Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Kamis, 31 Mei 2018

Kisah Si Tawon Merah dari Bukit Hengsan 2

========

Pek-hwa Sianli tersenyum lebar dan mengerlingkan matanya. “Aih, kalau ber-boncengan kenapa? Apakah engkau merasa keberatan untuk berboncengan dengan aku, Thio-twako? Kalau begitu biarlah engkau yang naik kuda dan aku berjalan kaki saja.”
“Ah, sama sekali tidak, Hwa-moi. Hanya…… apakah orang lain tidak akan menganggap banwa hal itu kurang pantas?”
“Aih, twako, perduli apa dengan anggapan orang lain? Kita bebas melakukan apapun juga yang kita sukai, bukan? Kalau ada orang berani usil mencela kita, hemm, kita sikat saja mereka!”
“Sikat?” Kam Ki bertanya, bingung.
“Ya, kita sikat nyawanya! Kita pecahkan kepalanya!” jawab Pek-hwa Sianli sambil tertawa dan mendengar ini, Kam Ki juga tertawa. Kiranya yang di-masudkan sikat adalah bunuh.
Pendapat ini tidak asing bagi Kam Ki. Guru gelapnya, Hwa Hwa Cinjin, juga pernah mengatakan bahwa kalau ada orang menentang kita, sepatutnya kita bunuh saja! Karena itu pulalah dia merobohkan suhengnya. Bun Sam telah lama menimbulkan iri hati dan membuat dia membencinya secara diam-diam, maka setelah dia merasa kuat, dia tidak segan-segan untuk memukul roboh dan melukai suhengnya yang selalu bersikap baik dan menyayangnya itu.
“Ha-ha-ha, engkau benar, Hwa-moi. Benar sekali! Hayo kita pergi ke rumahmu, naik kuda berboncengan!” kata Kam Ki dan sambil tertawa-tawa mereka berdua lalu menghampiri kuda milik Kam Ki. Setelah memasangkan kendali dan pelana, Pek-hwa Sianli melompat ke atas punggung kuda dan Kam Ki melompat dan duduk di belakangnya. Karena Kam Ki yang memegang kendali, maka seolah kedua lengannya memeluk tubuh wanita itu. Kuda lalu dijalankan congklang dan Pek-hwa Sianli yang duduk di depan menjadi penunjuk jalan.
Setelah kuda berlari congklang, Kam Ki merasakan sesuatu yang selamanya belum pernah dirasakannya dan hal ini membuat jantung berdebar kencang dan mukanya menjadi kemerahan! Betapa tidak? Karena berboncengan seperti itu, tubuh depannya berhimpitan dengan tubuh belakang Pek-hwa Sianli. Terasa olehnya betapa tubuh wanita yang lunak dan hangat itu menempel ketat pada tubuhnya dan larinya kuda yang congklang membuat tubuh mereka saling bergesekan.
Selain itu, karena kepala Pek-hwa Sianli amat dekat dengan mukanya, maka rambut yang halus panjang itu melambai dan menggelitik dagu dan lehernya, ditambah lagi bau harum yang menyengat hidungnya. Kam Ki terpaksa harus mengerahkan tenaga saktinya untuk menahan diri dan melawan gejolak berahi yang merangsangnya. Keadaan ini mendatangkan perasaan senang dan nikmat, namun juga membuatnya rikuh dan gelisah.
Tentu saja Pek-hwa Sianli yang sudah berpengalaman belasan tahun bergaul dengan bermacam-macam pria itu dapat mengetahui keadaan pemuda itu. Ia merasa girang bukan main, juga geli hatinya. Ia tahu
140
benar bahwa Kam Ki adalah seorang pemuda perjaka yang sama sekali belum berpengalaman dengan wanita, dan bahwa pada saat itu, pemuda itu telah terangsang dan ia akan dapat dengan mudah menundukkannya.
Seorang pemuda yang bukan saja tampan dan gagah, akan tetapi juga memiliki kepandaian yang amat tinggi. Baginya, mudah saja mencari pemuda tampan dan ganteng, akan tetapi mencari pemuda ganteng yang lihai seperti Kam Ki ini, tentu akan sukar didapat. Maka, ia lalu sengaja menyandarkan tubuhnya ke belakang sehingga lebih rapat dengan tubuh pemuda itu dan ia menyandarkan kepalanya di atas dada Kam Ki.
Jantung dalam dada Kam Ki menjadi semakin berdebar keras dan hal ini tentu saja terasa, bahkan terdengar degup jantung itu oleh telinga Pek-hwa Sianli yang tentu saja amat menyenangkan dan membanggakan hati wanita itu.
Kuda yang membawa beban dua orang itu akhirnya tiba di lereng bukit kecil itu, di mana terdapat sebuah pondok mungil dengan taman bunga yang luas mengelilinginya. Rumah mungil ini berdiri terpencil tanpa tetangga. Hal ini tidaklah aneh karena memang bukit kecil itu telah dibeli oleh Pek-hwa Sianli dari tangan para petani setempat sehingga kini menjadi milik pribadinya.
Kuda itu memasuki pekarangan depan yang juga penuh tetumbuhan bunga beraneka warna. Kam Ki dan Pek-hwa Sianli melompat turun dari atas punggung kuda. Dua orang wanita berusia kurang lebih tigapuluh tahun, keduanya berpakaian seperti pelayan namun wajah mereka cantik dan kulit mereka putih bersih, berlari menyambut. Dari gerakan kaki mereka ketika berlari keluar, Kam Ki dapat menduga bahwa mereka berdua bukanlah wanita biasa yang lemah, melainkan orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang lumayan.
“Sian-li sudah pulang!” kata mereka yang segera menangkap kendali kuda itu. Ketika mata mereka memandang kepada Kam Ki dengan pandang mata bertanya, Pek-hwa Sianli lalu berkata kepada mereka.
“A-kui dan A-hui, ini adalah kongcu (tuan muda) Thio Kam Ki, sahabat baikku.”
Dua orang wanita itu lalu membungkuk dengan sikap hormat kepada Kam Ki dan berkata dengan suara berbareng, “Selamat datang, Thio-kongcu!”
“A-hui, bawa kuda ini ke kandang dan A-kui, cepat siapkan pesta makan siang untuk menyambut kedatangan Thio-kongcu!”
Dua orang wanita itu menjawab sambil tersenyum, “Baik, Sian-li.”
A-hui yang pakaiannya berwarna hijau segera menuntun kuda melalui samping rumah, dan A-kui segera berlari memasuki rumah dan langsung ke dapur. Setelah mengandangkan kuda, A-hui juga cepat membantu temannya dan dua orang wanita itu sibuk di dapur mempersiapkan tambahan masakan untuk menghormati pemuda itu. Sambil sibuk mempersiapkan masakan, kedua orang wanita itu dengan genit membicarakan Thio Kam Ki yang mereka puji-puji sebagai seorang pemuda yang tampan dan menarik.
141
Bagi mereka, bukan hal aneh kalau majikan mereka yang atas permintaan Pek-hwa Sianli sendiri mereka sebut Sian-li itu, pulang sambil membawa seorang pemuda ganteng. Juga mereka mengetahui betapa setelah beberapa hari bersenang-senang dengan pemuda itu, pada suatu hari Pek-hwa Sianli akan mengajak pemuda itu pergi dan selanjutnya mereka tidak lagi melihat pemuda itu. Beberapa hari kemudian mereka hanya mendengar dari para penduduk pedusunan di kaki bukit bahwa telah diketemukan mayat seorang pemuda dalam sebuah jurang.
Sementara itu, Kam Ki duduk di ruangan dalam rumah itu bersama Pek-hwa Sianli. Pemuda itu merasa kagum sekali. Rumah itu tidak berapa besar akan tetapi mungil dan indah. Semua prabot rumah di dalamnya juga mewah, indah dan bersih sekali. Tak pernah dia dapat membayangkan sebuah rumah yang memiliki perabot rumah begini indah sehingga dia merasa kagum bukan main. Kursi-kursi dan mejanya juga merupakan perabot rumah yang halus mengkilap terukir indah, tentu amat mahal harganya. Pot-pot kuno indah menghias setiap sudut dengan tanaman bunga di dalamnya. Di dinding bergantungan lukisan-lukisan yang indah, juga kain sutera beraneka warna bergantungan dari langit-langit, menambah indahnya suasana dalam ruangan.
Mereka duduk menghadapi meja, di atas kursi-kursi yang ditilami bantal lunak. A-kui tadi menghidangkan minuman anggur manis dan beberapa piring kue kering yang tentu hanya dapat dibeli dari kota-kota besar. Mereka minum anggur dan makan kue sambil bercakap-cakap.
Pek-hwa Sianli ramah sekali dan sikapnya amat akrab sehingga sebentar saja, Kam Ki sudah dapat menyesuaikan, diri dalam suasana yang menyenangkan itu dan tidak merasa rikuh lagi. Bahkan kalau dalam percakapan kadang-kadang Pek-hwa Sianli menggerakkan tangannya dan menyentuh tangan atau lengannya, Kam Ki juga merasa senang saja dan tidak malu-malu lagi. Perlahan-lahan, Kam Ki mulai dituntun ke dalam jaringan nafsu oleh Pek-hwa Sianli seperti seekor domba yang dituntun masuk ke dalam rumah jagal!
“Twako, kita sudah berkenalan dengan baik dan menjadi sahabat, akan tetapi aku belum mengetahui betul siapa engkau ini. Ceritakanlah padaku, twako, tentang keluargamu dan dari mana engkau datang, hendak ke mana, dan siapa pula gurumu. Mau kan engkau menceritakan riwayatmu kepadaku, twako?” kata Pek-hwa Sianli dengan suara manja dan jari-jari tangannya yang runcing mungil itu memegang dan memainkan jari tangan Kam Ki, membelainya.
“Ah, aku tidak mempunyai riwayat yang menarik, Hwa-moi. Hanya menyedihkan saja. Dalam usia tiga tahun aku telah ditinggal mati ayah ibuku dan sekecil itu aku diambil murid oleh suhu Leng-hong Hoatsu dan dibawa ke Himalaya.”
“Aih……! kaumaksudkan Leng-hong Hoatsu yang amat terkenal sebagai guru besar dan pendiri Hwe-coa-kauw (Agama Ular Terbang) itu?” tanya Pek-hwa Sianli yang benar-benar terkejut karena ia sudah mendengar akan nama besar pertapa yang kabarnya sakti seperti dewa itu. Matanya yang indah memandang kepada Kam Ki dengan terbelalak.
Kam Ki sudah mendengar dari suhunya bahwa Hwe-coa-kauw adalah orang-orang yang mempergunakan nama Hwe-coa (Ular Terbang) peliharaan suhunya untuk menyeleweng. Karena ular itu dipuja-puja maka Leng-hong Hoatsu meninggalkan Tiong-goan (Cina) dan kembali ke Himalaya. Penyelewengan itu sungguh tidak disukai suhunya. Akan tetapi tentu saja dia tidak mau menceritakan hal ini kepada Pek-hwa Sianli yang agaknya kagum kepada nama besar suhunya.
142
“Benar, Hwa-moi. Sejak itu, aku menjadi murid dan juga melayani suhu dan baru saja aku turun gunung setelah tamat belajar dan dalam perjalananku ke dunia ramai, aku bertemu dengan engkau yang dikeroyok tiga orang itu, hanya itulah yang dapat kuceritakan padamu, Hwa-moi.”
“Aih, kasihan engkau, Thio-twako. Sejak kecil kehilangan orang tua. Apakah selain suhumu, engkau tidak mempunyai sanak keluarga lain?”
Kam Ki teringat akan Bun Sam. Akan tetapi mungkin suhengnya itu telah mati oleh pukulannya, maka dia menggeleng kepalanya sebagai jawaban.
“Tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini? Juga belum beristeri?”
Kam Ki tertawa, akan tetapi mukanya merah. “Ah, engkau ini aneh-aneh saja, Hwa-moi. Tentu saja belum!”
“Akan tetapi kalau pacar sudah punya, kan? Seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah seperti engkau, tentu sudah mempunyai pacar, tentu dikejar banyak gadis!”
“Ha-ha-ha, kaumaksudkan gadis-gadis kera dan binatang hutan lainnya? Aku tinggal bersama suhu di pegunungan Himalaya, bagaimana mungkin mempunyai pacar?”
Wajah Pek-hwa Sianli semakin berseri. “Hemm, mungkin sekarang tidak punya pacar. Akan tetapi aku yakin engkau sudah seringkali berpacaran dan bergaul dengan wanita bukan?”
“Salah, dugaanmu salah sama sekali, Hwa-moi! Sungguh mati, aku belum pernah berdekatan dengan wanita!”
“Hemm, maksudmu, sekarang ini untuk yang pertama kali engkau berdekatan dengan wanita? Dengan aku?”
“Benar, Hwa-moi,” kata Kam Ki sejujurnya dan dari pandang mata dan suara pemuda itu Pek-hwa Sianli yakin bahwa pemuda itu berkata benar sehingga ia menjadi semakin girang. Ingin ia langsung merangkul dan mencumbu pemuda itu, akan tetapi ia harus berlaku cerdik. Pemuda ini tidak boleh ia perlakukan sembarangan dan sesuka hatinya saja seperti kalau ia memperlakukan para pemuda terdahulu yang menjadi korbannya. Pemuda ini lihai sekali sehingga kalau sampai merasa tidak suka atau marah kepadanya, ia bisa celaka!
“Dan bagaimana rasa hatimu, twako? Senangkah engkau bergaul dengan aku?”
“Senang sekali, Hwa-moi. Engkau sungguh baik dan menyenangkan hati.”
Dua orang pelayan itu, A-kui dan A-hui, mengetuk pintu ruangan itu dan setelah Pek-hwa Sianli membolehkan mereka masuk, dua orang pelayan itu berkata, “Hidangan telah siap, Sian-li. Silakan!”
Pek-hwa Sianli memegang tangan Kam Ki dan menariknya berdiri sambil berkata dengan nada gembira, “Hayo, twako, kita makan dulu!” Sambil tertawa-tawa wanita itu menggandeng tangan Kam Ki, diajak memasuki ruangan makan. Dua orang itu tersenyum dan saling lirik penuh arti, lalu mereka mengambil guci anggur dan membawanya ke ruangan makan. Mereka siap melayani kedua orang itu makan.
143
Kam Ki duduk berhadapan dengan Pek-hwa Sianli, dan dengan kagum memandang makanan yang dihidangkan di atas meja. Tidak kurang dari delapan macam masakan terhidang di atas meja, masih mengepulkan uap dan baunya sedap menimbulkan selera.
“Tinggalkan kami berdua,” kata Pek-hwa, “biar aku sendiri yang melayani Thio-kongcu.”
A-kui dan A-hui tersenyum dan dengan langkah genit mereka meninggalkan ruangan makan itu. Mereka berdua lalu makan minum dengan gembira. Pek-hwa Sianli dengan penuh perhatian melayani Kam Ki. Sekali ini ia tidak berani main-main seperti kalau menjamu makan para pemuda yang pernah dibawanya pulang. Kepada para pemuda itu, ia selalu menaburkan obat bius yang mengandung perangsang dalam anggur. Akan tetapi sekali ini ia tidak berani melakukan hal itu. Kalau Kam Ki yang amat lihai mengetahui dan menjadi curiga, ia bisa celaka!
Setelah makan minum sampai puas, Pek-hwa Sianli tersenyum memandang wajah Kam Ki yang kemerahan. Pemuda ini selama menjadi murid Leng-hong Hoatsu, tentu saja tidak pernah minum minuman keras. Akan tetapi ketika dia berguru kepada Hwa Hwa Cinjin, pertapa sesat ini suka minum arak dan Kam Ki juga ketularan, walaupun dia bukan peminum berat, namun dia sudah sering minum arak. Maka, biarpun anggur yang disuguhkan Pek-hwa Sianli tidak sekeras arak, namun karena dia minum agak banyak, maka kulit mukanya menjadi merah.
“Mari kita duduk di dalam, twako, kita lanjutkan percakapan kita tadi.”
Pek-hwa Sianli menggandeng tangan Kam Ki yang menurut saja dengan gembira ketika diajak memasuki ruangan dalam. Kam Ki menahan napas saking kagumnya. Ruangan ini bukan ruangan tidur, akan tetapi lebih pantas disebut ruangan bersantai! Terhias lukisan-lukisan indah, pemandangan alam, binatang-binatang dan lukisan wanita dengan pakaian tipis yang tembus pandang, dalam posisi yang memikat. Di atas lantai yang bersih itu tergelar kasur lebar dengan tilam sutera merah muda dan bantal-bantal yang sarungnya dari sutera disulam. Di dinding dekat kasur terdapat sebuah rak pendek dengan beberapa botol anggur bermacam rasa dan di dekatnya tergantung sebuah yang-kim (siter).
“Mari, duduklah, Thio-twako,” kata Pek-hwa Sianli sambil membuka sepatunya lalu ia duduk di atas kasur.
Kam Ki juga melepas sepatunya dan duduk di depan wanita itu. Pek-hwa Sianli menuangkan anggur merah ke dalam dua cawan perak dan menyerahkan yang sebuah kepada pemuda itu. Mereka minum anggur merah yang rasanya manis dan baunya harum. Wanita itu memandang kepada Kam Ki dengan wajah berseri.
“Twako, aku merasa berbahagia sekali dapat berkenalan dan bersahabat dengan engkau yang telah menyelamatkan nyawaku. Selama ini, aku merasa kesepian, twako. Hidup di tempat sunyi ini, hanya ditemani dua orang pelayanku A-kui dan A-hui itu.”
“Hemm, tentu mereka itu merupakan pelayan yang amat setia padamu, Hwa-moi. Akan tetapi, kalau tadi engkau sudah mendengar riwayatku, kini aku ingin sekali mendengar tentang dirimu. Mengapa seorang gadis…… eh, seperti engkau……”
“Seperti apa, twako?”
144
'Maksudku, gadis secantik engkau.......”
“Benarkah, twako? Sudah dua kali engkau mengatakan aku cantik. Terima kasih atas pujianmu. Nah, lanjutkan pertanyaanmu tadi.”
“Mengapa engkau hidup seorang diri dan kesepian di tempat sunyi ini? Padahal engkau berkepandaian tinggi dan kulihat engkau kaya raya. Tentu engkau dapat tinggal di kota besar dalam sebuah gedung mewah dan…… tentu saja, bersama seorang suami yang pandai, kaya raya dan mencinta.”
Tiba-tiba wajah yang cantik itu menjadi muram. Alis yang hitam melengkung itu berkerut dan bola mata yang jernih itu menjadi basah. Pek-hwa Sianli menghela napas panjang.
“Aih…… kata-katamu menusuk perasaanku dan membuat aku sedih sekali me-ngenang nasibku yang buruk, twako.......” katanya lirih dan jari tangannya menyeka dua butir air mata yang bergantung di bulu matanya.
“Ah, kalau begitu maafkan aku, Hwa-moi. Kalau engkau tidak mau, tidak usah kauceritakan riwayatmu yang menyedihkan hatimu,” Kam Ki cepat berkata.
Sepasang bibir itu tersenyum lagi. “Tidak, twako. Engkau sudah kuanggap sebagai seorang sahabat baik dan engkau boleh mengetahui riwayatku yang menyedihkan. Seperti juga engkau, aku seorang yatim piatu, twako. Ayah ibu sudah tidak ada, juga aku tidak mempunyai saudara, tidak ada sanak kadang, hanya sebatang kara hidup di dunia ini.”
“Wah, kasihan engkau, Hwa-moi.”
“Engkau juga! Kita sama-sama sebatang kara, bukan?”
“Akan tetapi engkau wanita, dan orang secantik engkau tentu tidak lama hidup seorang diri!”
“Aku hidup sebatang kara dan merantau, mempelajari ilmu-ilmu silat untuk bekal menjaga diri. Dan sebetulnya akan tetapi jangan engkau kecewa, twako.”
“Kenapa mesti kecewa? Ceritakan saja terus terang.”
“Sebetulnya aku…… aku pernah menikah……”
Kam Ki terkejut. “Ah, engkau punya suami? Kalau begitu, kehadiranku di sini dapat membuat suamimu salah sangka dan marah!” Kam Ki hendak bangkit, akan tetapi wanita itu memegang tangannya dan menariknya, menahannya untuk tetap duduk.
“Aku hanya pernah menikah, sekarang tidak lagi. Aku pernah menjadi isteri orang, akan tetapi perjodohan kami hanya bertahan beberapa bulan saja.”
“Eh? Kenapa begitu, Hwa-moi?”
145
“Pada suatu hari aku menangkap basah suamiku, mendapatkan dia menyeleweng, berjina dengan seorang wanita lain. Aku merasa sakit hati sekali, marah dan mata gelap, maka kubunuh mereka berdua!”
Setelah berkata demikian, Pek-hwa Sianli mengepal tinju dan mukanya berubah merah. Apa yang ia ceritakan itu memang benar. Terjadinya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Setelah membunuh suaminya yang menyeleweng, ia berubah. Ia menjadi seorang wanita yang sakit hati dan mendendam kepada pria, menjadi kejam bukan main, mempermainkan pemuda-pemuda untuk memuaskan nafsunya, kemudian setelah bosan ia membunuh mereka!
“Ah, aku ikut menyesal mendengar riwayatmu yang menyedihkan itu, Hwa-moi.”
Pek-hwa Sianli tersenyum lagi. “Aku sudah melupakan semua peristiwa itu, twako. Sejak itu, aku tidak pernah lagi mau berdekatan dengan pria. Bagiku semua pria itu tidak setia!”
“Wah, kalau begitu…… ah, kenapa sekarang kita bersahabat dan berdekatan? Bukankah engkau membenci semua pria?” Kam Ki memandang penuh curiga.
Pek-hwa Sianli memegang tangan Kam Ki dan…… mencium tangan itu. “Aih, engkau lain lagi, twako. Engkau seorang pria jantan sejati yang telah menolongku. Engkau tidak seperti para pria lainnya. Twako, setelah kita menjadi sahabat, ada sebuah keinginanku dan kuharap engkau tidak akan menolak permintaanku ini.”
“Hemm, permintaan apakah itu, Hwa-moi?” tanya Kam Ki sambil menarik lepas tangannya dengan jantung berdebar tegang karena belum pernah dia bergaul dengan wanita sedekat ini, apalagi wanita secantik Pek-hwa Sianli.
“Begini, twako. Aku sejak kecil suka sekali akan ilmu silat dan aku melihat tadi betapa hebat gerakan silatmu. Maka, aku ingin menguji diriku sendiri dan aku minta agar engkau suka melayani aku untuk bertanding silat sehingga aku dapat mengukur kemampuan sendiri.”
Ia lalu memandang dengan mata setengah terkatup dan bibir terbuka sehingga wajahnya tampak menggairahkan dan seolah menantang. Kam Ki tidak dapat menolak permintaan itu, apalagi dia memang ingin memamerkan kepandaiannya agar dipuji dan dikagumi wanita cantik yang menggairahkan ini.
“Kalau itu keinginanmu, marilah,” katanya.
Wajah yang manis itu tampak gembira, mulutnya tersenyum lebar sehingga tampak deretan gigi yang putih mengkilap dan rapi seperti mutiara berjajar, bibir yang merah basah itu merekah sehingga sekilas tampak rongga mulut yang merah.
“Ah, terima kasih, twako. Mari kita ke lian-bu-thia (ruang berlatih silat)!” kata Pek-hwa Sianli yang tanpa sungkan-sungkan lagi lalu memegang tangan Kam Ki dan menggandeng pemuda itu keluar dari kamar itu, memasuki sebuah ruangan kosong yang dipergunakan untuk berlatih silat. Di sudut ruangan itu terdapat sebuah rak senjata, penuh dengan senjata lengkap delapanbelas macam.
146
Mereka memasuki ruangan itu dan segera disusul datangnya A-hui dan A-kui yang membawa dua baskom air dan sehelai handuk. Setelah menaruh barang-barang itu di atas sebuah meja di sudut ruangan, keduanya sambil tersenyum manis keluar lagi dari ruang latihan silat itu.
“Nah, marilah kita bertanding tangan kosong, twako. Hati-hati, jangan pandang rendah ilmuku, twako, jangan-jangan engkau akan kalah olehku!”
Kam Ki tersenyum. Dia tadi sudah melihat ketika wanita ini dikeroyok oleh tiga orang lawannya sehingga dia dapat mengukur sampai di mana kepandaian Pek-hwa Sianli dan tentu saja dia sudah dapat mengira-ngirakan apakah dia akan mampu mengalahkan wanita itu. Akan tetapi dia tidak mau memandang rendah dan dia hanya tersenyum, lalu dia berdiri dengan santai dan berkata kepada wanita itu.
“Nah, mulailah, Hwa-moi, aku sudah siap sekarang.”
Berbeda dengan Kam Ki yang berdiri santai tidak memasang kuda-kuda namun tetap waspada mengamati gerak gerik lawan, Pek-hwa Sianli memasang kuda-kuda yang tampak gagah. Ia membuka ilmu silat Sin-hong-kun (Silat Burung Hong Sakti) dengan kuda-kuda Sin-hong-liang-ci (Burung Hong Sakti Pentang Sayap), kedua kakinya di depan dan belakang berjingkat, kedua lengan dipentang ke kanan kiri dengan tangan ditekuk menunjuk ke atas, kepala tegak dan matanya memandang kepada Kam Ki dengan mulut tersenyum manis.
“Nah, seranglah, Hwa-moi. Aku siap melayanimu,” kata pula Kam Ki.
“Awas seranganku, Ki-twako. Hyaaatttt……!” Wanita itu menyerang dengan dahsyat. Ketika tangannya menyambar dan menampar dari kiri. Kam Ki merasa betapa kuatnya angin pukulan yang terdorong oleh tangan kiri lawannya. Akan tetapi dia tidak menangkis, melainkan menghindarkan diri dengan elakan. Dia membiarkan wanita itu menyerangnya secara bertubi-tubi sampai belasan jurus. Pek-hwa Sianli menampar, memukul, mendorong dan menendang, namun semua serangannya hanya mengenai angin saja. Wanita itu memang menyerang dengan menggunakan jurus-jurus yang paling ampuh karena sebetulnya ia ingin benar-benar menguji sampai di mana kelihaian pemuda yang menarik hatinya itu.
Setelah belasan kali mengelak, Kam Ki mulai menangkis untuk mengukur sampai di mana kekuatan yang terkandung dalam lengan wanita itu.
“Duk-dukk……!” Dua kali lengan mereka beradu dan Pek-hwa Sianli terhuyung ke belakang. Dia merasa lengannya bertemu dengan benda yang kenyal seperti karet, namun yang mengandung tenaga kuat sekali sehingga, tenaganya membalik dan membuat dia terhuyung. Dengan kagum ia melihat dua kenyataan akan kelebihan pemuda itu, yaitu dalam ilmu meringankan tubuh yang membuat pemuda itu dapat bergerak gesit sekali sehingga belasan kali serangannya yang dilakukan cepat dan bertubi itu, tak sekalipun mengenai tubuh pemuda itu. Kemudian dalam mengadu tenaga sinkang, jelas bahwa iapun jauh kalah kuat.
Di samping perasaan kagum, ia juga merasa girang sekali karena pemuda itu ternyata menyambut atau menangkis pukulannya dengan menggunakan tenaga lunak. Hal ini menandakan bahwa Kam Ki tidak ingin ia terluka karena kalau pemuda itu menangkis dengan tenaga keras, bukan mustahil ia akan menderita luka luar maupun dalam.
147
Akan tetapi Pek-hwa Sianli masih belum merasa puas. Ia lalu menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Kam Ki melihat betapa kedua telapak tangan yang berkulit putih halus itu kini menjadi merah sekali.
“Twako, awas, sambutlah Ang-tok-ciang ini!” Setelah berkata demikian, ia menyerang lagi dengan jurus-jurus Sin-hong-kun, akan tetapi sekali ini dengan kedua telapak tangan merah yang mengandung racun. Itulah Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang berbahaya sekali! Lawan yang terkena tamparan tangan merah ini akan menderita luka yang beracun dan dapat mengakibatkan kematian! Akan tetapi Pek-hwa Sianli tidak khawatir karena seandainya pemuda itu terkena tangan racun merahnya, ia memiliki obat untuk memunahkan racun itu.
Tentu saja Kam Ki tidak tahu akan obat ini. Diam-diam ia terkejut karena sebagai murid Hwa Hwa Cinjin, yaitu pertapa sesat yang diam-diam menjadi gurunya yang kedua, tentu saja dia mengenal ilmu-ilmu sesat. Dia tahu betapa berbahayanya Ang-tok-ciang ini. Akan tetapi untuk menyambut serangan ini dengan kekerasan, diapun merasa tidak tega. Wanita cantik jelita ini menerimanya sebagai sahabat dan tamu yang diperlakukan dengan manis budi, maka diapun tidak mau menyakiti Pek-hwa Sianli. Maka, semua serangan dengan kedua tangan yang berubah merah itu dia hindarkan dengan kecepatan gerakannya, mengelak ke sana-sini sambil mencari datangnya kesempatan baik untuk mengalahkan gadis itu tanpa melukai atau menyakitinya. Setelah melihat ada kesempatan terbuka, cepat dia balas menyerang dengan totokan jari tangannya. Dengan cepat, bagaikan patukan ular, dua kali jari tangannya menotok kedua pundak Pek-hwa Sianli.
“Tuk-tukk......!”
Pek-hwa Sianli terbelalak karena seketika ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia tahu bahwa dirinya terkena totokan yang ampuh sekali. Yang membuat ia merasa heran bagaimana ia sampai dapat tertotok. Padahal, selama ini ia jarang bertemu tanding. Paling-paling ia bertemu dengan lawan yang seimbang tingkat kepandaiannya atau yang sedikit melebihi tingkatnya. Akan tetapi pemuda ini yang tadi selalu hanya mengelak, tiba-tiba begitu bergerak mampu menotoknya. Hal ini saja menunjukkan bahwa tingkat kepandaian Kam Ki jauh melampaui tingkatnya.
Akan tetapi hanya beberapa detik ia tak mampu bergerak karena segera tangan Kam Ki menepuknya dan totokan itupun punah sehingga ia dapat bergerak lagi.
Bukan main kagumnya hati Pek-hwa Sianli. Akan tetapi dasar ia seorang wanita yang tidak mudah merasa puas, ia masih ingin mencoba lagi.
“Hebat, twako. Ilmu silat tangan kosongmu benar-benar luar biasa dan aku mengaku kalah. Akan tetapi sebelum engkau dapat mengalahkan senjataku siang-kiam (sepasang pedang) aku masih belum mengaku kalah mutlak. Maukah engkau melayani aku bersilat pedang?”
Kam Ki memang ingin memamerkan kepandaiannya kepada gadis itu, maka sambil tersenyum dia menjawab. “Baiklah, Hwa-moi, aku akan melayanimu main-main sebentar dengan sepasang pedangmu.”
Pek-hwa Sianli menjadi girang sekali. Ia berlari ke arah rak senjata dan mengambil sepasang pedang. Kemudian ia berkata kepada Kam Ki.
148
“Twako, cepat pilih senjata mana yang kausukai!” Wanita ini tidak ragu untuk bertanding dengan senjata karena biarpun menggunakan senjata, seorang yang ilmu silatnya telah mencapai tingkat tinggi, dapat menguasai senjatanya sepenuhnya sehingga dia tidak akan melukai lawan kalau hal itu tidak dikehendakinya. Semua gerakan terkendali sehingga tidak mungkin kelepasan melukai lawan.
Kam Ki yang sudah dapat mengukur tingkat kepandaian Pek-hwa Sianli dan memang ingin memamerkan kepandaiannya, sambil tersenyum menggeleng kepalanya.
“Aku tidak perlu menggunakan senjata, Hwa-moi, bukan sekali-kali karena aku meremehkan ilmu pedangmu, melainkan aku percaya bahwa engkau tidak akan melukai aku. Pergunakanlah siang-kiam itu untuk menyerangku, aku akan mencoba menghindarkan diri dari serangan sepasang pedangmu.”
Pek-hwa Sianli mengerutkan alisnya, bukan merasa tersinggung karena iapun sudah mengerti bahwa pemuda ini lebih lihai darinya, hanya ia ragu apakah benar pemuda itu mampu menghadapi siang-kiamnya dengan tangan kosong. Sepasang pedangnya itu jarang bertemu lawan yang dapat mengalahkannya. Ia memiliki ilmu pedang Liap-liong-siang-kiam (Sepasang Pedang Pengejar Naga) yang terkenal lihai sekali.
“Betulkah engkau akan menghadapi sepasang pedangku dengan tangan kosong, twako? Ketahuilah bahwa aku mempunyai ilmu Liap-liong-siang-kiam yang amat lihai, dan selama ini jarang ada orang yang mampu mengalahkan sepasang pedangku. Karena itu, aku ragu-ragu untuk menyerangmu kalau engkau bertangan kosong.”
“Jangan khawatir, Hwa-moi. Bagaimanapun juga, engkau tidak akan menggunakan sepasang pedangmu itu untuk membunuh atau melukai aku, bukan?”
Melihat senyum yang membuat wajah pemuda itu amat tampan dan menarik hatinya, Pek-hwa Sianli terpesona dan ia semakin kagum akan keberanian pemuda itu.
“Baiklah kalau begitu. Nah, bersiaplah, twako!” Gadis itu lalu memasang kuda-kuda, pembukaan ilmu pedang Pengejar Naga. Mula-mula sepasang pedang itu berpisah, yang kiri menunjuk ke bumi, yang kanan menunjuk ke langit, lalu sepasang pedang bergerak dan saling bertemu di depan dada, mengeluarkan bunyi berdenting dan tampak bunga api berpijar ketika sepasang pedang bertemu dan pedang-pedang itu bersilang!
Kam Ki memandang kagum. Betapa gagah dan cantiknya gadis ini, pikirnya. Diapun kini memasang kuda-kuda yang tampak gagah sekali, kaki kiri ke belakang, kaki kanan di depan dengan lutut ditekuk, tangan kanan di pinggang dikepal dan tangan kiri di depan dada membentuk cakar.
Melihat ini, Pek-hwa Sianli menjadi gembira sekali dan iapun mulai mengelebatkan sepasang pedangnya dan berseru, “Twako, awas, aku mulai menyerang!”
Sepasang pedang itu menyambar-nyambar dan lenyap bentuknya menjadi dua gulungan sinar. Kam Ki sudah waspada dan tubuhnya juga bergerak cepat sekali sehingga dia berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang itu!
Ke manapun sepasang pedang itu menyambar, selalu tubuh Kam Ki dapat menghindar seolah dapat menyelinap di antara sepasang pedang. Pek-hwa Sianli kagum dan terkejut juga, sama sekali tidak
149
mengira betapa sepasang pedangnya sama sekali tidak berdaya, seolah-olah ia menyerang sebuah bayangan saja!
Sampai tigapuluh jurus lebih ia menyerang tanpa hasil dan tiba-tiba ia merasa lengan kanannya lumpuh dan pedang itu tahu-tahu telah pindah ke tangan Kam Ki. Ketika ia menyerang dengan pedang kirinya, Kam Ki menggerakkan pedang rampasan itu dengan pengerahan tenaga.
“Tranggg.......!” Pek-hwa Sianli tidak mampu menahan dan pedangnya sudah terlempar lepas dari tangan kirinya. Kam Ki melompat dan menyambar pedang itu sehingga kini sepasang pedang itu telah berada di kedua tangannya!
Pek-hwa terkejut sekali dan kini Kam Ki menghampirinya dan menyerahkan sepasang pedang itu kembali kepadanya.
“Maaf, Hwa-moi, ilmu pedangmu sungguh lihai, terpaksa aku menggunakan akal untuk merampasnya. Kalau tidak, sungguh amat berbahaya bagiku!” kata Kam Ki sambil tersenyum.
Bukan main kagum dan senangnya hati Pek-hwa Sianli. Ia merasa kagum karena ternyata pemuda itu mampu mengalahkan ia hanya dengan tangan kosong, bahkan tanpa melukai dan dapat merampas sepasang pedangnya begitu saja! Dan hatinya senang karena jelas bahwa Kam Ki merendahkan diri dan memuji ilmu pedangnya!
Ia melempar sepasang pedangnya ke arah rak senjata dan sepasang pedang itu dengan tepat menancap di tiang rak itu! Ia lalu memegang kedua tangan Kam Ki.
“Aih, twako, sungguh engkau hebat, luar biasa, aku taluk padamu, aku kagum sekali……!” Ia lalu menarik pemuda itu ke meja di mana terdapat dua baskom air dan mengajak pemuda itu mencuci muka dan lengan yang berkeringat, lalu mengusapinya dengan handuk yang tersedia tadi.
Sekali ini, Pek-hwa Sianli benar-benar telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Ia lalu menggandeng tangan Kam Ki dan mengajaknya makan hidangan yang serba lezat dan mewah, yang telah dipersiapkan oleh dua orang pelayannya, A-hui dan A-kui. Dua orang pelayan yang cantik manis ini melayani mereka dengan penuh hormat.
Dua orang gadis pelayan ini telah mengetahui bahwa pemuda itu lihai sekali, dapat mengalahkan nona mereka sehingga mereka berdua pun kagum bukan main. Maka, dengan mencuri-mencuri, terkadang mereka melepas kerling tajam disertai senyum manis kepada Kam Ki ketika mereka berada di belakang Pek-hwa Sianli. Kam Ki melihat ini, akan tetapi dia tidak mengacuhkannya karena seluruh perhatiannya sedang tertarik kepada Pek-hwa Sianli.
Dengan cerdik, Pek-hwa Sianli yang sudah berpengalaman banyak bergaul dengan para pemuda itu berusaha untuk memikat hati Kam Ki. Kam Ki sendiri se-orang pemuda yang sama sekali belum pernah bergaul erat dengan wanita. Dia adalah seorang perjaka tulen dan masih hijau tentang wanita. Bagaikan seekor laba-laba yang mempergunakan jala benang halus yang ditata indah untuk memikat dan menjebak seekor serangga yang masih bodoh, Pek-hwa Sianli mempergunakan segala kecantikan wajahnya, keindahan bentuk tubuhnya, kemanisan rayuannya, ditambah makanan lezat dan anggur merah manis yang keras namun lembut sehingga setelah selesai makan dan minum banyak anggur, wajah Kam Ki menjadi kemerahan.
150
Bagaikan seekor domba yang dituntun ke tempat penyembelihan, Kam Ki dituntun Pek-hwa Sianli ke dalam kamarnya. Memang pada dasarnya Kam Ki adalah seorang laki-laki yang berbatin rapuh, pertahanannya lemah membuat pendirian dan pertimbangannya goyah sehingga dengan mudah saja dia bertekuk lutut kepada nafsunya sendiri. Maka, tidak sukar bagi Pek-hwa Sianli untuk merayunya dan akhirnya dia jatuh ke dalam pelukan wanita itu dengan gairah yang berkobar-kobar, dengan senang hati menuruti semua keinginan Pek-hwa Sianli. Kam Ki bagaikan seekor serangga yang akhirnya terjerat, dilibat dan dihisap oleh laba-laba sampai habis darahnya dan menjadi kering.
Kam Ki yang masih hijau itu terjatuh ke pelukan Pek-hwa Sianli yang berpengalaman. Dia bagaikan mabok berenang dalam lautan madu yang nikmat dan menyeretnya ke dalam cengkeraman gairah nafsunya sendiri.
Akan tetapi anehnya, bukan Kam Ki yang tergila-gila. Sekali ini Pek-hwa Sianli yang jatuh hati dan tergila-gila. Biasanya tidak ada pemuda yang dikeram wanita itu lebih dari satu minggu. Ia segera menjadi bosan dan untuk merahasiakan ulahnya, pemuda itu lalu dibunuh dan mayatnya dilempar ke jurang. Akan tetapi sekali ini, sudah lewat dua bulan masih saja Kam Ki dan Pek-hwa Sianli bersenang-senang.
Siang malam mereka berenang dalam lautan gairah asmara bagaikan sepasang pengantin baru sedang berbulan madu panjang. A-hui dan A-kui yang menjadi pelayan setia dari Pek-hwa Sianli menjadi terheran-heran melihat keadaan ini dan tahulah mereka bahwa sekali ini majikan mereka benar-benar tergila-gila kepada pemuda yang gagah perkasa dan lihai itu.
Ada dua kasih sejati yang perlu kita Ketahui. Kasih sejati dan kasih atau cinta nafsu. Cinta kasih sejati mengesampingkan kesenangan jasmani kita sendiri dan mendahulukan kepentingan kebahagiaan orang yang dicinta. Cinta nafsu hanya mengejar kesenangan bagi diri sendiri sehingga cinta seperti itu dengan mudah dapat berubah menjadi benci kalau yang dicinta itu tidak mendatangkan kesenangan lagi. Sebaliknya, cinta sejati membuat kita selalu merasa kasihan kepada orang yang dicinta, ingin membahagiakan orang itu, ikut prihatin kalau melihat orang itu berduka dan ikut bahagia kalau melihat orang itu bersuka. Karena sifatnya hanya mengejar kesenangan jasmani, maka cinta nafsu selalu mementingkan si-aku, kalau aku disenangkan, aku cinta, sebaliknya kalau aku disusahkan, aku benci.
Mungkin baru sekarang Pek-hwa Sianli benar-benar jatuh hati dan tergila-gila kepada seorang pemuda. Tentu saja seorang yang telah menjadi hamba nafsu seperti wanita ini tidak pernah mengenal cinta sejati. Cintanya bergelimang nafsu dan karena belum pernah ia mendapatkan seorang laki-laki seperti Kam Ki, maka ia melekat dan tergila-gila. Di lain pihak, Kam Ki yang baru pertama kali mengalami bergaul rapat dengan seorang wanita, setelah lewat tiga bulan, mulailah dia merasa jemu dan bosan!
Memang, nafsu selalu mengejar kesenangan dan kesenangan itu, apabila dikejar dan luput mendatangkan kecewa dan duka, akan tetapi setelah didapatkan, dibayangi kebosanan karena nafsu mendorong kita untuk mencari yang lain, yang baru dan yang dibayangkan sebagai yang lebih menyenangkan daripada yang telah diraihnya.
Kam Ki mulai merasa bosan dan mulailah dia melirik A-hui dan A-kui! Dalam kebosanannya, tampaklah cacat-cacat yang ada pada diri Pek-hwa Sianli. Se-baliknya A-hui dan A-kui yang “baru” tampak keindahannya saja. Tidak mengherankan kalau dalam pandang mata Kam Ki, dua orang gadis pelayan ini tampak lebih cantik, lebih menarik, lebih menggairahkan nafsunya dari Pek-hwa Sianli!
151
Kemudian, hal yang tidak terelakkan pun terjadilah! Pada suatu malam Pek Hwa Sianli menangkap basah Kam Ki yang tengah bermesraan dengan A-hui dan A-kui, di “keroyok” dua oleh gadis-gadis pelayan itu! Bukan main marahnya hati Pek-hwa Sianli! Ia mengamuk dan membunuh kedua orang pelayannya itu.
Kam Ki sendiri segera melarikan diri, bukan karena takut kepada Pek-hwa Sianli, melainkan karena malu! Dia, yang baru saja berkecimpung dalam lautan asmara, masih mempunyai rasa malu akan penyelewengannya dan diapun melarikan diri, meninggalkan Pek-hwa Sianli baginya sudah membosankan.
Pek-hwa Sianli marah dan menangis, akan tetapi tidak berdaya karena andaikata ia mengejar sekalipun, ia tidak akan menang melawan Kam Ki.
Selama tiga bulan Kam Ki seolah menjadi murid Pek-hwa Sianli berenang dalam lautan asmara. Hal ini membangkitkan gairah berahinya. Bagaikan harimau buas yang selama ini tidur, kini dibangkitkan oleh usikan Pek-hwa Sianli sehingga Kam Ki menjadi seorang yang haus oleh gairah berahi yang berkobar. Dia benar-benar telah menjadi budak dari nafsu berahinya sendiri dan kehausan itu yang mendorong dia mendekati A-hui dan A-kui.
Kini dia telah bebas dari rangkulan Pek-hwa Sianli dan di dunia bertambah seorang manusia hamba nafsu yang berkeliaran, bagaikan seekor harimau buas yang selalu mencari mangsa. Dalam perjalanannya merantau itu, setiap kali gairah berahinya menguasai pikirannya dan amat menyiksanya, dia lalu mencari mangsa. Dia tidak kuat menahan gelora nafsunya dan mencari mangsa di dusun-dusun yang dilaluinya. Kalau ada wanita muda yang cantik tidak perduli gadis atau isteri orang, lalu diculiknya dan dipaksanya untuk melayani gairah nafsunya, kemudian ditinggalkannya begitu saja.
Pada suatu pagi perjalanannya yang tanpa tujuan tertentu itu membawanya ke kaki Siong-san (Bukit Siong). Baru saja dia meninggalkan sebuah dusun yang cukup ramai dan di dusun itu selain melampiaskan gairah nafsunya pada seorang wanita yang diculiknya, dia juga melakukan pencurian di rumah seorang hartawan menggondol emas dan perak sekantung dan pakaian baru beberapa pasang. Kini dia berjalan di kaki Siong-san, menggendong sebuah buntalan hasil pencuriannya.
Di puncak bukit itu terdapat perkampungan cabang Pek-lian-kauw. Cabang Pek-lian-kauw di Bukit Siong itu dipimpin oleh tiga orang bersaudara seperguruan. Ketuanya adalah Ang-bin Moko (Iblis Muka Merah), dibantu oleh Pek-bin Moko (Iblis Muka Putih) dan Hek-bin Moko (Iblis Muka Hitam), dengan anak buah sebanyak limapuluh orang lebih. Pek-lian-kauw adalah sebuah perkumpulan yang selalu menentang pemerintahan dan untuk memperoleh dana mereka tidak segan untuk melakukan kejahatan seperti merampok dan memaksa orang-orang yang lewat di daerah itu untuk membayar “pajak”.
Ketika Kam Ki berjalan dengan santai di kaki Siong-san yang sunyi itu, tiba-tiba dari balik batu besar dan pohon-pohon di tepi jalan berlompatan keluar belasan orang. Mereka adalah anak buah Pek-lian-kauw yang dipimpin oleh Hek-bin Moko, pemimpin ketiga dari cabang Pek-lian-kauw itu.
“Berhenti!” bentak seorang anak buah sedangkan Hek-bin Moko yang merasa terlalu tinggi kedudukannya untuk memeras seorang pejalan kaki, hanya berdiri memandang. Mukanya yang hitam arang ltu menyeramkan sekali.
“Sobat, serahkan pajak sebesar limapuluh tail. perak, kalau tidak punya, tinggalkan buntalanmu itu di sini, baru engkau boleh melanjutkan perjalanan melewati daerah ini!”
152
Kam Ki tersenyum mengejek, tahu bahwa orang-orang ini berniat merampoknya. Tentu saja dia mempunyai uang yang hanya limapuluh tail perak itu karena dia mempunyai sekantung uang perak dan emas.
“Hemm, kalian minta pajak limapuluh tail perak? Biar limaratus atau limaribu tail sekalipun aku dapat memberi, akan tetapi aku harus tahu lebih dulu siapa yang memungut pajak di sini! Kalian ini siapakah yang begitu sombong hendak memaksa orang membayar pajak? Kalian bukan pemerintah yang menguasai daerah ini. Kalau mau mengemis, jangan dengan paksaan begitu!”
Semua anggauta Pek-lian-kauw melotot mendengar penghinaan itu. “Mengemis? Jahanam busuk, kami adalah orang-orang Pek-lian-kauw yang berkuasa di daerah ini!” bentak orang yang mewakili para anggautanya itu.
Kam Ki tersenyum. Dia sudah banyak mendengar tentang Pek-lian-kauw, sebuah perkumpulan besar dan kuat yang berpengaruh di antara para tokoh di dunia kang-ouw, seperti yang pernah dia dengar dari Hwa Hwa Cinjin. Tidak menguntungkan kalau dia bermusuhan dengan Pek-lian-kauw dan alangkah baiknya kalau dia dapat menjadi pemimpin mereka. Namanya akan menjadi terkenal, ditakuti dan dihormati dunia kang-ouw dan dia mempunyai banyak anak buah yang boleh diandalkan. Daripada hidup tanpa tempat tinggal dan kedudukan tetap, alangkah baiknya kalau dia dapat menjadi ketua Pek-lian-kauw, walaupun hanya ketua cabang saja.
“Dengar, kalian orang-orang Pek-lian-kauw. Aku ingin berteman dan bicara dengan pimpinan kalian. Soal pajak itu, jangan khawatir, seratus kali dari itupun aku sanggup memberinya!”
Orang-orang itu tentu saja memandang rendah pemuda yang tampan dan berpakaian mewah ini. Pemuda ini tidak membawa senjata, tampaknya seperti seorang kongcu (tuan muda) yang kaya saja.
Karena melihat Hek-bin Moko, pemimpin mereka, masih diam saja karena si muka hitam ini yakin bahwa tanpa dia turun tangan, belasan orang anak buahnya tentu akan mampu mengatasi pemuda itu, maka para anak buah Pek-lian-kauw segera mengepung Kam Ki. Juru bicara mereka tadi, seorang anggauta Pek-lian-kauw berusia sekitar empatpuluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, maju menghadapi Kam Ki dan menghardiknya.
“Bocah macam engkau hendak bertemu dengan pimpinan kami yang terhormat? Sudahlah, tidak perlu banyak cakap lagi. Serahkan buntalan itu kepada kami dan cepat menggelinding pergi dari sini kalau engkau tidak ingin kuhancurkan kepalamu!”
Kam Ki tersenyum akan tetapi sepasang matanya mencorong. Ini merupakan tanda bahwa dia sudah marah sekali. Akan tetapi dalam benaknya masih terbayang keinginannya untuk dapat menjadi pemimpin cabang Pek-lian-kauw, maka dia menahan kesabarannya dan meyakinkan hatinya bahwa dia tidak boleh melakukan pembunuhan kalau menghendaki kedudukan itu.
“Coba kalian semua maju dan siapa yang dapat menghancurkan kepalaku lebih dulu, boleh memiliki buntalan ini. Kalian tahu, dalam buntalan ini terdapat emas dan perak yang amat mahal. Hayo hancurkan kepalaku!”
153
Di antara para anggauta yang jumlahnya enambelas orang itu, ada yang tertawa geli. Kiranya mereka berhadapan dengan seorang pemuda gendeng (ediot)! Karena merasa diri gagah, tentu saja mereka tidak mau mengeroyok seorang pemuda gila, dan mereka sama sekali tidak percaya akan cerita tentang emas dan perak itu.
Anggauta Pek-lian-kauw yang tinggi besar itu dengan marah membentak, “Bocah gila, mampuslah!” Dia mengayun tangannya yang besar menghantam ke arah kepala Kam Ki dan agaknya dia tidak bicara kosong belaka kalau hendak memecahkan kepala Kam Ki karena mungkin hantaman yang dahsyat itu akan dapat memecahkan kepala seorang laki-laki biasa. Akan tetapi hantaman itu luput dan tiba-tiba tubuhnya terbanting roboh tidak mampu bangkit lagi, hanya merintih-rintih. Memegangi perut yang rasanya mulas bukan main!
Lima belas orang rekannya terkejut dan juga marah. Mereka segera maju mengeroyok. Akan tetapi empat orang yang berada paling depan, juga berpelantingan dan tidak mampu bangkit, terkena tamparan kedua tangan Kam Ki. Masih untung mereka tidak tewas karena Kam Ki membatasi tenaganya, namun cukup membuat mereka yang roboh tidak mampu bangkit kembali.
Kini sisa anak buah Pek-lian-kauw mencabut senjata dan dengan buas mereka menyerang Kam Ki dengan golok atau pedang. Hujan senjata itu disambut Kam Ki dengan tenang, namun tubuhnya berkelebatan di antara sebelas orang pengeroyok itu sambil membagi-bagi tamparan dan tendangan. Dalam waktu yang cepat, enambelas orang anak buah Pek-lian-kauw itu sudah roboh semua dan belum ada yang dapat bangkit kembali karena mereka masih mengaduh-aduh sambil memegangi bagian yang kena tampar atau tendang!
Wajah Hek-bin Moko menjadi semakin hitam. Kedua matanya yang lebar itu melotot dan dia segera menghampiri Kam Ki. Pemuda itu memandang penuh perhatian. Yang berada di depannya adalah seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun, bajunya putih dan memakai jubah yang terbuka sehingga tampak gambar bunga teratai putih dalam lingkaran berdasar biru. Rambutnya digelung ke atas dan diikat pita putih model gelung para tosu (pendeta Agama To), dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.
“Engkaulah pemimpin Pek-lian-kauw di sini?” Kam Ki bertanya.
“Pimpinan cabang Pek-lian-kauw di sini adalah kami bertiga. Aku, ji-suheng (kakak seperguruan kedua) dan twa-suheng (kakak seperguruan pertama). Siapakah engkau yang berani menentang kami dan merobohkan anak buahku?”
“Aku Kam Ki dan engkau tadi melihat sendiri bahwa anak buahmu yang menyerang aku sehingga mereka mencari penyakit sendiri. Akan tetapi engkau juga melihat bahwa aku tidak membunuh mereka, hal ini karena aku ingin menjadi pemimpin Pek-lian-kauw yang menguasai daerah ini.”
“Keparat sombong!” Hek-bin Moko sudah mencabut pedangnya. Langsung saja dia menyerang Kam Ki dengan pedangnya. Hal ini saja menunjukkan betapa curangnya pemimpin Pek-lian-kauw ini. Dia menyerang dengan pedang lawan yang tidak bersenjata dan belum siap tanpa peringatan terlebih dulu.
“Singgg……!” Pedang itu mendesing dan menyambar ke arah leher Kam Ki.
154
Melihat sambaran pedang itu cukup dahsyat, Kam Ki tahu bahwa lawannya bu-kan orang lemah seperti para anak buahnya tadi. Dia mengelak dengan mudah. Hek-bin Moko mengejar dengan serangan bertubi-tubi. Namun sama sekali semua serangan itu tidak dapat mengenai tubuh lawan.
Diam-diam Kam Ki membuat perhitungan. Sebaiknya kalau dia bertemu dengan para pimpinan yang lain dan mengajak mereka bertanding daripada membiarkan perkumpulan itu mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mengeroyoknya. Maka dia mengambil keputusan untuk tidak melukai Hek-bin Moko, hanya membuat lawan menjadi jerih dan melarikan diri ke sarangnya untuk mencari bala bantuan.
Setelah mendapat kesempatan, dia menotok siku lengan kanan lawan sehingga Hek-bin Moko merasa tangannya kaku dan dengan mudah pedangnya dapat dirampas Kam Ki. Pemuda ini lalu menggunakan kedua tangannya, mematah-matahkan pedang itu seperti orang mematahkan sebatang lidi saja! Melihat ini, Hek-bin Moko terbelalak, lalu dia melompat pergi dan sebelum melarikan diri dia berteriak.
“Orang she Kam, kalau memang gagah berani, tunggulah pembalasanku di sini!”
Kam Ki tersenyum. Inilah yang dia kehendaki. Dia melihat belasan orang yang roboh tadi sudah ada yang merangkak bangun dan mereka saling tolong. Dia tidak memperdulikan mereka lalu melompat jauh dan membayangi Hek-bin Moko yang lari mendaki bukit.
Tergopoh-gopoh Hek-bin Moko memasuki pondok besar dalam perkampungan Pek-lian-kauw itu, sebuah pondok besar yang berada di tengah perkampungan, di antara banyak pondok-pondok yang kecil. Setelah tiba di ruangan tengah di mana dia lihat kedua pemimpin Pek-lian-kauw yang lain duduk, dia menjatuhkan diri di atas sebuah kursi dan terengah-engah.
“Celaka, ji-suheng dan twa-suheng. Aku dan enambelas orang anak buah telah dikalahkan oleh seorang pemuda bernama Kam Ki yang tadinya kami hadang. Dia lihai bukan main dan katanya ingin bicara dengan para pimpinan Pek-lian-kauw!”
Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko mengerutkan alis mereka. Mereka berdua marah sekali. Siapa orangnya berani main-main dengan Pek-lian-kauw, pikir mereka.
“Kurang ajar!” kata Ang-bin Moko sambil bangkit berdiri. “Kita harus cari dan hajar bocah itu!”
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di ambang pintu ruangan itu telah berdiri seorang pemuda yang bukan lain adalah Kam Ki. Pemuda itu tersenyum dan sikapnya tenang sekali.
“Tidak perlu repot-repot mencari. Aku sudah berada di sini dan aku memang ingin bertemu dan bicara dengan para pimpinan Pek-lian-kauw.”
Tiga orang pimpinan Pek-lian-kauw itu terkejut bukan main. Mereka semua bangkit dan Hek-bin Moko berseru, “Inilah orangnya yang bernama Kam Ki!”
“Benar, aku Kam Ki dan aku menawarkan diri untuk menjadi pemimpin kalian, memimpin cabang Pek-llan-kauw ini agar memperoleh kemajuan!”
155
Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko marah bukan main. “Bangsat cillk! Orang macam engkau hendak menjadi pemimpin cabang Pek-lian-kauw? Hemm, agaknya engkau sudah bosan hidup!” bentak Ang-bin Moko yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya kemerahan.
“Berani benar engkau datang memusuhi kami!” bentak pula Pek-bin Moko.
“Tenanglah! Kalau aku datang untuk memusuhi kalian, tentu si muka hitam ini dan belasan orang anak buahnya tadi sudah kubunuh semua! Tidak, aku datang hendak memimpin kalian dan memajukan Pek-lian-kauw yang sudah lama kudengar namanya. Bahkan guruku menganjurkan agar aku membantu Pek-lian-kauw.”
“Gurumu? Siapa gurumu?” tanya Ang-bin Moko dengan alis berkerut. Alangkah beraninya pemuda ini sehingga membuat dia ingin mengetahui siapa gurunya.
“Aku mempunyai banyak guru dan yang kumaksudkan adalah guruku kedua, yaitu Hwa Hwa Cinjin, pertapa di pegunungan Himalaya.”
Tiga orang ketua cabang Pek-lian-kauw itu terkejut. Mereka sudah lama mendengar akan nama besar Hwa Hwa Cinjin yang kabarnya bahkan pernah mengajarkan suatu ilmu kepada ketua umum Pek-lian-kauw pusat! Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi hati-hati dan ragu untuk mengerahkan semua anak buah untuk mengeroyok Kam Ki.
“Kam Ki, engkau hanyalah seorang pemuda. Bagaimana engkau akan dapat menjadi ketua cabang Pek-lian-kauw? Kami bertiga, aku Ang-bin Moko menjadi ketua cabang dan dua orang suteku (adik seperguruanku) ini, Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko, menjadi ketua kedua dan ketiga. Sekarang, katakan, apa kehendakmu?”
“Begini, kita bukanlah musuh, maka kita atur dengan adil. Aku akan bertanding menghadapi kalian bertiga untuk menentukan siapa yang lebih unggul dan lebih pantas menjadi ketua. Kalau aku kalah dan tewas, tidak akan ada yang menuntut kalian. Akan tetapi kalau kalian bertiga tidak mampu mengalahkan aku, maka kalian harus mengangkat aku menjadi ketua dan kalian bertiga menjadi pembantu-pembantuku. Bagaimana pendapat kalian?”
Tiga orang itu saling pandang. Biarpun pemuda ini mengaku murid Hwa Hwa Cinjin dan sudah membuktikan kelihaiannya dengan mengalahkan Hek-bin Moko dan enambelas orang anak buah, akan tetapi kalau mereka maju bersama, tidak mungkin mereka akan kalah.
“Ha-ha-ha, bagus sekali. Kami terima tantanganmu, Kam Ki.”
“Memang seharusnya begitu. Mari kita keluar dan bertanding di tempat terbuka agar semua anak buah Pek-lian-kauw menyaksikan siapa yang lebih patut memimpin mereka,” kata Kam Ki yang cepat melompat keluar dari ruangan dan pondok besar itu.
Tiga orang ketua cabang Pek-lian-kauw lalu bersiap-siap. Hek-bin Moko yang kehilangan pedangnya, mengambil pedang baru dan tiga orang itu lalu keluar dari rumah.
Sementara itu, enambelas orang anak buah Pek-lian-kauw tadi memasuki per-kampungan dan kini seluruh anggauta Pek-lian-kauw yang mendengar bahwa ada seorang pemuda mengacau di sarang
156
mereka, semua keluar untuk menanti perintah para pimpinan mereka. Kurang lebih limapuluh orang anggauta Pek-lian-kauw kini berkumpul di pekarangan rumah induk perkumpulan itu, di mana tiga orang pimpinan mereka tinggal.
Tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda keluar dari pintu diikuti oleh tiga orang ketua mereka. Semua anggauta Pek-lian-kauw terkejut dan siap siaga ketika enambelas orang rekan mereka itu mengatakan bahwa itulah pemuda yang telah menjatuhkan mereka tadi. Semua anggauta Pek-lian-kauw mencabut senjata, menanti perintah.
Akan tetapi Kam Ki yang tiba di pekarangan lebih dulu, segera berseru kepada para anggauta. “Para anggauta Pek-lian-kauw, dengarlah!” serunya lantang karena didorong tenaga sakti yang kuat. “Tiga orang pimpinan kalian telah bersepakat dengan aku untuk bertanding. Mereka bertiga akan mengeroyok aku dan kalau aku kalah dan mati, sudahlah lupakan saja. Akan tetapi kalau aku yang menang, mereka sudah berjanji akan mengangkat aku menjadi ketua Pek-lian-kauw cabang ini dan mereka bertiga menjadi pembantuku. Kalian semua kuperingatkan agar jangan ada yang campur tangan hendak mengeroyok aku karena sjapa yang bergerak, akan kubunuh! Apakah kalian semua setuju? Yang tidak setuju boleh maju!”
Semua anggauta Pek-lian-kauw diam dan tidak ada yang berani maju karena tiga orang ketua mereka tidak memberi isyarat kepada mereka untuk maju. Akan tetapi dua orang di antara mereka yang terkenal jagoan, agaknya hendak mencari muka kepada tiga orang pimpinan mereka. Dengan golok di tangan mereka maju.
“Kami akan membunuhmu, orang muda!” teriak mereka sambil mengacungkan golok.
Kam Ki berkemak-kemik menggunakan ilmu sihirnya, lalu menudingkan telunjuknya ke arah dua orang itu dan membentak dengan suara yang mengandung getaran dan wibawa amat kuat.
“Kalian berdua boleh saling bunuh! Cepat lakukan!”
Kemudian terjadilah hal yang mengherankan dan mengejutkan semua orang. Dua orang murid Pek-lian-kauw itu kini menggerakkan golok mereka dan saling serang dengan sungguh-sungguh! Pek-lian-kauw terkenal sebagai perkumpulan yang tidak asing, dengan segala ilmu sihir dan racun. Maka, melihat betapa dua orang anggauta itu demikian mudah terjatuh ke bawah pengaruh bentakan pemuda itu, tiga orang pimpinan Pek-lian-kauw juga terkejut sekali.
Ang-bin Moko, ketua pertama cabang Pek-lian-kauw itu yang bermuka merah, terkejut melihat dua orang anggautanya kini saling serang menggunakan golok dengan mati-matian. Dia cepat mengerahkan tenaga sihirnya untuk memunahkan kekuatan sihir yang menguasai dua orang anggautanya sehingga mereka saling menyerang untuk membunuh itu.
“Kalian berdua, hentikan perkelahian itu! Aku, Ang-bin Moko ketua kalian, memerintahkan agar kalian berhenti berkelahi dan mundur!”
Akan tetapi bentakan nyaring Ang-bin Moko itu seperti lalunya angin saja, lewat tanpa bekas dan dua orang itu masih saling serang dengan mati-matian. Akhirnya, keduanya berseru kesakitan dan keduanya roboh terpelanting, masing-masing menderita luka parah oleh bacokan golok!
157
“Masih adakah yang tidak setuju dan hendak mengeroyok aku?” Kam Ki berseru lantang, terdengar oleh semua anggauta Pek-lian-kauw yang berada di situ. Kini tidak ada seorangpun berani maju menentang.
“Thio Kam Ki, engkau berani membunuh dua orang anggauta kami!” bentak Ang-bin Moko.
Kam Ki tersenyum. “Anggauta Pek-lian-kauw sepatutnya menaati perintah pimpinannya. Kalian bertiga sudah berjanji untuk pi-bu (mengadu kepandaian silat) melawan aku, akan tetapi dua orang itu hendak maju mengeroyok. Maka mereka berdua selayaknya dihajar agar para anggauta lainnya tidak berani membangkang terhadap keputusan yang diambil pemimpin mereka. Sudahlah, mari kita mulai pertandingan ini. Aku sudah siap!”
Tiga orang ketua cabang Pek-lian-kauw itu mengepung Kam Ki. Mereka sudah mencabut pedang dan kini mereka siap mengeroyok pemuda itu dengan membentuk Sha-kak-kiam-tin (Barisan Pedang Segi Tiga). Ang-bin Moko berdiri di depan Kam Ki, Pek-bin Moko di sebelah kanannya dan Hek-bin Moko di sebelah kirinya. Mereka melintangkan pedang di depan dada dan tangan kiri menuding ke depan dengan dua jari, yaitu jari penunjuk dan jari tengah.
Melihat pemuda itu masih berdiri santai dan sama sekali tidak membawa senjata apapun, Ang-bin Moko merasa tidak enak. Mereka bertiga terkenal sebagai orang-orang yang tangguh, bagaimana sekarang hendak mengeroyok seorang pemuda yang bertangan kosong padahal mereka bertiga menggunakan pedang? Tentu kebesaran mereka merosot dalam pandangan para anak buah mereka yang berkumpul semua di pekarangan itu dan menyaksikan pertandingan yang akan dimulai.
“Thio Kam Ki, keluarkan senjatamu dan bersiaplah. Kami akan segera menyerangmu!” bentak Ang-bin Moko.
Kam Ki tersenyum mengejek. “Tingkat kepandaian kalian bertiga masih jauh terlampau rendah bagiku, untuk apa aku menggunakan senjata? Senjataku adalah kedua pasang kaki tanganku yang cukup untuk mengalahkan kalian dan pedang kalian. Nah, mulailah, aku telah siap!”
Semua orang merasa heran melihat Kam Ki yang berkata siap itu sama sekali tidak memasang kuda-kuda seperti orang yang hendak menggunakan ilmu silat untuk bertanding. Dia berdiri santai saja, kedua tangan tergantung di kanan kiri tubuhnya, sama sekali tidak tampak membuat persiapan.
Tiga orang pemimpin Pek-lian-kauw itu menjadi marah sekali. Sikap dan kata-kata pemuda itu benar-benar amat memandang rendah kepada mereka!
“Bocah sombong! Engkau mencari kematianmu sendiri!” Setelah berkata demikian, Ang-bin Moko memberi isyarat kepada dua orang rekannya. Tiga orang itu lalu menggerakkan golok mereka, diputar-putar di atas kepala sehingga berubah menjadi sinar bergulung-gulung kemudian sinar-sinar tiga batang golok itu meluncur cepat ketika mereka menerjang ke arah tubuh Kam Ki.
Thio Kam Ki sama sekali bukan sekadar membual ketika tadi mengatakan bahwa tingkat kepandaian tiga orang lawannya itu masih jauh di bawah tingkatnya. Hal ini diketahuinya benar setelah tadi dia menghadapi Hek-bin Moko. Biar ada lima orang atau lebih setingkat Hek-bin Moko mengeroyoknya, dia tentu akan mampu mengalahkan mereka. Apalagi hanya tiga orang! Biarpun mereka bergerak menyerang dengan cepat dan kuat, tubuh Kam Ki berkelebatan dan tiga orang itu menjadi terkejut sekali karena gerakan Kam Ki sedemikian cepatnya sehingga terkadang lenyap dari pandang mata mereka. Tiga
158
orang ketua yang marah dan penasaran itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, menyerang kalang kabut.
Kam Ki memang hendak memamerkan kepandaiannya. Setelah berkelebatan di antara tiga gulungan sinar golok, membuat anggauta Pek-lian-kauw yang menonton pertandingan itu terkagum-kagum, dia memperlihatkan kepan-daiannya yang lebih mengagumkan lagi. Kini dia mulai menangkis tiga batang golok itu dengan kedua tangannya! Tangan telanjang itu begitu saja menangkisi mata golok yang tajam dan berat, dan sama sekali tidak terluka, bahkan setiap kali tangan itu menangkis, tiga orang itu merasa betapa tangan mereka terguncang dan terasa panas.
Tiba-tiba Kam Ki membuat gerakan menyerang. Dia merasa sudah cukup memamerkan kepandaiannya.
“Lepaskan golok........!!” bentaknya dan kedua tangannya menyambar-nyambar tiga kali. Dengan tepat tangannya menotok ke arah pergelangan tangan yang memegang golok.
Tiga orang itu berteriak dan golok mereka terlepas dari pegangan. Mereka terkejut dan cepat berlompatan ke belakang, lalu mereka berkumpul dan sambil berdiri berjajar, mereka mengerahkan dan menyatukan tenaga sakti lalu mendorongkan tangan mereka, menyerang Kam Ki dengan pukulan jarak jauh!
Melihat ini, Kam Ki menyambut serangan mereka dengan mendorong kedua telapak tangan ke depan. Hawa pukulan dahsyat menyambar keluar dari kedua telapak tangannya itu.
“Wuuuuttt…… blarrrrr……!” Tubuh tiga orang ketua Pek-lian-kauw itu terdorong ke belakang, terjengkang roboh bergulingan!
Masih untung bagi mereka bahwa Kam Ki tidak mengerahkan seluruh tenaganya karena kalau demikian halnya, mereka tentu tewas. Kini mereka hanya merasa dada mereka sesak karena tenaga sendiri yang dipaksa membalik.
Setelah terengah-engah sejenak, mereka merangkak bangkit dan menghampiri Kam Ki. Mereka bertiga takluk karena yakin benar bahwa pemuda ini memang memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada tingkat mereka. Mereka bertiga lalu memberi hormat dengan membungkuk dalam dan Ang-bin Moko sebagai pemimpin pertama, lalu berkata lantang sehingga terdengar oleh semua aggauta.
“Kami bertiga setuju mengangkat engkau menjadi ketua cabang Pek-lian-kauw di sini!”
Mendengar ini Kam Ki tersenyum. “Terima kasih, aku akan memimpin kalian dan menjadikan perkumpulan ini menjadi besar dan jaya!” Kemudian dia menghadapi para anggauta yang sekitar limapuluh orang itu dan berkata kepada mereka. “Apakah kalian semua setuju kalau aku, Thio Kam Ki, menjadi pangcu (ketua) kalian?”
Karena melihat tiga orang pimpinan mereka kalah dalam pertandingan dan tadi Ang-bin Moko mengakui pemuda itu sebagai ketua, semua anak buah itu berseru riuh rendah.
“Setujuuuu……!”
Ang-bin Moko berseru kepada mereka. “Mari beri hormat kepada Thio Kam Ki, ketua kita yang baru!”
159
Mendengar ini, semua anggauta menjatuhkan diri berlutut menghadap Kam Ki. Pemuda ini bertolak pinggang dan tersenyum gembira. Tiba-tiba saja dia mendapatkan kedudukan sebagai ketua dan dihormati banyak orang! Dia merasa bangga sekali. Sekarang dia mempunyai tempat tinggal dan banyak anak buah.
Demikianlah, sejak hari itu Kam Ki menjadi ketua cabang Pek-lian-kauw. Setelah dia menjadi pemimpin, Pek-lian-kauw semakin berani melakukan kejahatan, bahkan pernah Kam Ki memimpin tiga orang pembantunya untuk mencuri dan menguras habis harta dari gedung seorang hartawan dan seorang pembesar di kota Kong-koan. Dia memberi tugas pula kepada Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko untuk merampok patung emas Kwan-im Pouwsat yang berada di kuil Ban-hok-si di dekat kota Ki-lok setelah dia mendengar bahwa patung itu selain terbuat dari emas, juga merupakan benda bersejarah yang amat berharga.
Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko lalu mengajak Ban Kit, Li Hoat, dan Souw Ban Lip, tiga orang tokoh jahat yang masuk menjadi anggauta cabang Pek-lian-kauw. Lima orang ini pergi ke Kuil Ban-hok-si dan seperti telah diceritakan di bagian depan kisah ini, di kuil itu mereka dihalangi oleh Hartawan Ui, yaitu Ui Cun Lee dan dua orang puteranya, Ui Kiang dan Ui Kong yang dibantu oleh Ong Siong Li dan Lim Bwe Hwa. Seperti telah kita Ketahui, ketika melindungi Ui Kiang, Hartawan Ui tewas oleh pedang Pek-bin Moko yang tadinya ditujukan kepada Ui Kiang. Terjadilah perkelahian seru antara Ui Kong, Ong Siong Li, dan Lim Bwe Hwa melawan lima orang Pek-lian-kauw itu. Akhirnya empat orang penjahat, yaitu Hek-bin Moko, Li Hoat, Souw Ban Lip, dan Ban Kit tewas. Akan tetapi Pek-bin Moko yang membunuh Hartawan Ui dapat melarikan diri sambil menggondol patung emas Dewi Kwan Im.
Setelah Pek-bin Moko kembali ke sarang Pek-lian-kauw, Kam Ki memarahinya! “Sungguh tolol!” dia memaki marah kepada Pek-bin Moko yang hanya menundukkan mukanya. “Biarpun patung emas ini dapat kaubawa pulang, akan tetapi kita kehilangan Hek-bin Moko ditambah tiga orang lagi. Empat orang pembantuku ditukar sebuah patung emas. Ini rugi besar namanya!”
“Harap pangcu (ketua) suka memaafkan sute Pek-bin Moko,” kata Ang-bin Moko membela adik seperguruannya. “Menurut ceritanya tadi, dia dan sute Hek-bin Moko dan tiga orang pembantu bertemu dengan tiga orang pendekar yang lihai. Tentu saja hal ini tidak disangka-sangka sebelumnya.”
Kam Ki menganguk-angguk, melihat kebenaran dalam pembelaan Ang-bin Moko. “Hemm, siapakah tiga orang muda itu? Kalau engkau tahu siapa mereka dan di mana tempat tinggalnya, aku akan membunuh mereka!” Dia berkata penasaran karena dia kehilangan empat orang pembantunya yang dapat diandalkan.
“Perkelahian itu terjadi tiba-tiba di antara banyak orang yang mengunjungi kuil sehingga kami tidak mempunyai kesempatan untuk saling bertanya nama, pangcu,” kata Pek-bin Moko. “Mereka adalah seorang gadis cantik yang pandai menggunakan senjata rahasia jarum dan permainan pedangnya mengeluarkan suara seperti suara kumbang terbang. Yang dua lagi adalah dua orang pemuda tampan, yang seorang bertubuh pendek dan seorang lagi tinggi tegap.”
“Hemm, kalau tidak mengetahui namanya, bagaimana aku dapat menemukan mereka?” kata Kam Ki penasaran.
160
“Harap pangcu tidak khawatir,” kata Ang-bin Moko.” Saya dapat memastikan bahwa tanpa mencari merekapun, pangcu akan dapat berhadapan dengan mereka. Menurut cerita sute Pek-bin Moko tadi, dia telah membunuh ayah pemuda itu. Maka, besar sekali kemungkinan mereka bertiga akan datang ke sini untuk mencari sute Pek-bin Moko. Sute Hek-bin Moko tewas dan tentu mereka akan dapat melihat baju dalam Hek-bin Moko yang bergambar bunga teratai sehingga mereka akan dapat mengetahui bahwa sute Pek-bin Moko adalah seorang dari Pek-lian-kauw. Maka, tentu mereka akan mengejar ke sini!”
“Bagus!” seru Kam Ki. “Biarkan mereka datang, akan kubinasakan mereka bertiga!”
“Akan tetapi, pangcu,” kata Pek-bin Moko, “gadis pendekar itu, ia cantik jelita seperti bidadari!”
Si muka putih ini sudah tahu akan kesukaan ketua baru itu karena setelah menjadi ketua di situ, tiada hentinya Kam Ki mengumbar nafsunya dengan wanita-wanita cantik. Dia mendapatkan mereka dengan bujukan maupun dengan paksaan, dan setelah satu dua bulan dia menjadi bosan lalu wanita itu diusirnya dan dia mencari penggantinya! Maka, mengetahui akan kesukaan ketuanya ini, Pek-bin Moko menceritakan tentang kecantikan Lim Bwe Hwa.
Wajah Kam Ki berseri. “Begitukah? Bagus, kalau begitu, setelah mereka bertiga muncul, biarlah aku sendiri yang akan menghadapi gadis itu dan menangkapnya, ha-ha-ha!”
Mulai hari itu, Kam Ki memerintahkan para anggautanya untuk siap siaga dan penjagaan dilakukan secara ketat siang malam agar segera dapat diKetahui kalau tiga orang musuh itu datang. Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko yang me-mimpin para anggauta itu. Kam Ki sendiri santai saja karena kesombongannya membuat dia meremehkan siapa saja dan memandang rendah tiga orang yang berani memusuhi Pek-lian-kauw dan telah membunuh seorang pembantunya, yaitu Hek-bin Moko.
Pek-hwa Sianli merasa sakit hati sekali terhadap Thio Kam Ki. Sekali ini baru Pek-hwa Sianli merasakan bahwa ia benar-benar jatuh cinta kepada Thio Kam Ki. Bukan sekadar melampiaskan berahi seperti selama ini ia lakukan terhadap para pemuda lain. Ia merasa kehilangan, kesepian dan dunia kehilangan keindahannya setelah hatinya menjadi sakit karena ulah Kam Ki. Ia tahu benar bahwa Kam Ki adalah seorang perjaka yang masih hijau ketika pertama kali bertemu dengannya. Akan tetapi, baru tiga bulan saja mereka bermesraan, tiba-tiba ia memergoki pemuda itu bermain gila dengan dua orang pembantunya!
Biarpun ia telah membunuh A-kui dan A-hui, namun hatinya menjadi semakin sakit melihat Kam Ki minggat meninggalkannya. Ini berarti bahwa pemuda itu tidak cinta padanya. Dan inilah yang menyakitkan. Timbul rasa bencinya terhadap pemuda itu. Ia ingin membunuhnya, akan tetapi iapun tahu benar bahwa tidak mungkin ia dapat melakukan ini karena tingkat kepandaiannya kalah jauh dibandingkan kepandaian Kam Ki.
Kini ia tinggal seorang diri dalam pondoknya di lereng Bukit Ayam Emas itu. Kam Ki telah minggat. Dua orang pembantunya telah tewas dan dikuburkan di kebun belakang pondok. Selama belasan hari Pek-hwa Sianli duduk melamun, makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak. Kalau ia mengenang kehadiran Kam Ki di pondok itu, hatinya dipenuhi rasa rindu dan sekaligus dendam! Nafsunya untuk mencari pemuda-pemuda kini juga hilang bersama hilangnya Kam Ki.
Pagi hari itu kembali Pek-hwa Sianli melamun. Ia duduk di atas bangku yang berada di serambi depan. Tiba-tiba ia melihat dua sosok bayangan orang berkelebat memasuki pekarangan pondok itu. Ketika ia
161
memperhatikan, ternyata ada dua orang gadis telah berada di pekarangan dan kini berjalan menghampirinya sambil tersenyum manis. Wajah Pek-hwa Sianli yang tadinya muram, kini berubah dan bagaikan kilat sebuah gagasan memasuki pikirannya. Mereka inilah yang akan mampu membunuh Kam Ki!
Dua orang gadis itu pasti akan membuat siapa saja yang melihat mereka menjadi kagum dan heran. Kagum karena mereka berdua memang cantik manis, berusia kurang lebih sembilanbelas tahun, berpakaian ringkas dan di punggung mereka tergantung sebatang pedang. Kulit mereka putih mulus, rambut yang hitam panjang itu digelung dengan model gadis kota, pakaian mereka juga rapi walaupun tidak mewah.
Wajah bulat telur itu manis sekali, dengan sepasang mata bintang, hidung mancung dan mulut menggairahkan. Yang mengherankan orang adalah karena keduanya itu persis sama. Wajah manis yang sama, bentuk tubuh ramping dengan lekuk lengkung sempurna juga sama, bahkan pakaian juga serupa. Akan sulit bagi orang untuk dapat membedakan antara mereka!
Dua orang gadis itu memang merupakan gadis kembar. Nama mereka adalah Can Kim Siang dan Can Gin Siang dan mereka berdua adalah piauw-moi (adik misan) Pek-hwa Sianli. Sejak mereka berusia sembilan tahun, ayah ibu mereka tewas ketika terjadi perang saudara antara Kaisar Hui Ti dan Pangeran Yung Lo, paman kaisar itu sendiri, yang akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Yung Lo yang kemudian menjadi kaisar (1403-1424). Anak kembar yang yatim piatu itu lalu diajak pergi oleh Pek-hwa Sianli yang menjadi piauw-ci (kakak misan) mereka.
Pek-hwa Sianli mendidik kedua orang adik misannya itu selama tujuh tahun dan karena kedua orang gadis kembar ini memang berbakat baik sekali, maka dalam waktu tujuh tahun boleh dibilang semua ilmu yang dikuasai Pek-hwa Sianli telah ia turunkan kepada dua orang gadis kembar itu. Kemudian, karena dua orang adik misannya itu telah menjadi gadis-gadis berusia enambelas tahun, Pek-hwa Sianli merasa tidak leluasa mempermainkan pemuda. Maka, ia lalu mengirim kedua orang adik kembarnya itu ke Hoa-san untuk berguru kepada Hoa-san Kui-bo (Biang Setan Gunung Hoa-san) yang menjadi bibi gurunya.
Nah, kini tiga tahun telah lewat dan tiba-tiba dua orang gadis kembar itu muncul di pekarangan rumahnya. Dari gerakan mereka yang demikian cepat ketika berkelebat datang, Pek-hwa Sianli menduga bahwa kini tingkat kepandaian kedua orang adik misannya itu tentu telah lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri dan mereka berdualah yang akan mampu membalaskan sakit hatinya!
“Sian-li……” Dua orang gadis itu berseru hampir berbareng. Memang Pek-hwa Sianli sejak dulu minta kepada kedua orang adik misannya itu agar memanggil Sian-li kepadanya.
“A-kim dan A-gin……!” Pek-hwa Sianli berseru gembira dan melompat dari bangkunya menyambut mereka. Ketiganya lalu berangkulan sambil tertawa gembira. Memang ada hubungan karib di antara mereka. Kedua orang gadis kembar itu merasa berhutang budi kepada Pek-hwa Sianli.
“Aduh, kalian semakin cantik saja dan…… dan semakin mirip satu sama lain. Aku sendiri sampai tidak dapat membedakan mana A-kim dan mana A-gin. Coba kalian tersenyum lebar!”
Dua orang gadis itu tersenyum geli dan Pek-hwa Sianli juga tertawa lalu merangkul seorang di antara mereka. “Nah, sekarang aku tahu. Engkau yang A-kim dan ia itu A-gin. Betul, kan?”
162
“Wah, pandanganmu tajam sekali, Sian-li. Bagaimana engkau dapat begitu cepat mengenal kami?” tanya A-kim.
“Mudah saja. Sejak dulu kuKetahui bahwa rahasia perbedaan di antara kalian ada pada gigi. Gigi A-kim agak gingsul (bertumpuk), akan tetapi justeru itu menambah manis!”
Memang benar. Kalau dua orang gadis kembar itu menutup mulut mereka, bahkan Pek-hwa Sianli sendiri yang mengenal mereka sejak kecil dan tinggal serumah dengan mereka selama tujuh tahun, tidak akan mampu melihat perbedaan antara mereka.
Mereka lalu diajak masuk oleh Pek-hwa Sianli dan mereka bertiga duduk di ruangan dalam. Dua orang gadis kembar itu memandang ke kanan kiri.
“Kenapa begini sepi, Sian-li?” tanya A-kim, sebutan yang digunakan Pek-hwa Sianli untuk mempersingkat nama Can Kim Siang.
“Di mana A-hui dan A-kui, Sian-li?” tanya pula A-gin atau Can Gin Siang.
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba wajah Pek-hwa Sianli yang tadinya gembira itu berubah menjadi muram dan alisnya berkerut, matanya mencorong mengandung kemarahan.
“Eh, ada apakah, Sian-li?” tanya A-kim.
“Aku telah membunuh mereka dan mayat mereka kukubur di kebun belakang!”
“Kaubunuh mereka? Akan tetapi…… kenapakah?” tanya A-gin, terkejut mendengar bahwa Pek-hwa Sianli membunuh dua orang pelayan yang juga dapat dibilang murid kakak misannya itu.
Pek-hwa Sianli menghela napas panjang beberapa kali lalu memandang wajah kedua orang gadis kembar itu. Ia melihat betapa mereka itu ingin tahu sekali.
“Kalau diingat membuat hatiku terasa seperti ditusuk-tusuk. A-kim dan A-gin, aku merasa sakit hati sekali. Aku dikhianati, dibikin malu dan dihina orang tanpa aku dapat menghajarnya karena aku....... aku kalah olehnya. Ah, kalau saja kalian mau menolongku, mencari dan membunuh jahanam itu. Hanya kalian berdualah yang menjadi tumpuan harapanku untuk membalas dendam ini.”
“Sian-li, apakah yang terjadi? Ceritakan kepada kami,” kata A-kim. “Percayalah, kami berdua pasti akan membelamu.”
“Beberapa bulan yang lalu,” Pek-hwa Sianli mulai bercerita. “Aku bertemu dengan seorang laki-laki dan aku jatuh cinta padanya. Dia pandai merayuku dan berjanji akan menikah denganku. Karena terbujuk oleh rayuannya dan karena aku memang kagum dan cinta padanya, aku percaya. Dia bahkan tinggal di rumah ini selama tiga bulan. Kami telah menjadi suami isteri, hanya tinggal menanti saat yang baik untuk merayakan pernikahan kami. Akan tetapi tiba-tiba…… belasan hari yang lalu aku memergoki calon suamiku itu berjina dengan A-hui dan A-kui! Melihat pengkhianatan itu, aku menjadi marah, malu dan merasa terhina, maka aku membunuh A-hui dan A-kui! Akan tetapi ketika aku menyerang laki-laki itu, aku....... kalah olehnya. Aku bahkan diejek dan dihinanya, dimaki-maki karena aku membunuh A-hui dan
163
A-kui....... ah, dia menghinaku dan dendam di hatiku ini baru akan hapus kalau dia dapat ter-bunuh! Maka, kedatangan kalian berdua inilah yang menimbulkan harapan dalam hatiku. A-kim dan A-gin, kalian carilah laki-laki itu dan bunuhlah dia! Aku akan berterima kasih sekali kepada kalian kalau kalian mau dan dapat membunuhnya!”
A-kim dan A-gin saling pandang. Tentu saja mereka ikut bersedih dan marah mendengar cerita Pek-hwa Sianli. Biarpun mereka merasa segan mencampuri urusan cinta gagal karena tindakan serong ini, namun mereka berdua merasa berhutang budi amat besar kepada Pek-hwa Sianli sehingga rasanya keterlaluan kalau mereka tidak mau membantu Pek-hwa Sianli membalaskan sakit hatinya.
“Siapa nama laki-laki itu dan di mana dia tinggal, Sian-li?”
“Namanya Thio Kam Ki dan dia adalah murid Leng-hong Hoatsu pertapa dari Himalaya yang amat terkenal itu. Usianya sekitar duapuluh tiga tahun, tubuhnya sedang dan wajahnya tampan, pakaiannya mewah dan sikapnya ramah.”
“Dan di mana kami dapat menemukan dia?”
Pek-hwa Sianli menarik napas panjang. “Itulah yang membuat aku bingung dan sedih. Dia menurut ceritanya kepadaku, dia yatim piatu dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan tetapi aku percaya bahwa setelah tiga tahun memperdalam ilmu silat kalian pada bibi-guru Hoa-san Kui-bo, tentu kalian berdua telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dan dengan kepandaianmu itu kalian dapat mencari Kam Ki sampai ketemu dan membunuhnya untuk membalaskan dendamku. Maukah kalian melakukan hal itu?”
Dua orang gadis kembar itu saling pandang lalu mengangguk. A-kim dan A-gin tinggal selama sepekan di rumah Pek-hwa Sianli, kemudian mereka meninggalkan rumah dan mulai melakukan perjalanan mencari pemuda bernama Thio Kam Ki itu. Mereka memang sudah mendapat ijin dari Hoa-san Kui-bo untuk turun gunung dan merantau.
Berbeda dengan watak Pek-hwa Sianli yang menjadi hamba nafsunya sendiri, sepasang gadis kembar ini memiliki watak yang baik karena hatinya memang memang bersih. Biarpun sejak usia sembilan tahun mereka dididik Pek-hwa selama tujuh tahun kemudian selama tiga tahun mereka dididik Hoa-san Kui-bo yang merupakan seorang datuk sesat, namun kesesatan dua orang guru mereka itu tidak menurun kepada mereka. Mereka dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat dan mereka selalu berusaha untuk berbuat baik dan pantang melakukan kejahatan.
Pek Hwa Sian-li yang memiliki harta benda itu membelikan dua ekor kuda untuk mereka berdua dan memberi bekal emas dan perak yang cukup banyak untuk biaya mereka di perjalanan. Maka berangkatlah Can Kim Siang dan Can Gin Siang meninggalkan Kim-ke-san (Bukit Ayam Emas) tempat tinggal Pek-hwa Sianli itu.
Pagi hari itu udara cerah sekali. Agaknya hujan semalam suntuk telah menghabiskan semua awan mendung sehingga kini yang tertinggal di langit hanya awan-awan tipis yang tidak mampu menghalangi matahari memancarkan sinarnya yang gemilang. Sinar matahari pagi hari itu seolah mendatangkan kehidupan baru setelah semalam terjadi hujan badai yang dahsyat. Malam gelap pekat, pekat yang menyeramkan, dengan air hujan deras, kilat menyambar-nyambar, angin mengamuk. Akan tetapi pagi ini mengubah segala keburukan semalam, diganti dengan keindahan dan kenyamanan, penuh harapan.
164
Sinar matahari menghidupkan segala sesuatu. Burung-burung yang semalam merasa dunia ini seolah kiamat, membuat mereka ketakutan karena pohon di mana mereka tinggal diguncang hujan badai, kini berceloteh gembira, sudah lupa lagi akan keburukan semalam, beterbangan berkelompok-kelompok menuju ke tempat tertentu di mana mereka tahu terdapat makanan untuk hari ini.
Tiga orang penunggang kuda agaknya juga menikmati keindahan pagi itu. Mereka menjalankan kuda dengan santai di kaki Siong-san (Bukit Siong) sebelah utara. Ketiganya masih muda-muda, seorang gadis dan dua orang pemuda.
Setelah tiba di jalan yang menuju ke lereng bukit itu, mereka menahan kuda dan memandang ke atas dengan mata mencari-cari. Akan tetapi yang tampak dari situ hanyalah pepohonan bergerombol, hutan-hutan lebat.
“Li-ko, apakah ini benar Bukit Siong yang dimaksudkan?” tanya Ui Kong, pe-muda tampan tinggi tegap itu.
Ong Siong Li, pemuda tampan bertubuh agak pendek itu mengangguk-angguk. “Tidak salah lagi, Kong-te. Aku pernah beberapa kali lewat dekat Siong-san ini, akan tetapi belum pernah mendaki ke atas.”
“Kuyakin Li-ko benar. Tempat ini memang amat baik untuk dijadikan sarang perkumpulan macam Pek-lian-kauw. Bukit ini penuh hutan lebat dan di sekitar sini tidak terdapat dusun. Daerah yang sepi begini tentu saja tepat untuk dijadikan tempat persembunyian perkumpulan sesat itu,” kata Lim Bwee Hwa.
Siong Li mengerutkan alisnya, sinar matanya meragu ketika dia memandang ke atas. “Hemm, tempat ini berbahaya. Selain penuh hutan lebat, juga perlu dipikirkan segala kemungkinan yang dapat menyulitkan kita. Aku mendengar bahwa perkumpulan Pek-lian-kauw selain memiliki pimpinan yang lihai, juga mempunyai banyak anggauta. Mungkin saja mereka mempunyai puluhan bahkan ratusan orang anggauta. Kalau kita bertiga mendatangi sarang mereka, mungkinkah kita dapat melawan pengeroyokan mereka? Pek-lian-kauw adalah perkumpuian penjahat dan pemberontak yang selalu dimusuhi pemerintah. Apakah tidak lebih baik kalau kita mencari bala bantuan, melaporkannya kepada komandan pasukan keamanan pemerintah di kota terdekat? Pasukan dapat menghadapi anak buah mereka dan kita mencari pembunuh Paman Ui Cun Lee, membasmi dia dan para pimpinan Pek-lian-kauw.”
“Aku tidak takut akan pengeroyokan mereka, Li-ko!” Bwee Hwa berkata pena-saran. “Kita harus membalas kematian Paman Ui dan dapat merampas kembali patung Kwan-im Pouw-sat!”
“Aku juga tidak takut! Untuk membalas dendam kematian ayahku, aku siap berkorban nyawa!” kata Ui Kong.
Siong Li menghela napas panjang dan berkata kepada mereka. “Hwa-moi dan Kong-te, aku juga tidak takut. Akan tetapi menghadapi musuh yang keadaannya lebih kuat dari kita karena jumlah mereka banyak, tidak cukup bermodal keberanian belaka. Kita berani, namun harus memakai perhitungan agar tidak merugikan kita sendiri.”
“Apa sih yang perlu dikhawatirkan, Li-ko? Kepandaian tosu Pek-lian-kauw bermuka putih itu tidak seberapa, kita pasti akan mampu membasmi dia dan anak buahnya!” bantah Bwee Hwa.
165
“Benar, Li-ko. Kita bertiga cukup kuat untuk membasmi gerombolan jahat itu!” kata pula Ui Kong yang selain mendukung Bwee Hwa juga ingin menonjolkan keberaniannya untuk menarik hati Bwee Hwa.
Akhirnya Siong Li mengalah. Tentu saja dia tidak mau berbantahan dengan dua orang itu. “Baiklah kalau begitu, mari kita mendaki bukit ini. Akan tetapi kuharap kalian waspada dan berhati-hati.”
Mereka bertiga lalu menjalankan kuda melakukan pendakian bukit Siong dengan hati-hati dan kini ketiganya tidak bercakap-cakap lagi. Mereka telah tiba di wilayah sarang Pek-lian-kauw.
Tiga orang ini tidak tahu bahwa sejak tadi kedatangan mereka telah diketahui lawan! Bukit itu memang terjaga dengan ketat dan ketika mereka bertiga berhenti tadi, mereka telah terlihat oleh seorang anggauta Pek-lian-kauw dan begitu mereka bertiga mengambil jalan pendakian, jalan yang dibuat oleh Pek-lian-kauw, anggauta itu segera berlari dan melaporkan kepada pimpinannya.
Mendengar laporan ini, Kam Ki mengajak Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko untuk melihat. Dari tempat ketinggian mereka mengamati ke bawah dan tak lama kemudian mereka dapat melihat tiga orang penunggang kuda yang sedang mendaki itu. Mereka sudah tidak begitu jauh lagi. Pandang mata Kam Ki yang tajam dapat melihat betapa seorang di antara tiga orang penunggang kuda itu adalah seorang gadis yang amat cantik.
“Itukah mereka, Pek-bin Moko?” tanyanya.
Pek-bin Moko memandang penuh perhatian dan dia segera mengenal tiga orang muda yang dulu bertempur dengan rombongannya dan telah membunuh Hek-bin Moko dan tiga orang pembantu mereka.
“Tidak salah lagi, mereka bertiga itulah yang dulu menentang kami!”
“Perintahkan murid-murid agar siap mengepung setelah mereka tiba di sini. Jangan ganggu mereka dalam perjalanan mereka ke sini karena aku ingin menangkap gadis itu dalam keadaan hidup dan tidak terluka. Kita bunuh dua orang pemuda itu setelah mereka bertiga tiba di sini,” kata Kam Ki.
Pek-bin Moko lalu cepat menyampaikan perintah itu kepada para pembantunya, kemudian dia kembali ke dalam pondok untuk menanti datangnya tiga orang musuh itu bersama Ang-bin Moko dan Kam Ki.
Bwee Hwa, Siong Li, dan Ui Kong merasa heran juga melihat bahwa mereka dapat mendaki ke atas tanpa ada rintangan sedikitpun. Mereka tahu bahwa jalan yang dapat dilalui kuda itu tentu buatan orang-orang Pek-lian-kauw. Akan tetapi mengapa perjalanan menuju ke lereng itu sama sekali tidak dapat rintangan dan keadaan di situ sunyi saja? Biarpun tampaknya perjalanan menuju ke atas itu aman saja dan agaknya tidak ada halangan apa-apa, tiga orang muda itu tetap waspada dan berhati-hati, khawatir kalau pihak musuh memasang perangkap.
Akhirnya mereka melihat perkampungan Pek-lian-kauw di atas tanah landai yang luas dekat puncak. Akan tetapi juga sekitar duapuluh lebih pondok yang berada di perkampungan itu tampak sepi. Tidak tampak ada seorangpun.
Ong Siong Li memberi isyarat kepada dua orang temannya, lalu dia melompat turun dari atas kuda dan menambatkan kudanya pada sebatang pohon yang tumbuh di luar perkampungan. Ui Kong dan Bwee
166
Hwa mengikutinya. Kemudian mereka bertiga dengan hati-hati memasuki perkampungan. Melihat sebuah pondok terbesar di tengah perkampungan, mereka menghampiri.
Baru saja mereka memasuki pekarangan yang luas dari rumah besar itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dan puluhan orang anggauta Pek-lian-kauw memasuki perkampungan itu. Kiranya mereka semua bersembunyi di luar perkampungan dan setelah tiga orang itu memasuki perkampungan bagaikan tiga ekor ikan memasuki jaring, mereka semua serentak memasuki perkam-pungan dan mengepung tiga orang muda yang berada di pekarangan rumah besar itu!
Melihat puluhan orang berbondong-bondong memasuki perkampungan dan kini mengepung mereka dalam lingkaran yang lebar, tiga orang muda itu sudah mencabut pedang masing-masing dan siap menghadapi pengeroyokan. Akan tetapi ternyata puluhan orang anggauta Pek-lian-kauw itu tidak ada yang bergerak menyerang. Siong Li segera berseru ke arah mereka. Suaranya lantang dan bergema karena dia mengerahkan tenaga saktinya.
“Kami bertiga datang untuk berurusan dengan Pek-bin Moko seorang. Suruh dia keluar menemui kami karena kami tidak ingin membunuh orang-orang lain yang tidak bersalah kepada kami!”
“Ha-ha-ha-ha! Bocah-bocah sombong, kalian seperti tiga ekor anjing kecil menggonggong dan menantang dalam gua singa!” terdengar suara tawa dan muncullah Kam Ki, Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko dari dalam rumah itu. Yang tertawa tadi adalah Pek-bin Moko dan dia melanjutkan. “Mau apakah kalian bertiga datang ke sini?”
Wajah Ui Kong sudah menjadi merah saking marahnya melihat Pek-bin Moko. Inilah orang yang telah membunuh ayahnya, maka dia lalu membentak marah.
“Tosu jahanam, engkau telah membunuh ayahku. Aku akan membunuhmu untuk membalaskan sakit hati ini!”
“Dan engkau harus mengembalikan patung Dewi Kwan Im milik kuil Ban-hok-si!” Lim Bwee Hwa juga membentak marah.
Sejak tadi Kam Ki memandang Bwee Hwa dengan sinar mata berkilat. Dia tersenyum dan diam-diam hatinya girang bukan main. Gadis yang dari jauh tampak jelita itu setelah kini berdiri di depannya ternyata cantik luar biasa. Belum pernah dia mendapatkan seorang gadis cantik dan segagah ini.
Ang-bin Moko yang kedudukannya lebih tinggi daripada Pek-bin Moko, berkata dengan nada sombong. “Heh, siapakah kalian tiga orang muda ini? Perkenalkan namamu agar jangan sampai kalian mati tanpa nama!”
Kini Siong Li kembali mewakili dua orang temannya. “Dengarlah, para pimpinan cabang Pek-lian-kauw. Nona ini adalah Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) Lim Bwee Hwa. Pemuda ini adalah Ui Kong, putera mendiang Ui-wangwe yang dibunuh oleh Pek-bin Moko, dan aku sendiri bernama Ong Siong Li murid Thai-san-pay. Kami bertiga tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Pek-lian-kauw, akan tetapi ketika kami bertiga melihat orang-orang Pek-lian-kauw membunuhi hwesio dan merannpok patung Dewi Kwan Im dari kuil Ban-hok-si, tentu saja kami menentang. Ui-wangwe yang tidak berdosa telah dibunuh pula. Maka kami datang untuk minta kembali patung kuil Ban-hok-si dan pertanggungan jawab
167
Pek-bin Moko yang telah membunuh Hartawan Ui Cun Lee yang terkenal sebagai seorang dermawan di kota Ki-lok!”
Kini Kam Ki maju dan sambil memandang wajah Bwee Hwa dan tersenyum, dia berkata. “Kami sungguh kagum melihat kalian bertiga begini tabah dan berani, bagaimana pendapatmu kalau kita berbaik-baik saja, melihat betapa kalian telah dikepung limapuluh orang lebih anggauta kami?”
Bwee Hwa mengerutkan alisnya dan sambil melintangkan pedangnya di depan dada dan menudingkan dua jari tangan kirinya ke arah muka Kam Ki, ia berkata dengan ketus.
“Siapa takut kepada kalian berikut anak buah kalian? Kalau kalian demikian curang dan pengecut untuk mengeroyok kami dengan banyak anak buah, biar ditambah seratus orang lagi kami tidak akan merasa gentar!”
“He-he-he-he!” Kam Ki terkekeh dan wajahnya berseri. “Engkau hebat, nona Liem Bwee Hwa. Sikapmu yang berani memang pantas dengan julukanmu Si Tawon Merah yang siap menyerang dan menyengat! Akan tetapi kurasa julukanmu lebih pantas diubah menjadi Si Kupu-kupu Merah karena engkau begini indah, cantik jelita bagaikan seekor kupu-kupu merah. Ketahuilah, aku Thio Kam Ki yang menjadi ketua cabang Pek-lian-kauw di sini. Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko ini adalah wakil-wakilku. Kalian kematian Ui Cun Lee, akan tetapi pihak kami kematian Hek-bin Moko dan tiga orang anak buah kami. Sebetulnya kami yang lebih menderita rugi dan sepatutnya kami yang mendendam sakit hati kepada kalian! Akan tetapi sudahlah, bagaimana pendapatmu kalau kita baik-baikan saja, nona?”
Bwee Hwa mengerutkan alisnya dan menatap wajah Kam Ki yang tampan itu dengan sinar mata penuh selidik. “Apa yang kau maksudkan?” tanyanya ketus.
“Begini, nona. Pihak kalian kematian seorang dan pihak kami kematian empat orang. Biarlah kami mengalah dan tidak ada dendam lagi di antara kami. Adapun mengenai patung Dewi Kwan Im dari Kuil Ban-hok-si itu, kami akan berbaik hati mengembalikannya kepadamu. Akan tetapi sebaliknya kalian harus membalasnya dengan kebaikan pula.”
“Kebaikan apa?” tanya Bwee Hwa, masih ketus karena ia merasa ragu apakah Ui Kong dapat menerima usul perdamaian itu karena ia tahu bahwa pemuda itu amat sakit hati terhadap Pek-bin Moko yang telah membunuh ayahnya.
“Begini. Kita berdamai saja, melupakan permusuhan kami mengembalikan pa-tung, akan tetapi kalian tinggal di sini, engkau menjadi isteriku, nona dan kedua orang ini menjadi pembantu-pembantuku. Bagaimana pendapatmu?”
Wajah Bwee Hwa menjadi merah, matanya mencorong dan ia menerjang dan menyerang Kam Ki sambil membentak. “Jahanam busuk, siapa sudi menjadi isterimu? Makan pedang ini!”
Serangan Bwee Hwa itu dahsyat sekali karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan gerakannya cepat bukan main, pedangnya berkelebat meluncur ke arah leher Kam Ki bagaikan seekor tawon terbang menyerang. Akan tetapi, walaupun Kam Ki terkejut melihat dahsyatnya serangan itu dan merasa kagum, namun dia yang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dapat mengelak dengan loncatan ke belakang dan berkata kepada Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko.
168
“Kalian bunuh dua orang pemuda itu!”
Dua orang pimpinan Pek-lian-kauw itu mencabut pedang mereka yang tergan-tung di punggung. Akan tetapi sebelum mereka bergerak menyerang, Ui Kong dan Siong Li sudah lebih dulu menyerang mereka. Ui Kong yang mendendam kepada Pek-bin Moko, sudah menyerang tokoh Pek-lian-kauw bermuka putih itu. Adapun Siong Li yang melihat betapa Bwee Hwa sudah menyerang pemuda tampan yang mengaku sebagai ketua cabang Pek-lian-kauw itu dan Ui Kong sudah menyerang Pek-bin Moko, lalu bergerak cepat menyerang Ang-bin Moko dengan pedangnya.
Terjadilah pertandingan tiga lawan tiga. Kalau Siong Li dan Ui Kong dilawan oleh dua orang Moko itu dengan pedang pula sehingga mereka bertanding ilmu pedang, Bwee Hwa yang menggunakan pedang dilawan oleh Kam Ki hanya dengan tangan kosong!
Ketika para anggauta Pek-lian-kauw tampak mempersempit lingkaran dan agaknya hendak membantu para pimpinan mereka, Kam Ki membentak. “Kalian mundur, tidak boleh mengeroyok!”
Para anggauta Pek-lian-kauw mundur. Tentu saja seruan ini disengaja oleh Kam Ki yang melihat bahwa dia pasti akan mampu menundukkan gadis itu dan juga dua orang pembantunya tampak seimbang dengan lawan masing-masing. Pula, dia ingin kelihatan gagah dan tidak curang dalam pandangan Bwee Hwa, gadis cantik jelita yang menjatuhkan hatinya itu.
Bwee Hwa mengamuk dan menggunakan semua kepandaiannya untuk merobohkan lawannya. Setiap serangannya merupakan serangan maut yang berbahaya. Tubuhnya lenyap dan yang tampak hanya bayangan merah berkelebatan dibungkus sinar pedang Sin-hong-kiam. Terdengar suara berdengung-dengung seperti ada ratusan ekor tawon mengamuk. Akan tetapi, tingkat kepandaian Kam Ki jauh di atas tingkatnya sehingga mudah saja bagi Kam Ki untuk menghindarkan diri dari semua serangan dengan cara mengelak atau bahkan menangkis dengan tangannya. Tangan telanjang itu berani menangkis pedang Sin-hong-kiam, hal ini membuat Bwee Hwa terkejut bukan main.
Beberapa kali tangan kirinya menyambitkan Sin-hong-ciam (Jarum Tawon Merah) kepada lawannya yang amat tangguh itu. Namun jarum-jarum itu runtuh semua disambar kebutan tangan Kam Ki! Dan mulailah Kam Ki mempermainkan Bwee Hwa. Setiap ada kesempatan, tangannya dengan nakal meraba, mengelus atau mencubit dada, punggung, dan pinggul gadis itu. Bwee Hwa menjadi marah bukan main, akan tetapi ia tidak berdaya karena memang tingkatnya kalah jauh.
Siong Li bertanding seimbang dengan Ang-bin Moko. Dia membagi perhatiannya terhadap Bwee Hwa dan alangkah marah dan khawatirnya melihat betapa gadis itu menjadi permainan Kam Ki yang ternyata amat lihai itu. Melihat gadis itu ditowel, dicubit dan dibelai, Siong Li tak dapat menahan kemarahan hatinya. Ketika dia memutar pedang mendesak Ang-bin Moko sehingga lawannya terpaksa mundur, cepat sekali Ong Siong Li melompat ke kiri dan menyerang Kam Ki untuk membantu Bwee Hwa yang jelas terdesak hebat oleh pemuda ketua Pek-lian-kauw yang amat lihai itu.
“Singgg……!” Sambil melompat Siong Li membabatkan pedangnya ke arah leher Kam Ki.
Akan tetapi dengan mudah Kam Ki menghindarkan diri dengan merendahkan tubuhnya sehingga sabetan pedang itu hanya lewat di atas kepalanya. Ang-bin Moko mengejar dan menyerang dari belakang. Siong Li membalikkan pedang menangkis.
169
“Tranggg……!” Bunga api berpijar, akan tetapi pada saat Siong Li menangkis pedang itu, Kam Ki melakukan pukulan jarak jauh dengan telapak tangan mengeluarkan uap hitam.
“Wuuuuuttt…… dessss.......!” Hawa pukulan yang amat dahsyat melanda dada Siong Li. Pemuda ini terlempar dan muntah darah! Dia telah terkena pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang amat dahsyat. Biarpun Siong Li merasakan isi dada dan perutnya seperti dibakar, dia menguatkan diri dan mencoba bangkit.
“Li-ko……!” Bwee Hwa berseru ketika melihat Siong Li terpukul roboh sedemikian hebatnya. Akan tetapi karena perhatiannya tertuju kepada Siong Li, ia menjadi lengah dan dengan mudah sekali menggerakkan tangannya, Kam Ki telah menotok jalan darah di pundak Bwee Hwa dan gadis itupun terkulai lemas. Kam Ki tertawa lalu menyambar tubuh Bwee Hwa, memondongnya dan membawa pula pedang Bwee Hwa lalu masuk ke dalam rumah besar.
Siong Li melihat bahwa Ui Kong telah berhasil merobohkan Pek-bin Moko. Tadinya mereka bertanding ramai sekali, tampaknya seimbang, akan tetapi sesungguhnya tingkat kepandaian Ui Kong masih menang sedikit sehingga ketika dia mengeluarkan jurus-jurus simpanannya dan mengerahkan seluruh tenaganya, Pek-bin Moko terdesak hebat. Pada saat Siong Li terlanda pukulan maut dari Kam Ki, Ui Kong berhasil merobek perut Pek-bin Moko dengan ujung pedangnya. Tokoh Pek-lian-kauw bermuka putih itu roboh mandi darah. Perutnya robek dan dia tidak mungkin dapat tertolong.
Ui Kong melihat Siong Li terhuyung mendekatinya. Jelas bahwa pendekar berjuluk Naga Tanduk Satu ini terluka dalam. Dia tidak melihat lagi Bwee Hwa yang tadi bertanding melawan pemuda yang mengaku sebagai ketua Pek-lian-kauw. Hati Ui Kong gelisah sekali.
“Kong-te....... cepat! Cepat lari dan cari bala bantuan!” Siong Li berseru.
Ui Kong meragu. “Akan tetapi…… Hwa-moi……!”
“Engkau tidak dapat menolongnya tanpa bala bantuan! Cepat lari, mungkin engkau dapat menolongnya…… cepat!!”
Siong Li menarik tangan Ui Kong dan dia sendiri membuka jalan darah, menerjang para anggauta Pek-lian-kauw yang menghalangi jalan. Ui Kong dapat melihat kebenaran ucapan Siong Li, maka diapun memutar pedangnya sehingga amukan mereka berdua membuat para anggauta berpelantingan roboh dan terbukalah jalan untuk melarikan diri.
“Cepat lari, Kong-te. Cepat cari bala bantuan!” Siong Li berseru dan merobohkan lagi dua orang anggauta Pek-lian-kauw yang mencoba menghalangi mereka.
“Tapi engkau……?” Ui Kong bingung.
“Aku akan menghalangi mereka yang hendak mengejarmu. Cepatlah!” kata Siong Li yang sudah menyambut Ang-bin Moko yang mengejar.
Ui Kong lalu berlari keluar dari perkampungan itu, menemukan kuda mereka bertiga, melepaskan ikatan dan melompat ke atas punggung kuda lalu membalapkan kuda itu menuruni lereng Bukit Siong! Hatinya seperti ditusuk-tusuk kalau dia teringat akan Bwee Hwa dan Siong Li. Dia memang telah dapat
170
membalaskan kematian ayahnya, telah berhasil membunuh Pek-bin Moko. Akan tetapi Bwee Hwa agaknya tertawan dan Siong Li terancam maut karena tadi dia melihat bahwa kawannya itu telah menderita luka dalam yang agaknya parah.
Siong Li mengamuk, dikeroyok Ang-bin Moko dan beberapa orang anggauta Pek-lian-kauw. Bagaikan seekor harimau terluka dikeroyok segerombolan anjing srigala, dia sempat merobohkan lagi tiga orang anggauta Pek-lian-kauw. Akan tetapi luka dalam tubuhnya terasa nyeri sekali, panas dan dalam dada dan perutnya seperti ditusuk-tusuk. Tubuhnya menjadi semakin lemah dan akhirnya dia tidak kuat lagi. Dia terguling roboh dan dihujani bacokan golok dan pedang. Tewaslah Ong Siong Li, Si Naga Tanduk Satu, tewas sebagai seorang pendekar perkasa.
Sementara itu, Ui Kong membalapkan kudanya menuruni lereng bukit. Hatinya merasa gelisah sekali. Mukanya pucat dan dia merasa benci kepada dirinya sendiri. Kenapa dia melarikan diri, padahal Bwee Hwa tertawan musuh dan Siong Li terancam nyawanya? Ingin dia kembali ke atas dan mengamuk. Akan tetapi dia teringat akan kata-kata Siong Li. Dia tahu bahwa Siong Li benar. Kalau dia mengamuk seorang diri, dia pasti akan roboh dan tewas dan itu berarti Bwee Hwa tidak akan dapat ditolong lagi. Tidak, dia bukan melarikan diri karena pengecut, bukan karena takut melainkan untuk mencari bala bantuan agar dapat menyelamatkan Bwee Hwa dan kalau mungkin, menyelamatkan Siong Li pula.
Akan tetapi ke mana dia harus mencari bala bantuan? Dia tidak mengenal daerah itu, tidak seperti Siong Li yang mempunyai banyak pengalaman. Bahkan sebelum mendaki bukit, Siong Li sudah menganjurkan untuk mencari bala bantuan lebih dahulu, akan tetapi dia dan Bwee Hwa membantah dan menyatakan tidak takut sehingga akhirnya Siong Li mengalah dan mereka bertiga naik sampai ke sarang Pek-lian-kauw. Dan akibatnya menyedihkan! Dia merasa menyesal mengapa dia tidak mendukung gagasan Siong Li itu.
Ke mana dia harus mencari bala bantuan untuk menghadapi anggauta Pek-lian-kauw yang banyak itu? Dipimpin oleh orang-orang yang amat lihai? Dia teringat bahwa Siong Li mengusulkan untuk mencari bala bantuan pasukan keamanan pemerintah. Dia akan mencoba untuk mencari kota terdekat di mana terdapat pasukan keamanannya, kalau tidak ada, dia akan langsung ke kota Ki-lok. Di kota tempat kelahirannya itu, keluarganya mengenal baik para pejabat pemerintah, juga mengenal para perwira pasukan keamanan. Mereka pasti akan menolongnya.
Ui Kong membalapkan kudanya. Setibanya di kaki bukit, hampir hampir saja dia bertabrakan dengan dua orang penunggang kuda yang juga membalapkan kudanya dari depan, berpapasan dengannya. Akan tetapi ketika dia sekuat tenaga menahan kendali agar kudanya berhenti, dua orang penunggang kuda itu dengan cekatan menghindar ke samping sehingga tidak terjadi tabrakan! Betapa tangkasnya dua orang penunggang kuda itu. Karena ingin tahu, dia menoleh dan dua orang penunggang kuda itu juga menghentikan, bahkan memutar kudanya untuk memandang kepada Ui Kong.
Ui Kong terpesona, bukan hanya oleh kecantikan dua orang dara itu, melainkan lebih lagi karena persamaan antara keduanya. Wajahnya, rambutnya, pakaiannya, bentuk tubuhnya, sama benar! Melihat betapa Ui Kong selamat dan pemuda itu memandang kepada mereka dengan bengong, Can Kim Siang dan Can Gin Siang, dua orang gadis kembar itu, tersenyum dan mereka memutar kuda, melanjutkan perjalanan dengan cepat mendaki bukit.
Ui Kong mengerutkan alisnya. Hemm, tentu dua orang gadis itu merupakan orang-orang Pek-lian-kauw pula! Dan mereka itu jelas bukan gadis-gadis lemah. Begitu mahir menunggang kuda, dan di punggung
171
mereka tergantung siang-kiam (sepasang pedang). Ah, kini keadaan cabang Pek-lian-kauw di Bukit Siong itu menjadi semakin kuat dengan datangnya dua orang gadis itu. Dia harus cepat mendapatkan bala bantuan! Kembali Ui Kong membalapkan kudanya menuju pulang ke Ki-lok. Dia ingat bahwa ketika berangkat, mereka bertiga melewati dua buah kota. Dia harapkan di dua kota itu akan bisa mendapatkan bala bantuan pasukan keamanan.
“Kim-ci (Kakak Kim), siapa ya pemuda itu? Tampaknya dia tergesa-gesa. Apakah dia anggauta Pek-lian-kauw?” tanya Can Gin Siang kepada kakak kembarnya.
“Entahlah, Gin-moi (adik Gin). Akan tetapi melihat wajah dan sikapnya, dia seperti bukan orang jahat. Akan tetapi tampak gugup dan gelisah. Wajahnya agak pucat,” kata Can Kim Siang menjawab pertanyaan adik kembarnya.
Dua orang gadis kembar itu lalu melanjutkan pendakian mereka menuju puncak bukit. Seperti kita Ketahui, Can Kim Siang dan Can Gin Siang ini adalah sepasang gadis kembar yang diutus Pek-hwa Sianli untuk mencari dan membunuh Thio Kam Ki. Mereka berdua adalah adik misan Pek-hwa Sianli yang telah menjadi yatim piatu sejak berusia sembilan tahun. Pek-hwa Sianli membawa mereka dan melatih mereka dengan ilmu silat selama tujuh tahun, kemudian mengirim mereka berguru kepada bibi gurunya, yaitu Hoa-san Kui-bo selama tiga tahun. Kini sepasang gadis kembar itu menjadi lihai dan tingkat kepandaian mereka tidak berada di bawah tingkat Pek-hwa Sianli.
Tentu saja sepasang gadis kembar ini menjadi bingung juga karena selain mereka belum pernah melihat Kam Ki, juga mereka tidak tahu ke mana perginya pemuda itu, tidak tahu harus mencari ke mana. Mereka melanjutkan perantauan mereka dan di sepanjang perjalanan itu mereka bertanya-tanya barangkali ada orang yang mengetahui di mana adanya Thio Kam Ki yang mereka cari-cari itu.
Ketika pada suatu hari mereka tiba di dusun Liok-cung, tak jauh dari Bukit Siong, mereka mendengar keluhan penduduk dusun itu bahwa baru beberapa bulan ini gerombolan yang tinggal di puncak Siong-san, yang mereka tidak tahu gerombolan apa, telah melakukan banyak gangguan, terutama sekali suka menculiki gadis-gadis cantik dari dusun-dusun di sekitar pegunungan itu.
Dua orang gadis kembar yang biarpun sejak kecil dididik oleh orang-orang sesat seperti Pek-hwa Sianli dan Hoa-san Kui-bo namun memiliki jiwa pendekar, begitu mendengar keluhan rakyat pedusunan itu segera membalapkan kuda mereka mendaki Bukit Siong. Semenjak meninggalkan Hoa-san Kui-bo, guru mereka yang tinggal di Hoa-san, sepasang gadis kembar ini selalu turun tangan menentang para penjahat dan membela mereka yang lemah tertindas. Karena itu, mendengar ada gerombolan yang suka bertindak sewenang-wenang bahkan menculik gadis-gadis dusun, mereka menjadi marah dan tanpa ragu lagi segera mendaki Bukit Siong untuk menumpas gerombolan jahat itu.
Kalau sewaktu Siong Li, Ui Kong, dan Bwee Hwa mendaki bukit itu sama sekali tidak menemui rintangan sampai mereka tiba di depan perkampungan Pek-lian kauw, hal itu adalah karena memang disengaja oleh para pimpinan Pek-lian-kauw yang hendak memancing tiga orang itu naik dan baru dikepung setelah tiba di pekarangan rumah ketua Pek-lian-kauw. Akan tetapi sekarang, ketika Can Kim Siang dan Can Gin Siang menjalankan kudanya mendaki bukit, setelah tiba di lereng tengah, tiba-tiba muncul sepuluh anggauta Pek-lian-kauw menghadang di tengah jalan.
Melihat munculnya sepuluh orang laki-laki yang bersenjata golok dan pada baju bagian dada mereka terdapat lukisan bunga teratai putih pada lingkaran dasar biru, tahulah dara kembar itu bahwa mereka
172
tentulah anggauta gerombolan Pek-lian-kauw. Keduanya lalu melompat turun dari atas kuda dan menghadapi mereka dengan siap siaga dan waspada.
Sepuluh orang gerombolan Pek-lian-kauw itu terbelalak memandang dua orang gadis itu. Mereka merasa kagum dan heran. Kagum akan kecantikan mereka akan tetapi juga heran melihat betapa dua orang dara itu persis sama. Wajah, bentuk tubuh, pakaian, semua serupa dan tidak dapat dibedakan satu sama lain. Pemimpin kelompok itu lalu melangkah maju dan bertanya, suaranya keren karena seperti biasa terjadi pada pria umumnya, bertemu dengan wanita cantik lalu timbul sikapnya untuk berlagak.
“Hei, dua orang nona yang cantik dan gagah! Siapakah kalian dan ada keperluan apa kalian mendaki bukit ini? Kalian melanggar wilayah kami!”
Can Kim Siang yang selalu menjadi wakil pembicara di antara sepasang dara kembar itu karena ia lebih pandai bicara daripada Can Gin Siang yang pendiam, lalu menjawab lantang.
“Siapa kami tidak perlu kalian Ketahui! Kalian adalah para anggauta gerombolan Pek-lian-kauw. Minggirlah atau terpaksa kami berdua akan membunuh kalian semua!”
“Ha-ha, galak benar engkau, nona. Kami tidak akan mempergunakan kekerasan karena ketua kami tentu akan marah kalau kami melukai apalagi sampai membunuh dua orang gadis cantik jelita seperti kalian berdua. Akan tetapi karena kalian telah melanggar wilayah kami, terpaksa kami akan menangkap kalian dan kami bawa menghadap ketua kami.”
Dua orang gadis kembar itu saling pandang. Keduanya memiliki perasaan yang amat peka satu terhadap yang lain sehingga melalui pandang mata saja mereka sudah menduga pikiran masing-masing. Can Kim Siang dan adik kembarnya berpikir bahwa berdasarkan pengalaman mereka menghadapi gerombolan penjahat, untuk membasmi gerombolan penjahat haruslah seperti kalau membunuh ular. Yaitu kepalanya dulu dihancurkan dan seluruh badan dan ekornya akan tak berdaya lagi. Menghadapi gerombolan penjahat juga demikian. Kepalanya atau pemimpinnya dulu dibasmi. Kalau pemimpinnya mati, tentu para anggautanya akan menyerah.
“Memang kedatangan kami ini untuk bertemu dengan ketua kalian! Akan tetapi kami hendak bertemu dengannya sebagai orang bebas, bukan tangkapan. Kalau kalian hendak menangkap kami, terpaksa kami melawan dan membunuh kalian!” kata Can Kim Siang.
Seorang anggauta gerombolan itu mendekati sang pemimpin regu dan berbisik, “Hati-hati, twako, jangan-jangan mereka ini teman-teman ketua kita yang baru. Kalau kita ganggu dan ketua mendengarnya, kita akan celaka.......”
Pemimpin itu mengangguk, lalu berkata kepada dua orang dara kembar itu. “Baiklah, mari kami antar nona berdua bertemu dengan ketua kami, bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai tamu. Silakan, nona-nona!”
Kim Siang dan Gin Siang merasa girang. Mereka akan lebih senang kalau dapat membasmi saja pimpinan gerombolan ini, daripada harus membasmi para anggauta yang hanya menaati perintah pimpinannya. Mereka menunggang kuda mereka dan mendaki bukit, didahului oleh sepuluh orang anggauta Pek-lian-
173
kauw itu karena dua orang dara kembar itu tidak menghendaki anak buah gerombolan itu berjalan di belakang mereka.
Setelah tiba di pintu gerbang perkampungan Pek-lian-kauw, Kim Siang dan Gin Siang turun dari atas kudanya dan mereka membiarkan anak buah Pek-lian-kauw mengurus dua ekor kuda mereka. Dengan waspada dan hati-hati dua orang dara kembar yang tabah itu mengikuti anggauta Pek-lian-kauw yang mengantar mereka sampai ke dalam pekarangan rumah besar tempat tinggal ketua Pek-lian-kauw.
Pemimpin regu tadi segera memasuki rumah besar dan ketika mendapat keterangan dari para pelayan bahwa sang ketua berada dalam kamarnya, dia segera menuju ke kamar itu dan mengetuk daun pintu kamar yang tertutup.
“Tok-tok-tok.......!!”
Thio Kam Ki berada di dalam kamarnya yang luas itu. Dia duduk di tepi pembaringan dan di atas pembaringan itu Bwee Hwa rebah telentang dengan kedua kaki tangannya terbelenggu! Setelah tadi berhasil menangkap Bwee Hwa dengan menotoknya sehingga gadis itu terkulai lemas dan dipondongnya memasuki rumah, dia lalu melempar tubuh Bwee Hwa di atas pembaringan, mengikat kedua kaki tangannya, baru dia membebaskan totokan pada diri Bwee Hwa sehingga Bwee Hwa dapat bergerak kembali. Akan tetapi gadis itu tidak mampu menggerakkan kaki tangannya yang terpentang dan terikat pada kaki pembaringan. Ia teringat akan Ong Siong Li yang terluka dan terpukul roboh.
Kini ia tertawan dan mungkin Siong Li tewas, juga Ui Kong tentu tidak mampu melawan seorang diri saja. Membayangkan semua ini, Bwee Hwa memandang kepada Kam Ki yang duduk di atas kursi sambil minum arak itu dengan mata mencorong penuh kemarahan. Membayangkan Siong Li tewas, ia menjadi sedih dan marah sekali. Ong Siong Li merupakan orang yang paling baik baginya, pemuda itu merupakan penolongnya, sahabatnya yang setia, dan ia tahu pula betapa Siong Li amat mencintanya.
Iapun amat suka dan kagum kepada Siong Li, walaupun ia mencinta pemuda itu sebagai kasih sayang seseorang terhadap kakaknya. Betapa besar kasih sayang Siong Li kepadanya sehingga pemuda itu mengantar ia untuk mencari tunangannya, calon suaminya! Siong Li mengalah, mengorbankan kesenangan diri sendiri demi cintanya dan demi kebahagiaan dirinya! Ia sendiri mencinta Siong Li sebagai seorang kakak. Juga ia tidak mempunyai rasa cinta terhadap Ui Kong maupun Ui Kiang, hanya menganggap kedua kakak beradik ini sebagai sahabat-sahabat yang baik. Bagaimanapun juga, kini mengingat bahwa mungkin Siong Li tewas dan Ui Kong terancam bahaya, ia menjadi sedih sekali dan marah.
“Kamu…… jahanam busuk, manusia terkutuk! Lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai mati!” Bwee Hwa memaki sambil memandang kepada pemuda tampan yang gerak-geriknya lembut namun yang memiliki ilmu kepandaian amat lihai itu.
Mendengar kata-kata ketus ini, Kam Ki menoleh, lalu minum sisa arak dalam cawannya dan setelah meletakkan cawan kosong di atas meja, dia tersenyum menghampiri pembaringan. Dia duduk di tepi pembaringan dan mengamati wajah dan seluruh tubuh Bwee Hwa.
Diam-diam Bwee Hwa bergidik dan merasa seluruh bulu di tubuhnya meremang. Ia merasa seolah-olah sinar mata pemuda itu menggerayangi dan membelai seluruh tubuhnya. Pandang mata itu terasa amat mengerikan baginya. Sering sudah ia melihat pandang mata seperti itu dari para pria yang bertemu
174
dengannya, akan tetapi baru sekarang ia melihat sinar mata yang begitu penuh nafsu seperti bernyala-nyala, senyum yang tampak olehnya begitu keji dan kejam!
“Hemm, Ang-hong-cu Lim Bwee Hwa, julukan Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) memang tepat untukmu. Engkau dapat menjadi liar dan galak seperti seekor tawon yang siap menyerang dan menyengat siapa saja, akan tetapi engkaupun dapat seperti seekor kupu-kupu yang amat cantik jelita menggairahkan. Bwee Hwa, engkau telah terjatuh ke dalam tanganku. Betapa mudahnya bagiku untuk membunuhmu, akan tetapi aku tidak tega membunuhmu, bahkan menyakitimupun aku tidak tega. Engkau begini cantik jelita, kulitmu begini mulus. Gadis seperti engkau ini pantasnya disayang dan dibelai, bukan disakiti……”
“Keparat, aku tidak membutuhkan pujian dan rayuanmu! Cepat katakan bagaimana keadaan dua orang temanku!”
“Ha-ha-ha, dua orang temanmu itu mencari kematiannya di sini. Mereka sudah mati!”
Tentu saja Bwee Hwa terkejut bukan main dan kesedihan membuat ia menjadi marah sekali. Akan tetapi karena kaki tangannya terbelenggu sehingga ia tidak mampu bergerak, ia hanya dapat memandang dengan sinar mata penuh kebencian dan berteriak-teriak.
“Jahanam busuk! Engkau kejam, engkau keparat! Hayo lepaskan aku dan kita bertanding sampai mati! Kalau engkau pengecut dan tidak berani, hayo cepat bunuh! Aku tidak takut mati!”
Kam Ki tidak marah, malah tersenyum. “Hem, dalam keadaan marah engkau malah semakin cantik menarik. Bwee Hwa, manis, jangan salahkan aku kalau dua orang itu mati. Mereka mencari kematian mereka sendiri karena berani menyerbu ke sini. Akan tetapi engkau…… aku tidak mengijinkan siapapun juga membunuhmu atau bahkan melukaimu. Aku cinta padamu, Bwee Hwa, dan aku ingin engkau menjadi isteriku dan hidup sebagai suami di sini, memimpin para anak buah. Engkau akan hidup bahagia.......!”
“Cukup!” Bwee Hwa membentak. “Lebih baik aku mati daripada menjadi isteri seorang penjahat busuk macam kamu!”
Biarpun mulutnya tetap tersenyum, namun dalam hatinya Kam Ki mulai merasa dongkol. “Lim Bwee Hwa, biar kau pikirkan lebih dulu permintaanku agar engkau lebih baik hidup dan menjadi isteriku di sini daripada engkau nekat mencari kematian. Aku akan mandi dulu. Nanti aku akan kembali mendengar keputusan dan jawabanmu.” Setelah berkata demikian, Kam Ki keluar dari kamar itu.
Setelah pemuda itu meninggalkan kamar, Bwee Hwa mulai menangis. Tadi ia tidak sudi memperlihatkan tangisnya di depan pemuda itu. Akan tetapi kini, setelah ditinggal sendirian, ia membayangkan kematian Ong Siong Li dan Ui Kong seperti yang dikatakan Kam Ki tadi dan ia merasa berduka sekali. Ia memang belum mempunyai perasaan cinta sebagai seorang wanita terhadap pria kepada kedua orang pemuda itu, biarpun Siong Li merupakan seorang sahabat terbaiknya yang selalu membela dan membantunya dan Ui Kong adalah salah seorang calon tunangannya karena ia harus memilih antara Ui Kong dan Ui Kiang untuk menjadi calon jodohnya seperti yang telah ditentukan mendiang ibunya. Akan tetapi ia menganggap Siong Li dan Ui Kong sebagai sahabat-sahabat yang amat baik dan ada rasa kagum dan sayang dalam hatinya terhadap mereka. Kini mereka telah tewas! Ia merasa sedih dan juga sakit hati sekali terhadap Pek-lian-kauw yang dipimpin Kam Ki, pemuda yang jahat akan tetapi juga amat lihai sekali itu.
175
Tak lama kemudian, terpaksa Bwee Hwa menghentikan lamunannya dan menghentikan pula tangisnya walaupun ia tidak dapat menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya karena ia mendengar langkah kaki orang memasuki ruangan itu.
Setelah orang itu datang dekat dan duduk di tepi pembaringan di mana ia diikat, ia melihat Kam Ki yang agaknya telah mandi dan kini mengenakan pakaian bersih dan indah. Juga ketika pemuda itu di tepi pembaringan, dekat sekali dengannya, ia mencium bau harum. Agaknya pemuda itu sengaja bersolek untuk menarik hatinya. Akan tetapi, kemunculan pemuda yang tampak tampan dan lembut itu bukan menarik hati Bwee Hwa, bahkan membuat ia muak dan semakin membencinya.
“Ah, adik manis, kenapa engkau menangis?” tanya Kam Ki dengan lembut dan ia mengusap air mata dari pipi Bwee Hwa. Gadis itu menggerakkan kepalanya menolak rabaan itu.
“Bwee Hwa, bagaimana, apakah engkau telah mengambil keputusan? Maukah engkau menjadi isteriku tersayang? Percayalah, aku cinta padamu.”
“Jahanam, tidak perlu merayu. Kalau mau bunuh, lakukanlah, dan jangan banyak cakap lagi!” Bwee Hwa menghardik lalu membuang muka, tidak mau memandang pemuda yang dibencinya itu.
Kesabaran mulai menyurut dari hati Kam Ki. “Dengar baik-baik, Bwee Hwa. Sekarang engkau boleh memilih satu antara dua. Pertama, engkau menurut dengan suka rela menjadi isteriku dan kita hidup berdua di sini dalam keadaan terhormat, mulia dan serba kecukupan. Kedua, kalau engkau tetap menolak, aku akan memaksamu dan memperkosamu, setelah aku bosan engkau akan kuserahkan kepada anak buah Pek-lian-kauw agar engkau mereka permainkan beramai-ramai sampai engkau mati! Nah, engkau pilih yang mana?”
Tanpa berpikir panjang untuk memilih-milih, Bwee Hwa membentak. “Aku memilih mati!”
Wajah Kam Ki berubah merah. “Engkau memilih yang kedua?”
“Aku tidak sudi memilih, baik yang pertama maupun yang kedua. Aku akan membalas dendam kepadamu kalau masih hidup atau aku akan memilih mati agar arwahku dapat mengejar dan membalas dendam kepadamu, keparat!”
Kam Ki marah sekali. Akan tetapi pada saat itu, pintu kamar diketuk orang dari luar.
“Siapa berani menggangguku? Apa engkau minta mati?” bentak Kam Ki yang merasa terganggu.
“Ampun, pangcu (ketua). Saya tidak bermaksud mengganggu, akan tetapi hendak melaporkan bahwa di luar ada dua orang gadis cantik ingin bertemu dengan pangcu.” jawab kepala jaga dengan suara agak gemetar karena dia merasa ketakutan.
Mendengar bahwa ada dua orang gadis cantik ingin bertemu dengannya, kemarahan Kam Ki mereda. Dia bangkit berdiri, berkata kepada Bwee Hwa.
“Kau tunggu saja. Masih ada waktu untuk berpikir. Akan tetapi kalau aku kembali ke sini dan engkau masih keras kepala menolak untuk menjadi isteriku, aku akan melakukan pilihan kedua!” Setelah
176
berkata demikian, Kam Ki melangkah ke pintu kamar, keluar dan menutupkan kembali daun pintu kamar itu. Kemudian, diiringkan oleh kepala jaga yang melapor itu, dia melangkah keluar.
Setelah tiba di luar, dia melihat dua orang gadis yang cantik manis berdiri dengan sikap gagah. Yang mengagumkan hatinya, dua orang gadis itu memiliki wajah, bentuk tubuh, gelung rambut dan pakaian yang persis sama, seolah dia melihat seorang gadis dan bayangannya! Dia menduga bahwa tentu dia berhadapan dengan sepasang gadis kembar yang cantik jelita dan gagah. Mereka memiliki kulit yang putih mulus kemerahan, bermata tajam jeli seperti bintang, hidung mancung dan mulut yang menggairahkan. Juga bentuk tubuh mereka amat indah. Dua orang gadis ini tidak kalah cantik dibandingkan Lim Bwee Hwa!
Sementara itu, Can Kim Siang dan Can Gin Siang, dua orang gadis kembar tercengang melihat bahwa ketua Pek-lian-kauw yang keluar menemui mereka sama sekali bukan seorang yang berpakaian pendeta berusia lanjut seperti yang mereka duga, melainkan seorang laki-laki muda yang berpakaian mewah! Pemuda berwajah tampan gagah, bersikap lembut dan senyumnya menawan.
Kam Ki merasa gembira dan dia segera mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan yang segera dibalas oleh sepasang gadis kembar itu.
Sio-cia(Nona Berdua), siapakah kalian dan ada keperluan apakah nona datang berkunjung?” tanya Kam Ki dengan suara yang lembut dan senyum memikat.
“Kami ingin bertemu dan bicara dengan ketua Pek-lian-kauw,” kata Can Kim Siang. Ia mengira bahwa pemuda itu tentu seorang anggauta pula.
Kam Ki tersenyum, “Akulah ketua Pek-lian-kauw di sini, nona.”
Dua orang gadis itu saling pandang dan Kim Siang mengerutkan alisnya lalu berkata ragu. “Akan tetapi, bukankah ketua Pek-lian-kauw seorang yang sudah berusia lanjut dan berpakaian sebagai pendeta? Kami mendengar bahwa Pek-lian-kauw adalah perkumpulan agama……”
“Ha-ha, memang tadinya begitu. Akan tetapi sekarang aku yang menjadi ketua di sini semenjak beberapa bulan yang lalu.”
“Hemm, kebetulan kalau begitu. Kami sepasang saudara Can hanya kebetulan lewat di daerah ini dan kami mendengar berita dari para penduduk pedusunan di daerah ini bahwa banyak terjadi penculikan dan perampokan yang dilakukan oleh gerombolan penjahat yang tinggal di puncak Siong-san sini. Karena yang berada di sini adalah perkumpulan Pek-lian-kauw, maka kami minta pertang-gungan jawab ketua Pek-lian-kauw. Benarkah anak buahmu yang melakukan pengacauan dan mengganggu rakyat di pedusunan daerah ini?” tanya Kim Siang sambil menatap ketua perkumpulan gerombolan penjahat.
Senyum di bibir Kam Ki melebar. Tentu saja dia tahu akan perbuatan anak buahnya itu karena dialah yang lebih dulu memilih gadis-gadis yang diculik, memilih yang dia sukai.
“Aih, nona-nona yang baik, kenapa kalian menuduh begitu? Aku ketua Pek-lian-kauw Kam Ki tidak pernah.......”
177
Sepasang gadis kembar itu terkejut sekali sehingga Kim Siang segera memotong ucapan Kam Ki. “Siapa namamu tadi?”
“Namaku Kam Ki dan aku tidak pernah membiarkan anak buahku berbuat jahat!”
“Kam Ki? Jadi engkau inikah yang dulu berada di lereng, Bukit Ayam Emas? Engkau yang telah berjina dengan A-hui dan A-kui? Engkau tunangan Pek-hwa Sianli?” Kim Siang berseru marah.
“Eh, bagaimana engkau bisa tahu?” Kam Ki bertanya, terheran-heran dan terkejut, akan tetapi sama sekali tidak takut maka diapun tidak hendak menyangkal.
Can Kim Siang dan Can Gin Siang mencabut pedang mereka. Kedua orang gadis kembar ini bersenjata siang-kiam(sepasang pedang).
“Kam Ki, bersiaplah engkau untuk menebus dosa dan mati di tangan kami!” Kim Siang membentak, kini tidak merasa ragu untuk memenuhi permintaan piauw-ci (kakak misan) yang juga gurunya yang pertama, yaitu Pek-hwa Sianli, dan untuk membunuh Kam Ki karena ternyata bahwa pemuda itu adalah seorang penjahat, ketua Pek-lian-kauw yang suka mengganggu penduduk dusun dan menculik gadis-gadis dusun.
“Hei, nanti dulu!” kata Kam Ki, masih tenang saja karena memang dia selalu memandang rendah orang lain dan menganggap diri sendiri yang paling pandai. “Boleh saja kalau kalian hendak mencoba untuk membunuhku nanti. Akan tetapi katakan lebih dulu apa hubungannya aku bercintaan dengan Pek-hwa Sianli, dengan A-hui dan A-kui? Siapakah kalian berdua ini sebenarnya?”
“Kami adalah piauw-moi (adik misan) Pek-hwa Sianli dan ia minta kepada kami untuk membunuh engkau yang sudah mengkhianati cintanya. Kam Ki, bersiaplah untuk mati di tangan kami!”
“Ha-ha-ha!” Kam Ki tertawa. “Aku memang sudah siap, bukan untuk mati di tangan kalian, melainkan untuk bersenang-senang dengan kalian berdua!”
Tentu saja sepasang gadis kembar itu menjadi merah mukanya karena marah. Mereka berpencar ke kiri kanan, lalu dari kiri kanan mereka menyerang dengan gerakan cepat dan kuat sambil mengeluarkan bentakan nyaring.
“Haiiittttt……!!”
Kam Ki terkejut bukan main. Serangan kedua orang gadis ini benar-benar hebat dan amat berbahaya. Dia mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan mengandalkan kecepatannya untuk mengelak ke sana-sini. Akan tetapi dua pasang pedang itu membentuk empat gulungan sinar yang mengejarnya ke manapun dia berkelebat sehingga Kam Ki menjadi kewalahan juga. Sesungguhnya, tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian sepasang gadis kembar ini. Akan tetapi karena dua orang gadis itu maju berbareng dan mereka berdua agaknya memiliki hubungan batin yang amat kuat sehingga gerakan mereka dapat dipersatukan, seolah dikendalikan oleh satu pikiran saja maka mereka merupakan lawan yang amat tangguh.
Di lain pihak, sepasang gadis kembar itupun terkejut ketika serangan mereka yang gencar itu selalu gagal. Pemuda itu dapat bergerak dengan cepat sekali sehingga tubuhnya bagaikan bayangan saja yang
178
berkelebatan di antara sinar pedang mereka. Dan kalau sekali-kali Kam Ki mengibaskan tangan untuk menangkis pedang dari samping, mereka merasa betapa tangan mereka tergetar hebat.
Sekarang mengertilah sepasang gadis kembar itu mengapa Pek-hwa Sianli menyuruh mereka berdua mencari dan membunuh Kam Ki. Pek-hwa Sianli sendiri pasti tidak dapat menandingi pemuda yang amat lihai sekali. Mereka lalu mengerahkan seluruh kemampuan mereka dengan kerja sama yang amat baik sehingga mereka mampu menekan Kam Ki walaupun tidak mudah untuk membunuhnya.
Kam Ki melihat Ang-bin Moko sudah muncul di situ dan bersama para anak buah menonton dia bertanding melawan sepasang gadis kembar itu.
“Moko, bantu aku menangkap mereka ini. Jangan bunuh dan jangan lukai, tangkap hidup-hidup!” kata Kam Ki.
Ang-bin Moko maklum apa yang dimaksudkan Kam Ki. Dia lalu membanting bahan peledak di dekat dua orang gadis kembar itu. Terdengar suara ledakan dan asap putih yang tebal membubung. Can Kim Siang dan Can Gin Siang hendak menghindar, namun Kam Ki menghadang mereka dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan angin kuat sehingga mereka tidak mampu menjauh dan otomatis mereka menyedot asap putih. Seketika mereka merasa pandang mata mereka gelap dan sambil mengeluh keduanya roboh terguling, pingsan terbius oleh asap yang mengandung pembius amat kuat itu.
Sambil tertawa girang Kam Ki mengempit tubuh dua orang gadis kembar itu dan membawanya masuk ke dalam kamar besar di mana Bwee Hwa masih terikat di atas pembaringan. Kam Ki memerintahkan anak buahnya untuk mengambilkan dua buah dipan, lalu mengikat dua orang gadis kembar itu masing-masing di atas sebuah dipan, seperti keadaan Bwee Hwa, telentang di atas pembaringan dengan kedua kaki tangan terikat kuat!
Kam Ki duduk menghadapi meja dan tertawa-tawa senang sambil memandangi tiga orang gadis itu berganti-ganti. Ketiganya mempunyai daya tarik tersendiri. Ketiganya cantik jelita menggairahkan!
“Ha-ha-ha! Aku semalam tidak bermimpi kejatuhan tiga buah bintang ge-merlapan, tahu-tahu sekarang ada tiga orang gadis cantik manis siap melayaniku. Ha-ha-ha!”
“Engkau jahanam keparat busuk!” Bwee Hwa memaki.
Akan tetapi Kam Ki hanya tertawa sambil menuangkan arak dalam cawan dan meminumnya dengan hati senang.
Dengan perasaan berat tertindih kekhawatiran akan nasib Siong Li yang terkepung, apa lagi nasib Bwee Hwa yang tertawan oleh Kam Ki, ketua Pek-lian-kauw yang lihai itu, Ui Kong membalapkan kudanya menuruni lereng bukit.
Tiba-tiba dia melihat debu mengepul tinggi di dekat bukit dan tampak pasukan yang cukup besar, agaknya tidak kurang dari duaratus orang perajurit! Hati Ui Kong berdebar penuh ketegangan dan harapan, lalu membalapkan kudanya ke depan. Setelah dekat, dia melihat kakaknya, Ui Kiang menunggang kuda di depan pasukan, bersama tiga orang perwira.
179
Pasukan itu mulai memasuki hutan di lereng terbawah. Melihat ini Ui Kong berseru nyaring, “Kiang-ko……!”
Ui Kiang memandang ke depan dan segera mengenal adiknya. Dia memberitahu para perwira agar menghentikan pasukan. Pasukan berhenti dan sebentar saja kedua kakak beradik itu sudah saling berhadapan.
Kedua orang kakak beradik itu melompat turun dari atas kuda dan mereka berlari saling menghampiri.
“Kong-te, bagaimana keadaanmu? Di mana Hwa-moi dan saudara Siong Li?”
“Ah, celaka, Kiang-ko. Bwee Hwa tertawan dan Li-ko terancam bahaya,” kata Ui Kong.
“Bagaimana mungkin kalian bertiga sampai dapat dikalahkan?” Ui Kiang berseru heran dan juga kaget.
“Kiang-ko, cabang Pek-lian-kauw itu mempunyai seorang ketua baru, masih muda dan bernama Kam Ki. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, amat lihai dan kami tidak mampu menandinginya,” kata Ui Kong.
“Kalau begitu, mari kita tolong adik Bwee Hwa dan saudara Siong Li. Engkau menjadi penunjuk jalan. Pasukan ini akan membantu kita, Kong-te!”
Ui Kong merasa lega dan dengan semangat meluap-luap karena timbul harapan baru untuk dapat menyelamatkan Bwee Hwa dan Siong Li, dia membedal kudanya, kembali naik ke Bukit Siong, diikuti oleh Ui Kiang, para perwira dan pasukan mereka.
Tak seorangpun di antara mereka melihat atau mengetahui bahwa ketika Ui Kong dan Ui Kiang bicara tadi, ada bayangan orang mengintai dan mendengarkan mereka dari atas sebatang pohon yang tinggi besar dan lebat daunnya. Begitu mendengar nama Kam Ki disebut, bayangan itu lalu berkelebat lenyap dan mendahului pasukan itu naik ke bukit Siong. Gerakannya amat ringan dan larinya seperti terbang cepatnya.
Bagaimana Ui Kiang dapat secara kebetulan tiba di tempat itu bersama Pasukan besar? Kiranya setelah Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li pergi, Ui Kiang merasa tidak enak karena dia hanya mampu menyumbangkan pikiran dan tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Maka dia lalu cepat menghubungi panglima pasukan keamanan di kota Ki-lok dan menceritakan segalanya, juga tentang dugaannya bahwa sarang pembunuh yang tokoh Pek-lian-kauw itu dapat dilacak melalui gerombolan Kiu-liong-pang. Juga dia menceritakan tentang usaha Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li yang ingin menemukan pembunuh ayahnya dan merampas kembali patung Kwan Im dari Kuil Ban-hok-si. Dia minta bantuan panglima itu yang segera memerintahkan tiga orang perwiranya untuk memimpin duaratus orang perajurit membantu Ui Kiang yang hendak melakukan pengejaran dan membantu tiga orang pendekar. Demikianlah, di lereng pertama Bukit Siong itu pasukan bertemu dengan Ui Kong setelah mereka mendatangi gerombolan Kiu-liong-pang di lembah Sungai Kiu-liong dan memaksa tiga orang ketua gerombolan itu untuk memberitahu di mana adanya sarang Pek-lian-kauw.
Dan siapakah bayangan yang berkelebat dan kini berlari secepat terbang mendaki Bukit Siong itu? Dia adalah seorang pemuda yang bentuk tubuhnya sedang, wajahnya gagah namun membayangkan kelembutan, pakaiannya sederhana, kepalanya tertutup sebuah caping lebar. Pemuda ini memiliki sinar
180
mata yang lembut dan wajahnya selalu dihiasi senyum yang ramah, penuh kesabaran dan penuh pengertian.
Dia bukan lain adalah Sie Bun Sam, pemuda berusia duapuluh lima tahun, murid utama Leng-hong Hoatsu. Seperti kita Ketahui, Sie Bun Sam menerima tugas dari Leng-hong Hoatsu untuk mencari sutenya, Thio Kam Ki yang menyeleweng dan berguru pada orang sesat.
Setelah beberapa bulan melacak, pada hari itu secara kebetulan dia mendengar keluhan para penduduk daerah Bukit Siong tentang kejahatan yang dilakukan gerombolan yang bersarang di puncak Bukit Siong. Seperti halnya dua orang gadis kembar, mendengar ini Bun Sam menjadi penasaran. Jiwa pendekarnya tersentuh dan dia mengambil keputusan untuk mendaki Siong-san dan membasmi gerombolan penjahat itu agar tidak lagi mengganggu ketenteraman kehidupan penduduk dusun di sekitar pegunungan itu.
Kebetulan sekali dia melihat pertemuan antara Ui Kong dan Ui Kiang. Bun Sam yang ingin tahu apa yang terjadi sehingga ada pasukan besar berada di situ, cepat melompat ke atas pohon dan sempat mendengarkan percakapan Ui Kong dan Ui Kiang. Ketika dia mendengar bahwa Pek-lian-kauw lah perkumpulan gerombolan pengacau itu dan kini gerombolan itu dipimpin oleh Kam Ki tentu saja dia terkejut dan menyesal sekali.
Tidak disangkanya bahwa sute yang amat disayangnya itu kini malah semakin dalam terperosok dalam kesesatan. Menjadi ketua Pek-lian-kauw! Maka dia harus cepat turun tangan mencegah sutenya itu melakukan perbuatan yang tidak baik. Dia mendengar laporan para penduduk di kaki gunung tadi bahwa gerombolan itu mengganggu rakyat dan bahkan menculik gadis-gadis.
Hati Bun Sam terguncang, penuh keraguan. Benarkah sutenya sekarang melakukan kejahatan seperti itu? Rasanya sukar dipercaya! Akan tetapi kalau dia mengingat betapa sutenya telah memukulnya pingsan dengan ilmu pukulan asing yang bersifat jahat, dia menjadi curiga. Maka, cepat dia melompat dan berlari cepat ke puncak gunung, karena agaknya pasukan pemerintah itu siap untuk membasmi gerombolan yang dipimpin Thio Kam Ki.
Dia hendak membuktikan dulu bagaimana keadaan gerombolan itu. Kalau benar gerombolan itu Pek-lian-kauw melakukan kejahatan dipimpin oleh Kam Ki, dia harus menentangnya. Akan tetapi kalau semua itu hanya fitnah dan sutenya tidak bersalah, dia harus membela sutenya dari serangan pasukan!
Thio Kam Ki duduk menghadap meja dan minum arak sambil memandang ke arah tiga orang gadis yang telah diikat kaki tangannya dan rebah telentang di atas pembaringan masing-masing itu! Dia merasa girang sekali. Tiga orang gadis itu sungguh cantik menarik dan mereka bertiga itu sudah berada dalam tangannya. Bagaikan tiga potong daging sudah berada dalam mangkok di depannya, tinggal makan saja! Akan tetapi, dia merasa kecewa dan tidak puas. Dia ingin tiga orang gadis cantik itu mau melayaninya dan membalas cintanya. Bukan melayaninya karena dipaksa. Kalau saja mereka bertiga suka menjadi isteri-isterinya dan hidup bersamanya di situ, tentu dia akan merasa berbahagia sekali!
Setelah puas minum arak, Kam Ki lalu menghampiri pembaringan Bwee Hwa. Dia duduk di tepi pembaringan dan membujuk Bwee Hwa, karena bagaimanapun juga, dia lebih tertarik kepada Bwee Hwa.
“Bwee Hwa, bagaimana, apakah engkau tetap menolak? Lihat, mereka berdua menjadi tawananku. Merekapun cantik-cantik dan memiliki ilmu silat yang bahkan lebih lihai daripada kepandaianmu. Mereka tentu akan senang sekali kalau menjadi isteriku.”
181
“Jahanam busuk! Siapa sudi menjadi isterimu? Aku tidak sudi!” kata Can Kim Siang yang kini sudah siuman dari pingsannya.
“Akupun tidak sudi! Lebih baik mati!” teriak Can Gin Siang yang juga sudah siuman.
“Huh, laki-laki tidak tahu malu!” Bwee Hwa mengejek. “Tulikah telingamu sehingga kamu tidak mendengar ucapan mereka? Mereka berdua menolak untuk menjadi isterimu, akupun lebih baik mati daripada menjadi isterimu. Mau bunuh boleh bunuh, akan tetapi untuk menjadi isterimu, jangan harap!” kata Bwee Hwa dengan suara mengandung ejekan.
Ucapan-ucapan tiga orang gadis itu mendatangkan kesan baik satu sama lain di antara mereka dan mereka merasa lebih kuat karena mengalami nasib yang sama.
Mendengar ucapan tiga orang gadis itu, wajah Kam Ki menjadi merah sekali. Dia merasa marah bukan main. Untung tidak ada orang lain yang melihat keadaan dan mendengar makian tiga orang gadis itu. Kalau ada orang lain melihat dan mendengarnya, dia akan merasa malu bukan main! Dia, seorang pemuda yang berilmu tinggi, berwajah tampan dan gagah pula, kini ditolak mentah-mentah oleh tiga orang gadis. Bukan hanya ditolak, bahkan dimaki-maki dan dihina. Kalau menurutkan nafsu amarahnya, ingin dia membunuh tiga orang gadis itu pada saat itu juga! Akan tetapi tiga orang gadis itu begitu cantik dan manis, sayang kalau dibunuh begitu saja!
Untuk menenangkan hatinya yang panas dan marah, Kam Ki menuang dan minum arak dari cawannya sampai tiga kali. Kemudian dia tertawa.
“Ha-ha-ha! Kalian ini gadis-gadis yang angkuh dan besar kepala! Kalian berani menolakku? Ha-ha-ha, kalian kira begitu mudah menghinaku, ya? Tunggu saja! Aku akan menghinamu sepuluh kali lipat! Aku akan memperkosa kalian satu demi satu di sini, mempermainkan kalian sesuka hatiku dan sepuasku! Kalau aku sudah bosan, aku akan memberikan kalian kepada anak buahku, biar kalian dibuat permainan mereka sampai kalian mampus!”
Biarpun mulut mereka diam saja, namun di dalam hatinya, sepasang gadis kembar itu merasa ngeri juga mendengar ancaman itu. Akan tetapi mereka diam saja dan mereka berdua kagum ketika mendengar Bwee Hwa tertawa mengejek.
“Huh, ucapanmu itu hanya menunjukkan bahwa engkau adalah seorang pemuda yang tidak tahu malu dan jahat, keji, dan licik! Kalau memang engkau seorang pemuda gagah, hayo lepaskan ikatan ini dan mari kita bertanding sampai mati! Aku tidak takut padamu dan tidak takut akan ancamanmu, keparat! Kalau engkau melaksanakan ancamanmu itu, setelah mati aku pasti akan menjadi setan penasaran dan akan mengejarmu sampai di manapun juga.”
Thio Kam Ki memandang kepada Bwee Hwa dengan mata melotot dan sinarnya mencorong marah. “Hemm, Lim Bwee Hwa gadis sombong! Engkaulah yang akan kusiksa dan kuhina lebih dulu di depan dua orang gadis kembar ini!”
Setelah berkata demikian, Kam Ki bangkit dari kursinya dan menghampiri pem-baringan di mana Bwee Hwa rebah telentang dengan kaki tangan terikat. Karena merasa tidak berdaya, Bwee Hwa memejamkan kedua matanya agar ia tidak usah menyaksikan apa yang akan dilakukan pemuda itu kepadanya.
182
Kam Ki yang telah banyak minum arak sehingga nafsunya semakin berkobar membakar dan mempengaruhi hati akal pikirannya, sambil menyeringai lebar berkata.
“Tunggulah sebentar, manisku. Aku merasa panas dan hendak mandi dulu biar badanku segar sehingga aku akan mampu melayani kalian bertiga berturut-turut, ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian, dia mengusap pipi Bwee Hwa. Gadis itu membuang muka dan Kam Ki lalu meninggalkan kamar itu sambil tertawa bergelak.
Setelah pemuda itu pergi meninggalkan kamar, Can Kim Siang yang tadi melihat sikap Bwee Hwa dan merasa suka akan keberaniannya, bertanya, “Sobat, siapakah engkau dan bagaimana dapat tertawan oleh bangsat itu?”
Bwee Hwa yang tadi juga melihat betapa dua orang gadis itu berani menentang dan memaki Kam Ki, segera menjawab. “Namaku Lim Bwee Hwa, orang menyebut aku Ang-hong-cu. Aku bersama dua orang sahabatku menyerang Pek-lian-kauw untuk membunuh Pek-bin Moko dan merampas kembali patung emas Dewi Kwan Im yang dia curi dari kuil Ban-hok-si. Kami berhasil membunuh Pek-bin Moko, akan tetapi……” Bwee Hwa berhenti sebentar karena lehernya serasa dicekik kesedihan, “seorang sahabatku tewas dan yang lain entah bagaimana nasibnya, sedangkan aku sendiri tertawan.”
“Ah…… kami tadi berpapasan dengan seorang pemuda bertubuh tinggi tegap naik kuda dengan cepat sekali menuruni lereng bukit. Apakah itu sahabatmu yang kedua itu?” tanya Can Gin Siang, dan Kim Siang juga mengangguk karena menduga demikian.
“Berapa kira-kira usianya dan apa warna pakaiannya?” tanya Bwee Hwa.
“Usianya sekitar duapuluh tahun lebih, pakaiannya berwarna kuning,” kata Kim Siang.
“Ah, benar dia!” seru Bwee Hwa. “Tentu dia itu Kong-ko, maksudku Ui Kong. Dia dapat meloloskan diri, syukurlah dan aku yakin dia pasti tidak akan tinggal diam begitu saja melihat aku tertawan. Aku yakin bahwa dia tentu mencari bala bantuan!”
“Ssssttt....... dia datang……!” kata Kim Siang dan mereka bertiga menanti dengan jantung berdebar penuh ketegangan.
Mereka bertiga sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan kaki tangan mereka, akan tetapi Kam Ki yang tahu bahwa tiga orang gadis itu memiliki kepandaian tinggi, sudah mengikat kaki tangan mereka dengan tali yang amat kuat sehingga usaha mereka bertiga selalu gagal.
Tiga orang gadis itu otomatis menengok ke arah pintu kamar. Akan tetapi mereka tidak melihat siapa-siapa di situ dan ada suara gerakan orang di jendela kamar. Mereka otomatis menengok ke arah jendela.
Daun jendela terbuka dari luar dan pengganjalnya dari palang itupun patah. Sesosok tubuh orang dengan gerakan yang amat gesit melompat ke dalam kamar itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, seolah seekor burung raksasa yang terbang masuk lewat jendela.
Tiga orang gadis tawanan itu menengok dan memandang dengan heran dan hati tegang, akan tetapi ketika melihat bahwa orang itu sama sekali bukan Thio Kam Ki seperti yang mereka duga dan
183
khawatirkan, mereka menjadi lega, akan tetapi juga heran dan bertanya-tanya dalam hati apakah masuknya orang asing ini akan mendatangkan malapetaka ataukah pertolongan. Orang itu adalah seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, tubuhnya sedang saja, juga wajahnya tidak terlalu tampan namun juga tidak jelek, sederhana seperti pakaiannya. Sebuah caping lebar menutupi kepalanya.
Bwee Hwa yang berada paling dekat dengan orang itu, berkata lirih. “Siapakah engkau, kawan ataukah lawan? Kalau lawan, cepat bunuh kami! Kami tidak takut mati!”
Laki-laki itu adalah Sie Bun Sam. Dia memandang kepada Bwee Hwa dan tersenyum lembut. Pandang matanya seolah terpesona melihat wajah Bwee Hwa dan dia berkata lembut. “Bukan kawan dan bukan lawan, nona. Akan tetapi tidak dapat aku berdiam diri saja melihat kejahatan dilakukan orang.” Setelah berkata demikian, dia mengampiri Bwee Hwa dan dua kali tangannya bergerak, ikatan pada kaki dan tangan gadis itu putus.
Hwa menggosok-gosok pergelangan kaki dan tangannya untuk melancarkan jalan darahnya lalu melompat turun dan melihat Sin-hong-kiam miliknya yang tadi dirampas Thio Kam Ki berada di atas meja, ia menyambar pedangnya itu.
Sementara itu Bun Sam sudah melepaskan ikatan pada kaki tangan Can Kim Siang dan Can Gin Siang. Dua orang gadis kembar inipun segera mengambil Siang-kiam (pedang pasangan) masing-masing yang tadi juga dibawa Kam Ki dan berada di atas meja. Tiga orang gadis itu merasa girang sekali, seolah-olah burung garuda mendapatkan kembali paruh dan cakarnya.
“Terima kasih, sobat!” kata Bwee Hwa.
Sebelum Bun Sam sempat menjawab, terdengar suara ribut-ribut di luar kamar itu. “Mereka datang mengejarku ke sini. Mari kita keluar menyambut mereka dan serahkan orang yang bernama Thio Kam Ki kepadaku!”
Bun Sam mendahului tiga orang gadis itu, membuka daun pintu kamar dan ternyata di luar kamar terdapat belasan orang anggauta Pek-lian-kauw. Mereka adalah para anggauta yang melakukukan pengejaran terhadap Bun Sam.
Pemuda itu tadi memasuki perkampungan Pek-lian-kauw dan ketika dia dihadang tiga orang anggauta Pek-lian-kauw dengan mudah dia merobohkan mereka. Akan tetapi dia kelihatan oleh beberapa orang anggauta lain yang segera mengumpulkan teman-temannya dan melakukan pengejaran.
Bwee Hwa, Kim Siang, dan Gin Siang yang sudah marah sekali lalu menerjang maju dan tiga orang anggauta Pek-lian-kauw terjungkal mandi darah disambar pedang mereka. Yang lain-lain cepat berlari keluar karena mereka semua sudah maklum akan kelihaian tiga orang gadis tawanan itu. Mereka tadi ketika mengejar Bun Sam sama sekali tidak mengira bahwa tiga orang gadis itu sudah bebas.
Melihat tiga orang rekan mereka roboh mandi darah, yang lain segera melarikan diri keluar dari rumah itu, selain untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga mereka dapat leluasa mengeroyok, juga mereka mengharapkan bantuan para anggauta lain. Terutama sekali mereka menanti munculnya Thio Kam Ki dan Ang-bin Moko yang mereka andalkan.
184
Sementara itu, ketika dia sedang mandi, Kam Ki mendengar suara hiruk pikuk itu. Cepat dia mengeringkan tubuh lalu mengenakan pakaian, kemudian dia melompat keluar, cepat menuju ke kamar di mana tiga orang gadis tawanannya berada.
Alangkah kaget dan marahnya ketika dia tidak melihat tiga orang gadis itu di atas pembaringan masing-masing, juga pedang-pedang mereka tidak ada. Tahulah dia bahwa mereka itu, entah bagaimana caranya, telah dapat me-lepaskan diri. Mendengar suara ribut di depan rumah, Kam Ki cepat berlari ke-luar, merasa penasaran, kecewa dan marah.
Ketika dia tiba di pekarangan yang luas itu, dia melihat semua anak buah sedang mengepung dan mengeroyok tiga orang gadis yang telah bebas itu. Para anak buah itu dipimpin sendiri oleh Ang-bin Moko. Melihat Ang-bin Moko memimpin kurang lebih limapuluh orang anggautanya itu mengeroyok, Kam Ki merasa yakin bahwa dia akan mampu menangkap tiga orang gadis itu kembali.
“Ang-bin Moko, tangkap mereka hidup-hidup! Jangan bunuh atau lukai mereka!” teriaknya.
Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di depan Thio Kam Ki telah berdiri Sie Bun Sam yang memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata penuh mengandung teguran!
“Suheng……! Kau…… di sini?” tanyanya gagap, bukan karena takut melainkan karena kaget. Kini mengertilah dia mengapa tiga orang gadis yang ditawannya itu dapat terlepas. Tentu suhengnya ini yang membebaskannya!
“Sute, apa saja yang kaulakukan ini? Sungguh menyedihkan dan memalukan. Engkau tersesat jauh sekali, sute!”
Kam Ki sudah dapat menenangkan hatinya dan dia tertawa mengejek. “Suheng, kenapa engkau mencampuri urusanku? Ingat, aku dapat mengalahkanmu seperti dulu, engkau pernah roboh pingsan oleh pukulanku. Apakah engkau kini hendak menentangku? Suheng, kunasihatkan kepadamu. Pergilah sebelum aku hilang sabar karena aku akan menyesal kalau harus membunuhmu!”
Bun Sam tersenyum. “Sute, dulu engkau merobohkan aku karena kecuranganmu. Sekarang dengarlah nasihatku, sute. Ingatlah, sejak dahulu aku menyayangmu, aku tidak ingin melihat engkau celaka. Maka, sadarlah, sute. Ingat akan nasihat suhu. Tinggalkan perkumpulan sesat ini dan mari kita kembali kepada suhu yang akan membimbingmu! Aku yang akan mintakan ampun kepada……”
Akan tetapi ucapan itu terpaksa dihentikan karena secara curang sekali, tiba-tiba Kam Ki sudah menyerangnya dengan pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang dulu pernah merobohkan Bun Sam. Dia tahu bahwa kalau dia menggunakan semua ilmu yang dia pelajari dari Leng-hong Hoatsu, tidak mungkin dia mampu mengalahkan Bun Sam yang memiliki tingkat lebih tinggi.
Dia menggunakan Ban-tok-ciang yang dipelajari dari Hwa Hwa Cin-jin karena Bun Sam tentu tidak mengenal ilmu ini. Serangannya memang hebat sekali. Kedua tangan yang sudah dialiri hawa beracun itu menyambar-nyambar ganas dan mengeluarkan bau yang amis seperti ada ratusan ular berbisa menyerang Bun Sam.
Akan tetapi sebelum turun gunung, Bun Sam sudah diberitahu gurunya bahwa dia tidak akan kalah oleh ilmu sesat sutenya kalau dia menggunakan seluruh tenaga saktinya. Kalau dulu dia sampai terluka dan
185
pingsan, hal itu terjadi karena dia tidak menyangka dan dia hanya mempergunakan tenaga tidak sepenuhnya agar sutenya tidak terluka.
Kini, menghadapi serangan bertubi itu, dia menggunakan kelincahan gerak tubuhnya untuk mengelak ke sana-sini, dan mencari kesempatan untuk menotok roboh sutenya. Bagaimanapun juga, Bun Sam tetap sayang kepada sutenya yang sejak kecil hidup bersama dia di bawah asuhan Leng-hong Hoatsu. Dia tidak tega untuk melukai sutenya itu, apalagi membunuhnya. Maka, pertandingan itu menjadi seimbang dan Kam Ki yang licik itu agaknya maklum bahwa suhengnya mengalah.
Hal ini tidak membuat hatinya tergerak dan terharu, bahkan dia hendak mencari keuntungan dari kelemahan hati Bun Sam itu. Dia menyerang semakin ganas, memainkan ilmu silat Ciu-kwi-kun (Silat Setan Mabok) yang dipelajari dari Hwa Hwa Cinjin. Pertandingan itu menjadi seru sekali dan tidak mudah bagi Bun Sam untuk dapat merobohkan sutenya tanpa melukainya.
Sementara itu, tiga orang gadis, tanpa perundingan lebih dulu, sudah menghadapi pengeroyokan banyak orang dengan saling membelakangi. Dengan demikian, mereka tidak sampai diserang dari belakang. Ketiganya mengamuk dengan pedang mereka dan gerakan mereka memang lincah dan kuat sekali sehingga para pengeroyok tidak berani terlalu mendekat setelah ada enam orang roboh oleh pedang tiga orang dara perkasa itu. Ang-bin Moko akhirnya dilawan oleh Bwee Hwa, sedangkan sepasang gadis kembar itu menghadapi puluhan orang anak buah Pek-lian-kauw.
“Bwee Hwa, hati-hati, tosu (pendeta) siluman itu memiliki alat peledak yang mengeluarkan asap beracun!” teriak Kim Siang, sambil memutar sepasang pedangnya menghadapi pengeroyokan puluhan orang itu.
Biarpun sepasang gadis kembar ini lihai sekali ilmu sepasang pedang mereka, namun jumlah pengeroyok terlampau banyak. Mereka berdua harus memutar sepasang pedang mereka untuk melindungi diri mereka dari datangnya serangan golok, pedang, atau tombak yang seperti hujan lebat. Mereka berdua hanya mampu melindungi diri tanpa dapat membalas karena serangan banyak orang itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk balas menyerang.
Perkelahian antara Ang-bin Moko melawan Bwee Hwa amat seru. Tingkat kepandaian mereka seimbang sehingga perkelahian itu ramai sekali, sukar diduga siapa di antara mereka yang akan keluar sebagai pemenang. Sesungguhnya, Bwee Hwa lebih bersemangat dan gerakannya lebih lincah.
Namun Ang-bin Moko menang pengalaman dan selain dari itu, pimpinan cabang Pek-lian-kauw ini mengandalkan banyak anggauta yang akan dapat disuruh membantunya mengeroyok Bwee Hwa kalau dua orang gadis kembar itu sudah dapat ditundukkan. Yang membuat dia repot adalah karena tadi Kam Ki berteriak agar tiga orang gadis cantik itu ditangkap hidup-hidup, jangan dilukai atau dibunuh. Semua anak buah mendengar dan tentu saja mereka merasa takut kepada Kam Ki kalau melanggar perintah itu. Hal ini membuat mereka hanya mengepung rapat akan tetapi selalu menjaga agar gadis-gadis itu jangan sampai terluka atau roboh tewas.
Mendadak mendengar sorak sorai dan duaratus orang perajurit yang dipimpin para perwira tiba di puncak itu. Mereka adalah pasukan yang diajak Ui Kiang dan kemudian bertemu dengan Ui Kong dan kini mereka tiba di puncak itu dengan Ui Kong sebagai penunjuk jalan. Begitu tiba di perkampungan Pek-lian-kauw, para perajurit itu menyerbu masuk. Ui Kong sendiri sudah cepat terjun ke dalam
186
pertempuran. Dia girang bukan main melihat Bwee Hwa masih hidup dan kini sedang bertanding mati-matian melawan Ang-bin Moko.
“Hwa-moi, mari kita basmi para iblis Pek-lian-kauw!” bentak Ui Kong dan dia sudah menggunakan pedangnya untuk membantu Bwee Hwa menyerang Ang-bin Moko.
Gegerlah semua anggauta Pek-lian-kauw menghadapi penyerbuan pasukan pemerintah yang amat banyak jumlahnya itu. Mereka menjadi panik dan sebentar saja banyak anggauta Pek-lian-kauw roboh. Yang hendak melarikan diri, tidak mendapatkan jalan karena mereka sudah terkepung ketat.
Ang-bin Moko terkejut bukan main. Menghadapi Bwee Hwa saja dia sudah merasa repot, apalagi kini ditambah seorang musuh yang tingkat kepandaiannya tidak kalah dibandingkan tingkatnya sendiri. Dia terdesak hebat dan terancam oleh pedang Bwee Hwa dan Ui Kong. Dia lalu melompat ke belakang dan mengayun tangan, membanting alat peledak.
“Awas, Kong-ko, asap beracun!” Bwee Hwa berseru dan kedua orang muda ini cepat melompat menjauhi ketika ledakan itu mengeluarkan asap yang mengandung pembius. Beberapa orang perajurit yang berada dekat tempat ledakan, terserang asap ini dan mereka roboh pingsan!
Ang-bin Moko menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Karena tempat itu telah terkepung ketat. Dia mengamuk dengan pedangnya dan berhasil membobolkan kepungan dengan merobohkan empat orang perajurit. Akan tetapi pada saat itu, dua batang pedang menyambar. Ang-bin Moko masih berhasil menangkis pedang Bwee Hwa, akan tetapi pedang Ui Kong memasuki lambungnya. Ang-bin Moko mengeluh dan roboh, tewas seketika.
Betapapun lihainya, Thio Kam Ki kini menjadi panik. Ketika semua ilmunya dia keluarkan untuk merobohkan Bun Sam tidak berhasil, barulah dia maklum bahwa dulu dia dapat merobohkan Bun Sam karena suhengnya itu tidak mengira dia menggunakan ilmu pukulan sesat yang dahsyat dan tidak menjaga diri dengan tenaga sepenuhnya.
Sekarang, dia mendapat kenyataan bahwa suhengnya itu memang tangguh bukan main. Akan tetapi karena suhengnya tidak mau membunuhnya, maka dia masih mampu melawan. Berulang kali mereka mengadu tenaga selalu Thio Kam Ki terdorong mundur.
Kini, melihat dengan jelas betapa anak buah Pek-lian-kauw berjatuhan karena tidak dapat mengimbangi kekuatan lawan yang jauh lebih banyak jumlahnya, melihat pula betapa pembantu utamanya, Ang-bin Moko juga roboh, dia menjadi khawatir sekali dan maklum bahwa kalau dilanjutkan perlawanannya, nyawanya terancam bahaya maut. Dia lalu mengerahkan seluruh tenaga Ban-tok-ciang menyerang Bun Sam dengan pukulan jarak jauh sambil membentak nyaring dengan suara yang mengandung kekuatan sihir untuk menggetarkan jantung lawan dan membuatnya lemah.
“Yaaaaahhhhhh!”
Menghadapi serangan dahsyat ini, Bun Sam menyambut dengan kedua telapak tangan didorongkan pula. Akan tetapi tetap saja Bun Sam membatasi tenaga karena dia sama sekali tidak ingin melukai apalagi membunuh sutenya yang masih disayangnya.
187
“Blaarrrr……!” Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan akibatnya, tubuh Kam Ki terlempar ke belakang. Akan tetapi dia tidak terluka, hanya terdorong dan terpental seolah tenaganya bertemu dengan sesuatu yang lunak namun yang membuat dia terpental seperti menghantam sebuah bola karet besar.
Kini dia melihat kesempatan untuk menyelamatkan diri. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia sudah melompat jauh, terjun ke dalam pertempuran antara para perajurit dan anak buah Pek-lian-kauw dan menghilang di antara banyak orang yang sedang bertempur itu.
Kam Ki mencari jalan keluar dengan merobohkan setiap orang yang berada di depannya. Karena dia menyusup ke dalam pertempuran antara banyak orang itu maka Bun Sam tidak dapat mengejarnya, juga tiga orang gadis yang mengamuk dan Ui Kong juga tidak tahu bahwa Thio Kam Ki sedang berusaha melarikan diri. Kejadian itu berlangsung demikian cepat dan Kam Ki berhasil meloloskan dirinya setelah merobohkan belasan orang perajurit!
Mellhat keadaan para anggauta Pek-lian-kauw sudah terdesak hebat dan para pimpinan mereka tidak ada lagi, Ui Kong dan Bwee Hwa lalu cepat memasuki bangunan induk tempat tinggal Kam Ki dan melakukan penggeledahan. Dalam sebuah kamar, mereka menemukan patung emas Dewi Kwan Im dari kuil Ban-hok-si. Ui Kong segera mengambilnya. Mereka juga menemukan belasan orang gadis muda dan cantik, yaitu mereka yang selama ini diculik oleh orang-orang Pek-lian-kauw. Ui Kong lalu menyerahkan mereka kepada para perwira pasukan agar kelak para gadis itu dikembalikan ke dusun mereka.
Akhirnya, semua anggauta Pek-lian-kauw yang tadinya melakukan perlawanan mati-matian itu terbasmi hampir semua dan sisanya, hanya belasan orang menjadi putus asa dan melemparkan senjata sambil berlutut tanda menyerah. Mereka menjadi orang-orang tawanan.
Para perwira pasukan lalu memerintahkan para anggauta Pek-lian-kauw yang masih hidup untuk mengurus dan mengubur semua mayat yang menjadi korban pertempuran, merampas semua barang berharga yang berada di perkampungan itu, lalu membakar semua rumah yang terdapat di situ. Kemudian pasukan meninggalkan perkampungan Pek-lian-kauw yang sudah menjadi puing, kembali ke kota Ki-lok dengan gembira karena telah memperoleh kemenangan.
Sie Bun Sam, Ui Kong, Ui Kiang, Lim Bwee Hwa dan dua orang gadis kembar dengan hormat mengurus dan mengubur jenazah Ong Siong Li yang tewas dalam perlawanannya menghadapi pengeroyokan banyak anggauta Pek-lian-kauw tadi. Bwee Hwa tidak dapat menahan keharuan dan kesedihan hatinya ketika jenazah Siong Li telah dikubur. Ia menangis di depan gundukan tanah itu sehingga membuat para pendekar, terutama Ui Kong dan Ui Kiang yang maklum betapa akrabnya hubungan antara Bwee Hwa dan Siong Li, yang sudah seperti kakak dan adik.
Enam orang pendekar ini menjauhi perkampungan di mana para perajurit tadi sibuk mengurus para korban, merampas barang-barang lalu membakari pondok. Mereka tidak ingin mencampuri urusan pasukan pemerintah.
Dalam kesempatan itu, Bwee Hwa yang memandang Sie Bun Sam berkata, “Saudara yang gagah perkasa dan budiman telah menyelamatkan kami bertiga. Kalau tidak ada engkau, mungkin kami bertiga sekarang sudah mati terbunuh atau membunuh diri.”
188
“Benar sekali. Kami berdua kakak beradik bersyukur dan sangat berterima kasih atas budi pertolongan taihiap tadi,” kata Can Kim Siang sambil mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan, diikuti oleh adiknya.
“Aneh, kami bertiga berhutang nyawa kepadamu, akan tetapi kita belum saling berkenalan!” kata Bwee Hwa sambil tersenyum. Agaknya kedukaannya karena kematian Siong Li hanya sebentar saja mengganggu kelincahan Bwee Hwa yang selalu bersemangat dan gembira itu.
Sie Bun Sam seolah terpesona memandang wajah dan gaya bicara Lim Bwee Hwa. Belum pernah dia merasa seperti ini. Sudah banyak dia melihat wanita cantik tanpa kesan, akan tetapi sekali ini, ada sesuatu pada diri Bwee Hwa yang membuat dia terpesona.
Dua orang gadis kembar itupun cantik menarik, akan tetapi bagi Bun Sam mereka itu biasa saja. Dia merasa heran sendiri mengapa jantungnya berdebar ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Bwee Hwa dan dia menutupi debar jantungnya itu dengan senyum ramah dan dia mengangkat kedua tangan di depan dada kepada tiga orang gadis dan dua orang pemuda itu, membalas penghormatan mereka.
“Ah, sesungguhnya di antara kita tidak perlu merasa berhutang budi karena dalam menghadapi gerombolan penjahat ini kita semua telah bersatu padu. Semua juga berjasa karena telah memenuhi kewajiban masing-masing sebagai orang-orang menentang kejahatan. Bahkan aku mohon maaf dari anda sekalian akan kejahatan yang dilakukan Thio Kam Ki yang sesungguhnya adalah sute-ku (adik seperguruanku) sendiri.”
Bun Sam menghela napas panjang, perasa kecewa dan menyesal sekali bahwa sute yang disayangnya itu ternyata telah tersesat amat jauhnya.
Tentu saja lima orang muda itu terkejut bukan main dan mereka semua memandang kepada Bun Sam dengan sinar mata heran. “Sute-mu? Dia itu sute-mu? Akan tetapi mengapa dia begitu jahat dan engkau musuhi sendiri?” tanya Bwee Hwa.
Bun Sam menghela napas panjang lalu tersenyum. “Sebelum aku menceritakan lebih lanjut tentang Thio Kam Ki, apakah tidak sebaiknya kita saling berkenalan dulu. Rasanya tidak enak bercakap-cakap dengan orang-orang yang tidak kukenal. Nah, perkenalkan, aku bernama Sie Bun Sam, berasal dari pegunungan Himalaya.”
“Aku bernama Lim Bwee Hwa dari…… Twi-bok-san.” Ia mengaku Twi-bok-san, di mana mendiang ibunya tinggal menjadi isteri mendiang Kauw-jiu Pek-wan Kui Ciang Hok, yang sekarang tentu saja menjadi haknya.
“Kami berdua adalah saudara kembar, aku bernama Can Kim Siang, dan ini adikku bernama Can Gin Siang. Kami tinggal di rumah piauw-ci (kakak perempuan misan) kami di bukit Ayam Emas.” Kim Siang memperkenalkan diri mereka, bukan hanya Bun Sam, melainkan kepada Bwee Hwa, Ui Kiang, dan Ui Kong.
“Kami berdua adalah kakak beradik. Aku bernama Ui Kong, dan yang baru datang membawa pasukan ini adalah kakakku Ui Kiang. Kami tinggal di kota Ki-lok.” Ui Kong memperkenalkan diri dan kakaknya.
189
Setelah mereka saling memperkenalkan nama mereka, Bwee Hwa lalu berkata. “Secara kebetulan sekali kita semua berada di sini, bersatu melawan gerombolan Pek-lian-kauw dan saling berkenalan. Sebelum kita bercerita, sebaiknya kalau kita duduk di sana, rasanya canggung kalau kita bicara sambil berdiri saja.”
Semua orang setuju dan menghampiri tempat yang ditunjuk Bwee Hwa, yaitu sebuah pohon besar di bawah mana terdapat banyak batu yang dapat mereka jadikan tempat duduk. Setelah semua orang duduk berhadapan, Bun Sam segera bercerita.
“Kami berdua, yaitu aku dan sute Thio Kam Ki, adalah murid-murid suhu Leng-hong Hoatsu di Himalaya.”
“Ohh! Leng-hong Hoatsu yang mendirikan Hwe-coa-kauw?” tanya Bwee Hwa yang pernah mendengar cerita mendiang Siong Li tentang Hwe-coa-kauw dan tentang pertapa sakti itu.
Bun Sam menggeleng kepala. “Kabar itu sama sekali tidak benar, nona Lim Bwee Hwa……”
“Ih, twako (kakak), kenapa begitu sungkan menyebut aku dengan nona segala? Namaku Bwee Hwa, Lim Bwee Hwa, tanpa nona bagi seorang sahabat,” cela Bwee Hwa.
“Baiklah, Hwa-moi (adik Hwa). Kuulangi, kabar bahwa guruku menjadi pendiri Hwe-coa-kauw itu sama tidak benar. Dahulu, tigapuluh tahun lebih yang lalu, suhu Leng-hong Hoatsu pernah turun gunung dan merantau ke timur, mengajarkan agama dan kebajikan, menolong orang-orang sakit. Beliau memang mempunyai seekor ular yang aneh yang beliau temukan dalam perjalanan dan memelihara ular itu. Ular kecil itu memang mempunyai tonjolan di kanan kiri seperti sayap, dan keadaannya yang aneh itu orang-orang menamakannya Hwe-coa (Ular Terbang). Sesungguhnya ular itu tidak dapat terbang, hanya melompat dari pohon ke bawah dan tonjolan di kanan kiri itu dibentangkan untuk menahan lajunya peluncuran. Nah, orang-orang bodoh yang tahyul itu mulai menyembah-nyembah ular itu yang mereka anggap sebagai penjelmaan dewa dan bahkan mengabarkan bahwa semua kepandaian suhu adalah berkat pertolongan ular itu. Ketika orang-orang itu tidak memperdulikan bantahan suhu, maka suhu menjadi kecewa dan agar ketahyulan itu tidak berlarut-larut, beliau kembali ke Himalaya membawa ularnya. Begitulah ceritanya.”
Para pendengarnya mengangguk-angguk. Bwee Hwa lalu berkata, “Aku pernah mendengar cerita itu, Sam-ko (kakak Sam) dan ternyata cocok dengan ceritamu. Sekarang lanjutkan ceritamu tentang Thio Kam Ki.”
“Sejak kecil Thio Kam Ki yatim piatu seperti juga aku. Dia dirawat dan diambil murid suhu dan sejak kecil kami berdua tinggal bersama suhu. Aku lebih tua dua tahun daripada sute, dan aku banyak membimbingnya. Beberapa bulan yang lalu, seperti biasa sute mengajak aku berlatih silat dan mengadu tenaga sakti. Dan seperti yang sudah-sudah, aku mengalah dan tidak mengerahkan seluruh tenaga karena khawatir dia terluka. Akan tetapi ketika kami mengadu sin-kang, aku terkena pukulan beracun yang asing sehingga aku jatuh pingsan. Suhu menolongku dan ternyata sute telah pergi meninggalkan pondok suhu. Suhu mengatakan bahwa aku terkena pukulan beracun yang sesat dan menduga bahwa sute telah mempelajari ilmu sesat dari orang lain. Karena suhu tidak ingin melihat sute tersesat melakukan kejahatan, maka aku disuruh mencari sute dan menghalangi kalau dia melakukan kejahatan. Ketika aku lewat di kaki bukit ini, aku mendengar keluh kesah penduduk dusun bahwa gerombolan yang berada di puncak ini sering melakukan gangguan. Aku lalu mendaki bukit dan tiba-tiba aku melihat rombongan pasukan juga mendaki bukit ini. Ketika saudara Ui Kong bicara dengan kakaknya tentang
190
pemimpin gerombolan yang bernama Kam Ki, aku terkejut dan cepat mendahului mereka naik ke sini dan kebetulan aku dapat membebaskan adik Bwee Hwa dan kedua adik kembar ini. Selanjutnya kalian sudah tahu. Aku bertanding melawan Thio Kam Ki, akan tetapi sayang dia dapat meloloskan diri.”
“Sam-ko, maafkan pendapatku ini. Aku yakin bahwa kalau engkau menghendaki, tentu Thio Kam Ki sekarang telah menggeletak tanpa nyawa. Engkau sengaja membiarkan dia lolos!”
Bun Sam diam-diam terkejut walaupun tidak dia perlihatkan, lalu sambil mena-tap tajam wajah gadis yang menawan hatinya itu, dia bertanya.
“Hwa-moi, bagaimana engkau dapat menduga begitu?”
Bwee Hwa tersenyum nakal. “Bukan duga sembarang duga, twako. Tadi aku mendengar betapa engkau membujuk Kam Ki dan mengajaknya kembali kepada suhumu. Aku yakin engkau amat menyayang sutemu yang sejak kecil kaukenal itu, dan engkau yang memiliki budi pekerti halus dan bijaksana, tentu tidak tega untuk membunuhnya.”
Bun Sam menghela napas. “Engkau benar, Hwa-moi. Aku memang tidak mau mendesaknya, bukan karena aku berbudi baik dan bijaksana, melainkan karena aku lemah. Aku tidak patut dipuji, sepantasnya dicela!”
“Aku kagum padamu dan aku selalu memujimu, Sam-ko. Sekarang tiba giliranmu, Kong-ko. Ceritakan pengalamanmu, bagaimana engkau dapat melo-loskan diri dan datang bersama Kiang-ko dan pasukan.”
“Hwa-moi, engkau dulu ceritakan apa yang terjadi. Kami sudah ingin sekali mendengarnya, terutama aku,” kata Ui Kiang.
“Baiklah, dan karena Sam-ko dan kedua enci kembar belum mengetahui, biar kuceritakan dari semula. Kami bertiga, aku, Kong-ko ini, dan mendiang twako Ong Siong Li, melakukan pengejaran terhadap penjahat Pek-lian-kauw yang merampok patung emas Dewi Kwan Im dari kuil Ban-hok-si dan telah membunuh paman Ui Cun Lee, ayah kakak Ui Kiang dan Ui Kong ini. Setelah kami menemukan sarang Pek-lian-kauw di puncak bukit ini, kami bertiga mendaki puncak dan....... ah, kalau aku teringat lalu aku menyadari betapa bodoh dan lancangnya aku. Mendiang kakak Ong Siong Li sudah memperingatkan bahwa tempat ini berbahaya dan sebaiknya mencari bala bantuan. Akan tetapi aku....... aku yang dungu ini membantah dan aku memaksanya nekat menyerbu perkampungan Pek-lian-kauw. Dan akibatnya....... Li-ko telah tewas....... ah, aku menyesal sekali tidak menaati peringatannya.” Teringat akan ini, Bwee Hwa memejamkan matanya mencegah mengalirnya kembali air matanya.
“Hwa-moi, akulah yang bersalah!” Ui Kong berkata sambil mengepal tangannya. “Aku juga membantah pendapat Li-ko dan memaksanya terus naik ke sarang Pek-lian-kauw. Dia tewas karena kebodohanku yang sombong mengandalkan kekuatan sendiri sehingga akhirnya dia malah yang menjadi korban. Li-ko tewas karena kecerobohanku!”
“Kecerobohan kita berdua, Kong-ko.”
Can Gin Siang yang duduk dekat Bwee Hwa, merangkul gadis itu dan membujuk. “Sudahlah, Bwee Hwa, tiada gunanya disesali dan ditangisi lagi. Bagaimanapun juga, dia tewas sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa.”
191
Can Kim Siang juga menghibur Bwee Hwa. “Benar apa yang dikatakan A Gin itu, Bwee Hwa. Setiap orang bisa saja melakukan kekeliruan perhitungan seperti itu. Lebih baik lanjutkan ceritamu.”
Bwee Hwa mengangguk. Menyadari bahwa Siong Li tewas sebagai seorang pendekar gagah sedikitnya dapat menghibur hatinya.
“Setelah kami bertiga tiba di perkampungan Pek-lian-kauw, kami segera dihadapi Thio Kam Ki dan dikeroyok para anggauta Pek-lian-kauw yang dipimpin oleh Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko. Aku sendiri menghadapi Thio Kam Ki, akan tetapi dia terlalu lihai bagiku sehingga aku tertawan dan aku masih sempat melihat kakak Ong Siong Li dikeroyok banyak anak buah Pek-lian-kauw. Si jahanam Thio Kam Ki itu menawanku dan mengikat aku ke dalam sebuah kamar. Tak lama kemudian aku mendengar ribut-ribut di luar seperti orang berkelahi dan tak lama kemudian jahanam itu masuk kamar sambil membawa kedua enci ini sebagai tawanan pula. Dia juga mengikat kaki tangan mereka seperti aku. Kami sama sekali tidak berdaya dan jahanam itu mengeluarkan ancaman-ancaman yang mengerikan. Akan tetapi ketika dia keluar dari kamar, katanya hendak mandi, muncullah Sam-ko ini yang membebaskan kami bertiga. Kami segera bersama Sam-ko keluar dan mengamuk! Nah, itulah ceritaku. Sekarang aku minta kakak Ui Kong menceritakan pengalamannya karena ketika Siong Li dikeroyok dan aku tertawan, dia masih dikeroyok banyak orang.”
Ui Kong menghela napas panjang. “Wah, menyeramkan sekali ceritamu, Hwa-moi. Untung ada Sam-ko ini! Tentang diriku....... ah, semakin sedih kalau kuingat pengalamanku. Ketika terjadi pertempuran itu aku berhadapan dengan Pek-bin Moko yang amat kubenci karena dialah yang dulu membunuh ayahku. Biarpun dikeroyok banyak orang, dengan nekat aku menerjangnya dan akhirnya aku berhasil membalaskan kematian ayah, berhasil membunuh Pek-bin Moko. Akan tetapi keadaan Li-ko dan aku semakin terdesak. Dalam keadaan seperti itu Li-twako mendesak aku agar supaya aku melarikan diri dan mencari bala bantuan. Tadinya aku membantah, akan tetapi Li-ko mendesak dan mengatakan agar aku mencari bantuan untuk menolong Hwa-moi yang tertawan. Terpaksa aku mencari jalan keluar dan Li-ko mengamuk, menahan mereka yang hendak mengejar aku. Aku berhasil mendapatkan kuda kami dan aku melarikan diri turun gunung.”
“Kami berpapasan denganmu ketika kami berdua menunggang kuda mendaki puncak!” kata Can Gin Siang sambil memandang wajah Ui Kong.
“Ya, aku ingat dan aku sempat heran melihat dua orang gadis yang persis sama segalanya,” kata Ui Kong sambil tersenyum. “Setelah tiba di lereng bawah, aku bertemu dengan kakakku Ui Kiang ini yang membawa duaratus orang perajurit. Kami lalu menyerbu ke puncak dan selanjutnya kalian sudah mengetahui.” Ui Kong mengakhiri ceritanya.
“Engkau tidak perlu menyesal telah meninggalkan Li-ko, karena bagaimanapun juga, Li-ko benar. Kalau engkau tidak melarikan diri mencari bala bantuan, tentu engkaupun akan tewas dikeroyok begitu banyak orang, terutama di sana ada Kam Ki dan Ang-bin Moko yang lihai,” kata Bwee Hwa. “Sekarang giliranmu, Kiang-ko. Dahulu engkau kami tinggalkan di kota Ki-lok, lalu bagaimana engkau dapat mengajak pasukan untuk menolong kami?”
Ui Kiang menghela napas panjang dan berkata dengan suaranya yang lembut. “Setelah kalian bertiga berangkat untuk mencari penjahat yang membunuh ayah dan mencuri patung, aku merasa gelisah dan juga bersedih. Ayah dibunuh orang dan aku yang lemah ini tidak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya
192
seorang kutu buku, seorang siucai (sastrawan) yang lemah dan tiada guna. Patung kuil Ban-hok-si dicuri orang akupun tidak dapat bantu mencarinya. Aku khawatir kalian bertiga akan menghadapi bahaya, maka aku lalu menghubungi komandan pasukan keamanan yang menjadi sahabat baik ayah dan minta bantuannya. Dia segera membantuku dengan mengirim pasukan beserta tiga perwiranya. Aku lalu mengajak mereka pergi mencari gerombolan Kiu-liong-pang dan berhasil memaksa pimpinan mereka untuk mengatakan di mana adanya sarang Pek-lian-kauw. Setelah mendapatkan keterangan, aku lalu mengajak pasukan itu ke sini dan selanjutnya kalian tahu apa yang terjadi.”
Ui Kong memegang lengan kakaknya. “Kiang-ko, biarpun engkau tidak pernah belajar ilmu silat, akan tetapi engkau berjasa besar dalam peristiwa ini. Engkau pula yang dulu memberi petunjuk kepada kami untuk mencari keterangan kepada Kiu-liong-pang dan sekarang, engkau yang menolong kami membasmi Pek-lian-kauw. Biarpun tubuhmu tidak mengandung tenaga kuat seperti kami yang telah mempelajari ilmu silat selama bertahun-tahun, namun engkau memiliki pikiran yang kuat dan pandai. Aku bangga sekali, Kiang-ko!”
“Nah, semua orang telah menceritakan pengalamannya. Kini tinggal kalian berdua, enci (kakak perempuan) kembar. Aih, aku bingung sekali kalau memandang kalian ini. Tadi kalian sudah memperkenalkan nama kalian dan aku ingat benar, yaitu Can Kim Siang dan Can Gin Siang, akan tetapi kalian begitu sama segala-galanya, bagaimana aku tahu mana yang Kim (emas) mana yang Gin (perak)?” kata Bwee Hwa sambil tertawa.
Mereka semua ikut tertawa. Betapa cepatnya gadis itu melupakan kedukaannya karena kematian Ong Siong Li, sahabatnya yang paling baik. Pada umumnya orang akan beranggapan bahwa Bwee Hwa tidak mengenal budi atau tidak sayang kepada sahabat baiknya itu. Anggapan ini sebenarnya keliru sehingga banyak orang, demi “jangan dianggap demikian”, suka berlarut-larut dalam perkabungannya karena kematian keluarga. Bahkan ada yang mengenakan pakaian berkabung sampai setahun atau beberapa tahun sebagai tanda kedukaannya! Biar dianggap mengenal budi dan setia kepada orang yang telah meninggal dunia. Padahal, semua kedukaan yang tampak atau sengaja diperlihatkan itu kebanyakan hanya pada luarnya saja. Dalam batinnya sudah lama tidak ada lagi kedukaan itu!
Bwee Hwa adalah seorang gadis yang polos, tidak suka berpura-pura. Orang seperti Bwee Hwa ini tidak mudah terbawa emosi, tidak akan larut dalam duka dan tidak akan mabok dalam suka. Suka dan duka hanya bagaikan angin yang melandanya, namun hanya sebentar dan setelah lewatpun tiada bekasnya lagi.
“Ah, aku tahu mana yang bernama Can Kim Siang dan mana yang Can Gin Siang,” kata Ui Kiang dengan senyum yang khas, senyuman yang membayangkan kesabaran hatinya.
“Aku juga tahu mana Nona Can Gin Siang, tidak mungkin salah!” kata pula Ui Kong dengan gembira.
Bwee Hwa membelalakkan mata dan mengangkat alisnya, senyumnya melebar. Hemm, kakak beradik yang salah satu akan dijodohkan dengannya ini ternyata menaruh perhatian kepada gadis kembar itu! Kalau benar dugaannya, ia merasa lega dan girang sekali.
Sesungguhnya, ia sendiri bingung kalau harus menentukan siapa di antara mereka yang harus dipilihnya. Kedua orang pemuda itu memiliki keistimewaan masing-masing dan ia merasa yakin bahwa keduanya dapat menjadi suami yang baik. Akan tetapi, harus ia akui bahwa biarpun ia merasa kagum dan suka
193
kepada kedua orang kakak beradik Ui itu, seperti juga rasa kagum dan sukanya kepada Ong Siong Li, tidak ada keinginan dalam hatinya untuk menjadi isteri seorang di antara mereka bertiga.
Dulu pernah ia mengira bahwa ia mencinta Siong Li, akan tetapi akhir-akhir ini ia menyadari bahwa rasa sukanya itu hanyalah rasa sayang di antara sahabat. Siong Li terlalu baik kepadanya sehingga ia merasa berhutang budi, kagum dan juga sayang karena ia merasa benar betapa Siong Li amat menyayangnya. Karena itu, melihat kini kedua orang kakak beradik Ui itu tampaknya tertarik kepada sepasang gadis kembar, ia merasa senang sekali.
Karena selain ia merasa tidak ingin menjadi isteri seorang di antara mereka, juga ia merasa bingung dan kasihan kalau harus memilih salah satu karena itu akan membikin kecewa yang lain. Sejak pertemuan pertama, kedua kakak beradik itu seolah bersaing atau berlumba untuk menarik hatinya!
“Kiang-ko dan Kong-ko, coba buktikan kalau kalian memang benar dapat membedakan antara kedua orang enci kembar ini! Rasanya tidak mungkin engkau dapat membedakan. Mereka begitu persis, tidak ada perbedaannya sedikitpun juga. Wajahnya, bentuk badannya, gelung rambutnya, pakaiannya! Wah, benar-benar membingungkan!” kata Bwee Hwa dan melihat gadis kembar itu tertawa, ia berseru, “Lihat, ketawanya juga sama. Bukan main!”
“Akan tetapi aku akan selalu mengenal adik Can Kim Siang!” kata Ui Kiang dengan suara penuh keyakinan dan sepasang matanya memandang ke arah wajah Kim Siang.
“Dan aku akan selalu dapat mengenal adik Can Gin Siang!” kata pula Ui Kong tidak kalah yakin.
“Sekarang begini saja! Aku akan menguji kalian!” kata Bwee Hwa dan ia merasa sangat gembira. “Akan tetapi kalian berdua pergilah dulu ke belakang semak belukar itu agar jangan dapat melihat ke sini. Nanti akan kupanggil untuk memilih satu demi satu. Jangan mengintai, jangan curang dan Sam-ko di sini yang menjadi saksinya!”
Mereka semua merasa gembira seperti sekumpulan anak-anak sedang bermain-main. Ui Kiang dan Ui Kong dengan gembira lalu pergi ke belakang semak belukar. Bwee Hwa berbisik kepada dua orang gadis kembar itu.
“Eh, yang mana sih enci Kim Siang?”
Kim Siang sambil tersenyum menjawab. “Aku Kim Siang dan ini adikku Gin Siang.”
Bwee Hwa mengambil sehelai sapu tangan merah dari saku bajunya.
“Kalian menurut saja, aku akan menguji mereka apakah benar-benar mereka dapat mengenal kalian.”
Ia lalu menyelipkan saputangan merah itu di ikat pinggang Kim Siang sehingga tentu saja kini ia tidak bingung lagi. Kim Siang yang memakai saputangan merah di sabuknya dan Gin Siang tidak.
“Kiang-ko, engkau keluarlah!” Bwee Hwa berseru ke arah semak belukar. Ui Kiang keluar dan menghampiri, dipandang oleh Bwee Hwa, dua orang gadis kembar, dan Bun Sam dengan senyum.
“Nah, Kiang-ko, coba katakan yang mana enci Kim Siang?”
194
Sejenak Ui Kiang memandang kepada dua orang gadis kembar yang tersenyum itu, kemudian tanpa ragu dia mendekati Kim Siang dan berkata.
“Inilah adik Can Kim Siang!” Dia menuding ke arah gadis yang memakai tanda merah di ikat pinggangnya itu.
Bwee Hwa dan Bun Sam mengangguk-angguk, dan Bwee Hwa lalu berseru ke arah semak belukar, “Kong-ko, sekarang engkau keluarlah!” kepada Ui Kiang ia berkata, “Kiang-ko, sekarang engkau kembalilah ke belakang semak itu.”
Ui Kong datang dan Ui Kiang kembali ke belakang semak. “Nah, katakan yang mana enci Gin Siang, Kong-ko?” tanya Bwee Hwa.
Ui Kong sejenak memandang dua orang gadis kembar itu dan tanpa ragu lagi dia menunjuk ke arah gadis yang tidak memakai saputangan merah sambil berkata, “Inilah adik Can Gin Siang!”
“Bagus, sekarang aku hendak menguji kalian sekali lagi. Kembalilah ke belakang semak, Kong-ko.”
Sambil tersenyum Ui Kong kembali ke balik semak di mana Ui Kiang sudah lebih dulu bersembunyi. Bwee Hwa cepat mengambil saputangan merah dari ikat pinggang Kim Siang dan memasangnya di ikat pinggang Gin Siang. Dua orang gadis kembar itu tersenyum geli dan Bun Sam juga tersenyum, memandang kagum kepada Bwee Hwa melihat kecerdikan gadis itu menguji kebenaran pengakuan dua orang pemuda itu bahwa mereka dapat mengenal dan membedakan dua orang gadis kembar itu.
“Kiang-ko dan Kong-ko, sekarang kalian berdua keluarlah!” Bwe Hwa berseru. Dua orang pemuda itu keluar dan sambil tersenyum menghampiri dua orang gadis kembar itu.
“Sekarang, coba kalian pilih, yang mana Emas yang mana Perak?” kelakar Bwee Hwa. Dengan menukar tanda sapu tangan merah itu, ia yakin bahwa dua orang pemuda itu akan keliru atau salah pilih.
Akan tetapi yang membuat Bwee Hwa dan Bun Sam terheran-heran adalah ketika dua orang pemuda itu tanpa ragu dan tanpa meneliti lagi sudah melakukan pilihan masing-masing dengan tepat. Ui Kiang menghampiri Kim Siang dan memegang tangan gadis itu.
“Inilah adik Kim Siang!”
Dan Ui Kong tanpa ragu-ragu menghampiri gadis yang mengenakan sapu tangan merah di sabuknya, memegang tangannya dan berkata dengan tegas. “Inilah adik Gin Siang!”
Bwee Hwa tertawa dan bertepuk tangan memuji.
Bun Sam merasa kagum, dan berkata. “Hebat sekali kalian, Kiang-te dan Kong-te, bagaimana kalian dapat mengenal dan membedakan antara mereka dengan baik? Padahal aku harus mengakui bahwa aku sendiri akan bingung kalau disuruh membedakan di antara kedua orang adik kembar ini!”
“Kiang-ko dan Kong-ko, bagaimana kalian dapat memilih begitu tepat? Pada hal aku sudah memindahkan saputangan merah itu dari sabuk enci Kim Siang ke sabuk enci Gin Siang! Tentu ada
195
rahasianya sehingga kalian dapat melihat perbedaan di antara mereka! Katakanlah, apa rahasia mereka itu?”
“Tidak ada rahasianya. Akan tetapi aku akan mudah mengenal adik Gin Siang, biarpun andaikata ia mempunyai seratus orang saudara kembar. Sinar pandang matanya itulah yang membuat aku dapat mengenalnya dengan segera!” kata Ui Kong sambil menatap tajam wajah gadis itu.
Gin Siang balas memandang dan ketika dua pasang mata itu bertemu pandang, ada sesuatu yang membuat jantung mereka berdebar dan Gin Siang, gadis gagah perkasa itu menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan seperti seorang gadis dusun yang pemalu!
“Dan bagaimana dengan engkau, Kiang ko? Apa yang membuat engkau begitu mudah mengenal enci Kim Siang?” tanya Bwee Hwa.
Ui Kiang tampak malu-malu, apalagi dia baru menyadari bahwa sejak tadi dia masih memegangi tangan Kim Siang dan anehnya, gadis itupun membiarkan saja tangannya sejak tadi dipegang pemuda sasterawan itu!
“Kalau aku....... ah, mudah saja....... begitu adik Kim Siang tersenyum aku segera mengenalnya karena …… karena ada yang gingsul (bertumpang tindih) pada giginya yang atas, yang membuat senyumnya menarik sekali.”
Semua orang tertawa dan Kim Siang menjadi perhatian. Iapun ikut tertawa dan tampaklah oleh semua orang bahwa memang benar ada giginya yang gingsul sedangkan Gin Siang tidak. Kalau keduanya tidak tersenyum, perbedaan itu sama sekali tidak tampak!
“Hei, kenapa kita semua lupa bahwa kita belum mendengar cerita kedua adik kembar ini? Enci Kim Siang, ceritakanlah pengalamanmu, bagaimana kalian berdua sampai tertawan pula oleh si jahanam Kam Ki,” kata Bwee Hwa.
Kim Siang menghela napas panjang.
“Kami berdua telah menjadi yatim piatu sejak kami berusia sembilan tahun. Ayah dan ibu tewas ketika terjadi perang saudara dan kami pasti terlantar kalau saja tidak ada piauw-ci (Kakak perempuan misan) kami yang menolong kami. Ia memelihara dan mendidik kami, mengajarkan ilmu silat kepada kami. Ketika kami berusia enambelas tahun, kami menjadi murid Hoa-san Kui-bo dan tinggal di Hoa-san selama tiga tahun. Setelah itu, kami kembali ke rumah piauw-ci di Kim-ke-san (Bukit Ayam Emas).
“Piauw-ci kami minta kepada kami untuk membalaskan dendam kepada seorang pemuda bernama Thio Kam Ki karena pemuda yang menjadi kekasihnya itu telah melakukan penyelewengan dan menyakitkan hatinya. Mengingat akan budi kebaikan piauw-ci itu kepada kami, terpaksa kami menyanggupi. Akan tetapi kami berdua diam-diam mengambil keputusan bahwa kalau Thio Kam Ki itu seorang pemuda yang baik-baik, kami tidak akan membunuhnya, hanya minta dia kembali ke Kim-ke-san untuk menghadap piauw-ci mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Akan tetapi di kaki bukit ini kami mendengar keluhan penduduk pedusunan tentang gerombolan pengganggu rakyat yang berada di puncak ini. Kami lalu naik untuk membasmi gerombolan. Sungguh tidak disangka bahwa pemimpin gerombolan Pek-lian-kauw ini mengaku bernama Thio Kam Ki, orang
196
yang kami cari-cari. Tentu saja kami lalu menyerang untuk membunuhnya, pertama karena seorang kepala gerombolan yang jahat, kedua untuk memenuhi permintaan piauw-ci kami.
Kemudian, kami dikeroyok dan dibuat pingsan oleh asap pembius dari ledakan benda peledak. Dalam keadaan pingsan itu kami tidak tahu apa yang terjadi dan ketika siuman, kami sudah berada di dalam kamar, terikat kaki tangan kami, bersama Bwee Hwa ini. Nah, demikianlah kisah kami.”
“Sungguh luar biasa!” Ui Kiang berkata. “Betapa anehnya kalau Tuhan mengatur perjalanan hidup para manusia! Kita berenam ini secara kebetulan bertemu dan berkumpul di sini, bersama-sama menentang gerombolan penjahat dan kini aku mendapat kenyataan bahwa kami semua ini adalah orang-orang yatim piatu! Sungguh merupakan suatu kebetulan yang luar biasa. Karena itu, aku dan Kong-te dalam kesempatan ini mengundang kalian semua, kakak Sie Bun Sam, adik Lim Bwe Hwa, dan kedua adik Can Kim Siang dan Can Gin Siang, untuk bersama-sama berkunjung ke rumah kami. Secara kebetulan kita semua telah menjadi sahabat-sahabat baik, dan di rumah kami, kita dapat mempererat persahabatan kita dan dapat bercakap-cakap lebih leluasa. Marilah, kalian berempat kami undang!”
Kim Siang dan Gin Siang saling pandang dan Gin Siang berkata.
“Akan tetapi....... kami belum berhasil membunuh jahanam Thio Kam Ki, kami harus mengejar dan mencarinya.”
“Gin Siang-moi, jangan khawatir aku akan membantumu mencari penjahat itu. Sekarang. kuharap engkau sudi singgah ke rumah kami seperti yang diminta kakakku tadi.”
“Hemm, bukan aku tidak menghargai undangan kalian, akan tetapi aku harus mengejar Kam Ki agar dia tidak mendatangkan kekacauan mengganggu rakyat lebih lanjut!” kata Sie Bun Sam.
“Akan tetapi, Sam-ko, mengapa engkau begitu tergesa-gesa? Kam Ki itu tidak akan dapat menghilang. Seorang yang sesat biasanya tidak dapat mengubah kelakuannya yang jahat dan dia pasti akan meninggalkan jejak kejahatannya. Singgah dulu di Ki-lok hanya memakan waktu beberapa hari. Marilah, Sam-ko, kita bersama-sama singgah dulu ke rumah kakak beradik Ui. Baru nanti dari sana kita mencari jejak Kam Ki!” kata Bwee Hwa.
“Kita?” Bun Sam bertanya ragu.
“Ya, twako, karena aku sendiripun tidak mau sudah begitu saja! Jahanam itu terlalu menghinaku dan aku akan terus merasa penasaran sebelum melihat dia tewas!”
“Akan tetapi, aku berniat untuk membujuknva untuk menyerah dan menghadap suhu agar dia dapat bertaubat dan mengubah jalan hidupnya yang sesat, bukan membunuhnya.”
“Kalau dia tidak mau?” tanya Bwee Hwa.
“Kalau dia tidak mau, baru aku akan menggunakan kekerasan dan paksaan, akan tetapi bukan membunuhnya,” kata Bun Sam.
Ui Kiang mengangguk-angguk. “Ah, kak Bun Sam sungguh merupakan seorang pendekar budiman. Ilmu silatnya tinggi dan hatinya penuh kelembutan. Dia benar, Hwa-moi. Kita harus belajar memberi maaf kepada orang lain, apa lagi kalau orang itu mau bertaubat dan mengubah jalan hidupnya yang sesat.
197
Manusia manakah di dunia ini yang sempurna? Hanya Thian (Tuhan) Yang Maha Sempurna. Setiap orang manusia pasti berdosa, pasti pernah melakukan kesalahan, hanya kadarnya saja yang berbeda menurut ukuran kebudayaan dan peradaban manusia sendiri. Kalau kita tidak dapat memaafkan kesalahan orang lain, bagaimana Tuhan akan sudi mengampuni kesalahan kita? Setiap orang dari kita pasti mempunyai kesalahan, maka kalau ada orang lain bersalah, sudah sepatutnya kalau kita memberi maaf. Sam-ko, kebijaksanaanmu semakin mengagumkan hatiku, maka kuharap sukalah engkau menerima undangan kami!”
“Sam-ko, aku sendiri menganggap Kiang-ko dan Kong-ko seperti kakak sendiri, maka akupun ikut mengundangmu!” kata Bwee Hwa yang entah bagaimana, ingin sekali memperdalam hubungan persahabatnya dengan Sie Bun Sam.
“Kalau Bu Sam-ko tidak mau menerima undangan itu, kamipun merasa tidak enak untuk menerimanya!” kata pula Can Gin Siang.
“Ah, Gin-moi, engkau harus datang!” kata Ui Kong sambil memandang wajah gadis itu dengan penuh harapan.
Melihat semua orang membujuknya untuk memenuhi undangan kakak beradik Ui itu, Bun Sam tertawa. “Aha, baiklah kalau begitu. Aku akan pergi bersama kalian.”
Semua orang bergembira dan karena tadi Ui Kiang minta kepada para perwira pasukan untuk memberi dua ekor kuda lagi, maka kini enam orang itu meninggalkan tempat itu dengan menunggang kuda.
Enam orang muda itu tiba dengan selamat di rumah gedung keluarga Ui. Ui Kiang dan Ui Kong lalu memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan pesta untuk menghormati para tamunya. Dan atas permintaan Bwee Hwa, mereka juga mempersiapkan sebuah meja sembahyang untuk mendoakan agar arwah Ong Siong Li mendapatkan tempat yang baik.
Sepasang gadis kembar memperoleh sebuah kamar, dan masing-masing sebuah kamar untuk Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa. Gedung keluarga Ui yang kaya itu memang merupakan gedung besar dan memiliki banyak kamar. Kini keluarga Ui itu tinggal Ui Kiang dan Ui Kong yang tentu saja merasa repot sekali harus mengurus semua perusahaan peninggalan ayah mereka. Untung bagi mereka, mendiang Hartawan Ui Cun Lee adalah seorang dermawan sehingga para pegawainya amat setia sehingga dapat dipercaya untuk mengurus perusahaan itu.
Malam itu, Ui Kiang dan Ui Kong menjamu empat orang tamu mereka. Di dalam kamarnya Bwee Hwa duduk melamun. Ia masih bingung memikirkan urusannya dengan kedua orang saudara Ui itu. Oleh mendiang ibunya, ia dijodohkan dengan seorang dari mereka, dan mendiang ayah ibu dua orang muda itupun sudah setuju menerimanya sebagai mantu. Akan tetapi bagaimana dengan Ui Kiang dan Ui Kong sendiri? Mereka berdua tampak kagum dan tertarik kepadanya, bahkan seperti berlumba mengambil hatinya. Akan tetapi hal itu bukan menjadi bukti bahwa mereka mencintanya.
Dan yang terpenting, ia sendiri tidak mempunyai rasa cinta terhadap mereka, walaupun ia suka kepada mereka berdua yang merupakan pemuda-pemuda yang baik. Tidak ada sedikitpun keinginan dalam hatinya untuk diperisteri seorang di antara mereka. Akan tetapi, apakah ia harus membangkang terhadap pesan terakhir ibunya? Inilah yang membuat Bwee Hwa melamun dengan hati risau.
198
Dua orang kakak beradik itu memang tampan. Yang seorang adalah sastrawan yang memiliki kebijaksaan dan berpemandangan luas tentang kehidupan. Yang lain adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi. Ditambah lagi mereka itu kaya-raya. Mereka akan dapat menjadi suami yang baik, hal ini tidak diragukan hati Bwee Hwa.
Tampan, pandai, bijaksana, kaya-raya. Apalagi yang kurang bagi seorang wanita? Akan tetapi, ia harus mengaku dalam hatinya bahwa ia tidak mempunyai perasaan cinta seorang wanita terhadap pria, tidak ingin menjadi isteri mereka, hanya suka menjadi sahabat baik atau saudara.
Kerisauan hatinya membuat Bwee Hwa merasa panas dan ia segera keluar dari kamarnya yang menghadap ke taman. Ia ingin mencari udara segar untuk menenangkan hatinya. Begitu keluar dari kamar, udara segar, angin semilir lembut dan keharuman bunga-bunga menyambutnya. Ia merasa senang dan berjalan-jalan di dalam taman yang luas dan penuh tanaman pohon-pohon buah dan bunga-bunga yang mekar semerbak harum. Taman itu memang indah. Apalagi malam itu bulan tiga perempat bulat berseri di langit yang tiada mendung.
Bwee Hwa menemukan sebuah kolam ikan di tengah taman dan di tepi kolam terdapat bangku panjang. Ia lalu duduk di atas bangku. Kerisauan hatinya sudah terbawa angin semilir dan hatinya kini merasa tenteram kembali.
Tiba-tiba ia mendengar orang-orang bicara dan langkah kaki mereka menuju ke tempat di mana ia duduk. Bwee Hwa cepat bangkit dari bangku dan menyelinap ke balik sebatang pohon yang besar. Siapa tahu mereka itu musuh yang datang dengan niat jahat, pikirnya. Akan tetapi hatinya lega ketika melihat bahwa yang datang adalah Ui Kiang dan Ui Kong. Ia hendak keluar menyambut mereka, akan tetapi menahan gerakannya ketika ia mendengar namanya disebut-sebut.
“Urusan dengan Hwa-moi harus kita selesaikan sekarang juga, Kiang-ko, selagi ia masih berada di sini agar keraguan ini dapat segera diakhiri dan diambil keputusan di antara kita.” Demikian Bwee Hwa mendengar suara Ui Kong yang berkata kepada Ui Kiang.
“Mari kita duduk dan bicara dengan hati terbuka, Kong-te. Memang selama ini aku merasa seolah kita bersaing untuk memperisteri Hwa-moi,” ajak Ui Kiang.
Dua orang muda itu duduk dan tentu saja Bwee Hwa makin tertarik untuk mendengarkan percakapan mereka yang menyangkut dirinya.
“Biar, Kiang-ko. Terus terang saja, tadinya akau amat tertarik kepada Hwa-moi. Siapa yang tidak akan tertarik? Ia cantik jelita dan ilmu silatnya tinggi. Akan tetapi setelah aku melihat Can Gin Siang, baru aku menyadari bahwa aku jatuh cinta kepada Gin-moi dan terhadap Hwa-moi aku hanya merasa kagum dan suka sebagai seorang sahabat atau saudara. Karena itu, menikahlah dengan Lim Bwee Hwa, Kiang-ko karena engkau yang lebih berhak sebagai saudara tua.”
“Wah, keadaan kita sama, Kong-te. Akupun menganggap Hwa-moi sebagai sahabat atau saudara saja. Engkau sebenarnya lebih tepat dan cocok untuk menjadi suaminya, kalian sama-sama pendekar. Selain itu, aku juga perlu membuat pengakuan, yaitu bahwa pertemuanku dengan Can Kim Siang membuat aku yakin bahwa aku mencintanya.”
“Aduh, bagaimana sekarang?” kata Ui Kong dengan suara sedih.
199
Kedua orang pemuda itu berdiam diri, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di balik batang pohon besar itu, Bwee Hwa mendengarkan percakapan mereka dan gadis itu hampir bersorak kegirangan mendengar pengakuan mereka! Seketika lenyap keraguan dan kerisauan dari dalam hatinya.
“Akupun bingung memikirkan persoalan ini. Aku tidak berani mengaku di depan Hwa-moi bahwa aku tidak dapat menjadi suaminya. Hal itu akan menyinggung perasaannya, padahal ia begitu baik terhadap keluarga kita.”
“Akupun tidak berani, koko. Padahal ia yang datang kepada kita untuk me-menuhi pesan mendiang ibunya untuk menyerahkan diri menjadi isteri seorang di antara kita. Sekarang bagaimana kita dapat menolaknya? Siapa yang berani bicara terus terang kepadanya? Ia tentu akan merasa tersinggung, merasa ditolak dan mungkin penolakan kita akan dianggap sebagai penghinaan baginya. Ah, aku bingung sekali, Kiang-ko? Bagaimana baiknya ini?”
Ui Kiang menghela napas panjang. “Ah, aku sendiri masih bingung memikirkan hal ini, Kong-te. Dulu, aku mengira bahwa adik Lim Bwee Hwa saling mencinta dengan adik Ong Siong Li. Akan tetapi, sekarang dia telah tewas. Kalau masih ada dia, tentu saja dia dapat menolong kita. Kalau Hwa-moi dapat berjodoh dengan dia, berarti kita terbebas dari ikatan jodoh yang ditentukan ibu kita itu. Akan tetapi Ong Siong Li telah tiada.”
“Bukan soal adik Lim Bwee Hwa saja yang membingungkan, Kiang-ko, akan tetapi juga mengenai perasaan cinta kita terhadap dua orang gadis kembar itu. Bagaimana kalau mereka tidak mau menerima cinta kita? Dan bagaimana pula kita akan mengajukan pinangan seandainya mereka membalas cinta kita? Ingat bahwa bukan hanya kita yang yatim piatu, akan tetapi mereka juga sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi.”
“Ah, aku sendiri bingung, Kong-te. Engkau tahu bahwa akupun sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam urusan cinta dan perjodohan.”
Kedua orang kakak beradik itu tampak bingung dan tidak dapat mengambil keputusan apa yang harus mereka lakukan menghadapi urusan mereka dengan Bwee Hwa dan dengan dua orang gadis kembar.
“Marilah malam ini kita masing-masing pikirkan secara mendalam agar besok kita dapat menemukan jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini,” kata Ui Kiang dan kedua orang kakak beradik itu, lalu meninggalkan taman itu, kembali ke kamar masing-masing.
Setelah mereka pergi, Bwee Hwa keluar dari tempat sembunyiannya, sepasang matanya bersinar dan wajahnya cerah, bibirnya tersenyum. Hatinya merasa girang bukan main mendengar percakapan dua orang kakak beradik itu. Masalah yang ia hadapi dengan hati bingung kini telah terpecahkan oleh pengakuan dua orang pemuda dalam percakapan mereka tadi. Mereka tidak ingin berjodoh dengannya karena mencinta sepasang gadis kembar itu! Hatinya merasa lega. Ia sendiri walaupun kagum dan suka kepada mereka, akan tetapi tidak ada keinginan sedikitpun untuk menjadi isteri seorang dari mereka.
Bwee Hwa tersenyum seorang diri ketika ia mendapatkan sebuah gagasan yang amat baik menurut pendapatnya. Ia akan menjadi comblang di antara mereka! Kalau kedua orang kakak beradik itu dapat menjadi suami isteri Kim Siang dan Gin Siang, berarti ia bebas! Ikatan perjodohan dengan seorang di
200
antara kedua kakak beradik yang dulu dibuat oleh mendiang ibunya dan mendiang ibu mereka, telah putus. Kalau hal itu terjadi karena kedua orang pemuda itu tidak ingin berjodoh dengannya, bukan berarti ia telah tidak menaati pesan terakhir ibunya!
Dengan senyum masih menghias bibirnya karena ia gembira sekali dan telah merencanakan apa yang akan dilakukannya besok untuk memenuhi gagasannya tadi, Bwee Hwa meninggalkan taman dan kembali ke kamarnya dan dapat tidur dengan nyenyak. Sama sekali ia tidak tahu bahwa tadi ketika ia mendengarkan percakapan kedua kakak beradik itu, ada bayangan lain yang melihatnya dan ikut mendengarkan percakapan Ui Kiang dan Ui Kong itu. Bayangan itu adalah Sie Bun Sam yang secara kebetulan, tanpa disengaja, juga mencari hawa segar di taman itu.
Pada keesokan harinya, setelah mandi dan bertukar pakaian, Bwee Hwa men-datangi kamar sepasang gadis kembar itu. Mereka tinggal sekamar dalam se-buah kamar yang besar yang diperuntukkan mereka oleh kakak beradik Ui. Setelah dipersilakan masuk, Bwee Hwa mendapatkan sepasang gadis kembar itu juga telah mandi dan memakai pakaian yang bersih dan rapi.
“Wah, sepagi ini engkau sudah begini cantik dan rapi! hendak ke manakah engkau, kami harap engkau tidak ingin segera pergi meninggalkan tempat ini,” kata Kim Siang.
Bwee Hwa tersenyum mengamati mereka berdua. “Wah, siapa yang lebih rapi dan cantik? Kalian juga tampak segar bagaikan dua kuntum bunga yang amat indah menarik. Masa aku hendak meninggalkan tempat yang indah dan menyenangkan ini? Apakah kalian tidak menganggap rumah kedua orang kakak angkatku ini kurang nyaman dan enak untuk dijadikan tempat tinggal?”
“Wah, kami senang sekali berada di sini, Hwa-moi. Rumah ini besar dan indah, juga terawat bersih dan rapi. Dari jendela kamar ini kami dapat melihat taman bunga yang juga amat indah. Kami senang sekali tinggal di sini dan pagi ini kami berdua ingin sekali melihat-lihat keadaan kota Ki-lok ini,” kata Gin Siang.
“Nah, itu baik sekali. Kota ini lumayan ramainya dan mendiang ayah kedua kakak Ui adalah salah seorang hartawan yang amat terkenal di sini karena kedermawanannya. Juga di luar kota kira-kira sepuluh lie (mil) dari sini terdapat Kuil Bah-hok-si yang amat terkenal dengan patung Kwan-im yang kita rampas dari sarang Pek-lian-kauw itu. Kuil itu amat besar dan indah, dikunjungi banyak orang, bahkan dari kota-kota besar lain.”
“Wah, kalau begitu mari kita pergi ke sana, adik Bwee Hwa!” kata Kim Siang dengan gembira.
“Boleh saja, akan tetapi nanti dulu. Kunjunganku ke kamar kalian ini sesung-guhnya membawa tugas yang amat penting.”
“Tugas penting?” Gin Siang memandang penuh selidik, diikuti Kim Siang. “Tugas apakah itu dan siapa pula yang menugaskan, Hwa-moi?”
“Terus terang saja, aku telah dianggap sebagai adik sendiri oleh kedua kakak Ui. Mereka sudah tidak mempunyai ayah ibu, maka akulah yang kejatuhan tugas ini dari mereka. Sebelumnya aku harap kalian tidak menjadi marah kepadaku.”
Sepasang gadis kembar itu semakin heran. “Eh, apa sih maksudmu, Hwa-moi? Apa hubungannya pula dengan kami berdua?”
201
“Nanti dulu, kalian harus berjanji dulu bahwa kalian tidak akan marah kepadaku kalau aku menceritakan apa tugasku ini.”
“Tentu saja kami tidak akan marah! Kenapa kami mesti marah kalau engkau menceritakan tentang tugasmu?” tanya Gin Siang.
“Karena hal ini menyangkut diri kalian berdua.”
“Eh? Benarkah? Engkau membuat kami ingin tahu sekali, adik Bwee Hwa! Tugas apakah itu? Katakan, kami berjanji tidak akan marah!” Kata Gin Siang.
“Nah, kalau begitu baru aku berani menceritakan. Begini, seperti kukatakan tadi, kakak Ui Kiang dan kakak Ui Kong sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka mereka mengangkat aku menjadi utusannya. Dan tugasku menemui kalian berdua pagi hari ini adalah……” Bwee Hwa berhenti lagi dan memandang wajah kedua gadis kembar itu. “Akan tetapi benar, kalian berjanji tidak akan marah, ya?”
Sepasang gadis kembar itu menjadi tidak sabar. “Kami berjanji tidak akan marah! Katakanlah!” kata mereka hampir berbareng.
“Kakak Ui Kiang dan Ui Kong adalah dua orang pemuda yang amat baik budi, sopan dan juga pemalu, maka mereka minta tolong kepadaku untuk menyatakan perasaan mereka berdua kepada kalian. Aku bertugas memberitahu kalian bahwa Kiang-ko jatuh cinta kepadamu, enci Kim Siang, dan Kong-ko jatuh cinta kepada enci Gin Siang, lega hatiku karena telah menyampaikan pesan itu! Kalian tidak marah, bukan?” Bwee Hwa memandang wajah kedua orang gadis kembar itu dan melihat mereka segera menundukkan muka yang menjadi merah dan mereka tersenyum malu-malu, ia berani melanjutkan.
“Dan selanjutnya, biarpun ini belum resmi, kedua Kiang-ko dan Kong-ko meminang kalian untuk menjadi isteri mereka. Tentu saja kalau diharuskan, mereka akan mengajukan pinangan secara resmi, setelah itu akan diadakan upacara pernikahan dengan pesta meriah!”
Dua orang gadis itu masih menundukkan muka. Mereka berdua merasa heran, dan malu-malu, akan tetapi juga di dalam hati mereka merasa girang sekali. Sebetulnya secara diam-diam mereka berdua juga mengagumi kedua orang pemuda kakak beradik itu. Ui Kong pemuda gagah perkasa dengan ilmu silat yang cukup tinggi, dan Ui Kiang, biarpun tidak pandai ilmu silat, namun dia seorang sastrawan yang cerdas dan pandai. Lebih lagi, keduanya adalah pemuda-pemuda kaya-raya, memiliki banyak perusahaan dan mereka terkenal dermawan dan baik budi pula.
“Hei, bagaimana sih kalian ini? Diajak bicara serius malah diam saja, menunduk dan hanya tersenyum-senyum! Jawablah! Bagaimana aku harus memberi jawaban kepada kedua kakak Ui itu kalau mereka bertanya bagaimana hasil pelaksanaan tugasku ini? Enci Kim Siang dan Gin Siang, jawablah apa yang harus kuberikan kepada mereka? Hayo, jawablah dan katakan sesuatu, bukan menunduk dengan muka kemerahan dan diam seribu bahasa!”
Bwee Hwa sengaja menggoda karena sebagai seorang wanita, ia dapat merasakan bahwa bidikannya itu mengenai sasaran yang tepat. Kalau tidak, tentu dua orang gadis itu akan marah, atau setidaknya memperlihatkan ketidak-senangan atau penolakan mereka. Akan tetapi mereka diam dan menunduk
202
malu-malu sambil tersenyum, ia dapat merasakan bahwa mereka itu sesungguhnya sama-sama mau tapi malu!
Akhirnya Kim Siang yang lebih pandai bicara dibandingkan adik kembarnya, menjawab dengan pertanyaan. “Adik Bwee Hwa, benarkah semua ucapanmu tadi? Apakah engkau hanya bergurau hendak menggoda kami? Rasanya tidak mungkin dua orang pemuda sehebat mereka itu mau...... sama kami, dua orang gadis yatim-piatu melarat dan bodoh lagi.......”
“Heiit! Jangan merendahkan diri seperti itu! Dan kalian menganggap mereka dua orang pemuda hebat, ya? Nah, kalau benar mereka itu hebat, lalu apalagi yang menghalangi kalian untuk segera menerima pinangan mereka? Jawablah ya, bahwa kalian sudah menerima pinangan mereka dan suka menjadi isteri mereka agar aku dapat segera menceritakan kepada mereka dan upah jerih payahku tentu banyak sekali!” Bwee Hwa tertawa dan dua orang gadis itu juga merasa geli dan tertawa.
“Hemm, jadi sekarang engkau telah bekerja sebagai mak comblang, adik Bwee Hwa?” Gin Siang bertanya dan kembali ketiganya tertawa. “Mak comblang bayaran?”
“Sudah, jangan berkelakar lagi. Aku menghendaki jawaban yang tegas. Mereka itu sudah menanti-nanti dengan tidak sabar. Hayo beri jawaban, ya atau tidak?”
“Adik Bwee Hwa, bagaimana mungkin perkara perjodohan diputuskan secara kilat dan tergesa-gesa seperti ini? Bagaimanapun juga, kami masih mempunyai seorang piauw-ci (kakak misan) yang juga menjadi guru pertama kami, maka urusan perjodohan kami haruslah dilaporkan kepadanya lebih dulu untuk minta pertimbangan dan restunya,” kata Kim Siang.
“Enci Kim benar, adik Bwee. Kami harus mendapatkan persetujuan dari guru pertama kami, yaitu Pek-hwa Sianli yang tinggal di lereng Bukit Ayam Emas,” kata Gin Siang. “Ia dapat menjadi wali kami.”
“Baik, hal itu mudah dilakukan. Akan tetapi yang paling penting sekarang adalah pengakuan kalian berdua. Dua orang kakak Ui sudah menyatakan cintanya kepada kalian berdua. Sekarang bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga mencinta mereka...... eh, maksudku, apakah kalian berdua pada hakekatnya suka menjadi isteri mereka?”
Dua orang gadis kembar itu saling pandang, kulit wajah mereka yang cantik itu menjadi semakin merah, lalu keduanya....... mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
“Nah, begitu dong! Wah, sebagai seorang mak comblang amatir, hasil karya pertamaku ini tidak mengecewakan!” Bwee Hwa berseru gembira sekali dan kembali tiga orang gadis itu tertawa riuh.
“Heii! Kalian bertiga begitu gembira! Bolehkah kami ikut merasakan kegembi-raan itu?”
Sepasang gadis kembar itu terbelalak kaget dan menundukkan muka mereka ketika melihat bahwa yang datang adalah Ui Kiang dan Ui Kong yang agaknya tertarik oleh suara tawa tiga orang gadis itu. Melihat mereka, Bwee Hwa terkejut. Celaka, permainannya bisa ketahuan, pikirnya. Maka ia lalu berlari keluar dan di depan pintu ia memegang tangan Ui Kiang dan Ui Kong, lalu di-ajaknya pergi ke ruangan lain.
“Tentu saja kalian boleh ikut gembira karena aku membawa kabar baik!” seru Bwee Hwa nyaring agar terdengar dua orang gadis dalam kamar itu.
203
Kakak beradik itupun heran dan terkejut melihat Bwee Hwa menggandeng tangan mereka dan menariknya ke ruangan lain.
“Eh, Hwa-moi, ada apakah ini?” Mereka tentu saja merasa heran karena gadis ini belum, pernah bersikap sedemikian akrab, apalagi sampai memegang tangan mereka dan menariknya masuk ke ruangan dalam itu!
Setelah tiba di ruangan itu, Bwee Hwa melepaskan tangan mereka dan berkata, “Silakan duduk, Kiang-ko dan Kong-ko. Aku membawa kabar yang amat baik dan menggembirakan kalian!”
Kedua orang kakak beradik itu duduk berhadapan dengan Bwee Hwa meman-dang wajah ayu itu penuh selidik. “Kabar apakah, Hwa-moi? Engkau begini penuh rahasia!” kata Ui Kong.
“Coba sekarang jawablah dulu pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencinta Can Kim Siang dan Kong-ko mencinta Can Gin Siang, bukan?”
Kakak dan adik itu terkejut sekali dan merasa khawatir kalau-kalau hal itu membuat gadis yang telah dipertunangkan dengan seorang di antara mereka itu menjadi marah.
“Bagaimana engkau dapat berkata begitu?” tanya mereka hampir berbareng. Melihat pandang mata kedua orang pemuda itu kepadanya mengandung kekhawatiran, maka Bwee Hwa tersenyum dan berkata.
“Akuilah saja terus terang, aku tidak akan marah. Aku akan marah kalau kalian berbohong dan tidak mau mengaku secara jantan. Nah, kuulangi pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencinta enci Can Kim Siang, bukan?”
Ui Kiang memandang Bwee Hwa dengan muka berubah kemerahan. Dia menghela napas panjang lalu menjawab, “Tidak kusangkal, Hwa-moi, aku mencinta adik Can Kim Siang.”
“Dan engkau mencinta Can Gin Siang, Kong-ko?”
Ui Kong akhirnya menjawab dengan tegas. “Benar, Hwa-moi, aku mencinta adik Can Gin Siang! Akan tetapi bagaimana engkau tahu akan hal itu?”
“Ya, bagaimana engkau mengetahui rahasia hati kami itu, Hwa-moi?” Ui Kiang juga bertanya.
“Dengarlah baik-baik! Semalam secara tidak sengaja aku mendengar percakapan kalian berdua di taman.......”
“Ahh.......!” Kakak beradik itu terkejut sekali.
“Tenanglah! Aku sama sekali tidak marah dan susah, bahkan aku merasa gembira sekali. Untuk membuktikan bahwa aku tidak marah atau susah, pagi ini aku mendatangi kedua enci kembar itu dan aku mewakili kalian berdua untuk menyatakan keinginan kalian untuk memperisteri mereka, mengajukan pinangan secara tidak resmi......”
204
“Ahhh......!” Kakak beradik itu semakin terkejut.
“Jangan ber ah-ah ber uh-uh, karena hasilnya amat menggembirakan. Kedua enci kembar itu menerima cinta kasih kalian dengan girang. Mereka bersedia menjadi isteri kalian, sekarang tinggal melamar dan menanti laporan mereka kepada piauw-ci mereka di Bukit Ayam Emas, yaitu Pek-hwa Sianli. Nah, bu-kankah itu kabar yang amat membahagiakan kalian?”
Kakak beradik itu saling pandang, lalu menatap wajah Bwee Hwa. “Aduh, terima kasih atas semua kebaikanmu ini, Hwa-moi!” kata Ui Kong.
“Hwa-moi, kami mohon maaf kepadamu kalau tanpa disengaja kami telah menyinggung perasaanmu,” kata Ui Kiang.
Bwee Hwa tersenyum. “Sama sekali tidak, Kiang-ko, aku bahkan merasa gembira sekali karena sesungguhnya, aku sendiri sama sekali belum mempunyai keinginan untuk menikah. Kalau aku sampai menghubungi kalian, itu adalah karena aku ingin menaati pesan terakhir ibuku.”
“Ah, kalau begitu, sekali lagi terima kasih, Hwa-moi. Engkau sungguh seorang gadis yang bijaksana dan baik budi!” kata Ui Kong.
“Hwa-moi, karena kita bertiga ini sama-sama sudah yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga lain, maka kami akan merasa berbahagia sekali kalau engkau mau menjadi adik angkat kami agar hubungan baik antara ibu kita dapat dilanjutkan!” kata Ui Kiang.
“Aku akan senang sekali menjadi adik angkat kalian!” jawab Bwee Hwa.
“Bagus! Wah, kami yang merasa beruntung sekali!” kata Ui Kong.
“Siang ini kita rayakan pengangkatan saudara ini! Kita rayakan bersama kedua adik kembar dan juga kakak Sie Bun Sam! Kita mengadakan pesta antara kita!” seru Ui Kiang.
“Pesta pengangkatan saudara ataukah, pesta pertunangan kalian?” Bwee Hwa menggoda.
“Yah....... kedua-duanya!”
Biarpun sudah mendapat kabar yang menentukan dari Bwee Hwa bahwa cinta mereka kepada dua orang gadis kembar itu mendapat sambutan, namun kakak beradik Ui itu masih belum yakin benar. Pula mereka berdua sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang hubungan cinta kasih sehingga kalau bertemu dengan dua orang gadis kembar itu, mulut mereka seperti dibungkam dan mereka tidak dapat berkata apa-apa. Melihat hal ini Bwee Hwa menjadi gemas dan penasaran juga.
Pagi hari itu Bwee Hwa menemani sepasang gadis kembar melihat-lihat keadaan kota Ki-lok, bahkan pergi berkunjung ke kuil Ban-hok-si.
Ketika mereka pulang, mereka melihat bahwa sebuah meja sembahyang telah diatur rapi karena kedua orang kakak beradik Ui itu hendak melakukan upacara sembahyangan untuk acara angkat saudara antara mereka dan Bwee Hwa. Sie Bun Sam tampak membantu kesibukan dua orang kakak beradik itu.
205
Tak lama kemudian semua telah dipersiapkan. Dari alat-alat upacara sembahyang sampai pesta antara mereka berenam di ruangan dalam, di mana ter-dapat sebuah meja besar dengan enam buah kursinya.
Dengan Ui Kiang sebagai pengatur karena dia yang lebih tahu akan upacara itu, mereka bertiga melakukan sumpah di depan meja sembahyang, sumpah pengangkatan saudara antara dua orang kakak beradik Ui itu dengan Lim Bwee Hwa. Setelah selesai upacara pengangkatan saudara antara tiga orang itu yang disaksikan dengan penuh perhatian oleh Sie Bun Sam dan sepasang gadis kembar, Ui Kiang lalu berkata.
“Sekarang, untuk merayakan upacara pengangkatan saudara ini, kami bertiga, aku sendiri, adik Ui Kong dan adik Bwee Hwa, mengundang kakak Sie Bun Sam dan kedua adik Kim Siang dan adik Gin Siang untuk bersama kami berpesta makan minum.”
Mereka berenam lalu duduk menghadapi meja makan bundar yang besar itu. Segera para pelayan datang menghidangkan masakan-masakan yang mewah dan mahal ke atas meja, disertai anggur dan arak. Tiga orang gadis itu tidak berani minum arak yang keras, dan hanya minta anggur yang lebih halus. Mereka makan minum dengan gembira.
Sie Bun Sam mengangkat cawan araknya lalu dengan wajah gembira berkata, “Aku memberi selamat kepada adik-adik Ui Kiang, Ui Kong dan Bwee Hwa atas pengangkatan saudara ini, semoga kalian bertiga dapat menjadi kakak beradik yang rukun, setia dan saling membantu. Marilah kita minum untuk itu!”
Semua orang minum dari cawan masing-masing dan pesta itu dirayakan oleh mereka berenam dengan gembira. Setelah selesai makan, Bwee Hwa mengangkat cawan anggurnya. “Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Kiang-ko dan Kong-ko, dan kepada enci Kim dan enci Gin atas hubungan kasih antara mereka. Semoga hubungan itu akan segera membawa mereka dua pasangan ke jenjang pernikahan yang berbahagia.”
Biarpun wajah mereka berubah kemerahan, kedua saudara Ui dan kedua gadis kembar terpaksa minum dari cawan masing-masing, diikuti Bun Sam yang tersenyum.
“Sam-ko, aku ingin bicara denganmu, akan tetapi jangan didengar orang lain. Maka marilah kita keluar dan tinggalkan dua kakakku dengan kekasih mereka masing-masing!” ajak Bwee Hwa pada Sie Bun Sam.
Pemuda itu yang sudah maklum apa yang terjadi, tersenyum dan bangkit lalu bersama Bwee Hwa meninggalkan runangan itu.
Setelah tiba di ruangan depan, Bun Sam dan Bwee Hwa duduk di atas bangku berhadapan. “Hwa-moi, apakah yang ingin kau bicarakan dengan aku?” tanya pemuda itu.
Bwee Hwa tersenyum. “Aku hanya ingin memberi kesempatan kepada dua pasang kekasih itu untuk bercakap-cakap dengan leluasa. Kehadiran kita hanya akan mengganggu mereka.”
Bun Sam menghela napas panjang dan memandang gadis itu dengan sinar mata kagum. “Adik Lim Bwee Hwa, engkau selain gagah perkasa, juga engkau memiliki kebijaksanaan. Apa yang telah kaulakukan terhadap dua pasangan itu, sungguh luar biasa dan cerdik sekali.”
206
“Eh? Apa maksudmu?” tanya Bwee Hwa heran karena tidak mengira ada orang yang mengetahui akal yang ia pergunakan untuk mempertemukan dua pasang hati itu.
“Aku tahu dan menyaksikan ketika engkau mendengarkan percakapan kedua orang adik Ui di taman, dan aku tahu pula betapa pagi tadi engkau beraksi sebagai mak comblang! Padahal, menurut apa yang kudengar dari semua percakapan itu, engkaulah yang sebetulnya dijodohkan dengan seorang di antara dua kakak beradik itu.”
“Ah, aku sama sekali tidak menginginkan hal itu dan kenyataan bahwa kedua orang kakak angkatku itu mencinta kedua enci kembar, merupakan jalan keluar terbaik untuk membatalkan ikatan yang dulu diadakan oleh ibu kami. Sekarang, kedua orang pemuda itu menjadi kakak angkatku dan aku merasa gembira sekali. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu kita bicarakan lagi, Sam-ko, setelah meninggalkan kota ini, engkau hendak pergi ke mana?”
“Sudah kukatakan bahwa aku ingin mencari sute-ku Thio Kam Ki untuk memenuhi pesan guruku.”
“Kalau begitu, ijinkan aku ikut dan membantumu menangkap sutemu itu!”
“Akan tetapi...... setelah engkau menjadi adik angkat kedua saudara Ui, seharusnya engkau tinggal di sini membantu pekerjaan mereka, Hwa-moi.”
“Hemm, jadi engkau tidak suka kalau aku ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki itu?” Bwee Hwa bertanya dan matanya mencorong memandang wajah pemuda itu.
“Ohh, tidak, bukan begitu, Hwa-moi!” Cepat Bun Sam membantah sambil menggoyangkan kedua tangan untuk menyangkal.
“Kalau begitu, aku boleh ikut?” Bwee Hwa cepat menyerang pemuda yang masih gelagapan itu.
“Eh, oh....... begini, Hwa-moi. Terus terang saja, aku tidak pernah melakukan perjalanan bersama seorang gadis asing......”
“Aku bukan gadis asing! Kita telah bekerja sama dan menjadi sahabat. Ataukah keliru anggapanku ini dan engkau tidak sudi menganggap aku sahabat?” Bertubi-tubi serangan kata-kata Bwee Hwa sehingga Bun Sam menjadi kewalahan dan tidak berdaya.
“Begini maksudku......” katanya gagap, “ah, engkau membikin aku bingung, Hwa-moi.”
“Mengapa bingung? Urusannya sederhana. Aku ingin ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki. Jawabanmu tinggal boleh atau tidak, habis perkara. Mengapa mesti bingung-bingung?”
“Hemm, engkau benar juga. Memang aku kurang pengalaman menghadapi wanita sehingga begitu engkau mendesakku, aku kehabisan akal. Akan tetapi sebelum aku memutuskan, aku ingin mendapatkan dulu penjelasanmu. Mengapa engkau ingin ikut denganku mencari sute-ku yang belum kuKetahui di mana adanya itu? Padahal engkau dapat tinggal di sini bersama kedua kakakmu? Mengapa mencari kesusahan dan kesulitan melakukan perjalanan tidak tentu arahnya dan mungkin menghadapi segala macam bahaya?”
207
“Baik, akan kujawab. Akan tetapi setelah itu, engkau harus pula memberi jawaban, boleh atau tidak! Begini, Sam-ko. Aku adalah seorang pengembara, ingin bertualang, tidak akan betah tinggal di rumah, betapapun baiknya dan menyenangkannya rumah itu. Selain itu, akupun mendendam sakit hati kepada Thio Kam Ki, mengingat akan kematian sahabat baikku, kakak Ong Siong Li.”
“Akan tetapi, menurut apa yang kudengar dari kalian, saudara Ong Siong Li itu tewas karena dikeroyok oleh Ang-bin Moko dan anak buah Pek-lian-kauw, sedangkan Ang-bin Moko sudah tewas oleh adik Ui Kong. Bukankah itu berarti kematian saudara Ong Siong Li telah terbalas?”
Bwee Hwa menggeleng kepalanya. “Akan tetapi penyebab tewasnya kakak Ong Siong Li adalah karena Kam Ki yang berada di sana dan memimpin Pek-lian-kauw. Kalau tidak ada dia, kami bertiga, aku Kong-ko dan Li-ko akan mampu membasmi Pek-lian-kauw dan Li-ko tidak akan tewas! Biangkeladinya adalah Thio Kam Ki dan juga aku ingin membalas karena dia pernah menangkap aku dan kedua enci Can dengan niat terkutuk dan keji!”
Bun Sam mengerutkan alisnya. “Hwa-moi, aku tidak ingin membunuhnya, hanya menyadarkannya dan mengajak dia pulang kepada suhu agar suhu dapat menyembuhkan sakitnya.”
“Sakit? Dia sakit?”
“Benar, Hwa-moi. Bukan jasmaninya yang sakit, melainkan rohaninya. Aku tidak ingin engkau membunuhnya. Dengar, Hwa-moi, dendam merupakan racun yang akan merusak hati sendiri. Dendam menimbulkan kebencian dan seorang pendekar menentang orang yang sesat untuk menghentikan perbuatan jahatnya, bukan menentang karena kebenciannya. Kebencian menghilangkan keadilan, padahal seorang pendekar harus mempertahankan kebenaran dan keadilan. Aku, pernah mendengar akan nama Sin-kiam Lojin dari guruku yang memujinya sebagai seorang pendekar pedang yang bijaksana dan baik budi. Aku percaya bahwa sebagai muridnya engkaupun tentu memiliki sifat-sifatnya yang bijaksana itu.”
Bwee Hwa menundukkan mukanya dan teringatlah ia kepada gurunya, Sin-kiam Lojin dan hatinya merasa terharu. Memang dahulu gurunya sering menerangkan kepadanya soal kebijaksanaan. Setelah kini ia kehilangan ibu kandungnya, biarpun ia sudah mendapatkan dua orang kakak angkat yang baik dan sayang kepadanya, namun ia merasa rindu kepada gurunya yang telah mengasuh dan mendidiknya semenjak ia berusia delapan tahun. Gurunya sudah tua dan tinggal sebagai pertapa, seorang diri di rumah puncak bukit Pegunungan Heng-san. Setelah menghela napas panjang, ia berkata.
“Engkau benar, Sam-ko. Ucapanmu mengingatkan aku kepada guruku. Pernah suhu mengatakan bahwa lebih baik orang jahat yang bertaubat dan menghentikan kejahatannya daripada orang yang merasa dirinya baik karena sekali waktu dia akan dapat menyeleweng dari kebenaran. Seperti orang sakit dapat sembuh dan orang sehat sekali waktu dapat saja jatuh sakit.”
“Lo-cianpwe (orang tua gagah) Sin-kiam Lojin memang seorang sakti yang bijaksana.”
“Ah, bicara tentang suhu membuat aku merasa rindu sekali padanya, Sam-ko. Kalau begitu, tentang Kam Ki biar kuserahkan saja padamu apa yang akan kaulakukan terhadap dirinya. Kalau engkau tidak keberatan, aku ingin ikut padamu mencari sambil meluaskan pengalaman di dunia kang-ouw, dan kalau kita berada dekat Heng-san, aku akan berkunjung kepada suhu yang sudah tua.”
208
“Tentu saja aku tidak keberatan, Hwa-moi. Kalau engkau setuju kita dapat mulai perjalanan kita besok.”
“Besok? Aku harus bicara dulu dengan kedua orang kakakku, dan merundingkan urusan pertunangan mereka dengan kedua enci kembar.”
“Wah, engkau memang pandai menjadi comblang. Mungkinkah kelak engkau juga menjadi comblang dan mencarikan seorang jodoh untukku?”
“Apakah engkau yang sudah berusia duapuluh lima tahun belum mempunyai calon jodoh, Sam-ko?”
Bun Sam tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Belum, Hwa-moi. Entah me-ngapa, akan tetapi sampai sekarang aku masih belum laku. Bahkan yang datang menawarkan belum pernah ada!”
“Ih! Memang engkau ini barang dagangan? Hayo kita temui mereka, Sam-ko. Sudah cukup lama kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk bercakap-cakap dan berunding. Mari Sam-ko!”
Mereka lalu memasuki ruangan di mana mereka tadi meninggalkan dua pasang kekasih itu bercakap-cakap dengan leluasa. Karena tidak ingin mengganggu, maka setelah tiba di depan pintu ruangan, sebelum masuk Bun Sam mengetuk daun pintunya terlebih dulu.
“Siapa? Masuklah!” terdengar Ui Kiang menegur dari dalam.
Bwee Hwa dan Bun Sam muncul dan serentak empat orang muda yang berada di dalam menyambut dengan gembira dan mereka berseru, “Nah, ini mak comblang kita datang!”
Bwee Hwa memandang kepada mereka dan ikut tertawa senang melihat betapa wajah empat orang itu begitu cerah berseri dan mereka tersenyum gembira.
“Hemm, sepatutnya kalian berempat berterima kasih dan memberi hadiah kepadaku, bukan malah mentertawakan aku!” kata Bwee Hwa.
Dua orang gadis kembar menghampiri dan merangkulnya.
“Adikku yang manis, kami memang amat berterima kasih padamu!” kata Ui Kiang dan Ui Kong hampir berbareng.
Mereka semua duduk mengelilingi meja. “Nah, sekarang ceritakan padaku, keputusan apa yang telah kalian ambil. Aku sebagai mak comblang harus mengetahuinya!”
“Begini, Hwa-moi. Adik Gin Siang bersama aku akan pergi mengunjungi Pek-hwa Sianli di Kim-ke-san (Bukit Ayam Emas) untuk membicarakan urusan perjodohan kami berempat, sedangkan enci Kim Siang akan berada di sini membantu Kiang-ko mengurus perusahaan kita yang cukup merepotkan. Tentu saja engkau juga harus membantu Kiang-ko mengurus beberapa macam perusahaan kita, Hwa-moi.”
“Wah, sayang sekali aku belum dapat membantu, Kiang-ko dan Kong-ko. Aku juga akan pergi membantu Sam-ko mencari Thio Kam Ki, dan aku ingin me-ngunjungi guruku di Heng-san untuk memberitahu bahwa aku telah mendapatkan dua orang kakak angkat yang baik hati di Ki-lok. Aku sudah merasa rindu kepada suhu yang sudah tua.”
209
“Tapi...... engkau harus berada di sini kalau....... kami merayakan pernikahan kami!” kata Ui Kiang.
“Benar, Hwa-moi! Kami tidak akan merasa bahagia kalau adik kami satu-satunya tidak hadir menyaksikan upacara pernikahan kami!” kata Ui Kong.
Bwee Hwa tertawa. “Hemm, jangan kalian khawatir, kakak-kakakku yang baik! Katakan saja, kapan pernikahan kalian dilaksanakan, aku pasti akan pulang pada waktunya!”
“Ah, hal ini kami belum dapat memastikan kapan, Hwa-moi,” kata Ui Kiang. “Tergantung hasil pertemuan Kong-te dan Gin-moi nanti dengan Pek-hwa Sianli. Kami ingin melangsungkan pernikahan secepatnya.......”
“Aih, terburu-buru amat! Tidak sabar lagi, Kiang-ko?” Bwee Hwa menggoda sehingga muka Ui Kiang menjadi merah.
“Hussh!” cela Ui Kong. “Adik macam apa kau ini, menggoda kakak yang lebih tua!” Akan tetapi berkata begini dia sambil tertawa sehingga semua orang ikut tertawa, maklum bahwa itu hanya kelakar belaka. “Kita semua sudah yatim piatu, maka kalau memang sudah ada keputusan, mengapa harus menunggu-nunggu lagi? Perusahaan kita yang banyak membutuhkan penanganan perlu segera kita urus, dan enci Kim beserta adik Gin dapat membantu kami. Juga engkau!”
“Begini saja,” kata Bwee Hwa. “Besok pagi aku berangkat, dan bagaimana kalau setahun kemudian aku kembali? Apakah terlalu lama untuk kalian yang sudah tidak sabar lagi?”
“Setahun?” kata Ui Kiang. “Nanti dulu, lama waktunya tergantung dari kepergian Kong-te berdua ke Kim-ke-san. Berapa lama kira-kira perjalanan ke sana sampai selesai dan kembali ke sini, Kim-moi?”
Kim Siang dan Gin Siang mengingat-ingat, lalu Kim Siang berkata. “Kim-ke-san cukup jauh dari sini. Perjalanan menunggang kuda akan makan waktu sekitar dua bulan.”
“Hemm, dua bulan? Jadi perjalanannya saja empat bulan pulang pergi, belum waktu yang dipergunakan untuk berunding di sana bersama Pek-hwa Sianli, dan belum lagi diperhitungkan kalau ada rintangan dalam perjalanan. Kukira kalau aku kembali satu tahun setelah besok aku pergi, aku tidak akan terlambat menghadiri upacara pernikahan kalian.”
“Baiklah, Hwa-moi. Kamipun harus menghabiskan masa perkabungan kami. Jadi, setahun lagi engkau harus pulang dan kami akan menunggu kedatanganmu sampai setahun sejak besok pagi,” kata Ui Kiang.
Malam itu, enam orang muda ini bercakap-cakap sampai jauh malam. Mereka bercakap-cakap dan bersendau gurau sehingga suasana semakin akrab. Bahkan Sie Bun Sam sendiri yang selama ini tinggal di Pegunungan Himalaya yang sunyi, merasa amat gembira karena belum pernah dia mendapatkan sahabat-sahabat yang sehaluan dan sebaik mereka.
Diam-diam dia memperhatikan sikap dan ucapan Bwee Hwa dan dia mengambil kesimpulan bahwa gadis yang cantik jelita ini biarpun tampaknya keras hati, namun sesungguhnya memiliki watak yang lembut dan juga berjiwa pendekar. Maka dia menjadi semakin tertarik kepada Ang-hong-cu Lim Bwee Hwa, Si Tawon Merah ini.
210
Pada keesokan harinya, Bwee Hwa berangkat pergi dengan Bun Sam. Biarpun Bun Sam dengan sungkan menolak namun kedua orang kakak beradik Ui itu memaksanya untuk menerima pemberian mereka seekor kuda. Bwee Hwa juga mendapatkan seekor kuda dan sekatung uang emas dan perak untuk bekal perjalanan. Ui Kong dan Can Gin Siang juga pergi menunggang kuda. Ui Kiang tinggal di rumah bersama Can Kim Siang yang akan membantunya mengurus perusahaan keluarga Ui yang banyak itu.
Dusun Liok-teng sebetulnya merupakan sebuah dusun yang cukup besar dan ramai, dan daerah itu sebetulnya merupakan daerah yang subur. Hasil pertanian dan perkebunan di daerah itu melimpah sehingga sebetulnya dapat memakmurkan rakyatnya. Akan tetapi, seperti kebanyakan keadaan dusun di waktu itu, hampir semua tanah pertanian maupun perkebunan dimiliki oleh beberapa orang hartawan saja sehingga sebagian besar rakyatnya hidup dari penghasilan mereka sebagai pekerjaan tani yang mendapat upah yang besarnya ditentukan oleh para pemilik tanah dan kebun. Maka, keadaan di dusun Liok-teng, kalau dilihat dari rumah-rumah para penduduk, tampaknya seperti daerah yang miskin.
Rumah-rumah penduduk kebanyakan kecil dan menggambarkan kemiskinan. Namun di situ terdapat banyak toko besar dan juga ada rumah penginapan dan rumah makan karena dusun itu didatangi banyak tamu yang berdagang dengan para hartawan. Dan ada sepuluh rumah besar dan mewah di dusun itu, yaitu delapan buah rumah besar tempat tinggal para hartawan yang memiliki tanah dan sawah di pedusunan itu. Yang dua buah lagi adalah rumah kepala dusun dan komandan pasukan keamanan yang hanya terdiri dua losin orang saja.
Pada suatu pagi, dusun Lok-teng geger karena dusun itu diserbu perampok yang jumlahnya tidak kurang dari limapuluh orang, dipimpin dua orang kepala perampok yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya menyeramkan. Tentu saja pasukan kemanan dusun itu segera melakukan perlawanan. Akan tetapi ternyata para perampok itu rata-rata tangguh dan sudah biasa berkelahi, apalagi dua orang pemimpin mereka adalah orang-orang yang amat tangguh. Jumlah mereka juga terlampau banyak bagi dua losin perajurit yang bertugas menjaga keamanan dusun itu.
Para perajurit ini tidak pernah bertempur dan mereka itu biasanya hanya menghadapi orang-orang dusun yang tidak berani melawan. Maka begitu menghadapi lawan yang selain jauh lebih besar jumlahnya, juga rata-rata jagoan berkelahi, sedikitnya selosin orang perajurit roboh dan sisanya melarikan diri cerai berai keluar dari dusun Liok-teng.
Para perampok itu bersorak-sorak dan mereka merampas lima buah kereta dan hendak mengisi kereta-kereta itu dengan barang-barang berharga yang akan mereka ambil dengan mudahnya dari toko-toko dan rumah gedung para hartawan.
Kepala dusun dan komandan keamanan beserta delapan orang hartawan dan keluarga mereka, bersembunyi di dalam gedung masing-masing dan tidak berani keluar.
Dua orang kepala perampok itu dengan wajah gembira berdiri di pekarangan rumah gedung milik kepala dusun karena lima buah kereta itu dikumpulkan di situ. Limapuluh lebih perampok itu kini sambil bersorak mengangkuti barang-barang berharga yang mereka ambil dari toko-toko dan rumah gedung para hartawan tanpa ada yang berani menghalangi mereka. Setelah melihat betapa sudah ada tiga buah kereta dipenuhi barang, tinggal dua kereta lagi yang kini sedang diisi barang-barang rampokan, dua orang perampok itu sambil tertawa-tawa dan minum arak dari guci arak yang mereka ambil dari rumah makan, mereka memberi perintah kepada anak buah mereka.
211
“Jangan lupa bawa para wanita muda dan cantik. Kumpulkan mereka di sini!”
Para perampok yang semua berwatak liar itu bersorak dan mulailah mereka menyerbu rumah-rumah gedung. Terdengar jeritan-jeritan wanita yang mereka paksa keluar dari rumahnya, diseret ditarik dan ada yang dipondong dengan paksa. Tidak kurang dari tigapuluh orang gadis dusun Liok-teng telah ditawan, dan mereka adalah gadis-gadis yang paling cantik di dusun itu. Para gadis itu menangis sehingga suasana menjadi riuh.
Akan tetapi, tiba-tiba beberapa orang anggauta perampok terpelanting roboh. Mereka mengaduh-aduh dan para anak buah yang lain melihat betapa ada seorang pemuda dan seorang gadis datang dan setiap orang perampok yang berani menghadang mereka robohkan dengan tamparan atau tendangan!
Pemuda dan gadis itu adalah Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa. Mereka kebetulan lewat di dusun itu dan melihat banyak orang berlarian keluar dari dusun dengan wajah ketakutan, mereka segera bertanya. Ada yang memberitahu bahwa dusun Liok-teng kedatangan perampok yang kini sedang merampok barang-barang berharga dari dusun itu dan banyak orang, terutama para petugas keamanan, roboh oleh amukan mereka.
Mendengar ini, Bun Sam dan Bwee Hwa cepat berlari memasuki dusun Liok-teng dan mereka segera mendengar jerit tangis para wanita. Segera mereka berlari menuju suara ribut-ribut itu dan ketika ada beberapa orang perampok hendak menghadang mereka, mereka merobohkan para penghadang itu dengan tamparan atau tendangan. Sebentar saja delapan orang anak buah perampok terpelanting roboh dan mengaduh-aduh kesakitan. Para anak buah perampok yang lain menjadi marah dan mereka mencabut golok. Akan tetapi Bun Sam berbisik kepada Bwee Hwa.
“Kita tangkap dua orang pemimpin mereka itu!” katanya ketika melihat dua orang kepala perampok yang tinggi besar itu berdiri di pekarangan rumah gedung kepala dusun sambil tertawa-tawa dan bertolak pinggang.
Bwee Hwa mengangguk dan ketika puluhan orang anak buah perampok menyerbu hendak mengeroyok mereka dengan golok di tangan, dua orang pendekar itu melompat tinggi, melampaui atas kepala para perampok dan setelah keluar dari kepungan mereka lalu berlari menghampiri dua orang kepala perampok itu.
Dua orang kepala rampok itu tadi melihat betapa anak buah mereka ada yang roboh dan melihat pula pemuda dan gadis yang membuat beberapa orang anak buah mereka berpelantingan itu. Akan tetapi melihat banyak anak buah mereka sudah mencabut golok dan mengepung, mereka menjadi senang dan berteriak, “Bunuh dua orang itu!”
Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat betapa pemuda dan gadis itu melompati para anak buah mereka yang mengepung dan kini tahu-tahu telah berdiri di depan mereka!
Bun Sam dan Bwee Hwa melihat ke arah dua orang kepala perampok itu. Memang mereka ini menyeramkan sekali. Tubuh mereka tinggi besar, hampir satu setengah kali tinggi dan besar tubuh orang biasa. Yang seorang memiliki wajah yang penuh dengan bekas penyakit cacar, menjadi bopeng dan berlubang-lubang. Matanya sipit seperti terpejam dan dia memelihara jenggot dan kumis tebal, agaknya
212
dalam usahanya untuk menutupi bopengnya. Tubuhnya gempal dan tampak kokoh sekali. Usianya sekitar empatpuluh tahun.
Orang kedua juga sama besar dan kokoh, usianya juga sebaya. Akan tetapi mukanya agak pucat kekuningan dan tanpa jenggot maupun kumis. Kepalanya botak, bagian atasnya licin tanpa ada sehelaipun rambutnya. Yang ditumbuhi sedikit rambut hanya di atas telinga dan tengkuk. Matanya lebar melotot menyeramkan dan mulutnya juga lebar.
“Hei, dua orang bocah yang bosan hidup! Berani benar kalian mencampuri urusan kami!” bentak Si Muka Bopeng mata sipit.
“Kalian sudah bosan hidup berani menentang Thian Te Sai-ong,” bentak Si Kepala Botak mata melotot.
“Wah, kalian ini Thian Te Sai-ong (Raja Singa Langit Bumi)? Tidak pantas, baiknya diganti menjadi Raja Singa Bopeng Botak!” kata Bwee Hwa sambil ter-senyum mengejek.
Dua orang kepala perampok itu marah sekali, akan tetapi Thian Te Sai-ong, yang menjadi pemimpin pertama, terpesona oleh kecantikan Bwee Hwa.
“Te-sai-ong (Raja Singa Bumi), bunuh pemuda itu dan aku akan menangkap yang perempuan. Gadis ini pantas untuk menjadi pendampingku, ha-ha-ha!” kata kepala perampok berwajah bopeng dan bermata sipit.
Te Sai-ong tadi melihat bahwa pemuda dan gadis itu lihai, akan tetapi dia tidak khawatir karena dia yakin akan kemampuan sendiri, pula kini semua anak buah perampok sudah meninggalkan kesibukan mereka dan mengepung tempat itu, membuat lingkaran sehingga gadis dan pemuda itu tidak akan dapat lari. Mendengar perintah Thian Sai-ong, dia tertawa dan begitu tangan kanannya bergerak, dia telah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.
“Ha-ha, bocah tolol! Berani menentang kami berarti bosan hidup! Mampuslah!” Dia menggerakkan goloknya yang menyambar dahsyat ke arah leher Bun Sam. Akan tetapi dengan mudah saja Bun Sam mengelak sehingga Te Sai-ong men-jadi penasaran dan marah. Dia menyerang bertubi-tubi, namun bagi Bun Sam, gerakan orang tinggi besar botak itu amat lambat dan dia tahu bahwa lawannya lebih memiliki tenaga kasar yang besar daripada ilmu silat yang baik. Semua serangan itu dapat dia hindarkan dengan amat mudahnya.
Sementara itu, Thian Sai-ong yang memandang ringan Bwee Hwa dan ingin segera mendekapnya, sudah menubruk bagaikan seekor singa kelaparan menubruk seekor domba muda. Kedua lengannya yang panjang berotot itu dikembangkan dan menyambar dari kanan kiri hendak menangkap tubuh Bwee Hwa. Akan tetapi Bwee Hwa tidak sesabar Bun Sam menghadapi kepala perampok itu. Ia melangkah mundur dengan gerakan cepat pada saat kedua lengan itu menyambar dari kanan kiri dan begitu tangkapan itu luput Bwee Hwa bergerak ke samping lalu kakinya mencuat ke arah perut lawan.
“Bukk……!” Perut gendut sebesar perut kerbau itu terkena tendangan, mengeluarkan suara seperti tambur besar ditabuh dan tubuh Thian Sai-ong terhuyung ke belakang. Bwee Hwa tidak memberi kesempatan kepada lawannya. Cepat tubuhnya melompat ke depan dan tangannya menampar.
213
“Crottt.......!!” Pipi kanan Thian Sai-ong terkena tamparan tangan kiri Bwee Hwa. Karena tamparan itu mengandung tenaga dalam yang amat kuat, maka tak dapat dihindarkan lagi, pipi itu membengkak dan beberapa buah gigi sebelah kanan copot dan bibirnya pecah berdarah!
Melihat ini, beberapa orang anak buah perampok menerjang untuk membela pimpinan mereka yang terpelanting dan mengaduh-aduh itu. Akan tetapi mereka disambut tubuh gadis itu yang berkelebatan, hanya tampak bayangan merah dan enam orang sudah berpelantingan dan mengaduh-aduh, ada yang ditampar tangan dan ada pula yang kebagian tendangan kaki.
Thian Sai-ong menggereng seperti singa dan dia sudah mencabut goloknya. Wajahnya yang buruk penuh bopeng itu kini menjadi semakin jelek karena pipi kanannya membengkak. Lenyaplah semua gairah berahinya terhadap Bwee Hwa, terganti rasa benci yang membuat dia mendengus-dengus seperti kerbau gila. Matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit, apalagi yang kanan karena pipinya membengkak besar.
“Auurrgghhhh…….” dia menggereng dan menyerang dengan bacokan goloknya.
“Tranggg......!” Golok itu bertemu dengan pedang Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) di tangan Bwee Hwa sehingga terpental dan nyaris terlepas dari tangan Thian Sai-ong yang terasa pedas dan panas sekali. Dia berteriak memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok gadis yang kini dia tahu amat lihai itu.
Segera belasan orang mengeroyok Bwee Hwa dengan senjata golok mereka. Tentu saja tidak lebih dari belasan orang yang dapat mengeroyok, karena kalau terlalu banyak, tentu akan mengacaukan kawan sendiri. Akan tetapi Bwee Hwa menggerakkan pedangnya dengan cepat, tubuhnya berkelebatan, pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan suara berdengung seperti ratusan ekor lebah mengamuk sehingga tidak ada pengeroyok yang mampu mendekatinya. Kalau ada yang berani terlalu dekat, tentu dia akan roboh disambar pedang.
Sekali ini Bwee Hwa teringat akan percakapannya dengan Bun Sam. Ia merobohkan para pengeroyok tanpa membunuhnya sehingga pedangnya tidak pernah membacok leher atau memasuki tubuh, hanya melukai pundak, lengan atau kaki lawan saja.
Sementara itu, Bun Sam juga sudah dikeroyok karena Te Sai-ong juga merasa kewalahan. Akan tetapi Bun Sam yang amat lihai itu melayani mereka dengan tenang. Setiap ada golok menyambar, dia berani menangkis, bahkan menangkap golok itu dan sekali remas, golok itu patah-patah. Dia merobohkan para pengeroyok dengan tendangan atau tamparan tangannya yang mengakibatkan patah tulang.
Melihat Bwee Hwa juga mengamuk dan dikeroyok, Bun Sam merasa khawatir kalau-kalau gadis itu akan melakukan banyak pembunuhan. Maka dia membuka kepungan terhadap dirinya lalu melompat ke dekat Bwee Hwa. Kini dia melihat betapa Bwee Hwa juga hanya merobohkan para pengeroyoknya tanpa membunuh dan hal ini menggirangkan hatinya.
Mereka berdua lalu mengamuk dan dalam waktu singkat, lebih dari setengah jumlah para perampok itu sudah mereka robohkan! Kedua kepala perampok itupun masih mencoba untuk membunuh pemuda dan gadis itu, namun akhirnya Thian Sai-ong roboh dengan pundak terluka parah oleh pedang Sin-hong-kiam, sedangkan Te Sai-ong roboh dengan kaki kanan patah tulangnya. Melihat ini, sisa anak buah perampok menjadi gentar sekali.
214
Penduduk dusun Liok-teng yang melihat betapa sepasang orang muda itu mengamuk dan banyak sekali perampok yang roboh, kini menjadi berani dan mulailah mereka menolong para gadis, membawa mereka pergi ke rumah masing-masing dan merekapun membongkar barang-barang dari kereta dan dikembalikan kepada pemiliknya!
Akhirnya sisa para perampok yang tinggal belasan orang itu, menjadi ketakutan dan mereka melarikan diri cerai berai meninggalkan mereka yang terluka!
Bwee Hwa menghampiri dua orang kepala perampok yang kini duduk di atas tanah saling berdekatan karena tadi Thian Sai-ong yang terluka pundaknya menghampiri Te Sai-ong yang patah tulang kakinya. Melihat gadis itu menghampiri mereka dengan pedang di tangan dua orang kepala perampok ini menjadi pucat wajahnya dan memandang dengan mata terbelalak ketakutan. Bun Sam juga melihat ini dan melihat wajah Bwee Hwa yang kemerahan karena marah itu cepat berseru.
“Hwa-moi, jangan bunuh, maafkan mereka, beri kesempatan kepada mereka untuk bertaubat!”
Bwee Hwa mengayun pedangnya dua kali. Darah muncrat dan dua orang kepala perampok itu berteriak lalu roboh terguling. Kaki kanan mereka telah buntung sebatas lutut!
“Aih, Hwa-moi......!” Bun Sam yang sudah tiba dekat menegur.
“Sam-ko, aku tidak membunuh mereka, akan tetapi kalau mereka tidak di-buntungi sebelah kaki mereka, tentu mereka akan mengulangi lagi perbuatan mereka melakukan perampokan! Kalau sudah buntung begini, tentu mereka tidak berani merajalela karena mudah dilawan dan dikalahkan,” bantah Bwee Hwa.
Bun Sam mengeluarkan obat bubuk dan memberi dua bungkus obat kepada dua orang kepala perampok itu.
“Hemm, kalian hari ini makan buah pahit hasil tanaman kalian sendiri! Apakah kalian masih belum sadar dan bertaubat, lalu mengambil jalan yang benar?”
Setelah mengobati luka mereka sehingga kaki yang buntung itu tidak mengeluarkan darah lagi, Thian Sai-ong berkata. “Kami akan mencoba...... kembali ke jalan benar, taihiap (pendekar besar).”
“Baik sekali kalau begitu. Nah, pergilah kalian dan ajak semua anak buahmu pergi dari sini!”
Kedua orang kepala perampok itu memanggil anak buahnya untuk membantu mereka berjalan. Akan tetapi tidak ada seorangpun yang mau mendekati mereka. Wibawa kedua orang kepala perampok itu agaknya sudah hilang bagi anak buahnya, melihat mereka berdua itu kini telah menjadi seorang yang buntung sebelah kaki mereka.
Melihat ini, Thian Sai-ong membentak, “Pergilah kalian! Mulai sekarang, kalian bukan anak buah kami lagi. Gerombolan itu telah bubar dan mulai sekarang harus menanggungjawabkan perbuatan sendiri! Hayo bubar!”
215
Semua anak buah perampok tertatih-tatih, saling bantu, meninggalkan dusun Liok-teng. Kedua orang kepala perampok itupun meninggalkan dusun itu sambil terpincang-pincang, berjalan hanya dengan sebelah kaki, berloncat-loncatan sehingga Bun Sam merasa kasihan. Dia mengambil dua batang pohon sebesar lengan, membuangi daunnya sehingga menjadi dua batang tongkat, lalu dia berlari mengejar dua orang yang berloncat-loncatan itu.
“Kalian pakai ini agar lebih mudah berjalan,” katanya.
Dua orang kepala perampok itu menerima dua buah tongkat dan kini mereka dapat maju lebih leluasa karena dibantu tongkat.
Ketika Bun Sam kembali ke dekat Bwee Hwa, gadis itu berkata.
“Sam-ko, hatimu memang baik, akan tetapi terlalu lemah. Orang-orang macam mereka itu sudah sepatutnya dihajar agar benar-benar bertaubat dan menyadari bahwa kejahatan tidak akan mendatangkan akibat yang menguntungkan. Kalau sudah dihajar seperti itu, setidaknya mereka akan merasa takut, terutama sekali mereka tidak lagi dapat mengandalkan kekuatan untuk bertindak sewenang-wenang.”
“Engkau benar, Hwa-moi. Akan tetapi, melihat keadaan mereka, timbul kembali rasa iba di hatiku. Bagaimanapun juga, mereka itu adalah manusia juga.”
Kini berbondong-bondong penduduk dusun Liok-teng datang menghampiri sepasang muda-mudi itu, dipimpin oleh kepala dusunnya yang bernama Gan See Ki yang biasa disebut Gan-cungcu (kepala dusun Gan) berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh pendek gendut, mukanya bundar gemuk, tampak angkuh dan pakaiannya mewah. Dia ditemani oleh Bu Sui yang biasa disebut Bu-kauwsu (guru silat Bu) karena dahulunya dia adalah seorang guru silat yang kemudian dijadikan kepala keamanan di dusun itu dan pakaiannya juga mewah.
Mereka berdua ini diikuti oleh delapan orang laki-laki, berusia antara empatpuluh sampai enampuluh tahun yang dari pakaian mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang kaya. Kemudian di belakang sepuluh orang ini, berduyun-duyun para penduduk ikut pula menghadap Bwee Hwa dan Bun Sam dan sebagian besar dari mereka berpakaian lusuh dan menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin.
Melihat ratusan orang itu, Bun Sam mengajak Bwee Hwa untuk naik ke serambi gedung milik kepala dusun itu karena serambi ini agak tinggi sehingga mereka dapat melihat semua orang itu. Menurut taksiran mereka, di antara para penduduk dusun yang berkumpul di pekarangan yang luas itu, terdapat laki-laki yang terhitung masih muda, tidak kurang dari seratus limapuluh orang banyaknya.
“Hemm, begini banyak orang akan tetapi lemah tak berdaya,” kata Bwee Hwa dan Bun Sam mengangguk.
Gan-cungcu dan Bu-kauwsu mengikuti muda-mudi yang naik ke serambi itu, lalu mereka memberi hormat, diikuti oleh delapan orang hartawan.
216
“Ji-wi taihiap (dua orang pendekar besar), kami seluruh warga Liok-teng ini menghaturkan banyak terima kasih kepada ji-wi (kalian berdua) yang telah menyelamatkan kami dari gangguan gerombolan perampok tadi.”
“Tidak perlu kalian berterima kasih kepada kami karena apa yang kami lakukan itu hanyalah merupakan kewajiban kami belaka. Akan tetapi kami merasa heran bukan main, kenapa penduduk dusun ini yang demikian banyak jumlahnya sama sekali tidak melakukan perlawanan ketika gerombolan itu datang mengganggu?
“Sebetulnya pasukan keamanan kami telah melakukan perlawanan, akan tetapi kalah karena jumlah pasukan kami hanya dua losin orang sedangkan pasukan gerombolan itu terdiri dari limapuluh orang lebih.” kata Bu-kauwsu.
“Engkau siapakah?” Bwee Hwa bertanya sambil memandang wajah sepuluh orang berpakaian mewah itu berganti-ganti, sementara itu para penduduk yang lain hanya mendengarkan dari bawah serambi.
Kini Gan See Ki, kepala dusun itu yang menjawab. “Sebaiknya kami memperkenalkan diri kepada ji-wi taihiap. Saya sendiri adalah kepala dusun di sini bernama Gan See Ki dan saudara ini adalah Bu Sui yang menjadi komandan pasukan keamanan di dusun kami. Adapun delapan orang yang berada di belakang kami adalah delapan orang pedagang terbesar di dusun ini.”
“Dan yang berada di pekarangan itu adalah penduduk dusun ini?” tanya Bwee Hwa sambil mengamati mereka yang berada di bawah, yang rata-rata berpa-kaian lusuh.
“Benar sekali, lihiap.”
“Gan-cungcu, berapa banyaknya jumlah penduduk dusun ini?” tanya lagi Bwee Hwa kepada kepala dusun itu.
Jumlah seluruhnya ada kurang lebih seribu limaratus orang,” jawab sang kepala dusun.
“Berapa banyak laki-laki yang masih muda?”
“Kurang lebih tiga ratus orang.”
“Apakah pekerjaan mereka, Gan-cungcu?” kini Bun Sam yang bertanya, sambil mengamati wajah kepala dusun itu dengan penuh selidik.
“Sebagian besar di antara mereka adalah pekerja-pekerja tani yang menggarap sawah dan kebun milik kami.”
“Mereka adalah orang-orang miskin?”
“Ya, begitulah. Akan tetapi kami sepuluh orang ini yang menolong mereka dengan memberi pekerjaan dan upah yang cukup,” kata pula kepala dusun itu.
217
Tiba-tiba Bun Sam melangkah maju ke tepi serambi dan berkata kepada banyak orang itu, suaranya lantang karena dia telah mengerahkan tenaga sakti sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh. Semua orang yang berkumpul di pekarangan itu dapat mendengar suaranya dengan jelas.
“Para penduduk dusun Liok-teng, dengarlah baik-baik. Kami berdua kebetulan lewat di dusun ini dan melihat gerombolan yang mengganggu kalian. Sekarang kami ingin agar ada wakil-wakil dari kalian yang hidup dalam kemiskinan untuk maju ke sini. Aku minta dua orang wakil yang dapat mewakili semua orang dan jangan takut, kami berdua yang menjamin bahwa tidak akan ada orang yang dapat mengganggu kalian berdua. Nah, pilihlah di antara kalian dan dua orang wakil majulah dan naik ke serambi ini!”
Mereka yang berada di bawah kini saling berunding, memilih-milih dan akhirnya dua orang di antara mereka maju menuju serambi. Mereka berdua adalah orang-orang berpakaian petani, berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan tubuh mereka kurus, wajah mereka penuh garis-garis penderitaan.
Sekali pandang saja dapat tampak jelas bahwa mereka adalah orang-orang miskin, akan tetapi langkah mereka tegap dengan tubuh tegak dan sinar mata mereka menunjukkan bahwa mereka berdua bukan orang bodoh dan bersemangat. Biarpun demikian, setibanya di bawah serambi, mereka tampak ragu karena sepuluh orang berpakaian mewah itu berdiri di atas serambi dan memandang mereka.
Melihat keraguan mereka, Bwee Hwa menjadi tidak sabar. “Hei, kalian naiklah ke sini. Kalian seperti orang takut. Apa sih yang ditakuti?”
Mendengar ini, barulah kedua orang itu berani naik serambi yang bertangga itu dan berdiri di depan Bun Sam sambil memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata, “Taihiap, kami yang ditugaskan oleh para teman untuk menjadi wakil dan mendengarkan apa yang taihiap perintahkan.”
“Kami tidak memerintahkan, akan tetapi akan mengajak kalian bercakap-cakap dan kami harap kalian berdua bicara sebenarnya, jangan menyembunyikan sesuatu dan jangan berbohong. Ketahuilah, kami berdua hanya ingin mengatur agar kehidupan di dusun ini menjadi aman tenteram dan makmur bagi semua orang.”
“Mari, ji-wi taihiap, silakan duduk agar lebih enak kita bicara,” kata Gan-cungcu, mempersilakan Bwee Hwa dan Bun Sam untuk mengambil tempat duduk di atas kursi yang berada di serambi itu.
Mereka semua lalu duduk mengitari sebuah meja besar. Empatbelas orang itu duduk saling berhadapan terhalang meja bundar itu. Dua orang wakil penduduk yang agaknya masih takut-takut sengaja mengambil tempat duduk di sebelah Bun Sam, seolah mereka ingin mendapat perlindungan.
“Nah, sekarang kami berdua ingin bertanya kepada kalian berdua yang mewakili penduduk dusun ini. Sebetulnya mengapa penduduk yang kami lihat cukup banyak ini tidak dapat bersatu dan tidak melakukan perlawanan ketika gerombolan itu datang mengganggu?”
Seorang di antara kedua wakil penduduk itu, yang tubuhnya kurus akan tetapi sinar matanya penuh semangat, setelah melirik ke arah kepala dusun Gan See Ki dan komandan keamanan Bu Sui, lalu berkata dengan suara cukup lantang.
218
“Ji-wi taihiap, apa yang dapat dilakukan orang-orang miskin seperti kami? Kami tidak memiliki apa-apa, maka gerombolan itu tidak dapat mengganggu kami.”
“Kalian hidup dalam kemiskinan? Aneh, kami lihat dusun ini cukup ramai dan tampaknya kehidupan rakyatnya makmur karena dusun ini menghasilkan banyak hasil bumi. Sebagai petani, tentu kalian memiliki sawah ladang dan mempunyai penghasilan yang cukup.”
Orang itu menggeleng kepala. “Kami tidak mempunyai tanah, taihiap.”
“Lalu tanah yang luas dan subur yang kami lihat di luar dusun itu, milik siapa?” tanya Bwee Hwa.
“Semua itu milik Gan-cungcu, Bu Kauwsu, dan delapan orang hartawan ini.”
“Dan kalian sendiri, bekerja apa?” tanya pula Bwee Hwa.
“Kami hanya pekerja bayaran, menggarap sawah ladang milik mereka.”
“Hemm, melihat keadaan penduduk yang rata-rata miskin, berarti upah yang kalian terima sedikit, bukan?”
Dua orang itu tampak rikuh dan beberapa kali mengerling ke arah kepala dusun dan komandan. Kemudian orang kedua menjawab lirih, “Yah, cukup untuk makan, lihiap.”
“Sekarang aku mengerti mengapa tidak ada persatuan di antara penduduk dusun ini.” kata Bun Sam. “Ternyata di antara yang kaya dan yang miskin tidak saling membantu. Dan ini merupakan kesalahan kepala dusun yang tidak mampu mengatur! Gan-cungcu, kami memberi ingat kepadamu. Menjadi kepala dusun haruslah mendahulukan kepentingan rakyat, jangan hanya mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan untuk diri sendiri tanpa memikirkan keadaan penduduknya. Ingatlah, tanpa adanya penduduk dusun, engkau tidak akan menjadi kepala dusun! Kalau engkau tidak mampu mengatur demi kesejahteraan rakyat, engkau tidak pantas menjadi kepala dusun! Bagaimana mungkin sebagai kepala dusun engkau menjadi kaya-raya, padahal engkau tidak berdagang seperti para saudagar? Diadakannya seorang kepala dusun adalah untuk melayani dan mengatur kebutuhan penduduk dusunnya, bukan sebaliknya rakyat harus melayani kebutuhanmu! Mengertikah engkau, Gan-cungcu?” Suara Sie Bun Sam penuh wibawa sehingga kepala dusun itu menundukkan mukanya yang berubah pucat.
“Saya...... mengerti, taihiap.”
“Dan engkau, Bu-kauwsu, apakah tugasmu sebagai pemimpin pasukan keamanan di dusun ini?” tanya Bun Sam dengan suara keren.
“Saya...... saya bertugas menjaga keamanan di dusun ini, taihiap.”
“Keamanan siapa yang kaumaksud? Engkau dan anak buahmu menjadi kea-manan mereka yang kaya-raya ataukah menjaga keamanan seluruh penduduk dusun?”
“Menjaga keamanan...... eh....... seluruh penduduk dusun......!
219
“Hemm, benarkah begitu? Melihat penduduk yang miskin tidak ada yang membantu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada kerja sama yang baik antara pasukan dengan penduduk. Seperti yang kulihat di mana-mana, pasukan keamanan dipimpin komandannya biasanya hanya menjadi tukang-tukang pukul membela kepala dusun dan para hartawan. Buktinya engkau menjadi seorang di antara mereka yang kaya raya di dusun ini! Tentu engkau dan anak buahmu bersikap bengis dan membantu kepala dusun menindas rakyat, maka mereka tidak mau membantu ketika ada gerombolan mengganggu. Engkau menjadi komandan keamanan bertugas untuk menjaga keamanan di dusun, melindungi semua penduduk, bukan hanya melindungi para hartawan dan kepala dusun agar mendapatkan banyak uang memperkaya diri sendiri! Kenyataan seperti ini membuat pasukanmu lebih tepat disebut pasukan penindas rakyat daripada pasukan penjaga keamanan dusun. Mengertikah engkau?”
Bu Kauwsu menundukkan mukanya yang pucat seperti muka kepala dusun Gan. Dia tidak berani membantah karena memang demikianlah kenyataannya. Mereka itu biasanya membela kepentingan kepala dusun dan para hartawan. Kalau ada penduduk yang membangkang perintah kepala dusun atau banyak menuntut kepada para hartawan, Bu Kauwsu ini dan anak buahnya yang bertindak sebagai tukang pukul dan mengancam penduduk sehingga penduduk terpaksa melakukan apa saja yang diperintahkan Gan-cungcu dan bekerja untuk para hartawan dengan upah yang sebetulnya kurang namun mereka tidak berani membantah karena pasukan keamanan siap untuk menghukum mereka yang banyak membantah!
“Sekarang kalian para hartawan dusun ini! Tidak sadarkah kalian darimana kalian mendapatkan kekayaan kalian itu? Coba renungkan! Apakah kalian menggunakan kaki tangan dan tenaga kalian sendiri untuk menggarap sawah ladang yang menghasilkan banyak uang? Ataukah itu hasil cucuran para pekerja itu? Kalian tidak boleh mementingkan diri sendiri, menumpuk harta tanpa memperhatikan mereka yang bekerja mati-matian untuk mendatangkan banyak uang bagi kalian! Apakah kalau kalian mati kalian akan membawa uang ke alam baka? Apakah kalau ada serangan para gerombolan tadi, uang kalian dapat menolong kalian? Sebaliknya malah, kalian diganggu perampok justeru karena kalian punya banyak uang! Harta benda tidak selamanya mendatangkan kebahagiaan, bahkan mendatangkan kesengsaraan kalau tidak dipergunakan dengan baik, untuk menolong mereka yang kekurangan! Kalau tadi kami tidak datang, ke manakah sekarang harta kalian, atau puteri kalian, atau bahkan nyawa kalian? Karena kalian memeras tenaga rakyat dusun ini, maka hubungan kalian dengan para penduduk tidak akrab. Hal ini membuat para penduduk miskin itu tidak mempunyai rasa kasih terhadap kalian karena kalian juga tidak memiliki rasa kasih kepada mereka. Mereka tidak mengacuhkan kalau harta benda kalian dirampok gerombolan! Dapatkah kalian menyadari kesalahan kalian?”
Para hartawan itu mengangguk-angguk dengan muka berubah kemerahan karena merasa malu. Baru sekali ini mereka mendengar ucapan seperti itu dan seolah baru terbuka mata mereka bahwa ucapan itu mengandung kebenaran. Kalau tidak ada para pekerja tani itu, tidak mungkin mereka dapat mengumpulkan harta! Dan kalau dilihat apa yang mereka dapatkan dari hasil keringat para pekerja tani itu, yang membuat harta kekayaan mereka semakin bertumpuk, memang harus diakui bahwa apa yang didapatkan dari cucuran keringat para pekerja itu sama sekali tidak sesuai, jauh terlalu kecil dan hanya tiba pas, bahkan harus mengurangi jatah makan, untuk kebutuhan perut mereka sekeluarga sehari-hari. Untuk membeli pakaian dan kebutuhan selain makan hampir tidak ada kelebihannya, apalagi untuk membangun atau memperbaiki rumah tinggal!
“Kami menyadari kekurang bijaksanaan kami. Akan tetapi, bagaimana baiknya menurut taihiap?” tanya seorang di antara delapan hartawan itu.
220
Bwee Hwa yang sejak tadi mendengarkan ucapan Bun Sam kini menjadi kagum bukan main. Tak disangkanya sama sekali bahwa Bun Sam bukan saja memiliki ilmu silat yang amat lihai, jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya, atau kepandaian Ui Kong, atau bahkan tingkat kepandaian mendiang Ong Siong Li sekali pun, akan tetapi juga memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan mendalam tentang kehidupan rakyat. Maka iapun ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Sekarang kami berdua menganjurkan kepada kalian semua, pertama-tama kepada Kepala Dusun Gan See Ki. Jadilah pemimpin rakyat dusun yang bijaksana, adil dan mementingkan kesejahteraan rakyat jangan menuruti kemurkaan nafsu sendiri untuk menumpuk harta kekayaan dengan cara menerima suapan dari para hartawan dan penindasan terhadap yang miskin dan lemah. Kalau engkau tidak sanggup melakukan semua syarat itu, lebih baik sekarang juga engkau meletakkan jabatanmu! Kalau engkau sanggup, laksanakanlah dengan benar karena kalau lain kali kami lewat di sini dan mendengar engkau masih melanjutkan sikap dan perbuatanmu yang lalu, terpaksa kami akan memberi hajaran keras kepadamu!”
“Akan saya perhatikan dan saya taati petunjuk taihiap!” kata Gan See Ki dengan suara merendah.
“Dan engkau, Bu-kauwsu, mulai sekarang bubarkan semua anak buahmu yang hanya terdiri dari tukang pukul yang tiada gunanya. Buktinya mereka melarikan diri ketika gerombolan datang. Mulai sekarang yang menjadi penjaga keamanan dusun adalah para pemuda dusun yang ratusan jumlahnya. Engkau bertugas melatih ilmu silat kepada mereka, tanpa memeras. Dan engkau tidak boleh melaksanakan semua perintah yang tidak benar dari kepala dusun atau para hartawan dengan upah besar. Kalau ratusan orang laki-laki yang masih muda itu bersatu padu dan menjaga keamanan, kiranya tidak ada gerombolan yang berani mengganggu. Sanggupkah engkau?”
“Saya sanggup, taihiap.”
“Jangan hanya mengatakan sanggup akan tetapi tidak kaulaksanakan, Bu-kauwsu!” kata Bwee Hwa. “Kalau lain hari aku mendengar engkau tidak melak-sanakan apa yang kaujanjikan itu, lihat ini!” Gadis itu menjulurkan tangannya pada ujung batu marmar tebal meja itu dan sekali mengerahkan tenaga, ujung batu marmar itu telah diremasnya hancur menjadi tepung!
Melihat ini, wajah Bu Kauwsu menjadi pucat. Sebagai seorang ahli silat dia tahu benar betapa dahsyatnya tenaga gadis itu.
“Saya akan melaksanakan apa yang telah saya janjikan, lihiap!” katanya.
“Nah, sekarang dengarkan baik-baik, para wan-gwe (hartawan) dan juga kalian yang mewakili penduduk miskin. Kaya dan miskin bukan hal yang perlu dipertentangkan, bahkan yang kaya dan yang miskin itu dapat saling melengkapi karena kedua pihak saling membutuhkan. Apa jadinya kehidupan ini kalau semua orang kaya raya? Tentu tidak ada yang bekerja di sawah, tidak ada yang berjualan, tidak ada yang membuat pakaian sehingga setiap orang kalau membutuhkan sandang, pangan, papan harus mencari dan membuat sendiri! Pendeknya, kalau semua orang itu kaya raya, kehidupan tidak dapat dilanjutkan karena tidak ada yang mengerjakan untuk mengadakan apa yang dibutuhkan untuk hidup. Sebaliknya, kalau semua hidup miskin, kehidupan akan menjadi sengsara, serba kekurangan dan akhirnya akan saling berebutan. Karena itu, ada yang kaya dan ada yang melarat itu baik sekali. Keduanya dapat saling bekerja, saling membantu sehingga kehidupan rakyat pada umumnya dapat makmur dan sejahtera,
221
tidak kekurangan sandang pangan papan. Akah tetapi, kedua pihak haruslah hidup yang benar dan baik, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Dengan adanya yang kaya, maka dia dapat memodali perusahaan yang menyerap banyak tenaga kerja. Dengan adanya yang miskin, maka tersedia tenaga kerja. Yang kaya membutuhkan yang miskin sebagai karyawannya, yang miskin membutuhkan yang kaya untuk lapangan kerja. Karena itu, yang kaya harus membagi hasil keuntungan perusahaannya karena para pekerja itulah yang memiliki jasa atas kemajuan perusahaannya. Yang kaya harus mencukupi kebutuhan para pekerjanya dan terbuka hati dan tangannya untuk menolong mereka yang kekurangan. Di lain pihak, yang miskin harus rajin bekerja dengan jujur dan setia karena perusahaan di mana mereka bekerja merupakan sumber kehidupan dia dan keluarganya.
“Dengan demikian, maka mereka saling membutuhkan akan tetapi juga saling dibutuhkan. Kedua pihak memberi dan mengambil. Hubungan antara mereka menjadi akrab dan baik, tidak ada yang meninggikan tidak ada yang merendahkan. Kalau sudah begitu, maka apabila terjadi suatu gangguan seperti tadi, maka seluruh penduduk akan bangkit, bersatu untuk melawan dan menghalau pengganggu kehidupan mereka. Mengertikah kalian apa yang kami maksud?”
Para hartawan itu mengangguk-angguk dan tampaknya senang dan setuju. Dua orang wakil penduduk yang miskin tersenyum. “Alangkah akan berbahagianya kami kalau terjadi seperti yang taihiap maksudkan. Kalau kehidupan kami terjamin, tentu saja kami akan bekerja dengan rajin dan setia menjaga sumber kebutuhan hidup kami.”
“Kami juga akan merasa senang sekali kalau semua penduduk dapat hidup rukun, bersatu seperti itu,” kata seorang hartawan.
“Nah, kalau begitu mulai sekarang ubahlah semua keadaan yang pincang ini. Cukupilah kebutuhan penduduk yang miskin. Beri mereka penghasilan yang dapat menjamin tercukupnya sandang pangan mereka sekeluarga. Mereka akan bekerja dengan rajin sehingga hasil sawah ladang tentu akan bertambah dan semua dapat mengalami kemakmuran. Dan untuk pelaksanaan keadaan baru ini, harus dilaksanakan oleh Gan-cungcu dengan adil dan bijaksana. Bu-kauwsu boleh mulai memilih mereka yang muda sebanyaknya, melatih ilmu silat kepada mereka agar setiap saat ada bahaya mengancam, penduduk sendiri yang akan menghalau para pengacau.”
Ketika dua orang wakil itu diperkenankan turun untuk mengabarkan kepada semua penduduk yang berkumpul di pekarangan gedung kepala dusun, mereka berdua lalu bicara dengan lantang di tepi serambi, menceritakan rencana perubahan mengenai keadaan penduduk dusun itu seperti yang dianjurkan oleh kedua orang pendekar dan telah disetujui semua pihak.
Mendengar ini, penduduk itu bersorak-sorai dan tertawa-tawa gembira, ada yang menari-nari bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Baru mendengar beritanya saja mereka sudah demikian gembira, apalagi kalau berita itu sudah menjadi kenyataan. Enyahlah lapar dan dingin! Minggatlah duka nestapa! Pergilah iri dan dengki!
Para hartawan, Kepala Dusun Gan See Ki, dan Bu Sui kepala pengawal tertarik dan menghampiri ke tepi serambi. Melihat penduduk begitu gembira, mereka dicekam keharuan dan mereka menyadari bahwa selama ini mereka memang telah menempuh jalan sesat, mencari keuntungan dengan menari di atas penderitaan orang-orang lain! Dengan terheran-heran mereka menemukan kenyataan aneh bahwa
222
kebahagiaan orang-orang di bawah itu bukan hanya mengharukan, akan tetapi juga mendatangkan perasaan bahagia yang belum pernah mereka rasakan selama ini!
Belum juga melaksanakan semua rencana tadi, mereka sudah merasa berjasa, bermanfaat. Hidup mereka kini mempunyai tugas tertentu. Hidup mereka kini berguna bagi banyak orang. Mereka diberi kesempatan untuk menjadi alat penyalur berkah Thian (Tuhan) kepada banyak manusia!
Akan tetapi ketika mereka menoleh ke belakang, mereka terbelalak karena mereka tidak melihat lagi Bun Sam dan Bwee Hwa!
“Aih, ke mana perginya kedua pendekar itu?” tanya seorang hartawan. Mereka semua, sepuluh orang itu mencari-cari dengan pandang mata mereka, akan tetapi tidak tampak bayangan dua orang yang tadi duduk menghadapi meja dan bicara dengan mereka.
“Hemm, tentu mereka telah pergi dengan diam-diam!” kata yang lain.
“Bukan main! Mereka seperti dewa saja, dapat menghilang begitu saja!” kata Bu Sui, guru silat itu. Dia tahu bahwa beberapa orang yang pernah mengajarkan ilmu silat kepadanya tidak mungkin mampu menandingi ilmu silat dua orang pendekar itu.
“Ah, sungguh menyesal sekali!” kata kepala dusun. “Kita belum sempat menghaturkan terima kasih, menjamu mereka dan yang lebih kita sesalkan lagi, kita belum sempat mengetahui nama kedua pendekar itu!”
Kepala dusun Liok-teng lalu berseru kepada semua penduduk yang masih bergembira ria di bawah serambi, di atas pekarangan gedungnya. “Hai, saudara-saudara sekalian, penduduk dusun Liok-teng! Apa yang kalian dengar dari keterangan dua orang wakil kalian tadi semua benar belaka! Aku sebagai kepala dusun bertanggungjawab dan tugaskulah untuk mengatur agar semua yang diperintahkan kedua orang pendekar penolong kita itu terlaksana dengan baik. Kami semua telah menyadari kekeliruan kami selama ini dan mulai hari ini, kita semua akan memulai kehidupan baru yang tenteram dan makmur, bersatu padu membangun dusun kita!”
Para penduduk menyambut ucapan kepala dusun mereka itu dengan gembira sekali. Di antara keriuhan sorak-sorai penduduk, Gan-cungcu menghadapi delapan orang hartawan dan berkata lirih yang hanya didengar oleh mereka dan Bu-kauwsu. “Maaf, Cu-wi (kalian) kalau mulai detik ini, kita harus mengubah hubungan kami menjadi sewajarnya. Mari berlumba melakukan kebaikan untuk rakyat kita.”
Delapan orang hartawan itu mengangguk-angguk.
“Dan engkau, Bu-kauwsu, laksanakan perintah taihiap dan lihiap tadi,” kata pula Gan-cungcu kepada Bu-kauwsu dan bekas komandan pasukan keamanan itu mengangguk.
Mereka semua, juga para penduduk, merasa menyesal sekali bahwa kedua orang pendekar itu telah menghilang dengan diam-diam. Pemuda dan gadis perkasa itu bukan hanya mendatangkan keadaan hidup baru bagi semua penduduk, akan tetapi juga tadi telah menyelamatkan semua barang berharga yang akan dirampok penjahat, menyelamatkan pula para gadis yang akan diculik, dan barangkali juga menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman gerombolan.
223
Sementara itu, selagi semua penduduk Liok-teng gembira, Bun Sam dan Bwee Hwa sudah pergi jauh meninggalkan dusun itu. Mereka tadi sengaja meninggalkan tempat itu secara diam-diam karena mereka tidak ingin disanjung-sanjung. Setelah jauh meninggalkan dusun Liok-teng, mereka lalu berjalan biasa dengan langkah santai.
“Sam-ko, luar biasa sekali apa yang kaulakukan tadi,” Bwee Hwa memuji te-mannya.
“Ah, tidak, Hwa-moi. Memang seyogianya demikianlah sikap setiap orang manusia, berbuat kebaikan berguna bagi orang lain sekuat kemampuan dan keadaan masing-masing. Kalau kita dapat melakukan sesuatu demi kebaikan orang lain, terutama orang banyak kalau mungkin, maka baru kita menyadari bahwa untuk itulah kita hidup. Saling tolong, saling bantu. Sayang, sebagian besar orang hanya mengerahkan segala kemampuan mereka hanya untuk kepentingan dan kesenangan diri mereka sendiri tanpa memperdulikan keadaan orang lain, seolah orang seperti itu lupa bahwa dia tidak mungkin hidup seorang diri saja di dunia ini. Kita hidup saling bergantungan, saling membutuhkan. Tidak pantas kita hidup kalau hanya dapat meminta, tanpa memberi yang berarti kita hanya menuntut hak tanpa memenuhi kewajiban.”
“Sam-ko, apakah engkau yakin bahwa dusun Liok-teng akan dapat berubah menjadi dusun yang makmur bagi semua penduduknya, tanpa kecuali.”
“Aku yakin hal itu akan tercapai kalau saja setiap orang setia melakukan kewajiban masing-masing. Kalau para pekerja dengan rajin, jujur dan setia maka hasilnya tentu akan berlipat ganda. Si pemilik modal menjamin kehidupan mereka sekeluarga dengan cukup sebagai bagian mereka atas hasil pekerjaan itu, maka semua pihak akan merasa berbahagia dan keadaan itu akan mendatangkan kemakmuran dan persatuan yang kokoh kuat. Akan tetapi kalau mereka itu hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban masing-masing, tentu saja kemakmuran tidak akan tercapai dan persatuan juga menjadi retak. Kekacauan dan kelemahan timbul.”
“Sayang, sebagian orang hanya menuntut hak tanpa mau melaksanakan tugas dengan baik, Sam-ko.”
Pemuda itu menghela napas panjang. “Hal itu merupakan kenyataan yang pahit, Hwa-moi. Akan tetapi kesemuanya itu terpulang kepada pribadi masing-masing, apakah dia ingin mengisi hidup yang tak berapa lama ini dengan pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain ataukah dia hanya menghabiskan waktu selama hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kesenangan diri sendiri belaka tanpa memperdulikan keadaan orang lain. Hidup seperti itu tiada bedanya dengan kehidupan binatang.”
“Wah, kalau engkau bersikap dan bicara seperti ini, Sam-ko, engkau meng-ingatkan aku kepada suhu-ku, dan kepada kakak Ui Kiang.”
“Suhumu Sin-kiam Lojin memang seorang bijaksana dan Ui Kiang juga seorang yang baik budi dan luas pengetahuannya. Setiap orang manusia seyogianya mengerti akan makna kehidupan ini, mengenal diri pribadi sedalam-dalamnya sehingga mudah menyadari akan setiap kesalahan dan dapat segera mengubahnya. Setiap orang manusia patut menyadari bahwa dia diciptakan Tuhan hidup di dunia ini agar dia berguna bagi manusia dan dunia, bukan sekadar makan tidur dan terombang-ambing antara kesenangan dan kesusahan, lalu mati tanpa meninggalkan kesan. Lebih celaka lagi kalau sampai kita tersesat, bukan melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia dan dunia, melainkan melakukan kejahatan yang mencelakakan manusia lain dan mengotori dunia.”
224
Mereka melanjutkan perjalanan dan dalam diri pemuda itu Bwee Hwa merasa mendapatkan seorang sahabat yang dapat pula dijadikan guru atau pembimbing dalam kehidupan. Mereka melanjutkan perjalanan dan karena Bun Sam ingin mendahulukan keperluan Bwee Hwa, maka dia mengajak Bwee Hwa untuk berjalan menuju Heng-san, pegunungan tempat tinggal Sin-kiam Lojin yang ingin dikunjungi gadis itu.
Setelah tiba di sebuah kota, Bwee Hwa membeli dua ekor kuda untuk tunggangan mereka karena mereka telah meninggalkan kuda mereka di dusun itu dengan diam-diam. Karena tidak ingin ada orang mengetahui kepergian mereka, maka mereka terpaksa meninggalkan dua ekor kuda itu dan kini Bwee Hwa menggunakan uang bekal pemberian kedua orang kakak angkatnya untuk membeli dua ekor kuda.
Setelah mendapatkan dua ekor kuda yang baik dan kuat, Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa melanjutkan perjalanan mereka. Derap kaki kuda mereka me-ninggalkan kota itu, makin lama semakin sayup lalu tak terdengar lagi. Mereka berdua menuju Heng-san yang cukup jauh dari situ dan siap siaga menghadapi segala pengalaman baru dengan bekal sikap pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan yang didasari keangkara-murkaan manusia yang disesatkan iblis melalui nafsu-nafsu daya rendah yang berada dalam diri setiap orang manusia.
Pek-hwa Sianli duduk termenung di depan pondoknya di lereng Bukit Ayam Emas. Pagi itu udaranya cerah, sinar matahari yang masih muda mendatangkan kehangatan mengusir sisa hawa dingin berkabut yang ditinggalkan sang malam.
Wanita cantik yang tampak berusia duapuluh tahun walaupun usianya sudah tigapuluh tahun itu selama beberapa minggu ini tampak murung. Ia kini tinggal seorang diri saja di pondoknya karena ia telah membunuh A-hui dan A-kui, dua orang gadis pelayannya karena mereka telah berjina dengan Thio Kam Ki yang menjadi kekasihnya.
Perginya Kam Ki membuat ia sedih dan kecewa sekali. Ia tergila-gila kepada pemuda itu, bukan hanya karena pemuda itu tampan dan memiliki daya tarik yang amat kuat, juga masih perjaka ketika pertama kali bertemu dengannya, akan tetapi terutama sekali karena pemuda itu amat lihai sehingga dapat diandalkan dan akan memperkuat kedudukannya, dapat membelanya kalau ia mendapat serangan musuh-musuhnya.
Pek-hwa Sianli tahu bahwa ia dimusuhi para pendekar, terutama setelah ia, dibantu oleh Kam Ki, telah membunuh Siang-to Sam Heng-te (Tiga Kakak Beradik Bergolok Pasangan), tiga orang pendekar yang memusuhinya karena ia mereka ketahui sering menculik pemuda-pemuda dan membunuh mereka kalau ia sudah merasa bosan mempermainkan mereka.
Semenjak ia membunuh A-hui dan A-kui, dan Kam Ki pergi meninggalkannya, kemudian ia menyuruh dua gadis kembar Can Kim Siang dan Can Gin Siang untuk mencari dan membunuh Kam Ki, ia tidak betah tinggal di lereng Bukit Ayam Emas. Ia telah mencoba menghibur diri dengan pergi ke tempat jauh dari bukit itu dan bersenang-senang dengan pemuda yang dapat diculik dan dibujuknya. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena setelah ia bertemu dengan Kam Ki tidak ada lagi pria yang dapat menewaskan hatinya. Ia segera merasa bosan dan akhirnya ia kembali ke pondoknya dan seringkali termenung. Ia diam-diam merasa bingung.
Ada perasaan dendam kepada Kam Ki karena pemuda itu meninggalkanya, akan tetapi juga ada rasa rindu kepada pemuda itu. Maka, diam-diam ia merasa menyesal mengapa ia menyuruh dua orang adik
225
misannya, sepasang gadis kembar itu, untuk mencari dan membunuh Kam Ki. Sepasang gadis kembar itu kini lihai sekali setelah menjadi murid Hoa-san Kui-bo, kalau sampai mereka berhasil membunuh Kam Ki, ia akan merasa kehilangan dan bersedih sekali! Akan tetapi semua itu telah terlanjur dan inilah yang membuat ia kini seringkali termenung dengan murung.
Terdengar bunyi kicau burung di atas pohon yang tumbuh di depan pondok itu. Pek-hwa Sianli mencari dengan pandang matanya dan ia melihat dua ekor burung sedang berkicau dan bercumbu di atas ranting pohon. Melihat kemesraan sepasang burung itu, timbul perasaan iri yang membuat hatinya seperti terbakar. Ia segera mengambil sepasang sumpit yang tadi ia pergunakan untuk sarapan bubur dan sekali kedua tangannya bergerak, dua batang sumpit itu meluncur seperti anak panah menuju ke atas pohon dan beberapa detik kemudian tubuh dua ekor burung itu jatuh ke bawah pohon, terkapar mati dengan tubuh tertusuk sumpit!
Tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan dan Pek-hwa Sianli cepat bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Ia terbelalak, akan tetapi wajahnya berseri ketika ia melihat Kam Ki telah berdiri di situ dengan senyumnya yang selalu terbayang olehnya!
“.......kau .......!” katanya dan suaranya terdengar aneh karena mengandung bermacam perasaan. Ada kejutan, ada kegembiraan, akan tetapi bercampur dengan kemarahan, juga keharuan.
Kam Ki memperlebar senyumnya dan sepasang matanya memandang dengan sinar penuh kasih sayang, sinar mata yang sempat membuat wanita itu tergila-gila.
“Sian-li, aku datang karena sudah tidak dapat menahan rasa rinduku kepadamu. Akan tetapi sebelumnya agaknya kita harus menjernihkan dulu kekeruhan yang ada di antara kita. Boleh aku duduk dan kita berbicara dari hati ke hati?”
Sebetulnya Pek-hwa Sianli merasa gembira sekali dan ingin ia menyambut kemunculan pemuda itu dengan pelukan kasih sayang. Akan tetapi sebagai wanita ia mengambil sikap seolah ia tidak acuh, dan berkata dengan dingin, “Silakan.”
Kam Ki bukan orang bodoh. Dia sudah mengenal baik wanita itu, maka dari sinar mata Pek-hwa Sianli saja dia sudah mengetahui bahwa wanita itu menyambut kedatangannya dengan penuh gairah cinta! Dia lalu duduk di atas kursi, berhadapan dengan Pek-hwa Sianli. Lalu dia mengambil sebuah peti berukir kecil dari sakunya dan memberikannya kepada Pek-hwa Sianli.
“Ini aku membawa sedikit hadiah untukmu. Terimalah, Pek-hwa Sianli.”
Dengan tetap mengambil sikap ogah-ogahan wanita itu menerima peti kecil itu dan meletakkan di atas meja yang berdiri di antara mereka.
“Buka dan lihatlah isinya, Sian-li.”
Pek-hwa Sianli adalah seorang wanita yang memiliki banyak harta benda, tentu saja ia tidak membutuhkan barang apapun. Ia mampu membeli perhiasan yang bagaimana bagus dan mahalpun, bahkan iapun akan dapat dengan mudah mencuri barang indah yang diinginkannya kalau ia tidak mampu membelinya. Akan tetapi, pemberian dari pemuda itu diam-diam membuat jantungnya
226
berdebar, penuh kegembiraan karena hadiah dari seorang pria menunjukkan akan cinta pria itu kepadanya. Dibukanyalah tutup peti itu.
Sebuah hiasan rambut dari emas dengan permata indah berkilauan menyambut pandang matanya. Ia girang sekali, akan tetapi menahan mulutnya agar tidak menyuarakan perasaan hatinya. Ia bahkan menutup kembali peti itu.
“Kam Ki, apa yang akan kau bicarakan?” Untuk menunjukkan kemarahannya ia tidak lagi menyebut kakak kepada Kam Ki yang sesungguhnya memang antara tujuh tahun lebih muda daripadanya.
“Aku ingin bicara denganmu tentang hubungan kita yang terputus secara mengecewakan.”
“Hemm, siapa yang bikin putus? Engkau meninggalkan aku tanpa pamit!”
“Memang benar. Aku mengakui itu, akan tetapi, Sian-li, kepergianku itu adalah untuk menjaga agar jangan terjadi pertentangan dan keributan di antara kita. Melihat engkau membunuh A-hui dan A-kui, maka aku rasa lebih baik kalau untuk sementara aku pergi dan menjauhkan diri darimu agar tidak terjadi keributan.”
Pek-hwa Sianli cemberut. “Tentu saja aku membunuh mereka karena mereka berani main gila denganmu!”
“Aih, engkau tidak adil, Sian-li. Kita saling mencinta, akan tetapi tidak harus saling mengikat. Engkau boleh berhubungan dengan laki-laki lain, mengapa aku tidak boleh? Itu tidak adil namanya. Sekarang begini, Sian-li. Setelah berpisah darimu, baru aku merasa amat kehilangan dirimu dan aku merasa rindu padamu. Nah, kuharap engkau suka bersikap jujur. Bagaimana perasaanmu terhadap diriku? Apakah sekarang menjadi benci dan tidak mau bersahabat lagi dengan aku? Akui saja terus terang.”
“Hemm, kalau mau bersahabat lagi bagaimana dan kalau tidak bagaimana?”
“Nah, pertanyaan itu aku suka, Sianli. Kita harus jujur dan terbuka dalam hubungan kita. Kalau engkau tidak mau bersahabat lagi, aku akan pergi dan tidak akan mendekatimu lagi. Kita boleh tidak bersahabat, akan tetapi tidak perlu bermusuhan. Sebaliknya, kalau engkau ingin bersahabat lagi, aku akan merasa senang sekali. Akan tetapi dalam hubungan kita itu kita harus tetap bebas. Engkau boleh saja berhubungan, dengan laki-laki lain, demikian pula aku boleh berhubungan dengan wanita lain. Bukankah ini adil namanya? Kita dapat saling membantu dalam segala hal, jadi sama-sama untung, sama-sama senang. Bagaimana pendapatmu?”
Sampai lama Pek-hwa Sianli terdiam, berpikir dan mempertimbangkan dalam hatinya. Kemudian wajahnya berseri dan bibirnya yang tadinya cemberut itu kini tersenyum. Ia menyadari bahwa usul pemuda itu memang cocok dengan isi hatinya. Ia sendiripun akhirnya akan bosan dengan Kam Ki dan menginginkan teman pria baru. Dan memang akan menyenangkan sekali kalau mereka berdua tetap bebas. Dan selain Kam Ki merupakan pria yang dapat menyenangkan hatinya, pemuda itupun dapat menjadi kawan, bahkan pelindung yang amat boleh diandalkan dengan kesaktiannya!
“Anak nakal, tega benar engkau meninggalkan aku kesepian seorang diri sampai begitu lama! Kaukira hanya engkau yang rindu? Akupun rindu setengah mati, kau bocah nakal!”
227
“Jadi engkau setuju dengan syaratku tadi?”
“Tentu saja, bodoh! Kenapa tidak dari dulu kaukatakan kepadaku? Engkau sebaliknya malah minggat!”
Kedua orang itu sama-sama bangkit berdiri dan saling berpelukan dengan mesra. Keduanya menumpahkan rasa rindu dengan bercinta sepuas hati mereka.
Setelah mereka mendapat kesempatan bercakap-cakap, Kam Ki berkata, “Sian-li, engkau menyuruh dua gadis kembar Can untuk membunuhku, bukan?”
Pek-hwa Sianli menciumnya dan menjawab manja. “Habis, engkau sih yang membuat aku susah dan marah, pergi minggat begitu saja. Memang aku menyuruh mereka untuk mencarimu dan membunuhmu, sungguhpun setelah mereka pergi aku merasa menyesal sekali, takut kalau engkau benar-benar terbunuh. Akan tetapi syukur engkau selamat, kekasihku!”
Kam Ki tertawa. “He-he, kaukira dua orang gadis kembar itu mampu me-ngalahkan aku? Tidak, mereka tidak mampu mengalahkan aku, akan tetapi merekapun agaknya mengkhianatimu, Sian-li, karena mereka berdua telah bergabung dengan para pendekar yang memusuhi aku dan perkumpulan yang kupimpin, yaitu Pek-lian-kauw.”
Kam Ki lalu menceritakan tentang penyerbuan Ong Siong Li, Ui Kong dan Lim Bwee Hwa yang kemudian bersatu dengan dua gadis kembar utusan Pek-hwa Sianli itu. Akan tetapi Kam Ki sama sekali tidak menyebut nama Sie Bun Sam sehingga Pek-hwa Sianli mengira bahwa kekasihnya ini kalah karena dikeroyok banyak orang, termasuk dua orang gadis kembar, adik misannya itu.
Selama beberapa hari, Kam Ki dan Pek-hwa Sianli bersenang-senang me-lepaskan kerinduan hati mereka. Segala sesuatu tampak indah bagi Pek-hwa Sianli. Di lubuk hatinya, wanita ini harus mengakui bahwa ia benar-benar jatuh cinta kepada Kam Ki. Bukan sekedar cinta berahi yang selama ini membuatnya mabok. Kini ia benar-benar mencinta Kam Ki, bukan memperalat Kam Ki untuk memuaskan nafsu berahinya seperti terhadap para pemuda lain yang pernah ia permainkan, melainkan sungguh-sungguh mempunyai perasaan kasih sayang, ingin membahagiakan, ingin membela dan siap berkorban apapun demi membahagiakan pemuda ini.
Kurang lebih dua pekan kemudian, pada suatu senja, Kam Ki dan Pek-hwa Sianli duduk berdua di ruangan depan pondok. Mereka tampak santai dan wajah Pek-hwa Sianli tampak lebih cantik daripada biasanya. Kini sepasang matanya bersinar lembut, mulutnya selalu membayangkan senyum dan gerak-gerik tubuhnya nampak lembut, santai dan malas, seperti seekor harimau betina yang kekenyangan sehingga menjadi malas. Mereka duduk berdampingan di atas bangku dan dengan malas dan manja Pek-hwa Sianli menyandarkan kepalanya di dada Kam Ki.
“Sian-li, sungguh tidak baik kalau kita berdua hanya begini saja seperti ini, tinggal di tempat sunyi ini dan tidak melakukan apa-apa.”
“Kekasihku, mengapa engkau berkata demikian? Bukankah kita berdua merasakan kesenangan berdua seolah kita berada di sorga?”
“Akan tetapi kalau begini terus dapat membosankan, Sian-li.”
228
Pek-hwa Sianli bangkit duduk dan menatap tajam wajah pemuda itu. “Bosan? Kam Ki, apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau bosan kepadaku?”
Kam Ki tersenyum dan merangkul. “Bodoh, siapa bisa bosan padamu, Sianli? Bukan engkau yang membosankan, melainkan keberadaanku di tempat sunyi ini, hanya makan tidur dan tidak mempunyai kegiatan apa-apa. Dengar, Sian-li. Aku pernah merasakan kesenangan besar ketika aku memimpin banyak anak buah di Pek-lian-kauw. Aku merasa mempunyai kekuasaan dan mempunyai kedudukan yang kuat. Nah, aku merindukan keadaan seperti itu. Setelah kini kita bersatu, maka kita menjadi lebih kuat dan kalau kita dapat membentuk suatu perkumpulan yang kuat, dengan anak buah yang banyak, maka kita dapat hidup sebagai seorang raja yang memiliki pasukan!”
“Wah, terserah kepadamu, Kam Ki. Aku setuju dan mendukung niatmu itu dan aku akan selalu menyertai dan membantumu. Lalu, apa yang hendak kaulakukan sekarang?”
“Begini, Sian-li. Kalau engkau mendukung keinginanku, besok kita pergi meninggalkan tempat sunyi ini. Aku akan mencari sisa-sisa dari mereka yang dulu menjadi anak buahku. Kita bersama lalu menghimpun tenaga, mengumpulkan orang-orang yang pantas menjadi anak buah kita, lalu memilih sebuah tempat yang baik untuk kita jadikan sarang perkumpulan kita. Kalau keadaan kita sudah kuat seperti itu, kita tidak perlu takut lagi menghadapi permusuhan dengan mereka yang menamakan dirinya pendekar. Bahkan akan kita basmi satu demi satu mereka yang memusuhi kita. Bagaimana pendapatmu?”
Pek-hwa Sianli memandang kekasihnya dan tersenyum manis.
“Ah, bagus sekali, Kam Ki. Aku mendukung sepenuhnya!”
Mereka berangkulan dan bermesraan kembali. Akan tetapi tiba-tiba Kam Ki melepaskan rangkulannya. “Dengar, ada yang datang berkuda!”
Pek-hwa Sianli juga mendengarkan. Sejenak mereka berdiam diri, mendengar-kan penuh perhatian. “Benar, ada dua ekor kuda mendaki puncak. Hemm, mungkin sekali mereka adalah dua orang adik misanku yang kembar itu, Kam Ki. Agaknya mereka kembali ke sini.”
“Kalau begitu, aku harus bersembunyi dulu, keluar dari pondok. Aku menantimu di guha karang dan nanti engkau datang menemuiku setelah menyambut kedatangan mereka.”
“Baik, Kam Ki, pergilah.”
Kam Ki lalu keluar dari pondok melalui pintu belakang dan terus pergi ke sebuah guha yang berada sekitar setengah lie (mil) dari pondok itu.
Sementara itu, dengan hati tegang karena sudah mendengar bahwa dua orang adik misannya itu membalik, bersatu dengan para pendekar memusuhi Kam Ki, Pek-hwa Sianli berdiri menanti datangnya dua orang penunggang kuda yang telah terdengar derap kaki kudanya sebelum kelihatan.
Setelah dua orang pemuda itu muncul, Pek-hwa Sianli melihat bahwa seorang di antara mereka adalah Can Gin Siang akan tetapi orang kedua adalah seorang pemuda bertubuh tinggi tegap dan berwajah ganteng, berusia sekitar duapuluh dua tahun yang ia tidak kenal. Dua orang itu setelah tiba di pekarangan pondok lalu turun dari atas kuda mereka. Ui Kong, pemuda itu, membantu tunangannya
229
menambatkan kuda mereka pada sebatang pohon, kemudian mereka melangkah maju menghampiri Pek-hwa Sianli yang masih berdiri menanti di depan pintu pondok.
“Hemm, engkau baru datang, A Gin?” tegur Pek-hwa Sianli, dengan hati bim-bang. Dua macam perasaan teraduk dalam hatinya ketika ia melihat Can Gin Siang. Ia girang bahwa Gin Siang dan Kim Siang tidak berhasil membunuh Kam Ki, akan tetapi ia juga penasaran mendengar betapa dua orang adik misannya itu kini bersatu dengan para pendekar.
Gin Siang menghampiri sampai ke depan Pek-hwa Sianli dan memberi normat, lalu memperkenalkan. “Enci Hwa, ini adalah tunanganku, namanya Ui Kong. Kong-ko inilah enci Pek-hwa Sianli yang juga menjadi guru pertamaku.”
Ui Kong memberi hormat dan Pek-hwa Sianli mengamati wajah pemuda ini dengan sinar mata kagum. Seorang pemuda yang tampan dan gagah, menggairahkan sekali, bisik hati akal pikirannya yang memang selalu tertarik dan bergairah setiap melihat seorang pria yang tampan.
“Kalian masuklah, kita bicara di dalam, A Gin.”
Mereka bertiga masuk dan duduk di ruangan depan. Untung bahwa di situ tidak terdapat tanda-tanda kehadiran Kam Ki, pikir Pek-hwa Sianli sambil mengerling ke sekitarnya.
“A Gin, mana A Kim dan apa artinya engkau memperkenalkan saudara Ui Kong ini sebagai tunanganmu?”
Gin Siang merasa heran mengapa kakak misannya ini tidak menanyakan tentang tugas yang diberikan kepada ia dan saudara kembarnya, tidak bertanya tentang hasil usaha mereka membunuh Kam Ki. Akan tetapi ia ingin menceritakan semua yang terjadi.
“Begini, enci Hwa. Pertama-tama saya hendak melaporkan bahwa kami berdua telah berhasil bertemu dengan Kam Ki dan menyerangnya. Akan tetapi dengan menyesal saya beritahukan bahwa dia dapat lolos dari tangan kami karena memang dia memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan dia telah menjadi pimpinan Pek-lian-kauw. Kami berdua bahkan tertawan olehnya karena kami pingsan ketika dia mempergunakan peledak yang mengandung obat bius. Untunglah muncul kanda Ui Kong ini dan kawan-kawannya sehingga kami dapat terbebas dari bahaya. Kami berdua bersama Kong-ko dan kawan-kawannya berhasil menghancurkan perkumpulan itu akan tetapi Kam Ki dapat meloloskan diri. Kemudian, kami berdua menemukan jodoh kami, enci. Kim Siang bertunangan dengan kakak Ui Kiang dan aku bertunangan dengan Ui Kong ini. A Kim tertinggal di kota Ki-lok membantu tunangannya mengurus perusahan dan mewakilkan aku dan Kong-ko untuk menghadap enci dan memberi kabar tentang semua yang kuceritakan itu.”
Sebetulnya, di dalam hatinya Pek-hwa marah mendengar kedua orang adik misannya itu kini bukan hanya bergabung, bahkan bertunangan dengan orang-orang yang memusuhi Kam Ki. Akan tetapi wanita yang cerdik ini memperlihatkan wajah gembira. Ia dapat menduga bahwa pemuda bernama Ui Kong ini tentu seorang yang tangguh maka dapat menolong dua orang adik misannya yang tertawan Kam Ki dan Pek-lian-kauw, dan iapun tahu bahwa tingkat kepandaian A Gin tidak berselisih jauh dengan tingkatnya sendiri setelah dua orang gadis kembar itu berguru kepada Hoa-san Kui-bo, bibi gurunya yang bertapa di Hoa-san. Maka ia bersikap ramah agar mereka tidak curiga.
230
“Ah, aku senang sekali mendengar kalian berdua telah mendapatkan jodoh, A Gin. Kapan akan diadakannya perayaan pernikahannya?”
“Secepatnya, enci. Dan kami datang ini selain untuk melaporkan yang tadi, juga untuk mengundang agar enci dapat menghadiri perayaan pesta pernikahan kami di Ki-lok.”
“Tentu saja, A Gin. Sekarang, hari telah menjelang malam dan kalian telah melakukan perjalanan jauh. Mari, kalian mandi dan berganti pakaian dulu agar segar kembali, kemudian kita makan malam dan bicara lebih lanjut. Kalian mandi dan mengaso dulu sementara aku akan mencari beberapa macam bumbu masakan di luar.”
“Ah, tidak perlu merepotkanmu, Enci Hwa.”
“Tidak ada yang repot, kalian mandilah dulu.”
Pek-hwa Sianli lalu meninggalkan pondok, diam-diam menekan kemarahannya karena kini A Gin menyebutnya “enci Hwa” tidak lagi menyebut seperti dulu. Sebutan ini diucapkan Gin Siang sebagai tanda keakraban bersaudara, akan tetapi bagi Pek-hwa Sianli dianggap tidak menyenangkan karena ia lebih senang disebut Sianli yang berarti Dewi!
Setelah meninggalkan pondok, Pek-hwa Sianli cepat mengambil jalan memutar menuju ke guha di mana Kam Ki telah menantinya dengan tidak sabar.
“Yang datang adalah Can Gin Siang bersama tunangannya. Tunangannya itu bernama Ui Kong yang katanya membantunya menyerbu Pek-lian-kauw dan ikut mengeroyokmu. Iapun menceritakan bahwa Kim Siang juga bertunangan dengan kakaknya Ui Kong itu. Gin Siang datang selain untuk melaporkan kegagalannya membunuhmu, juga mengundangku ke perayaan pernikahan dua orang gadis kembar itu. Sekarang bagaimana baiknya, Kam Ki?”
“Kalau menurut engkau, bagaimana baiknya?”
“Kalau kita maju bersama, kukira tidak akan terlalu sukar untuk mengalahkan mereka. Mari kita bunuh saja mereka!”
Kam Ki mengangguk. “Mari kita bunuh laki-laki itu, akan tetapi Gin Siang jangan dibunuh dulu. Sayang kalau langsung dibunuh. Aku masih ingat, ia cantik jelita. Kita tangkap ia hidup-hidup dan serahkan saja ia kepadaku, nanti kalau aku sudah bosan akan kubunuh.”
“Uh, engkau mau enak sendiri saja!” Pek-hwa Sianli bersungut. “Ui Kong itu pun muda dan tampan sekali. Kalau engkau mau bersenang-senang, akupun juga. Diapun tidak langsung boleh dibunuh!”
Kam Ki tersenyum menyeringai, maklum akan maksud wanita itu. “Kalau begitu, kita tangkap mereka, kita bersenang-senang, baru kita bunuh mereka. Begitukah?”
“Ya, akan tetapi kalau membunuh mereka tidak begitu sukar, sebaliknya kalau hendak menangkap hidup-hidup, bukan merupakan pekerjaan mudah! Ingat, merekapun memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan tangguh sekali.”
231
“Ha-ha, apa sukarnya? Ketahuilah, aku membawa obat bius dari Pek-lian-kauw. Kalau dicampurkan arak, tidak akan terasa sama sekali dan bekerjanya cepat. Kusimpan dalam buntalan pakaianku dalam kamarmu. Pergunakan itu. Kalau mereka sudah pingsan, kita pergunakan obat perangsang milikmu itu dan kita bersenang-senang.”
Pek-hwa Sianli mengangguk-angguk dengan gembira. Kemudian ia pergi, kembali ke pondok dan langsung sibuk di dapur untuk masak. Tentu saja sebelum itu ia sudah mengambil obat atau racun pembius dari buntalan pakaian Kam Ki dalam kamarnya dan mencampurkannya dengan arak dalam guci arak yang akan dihidangkannya nanti.
Setelah selesai mandi dan bertukar pakaian, Gin Siang membantu kesibukan Pek-hwa Sianli di dapur, sedangkan Ui Kong mengurus kuda, memberi dua ekor kuda itu makan dan minum.
Malampun tiba. Kini tiga orang itu sudah duduk sekeliling meja makan. Dengan gembira mereka makan dan minum dan Pek-hwa Sianli menuangkan arak merah yang harum baunya ke cawan masing-masing. Tentu saja sebelumnya ia sudah menelan obat penawar atau pemunah racun pembius yang berada dalam arak itu.
Ketika mereka makan minum, Kam Ki telah mendekati pondok dengan hati-hati, tanpa menimbulkan suara sedikitpun dan dia mengintai dari luar ruangan makan. Jantungnya berdebar tegang dan girang melihat Can Gin Siang yang cantik jelita itu.
Begitu cawan pertama diminum Ui Kong dan Gin Siang, Pek-hwa Sianli sudah menuangkan arak dari guci itu kembali memenuhi cawan mereka.
“Mari kita minum untuk merayakan perjodohan antara kalian yang sungguh amat menggembirakan hatiku!” katanya sambil mengangkat cawan. Tentu saja Ui Kong dan Gin Siang tidak menolak maksud baik itu dan mereka pun mengangkat cawan lalu minum isinya sampai habis.
“Celaka......!” Tiba-tiba Ui Kong berseru, tubuhnya limbung ketika dia bangkit berdiri. Dia melihat tunangannya malah sudah merebahkan kepala di atas meja dalam keadaan lemas dan terkulai.
Ui Kong mendengar suara tawa dan dengan marah ia mengumpulkan tenaga yang terasa hilang, lalu melontarkan cawan arak yang kosong ke arah muka Pek-hwa Sianli yang tertawa. Akan tetapi karena lontaran itu lemah dan Pek-hwa Sianli mengelak, sambitan itupun tidak mengenai sasaran. Ui Kong mencoba melangkah mundur dari meja, akan tetapi dia terkulai dan roboh!
Kam Ki muncul dari pintu dan bertepuk tangan memuji sambil tertawa. “Ha-ha-ha, bagus sekali, Sianli! Mulai malam ini kita bersenang-senang sampai sepuasnya!” kata Kam Ki dan dia tertawa dengan suara tawanya yang terdengar penuh ejekan. Dia menghampiri Gin Siang yang masih duduk di atas kursi dengan kepala berbantal lengan di atas meja dalam keadaan pingsan atau tidur dan hendak memondongnya.
“Sabar dulu, Kam Ki. Engkau lupa! Mereka harus diberi minum anggur merah perangsang dulu agar jinak, dan tidak menolak atau melawan!”
“Ah, benar, aku lupa, Sian-li. Ambil anggurmu itu!”
232
Pek-hwa Sianli berlari ke kamarnya mengambil sebotol anggur merah yang merupakan obat perangsang yang amat manjur, yang ia pergunakan kepada para pemuda yang diculiknya dahulu untuk membakar gairah para pemuda itu.
Ia menuangkan anggur merah itu ke dalam cawan arak yang dipakai Gin Siang dan Ui Kong tadi sampai penuh. Kemudian, Kam Ki mendekatkan cawan itu ke mulut Gin Siang dan Pek-hwa Sianli juga menempelkan cawan itu ke bibir Ui Kong. Dengan tangan kiri, mereka menekan geraham memaksa mulut dua orang korban itu terbuka agar mereka dapat menuangkan anggur merah itu ke dalam perut mereka.
Tiba-tiba pada saat itu, dua sinar merah kecil menyambar ke dalam kamar berturut-turut. Sinar pertama menyambar ke arah cawan yang dipegang Pek-hwa Sianli dan sinar kedua menyambar ke arah cawan yang dipegang Kam Ki.
“Cringg......! Cringg......!”
Biarpun dua sinar itu ternyata hanya jarum-jarum merah yang meluncur sambil mengeluarkan suara seperti tawon terbang, namun cukup mengejutkan Kam Ki dan Pek-hwa Sianli sehingga mereka menarik tangan mereka dan melepaskan cawan sehingga anggurnya tumpah ke atas lantai. Keduanya melompat dan memutar tubuh ke arah jendela dari mana dua sinar tadi menyerang ke arah tangan mereka yang memegang cawan. Mereka melihat berkelebatnya bayangan di luar jendela.
“Keparat, jangan lari!” Bentak Kam Ki dan Pek-hwa Sianli. Keduanya lalu melompat dengan gesit seperti burung terbang keluar melalui jendela dan tiba di ruangan luar yang luas.
Ternyata penyerang itu sama sekali tidak melarikan diri. Di tengah ruangan itu, di bawah sinar lampu gantung yang cukup terang, berdiri dua orang yang membuat wajah Kam Ki menjadi pucat ketika melihat mereka. Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis, yaitu Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa!
Bagaimana dua orang itu tiba-tiba saja dapat berada di situ? Seperti telah diceritakan, Bwee Hwa dan Bun Sam melakukan perjalanan menuju ke Heng-san karena Bwee Hwa ingin sekali mengunjungi gurunya, Sin-kiam Lojin yang sudah tua dan sudah ia tinggalkan mencari ayahnya selama lebih dari dua tahun.
Bun Sam menemaninya dan di sepanjang perjalanan, Bwee Hwa semakin kagum kepada Bun Sam. Pemuda ini mengingatkan ia akan mendiang Ong Siong Li yang jujur, bijaksana, sopan dan gagah perkasa.
Kebetulan saja perjalanan mereka itu melalui kaki Bukit Ayam Emas.
“Bukankah itu Bukit Ayam Emas?” tanya Bwee Hwa ketika mereka tiba di kaki bukit itu.
“Benar, lihat saja bentuk puncaknya seperti seekor ayam, dan pohon-pohon di sana itu berwarna kekuningan seperti emas. Bagus, ya?”
233
“Tapi, bukankah kakak Ui Kong dan Gin Siang pergi ke sana? Kata dua orang gadis kembar itu, kakak misan atau juga guru pertama mereka yang bernama Pek-hwa Sianli tinggal di lereng Bukit Ayam Emas. Kalau begitu, mereka berdua tentu pergi ke sana juga.”
“Ah, benar juga katamu, Hwa-moi. Akan tetapi mengapa jalan umum ini begini sepi? Sejak tadi kita tidak melihat ada seorang pun lewat di jalan ini,” kata Bun Sam sambil menghentikan kudanya dan Bwee Hwa juga berhenti.
“Eh, lihat itu ada orang. Akan tetapi mengapa ia melarikan diri begitu melihat kami?” Bwee Hwa menunjuk ke depan. Benar saja. Ada seorang laki-laki muncul di tikungan jalan, akan tetapi begitu melihat mereka berdua, orang itu melarikan diri seperti orang ketakutan.
“Kejar dan tanya dia mengapa dia ketakutan, Sam-ko!”
Tanpa diminta dua kali, Bun Sam sudah melompat turun dari kudanya dan tubuhnya berkelebat, mengejar orang yang melarikan diri ketakutan itu. Sebentar saja dia sudah dapat melewati dan menghadang di depan orang itu. Dia seorang laki-laki setengah tua, berusia sekitar limapuluh tahun dan begitu melihat Bun Sam tiba-tiba saja menghadang di depannya, dia segera menjatuhkan diri berlutut menyembah-nyembah.
“Ampunkan saya, tai-ong (raja besar, sebutan untuk perampok)......!” Orang itu memohon ketakutan.
Bun Sam terbelalak. Tai-ong? Dia disangka perampok?
“Paman, bangkitlah dan jangan takut. Aku sama sekali bukan orang jahat dan tidak akan mengganggumu. Percayalah, aku bahkan menolong siapa saja yang diganggu orang jahat. Berdirilah dan mari kita bicara.”
Orang itu memandang penuh perhatian, setelah melihat bahwa yang menghadangnya itu seorang pemuda yang sederhana, baik wajah maupun pakaiannya, mengenakan caping lebar, mulutnya tersenyum ramah, matanya lembut dan tidak memegang senjata, sama sekali bukan seperti penampilan seorang penjahat, dia menjadi lega dan timbul kembali keberaniannya. Dia bangkit berdiri.
“Akan tetapi...... mengapa engkau tadi bersama iblis betina itu berada di sana? Dan mengapa pula mengejar saya?”
“Hemm, aku berada di sana bukan dengan iblis betina, melainkan dengan seorang sahabatku, seorang pendekar wanita. Dan aku mengejarmu karena melihat engkau melarikan diri ketakutan dan aku ingin bertanya mengapa engkau lari. Akan tetapi sekarang aku sudah tahu bahwa engkau ketakutan karena mengira sahabatku itu iblis betina. Nah, sekarang katakan padaku, paman, siapakah yang kau sebut iblis betina itu dan mengapa engkau menyebutnya iblis betina dan di mana ia tinggal?”
Orang yang pakaiannya sebagai petani itu menengok ke kanan kiri dan tampaknya ketakutan. “Saya...... saya takut......”
“Jangan takut. Aku dan sahabatku yang akan melindungimu,” kata Bun Sam dan pada saat itu, Bwee Hwa menunggang kuda menghampiri sambil menuntun kuda tunggangan Bun Sam. Melihat gadis cantik
234
itu kembali orang itu ketakutan, akan tetapi setelah Bwee Hwa turun dan tersenyum kepadanya, rasa takutnya hilang.
“Apa yang terjadi?” tanya Bwee Hwa.
“Paman ini tadi lari ketakutan karena mengira engkau iblis betina,” kata Bun Sam.
“Wah, sialan! Aku disangka iblis betina? Menghina sekali kau!”
“Ah, maafkan...... ampunkan saya, nona ......” orang itu berkata.
“Hemm, kalau engkau tidak mau bercerita tentang iblis betina itu, sahabatku ini tentu akan marah sekali kepadamu karena engkau menyangka ia iblis betina. Hayo ceritakan, paman.”
“Benar, paman. Kalau engkau tidak mau bercerita, aku benar-benar akan menjadi iblis betina dan marah kepadamu!” kata Bwee Hwa dengan suara galak.
“Ah, maaf...... iblis itu...... ia seorang wanita cantik akan tetapi kejam, suka menculik dan membunuh pemuda-pemuda namanya Pek-hwa Sianli dan tinggalnya di lereng bukit itu......”
“Ahhh......!!” Bun Sam dan Bwee Hwa berseru demikian kuat sehingga orang itu kembali ketakutan lalu melarikan diri! Akan tetapi sekali ini, Bun Sam dan Bwee Hwa tidak mengejar.
“Wah, Sam-ko. Kalau begitu Kong-ko dan Gin Siang yang pergi ke sana dapat terancam bahaya!”
“Benar, mari kita sekarang juga naik ke sana, Hwa-moi!”
“Akan tetapi sekarang sudah menjelang senja, sebentar lagi malam tiba, Sam-ko.”
“Kita tinggalkan kuda di kaki bukit dan mendaki jalan kaki saja. Bulan muncul lewat senja nanti, kita dapat mencari jalan ke atas.”
Demikianlah, dua orang pendekar itu mendaki bukit dan mereka dapat menolong Ui Kong dan Gin Siang pada saat yang tepat sekali. Bwee Hwa yang tadi melepas jarum tawonnya untuk menyerang tangan Pek-hwa Sianli dan Kam Ki yang hendak menuangkan anggur perangsang ke dalam mulut dua orang korban mereka.
Kini, Pek-hwa Sianli dan Kam Ki berhadapan dalam ruangan luas itu, saling pandang. Tentu saja Kam Ki merasa gentar bukan main melihat suhengnya dan Bwee Hwa yang pernah menyerbu Pek-lian-kauw yang dipimpinnya dengan para pendekar lain. Dia maklum bahwa kini dia menghadapi lawan yang amat tangguh, terutama sekali suhengnya. Akan tetapi Pek-hwa Sianli yang tidak mengenal mereka, memandang rendah.
“Keparat, siapa yang sudah bosan hidup menyerang kami dengan am-gi (senjata gelap) tadi!” bentaknya.
“Engkau tentu Pek-hwa Sianli, si iblis betina itu, bukan? Tidak kusangka, julukannya Dewi akan tetapi sebetulnya seorang iblis betina, benar-benar harimau berbulu domba! Akulah yang mencegah kalian melakukan perbuatan hina kepada Ui Kong dan Can Gin Siang tadi!” kata Bwee Hwa.
235
“Keparat sombong! Siapakah kalian? Perkenalkan nama agar kalian tidak mam-pus tanpa nama!”
“Hemm, kenapa tidak tanya saja kepada si jahat Thio Kam Ki rekanmu itu? Lihat, mukanya sudah pucat ketakutan melihat kami!”
Sementara itu, Bun Sam berkata kepada Kam Ki. “Sute, lebih baik engkau menyerah kubawa kembali menghadap suhu. Bertaubatlah, sute. Suhu tentu akan memaafkanmu dan membimbingmu ke jalan benar.”
Akan tetapi Pek-hwa Sianli sudah tidak dapat menahan diri lagi. “Bocah sombong, mampuslah!” Ia membentak dan ketika dua tangannya bergerak, tampak dua sinar berkelebat dan ia sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) yang tergantung di punggungnya. Tanpa memberi peringatan lagi, Pek-hwa Sianli sudah menerjang maju menyerang Bwee Hwa, sepasang pedangnya digerakkan cepat membentuk dua lingkaran sinar.
Bwee Hwa dapat menduga bahwa kakak misan atau guru pertama si kembar Kim Siang dan Gin Siang ini tentu memiliki kepandaian tinggi, maka ketika melihat wanita itu mencabut siang-kiam, iapun sudah cepat mencabut Sin-hong-kiam dari punggungnya. Ketika Pek-hwa Sianli menyerang, iapun cepat memutar pedangnya menyambut. Terdengar bunyi berdentingan disusul bunga api berpijaran ketika pedang mereka saling bertemu di udara. Mereka segera saling serang dengan seru dan mati-matian, berkelahi bagaikan dua ekor harimau betina!
Kam Ki yang merasa tersudut tentu saja tidak mau menyerah begitu saja. Tidak rela dia meninggalkan kehidupannya yang dianggapnya amat menyenangkan itu. Kini ada Pek-hwa Sianli di sampingnya dan kalau wanita itu mampu merobohkan lawannya, tentu akan dapat membantunya menghadapi Bun Sam. Maka diapun membentak nyaring dan menerjang maju, menyerang Bun Sam dengan dahsyat.
Biarpun Kam Ki dan Bun Sam berkelahi dengan tangan kosong, namun sebe-tulnya perkelahian antara mereka lebih seru dibandingkan perkelahian antara Pek-hwa Sianli dan Bwee Hwa yang menggunakan pedang. Serangan tangan dan kaki kedua orang saudara seperguruan ini merupakan sambaran tangan-tangan maut yang amat berbahaya.
Kam Ki mengerahkan seluruh tenaganya yang dia dapat dari bimbingan Hwa Hwa Cinjin sehingga pukulannya mengandung racun yang amat jahat. Dia menggunakan ilmu Bantok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang amat keji karena sekali terkena senggolan tangan itu, maka tubuh lawan akan keracunan hebat dan bagi lawan yang kurang kuat tenaga saktinya akan tewas seketika! Juga ilmu silat yang dia mainkan adalah ilmu silat Ciu-kwi-kun (Silat Setan Arak) yang gerakannya seperti orang mabok, sukar diduga perkembangannya dan amat berbahaya bagi lawan.
Namun Sie Bun Sam sudah mendapat penggemblengan tambahan dari Leng-hong Hoatsu sehingga dia dapat membuat pertahanan yang amat kuat dan di samping itu, dapat melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Biarpun Kam Ki sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu simpanannya, tetap saja dia mulai terdesak.
Sementara itu, perkelahian antara Pek-hwa Sianli melawan Bwee Hwa berlang-sung ramai. Mereka saling serang dengan seru dan mati-matian dan keadaan mereka masih seimbang sehingga Kam Ki menjadi repot sekali. Dia terdesak terus akan tetapi tidak dapat mengharapkan bantuan Pek-hwa Sianli
236
yang sedang berkelahi dengan seru dan seimbang melawan Bwee Hwa. Akan tetapi karena Bun Sam tidak bermaksud membunuh sutenya, hanya ingin menangkap dan membawanya kembali ke gurunya, maka Kam Ki masih dapat melakukan perlawanan sengit.
Sementara itu, Gin Siang dan Ui Kong masih belum sadar. Gin Siang masih duduk di atas kursi dengan kepala berbantal lengan di atas meja, sedangkan Ui Kong masih rebah miring di atas lantai. Akan tetapi Ui Kong tadi tidak menenggak habis araknya karena setelah minum secawan tadi dia sudah merasa pening. Padahal dia sudah amat biasa minum arak. Kalau hanya menghabiskan lima cawan saja dia tidak akan mabok. Akan tetapi tadi baru minum secawan saja dia sudah merasa agak pening. Maka dia menjadi agak curiga dan cawan kedua itu hanya diminumnya setengah.
Dialah yang pertama kali tahu bahwa minuman itu tidak wajar dan mengandung sesuatu yang tidak baik, maka dia berusaha memperingatkan Gin Siang, namun terlambat dan dia pun terguling roboh dan pingsan. Akan tetapi karena kadar racun pembius yang diminumnya tidak sebanyak Gin Siang, maka dia dapat sadar lebih dulu. Dia membuka kedua matanya dan seketika dia teringat apa yang telah terjadi. Cepat dia melompat dan melihat Gin Siang “tertidur” di atas kursinya, dia cepat mengambil air, mengurut tengkuk dan menotok kedua pundak gadis itu beberapa kali, membasahi muka dan ubun-ubunnya dengan air dan Gin Siang juga siuman. Mereka mendengar suara beradunya senjata di luar kamar dan tanpa bicara keduanya cepat bergerak dan melompat keluar jendela yang menembus ke ruangan itu.
Setibanya di ruangan itu mereka melihat Bwee Hwa sedang bertanding melawan Pek-hwa Sianli, dan Bun Sam bertanding dengan pemuda yang menjadi ketua Pek-lian-kauw itu.
Biarpun Gin Siang tahu bahwa kakak misannya, Pek-hwa Sianli ternyata masih jahat dan tadi nyaris mencelakainya dan mengorbankan dirinya kepada Kam Ki, namun ia tetap tidak tega untuk menyerang dan mengeroyok Pek-hwa Sianli. Bagaimanapun juga, ia merasa berhutang budi yang cukup banyak kepada Pek-hwa Sianli. Maka Gin Sang menumpahkan semua kemarahannya kepada Thio Kam Ki dan tanpa banyak cakap lagi, iapun mencabut Siang-kiam (Sepasang Pedang) lalu menerjang kepada Kam Ki yang sudah terdesak berat oleh Bun Sam. Adapun Ui Kong yang melihat betapa Bwee Hwa bertanding seimbang dengan Pek-hwa Sianli, lalu memutar pedangnya membantu Bwee Hwa.
Bun Sam terkejut. Serangan sepasang pedang dari Gin Siang cukup ganas dan dahsyat, maka dia khawatir kalau-kalau Kam Ki akan menjadi korban dan tewas oleh pedang gadis itu. Kam Ki juga semakin terdesak hebat. Suatu saat, karena sudah terhuyung oleh serangkaian pukulan Bun Sam, dia tidak mampu menghindar lagi ketika pedang kiri Gin Siang menyambar ke arah lehernya.
“Plakk.......!” Gin Siang terkejut dan melompat ke belakang ketika pedangnya ditangkis oleh tangan kiri Bun Sam! Pada saat itu, Bun Sam membuat gerakan berputar dan kakinya menendang, tepat mengenai lambung Kam Ki. Tubuh Kam Ki terpental dan dia roboh pingsan.
Pada saat yang hampir sama, terdengar Pek-hwa Sianli mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya terpelanting roboh mandi darah. Ia tewas seketika oleh sabetan pedang Bwee Hwa yang tentu saja mendapat banyak kesempatan karena masuknya Ui Kong yang membantunya.
Ketika Ui Kong dan Bwee Hwa melihat Kam Ki menggeletak pingsan, mereka berdua melompat dan hendak membunuh pemuda itu dengan pedang mereka. Akan tetapi Bun Sam berkelebat cepat dan menghadang mereka.
237
“Jangan bunuh dia!”
“Ahhh.......! Mengapa, Sam-ko? Dia amat jahat.......!” Bwee Hwa membantah dan memandang Bun Sam dengan sinar mata penasaran.
Bun Sam menghela napas panjang dan mengangkat lalu memondong tubuh Kam Ki, lalu berkata, “Maafkan aku, Hwa-moi. Dia adalah suteku (adik seperguruanku) dan aku hanya memenuhi perintah suhu untuk menangkap dan membawanya kepada suhu, bukan membunuhnya. Maafkan aku.” Dia lalu melangkah keluar dari pondok itu.
Sejenak Bwee Hwa berdiri tertegun, kemudian ia lalu mengejar dan dapat menyusul Bun Sam di depan pondok. Bulan bersinar dengan terang di atas kepala mereka.
“Sam-ko……!”
Bun Sam berhenti melangkah. Kini mereka berdiri berhadapan. “Hwa-moi,” katanya lirih. “Mengapa mengejarku?”
“Sam-ko, apakah engkau akan meninggalkan aku begini saja?”
“Hwa-moi, aku harus menyelesaikan tugasku, membawa Kam Ki kembali ke Himalaya menghadap suhu.”
“Akan tetapi...... apakah....... apakah kita tidak akan saling bertemu kembali, Sam-ko?” Suara Bwee Hwa gemetar.
“Hwa-moi, ada waktunya bertemu, ada pula waktunya berpisah. Kalau Thian menghendaki, pasti kita akan dapat saling bertemu kembali. Maafkan aku, Hwa-moi, karena aku harus membawa suteku ini kepada suhu, aku tidak dapat menemanimu pergi ke Heng-san bertemu dengan suhumu Sin-kiam Lojin.”
Ketika Bun Sam hendak melanjutkan perjalanan, sebelum dia menggerakkan kakinya, Bwee Hwa berkata lirih. “Sam-ko.......” suaranya mengandung isak tertahan. “aku...... aku ingin ikut denganmu, Sam-ko.......”
Bun Sam menggeleng kepalanya dan berkata lembut. “Tidak, Hwa-moi, aku harus melaksanakan tugasku dulu. Selamat berpisah, Hwa-moi, dan baik-baiklah menjaga dirimu.” Setelah berkata demikian, Bun Sam melompat dan berkelebat lenyap di keremangan malam.
“Sam-ko......, jangan tinggalkan aku seorang diri......” Bwee Hwa tak dapat menahan turunnya air mata ke atas kedua pipinya. Akan tetapi seruannya itu hanya digumam saja.
Malam sudah larut. Can Gin Siang keluar dari pondok, melihat Bwee Hwa berdiri seorang diri di luar pondok, diam seperti arca, ia menghampiri.
“Adik Bwee Hwa,” tegurnya lembut. Setelah menjadi tunangan Ui Kong, Gin Siang menyebut adik kepada Bwee Hwa, “mari masuk ke dalam pondok. Kami sedang mengurus jenazah piauw-ci (kakak misan), setelah besok pagi kami kubur, kita lalu meninggalkan tempat ini. Mari masuklah.” Gin Siang memegang tangan Bwee Hwa namun Bwee Hwa menarik tangannya.
238
“Engkau masuklah, aku ingin berada di luar. Hawanya lebih sejuk.”
Setelah beberapa kali membujuk tanpa hasil, akhirnya Gin Siang meninggalkan Bwee Hwa sendiri. Bwee Hwa lalu duduk di atas bangku yang terdapat di depan pondok itu dan duduk melamun sambil memandang ke arah perginya Bun Sam, seolah mengharapkan pemuda itu muncul kembali.
Sampai keesokan harinya ketika Ui Kong dan Gin Siang menguburkan jenazah Pek-hwa Sianli di belakang pondok, Bwee Hwa masih tidak beranjak dari bangku itu. Beberapa kali Gin Siang membujuknya, namun tetap saja ia tidak mau meninggalkan bangku itu.
Setelah selesai mengubur jenazah Pek Hwa Sian-li memenuhi permintaan Gin Siang, Ui Kong dan Gin Sang pergi ke depan pondok. Melihat Bwee Hwa masih duduk seperti patung, Ui Kong menggeleng-geleng kepalanya. Perlahan-lahan dia menghampiri Bwee Hwa dari belakang dan meletakkan tangannya di atas pundak Bwee Hwa.
“Hwa-moi, mari kita pulang.”
“Pulang?” Bwee Hwa mengulang kata itu seperti orang kehilangan semangat.
“Tentu saja pulang ke Ki-lok, bukankah engkau ini adikku yang tercinta dan aku ini kakakmu?”
Perlahan-lahan Bwee Hwa mengangkat mukanya yang menunduk dan tampaklah wajah yang pucat, sepasang mata yang sayu memandang wajah Ui Kong.
“Kakak Ui Kong......” bibir itu gemetar.
“Ya, adikku. Mari kita pulang. Jangan khawatir, jodoh itu berada di tangan Thian, kalau memang engkau berjodoh dengan dia, kelak pasti akan dapat saling bertemu kembali. Percayalah!”
“Kong-ko......!” Bwee Hwa terisak, menangis dalam rangkulan kakaknya.
Tak lama kemudian, Ui Kong, Gin Siang, dan Bwee Hwa menuruni Bukit Ayam Emas itu dan selanjutnya menuju ke kota Ki-lok menunggang kuda mereka. Karena pandainya Ui Kong dan Gin Siang menghiburnya di sepanjang perjalanan, akhirnya Bwee Hwa mendapatkan kembali semangat dan kelincahannya.
TAMAT
alysa, http://indozone.net/literatures/literature/1348
25 Mei 2013 jam 11:19am
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil