Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Minggu, 24 Juni 2018

Pembakaran Kuil Thian Lok Si

======
BACA JUGA
Koleksi Kang Zusi
Pembakaran Kuil Thian Lok Si
Kho Ping Hoo
Bagian 01. Pengkhianatan Saudara Angkat.
Kerajaan Tang berada dalam tangan seorang
Kaisar yang lemah bagaikan sebuah boneka.
Kekuasaan sepenuhnya berada dalam kekuasaan
para pembesar yang korup, terutama para
pembesar Thaikam (orang-orang kebiri). Rakyat
menderita sekali dibawah penindasan dan
penghisapan orang-orang besar yang hanya
mementingkan kesenangan sendiri saja. Di manamana
timbul kerusuhan sebagai akibat hati tak
puas dan perut lapar. Pembesar tertinggi di setiap
kota merupakan raja sendiri, dan tuan-tuan tanah
di dusun-dusun merupakan raja-raja kecil tanpa
mahkota.
Keadaan ini tidak saja membuat rakyat menderita
hidup yang sukar dan sengsara, akan tetapi juga
membikin marah hati setiap orang yang sedikitnya
mempunyai perasaan cinta bangsa dan mau yang
mau menaruh perhatian kepada keadaan rakyat
kecil. Akan tetapi, apa daya mereka ? Kaisar dan
para pembesar yang hidup dalam laut
kemewahan dan kesenangan dunia itu maklum
juga akan ketidakpuasan hati rakyat dan telah
menaruh curiga kalau-kalau ada rakyat yang
hendak memberontak. Oleh karena ini,
pemerintah membentuk barisan yang kuat,
barisan yang terdiri dari orang-orang
berkepandaian silat tinggi dan yang khusus
diadakan untuk menindas dan memadamkan api
pemberontakan. Khusus digunakan untuk
menindas dan menghancurkan rakyat sendiri ! Oleh karena takut akan hukuman, hukuman mati yang
diobral secara murah oleh Kaisar dan para pembesar Thaikam, maka sakit hati dan ketidakpuasan para
patriot itu hanya terpendam di dasar hati saja dan mereka hanya berani membicarakan dengan kawankawan
sehaluan secara sembunyi-sembunyi.
Keadaan yang buruk ini pulalah yang menggerakkan hati dan membangunkan semangat dua orang
sastrawan terkemuka. Mereka ini adalah Khu Liok dan Ma Eng, dua orang sastrawan pandai yang telah
menjadi sahabat baik semenjak mereka masih muda. Kini mereka telah tua dan menjadi orang-orang
terpelajar yang amat terkenal karena syair-syair dan tulisan mereka. Bahkan Kaisar dan orang-orang
besar amat suka membaca hasil tulisan mereka dan biarpun mereka ini berasal dari rakyat biasa,
namun para pangeran dan orang besar tidak merasa rendah untuk berkenalan dan bercakap-cakap
dengan dua orang sastrawan ini.
Khu Liok dan Ma Eng tinggal di Kotaraja bahkan bertetangga. Mereka seringkali mengadakan
pertemuan dan bercakap-cakap dan keduanya memiliki jiwa patriot, merasa marah sekali melihat
ketidakadilan Kaisar dan kelaliman para pembesar. Diam-diam mereka mengutuk para pembesar,
terutama para Thaikam dan akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi menyaksikan penderitaan rakyat
kecil, rasa penasaran dan sakit hati telah membuat mereka menggerakkan tangan dan mengarang
sebuah kitab kecil yang diberi judul “TUHAN TELAH SALAH PILIH”
Kitab ini hanya tipis saja dan berisikan sindiran-sindiran dan protes terhadap keadaan rakyat yang
sengsara dan terhadap kelaliman pemerintah. Walaupun tidak ditulis secara terang-terangan, namun
dari isi karangan dapat dirasakan singgungan-singgungan yang pedas dan membuat telinga para
pembesar menjadi merah dan muka menjadi pucat. Para rakyat kecil yang membaca tulisan ini,
menyambut dengan penuh semangat dan isi karangan ini telah membangkitkan jiwa mereka untuk tidak
Koleksi Kang Zusi
tinggal diam saja dan untuk berusaha memberantas pihak yang menindas mereka. Di sana-sini para
kaum tani mulai mengadakan pertemuan dan perundingan, membicarakan isi tulisan yang sangat
berkesan di dalam hati mereka dan timbul pula semangat mereka untuk menumbangkan kekuasaan
yang mencekik leher mereka itu.
Kaisar dan para pembesar tentu saja tahu akan hal ini dan mulailah diadakan pengusutan dan
penyelidikan untuk mengetahui siapa adanya orang-orang yang begitu berani untuk menulis karangan
semacam itu. Akan tetapi, oleh karena Khu Liok dan Ma Eng tidak menyebutkan nama mereka dalam
tulisan itu, para penyelidik itu tak dapat menemukan siapa sebenarnya penulis karangan yang telah
memerahkan telinga Kaisar dan para pembesar.
Di antara sekian banyak pangeran yang suka berkenalan dengan Khu Liok dan Ma Eng, bahkan telah
mengirim anak-anak mereka untuk belajar kesusastraan dari dua orang sastrawan besar itu, terdapat
seorang pangeran bernama Gu Mo Tek yang tinggal dalam sebuah gedung besar tak jauh dari rumah
kedua sastrawan itu. Gu Mo Tek seringkali mengunjungi mereka, bahkan sering pula mengundang
kedua sastrawan itu untuk berkunjung ke gedungnya. Sambil menghadapi arak wangi dan hidangan
yang lezat, mereka bertiga bercakap-cakap sampai jauh malam. Kedua sastrawan itupun amat suka
bercakap-cakap dengan pangeran Gu oleh karena pangeran itupun amat luas pandangannya dan
seorang sastrawan yang pandai pula. Hubungan mereka demikian eratnya hingga pangeran Gu
mengusulkan untuk mengangkat saudara. Dengan menyalakan hio ditangan, ketiganya mengangkat
saudara, disaksikan oleh Bumi dan Langit.
Setelah menjadi saudara angkat, ketiga orang ini makin erat hubungannya. Keluarga mereka juga
mengadakan perhubungan yang baik sekali dan tidak jarang mereka saling berkunjung. Hal ini berjalan
bertahun-tahun sampai pada waktu kedua orang sastrawan ini menulis karangan yang menggemparkan
itu.
Gu Mo Tek mempunyai dua orang putera yang telah kawin dan kedua orang puteranya ini juga tinggal
di dalam gedungnya yang indah dan besar. Mereka bernama Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu dan
menjadi murid-murid kedua orang sastrawan itu.
Khu Liok mempunyai seorang putera bernama Khu Tiong sedangkan Ma Eng juga mempunyai seorang
putera bernama Ma Gi. Sungguhpun kedua orang sastrawan Khu dan Ma adalah orang-orang lemah
yang hanya ahli dalam hal membaca dan menulis, akan tetapi kedua orang puteranya ini telah
mempelajari ilmu silat yang tinggi dari seorang tosu di Kunlun-san. Hal ini tidak mengherankan oleh
karena kedua orang sastrawan yang berpemandangan luas itu menganggap bahwa kepandaian sastra
saja tak dapat menjamin keselamatan dari gangguan orang-orang jahat. Sedangkan pada waktu itu,
memang keadaan di Tiongkok amat buruknya, hingga berlakulah hukum rimba, siapa kuat dia menang.
Khu Tiong dan Ma Gi juga telah beristeri, bahkan pada waktu cerita ini terjadi, kedua isteri mereka telah
mengandung. Isteri Khu Tiong adalah puteri seorang penjual obat yang pandai dan juga seorang ahli
silat, hingga tak mengherankan apabila nyonya Khu yang cantik itupun pandai pula memainkan senjata
tajam. Sebaliknya, isteri Ma Gi adalah puteri seorang petani yang hanya pandai bekerja di sawah
ladang, akan tetapi nyonya Ma ini luar biasa cantiknya hingga setiap orang melihatnya pasti akan
merasa kagum dan menyangka bahwa ia adalah seorang puteri dari keraton Kaisar.
Kedua keluarga Khu dan Ma itu hidup dalam keadaan cukup dan penuh kebahagiaan, terutama sekali
oleh karena keduanya sedang menanti datangnya manusia baru yang akan dilahirkan oleh nyonya Khu
dan nyonya Ma. Akan tetapi, keadaan hidup manusia ini memang tidak tetap, ada pasang surutnya,
maka terjadilah peristiwa hebat yang menggoncangkan seluruh kehidupan mereka dan mengubah
keadaan mereka, bagaikan ketenangan air laut yang tiba-tiba terserang badai mengamuk.
******
Beberapa pekan kemudian semenjak Khu Liok dan Ma Eng menulis kitab karangan mereka dan
menyebarkannya di seluruh kota dan desa sehingga menimbulkan kegemparan besar di kalangan
rakyat dan Kaisar serta pembesar-pembesarnya.
Pada suatu pagi, ketika Khu Liok dan keluarganya sedang duduk di ruang dalam dan bercakap-cakap,
tiba-tiba datanglah serombongan perwira Kaisar yang membawa surat perintah untuk menangkap Khu
Liok sekeluarga. Mendengar hal ini, dari para penjaga pintu, keluarga wanita segera pergi bersembunyi
di dalam kamar dengan ketakutan, sedangkan Khu Liok dan Khu Tiong segera keluar menjumpai
rombongan perwira yang terdiri dari tujuh orang itu.
Koleksi Kang Zusi
“Khu Liok atas nama Kaisar kami datang hendak menangkap kau dan keluargamu. Harap kau
menyerah dan menurut dengan baik tanpa memaksa kami mempergunakan kekerasan!” kata seorang
di antara perwira-perwira itu yang agaknya menjadi pemimpinnya.
“Dengan alasan apakah maka kami sekeluarga hendak ditangkap?” tanya Khu Liok dengan sabar dan
tenang. Sementara itu, Khu Tiong berdiri dengan kedua tangan mengepal tinju.
“Tak perlu kau bertanya kepadaku, karena hal ini bukanlah urusanku. Pendeknya, kau sekeluarga
ditangkap tentu ada kesalahan. Nanti saja di depan pengadilan kau boleh mendengar segala kedosaan
yang telah kau lakukan”
“Bukan kami melawan, akan tetapi sebelum kau memberitahukan tentang alasan penangkapan ini,
terpaksa kami tidak mau menurut!” tiba-tiba Khu Tiong berkata tegas.
Mendengar ini, ketujuh orang perwira itu serentak mencabut pedang masing-masing.
“Apa ? Kalian hendak memberontak ? Bagus ! Memang telah kami duga bahwa kalian adalah
pemberontak-pemberontak jahat. Pendeknya, lekas kumpulkan semua orang untuk kami bawa sebagai
tangkapan, kalau tidak, terpaksa kami akan membawa kalian dalam keadaan luka-luka atau mati!” seru
komandan perwira itu dengan bengis.
Khu Liok dan Khu Tiong sudah mendengar dan kenal akan kebengisan dan kekejaman para perwira ini,
maka mereka saling pandang.
“Tiong-ji, biarlah kita menurut saja. Kita lihat saja bagaimana jadinya nanti di pengadilan” kata Khu Liok.
Khu Tiong merasa ragu-ragu akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak ayahnya, maka ia
hanya dapat mengangguk dan ia segera masuk ke dalam untuk memberitahu kepada semua keluarga
agar berkumpul dan ikut.
“Semua harus ikut, biarpun seorang pelayan atau pesuruh kecilpun tak boleh ada yang ketinggalan!”
teriak perwira itu.
Pada saat itu, dari luar mendatangi seorang laki-laki dengan tubuh luka-luka. Ia berlari masuk dan
menyerobot saja di antara semua perwira yang berdiri dengan gagah di pintu, lalu ia menjatuhkan diri
berlutut di depan Khu Liok. Khu Tiong yang baru saja melangkah hendak masuk ke ruang dalam, ketika
melihat keadaan orang itu dan mengenal bahwa orang ini adalah seorang pelayan di rumah keluarga
Ma Gi, menjadi terkejut sekali dan segera kembali keluar.
“Ada apakah ? Apa yang terjadi di sana ?” tanyanya.
“Celaka........celaka, Khu siauwya....... keluarga Ma habis binasa. Ada..... ada.....perwira-perwira yang
datang hendak menangkap dan Ma siauwya melawan sehingga banyak terjadi pembunuhan.
Semua...... semua ....... terbunuh atau tertangkap ........”
Baru saja berkata sampai di sini, Khu Tiong sudah mencabut pedangnya dan menyerang rombongan
perwira itu. Khu Liok tidak melarang puteranya oleh karena ia maklum bahwa tentu rahasianya dan
rahasia Ma Eng telah bocor dan Kaisar telah mengetahui bahwa dia dan Ma Eng yang menjadi penulis
kitab pemberontakan itu. Ia lalu melarikan diri ke dalam dan memanggil mantunya, yakni nyonya Khu
yang bernama Ong Lin Hwa, puteri tukang obat yang pandai ilmu silat itu. Nyonya Khu telah mendengar
bahwa suaminya bertempur dengan perwira-perwira di ruang depan, maka ketika mertuanya
memanggilnya, nyonya muda itu telah keluar dengan pedang di tangan.
“Jangan....... jangan kau ikut bertempur. Kau sudah mengandung tua, tubuhmu lemah. Dengar baikbaik,
kau harus melarikan diri dari pintu belakang ! Tinggalkan kami karena kalau kau berada di sini,
tentu kau akan ditangkap pula !”
Kedua mata Ong Lin Hwa menyinarkan cahaya berapi. “Tidak, gakhu (ayah mertua) !” katanya nyaring
dan tetap. “Mana bisa saja harus meninggalkan suamiku dikeroyok orang ? Maaf, kali ini saya terpaksa
membandel !” Setelah berkata demikian, Lin Hwa melompat keluar dengan pedang ditangannya.
Khu Liok menggelengkan kepala dan dengan bersedih ia menjatuhkan diri di atas kursinya. “Thian
(Tuhan) ....... lindungilah mereka dan biarkanlah hamba menanggung semua akibat dari semua ini ......”
Koleksi Kang Zusi
Isterinya lalu menubruknya sambil menangis. Semua pelayan juga menangis dan lari ke sana ke mari
dengan wajah pucat.
“Tiong-ji, larilah kau dengan isterimu, lekas.........! Larilah sebelum terlambat.......!”
Akan tetapi Khu Tiong dan isterinya mengamuk terus hingga akhirnya empat orang perwira yang lain
juga roboh dengan tubuh berlumur darah. Khu Tiong dan isterinya yang gagah perkasa itu sebentar
saja telah merobohkan ketujuh orang pengeroyoknya. Khu Liok melangkah maju dan memegang
tangan anaknya yang masih berdiri memandang ke luar dengan pedang di tangan, seakan-akan hendak
menanti datangnya musuh-musuh baru.
“Khu Tiong ! Apakah kau tidak mau menurut perintah ayahmu ?” Khu Liok membentak dengan suara
keras dan marah.
Khu Tiong membalikkan tubuh dan segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, “Ayah .....
bagaimana anak bisa pergi meninggalkan ayah menjadi kurban mereka ?”
“Anak bodoh ! Ayahmu sudah tua dan selain itu, aku mempunyai banyak sahabat di kalangan atas.
Namun, betapapun juga, kau lebih baik pergi menyelamatkan isteri dan...... dan anakmu......” Menyebut
tentang calon cucunya ini, hati Khu Liok merasa terharu sekali. Telah berbulan-bulan ia mengharapharapkan
kehadiran cucunya, telah rindu hatinya untuk merasai kehalusan kulit tubuh bayi yang menjadi
cucunya dan untuk menimang-nimang tubuh kecil munggil, menikmati tawanya yang bersih. Akan
tetapi, malapetaka datang menimpa dan agaknya tak mungkin ia akan dapat melihat wajah cucunya.
“Ayah...... tapi........ “ Khu Tiong masih membantah.
“Cukup ! Lekas kau siapkan kuda dan bawa pergi isterimu, atau kau tunggu sampai aku menjadi marah
?” bentak Khu Liok.
Dengan hati sedih, terpaksa Khu Tiong lalu menyiapkan dua ekor kuda. Kemudian ia dan isterinya
menjatuhkan diri berlutut di depan Khu Liok suami isteri dan menangis tersedu-sedu. Nyonya Khu Liok
memeluk dan menciumi puteranya, sedangkan Khu Liok hanya duduk sambil menghela napas.
“Sudahlah, kau pergilah, lekas !” katanya.
Tiba-tiba pelayan di luar berseru, “Celaka, Thai-ya......, sejumlah besar perwira mendatangi lagi !”
Khu Liok cepat berdiri dan mendorong puteranya, Khu Tiong, lekas pergi dengan isterimu, mau tunggu
kapan lagi ?”
Khu Tiong dengan masih ragu-ragu dan sedih, terpaksa lalu memegang tangan isterinya, keluar dari
pintu belakang dan kemudian cepat naik dipunggung kuda dan melarikan kuda itu cepat melalui jalan
belakang.
Ketika mereka tiba di sebuah hutan yang berada di luar Kota raja sebelah utara, tiba-tiba terdengar
suara orang memanggil keras.
“Khu Tiong!!”
Khu Tiong dan isterinya mengenali suara ini dan dengan girang mereka lalu membelokkan kuda ke kiri
dan menuju ke arah suara itu. Di bawah sekelompok pohon, ternyata telah berdiri Ma Gi dengan tubuh
penuh peluh dan muka pucat sekali. Khu Tiong melompat turun dari kuda dan kedua orang sahabat itu
segera berpelukan dan Ma Gi bahkan mengalirkan air mata.
“Bagaimana keadaan keluargamu Ma Gi ?” tanya Khu Tiong penuh kekhawatiran, sedangkan nyonya
Khu melihat betapa sahabat suaminya itu mengucurkan air mata, tak tertahan lagi ia pun ikut menangis.
“Celaka sekali, Khu Tiong....... celaka sekali.......... “ Kemudian ia lalu menceritakan peristiwa yang
terjadi di rumah ayahnya.
Ternyata bahwa pada waktu yang sama, serombongan perwira lain telah menyerbu rumah Ma Eng
dengan maksud menangkap keluarga Ma. Seperti juga Khu Tiong, Ma Gi yang gagah perkasa lalu
Koleksi Kang Zusi
mengadakan perlawanan, akan tetapi oleh karena kebetulan sekali pada waktu pertempuran terjadi, di
depan rumahnya lewat pula serombongan perwira lain, maka ia lalu dikeroyok oleh belasan orang
perwira yang berkepandaian cukup tinggi. Ma Gi mengamuk seperti harimau kelaparan dan berhasil
merobohkan lima orang perwira. Akan tetapi, jumlah pengeroyoknya banyak sekali dan beberapa orang
pelayan telah roboh di bawah tikaman pedang para perwira yang kejam itu. Ma Eng berteriak-teriak
minta supaya anaknya yang telah membunuh perwira-perwira itu segera melarikan diri. Akhirnya Ma Gi
tidak tahan lagi dan terpaksa melarikan diri meninggalkan ayah, ibu, serta isterinya.
Bukan main kaget dan sedihnya hati Khu Tiong mendengar ini dan ketika ia menceritakan kepada Ma
Gi tentang malapetaka yang menimpa keluarganya pula, Ma Gi berulang-ulang menghela napas.
“Ini tentu ada hubungannya dengan tulisan ayah kita. Akan tetapi, siapa gerangan yang membocorkan
rahasia ini hingga Kaisar mendapat tahu”
Khu Tiong menggeleng kepala karena iapun merasa heran. Di antara semua orang, yang tahu akan
rahasia itu hanyalah Khu Liok, dan Ma Eng sendiri dan dia serta Ma Gi.
“Hanya kita berempat yang mengetahui hal ini, bahkan isteri-isteri kitapun tidak tahu” katanya. “Boleh
kau tanya isteriku ini, dia belum pernah kuberitahu tentang hal itu”
“Kau lupa !” kata Ma Gi. “Bukankah Pangeran Gu Mo Tek juga mengetahuinya ?”
Khu Tiong terkejut, akan tetapi ia lalu berkata dengan suara tetap, “Tak mungkin dia mau membocorkan
rahasia. Bukankah ia telah menjadi saudara angkat kedua ayah kita ?”
“Aku juga merasa ragu-ragu untuk menuduhnya, akan tetapi bagaimana mereka bisa tahu ?”
“Nanti saja kita selidiki hal ini. Paling perlu sekarang kita mencari tempat persembunyian dulu” kata Khu
Tiong.
“Lebih baik kita pergi bersembunyi di gedung keluarga Un di sebelah barat”
“Un Kong Sian ?” Khu Tiong berpikir sebentar. Memang Un Kong Sian adalah seorang putera
bangsawan yang telah menjadi sahabat karib mereka. Pemuda itu selain menjadi sute (adik
seperguruan) mereka dalam ilmu silat, juga terkenal baik dan jujur. “Baiklah, selain Kong Sian sute,
kurasa memang tidak ada lagi yang boleh kita minta pertolongan”
Mereka lalu kembali ke kota dengan jalan memutar dan setelah hari menjadi gelap, barulah mereka
berani masuk kota raja dan menuju ke rumah Un Kong Sian.
Un Kong Sian adalah putera seorang congtok yang telah meninggal dunia dan hanya hidup berdua
dengan ibunya yang telah tua di dalam gedungnya yang besar. Ia masih belum kawin walaupun telah
ditunangkan dengan seorang puteri hartawan. Ilmu silatnya lihai juga karena ia adalah murid
seperguruan dengan Khu Tiong dan Ma Gi, bahkan dalam hal ilmu menyambit dengan piauw, Kong
Sian lihai sekali hingga mendapat julukan Bu-eng-piauw atau piauw tanpa bayangan.
Ketika pemuda ini melihat kedatangan Khu Tiong, Lin Hwa, dan Ma Gi yang datang-datang memeluk
dengan wajah pucat, ia menggeleng-geleng kepala.
“Jiwi suheng dan kau juga so-so (sebutan untuk isteri kakak), mari masuk saja ke dalam” Setelah
mereka berada di dalam kamar, Kong Sian lalu berkata dengan suara perlahan, “Aku telah mendengar
semua tentang malapetaka yang menimpa keluarga kalian. Tadi, akupun telah mencari-carimu dan
kebetulan sekali kalian datang ke sini. Kalian dicari-cari oleh banyak sekali perwira dan kurasa hanya di
sinilah tempat yang sementara ini aman bagimu bertiga”
Khu Tiong dan Ma Gi mengucapkan terima kasihnya, kemudian setelah mereka menuturkan
pengalaman mereka yang membuat Un Kong Sian menghela napas berulang-ulang, pemuda itu lalu
berkata,
“Jiwi suheng (kedua kakak seperguruan), kalian adalah orang-orang gagah yang bersemangat dan
berhati kuat. Maka sekarang kuatkanlah hatimu untuk mendengar penuturanku” Kemudian pemuda itu
Koleksi Kang Zusi
dengan suara perlahan dan hati-hati sekali menuturkan apa yang didengarnya semenjak ketiga orang
itu melarikan diri dari rumah. Ternyata bahwa karena marah sekali melihat ketujuh orang perwira yang
roboh ditangan Khu Tiong dan isterinya, perwira-perwira yang baru datang lalu mengamuk, membunuh
semua pelayan dan hanya menangkap Khu Liok berdua isterinya. Sedangkan di rumah Ma Gi, juga
terjadi hal yang sama, bahkan lebih hebat lagi, karena nyonya Ma Eng sendiri juga ikut binasa diujung
senjata perwira-perwira kejam itu. Nyonya ini ketika melihat betapa komandan perwira menarik-narik
tangan nyonya Ma Gi mantu perempuannya, dengan nekad lalu menubruk dan memukuli tangan
komandan itu sehingga komandan itu menjadi marah dan menendang dengan keras. Nyonya tua itu
roboh bergulingan dan kemudian ujung senjata perwira-perwira lain menamatkan riwayatnya.
Kemudian, setelah semua isi rumah habis binasa dan tidak ketinggalan pula barang-barang berharga
juga ikut lenyap, Ma Eng lalu ditawan dan nyonya Ma Gi diseret pergi oleh komandan itu.
Khu Tiong dan Ma Gi berdiri dengan tubuh lurus dan urat-urat menegang, sepasang mata bersinar
bagaikan mengeluarkan api dan dari pelupuk mata mengalir dua butir air mata, kedua tangan
dikepalkan. Ong lin Hwa atau nyonya Khu Tiong, menangis terisak-isak.
“Keparat-keparat kejam ! Tunggulah pembalasanku” kata Khu Tiong sambil mengacung-acungkan
tinjunya.
“Akan kubasmi perwira-perwira itu!” berkata Ma Gi. “Akan kupenggal leher komandan bangsat itu!!”
Kedua orang muda itu hendak segera pergi melakukan ancaman-ancaman mereka, akan tetapi Kong
Sian yang lebih sabar karena biarpun ikut berduka akan tetapi tidak terkena langsung oleh malapetaka
itu, berkata menghibur,
“Suheng berdua harap suka berpikir tenang. Soal pembalasan dendam ini mudah dilakukan kelak, akan
tetapi yang terpenting sekarang adalah usaha untuk menolong orang tua jiwi suheng dan juga isteri Ma
suheng”
Mendengar kata-kata ini, Khu Tiong dan Ma Gi tersadar dari keadaan mereka yang dipengaruhi rasa
marah luar biasa itu.
Malam itu gelap sekali dan di sekeliling tempat tahanan di mana Khu Liok, isterinya, dan Ma Eng
dikeram, dijaga keras oleh para perwira. Akan tetapi, dua sosok bayangan hitam yang gerakannya gesit
sekali, berhasil melewati penjagaan dan melompat ke atas tembok tinggi yang mengelilingi tempat
tahanan. Kemudian dengan gerakan Naga Sakti Naik Mega, kedua sosok bayangan itu melayang naik
ke atas genteng rumah tahanan itu. Mereka ini adalah Khu Tiong dan Ma Gi yang mendatangi tempat
tahanan dan mencoba menolong orang tua mereka.
Setelah membongkar genteng, kedua orang muda itu melompat ke dalam rumah. Seorang penjaga
yang kebetulan masuk ke dalam ruang belakang hendak memeriksa tawanan, tiba-tiba melihat mereka,
akan tetapi sebelum ia sempat bergerak atau berteriak, ujung pedang Ma Gi telah membungkam
mulutnya dan ia mandi darah tanpa dapat berkutik lagi.
Khu Tiong dan Ma Gi lalu membongkar pintu dan masuk ke dalam kamar tahanan. Akan tetapi,
keduanya berdiri tak bergerak di ambang pintu ketika melihat pemandangan yang berada di dalam
kamar itu. Kedua orang tua Khu Tiong dan ayah Ma Gi nampak duduk di dalam kamar itu, di atas lantai
yang kotor dan menyandarkan tubuh di dinding yang dingin, dan jelas sekali kelihatan betapa tubuh
mereka telah menjadi korban siksaan kejam.
Kedua orang muda itu menubruk maju sambil menangis, memeluk tubuh orang tua mereka. Dan
alangkah kagetnya ketika Khu Tiong melihat bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan
duduk bersandar di dinding. Sedangkan ayahnya pun pingsan tak sadarkan diri. Keadaaan Khu Liok
sungguh mengerikan, kepalanya bengkak-bengkak dan tubuhnya mendapat luka bekas cambukan
sedemikan rupa sehingga agaknya tak ada sepotong kulit tubuhnya yang masih utuh, napasnya empasempis
hampir putus. Keadaan Ma Eng juga amat mengenaskan dan hampir sama dengan keadaan Khu
Liok, akan tetapi orang tua ini masih sadar dan ketika melihat kedatangan Ma Gi dan Khu Tiong, ia lalu
menggerakkan kedua tangannya.
“Ayah, mengapa kau sampai menjadi begini ?” tanya Ma Gi dengan air mata bercucuran, “dan
bagaimana pula dengan Kwei Lan ?”
“Isterimu....... ia dibawa oleh komandan keparat...... aku...... aku dan Khu Liok....... disiksa hebat.......
takkan tahan hidup lebih lama lagi.........”
Koleksi Kang Zusi
“Ayah........”
“Ma-pekhu........ “ kata Khu Tiong dan mendekati orang tua itu. “Siapakah yang mengkhianati kita ?
Siapa.........??”
Dengan kuatkan tubuhdan mengumpulkan seluruh tenaga terakhir, Ma Eng menjawab, “Gu...... Gu
Mo.... Tek.......!” Kemudian kepalanya lemas dan napasnya berhenti.
“Ayah.......!” Ma Gi berseru sambil memeluk tubuh yang lemas dan tak bernyawa pula itu.
“Gu Mo Tek ! Bangsat Pengkhianat rendah !” Khu Tiong menggertak gigi dengan marah sekali. Dan
ketika ia mendekati ayahnya, ternyata bahwa ayahnya pun telah melepaskan napas terakhir.
Kedua orang muda itu saling pandang, kemudian saling pelukan dengan tangisan menyesak di dada.
“Ma Gi kita harus membalas dendam sekarang juga !”
“Baik suheng, akupun rela mengorbankan jiwa untuk membuat pembalasan dendam kepada keparat Gu
Mo Tek itu !” jawab Ma Gi dengan mata berapi-api. Setelah beberapa lama memeluki dan menangisi
mayat-mayat orang tua mereka, kedua orang muda ini lalu melompat ke atas genteng lagi. Hati mereka
panas dan penuh dengan rasa sakit hati. Dari tempat itu, mereka menempuh malam gelap dan
mendatangi gedung keluarga pangeran Gu Mo Tek. Setelah mereka pergi, barulah para penjaga
mendapatkan mayat penjaga yang tewas oleh pedang Ma Gi sehingga mereka menjadi ribut. Beberapa
orang perwira melakukan pengejaran dan beberapa orang lagi memberi laporan kepada markas besar.
Bagian 02. Penyelamat Keturunan Khu dan Ma
Memang benar sebagaimana dikatakan oleh Ma Eng sebelum orang tua ini menghembuskan napas
terakhir. Kedua orang sastrawan ini telah dikhianati oleh pangeran Gu Mo Tek yang melakukan hal ini
terdorong oleh keinginannya menempatkan putera-puteranya ke dalam kedudukan tinggi. Ia melihat
betapa kedua orang puteranya, yakni Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu, tak dapat merebut kedudukan
tinggi oleh karena kedua anak muda ini biarpun semenjak kecil telah dilatih dengan ilmu kepandaian
sastra, akan tetapi ternyata tidak bisa maju dan lebih senang belajar silat. Maka ketika ia melihat betapa
Kaisar dan para pembesar tinggi menjadi gempar karena hasil tulisan kedua saudara angkatnya, ia lalu
menggunakan kesempatan ini untuk mencarikan kedudukan tinggi bagi kedua puteranya dengan
mengkhianati Khu Liok dan Ma Eng, kedua saudara angkatnya yang amat dikaguminya itu. Sebetulnya
ia mengagumi Khu Liok dan Ma Eng hanya dalam bidang kesusastraan dan ketika kedua orang
saudara angkat itu menulis karangan yang menyinggung dan memburukkan pemerintah, ia tidak setuju,
karena betapa pun juga, darah bangsawan masih mengalir tebal dalam tubuhnya.
Akan tetapi, setelah ia melakukan pengkhianatan dan mendengar betapa kedua saudara angkatnya itu
ditawan dan keluarganya dibasmi, ia merasa berduka dan menyesal sekali. Semenjak siang hari tadi ia
duduk saja di dalam kamarnya sambil menyesali akibat perbuatannya sendiri. Ia diam-diam merasa
menyesal sekali mengapa para perwira itu melakukan penumpasan yang demikian kejamnya.
Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu yang berdiam di kamar masing-masing beserta isteri masing-masing,
hanya menganggap bahwa ayah mereka berduka mendengar berita tentang malapetaka yang menimpa
keluarga Khu Liok dan Ma Eng dan mereka inipun bersama semua keluarga merasa sedih. Tak seorang
pun di antara mereka ini tahu bahwa Gu Mo Tek telah melakukan pengkhianatan dan menjadi biang
keladi dari pada semua malapetaka itu.
Pada malam hari itu, ketika Gu Mo Tek sedang duduk seorang diri di dalam kamar buku, tiba-tiba dari
jendela menyambar masuk dua orang muda dengan pedang di tangan. Gu Mo Tek terkejut dan berdiri
dari tempat duduknya dan ketika melihat bahwa yang datang itu adalah Ma Gi dan Khu Tiong yang
memandangnya dengan sinar mata menyatakan kemarahan dan kebencian besar, ia menjadi ketakutan
dan merasa ngeri.
Koleksi Kang Zusi
“Eh, Khu Tiong dan Ma Gi, kalian dari manakah dan....... dan mengapa datang ke sini dalam keadaan
demikian ini ?”
“Bangsat tua berhati busuk !” Khu Tiong memaki marah.
“Keparat besar, kau telah mengkhianati orang-orang tua kami dan masih berpura-pura bertanya lagi ?”
berkata Ma Gi sambil melangkah maju dengan pedang ditangan.
Gu Mo Tek mundur ketakutan dan dengan wajah pucat ia bertanya,
“Apa...... apa maksudmu ......?”
“Anjing rendah ! Kau telah mengkhianati orang tua kami sehingga seluruh keluarga kami mati dalam
tanganmu yang berdarah !” kata Khu Tiong sambil melangkah maju juga.
“Mati....... mereka telah mati...... ?” Gu Mo Tek menggunakan kedua tangannya menutup muka dengan
perasaan ngeri dan menyesal.
“Dan kau harus mampus juga agar kau dapat menghadapi orang-orang tua kami di alam baka untuk
minta ampun !” kata Ma Gi. Secepat kilat pedang ditangan Ma Gi dan Khu Tiong bekerja dalam saat
yang sama sehingga dua batang pedang menembus dada pangeran tua itu di kanan kiri. Ketika kedua
orang muda itu mencabut senjata, tubuh Gu Mo Tek terhuyung-huyung dan roboh mandi darah.
“Apa yang telah terjadi ?” tiba-tiba terdengar suara orang membentak dan pintu kamar itu terbuka keras.
Gu Seng Kiu dan Gu Leng Siu melompat masuk dengan senjata golok di tangan. Melihat Khu Tiong dan
Ma Gi berdiri disitu dengan pedang berlumur darah dan ayah mereka rebah mandi darah di atas lantai,
kedua putera pangeran ini menjadi terkejut sekali.
“Khu Tiong dan Ma Gi ! Apakah kalian telah menjadi gila ? Kalian apakan ayah kami ?” teriak mereka.
“Keng Siu dan Leng Siu ! Mungkin sekali kalian berdua tidak tahu apa yang telah terjadi. Ayahmu telah
mengkhianati ayah kami hingga kebinasaan kami boleh dikata adalah hasil perbuatan ayahmu yang
durhaka !”
“Gila !” teriak Keng Siu dengan suara gemetar. “Semenjak siang tadi ayah menyedihkan malapetaka
yang menimpa keluarga kalian, dan sekarang kalian datang membunuhnya”
“Menyedihi kami ? Ha, ha, ha ! Bahkan terhadap putera-putera sendiri keparat ini masih main rahasia.
Ayahmu telah melaporkan kepada yang berwajib tentang tulisan ayah kami itu. Dia telah membunuh
keluarga kami, maka sekarang kami datang membalas dendam. Kalau kalian merasa penasaran, kalian
boleh berbuat sesukamu !” kata Khu Tiong menahan marahnya.
“Bangsat berhati kejam ! Kami tidak tahu tentang urusan yang kau sebutkan tadi, akan tetapi, jangan
mengagulkan kepandaian sendiri ! Hutang jiwa harus dibayar jiwa !” teriak Keng Siu sambil melompat
maju dan memutar goloknya.
“Majulah !” Ma Gi menantang dan di dalam kamar buku di mana mayat pangeran Gu Mo Tek masih
rebah itu, terjadilah pertempuran sengit antara Keng Siu melawan Khu Tiong dan Leng Siu melawan Ma
Gi.
Suara ribut-ribut ini terdengar oleh para pelayan dan beberapa orang penjaga segera menyerbu dengan
senjata di tangan, mengeroyok Khu Tiong dan Ma Gi. Sebagian pula lalu lari melaporkan kepada
markas besar penjaga di kota raja.
Biarpun Keng Siu dan Leng Siu suka akan ilmu silat, akan tetapi mereka hanya belajar dari guru-guru
silat biasa saja, maka mana mereka dapat melawan Khu Tiong dan Ma Gi yang memiliki kepandaian
ilmu silat tinggi ? Juga keroyokan beberapa orang pelayan itu tidak ada artinya bagi kedua orang
pemuda yang gagah itu hingga beberapa belas jurus saja, Keng Siu telah tertusuk oleh pedang Khu
Tiong sehingga roboh binasa sedangkan Leng Siu telah terbacok lehernya oleh pedang Ma Gi sehingga
hampir putus.
Koleksi Kang Zusi
Tiba-tiba dari luar gedung pangeran Gu ini terdengar suara orang berseru-seru keras. Ternyata para
perwira yang mendapat kabar bahwa dua orang putera sastrawan yang ditangkap itu mengamuk di
gedung pangeran Gu Mo Tek, segera datang mengurung gedung itu.
“Sute, mari kita pergi !” kata Khu Tiong yang mendahului adik seperguruannya melompat keluar dari
kamar itu dan berlari melalui pintu belakang. Beberapa orang perwira yang sudah menjaga lalu
menyerbu mereka, akan tetapi dengan mudah Khu Tiong dan Ma Gi merobohkan dua orang dan
mereka segera melompat naik ke atas genteng. Di antara perwira-perwira itu, banyak yang memiliki
ilmu silat tinggi, sehingga ketika melihat bahwa dua orang muda yang mereka kejar-kejar telah
melompat ke atas genteng, mereka ini lalu melompat pula menyusul.
Terjadilah pertempuran hebat lagi di atas genteng, di mana Khu Tiong dan Ma Gi dikeroyok oleh
beberapa orang perwira. Kedua orang muda ini mengamuk hebat hingga tak sedikit yang roboh diujung
pedang mereka, akan tetapi jumlah pengeroyok amat banyak dan boleh dibilang jatuh satu datang dua
dan roboh dua datang empat, hingga akhirnya kedua orang muda itupun mendapat luka-luka di tubuh
dan mengeluarkan banyak darah. Akan tetapi, dengan pedang yang dimainkan secara kuat dan hebat
dalam ilmu pedang asli dari Kun-lun-pai, kedua anak murid Kun-lun-san ini masih dapat
mempertahankan diri. Namun, mereka menjadi lelah menghadapi banyak lawan itu dan terpaksa
mereka lalu membuka jalan darah dan melarikan diri dari situ dengan cepat.
Para anggota penjaga yang dipimpin oleh perwira-perwira kerajaan segera melakukan pengejaran,
akan tetapi oleh karena malam masih gelap, Khu Tiong dan Ma Gi dapat menyelamatkan diri, walaupun
musuh masih terus mengejar dan mencari-cari.
Menjelang fajar, ketika kedua orang muda ini berlari dan tidak berani menuju ke rumah Un Kong Sian,
kuatir kalau-kalau akan merembet pemuda yang baik hati itu. Tak disangkanya, tiba-tiba pemuda itu
muncul dan memberi isyarat dengan tangan agar mereka berdua suka ikut dengannya. Tanpa bertanya,
Khu Tiong dan Ma Gi lalu berlari mengikuti Un Kong Sian yang membawa mereka keluar kota raja
melalui tempat yang penjagaannya tidak begitu keras.
Setelah berlari cepat kira-kira sepuluh li jauhnya dari kota raja, Un Kong Sian membelok ke dalam
sebuah hutan kecil dan di situ ternyata telah menanti Ong Lin Hwa, isteri Khu Tiong, di atas seekor kuda
dan telah disediakan dua ekor kuda lain untuk mereka.
“Cepat ! Larilah kalian, jiwi suheng, aku telah mendengar semua tentang pembalasan dendammu !”
“Sute, kau baik sekali. Terima kasih banyak” berkata Khu Tiong.
“Cepat, mereka telah datang !” kata Un Kong Sian kuatir dan benar saja, dari arah kota raja telah
mendatangi banyak sekali kuda yang mengejar mereka. Agaknya para penjaga telah tahu bahwa orangorang
buruan mereka telah dapat melarikan diri keluar dari kota, maka mereka lalu mengejar cepat.
“Baiklah, sute, selamat tinggal” kata Ma Gi. Akan tetapi, ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba dari
arah depan datang pula serombongan tentara negeri yang mengurung mereka.
“Celaka, kita terkurung” bisik Un Kong Sian dengan pucat. “Khu-suheng, lekas kau bawa soso lari, biar
aku dan Ma-suheng mempertahankan diri di sini !”
“Tidak, sute !” kata Khu Tiong dengan tetap. “Kami tak dapat membiarkan kau terbawa-bawa dalam
urusan kami. Kau saja pergilah cepat-cepat !”
“Khu-suheng, dalam keadaan dan waktu seperti ini, mengapa kita harus berlaku sungkan-sungkan?
Pergilah kau bersama soso !” Kong Sian mendesak dan pada saat itu, berpuluh batang anak panah
menyambar ke arah mereka hingga mereka bertiga, juga Lin Hwa yang memegang pedang, memutar
senjata untuk menyampok semua anak panah yang menyambar ke arah mereka.
“Kau saja yang pergi, sosomu juga dapat menjaga diri, dan biarkan kami bertiga mempertahankan diri !”
Khu Tiong berkeras dan Ma Gi juga mendesaknya,
“Un-sute, kau telah menolong kami dan tidak seharusnya kau berkorban jiwa pula. Kau masih muda dan
kau tidak mempunyai hubungan dengan urusan kami ini. Kau pergilah dan tinggalkan kami bertiga
mempertahankan diri dan biarlah kami bertiga mati secara orang-orang gagah !”
Koleksi Kang Zusi
Un Kong Sian membanting kakinya dengan gemas dan pemuda yang tampan dan gagah ini merasa
bingung sekali.
“Ah, jiwi suheng benar-benar kepala batu dan keras hati” katanya gemas. “Apakah artinya mati bagiku ?
Apakah artinya mati membela saudara ? Lebih baik kalian mengingat akan nasib soso ini, terutama
nasib anak yang dikandungnya ! Kalau kita semua mati, habis siapakah yang akan membalaskan
dendam kelak ?”
Pucatlah wajah Khu Tiong dan Ma Gi karena ucapan ini menikam betul hati dan perasaan mereka.
“Dia betul suheng !” kata Ma Gi. “Kau lekaslah lari bersama soso !” Khu Tiong terpaksa lalu melompat
naik ke atas kuda, lalu ia berpaling memandang Kong Sian dan Ma Gi dengan kedua mata basah air
mata.
“Sampai mati aku takkan melupakan kalian” Ong Lin Hwa telah mendahului dan melarikan kudanya,
akan tetapi Khu Tiong masih ragu-ragu dan beberapa kali ia berpaling memandang kedua saudara
seperguruan itu. Keraguannya inilah yang mencelakakannya, karena tiba-tiba ia menjerit keras dan
roboh dari kudanya. Lin Hwa mendengar jerit suaminya lalu melompat turun dari kuda dan berlari
menghampiri. Ia memeluk suaminya yang ternyata terkena anak panah pada dada kanannya.
Kong Sian dan Ma Gi juga berlari menghampiri dan pada saat itu kurungan para tentara kerajaan telah
makin merapat dan mendekat. Ma Gi tidak mau membuang waktu lagi.
“Khu-soso, lekaslah kau pergi, tinggalkan kami di sini. Sekarang bukan waktunya ragu-ragu dan berlaku
lambat. Musuh telah dekat !”
Akan tetapi, sambil mengeluh sedih nyonya Khu bahkan lalu menjadi lemas dan roboh pingsan di
samping suaminya.
“Celaka !” kata Ma Gi dengan bingung. “Sute, lekas kau pondong tubuh sosomu dan bawa dia lari cepat
keluar dari kepungan ini !”
Un Kong Sian adalah seorang pemuda yang dapat berpikir cepat dan mengambil tindakan tepat pada
waktunya. “Baik, Ma suheng, dan ......mudah-mudahan kau dan Khu suheng dapat keluar dari sini
dengan selamat !” Pemuda itu lalu memondong tubuh Lin Hwa yang pingsan dan secepatnya ia
melompat ke atas kuda yang terbaik, lalu melarikan kuda itu bagaikan terbang cepatnya dari hutan itu.
Beberapa batang anak panah menyambarnya, akan tetapi dengan pedang di tangan kanan, Kong Sian
dapat memukul jatuh semua anak panah itu dan melarikan kudanya makin cepat lagi.
Ma Gi membungkuk dan memeriksa keadaan Khu Tiong. Orang gagah itu mengeluh dan bergerak,
membuka matanya, lalu bangun duduk.
“Isterimu telah pingsan dan ditolong oleh Un sute, sudah melarikan diri” bisik Ma Gi. Dan pada saat itu
terdengar sorakan riuh. Beberapa orang perwira telah datang menyerbu dengan senjata di tangan.
Terpaksa Ma Gi meninggalkan Khu Tiong untuk melompat dan menyambut musuh-musuh itu dengan
pedangnya. Khu Tiong biarpun telah mendapat luka parah dan anak panah masih menancap di
dadanya, lalu mencabut pedang pula dan melompat dengan garangnya. Ma Gi sendiri merasa kagum
melihat sepak terjang Khu Tiong yang mengamuk hebat dan tiap lawan yang menghadapinya tentu
roboh kena tusuk atau sabetan pedangnya. Kedua orang ini mengamuk hebat sekali hingga mayat
musuh bergelimpangan di atas tanah, akan tetapi oleh karena malam tadi mereka telah mengalami
pertempuran dan dikeroyok hingga mendapat luka dan telah lelah sekali, apalagi karena Khu Tiong
telah menderita luka parah, maka mereka tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi dan beberapa
buah senjata menghancurkan tubuh Khu Tiong dan Ma Gi yang gagah perkasa itu, Mereka telah
melakukan perlawanan sebagai orang-orang gagah dan mati di bawah tikaman belasan buah senjata
tajam hingga tubuh mereka menjadi tidak karuan lagi rupanya.
Setelah puas membalas sakit hati atas kematian kawan-kawannya dn menghujani tubuh kedua orang
muda yang gagah itu dengan senjata mereka, para perwira dan tentara kerajaaan lalu mengejar terus
karena mereka tadi juga melihat bahwa isteri Khu Tiong telah dapat melarikan diri. Beberapa orang di
antara mereka lalu mengangkut pergi mayat kawan-kawannya dan menolong yang terluka, sedangkan
mayat Khu Tiong dan Ma Gi yang sudah tidak karuan macamnya itu dibiarkan menggeletak begitu saja
di dalam hutan itu. Tak seorang pun tahu betapa pada senja hari itu, dua orang penggembala kerbau
yang menghalau kerbau mereka dan lewat di tempat itu, merasa terkejut sekali melihat mayat dua
Koleksi Kang Zusi
orang yang tak dikenalnya, akan tetapi dengan penuh hormat kedua anak penggembala itu lalu
menggunakan golok pembabat rumput untuk menggali dua buah lobang di tanah dan mengubur kedua
jenazah tadi.
******
Kita mengikuti pengalaman Yo Kwei Lan, nyonya Ma Gi yang dibawa pergi oleh komandan perwira
ketika terjadi penyerbuan di rumah sastrawan Ma Eng.
Komandan itu adalah seorang muda bernama Gak Song Ki, seorang gagah perkasa yang memiliki ilmu
silat tinggi, karena dia adalah murid Cin Sam Cu, tokoh besar dari Gobi-san. Ketika memimpin
penyerbuan di rumah sastrawan Ma Eng dan melihat nyonya Ma Gi yang cantik jelita dan sedang hamil
tua itu, timbul hati kasihan padanya dan sebelum nyonya itu menjadi korban senjata anak buahnya, ia
lalu menyeret Yo Kwei Lan. Ketika nyonya Ma Eng yang hendak menolong mantunya itu dengan nekad
menyerbu, ia lalu menendang nyonya tua itu yang akhirnya mati di bawah pukulan senjata para tentara
yang kejam. Kwei Lan menjerit-jerit, akan tetapi dengan totokan pada jalan darah di lehernya, Gak Song
Ki berhasil membuat Kwei Lan diam tak dapat mengeluarkan suara pula. Kemudian komandan itu lalu
menaikkan Kwei Lan ke atas kudanya dan membawanya lari dari situ.
Kwei Lan merasa sedih dan bingung sehingga akhirnya ia jatuh pingsan di atas kuda, tidak tahu dibawa
kemana oleh komandan itu. Ketika Kwei Lan membuka matanya, ia mendapatkan dirinya berada dalam
sebuah kamar yang indah sekali dan seorang wanita tua sedang duduk menjaganya.
“Di mana aku.......... ? Mana suamiku.......? Mana ayah ibu.......?” Kwei Lan berbisik perlahan dan ia
bangun duduk dengan bingung.
Wanita tua itu dengan lemah lembut lalu menyuruhnya berbaring kembali dan berkata dengan halus,
“Kau tidurlah saja, nak dan jangan banyak bergerak. Kau berada di rumahku, di rumah anakku dan
jangan kau kuatirkan sesuatu”
Kwei Lan teringat akan semua yang telah terjadi dan ia menangis tersedu-sedu sambil menjatuhkan diri
di atas bantal yang empuk.
“Siapakah kau ? Dan siapakah anakmu itu ? Ke mana perginya komandan keparat tadi ?”
“Tenanglah, nak. Dan jangan kau salah paham. Komandan itu adalah putera tunggalku dan aku adalah
ibunya. Ia merasa kasihan kepadamu dan sengaja menolongmu dari bahaya maut.”
“Apa ? Ia menolongku ? Bangsat rendah ! Dialah yang mengepalai setan-setan itu membinasakan
keluargaku,” teriak Kwei Lan dengan marah dan bangkit duduk lagi.
Nyonya itu tersenyum sabar. “Kau masih bingung dan sedih. Sudahlah, jangan kau bersedih dan ingat
kepada kandunganmu. Puteraku hanya menjalankan tugas kewajibannya saja dan betul-betul karena
kasihan kepadamu maka kau dapat dibawa ke sini dan terlepas dari bahaya maut.”
Kemudian dengan suara halus nyonya janda Gak ini menuturkan betapa puteranya merasa kasihan
kepada Kwei Lan dan menawannya agar jangan sampai terjatuh dalam tangan para anak buahnya yang
tentu akan membunuhnya pula. Dengan tangis memilukan, Kwei Lan mendengarkan ini semua dan ia
menaruh kepercayaan, sungguhpun kesedihannya tidak berkurang karenanya. Ia hanya mengharapkan
untuk berjumpa kembali dengan suaminya selekasnya.
Ketika Gak Song Ki datang, pemuda ini disertai ibunya menengok keadaan Kwei Lan dan sikapnya
yang sopan dan halus membuat Kwei Lan tidak ragu-ragu lagi akan maksud baik perwira ini. Akan
tetapi, melihat pandangan mata pemuda tampan itu mengandung perasaan hati yang mesra dan
menyayang, timbul rasa malu yang besar dalam hati nyonya muda itu dan hal ini memperbesar
pengharapannya untuk dapat segera bertemu kembali dengan suaminya dan selekasnya meninggalkan
rumah gedung mewah dan indah ini.
“Toanio, harap kau tenang-tenang saja tinggal di rumah kami ini dan anggaplah rumah ini seperti
rumahmu sendiri. Kami takkan mengganggumu, dan kalau boleh anggap saja kami sebagai keluarga
sendiri,” kata Gak Song Ki dengan ramah tamah hingga tentu saja Kwei Lan merasa makin malu dan
Koleksi Kang Zusi
sungkan, karena di dalam keramahan ini terkandung suara hati yang lebih mesra daripada keramahan
biasa.
“Ciangkun, di manakah ........suamiku ? Kalau kau memang menaruh kasihan kepadaku dan bermaksud
menolongku, tak ada pertolongan yang lebih besar bagiku selain apabila kau dapat mempertemukan
kami kembali.”
“Toanio, untuk apa kau memikirkan hal itu ? Suamimu terbawa-bawa oleh urusan mertuamu yang
memberontak terhadap pemerintah, bahkan suamimu telah membunuh banyak sekali perwira-perwira
kerajaan. Kau sebagai seorang wanita janganlah ikut-ikut memikirkan dan berdiamlah saja di sini
dengan hati tentram.”
Wajah Kwei Lan yang cantik jelita dan pucat itu makin memucat mendengar ucapan ini dan hatinya
berdebar-debar penuh kecemasan.
“Gak-ciangkun, katakanlah sebenarnya, bagaimana dengan suamiku ? Bagaimana nasibnya dan
dimanakah dia berada ?”
Gak Song Ki menghela napas panjang berulang-ulang, dan ia nampak sukar sekali untuk membuka
mulutnya. Akhirnya, sambil memandang tajam dan dengan suara lirih ia berkata, “Toanio, apakah yang
harus ku katakan kepadamu ? Suamimu bersama Khu Tiong yang memberontak dan membunuh
banyak sekali perwira itu telah terkurung di hutan dan akhirnya mati terbunuh.”
“Mati......?” lemaslah seluruh tubuh Kwei Lan. Pandangan matanya menjadi suram dan tiba-tiba seluruh
isi kamar itu seakan-akan berputaran di depan matanya. Kemudian, dengan keluhan perlahan, nyonya
muda ini terguling dari dari tempat tempat duduknya tak sadarkan diri. Untung sekali Gak Song Ki
berlaku cepat dan memeluk tubuh itu sebelum Kwei Lan roboh dan kalau hal itu terjadi, akan
membahayakan keselamatan kandungannya. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, Gak Song Ki
lalu membaringkan tubuh yang lemas itu ke atas tempat tidur.
Ketika Kwei Lan siuman kembali, ia mendapatkan dirinya sudah terbaring di atas tempat tidur dan
melihat bahwa pemuda perwira itu masih duduk di situ bersama ibunya, menjaganya dengan wajah
nampak beriba hati. Nyonya muda itu lalu menangis sedih dan berkata dalam ratap hatinya,
“Suamiku telah binasa, demikian pula seluruh keluarga......apa artinya hidupku lagi....? Lebih baik aku
mati saja ......”
Setelah berkata demikian dan teringat akan keadaannya yang ditinggal seorang diri oleh orang-orang
yang dicintainya, tiba-tiba sinar mata Kwei Lan menjadi beringas. Ia memandang kepada Gak Song Ki
dan ibunya, lalu berkata dengan suara ketus,
“Kalian keluarlah dari kamar ini. Keluar !”
Nyonya tua ibu perwira itu, berdiri dan menhampiri serta membujuk, “Sabarlah, nak dan jangan kau
bersedih. Tak baik bagi kesehatanmu, terutama bagi kandunganmu.”
“Sudahlah, tiada gunanya semua hiburan dan nasehat bagiku pada saat ini. Pergilah, pergilah kalian
berdua dan biarkan aku seorang diri dalam kamar ini !” Kemudian ia menangis lagi terisak-isak.
Nyonya janda she Gak memandang kepada puteranya dan Gak Song Ki memberi tanda dan mengajak
ibunya keluar dari kamar itu. Setelah kedua orang itu pergi, Kwei Lan lalu bergerak turun dari
pembaringan dengan cepat dan matanya memandang ke seluruh kamar, mencari-cari. Ia hendak
mencari benda tajam, pisau atau gunting untuk membunuh dirinya, akan tetapi di situ tidak terdapat
sebuah pun benda tajam. Ia lalu memandang ke atas, juga mencari-cari dengan maksud menggantung
diri. Akan tetapi, kembali ia kecewa karena rumah gedung itu mempunyai langit-langit yang tinggi sekali
dan di situ tidak terlihat balok melintang yang cukup rendah untuk digunakan sebagai tempat sabuknya
mengikat lehernya bergantung. Juga tempat tidur yang ditidurinya tadi mempunyai bentuk istimewa
hingga tempat kelambunya pun kecil dan tidak cukup kuat untuk menahan gantungan tubuhnya. Hal ini
membuat Kwei Lan menjadi bingung sekali dan akhirnya sambil memejamkan matanya, nyonya muda
yang sudah berputus asa dan nekad ini lalu mengayun tubuh dan maju membenturkan kepalanya yang
indah bentuknya itu kepada dinding di depannya.
Koleksi Kang Zusi
Akan tetapi, kembali maksudnya gagal, Sebelum kepalanya pecah membentur dinding, tubuhnya telah
ditangkap dan dipeluk oleh Gak Song Ki yang sengaja berdiri dibalik daun pintu. Karena pemuda ini
telah merasa curiga dan sengaja mengintai di situ. Kwei Lan meronta-ronta, akan tetapi ia tidak berdaya
melepaskan diri dari pelukan kedua lengan yang amat kuat itu, akhirnya ia menjadi lemas dan menangis
tersedu-sedu.
“Toanio, mengapa kau mengambil keputusan pendek ? Berdosa besar untuk membunuh diri sendiri,
seakan-akan kau tidak percaya kepada keadilan Thian lagi,” pemuda itu menghibur setelah meletakkan
tubuh Kwei Lan dengan hati-hati di atas pembaringan pula.
“Keadilan Thian ? Ah, kalau Thian adil tidak nanti menjatuhkan malapetaka atas keluargaku ....... mana
keadilan Thian ......?” Suaranya amat memilukan.
“Jangan berkata demikian, toanio. Keluargamu tertimpa malapetaka bukan tidak ada sebabnya. Semua
itu diakibatkan oleh kesalahan dan perbuatan mertuamu dan sahabatnya orang she Khu itu. Sudahlah,
toanio, kau ingatlah. Kalau kau membunuh diri, bukankah berarti kau menjadi pembunuh anak yang kau
kandung sendiri ? Dosamu makin besar lagi !”
Diingatkan akan hal ini, tangis Kwei Lan menjadi-jadi karena ia merasa terharu dan sedih sekali. Gak
Song Ki yang cerdik itu maklum bahwa kata-katanya mengenai sasaran tepat, maka ia lalu
menyambung pula,
“Apalagi membunuh diri, baru berduka saja kau telah mempengaruhi keadaan kandunganmu dan kau
telah berdosa terhadap calon anakmu. Karena Thian menghendakinya dan kau telah berada seorang
diri, hidup sebatang kara, maka janganlah kau menampik uluran tangan kami yang bermaksud baik.
Anakmu yang akan terlahir di sini akan menjadi penghiburmu, maka jagalah dirimu baik-baik, toanio.
Kalau kau tidak kasihan kepada diri sendiri, sedikitnya, taruhlah hati kasihan kepada anak yang kau
kandung itu.”
Sambil mengguguk-guguk menangis, Kwei Lan memandang wajah pemuda she Gak itu dengan teraruh
dan penuh pernyataan terima kasih, lalu ia berkata perlahan, “Terima kasih ciangkun ....... terima kasih.
Hanya Thian yang akan membalas kebaikan budimu ini .....”
“Tak usah berterima kasih, toanio. Jaga dirimu baik-baik dan berlakulah seperti keluarga kami sendiri.
Rumah ini rumahmu juga dan segala macam keperluanmu, katakan saja kepada pelayan atau kepada
ibu, jangan kau berlaku sungkan-sungkan !” Dengan gembira dan hati tetap Gak Song Ki
mengundurkan diri, keluar dari kamar itu. Ia merasa lebih gembira dari pada kalau pulang membawa
kemenangan berperang. Kemenangan kali ini membuat hatinya berdebar girang dan ia merasa bahagia
sekali. Demikianlah pengaruh hati yang terserang asmara.
Semenjak saat itu, benar saja Kwei Lan menghibur-hibur dirinya sendiri dan tiap kali ia teringat akan
kedukaan besar yang menimpa dirinya, ia lalu mengingat kepada anak yang dikandungnya dan yang
merupakan sumber kekuatan bagi jiwa raganya. Apalagi sikap Gak Song Ki dan ibunya merupakan
hiburan yang besar pula hingga tak lama kemudian ia dapat tersenyum kembali hingga ibu Gak Song Ki
seringkali memandang wajah yang tersenyum itu dengan amat kagumnya karena memang jarang ia
melihat orang secantik Kwei Lan.
Bagian 03. Kuil Thian Lok Si
Un Kong Sian melarikan kudanya cepat sekali oleh karena ia maklum bahwa tak lama lagi para perwira
kerajaan tentu akan mengejar dan tak membiarkan seorang keluarga dari Khu Liok yang dianggap
pemberontak itu melarikan diri. Baiknya semua pengejar belum melihat mukanya, karena kalau hal ini
terjadi maka ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan ibunya yang berada di rumah
seorang diri pula.
Ia tidak merasa kuatir akan keadaan ibunya sekarang, oleh karena ketika ayahnya masih hidup, Un
Congtok adalah seorang panglima yang disegani karena gagah berani dan berjasa, sedangkan selain
mempunyai rumah gedung sendiri, juga keadaan nyonya janda Un cukup kaya.
Setelah melarikan kuda belasan li jauhnya, tiupan angin membuat Ong Lin Hwa siuman kembali dari
pingsannya, nyonya muda ini ketika merasa bahwa ia sedang berada di atas kuda yang dilarikan keras,
dipeluk oleh Un Kong sian segera berseru,
“Berhenti dulu !”
Koleksi Kang Zusi
Un Kong Sian girang mendengar ini karena kalau nyonya ini tetap pingsan saja maka sukar baginya
untuk dapat bergerak leluasa dalam menghadapi musuh. Segera ia menghentikan kudanya dan
melompat turun. Juga Ong Lin Hwa melompat turun dengan air mata membasahi kedua pipinya.
“Un-te, bagaimana dengan suamiku ?” tanya nyonya ini dengan suara tetap, oleh karena sebagai
seorang berkepandaian tinggi dan bersemangat gagah, nyonya muda ini tidak lemah hatinya.
“Khu-soso, ketika siauwte membawa lari soso, Khu suheng kulihat berdiri lagi dan mengamuk dengan
pedang di tangan, bersama Ma suheng. Mereka berdua itu gagah sekali, soso. Sebetulnya siauwte
merasa iri kepada mereka dan menghendaki agar kau dapat pergi berdua dengan suamimu biar aku
dan Ma suheng yang melayani musuh. Akan tetapi, apa mau dikata ..........”
Ong Lin Hwa menghela napas panjang, “Tuhan menghendaki demikian, Un-te (adik Un), dan aku tahu
akan kebaikan hatimu. Namun, biar pun bagaimana juga, kegagahan suamiku dan Ma-te yang gugur
dengan pedang di tangan dan anak panah di tubuh, banyak mengurangi kedukaanku. Kalau sampai
suamiku tewas, biar kudidik calon anak yang masih kukandung ini untuk menjadi seorang gagah
perkasa agar ia dapat membalaskan dendam ayahnya dan membunuh semua perwira kerajaan yang
berhati buruk dan kejam.” Sambil berkata demikian, nyonya yang gagah itu berdiri sambil mengepalkan
tinjunya dan kedua matanya yang jeli dan bagus itu berapi-api.
Di dalam hatinya, Un Kong Sian tidak setuju dengan maksud Lin Hwa yang hendak memusuhi semua
perwira kerajaaan, karena ia maklum bahwa tidak semua perwira kerajaan berhati kejam dan jahat
belaka, akan tetapi oleh karena ia tahu pula akan kedukaan wanita muda ini, maka tak baik untuk
membantahnya disaat itu.
“Khu-soso, lebih baik kita cepat melakukan perjalanan karena aku kuatir kalau-kalau mereka akan
mengejar ke sini. Biarpun mereka tertinggal jauh, namun kuda mereka lebih cepat larinya dan di antara
mereka banyak terdapat orang-orang gagah yang sukar dilawan!”
“Aku tidak takut ! Biar aku mati diujung senjata mereka, aku tidak takut dan akan membasmi sebanyak
mungkin perajurit kerajaan yang keparat itu !”
“Aku tahu, soso, tentu saja kau atau aku tidak takut mati di ujung senjata mereka, akan tetapi kalau kita
melawan begitu saja hingga akhirnya kita berdua mati, bagaimana dengan cita-citamu yang tadi kau
ucapkan ? Apakah anak dikandunganmu itupun tidak akan ikut binasa ?”
Pucatlah wajah Ong Lin Hwa mendengar ini, ia memandang ke arah kuda mereka dan berkata, “Kau
benar, Un-te. Mari kita pergi cepat-cepat. Akan tetapi, kuda hanya ada seekor saja.”
“Tidak apa-apa, soso. Kau sajalah naik kuda, aku akan mengejar dari belakang!”
Ong Lin Hwa belum tahu betul sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian pemuda ini yang sebetulnya
tidak kalah dari suaminya sendiri, maka wanita muda ini meragukannya. Biarpun ia sendiri memiliki ilmu
kepandaian yang cukup tinggi, namun apabila dibandingkan dengan suaminya atau dengan Un Kong
Sian, ia masih kalah jauh.
Lin Hwa lalu naik di punggung kudanya dan melarikan kuda itu. Un Kong Sian lalu mengeluarkan ilmu
kepandaian berlari cepat, sehingga cepat sekali ia melompat ke depan dan mengejar larinya kuda.
Ketika sudah melarikan kudanya untuk beberapa lama, Lin Hwa menengok dan alangkah heran dan
kagumnya ketika melihat bahwa pemuda itu berlari cepat sekali di belakang kuda, nampaknya tidak
sangat sukar untuk membarengi larinya kuda yang ditungganginya.
Beberapa lama mereka berlari dan tiba-tiba mereka mendengar suara banyak kaki kuda mengejar dari
belakang.
“Benar saja, soso, mereka telah mengejar dari belakang, agaknya mereka telah mendapatkan jejak
kita,” kata Un Kong Sian yang mempercepat larinya sehingga dapat berlari di samping kuda itu.
“Habis, bagaimana baiknya, Un-te ?” jawab Lin Hwa dengan khawatir.
“Mari kita menuju kesana, soso, ke rimba itu !” Mereka lalu melarikan diri ke dalam hutan di sebelah kira
jalan, Un Kong Sian minta supaya Lin Hwa turun dari kuda, kemudian mencambuk kuda itu sehingga
berlari terus dengan cepat karena merasa sakit punggungnya dicambuk oleh pemuda itu. Sementara
itu, Kong Sian lalu mengajak Lin Hwa berlari cepat dan bersembunyi di dalam rimba.
Tak lama kemudian, serombongan tentara pengejar yang dikepalai oleh seorang perwira tua
mendatangi dari belakang.
“Hm, Can-ciangkun sendiri yang melakukan pengejaran,” kata Un Kong Sian terkejut. Juga Lin Hwa
terkejut karena pernah mendengar nama ini sebagai seorang perwira yang berilmu tinggi dan gagah
sekali. Can-ciangkun yang mengejar ini adalah seorang perwira berpangkat congtok dan yang telah
menjadi panglima perang karena kegagahannya. Ia ahli bermain silat dengan tombak bercagak dan
biarpun usianya telah lebih dari empat puluh tahun, namun tenaganya masih besar dan lihai.
Ketika rombongan itu lewat di dekat rimba, mereka tidak berhenti dan mengejar terus, karena kuda
yang tadi ditunggangi Lin Hwa masih berlari terus dan terdengar suara kakinya dari situ. Un Kong Sian
dan Lin Hwa yang bersembunyi di dalam rumpun alang-alang dan mengintai keluar, merasa lega
melihat rombongan yang terdiri lebih dari dua puluh orang itu melewat dengan cepat tanpa menyangka
bahwa orang-orang yang mereka kejar berada di dalam rimba itu.
“Mari, soso, kalau kuda kita tersusul, mereka mungkin akan kembali dan mencari di sini !” kata Un Kong
Sian yang biarpun masih muda, namun pemandangannya luas dan pikirannya cerdas. Lin Hwa menurut
saja, karena selain kalah pengalaman, nyonya muda inipun lebih muda usianya dari pada Un Kong Sian
hingga biarpun pemuda ini menjadi adik seperguruan suaminya dan ia menyebutnya Un-te (adik Un),
namun ia tidak merasa lebih tua atau lebih pandai. Apalagi ketika tadi ia menyaksikan betapa cepat lari
pemuda ini hingga dapat diduga bahwa ilmu kepandaian pemuda inipun tentu jauh lebih tinggi dari pada
Koleksi Kang Zusi
kepandaiannya sendiri.
“Nanti dulu, Un-te. Kita telan ini dulu agar kelelahan kita berkurang,” kata Lin Hwa sambil mengeluarkan
beberapa butir pel merah dari saku bajunya.
Kong Sian maklum bahwa nyonya ini adalah seorang puteri tukang obat yang ternama sekali ketika
masih hidup, maka tentu saja Lin Hwa juga ahli dalam hal pengobatan. Akan tetapi karena melihat
bahwa pel yang dibawa oleh Lin Hwa itu tidak banyak, maka ia berkata, “Perlu sekali bagimu, soso,
akan tetapi aku sendiri belum lelah. Jangan kita pergunakan benda berharga ini dengan sia-sia.”
Lin Hwa mengangguk, dan setelah menelan dua butir pel merah itu yang amat perlu bagi tubuhnya,
mereka berdua lalu berlari cepat ke dalam hutan. Dapat dibayangkan betapa sengsara keadaan mereka
berdua ini, apalagi karena kandungan Lin Hwa sudah delapan bulan sehingga tak dapat diduga berapa
hari atau berapa pekan lagi ia akan melahirkan. Hutan itu liar dan penuh jurang-jurang curam sehingga
perjalanan itu sungguh-sungguh sukar dan melelahkan. Terpaksa Kong Sian mengajak Lin Hwa berkalikali
mengaso untuk menjaga agar supaya nyonya muda itu tidak terlampau lelah. Lin Hwa maklum akan
hal ini dan ia makin berterima kasih kepada pemuda yang selain gagah, juga baik hati dan bijaksana
sekali itu.
Malam itu mereka terpaksa bermalam di dalam hutan yang gelap dan dengan cekatan sekali Kong Sian
melompat kepohon-pohon untuk mencari buah-buahan yang enak dimakan. Mereka tidak berani
menyalakan api karena takut kalau-kalau ada pengejar yang berada di dalam hutan itu, sehingga
mereka harus menderita dari serangan beratus nyamuk yang kecil-kecil akan tetapi amat jahat dan
gigitannya panas. Kong Sian mempergunakan mantelnya untuk diobat-abitkan mengusir nyamuknyamuk
itu.
“Un-te, percuma saja kalau diusir dengan cara demikian. Kau carilah air sebelum keadaan terlalu gelap,
kata Lin Hwa. Un Kong Sian lalu pergi mencari air dan akhirnya ia mendapatkan anak sungai mengalir
di dalam rimba itu. Ia mempergunakan daun-daun yang lebar untuk membawa air itu dan
memberikannya kepada Lin Hwa yang mengeluarkan sebungkus bubuk obat putih.
“Ini adalah bubuk penolak racun dan selalu kubawa untuk menjaga senjata beracun atau gigitan
binatang berbisa,” katanya.
Kemudian Lin Hwa mencampur obat bubuk itu dengan air lalu membalurkan obat itu keseluruh kulit
tubuh yang tidak tertutup pakaian seperti muka, tangan dan kaki. Kong Sian tidak berani melukai
perasaan Lin Hwa, juga meniru perbuatan nyonya muda itu dengan merasa tidak enak sekali karena
pada pikirnya sungguh gila harus memarami tubuh dengan air pada saat hawa udara sedingin itu.
Akan tetapi setelah air yang menempel kulit menjadi kering dan ketika ia diamkan saja nyamuk-nyamuk
yang menempel pada kulit muka dan tangannya, dengan heran sekali ia melihat dan mendengar betapa
nyamuk-nyamuk itu terbang pergi dan bahkan ada yang jatuh seperti mati pada saat menempel dikulit
muka atau tangannya.
“Aduh, hebat sekali obatmu ini, soso. Nyamuk-nyamuk pada mampus begitu menempel pada kulitku,
seakan-akan kulitku menjadi berbisa,” katanya memuji.
Di dalam gelap ia tidak melihat betapa wajah wanita itu berseri mendengar pujiannya, akan tetapi lin
Hwa hanya berkata sederhana,
“Hal itu tak perlu diherankan. Sekarang yang penting kita dapat tidur nyenyak agar besok pagi dapat
melanjutkan perjalanan.”
Perjalanan ? Kemana ? Demikan Un Kong Sian berpikir bingung, walaupun mulutnya tidak berkata apaapa.
Ia merasa bahwa kini nyonya ini tentu telah menjadi janda dan sebatangkara karena ia tidak dapat
meragukan akan nasib kedua suhengnya itu. Ia harus melindungi dan membela nyonya Khu ini karena
selain dia sendiri, siapa lagi yang akan melindunginya ? Akan tetapi, kemana ia harus membawa Lin
Hwa ? Pulang ke rumahnya tidak mungkin karena tentu para kaki tangan kaisar akan dapat
mengetahuinya dan hal ini amat berbahaya. Tiba-tiba ia teringat kepada suhunya di Kunlun-san.
Membawa Lin Hwa ke pegunungan Kunlun ? Lebih tak mungkin lagi, karena perjalanan ke Kunlun-san
sedikitnya makan waktu berbulan-bulan, sedangkan kandungan Lin Hwa telah mendekati kelahiran.
Habis, apa dayanya ? Un Kong Sian merasa bingung sekali dan selagi ia hendak membuka mulut
mengajak Lin Hwa berunding, ia mendengar tarikan napas yang halus dan lambat, tanda bahwa wanita
itu telah tidur. Maka ia urungkan maksudnya dan menyandarkan tubuh pada sebatang pohon. Dengan
lindungan obat istimewa yang membuatnya kebal terhadap gangguan nyamuk, tak lama kemudian
Kong Sian juga tertidur karena ia memang telah lelah sekali.
Pada keesokan harinya, baru saja mereka berdua terjaga dari tidur, mereka telah mendengar suara
orang-orang di dalam hutan itu. Mereka serentak berdiri dan Un Kong Sian lalu berkata,
“Ah, mereka itu agaknya tidak tidur semalam karena gangguan nyamuk sehingga pagi-pagi benar telah
mengejar kita.”
Keduanya lalu lari terus menuju ke barat dan tak lama kemudian mereka mendengar suara yang amat
keras, “Hai, pemberontak-pemberontak. Menyerahlah dengan baik-baik agar kami tak usah
mempergunakan tangan kejam!”
Kong Sian dan Lin Hwa terkejut karena thu bahwa suara ini digerakkan oleh tenaga khi-kang sehingga
dapat terdengar jauh dan gemanya memenuhi hutan.
“Itu suara Can Kok lagi yang mengejar,” kata Kong Sian sambil mengajak kawannya berlari lebih cepat
lagi. Tak lama kemudian mereka telah keluar dari rimba itu dan kini mereka berlari cepat di sepanjang
sawah ladang tanda bahwa di dekat situ terdapat desa-desa tempat tinggal kaum tani yang
mengerjakan sawah ladang itu.
Koleksi Kang Zusi
“Cepat, soso, ditempat terbuka ini kita mudah sekali kelihatan oleh musuh !”
Benar saja, setelah mereka berlari agak jauh dan telah mendekati sebuah dusun, dari dalam rimba
keluarlah Can Kok diikuti oleh beberapa orang perwira yang berlari cepat sekali.
“Cepat masuk ke dusun ini !”, kata Kong Sian dengan khawatir karena ia maklum bahwa Lin Hwa tidak
begitu tinggi ilmu lari cepatnya, apalagi karena kandungannya yang telah tua itu tidak memungkinkan ia
berlari cepat.
Jarak antara mereka dengan para pengejar tidak jauh lagi dan ketika melihat sebuah kuil besar
ditengah dusun itu, tanpa ragu-ragu lagi Kong Sian lalu memegang tangan Lin Hwa dan mengajak
nyonya muda itu masuk ke dalam kelenteng.
Kelenteng ini adalah sebuash kelenteng besar yang bernama Kuil Thian-Lok-Si atau Kuil Kebahagiaan
Surga. Kuil ini selain besar dan megah, juga didiami puluhan orang Hwesio (pendeta agama Buddha
berkepala gundul). Ketika Kong Sian dan Lin Hwa memasuki kuil itu, para pendeta sedang berkumpul di
ruang sembahyang dan sedang melakukan ibadat pagi, berkumpul dan bersembahyang bersama,
kecuali beberapa orang hwesio yang bertugas, seperti mereka yang bertugas membersihkan halaman,
masak, dan pekerjaan-pekerjaan lain lagi.
Seorang hwesio tukang sapu di ruang depan melihat dan menyambut kedatangan mereka dengan
heran,
“Apakah jiwi (kalian berdua) hendak bersembahyang ? Masih terlalu pagi,” katanya.
“Suhu (anggilan untuk pendeta), tolonglah kami berdua yang dikejar-kejar oleh para perwira kerajaan .
Demi nama Buddha yang mulia dan demi prikemanusiaan, biarkan kami bersembunyi di kuil ini,” kata
Kong Sian.
Hwesio yang belum tua benar usianya itu memandang dengan ragu-ragu, akan tetapi ketika melihat
perut Lin Hwa yang besar, ia lalu menyebut nama Buddha dan segera membawa mereka ke ruang
belakang.
“Kalian harus menyamar sebagai hwesio,” katanya tergesa-gesa. “Telah pinceng dengar tentang
kekejaman para perwira kerajaan. Akan tetapi sayang sekali, bagaimana dengan rambut jiwi ?”
Kong Sian berpikir cepat, lalu mencabut pedangnya sambil memandang kepada Lin Hwa, “Soso,
beranikah kau mengorbankan rambutmu yang indah itu ?” Ia terlanjur mengucapkan kata-kata “indah”
itu yang tak disengaja terloncat keluar dari mulutnya.
Untuk sejenak Lin Hwa memandang dengan muka pucat, akan tetapi dengan gagah ia lalu berkata,
“Un-te jangan ragu-ragu, potonglah rambutku !” Dengan hati terharu Un Kong Sian lalu menggunakan
pedangnya yang tajam untuk mencukur rambut kepala Lin Hwa yang meramkan matanya karena tidak
tahan melihat betapa rambutnya yang hitam dan panjang itu tercukur habis dan jatuh ke atas lantai.
Hwesio itupun dengan cepat lalu mencukur gundul kepala Un Kong Sian. Setelah kedua orang muda itu
kepalanya menjadi gundul dan bersih, hwesio tadi cepat membawa pergi rambut yang memenuhi lantai,
dan mengeluarkan dua stel pakaian hwesio.
Untung sekali bahwa pakaian hwesio memang biasanya longgar dan besar hingga ketika Lin Hwa
mengenakan pakaian ini, perutnya yang besar tertutup dan ia nampak sebagai seorang hwesio muda
yang tampan sekali. Juga Kong Sian berubah menjadi seorang hwesio tulen hingga tanpa dapat
tertahan pula, Lin Hwa memandangnya sambil tertawa geli.
“Mukamu terlalu halus dan merah,’ kata Kong Sian yang menatap wajah Lin Hwa dengan penuh
perhatian. Wajah Lin Hwa memerah karena kata-kata ini walaupun sesungguhnya diucapkan karena
kuatir hal ini menimbulkan kecurigaan para pengejar, akan tetapi juga dapat diartikan sebagai pujian
akan kecantikannya. Nyonya muda ini memang pandai sekali dalam hal pengobatan dan penyamaran.
Ia lalu minta arang dan setelah mencampur arang itu dengan tanah, ia membuat semacam bedak dan
menggosok-gosok dengan bedak istimewa ini. Dan benar-benar hebat, karena kini mukanya berubah
sama sekali dan kulit muka yang tadinya halus dan putih kemerahan serta tampak segar itu, kini
menjadi gelap kehitam-hitaman dan kasar.
Kemudian, kedua hwesio istimewa ini lalu diantar oleh hwesio yang menyapu dan menolong mereka
tadi ke ruang sembahyang di mana mereka ikut berlutut dan meniru-niru gerakan bibir hwesio lain yang
sedang berkomat-kamit membaca doa.
Dan pada saat itu, setelah mencari di seluruh dusun dan tidak menemukan dua orang buruan mereka,
para pengejar yang dikepalai oleh Can Kok, panglima yang kosen itu, masuk ke dalam kuil Thian-Lok-
Si. Tadinya memang mereka tidak menduga bahwa kedua orang buruan itu berani memasuki kuil, akan
tetapi oleh karena di seluruh dusun tidak tidak terdapat orang-orang yang mereka cari, akhirnya mereka
lalu masuk ke dalam kuil. Kedatangan mereka ini disertai kutuk dan caci maki, dan sikap mereka yang
kasar ini dan tidak mengindahkan kesucian kuil, membuat para pendeta menjadi marah dan
mendongkol. Akan tetapi, mereka bersabar dan tidak mencari penyakit dengan memusuhi
perwira=perwira yang terkenal sewenang-wenang dan kejam itu.
Melihat bahwa yang datang adalah serombongan perwira dari kota raja, maka kepala hwesio sendiri
maju untuk menyambut setelah upacara sembahyang selesai. Kepala hwesio di kuil Thian-Lok-Si ini
adalah seorang hwesio tua bernama Pek Seng Hwesio. Biarpun usianya telah lima puluh tahun lebih,
akan tetapi wajahnya masih segar dan kemerah-merahan. Kepalanya gundul dan licin seakan-akan
selama hidupnya tak pernah ditumbuhi rambut. Tubuhnya tinggi kurus dan sepasang matanya yang sipit
itu nampak lemah lembut akan tetapi bersinar tajam sekali. Dengan sikap tenang, Pek Seng Hwesio
menyambut kedatangan para perwira yang bersikap kasar itu dengan tubuh membungkuk sedikit dan
kedua tangan terangkat ke dada sebagai penghormatan yang dilakukan kepada siapa saja yang
Koleksi Kang Zusi
bertemu dengannya.
“Cuwi ciangkun, selamat datang dan bolehkah pinceng ketahui maksud kunjungan yang terhormat ini ?”
Can Kok yang lebih halus sikapnya dari pada semua anak buahnya, lalu melangkah maju dan
membalas penghormatan kepala hwesio itu.
“Losuhu, tadi ada dua orang buruan yang berlari masuk ke dalam kuil ini. Kami datang hendak
menangkap dua orang itu dan hendaknya diketahui bahwa ini adalah perintah dari kaisar sendiri yang
tak boleh dilanggar oleh siapa juga.”
“Dua orang buruan ?” tanya Pek Seng Hwesio dengan muka heran, “Pinceng tidak tahu sama sekali.
Siapakah orang-orang buruan itu ?”
“Mereka adalah seorang wanita muda dan seorang laki-laki kawannya. Mereka itu adalah pemberontakpemberontak
keluarga pemberontak Khu Liok yang telah dihukum. Kalau Losuhu membantu kami
menangkap dua orang pemberontak besar itu, tentu kuil ini akan mendapat anugerah dari kaisar.”
“Pinceng tidak melihat mereka,” kata Pek Seng Hwesio dengan suara bersungguh-sungguh, karena ia
memang benar-benar tidak pernah melihat Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa karena ketika kedua orang
muda itu tadi masuk, ia sedang memimpin persembahyangan di ruang sembahyang.
Can Kok memandang tajam dan agaknya ia tidak percaya ucapan itu. “Benar-benarkah losuhu tidak
melihatnya ?”
Pek Seng Hwesio hanya menggelengkan kepala dengan perasaan tidak puas melihat bahwa ada orang
yang meragukan kata-katanya.
“Kami akan memeriksa kuil ini !” tiba-tiba Can kok berkata keras.
Pek Seng Hwesio tersenyum, “silahkan, ciangkun.”
Can Kok menyebar anak buahnya dan pemeriksaan dimulai dengan kasar oleh para anak buah
panglima itu. Mereka memeriksa dan mencari dengan teliti sekali hingga semua kamar dimasukinya,
akan tetapi bayangan kedua orang yang dicarinya itu tidak kelihatan. Dengan penasaran sekali Can Kok
mengulur tangan hendak menarik tirai sutera yang menutup meja toapekong yang besar. Akan tetapi,
tiba-tiba terdengar suara keras dan nyaring,
“Jangan lakukan kelancangan itu !” Ini adalah suara Pek Seng Hwesio dan terdengar demikian
berpengaruh hingga Can Kok menarik kembali tangannya.
“Mengapa losuhu ? Bagaimana kalau dua orang buruan itu bersembunyi di situ ?”
“Tak mungkin, pinceng yang menanggung bahwa tidak ada orang dapat bersembunyi di tempat itu.
Janganlah ciangkun mengotori tempat yang suci ini.”
“Apa ? Tanganku kotor ? Ha, ha, ha ! Tidak lebih kotor daripada meja yang penuh debu dupa ini,”
katanya dan ia mengulur tangan lagi hendak menarik tirai itu. Akan tetapi, tiba-tiba seorang hwesio yang
berwajah bopeng dan bertubuh bongkok, melompat dan menarik tangannya.
“Jangan mengacau di sini ! Siapapun juga tanpa perkenan Pek Seng Suhu, tidak boleh menjamah tirai
ini !” katanya dengan suara keras dan kedua matanya yang bundar dan lebar itu melotot marah.
Can Kok terkejut sekali karena ketika tangan hwesio buruk ini menarik tangannya, ia merasa tenaga
yang besar sekali keluar dari tangan itu hingga terpaksa ia tidak dapat menjamah tirai itu. Tentu saja
perwira ini marah sekali dan sambil bertolak pinggang dengan tangan kiri ia membentak,
“Kau ini hwesio kurang ajar ! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa ?”
Hwesio yang bermuka bopeng dan hitam itu tertawa bergelak dan berkata dengan suaranya yang
parau, “Dengan siapa ? Ha, ha, ha ! Pinceng tidak tahu akan perbedaan pangkat dan pakaian, akan
tetapi yang sudah terang bahwa pinceng berhadapan dengan seorang yang kasar, dan terutama sekali
membanggakan sedikit kepandaian yang dimilikinya.”
“Hwesio bangsat ! Buka matamu lebar-lebar. Aku adalah seorang panglima kerajaan berpangkat
congtok, dan aku si Tombak Dewa Can Kok bukanlah seorang yang biasa suka menerima hinaan dari
seorang hwesio hina dina macam kau !” Can Kok marah sekali hingga seluruh mukannya menjadi
merah karena ia telah dihina oleh seorang hwesio biasa di depan semua anak buahnya yang telah
melakukan pemeriksaan tanpa berhasil lalu mengelilingi komandannya yang hendak memberi hajaran
kepada hwesio kurang ajar itu. Mereka merasa tertarik karena tadinya mereka ini merasa jengkel dan
penasaran karena usaha mereka untuk menangkap kedua orang buruan itu gagal, dan mereka telah
dapat membayangkan betapa Can Kok pasti akan menghajar hwesio buruk itu sampai berteriak-teriak
minta ampun.
Akan tetapi, melihat kemarahan Can Kok, hwesio bermuka hitam itu tidak merasa gentar sedikitpun,
bahkan lalu menjawab sambil tertawa. “Bukan kami yang menghina, akan tetapi kaulah yang mulai
mencari perkara. Kalian ini datang mencari orang, setelah tak bertemu, seharusnya segera pergi agar
jangan mengganggu kami dan jangan mengotori tempat suci ini dengan kekasaran-kekasaran. Akan
tetapi kalian bahkan hendak menodai tempat suci. Ketahuilah, orang sombong, jangankan baru kau
yang hanya berpangkat congtok saja, bahkan kaisar sendiri tak boleh menghina tempat suci.”
“Bangsat sombong, rasai kepalanku !” bentak Can Kok yang segera menyerang dengan gerakan
istimewa, yakni tangan kanan memukul kepala dengan tipu Thai-san-ap-teng atau Gunung Besar
Menimpa Kepala sedangkan tangan kiri menggunakan gerakan Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman
Kuku Garuda yang menyerang ke arah lambung hwesio itu. Jangankan kedua serangan ini mengenai
sasaran, baru salah satu saja kalau mengenai sasaran dengan tepat, cukup membuat orang yang
diserang mati seketika.
Melihat serangan yang berbahaya dan disertai tenaga iweekang yang kuat ini, baik Un Kong Sian
maupun Lin Hwa yang berdiri di antara puluhan orang hwesio yang berada di sekitar tempat itu
Koleksi Kang Zusi
menonton, menjadi terkejut dan cemas sekali. Akan tetapi, Pek Seng Hwesio bahkan tersenyum dan
berkata,
“Lo-koai (setan tua), jangan kau celakakan dia !”
Hwesio muka hitam itu dengan tertawa geli lalu mengulurkan tangan ke arah cengkeraman lawannya,
sedangkan pukulan yang mengarah kepalanya yang gundul pelontos itu tidak dihiraukannya sama
sekali. Dua hal yang aneh sekali terjadi pada saat bersamaan. Ketika pukulan Can Kok tiba di kepala
yang licin itu, tiba-tiba kepalan tangannya meleset, seakan-akan kepala itu terbuat dari pada baja yang
dilumuri minyak, demikian keras dan licinnya. Sedangkan tangan Can Kok yang mencengkeram
lambung, begitu kena ditangkap, lalu hwesio itu berseru keras dan tahu-tahu tubuh Can Kok telah
dilempar ke atas dan jatuh bergedebukan di atas tanah, kira-kira tiga tombak jauhnya dari tempat itu.
Tentu saja hal ini mengejutkan para perwira itu, juga mendatangkan rasa terkejut dan heran pada kedua
orang muda yang menyamar menjadi hwesio. Sedangkan Can Kok yang biarpun tidak menderita luka
berat, hanya merasa pusing saja, menjadi marah dan malu. Dia tidak tahu ilmu apa yang membuat
kepala hwesio itu demikian keras dan licin dan tidak tahu pula gerak tipu apa yang digunakan oleh
hwesio itu untuk melemparkannya ke udara. Dengan mengeluarkan seruan keras, Can Kok lalu
menyambar tombak cagaknya yang dibawa oleh seorang pembantunya. Ia putar-putar tombak yang
telah memberi julukan si Tombak Dewa kepadanyaitu, sambil berkata, “Hendak kulihat apakah
kepalamu yang gundul itu cukup keras untuk menahan tombakku.” Lalu ia menyerang dengan
hebatnya.
Can Kok memang lihai sekali bermain tombak bercagak yang disebut kong-ce. Permainannya
berdasarkan ilmu tombak dari Butong-pai yang sudah banyak dirobah dan disesuaikan dengan keadaan
kong-ce itu dan ujung kong-ce itu mempunyai ujung tiga bergerak-gerak menjadi puluhan ketika ia
memutar-mutar dan menyerang dengan ganasnya ke arah hwesio muka hitam yang masih berdiri dan
tertawa ha, ha, hi, hi itu.
Ketika kong-ce itu menusuk ke arah perutnya yang gendut, hwesio itu tiba-tiba saja menarik perutnya
sehingga mengempis, bahkan seakan-akan perut itu pindah ke belakang tubuhnya hingga ujung kongce
tidak mengenai sasaran.Dipermainkan secara menghina ini, Can Kok lalu mengamuk hebat dan
tujuan semua serangannya ialah membunuh lawan ini.
Sekali lagi terdengar suara Pek Seng Hwesio, “Lo-koai, jangan kau celakai dia !”
“Tidak suhu, jangan kuatir. Untuk merobohkan cacing tanah ini, tak perlu membunuhnya,” jawab si
hweaio muka hitam sambil mengelak ke sana ke mari dengan cepatnya hingga diam-diam Un Kong
Sian kagum sekali melihat kehebatan ilmu ginkang ini. Gerak-gerik hwesio ini mengingatkan dia akan
seorang tosu sahabat baik suhunya yang dalam pengembaraannya seringkali mampir di Kunlun-san,
karena tosu itu pernah mendemonstrasikan ilmu silatnya atas permintaan suhunya untuk menambah
pengertian anak murid Kunlun-pai dan gerakan-gerakan serta kegesitan tosu itu hampir sama dengan
hwesio muka hitam ini.
Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Can Kok dengan kong-cenya, hanya diganda ketawa
sambil bergerak ke sana ke mari oleh hwesio itu. Setelah Can Kok menyerang lebih dari empat puluh
jurus dan mulai merasa pening karena dipermainkan, tiba-tiba hwesio itu berseru keras dan sekali ia
menangkap dan membetot, tubuh Can Kok terpelanting ke kiri dan roboh mencium tanah sedangkan
kong-ce itu telah pindah tangan. Sambil menjura dengan penuh hormat, hwesio muka hitam itu lalu
menyerahkan kong-ce tadi kepada Pek seng Hwesio yang menerima sambil memuji, “Bagus, lo-koai!”
Can Kok merayap bangun dan semua anak buahnya yang berjumlah seluruhnya dua puluh tiga orang
itu, dengan senjata di tangan segera maju dan hendak menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba mereka
mendengar suara senjata di belakang mereka dan ketika mereka menengok, ternyata lebih dari empat
puluh orang hwesio telah berbaris rapi dengan senjata golok besar di tangan dan sikap mereka yang
tenang itu mendirikan bulu tengkuk para anak buah Can Kok.
“Cuwi, janganlah menggunakan kekerasan !” kata Pek Seng Hwesio dengan suara tenang akan tetapi
berpengaruh. “Apakah salah kami maka cuwi hendak memusuhi kami ? Cuwi sedang bertugas mencari
dua orang buruan, akan tetapi buruan tidak tertangkap bahkan sebaliknya mengotori tempat suci. Kalau
hal ini terdengar oleh kaisar, bukankah cuwi akan mengalami hal yang tidak enak sekali ? Ciangkun,
terimalah kembali senjatamu ini dan bawalah kawan-kawanmu pergi dari sini !”
Sambil berkata demikian, Pek Seng Hwesio menyerahkan kembali kong-ce itu kepada Can Kok dan
ketika ia menyerahkan senjata itu ia angsurkan gagangnya kepada Can-ciangkun sedangkan ia sendiri
memegang ujung kong-ce yang runcing. Terpaksa Can Kok menerima senjatanya dan tanpa banyak
cakaplagi ia lalu memimpin anak buahnya keluar dari kuil Thian-lok-si yang besar itu. Ketika ia telah tiba
di luar dusun, barulah dengan terkejut sekali ia melihat betapa ketiga ujung kong-cenya yang tajam itu
telah patah-patah semua. Ia teringat bahwa tadi ketika memberikan senjata ini, kepala hwesio yang alim
dan lemah lembut itu memegang ujung kong-ce, maka mengingat betapa hebatnya tenaga hwesio tua
yang baru memegang saja sudah dapat mematahkan ketiga ujung senjatanya yang kuat dan tajam,
maka dapat diukur betapa tinggi pula ilmu kepandaiannya. Diam-diam Can Kok merasa untung bahwa
hwesio-hwesio itu tidak bermaksud mencelakakannya, maka ia mengambil keputusan untuk berdiam
dan tidak menceritakan hal memalukan itu kepada orang lain.
Sementara itu, setelah para pengejar itu pergi jauh, serta merta Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa
menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Seng Hwesio.
Bukan main herannya pendeta tua ini melihat dua orang “hwesio” muda tiba-tiba berlutut di depannya,
bahkan “hwesio” yang seorang lagi menangis dengan suara wanita. Ia mengangguk maklum dan tahu
Koleksi Kang Zusi
bahwa inilah dua orang buruan yang dikejar-kejar oleh Can Kok dan anak buahnya.
“Siapa yang menolong mereka ini ?” tanya Pek Seng Hwesio sambil memandang ke arah semua
hwesio yang berdiri di situ dengan sikap tenang.
Hwesio tukang sapu yang tadi menolong mereka, lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di belakang
Kong Sian. “Teecu yang menolong mereka karena teecu tidak tega melihat keadaan toanio yang
sedang mengandung ini.”
Pek Seng Hwesio menghela napas panjang dan mengangguk-angguk ketika mendengar bahwa wanita
yang telah berubah menjadi hwesio gundul itu sedang mengandung.
“Suhu yang mulia, teecu berdua menyerahkan keselamatan jiwa raga di tangan suhu. Kalau suhu
menghendaki kami ditangkap dan dihukum mati, terserah, kami takkan melawan karena teecu berdua
maklum bahwa melawan suhu sekalian takkan ada gunanya,” kata Un Kong Sian.
“Hm, anak muda, kau berani dan tabah sekali. Siapakah kau dan siapa pula toanio ini ?” tanya Pek
Seng Hwesio.
“Teecu hanyalah seorang kawan atau saudara yang membela kawan ini, dan dia ini adalah isteri
suheng yang bernama Khu Tiong. Mungkin suhu pernah mendengar nama Khu Liok sastrawan tua itu,
Nah, dia ini adalah anak mantunya.”
Mendengar nama Khu Liok disebut oleh anak muda itu, wajah Pek Seng Hwesio nampak terkejut dan
sikapnya berubah sungguh-sungguh. Ia lalu mengajak masuk kedua orang muda itu ke ruang dalam
dan berkata,
“Pinceng sudah mendengar tentang sastrawan tua yang luar biasa itu dan pinceng sudah membaca
pula tulisannya yang berjudul TUHAN TELAH SALAH PILIH. Tadinya pinceng tidak sudi membaca
tulisan yang berjudul seperti itu, tidak tahunya ketika pinceng membacanya, isinya penuh dengan sifatsifat
prikemanusiaan dan keadilan yang membuat pinceng sampai mengeluarkan air mata karena
teraruh. Sastrawan she Khu itu benar-benar telah membuka mata dan melukiskan keadaan rakyat jelata
yang amat menderita dan secara menyindir menyatakan betapa dengan pengangkatan seorang kaisar
yang tidak tahu akan keadaan rakyatnya maka seakan-akan Thian telah salah pilih, yakni salah memilih
kaisar.”
Dengan penuh semangat dan bergembira, pendeta tua itu membicarakan isi tulisan Khu Liok sehingga
Un Kong Sian dan Lin Hwa merasa girang karena hal ini membuktikan bahwa tulisan orang tua itu
benar-benar meresap di kalangan rakyat sampai ke pendeta-pendetanya dan bahwa pendeta ini berada
di pihak mereka. Kemudian Pek Seng Hwesio lalu bertanya tentang pengalaman mereka. Ketika ia
mendengar betapa seluruh keluarga Khu dan Ma mengalami bencana hebat dan menemui maut secara
mengerikan, ia menyebut berulang-ulang,
“Omitohud ..... Kejam, sungguh kejam. Kalau begitu, jiwi harus segera mencari tempat yang aman. Bagi
kau, sicu, lebih mudah untuk menghindari diri dari ancaman mereka karena selain kau seorang pria,
juga kau memiliki ilmu silat yang cukup baik. Akan tetapi bagi toanio ini...........” Pek Seng Hwesio
memutar-mutar otaknya. Untuk menempatkan wanita muda ini di kuil Thian-lok-si adalah hal yang tidak
mungkin sama sekali oleh karena di sebuah kelenteng hwesio, mana bisa ditempatkan seorang wanita
muda yang cantik dan yang sedang hami pula ?
“Toanio telah mengandung tua, maka perlu sekali mendapat tempat yang tepat, hingga sewaktu-waktu
melahirkan, tidak mengalami kesukaran. Pinceng mempunyai seorang kenalan baik di Kwi-ciu, yakni
Lan-lan Nikouw yang mengepalai sebuah kuil wanita di kota itu. Lebih baik sicu ajak toanio ke Kwi-ciu
yang tak berapa jauh letaknya dari sini sambil membawa sepucuk surat dari pinceng, Lan-lan Nikouw
tentu akan suka menerima dan menolong toanio hingga sementara waktu dapat tinggal dan
bersembunyi di sana sampai saat melahirkan tiba. Adapun bagi sicusendiri, tentu saja tidak bisa tinggal
di sana dan pinceng rasa mudah bagi sicu untuk mencari tempat berlindung,” kata pula hwesio tua itu
kepada Un Kong Sian.
“Terima kasih banyak, suhu. Sekarang juga teecu hendak membawa soso ke sana. Bagi teecu sendiri
tidak ada bahaya sesuatu oleh karena menurut rasa teecu, para perwira itu tidak ada yang melihat
teecu hingga setelah teecu dapat mencarikan tempat aman bagi soso, teecu dapat kembali ke kota raja
dengan aman.”
Demikanlah, setelah keduanya menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada hwesio tukang sapu
yang telah menolong mereka, Kong Sian dan Lin Hwa segera meninggalkan kelenteng Thian-lok-si dan
menuju ke Kwi-ciu. Mereka masih menyamar sebagai dua orang hwesio yang melakukan perantauan.
Oleh karena pada waktu itu memang banyak terlihat hwesio-hwesio atau tokouw-tokouw dan tosu-tosu
melakukan perantauan, maka kedua orang hwesio muda yang tampan initidak banyak menarik
perhatian orang dan mereka dapat melakukan perjalanan dengan aman tanpa mendapat gangguan.
Bahkan para orang jahat dan perampok tidak mau mengganggu mereka, oleh karena selain mereka
segan mengganggu “orang-orang suci”, juga mereka tahu bahwa dalam saku baju hwesio yang lebar itu
takkan terdapat sesuatu yang berharga.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Kwi-ciu dan mudah saja mereka mencari kuil nikouw (pendeta
wanita penganut agama Buddha). Yang bernama Thian-an-tang. Kepala pendeta di situ yang bernama
Lan-lan Nikouw ternyata adalah seorang nikouw tua yang amat ramah tamah dan yang menerima
mereka dengan hati terharu setelah membaca surat pek Seng Hwesio dan mendengar pengalaman
mereka. Ia menyatakan kerelaan hatinya untuk menerima Lin Hwa dengan ucapan halus,
“Tentu saja toanio boleh tinggal di sini dan biarlah dia menyamar sebagai nikouw dan menanti kelahiran
bayinya di kelenteng kami.”
Koleksi Kang Zusi
Lin Hwa sambil berlutut menghaturkan terima kasih, sedangkan Kong Sian setelah berpamit dan
meninggalkan pesan agar Lin Hwa menjaga diri dengan hati-hati, lalu meninggalkan tempat itu dan
kembali ke kota raja.
Sebelum masuk ke kota raja, pemuda yang selalu berhati-hati ini terlebih dahulu mendengarkan beritaberita
tentang peristiwa hebat itu untuk mendengar kalau-kalau namanya disebut-sebut. Akan tetapi,
sebagaimana dugaannya, dengan hati lega ia mendapat kenyataan bahwa tak seorang pun di antara
para perwira ada yang mengenalnya hingga ia dapat masuk dengan aman di kota raja dan menuju ke
rumahnya.
Ibunya yang sudah amat mengkhawatirkan keadaan puteranya yang lama pergi tak kunjung pulang dan
yang sama sekali tidak mengabarkan ke mana perginya itu, menyambutnya dengan girang dan lega.
Kepada ibunya, Kong Sian menuturkan pengalamannya hingga orang tua inipun merasa amat terharu
dan kasihan mendengar tentang nasib kedua keluarga yang dikenalnya itu pula.
Pada hari itu juga, Kong Sian mengunjungi seorang perwira yang dikenalnya dan bertanya tentang
nasib kedua suhengnya. Ternyata bahwa kedua suhengnya itu telah tewas dan hal ini benar-benar
membuat hati pemuda ini sakit sekali. Akan tetapi, di depan perwira itu, ia tidak berani berkata apa-apa
dan kemudian ia pulang dengan hati dan pikirannya penuh mengenangkan keadaan lin Hwa Bagaimana
kalau nyonya yang kini telah menjadi janda itu mendengar akan nasib suaminya ? Ia merasa kasihan
sekali dan diam-diam Kong Sian merasa heran di dalam hatinya kini tumbuh semacam perasaan yang
aneh terhadap diri Lin Hwa. Seakan-akan ia ikut merasakan penderitaan nyonya muda itu dan diamdiam
ia merasa bahwa ia bertanggung jawab untuk mengurus dan memperhatikan nasib selanjutnya
dari Lin Hwa dan diam-diam ia mempunyai kesanggupan besar untuk membela dan melindungi nyonya
itu dengan taruhan jiwanya.
Nyonya Un yang selalu menguatirkan puteranya kalau-kalau sampai terlibat dalam urusan itu, lalu
mengambil keputusan untuk segera melangsungkan pernikaan Un Kong Sian yang sudah lama ditundatunda.
Ia berpendapat bahwa kalau sudah kawin, putera tunggalnya ini tentu akan menghentikan
kebiasaannya merantau. Maka, ketika Kong Sian tiba di rumah, ia disambut oleh ibunya dengan katakata
halus akan tetapi tegas,
“Kong Sian, aku akan mengirim utusan ke rumah keluarga Oey untuk menetapkan hari perkawinanmu.
Ku minta supaya kali ini kau tidak akan membandel lagi !”
“Ibu......!” bantah Kong Sian, akan tetapi ketika melihat betapa sinar mata ibunya membayangkan sesal
dan duka, ia tak berani melanjutkan bantahannya.
“Anakku, kau tahu bahwa ibumu telah tua dan mungkin takkan lama lagi hidup di dunia ini. Kau tahu
pula bahwa idam-idaman hati ibumu yang terutama ialah melihat kau menjadi pengantin dan kemudian
kalau usia masih panjang, dapat menyaksikan kelahiran cucuku dan dapat pula menimang-nimangnya.
Apakah kau begitu tega hati untuk mengecewakan dan mendukakan hati ibumu yang telah tua ini ?
Apakah dari anak tunggalku aku takkan mendapatkan kepuasan hati yang tak berapa berat
dilakukannya ini ?”
Un Kong sian menundukkan kepala dan aneh sekali, pada saat ia didesak supaya kawin dengan Oeysiocia,
puteri keluarga Oey yang kaya raya itu, pikirannya melayang ke kuil Thian-an-tang.
“Aku tidak berani membantah kehendakmu, ibu, hanya aku hendak menyatakan bahwa sebenarnya
hatiku belum ingin kawin.”
“Kong Sian, Kong Sian ..........apakah kau hendak menanti aku mati lebih dulu sebelum kawin ?” Sambil
berkata demikian, nyonya tua itu mulai menangis. Menghadapi senjata ampuh dari kaum wanita ini,
Kong Sian menyerah dan segera berlutut di depan ibunya.
“Baiklah, ibu, baiklah dan jangan ibu bersedih hati,” jawabnya dengan lemas.
Maka giranglah hati Un-hujin ini dan segera ia mengirim utusan dan menetapkan hari pernikahan
puteranya itu secepat mungkin. Semua persiapan pernikahan telah diadakan dan setiap hari nyonya tua
itu sibuk sekali, akan tetapi dalam kesibukkannya, sinar kegembiraan tak pernah meninggalkan wajah
nyonya tua ini sehingga diam-diam Un Kong Sian menghela napas dan tidak tega untuk
mengecewakanhati ibunya. Ia pernah melihat wajah tunangannya dan harus ia akui bahwa wajah
tunangannya itu cukup cantik menarik, akan tetapi entah mengapa, kini hati dan pikirannya penuh
dengan bayangan Lin Hwa yang ia anggap seorang wanita gagah yang bernasib malang dan patut
dikasihani.
Sebulan kemudian, perkawinan antara Un Kong Sian dan Oey Bi Nio dilangsungkan dengan meriah.
Gedung nyonya Un dihias indah dan ruang yang luas itu penuh dengan tamu-tamu yang terdiri dari
orang-orang hartawan dan berpangkat. Kong Sian nampak gagah dan cakap dalam pakaian pengantin
sedangkan Oey-siocia kelihatan cantik bagaikan bidadari dari kayangan.
Akan tetapi, benar-benar aneh, pada saat Kong Sian berlutut disamping isterinya untuk
bersembahyang, pikirannya tak dapat dipusatkan dan selalu melayang-layang ke tempat jauh, ke kuil
nikouw di mana Lin Hwa berada. Bahkan, pada malam harinya, ketika ia berada di kamar pengantin
dengan isterinya, ia seringkali melihat betapa wajah isterinya berubah menjadi wajah Lin Hwa yang
membuatnya melamun.
Un Kong Sian sama sekali tidak tahu dan juga tidak mengira bahwa pada saat itu, tepat di hari ia
menikah, pada malam harinya, Lin Hwa telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat di dalam kuil Thianan-
tang itu. Tangis bayi ini demikian nyaringnya hingga Lan-lan Nikouw mengangguk-anggukkan
kepalanya yang gundul dan berkata,
“Bagus, bagus ! Ia calon seorang Mulia”
Koleksi Kang Zusi
Dengan penuh kesabaran dan telaten sekali, para nikouw di kuil itu memelihara Lin Hwa dan bayinya
hingga biarpun ketika melahirkan menderita hebat oleh karena lelah dan sedih teringat kepada
suaminya, namun lambat laun hati Lin Hwa yang bersemangat gagah itu dapat menundukkan
kesedihannya dan apabila ia nelihat puteranya yang montok dan sehat itu, sinar kegembiraan terbayang
pada wajahnya yang cantik. Atas nasehat Lan-lan nikouw, anak yang diberi nama Cin Pau oleh ibunya
itu, diberi she (nama keturunan Ong, yakni she ibunya, oleh karena kalau diberi she Khu, khawatir
kalau-kalau akan menarik perhatian para perwira kerajaan. Maka, anak itu lalu bernama Ong Cin Pau
dan mendapat perawatan yang sangat open dan penuh kasih sayang dari ibunya dan para nikouw di
kuil Thian-an-tang. Setelah anak itu dapat berjalan, Lin Hwa mulai menggembleng tubuh puteranya
dengan menggosok ramuan obat kuat yang ia buat sendiri dengan maksud agar tubuh puteranya
menjadi sehat dan kuat dan kelak menjadi seorang yang gagah perkasa.
Bagian 04. Perkawinan Nestapa
Peristiwa yang terjadi pada keluarga Khu dan Ma itu, tidak saja mendatangkan malapetaka pada kedua
keluarga tersebut, akan tetapi juga mendatangkan malapetaka yang tak kalah hebatnya pada keluarga
Pangeran Gu Mo Tek dengan terbunuhnya Gu Mo Tek dan kedua orang puteranya, Gu Keng Siu dan
Gu Leng Siu, oleh amukan Khu Tiong dan Ma Gi.
Pada malam hari terjadinya pembunuhan itu, gegerlah seluruh keluarga pangeran itu. Nyonya pangeran
yang sudah tua menangis sampai jatuh pingsan beberapa kali, sedangkan isteri kedua orang muda ini
memeluki jenazah suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Mereka ini harus dikasihani oleh karena
sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu menahu tentang urusan yang mendatangkan malapetaka ini,
bahkan kematian Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu juga mengandung penasaran besar karena kedua
orang muda inipun tidak tahu akan pengkhianatan terhadap kedua orang sastrawan tua yang dilakukan
oleh ayah mereka.
Pada saat terjadinya pembunuhan ini, isteri Gu Keng Siu telah mempunyai seorang putera berusia lima
bulan, sedangkan isteri Gu Leng Siu mengandung muda, paling banyak empat bulan. Dapat
dibayangkan betapa hancur dan sedih hati mereka dan berbareng dengan kesedihan hebat ini, timbul
pula dendam yang mendalam dan besar di dalam hati mereka terhadap Khu Tiong dan Ma Gi. Kedua
nama ini mereka ingat baik-baik dan selama hidup takkan pernah mereka lupakan.
Beberapa bulan kemudian, isteri Gu leng Siu melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama
Gu Hwee Lian. Dan karena nyonya janda ini masih muda lagi cantik jelita, maka ketika datang pinangan
dari seorang komandan meliter berpangkat Touw-tong yang masih muda lagicakap dan gagah, ia
menerimanya lalu berpindah ke rumah gedung Touw-tong itu ke kota Lok-keng. Towtong ini bernama
Gan Hok dan ia memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, mewarisi ilmu kepandaian silat ayahnya
yang telah meninggal dunia. Gan Hok menerima anak tirinya dengan hati rela, karena iapun suka
melihat anak yang mungil dan mukanya mirip ibunya itu.
Adapun nyonya janda Keng Siu tidak mau kawin lagi, bahkan bersumpah hendak menjadi janda sampai
tiba saatnya menyusul suami ke alam baka dan bersumpah pula hendak menjagaputeranya yang
bernama Gu Liong itu agar kelak dapat membalaskan dendam hatinya. Nyonya janda Cu Keng Siu
tetap tinggal bersama ibu mertuanya di gedung nyonya pangeran ini, dan kadangkala ia mengunjungi
ibu Gu Hwee Lian yang kini menjadi nyonya Gan Hok itu. Mereka tetap mengadakan perhubungan
seperti biasa oleh karena biarpun yang seorang telah menjadi isteri orang lain, namun dendam hati
mereka masih sama hingga seakan-akan ada pertalian erat di antara mereka berdua, bahkan Gan Hok
telah berlaku baik sekali kepada nyonya janda Gu Keng Siu dan ketika diminta, ia suka menerima Gu
Liong menjadi muridnya, dan mengajarsilat kepadananak laki-laki ini bersama dengan anak tirinya,
yakni Hweee Lian.
Biarpun kedua orang perempuan yang mengandung dendam hati besar ini telah mendengar bahwa
kedua orang musuh mereka, yakni Khu Tiong dan Ma Gi, telah dapat ditewaskan oleh para perwira,
namun mereka tetap merasa kurang puas oleh karena kedua isteri musuh-musuh ini masih hidup dan
bahkan sedang mengandung tua sehingga rasa dendam mereka segera berpindah kepada isteri Khu
Tiong dan isteri Ma Gi beserta anak-anak mereka.
Demikian hebat rasa dendam yang sudah mengeram dan meracuni hati wanita, sehingga mereka tidak
puas sebelum melihat musuh mereka di tumpas habis sampai semua keluarga dan keturunannya.
Koleksi Kang Zusi
******
Nyonya janda Ma Gi yang tinggal di gedung Gak Song Ki akhirnya melahirkan seorang anak
perempuan yang diberi nama Ma Siauw Eng. Nama ini dipilih oleh Kwei Lan, nyonya janda itu, untuk
memperingati ayah mertuanya, Ma Eng, maka anaknya pun diberi sama dengan huruf “Eng” pula. Gak
Song Ki dan ibunya girang sekali dan suka melihat anak perempuan yang cantik dan mungil itu. Adapun
tentang nama, Gak Song Ki tidak menaruh keberatan karena ia amat sayang kepada Kwei Lan.
Mendapat pelayanan yang amat manis dan baik dari perwira muda yang tampan itu beserta ibunya, dan
melihat pula betapa Gak Song Ki selalu bersikap ramah tamah dan sopan santun, juga amat
mencintainya, maka setahun kemudian Kwei Lan tak dapat menolak dan menerima dengan hati tulus
pinangan perwira muda itu sehingga ia menjadi nyonya Gak Song Ki yang gagah. Orang tak dapat
menyalahkan nyonya janda ini karena ia mempunyai banyak alasan kuat untuk menerima pinangan Gak
Song Ki. Pertama-tama karena ia masih amat mudah, belum lebih dua puluh tahun hingga tentu saja
hatinya masih ingin sekali mempunyai rumah tangga yang bahagia. Kedua karena Gak Song Ki adalah
seorang perwira muda yang cukup tampan, sopan, dan gagah perkasa. Ketiga karena nyonya janda ini
merasa telah berhutang budi dan mengingat akan nasib puterinya. Kalau ia menjadi nyonya perwira ini,
tentu hidupnya akan terjamin dan dengan sendirinya ia tak usah kuatirkan nasib anaknya. Pula, dengan
menjadi isteri Gak Song Ki ia tak perlu kuatir lagi akan dikejar-kejar oleh kaisar dan jiwanya serta
keselamatan anaknya takkan terganggu pula.
Ternyata bahwa Gak Song Ki amat menyinta Kwei Lan hingga nyonya ini merasa beruntung sekali.
Terutama karena ia melihat betapa suaminya yang baru ini juga menaruh hati kasih sayang kepada
Siauw Eng yang jelas sekali kelihatan bahwa ia akan menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa
seperti ibunya. Gak Song Ki adalah seorang perwira yang kurang paham tentang ilmu sastera, akan
tetapi memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi hingga karena ia tidak dapat mengajarkan ilmu
kesusasteraan maka ia lalu melatih ilmu silat kepada Siauw Eng yang dianggap seperti anak sendiri itu.
Demikianlah, empat orang muda yang binasa sebagai akibat dari pada perbuatan ayah masing-masing,
yakni Khu Tiong, Magi, Gu Keng Siu, dan Gu leng Siu, meninggalkan keturunan masing-masing yang
hidup terpisahdan dalam keadaan yang berlainan pula, akan tetapi keempat keturunan itu semua
menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi semenjak kecil dan yang kelak akan menimbulkan cerita luar
biasa hebat dan ramainya.
Pada waktu itu, rakyat yang telah tertindas oleh kelaliman Kaisar beserta hulubalangnya dan para
pembesar yang korup, lebih menderita lagi ketika Tiongkok diserang musim kering yang hebat. Panen
menjadi rusak dan tak berhasil, namun tetap saja rakyat tani harus membayar pajak yang luar biasa
beratnya hingga seakan-akan mereka tercekik dari kanan kiri. Entah dosa apa yang telah diperbuat oleh
nenek moyang mereka hingga pada saat yang bersamaan, Tuhan dan Kaisar telah memperlihatkan
kekuasaan dan kemurkaan terhadap para petani miskin itu.
Keadaan yang amat sengsara ini telah sampai di puncaknya dan ibarat api telah bernyala-nyala.
Kemudian tersebarlah buku karangan Khu Liok dan Ma Eng yang berjudul TUHAN TELAH SALAH
PILIH itu yang merupakan kipas dan yang mendatangkan angin hingga api yang telah bernyalah di
dada para rakyat kecil itu makin berkobar hebat. Maka pecahlah pemberontakan kaum tani pada tahun
874 dipimpin oleh seorang patriot bernama Ong Sian Ci dan dimulai di Santhung, daerah yang
menderita karena musim kering. Pemberontakan menjalar luas sekali sehingga sebentar saja dimanamana
terjadi pemberontakan kaum tani yang menuntut perbaikan nasib. Ketika pemimpin
pemberontakshe Ong itu tewasdalam peperangan, ia digantikan oleh seorang patriot lain bernama Oey
Ciauw yang berhasil menggerakkan kaum tani dan rakyat kecil sampai mencapai barisan yang terdiri
dari setengah juta rakyat lebih.
Dan tentara rakyat ini menyerbu terus, menerjang segala penghalang, sepak terjang mereka
mengerihkan dan mengagumkan sekali, mati satu maju dua, roboh dua maju empat, terus menerus
jumlah mereka melipat gandahingga akhirnya kekuasaan Kaisar tang dapat ditumbangkan hingga
Kaisar yang lemah itu melarikan diri, mengungsi ke Secuan.
Un Kong Sian yang melihat semua ini, menghela napas dan menyesali sifat Kaisar yang kurang
bijaksana hingga terjadilah pemberontakan ini. Ia tidak mau ikut campur dan hanya tinggal di rumah
bersama isteri dan ibunya. Orang muda ini tidak mengalami kebahagiaan dalam rumah tangganya.
Memang ia harus akui bahwa isterinya adalah seorang wanita yang selain cantik, juga sangat setia dan
melayaninya dengan penuh perhatian. Akan tetapi, isterinya yang bernama Oey Bi Nio ini, terlalu
pendiam dan jarang sekali tersenyum. Segala apa yang dilakukan hanya terdorong oleh tugas dan wajib
semata-mata, tanpa disertai perasaan kasih sayang yang seharusnya diperlihatkan oleh seorang isteri.
Koleksi Kang Zusi
Kong Sian tak dapat mencela isterinya, karena memang dalam segala hal, Bi Nio berlaku baik dan
memenuhi kewajiban dan inilah yang mengesalkan hatinya. Bi Nio merupakan sebuah mesin yang baik
jalannya, atau seorang pelayan yang sempurna pekerjaannya, bukan merupakan seorang isteri yang
merupakan lawan bercinta dan bercekcok.
Tubuh Un Kong Sian makin kurus saja, karena ia jarang keluar pintu dan kesukaannya hanya duduk di
sebuah kursi dan melamun. Ibunya amat kuatir melihat keadaan puteranya ini dan sebagai seorang
wanita kuno, ia cukup puas melihat anak mantunya yang tahu kewajiban dan berbakti itu, sama sekali
tidak tahu tentang kekosongan hati puteranya akibat sikap pendiam dan penurut dari Bi Nio itu.
“Kong Sian, mengapa kau selalu melamun dan seperti orang yang berduka saja ?” pada suatu hari
nyonya tua ini bertanya dengan suara penuh kasih sayang. Apakah kau merasa tubuhmu kurang sehat
?”
Un Kong Sian menggelengkan kepalanyadan ibunya amat terharu ketika melihat betapa di antara
rambut anaknya yang hitam dan subur itu kini nampak beberapa helai rambut putih.
“Tidak ibu, aku tidak apa-apa. Hanya ......”
“Hanya apakah, anakku ? Apakah yang mengganggu pikiranmu ?”
Un Kong Sian tak dapat melanjutkan kata-katanya karena memang ia tidak tahu apakah yang
menyebabkan ia menjadi kesal dan seakan-akan bosan akan segala apa. Kemudian, tiba-tiba ia teringat
kepada Lin Hwa yang telah empat tahun tak dijumpainya itu, maka ia segera berkata,
“Aku hanya ingin sekali pergi merantau, ibu.”
Ibunya menghela napas. Nyonya ini merasa kecewa dan sedih sekali oleh karena setelah kawin empat
tahun lamanya, mantunya belum juga kelihatan mengandung, sedangkan ia telah amat rindu menanti
datangnya seorang cucu yang mungil.
“Kalau kau pikir bahwa hal itu akan mendatangkan kegembiraan bagimu, kau pergilah, nak. Akan tetapi,
jangan terlalu lama dan ingatlah bahwa ibumu yang sudah tua menanti di rumah.”
Un Kong Sian dengan girang lalu berlutut dan memeluk kaki ibunya yang mencucurkan air mata sambil
mencari-cari rambut putih di kepala puteranya itu untuk dicabut.
Setelah mengadakan persiapan dan berpamit kepada isteri dan ibunya, Un Kong Sian lalu pergi, mulai
dengan perjalanannya merantau. Ketika dia memberitahukan maksud dan kehendaknya kepada
isterinya, Bi Nio hanya menjawab sederhana,
“Baiklah, dan aku akan menjaga ibu dengan baik-baik. Kau tetapkan hatimu dan jangan kuatirkan kami.”
******
Setelah keluar dari rumah dan berada di alam bebas, Un Kong Sian merasa seakan-akan ia telah
merdeka terlepas dari kurungan, seperti seekor burung yang terlepas dan kini terbang ke angkasa
dengan bebas merdeka dan gembira. Ia merasa hidup kembali dari dunia lain yang menjemukan dan
mengesalkan hati.
Serbuan tentara petani ternyata mendatangkan perubahan hebat di dusun-dusun. Penderitaan
berkurang dan kemiskinan agak dapat di atasi, akan tetapi timbul pula gejala-gejala baru yang
sebenarnya telah tua yakni berlakunya hukum rimba. Memang, ketika mulai dengan pemberontakan,
semua petani bersatu padu merupakan kesatuan yang kokoh kuat, akan tetapi setelah pemberontakan
itu berhasil, mereka saling cakar seperti anjing berebut makanan. Tentu saja dalam perebutan ini, yang
kuat menang dan yang kalah tetap menderita.
Dengan demikian, maka penindasan masih belum terhapus sama sekali dari muka bumi Tiongkok,
hanya bertukar majikan saja. Kalau dulu yang menjadi “raja kecil” adalah hartawan terbesar atau
bangsawan tertinggi, kini mereka ini dapat diusir dan kedudukan mereka digantikan oleh orang yang
terkuat.
Koleksi Kang Zusi
Un Kong Sian langsung menuju ke Kwi-ciu untuk mendatangi kuil Thian-an-tang dan mencari Lin Hwa,
wanita yang selama ini belum pernah lenyap dari ingatannya.
Akan tetapi ketika ia tiba di kuil Thian-an-tang di Kwi-ciu itu, ia melihat bahwa perubahan besar telah
terjadi pula di kuil Thian-an-tang. Lan-lan Nikouw yang telah tua itu sudah meninggal dunia ketika terjadi
keributan dan penyerbuan barisan tani. Ketika terjadi keributan, maka para penjahat menggunakan
kesempatan itu untuk merajalela dan mengumbar nafsu jahatnya. Melihat bahwa di antara para nikouw
du kuil Thian-an-tang banyak terdapat nikouw muda yang berwajah lumayan, mereka lalu berani datang
mengganggu. Dan di antara para nikouw itu terdapat pula banyak wanita yang sebelum masuk menjadi
nikouw menuntut penghidupan tidak patut, bahkan ada pula beberapa orang wanita pelacur yang
katanya telah bertobat dan hendak menebus dosa lalu masuk menjadi pendeta perempuan. Mereka
inilah yang masih belum bersih betul batinnya dan tidak kuat menghadapi godaan sehingga diam-diam
mereka melakukan perhubungan rahasia dengan para penjahat itu. Hal ini diketahui oleh Lan-lan
Nikouw yang juga memiliki kepandaian ilmu silat cukup tinggi. Nilouw tua yang biasanya amat sabar
dan peramah itu, tak dapat menahan kemarahan hatinya. Dengan pedang ditangan ia lalu menghajar
penjahat-penjahat itu dan bersama dengan para nikouw yang berjalan sesat, ia lalu membunuh mereka
sehingga sebentar saja belasan orang menjadi mayat dan bergelimpangan di halaman belakang kuil
Thian-an-tang.
Biarpun dalam melakukan amukan ini, Lan-lan Nikouw tidak menderita luka, bahkan tidak banyak
mengeluarkan tenaga jasmani, namun rohaninya terluka hebat dan ia telah terlampau marah hingga
jantung dan paru-parunya terganggu hebat. Apalagi ia merasa amat menyesal telah melanggar
pantangan yang paling besar dari orang yang menyucikan batin, yakni ia telah membunuh sekian
banyak orang, maka ia lalu jatuh sakit dan penyakit batin ini membawanya ke lubang kubur.
Akan tetapi, amukan dan pembunuhan ini telah membikin takut dan kapok para nikouw, juga
mendatangkan kengerian di hati para penjahat, hingga hal yang memalukan nama baik kuil Thian-antang
itu tak pernah terulang lagi. Kedudukan Lan-lan Nikouw lalu diganti oleh seorang muridnya yang
bernama Bwee Lan Nikouw.
Ketika peristiwa itu terjadi, belum lama Lin Hwa meninggalkan kuil itu untuk pergi mencari bahan-bahan
obat di gunung-gunung dan meninggalkan puteranya dalam rawatan para nikouw. Ketika ia pulang dan
mendengar tentang hal itu, bukan main sedih dan menyesalnya, maka ia lalu membawa Cin Pau pergi
dari situ. Kepada para nikouw yang bertanya kemana ia hendak pergi, ia hanya memberitahukan bahwa
ia hendak pergi merantau, mencarikan guru silat yang pandai untuk puteranya.
Hanya sekian saja keterangan yang bisa didapat oleh Kong Sian, maka dengan hati berat ia
meninggalkan kelenteng Thian-an-tang untuk melanjutkan perjalanannya. Ia ingin sekali bertemu
dengan Lin Hwa, akan tetapi oleh karena ia tidak tahu ke mana perginya ibu dan anak itu, ia lalu menuju
ke Kunlun-san untuk menjumpai suhunya, yakni Beng Hong Tosu, tokoh Kunlun-san, seorang tosu
(pendeta pemeluk agama To) yang tinggi ilmu silatnya. Perjalanan ke Kunlun-san bukanlah perjalanan
mudah, karena pegunungan Kunlun terletak jauh di barat dan melalui tempat yang berbahaya serta
sukar ditempuh. Akan tetapi oleh karena memang maksudnya hendak merantau, Kong Sian lalu
melanjutkan perjalanannya menuju ke barat.
Pada suatu hari, ia tiba di sebuah kota yang ramai. Kota ini adalah kota Li-kiang yang tersohor karena
kerajinan tangan berupa guci-guci arak berkembang yang dibuat oleh penduduk di situ. Oleh karena
sudah seringkali melihat guci-guci arak itu mengagumi keindahannya, maka Kong Sian lalu mencari
sebuah kamar di hotel dan mengambil keputusan untuk berdiam di hotel itu beberapa hari lamanya dan
mencari tempat pembuatan guci untuk menyakskan pembuatannya.
Ia mendapat keterangan dari pelayan bahwa tukang pembuat guci yang besar di kota itu adalah
seorang she Li yang tinggal di ujung selatan jalan besar, maka ia lalu menuju ke rumah orang she Li itu.
Benar saja, di depan rumah yang cukup besar ituia melihat tumpukan guci-guci yang sedang dijemur
dan guci-guci itu berkembang indah sekali.
Ia melihat-lihat guci yang dijemur itu karena di situ tidak ada orang, memperhatikan bentuk dan
lukisannya. Mungkin sudah menjadi tabiat setiap orang, apabila melihat guci kosong, selalu tentu
menggunakan jari tangan untuk mengetuk-ngetuknya hingga guci itu memperdengarkan suara
berkentung, dan Kong Sian pun tidak terkecuali. Ia mengetuk-ngetuk guci-guci itu dan mendekatkan
mukanya untuk melihat gambar-gambar itu lebih jelas lagi. Banyak sekali terdapat lukisan-lukisan indah
di tubuh guci itu, ada lukisan naga, bunga-bunga, pemandangan alam dan sebagainya.
Koleksi Kang Zusi
Pada saat ia mengagumi guci-guci itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Hm, tidak tahu
malu ! Menyelidik pekerjaan lain orang. Pergunakan otak sendiri dan jangan hanya menjiplak buatan
orang lain saja.”
Un Kong Sian terkejut dan heran sekali ketika ia berpaling dan mendapat kenyataan bahwa dialah yang
dibentak itu. Yang membentaknya adalah seorang laki-laki setengah tua yang berdiri di ambang pintu
rumah dan tangan kanannya memegang sebuah guci arak yang besar sekali. Dan sebelum Kong Sian
sempat membuka mulut untuk memberi keterangan yang sebetulnya, tahu-tahu orang itu mengangkat
tangan yang memegang guci itu ke atas dan melemparkan guci besar itu ke arah kepalanya. Guci itu
besar dan berat sekali, dan juga keras karena sudah mengering dan siap untuk digambari, maka ketika
dilempar ke arah kepalanya, tenaga luncuran itu kuat sekali hingga kepala orang yang tertimpanya
mungkin akan menjadi remuk.
Kong Sian menjadi terkejut, akan tetapi dengan sikap tenang anak murid Kunlun-san ini lalu
mengangkat kedua tangan dan menyambut guci yang melayang ke arah kepalanya itu. Ia merasa
betapa tenaga tenaga lempar orang itu besar sekali, hingga baiknya ia menyambuti dengan kedua
tangan, kalau ia memandang rendah dan menyambut dengan satu tangan saja, mungkin ia akan kena
timpa.
Ketika Un Kong Sian meletakkan guci itu ke atas tanah dengan hati-hati dan siap hendak memberi
keterangan, tiba-tiba orang itu melemparkan guci lain lagi dan kini guci yang sama besar dan beratnya
itu meluncur ke arah dadanya dengan cepat sekali seakan-akan sebuah pelor besi kecil. Kali ini benarbenar
Un Kong Sian terkejut dan ia maklum bahwa ia takkan dapat menyambut guci ini seperti tadi,
maka untuk menjaga diri, ia lalu memukul guci yang melayang itu dengan gerak tipu Hek-Houw-to-sim
atau Harimau hitam menyambar hati. Terdengar suara “brak” dan guci itu pecah bela terkena pukulan
Kong Sian yang keras.
“Bagus ! Mereka telah mengirim orang yang memiliki kepandaian,” seru orang setengah tua itu dan
bagaikan seekor harimau yang ganas, ia lalu melompat dan menerkam Kong Sian dengan sebuah
serangan kilat.
Kong Sian cepat mengelak ke samping dan berseru, ”Hei tahan dulu!” Akan tetapi tikang guci yang
berwatak berangasan itu tidak memperdulikannya, bahkan lalu menyerang dengan ilmu silat Lo-han
Kun-wat atau ilmu silat pendekar tua, semacam ilmu pukulan yang lihai dari cabang Siauwlim.
Kong Sian menjadi penasaran juga dan karena maklum bahwa orang kasar ini selain bertenaga besar
juga memiliki ilmu silat yang lihai, maka ia lalu melayani dengan hati-hati dan membalas dengan
serangan yang tidak kalah hebatnya. Ternyata bahwa pemuda ini lebih unggul tingkatnya dalam hal
ginkang atau ilmu meringankan tubuh. Gerakannya lebih gesit dan cepat dan ini merupakan keuntungan
besar baginya. Dengan perlahan akan tetapi tentu, ia mulai mendesak lawannya. Kalau Kong Sian
menghendaki, tentu ia akan dapat merobohkan lawannya dengan serangan-serangan maut, akan tetapi
oleh karena ia tidak mempunyai permusuhan dengan orang ini, maka ia hanya berusaha untuk
menjatuhkan saja tanpa melukai berat. Akan tetapi, hal ini bukanlah mudah, karena lawannya juga
mengeluarkan segala tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkannya.
Tiba-tiba muncul seorang kakek diambang pintu itu dan ia berseru,
“A Lung mundurlah!”
Bentakan ini berpengaruh sekali dan orang yang berangasan tadi lalu mencelat mundur. Juga lalu Kong
Sian lalu membungkuk dan menjura sebagai tanda menghormat sambil berkata,
“Maafkanlah siauwte yang dapat mengganggu, sebetulnya bukan maksud siauwte untuk menerbitkan
keonaran.”
Kakek itu menatap wajahnya dengan tajam lalu berkata perlahan.
“Kau anak murid Kunlun mengapa mencampuri orang lain ?”
Kong Sian terkejut karena ternyata bahwa baru melihat gerakannya sebentar saja kakek itu telah dapat
mengetahui bahwa ia adalah anak murid Kunlun-pai. Maka karena maklum bahwa ia sedang
berhadapan dengan seorang berilmu tinggi, ia lalu menjura lagi dan berkata,
Koleksi Kang Zusi
“Locianpwe harap banyak memaafkan siauwte yang muda. Sebenarnya siauwte sama sekali tidak tahu
apa yang locianpwe maksudkan dan sampai sekarang siauwte masih merasa penasaran dan heran
mengapa datang-datang siauwte diserang oleh twako (kakak) ini ?”
“A Lung, yakinkah kau bahwa ia seorang dari mereka ?” tanya kakek itu kepada lawan Kong Sian tadi.
Orang setengah tua yang bernama A Lung itu lalu menuturkan dengan suaranya yang kasar, “Orang ini
datang-datang tanpa permisi memeriksa guci-guci kita, apalagi maksudnya kalau bukan hendak
menyelidiki ?”
Tiba-tiba Kong Sian tertawa bergelak hingga tidak saja A Lung menjadi heran, akan tetapi kakek itu
sendiri pun melengak.
“Locianpwe, ternyata sahabat ini telah salah sangka. Ketahuilah, siauwte adalah orang yang datang dari
tempat jauh dan kebetulan saja siauwte berhenti di kota ini karena telah lama ingin sekali menyaksikan
sendiri pembuatan guci-guci yang telah lama siauwte kagumi keindahannya. Pelayan hotel memberi
tahu bahwa di sinilah tempat pembuatan guci yang paling besar, maka siauwte lalu menuju ke sini.
Ketika siauwte melihat tumpukan guci ini dan tidak melihat seorang pun yang menjaganya, maka
siauwte lalu melihat-lihat dan mengagumi keindahan guci-guci ini. Tiba-tiba saja siauwte lalu diserang
oleh sahabat ini. Harap locianpwe suaka memberi maaf .”
Air muka yang tadinya keruh dari kakek itu lalu menjadi terang dan ia menegur A Lung, “ A Lung, lain
kali jangan kau terlalu sembrono !” A Lung yang ditegur lalu menjura kepada Kong Sian dan mulutnya
bergerak meminta maaf, kemudian ia kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kakek itu dengan ramah tamah lalu mempersilakan Kong Sian masuk dan duduk di dalam rumah. Kong
Sian yang ingin sekali melihat cara pembuatan guci-guci itu, lalu mengikuti kakek itu ke dalam di mana
ia melihat betapa guci-guci itu dibuat oleh beberapa orang laki-laki dan wanita. Ia merasa heran sekali
karena ternyata menurut keterangan kakek itu bahwa semua pekerja adalah keluarga sendiri dan
seorangpun tidak ada orang dari luar.
Kong Sian menyatakan keheranannya dan juga bertanya tentang sikap mereka yang aneh tadi. Kakek
itu menarik napas panjang, dan mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk, ia lalu berkata,
Keluarga kami she Li semenjak beberapa keturunan telah membuat guci-guci arak, dan demikian pula
beberapa banyak keluarga lain di kota Li-kiang ini. Di anatara pembuat-pembuat guci yang terbesar dan
paling terkenal adalah keluarga kami dan keluarga she Tan di ujung utara kota ini. Mereka juga
pembuat-pembuat guci yang pandai. Akan tetapi di antara keluarga she Tan dan keluarga kami
timbullah persaingan hebat yang terjadi semenjak kakekku masih hidup.”
“Apakah yang menimbulkan persaingan itu ? Apakah penjualan guci di satu pihak ada yang tidak laku ?”
tanya Kong Sian.
“Bukan demikian soalnya, sebenarnya hanya soal keangkuhan dan saling tidak mau mengalah. Guciguci
keluaran Li-kiang tidak ada yang tidak laku, bahkan pembuat-pembuat guci yang kurang pandaipun
tak pernah mengeluh karena dagangannya tidak laku. Apa yang di sini dianggap kurang baik, di daerah
lain sudah menjadikan orang-orang kagum. Mungkin sekali pihak she Tan itu merasa iri hati oleh karena
mereka kalah dalam hal memberi lukisan pada guci-guci. Di sana tidak ada orang yang ahli dan pandai
betul melukis sepeti yang ada pada kami. Inilah agaknya yang membuat mereka menjadi penasaran
sekali dan mengambil sikap bermusuh dengan kami. Bahkan seringkali terjadi perkelahian oleh karena
saling merasa panasdan saling menganggap guci masing-masing lebih bagus.
Kong Sian merasa heran sekali, “Locianpwe, kau orang tua bukanlah orang sembaranganan dan
memiliki ilmu kepandaian tinggi, apakah mungkin locianpwe masih mempunyai darah panas yang
membuat kedua pihak saling bermusuhan hanya karena urusan kecil saja ?”
“Anak muda, kau tidak tahu. Permusuhan yang memanaskan otak dan hati bukanlah tergantung dari
pada sebab-sebab permusuhan itu timbul. Kalau rasa amarah sudah naik di kepala dan rasa dendam
dan benci sudah membuat mata menjadi gelap, orang tidak mengingat lagi akan segala sebab-sebab
permusuhan terjadi. Kami hanya mempertahankan nama dan menjaga kehormatan keluarga kami
belaka. Soal kehormatan memang soal yang penting dan yang sudah selayaknya dibela dengan
berkorban apapun juga.”
Koleksi Kang Zusi
Kong Sian amat tertarik mendengar urusan permusuhan antara tukang pembuat guci ini. Ia merasa
ragu-ragu dan penasaran karena hanya mendengar keterangan di satu pihak, maka ia lalu berpamit dan
langsung mengunjungi keluarga Tan di sebelah utara yang juga membuat guci arak.
Seperti halnya dengan rumah keluarga Li, di depan rumah keluarga Tan banyak bertumpuk guci-guci
arak yang dijemur. Ketika Kong Sian memperhatikan, benar saja bahwa lukisan guci itu tidak seindah
lukisan di guci buatan keluarga Li. Akan tetapi, buatan keluarga she Tan ini lebih halus dan ukiranukiran
di pinggir guci lebih indah. Hingga kekalahan lukisan itu dapat tertutup oleh keindahan ukiran
yang lebih tinggi mutunya dari pada ukiran guci buatan keluarga Li. Kalau ia menjadi pembeli, tentu ia
bingung untuk memilih, mana yang lebih indah menarik di antara buatan kedua keluarga itu. Yang satu
lebih indah ukirannya, yang lain lebih menarik gambarnya.
“Kongcu, apakah kau hendak membeli guci ?” tanya seorang wanita setengah tua ketika melihat ia
memperhatikan guci-guci yang sedang dijemur itu.
Kong Sian cepat memberi hormat karena ia sudah kapok dengan pengalaman di rumah keluarga Li
yang datang-datang menyerang tadi.
“Tidak, aku hanya hendak melihat-lihat saja. Guci-guci di sini lebih indah ukirannya dari pada guci-guci
buatan keluarga Li di selatan itu,” katanya memancing sambil menatap wajah wanita itu.
Tiba-tiba wanita itu berseri mukanya mendengar ini. “Memang ! Mana bisa keluarga Li yang sombong
itu melawan guci buatan kami ? Semua mata yang awas dapat membedakan mana barang buruk dan
mana yang lebih baik. Guci buatan kami memang jauh lebih dari pada buatan mereka.”
Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seekor anjing besar yang berlari sambil menggonggong dan
menyerbu ke arah Kong Sian. Pemuda ini tidak menjadi gugup dan dengan dorongan tangan kiri ia
berhasil melemparkan anjing itu ke samping sambil berseru,
“Jangan sembarangan menggigit orang !”
“Bagus !” kata wanita itu dan segera membentak anjingnya yang lari ke dalam rumah kembali sambil
menyembunyikan ekor di bawah perut. “Kau lihai juga, kongcu,” katanya, kemudian seperti yang tidak
memperdulikan lagi kepada Kong Sian, ia lalu mengambil guci yang bertumpuk-tumpuk di situ lalu
melempar-lemparkan ke atas dengan ringan sekali. Tangannya bekerja cepat dan sebentar saja tujuh
buah guci yang tadi bertumpuk, telah dilemparkan dan melayang-layang di udara. Ketika guci pertama
melayang turun, lalu disambut oleh wanita itu dan dilemparkannya kembali ke atas, demikianpun
dengan guci kedua dan seterusnya. Guci-guci itu berterbangan di udara bagaikan burung-burung besar
dan lemparan wanita itu demikian tepat hingga guci-guci itu tidak saling beradu di tengah udara.
Diam-diam Kong Sian merasa kagum sekali. Ia maklum bahwa untuk dapat memainkan guci-guci itu
sedemikian rupa, orang harus berlatih puluhan tahun dan juga harus memiliki tenaga iweekang yang
besar, karena guci itu berat dan besar.
Setelah melemparkan setiap buah guci tiga kali ke atas, wanita itu lalu menaruh guci-guci itu perlahanlahan
di atas tanah dan ditumpuknya kembali seperti tadi sambil berkata,
“Kalau begini guci-guci ini lekas kering.”
“Pehbo, kau hebat sekali !” Kong sian memuji dan diam-diam ia kagum sekali. Kota Li-kiang ini memang
luar biasa sekali. Baru tukang-tukang pembuat gucinya saja sudah lihai sekali.
“Anak muda, sebenarnya apakah kehendakmu datang ke sini ? Kalau orang datang ke sini tanpa
maksud membeli guci, ia hanya mempunyai semacam maksud yang buruk.”
“Misalnya, menjadi penyelidik dari keluarga Li ?” kata Kong Sian menyindir.
“Mungkin ! Akan tetapi, mengapa kau tahu tentang hal itu ? Kau siapakah ?”
Kong Sian lalu mengaku bahwa ia adalah seorang perantau yang kebetulan lewat saja dan bahwa ia
tadi telah mengunjungi keluarga Li dan mengalami peristiwa yang tidak enak sekali.
“Memang, memang mereka itu musuh-musuh kami. Mereka itu orang-orang busuk yang merasa iri hati
melihat bahwa guci buatan kami lebih baik.”
Koleksi Kang Zusi
“Akan tetapi, apakah lukisan-lukisan di sini juga lebih baik dari pada buatan mereka ?” Kong sian
bertanya dan tiba-tiba wajah wanita itu menjadi muram.
“Memang lukisan mereka lebih baik sedikit, akan tetapi ukiran kami lebih sempurna . Orang membeli
guci melihat ukirannya bukan melihat lukisannya.”
Biarpun di dalam hati Kong Sian hendak menjawab bahwa kalau ia membeli guci, ia akan
memperhatikan kedua-duanya, akan tetapi mulutnya tak menyatakan sesuatu dan ia lalu berpamit dan
kembali ke hotelnya, ia merasa heran sekali melihat orang-orang yang aneh akan tetapi berkepandaian
tinggi itu.
Pada senja hari itu, ketika Kong Sian baru saja kembali dari berjalan-jalan di dalam kota, ia mendengar
ribut-ribut dan ketika bertanya kepada pelayan, ia mendengar bahwa telah terjadi pertempuran lagi
antara keluarga Li dan keluarga Tan.
Kong Sian cepat berlari keluar dan menuju ke tempat pertempuran, yakni di rumah keluarga Li. Wanita
she Tan yang kosen tadi telah datang membawa empat orang kawannya dan di depan rumah itu terjadi
pertempuran –pertempuran sengit. Kakek yang kosen dari keluarga Li bertempur melawan wanita she
Tan, keadaan merekalah yang paling hebat karena keduanya berilmu silat tinggi. Yang lain-lain main
gebuk dan hantam hingga banyak guci yang berada di luar itu roboh dan pecah-pecah.
“Tahan, tahan !” Kong Sian berseru keras dan melompat ke tengah medan pertempuran. Melihat
datangnya pemuda yang bergerak cepat ini, kedua pihak berdiri dan menghentikan pertempuran
dengan mata merah karena marah.
“Kau !” tegur kakek she Li, “Mau apa kau anak murid Kunlun-san datang menahan kami ?”
“Maaf, cuwi sekalian,” kata Kong Sian sambil menjura. “Kedatangan siauwte ini tak lain hanya hendak
mencegah terjadinya pertempuran ini lebih lanjut.”
“Pergi kau ! Siapa sudi mendengar omongan orang luar seperti kau ?” bentak nyonya she Tan itu
dengan galaknya.
“Benar, kau pergilah !” kata kakek she Li, “atau, terpaksa kami akan melemparmu keluar !”
Tiba-tiba Kong Sian tertawa geli dan suara tawanya yang bergelak ini mengherankan semua orang.
“Aneh, aneh ! Cuwi sekalian ini agaknya cocok dalam satu hal akan tetapi bertentangan dalam lain hal
pula !”
“Apa maksudmu ?” tanya kakek Li
Kong Sian lalu menghadapi dua orang pemimpin keluarga itu dan setelah menjura lagi lalu berkata,
“Jiwi, dengarlah baik-baik. Ketika jiwi menghadapi siauwte, jiwi mempunyai anggapan dan pikiran yang
sama, yakni keduanya menghendaki aku keluar dan tidak ikut campur. Ini namanya cocok dan akur
atau sama pendapat. Mengapa jiwi tidak mau mempergunakan kecocokkan ini untuk membereskan
perselisihan dan permusuhan dengan jalan damai pula ? Mengapa jiwi tidak mau tanam saja
permusuhan ini dan bekerja dengan tekun dan tidak saling mengganggu ?”
“Tak mungkin !” kata kakek Li
“Tak sudi !” jawab nyonya Tan.
“Maaf, jiwi ! Jiwi adalah orang-orang gagah dan pandai. Orang yang berani mengalah dan mengakui
kesalahan barulah patut disebut orang pandai. Permusuhan jiwi hanya disebabkan oleh persaingan
dalam pembuatan guci-guci ini. Semua orang telah tahu bahwa guci buatan keluarga Li lebih menang
dalam lukisan, akan tetapi kalah dalam ukiran, sebaliknya guci keluaran keluarga Tan kalah dalam hal
lukisan dan menang dalam ukiran. Alangkah baiknya kalau kalian semua berani mengakui kesalahan
dan berani melihat kekurangan sendiri, lalu berdamai dan saling bekerja sama, saling tolong. Kalau
keluarga Li dapat memberikan kepandaian melukisnya kepada keluarga Tan, sebaliknya keluarga Tan
juga suka mengajarkan ilmu ukir kepada keluarga Li, bukankah nanti guci-guci keluaran kedua keluarga
akan menjadi benda-benda yang amat indah dan tiada cacad celahnya ? Dan bukankah hal ini
merupakan kebanggaan kota Li-kiang dan sekalian penduduknya.”
Koleksi Kang Zusi
“Benar, benar. Tepat sekali !” terdengar seruan keras yang serempak keluar dari banyak mulut, dan
ketika Kong Sian menengok, ternyata tempat itu telah penuh dengan orang-orang yang datang
menonton.
Kedua pemimpin keluarga itu termenung dan saling pandang. Akhirnya kakek she Li itu menjura kepada
nyonya Tan dan berkata,
“Kata-kata anak muda ini tepat juga. Maukah kau memikir-mikirkan hal ini ?”
Nyonya Tan mengangguk dan kemudian ia lalu mengajak keluarganya meninggalkan tempat itu dengan
aman. Sementara itu, Kong Sian sudah menyelinap pergi di antara penonton karena ia tidak mau
dijadikan perhatian orang. Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia telah melanjutkan perjalanannya.
Ia tidak tahu bahwa ucapannya itu benar-benar berhasil baik dan kedua keluarga yang bermusuhan itu
kini telah berbaik kembali, bahkan tak lama kemudian seorang putera keluarga Tan dijodohkan dengan
seorang puteri keluarga Li.
Bagian 05. Setitik Embun Pengobat Jiwa.
Setelah meninggalkan kota Li-kiang, Un Kong sian cepat melanjutkan perjalanannya menuju ke barat.
Pada malam hari, ia bermalam di dusun-dusun, bahkan kadang-kadang di dalam hutan kalau kebetulan
ia berada di hutan yang luas pada waktu malam hari tiba.
Demikian, tak terasa pula beberapa pekan telah lewat dan ia makin dekat dengan daerah pegunungan
Kunlun-san. Makin ke barat, makin banyaklah hutan dan makin jarang dusun, hingga pada suatu
malam, ia terpaksa bermalam di sebuah hutan yang liar. Seperti biasa, ia naik ke sebatang pohon besar
untuk bermalam.
Ketika ia sedang enak-enak melonjorkan kaki melepas lelah, tiba-tiba ia mendengar suara orang
bercakap-cakap. Pada malam hari itu, bulan bersinar penuh hingga ia dapat melihat bayangan lima
orang laki-laki berjalan perlahan sambil bercakap-cakap.
Kong Sian tertarik hatinya dan menduga bahwa mereka ini kalau bukan pedagang-pedagang keliling,
tentulah perampok-perampok. Maka diam-diam ia melompat ke cabang yang lebih rendah dan
mendengarkan percakapan mereka.
“Tapi dia itu lihai sekali. Kemaren dulu, aku dan sam-te hampir saja celaka dalam tangannya. Ilmu
pedangnya benar-benar tinggi dan sukar dilawan,” kata seorang di antara mereka.
“Ah, sampai dimana lihainya seorang wanita ?” mencela yang lain dengan suara menghina. “Dulu kau
hanya berdua, akan tetapi sekarang kita berlima. Apa yang harus ditakutkan ?”
“Betapapun juga, kita harus cerdik dan hati-hati !” kata orang ketiga yang lebih tenang bicaranya.
“Baiknya diatur begini saja. Kalian berempat besok pagi-pagi menyerangnya dengan tiba-tiba dan aku
akan menangkap anaknya. Kalau anaknya sudah kutawan, tentu ia akan menyerah kepada kita demi
keselamatan anaknya. Bukankah ini sebuah akal yang cerdik ?”
“Ha, ha, ha... Memang twako banyak sekali akalnya. Bagus, bagus. Kau memang berhak mendapatkan
dia lebih dulu.”
Terdengar mereka tertawa menjemukan dan mendengar ini, bukan main marahnya hati Kong Sian
karena ia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah golongan orang-orang ceriwis dan jahat yang suka
mengganggu anak bini orang. Maka ia lalu melompat turun di belakang mereka dan mengikuti mereka.
Ternyata bahwa ke lima orang ini menuju ke sebuah kelenteng rusak yang berada di dalam hutan itu
untuk bermalam di situ. Kong Sian juga bermalam di atas pohon dekat kelenteng tua itu, menanti
datangnya fajar.
Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali kelima orang laki-laki itu keluar dari kelenteng dan ternyata
oleh Kong Sian bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bersifat kasar dan usia mereka rata-rata
Koleksi Kang Zusi
tiga puluh tahun. Dari gerak-gerik mereka, dapat diduga bahwa mereka ini memang penjahat-penjahat
yang suka mengganggu orang, yakni orang-orang gelandangan yang tidak mempunyai keluarga dan
pekerjaan tetap, yang hidup mengandalkan bantuan kawan-kawan dan suka berkelahi dengan
keroyokan.
Mereka menuju ke sebelah dalam hutan dan Kong Sian diam-diam mengikuti mereka. Tak lama
kemudian, Kong Sian melihat sebuah tempat terbuka dalam hutan itu. Dan aneh sekali, pada pagi hari
itu, di sebelah belakang rumah terdengar suara wanita bernyanyi. Merdu juga suara itu dan yang
membuat Kong Sian heran adalah tempat yang sunyi itu. Di situ bukan dusun atau kampung, akan
tetapi mengapa di tempat sesunyi ini ada seorang wanita yang tinggal di dalam gubuk sederhana itu
dan mendengar suaranya yang pagi-pagi sudah menyanyi itu agaknya hidup tentram dan damai ?
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil berseru memanggil ibunya. Lima orang itu, yang telah terlihat oleh
anak kecil tadi, segera berlari ke arah rumah dan Kong Sian juga bergerak cepat sambil mengintai.
Empat orang penjahat lari ke belakang dan segera mereka mengurung seorang wanita muda yang
melawan serangan mereka dengan sepotong kayu di tangan. Agaknya wanita itu tidak mendapat
kesempatan untuk mengambil pedang dan terpaksa menghadapi empat orang pengeroyoknya dengan
sepotong kayu yang dimainkannya dengan kuat dan hebat sekali hingga empat orang pengeroyok yang
bersenjata pedang dan golok itu tak dapat mendekatinya.
Sementara itu, seorang penjahat yang mengatur siasat malam tadi masuk ke dalam rumah melalui pintu
depan hingga tak terlihat oleh wanita muda itu. Kong Sian maklum akan maksudnya, yakni menculik
anak kecil yang berseru tadi, maka dengan cepat ia lalu melompat ke arah orang itu. Sekali tangannya
bergerak, orang itu telah kena ditamparnya di bagian pundak hingga orang itu mengaduh lalu roboh
terguling. Ketika ia bangun berdiri dan melihat seorang pemuda kurus tampak berdiri di depannya
sambil bertolak pinggang, penjahat itu menjadi marah sekali dan mencabut goloknya yang tergantung di
pinggang lalu menyerang dengan hebat. Akan tetapi, ketika tubuh Kong Sian berkelebat, dalam tiga
gebrakan saja ia berhasil mengetuk pergelangan tangan lawan yang memegang golok hingga senjata
itu terlempar jauh, kemudian menempeleng lagi yang tepat mengenai pangkal telinga orang itu hingga
orang itu terhuyung-huyung, matanya terbalik ke atas, lalu terputar-putar terus roboh mencium tanah.
Pingsan ?
Kong Sian tak mau membuang waktu lalu segera ia melompat ke belakang. Dilihatnya bahwa biarpun
wanita itu cukup lihai, namun menghadapi empat orang laki-laki yang bersenjata tajam hanya dengan
sepotong kayu ditangan, maka ia mulai terdesak juga. Kong Sian maklum bahwa kalau yang dipegang
oleh wanita itu bukan kayu akan tetapi pedang, tentu sebentar saja empat orang penjahat itu dapat
dirobohkan. Ia lalu berseru keras dan melompat bagaikan seekor naga melayang turun dari angkasa.
Begitu kaki dan tangannya bergerak, berteriaklah dua orang pengeroyok yang terlempar dan tak dapat
bergerak lagi. Kesempatan ini digunakan oleh wanita itu untuk mengerjakan tongkatnya, sambil
mengaduh-aduh, dua orang lain kena digebuk sedemikian rupa hingga mereka roboh tak dapat
bergerak lagi.
Kong Sian memandang dengan kagum, dan wanita itupun memandang dengan terimah kasih. Dua
pasang mata bertemu dan ....... !!
“Lin Hwa ......!”
“Kong Sian ......kau ........kau .....?”
Lin Hwa melangkah maju dan ketika kedua lengan tangan Kong Sian terulur ke depan, ia lalu menubruk
pemuda itu, menjatuhkan mukanya di dada Kong Sian dan menangis terisak-isak.
Sementara itu, ke lima orang penjahat yang kena gebuk dan pukul tadi, telah siuman dari pingsannya
dan melihat keadaan yang tidak menguntungkan mereka, mereka ini lalu bangkit, membantu kawankawan
yang agak berat mendapat bagian, lalu berjalan pergi sambil terpincang-pincang dan terhuyunghuyung.
Sampai lama kedua orang itu tidak bergerak maupun bersuara, yang bergerak hanyalah tubuh Lin Hwa
karena tangisnya, sedangkan yang terdengar hanyalah suara sesenggukan tangisnya.
“Lin Hwa .... soso ....mengapa kau sampai tinggal di sini ?”
Koleksi Kang Zusi
“Kong Sian, jangan sebut aku dengan sebutan itu. Panggil saja namaku, itu lebih baik ......jangan
ingatkan aku akan hal-hal dulu lagi .......” Lin Hwa lalu mengundurkan diri dan sambil menghapus
pipinya yang basah, ia lalu menatap wajah pemuda itu. Tiba-tiba timbul senyumnya hingga pipinya
nampak manis sekali dengan lesung pipit di kanan kiri.
“Kong Sian, kau ..... kau kelihatan lebih tua dan kurus sekali.”
“Dan kau nampak ....... bertambah manis saja, Lin Hwa. Oh ya, mana anakmu ? Ingin sekali aku
memeluk nya, Mana dia ?”
“Cin Pau...” Lin Hwa memanggil dengan suara merdu dan nada menarik. Suara nyonya muda ini
terdengar gembira sekali hingga ia sendiri merasa heran, seakan-akan tidak mengenal suaranya
sendiri. Belum pernah ia mendengar suaranya sendiri segembira ini dan mengingat akan hal-hal ini tibatiba
saja kulit mukanya menjadi kemerah-merahan.
Seorang anak kecil berusia kurang lebih empat tahun berlari-lari dari dalam rumah dan menghampiri
ibunya. Anak itu ketika melihat Kong Sian, lalu berhenti berlari dan memandang dengan sepasang
matanya yang lebar dan bagus. Kong Sian tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya ke arah anak
itu. Anak kecil itupun lalu tersenyum, kemudian dengan muka berseri-seri ia lalu berseru,
“Ayah.......! Ayah .....!” Sambil berseru demikian, Cin Pau yang masih kecil itu lalu berlari cepat dan
menubruk Kong Sian. Kong Sian dengan hati amat terharu lalu memondong dan memeluk anak itu,
menciumi rambutnya yang hitam dan penuh dan ketika ia melirik ke arah Lin Hwa, ternyata nyonya
muda itu telah membalikkan tubuh agar Kong Sian tidak melihat betapa ia menangis dengan hati
terharu karena melihat Cin Pau berteriak memanggil “ayah” kepada Kong Sian, seakan-akan sebilah
pedang telah menusuk jantungnya. Seringkali anak itu menanyakan ayahnya dan selalu Lin Hwa
membohonginya dan menjawab bahwa ayahnya sedang pergi memburu binatang liar dan bahwa
ayahnya pada suatu waktu tentu akan datang mengunjungi mereka. Cin Pau yang masih kecil tidak
tahu bahwa ibunya telah membohong dan percaya akan keterangan ini, maka ketika melihat Kong Sian,
seorang laki-laki yang baik hati, penuh kasih sayang, ia tidak ragu-ragu lagi menduga bahwa orang ini
tentulah ayahnya.
Kong Sian memeluk erat-erat tubuh kecil itu dan ia diamkan saja ketika berkali-kali Cin Pau
menyebutnya ayah. Ketika ia melihat Lin Hwa membalikkan tubuh hendak menegur anaknya dengan
mata basah, diam-diam Kong Sian menaruh telunjuknya pada bibir dan melarang Lin Hwa membantah
sebutan itu. Ia pikir bahwa anak yang masih kecil ini tak perlu dilukai hatinya dengan kenyataan tentang
ayahnya, maka apa salahnya kalau anak ini mengaku ayah kepadanya. Bahkan, ia merasa girang dan
senang sekali mendengar sebutan ini, sebutan yang membuat hatinya makin terikat dengan hati Lin
Hwa.
“Ayah mana harimau dan biruang yang kau bunuh ? Kata ibu, ayah pemburu binatang buas yang
pandai dan gagah. Aku telah melihat kelihaian ayah tadi ketika bertempur dengan penjahat-penjahat
karena aku mengintai dari dalam. Ayah hebat sekali. Benar kata ibu bahwa ilmu-ilmu silat ayah tinggi
luar biasa. Lihat, ayah, akupun belajar dengan rajin. Kata ibu, kalau aku belajar dengan rajin kelak akan
menjadi gagah seperti ayah.”
Sambil berkata-kata dengan gembira dan cepatnya, Cin Pau lalu merosot turun dari pondongan Kong
Sian, lalu ia mulai bersilat di depan Kong Sian dengan gerakan yang lincah. Kong Sian merasa kagum
dan senang sekali karena nyata baginya bahwa Lin Hwa tidak membuang waktu percuma dan telah
mulai mendidiknya dengan dasar-dasar ilmu silat yang dapat dimainkan dengan baiknya oleh Cin Pau
yang baru berusia empat tahun itu.
Untuk menyenangkan hati Cin Pau, Kong Sian membiarkan anak itu melihat dan mengagumi
pedangnya dan ketika anak itu bertanya seribu satu macam tentang perburuan binatang buas, ia lalu
mengarang cerita tentang perburuan binatang yang menarik hingga anak itu sambil duduk di atas
pangkuan “ayahnya”, mendengarkan dengan mulut celangap dan beberapa kali menyebut, “Kau hebat
sekali ayah!”
Melihat kelakuan puteranya ini, Lin Hwa membenarkan isarat Kong Sian tadi dan iapun tidak tega untuk
menceritakan kepada anak itu bahwa pemuda ini bukanlah ayahnya.
“Ah, Cin Pau, kau nakal sekali. Kong ...., eh ayahmu baru saja datang, sudah kau ganggu dengan
kecerewetanmu. Dia lelah dan mungkin lapar sekali!”
Koleksi Kang Zusi
Anak itu lalu melompat turun dari pangkuan Kong Sian dan berlari ke dalam rumah sambil berkata, “Biar
kupanggangkan daging kelinci yang kemarin kita tangkap.”
Memang, karena berada berdua di hutan itu, Lin Hwa telah memberi banyak pelajaran kepada
puteranya, hingga Cin Pau yang masih kecil itu sudah pandai memanggang daging dan bahkan pandai
menangkap kelinci dengan anak panah kecil.
Pada malam harinya, setelah Cin Pau tidur nyenyak, barulah Lin Hwa dan Kong Sian duduk saling
berhadapan dan bercakap-cakap menuturkan pengalaman masing-masing selama berpisah. Melihat
sikap Lin Hwa yang dari pandangan matanya jelas membisikkan sesuatu yang selalu menjadi
kenangannya, Un Kong Sian tak kuasa menuturkan bahwa ia telah kawin dan mempunyai rumah
tangga yang tidak berbahagia.
Ternyata bahwa Lin Hwa sudah tahu akan nasib suaminya dan nasib Ma Gi karena iapun mencari tahu
akan hal itu dan mendengar berita-berita dari luar kuil ketika ia masih berdiam di kuil Thian-an-tang.
Dan setelah ia pergi meninggalkan kuil Thian-an-tang, ia lalu merantau dengan puteranya dan akhirnya
tiba di hutan itu dan bersembunyi di situ bersama anaknya yang masih kecil. Lin Hwa tidak suka tinggal
di dusun yang banyak orangnya, oleh karena ia seringkali mengalami gangguan, maklum karena ia
masih muda lagi cantik dan janda pula.
Ketika Kong Sian memberitahukan bahwa ia hendak pergi ke Kunlun-san, Lin Hwa memandang dengan
hati tertarik dan berkata, “Sudah lama sekali aku mendengar tentang keindahan bukit Kunlun dan
kemashuran nama Kunlun-pai. Alangkah senangnya kalau kami bisa ikut kau pergi ke sana.”
Kong Sian hampir melompat karena girangnya, “Mengapa tidak ? Tadi baru saja aku hendak mengajak
kau dan Cin Pau ikut. Dengarlah, Lin Hwa, aku mempunyai usul yang baik sekali bagi puteramu.
Biarpun aku percaya penuh akan keahlianmu mengajar dan memdidik anakmu, akan tetapi dalam hal
ilmu silat, anakmu perlu mendapat didikan orang yang lebih pandai dari pada kita agar kelak Cin Pau
menjadi seorang yang betul-betul gagah dan tidak mengecewakan. Oleh karena itu, lebih baik kita bawa
Cin Pau ke Kunlun-san dan di sana aku akan mintakan kepada suhu supaya anak itu diterima menjadi
murid. Bagaimana pikiranmu ?”
Berseri wajah Lin Hwa mendengar ini. “Kong Sian, kau memang seorang sahabat yang mulia dan
berbudi. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana jadinya dengan aku dan puteraku kelak.”
“Eh, eh, jangan memuji-muji saja, bagaimana jawabmu tentang pergi ke Kunlun-san ?”
“Tentu saja aku turut dengan segala senang hati, jangan baru ke Kunlun-san, biarpun ke ujung dunia
sekali pun kalau kau yang mengajak, tentu aku takkan ragu-ragu lagi untuk ikut.”
“Kenapa begitu ?” tanya Kong Sian dengan hati berdebar dan menatap wajah Lin Hwa dengan tajam.
“Karena aku yakin bahwa maksudmu mulia dan baik,” jawab Lin Hwa sederhana.
Demikianlah, setelah bermalam untuk satu malam di dalam pondok kecil itu, pada keesokkan harinya,
pagi-pagi benar Kong Sian, Lin Hwa dan Cin Pau yang digendong oleh Kong Sian, berangkat
meninggalkan hutan itu untuk menuju ke Kunlun-san. Cin Pau yang masih kecil dan tidak kenal artinya
susah itu selalu bergembira di sepanjang jalan hingga kegembiraannya mempengaruhi kedua orang
muda itu dan membuat perjalanan terasa mudah dan lancar. Oleh karena Cin Pau selalu menyebut
“ayah” kepada Kong Sian, maka setiap orang yang mereka jumpai di dusun-dusun tentu menganggap
bahwa ini adalah sepasang suami isteri dengan anaknya.
Pernah di dalam perjalanan itu, Lin Hwa berkata kepada Kong Sian ketika Cin Pau tertidur. “Kong Sian,
kau masih belum mempunyai putera akan tetapi telah disebut ayah. Apakah ...... apakah kau tidak
merasa malu dengan sebutan itu ?”
“Malu ? Mengapa mesti malu ? Aku bahkan senang sekali dengan sebutan itu. Dan .... bukankah aku
pantas sekali menjadi ayah Cin Pau ?” Jawaban ini membuat seluruh muka Lin Hwa menjadi merah
sampai ke telinganya dan sambil tersenyum manis ia mengerling ke arah pemuda itu dengan sudut
matanya.
Koleksi Kang Zusi
Percakapan-percakapan dan senda gurau seperti ini membuat hubungan mereka lebih erat lagi dan
tanpa terasa, tanpa pernyataan dengan kata-kata yang langsung, keduanya membangun dan
memperkokoh perasaan cinta kasih yang besar dalam hati masing-masing. Dan kemesraan Cin Pau
yang benar-benar menganggap Kong Sian sebagai ayahnya, membuat kedua orang muda itu merasa
seakan-akan benar-benar mereka menjadi suami isteri sejak dulu.
Kurang lebih satu bulan mereka melakukan perjalanan menuju ke Kunlun-san, tidak dengan tergesagesa
dan selalu beristirahat sebelum Cin Pau merasa lelah. Akhirnya sampai juga mereka di tempat
tujuan. Sambil memondong anak itu, Kong Sian mengajak Lin Hwa mempergunakan ilmu lari cepat
mendaki puncak kedua dari pegunungan Kunlun di mana suhunya tinggal.
Ketika mereka tiba di kuil tua yang dijadikan tempat tinggal Beng Hong Tosu, kebetulan sekali pendeta
tua ini sedang duduk di depan kuil, bermain catur dengan seorang kakek tua yang jubahnya penuh
tambalan, akan tetapi jubah itu bersih sekali. Melihat kedatangan muridnya yang membawa seorang
wanita muda dan seorang anak kecil, Beng Hong Tosu lalu berdiri menyambut.
Kong Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Beng Hong Tosu dan menyebut, “Suhu!” Sedangkan
Lin Hwa juga mengajak Cin Pau berlutut di depan pendeta sakti itu. Cin Pau turun dari gendongan
ibunya dan anak itu dengan tabah sekali lalu menghampiri tosu berjubah tambalan itu dan bertanya
dengan suara yang nyaring bersih, “Kakek tua, permainan apakah di atas meja itu ?”
Kakek tua berbaju tambalan itu mengangkat alisnya dan kemudian tertawa bergelak. “Anak baik, ini
adalah biji-biji catur.” Kemudian ia mengambil sepuluh biji catur dan satu demi satu ia lemparkan ke
udara. Biji-biji catur itu melayang tinggi sekali dan saling susul. Anehnya, ketika biji-biji catur itu turun
kembali, kesemuanya telah bertumpuk menjadi satu dengan rapinya dan melayang bersama-sama ke
arah tangan kakek itu yang menerimanya dengan tangan kiri.
Cin pau bertepuk tangan dengan girang, “Bagus, bagus ! Dengan mempunyai biji catur ini dan bisa
melempar seperti kau, untuk menangkap burung tak perlu mempergunakan busur dan anak panah lagi.”
Kembali kakek tua itu tertawa bergelak-gelak. “Kau cerdik ! Maukah kau mempelajari permainan tadi ?”
“Tentu saja mau, tentu mau,” kata Cin Pau sambil bertepuk-tepuk tangan, kemudian ia menghampiri
dan memeluk ibunya. “Ibu, bolehkah aku belajar menimpuk dengan biji catur pada kakek tua ini ?”
Melihat hal ini, Beng Hong Tosu tersenyum dan berkata, “Bu Eng Cu (Si Tanpa Bayangan), kau diamdiam
telah memilih murid !” Kakek yang disebut Bu Eng Cu itu tertawa lagi. Dia adalah seorang tokoh
persilatan yang aneh dan berilmu kepandaian tinggi sekali, bernama Tiauw It Lojin dan berjuluk Bu Eng
Cu. Ia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap karena memang biasa merantau ke gunung-gunung
menikmati pemandangan indah. Akan tetapi, seringkali ia datang berkunjung kepada Beng Hong Tosu
yang menjadi sahabat baiknya di masa mudanya. Kakek inilah yang dulu pernah mendemonstrasikan
ilmu silatnya dan yang dilihat oleh Kong Sian ketika ia masih belajar di Kunlun-san dan ketika ia
bersama Lin Hwa tertolong di kuil Thian Lok Si, ia melihat betapa ilmu silatnya hwesio muka hitam yang
disebut Lokoay itu mirip betul dengan ilmu silat kakek tua ini. Maka, mengingat hal ini, ia memberi
hormat dengan berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Locianpwe, teecu Kong Sian memberi
hormat. Apakah selama ini locianpwe sehat-sehat saja ?”
“Baik, Kong Sian, aku baik saja. Kau pun baik ku lihat !” Jawaban ini membayangkan sifatnya yang
terus terang dan tidak suka pakai banyak kata-kata muluk. Memang Bu Eng Cu ini terkenal beradat
polos, bahkan kadang-kadang aneh sehingga ucapannya sukar dimengerti.
“Kong Sian, pinto telah mendengar tentang nasib kedua suhengmu,” kata Beng Hong Tosu sambil
menghela napas, “kehendak Thian tak dapat ditentang dan memang sudah nasib mereka harus
berkorban demi membela orang tua. Akan tetapi, mereka tewas dengan gagah perkasa dan tidak
memalukan nama guru dan orang tua. Harus pinto puji dan hormati perbuatan kedua suhengmu dan
ayah-ayah mereka. Memang mereka itu orang-orang berjiwa besar dan yang berani melakukan
perbuatan besar pula tanpa takut menanggung akibatnya. Memang seharusnya demikianlah. Setiap
orang harus berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga demi kebaikan. Adapun akan hasil dan tidaknya, itu
bukan soal kita dan ketentuan terakhir bukan berada dalam kekuasaan kita. Namun, tetap manusia
harus berikhtiar sekuatnya tanpa memusingkan tentang hasil atau tidaknya.
Dua orang sastrawan tua itu telah melakukan sesuatu yang baik, sesuai dengan jiwa mereka. Dan
lihatlah, ratusan ribu orang bergelora semangatnya dan berhasil menumbangkan pemerintah yang lalim.
Koleksi Kang Zusi
Akan tetapi, tetap saja hasil yang mereka peroleh itu bukanlah hasil yang baik dan sebagaimana yang
dicita-citakan oleh orang yang paling sengsara. Keadaan tetap buruk dan sedikit sekali perbedaannya
dengan keadaan dulu. Kau tentu maklum dan telah menyaksikan sendiri.”
“Teecu mengerti, suhu. Memang, keadaan masih sama, hanya berganti majikan !” kata Kong Sian.
“Itulah ! Akan tetapi, kita tak dapat menyalahkan kedua orang sastrawan besar itu. Bukan salah mereka,
dan bukan demikian yang mereka kehendaki. Semua adalah kehendak Thian yang maha kuasa.
Namun, lepas dari soal berhasil atau tidak, tetap saja harus diakui bahwa kedua orang itu telah
melakukan tugas sebagai manusia-manusia baik !”
Mendengar betapa guru dan murid ini bicara tentang mertuanya dan suaminya yang telah tewas, tak
tertahan lagi mengalirlah air mata di sepanjang kedua pipi Lin Hwa. Luka lama yang selama ini telah
mulai mengering, kini terbuka pula dan terasa perih.
Beng Hong Tosu memandang kepada Lin Hwa dan bertanya kepada Kong sian, “Kong Sian, siapakah
kawanmu ini ?”
“Suhu, dia adalah isteri Khu suheng dan anak itu adalah anaknya.” Pada saat itu, Cin Pau sedang
bermain-main dengan biji-biji catur sehingga ia tidak mendengarkan semua percakapan yang
memusingkan kepalanya itu sehingga ia tidak mendengar pula kata-kata Kong Sian ini.
Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan memandang kepada Lin Hwa dengan terharu dan iba.
Kemudian, Kong Sian dengan panjang lebar lalu menceritakan kepada suhunya tentang semua
pengalaman-pengalaman semenjak peristiwa pembasmian kedua keluarga Khu dan Ma itu terjadi.
“Oleh karena itu, suhu. Teecu mohon kepada suhu sudilah kiranya menaruh hati kasihan kepada Khusoso
ini dan sudi menerima puteranya sebagai murid di Kunlun.” Kong Sian mengakhiri ceritanya.
“Bagus, bagus Beng Hong Toyu (sahabat), anak itu sendiri ingin belajar dari aku, akan tetapi muridmu
ini hendak memaksanya belajar dari kau.”
Beng Hong Tosu tertawa dan meraba-raba jenggotnya yang putih dan panjang. “Kong Sian, kau
mendengar sendiri ? Hayo lekas kau aturkan beribu terima kasih kepada Bu Eng Cu !”
Kong Sian dan Lin Hwa lalu berlutut di depan Tiauw it Lojin dan menghaturkan terima kasih bahwa
orang tua itu suka menerima Cin Pau menjadi muridnya.
“Tak usah berterima kasih. Aku tidak memberi apa-apa, pengetahuan takkan berkurang atau hilang
biarpun diberikan kepada seribu orang. Kalau kalian tidak keberatan, maka anak itu hendak ku bawa ke
tempatku sekarang juga.”
Lin Hwa lalu berdiri dan menhampiri Cin Pau yang lalu dipeluk dan diciuminya. “Anakku yang baik,”
katanya sambil menahan bercucurnya air mata, “Kau ingin belajar ilmu dari locianpwe ini, bukan ?”
Cin Pau mengangguk.
“Kalau begitu, sekarang kau harus ikut kepadanya. Kau harus menjadi murid yang taat dan penurut,
harus rajin-rajin belajar. Cin Pau, jangan mengecewakan ibumu, ya ? Jagalah dirimu baik-baik !”
“Apa ibu tidak ikut ?” tanya anak itu dengan kedua matanya yang lebar memandang ibunya.
“Tidak, nak. Tidak boleh ibu ikut. Kau yang hendak belajar, bukan ibumu. Akan tetapi, tak lama ibu tentu
akan menyusulmu, nak. Kau ikutlah dengan gurumu !”
“Hayo, Cin Pau, hayo kita pergi !” kata Bu Eng Cu Tiauw It Lojin sambil menggandeng tangan anak itu.
Cin Pau tidak membantah dan menjawab dengan gagah, “Baik, suhu.”
Kemudian kedua orang itu meninggalkan tempat itu setelah Bu Eng Cu berkata kepada Beng Hong
Tosu, “Sampai ketemu lagi, toyu.”
Koleksi Kang Zusi
Cin Pau beberapa kali berpaling memandang ibunya dan ketika melihat betapa pipi ibunya basah air
mata, ia berseru nyaring, “Ibu jangan menangis, kelak aku akan kembali kepadamu !” Kemudian,
kepada Kong Sian ia berseru, “Ayah, jaga ibu baik-baik !”
Setelah bayangan mereka lenyap di satu tikungan jalan, Beng Hong Tosu bertanya dengan suara heran
kepada Kong Sian,” Mengapa dia menyebutmu ayah ?”
Merahlah wajah Kong Sian, akan tetapi dengan suara tetap ia menjawab, “Anak itu belum tahu akan hal
ihwal ayahnya dan begitu bertemu dengan teecu, ia telah menyebut ayah. Teecu tidak tega untuk
melukai hatinya yang masih suci.”
Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan berkata, “Anak itu baik sekali, boleh diharapkan kelak.”
Bagian 06. Musuh di dalam Dada
Setelah tinggal di situ selama tiga hari, Kong Sian lalu berpamit kepada suhunya untuk pulang ke kota
raja karena telah lama meninggalkan ibunya. Lin Hwa juga menyatakan hendak pergi dan mencari
kuburan suaminya.
“Pergilah,” kata Beng Hong Tosu. “Dan berhati-hatilah, terutama terhadap musuh di dalam dada !”
Setelah meninggalkan pesan ini, pendeta itu lalu masuk ke dalam pondoknya untuk bersamadhi.
Kong Sian dan Lin Hwa saling pandang dengan muka merah karena sungguhpun mereka tidak dapat
menangkap arti kata-kata pendeta itu dengan jelas, namun mereka seakan-akan mendapat sindiran
bahwa pendeta tua itu telah maklum akan apa yang menjadi perasaan hati mereka berdua.
Sesungguhnya Lin Hwa memang ingin sekali mencari kuburan suaminya, akan tetapi, yang lebih tepat
lagi, ia ingin pergi bersama Kong Sian karena hatinya merasa berat sekali kalau kini setelah ditinggal
puteranya, ia harus berpisah lagi dari pemuda ini. Ia ingin bersembahyang di depan makam suaminya,
ingin mengeluarkan segala hatinya dan ingin minta perkenan dari suaminya untuk .... untuk ....
kemungkinan kawin lagi dengan Kong Sian.
Demikianlah, kedua orang muda itu lalu turun gunung, kini lebih cepat perjalanan mereka, karena tidak
disertai Cin Pau
Pada suatu malam yang dingin dan gelap, Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa tiba di dalam sebuah hutan.
Ketika keduanya melompat naik ke atas pohon tinggi untuk mencari-cari dan melihat-lihat barangkali di
dekat situ terdapat dusun, ternyata tak nampak dusun atau cahaya api penerangan di dekat dan di
sekitar hutan itu, maka terpaksa mereka harus bermalam di hutan itu.
Akan tetapi, tiba-tiba datang hujan dan angin ribut sehingga mereka menjadi bingung. Mula-mula
mereka berteduh di bawah pohon yang berdaun lebat sekali, akan tetapi oleh karena hujan turun makin
besar hingga air hujan menembus daun-daun pohon dan membuat mereka menjadi basah kuyup
seluruh pakaian dan tubuh mereka, terpaksa mereka lalu mencari-cari tempat yang kiranya dapat
digunakan untuk tempat berteduh di malam itu. Tubuh mereka terserang dingin yang luar biasa hingga
kalau saja mereka tidak memiliki lweekang yang dapat disalurkan pada jalan-jalan darah untuk
membuat hangat tubuh, tentu mereka tak kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulang itu.
“Bagaimana baiknya ? Kemana kita harus pergi berlindung ?” tanya Lin Hwa yang telah mulai menggigil
kedinginan, karena kepandaiannya masih belum tinggi betul. Melihat keadaan Lin Hwa, Kong Sian
menjadi kasihan sekali. Ia melepaskan mantelnya dan menyelimuti tubuh Lin Hwa, akan tetapi oleh
karena mantel itu pun telah menjadi basah kuyup, maka pertolongan ini tiada artinya.
Kilat menyambar-nyambar dan angin membuat semua pohon di hutan itu seakan-akan bergerak-gerak
mengamuk. Lin Hwa mulai terhuyung-huyung dan tubuhnya lemah serta lelah sekali hingga Kong Sian
terpaksa harus memeluknya dan menariknya di dalam hujan badai itu, maju terhuyung-huyung ke
depan, mencari pohon-pohon yang lebih besar.
“Kong Sian ..... aku ....aku ..... tak kuat lagi rasanya .....”
Koleksi Kang Zusi
“Ah, masa kau begitu lemah ?” Kong Sian menghibur dan mencoba berkelakar. “Sebentar lagi hujan
badai ini juga berhenti.”
Akan tetapi, jangankan berhenti, bahkan lebih lebat datangnya air hujan dari atas, dan angin makin
besar mengamuk.
Mereka berjalan berhimpit-himpitan, saling peluk dan hanya mengandalkan tenaga Kong Sian saja
mereka dapat bergerak maju. Ketika cahaya kilat menyinari hutan itu, tiba-tiba Kong Sian melihat
bayangan sebuah bangunan dari jauh. Ia menjadi girang sekali dan sambil menarik tubuh Lin Hwa yang
setengah dipondongnya itu, ia berkata, “Cepat, di depan itu kulihat bangunan!”
Setelah berjalan beberapa lama, benar saja, di dalam cahaya kilat yang sebentar-sebentar menyambar,
mereka melihat sebuah bangunan kuno di tengah hutan. Bangunan ini adalah sebuah kelenteng kuno
yang telah rusak dan yang atapnya sebagian besar telah hancur. Akan tetapi masih ada juga sedikit
bagian yang kuat dan dapat menahan turunnya air, maka Kong Sian lalu mendukung tubuh Lin Hwa
dan masuk ke dalam kelenteng itu.
Mereka girang sekali karena di situ terdapat sebuah meja sembahyang terbuat dari pada kayu besi
yang hitam dan kuat hingga buru-buru mereka berlindung di bawah meja itu. Dan dengan girang Kong
Sian mendapatkan kayu-kayu kering di bawah meja, bahkan terdapat pula batu-batu api. Ia menduga
bahwa ini tentu barang orang-orang yang telah pernah bermalam di tempat ini, maka cepat ia membuat
api dengan susah payah, karena walaupun benda-benda itu tidak terserang air, bahan bakar itu menjadi
lembab. Akan tetapi, akhirnya ia berhasil juga dan tak lama kemudian menyalahlah kayu-kayu kering di
bawah meja itu.
Terdengar Lin Hwa mengeluh perlahan dan ketika Kong Sian memandang, ia melihat wajah yang cantik
itu memucat dan nampak lemah sekali. Akan tetapi pada saat itu, Lin Hwa menyandarkan kepalanya
pada pundak Kong Sian dan memandang pemuda itu dengan pandangan mata yang mesrah dan penuh
perasaan.
Diangatkan oleh nyala api, akhirnya Lin Hwa dapat juga tidur dengan kepala masih tersandar di bahu
Kong Sian. Pemuda itu lalu dengan hati-hati dan lemah lembut menidurkan kepala Lin Hwa ke atas
lantai berbantalkan mantelnya yang digulung. Kemudian ia menambah kayu pada api unggun kecil di
bawah meja besar itu. Setelah itu Kong Sian lalu duduk bersamadhi, mengatur napasnya hingga hawa
yang hangat menjalar di seluruh tubuhnya, mengusir kelelahan dan kedinginan yang menyerangnya.
Menjelang fajar, hujan berhenti dan ketika matahari mulai menyinarkan cahayanya mengusir sisa-sisa
kegelapan, terdengar burung-burung dan ayam-ayam hutan berbunyi riang, seakan-akan mereka ini
sama sekali telah lupa akan amukan hujan badai malam tadi yang membuat banyak sarang mereka
hancur dan telur serta anak-anak mereka rusak binasa.
Melihat bahwa Lin Hwa masih tidur dengan nyenyak, Kong Sian lalu keluar dari kuil itu dan
membungkuk dengan hormat dihadapan sebuah patung yang telah rusak, seakan-akan menyatakan
terima kasihnya karena kalau tidak cepat-cepat mendapat tempat berteduh yang aman sentausa itu,
entah bagaimana nasib mereka malam tadi. Kemudian ia lalu keluar dan mencari makanan di dalam
hutan yang liar itu. Tak lama kemudian, ia kembali ke kuil sambil membawa beberapa butir buah dan
seekor kelinci yang ditangkapnya.
Akan tetapi, ketika ia tiba di dekat kelenteng rusak itu, tiba-tiba terdengar jerit Lin Hwa dari dalam
kelenteng. Kong Sian melempar semua bahan makanan itu ke atas tanah dengan cepatnya melompat
ke dalam kelenteng. Alangkah marah dan kagetnya ketika melihat betapa Lin Hwa telah diikat kaki
tangannya dan rebah di lantai dengan pakaian tidak karuan, sedangkan di situ berdiri seorang saikong
(pertapa) bermuka penuh cambang-bauk seperti seekor harimau sedang tertawa bergelak.
“Jahanam keparat!” Kong Sian membentak sambil mencabut pedangnya lalu menyerang.
Saikong itu mengelak dan membentak marah sambil melototkan matanya yang lebar, “Bangsat kecil !
Kau berani main gila di depan Pit Lek Hoatsu ?”
Kong Sian terkejut mendengar nama ini karena ia pernah mendengar nama ini sebagai seorang
pendeta cabul dan jahat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Dulu suhunya pernah bercerita
bahwa suhunya pernah turun gunung untuk membasmi saikong jahat ini, akan tetapi karena Pit lek
Hoatsu memang gagah dan juga licin sekali, suhunya tak berhasil membekuknya. Akan tetapi, melihat
Koleksi Kang Zusi
betapa pendeta keparat itu hendak mengganggu Lin Hwa, Kong Sian tak mengenal arti takut dan
menyerang dengan hebatnya hingga saikong itu terpaksa melayaninya.
Pit Lek Hoatsu benar-benar lihai sekali. Ketika ia membentak marah, dari pinggangnya ia mencabut
keluar sabuknya yang terbuat daripada perak, merupakan rantai perak yang berujung tajam. Dan
setelah ia putar-putar senjatanya ini, Kong Sian merasa terkejut sekali karena gerakan saikong ini luar
biasa cepat dan buasnya. Tiap kali pedangnya terbentur oleh rantai itu, ia merasa telapak tangannya
sakit sekali sehingga setelah empat kali mengalami benturan hebat, ia tidak berani lagi menangkis
dengan pedangnya, dan hanya bergerak cepat mengelakkan diri dari bahaya maut yang disebar oleh
rantai perak itu. Kong Sian terdesak hebat dan Lin Hwa yang terikat kaki tangannya dan duduk
menyandar dinding, memandang keadaan ini dengan mata terbelalak dan kuatir sekali.
Pada saat yang berbahaya itu, tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara orang menyebut nama Buddha,
“Omitohud ! Pit lek Hoatsu, tidak tahukah kau kepada kemuliaan Buddha ?”
Berbareng dengan habisnya ucapan ini, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang hwesio yang
tua dan berjenggot putih telah menyambar dan dengan ujung bajunya ia menyampok rantai perak Pit
Lek Hoatsu. Sampokan ini hebat sekali karena rantai itu terbentur dan membalik, hampir saja
menghantam muka Pit Lek Hoatsu sendiri. Saikong itu terkejut dan melompat ke belakang berjungkir
balik, dan ketika memandang hwesio yang baru tiba itu, ia menjadi terkejut dan berseru,
“Pek Seng Hwesio ! Kau datang mencampuri urusanku ?”
“Pinceng bukan mencampuri urusan siapa-siapa, hanya berusaha mencegah terjadinya perbuatan
sesat,” jawabnya tajam.
Pit Lek Hoatsu ragu-ragu. Ia maklum akan kelihaian hwesio tua ini, kemudian sambil tertawa
menyeringai ia lalu menyimpan rantainya dan berkata, “Biarlah aku memandang mukamu dan lain kali
kita bertemu pula !” Kemudian ia melompat pergi dan terdengar suara ketawanya yang menyeramkan.
Kong Sian lalu cepat melepaskan tali yang mengikat kaki tangan Lin Hwa, menggunakan mantelnya
untuk menyelimuti tubuh Lin Hwa karena pakaiannya banyak yang robek. Kemudian, kedua orang muda
itu lalu maju dan berlutut di depan Pek seng Hwesio, ketua dari kuil Thian Lok Si itu.
“Hm, kalian lagi,” kata hwesio tua itu, “Dan di mana puteramu, toanio ?”
“Cin Pau telah teecu serahkan kepada Tiauw It Locianpwe untuk dididik,” jawab Lin Hwa dengan penuh
hormat.
Kong Sian lalu menceritakan pengalaman mereka di puncak Kunlun-san dan Pek Seng Hwesio
mengangguk-angguk sambil berkata, “Pantas saja tadi ketika pinceng mengunjungi Kunlun, di sana
tidak ada siapa-siapa. Suhumu Beng Hong Toyu telah turun gunung dan pinceng tidak dapat bertemu
dengan dia. Tadinya pinceng memang bermaksud mencari Ong-toanio ini yang menurut perkiraan
pinceng tentu berada di Kunlun-san oleh karena mendiang suaminya atau suhengmu adalah anak
murid Kunlun-pai.”
“Losuhu mencari teecu ada keperluan apakah ?” tanya Lin Hwa.
Pek Seng Hwesio tersenyum. “Memang puteramu bukan jodohku, tadinya pinceng bermaksud
mengambil murid padanya, akan tetapi telah didahului oleh Tiauw It Lojin. Biarlah, Bu Eng Cu juga
seorang tokoh yang berilmu tinggi dan puteramu tidak kecewa kalau menjadi muridnya.”
Setelah berkata demikian, Pek seng Hwesio lalu berkelebat dan pergi dari situ.
Kong Sian dan Lin Hwa saling pandang dengan penuh takjub. Tak mereka sangka bahwa Pek Seng
Hwesio demikian lihai ilmu silatnya sehingga saikong jahat itupun agaknya jerih menghadapinya.
“Untung kau lekas datang, Kong Sian. Kalau tidak .........”
“Jangan bilang untung karena aku datang, karena kalau hwesio tua itu tidak datang menolong, biarpun
ada aku, agaknya sia-sia belaka,” kata Kong Sian sambil menghela napas.
Koleksi Kang Zusi
“Kong Sian ......,” kata Lin Hwa sambil memandang dengan tajam.
“Ya ......?”
“Mengapa kau sebaik ini kepadaku ?”
Kong Sian terkejut karena pertanyaan ini tak disangka-sangkanya sehingga membuat ia tak tahu harus
menjawab bagaimana.
“Kenapa kau bertanya demikian ? Manusia harus saling berbaik dengan sesama hidupnya.”
Lin Hwa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Akan tetapi kau berbeda sekali, sahabatku. Kau ..... kau
terlalu baik padaku, dan .... dan ini tentu ada sebabnya.”
Kong Sian maklum bahwa Lin Hwa menuntut kepastian darinya dan ia berpikir sekaranglah saatnya
untuk menyatakan isi hatinya. Ia lalu melangkah maju dan memegang kedua tangan Lin Hwa.
“Lin-moi ....... aku ..... aku cinta padamu.”
Lin Hwa tidak terkejut mendengar ini, hanya mukanya menjadi merah dan ia tidak berani menentang
pandang mata Kong Sian. Lama sekali mereka berdiam saja dan Lin Hwa juga tidak berusaha menarik
kedua tangannya dari pegangan Kong Sian.
“Kong Sian .... telah lama aku dapat menduga hal ini dan ..... dan ..... terus terang saja akupun suka
sekali kepadamu. Kau seorang yang berhati mulia dan gagah dan takkan ada hal yang lebih
membahagiakan hatiku selain dari pada menjadi .... isterimu yang setia. Kau baik kepada ku dan .... dan
puteraku pun sayang pula kepadamu. Kau lah satu-satunya orang yang patut menjadi ayah Cin Pau.”
“Lin Hwa, sayang ....” kata Kong Sian dengan suara menggetar.
“Kong Sian, ketahuilah bahwa aku memang hendak mencari makam suamiku untuk minta perkenan
agar aku boleh .... kawin denganmu, yakni kalau .... kalau kau meminangku .....” Ia menundukkan
kepala dengan malu-malu.
“Tentu saja aku suka meminangmu, Lin Hwa. Akan teranglah dunia ini bagiku dan akan bahagialah
hidupku apabila kau sudi menjadi isteriku.”
“Biarpun aku seorang janda yang telah mempunyai seorang putera dan kau ....”
“Biarpun kau seorang janda, akan tetapi tidak ada duanya di muka bumi ini.”
“Dan kau ....”
“Dan aku bagaimana ?”
“Dan biarpun kau masih muda belia, masih jejaka, tidak malukah kelak mengawini seorang janda yang
sudah berputera ?”
Ucapan ini bagaikan kilat menyambar kepala Kong Sian. Tiba-tiba ia melepaskan kedua tangan Lin
Hwa, lalu menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi
mukanya.
“Kong Sian ! Ada apakah ..... ? Kong Sian, maafkan kalau aku bersalah, kalau aku mengucapkan katakata
yang menyinggung perasaanmu. Kong Sian ....... “ Lin Hwa memeluk bahunya.
“Tidak, Lin Hwa, tidak ! Kau tidak bersalah apa-apa. Akulah yang bersalah, akulah yang sesat dan aku
yang telah menipumu !”
“Kong Sian, apa maksudmu ?”
Koleksi Kang Zusi
Kong Sian menurunkan kedua tangannya dan Lin Hwa menjadi terkejut sekali melihat betapa pucat
wajah pemuda itu dan dua titik air mata telah keluar dari matanya.
“Lin Hwa, selama ini aku telah berlaku curang kepadamu. Aku ... aku telah berlaku pengecut, tidak
berani mengaku terus terang, sebenarnya, sebenarnya ..... aku telah mempunyai seorang isteri !”
Pada saat itu, tangan kanan Lin Hwa masih ditaruh di atas pundak Kong Sian dan ketika mendengar ini,
Lin Hwa secepat kilat menarik kembali tangannya, seakan-akan pundak pemuda itu terasa panas
membakar tangannya. Wajahnya pucat sekali dan ia bertanya,
“Apa ..... apa artinya ini semua ?”
Dengan cepat Kong Sian lalu menuturkan bahwa semenjak menolong Lin Hwa dulu, ia telah jatuh hati
kepadanya akan tetapi apa daya, ia telah bertunangan semenjak kecil dan ketika ibunya mendesak, ia
tak dapat menolak hingga akhirnya ia terpaksa kawin dengan Oey Bi Nio, tunangannya semenjak kecil,
Akan tetapi ia tak merasa berbahagia dalam perkawinan itu dan bahkan merasa tersiksa. Semua ini ia
ceritakan kepada Lin Hwa dengan sedih sekali.
Lin Hwa mendengarkan dengan kalbu terasa hancur dan hati perih. Akan tetapi, wanita gagah ini dapat
menekan perasaannya dan tidak memperlihatkan reaksi sesuatu pada mukanya. Ia diam saja, bahkan
ketika Kong Sian bertanya, “Bagaimana pikiranmu, Lin Hwa ? Apakah hal ini merobah perasaanmu
terhadap aku ?” Ia menjawab, “Kong Sian, kau tidak tahu akan perasaan seorang wanita. Kalau sekali
wanita itu menyatakan cintanya, ia takkan dapat merobahnya lagi, sebaliknya kalau sekali menyatakan
bencinya, iapun takkan dapat melenyapkannya dengan mudah. Aku suka kepadamu dan betapapun
juga, aku tetap akan suka kepadamu !”
Bukan main girang hati Kong Sian dan ia ingin memeluknya, akan tetapi Lin Hwa mengelak dan
tersenyum berkata, “Bukankah kau tadi sudah pergi mencari makanan ? Mana makanan itu ?”
Kong Sian tertawa dan menyatakan bahwa kelinci yang ditangkapnya telah lari lagi, ketika ia menolong
Lin Hwa tadi.
“Sayang sekali,” kata Lin Hwa dengan sungguh-sungguh, “aku ingin sekali makan daging kelinci.” Pada
saat ini, tidak ada makanan yang lebih lezat dari pada daging kelinci bagiku.”
Kong Sian memandang heran lalu berkata sambil tertawa, “apa sukarnya ? Biarlah aku menangkap
seekor lagi untukmu !”
“Pergilah, Kong Sian, dan tangkaplah seekor yang besar !”
Dengan hati girang Kong Sian perrgi mencari kelinci. Hatinya girang sekali oleh karena kini ia tidak
menaruh hati was-was lagi. Dulu ia seringkali merasa berdebar kuatir karena Lin Hwa belum tahu
bahwa ia telah beristeri. Ia takut kalau-kalau hal ini akan memutuskan hubungannya dengan wanita
yang dicintainya itu. Akan tetapi sekarang, ia telah menceritakan semua dan Lin Hwa tidak berubah
perasaannya. Ia masih menyinta. Sekali sayang, selamanya tetap sayang, katanya. Alangkah merdu
dan indahnya kata-kata ini.
Kong Sian sengaja mencari dan menangkap seekor kelinci putih yang besar dan gemuk untuk
menyenangkan hati Lin Hwa, maka perginya agak lama juga. Setelah berhasil menangkap seekor ia
lalu kembali dengan cepat dan dengan hati girang
“Lin Hwa ...... ! Lihat ini, aku telah menangkap seekor yang muda dan gemuk !” serunya bangga ketika
tiba di luar kelenteng. Akan tetapi, Lin Hwa tidak nampak keluar.
Ia lalu melompat sambil memegang kelinci itu pada kedua telinganya.
“Lin Hwa .....!” Akan tetapi wanita itu tidak berada di bawah meja. Ia mencari-cari sampai di belakang
kuil sambil memanggil-manggil, akan tetapi sia-sia, Lin Hwa tidak kelihatan.
Kong Sian mulai cemas. Jangan-jangan saikong jahat itu datang lagi dan pergi menculik Lin Hwa.
Mengingat akan hal ini kedua kakinya menggigil.
Koleksi Kang Zusi
“Lin Hwa .... !” teriaknya keras sekali agar dapat terdengar oleh wanita itu. Karena biarpun andaikata Lin
Hwa terculik, dan dibawa lari, tentu ia akan mendengar teriakan ini dan akan menjawab. Ia memasang
telinga baik-baik, akan tetapi tidak terdengar jawaban dari Lin Hwa. Kong Sian melemparkan kelinci
yang berada ditangannya hingga untuk kedua kalinya. Kelinci yang sudah ditangkap lari lagi.
“Lin Hwa ....!” berulang kali Kong Sian memanggil sampai suaranya menjadi serak. Dikerahkannya
khikangnya untuk membuat suara panggilan ini melayang jauh.
Kemudian dengan hati kuatir sekali ia lalu kembali ke dalam kelenteng untuk melakukan pemeriksaan.
Kalau terjadi pertempuran, tentu ada tanda-tandanya di situ. Ketika ia tiba di tempat di mana tadi Lin
Hwa duduk, ia melihat coretan-coretan aneh di atas lantai. Ia lalu mendekati dan tiba-tiba tubuhnya
menjadi lemas. Ternyata bahwa coretan-coretan itu adalah tulisan Lin Hwa yang dilakukan dengan
mempergunakan arang hitam bekas api unggun. Tulisan ini singkat saja dan berbunyi,
“Mari kita lawan musuh dalam dada kita sendiri”
Kata-kata ini singkat, akan tetapi mengingatkan Kong Sian akan nasehat suhunya ketika ia hendak
turun gunung bersama Lin Hwa. Ia dapat menangkap artinya. Ternyata Lin Hwa bersedia berkorban,
bersedia mengundurkan diri dan tidak hendak mengganggu rumah tangganya. Ia tahu bahwa Lin Hwa
juga menderita batinnya karena wanita itupun mencintainya dan tetap akan mencintainya. Karena itu ia
mengajak melawan musuh dalam dada sendiri-sendiri. Alangkah mulianya hati wanita itu.
“Lin Hwa ......” Kong Sian berbisik dengan hati hancur dan tubuh lemah. Ia tidak hendak mengejar
karena akan percuma saja dan sedikit coretan di atas lantai itupun membuat dia sadar bahwa hubungan
mereka memang tak mungkin dilanjutkan. Bagaimana dengan Bi Nio, isterinya ? Kalau ia
menceraikannya, apakah ia takkan menghancurkan hati isterinya dan juga menghancurkan hati ibunya
? Ah, nasib ...... Kong Sian menutup mukanya dan air mata mengalir melalui cela-cela jari tangannya.
“Lin Hwa .....” kembali ia berbisik lemah. Ketika Kong Sian berseru keras memanggil namanya, Lin Hwa
yang belum lari jauh mendengar juga, dan suara ini seakan-akan menarik-nariknya untuk segera
kembali. Lin Hwa sambil menyucurkan air mata lalu menggunakan jari-jari tangan untuk menutup
telinganya dan berlari terus makin cepat. Masih saja panggilan suara Kong Sian yang keras menembus
penutup telinga dan terdengar olehnya.
“Tidak ........ tidak ...... tidak ....!!!” Ia menjerit sambil berlari terus dan air matanya mengucur makin
deras.
Bagian 07. Gobi Ang-sianli
Pemberontakan kaum tani yang berhasil menumbangkan kekuasaan kaisar Tang yang melarikan diri
mengungsi ke Secuan itu, hingga ibu kota Tiang-an dikuasai oleh pemberontak pula, ternyata tidak
dapat tahan lama. Kaisar yang melarikan diri itu lalu mengadakan persekutuan dengan tentara Turki
barat yang disebut Shato dan dengan bantuan tentara Turki yang besar jumlahnya dan kuat ini, kaisar
lalu menyerbu kembali ke Tiang-an. Kembali rakyat mengalami perang hebat dan pasukan petani
menderita kekalahan besar sehingga pemimpin pemberontak Oey Couw akhirnya berputus asa dan
membunuh diri di puncak gunung Thai-san. Hal ini terjadi lima tahun kemudian setelah pemberontakan
terjadi.
Un Kong Sian yang mengalami berbagai kekecewaan dan bahkan kemudian menderita “patah hati”
dalam hubungannya dengan Ong Lin Hwa, setelah berpisah dengan Lin Hwa lalu kembali ke Tiang-an.
Ibunya dan isterinya terkejut sekali melihat betapa Kong Sian menjadi kurus dan nampak sedih. Setelah
didesak-desak oleh ibunya, akhirnya sambil menangis Kong Sian menceritakan dengan terus terang,
bahkan mengaku bahwa ia tak dapat hidup terus dengan Bi Nio biarpun isterinya itu cukup baik dan
setia.
“Ampunkan anakmu yang malang ini, ibu. Aku tidak dapat menipu dan mengkhianati Bi Nio lebih lama
lagi. Aku tak dapat mencintainya oleh karena hatiku telah tertambat sepenuhnya kepada Lin Hwa. Aku
tak dapat menjadi suami Bi Nio pada lahirnya akan tetapi mengasihi wanita lain di dalam hati.”
Koleksi Kang Zusi
Ibunya merasa berduka dan kecewa sekali dan Bi Nio yang mengetahui hal ini lalu pulang ke rumah
orang tuanya yang kaya dan akhirnya dikabarkan bahwa ia mencukur gundul kepalanya dan menjadi
nikouw.
Kong Sian tinggal dengan ibunya yang selalu berduka karena memikirkan keadaan putera tunggalnya
itu hingga akhirnya ibu yang telah tua ini jatuh sakit sampai meninggal.
Un Kong Sian lalu menjual semua barang dan rumah, setelah mengumpulkan hasil penjualan itu ia
membawanya ke kuil Thian-Lok-Si, di mana ia lalu mendermakan semua uang itu kepada kuil tersebut
dan dengan suara sedih ia berlutut dan menuturkan kepada Pek Seng Hwesio tentang segala
pengalamannya.
Hwesio itu tersenyum maklum, “Anak muda, kau hanya mengalami kepahitan hidup yang hanya dapat
diderita oleh orang-orang yang masih belum sadar. Kepahitan-kepahitan hidup itu memang telah
diramalkan oleh Sang Buddha dan pengalaman-pengalaman seperti itu memang selalu akan menimpa
manusia yang belum sadar. Pinceng hanya dapat merasa iba kepadamu.”
“Suhu, teecu telah kehilangan pegangan, teecu hidup sebatang kara tanpa cita-cita dan tanpa tujuan.
Tolonglah Suhu.”
Pek Seng Hwesio berkata tenang, ”Pertolongan apa lagi yang dapat diberikan oleh seorang Hwesio tua
dan miskin seperti pinceng selain penerangan tentang kebatinan ? Kalau kau suka menjadi muridku dan
menjadi hwesio, mungkin akan terobat hatimu yang terluka itu.”
Dengan serta merta Kong Sian menyatakan suka dan sanggup, maka sekali lagi di dalam kuil Thian-loksi,
rambut kepalanya dicukur gundul. Akan tetapi, kalau dulu ia dicukur untuk melakukan penyamaran
dan kini ia dicukur betul-betul untuk menjadi seorang hwesio. Ketika kepalanya dicukur, tak dapat tidak
ia teringat dan terkenang lagi akan pengalaman ketika ia dan Lin Hwa mencukur rambut di kuil ini dulu
hingga tak tertahan lagi ia mencucurkan air mata.
Pek Seng Hwesio lalu memberi nama padanya dan nama baru ini tidak banyak berbeda dengan
namanya sendiri karena hanya dibalikkannya saja, yakni Sian Kong Hosiang. Demikianlah bertahuntahun
Sian Kong Hosiang menjalani ibadat dan selain mempelajari ilmu kebatinan menurut ajaran Sang
Buddha, juga ia mempelajari ilmu silat yang tinggi dari Pek Seng Hwesio hingga ilmu kepandaiannya
bertambah pesat sekali. Bukan main girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian
Pek Seng Hwesio benar-benar tinggi bahkan mungkin tak kalah tingginya dari suhunya yang dulu, yakni
Beng Hong Tosu, tokoh Kunlun-san.
******
Waktu lewat dengan tak terasa dan cepat sekali, hingga tahu-tahu tujuh belas tahun telah lewat
semenjak terjadinya peristiwa pembasmian keluarga Khu dan Ma.
Pada suatu hari, dari sebuah lereng bukit di pegunungan Gobi yang luas, turun seorang berpakaian
merah dengan tindakan kaki cepat seakan-akan ia melayang atau terbang saja. Ternyata bahwa orang
yang berpakaian merah ini adalah seorang gadis muda berusia enam belas tahun yang sedang berlari
mempergunakan ilmu ginkang yang luar biasa hingga nampaknya ia tidak menginjak tanah. Mata orang
biasa hanya akan melihat berkelebatannya bayangan merah saja dan mata ahli silat tentu akan terkejut
sekali karena melihat bahwa gadis muda itu sedang mempergunakan ilmu lari cepat Keng Sin Sut yang
luar biasa.
Dara ini cantik jelita dan manis sekali. Pakaiannya yang berwarna merah berkibar-kibar tertiup angin
ketika ia lari, rambutnya yang hitam halus dan panjang itu dikuncir menjadi dua dan ujungnya
bergantungan di punggung, bersembunyi di bawah mantelnya yang lebar dan panjang berwarna kuning.
Kedua kakinya kecil, bersepatu warna hitam, gerakannya demikan gesit dan ringan seakan-akan
rumput yang kena injakpun tidak rusak. Di pinggang kirinya tergantung sebatang pedang panjang yang
gagangnya diukir indah berbentuk kepala naga dengan terhias ronce-ronce biru.
Sukar untuk melukiskan kecantikan wajah dara ini, karena segala bagian yang terkecil pun menarik hati
dan menggairahkan kalbu hingga sekali mata orang tertuju kepadanya, takkan mudah bagi orang itu
untuk mengalihkan pandangannya. Entah apanya yang paling menarik hati, entah sepasang matanya
yang lebar dan kocak, bersih bening bagaikan mata burung hong itu, atau hidungnya yang lurus kecil
dan mancung, atau bentuk bibirnya yang merah, kecil penuh dan melengkung sempurna bagaikan
Koleksi Kang Zusi
bentuk gendewa itu. Mungkin sekali setitik kecil tahi lalat di sudut bibir yang membuatnya nampak
begitu manis dan ayu, atau potongan tubuhnya yang ramping atau kulitnya yang putih kuning dan halus.
Ah, sukarlah untuk memilih mana yang paling menarik, dan lebih mudah untuk menyatakan bahwa dara
ini memang seorang gadis yang cantik jelita dan sikapnya gagah.
Gadis muda ini bukan lain ialah Gak Siauw Eng. Gak Siauw Eng atau Ma Siauw Eng, puteri mendiang
Ma Gi dan Kwei Lan. Seperti diketahui, nyonya janda Ma Gi yang bernama Kwei Lan itu dilarikan oleh
perwira Gak Song Ki dan kemudian setelah Siauw Eng terlahir, nyonya janda itu menjadi isteri Gak
Song Ki yang tampan dan gagah. Ketika Kwei Lan melihat betapa besar rasa sayang suaminya kepada
Siauw Eng, maka ia tidak menaruh hati keberatan ketika Gak Song Ki mengusulkan supaya she anak
tirinya itu dirobah, hingga Siauw Eng yang tadinya she Ma, menjadi she Gak. Semenjak kecil, Siauw
Eng telah mendapat didikan sastera dari ibunya dan ilmu silat dari ayah tirinya yang dianggapnya ayah
tulen itu. Ternyata bahwa Siauw Eng berotak cerdas sekali, terutama dalam pelajaran ilmu silat. Setiap
jurus pukulan baru dilatih satu dua kali saja telah dapat dilakukannya dengan gerakan sempurna hingga
makin sayanglah Gak Song Ki kepadanya.
Setelah Siauw Eng berusia dua belas tahun, habislah sudah semua kepandaian Gak Song ki
dipelajarinya dan dalam usia semuda itu Siauw Eng telah memiliki kepandaian tinggi dan lihai. Melihat
kemajuan anak ini dan bakat besar yang dipunyainya, Gak Song Ki lalu mengirim mengirim Siauw Eng
ke Gobi-san, ke tempat pertapaan suhunya, yakni Cin San Cu. Pertapa yang sakti ini begitu melihat
Siauw Eng, timbul rasa kagumnya karena benar-benar anak ini memiliki bakat besar untuk menjadi
seorang pendekar, maka dengan girang ia lalu menerima Siauw Eng menjadi muridnya. Semenjak itu,
Gak Siauw Eng tinggal di Gobi-san, ikut suhunya belajar silat tinggi, bahkan ketika Bok San Cu, sahabat
baik dan saudara seperguruan Cin San Cu, datang ke Gobi-san dan melihat Siauw Eng, tosu inipun lalu
menurunkan kepandaiannya pula.
Dengan semangat dan tekun sekali Gak Siauw Eng mempelajari ilmu pedang Pek Tiauw Kiam Hwat
(ilmu pedang rajawali putih) dan Sin Coa Kiam Hwat (ilmu pedang ular sakti) dari Bok San Cu, dan
mempelajari ilmu silat tangan kosong dan latihan iweekang dan ginkang dari Cin San Cu. Tentu saja,
digembleng oleh dua orang tokoh Gobi-san yang berilmu tinggi ini, Siauw Eng mendapat kemajuan
pesat sekali dan ketika ia telah hampir lima tahun belajar ilmu silat di bawah asuhan dua orang guru
besar itu, ia telah menjadi seorang gadis yang gagah perkasa dan lihai sekali.
Sebetulnya, menurut kedua orang suhunya, ia masih harus mematangkan pelajarannya sedikitnya dua
tahun lagi, akan tetapi oleh karena Siauw Eng telah merasa rindu sekali kepada ayah bundanya yang
telah ditinggalkannya hampir lima tahun lamanya, maka dara itu memohon dan mendesak kedua
gurunya untuk memperkenankan ia turun gunung dan pulang ke rumah orang tuanya.
“Muridku, dengan dua macam Kiamhwat yang telah kau pelajari dengan baik itu, kau tak usah takut
menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun,” kata Bok San Cu yang memang memiliki watak
sombong dan mengagulkan kepandaian sendiri, “akan tetapi kau harus melatih diri baik-baik karena
gerakan-gerakanmu belum sempurna benar, baru delapan bagian yang sempurna.”
“Tentu akan teecu perhatikan, suhu, akan tetapi betul-betulkah tidak akan ada orang yang dapat
mengalahkan ilmu pedang teecu ?” tanya Siauw Eng yang semenjak kecil dimanja orang tuanya dan
kini dimanja kedua suhunya hingga dara inipun menjadi angkuh dan merasa dirinya paling pintar.
“Kalau ada yang mengalahkan ilmu pedangmu, aku Bok San Cu hendak melihat siapa orangnya ?” kata
guru itu membesarkan hati Siauw Eng.
“Siauw Eng,” kata Cin San Cu yang lebih tua dan lebih sabar sikapnya, "betapapun juga, kau jagalah
dirimu baik-baik dan jangan sekali-kali memandang rendah kepandaian orang lain karena di dunia ini
banyak sekali terdapat orang pandai. Kau pulanglah dan bantulah ayahmu yang menghadapi banyak
kesukaran. Sekarang setelah pemerintah telah kembali dalam tangan Kaisar, maka tentu banyak terjadi
kekacauan yang ditimbulkan oleh sisa-sisa pemberontak, maka sudah menjadi tugasmu sebagai puteri
seorang komandan perwira untuk membantu mengamankan seluruh negeri. Kalau kau bisa membantu
dan berjasa, berarti kau telah membalas dan menjunjung tinggi nama kami berdua sebagaigurugurumu.”
Siauw Eng menyanggupi dan setelah mendapat berbagai nasehat dari kedua gurunya yang amat
sayang kepadanya itu, ia lalu turun gunung.
Koleksi Kang Zusi
Ia berangkat pagi-pagi benar dan pagi hari yang cerah itu menimbulkan kegembiraan hatinya. Ia
merasa girang dan gembira karena kini ia telah mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan sedang pulang
untuk bertemu kedua orang tuanya. Alangkah rindunya kepada kedua orang tua itu, terutama sekali
kepada ibunya. Dalam kegembiraannya, Siauw Eng berlari cepat sekali sehingga ia hanya merupakan
bayangan merah yang maju cepat dari atas lereng bukit.
Daerah Gobi-san amat luasnya, hingga biarpun Siauw Eng mempergunakan ilmu lari Hui Heng Sut
yang tinggi dan dalam sehari saja dapat melalui ratusan li, akan tetapi setelah melakukan perjalanan
selama tiga hari, barulah ia keluar dari daerah Gobi yang luas.
Ia berjalan terus menuju ke timur dan belum melalui kota besar, baru melalui beberapa buah dusun
yang amat kecil sederhana, dusun para petani miskin yang hidup seakan-akan terasing dari kota-kota
besar.
Pada suatu hari, Siauw Eng tiba dalam sebuah hutan pohon Siong yang liar dan besar. Ia mendapat
keterangan dari penduduk dusun di luar hutan itu bahwa hutan ini amat panjang, lebih dari tiga puluh li
jauhnya dan di dalamnya banyak terdapat binatang buas dan kabarnya belum lama ini ada
serombongan perampok bersarang di hutan itu. Akan tetapi, Siauw Eng hanya tersenyum saja
mendengar penuturan ini dan sama sekali tidak nampak gentar, bahkan ia berkata dengan lagak
sombong,
“Kebetulan sekali, lopek, sudah lama aku tidak makan daging naga dan harimau, dan sudah lama pula
aku tidak membasmi gerombolan perampok !”
Mendengar ini, orang dusun yang sudah tua itu memandangnya dengan kaget dan heran, kemudian ia
berdiri tercengang ketika melihat betapa dengan sekali berkelebat saja, tubuh dara baju merah itu telah
lenyap dari depannya. Empek-empek ini menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbisik, “Siluman atau
bidadarikah ia ?”
Dengan hati tabah, Siauw Eng masuk ke dalam hutan yang memanjang dari barat ke timur. Benar saja,
hutan itu liar sekali hingga di situ belum ada jalan kecil atau lorong yang biasa dilalui orang. Terpaksa ia
mencabut pedangnya dan membacok roboh semua penghalang berupa rumput-rumput dan tetumbuhan
kecil lainnya. Kadang-kadang ia menghadapi jurang yang lebar dan curam karena hutan itu berada di
lereng bukit, akan tetapi dengan gesit ia lalu melompati jurang itu.
Hampir setengah hari ia berjalan perlahan karena tak mungkin berjalan cepat di dalam hutan liar itu,
akan tetapi ia tidak bertemu dengan seekor binatang buas pun, kecuali beberapa ekor musang dan
kelinci yang indah dan banyak sekali burung-burung yang berkicau merdu. Ia tersenyum geli kalau
teringat kepada orang dusun tadi yang dianggapnya selalu melebih-lebihkan.
“Memang benar kata suhu,” pikirnya dengan hati geli, “orang tak boleh merasa takut, karena rasa takut
menimbulkan khayal yang bukan-bukan. Mungkin seekor kucing akan kelihatan seperti harimau dan
seekor ular biasa kelihatan seperti naga oleh petani yang penakut tadi.”
Sambil masih tersenyum-senyum geli dan menyabet-nyabetkan pedangnya pada serumpun alang-alang
yang tinggi dan yang menghadang di depannya, Siauw Eng melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba ia
mendengar orang berlari di depan dan ketika ia memandang, ternyata bahwa dari jauh datang tiga
orang laki-laki dengan tombak di tangan, dan mereka ini berlari-lari keras bagaikan dikejar setan.
Ketika mereka tiba di dekat tempat Siauw Eng dan melihat banyak pohon di situ, mereka berlumba
memanjat pohon yang tinggi sambil membawa tombaknya. Seorang di antara mereka ketika melihat
Siauw Eng, cepat berseru,
“Nona, cepat ... ! Lekas kau naik ke pohon ! Macan iblis mendatangi dari sana ! Lekas .......!”
Akan tetapi, Siauw Eng tidak mau mempedulikan seruan ini dan berdiri dengan tenang sambil menanti
datangnya macan iblis yang mereka takutkan itu. Dan tak lama kemudian, datanglah harimau itu dan
diam-diam Siauw Eng juga merasa terkejut karena binatang itu sungguh besar dan tinggi seperti seekor
lembu muda.”
“Nona panjatlah pohon di dekatmu itu !” kembali pemburu itu berteriak dengan suara gemetar. Mereka
itu berpakaian seperti pemburu-pemburu yang gagah, akan tetapi kini melarikan diri dari seekor harimau
Koleksi Kang Zusi
yang seharusnya diburunya. Sungguh lucu, pikir Siauw Eng, yang diburu memburu dan yang memburu
menjadi buruan.
Akan tetapi ia tidak sempat memikirkan kelucuan ini terlebih jauh oleh karena pada saat itu terdengar
auman keras sekali hingga menggetarkan seluruh hutan, bahkan seorang di antara pemburu yang telah
duduk dengan amannya di atas cabang tertinggi, hampir terjatuh dari tempat duduknya oleh karena
tubuhnya menggigil dan lemas mendengar auman harimau yang dahsyat itu.
Siauw Eng berlaku waspada karena menduga bahwa harimau itu pasti akan menyerangnya dengan
sebuah lompatan seperti biasa harimau menyerang. Dulu ia pernah ikut suhunya menangkap seekor
harimau hingga tahu akan gerak-gerik penyerangan binatang liar itu, akan tetapi harimau yang
ditangkap gurunya dulu tidak ada setengahnya dari harimau yang berdiri dihadapannya sekarang ini.
Dugaannya benar karena tiba-tiba harimau itu merendahkan tubuh dan kemudian melompat dengan
sebuah terkaman hebat. Agaknya ia hendak merobek tubuh calon mangsa berwarna merah ini dengan
sekali terkam.
Akan tetapi, lebih cepat lagi Siauw Eng mengelak dengan sebuah lompatan ke kanan. Sambil
melompat, dara itu membalikkan tubuh hingga sebelum harimau itu berbalik, ia telah lebih dulu
menghadapi harimau itu dari samping. Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia lalu menusuk dengan
pedangnya ke arah kaki belakang, akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika tiba-tiba ekor
harimau itu menyabet dan hampir saja lengannya yang memegang pedang kena sabet. Ekor itu
menyabet keras bagaikan pecut dan melenggak-lenggok bagaikan ular hingga berbahaya sekali. Siauw
Eng cepat menarik kembali tangannya dan kini ia lebih berhati-hati pula karena ternyata bahwa macan
ini lihai sekali dan pantas saja disebut macan iblis oleh pemburu-pemburu itu.
Sementara itu, ketika harimau tadi menerkam, ketiga orang pemburu yang berada di atas pohon telah
menutup mata masing-masing karena mereka tidak tega melihat betapa tubuh gadis baju merah yang
luar biasa cantiknya itu dirobek-robek oleh kuku dan gigi harimau. Akan tetapi, ketika tidak terdengar
sesuatu, mereka merasa heran dan membuka mata. Alangkah heran dan girang hati mereka ketika
melihat betapa Siauw Eng masih hidup dan masih menghadapi harimau itu dengan pedang di tangan
dan dengan sikap tenang. Ternyata dara baju merah itu telah berhasil mengelakkan diri dari terkaman
macan yang mereka takuti itu. Luar biasa sekali ! Mereka lalu duduk dan menonton pertempuran yang
terjadi dan kini terbukalah mata mereka karena heran dan takjub melihat sepak terjang Siauw Eng.
Gadis baju merah itu loncat sana loncat sini dengan amat lincahnya, mempermainkan harimau itu dan
mengelak dari setiap terkaman dan sambaran kaki harimau, bahkan kadang-kadang mencibirkan
bibirnya yang manis, tertawa-tawa mengejek dan meniru-niru geraman binatang yang makin lama
makin panas dan marah itu. Dengan terkaman yang dahsyat, yakni mengembangkan keempat kakinya
ke kanan ke kiri dan tubuhnya ditekuk hingga dapat digerakkan pula mengikuti ke mana korbannya
hendak mengelak. Inilah terkaman luar biasa hebatnya karena apabila Siauw Eng mengelak, tentu
harimau itu sebelum turun dapat melanjutkan terkamannya dan mengubah luncuran tubuhnya. Agaknya
tiada jalan lagi bagi Siauw Eng dan untuk balas menyerang, seakan-akan ia hanya akan mengadu jiwa.
Ketiga orang pemburu sudah menahan napas karena melihat betapa harimau itu menubruk hebat dan
dara baju merah itu masih belum bergerak seperti orang ragu-ragu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar Siauw Eng berseru nyaring dan tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke
atas, lebih tinggi dari lompatan harimau itu. Tentu saja hal ini membuat harimau itu tidak berdaya
karena tak mungkin ia menggerakkan tubuhnya berbalik ke atas, dan sebelum keempat kakinya kembali
ke atas tanah, tiba-tiba ia merasa ekornya sakit sekali. Ia mengaum keras dan memutar-mutar tubuhnya
cepat sekali seakan-akan hendak menggigit ekor sendiri, dan ternyata bahwa ekornya yang panjang itu
telah terpotong di tengah-tengah oleh sabetan pedang Siauw Eng yang dilakukan ketika ia masih
berada di udara dan pada saat harimau itu tidak menyangka.
Setelah kehilangan ekornya, gerakan harimau itu tidak sehebat tadi dan kegesitannya banyak
berkurang. Agaknya selain merasa sakit, iapun mulai jerih menghadapi makhluk warna merah yang luar
biasa ini. Tubrukannya makin lemah dan jarang, sedangkan aumnya juga berbeda, seringkali ia berdiri
saja sambil menggerak-gerakkan kepala seperti sedang ketakutan.
Akan tetapi Siauw Eng tidak mau memberi hati kepadanya dan kini dara ini balas menyerang dengan
pedangnya. Hebat sekali serangannya dan harimau itu tidak kuasa mengelak lagi. Sambil mengaum
keras yang berbunyi seperti keluhan, harimau itu roboh miring ketika pedang Siauw Eng memasuki
dada dan tepat mengiris jantungnya. Setelah berkelonjotan beberapa kali, harimau yang besar dan
buas dan yang telah makan banyak manusia itu mati.
Koleksi Kang Zusi
Terdengar seruan-seruan kaget dari atas pohon karena sungguh mati ketiga orang pemburu itu tak
pernah menyangka bahwa seorang gadis muda sehalus dan secantik itu dapat membunuh harimau iblis
itu seorang diri dengan pedang dan dalam waktu sedemikian cepatnya. Mereka melorot turun dari
pohon dan berdiri memandang gadis itu dengan mata terbelalak. Kemudian, serta merta ketiga orang itu
menjatuhkan diri berlutut di depan Siauw Eng. Mereka menghaturkan banyak terima kasih sambil
mengangguk-anggukkan kepala.
Siauw Eng tersenyum geli dan berkata dengan suara bangga karena penghormatan ini ? “Mengapa
kalian menghaturkan terima kasih ? Biarpun harimau ini tidak kubunuh, ia juga tak dapat mengganggu
kalian yang berada di atas pohon !”
“Lihiap tidak tahu, bukan saja lihiap telah menolong jiwa kami bertiga, bahkan lihiap telah menolong
keselamatan jiwa orang sekampung kami.”
Siauw Eng merasa heran dan lalu minta diberi penjelasan.
“Kami bertiga tinggal di kampung sebelah selatan hutan ini dan pekerjaan kami adalah pemburu. Boleh
dibilang semua orang laki-laki di kampung kami adalah pemburu-pemburu yang mencari penghasilan
dengan jalan memburu binatang di hutan ini. Dengan banyaknya binatang di hutan luas ini, maka untuk
beberapa lama keadaan kami cukup dan hasil-hasil buruan dapat kami jual ke kampung lain.Akan
tetapi, baru kira-kira sebulan ini, muncullah harimau besar ini yang tidak saja mengganggu keamanan,
bahkan telah membunuh mati tiga orang kawan kami dan bahkan berani menyerang sampai ke
kampung kami dan menerkam seorang anak kecil. Semenjak ada harimau ini, maka kami tidak berani
memburu terlalu jauh di dalam hutan hingga penghasilan kami banyak berkurang. Maka, kini lihiap telah
membunuh binatang ini, bukankah itu berarti lihiap telah menolong jiwa kami sekampung ?” Kembali
ketiga orang itu berlutut dan menghaturkan terima kasih.
Bangga sekali hati Siauw Eng mendengar ini. Baru saja turun gunung, ia telah dapat menolong jiwa
orang sekampung. Alangkah bangga dan senangnya kalau kedua suhunya mendengar tentang hal ini.
“Apakah selain harimau ini masih ada lagi binatang lain yang mengganggu kalian ?” tanyanya.
Ketiga orang pemburu itu saling pandang dan agaknya ragu-ragu untuk menjawab, akan tetapi
kemudian yang tertua di antara mereka berkata,
“Lihiap, ada sebuah bencana yang telah lama mencekik leher kami akan tetapi yang sebetulnya tak
berani kami ceritakan kepada siapapun juga. Namun, melihat kegagahan lihiap, kami sangat
mengharapkan pertolongan lihiap untuk tidak tanggung-tanggung menolong kampung kami hingga
kalau saja lihiap dapat menolong kami bebas dari gangguan yang satu ini, sampai tujuh keturunan kami
akan menjunjung tinggi nama lihiap yang mulia.”
Berseri sepasang mata Siauw Eng yang indah itu. “Coba lekas katakan, siapa dan apa yang
mengganggu agar dapat kubasmi sekarang juga.”
Kemudian orang itu menuturkan seperti berikut. Di sekitar hutan itu terdapat beberapa buah dusun yang
biarpun kecil dan sederhana, namun cukup makmur karena banyak penghasilan didapat di daerah itu.
Setiap dusun mempunyai seorang kepala kampung sendiri yang dipilih oleh orang sedusun dan
biasanya yang diangkat menjadi kepala kampung adalah orang tertua dan terkaya. Akan tetapi, kurang
lebih setengah tahun yang lalu, di daerah ini datang seorang laki-laki yang berusia kurang lebih empat
puluh tahun yang mengaku di utus oleh Kaisar untuk mengepalai daerah itu. Oleh karena ia tidak
membawa bukti-bukti dan tanda-tanda ia benar-benar utusan Kaisar, tentu saja orang-orang dusun itu
tidak percaya sehingga timbul perkelahian. Akan tetapi, ternyata bahwa orang yang bernama Ci Lui itu
amat kosen dan tak seorangpun di antara semua pemburu dan penduduk di daerah itu dapat
melawannya. Akhirnya, dengan menggunakan kekerasan, semua orang terpaksa menurut dan tunduk
hingga Ci Lui mengangkat diri sendiri menjadi pemimpin atau kepala dari daerah itu. Ia mengharuskan
kepada setiap lurah untuk memberi bagian pajak yang besar kepadanya yang katanya harus dikirimkan
ke kota raja, pada hal semua orang dapat menduga bahwa hasil perasan itu masuk kantongnya sendiri.
Ia membuat semua rumah gedung di sebuah dusun dan mengawini lebih dari lima orang gadis dusun
yang tercantik. Pendeknya, setelah mengangkat diri dengan paksa menjadi kepala daerah di situ, Ci Lui
hidup seperti seorang raja dan tak seorangpun berani menentangnya.
“Sebetulnya kami tidak berani menceritakan ini kepada lihiap oleh karena kalau sampai terdengar oleh
kepala kampung, kami tentu akan mendapat hukuman. Semua kepala kampung takut sekali kepadanya
Koleksi Kang Zusi
dan kami tidak berdaya karena memang tidak kuat melawan dia. Kalau lihiap berani dan berhasil
menghalau penghalang yang satu ini, tidak saja sekampung kami, bahkan seluruh penduduk di daerah
ini akan berterima kasih sekali kepada lihiap.”
“Bangsat betul manusia itu !” Siauw Eng mencaci maki. “Mari kau tunjukkan di mana rumahnya padaku
agar aku dapat memotong kedua telinganya !”
Girang sekali hati ketiga orang pemburu itu mendengar akan kesanggupan ini dan mereka lalu
mengajak Siauw Eng pergi ke dusun tempat tinggal mereka. Sambil memanggul bangkai macan yang
berat itu hingga terpaksa mereka memanggul dan menggotongnya bergantian, mereka dengan wajah
girang mengantar Siauw Eng.
Penduduk kampung yang melihat bahwa harimau siluman telah dapat dibunuh, menyambut dengan
girang sekali, bahkan ada yang mencucurkan air mata karena girang dan terharunya. Dan dipimpin oleh
kepala kampung yang sudah lanjut usianya, semua penduduk lalu berlutut di depan Siauw Eng. Bukan
main bangga hati Siauw Eng karena benar saja seperti yang dikatakan oleh ketiga orang pemburu tadi,
semua orang kampung menghormat dan menyatakan terima kasihnya dengan sungguh-sungguh dan
dengan terharu. Ketika kepala kampung menanyakan nama, dara itu menjawab, “Namaku adalah Siauw
Eng, she Gak dan aku datang dari Gobi-san.”
“Kalau begitu, siocia pantas disebut Gobi Ang Sianli (Bidadari Merah Dari Gobi),” kata kepala kampung
itu dengan suara keras hingga semua orang kampung bersorak girang menyatakan persetujuan
mereka. Siauw Eng dengan muka kemerah-merahan dan mata berseri-seri menjawab,
“Kalau memang kalian hendak menyebutku demikian baiklah mulai sekarang aku memakai julukan Gobi
Ang Sianli.” Kembali semua orang bersorak dan pada malam hari itu semua orang dalam keadaan
pesta pora dan semua mendapat bagian daging harimau yang mereka benci itu. Bahkan, untuk
membalas sakit hati anak-anak, anak kecilpun diberi makan sedikit daging harimau. Akan tetapi, Siauw
Eng yang mendengar bahwa harimau itu telah banyak makan manusia, menjadi jijik dan tidak mau ikut
makan.
Ketika ketiga orang pemburu yang bertemu dengan Siauw Eng di dalam hutan menceritakan kepada
kepala kampung bahwa nona pendekar itu hendak membasmi Ci Lui, ia menjadi pucat sekali dan
segera menghadap Siauw Eng.
“Lihiap,” katanya dengan gemetar, “Kuharap lihiap jangan sampai mengganggu orang she Ci itu
sungguhpun tidak ada keinginan yang lebih besar di dalam hatiku selain melihat manusia itu mampus
sekarang juga.”
Siauw Eng memandang heran. “Eh, kau ini aneh sekali, lopek. Kau ingin melihat dia mampus akan
tetapi melarang orang mengganggunya, bukankah ini bertentangan sekali ?”
“Lihiap, orang itu datang dari kota raja dan agaknya ia berpengaruh sekali di sana. Kalau sampai ia
diganggu dan kemudian hal ini terdengar oleh para pembesar, bukankah kampung kita akan mendapat
hukuman berat ?”
Siauw Eng tertawa dan menjawab, “Lopek, jangan kuatir. Ketahuilah, aku sendiri adalah orang yang
tinggal di ibukota Tiang-an dan bahkan ayahku adalah seorang perwira, seorang komandan yang
memimpin pasukan besar, maka apakah yang harus ditakutkan menghadapi seorang penipu rendah
seperti orang she Ci itu ?”
Mendengar ini, kepala kampung segera berlutut dengan hormatnya, “Ah, tidak tahunya lihiap adalah
puteri seorang pembesar tinggi.”
Biarpun hatinya merasa bangga dan senang, namun Siauw Eng merasa tak enak juga melihat kepala
kampung yang tua itu berlutut di depannya.
“Sudahlah, lopek. Besok pagi saja antarkan aku menemui orang itu, hendak kulihat sampai di mana
kebusukkannya.”
Berita tentang kenyataan bahwa nona baju merah yang gagah perkasa itu puteri seorang pembesar
tinggi, membuat semua orang makin tunduk menghormat dan kagum.
Koleksi Kang Zusi
Pada keesokkan harinya, dengan diantar oleh serombongan pemburu karena kepala kampung sendiri
tidak berani mengantarnya, Siauw Eng dengan langkah gagah menuju ke dusun di mana tinggal Ci Lui
yang memiliki sebuah rumah gedung besar.
Orang she Ci ini keluar sendiri menyambut kedatangan serombongan pemburu yang disangkanya
hendak memberi hadiah hasil buruan seperti biasanya karena memang banyak orang yang menjilat dan
berusaha mengambil hatinya. Akan tetapi ia heran sekali melihat bahwa rombongan pemburu itu tidak
membawa hasil buruan, dan melihat pula bahwa mereka itu mengikuti seorang nona baju merah yang
bersikapgagah dan wajahnya cantik luar biasa.
Sebaliknya Siauw Eng yang mendapat bisikan bahwa orang tinggi besar yang keluar dari gedung itu
adalah Ci Lui sendiri, lalu melangkah maju dengan tindakan kaki lebar dan setelah berdiri di depan Ci
Lui, ia menuding,
“Kau kah manusia jahanam yang bernama Ci Lui ?”
Bukan main marah dan terkejutnya Cilui mendengar betapa nona cantik ini datang-datang memakinya
manusia jahanam. Matanya yang bundar itu bergerak-gerak berputar-putar dan sambil bertolak
pinggang ia membentak,
“Perempuan hina dina yang mau mampus. Siapa kau dan dari mana kau datang ? Hai, kalian
membawa orang liar ini dari manakah ? Dan apa maksud kalian ? Awas, hal ini tentu akan kulaporkan
kepada kota raja dan kalian tentu akan dihukum sebagai pemberontak-pemberontak jahat !”
Semua pemburu ketakutan dan menundukkan kepala tanpa berani bergerak. Akan tetapi Siauw Eng
memperdengarkan suara sindiran sambil tertawa.
“Gertak samabal segala bajungan kecil mana dapat menakutkan aku ? Eh, keparat, kalau kau memang
benar seorang utusan Kaisar dari kota raja, kenalkah kau kepada seorang perwira bernama Gak Song
Ki?”
Ci Lui tertawa dan membelalakkan matanya. “Mengapa tidak kenal ? Aku kenal baik Gak-ciangkun itu.
Bukankah ia yang tinggal di sebelah selatan kota dan memiliki rumah gedung yang bercat kuning ?”
Siauw Eng terkejut juga, akan tetapi dengan suara gagah ia bertanya lagi, “Kalau kau kenal baik
dengan Gak Ciangkun, tentu kau tahu pula bahwa dia mempunyai seorang puteri yang gagah ?”
“Puterinya ...... ?” Ci Lui ragu-ragu dan bingung. “O, ya, ya ........ aku tentu saja kenal puterinya itu yang
gagah.”
“Hm, bangsat rendah pembohong tolol. Akulah puteri Gak ciangkun yang datang hendak
menghukummu !” kata Siauw Eng sambil mencabut pedangnya.
“Bagus ! Kau perampok wanita dari mana dan siapakah namamu ?” teriak Ci Lui dengan marah pula
dan ketika tangannya meraba ke belakang punggung, iapun telah mengeluarkan sebatang pedang
tajam.
“Dengarlah baik-baik. Aku adalah Gak Siauw Eng yang berjuluk Gobi Ang Sianli !” Sambil berkata
demikian, secepat kilat Siauw Eng lalu maju menyerang yang dapat ditangkis oleh Ci Lui dan dibalas
dengan serangan hebat. Dan keduanya lalu bertempur dengan seru dan mati-matian.
Ci Lui sebetulnya adalah seorang penjahat yang berkepandaian tinggi. Ia pernah menjadi perampok
dan belum lama ini ia bergelandangan di kota raja, bercampur gaul dengan semua buaya dan penjahat,
bahkan pernah menjadi tukang pukul seorang pangerandi kota raja. Oleh karena ini, sedikit banyak ia
kenal atau tahu tentang para pembesar dan perwira di kota raja. Ilmu silatnya cukup lihai, terutama ia
telah mempelajari ilmu pedang Thai kek yang boleh juga, biarpun hanya dipelajarinya secara menjiplak
dan bukan langsung dari seorang tokoh Thai Kek.
Akan tetapi, kini ia menghadapi Siauw Eng, anak murid Gobi tulen yang baru saja turun gunung setelah
mendapat gemblengan hebat bertahun-tahun di bawah pimpinan ayahnya yang gagah, kemudian
hampir lima tahun di bawah pimpinan Cin San Cu dan Bok San Cu. Setelah mencoba dengan dengan
segala tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak Siauw Eng, akhirnya Ci Lui terpaksa mengakui
Koleksi Kang Zusi
kelihaian gadis baju merah itu dan ia terdesak hebat tanpa dapat melakukan serangan balasan lagi.
Siauw Eng mempercepat gerakan pedangnya dan dengan teriakan keras, “Lepaskan telinga kananmu
?” pedangnya menyambar dan Cilui menjerit kesakitan ketika ujung pedang Siauw Eng membabat dan
membikin daun telinganya putus.
Sambil mendekap telinga kanan yang kini tidak berdaun lagi serta mengeluarkan banyak darah itu, Ci
Lui menyerang lagi dengan nekad dan mati-matian, akan tetapi sebuah tendangan kilat telah membuat
pedangnya terlepas dari pegangan dan tendangan kedua membuat ia tak kuasa berdiri karena
sambungan lututnya kena tendang.
Siauw Eng menggerak-gerakan pedangnya dan berkata,
Sekarang kau mengakulah bahwa kau hanya seorang penipu rendah dan bahwa kau sama sekali
bukan seorang utusan Kaisar. Baru aku mau mengampuni jiwamu.”
Sementara itu, semua orang kampung yang melihat bahwa musuh besar yang diam-diam mereka benci
itu telah mendapat hajaran hebat, makin lama makin banyak berkumpul dan orang-orang dusun lain
juga berdatangan berikut kepala-kepala kampung mereka. Mereka ini lalu berseru dan berteriak-teriak,
“Bunuh saja penipu ini !”
“Nah, kau mendengar itu ? Ayoh membuat pengakuan !” bentak Siauw Eng lagi.
Terpaksa Ci Lui lalu merayap berdiri dan berkata dengan suara lemah. “Aku ...... aku memang bukan
utusan siapa-siapa ........”
Orang-orang berteriak marah dan para pemburu mengangkat tombak hendak menyerang Ci Lui, akan
tetapi Siauw Eng mengangkat tangan ke atas mencegah, “Jangan bunuh dia, aku telah memberi janjiku
!”
“Lihiap, dia terlalu jahat, pantas mendapat hukuman mati !” teriak seorang kepala kampung dengan
marah.
“Hukumannya terlalu ringan !” teriak orang lain.
“Siauw Eng lalu membentak Ci Lui, “Kau tidak lekas minggat dari sini ?”
Mendengar ini, sambil memegang tempat di mana telinganya tadi berdiri, Ci Lui lalu berkata kepada
Siauw Eng, “Lain kali kita bertemu pula !” Lalu ia melarikan diri secepatya meninggalkan tempat itu.
Orang-orang yang berkumpul dari beberapa dusun itu dengan girang sekali lalu berlutut dan
menghaturkan terima kasih kepada Siauw Eng dan setelah gadis gagah ini memberi nasehat agar harta
benda Ci Lui dibagi-bagi di antara mereka dengan adil dan memperlakukan serta menolong bekas
isteri-isteri penipu itu dengan baik pula, lalu pergi meninggalkan dusun itu. Benar sebagaimana ramalan
ketiga orang pemburu yang dulu bertemu dengan Siauw Eng, nama gadis ini sebagai Gobi Ang Sianli,
dipuji-puji dan dikenang oleh para penduduk dusun-dusun di daerah itu sampai beberapa turunan.
Bagian 08. Pemuda Berbaju Putih
Beberapa pekan kemudian, Siauw Eng mulai melalui kota-kota besar hingga menggembirakan hatinya
karena sudah lama sekali ia tidak pernah melihat kota-kota besar dengan rumah-rumah dan bangunanbangunan
indah. Akan tetapi, berbeda dengan ketika ia melewati dusun-dusun, kini hampir semua mata
memandangnya dengan kagum dan bahkan pandangan mata orang-orang muda yang melihatnya di
dalam kota membuat ia mendongkol sekali oleh karena pandangan itu mengandung maksud kurang
ajar. Ia sama sekali tidak tahu bahwa hal itu bukanlah semata-mata salahnya para pemuda itu, akan
tetapi oleh karena kecantikannya memang menyolok mata sekali.
Pada masa itu, sukar sekali melihat gadis cantik oleh karena para gadis jarang meninggalkan kamar
dan apabila mereka keluar selalu tentu naik joli yang menutupi seluruh tubuh mereka. Banyak juga
Koleksi Kang Zusi
wanita-wanita kangouw yang melakukan perjalanan, akan tetapi belum pernah ada wanita secantik
Siauw Eng yang berjalan di jalan umum dan terlihat oleh setiap orang.
Ketika pertama kali memasuki kota dan dipandang sedemikian rupa oleh orang-orang yang bertemu di
jalan, memang ia merasa bangga dan senang, akan tetapi lambat laun karena terlalu banyak orang
memandangnya, dengan kagum, ia menjadi jemu dan bosan.
Maka ia lalu buru-buru mencari sebuah hotel di tengah kota. Seorang pelayan yang telah agak tua
usianya menyambutnya dan pelayan yang peramah ini lalu mempersilakannya memilih kamar. Ketika
melihat betapa pandang mata pelayan tua ini sama saja dengan orang-orang di kota, Siauw Eng tidak
tahan lagi untuk tidak menegur.
“Eh, Lopek ! Kau ini sudah tua akan tetapi pandangan matamu sama saja dengan orang-orang lelaki
muda yang kurang ajar. Agaknya semua lelaki di dalam kota ini memang kurang ajar dan tidak sopan.”
Mula-mula pelayan itu terkejut mendengar teguran ini, akan tetapi ia lalu tersenyum geli dan sambil
membongkok-bongkokkan tubuhnya ia berkata, “Maaf, li-enghiong (pendekar wanita), memang kau ini
luar biasa sekali. Aku memang kagum padamu, akan tetapi jangan salah sangka, lihiap, kekagumanku
berbeda dengan kekaguman orang lain. Biarpun aku juga kagum melihat lihiap yang cantik seperti
bidadari ini, akan tetapi aku lebih mengagumi keberanian dan kegagahanmu.”
Siauw Eng senang mendengar omongan pelayan yang suka ngobrol ini, maka setelah ia mendapatkan
sebuah kamar yang menyenangkan, lalu ia bertanya lagi, “Bagaimana kau dapat mengagumi
keberanian dan kegagahanku kalau kau belum menyaksikannya sendiri ?”
“Li-enghiong, dengan berjalan seorang diri dan membiarkan dirimu yang cantik jelita ini kelihatan oleh
umum, sudah termasuk keberanian luar biasa sekali. Jangankan diperlihatkan kepada umum,
sedangkan yang disimpan-simpan juga didatangi dan dicuri orang.”
Siauw Eng terkejut dan heran karena ia tidak mengerti apa maksudnya.
Kemudian dengan suara perlahan dan dengan muka menunjukkan ketakutan, pelayan tua itu lalu
menceritakan bahwa di dalam kota itu telah terjadi kejahatan-kejahatan mengerikan, yakni bahwa telah
beberapa pekan ini kota itu diganggu oleh seorang Jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang
pekerjaannya mengganggu anak bini orang secara kejam sekali. Dua orang gadis telah tewas dipenggal
lehernya karena gadis itu berteriak minta tolong ketika ia datang di malam hari untuk mengganggu.
Bukan main marahnya hati Siauw Eng mendengar penuturan ini, akan tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Setelah hari menjadi malam, Siauw Eng lalu mengenakan pakaian ringkas dan dengan hati-hati ia
membuka jendela kamarnya dan melompat naik ke atas genteng. Ia bermaksud untuk mencari dan
membekuk penjahat yang telah membuatnya marah sekali itu. Penjahat semacam itu harus dihukum
mati pikirnya dengan gemas.
Malam itu kebetulan malam terang bulan dan langit bersih dari awan hingga keadaan cukup terang.
Ketika ia sedang berlari-lari di atas genteng rumah-rumah orang dengan gerakan demikian gesit dan
ringan bagaikan seekor kucing, tiba-tiba ia melihat di atas genteng agak jauh dari situ berkelebat
bayangan putih yang gesit sekali. Berdebarlah hati Siauw Eng karena ia merasa pasti bahwa itulah
penjahat yang dicari-carinya. Karena gemasnya ia lalu mencabut pedangnya dan mempercepat
gerakannya mengejar bayangan itu. Ia merasa heran mengapa penjahat itu demikian beraninya,
memakai pakaian warna putih, tidak seperti penjahat biasa yang lebih sering mengenakan pakaian
warna hitam.
Akan tetapi, gerakan bayangan putih itu cepat sekali hingga sebentar saja lenyap dari pandangan
matanya. Siauw Eng merasa penasaran dan mencari-cari. Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi di atas
rumah lain yang tak berapa jauh letaknya dari tempat di mana ia berada, maka Siauw Eng lalu
melompat dan mengejar. Tadinya Siauw Eng hendak mengintai dan melihat apa yang akan dilakukan
oleh bayangan itu untuk mendapat kepastian bahwa bayangan itu memang benar penjahat yang
dicarinya, akan tetapi melihat bahwa bayangan itu gesit sekali gerakkannya, maka ia kini ingin
menyusul dan langsung menyerang.
Bayangan putih itu agaknya telah melihatnya, karena ia berpaling dan kemudian melarikan diri cepat
sekali menuju ke luar kota. Siauw Eng merasa penasaran dan mengejar. Ketika orang yang dikejarnya
melompat turun, iapun melompat turun dan mengerahkan ilmu jalan cepat terus mengejar. Setelah tiba
Koleksi Kang Zusi
di luar kota dan berada di jalan dekat sawah, tiba-tiba bayangan itu berhenti dan menanti Siauw Eng
sambil bertolak pinggang. Siauw Eng mempercepat larinya dan mempererat pegangan pedangnya, dan
setelah tiba dihadapan bayangan itu, ia melihat dengan tercengang bahwa orang itu adalah seorang
laki-laki yang masih muda dan yang mempunyai wajah cakap dan tampan sekali. Pakaiannya berwarna
putih dan sederhana sekali, sedangkan kakinya mengenakan sepatu berlapis besi di bawahnya.
Rambutnya diikat ke atas dengan sehelai kain putih, dan pada ikat pinggangnya yang berwarna kuning
itu tergantung sebuah kantung piauw. Di punggungnya nampak gagang pedang beronce benang merah
emas. Sungguh seorang pemuda yang tampan dan gagah. Akan tetapi Siauw Eng tidak mempedulikan
ketampanan atau kegagahan orang, segera langsung menyerang dengan pedangnya dan membentak,
“Bangsat rendah. Bersedialah untuk mampus untuk menebus dosamu !”
Melihat sambaran Pedang Siauw Eng yang amat berbahaya itu, pemuda baju putih ini cepat mengelak
dan berkata perlahan. “Hm, garang sekali !”
Siauw Eng cepat menyerang lagi dan karena gerakan pedangnya memang cepat dan luar biasa,
pemuda itu lalu mencabut pedangnya pula dan sebentar saja keduanya lalu bertarung dengan hebat.
Siauw Eng terkejut sekali karena setelah bertempur belasan jurus, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu
pedang lawannya ini tinggi dan luar biasa sekali hingga sama sekali ia tidak dapat mendesak. Maka ia
lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu pedang Sin Coa Kiam hwat yang mempunyai gerakangerakan
lihai dan tak terduga, seakan-akan serangan ular yang bersembunyi dibawah rumput.
Pemuda itu mengeluarkan seruan kagum. Ia tidak menyangka bahwa gadis muda berpakaian merah ini
demikian lihai, sedangkan tadinya ia memandang rendah. Ketika tadi berlari-larian di atas genteng, ia
mendapat kenyataan bahwa orang baju merah yang mengejarnya itu walaupun memiliki ginkang yang
cukup sempurna, namun masih belum dapat mengatasi ginkangnya sendiri, maka ia memandang
rendah dan sengaja menanti. Tak diduganya sama sekali bahwa orang berbaju itu adalah seorang anak
gadis jelita yang begini kosen. Oleh karena ia memang hendak mencoba kepandaian orang, maka
setelah melihat bahwa ilmu pedang Siauw Eng benar-benar tangguh dan kalau dilawan tentu akan
sukar menjatuhkannya, maka tiba-tiba pemuda itu berkata,
“Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berlatih pedang dengan kau !” Pedangnya lalu
diputar hebat sekali sehingga mengeluarkan cahaya berkilauan dan memaksa Siauw Eng melompat
mundur dengan kaget, akan tetapi saat itu digunakan oleh pemuda tadi untuk melompat pergi.
“Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana ?”
“Mulutmu busuk sekali, datang-datang mengobral makian !” jawab pemuda itu sambil menoleh dan
terus berlari menegur.
“Bangsat kurang ajar, pengecut hina dina,” Siauw Eng memaki lagi sambil terus mengejar.
Tiba-tiba pemuda itu berhenti dan memutar tubuh. “Apa ? Kau boleh memaki sesuka hatimu, akan
tetapi makian pengecut hina dina itu tak dapat kuterima !” katanya marah sambil menangkis serangan
Siauw Eng dengan pedangnya.
“Memang kau pengecut hina dina ! Beraninya hanya mengganggu wanita lemah dan kalau bertemu
wanita gagah lalu melarikan diri !” bentak Siauw Eng sambil terus menyerang lagi.
“Eh, eh, nona galak. Tahan dulu ! Kau ini memaki siapakah ?”
“Memaki kau, siapa lagi ?”
“Apa salahku ?”
“Kau penjahat Jai-hwa-cat tak tahu diri. Sudah menjadi penjahat masih berpura-pura lagi.”
“Eh, eh, buka dulu lebar-lebar matamu dan lihat sedang berhadapan dengan siapa ? Aku Ong Cin Pau
selama hidupku belum pernah mengganggu wanita, apalagi menjadi Jai-hwa-cat
“Bohong ! Buktikan kalau kau memang bukan Jai-hwa-cat !” seru Siauw Eng.
Koleksi Kang Zusi
Tentu saja pemuda itu tak dapat membuktikannya, maka ia lalu tertawa dan menjawab, “Kau berlagak
pintar akan tetapi sebenarnya goblok sekali ! Coba kau sekarang yang buktikan kalau aku benar-benar
seorang penjahat busuk.”
“Buktinya kau gentayangan di malam buta di atas rumah orang,” jawab Siauw Eng.
“Dan kau sendiri juga berkeliaran di atas rumah orang pada waktu yang sama.”
Marah sekali gadis itu. “Kau ....... kau pandai memutar lidah. Kau penjahat busuk hina dina !”
Sambil memaki-maki dengan marah sekali Siauw Eng lalu menyerang lagi dengan hebatnya, akan
tetapi pemuda itu melawan dengan baiknya dan ternyata bahwa ilmu pedangnya tinggi dan lihai sekali.
“Sudahlah, kau gadis bodoh kurang pengalaman yang bisanya hanya menuduh orang secara membuta.
Apa kaukira kau sendiri saja yang cukup gagah dan berani menangkap penjahat ? Aku tidak
mempunyai banyak waktu lagi !” Kemudian ia lalu melompat cepat dan ketika Siauw Eng mengejar,
pemuda itu lari masuk ke dalam sebuah hutan.
Siauw Eng merasa penasaran sekali. Menurut kebiasaan orang-orang gagah, juga menurut nasehat
guru-gurunya, seorang lawan yang telah lari ke dalam hutan tak boleh dikejar, oleh karena hal ini
berbahaya sekali. Akan tetapi Siauw Eng yang marah dan penasaran tidak memperdulikan pantangan
ini dan terus mengejar masuk ke dalam hutan.
******
Pemuda yang berpakaian serba putih, berwajah tampan dan berkepandaian tinggi itu memang benar
Ong Cin Pau, putera Lin Hwa dan mendiang Khu Tiong yang telah diambil murid oleh Bu Eng Cu Tiauw
It Lojin si Tanpa Bayangan dan di bawa ke tempat pertapaannya, yakni di sebuah bukit di pegunungan
Kunlun-san sebelah utara.
Lin Hwa, ibu Cin Pau, setelah berpisah dari Kong Sian dengan hati patah dan hancur, lalu kembali ke
Kunlun-san dan akhirnya dapat mencari tempat tinggal Bu Eng Cu dan diperkenankan tinggal bertapa di
sebuah gua, mendekati puteranya dan hidup mengasingkan diri di puncak Kunlun-san itu. Cin Pau
mendapat gemblengan ilmu silat dari Tiauw It Lojin selama belasan tahun, dari usia empat tahun
sampai tujuh belas tahun. Dan ketika ia telah berusia tujuh belas tahun, ibunya yang kini telah menjadi
seorang pertapa itu, lalu menceritakan kepadanya tentang riwayat hidupnya yang penuh penderitaan.
Bukan main hancurnya hati Cin Pau mendengar penuturan ini. Tadinya ia masih menyangka bahwa
ayahnya adalah Kong Sian yang baik hati itu dan yang tetap dianggapnya sebagai ayah sendiri.
“Kong Sian bukanlah ayahmu, pau-ji (anak Pau), dia itu adalah pamanmu karena ia adalah sute dari
ayahmu. Akan tetapi dia baik sekali, anakku, dialah orang termulia dalam dunia ini setelah ayahmu. Kita
berhutang budi kepadanya dan boleh dibilang bahwa kita dapat hidup sampai sekarang ini berkat jasa
dan pertolongannya.” Kemudian dengan panjang lebar Lin Hwa menceritakan betapa Un Kong Sian
telah membelanya mati-matian ketika dikejar oleh para perwira kerajaan.
“Dimana dia sekarang, ibu ? Mengapa pula ia yang begitu baik telah meninggalkan kita di sini ?”
Ibunya tersenyum. “Tentu saja dia harus pergi, anak bodoh. Dia mempunyai rumah tangga sendiri di
Tiang-an, di rumahnya menunggu seorang ibu yang sudah tua dan seorang isteri yang setia.”
“Dan di mana makam ayah dan Ma susiok yang terbinasa oleh perwira-perwira kerajaan itu, ibu ?”
“Aku sendiri juga tdak tahu, anakku. Dulu ayahmu dan saudara seperguruannya itu dikepung dalam
sebuah hutan di luar kota raja. Hal ini kiraku hanya Un Kong Sian yang dapat memberi keterangan
karena dia itu tahu akan segala peristiwa dengan jelas.”
Cin Pau termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Ibu, anak mau turun gunung !”
Ibunya terkejut, “Eh, mengapa begitu tiba-tiba ? Hendak ke mana ?”
Koleksi Kang Zusi
“Beritahukan kepadaku, ibu, kepada siapa aku harus menuntut balas atas kematian ayah dan Masusiok!”
katanya dengan gagah.
Ibunya menghela napas dan menjawab, “Tidak ada gunanya segala balas membalas itu, nak. Dulu
ibumu memang merasa penasaran sekali dan ingin menghancurkan setiap perwira kerajaan. Akan
tetapi sekarang aku dapat melihat bahwa tak baik menuruti hawa nafsu. Perwira kerajaan demikian
banyaknya dan aku tidak tahu senjata dan tangan siapa yang melayangkan nyawa ayahmu. Tidak
mungkin dan tidak seharusnya kalau kita menaruh dendam kepada setiap perwira kerajaan, karena
masih kuingat bahwa di antara para perwira itu, banyak pula yang gagah dan budiman. Kakekmu dan
kakek she Ma dikhianati oleh pangeran Gu Mo Tek hingga keluarga kita dan keluarga Ma hancur binasa
oleh para perwira yang hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar yang juga hanya
karena sudah seharusnya membasmi mereka yang memberontak terhadapnya. Jadi pada hakekatnya,
sakit hati hanyalah terhadap pangeran Gu saja dan ayah serta susiokmu telah berhasil membalas
dendam itu dengan membunuh pangeran Gu Mo Tek. Kalau kuingat-ingat, aku merasa menyesal sekali
mengapa ayah dan susiokmu itu juga membunuh kedua putera pangeran Gu karena kuanggap mereka
tidak berdosa.” Kembali Lin Hwa menghela napas dan diam-diam ia merasa khawatir karena ia maklum
pula bahwa pada waktu peristiwa itu terjadi, isteri kedua putera pangeran itu, yang seorang telah
mempunyai anak dan yang kedua telah mengandung.
Mendengar kata-kata ibunya yang panjang lebar itu, Cin Pau menundukkan kepalanya dan biarpun ia
masih muda, namun ia telah menerima banyak pelajaran batin baik dari ibunya maupun dari suhunya,
maka pandangannya luas dan ia dapat membenarkan pendapat ibunya ini.
“Kalau begitu, biarlah anak turun gunung untuk mencari makam ayah dan untuk menghaturkan terima
kasih kepada ........ Un Kong Sian susiok !”
“Memang seharusnya kau pergi mencari makam ayahmu, nak, dan kalau sudah tahu di mana
tempatnya, kelak akupun ingin sekali melihatnya. Akan tetapi, kau harus mendapat perkenan dari
suhumu lebih dulu.”
Cin Pau lalu kembali ke tempat pertapaan Tiauw It Lojin untuk minta perkenan dari gurunya ini.
Tiauw It Lojin tersenyum dan pertapa yang sudah tua ini lalu berkata, “Cin Pau, memang sudah tiba
waktunya bagimu untuk turun gunung. Akan tetapi, kau harus mampir dulu di tempat pertapaan Beng
Hong Tosu di puncak selatan itu. Dulu aku pernah berjanji bahwa apabila kau telah tamat belajar di sini,
kau akan ku kirim kepadanya untuk menerima satu dua macam pelajaran darinya. Ketahuilah, Beng
Hong Tosu adalah suhu dari mendiang ayahmu. Ia seorang jago Kunlun yang tinggi ilmu silatnya.”
Cin Pau sudah pernah melihat Beng Hong Tosu, karena selain dulu ketika masih kecil dan datang
bersama ibunya ia pernah melihat pendeta itu, juga telah dua kali semenjak ia tinggal di pegunungan
Kunlun, tosu itu datang mengunjungi Tiauw It Lojin untuk bermain catur.
Setelah berpamit dari suhunya dan ibunya, Cin Pau lalu turun gunung, mempergunakan ilmu
kepandaiannya untuk berjalan cepat dan melompati jurang-jurang hingga sebentar saja ia sudah
nampak mendaki puncak yang berada di sebelah selatan puncak tempat tinggal gurunya. Ketika ia tiba
di lereng bukit itu, dari jauh ia melihat bayangan Beng Hong Tosu berlari cepat dan sebentar saja
pendeta tua itu telah berada dihadapannya. Cin Pau cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Beng
Hong Tosu yang ketika melihatnya lalu tertawa-tawa. Ia membungkuk dan menggunakan kedua
tangannya memegang pundak pemuda itu untuk membangunkannya. Cin Pau tiba-tiba merasa betapa
kedua tangan itu seakan-akan bukit yang menindih pundaknya, maka tahulah dia bahwa kakek pendeta
ini sedang menguji tenaganya. Dengan cepat ia lalu mengerahkan iweekangnya untuk melawan
tekanan hebat itu dan tiba-tiba ia merasa tenaga tarikan yang amat hebat hingga tubuhnya hampir saja
tertarik berdiri. Akan tetapi karena ia tidak mau membikin malu suhunya yang telah menggemblengnya
dengan sungguh-sungguh, ia lalu mengerahkan khikangnya dan mempertahankan diri dengan ilmu Ban
Kin Cui (Beratkan Tubuh Selaksa Kati).
Menghadapi Cin Pau yang mengeluarkan ilmu ini hingga tubuhnya tiba-tiba menjadi berat seakan-akan
berakar pada tanah. Beng Hong Tosu merasa girang sekali. Ia lalu mengerahkan kepandaiannya dan
berkata, “Anak baik, berdirilah kau !”
Bukan main hebatnya tenaga dari tokoh Kunlun-san ini, karena benar-benar tubuh Cin Pau terangkat
naik ke atas, akan tetapi tetap saja tubuh pemuda itu masih berada dalam keadaan berlutut seperti tadi.
Koleksi Kang Zusi
“Bu Eng Cu benar-benar tidak menyia-nyiakan waktu baik. Pinto tak dapat mengajarmu dalam hal
iweekang dan khikang, kau sudah cukup kuat. Ayoh berdirilah dan coba kau melawan pinto!”
Karena maklum bahwa pendeta sakti ini sedang mengujinya, maka tanpa ragu-ragu lagi Cin Pau lalu
berdiri dan setelah berkata, “Maaf !” ia lalu menyerang dengan pukulan berbahaya. Beng Hong Tosu
lalu mengelak dan membalas dengan pukulan-pukulan terlihai dari cabang Kunlun.
Biarpun keduanya berada di puncak pegunungan Kunlun, akan tetapi asal dan dasar ilmu silat Beng
Hong Tosu dan Tiauw It Lojin jauh berbeda. Memang, banyak orang mengira bahwa cabang persilatan
Kunlun-pai atau cabang silat Kunlun hanya ada sebuah saja. Pegunungan Kunlun-san adalah sebuah
pegunungan yang daerahnya luas sekali sampai ratusan bahkan ribuan mil persegi, dan di atas puncakpuncak
banyak bukit itu tinggal banyak sekali orang-orang sakti yang mengasingkan diri atau bertapa.
Memang, kuil tempat tinggal Beng Hong Tosu telah terkenal dan dianggap sebagai tempat pusat
cabang persilatan Kunlun, akan tetapi selain di situ, masih banyak sekali guru-guru besar yang diamdiam
mengajarkan ilmu silat kepada murid-muridnya, seperti halnya Bu Eng Cu Tiauw It Lojin itu.
Dalam hal ilmu silat tangan kosong, pelajaran Tiauw It Lojin masih menang setingkat dengan ilmu
kepandaian Beng Hong Tosu dan hal ini terasa benar oleh Beng Hong Tosu ketika ia menghadapi
serangan-serangan Cin Pau. Pemuda ini telah mempelajari ilmu keraskan tangan latihan Bu Eng Cu
yang disebut Cin Kang Kim Ko Jiu dan yang membuat tangannya selain kuat, juga memiliki tenaga
pukulan lihai sekali, terutama sekali pelajaran Coat Meh Hoat semacam ilmu tiam hwat atau totokan
jalan darah yang mirip dengan ilmu totok dari Butong-pai, amat mengejutkan hati Beng Hong Tosu.
Hanya berkat pengalaman dan kelihaian iweekangnya saja maka Beng Hong Tosu dapat
mempertahankan diri terhadap serangan-serangan Cion Pau.
“Bagus, bagus, lihai sekali !” Berkali-kali Beng Hong memuji dan tiba-tiba tubuhnya berjungkir balik di
udara dan melompat kebelakang agak jauh.
“Cukup, sekarang marilah kita bermain pedang !” katanya.
Cin Pau tak membantah dan mencabut pedangnya, yakni pedang ibunya yang diberikan kepadanya
ketika ia hendak berangkat. Beng Hong Tosu yang tidak membawa pedang, lalu mematahkan sebatang
ranting dari pohon yang tumbuh di situ dan melawan Cin Pau dengan ranting itu. Kalau dalam ilmu
pukulan tangan kosong, kepandaian Cin Pau boleh dibilang lebih lihai dari pada Beng Hong Tosu,
adalah dalam hal ilmu pedang, pemuda ini tertinggal jauh sekali. Ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam hoat
dari Beng Hong Tosu bukan main lihainya, hingga biarpun yang dipegangnya bukan pedang tulen, akan
tetapi hanya sebatang ranting saja, namun setelah bertempur belasan jurus saja, Cin Pau telah menjadi
pening karena ujung ranting kakek itu seakan-akan telah berubah menjadi puluhan batang yang
menyerangnya dari segala jurusan. Baiknya Cin Pau memiliki ilmu ginkang yang tinggi karena suhunya
yang berjuluk si Tanpa Bayangan itu memang ahli ginkang yang luar biasa, kalau tidak tentu ia telah
kena dirobohkan oleh serangan-serangan ranting yang hebat ini.Akhirnya ia tak dapat menahan lagi
dan buru-buru melempar pedangnya ke atas tanah dan maju berlutut, “Teecu mohon diberi petunjuk,”
katanya.
Beng Hong Tosu tertawa senang dan ia lalu mengajak pemuda itu ke kuilnya.
“Cin Pau, dalam hal lain-lain kepandaian, pinto yang bodoh tak berani mengajarmu, hanya mungkin
dalam hal ilmu pedang, pinto dapat menambah pengetahuanmu sedikit saja.”
Semenjak saat itu, Cin Pau menerima latihan ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam-hoat yang luar biasa itu
dari Beng Hong Tosu. Dulu ayahnya, yakni mendiang Khu Tiong, Ma Gi dan juga Un Kong Sian juga
mempelajari ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam-hoat ini, akan tetapi selama belasan tahun ini, ilmu
pedang tersebut telah mengalami banyak sekali perubahan karena Beng Hong Tosu sebagai
penciptanya, tiap kali menghadapi lawan tangguh tentu dapat melihat kekurangan-kekurangan ilmu
pedangnya dan oleh karenanya ia lalu mengadakan perubahan di mana perlu hingga dibandingkan
dengan belasan tahun yang lalu, Kui Hwa Koan Kiam-hoat mengalami kemajuan hebat dan juga jauh
lebih lihai.
Cin Pau telah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi hingga ilmu pedang itu dapat dipelajari dengan
cepat. Dia hanya memerlukan waktu dua bulan untuk memahami ilmu pedang itu dan telah dapat
memainkannya dengan baik sekali, hanya hanya perlu latihan-latihan lebih lanjut.
Koleksi Kang Zusi
Bukan main girang hati Beng Hong Tosu dan ketika Cin Pau memohon diri untuk melanjutkan
maksudnya merantau mencari makam ayahnya, tosu tua itu mengeluarkan sebilah pedang yang
berkilauan dan putih cahayanya, memberikan pedang itu kepada Cin Pau sambil berkata,
“Muridku, kau terimalah Pek Kim Kiam ini dan pergunakanlah untuk membela keadilan dan membasmi
kejahatan. Kaulah muridku yang terakhir dan terpandai, maka kau berhak menerima pedang ini dan
apabila pinto telah meninggal dunia yang kotor ini, dengan pedang ini berhak menyebut diri menjadi
ketua Kunlun-pai yang kudirikan.”
Cin Pau menerima pedang itu dengan girang sekali karena pedang Pek Kim Kiam ini memang dibuat
khusus untuk bermain ilmu pedang Kui Hwa Koan hingga berat dan ukurannya tepat sekali dan enak
dipakai.
“Pedang ibumu biar kau tinggalkan saja di sini karena sekarang juga pinto hendak mengunjungi suhumu
dan ibumu. Biarpun telah mengasingkan diriakan tetapi seorang wanita gagah seperti ibumu itu tidak
boleh ditinggal oleh pedangnya.”
Cin Pau lalu berlutut dan setelah menghaturkan terima kasih kepada suhunya yang kedua ini, ia lalu
melanjutkan perjalanannya turun gunung, Semenjak kecilnya, Cin Pau diberi pakaian putih oleh ibunya
yang biarpun tidak memberitahukan tentang kematian ayah anak itu, namun diam-diam ia menganggap
bahwa puteranya telah berkabung untuk kematian ayahnya. Akan tetapi, warna putih itu akhirnya
menjadi warna kesukaan Cin Pau dan anak ini tidak mau dibuatkan pakaian dari lain warna. Sekarang
setelah dewasa, pakaiannya pun tetap putih dan berpotongan sederhana sekali.
Pada suatu senja, ketika Cin Pau berjalan cepat untuk keluar dari sebuah hutan dan mencari
penginapan di dusun atau kota terdekat, tiba-tiba matanya yang tajam melihat bayangan dua orang
yang bergerak cepat sekali memasuki hutan. Ia lalu cepat bersembunyi di balik pohon dan ketika
bayangan itu lewat, ternyata bahwa mereka ini adalah dua orang saikong atau pendeta yang bermuka
jahat dan kejam. Seorang di antaranya adalah tua, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar dan mukanya
yang penuh berewok dengan sepasang mata lebar itu membuat ia kelihatan seperti seekor barongsai
mengerikan. Seorang lagi adalah seorang tinggi kurus yang bermuka pucat, juga berjubah lebar seperti
seorang pendeta perantau. Di punggung masing-masing nampak gagang pedang dan pakaian mereka
yang mewah dan terbuat dari kain indah dan mahal itu cukup mendatangkan kesan kurang baik pada
diri kedua orang pertama itu.
Cin Pau menjadi curiga dan diam-diam ia mengikuti mereka memasuki hutan kembali. Akan tetapi ia
berlaku amat hati-hati karena mereka berdua ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, dapat dilihat dan
diduga dengan mudah dari gerak gerik mereka yang gesit dan kuat. Ternyata bahwa kedua orang
saikong itu menuju ke sebuah gua yang besar, di dalam hutan itu. Tiba-tiba ia mendengar mereka
berbicara tentang “memetik bunga” dan tahulah dia bahwa kedua orang saikong itu adalah orang-orang
jahat yang mempunyai kebiasaan buruk dan kejam, yaitu mengganggu anak bini orang. Mereka ini
adalah penjahat-penjahat yang biasa disebut Jai Hwa Cat, maka bukan main marahnya.
Akan tetapi, oleh karena belum melihat bukti dan baru mendengar pembicaraan belaka ia tidak mau
berlaku lancang dan bergerak maka ia terus mengintai. Setelah hari mulai menjadi gelap, kedua orang
saikong itu keluar dari gua dan berlari cepat menuju ke kota di luar hutan itu. Cin Pau tetap mengejar
dengan diam-diam.
Ia melihat dua orang saikong itu melompat naik ke sebuah rumah gedung. Cin Pau juga melompat,
akan tetapi pada saat ia melompat ke atas, seorang di antara kedua pendeta cabul itu menengok
hingga dapat melihatnya. Mereka berdua berseru keras dan dengan cepat menerjang maju dan
bermaksud membinasakan pemuda itu dengan sekali serang. Akan tetapi, dengan memutar pedang
Pek Kim Kiamnya, Cin Pau menangkis dan membentak keras,
“Jai Hwa Cat terkutuk !”
Mendengar bentakan ini, kedua saikong itu terkejut sekali oleh karena tak pernah mereka mengira
bahwa ada orang yang telah mengetahui rahasia mereka. Pula, melihat betapa gerakan pedang
pemuda ini sangat lihainya, mereka lalu menyerang lagi dengan keras dan mempergunakan
kesempatan pada saat Cin Pau mengelak ke samping, lalu melompat jauh dan melarikan diri. Cin Pau
mengejar, akan tetapi tangan kedua penjahat itu bergerak hingga empat buah benda hitam yang cepat
sekali terbangnya, melayang dan menyambar ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari
pemuda itu. Cin Pau adalah murid seorang ahli senjata rahasia, maka tentu saja menghadapi serangan
Koleksi Kang Zusi
piauw ini ia tidak gentar sama sekali, dan ketika ia mengulurkan kedua tangannya, maka dua batang
piauw telah disambutnya dengan baik. Yang dua lagi dapat ia elakkan dan jatuh berkerontongan di atas
genteng. Tanpa membuang waktu lagi, ia lalu menyambitkan dua batang piauw itu ke arah dua
bayangan saikong yang melarikan diri sambil berseru,
“Makanlah senjata busukmu sendiri !”
Akan tetapi, kedua orang saikong itu dapat mengelak sambil melompat turun dari atas genteng. Biarpun
malam itu bulan bercahaya terang, akan tetapi, di bawah penuh dengan bayangan pohon dan rumah
hingga menjadi gelap dan sebentar saja kedua orang saikong yang cerdik dan yang sengaja melarikan
diri melalui jalan bawah, telah lenyap dari pandangan mata.
Dan ketika Cin Pau sedang mencari-cari di atas genteng, tiba-tiba ia dikejar Siauw Eng hingga
keduanya bertempur, dan ketika Cin Pau mencari kedua orang penjahat ke dalam hutan, dengan berani
sekali gadis itupun mengejar ke dalam hutan pula. Hal ini telah dituturkan di bagian depan.
Bagian 09. Jai Hwa Cat Tulen
Cin Pau tidak mau melayani Siauw Eng terlebih lama lagi karena ia anggap gadis itu sombong sekali,
biarpun diam-diam ia harus mengakui bahwa dara baju merah itu luar biasa cantiknya bahkan lebih
cantik dari pada ibunya sendiri yang tadinya ia anggap sebagai wanita tercantik di dunia ini. Namun ia
mencoba untuk mengusir bayangan dara baju merah itu, dan sambil berlari cepat ia bersungut-sungut,
“Gadis sombong dan galak !”
Pemuda itu langsung menuju ke gua yang sore tadi telah di lihatnya karena ia merasa yakin bahwa
kedua orang penjahat itu tentu telah kembali ke sarangnya. Benar saja, ketika ia tiba di luar gua. Ia
melihat cahaya api di dalam gua itu dan ternyata bahwa kedua orang saikong itu telah membuat api
unggun di dalam gua.
Oleh karena berpikir bahwa kurang leluasa untuk bertempur di dalam hutan yang gelap, dikeroyok oleh
dua orang yang cukup kosen dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Cin Pau menahan marahnya
dan bersabar menanti sampai pagi. Ia tidak tahu bahwa gadis baju merah yang galak itu telah mencaricarinya
di dalam hutan dengan pedang di tangan.
Memang Siauw Eng merasa penasaran dan marah sekali karena dia yang telah mendapat pujian dan
julukan Bidadari Merah dari Gobi-san itu, kini tidak dapat menjatuhkan seorang bangsat kecil. Kalau aku
tak dapat merobohkannya namaku tentu akan jatuh rendah sekali, pikirnya, sama sekali tak ingat bahwa
peristiwa pertempurannya melawan pemuda baju putih yang disangkanya penjahat cabul itu tak terlihat
oleh siapapun juga.
Menjelang pagi, setelah cuaca menjadi terang, tiba-tiba Siauw Eng yang sudah lelah melihat Cin Pau di
dekat sebuah gua bersembunyi di balik sebatang pohon besar. Terang sekali bahwa pemuda itupun
melihat kedatangannya, akan tetapi pemuda itu sama sekali tak mau mempedulikannya dan
menganggapnya seperti daun kering saja.
“Bangsat cabul, kau hendak lari ke mana ?” teriak Siauw Eng keras dan melompat ke depan gua untuk
menghampiri Cin Pau. Pada saat itu, tiba-tiba dari dalam gua melompat keluar dua bayangan orang
yang berseru,
“Ha, ha, ha, bidadari cantik dan liar datang menyerahkan diri. Bagus, bagus, sute,” berkata saikong
yang tinggi besar dan bermuka seperti barongsai. Saikong kedua yang tinggi kurus tersenyum dan
sambil memandang kepada Siauw Eng dengan kagum, ia berkata,
"Biarlah kutangkap kuda betina liar ini untukmu, suheng !”
Bukan main kaget dan marahnya Siauw Eng melihat betapa tiba-tiba saja muncul dua orang pertapa
yang bicaranya tidak keruan ini.
“Eh, kalian ini siapakah dan bangsa apa ? Pakaianmu seperti orang pertapa akan tetapi lagakmu kasar
melebihi siluman !” Memang Siauw Eng terlalu manja dan sombong hingga keheranannya pun luar
Koleksi Kang Zusi
biasa sekali. Ia tak pernah merasa takut menghadapi siapapun juga oleh karena belum pernah
kehendaknya tak terlaksana karena semenjak kecil kemauannya selalu dipenuhi oleh ayah bundanya
yang amat mencintanya.
Kedua orang saikong itu sebetulnya bukanlah penjahat-penjahat sembarangan, akan tetapi adalah
orang-orang yang telah menggemparkan kalangan Kang ouw karena kejahatan dan kelihaian mereka.
Yang tinggi besar dan bercambang bauk seperti muka singa itu adalah Pit Lek Hoatsu, saikong cabul
dan jahat yang dulu pernah mengganggu Lin Hwa dan Un Kong Sian dan akhirnya dapat diusir karena
takut menghadapi Pek Seng Hwesio ketua kuil Thian Lok Si. Ternyata bahwa selama itu, Pit lek Hoatsu
tidak mau merobah cara hidupnya yang penuh kedosaan itu. Dan kini kebetulan sekali ia melakukan
perjalanan dikawani seorang adik seperguruan yang tidak kalah jahatnya, yakni saikong tinggi kurus itu
yang bernama Ban Lek Hoatsu. Ketika lewat di kota itu, mereka tidak lewatkan kesempatan untuk
menjalankan kebiasaan mereka yang terkutuk.
Melihat munculnya seorang darah muda yang demikian cantiknya, kedua saikong itu seolah-olah
melihat seorang bidadari turun dari kayangan. Timbul kegembiraan Ban Lek Hoatsu untuk menangkap
gadis ini yang dianggapnya hanya seorang pendekar wanita biasa yang berkepandaian rendah saja.
Maka sambil menyeringai menjemukan, saikong tinggi kurus ini menerjang maju dengan tangan
kosong, menubruk dan menggunakan gerak tipu Harimau lapar tubruk kambing, langsung kedua
tangannya terulur ke depan hendak menangkap tangan Siauw Eng yang memegang pedang dan
menerkam pundak gadis itu.
“Siluman tua !” Siauw Eng memaki marah dan tanpa mengelak ia lalu menghadapi serangan itu dengan
gerak tipu Kilat Menyambar Membakar Pohon, pedangnya bergerak dari kanan ke kiri dan menyabet ke
arah kedua tangan lawan yang menyerang secara ganas itu.
“Awas, sute .... !” Pit Lek Hoatsu terpaksa berseru kaget karena benar-benar ia merasa terkejut melihat
gerakan gadis baju merah yang luar biasa cepatnya itu. Sementara itu, hanya dengan menggulingkan
diri ke atas tanah dan menarik kedua lengannya saja yang membuat Ban Lek Hoatsu dapat
menyelamatkan kedua lengannya dari pedang Siauw Eng. Saikong tinggi kurus ini lalu melompat berdiri
dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia menjadi marah dan penasaran, akan tetapi
maklum pula bahwa dara baju merah ini bukanlah makanan lunak yang mudah dikalahkannya dan
dirampasnya begitu saja. Maka sambil berseru keras ia mencabut pokiamnya yang terselip dipunggung
dan pada saat Siauw Eng telah maju menyerang, ia lalu menangkis dan balas menyerang sambil
memaki,
“Kuda liar ! kalau aku tak bisa menangkapmu hidup-hidup, biarlah aku sembeli kau dan panggang
dagingmu untuk mengisi perut !”
Hinaan ini membuat seluruh muka Siauw Eng menjadi merah dan ia balas memaki, “Siluman keparat !
Hari ini aku Gobi Ang Sianli mengirim nyawamu yang rendah dan kotor ke neraka jahanam !” Kemudian
ia mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling lihai, yakni Sin Coa Kiam hoat atai Ilmu Pedang Ular
Sakti. Ban Lek Hoatsu melawan dengan hebat dan diam-diam pendeta cabul ini terkejut sekali karena ia
dapat melihat bahwa ilmu pedang itu adalah ilmu pedang yang ternama dan lihai sekali dari partai Gobisan.
Ia merasa menyesal karena tanpa disengaja ia telah bentrok dengan seorang anak murid Gobi-pai
yang lihai. Akan tetapi oleh karena sudah kepalang, dan pula lebih baik ia binasakan saja anak
perempuan ini dari pada nanti rahasianya dibongkar dan dirinya dibenci oleh kaum persilatan dari Gobisan,
maka ia lalu memutar pedangnya dan mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.
Sementara itu, Pit Lek Hoatsu yang juga terkejut melihat kelihaian ilmu pedang dara baju merah itu,
segera melompat dan bersiap membantu sutenya, akan tetapi tiba-tiba dari balik pohon berkelebat
bayangan putih dan tahu-tahu seorang pemuda tampan berpakaian putih telah berdiri di depannya. Pit
Lek Hoatsu marah sekali ketika melihat bahwa pemuda ini adalah pengejarnya malam tadi, maka tanpa
banyak cakap ia lalu menerjang dengan pedangnya.
Pendeta-pendeta cabul ! Sungguh kalian harus malu terhadap sang Buddha !” Cin Pau menegur marah
dan kata-kata ini membuka mata Siauw Eng bahwa yang menjadi penjahat pemetik bunga sebenarnya
adalah dua orang saikong ini dan bukan si pemuda baju putih yang tampan. Entah mengapa, tiba-tiba ia
merasa girang mendapat kenyataan ini, dan kebenciannya terhadap lawan yang dihadapinya
bertambah. Ia lalu merobah-robah ilmu pedangnya, sebentar memainkan Sin Coa Kiam hoat dan
pedangnya menyerang dari bawah dengan ganas dan lihainya, sebentar lagi ditukar dengan Pek Tauw
Kiam hoat hingga tubuhnya yang ringan itu melompat tinggi dan melakukan serangan dari atas seakanakan
seekor rajawali menyambar korbannya. Namun ilmu kepandaian Ban Lek cukup lihai dan
ditambah pula dengan pengalamannya yang puluhan tahun lamanya itu, ia dapat menghadapi Siauw
Koleksi Kang Zusi
Eng yang masih hijau dengan baiknya dan bahkan melakukan serangan balasan yang tak kalah
hebatnya.
Adapun Pit lek Hoatsu yang menghadapi Cin Pau, segera mengeluh di dalam hatinya, oleh karena
kalau ilmu pedang Siauw Eng telah membuat ia kagum, adalah ilmu kepandaian pemuda baju putih ini
membuatnya terkejut dan heran sekali. Ia seperti mengenal ilmu pedang ini yang mirip dengan ilmu
pedang dari Kunlun-pai, akan tetapi gerakan-gerakannya tidak begini cepat dan perubahannya tidak
begini hebat. Apa pula, pemuda ini agaknya memiliki ginkang dan lweekang yang tidak berada di bawah
kepandaiannya sendiri, bahkan dalam hal ilmu meringankan tubuh, pemuda ini telah mencapai puncak
kesempurnaan hingga tubuhnya berkelebat bagaikan kilat menyambar. Sebetulnya Cin Pau sedang
menyerang lawannya dengan menggunakan ilmu pedangnya Kui Hwa Koan Kiam Hoat yang telah
mengalami banyak perobahan dan kemajuan itu, apalagi karena yang memainkan adalah seorang
pemuda yang memiliki ginkang tinggi dan yang memegang pedang Pek Kim Kiam lagi, maka tentu saja
kehebatannya luar biasa pula dan setelah bertempur puluhan jurus, Pit Lek Hoatsu menjadi terdesak
hebat.
Oleh karena dia sendiri masih belum dapat mendesak dara baju merah biarpun ia telah mengerahkan
tenaga dan kepandaian, maka ketika melihat betapa suhengnya yang lihai itu bahkan terdesak oleh
pemuda baju putih, Ban Lek Hoatsu menjadi kuatir sekali. Kedua orang saikong ini diam-diam merasa
heran mengapa dalam dunia persilatan bisa muncul orang-orang muda yang luar biasa ilmu
kepandaiannya ini.
Pit Lek Hoatsu maklum bahwa apabila ia terus menghadapi pemuda baju putih itu dengan pedangnya,
akhirnya ia akan mendapat celaka, maka tiba-tiba ia berseru keras sambil mengambil sesuatu dengan
tangan kirinya dari kantong jubahnya yang lebar.
“Rebahlah !” saikong itu membentak dan ketika ia menggerakkan tangan kirinya, tiba-tiba sehelai jala
terbuka dan menyerbu ke arah kepala Cin Pau dengan cepat sekali. Pemuda ini terkejut, akan tetapi ia
lalu menggerakkan pedangnya, membacok ke arah jala itu dan akibatnya membuat ia berseru perlahan
karena ternyata bahwa jala yang terbuat dari pada kawat baja yang halus dan lemas itu tak dapat
terbacok putus, bahkan lalu mengecil dan menggulung pedangnya. Jala kecil ini bekerja sendiri karena
di dalamnya telah dipasangi kawat-kawat halus yang berada di jari tangan Pit Lek Hoatsu hingga dapat
digerakkan sebagai semacam senjata yang berguna dan yang dapat merampas senjata lawan.
Untung sekali Cin Pau memiliki ilmu tenaga lweekang yang sudah sempurna hingga ia tidak menjadi
gugup dan dengan cepat ia mengirim sebuah tendangan Lui Kik ke arah lambung lawan dan berbareng
mengerahkan tenaga untuk mencabut kembali pedangnya yang terlilit jala. Usahanya berhasil dan
pedangnya terlepas lagi karena dengan terkejut Pit lek Hoatsu terpaksa melompat ke belakang untuk
menghindarkan diri dari tendangan maut itu.
Merasa tak kuat menghadapi Cin Pau yang gesit, Pit lek Hoatsu lalu berseru, “Sute, mari kita pergi!”
Sambil berkata demikian, kembali tangannya bergerak ke arah Cin Pau dan segenggam bubuk pasir
hitam menyerang ke arah muka, dada, dan perut Cin Pau. Pemuda itu mencium bau amis, maka cepat
ia menahan napas dan mengelak karena maklum bahwa senjata rahasia ini tentu berbisa.
“Penjahat curang !” tegurnya ketika melihat betapa Pit lek Hoatsu menggunakan kesempatan itu untuk
melompat pergi dengan cepat. Cin Pau lalu mengirim serangan dengan biji-biji caturnya, yakni
semacam kepandaian melepas senjata rahasia yang aneh akan tetapi kelihaiannya tak kalah dengan
senjata rahasia yang tajam, karena biji-biji catur yang dilepaskannya ini selalu menyerang jalan-jalan
darah lawan dan Cin Pau telah mempelajari sampai sempurna betul cara melepas dengan sistim
“seratus kali sambit, seratus kali kena.”
Untuk menerjang Pit Lek Hoatsu, Cin Pau hanya melepas dua biji catur yang disambitkan ke arah jalan
darah hoat sit hiat dan pek twi hiat. Akan tetapi, Pit Lek Hoatsu benar-benar lihai sekali. Memang benar
bahwa sambitan Cin Pau cepat sekali datangnya dan tak dapat dikelit lagi, akan tetapi dengan cerdik
sekali Pit Lek Hoatsu menggerakkan tubuh dan mengerahkan lweekangnya sehingga biarpun biji-biji
catur itu mengenai tubuhnya, akan tetapi tidak tepat menghantam jalan darah, hanya mengenai daging
tubuhnya saja dan mental kembali karena ia telah mengerahkan lweekang yang membuat tubuhnya
seakan-akan menjadi kebal.
Cin Pau terkejut sekali karena ia tidak tahu akan akal cerdik ini dan menyangka bahwa saikong jahat itu
sudah demikian tinggi ilmunya hingga dapat menutup jalan darah dan dapat menahan sambitan
caturnya yang jitu. Maka ketika melihat saikong itu melompat pergi, dia tak mau mengejar. Sebaliknya
Koleksi Kang Zusi
melihat betapa gadis baju merah yang galak itu masih bertempur ramai dengan saikong tinggi kurus
tanpa dapat mendesak, ia lalu menyerbu dan membantu.
Akan tetapi, Siauw Eng yang merasa penasaran karena belum juga dapat mengalahkan lawannya
sedangkan ia melihat betapa pemuda baju putih itu telah mengusir lawannya, lalu berseru, “Jangan
membantu ! Aku tidak minta dibantu !”
Cin Pau tercengang, maka ia lalu urungkan niatnya hendak membantu, bahkan lalu memasukkan
pedang di sarung pedangnya dan pergi duduk sambil menonton di bawah sebatang pohon besar.
Siauw Eng menggertakkan giginya dan memainkan jurus paling berbahaya dari Sin Coa Kiam hoat dan
Pek Tiauw Kiam Hoat hingga benar saja ia dapat mendesak Ban Lek Hoatsu. Akan tetapi ini hanya
karena saikong itu telah bersiap untuk menyusul suhengnya dan pergi dari tempat berbahaya itu.
Namun Siauw Eng tidak memberi kesempatan dan agaknya sudah maklum akan maksud lawannya. Ia
ingin melebihi pemuda baju putih itu yang hanya dapat mengusir lawannya. Ia ingin menjatuhkan
lawannya yang satu ini agar dapat melebihi hasil pemuda baju putih.
Ban Lek Hoatsu menjadi penasaran dan marah. Sambil berseru keras tangan kirinya bergerak dan
sehelai sabuk sutera yang berwarna hitam meluncur ke depan bagaikan seekor ular sungai. Sabuk ini
seakan-akan hidup dan meluncur menuju ke leher Siauw Eng dengan kecepatan luar biasa dan
gerakan melenggak-lenggok, Siauw Eng cepat menyabet dengan pedangnya, akan tetapi seperti halnya
dengan Cin Pau tadi, sabuk hitam itu bahkan melibat ujung pedang di tangan Siauw Eng, dan sebelum
gadis itu sampai menarik kembali pedangnya, pedang di tangan Ban Lek Hoatsu telah menikam
dadanya. Keadaannya benar-benar berbahaya sekali, akan tetapi Siauw Eng telah mendapat
gemblengan hebat dari dua orang tokoh Gobi-san, maka akan percuma saja ia belajar sampai
bertahun-tahun kalau menghadapi serangan semacam ini saja ia dapat dirobohkan. Dengan seruan
keras sekali ia melepaskan pedangnya dan kemudian menggunakan kedua tangannya mencengkeram
ke depan, tangan kanan ke dada lawan dan tangan kiri ke pergelangan tangan lawan yang memegang
pedang. Cin Pau kagum sekali karena dalam keadaan berbahaya itu, si nona masih dapat
mengeluarkan gerakan Eng Jiauw kang yang luar biasa itu.
“Celakalah sekarang saikong itu,” diam-diam ia berbisik.
Akan tetapi ia terlampau memandang rendah kepada Ban Lek Hoatsu, karena biarpun menghadapi
jalan buntu ini, saikong itu masih mempunyai senjata yang luar biasa ampuhnya dan yang jarang
digunakan, karena kepandaian ini merupakan semacam ilmu sihir yang jahat. Ketika melihat betapa
lawannya menggunakan Eng Jiauw Kang yang berbahaya, ia lalu berseru keras dan tiba-tiba dari
mulutnya menyembur uap hitam yang menyambar ke arah muka Siauw Eng.
“Lekas buang diri ke belakang !” tiba-tiba Cin Pau berseru karena ia maklum akan bahayanya uap itu. Ia
pernah mendengar dari suhunya bahwa memang di kalangan persilatan terdapat berbagai ilmu hitam
yang jahat dan yang sering digunakan oleh para penjahat menghadapi lawan mereka. Hoatsut
semacam ini memang amat berbahaya hingga sukar dilawan, maka tanpa terasa lagi ia mengeluarkan
seruan itu karena terkejut dan kuatir kalau-kalau dara baju merah itu dapat celaka.
Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa Siauw Eng pernah mendapat pelajaran dari Bok Sam Cu tentang
hoatsut. Gadis itupun berseru keras dan sambil menarik kembali pedangnya yang kini mudah terlepas
dari libatan sabuk sutera hitam, ia lalu menjatuhkan diri berjungkir balik ke belakang. Kesempatan ini
digunakan oleh Ban Lek Hoatsu untuk melompat pergi.
“Bangsat rendah jangan lari !” bentak Siauw Eng dengan gemas dan ia melompat pula mengejar.
“Tak perlu mengejar mereka !” tiba-tiba bayangan putih berkelebat dan Cin Pau sudah berdiri di
depannya. “Mereka itu berbahaya sekali.”
Siauw Eng memandang gemas. “Kau penakut !” katanya, “orang-orang macam mereka itu harus
dibinasakan.”
“Kau sombong sekali,” jawab Cin Pau. “Akan tetapi berani sekali. Baru saja kau hampir mendapat
celaka di tangan saikong kurus kering itu dan sekarang masih hendak mengejar. Sungguh berani.
Berani, bodoh, dan sombong !”
Koleksi Kang Zusi
“Apa katamu ?”
“Aku kata kau berani, akan tetapi bodoh dan sombong ?”
“Berani benar kau memaki orang !”
“Tidak lebih berani dari pada kau yang mencaci maki aku sesuka hatimu malam tadi. Pembalasan ku ini
masih belum ada sepersepuluhnya.”
Wajah Siauw Eng memerah. Ia pandang wajah yang tampan dan gagah itu dengan gemas. Tak biasa
orang berlaku kasar kepadanya dan terutama pandang mata pemuda yang agaknya acuh tak acuh
kepadanya itu menimbulkan benci di dalam hatinya. Ia sudah terlalu sering dan sudah biasa melihat
pandang mata kagum dari mata laki-laki, terutama laki-laki muda seperti yang berdiri dihadapannya ini.
“Kau licik dan memilih lawan yang lebih lemah. Kalau aku yang menghadapi saikong brewok itu, pasti ia
telah mampus di tanganku sejak tadi !” katanya.
Cin Pau tersenyum. Ia maklum bahwa ucapan gadis ini tidak benar, karena kepandaian saikong
berewok itu lebih sedikit dari pada kepandaian saikong kurus kering, akan tetapi ia tidak mau
membantah karena tahu pula bahwa memang watak gadis ini tidak mau dikalahkan orang.
“Pantas saja kalau kau gagah, bukankah kau sudah mempunyai julukan ? Apa julukanmu tadi ? Aku
mendengar bidadari-bidadari begitu ..... “
Dengan cemberut Siauw Eng berkata, “Kau ini selain licik juga bodoh dan singkat ingatan. Baru
mendengar sudah lupa. Julukanku Gobi Ang sianli !”
“Hm, kalau begitu kau anak murid Gobi-pai, pantas saja lihai.” Agak senang juga hati Siauw Eng
mendapat pujian bahwa ia lihai, biarpun ucapan itu dikeluarkan sepintas lalu saja oleh pemuda itu.
“Kau juga lihai,” akhirnya ia mengaku juga, “tentu kau sudah mempunyai julukan pula.”
Cin Pau tersenyum lagi, kemudian mengangkat pundaknya yang bidang. “Orang semacam aku mana
pantas memakai julukan ? Aku tidak mempunyai gelar sesuatu, dan namaku sedehana saja, yakni Ong
Cin Pau.”
“Siapa yang menanyakan namamu ?”
Cin pau melengak dan mukanya menjadi merah. Alangkah sombongnya orang ini, pikirnya dengan
mendongkol. “Tidak ada yang tanya,” jawabnya cemberut, “kau tanya julukan maka aku
memberitahukan namaku.”
Untuk beberapa saat keduanya berdiri diam, seorang memandang ke kiri, seorang ke kanan, seakanakan
di depan masing-masing tidak ada orang. Melihat sikap acuh tak acuh dari Cin Pau, Siauw Eng
kecewa dan penasaran. Baru kali ini selama hidupnya ia bertemu dengan seorang pemuda yang
angkuh dan sombong.
“Mengapa kau tidak tanya namaku ?”
Cin Pau menjadi terheran-heran mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini. Bukan main kukoainya
(ganjilnya) dara baju merah yang cantik jelita dan gagah ini.
“Mengapa mesti bertanyakan namamu ? Untuk apa ?” jawab Cin Pau sembarangan, tak mau kalah
angkuh.
Siauw Eng menghela napas panjang. “Alangkah baiknya kalau kau ..... tidak sesombong itu !”
Kemudian ia membalikkan tubuh dan berjalan pergi, akan tetapi tiba-tiba ia berhenti dan menengok
sambil berkata, “Betul-betul kau tidak ingin mengetahui namaku ?”
Koleksi Kang Zusi
Cin Pau menggelengkan kepalanya, biarpun hatinya ingin sekali mengetahui nama dara yang lucu dan
galak ini. “Untuk apa ?” katanya.
“Hah, bodoh. Tentu saja untuk diketahui dan diingat. Apalagi gunanya nama ? Aku sudah tahu
namamu, maka tak baik kalau aku tidak memberitahukan namaku pula. Aku she Gak bernama Siauw
Eng. Nah, kita sudah seimbang sekarang, tidak saling menghutangkan !” Setelah berkata demikian,
Siauw Eng lalu berlari cepat meninggalkan hutan itu. Pelayan hotel menjadi terheran-heran melihat
nona baju merah itu masih hidup dan kembali dalam keadaan selamat.
“Li-enghiong, kau benar-benar sehat-sehat saja dan tidak apa-apa ?” tanyanya dengan heran.
“Kami seluruh pengurus hotel merasa terkejut dan khawatir melihat bahwa jendela kamarmu terbuka
dan kau tidak kelihatan berada di kamar. Kami menyangka bahwa kau tentu menjadi kurban silumansiluman
jai hwa cat itu. Tidak tahunya, setelah kami hilang akal, kau datang. Aneh,...aneh !”
Siauw Eng tersenyum manis dan berkata, “Jangan khawatir lopeh. Mulai sekarang takkan ada
gangguan jai hwa cat lagi !”
Pelayan tua itu memandangnya dengan mata terbelalak. “Apa ? Kau sudah berhasil mengusirnya, lienghiong
?” Dan ketika Siauw Eng menganggukkan kepala, pelayan tua itu melemparkan sapunya dan
berlari-lari keluar sambil berteriak-teriak, “Jai hwa cat sudah diusir pergi ! Penjahat itu sudah dibunuh
oleh li-enghiong .... oleh ....” Tiba-tiba ia teringat bahwa ia belum mengetahui nama Siauw Eng, maka
selagi orang-orang di jalan memandangnya dengan bengong ia berlari pula memasuki hotel dan
menyerbu kamar Siauw Eng sambil bertanya,
“Mohon tanya, lihiap, siapakah nama lihiap yang mulia ?”
Siauw Eng tersenyum girang dan berkata, “Sebut saja Gobi Ang Sianli!”
Kembali pelayan tua itu berlari keluar dan berteriak-teriak dengan muka girang dan suara keras.
“Jai hwa cat telah diusir pergi pendekar wanita yang bermalam di hotel kami. Sudah dibasmi oleh Gobi
Ang sianli, Bidadari merah dari Gobi-san ! Mulai sekarang kota kita takkan terganggu lagi. Hidup Gobi
Ang Sianli !”
Sambil berteriak-teriak, pelayan itu berlari-lari ke seluruh penjuru kota hingga sebentar saja semua
orang tahu akan hal ini dan semua orang lalu berkerumun mengunjungi hotel itu untuk menyaksikan
pendekar wanita yang telah menolong kota mereka itu.
Melihat hal ini, Siauw Eng menjadi malu sendiri di dalam hatinya, oleh karena sesungguhnya bukan dia
sendiri yang mengusir kedua pendeta cabul itu dan kalau saja tidak bertemu dengan Cin Pau, banyak
sekali kemungkinan ia akan menderita celaka di dalam tangan kedua saikong yang kosen itu. Ketika
pelayan tua itu datang dan minta supaya ia suka keluar menemui semua penduduk yang sudah berdiri
dan berkumpul di depan hotel, Siauw Eng lalu berkemas dan mengikatkan buntalan pakaiannya di
punggung. Kemudian ia hendak membayar uang sewa kamar, akan tetapi dengan sungguh-sungguh
pelayan tua itu menolaknya.
Dengan diiringkan oleh pelayan yang membongkok-bongkok dengan hormat dan girang, Siauw Eng
keluar dari hotel dan benar saja, di luar telah berkumpul banyak sekali orang. Ketika ia muncul, semua
orang memandang dengan bengong karena tak mereka sangka bahwa pendekar wanita yang
menolong mereka adalah seorang gadis muda yang telah membuat mereka lupa bahwa mereka datang
hendak menghaturkan terima kasih dan kini mereka hanya berdiri dengan mata terbelalak dan mulut
ternganga !
“Tentu dia seorang bidadari tulen !” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tua berseru dan seruan ini
menyadarkan semua orang. Orang-orang yang berdiri di depan lalu menjatuhkan diri berlutut, diikuti
oleh semua orang yang di belakang dan mereka menghaturkan terima kasih kepada Gobi Ang Sianli.
Siauw Eng merasa tidak enak sekali dan baru kali ini ia merasa tidak enak dihormati dan dipuja seperti
itu.
Koleksi Kang Zusi
“Dengarlah, cuwi sekalian ! Bukan aku saja yang menghalau penjahat-penjahat itu, masih ada lagi
seorang pendekar muda bernama Ong Cin Pau. Kepadanyalah seharusnya cuwi mengucapkan terima
kasih !”
Sehabis berkata demikian, tubuhnya berkelebat merupakan bayangan merah dan tahu-tahu ia telah
lenyap dari situ. Semua orang merasa kagum sekali dan di antara sekian banyak orang itu terdapat
seorang pemuda baju putih yang tersenyum-senyum. Akan tetapi Siauw Eng tidak melihatnya karena ia
tadi bersembunyi di belakang orang banyak, bahkan ikut pula berlutut.
Bagian 10. Puteri Gak-ciangkun
Siauw Eng melanjutkan perjalanannya dengan cepat karena ia sudah merasa rindu sekali kepada
ibunya. Ia tidak mau menunda-nunda perjalanannya dan tidak mampir-mampir di kota lagi, akan tetapi
terus saja melewati kota-kota dan dusun-dusun kecuali kalau malam hari tiba.
Karena perjalanan yang dilakukan terus menerus ini, beberapa hari kemudian, tibalah ia di sebuah
hutan di luar kota Tiang-an. Hati Siauw Eng berdebar girang karena ia ingat hutan ini yang tidak
berobah keadaannya. Ketika ia masih kecil sebelum pergi ke Gobi belajar ilmu silat, ayahnya seringkali
mengajaknya ke hutan ini untuk memburu binatang hutan. Di sebelah barat kota Tiang-an memang
banyak terdapat hutan dan ketika ia memasuki hutan pertama yang baru beberapa kali didatangi
ayahnya dulu karena jauhnya, Siauw Eng memperlambat larinya sambil melihat-lihat. Beda sekali
keadaan hutan-hutan di timur ini dengan di sebelah barat, beda pohon-pohonnya, bahkan berbeda pula
suara-suara burung yang berkicau di pohon-pohon itu.
Tiba-tiba ia mendengar suara kerbau menguak dan kemudian mendengar suara suling bambu. Ia
menjadi terkejut dan heran. Ia tidak tahu bahwa memang terdapat beberapa buah dusun di dekat hutan
itu sebelah selatan. Ketika ia menghampiri, ternyata di satu tempat yang banyak rumput hijaunya,
nampak seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun duduk di bawah sebatang pohon besar.
Tiga ekor kerbau sedang makan rumput di dekatnya dan orang itu meniup sulingnya dengan asyik.
Siauw Eng merasa tertegun karena di sebelah kanan orang itu terdapat dua gundukan tanah yang jelas
sekali menyatakan bahwa di bawah tanah itu ada dua orang manusia dikubur. Pakaian orang itu
sederhana saja dan mudah dilihat bahwa dia adalah seorang petani yang hidup berbahagia. Hal ini
dapat dilihat dari tubuhnya yang sehat dan wajahnya yang berseri.
Ketika petani yang meniup sulingnya itu melihat Siauw Eng, tiba-tiba ia menghentikan tiupan sulingnya
dan memandang dengan terkejut dan heran, akan tetapi mata Siauw Eng yang tajam itu masih dapat
melihat sinar kagum dari kedua mata yang jujur itu.
“Sahabat teruskan tiupan sulingmu, merdu benar bunyinya,” kata Siauw Eng sambil tersenyum manis.
Petani itu makin gugup dan bingung, karena kecantikan Siauw Eng yang muncul dengan tiba-tiba itu
membuatnya heran sekali dan tak dapat mengeluarkan kata-kata. Kemudian, setelah ia melihat sikap
gagah dan pedang yang tergantung di pinggang Siauw Eng ia lalu berdiri dan menjurah dengan hormat
sekali. “Lihiap, tentulah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa.”
Siauw Eng tersenyum lagi. “Bagaimana kau bisa tahu ?”
“Lihiap membawa-bawa pedang dan berani seorang diri melalui hutan yang banyak terdapat binatang
buas ini.”
“Kau cerdik, sahabat. Akan tetapi aku tidak mengerti mengapa kau sendirian pun berani berada seorang
diri di sini dengan enak-enak dan ayem, apakah kau juga memiliki ilmu kepandaian tinggi hingga tidak
takut akan binatang liar.”
“Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa kecuali mencangkul tanah dan meniup suling, akan tetapi
apa yang aku takutkan ? Aku tidak berada seorang diri, dan selama saudaraku, tanduk baja
mengawaniku di sini, aku tak takut kepada binatang apapun juga !”
Siauw Eng memandang ke sekelilingnya untuk mencari dan melihat kawan petani yang diandalkan dan
yang bernama Tanduk Baja itu, akan tetapi ia tidak melihat orang lain disitu.
Koleksi Kang Zusi
“Mana kawanmu yang gagah itu ?” tanyanya.
Petani itu dengan bangga lalu menghampiri seekor di antara ketiga kerbaunya yang sedang makan
rumput dan sambil menepuk-nepuk punggung kerbau yang besar itu ia berkata, “Inilah dia, Saudaraku
Tanduk Baja ! Telah dua kali ia menghadapi harimau dan dengan tanduknya merobek-robek perut
harimau itu. Dengan adanya dia di sini, apakah yang aku takutkan ?”
Siauw Eng memandang kagum dan memang kerbau jantan itu nampak kuat sekali. Sepasang
tanduknya besar dan runcing bagaikan dua batang tombak. Ia mengangguk-angguk dengan kagum,
kemudian ia menunjuk ke arah dua buah kuburan itu.
“Apakah ini makam keluargamu ?”
Petani itu menggelengkan kepala. “Bukan, lihiap, akan tetapi akulah, kedua tanganku inilah yang dulu
menanam jenazah-jenazah mereka yang rebah di sini dengan mandi darah. Ah, masih ngeri aku melihat
betapa tubuh mereka mandi darah dalam keadaan yang membuat bulu tengkukku masih berdiri
kengerian kalau terbayang pula. Mereka juga orang-orang gagah seperti kau, lihiap.”
“Bagaimana kau bisa tahu ? Dan siapakah mereka ini ?”
“Entahlah, ketika itu, belasan tahun yang lalu, aku dan seorang kawanku yang sekarang tinggal di kota
raja, sedang menggembala kerbau kami dan tiba-tiba ketika kami tiba di sini, kami melihat jenazah
kedua orang laki-laki yang sekarang berada di bawah tanah ini. Tangan mereka masih menggenggam
pedang dan tubuh mereka hancur, penuh bekas bacokan senjata tajam dan tusukan anak panah. Aku
tidak tahu siapa mereka itu menimbulkan rasa iba di hati kami, maka kami lalu mengubur kedua jenazah
ini. Dan ternyata Thian memang adil, lihiap. Semenjak aku dan kawanku mengubur jenazah-jenazah ini,
keadaan kami mendadak menjadi baik sekali. Sawah yang kami tanami menghasilkan banyak padi dan
gandum, jauh lebih banyak dari pada hasil di sawah orang lain dan sekarang aku sudah memiliki tiga
ekor kerbau dan sepetak sawah. Dan kawanku itu? Ia telah membuka sebuah rumah makan yang
lumayan di kota raja. Bukankah ini berarti pembalasan budi dari kedua jenazah yang tak kami kenal ini
?”
Mendengar penuturan itu, diam-diam Siauw Eng teraruh juga. Alangkah buruknya nasib kedua orang
ini, binasa di tempat asing dan dikubur oleh dua orang penggembala kerbau, tidak diketahui oleh sanak
keluarga mereka.
“Hatimu jujur dan mulia, sahabat. Sudah sepantasnya hidupmu bahagia.” Setelah memuji, Siauw Eng
lalu meninggalkan tempat itu, sedikitpun tak pernah mengira bahwa sebuah dari pada kuburan ini
adalah kuburan ayahnya sendiri, Ma Gi !
Ia melanjutkan perjalanannya dengan hati gembira dan tak lama lagi ia akan tiba di hutan terakhir dan
yang terdekat dengan kota Tiang-an Tiba-tiba ia mendengar suara kuda meringkik dan orang bercakapcakap.
Ia berjalan terus dan tak lama kemudian ia melihat dua orang penunggang kuda yang gagah
sekali. Kuda yang mereka tunggangi adalah kuda-kuda besar dan bagus yang tentu saja mahal
harganya berpelana indah dan memakai kerincingan hingga tiap kali kuda itu menggerakkan tubuhnya
agak keras, berbunyilah kerincingan itu menimbulkan kegembiraan. Penunggang-penunggangnya juga
orang gagah sekali.
Seorang di anataranya adalah seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan tampan wajahnya.
Rambutnya yang hitam dan halus itu diikat dengan sutera biru dihias dengan hiasan rambut dari
permata indah. Pakaiannya dari sutera dari sutera jambon yang dihiasi renda kuning emas. Pedangnya
dengan sarung pedang terukir bagus, tergantung dipinggangnya dan sepatunya dari kulit yang
mengkilat. Dandanan seorang kongcu yang cakap, tampan, dan kaya raya. Kawannya juga
mengagumkan sekali, yakni seorang gadis muda yang cantik dan lembut sinar matanya. Rambutnya
dikepang dua dan dihias pita merah, sedangkan pakaiannya terbuat dari dari pada sutera hijau dan
merah yang indah sekali potongannya. Dia atas rambutnya terhias bunga-bunga emas dan mutiara,
sedangkan sebatang pedang terselip dipunggungnya.
“Lihat sumoi, binatang she Ma lewat di sana. Biar aku bikin mampus dia !” Sambil berkata demikian
pemuda yang gagah itu lalu mengambil anak panah dan menarik gendewanya, membidik ke arah
semak belukar dan melepaskan anak panah itu yang dengan cepatnya meluncur ke dalam semaksemak.
Koleksi Kang Zusi
Siauw Eng merasa heran sekali dan ketika ia memandang, ternyata anak panah itu telah menancap dan
menembus tubuh seekor kelinci putih yang mati pada saat itu juga. Pemuda yang lihai anak panahnya
itu, melompat turun dari kudanya sambil tertawa riang, kemudian ia mengambil bangkai kelinci yang
dipanahnya tadi, mengangkat tinggi ke atas dan berkata kepada kawannya sambil tertawa,
“Sumoi, lihatlah binatang she Ma ini. Kalau aku bertemu dengan dia, akan kubeginikanlah. Lihat,
binatang she Ma sekarang telah mampus, menggerakkan ekornyapun tidak mampu lagi. Ha, ha, ha!”
Gadis yang cantik itupun tertawa. Kebetulan pada saat itu di atas terbang serombongan burung pipit.
“Suheng, sekarang aku akan menjatuhkan binatang she Khu !” Setelah berkata demikian gadis cantik
itu merogoh saku dan mengayunkan tangannya ke atas. Sebuah benda putih berkilau meluncur ke atas
dan tepat sekali menyerbu ke arah gerombolan burung yang terbang lewat dan jatuhlah seekor burung
dari atas, tertancap dadanya oleh sebatang piauw yang berwarna putih karena terbuat dari pada perak.
Melihat jarak yang jauh dan tinggi itu, maka diam-diam Siauw Eng mengagumi kepandaian melempar
gin-pauw (piauw perak) gadis itu.
Gadis itu turun dari kuda dan memungut kurban piauwnya, lalu mengangkatnya ke atas sambil berkata,
“Beginilah nasib binatang she Khu kalau bertemu denganku !” katanya kepada pemuda itu. Keduanya
tertawa-tawa sambil memaki-maki orang-orang she Ma dan she Khu.
Siauw Eng merasa heran sekali mengapa kedua orang muda yang gagah dan kaya ini demikian benci
kepada orang-orang she Ma dan she Khu sehingga mereka mengumpamakan binatang-binatang
buruan mereka sebagai orang-orang yang dibencinya itu. Ia tidak tahu bahwa kedua orang ini semenjak
kecil memang telah dijejali rasa benci, dendam dan permusuhan terhadap dua keluarga Ma dan Khu,
selalu diajar untuk membenci dua nama itu oleh ibu mereka. Mereka adalah putera puteri keluarga Gu.
Pemuda itu bernama Gu Liong, putera tunggal nyonya janda Gu Keng Siu yang tidak mau kawin lagi.
Sedangkan gadis itu adalah Gu Hwee Lian, puteri nyonya janda Gu Leng Siu yang kawin lagi dengan
Gan Hok, perwira berpangkat Touwtong di kota Lok-keng.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, nyonya Gu Keng Siu yang merasa sakit hati karena
kematian suaminya di tangan keluarga Ma dan Khu, lalu menyuruh putera tunggalnya untuk belajar silat
kepada Gan Hok yang menjadi suami nyonya Leng Siu dan menjadi ayah tiri Gu Hwee Lian. Oleh
karena ini, maka Gu Liong dan Gu Hwee Lian menjadi saudara seperguruan dan mendapat latihan ilmu
silat dari Gan Hok yang berilmu tinggi.
Semenjak kecil, ibu mereka dan juga Gan Hok, menanamkan bibit permusuhan dalam hati kedua anak
muda ini dan menceritakan betapa ayah mereka, yakni putera pangeran Gu Leng Siu dan Gu Keng Siu,
juga kakek mereka pangeran Gu Mo Tek, telah menjadi korban keganasan dua orang pemberontak
bershe Khu dan Ma dan bahwa sudah menjadi kewajiban mereka untuk membasmi setiap keturunan
kedua keluarga itu.
Karena itulah, maka tiap kali berburu binatang, kedua anak muda ini sambil berkelakar memaki-maki
nama Khu dan Ma untuk melampiaskan rasa sakit hati dan dendam mereka karena tidak tahu di mana
adanya keturunan kedua orang keluarga itu dan mereka ini harus membalas kepada siapa.
Biarpun Siauw Eng sama sekali tidak tahu tentang hal ini dan tak pernah mendengar tentang nama
keluarga Khu dan Ma itu, namun ia merasa kurang senang melihat kelakuan kedua orang muda yang
memaki-maki dan menghina dua keluarga tak terkenal itu. Ia lalu melompat keluar mendekati mereka.
“Eh, kalian ini apakah sudah miring otakmu ? Kelinci disebut she Ma dan burung she Khu, kalau bukan
orang yang berotak miring tak nanti bicara tidak keruan seperti kalian berdua !” tegurnya.
Gu Liong dan Gu Hwee Lian terkejut dan memandang. Mulut Gu Liong terbuka dan kedua matanya
menatap dengan penuh kekaguman. Sedangkan Hwee Lian juga memandang kagum karena sikap
Siauw Eng memang gagah sekali. Akan tetapi teguran Siauw Eng itu setidaknya membuat kedua anak
muda ini marah juga, terutama sekali Gu Liong. Kalau saja yang memaki dia gila itu bukan seorang dara
muda yang demikian cantik jelitanya, tentu ia sudah menggunakan kepalan menghajar orang itu.
Koleksi Kang Zusi
Sebaliknya, Hwee Lian agaknya tidak mempedulikan teguran Siauw Eng, karena kembali gadis ini
mengambil piauw peraknya dan ketika pada saat itu ia melihat seekor kelinci berlari keluar dari semak,
cepat piauwnya menyambar dan ia berkata, “Nah, seorang keturunan Ma mampus lagi.”
Siauw Eng cepat membungkuk dan tahu-tahu ia telah memungut batu kerikil yang dilemparkannya ke
depan. Gerakkannya ini cepat sekali dan tahu-tahu batu kerikilnya telah membentur gin-piauw yang
melayang ke arah perut kelinci itu hingga senjata tersebut menyerong arahnya dan tidak mengenai
kelinci.
Gu Liong dan Hwee Lian terkejut dan marah melihat kelancangan nona baju merah ini. “Siapakah kau
yang berlancang tangan dan datang-datang selain memaki kami juga berani mengganggu dan memukul
gin-pauwku ?” tegur Hwee Lian dengan muka merah.
“Kelinci diburu untuk dimakan dagingnya, bukan untuk main-main. Dan kalau kalian benar-benar
membenci orang-orang she Ma dan Khu carilah mereka dan ajak bertanding, tidak memusuhi binatangbinatang
yang tak berdosa. Perbuatan kalian ini hanya menunjukkan sikap penakut saja. Tidak dapat
dan tidak berani menghadapi orangnya lalu memuaskan nafsunya kepada binatang-binatang tak
berdaya. Hih, tak tahu malu !”
Sepasang mata Hwee Lian yang bersinar lembut itu mengeras dan ia menjadi marah sekali. Sambil
menuding kepada Siauw Eng, ia menegur, “Kau ini orang lancang dan bermulut panjang, mengapa
mencampuri urusan orang lain. Kalau kau merasa gagah perkasa dan ingin menjadi pembela segala
kelinci dan burung, kau majulah ! Aku hendak membunuh kelinci dan burung sebanyak yang kusukai,
hendak menyebut mereka dengan nama apa saja, apa perdulimu ?”
Siauw Eng adalah seorang yang selain keras hati, juga mau menang sendiri saja. Maka mendengar
ucapan Hwee Lian dan melihat betapa dua orang yang berpakaian indah itu menjadi marah, ia
tersenyum menghina dan berkata,
“Pendeknya, aku melarang kalian memaki-maki di depanku !”
Gu Liong tertawa mengejek, “Hm, kau hendak membela keluarga Ma dan Khu ?”
“Siapa sudi membela mereka ? Aku tidak kenal mereka !” jawab Siauw Eng marah.
Gu Hwee Lian tertawa penuh olok-olok, “Kalau begitu, kau tentu menjadi pembela kelinci dan burung !”
Kedua saudara Gu itu tertawa geli sambil memandang Siauw Eng hingga dara baju merah itu menjadi
marah sekali. Dicabutnya pedang dari pinggangnya dan sambil menuding dengan tangan kiri ia
membentak,
“Dua manusia rendah, kau berdua majulah ! Jangan hanya berani menghina segala binatang kecil tak
berdaya, hendak kulihat apakah kepandaian kalian sebagus pakaian yang kalian pakai !”
Gu Liong dan Gu Hwee Lian adalah murid Gan Hok yang berilmu tinggi dan mereka telah mendapat
latihan silat semenjak kecil, maka selain lihai, mereka inipun berhati tabah sekali. Kini melihat tantangan
Siauw Eng, tentu saja mereka tidak menampik dan serentak mereka lalu mencabut pedang masingmasing
dan maju.
“Majulah bersama dan jangan ragu-ragu !” ejek Siauw Eng melihat betapa kedua orang itu merasa agak
ragu-ragu untuk maju mengeroyok.
“Sombong !” seru Hwee Lian yang segera melompat maju dan menyerang dengan gerak tipu Hong Ciu
Pai Hio atau Angin Meniup Dahan Tua.
“Bagus !” kata Siauw Eng dan ia tiba-tiba merendahkan tubuh dan dari bawah secepat kilat pedangnya
menyambar ke arah pergelangan Hwee Lian yang sedang menyerangnya. Inilah sebuah gerak tipu dari
Sin Coa Kiamhwat yang disebut Ular Menyambar Burung yang tak terduga dan hebat sekali, karena
dalam keadaan diserang, Siauw Eng telah membalas dengan serangan pula yang tak kalah hebatnya.
Hwee Lian terkejut sekali karena hampir saja pergelangan tangannya kena dibabat. Ia cepat menarik
kembali tangannya dan membacok dari atas ke arah kepala Siauw Eng yang masih merendah dan
membongkok. Siauw Eng tertawa dan mengelak cepat dan ketika pedang Hwee Lian lewat menyambar
Koleksi Kang Zusi
di dekat kepalanya, ia lalu menggunakan punggung pedangnya untuk memukul pedang itu ke bawah.
Kembali Hwee Lian terkejut bahkan kali ini ia mengeluarkan seruan tertahan karena kalau ia tidak
memegang erat-erat pedangnya tentu pedang itu telah kena dihantam terlepas dari pegangannya.
Ia lalu melompat mundur dan kini menghadapi Siauw Eng dengan hati-hati sekali karena maklum
bahwa ilmu silat dara baju merah ini benar-benar tinggi sekali.
“Ha, ha, ha, jangan kau berani melawan nenek besarmu seorang diri saja. Majulah berdua dengan
suhengmu itu !” Siauw Eng mengejek sambil tertawa.
“Sumoi jangan takut, aku membantumu !” Gu Liong berkata dan mencabut pedang terus maju
mengeroyok. Akan tetapi dengan tak gentar sedikitpun, Siauw Eng menghadapi mereka dan
memainkan ilmu pedangnya yang hebat dan luar biasa itu hingga biarpun dikeroyok dua, akan tetapi
kedua orang saudara Gu itu terdesak hebat dan tubuh mereka terancam sinar pedang Siauw Eng yang
bergulung-gulung. Baiknya Siauw Eng hanya ingin menggoda mereka saja dan tidak bermaksud
mencelakainya, karena kalau kedua orang ini menjadi musuh-musuh yang dibenci, tentu sebentar saja
mereka telah roboh mandi darah.
Pada saat itu, dari jauh datang dua orang penunggang kuda lain dan setelah dekat, mereka segera
melompat turun dari kuda dan seorang di antara mereka berseru, “Tahan dulu !”
Hwee Lian dan Gu Liong melompat mundur dengan hati lega karena itu adalah suara Gan Hok, ayah tiri
Hwee Lian atau guru mereka berdua. Ternyata Gan Hok datang bersama seorang tua gundul yang
berpakaian seperti pengemis karena penuh tambalan. Pengemis ini bukanlah orang sembarangan,
akan tetapi adalah supek (uwa guru) Gan Hok sendiri yang bernama Kim-i Lokai (Pengemis Tua Baju
Emas). Bajunya itu biarpun tambal-tambalan, akan tetapi tambalannya dijahit dengan benang emas,
maka ia mendapat julukan Pengemis Tua Baju Emas. Ilmu kepandaiannya tinggi sekali dan ia
merupakan tokoh besar di daerah utara.
Siauw Eng melihat kedatangan seorang setengah tua yang gagah dan seorang pengemis tua yang
aneh, juga melompat mundur dengan pedang melintang di dada.
Hwee Lian segera menubruk ayahnya dan berkata dengan manja.
“Ayah, orang ini kurang ajar sekali !”
“Dia membela keluarga Khu dan Ma !” kata Gu Liong.
Tiba-tiba pengemis itu tertawa lebar. “Memang, kaum persilatan sekarang telah terdesak oleh yang
muda-muda. Nona baju merah, ilmu pedangmu tadi hebat sekali, marilah kita main-main sebentar !”
Sambil berkata demikian, pengemis itu maju sambil memegang tongkat bengkok.
Siauw Eng yang tabah dan berani tentu saja tidak menampik tantangan orang, maka ia lalu maju
menyerang. Ia maklum bahwa pengemis ini tentu tinggi kepandaiannya, maka datang-datang ia
menyerang sambil mengeluarkan ilmu silatnya Pek Tiauw Kiam sut yang hebat.
“Ha, ha, ha ternyata kau anak murid Gobi-pai !” Kim I Lokai tertawa sambil menangkis dengan
tongkatnya. Tangkisan ini berat dan kuat sekali hingga Siauw Eng merasa betapa telapak tangannya
sakit. Akan tetapi oleh karena ia memang keras hati dan nekad, biarpun maklum bahwa kepandaian
kakek pengemis ini lebih tinggi dari tingkat kepandaiannya sendiri, namun ia tidak mau mengalah dan
sambil menggertakkan gigi, ia terus menyerang lagi lebih hebat. Kakek pengemis itu mempertahankan
diri dengan gerakan-gerakan tongkatnya yang diputar bagaikan sebatang pedang juga, akan tetapi
walaupun tongkat itu hanya terbuat dari pada sebatang kayu yang kecil, namun karena digerakkan oleh
tenaga Iweekang yang besar, kehebatannya tidak kalah dengan pedang asli.
Sebentar saja, biarpun ia telah mengerahkan seluruh kepandaiannya, Siauw Eng terdesak mundur dan
terkurung oleh tongkat itu. Tiba-tiba kakek pengemis itu melompat ke belakang dan berkata,
“Bagus, kau tak mengecewakan menjadi anak murid Gobi-pai ! Bagaimana dengan Bok San Cu ?
Apakah ia baik-baik, saja ?”
Koleksi Kang Zusi
Siauw Eng terkejut karena kakek yang lihai ini agaknya kenal dengan suhunya, maka ia lalu menjawab
dengan pertanyaan.
“Tidak tahu siapakah locianpwee yang lihai ? Dan mengapa kenal kepada suhu ?”
Kakek itu tertawa bergelak-gelak. “Tentu saja aku kenal dengan Bok Sam Cu dan Cin Sam Cu. Dan
kalau mereka berdua itu mendengar bahwa kau telah berani melawan Kim I Lokai, tentu kau akan
mendapat teguran karena telah berani mengangkat pedang terhadap seorang sahabat baik mereka! Ha,
ha, ha !”
Siauw Eng terkejut karena ia pernah mendengar nama ini dari kedua orang suhunya, maka buru-buru ia
menjura sambil menyimpan pedangnya. “Mohon maaf sebanyaknya, karena teecu tidak tahu bahwa
teecu berhadapan dengan locianpwee yang pernah disebut-sebut oleh dua suhuku. Akan tetapi,
mengapa pula locianpwee membela dua orang anak kurang ajar itu ?”
Pada saat itu, Gan Hok melangkah maju dan bertanya, “Jadi nona adalah murid Gobi-san ? Apakah
nona she Gak ?”
Kembali Siauw Eng terkejut dan cepat menjawab, “Memang benar, ayahku adalah Gak Song Ki !”
Gan Hok tertawa girang dan segera menjura, “Aha, memang kalau belum bertempur takkan mengenal.
Maaf, pantas saja kau gagah sekali, Gak siocia. Ayah bundamu seringkali bicara tentang dirimu. Liong-ji
Hwee Lian, ayoh kalian minta maaf kepada Gak siocia !”
Hwee Lian dan Gu Liong juga terkejut sekali ketika mendengar bahwa nona baju merah yang lihai ini
adalah puteri Gak Song Ki yang seringkali mereka dengar namanya itu, maka buru-buru mereka berdua
lalu menjura dan mohon maaf, bahkan Hwee Lian lalu memeluk Siauw Eng sambil berkata,
“Cici yang gagah, kau maafkanlah aku dan suhengku ini !”
Biarpun hatinya merasa senang sekali melihat mereka itu kini bersikap baik sekali kepadanya, akan
tetapi Siauw Eng menjadi heran dan tidak mengerti. Melihat hal ini, Gan Hok lalu menjelaskan,
“Ketahuilah, Gak-siocia. Aku adalah seorang rekan dan kawan sejabat ayahmu, berkedudukan sebagai
towtong di kota Lok-keng yang tak jauh letaknya dari kota raja. Aku dan ayahmu telah saling mengenal
semenjak muda, hingga boleh dibilang kita adalah sahabat-sahabat baik. Akhir-akhir ini ayahmu dan
aku seringkali datang dan saling berkunjung, maka kami mendengar pula tentang puterinya yang belajar
silat di Gobi-san. Hwee Lian ini adalah puteriku dan Gu Liong adalah kemenakan dan juga muridku,
maka kau maafkanlah mereka yang telah berani berlaku kurang ajar karena tidak mengenalmu. Kau
hendak kemana, nona ? Apakah hendak kembali ke rumah orang tuamu ? Kebetulan sekali kami juga
hendak ke kota raja !”
Demikianlah, dengan hati girang Siauw Eng lalu menuturkan bahwa ia memang baru saja turun gunung
dan hendak pulang, maka beramai-ramai mereka lalu menuju ke kota raja. Gan Hok memang tidak tahu
bahwa Siauw Eng bukan puteri Gak Song Ki sendiri, oleh karena anak ini terlahir di rumah perwira she
Gak itu dan semua orang menyangka bahwa anak ini adalah puteri tulen perwira itu. Apalagi orang lain,
bahkan Siauw Eng sendiri tidak tahu bahwa Gak Song Ki adalah ayah tirinya.
Kedatangan rombongan ini disambut oleh Gak Song Ki dan Kwei Lan dengan girang sekali. Gak Song
Ki teramat bangga melihat puterinya yang selain cantik jelita seperti ibunya juga telah memiliki ilmu
kepandaian tinggi, sedangkan Kwei Lan ketika bertemu dengan anak tunggalnya, lalu memeluknya
sambil menangis penuh keharuan hati, nyonya cantik ini hidup bahagia dengan suaminya yang amat
menyintanya, akan tetapi ketika ia memeluk Siauw Eng untuk sesaat terbayanglah wajah ayah anak ini,
yaitu Ma Gi, hingga air matanya mengucur makin deras.
Gan Hok menuturkan tentang pertempuran kedua orang muridnya dengan Siauw Eng sehingga semua
orang tertawa dan Gak Song Ki merasa bangga sekali akan puterinya, terutama ketika Gan Hok dan
juga Kim I Lokai yang lihai itu memuji-mujinya. Kemudian, Siauw Eng pergi ke kamar dengan ibunya,
sedangkan Hwee Lian dan Gu Liong yang sudah seringkali datang ke rumah itu, tanpa malu-malu lagi
lalu bermain di taman bunga yang luas dari gedung Gak-ciangkun itu. Adapun Gan Hok, Gak Song Ki,
dan Kim I Lokai lalu mengadakan perundingan yang agaknya penting sekali.
Koleksi Kang Zusi
Memang di antara perwira-perwira ini terdapat urusan yang amat pentingnya. Telah beberapa lama
mereka mendapat kisikan dan pemberitahuan dari seorang perwira lain bernama Can Kok bahwa kuil
Thian Lok Si yang tersohor dan besar itu telah menjadi sarang pemberontak dan bahwa kawan-kawan
keluarga Khu dan Ma serta keturunan mereka telah bersembunyi di kuil itu. Gak Song Ki dan Gan Hok
sendiri pernah melakukan penyelidikan di kuil itu akan tetapi oleh karena tidak terdapat sesuatu yang
mencurigakan, mereka tak menaruh perhatian lagi atas tuduhan Can Kok itu.
Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, tiba-tiba saja datang perintah rahasia dari Kaisar sendiri yang
memerintahkan agar Gan Hok dan Gak Song Ki membasmi hwesio-hwesio di Thian Lok Si karena
semua anggauta kuil itu dianggap sebagai pemberontak.
Ternyata bahwa Can Kok yang dulu ketika mengejar Un Kong Sian dan Lin Hwa, telah dijatuhkan oleh
hwesio di Thian Lok Si dan menerima hinaan, merasa sakit hati sekali dan selamanya ia tak dapat
melupakan sakit hati ini. Dicarinya akal untuk membalas dendam, akan tetapi oleh karena ia maklum
akan kelihaian para hwesio di Thian Lok Si, maka ia tidak berani berlaku sembrono dan kasar. Diamdiam
ia “membeli” seorang hwesio di dalam kuil itu untuk mencari tahu tentang segala rahasia yang
ada. Namun, memang kepala kuil itu, Pek Seng Hwesio, adalah seorang hwesio suci yang tak pernah
melakukan kejahatan atau pelanggaran, maka sukar sekali bagi Can Kok untuk menjatuhkan tuduhan
yang bukan-bukan.
Akan tetapi, kecurigaannya timbul kembali ketika ia mendengar bahwa seorang pemuda bernama Un
Kong Sian, putera seorang nyonya janda congtok dan yang menjadi sute dari Khu Tiong dan Ma Gi, dua
orang muda pemberontak itu, telah masuk menjadi hwesio di Thian Lok Si. Can Kok menjadi girang
oleh karena pemuda itu masih mempunyai hubungan saudara seperguruan dengan keluarga Khu dan
Ma, maka setelah pemuda itu kini masuk menjadi hwesio, ia mempunyai alasan untuk memfitnah kuil
itu.
Akan tetapi, fitnahannya tak berhasil dan kawan-kawan perwira lain tidak ada yang mau mendengarnya,
karena mereka maklum bahwa ketua Thian Lok Si, Pek Seng Hwesio adalah seorang berilmu tinggi
yang tak boleh dibuat gegabah. Bertahun-tahun Can Kok menahan marahnya dan akhirnya, setelah
Pek Seng Hwesio meninggalkan kuil itu untuk melakukan perjalanannya ke barat dan menyerahkan
pimpinan kuil ke tangan muridnya yakni Un Kong Sian yang telah menjadi Sian Kong Hosiang, timbul
lagi harapan di hati Can Kok.
Perwira ini lalu memulai siasatnya ke tempat yang lebih tinggi lagi, yakni kepada pembesar-pembesar
atasan yang dekat dengan Kaisar dan membuat Kaisar itu akhirnya mengeluarkan perintah rahasia
untuk membasmi dan membakar kuil Thian Lok Si.
Kini bukan main girang hati Can Kok. Ia lalu mengadakan hubungan dengan Gak Song Ki dan Gan Hok,
dan ketiga orang perwira ini masing-masing berusaha mengumpulkan tenaga dan pembantu yang
berilmu tinggi karena mereka tidak berani secara sembrono melakukan penyerbuan. Gan Hok berhasil
mendatangkan supeknya, yakni Kim I Lokai yang kini mengadakan perundingan dengan Gak Song Ki.
Menurut pendapat Kim I Lokai yang juga telah tahu akan kelihaian hwesio-hwesio di kuil Thian Lok Si,
lebih baik untuk mengumpulkan orang-orang gagah dari seluruh golongan sehingga serbuan itu
sekaligus mendatangkan hasil baik dan tidak menjatuhkan pamor dan nama serta kegagahan perwiraperwira
kerajaan.
Sementara itu, setelah melepaskan rindunya kepada ibunya, Siauw Eng juga lalu menyusul kedua
saudara Gu di taman bunga dan ketiga orang anak muda ini menjadi kawan-kawan baik.
Bagian 11. Perwira Can Kok
Cin Pau melanjutkan perjalanannya ke kota raja dengan pikiran masih penuh dengan bayangan Siauw
Eng. Biarpun ia merasa gemas dan mendongkol menyaksikan kesombongan dan lagak Siauw Eng,
namun ia tidak bisa membenci dara yang manis jelita itu dan diam-diam ia merasa heran sekali
mengapa bayangan wajah gadis itu selalu terbayang saja di depan matanya. Ia telah mengeraskan hati
dan berusaha sekuatnya untuk mengusir bayangan itu, akan tetapi baru saja ia berhasil mengusir
bayangan itu, sebentar lagi sudah datang pula membayang dengan senyuman yang manis.
“Bodoh, gadis sombong dan galak macam itu tiada harganya untuk dikenang !” ia mencela dirinya
sendiri dan berlari secepatnya menuju ke kota raja.
Koleksi Kang Zusi
Malam hari itu ia bermalam dalam sebuah rumah penginapan besar di Tiang-an. Ia bertanya kepada
pelayan, apakah pelayan itu tahu di mana rumah keluarga Un Kong Sian, dan pelayan itu menyatakan
tidak tahu. Cin Pau sama sekali tidak mengira bahwa Can Kok yang lihai telah menaruh banyak matamata
hingga di hotel itupun terdapat mata-matanya, hingga pertanyaan Cin Pau ini terdengar oleh matamata
itu, yang segera menyampaikan kepada Can Kok bahwa ada seorang pemuda baju putih yang
membawa pedang bertanya tentang rumah keluarga Un Kong Sian yang dicurigai.
Pada keesokan harinya, Cin Pau berhasil mendapat keterangan dari seorang penduduk tua di kota raja
dan ia lalu mencari rumah gedung yang dulu ditinggali oleh Un Kong Sian. Akan tetapi, ternyata gedung
itu telah menjadi milik orang lain dan dari penghuni baru ini ia mendengar keterangan bahwa ibu Un
Kong Sian atau nyonya janda congtok telah meninggal dunia dan tentang diri Un Kong Sian, tak ada
seorang pun mengetahui di mana tempat tinggalnya atau kemana perginya.
Dengan kecewa dan sedih, Cin Pau meninggalkan gedung itu. Ketika ia tiba kembali di hotelnya, tibatiba
pelayan hotel memberitahu di luar ada seorang tamu yang mencarinya. Cin Pau merasa heran
ketika keluar dan melihat seorang laki-laki berpakaian pelayan pembesar berdiri di ruang depan dan
menjura kepadanya.
“Kalau sicu ingin mengetahui tentang keluarga Un, silahkan ikut siauwte ke rumah kediaman
majikanku,” katanya.
Tanpa banyak cakap, dengan hati girang Cin Pau lalu mengikuti pelayan itu ke sebuah rumah gedung
yang cukup besar. Ketika ia dipersilakan masuk, ternyata bahwa di dalam ruang yang besar telah
berkumpul banyak orang-orang yang kelihatan gagah perkasa. Tuan rumahnya adalah seorang perwira
tua yang masih gagah dan yang menyambutnya dengan perhatian.Tuan rumah ini bukan lain ialah Can
Kok, perwira yang menaruh dendam hati terhadap kuil Thian Lok Si itu. Ia lalu mengajak Cin Pau
memasuki sebuah kamar dan setelah duduk berhadapan, ia lalu bertanya,
“Anak muda, kau mencari Un Kong Sian ada perlu apakah dan kau bersangkut paut apakah dengan dia
?”
Cin Pau telah mendengar penuturan ibunya dan tahu bahwa keadaan Un Kong Sian yang telah
membantu kedua keluarga Khu dan Ma itu mungkin selalu dicurigai oleh para perwira, maka dengan
hati-hati ia menjawab, “Un Kong Sian adalah sahabat biasa saja dan karena kebetulan siauwte lewat di
Tiang-an, maka siauwte ingin sekali bertemu dengan dia. Apakah ciangkun mengetahui di mana tempat
tinggalnya.
“Aku memang kenal baik dengan Un Kong Sian, akan tetapi entah di mana dia sekarang, karena
semenjak ia menjual gedungnya, ia tak pernah muncul lagi di kota ini. Apakah ..... apakah
kedatanganmu ini ada hubungannya dengan keluarga Khu dan Ma ? Siapakah namamu ? Sambil
mengeluarkan pertanyaan ini, Can Kok memandang tajam sekali.
Diam-diam Cin Pau merasa terkejut sekali, akan tetapi oleh karena ia telah berjaga diri, maka ia purapura
memperlihatkan muka tidak senang ketika menjawab, “Ciangkun, apakah maksud kata-katamu ini
? Apa itu keluarga Khu atau Ma ? Aku tidak mengerti sama sekali. Aku, Ong Cin Pau hanya ingin
mencari seorang sahabat, kalau ciangkun tahu tempatnya, tolong beritahu, kalau tidak tahu, biarlah aku
pergi mencari sendiri”.
Sambil berkata demikian, Cin Pau lalu berdiri dan hendak keluar dari tempat itu.
Tiba-tiba Can Kok berdiri dan menjura. “Maaf dan jangan salah paham, anak muda. Aku tidak
bermaksud buruk. Silakan duduk dan bertemu dengan orang-orang gagah yang kebetulan berkumpul di
rumahku.”
Melihat sikap manis ini, Cin Pau juga menghilangkan tarikan muka marah. Akan tetapi, ia merasa harus
berhati-hati sekali karena ia tahu bahwa orang di depannya ini adalah seorang cerdik dan yang tentu
sedang menyelidiki hal dan rahasia Un Kong Sian, maka ia tidak berani menerima undangan itu dan
segera pamit keluar. Can Kok juga tidak menahan, akan tetapi diam-diam ia memberi isyarat kepada
orang-orangnya untuk mengikuti pemuda baju putih ini, karena betapa pun juga, ia masih menaruh hati
curiga.
Koleksi Kang Zusi
Dengan hati kecewa dan gemas, Cin Pau keluar dari gedung Can-ciangkun dan hendak kembali
kehotelnya. Ia telah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan kota raja oleh karena tidak ada
artinya tinggal lebih lama di situ sedangkan Un Kong Sian yang dicari-carinya tidak berada di Tiang-an.
Ketika ia sedang berjalan dengan hati ruwet, tiba-tiba ia mendengar suara yang nyaring dan merdu
memanggil namanya, “Ong Cin Pau ........ !”
Pemuda itu cepat berpaling dan ternyata bahwa yang memanggilnya itu adalah Siauw Eng. Dara jelita
itu kini makin cantik dan gagah karena ia menunggang kuda putih yang besar dan pakaiannya yang
masih tetap berwarna merah itu kini terbuat daripada sutera mahal sehingga jauh lebih indah daripada
pakaiannya yang dulu. Juga di rambut kepalanya terhias mutiara dan emas sedangkan pedang yang
tergantung di pinggangnya kinipun memakai ronce-ronce benang emas dan sarung pedangnya terukir
indah. Di kanan kiri Siauw Eng terdapat dua orang penunggang kuda lain, seorang pemuda dan
seorang gadis yang cakap dan cantik serta berpakaian mewah. Sekali pandang saja tahulah Cin Pau
bahwa mereka ini adalah keluarga kaya dan bangsawan tinggi. Maka ia merasa sebal dan membuang
muka sambil melanjutkan langkahnya.
“Eh, Cin Pau ......... orang she Ong. Tidak kenalkah kau kepadaku lagi ? Aku adalah Gobi Ang Sianli.
Aku adalah Siauw Eng !” kata gadis itu dengan suara penasaran sekali.
Karena Siauw Eng memajukan kudanya mengejar dan menghadang di depannya, Cin Pau terpaksa
berhenti dan menegur,
“Kau berobah sekali. Puteri pangerankah kau ?” Hatinya sebal menyebut pangeran, karena teringat
kepada pangeran Gu Mo Tek yang telah menghancurkan keluarganya.
Siauw Eng tersenyum. “Bukan, aku hanya seorang puteri perwira. Ayahku adalah Gak-ciangkun !”
Cin Pau sudah menduga bahwa nona baju merah ini tentu puteri seorang pembesar, maka hatinya
menjadi makin tawar.
“Hm,” katanya tak acuh. “Pantas saja kau sombong dan keras kepala !”
Siauw Eng tercengang. Tadinya ia merasa gembira dan girang sekali dapat bertemu dengan pemuda
baju putih itu di kota raja, akan tetapi alangkah kecewanya ketika melihat sikap Cin Pau masih keras
dan sama sekali tidak menghargainya itu.
“Apa ? Kaulah yang sombong. Kaulah yang keras kepala seperti batu dan besar kepala seperti kepala
kerbau !” Timbul marah dan galaknya.
“Sudahlah ! perlu apa kau menghadang di depanku ? Pergi !” Sambil berkata demikian, Cin Pau dengan
mendongkol sekali hendak mendorong kuda itu ke sisi, akan tetapi tiba-tiba sebatang cambuk panjang
menyabet dari belakang mengenai punggungnya. Ia cepat membalikkan tubuh dan melihat bahwa yang
mencambuknya adalah pemuda yang berpakaian mewah dan kawan Siauw Eng tadi.
“Jembel kurang ajar ! Kau berani berlaku jasar terhadap Gak-moi ! Kau harus dihajar !” seru Gu Liong
yang merasa marah sekali karena nona yang ia puja-puja dan kagumi itu kini diperlakukan secara
kurang ajar sekali oleh seorang pemuda biasa yang berpakaian putih dan sederhana.
Ia lalu mengangkat cambuknya dan menyabet lagi, akan tetapi dengan tenang Cin Pau mengulurkan
tangan dan sekali tangannya bergerak, cambuk itu telah dapat dirampasnya dan ketika jari-jari
tangannya ditekuk, “krek!” cambuk itu patah menjadi dua. Dengan tak acuh Cin Pau melemparkan
cambuk itu ke atas tanah.
“Hah, anak-anak bangsawan yang manja dan sombong !” katanya sambil menggerakkan kakinya
hendak pergi dari situ. Akan tetapi Gu Liong yang sudah menjadi marah sekali lalu melompat turun dari
kudanya dan mencabut pedangnya.
“Kau hendak lari ke mana ? Kau belum kenal kepada Gu Liong ! Rasakan tajamnya pedangku !” Ia lalu
menyerang dengan hebat hingga Cin Pau yang tadinya menahan sabar, menjadi naik darah juga dan ia
segera mengelak ke samping dan mengirim pukulan ke arah lambung Gu Liong. Akan tetapi, Gu Liong
Koleksi Kang Zusi
juga bukan seorang pemuda yang lemah. Sambil berseru keras, ia mengelak dan membalas dengan
serangan pedangnya yang bertubi-tubi dan kesemuanya ditujukan dengan maksud membunuh.
“Suheng, jangan ............!” tiba-tiba Hwee Lian berseru sambil melompat turun dari kudanya pula.
Gadis ini merasa kuatir kalau-kalau Gu Liong akan mencelakai orang dan ia merasa kasihan kepada
pemuda yang sederhana dan tampan ini. Memang, Hwee Lian tidak puas dan tidak suka melihat lagak
pemuda-pemuda yang biasanya mengambil hati dan bermuka-muka di depan gadis-gadis manis,
terutama sekali ia merasa jijik dan muak melihat betapa para pemuda bangsawan berusaha mengambil
hati Siauw Eng yang cantik jelita dan gagah itu dengan sikap mereka yang merendah dan menjijikkan.
Kini melihat sikap Cin Pau yang acuh tak acuh dan seakan-akan tidak tunduk kepada Siauw Eng, ia
merasa kagum sekali.
Cin Pau mengerling kepada gadis yang mencegah Gu Liong tadi dan ia melihat betapa sinar mata yang
lembut ditujukan kepadanya dengan hati iba. Hal ini meredakan marahnya dan menghalangi
maksudnya hendak menghajar Gu Liong yang nekad. Ia suka kepada gadis yang lembut dan halus itu,
maka ia tidak mau mencelakakan Gu Liong yang disangkanya saudara gadis itu. Ketika Gu Liong
menyerang dengan sebuah tusukan ke arah lehernya, Cin Pau tidak mau mengelak hingga terdengar
jerit tertahan dari Hwee Lian, akan tetapi Siauw Eng yang lebih tinggi ilmu silatnya, hanya memandang
dengan tersenyum. Diam-diam ia kagum sekali melihat betapa dengan tangan kosong Cin Pau
menghadapi Gu Liong dan mempermainkannya seperti seekor kucing mempermainkan tikus.
Ketika ujung pedang Gu Liong telah meluncur dekat sekali, tiba-tiba Cin Pau miringkan kepala hingga
pedang itu menyerempet dekat sekali dengan kulit lehernya dan secepat kilat tangan kanannya
menyergap. Sebelum Gu Liong tahu apa yang terjadi, ia merasa tangan kanannya kaku dan pedang itu
telah terampas oleh Cin Pau.
“Kau masih mau menyombongkan kepandaian ?” kata Cin Pau sambil tersenyum dan kembali ia
patahkan pedang itu dengan mudah seperti ketika ia mematahkan cambuk tadi, dan melempar dua
potongan pedang itu ke atas tanah.
Gu Liong marah sekali akan tetapi ia tak berdaya dan hanya berdiri melotot dengan muka merah.
“Pergilah, kau pergilah dan jangan ganggu kami,” kata Hwee Lian dengan gugup ketika melihat betapa
orang-orang telah mulai berkumpul menonton peristiwa itu. Ia kuatir kalau-kalau perkara ini akan
menjadi besar. Ia takut kalau suhengnya mendapat malu dan kuatir kalau-kalau pemuda baju putih itu
akan mengalami celaka.
Setelah memandang Hwee Lian, Cin Pau lalu meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, baru saja ia
melangkah beberapa tindak, tiba-tiba Siauw Eng tertawa nyaring dan mengejarnya.
“Orang she Ong ! Kau sombong sekali. Kau hanya dapat mengalahkan seorang yang masih dangkal
kepandaiannya, kalau kau memang gagah, cobalah kau lawan aku !” Sambil berkata demikian, Siauw
Eng mencabut pedangnya. Ternyata karena melihat betapa peristiwa itu terlihat oleh banyak orang,
maka kalau ia tidak memperlihatkan keberanian dan kegagahannya, namanya yang telah mulai dikenal
di Tiang-an akan jatuh dan orang-orang akan menganggapnya takut menghadapi pemuda baju putih itu.
“Enci Siauw Eng .... !” Hwee Lian menegur. “Perlu apa mencari perkara dengan orang yang tak kita
kenal!”
“Ha, Hwee Lian, kau mau kenal dia ? Ketahuilah, dia ini adalah Ong Cin Pau, seorang pemuda
sombong yang pernah bertempur dengan aku, akan tetapi masih belum selesai dan sekarang aku ingin
menyelesaikan pertempuran dulu itu. Jangan kau coba-coba maju, ia lihai sekali !” Siauw Eng tertawa
menyindir dan menghampiri Cin Pau.
“Siapa mau bertempur melawan kau yang sombong ini ?” Cin Pau berkata marah, karena ia merasa
serba salah. Melayani gadis ini bukanlah kehendaknya, akan tetapi kalau didiamkan saja, tentu gadis ini
akan makin kurang ajar saja.
Baru saja Siauw Eng hendak maju menerjang, tiba-tiba terdengar suara orang berseru, “Gak siocia,
tahan dulu !”
Koleksi Kang Zusi
Ternyata yang datang itu adalah Can Kok yang telah mendapat kabar dengan cepat betapa pemuda itu
dengan mudah telah mengalahkan Gu Liong dengan tangan kosong. Perwira yang cerdik ini merasa
bahwa pemuda yang lihai itu perlu sekali didekati agar jangan sampai dapat bersekutu dengan Un Kong
Sian, bahkan kalau mungkin menariknya dipihaknya.
“Can-lociangkun, mengapa kau menahanku ?” tanya Siauw Eng penasaran karena memang gadis ini
tidak takut kepada semua perwira kawan ayahnya.
“Enghiong ini adalah orang sendiri, jangan kalian saling bertempur !”
Dan pada saat itu, datang Gak Song Ki, Gan Hok dan Kim-i Lokai yang hendak menuju ke rumah Can
Kok mengadakan perundingan tentang penyerbuan kuil Thian Lok Si. Tentu saja mereka heran melihat
ramai-ramai itu dan segera menghampiri. Ketika melihat mereka, Can Kok segera memberi isyarat
dengan mata dan berkata,
“Telah terjadi sedikit salah paham,” katanya sambil tertawa. “Sahabat muda yang gagah ini adalah
seorang hiapkek muda yang gagah perkasa dan kita bahkan perlu sekali mendapat bantuan akan tetapi
di tengah jalan telah timbul perselisihan faham dengan para anak muda. Sudahlah, hal ini tidak ada
artinya, mari kita bicara dengan baik di rumahku. Ong-taihiap, silakan mampir di rumahku lagi, kita
merundingkan sesuatu yang amat penting.”
Semua orang merasa heran mendengar ucapan Can-ciangkun ini, bahkan Siauw Eng lalu
memperhatikan.
“Aku tidak ada waktu, hendak mencari orang,” kata Cin Pau.
“Hal ini dapat ditunda, Ong-taihiap, dan pula, aku berjanji akan membantumu kelak mendapatkan orang
itu. Kau adalah seorang gagah dan kami bersama hendak pergi menyerbu dan membasmi penjahatpenjahat,
apakah kau tidak suka membantu ?”
Mendengar ucapan ini, Cin Pau tertarik sekali dan ia lalu pergi mengikuti rombongan yang beramairamai
menuju ke rumah Can Kok. Gan Hok lalu menyuruh kedua muridnya pulang dan Siauw Eng juga
disuruh pulang oleh ayahnya karena perwira-perwira ini tidak mau membawa anak-anak muda ini ke
dalam perundingan besar yang hendak diadakan.
Ternyata bahwa ketiga orang perwira, Gak Song Ki, Gan Hok, dan Can Kok, telah mendatangkan
orang-orang gagah yang sanggup membantu mereka menyerbu kuil Thian Lok Si. Sekalian orang
gagah itu pada hari itu, hari yang telah ditetapkan untuk mengadakan pertemuan, berkumpul di rumah
Can Kok untuk mengadakan perundingan.
Setelah rombongan itu tiba di rumah Can Kok, mereka lalu masuk ke ruang dalam di mana telah
berkumpul banyak orang gagah yang datang hendak membantu. Selain Kim-i Lokai yang kosen, masih
terdapat tiga orang lain yang perlu disebutkan karena memiliki ilmu kepandaian tinggi, yakni seorang
tua berpakaian piauwsu yang bernama Pauw Su Kam, kakak seperguruan Can Kok yang menjadi
piauwsu kenamaan di Shantung, dan dua orang bersaudara dari Kongsan yang berjuluk Kongsan
hengte, ahli siangto atau sepasang golok yang lihai. Yang lain-lain adalah orang-orang gagah kenalan
mereka sehingga jumlah para tamu semua ada delapan orang.
Melihat banyaknya orang-orang gagah yang berkumpul, Cin Pau menduga-duga apakah yang hendak
mereka lakukan dan siapakah pula penjahat-penjahat yang hendak diserbu itu.
Setelah memperkenalkan Ong Cin Pau kepada semua orang, Can Kok lalu berkata kepada Cin Pau,
“Ong taihiap, kau tentu belum tahu penjahat-penjahat mana yang hendak kami serbu. Ketahuilah bahwa
kuil Thian Lok Si yang ternama itu sekarang menjadi sarang penjahat yang berbahaya dan perlu
dibasmi oleh karena mereka itu kini mengadakan persekutuan hendak memberontak terhadap
kerajaan.”
Cin Pau memandang heran. Ia pernah mendengar nama kuil ini dari ibunya, bahkan dulu ibunya dan Un
Kong Sian telah tertolong oleh ketua kuil itu yang bernama Pek Seng Hwesio. Tak tertahan lagi ia
menyatakan keheranannya dan berkata,
Koleksi Kang Zusi
“Akan tetapi, Can-ciangkun, kalau tidak salah, kuil itu terkenal suci dan diketuai oleh seorang Hwesio
yang saleh dan berilmu tinggi.”
Can Kok tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang dulupun kami berpikir demikian,
ketika kuil itu masih dipimpin dan diketuai oleh Pek Seng Hwesio. Akan tetapi setelah hwesio tua itu
pergi merantau, hwesio-hwesio di kuil itu kena pengaruh orang jahat dan akhirnya kini merupakan
ancaman bagi kerajaan.”
“Oh, jadi Pek Seng Hwesio sudah pergi meninggalkan kuil itu ?” Cin Pau berkata lagi tanpa disengaja
hingga tentu saja ucapan ini membuka rahasianya bahwa ia pernah mendengar nama ini. Can Kok
merasa curiga, akan tetapi ia amat cerdik dan berhati-hati.
“Ong-taihiap yang memiliki kegagahan dan menjunjung tinggi keadilan, tentu sudi membantu kami
membasmi penjahat-penjahat dan pemberontak-pemberontak itu, bukan ?”
Dengan suara tetap dan berterus terang, Cin Pau berkata,
“Untuk membasmi kejahatan, aku Cin Pau selalu bersiap-siap, akan tetapi tentang segala macam
pemberontakan, aku tak mau ikut campur !”
Kata-kata ini diucapkan tetap dan keras sekali oleh karena ia teringat bahwa kakeknya juga dihukum
mati karena dianggap memberontak.
Pauw Su Kam, suheng Can Kok yang menjadi piauwsu kenamaan di Shantung, mempunyai adat yang
agak keras dan sombong, maka tentu saja ia merasa penasaran dan tidak senang melihat betapa Can
Kok agaknya terlalu mengalah dan menghormati anak muda itu.
“Can sute,” katanya sambil mengerling kepada Cin Pau, “Kalau orang tidak mau membantu, mengapa
harus memaksa-maksa ? Mungkin saudara muda ini merasa jerih menghadapi nama Thian Lok Si yang
tersohor !”
Cin Pau merasa akan sindiran ini, maka dengan suara tenang dan dingin ia berkata, “Sudah banyak
orang sombong kujumpai di kota ini !”
Biarpun ucapan ini tidak ditujukan langsung kepada Pauw Su Kam, namun semua orang dapat merasai
ketegangan yang timbul antara pemuda baju putih itu dan Pauw Su kam. Akan tetapi, Can Kok
terlampau cerdik untuk menderita kerugian karena permusuhan pada saat ia membutuhkan banyak
tenaga bantuan itu, maka sambil tertawa ia lalu menjura kepada Cin Pau.
“Ong taihiap, kami menghaturkan banyak terima kasih atas kesanggupan untuk membantu kami.
Memang yang hendak kami basmi adalah segerombolan penjahat yang berkedok di balik jubah-jubah
hwesio.”
Kemudian Can Kok lalu menawarkan arak wangi kepada semua tamunya.
Gak Song Ki yang diam-diam memperhatikan Cin Pau, merasa kagum menyaksikan keberanian
pemuda itu dan karena iapun mendengar betapa dengan tangan kosong pemuda ini telah mengalahkan
Gu Liong yang bersenjata pedang, maka ia mulai membanding-bandingkan kepandaian pemuda ini
dengan kepandaian puterinya sendiri, Siauw Eng. Gadis ini sebetulnya ingin sekali ikut dalam
penyerbuan ini dan membasmi para penjahat, namun oleh karena Gak-ciangkun amat sayang kepada
puterinya, biarpun tahu bahwa ilmu kerpandaian puterinya amat tinggi bahkan lebih tinggi dari pada
kepandaiannya sendiri, maka ia melarang.
Adapun Gan Hok yang merasa amat penasaran dan mendongkol mendengar betapa muridnya kena
dikalahkan dengan mudah, diam-diam lalu mengadakan pembicaraan dengan supeknya, yakni Kim-i
Lokai yang ia banggakan dan andalkan untuk membalas penghinaan pemuda baju putih itu atas diri
muridnya.
Kim-i Lokai adalah seorang tokoh yang sudah masuk hitungan kelas tinggi, maka tentu saja karena
dibakar hatinya oleh Gan Hok yang menyatakan bahwa dihinanya Gu Liong berarti tidak saja menghina
juga Gan Hok akan tetapi juga berarti tidak memandang muka Kim-i Lokai, menjadi panas juga dan
setelah meneguk tiga cawan arak wangi, ia lalu berdiri dan berkata kepada tuan rumah,
Koleksi Kang Zusi
“Can-ciangkun, maafkan lohu yang miskin dan tua. Melihat banyak orang gagah berkumpul di ruangan
yang luas ini, hati lohu merasa amat gembira, dan kegembiraan ini mendatangkan kehendak yang
bukan-bukan dihatiku. Memang lohu mempunyai semacam penyakit, yakni apabila bertemu dengan
orang-orang gagah segolongan, lalu menjadi gatal tangan dan ingin sekali menyaksikan dan mengukur
kepandaian kawan-kawan lain. Maksud lohu ini mengandung dua hal, pertama untuk saling kenal
terlebih baik lagi karena peribahasa menyatakan bahwa sebelum bertempur orang tak dapat menjadi
kenalan baik. Adapun kedua, adalah hal yang lebih utama lagi, yaitu oleh karena kita sedang
menghadapi musuh-musuh penjahat tangguh dan lihai, sedangkan kawan-kawan kita adalah orangorang
baru yang belum diketahui sampai di mana tingkat kepandaiannya, maka perlu sekali kita saling
mengukur tenaga untuk dapat mengetahui kekuatan sendiri !”
Can Kok tersenyum dan menjura sambil berkata, “Lo-enghiong berkata benar ! Lalu apakah kehendak
lo-enghiong sekarang ?”
“Aku tak perlu sungkan-sungkan lagi demi kebaikan pihak kita sendiri. Biarlah aku yang tua menjadi alat
pengukur dan para saudara yang merasa perlu memperlihatkan kepandaian dan yang belum dikenal
baik dipersilakan maju untuk menghadapi lohu agar dapat disaksikan oleh semua kawan-kawan !”
Sambil berkata demikian, Kim-i Lokai lalu bertindak dengan tenang ke tengah ruangan yang luas itu.
Biarpun ucapannya ini ditujukan kepada semua orang, namun kedua matanya memandang ke arah Cin
Pau.
Bagian 12. Kepiawaian Murid Bu Eng Cu
Cin Pau adalah seorang yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dari suhunya ia pernah pula
mendengar nama Kim-i Lokai, hingga sudah sepatutnya kalau ia berdiam diri dan tidak mau
menyombongkan kepandaian, terutama untuk menghadapi seorang tokoh besar seperti Kim-i Lokai
adalah hal yang bukan tidak berbahaya. Akan tetapi, betapapun juga, ia masih amat muda dan
darahnya masih menggelora penuh keberanian yang terdorong oleh nafsu mudanya. Maka mendengar
ini, ia segera bergerak hendak berdiri dari tempat duduknya.
Akan tetapi, ternyata ia kalah dulu oleh tuan rumah sendiri. Can Kok maklum akan maksud Kim-i Lokai
yang hendak membalaskan rasa malu yang diderita oleh murid Gan Hok, maka untuk menjaga jangan
sampai ia dianggap licik dan juga untuk mendemonstrasikan ilmu tombaknya, ia lalu mendahului orang
lain dan melompat kehadapan Kim-i Lokai.
“Lo-enghioang,” katanya sambil tertawa dan menjura, “aku merasa girang dan berterima kasih sekali
kepada kau orang tua yang bermaksud baik dan yang membantu meramaikan pertemuan ini. Akan
tetapi sebagai tuan rumah, sebelum orang lain memperlihatkan ilmu kepandaiannya yang tinggi, terlebih
dulu biarlah aku memperlihatkan kebodohanku. Tidak tahu dengan cara bagaimanakah lo-enghiong
hendak mengukur kebodohanku ?”
Kim-i Lokai tercengang karena tidak disangkanya bahwa tuan rumah ini maju sendiri, maka ia lalu
tersenyum-senyum dan memutar-mutar kedua matanya. “Can-ciangkun sendiri hendak maju ? Baik,
baik ! Telah lama lohu mendengar ilmu tombak cagak dari ciangkun yang amat tersohor, maka harap
ciangkun suka memperlihatkan kepandaian itu, biar lohu mengimbanginya dengan tongkat ini !”
Ketika mendengar ucapan ini, Can Kok merasa gembira sekali oleh karena memang selain ilmu
permainan tombak cagak ini, ia tidak tahu harus memamerkan kepandaian apa. Segera ia menyuruh
pelayan mengambil kongce (tombak bercagak)
“Silakan menyerang dan jangan sungkan-sungkan, Can-ciangkun!” kata Kim-i Lokai sambil
memelintangkan tongkat pada dadanya.
Can Kok segera menyerang dengan kongcenya dan ketika ia mulai bersilat dan melakukan penyerbuan,
para tamu diam-diam memuji oleh karena permainan tombak cagak dari perwira ini benar-benar lihai
dan kuat. Harus diketahui bahwa semenjak dikalahkan oleh hwesio muka hitam di kuil Thian Lok Si
hingga ia merasa terhina dan malu sekali, Can Kok lalu melatih diri dan memperdalam ilmu silatnya
sampai bertahun-tahun sehingga kalau dibandingkan dengan dulu sebelum dikalahkan oleh hwesio itu,
ilmu kepandaiannya telah meningkat jauh sekali. Tenaga yang disalurkan pada senjata itupun besar
Koleksi Kang Zusi
sekali sehingga tiap kali ia menusuk dengan senjatanya ujung tombak itu sampai menggetar dan
apabila ia memukulkan tombaknya, maka terdengar bersiutnya angin pukulan.
Kalau permainan kongce dari Can Kok ini telah mengagumkan para penonton, adalah permainan
tongkat Pengemis Tua Baju Emas membuat hati Cin Pau berdebar. Kalau yang menyerbu kuil itu orangorang
segagah ini, pasti kuil itu akan dapat dihancurkan, pikirnya. Permainan tongkat kakek pengemis
itu benar-benar hebat karena biarpun yang digerakkan hanya sebatang tongkat kayu yang kecil, akan
tetapi tiap kali tombak Can Kok yang bertenaga besar itu terbentur oleh ujung tongkat, tombak itu selalu
terpental hingga Can kok beberapa kali mengeluarkan seruan kaget. Namun perwira ini masih tetap
menyerang terus walaupun sedikit juga serangannya tak berarti bagi pengemis yang kosen itu.
Setelah melayani Can Kok sampai tiga puluh jurus lebih, Kim-i Lokai melompat mundur dengan cepat
dan berkata, “Cukup, cukup !” Can-ciangkun cukup gagah untuk menyerbu ke kuil Thian Lok Si !”
Can Kok merasa puas, karena biarpun ia tidak dapat mengalahkan pengemis lihai itu, namun ia tidak
sampai tercela permainan tombaknya. Semua penonton juga menganggap demikian, akan tetapi Cin
Pau yang lebih tajam dan lebih tahu akan gerakan-gerakan Kim-i Lokai, dapat melihat betapa dengan
luar biasa cepatnya, ketika hendak melompat mundur tadi, ujung tongkat kakek itu telah menerobos di
antara sinar kongce dan menyabet ujung lengan baju Can Kok. Dan ketika Cin Pau memperhatikan
ujung lengan baju itu, benar saja di situ terdapat sebuah lubang bekas tusukan tongkat.
Kim-i Lokai setelah memberi “tanda’ pada ujung lengan baju Can Kok tanpa memberi tahu itu, lalu
tertawa girang dan setelah Can Kok mengundurkan diri, ia lalu berkata lagi kepada semua tamu, “Cuwi
yang hendak maju, silakanlah. Jangan malu atau sungkan terhadap kawan segolongan sendiri!”
Lagak Kim-i Lokai seakan-akan seorang guru yang menghadapi sekian banyak muridnya dan yang
hendak diujinya seorang demi seorang. Cin Pau maklum bahwa pengemis tua ini merupakan lawan
yang tangguh sekali, akan tetapi ia tetap hendak maju dan mencoba kepandaian kakek itu.
Sekali lagi Cin pau didahului orang lain, yakni seorang di antara Kongsan hengte yang bernama Lu
Kiam. Setelah menjura dan memperkenalkan diri kepada Kim-i Lokai ia lalu mengeluarkan senjatanya
yang istimewa, yaitu sepasang poan-koan pit atau senjata berbentuk pit (pena bulu) yang lihai sekali
oleh karena sepasang senjata ini khusus dibuat untuk menyerang dan menotok jalan darah lawan.
Orang yang dapat mempergunakan sepasang poan-koan pit tentu seorang yang telah memiliki
lweekang tinggi dan telah paham sekali akan jalan darah dan bagian kelemahan lawan hingga baru
mengeluarkan sepasang senjata ini saja sudah dapat diduga bahwa Lu Kiam bukanlah orang
sembarangan.
Kim-i Lokai tertawa terbahak-bahak. “Memang, harimau hanya berkawan singa dan ular samudera
selalu berkawan dengan naga. Sicu adalah kawan baik Can-ciangkun, maka tentu saja ilmu kepandaian
sicu takkan mengecewakan. Lu-sicu, jangan sungkan-sungkan, majulah !”
“Mohon pengajaran !” kata Lu Kiam merendah dan ia lalu mulai bersilat. Kedua tangannya memegang
poan-koan pit bergerak-gerak bagaikan seorang penari ulung sedangkan kedua kakinya berjingkit dan
berpindah-pindah dengan amat cepat dan gesitnya. Kembali permainan silat ini mendatangkan rasa
kagum, bahkan Kim-i Lokai sendiri berkali-kali memuji, “Bagus, bagus !”
Pengemis tua itu terpaksa mempergunakan ginkangnya yang hebat untuk menghindarkan diri dari
totokan lawan yang gesit ini. Kalau sampai ia kena tertotok, ia akan mendapat malu hebat sekali,
biarpun pertandingan itu hanya pertandingan persahabatan saja. Maka tongkatnya lalu digerakkan
cepat sekali dan kemana saja poan-koan pit menotok, selalu bertemu dengan ujung tongkat yang
menangkisnya dengan tenaga penuh hingga tiap kali ujung poan-koan pit terbentur ujung tongkat, Lu
Kiam merasa betapa tangannya kesemutan dan kalau ia tidak mengerahkan tenaga, tentu poan-koan
pitnya akan terpukul jatuh. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian pengemis tua yang aneh ini masih lebih
tinggi setingkat dengan kepandaiannya sendiri, maka setelah bertempur sampai empat puluh jurus
tanpa dapat mendesak, ia tahu diri dan melompat ke belakang dengan cepatnya.
“Maaf, maaf, aku yang bodoh telah memperlihatkan kejelekkan kepandaianku,” katanya sambil menjura.
“Siapa bilang permainanmu jelek ?” kata Kim-i Lokai dengan gembira. “Lohu berani tanggung bahwa
penjahat-penjahat Thian Lok Si akan kacau balau terserang oleh dua batang poan-koan pit yang lihai
itu. Kau hebat sekali, Lu-sicu !”
Koleksi Kang Zusi
Setelah berkata demikian, Kim-i Lokai lalu memandang kepada orang kedua dari Kongsan Hengte yang
bernama Lu Siang. Berbeda dengan adiknya, Lu Siang ini bertubuh tinggi kurus sedangkan adiknya itu
pendek gemuk, dan muka Lu Siang ini kepucat-pucatan seperti orang sakit, akan tetapi sepasang
matanya berpengaruh. Cin Pau dapat menduga bahwa orang gagah itu tentulah seorang ahli lweekeh
yang memiliki ilmu lweekang yang tinggi sekali.
Melihat betapa adiknya tak berdaya menghadapi pengemis tua itu, Lu Siang lalu melompat dari tempat
duduknya. Gerakannya ini tidak kentara, akan tetapi tahu-tahu tubuhnya telah melayang dan berdiri di
depan Kim-i Lokai. Cin Pau kagum sekali melihat ginkang ini. Ternyata yang berkumpul ini bukanlah
orang-orang sembarangan, pikirnya makin tertarik.
Begitu berada di depan pengemis tua itu, Lu Siang lalu menjura memberi hormat. Akan tetapi gerakan
memberi hormat ini bukanlah gerakan sembarangan akan tetapi adalah gerakan yang dalam ilmu silat
disebut Raja Monyet Menghormat Dewata (Ce Thian Pai Hud) dan ini adalah gerakan dari ahli ilmu
lweekeh yang melakukan serangan atau pukulan lweekang dari jauh dalam bentuk pemberian hormat.
Akan tetapi, oleh karena yang dihadapinya bukan musuh dan hanya seorang yang hendak mencoba
ilmu kepandaiannya, Lu Siang juga tidak begitu gegabah untuk mengisi tenaga pukulan dalam gerakan
ini, dan hanya merupakan gerakan pemberian hormat biasa saja. Akan tetapi, otomatis ia telah
memperlihatkan bahwa ia adalah ahli lweekeh yang jempolan.
Melihat cara pemberian hormat Lu Siang, Kim-i Lokai tidak mau tinggal diam dan ia memperlihatkan
bahwa ia kenal pula gerakan ini, maka sekali gus ia membalas hormat orang dengan gerakan Menolak
Gunung Menarik Awan. Tangan kanannya dengan jari terbuka ditaruh di depan dada sebagai
penolakan pukulan lawan dan tangan kirinya membalas dengan gerakan pukulan yang juga dilancarkan
hanya dengan tenaga lweekang dan memukul dari jauh. Lu Siang merasa terkejut sekali oleh karena
memang gerakan inilah yang menjadi gerakan untuk menahan dan membalas serangan gerakannya
tadi.
Dalam hormat-menghormati ini, kedua orang itu telah memperlihatkan dua macam gerakan yang lihai
dan yang takkan dapat dimengerti oleh ahli silat sembarangan saja. Akan tetapi, Cin Pau tahu akan
gerakan-gerakan mereka itu hingga diam-diam ia memuji pula.
“Sicu, janganlah berlaku sungkan-sungkan dan marilah kita bermain-main sebentar menambah
pengetahuan !” kata Kim-i Lokai sambil tertawa.
“Lo-enghiong, jangan kau orang tua tertawakan aku yang rendah pengetahuan !” kata Lu Siang sambil
melepaskan ikat pinggangnya yang berwarna hitam. Setelah ikat pinggangnya itu berada di dalam
tangannya, ternyata bahwa itu bukanlah ikat pinggang biasa, akan tetapi sebuah senjata joan pian atau
cambuk lemas yang panjangnya tidak kurang dari tiga kaki. Memang tepat sekali bagi seorang ahli
lweekeh untuk mempergunakan joan pian yang lemas ini oleh karena tenaga lweekangnya dapat
disalurkan pada senjata itu hingga cambuk itu bisa menjadi lemas untuk membelit senjata musuh atau
menyabet, dan dapat pula dibuat kaku untuk menusuk atau menotok jalan darah.
“Bagus, sicu majulah !” kata Kim-i Lokai dengan hati-hati karena ia maklum bahwa lawannya kali ini
memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dibuat gegabah. Lu Siang lalu bergerak dengan joan piannya
setelah disentakkan mengeluarkan bunyi keras bagaikan sebatang cambuk gembala, lalu joan pian itu
menyambar ke arah leher Kim-i Lokai. Pengemis tua itu cepat mengangkat tongkatnya dan sebentar
kemudian kedua orang itu bertempur seru sekali hingga bayangan mereka kadang-kadang menjadi satu
dan sukar dibedakan satu dengan yang lain.
Setelah adu kepandaian ini berlangsung seratus jurus dengan amat hebatnya dan keadaan mereka
seakan-akan berimbang, keduanya lalu melompat mundur dan Lu Siang dengan muka merah menjura
sambil berkata, “Siauwte yang bodoh telah menerima pelajaran, terima kasih, lo-enghiong.” Ternyata
bahwa tadi ia telah kena dikurung hebat oleh tongkat pengemis tua yang lihai itu hingga ia tidak malumalu
untuk mengaku kalah.
Pengemis tua itu tertawa terkekeh-kekeh dengan wajah berseri.
“Ah, Can-ciangkun,” katanya kepada Can Kok. “Sekarang lohu tidak kuatir lagi. Dengan adanya para
orang gagah ini di pihak kita, kita tak usah kuatirkan perlawanan para penjahat gundul di Thian Lok Si.”
Can Kok dengan girang lalu berkata kepada Cin Pau, “Ong-taihiap, tinggal kau yang belum
memperlihatkan kepandaianmu.”
Koleksi Kang Zusi
Cin Pau lalu bangkit berdiri dan berjalan dengan langkah perlahan ke tengah ruang itu. Akan tetapi,
pada saat itu, Pauw Su Kam, suheng dari Can Kok, piauwsu dari Shantung itu, juga berdiri dan berkata
kepada Kim-i Lokai.
“Lo-enghiong, kau telah terlalu banyak menghadapi kawan-kawan yang gagah hingga kuatir kau orang
tua terlampau lelah. Biarlah siauwte yang kasar dan bodoh mencoba kepandaian “taihiap” ini!” Terang
sekali bahwa Pauw Su Kam ini merasa kurang senang dan tidak puas bahwa Can Kok, sutenya itu,
terlalu menghormat kepada Cin Pau hingga menyebutnya taihiap atau pendekar besar.
Cin Pau dapat menduga bahwa orang sombong ini tentu sedang mencari perkara dengan dia, dan
orang itu tentu berusaha menjatuhkannya dengan membuatnya malu. Oleh karena itu ia berlaku hatihati
sekali.
Sambil tertawa Kim-i Lokai mengundurkan diri dan berkata,
“Baik, baik, dengan majunya jiwi, berarti sekali gus lohu dapat menyaksikan tingkat kepandaian jiwi.”
Akan tetapi ketika pengemis tua ini menyaksikan betapa setelah menggulung lengan bajunya, kedua
lengan orang she Pauw ini kelihatan merah sekali ia menjadi terkejut karena tahu bahwa orang ini
memiliki ilmu pukulan Ang se ciang atau Tangan Pasir Merah yang lihai.
Cin Pau juga melihat ini dan tahulah ia mengapa orang ini demikian sombongnya karena agaknya
mengandalkan kedua tangannya yang berbahaya. Orang yang memiliki tangan pasir merah ini memang
berbahaya sekali pukulannya, karena jangankan tubuh kena pukul oleh kedua tangan ini, baru
tertangkis saja dapat membuat lengan lawan menjadi bengkak-bengkak dan tulangnya patah.
Tadi ia telah diperkenalkan dengan semua orang, maka Cin Pau yang masih ingat akan nama orang ini
dan tahu bahwa dia adalah suheng dari tuan rumah, dengan sikap hormat berkata,
“Pauw piauwsu tentu ingin mengajak siauwte bermain dengan tangan kosong, bukan ?” Ucapan ini
sekali gus menyatakan bahwa ia telah tahu akan kelihaian kedua tangan lawan dan juga menyatakan
bahwa ia tidak gentar menghadapinya.
Pauw Su Kam tersenyum dan berkata dengan sikap tinggi hati, “Memang betul, Ong-taihiap !” Ia
sengaja menyebut “taihiap” dengan suara mengandung ejekan. “Biarpun hanya main-main, akan tetapi
senjata tajam kalau digunakan bisa mendatangkan bahaya karena seperti kata orang, senjata tidak
bermata.”
“Siauwte setuju dengan pendapatmu,” kata Cin Pau sederhana, “Kau majulah dan mari kita bermainmain
sebentar !”
Kali ini semua orang menonton dengan penuh perhatian, karena ingin menyaksikan ilmu kepandaian
pemuda baju putih yang masih sangat muda ini. Hampir semua orang menduga bahwa kali ini Cin Pau
tentu akan roboh di tangan Pauw piauwsu yang lihai. Pauw Su Kam ingin segera menjatuhkan
lawannya yang muda ini dan sekali gus mengangkat tinggi namanya, maka begitu berseru ia lalu
menyerang dengan tendangan pancingan yang disusul oleh cengkeraman tangan kanan ke arah dada
dan pukulan tangan kiri ke arah pundak Cin Pau. Akan tetapi, dengan mudah pemuda itu melompat dan
mengelakkan diri dari serangan itu dan selanjutnya ia lalu mengeluarkan ginkangnya yang tinggi
tingkatnya, berkelebat ke sana ke mari menghindarkan diri dari serangan yang datangnya bertubi-tubi
itu. Maka melongolah semua orang ketika menyaksikan betapa tubuh anak muda itu kini berobah
menjadi bayangan putih yang luar biasa gesitnya hingga seakan-akan seekor garuda putih terbang
menyambar-nyambar hingga membikin Pauw Su Kam tak berdaya mendekatinya.
Melihat gerak gerik pemuda ini, tercenganglah Can Kok oleh karena selama hidupnya ia baru sekali
menyaksikan gerak gerik ini, yaitu ketika hwesio muka hitam dulu menjatuhkannya. Akan tetapi pemuda
ini lebih cepat lagi gerakannya. Juga Kim-i Lokai merasa kagum sekali dan memandang dengan penuh
perhatian. Tak pernah disangkanya bahwa ginkang dari pemuda itu sedemikian lihainya hingga diamdiam
ia mengakui bahwa dia sendiri belum tentu dapat melebihi pemuda itu dalam hal kegesitan.
Pauw Su Kam terus menyerang dan setelah ia menyerang dengan Ang se-ciang selama tiga puluh
jurus lebih, peninglah kepalanya karena pemuda itu benar-benar merupakan bayang-bayang atau uap
putih saja yang tiap kali diserbunya tiba-tiba lenyap dari depannya dan tahu-tahu telah berada di kanan,
kiri, atau bahkan di belakangnya. Baru menghadapi lawan yang selalu mengelak saja, ia sudah menjadi
pening, apalagi kalau sampai lawan itu balas menyerang.
Koleksi Kang Zusi
Tiba-tiba Pauw Su Kam lalu berhenti menyerang dan ketika melihat Cin Pau juga berdiri di depannya
tak bergerak, tiba-tiba ia lalu memukul dengan kedua tangannya ke arah dada Cin Pau. Ini adalah
pukulan maut yang tak layak dikeluarkan di dalam adu kepandaian itu, karena memang pukulan yang
dihandalkan ini hanya digunakan untuk menjatuhkan seorang musuh dengan maksud membunuh.
Angin pukulan Ang se-ciang ini saja sudah cukup membuat lawan jatuh dengan menderita luka di dalam
tubuh, apalagi kalau sampai tangan itu mengenai tubuh lawan dengan tepat.
Cin Pau merasa mendongkol dan marah melihat hal ini karena tak disangkanya bahwa lawan ini
menggunakan tangan maut untuk mengalahkannya. Ia lalu berpikir bahwa kalau kali ini tidak
memperlihatkan kepandaian, selanjutnya ia tentu akan dipandang ringan dan rendah. Ia sengaja tidak
berkelit dan menanti datangnya pukulan.
“Celaka !” Kim-i Lokai berseru karena biarpun ia juga ingin mengalahkan pemuda itu untuk membalas
penghinaan terhadap cucu muridnya, akan tetapi ia tidak bermaksud membunuh pemuda ini,
sedangkan pukulan yang dilancarkan oleh Pauw Su Kam itu ia tahu dapat mendatangkan bahaya maut.
Akan tetapi, segera seruan kaget ini disusul dengan seruan kagum ketika ia melihat betapa dengan dua
tangan terulur ke depan dan jari-jari terbuka. Cin Pau menggunakan lweekang yang tinggi untuk
mengembalikan tenaga pukulan Ang se-ciang yang hebat itu. Cin Pau maklum bahwa biarpun tenaga
lweekangnya telah terlatih cukup dan tidak akan kalah oleh tenaga lawan, akan tetapi kalau ia
menggunakan lengan tangan untuk menangkis, tentu tulang lengannya akan terpukul oleh tenaga Ang
se-ciang dan mungkin tulangnya akan patah karena kalah kalau dibandingkan dengan tulang lawan
yang “berisi”, akan tetapi kalau ia menggunakan telapak tangan yang berisi daging dan urat serta dapat
mengeluarkan tenaga lweekang sepenuhnya itu, ia boleh menangkis dengan hati tenteram. Benar saja,
ketika dua tenaga raksasa bertemu, dengan khikangnya Cin Pau dapat menutup jalan darahnya dan
hanya terhuyung mundur tiga langkah. Akan tetapi sebaliknya, Pauw Su Kam yang tak menduga akan
mendapat benturan tenaga yang lebih besar dari pada tenaganya sendiri itu, terpental sampai setombak
lebih dan jatuh terduduk di atas lantai.
Ia terkejut sekali, akan tetapi karena tidak menderita luka apa-apa, ia merasa tunduk betul terhadap Cin
Pau. Dengan muka merah ia lalu menjura dan berkata, “Ong-taihiap memang patut dikagumi.
Kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada dugaanku semula.”
“Ang se-ciangmu juga lihai sekali, Pauw piauwsu !” kata Cin Pau merendahkan diri.
“Hebat, hebat ! Harus kuberi selamat !” tiba-tiba Lu Siang berkata dan menghampiri Cin pau sambil
menjura dengan gerakan Ce Thian Pai Hud tadi. Kali ini ia mengisi tenaga dalam gerakannya hingga
Cin Pau yang maklum dirinya dicoba, lalu balas menjura sambil mengerahkan khikangnya. Lu Siang
merasa betapa tenaganya terbentur kembali dan kedua pundaknya sampai merasa linu, maka ia lalu
berkata, “Memang lihai sekali, aku mengaku kalah !”
Hanya beberapa orang saja yang tahu akan percobaan tenaga ini, di antaranya Kim-i Lokai. Pengemis
tua ini tidak mau kalah, dengan tertawa ia lalu datang menghampiri dengan secawan arak di tangan.
“Ong sicu, kau pantas dihormat dengan secawan arak wangi !” katanya sambil menyerahkan cawan itu
kepada Cin Pau dengan tubuh membungkuk.
Cin Pau lalu menerima cawan itu dan alangkah kagetnya ketika merasa betapa tangan yang
memberikan cawan itu menekan dengan kekuatan yang luar biasa beratnya. Ia lalu mengerahkan
tenaganya dan membuat telapak tangannya yang menerima cawan menjadi lemas bagaikan kapas
hingga tenaga tekanan Kim-i Lokai menjadi lenyap dan tiada berguna lagi. Pengemis tua itu
melepaskan cawannya dan tertawa bergelak. Ia merasa senang sekali, tidak saja girang karena
mendapat kawan kuat dalam penyerbuan kuil Thian Lok Si, akan tetapi juga girang bahwa tadi ia tidak
sampai bentrok dengan pemuda ini. Kalau sampai mencoba kepandaiannya dan tak dapat
memenangkan pemuda ini, alangkah akan malunya. Sedangkan ia masih merasa sangsi apakah ia
akan dapat mengalahkan pemuda yang lihai ini.
“Sicu, kau masih begini muda akan tetapi kepandaianmu benar-benar membuat lohu merasa kagum,’
katanya.
“Lo-enghiong, tongkatmu membuat siauwte merasa kagum dan takluk sekali.” Cin Pau menjawab
sejujurnya, “terutama ketika kau membuat gerakan melobangi ujung lengan baju Can-ciangkun tadi.
Hebat dan cepat sekali gerakan itu !”
Koleksi Kang Zusi
Mendengar ucapan itu, Can Kok terkejut dan melihat ujung lengan bajunya yang benar-benar bolong,
maka mukanya jadi pucat. Orang telah membolongi ujung lengan bajunya dan ia sama sekali tidak tahu.
Kalau orang itu seorang musuh dan menghendaki jiwanya, tentu ia akan mati sebelum ia ketahui
diserang secara bagaimana.
Sebaliknya, Kim-i Lokai makin kagum saja mendapat kenyataan bahwa pemuda ini dapat melihat
gerakannya tadi, padahal ia percaya bahwa tak seorang pun dapat melihatnya. Dari kenyataan ini saja
dapat diketahui bahwa pemuda baju putih ini memang murid seorang berilmu tinggi.
Bagian 13. Penyelidikan di Kuil Thian Lok Si
Pada saat orang-orang memuji Cin pau, tiba-tiba dari luar berkelebat bayangan-bayangan orang dan
biarpun Cin Pau dan Kim-i Lokai bermata tajam, namun mereka berdua inipun tidak melihat dengan
jelas gerakan orang-orang yang baru datang dan tahu-tahu di tengah ruangan itu telah berdiri dua orang
tosu tua.
Ketika Gak Song Ki melihat dua orang tosu ini, dengan girang sekali ia lalu menjatuhkan diri berlutut
dan berseru, “Suhu dan Supek !”
Maka tahulah mereka bahwa yang datang ini adalah dua orang tokoh Gobi-san yang terkenal, yakni Cin
Can Cu dan Bok San Cu. Semua orang, juga Cin Pau lalu menjura dan memberi hormat kepada dua
orang tosu lihai ini. Ketika Cin Pau mendengar bahwa kedua orang tosu ini adalah kedua guru Siauw
Eng, maka ia menjadi kagum. Tak heran apabila gadis itu lihai karena guru-gurunya juga begini tinggi
ilmu kepandaiannya.
Ternyata bahwa kedatangan kedua tokoh Gobi-san inipun atas undangan dan permohonan Gak Song
Ki untuk membantu dia melakukan tugas yang diperintahkan oleh kaisar, yakni membasmi kuil Thian
Lok Si. Oleh karena ia maklum bahwa hwesio-hwesio di Thian Lok Si memang berkepandaian tinggi,
maka ia lalu minta pertolongan mereka.
Pada waktu itu, memang terjadi sedikit pertentangan antara para tosu dan para hwesio, yakni pemeluk
agama To dan Agama Buddha, hingga ketika mendengar betapa hwesio-hwesio di Thian Lok Si
berubah jahat dan bersekutu hendak memberontak, kedua orang tosu itu menjadi marah dan segera
datang untuk membantu Gak Song Ki membasmi kuil itu. Pada masa itu, tidak sedikit terdapat hwesiohwesio
yang jahat, karena banyak orang-orang jahat dengan berkedok menjadi pendeta dan
menggunduli rambutnya, masih tetap melakukan kejahatan mereka sehingga hal ini tentu saja menodai
nama para hwesio umumnya.
Dengan datangnya dua orang sakti ini, maka pihak para perwira yang hendak menjalankan perintah
kaisar itu menjadi kuat sekali, apalagi di pihak mereka terdapat juga Cin Pau yang biarpun masih muda,
akan tetapi sudah boleh diandalkan karena kepandaiannya yang tinggi itu.
Penyerbuan kuil Thian Lok Si akan dilakukan pada keesokkan harinya, dan Gak Song Ki segera minta
kepada kedua orang tosu itu untuk bermalam di gedungnya. Hal ini diterima baik oleh dua orang tokoh
Gobi-san itu yang ingin sekali melihat murid mereka Siauw Eng.
Karena makin tertarik dan suka kepada Cin Pau, Gak-ciangkun lalu membujuk-bujuk agar supaya
pemuda itu suka pula mampir dan bermalam di rumahnya. Cin Pau tak dapat menolak, terutama karena
ia ingin bercakap-cakap dengan kedua orang pendekar tua dari Gobi-san itu, katanya. Padahal, di lubuk
hatinya ada suara yang hanya didengarnya sendiri, yang berbisik bahwa ia ingin bertemu atau melihat
wajah Siauw Eng, dara jelita yang sombong dan galak itu.
Ketika mendengar tentang kedatangan dua orang suhunya, Siauw Eng menjadi girang sekali dan ia
berlari-lari menyambut kedatangan kedua orang tosu itu. Dengan girang sekali ia lalu menjatuhkan diri
berlutut di depan kedua orang suhunya yang juga memandangnya dengan bangga dan senang. Mereka
lalu beramai-ramai masuk ke dalam dan ketika dara itu bertemu pandang dengan Cin Pau, mulutnya
bergerak seperti hendak menegur karena ia merasa heran sekali, akan tetapi ia tidak mengeluarkan
kata-kata sesuatu, hanya dari pandang matanya Cin Pau tahu bahwa gadis itu tidak marah. Bahkan
bibir yang manis itu kemudian tersenyum kepadanya, seolah-olah mereka telah menjadi kenalan lama
yang baik hubungannya.
Koleksi Kang Zusi
Ketika ditanya, Cin Pau mengaku bahwa ia adalah murid Bu Eng Cu Tiauw It Lojin. Ia tidak mau
memberitahu bahwa iapun murid Beng Hong Tosu, karena ia maklum bahwa nama ini tentu akan
dihubungkan pula dengan keluarga Khu dan Ma yang menjadi muridnya, dan juga dengan Un Kong
Sian. Dalam keadaan seperti ini dan karena berada di kota raja, ia harus berlaku hati-hati dan jangan
menimbulkan kecurigaan di kalangan perwira. Bukan karena ia takut, akan tetapi karena ia tidak mau
menghadapi kesulitan-kesulitan baru.
Kedua orang tosu itu pernah bertemu dengan Bu Eng Cu dan telah tahu kelihaian orang sakti itu, maka
mereka menyatakan kagumnya dan memuji Cin Pau sebagai seorang pemuda yang berbakat dan
beruntung menjadi murid orang pandai itu. Ketika melihat betapa pemuda baju putih itu mendapat
penghargaan dari Cin San Cu dan Bok San Cu, makin kagumlah hati Gak Song Ki, bahkan pandangan
Siauw Eng terhadap Cin Pau mulai berubah dan tidak berani memandang rendah lagi.
Ketika diperkenalkan kepada ibu Siauw Eng, Cin Pau merasa suka melihat nyonya yang cantik jelita
dan halus tutur sapanya itu hingga menimbulkan hormatnya. Sebaliknya, Souw Kwei Lan atau ibu
Siauw Eng yang telah menjadi nyonya Gak Song Ki, memandang wajah yang tampan itu dengan heran
karena ia seakan-akan pernah melihat dan kenal wajah ini, akan tetapi tak dapat mengingat lagi di
mana dan kapan. Tentu saja ia sama sekali tak dapat menduga bahwa pemuda tampan yang duduk di
depannya dengan muka tunduk ini adalah putera tunggal Ong Lin Hwa dan Khu Tiong.
Sementara itu, Siauw Eng mendengarkan pembicaraan ayahnya dengan kedua suhunya dengan penuh
perhatian. Ia merasa penasaran sekali mengapa ayahnya melarang ia untuk ikut menyerbu kuil itu dan
membantu membasmi para penjahat. Di dalam hati gadis yang selalu dimanja ini timbul pemberontakan
hebat. Belum pernah kehendaknya tak terpenuhi, bahkan ketika berada di atas puncak Gobi-san, kedua
suhunyapun amat memanjakannya, maka ia diam-diam mengambil keputusan untuk meninjau sendiri
dan menyelidiki keadaan kuil itu.
Demikianlah, ketika semua orang sedang bercakap-cakap, diam-diam ia pergi ke kamarnya, kemudian
mengambil jalan dari pintu belakang ia lalu naik ke atas punggung kuda putihnya dan pergi
meninggalkan kota. Ia telah diberitahu letak kuil Thian Lok Si dan pada senja hari itu ia membalapkan
kudanya menuju ke kuil itu.
Ia tidak tahu bahwa ketika beberapa lama ia pergi meninggalkan ruang tamu, Cin Pau merasa tidak
senang lagi duduk di situ dan Gak Song Ki menganggap bahwa pemuda itu tentu telah lelah dan ingin
beristirahat, maka ia lalu mengantarkannya ke sebuah kamar yang disediakan untuknya. Begitu berada
di dalam kamar seorang diri, timbul keinginan di dalam hati pemuda ini untuk menyelidiki keadaan kuil
Thian Lok Si yang hendak diserbu itu. Ia tidak merasa heran mendengar bahwa pendeta-pendeta di situ
menjadi jahat, karena seringkali ia mendengar adanya hwesio-hwesio yang berjalan sesat dan menjadi
penjahat.Bahkan, kedua saikong yang dijumpainya dengan Siauw Eng itu, yakni Pek Lek Hoatsu dan
Ban Lek Hoatsu, bukankah mereka itupun dua orang pendeta yang jahat sekali ?
Akan tetapi yang amat membuatnya penasaran ialah justru karena kuil itu pernah menolong ibunya,
mengapa kini menjadi sarang penjahat ? Diam-diam ia merasa ragu-ragu dan kini timbul pikirannya
hendak menyelidiki pula. Tadi di dalam percakapan, secara tidak langsung ia telah bertanya tentang
letak kuil itu yang berada di dusun tak berapa jauh dari Tiang-an.
Setelah mengambil keputusan tetap ia lalu melompat keluar dari jendela kamarnya, menutup daun
jendela dari luar, lalu pergi tanpa diketahui orang, menuju ke kuil itu. Ia tidak tahu bahwa belum lama
Siauw Eng telah pergi pula ke sana menunggang kuda.
Siauw Eng adalah seorang gadis yang berhati tabah sekali. Ia telah seringkali bermain-main dan
berburu binatang di dalam hutan-hutan di sekitar Tiang-an, baik seorang diri maupun bertiga bersama
Gu Liong dan Gu Hwee Lian maka ia kenal baik jalan yang melalui hutan itu.
Setelah tiba di luar dusun Ma-cin-kiang di mana kuil Thian Lok Si berada, ia lalu turun dari kudanya dan
mengikat kendali kuda pada sebatang pohon. Ia lalu melanjutkan perjalanannya dengan berlari cepat.
Dari jauh telah nampak bangunan kuil yang besar itu di bawah sinar bulan purnama. Hatinya agak
berdebar ketika menyaksikan bangunan yang besar dan megah itu. Teringat akan penuturan ayahnya
bahwa di dalam kuil ini berdiam puluhan hwesio yang berilmu tinggi.
Dengan hati-hati Siauw Eng lalu mengambil jalan memutar dan kini ia berdiri di bawah dinding kuil yang
tinggi dan yang mengitari bangunan besar itu. Karena di situ sunyi, maka ia lau mengenjot tubuhnya
dan melayang naik ke atas dinding. Dari tempat itu ia memeriksa ke dalam sambil berjongkok. Tak
Koleksi Kang Zusi
tampak seorangpun hwesio di situ dan yang terdengar hanyalah suara hwesio-hwesio membaca
liamkeng sebagaimana biasanya terdengar dari kelenteng-kelenteng. Ia tidak berani berlaku sembrono,
maka setelah yakin betul bahwa tidak ada orang yang melihatnya, ia lalu melompat turun dengan ringan
hingga tak menerbitkan suara. Dengan jalan perlahan dan bersembunyi di belakang pohon-pohon yang
tumbuh di situ. Ia menghampiri bangunan besar itu dari belakang.
Tiba-tiba ia mendekam di belakang sebatang pohon besar ketika melihat dua tubuh hwesio yang gemuk
keluar dari pintu sambil bercakap-cakap. Kedua orang hwesio ini ternyata membawa keranjang berisi
sisa-sisa tangkai hio (dupa) yang terpakai siang tadi oleh para pengunjung kuil dan membuangnya sisasisa
biting itu ke dalam sebuah keranjang sampah besar yang tersedia di belakang kuil. Kemudian
mereka berjalan kembali ke arah pintu sambil bercakap-cakap.
“Kata suhu mungkin besok mereka datang menyerbu,” kata seorang di antara mereka.
Terdengar tarikan napas panjang. “Mereka itu menghendaki apa ? Kalau Pek Seng Lo-suhu berada di
sini, tentu ia akan marah sekali dan takkan membiarkan mereka berbuat kurang ajar !”
“Memang, Sian Kong Suhu terlalu sabar dan mengalah.”
“Ia selalu nampak berduka.”
“Kasihan .......”
Kedua orang hwesio ini masuk ke dalam kuil itu melalui pintu belakang hingga Siauw Eng tak
mendengar percakapan mereka lebih lanjut lagi. Ia lalu menghampiri pintu itu, akan tetapi ketika melihat
betapa di balik pintu itu terdengar suara orang-orang bercakap-cakap, ia tidak berani masuk, lalu
melompat naik ke atas genteng.
Akan tetapi, baru saja kakinya menginjak genteng, tiba-tiba sesosok bayangan hitam melompat pula
dan seorang hwesio tinggi besar bermuka hitam telah berdiri di depannya. Hwesio ini mukanya buruk
dan nampak galak dan jahat sekali.
“Kau siapa dan apa kehendakmu datang malam-malam di atas kuil kami ?” bentak hwesio itu dengan
wajah bengis.
“Hwesio jahat !” Siauw Eng balas membentak sambil menyerang dengan pedangnya. Gadis ini baru
melihat muka ini saja sudah tidak meragukan lagi bahwa hwesio ini tentulah seorang jahat dan mungkin
yang memimpin kejahatan di dalam kuil ini, karena ia mendengar dari ayahnya bahwa hwesio-hwesio
itu dipimpin oleh seorang hwesio jahat yang tidak saja memberontak, akan tetapi juga melakukan
segala macam kejahatan seperti merampok, memeras, mengganggu wanita, dan lain-lain. Ia tidak tahu
bahwa ayahnya juga hanya mendengar saja dari Can Kok yang suka sekali memburukkan nama kuil ini.
Melihat serangan yang hebat itu, hwesio muka hitam itu lalu mengelak cepat dan membalas dengan
serangan tangan kosong. Akan tetapi, Siauw Eng terlampau gesit untuk dapat dilawan dengan tangan
kosong saja sehingga lambat laun hwesio muka hitam itu merasa sibuk juga. Pada saat itu terdengar
bentakan halus,
“Nona, mengapa kau mengacau di tempat suci ini ?”
Kaget sekali hati Siauw Eng, karena pada saat ujung pedangnya telah mengancam leher muka hitam itu
tiba-tiba pedangnya tersampok ke samping oleh tenaga yang kuat sekali dan tidak tahunya tiba-tiba
telah muncul seorang hwesio yang belum terlalu tua, akan tetapi yang bersikap lemah lembut. Hwesio
inilah yang mempergunakan lengan bajunya untuk menyampok pedang Siauw Eng tadi.
Siauw Eng tercengang karena keadaan hwesio yang baru datang ini jauh sekali bedanya dengan
hwesio tadi yang kini telah berdiri di pinggir dengan tak bergerak. Hwesio ini bermuka halus dan bersih,
bahkan dapat disebut tampan. Sepasang matanya bersinar lembut dan seperti orang berduka dan
menderita tekanan batin. Jubahnya berwarna putih bersih.
“Nona, kau siapakah dan mengapa malam-malam kau datang membikin ribut di tempat pinceng ?”
Koleksi Kang Zusi
“Aku .... aku ...... ingin melihat sampai di mana kejahatan hwesio-hwesio di kuil Thian Lok Si !” Akhirnya
Siauw Eng dapat juga menjawab karena keberaniannya timbul kembali.
Terdengar hwesio muka hitam itu mengertak giginya hingga berkerutan, akan tetapi hwesio yang halus
tutur sapanya ini hanya tersenyum sedih. “Nona, baik dan buruk hanya sebutan orang, demikianpun
bajik atau jahat, tergantung dari mereka yang memandang dan menganggapnya. Adakalanya seorang
yang betul-betul baik dianggap jahat, sebaliknya yang jahat dianggap baik. Ini tidak aneh, memang
demikianlah sifat dunia !”
Ucapan ini menikam hati Siauw Eng betul-betul, karena ia merasa betapa ucapan ini amat tepat.
“Suhu ini ....... siapakah .........?” tanyanya gagap.
“Pinceng yang mengepalai dan memimpin kuil Thian Lok Si, disebut Sian Kong Hosiang. Kau yang
begini muda, mudah sekali mendengar bujukan orang yang sengaja memburukkan nama kuil ini. Akan
tetapi tidak apalah, kalau kau memang tetap hendak mempergunakan kekerasan dan tidak percaya
omongan pinceng, boleh kau lakukan apa yang kau suka. Hanya ingatlah, bahwa kepandaian di dunia
ini tidak ada batasnya, adapun tentang kepandaianmu, biarpun kau telah mendapat latihan dari Gobisan
yang cukup sempurna, namun pengalamanmu masih jauh dari pada cukup.”
Siauw Eng yang tadinya merasa ragu-ragu dan tidak mau menyerang hwesio yang kelihatan baik dan
halus tutur sapanya ini, akan tetapi ketika ia mendengar ucapan terakhir dari hwesio itu, timbul pula
marahnya dan timbul pula kesombongannya. Bagaimana hwesio ini berani menyatakan bahwa
kepandaiannya masih belum mencukupi ?
“Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kau berani berkedok jubah hwesio memimpin
kejahatan !” teriaknya dan tanpa pikir panjang lagi ia lalu menikam ke arah ulu hati hwesio itu dengan
gerak tipu Pek Tiauw Pok Cui atau Rajawali Putih Sambar Air, sebuah tipu serangan dari ilmu
pedangnya Pek Tiauw Kiamhwat.
“Hm, ganas dan sombong !” Sian Kong Hosiang yang bukan lain ialah Un Kong Sian sendiri itu
mengelak cepat dan dengan ujung lengan bajunya ia mengebut cepat ke arah pergelangan tangan
Siauw Eng. Akan tetapi, gadis itu telah memiliki ilmu silat cukup tinggi, maka biarpun kebutan ini cepat
dan kuat, namun ia dapat menarik kembali tangannya hingga terhindar daripada kebutan. Siauw Eng
dengan penasaran terus menyerang bertubi-tubi dan Sian Kong Hosiang hanya mengelak saja sambil
tersenyum sabar.
“Sute, mengapa kau mengalah saja ? Robohkan perempuan kejam dan jahat ini !” kata hwesio muka
hitam dengan suara marah. Akan tetapi Sian Kong Hosiang hanya tersenyum saja.
“Sabar, Lokai, anak ini masih belum tahu apa-apa !” Dan dengan cepatnya ujung lengan bajunya
menangkis pedang Siauw Eng hingga gadis itu merasa telapak tangannya tergetar. Dengan nekad ia
menyerang terus akan tetapi ia seakan-akan menghadapi bayangannya sendiri, sama sekali tak mampu
melukai atau menjatuhkannya.
Ternyata ilmu kepandaian hwesio yang halus tutur sapanya itu masih lebih tinggi dari pada
kepandaiannya sendiri. Siauw Eng mulai menjadi gugup setelah menyerang selama lima puluh jurus
lebih belum juga dapat mendesak, dan pada suatu saat ketika ia menyerang dengan ganas ke arah
lambung hwesio itu, tahu-tahu ujung lengan baju Sian Kong Hosiang yang panjang itu telah membelit
pedangnya dan sekali betot saja pedangnya telah kena rampas.
Siauw Eng berdiri bingung dan malu, akan tetapi Sian Kong Hosiang lalu melemparkan pedang itu
dengan gagangnya lebih dulu ke arah Siauw Eng. “Terimalah kembali pedangmu dan kau pulanglah,
nona !” kata hwesio itu. Suaranya tetap halus dan sabar dan sedikitpun tidak mengandung ejekan
hingga Siauw Eng merasa malu dan menyesal. Tanpa mengeluarkan kata-kata sesuatu ia lalu
melompat pergi dari genteng kuil dan lari secepatnya menuju ke kota.
Akan tetapi baru saja ia melompat turun dari genteng, sesosok bayangan putih telah menghampirinya
dari depan dan menegur, “Kau pulang dari manakah ?”
Siauw Eng terkejut dan berhenti. Ternyata bahwa orang itu adalah Cin Pau yang juga pergi dengan
maksud menyelidiki keadaan kuil Thian Lok Si.
Koleksi Kang Zusi
“Kau Cin Pau ?” kata Siauw Eng dengan heran.
Berdebarlah hati Cin Pau karena gadis ini memanggil namamya seakan-akan mereka telah lama
menjadi kenalan baik. Maka iapun melenyapkan rasa sungkan dan malu, lalu menjawab,
“Siauw Eng, tak kusangka kau berada pulka di sini. Aku bermaksud menyelidiki kuil Thian Lok SI.”
“Jangan !” Dia berbahaya dan lihai sekali !” jawab nona itu.
“Siapa dia ?” tanya Cin Pau heran.
“Ketahuilah, baru saja akupun pergi menyelidiki kuil Thian Lok Si dan bertemu dengan seorang hwesio
jahat seperti setan. Akan tetapi dia ini belum dapat dikatakan tinggi ilmu silatnya karena mungkin kau
atau aku dapat menghadapinya, akan tetapi ketuanya memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa
hebatnya. Mungkin guru-guruku baru setanding untuk menghadapinya.”
Dengan singkat Siauw Eng menceritakan pengalamannya dan diam-diam Cin Pau terkejut juga, karena
kalau hwesio itu dapat menghadapi Siauw Eng dengan tangan kosong selama lima puluh jurus bahkan
telah merampas dan mengembalikan pedang gadis ini, tentu ia memiliki kepandaian yang tak boleh
dibuat gegabah.
Keduanya lalu mencari kuda Siauw Eng dan segera kembali ke kota raja. Di sepanjang jalan mereka
bercakap-cakap seakan-akan mereka telah menjadi kenalan baik dan melihat sikap Siauw Eng yang
sama sekali tidak malu-malu itu, diam-diam Cin Pau mempunyai anggapan lain. Kalau dulunya ia
menganggap Siauw Eng sombong dan galak, sekarang dianggapnya gadis itu jujur dan sopan, bahkan
menarik hati sekali.
Bagian 14. Penyerangan ke Kuil Thian Lok Si
Setelah Siauw Eng pergi, Sian Kon Hosiang menghela napas dan berkata kepada hwesio muka hitam
itu, “Lokoai, sungguh jahat sekali perwira she Can itu. Ia telah menghasut semua orang gagah untuk
memusuhi kita.”
Dengan muka bersungut-sungut si muka hitam itu berkata, “Salahmu sendiri, sute. Telah berkali-kali
kukatakan bahwa manusia jahat seperti Can Kok itu harus dilenyapkan dari muka bumi agar jangan
membuat kekacauan lagi, akan tetapi kau selalu melarang. Dia menaruh dendam semenjak kukalahkan
dulu ketika ia mengejarmu dan karena ia agaknya tahu pula bahwa kau adalah pemuda yang dulu
dikejar-kejarnya, maka tentu saja ia takkan berhenti sebelum menghancurkan kita sebagai pembalasan
dendam. Kalau kau suka, malam ini juga aku dapat pergi ke rumahnya dan menghabiskan nyawanya
yang kotor itu.”
Sian Kong Hosiang menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum, “Bukan demikianlah jalan keluar
yang harus diambil oleh orang-orang yang membersihkan batin seperti kita, Lokoai !”
“Ah, kau lebih sabar dan sulit dari pada Pek Seng Suhu !” Sambil bersungut-sungut akan tetapi tidak
berani membantah, si muka hitam lalu mengiringkan sutenya itu melompat turun dari atas genteng.
“Besok kalau mereka datang menyerang, apakah kau juga tidak hendak melawan ?”
“Bagaimana besok sajalah. Kita hanya membela diri dan baru turun tangan apabila mereka
mengganggu,” jawab Sian Kong Hosiang dengan sabar akan tetapi tetap.
Hwesio muka hitam yang disebut Lokoai ini memang adalah hwesio yang dulu mengalahkan Can Kok.
Dia mempunyai riwayat hidup yang cukup menarik. Sebelum ia menggunduli kepalanya dan masuk
menjadi hwesio, namanya adalah Li Song Ek dan ia terkenal sebagai seorang perampok yang kejam
dan ganas serta memiliki ilmu silat tinggi.
Pada suatu hari, di dalam hutan yang menjadi daerah operasinya, kebetulan sekali lewat Bu Eng Cu
Tiauw It Lojin. Li Song Ek tidak kenal kepada orang tua ini dan turun tangan merampoknya, akan tetapi
ia ternyata telah menemui batu. Dengan mudah saja Bu Eng Cu telah menjatuhkannya. Kepala
Koleksi Kang Zusi
perampok yang bermuka hitam dan yang amat menyombongkan kepandaian sendiri ini tentu saja
merasa penasaran sekali mengapa seorang kakek dengan tangan kosong mudah saja menjatuhkannya
dalam dua tiga jurus. Berkali-kali, ia bangun dan menyerang lagi, akan tetapi kesudahannya hebat. Tiap
kali ia menyerang selalu ia terjungkal. Akhirnya dia menyerah dan berlutut di depan Bu Eng Cu Tiauw It
Lojin, mohon menjadi muridnya.
Bu Eng Cu Tiauw It Lojin kasihan melihat orang kasar yang telah menjalani cara hidup sesat ini. Ia
melihat bahwa orang ini pada hakekatnya jujur dan tidak jahat, bahkan memiliki bakat cukup baik dalam
ilmu silat. Maka ia lalu mengajukan syarat bahwa apabila Li Song Ek mau bertobat dan suka menjadi
hwesio, ia mau mengampuninya dan memberi pelajaran silat. Karena hatinya telah tetap dan bulat
hendak menebus dosa, pada saat itu juga Li Song Ek membubarkan semua anak buahnya dan dengan
pedang lalu mencukur rambutnya hingga gundul plontos. Kemudian ia ikut Bu Eng Cu merantau sambil
menerima latihan ilmu silat dari kakek sakti itu.
Bu Eng Cu tidak hanya memberi latihan ilmu silat, akan tetapi juga ilmu batin untuk membersihkan batin
bekas kepala perampok itu. Benar saja, Li Song Ek menjadi sadar dari pada segala dosa yang pernah
diperbuatnya, maka setelah ia diperkenankan melakukan perjalanan merantau seorang diri, ia lalu
mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk menolong orang. Oleh karena mukanya buruk dan hitam
sedangkan tubuhnya agak bongkok, maka orang-orang memberi julukan kepadanya Sin-jiu Lokoai atau
Setan Tua Tangan Sakti. Ia suka sekali dengan julukan ini hingga selanjutnya ia memperkenalkan diri
dengan nama baru ini dan namanya sendiri telah dilupakan.
Biarpun perangainya telah berubah, namun sifat kersa dan tak mau kalah di dalam hatinya tetap belum
lenyap. Setiap kali ia mendengar ada orang pandai, tentu ia ingin mencoba kepandaian orang itu.
Pada suatu hari, ia tiba di kuil Thian Lok Si. Para hwesio menyambutnya dengan ramah tamah dan
baik, dan kepadanya lalu dihidangkan makanan dan masakan dari sayur tanpa daging. Hal ini membuat
Sin-jiu Lokoai merasa tak puas.
“Mana daging dan arak ? Saudara-saudara harap jangan terlalu kikir, betapapun juga aku adalah
seorang tamu yang harus dihormati sepantasnya. Kalau saudara-saudara datang ke tempatku, biarpun
aku hanya mempunyai seekor ayam atau seekor babi, tentu akan kupotong dan dagingnya kusuguhkan
kepada saudara-saudara. Adapun tentang arak wangi, kalau aku tidak punya uang, aku bisa berhutang
kepada warung arak.”
Para hwesio yang menyambutnya saling pandang dengan melongo. Selama hidup, mereka belum
pernah melihat hwesio yang seaneh ini.
“Saudara yang baik,” kata seorang di antara mereka, “Kami di sini tidak memiliki babi atau ayam.”
“Ha, ha, ha, jangan kau membohong, itu tak baik bagi seorang hwesio. Bukan ayamkah yang berjalan di
sana itu ?” Ia lalu menuding ke arah pekarangan depan di mana memang terdapat dua ekor ayam
gemuk sedang makan cacing.
“Itu bukan ayam kami, itu adalah ayam tetangga,” kata hwesio tadi.
“Meminjam ayam tetangga untuk menghormati tamu apa salahnya ? Besok kan dapat diganti dengan
uang !” Sambil berkata demikian, Lokoai lalu memungut batu kecil dan sekali ia mengayunkan
tangannya, seekor ayam roboh berkelonjotan dan mati seketika itu juga. Ternyata bahwa batu kecil itu
telah menyambar lehernya hingga leher ayam itu hampir putus, seperti disembeli dengan pisau tajam
saja. “Nah, itu sudah ada daging ayam harap saudara jangan berlaku kikir dan suka memasakkan
daging ayam itu untuk saudaramu yang kelaparan ini !”
Kejadian ini membuat semua hwesio yang berada di situ menjadi tak senang dan juga kuatir. “Saudara,
bagaimana seorang suci berlaku seperti ini ? Apakah kau lupa bahwa Sang Buddha menyintai segala
benda di dunia ini dan kita sekali-kali tidak boleh mengganggunya hanya untuk kesenangan diri sendiri
saja ? Apalagi membunuh nyawa ayam untuk dimakan dagingnya. Dan minum arak lagi. Bukankah arak
itu minuman yang bisa mengotorkan pikiran dan batin ? Saudaraku yang baik, bagaimana kau masih
belum insaf dan sadar ?”
Tiba-tiba Lokoai tertawa tergelak-gelak. “Ha, ha, ha, ini semua memang masih bodoh ! Kenapakah
hwesio tidak boleh makan daging dan minum arak ? Kita ini bermulut, berperut, dan mempunyai rasa
yang ingin menikmati kelezatan makanan. Mengapa berpura-pura alim di luar akan tetapi di dalam hati
Koleksi Kang Zusi
mengilar melihat dan mengenangkan makanan lezat ? Aku tak dapat begitu, biarpun kepalaku telah
menjadi gundul. Kalau aku suka, aku makan saja, karena hal itu baik bagi mulut dan perut. Kalian tidak
suka, sudahlah, aku sendiri masih sanggup untuk menghabiskan seekor ayam saja.”
“Omitohud ...” tiba-tiba terdengar suara perlahan dan halus dan seorang hwesio tua keluar dari dalam.
Hwesio ini adalah Pek Seng Hwesio yang menjadi ketua dari Thian Lok Si. “Sungguh picik dan sempit
pandangan saudara ini, akan tetapi hal itu dapat dimaafkan karena kau masih bodoh.”
Lokoai ketika melihat seorang hwesio tua yang bersikap lemah lembut keluar dan datang-datang
menganggapnya picik dan sempit pandangan serta menyebutnya masih bodoh, segera melompat
berdiri dengan marah. “Kau ini siapa, datang-datang berani memaki padaku ? Aku Sin-jiu Lokoai tidak
biasa menerima hinaan orang.”
“Pantas, pantas .....” kata Pek Seng Hwesio, “jadi saudara yang bernama Sin-jiu Lokoai ? Pinceng
adalah Pek Seng Hwesio, ketua dari kuil ini.”
“Mengapa kau menyebutku picik dan bodoh ?” tanya Lokoai dengan marah sekali.
“Nah, nah ...... seorang hwesio yang masih bisa marah-marah seperti kau, bukankah itu bodoh ?
Memang nafsu itu berantai, satu timbul lalu membangkitkan yang lain ! Nafsumu yang serakah akan
makanan barang berjiwa itulah yang membangkitkan dan membesarkan nafsu amarah yang kini
berkobar di dadamu. Pelajaran sang Buddha berdasarkan cinta kasih, cinta kasih yang suci murni
terhadap segala benda di dunia ini, dan pelajaran memutuskan diri dari belenggu karma yang yang
menimbulkan segala kesengsaraan dunia. Apakah nafsumu masih begitu tebal dan kau masih begitu
senang terbelenggu oleh rantai-rantai emas dari karma ? Bagaimana kau dapat mengendalikan nafsunafsumu
apabila kau masih menuruti segala keinginan makan enak dan minum arak ?”
“Pek Seng Hwesio,” kata Lokoai dengan mata bersinar, “telah lama aku mendengar tentang
kelihaianmu, tidak tahunya kau hanya lihai dalam hal memutar lidah. Ingin kulihat apakah kedua
tanganmu juga selihai lidahmu !” Sambil berkata demikian, setan tua itu lalu melompat maju, menerjang
dengan sebuah pukulan kilat ke arah dada Pek Seng Hwesio.
Akan tetapi hwesio tua itu tidak berkelit sama sekali, hanya mengangkat tangan kirinya dan ketika
pukulan tiba, ia menyambut pukulan itu dengan telapak tangannya, dan sungguh aneh ! Menurut
lazimnya, kalau dipukul sekeras-kerasnya, orang itu tentu akan terpental ke belakang, akan tetapi kali
ini sebaliknya. Bukan Pek Seng Hwesio yang terpental, akan tetapi bahkan tubuh Sin-jiu Lokoai yang
mencelat ke belakang seakan-akan ia dilempar oleh tenaga raksasa. Ternyata bahwa Pek Seng Hwesio
telah menggunakan tenaga lweekang yang tinggi dan dipusatkan di telapak tangannya hingga ketika
kepalan tangan Lokoai tiba, ia lalu mendorong si muka hitam itu sambil mengembalikan tenaga pukulan.
Sin-jiu Lokoai yang hanya merasa betapa telapak tangan Pek Seng Hwesio lunak sekali dan tiba-tiba
tubuhnya terdorong ke belakang tanpa dapat di tahan lagi, menjadi terheran-heran dan penasaran
sekali. Setelah bangkit kembali, ia lalu menubruk maju pula. Akan tetapi, kembali ia kena didorong
roboh ke belakang. Sampai tiga kali ia menyerang dan tiga kali pula ia terguling hingga akhirnya ia insaf
bahwa ilmu kepandaian Pek Seng Hwesio benar-benar sangat tinggi, maka serta merta ia lalu
menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Semenjak saat itu, Lokoai lalu tinggal di dalam kuil Thian Lok Si dan menjadi murid Pek Seng Hwesio.
Tentu saja ilmu silatnya maju pesat, juga batinnya menjadi lebih bersih serta wataknya menjadi agak
lunak, tidak sekeras dulu walaupun harus diakui bahwa sifatnya yang berangasan dan kasar itu tidak
mudah lenyap.
Ketika Can Kok dulu mengejar Un Kong Sian dan Lin Hwa, perwira ini roboh dengan mudah ditangan
Lokoai. Dan setelah Pek Seng Hwesio menerima Un Kong Sian sebagai murid yang tersayang, Lokoai
masih tetap berada di situ, bahkan ia merasa amat sayang pula kepada Un Kong Sian yang memiliki
ilmu kepandaian lebih tinggi darinya.
Kemudian Pek Seng Hwesio melakukan perjalanan merantau ke barat dan menyerahkan pimpinan kuil
ke dalam tangan Un Kong Sian yang telah mengganti nama menjadi Sian Kong Hosiang, dan Lokoai
masih tetap berada di situ membantu sutenya. Biarpun ia menjadi saudara tua dalam perguruan, namun
Lokoai yang maklum bahwa ilmu kepandaian Sian Kong Hosiang lebih tinggi darinya, lagi pula dalam
segala hal, hwesio muda ini lebih pintar dan lebih terpelajar, maka ia selalu menurut dan tak pernah
membantah.
Koleksi Kang Zusi
Demikian pun, dalam menghadapi serangan Siauw Eng dan menghadapi kemungkinan serbuan para
perwira di bawah pimpinan Can Kok, Lokoai selalu menurut kehendak dan keputusan Sian Kong
Hosiang.
******
Ketika Siauw Eng dan Cin Pau tiba di rumah Gak Song Ki menjelang fajar, Gak Song Ki dengan heran
dan kuatir bertanya dari mana mereka datang. Siauw Eng terus terang menuturkan pengalamannya di
kuil Thian Lok Si hingga dengan mengerutkan jidat Gak Song Ki menegur,
“Siauw Eng, lain kali kau janganlah suka berlaku lancang dan membawa kemauan sendiri. Masih
untung bahwa kau tidak mengalami bencana dalam perjalanan malam tadi. Kalau sampai kau
mendapat celaka dalam tangan hwesio jahat itu, apakah bukan berarti kau membikin susah orang
tuamu ?”
Siauw Eng menundukkan kepala saja dan menerima salah, karena memang ia telah terlalu memandang
ringan hwesio-hwesio di Thian Lok Si.
“Biarlah, kami berdua yang nanti akan membalaskan penasaran hatimu, Siauw Eng,” kata Bok San Cu
yang selalu memanjakan muridnya.
Kemudian Gak Song Ki, Bok San Cu, Cin San Cu dan Cin Pau lalu menuju ke rumah Can Kok di mana
telah berkumpul orang-orang gagah lainnya. Setelah itu, mereka beramai lalu berangkat ke kuil Thian
Lok Si, diiringkan oleh sepasukan tentara di bawah pimpinan Can Kok, sebanyak seratus orang.
Di sepanjang jalan, rakyat yang melihat pasukan tentara kerajaan ini menyingkir ketakutan oleh karena
mereka sudah sering mendengar bahwa semenjak terjadinya pemberontakan petani, banyak
penangkapan telah diadakan dan dilakukan oleh tentara kerajaan dengan tuduhan bekas pemberontak.
Ketika pasukan itu tiba di depan kuil, semua orang yang sedang bersembahyang di kuil itu pada lari
dengan takut, meninggalkan kuil itu.
Sin-jiu Lokoai mengepalai para hwesio melakukan penjagaan dan Lokoai ini sendiri maju menyambut
para perwira dengan muka gagah dan tak gentar sedikitpun. Pada saat itu, Sian Kong Hosiang sedang
duduk bersamadhi di dalam kamarnya hingga yang bertugas mewakilinya dan memimpin para hwesio
adalah si muka hitam. Hwesio di Thian Lok Si berjumlah enampuluh tiga orang dan semuanya sedikit
banyak memiliki kepandaian ilmu silat hingga mereka telah bersiap sedia menghadapi segala
kemungkinan. Semua hwesio ini memang mempunyai perasaan tidak puas dan tidak suka kepada
kaisar, dan rata-rata mereka bersimpati kepada para petani yang dulu memberontak karena mereka
maklum bahwa kaisar dan kaki tangannya hanyalah serombongan orang-orang yang menghisap rakyat
jelata belaka.
Can Kok mencabut keluar surat perintah dari kaisar dan dengan suara nyaring lalu berkata, “Atas nama
Kaisar yang mulia, kuil Thian Lok Si harus ditutup dan semua hwesio yang berada di sini harus
menyerah untuk menjadi tawanan !”
Lokoai melangkah maju dan menuding dengan tangannya, “Can-ciangkun, kau dulu membuat onar di
sini dan pernah berusaha menghina dan membikin kotor tempat suci ini, apakah sekarang kau hendak
mengulang perbuatan rendah itu lagi ?”
“Hwesio jahat, jangan kau sombong. Beranikah kau membantah perintah kaisar ?” tiba-tiba Pauw Su
Kam melompat ke depan sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya hendak memukul.
“Siapa yang hendak membantah perintah ? Akan tetapi, kami tidak mau begitu saja menyerah menjadi
tawanan sebelum dibuktikan kesalahan kami !”
“Kau telah memberontak, berlaku jahat dan menipu rakyat, masih hendak minta bukti lagi ?” bentak Can
Kok sambil mencabut pedangnya dan memberi tanda kepada anak buahnya yang segera maju
mengurung.
“Itu adalah fitnahan belaka, dan aku tahu fitnahan ini datang dari mulutmu yang kotor dan jahat !” kata
Lokoai dengan marah.
Koleksi Kang Zusi
“Bangsat gundul !” Pauw Su Kam menubruk maju dan memukul dengan ilmu Ang se-ciang ke arah
dada Lokoai. Akan tetapi sambil tertawa menghina, Lokoai lalu menangkis dengan dorongan dari
samping hingga tubuh Pauw Su Kam terhuyung-huyung. Dari gerakan ini saja dapat dibuktikan
kelihaian setan tua bermuka hitam itu. Dan gerakan pertama ini pula yang mencetuskan perang hebat di
antara hwesio-hwesio Thian Lok Si dan aparat tentara kerajaan.
Kedua pihak menerjang maju dan sebentar saja ramailah kuil itu dengan suara senjata beradu dan
orang-orang berteriak memaki serta kaki tangan bergerak dengan maksud merobohkan lawan. Lokoai
mengamuk bagaikan seekor naga hitam dan setelah ia dikeroyok oleh Pauw Su Kam, Can Kok dan
Kongsan Hengte, barulah empat orang ini dapat menahan amukannya dan mereka bertempur dengan
hebat sekali.
Lokoai mempergunakan sebuah tongkat besi yang diputar hebat dan mengandung tenaga luar biasa
besarnya hingga tiap kali senjata lawan bertemu dengan tongkatnya, lawannya itu merasa betapa
tangan mereka menjadi sakit. Akan tetapi, oleh karena keempat pengeroyok inipun bukanlah lawanlawan
yang rendah ilmu silatnya, maka Lokoai harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk
menjaga diri, terutama dari kedua saudara dari Kongsan itu yang memainkan poan-koan pit dan joanpian
secara luar biasa sekali.
Seratus orang anggauta tentara kerajaan lalu menyerbu ke dalam, disambut oleh enam puluh tiga orang
hwesio dari Thian Lok Si hingga terjadilah perang yang amat dahsyat. Biarpun jumlah para hwesio itu
kalah banyak, namun berkat perlawanan mereka yang penuh semangat dan ilmu silat mereka yang
cukup baik, maka keadaan menjadi seimbang dan boleh dibilang setiap orang hwesio menghadapi dua
orang pengeroyok.
Ketika melihat betapa empat orang kawan mereka dapat menahan amukan Lokoai, maka Gak Song Ki
lalu lari ke dalam untuk melakukan penggeledahan, diikuti oleh Cin San Cu, Bok San Cu, Kim-i Lokai,
dan Cin Pau, sedangkan orang-orang gagah lain lalu mengamuk membantu para tentara untuk
membasmi hwesio-hwesio itu.
Kalau saja Cin Pau tidak ikut dengan Gak Song Ki menyerbu ke dalam, tentu ia akan merasa heran
sekali melihat betapa kadang-kadang Lokai mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat yang sama betul
dengan ilmu silat yang ia pelajari dari suhunya Tiauw It Lojin. Akan tetapi, oleh karena iapun ingin sekali
melihat apa yang berada di dalam kuil itu dan yang menjadi kejahatan kuil ini, maka ia ikut masuk ke
dalam.
Pada saat itu, atas bantuan para orang gagah, pihak hwesio terdesak hebat dan telah mulai jatuh
korban-korban di pihak mereka. Can Kok lalu memberi aba-aba dan beberapa orang anak buahnya
yang telah mendapat tugas khusus lalu lari ke belakang dan mulai menyalakan api membakar kuil Thian
Lok Si bagian belakang. Beberapa orang hwesio hendak menghalangi perbuatan kejam ini, akan tetapi
mereka ini roboh di bawah sabetan pedang para tentara kerajaan hingga makin banyaklah kurban yang
roboh mandi darah.
Pada saat Gak Song Ki dan kawan-kawannya berada di ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara halus,
“Omitohud ! Alangkah kejam kalian ini. Terpaksa pinceng turun tangan !” Dan berkelebatlah bayangan
Sian Kong Hosiang dengan sebatang pedang di tangan.
Cin San Cu dan Bok San Cu, dibantu oleh Kim-i Lokai, lalu maju menyerang dan mereka ini terkejut
sekali menyaksikan kehebatan gerakan pedang hwesio ini. Dengan mengeroyok tiga, masih saja
mereka tak dapat mendesak Sian Kong Hosiang yang memainkan pedangnya secara luar biasa
cepatnya hingga sinar pedangnya berubah menjadi sinar putih menyilau mata yang menyelimuti seluruh
tubuhnya.
Gak Song Ki ikut pula mengeroyok, akan tetapi sekali saja pedangnya terbentur oleh sinar pedang Sian
Kong Hosiang, ia menjerit dan pedangnya terpental jauh, terlepas dari tangannya. Ia lalu mengambil
pedang itu lagi, akan tetapi berdiri bengong saja tidak berani mengeroyok lagi.
Adapun Cin Pau, pada saat melihat wajah hwesio itu, hatinya berdebar dan ia berdiri diam seperti
patung. Di manakah ia pernah melihat wajah yang tampan dan halus ini ?? Kemudian, ketika ia melihat
gerakan pedang Sian Kong Hosiang, ia makin terkejut. Itulah Kui Hwa Koan Kiam-hwat dari Beng Hong
Tosu. Kalau begitu hwesio ini tentu murid Beng Hong Tosu, dan ... wajah itu .... tiba-tiba ia teringat dan
hampir saja Cin Pau memekik karena girang dan heran, juga terkejut. Kalau begitu, hwesio ini tentulah
Un Kong Sian.
Koleksi Kang Zusi
“Ong taihiap, lekas bantu mereka !” kata Gak Song Ki melihat betapa pemuda itu masih berdiri saja
dengan bengong. Cin Pau lalu mencabut pedangnya dan melompat ke dalam kalangan pertempuran.
Ketika Sian Kong Hosiang melihat seorang pemuda baju putih melompat dengan gerakan dari cabang
persilatannya, ia menjadi sangat terkejut. Terlebih lagi herannya ketika melihat bahwa pemuda itu
memegang pedang Pek Kim Kiam, pedang suhunya.
“Kau siapa ?” bentaknya sambil memutar pedang menangkis desakan ketiga orang lawannya.
Akan tetapi, Cin Pau bahkan menjawab dengan sebuah pertanyaan pula. “Apakah suhu ini murid Beng
Hong Tosu ?”
“Dari mana kau curi pedang guruku itu ?” bentak Sian Kong Hosiang dan mendengar suara ini, tidak
ragu-ragu lagi hati Cin Pau karena inilah suara Un Kong Sian, “ayahnya” yang dulu amat disayanginya
itu.
“Apakah kau Un Kong Sian ??” tanyanya lagi sambil menggunakan Pek Kim Kiam menangkis tiga
pasang senjata mereka yang mengeroyok Sian Kong Hosiang.
“Gilakah kau ??” Bok San Cu berseru ketika melihat betapa Cin Pau menangkis serangannya terhadap
hwesio itu.
“Siapa .... siapa kau yang tahu namaku .....” Hwesio itu memandang dengan mata terbelalak.
“Ayah ...” Tiba-tiba Cin Pau berseru keras sekali dan melompat ke arah hwesio itu, lalu berdiri di
dekatnya menghadapi ketiga orang pengeroyoknya.
“Cin Pau ... kau ... ???” suara Sian Kong Hosiang mengandung sedu tertahan karena terharunya, akan
tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk berkata banyak-banyak, karena Kim-i Lokai , Cin San Cu dan
Bok san Cu mendesak hebat dengan marah sekali.
“Jangan kuatir, ayah, mari kita bereskan ketiga orang penjilat kaisar ini !” kata Cin Pau dengan gagah
dan sambil tersenyum ia lalu memainkan pedangnya dengan ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam-hwat
secara cepat sekali hingga Sian Kong Hosiang yang melihat ini menjadi heran dan kagum. Timbul
kegembiraan di hati hwesio ini. Sambil memperdengarkan suara ketawanya yang sudah bertahun-tahun
tak pernah keluar dari mulutnya, ia berkata,
“Cin Pau ... benar ... kau Cin Pau ... !” Lalu ia mainkan pedangnya demikian hebatnya hingga kedua
orang tua dan muda ini dengan cepat membuat Kim-i Lokai, Cin San Cu dan Bok San Cu menjadi
terkejut dan terpaksa melompat mundur karena tidak kuat menghadapi dua batang pedang yang
dimainkan sedemikian cepat dan gesitnya. Sedangkan Gak Song Ki yang melihat dan mendengar
pernyataan Cin Pau itu, berdiri bengong dan terheran-heran. “Siapakah pemuda ini ?” Pikirnya sambil
menduga-duga.
Pada saat itu, dari luar menyerbu masuk Kongsan Hengte, Pauw Su Kam, dan Can Kok. Mereka ini
segera maju mengurung Sian Kong Hosiang dan Cin Pau hingga kedua orang ini terpaksa berlaku hatihati
dan mengeluarkan kepandaian karena pengeroyoknya yang berjumlah tujuh orang ini terdiri dari
orang-orang yang berilmu tinggi. Apalagi Kim-i Lokai, dan kedua orang tokoh dari Gobi-san, mereka ini
merupakan lawan-lawan berat yang sukar dirobohkan.
“Cin Pau, mari kita pergi, jangan melayani orang-orang sesat ini !” Sian Kong Hosiang berkata dan
biarpun pada saat itu Cin Pau ingin mengamuk dan membasmi musuh-musuh yang mencelakakan ayah
angkatnya ini akan tetapi suara Sian Kong Hosiang yang berpengaruh dan halus itu tak kuasa ia
membantahnya. Akan tetapi, ketujuh orang pengeroyoknya tidak mau melepaskan mereka begitu saja.
“Pemberontak-pemberontak rendah ! Kalian hendak lari ke mana ?” seru Pauw Su Kam dengan garang
dan ia maju sambil memainkan pedangnya. Orang ini timbul kegalakkan dan keberaniannya oleh
karena melihat bahwa ia maju mengurung dengan enam orang lainnya yang tinggi ilmu kepandaiannya,
maka ia pikir bahwa bertujuh ia takkan takut dikalahkan.
Tidak tahunya Cin Pau amat sebal melihat lagaknya ini dan sambil berseru keras, sebuah tendangan
pemuda itu tak dapat dielakkan lagi mampir di dadanya hingga sambil menjerit keras orang she Pauw
Koleksi Kang Zusi
ini roboh bergulingan dan tak dapat bangun lagi. Ternyata ujung kaki Cin Pau telah berhasil
mematahkan sebuah tulang iganya hingga walaupun hal itu tidak membahayakan jiwanya, namun
terpaksa akan membuat ia tak dapat meninggalkan pembaringan sedikitnya sebulan.
“Mari, ayah !” Cin Pau mengajak dan kedua orang ini sambil memutar pedangnya lalu melompat keluar
dari kuil Thian Lok Si.
Ketika tiba di luar, alangkah terkejut dan sedih hati Sian Kong Hosiang melihat betapa kuilnya yang
besar dan megah telah mulai terbakar sedangkan di halaman depan sedikitnya tiga puluh orang hwesio
telah rebah mandi darah, terluka berat atau tewas. Sisanya masih melakukan perlawanan dengan nekat
dan penuh semangat hingga korban yang roboh di pihak penyerbu juga tidak kalah banyaknya.
“Omitohud !” Sian Kong Hosiang mengeluh dan ketika beberapa orang tentara mencoba untuk datang
menghalangi mereka, ia menyampok dengan ujung lengan baju kirinya hingga tiga orang penyerbu itu
bagaikan kena disapu angin puyuh, berguling-guling di atas lantai saling tubruk dengan kawan sendiri,
yang lain-lain tidak berani maju lagi. Dan pada saat itu, Sian Kong Hosiang melihat tubuh Sin-jiu Lokoai
yang menggeletak dengan tubuh penuh luka dan telah tewas.
“Lokoai .... !” teriaknya dan cepat sekali Sian Kong Hosiang lalu menyambar jenazah suhengnya ini.
Kemudian dengan suara keras ia berteriak,
“Saudaraku sekalian ! Lari tinggalkan tempat ini, jangan menambah-nambah dosa lagi dan habisi
pertempuran kejam ini !” Sambil berkata demikian, Sian Kong Hosiang lalu melompat jauh, diikuti oleh
Cin Pau. Tubuh Lokoai masih terpondong oleh hwesio itu.
Sedangkan semua hwesio yang mendengar perintah Sian Kong Hosiang ini, lalu melarikan diri
secepatnya, meninggalkan tempat itu.
Sungguh mengerihkan sekali keadaan di luar dan di halaman depan kuil Thian Lok Si. Mayat manusia
bertumpuk malang-melintang, sedangkan kuil itu sendiri mulai dimakan api dengan hebatnya, yang
bergulung-gulung ke atas mengeluarkan bunyi berkerotokan karena bambu pecah. Para tentara yang
masih berada di situ, sebagian menolong dan merawat kawan-kawan yang terluka atau binasa,
sebagian pula berdiri bersorak-sorak menyoraki kuil yang dimakan api. Tidak kurang pula di antaranya
yang diam-diam mengumpulkan benda-benda berharga dari dalam kuil.
Orang-orang kampung semenjak tadi telah menyingkir jauh-jauh dan bersembunyi, hampir tak berani
bernapas.
Bagian 15. Putera-Puteri Pemberontak
Ternyata bahwa ketika menghadapi keempat pengeroyoknya yang perkasa itu, akhirnya Sin-jiu Lokai Li
Song Ek tidak kuat melawan lebih lama lagi, lebih-lebih ketika di antara orang-orang gagah yang tadi
membantu tentara lalu maju mengeroyoknya pula. Akhirnya, setelah menjatuhkan beberapa orang, ia
lalu menjadi kurban keroyokan banyak senjata dan roboh dengan tubuh penuh luka.
Can Kok merasa gembira sekali karena dapat membalas dendam, biarpun ia masih merasa penasaran
dan tidak puas melihat betapa Un Kong Sian masih dapat melarikan diri. Yang membuat mereka
penasaran dan heran adalah Cin Pau, pemuda baju putih yang tadinya diharapkan untuk membantu itu
ternyata bahkan membantu Sian Kong Hosiang.
Hanya Gak Song Ki sendiri yang diam-diam merasa menyesal dengan terjadinya pembakaran kuil ini
dan ia merasa kasihan kepada Sian Kong Hosiang, karena dari sikap hwesio itu ia merasa ragu-ragu
untuk percaya bahwa hwesio itu adalah seorang jahat. Dan yang membuat ia termenung bagaikan
menghadapi teka teki adalah ketika mendengar betapa Cin Pau menyebut “ayah” kepada hwesio itu. Ia
mendengar dari Can Kok bahwa Sian Kong Hosiang adalah Un Kong Sian, sute dari kedua
pemberontak Khu Tiong dan Ma Gi, akan tetapi sepanjang pengetahuannya, Un Kong Sian tidak punya
anak bahkan telah bercerai dari isterinya, mengapa sekarang orang she Un itu tahu-tahu telah
mempunyai seorang putera yang demikian lihainya ?
Koleksi Kang Zusi
Can Kok memang telah dapat mengetahui rahasia Un Kong Sian, yakni dengan jalan “membeli”
seorang hwesio dari kuil Thian Lok Si dan juga ia telah mencari keterangan pada janda Un Kong Sian,
yakni Bi Nio yang sudah diceraikan dan yang telah kembali ke rumah orang tuanya.
Dengan hati girang karena merasa berhasil dalam usahanya membasmi kuil Thian Lok Si, Can Kok dan
kawan-kawannya lalu kembali ke kota raja untuk membuat laporan kepada kaisar.
Peristiwa pembakaran kuil Thian Lok Si itu takkan dapat dilupakan oleh penduduk di sekeliling daerah
itu, yang dianggapnya perbuatan biadab yang amat kejam. Setelah para tentara itu pergi sambil
membawa kurban-kurban dari pihak mereka, barulah para penduduk berani keluar. Akan tetapi mereka
tidak berani mencoba untuk memadamkan api yang mengamuk dan membakar kuil, hanya mereka lalu
bergotong royong menolong para hwesio yang terluka serta menguburkan mereka yang telah tewas.
Sedangkan sisa para hwesio yang terluput dari pada kebinasaan, melarikan diri cerai berai mencari
tempat perlindungan sendiri-sendiri. Mereka ini hanya dapat menyesali nasib dan termenung
memikirkan dosa apakah yang telah mereka perbuat pada penjelmaan di waktu dahulu hingga kini
mereka mengalami bencana sebesar itu.
******
Sian Kong Hosiang mengajak Cin pau melarikan diri ke dalam sebuah hutan di luar kota Tiang-an, dan
setelah mereka berhenti berlari dan berdiri di bawah pohon, Sian Kong Hosiang lalu memeluk Cin Pau
dan berkata,
“Anak muda, betulkah kau Cin Pau putera Lin Hwa ?”
“Cin Pau menjatuhkan diri berlutut dan menjawab, “Betul ayah, telah beberapa hari aku mencarimu di
Tiang-an hingga terbujuk oleh Can-ciangkun untuk membantu menyerbu kuil Thian Lok Si yang katanya
menjadi sarang penjahat.” Dengan singkat Cin Pau lalu menuturkan pengalamannya hingga berulangulang
Sian Kong Hosiang menghela napas panjang.
“Memang Can Kok berhati jahat dan menaruh dendam besar, padahal kuil Thian Lok Si tidak pernah
bersalah kepadanya.” Kemudian ia menuturkan kepada Cin Pau tentang pengalamannya dulu ketika
melarikan diri dengan ibu pemuda itu dan bersembunyi di kuil Thian Lok Si dan betapa Can Kok
mendapat hajaran dari Lokoai yang sekarang telah menjadi mayat itu. Kemudian mereka berdua lalu
menggali lubang di dalam hutan itu dan menguburkan jenazah Lokoai yang malang itu.
Setelah penguburan itu selesai, Cin Pau lalu menyatakan bahwa maksudnya mencari Sian Kong
Hosiang ialah untuk menanyakan di mana adanya kuburan ayahnya dan Ma Gi yang tewas karena
keroyokan para perwira.
“Eh, jadi kau telah diberitahu oleh ibumu bahwa aku bukan ayahmu sejati ?” kata Sian Kong Hosiang.
“Kalau begitu, mengapa kau masih menyebut ayah kepadaku ?”
“Aku lebih suka menyebut ayah kepadamu, karena kau seorang yang mulia dan menurut ibuku, budimu
tak kurang besarnya dari pada seorang ayah sejati.”
Sian Kong Hosiang menghela napas dengan terharu, karena tak disangkanya bahwa pertolongan yang
dulu ia berikan kepada Lin Hwa masih terus diingat dan disimpan dalam hati janda yang malang itu.
“Kuburan ayahmu dan Ma suheng berada di dalam hutan ketiga dari tempat ini, dan aku seringkali
mengunjunginya. Jenazah kedua suhengku itu dikubur oleh dua orang pengembala yang baik hati, akan
tetapi aku tidak membuka rahasia mereka karena kuatir kalau sampai diketahui orang tentang kedua
makam itu, tentu akan diganggu. Sampai sekarang seorang di antara kedua pengembala itu masih
belum tahu jenazah siapa yang mereka kubur dan pengembala ini masih berada di sekitar tempat itu.”
Pada keesokkan harinya, setelah bermalam di dalam hutan untuk bersembunyi karena kuatir kalaukalau
para perwira masih mengejar dan mencari mereka, mereka lalu pergi ke dalam hutan di mana
terdapat makam Khu Tiong dan Ma Gi.
Koleksi Kang Zusi
Cin Pau lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kedua kuburan itu dan menangis keras dengan
sedihnya. Karena Sian Kong Hosiang sendiri tidak tahu yang mana makam Khu Tiong dan yang mana
Ma Gi, maka Cin Pau lalu menangisi kedua kuburan itu dengan sedih,
“Ayah, kepada siapakah aku harus membalas dendam ini ? Kakekku terbunuh sekeluarganya, ayah
binasa dikeroyok, ibu hidup menderita, semua ini karena perbuatan perwira-perwira itu. Yang manakah
yang harus ku balas ? Apakah aku harus membasmi setiap orang perwira kerajaaan ? Katakanlah,
ayah, hatiku bingung, pikiranku gelap, agaknya aku takkan merasa puas sebelum membalas dendam ini
!”
Sian Kong Hosiang termenung, “Cin Pau, jangan menurutkan hati panas dan nafsu menggelora. Kau
tentu telah mendengar riwayat kakek dan ayahmu dari ibumu. Kakekmu dan kakek keluarga Ma dua
orang sastrawan besar itu telah menulis kitab yang menggerakkan hati rakyat hingga tercetuslah
pemberontakan kaum petani. Mereka berdua itu dikhianati oleh Pangeran Gu Mo Tek dan ayahmu serta
pamanmu Ma Gi telah bertindak melakukan pembalasan dendam dengan membunuh pangeran Gu Mo
Tek yang berhati palsu itu, bahkan telah membunuh pula dua orang putera pangeran itu. Siapa lagi
yang menaruh dendam dan siapa lagi yang harus balas-membalas? Anakku, janganlah kita dibawa
hanyut oleh karma yang selalu mencari kurban. Coba saja kau bayangkan, kalau saja balas membalas
ini tidak diakhiri, tentu akan berlarut-larut terus, bahkan keturunanmu sendiri kelak akan tersangkut dan
terbawa-bawa. Dan apakah gunanya semua itu ? Lihatlah, pembakaran kuil Thian Lok Si agaknyapun
menjadi sebuah akibat dari pada peristiwa keluarga Khu dan Ma itu, dan kalau seandainya sekarang
semua hwesio membalas dendam kepada semua penyerbu, kemudian keturunan semua penyerbu itu
membalas pula, bukankah hal balas membalas ini takkan ada akhirnya ?”
Cin Pau tak dapat berkata apa-apa lagi, hanya menubruk ayah angkatnya sambil menangis. Kemudia ia
berlutut lagi di depan kedua makam itu sambil mendekam tak bergerak. Sian Kong Hosiang
mendiamkan saja karena pada saat seperti itu, lebih baik Cin Pau menghabiskan rasa dukanya dan tak
perlu diganggu agar rasa penasaran dan kebencian serta dendam yang mulai bertumbuh dihati anak
muda ini, akan lenyap dengan sendirinya.
Akan tetapi, tanpa disangka-sangka, pada saat itu terdengar suara kaki kuda mendatangi. Cin Pau
seakan-akan tidak mendengar suara ini, akan tetapi Sian Kong Hosiang telah berdiri dan berlaku
waspada, karena disangkanya bahwa yang datang itu tentulah rombongan perwira yang mengejar dan
mencari mereka.
Akan tetapi ketika penunggang-penunggang kuda itu muncul dari satu tikungan, ternyata bahwa mereka
itu adalah tiga orang penunggang kuda yang masih muda-muda, seorang pemuda dan dua orang gadis
cantik yang sama sekali tidak dikenal oleh hwesio ini.
“Cin Pau ! Mengapa kau menangis di sini ?” tiba-tiba seorang di antara kedua orang gadis itu, yang
berpakaian merah dan berwajah cantik jelita sekali, turun dari kudanya dan berlari menghampiri Cin Pau
yang masih berlutut.
Mendengar suara ini, Cin Pau cepat melompat bangun dengan muka merah dan mata bernyala-nyala.
“Kau ... ? Apakah kau datang hendak melanjutkan kekejaman ayahmu, kekejaman segala perwira ?
Apakah kau hendak menawan dan membunuhku ? Boleh, boleh ! Kalian bertiga, putera puteri perwira
yang kaya raya dan gagah, majulah dan mari kita mengadu jiwa di depan makam orang tuaku !” sambil
berkata demikian Cin Pau mencabut pedangnya Pek Kin Kiam dan melintangkan pedang itu di
dadanya.
Siauw Eng memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat.
“Cin Pau ..... apakah kau sudah menjadi gila ?” tanyanya sambil memandang muka pemuda yang telah
banyak berobah semenjak kemarin itu. Wajah ini sekarang nampak kusut dan mengandung kedukaan
besar. “Aku masih terheran-heran mendengar cerita ayah bahwa kau telah membantu penjahat di kuil
Thian Lok Si. Aku tidak sengaja mencarimu, dan mengajak kedua saudara Gu ini untuk melihat dua
makam yang pernah kulihat ini dan yang menimbulkan keheranan di dalam hatiku. Mengapa kau
bersikap begini, Cin Pau ? Kau ... kau anak siapakah dan kuburan siapakah ini ?”
Sian Kong Hosiang hendak mencegah, akan tetapi Cin Pau yang sudah marah dan gelap pikirannya itu
lalu berkata dengan suara gagah, “Inilah kuburan ayahku dan pamanku, kuburan orang-orang gagah
Khu Tiong dan Ma Gi. Akulah putera Khu Tiong yang telah terbunuh mati oleh para perwira biadab,
mungkin ayahmu Gak Song Ki itupun ikut pula bercampur tangan dan membunuh ayahku. Sekarang
Koleksi Kang Zusi
mereka membasmi kuil Thian Lok Si menghina ayah angkatku ini, dan kau datang hendak ..... mengadu
jiwa dengan aku ?”
Makin pucatlah wajah Siauw Eng, sedangkan Hwee Lian mengeluarkan seruan tertahan dan wajahnya
juga pucat sekali. Sebaliknya Gu Liong ketika mendengar bahwa pemuda baju putih ini adalah putera
Khu Tiong, musuh besar yang telah membunuh ayahnya itu, menjadi marah sekali dan memandang
penuh kebencian.
Sementara itu, Sian Kong Hosiang tiba-tiba berseru keras dan dari kedua mata hwesio ini mengalirlah
air mata. Ia memandang kepada Siauw Eng dengan mata terbelalak dan mulut celangap, kemudian ia
melangkah maju mendekati gadis itu dan sambil menuding ia berkata gagap,
“Kau ..... kau ...... mukamu sama benar dengan Souw Kwei Lan ..... katakanlah, apakah kau anak Souw
Kwei Lan .... ? Apakah Gak Song Ki ayah tirimu .... ?” Wajah Sian Kong Hosiang menjadi pucat sekali
hingga tidak hanya ketiga orang muda itu yang kaget, akan tetapi bahkan Cin Pau juga terkejut sekali
dan heran.
Sebaliknya, Siauw Eng tak terasa lagi mundur dua tindak menghadapi pertanyaan hwesio ini. Ketika ia
memandang, teringatlah ia bahwa hwesio ini adalah kepala hwesio di kuil Thian Lok Si, maka ia makin
terkejut sekali.
Ia mengangguk-angguk dan berkata dengan bibir gemetar. “Be ..... benar, ibuku adalah Souw Kwei Lan
! Akan tetapi ..... omongan apakah yang kau ucapkan tentang ayah tiri ? Gak Song Ki adalah ayahku,
ayah sejati.”
“Omitohud ...... Nasib ...... kau kejam, kau telah mempermainkan anak-anak ini ..... Nona, ketika malam
kemarin kau datang menyerbu, persamaanmu dengan wajah Kwei Lan telah berkesan di dalam hatiku.
Kau .... kau ....” hwesio itu memandang ke arah dua makam itu dengan wajah pucat, “kau adalah puteri
tunggal dari suhengku Ma Gi. Seorang di antara dua orang yang kini terkubur di dalam tanah ini adalah
ayahmu sejati. Kau adalah anak Ma Gi !”
“Gila !” Siauw Eng cepat bagaikan kilat mencabut pedangnya dan menusuk ke arah dada Sian Kong
Hosiang. Ia merasa begitu terhina hingga ia lupa diri dan menyerang. Akan tetapi, Cin Pau cepat
menggunakan pedangnya menangkis tusukan ini, karena kalau ia tidak cepat-cepat menangkis tentu
pedang Siauw Eng telah bersarang ke dalam dada Sian Kong Hosiang yang di dalam keharuannya
yang besar tak berdaya untuk menggerakkan tubuh dan bagaikan buta menghadapi tusukan itu.
“Siauw Eng ! Jangan kau mengganggu ayahku !”
“Apa .... ? Ayahmu lagi ..... ?”
“Ayahku yang sejati adalah yang berada di dalam kuburan ini bersama ..... bersama .... ayahmu. Dan
dia ini adalah ayah angkatku.”
“Kau gila ! Dia inipun gila ! Kalian semua orang-orang gila !! Aku .....aku adalah anak Gak Song Ki ...
aku ... aku bukan anak pemberontak !” Dengan wajahnya yang pucat, Siauw Eng mulai menangis.
“Tenang dan sabarlah, nona. Bukan dengan sengaja pinceng melukai hatimu dan rahasia ini tidak
sengaja terbuka di sini. Memang sudah menjadi kehendak Thian agaknya. Kau pulanglah dan
tanyakanlah hal ini kepada ibumu. Betapun juga, dia tentu akan menceritakan kepadamu sejelasnya.”
“Tidak ...... tidak .....” kata Siauw Eng sambil menggeleng-gelengkan kepala dan memandang kepada
Sian Kong Hosiang, tidak ..... kau bohong ! Katakanlah bahwa kau membohong, kau menipuku .....
katakanlah bahwa hal ini tidak benar ........”
“Kau memang anak Ma suheng, tak bisa salah lagi,” kata Sian Kong Hosiang dengan suara tetap.
Dengan isak tertahan Siauw eng lalu lari ke arah kudanya, melompat cepat dan membedal kuda itu
bagaikan gila. Sementara itu, Hwee Lian dan Gu Liong untuk beberapa lama tidak dapat berkata
sesuatu. Berita ini terlampau mengejutkan hati mereka. Kenyataan bahwa mereka telah mendapatkan
makam dari kedua musuh besar keluarga mereka tak berarti penting lagi, bahkan kenyataan bahwa Cin
Pau pemuda baju putih itu adalah putera pemberontak Khu Tiong juga tidak sangat penting. Akan tetapi
Koleksi Kang Zusi
berita bahwa Siauw Eng adalah puteri Ma Gi, sungguh-sungguh merupakan berita mengejutkan dan
hebat. Sungguh sebuah hal yang sama sekali tak pernah dilupakannya, tak pernah diduga-duga.
Gu Liong lalu majukan kudanya dengan pedang terangkat, siap menggempur Cin Pau, akan tetapi
Hwee Lian berseru, “Suheng, jangan !” Dan ketika Gu Liong menahan kudanya memandang, ternyata
bahwa Hwee Lian telah mengucurkan air mata sambil menatap wajah Cin Pau.
“Kau ... kau musuh besar keluargaku,” katanya setengah berbisik akan tetapi cukup terdengar oleh Cin
Pau yang menjadi bingung. Sebelum ia sempat bertanya, kedua saudara itu telah membalapkan kuda
mereka meninggalkan tempat itu.
Cin Pau berdiri termangu-mangu dengan hati tidak karuan. Kenyataan atau dugaan bahwa Siauw Eng
adalah puteri tunggal Ma Gi, jadi seorang yang bernasib sama dengan dia sendiri, kecuali bahwa ibu
gadis itu telah kawin lagi dengan seorang perwira sedangkan ibunya sendiri mengasingkan diri di
puncak Kunlun-san, membuat perasaaan dan pikirannya terhadap Siauw Eng berubah sama sekali.
Tadinya, semenjak pertemuannya dengan Un Kong Sian yang kini telah menjadi Sian Kong Hosiang, ia
merasa benci kepada Gak Song Ki dan otomatis ia pun menaruh hati tak senang kepada Siauw Eng
yang dianggapnya sebagai puteri seorang perwira berarti menjadi musuhnya pula. Akan tetapi sekarang
ia merasa iba, suka, dan ....... girang bahwa Siauw Eng bukan puteri perwira akan tetapi bahkan puteri
Ma Gi, sahabat baik dan saudara seperguruan ayahnya. Cucu Ma Eng, sasterawan tua yang menjadi
kawan baik kakeknya Khu Liok itu. Dengan demikian, maka keturunan keluarga Khu dan Ma yang
terakhir adalah dia dan Siauw Eng, atau Khu Cin Pau dan Ma Siauw Eng.
“Cin Pau, tak salah lagi, nona tadi tentulah puteri Ma Gi. Adatnya keras dan tabah seperti ayahnya.
Sebagai keturunan terakhir dari keluarga Ma, dia harus kita bela. Kalau sampai para perwira
mengetahui bahwa dia anak Ma Gi, tentu dia akan mengalami bencana. Kenalkah kau kepada dua
orang saudara tadi ?”
“Mereka adalah Gu liong dan Gu Hwee Lian !”
“Apa ?” Sian Kong Hosiang membelalakkan matanya. “Tak heran mereka membencimu setelah
mengetahui bahwa kau putera Khu Tiong. Mereka itu adalah keturunan kedua saudara Gu, putera
pangeran Gu Mo Tek yang terbunuh oleh kedua suhengku !”
“Begitukah ??” Cin Pau juga menjadi kaget sekali karena tak disangkanya bahwa di depan kuburan
ayahnya dan Ma Gi tadi telah berkumpul empat putera puteri dari ke empat orang yang saling
bermusuhan itu. Alangkah anehnya. Akan tetapi ia segera ingat akan nasib Siauw Eng, maka segera ia
berkata, “Ayah, kalau begitu, aku hendak menyusul adik Siauw Eng !”
“Baik, kau pergilah dan kalau perlu, kau bela dia dan bawa ke sini !” kata Sian Kong Hosiang.
Cin Pau lalu melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu sedangkan Sian Kong Hosiang lalu
menuju ke dusun Ma Cin Kiang untuk melihat bekas kuilnya dan seberapa dapat mencari para hwesio
yang melarikan diri.
******
Siauw Eng membalapkan kudanya secepat mungkin hingga kuda itu berlari cepat bagaikan sedang
berkejaran dengan angin. Disepanjang jalan, air mata Siauw Eng mengucur deras sekali. Benarkah ia
anak pemberontak, anak Ma Gi yang kabarnya memberontak dan bahkan menjadi pembunuh ayah Gu
Liong dan Gu Hwee Lian ? Dia anak orang yang selama ini menimbulkan jijik dan bencinya karena
menurut semua orang, kedua orang pemberontak itu telah membunuh pangeran Gu Mo Tek, kakek Gu
Liong dan Hwee Lian, dan yang menjadi orang buruan pemerintah ?
Akan tetapi, mengapa ibunya menjadi isteri Gak Song Ki ? Dan Gak Song Ki telah dianggapnya seperti
ayah sendiri, betapa tidak ? Gak Song Ki demikian baik budi dan mulia terhadapnya, begitu mencinta
dan menyayang. Dan ayahnya ini dimaki-maki oleh Cin Pau yang kalau benar-benar ia anak Ma Gi,
adalah putera kawan baik ayahnya itu. Ah, dia tidak percaya. Tak mungkin dia anak seorang
pemberontak rendah.
Koleksi Kang Zusi
Orang di kota Tiang-an terkejut sekali melihat Siauw Eng melarikan kudanya hingga hampir saja
menubruk beberapa orang yang sedang berjalan di jalan raya. Mereka semua mengenal Siauw Eng ,
mengenal Gobi Ang Sianli yang gagah dan cantik jelita, mengenal puteri perwira Gak Song Ki ini yang
disohorkan menjadi kembang kota Tiang-an. Bahkan kaisar sendiri telah mendengar namanya dan di
dalam hati, kaisar ini ingin sekali menyaksikan kecantikannya. Semua pangeran muda di kota raja kenal
padanya dan mengagumi tiada habisnya. Untung ia memiliki kepandaian tinggi dan menjadi puteri Gakciangkun
yang terkenal gagah dan disegani orang, kalau tidak, tentu telah banyak datang orang dan
pemuda menggodanya.
Ketika tiba di depan gedung orang tuanya, Siauw Eng melompat turun dari kudanya dan membiarkan
kuda yang terengah-engah dan penuh peluh tubuhnya itu begitu saja, hingga seorang pelayan segera
menghampiri untuk merawat kuda itu. Siauw Eng berlari masuk ke dalam rumah dengan pipi masih
basah air mata. Ia langsung menuju ke kamar ibunya.
Kwei Lan ketika itu sedang duduk di dalam kamar dan menyulam. Nyonya yang cantik ini sudah agak
tua dan karena ia hidup serba kecukupan dan cukup berbahagia, melihat puterinya telah dewasa,
berkepandaian tinggi dan cantik jelita, juga suaminya amat mencintainya, maka hatinya menjadi
tenteram dan beruntung hingga ia menjadi agak gemuk. Kerjanya tiap hari hanya menyulam saja
dengan hati senang.
Alangkah terkejutnya ketika melihat puterinya masuk ke dalam kamar sambil berlari-lari dan ketika ia
bertemu pandang dengan Siauw Eng, terlepaslah kain yang sedang disulamnya. Pandangan mata
puterinya begitu aneh dan liar menakutkan.
“Eng-ji, kau kenapakah ?” tegurnya sambil berdiri.
“Ibu ..... !” Siauw Eng maju menubruk dan memeluk ibunya. Tak tertahan pula gadis ini menangis
sesenggukan di dalam pelukan ibunya.
“Eh, eh anak nakal ! Kau kenapakah ? Apakah kau berkelahi dengan orang ? Siapa yang
mengganggumu?”
Siauw Eng menekan desakan sedu sedan yang membuatnya sukar membuka mulut. Kemudian ia
menarik tangan ibunya dan mereka berdua duduk di atas pembaringan. Dengan kedua tangan masih
memegangi tangan ibunya, ia lalu bertanya,
“Ibu, sayangkah kau kepadaku ?”
“Eh, eh,” kata ibunya sambil tersenyum, akan tetapi kedua matanya memandang penuh kecemasan,
“pertanyaan apakah ini ? Sudah tentu aku sayang kepadamu, anak bodoh !”
“Kalau ibu sayang kepadaku, jawablah, segala pertanyaanku terus terang.”
“Tentu saja, pertanyaan apakah ?”
“Ibu, siapakah sebenarnya Khu Tiong dan Ma Gi ?”
Bukan main terkejutnya nyonya ini mendapat pertanyaan demikian dari puterinya. Siauw Eng merasa
betapa kedua tangan ibunya tiba-tiba menjadi dingin dan nyonya itu segera menarik kedua tangannya
dari pegangan Siauw Eng. “Kedua orang itu ? Mereka adalah dua orang pemberontak yang telah
mendapat hukuman, bukankah kau pernah mendengar tentang mereka ?” Kwei Lan berhasil membuat
suaranya terdengar wajar dan tidak gemetar.
“Ibu, apakah ayahku yang sekarang ini, ayahku perwira Gak Song Ki ini, adalah ayahku yang sejati?”
Kini nyonya itu tak kuasa menahan getaran yang membuat ia menjadi pucat.
“Eng-ji, setan manakah yang telah memasuki pikiranmu ? Tentu saja ia adalah ayahmu sejati. Apakah
kau hendak menghina ibumu sendiri ?”
Koleksi Kang Zusi
“Ibu .... bebar-benarkah kau tega menipu anakmu sendiri ? Ibu .... aku ..... tadi .... aku telah
mendapatkan kuburan mereka, kuburan Khu Tiong dan Ma Gi !”
“Apa .... !!??” Berita ini benar-benar mengagetkan hati nyonya itu sehingga tak terasa pula ia berdiri
dengan kedua kaki menggigil.
Siauw Eng menubruk ibunya dan membawa ibunya duduk di atas pembaringan. “Ibu, ampunkan
anakmu. Aku tidak bermaksud buruk, aku hanya menuntut hakku untuk mengetahui hal yang
sebenarnya terjadi. Ceritakanlah, ibu, tentu ada hubungan sesuatu antara kau dan ..... Ma Gi. Orang
bilang bahwa Ma Gi adalah ayahku, betulkah ini ??”
Kwei Lan mendengar ucapan anaknya ini bagaikan mendengar suara yang turun dari angkasa raya,
yang membuatnya serasa dalam mimpi. “Ceritakanlah, anakku, ceritakanlah semua apa yang telah
terjadi dan apa pula yang kau lihat di kuburan itu,” katanya dengan bibir gemetar dan wajah pucat,
sedangkan kedua matanya memandang jauh.
Sambil menangis dan dengan suara terputus-putus Siauw Eng lalu menceritakan betapa ia bertemu
dengan Cin Pau yang mengaku menjadi putera Khu Tiong dan di situ ada pula seorang hwesio ayah
angkat Cin Pau yang menyatakan bahwa ia adalah anak Ma Gi.
“Bagaimana muka hwesio itu ?”
“Sikapnya lemah lembut dan halus tutur sapanya, mukanya pucat, halus dan tampan, usianya sebaya
dengan ayah.”
Kwei Lan mengangguk-angguk, “Siapa namanya ?”
“Sian Kong Hosiang ...........”
“Hm, memang benar dia ! Tentu Kong Sian, siapa lagi,” nyonya itu berkata dengan suara perlahan.
“Ibu, betulkah semua itu ? Betulkah katanya bahwa aku bukan puteri ayah yang sekarang dan bahwa
aku adalah anak Ma Gi ?”
Ibunya dengan wajah pucat dan air mata mulai berlinang di kedua matanya yang indah, lalu memeluk
anaknya dan berkata perlahan,
“Eng-ji, anakku yang tersayang. Dengarlah, akan tetapi kau harus tetapkan hatimu, nak. Kau tahu
bahwa ayahmu amat baik kepadamu, amat mulia terhadap kita. Dengarlah ....... memang ketika aku
bertemu dengan ayahmu, aku sedang mengandung engkau. Dulu .... ketika kau masih dalam
kandungan, aku adalah isteri Ma Gi, putera dari sasterawan besar Ma Eng. Kemudian, karena
menuliskan kitab yang menghina kaisar, maka kakekmu bersama sasterawan besar Khu Liok serumah
tangga telah dijatuhi hukuman oleh kaisar. Sekeluarga dibunuh semua. Ma Gi atau ayahmu itu,
bersama Khu Tiong putera Khu Liok, lalu mengamuk hebat dan mereka berdua akhirnya juga dibunuh
oleh para perwira yang menjalankan tugas perintah kaisar. Ketika pembunuhan terjadi, ayahmu yang
sekarang, perwira Gak Song Ki ini, merasa kasihan melihat aku yang sedang mengandung, maka ia lalu
membawa lari aku ke rumahnya ini. Di sini aku dirawat dengan baik sekali sampai kau lahir dengan
selamat. Kemudian ......... kemudian ia meminangku, nak, dan ... dan terpaksa aku menerimanya hingga
aku menjadi isterinya sampai sekarang ini ......”
Dengan kedua mata terbelalak dan wajah pucat sekali, sedangkan air matanya mulai turun lagi
membasahi pipinya, Siauw Eng mendengarkan penuturan ibunya. Ia memandang kepada wajah ibunya
tanpa berkedip,
“Mengapa kau merahasiakan hal ini kepadaku, ibu ?”
“Untuk kebaikanmu sendiri, Eng-ji, dan juga atas permintaan ayahmu yang amat mencintaimu seperti
anak sendiri.”
Koleksi Kang Zusi
Tiba-tiba Siauw Eng menarik tangannya dari pegangan ibunya. “Jadi seluruh keluarga Khu dan ma
dibunuh dan ditumpas habis oleh para perwira sedangkan ibu sendiri enak-enak menjadi isteri seorang
perwira dan hidup mewah ?”
“Siauw Eng .... !!” ibunya menjerit sambil menutup mukanya lalu menangis.
“Jadi ....... kakek dibunuh, ayah dibunuh, nenek dibunuh, semua anggauta keluargaku dibunuh oleh
para perwira, akan tetapi ibu ......, ibu tidak bersakit hati, tidak menaruh dendam bahkan lalu menjadi
nyonya perwira Gak ..... ? Ah, aku ...... aku merasa terhina dan rendah sekali ! Lebih baik pada waktu
itupun aku ikut mati dalam kandungan ibu bersama seluruh keluarga Ma !”
“Siauw Eng ..... !” kata-kata ini merupakan tikaman hebat sekali yang membuat nyonya itu serentak
bangun dan hendak menampar muka anaknya, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas dan akhirnya ia
roboh pingsan di atas pembaringan.
Pada saat itu Gak Song Ki berlari mendatangi dari luar. Perwira ini baru saja datang dari istana untuk
membuat laporan kepada kaisar tentang penyerbuan kuil Thian Lok Si, dan begitu tiba di rumah, ia
mendengar tentang sikap Siauw Eng yang ganjil. Ia segera berlari masuk dengan hati penuh kekuatiran,
dan ketika mendengar suara Siauw Eng yang keras sedang berkata-kata kepada ibunya, ia segera
menuju ke kamar isterinya. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat isterinya telah roboh pingsan di atas
ranjang sedangkan anaknya itu berdiri dengan muka merah dan air mata bercucuran.
“Siauw Eng .... ibumu kenapakah ..... ?” tanya Gak Song Ki sambil menubruk isterinya dengan kuatir.
Akan tetapi Siauw Eng tidak menjawab, hanya memandang dengan sinar mata tak senang. Gak Song
Ki tidak memperdulikan anaknya, lalu memijit-mijit kepala dan leher isterinya. Setelah ditarik urat pada
lehernya, maka siumanlah Kwei Lan sambil mengeluh perlahan. Ketika ia membuka mata dan melihat
suaminya telah berada di situ dengan muka kuatir, sedangkan Siauw Eng masih berdiri bagaikan
patung, ia lalu menangis sedih.
Gak Song Ki merasa lega bahwa isterinya telah siuman dan dapat menangis, maka ia lalu memandang
kepada Siauw eng dengan mata penuh cela dan tegur, “Siauw Eng, apa yang telah kau lakukan kepada
ibumu ?”
Dan jawaban yang keluar dari mulut Siauw Eng membuat ia merasa seakan-akan ada kilat menyambar
dari luar kamar. “Gak-ciangkun, aku bicara dengan ibuku sendiri, harap kau jangan ikut campur dan
suka keluar dari kamar !”
Gak Song Ki memandang wajah Siauw Eng seakan-akan gadis itu adalah makhluk aneh yang baru saja
datang dari lain dunia.
“Siauw Eng, kau ... kau adalah anakku, mengapa kau bicara seperti itu ? Aku ayahmu !”
Dengan suara tanpa irama Siauw Eng menjawab, “Ayahku adalah Ma Gi dan sudah tewas dikeroyok
oleh perwira-perwira, mungkin kau sendiripun ikut mengeroyok !”
Maka tahulah Gak Song Ki bahwa anak ini telah mengetahui akan rahasia yang ditutupinya rapat-rapat
itu, “Betapapun juga, Eng-ji, aku telah menganggapmu seperti anak sendiri dan memelihara serta
mendidikmu sejak kau lahir.”
Ucapan yang penuh tuntutan ini bahkan makin memperbesar api kemarahan yang berkobar di dada
Siauw Eng. “Orang she Gak !” katanya sambil menuding muka Gak Song Ki, “Kau baik kepadaku oleh
karena itu termasuk siasatmu untuk memikat hati ibuku ! Kau bunuh ayahku dan kau pikat ibuku ! Bagus
.... !! Anehkah itu kalau sekarang aku mencabut pedang dan menganggap kau sebagai musuh besarku
?”
“Siauw Eng ....” Kwei Lan mengeluh panjang mendengar ucapan anaknya ini.
Gak Song Ki mulai marah melihat sikap Siauw Eng ini. Timbul perlawanan di dalam hatinya, karena
betapun ia sayang kepada gadis ini, akan tetapi ia tetap adalah seorang perwira tinggi yang tentu saja
tidak mau dihina orang sedemikian rupa.
Koleksi Kang Zusi
“Siauw Eng !! Ucapan dan sikapmu ini hanya menunjukkan bahwa jiwa pemberontak ayahmu tetap
mempengaruhimu. Kau berdarah pemberontak dan tak kenal budi orang. Habis, kalau betul kau adalah
puteri Ma Gi, kalau betul bahwa aku telah mengawini ibumu, sekarang kau mau berbuat apakah? Kau
mau bunuh aku ? Boleh, boleh, kau kira aku takut mati.”
Kenyataan-kenyataan dan terbongkarnya rahasia itu secara hebat telah melukai batin Siauw Eng dan
menekan jiwanya hingga gadis ini seakan-akan menjadi mata gelap dan bingung. Pertimbangannya
telah patah dan ia tidak dapat berpikir secara sehat pula. Yang memenuhi benaknya pada saat itu
hanyalah marah, kecewa, dendam, malu, dan sakit hati.
Mendengar ucapan Gak Song Ki, ia bergerak cepat dan tahu-tahu ia mencabut keluar pedangnya.
“Orang she Gak ! Kau kira aku tidak berani menusukkan pedang ini di dadamu ? Katakanlah bahwa kau
telah ikut membunuh ayahku, ikut membunuh kakekku, ikut membunuh seluruh keluargaku kecuali
ibuku yang cantik !” Sambil berkata demikian, Siauw Eng memandang dengan mata berapi dan
pedangnya sudah siap menusuk.
“Siauw Eng, aku adalah seorang perwira yang telah bersumpah setia kepada kaisar !” kata Gak Song Ki
sambil mengangkat dada, “betapapun juga, aku hanya menjalankan tugas kewajibanku dengan setia.
Aku tidak membunuh siapa-siapa dengan hati membenci, akan tetapi hanya menjalankan tugas semata
! Jangankan keluarga Khu dan Ma, biarpun kausendiri atau orang tuaku sendiri apabila memberontak,
sudah menjadi tugasku untuk membasminya !”
“Bagus, sekarang lawanlah ! Aku juga pemberontak .... ingat ! Aku anak pemberontak !!” Sambil berkata
demikian, Siauw Eng lalu menyerang dengan pedangnya.
Gak Song Ki bukanlah orang lemah, dan cepat perwira ini lalu mengelak dan mencabut pedangnya.
Perang tanding antara ayah tiri dan anak yang tadinya saling mencinta seperti ayah dan anak tulen itu
terjadi dengan hebatnya di dalam kamar, sedangkan Kwei Lan hanya memandang dengan mata
terbelalak dan tubuh menggigil.
Akan tetapi, Gak Song Ki yang pada dasar hatinya amat menyayang Siauw Eng, tentu saja tidak tega
untuk melawan dengan sungguh-sungguh dan ia tadi mencabut pedang hanya untuk menangkis saja.
Selain dari pada itu, memang ilmu pedangnya masih kalah setingkat jika dibandingkan dengan anak
tirinya ini, maka setelah bertempur di tempat sempit itu beberapa lamanya, sebuah tendangan Siauw
Eng telah mengenai lututnya dengan tepat hingga ia roboh terguling. Siauw Eng bagaikan seekor
harimau betina yang marah, segera menubruk untuk memberi tikaman terakhir.
“Siauw Eng ....!” ibunya menjerit ngeri dan tiba-tiba melihat betapa wajah ayah tirinya yang berada di
bawah ini tersenyum tenang menanti datangnya tusukan, Siauw Eng menggigil seluruh tubuhnya dan
tangannya menjadi lemas. Bagaimana ia bisa membunuh orang yang selalu baik kepadanya, yang dulu
sering menggendongnya, menimang-nimangnya, bahkan mendidiknya ilmu silat dengan penuh
kesayangan ?
Dengan hati hancur dara itu lalu melarikan diri keluar sambil menahan sedu sedannya.
“Siauw Eng .....!” terdengar ibunya memanggil.
“Siauw Eng .....!” suara Gak Song Ki terdengar pula.
Akan tetapi, Siauw Eng tidak memperdulikan mereka dan berlari terus dengan cepatnya.
Bagian 16. Penangkapan Keluarga Gak-ciangkun
Pada saat itu, terlihat serombongan orang yang dipimpin oleh Can Kok mendatangi dengan cepat dan
ketika mereka melihat Siauw Eng, Can Kok lalu memberi aba-aba dan semua orang yang ternyata
adalah tentara-tentara kerajaan itu lalu maju mengejar dan mengurung. “Tangkap pemberontak !” seru
mereka.
Koleksi Kang Zusi
Siauw Eng menjadi marah sekali. Dengan pedang di tangan ia menanti kedatangan mereka dan setelah
dekat ia lalu berseru keras, “Ya, akulah anak pemberontak Ma Gi ! Ayoh maju, siapa yang berani,
cobalah tangkap aku, Gobi Ang Sianli !”
Beberapa orang anak buah Can Kok maju menyerbu akan tetapi begitu tubuh Siauw Eng berkelebat
merupakan cahaya merah, dua orang pengeroyok telah roboh mandi darah.
“Ayoo, pembunuh-pembunuh ayahku, pembunuh kakekku dan sekeluargaku ! Majulah menerima
pembalasan keturunan keluarga Ma !” Siauw Eng dengan nekad menyerbu dan mengamuk. Setiap
lawan yang mencoba menyambutnya, baru beberapa gebrakan saja terus roboh tak kuat menghadapi
dara yang gagah dan sedang marah, hebat itu.
Can Kok terpaksa maju dengan senjata kongce yang diandalkan di tangan, lalu membantu mengeroyok
dengan hebat. Siauw Eng tidak menjadi gentar, bahkan lalu mengamuk lebih hebat lagi.
Ternyata bahwa Can Kok mendengar berita dari Gu Liong dan ibunya. Memang semenjak dulu, ibu Gu
Liong, yakni nyonya janda Gu Keng Siu itu, menaruh dendam hebat kepada keluarga Khu dan Ma dan
selalu mengharapkan untuk dapat membalas dendam itu kepada keturunan kedua keluarga yang telah
membunuh suaminya itu. Kini ia mendengar dari Gu Liong bahwa keturunan keluarga yang dibencinya
itu masih ada, yakni Cin Pau dan Siauw Eng, maka segera ia mengadakan hubungan dengan Can Kok
yang serta merta memimpin beberapa orang anak buahnya untuk menawan Siauw Eng.
Gu Liong sendiri tidak ikut mengeroyok karena ia dan ibunya mempunyai tugas lain yang lebih
mengerikan dan kejam, yakni Gu Liong dipaksa oleh ibunya untuk mengantarkannya pergi ke makam
kedua musuh besar itu.
Telah lama Can Kok memang menaruh hati iri terhadap Gak Song Ki yang mempunyai kedudukan lebih
tinggi darinya. Biarpun di luarnya ia selalu bersikap ramah tamah dan hormat, akan tetapi di dalam hati
ia merasa iri dan dengki. Kini mendengar bahwa puteri Gak Song Ki itu ternyata adalah anak tiri dan
adalah keturunan langsung dari Ma Gi, ia menjadi girang dan segera pergi dengan maksud membikin
cemar dan malu nama perwira itu, dan menawan Siauw Eng. Kebetulan sekali rombongan bertemu
dengan Siauw Eng yang hendak melarikan diri, maka segera ia maju menyerang.
Namun, ia menghadapi perlawanan yang tak disangka-sangka semula. Pedang Siauw Eng ganas sekali
dan dara itu sukar didekati. Siapa berani mendekati tentu menjadi kurban pedang. Bahkan kongce dari
perwira itu sendiri tak banyak berdaya menghadapi pedang Siauw Eng. Karena bencinya kepada
perwira ini, Siauw Eng lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan serangan bertubitubi.
Kalau saja tidak banyak anak buahnya yang membantu, pasti perwira she Can itupun tidak kuat
menahan serbuan Siauw Eng yang hebat ini.
Pada saat itu, terdengar bentakan. “Pemberontak kecil sungguh ganas.” Suara ini adalah suara Kim-i
Lokai, pengemis tua yang masih berada di kota raja yang datang bersama-sama Pauw Su Kam, suheng
dari Can Kok itu. Dengan datangnya dua orang lihai itu, keadaan menjadi berubah dan kini Siauw Eng
terkurung rapat dan terdesak hebat sekali. Siauw Eng melawan dengan nekat dan mati-matian,
mengeluarkan kedua ilmu pedangnya Sin-Coa Kiamhwat dan Pek-Tiauw Kiamhwat berganti-ganti. Akan
tetapi, ia menghadapai Kim-i Lokai yang tingkat ilmu kepandaiannya sudah sejajar dengan kedua guru
nona itu sendiri, sedangkan Pauw Su Kam juga memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang
ringan, maka tentu saja makin lama ia makin terkurung rapat oleh senjata-senjata lawan.
“Siauw Eng, jangan takut, aku datang membantu !” terdengar seruan garang dan berkelebatlah
bayangan putih yang gesit sekali. Cin Pau yang menyusul telah tiba pada saat yang tepat dan
membantu Siauw Eng menghadapi lawannya yang banyak dan lihai itu. Hebat sekali sepak terjang
kedua anak muda itu yang bertempur saling membelakangi hingga tidak ada lawan dapat berlaku
curang. Seorang diri Cin Pau dikeroyok oleh Kim-i Lokai, Pauw Su Kam, dan Can Kok yang merasa
girang sekali dengan datangnya Cin Pau.
“Bagus, kedua turunan pemberontak telah masuk perangkap. Kita tawan keduanya !” kata Can Kok
yang segera memberi perintah kepada seorang pembantunya untuk mendatangkan bala bantuan dari
istana.
Cin Pau maklum akan berbahayanya keadaan mereka, maka sambil memutar-mutar pedangnya dan
memainkan jurus-jurus paling istimewa dari Kui Hwa Koan Kiamhwat hingga Kim-i Lokai dan kawanKoleksi
Kang Zusi
kawannya dapat didesak mundur. “Siauw Eng, mari kita pergi dari sini !” kata Cin Pau sambil menarik
tangan gadis itu.
Siauw Eng juga insaf akan keadaan yang amat berbahaya, apalagi kalau jago-jago tua yang lain
datang, terutama ia takut sekali kalau-kalau kedua orang gurunya datang. Ia tidak tahu bahwa semua
jago-jago silat yang membantu pembasmian kuil Thian Lok Si telah pulang dan hanya Kim-i Lokai dan
Pauw Su Kam saja yang masih berada di situ. Maka dengan cepat ia lalu melompat keluar kepungan
sambil memutar-mutar pedangnya.
Para anak buah tentara kerajaan tidak berani menghalangi mereka karena setiap orang yang berani
mencoba menghalangi dengan mudah dirobohkan oleh kedua pemuda pemudi lihai itu. Mereka berdua
lalu melarikan diri dengan cepat, dikejar oleh musuh-musuhnya yang berteriak-teriak sambil
mengacung-acungkan senjata. Akan tetapi ilmu lari cepat kedua anak muda itu sudah mencapai tingkat
tinggi hinggahanya Kim-i Lokai saja yang dapat menyamai kepandaian mereka, akan tetapi, seorang diri
saja, pengemis tua itu tidak berani turun tangan karena maklum bahwa ia takkan menang menghadapi
kedua jago muda itu.
Setelah tiba di dalam hutan dan melihat bahwa tidak ada musuh yang berani mengejar lagi, Siauw Eng
tiba-tiba lalu menangis sedih. Cin Pau menghela napas panjang dan ia maklum apa yang disedihkan
gadis ini, maka ia lalu menghibur dengan halus.
“Siauw Eng, janganlah kau berduka. Ketahuilah bahwa kita bernasib sama, akan tetapi baru sekarang
kau mengalami kesedihan dan penderitaan. Sedangkan aku, aku dan ibuku, semenjak peristiwa
menyedihkan itu terjadi, kami berdua telah menderita hebat.” Ia menghela napas lagi. “Semenjak ayah
meninggal karena keroyokan para perwira atas perintah kaisar, maka ibuku hidup terasing dan bertapa
di puncak Kunlun-san, tidak pernah turun gunung dan melihat dunia ramai lagi.”
“Lebih baik begitu !” kata Siauw Eng dengan tiba-tiba merasa mendongkol sekali terhadap ibunya
sendiri. “Jauh lebih baik hidup sengsara seperti itu dari pada seperti .... seperti ibuku ....”
Cin Pau sudah mendengar dari Sian Kong Hosiang tentang riwayat ibu Siauw Eng, maka ia lalu berkata
menghibur, “Jangan terlalu menyalahkan ibumu, Siauw Eng. Ingatlah bahwa ketika ia ditinggal mati oleh
ayahmu, ia masih muda dan sedang mengandung. Mungkin sekali, ini hanya pendapat dan dugaanku,
ia menerima pinangan perwira she Gak itu karena ia menjaga nasibmu atau .... atau .... siapa tahu
karena pada waktu itu ia masih muda sekali.”
Mereka lalu saling menuturkan riwayat semenjak kecil dan ketika mendengar tentang pembelaan Un
Kong Sian yang sekarang telah menjadi Sian Kong Hosiang itu, Siauw Eng merasa menyesal sekali
mengapa tadinya iapun ikut kena ditipu dan menganggap bahwa kuil Thian Lok Si adalah sarang
penjahat.
“Mereka itu bohong belaka !” kata Cin Pau dengan mata berapi. “Kuil Thian Lok Si tak pernah menjadi
sarang penjahat dan hwesio-hwesio di kuil itu tak pernah melakukan kejahatan. Ini adalah bujukan dan
gosokan dari Can Kok, perwira yang berhati busuk itu. Kita harus berhati-hati terhadap perwira itu,
karena kalau dipikir-pikir musuh kita yang terbesar adalah Can-ciangkun itu.”
“Akan tetapi ... ayah .... ayah tiriku juga ikut menyerbu Thian Lok Si dan mungkin dulu ikut pula
membasmi keluarga kita,” kata Siauw Eng dengan gemas, akan tetapi suaranya mengandung
kesedihan dan kekecewaan.
“Tentu saja, ayahmu adalah seorang perwira kerajaan, maka setiap perintah raja harus dikerjakannya
dengan setia dan taat.”
“Cin Pau, pernah kau melihat ayahku ?”
Pemuda itu memandang heran. “Aneh sekali pertanyaanmu ini. Tadi telah kuceritakan bahwa ketika
ayah kita gugur, akupun masih berada dalam kandungan ibu. Bagaimana aku bisa melihat ayahmu atau
ayahku ?”
“aku .... aku ingin melihat wajah ayahku .... ,” kata Siauw Eng dengan suara lemah dan seperti anak
kecil yang merengek ingin sesuatu. Cin Pau maklum bahwa gadis ini sedang bingung sekali dan hal ini
tak perlu dibuat heran. Gadis ini semenjak kecil hidup mewah dan dimanjakan, dalam keadaan kaya
Koleksi Kang Zusi
raya, disayangi ayah bundanya. Sekarang, tiba-tiba saja, ia mendapat kenyataan bahwa ayah yang
biasanya menyayanginya itu adalah seorang musuh besar, bahwa ayahnya yang tulen adalah seorang
pemberontak yang selama ini ia benci. Dan kini, ia telah melarikan diri dari rumah, berpisah dari ayah
bundanya, bahkan dikejar-kejar oleh para perwira dan mungkin selanjutnya akan menjadi orang buruan.
Tentu saja peristiwa ini merupakan tekanan yang hebat sekali pada hati dan perasaan Siauw eng.
“Siauw Eng, mulai saat ini, pandanglah aku sebagai sahabatmu satu-satunya yang bersedia
membelamu dengan jiwa dan raga,” kata Cin Pau dengan sungguh-sungguh hingga Siauw Eng merasa
terharu dan memandangnya dengan kedua mata basah.
“Cin Pau .... antarkanlah aku ke makam ayahku .... “
Cin Pau mengangguk dan keduanya lalu berjalan perlahan menuju ke hutan di mana terdapat dua
makam Khu Tiong dan Ma Gi, ayah mereka itu.
******
Ketika mendengar dari Gu Liong dan ibunya bahwa Siauw Eng adalah anak Ma Gi dan Cin Pau anak
Khu Tiong, maka Can Kok selain merasa girang dan berusaha menangkap mereka, juga merasa kuatir
karena kedua anak muda yang gagah perkasa itu merupakan musuh-musuh yang tangguh dan yang
masih berkeliaran bebas hingga membahayakan keselamatannya.
Oleh karena itu, setelah Siauw Eng dan Cin Pau yang dikepungnya itu dapat melepaskan diri, Can Kok
segera memberi kabar ke istana, memberi laporan kepada kaisar bahwa dua orang pemberontak muda,
keturunan keluarga Khu dan Ma, mengacau dan hendak melanjutkan pemberontakan kakek mereka.
Kaisar terkejut sekali, apalagi ketika mendengar bahwa seorang di antara kedua orang pemberontak itu
adalah Gobi Ang Sianli yang telah terkenal namanya di kota raja, dan alangkah marahnya ketika ia
mendengar bahwa pemberontak ini semenjak kecil telah dipelihara dan dididik oleh Gak Song Ki,
perwiranya yang setia itu. Ia lalu mengeluarkan perintah kepada Can Kok untuk menangkap Gak Song
Ki dan isteri pemberontak Ma Gi yang kini menjadi isterinya itu. Juga perintah itu mengharuskan
ditangkapnya Siauw Eng dan Cin Pau serta Sian Kong Hosiang, ketua Thian Lok Si yang dapat lolos itu.
Semua itu berkat kelicinan dan kecerdikan Can Kok hingga sekali gus ia mendapat surat kuasa dari
Kaisar untuk menawan atau membunuh musuh-musuh dan orang-orang yang tidak disukainya.
Kemudian Can Kok menyatakan kekhawatirannya karena pihak musuh adalah orang-orang yang
berkepandaian tinggi, maka ia mohon diberi bantuan perwira-perwira yang pandai. Kaisar lalu
memerintahkan kepada tiga orang perwira yang merupakan panglima besar dan tokoh tertinggi, yakni
yang bernama Mau Kun Liong, Oey Houw, dan Oey See In.
Selain mendapat bantuan ketiga panglima ini, Can Kok juga memberi kabar kepada kawan-kawan
lamanya, yakni Kongsan Hong-te dan kedua tosu dari Gobi-san, Cin San Cu dan Bok San Cu, oleh
karena ia maklum bahwa biarpun Siauw Eng dan Gak Song Ki adalah murid-murid kedua orang tosu ini,
akan tetapi Cin San Cu dan Bok San Cu adalah tosu-tosu yang taat dan setia kepada Kaisar. Dengan
senjata surat perintah Kaisar, maka ia yakin bahwa kedua orang tosu itu tentu akan suka membantu
untuk menawan murid-murid sendiri.
Setelah membawa surat perintah penangkapan dari kaisar, Can Kok tanpa membuang waktu lagi lalu
membawa sepasukan pengawal dan ketiga orang panglima itu, langsung menuju ke gedung Gak Song
Ki untuk menangkap perwira ini beserta isterinya.
“Gak Song Ki, kau dan nyonya Ma Gi menyerahlah untuk menjadi tawanan. Kami datang atas perintah
kaisar !” kata Can Kok dengan sombong sambil memperlihatkan surat perintah itu.
Gak Song Ki adalah seorang perwira yang setia, maka setelah berlutut terhadap surat perintah kaisar
itu dan menyatakan ketaatannya, ia lalu menggandeng tangan Kwei Lan dan mengikuti rombongan
yang menangkapnya itu. Seluruh isi rumah menangis sedih karena peristiwa ini dan orang-orang
menjadi ribut mendengar betapa perwira Gak Song Ki beserta isterinya telah ditawan oleh kaisar.
“Can-ciangkun, aku telah dapat menduga bahwa kau lah yang berdiri di belakang semua ini,” kata Gak
Song Ki ketika ia mulai berjalan meninggalkan rumahnya untuk dibawa ke tempat tahanan.
Koleksi Kang Zusi
“Pengkhianat jangan banyak membuka mulut !” bentak Can Kok. “kau telah melindungi anak isteri
pemberontak besar, percuma saja hendak menyangkal dosa-dosamu yang pantas mendapat hukuman
mati !”
Gak Song Ki hanya menggigit bibir saja karena ia maklum bahwa dalam keadaan tak berdaya ini, makin
banyak ia bicara, makin hebat pula Can Kok akan menghina. Karena urusan kali ini menyangkut diri
seorang perwira tinggi, maka yang akan menjadi hakim adalah kaisar sendiri dan sementara menanti
pengadilan, kedua suami isteri yang malang itu dimasukkan ke dalam sebuah tempat tahanan yang
kokoh kuat dan terjaga oleh anak buah Can Kok sendiri.
Sementara itu, kalangan perwira geger ketika mendengar tentang penangkapan ini. Gak Song Ki adalah
seorang perwira yang telah banyak membuat jasa, selain ini, telah beberapa keturunan nenek
moyangnya menjadi panglima-panglima yang setia kepada raja, bahkan ayahnya dulu adalah seorang
panglima besar yang telah terkenal sebagai pembela kaisar yang paling gagah dan setia, maka
penangkapan ini dianggap kurang adil dan menimbulkan gelisah di kalangan mereka.
Terutama sekali Gan Hok, ayah tiri Hwee Lian. Ketika mendengar dari puterinya yang datang-datang
menangis dan menuturkan bagaimana ia telah mengalami hal-hal yang mengejutkan di depan kedua
makam pemberontak dan mendapat kenyataan yang mengagetkan bahwa Siauw Eng adalah anak
pemberontak Ma Gi, lalu berkata kepada isterinya dan anaknya,
“Sudahlah, kalian jangan ikut campur dalam urusan ini. Ingat bahwa biarpun ayah Hwee Lian tewas
dalam tangan kedua orang pemberontak Khu dan Ma, akan tetapi mereka berdua juga sudah tewas
pula di tangan petugas-petugas hingga boleh dibilang segala perhitungan telah beres dan lunas. Perlu
apa kita harus ikut mencampuri urusan ini pula ? Sekarang kalian berdua adalah keluargaku, bukan
keluarga Gu lagi, dan aku tidak suka kalau harus mengotorkan tangan menanam bibit permusuhan
dengan keluarga Khu dan Ma !”
Hwee Lian menjawab ucapan ayahnya dengan hati terharu, “Kau benar, ayah. Memang, aku sendiri
tidak bisa memusuhi Siauw Eng, tidak hanya karena ilmu kepandaiannya yang tinggi, akan tetapi juga
karena ia begitu baik dan telah kuanggap seperti saudara sendiri. Bagaimana aku sanggup untuk
menjadi musuhnya, biarpun ayah kami dulu bermusuhan ?”
“Sebetulnya ayahmu dulu pun tidak bermusuh dengan Khu Tiong dan Ma Gi, anakku,’ kata nyonya Gan
Hok yang berhati sabar hingga nyonya inipun telah lama menanam rasa sakit hatinya, “bahkan ketika
kakekmu pangeran Gu dan kedua orang sasterawan tua she Khu dan Ma itu masih bersahabat bahkan
mengangkat saudara, ayahmu dan kedua orang itu hidup rukun dan damai bagaikan sekeluarga.
Ayahmu hanya terbawa-bawa, demikianpun Khu Tiong dan Ma Gi, terbawa-bawa oleh persoalan yang
timbul antara pengeran Gu kakekmu itu dan kedua orang sasterawan tua, dan ayahmu menjadi kurban
dari pada kedua saudara yang sedang mata gelap dan mengamuk itu.”
Demikianlah, ketiga orang ini dengan penuh kesadaran telah dapat menolak godaan nafsu dendam
hingga mereka tidak mau ikut mencampuri urusan balas dendam yang turun temurun ini. Akan tetapi
ketika Gan Hok mendengar tentang ditawannya Gak Song Ki dengan isterinya, ia menjadi terkejut sekali
dan perwira ini segera keluar dari gedungnya untuk mencari tahu dan kalau mungkin menolong
sahabatnya itu.
******
Siauw Eng dan Cin Pau dengan perlahan berjalan menuju ke makam orang tua mereka. Mereka tidak
banyak bercakap, terbenam dalam lamunan masing-masing. Tak pernah disangkanya bahwa kini
mereka berjalan berdua di dalam hutan sebagai dua orang yang dikejar-kejar dan dimusuhi kaisar.
Perbedaan keadaan mereka yang amat besar dulu itu kini musnah sama sekali dan membuat mereka
senasib sependeritaan, saling dekat saling membela, seperti halnya kedua orang ayah mereka yang
sampai matipun berada dalam keadaan berkumpul dan berjajar.
Ketika mereka masuk ke dalam hutan yang mereka tuju, senja telah mulai mendatang, maka mereka
lalu mempercepat langkah untuk tiba di makam itu sebelum gelap. Akan tetapi ketika mereka telah tiba
tak jauh dari makam, tiba-tiba mereka mendengar suara orang dan ringkik kuda. Mereka mempercepat
lari sambil mengintai dan alangkah kaget kedua orang muda itu ketika melihat bahwa yang berada di
situ adalah serombongan orang yang menggali kuburan ayah mereka. Dan orang-orang ini dikepalai
oleh Can Kok sendiri, bersama tiga orang panglima. Gu Liong juga nampak berada di situ, bersama
seorang wanita yang Siauw Eng kenal sebagai ibu pemuda itu.
Koleksi Kang Zusi
“Kejam ..........!” Siauw Eng berbisik kepada Cin Pau sambil memandang dengan mata terbelalak.
“Agaknya nyonya Gu Keng Siu hendak membalas dendam kepada kerangka kedua ayah kita ....” saking
merasa ngeri dan marah, Siauw Eng memegang lengan Cin Pau yang juga menegang karena pemuda
ini mengepal tinjunya.
“Ingat baik-baik,” terdengar Can Kok berkata kepada para pencangkul itu yang telah mulai menemukan
kedua kerangka yang dikubur di situ, “yang tertusuk panah tulang-tulang iganya adalah kerangka
pemberontak Khu Tiong. Ia mampus dengan anak panah tertancap di dada.
Sedangkan rangka Ma Gi kalau tidak salah tentu tulang pahanya telah patah, karena dulu ketika ia
mampus, beberapa bacokan mengenai pahanya dengan keras sekali. Kita kumpulkan tulang-tulang
mereka itu untuk dipertontonkan kepada rakyat agar tidak ada yang berani main berontak-berontakan
lagi !”
“Sesudah itu kita berikan tulang-tulang itu kepada anjing-anjing kelaparan supaya dimakan !” tiba-tiba
terdengar suara seorang wanita, yakni suara nyonya Gu Keng Siu. Suara ini biarpun halus dan merdu
akan tetapi terdengar amat menyeramkan sehingga Siauw Eng merasa bergidik. Juga Cin Pau
menggertakkan gigi mendengar betapa tulang-tulang ayahnya hendak diberikan kepada anjing. Can
Kok mendengar ucapan ini, tertawa bergelak dan berkata,
“Alangkah bencimu kepada mereka, Gu-hujin.”
“Kalau mereka masih hidup, aku sanggup minum darah mereka !” terdengar pula suara yang halus itu
berkata lagi. “Dan aku takkan berhenti sebelum dapat membunuh keturunan pemberontak-pemberontak
jahat yang telah membunuh suamiku ini !”
Tiba-tiba seorang di antara para pencangkul itu berkata, “Nah, inilah kerangka Khu Tiong ! Ada anak
panah menembus tulang-tulang iganya.”
“Yang satu ini tentu tulang kerangka Ma Gi kata pencangkul yang lain.
Tulang-tulang itu lalu diangkat dan dipisahkan menjadi dua bungkus. Dan pada saat itu, Siauw Eng dan
Cin Pau tak kuat menahan kemarahan hati mereka lebih lama lagi. Dengan pedang terhunus mereka
keluar dari tempat persembunyian dan berseru,
“Orang-orang rendah berhati binatang !”
Secepat kilat mereka lalu menyambar ke arah para pencangkul yang sedang membungkus tulangtulang
itu dan, beberapa tendangan mereka membuat para pencangkul itu jatuh bangun dan ada pula
yang terlempar ke dalam lubang kuburan yang mereka gali tadi. Cin Pau lalu mengambil bungkusan
tulang ayahnya yang tadi telah dilihatnya dari tempat persembunyian, sedangkan Siauw Eng lalu
menyambar bungkusan tulang ayahnya pula.
Dengan amarah yang meluap-luap, Siauw Eng menerjang kepada nyonya Gu Keng Siu sedangkan Cin
Pau lalu menerjang Can Kok. Akan tetapi, tiba-tiba ketiga orang panglima itu membentak keras. Ketika
Siauw Eng menyerang ibunya, Gu Liong cepat menangkis dan terjadi pertempuran di antara kedua
orang muda ini, akan tetapi oleh karena kepandaian Gu Liong memang jauh berada di bawah tingkat
kepandaian Siauw Eng, sebentar saja pedangnya telah terpental.
Seorang panglima yang bertubuh tinggi besar lalu maju dengan golok di tangan. Ini adalah panglima
pilihan dari kaisar, yang bernama Mau Kun Liong. Tenaganya besar dan kepandaiannya tinggi sehingga
ketika ia menangkis pedang Siauw Eng, gadis ini menjadi terkejut karena ternyata bahwa tangkisan itu
telah membuat telapak tangannya terasa pedas. Ia berlaku hati-hati sekali dan melawan dengan ilmu
pedang Sin-coa Kiamhwat yang lihai, namun perwira tinggi besar itu dapat melawannya dengan baik.
Sementara itu, Can Kok yang diserang oleh Cin Pau, melompat mundur dengan ketakutan. Perwira
yang licik ini sudah pernah melihat kehebatan sepak terjang Cin Pau, maka sekarang tentu saja ia tidak
berani menghadapi pemuda gagah perkasa ini seorang diri. Cin Pau mendesak terus, akan tetapi tibatiba
dua orang perwira yang gagah maju menyambutnya dengan golok mereka. Dua orang ini adalah
Oey Houw dan Oey See In yang mendapat julukan Tiang-an Ji-Koai-To atau Dua Golok Setan dari
Tiang-an. Memang permainan golok kedua orang she Oey ini hebat sekali. Golok mereka lebar dan
Koleksi Kang Zusi
tipis, tajamnya bukan main dan karena golok mereka amat ringan sedangkan tenaganya amat besar,
maka gerakan mereka juga cepat sekali hingga golok yang lebar itu merupakan sinar putih yang
berkelebatan bagaikan dua ekor naga berebut mustika.
Cin Pau diam-diam terkejut melihat kegagahan dua orang panglima kaisar ini dan tahulah dia bahwa
Can Kok telah mendapat bantuan panglima-panglima berkepandaian tinggi dari istana. Ketika ia
mengerling ke arah Siauw Eng, ia mendapat kenyataan bahwa dara baju merah itupun sedang
menghadapi seorang panglima tinggi besar bersenjata golok pula. Melihat permainan golok lawan
Siauw Eng itu, diam-diam ia mengeluh karena ketiga orang ini benar-benar merupakan lawan tangguh,
sedangkan di situ masih terdapat Can Kok, Gu Liong, dan banyak anggauta tentara.
“Eng-moi, mari pergi !!” serunya keras dan oleh karena keadaan telah mulai gelap dan ternyata
lawannya amat tangguh, Siauw Eng juga merasa bahwa lebih baik melarikan diri oleh karena sekarang
tulang rangka ayahnya telah berada di tangannya. Ia lalu mengeluarkan jurus berbahaya dari Sin-coa
Kiamhwat dan pedangnya menyapu ke arah pinggang dan terus dibalikkan pula menyapu kaki lawan.
Gerakan ini cepat dan dahsyat, maka Mau-ciangkun tidak berani menangkis dan melompat tinggi ke
belakang hingga Siauw Eng mendapat kesempatan untuk melompat jauh dan hendak melarikan diri.
Akan tetapi, karena ia tidak menduganya dan berlaku kurang hati-hati, tiba-tiba ia merasa punggungnya
sakit sekali. Untung ia telah mengerahkan tenaganya untuk menolak serangan ini dan piauw yang
menyerang punggungnya itu hanya menancap sedikit, akan tetapi cukup untuk membuat ia merasa
sakit dan pundaknya terasa kaku.
Cin Pau telah dapat melompat jauh, akan tetapi, ketika ia melihat betapa Siauw Eng telah terkena piauw
yang dilepas oleh Mau-ciangkun, ia menjadi terkejut sekali. Cepat ia mengeluarkan biji-biji caturnya dan
ketika ia mengayun tangan, dua buah biji catur melayang ke arah pelepas piauw yang melukai Siauw
Eng itu. Mau Kun Liong cepat berkelit, akan tetapi sebuah biji catur lagi tetap saja melanggar lehernya
hingga ia roboh sambil berteriak ngeri. Kembali Cin Pau mengayunkan tangannya empat biji catur
melayang ke arah dua orang lawannya tadi yang juga hendak mengejar. Akan tetapi kedua saudara
Oey ini sudah tahu akan kelihaian biji catur Cin Pau, maka dengan golok di tangan diputar cepat
mereka berhasil menyampok biji-biji catur itu.
“Kejar mereka ! Kejar pemberontak-pemberontak itu !” Can Kok berseru marah, hatinya mendongkol
sekali melihat betapa kedua orang muda itu kembali berani muncul, bahkan telah mencuri tulang
kerangka yang ia suruh gali tadi.
Akan tetapi, Cin pau telah mempergunakan kesempatan itu untuk menghampiri Siauw Eng yang berlari
sambil terhuyung-huyung, lalu ia memegang tangan gadis itu dan terus diajak lari cepat. Kawanan
perwira mencoba untuk mengejar, akan tetapi malam telah menjelang datang dan keadaan di hutan itu
mulai menjadi gelap. Mereka merasa ngeri terhadap biji-biji catur Cin Pau yang berbahaya itu, maka
mereka membatalkan maksud hendak mengejar terus, bahkan kedua saudara Oey lalu menolong Mau
Kun Liong yang menjadi kurban biji catur Cin Pau yang ganas itu. Untung sekali biji catur itu hanya
mendatangkan luka dan memutuskan urat kecil saja, kalau dilepas dengan maksud membunuh, tentu
jiwa Mau-ciangkun takkan tertolong lagi.
Setelah berlari jauh Siauw Eng mengeluh dan Cin Pau lalu mengajaknya berhenti. “Kau terluka, Siauw
Eng ?” tanyanya, karena biarpun tadi ia melihat gadis itu terhuyung-huyung setelah panglima tinggi
besar itu melepas piauw, akan tetapi di dalam gelap ia tidak melihat bagian mana yang terluka.
“Punggungku ..... aku kurang hati-hati dan piauw itu sama sekali tidak bersuara ..... “ kata Siauw Eng
yang melepaskan buntalan kerangka di atas tanah dan ia sendiripun lalu menjatuhkan diri duduk di atas
rumput. Cin Pau juga meletakkan bungkusan kerangka ayahnya pula dan berlutut di dekat Siauw Eng.
“Di Punggung ? Bagaimana rasanya ?”
“Tidak apa-apa, hanya ........ piauw itu masih menancap agaknya.”
“Jangan kau bergerak, biar aku mencabutnya.” Sambil berkata demikian, di dalam gelap Cin Pau
meraba punggung gadis itu. “Benar saja, sebatang piauw yang licin dan kecil menancap di punggung,
dekat pundak kanannya.
“Biar aku membuat api dulu, jangan kau banyak bergerak !” kata Cin Pau yang lalu membuat api dari
kayu-kayu kering.
Koleksi Kang Zusi
“Jangan, Cin Pau, nanti mereka tahu tempat kita.”
“Tidak apa, biar mereka datang kalau berani. Mengobati lukamu lebih penting lagi dan bagaimana aku
bisa mengobatinya di tempat yang gelap ?”
Setelah api unggun itu menyala, Cin pau lalu memeriksa punggung Siauw Eng dan ternyata bahwa
piauw itu bentuknya licin, kecil dan panjang bulat. Oleh karena piauw ini licin dan bulat, maka ketika
dilontarkan tidak mendatangkan banyak suara, laju lurus seperti ular menyambar.
“Siauw Eng, terpaksa aku merobek bajumu di bagian punggung ini,” kata Cin Pau agak ragu-ragu dan
malu. Gadis itu hanya mengangguk sambil menggigit bibir. Setelah pemuda itu merobek pakaian Siauw
Eng di bagian yang terluka, maka terlihat betapa piauw itu menancap di kulit gadis yang halus dan putih
itu.
“Awas, aku mencabutnya, jangan banyak bergerak !” Siauw Eng menahan sakit sambil menggigit
bibirnya dan peluh memenuhi keningnya karena Cin Pau harus berlaku hati-hati sekali dalam mencabut
piauw itu karena ternyata bahwa ujung senjata rahasia ini dipasangi kaitan kecil. Kalau saja ia kurang
hati-hati mencabutnya, tentu kaitan itu akan terlepas dan tertinggal di dalam daging hingga
membahayakan luka di punggung itu.
Sebagaimana diketahui, ibu Cin Pau, yaitu Lin Hwa adalah puteri seorang ahli pengobatan yang juga
mewarisi kepandaian ayahnya itu, maka Cin Pau juga mengerti tentang pengobatan, mendapat
pelajaran dari ibunya hingga ia selalu membawa bekal obat bubuk untuk menjaga kalau-kalau ia terluka,
terutama sekali membawa obat-obat yang khusus digunakan sebagai penolak dan penyembuh luka
terkena senjata beracun.
Akan tetapi, setelah memeriksa dengan teliti, ia mendapat kenyataan bahwa biarpun piauw dari perwira
tinggi besar itu bisa membahayakan jiwanya namun tidak mengandung racun hingga luka itu hanya
nampak merah karena keluarnya darah. Ia menjadi lega dan setelah menaruh obat pada luka itu, ia lalu
memberikan mantelnya kepada Siauw Eng untuk dipakai menutupi bajunya yang bolong di bagian
punggung itu.
Setelah diberi obat, dan piauw itu dicabut dari punggungnya. Siauw Eng merasa enak dan tidak sakit
lagi, maka gadis ini lalu menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon di dekat api unggun dan tak
lama kemudiania tertidur pulas. Cin Pau tidak mau mengganggu, bahkan ia lalu menyelimutkan ujung
mantel yang panjang itu pada kedua kaki Siauw Eng, lalu duduk menjaga dekat api unggun. Entah
mengapa, semenjak saat bertemu dengan Siauw Eng yang dikeroyok oleh perwira-perwira, ia merasa
seakan-akan ia mempunyai tugas untuk membela dan melindungi gadis ini.
Pada keesokkan harinya, Cin Pau menyatakan bahwa ia hendak membakar tulang-tulang kerangka
kedua ayah mereka itu.
“Tulang-tulang ini tidak baik dibawa kemana-mana, bahkan berbahaya sekali. Dulu ibu pernah bercerita
bahwa tulang-tulang manusia yang sudah lama terkubur di dalam tanah apabila dikeluarkan kadangkadang
mengandung racun yang jahat dan berbahaya bagi manusia hidup. Maka, lebih baik kita
sempurnakan tulang-tulang kerangka kedua ayah kita ini, kemudian abunya kita bawa ke Kunlun-san
untuk memberitahukan dan memberikannya kepada ibuku dan selanjutnya mengubur abu ini secara
baik-baik. Sebelum kita bertindak lebih jauh, aku hendak minta nasehat suhu dan ibu.”
“Terserah kepadamu, Cin Pau, akan tetapi, aku takkan bisa hidup bahagia sebelum membalas dendam
kepada semua perwira jahat itu dan membunuh kaisar yang telah menghukum keluarga kita !” Gadis ini
masih merasa sakit hati dan marah sekali hingga cita-cita satu-satunya yang terkandung dalam hatinya
hanya membalas dendam.
“Memang, kita harus membalas dendam, akan tetapi kurang baik kalau kita bertindak secara sembrono
dan menuruti hawa nafsu belaka. Dalam pandanganku, tidak semua perwira busuk dan jahat belaka, di
antaranya banyak pula yang baik, seperti ayah tirimu itu, kurasa tak patut kalau ia dimasukkan daftar
perwira-perwira jahat.”
Siauw Eng menggigit bibirnya, “Ia ..... ia telah membawa lari ibu, ia .... ia telah membujuk ibuku ....”
Koleksi Kang Zusi
Cin Pau menarik napas panjang. Ia tahu bahwa gadis ini terlalu terluka hatinya dan terlalu keras kepala,
hingga kurang baik kalau terlalu didesak dan dibantah. “Betapapun juga, harus diingat bahwa keadaan
mereka itu kuat sekali. Baru tiga orang perwira yang membantu Can Kok tadi saja sudah merupakan
lawan-lawan yang tangguh, apalagi kalau ditambah Kim-i Lokai dan yang lain-lain. Kita harus minta
bantuan suhu dan juga ayah angkatku.”
“Kau takut ?” tiba-tiba timbul pula kekerasan hati Siauw Eng. Memang gadis ini pemberani sekali dan
boleh dikata ia tidak kenal arti takut dalam melaksanakan cita-citanya.
Cin Pau menggeleng-geleng kepala. “Aku tidak takut, Siauw Eng, hanya berhati-hati. Apa artinya kalau
kita bergerak akan tetapi tidak berhasil bahkan terkena celaka pula ? Bukankah itu berarti usaha kita
akan kandas dan sia-sia belaka ? Akan tetapi, biarlah kita rundingkan hal itu nanti saja. Sekarang paling
perlu kita menyempurnakan tulang-tulang kedua ayah kita ini.”
Kali ini Siauw Eng tidak membantah. Ia lalu membantu Cin Pau mengumpulkan banyak kayu kering
yang mudah didapat dan dikumpulkan dari dalam hutan itu, lalu menumpuk kayu itu menjadi dua
bagian. Setelah itu, atas petunjuk-petunjuk Cinpau, mereka lalu mengatur tulang-tulang itu sedapatdapatnya
di tempat yang betul hingga merupakan kerangka yang utuh, dibaringkan telentang dan
berjajar. Siauw Eng melakukan pekerjaan ini sambil menangis terisak-isak hingga Cin Pau juga tidak
dapat menahan keluarnya air mata.
“Siauw Eng ...... hati-hatilah kau, jangan menggunakan tanganmu untuk meraba mukamu. Biarkan saja
air matamu mengalir turun, dan sekali-kali kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk menjamah
mukamu. Perhatikan ini baik-baik, Siauw Eng, demi keselamatanmu sendiri !”
Siauw Eng mengangguk-angguk dan menahan mengalirnya air mata seberapa dapat. Akhirnya
selesailah pekerjaan itu dan Cin Pau lalu mencampurkan semacam obat bubuk putih dengan air dan
mereka lalu mencuci tangan dengan campuran obat itu untuk membersihkan dan membinasakan
kuman-kuman yang mungkin menempel di tangan mereka dari tulang-tulang itu.
Keduanya lalu berlutut di depan tumpukan tulang itu sambil mengheningkan cipta, memohon berkah
dari roh ayah masing-masing. Setelah itu, mereka lalu menyalakan api yang membakar kayu-kayu
kering itu dengan cepat.. Oleh karena kayu-kayu yang ditumpuk di bawah, di pinggir dan di atas tulangtulang
itu kering sekali, maka dengan mudah kayu-kayu itu dimakan api hingga sebentar saja api
berkobar hebat dan asapnya bergulung-gulung ke atas.
Angin bertiup perlahan seakan-akan tangan-tangan yang tidak kelihatan membantu mengipasi api itu
hingga menjadi makin hebat dan panas. Kedua anak muda itu berlutut lagi sambil memandang api yang
membakar tulang-tulang ayah mereka.
Setelah api yang membakar tulang-tulang itu padam, maka semua tulang rangka telah menjadi abu.
Dengan hati-hati, teliti, dan penuh hormat kedua orang muda itu lalu mengumpulkan abu ayah mereka
ke dalam kain membungkus tulang tadi. Mereka begitu asyik dalam pekerjaan itu hingga tidak tahu
bahwa sepasang mata memandang mereka dari balik pohon dengan penuh perhatian. Kemudian
pemilik sepasang mata itu, seorang pengembala, keluar dari tempat mengintainya dan menghampiri
mereka lalu menegur,
“Jiwi ini sedang mengapakah ? Apakah yang jiwi bakar dan itu abu apakah ?”
Cin Pau dan Siauw Eng menengok, dan ketika Siauw Eng melihat bahwa yang datang adalah
pengembala penanam jenazah ayahnya, ia lalu berkata kepada Cin Pau. “Inilah dia orangnya yang
telah begitu baik hati untuk mengubur jenazah kedua orang tua kita.”
Cin Pau segera berdiri dan menjura kepada orang itu dengan hormat. “Ah, kebetulan sekali. Telah lama
siauwte ingin sekali bertemu dengan orang budiman yang telah mengubur jenazah ayah dan pamanku
untuk menyampaikan penghargaan dan pernyataan terima kasihku.”
Pengembala itu tersenyum. “Hal yang kecil itu apa artinya untuk disebut-sebut ? Setiap orangpun tentu
akan melakukan hal itu apabila ia melihat jenazah sesama manusia terlantar di tengah hutan. Jadi
mereka itu adalah ayah kalian ? Bagus, bagus, aku merasa girang sekali bahwa akhirnya mereka ada
juga yang mengaku. Tak ada yang lebih menyedihkan bagi orang yang telah mati kecuali kalau tidak
ada orang yang mau mengakui namanya lagi. Dan jiwi ini membakar apakah ?”
Koleksi Kang Zusi
“Kami telah membakar tulang-tulang rangka ayah kami dan ini adalah abu mereka,” kata Siauw Eng.
Pengembala itu mengangguk-angguk. “Kalian orang-orang muda yang berbakti.” Kemudian ia
memandang sekeliling seakan-akan takut kalau kata-kata yang hendak diucapkannya ini terdengar oleh
orang lain. “Jiwi aku telah tahu bahwa kedua kuburan itu telah dibongkar orang. Hal ini membuat aku
merasa penasaran dan heran, maka aku lalu mencari keterangan dan ..... ternyata bahwa kuburan itu
adalah kuburan kedua orang she Khu dan Ma yang namanya telah menggemparkan seluruh dunia.
Orang-orang boleh menyebutnya pemberontak, akan tetapi bagiku tetap mereka itu orang-orang gagah
yang gugur dengan pedang di tangan. Makin banggalah hatiku karena akulah orangnya yang telah
menguburkan mereka. Di kota raja aku telah mendengar hal yang aneh-aneh.”
“Apalagi yang kau dengar ?” tanya Cin Pau tertarik.
“Aku mendengar banyak sekali hal-hal aneh, diantaranya bahwa kabarnya kedua orang gagah yang
jenazahnya kukubur itu masih mempunyai keturunan, bahkan keturunan yang seorang adalah seorang
gadis muda yang semenjak kecil dipelihara oleh seorang perwira ! Kiranya kaulah nona, anak itu !! Dan
anak yang seorang lagi, yang dikabarkan sebagai pemuda baju putih yang gagah perkasa, tentu kau
sendiri ! Ah, ah, dan sekarang secara kebetulan sekali aku bertemu dengan jiwi dan menyaksikan
betapa tulang-tulang suci kedua enghiong (orang gagah) ini diabukan. Sungguh aku seorang yang
beruntung sekali, tidak seperti perwira she Gak yang malang .....” Ia menarik napas panjang.
“Perwira she Gak yang malang ? Ada apakah dengan dia ?” tanya Cin Pau penuh perhatian, sedangkan
biarpun ia diam saja, namun hati Siauw Eng berdebar mendengar nama ayah tirinya disebut-sebut.
Kembali pengembala itu menghela napas, “Memang dunia ini aneh dan kadang-kadang perbuatan baik
dan benar tidak mendapat upah dan hadiah, bahkan mendatangkan malapetaka. Oleh karena
menolong ibu nona ini dan memelihara nona sampai besar, sekarang perwira she Gak itu ditangkap
oleh kaisar, beserta isterinya, diseret-seret di sepanjang jalan dan diperlakukan dengan penuh hinaan
oleh perwira Can ......”
Bagian 17. Penyelesaian Dendam Turunan (Tamat)
Tiba-tiba Siauw Eng melompat berdiri, lalu mengikatkan buntalan abu di atas punggungnya dan secepat
kilat ia lalu lari menuju ke Tiang-an. Mendengar betapa ibu dan ayah tirinya ditangkap dan diseret-seret
oleh Can Kok, ia tak dapat menahan gelora dan kemarahan hatinya lagi, lalu pada saat itu juga
melompat pergi hendak menolong ayah tirinya, terutama ibunya dan menghukum kepada perwira Can
yang menghina orang tuanya itu.
“Siauw Eng, tunggu .... !” Cin Pau berseru sambil mengikatkan pula buntalan abu tulang-tulang ayahnya
dipunggungnya dan berlari mengejar. Oleh karena memang ilmu berlari cepat dari Cin Pau masih lebih
tinggi tingkatnya, maka ia berhasil menyusul gadis itu dan memegang tangannya.
“Nanti dulu, Eng-moi. Kau mau kemana ?”
“Kemana lagi ? Apakah aku harus membiarkan saja ibuku ditawan dan dihina orang ? Akan membunuh
anjing she Can itu dan berusaha menolong ibu !” jawabnya dengan marah sekali.
Cin Pau maklum bahwa kehendak gadis ini takkan dapat ditahan atau dihalanginya lagi, maka terpaksa
ia lalu berkata sungguh-sungguh, “Marilah, adikku, mari kita pergi bersama. Biar kita berdua memberi
pelajaran kepada penjahat-penjahat kejam itu. Akan tetapi, menurut pendapatku, soal membalas
dendam kepada Can Kok adalah soal kedua. Yang terpenting sekarang ialah kita harus berusaha
membebaskan dan menolong Gak-ciangkun dan ibumu !”
Biarpun baru sebentar berkumpul dengan pemuda itu, namun Siauw Eng telah mendapat keyakinan
betapa luas pandangan Cin Pau dan betapa cerdiknya pemuda itu, maka ia lalu menurut saja.
Demikianlah, mereka berlari-lari cepat menuju ke kota raja.
Cin Pau maklum bahwa mereka berdua sedang dicari-cari dan pintu gerbang dijaga keras sekali, maka
ia mengajak Siauw Eng bersembunyi di dekat tembok kota dan menanti datangnya malam.
Koleksi Kang Zusi
******
Malam itu gelap gulita, karena udara tertutup awan tebal. Keadaan di rumah tahanan di mana Gak Song
Ki dan Kwei Lan dikeram, sunyi sekali. Beberapa orang penjaga dengan golok terhunus menjaga di
sekeliling rumah itu, dan tiga orang penjaga lain duduk di ruang dalam depan pintu kamar tahanan
sambil main dadu.
Dua bayangan yang gesit sekali gerakannya mengintai dari jauh, memandang ke arah rumah tahanan
itu dengan mata tajam. Mereka ini adalah Cin Pau dan Siauw Eng yang telah berhasil melewati tembok
kota tanpa terlihat oleh penjaga.
Ketika dua orang penjaga sedang berjalan agak jauh dari rumah tahanan itu, tiba-tiba mereka roboh
tanpa dapat mengeluarkan teriakan sedikitpun karena jalan darah thian-hu-hiat mereka telah tertotok
oleh jari-jari tangan Cin Pau dan Siauw Eng yang cepat dan tepat gerakannya. Dengan kaki mereka,
kedua orang muda itu menyepak tubuh para penjaga yang telah menjadi lemas dan pingsan itu ke
tempat gelap. Kemudian mereka terus maju ke dekat pintu gerbang di mana duduk pula tiga orang
penjaga di atas bangku sambil bercakap-cakap.
“Siapa ?” seorang di antaranya membentak ketika melihat dua bayangan berkelebat di dekat mereka,
akan tetapi sebagai jawaban, tangan Cin Pau dan Siauw Eng bergerak cepat dan ketiga orang itu pun
telah tertotok, seorang oleh Siauw Eng dan dua orang oleh Cin Pau. Kemudian kedua anak muda yang
gagah itu terus masuk ke dalam. Tiga orang penjaga yang sedang main dadu terkejut sekali melihat
kedatangan mereka yang tiba-tiba itu, akan tetapi dengan cepat Cin Pau dan Siauw Eng dengan
pedang di tangan telah melompat dan menodong dengan ujung pedang.
“Jangan bergerak dan banyak ribut !” kata Cin Pau dan sebelum ketiga orang penjaga itu sempat
melawan, ia mengulurkan tangan kirinya dan menotok pula. Ilmu totok dari Cin Pau memang ajaib
karena ia memperoleh didikan khusus dari Tiauw It Lojin yang menjadi ahli dalam ilmu kepandaian ini.
Mereka lalu membuka pintu kamar tahanan, mempergunakan kunci yang berada dalam kantong
seorang di antara ketiga penjaga itu. Ketika pintu terbuka, Siauw Eng menubruk maju dan ia menangis
sambil memeluk ibunya yang duduk menyandar tembok dengan wajah pucat dan tubuh lemas.
Sedangkan ayah tirinya ternyata telah mengalami pukulan-pukulan karena mukanya bengkak-bengkak
dan iapun duduk di atas lantai menyandar tembok dengan tubuh lemas.
“Siauw Eng .... “ Kwei Lan berbisik lemah sambil menangis melihat puterinya datang.
“Ibu ...... ibu, ampunkan anakmu ibu ......... mari ibu dan ayah ikut aku pergi dari sini !”
“Tak usah, Siauw Eng, tinggalkan kami, “ kata Gak Song Ki dengan angkuh. Mendengar ucapan ayah
tirinya ini, Siauw Eng lalu menjatuhkan diri dan memeluk ayah tirinya.
“Ayah .... ayahku..... ampunkanlah aku. Aku marah kepada ayah dalam keadaan tak sadar dan gelap
pikiran. Mari aku tolong kau ayah, mari kita keluar dan mengamuk, kita bunuh anjing Can Kok itu. Kalau
perlu kita menyerbu ke istana dan membunuh Kaisar agar orang-orang tahu bahwa ayah dan anak
perwira Gak bukanlah orang-orang lemah yang boleh dihina sesukanya.”
Runtuhlah air mata Gak Song Ki mendengar ucapan anak tiri yang amat disayangnya ini. “Jangan
berkata demikian, anakku, kau tahu bahwa aku adalah seorang perwira yang setia.”
“Akan tetapi kau difitnah orang, ayah !”
Gak Song Ki menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas.
“Biarlah, memang aku pantas mendapat hukuman ini. Aku pantas mendapat hukuman mati. Siauw Eng,
kau tidak tahu, sekarang lebih baik aku terus terang saja ...... aku .... akulah yang dulu diberi tugas
memimpin penyerbuan pada keluarga Ma, dan .... dan aku pernah menendang ibu mertua Kwei Lan
ketika nenek itu hendak membela menantunya. Aku masih ingat baik-baik hal ini ....dan ... dan
penyesalan saja tiada artinya. Aku harus terhukum ..... aku berdosa, nak .....”
Koleksi Kang Zusi
Terdengar isak tangis dari Siauw Eng dan Kwei Lan. Pada saat itu para penjaga lain telah dapat
menemukan tubuh kawan-kawan mereka yang tertotok, maka ramailah para penjaga itu menyerbu ke
dalam kamar tahanan.
Cin Pau dengan pedang di tangan menjaga di pintu dan segera pertempuran hebat terjadi. Pemuda ini
dikeroyok oleh belasan orang penjaga, akan tetapi pedangnya yang bergerak bagaikan seekor naga
sakti mengamuk itu membuat belasan pengeroyoknya tidak berdaya. Bahkan beberapa orang telah
roboh kena tendang, kena pukul, atau tertusuk pedang.
“Siauw Eng, cepat !” kata Cin Pau. “Bawa ayah ibumu keluar dari sini !”
Siauw Eng membujuk-bujuk sambil menangis, akan tetapi Gak Song Ki berkata tegas, “Tidak anakku.
Kalau kami ikut keluar, kami hanya akan menjadi perintang saja dan akhirnya kalian berdua akan
mendapat celaka. Keluarlah kau bersama Cin Pau, ia .... ia pemuda yang baik dan gagah. Kalau kau
memang hendak membalas dendam, bunuhlah Can Kok. Dia orang jahat dan hatiku akan puas dan
biarpun mati, mataku akan meram karena kau, anakku yang baik, telah dapat membalaskan dendam
hatiku terhadap Can Kok yang khianat dan jahat !”
Siauw Eng menubruk ibunya sambil menangis, “Ibu, ibu ..... kalau kau tidak mau keluar, bagaimana aku
dapat meninggalkan kau dalam keadaan begini ?”
Ibu yang mencintai anaknya itu mendekap kepala Siauw Eng pada dadanya. “Anakku, aku tak dapat
meninggalkan suamiku. Ia amat baik kepadaku dan juga kepadamu, maka biarlah aku juga menyatakan
kesetiaanku dan mengawaninya sampai mati. Kau pergilah nak, lihat, kawanmu itu terdesak dan
dikeroyok, apakah kau tidak mau membantunya ?”
Siauw Eng menengok dan benar saja, sekarang para pengeroyok bertambah banyak karena seorang
penjaga telah lari memberi laporan, bahkan di antara mereka terdapat beberapa orang perwira. Siauw
Eng berseru keras dan segera melompat membantu Cin Pau dan mengamuk hebat. Makin banyaklah
jatuhnya kurban dan tiba-tiba dari luar terdengar bentakan suara Can Kok yang memberi aba-aba untuk
mengurung makin rapat.
“Siauw Eng, terpaksa kita harus pergi,” kata Cin Pau dengan kuatir. Siauw Eng sebetulnya tidak mau
pergi, akan tetapi dengan suara memilukan, ibunya berseru,
“Eng-ji, pergilah kau. Kalau sampai kau mendapat celaka di sini, aku takkan mau mengampunkan kau
!!”
“Ibu ....” Siauw Eng menahan isaknya dan terpaksa ia lalu menyerbu hebat bersama Cin Pau membuka
jalan keluar. Kemudian, sebelum Can Kok dan perwira-perwira lain sempat masuk membantu karena
tempat itu sudah penuh sesak dengan para tentara yang datang mengurung. Cin Pau dan Siauw Eng
telah dapat keluar dan melompat ke atas genteng.
Ketiga orang panglima yang membantu Can Kok, yakni Mau Kun Liong, Oey Houw dan Oey See In,
mengejar, akan tetapi Cin Pau menghajar mereka dengan biji-biji caturnya hingga mereka itu terpaksa
melompat turun kembali karena mereka merasa takut terhadap serangan biji-biji catur yang istimewa itu.
Kesempatan ini digunakan oleh Cin Pau dan Siauw Eng untuk menghilang di dalam gelap.
Dengan marah sekali Can Kok lalu membawa kedua orang tawanannya pindah tempat, dan tempat
tahanan baru ini terjaga keras sekali sampai tiba saatnya keputusan hukuman dijatuhkan oleh Kaisar.
Sedangkan Siauw Eng sambil menangis sedih pergi mengikuti Cin Pau dan lari keluar dari kota Tiangan.
“Cin Pau, apakah yang harus kita lakukan sekarang ? Ayah dan ibu tidak mau keluar dari tempat
tahanan. “Ah, ....... apakah yang harus kulakukan ?”
Cin Pau menarik napas panjang. Ia merasa kasihan sekali kepada Siauw Eng, dan dengan suara
menghibur ia berkata, “Ayah tirimu benar-benar seorang jantan yang jujur. Benar bahwa ia dulu telah
melakukan kesalahan, akan tetapi itu adalah karena terdorong oleh rasa sukanya kepada ibumu dan
karena kini ia telah membuat pengakuan dan menyesalkan kesalahannya, maka ia dapat disebut
seorang gagah. Juga kesetiaannya terhadap Kaisar patut dihormati karena memang demikianlah
Koleksi Kang Zusi
seharusnya seorang perwira. Kita hanya dapat berdoasemoga Kaisar akan dapat membedakan mana
perwira yang setia dan mana yang curang. Orang yang paling jahat dalam hal ini adalah Can Kok. Dia
yang memusuhi keluarga kita, dia yang membasmi dan membakar kuil Thian Lok Si, dan sekarang dia
pula yang menjadi gara-gara hingga ayah ibumu tertawan !”
“Kita harus membunuhnya sekarang juga !” kata Siauw Eng dengan marah sekali.
“Memang, kita harus berusaha membinasakan penjahat ini, sesuai dengan permintaan ayah tirimu tadi.”
Dan pada keesokkan harinya, dengan kepandaiannya tentang obat-obatan, Cin Pau melumuri mukanya
dengan semacam bedak hingga kulitnya menjadi kekuning-kuningan. Ia mengganti model ikatan
rambutnya dan mengganti pakaiannya pula, sedang Siauw Eng lalu berpakaian sebagai seorang anak
muda pelajar yang tampan sekali. Pedang mereka, mereka sembunyikan di dalam baju yang lebar dan
longgar. Dengan dandanan seperti ini, siang-siang mereka dapat masuk melalui pintu gerbang kota
tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka langsung menuju ke gedung Can Kok.
Cin Pau dan Siauw Eng terlalu memandang rendah kepada perwira ini. Sebetulnya dalam siasat dan
tipu muslihat, kedua anak muda ini bukanlah lawan Can Kok yang sudah berpengalaman dan yang
memang pada dasarnya cerdik dan penuh akal. Ia sudah dapat menduga akan hal ini, maka diam-diam
ia menaruh mata-mata di tiap pintu gerbang, bahkan di seluruh kota ia menyebar mata-mata. Oleh
karena itu, ketika Cin Pau dan Siauw Eng memasuki pintu gerbang, biarpun mereka menyamar, namun
mereka ini hanya dapat mengelabuhi mata para penjaga saja. Mata para mata-mata yang cerdik tak
dapat mereka tipu dan mereka telah tahu bahwa kedua orang muda ini adalah orang-orang yang harus
mereka cari dan awasi. Maka sebelum Cin Pau dan Siauw Eng tiba di depan rumah gedung Canciangkun,
perwira ini telah lebih dahulu mengetahuinya.
Ketika Cin Pau dan Siauw Eng melihat betapa rumah gedung itu sunyi sekali, bahkan di luar rumah juga
tidak terlihat adanya orang atau penjaga, mereka menjadi girang sekali dan dengan cepat mereka lalu
masuk ke dalam halaman depan. Mereka bermaksud untuk berpura-pura mencari Can-ciangkun dan
percaya bahwa penjaga-penjaga tentu takkan mengenal mereka. Akan tetapi oleh karena tidak melihat
adanya orang di situ, mereka terus maju sampai di pintu depan yang terbuka lebar. Dari pintu ini
mereka melihat Can Kok duduk di ruang depan, duduk seorang diri. Ketika mendengar suara tindakan
mereka, perwira itu menengok dan pada mukanya terbayang keheranan seperti biasanya orang melihat
datangnya tamu-tamu yang tak dikenal.
“Jiwi siapakah ? Dan ada keperluan apa ?” tanyanya dengan suara biasa dan berdiri dari bangkunya.
“Kami hendak mohon bertemu dengan Can-ciangkun,” kata Cin Pau sedangkan Siauw Eng menahan
marahnya sedapat mungkin. Mereka melangkah maju mendekati perwira itu.
“Can-ciangkun tidak berada di rumah,” jawab Can Kok sambil menjura dan pada saat ia menjura itu,
dari tangannya melayang dua batang piauw yang semenjak tadi telah disediakan. Cin Pau cepat
mengelak, demikianpun Siauw Eng dan kedua orang muda ini cepat-cepat mencabut keluar pedang
mereka dan menyerang. Akan tetapi, sambil tertawa Can Kok melarikan diri ke dalam, dikejar oleh Cin
Pau dan Siauw Eng. Mereka kini berada di ruang dalam yang luas dan tiba-tiba dari seluruh penjuru
muncul Mau Kun Liong, Oey Houw, Oey See In, dan beberapa orang perwira lain. Mereka ini serentak
mengurungnya dengan serangan-serangan hebat.
Bukan main terkejut hati Siauw Eng dan Cin Pau melihat hal ini. Ternyata bahwa perwira she Can itu
benar-benar luar biasa cerdiknya. Akan tetapi, hal ini mereka ketahui setelah terlambat karena perwiraperwira
itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk banyak berpikir dan menyesali
kesembronoan sendiri. Senjata mereka bergerak cepat bagaikan hujan menyerang secara bertubi-tubi
kepada dua orang muda itu.
Cin Pau dan Siauw Eng menggigit bibir dan memutar-mutar pedang dengan hebatnya. Mereka mengerti
bahwa keadaan mereka berbahaya sekali, akan tetapi mereka tidak mau menyerah begitu saja dan
melakukan perlawanan nekad dan mati-matian. Akan tetapi, kepandaian ketiga orang panglima itu yang
khusus diperbantukan untuk menghadapi lawan-lawan tangguh ini, cukup cekatan dan dengan bantuan
perwira-perwira lain, keadaan Cin Pau dan Siauw Eng benar-benar berbahaya dan terdesak sekali.
Adapun Can Kok yang maklum bahwa kedua orang muda itu sengaja datang hendak mencari dan
membunuhnya, telah pergi bersembunyi dan mengintai pertempuran itu dengan hati girang.
Koleksi Kang Zusi
Cin Pau dan Siauw Eng segera mencari jalan keluar karena kedua anak muda itu maklum bahwa kalau
mereka tidak dapat melarikan diri, akhirnya mereka tentu akan binasa. Maka dengan mengerahkan
tenaga dan kepandaian, Cin Pau dan Siauw Eng dapat merobohkan masing-masing seorang lawan.
Kegagahan ini membuat perwira-perwira lain menjadi gentar, kecuali tiga orang panglima itu yang
masih mendesak dan mengurung dengan rapatnya.
Sementara itu, diam-diam Can Kok mengerahkan banyak sekali tentara mencegat di halaman depan
sehingga jalan keluar bagi Cin Pau dan Siauw Eng tertutup. Hal ini diketahui pula oleh Cin Pau dan
Siauw Eng karena para tentara itu berteriak-teriak di luar rumah, maka tentu saja kedua orang muda ini
menjadi makin gelisah. Tiba-tiba Cin Pau memutar pedangnya dengan gerak tipu Hing Sau Chian Kun
atau serampang bersih ribuan tentara. Diputar-putar pedangnya terus ke bawah hingga beberapa kali
pedangnya menyerampang ke arah lawan-lawannya yang terpaksa mengelak mundur, dan kesempatan
ini dipergunakan oleh Cin Pau untuk memegang lengan kiri Siauw Eng dan menariknya lari ke dalam. Ia
maklum bahwa jalan keluar telah tertutup, maka jalan satu-satunya ialah lari ke dalam dan mencoba
untuk keluar dari pintu belakang.
Ketiga orang panglima dan lima orang perwira mengejar mereka. Cin Pau dan Siauw Eng yang berlari
secara membuta karena tidak tahu harus mengambil jalan ke mana, memasuki pintu dan tiba di dalam
sebuah kamar yang mewah dan indah dan di kamar ini kembali mereka mengalami hal yang
mengejutkan lagi betapa lihainya orang she Can itu. Kamar itu cukup lebar dan mempunyai jendela
yang lebar pula. Dari lubang jendela, Cin Pau dan Siauw Eng dapat melihat bahwa di luar kamar itu
adalah taman bunga yang indah. Maka mereka menjadi girang sekali dan cepat berlari ke arah jendela
itu. Akan tetapi, ketika mereka berlari di atas lantai yang bertilamkan permadani tebal dan indah itu,
tiba-tiba tubuh mereka terjeblos ke bawah, ke dalam lubang besar yang tertutup permadani. Cin Pau
dan Siauw Eng berseru keras karena terkejut, akan tetapi mereka tidak keburu melompat pergi dan
berikut permadani tebal itu, tubuh mereka melayang ke bawah.
Untung sekali mereka memiliki ginkang yang tinggi hingga mereka bisa menggerakkan tubuh ketika
melayang dan bisa mengatur hingga jatuh mereka dengan kaki di bawah dan tidak mengalami lukaluka.
Akan tetapi, baru saja mereka terjatuh di dalam sebuah kamar yang berbentuk bulat, tiba-tiba dari
kanan kiri masuk asap putih bergulung-gulung yang tebal. Asap ini berbau pedas sekali dan biarpun
mereka mencoba untuk menahan napas namun asap itu telah membuat mata mereka pedas dan panas
hingga tak dapat dibuka dan hidung telah terasa perih, Akhirnya Cin Pau dan Siauw Eng tak tahan lagi,
sekali saja mereka bernapas dan menyedot asap putih yang telah memenuhi kamar itu, mereka
terguling dalam keadaan pingsan.
Ketika tersadar dan siuman kembali, Cin Pau dan Siauw Eng mendapatkan bahwa mereka telah
terpisah satu sama lain, keduanya berada dalam sebuah kamar terpisah dan kamar itu terbuat dari
pada batu yang kuat dan kokoh sekali. Pintu tunggal yang terdapat di situ berjeruji besa tebal dan kuat
sebesar lengan, hingga ketika mereka mencoba untuk membetotnya, mereka maklum bahwa tenaga
mereka takkan dapat mematahkan atau menarik besi itu. Mereka telah terkurung bagaikan burung
dalam sangkar, tak berdaya sama sekali. Isi kantong mereka, pedang, dan bahkan bungkusan abu telah
lenyap dirampas orang.
Biarpun mereka tidak terikat kaki tangannya, namun dengan tangan kosong, apakah daya mereka
menghadapi perwira-perwira yang tangguh, terutama Can Kok yang banyak tipu muslihatnya itu ?
Mereka hanya dapat menunggu dan mengambil keputusan untuk melawan mati-matian apabila mereka
datang hendak menangkapnya.
Biarpun kamar mereka terpisah, namun berdekatan sehingga dengan berdiri di dekat jeruji besi yang
merupakan pintu, mereka dapat saling pandang dan dapat pula bercakap-cakap. Akan tetapi, kini
mereka hanya dapat saling pandang saja tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Akhirnya Cin Pau dapat
juga berkata dengan suara menghibur,
“Siauw Eng, baiknya kita masih belum tewas. Dan lebih baik lagi, kita berada di sini berdua hingga
betapapun juga, kita dapat saling membantu. Kalau mereka datang hendak menangkap, kita melawan
dengan mati-matian mengadu jiwa.”
“Tentu, aku lebih baik mati dari pada menjadi tawanan di tangan mereka,” jawab Siauw Eng dengan
gagah dan sedikitpun gadis ini tidak kelihatan takut hingga menimbulkan kagum dalam hati Cin Pau.
Tiba-tiba pintu kamar di luar kedua kurungan itu terbuka dan masuklah berbondong-bondong beberapa
orang perwira, dikepalai oleh Can Kok yang tertewa gembira.
Koleksi Kang Zusi
“Lihatlah, cuwi, lihatlah ! Pemberontak-pemberontak liar dan ganas ini akhirnya harus tunduk dan
menyerah ditanganku. Ha, ha, ha !”
Yang masuk ternyata selain ketiga orang panglima, juga nampak Gu Liong, Hwee Lian, dan nyonya Gu
Keng Siu. Nyonya Gu Keng Siu nampak gembira sekali dan sambil menuding kepada kedua orang
muda dalam kurungan itu, ia berkata dengan suaranya yang halus dan nyaring, “Hm, akhirnya kalian
tertangkap juga. Baru puaslah hatiku melihat dua orang keturunan terakhir dari keparat-keparat she Khu
dan Ma mampus dalam keadaan rendah dan sebagai pemberontak-pemberontak jahat !”
Cin Pau dan Siauw Eng cepat membalikkan tubuh dan berdiri membelakangi mereka dengan tubuh
tegak lurus seakan-akan menganggap tidak ada harganya untuk berhadapan dengan mereka. Mereka
tidak melihat betapa mata Hwee Lian menjadi merah dan juga Gu Liong memandang ke arah Siauw
Eng dengan tertegun dan susah. Sebenarnya Gu Liong amat sayang dan mencintai Siauw Eng dan
gadis ini telah lama dirindukannya. Hanya sikap Siauw Eng yang angkuh dan tinggi hati itulah yang
membuat ia ragu-ragu dan tidak berani menyatakan perasaannya. Ketika mendengar bahwa Siauw Eng
adalah puteri dari Ma Gi, musuh besar yang telah membunuh ayahnya, timbul kemarahan di dalam
hatinya, akan tetapi ia tidak bisa membenci gadis ini bahkan kini setelah melihat betapa gadis itu
tertawan dan maut menantinya, ia merasa kasihan sekali. Ia tidak tahu bahwa juga Hwee Lian, gadis
yang pendiam dan halus itu, hampir tak dapat menahan air matanya melihat Siauw Eng dan Cin Pau
tertawan. Gadis ini kebetulan saja berada di situ karena diam-diam iapun ingin mendengar nasib kedua
orang ini dan karenanya ia selalu mengikuti Gu Liong. Ia merasa suka sekali kepada Siauw Eng dan
kepada Cin Pau yang baru beberapa kali dilihatnya itu, ia merasa kagum dan juga suka, karena belum
pernah ia melihat seorang pemuda yang gagah perkasa, halus dan sopan serta tampan akan tetapi
sederhana seperti Cin Pau.
“Nah, cuwi sekalian, sekarang amanlah kota raja dengan tertangkapnya dua orang pemberontak muda
ini. Akan tetapi, masih ada bahaya besar mengancam kedudukan Kaisar selama ketua kuil Thian Lok Si
yang jahat itu belum tertawan pula.” Kemudian ia lalu mengajak semua kawannya keluar dari tempat itu.
Tiba-tiba Gu Liong berkata kepada Can Kok dengan suara gemas dan marah, “Can-ciangkun,
perkenankanlah aku membunuh dua orang keparat ini untuk melampiaskan rasa dendam dan sakit
hatiku!” sambil berkata demikian, Gu Liong mencabut pedangnya dan mendekati pagar besi.
“Benar, biar anakku yang membunuh mereka seperti ayah mereka dulu membunuh ayahnya !” kata
nyonya Gu Keng Siu dengan suara penuh nafsu.
Can Kok tersenyum dan mencegah Gu Liong. “Jangan, jangan terburu nafsu. Bersabarlah, karena
mereka ini harus dibawa menghadap untuk diperiksa perkaranya oleh Kaisar sendiri. Kalau sudah ada
keputusan dari Kaisar, boleh saja kau hendak menjadi algojonya.” Tak seorang pun di antara mereka itu
dapat menduga bahwa Gu Liong yang kelihatan kasar itu sebenarnya sedang menjalankan aksi yang
amat cerdiknya. Ia sengaja memperlihatkan kebencian besar kepada dua orang muda itu agar
mendapat kepercayaan dari Can Kok.
Setelah mereka keluar, Siauw Eng berkata kepada Cin Pau sambil menghela napas panjang.
“Kalau aku dapat lolos, yang hendak kupenggal batang lehernya selain Can Kok si keparat, juga Gu
Liong dan ibunya.”
Cin Pau hanya tersenyum dan Siauw Eng merasa heran sekali melihat ketenangan pemuda ini yang
masih dapat tersenyum dalam keadaan seperti ini.
“Biarpun kau telah berubah menjadi seorang pemuda, namun tetap saja kau masih galak dan cantik,”
Cin Pau menggoda dan baru ingatlah Siauw Eng bahwa ia masih dalam keadaan menyamar sebagai
seorang pemuda. Maka iapun ikut tersenyum dan berkata,
“Cin Pau, mati bersama kau membuat aku sedikitpun tidak merasa gentar oleh karena di mana kau
berada, tentu aku akan selalu terhibur.” Biarpun kata-kata ini diucapkan dengan sejujurnya, namun bagi
Cin Pau merupakan pengakuan perasaan hati gadis itu.
******
Koleksi Kang Zusi
Malam hari itu, Cin Pau dan Siauw Eng sedikitpun tidak mau tidur. Mereka khawatir kalau-kalau di
waktu tidur, musuh datang menyerang dan menangkap mereka. Semenjak siang tadi mereka bercakapcakap
hingga kini merasa lelah dan beristirahat sambil duduk bersamadhi.
Pintu terbuka perlahan dan Siauw Eng yang berada lebih dekat dengan pintu itu segera membuka
matanya. Ia melihat bahwa yang masuk adalah Gu Liong. Ternyata pemuda ini telah mendapat
kepercayaan dan perkenan Can Kok untuk masuk ke situ dengan alasan hendak menghina dan
memperolok-olok kedua tawanan itu.
“Boleh,” kata Can Kok sambil tertawa, “Asal kau jangan mengganggu dan melukai mereka, karena
kalau sampai mereka tewas, pahalaku terhadap Kaisar berkurang besarnya.”
Siauw Eng ketika melihat Gu Liong masuk, menjadi marah sekali dan memandang dengan mata berapi.
“Ha, ha, ha !” Gu Liong tertawa keras, bahkan terlalu keras dari pada suara biasanya menurut
pendengaran Siauw Eng, “Siauw Eng, Cin Pau ! Kau dua ekor tikus kecil, akhirnya aku bisa melihat
kalian di dalam kurungan, persis seperti dua ekor tikus masuk jebakan ! Ha, ha, ha!” Kemudian, dengan
heran sekali Siauw Eng melihat Gu Liong mendekati pintu kurungannya dan berbisik, “Siauw Eng,
katakanlah ! Apa yang dapat kulakukan untuk menolongmu ?”
Bukan main terkejut dan terheran hati Siauw Eng. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda ini
sebenarnya hendak menolongnya dan bahwa semua lagak yang dibuatnya tadi semata-mata untuk
membodohi Can Kok. Untuk beberapa lama ia hanya memandang dengan heran dan tak dapat berkatakata,
akhirnya dengan wajah berseri ia berkata, “Gu Liong, kau baik sekali. Kau carikan pedang
untukku!”
Gu Liong berseru lagi keras-keras, “Siauw Eng, perempuan busuk. Kalau saja aku diberi kesempatan,
akan ku tusuk dadamu dengan pedang tajam agar puas rasa hatiku.” Lalu disambungnya dengan
bisikan pula, “Baik, Siauw Eng, aku akan mencarikan pedang untukmu. Ketahuilah, aku ... aku cinta
padamu, Siauw Eng, dan ... dan kau berjanjilah bahwa kelak kalau kau sudah bebas, kau akan ... akan
suka menjadi ... isteriku ... “
“Apa ......??!!” Siauw Eng bertanya keras-keras sambil membelalakkan kedua matanya, memandang
kepada Gu Liong dengan heran dan marah.
“Berjanjilah, Siauw Eng, dan aku akan mencarikan pedang untukmu, kita tidak mempunyai banyak
waktu ....”
“Tidak, tidak! Bangsat rendah ! Pergi kau dari sini ! Kau kira aku demikian takut mati hingga sudi berjanji
sedemikan rendah ? Tidak, lebih baik aku mati !”
Gu Liong membujuk-bujuk lagi akan tetapi Siauw Eng bahkan menjadi makin marah dan memakimakinya
hingga akhirnya Gu Liong menjadi marah pula.
“Baik, baik ! Kau matilah, matilah tanpa kepala ! Aku ingin melihat kepalamu yang cantik dan angkuh itu
menggelundung di depan kakiku !” Setelah berkata demikian, Gu Liong lalu meninggalkan tempat itu.
Sunyi keadaan di kamar kurungan itu setelah Gu Liong pergi.
“Bedebah !” tiba-tiba Cin Pau berkata perlahan. “Ku kira tadinya betul-betul bangsat itu hendak berbuat
kebaikan menolong kita.”
“Semenjak ia masuk, aku pun telah merasacuriga, tentu ia mempunyai maksud buruk,” kata Siauw Eng
dengan mulut cemberut.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka lagi dan kini ..... Hwee Lian lah yang masuk dengan perlahan.
“Apa pula kehendaknya ?” Siauw Eng berpikir sambil tetap menutup matanya dan mengintai dari balik
bulu mata. Hwee Lian memandang ke arahnya, kemudian lalu terus menghampiri kurungan Cin Pau.
Tanpa berkata apa-apa, gadis itu lalu mengeluarkan sebilah pedang dari balik lipatan bajunya dan
memberikan itu kepada Cin Pau yang menerimanya dengan mata terbuka karena heran.
Koleksi Kang Zusi
“Nona .... mengapa kau begini baik hati ........... ?”
Hwee Lian tidak menjawab, hanya sambil menahan isaknya ia lalu membalikkan tubuh dan berkata
perlahan. “Hati-hatilah ....!”
Akan tetapi pada saat itu, Can Kok menerobos masuk dengan muka merah karena marahnya. “Kau ....
pengkhianat !” katanya sambil menyerang Hwee Lian. Gadis itu terkejut dan melompat sambil
mengelak.
“Can-ciangkun, mereka .... mereka adalah sahabat-sahabat baikku semenjak kecil ... “ ia membela diri
dan sekali lagi mengelakkan pukulan Can Kok yang marah.
Kemudian Can Kok menarik kembali tangannya yang hendak menyerang terus. “Biarlah, apa gunanya
aku menyerang kau ? Kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah puteri Gan-ciangkun dan cucu pangeran
Gu, tentu sekarang juga aku binasakan kau ! Tidak apa kau memberi pedang kepadanya, karena apa
artinya pedang itu baginya dalam keadaan sekarang ? Kau pergilah !”
Sambil menahan isaknya, Hwee Lian lalu pergi dari situ dan Can Kok menutupkan pintu ruangan itu
dengan marah sekali. Terdengar ia memaki-maki penjaga pintu yang dikatakan lancang dan memesan
agar siapa saja jangan diperkenankan masuk kalau tidak bersama dia.
Cin Pau yang telah menerima pedang dari Hwee Lian, memandang pedang itu dengan termenung.
Mengapa gadis itu demikian baik kepadanya ?
“Cin Pau, benar seperti dugaan ku dulu. Gadis itu mencintaimu, mencinta dengan suci dan ia berani
berkorban pula !” tiba-tiba Siauw Eng berkata.
“Apa katamu ? Baru saja beberapa kali dia melihatku.”
“Apakah salahnya ? Untuk mencintai orang, sekali saja melihat sudah cukup. Ia pernah menyatakan
kepadaku betapa ia kagum dan kasihan melihatmu.”
“Celaka ! Rupa-rupanya ada dua orang penggoda yang mengganggu kita,” kata Cin Pau.
“Bukankah hal itu baik sekali ? Dia cantik dan baik budi,” Siauw Eng menggoda.
Terdengar Cin Pau menghela napas. “Hm, jadi tiga sekarang penggoda-penggoda itu. Tiga orang
dengan engkau sendiri ! Sudahlah, Siauw Eng, jangan kita bicarakan urusan itu. Mencintai atau tidak,
aku sama sekali tidak menaruh perhatian kepadanya dan pedang ini tetap pedang. Mungkin aku dapat
membuka pintu ini dengan pedang !” Ia lalu membacok dengan sekuat tenaga ke arah jari-jari pintu itu,
akan tetapi bukan jari-jari besi itu yang putus, bahkan pedangnya menjadi somplak. Ternyata bahwa
jari-jari itu bukan terbuat dari pada besi biasa, tetapi dari baja yang tulen yang keras dan memang
khusus dibikin dengan kuat dan tahan bacokan pedang. Cin Pau melempar pedang itu ke bawah
dengan hati kecewa.
“He, jangan kau menyia-nyiakan cinta seorang gadis !” tegur Siauw Eng.
“Apa pula maksudmu ?” tanya Cin Pau kesal.
“Pedang itu adalah pedang hadiah yang dimaksudkan untuk tanda mata, mengapa kau buang-buang ?
Itu berarti bahwa kau tidak menghargai cinta kasihnya !”
Mendengar godaan itu, dengan hati merasa sebal Cin Pau lalu menjatuhkan diri dan bersandar pada
dinding. Ia mulai hilang harapan untuk dapat lolos dari kurungan yang kokoh kuat ini.
Menjelang pagi, penjaga-penjaga pintu kamar kurungan itu melihat tiga orang laki-laki tua dan seorang
wanita berjalan menuju ke kamar kurungan. Oleh karena mereka melihat Can Kok berada ditengah,
berjalan dan bergandeng tangan dengan seorang tua dan nampaknya sebagai sahabat-sahabat baik,
mereka diam saja dan tidak merasa curiga. Ketika mereka itu telah masuk ke dalam ruangan, alangkah
girang dan terkejut hati Cin Pau melihat bahwa yang masuk itu adalah Tiauw It Lojin, Sian Kong
Hosiang, dan Lin Hwa, Ibunya. Hampir saja ia berseru girang, akan tetapi Tiauw It Lojin telah memberi
Koleksi Kang Zusi
isyarat sehingga ia menahan kegembiraannya. Ketika Tiauw It Lojin melepaskan tangannya yang tadi
menggandeng lengan Can Kok, perwira itu jatuh lemas bagaikan sehelai kain. Ternyata bahwa perwira
ini telah ditotok sedemikian rupa oleh Bu Eng Cu sehingga tak dapat berteriak maupun bergerak, dan
ketika tadi digandeng, ia sebetulnya tidak berjalan sendiri, hanya didorong oleh Tiauw It Lojin sehingga
para penjaga tidak tahu bahwa sebenarnya majikan mereka itu berada di bawah kekuasaan ketiga
orang tua itu.
Malam itu, dengan mempergunakan ilmu ginkang yang luar biasa, ketiga orang tua itu berhasil
memasuki gedung Can Kok dan Bu Eng Cu lalu mempergunakan ilmu kepandaiannya, memasuki
kamar Can Kok dan membuat perwira itu tidak berdaya dengan totokannya. Para panglima dan perwira
lain yang tidur di lain kamar, tidak ada yang mendengar oleh karena sebelumnya, Lin Hwa telah
mempergunakan semacam hio yang dibakar dan asapnya ditiupkan di jendela mereka hingga mereka
tidur dengan amat nyenyaknya.
Setelah membuat Can Kok tidak berdaya, dengan akal yang licin, yakni menggandeng lengan Can Kok
yang tidak berdaya dan mempergunakannya sebagai surat jalan, mereka berhasil masuk ke dalam
kamar kurungan. Oleh karena yang memegang kunci kurungan itu adalah Can Kok sendiri, maka
dengan mudah mereka dapat merampas kunci dari kantong perwira itu dan membuka kedua kurungan.
Cin Pau lalu berlutut di depan ketiga orang itu, dan Siauw Eng juga berlutut tanpa mengucapkan
sesuatu karena mereka maklum bahwa di luar masih ada penjaga-penjaga. Akan tetapi, sebelum ketiga
orang itu sempat mencegah, tiba-tiba Siauw Eng dan Cin Pau yang melihat tubuh Can Kok
menggeletak di situ dalam keadaan tertotok dan tak berdaya, keduanya lalu melompat dan mengirim
pukulan dengan hebat. Tubuh Can Kok berkelonjot sekali dan nyawanya melayang ke akhirat.
“Omitohud .....” Sian Kong Hosiang menyebut nama Buddha, dan Tiauw It Lojin hanya tersenyum.
“Memang dosa-dosanya telah melewati ukuran,” katanya perlahan, kemudian ia lalu mengajak semua
orang keluar dari situ dengan cepat. Empat orang penjaga di luar pintu ketika melihat bahwa dua orang
tawanan mereka telah keluar, merasa terkejut sekali dan mereka mencari-cari Can Kok dengan mata
mereka.
“Di mana Can-ciangkun ?” tegur mereka dengan curiga.
“Dia berada di dalam,” kata Tiauw It Lojin dan ketika keempat orang itu menuju ke pintu, dengan cepat
sekali Tiauw It Lojin mendorong mereka ke dalam kamar dan menutup pintunya. Sambil berlari, kelima
orang itu lalu keluar dari rumah Can Kok.
Akan tetapi, ketika mereka keluar dari rumah, di halaman depan telah menanti Mau Kun Liong, Oey
Houw, Oey See In, bahkan nampak juga Kim I Lokai dan Pauw Su Kam. Mereka ini telah mendapat
tahu dari seorang penjaga dan segera menyadarkan ketiga panglima dan perwira-perwira lain yang
segera menanti di situ, mencegat keluarnya kelima orang buronan itu. Tak dapat dicegah lagi, di waktu
fajar mulai menyingsing itu, di halaman rumah Can Kok yang luas, terjadilah pertempuran yang luar
biasa hebatnya.
Namun sepak terjang kelima orang yang dikeroyok itu terlalu hebat hingga para pengeroyok tak
berdaya mengurung dan mendesak mereka. Tiauw It Lojin dan Sian Kong Hosiang dengan kedua
tangan kosong menangkap-nangkapi para pengeroyoknya dan melempar-lemparkan mereka dengan
mudah saja. Kim I Lokai merasa terkejut sekali hingga ia dan para perwira menjadi was-was
menghadapi dua orang tua yang gagah perkasa ini.
Tiba-tiba, setelah fajar menyingsing pagi, datanglah dua orang tosu yang bukan lain adalah tosu Gobisan,
Cin San Cu dan Bok San Cu. Ketika melihat bahwa yang membela para pemberontak adalah
Tiauw It Lojin, Bok San Cu berkata,
“Bu Eng Cu, mengapa kau orang tua ikut-ikut campur membela pemberontak ? Sudah lenyapkah
kesetiaanmu terhadap kerajaan dan apakah kau orang tua hendak menjadi pemberontak pula ?
Serahkan Siauw Eng kepadaku, dia adalah murid kami dan kami yang berhak memutuskan perkaranya
!”
“Ha, ha, ha ! Enak saja kau bicara ! Siapa yang memberontak dan siapa yang mengkhianati raja ?
Perwira-perwira palsu macam Can Kok itulah yang sebenarnya memberontak dan mengacaukan
keamanan negara !”
Koleksi Kang Zusi
“Kau pandai memutar lidah ! Serahkan Siauw Eng kepada kami !”
Akan tetapi permintaan ini diganda tertawa saja oleh Bu Eng Cu, sedangkan Cin Pau lalu maju
menghalang di depan Siauw Eng dengan pedang di tangan.
“Kalau begitu, terpaksa kami harus membela kehormatan nama Gobi-pai !” seru Cin San Cu yang lalu
menyerang dengan hebat, dan disambut oleh Bu Eng Cu. Pertempuran menjadi makin sengit dan ramai
sekali.
Tiba-tiba datang dua orang tua yang gagah yang bukan lain ialah Pek Seng Hwesio dan Beng Hong
Tosu. Mereka ini berjalan dengan cepat dan ketika tiba di tempat pertempuran, Pek seng Hwesio
membentak, “Berhenti semua !”
Bentakan ini dikeluarkan dengan tenaga khikang luar biasa sekali hingga terdengar amat berpengaruh
dan semua orang segera menahan senjata mereka.
“Pek Seng Hwesio dan Beng Hong Tosu, mengapa kalian berdua meninggalkan tempat pertapaan pula
dan datang ke tempat ini ? Apakah kalian juga hendak membela pemberontak ?” tanya Bok San Cu
yang berangasan.
Pek Seng Hwesio tersenyum. “Kalian harus belajar bersabar, sahabat. Semua adalah menjadi kurban
kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh seorang jahat bernama Can Kok itu. Bahkan kaisar sendiri juga
merasa menyesal karena terlalu percaya kepada orang she Can yang berhati busuk. Lihatlah, pinceng
membawa surat perintah dan keputusan dari Kaisar sendiri !”
Para panglima dan kedua tosu serta para perwira segera menghampiri dan benar saja, yang dipegang
oleh Pek Seng Hwesio itu adalah surat perintah dari Kaisar yang tidak saja mengampuni Gak Song Ki
dan isterinya, bahkan juga mengampuni Cin Pau dan Siauw Eng, kemudian menjatuhkan keputusan
hukuman mati kepada Can Kok yang dianggapnya sengaja menipu Kaisar dan menimbulkan kekacauan
dan permusuhan. Juga di situ disebut dan dinyatakan bahwa Kuil Thian Lok Si adalah kuil suci yang
akan dibangun lagi atas biaya pemerintah. Tentu saja semua orang merasa gembira oleh karena
memang amat berat menghadapi dan melawan orang-orang tua yang gagah perkasa itu. Juga Cin San
Cu dan Bok San Cu menjadi lega oleh karena mereka tak usah menghukum murid yang disayanginya
itu yang terpaksa hendak dilakukannya karena kesetiaan mereka terhadap Kaisar.
Bukan main girangnya hati Siauw Eng ketika bertemu dengan ibu dan ayah tirinya lagi dalam keadaan
selamat. Hal-hal yang telah lalu dilupakan dan semua merasa berbahagia sekali. Terutama perjumpaan
antara Lin Hwa ibu Cin Pau dan Kwei Lan, mendatangkan keharuan besar. Mereka saling peluk dan
saling menangis dengan terharu, akan tetapi di dalam itu terdapat kebahagiaan besar oleh karena
mereka dapat mengikat tali perjodohan antara anak mereka, keturunan langsung dari Khu Tiong dan
Ma Gi.
Yang paling merasa kecewa dan tidak berbahagia adalah Gu Liong dan Hwee Lian oleh karena kedua
orang muda ini merasa kecewa, akan tetapi, Hwee Lian terhibur hatinya ketika mendengar bahwa Cin
Pau dijodohkan dengan Siauw Eng, gadis yang ia kagumi dan sukai itu. Sedangkan Gu Liong beserta
ibunya, yang menaruh dendam besar terhadap keluarga Khu dan Ma, pada suatu hari dengan tak
tersangka-sangka telah didatangi oleh Kwei Lan dan Lin Hwa. Kedua nyonya Khu dan nyonya Ma ini
mengadakan kunjungan setelah mendengar cerita anak mereka betapa nyonya Gu Keng Siu itu
membenci mereka dengan hebat. Dengan sikapnya yang halus dan lemah lembut, Lin Hwa berkata,
“Adikku, sebelum peristiwa hebat itu terjadi, kita telah menjadi kenalan baik, bahkan bukan kenalan
biasa, boleh dikatakan seperti keluarga sendiri. Lalu terjadilah hal-hal yang amat buruk dan yang
mendatangkan kesedihan besar itu. Bagi kita sekarang, tak perlu mempersoalkan mana betul mana
salah. Yang penting ialah bahwa kita harus ingat akan keadaan kita sendiri. Apakah peristiwa yang
terjadi itu kita kehendaki ? Tidak, hal itu datang dan terjadi secara dipaksakan kepada kita yang tak
berdaya. Kalau kedua kakek Khu dan Ma dianggap bersalah, mereka sudah mendapat hukuman dan
tewas. Kalau kedua suami kami itu dipersalahkan mereka juga sudah terhukum dan tewas. Mengapa
kau masih menaruh dendam ? Yang berbuat sudah meninggal, sedangkan kita dan anak kita ini
hanyalah merupakan keturunan yang tidak tahu menahu dalam persoalan itu. Kalau kau membalas,
kemudian anak kita saling bermusuhan, lalu anak mereka bermusuhan pula, dilanjutkan dengan cucu
mereka, bukankah itu berarti bahwa kita ini hanya hendak mengacaukan keadaan dan hidup kita
terdorong oleh nafsu dendam yang tiada habisnya, yang membuat kita menjadi liar seperti serigala
saling makan kawan sendiri ? Insaflah, adik dan kalau memang kau anggap kami bersalah, maafkanlah
kami.”
Koleksi Kang Zusi
Mendengar uraian panjang lebar dan melihat sikap Lin Hwa yang halus ini, luluhlah kekerasan hati
nyonya Gu Keng Siu. Dipeluknya Lin Hwa dan Kwei Lan dan ia menangis dengan sedihnya.
Berbeda dengan nyonya Keng Siu, ibu yang dulu menjadi nyonya Leng Siu, telah dapat menginsafi
keadaan dan tidak menaruh dendam. Maka berkat kebijaksanaan Lin Hwa, berakhirlah permusuhan
hebat itu. Juga Siauw Eng merasa tunduk dan kagum kepada calon ibu mertuanya yang bijaksana.
Kuil Thian Lok Si dibangun kembali atas biaya Kaisar dan kini bahkan dibangun dengan hebat, jauh
lebih megah dan besar dari pada dulu. Sian Kong Hosiang menjadi pemimpin kuil itu lagi, sedangkan
Pek Seng Hwesio bersama Beng Hong Tosu dan Tiauw It Lojin lalu naik ke Kunlun-san, di mana Pek
Seng Hwesio lalu mendirikan sebuah kuil kecil untuk tempat ia bertapa.
Demikianlah, permusuhan hebat itu diakhiri dengan baik dan damai, dan akibat hasutan dan kejahatan
hati Can Kok yang telah mengurbankan banyak jiwa dan bahkan telah memusnahkan kuil Thian Lok Si
itu telah dilupakan orang. Memang tepat pendapat Lin Hwa bahwa dendam hati hanya dapat diakhiri
dengan kesadaran dan kebijaksanaan, karena kalau dituruti saja nafsu dendam ini, akan
berkepanjangan dan tiada akan ada habisnya.
Cerita ini ditutup dengan peristiwa bahagia, yakni ditemukannya sepasang mempelai, Khu Cin Pau dan
Ma Siauw Eng yang selanjutnya hidup penuh kebahagiaan dan kerukunan. Lebih menggembirakan lagi
bahwa Gu Liong dan Gu Hwee Lan lambat laun dapat melupakan pula kekecewaan hati mereka dan
akhirnya pun mendapat jodoh masing-masing.
TAMAT
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Best Cersil

Pecinta Cersil