Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Mei 2018

DENDAM SEMBILAN IBLIS TUA 1 (lANJUTAN bAYANGAN iBLIS)

=====
BACA JUGA
DENDAM SEMBILAN IBLIS TUA
Asmaraman S Kho Ping Hoo
Thai-san merupakan pegunungan yang puncak-puncaknya menjulang tinggi, bahkan ada sebagian puncaknya yang selalu diliputi salju. Pegunungan itu luas sekali, mempunyai banyak lembah yang penuh dengan hutan-hutan rimba yang liar. Hanya di kaki pegunungan itu dan di 1ereng bagian bawah saja nampak dusun-dusun kecil yang hanya terdiri dari beberapa puluh buah rumah sederhana.
Penghuni dusun-dusun itu hanya petani-petani dan sebagian pula adalah pemburu-pemburu binatang. Hidup mereka amat sederhana dan dusun-dusun itu nampak kecil tidak berarti di pegunungan yang besar, tinggi dan luas itu.
Pada suatu hari, ketika matahari pagi mulai mengusiri kabut pagi di lereng-lereng pegunungan Thai-san, cuaca yang amat cerah itu mendatangkan suasana yang amat gembira dan bahagia. Di dalam keadaan mereka yang diam, pohon-pohon besar menikmati kehangatan sinar matahari pagi yang membebaskan mereka dari kedinginan yang menyelimuti mereka sepanjang malam, yang membuat daun-daun mereka hampir beku dan kini embun-embun berkilauan tergantung di daun-daun mereka. Embun itu makin menebal dan siap jatuh musnah di atas tanah di bawah sana. Pada ranting-ranting di mana hinggap burung-burung kecil yang berloncatan sambil berkicau, embun-embun itu sudah rontok sejak tadi.
2
Tempat yang sunyi, liar, luas dan banyak hutan dan bagian yang sukar sekali dimasuki manusia itu menjadi tempat yang amat disuka oleh para penjahat dan buruhan pemerintah, sebagai tempat untuk menyembunyikan diri. Ke situlah para penjahat besar melarikan diri kalau mereka dikejar oleh pasukan keamanan pemerintah atau oleh para pendekar yang memusuhi mereka. Oleh karena itu, tidak ada rakyat biasa berani mencoba untuk mendaki Pegunungan Thai-san, melewati daerah aman di kaki-kaki gunung. Bahkan para pemburu tidak berani memasuki hutan yang masih asing bagi mereka, takut kalau bertemu dengan penjahat-penjahat besar yang bersembunyi.
Oleh karena itu, para penduduk dusun yang melihat seorang pria tua berpakaian sasterawan seorang diri mendaki bukit pertama di pegunungan itu, memandang dengan heran dan juga khawatir.
Orang itu mencari mati, bisik mereka, mati konyol! Orang dusun yang miskin dan tidak membawa apa-apa yang berharga sekalipun tidak akan berani lancang mendaki pegunungan itu.
Dan pria yang naik dari gunung sebelah selatan ini jelas bukan orang dusun yang miskin. Dia seorang yang berpakaian sasterawan, pakaian dari sutera putih yang bersih dan halus, membawa buntalan yang cukup besar dari kain kuning yang terbuat dari sutera pula, tangan kanan memegang sebuah kipas besar dan di pinggangnya terselip sebatang pena yang terbuat dari logam kuning berkilauan. Emas!
Dan dengan pakaian seperti itu, dia berani mendaki Pegunungan Thai-san! Mencari penyakit itu namanya, demikian para penduduk
3
dusun saling berbisik. Bahkan seorang kakek dusun itu yang merasa kasihan, tadi menghadangnya dan menasihatinya agar jangan mendaki terlalu jauh karena pegunungan itu berbahaya. Namun sasterawan tua yang usianya tentu sudah ada enampuluh tahun itu, hanya mentertawakannya dan melangkah terus dengan gaya congkak.
Sasterawan itu melenggang, mendaki bukit dan diikuti pandang mata beberapa orang dusun yang tadi berusaha untuk memperingatkannya. Tubuhnya yang jangkung kurus itu tidak mengesankan dan setelah dia lenyap ditelan pohon-pohon di hutan pertama, para penduduk membicarakannya dengan hati tegang. Tak lama lagi sasterawan itu tentu akan mati di dalam hutan dan seluruh bawaannya, bahkan pakaiannya yang melekat di tubuhnya, akan habis dirampok orang dan tubuhnya yang dibiarkan telanjang di dalam hutan, tak lama lagipun akan habis digeroti binatang hutan yang buas!
Apa yang dikhawatirkan para penduduk dusun itu memang segera terjadi. Baru saja sasterawan tua itu tiba di tengah hutan pertama yang berada di lereng bukit, sudah melampaui batas yang aman, tiba-tiba saja bermunculan sebelas orang yang rata-rata berusia tigapuluh sampai empatpuluh tahun, bertubuh kekar dan bersikap bengis. Dari wajah dan gerak gerik mereka saja mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
Begitu berloncatan keluar dari balik pohon-pohon dan semak belukar, sebelas orang yang semua memegang golok besar itu
4
sudah mengepungnya dengan setengah lingkaran. Pemimpin mereka, yang dahinya dihias codet bekas luka memanjang dari kanan ke kiri, menyeringai memperlihatkan giginya yang besar-besar, seperti seekor harimau yang mengancam calon mangsanya.
“Ha-ha-ha, kiranya seorang sasterawan sinting!” kata seorang di antara mereka sambil terkekeh seolah melihat sesuatu yang lucu.
Sasterawan itu bersikap tenang saja dan andaikata sebelas orang itu tidak terlalu mengagungkan diri sendiri dan selalu meremehkan orang lain, hal ini saja sebenarnya sudah merupakan hal yang luar biasa. Bagaimana seorang sasterawan tua yang dihadang sebelas orang penjahat yang demikian menyeramkan, masih dapat bersikap enak-enak saja? Tentu ada sesuatu yang diandalkan oleh sasterawan itu. Kalau tidak, sepantasnya dia sudah ketakutan sekali.
Sasterawan itu memandang kepada orang yang tadi mengatakan dia sinting.
“Kenapa kaubilang aku sasterawan sinting?” tanyanya, suaranya lembut dan mulutnya tersenyum ramah.
Melihat sikap ini, sebelas orang itu bukan curiga, bahkan tertawa-tawa geli dan si codet yang menjadi pemimpin berkata, “Sasterawan gila! Kalau engkau tidak sinting, tentu tidak akan berani memasuki hutan ini seorang diri, membawa buntalan itu. Setidaknya, tentu terisi pakaian-pakaian bagus dan uang bekal perjalanan, ha-ha-ha!”
5
“Engkau benar, buntalan ini memang terisi pakaian bersih dan ada belasan tail emas limapuluh tail perak. Habis, kenapa?” tanya sasterawan itu.
“Dan pena di pinggangnya itu seperti emas!” kata seorang anggauta gerombolan itu sambil menunjuk ke arah benda yang terselip di pinggang sasterawan itu.
Sasterawan itu menyingkap bajunya dan meraba benda itu. Sebatang mouw-pit (pena bulu) yang gagangnya sepanjang dua jengkal sebesar jari telunjuk dan terbuat dari pada emas murni!
“Wah, matamu sungguh jeli,” katanya memuji orang itu. “Pena ini memang terbuat dari pada emas.”
Para perampok itu, saling pandang dan kini mereka benar menduga bahwa sasterawan itu tentu gila. Membawa uang demikian banyak, benda berharga, memasuki hutan itu dan terang-terangan mengaku tentang uang dan pena emas.
Si codet mengelebatkan goloknya. “Sasterawan gi1a. Karena engkau berterus-terang, kamipun tidak ingin membunuhmu, bahkan membiarkan pakaianmu yang menempel di tubuhmu. Berikan buntalan dan kim-pit (pena emas) itu kepada kami dan kembalilah engkau cepat-cepat sebelum kami mengubah keputusan kami.”
Sasterawan itu mengangkat muka, menyapu mereka semua dengan pandang matanya, mengembangkan kipasnya dan mengebut-ngebutkan kipas untuk mengusir kegerahan, kemudian
6
dia berkata, suaranya masih lembut namun kini mengandung kesungguhan.
“Nanti dulu! Sebelum aku memenuhi semua permintaanmu, katakan dulu apakah kalian ini anak buah dari Thai-san Ngo-kwi (Lima Iblis Thai-san)?”
Sebelas orang itu saling pandang, dan si codet segera melangkah maju mendekat dan membentak. “Mengapa engkau menanyakan Thai-san Ngo-kwi?”
Sastrawan itu tersenyum. “Tidak apa-apa, hanya kalau kalian ini anak buah mereka, bawalah aku menghadap mereka karena kami adalah kenalan lama. Akan tetapi kalau kalian bukan anak buah mereka, hem, terpaksa aku harus membunuh kalian.”
Tentu saja sebelas orang itu menjadi terkejut dan juga marah bukan main mendengar ucapan yang sungguh tak pernah mereka sangka itu. Sasterawan yang tadinya mereka sangka gila itu ternyata kini malah mengancam hendak membunuh mereka semua! Biarpun mereka juga tentu saja tunduk akan kekuasaan Thai-san Ngo-kwi di wilayah pegunungan itu, namun mereka merupakan gerombolan tersendiri dan bukan anak buah lima orang kepala gerombolan itu.
“Sasterawan tua gila, berani kau main-main dengan kami? Andaikata kami anak buah mereka sekalipun, kami tidak akan sudi mengantar kau menghadap mereka. Dan kami bukan anak buah mereka. Kau hendak membunuh kami? Ha-ha-ha! Kesombonganmu ini harus kautebus dengan nyawa.......!”
7
Si codet mengangkat goloknya ke atas dan menerjang maju, membacokkan goloknya ke arah sasterawan itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia berteriak keras dan terjengkang, terbanting keras dan berkelonjotan sekarat karena tenggorokannya telah dimasuki sebatang jarum yang tadi tanpa dapat di lihat mata telah melesat keluar dari ujung gagang kipas yang dikebut-kebutkan!
Sepuluh orang anak buahnya terkejut dan marah sekali. Mereka semua menggerakkan golok dan mengepung, lalu menyerang dari segala jurusan. Namun, sasterawan itu hanya menggerakkan kipasnya beberapa kali dan sepuluh orang itupun menjerit dan roboh satu demi satu, semuanya roboh berkelonjotan dan tewas!
Sasterawan berpakaian putih itu tersenyum mengejek, mengebut-ngebutkan ujung lengan baju dan menggunakan tangannya mengebut jubah depan, yang agak kotor terkena debu, kemudian tanpa menoleh lagi dia melanjutkan pendakiannya seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
Siapakah sasterawan tua yang begitu lihai dan berdarah dingin sehingga dalam sekejap mata saja dia mampu membunuh sebelas orang penjahat seperti orang membunuh semut saja? Kalau sebelas orang itu mengetahui siapa dia, tentu mereka tidak akan berani berlagak hendak merampoknya.
Sasterawan itu adalah seorang datuk besar dunia persilatan, seorang tokoh besar kaum sesat yang termasuk seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua). Tak seorangpun tahu siapa namanya, hanya mengenal julukannya saja, yaitu Kim Pit Siu-cai (Sasterawan Pena Emas) karena dia selalu
8
mempergunakan pena emas untuk menulis dan juga untuk membunuh lawan yang lihai.
Datuk sesat berusia enampuluh tahun yang bertubuh tinggi kurus ini sebenarnya sudah lama sekali tidak pernah melakukan aksi di dunia kang-ouw, dan agaknya dia hendak menikmati sisa hidup di masa tua dengan ketenangan karena dia sudah kaya raya. Oleh karena itu, kalau sekarang dia turun ke dunia ramai, tentu ada sesuatu yang amat penting dan dapat diramalkan bahwa setelah datuk ini turun gunung tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan. Dan ini terbukti di hutan itu, di mana dia membunuh sebelas orang seenaknya saja!
Kim Pit Siu-cai selama bertahun-tahun ini seperti bersembunyi saja di rumahnya yang besar, di lereng sebuah bukit di pantai timur, dan memang sekali ini, dia mendaki Thai-san membawa kepentingan besar yang akan menggegerkan dunia kang-ouw.
◄Y►
Pada hari itu juga, ketika Kim Pit Siu-cai mendaki bukit dari selatan bagian timur, dari arah selatan melalui daerah yang terpisah sepuluh lie saja dari jalan yang ditempuh Kim Pit Siu-cai, nampak seorang wanita yang juga mendaki bukit pertama Pegunungan Thai-san.
Pagi-pagi sekali, wanita itu memasuki dusun terakhir di lereng bukit sebelah bawah, sebuah dusun yang hanya mempunyai limabelas rumah, yaitu rumah keluarga para pemburu. Begitu ia memasuki dusun itu, terdengar tangis seorang bayi dan ternyata wanita itu memondong seorang bayi yang usianya paling banyak
9
tiga bulan. Bayi yang gemuk dan kulitnya masih tipis kemerahan, seorang bayi perempuan yang sehat dan mungil.
“Diamlah, sayang, diamlah. Ibu sayang kepadamu, manis. Diamlah, sayang dan jangan menangis......” katanya dengan suara merdu dan seperti bernyanyi, dan ia mengayun-ayun bayi itu dalam pondongannya.
Kalau melihat keadaan wanita itu, tidak mungkin ia ibu anak itu. Wanita itu sedikitnya berusia limapuluh tahun, atau tentu lebih hanya nampak baru limapuluh tahun karena ia pesolek. Bentuk tubuhnya masih ramping dan wajahnya masih nampak cantik karena ia memakai bedak, pemerah bibir dan pipi, penghitam alis dan tepi mata, rambutnya hanya sedikit terhias uban, dan di sisir rapi, di gelung ke atas.
Pakaiannyapun indah seperti pakaian wanita hartawan atau bangsawan. Sedangkan bayi perempuan itu, walaupun sehat gemuk dan mungil, akan tetapi mengenakan pakaian lusuh dari kain kasar, seperti biasa anak-anak dusun dari orang tua miskin.
Biarpun diayun-ayun, bayi itu tetap menangis. “Diamlah, sayang, apakah engkau lapar? Haus? Ibumu juga haus, sayang,” katanya dan wanita itu melihat sebuah bangku di depan pekarangan rumah kecil. Ia memasuki pekarangan dan duduk di atas bangku itu. Bayi itu dipondongnya, lalu diciuminya, dahinya, kedua pipinya, lehernya dan sampai lama ia membenamkan mukanya di leher bayi itu, yang baunya sedap. Anehnya, bayi itu segera berhenti menangis, berhenti meronta!
10
Daun pintu rumah kecil itu terbuka dan seorang ibu petani, isteri pemburu yang tinggal di situ, keluar sambil menggendong anaknya. Ia menggendong sambil menyusui bayinya dan keluar karena tertarik oleh tangis bayi tadi.
“Syukurlah anak itu sudah diam,” kata ibu itu sambil mendekat dan melihat pakaian wanita itu, ia terbelalak heran. “Eh, nyonya...... dari manakah?” Belum pernah ia melihat wanita memakai pakaian seindah itu, dan rambut wanita itupun di gelung secara indah dan dihias emas permata.
Wanita itu masih membenamkan mukanya di leher anak yang kini terdiam, dan ia hanya mengangkat mukanya sedikit sehingga nampak hanya sepasang mata ke atas. Ketika melihat seorang wanita muda menyusui seorang bayi yang montok, matanya bersinar-sinar.
Wanita yang masih menyembunyikan mukanya di leher bayinya dengan sikap penuh kasih sayang itu, tanpa memperlihatkan muka, berkata, “Engkau masih menyusui? Tolonglah kaususui bayiku ini......”
Wanita itu mencabut payudaranya dari mulut anaknya yang sudah kenyang dan dengan lapang hati ia bersedia untuk menyusui bayi orang lain.
“Baiklah, mari saya susui anak itu......”
Ucapanya terhenti dan ia terbelalak memandang kepada wajah cantik yang kini sudah diangkat dari leher anak itu. Wajah yang cantik, dengan perhiasan anting-anting dan kalung yang mewah,
11
akan tetapi wajah yang pantasnya menjadi nenek dari bayi itu. Bukan ini yang membuat isteri pemburu itu terbelalak, akan tetapi juga sinar mata yang tajam menusuk dan noda merah berlepotan sedikit pada ujung bibir.
“Nah, susuilah anakku, dan mana kugendongkan dulu anakmu itu,” kata si wanita cantik.
Isteri pemburu menggeleng kepala, akan tetapi karena ia tadi sudah menyatakan setuju, iapun tidak melawan ketika anaknya diraih dari gendongannya dan sebagai gantinya, ia memondong bayi dari tangan wanita cantik itu.
“Aduh montoknya......! Sayang, engkau manis sekali, hemm, tentu belum tiga bulan anak ini. Mari ikut ibu, sayang......” Wanita cantik itu mencumbu bayi montok itu.
Di lain pihak, isteri pemburu yang payudaranya masih menetes-netes air susu dan siap hendak menyusui bayi yang dipondongnya, terbelalak ketika melihat keadaan bayi itu. Seorang bayi perempuan yang badannya montok sehat, akan tetapi ketika ia memandangnya, muka bayi itu pucat seperti kertas, bahkan kebiruan, matanya mendelik dari lehernya yang mulus itu berlepotan darah, napasnya tinggal satu-satu!
Ia menjerit. “Iiihhh...... anak ini......!”
Ia mengangkat muka dan melihat betapa wanita cantik itu melenggang santai meninggalkan tempat itu, keluar dari pekarangan rumahnya.
12
“Heiiiii...... tidak....., tidaaaaak.......! Kembalikan anakku......!” Ia mengejar keluar.
Mendadak wanita cantik itu membalikkan tubuhnya, matanya mencorong akan tetapi mulutnya tersenyum dan ketika ia menyeringai itu, nampak sebelah dalam bibirnya masih berlepotan darah, juga sebagian giginya!
“Kita tukar saja, bayi ini untukku dan bayi itu untukmu.”
“Tidak! Kembalikan anakku! Kembalikan...... tolooonggg......!” Isteri pemburu yang sudah ngeri ketakutan itu menjerit minta tolong.
Seorang laki-laki yang bertubuh tegap meloncat keluar dari dalam rumah itu. Dia adalah suami wanita yang mempunyai anak tadi. Dia heran mendengar jeritan isterinya dan ketika keluar, ia melihat isterinya mengejar seorang wanita cantik. Wanita itu membalik dan nampak tangannya bergerak dan tiba-tiba dia melihat isterinya terjungkal dan roboh dengan bayi masih dalam pondongannya.
“Heiiii......!” Pemburu itu meloncat dengan kaget dan marah.
Ketika dekat dengan isterinya, ia berlutut dan dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat isterinya sudah rebah dengan mata mendelik dan nyawa putus! Dan bayi dalam pondongannya yang pucat sekali itu bukanlah anaknya. Pantas isterinya tadi berteriak minta dikembalikan anaknya. Isterinya dibunuh wanita cantik itu dan tentu anaknya yang kini dibawa pergi wanita itu.
13
Tangis bayi menyadarkan dan dia menoleh, memandang wanita berpakaian serba merah yang cantik dan bertubuh ramping itu. Wanita itu menimang-nimang bayinya sambil melangkah pergi.
“Diamlah, sayang, diamlah...... ibu sayang padamu......”
“Heiii, tunggu......!!” Pemburu itu bangkit dan lari mengejar, lalu menghadang di depan wanita itu yang menghentikan langkahnya.
“Engkau siluman! Kenapa kaubunuh isteriku? Dan itu anakku, kembalikan!” bentak si pemburu dengan marah sekali.
Wanita itu mengangkat muka memandang kepadanya, tersenyum mengejek. “Minggirlah kalau engkau tidak ingin menyusul isterimu.”
Tentu saja pemburu itu marah bukan main. “Siluman jahat!” bentaknya dan diapun menerjang maju sambil mengangkat tangan kanannya ke atas lalu menghantam ke arah kepala wanita cantik itu.
Dengan tenang saja, wajahnya masih tersenyum wanita itu menyambut tangan si pemburu dengan tangan kirinya. Begitu pergelangan tangan kanan pemburu itu dapat ditangkapnya, si pemburu mengaduh kesakitan. Seluruh otot pergelangan tangan dan tulang-tulangnya seperti putus-putus dan patah-patah. Tiba-tiba tangan kecil halus yang menangkap pergelangan tangan kanan itu lepas dan sebuah tamparan tangan itu menyambar ke arah dahi si pemburu.
14
“Plakk!” Pemburu itu mengeluh dan terpelanting roboh, berkelojotan dan tewas!
Anak bayi itu masih menangis dan wanita itu mendekapnya sambil menimang-nimang, “Diamlah sayang...... diamlah anakku......” dan iapun melangkah pergi dengan tenang.
Para tetangga mendengar teriakan-teriakan dan tangis bayi itu. Lima orang pemburu menghambur keluar dari rumah masing-masing dan lari ke rumah pemburu yang tewas.
Ketika melihat pemburu dan isterinya menggeletak tak bergerak di pekarangan rumah mereka, lima orang pemburu itu segera dapat menduga apa yang terjadi. Mereka melihat sahabat mereka dan isterinya tewas, dan seorang wanita cantik meninggalkan pekarangan rumah itu sambil memondong seorang bayi yang menangis! Tentu wanita itu telah menculik bayi mereka dan membunuh suami isteri itu!!
“Heiii...... tunggu......!!”
“Berhenti......!!”
Sambil berteriak-teriak, lima orang pemburu itu berlari mengejar wanita itu sambil mencabut golok mereka dan tak lama kemudian, mereka telah dapat menyusul dan menghadangnya, mengepung setengah lingkaran dengan sikap mengancam. Wanita itu telah tiba di tepi hutan di luar dusun dan kini ia mengangkat mukanya, memandang kepada lima orang pemburu yang marah itu dengan bibir tersenyum.
15
“Kalian mau apa? Biarkan aku pergi,” kata wanita itu dengan suara lembut.
“Engkau membunuh seorang kawanku dan isterinya, dan menculik putera mereka?”
Wanita itu tersenyum dan mengangguk dengan sikap seorang yang tidak merasa bersalah sedikit pun.
“Engkau membunuh dan menculik dan mau pergi begitu saja?”
“Habis kalian mau apa? Jangan mencampuri urusanku kalau kalian tidak ingin menyusul dua orang itu.”
Mendengar ancaman itu, lima orang pemburu itu semakin marah. Tahulah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita iblis yang amat aneh dan kejam, seorang penculik bayi dan pembunuh.
“Serahkan bayi itu dan menyerahlah, kalau tidak ingin kami bunuh!” bentak mereka.
“Hemm, aku tidak banyak waktu untuk melayani kalian. Membunuh kalianpun tidak ada harganya!” kata wanita itu dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah meloncat jauh dan tiba di hutan itu.
Pada saat itu, dua orang pemburu lain keluar dari dalam hutan karena mereka baru saja pulang memasang jerat. Melihat lima orang rekan mereka mengejar seorang wanita cantik yang memondong bayi, mereka tahu bahwa pasti ada sesuatu yang
16
tidak beres dengan wanita itu dan merekapun menghadang di depan wanita itu sambil melintangkan tombak mereka.
“Berhenti dulu!” seru mereka.
Melihat dua orang kawan mereka, lima orang itu berteriak-teriak. “Iblis wanita itu telah membunuh A-ciu dan isterinya dan menculik anak mereka!”
Dua orang pemburu yang memegang tombak itu terkejut bukan main dan tentu saja mereka sudah melintangkan tombak dan mengancam sehingga wanita itu kini berhenti lagi. Akan tetapi ia masih tersenyum-senyum ketika akhirnya lima orang pengejarnya tadi tiba di situ dan tujuh orang pemburu mengepungnya dengan senjata di tangan dan sikap bengis mengancam.
“Agaknya kalian memang sudah bosan hidup,” katanya santai saja.
“Engkau yang bosan hidup, iblis betina jahat!” bentak seorang pemburu termuda yang sudah tak dapat menahan kemarahannya. Dari belakang wanita itu, dia membacokkan goloknya ke arah kepalanya.
Wanita itu nampaknya tidak tahu bahwa dirinya diserang dari belakang, akan tetapi begitu golok menyambar dekat kepalanya dari atas, tubuhnya tiba-tiba miring dan berputar, dan begitu golok lewat menyambar di pinggir tubuhnya, tangan kanannya bergerak menampar, jari-jari tangannya mengenai pelipis penyerang itu dan diapun roboh terpelanting dan berkelojotan sekarat! Wanita itu tersenyum, tangan kirinya memondong dan mendekap bayi
17
yang masih menangis, dan menghadapi enam orang pemburu yang lain dengan tangan kanan yang kosong saja.
Enam orang pemburu sudah menyerangnya dari segala jurusan. Namun, tubuh wanita berpakaian merah itu sungguh gesit bukan main. Bagaikan seekor burung merah, tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar golok dan tombak, menyelinap dan tak pernah ada senjata mampu menyentuh ujung, baju atau ujung rambutnya.
Sambil berkelebatan, tangan kanannya membagi-bagi tamparan dan setiap kali ada pemburu yang kena ditampar, tentu terpelanting roboh dan tidak dapat bangkit kembali karena tewas seketika. Dalam waktu beberapa gebrakan saja, tujuh orar;g pemburu itu sudah roboh semua. Tewas!
Dan wanita itu berlenggang memasuki hutan, mendaki bukit. Sebentar saja lenyap ditelan pohon-pohon, dan hanya tangis bayi itu saja yang menjadi petunjuk ke arah mana ia pergi.
Tujuh orang pemburu yang lain datang mengejar dari perkampungan mereka. Mereka itu terkejut bukan main melihat mayat kawan-kawan mereka berserakan. Dengan hati gentar mereka mencoba untuk mengikuti jejak wanita itu dan akhirnya mereka menemukan bayi putera rekan mereka yang tadi diculik. Bayi itu telah tewas dengan leher terluka bekas gigitan dan hisapan!
Gegerlah mereka dan dengan hati duka, marah dan juga takut mereka mengurus jenazah rekan-rekan mereka. Tahulah para pemburu itu bahwa wanita baju merah itu tentu seorang iblis
18
betina, seorang wanita yang melatih ilmu sesat dan mengorbankan nyawa dan darah anak-anak bayi. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena maklum bahwa mereka bukanlah lawan iblis betina itu, apa lagi iblis itu lenyap tanpa meninggalkan bekas lagi.
Para pemburu itu menduga benar. Wanita yang nampak cantik pesolek itu memang seorang iblis betina, seorang datuk sesat yang namanya pernah menggegerkan dunia kang-ouw di selatan. Ia berjuluk indah sekali, yaitu Ang I Sian-li (Dewi baju merah), seolah-olah ia seorang dewi yang selain cantik jelita juga berwatak mulia!
Pada hal, ia seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua) yang tersohor itu, dan kejamnya tidak kalah oleh rekan-rekannya. Ia juga hidup kaya raya di pegunungan selatan, dan sudah lama tidak pernah muncul di dunia kang-ouw. Kini, begitu muncul, ia telah memperlihatkan kekejaman yang mendirikan bulu roma, hanya untuk memuaskan “kehausan” akan darah bayi untuk memperkuat ilmunya!
◄Y►
Thai-san Ngo-kwi adalah lima orang tokoh kang-ouw yang sudah lama berkuasa di sekitar Pegunungan Thai-san, mengepalai para penjahat yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang! Pekerjaan mereka adalah menguasai jalan-jalan dan dusun-dusun di sekitar pegunungan itu. Kalau ada orang lewat di jalan yang mereka kuasai, maka orang lewat itu harus membayar pajak, kalau tidak ingin disiksa atau dibunuh.
19
Dan para kepala dusun juga membayar pajak kepada mereka kalau tidak ingin dusunnya diobrak-abrik. Dari hasil pemerasan dan perampokan inilah mereka hidup, bahkan Thai-san Ngo-kwi dapat hidup cukup mewah karena di beberapa kota di kaki gunung itu, mereka juga menguasai rumah-rumah judi dan rumah-rumah pelesir.
Mereka sendiri selalu tinggal di sarang mereka, di puncak Bukit Hitam, yaitu satu di antara puluhan buah bukit di Pegunungan Thai-san. Di puncak Bukit Hitam itu terdapat perkampungan mereka, dan di tengah-tengah berdiri bangunan besar yang cukup mewah, tempat tinggal Thai-san Ngo-kwi yang tidak pernah berkeluarga itu.
Bangunan ini dikelilingi bangunan-bangunan lain yang menjadi tempat tinggal anak buah mereka yang jumlahnya seratus orang lebih. Juga tidak seorangpun di antara anggauta mereka itu diperbolehkan berkeluarga. Perkampungan para penjahat itu dikelilingi pagar tembok yang tebal dan tinggi, seperti sebuah benteng saja, dan di pintu gerbang siang malam selalu dijaga!
Thai-san Ngo-kwi merupakan lima orang bersaudara seperguruan dan mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi dan kuat. Usia mereka dari tigapuluh lima sampai empatpuluh lima tahun dan mereka itu dikenal dari yang pertama sampai yang ke lima sebagai Thai-kwi (Setan Pertama), Ji-kwi (Setan Kedua), Sam-kwi (Setan Ketiga), Su-kwi (Setan Keempat) dan Ngo-kwi (Setan Kelima).
20
Selain lima orang yang memiliki ilmu silat dahsyat dan kuat itu, juga anak buah mereka yang jumlahnya banyak merupakan suatu kekuatan yang disegani lawan. Karena itu, Thai-san Ngo-kwi dapat merajalela tanpa ada yang berani menentang mereka.
Pada pagi hari itu, hari yang istimewa di mana terjadi hal-hal menyeramkan di kaki pegunungan sebelah selatan karena munculnya Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li, di sarang gerombolan penjahat itupun terjadi hal yang aneh. Matahari telah naik agak tinggi, telah mengusir embun dan hawa dingin sehingga belasan orang anak buah gerombolan yang berjaga di pintu gerbang, tidak lagi kedinginan.
Api unggun sudah dipadamkan dan mereka duduk berjemur di bawah sinar matahari pagi yang hangat lembut sambil bercakap-cakap. Pintu gerbang sudah sejak tadi dibuka dan para anggauta gerombolan sudah berlalu lalang keluar masuk.
Tiba-tiba para penjaga itu memandang keluar dan belasan orang itu segera bangkit berdiri dan menghadang di pintu gerbang, memandang kepada seorang pria yang entah dari mana datangnya, tahu-tahu telah berada di depan pintu gerbang itu. Hal ini sungguh merupakan suatu keanehan.
Bagaimana mungkin ada orang dapat sampai ke pintu gerbang itu? Pada hal, di bawah bukit sana terdapat banyak anak buah gerombolan dan orang ini pasti telah dihadang sebelum dapat tiba di pintu gerbang! Ataukah orang ini mengambil jalan melalui hutan-hutan dan sengaja bersembunyi, menyelundup sampai ke situ.
21
“Heii, orang tua! Siapa engkau dan mau apa engkau datang ke sini?” bentak seorang anggauta gerombolan yang mukanya bopeng bekas cacar. “Hayo cepat pergi dari sini kalau tidak ingin kupenggal batang lehermu!”
“Tidak, dia harus berlutut dan minta-minta ampun, lalu kita tangkap dia dan seret dia menghadap pimpinan!” kata orang kedua yang mukanya hitam.
Kakek itu berdiri di depan mereka. Seorang kakek yang usianya enampuluh lima tahun, rambut dan kumisnya sudah putih semua, nampak tua dan ringkih, dengan pakaian yang agak kusut. Kakek ini memegang sebatang tongkat berbentuk ular.
Kalau tongkat itu dari kayu yang diukir, maka sungguh pandai pengukirnya karena mirip ular benar-benar. Gagangnya menjadi kepala ular dan ujungnya menjadi ekor ular.
Ketika dua orang anggauta gerombolan itu mengeluarkan ucapan kasar dan menghina kepadanya, kakek itu memandang kepada mereka dengan sinar mata mencorong, dan beberapa kali, secara aneh sekali, lidah kakek itu menjilat bibir sendiri dengan gerakan cepat, mengingatkan orang akan kebiasaan seekor ular yang suka menjilat bibir dengan lidah secara cepat. Lidah itu hanya nampak sekejap saja, menjulur ke luar dan lenyap lagi ke balik bibir.
Si bopeng dan si muka hitam kini melangkah lebar menghampiri kakek itu.
22
“Kami tidak menyukai matamu itu! Hayo cepat berlutut dan minta ampun sebelum kami congkel keluar kedua mata setanmu itu!” bentak pula si bopeng, dan kedua orang itu sudah mengangkat golok mereka mengancam dengan sikap bengis. Kawan-kawan mereka hanya menonton saja karena mereka tidak memperdulikan seorang kakek yang tidak mengesankan itu.
Setelah memandang kepada dua orang itu dengan mata mencorong, kakek itu yang berdiri bersandar pada tongkatnya, berkata lirih. “Heeemmm, Thai-san Ngo-kwi memelihara dua ekor anjing buduk yang tidak ada gunanya ini, sungguh merugikan saja!”
Mendengar ucapan kakek itu, si bopeng dan si muka hitam tentu saja menjadi marah bukan main. Orang ini malah berani memaki mereka sebagai dua ekor anjing buduk!
“Tua bangka yang bosan hidup! Kucincang kau!” bentak si muka bopeng sambil mengayun goloknya.
“Buntungi kaki tangannya, penggal lehernya!” teriak si muka hitam yang juga sudah menyerangnya. Dua orang anak buah gerombolan ini memang sudah terbiasa menggunakan kekerasan atau membunuh orang tanpa alasan yang kuat.
Akan tetapi kakek itu agaknya sama sekali tidak perduli akan serangan dua orang kasar itu. Kembali lidahnya mencuat keluar lalu masuk kembali, dan kini mulutnya menyeringai dan mengeluarkan suara mendesis. Uap keabuan menyambar keluar, tersembur dari mulut yang menyeringai itu dan mengenai muka si bopeng dan si muka hitam. Mereka itu terhuyung, golok mereka
23
terlepas, lalu terpelanting roboh, berkelojotan dan tewas dengan muka berubah merah melepuh!
Para penjaga lainnya terkejut dan mereka berteriak-teriak marah. Mendengar teriakan mereka, para anggauta gerombolan yang berada di dalam dan di luar pintu gerbang, datang berlarian dan mereka semua marah melihat betapa dua orang rekan mereka tewas oleh seorang kakek asing. Kini puluhan orang anggauta gerombolan itu mengepung si kakek dengan senjata di tangan, agaknya siap untuk menghancurkan tubuh kakek itu dengan pengeroyokan mereka.
“Bunuh tua bangka ini!”
“Siapakah engkau yang lancang berani mengacau di sini?” bentak yang lain.
Akan tetapi karena semua orang sudah marah dan siap menyerang, kakek itu tidak menjawab, melainkan mengangkat tongkatnya dan menempelkan gagang tongkat itu ke mulutnya. Ketika dia mengembungkan kedua pipinya, terdengarlah suara menggetar lirih dan tinggi, hampir tidak terdengar dan yang terdengar hanya suara desis mengerikan.
Suara ini memanjang, berhenti sebentar, mulai lagi, dan karena semua orang tidak tahu apa artinya ini, perbuatan dan sikap kakek itu membuat mereka sejenak tertegun dan tidak melanjutkan serangan mereka. Akan tetapi, karena tidak terjadi apa-apa, mereka menganggap kakek itu hanya berlagak saja.
“Bunuh dia!”
24
“Tidak, tangkap dan hadapkan pimpinan!”
“Siksa dia yang telah membunuh dua orang kawan kita!”
Kini puluhan buah senjata tajam, golok, pedang dan tombak, menyambar-nyambar dengan mengancam di sekeliling kakek itu. Namun dia tetap tenang saja dan tiba-tiba, sekali tubuhnya bergerak, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kakek itu sudah lenyap dari dalam kepungan puluhan orang itu! Tentu saja semua orang terkejut dan ketika mereka mencari-cari, ternyata kakek itu telah berdiri jauh di luar kepungan, di luar pintu gerbang dalam jarak limapuluh meter!
Melihat ini, semua orang menyerbu keluar untuk mengejar dan menyerang kakek itu. Akan tetapi kakek itu sama sekali tidak melarikan diri, bahkan menghadapi para penyerbu sambil mengangkat-angkat tongkatnya, dan kadang-kadang meniup gagang tongkat yang berbentuk kepala ular itu.
Setelah tiba dekat pria itu, semua orang terbelalak dan serbuan mereka terhenti tiba-tiba. Mereka memandang ke atas tanah dan melihat betapa di depan dan kanan kiri kakek itu, nampak ratusan ekor ular merayap di atas tanah, berlenggang-lenggok menyerbu ke arah mereka! Kakek itu, ternyata dapat memanggil barisan ular dan menggerakkan barisan ular itu untuk menghadapi para anak buah gerombolan!
Biarpun hati mereka merasa ngeri melihat munculnya banyak sekali ular itu, namun anak buah gerombolan penjahat itu tentu saja tidak takut terhadap ular, apa lagi banyak di antara ular-ular itu kecil saja, sebesar ibu jari kaki dan yang paling besar sebetis
25
orang. Mereka menggerakkan senjata dan menyambut ular-ular itu dengan serangan!
Beberapa ekor ular terbabat senjata tajam dan mati, akan tetapi segera terdengar teriakan-teriakan ketika beberapa orang anak buah gerombolan terkena gigitan ular-ular yang seperti nekat itu. Dan ternyata bahwa ular-ular itu sebagian besar adalah ular beracun!
Dalam waktu singkat saja, ada puluhan ular mati, akan tetapi juga ada limabelas orang anak buah gerombolan bergulingan sambil merintih-rintih kesakitan karena kaki mereka digigit ular berbisa!
Keadaan menjadi geger dan pada saat itu muncullah lima orang yang sikapnya gagah dan berpengaruh. “Tahan senjata, semua mundur......!”
Teriakan itu berpengaruh dan semua anak buah gerombolan segera mundur sambil menyeret limabelas orang rekan yang terluka.
Lima orang itu adalah Thai-san Ngo-kwi yang segera berlari keluar ketika mendengar bahwa ada seorang kakek dengan barisan ular mengamuk. Mereka kini melangkah maju dan memberi hormat kepada kakek itu. Thai-kwi, orang pertama yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam, segera berseru dengan suara girang.
“Kiranya su-pek (uwa guru) yang datang!”
“Selamat datang, supek!” kata empat orang adik seperguruannya.
26
Kakek itu meniup tongkat ularnya dan semua ular kini lari keluar menuju ke hutan dan rumpun alang-alang tak jauh dari situ. Kakek itu tertawa bergelak.
“Ha-ha-ha-ha, kalian sudah mengangkat nama! Thai-san Ngo-kwi amat terkenal, akan tetapi sayang, anak buahmu kurang teratur sehingga akan melemahkan kedudukan kalian!”
Lima orang itu memandang ke arah dua orang anak buah mereka yang tewas, dan limabelas orang anak buah yang lain merintih-rintih karena kesakitan. Tahulah mereka bahwa kalau tidak cepat mendapatkan obat penawar, limabelas orang anak buah itu akan tewas pula. Maka, dipimpin oleh Thai-kwi, mereka berlima menjatuhkan diri berlutut menghadap supek itu.
“Harap supek maafkan. Karena selamanya belum pernah bertemu supek, maka mereka tidak mengenalmu. Bahkan kami sendiri hampir tidak percaya supek yang datang, kalau tidak melihat sendiri. Supek, mohon kemurahan hati supek. Berilah obat penawar bagi mereka, dan di dalam nanti tee-cu (murid) berlima akan menghaturkan maaf dan perjamuan selamat datang kepada supek.”
Kakek itu menyeringai dan menggerakkan tongkat ularnya dengan sikap congkak. “Hemm, kalau bukan kalian yang minta, mereka itu tentu akan mampus dalam waktu beberapa jam lagi.”
Dia mengeluarkan sebuah buntalan kain dari dalam saku .jubahnya, mengeluarkan limabelas butir pel hitam dan menyerahkannya kepada Thai-kwi. “Suruh mereka masing-
27
masing menelan pel ini, minum air paling sedikit lima mangkok dan racun itu akan keluar dan mereka akan selamat.”
“Terima kasih, supek!” kata Thai-kwi yang segera membagi-bagi obat itu dan menyuruh anak buah yang lain mengambilkan air. Kemudian, dia dan para sutenya dengan sikap hormat mempersilakan supek mereka masuk ke dalam perkampungan itu dan langsung ke bangunan tempat tinggal mereka.
Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara wanita melengking lembut. “Heii, kamipun sudah tiba di sini!”
Semua orang menengok dan nampak dua bayangan berkelebat ke pintu gerbang itu dan Kim Pit Siu-cai dan Ang I Sian-li telah berdiri di situ dengan gagah dan anggunnya!
Kakek tukang ular itu adalah Pek-bwe Coa-ong, seorang di antara Kiu Lo-mo pula, dan yang tertua di antara mereka bertiga. Ketika dia melihat dua orang itu, dia tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya kalian sudah datang pula, tepat pada waktunya! Thai-san Ngo-kwi, cepat beri hormat. Mereka ini terhitung susiok (paman guru) dan su-kouw (bibi guru) kalian!”
Kim Pit Siu-cai mengebutkan lengan bajunya yang panjang ketika dia mengamati lima orang laki-laki gagah di depannya itu. “Jadi inikah murid-murid mendiang suheng Siauw-bin Ciu-kwi? Hem, nampaknya cukup boleh diandalkan, bukan, sumoi?” tanyanya kepada Ang I Sian-li.
Ang I Sian-li yang tadi bertemu di lereng bukit Hitam dengan suhengnya, mengangguk. “Mereka cukup gagah.”
28
Nama besar Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua) terkenal di dunia kang-ouw sebagai segerombolan datuk yang saling bantu dan orang mengira bahwa mereka adalah saudara-saudara seperguruan karena mereka saling sebut seperti kakak beradik seperguruan. Pada hal, mereka itu sama sekali tidak ada hubungan perguruan, hanya karena mereka sudah sepakat untuk saling bantu agar memperkuat dan mempertahankan nama besar mereka, maka merekapun menganggap yang lain seperti saudara sendiri. Maka, tidak aneh kalau kini mereka saling menyebut suheng, sute dan sumoi!
Seperti dikatakan Kim Pit Siu-cai tadi, Thai-san Ngo-kwi adalah murid-murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi (Iblis Arak Muka Tertawa), seorang di antara Kiu Lo-mo, maka lima orang pimpinan gerombolan di Thai-san ini masih terhitung murid-murid keponakan, walau hanya dalam sebutan saja. Kiu Lo-mo atau Sembilan Iblis Tua kini hanya tinggal tiga orang itu, Pek-bwe Coa-ong (Raja Ular Ekor Seratus), Kim Pit Siu-cai, dan Ang I Sian-li.
Ke mana lagi yang enam orang lainnya? Mereka sudah meninggal dunia, dan mereka itu adalah Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam)? Siauw-bin Ciu-kwi guru dari kelima orang kepala gerombolan itu, Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan), Tiat-thouw Kui-bo (Nenek Iblis Kepala Besi), dan dua orang kakek kembar yang dijuluki Lam-san Siang-kwi (Sepasang Iblis Bukit Selatan).
Kini, sisa dari Kiu Lo-mo yang tinggal tiga orang mengadakan pertemuan atas undangan Pek-bwe Coa-ong dan mereka memilih puncak Bukit Hitam karena di situ menjadi sarang gerombolan
29
yang dipimpin Thai-san Ngo-kwi, murid-murid keponakan mereka sendiri.
Tiga orang datuk itu dijamu oleh Thai-san go-kwi dalam sebuah pesta yang meriah. Lima orang pimpinan gerombolan itu sudah lupa sama sekali bahwa dua orang mati konyol dan limabelas orang nyaris tewas pula dari gerombolan mereka. Mereka gembira bukan main mendapatkan kunjungan tiga orang datuk itu, suatu hal yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka.
Setelah kenyang makan minum, dan melihat betapa tiga orang datuk itu nampak gembira dan puas, Thai-kwi yang menjadi orang tertua dari Thai-san Ngo-kwi, mengangkat cawan arak menghaturkan selamat datang kepada mereka bertiga, kemudian berkata dengan suara lantang dan gembira.
“Teecu berlima merasa gembira sekali dan mendapat kehormatan besar yang tidak kami sangka-sangka dengan kunjungan supek, susiok dan su-kouw ke tempat kami. Teecu merasa yakin bahwa kunjungan sam-wi (anda bertiga) tentu bukan sekedar melancong, pasti membawa hal yang teramat penting. Kalau boleh teecu mengetahui, angin apakah yang meniup sam-wi datang berkunjung ini?”
Pek-bwe Coa-ong yang tadinya nampak gembira tertawa-tawa, kini memandang serius kepada lima orang murid keponakannya. Kemudian, menjawab pertanyaan Thai-kwi, dia berbalik bertanya.
“Apakah kalian berlima masih ingat, berapa lama sudah guru kalian, Siauw-bin Ciu-kwi meninggal dunia?”
30
Lima orang itu memandang heran mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. “Kurang lebih sudah empat tahun, supek,” kata seorang di antara mereka.
“Dan kalian masih ingat bagaimana matinya guru kalian? Siapa pembunuh guru kalian itu?”
Kini Thai-kwi yang menjawab karena para sutenya nampak gentar menghadapi sikap supek yang berubah galak itu. “Tentu saja teecu masih ingat supek. Pembunuhnya adalah Pek-liong-eng dan Hek-liong-li.”
Tiba-tiba supek itu menggebrak meja sehingga mangkok-mangkok berloncatan ke atas. “Bagus! Murid-murid macam apa kalian ini? Tahu guru kalian dibunuh dua orang itu, dan kalian enak-enak saja di sini membuat nama besar, menumpuk harta, sama sekali tidak berusaha untuk membalas kematian guru!”
Lima orang kepala gerombolan itu saling pandang dan nampak pucat, akan tetapi Thai-kwi segera menjawab. “Supek tentu mengetahui jelas mengapa teecu berlima tidak berusaha membalas dendam. Tentu saja kami juga menaruh dendam sakit hati terhadap Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) dan Hek-liong-li ('wanita Naga Hitam).
“Akan tetapi, kami tidak berdaya. Sedangkan mendiang suhu saja kalah oleh mereka, bagaimana mungkin kami dapat membalas dendam? Sebelum kami berhasil membalas dendam, tentu mereka berdua sudah membunuh kami! Kepandaian dua orang pendekar itu setinggi langit, teecu berlima sama sekali bukan lawan mereka. Bahkan baru satu-dua tahun yang lalu, paman
31
guru Lam-hai Mo-ong dan bibi guru Tiat-thouw Kui-bo di istana kerajaan juga menjadi korban kelihaian Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Kalau mereka berdua saja tewas di tangan dua orang pendekar itu, apa yang dapat kami lakukan?”
Pek-bwe Coa-ong mengepal tinju. “Itulah yang membuat hatiku sakit bukan main! Pek-liong-eng dan Hek-liong-li itu agaknya hendak memusuhi kita Kiu Lo-mo! Pertama kali, mereka membunuh suheng Hek-sim Lo-mo, kemudian membunuh Siauw-bin Ciu-kwi dan paling akhir, membunuh Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo. Empat orang di antara Lo-mo telah mereka bunuh! Kalau kita tidak cepat turun tangan membalas dendam, tunggu kapan lagi!”
Ang I Sian-li mengangguk-angguk. “Suheng benar. Dua orang muda sombong itu telah membunuh empat orang saudara kita. Sayang bahwa dua saudara kembar kita Lam-san Siang-kwi juga tewas di dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah di daerah selatan. Di antara Kiu Lo-mo, tinggal kita bertiga. Sekaranglah saatnya kita membalas dendam!”
“Aku setuju!” kata Kim Pit Siu-cai dengan suaranya yang lembut. “Kalau kita bertiga menyatukan tenaga, ditambah dengan bantuan Thai-san Ngo-kwi dan anak buah mereka, tentu kita akan berhasil membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!”
Mendengar ucapan tiga orang datuk itu dan melihat sikap mereka, timbul keberanian dan kegembiraan dalam hati Thai-san Ngo-kwi. Mereka bersemangat lagi untuk membalas kematian
32
para datuk itu. “Teecu sekalian siap untuk membantu sam-wi menghancurkan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!” kata mereka serempak.
“Bagus! Kalau begitu, tidak percuma kalian menerima ilmu dari mendiang guru kalian,” kata Pek-bwe Coa-ong. “Aku memang sengaja mengundang susiok dan su-kouw kalian, agar hari ini kami mengadakan pertemuan di sini. Kami membutuhkan bantuan banyak orang, dan hanya anak buah kalian yang dapat kami percaya.
“Akan tetapi, mulai sekarang, mereka harus diperintah dengan tangan besi agar tidak sembarangan dan tidak boleh bertindak sendiri-sendiri seperti ketika aku datang tadi. Mulai sekarang, kalian berlima dan anak buah kalian harus mentaati semua siasat yang akan kami rencanakan. Menghadapi dua orang macam Pek-liong-eng dan Hek-liong-li tidak bisa dilawan dengan kekuatan dan kekasaran semata. Harus menggunakan siasat yang matang.”
“Supek, kami juga pernah menyelidiki keadaan mereka untuk mencari tahu dan untuk melihat kemungkinan kami membalas dendam. Akan tetapi apa yang kami dapatkan tentang mereka membuat kami jerih dan tidak berani turun tangan karena hal itu sama saja dengan membunuh diri,” kata pula Thai-kwi.
“Ceritakan, apa yang kauketahui dari penyelidikanmu itu?” tanya Kim Pit Siu-cai.
“Pek-liong-eng bernama Tan Cin Hay, kini berusia tigapuluhan tahun dan dia tinggal di dusun Pat-kwa-bun di dekat Telaga See-
33
ouw di Hang-kouw. Dia tinggal menyendiri di dalam rumahnya yang besar dan kokoh kuat, bersama enam orang pelayan pria yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh sekali. Selain Pek-liong-eng sendiri sakti dan enam orang pelayannya lihai, juga rumahnya yang kokoh kuat itu lebih sukar diserbu dari pada sebuah benteng! Rumah itu penuh dengan jebakan-jebakan rahasia yang amat berbahaya.”
“Hemm, dan bagaimana dengan Hek-liong-li ?” tanya Ang I Sian-li.
“Kami juga sudah melakukan penyelidikan terhadap wanita itu. Hek-liong-li bernama Lie Kim Cu. Ia amat cantik dan tinggal menyendiri pula di kota Lok-yang, di sebelah ujung barat. Seperti juga rumah Pek-liong-eng, rumah wanita itu kokoh kuat dan sukar ditembus, penuh alat-alat rahasia, jebakan maut, dan selain wanita sakti itu yang sukar dikalahkan, ia masih dibantu sembilan orang gadis pelayan yang rata-rata memiliki ilmu silat yang lihai.”
Pek-bwe Coa-ong mengangguk-angguk. “Bagus laporanmu itu menunjukkan bahwa kalian memang selama ini tidak tinggal diam dan sudah menyelidiki keadaan dua orang musuh besar itu. Kita harus mengatur siasat dan tidak putus asa dengan kenyataan tentang kekuatan mereka itu. Kita harus dapat menghancurkan mereka, dan kita dapat menggunakan siasat melalui sahabat-sahabat mereka.
“Sian-li, bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang kematian Lam-hai Mo-ong dan Tiat-thouw Kui-bo? Siapa saja
34
sahabat-sahabat baik Pek-liong-eng dan Hek-liong-li yang patut masuk catatan kita?”
“Sudah kuselidiki, suheng. Aku tidak melibatkan para pangeran, apa lagi keluarga kaisar. Akan tetapi, jelas bahwa dua orang musuh besar kita itu bekerja sama dengan dua orang yang kemudian menjadi sahabat baik mereka. Bahkan kini, dua orang itu telah menjadi suami isteri! Mereka adalah Cian Hui atau Cian Ciang-kun yang bekerja sebagai penyelidik, sedangkan orang kedua yang kini menjadi isterinya bernama Cu Sui In, keponakan Ciok Taijin.”
“Hemm, yang pria seorang panglima dan yang wanita keponakan seorang pembesar kota raja?” Pek-bwe Coa-ong mengerutkan alisnya.
“Benar, akan tetapi mereka bukan kerabat istana, dan orang yang bernama Cian Hui itu sudah banyak mencelakakan kawan-kawan di dunia kang-ouw. Sudah kuselidiki ilmu kepandaian silat suami isteri itu.
“Suami itu ilmu silatnya tidak perlu dikhawatirkan, akan tetapi dia cerdik bukan main. Dan sang isteri lebih lihai dari suaminya karena ia murid Kun-lun-pai. Akan tetapi juga tidak perlu dikhawatirkan karena tingkat kepandaiannya tidak lebih tinggi dari pada tingkat seorang di antara Thai-san Ngo-kwi ini.” Wanita cantik baju merah itu mengakhiri keterangannya.
“Kalau begitu, tidak perlu dikhawatirkan benar. Hanya mereka harus dipancing keluar, tidak perlu kita membikin kacau di istana. Di sana banyak sekali jagoan yang pandai. Bahkan di kota raja
35
pun kita tidak boleh membikin ribut agar usaha kita membalas dendam kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li tidak terganggu. Dan bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang kematian Siauw-bin Ciu-kwi, Siu-cai?”
Kim Pit Siu-cai tersenyum. “Tidak sukar menyelidiki tentang peristiwa yang terjadi empat tahun yang lalu itu. Suheng Siauw-bin Ciu-kwi memang tewas di tangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, dan yang membantu dua orang muda sombong itu adalah kakak beradik she Kam. Merekalah yang menggagalkan suheng mendapatkan harta karun, bahkan menemui kematiannya. Kam Sun Ting dan Kam Cian Li itu kakak beradik ahli renang dan ahli selam. Mereka bahkan kabarnya juga kekasih Pek-liong-eng dan Hek-liong-li. Kini mereka hidup dengan makmur dan kaya raya sebagai pedagang kain di Nam-cang.”
“Bagus! Tentu kita dapat mempergunakan mereka. Bagaimana kepandaian silat mereka?”
“Ah, biasa-biasa saja. Mereka bukan ahli silat, melainkan ahli menyelam.”
“Nah, sekarang kuceritakan hasil penyelidikanku tentang kematian suheng Hek-sim-Lo-mo enam tahun yang lalu. Dan biarpun kematian suheng juga di tangan Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, namun dalam pertentangan itu, yang membantu Pek-liong-eng dan Hek-liong-li adalah dua orang muda yang sekarang telah menjadi suami isteri. Yang pria bernama Song Tek Hin, dan yang wanita bernama Su Hong Ing, murid Bu-tong-pai. Akan tetapi ilmu silat suami isteri ini tidak ada artinya, dan sudah
36
kuselidiki keadaan mereka. Merekapun merupakan orang-orang penting yang dapat kita pergunakan untuk menjebak dua orang musuh besar kita.”
Tiga orang datuk itu bersama Thai-san Ngo-kwi lalu mengadakan perundingan, mengatur rencana siasat untuk membalas dendam mereka terhadap Pek-liong-eng dan Hek-liong-li!
◄Y►
Semua orang di kota Lok-yang, bahkan sampai jauh di seluruh daerah Lok-yang, mengenal belaka siapa yang tinggal di rumah gedung besar di sudut barat kota Lok-yang itu. Semua orang tahu siapa adanya gadis cantik jelita gagah perkasa yang mereka sebut Liong-lihiap (Pendekar Wanita Naga) atau Liong-li (Wanita Naga) itu.
Ia adalah Lie Kim Cu yang julukannya sebetulnya adalah Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam). Akan tetapi, orang-orang yang melihat wajah yang cantik jelita dan manis itu, kulit yang putih mulus, merasa sungkan menyebutnya Hek-liong-li. Kata “Hitam” itu agaknya tidak pantas untuk seorang gadis yang kulitnya putih mulus kemerahan seperti itu, walaupun ia selalu mengenakan pakaian sutera hitam. Pakaian yang membuat kulitnya makin nampak putih mulus.
Biarpun Hek-liong-li Lie Kim Cu atau lebih terkenal dengan Liong-li saja usianya sudah duapuluh delapan tahun, namun ia belum menikah. Iapun bukan seorang gadis yang perawan, karena sejak muda sekali ia sudah terjatuh ke tangan seorang pangeran di
37
Lok-yang, diperkosa dan kemudian dijual kepada seorang mucikari sehingga ia dipaksa menjadi seorang pelacur!
Ia berhasil membebaskan diri dari cengkeraman mucikari yang menjadikannya sumber uang itu, dan setelah mempelajari ilmu silat tinggi dari Huang-ho Kui-bo, seorang datuk sesat yang sakti, ia membalas dendam kepada pengeran itu dan kepada sang mucikari. Akan tetapi ia telah kehilangan seluruh keluarganya.
Mendiang ayahnya adalah seorang bangsawan, akan tetapi karena keluarganya sudah habis, Liong-li hidup seorang diri, menjadi pendekar wanita dan petualang yang sebentar saja membuat nama besar bersama Pek-liong-eng yang kemudian menjadi sahabat dan rekannya yang setia walaupun mereka tinggal berpisah agak jauh.
Sebagai seorang pendekar wanita, Liong-li terkenal, ditakuti para penjahat dan disegani para pendekar. Ia bukan seorang petualang asmara, bukan pengejar cinta gairah berahi, akan tetapi, apabila bertemu seorang pria yang berkenan di hati dan saling menyukai, iapun tidak pantang untuk mengadakan hubungan cinta dengan pria itu asalkan dasarnya suka sama suka dan tidak ada ikatan apapun antara mereka. Hanya merupakan petualangan sepintas saja.
Karena ini, banyak pria yang jatuh cinta kepadanya dan menderita patah hati karena terpaksa mereka berpisah lagi sesuai dengan janji yang sebelumnya dituntut oleh Liong-li, yaitu tidak ada ikatan apapun antara mereka!
38
Tak dapat diragukan lagi, orang yang paling dicintanya, paling disayangnya di dunia ini adalah Pek-liong-eng Tan Cin Hay, rekannya yang sudah sering berjuang bahu-membahu, saling bantu, saling bela dengan taruhan nyawa dalam berbagai petualangan. Seperti juga Pek-liong-eng, Liong-li juga rela mengurbankan nyawanya kalau perlu demi menolong rekannya itu!
Hubungan cinta kasih antara mereka melebihi cinta kasih antar saudara bahkan antar kekasih! Anehnya, kalau Liong-li tidak pantang menyerahkan diri dalam buaian cinta bersama seorang pria yang berkenan di hatinya, dengan Pek-liong hubungannya hanyalah hubungan batin! Belum pernah mereka itu bermesraan, apa lagi berhubungan badan!
Memang aneh, dan keduanya juga merasa aneh, namun nyatanya demikian dan mereka berdua seolah takut kalau sampai berhubungan badan, maka hubungan itu bahkan akan melenyapkan atau mengurangi hubungan batin mereka yang saling menyayang dan saling membela!
Lebih aneh akan tetapi nyata pula, tiap kali ia melihat Pek-l.iong berhubungan cinta dengan wanita lain, ia sama sekali tidak merasa cemburu atau iri karena ia yakin sedalam-dalamnya bahwa Pek-liong-eng hanya menaruh cinta nafsu saja kepada wanita lain, sedangkan cinta sejati pendekar itu hanya untuk ia seorang! Ia rasakan dan yakin benar!
Liong-li memang seorang wanita yang cantik jelita. Usianya membuat ia menjadi seorang wanita yang masak. Wajahnya bulat
39
telur dengan dagu meruncing sehingga nampak manis sekali. Mulutnya kecil, dengan bibir yang merah membasah selalu, tanda bahwa ia sehat dan belahan bibir lembut itu selalu cerah mengandung senyum, dihias lesung pipi di kanan kiri dan sebuah tahi lalat di bawah mata kiri.
Ilmu kepandaiannya tinggi, bahkan semakin meningkat selama ini, karena setiap hari ia berlatih diri dengan para pelayannya yang menjadi lawan berlatihnya. Juga ia tekun sekali mempelajari setiap jurus yang telah dikuasainya, untuk dicari perkembangannya dan selalu memperbaikinya dengan menutup bagian-bagian yang lemah.
Seperti Pek-liong-eng yang mempunyai sebatang pedang pusaka yang disebut Pek-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Putih), maka Liong-li juga memiliki sebatang pedang pusaka yang disebut Hek-liong-pokiam (Pedang Pusaka Naga Hitam). Dan bersama Pek-liong-eng, Long-li menciptakan ilmu pedang yang mereka namakan Sin-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) yang dapat mereka mainkan secara berpisah maupun digabung menjadi satu. Selain ilmu pedang yang mereka ciptakan bersama itu, Liong-li juga menguasai ilmu pedang istimewa Hek-liong-kiam-sut. Ilmu silatnya tangan kosong juga banyak macamnya, akan tetapi yang membuat ia disegani adalah ilmu silatnya tangan kosong yang disebut Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang gerakannya lemah gemulai dan cantik indah, namun menyembunyikan bahaya maut bagi lawan! Juga ia menguasai Lie-eng-pouw (Langkah Enam Bintang), yang disebut langkah ajaib karena dengan langkah-
40
langkah yang aneh itu ia mudah mengelabui lawan dan dapat menyelamatkan diri dari hujan senjata pengeroyok.
Dalam petualangannya bersama Pek-liong-eng, Liong-li telah mendapatkan harta karun yang membuat ia menjadi kaya raya. Rumah gedung amat indah dan penuh dengan alat rahasia untuk melindungi diri. Rumahnya bertembok putih bersih karena sering dikapur, dengan jendela dan pintu dicat hijau muda, nampak segar dan bersih menyenangkan, apa lagi dihias dengan tanaman bunga-bunga yang membuat rumah itu dikepung daun-daun hijau dan bunga-bunga beraneka warna.
Di depan rumahnya terdapat pekarangan yang luas, dan di tengah pekarangan itu nampak sebuah kolam ikan yang luas, yang ditumbuhi teratai merah dan putih, dan di tengah kolam dipasangi arca yang indah sekali buatannya. Arca seorang wanita cantik berpakaian tipis tembus pandang menunggang seekor angsa!
Keindahan bentuk tubuh wanita dan angsa itu sungguh serasi. Di sebelah kiri dan belakang gedung itu terdapat taman bunga yang mengumpulkan segala macam bunga yang berasal dari luar Lok-yang dan yang terpelihara baik. Perumahan itu dikelilingi pagar tembok yang dua meter tingginya, dan di atas pagar tembok dipasangi tombak-tombak merah. Indah dan juga megah angker!
Liong-li tinggal di gedung mungil itu ditemani sembilan orang pelayannya, semuanya wanita berusia antara duapuluh lima sampai tigapuluh tahun. Para pelayan ini mengenakan pakaian yang beraneka warna, dan mereka nampak cantik dan gesit,
41
karena mereka telah menerima latihan ilmu silat yang lumayan dari majikan mereka.
Mereka itu mempunyai nama dan dikenal baik oleh Liong-li akan tetapi Liong-li lebih sering menyebut mereka dengan warna pakaian mereka saja, seperti Ang-hwa (Bunga Merah), Pek-hwa (Bunga Putih), atau Lan-hwa (Bunga Biru). Dan sembilan orang wanita pelayan ini juga berwatak gagah, dan amat setia kepada Liong-li yang mereka sayang dan mereka hormati sebagai majikan yang royal dalam memberi hadiah, dan guru yang amat baik.
Liong-li berjiwa petualang, maka tentu saja ia tidak betah kalau harus tinggal saja di rumah, walaupun rumahnya indah, taman bunganya indah dan para pelayannya selain pandai silat, pandai pula bermain musik, bernyanyi dan menari. Liong-li sendiri merupakan seorang ahli dalam kesenian, dan seringkali ia dibantu sembiIan orang pelayannya bersenang-senang dan bermain musik di tamannya yang indah di waktu bulan purnama. Kalau sedang begitu, mereka merupakan sepuluh orang bidadari yang cantik dan ahli seni, sedikit pun tidak membayangkan bahwa mereka adalah sepuluh orang wanita yang amat berbahaya bagi siapa saja yang berniat jahat terhadap mereka.
Mungkin karena belum berumah tangga, tidak mempunyai suami dan anak, maka Liong-li kadang-kadang keluar rumah dan makan di rumah makan. Pada hal ia sendiri ahli masak, dan para pelayannya juga pandai masak. Ia menghendaki kesegaran di luar, melihat kehidupan di luar. Bahkan ada kalanya ia tidur di
42
sebuah rumah penginapan, meninggalkan kamarnya sendiri yang jauh lebih indah!
Pada suatu pagi yang indah, Liong-li sudah keluar dari rumahnya. Kepada para pelayannya ia mengatakan bahwa ia hendak pergi berjalan-jalan ke kota. Begitu keluar dari rumah, di sepanjang jalan raya hampir setiap orang tersenyum atau mengangguk kepadanya, ada pula yang mengangkat kedua tangan memberi hormat.
Liong-li memang merupakan seorang wanita yang populer, disuka dan dikagumi semua orang baik-baik, disegani dan ditakuti para penjahat. Bahkan seorang perwira keamanan yang sedang lewat menunggang kuda, begitu melihat Liong-li berjalan seorang diri di tepi jalan, cepat memberi hormat seperti bertemu dengan seorang atasannya!
Liong-li membalas setiap salam orang dengan senyum dan anggukan kepala. Ia pagi itu nampak segar, bagaikan setangkai bunga yang masih basah oleh embun bermandikan cahaya matahari pagi. Berseri dan semerbak.
Rambutnya yang panjang hitam dan gemuk itu digelung ke atas, dilakukan oleh seorang pelayannya yang paling ahli dalam hal membuat sanggul, dan rambutnya yang disanggul tinggi itu dihias jepitan dan tusuk sanggul perak dengan mainan seekor naga kecil di atas bunga teratai. Pakaiannya dari sutera tipis sehingga pakaian dalamnya membayang di sebelah dalam, seluruh pakaian itu dari sutera berwarna hitam sehingga nampak betapa kulit leher dan tangannya putih mulus. Matanya yang tajam
43
kadang mencorong itu nampak ramah berseri setiap kali bertemu orang dan menerima salam mereka.
Sungguh aneh betapa seorang wanita seperti ini belum juga berumah tangga, pada hal banyak sekali perjaka yang bangsawan dan hartawan tergila-gila kepadanya. Akan tetapi, siapa orangnya berani melamar Liong-li, kalau gadis itu tidak mengulurkan tangannya? kalau sekali saja ia menjulurkan tangan, tentu akan ada ratusan pasang tangan yang akan menyambutnya penuh gairah. Liong-li memiliki segalanya. Kecantikan, kelihaian, kekayaan, nama baik dan kepandaian bermacam-macam.
Bau sedap yang keluar dari sebuah rumah makan menarik perhatian Liong-li dan membuat perutnya berkeruyuk lapar. Pagi tadi ia memang menolak hidangan sarapan pagi dari pelayannya dan memang ia bermaksud untuk makan pagi di rumah makan yang paling dulu menarik seleranya.
Rumah makan Lok-hwa itu merupakan rumah makan besar, satu di antara rumah makan langganannya. Ketika ia memasuki rumah makan itu dengan langkah santai, dua orang pelayan tua yang mengenalnya segera menyambutnya dengan ramah.
“Selamat pagi, li-hiap (pendekar wanita)!” kata seorang.
“Silakan duduk, siocia (nona)!” kata yang lain.
Pemilik rumah makan itu yang duduk di bagian dalam, begitu melihat wanita berpakaian serba hitam itu memasuki rumah
44
makannya, segera bangkit dan tergopoh-gopoh keluar untuk menyambut sendiri.
“Selamat pagi, li-hiap! Sungguh merupakan kebahagiaan besar dapat menyanji li-hiap di pagi hai ini.” Dia lalu menoleh kepada para pelayan dan berkata dengan nada memerintah. “Cepat bersihkan meja terbaik untuk Liong-lihiap!”
Para pelayan tergopoh-gopoh membersihkan meja dan pemilik rumah makan itu sendiri yang mengantar Liong-li dan mempersilakan ia duduk, lalu bertanya, masakan apa yang hendak dipesan Liong-li.
Para tamu yang sudah lebih dulu berada di rumah makan itu, ada yang bangkit berdiri ada pula yang mengangguk. Yang jauhpun tersenyum ramah. Semua orang menghormati Liong-li. Semua orang mengaguminya. Beberapa orang pemuda yang duduk jauh, saling berbisik dan beberapa kali menelan ludah ketika mereka semua memandang ke arah Liong-li secara sembunyi-sembunyi, tidak berani langsung.
“Duhai juwita...... betapa cantiknya......”
“Lihat tuh bibirnya..... hemm, menggemaskan......”
“Kulit lehernya begitu putih mulus......”
“Lesung di pipinya amat manis......”
Liong-li adalah seorang wanita yang sudah melatih pancaindranya melalui samadhi dan pernapasan. Ia memiliki
45
pendengaran yang amat tajam sehingga dari jauh itu, kalau ia mencurahkan perhatiannya, ia mampu mendengarkan suara bisik-bisik para pemuda itu.
Akan tetapi karena mereka itu hanya memuji-mujinya dengan kagum tanpa berniat kurang ajar, iapun hanya tersenyum. Tidak bangga lagi. Sudah terlalu lama dan terlalu sering ia melihat sinar mata kagum dari pria, juga kata-kata pujian. Semua itu dianggapnya hanya rayuan kosong belaka!
Liong-li memesan beberapa masakan yang paling disukainya, kemudian setelah pengurus rumah makan mengundurkan diri, Liong-li duduk termenung menanti masakan yang dipesannya. Untuk mempersiapkan masakan yang dipesan, tidak mungkin dapat dilakukan dengan terlalu cepat.
Sayur yang segar harus dicuci dan dipotong-potong, juga daging yang segar harus disayat-sayat, semua bumbu harus dipersiapkan dan segalanya harus baru dan dimasak seketika agar dapat dihidangkan panas-panas dalam keadaan segar dan baru. Untuk melewatkan waktu, Liong-li makan kwa-ci (isi semangka) yang dihidangkan, dan minum teh cair yang harum dan hangat.
Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang membawakan masakan pesanannya. Ia memesan dua macam masakan dengan nasi tim, akan tetapi yang muncul adalah tiga macam masakan!
46
“Ehh? Kenapa tiga macam? Aku tidak memesan sop ayam jamur ini!” katanya menunjuk masak ke tiga. “Tentu pesanan orang lain ini.”
Dua orang pelayan itu mengatur tiga masakan dan nasi di atas meja, lalu seorang dari mereka berkata, “Tidak keliru, li-hiap. Menurut kepala dapur, masakan sop ayam jamur ini sengaja dibuat untuk dihaturkan kepada nona disertai salam seluruh pekerja di dapur!”
Liong-li tersenyum. Tidak aneh baginya. Memang terlalu banyak orang bersikap terlalu baik kepadanya dan karena sudah terbiasa, dengan senang hati diterimanya sikap itu tanpa prasangka dan tidak canggung lagi.
“Sampaikan terima kasihku kepada mereka,” katanya ramah. “Ingat saja mereka itu akan kesukaanku.”
“Kehadiran li-hiap merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagi kami, tentu saja kami semua ingat apa masakan kegemaran li-hiap,” kata pelayan itu sambil memberi hormat lalu mengundurkan diri.
Liong-li tersenyum senang. Memang sop ayam jamur merupakan satu di antara masakan kegemarannya, akan tetapi pagi itu ia memang tidak memesan masakan itu, melainkan memesan masakan kegemaran yang lain. Karena sop pemberian para tukang masak itu nampak lezat, dengan daging kulit ayam yang gemuk menonjol dan kekuningan, dan jamurnya juga masih baru, iapun menggunakan sumpit untuk mengambil sepotong jamur kecil untuk mencobanya.
47
Akan tetapi, begitu jamur itu masuk ke mulutnya, ia cepat memuntahkannya kembali ke atas sebuah mangkok kosong, lalu menggunakan saputangan untuk menerima ludahnya, kemudian ia berkumur satu kali dengan air teh dan membuang kumuran itu ke atas mangkok tadi. Semua ini dilakukannya dengan tenang sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya.
Kemudian, dengan sikap masih tenang, namun kini setiap urat syarafnya waspada, pendengarannya tajam, penglihatannya juga mencorong, ia mencabut tusuk konde peraknya. Setelah menyapu ruangan itu dan melihat bahwa tidak ada tamu lain yang berani nonton ia makan karena hal itu kurang sopan, ia lalu mencelupkan ujung tusuk sanggul ke dalam sop ayam jamur, mendiamkannya sejenak dan ketika ia mengangkatnya kembali, ternyata ujung tusuk sanggul itu nampak kebiruan!
Yakinlah ia bahwa sop ayam jamur itu mengandung racun yang amat keras, yang kalau dimakannya tentu akan cukup kuat untuk membunuhnya. Bukan baru sekali ini nyawa Liong-li terancam maut. Oleh karena itu, sikapnya masih tetap tenang saja. Bahkan ia melanjutkan makan dua masakan yang dipesannya tadi bersama nasi, setelah dengan teliti memeriksa semua masakan itu, bahkan ia memeriksa pula arak yang disuguhkan.
Hanya sop ayam jamur itu saja yang mengandung racun, justeru masakan hadiah dari tukang masak atau kepala dapur! Sungguh aneh. Liong-li memutar otaknya sambil makan sehingga ia tidak dapat menikmati makan pagi itu sepenuhnya Perhatiannya tercurah kepada peristiwa itu, masakan yang dihadiahkan kepadanya, masakan yang mengandung racun!
48
Rasanya tidak masuk diakal kalau kepala dapur menghidangkan masakan beracun kepadanya! Tidak ada alasannya sama sekali.
Pertama, ia tidak pernah bermusuhan dengan siapapun juga di rumah makan itu, dan kedua, kalau memang ada yang hendak membunuhnya dengan racun, mengapa caranya demikian kasar? Apakah orang itu tidak memperhitungkan bahayanya kalau sampai ketahuan? Tidak, kiranya tidak mungkin ada musuh setolol itu, dan jelas bukan kepala dapur.
Kecuali tentu saja kalau ada penjahat yang menyelundup dan kini bekerja di dapur rumah makan itu. Kemungkinan ini tentu saja ada, dan bukan mustahil kalau penjahat yang menyelundup menjadi tukang masak itu hendak membalas dendam kepadanya dengan menaruh racun ke dalam masakan yang dihadiahkan!
Tiba-tiba ia teringat dan jantungnya berdebar. Kenapa tidak dari tadi ia teringat akan hal ini? Bagaimana mungkin ada kepala dapur begitu lancang menghadiahkan masakan kepada seorang tamu? Kalau mau memberi hadiah masakan, tentu bukan dari kepala dapur datangnya, melainkan dari pemilik rumah makan! Kepala dapur menghadiahkan masakan semahal itu, atas namanya, tentu akan membuat pemilik rumah makan menjadi marah.
Melihat gadis itu sudah tidak makan lagi, pelayan tua datang menghampiri mejanya untuk membersihkan meja itu. “Sudah selesaikah, li-hiap?” tanyanya ramah.
Liong-li mengangguk tanpa bicara, diam-diam ia mengerling dan memperhatikan sikap pelayan itu. Dalam keadaan seperti itu,
49
kewaspadaan membuat ia menaruh curiga terhadap apa saja dan siapa saja!
“Ehh?” Pelayan tua itu nampak kaget dan heran yang tidak dibuat-buat ketika dia melihat mangkok besar sop ayam jamur itu masih utuh. “Kenapa li-hiap tidak makan sop ayam jamur ini?”
Liong Li masih memancing sambil menatap tajam wajah orang. “Paman, maukah engkau memakannya, kalau kuberikan ini kepadamu?”
Sepasang mata itu terbelalak, bukan terkejut atau ketakutan, melainkan keheranan. “Tentu saja, li-hiap, akan tetapi...... mana saya berani? Dan kenapa li-hiap tidak memakannya?”
Liong-li lega. Pelayan tua ini tidak tahu menahu. “Paman, siapakah yang menghadiahkan sup ayam jamur ini kepadaku?”
“Sudah saya katakan tadi, kepala dapur yang menghadiahkan kepada li-hiap, dengan salam hormat seluruh pekerja di dapur. Kenapakah, li-hiap?”
Pelayan itu mulai memperlihatkan sikap tidak enak karena tentu saja dia merasa tidak enak hati melihat betapa hidangan yang dihadiahkan itu sama sekali tidak dimakan oleh Liong-li.
Liong-li tersenyum, “Tidak apa-apa, paman, hanya aku kekenyangan. Oya, aku ingin bertemu dengan kepala dapur untuk mengucapkan terima kasih. Maukah engkau mengundangnya keluar ke sini sebentar agar aku dapat bicara dengan dia?”
50
Wajah pelayan itu kembali berseri. “Tentu li-hiap! Aih, Tio-toako tentu akan gembira sekali mendengar undangan li-hiap ini!”
Sambil membawa mangkok kosong dan sisa makanan, kecuali sup ayam jamur yang masih ditahan Liong-li, pelayan itu bergegas masuk ke bagian belakang untuk menyampaikan undangan Liong-li kepada kepala dapur.
Biarpun sedang menghadapi keadaan yang menegangkan, Liong-li masih tidak mampu menahan geli hatinya ketika ia melihat koki atau kepala dapur itu “menggelundung” keluar dari dapurnya! Sungguh seorang laki-laki yang lucu bentuk tubuhnya. Dari kepalanya sampai ke tubuhnya, orang berusia empatpuluh lebih ini benar-benar bundar seperti bola!
Kedua kakinya nampak pendek sehingga ketika dia datang dengan langkah cepat, dia seperti sebuah bola yang digelundungkan. Dan muka yang bulat penuh itu bermata sipit, hampir terpejam ketika mulutnya menyeringai lebar dalam senyum ramah dan girang!
Tidak, pikir Liong-li. Orang macam ini mana mungkin mempunyai niat jahat untuk meracuninya? Pula, kalau benar dia berniat jahat, dia tidak akan keluar dengan wajah begitu gembiranya!
Begitu bertemu, koki itu lalu merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk begitu dalamnya sehingga Liong-li khawatir kalau dia terjungkal!
“Li-hiap mengundang saya?” tanya orang itu, ragu-ragu karena diundang oleh pendekar wanita ini sungguh merupakan hal yang
51
amat terhormat. Bahkan semua rekannya nampak mengintai dari pintu dapur dengan wajah berseri.
Liong-li belum pernah melihat koki ini, akan tetapi dari sikapnya ia yakin bahwa koki ini bukan orang baru di situ. Bahkan pemilik rumah makan yang duduk di belakang meja itu tersenyum melihat kokinya keluar menghadap Liong-li.
Akan tetapi, kepala dapur itu mengerutkan alisnya dan sepasang mata yang tadi menjadi sipit karena tersenyum, kini dilebar-lebarkan seolah dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Masakan sup ayam jamur di atas meja depan gadis itu masih utuh!
“Engkaukah Tio-toako?” tanya Liong-li, dengan sinar mata tajam penuh selidik ia menatap wajah bulat itu.
“Benar, li-hiap. Ada apakah li-hiap mengundang saya?”
“Tio-toako, sudah lama engkau menjadi kepala dapur di rumah makan ini?”
“Sudah ada sepuluh tahun, li-hiap.”
“Hemm, apakah engkau yang mengirim hadiah masakan ini dan engkau sendiri yang memasaknya?”
“Benar, li-hiap. Apakah tidak enak maka........”
“Engkau agaknya lupa menaruh garam pada masakan ini, toako. Sama sekali tidak asin dan hambar!”
52
“Ahhhh??” Sepasang mata itu makin dibelalakkan. “Bagaimana mungkin? Saya masak dengan hati-hati sekali, sudah saya taruh garam dan bumbu secukupnya.”
“Hemm, kau tidak percaya. Engkau rasakanlah sendiri, coba kauminum kuahnya sesendok saja,” kata Liong-li sambil menatap tajam wajah itu. Wajah itu sama sekali tidak kelihatan gugup atau takut.
“Aneh! Baik, akan saya coba sendiri. Maafkan, li-hiap,” kata si gendut itu sambil menghampiri meja dan menyendok kuah dari mangkok sup itu, lalu dibawa sendok itu ke mulutnya.
“Tidak usah!” Liong-li berkata dan sekali tangannya bergerak, sendok terisi kuah itu telah dirampasnya tanpa setetespun kuah tumpah.
Si gendut terkejut bukan main.
“Ehhh? Ada apakah, li-hiap?” tanyanya heran.
“Tio-toako, ketika engkau masak sup ini, apakah ada yang membantumu?”
Si gendut mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. “Memang selalu saya dibantu oleh para pembantu koki. Kalau masakan penting, saya sendiri yang masak dan mereka itu hanya memotong-motong bahan masakan dan menyediakan bumbunya saja. Untuk masakan sup ini, ada seorang pembantu yang menemani saya.”
53
“Katakan terus terang, engkaukah yang menghadiahkan sup ini untukku? Sup ini mahal, bagaimana engkau dapat menghadiahkan begitu saja? Apakah engkau tidak dimarahi pemilik rumah makan?”
Wajah itu menjadi kemerahan dan senyumnya malu-malu, sepasang matanya kembali menyipit. “Maafkan, li-hiap, terus terang saja, masakan mahal ini dibeli......”
“Apa? Engkau membelinya untukku?”
“Eh, bukan...... bukan uang saya, li-hiap. Biarlah saya mengaku terus terang saja. Seorang pembantu tukang masak yang merasa amat kagum kepada li-hiap, telah mengorbankan gajinya sehari untuk membeli masakan ini, untuk li-hiap. Karena dia pemalu, maka dia minta agar saya yang mengaku mengirim hidangan ini kepada li-hiap disertai salam semua rekan di dapur.”
Liong-li mengerutkan alisnya, jelaslah kini baginya, seperti melihat sebuah gambaran. “Dan pembantu itu yang tadi membantumu menyiapkan masakan sup ini?”
“Benar, li-hiap.”
“Dan dia tentu orang baru di sini?”
“Eh? Bagaimana li-hiap dapat mengetahuinya? Memang baru seminggu dia bekerja di sini, orangnya rajin dan pendiam, pekerjaannya baik dan.... ehhh......”
54
Liong-li sudah bangkit dan menyambar pergelangan tangan si gendut itu, ditariknya orang itu memasuki dapur. “Tunjukkan mana orang itu!” katanya.
Si gendut tersaruk-saruk dan menjadi terkejut, heran dan takut. Ketika mereka memasuki dapur, semua pekerja di dapur memandang dengan heran pula. Si gendut memandang ke sekeliling, dan Liong-li siap untuk turun tangan.
Akan tetapi si gendut nampak ragu-ragu.”Eh? Di mana A-hok? Cepat panggil dia ke sini! A-hok...... A-hooookkk.....!!”
Dia memanggil-manggil. Akan tetapi, yang dipanggil tidak muncul, tidak nampak pula batang hidungnya dan Liong-li tidak merasa heran. Tentu saja penjahat yang hendak meracuninya itu telah melarikan diri begitu melihat usahanya.gagal.
Pemilik rumah makan segera datang ketika melihat ribut-ribut dan dengan hormat dia bertanya kepada Liong-li akan apa yang telah terjadi.
Dengan tenang Liong-li berkata kepadanya. “Pembantu tukang masak yang mengaku bernama A-hok itu adalah seorang penjahat yang menyelundup dan tadi dia berusaha meracuni aku melalui masakan yang dihidangkan. Hati-hati, masakan sup ayam jamur itu beracun jahat sekali, dan kalau kalian melihat A-hok itu di mana saja, cepat beri kabar kepadaku.”
Liong-li segera membayar harga makanan yang dipesannya dan meninggalkan tempat itu dengan tenang.
55
Semua gambaran itu kini jelas. Ada musuh bersembunyi yang menghendaki kematiannya. Hal ini sebenarnya tidak aneh. Ia tahu bahwa banyak penjahat sakit hati kepadanya, mendendam dan hendak membunuhnya.
Dan karena itu maka selama ini ia tidak pernah lengah. Bahkan rumahnya pun dilindungi alat-alat rahasia. Akan tetapi, sudah satu dua tahun ini tidak ada penjahat berani mencoba untuk membunuhnya secara, terang-terangan seperti yang dilakukan penjahat yang menyelundup menjadi pembantu tukang masak tadi.
Ia memang tidak mencari keterangan tentang penjahat itu. Tidak ada gunanya. Penjahat kecil itu tentu hanya menjadi anak buah atau alat dari dalang yang mengaturnya, dan dalang itulah musuhnya yang berbahaya. Ia harus lebih waspada karena ada bayangan ancaman maut dari musuh-musuh yang tidak diketahui siapa.
Sementara itu, pemilik rumah makan yang merasa penasaran, lalu mengambil sedikit daging sup ayam jamur dan memberikannya kepada seekor kucing liar yang suka berkeliaran di situ mencari tulang-tulang sisa. Begitu kucing itu menjilat daging ayam, binatang itu terus meraung dan kejang-kejang, tewas seketika!
Baru dia percaya dan bergidik. Untung pendekar wanita yang dihormati itu tidak sampai mati keracunan di restorannya! Dia menyumpah-nyumpah dan mencoba untuk mencari tukang masak baru itu. Namun tentu saja usahanya sia-sia dan sejak itu,
56
dia tidak berani menerima pekerja baru tanpa mengenal dulu dengan baik siapa orang itu!
◄Y►
Seperti yang diduga oleh Liong-li, percobaan membunuhnya dengan racun itu merupakan awal serangkaian serangan dan usaha untuk membunuhnya, atau setidaknya merupakan serangan-serangan dan usaha gelap segerombolan musuh yang tidak diketahuinya siapa. Tiga hari kemudian, pada suatu malam terdengar suara ledakan nyaring di depan rumah gedungnya.
Dalam beberapa detik saja, ia dan sembilan orang pelayannya sudah berhamburan keluar dalam keadaan siap menghadapi musuh. Akan tetapi, tidak nampak bayangan seorangpun manusia di pekarangan itu, hanya bekas ledakan yang membuat Liong-li mengepal tinju.
Arca wanita menunggang angsa yang menjadi kesayangannya, di tengah kolam ikan dan bunga teratai, telah hancur! Melihat bekas-bekasnya, arca itu dihancurkan dengan bahan peledak yang kuat sekali.
Agaknya, pihak musuh yang tidak berani memasuki rumah yang dipasangi alat-alat rahasia, melampiaskan dendam mereka kepada arca wanita dan angsa itu, atau sengaja mereka melakukan pengrusakan itu untuk mengganggu ketenteraman hatinya dan usaha itu memang berhasil. Ketenteraman hati Liong-li terusik dan sambil mengepal tinju ia berkata kepada sembilan orang pembantunya.
57
“Mulai detik ini kita harus waspada dan menyatakan perang terhadap para pengganggu yang curang dan pengecut ini. Buka mata dan telinga kalian setiap saat dan di manapun kalian berada. Musuh berada di sekeliling kita.”
Sembilan orang pelayan itu menyatakan sanggup dan merekapun merasa kesal sekali akan perbuatan yang curang dari musuh-musuh majikan mereka. Dan seperti yang dikatakan Liong-li, perang memang mulai dinyalakan oleh segerombolan orang yang bekerja secara curang dan menggelap. Hal ini terjadi tiga hari kemudian.
Pada hari itu, Bunga Biru dan Bunga Kuning, dua orang pelayan Liong-li, pergi berbelanja ke pasar. Seperti biasa, mereka berbelanja daging dan sayur mayur untuk masak hari itu. Juga Bunga Kuning hendak membeli kain sutera kuning untuk dibuat pakaian. Dua orang wanita muda berusia duapuluh tujuh tahun itu bersikap gembira, namun keduanya tetap waspada sesuai dengan pesan majikan mereka.
Walaupun sudah tiga hari tidak pernah terjadi sesuatu semenjak arca itu diledakkan orang, namun keduanya maklum bahwa mungkin saja pada saat itu ada mata yang mengikuti gerak gerik mereka. Maka, kegembiraan mereka itu bercampur siasat agar pihak musuh menganggap mereka lengah, agar pihak musuh mau bergerak melakukan serangan.
Menurut majikan mereka, sukar mencari musuh yang tidak mau memperkenalkan diri. Satu-satunya cara adalah memancing agar mereka turun tangan melakukan serangan dan hal ini dapat
58
terjadi kalau mereka memperlihatkan sikap lengah! Memang permainan yang berbahaya, namun kesembilan orang pelayan Liong-li adalah gadis-gadis yang terlatih dan sudah terbiasa menghadapi bahaya seperti majikan mereka.
Setelah dua-tiga jam dua orang pelayan itu terlambat pulang, mulailah Liong-li mengerutkan alisnya. Ia mendapat laporan dari para pelayan lain bahwa Bunga Biru dan Bunga Kuning yang pergi berbelanja, sudah hampir tiga jam terlambat pulang dari pada waktu biasanya.
“Tunggu sejam lagi. Kalau mereka belum pulang, Bunga Merah dan Bunga Ungu agar pergi menyusul ke pasar dan ke toko,” kata Liong-li dengan sikap masih tenang.
Setengah jam kemudian, Bunga Biru pulang dengan wajah penuh ketegangan, dan ia tidak mau menjawab hujan pertanyaan para rekannya melainkan langsung saja ia lari menghadap Liong-li yang duduk di ruangan tengah. Tentu saja tujuh orang rekannya yang merasa khawatir, mengikutinya dari belakang dan kini delapan orang pelayan itu sudah duduk bersimpuh di atas lantai, menghadap Liong-li yang duduk di atas bangku rendah dengan santai.
“Lan Hwa, apakah yang terjadi dan di mana Ui Hwa?” tanya Liong-li dengan tegas dan suaranya mengandung teguran karena pelayan itu telah membuat mereka semua merasa khawatir.
“Maaf, li-hiap...... Bunga Kuning diculik orang......”
59
Tentu saja semua pelayan terkejut walaupun mereka menekan perasaan dan tidak berani memperlihatkan kekagetan mereka. Hek-liong-li sendiri terkejut, akan tetapi dengan tenang ia berkata, “Coba ceritakan dari awal apa yang telah terjadi.”
“Kami berbelanja ke pasar dan ketika pulang kami singgah di toko kain untuk membeli kain sutera kuning. Setelah membeli kain, ketika kami keluar dari toko, tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua, sekitar limapuluh tahun usianya, bertubuh tinggi kurus, menghampiri kami dan dia bertanya lirih apakah kami bekerja kepada li-hiap. Ketika kami membenarkan, dia berbisik bahwa dia melihat pembantu tukang masak yang pernah mencoba untuk meracuni li-hiap.”
Tentu saja perhatian Liong-li segera tertarik. “Lalu bagaimana? Cepat ceritakan yang jelas, jangan lewatkan hal-hal yang kecil sekalipun!”
Bunga biru melanjutkan ceritanya. Ketika ia dan Bunga Kuning mendengar bisikan laki-laki itu, tentu saja mereka berdua tertarik sekali, akan tetapi merekapun tidak mau percaya begitu saja. Mereka sudah terlatih dan terdidik oleh Liong-li dan mereka adalah gadis-gadis yang cerdik di samping tabah dan lihai.
Mereka saling pandang dan keduanya melalui pandang mata bersepakat untuk cepat melapor kepada Liong-li. Akan tetapi agaknya laki-laki kurus itupun dapat menduga, karena dia segera berkata bahwa kalau tidak cepat-cepat mereka mengejar, dia khawatir bekas pembantu tukang masak itu akan sempat menghilang.
60
“Di mana dia?” tanya Bunga Kuning.
“Tadi kulihat dia di dekat pintu gerbang sebelah barat. Mari cepat nona, kalau dia sudah pergi, aku takut kalian menganggap aku berbohong!” kata laki-laki itu yang berjalan tergesa-gesa menuju ke pintu gerbang barat.
Sambil mengikuti orang itu, Bunga Biru bertanya. “Siapakah engkau, paman? Dan mengapa engkau melaporkan hal ini kepada kami?”
Sambil berjalan cepat setengah berlari, orang itu menjawab. “Aku juga hadir sebagai tamu ketika peristiwa racun dalam sup ayam jamur itu terjadi. Aku pengagum Hek-liong-li, maka aku bertanya-tanya siapa orangnya yang begitu berani hendak meracuni li-hiap. Aku pernah melihat pembantu tukang masak itu dan tadi kebetulan aku melihatnya. Aku hendak melapor kepada li-hiap, akan tetapi ketika melihat kalian, aku teringat bahwa para pelayan Hek-liong-lihiap mengenakan pakaian yang beraneka warna. Marilah, jangan sampai dia menghilang!”
Mereka tiba di pintu gerbang, akan tetapi orang yang dicarinya sudah tidak ada. Dengan menyesal laki-laki itu menyatakan bahwa tentu orang itu melakukan perjalanan ke luar pintu gerbang.
“Mari kita kejar dia, pasti belum jauh dia pergi!” katanya dan melihat sikapnya yang sungguh-sungguh, mulai berkurang kecurigaan Bunga Biru dan Bunga Kuning. Mereka mengikuti laki-laki melakukan pengejaran dan ketika mereka tiba di tempat sunyi
61
dekat hutan, tiba-tiba saja bermunculan belasan orang dan si kurus itu segera menyerang Bunga Kuning!
Tentu saja dua orang gadis pelayan itu terkejut dan marah. Kecurigaan mereka tadi ternyata benar. Orang ini adalah orang jahat yang sengaja memancing mereka keluar dari kota dan di tempat sunyi itu mereka dikepung oleh empatbelas orang!
Akan tetapi, keduanya adalah gadis-gadis yang terlatih dan gagah perkasa. Mereka mengamuk dan dan tidak mau menyerah begitu saja. Karena para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang cukup dan tenaga merekapun besar, sedangkan dua orang gadis pelayan itu tidak memegang senjata, akhirnya Bunga Kuning tertendang roboh dan tertawan.
“Demikianlah, li-hiap. Saya berusaha melawan dan berusaha menolong Ui hwa, akan tetapi jumlah mereka terlalu banyak dan juga mereka itu lihai sehingga saya tidak berhasil menyelamatkan Bunga Kuning,” kata Bunga Biru dengan muka pucat dan mata sayu mengaku salah.
Liong-li mengerutkan alisnya. “Dan engkau melarikan diri?”
“Ah, bagaimana mungkin saya melarikan diri melihat rekan ditangkap, li-hiap? Dan inilah yang aneh. Mereka itu melarikan Bunga Kuning, meninggalkan saya begitu saja. Pada hal kalau mereka terus mengeroyok, sudah pasti mereka akan dapat menangkap atau merobohkan saya. Mereka pergi melarikan Bunga Kuning ke dalam hutan. Karena merasa tidak mungkin dapat membebaskan rekan itu, terpaksa saya bergegas pulang untuk memberi laporan kepada li-hiap.”
62
Liong-li mengangguk-angguk dan ia duduk bertopang dagu, jari-jari tangannya, terutama ibu jari dan telunjuk tangan kiri, menggosok-gosok hidungnya. Itulah ciri khas dari pendekar wanita ini bahwa ia sedang berpikir keras! Kalau ia sedang menggunakan akal pikirannya, tanpa disadarinya ia membuat gerakan ini.
“Apanya yang aneh? Mereka menangkap Ui Hwa dan sengaja membebaskanmu agar engkau dapat melapor kepadaku,” katanya.
Mendengar ini, delapan orang pelayan itu mengerutkan alisnya. Bunga Biru memberanikan hatinya. “Akan tetapi, li-hiap, mengapa mereka melakukan hal itu? Apa maksud yang tersembunyi di balik penculikan itu?”
“Lan Hwa, begitu bodohkah engkau sehingga tidak dapat menduga apa maksud dari mereka?” Liong-li balas bertanya dan memandang tajam.
Bunga Biru menyadari kesalahannya dan cepat-cepat ia berkata, “Mereka menculik Bunga Kuning dan tidak membunuhnya, ini berarti bahwa mereka membutuhkan Bunga Kuning. Mereka melepas saya untuk melapor li-hiap, tentu bermaksud untuk memancing li-hiap keluar dari rumah ini dan menuju ke hutan sana. Bunga Kuning ditangkap sebagai umpan. Aih, kalau li-hiap ke sana, berarti mereka sudah memasang jebakan! Itu berbahaya sekali!”
“Bagus, pendapatmu benar, akan tetapi kurang lengkap. Kalau mereka menculik Bunga Kuning tentu berarti mereka
63
membutuhkan ia dalam keadaan hidup. Dan ada dua kemungkinan di balik penculikan itu. Pertama, seperti yang kauduga, mereka hendak memancing aku pergi ke sana dan akan menjebakku. Kedua, dan ini lebih besar kemungkinannya, mereka hendak memaksa Ui Hwa untuk membuka rahasia alat-alat rahasia di rumah ini agar mereka dapat menyerbu!”
“Maaf, li-hiap,” kata Bunga Putih. “Akan tetapi saya tidak melihat alasan untuk maksud yang kedua itu.”
“Alasannya jelas sekali. Mereka telah meledakkan arca di pekarangan, selain sebagai tantangan dan awal perang, juga mungkin untuk melihat apakah arca itu mengandung rahasia. Jelas mereka tidak berani memasuki rumah ini, dan mereka pikir kalau dapat menangkap seorang di antara kalian, mereka akan dapat memaksa yang ditangkap untuk membuka rahasia alat-alat yang berbahaya bagi mereka di sini.”
“Akan tetapi, sampai matipun kami yakin Bunga Kuning tidak akan sudi membuka rahasia itu,” kata seorang gadis berpakaian ungu.
Liong-li tersenyum. Terbayang dalam benaknya akal para penjahat untuk memaksa seseorang gadis mentaati kehendak mereka. Bermacam siksaan pernah ia alami dan ia sangsi apakah Bunga Kuning akan kuat bertahan kalau menghadapi siksaan iblis-iblis berupa manusia itu.
“Kuharap ia tidak keras kepala dan mati konyol,” katanya tenang. “Bagaimanapun juga, aku sudah siap menghadapi gerombolan penjahat itu dan pasti akan dapat kubasmi mereka!”
64
“Kami semua menanti perintah li-hiap dan siap membantu!” kata Bunga Biru yang masih perihatin mengenang nasib rekannya yang tertawan musuh.
“Siasat mereka itu kasar sekali dan kita balas pancingan mereka dengan pancingan pula. Aku tidak akan mencari Ui Hwa di hutan itu, akan tetapi siang ini kita pura-pura mencari di sekitar sana, tidak perlu memasuki hutan. Aku hanya ingin agar mereka melihat kita sibuk mencari Ui Hwa, seolah kita lengah dan tidak mengira mereka akan mempelajari rahasia alat-alat jebakan dan menyerbu ke dalam. Akan tetapi, pada malam harinya, diam-diam kita berjaga-jaga kalau sampai mereka berani muncul dan memaksa Ui Hwa membuka rahasia, kita hantam mereka dan kita basmi mereka sampai ke akarnya!”
Delapan orang pelayan itu menyatakan kegembiraan mereka, dan sesuai dengan siasat yang diatur Liong-li, mereka delapan orang mengikuti Liong-li, pura-pura mencari Ui Hwa dengan Lan Hwa menjadi penunjuk jalan. Mereka mencari di sekitar tempat di mana Bunga Kuning ditawan tadi, akan tetapi tidak memasuki hutan. Setelah hari mulai gelap, Liong-li mengajak delapan orang pelayannya pulang dan malam itu, mereka mengatur penjagaan secara diam-diam, dan membiarkan keadaan rumah itu seperti malam-malam biasanya.
Memang tepat dugaan Liong-li. Bunga Kuning dibawa ke dalam hutan oleh belasan orang itu dan dihawa menghadap lima orang yang bukan lain adalah Thai-san Ngo-kwi! Ui Hwa atau Bunga Kuning, gadis pelayan yang mengenakan pakaian serba kuning ini, adalah seorang di antara para pelayan Liong-li yang paling
65
cerdik. Begitu ia diringkus dan dilarikan oleh gerombolan itu, iapun mengerti bahwa gerombolan itu menculiknya dengan tujuan tertentu.
Buktinya, mereka membiarkan Bunga Biru lobos, pada hal kalau mereka kehendaki, mereka dapat pula menawan Bunga biru. Jelas bahwa penangkapan atas dirinya itu mempunyai maksud tertentu, bukan karena tertarik oleh kecantikannya. Bunga Biru lebih cantik dan lebih muda darinya. Tidak salah lagi pikirnya, ini tentu ada hubungannya dengan majikannya dan iapun teringat akan pengrusakan arca di pekarangan rumah Liong-li.
Ketika ia dihadapkan kepada lima orang pria yang kasar dan nampak bertampang seram itu, Bunga Kuning bersikap tenang walaupun kedua lengannya terikat di belakang punggung dan empat orang anak buah gerombolan menodongkan golok di tubuhnya. Ia tidak boleh bersikap lemah. Tidak percuma ia menjadi pelayan Hek-liong-li! Ia akan menghadapi maut dengan gagah.
Ketika lima orang pimpinan gerombolan itu melihat Ui Hwa yang berdiri tegak di depan mereka dalam keadaan terbelenggu, mereka saling pandang dan tersenyum lebar.
“Aha, seorang pelayan wanita yang cantik dan gagah,” kata Thai-kwi yang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. “Engkau ini hanya seorang pelayan, akan tetapi lagakmu seperti seorang pendekar wanita yang kenamaan saja, ha-ha!”
Dengan sinar mata berani dan suara lantang Bunga Kuning menjawab, “Jiwa pendekar bukan hanya dimiliki para majikan,
66
bangsawan, hartawan atau laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kuat saja! Bahkan banyak laki-laki yang kelihatannya kuat, berjiwa kerdil sebagai penjahat yang curang dan pengecut! Contohnya kalian ini yang mengeroyok dan menangkap seorang wanita!”
Lima orang pemimpin gerombolan itu adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang sudah berpengalaman, maka kata-kata yang mengandung hinaan ini tidak dapat membuat mereka marah. Mereka hanya menyeringai saja dan tahu bahwa gadis berpakaian kuning itu hanya menjaga “gengsi” sebagai pelayan seorang pendekar wanita yang terkenal seperti Hek-liong-li.
“Hebat, gadis yang manis. Engkau memang gagah berani dan cantik pula. Sayang hanya seorang pelayan! Tentu engkau cerdik pula dan tahu mengapa kami menawanmu, bukan?”
Gadis itu tahu bahwa ia berhadapan dengan penjahat-penjahat besar, maka tidak ada gunanya berpura-pura. Bahkan ia harus bersikap terbuka agar ia dapat menjenguk isi hati mereka dan mengetahui rahasia mereka agar ada manfaatnya apabila ia dapat lagi bertemu dengan nona majikannya sebagai bahan laporan.
“Selama hidupku, aku belum pernah bertemu dengan kalian, dan tidak mempunyai urusan apapun dengan kalian. Oleh karena itu, kalian menawanku tentu bukan karena aku, melainkan karena nona majikanku, Hek-liong-lihiap!”
“Heh-heh-heh, boleh juga nona ini!” kata Ji-kwi yang berperut gendut.
67
“Kalau tidak cerdik, mana bisa menjadi pelayan Hek-liong-li?” kata Thai-kwi, sengaja memuji karena dia ingin gadis itu bersikap terbuka karena bangga sehingga keterangan gadis itu akan menguntungkan mereka. “Hei, nona yang manis dan cerdik, bagaimana engkau bisa menduga bahwa kami menangkapmu karena Hek-liong-li?”
“Hem, orang bodoh sekalipun akan dapat menduganya. Pertama, nona majikanku terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang selalu menentang para penjahat seperti kalian. Kedua, kalian tentu yang menghancurkan arca wanita dengan angsa di pekarangan rumah nona majikanku. Kalian tak berani menyerbu ke dalam rumah, maka kini kalian menangkap aku. Begitu, bukan?”
“Bukan main!” Thai-kwi memuji lagi. “Hebat memang dan kami kagum sekali, nona. Akan tetapi engkau tentu tidak tahu untuk apa engkau kami tangkap.”
“Huh, apa sukarnya menduga cara kerja kalian? Tentu kalian menawan aku untuk memancing nona majikanku ke sini agar kalian dapat mengepung dan mengeroyoknya, atau memasang jebakan secara curang. Jangan kalian mimpi! Nona majikanku tidaklah begitu bodoh untuk masuk ke dalam perangkap yang kalian pasang. Apa artinya seorang pelayan seperti aku? Tidak cukup berharga bagi majikanku untuk membahayakan dirinya. Perangkap kalian takkan berhasil!”
68
Lima orang pemimpin gerombolan itu saling pandang dan sekali ini benar-benar mereka kelihatan kecewa dan terkejut. Apa yang dikatakan Ui-wa memang tepat sekali!
Sam-kwi .yang tinggi kurus adalah orang paling cerdik di antara lima kepala gerombolan itu. “Nona, kalau majikanmu merasa diri terlalu tinggi dan engkau dianggap hanya sebagai pelayan yang rendah saja dan yang tidak pantas dibela dengan taruhan nyawa, kenapa engkau kini hendak membela majikanmu mati-matian? Alangkah bodohnya bagi seorang gadis cantik dan cerdik sepertimu ini!”
Bunga Kuning memutar otaknya. Mereka ini menghendaki sesuatu, pikirnya. Ia harus bersikap cerdik dan sebaiknya kalau ia memberi sedikit, mengalah dan berlagak seolah ia condong menerima “nasihat” itu.
“Lalu, apa kehendakmu?” tanyanya memancing.
Sam-kwi tersenyum dan memberi kedipan mata kepada saudara-saudaranya. “Nona yang baik, siapakah namamu?”
“Aku disebut Ui Hwa.”
“Hem, Bunga Kuning? Begini maksud kami. Engkau sudah menjadi tawanan kami karena Hek-liong-li. Memang tadinya kami hendak memancing datang ke sini mencarimu. Akan tetapi setelah, mendengar ucapanmu tadi, kami mengerti bahwa siasat kami itu tidak ada gunanya. Ketahuilah bahwa kami menaruh dendam yang mendalam terhadap Hek-liong-li. Ia telah membunuh guru kami dan kini kami harus membalas dendam.
69
Kalau engkau dapat membantu kami, maka kami tentu tidak akan membunuhmu. Sebaliknya, kalau engkau berkeras hendak membela majikanmu dengan taruhan nyawa, hemm....., ini bukan saja akan membunuhmu, bahkan kami akan menyiksamu dengan menyerahkan engkau kepada anak buah kami. Ingat, ada puluhan orang anak buah kami dan mereka itu semua sudah berbulan-bulan tidak berdekatan dengan wanita! Kami akan menyerahkan engkau kepada mereka sampai engkau mati!”
Jelas ini bukan ancaman kosong belaka. Orang-orang seperti iblis itu tentu dapat melakukan kekejian yang bagaimanapun juga! Ui Hwa tidak takut mati, sebagai pelayan Hek-liong-li ia tahu bahwa setiap saat nyawanya terancam maut. Akan tetapi tidak pernah ia membayangkan siksaan seperti itu dan iapun tidak mau menyembunyikan kengeriannya. Wajahnya menjadi pucat, tarikan mukanya menunjukkan ketakutan yang amat sangat, dan kedua pundaknya menggigil karena ngeri.
“Tidak...... jangan......, jangan lakukan itu......” ia berbisik seperti meratap. Mudah saja ia melakukan ini, tidak perlu bersandiwara karena memang saat itu ia merasa takut dan, ngeri.
“Tentu saja kami tidak akan melakukan hal itu kepadamu kalau engkau suka membantu kami agar kami berhasil membalas dendam kepada Hek-liong-li,” kata Thai-kwi dengan nada mengancam, girang melihat hasil gertakan sutenya.
“Tapi kalian mimpi yang bukan-bukan! Bagaimana aku akan dapat membantu kalian mengalahkan nona majikanku?
70
Kepandaiannya amat tinggi dan biar ada duapuluh orang macam aku ini, tidak akan mampu menandinginya.”
“Urusan menyerang dan membunuhnya adalah urusan kami. Engkau hanya membantu kami agar kami dapat menyelundup masuk ke dalam rumah Hek-liong-li dengan aman, melalui jebakan-jebakan rahasia yang tentu kaukenal baik. Nah, engkau menjadi penunjuk jalan masuk ke dalam rumah sampai ke kamar Hek-Liong-li dan kami akan mengampuni nyawamu. Bagaimana?”
Bunga Kuning mengerutkan alisnya, berpikir-pikir dan mempertimbangkan tawaran itu, ia nampak ragu dan sangsi, “Tapi...... tapi...... kalau li-hiap mengetahui hal itu, mengenal aku yang berkhianat, tentu ia tidak akan mau mengampuni aku! Kalian membebaskan aku, akan tetapi li-hiap lalu menghukumku, apa bedanya?”
“Ha-ha, jangan khawatir, nona. Engkau akan kami beri pakaian lain, bukan serba kuning, dan wajahmu kami beri penyamaran agar kelihatan hitam dan sukar dikenal orang,” kata Thai-kwi.
“Nanti dulu, toa-suheng,” kata Sam-kwi yang cerdik. “Kurasa cara itu kurang baik. Lebih baik nona ini membuatkan peta dari rumah Liong-li, menggambarkan keadaan semua tempat yang mengandung rahasia alat jebakan itu, iapun tidak perlu ikut masuk. Kalau gambarannya benar dan kita berhasil, ia kita bebaskan dengan hadiah. Kalau gambarannya palsu dan kita terjebak, kita masih belum terlambat untuk menyerahkan ia kepada anak buah kita yang kelaparan!”
71
“Jangan......!” Ui Hwa meratap ketakutan. “Kalau kubuatkan peta, kalian tentu akan tetap terjebak. Lika-liku rahasia jebakan di sana amat sulit dan selalu berubah. Hanya dengan melihat keadaannya, aku dapat melihat perubahan itu dan bertindak sesuai dengan perubahannya. Kalau hanya menurut peta, kalian pasti akan gagal dan terjebak. Kenapa kalian masih ragu dan tidak percaya kepadaku? Kalian takut kalau aku menipu kalian, bukan? Nah, kita pergi bersama, kalau aku menipu, setiap saat kalian dapat menangkap atau membunuhku!”
Lima orang itu saling pandang. “Baiklah, malam ini kita bergerak. Sementara ini engkau boleh beristirahat, Bunga Kuning,” kata Thai-kwi.
Gadis itu dimasukkan ke dalam sebuah kamar, kaki tangannya dipasangi rantai panjang sehingga biarpun ia mampu bergerak, namun sulit untuk melarikan diri. Ia disuguhi makan minum dan bunga Kuning mempergunakan kesempatan ini untuk memperkuat dirinya. Ia makan dan minum, lalu merebahkan diri dan memulihkan tenaganya.
Sementara itu, Thai-san Ngo-kwi dan para anak buahnya melakukan pengintaian ketika melihat Hek-liong-li dan delapan orang gadis pelayannya melakukan pencarian di sekitar tempat diculiknya Bunga Kuning tadi. Melihat betapa mereka tidak berani memasuki hutan, di mana sudah dipasang barisan pendam dan jebakan, Thai-san Ngo-kwi mengintai sambil berunding.
“Mereka semua meninggalkan rumah, hal itu berarti bahwa mereka terlalu percaya kepada rahasia di rumah mereka. Mereka
72
tentu lengah kalau berada di rumah itu dan sekali orang kita dapat menyelinap masuk, tentu tidak sukar untuk membunuhnya,” kata Thai-kwi girang.
Setelah cuaca mulai gelap dan rombongan Hek-liong-li yang tidak berhasil menemukan Bunga Kuning yang diculik orang itu pergi, Thai-san Ngo-kwi membuat persiapan. Mereka memberikan pakaian serba hitam yang menutupi pakaian kuning Ui Hwa, juga mereka menggunakan arang untuk menghitamkan muka gadis itu sehingga akan sukarlah mengenal gadis itu, apa lagi di waktu malam.
Semua peristiwa yang terjadi pada Liong-li merupakan hasil atau langkah-langkah pertama dari pertemuan antara tiga orang tiga tokoh Kiu Lo-mo di Bukit Hitam bersama Thai-san Ngo-kwi dalam usaha mereka membalas dendam kepada Hek-liong-li dan Pek-liong-eng. Mereka akan menggunakan segala macam cara untuk melampiaskan dendam mereka, yaitu membunuh sepasang pendekar itu.
Dan Thai-san Ngo-kwi bertugas untuk mengadakan gangguan terhadap Hek-liong-li, serangan-serangan kecil sebelum serangan besar yang mematikan tiba. Penghancuran arca, penangkap atas diri Bunga Kuning, semua itu hanya merupakan percobaan kecil-kecilan saja.
Tiga orang datuk besar dari Kiu Lo-mo itu amat cerdik. Mereka yang berdiri di belakang layar mengatur kesemuanya, dan mereka tidak tergesa-gesa. Bahkan ketika mereka dilapori tentang ditangkapnya Bunga Kuning, mereka yang mengatur
73
siasat dan pada malam hari itupun, mereka tidak membolehkan Thai-san Ngo-kwi sendiri yang maju mengantar Bunga Kuning menyelundup ke dalam rumah Hek-liong-li.
“Kita tidak boleh memandang rendah Hek-liong-li dan sembilan orang pelayannya. Jangan sampai untuk hasil yang kecil kita mempertaruhkan nyawa Thai-san Ngo-kwi,” demikian kata Kim Pit Siu-cai kepada suheng dan sumoinya. Thai-san Ngo-kwi, murid-murid keponakan mereka merupakan pembantu-pembantu utama yang penting bagi mereka.
◄Y►
Malam itu gelap sekali. Langit tak berbintang, tertutup awan awan gelap. Karena cuaca yang buruk, maka belum juga tengah malam, kota Lok-yang sudah sepi sekali. Sore-sore sudah banyak yang memasuki kamar tidur atau setidaknya berada di dalam rumah. Mereka yang suka bermalam panjang, lebih senang berada di rumah kawan-kawan atau di rumah pelesir atau rumah judi yang hangat. Bahkan para peronda penjaga keamanan pun nampak malas untuk berkeliaran di malam gelap dan dingin itu.
Keadaan yang sunyi ini menguntungkan dua orang berpakaian serba hitam yang menggandeng seorang lain yang juga berpakaian serba hitam. Orang yang digandeng ini adalah Bunga Kuning yang mukanya sudah dihitamkan dengan arang dan pakaiannya yang serba kuning kini tertutup pakaian hitam.
Kedua lengan gadis ini setengah lumpuh karena sebelum berangkat, Thai-kwi telah menotok kedua pundaknya. Kedua kakinya masih dapat bergerak lincah, akan tetapi karena kedua
74
pergelangan kaki itu dibelenggu dengan rantai, tentu saja ia tidak akan mampu berlari cepat. Dan dua orang yang mengawalnya itu adalah dua orang anak buah Thai-san Ngo-kwi yang paling lihai. Mereka sudah siap dengan pedang di tangan sehingga sewaktu-waktu, apabila Bunga Kuning membuat gerakan mencurigakan, mereka akan dapat membunuhnya!
Pagar tembok dua meter yang atasnya dipasangi tombak merah itu bukan penghalang bagi dua orang penjahat itu. Dengan ringan mereka meloncat bersama Bunga Kuning yang juga meloncat ke atas tembok, melewati tombak merah dan tak lama kemudian mereka sudah berindap-indap dan menyusup-nyusup di antara pohon-pohon bunga di sebelah kiri bangunan tempat tinggal Hek-liong-li. Gelap di situ dan lampu-lampu gantung yang dipasang di sekitar rumah itu nampak berkelap-kelip, ditelan kegelapan yang pekat.
Ketika tiba di belakang bangunan itu, di luar sebuah pintu besi yang tertutup rapat, Bunga Kuning memberi isyarat dengan matanya ke arah sebuah batu besar yang berdiri di balik semak rumpun bunga dan berbisik. “Putar batu itu ke kiri dua kali.”
Seorang di antara dua pengawalnya, yang bertubuh tinggi besar, segera menghampiri batu besar itu dan menggunakan kedua tangan untuk memutar batu besar itu dua kali. Tanpa mengeluarkan suara, pintu besi itupun terbuka! Orang kedua yang bertubuh tinggi kurus tetap memegangi lengan Bunga Kuning dan sebelah tangannya memegang pedang, sikapnya waspada.
75
Mereka bertiga masuk dan Bunga Kuning menunjuk ke arah tombol besi yang berada di balik pintu. “Dorong tombol itu untuk menutup pintu dan tarik kalau hendak membukanya,” bisiknya.
Kembali si tinggi besar mencoba tombol itu dan benar saja. Pintu itu mudah dibuka dan ditutup dari dalam menggunakan tombol itu.
Bunga Kuning membawa dua orang itu masuk semakin dalam, melalui bermacam-macam alat rahasia yang rumit-rumit. Dua orang itu diam-diam merasa gembira, karena agaknya tawanan itu tidak menipu mereka. Mereka bukan saja bertugas untuk membunuh Hek-liong-li kalau terbuka kesempatan. Andaikata tidak, mereka sudah mengetahui akan rahasia jebakan yang dipasang di rumah itu, yang semula amat ditakuti oleh Thai-san Ngo-kwi.
Mereka sama sekali tidak pernah mimpi bahwa sejak mereka memasuki pagar tembok, semua gerakan mereka telah diikuti oleh Hek-liong-li dan delapan orang pelayannya! Bagaimana mungkin begitu?
Kiranya ketika berada di luar pagar tembok tadi, tanpa diketahui dua orang penawannya, Bunga Kuning secara sengaja menginjak sebuah batu tersembunyi yang sengaja dipasang di situ. Kalau batu itu terinjak, maka di dalam akan ada tanda bahwa di luar pagar tembok ada orang yang mendekat. Dan sejak itu, Liong-li sudah melakukan pengintaian!
Untung saja Bunga Kuning memberi tanda itu. Andaikata tidak, dalam kegelapan itu, mungkin saja ia sendiri akan menjadi korban
76
penyergapan Hek-liong-li dan para pelayannya. Karena ia menginjak tanda itu, maka Hek-liong-li menjadi waspada.
Ketika ia mengintai, ia melihat orang ketiga yang ditawan itu, dengan rantai di kedua kaki. Biarpun muka itu sudah dihitamkan dengan arang, dan pakaian kuning tertutup baju hitam, Liong-li segera dapat mengenalnya sebagai si Bunga Kuning. Diam-diam Liong-li merasa gembira juga kagum terhadap anak buahnya itu, yang biarpun berada dalam keadaan gawat dan terancam maut, masih dapat bersikap tenang dan cerdik sesuai dengan gemblengan yang ia berikan kepada semua anak buahnya.
Bunga Kuning maklum sepenuhnya bahwa injakan batu tanda bahaya tadi tentu telah membuat semua rekan dan juga majikannya waspada. Maka, iapun tidak membuat usaha untuk menyerang kedua orang pengawalnya. Tidak perlu ia membahayakan dan mempertaruhkan nyawanya, karena sekali nonanya keluar turun tangan, dua orang kasar ini tentu akan mudah dibuat tidak berdaya tanpa ia mempertaruhkan nyawanya seperti kalau ia sendiri yang memberontak dan menyerang.
Sepasang mata Hek-liong-li yang tajam dan mencorong, menembus kegelapan ketika ia mengintai keadaan Bunga Kuning dan dua orang penawannya. Ia menanti saat yang tepat untuk turun tangan tanpa membahayakan keselamatan anak buahnya itu. Ia amat menyayang para anak buahnya, bukan saja menganggap mereka itu pembantu setia, akan tetapi juga kawan-kawan yang akrab dan murid-murid yang taat.
77
Bunga Kuning yang masih digandeng si tinggi kurus juga dapat menduga bahwa tentu nonanya sedang membuat persiapan dan mencari kesempatan baik untuk turun tangan. Ia melihat betapa si tinggi kurus selalu menggandeng lengan kirinya yang setengah lumpuh, dan pedangnya selalu ditodongkan di lehernya. Adapun si tinggi besar selalu melangkah di belakangnya, dengan pedang menodong punggungnya pula.
Iapun sengaja membawa dua orang penawannya itu ke tempat-tempat terbuka dengan maksud memberi kesempatan kepada Liong-li untuk turun tangan. Setiap kali tiba di tempat terbuka, ia sengaja berhenti. Pada saat yang baik, Bunga Kuning berhenti di bawah sebatang pohon. Ia sengaja mengajak mereka keluar dari ruangan belakang ketika mereka membisikkan bahwa mereka ingin agar Bunga Kuning menunjukkan tempat tidur Hek-liong-li?
“Nona kami selalu tidur di bangunan kecil yang berada di taman, tidak pernah tidur di dalam gedung induk,” bisik Bunga Kuning, “kalau ingin melihatnya, kita harus menyeberangi taman itu.”
Demikianlah, ketika tiba di bawah sebatang pohon dan banyak semak berbunga di sekitar situ, Bunga Kuning sengaja berhenti. Lampu yang tergantung di pohon, sebuah lampu taman yang indah dan cukup terang, membuat mereka bertiga menjadi sasaran yang jelas. Iapun mengatur jarak sehingga si tinggi besar yang berada di belakang itupun berada agak di kanan sehingga kalau ia harus menyingkir, ia dapat meloncat ke sebelah kiri yang paling jauh dari jangkauan kedua orang pengawalnya.
78
Dan perhitungan Bunga Kuning ini memang sesuai dengan perhitungan Hek-liong-li. Melihat betapa kembali anak buahnya itu berhenti, kini di bawah pohon yang ada lampu penerangannya, ia yang mengintai dari balik semak di sebelah depan agak ke kanan, segera turun tangan. Akan tetapi Liong-li bukanlah seorang yang berwatak curang. Tidak sudi ia kalau harus bertindak curang melukai lawan secara sembunyi, apa lagi membunuhnya. Ia hanya ingin menggunakan serangan gelap untuk memberi kesempatan kepada Bunga Kuning menghindarkan diri dari penodongan pedang.
“Wuut......! Wuuuutt......!” Dua butir kerikil menyambar dengan cepatnya ke arah dua orang yang menodong Bunga Kuning dengan pedang itu.
Inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu Bunga Kuning. Begitu mendengar kedua orang itu berteriak dan pedang mereka terlepas dari pegangan iapun cepat melempar tubuhnya dengan tangan masih setengah lumpuh dan kedua kaki dipasangi rantai itu ke arah kiri, dan bergulingan atas tanah.
Kawan-kawannya cepat menolongnya, membuka rantai dari kakinya dan memulihkan kedua lengannya yang tertotok. Adapun dua orang pengawal yang tadinya terkejut setengah mati karena tiba-tiba saja lengan mereka dekat siku terasa nyeri dan lumpuh sehingga pedang mereka terlepas, kini cepat menyambar pula pedang mereka karena kelumpuhan itu hanya beberapa detik saja dan pulih kembali.
79
Akan tetapi mereka telah terlambat karena mereka telah dikepung oleh sembilan orang wajah cantik yang berpakaian berwarna-warni termasuk Bunga Kuning yang tadi mereka tawan dan kini sudah berdiri bebas dengan pedang di tangan, dan di depan mereka berdiri seorang wanita yang amat cantik, tidak bersenjata, berpakaian ringkas yang membuat bentuk tubuhnya nampak jelas, pakaian dari sutera tipis halus berwarna hitam, namun indah karena ada hiasan hitam kelabu di tepi baju dan ada sulaman naga hitam di dalam lingkaran abu-abu.
“Hek-liong-li......!” Dua orang itu menggerakkan bibir menyebut nama ini, akan tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Mereka itu terpesona, kagum, kaget, dan juga takut setengah mati. Kalau saja mereka tidak menahan diri sekuat tenaga, tentu celana mereka sudah menjadi basah saking takut dan ngerinya menghadapi pendekar wanita yang tiba-tiba saja muncul ini.
Di antara sembilan orang nona pelayan atau juga pembantu dan murid Hek-liong-li ada yang menyalakan lampu lain sehingga tempat itu menjadi terang sekali. Dua orang laki-laki yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip itu kini menghadapi Liong-li dengan muka pucat dan kaki gemetar.
Sepasang mata wanita cantik itu seperti mata naga, mencorong dan menembus seperti menusuk jantung mereka.
“Hemm, kiranya kalian dua ekor anjing busuk yang telah merusak arcaku dan mencoba pula untuk meracuni aku di rumah makan!” Ucapan wanita cantik itu terdengar merdu dan halus, namun
80
mengandung hawa dingin yang menusuk tulang, mengandung ancaman yang membuat kedua orang itu menggigil.
“Bukan...... bukan kami yang melakukan itu......!” Kini si tinggi besar berkata dengan muka pucat sekali.
“Li-hiap, yang berdiri di belakang semua itu adalah Thai-san Ngo-kwi yang berdiam di puncak Bukit Hitam. Dua orang ini adalah anak buah mereka.” Bunga Kuning melapor. “Dan dua ekor anjing ini harap li-hiap serahkan saja kepada saya, li-hiap!”
“Dan kepada saya!” kata pula Bunga Biru. “Kami berdua yang pernah mereka serang dengan curang dan kini tiba saatnya kami berdua melakukan pembalasan.”
Liong-li tersenyum dan mengangguk. “Mereka berdua telah mengetahui rahasia tempat kita, walaupun hanya sebagian saja. Mereka memang layak mampus agar tidak dapat membuka rahasia.”
Bunga Kuning dan Bunga Biru, dengan pedang di tangan, menghampiri dua orang laki-laki yang berwajah pucat ketakutan itu.
“Nah, tikus-tikus busuk, kini kita dua lawan dua. Hayo perlihatkan kegaranganmu sekarang!” teriak Bunga Kuning yang segera menerjang dengan pedangnya, menyerang si tinggi kurus yang tadi selalu mencengkeram lengan dan menodongnya.
81
Adapun si Bunga Biru sudah maju pula menyerang laki-laki tinggi besar. Tidak ada pilihan lain bagi dua orang anak buah Thai-san Ngo-kwi kecuali melawan mati-matian untuk membela diri.
Namun, bukan saja mereka memang kalah tingkat dibandingkan dua orang pelayan yang juga murid-murid Liong-li itu, akan tetapi di samping itu merekapun sudah ketakutan setengah mati dan rasa takut ini mengurangi tenaga dan kecepatan mereka. Adu silat pedang itu berlangsung hanya duapuluh jurus lebih dan akhirnya dua orang laki-laki itupun roboh tersungkur dengan dada ditembusi pedang dan mereka tewas seketika.
“Bungkus dengan kain kasar mayat mereka, masukkan dalam kereta pengangkut barang dan siapkan di depan. Tiga orang ikut bersamaku, dan yang lain menjaga rumah baik-baik. Aku sendiri yang akan mengirimkan hadiah ini kepada Thai-san Ngo-kwi di Bukit Hitam!” kata Hek-liong-li.
Tak lama kemudian, sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda besar mendaki Bukit Hitam. Pintu dan tirai kereta itu tertutup dan yang nampak hanyalah seorang gadis berpakaian merah memegang kendali kuda. Dua buah lentera kereta itu menerangi jalan karena biarpun malam sudah amat larut mendekati fajar, namun cuaca masih amat gelapnya.
Dari jauh hanya nampak dua buah nyala api dari dua lentera itu bergerak-gerak menakutkan. Tentu akan disangka semacam setan kalau orang melihat dari jauh. Dua orang pelayan Liong-li yang lain, yang berbaju kuning dan biru, berada di dalam kereta. Dua orang anak buah ini dipilih karena mereka pernah dibawa ke
82
puncak bukit itu dan mengenal jalan. Tidak ada pelayan lain kecuali yang tiga orang itu. Bahkan Hek-liong-li sendiri tidak nampak di kereta!
Sebelum tiba di puncak, menjelang fajar, cuaca tidak begitu gelap lagi walau masih remang-remang karena sinar matahari baru menjenguk sedikit di balik puncak. Namun burung-burung jenis yang rajin, sudah bangun dan membuat persiapan bekerja sambil berteriak saling memanggil.
Bagi mahluk-mahluk kecil yang pandai terbang ini, nampaknya pekerjaan setiap hari merupakan suatu kebahagiaan tersendiri yang disambut dengan persiapan yang riuh dan menggembirakan. Bagi mereka yang ada hanyalah satu, yakni setiap hari bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan anak-anak mereka yang masih belum mampu mencari makan sendiri. Hanya mencari makan untuk mempertahankan hidup, itu saja.
Tiba-tiba saja nampak cahaya yang amat terang. Ang-hwa (Bunga Merah) yang mengendalikan kereta cepat menahan dua ekor kudanya dan ketika ia memandang ke sekeliling, ternyata kereta itu berada di tempat terbuka dan tempat itu sudah dikepung banyak orang. Tidak kurang dari duapuluh orang mengepung tempat itu, dan sedikitnya sepuluh orang memegang obor besar yang agaknya tadi dinyalakan serentak sehingga nampak cahaya yang menyilaukan mata.
Duapuluh orang lebih itu membawa golok di pinggang, ada yang memegang tombak, dan wajah-wajah yang tertimpa sinar obor kemerahan itu nampak bengis, seperti wajah setan layaknya. Dan
83
di depan kereta muncul lima orang yang berdiri bertolak pinggang dengan sikap sombong.
Ang-hwa dan dua orang rekannya, yaitu Lan-hwa dan Ui-hwa yang mengintai dari celah-celah tirai, melihat bahwa mereka adalah lima orang yang bertampang dan bersikap menyeramkan. Seorang bertubuh tinggi besar berkulit hitam legam, yang kedua pendek gendut dengan muka menyeringai jelek, yang ketiga tinggi kurus, keempat tinggi besar agak bongkok dan yang kelima sedang saja, akan tetapi senyumnya mengejek dan sombong.
Biarpun dikepung dan dihadapi sedikitnya duapuluh lima orang, Ang-hwa (Bunga Merah) nampak tenang-tenang saja. Setelah saling pandang dengan lima orang itu, dengan suaranya yang lincah dan lantang Ang-hwa bertanya, “Apakah kaliani ini yang disebut Thai-san Ngo-kwi (Lima Setan Thai-san)?”
Mereka memang Thai-san Ngo-kwi. Seperti sudah kita ketahui, lima orang kepala gerombolan murid mendiang Siauw-bin Ciu-kwi yang juga merasa sakit hati kepada Pek-liong-eng dan Hek-liong-li, bersekongkol dengan dua orang paman guru dan seorang bibi guru mereka, merencanakan balas dendam kepada dua orang pendekar itu.
Ngo-kwi (Setan Kelima) yang paling muda di antara mereka, usianya tigapuluh lima tahun pesolek dan tampan, bertubuh sedang dan pembawaannya seperti seorang kong-cu (tuan muda) dari kota, tertawa dibuat-buat sambil memandang ke arah Ang-hwa yang memegang kendali kuda.
84
“Ha-ha-ha, aku mendengar bahwa Hek-liong-li mempunyai sembilan orang pelayan yang manis-manis dan yang berpakaian merah merupakan pelayan yang paling cantik paling lihai. Agaknya engkaulah nona baju merah itu? Kami memang benar Thai-san Ngo-kwi. Nah, nona merah, apakah engkau datang untuk menemani kami bersuka-ria? Marilah engkau turun ke dalam pelukanku, manis!” Jelas bahwa ucapan ini bukan sekedar menggoda, melainkan juga mengandung ejekan yang tidak memandang sebelah mata kepada para pembantu Hek-liong-li.
Memang benar pendapat Ngo-kwi ini. Ang-hwa adalah seorang yang paling cerdik, juga paling tangguh dalam ilmu silat, di antara rekan-rekannya. Karena melihat bakat yang ada pada diri Ang-hwa, maka Hek-liong-li tidak saja menurunkan ilmu silat yang lebih tinggi kepadanya, juga amat mempercayainya sehingga untuk urusan penting, Ang-hwa yang diserahi tugas pelaksanaannya. Gadis berusia duapuluh lima tahun ini sudah tiga kali putus cinta, dikhianati pria, maka setelah bertemu Hek-liong-li, iapun rela menghambakan diri dan kini merupakan pelayan, murid, dan sahabat terbaik Hek-liong-li.
Mendengar ucapan Ngo- kwi, Ang-hwa sama sekali tidak terpancing menjadi marah. Bahkan sebaliknya, ia tersenyum manis sekali memandang kepada Ngo-kwi.
“Kiranya benar kalian Thai-san Ngo-kwi. Memang kunjunganku ini mempunyai tugas penting, yaitu aku diutus oleh Hek-liong Li-hiap (Pendekar Wanita Naga Hitam) untuk menyerahkan hadiah yang amat berharga kepada kalian sebagai tanda penghormatan!”
85
Mendengar ini, lima orang kepala penjahat itu saling pandang, ada yang terheran, ada yang curiga, ada pula yang kagum dan ada yang tidak percaya. Akan tetapi Thai-kwi, orang pertama dari mereka, berusia empatpuluh lima tahun dan bertubuh tinggi besar muka hitam, maklum akan kecerdikan Hek-liong-li dan tidak ingin adik seperguruannya yang termuda dan mata keranjang itu menggagalkan rencana mereka, segera melangkah maju mendekati kereta.
“Nona, kalau benar engkau diutus Hek-liong-li datang ke sini untuk mengirim hadiah kepada kami, nah, serahkan hadiah itu kepadaku. Akulah Thai-kwi, orang pertama dari Thai-san Ngo-kwi.”
Ang-hwa tersenyum. “Nah, itu baru sambutan yang tepat. Thai-kwi, terimalah kiriman dari nona kami, akan tetapi hati-hati, barang kiriman yang dua buah ini cukup berat. Sambutlah!”
Tiba-tiba dua buah benda besar panjang terlempar keluar dari dalam kereta, seperti menerjang kepada Thai-kwi. Orang pertama Thai-san Ngo-kwi ini memang lihai. Dia terkejut dan mengira bahwa ada orang-orang keluar dari kereta menyerangnya, maka sambil berteriak dia bergerak, memukul dan menendang ke arah dua buah benda yang menubruknya itu.
“Bukk! Bukkk!” Dua buah benda itu terbanting dan tidak bergerak-gerak lagi.
Ketika semua orang memandang, mereka terkejut setengah mati. Bahkan Thai-kwi sendiri terbelalak dan mukanya berubah merah seperti dibakar. Karena kulit mukanya memang sudah hitam,
86
ketika darah naik ke kepala saking marahnya, warna mukanya menjadi semakin gelap.
Dua buah benda itu bukan lain adalah tubuh dua orang laki-laki yang terbungkus kain, hanya mukanya saja yang nampak, muka dua orang anak buahnya yang tadi disuruh mengawal Ui-hwa (Bunga Kuning) mempelajari rahasia tempat tinggal Hek-liong-li! Mereka kini dikirim oleh Liong-li kepada mereka sudah menjadi mayat!
Tentu saja Thai-san Ngo-kwi menjadi marah bukan main, juga para anak buahnya berteriak-teriak karena marah. Bukan saja dua orang rekan mereka terbunuh, akan tetapi juga Liong-li mengirim mayat mereka, hal ini sungguh merupakan penghinaan yang hebat. Namun, di balik kemarahan ini terdapat kengerian karena cara yang dilakukan Liong-li ini menunjukkan betapa hebatnya wanita itu, betapa beraninya!
“Keparat! Nona baju merah, engkau berani membawa mayat-mayat anak buah kami ke sini, apakah nyawamu rangkap?” bentak Thai-kwi dan pada saat itu muncullah Lan-hwa dan Ui-hwa dari balik tirai kereta.
Setelah tadi melempar keluar dua mayat anak buah penjahat, dua orang gadis itu bersiap-siap dan setelah tiba saatnya, mereka meloncat keluar dan berdiri di kanan kiri kereta bagian depan, mendampingi Ang-hwa yang masih duduk di atas kereta. Tiga orang gadis cantik ini bersikap tenang dan siap siaga menghadapi pengeroyokan banyak lawan.
87
Melihat ini, kemarahan Thai-kwi memuncak. “Bagus!” teriak Thai-kwi. “Hek-liong-li mengirim tiga orang anak buahnya dan kami masih untung satu kalau membunuh mereka bertiga ini!”
“Twako, jangan bunuh. Serahkan dulu mereka bertiga kepadaku! Setelah kita mempermainkan mereka sepuasnya, barulah mereka itu dibunuh!” kata Ngo-kwi dan ucapannya ini disambut gembira oleh anak buah mereka.
Thai-kwi mengangguk-angguk dan tersenyum. “Begitu juga lebih baik. Nah, kerahkan semua tenaga dan tangkap tiga orang gadis ini hidup-hidup. Kita akan mempermainkan dan menyiksanya, baru mengirim mayat mereka ke rumah Hek-liong-li!”
Para pengepung itu menyeringai dan mereka semua menyimpan senjata mereka, mengepung kereta itu dan mata mereka berkilat, wajah berseri karena mereka seperti akan berlumba siapa yang dapat lebih dulu menangkap tiga orang wanita muda yang cantik manis itu. Akan tetapi, melihat mayat dua orang rekan mereka, para anak buah penjahat itupun maklum bahwa biarpun merupakan wanita-wanita muda yang cantik, namun pihak lawan adalah orang-orang yang lihai dan tidak boleh dipandang ringan, maka mereka tidak berani langsung menyerang, bahkan membiarkan pimpinan mereka, lima orang Thai-san Ngo-kwi untuk turun tangan.
Sebelum lima orang kepala gerombolan itu turun tangan, tiba-tiba terdengar suara tawa merdu dan entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja di atas kereta itu telah berdiri seorang wanita yang cantik luar biasa. Nampak semakin luar biasa karena
88
kemunculannya yang tiba-tiba, berpakaian sutera hitam dan wajahnya yang bulat telur itu disinari api obor yang banyak. Tadi, lima orang Thai-san Ngo-kwi hanya melihat berkelebatnya bayangan hitam, dan tahu-tahu wanita itu telah berdiri di atas kereta, tanpa mengguncangkan kereta seolah-olah yang menimpa atas kereta itu bukan manusia, melainkan seekor burung.
“Hek-liong-li.....!” terdengar teriakan-teriakan kaget dan mendengar sebutan ini, Liong-li tersenyum manis.
“Hemm, kalian masih mengenal Hek-liong-li, namun tetap berani mengganggunya, berarti kalian memang sudah bosan hidup. Kalian merusak arca di pekarangan rumahku, kemudian kalian mencoba untuk meracuniku, lalu menawan orangku. Thai-san Ngo-kwi, selama ini aku Hek-liong-li tidak pernah mengganggumu, kenapa sekarang kalian melakukan hal-hal tidak pantas kepadaku? Aku tidak mau membunuh orang tanpa mengetahui urusannya!”
Biarpun hatinya jerih menghadapi pendekar wanita pembunuh gurunya itu, namun karena dia berada bersama empat orang adik seperguruannya, bahkan masih ada lagi duapuluh orang lebih anak buah mereka, Thai-kwi yang marah itu membentak.
“Hek-liong-li, kami akui bahwa yang merusak arca di pekarangan, yang menyuruh meracuni dan kemudian menculik anak buahmu adalah kami, Thai-san Ngo-kwi! Mengapa kami memusuhimu? Hek-liong-li, mungkin engkau sudah lupa, namun kami tidak akan pernah dapat melupakan bahwa guru kami, Siauw-bin Ciu-kwi,
89
tewas di tangan engkau dan Pek-liong-eng! Nah, sekarang tiba saatnya engkau membayar hutang nyawa kepada guru kami!”
Bibir yang merah basah dan manis itu tersenyum mengejek. “Aha, kiranya kalian murid-murid Siauw-bin Ciu-kwi. Tidak mengherankan kalian pandai mempergunakan siasat licik dan curang busuk. Siauw-bin Ciu-kwi tewas karena ulahnya sendiri, karena kejahatannya. Dan kalian pun akan mampus karena kejahatan kalian sendiri kalau kalian melanjutkan perbuatan jahat kalian. Sebaiknya, selagi masih ada kesempatan, kalian bertaubat, membuang senjata dan berjanji tidak akan berbuat jahat lagi. Aku Hek-liong-li bukan orang kejam dan suka memaafkan kalian yang telah merusak arca dan mencoba meracuniku.”
“Hek-liong-li, bersiaplah untuk mampus menebus hutangmu kepada guru kami!” Thai-kwi membentak dan dia memberi isyarat kepada empat orang adik seperguruannya.
Mereka berlima serentak menyerang Hek-liong-li, sedangkan duapuluh orang lebih anak buah mereka sambil berteriak-teriak maju mengepung dan menyerang Ang-hwa, Lan-hwa dan Ui-hwa. Terjadilah pertempuran seru di tempat itu, hanya diterangi obor-obor dan di atas tanah. Juga matahari pagi mulai memperbesar cahayanya menjenguk dari balik puncak.
Thai-san Ngo-kwi bersenjatakan golok besar dan selain ilmu golok yang dahsyat, mereka juga telah mewarisi ilmu pukulan ampuh dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, yaitu yang disebut Ang-hwe-ciang (Tangan Api Merah). Sambil memainkan golok dengan
90
tangan kanan, merekapun mengerahkan tenaga Ang-hwe-ciang pada tangan kiri sehingga tangan kiri mereka itu berubah menjadi merah warnanya dan mengepulkan asap atau uap kemerahan.
Lebih hebat lagi, ketika mereka berlima menyerang dari lima jurusan, mereka kadang bergulingan dan sambil bergulingan itu golok mereka menyambar atau tangan kiri mereka memukul. Tangan kiri yang merah itu tidak kalah dahsyatnya dibandingkan golok di tangan kanan.
Namun Hek-liong-li adalah seorang ahli silat yang sudah berpengalaman menghadapi banyak macam penjahat lihai. Ia masih ingat benar akan keampuhan Ang-hwe-ciang dari mendiang Siauw-bin Ciu-kwi, maka kini iapun amat berhati-hati. Ia masih belum mempergunakan pedangnya, hanya mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari serangan bertubi yang dilakukan lima orang kepala gerombolan itu.
Untuk menghadapi pengeroyokan lima orang lawan tangguh itu, Liong-li sengaja mempergunakan langkah ajaib yang disebut Liu-seng-pow (Langkah Pohon Liu). Kedua kakinya bergeser dan melangkah secara aneh, tubuhnya meliuk-liuk seperti batang pohon liu tertiup angin, dan hebatnya, semua serangan lima orang lawan tak pernah mampu menyentuh dirinya. Untuk mengimbangi langkah ajaib Liu-seng-pouw ini, Liong-li juga menyelingi dengan serangan kedua tangannya yang mempergunakan ilmu Bi-jin-kun (Silat Wanita Cantik) yang gerakannya halus namun setiap kali tangannya menampar, angin pukulan menyambar dengan amat kuatnya.
91
Thai-san Ngo-kwi menjadi kewalahan. Setiap kali tangan Liong-li menampar dan mereka mengelak, tetap saja hawa pukulan itu membuat mereka terhuyung sehingga mereka maklum bahwa sekali saja terkena tamparan itu, berbahayalah bagi keselamatan nyawa mereka.
Selagi mereka kebingungan, terdengar suara tawa yang menyeramkan, seperti suara kuntilanak yang tertawa dan muncullah Ang I Sian-li yang biarpun usianya sudah lebih dari setengah abad, masih nampak ramping dan cantik, pesolek pula.
“Hek-liong-li, inilah saatnya engkau mati!” teriak nenek itu dan begitu ia menyerang.
Hek-liong-li terkejut. Ia dapat mengindarkan diri dengan langkah ajaibnya, namun tetap saja sebagian gelung rambutnya terlepas ketika dilanda angin pukulan yang berdesir tajam.
Liong-li cepat memperhatikan wanita itu, akan tetapi ia merasa belum pernah bertemu atau mengenal orang ini. Ia tidak diberi banyak kesempatan untuk berpikir, apa lagi bertanya karena begitu serangan pertama itu luput, nenek tadi sudah menyerang lagi, lebih dahsyat dari pada serangan pertama. Karena ingin mengukur sampai di mana kekuatan pukulan lawan, Liong-li sengaja menyambut pukulan itu dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga sin-kang.
“Desss......!!” Dua tangan itu bertemu dan akibatnya, keduanya terdorong mundur sampai empat-lima langkah tanpa dapat mereka cegah lagi.
92
Nenek itu terbelalak kaget, dan diam-diam Liong-li juga terkejut karena ia tahu bahwa nenek ini benar-benar amat lihai, memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi kekuatannya sendiri. Maka, tanpa ragu lagi kini tangan kanannya bergerak dan nampaklah sinar hitam berkelebat ketika pedang Hek-liong-kiam (Pedang Naga Hitam) telah tercabut dari sarungnya.
Thai-san Ngo-kwi tentu saja tidak tinggal diam. Hati mereka besar setelah melihat munculnya nenek berpakaian serba merah itu. Melihat Ang I Sian-li sudah bergebrak melawan Hek-liong-li, merekapun segera menyerang dengan senjata golok mereka.
Liong-li maklum bahwa ia menghadapi banyak lawan yang tangguh, maka iapun cepat memutar pedangnya dan pedang itu lenyap berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menyambar-nyambar. Terdengar suara nyaring berkerontangan dan lima orang penyerang itu berloncatan ke belakang dengan muka pucat karena ujung golok mereka patah-patah ketika bertemu gulungan sinar hitam.
Ang I Sian-li memang belum pernah bertemu dengan Liong-li dan hanya mendengar bahwa gadis pendekar itu lihai dan telah menewaskan empat orang rekannya dari Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua). Kini, dalam gebrakan pertama saja ia maklum bahwa berita tentang Hek-liong-li tidaklah bohong. Gadis itu memiliki tenaga sin-kang yang mampu menangkis pukulannya.
Kini sekali putar pedangnya saja ia mampu mematahkan ujung lima batang golok dari para murid Siauw-bin Ciu-kwi. Ia menoleh kepada duapuluh lebih anak buah Thai-san Ngo-kwi, dan melihat
93
betapa merekapun dibuat kocar-kacir oleh tiga orang nona pelayan Hek-liong-li.
Ang I Sian-li memberi isyarat dengan siulan melengking. Ia memang tidak bermaksud membunuh Liong-li begitu saja. Gerakan pertama ini hanya untuk mengacau dan merongrong Hek-liong-li. Untuk membunuh gadis pendekar itu, ia harus bersatu dengan dua orang rekannya, yaitu Kim Pit Siu-cai dan Pek-bwe Coa-ong.
Mendengar isyarat itu, Thai-san Ngo-kwi juga memberi isyarat kepada anak buah mereka untuk mundur dan merekapun berlompatan meninggalkan tempat itu sambil menyeret dan menarik teman-teman yang sudah terluka dalam pertempuran itu.
“Jangan kejar!” Liong-li berseru ketika melihat tiga orang pembantunya hendak melakukan pengejaran.
Terlalu berbahaya mengejar musuh di daerah mereka sendiri, apa lagi musuh itu terdiri dari banyak orang jahat yang dipimpin seorang yang amat lihai seperti nenek berpakaian merah tadi. Yang membuat ia heran adalah nenek tadi. Siapakah ia dan mengapa pula ia membantu Thai-san Ngo-kwi?
Kalau lima orang pemimpin gerombolan itu memusuhinya, ia tidak merasa heran karena mereka adalah para murid Siauw-bin Ciu-kwi yang tewas di tangan ia dan Pek-liong. Akan tetapi nenek berpakaian merah itu, mengapa memusuhinya?
“Mari kita pulang dan mulai saat ini kita harus melakukan penjagaan ketat di rumah,” katanya kepada tiga orang
94
pembantunya. Merekapun naik kereta dan pulang kembali ke Lok-yang.
Setelah Liong-li tiba di rumah dengan selamat, ia lalu mengatur penjagaan ketat siang malam secara bergilir agar setiap saat ada musuh datang, mereka dapat mengetahuinya. Mereka semua siap-siaga untuk melawan musuh kalau ada yang berani mengganggu.
Liong-li diam-diam mengutus seorang anggauta piauw-kiok (perusahaan pengiriman barang) untuk mengantarkan surat kepada Pek-liong yang tinggal di dusun Pat-kwa-bun dekat Telaga See-ouw di Hang-kouw. Peristiwa yang baru saja ia alami perlu diketahui oleh Pek-liong, karena bukankah mereka berdua yang dahulu menantang Siauw-bin Ciu-kwi? Kalau kematian datuk sesat itu hendak dibalaskan oleh para muridnya, maka bukan ia seorang yang terancam, juga Pek-liong tentu akan mereka cari. Karena itulah, ia perlu memberitahu Pek-liong agar waspada.
◄Y►
Rumah itu tentu tidak akan menyolok dan menarik perhatian kalau berada di dalam kota besar. Akan tetapi karena adanya di dusun Pat-kwa-bun, maka tentu saja nampak megah dan mewah di antara rumah-rumah dusun yang kecil sederhana. Rumah itu cukup besar, dengan pekarangan yang luas. Dari taman di depan, kebun di belakang, dari genteng sampai ke dinding, daun pintu dan jendelanya, dapat dilihat bahwa rumah itu terpelihara
95
baik-baik dan selain nampak megah, juga bersih dan menyenangkan.
Di taman atau pekarangan depan rumah, selain terdapat berbagai macam bunga yang sedang berkembang, juga terdapat sebuah arca berbentuk seekor naga dengan warna putih. Seekor Naga Putih! Baru bentuk arca ini saja akan membuat orang-orang dunia persilatan dapat menduga bahwa rumah ini tentu tempat tinggal si pendekar Naga Putih.
Pek-liong-eng (Pendekar Naga Putih) Tan Cin Hay adalah seorang pendekar yang telah membuat nama besar dengan sepak terjangnya yang menggemparkan, baik seorang diri atau terutama sekali kalau dia berpasangan dengan Hek-liong-li (Pendekar Wanita Naga Hitam) Lie Kim Cu. Tan Cin Hay atau yang di dunia kang-ouw disebut Pek-liong (Naga Putih) adalah seorang pria yang usianya sekitar tigapuluh tahun, wajahnya tampan bersih tidak dikotori kumis atau jenggot karena dicukur rapi, tentu hanya akan disangka seorang tuan muda atau seorang pelajar yang lembut kalau saja dagunya tidak berlekuk mununjukkan kejantanan dan sinar matanya tidak mencorong seperti mata naga.
Tubuhnya sedang saja dan pakaiannya yang serba putih itu di ringkas dan sederhana dan kalau orang berada di dekatnya baru akan melihat bahwa di lehernya sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam. Orangnya pendiam, sederhana dan sikapnya rendah hati sehingga bagi yang belum mengenalnya, tentu akan menganggap dia seorang terpelajar karena penampilannya sama sekali tidak membayangkan seorang jagoan. Pada hal, Pek-liong
96
memiliki ilmu kepandaian yang membuat geger dunia kang-ouw, membuat gentar hati para penjahat karena dia selalu menentang kejahatan.
Dalam usianya yang tigapuluh tahun itu, Pek-liong hidup membujang di rumahnya yang besar, ditemani oleh enam orang pelayan pria yang usianya antara tigapuluh tiga sampai empatpuluh tiga tahun. Para pelayan itu bukanlah pelayan biasa karena mereka telah digemblengnya dengan ilmu silat sehingga mereka juga dapat dianggap sebagai muridnya atau pembantunya.
Sebetulnya, Pek-liong bukanlah seorang perjaka yang tidak pernah menikah. Dia adalah seorang duda! Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia hidup bersama seorang isteri tercinta sebagai pengantin baru. Ketika itu isterinya sedang mengandung anak pertama. Akan tetapi malapetaka datang menimpa suami isteri ini.
Dalam keadaan mengandung tiga bulan, isterinya itu diculik dan diperkosa penjahat sampai mati. Dia sendiri nyaris tewas. Dendam sakit hati yang sedalam lautan sebesar gunung membuat Tan Cin Hay belajar ilmu silat secara mendalam, dan akhirnya dia berhasil membalas dendam kepada para penjahat yang telah menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya.
Dan sejak itulah nama Pek-liong terkenal di mana-mana karena dia selalu menentang kejahatan dan bertindak tegas terhadap penjahat yang manapun. Namanya bersama Liong-li semakin menjulang ketika mereka berdua berhasil membinasakan datuk-
97
datuk besar golongan hitam, terutama sekali setelah mereka membinasakan empat orang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua). Bersama Hek-liong-li, Pek-liong telah menewaskan Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam), Siauw-bin Ciu-kwi (Setan Arak Muka Tertawa), Lam-hai Mo-ong (Raja Iblis Laut Selatan), dan Tiat-thouw Kui-bo (Biang Iblis Kepala Besi), empat di antara Kiu Lo-mo yang terkenal sebagai datuk golongan hitam.
Memang amat mengherankan semua orang melihat betapa Pek-liong yang menjadi duda sejak usia duapuluh satu tahun itu tidak pernah menikah lagi. Pada hal dia tampan, gagah perkasa, dan kaya raya. Banyak wanita yang akan merasa berbangga dan berbahagia apa bila dipersuntingnya. Namun, Pek-liong tidak pernah mau mengikatkan diri dengan sebuah pernikahan.
Walaupun beberapa kali dia terlibat dalam ikatan asmara dengan beberapa wanita, namun hubungan mereka itu hanyalah hubungan yang terdorong gairah nafsu kedua pihak belaka, tidak pernah dilanjutkan dengan ikatan cinta dalam pernikahan. Keadaannya yang seperti itu persis dengan keadaan Hek-liong-li.
Biarpun Pek-liong jarang mencari keributan di dunia persilatan, dan lebih banyak bersantai di rumah, menyibukkan diri dengan membaca kitab-kitab kuno dan mengurus taman dan kebun buahnya, namun dia tidak pernah lupa untuk berlatih silat. Bahkan, dengan enam orang pembantunya sebagai lawan berlatih, hampir setiap hari dia memperdalam ilmu-ilmunya, menyempurnakan kekurangannya dan juga dia selalu berlatih menghimpun tenaga untuk memperkuat sin-kangnya. Maka,
98
keadaannya tetap sehat dan kuat, bahkan dengan bantuan kitab-kitab kuno, dia dapat memperoleh kemajuan dalam ilmu silatnya.
Seperti juga rumah Hek-liong-li, rumah pendekar ini penuh dengan alat-alat rahasia sehingga biarpun di waktu malam dia dan enam orang pembantunya tidur nyenyak, mereka tidak perlu merasa khawatir karena alat-alat rahasia itu merupakan penjaga keamanan yang amat setia dan boleh diandalkan.
Malam itu gelap dan dingin sekali. Di angkasa tidak nampak bulan, namun sebagai gantinya, bintang yang tak terhitung banyaknya bertaburan. Dusun Pat-kwa-bun sudah sunyi sekali, biarpun tengah malam masih jauh. Orang-orang lebih senang berada di rumah masing-masing di malam sedingin itu.
Dusun ini memang aman. Agaknya, dengan tinggalnya Pek-liong di dusun itu, tidak ada penjahat yang berani lancang mengganggu ketentraman dusun Pat-kwa-bun. Siapa yang berani mempermainkan kumis harimau? Jangankan baru penjahat kecil, biar para tokoh kang-ouw kenamaan yang lihai sekalipun akan merasa lebih aman kalau menjauhi Pat-kwa-bun agar tidak sampai bentrok dengan si Naga Putih.
Akan tetapi agaknya di malam gelap itu terjadi hal yang luar biasa. Sesosok bayangan hitam yang gerakannya ringan dan lincah sekali, berkelebat di luar pagar tembok di belakang rumah itu bagaikan seekor kucing saja, bayangan hitam itu meloncat ke atas tembok yang tingginya ada dua meter dan sejenak dia mendekam di atas pagar tembok, mengintai ke sebelah dalam.
99
Di bawah pagar sebelah dalam merupakan kebun belakang rumah Pek-liong. Bayangan itu menggerakkan tangan kanan, melemparkan sebuah batu ke bawah. Kiranya dia hendak melihat apakah tempat itu dipasangi jebakan. Setelah yakin bahwa tidak ada reaksi ketika dia melemparkan batu, tubuhnya melayang turun ke sebelah dalam dan kakinya tepat menginjak batu kecil yang tadi dia lemparkan.
Dia tidak berani sembarangan melangkah lagi. Dia maklum bahwa tempat tinggal si Naga Putih itu penuh dengan rahasia dan jebakan, maka dia bersikap hati-hati sekali. Setiap kali kakinya hendak melangkah, selalu dia dahului dengan lemparan batu ke arah tempat yang akan diinjaknya. Dan sikapnya ini memang menolongnya.
Ketika dia tiba di dekat lorong kecil menuju ke pintu belakang rumah itu, begitu dia melemparkan sebuah batu ke atas tanah yang akan dijadikan tempat berpijak, tiba-tiba saja ada tiga batang anak panah meluncur ke arah tempat itu dan andaikata dia tidak mencobanya dulu dengan batu, tentu dirinya yang diserang anak panah.
Agaknya di tempat yang dia lempari batu tadi dipasang alat rahasia sehingga kalau terpijak orang, lalu senjata anak panah itu bekerja melalui alat rahasia yang dipasang. Dia melemparkan batu ke tempat lain dan akhirnya dapat tiba di depan pintu belakang dengan selamat.
Daun pintu itu tidak berapa tinggi, hanya lebih tinggi sedikit dari orang itu dan lebarnya satu meter. Ketika dia berdiri di depan
100
pintu, di mana terdapat sebuah lampu gantung, nampak bahwa dia seorang laki-laki yang bertubuh sedang, matanya tajam seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam dan muka bagian bawah tertutup kain hitam pula. Dia memegang sebatang pedang telanjang dan gerak geriknya memang ringan sekali.
Sejenak dia meneliti pintu itu. Jalan masuk hanya melalui pintu belakang ini. Dia tidak berani mengambil jalan dari atap. Terlalu berbahaya, pikirnya. Dia mengambil sebatang kayu sebesar lengan yang banyak terdapat di kebun itu, lalu menggunakan benda itu untuk mendorong daun pintu sambil mengerahkan tenaganya. Daun pintu dapat didorongnya terbuka, palangnya sebelah dalam patah.
Hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga orang ini. Dengan hati lega dia menyimpan pedangnya di sarung yang menempel di punggung, kemudian dengan hati-hati dia melangkah memasuki pintu yang sudah terbuka.
Pada saat tubuhnya tiba diambang pintu, tiba-tiba terdengar suara berdesing dan dari sebelah kanannya meluncur sebatang tombak menyerang ke arah dadanya! Cepat sekali gerakan tombak itu, namun si bayangan hitam itu ternyata lihai sekali. Dia cepat menggerakkan lengan kanan menangkis sambil mengerahkan tenaga.
“Krekkk!” Gagang tombak dari kayu itu patah-patah ketika bertemu dengan lengannya dan pada saat itu, dia sudah melompat ke depan. Sebatang tombak dari kiri meluncur akan tetapi karena dia sudah melompat ke depan, tombak itu meluncur
101
lewat di belakang tubuhnya dan tidak mengenai sasaran. Kiranya di ambang pintu itu terdapat alat rahasia yang menggerakkan dua tombak dari kanan kiri begitu terinjak kakinya.
Bayangan hitam itu mengeluarkan suara tawa kecil mengejek, lalu dia bergerak maju lagi dengan hati-hati, menggunakan sebatang kayu untuk mencari jalan yang aman. Akhirnya dia tiba di pintu besi yang menembus ke bangunan induk gedung itu. Pintu besi itu tingginya dua meter dan lebarnya hampir dua meter, daun pintu terbagi dua dan tertutup rapat.
Agaknya tidak mungkin mendobrak daun pintu yang kokoh kuat ini, pikir si bayangan hitam itu. Akan tetapi dia adalah seorang ahli dalam hal alat rahasia dan jebakan pada pintu. Dia tahu bahwa di sebelah luar pintu pasti ada alat pembuka pintunya.
Sepasang mata di atas kain hitam penutup muka itu mengamati ke adaan sekitar pintu dengan sinar mata tajam. Melihat sebuah arca singa kecil tak jauh dari pintu, diapun tertawa kecil dan menghampiri arca itu. Diputar-putarnya arca itu ke kanan kiri dan akhirnya sepasang daun pintu besi itu bergerak terbuka ke kanan kiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Dengan mata berkilat karena gembira, si bayangan hitam berindap-indap memasuki lubang pintu itu. Karena tadi dia pernah terancam bahaya ketika melewati ambang pintu pertama, kini dengan hati-hati dia melemparkan batu sebelum kakinya menginjak ambang pintu. Setelah tidak melihat adanya bahaya, dia berani melangkah masuk.
102
Kiranya di belakang pintu itu merupakan jalan terowongan yang tidak begitu lebar, selebar pintu itu dan kanan kirinya dari dinding tinggi. Tidak ada pilihan lain kecuali maju melalui lorong itu ke depan. Untung bahwa lorong itu mendapat penerangan dari atas sehingga terang dan si bayangan hitam berindap melangkah ke depan.
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil