Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 03 Juni 2018

Mestika Golok Naga 3 Tamat

=====
JILID IX
Tiong Li maklum bahwa biarpun adu kepandaian
seperti ini nampaknya tidak apa-apa karena tangan
merekapun tidak saling menyentuh, akan tetapi
sesungguhnya amatlah berbahaya. Kalau seorang di
antara mereka sampai tidak kuat menahan dan tenaga
yang lain terlanjur mendesak, maka yang tidak kuat itu
dapat menderita luka parah!
Karena itu, diapun hanya bertahan saja dan tidak mau
mendesak maju. Karena itu, Sin Gi Tosu merasa seolaholah
kedua telapak tangannya menolak sebuah bukit
karang yang amat kokoh kuat. Betapapun dia
mengerahkan tenaga, dia tidak mampu mendorong
mundur kedua tangan pemuda itu. Sampai beberapa
lamanya keduanya hanya saling bertahan dan perlahanlahan
muka Sin Gi Tosu menjadi kemerahan dan
berkeringat. Dia merasa penasaran sekali. Dia yang
sudah berlatih selama puluhan tahun, harus mengaku
kalah terhadap seorang pemuda yang pantas menjadi
cucunya? Dia lalu mengeluarkan suara bentakan
panjang dan kedua tangannya mendorong sepenuh
tenaga.
Tiong Li yang hanya bertahan, terdorong ke belakang,
akan tetapi kedudukan kuda-kuda kakinya masih tetap
tidak bergeming. Sebaliknya, Sin Gi Toso kehabisan
tenaga dan dia terhuyung kedepan, terengah-engah. Dia
tidak sampai terluka karena Tiong Li tidak
mendorongkan tenaganya, hanya terguncang karena
tenaganya yang bertemu tenaga yang lebih kuat itu
membalik. Cepat Sin Gi Tosu duduk bersila dan mengatu
pernapasan untuk menjaga agar di dalam tubuhnya tidak
sampai terluka. Kemudiian dia bangkit berdiri dan
wajahnya penuh kagum.
"Siancai.....! Dalam hal tenaga sin-kang, engkaupun
telah mewarisi tenaga yang luar biasa sekali, Tan-sicu
Pinto mengaku kalah."
Tiba-tiba Im Seng Cu tertawa. "Ha ha, engkau yang
begini muda sudah berhasil menundukkan kami tiga
orang tua, Tan-sicu. Akan tetapi andaikata kami belum
menyadari kekeliruan kami dan kami bertiga maju
bersama, engkau tentu akan kalah dan mungkin engkau
dapat tewas di tangan kami. Kami bersalah, dan kami
mengaku kalah, selamat tinggal, sicu. Teruskanlah
perjuanganmu demi membebaskan tanah air dan bangsa
dari penjajah," Setelah berkata demikian, tiga orang tosu
itu lalu melompat pergi tanpa menengok lagi dan mereka
langsung saja pulang ke utara, dan tidak singgah lagi di
ruman kediaman Perdana Menteri Jin Kui. Peristiwa itu
diintai oleh mata-mata Jin Kui yang segera melapor!
kepada Perdana Menteri itu sehingga dia menjadi
semakin marah dan mendendam kepada Tiong Li.
Sementara itu, Tiong Li dan Siang Hwi juga
meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan usaha
mereka mencari Ban-tok Sian-li .
0odwo0
Di lereng bukit Thai-mu-san terdapat sebuah
perkampungan yang merupakan pusat dari perkumpulan
Pek-eng-pang (Perkumpulan Garuda Putih).
Perkumpulan ini merupakan perkumpulan yang cukup
besar, dengan anggauta lebih dari dua ratus orang.
Mereka itu selain merupakan perguruan silat, juga
membuka perusahaan piau-kiok (pengawalan kiriman
barang) yang terkenal ditakuti para penjahat sehingga
banyak langganan mereka yang mengirim barang melalui
piauw-kiok ini . Hanya dengan bendera yang bergambar
garuda putih di atas gerobak barang, para perampok
tidak berani mengganggu. Perusahaan piau-kiok mereka
berada di kota Nan-king, tak jauh dari bukit itu, juga di
Nan-king ini mereka membuka perguruan silat yang
memungut bayaran. Dari hasil perguruan dan piauwkiok,
keadaan perkumpulan ini cukup makmur.
Pek-eng-pang dipimpin oleh ketuanya yang bernama
Thio Cin Kang, seorang pendekar yang gagah perkasa.
Ketua ini berusia kurang lebih empatpuluh tahun,
bertubuh tinggi tegap dan wajahnya gagah sekali. Wajah
yang jantan dan sikapnya berwibawa namun lembut.
Selain itu, ilmu kepandaian Thio Cin Kang ini juga tinggi.
Dia pernah menjadi murid Kun-lun-pai, akan tetapi juga
pernah mempelajari ilmu silat berbagai aliran sehingga
dia mahir banyak macam ilmu silat sehingga menjadi
seorang ahli silat yang tangguh. Akan tetapi biarpun dia
lihai dan tubuhnya tinggi besar wajahnya jantan gagah,
Thio Cin Kang ini memiliki perangai yang lembut dan
bijaksana. Tidak mengherankan kalau semua anak
buahnya tunduk kepadanya dan amat taat.
Akan tetapi, biarpun hidupnya serba kecukupan
dengan hasil usahanya, namun kehidupan rumah tangga
ketua ini sungguh menyedihkan. Setelah menikah
selama belasan tahun, isterinya tidak mempunyai
keturunan dan baru beberapa bulan yang lalu, isterinya
yang akhirnya mengandung itu keguguran yang
berakibat matinya isteri itu! Dia kehilangan isterinya dan
masih juga belum mempunyai keturunan. Peristiwa ini
memukul hebat batin Thio Cin Kang sehingga dia
menjadi kurus dan muram.
Setelah lewat setengah tahun kematian isterinya, para
pembantunya dengan halus mencoba membujuk nya
agar dia menikah lagi untuk menyambung keturunan,
akan tetapi dia selalu menolak dan mengatakan tidak
mungkin dia dapat hidup berbahagia dengan seorang
wanita lain karena tentu tidak akan cocok wataknya. Dan
semenjak itu dia menaruh dendam kepada para
perampok.
Kematian isterinya itu dianggapnya akibat dari ulah
para perampok. Sebetulnya, ketika sedang mengan
dung, isterinya mengadakan perjalanan pulang ke dusun
untuk menengok orang tuanya. Karena perjalanan itu
tidak terlalu jauh, dan dia mempunyai banyak kesibukan,
Thio Cin Kang tidak mengantarkan, hanya menyuruh
pembantu-pembantunya mengawal kepergian isterinya.
Dan ditengah perjalanan, rombongan itu dihadang
perampok!
Agaknya gerombolan perampok yang baru datang dari
lain daerah sehingga belum mengenal Pek-eng-piauwkiok.
Para perampok itu menyerang dan sempat
membakar kereta sehingga isteri Thio Cin kang buruburu
turun dari kereta dan berlindung. Akhirnya
gerombolan perampok dapat dipukul dan melarikan diri.
Akan tetapi isteri Thio Cin Kang mengalami kekagetan
dan inilah yang dianggap oleh Thio Cin Kang menjadi
penyebab keguguran Isterinya. Dan sejak itu, serlngkall
dia pergi seorang diri untuk menghajar gerombolan
perampok!
Thio Cin Kang Juga simpati kepada perjuangan. Dia
menganjurkan agar anak buahnya membantu kalau
melihat para pejuang bertempur melawan pasukan Kin
yang melanggar perbatasan. Walaupun tidak langsung
aktip dalam perjuangan, akan tetapi Thio Cin Kang
mendukung perjuangan itu dan siap membantu sewaktuwaktu.
Oleh karena itu namanya juga dihormati di
kalangan para pejuang dan karena dia tidak aktip,
pemerintah tidak memusuhinya sebagal pemberontak.
Pada suatu pagi. seperti biasa Thio Cin Kang yang
belum pulih dari kesedihannya ditinggal mati isterinya
dengan pedang di punggung, berkeliaran menuruni bukit
Thian-mu-san. Tiba-tiba dia mendengar suara ribut dan
melihat bahwa terjadi pertempuran di sebuah hutan.
Ketika dia lari mendekati, dia melihat seorang wanita
cantik sedang dikeroyok oleh duapuluh lebih orang yang
tinggi besar dan nampak garang.
Melihat sikap mereka, piauw-su (pengawal barang)
yang sudah berpengalaman itu maklum bahwa dia
berhadapan dengan gerombolan perampok yang sedang
mengganggu seorang wanita. Wanita itu cantik bukan
main, jelita dan juga lihai ilmu silatnya. Dengan sebatang
golok di tangan, wanita Itu mengamuk dan sudah
merobohkan beberapa orang. Akan tetapi
pengeroyoknya yang banyak itu mengepungnya dengan
ketat.
Melihat ini, tanpa banyak cakap lagi Thlo Cin Kang
membentak, nyaring "Perampok-perampok laknat!"
Seolah olah dia melihat isterinya sendiri dikeroyok dan
terancam oleh para perampok maka setelah mencabut
pedangnya dia lalu mengamuk! Dia tidak
memperkenalkan diri karena dia memang ingin
membasmi para perampok itu.
Wanita itu bukan lain adalah Ban-tok Sian-li Souw
Hian Li. Sebagai wanita sakti yang angkuh, ia merasa
tidak senang melihat ada orang membantunya, apa lagi
yang mengamuk demikian hebatnya sehingga sebentar
saja telah merobohkan lima orang. Iapun tidak mau kalah
dan menggerakkan Mestika Golok Naga dengan hebat
sehingga kedua orang itu seperti berlumba saja
merobohkan kawanan perampok yang mengeroyok
mereka. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua
perampok yang berjumlah tigapuluh orang itu telah roboh
semua, malang melintang dan mandi darah !.
Ban tok Sian-li telah menyimpan kembali goloknya,
demikian pula Thio Cin Kang telah menyimpan
pedangnya. Mereka berdiri saling pandang Thio Cin
Kang tidak menyembunyikan kekagumannya, bukan
hanya kagum akan kecantlk jelitaan wanita itu, melainkan
lebih-lebih lagi akan kegagahannya. Juga Ban tok Sian Li
melihat seorang pria yang jantan dan gagah, namun
sinar matanya lembut. Biarpun demikian, ia mengerutkan
alisnya dan merasa tidak senang.
"Kenapa engkau membantuku?" tanyanya tidak
ramah.
Thio Cin Kang cepat menghampiri dan mengangkat
kedua tangan depan dada. "Harap suka memaafkan aku,
nona. Melihat seorang wanita di kepung dan di keroyok
penjahat-penjahat laknat ini, terpaksa aku turun tangan
membantu, sungguhpun sekarang aku menyadari bahwa
tanpa dibantu sekalipun engkau akan dapat membasmi
mereka." Ucapan ketua itu lembut dan ramah.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!"
"Aku tahu, nona. Akan tetapi baru sekarang aku tahu.
Tadi aku khawatir kalau-kalau nona terancam bahaya
maka aku membantu. Harap sekali lagi suka memaafkan
aku."
Sikap orang itu sungguh menyenangkan hati dan
karena hatinya merasa senang itulah Ban-tok Sian-Li
menjadi semakin marah ia marah kepada diri sendiri
yang merasa tertarik dan suka disertai kegum kepada
pria asing Itu!
"Enak saja engkau minta maaf. Engkau sengaja
memamerkan kepandaianmu kepadaku! Engkau
memandang rendah kepadaku. Nah aku ingin tahu
sampai di mana tingginya kepandaianmu!" Setelah
berkata demikian, wanita itu tanpa banyak cakap lagi lalu
menyerang dengan tamparan tangan kanannya.
Thio Cin Kang terkejut dan cepat mengelak. Akan
tetapi luputnya tamparan itu membuat Ban-tok Sian-li
Semakin penasaran dan menganggap orang itu
menantangnya, maka ia terus bergerak menyerang
secara bertubi-tubi! Terpaksa Thio Cin Kang tidak hanya
mengelak, melainkan harus menangkis karena
Serangan-serangan itu semakin lama semakin dahsyat!.
Mulai timbul kegembiraan di hati Thio Cin Kang.
Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, diapun memiliki
penyakit yang sama, yaitu suka bertanding silat, apa lagi
dia tertarik sekali kepada wanita ini dan ingin menguji
sampai di mana kelihaiannya. Dia menganggap wanita ini
seperti orang-orang kang-ouw lainnya, hendak
mengujinya. Maka, mulailah dia balas menyerang
dengan tidak kalah dahsyatnya! Akan tetapi tentu saja
hanya untuk menguji, bukan untuk mencelakai wanita
yang begitu bertemu telah membuat dia tertarik! sekali
itu. Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan
wanita yang demikian cantik jelita dan sekaligus demikian
tinggi ilmu silatnya.
Kalau Thio Cin Kang hanya hendak mengaji
kepandaian wanita itu, sebaliknya Ban-tok Sian-li yang
merasa ditantang, menyerang dengan sungguh-sungguh
dan ia mulai jengkel setelah lewat lima puluh jurus ia
belum juga mampu mengalahkannya dengan Ilmu silat,
akan tetapi setelah ternyata pria itu cukup tangguh
sehingga agaknya kalau hanya mengandalkan ilmu silat
ia tidak akan mampu mengalahkannya, mulailah ia
mengerahkan tenaganya sehingga kedua tangannya
mengandung hawa beracun yang amat jahat !.
Thio Cin Kang terkejut bukan main ketika menangkis
tangan wanita itu, merasa kulit lengannya panas dan
perih, kemudian ketika tangan wanita itu berhasil
menggores kulit lengannya, terasa gatal dan panas
seperti dibakar !. Dia terkejut dan gerakan refleksnya
membuat dia mengeluarkan ilmu tendangannya yang
amat hebat, yaitu iImu tendangan Thai-lek-tui
(Tendangan Kilat) sehingga Ban-tok Sian-li tidak dapat
mengelak dan pahanya tertendang. Untung baginya Thio
Cin Kang membatasi tenaganya sehingga ia hanya
terhuyung saja.
"Ah, maafkan aku, nona ... ! " kata-nya.
"Aku belum kalah !" bentak Ban-tok Sian-li dengan
marah sekail dan ia sudah mendesak maju lagi dan
tangan kirinya menghantam ke dada. Thio Cin Kang
mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia merasa dadanya nyeri
sekali dan dia terpelanting jatuh, dadanya telah terluka
ketika bajunya ditembusi jarum Ban-tok Sian-li! Sambil
mendekap dadanya dia mencoba bangkit dan
memandang kepada Ban-tok Sian-li.
"Engkau.....engkau hebat sekali, nona. Aku mengaku
kalah!" katanya dengan kagum, sedikitpun tidak merasa
menyesal telah dilukai sedemikian rupa oleh wanita itu.
"Hemm, engkau telah terluka oleh Ban-tok-ciam dan
dalam waktu duapuluh empat jam engkau akan mati.
Tidak ada obat di dunia ini dapat menyelamatkan mu "
Akan tetapi gertakan ini tidak membuat pria itu
ketakutan, bahkan dia tersenyum sambil menyeringai
menahan sakit. "Kalau begitu, selamat tinggal dunia yang
penuh kesedihan dan kepalsuan ini. Selamat tinggal
duka dan sengsara ! "
Ban-tok Sian-li terbelalak heran Belum pernah ia
melihat orang bersikap seperti ini menghadapi siksaan
dan kematian yang mengerikan.
"Engkau tidak takut dan tidak sedih menghadapi
kematian?"
"Kenapa mesti takut dan sedih? Kematian merupakan
kebebasan dari alam kesengsaraan bagiku. Aku bahkan
berterima kasih kepadamu, nona. Engkau membebaskan
aku dari duka. Mati di tanganmu tidak mendatangkan
penasaran, bagiku. Engkau begini cantik, engkau begini
lihai ."
"Engkau akan mati dan anak isterimu akan
menangisimu. Mereka akan berkabung dan bersedih.
Apa engkau tidak kasihan kepada anak isterimu?"
Thio Cin Kang kembali tersenyum dan Ban-tok Sian-li
merasa aneh. Orang ini mengobral senyum dalam
menghadapi maut! "Tidak ada seorangpun yang akan
menangisi kematianku, nona. Aku tidak mempunyai anak
dan isteriku telah meninggal dunia setengah tahun yang
lalu. Aku hanya mohon kepadamu, kalau nona sudi
memenuhi permohonan terakhir dariku ...... "
Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya, ia merasa heran
kepada diri sendiri kenapa tidak ditinggalkan saja sejak
tadi orang itu, seperti biasa kalau ia membunuh orang,
melainkan dilayaninya bicara panjang lebar, bahkan kini
orang itu mengajukan permohonan dan ia masih
melayaninya!
"Permohonan apakah itu?"
"Di lereng bukit ini terdapat sebuah perkumpulan Pekeng-
pang. Akulah ketua perkumpulan itu dan tolonglah...
beri tahu kepada mereka bahwa aku mati di sini agar
mereka dapat mengetahui dan menguburkan. Sudikah
engkau., nona yang baik?"
Ban-tok Sian-li makin kaget. la sudah mendengar akan
nama besar Pek-eng pang sebagai perkumpulan gagah
perkasa yang suka membantu para pejuang, la makin
gemas karena pria itu tidak memakinya, tidak
mencacinya, bahkan menyebutnya nona yang baik! .
"Aku bukan nona yang baik! Aku kejam, aku telah
meracunimu, aku telah membunuhmu. Lupakah engkau
akan kenyataan ini?"
"Sudah kukatakan, aku tidak mendendam. Aku bahkan
berterima kasih kepadamu, nona. Maukah.... maukah
engkau memenuhi permohonanku tadi?"
Orang aneh! Orang
gagah! Orang jantan
yang berani mati.
Orang sengsara yang
hidup sebatang kara
tanpa isteri tanpa anak,
tidak ada yang
menyedihi
kematiannya.
Tiba-tiba Ban-tok
Sian-li berlutut di dekat
orang itu dan
mendorongnya.
"Rebahlah telentang!" perintahnya .
"Eh, ada apa.....? Engkau ....... engkau mau apa ? "
"Cerewet! Diamlah dan telentanglah!" Kembali ia
memerintah.
Thio Cin Kang menjatuhkan diri telentang. Jari-jari
yang mungil itu dengan cekatan lalu membuka kancing
baju itu sehingga nampak dada yang bidang dan tegap
itu telanjang.
Ban-tok Sian-li lalu menotok dengan telunjuknya ke
arah sekeliling luka di dada untuk menghentikan jalan
darahnya, kemudian tanpa ragu lagi ia lalu menempelkan
bibirnya pada dada yang terluka, menghisap keluar
Jarum yang mengeram ke dalam daging.
Thio Cin Kang memejamkan matanya. Bukan karena
nyerinya. Nyerinya dapat dia pertahankan, bahkan lebih
dari itupun dia dapat menahannya. Akan tetapi, muka
yang halus itu, rambut yang harum itu, dan terutama bibir
hangat yang menempel dan menghisap di dadanya itu.
Tidak kuat dia membuka matanya karena itu semua. Dia
merasa seperti dalam mimpi indah. Wanita itu menghisap
luka nya! Luka beracun di dadanya yang telanjang.
Benar-benarkah hal seperti ini dapat terjadi? Hisapan itu
berhenti dan bau harum itu menjauh. Dia membuka
matanya. Wanita itu memandang kepadanya .
"Jarum itu sudah keluar, akan tetapi tanpa obat
pemunah dariku, engkau tetap saja akan mati."
"Kuserahkan nyawaku di tanganmu, nona.... eh,
nyonya... maafkan aku..." Wanita yang usianya tentu
sudah lebih, dari pada tampaknya itu tentu saja sudah
bersuami. Betapa bodohnya membayangkan yang
bukan-bukan. Tidak tahu malu!
"Plaakkk____!" Tiba-tiba pipinya ditampar ! Dia
terkejut dan terbelalak! Baru saja menyedot racun dari
luka dil dadanya dan kini sudah menghadiahi sebuah
tamparan keras! Betapa anehnya wanita ini .
"Ehh, kenapa...?" tanyanya gagap .
"Aku belum pernah menikah dan engkau berani
menyebutku nyonya?"
"Aih, maafkan aku, nona. Eh, aku ..... aku sungguh
tidak tahu, dan agak nya sekarang aku dapat menduga
siapa adanya nona. Bukankah nona yang berjuluk Bantok
Sian-li ?"
"Hemm, engkau sudah mengenal namaku. Baik sekali,
engkau akan mati dengan mengenal siapa
pembunuhmu. Aku memang Ban-tok Sian-li Souw Hian
Li, majikan dari Lembah Maut....." Tiba-tiba suaranya
melemah karena ketika menyebutkan tempat itu, ia
teringat betap tempat itu telah terbasmi habis.
"Aku akan mati dengan mata terpejam, nona."
"Tidak, engkau tidak akan mati Kau kira percuma saja
aku menyedot keluar jarum tadi?" la mengeluarkan
bubuk obat penawar racun itu dan membubuhkan obat
itu kepada luka di dada, menekan-nekannya, kemudian
ia mengeluarkan sebotol kecil arak dan menyuruh minum
arak bercampur obat. Setelah diobati dan minum arak
obat, Thio Cin Kang tidak merasa sakit lagi pada
dadanya.Dia mengancingkan lagi bajunya, kemudian ikut
pula berdiri seperti Ban-tok Sian-li.
"Nona Souw, aku Thio Cin Kang menghaturkan
banyak terima kasih kepadamu yang sudah mengampuni
aku dan menyelamatkan aku dari maut. Telah lama aku
mendengar nama besar nona sebagai seorang yang
membantu perjuangan dan aku kagum sekali kepadamu,
nona."
"Hemm, tadi engkau berterima kasih karena aku
hendak membunuhmu, sekarang berterima kasih karena
aku menyelamatkanmu. Sebenarnya, apa yang kaukehendaki?
Engkau tadi ingin mati, sekarang ingin hidup
! "
Thio Cin Kang menarik napas panjang. "Nona Souw,
setengah tahun yang lalu, isteriku keguguran dan
meninggal dunia. Aku sudah menjadi putus asa, tidak
mempunyai isteri tidak mempunyai anak, dan biarpun
semua orang membujukku untuk menikah lagi, aku tidak
menemukan orang yang cocok. Aku bosan hidup dan
ingin mati saja. Akan tetapi setelah bertemu denganmu,
nona. Aku kagum bukan main! Aku rela mati di
tanganmu, dan sungguh amat berbahagia bahwa nona
tidak membunuhku bahkan menyelamatkan aku. Nona
memberi harapan baru bagiku. Kalau saja nona sudi
memberi kesempatan kepadaku untuk membantumu,
membantu apa saja, aku rela mengorbankan nyawaku
untuk membantu dan membelamu, nona Souw."
Souw Hian Li menjadi merah sekali wajahnya, la
bukan anak kecil, ia tahu apa yang tersembunyi di balik
dada yang bidang itu, yang terkandung di dalam hati pria
ini. Akan tetapi ia pura-pura tidak mengerti dan bertanya,
"Thio-pangcu, mengapa engkau begitu mati-matian
percaya kepadaku dan menyerahkan nyawamu
kepadaku? Mengapa pula engkau rela berkorban untuk
membantuku, rela berkorban nyawa sekalipun untuk
membelaku? Mengapa? Aku suka akan sikap yang terus
terang, tidak bersembunyi-sembunyi dan bertele-tele!"
Thio Cin Kang menelan ludahnya untuk
memberanikan dirinya. "Mungkin mendengar ucapanku,
nona akan menjadi begitu marah dan turun tangan
membunuhku. Kalau begitu halnya, aku siap menerima
kematian di tanganmu. Terus terang saja, nona. Begitu
bertemu denganmu, melihatmu dan melihat sikapmu;
mendengar suaramu, aku langsung jatuh cinta
kepadamu, nona Souw. Kalau ada wanita di dunia ini
yang kuingin mengambil sebagai isteriku, engkaulah
wanita itu dan tidak ada lain wanita lagi ! "
Mendengar pengakuan yang demikian jujur dan
gagahnya, Souw Hian Li tercengang dan tertegun,
walaupun ia sudah menduganya bahwa pria itu jatuh
cinta kepadanya, la menanyai hatinya sendiri dan harus
diakuinya bahwa pria ini lain dari pada pria lain. Begitu
jantan, begitu gagah, begitu jujur. Kelembutan hatinya
sebagai wanita tersentuh sebagaimana yang belum
pernah dirasakan sebelumnya dan ia menundukkan
mukanya yang kemerahan dengan sikap tersipu malu,
seperti seorang gadis belasan tahun menerima
pernyataan cinta seorang perjaka!.
Thio Cin Kang juga bukan seorang pria muda. Usianya
sudah empatpuluh tahun dan sungguhpun dia bukan
tergolong pria yang mata keranjang, namun dia sudah
dapat membaca isi hati wanita yang berdiri di depannya
dengan muka ditundukkan dan tersipu itu.
"Li-moi ........ !" Dia berbisik.
Souw Hian Li terkejut. Panggilan itu begitu terasa
asing baginya, asing akan tetapi begitu merdu dan
manis, la mengangkat muka memandang. Dua pasang
mata bertemu, bertaut sampai lama, kemudian Hian Li
menunduk lagi.
"Pang-cu, jangan begitu tergesa ....."
"Kenapa, Li-moi? Bukankah engkau menghendaki
keterus-terangan? Dan aku Sudah membukakan pintu
hatiku, mengeluarkan semua rahasia hatiku kepadamu.
Aku jatuh cinta kepadamu, Li-moi, dan kalau engkau
sudi, aku ingin sekali hidup bersamamu, sebagai suami
isteri, membentuk kehidupan baru yang penuh damai dan
ketenteraman. Sudikah engkau, Ll-moi?"
"Nanti dulu, Thio-pangcu...."
"Mohon jangan sebut aku pang-cu Li-moi.
Terdengarnya begitu asing. Mau kah engkau menyebut
toako kepadaku?"
"Baiklah, Thio-twako. Akan tetapi kukatakan bahwa
engkau tidak perlu tergesa-gesa.. Kalau memang kita
berjodoh, tidak akan ada yang menghalanginya. Aku
hidup seorang diri dan engkau juga seorang diri, jadi
apa halangannya? Engkau cinta padaku dan aku ... aku
kagum dan suka kepadamu. Akan tetapi kita baru saja
bertemu dan aku masih mempunyai tugas yang harus
kuselesaikan."
"Tugas apakah itu, Li moi ? Aku akan membantumu!"
"Tugas membunuh Perdana Menteri Jin Kui!"
Thio Cin Kang terkejut dan terbelalak memandang
kepada wanita itu. "Engkau bersungguh-sungguhkah, Limoi?
Membunuh Perdana Menteri Jin Kui?"
"Ya! Mengapa?.Engkau takut?"
"Tidak seujung rambutpun aku takut dalam membantu
dan membelamu, Li moi. Aku hanya terkejut karena
tugas itu sungguh sama sekali tidak ringan dan amat
sukar. Perdana Menteri Jin Kui yang jahat dan licik itu
terlindung oleh jagoan-jagoan yang tinggi ilmunya. Akan
tetapi lebih dulu aku ingin tahu, mengapa engkau hendak
membunuhnya?"
"Mengapa? Dia menyuruh pasukan dan para
jagoannya untuk membasmi tempat tinggal kami.
Lembah Maut di Sungai Yang-ce. Karena dia anak
buahku banyak yang tewas dan tempat tinggalku
dirampok dan dibakar. Aku harus membunuh anjing
penjilat dan pengkhianat itu!"
"Hampir semua pejuang mempunyai keinginan yang
sama. Akan tetapi betapa sukarnya. Biarpun demikian,
aku akan membantumu, Li-moi. Biar untuk itu
kukorbankan nyawaku, aku siap membantumu. Akan
tetapi agar usaha kita tidak mengalami kegagalan seperti
yang pernah dilakukan para pejuang, kita harus
mempergunakan siasat dan mengatur yang matang.
Marilah, Li-mol. Marilah engkau singgah di tempat kami
agar kita dapat membicarakan rencana siasat itu lebih
matang lagi."
"Baik, twako. Dengan bantuanmu, kuharap akan dapat
membalas dendamku kepada pengkhianat itu!"
"Ada Satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepadamu,
Li-moi. Aku akan selalu merasa penasaran sebelum
mendapat keteranganmu."
"Hal apakah itu? Tanyakanlah, akan kujawab."
"Tentang senjatamu itu. Kalau aku tidak salah sangka,
bukankah itu yang disebut Mestika Golok Naga, golok
milik istana yang telah dicuri orang? Bagaimana dapat
berada padamu? Aku tidak percaya bahwa engkau....."
"Kenapa berhenti bicara? Katakan saja bahwa engkau
menduga aku pencuri golok pusaka itu, bukan? Engkau
keliru, Bukan aku pencuri golok pusaka itu. Pencurinya
adalah seorang kaki tangan Panglima Wu Chu dari
Kerajaan Kin bernama Hak Bu Cu dan aku telah
menewaskannya Golok ini telah diserahkan kepada
Panglima Wu Chu dan .......dan akhirnya Jatuh ke
tanganku." Tentu saja Ban-tok Sian-Li Souw Hian Li tidak
mau menceritakan cara ia merampas golok itu dari
tangan Tan Tiong LI, dengan cara licik, yaitu melukai
puteri Sung Hiang Bwee kemudian menukar keselamatan
gadis itu dengan golok pusaka.
"Golok pusaka itu harus dikembalikan kepada Kaisar,
Li-moi."
"Kelak kalau sudah tercapai maksudku membunuh
Perdana Menteri Jin Kui "
"Benar Juga, aku sudah menemukan cara yang baik,
siasat yang tepat untuk dapat berhadapan dengan Jin
Kui dan membunuhnya. Yaitu dengan golok ini. Kita
mohon menghadap Perdana Menteri Jin Kui. Kalau kita
memakai alasan! untuk mengembalikan Mestika Golok
Naga, kurasa dia akan mau menerima kita."
"Bagus ! itu siasat yang baik sekali, Thio-twakol" seru
Souw Hian Li dengan girang.
"Mari kita bicarakan di rumah.!"
Keduanya lalu berjalan pergi meninggalkan tigapuluh
orang perampok itu saling tolong dan menuju ke lereng
bukit Thian-mu-san, jalan berdampingan dan bukan
hanya Thio Cin Kang saja yang merasa berbahagia
dapat mengajak wanita itu pulang ke rumahnya, juga
Souw Hian Li merasakan suatu perasaan yang belum
pernah ia alami sebelumnya.
Cinta asmara memang aneh dapat membuat
seseorang merasa bahagia seperti hidup di sorga, akan
tetapi di lain saat dapat membuat orang itu berbalik
merasa sengsara seperti hidup di neraka! Cinta asmara
mengandung nafsu berahi, ingin memiliki dan dimiliki,
ingin menyayang dan disayang , ingin menguasai dan
dikuasai, ingin selalu berdekatan, bahkan bersatu dalam
dua badan satu hati. Akan tetapi satu saja di antara
keinginan-keinginan itu tidak terpenuhi, datanglah
sengsara dan kasih sayang dapat saja berubah sama
sekali bentuknya menjadi dendam dan benci.
Karena Ingin memiliki dan dimiliki, menguasai dan
dikuasai, maka timbullah cemburu. Cinta asamara adalah
semacam kesayangan seperti sayangnya seseorang
kepada sebuah benda yang Indah dan I-ngln dimilikinya
sendiri, tidak boleh disentuh orang lain. Dan cinta asmara
mendatangkan duka kalau tiba saatnya dipisahkan dari
yang dicinta.
Namun, tanpa adanya cinta asmara, hidup akan
terasa hambar. Perasaan ini. sudah merupakan naluri
kemanusiaan, di ikut-sertakan semenjak lahir karena
cinta asmara merupakan sarana perkem-bang-biakan
manusia. Tanpa cinta asmara yang mengandung nafsu
berahi, bagaimana manusia dapat berkembang biak,
beranak-cucu? Tiada habis-habisnya para cendekiawan,
para filsuf dan pengarang, membicarakan dan menulis
tentang cinta asmara, dan kita tidak juga bosan
mendengar atau membacanya. Mengapa demikian?
Karena cinta asmara merupakan bagian dari pada hidup
kita.
Ban-tok Sian-li Souw Hian Li telah banyak bertemu
pria yang tergila-gila kepadanya. Akan tetapi belum
pernah ia merasa tertarik kepada, seorangpun pria itu.
Dan sekarang, tiba-tiba saja ia tertarik kepada seorang
duda. Inilah yang dinamakan jodoh dan memang
terdapat sesuatu yang aneh dalam soal perjodohan ini.
Seolah ada Tangan Ajaib yang mengaturnya.. Karena itu,
sejak jaman dahulu orang mengatakan bahwa kalau
sudah jodoh, akhirnya tentu akan bertemu juga. Kalau
sudah jodoh,maka orang itu akan dilihatnya sebagai
orang yang sebaik-baiknya, setampan-tampannya,
pendeknya serba baik menarik. Daya tarik ini mungkin
timbul dari persamaan selera, persamaan watak dan
sebagainya yang agar memudahkan disebut saja sudah
jodohnya .
0odwo0
Tiong Li dan Siang Hwi kembali ke kota raja. Mereka
mencari-cari jejak Ban-tok Sian-li akan tetapi sia-sia saja
karena wanita yang mereka cari itu sama sekali tidak
meninggalkan jejak, seperti hilang begitu saja.
Akhirnya mereka mengaso di dalam taman rakyat.
Siang itu orang-orang masih sibuk bekerja sehingga
taman itu tidak ramai dan mereka dapat duduk bercakapcakap
dengan santai di sebuah bangku panjang.
Tiba-tiba seorang mengemis menghampiri mereka dan
menyodorkan sebuah mangkok butut. Siang Hwi
mengambil uang sekeping dan memasukkannya ke
dalam mangkok. Akan tetapi, melihat pengemis itu Tiong
Li berseru girang.
"Eh, bukankah engkau Gan-twako?"
Wajah yang terlindung caping lebar butut itu
tersenyum dan sepasang mata itu bersinar-sinar. Kiranya
yang bersembunyi di balik baju butut dan kulit muka kotor
itu adalah seorang pemuda tampan dan gagah yang
bukan lain adalah Gan Kok Bu, putera ketua Hek tung
Kai-pang.
"Ah, kiranya engkau,Gan-twako?" Siang Hwi kini juga
mengenalnya.
"Kau sudah mengenalnya?" tanya Tiong Li kepada
Siang Hwi.
"Dan kau juga sudah mengenalnya?" balas tanya
Siang Hwi dengan heran..
"Dia putera Gan-pangcu dari Hek-tung Kai-pang dan
dia sudah pernah membantuku," jawab Tiong Li.
"Aku juga tahu bahwa dia putera Gan-pangcu dan dia
juga pernah membantu kami, ketika aku dan subo
terkepung pasukan. Dia yang menyembunyikan kami,"
kata Siang Hwi.
"Sudahlah, ji-wi (kalian berdua) tidak perlu menyebut
lagi hal itu. Di antara kita sudah tentu harus ada saling
bantu dan saling kerja sama," kata Gan Kok Bu sambil
tersenyum.
"Bagaimana kabarnya dengan Hek-tung Kai-pang
ketika diadakan penggeledahan, Gan-twako?" tanya
Tiong Li.
"Ah, karena pemberitahuanmu, maka. kami telah
bersiap-siap dan ketika di adakan penggeledahan,
mereka tidak menemukan apapun. Kami bebas dari
kecurigaan dan sampai kini masih dapat berkeliaran
tanpa dicurigai." Kok Bu memandang kepada Siang Hwi,
gadis yang di--cintanya dan pernah dia menyatakan
cintanya kepada gadis itu. "Dan di mana adanya gurumu,
nona? Kenapa tidak bersamamu?"
"Kami memang sedang mencarinya," Jawab Siang
Hwi.
"Ah, kebetulan sekali, Gan-twako. Engkau tentu akan
dapat membantu kami Kalau bibi Souw Hian Li, guru
Hwi-moi berada di kota raja, tentu engkau dan kawankawanmu
mengetahuinya. Kami ingin sekail mencarinya"
''Ah, Itu perkara mudah. Marilah, ji-wi singgah di
tempat kami dan menanti satu dua hari tentu kami akan
mendapatkan berita tentang Ban-tok Sian-li " ajaknya
gembira.
Karena ingin sekali segera dapat menemukan Ban-tok
Sian-li yang merampas Mestika Golok Naga, Tiong Li
menerima tawaran itu dan dia mengajak Siang Hwi untuk
pergi ke tempat tinggal Gan Kok Bu. Semenjak
peristiwa dahulu ketika ayahnya menyatakan tidak
senang dia bergaul dengan murid Ban-tok Sian-li dan
ayahnya bahkan mengkhianati guru dan murid itu, Gan
Kok Bu tidak lagi mau tinggal bersama ayahnya. Dia
tinggal sendiri bersama beberapa orang pembantu
pengurus Hek-tung Kai-pang di rumah yang terpisah dan
ke rumah itulah dia membawa Tiong Li dan Siang Hwi.
Melihat hubungan yang akrab dari Tiong Li dan Siang
Hwi sebagai dua orang sahabat baik, hati Kok Bu sudah
merasa tidak enak. Sejak dulu dia mencinta Siang Hwi,
dan kini setelah mereka bertemu kembali, perasaan cinta
dan kagumnya semakin berkobar. Setelah dia
memerintahkan para pengurus untuk menyampaikan
perintahnya kepada para anggauta Hek-tung Kai-pang
untuk menyelidiki di mana adanya Ban-tok Sian-li, dia
lalu menemani kedua orang tamunya itu dengan ramah.
Ketika pada suatu sore dia mendapat kesempatan
berbicara berdua saja dengan Tiong Li, dia mengaku
terus terang tentang perasaannya terhadap Siang Hwi.
"Tan-taihiap, engkau tidak tahu betapa bahagianya
aku dapat bertemu dengan kalian berdua, terutama
sekali dengan nona Siang Hwi. Aku sangat
merindukannya dan sudah lama aku mencari-cari akan
tetapi tanpa hasil, Pertemuanku dengannya adalah ketika
ia dan gurunya tinggal bersembunyi untuk beberapa hari
lamanya di rumah kami."
"Aku senang sekali engkau berbahagia bertemu
dengan kami," kata Tiong Li dengan suara dan sikap
wajar saja.
Hening sejenak.. Kemudian Kok Bu memberanikan
hatinya dan berkata, "Tan taihiap, maukah engkau
menolongku?"
"Tentu saja, twako. Menolong apa?"
"Engkau bersahabat baik dengannya, tentu dapat
menyampaikan dengan mudah. Tolong kaukatakan
kepadanya bawa aku ..... perasaan hatiku kepadanya
masih tetap seperti dulu, bahkan kini lebih yakin lagi dan
bahwa aku tetap masih menunggu jawabannya."
Sekali ini Tiong Li terkejut bukan main, akan tetapi
semua perasaan itu ditahannya di dalam hati. "Kenapa
tidak engkau sampaikan saja sendiri, twako?"
"Aku.... aku merasa sungkan dan takut ditolak.
Ketahuilah, taihiap. Dahulu aku sudah pernah
menyatakan cintaku kepadanya, dan sampai kini belum
mendapatkan jawabannya. Oleh karena itu, kalau mau
menolongku, menyampaikan perasaanku itu dan menanti
jawabannya, aku akan merasa berterima kasih sekali ."
Tiong Li merasa jantungnya berdebar penuh
ketegangan. Dia tahu bahwa perasaan cemburu
menusuk-nusuk perasaannya. Akan tetapi wajahnya
tidak memperlihatkan sesuatu dan suaranya masih
terdengar biasa ketika dia bertanya.
"Engkau cinta padanya, twako.. Dan bagaimana
dengan ia? Apakah ia juga mencintamu?"
"Ahh, melihat sikap, pandang matanya dan suaranya,
aku hampir yakin bahwa iapun mencintaku, taihiap. Akan
tetapi ia belum menyatakan itu dengan kata-kata. dan
inilah yang kuharapkan! sekarang akan ia lakukan kalau
engkau! mau menolongku menyampaikan pesanku
kepadanya. Maukah engkau, taihiap? " Sambil berkata
demikian Gan Kok-Bu bangkit berdiri dan merangkapkan
kedua tangan depan dada lalu memberi hormat berkalikali.
Bukan main panasnya rasa hati Tiong Li. Cemburu
memang menjadi permainan cinta asmara. Dan nafsu
cemburu ini amatlah berbahaya, dapat menggelapkan
pertimbangan, mendatangkan dendam amarah dan
kebencian. Akan tetapi Tiong Li dapat menekan
perasaannya yang terbakar dan diapun bangkit berdiri "
Akan kulaksanakan permintaanmu itu! Gan-twako.
Jangan khawatir, akan kusampaikan pesanmu itu
kepadanya."
"Ah, terima kasih! Terima kasih taihiap dan aku
menanti jawabannya dengan hati tidak sabar lagi.
Maafkan! sekarang kutinggalkan taihiap agar dapat
segera menemuinya." Gan Kok Bu dengan hati girang
dan harapan setinggi gunung lalu meninggalkan Tiong Li
seorang diri.
Setelah ditinggalkan tuan rumah, Tiong Li duduk
kembali seperti patung dan sampai lama dia diam saja
tidak bergerak, walaupun di dalam dadanya terjadi
pergolakan hebat. Siang Hwi saling cinta dengan Kok Bu
? Benarkah Siang Hwi juga mencinta pemuda itu ?
Mengapa tidak? Gan Kok Bu seorang pemuda yang
tampan dan gagah perkasa, putera ketua Hek-tung Kaipang.
Seorang pemuda yang berbudi baik dan perkasa,
sudah sepantasnya kalau mendapatkan cinta seorang
gadis seperti Slang Hwi. Akan tetapi kalau Siang Hwi
mencinta Kok Bu, kenapa gadis itu masih mau menerima
cintanya ? Apakah gadis itu seorang yang tidak memiliki
kesetiaan? Hati Tiong Li menjadi panas sekali. Dia
merasa telah didahului oleh Kok Bu. Sebelum dia
mengaku cintanya kepada Siang Hwi, Kok Bu telah lebih
dulu dari padanya. Dan bagaimana dengan Siang Hwi?
Dia harus menanyainya. Gadis itu harus mengambil
keputusan, tidak boleh mempermainkan hati pria!.
Kebetulan sekali pada saat itu Siang Hwi muncul dari
dalam rumah. Agaknya ia memang mencari Tiong Li
yang duduk di luar rumah bersama Kok Bu tadi .
"Aih, kiranya engkau berada di sini, koko!" kata Siang
Hwi. dengan suara manja. Suara yang biasanya
menggetarkan hati Tiong Li karena kemanjaannya itu kini
bahkan memanaskan hatinya, seperti suara yang dibuatbuat
dan palsu!
Melihat pemuda itu tidak menjawabnya, bahkan tidak
menengoknya melainkan menunduk dengan wajah
murung, tentu saja Siang Hwi menjadi heran dan
khawatir.
"Koko, engkau kenapakah?" tanyanya sambil
memegang pundak pemuda itu.
Tiong Li melepaskan pundaknya dengan gerakan
agak kasar, lalu bangkit! dan berkata, "Duduklah, aku
hendak menyampaikan pesan untukmu!"
Siang Hwi duduk dan memandang khawatir sekaI i.
"Koko, kenapa engkau bersikap begini? Pesan apakah
itu dan dari siapa? "
"Dari Gan Kok Bu! Nah, engkau ingin mendengar
pesannya, bukan ? "
Siang Hwi bingung dan khawatir sekali melihat sikap
yang kaku dari Tiong Li itu, ia tidak dapat menjawab
hanya mengangguk.
"Nah, dengarlah baik baik. Gan Kok Bu minta agar aku
menyampaikan kepadamu bahwa perasaan cintanya
kepadamu masih seperti dulu, dan bahwa dia masih
mengharapkan jawaban darimu sekarang juga. Nah,
kausampaikan jawaban itu melalui aku!"
Siang Hwi terbelalak dan tiba-tiba ia mengerti! Kok Bu
menyatakan cintanya melalui Tiong Li dan kekasihnya itu
terbakar oleh api cemburu. Hampir ia tertawa geli, akan
tetapi ia menelan tawanya, la tidak mau menyinggung
perasaan kekasihnya, ia terlalu hormat dan cinta kepada
Tiong Li, tidak mau ia menyakiti hatinya.
"Ah, begitukah? Betapa beraninya!" ia lalu memegang
tangan Tiong Li dan ditariknya pemuda itu bangkit berdiri
"Hayo kita cari dia. Aku ingin menyampaikan sendiri
jawabanku dan engkau harus hadir!" Dengan erat ia
memegang tangan Tiong L i dan menariknya lari mencari
Kok Bu.
Mereka mendapatkan Kok Bu sedang berada di
ruangan dalam, bercakap-cakap dengan tiga orang
pengurus Hek-tung Kai-pang. Akan tetapi Siang Hwi tidak
perduli dan terus menarik tangan Tiong Li memasuki
ruangan itu. Tentu saja.Kok Bu memandang dengan
mata terbelalak melihat gadis itu masuk sambil
menggandeng tangan Tiong L i yang di tarik-tariknya
dengan paksa!
"'Gan-twako, aku sudah menerima pesanmu lewat Likoko.
Dan dengarlah baik-baik jawabanku. Beberapa
waktu yang lalu engkau pernah menyatakan cintamu
kepadaku dan aku sama sekali tidak menanggapi, tidak
menjawab karena pada waktu itu aku tidak ingin bicara
soal cinta. Hatiku masih kosong dari cinta maka aku tidak
dapat menjawab atau memberi keputusan kepadamu.
Kemudian aku bertemu Li-koko dan aku menemukan
cinta. Dia inilah cintaku, dan kami sudah bertunangan,
kami kelak akan menjadi suami isteri, akan menikah. Dan
engkau malah mengangkat calon suamiku sebagai
comblang untuk menyampaikan cintamu ke padaku! Nah,
itulah jawabanku, Gan twakol"
Pucat wajah Kok Bu. Pucat lalu merah sekali. Ingin
rasanya dia masuk ke dalam bumi karena merasa malu
dan terpukul . "Ahhh.....ohhh..... Tan-taihap,ap......kenapa
engkau tidak memberitahukan hal Itu kepadaku?
Mengapa engkau diam saja sehingga membiarkan aku
melakukan hal yang memalukan itu?" Suara Kok Bu
mengandung penyesalan dan kedukaan. "Tan-taihiap,
Nona The, kalian maafkanlah aku yang tak tahu diri dan
tidak tahu malu ini." Pemuda itu menundukkan mukanya
dan sepasang kekasih itu memandang dengan penuh
perasaan iba .
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Gan-twako. Tentu
saja engkau berhak menyatakan perasaanmu kepada
siapapun juga, " kata Tiong Li.
"Aih, kau maafkanlah aku, Gan-twako. Aku .... aku
telah membikin engkau merasa, tidak enak Aku terburu
nafsu karena melihat Li-koko dibakar api cemburu dan
kelihatan bersikap kaku ke padaku. Maafkan aku, tidak
ada maksud di hatiku untuk menyinggung perasaanmu."
Gan Kok Bu tersenyum. Wajahnya masih agak pucat
akan tetapi senyumnya wajar. Dia memang seorang
gagah perkasa yang dapat menguasai hatinya dan dapat
menerima kenyataan.
"Sungguh aneh kalian ini. Orang-orang gagah yang
aneh. Kalian terganggu oleh kelancanganku, malah
kalian yang menyatakah maaf. Aku sama sekali tidak
tersinggung, bahkan merasa girang. Kalian memang
sepantasnya menjadi jodoh masing-masing. Biarlah
sekarang juga aku mengucap kan kiong-hi (selamat) !"
Dia lalu mengangkat kedua tangan kedepan dada dan
mengucapkan selamat. Tiga orang pengurus Hek-tung
Kai-pang yang sejak tadi hanya melongo kini juga ikutikutan
memberi selamat.
Tentu saja Tiong Li dan Siang Hwi menjadi tersipu.
Tiong Li memandang ke pada Gan Kok Bu dengan
kagum. "Gan-twa ko, engkau seorang sahabat yang baik,
engkau seorang gagah tulen!"
"Mari, marilah kalian duduk. Hal ini perlu dirayakan
dengan pesta kecil!", kata Kok Bu gembira dan dia lalu
memanggil pembantu untuk menghidangkan arak dan
makanan. Mereka berenam lalu makan minum dengan
gembira dan agaknya Kok Bu sudah melupakan sama
sekali malapetaka batin yang menimpa dirinya. Tentu
tidak ada yang tahu betapa malam itu dia menangis
seorang diri di dalam kamarnya!
0odwo0
Perdana Menteri Jin Kui mengundang semua
pembantunya, yaitu Ciang Sun Hok yang menjadi jagoan
lihai bekas jagoan istana, Ma Kiu it panglima
pengawalnya, Kui To Cin-jin si muka tikus bekas guru
mendiang Jin Kiat dan dua sutenya yang diperbantukan,
yaitu Ouw Yang Kian dan Oyw Yang Sian kemudian
Tang Boa Lu si Muka Tengkorak. Enam orang ini
berkumpul diruangan dalam di mana Jin Kui duduk
sambil memegangi selembar surat dengan muka merah.
"Aku menerima surat ini. bagaimana pendapat kalian?
Dengar, kubacakan suratnya: Kami hendak
menghaturkan! Mestika Golok ,Naga kepada Perdana
Menteri Jin Kui, harap datang ke Bukit Menjangan di luar
kota. Kalau Perdana Menteri Jin Kui tidak datang sendiri,!
jangan harap akan dapat menemukan kembali Mestika
Golok Naga ! Nah, surat ini tidak ditandatangani, ini jelas
merupakan tantangan kepadaku untuk datang ke Bukit
Menjangan. Bagaimana pendapat kailan?"
"Hati-hati,. taijin. Ini bisa saja merupakan pancingan
agar paduka datang ke tempat Itu. Merupakan jebakan
kata Kui To Cin-rjin yang dibenarkan oleh lima orang
rekannya yang lain.
"Kita semua sudah mengetahui bahwa Mestika Golok
Naga sudah dirampas oleh Tan Tiong Li dari tangan
Panglima Wu Chu. Kenapa sampai sekarang belum di
kembalikan kepada Kaisar ? Apakah Tan Tiong L i yang
mengirim surat ini dan apa maksudnya berbuat
demikian?"
"Mungkin untuk menjebak pasukan, taijin," kata Kui To
Ciri-Jin.
"Lalu bagaimana pendapat kalian terhadap surat ini?
Apa yang harus kita lakukan?"
"Saya usulkan agar mengirim seorang yang
menyamar sebagai paduka ke Bukit Menjangan, dan
kami berenam akan mengawalnya! Kalau dia benarbenar
muncul membawa Mestika Golok Naga, kami akan
merampasnya," kata Tang Boa Lu.
"Bagaimana kalau mereka itu membawa pasukan
pemberontak yang besar jumlahnya?" kata Ma Kiu it.
"Sebaiknya kita kerahkan pasukan menuju ke Bukit
Menjangan dan membasmi mereka!"
"Usul Ma-ciangkun tidak tepat," kata Ciang Sun Hok.
"Kalau kita mengerahkan pasukan, tentu mereka itu
sama sekali malah tidak mau datang. Taijin, Saya lebih
condong menerima usul Tang ciangkun. Kita mengirim
seorang yang menyamar sebagai paduka, menunggang
kereta dan kami berenam yang mengawal, lalu kita lihat
apa yang akan terjadi di sana. Andaikata merupakan
jebakan kami berenam tentu akan dapat mengatasinya
dan paduka yang berada di rumah tentu tidak akan
terancam apa-apa."
Perdana Menteri Jin Kui mengangguk-angguk. "Kami
dapat menyetujui usul itu."
"Tai-jin, dalam surat itu, kapankah ditentukap agar
paduka datang ke Bukit Menjangan?" tanya Ma Kiu it.
"Tidak disebutkan, jadi sewaktu-waktu."
"Kalau begitu, sebaiknya kalau yang menyamar
paduka itu datang di waktu matahari telah condong ke
barat. Kalau cuaca sudah mulai gelap, maka dengan
mudah kita mengirim pasukan khusus ke tempat itu
secara diam-diam dan mengepung tempat itu. Dengan
demikian kalau mereka menggunakan jebakan dan
mengerahkan pasukan, kita dapat menghancurkannya."
Demikianlah, mereka berunding dan akhirnya
diputuskan agar seseorang menyamar sebagai Perdana
Menteri Jin Kui dan setelah lewat tengahari kereta itu
diberangkatkan ke Bukit Menjangan, dikawal oleh enam
orang jagoan itu dan di belakangnya ada pasukan yang
diam-diam menuju ke Bukit Menjangan dari jurusan lain
agar tidak diketahui oleh para pemberontak.Setelah
semua siasat diatur, mereka bubaran dan siasat itu akan
dilaksanakan keesokan harinya. Mereka memilih setelah
hari menjelang malam agar penyamaran orang pengganti
Perdana Menteri Jin Kui tidak ketahuan dan agar
pasukan yang diam-diam mendatangi Bukit Menjangan
dari lain jurusan tidak terlihat pula.
Pada hari itu, lewat tengahari, sebuah kereta milik
Perdana Menteri Jin Kui keluar dari pintu gerbang
sebelah barat. Karena kareta itu dikawal oleh enam
orang panglima, maka dapat melewati pintu gerbang
tanpa diperiksa lagi, bahkan para penjaga mengambil
sikap menghormat. Kereta lalu dibalapkan menuju ke
barat, ke Bukit Menjangan yang kelihatan dari pintu
gerbang itu menjulang tinggi.
Karena bentuk puncaknya seperti, kepala menjangan,
maka bukit Itu disebut Bukit Menjangan. Daerah itu sunyi
dan tandus, merupakan bukit kapur yang penuh dengan
batu karang, karena itu sunyi tidak pernah di datangi
manusia. Setelah kereta keluar dari pintu gerbang, dari
pintu gerbang selatan keluar pula sepasukan tentara
terdiri dari seratus orang, melakukan perjalanan cepat
namun bersembunyi-sembunyi menuju ke Bukit
Menjangan dari arah lain.
Begitu kereta dari pintu gerbang, sepasang kakek dan
nenek terbungkuk-bungkuk memasuki pintu gerbang itu.
Si nenek menggendong buntalan butut dan kakek itu
memegang sebatang tongkat. Tak seorangpun
mengetahui bahwa nenek yang bungkuk itu bukan lain
adalah Ban tok Sian-li yang cantik jelita dan kakek
bertongkat itu adalah Thio Cin Kang yang gagah
perkasa, ketua Pek-enq pang! Dan dari pintu-pintu
gerbang lainnya masuk pula duapuluh orang anak buah
Pek-eng-pang yang menyamar sebagai kuli atau
pedagang.
Setelah hari menjadi gelap, nampak bayangan yang
gerakannya cepat bagaikan seekor burung terbang
melompati pagar tembok rumah gedung Perdana Menteri
Jin Kui yang terjaga ketat. Bayangan itu bukan lain
adalah Ban-tok Sian-li yang kini berpakaian serba hitam
dan dipunggung nya terdapat Mestika Golok Naga.
Ternyata surat yang dikirim oleh Thio Cin Kang
kepada Perdana Menteri Jin Kui itu hanya sebuah
pancingan saja. Sudah diperhitungkan oleh ketua Pekeng-
pang itu bahwa Perdana Menteri Jin Kui tidak
mungkiri mau memenuhi permintaan dalam surat dan
tentu akan mengirim semua jagoannya pergi ke Bukit
Menjangan. Dan inilah yang dimaksudkan dengan
pengiriman surat itu. Memancing agar para jagoan
meninggalkan gedung tempat tinggal Perdana Menteri
itu. Dan dalam keadaan gedung ditinggalkan para jagoan
itulah Ban tok Sian li menyerbu!.
Kini Souw Hian Li dan Thio Cin Kang melaksanakan
siasat mereka selanjutnya. Setelah berhasil memasuki
pagar tembok gedung itu, Ban tok Sian-li Souw Hian Li
lalu melompat naik ke atas genteng dan mendekam di
atas gedung itu untuk mengamati ke dalam. Pada saat
itulah Thio Cin Kang memimpin anak buahnya untuk
menyerbu, melompati pagar tempok dan menyerang para
penjaga. Segera tanda bahaya dipukul oleh para penjaga
dan semua penjaga berkumpul untuk melawan sekitar
duapuluh orang yang menyerbu gedung Perdana Menteri
Jin Kui, yang semuanya berkedok hitam.
Tentu saja keributan ini terdengar pula oleh Jin Kui.
Dia terkejut sekali karena pada saat itu semua jagoannya
telah pergi menyerbu ke Bukit Menjangan. Karena
khawatir akan keselamatan dirinya, dia tergopoh-gopoh
hendak pergi memasuki ruangan rahasia yang
mempunyai terowongan menembus ke bawah tanah
sebagai tempat bersembunyi .
Akan tetapi ketika dia tergopoh-gopoh menuju ke
ruangan itu, gerakannya ini terlihat oleh Ban-tok Sian-li
Souw Hian Li yang segera melayang turun dan tahu-tahu
telah tiba di depan Perdana Menteri itu.
Sang perdana menteri terkejut ketika melihat seorang
wanita cantik jelita berpakaian Serba hitam telah berdiri
di depannya.
"Siapa kau....?" bentaknya
untuk menutupi kekagetan dan
rasa takutnya.
"Aku Ban-tok Sian-Li
majikan lembah Maut yang
kau suruh serbu dan basmi.
Dan inilah Mestika Golok
Naga yang kau kehendaki!"
Souw Hian Li mencabut golok
yang mengkilap itu dengan
Sikap mengancam.
Tentu saja Perdana Menteri Jin Kui menjadi ketakutan
dan diapun berteriak-teriak minta tolong sambil melarikan
diri. Akan tetapi, Ban-tok Sian-li mengejarnya dan dari
belakang menyerangnya dengan dua batang jarum Ban
tok-ciam. la sengaja melakukan ini karena ia ingin agar
pengkhianat itu mati dalam keadaan tersiksa dan
sengsara. Jin Kui menjerit dan roboh terpelanting ketika
dua batang jarum memasuki punggungnya.
Ban-tok Sian-li menghampirinya dan berkata kepada
Perdana Menteri yang mengeluh kesakitan Itu. "inilah
pembalasan mendiang Panglima Gak; Hui dan ribuan
pejuang lain yang sudah kau basmi dan bunuh. Rasakan
!" setelah ber kata demikian Ban-tok Sian-li lalu
melompat naik. ke atas atap dan melalui taman keluar
dari pagar tembok, la melihat betapa duapuluh orang
yang dipimpin Thio Cin Kang masih bertempur melawan
pasukan, la lalu melompati mendekati Thio Cin Kang
yang mengamuk. Setelah melihat Souw Hian Li datang
dengan selamat.
Thio Cin Kang bertanya. "Bagaimana?"
"Beres ! " jawab Souw Hian Li .
Mendengar ini, Thio Cin Kang lalu meneriakkan
perintah mundur kepada anak buahnya. Mereka semua
menggunakan topeng hitam sehingga tidak akan dikenal.
Para pasukan itu hanya mengenai seorang wanita cantik
di antara orang-orang berkedok sehingga tentu akan
disangka bahwa Ban-tok Sian-li memimpin anak
buahnya, sisa anak buah dari Lembah Maut untuk
melakukan penyerbuan itu. Pasukan penjaga segera
melakukan pengejaran dan gegerlah kota raja karena
kejar kejaran itu.
Pada saat itu muncullah Tiong Li, Siang Hwi dan Kok
Bu. Seperti kita ketahui, Tiong Li dan Siang Hwi sedang
berada di rumah Gan Kok Bu, menanti berita
penyelidikan para anak buah Pek-eng-pang yang
mencari Ban-tok Sian-li Dan malam itu mereka mendapat
kabar bahwa Ban-tok Sian-li terlihat menyerbu, rumah
gedung Perdana Menteri Jin Kui. Mereka terkejut dan
cepat keluar dari rumah. Ketika Ban-tok Sian-li dan
orang-orang berkedok itu dikejar-kejar pasukan, mereka
bertiga segera muncul dan Kok Bu memapaki Ban-tok
Sian-li.
"Sian-li, ke sinilah...." Ban-tok Sian-li mengenal
pemuda putera ketua Hek-tung Kai-pang ini maka ia
segera mengajak Thio Cin Kang dan anak buahnya
mengikuti.. Apa lagi melihat pula muridnya dan Tan Tiong
Li berada di dekat tokoh pengemis itu. Mereka semua
diajak berlari oleh Gan Kok Bu keluar masuk lorong dan
akhirnya memasuki rumahnya .
"Cepat kalian semua membuang kedok hitam dan
berpakaian seperti anggauta Hek-tung Kai-pang!" kata
Gan Kok Bu yang cepat menyediakan pakaian pengemis
bermacam-macam dan memberikan sebuah tongkat
hitam kepada mereka semua. Adapun Ban-tok Sian li
dan Thio Cin Kang kembali sudah menyamar sebagai
kakek dan nenek tua. Benar saja, tak lama kemudian
para pengejar sampai pula di rumah itu. Akan tetapi
mereka mengenal Gan Kok Bu dan melihat para nggauta
Hek tung Kai-pang, mereka tidak menjadi curiga bahkan
pesan kepada Gan Kok Bu untuk membantu mereka
mencari para pelarian yang tadi menyerbu rumah
Perdana Menteri Jin Kui.
" Apa yang telah terjadi?" tanya Gan Kok Bu kepada
para perwira yang memimpin pasukan itu.
"Segerombolan pemberontak telah menyerbu rumah
Perdana Menteri Jin Kui," kata seorang perwira.
"Lalu. apa yang mereka lakukan? Mudah-mudahan
Yang Mulia Perdana Menteri selamat." kata pula Gan
Kok Bu.
"Yang Mulia Perdana Menteri selamat, hanya terluka
dan pingsan, mungkin karena terkejut," kata perwira itu
yang lalu melanjutkan pengejaran mereka .
Setelah pasukan pergi, Souw Hian Li
memperkenalkan Thio Cin Kang kepada Gan Kok Bu
yang segera berseru. "Ah, kiranya Pek-eng Pang-cu
yang mengatur semua ini lalu, apakah engkau berhasil
membunuh Perdana Menteri yang jahat itu, Sian-li?"
"Aku telah sengaja melukainya untuk menyiksanya.
Dia pasti akan mampus karena sudah terkena Ban-tokciam
dariku!"
"Ah, kalian belum berkenalan?" kata Gan Kok Bu yang
teringat bahwa Tiong Li dan Siang Hwi berada di situ dan
tidak diperkenalkan oleh Ban-tok Sian-li. "Thio-pangcu,
saudara ini adalah Tan Tiong Li Taihiap, dan nona ini
adalah nona The Siang Hwi, murid Ban-tok Sian-li.
Mereka saling memberi hormat dan Thio Cin Kang
mengangguk-angguk. "Aku sekarang teringat akan
gambar Tan-tai-hiap yang terpampang di mana-mana
tempo hari. Akan tetapi sekarang tidak lagi."
"Semua Itu gara-gara kelicikan Perdana Menteri Jin
Kui yang melakukan fitnah sehingga aku dituduh
menculik Puteri Sung Hiang Bwee," kata Tiong Li .
"Pada hal, Tan-taihiap yang menolong puteri itu dari
tangan penculiknya," kata Gan Kok Bu yang sudah
mendengar akan peristiwa itu.
Thio Cin Kang menghela napas panjang. "Perdana
Menteri Jin Kui memang Jahat sekali. Entah berapa
banyak pahlawan sejati, patriot-patriot yang cinta negara
dan bangsa, sesudah Panglima Gak Hui, yang tewas
karena ulahnya. Mudah-mudahan dia sekarang tidak
akan lolos dari kematiannya ."
"Tidak mungkin ia lolos dari maut!" kata Ban-tok Sianli.
"Di dunia ini tidak ada orang lain yang akan mampu
menyembuhkannya."
Melihat suasana yang akrab dan baik di antara
mereka itu, bahkan subo-nya tidak memperlihatkan sikap
bermusuhan dan nampak akrab sekali dengan ketua
Pek-eng-pang, Siang Hwi lalu menggunakan kesempatan
itu untuk membujuk subonya. "Subo, kami berdua telah
mencari subo kemana-mana tanpa hasil. Sekarang,
kebetulan kita dapat bertemu disini. Harap subo suka
mengembalikan Mestika Golok Naga kepada Li-koko
yang akan mengembalikan kepada Sri baginda Kaisar.
Li-koko yang berhak mengembalikan golok pusaka itu,
subo, karena dia yang telah merampasnya dari
pencurinya, yaitu Panglima Wu Chu Kerajaan Kin."
"Aku hanya ingin agar golok pusaka itu dikembalikan
kepada pemiliknya, yaitu Sribaginda Kaisar. Aku tidak
mengharapkan imbalan atau balas jasa. Kalau Sian-li
ingin mengembalikannya sendiri kepada Kaisar, sama
saja dan silakan," kata Tiong Li dengan suara sungguhsungguh.
"Golok itu sejak dahulu menjadi rebutan. Kini setelah
berada di tangan ku, siapa yang menghendakinya boleh
merampas dari tanganku," kata Ban-tok Sian-li dengan
sikap menantang.
Melihat keadaan yang menegangkah dan
bertentangan ini, Thio Cin Kang segera menengahi dan
suaranya terdengar berwibawa namun lembut ketika dia
berkata kepada Ban-tok Sian-li. "Li-moi, kalau memang
benar Tan-taihiap yang telah mendapatkan kembali golok
pusaka itu, kuharap engkau suka memberikan saja
kepada Tan-taihiap. Di antara kita sendiri tidak perlu
terjadi perebutan siapa yang akan mengembalikan
testika Golok Naga kepada Kaisar."
Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya dan memandang
kepada Thio Cin Kang, "Golok pusaka itu tidak pantas
berada di tangan Kaisar yang demikian lemahnya. Kaisar
tidak memusuhi penjajah Kin, bahkan telah mengejarngejar
kaum pejuang dan membunuh banyak pahlawan
yang sebetulnya setia kepadanya. Golok pusaka itu lebih
tepat berada di tangan para pejuang dan akan
kuserahkan kepada pimpinan pejuang Gak Liu, putera
mendiang Panglima Gak Hui."
0ooo-dw-ooo0
Jilid X
"Aku mengenal baik Gak Liu dan dia tidak akan mau
menerima golok itu," kata Thio Cin Kang. "Golok itu
adalah milik Kaisar, dicuri orang dari gudang pusaka
istana. Kalau kita memilikinya, sama saja dengan kita
yang mencurinya. Dan ingatlah, Li-moi. Selama ini yang
mengejar-ngejar para pejuang sesungguhnya bukanlah
kaisar, melainkan Jin Kui. Jin Kui seorang penjilat yang
lihai dan kaisar hanya terpengaruh olehnya. Kalau dia
sudah tidak ada, tentu sikap Kaisar terhadap para
pejuang juga berubah."
"Benar sekali apa yang diucapkan oleh Thio-pangcu.
Aku sendiri sudah bicara dengar Sri baginda Kaisar dan
aku membujuknya agar tidak memusuhi para pejuang
yang sesungguhnya setia kepada Kerajaan Sung dan
para pejuang itu hanya hendak mengusir penjajah dari
tanah air. Dan Kaisar dapat menerimanya, bahkan
memberi aku surat kuasa. Akan tetapi Jin Kui pandai
menghasut sehingga Kaisar kembali menganggap para
pejuang itu sebagai pemberontak," kata Tiong Li .
"Kalau begitu, pengembalian golok ini harus dapat
mengubah sikap Kaisar terhadap para pejuang!" kata
Ban-tok Sian-li .
"Kukira Tan-taihiap cukup bijaksana untuk
mengaturnya. Tan-taihiap, dapatkah engkau mengatur
sedemikian rupa sehingga Kaisar akan menganggap
bahwa para pejuang berjasa dalam mengembalikan
golok pusaka itu?"
"Tentu saja!" jawab Tiong Li gembira. "Aku akan
melaporkan kepada Sri baginda bahwa para pejuang
yang membantuku sehingga golok pusaka itu dapat
ditemukan kembali. Dan ini bukanlah bohong belaka.
Dalam mencari Sian-lipun kami dibantu oleh orang-orang
yang dipimpin Gan twako dari Hek tung Kai-pang."
"Nah, Li-moi. Engkau sudah mendengar sendiri janji
yang diberikan Tan-taihiap. Kuharap sekarang engkau
suka menyerahkan golok pusaka itu kepadanya."
Terjadi hal yang bagi Siang Hwi dan Tiong Li
merupakan suatu keajaiban. Ban-tok Sian-li yang
biasanya keras hati dan tidak pernah mau tunduk kepada
siapapun juga, sekali ini mendengar ucapan Thiopangcu,
menjadi jinak seperti domba! la mengambil golok
pusaka itu dan menyerahkannya kepada Tan Tiong Li.
"Terimalah Mestika Golok Naga ini dan penuhi janjimu
melaporkan kepada Kaisar bahwa para pejuang agar
tidak dimusuhi lagi," katanya.
"Terima kasih, Sian-li," kata Tiong Li dan setelah
mengikatkan golok itu di punggungnya, dia memberi
hormat kepada Sian-li sambil berkata, "Setelah kita
semua sekarang berkumpul di sini, ada satu hal lagi
yang ingin ku minta darimu, Sian-li."
"Ada apa lagi?" tanya Sian-li mengerutkan alisnya dan
memandang kepada Tiong Li dengan sinar mata tajam.
"Mengenai hubunganku dengan muridmu, yaitu Hwimoi.
Kami saling mencinta, Sian-li, dan perkenankan aku
menggunakan kesempatan ini untuk melamarnya
kepadamu, la sudah tidak memiliki keluarga lagi, maka
hanya kepadamulah aku dapat mengajukan lamaranku.
Sian-li, aku mohon perkenanmu untuk berjodoh dengan
Siang Hwi," Mendengar ini, semua orang memperhatikan
Sian-li. Gan Kok Bu juga memandang dengan sinar mata
sayu, akan tetapi dia merasa terharu melihat keberanian
Tiong Li mengajukan pinangan di depan banyak orang
dengan jujur dan tanpa malu-malu. Dia melihat pula
betapa Siang Hwi menjadi tersipu mendengar lamaran
langsung itu .
Ban tok Sian-li yang dipandang dengan hati tegang
dan khawatir kalau-kalau menolak oleh Tiong Li dan
Siang Hwi, nampak tersenyum memandang kepada
muridnya, kemudian ia berkata lantang, "Urusan
perjodohan adalah urusan pribadi yang tidak perlu
ditanyakan kepada orang lain. Kalau yang bersangkutan
sudah setuju, tidak ada orang lain boleh mencampurinya.
Karena itu, tanyakan saja kepada Siang Hwi, kalau ia
setuju menjadi jodohmu, akupun tidak menaruh
keberatan apapun."
Kalau Tiong Li dan Siang Hwi mendengarkan ini
dengan mata terbelalak heran dan girang, adalah Thio
Cin Kang yang segera bertepuk tangan. "Suatu
pernyataan yang tepat sekali! Dan suatu saat yang
berbahagia sekali. Ha-ha ha! Biarlah kebahagiaan
perjodohan ini kami tambah lagi dengan pengumuman.
Bagaimana, Li-moi, kalau kita mengumumkannya
sekarang?" Dia menoleh kepada Ban-tok Sian-li yang
hanya mengangguk sambil tersenyum tersipu.
Thio Cin Kang lalu berkata lantang. "Baiklah, saudarasaudara
semua. Kami mengumumkan bahwa kami pun
merencanakan pernikahan kami. Aku, Thio Cin Kang
sudah saling bersepakat dengan Souw Hian Li untuk
menjadi suami isteri !"
Mendengar ini, semua orang bertepuk tangan penuh
keheranan dan juga kegembiraan. Tidak ada seorang
pun berani menyangka atau mengira bahwa suatu saat
Ban-tok Sian-li akan memilih jodohnya! Dan pilihan itu
jatuh kepada ketua Pek-eng-pang yang telah menjadi
duda tanpa anak, sungguh merupakan pilihan yang tepat
sekali karena Thio Cin Kang seorang yang jantan dan
gagah perkasa.
Ketika Siang Hwi mendengar ucapan itu dan melihat
subonya tersipu sambil senyum-senyum, ia tidak dapat
menahan keharuan hatinya. Iapun sama sekali tidak
mengira bahwa subonya dapat jatuh cinta. Maka iapun
lari menghampiri dan merangkul subonya sambil
bercucuran air mata. Dan, untuk pertama kalinya orangorang
melihat bahwa Ban-tok Sian li Souw Hian Li juga
dapat menangis, mencucurkan air mata bahagia!
Kemudian ramailah orang-orang memberi selamat
kepada dua pasang calon suami isteri itu. Thio Cin Kang
merasa gembira sekali dan dia berkata. "Peristiwa
bahagia ini harus dirayakan Kami mengundang saudara
semua untuk datang ke Pek-eng-pang tiga hari lagi,
untuk merayakan pertunanganku dengan Li-moi, dan
pertunangan Tan-taihiap dengan nona The." Semua
menyambut dengan tepuk tangan gembira. Pada
keesokan harinya, dengan menyamar sebagai para
anggauta Hek-tung Kai-pang orang-orang Pek-eng-pang
itu berhasil keluar dari kpta raja dengan aman.
-o0odwkz-234o0o-
Dengan sumpah-serapah, saking menderita nyeri
diseluruh tubuhnya, Perdana Menteri Jin Kui menyuruh
panggil seluruh tabib yang ada di kota raja. Bahkan tabib
istana juga dipanggilnya untuk mengobatinya. Semua
tabib menyatakan bahwa tubuh Perdana Menteri
keracunan hebat. Dan biarpun dua batang jarum
dipunggung nya telah berhasil dikeluarkan, akan tetapi
darahnya telah keracunan. Bermacam obat telah
diberikan, akan tetapi semua obat itu hanya menambah
usianya beberapa hari saja, berarti menambah siksaan
bagi dirinya selama beberapa hari. Karena pengaruh
obat itu yang melawan racun, tubuhnya timbul bisul-bisul
yang mengeluarkan darah dan nanah, nyerinya tak
tertahankan sehingga berhari-hari dia hanya mengerang
dan kadang menjerit jerit minta-minta ampun !.
Kaisar yang datang menjenguk mendengar Jin Kui
sakit, sampai mundur dengan ngeri melihat betapa tubuh
perdana menterinya itu penuh bisul sampai ke mukamukanya
dan mengeluarkan bau busuk.
Akhirnya perdana menteri itu meninggal dunia dalam
keadaan yang menyedihkan sekali. Semua orang yang
mendengar akan hal ini bersukur dan mengatakan
bahwa Jin Kui mati karena dosa-dosanya yang
bertumpuk-tumpuk, ada yang mengatakan bahwa
perdana menteri itu mati terkena kutukan mendiang
Panglima Gak Hui.
Agaknya Jin Kui memang terkena kutukan orang
banyak. Bahkan sampai beratus-ratus tahun kemudian,
orang membuat arcanya yang berlutut dan orang-orang
meludahi arca itu kalau melewatinya. Sungguh
merupakan kutukan dan penghinaan yang tiada taranya
bagi orang yang sudah mati. Inilah buah dari pada
pengkhianatan dan kejahatannya. Berbeda sekali
dengan kematian Gak Hui. Orang membuatkan kuil untuk
panglima besar ini dan dia dipuja-puja sebagai seorang
pahlawan yang gagah perkasa dan setia kepada negara.
dan bangsa. Sampai beratus tahun rakyat tetap
menghormatinya dan memujanya.
Sementara itu, Tiong Li dan Siang Hwi menghadap
Kaisar. Dengan terus terang, Tiong Li membeberkan
semua rahasia perbuatan Jin Kui kepada kaisar, tentang
pengkhianatannya. Persengkongkolannya kepada
Kerajaan Kin. Tentang pembunuhan atas diri Pangeran
Kian Cu yang di lakukan oleh kaki tangan Jin Kui.
Tentang penculikan puteri kaisar yang dihadiahkan
kepada Panglima Wu Chu. Bahkan tentang kematian
Panglima Gak Hui yang semua adalah siasat yang licik
dari Perdana Menteri Jin Kui. Kemudian Tiong Li
menghaturkan Mestika Golok Naga.
"Yang Mulia, untuk mendapatkan kembali Mestika
Golok Naga Ini hamba berdua mendapat bantuan dari
para pejuang. Kembali hal Ini membuktikan bahwa para
pejuang bukanlah pemberontak. Kalau dahulu sampai
disebut pemberontak, hal itu hanyalah fitnah semata
yang dilontarkan Jin Kui dan kaki tangannya. Oleh,
karena itu, Yang Mulia, untuk kedua kalinya hamba
mohon agar para pejuang tidak dikejar-kejar lagi. Mereka
adalah patriot-patriot yang setia kepada Kerajaan Sung,
yang mencinta negara dan bangsa dan membenci
penjajah Kin."
Kaisar merasa senang sekali menerima Mestika Golok
Naga dan mendengar semua penjelasan Tiong Li.
Perdana Menteri Jin Kui sudah meninggal, akan tetapi
keluarganya masih mendapatkan hukuman karena dosadosa
bekas perdana menteri itu, Tiong Li diangkat
menjadi seorang panglima.
"Jadilah engkau panglima penghubung antara
kerajaan dan para pejuang agar tidak, terjadi kesalahpahaman
lagi . Akan tetapi mereka itu harus tunduk
kepada peraturan. Kerajaan Sung tidak sedang perang
dengan Kerajaan Kin. Perang hanya akan melemahkan
kerajaan dan menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu,
para pejuang itu hanya boleh menyerang pasukan Kin
yang melanggar perbatasan dan tidak boleh mengacau
di daerah Kin, sehingga membikin buruk nama baik
Kerajaan Sung." Demikian pesan Kaisar yang kemudian
menyerahkan Mestika Golok Naga kepada Tiong Li
sebagal hadiah. Mulai hari itu Tiong LI terkenal sebagai
Panglima Golok Naga karena panglima ini selalu
membawa golok naga di pinggangnya. Tadinya Siang
Hwi juga diberi pangkat oleh Kaisar, akan tetapi setelah
Tiong Li menceritakan bahwa siang Hwi adalah calon
isterinya, Kaisar hanya memberi seuntai kalung mutiara
yang berharga sekail kepada calon mempelai wanita ini.
-o0odwkz-234o0o-
Malapetaka yang menimpa keluarga Jin Kui itu tentu
saja membuat seluruh keluarga Jin Kui menyesal. Akan
tetapi ada orang lain yang juga amat menyesali peristiwa
itu, yaitu para jagoan yang tadinya membantu Jin Kui.
Mereka terpaksa melarikan diri dan menaruh dendam
kepada Tiong Li dan kawan-kawannya. Mereka itu
adalah Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, Kui To Cin-jin, Ouw
Yang Kian dan Ouw Yang Sian, dan tentu saja Si Muka
Tengkorak, Tang Boa Lu. Mereka terpaksa melarikan diri,
takut akan ikut terlibat dan ditangkap.
Sementara itu, di Pek-eng-pang di adakan pesta
meriah di antara mereka sendiri, tanpa mengundang
orang luar karena pesta itu merupakan pesta sukuran
atas pertunangan dua pasang-kekasih dan atas
kemenangan terhadap komplotan Jin Kui.
Gan Kok Bu berhasil membujuk ayahnya, yaitu ketua
Hek-tung Kai-pang Gan Liang untuk ikut datang memberi
selamat kepada dua pasang calon pengantin itu. Gan
Liang sudah melupakan lagi sakit hatinya yang lama
terhadap Ban-tok Sian-li, bahkan menyadari bahwa
pihaknya yang bersalah. Yang merasa paling berbahagia
pada saat itu tentu saja dua pasang kekasih itu. Mereka
makan minum sambil bercakap-cakap diselingi sendau
gurau karena Gan Kok Bu tidak kekurangan akal untuk
menggoda dua orang yang bertunangan itu dengan
kelakar-kelakarnya. Dua pasang kekasih itu makan
minum satu meja dengan Gan Kok Bu dan Gan Liang,
sedangkan para anak buah Pek-eng-pang makan minum
dengan anak buah Hek-tung Kai-pang yang juga
mendapat undangan. Suasana amat riuh rendah dan
meriah.
Akan tetapi tiba-tiba keramaian Itu terhenti dengan
adanya bentakan nyaring sekali dari luar.
"Ban-tok Sian-li! Tan Tiong Li! Keluarlah kalian berdua
untuk membuat perhitungan dengan kami!"
Mendengar teriakan itu, tentu saja Tiong Li dan yang
lain-lain terkejut sekali. Akan tetapi Ban-tok Sian-li sudah
melompat dan berlari keluar, diikuti oleh yang lain. Ketika
tiba di luar, mereka melihat pasukan yang dipimpin oleh
beberapa orang perwira sudah mengepung tempat itu
dan di depan berdiri enam orang yang bukan lain adalah
para jagoan yang tadinya menjadi para pembantu
Perdana Mentert Jin Kui. Melihat pasukan kerajaan
mengepung tempat itu, Tiong Li meloncat kedepan dan
berteriak dengan suara nyaring.
"Siapa yang memerintahkan kalian memimpin
pasukan mengepung tempat ini ? "
Ma Kiu It berteriak. "Kalian adalah pemberontakpemberontak
yang harus dibasmi. Kalian musuh
Kerajaan Sung!"
Tiong LI berseru lagi, ditujukan kepada para perwira.
"Cuwi-ciangkun harap jangan percaya omongan orang
ini! Aku baru saja diangkat oleh Sri baginda Kaisar
sendiri menjadi seorang panglimal Lihatlah Ini Mestika
Golok Naga yang dihadiahkan olah Yang Mulia kepadaku
dan lihat ini tanda kekuasaan-ku"
Dia mengambil tanda kakuasaan dari sakunya dan
mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku memerintahkan para
panglima menarik mundur pasukannya atau kelak aku
akan melapor kepada Sri baginda!"
Para perwira yang melihat tanda kekuasaan itu, tanda
kekuasaan dari kaisar sendiri menjadi bingung dan ragu.
"Jangan percaya, dialah pemberontak yang
berbahaya!" teriak Ma Kiu It.
"Cuwi-ciangkun, berhati-hatilah terhadap orang-orang
ini! Tentu cu-wi tahu siapa Ma Kiu It itu, dan siapa enam
orang itu. Mereka adalah pembantu-pembantu Perdana
Menteri Jin Kui yang sekeluarganya sudah dijatuhi
hukuman. Perdana Menteri Jin Kui adalah seorang
pengkhianat dan kailan hendak membantu orangorangnya
pengkhianat? Lekas tarik mundur pasukan itu
dan jangan ganggu kami. Kami adalah pejuang-pejuang,
bukan pemberontak! Kami memusuhi pengkhianat Jin
Kui, bukan musuh pasukan Kerajaan Sung!"
Kini para perwira yang dipengaruhi Ma Kiu it sebagai
bekas rekan mereka itu menjadi panik dan mereka
segera menarik mundur pasukan mereka, kembali ke
benteng. Enam orang itu marah sekali meiihat ini.
"Tan Tiong Li, kalau engkau memang gagah, aku
menantangmu untuk bertanding satu lawan satu. Jangan
mempergunakan pengeroyokan!" tiba-tiba Si Muka
Tengkorak berteriak lantang.
"Kami juga menantang kalian,siapa berani menandingi
kami satu lawan satu!" teriak Ouw Yang Kian.
Tiong Li sudah melompat maju menghadapi, Si Muka
Tengkorak dan perbuatannya itu disusul oleh Ban-tok
Sian-Li yang meloncat dan menghadapi Ouw Yang Kian.
"Engkau yang berjuluk Toat-beng-jiauw, bukan? Akulah
yang akan menghajarmu!"
Ouw Yang Sian yang melompat maju segera dihadang
oleh Thio Cin Kang, Ciang Sun Hok ditandingi The Siang
Hwi Ma Kiu it dihadapi Gan Kok Bu dan Kui To Cin-jin
dihadapi Gan Liang, .? ketua Hek-tung Kai-pang.
Si Muka Tengkorak Tang Boa Lu sudah mencabut
sebatang pedang dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah
menyerang Tiong Li dengan pedangnya. Tiong Li juga
mencabut Mestika Golok Naga dan menandingi Tang
Boa Lu. Mereka bertanding dengan hebat sekali. Si Muka
Tengkorak itu memang lihai sekali. Juga pedangnya
terbuat dari baja yang ampuh sehingga tidak patah ketika
bertemu dengan Mestika Golok Naga. Tiong Li
memainkan goloknya dengan gerakan dari Ilmu pedang
Hui-eng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Terbang) dan
senjata kedua orang ini lenyap. Yang nampak hanya dua
gulungan sinar golok dan pedang. Golok yang berada di
tangan Tiong Li adalah Mestika Golok Naga yang aseli.
Ketika dimainkan, golok itu bukan saja membentuk
gulungan sinar terang yang luas, Juga mengeluarkan
suara mengaung-ngaung mengerikan. Apa lagi
digerakkan oleh tenaga besar Jian-ki-lat, golok itu
menyambar-nyambar seperti seekor naga beterbangan di
angkasa.
Kalau saja Tiong Li dikuasai dendam untuk membalas
kemattan Pek Hong San-Jin, mungkin dia berada dalam
bahaya karena ilmu pedang lawannya benar-benar
hebat. Akan tetapi dia telah bebas dari dendam dan
permainan goloknya menjadi mantap dan kokoh kuat,
membuat pedang itu terkepung dinding sinar golok yang
bagaikan benteng baja tak dapat ditembus, bahkan kini
sinar golok mulai menindih dan perlahan-lahan Si Muka
Tengkorak hanya main mundur karena tindihan itu terasa
berat sekail. Kini pedangnya lebih banyak
mempertahankan diri dari pada menyerang dan
sebaliknya golok di tangan Tiong LI menyambar-nyambar
semakin hebat.
Pertandingan antara Ban tok Sian-li Souw Hian Li
melawan Toat-beng-Jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) Ouw
Yang Kian juga terjadi dengan mati-matian. Akan tetapi
segera ternyata bahwa Ouw Yang Kian bukanlah lawan
yang seimbang dibandingkan Ban-tok Sian-li. Memang
kedua tangan Ouw Yang Kian merupakah cakar-cakar
yang hebat, akan tetapi di bandingkan dengan Ban-tok
Sian-li yang setiap kukunya mengandung racun yang
mematikan, sepasang cakar itu bukan apa-apa bagi
wanita cantik jelita itu. Setelah bertanding selama
limapuluh jurus, sebuah tamparan yang nyaris mengenai
dada Ouw Yang Kian membuat orang ini terhuyung ke
belakang. Kesempatan itu dipergunakan oleh Ban-tok
Sian-li untuk menendang dan tendangannya mengenai
lutut kiri lawan sehingga Ouw Yang Kian jatuh berlutut
dengan sebelah kakinya. Cepat bagaikan kilat tangan kiri
Ban-tok Sian-li menampar kepala lawan dan robohlah
Ouw Yang Kian tanpa dapat berkutik kembali, tewas
seketika .
Melihat kakaknya roboh tewas, Ouw Yang Sian yang
berhadapan dengan Thio Cin Kang mengamuk. Berbeda
dengan kakaknya yang lebih mengandalkan kedua
tangannya sebagai cakar maut, Ouw Yang Sian ini
menggunakan sebatang pedang dan kini dia mencoba
untuk mendesak ketua Pek-eng-pang dengan
pedangnya. Thio Cin Kang bersikap waspada dan
memutar pedangnya dengan cepat untuk menahan
desakan lawan yang tiba-tiba menjadi marah dan nekat
itu. Dalam keadaan marah dan nekat, Ouw Yang Sian
bernafsu untuk cepat merobohkan lawan dan dia
mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk
menyerang sehingga kurang memperhatikan pertahanan.
Kelemahan ini dipergunakan oleh Thio Cin Kang dan
setelah lewat puluhan jurus, akhirnya pedangnya dapat
menembus dada lawan
dan membuat Ouw Yang
Sian tewas seketika.
Pihak para jagoan
bekas pembantu Jin Kui
menjadi kacau
permainannya setelah
kedua orang ini roboh
dan tewas. Ban-tok Sianli
dan calon suaminya,
setelah merobohkan
kedua orang itu, kini
hanya menjadi penonton,
tidak mau melakukan pengeroyokan, hanya bersiap-siap
menolong apabila pihak kawan ada yang terancam
bahaya.
Tiong LI yang sudah mendesak Si Muka Tengkorak
dengan hebatnya, sebetulnya tidak ingin sembarangan
membunuh orang. Akan tetapi dia lalu teringat bahwa Si
Muka Tengkorak ini adalah kaki tangan Kerajaan Kin
yang lihai dan yang selamanya tidak akan berhenti
mengganggu pemerintah Sung. Kalau tidak dilenyapkan
orang ini, akan selalu mendatangkan kekacauan. Maka,
melihat betapa Ban-tok Sian-li dan ketua Pek-eng-pang
telah berhasil merobohkan lawan mereka, diapun
mempercepat gerakan goloknya dan tangan kirinya
membantu dengan dorongan Thai-lek-im-kong-jiu. Si
Muka Tengkorak tidak dapat menahan dorongan ini dan
diapun terhuyung ke belakang. Golok Naga itu
mengejarnya dan sebelum Tang Boa Lu menyadari apa
yang terjadi atas dirinya, lehernya telah putus disambar
Mestika Golok Naga.
Robohlah tokoh utama dari enam orang jagoan itu
membuat tiga orang yang masih dapat bertahan, yaitu
Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan Kui To Cin-jin menjadi
gentar bukan main. Sama sekali tidak pernah mereka
sangka bahwa mereka yang hanya mencari Tan Tiong Li
dan Ban-tok Sian-li akan berhadapan dengan lawanlawan
yang demikian tangguhnya. Terutama sekali Ciang
Sun Hok yarig menghadapi Siang Hwi. Gadis, ini
memainkan pedangnya dengan dahsyat sekait, agaknya
gadis ini merasa penasaran bahwa subonya dan Tiong Li
sudah dapat merobohkan lawan akan tetapi ia belum, ia
mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan Ilmu
pedangnya dengan cepat, tanpa mau mempergunakan
bantuan pukulan atau senjata beracun seperti yang
dilarang oleh calon suaminya. Sebaliknya Ciang Sun Hok
yang sudah kehilangan semangat dan nyali melihat
robohnya tiga orang kawannya, menjadi terdesak hebat
dan suatu kesempatan yang baik tidak di sia-siakan oleh
Siang Hwi. Pedangnya menyambar dan robohlah Ciang
Sun Hok dengan leher tertembus pedang dan dia pun
tewas seketika.
Karena jerih dan habis semangatnya, tidak lama
kemudian Ma Kiu It menyusul roboh di tangan Gan Kok
Bu dan Kui To Cin-jin roboh di tangan Hek-tung Kai pang,
yaitu Gan Liang. Habislah enam orang bekas pembantu
Jin Kui, menyusul majikan mereka yang lebih dulu mati
untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan
mereka ketika masih hidup.
Anak buah Hek-tung Kai-pang dan Pek-eng-pang
bersorak gembira melihat betapa para pemimpin mereka
merobohkan lawan secara gagah perkasa, yaitu satu
lawan satu dan tidak terjadi pengeroyokan .
Thio Cin Kang sebagai tuan rumah lalu
memerintahkan anak buahnya untuk mengurus enam
buah mayat itu dan menguburkan mereka secara baikbaik.
Kemudian mereka semua kembali melanjutkan
pesta mereka yang tadi terganggu. Pasukan yang
menyertai enam orang bekas pembantu Jin Kui sudah
tidak nampak karena setelah digertak oleh Tiong Li tadi,
mereka lalu cepat cepat meninggalkan tempat itu.
"Sekarang baru puas dan lega hatiku," kata Ban-tok
Sian-li. "Lembah Maut yang dihancurkan telah dibalas,
dan aku akan mengumpulkan kembali sisa anak
buahku....."
"Dan tidak perlu engkau membangun kembali Lembah
Maut!" potong Thio Cin Kang. "Bawa saja semua sisa
anak buahmu ke sini karena setelah kita menikah,
engkau sebaiknya membantuku mengurus Pek-eng-pang
di sini dan semua anak buahmu dapat masuk menjadi
anggauta Pek-eng-pang!"
Mendengar ucapan calon suaminya itu, Souw Hian L i
tidak membantah, hanya tersenyum manis. ia lalu
berpaling kepada muridnya dan berkata dengan tegas.
"Siang Hwi, setelah aku menjadi nyonya rumah di sini
kelak, aku ingin agar pernikahanmu dirayakan di tempat
ini. Aku yang akan menjadi walimu, wakil keluargamu."
"Terima kasih, subo!" Kata Siang Hwi dengan girang
sekail. Kini ia melihat banyak kelembutan dan kebaikan
hati diperlihatkan subonya itu. Mau mengembalikan golok
pusaka semudah itu, kemudian mau pula menerima Tan
Tiong Li, menjadi jodohnya, bahkan kini menjanjikan
akan merayakan pernikahannya di situ dan menjadi
walinya. Agaknya cinta asmara telah mendatangkan
perubahan besar dalam hati wanita yang biasanya keras
seperti baja itu.
Tak tama kemudian, tiga bulan semenjak itu,
pernikahan antara Thio Cin Kang dan Souw Hian li
dirayakan secara besar-besaran. Semua perkumpulan
silat besar di dunia kang-ouw diundang dan pesta
diadakan secara meriah sekali. Kemudian, lewat tiga,
bulan lagi, Souw Hian Li dan suaminya mengadakan
pesta pernikahan lagi, sekali ini untuk merayakan
pernikahan antara Tan-Tiong Li dan The Siang Hwi
.Walaupun tidak semeriah ketika Souw Hian Li menikah,
akan tetapi di hadiri banyak pejabat pemerintah Kerajaan
Sung dan para tokoh kangouw karena nama besar Tan
Tiong Li sebagai pendekar dan sebagai pahlawan segera
tersiar luas. Dia dikenal sebagal panglima Golok Naga
yang menjadi perantara hubungan baik antara pemerinta
dan para pejuang.
Banyak tokoh pejuang mau menerima jabatan dari
pemerintah sebagai panglima atau perwira dan kini para
pejuang itu menjadi pembantu yang setia dari Kerajaan
Sung. Mereka patuh akan peraturan yang diadakan oleh
pemerintah dan para pejuang inilah yang membantu
sehingga di mana-mana, jauh dari kota raja, rakyat hidup
tenteram. Para pejuang ini yang membersihkan para
penjahat, Juga membersihkan pasukan Kin yang berani
melanggar perbatasan dan membikin kacau di
perbatasaan.
Semenjak Tan Tiong Li menjadi panglima, maka
keadaan kehidupan rakyat jelata menjadi tenteram. Akan
tetapi kaisar bersikeras untuk tidak melakukan perang
melawan Kerajaan Kin. Menurut perhitungan Kaisar,
berperang membutuhkan biaya yang jauh lebih besar
daripada kalau hanya sekedar mengirim upeti kepada
Kerajaan Kin sebagal tanda "persahabatan". Pula,
setelah Kerajaan Sung berdiri di selatan, ternyata daerah
selatan ini jauh lebih subur dibandingkan daerah utara,
maka Kaisar tidak terlalu ingin merebut kembali daerah
utara yang dikuasai Kerajaan Kin Itu.
Dengan bantuan Tiong Li dan para pejuang, Kaisar
Sung Kao Cu yang telah terbebas dari pengaruh Jin Kui,
dapat memerintah sampai lama, yaitu sejak tahun 1127
sampai 1162.
Seperti tercatat dalam sejarah, barulah dalam tahun
1279 Kerajaan Sung Selatan Ini akhirnya hancur oleh
kekuasaan baru yang amat hebat, yaitu kekuasaan
Bangsa Mongol yang dapat menguasai seluruh Cina dan
mendlr ikan Wangsa Goan (Yuan) .
Demikianlah, kisah ini diakhiri dengan catatan bahwa
di Cina terdapat pepatah: Harimau mati meninggalkan
kulitnya, manusia mati meninggalkan namanya. Bedanya
kalau kulit harimau itu selalu berharga, nama manusia
dapat di tinggalkan sebagai nama baik, juga sebagai
nama busuk.
Sampai pada saat kisah ini ditulis, di Cina masih
terdapat peninggalan Panglima Gak Hui .yang dipujapuja
orang, juga masih terdapat arca Jin Kui yang selalu
dihina dan di pandang rendah.
Semoga kisah ini ada manfaatnya bagi para pembaca.
TAMAT
Lereng Lawu, medio Januari I987,
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil