maka kau kubawa ke sini. Adapun aku berada di sini
karena.... enci Bi Hui, lupakah kau akan sumpahku dahulu?
Aku akan mencari pembunuh pembunuh suheng berdua
dan akan menyeret mereka di depan kakimu?”
Mendengar ini, Bi Hui tertusuk hatinya, merasa
diingatkan bahwa sakit hatinya atas kematian ayah
bundanya belum juga terbalas sampai saat itu. Tak terasa
lagi dua titik air mata meloncat keluar dan menetes turun ke
atas pipinya, ia cepat menundukkan mukanya. Teringatlah
ia akan peristiwa dahulu ketika ayah bundanya terbunuh,
mereka mendapatkan Beng Han di dalam kamar dengan
pedang di tangan. Kemudian teringat pula ia betapa
mereka, dia dan para pelayan, menyiksa Beng Han untuk
memaksa bocah itu mengakui perbuatannya, yaitu
membunuh ayah bundanya. Akhir akhir ini baru Bi Hui
insyaf bahwa sungguh hal yang amat tidak mungkin kalau
bocah berusia delapan sembilan tahun itu mampu
membunuh ayah bundanya yang berilmu tinggi! Ahli ahli
sitat yang kepandaiannya sudah tinggi sekalipun belum
tentu akan dapat membunuh ayah bundanya. Apalagi Beng
Han. Sungguh fitnahan keji ketika itu dilontarkan ke atas
kepala Beng Han. Kalau ia teringat ia menjadi malu sendiri
dan diam diam ia merasa bersyukur bahwa pada saat ia
hendak membunuh Beng Han, muncul Sin tung Lo kai
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang mencegahnya. Dan sekarang ia bertemu dengan Beng
Han yang sudah menjadi pemuda dewasa yang tampan dan
pemuda ini masih melanjutkan sumpahnya dulu, hendak
membalas sakit hati ayah bundanya.
“Beng Han, apakah kau tidak.... tidak sakit hati
kepadaku....?” tanyanya perlahan, malu untuk mengangkat
muka.
“Enci Bi Hui, mengapa kau bertanya demikian? Kita
adalah orang sendiri, kalau ada rasa sakit hati, perasaan itu
sepenuhnya kutujukan kepada pembunuh pembunuh ayah
bundamu!”
“Aku dulu...... pernah.... pernah menyiksamu.” suara Bi
Hui makin perlahan, belum berani ia mengangkat
mukanya.....
“Ah, betulkah? Aku malah sudah lupa lagi, enci Bi Hu.
Kalaupun demikian, tentu karena kau menjadi kalap
berhubung dengan kematian ayah bundamu itu. Aku tidak
menyalahkan engkau, enci.”
“Akan tetapi.... aku telah.... hampir saja kau kubunuh
pada waktu itu.... kalau saja tidak dicegah oleh Sin tung Lo
kai....” suara Bi Hui makin lirih, kepalanya makin
menunduk.
“Aaah, orang tua yang gagah perkasa. Sin tung Lo
kai...... itu. Sayang.... diapun menemui kematiannya dalam
keadaan penasaran, seperti ayah bundamu, enci Bi Hui.”
Kini Bi Hui berani mengangkat muka menatap wajah
pemuda itu setelah mengutarakan hal yang mengganjal di
hatinya.
“Kau sudah tahu....?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Beng Han mengangguk. “Di samping sumpahku dulu,
kini kutambah lagl janji untuk mencari pembunuh Sin tung
Lo kai dan kubalaskan sakit hatinya.” Kata kata ini
diucapkan oleh Beng Han dengan semangat bernyala nyala.
Melihat itu diam diam Bi Hui memuji kesetiakawanan
pemuda ini, akan tetapi juga geli hatinya. Pemuda ini bisa
apakah? Dia sendiri yang memiliki kepandaian tinggi,
bahkan sudah digembleng lagi oleh dua arang guru yang
sakti, masih belum berhasil mencari musuh besarnya. Dan
orang jahat di dunia ini begini banyak dan lihai. Pemuda ini
bisa apa? Akan terapi tentu saja dia tidak mau menyatakan
perasaan hatinya itu.
“Beng Han, benar benar kau mau memaafkan semua
perbuatanku yang menyakiti hatimu dulu?”
“Tidak ada yang harus dimaafkan enci Bi Hui, karena
selamanya aku tak pernah sakit hati kepadamu.”
“Kau harus memaafkan, Beng Han. Kalau tidak,
selamanya aku akan merasa berdosa kepadamu dan tak
enak berhadapan denganmu.”
Beng Han menghela napas panjang. “Baiklah. Kalau
sekiranya ada kesalahan di antara kita tentu saja aku suka
memaafkanmu lahir batin, enci Bi Hui. Aku sudah hutang
budi banyak sekali kepada ayah bundamu, terutama sekali
aku berhutang budi yang takkan mampu kubalas kepada
suhu, kong kongmu. Mengapa engkau begitu sungkan
sungkan antara orang sendiri?”
Diam diam Bi Hui kagum juga. Benar benar Beng Han
sekarang bukan Beng Han bocah yang dulu itu. Akan tetapi,
tetap saja ia menyangsikan apakah pemuda ini akan
mampu membalas sakit hati yang sampai sekarang belum
terlaksana itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Terima kasih Beng Han. Sekarang aku berani
memandangmu dan kalau kau benar hendak membalaskan
sakit hati keluargaku, mari kita bekerja sama. Terus terang
saja sampai sekarang aku belum menemukan jejak
pembunuh pembunuh itu. Kau bagaimana?”
“Agaknya tak lama lagi kita akan dapat berhadapan
muka dengan mereka, enci.”
“Kaumaksudkan....??”
Beng Han menyambut tatapan sinar mata Bi Hui dengan
berani. Kemudian ia mengangguk. “Tak salah, seperti juga
pengakuanku dahulu, pembunuh ayah bundamu bukan lain
adalah Liem Kong Hwat dan seorang wanita siluman.”
“Cia Kui Lian...??”
”Mungkin demikian namanya.”
“Dan kau sudah ketahui tempat tinggal mereka?”
“Sedang kuselidiki, enci. Sekarang lebih baik kita
mencari sarang Thian hwa kauw lebh dulu. Perkumpulan
ini terlalu jahat....”
“Kau tahu aku dijatuhkan oleh Thian hwa kauw….?” Bi
Hui memotong cepat. Gadis ini memang cerdik dan ia ingin
memancing, karena ada dua kemungkinan ia terjatuh
kedalam tangan Beng Han. Yaitu ditolong pemuda ini dari
tangan orang Thian hwa kauw atau memang kebetulan saja
ia ditinggalkan oleh mereka. Kalau ditinggalkan, agak tak
mungkin.
“Aku hanya tahu kau ditinggalkan di pinggir jalan dalam
keadaan pingsan dan aku melihat beberapa orang pemuda
dan gadis yang membawa kembang teratai. Sudah lama aku
mendengar tentang mereka, itu adalah orang orang Thian
hwa kauw. Enci Bi Hui, agaknya menang perjalanan ini
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menuju ke satu jurusan dan niat kita cocok benar. Tidak
saja kita sama sama hendak mencari musuh musuh besar
kita, juga kebetulan sekali kau hendak membasmi Thian
hwa kauw, padahal akupun sedang mencari mereka
untuk.... kalau mungkin dan kalau tenagaku mencukupi,
menyerbu sarang mereka.”
Bi Hui tersenyum lemah, ia dapat menduga bahwa tentu
Beng Han sudah mempelajari beberapa jurus ilmu silat,
mungkin agak lihai, akan tetapi pemuda ini tidak ada
artinya kalau dibandingkan dengan Thian hwa kauw.
Betapapun juga, baik juga mempunyai kawan yang
sehaluan.
“Thian hwa kauw sudah terlalu tersohor, siapakah yang
takkan memusuhinya? Para tokoh terkemuka sekarang juga
sedang bersiap siap menyerbu ke sana?” Tiba tiba Bi Hui
mengerutkan keningnya.
“Kau lapar, enci Bi Hui? Kebetulan aku membawa roti
kering.” Beng Han menurunkan buntalan dari punggungnya
dan dikeluarkan tiga potong roti kering dan seguci arak
ringan.
“Bagaimana kau tahu aku lapar?” Bi Hui bertanya,
mukanya merah karena memang baru saja tadi perutnya
berbunyi dan terasa perih sekali. Biarpun ia sudah menekan
perut dengan hawa lweekangnya, tetap saja berkeruyuk
sedikit.Mungkinkah BengHan dapat mendengar suara itu?
Beng Han tersenyum. “Bagaimana tidak tahu, enci? Tiga
hari tiga malam bukanlah waktu pendek untuk berpuasa
dan selama itu kau tidak dapat makan apa apa, hanya
sedikit air atau arak yang kuteteskan ke dalam mulutmu.”
Kata kata Beng Han demikian wajar, sederhana dan jujur
sehingga Bi Hui tidak menderita terlalu malu. Diam diam ia
berterima kasih sekali dan terlintas bayangan dalam
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
otaknya betapa selama itu siang malam ia dijaga dan
bahkan dirawat oleh pemuda ini. Mukanya menjadi merah
sekali, akan tetapi tanpa bicara apa apa lagi lalu ia
menerima roti kering dan memakannya. Melihat nona itu
makan dengan sungkan sungkan dan nampak malu malu,
BengHan lalu ikut makan.
“Beng Han, kau baik sekali. Terima kasih,” kata Bi Hui
setelah menghabiskan dua potong roti dan minum dua
cawan arak ringan.
“Aah, enci Bi Hui, baik apanya sih? Biasa saja antara
kita, mana perlu sungkan sungkan? Lagi pula, rotinya keras
dan araknya kurang manis.”
“Bukan itu, Beng Han. Aku berterima kasih bukan untuk
roti dan arak, melainkan untuk pertolonganmu, kalau kau
tidak menolongku, menjagaku siang malam sampai tiga
hari tiga malam, entah bagaimana jadinya dengan aku,
pingsan selama itu di tengah jalan.”
“Tak usah berterima kasih, enci. Sudah kewajibanku
untuk membantumu. Aku sejak dulu merasa amat kasihan
kalau teringat kepadamu, enci. Kau benar benar seorang
yang selalu dirundung kemalangan. Benar benar amat
buruk nasibmu dan aku doakan semoga selanjutnya
nasibmu akan berubah. Apakah.... apakah aku belum
mempunyai.... ci hu (kakak ipar ), enci?”
Bi Hui tiba tiba menundukkan mukanya, menggeleng
geleng kepalanya dan.... menangis terisak isak. Kata kata
Beng Han itu benar benar membuat ia bersedih sekali dan
tak tertahankan lagi ia menangis.
“Maaf, enci Bi Hui.... aku tidak bermaksud menyinggung
hatimu....” kata Beng Han penuh sesal. Akhirnya Bi Hui
dapat mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ia menyusut air mata terakhir. Kemudian rona ini
tersenyum!
“Tidak, Beng Han. Aku hanya lupa diri dan teringat
kepada ayah bundaku. Aku.... aku masih seperti dulu, aku
belum menikah, selama ini aku melanjutkan pelajaran ilmu
silatku dari dua orang guru baru yaitu suhu Bu eng Lo kai
dan suthai Soat Li Suthai. Baru beberapa pekan saja aku
berpisah dengan mereka.”
“Aduh, kalau begitu kau tentu lihai sekali, enci! Biarpun
belum begitu luas pengalamanku, namun nama dua orang
locianpwe yang sakti itu sudah pernah kudengar. Kali ini
musuh musuh besar kita tentu akan mampus kalau
berhadapan dengan kau.”
Kegembiraan Beng Han menggembirakan pula hati Bi
Hui, namun ia segera merendah. “Kepandaianku masih
belum seberapa. Dan kau sendiri bagaimanakah? Siapa
gurumu dan selama ini kau belajar di mana saja?”
“Enci Bi Hui, aku satu kali menjadi murid suhu Thian te
Kiam ong Song Bun Sam, mana bisa menjadi murid orang
lain? Selama ini aku hanya belajar sendiri memperdalam
pelajaran yang kuterima dari suhu,” kata Beng Han,
setengah menyembunyikan kepandaiannya, akan tetapi
sama sekali tidak membohong, karena bukankah memang
selama ini ia mempelajari ilmu silat warisan dan Thian te
Kiam ong gurunya?
Diam diam Bi Hui menganggap bahwa kepandaian Beng
Han takkan dapat melebihi tingkatnya dulu sebelum ia
belajar pada dua orang gurunya yang baru. Kemudian
matanya yang tajam melihat gagang pedang menonjol di
balik baju Beng Han yang longgar, maka tanyanya setengah
bergurau,
“Ah, pedangmu tentu bagus, ya?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Tiba tiba sikap Beng Han berubah dan wajahnya nampak
sungguh sungguh ketika ia berkata,
“Enci Bi Hui, apakah kau sekarang sudah betul betul
percaya kepadaku, tidak ragu ragu dan tidak curiga lagi?”
Bi Hui menggelengkan kepalanya. “Tidak, dulu aku
kurang pikir dan bodoh, Beng Han. Mengapa kau
mengulangi hal ini?”
“Karena aku akan memperlihatkan sesuatu yang
mungkin akan mengejutkan dan mengherankan hati itu,
enci Bi Hui. Lihatlah apa kau mengenal ini?” Cepat ia
mengambil pedang Kim kong kiam dari balik bajunya dan
memperlihatkan pedang itu kepada Bi Hui.
“Kim kong kiam...” Bi Hui memandang ke arah pedang
itu dengan mata terbelalak lebar, tangannya diulur hendak
merampasnya.
Beng Han menghela napas panjang, memberikan pedang
itu ke tangan Bi Hui hingga gadis ini tak perlu
merampasnya.
“Beng Han, dari mana kau mendapatkan ini? Dulu
pedang ini dipalsu orang, yang aselinya hilang dan kini....
tahu tahu berada di tanganmu.”
Beng Han lagi lagi tersenyum pahit. “Enci Bi Hui,
ingatlah, kau tadi menyatakan sudah percaya penuh
kepadaku. Dan pula ketika peristiwa itu terjadi, usiaku baru
delapan tahun.”
Wajah Bi Hui menjadi kemerahan, ketegangan di
mukanya mengendur dan ia berkata, suaranya lemah
perlahan, “Tidak, Beng Han, aku akan mengusir sekuat
tenaga segala perasaan curiga terhadapmu, aku tahu kau tak
berdosa, hanya aku bernasib malang. Akan tetapi sungguh
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
sungguh aku ingin sekali tahu bagaimana pedang yang
disangka hilang itu berada di tanganmu?”
“Enci, kau baik sekali. Kukira tadinya kau akan marah
marah dan menuduhku mencuri pedang. Terima kasih atas
kepercayaanmu. Ketahuilah bahwa Kim kong kiam palsu
itu adalah buatan.... mendiang suhu sendiri.”
Terbelalak mata Bi Hui yang jeli itu, terbelalak kaget dan
heran.
“Apa kau bilang....? Kong kong sendiri yang
memalsukan Kim kong kiam? Mengapa dan
bagaimana....?”
“Enci, kau tentu masih ingat ketika kong kongku Koai
Thian Cu datang berkunjung membawa aku dan
menyerahkan aku kepada suhu untuk diajar ilmu silat?”
“Aku masih ingat, bukankah kong kongmu tukang
gwamia itu?”
“Itulah asal mulanya. Kong kong telah meramalkan
bahwa Kim kong kiam akan mendatangkan malapetaka
pada keluarga Song. Setelah kong kong pergi, suhu selalu
merasa gelisah karena agaknya suhu percaya betul akan
kepandaian kong kong meramal. Maka diam diam suhu
lalu membuat Kim kong kiam palsu untuk diwariskan
kepada anak cucunya. Tentu saja hal ini beliau lakukan
sebagai cara menolak ramalan itu atau sebagai tumbal.
Adapun pedang aselinya yang dikhawatirkan akan
mendatangkan malapetaka itu, oleh suhu disembunyikan di
Kim hud tah, semua ini suhu ceritakan kepadaku, dengan
pesan agar supaya kelak aku mengambil Kim kong kiam
dan sedapat mungkin berusaha jangan sampai pedang itu
menimbulkan malapetaka. Demikianlah, enci, setelah aku
meninggalkan Tit le, aku pergi mencari pedang itu di Kim
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hud tah dan dengan pedang itu aku berlatih ilmu silat yang
pernah kupelajari dari suhu.”
Bi Hui mengangguk angguk. “Kong kong agaknya
percaya penuh kepadamu daripada anak cucunya sendiri.”
Merah muka Beng Han Memang agaknya demikianlah,
akan tetapi ia cerdik dan dapat mencari alasan yang kiranya
masuk di akal. “Agaknya itu adalah pengaruh dan ramalan
kong kong Koai Thian Cu, enci. Karena kong kong
meramalkan bahwa pedang Kim kong kiam akan
mendatangkan malapetaka pada keluarga Song, tentu saja
suhu tidak berani meninggalkan pedang itu kepada anak
cucunya, sebaliknya menyerahkan kepadaku. Akan tetapi
seperti kita semua tahu malapetaka itu kiranya datang juga
menimpa keluargamu, enci Bi Hui. Oleh karena itu, tak
perlu menyingkirkan lagi pedang ini dan boleh kau ambil
kembali, karena pedang ini memang milikmu.”
“Ah, tidak! Kau yang menerima dari kong kong, kau
simpan sajalah,” kata Bi Hui cepat cepat sambil
menyerahkan kembali pedang itu.
“Akan tetapi itu hakmu, enci.”
Bi Hui tetap menggelengkan kepala dan memaksa Beng
Han menerima pedang itu. “Apa kaukira aku tadi
menyatakan kepercayaanku kepadamu hanya pura pura
belaka? Kau lebih patut menerima warisan pedang ini,
pula.... dengan adanya Kim kong kiam, kau dapat menjaga
diri lebih baik.” Di dalam hatinya Bi Hui berkata bahwa dia
sendiri memiliki kepandaian tinggi maka tak perlu
mengandalkan pedang pusaka, sebaliknya orang dengan
kepandaian belum tinggi seperti Beng Han memang perlu
bantuan pedang tajamdan ampuh seperti Kim kong kiam
Beng Han tidak membantah dan menyimpan kembali
Kim kong kiam, namun wajahnya memperlihatkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kegembiraan luar biasa. Ini tidak aneh karena ia sekarang
yakin bahwa gadis ini betul betul sudah percaya kepadanya
dan tidak mempunyai pikiran ragu ragu atau curiga lagi.
“Enci, marilah kita menyelidiki sarang Thian hwa kauw,
siapa tahu dan tempat itu kita akan dibawa kepada musuh
musuh besar kita.”
“Baiklah, aku sudah hampir putus harapan mencari jejak
musuh musuh besarku, sekarang bertemu dengan kau,
timbul kembali harapanku.” Sambil berkata demikian,
sepasang mata gadis itu menatap wajah Beng Hau dengan
penuh kepercayaan dan harapan sehingga muka pemuda itu
menjadi merah.
Berangkat dua orang muda itu untuk mencari musuh
besar mereka, yaitu pembunuh pembunuh Song Tek Hong
dan Ong Siang Cu ayah bunda Bi Hui. Di sepanjang jalan
Bi Hui merasa bingung dengan penjelasan dan kepastian
Beng Han bahwa pembunuh ayah bundanya adalah Liem
Kong Hwat dan Cia Kui Lian. Rasa rasanya tidak mungkin
Liem Kong Hwat melakukan hal itu karena bukankah
pemuda itu keponakan ayah bundanya? Akan tetapi kalau
ia teringat kepada Kui Lian, wanita yang aneh dan berhawa
siluman itu, kalau ia teringat akan apa yang terjadi di taman
bunga rumah bibinya, di mana Liem Kong Hwat
mengadakan pertemuan hina dengan Cia Kui Lian,
keraguannya lenyap dan ia mulai percaya kepada Beng
Han. Kemarahannya meluap dan ia ingin lekas lekas
bertemu muka dengan Cia Kui Lian dan Liem Kong Hwat,
bekas kekasihnya yang kini menjadi musuh besarnya itu.
Kalau ternyata betul Liem Kong Hwat dan Cia Kui Lian
pembunuh ayah bundanya, dia akan memenggal kepalanya
dan membelah dada mereka itu dengan tangannya sendiri.
0odwo0
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Siauw Yang dan Pun Hui tinggal dalam hotel terbaik di
kota Kwan leng si. Menurut rencana perundingan para
orang gagah, tiga hari lagi baru mereka berangkat
mengantar Sin siang to Bhok Coan menuju ke sarang Thian
hwa kauw. Masih ada tiga hari lagi dan terpaksa suami
isteri ini menanti di dalam hotel. Juga Thio Leng Li tinggal
di botel itu, lain kamar. Setiap hari kedua orang nyonya itu
bercakap cakap dan Siauw Yang merasa amat kasihan
kepada Leng Li yang tidak saja kematian ayahnya, akan
tetapi juga kematian suaminya dan dua orang anaknya
entah ke mana perginya! Heran, di dunia ini banyak sekali
orang menderita, dan melihat orang lain yang lebih hebat
penderitaannya, merupakan obat penawar baik sekali untuk
hati sendiri yang menderita. Oleh karena itu, Siauw Yang
yang biasanya suka termenung dan bersedih memikirkan
putera tunggalnya, kini malah menjadi tukang menghibur
yang setiap hari berusaha menggembirakan hati Leng Li
agar nyonya ini tidak terlalu tertekan hatinya.
Pada malam hari ke dua, menjelang tengah hari, ketika
Siauw Yang dan suaminya sudah hampir pulas, tiba tiba
mereka mendengar suara gerakan kaki yang ringan di atas
genteng kamar mereka. Siauw Yang menyentuh lengan
suaminya memberi isyarat dan cepat ia menyambar
pedangnya. Akan tetapi pada saat itu, dari atas genteng
terdengar suara penahan, “Ayah, ibu, Kong Hwat di
sini....!”
Siauw Yang dan Pun Hui menjadi bengong dan untuk
sesaat tidak dapat percaya akan pendengaran sendiri.
“Apakah kau mendengar apa yang kudengar?” tanya
Siauw Yang berbisik. Suaminya mengangguk.
“Ayah, ibu, anakmu menanti di sini. Harap keluar.”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kini tak salah lagi itulah suara Kong Hwat! Tangan
Siauw Yang yang memegang lengan suaminya menggigil.
Akan tetapi segera ia menarik suaminya dan keduanya
cepat memakai sepatu dan tidak lupa menggabungkan
pedang di pinggang. Setelah itu keduanya melompat keluar
jendela, Siauw Yang di depan karena kepandaian isteri ini
lebih tinggi daripada suaminya. Betapapun juga, yang di
dengar tadi hanya suara Kong Hwat, belum keliatan
orangnya dan sebagai orang orang yang sudah banyak
pengalaman mereka tidak berani main sembrono. Siapa
tahu kalau kalau suara itu hanya pancingan musuh yang
berniat buruk.
Ketika mereka sudah keluar hotel dan melompat ke atas
genteng, di sana di atas genteng dan di bawah cahaya bulan,
berdiri seorang pemuda tinggi kurus. Siauw Yang dan Pun
Hui memandang dengan hati berdebar sambil melompat
maju menghampiri.
“Kong Hwat....!” seru Pun Hui, suaranya keren
mengandung teguran.
“Hwat ji...!” seru Siauw Yang, suaranya tercampur isak
tertahan dari keharuan hati.
“Ayah, ibu, mari kita turun agar jangan membikin kaget
tamu tamu lain di hotel ini.” Setelah berkata demikan,
tanpa menanti jawaban ayah bundanya, Kong Hwat
melompat dan berlari menjauhi tempat itu.
Sikap ini saja sudah terasa oleh Siauw Yang dan
suaminya bahwa putera mereka itu agaknya sudah biasa
memberi perintah yang tak harus di bantahnya. Kemudian
mereka mendapat kenyataan lain, yaitu bahwa ilmu
ginkang dan lari cepat darii pemuda putera tunggal mereka
itu telah mendapat kemajuan yang hebat. Dengan girang
Siauw Yang lalu mengejar. Hati ibu ini menduga baik,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
disangkanya bahwa selama ini puteranya tentu telah belajar
ilmu silat lagi kepada orang pandai. Juga Pun Hui
melompat dan mengejar.
Setelah Siauw Yang dan Pun Hai melompat turun dan
berada di tempat sunyi, Kong Hwat lalu menjatuhkan diri
berlutut di depan mereka.
“Ayah.... Ibu....” kata pemuda itu, suaranya agak
gemetar.
“Kong Hwat, selama ini kau minggat ke mana saja?
Anak tidak berbakti, kau sudah membikin susah bukan
main kepada orang tuamu!” kata Pun Hui dengan nada
suara marah.
“Hwat ji, kenapa begini kurus? Apakah kau banyak
menderita?” tanya Siauw Yang. “Apa saja yang kau alami
selama ini?”
“Tentu panjang untuk diceritakan di sini, ayah dan ibu.
Marilah, anak persilahkan ayah dan ibu ikut ke tempat
tinggalku, di sana nanti kita bercakap cakap.” Setelah
berkata demikian, kembali tanpa menanti jawaban atau
putusan ayah bundanya, Kong Hwat bangun berdiri dan
lari cepat ke arah utara.
Siauw Yang bertukar pandang dengan suami nya akan
tetapi mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk
berheran, lalu cepat mengikuti Kong Hwat. Agaknya
pemuda ini masih ingat bahwa kepandaian ayahnya tidak
begitu tinggi maka ia tidak mengerahkan seluruh
kepandaiannya berlari cepat. Kalau ibunya tentu saja tidak
akan kalah dalam hal ilmu berlari cepat olehnya, karena
ibunya mewarisi ilmu ginkang yang hebat dari nenek nya,
yaitu Can Sian Hwa isteri Thian te Kim ong.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mereka bertiga berlari cepat tanpa bercakap cakap. Kong
Hwat di depan disamping ibunya. Pun Hui di belakang.
Berkali kali Siauw Yang menengok dan mengamat amati
wajah puteranya dan memancing mancing bicara. Akan
tetapi Kong Hwat seperti gagu, mukanya yang kurus
memandang lurus ke depan dan seakan akan seluruh
perhatiannya dicurahkan kepada kedua kakinya yang
berlari cepat.
Ternyata kemudian bahwa mereka berlari cepat sampai
setengah malam lamanya. Setelah pagi dan sinar bulan
lenyap dikalahkan oleh cahaya matahari yang kemerahan,
mereka telah tiba di kaki sebuah gunung yang tidak begitu
besar namun penuh dengan hutan. Tanpa berkata kata
Kong Hwat lari terus membawa dua orang tuanya ke dalam
sebuah hutan yang penuh dengan pohon pohon besar sekali,
tiba tiba dari dalam pohon itu terdengar suara harimau
mengaumsaling sahut, seakan akan hutan ini penuh dengan
harimau harimau yang ganas.
Berdiri bulu tengkuk Siauw Yang ketika ia mendengar
suara harimau harimau ini. Teringat ia akan penuturan Sin
siang to Bhok Coan tentang sebuah hutan yang bernama
Koai houw lim (Hutan Macan Siluman) yang berada di kaki
Gunung Siu lan. Menurut Sin siang to Bhok Coan, tempat
itulah sarang perkumpulan Thian hwa kauw, ke mana Bhok
Coan diperintahkan menghadap kauwcu dari perkumpulan
itu! Jangan jangan Kong Hwat puteranya itu telah....??
Siauw Yang merasa ngeri dan tiba tiba ia memegang lengan
puteranya itu, memaksanya berhenti untuk ditanya.
Akan tetapi, berbareng dengan berhentinya Kong Hwat,
dari tempat tempat yang tidak diketahui jelas karena
mereka itu seperti tiba tiba saja muncul, tahu tahu di kanan
kiri jalan telah berdiri puluhan orang pemuda pemudi yang
berpakaian rapih dan indah, semua cantik cantik dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
tampan tampan, berdiri berbaris di kanan kiri jalan. Pakaian
mereka dari sutera putih bersih amat tipis sehingga bentuk
tubuh mereka membayang nyata, bentuk bentuk tubuh
orang orang muda yang indah. Di tangan mereka nampak
bunga bunga teratai beraneka warna dan begitu mereka
muncul, tercium bau harum semerbak yang aneh, sedap dan
wangi, namun merangsang sehingga Siauw Yang hampir
hampir berbangakis. Kemudian mereka itu menggerakkan
tangan kanan dan berhamburanlah daun daun bunga
beraneka warna yang harum, menghujani Kong Hwat dan
dua orang tuanya. Tangan kiri mereka tetap memegang
kembang kembang teratai.
-ooo0dw0ooo-
Jilid XL
“SELAMAT datang Liem loya, twa hujin, dan twa
kongcu!” gadis gadis cantik itu berkali kali menyambut
dengan kata kata merdu dan wajah berseri seri. Terutama
sekali lirikan mata para gadis ini kalau ditujukan ke arah
Kong Hwat, maka nampak sinar aneh yang membkin hati
Siauw Yang berdebar. Sekarang mata gadis gadis ini
demikian liar dan genit, sungguh tidak sesuai dengan wajah
mereka yang cantik lembut dan gerak gerik mereka yang
halus.
“Kong Hwat, kita berada di manakah??!” tanya Siauw
Yang hampir berteriak, dan muka nyonya ini berobah
pucat, juga Pun Hui memandang wajah putranya dengan
tangan terkepal. Kini baru kelihatan olehnya betapa muka
puteranya itu kini menjadi pucat dan sepasang matanya
kehilangan sinarnya yang dahulu, sebaliknya terganti oleh
sinar yang kejam.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ini tempat tinggalku, ibu. Marilah, mari kita ke pondok
dan di sana kita bicara panjang lebar. Mari ayah dan ibu
kuperkenalkan dengan anak mantumu....”
“Anak mantu....? Kong Hwat, kau.... kau....”
Siauw Yang berkata gagap, dua titik air mata keluar dan
meloncat di atas pipinya. Akan tetapi Kong Hwat tidak
berkata apa apa lagi, melainkan menggandeng tangan
ibunya dan diajaknya nyonya itu berjalan terus. Pun Hui
dengan hati berdebar tidak enak mengikuti dari belakang.
Siauw Yang juga tidak mengeluarkan suara lagi karena di
kanan kiri mereka terdapat begitu banyak orang, sungguh
tidak enak kalau harus ribut ribut di sini. Nanti saja,
pikirnya, akan kumaki habis habis bocah ini!
Tak lama kemudian mereka bertiga, diikuti oleh puluhan
orang muda muda yang cantik dan tampan itu, tiba di
depan sebuah gedung besar yang amat indah. Benar benar
amat mengherankan kalau melihat gedung sepeti itu berada
di tengah hutan. Gedung seperti istana ini pantasnya hanya
berada di kota raja, menjadi tempat kediaman pangeran
pangeran.
Di depan istana itu mereka disambut oleh tujuh orang
kakek dan nenek tua yang membuat suami isteri ini terkejut
sekali. Seorang di antara mereka itu bukan lain adalah Hek
tok kwi yang pernah memimpin rombongan siuli dan
siulam menyerbu Siang to Bhok Coan. Yang mengejutkan
hati Siauw Yang dan Pun Hui adalah keadaan tubuh dan
air muka orang ini. Mereka itu rata rata sudah tua sekali
dan muka mereka buruk buruk menakutkan. Inilah mereka
tujuh orang iblis yang biarpun hanya menjadi pelayan
pelayan di Thian hwa kauw, namun mereka merupakan
tokoh tokoh yang paling ditakuti. Hek tok kwi sudah
diketahui kelihaiannya, dan enam orang lain juga terdiri
dari orang orang tua yang tinggi ilmu kepandaiannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mereka adalah lima orang kakek dan dua orang nenek.
Disamping Hek tok kwi adalah See thian mo (Iblis Dunia
Barat), Thung thian mo (Iblis Dunia Timur), Pak thian mo
(Iblis Dunia Utara), dan Lam thian mo (Iblis Dunia
Selatan). Adapun dua orang nenek adalah Tok ciang Kui bo
(Biang Iblis Bertangan Racun) dan Tok sim Kui bo (Biang
Iblis Hati Beracun). Biarpun mereka ini hanya pelayan
pelayan dari Kauwcu (Ketua agama), namun dalam setiap
gerakan, rombongan atau barisan siuli siulam selalu
dikepalai oleh seorang di antara yang tujuh ini.
Tujuh orang tua ini menyambut kedatangan Liem Kong
Hwat dengan penuh penghormatan, menjura dan hampir
berbareng dari mulut mereka keluar kata kata sambutan.
“Selamat datang twa kongcu dan ayah bunda nya yang
mulia. Kauwcu sudah menanti sejak tadi. Silahkan masuk,
silahkan masuk....”
Kini rombongan siuli dan siulam yang tadi menyambut,
telah berpencar dan berdiri di kanan kiri dengan tegak
sementara tujuh orang kakek dan nenek ini menggantikan
mereka mengiringkan Siauw Yang, Pun Hui dan Kong
Hwat terus memasuki gedung yang seperti istana itu. Siauw
Yang makin tidak enak hati, juga di kening Pun Hui timbul
kerut merut karena dia sudah merasa mendongkol sekali,
ingin ayah bunda ini menegur dan menyerang putera
mereka dengan kata kata dan pertanyaan, namun keadaan
di situ membuat mereka menahan diri, bahkan ingin
melihat sampai di mana perkembangan keadaan, ingin pula
mereka melihat bagaimana macamnya dia yang disebut
isteri oleh Kong Hwat.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang amat indah
hiasannya dan begitu mereka masuk ruangan ini, Siauw
Yang dan Pun Hui disambut asap kemerahan yang
kecerahan yang berbau harum sekali. Ternyata asap ini
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
keluar dari pedupaan yang dipasang di tengah ruangan,
pedupaan yang terukir amat indah dan yang rupanya
sengaja ditaruh di situ untuk membuat kamar ini selalu
berbau harum. Setelah mereka dapat membiasakan mata
terhadap asap tipis itu, tampaklah seorang wanita muda
yang cantik sekali duduk di atas sebuah kursi berukir naga.
Pakaian wanita itu serba putih, tipis sekali membayangkan
bentuk tubuh yang menggairahkan. Juga potongan pakaian
itu amat tidak sopan, serba pendek dan kurang. Yang amat
menjemukan hati Siauw Yang dan Pun Hui, wanita itu
tanpa malu malu dan tidak perduli sedang diapit oleh dua
orang aki laki muda yang tampan, kedua lengannya yang
seperi ular itu merangkul leher dua orang pemuda itu!
“Aha, gakhu dan gakbo (ayah dan ibu mertua) selamat
datang. Silahkan duduk,” kata wanita itu dengan suara
merdu dan genit, tanpa melepaskan pelukannya pada dua
orang laki laki muda yang nampak sungkan sungkan karena
ada tamu datang.
Begitu mendapat kenyataan bahwa wanita itu bukan lain
adalah Cia Kui Lian, meluaplah darah Siauw Yang. Ia
merasa mendapat tamparan keras ketika mendengar wanita
itu menyebut dia dan suaminya mertua! Seperti seekor singa
betina Siauw Yang memutar tubuh menghadapi puteranya
dengan mata bernyala.
“Kong Hwat.... Apa yang telah kau lakukan....?!?!?”
Muka Kong Hwat sebentar pucat sebentar merah.
Ingatannya yang sudah mulai suram karena pengaruh ilmu
hitam dari Kui Lian, kini membuyar ketika ia berhadapan
dengan ayah bundanya. Namun, suasana kotor dan
hidupnya yang mengabdi nafsu semata, membuat batinnya
lemah dan semangatnya tipis.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Ibu, dia.... dia itu Thian hwa kauwcu, dia.... isteriku....”
jawabnya sambil menundukkan muka.
“Plak.....!” Kong Hwat terhuyuug ke belakang sambil
meraba pipinya yang kena tamparan ayahnya. “Jahanam
rendah memalukan orang tua!” maki Liem Pun Hui.
Tamparannya tadi ia lakukan dengan sepenuh tenaga, akan
tetapi oleh karena memang kepandaiannya tidak begitu
tinggi, tamparan itu hanya membuat puteranya terhuyung
huyung saja.
“Anak puthauw lebih baik mampus!” Siauw Yang
membentak marah dan pedangnya menyambar ke arah
dada Kong Hwat dengan tusukan maut! Ibu ini sudah
sedemikian marah dan malunya sehingga ia menjadi mata
gelap dan lebih baik melihat anak mati di tangan sendiri
daripada melihat anak hidup mencemarkan nama
keturunan.
Akan tetapi ilmu kepandaian Kong Hwat sudah
meningkat banyak daripada dahulu. Menghadapi serangan
maut yang berbahaya ini ia masih sempat membuang diri ke
samping sehingga bukan dadanya yang tertembus pedang,
melainkan pundaknya. Bajunya robek dan daging
pundaknya terluka mengeluarkan banyak darah. Siauw
Yang masih mengejarnya dengan serangan selanjutnya.
“Tangkap mereka!” Tiba tiba Cia Kui Lian menjerit,
menudingkan telunjuknya ke arah Siauw Yang dan Pan
Hui, matanya mendelik penuh kemarahan.
Tujuh orang tua buruk rupa yang tadinya berdiri diam
saja seperti patung, tiba tiba bergerak maju, berbareng
menubruk Siauw Yang dan Pun Hui. Kepandaian mereka
sudah tinggi maka sebentar saja Pun Hui sudah kena
diringkus dan dibikin tak berdaya. Akan tetapi tidak
demikian dengan Siauw Yang. Nyonya yang gagah perkasa
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
ini mengerjakan pedangnya sedemikan lihai dan ganas
sehingga berturut turut See thian mo dan Lam thian mo
roboh mandi darah. Lima orang tua yang lain menjadi
terkejut dan berhati hati, maklum mereka menghadapi
seorang nyonya yang tinggi sekali ilmu pedangnya. Tidak
percuma Siauw Yang menjadi puteri Thian te Kiam ong.
Ilmu pedangnya hebat sekali. Biarpun kini ia dikeroyok
oleh lima orang yang lihai, tetap saja ia dapat mendesak
mereka. Karena ia sedang marah, kelihaian Siauw Yang
menjadi berlipat, pedangnya berkelebat ganas sekali. Lima
orang tua itu menjadi makin bingung. Kalau saja mereka
dapat perintah “membunuh”, kiranya mereka akan lebih
cepat berhasill, akan tetapi bunyi perintah kauwcu mereka
bukan membunuh melainkan menangkap. Inilah yang
sukar.
Tadinya lima orang ini merasa malu kalau harus
mempergunakan racun. Masa lima orang, bahkan tadinya
tujuh, tokoh tokoh besar Thian hwa kauw menghadapi
seorang lawan saja harus mempergunakan racun racun.
Akan tetapi, ketika kembali seorang diantara mereka, Tung
thian mo, roboh dengan pundak terbabat, terpaksa Hek tok
kwi bertindak. Ia berseru keras, kembang teratai biru
menyambar ke dekat muka Siauw Yang, uap putih
mengebul dan nyonya yang gagah itu menjadi limbung. Di
lain saat Hek tok kwi sudah berhasil menotoknya dan
Siauw Yang menjadi lemas, tak berdaya lagi ketika
dibelenggu
“Siluman siluman Thian hwa kauw tak tahu malu!” Tiba
tiba terdengar bentakan keras dan seorang laki laki tinggi
besar yang gagah sekali. Bentuk badan dan sikapnya,
melompat keluar dari sebuah pintu. Tangannya memegang
sebuah rantai besi yang panjang dan ia memutar mutar
rantai ini, mengamuk di ruangan yang indah itu. Tujuannya
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
adalah menyerang Cia Kui Lian, maka ia menubruk maju
sambil mengirim serangan.
“Eh, bagaimana kuda
ini bisa terlepas? Tangkap
dia!” bentak Kui Lian
sambil melompat mundur
dari tempat duduknya yang
kini mewakilnya menerima
pukulan rantai. Sebagian
dari kursi indah itu menjadi
patah.
Empat orang iblis tua
Thian hwa kauw yang
sudah berhasil menawan
Siauw Yang, kini serentak
menghadapi pemuda itu dan ternyata kepandaian pemuda
itu masih jauh untuk dapat mengatasi kelihaian tokoh tokoh
Thian hwa kauw ini. Sebentar saja ia telah ditawan dan
dikat erat erat dengan rantai besi yang dipergunakannya
mengamuk tadi.
“Bagaimana dia bisa terlepas?” kembali Thian hwa
Kauwcu membentak marah. Dari pintu di mana pemuda
tadi muncul, kini muncul seorang pemuda tampan, yaitu
seorang siulam yang menyeret rambut seorang siuli. Siuli
ini masih muda dan manis sekali, rambutnya awut awutan
karena di tarik oleh siulam itu. Dengan kasar siulam itu
mendorongnya berlutut di depan kauwcu.
“Dia inilah yang melepaskan!” kata siulam itu melapor.
Sepasang mata Kui Lian berpancar marah. “Mengapa
kau melepaskan ikatannya?” bentaknya.
Siuli itu menundukkan mukanya yang menjadi pucat
sekali. “Hamba.... hamba kagum akan kegagahannya.....
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
hamba.... hamba bertugas menjaga dan.... dan tadinya
hamba ingin membujuknya, merayunya... celaka, dia
menipu hamba, setelah terlepas dia lalu memberontak....”
“Keparat, dia itu untuk aku, bukan untukmu! Kau telah
berdosa besar di depan kauwcumu, hayo lekas menebus
dosa!” kata Kui Lian. Siuli itu mengeluarkan tangis
tertahan, memandang ke kanan kiri seperti seekor kelinci
terjepit, kemudaan mencabut kembang teratai merah yang
terselip di kancing bajunya dan menyedotnya keras keras. Ia
mengeluh, terhuyung dan roboh, sebelum mati terdengar ia
menyebut ayah bundanya.
Kui Lian nampak mendongkol sekali dengan adanya
gangguan gangguan ini. “Bawa pergi bangkai ini!
Masukkan tiga orang itu ke dalam tahanan, jaga jangan
sampai terlepas!”
Ketika itu, pemuda tadi sudah siuman kembali dan mulai
berteriak teriak, “Kauwcu siluman! Kau pura pura menjadi
kauwcu, siapa tidak tahu bahwa kau sebenarnya seorang
pelacur kawakan yang hina dina? Jangan harap aku Kwan
Siang Hong seorang laki laki sejati sudi tunduk kepadamu.
Hah! Lebih baik mampus! Anjng buduk sekalipun tidak
sudi padamu, apalagi aku. Tak tahu malu....!” Pemuda ini
tentu akan memaki maki terus lebih hebat lagi sambil
mendelik ke arah Cia Kui Lian kalau saja ia tidak ditotok
pingsan lagi oleh Hek tok kwi dan diseret pergi bersama
Siauw Yang dan Pun Hui yang memandang kepada
pemuda itu dengan kagum. Kini mereka tahu bahwa
pemuda itu bukan lain adalah putera Leng Li yang sedang
dicari cari ibunya tidak tahunya juga tertawan di sini. Dari
keadaan pemuda itu maklumlah Siauw Yang dan suaminya
bahwa agaknya Kui Lian suka kepada pemuda ini dan
hendak menjadikan pemuda itu seorang siulam dan
menjadi kekasihnya, akan tetapi cucu Sin tung Lo kai ini
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menolak mati matian! Memang demikianlah. Pemuda ini
benar benar luar biasa sekali. Biarpun sudah beberapa kali
ia di loloh racun yang mendatangkan rangsang nafsu dalam
dirinya, ia tetap kuat dan teguh mempertahankan
kegagahannya, tetap ia menolak bujukan Kui Lian dan
setiap kali mendapat kesempatan, ia tentu memberontak
dan mengamuk.
Sementara itu, ketika Kong Hwat melihat ayah
bundanya diseret ke kamar tahanan, timbul kebaktiannya.
Ia melompat dan mendorong Hek tok kwi, untuk menolong
dan melepaskan ayah bundanya.
“Hwat ko....!” Bentakan halus yang keluar dari mulut
Kui Lian ini luar biasa sekali pengaruhnya terhadap Kong
Hwat. Tersentak pemuda ini menarik kembali tangannya,
hanya berdiri memandang ayah bundanya yang terus
diseret pergi.
“Hwat koko, kesinilah.......!” kembali Kui Lian berkata,
suaranya merdu, akan tetapi penuh perintah nadanya. Kong
Hwat membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi Kui
Lian, kedua matanya merah dan basah, mukanya berkerut
nampak tua, akan tetapi begitu ia bertemu pandang dengan
Kui Lian, ia melangkah maju sampai di depan wanita itu.
Kui Lian sudah duduk kembali dengan lembut dan senyum
manis memegang tangan Kong Hwat, menariknya sehingga
pemuda itu jatuh berlutut di dekatnya. Ketika kauwcu itu
membelai rambutnya, Kong Hwat mengeluarkan isak
tertahan dan menjatuhkan mukanya di atas pangkuan Cia
Kui Lian, lalu ia menangis!
0oodwoo0
Pada keesokan harinya, serombongan orang gagah
mengiringkan Sin siang to Bhok Coan mengunjungi sarang
Thian hwa kauw. Jauh di luar hutan mereka ini telah
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
disambut oleh sebaris siulam siuli yang dikepalai oleh tujuh
orang kakek aneh. Ternyata bahwa tiga orang kakek yang
terluka oleh pedang Song Siauw Yang, kini telah sembuh
kembali.
“Hanya Sin Siang to Bhok Coan yang diperbolehkan
masuk menghadap kauwcu, yang lain harus menanti di luar
hutan!” kata Hek tok kwi dengan suara keren. Mendengar
ini, tentu saja Sin siang to Bhok Coan menjadi mengkeret
dan ketakutan. Akan tetapi ia mengangkat dada dan
menjawab,
“Sahabat sahabatku ini harus ikut karena merekapun
ingin bertemu dengan Thian hwa kauwcu.” Sementara itu,
para orang gagah yang berada di situ merasa ngeri
menghadapi tujuh orang nenek dan kakek yang wajahnya
betul betul menyeramkan itu. Diam dam mereka bersiap
siap karena maklum bahwa mereka menghadap lawan yang
gagah.
“Tidak bisa. Kauwcu tidak sempat melayni segala
orang,” jawab Hek tok kwi dan kata katanya ini agaknya
merupakan tanda, buktinya kawan kawannya mengatur
barisan dan para siuli dan siulam yang duapuluh empat
orang itu maju mendekat.
Tiba tiba para tokoh itu mengenal anak murid masing
masing. Di antara para siuli dan siulam itu terdapat murid
murid Kun lun pai, Siauw lim pai Kim lian pai dan Go bi
pai.
Pak Kong Hosiang dari Siauw lim pai tak dapat
menahan sabar lagi melihat dua orang pemuda yang gagah,
kini menjadi siulam dan memandang kepadanya seakan
akan tidak kenal. Padahal dua orang pemuda itu masih
terhitung murid keponakannya sendiri. Ia segera memutar
toyanya dan melompat ke arah dua orang muda itu sambil
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membentak. “Murid murtad, hayo berlutut dan menyerah!”
Akan tetapi toyanya yang diayun cepat itu bertemu dengan
tongkat butut di tangan See thian mo, seorang di antara
tujuh tokoh Thian hwa kauw itu keduanya tergetar
tangannya dan melompat mundur.
“Pak Kong Hosiang, benar benar memalukan sekali
seorang hwesio tokoh Siauw lim pai datang datang berlaku
kasar. Mana ada tamu macam ini ?” Hek tok kwi
menyindir. Hwesio itu diam diam memuji Thian hwa kauw
yang ternyata sudah mengenalnya, tanda bahwa kaki
tangan Thian hwa kauw sudah tersebar dan kedatangannya
sudah diketahui lebih dulu.
“Panggil kauwcumu keluar, kami mau bicara. Kalau
kalian tidak mau, terpaksa pinceag dan kawan kawan
menyerbu ke dalam hutan,” kata Pak Kong Hosiang,
toyanya melintang di depan dada.
Pada saat iu tiba tiba dari dalam hutan muncul wanita
cantik.
“Kuda liar! Kau benar besar tidak mengerti cinta kasih
orang, apakah kau ingin mampus saja?” terdengar wanita
itu membentak sambil mengejar cepat.
“Perempuan lacur! Lebih baik aku mati seribu kali lebih
dulu!” jawab laki laki itu yang melihat pengejarnya sudah
dekat, tiba tiba membalikkan tubuh dan memukul
sekerasnya. Akan tetapi dengan mudah wanita itu
menyambut tangannya dan sekali totok pemuda tinggi besar
itu menjadi lumpuh dan di lain saat ia telah dipanggul oleh
wanita itu.
“Sian Hong....! Lepaskan anakku....!” Tiba tiba Leng Li
melompat ke dekat wanita itu dan mencoba untuk
merampas. Memang pemuda itu bukan lain adalah Kwan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Sian Hong yang kembali telah berhasil melarikan diri, kini
dikejar kejar oleh Cia Kui Lian sendiri.
Akan tetapi serangan Leng Li ini di tangkis oleh Kui
Lian dengan mudah mempergunakan pedangnya,
kemudian sekali melompat Kui Lian sudah berada di
tengah rombongannya.
“Robohkan mereka semua!” perintahnya. Sementara itu,
melihat Leng Li sudah bergerak, dan melihat nona cantik
ini muncul, para orang gagah dapat menduga bahwa tentu
inilah kauwcu dari Thian hwa kauw. Serentak mereka
mencabut senjata Thian Ci Cu tokoh Kun lun pai
mengeluarkan pedang pasangan, Pak Kong Hosiang tokoh
Kim lian pai mengeluarkan senjata pian lemas atau joan
pian yang panjang. Thian Beng Hwesio tokoh Go bi pai
membuka kipasnya Ngo heng san, Thio Leng Li sendri
yang berjuluk Bi sin tung menggerakkan tongkat merahnya.
Selain ini masih ada lima orang tokoh kang ouw yang tidak
begitu terkenal turut menyerbu.
Pertempuran hebat terjadi di luar hutan itu antara para
orang gagah melawan Thian hwa kauw. Yang amat
menggemaskan tokoh tokoh itu adalah ketika mereka
melihat betapa anak anak murid mereka yang kini sudah
menjadi siulam dan siuli dari Thian hwa kauw, kini
bergerak dan melawan para guru sendiri. Hiruk pikuk suara
senjata tajam beradu, dibarengi teriakan dan makian, di
susul pekik kesakitan dan robohnya korban. Pertenpuran ini
tentu takkan ramai kalau saja keduanya mempergunakan
ilmu silat biasa karena mana bisa orang orang Thian hwa
kauw melawan para tokoh kang ouw itu dalam ilmu silat?
Di antara para tokoh Thian hwa kauw, yang ilmu silatnya
tinggi hanyalah tujuh orang nenek dan kakek itu, juga Kui
Lian sendiri, akan tetapi pada saat itu Kui Lian belum mau
turun tangan sedangkan para siuli dan siulam memang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
berkepandaian ilmu silat tidak tinggi. Akan tetapi, pihak
Thian hwa kauw amat lihai dalam penggunaan senjata
senjata rahasia yang beracun, yang sudah terkenal amat
sukar dilawan. Sekali saja hidung menyedot hawa beracun
dari bunga bunga teratai yang mereka pergunakan sebagai
senjata, orangnyapun akan roboh pingsan.
“Kurang ajar. Lepaskan asap ngo tok (lima racun)!”
terdengar perintah Thian hwa Kauwcu mangatasi suatu
hiruk pikuk pertempuran. Ia mengeluarkan perintah ini
setelah melihat betapa para penyerbu itu rata rata
berkepandaian tinggi dan banyak anak buahnya yang roboh
terluka. Mendengar perintah ini tujuh orang tua itu
mengatur barisannya dan sebentar saja Leng Li dan kawan
kawannya terkurung dan tiba tiba terdengar letusan letusan
hebat. Segala galanya menjadi gelap dan tercium bau busuk
menyengat hidung ketika asap beraneka warna bergulung
gulung dari benda yang dibanting meledak tadi. Orang
orang gagah barusaha keluar dari kepungan sambil
menahan napas agar mulut atau hidungnya jangan
menyedot asap beracun itu. Akan tetapi Hek tok kwi dan
kawan kawannya tidak tinggal diam.Mereka menyerbu dan
menyerang setiap orang yang hendak keluar dari kepungan
dengan senjata atau senjata rahasia mereka. Kembali
beberapa orang gagah roboh.
Leng Li yang tahu bahwa keadaannya dan kawan
kawannya berbahaya menjadi nekad. Sambil memutar
tongkatnya ia melompat keluar kepungan menuju ke tempat
Thian hwa Kauwcu, ia diserang oleh dua orang siuli, akan
tetapi tongkat merahnya dengan mudah merobohkan dua
orang ini. Selagi ia mencari di mana adanya ketua Thian
hwa kauw, tiba tiba ia diserang oleh Hek tok kwi dengan
teratai biru yang amat lihai. Leng Li berusaha mengelak,
dan biarpun ia dapat meluputkan diri dari serangan itu,
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
namun hawa beracun dari kembang itu sudah menyambar
ke hidungnya, membuat nyonya ini mengeluh dan
terhuyung huyung, sebuah totokan dari Hek tok kwi
membutnya terjungkal.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, orang orang gagah
itu seorang demi seorang kena dirobohkan, kalau tidak
terluka oleh senjata, roboh karena asap beracun yang jahat
itu! Melengkinglah suara ketawa Cia Kui Lian, mengejek
musuh musuhnya yang tak berdaya, ia melompat datang
sambil memanggul tubuh Kwan Sian Hong pemuda gagah
yang amat disayangnya itu, mendekati Sin siang to Bhok
Coan dan sekali kebutannya bergerak, Bhok Coan yang
sudah pingsan itu berkelojotan sebentar lalu diam, mati!
“Inilah anjing yang menjadi biang keladinya.” Thian
hwa Kauwcu bersungut sungut sambil mendupak mayat
orang she Bhok yang sial itu.
“Siluman wanita, lepaskan aku dan mari kita bertanding
seribu jurus!” Tiba tiba Kwan San Hong yang sudah siuman
lagi itu meronta ronta dalam pondongan Kui Lian. “Kau
lepaskan ibuku itu!”
Kui Lian tertawa dan mencubit pipi pemuda itu, “Sian
Hong, tentu saja aku akan membebaskan ibumu asal saja
kau berjanji takkan nakal lagi dan tidak akan lari lagi.
Selanjutnya kau akan kuangkat menjadi twa kongcu.”
“Anjing betina. Siapa sudi mendengar omonganmu?
Dosamu sudah bertumpuk tumpuk, sakit hatiku kepadamu
sudah ssbesar gunung. Kau sudah membunuh paman Song
Tek Hong dan isterinya, sehingga adik Bi Hui menjadi
terlunta lunta. Tidak itu saja, kau bahkan membunuh pula
kong kong Sin tung Lo kai. Dosa besar seperti itu mana aku
Kwan Sian Hong mau habiskan begitu saja? Kau atau aku
harus mampus!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Wajah cantik manis yang tadi nya tersenyum senyum itu
tiba tiba menjadi bengis. “Sian Hong, kau benar benar tidak
tahu di cinta! Memang mereka itu mati di tanganku, akan
tetapi siapa suruh mereka menentangku? Kau mau mampus
menyusul mereka! Akan tetapi aku masih menghendaki kau
hidup.”
Pada saat itu, tiba tiba berkelebat bayangan putih dan
terdengar bentakan keras, “Cia Kui Lian, akhirnya aku
dapat berhadapan muka dengan pembunuh ayah bundaku!
Bersiaplah kau membayar hutang nyawa!” Bentakan ini
disusul oleh serangan pedang yang luar biasa dahsyat dan
cepatnya, pedang yang menyambar ke arah Kui Lian
dengan tusukan ke lehernya.
“Ayaaa....!” Kui Lian terkejut bukan main.
Tusukan ini luar biasa sekali cepatnya sehingga ia tidak
sampai melihat siapa gerangan orang yang menyerangnya.
Cepat ia melepaskan tubuh Sian Hong dari pondongan dan
membanting tubuhnya ke belakang, sementara itu Hek tok
kwi dan kawan kawannya sudah melompat maju untuk
menghadapi penyerang yang lihai ini.
Ketika Cia Kui Lian melompat bangun kembali dan
melihat siapa orang tadi. Ia terkejut sekali. Akan tetapi ia
tenangkan hatinya dan tersenyum sambil menegur orang
orangnya supaya mundur.
“Eh, eh, kiranya kau, Hui moi...?”
Bi Hui mencibir. “Cih, tak tahu malu! Masih hendak
berpalsu muka di depanku, he? Cha Kui Lian manusia hina,
kau sudah membunuh ayah bundaku bersama manusia
berhati binatang Liem Kong Hwat itu. Di mana dia
sekarang? Suruh dia muncul biar aku dapat membunuh
kalian untuk membalas dendam orang tuaku!”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Mata Kui Lian melihat seorang pemuda yang tadi datang
bersama Bi Hui, hanya agak terlambat.Melihat pemuda ini,
diapun kaget, tapi dapat pula menenangkan hatinya, lalu
tersenyum mengejek lagi.
“Aha, jadi kau datang bersama bocah ingusan itu? Ha,
bukankah dia yang dulu membunuh ayah bundamu?”
katanya.
BengHan, pemuda itu, mendongkol sekali.
“Kau jahat sekali,” katanya perlahan. “Sudah
membunuh orang, mengapa hendak menimpakan tanggung
jawab ke pundakku? Apa sih kesalahanku kepadanu maka
kau memfitnahku?”
Akan tetapi Cia Kui Lian tidak memperdulikannya.
Diam diam kauwcu ini memberi tanda kepada orang
orangnya dan serentak semua anak buahnya dipimpin oleh
tujuh orang tokoh besar Thian hwa kauw, bersiap dan
membentuk barisan yang seperti seekor kelabang besar.
Para siuli dan siulam masih ada duapuluh orang lebih yang
tidak terluka, ditambah tujuh orang kakek nenek itu
keadaan Thian hwa kauw benar benar masih kuat.
Bi Hui melirik ke sekelilingnya. Orang orang gagah
menggeletak di sana sini, ada yang terluka berat, ada yang
pingsan dan ada pula yang sudah tewas. Di ujung sana
kelihatan Sian Hong berlutut di dekat ibunya yang roboh
oleh Hek tok kwi. Ia maklum bahwa betapapun juga,
keadaan lawan amat kuat. Sekian banyaknya tokoh kang
ouw masih roboh semua, apakah dia seorang diri, hanya di
bantu oleh Beng Han, akan dapat melawan Kui Lian dan
anak buahnya? Akan tetapi ia tidak boleh mundur,
sekalipun harus bertaruh nyawa.
“Kui Lian,” katanya menyindir, “apakah kau hendak
mengeroyokku dengan semua kaki tanganmu ini?”
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Kui Lian maklum bahwa seorang diri, amat berbahaya
menghadapi Bi Hui yang agaknya sudah memiliki
kepandaian amat tinggi, terbukti dari serangannya pertama
tadi. Juga ia tahu apabila ia melakukan pengeroyokan, tentu
pihaknya menang, akan tetapi tak dapat disangsikan lagi,
tentu para siuli dan siulamnya banyak yang menjadi korban
dan hal ini ia tidak suka.
“Song Bi Hui, kau membuka mulut besar seakan akan
kau sudah pasti dapat memenangkan kami. Akupun ingin
sekali melihat sampai di mana sih kepandaianmu maka kau
bersikap begini sombong. Kalau kau bisa mengundurkan
tujuh orang pelayanku ini, baru aku mengaku akan
kelihaianmu.” ia memberi tanda dan Hek tok kwi bersama
enam orang kawannya melompat maju menghadapi Bi Hui.
Melihat keadaan tujuh orang ini, diam diam Bi Hui
terkejut dan ngeri. Mereka memang pantas menjadi
penghuni neraka, begitu menyeramkan. Akan tetapi ia tidak
takut, sambil melintangkan pedangnya ia berkata.
“Kau hendak menyuruh tujuh iblis ini mengeroyokku?
Baik, mereka ini tentu bukan manusia baik baik. Biar
kulenyapkan mereka dulu baru nanti kau!”
Akan tetapi Beng Han cepat maju dan pemuda ini
berkata dengan suara menyindir,
“Apakah begini saja kegagahan Thian hwa kauw? Main
keroyokan? Kalau begitu tidak cocok dengan apa yang
kudengar di luaran! Kabarnya Thian hwa kauw mempunyai
tujuh ekor anjing penjaga yang galak galak, tidak tahunya
cuma galak pandai menggonggong saja, sedangkan pada
hakekatnya pengecut, suka main keroyok. Apa tidak berani
maju seorang demi seorang?”
Sindiran ini mengenai tepat pada sasarannya, Cia Kui
Lian menjadi merah mukannya. Akan tetapi dia seorang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
cerdik dan cukup maklum bahwa kalau maju satu lawan
satu, terlalu berbahaya bagi orang orangnya menghadapi Bi
Hui keturunan Thian te Kiam ong yang lihai itu. Maka
sambil tersenyum ia betkata,
“Bocah lancang! Song Bi Hui Sendiri sudah berani,
mengapa kau banyak rewel? Kalau kau mau membantu dan
bersama dia maju menghadapi tujuh orang pelayanku,
bolehlah. Akan tetapi jangan lari kalau nanti kalah!”
Sebaliknya, Bi Hui khawatir kalau Beng Han membantu,
selain akan mengacaukan permainan pedangnya, juga
pemuda itu bisa celaka dalam tangan tujuh orang iblis tua
itu, maka katanya, “Harap kau mundur dulu, Beng Han,
Biarlah aku melayani mereka, kalau aku tidak dapat
menang atau sudah membutuhkan bantuan, baru kau yang
maju.” Kata kata ini selain menyatakan pandangan rendah
kepada lawan, sekaligus mengangkat Beng Han ke tempat
tinggi dan diam diam pemuda itu berterima kasih sekali
akan maksud Bi Hui. Akan tetapi ia merasa gelisah
sungguhpun ia tak dapat berbuat apa apa. Terpaksa ia
mundur.
“Terserah kepadamu, enci Bi Hui. Akan tetapi hati
hatilah, siluman siluman ini paling curang dan sudah biasa
menggunakan senjata gelap dan beracun.”
Bi Hui mengangguk, kemudian ia mulai menggerakkan
pedangnya sepasang matanya mengerling cepat menyapu
keadaan dan kedudukan tujuh orang lawannya. Hek tok
kwi yang memimpin enam orang kawannya mengurung Bi
Hui. Hanya Hek tok kwi yang sudah pernah mengalami
bertempur melawan Bi Hui dan tahu akan kelihaian pedang
gadis ini, maka ia berlaku hati hati.
“Bersiaplah untuk mampus!” Bi Hui tiba tiba membentak
dan pedangnya berkelebat cepat sekali, membabat ke kanan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
menyerang Hek tok kwi. Setan Racun Hitam ini cepat
menggerakkan tongkatnya menangkis sambil melompat ke
kanan, akan tetapi herannya, tongkatnya tidak mengenai
pedang lawan dan tahu tahu see Thian mo menjerit dan
roboh dengan lengan kanan putus. Ternyata bahwa Bi Hui
sudah menggunakan akal yang baik sekali. Dalam gebrakan
pertama itu ia pura pura menyerang ke kanan, ke arah Hek
tok kwi yang sudah ia ketahui kepandaiannya, akan tetapi
serangan ini cepat ia tarik kembali untuk diganti dengan
serangan kilat ke kiri, di mana See thian mo yang tidak
menduga duga sama sekali saking kagetnya mengangkat
tangan kanan menangkis dan akibatnya, lengan kanannya
terbabat putus oleh pedang Bi Hui.
“Bagus, enci Bi Hu!” seru Beng Han girang, kagum
melihat ilmu pedang yang hebat itu. Sedangkan Kui Lian
kaget sekali dan cepat menyuruh beberapa orang siulam
untuk mengurus dan merawat See thian mo yang sudah
terluka dan tidak berdaya lagi itu.
Sementara itu, Hek tok kwi dan kawan kawannya
menjadi kaget sekali. Tak mereka sangka bahwa gadis ini
demikian cerdik dan lihai sehingga dalam segebrakan saja
sudah berhasil menipu mereka dan merobohkan seorang
kawan lagi. Mereka rata rata adalah orang orang yang
sudah banyak pengalaman dalam pertempuran, maka
sekarang mereka berputar putar mengelilingi Bi Hui dan
selalu bantu membantu dalam penyerangan maupun
pertahanan. Sekarang sukar sekali bagi Bi Hui untuk
mendesak mereka, karena serangan mereka yang bertubi
tubi datangnya tak memberi kesempatan padanya untuk
balas menyerang. Apa lagi mereka itu mempergunakan
tongkat dan bunga teratai berganti ganti dan Bi Hui sudah
maklum betapa jahatnya hawa beracun dari bunga bunga
teratai itu.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Curang....! Curang sekali....! jangan gunakan kembang
kembang bau busuk itu!” berkali kali Beng Han berteriak
sambil menggerak gerakkan kedua tangannya.
Melihat ini, Thian hwa kauwcu menjadi gemas. Dua
tangannya terayun dan beberapa butir jarum halus
berwarna putih menyambar kearah pemuda ini. Beng Han
tidak melihatnya, tetap saja menggerak gerakkan kedua
tangan sambil menonton pertempuran itu.
Bukan main kaget dan herannya hati Kui Lian. Jelas
terlihat olehnya beberapa batang jarum mengenai dada
pemuda itu akan tetapi mengapa Beng Han itu seakan akan
tidak merasakannya?
“Hui moi jangan takut, aku membantumu!” tiba tiba
terdengar bentakan dan Kwan Siau Hong melompat
kekalangan pertempuran. Pemuda ini telah kehilangan
pedangnya dan ia tatah lemas tubuhnya karena pengaruh
hawa beracun dan totokan Kui Lian, akan tetapi tidak ada
apapun di dunia ini yang dapat mengurangi semangatnya.
Setelah ia mengetahui Bi Hui yang dikeroyok oleh setan
setan tua itu, ia tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Diambilnya tongkat merah ibunya yang masih pingsan, lalu
ia menyerbu membantu Bi Hui, memutar tongkatnya
dengan ganas dan nekad.
Harus diakui kegagahan Sian Hong yang tak kenal arti
takut ini, dan semangatnya bernyala nyala sungguhpun ia
sudah payah. Akan tetapi bantuannya ini tidak
menguntungkan Bi Hui. Begitu ia terjun ke dalam
pertempuran, ia disambut serangan serangan maut oleh Hek
tok kwi yang sudah marah sekali.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Jangan bunuh dia….!” Cia Kui Lian menjerit dan
jeritan ini menolong
nyawa pemuda gagah itu
karena Hek tok kwi
menyerongkan tongkatnya
yang tadinya sudah
mengarah urat
kematiannya. Kini tongkat
itu hanya memukul
pundak yang membuat
pemuda itu terpelanting
dengan tulang pundak
terlepas sambungannya.
Melihat pemuda ini
terancam bahaya Bi Hui
cepat menyerbu Hek tok kwi, untuk sesaat lupa akan
pertahanan dirinya sehingga Tung Thian mo yang
menyerbu cepat dari arah kiri berhasil menghantam
punggungnya dengan tongkat. Bi Hui terkejut sekali dan
dalam kesakitan hebat, gadis ini masih sempat memutar
tubuh sambil mengerjakan pedangnya dan.... blesss....! dada
Tung thian mo yang gepeng itu tertembus pedang. Setan
timur ini roboh tanpa bernyawa pula, sedangkan Bi Hui
terhuyung huyung dan hampir saja ia celaka dalam tangan
Hek tok kwi dan empat orang kawannya kalau saja pada
saat itu tidak cepat cepat Beng Han menyambar tubuh Bi
Hui dan dibawa keluar dari kepungan.
Melihat gerakan aneh ini, Hek tok kwi dan empat orang
kawannya melongo. Bagi mereka, tahu tahu saja tubuh
gadis itu lenyap, yang nampak hanya bayangan Beng Han.
Juga Bi Hui terkejut dan heran, akan tetapi juga girang
sekali. Tak disangkanya bahwa akhirnya Beng Han yang
dapat menyelamatkannya.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Setelah menolong Bi Hui, Beng Han lalu menghampiri
Sian Hong, membantu pemuda ini keluar dari tempat itu.
Sian Hong menggigit bibir menahan sakit dan pemuda ini
girang juga melihat Bi Hui tidak sampai binasa. Ia duduk di
atas rumput dekat gadis itu, lalu keduanya memandang ke
arah Beng Han yang kini sudah menghampiri Hek tok kwi
dan empat orang kawannya yang ganas.
“Thian hwa Kauwcu,” kata Beng Han dengan suara
tenang, “ketahuilah bahwa kedatanganku ini pertama tama
untuk membalas kematian suheng Song Tek Hong dan
isterinya yang kaubunuh, juga locianpwe Sin tung Lo kai
Thio Houw, kemudian membalaskan sakit hati orang orarg
yang telah menjadi korban perkumpulanmu yang jahat dan
ganas. Aku tidak tahu bahwa para pemuda dan gadis yang
kini menjadi kaki tanganmu adalah orang orang tak
berdosa, dan mereka itu terjatuh ke dalam tangan dan
kekuasaanmu karena kau mempergunakan ilmu hitam dan
racun jahat.”
“Betul sekali, memang begitulah!” teriak Kwan Sian
Hong yang kini sudah membawa Leng Li duduk di dekat Bi
Hui yang dipeluk oleh Leng Li. Juga orang orang gagah
yang tadinya pingsan dan terluka semua sudah merayap
bangun dan berkumpul dekat Bi Hui, semua mata kini
dtiujukan kepada BengHan dengan heran dan kagum.
“Siapakah dia....?” tanya beberapa orang.
“Dia murid Thian te Kiam ong Song Bun Sam, kong
kongku....” kata Bi Hui, suaranya terharu, karena teringat
betapa dulu ia hampir membunuh Beng Han yang ia tuduh
menjadi pembunuh ayah bundanya, dan sekarang justeru
anak itu yang menghadapi pembunuh pembunuh itu untuk
membalaskan sakit hatinya!
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
Adapun Thian hwa kauwcu Cia Kui Lian yang melihat
bahwa Beng Han hanyalah seorang pemuda tanggung,
menjadi tabah dan dengan senyum mengejek ia menjawab,
“Kau ini bocah masih ingusan, menjual lagak. Kalau kau
ingin menjadi siulam, kau masih terlalu kecil, akan tetapi
bolehlah asal kau mau menjadi pelayanku selama setahun,
jangan pura pura gagah!”
Beng Han tidak menjawab, melainkan mencabut keluar
pedang Kim kong kiam yang bercahaya menyilaukan mata.
“Siluman betina, kematianmu sudah terbayang di mata
dan kau masih belum bertobat?” Semua orang kaget melihat
pedang ini karena siapakah yang tidak pernah mendengar
tentang Kim kong kiam, pedang pusaka dari Thian te Kiam
ong? Juga kauwcu itu agaknya gentar melihat pedang yang
mengeluarkan cahaya luar biasa, maka sambil melangkah
dekat ia lalu membentak, suaranya penuh hawa ilmu hitam
dan sepasang matanya menembus pandang mata Beng Han.
“Anak baik, berlututlah di depan kauwcu dan serahkan
pedang itu padaku!” Ucapan ini dikeluarkan berulang ulang
dan kedua tangannya membuat gerakan gerakan rahasia
penuh pengerahan ilmu sihir yang ditujukan untuk
menaklukkan semangat Beng Han.
“Celaka.... meramkan mata.... !” seru Kwan Sian Hong
yang tahu akan arti gerakan gerakan itu.
Namun terlambat! Beng Han berdiri seperti patung dan
matanya terbelalak menatap wajah ketua Thian hwa kauw
itu. Kedua lututnya sudah lemas sekali dan terjadi perang
hebat di dalam hatinya antara pengaruh sihir itu dengan
tenaga batinnya. Baiknya pemuda ini semenjak kecil sudah
terlatih sebagai pertapa di atas menara, akan tetapi suara
yang keluar dari mulut Kui Lian adalah suara yang
mempunyai daya luar biasa terhadap dirinya. Andaikata
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
yang menyihirnya itu orang lain, walaupun lebih pandai
dan lebih kuat tenaga ilmu hitamnya daripada Cia Kui
Lian, kiranya tidak mudah mudah dapat mempengaruhi
jiwa Beng Han. Akan tetapi, di luar tahu Beng Han dan Kui
Lian sendiri, keduanya ini masih ada pertalian yang amat
dekat, pertalian darah yang langsung! Dalam suara Kui
Lian ini terkandung suara seorang ibu yang biarpun tak di
kenal oleh Beng Han, namun dikenal oleh jiwanya. Inilah
yang membuat Beng Han seakan terkena hikmat oleh suara
itu dan berdiri tegak seperti patung menyerah tidak akan
tetapi bergerak menyerangpun tidak. Sedangkan Hek tok
kwi dan empat orang kawannya sudah mulai maju
mendekat.
Pada saat yang amat menegangkan itu, tiba tiba
terdengar suara ketawa lembut dan tahu tahu seorang dara
remaja yang cantik sambil tertawa tawa telah berdiri di
dekat Beng Han. Dara ini memegang sebatang hudtim
putih. Sambil tersenyum ia mengebutkan hudtim (kebutan
pertapa) itu di muka Beng Han sambil berkata, “Mengapa
kau melamun saja? Sadarlah!”
Aneh dan ajaib! Suara dara remaja inipun mempunyai
daya luar biasa dan seketika itu juga Beng Han sadar
kembali. Ia menoleh dan bertemu pandang dengan dara itu.
Keduanya nampak terkejut.
“Kau....??” berbareng keluar dari mulut mereka. Baru
sekarang dara itu mengenal Beng Han dan sebaliknya Beng
Han segera mengenal gadis ini sebagai Kwan Li Hwa, gadis
cucu Sin tung Lo kai yang pernah ia beri kitab dan pedang.
Benar saja, pedang itu kini berada di tangan kanan gadis itu.
“Li Hwa....!” terdengar seruan Leng Li dan Sian Hong.
Gadis itu menoleh ke arah ibu dan kakaknya, lalu
tersenyum, “ibu, biar aku membantu dulu dia ini
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
membasmi Thian hwa kauw!” Kemudian ia berkata kepada
Beng Han. “Kau teruskan niatmu membasmi mereka, biar
aku menjaga di sini terhadap serangan gelap.”
Beng Han maklum bahwa gadis ini entah bagaimana
ternyata telah memiliki ilmu sihir juga, maka dengan girang
ia lalu menyerbu. Pedangnya membabat cepat ke arah Hek
tok kwi dan empat orang kawannya yang menghalang di
depannya, mereka ini mencoba untuk menangkis, akan
tetapi kehebatan Kim kong kiam yang digerakkan dengan
ilmu Pedang Kim kong Kiam sut memang hebat, begitu
terdengar suara keras tiga batang tongkat terbabat putus dan
dua orang siluman tua itu roboh mandi darah. Tok sim Kui
bo dan Pak thian mo yang roboh itu, membuat tiga orang
lain menjadi gentar.
Juga Cia Kui Lian menjadi jerih sekali. Kedatangan
nona cilik tadi benar benar mengejutkan hatinya karena
gerakan gerakannya ketika melawan pengaruh sihirnya tadi
jelas sekali menunjukkan gerakan gerakan yang sama
dengan ilmunya sendiri. Celaka, pikirnya, agaknya suhu
telah menurunkan kepandaiannya kepada orang lain. Kalau
Koai Thian Cu sendiri yang muncul, ia tidak takut karena
gurunya itu telah jatuh di bawah pengaruhnya, akan tetapi
sekarang gurunya itu ternyata tidak mau muncul sendiri.
“Keroyok! Robohkan mereka!” bentaknya dan biarpun
hati nya gentar, Hek tok kwi, Lam thian mo dan Tok ciang
Kui bo menyerbu, kini diikuti ramai ramai oleh para siuli
dan siulam yang mentaati perintah kauwcu mereka.
Beng Han menyambut mereka. Dengan gerakan
gerakannya yang luar biasa, mudah saja pemuda ini
merobohkan para siulam itu dengan totokan totokan tangan
kirinya. Ia sengaja merobohkan mereka tanpa melukai,
karena ia maklum bahwa mereka ini hanya menjadi korban.
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
“Serang dengan asap ngo tok!” seru Kui Lian marah.
Akan tetapi, begitu kaki tangannya mengeluarkan racun ini,
Li Hwa juga menaburkan semacam bedak putih yang
berhamburan dan mengeluarkan bau harum, kemudian
dengan sebuah kipas, gadis ini mengusir semua uap yang
berwarna lima itu. Dengan adanya bedak yang ia sebarkan,
asap itu tidak berbahaya lagi dan Beng Han juga merasai
ini, maka ia menjadi amat girang memperoleh bantuan
gadis yang ternyata memiliki kepandaian istimewa ini.
Bukan main marahnya Kui Lian sampai ia mencabut
pedang dan hudtimnya sendiri, lalu menyerbu membantu
kawannya untuk merobohkan Beng Han. Sedangkan Li
Hwa hanya menonton di pinggir sambil kadang kadang
mengeluarkan kata kata memuji ilmu pedang Beng Han dan
siap sedia menandingi apabila Thian hwa kauw cu hendak
mempergunakan ilmu sihir.
Beng Han mengamuk hebat. Akan tetapi lawan
terlampau banyak, apa lagi para siuli dan siulam yang
jumlahnya masih ada duapuluh orang lebih itu membikin
ribut saja.
“Eh, nona cilik, apa kau tidak bisa membantuku
merobohkan orang orang ini tanpa melukai mereka?” kata
BengHan kepada Li Hwa.
“Tentu saja bisa, apa sukarnya?” kata Li Hwa yang
segera melompat dan mengebut ngebutkan hudtimnya
sambil berseru,” Robohlah, robohlah....!”
Para siuli dan siulam itu adalah orang orang yang sudah
kehilangan semangat maka mudah saja dipengaruhi,
apalagi oleh Li Hwa yang sudah mewarisi ilmu sihir dari
gurunya, Koai Thian Cu. Setiap kali seorang siulam atau
siuli tersentuh hud tim itu, ia segera roboh dan pingsan.
Sebentar saja para siuli dan siulam sudah dapat dirobohkan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
semua dan Li Hwa kembali menonton pertempuran. Akan
tetapi pertempuran itu sama sekali tidak ramai. Tok ciang
Kui bo dan Lam thian mo juga sudah roboh oleh pedang
Kim kong kiam, dan kini yang masih ngotot dan mati
matian mempertahankan diri terus adalah Hek tok kwi dan
Cia Kui Lian sendiri. Kui Lian tidak mau mengeluarkan
sihirnya karena maklum bahwa selama di situ terdapat nona
cilik itu, sihirnya takkan ada gunanya, maka ia
mencurahkan seluruh perhatian kepada pedang dan
hudtimnya yang cukup lihai. Juga Hek tok kwi
kepandaiannya tinggi.
Namun mereka menghadapi ahli waris dari Thian te
Kiam ong. Biarpun mereka mengerahkah seluruh
kepandaian, tidak urung akhirnya Hek tok kwi menjerit dan
roboh, darah mengucur dari dadanya yang terbelah oleh
pedang Kim kong kiam.
“Suhu....! Apa kau tega melihat aku mati....?” tiba tiba
Kui Lian menjerit, jeritan nya melengking seperti suara ibu,
membuat BengHan terkesiap dan untuk sejenak ragu ragu.
Koai Thian Cu yang sudah terlihat oleh Kui Lian,
terpaksa muncul dari balik tempat sembunyinya. Kakek ini
berlaku cerdik, sebelum Kui Lian membongkar rahasianya
yang amat memalukan, ia mendahului, “Kui Lian dosamu
terlalu besar. Orang yang menghancurkan perkumpulanmu
ini bukan lain adalah putramu. Dia itu, Thio Beng Han,
adalah puteranu dan Thio Sui!”
“Kong kong....!” Beng Han berseru kaget sekali sambil
mendekati kakek itu.
Adapun Cia Kui Lian yang mendengar keterangan ini,
merasa seperti di sambar geledek kepalanya. Ia menjadi
pucat sekali, memandang kepada Beng Han dengan mata
terbelalak, kemudian ia mengeluarkan jeritan lagi yang
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
amat mengerikan, ketawa bukan menangispun bukan, lalu
ia membalikkan tubuh dan lari ke dalam hutan!
“Kejar siluman itu.... !” Kwan Sian Hong membentak
dengan suaranya yang keras. Mendengar ini, Li Hwa dan
Beng Han segera melompat dan mengejar ke dalam hutan
diikuti oleh Sian Hong, Leng Li dan tokoh tokoh yang
sudah siuman kembali, juga Koai Thian Cu mengejar
sambil menggeleng nggeleng kepalanya yang sudah putih
semua.
“Thian te Kiam ong, aku menyesal mengapa dulu
bertemu dengan kau....” kata kakek ini dan dua titik air
mata yang besar menuruni pipinya yang kempot.
Ketika semua orang tiba di sarang Thian hwa kauw,
mereka hanya melihat Cia Kui Lian dan Liem Kong Hwat
mandi darah dan dalam keadaan sudah mati di ruangan
penjara, juga Siauw Yang dan Pun Hui terluka berat.
Kiranya ketika kauwcu itu hendak mengajak pergi Kong
Hwat pemuda yang sudah hampir pulih kembali ingatannya
karena dekat dengan ayah bundanya ini, bahkan
menyerangnya. Terjadi pertempuran yang cepat dan hebat,
di mana Kui Lian dan Kong Hwat menemui kematiannya
sedangkan suami isteri yang masih lemah itu terluka dalam
usaha mereka membantu anak mereka Kong Hwat telah
merebus dosa dosanya dengan pengorbanan nyawa dan
dalam keadaan yang amat mengharukan.
Dengan muka pucat, mata merah dan hati menangis,
Beng Han mengurus semua jenazah, termasuk jenazah
ibunya sendiri yang seakan akan ia dorong ke dalam
lembah maut. Kemudian semua siuli dan siulam disuruh
pulang ke tempat asal masing masing setelah di beri nasihat
dan pengobatan oleh Koai Thian Cu. Sarang Thian hwa
kauw di bakar dan semua orang gagah bubar. Bi Hui ikut
pulang dengan Siauw Yang dan Pun Hui yang menjadi
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
pengganti ayahbundanya, juga Beng Han ikut pulang ke Tit
le karena Siauw Yang mengambil keputusan untuk pindah
kembali ke Tit le. Beberapa bulan kemudian,
dilangsungkanlah pernikahan antara Kwan San Hong dan
Song Bi Hui, kedua pihak mendesaknya untuk memenuhi
pesan dari Thian te Kiam ong dan Sin tung Lo kai
sedangkan Bi Hui tak dapat menolak, apalagi karena iapun
sudah membuktikan sendiri bahwa Sian Hong adalah
seorang pemuda yang gagah perkasa dan berjiwa satria.
Juga dalam kesempatan ini, atas usul Koai Thian Cu
yang disetujui sepenuhnya oleh Liem Pun Hui suami isteri
oleh Thio Leng Li diikatlah tali perjodohan atau
pertunangan antara Kwan Li Hwa dan Thio Beng Han!
Harus dikasihani nasib Song Siauw Yang dengan
suaminya yang kehilangan putera tunggal mereka dalam
keadaan demikian mengecewakan, akan tetapi
mendapatkan pengganti, anak anak yang berbakti dalam
diri Song Bi Hui dan Thio Beng Han, yang keduanya juga
merupakan anak anak tiada ayah bunda.
Adapun Koai Thian Cu si tukang gwamia, yang tanpa
disengaja menimbulkan gara gara itu dengan masih tetap
menyesal mengakhiri hari tua nya di Tit le bersama Beng
Han yang sudah ia anggap sebagai cucu sendiri. Hampir
setiap hari orang melihat kakek ini duduk di dekat makam
Thian te Kiam ong dan kadang kadang ia bercakap cakap
dengan arwah Thian te Kiam ong yang tidak nampak oleh
mata manusia….
Demikianlah, cerita ini berakhir dengan catatan dari
pengarang bahwa segala macam kejahatan, betapapun
berkuasa dan bersimaharajalela di waktu jaya, pada saat
terakhir tentu akan membawa orang ke dalam jurang
kesengsaraan dan malapetaka. Sebaliknya, prikebajikan
akan membawa manusia kepada ketenteraman dan
TiraikasihWebsite http://kangzusi.com/
kebahagiaan ini sudah semestinya, sesuai dengan kekuasaan
Tuhan Yang Maha Adil.
TAMAT
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil