Donasi

Buat yang punya rejeki berlebih dan merasa terhibur dengan Situs Cerita Silat Cersil Terbaik ini bisa mendonasikan bantuannya ke
No. Rekening BPD Jateng No. 2004084554
demi keberlangsungan dan keberadaan Blog Cersil Cerita Silat yang sama-sama kita cintai ini. Kritik dan Saran hub No HP.083837358519. Atas Bantuannya disampaikan Terimakasih.

Rabu, 30 Mei 2018

Pendekar Tanpa Bayangan 3

=====
baca juga
Jilid 7
Bab 1. Kasihan Keluarga Pouw . . . . . !
Tiba-tiba sebatang tombak yang ditusukkan dari belakang
tepat mengenai pundak kanan gadis itu. Terdengar suara tulang
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 202
patah dan pedang di tangan kanan Siang Ni terlepas, lengan
kanannya tergantung lumpuh!
“Siang Ni......!” Cun Giok berteriak, akan tetapi Siang Ni
bahkan tertawa nyaring, tubuhnya terhuyung-huyung namun ia
masih memutar pedang kirinya menangkis senjata-senjata
lawan yang datang menyerangnya bagaikan hujan.
“Jangan bunuh gadis liar itu! Tangkap ia hidup-hidup!”
terdengar seruan komandan pasukan dan Siang Ni dikepung
ketat. Para perajurit kini hendak mencari kesempatan baik agar
dapat meringkus gadis yang akan ditangkap hidup-hidup itu.
Siang Ni masih mengamuk dan tiba-tiba ia mengeluarkan
pekik melengking yang menggetarkan. Pekiknya seolah
memberinya tenaga baru. Pedang di tangan kirinya membentuk
gulungan sinar emas dan menyambar-nyambar sehingga dua
orang di sebelah kirinya roboh mandi darah. Dengan gerakan
liar Siang Ni terhuyung, terkadang menjatuhkan diri di atas
tanah dan bergulingan. Akhirnya ia tiba di depan makam
ibunya. Kiranya gadis itu memang sambil melawan dengan
tenaga terakhir menghampiri makam itu.
“Tangkap hidup-hidup! Terlalu enak kalau iblis betina itu
dibunuh begitu saja!” teriak pula komandan pasukan yang
marah sekali, bukan saja melihat panglimanya dibunuh dan
mayatnya dicincang oleh Siang Ni, akan tetapi juga melihat
betapa banyaknya anak buahnya tewas di tangan gadis yang
amat lihai itu.
Setelah tiba di depan makan ibunya, Siang Ni yang
tubuhnya lemas sekali karena menderita banyak luka dan
kehabisan banyak darah, berseru lantang. “Ibuuuu......,
tungguuuu anakmu, Ibuuu......! Aku menyusulmu......!” Tibatiba
sinar emas berkelebat ke arah lehernya dan ia pun roboh
dan tewas mandi darah dengan leher hampir putus terbabat
pedang di tangan kirinya sendiri. Pedang Kim-kong-kiam!
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 203
Melihat ini, Cun Giok mengeluarkan pekik melengking
seperti seekor naga terluka. Pedangnya menjadi gulungan sinar
yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya sehingga empat
orang perajurit Mongol terjungkal roboh mandi darah.
Tubuhnya lalu berkelebat ke arah makam dan empat orang
perajurit lain yang berani mencoba menghadangnya, roboh
disambar kilatan pedangnya.
Di lain saat pemuda itu telah menyambar pedang Kimkong-
kiam yang masih dipegang tangan kiri jenazah Siang Ni,
menyimpan pedang pusaka yang dulu menjadi milik gurunya,
dan dia berjongkok, dengan lembut menggunakan tangannya
untuk mengusap muka Siang Ni sehingga sepasang mata yang
tadinya terbuka itu dapat terpejam.
“Siang Ni...... ahh, Siang Ni......!” Cun Giok mengeluh
dengan perasaan hati seperti tertusuk. Rasa sedih, iba, dan
penasaran menyesak di dadanya. Tangan kirinya membelai
wajah yang cantik jelita, pucat, basah oleh keringat dan darah
itu.
“Siang Ni...... Piauw-moi (Adik Misan Perempuan)......”
Cun Giok mengeluh. Pada saat itu, dia merasakan adanya
sambaran senjata dari belakang, kanan dan kiri. Cepat dia
melompat dan membalik, pedangnya berkelebat dan tiga orang
perajurit Mongol roboh mandi darah diantar teriakan kematian
mereka.
Cun Giok mengamuk, akan tetapi melihat betapa semakin
banyak perajurit Mongol berdatangan, dia maklum bahwa
kalau dia terus melawan, akhirnya dia tidak akan dapat
bertahan. Dia lalu memutar pedangnya dan menerobos keluar
dari kepungan para perajurit. Untuk dapat lolos dia harus
merobohkan belasan orang perajurit lagi, akan tetapi dia sendiri
pun menderita luka-luka, walaupun tidak ada yang parah.
Akhirnya, dengan mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan
tubuh) dan kelihaian ilmu pedangnya, Cun Giok berhasil lolos
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 204
dari kepungan dan menghilang di antara banyak bong-pai (batu
nisan) tanah kuburan itu, ditelan kegelapan malam!
Pada keesokan harinya, kota raja menjadi geger dengan
terjadinya peristiwa hebat di tanah kuburan semalam.
Duapuluh orang lebih perajurit Mongol yang lihai tewas dalam
pertempuran itu. Para pejabat tinggi menjadi bingung dan
ketakutan.
Kaisar Kubilai Khan yang mendengar laporan para perwira
tentang peristiwa itu lalu mengumumkan bahwa Panglima
Besar Kong Tek Kok bersama muridnya, Lu Siang Ni puteri
Pangeran Lu Kok Kong yang tewas terbunuh pemberontak,
kini tewas pula dalam tangan penjahat ketika mereka berdua
bertugas menangkap penjahat pemberontak!
Tentu saja pengumuman kaisar ini dilakukan untuk
melindungi kehormatan Keluarga Istana, agar rahasia
memalukan antara Panglima Besar Kong Tek Kok dan
keluarga Pangeran Lu tidak sampai terdengar orang luar. Juga
bukan hanya jenazah Jenderal Kong Tek Kok yang dikuburkan
dengan upacara kehormatan, juga jenazah Lu Siang Ni dikubur
di samping makam Pangeran Lu Kok Kong dan Pouw Sui
Hong, ayah dan ibu gadis itu. Para perwira dan perajurit yang
ikut bertempur di tanah kuburan malam itu, yang lolos dari
maut, diancam agar jangan membicarakan peristiwa
pembunuhan atas diri Panglima Besar Kong Tek Kok oleh
Siang Ni, muridnya sendiri yang juga puteri Pangeran Lu Kok
Kong.
@_Alysa^DewiKZ_@
Pada keesokan harinya, setelah ayam mulai berkeruyuk
sahut-sahutan dan burung-burung berceloteh dengan kicau
gembira menyambut sinar matahari fajar yang kemerahan,
seorang pemuda berjalan perlahan-lahan menyusuri sungai
yang mengalir di sebelah selatan kota raja Peking.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 205
Pemuda itu adalah Cun Giok. Dia tampak amat
menyedihkan. Rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut
kumal ternoda darah kering dan keringat bercampur debu.
Tubuhnya lemas lunglai, sehingga langkahnya lambat, satusatu
seolah-olah dia hampir tidak kuat lagi melangkah. Bukan
kelelahan semata yang membuat dia demikian lemah lunglai,
melainkan terutama sekali karena badannya kehilangan banyak
darah dan batinnya tertekan oleh kesedihan yang mendalam.
Wajahnya yang tampan gagah itu kini agak pucat, dan dari
kedua matanya yang sayu layu itu kadang-kadang mengalir air
mata yang menetes ke atas kedua pipinya.
“Siang Ni......!” Nama ini berulang-ulang disebutnya dalam
keluhannya.
Terbayang wajah gadis adik misannya yang cantik jelita itu,
sepasang matanya yang bersinar-sinar bagaikan bintang,
senyumnya yang manis, sikapnya yang ugal-ugalan, kekerasan
hati dan kegagahannya, yang sama sekali tidak gentar
menghadapi pengeroyokan puluhan orang perajurit Mongol,
dan yang memilih bunuh diri daripada tertangkap hidup-hidup
dan mengalami penghinaan.
“Siang Ni......!” Dia mengeluh lemah dan tiba-tiba tubuhnya
terkulai di tepi sungai.
Sejenak dia membiarkan dirinya rebah telentang di atas
tanah berumput dan dia merasakan kesejukan embun di rumput
yang seolah menembus kulitnya. Dia membiarkan lamunannya
melayang-layang membayangkan segala peristiwa yang dia
alami, terutama sekali yang mengenai diri Siang Ni.
Lu Siang Ni adalah puteri Pangeran Lu Kok Kong yang
menjadi suami bibinya, yaitu Pouw Sui Hong. Dan dialah yang
menjadi orang pertama yang menghancurkan kehidupan Siang
Ni! Dia telah salah sangka, mengira bahwa bibinya, Pouw Sui
Hong dipaksa menjadi selir Pangeran Lu sehingga dia
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 206
membunuh pangeran itu yang dianggap musuh keluarga Pouw!
Tidak tahunya bahwa bibinya itu, Pouw Sui Hong, hidup
sebagai selir terkasih dan ia mencinta suaminya, apalagi karena
dari pernikahan itu ia telah melahirkan seorang anak
perempuan, yaitu Lu Siang Ni! Dan dia telah membunuh
Pangeran Lu, ayah kandung Siang Ni! Dia sama sekali salah
sangka.
Tadinya dia membunuh Pangeran Lu untuk membalaskan
sakit hati bibinya, Pouw Sui Hong, agar bibinya menjadi puas,
terhibur dan bahagia. Akan tetapi, ternyata bahwa dia malah
mendatangkan malapetaka bagi bibinya sendiri. Dia
membunuh Pangeran Lu Kok Kong yang sama sekali tidak
bersalah sehingga bibinya, Pouw Sui Hong, jatuh sakit dan
mati karena terguncang hatinya. Dia yang membuat Siang Ni
menjadi yatim piatu! Dia bersama Siang Ni memang telah
berhasil membalas dendam kepada Panglima Besar Kong Tek
Kok, akan tetapi Siang Ni juga menjadi korban dan tewas oleh
pengeroyokan pasukan Mongol.
“Siang Ni......!” Kembali Cun Giok mengeluh sedih.
Keluarganya, keluarga Pouw, telah punah, terbasmi habis.
Tinggal dia satu-satunya keturunan keluarga Pouw, bahkan dia
yang menjadi keturunan tunggal itu selama ini menggunakan
she (marga) Suma, yaitu marga mendiang gurunya, Suma
Tiang Bun, yang juga menjadi ayah angkatnya. Tidak, mulai
sekarang dia harus menggunakan marga nenek moyangnya,
yaitu she Pouw, agar keturunan Pouw tidak musnah. Kini dia
bersama Pouw Cun Giok, bukan lagi Suma Cun Giok.
Terkenang akan keluarga ayahnya, yaitu keluarga Pouw,
hati pemuda itu terasa semakin pedih. Semenjak ratusan tahun
keluarga Pouw terkenal sebagai sebuah keluarga besar,
keturunan bangsawan tinggi Kerajaan Sung (960-1279),
terkenal sebagai pahlawan-pahlawan bangsa. Dahulu seluruh
rakyat Kerajaan Sung mengenal dua orang bersaudara Pouw
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 207
yang dihormati dan dikagumi. Kedua orang kakek canggahnya
itu adalah Pouw Goan Keng yang menjabat Menteri
Kesusastraan dan adiknya Pouw Cong Keng yang dulu dengan
gagahnya memimpin pasukan melawan musuh, yaitu bangsa
Kin.
Cun Giok melanjutkan kenangannya yang semakin
mengalir. Dari mendiang gurunya dia mendengar akan riwayat
nenek moyangnya. Kakeknya, Pouw Seng Ki, mempunyai dua
orang anak, yaitu ayahnya, Pouw Keng In dan bibinya, Pouw
Sui Hong. Akan tetapi kakek dan neneknya meninggal dunia
karena penyakit ketika ayah dan bibinya masih kecil sehingga
ayah dan anak bibinya itu ikut kakeknya yang bernama Pouw
Bun yang pernah menjadi pejabat sebelum Kerajaan Sung jatuh
ke tangan bangsa Mongol.
Ayahnya Pouw Keng In telah menikah dengan ibunya, Tan
Bi Lan, yang telah mengandung delapan bulan, ketika
malapetaka itu menimpa keluarga Pouw. Ayahnya, Pouw Keng
In yang berjiwa patriot penasaran sekali melihat bangsa
Mongol menjajah tanah airnya. Dia sering menulis sajak yang
isinya mengutuk penjajah bangsa Mongol.
Seorang bekas pelayan bernama Can Sui dikeluarkan oleh
keluarga Pouw karena hendak kurang ajar terhadap Pouw Sui
Hong. Can Sui lalu mencuri sajak tulisan Pouw Keng In dan
menyerahkannya kepada Pembesar Mongol. Maka, malapetaka
pun menimpa keluarga Pouw. Kakek dan Nenek Pouw Bun
dibunuh. Pouw Keng In mengajak isterinya yang mengandung
delapan bulan dan adiknya, Pouw Sui Hong yang berusia
delapan belas tahun, melarikan diri. Mereka bertiga dikejar
pasukan yang dipimpin Jenderal Kong Tek Kok. Akhirnya,
Pouw Keng In tewas terkena panah, panglima besar itu, dan
Pouw Sui Hong tertawan! Ibunya terluka pundaknya akan
tetapi ia dapat ditolong Suma Tiang Bun.
“Kasihan Ibuku…. kasihan Ayah, Kong-kong dan Nenek,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 208
kasihan sekali Bibi Pouw Sui Hong! Kasihan sekali Adik Siang
Ni......” Cun Giok mengeluh.
Kenangannya semakin kabur. Dahulu, gurunya, Suma
Tiang Bun yang menceritakan itu semua. Kemudian ibunya
melahirkan dia dan ibunya meninggal dunia setelah
melahirkan. Dia diangkat anak oleh gurunya, diberi she Suma.
Setelah dia dewasa dan hendak membalas dendam, ternyata dia
salah sangka dan membunuh Pangeran Lu yang mengambil
Bibi Pouw Sui Hong sebagai selir kesembilan! Karena
pembunuhan itu, bibinya meninggal dunia karena duka!
Kemudian, Siang Ni yang nekat juga tewas secara
menyedihkan. Dia merasa, seolah dia yang menghancurkan
keluarga bibinya!
Tiba-tiba kenangan yang makin kabur itu lenyap, terganti
awan hitam, gelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi. Cun Giok
pingsan menggeletak telentang di tepi sungai.
@_Alysa^DewiKZ_@
Cun Giok mengerang lirih. Dia merasa kepalanya dibasahi
orang dengan kain basah dingin. Rasa dingin itu mengurangi
hawa panas yang amat mengganggunya dan membuatnya
pening. Lalu ada jari tangan menotok jalan darah di kedua
pundaknya, lalu mengurut ulu hatinya. Hidungnya mencium
keharuman seribu bunga, lembut dan sedap. Jari-jari tangan itu
masih mengurut dan menekan tubuhnya. Dia merasa betapa
jari-jari tangan itu menekan dan mengurut jalan darah dengan
tepat sekali. Pasti seorang ahli dan orang itu sedang berusaha
untuk melancarkan jalan darahnya. Mimpikah dia?
Cun Giok tidak mau membuka kedua matanya, khawatir
kalau mimpinya hilang. Dia teringat bahwa dia tadi rebah di
atas tanah berumput, di tepi sungai. Tekanan dan urutan jari
tangan itu terasa lembut dan menyenangkan, juga bau harum
itu membuat dia merasa nyaman. Sayang kalau dia membuka
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 209
mata lalu mimpi ini hilang!
Tiba-tiba terdengar langkah kaki berdebum membuat dia
merasa tergetar. Seolah ada seekor gajah di dekatnya! Cun
Giok membuka matanya dan dia merasa heran sekali melihat
dia rebah di dalam sebuah kamar yang besar, di atas
pembaringan yang indah dan lunak. Kamar itu mewah sekali
dan ketika pandang matanya bertemu dengan orang yang
duduk di tepi pembaringan itu, dia terbelalak dan menggosokgosok
kedua matanya.
Setelah membuka matanya dan melihat gadis yang duduk di
tepi pembaringan itu, dia merasa bahwa sekarang baru dia
mimpi benar-benar! Bukan saja kamar mewah itu yang
membuatnya terheran, akan tetapi terutama sekali melihat gadis
itu, dia yakin bahwa dia sedang mimpi. Seorang gadis yang
berpakaian indah dari sutera merah muda, dihias garis-garis
dan bunga-bunga berwarna kuning dan hijau. Terutama
wajahnya! Tentu seorang bidadari!
Wajah itu dalam pandangannya demikian cantik jelita
sehingga lebih pantas kalau disebut bidadari. Usianya sekitar
delapanbelas tahun. Sepasang matanya demikian indah, dengan
kedua ujung agak menjungat ke atas, dengan bulu mata lentik
dan dipayungi sepasang alis yang hitam kecil panjang,
hidungnya mancung dan mulutnya itu! Entah mana yang lebih
indah menggairahkan antara mulut dan mata itu. Tubuh itu pun
dalam penilaian Cun Giok amat sempurna, tubuh yang
menjelang dewasa bagaikan buah sedang ranum atau bunga
mulai mekar, dengan lekuk lengkung sempurna sehingga
pakaian dari sutera yang agak ketat itu tidak dapat
menyembunyikannya dengan baik. Demikian terpesona Cun
Giok memandang gadis itu sehingga dia tidak melihat yang
lain lagi.
Tiba-tiba terdengar bentakan menggeledek. “Siapa suruh
orang asing masuk ke sini tanpa ijin? Dia tentu mempunyai niat
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 210
jahat!” Kemudian menyusul angin pukulan dahsyat menyambar
ke arah kepala Cun Giok!
“Wuuuttt......brakkk!” Cun Giok mengelak sambil
melompat turun ke samping dan sebuah tangan yang besar
menyambar lewat kepalanya dan mengenai pembaringan yang
seketika pecah berantakan terkena pukulan tangan itu!
Cun Giok dapat menghindarkan diri dari pukulan maut itu,
akan tetapi dia berdiri di lantai dengan terhuyung karena
gerakan mengelak tadi membuat kepalanya pening dan
tubuhnya terasa tidak ada tenaganya dan lemas. Ketika dia
memandang penyerangnya, ternyata yang menyerangnya
adalah seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa, wajahnya
tampan gagah berkulit merah, usianya sekitar limapuluh lima
tahun. Pakaiannya mewah seperti seorang hartawan dan muka
yang tampan itu tampak keren dan gagah dengan adanya kumis
dan jenggot hitam yang pendek dan terawat.
Melihat Cun Giok dapat menghindarkan pukulannya tadi,
kakek itu agaknya siap untuk mengirim serangan susulan.
Biarpun Cun Giok merasa kepalanya pening dan tubuhnya
gemetar, namun dia segera memasang kuda-kuda dan siap
menghadapi serangan lawan yang dia tahu memiliki tenaga
yang amat kuat.
“Jangan melawan!” tiba-tiba gadis berpakaian merah itu
berkelebat mendekati Cun Giok dan secepat kilat tangannya
berkelebat dan Cun Giok terkulai lemas karena jalan darah
Thian-hu-hiat di tubuhnya telah terkena totokan yang ampuh.
Sebelum tubuhnya yang terkulai itu roboh, tangan gadis itu,
yang kecil lembut namun kuat bukan main, telah menangkap
pangkal lengan Cun Giok sehingga dia tidak sampai jatuh.
Gadis itu lalu menarik dan mendudukkan Cun Giok ke atas
sebuah kursi. Cun Giok terduduk dan hanya dapat memandang
kepada gadis jelita dan laki-laki gagah perkasa itu.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 211
Kini gadis itu menghadang di antara Cun Giok dan laki-laki
itu. “Ayah tentu tidak akan melanggar hakku! Aku yang
membawanya ke sini, maka aku pula yang bertanggung jawab
atas dirinya. Tidak seorang pun, termasuk Ayah boleh
melanggar hakku!”
“Ai Yin, engkau telah bertindak lancang sekali!” laki-laki
itu berkata, suaranya besar dan nadanya menunjukkan bahwa
laki-laki tinggi besar itu berwatak keras. “Apakah engkau
mengenal orang ini? Siapa dia dan mengapa engkau
membawanya ke sini tanpa memberitahu kepadaku?”
“Ayah, aku melihat dia menggeletak pingsan di tepi sungai.
Dia menderita banyak luka senjata tajam, walaupun tidak ada
yang parah namun dia kehilangan banyak darah. Kalau tidak
kutolong, dia pasti akan terus pingsan dan tidak akan bangun
kembali. Maka, aku membawanya ke sini dan ketika aku
datang, ayah tidak berada di rumah. Salahkah perbuatanku
itu?”
“Hemmm,” kakek itu mengeluarkan suara menggereng
seperti seekor singa dan sepasang matanya yang lebar itu
bersinar tajam ketika dia memandang wajah Cun Giok yang
masih duduk kursi dan tidak mampu bergerak karena tadi
ditotok gadis itu. “Akan tetapi aku harus mengetahui dulu
macam apa orang ini, pantas mendapat pertolonganmu atau
tidak, aku harus mengujinya.”
“Silakan, Ayah. Aku pun tidak akan sudi menolong orang
yang tidak memenuhi syarat kita.”
Kakek itu mengeluarkan sebuah guci keramik kecil dari
saku jubahnya, membuka tutup guci dan mengeluarkan tiga
butir pel merah sebesar kuku jari kelingking.
“Nih, untuk memulihkan darahnya,” Dia menyerahkan tiga
butir pel itu kepada puterinya.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 212
“Ah, bukankah obat penambah darah dan penguat tubuh ini
merupakan obat langka simpanan Ayah untuk kesehatan Ayah
sendiri?” gadis itu membantah.
“Berikanlah padanya, aku masih mempunyai sisanya yang
cukup. Tanpa itu, akan terlalu lama tenaganya pulih dan kalau
dia selemah ini, bagaimana aku dapat mengujinya?” Kakek itu
lalu melangkah keluar kamar. Langkahnya berdebum seperti
langkah gajah yang marah!
Gadis itu menghampiri Cun Giok dan membebaskan
totokannya sehingga pemuda itu dapat bergerak kembali. Cun
Giok memandang gadis itu dengan heran. “Maaf, Nona.
Engkau siapakah dan mengapa engkau melakukan semua ini
kepadaku?”
Gadis itu mengerutkan alisnya. “Nanti saja kita bicara.
Sekarang engkau mengasolah dulu dan tidurlah untuk
memulihkan kesehatanmu.”
Cun Giok merasa heran. Kini dia baru mengerti bahwa
ketika dia rebah telentang di tepi sungai itu, dia jatuh pingsan
sehingga ketika dia diketemukan gadis ini dan dibawa pulang,
dia sama sekali tidak sadar. Gadis itu telah menolongnya,
bukan hanya menolong ketika dia tergolek pingsan di tepi
sungai, malah tadi membela dan melindunginya dari ancaman
ayah gadis itu yang agaknya marah melihat dia berada di situ.
Maka, mendengar gadis itu minta dia mengaso dengan nada
suara memerintah, dia pun tidak membantah dan segera
bangkit, menghampiri pembaringan dan berdiri bingung
melihat pembaringan itu telah hancur terkena pukulan kakek
tadi.
“Sana, engkau boleh tidur di pembaringanku!” kata gadis
itu sambil menuding ke arah sudut kamar yang luas itu.
Cun Giok memandang dan melihat sebuah tempat tidur
yang mewah dan indah di sudut. Tentu saja dia meragu untuk
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 213
tidur di pembaringan gadis itu!
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 2. Pertolongan Pek-hwa Sianli
“Biarlah aku tidur di lantai saja, Nona. Aku tidak berani
tidur di pembaringanmu.”
“Hemm, mengapa tidak berani? Aku yang menyuruhmu
tidur di pembaringan dan aku akan menemanimu!”
Cun Giok membelalakkan matanya ketika dia memandang
gadis itu. Tidak salahkah pendengarannya? Gadis yang usianya
paling banyak delapan belas tahun ini akan menemaninya tidur
sepembaringan! Tentu ia main-main atau mengejek. Akan
tetapi ketika dia memandang wajahnya, gadis itu bersungguhsungguh
dan sepasang matanya memandang kepadanya dengan
tajam penuh selidik.
“Tidak, Nona!” katanya tegas. “Aku tidak mau tidur di
sana, aku tidur di lantai atau di luar kamar ini saja!”
“Hemm, apakah engkau menganggap aku kurang cantik
dan tidak menarik sehingga engkau tidak mau tidur
sepembaringan denganku?” tanya gadis itu, akan tetapi biarpun
pertanyaannya itu seolah mengandung ajakan, namun sikapnya
biasa saja, bahkan suaranya dingin, sama sekali bukan wajah
seorang gadis yang genit atau mengandung bujuk rayu.
“Bukan begitu, Nona. Akan tetapi bagaimana aku berani
bersikap tidak sopan dan tidak pantas terhadap seorang gadis
yang telah menolongku? Bahkan andaikata Nona tidak telah
begitu baik menolong aku pun, aku tidak berani kurang ajar
tinggal sekamar dengan seorang gadis, apalagi tinggal dan tidur
sepembaringan.” Cun Giok yang tiba-tiba merasa lemas dan
lelah telah berdiri dan bicara agak lama, lalu duduk di atas
lantai, kemudian merebahkan diri di lantai!
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 214
“Ah, maaf, kepalaku pening dan tubuhku lemas, biar aku
rebah di sini saja.”
“Hemm, apa kata orang kalau mendengar aku membiarkan
tamuku tidur di lantai?” Gadis itu lalu berkata dengan suara
memerintah. “Hayo bangkitlah dan pindahlah tidur di
pembaringan itu!” Ia menuding ke arah pembaringan yang
berada di sudut kamar.
Cun Giok berkeras menolak. “Tidak, Nona. Aku tidak
berani tidur di pembaringanmu!”
“Tolol kau! Kau kira kami hanya memiliki sebuah kamar
tidur ini? Dan apa kau kira aku sudi tidur dengan seorang lakilaki?
Hayo engkau tidur di sana, aku masih memiliki banyak
kamar yang lebih bagus dari kamar ini!”
Mendengar ini, Cun Giok bangkit duduk dan memandang
wajah yang tampak semakin menarik karena kedua pipi itu
kemerahan, agaknya ia marah. “Benarkah itu, nona?”
“Aku bukan pembohong!” bentak gadis itu.
Cun Giok bangkit berdiri lalu melangkah perlahan ke arah
pembaringan yang lebih besar dan lebih mewah daripada
pembaringan di mana dia tidur, yang kini telah patah-patah.
Dia duduk di tepi pembaringan itu, merasa sungkan sekali.
Seorang pelayan wanita yang masih muda dan berwajah
manis mengetuk daun pintu kamar yang terbuka. Setelah gadis
itu menoleh dan mengangguk, ia masuk membawa sebuah baki
(talam) terisi sebuah mangkok, sebuah cawan dan poci teh.
Dengan cermat dan lembut ia menata mangkok, cawan dan
poci itu ke atas meja. Setelah selesai menata semua itu, ia
keluar lagi sambil memberi hormat dengan membungkuk
kepada gadis itu.
Gadis itu mengambil mangkok yang terisi cairan berwarna
coklat, yaitu air rebusan obat dan membawanya kepada Cun
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 215
Giok. “Duduklah dan minum obat ini sampai habis.” katanya.
Cun Giok kini dapat menduga bahwa gadis ini ingin
menolongnya dan wataknya keras dan galak. Dia tidak
bertanya atau membantah, lalu bangkit duduk dan menerima
mangkok itu lalu diminumnya air obat itu sampai habis.
“Sekarang telan tiga butir pel ini. Jangan memandang
remeh pel ini. Ini adalah obat istimewa dari Ayah yang
diberikan untukmu. Telanlah, ku ambilkan air teh.” Ia
membawa mangkok kosong ke meja dan menuangkan air teh
dari poci ke dalam cawan lalu membawanya kepada Cun Giok.
Dengan taat Cun Giok menelan tiga butir pel merah itu.
Bau amis menyengat hidungnya dan tiga butir pel itu setelah
memasuki lambungnya, seolah berubah menjadi hawa panas
yang membuat jantungnya berdenyut keras dan debar
jantungnya terasa sampai ke jari kaki dan ke ubun-ubun kepala.
Dia menjadi pening dan dia lalu merebahkan diri lagi, telentang
di atas pembaringan, memejamkan mata dengan hati pasrah.
Dia yakin bahwa gadis itu tidak meracuninya, karena kalau
hanya untuk dibunuh, mengapa susah-susah membawanya ke
sini dan merawatnya? Akhirnya dia tertidur pulas tanpa
disadarinya, seperti orang terbius! Dan memang obat yang
diminumkan tadi mengandung pembius agar Cun Giok dapat
beristirahat dengan baik.
@_Alysa^DewiKZ_@
Pada keesokan harinya, baru Cun Giok terbangun dari
tidurnya yang amat nyenyak sejak sore kemarin. Begitu
terbangun, Cun Giok teringat akan semua yang terjadi padanya
dan dia bangkit duduk. Tubuhnya terasa segar dan sehat dan
luka-luka di lengan, pundak, dan pahanya telah mengering.
Akan tetapi perutnya terasa lapar bukan main!
Daun pintu diketuk dari luar, lalu pelayan wanita muda
yang kemarin datang membawakan obat dan air teh,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 216
mendorong daun pintu yang tidak terpalang itu dari luar dan
memasuki kamar. Ia membawa seperangkat pakaian bersih dan
meletakkannya di atas meja.
“Selamat pagi, Kongcu. Kongcu dipersilakan mandi di
kamar mandi sebelah kamar ini, setelah itu Siocia (Nona)
mengajak Kongcu (Tuan Muda) makan pagi bersama.” Setelah
berkata demikian, pelayan itu membungkuk dan melangkah ke
pintu.
“Nanti dulu!” Cun Giok berseru dan cepat melompat dan
berdiri menghadang di depan pelayan itu. “Katakan dulu
padaku, siapakah nama Nonamu itu?”
Pelayan itu memandang kepada Cun Giok dengan alis
berkerut lalu ia menggeleng kepalanya. “Maaf, Kongcu. Saya
tidak berani menjawab.”
“Hemm, mengapa takut? Apa sih salahnya kalau engkau
memberitahu padaku siapa nama Nonamu? Sebagai tamu,
sudah sepatutnya kalau aku mengetahui nama nona rumah yang
telah berbuat baik kepadaku. Katakanlah dan jangan takut.”
“Nona akan marah kalau saya bicara, Kongcu.”
“Biar aku yang bertanggung jawab kalau ia marah!” kata
Cun Giok penasaran. Memberitahu nama majikan bukan dosa,
mengapa pelayan ini begitu ketakutan?
Kembali pelayan itu mengamati wajah Cun Giok. Agaknya
ia percaya kepada pemuda itu, maka dengan suara lirih ia
berkata, “Siocia bernama Cu Ai Yin, berjuluk Pek-hwa Sianli
(Bidadari Bunga Putih). Sudahlah, Kongcu, biarkan saya pergi,
harap Kongcu segera mandi dan bertukar pakaian.”
“Nanti dulu, engkau belum menceritakan, siapa ayah dari
Nona Cu Ai Yin itu dan apa pekerjaannya. Hayo katakan, aku
hanya ingin tahu siapa penolongku, tidak mempunyai niat
buruk,” Cun Giok membujuk sambil tersenyum ramah.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 217
“Lo-ya (Tuan Tua) bernama Cu Liong, julukannya Bu-tek
Sin-liong (Naga Sakti Tanpa Tanding) dan beliau adalah
majikan yang memiliki Bukit Merak ini. Sudah, Kongcu, saya
takut mendapat marah.” Pelayan itu lalu setengah berlari
meninggalkan kamar itu.
Cun Giok tersenyum. Puas bahwa dia telah mengetahui
nama tuan rumah dan puterinya yang jelita. Dia lalu pergi ke
kamar mandi di sebelah kamar itu, mandi sehingga tubuhnya
terasa semakin segar akan tetapi perutnya semakin lapar, dan
berganti pakaian yang dibawa pelayan tadi. Pakaian dari sutera
biru muda yang mahal dan masih baru!
Ketika dia kembali ke kamarnya, dia melihat Cu Ai Yin
sudah berada dalam kamarnya. Cantik jelita dan manis,
pakaiannya sutera merah muda dan rambutnya yang digelung
rapi ke atas itu dihias setangkai bunga berwarna putih. Pantas
ia disebut Pek-hwa Sianli karena ketika berdiri di situ dengan
pakaian baru merah muda dan rambutnya dihias bunga putih, ia
memang tampak seperti seorang bidadari berbunga putih!
Sebaliknya, gadis itu pun memandang kepada Cun Giok
dengan sinar mata tajam penuh kagum. Cun Giok memang
tampak tampan dan gagah setelah berganti pakaian dan
keadaannya tidak kusut seperti kemarin.
“Selamat pagi, Nona Cu Ai Yin. Sungguh keadaanmu tepat
sekali dengan julukan Pek-hwa Sianli!” kata Cun Giok sambil
tersenyum. “Dan lagi-lagi terima kasih banyak atas kebaikan
budimu, Cu-siocia!”
“Engkau telah mengetahui nama dan julukanku?” Ai Yin
bertanya heran.
“Tentu saja! Siapa yang tidak mengenal nama besar Pekhwa
Sianli Cu Ai Yin, puteri dari Bu-tek Sin-liong Cu Liong
yang gagah perkasa, majikan Bukit Merak? Sungguh aku
merasa kagum sekali!”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 218
Tiba-tiba Ai Yin mengerutkan alisnya dan wajahnya yang
tadinya berseri itu tiba-tiba menjadi merah, sinar matanya
menunjukkan bahwa ia marah. Ia bertepuk tangan tiga kali dan
dari luar pintu kamar masuklah pelayan wanita yang tadi
melayani Cun Giok. Begitu masuk, pelayan itu berdiri di depan
Ai Yin dan membungkuk dengan hormat.
“Saya menunggu perintah Siocia.”
“Siauw-ming, apakah engkau menyadari dosamu?” Ai Yin
bertanya dengan suara keren.
Gadis pelayan itu melirik sejenak kepada Cun Giok lalu
menjawab sambil menundukkan kepalanya. “Saya mengaku
bersalah melakukan pelanggaran dan siap menerima hukuman
dengan ikhlas, Siocia.”
“Sekarang juga masuk ke Kamar Penyesalan Dosa dan
tinggal di sana sampai besok pagi baru boleh keluar!” bentak
Ai Yin.
Pelayan itu mengangguk dan berkata lirih. “Baik, saya
menaati perintah, Siocia.” Dengan kepala masih menunduk,
pelayan itu meninggalkan kamar.
Cun Giok merasa penasaran. “Eh, Nona Cu Ai Yin,
mengapa engkau menghukum pelayan itu? Kesalahan apakah
yang ia lakukan sehingga engkau menghukumnya selama
sehari semalam?”
“Ia telah melanggar larangan yang telah merupakan
peraturan yang ia ketahui, yaitu memperkenalkan namaku dan
nama ayah kepada orang lain!”
“Tapi, bukankah hal itu wajar saja? Pula, tadinya ia takut
untuk memberi tahu, dan aku yang membujuknya sehingga
akhirnya ia memberitahu kepadaku siapa namamu dan nama
ayahmu. Apakah yang begitu dianggap dosa?”
“Hemm, engkau sendiri belum memperkenalkan nama,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 219
bagaimana engkau lancang hendak mengetahui nama kami?”
“Ah, maafkan aku, Nona Cu Ai Yin. Karena selama ini aku
berada dalam keadaan lemah dan setengah sadar, aku lupa
memperkenalkan diriku. Aku bernama Pouw Cun Giok, yatim
piatu sebatang kara, tidak mempunyai tempat tinggal yang
tetap. Nah, aku sudah memperkenalkan diri, jadi sudah
sepatutnya kalau aku juga mengenal namamu dan nama
Ayahmu. Pelayan tadi memperkenalkan namamu setelah
kudesak dan kubujuk. Jadi yang bersalah aku. Mengapa engkau
menghukumnya sehari semalam untuk urusan yang kecil itu,
Nona? Bukankah itu terlalu kejam?”
“Hemm, kalau semua orang selemah engkau ini, dunia akan
menjadi kacau! Apa artinya ada peraturan atau hukum, kalau
tidak ditaati oleh yang menerima peraturan dan yang membuat
peraturan? Peraturan diadakan untuk ketertiban dan
pelanggarnya harus dihukum sesuai dengan peraturan yang
ada. Kalau peraturan itu tidak dijalankan oleh kami yang
membuat peraturan, mana mungkin para karyawan kami akan
menaati peraturan? Tidak taat berarti timbul ketidak-tertiban?
Mereka akan memandang rendah peraturan yang ada!
Memaafkan pelanggar peraturan sama dengan mendorong
mereka untuk mengulang-ulang pelanggaran! Tiada maaf bagi
pelanggar, inilah yang menjamin ketertiban!”
Cun Giok bungkam. Bagaimanapun juga, dia harus
mengakui kebenaran ucapan gadis itu. Para pelayan sudah tahu
bahwa mereka tidak boleh memperkenalkan nama majikan
mereka, Biarpun hal itu kecil, namun pelanggaran tetap
pelanggaran. Kalau pelanggaran kecil dimaafkan, maka
pelanggaran besar pun akan terjadi.
Banyak dia melihat hal itu terjadi di kota-kota besar.
Pemerintah mengadakan larangan-larangan, mengadakan
peraturan dan hukum. Namun para pejabat tidak memegang
teguh hukum yang diadakan. Mereka menerima uang sogokan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 220
dan peraturan itu dapat diubah, bahkan diputar-balikkan.
Karena itu, rakyat memandang ringan peraturan karena dengan
uang, segala peraturan dapat dilanggar. Hal ini menimbulkan
penyakit parah pada rakyat dan pada para pejabat. Rakyat
mengabaikan peraturan dan suka menyogok atau menyuap para
pejabat, dan para pejabat suka menerima uang sogokan dan
mengesampingkan peraturan. Kekacauan pun timbullah!
“Maafkan aku, Nona Cu. Sekarang aku mengerti dan
pendapatmu itu memang benar dan tidak dapat kubantah. Akan
tetapi, sungguh aku merasa menyesal sekali dan bersalah
terhadap pelayan itu. Ia dihukum karena memenuhi
permintaanku. Sesungguhnya, akulah yang bersalah.”
“Engkau seorang tamu yang tidak terikat oleh peraturan
kami itu, Pouw Cun Giok, dan sebagai tamu juga engkau tidak
berhak mencampuri urusan dan peraturan keluarga kami. Nah,
mari kita sarapan pagi. Ayahku sudah menanti di ruangan
makan.”
Cun Giok tidak membantah lagi karena memang dia merasa
betapa sejak bangun tidur tadi, perutnya mengamuk, menjeritjerit
minta diisi. Dia teringat bahwa ketika dia mulai tidak ingat
diri adalah di waktu pagi, kemarin dulu. Lalu tahu-tahu pada
keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah berada di kamar ini. Dia
diberi minum obat dan tertidur sampai keesokan harinya lagi.
Berarti, dia sudah dua hari dua malam tidak makan! Pantas saja
perutnya berkeruyuk terus sejak tadi.
Mereka berjalan menuju ke ruangan makan melalui banyak
ruangan dan lorong dalam rumah yang amat besar dan megah
itu. Setelah tiba di ruangan makan, Bu-tek Sin-liong Cu Liong
sudah duduk di kepala meja. Meja itu lonjong, terbuat dari batu
marmer yang indah.
Melihat puterinya datang memasuki ruangan yang luas itu
bersama Cun Giok, Cu Liong yang gagah perkasa itu bersikap
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 221
tidak acuh. Tangannya menyambar sebuah bangku dan sekali
tangan itu dia gerakkan, bangku itu melayang ke arah Cun
Giok.
“Ini tempat dudukmu!” dia berseru dan bangku itu
menyambar dengan cepat sekali ke arah Cun Giok.
Pemuda itu maklum bahwa pemberian bangku itu
merupakan serangan, mungkin untuk mengujinya. Maka dia
pun mengerahkan sin-kang (tenaga sakti) dan menyambut
bangku dengan kedua tangannya. Terasa betapa kuatnya tenaga
dorongan itu sehingga terpaksa dia melangkah ke belakang dua
kali untuk mengatur keseimbangan dirinya yang agak goyah.
Dari lontaran bangku itu saja Cun Giok maklum bahwa kakek
itu memiliki tenaga yang amat kuat!
Dengan tenang seperti tak pernah terjadi sesuatu, Cun Giok
menghampiri meja, menaruh bangku tadi di dekat meja,
berhadapan dengan Bu-tek Sin-liong Cu Liong, lalu dia
mengangkat kedua tangannya memberi hormat sambil
membungkuk.
“Lo-cianpwe (Orang Tua Terhormat), saya Pouw Cun Giok
mohon maaf kalau kehadiran saya ini merepotkan keluarga dan
mengganggu ketenteraman Lo-cianpwe, dan banyak terima
kasih atas budi kebaikan Lo-cianpwe!”
Tanpa berdiri dari tempat duduknya, Cu Liong merangkap
kedua tangan depan dada dan diacungkan ke arah pemuda itu.
“Terimalah salamku kembali!” Tiba-tiba Cun Giok merasa
ada hawa dahsyat menyambar dari gerakan kedua tangan kakek
itu. Dia cepat memperkokoh berdirinya dan mengerahkan sinkang
untuk melindungi diri dari serangan jarak jauh itu.
“Wuuuttt...... derrrrr......!” Cun Giok merasa betapa
tubuhnya tergetar hebat, akan tetapi dia dapat bertahan dan
hanya terpaksa melangkah mundur dua kali menahan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 222
guncangan.
“Terima kasih,” katanya dan dia pun duduk di atas bangku
tadi dengan sikap tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Cu Ai Yin juga mengambil tempat duduk di sebelah kanan
ayahnya. Pemuda itu berada di sebelah kanannya dan Cun Giok
berhadapan dengan Cu Liong yarg memandang kepadanya
dengan sinar mata penuh selidik.
Ai Yin bertepuk tangan tiga kali dan empat orang gadis
pelayan memasuki ruangan makan itu dengan langkah ringan
dan lembut, masing-masing membawa baki berisi mangkokmangkok
dan piring-piring berisi masakan yang masih
mengepulkan uap dan bau sedap masakan itu membuat Cun
Giok merasa semakin lapar. Agaknya cacing-cacing dalam
perut dapat mencium pula bau masakan itu sehingga mereka
menari-nari kegirangan ingin segera menyambutnya!
Setelah menata mangkok piring berikut sumpit terbuat dari
gading di atas meja, empat orang gadis pelayan itu lalu duduk
di empat sudut ruangan itu, mepet dinding dan mereka waspada
dan siap untuk melayani majikan-majikan mereka dan
tamunya. Diam-diam Cun Giok bertanya dalam hati di mana
adanya ibu gadis itu. Mengapa tidak hadir dan makan bersama?
Akan tetapi tentu saja dia tidak berani lancang bertanya.
Agaknya Bu-tek Sin-liong masih belum puas setelah dia
menguji Cun Giok dengan lemparan bangku kemudian
serangan jarak jauh sambil membalas penghormatan. Kini dia
mengambil guci arak dari meja, menuangkan arak ke dalam
sebuah cawan dan menyodorkan cawan penuh arak itu kepada
Cun Giok.
Pemuda itu diam-diam terkejut melihat betapa arak dalam
cawan itu mengepulkan uap dan tampak gelembunggelembung
seperti dipanggang di atas api dan mendidih!
Maklumlah dia bahwa kakek itu telah mengerahkan tenaga
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 223
sakti yang amat dahsyat sehingga menimbulkan hawa panas,
membuat arak dalam cawan yang dipegangnya itu mendidih!
“Orang muda, terimalah ucapan selamat datang kami
dengan secawan arak ini!”
Cun Giok terpaksa menerima secawan arak yang mendidih
itu. Dia mengerahkan seluruh tenaga saktinya dan menjulurkan
tangan menerima cawan arak yang amat panas itu. Karena dia
mengerahkan tenaga “Im” yang mengeluarkan hawa dingin,
maka ketika dia menerima cawan arak itu, dia tidak merasakan
panas, bahkan perlahan-lahan arak yang mendidih itu menjadi
dingin kembali.
Dengan tangan kanan memegang cawan, Cun Giok
menggunakan tangan kirinya menuangkan arak dari guci ke
dalam dua cawan kosong.
“Silakan Nona dan Lo-cianpwe minum bersama untuk
menerima pernyataan terima kasih saya!” kata Cun Giok.
Bu-tek Sin-liong dan Cu Ai Yin tersenyum dan mereka
bertiga lalu minum arak dari cawan masing-masing. Diamdiam
kakek itu mulai merasa gembira karena kini tidak
diragukan lagi bahwa pemuda yang ditolong puterinya itu
bukan pemuda biasa, melainkan seorang pemuda yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi dia masih belum
merasa puas. Untuk diterima menjadi orang segolongan,
pemuda itu harus benar-benar memenuhi syarat! Dia lalu
mempersilakan pemuda itu mulai makan minum. Dia dan
puterinya memperhatikan dan melihat betapa Cun Giok hanya
mengambil masakan setelah kakek dan puterinya itu memakan
masakan itu! Biarpun tidak kentara, namun mereka berdua
maklum bahwa pemuda ini cukup berhati-hati dan waspada,
sikap yang amat penting dimiliki seorang pendekar.
Melihat sikap Cun Giok, diam-diam Cu Liong merasa suka
kepada pemuda itu. Dia adalah seorang datuk besar yang
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 224
namanya terkenal di dunia persilatan. Julukannya saja
menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang amat lihai. Butek
Sin-liong (Naga Sakti Tanpa Tanding), sebuah julukan
besar yang juga membayangkan kesombongan, seolah-olah di
dunia ini tidak ada orang yang mampu menandinginya! Akan
tetapi julukannya itu adalah pemberian orang-orang di dunia
kang-ouw yang seolah mengakui kehebatannya.
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 3. Penguasa Puncak Bukit Merak
Bu-tek Sin-liong Cu Liong hidup di puncak Bukit Merak
dan dikenal sebagai Majikan yang memiliki bukit yang
tanahnya subur itu. Pemerintah baru Kerajaan Goan (Mongol)
mengakui dan memberi hak kepadanya untuk memiliki Bukit
Merak. Hal ini seolah merupakan hadiah dari pemerintah
Mongol karena selama ini Bu-tek Sin-liong tidak pernah
memusuhi Kerajaan Goan, walaupun dia juga tidak mau
menjadi antek penjajah. Beberapa kali para pejabat tinggi di
kota raja menawarkan kedudukan tinggi kepadanya, namun
dengan baik-baik ditolaknya. Dia seorang yang netral, tidak
mau terlibat dalam urusan pemerintahan dan perang. Sikapnya
yang tidak memusuhi pemerintah itu membuat para penguasa
di Kerajaan Mongol suka kepadanya dan menganggap dia
sebagai sahabat.
Banyak pejabat tinggi kota raja, terutama para
panglimanya, yang menjadi kenalan baik datuk ini. Akan tetapi
yang hubungannya paling dekat dengannya adalah Panglima
Kong Tek Kok, yang menjadi panglima besar. Hubungan
keduanya akrab karena sama-sama memiliki kepandaian silat
tinggi. Ketika Kong Tek Kok melihat betapa dalam
bimbingannya, putera tunggalnya yang bernama Kong Sek
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 225
tidak mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silatnya, bahkan
puteranya itu kalah dibandingkan muridnya, yaitu Siang Ni,
Panglima Kong Tek Kok membawa puteranya ke Bukit Merak
untuk menjadi murid Bu-tek Sin-liong Cu Liong yang tingkat
kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada tingkatnya.
Benar saja, dibawah gemblengan Cu Liong, Kong Sek
mendapatkan kemajuan pesat. Hal ini terjadi karena pemuda itu
diam-diam jatuh cinta kepada puteri gurunya, yaitu Cu Ai Yin.
Selama empat tahun Kong Sek menjadi murid Bu-tek Sin-liong
dan kini usianya sudah duapuluh empat tahun. Panglima Kong
Tek Kok setahun yang lalu melihat puteranya jatuh cinta
kepada Cu Ai Yin, membicarakannya dengan Cu Liong. Dia
menyatakan keinginannya untuk menjodohkan puteranya
dengar Cu Ai Yin.
Akan tetapi Bu-tek Sin-liong dengan tegas mengatakan
bahwa puterinya diberi kebebasan untuk memilih jodohnya
sendiri. Kalau Ai Yin mencinta Kong Sek, dia pun tidak akan
menghalangi puterinya menjadi isteri Kong Sek. Pinangan
resmi memang belum dilakukan, akan tetapi baik Kong Sek
maupun Cu Ai Yin, sudah mendengar bahwa orang tua mereka
hendak menjodohkan mereka.
Ai Yin bersikap tidak acuh, sebaliknya Kong Sek sudah
menganggap Sumoi (Adik Seperguruan) itu sebagai calon
isterinya! Bahkan sejak urusan perjodohan itu dibicarakan,
setahun yang lalu, kini Kong Sek lebih sering berada di Bukit
Merak daripada di kota raja!
Cu Ai Yin amat berbakat dalam ilmu silat. Karena itu,
biarpun Kong Sek enam tahun lebih tua daripadanya, dalam hal
ilmu silat, putera panglima itu masih belum mampu
menandinginya! Juga sejak berusia limabelas tahun, Cu Ai Yin
memperlihatkan sikap sebagai seorang pendekar wanita yang
selain cantik jelita, juga lihai dan seringkali menghajar dan
membasmi gerombolan penjahat yang suka mengganggu
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 226
daerah sekitar Bukit Merak. Penampilannya yang jelita dan
gagah membuat ia memperoleh julukan Pek-hwa Sianli
(Bidadari Bunga Putih), sesuai dengan penampilannya yang
selalu mengenakan hiasan rambut berupa setangkai bunga
putih.
Gadis ini berwatak keras, jujur dan pemberani, bahkan agak
liar. Senjatanya sepasang pedang pendek yang dapat ia
pergunakan sebagai Hui-kiam (Pedang Terbang) dengan cara
melontarkannya. Kepandaiannya dalam melontarkan pedang
ini amat dahsyat dan ia sudah mewarisi ilmu ini sebaiknya dari
ayahnya. Di samping ilmu silatnya yang lihai, gadis jelita ini
pun pandai bernyanyi dan menari, pandai pula memainkan alat
musik suling dan yang-kim. Wajahnya manis sekali, berbentuk
bulat telur, mata dan mulutnya menggairahkan, terutama
matanya yang amat indah. Setitik tahi lalat di sudut bibir kanan
menambah kejelitaannya.
Demikianlah, gadis itu kebetulan menemukan Pouw Cun
Giok yang menggeletak pingsan di tepi sungai dan
menolongnya, membawanya pulang. Kini mereka bertiga,
Pouw Cun Giok, Cu Ai Yin dan ayahnya, Cu Liong, duduk
makan minum tanpa bicara. Karena perutnya memang lapar
sekali dan masakan-masakan yang dihidangkan itu amat
mewah dan serba enak, pemuda itu tidak merasa sungkan lagi
dan makan sekenyangnya. Agaknya sikap ini menyenangkan
hati ayah dan puterinya itu, yang biasa bersikap terbuka dan
tidak suka pura-pura.
Setelah mereka selesai makan, Bu-tek Sin-liong mengajak
puterinya dan tamunya ke ruangan lian-bu-thia (ruangan
berlatih silat) yang luas dan berada dekat taman bunga. Mereka
duduk di bangku-bangku yang berderet di dekat tembok.
Ruangan yang luas itu tidak mempunyai perabot lain kecuali
bangku-bangku dan sebuah rak senjata di mana terdapat
delapanbelas senjata untuk berlatih silat. Sebagai seorang ahli
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 227
silat, tentu saja Cun Giok maklum bahwa dia diajak ke dalam
sebuah lian-bu-thia yang luas.
“Siapakah namamu?” tanya Cu Liong dengan suaranya
yang besar dan lantang sambil menatap wajah Cun Giok penuh
selidik.
“Nama saya Pouw Cun Giok, Lo-cianpwe (sebutan
menghormat pada orang tua yang gagah).”
Kakek tinggi besar bermuka merah gagah itu
membelalakkan matanya “Hemm, she (marga) Pouw? Bukan
anggauta keluarga Pouw di So-couw, yang dulu amat terkenal
itu?”
Pouw Cun Giok maklum bahwa nama besar keluarga Pouw
di So-couw kini telah dikenal sebagai musuh Pemerintah
Mongol. Dia tidak perlu mencari perkara dengan membawa
nama keluarganya yang telah terbasmi semua, tinggal dia
seorang diri! Maka, tanpa menjawab dia menggeleng kepala
perlahan.
“Hemm, aku tahu engkau memiliki kepandaian silat
lumayan. Siapa gurumu?”
Cun Giok berpikir. Gurunya, Suma Tiang Bun terkenal
sekali dahulu sebagai seorang patriot sejati yang menentang
orang Mongol. Tidak baik menceritakannya kepada kakek yang
sikapnya aneh dan keras, dan belum dikenalnya benar ini.
Sebaliknya, kakek gurunya tidak pernah mencampuri urusan
dunia maka lebih aman kalau menyebut namanya. Dia tidak
berbohong karena memang kakek gurunya itu yang merupakan
guru kedua baginya.
“Guru saya adalah Pak Kong Lojin yang bertapa di Ta-piesan,
Lo-cianpwe.” Hatinya lega karena nama kakek gurunya
yang bertapa dan menjauhi urusan dunia itu agaknya tidak
dikenal datuk ini yang sikapnya biasa saja mendengar nama
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 228
Pak Kong Lojin.
“Kesehatanmu sudah pulih benar sekarang?” tanya lagi
kakek itu.
Pouw Cun Giok memberi hormat. “Sudah, Lo-cianpwe, dan
terima kasih kepada Lo-cianpwe dan Cu-siocia (Nona Cu) yang
telah menolong saya.”
“Pouw Cun Giok, anakku Cu Ai Yin telah menolongmu
dan membawamu ke sini. Kami sekarang ingin melihat apakah
engkau ini pantas ditolong dan menjadi tamu kami ataukah
tidak. Ai Yin akan menguji kepandaian silatmu. Kalau engkau
memang pantas menjadi tamu, aku tidak akan mencela
tindakan anakku itu. Akan tetapi kalau ternyata engkau tidak
patut menjadi tamu kami, engkau harus pergi sekarang juga
dan jangan memperlihatkan mukamu lagi di sini! Ai Yin,
mulailah, sesuai perjanjian kita kemarin!”
Gadis itu bangkit dan berkata kepada Cun Giok. “Saudara
Pouw Cun Giok, mari perlihatkan ilmu silatmu kepada kami.
Awas, jangan engkau mengalah karena aku akan memukulmu
sungguh-sungguh sekuat tenaga. Kalau engkau mengalah, aku
dan Ayah akan marah sekali kepadamu karena sikapmu
mengalah itu berarti memandang rendah dan menghina kami.
Nah, bersiaplah!” Gadis itu sudah melompat ke tengah ruangan
dan berdiri tegak dengan sikap gagah sekali.
Cun Giok maklum bahwa ayah dan anak yang berwatak
keras ini ingin mengujinya dan dia pun tahu bahwa bagi orang
yang memiliki harga diri tinggi, dipandang rendah orang lain
merupakan penghinaan. Dia menjadi serba salah. Kalau tidak
sungguh-sungguh dia dianggap menghina. Kalau bersungguhsungguh,
bagaimana dia dapat menggunakan kekerasan
terhadap seorang gadis dan gadis itu bahkan telah
menolongnya, menyelamatkan nyawanya? Juga dia merupakan
seorang tamu yang tidak diundang, diperlakukan dengan baik,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 229
bagaimana dia dapat menggunakan kekuatan untuk
mengalahkan nona rumah?
Akan tetapi maklum bahwa Bu-tek Sin-liong adalah
seorang datuk aneh dan dia sama sekali tidak boleh bersikap
lemah dan mengalah, dia pun bangkit dari bangku, memberi
hormat kepada Cu Liong dan berkata.
“Mohon perkenan Lo-cianpwe.”
“Lawanlah ia!” kata Cu Liong singkat.
Cun Giok melangkah menghampiri Cu Ai Yin. Kini mereka
berdiri berhadapan. Cun Giok sudah merasakan kehebatan
tenaga Cu Liong, maka dia dapat menduga bahwa puteri datuk
itu pun tentu memiliki ilmu silat yang tinggi tingkatnya. Dia
tidak berani memandang rendah, bersikap tenang namun
waspada.
“Nona Cu, aku sudah siap!” katanya sambil memasang
kuda-kuda dengan kedua kaki berjingkat. Kuda-kuda ini
disebut Burung Merak Siap Terbang dan biasa digunakan oleh
seorang ahli gin-kang (ilmu meringankan tubuh). Dengan
berdiri mengangkat tumit dan hanya bertumpu pada jari-jari
kaki, maka tubuhnya siap untuk melompat dan berkelebatan
cepat.
“Lihat serangan!” Ai Yin sudah berseru dan ia pun mulai
menyerang dengan pukulan kedua tangannya. Tangan kanan
menusuk dengan dua jari ke arah tenggorokan lawan dan
tangan kiri memukul ke arah perut. Gerakannya cepat dan
mengandung hawa pukulan yang kuat. Akan tetapi dengan
amat lincahnya Cun Giok berhasil mengelak dan teringat akan
ucapan gadis itu tadi, dia pun segera membalas dengan
tamparan ke arah pundak Ai Yin! Gadis itu terkejut melihat
cepatnya gerakan pemuda itu maka ia lalu menangkis sambil
mengerahkan sinkang (tenaga sakti).
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 230
“Dukkk......!” Cun Giok kagum bukan main ketika
lengannya bertemu dengan lengan gadis itu. Pek-hwa Sianli Cu
Ai Yin, gadis yang usianya paling banyak delapanbelas tahun
ini telah memiliki tenaga sakti yang mampu menandinginya!
Akan tetapi dia tidak sempat berlama-lama terheran dan
terkagum karena Ai Yin sudah menerjangnya lagi dan
menyerang bertubi-tubi dengan dahsyatnya.
Cun Giok harus mencurahkan perhatiannya. Dia
mengeluarkan ilmu silat Ngo-heng-kun-hoat (Silat Lima
Unsur) untuk mengimbangi gerakan gadis itu yang juga amat
hebat. Cu Ai Yin juga berusaha keras untuk memenangkan
pertandingan itu dengan memainkan ilmu silat Jit-seng-kun
(Silat Tujuh Bintang). Mereka saling pukul, saling tendang,
akan tetapi semua serangan mereka dapat dielakkan atau
ditangkis lawan.
Bu-tek Sin-liong Cu Liong yang menonton pertandingan itu
dengan penuh perhatian, beberapa kali mengangguk-angguk.
Dia pun kagum melihat gerakan tangan Cun Giok. Pemuda itu
benar-benar lihai, mampu mengimbangi puterinya yang amat
berbakat. Empatpuluh jurus lewat dan belum tampak siapa
yang akan menang dalam pertandingan itu. Cu Liong sudah
menganggap pemuda itu lulus ujian dan cukup berharga untuk
menjadi tamunya.
Tiba-tiba Cu Liong membelalakkan matanya karena dia
melihat betapa Cun Giok mengubah gerakannya dan tubuhnya
seolah berubah menjadi bayang-bayang yang bergerak cepat
bukan main. Dia mendengar beberapa kali puterinya
mengeluarkan seruan kaget. Mendadak saja bayangan Cun
Giok melompat dan menjauhi Ai Yin. Pemuda itu sudah berdiri
tegak dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai
penghormatan kepada Ai Yin lalu berkata, “Nona Cu, aku
merasa kagum sekali, ilmu silatmu sungguh lihai!”
Ai Yin terbelalak memandang ke arah tangan kanan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 231
pemuda itu lalu meraba rambutnya.
“Ihh......!” la berseru karena ternyata yang dipegang tangan
pemuda itu adalah bunga putih hiasan rambutnya! Dengan
bukti ini saja sudah mudah diketahui bahwa dalam
pertandingan ilmu silat tadi Cun Giok telah memperoleh
kemenangan, karena kalau tangan yang mencabut hiasan itu
diubah menjadi totokan, tentu ia akan roboh tewas atau
setidaknya terluka berat!
“Maafkan aku, Nona!” Cun Giok berseru dan tangan
kanannya bergerak. Hiasan rambut berupa bunga putih itu
meluncur dan tahu-tahu telah menancap kembali di rambut Ai
Yin!
“Hemm, Pouw Cun Giok, engkau menang dalam
pertandingan adu silat tangan kosong. Akan tetapi aku belum
kalah. Cabut senjatamu, kita bertanding menggunakan
senjata!” kata Ai Yin dan ia sudah mencabut sepasang
senjatanya, yaitu pedang pendek yang berkilauan saking
tajamnya.
Cun Giok ragu-ragu. “Nona Cu, perlukah itu? Biarlah aku
mengaku kalah, tidak perlu kita bertanding menggunakan
senjata tajam.”
“Hemm, apakah engkau ingin disebut penakut dan
pengecut?” tanya Ai Yin. “Aturan dalam pibu (adu ilmu silat),
siapa yang menang baru ditentukan kalau ada yang sudah
mengaku kalah. Aku belum mengaku kalah sebelum engkau
mengalahkan sepasang pedangku ini!”
Wajah Cun Giok menjadi merah dan alisnya berkerut. Dia
menoleh ke arah Cu Liong. Akan tetapi Cu Liong tidak
membantunya, bahkan orang tua itu berkata, “Perlihatkan ilmu
pedangmu, orang muda!”
Terpaksa Cun Giok mencabut pedangnya. Sinar emas
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 232
berkelehat menyilaukan mata dan pada saat itu, seorang
pemuda memasuki ruangan lian-bu-thia dan berseru nyaring.
“Kim-kong-kiam! Ah, dialah si pembunuh jahanam keparat
itu!” Pemuda tinggi besar gagah berpakaian indah itu langsung
saja menyerang Cun Giok dengan sebatang pedang.
Serangannya cepat dan kuat sekali.
Cun Giok yang tidak mengenal orang itu, melompat jauh ke
belakang.
“Suheng! Ada apa ini?” Cu Ai Yin membentak, wajahnya
merah karena marah melihat gangguan ini.
“Sumoi, bantu aku membunuh pemberontak jahanam ini!
Dialah Suma Cun Giok yang berjuluk Bu-eng-cu! Dia telah
membunuh banyak orang termasuk Ayah!” Setelah berkata
demikian pemuda itu hendak menyerang lagi.
“Kong Sek, tahan! Jelaskan dulu apa urusannya! Jangan
melanggar aturan!” Bu-tek Sin-liong membentak dan pemuda
tinggi besar itu lalu menghadapi kakek itu.
“Suhu...... ah, Suhu, bantulah teecu (murid) menangkap
penjahat keji ini. Dia telah membunuh Ayahku, membunuh
pula belasan orang pengawal, juga dia telah membunuh
Pangeran Lu Kok Kong!”
Mendengar ini, tentu saja Cu Liong dan Cu Ai Yin terkejut
bukan main. Mereka berdua memandang kepada Cun Giok
yang bersikap tetap tenang. Akan tetapi diam-diam dia heran
dan menduga-duga siapakah pemuda ini. Putera siapakah dia?
“Pouw Cun Giok! Benarkah itu?” tanya Cun Liong.
“Suhu, dia Suma Cun Giok, bukan bermarga Pouw!” kata
pemuda itu yang bukan lain adalah Kong Sek, putera mendiang
Kong Tek Kok yang menjadi murid Bu-tek Sin-liong Cu
Liong.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 233
“Hah? Benarkah engkau memalsukan margamu?” tanya
pula majikan Bukit Merak itu.
“Marga saya Pouw, Lo-cianpwe, saya memang
menggunakan nama Marga Suma seperti Ayah angkatku.”
“Hayo ceritakan, benarkah engkau membunuh Panglima
Kong Tek Kok dan banyak pengawal?”
“Memang benar, Lo-cianpwe. Saya yang membunuh
Panglima Kong Tek Kok dan para pengawal yang
membantunya,” jawab Cun Giok dengan jujur dan sikapnya
tetap tenang.
“Jadi engkau luka-luka dan pingsan itu karena habis
berkelahi melawan mereka?” seru Ai Yin.
Cun Giok mengangguk tanpa menjawab.
“Pouw Cun Giok, hayo ceritakan mengapa engkau
membunuh sahabatku Panglima Kong Tek Kok dan yang lainlain!”
Diam-diam Cun Giok maklum akan bahaya yang
mengancam dirinya. Kiranya para penolongnya ini adalah
sahabat baik Panglima Kong Tek Kok, bahkan agaknya
pemuda tinggi besar itu adalah putera mendiang Panglima
Kong Tek Kok dan menjadi murid Bu-tek Sin-liong!
“Lo-cianpwe, sekitar duapuluh satu tahun yang lalu, hampir
seluruh keluarga Pouw, di So-couw dibasmi oleh pasukan yang
dipimpin Panglima Kong Tek Kok. Kakek dan Nenek saya,
Ayah dan Ibu saya, dibunuhnya dengan kejam. Seluruh
anggauta dalam rumah dibunuh dan gedung keluarga Pouw
dibakar. Ibuku dapat tertolong dan ketika itu Ibuku sedang
mengandung. Kemudian Ibu melahirkan saya dan tewas. Saya
menjadi anak atau cucu angkat penolong Ibuku, she (marga)
Suma. Nah, setelah saya dewasa, setelah mempelajari ilmu
silat, saya mencari musuh besar yang membasmi keluarga
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 234
Pouw itu dan membalas dendam. Yang hendak saya balas dan
bunuh adalah Panglima Kong Tek Kok, akan tetapi karena
banyak sekali pengawal yang mengeroyok saya, maka saya
merobohkan banyak pengawal. Saya terluka akan tetapi sempat
melarikan diri. Demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Locianpwe.”
“Suhu, dia itu seorang pemberontak dan dia telah
membunuh Ayahku. Tolonglah, Suhu dan Sumoi, bantu saya
menangkap jahanam ini!” Kong Sek berkata.
“Hemm......, hemm......!” Datuk Majikan Bukit Merak itu
menggumam ragu.
“Ayah, dalam peraturan yang Ayah buat sendiri, kita tidak
boleh mencampuri urusan pribadi orang lain. Juga kita tidak
boleh mencampuri urusan pemerintah! Andaikata benar dia
memberontak, itu bukan urusan kita, dan urusan antara Suheng
Kong Sek dan Pouw Cun Giok adalah urusan dendammendendam
pribadi. Biarlah urusan itu mereka selesaikan
sendiri!” kata Cun Ai Yin dengan suara tegas.
Kong Sek yang sudah naik darah melihat musuh besarnya
yang dia ketahui dari pedang Kim-kong-kiam di tangan Cun
Giok, menjadi tidak sabar lagi mendengar ucapan gurunya dan
sumoinya.
“Jahanam busuk, engkau harus menebus kematian
Ayahku!” bentaknya dan dia lalu menyerang lagi dengan
pedangnya. Cun Giok menangkis dengan Kim-kong-kiam.
“Tranggg......!” Pedang di tangan Kong Sek juga bukan
pedang biasa, melainkan sebatang pedang yang kuat dan
ampuh walaupun tidak sebaik Kim-kong-kiam, maka pedang
itu tidak patah ketika bertemu Kim-kong-kiam walaupun Kong
Sek terhuyung ke belakang karena kalah kuat. Akan tetapi
pemuda yang dipenuhi dendam kebencian ini menjadi nekat
dan dia menyerang terus dengan membabi buta. Kenekatannya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 235
ini terutama karena dia yakin bahwa tidak mungkin gurunya
akan tinggal diam saja dan pasti akan membantunya atau
setidaknya melindunginya kalau dia terancam bahaya. Akan
tetapi, walaupun di dalam hatinya tentu saja Bu-tek Sin-liong
Cu Liong ada keinginan membela dan membantu muridnya,
namun di situ ada puterinya, Cu Ai Yin yang mengingatkannya
akan peraturan atau pendirian yang dibuatnya. sendiri. Dengan
peringatan itu dia menjadi tidak berdaya karena dia merasa
malu untuk melanggar peraturannya sendiri!
@_Alysa^DewiKZ_@
Jilid 8
Bab 1. Sahabat Panglima Bajingan
Seperti telah diduga oleh Cu Liong dan Cu Ai Yin, Kong
Sek bukan lawan yang sepadan bagi Pouw Cun Giok. Selama
duapuluh jurus lebih Cun Giok hanya mengalah, akan tetapi
ketika melihat bahwa Kong Sek masih terus menyerangnya
seperti orang gila, dia bergerak cepat sekali sehingga Kong Sek
menjadi bingung karena dia tidak dapat mengikuti gerakan Cun
Giok. Bayangan lawannya berkelebatan sedemikian cepatnya
sehingga tak dapat dia ikuti dengan pandang matanya, bahkan
terkadang lenyap.
Selagi dia kebingungan, terdengar suara Cun Giok berkata.
“Dendamku hanya kepada Panglima Kong Tek Kok, aku tidak
mempunyai urusan denganmu. Pergilah!”
Tiba-tiba tubuh Kong Sek terlempar dan terjengkang roboh.
Ketika bangkit lagi, dia menyeringai karena lutut kaki
kanannya terasa nyeri. Tadi lutut itu tercium ujung kaki Cun
Giok sehingga dia terpincang-pincang.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 236
Melihat ini, wajah Bu-tek Sin-liong berubah merah dan
matanya mengeluarkan sinar kemarahan. Dia merasa terhina
melihat murid dan tadi puterinya dikalahkan dengan mudah
oleh Cun Giok. Selain itu, bagaimanapun juga hatinya condong
memihak muridnya. Maka dia cepat bangkit dan mengambil
Kim-siang-to (Sepasang Golok Emas), sepasang senjatanya
yang ampuh, juga indah karena senjata itu merupakan golok
besar dan disepuh emas!
“Pouw Cun Giok, akulah lawanmu!” katanya sambil
melangkah menghampiri Cun Giok.
“Ayah, mengapa Ayah hendak mencampuri? Itu adalah
urusan pribadi mereka! Kita tidak sepatutnya mencampuri!”
Cu Liong menggeram. “Hemm, bocah ini telah membunuh
Panglima Kong Tek Kok sahabatku, juga membunuh banyak
pengawal! Dia harus ditangkap dan diadili!”
“Ayah akan mulai membela pemerintah Kerajaan Goan?”
Ai Yin mengingatkan. “Berarti Ayah melanggar peraturan
sendiri!”
“Aku tidak melanggar peraturan!” Laki-laki tinggi besar
bermuka merah itu membentak. “Aku tidak mencampuri
pemerintah, juga tidak mencampuri urusan dendam pribadi.
Akan tetapi Pouw Cun Giok sudah melakukan kejahatan,
membunuh banyak orang. Kalau aku diam saja berarti aku
membantu penjahat. Dia harus ditangkap dan dihadapkan
pengadilan di kota raja!”
“Benar sekali ucapan Suhu yang bijaksana!” Kong Sek
segera membenarkan gurunya.
“Ayah, orang ini merupakan tanggung jawabku! Aku yang
membawanya ke sini setelah aku menolongnya. Maka akulah
yang berhak atas dirinya!” Ai Yin membantah dengan teriakan
lantang.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 237
“Engkau berhak menolong orang, akan tetapi engkau tidak
berhak membela orang jahat!”
“Dia bukan orang jahat.......”
“Diam!” Tiba-tiba Bu-tek Sin-liong membentak puterinya.
Cun Giok merasa tidak enak sekali. Dia, yang telah
ditolong oleh mereka, kini menjadi penyebab ayah dan anak itu
bertengkar. Maka dia menyarungkan pedangnya dan berkata
lembut. “Maaf, Lo-cianpwe dan Nona Cu, harap jangan
bertengkar. Sekarang, apakah yang Lo-cianpwe kehendaki?”
“Pouw Cun Giok! Menyerahlah untuk ditangkap dan
dibawa ke kota raja untuk diadili!” Majikan Bukit Merak itu
membentak.
“Cun Giok, larilah!” teriak Ai Yin karena ia tahu bahwa
kalau pemuda yang berjuluk Bu-eng-cu (Si Tanpa Bayangan)
itu melarikan diri, ayahnya sendiri pun tidak akan mampu
menangkapnya.
Akan tetapi Cun Giok berkata. “Nona Cu, aku akan
menyerah, aku tidak ingin bermusuhan dengan Ayahmu. Locianpwe,
silakan, saya menyerah.”
Kong Sek sudah maju dengan pedang di tangan, agaknya
siap untuk membunuh pemuda yang sudah menyerah itu. Akan
tetapi tiba-tiba Ai Yin membentak. “Kong-suheng (Kakak
Seperguruan Kong), dia hanya boleh ditangkap dan dibawa ke
kota raja, sama sekali tidak boleh dilukai, apalagi dibunuh.
Kalau engkau melukai atau membunuh orang yang sudah
menyerah, aku akan membuat perhitungan denganmu!!”
“Kong Sek, tangkap dia dan bawa ke pengadilan. Tidak
boleh disakiti atau dibunuh sebelum diadili!” Bu-tek Sin-liong
juga berkata dengan suara yang tegas.
“Baik, Suhu,” kata Kong Sek.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 238
Pemuda itu lalu mengambil rantai dan membelenggu kaki
tangan Cun Giok. Setelah itu, dia menuntun dua ekor kuda dari
kandang di mana terdapat belasan ekor kuda peliharaan
gurunya. Dia menyiapkan kuda untuk Cun Giok, dibantu
selosin orang perajurit pengawal yang tadi mengikutinya dan
menanti di luar pekarangan.
Setelah semua siap, Kong Sek mengambil pedang Kimkong-
kiam dari pinggang Cun Giok dan setelah mengucapkan
terima kasih kepada gurunya, juga kepada sumoinya yang sama
sekali tidak dijawab gadis itu yang sejak tadi cemberut marah.
Kong Sek lalu pergi, diikuti selosin perajurit pengawal. Cun
Giok yang didudukkan di atas seekor kuda dengan kedua kaki
dan lengan terbelenggu rantai, berada di tengah.
Setelah rombongan itu pergi, Ai Yin mengomel kepada
ayahnya.
“Pouw Cun Giok itu membalas dendam atas kematian
keluarga Pouw yang dibasmi, mengapa Ayah sekarang
membela Suheng Kong Sek? Apakah itu adil?”
“Tentu saja adil. Yang terbunuh adalah sahabatku, dan aku
hanya menangkap pembunuhnya untuk diadili. Pula, Kong Sek
itu bukan orang lain. Dia muridku dan juga calon mantuku!”
“Apa......? Calon mantu? Apa maksud Ayah?”
“Hemm, engkau masih berpura-pura, Ai Yin? Sudah lama
mendiang Panglima Kong dan aku bersepakat untuk
menjodohkan Kong Sek denganmu, hanya belum diresmikan
pinangannya. Sekarang, setelah Panglima Kong meninggal
dunia, lebih baik pertunangan kalian diresmikan!”
“Tidak! Aku tidak mau!” Ai Yin menjerit dan lari
memasuki kamarnya.
Bu-tek Sin-liong Cu Liong menghela napas panjang dan
termenung. Sejak ditinggal mati isterinya, dia mencurahkan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 239
seluruh kasih sayangnya kepada puterinya. Dia melihat bahwa
kalau puterinya menikah dengan Kong Sek, puterinya akan
hidup bahagia. Kong Sek seorang pemuda gagah dan tampan,
berdarah bangsawan pula, dan dia yakin pemuda itu akan
memperoleh kedudukan tinggi di kota raja. Puterinya akan
hidup berkecukupan, dihormati dan dimuliakan banyak orang.
Akan tetapi kini Ai Ying marah dan menentangnya! Tidak ada
hal yang lebih memusingkan kepalanya dari pada sikap
puterinya yang marah dan menentangnya itu! Karena pusing
dan berduka teringat isterinya, datuk yang gagah perkasa itu
kemudian tertidur di atas kursinya!
Ketika dia terbangun, hari sudah siang. Dia teringat akan
puterinya yang marah, maka cepat dia menuju ke kamar
puterinya. Ketika dia membuka daun pintu, ternyata Ai Yin
tidak berada di kamarnya. Cu Liong memanggil para pelayan,
akan tetapi hanya ada seorang pelayan pengurus taman yang
memberi keterangan bahwa pagi tadi, ketika dia membersihkan
halaman depan rumah, dia melihat Nona Cu meninggalkan
puncak bukit dengan cepat seperti orang berlari-lari.
Cu Liong mengerutkan alisnya. Baginya, sudah biasa
mendengar puterinya pergi tanpa pamit karena gadis itu
memang terkadang suka turun bukit. Akan tetapi yang
membuat hatinya merasa tidak nyaman adalah karena puterinya
itu pergi dengan hati marah kepadanya.
@_Alysa^DewiKZ_@
Rombongan dua belas orang perajurit pengawal yang
mengiringkan Kong Sek dan mengawal Cun Giok, tidak dapat
melarikan kuda dengan cepat. Cun Giok menunggang kuda
dengan kaki tangan terbelenggu, maka tentu saja kuda itu tidak
dapat dibalapkan karena hal ini tentu akan membuat tubuh
pemuda itu terguling.
Rombongan itu adalah para perajurit pengawal yang selalu
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 240
diajak Kong Sek untuk mengawalnya, apalagi setelah kemarin
dulu ayahnya terbunuh. Dia merasa tidak aman pergi seorang
diri seperti biasa. Pasukan kecil itu bukan terdiri dari perajuritperajurit
biasa. Mereka adalah orang-orang pilihan yang
sebetulnya sudah menduduki tingkat yang lebih tinggi daripada
perajurit biasa. Setidaknva mereka itu masing-masing berhak
memimpin seregu perajurit. Senjata mereka pun bukan golok
atau tombak seperti perajurit biasa, melainkan sebatang
pedang. Seorang dari mereka, yang paling dekat hubungannya
dengan Kong Sek, bersama pemuda bangsawan itu, memimpin
paling depan. Kuda mereka berendeng dan pada saat itu, Kong
Sek mengomel.
“Ah, kalau perjalanan dilakukan selambat ini, kapan kita
akan sampai di kota raja? Sialan, jahanam itu tidak dapat
membalapkan kuda. Bagaimana kalau kita ikat saja dia di atas
punggung kuda dengan menelungkupkannya melintang di atas
punggung kuda? Dengan demikian perjalanan dapat dilakukan
dengan cepat tanpa khawatir dia terjatuh.”
“Kongcu, jahanam itu adalah pembunuh Kong Thaiciangkun
(Panglima Besar Kong), juga banyak pengawal dan
Pangeran Lu juga dibunuhnya. Dosa kejahatannya sudah lebih
dari cukup untuk membuat dia dihukum mati seratus kali!”
Kong Sek menggigit bibir dan termenung sejenak
mendengar ucapan perwira pengawal itu. “Akan tetapi rasanya
kurang jantan dan tidak enak membunuh musuh yang telah
ditawan dan diborgol dalam keadaan tidak berdaya! Apalagi,
aku ingin dia dibunuh di depan makam ayah agar arwah
ayahku tidak akan menjadi penasaran.”
“Kongcu, ingatlah bahwa penjahat ini lihai sekali! Bahkan
ayah Kongcu yang demikian lihainya juga tidak mampu
mengalahkannya dan mati olehnya. Berbahaya sekali dia itu
kalau tidak cepat dibunuh sekarang. Pula, dengan memenggal
batang lehernya dan membawa kepalanya, Kongcu masih dapat
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 241
menggunakan kepalanya untuk bersembahyang di depan
makam mendiang Kong Thai-ciangkun!” Perwira ini
membujuk terutama sekali karena dia khawatir kalau-kalau
tawanan yang amat lihai itu akan dapat terlepas dalam
perjalanan itu.
“Begitukah pendapatmu?” tanya Kong Sek dengan alis
berkerut, mulai terpengaruh bujukan itu.
“Tentu saja, Kongcu. Itulah jalan terbaik dan teraman bagi
kita, terutama bagi Kongcu. Coba bayangkan, bagaimana kalau
tawanan yang amat lihai itu sampai dapat terlepas di dalam
perjalanan? Tentu kita semua akan dibunuhnya seperti dia
mengamuk di tanah kuburan umum itu!”
Keraguan mulai menghilang dari wajah Kong Sek. Pada
saat itu mereka telah tiba di sebuah hutan kecil. Dia
menghentikan kudanya, menoleh ke belakang dan mengangkat
tangan kiri ke atas. Perwira yang mendampinginya
meneriakkan aba-aba untuk berhenti. Semua penunggang kuda
berhenti. Kuda yang ditunggangi Cun Giok juga berhenti.
Perwira itu menyuruh kawan-kawannya untuk menarik Cun
Giok turun dari atas kuda.
Cun Giok kini duduk di atas tanah, kaki tangannya masih
terbelenggu rantai baja. Wajahnya tetap tenang, bahkan ada
bayangan senyum tersungging di ujung bibirnya. Para
pengawal turun dari kuda dan membuat lingkaran besar
mengepung Cun Giok.
Kini Kong Sek yang sudah lebih dulu turun, memasuki
lingkaran sampai di depan Cun Giok dalam jarak tiga langkah
lebar, menatap tajam pembunuh ayahnya itu. Teringat akan
kematian, ayahnya yang menurut laporan tubuh ayahnya
tercincang menjadi onggokan daging, kebencian berkobar
dalam hatinya dan wajah yang tampan gagah itu tampak
beringas menyeramkan. Matanya seperti berapi, hidungnya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 242
kembang kempis dan mulutnya menjadi garis melintang yang
membayangkan kemarahan yang luar biasa.
Para pengawal yang dua belas orang jumlahnya dan kini
duduk membentuk lingkaran lebar itu menonton dengan hati
tegang. Mereka tahu betapa marahnya Kong Sek yang hendak
membalas dendam sakit hati ayahnya yang terbunuh pemuda
ini. Akan tetapi, diam-diam mereka kagum sekali kepada Cun
Giok. Biarpun kematian sudah membayang di depan mata,
pemuda itu masih duduk tenang saja, wajahnya sama sekali
tidak takut atau khawatir, bahkan senyumnya kini tampak jelas.
Suara Kong Sek terdengar menggetar penuh perasaan
ketika dia bicara lantang dan dengan nada membentak. “Suma
Cun Giok! Engkau tentu sudah menyadari akan dosamu
terhadap Ayahku!”
Dengan suara lembut tanpa tanda takut atau sedih, Cun
Giok berkata, “Aku sama sekali tidak berdosa terhadap
mendiang Panglima Kong Tek Kok. Dialah yang berdosa besar
sekali kepada keluarga Pouw, keluarga Ayah dan Kakekku.”
“Pembunuh jahat! Engkau telah membunuh Ayahku! Sudah
menjadi kewajiban sebagai anak yang berbakti untuk
membalas kematiannya padamu. Akan kusembahyangi makam
Ayahku dengan kepalamu!”
Setelah berkata demikian, dengan wajah yang ganas Kong
Sek mengangkat Kim-kong-kiam dan membentak. “Pedang ini
berlumuran darah Ayahku, harus kucuci dengan darahmu!” Dia
lalu menggerakkan pedangnya ke bawah, hendak memenggal
batang leher Cun Giok!
“Tranggg...... aahhh......!” Tiba-tiba pedang itu terlepas dan
terpental dari tangan Kong Sek.
Sebatang pedang terbang tadi meluncur dan menyambar
pedang itu dengan cepat dan kuat sekali. Karena Kong Sek
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 243
sama sekali tidak pernah menyangkanya, maka dia terkejut dan
pedang itu terlepas dari pegangannya. Kong Sek dan dua belas
orang pengawal itu menengok dan mereka melihat Cu Ai Yin
berdiri tidak jauh di luar lingkaran. Gadis inilah yang tadi
membuat pedang yang sedianya hendak memenggal leher Cun
Giok itu terpental!
“Sumoi......!” Kong Sek terkejut dan dengan marah dia
melangkah cepat menghampiri gadis itu. Dua belas orang
pengawal mengikutinya dan selagi Kong Sek berhadapan
dengan Ai Yin, dua belas orang itu mengepung, siap membantu
Kong Sek.
“Sumoi, mengapa engkau melakukan itu?!” Kong Sek
bertanya heran. Dia telah jatuh hati kepada adik
seperguruannya ini semenjak Ai Yin masih remaja, maka
biarpun hatinya marah dan penasaran, pertanyaannya
dikeluarkan dengan nada suara lembut.
“Suheng, seharusnya akulah yang bertanya! Mengapa
engkau tadi hendak membunuh tawanan? Bukankah engkau
seharusnya membawanya ke kota raja dan dilarang melukai apa
lagi membunuh?”
“Akan tetapi, Sumoi! Dia itu penjahat, pemberontak dan dia
sudah membunuh Ayahku dengan sangat kejam! Aku ingin
memenggal lehernya dan membawa kepalanya ke makam
Ayahku!”
“Aku tidak peduli semua itu! Akan tetapi engkau sudah ber
janji kepada Ayahku, dan menurut aturan, engkau tidak boleh
melanggar janji!”
“Sumoi, ingatlah. Kita adalah saudara seperguruan dan dia
itu pembunuh Ayahku. Sudah sepatutnya kalau engkau
membantu aku, bukan membela dia!” Suara Kong Sek mulai
tidak sabar.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 244
“Aku tidak membela siapa-siapa. Aku membela kebenaran
dan yang melanggar janji dan peraturan adalah tidak benar dan
harus kutentang!”
“Sumoi, aku tidak suka bertentangan dengan orang yang
paling kucinta, akan tetapi sebagai seorang anak yang berbakti,
aku harus membalaskan kematian Ayah dan kalau engkau
hendak melindungi pembunuh Ayahku itu, terpaksa aku
menentangmu.” Setelah berkata demikian, Kong Sek berkata
kepada perwira yang bicara dengannya tadi. “Cepat penggal
batang lehernya!”
Perwira itu melangkah ke arah Cun GJok yang masih duduk
di atas tanah dengan kaki tangan terikat rantai. Melihat ini, Ai
Yin mencabut sepasang pedangnya dan hendak melompat
untuk menghalangi perwira itu membunuh Cun Giok. Akan
tetapi Kong Sek menghadang dan dia sudah mencabut
pedangnya sendiri. Sebelas orang anak buahnya juga
mengepung Ai Yin.
“Bagus! Engkau juga memusuhi aku? Sambut ini!” Ia
menyerang dengan sepasang pedangnya.
Kong Sek menangkis dan Ai Yin segera dikeroyok Kong
Sek dan sebelas orang pembantunya. Kong Sek seorang diri
tentu tidak akan menang bertanding melawan Ai Yin. Akan
tetapi selisih tingkat mereka tidak terlalu banyak. Kini Kong
Sek dibantu sebelas orang perajurit pilihan, tentu saja Ai Yin
segera terdesak.
Sementara itu, perwira yang disuruh memenggal leher Cun
Giok sudah dekat pemuda itu. Sambil tersenyum mengejek dia
mencabut pedangnya dan berkata sambil mengayun pedang.
“Pemberontak, mampuslah!” Pedang diayun menyambar ke
arah leher Cun Giok.
“Desss......!!” Bukan leher Cun Giok yang buntung
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 245
disambar pedang, melainkan tubuh perwira itu yang terlempar
ke belakang karena perutnya disambar dua kaki Cun Giok yang
mendahului gerakan pedang dan kedua kakinya mencuat
dengan cepat dan dahsyat, mengenai ulu hati perwira itu.
Tubuh itu terbanting ke atas tanah dan tidak berkutik lagi,
entah pingsan atau mati! Kini Cun Giok menggerakkan kaki
tangannya dan terdengar suara nyaring ketika rantai besi yang
membelenggu kaki tangannya itu patah-patah!
Dia melompat, memungut Kim-kong-kiam yang tadi
terlepas dari tangan Kong Sek dan menggeletak di atas tanah.
Dia menyimpan pedang itu di pinggangnya, lalu menyerbu ke
arah para pengeroyok. Kaki tangannya menyambar-nyambar
dan sebelas orang itu roboh berpelantingan dalam keadaan
tulang patah atau muka bengkak dan perut mulas! Kini tinggal
Kong Sek sendiri yang masih bertanding pedang melawan Ai
Yin, Cun Giok berdiri dan menonton saja, tidak mau
mencampuri.
Kong Sek terkejut, marah akan tetapi juga jerih melihat
betapa Cun Giok tiba-tiba mengamuk dan merobohkan para
pengawal dengan kaki tangan tidak terbelenggu lagi! Karena
jerih, maka gerakan pedangnya kacau dan tiba-tiba ujung
pedang kanan Ai Yin menggores lengannya sehingga
pedangnya terlepas. Akan tetapi Ai Yin tidak menyerang lagi
dan hanya berdiri memandang dengan sepasang mata
mencorong.
“Karena engkau murid Ayah maka aku tidak mau melukai
apalagi membunuhmu. Pergilah, Suheng!” kata Ai Yin.
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 2. Aku Tidak Suka Jadi Isterinya, Titik!
Kong Sek berdiri dengan muka pucat, memandang wajah
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 246
sumoinya, lalu menoleh dan memandang wajah Cun Giok
penuh kebencian, dan menoleh ke kanan kiri melihat anak
buahnya yang mulai merangkak bangun. Dia merasa marah,
kecewa dan malu sekali. Dia membungkuk, mengambil
pedangnya dan sekali lagi menatap wajah sumoinya.
“Baik, Sumoi. Aku akan melapor kepada Suhu!” Setelah
berkata demikian, dia lalu melompat ke atas kudanya dan
melarikan kuda itu menuju kota raja. Selosin pengawal itu
saling bantu dan akhirnya mereka pun naik kuda masingmasing
dan pergi sambil merintih-rintih. Masih untung bagi
mereka bahwa Cun Giok tidak membunuh mereka.
Setelah derap kaki kuda rombongan itu tidak terdengar lagi,
Ai Yin berkata dengan cemberut dan pandang mata marah.
“Engkau menipuku! Engkau pura-pura tak berdaya dan
terbelenggu. Ternyata engkau hanya pura-pura dan dengan
mudah engkau dapat melepaskan diri kalau kau kehendaki!
Huh, engkau membodohi aku, ataukah hendak pamer
kepandaianmu, ya?”
Cun Giok menghela napas panjang. “Sama sekali tidak,
Nona Cu. Aku menyerah di sana tadi karena aku tidak berani
menentang Ayahmu yang telah begitu baik bersamamu
menolongku dan menerimaku sebagai tamu. Aku pura-pura
menyerah di depan Ayahmu. Kalau aku ketika itu melarikan
diri dari depan Ayahmu seperti yang kau anjurkan, berarti aku
mempermalukan Ayahmu karena aku dapat lolos di depannya!
Akan tetapi kalau aku meloloskan diri di tengah perjalanan, ini
di luar tanggung jawab Ayahmu. Nah, bukan sekali-kali aku
membodohimu atau pamer kekuatan karena aku sama sekali
tidak mengira bahwa engkau membayangi rombongan itu. Ah,
Nona Cu, berulang kali engkau menolongku. Mengapa engkau
menolongku ketika Kongcu (Tuan Muda) tadi hendak
memenggal leherku?”
“Huh, tanpa kucegah sekalipun engkau pasti tidak akan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 247
menyerahkan nyawamu begitu saja!”
“Memang benar. Akan tetapi mengapa engkau mencegah
dia membunuhku? Mengapa engkau menolongku, Nona Cu?”
Mulut gadis itu berjebi, “Huh, kau jangan mengira macammacam,
ya? Aku mencegah Suheng melanggar janjinya dan
melanggar peraturan, sama sekali bukan untuk menolongmu!
Hemm, kau kira kenapa aku menolongmu?”
“Maafkan aku yang salah bicara. Nona Cu. Sungguh aku
tidak menduga macam-macam. Aku yakin bahwa engkau
adalah seorang pendekar wanita yang budiman dan tadi engkau
melihat orang yang sudah dibelenggu dan tidak mampu
melawan akan dibunuh begitu saja tentu timbul jiwa
pendekarmu dan mencegahnya. Sekali lagi terima kasih, Nona.
Budimu amat besar dan aku tidak akan melupakannya.”
Cun Giok memberi hormat dan menjura.
Agaknya kata-kata dan sikap Cun Giok itu meredakan
kemarahan gadis itu. Ia menghela napas dan pandang matanya
tampak berduka.
“Hemm, gara-gara engkau aku bertentangan dengan
Ayahku. Setelah apa yang terjadi tadi, tentu Suheng Kong Sek
akan melapor kepada Ayah dan Ayah tentu akan marah sekali
kepadaku. Ahh, aku tidak berani pulang, bukan takut kepada
Ayah. Ayah terlalu mengasihi aku dan tidak akan mau
menghukum dan menyakiti aku. Akan tetapi hatiku akan sedih
sekali kalau melihat Ayah marah dan berduka. Aku tidak tahan
melihatnya berduka......” Lalu ia cemberut lagi, memandang
kepada Cun Giok dan mencela. “Engkau sih yang menjadi
gara-gara. Andaikata aku tidak bertemu denganmu yang
menggeletak pingsan di tepi sungai dan engkau tidak menjadi
tamu kami, sekarang tentu aku dan Ayah tidak saling
bertentangan!”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 248
Cun Giok merasa menyesal sekali. Tak disangkanya bahwa
pertemuannya dengan gadis itu menimbulkan masalah besar
pada gadis cantik dan gagah itu.
“Aih, aku menyesal sekali, Nona Cu. Kalau saja engkau
ketika itu tidak melihatku, tidak menolongku dan membawa
aku ke rumahmu, aku pasti sudah mati dan tidak timbul
bermacam-macam urusan ini! Ah, diriku ini membawa kesialan
saja kepada semua orang!”
Ucapan pemuda itu menyadarkan Ai Yin bahwa ia terlalu
menyalahkan pemuda yang sebetulnya tidak mempunyai
kesalahan apa-apa itu. “Bukan, bukan itu sebetulnya yang
membuat aku kesal dan terpaksa bertentangan dengan Ayahku.
Yang membuat aku kesal adalah karena aku...... karena
Ayah...... hendak menjodohkan aku dengan Suheng.......”
“Dengan Kong Sek itu?”
Cu Ai Yin teringat akan pertentangannya dengan ayahnya
dan ia tidak dapat menahan mengalirnya air mata ke atas
sepasang pipinya.
“Ah, jangan bersedih, Nona Cu. Aku kira Ayahmu itu
seorang yang bijaksana dan amat menyayangmu. Kalau dia
menghendaki engkau berjodoh, aku yakin dia akan memilihkan
pasangan yang terbaik bagimu. Aku yakin bahwa Kong Sek
seorang pemuda yang amat baik. Wajahnya tampan dan gagah,
dia berbakti kepada orang tua, taat kepada guru dan dia
Suhengmu sendiri. Berarti engkau sudah bergaul lama dengan
dia dan sudah mengenal wataknya, bukan?”
“Huh, aku tidak butuh ketampanan, kegagahan, kaya raya
atau keturunan panglima! Yang jelas, hatiku tidak suka dan aku
tidak ingin menjadi isterinya. Apalagi setelah aku mendengar
betapa jahat Ayahhnya, mendiang Panglima Kong itu!”
Cun Giok menghela napas panjang. Dia tahu bahwa kalau
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 249
Ai Yin mendengar lebih banyak lagi tentang Panglima Kong
Tek Kok, ia tentu akan semakin membencinya.
“Memang, mendiang Panglima Kong adalah seorang yang
kejam dan jahat. Akan tetapi menilai seseorang jangan dari
ayahnya. Banyak saja terdapat pendeta dan orang-orang yang
baik budi mempunyai anak yang tersesat dan menjadi jahat.
Sebaliknya banyak pula orang-orang yang termasuk golongan
penjahat mempunyai anak yang baik dan bijaksana.”
“Sudahlah! Aku tidak suka menjadi isterinya, titik, dan
tidak ada seorang pun di dunia ini boleh memaksa aku menjadi
isteri Suheng Kong Sek, Ayahku pun tidak boleh! Nah, aku
pergi!” kata gadis itu sambil membalikkan tubuhnya.
“Nona Cu, kalau engkau tidak berani pulang, engkau
hendak pergi ke manakah?” tanya Cun Giok dengan hati iba.
“Ke mana saja!” gadis itu menjawab, akan tetapi ia sudah
lari jauh.
Cun Giok berdiri termenung, lalu melangkah pergi. Ah,
betapa dalam kehidupan ini banyak sekali terjadi hal-hal yang
menyedihkan. Dia sendiri merasa tertekan batinnya oleh
kematian Siang Ni yang begitu menyedihkan. Dia merasa amat
iba kepada adik misannya itu, satu-satunya keluarganya yang
masih hidup. Akan tetapi, adik misannya itu pun kini tiada lagi,
tewas dengan cara membunuh diri di depan makam orang
tuanya!
Dan sekarang, dia melihat Cu Ai Yin yang telah
menolongnya itu juga dalam keadaan yang menyedihkan!
Anak tunggal yang bertentangan dengan ayahnya karena
hendak dijodohkan dengan seorang pemuda di luar
keinginannya. Kini gadis itu tidak mau pulang dan dia dapat
membayangkan betapa sengsaranya seorang gadis yang biasa
hidup serba kecukupan seperti Ai Yin kini merantau seorang
diri!
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 250
@_Alysa^DewiKZ_@
Sejak pertahanan para panglima yang setia kepada Kerajaan
Sung dikalahkan pasukan Mongol, bahkan pertahanan terakhir
di Kanton juga dihancurkan, Kaisar yang masih kecil yang
diangkat oleh para panglima itu akhirnya oleh seorang
panglima dibawa loncat ke lautan dan tenggelam ketika kapal
mereka diserbu oleh pasukan Mongol yang mengejarnya, yaitu
pada tahun 1279, Cina dikuasai sepenuhnya oleh bangsa
Mongol yang mendirikan Kerajaan atau Wangsa Goan (1279-
1368).
Pada saat ini, Pouw Cun Giok telah berusia duapuluh satu
tahun. Yang menjadi kaisar adalah Kubilai Khan, kaisar yang
namanya tercatat dalam sejarah sebagai seorang Kaisar Mongol
yang hebat dan besar setelah Jenghis Khan, pendiri Kerajaan
Goan. Seperti juga Jenghis Khan, Kubilai Khan juga seorang
ahli perang dan gila perang. Dia mengirim pasukan Mongol
yang terkenal ganas itu ke negeri seberang. Walaupun hasilnya
tidak sebesar ketika Jenghis Khan memimpin pasukannya,
namun tetap saja gerakan-gerakan Kubilai Khan membuatnya
tersohor di dunia.
Setelah Kanton jatuh dan Kubilai Khan menjadi Kaisar dari
seluruh daratan Cina, dia telah melakukan banyak hal yang
hebat, sehingga nama besar Kubilai Khan sebagai penerus
kakeknya, Jenghis Khan dikenal di seluruh dunia. Belum
pernah tercatat dalam sejarah ada Kerajaan di Cina yang
berhasil menyerang, menalukkan demikian banyak negara
sampai jauh seperti di jaman Kerajaan Goan yang dipimpin
oleh Kaisar Kubilai Khan.
Bagaikan seekor burung rajawali yang memiliki paruh dan
cakar yang amat kuat dan ganas, pasukan Mongol yang ahli
menunggang kuda dan ahli perang itu sudah memperlebar
sayapnya ke empat penjuru. Di utara, mereka menyerbu dan
menguasai sampai ke Siberia dan bagian selatan Russia, di
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 251
timur mereka menaklukkan Mancuria, Korea bahkan pernah
menyerbu Jepang walaupun mengalami kegagalan. Kekuasaan
Kerajaan Mongol di timur sampai ke lautan antara daratan Cina
dan Jepang. Di barat, gerakan pasukan Mongol amat luas dan
jauh.
Bahkan menjelajah daerah yang hampir seluas daratan Cina
sendiri. Pasukan mereka menyerbu Turkestan, Persia sampai
memasuki Baghdad dan Irak, bahkan sudah mencapai sebagian
Europa timur seperti Anatolia. Dunia Timur Tengah dan
Europa menjadi gempar! Kemudian gerakan pasukan Mongol
ke selatan juga menggemparkan. Mereka menguasai Tibet,
bagian utara dari India, Birma, juga Champa (Kamboja)!
Akan tetapi setelah Kubilai menarik kembali semua
pasukannya, karena daerah yang ditaklukkannya itu terlampau
luas dan daerah-daerah barat yang sudah ditalukkan itu masih
terus melakukan perlawanan, yang berada di bawah kekuasaan
Kerajaan Goan hanya sampai daerah Tibet dan Nepal saja.
Di Cina sendiri, harus diakui bahwa Kaisar Kubilai Khan
melakukan banyak hal yang menggemparkan, baik yang
akibatnya mengagumkan maupun yang akibatnya kesengsaraan
bagi rakyat jelata. Dia membangun banyak istana yang serba
indah dan mewah, mendatangkan para ahli bangunan dari
segala bangsa. Kubilai Khan adalah seorang yang tidak
membeda-bedakan bangsa atau agama. Yang dapat dia
pergunakan tenaga dan keahliannya, tentu dia beri kedudukan
yang pantas dan sesuai dengan jasa mereka. Karena itu, seperti
tercatat dalam sejarah, di bawah pemerintahan Kubilai Khan
terdapat pejabat-pejabat pemerintah terdiri dari bermacam
bangsa yang beragama Islam, Kristen, Buddha, atau Agama
To.
Sesungguhnya, hal ini bukan merupakan sikap yang luar
biasa bagi rakyat Cina karena sejak jaman Dinasti Han, para
penguasa tidak pernah membedakan agama karena yang dinilai
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 252
adalah manusianya, yang tampak dari sikap dan perbuatannya,
bukan Agamanya. Hanya bedanya antara kerajaan-kerajaan
yang dipimpin bangsa Pribumi dan Kerajaan Mongol adalah
bahwa Kerajaan Goan tidak membedakan bangsa dan agama
dan memberi kedudukan yang penting kepada banyak orang
asing, namun terhadap bangsa Pribumi mereka memilih dengan
ketat. Tidak sembarang orang Han (Pribumi) yang dapat
memperoleh kedudukan tinggi, kecuali orang-orang yang
sudah diyakini kesetiaannya. Hal ini tentu saja dipengaruhi
oleh kekhawatiran kalau-kalau ada orang Han yang setelah
memperoleh kedudukan tinggi, akan membuat gerakan
pemberontakan!
Dengan sendirinya, para pembesar yang berbangsa Han dan
terpilih oleh Kerajaan Mongol, merasa dirinya dipilih sehingga
mereka menjadi sombong karena merasa lebih daripada orangorang
biasa! Rakyat jelata menganggap para pembesar Pribumi
yang hidup mewah karena korupsi itu sebagai pengkhianatpengkhianat
bangsa dan diam-diam membenci mereka, bahkan
melebihi kebencian mereka terhadap orang Mongol sendiri.
Untuk melaksanakan pembangunan-pembangunan besarbesaran,
biarpun hal itu di satu pihak baik, namun di lain pihak
mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat. Pada jaman
Kerajaan Sui lalu diteruskan dalam Kerajaan Sung, telah digali
Terusan Besar yang menghubungkan Sungai Yang-ce dan
Huang-ho. Kini, Kaisar Kubilai Khan memerintahkan agar
digali Terusan yang menghubungkan kota raja Peking dengan
Sungai Kuning (Huang-ho), yaitu melanjutkan Terusan yang
sudah ada dari Sungai Yang-ce ke Sungai Huang-ho. Hal ini
untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi, terutama beras,
yang terdapat melimpah di Lembah Yang-ce.
Untuk dapat melaksanakan perintah Kaisar yang
merupakan pekerjaan amat besar itu, tentu saja dibutuhkan
banyak sekali tenaga manusia. Para pembesar tidak menyiaKoleksi
Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 253
nyiakan kesempatan ini untuk memperkaya diri. Biaya dari
kerajaan yang disediakan untuk membayar para pekerja, seperti
sudah umum terjadi pada masa itu, dikorup secara besarbesaran.
Mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk
memerintahkan para kepala dusun agar para kepala dusun
mengerahkan rakyat petani yang miskin. Para petani itu,
puluhan bahkan ratusan ribu jumlahnya dari berbagai daerah,
dipaksa oleh kepala dusun mereka untuk meninggalkan sawah
ladang dan dipaksa bekerja pada penggalian Terusan.
Para petugas dusun juga mempergunakan kesempatan ini
untuk mengeduk keuntungan sebesarnya. Siapa yang mampu
membayar uang sogokan, tentu dapat ditangguhkan atau
bahkan dibebaskan sama sekali dari “kewajiban” membangun
Terusan. Akan tetapi mereka yang tidak mampu, dipaksa
dengan ancaman untuk berangkat membantu kerajaan yang
dipropagandakan akan menyejahterakan rakyat dengan adanya
Terusan dari Terusan Lama ke Peking itu. Terjadilah
penyelewengan-penyelewengan dilakukan oleh hamba-hamba
kerajaan yang sekaligus menjadi hamba-hamba nafsu mereka
sendiri.
Segala peristiwa keji terjadi dalam masa itu. Ada petani
yang terpaksa mengorbankan segalanya agar terbebas dari
kerja-paksa itu karena takut setelah mendengar betapa
banyaknya mereka yang melakukan kerja-paksa mati di tempat
mereka bekerja. Mati karena kelelahan, mati karena kurang
makan, mati karena siksaan para mandor, atau mati karena
timbulnya penyakit, juga ada yang karena kecelakaan ketika
melakukan penggalian di daerah-daerah yang sukar.
Ada yang mengorbankan sawah ladangnya, dijual dengan
harga murah kepada para tuan tanah yang sudah bersekongkol
dengan para pejabat pemerintah, uangnya untuk menyogok
agar bebas dari kerja paksa. Bahkan ada yang rela
menyerahkan isterinya atau anak gadisnya, kalau isteri atau
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 254
anak itu cantik menarik.
Kaisar Kubilai Khan sebetulnya tidak menghendaki
terjadinya tindakan keji akibat korupsi dan penyelewengan
yang dilakukan para pejabat. Hampir semua pejabat itu bekerja
sama, saling merahasiakan penyelewengan mereka sehingga
laporan yang sampai ke telinga Kaisar hanyalah yang terbaik
saja. Di sana beres, di sini tidak ada halangan, semua berjalan
sesuai dengan yang dikehendaki kaisar, rakyat dalam keadaan
aman sejahtera! Memang, dalam kenyataannya, hampir semua
pejabat menyeleweng. Bukan berarti tidak ada pejabat yang
bijaksana dan jujur, namun mereka yang bersih itu biasanya
tersingkir, kalah pengaruh dan kuasa oleh yang kotor karena
kalah banyak dan kalah suara. Dengan demikian, maka yang
bersih bergaul dengan yang kotor dan yang lebih banyak,
dengan sendirinya juga terkena kotoran.
Keadaan ini membuat rakyat kecil amat membenci para
pejabat Kerajaan Mongol. Bukan saja kepada penjajah rakyat
membenci, melainkan juga kepada para hartawan yang
menumpuk kekayaan secara curang, memeras rakyat dan
bersekongkol dengan para pejabat. Para hartawan itu, tentu
tidak seluruhnya, terutama yang tinggal di dusun-dusun,
memberi pinjaman kepada rakyat yang hendak menebus diri
dari kerja-paksa. Pinjaman itu disertai bunga yang mencekik
leher sehingga dalam waktu beberapa tahun saja si petani
terpaksa membayar hutangnya dengan disitanya sawah dan
ladangnya, atau juga dengan menyerahkan gadisnya yang
berwajah cantik untuk menjadi alat pemuas berahi para
hartawan dan pejabat.
Melihat keadaan rakyat yang tertindas oleh pejabat daerah
dan hartawan pemeras, tentu saja hal ini membangkitkan
kemarahan para pendekar yang masih bersih budi pekertinya,
yang tidak ikut menggila dengan keadaan di mana manusia
sudah dipermainkan oleh uang. Maka di sana sini timbullah
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 255
perlawanan. Pembela-pembela rakyat tertindas mulai
menentang para pejabat daerah sehingga di sana sini timbul
pertempuran kecil. Biarpun diam-diam rakyat bersyukur
dengan aksi para pendekar yang membela mereka, namun
nasib mereka tidak banyak berubah.
Pihak lawan, yaitu para pejabat dan para hartawan dengan
pemberian hadiah uang, berhasil mengundang banyak pendekar
dan mereka yang memiliki ilmu silat tinggi dan menjadikan
mereka sebagai pengawal dan tukang pukul sehingga seringkali
terjadi bentrokan antara para pembela rakyat dan pembela
pejabat dan hartawan!
Kota Cin-yang di Propinsi Shan-tung juga dilanda keadaan
yang meresahkan rakyat itu. Dalam sebuah rumah yang
sederhana namun cukup besar tinggal Chao Kung dan
keluarganya. Chao Kung adalah seorang laki-laki berusia
sekitar tigapuluh lima tahun. Wajahnya tidak terlalu tampan
namun tidak buruk, bahkan sikapnya gagah walaupun tubuhnya
tinggi kurus. Dia berdagang rempah-rempah secara kecilkecilan
dan hasilnya hanya cukup untuk keperluan hidup
sehari-hari dengan keluarganya. Biarpun kurus dan tampak
lemah, Chao Kung ini cukup pandai ilmu silat dan karena itu
dia membayangkan ketabahan dan kegagahan.
Keluarganya terdiri dari isterinya yang bernama Siok Hwa,
berusia sekitar duapuluh tujuh tahun. Sudah hampir sepuluh
tahun mereka menikah, akan tetapi belum juga mempunyai
anak. Tadinya, Chao Kung hanya hidup berdua dengan
isterinya, dibantu oleh seorang pelayan wanita setengah tua
yang sesungguhnya masih merupakan bibi jauh dari Chao
Kung. Siok Hwa seorang wanita yang sebetulnya cukup cantik,
akan tetapi sayang, ketika kecilnya ia terserang penyakit cacar
sehingga kini masih ada bekas pada wajahnya, menjadi
bopeng.
Akan tetapi, semenjak kurang lebih tiga tahun yang lalu,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 256
suami isteri ini kedatangan tamu dua orang. Mereka adalah
Siok Kan, ayah dari Siok Hwa yang sudah duda bersama adik
Siok Hwa yang bernama Siok Eng.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Siok Kan dan
puterinya, Siok Eng yang ketika itu berusia sekitar enambelas
tahun, diantar oleh Suma Tiang Bun yang bersama Cun Giok
menyelamatkan gadis itu dari tangan seorang putera Pembesar
Mongol yang hendak memaksanya menjadi selirnya. Ayah dan
anak gadisnya itu lalu mengungsi ke kota Cin-yang di Shantung
di mana tinggal puteri sulungnya Siok Hwa dan
mantunya, Chao Kung yang menerima mereka dengan senang
hati.
Seperti kita ketahui, di rumah ini Siok Kan mengusulkan
perjodohan antara Siok Eng dan Cun Giok. Biarpun ketika itu
Cun Giok baru berusia tujuh belas tahun lebih dan Siok Eng
berusia lima belas tahun lebih, namun keduanya menurut saja
keinginan orang-orang tua yang menjodohkan mereka. Sebagai
tanda ikatan, Cun Giok memberikan sebatang pedangnya,
sedangkan Siok Eng memberikan sebuah hiasan rambut
berbentuk pohon Yang-liu dari perak.
Siok Kan dan Siok Eng lalu tinggal di situ. Siok Kan
membantu pekerjaan mantunya, sedangkan Siok Eng
membantu encinya di rumah. Mereka hidup cukup bahagia dan
selama tiga tahun lebih ini Siok Eng tumbuh menjadi seorang
gadis dewasa berusia sembilan belas tahun yang cantik jelita!
Ada suatu hal yang seringkali membuat Siok Kan
mengerutkan alis dan menghela napas panjang berulang-ulang,
dan membuat Siok Eng diam-diam menangis dalam kamarnya.
Hal ini adalah tidak adanya berita dari Cun Giok! Juga dari
Suma Tiang Bun tidak pernah ada beritanya. Padahal, sudah
banyak pemuda di Cin-yang tertarik kepada Siok Eng yang
cantik manis. Sampai kesal dan lelah Siok Kan menolak
pinangan-pinangan yang diajukan melalui comblang, menolak
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 257
dengan halus sambil mengatakan bahwa Siok Eng sudah
mempunyai calon suami.
Hal ini membuat Chao Kung, mantu Siok Kan, menjadi
khawatir sekali. Adik iparnya itu adalah seorang gadis dewasa
yang cantik menarik, dan pada masa itu kecantikan pada wajah
seorang wanita seringkali malah mendatangkan malapetaka
pada dirinya. Yang terbaik bagi seorang gadis cantik adalah
menikah secepatnya karena walaupun seorang wanita muda
cantik yang sudah bersuami itu tidak merupakan jaminan
keamanannya, setidaknya para penggodanya tidaklah sebanyak
yang dihadapi seorang gadis cantik.
“Gak-hu (Ayah Mertua),” pada suatu sore Chao Kung yang
didampingi Siok Hwa, bicara bertiga di ruangan tengah. Siok
Eng sedang sibuk di dapur mempersiapkan makan malam dan
kesempatan itu dipergunakan suami isteri ini untuk bicara
dengan ayah mereka mengenai diri Siok Eng. “Mari kita
rundingkan masak-masak!”
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 3. Kaki Tangan Kongcu Bergajul
“Ayah, kami berdua bukan sekadar membujuk untuk
kepentingan diri kami atau diri Ayah dan Adik Eng saja,
melainkan demi keselamatan dan keamanan hidup kita semua.
Kukira apa yang dikatakan suamiku benar dan memerlukan
pertimbangan Ayah secara mendalam,” kata Siok Hwa kepada
Siok Kan yang hanya menghela napas.
“Akan tetapi bagaimana dengan pertunangannya dengan
pendekar Suma Cun Giok? Cun Giok dan kakeknya, Suma
Tiang Bun, adalah penolong kami. Kalau tidak ada mereka
mungkin Siok Eng sekarang juga sudah tewas membunuh diri,
seperti adikmu Siok Li.”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 258
“Karena itulah, Gak-hu, kita perlu membicarakan masalah
ini agar jangan menyesal setelah terlambat. Kita semua
menyadari bahwa Eng-moi (Adik Eng) telah menjadi seorang
gadis dewasa yang cantik menarik. Buktinya, sudah puluhan
kali orang datang melamar yang selalu Gak-hu tolak.”
“Bagaimana tidak harus kutolak, Chao Kung? Adik iparmu
itu sudah ditunangkan, sudah menjadi calon isteri orang!”
“Akan tetapi, Ayah,” bantah Siok Hwa. “Kalau Suma Cun
Giok itu memang benar-benar menghendaki agar Eng-moi
menjadi isterinya, mengapa telah tiga tahun dia tidak datang
menjenguk atau memberi kabar? Eng-moi tidak mungkin harus
menunggu terus sampai tua!” Mengingat hal ini Siok Hwa
panas hatinya. “Biarpun dia itu seorang pendekar, namun
agaknya dia tidak setia kepada janjinya dan kini mungkin saja
telah melupakan Eng-moi!”
“Aku tidak percaya Suma Cun Giok akan bersikap seperti
itu!” kata Siok Kan menggelengkan kepalanya.
“Memang mungkin sekali tidak. Akan tetapi dia ada
kemungkinan lain yang lebih gawat, Gak-hu,” kata Chao Kung.
“Apa itu?”
“Kita mengetahui bahwa Suma Cun Giok dan kakeknya itu
adalah pendekar-pendekar petualang. Mereka telah berani
menentang bahkan membunuh putera Pembesar Bhong di kota
Lan-hui. Perbuatan nekat itu tentu membuat dia dianggap
pemberontak oleh pemerintah Kerajaan Goan dan menjadi
orang buruan. Siapa tahu sekarang dia bahkan sudah ditangkap,
dipenjara atau mungkin juga dihukum mati sebagai
pemberontak dan penjahat.”
“Huh, dia bukan penjahat! Yang jahat adalah bangsawanbangsawan
macam Jaksa Bhong dan Bhong-kongcu itu!” Siok
Kan membantah.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 259
“Kita tahu bahwa Suma Cun Giok adalah seorang pendekar
yang membela rakyat dan menentang penguasa yang jahat.
Akan tetapi pemerintah tidak menganggapnya demikian. Ingat,
Gak-hu, kalau Adik Eng menjadi isteri Suma Cun Giok,
hidupnya tentu juga tidak tenteram, tidak aman. Kalau
suaminya dicari-cari dan dijadikan orang buruan pemerintah,
bagaimana mungkin Adik Eng dapat hidup tenang dan
bahagia?”
Siok Kan menundukkan mukanya, alisnya berkerut dan
berulang-ulang dia menghela napas panjang. Suami isteri itu
saling pandang dan Siok Hwa memberi isyarat kepada
suaminya agar jangan terlalu menekan ayahnya. Chao Kung
menghela napas dan berkata dengan lembut.
“Gak-hu, maafkan kelancangan saya. Akan tetapi, saya
melihat kenyataan-kenyataan yang amat mengkhawatirkan.
Karena Adik Eng selalu menolak pinangan orang, para pemuda
yang ditolak itu tentu saja menjadi kecewa dan marah. Kalau
sampai ada putera pembesar yang tertarik kepada Adik Eng......
ah, saya sungguh khawatir apa yang Gak-hu alami di dusun Cibun
dulu akan terulang kembali. Terus terang saja, kemarin
dulu ketika saya menyetorkan rempa-rempa yang dipesan
orang, pulangnya saya singgah di rumah makan sekadar
membeli bakmi dan minum arak manis. Di rumah makan itu
saya dipanggil dua orang pemuda yang bukan lain adalah Kimkongcu
(Tuan Muda Kim) dan Kui-kongcu. Mereka membayar
makanan dan minuman yang saya pesan dan mereka mengajak
saya bicara tentang Adik Eng yang mereka puji-puji
kecantikannya. Mereka sudah mendengar bahwa Adik Eng
menolak pinangan banyak pemuda, dan mereka menyinggung
tentang pertunangan Adik Eng. Mereka bertanya apakah benar
Adik Eng sudah ditunangkan, kalau sudah kapan menikahnya
dan mengapa selama ini tunangannya tidak pernah muncul di
kota ini. Mereka agaknya curiga, Gak-hu. Mereka mengatakan
bahwa Adik Eng sudah lebih dari dewasa untuk menikah dan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 260
agaknya dua orang itu kagum dan tertarik kepada Adik Eng.”
“Hemm, siapakah mereka itu?” tanya Siok Kan sambil
mengerutkan alisnya.
“Kim-kongcu adalah putera Panglima Kim Bayan yang
menjadi panglima yang menguasai pasukan yang berada di
Propinsi Shan-tung, sedangkan Kui-kongcu adalah putera Kuithaijin
(Pembesar Kui) yang menjadi Kepala Pengadilan di
kota ini. Semua orang di Cin-yang ini sudah tahu bahwa Kimkongcu
suka bertindak sewenang-wenang, mengandalkan
kedudukan ayahnya. Bahkan para pejabat pun takut kepada
Kim Thai-ciangkun (Panglima Kim). Demikianlah, Gak-hu,
saya kira kalau Adik Eng sudah menikah, bahayanya tidak
akan sebesar kalau ia masih gadis dan menjadi incaran para
pemuda di sini.”
Siok Kan mengerutkan alisnya dan dia pun mulai merasa
khawatir sekali. “Aku mengerti apa yang kalian maksudkan
dan memang pendapat kalian itu benar. Memang sudah
sebaiknya kalau adik kalian Siok Eng menikah sehingga
mengurangi ancaman. Akan tetapi, bagaimana kalau sewaktuwaktu
Suma Cun Giok datang bersama gurunya? Ah, ke mana
akan kutaruh mukaku ini? Memutuskan pertalian perjodohan
secara sepihak! Padahal mereka itu pernah menyelamatkan
Adikmu dari bencana, bahkan membalaskan kematian Adikmu
Siok Li? Aku merasa malu sekali dan takut!”
“Gak-hu, saya percaya bahwa orang-orang gagah yang
disebut pendekar seperti Suma Cun Giok dan gurunya itu akan
dapat memahami kalau kita bicara terus terang tentang bahaya
yang mengancam kita sehingga terpaksa Adik Eng kita
jodohkan dengan laki-laki lain demi keselamatan kita semua.
Biarlah saya yang akan memberi penjelasan kepada mereka
kalau sewaktu-waktu mereka datang.”
Siok Kan menghela napas panjang. “Kalau begitu, terserah
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 261
saja. Akan tetapi bagaimana kalau Siok Eng tidak mau
menikah dengan orang lain?”
“Ayah, biarlah aku yang akan menjelaskan dan membujuk
Adik Eng. Kukira ia akan mengerti dan mau menikah dengan
orang lain demi keselamatan kita semua,” kata Siok Hwa.
Akan tetapi ketika malam hari itu Siok Hwa membicarakan
urusan ini dengan Siok Eng, gadis itu menangis. Ia tidak dapat
menyatakan setuju atau menolak. Hatinya bingung dan sedih
bukan main. Telah tiga tahun lamanya ia menganggap dirinya
sebagai calon isteri Cun Giok, menanti-nantinya dengar sabar
dan setia dan sudah tumbuh perasaan cinta dan setianya kepada
pemuda itu. Sukar bagi hatinya untuk memutuskan tali
perjodohan itu dan menjadi isteri pria lain. Akan tetapi
mendengar penjelasan encinya, ia pun mengerti bahwa sukar
pula baginya untuk tidak menyetujui pendapat keluarganya.
Karena itu, ia tidak dapat memberi jawaban pasti, hanya
menyerahkan segalanya kepada ayahnya, encinya dan ci-hunya
(kakak iparnya). Akan tetapi sejak malam itu, ia selalu
mengurung diri, menangis dan menangis!
@_Alysa^DewiKZ_@
Kota Cin-yang mulai gempar ketika tangan-tangan kotor
para pejabat yang bertugas mengumpulkan tenaga kerja-paksa
mulai menggerayangi daerah itu! Untuk menangani
pengumpulan tenaga kerja ini, yang memegang pimpinan
adalah Hakim Kui Hok, seorang pembesar bangsa Pribumi Han
yang pandai menyenangkan hati para pejabat tinggi Kerajaan
Mongol sehingga dia memperoleh kedudukan Hakim yang
berkuasa penuh di Cin-yang. Dialah yang membuat daftar
nama orang-orang penduduk daerah itu yang dipilih menjadi
tenaga kerja membantu pembangunan Terusan. Tentu saja
tidak disebut sebagai kerja paksa, melainkan kerja bakti,
merupakan kebaktian rakyat kepada pemerintahnya!
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 262
Adapun yang menjadi pelaksana tentu saja pasukan
keamanan daerah itu dan sebagai pimpinan tertinggi tentu saja
yang berwenang adalah Kim Thai-ciangkun (Panglima Kim),
panglima yang paling berkuasa di daerah Propinsi Shan-tung.
Panglima Kim adalah seorang Mongol bernama Kim Bayan,
dan dia yang paling ditakuti karena dia merupakan seorang
panglima yang diangkat oleh Kaisar sendiri. Bahkan Kepala
Daerah Cin-yang, Yo-thaijin (Pembesar Yo), dan para pejabat
lain seperti Kui Hok yang menjadi hakim atau kepala
pengadilan di Cin-yang, mau tidak mau tunduk kepada
Panglima Kim Bayan!
Baru beberapa hari saja setelah aksi pengumpulan tenaga
kerja dilakukan, Cin-yang menjadi gempar. Mulailah para
pejabat, terutama Panglima Kim Bayan dan Hakim Kui Hok,
juga kaki tangannya, mengeruk keuntungan sebanyaknya dari
peristiwa ini. Mereka yang namanya terdaftar, kebingungan
mencari uang untuk menyogok agar terbebas dari kewajiban
kerja bakti itu. Bagi mereka yang mempunyai uang, hal ini
tidak terlalu meresahkan. Mereka hanya tinggal mengurangi
sebagian harta mereka untuk menyuap, dan beres. Akan tetapi
bagi mereka yang tidak kaya, tentu saja menjadi bingung.
Mulailah para hartawan menggunakan kesempatan ini untuk
mengeduk keuntungan. Mereka memberi hutang kepada orangorang
yang kebingungan itu, dengan bunga besar dan tanah,
rumah, atau sawah ladang mereka sebagai tanggungan!
Kalau atasannya kotor, bawahannya tidak mau kalah.
Bukankah atasan itu menjadi panutan (tauladan) bagi
bawahan? Para anak buah atau kaki tangan Panglima Kim dan
Pembesar Kui demikian pula. Mereka berpesta pora dan
bertindak sewenang-wenang, mengandalkan kekuasaan dua
orang pejabat tinggi itu!
Di rumah Chao Kung, empat orang penghuninya juga
gemetar mendengar bermacam berita tentang tindakan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 263
sewenang-wenang itu. Mereka merasa khawatir sekali dan
setiap hari Chao Kung keluar rumah untuk berbincang-bincang
dengan sesama warga kota Cin-yang, mendengar kejadiankejadian
hebat sebagai akibat dari aksi pengumpulan orangorang
lelaki untuk dijadikan “pekerja bakti”! Kalau pulang dia
menceritakan semua peristiwa itu kepada Siok Kan, Siok Hwa
dan Siok Eng dan mereka menjadi prihatin sekali, gelisah
memikirkan kalau-kalau Chao Kung akan terkena “cidukan”
pula.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali terdengar suara tangis riuh
rendah di sebuah rumah tak jauh dari rumah tempat tinggal
Chao Kung. Mendengar ini, Chao Kung dan ayah mertuanya,
Siok Kan, segera lari bergegas dari rumah menuju ke rumah
tetangganya yang sedang bertangisan itu. Siok Hwa dan Siok
Eng tidak diperbolehkan keluar karena pada masa seperti itu,
lebih aman bagi para wanita muda untuk tinggal di rumah dan
tidak memperlihatkan diri di luar rumah.
Tetangga yang terkena musibah itu adalah Thio Sun Ki,
laki-laki berusia tigapuluh dua tahun yang hidup di situ
bersama ibunya yang sudah menjanda, isterinya yang berusia
duapuluh lima tahun dan berwajah manis. Keluarga ini
mempunyai seorang pelayan wanita tua. Thio Sun Ki bekerja
sebagai pembuat tahu dan penghasilannya cukup untuk
menghidupi keluarganya.
Tiga hari yang lalu, Thio Sun Ki terkena “cidukan”. Dia
dibawa ke markas oleh regu perajurit yang bertugas
melaksanakan “cidukan” terhadap mereka yang sudah masuk
daftar. Regu perajurit itu yang merupakan regu dari pasukan
istimewa, dipimpin oleh Perwira Lai Koan yang bertubuh
gendut, berusia empat puluh tahun dan terkenal galak.
Tentu saja Nyonya Thio yang manis itu menjadi cemas
sekali. Orang yang terpilih menjadi pekerja paksa menggali
Terusan kebanyakan akan mati oleh penyakit atau kelelahan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 264
dan kurang makan! Nyonya muda ini segera membawa semua
perhiasannya yang ada, lalu pergi sendiri ke markas pasukan
itu untuk “menyogok” Lai-ciangkun (Perwira Lai) agar
suaminya dibebaskan. Ibu mertuanya sudah melarangnya,
namun Nyonya Thio yang belum mempunyai anak ini nekat
karena apa yang ia lakukan itu berarti menebus nyawa
suaminya dari ancaman maut!
Ia tidak pulang selama dua malam dan pada pagi hari yang
ketiga itu, Nyonya Thio pulang dalam keadaan lunglai dan ia
menggantung diri dalam kamarnya. Ibu mertuanya dan para
tetangga perempuan yang menemukan Nyonya Thio sudah
mati menggantung diri, menjerit-jerit dan menangis.
Ketika Chao Kung dan Siok Kan tiba di situ, sudah
berkumpul banyak tetangga dan mereka mendengar bahwa
nyonya muda itu membunuh diri karena ketika ia berusaha
menyuap petugas agar membebaskan suaminya, ia malah
ditangkap dan selama dua malam ia diperkosa dan
dipermainkan Lai-ciangkun dan beberapa orang pembantunya!
Nyonya muda itu pulang, menangis menceritakan malapetaka
yang menimpanya dan tahu-tahu ia telah menggantung diri
dalam kamarnya.
Peristiwa yang menimpa keluarga Thio itu bukan hal aneh
terjadi pada masa itu. Perwira Lai Koan dalam waktu beberapa
hari saja semenjak datang di Cin-yang dan menjadi kepala
pasukan pelaksana “cidukan” telah dikenal masyarakat sebagai
seorang perwira yang mata keranjang. Dia sengaja memilih
keluarga yang mempunyai wanita cantik untuk diciduk agar
keluarga itu menebusnya dengan menyerahkan wanita cantik
itu kepadanya, baik yang masih gadis maupun yang sudah
bersuami.
Pada jaman itu, bukan merupakan rahasia lagi bagi
masyarakat betapa sebagian besar pejabat adalah koruptor,
sewenang-wenang terhadap rakyat mengandalkan kekuasaan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 265
mereka, dan hukum yang diadakan pemerintah bahkan
merupakan senjata pelindung bagi para pejabat karena hukum
yang terdiri dari kata-kata itu dapat diputar-balikkan dengan
mudah oleh mereka yang berkuasa!
Kalau penduduk kota Cin-yang gelisah dan ketakutan,
sebaliknya di dalam markasnya, Perwira Lai Koan dan para
pembantunya berpesta pora. Pada masa itu, setan dan iblis
bersuka ria dan tampaknya kejahatan berada di atas angin dan
kebenaran seolah disaput kegelapan.
Rakyat hanya menjerit dalam hati mereka menuntut
keadilan, akan tetapi mulut siapa yang berani meneriakkan
tuntutan itu? Jangankan berteriak, baru membisikkan protes
dan tuntutan saja sudah cukup untuk membuat si pemilik mulut
itu ditangkap dengan tuduhan memberontak! Karena itu, rakyat
hanya mampu menangis dan menyumpah-nyumpah di dalam
hati mereka.
Pada suatu pagi yang cerah, jatuh giliran keluarga Siok Kan
yang dilanda kegelisahan. Regu perajurit pelaksana pemilihan
calon tenaga kerja paksa itu mendatangi rumah Chao Kung.
Regu itu terdiri dari dua losin perajurit yang dipimpin sendiri
oleh Lai-ciangkun.
Dengan sikapnya yang sombong, Perwira Lai Koan yang
berusia empatpuluh tahun dan bertubuh gendut itu, menyentuh
kumisnya yang tebal dengan jari tangannya ketika dia disambut
oleh Chao Kung dan Siok Kan. Dua losin perajurit menanti di
luar.
“Silakan masuk dan duduk, Ciang-kun,” kata Chao Kung
dengan sikap hormat dan memaksa senyum walaupun mukanya
pucat dan jantungnya berdebar tegang.
“Hemm, kami datang bukan untuk bertamu dan duduk
mengobrol,” jawab Sang Perwira yang sombong itu. “Kalian
yang bernama Chao Kung dan Siok Kan?” Lai-ciangkun
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 266
berlagak memeriksa buku catatannya, di mana tertulis namanama
orang yang akan diciduk dan dijadikan pekerja paksa.
Padahal tentu saja dia sudah tahu karena sebelumnya dia
sudah mengetahui dari para penyelidik bahwa di rumah Chao
Kung terdapat dua orang wanita muda yang cantik manis, yang
seorang adalah isteri Chao Kung dan seorang pula adik iparnya
yang masih gadis. Akan tetapi sekali ini perwira itu tidak
mempunyai maksud untuk mendapatkan dua orang wanita
cantik itu, melainkan untuk menuruti permintaan dua orang
muda dengan mendapat imbalan uang!
“Benar, Ciang-kun. Saya bernama Chao Kung dan ini
adalah ayah mertua saya bernama Siok Kan,” jawab Chao
Kung, memaksa diri agar dapat menjawab tanpa gemetar.
“Bagus, kebetulan sekali kalian berdua berada di rumah.
Kami datang memberitahu bahwa menurut daftar calon pekerja
bakti, nama kalian tercantum. Kalian harus mempersiapkan diri
untuk diberangkatkan membantu pekerjaan penting yang
dilakukan pemerintah yaitu menggali Terusan Besar.”
Chao Kung dan Siok Kan yang sudah dapat menduga tidak
terkejut mendengar ini, hanya merasa semakin gelisah. Chao
Kung lalu memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di
depan dada dan membungkuk sampai dalam.
“Ciang-kun, maafkan saya. Bukan sekali-kali saya hendak
membangkang terhadap perintah itu, akan tetapi mohon
dipertimbangkan kembali bahwa saya merupakan kepala
keluarga di sini dan sayalah yang mencari nafkah untuk
menghidupi keluarga saya. Adapun Ayah mertua saya ini
sudah lanjut usianya, maka kami mohon kebijaksanaan Ciangkun
agar sudi mengasihani kami dan membebaskan kami dari
Kerja Bakti.”
Sepasang alis tipis di muka yang bulat seperti bola itu
dikerutkan, tangan kanan yang besar itu menyentuh ujung
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 267
kumis dan dimainkannya.
“Huh, perintah dari Sribaginda Kaisar tidak boleh ditawartawar!
Kalian hanya menaati perintah atau siap untuk dihukum
sebagai penentang kebijaksanaan Pemerintah Kerajaan! Habis
perkara!”
“Ciang-kun yang terhormat, kasihanilah kami!” Chao Kung
berkata. “Kalau terpaksa, biarlah saya saja yang bekerja bakti,
akan tetapi mohon membebaskan Ayah mertua saya ini.
Keluarga kami hanya dua orang laki-laki dan dua orang wanita.
Kalau Ciang-kun mengambil kami dua orang laki-laki, yang
tinggal hanya dua orang wanita yang lemah tak berdaya.
Kasihanilah, Ciang-kun!”
“Sudah! Jangan banyak cerewet lagi! Kami beri waktu tiga
hari. Dalam tiga hari itu kalian harus sudah siap dan akan
dijemput pasukan!”
Setelah berkata demikian Perwira Lai Koan lalu memutar
tubuhnya keluar dari rumah itu dan melangkah tegap diiringkan
dua losin orang anak buahnya! Biarpun Chao Kung merasa
gelisah sekali, namun dia masih melihat harapan. Diberinya
waktu tiga hari itu tentu untuk memberi kesempatan kepadanya
agar dia dapat menebus kebebasannya dengan uang sogokan!
Sehari itu, Chao Kung sibuk mengumpulkan emas, bukan
hanya dari simpanan keluarganya sendiri, melainkan juga sibuk
pinjam dari kenalannya. Siok Kan, Siok Hwa, dan Siok Eng
hanya dapat berkeluh-kesah dalam keadaan gelisah sekali.
Mereka dapat merasakan bahwa mereka berada di bawah
ancaman marabahaya yang hebat.
Pada sore hari itu, Perwira Lai Koan muncul lagi bersama
dua losin anak buahnya, sekali ini dia mengiringkan dua orang
pemuda yang bukan lain adalah Kim Magu putera Panglima
Kim Bayan yang berkuasa di Cin-yang, dan Kui Coa putera
dari Kui Hok yang menjadi Kepala Pengadilan di Cin-yang.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 268
Melihat datangnya dua orang pemuda bangsawan ini,
jantung Choa Kung berdebar-debar ketika bersama Siok Kan
dia menyambut rombongan itu. Dengan hormat Cao Kung
mempersilakan Kim-kongcu (Tuan Muda Kim) dan Kuikongcu
untuk masuk dan duduk di ruangan depan. Dua orang
pemuda itu tersenyum-senyum dan memasuki ruangan, diantar
oleh Perwira Lai Koan sendiri sedangkan regunya menanti di
luar.
“Ji-wi Kongcu (Tuan Muda Berdua),” kata Perwira Lai
Koan dengan sikap menjilat kepada dua orang pemuda itu.
“Orang tua ini adalah Siok Kan dan ini mantunya bernama
Chao Kung.......”
“Ha-ha, kami sudah mengenal Chao Kung ini, Laiciangkun!”
kata Kim Magu. Kemudian dia memandang Chao
Kung dan berkata, “Chao Kung, menurut laporan Laiciangkun,
engkau yang kepala keluarga di sini dan engkau
bilang bahwa di sini hanya ada empat orang, dua pria dan dua
wanita. Prianya tentu engkau dan Ayah mertuamu itu. Akan
tetapi benarkah hanya ada empat orang di rumahmu? Kami
ingin membuktikan. Suruh semua penghuni rumah ini ke sini
agar kami dapat melihat buktinya!”
@_Alysa^DewiKZ_@
Jilid 9
Bab 1. Nasib Nona dan Nyonya Cantik
Mendengar ini, tanpa diminta Siok Hwa dan Siok Eng yang
mendengarkan dari dalam, keluar dan mereka berdua berdiri di
belakang dua orang tuan rumah. Siok Hwa berdiri di belakang
suaminya dan Siok Eng berdiri di belakang ayahnya. Kedua
orang wanita itu gemetar ketakutan.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 269
Dua orang pemuda bangsawan itu memandang dengan mata
bersinar dan mulut tersenyum. Mereka sudah muak dengan
para wanita yang biasa memoles muka mereka dengan bedak
dan gincu tebal, menghias tubuh mereka dengan pakaian dan
perhiasan mewah sehingga kecantikan mereka itu pulasan,
seperti boneka. Sekarang mereka melihat dua orang wanita
yang memiliki kecantikan yang wajar dan aseli.
Biarpun sudah bersuami, Siok Hwa yang berusia duapuluh
tujuh tahun dan belum mempunyai anak itu masih tampak
muda dan penuh daya tarik. Dua orang wanita yang kini
dipandang dua orang pemuda bangsawan itu mengenakan
pakaian sederhana, bahkan rambut mereka terlepas dan tidak
rapi, muka mereka tidak berlepotan bedak dan gincu, akan
tetapi dalam pandangan Kim-kongcu dan Kui-kongcu, mereka
bagaikan dua orang bidadari yang amat menarik hati dan
menggairahkan!
Maka Magu atau Kim-kongcu memberi isyarat kepada
Perwira Lai Koan dan mengajak perwira itu dan Kui Con atau
Kui-kongcu keluar. Setelah tiba di luar, Kim-kongcu berkata
kepada perwira itu.
“Aku ingin gadis itu untuk menjadi selirku.”
“Aku pun ingin mendapatkan isteri Chao Kung itu,” kata
pula Kui-kongcu.
Lai-ciangkun menyeringai dan mengelus kumisnya. “Haha,
itu mudah. Serahkan saja kepadaku dan Kongcu berdua
dapat menanti di gedung masing-masing. Malam ini wanita
idaman itu pasti akan saya antarkan kepada Kongcu berdua.”
“Bagus, terima kasih, Lai-ciangkun!” kata kedua orang
muda itu dan mereka lalu meninggalkan tempat itu, pulang ke
gedung orang tua masing-masing. Mereka tidak mau langsung
melakukan paksaan karena mereka tidak mau terlihat penduduk
bahwa mereka merampas isteri dan gadis orang.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 270
Perwira Lai Koan kini memasuki kembali rumah Chao
Kung, sekarang diikuti oleh sepuluh orang perajuritnya. Dia
tersenyum ketika pihak tuan rumah sebanyak empat orang itu
menyambutnya dengan penuh kekhawatiran.
“Ha, Kiong-hi (selamat), Siok Kan dan Chao Kung! Kalian
berdua untung sekali!” kata perwira itu sambil tersenyum lebar.
“Apa maksud Ciang-kun?” tanya Chao Kung, mengerutkan
alisnya karena sukar baginya untuk percaya bahwa dia dan
ayah mertuanya akan benar-benar dibebaskan dari cidukan
kerja paksa itu sedemikian mudahnya.
“Ha, maksudku sudah jelas! Kalian sungguh beruntung
sekaii karena Kim-kongcu dan Kui-kongcu merasa kasihan
melihat kalian, maka atas tanggungan mereka kalian berdua
dibebaskan dari tugas kerja bakti.”
Mendengar ini, wajah empat orang yang tadinya pucat dan
khawatir itu kini menjadi cerah dan mereka tersenyum dengan
girang sekali. Chao Kung dan Siok Kan lalu merangkap kedua
tangan depan dada, memberi hormat dengan membungkuk,
diikuti dua orang wanita itu.
“Lai-ciangkun sungguh bijaksana dan kami mengucapkan
banyak terima kasih kepada Ciang-kun dan kepada Kimkongcu
dan Kui-kongcu yang telah menolong kami. Kami
tidak akan melupakan budi kebaikan ini,” kata Chao Kung
mewakili keluarganya.
“Budi kebaikan yang demikian besarnya bukan hanya tidak
boleh dilupakan, bahkan sudah sepatutnya kalau kalian
memperlihatkan niat baik untuk membalasnya,” kata Perwira
Lai Koan sambil menyeringai. “Bahkan pembalasan budi
kalian akan menambah keberuntungan kalian berdua, bukan
hanya terbebas dari tugas kerja bakti, melainkan juga menjadi
orang-orang terhormat di kota ini.”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 271
“Apa yang Ciang-kun maksudkan?” tanya Chao Kung dan
mereka berempat memandang perwira itu dengan mata
memandang heran dan curiga.
“Berita menggembirakan kalian, dan karena inilah maka
tadi aku mengucapkan Kiong-hi (selamat) kepada kalian.
Dengarlah, aku diminta oleh Kim-kongcu dan Kui-kongcu
untuk menyampaikan kepada kalian bahwa kedua orang
pemuda bangsawan tinggi itu ingin mengikat tali kekeluargaan
dengan keluarga kalian di sini.”
“Maksudnya......?” Pertanyaan ini keluar dari mulut Siok
Kan dan Chao Kung.
“Kim-kongcu ingin mengangkat Siok Kan menjadi ayah
mertuanya dan Kui-kongcu ingin mempererat persahabatannya
dengan Chao Kung.”
“Ciang-kun, harap jelaskan......” kata Chao Kung.
“Kim-kongcu ingin agar Nona ini menjadi selirnya dan
Kui-kongcu ingin berkenalan lebih dekat dengan Nyonya muda
ini. Maka sekarang juga aku untuk mengantarkan Nona dan
Nyonya ini kepada mereka.”
Tentu saja empat orang itu terkejut bukan main. Wajah dua
orang wanita itu seketika menjadi pucat dan mereka melangkah
mundur ketakutan, sedangkan wajah dua orang pria itu berubah
merah saking marahnya. Siok Kan marah mendengar puterinya
akan dipaksa menjadi selir Kim-kongcu dan Chao Kung lebih
marah lagi mendengar isterinya hendak dipermainkan Kuikongcu.
Keinginan dua orang pemuda bangsawan itu
merupakan penghinaan bagi keluarga mereka.
“Aku tidak mau......!” Siok Eng berseru.
“Aku juga tidak sudi......!” kata Siok Hwa.
Siok Kan yang lebih sabar kini maju menghadapi Perwira
Lai Koan dan berkata dengan lembut. “Ciang-kun telah
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 272
mendengar sendiri betapa dua orang anak saya itu menolak.
Maka, kami harap Ciang-kun tidak memaksa kami.”
Perwira ini mengerutkan alisnya dan perutnya yang gendut
kembang kempis. Dia marah sekali mendengar penolakan
mereka.
“Perintah Kim-kongcu dan Kui-kongcu tidak boleh
dibantah! Apakah kalian ingin ditangkap sebagai
pemberontak?” bentaknya dengan wajah bengis mengancam.
“Ciang-kun, aturan mana ada isteri orang hendak
dipermainkan? Kalau Ciang-kun sudah mendengar bahwa
mereka menolak lalu hendak menggunakan paksaan, terpaksa
kami akan melindungi isteri dan Adik ipar saya!” kata Chao
Kung dengan nekat. Kemarahan, membuat dia melupakan rasa
takutnya.
“Apa? Kalian hendak melawan petugas Kerajaan?” bentak
Perwira Lai, lalu dia menoleh kepada sepuluh orang perajurit
yang mengawalnya. “Tangkap dua orang wanita itu!”
Sepuluh orang perajurit itu seperti berebut ketika
diperintahkan menangkap dua orang wanita cantik itu. Bagi
mereka, ini merupakan kesempatan yang menyenangkan sekali.
Setidaknya, mereka mendapat kesempatan untuk memegang
dan menyentuh tubuh yang menggairahkan itu.
Melihat ini, Siok Kan dan Chao Kung bertindak. Siok Kan
berusaha melindungi Siok Eng, sedangkan Chao Kung
melindungi isterinya. Akan tetapi Siok Kan yang lemah itu
segera roboh ketika seorang perajurit menendangnya. Akan
tetapi Chao Kung yang menguasai ilmu silat, cukup tangguh
dan dia segera meloncat untuk melindungi isterinya. Ketika
dua orang perajurit menyambutnya dengan pukulan, dia
melawan dan setelah berkelahi ramai dia berhasil merobohkan
dua orang perajurit itu.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 273
Akan tetapi dua orang perajurit lain dengan marah sudah
memukulnya dari belakang sehingga Chao Kung terpelanting
roboh dan tidak berdaya seperti ayah mertuanya karena
pukulan itu membuat kepalanya pening dan dadanya sesak.
Dua orang wanita itu, Siok Hwa dan Siok Eng, melakukan
perlawanan dengan nekat. Mereka mencakar, menggigit dan
meronta. Akan tetapi mereka ditelikung, masing-masing oleh
dua orang perajurit dan tidak mampu berkutik lagi! Mereka
menangis dan diseret keluar oleh para perajurit yang dipimpin
Perwira Lai Koan yang tersenyum-senyum karena dia sudah
membayangkan upah besar dari Kim-kongcu dan Kui-kongcu!
Tiba-tiba ketika mereka berada di jalan raya depan rumah
Chao Kung, seorang gadis cantik dan lembut, berpakaian serba
putih, dari sutera dan potongannya sederhana, tiba-tiba muncul
depan Perwira Lai Koan.
“Perlahan dulu!” kata gadis itu, suaranya lembut, akan
tetapi sinar matanya tajam penuh selidik ketika ia melayangkan
pandang matanya ke arah Siok Hwa dan Siok Eng yang
masing-masing dipegang kedua lengan mereka oleh dua orang
perajurit.
Perwira Lai Koan yang gendut itu adalah seorang yang
berwatak mata keranjang. Biarpun dia sudah mempunyai empat
orang isteri, akan tetapi dia tidak pernah melewatkan seorang
wanita cantik begitu saja. Selain mata keranjang, dia pun
seorang penjilat atasan penindas bawahan dan mengumpulkan
uang sebanyak mungkin dengan cara apapun juga.
Kini melihat gadis yang cantik jelita, tidak kalah cantiknya
dibandingkan dua orang wanita tawanannya, tentu saja dia
mengilar! Gadis begitu jelitanya tak mungkin dia diamkan
begitu saja. Akan menyenangkan kalau menjadi miliknya dan
akan menghasilkan uang banyak kalau dia serahkan kepada
para bangsawan tinggi atau hartawan besar yang kesukaannya
membeli gadis-gadis cantik dengan harga tinggi.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 274
“Aih, engkau mengejutkan hatiku, Nona manis. Kukira tadi
engkau seorang Dewi dari langit datang ke bumi. Siapakah
namamu, manis, dan mengapa engkau menahan perjalananku?”
“Namaku tidak penting, Ciang-kun. Aku hanya ingin sekali
mengetahui, mengapa dua orang enci itu kau tawan dan kau
bawa dengan paksa seperti itu?” Suara gadis itu masih lembut.
Agaknya ucapan perwira yang mulai merayu itu ia anggap sepi
dan tidak menyinggung perasaannya.
“Engkau ingin tahu, manis? Mereka itu adalah selir-selir
Kim-kongcu dan Kui-kongcu yang melarikan diri, maka aku
bersama dua losin perajuritku melakukan pengejaran dan
menangkap mereka untuk kuserahkan kepada Kim-kongcu dan
Kui-kongcu.”
“Bohong!” Siok Eng berteriak. “Aku tidak sudi dijadikan
selir Kim-kongcu lalu ditangkap dan hendak dipaksa!”
“Aku dirampas dari suamiku. Ayah kami dan suamiku
mereka pukul!” teriak pula Siok Hwa.
“Hemm, jadi engkau hendak memaksa seorang gadis dan
memaksa pula isteri orang, Ciang-kun? Setahuku, para pejabat
tertinggi sekalipun di kota raja tidak ada yang bertindak
sewenang-wenang merampas anak dan isteri orang! Apakah
engkau tidak merasa bersalah, Ciang-kun?” kata gadis pakaian
putih itu, suaranya tetap lembut namun mengandung teguran.
Pada saat itu, Chao Kung keluar dari rumah diikuti Siok
Kan.
“Kembalikan isteriku......!” teriak Chao Kung.
“Kembalikan Anakku......!” Siok Kan juga berseru.
Melihat dua orang laki-laki yang mukanya bengkakbengkak
itu gadis pakaian putih tadi mengerutkan alisnya.
Perwira Lai Koan marah bukan main melihat munculnya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 275
Chao Kung dan Siok Kan. Dia lalu memberi isyarat kepada
anak buahnya. “Kalian berdua agaknya sudah bosan hidup!”
bentaknya sambil menudingkan telunjuknya kepada dua orang
itu.
Empat orang perajurit menghampiri Chao Kung dan Siok
Kan. Agaknya ancaman Perwira Lai tadi mereka anggap
sebagai perintah untuk membunuh dua orang itu maka empat
orang perajurit itu sudah mencabut golok mereka. Akan tetapi
sebelum mereka sempat menyerang Chao Kung dan Siok Kan
yang sudah menjadi korban pukulan dan tendangan tadi, tibatiba
berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu empat orang
perajurit itu berteriak, golok mereka terlepas dari tangan dan
tubuh mereka terpelanting roboh.
Kini bayangan putih yang ternyata adalah gadis pakaian
putih tadi sudah berkelebat lagi ke arah Siok Hwa dan Siok
Eng. Empat orang perajurit yang memegang kedua lengan Siok
Hwa dan Siok Eng menyambut dengan bacokan golok, akan
tetapi kembali mereka berteriak, golok mereka terlepas dari
tangan dan tubuh mereka berpelantingan! Gadis itu lalu
menarik tangan Siok Hwa dan Siok Eng, dibawa mendekati
Chao Kung yang segera merangkul Siok Hwa dan Siok Kan
yang merangkul Siok Eng.
“Kalian masuk rumah dulu, aku yang akan mengusir
mereka!” kata gadis yang ucapan dan sikapnya lemah lembut
namun yang sepak terjangnya hebat dan lihai itu.
Dapat dibayangkan kemarahan Perwira Lai Koan ketika
melihat betapa gadis cantik jelita berpakaian putih itu telah
merobohkan delapan orang perajuritnya dan melindungi empat
orang itu.
“Tangkap gadis baju putih itu lebih dulu, lalu tangkap dua
wanita yang lain, dan bunuh dua orang pemberontak itu!” Dia
memberi perintah dan dia sendiri lalu berlari menghampiri
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 276
gadis baju putih itu dengan sehelai rantai baja yang tadi dipakai
sebagai sabuk pinggangnya yang gendut. Rantai ini panjangnya
sekitar dua depa, kedua ujungnya tajam dan runcing dan
dimainkan dengan kedua tangannya.
Melihat gadis ini sama sekali tidak memegang senjata, Lai
Koan mengikatkan kembali rantainya dan memberi aba-aba.
“Mari kita tangkap gadis ini hidup-hidup!” Setelah dekat,
Perwira Lai Koan dan anak buahnya lalu berlumba untuk
menubruk dan meringkus gadis itu.
Siapa yang tidak ingin lebih dulu mendapat kesempatan
meringkus dan merangkul tubuh gadis yang denok dan lemah
gemulai itu? Bersama Lai-ciangkun, tidak kurang dari lima
orang perajurit menubruk dari semua jurusan sehingga tidak
mungkin lagi tampaknya bagi gadis itu untuk mengelak. Di
depan, belakang, kanan dan kiri sudah siap menunggu tangantangan
yang kuat untuk meringkusnya!
Akan tetapi, selagi mereka yang berlumba menangkap
gadis itu merasa yakin akan dapat meringkusnya, tiba-tiba
gadis itu lenyap dari tengah kepungan mereka. Yang tampak
hanyalah bayangan putih meluncur ke atas seperti seekor
burung dara yang hendak ditangkap orang. Gadis itu telah
menghindarkan diri dengan melompat ke atas dan tubuhnya
yang ramping itu melayang turun, lalu berkelebatan dan
terdengar teriakan susul menyusul ketika ia membagi-bagi
tamparan dan tendangan. Tubuh dua losin perajurit anak buah
Perwira Lai itu berpelantingan dan melihat ini, Perwira Lai
Koan menjadi gentar dan tanpa malu lagi dia melarikan diri.
Akan tetapi bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu gadis baju
putih itu telah berdiri di depannya!
Rasa takut yang hebat membuat Panglima Lai Koan
menjadi nekat. Kini dia tahu benar bahwa dia berhadapan
dengan seorang gadis yang hanya kelihatannya saja lemah
lembut, akan tetapi yang sesungguhnya merupakan seorang
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 277
pendekar wanita yang amat lihai. Lai Koan sudah memegang
rantai baja yang menjadi senjatanya. Kini sama sekali tidak ada
niat di hatinya untuk menangkap gadis itu hidup-hidup.
Pikirannya hanya ingin melarikan diri atau membunuh gadis
itu.
“Mampus kau......!” teriaknya lantang dan dia sudah
menerjang dengan senjata itu. Rantai itu diputar sedemikian
rupa oleh kedua tangannya sehingga kedua ujung rantai yang
runcing tajam itu menyambar dari kanan kiri ke arah tubuh
gadis baju putih. Akan tetapi bagaikan seekor burung dara yang
gesit, tubuh gadis itu berkelebat ke belakang dan serangan itu
gagal. Lai Koan mendesak terus menyerang dengan kedua
ujung rantainya secara bertubi-tubi.
Gadis itu memiliki gin-kang yang amat tinggi tingkatnya.
Tubuhnya berkelebatan dan hanya tampak bayangan putih saja
dan semua serangan dapat ia hindarkan dengan mudah.
Baginya, gerakan rantai lawan itu terlalu lamban sehingga
tidak sukar baginya untuk menghindarkan diri. Setelah belasan
jurus dengan pengerahan tenaga sepenuhnya tidak membawa
hasil, Perwira Lai menjadi semakin gentar akan tetapi juga
semakin takut. Tiba-tiba dia maju mendekat dan kedua ujung
rantainya menyambar dari atas ke arah kepala gadis itu! Tadi
semua serangannya itu dielakkan oleh lawan dengan loncatan
ke atas, maka sekarang dia sengaja menyerang dari atas ke arah
kepala gadis itu. Disambar ujung rantai itu, tak diragukan lagi
kepala akan pecah, apalagi kalau dihantam kedua ujungnya!
Gadis itu mundur selangkah dan tubuh atasnya condong ke
belakang. Ketika senjata rantai menyambar dari atas ke bawah
di depan tubuhnya, secepat kilat kedua tangan gadis itu
bergerak menangkap rantai dekat kedua ujungnya, lalu dengan
sentakan halus ia melepaskan kedua ujung rantai sambil
mendorong ke arah tubuh Perwira Lai.
“Krekk! Krekk!” Perwira Lai Koan menjerit dan tubuhnya
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 278
terjengkang roboh, tak kuat bangkit kembali karena kedua
tulang pundaknya patah dihantam kedua ujung senjatanya
sendiri!
Sejenak gadis baju putih itu memandang ke sekelilingnya.
Melihat perwira dengan dua losin perajuritnya itu telah roboh
semua walaupun tidak ada yang tewas, dengan tenang ia lalu
memasuki rumah Chao Kung. Banyak orang melihat
perkelahian itu dan semua merasa kagum, juga terkejut dan
khawatir akan keselamatan Chao Kung sekeluarga dan gadis
penolong mereka itu.
Peristiwa itu sungguh gawat. Gadis itu telah merobohkan
Perwira Lai Koan yang terkenal galak bersama dua losin
perajurit! Pasti pemerintah setempat tidak akan tinggal diam
dan Chao Kung sekeluarga berikut gadis itu tentu akan
ditangkap dan dihukum berat! Mereka tidak ingin terlibat atau
menjadi saksi, maka satu demi satu mereka meninggalkan
tempat itu sehingga jalan umum itu sebentar saja menjadi
lengang.
Ketika gadis itu memasuki rumah, Chao Kung, Siok Kan,
Siok Hwa, dan Siok Eng menyambutnya dengan berlutut dan
memberi hormat. Gadis itu tampak kaget dan tersipu. Ia cepat
maju dan mengangkat bangun Siok Hwa dan Siok Eng.
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 2. Kepala Daerah Yang Dihormati
“Eh-eh, harap kalian jangan bersikap begini. Bangkit dan
duduklah. Mari kita bicara karena peristiwa tadi tentu membuat
keselamatan kalian terancam,” katanya dengan suara lembut.
Buntalan pakaian yang tadi digendong di punggungnya, ia
lepaskan dan taruh di atas meja. Dibukanya buntalan itu.
Ternyata isinya selain pakaian, juga banyak botol-botol kecil
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 279
dan bungkusan-bungkusan obat. Ia mengambil sebuah
bungkusan, membukanya dan memberikannya kepada Siok
Hwa.
“Taburkan sedikit bubuk obat ini ke bagian muka mereka
yang bengkak dan berikan mereka masing-masing sebutir pel
ini untuk ditelan.”
Siok Hwa mematuhi petunjuk itu dan setelah bengkakbengkak
pada muka Siok Kan dan Chao Kung ditaburi obat
bubuk merah dan mereka menelan sebutir pel, rasa nyeri-nyeri
pada tubuh mereka pun berkurang banyak.
“Lihiap, kami sekeluarga berterima kasih sekali kepada
Lihiap, kalau tidak ada Lihiap yang datang menolong,
celakalah kami sekeluarga,” kata Chao Kung sambil menjura.
“Tidak perlu berterima kasih. Yang penting sekarang, harap
kalian ceritakan mengapa kalian dimusuhi perwira dan
pasukannya itu.” Gadis itu berkata lembut setelah dipersilakan
duduk di atas kursi.
“Nama saya Chao Kung, ini adalah Ayah mertua saya
bernama Siok Kan. Yang ini adalah isteri saya Siok Hwa dan
adiknya bernama Siok Eng. Yang terjadi membuat kami
sekeluarga penasaran sekali, Lihiap (Pendekar Wanita)!” kata
Chao Kung dan dia lalu menceritakan tentang semua peristiwa
yang menimpa sekeluarganya.
“Hemm, jadi yang menjadi gara-gara adalah Lai Koan tadi
yang didalangi oleh Kim-kongcu dan Kui-kongcu? Siapa itu
Kim-kongcu dan Kui-kongcu?”
“Mereka adalah pemuda-pemuda putera pejabat tinggi yang
berkuasa di Cin-yang ini, Lihiap. Kim-kongcu bernama Kim
Magu, putera Kim Bayan yang menjadi panglima besar di
daerah Shan-tung. Adapun Kui-kongcu bernama Kui Con,
putera Kepala Pengadilan Kui Hok di kota ini.”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 280
“Hemm, sekarang katakan, apakah di Cin-yang ini tidak
ada pejabat yang jujur dan bijaksana? Bagaimana dengan
Kepala Daerah di sini?”
Chao Kung segera menjawab. “Kepala Daerah di Cin-yang
ini bernama Yo Bun San. Yo-thaijin adalah seorang yang
bijaksana dan adil, Lihiap.”
“Apakah para pejabat itu bangsa Mongol, atau Pribumi
Han?”
“Panglima Kim Bayan adalah seorang Mongol, Pembesar
Kui Hok seorang Pribumi, dan Pembesar Yo adalah seorang
peranakan Mongol/Han.”
“Bagus, sekarang berkemaslah kalian. Kumpulkan dan
bawa pakaian dan barang berharga. Kalian akan kubawa
menghadap Kepala Daerah Yo Bun San, malam ini juga. Kalau
dia seorang pejabat tinggi yang bijaksana, tentu dia akan mau
melindungi dan menolong kalian. Biar aku yang bicara
dengannya nanti.”
Karena gadis baju putih itu merupakan satu-satunya
harapan mereka untuk dapat terhindar dari bencana, maka Chao
Kung sekeluarga menaati petunjuknya. Mereka berkemas,
membawa pakaian dan barang berharga seperti perhiasan dan
sebagainya, ditaruh dalam sebuah gerobak dorong dan mereka
siap berangkat.
“Lihiap adalah penolong dan penyelamat kami. Mohon
tanya, siapakah nama Lihiap yang mulia?” tanya Chao Kung
dan pertanyaan ini didukung ayah mertuanya, isterinya dan
adik iparnya.
Gadis itu tersenyum ramah. “Namaku Liu Ceng, aku datang
dari Nan-king. Hanya itulah yang dapat kuceritakan. Mari kita
berangkat!”
Setelah menitipkan rumahnya kepada tetangga terdekat,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 281
Chao Kung sekeluarga lalu pergi menyurung gerobaknya
bersama gadis penolong mereka yang bernama Liu Ceng itu
menuju gedung Yo-thaijin yang menjadi Kepala Daerah di Cinyang.
@_Alysa^DewiKZ_@
Yo Bun San adalah seorang peranakan. Ayahnya seorang
Mongol aseli yang dulu menjadi seorang perwira tinggi ketika
pasukan Mongol masih melebarkan sayapnya ke mana-mana.
Ayahnya tewas dalam perang dengan mendapat kehormatan.
Ibunya juga sudah meninggal. Ibunya seorang Pribumi Han.
Karena jasa-jasa mendiang ayahnya, juga karena Yo Bun San
telah lulus ujian kesusastraan, maka dia diangkat menjadi
pejabat tinggi dan kini memegang jabatan Kepala Daerah di
Cin-yang.
Kini usianya sudah sekitar limapuluh tahun, sikapnya
lembut dan sopan. Tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya bersih
tanpa kumis dan jenggot. Dia seorang pejabat yang adil, jujur
dan bijaksana sehingga penduduk Cin-yang menghormatinya.
Para pejabat lain tidak suka kepada Kepala Daerah yang jujur
dan tidak mau korupsi ini, akan tetapi mereka tidak berani
mengganggu karena Yo Bun San memiliki hubungan baik
dengan para pejabat di kota raja. Bahkan Kim Bayan, Panglima
Tinggi yang menguasai semua pasukan di daerah Shan-tung,
segan kepada Yo-thaijin ini.
Ketika Yo-thaijin mendapat laporan dari para penjaga
bahwa ada lima orang datang mohon keadilan, dia merasa
heran akan tetapi pembesar yang selalu memperhatikan
rakyatnya ini, keluar juga menyambut di ruangan tamu biarpun
kunjungan itu dilakukan di waktu malam.
Ketika berhadapan dengan Yo-thaijin, Chao Kung dan
isterinya, Siok Kan dan Siok Eng, segera menjatuhkan diri
berlutut di depan Yo-thaijin. Gadis berpakaian putih bernama
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 282
Liu Ceng itu, tidak berlutut, hanya berdiri dan memberi hormat
dengan merangkap kedua tangan depan dada.
“Yo-thaijin, maafkan saya. Sesungguhnya sayalah yang
mengajak keluarga ini datang menghadap Paduka di malam
hari ini.”
Yo-thaijin mengangguk-angguk dan ketika dia melihat
Chao Kung dia berkata. “Ah, bukankah engkau Chao Kung,
pedagang rempa-rempa itu?”
“Benar sekali, Thai-jin. Ini adalah Ayah mertua saya Siok
Kan, ini isteri saya Siok Hwa dan Adik ipar saya Siok Eng,”
jawab Chao Kung dengan perasaan tegang dan juga khawatir.
Dia meragu apakah datang menghadap Yo-thaijin ini akan
berhasil menyelamatkan dia sekeluarga.
“Apakah yang terjadi? Mengapa malam-malam begini
kalian datang berkunjung?” tanya pembesar itu.
“Sayalah yang membawa keluarga ini ke sini, Thai-jin,”
kata Liu Ceng.
Ia lalu menceritakan apa yang terjadi dengan keluarga Chao
Kung, betapa Perwira Lai Koan hendak menarik Siok Kan dan
Chao Kung menjadi kerja-paksa lalu untuk membebaskan
mereka dari kerja-paksa itu, Lai Koan memaksa Siok Hwa dan
Siok Eng untuk mau menjadi permainan Kim-kongcu dan Kuikongcu.
“Demikianlah, Yo-thaijin. Kebetulan saya lewat dan
melihat itu saya lalu turun tangan membebaskan keluarga ini
dan memberi hajaran kepada Perwira Lai dan pasukannya.
Karena saya maklum bahwa keluarga ini pasti akan terancam
keselamatannya, maka saya sengaja membawa mereka ke sini
untuk minta pertimbangan Thai-jin yang terkenal adil dan
bijaksana. Saya mengharap kebijaksanaan Thai-jin untuk
melindungi keluarga yang menjadi warga kota yang terancam
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 283
ini!”
Yo-thaijin menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela
napas panjang. “Aahh, sudah sering kami mendengar akan
kejanggalan dalam mengumpulkan tenaga kerja bakti, akan
tetapi karena tidak ada yang berani melapor, kami tidak
mempunyai saksi dan bukti untuk menuntut yang bersalah.
Sekarang keluarga Chao Kung dapat menjadi saksi, kami akan
melaporkan kepincangan ini kepada Pemerintah Pusat. Perintah
dari Kaisar untuk mengumpulkan tenaga kerja bakti bukan
dengan cara seperti itu. Bukan memaksa, dan diberi imbalan
upah yang sepadan. Biarlah, kami terima keluarga ini
mengungsi dulu di sini sampai keadaan aman dan urusan ini
kami selesaikan dengan mereka yang tersangkut. Akan tetapi,
Nona.......” Pembesar itu menghentikan kata-katanya karena dia
teringat bahwa dia belum mengetahui nama gadis lemah
lembut yang ternyata seorang pendekar wanita ini.
Liu Ceng atau yang biasa oleh orang tuanya disebut Ceng
Ceng, tanggap akan kesangsian Kepala Daaerah Yo, segera
menyambung.
“Nama saya Liu Ceng, Thai-jin.”
“Nona Liu, keluarga Chao Kung boleh mengungsi dan
tinggal di sini, akan tetapi maaf, kami tidak berani
menerimamu setelah engkau menentang Lai-ciangkun yang
menjadi utusan Kim-kongcu dan Kui-kongcu. Kami kira
sebaiknya kalau engkau segera meninggalkan Cin-yang
secepatnya.”
Ceng Ceng segera memberi hormat dan berkata dengan
senyum berkembang di bibirnya. “Terima kasih, Thai-jin. Saya
percaya bahwa Thai-jin yang bijaksana tentu akan menolong
dan melindungi keluarga ini. Nah, sekarang saya pergi!”
“Lihiap, terima kasih.......!” Empat orang pengungsi itu
sambil masih berlutut mengucapkan terima kasih berulangKoleksi
Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 284
ulang, akan tetapi tubuh gadis itu sudah berkelebat sehingga
tampak bayangan putih seperti terbang, dengan cepat
menghilang dari gedung itu!
Yo-thaijin lalu memerintahkan orang-orangnya untuk
membawa empat orang itu ke bagian belakang gedung di mana
terdapat banyak kamar untuk para pembantu dan pelayan.
Mereka mendapatkan dua buah kamar dan untuk sementara
mereka diperkenankan tinggal di gedung Pembesar Yo.
Biarpun mereka dianggap sebagai tamu, namun empat orang
yang tahu diri ini tidak mau menganggur. Mereka berempat
membantu pekerjaan para pembantu dan pelayan sehingga
diam-diam Yo-thaijin merasa senang.
@_Alysa^DewiKZ_@
Bayangan itu berkelebat dengan gesit sekali ketika
melompat ke atas wuwungan gedung tempat tinggal Pembesar
Kui Hok, Kepala Pengadilan kota Cin-yang. Melihat
pakaiannya yang serba putih sehingga bayangannya yang
berkelebatan juga merupakan bayangan putih, kita mudah
menduga bahwa bayangan itu tentulah Liu Ceng atau Ceng
Ceng.
Ceng Ceng adalah seorang gadis berusia sembilan belas
tahun yang bertubuh sedang dan padat denok. Rambutnya
panjang dengan anak rambut menghias dahi dan pelipis,
melingkar dengan indahnya. Wajahnya bulat telur, matanya
tajam bersinar dan bibirnya yang banyak senyum menjadi
tambah manis karena kalau ia tersenyum, di ujung kanan
bibirnya timbul lesung yang menarik.
Ia adalah puteri tunggal Liu Bok Eng, bekas panglima
Kerajaan Sung yang lihai. Dia ikut mempertahankan Kerajaan
Sung ketika pasukan Mongol datang menyerbu. Akan tetapi
kekuatan pasukan Mongol tak terbendung sehingga sisa
pasukan Sung melarikan diri ke selatan dan menetap di NanKoleksi
Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 285
king. Ketika Nan-king juga direbut, Liu Bok Eng menjadi
patah hati dan dia mengundurkan diri. Dia tetap tinggal di Nanking
dan berdagang rempa-rempa bahan obat. Di Nan-king dia
tinggal bersama isteri dan puterinya, yaitu Liu Ceng.
Sejak kecil, biarpun ia seorang anak perempuan, Ceng
Ceng digembleng ayahnya sendiri yang merupakan seorang
ahli silat kelas tinggi dari Siauw-lim-pai. Karena melihat
puterinya berbakat, setelah mengajarkan ilmu silat, Liu Bok
Eng mengirim puterinya itu kepada Im Yang Yok-sian (Dewa
Obat Im Yang), yaitu sutenya (adik seperguruannya) sendiri
yang bertapa di Hoa-san dan memiliki keahlian pengobatan
yang membuat dia dijuluki Dewa Obat.
Selama dua tahun Ceng Ceng belajar ilmu pengobatan dari
susioknya (paman gurunya) sehingga kini dara itu menjadi lihai
ilmu silatnya dan ampuh ilmu pengobatannya. Ketika Ceng
Ceng minta kepada ayahnya untuk merantau dan melihat-lihat
keadaan di utara sambil meluaskan pengetahuan, bekas
panglima itu memperbolehkannya. Liu Bok Eng adalah
seorang panglima, akan tetapi juga seorang ahli silat dan hal ini
membuat wataknya tidak kukuh dan membolehkan puterinya
merantau. Dia tidak khawatir karena tahu bahwa Ceng Ceng
sudah pandai menjaga dan membela diri. Puterinya itu pandai
silat, ahli sastra dan pengobatan, apa yang perlu
dikhawatirkan?
Yang merasa prihatin atas kepergian Ceng Ceng adalah
ibunya. Wanita berusia empatpuluh tahun yang masih cantik
dan berwatak lembut itu sudah, ingin sekali mempunyai mantu
dan cucu. Baginya, puterinya yang sudah berusia
sembilanbelas tahun itu sudah lebih dari cukup untuk menikah.
Akan tetapi, Ceng Ceng selalu menolak keras kalau ada yang
melamarnya. Biarpun hatinya tidak setuju dengan niat Ceng
Ceng merantau, ia tidak dapat melarang, apalagi karena
suaminya menyetujui dan memberi restu kepada anak mereka.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 286
Bayangan putih di atas wuwungan gedung Pembesar Kui
Hok itu mendekam di atas sebuah ruangan tengah dan
mengintai ke bawah. Begitu meninggalkan Chao Kung
sekeluarga di rumah Kepala Daerah Yo, Ceng Ceng segera
mencari rumah pembesar yang menjadi kepala pengadilan,
ayah dari Kui-kongcu. Ketika ia melihat dua orang penjaga
yang membawa golok di pinggangnya meronda di taman
sebelah kiri gedung, Ceng Ceng cepat melompat turun dari atas
genteng. Gerakannya amat ringan sehingga ketika kedua
kakinya menginjak tanah, tidak terdengar suara seolah yang
melayang turun itu seekor burung atau kucing.
Dua orang penjaga itu tidak sempat berteriak. Tahu-tahu
tubuh mereka menjadi lemas ketika jari tangan yang halus
menotok punggung mereka. Mereka sadar namun tidak mampu
menggerakkan kaki tangan dan dua kali totokan lagi ke arah
leher mereka membuat mereka tidak mampu bersuara.
Ceng Ceng menyeret seorang dari mereka ke bawah lampu
yang terdapat di pinggir taman. Ia dapat melihat dengan jelas
wajah penjaga yang setengah tua itu.
“Aku akan membebaskan totokan agar engkau dapat bicara.
Akan tetapi awas, kalau engkau berteriak atau memberi
keterangan bohong, aku tidak akan merasa ragu untuk
membunuhmu!” Setelah berkata demikian, ia menekan leher
dan dada.
Orang itu dapat mengeluarkan suara. “Nona, ampuni
saya……”
“Baik, akan tetapi jawab dulu pertanyaanku. Di mana
kamar Kui-kongcu?”
Orang itu gemetar ketakutan. “...... Kui-kongcu...... dia......
dia tidak berada di sini.......”
“Jangan bohong!” bentak Ceng Ceng, “Bukankah dia
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 287
putera Pembesar Kui Hok dan ini tempat tinggalnya?”
“Benar, Nona. Akan tetapi Kui-kongcu tidak berada di
rumah. Dia jarang sekali tidur di rumah.......”
“Engkau tahu di mana dia?”
Penjaga itu mengenal majikan mudanya sebagai seorang
yang mata keranjang dan memiliki banyak wanita simpanan.
Mungkin Si Cantik berpakaian putih ini seorang di antara
kekasihnya yang cemburu dan kini mencarinya!
“Hayo jawab!”
“Ah...... dia...... biasanya pergi berdua dengan Kim-kongcu
dan bermalam di Rumah Pelesir Bunga Merah yang berada di
ujung barat kota.”
“Engkau tidak bohong?”
“Tidak berani bohong, Nona.......”
Ceng Ceng menotoknya lagi sehingga orang itu terkulai
lemas. Kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dari taman itu.
Tidak sukar bagi Ceng Ceng untuk menemukan rumah pelesir
yang dimaksudkan penjaga tadi. Rumah itu merupakan sebuah
gedung mungil dan di depannya digantungi papan dengan
lukisan bunga-bunga merah! Dengan berani Ceng Ceng
menghampiri pintu depan rumah itu.
Dua orang laki-laki tinggi besar berwajah galak
menghadangnya.
“Siapakah engkau dan apa keperluanmu datang ke sini?”
tanya seorang yang mukanya penuh brewok. Dia dan temannya
memandang wajah Ceng Ceng dengan heran dan kagum.
Biarpun di tempat itu terdapat banyak wanita cantik, namun
kecantikan para wanita itu seperti kecantikan gambar yang
berada di papan tadi, tak dapat dibandingkan dengan
kecantikan gadis berpakaian putih ini yang dapat diumpamakan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 288
setangkai bunga putih yang sedang mekar semerbak harum.
Para wanita yang berada di dalam itu memiliki kecantikan
pulasan, sedangkan gadis ini cantik jelita yang aseli dan segar.
“Aku ingin bertemu dengan Kui-kongcu atau Kim-kongcu
untuk menyampaikan urusan penting sekali!” kata Ceng Ceng.
Mendengar ini, dua orang itu hilang galaknya. Kalau gadis
ini mempunyai hubungan dengan dua orang kongcu itu, tentu
saja mereka tidak berani banyak lagak atau kurang ajar.
“Ah, kedua kongcu itu sedang makan minum di ruangan
dalam, Nona. Biar saya beritahu mereka agar mereka keluar
menemui Nona.”
“Tidak perlu, jangan ganggu mereka yang sedang makan
minum. Kau antarkan saja aku menghadap mereka di dalam.”
Ucapan Ceng Ceng dan sikapnya yang lembut membuat
dua orang penjaga itu tidak menaruh curiga. Wanita cantik
jelita dan lemah lembut ini tidak mungkin dapat melakukan
hal-hal yang membahayakan kedua orang putera pejabat itu.
“Silakan, Nona,” kata orang yang mukanya penuh brewok
dan Ceng Ceng lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Rumah itu mempunyai tiga ruangan besar dan beberapa
buah kamar, juga di loteng terdapat beberapa buah kamar yang
diperaboti lengkap dan cukup mewah. Ceng Ceng dibawa
masuk ke sebuah ruangan besar yang berada di bagian dalam.
Penjaga itu menyuruh Ceng Ceng menunggu di luar pintu dan
dia memasuki ruangan di mana dua orang pemuda sedang
berpesta pora, dilayani masing-masing oleh dua orang gadis
cantik. Mereka tampak gembira, tertawa-tawa.
Kim Magu dan Kui Con yang sedang makan minum
dilayani empat orang gadis penghibur itu tampak tidak senang
ketika melihat penjaga itu masuk. Akan tetapi ketika penjaga
itu melaporkan bahwa ada seorang gadis cantik mencari
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 289
mereka dan kini berada di luar pintu ruangan, mereka segera
memandang ke arah pintu.
“Keluarlah jangan ganggu kami dan suruh gadis itu
masuk!” kata Kim Magu dengan suara membentak. Penjaga itu
cepat memberi hormat lalu melangkah keluar dari ruangan.
“Engkau disuruh masuk, Nona,” katanya dan setelah Ceng
Ceng memasuki ruangan, penjaga itu cepat pergi karena dia
takut dimarahi dua orang pemuda yang galak itu.
Ceng Ceng melangkah memasuki ruangan itu. Dua orang
pemuda itu tercengang melihat gadis berpakaian putih cantik
jelita yang memasuki ruangan dengan langkah gemulai itu.
Mereka berdua cepat mendorong empat orang gadis yang
melayani mereka, bahkan Kui Con yang tadinya memangku
seorang gadis, mendorong gadis itu sehingga hampir jatuh.
Ceng Ceng memandang mereka dengan wajah tenang,
bahkan bibirnya mengembangkan senyum. Lalu ia
menghampiri meja mereka dan berdiri di depan dua orang
pemuda yang kini juga sudah berdiri memandangnya. Ceng
Ceng melihat bahwa dua orang pemuda itu masih muda dan
keduanya berpakaian mewah. Yang seorang bertubuh tinggi
besar dan tampak kokoh kuat, mukanya agak hitam. Adapun
yang ke dua, usianya sebaya, sekitar duapuluh satu atau
duapuluh dua tahun, tubuhnya sedang, wajahnya tampan, akan
tetapi pandang matanya penuh nafsu dan tampak licik.
“Aih, Nona, kami merasa beruntung sekali menerima
kunjungan seorang bidadari! Silakan duduk dan makan minum
bersama kami!” kata Kim Magu, tidak menyembunyikan
perasaan kagumnya.
“Nona yang jelita siapakah namanya, datang dari mana dan
ada keperluan apakah Nona mencari kami berdua?” Kui Con
tidak mau kalah, bertanya dengan memasang gaya agar tampak
tampan, matanya dikejapkan, bibirnya tersenyum lebar.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 290
Seolah tidak mendengar ucapan dua orang pemuda itu,
Ceng Ceng melangkah dekat dan bertanya dengan suara
lembut, namun pandang matanya mencorong ditujukan kepada
mereka penuh selidik.
@_Alysa^DewiKZ_@
Bab 3. Hajaran Bagi Kongcu Bergajul
“Apakah kalian ini yang bernama Kim-kongcu dan Kuikongcu?”
Seperti berebut, dua orang pemuda itu segera
memperkenalkan diri masing-masing.
“Aku Kim Magu, putera Panglima Besar yang mengepalai
seluruh pasukan di Propinsi Shan-tung!”
“Aku Kui Con. Ayahku adalah Kepala Kantor Pengadilan
di Cin-yang!”
“Hemm, kalian yang mengutus Perwira Lai Koan
merampas isteri Chao Kung dan adiknya?”
Dua orang pemuda itu terkejut. Mereka tadi sudah
mendengar betapa Perwira Lai gagal membawa dua orang
wanita keluarga Chao Kung itu karena diserang oleh seorang
pemberontak wanita. Akan tetapi mereka tidak percaya kalau
gadis yang lemah lembut ini yang telah menghajar pasukan
yang dipimpin Perwira Lai. Mereka berdua makan minum di
Rumah Pelesir Bunga Merah untuk menghibur diri karena
kegagalan itu. Kim-kongcu yang memiliki ilmu silat cukup
lumayan, sama sekali tidak takut terhadap seorang gadis muda
yang cantik jelita dan lemah lembut ini.
“Ha-ha-hal Aku gagal mendapatkan Nona Siok Eng juga
tidak mengapa asalkan mendapatkan gantinya seperti engkau,
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 291
Nona manis!” kata Kim-kongcu dan dia sudah bangkit berdiri
bersama Kui-kongcu.
Setelah yakin bahwa dua orang pemuda ini yang dicarinya,
Ceng Ceng berkata, “Bagus, memang kalian berdua yang
kucari!” Kakinya mencuat menendang meja hidangan itu.
Kui Con dan empat orang gadis penghibur menjerit karena
mereka berlima tertimpa hidangan yang tadinya memenuhi
meja, bahkan Kui-kongcu tertimpa meja sehingga mukanya
membiru dan lengannya yang mencoba menangkis meja patah
tulangnya. Empat orang gadis penghibur itu menjerit dan
berlarian lalu berkumpul di sudut ruangan itu saling rangkul
sambil menangis.
Ketika meja tertendang, hanya Kim Magu atau Kim-kongcu
yang dapat menghindarkan diri. Dia cepat melompat ke
samping, kemudian dengan marah dia mencabut goloknya dan
menyerang Ceng Ceng dengan ganas.
Akan tetapi, kalau Perwira Lai Koan dan dua losin
perajuritnya saja tidak mampu menandingi Ceng Ceng, apalagi
Kim Magu yang tingkat kepandaiannya belum begitu tinggi
ditambah lagi dia malas berlatih dan hanya memperbanyak
pelesir, maka tentu saja berhadapan dengan Ceng Ceng, dia
bukan merupakan lawan yang seimbang. Ketika goloknya
membacok, dengan sedikit menggeser kakinya saja Ceng Ceng
sudah dapat menghindarkan diri dan ketika golok itu
menyambar lewat, jari tangan Ceng Ceng menotok dan tubuh
Kim Magu roboh terkulai dan tidak mampu bergerak lagi!
Melihat kedua orang muda itu tak mampu bergerak lagi,
Kim-kongcu tertotok dan Kui-kongcu tertimpa meja, Ceng
Ceng lalu menyeret tubuh mereka dengan mencengkeram
rambut mereka keluar rumah itu. Para gadis penghibur dan
pengurus rumah hiburan itu sudah sejak tadi lari mengungsi ke
tempat lain.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 292
Ceng Ceng mengambil tali yang terdapat di ruangan depan,
lalu membawa keluar. Akan tetapi ketika ia menyeret tubuh
dua orang pemuda bangsawan itu tiba di pintu depan, lima
orang penjaga yang bertugas sebagai tukang pukul, menerjang
dan mengeroyoknya! Ceng Ceng melepaskan dua orang
pemuda itu untuk menghadapi mereka. Dengan lincahnya ia
bergerak dan sebentar saja, lima orang tukang pukul itu sudah
roboh tak mampu bergerak karena tertotok jalan darah mereka
oleh gadis yang amat lihai ini. Setelah merobohkan lima orang
tukang pukul, Ceng Ceng menyeret lagi Kim-kongcu dan Kuikongcu
sampai tiba tepi jalan umum depan rumah pelesir itu.
Dengan cekatan ia lalu mengikat kedua kaki mereka dan
menggantungkan tubuh mereka pada cabang pohon yang
tumbuh di situ. Dua orang muda itu tergantung dengan kepala
di bawah, mirip dua ekor kelelawar!
Setelah selesai menggantung dua orang pemuda itu, Ceng
Ceng berkelebat masuk rumah pelesir, menemukan alat tulis
dan menulis di atas kain sutera putih yang dirobeknya dari tirai
kamar.
Ceng Ceng menuliskan huruf-huruf besar yang indah di
atas kain putih itu.
Dua pemuda ini mengandalkan kekuasaan ayah mereka
untuk memaksa dan memperkosa wanita. Ayah mereka tidak
mampu mendidik anak ini!
Setelah selesai menulis, Ceng Ceng membawa kain itu
keluar dan menggantungnya di cabang pohon, di antara tubuh
kedua orang pemuda itu. Setelah melakukan ini, ia segera
meninggalkan kota Cin-yang malam itu juga.
Tentu saja kota Cin-yang menjadi gempar. Berbondongbondong
penduduk datang untuk menonton dua orang pemuda
yang digantung dengan kepala di bawah pada pohon itu dan
mereka yang membawa obor menerangi tempat itu. Mereka
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 293
juga membaca tulisan itu dan ramailah orang-orang
membicarakannya. Tidak seorang pun berani atau mau
menolong Kim-kongcu dan Kui-kongcu. Takut terhadap gadis
yang menghukum dua orang itu dan juga tidak mau karena
mereka semua membenci dua orang pemuda hidung belang
yang suka mengganggu wanita cantik. Karena mereka yang
melihat Ceng Ceng hanya melihat bayangan putih berkelebat,
maka orang-orang menjulukinya Pek-eng Sianli (Bidadari
Bayangan Putih)!
Dapat dibayangkan betapa marahnya Kim Bayan dan Kui
Hok mendengar bahwa putera mereka digantung. Cepat mereka
membawa pasukan untuk menolong putera mereka. Dengan
galak mereka membubarkan penduduk yang menonton dan
membawa putera mereka pulang.
Kim Bayan yang menjadi panglima, tentu saja merasa malu
sekali. Dia memarahi Kim Magu habis-habisan, akan tetapi
juga marah kepada gadis yang menghina puteranya. Dia
mengerahkan para pembantunya yang lihai untuk mencari
gadis berpakaian putih itu. Juga Kui Hok menjadi marah
kepada puteranya. Dia hanya mengharapkan Kim Thaiciangkun
berhasil menangkap penjahat wanita berpakaian putih
yang telah memberontak itu. Dia sudah mendengar bahwa
wanita itu juga yang telah memukul roboh Perwira Lai Koan
dan dua losin orang pengawalnya. Kota Cin-yang geger dengan
adanya peristiwa itu akan tetapi sebagian besar dari mereka
merasa bersyukur, apalagi mereka yang merasa mempunyai
isteri atau anak gadis yang cantik.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kim Thaiciangkun
dan Kui-thaijin menerima undangan dari Kepala
Daerah Cin-yang, yaitu Pembesar Yo Bun San. Bagi Cin-yang,
kedudukan Yo-thaijin ini yang paling tinggi. Dia yang
berwenang mengatur kota Cin-yang sehingga biarpun Panglima
Kim merupakan komandan seluruh pasukan di wilayah ShanKoleksi
Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 294
tung, namun di Cin-yang dia harus tunduk kepada Kepala
Daerah.
Setelah mereka berdua datang, Yo-thaijin menyambut
mereka dan mereka bertiga membicarakan urusan
menggemparkan yang terjadi kemarin dan malam tadi. Yothaijin
menceritakan kepada mereka berdua tentang Keluarga
Chao Kung yang diganggu oleh Perwira Lai atas perintah Kimkongcu
dan Kui-kongcu. Dia menceritakan betapa gadis
berpakaian putih menolong keluarga terdiri dari empat orang
itu dan membawa mereka kepadanya untuk minta
perlindungan.
“Semua keributan itu timbul karena perbuatan Kim-kongcu
dan Kui-kongcu sendiri!” demikian Yo Bun San mengakhiri
keterangannya. “Dan yang melakukan perlawanan adalah gadis
berpakaian putih yang tidak kami ketahui namanya itu.
Keluarga Chao Kung sama sekali tidak bersalah. Oleh karena
itu, kalau Kim-ciangkun dan Kui-thaijin hendak membalas
dendam, carilah gadis berpakaian putih itu. Kami harap Ji-wi
(Anda Berdua) tidak memusuhi keluarga Chao Kung yang
sama sekali tidak mengenal gadis penolong mereka itu, sama
sekali tidak bersalah, bahkan menjadi korban Perwira Lai yang
mengumpulkan tenaga kerja secara sewenang-wenang.”
“Hemm, keluarga Chao memang tidak bersalah. Akan
tetapi gadis pemberontak itu harus ditangkap dan dihukum
mati! Saya telah mengerahkan para pembantu saya untuk
mencari, mengejar dan menangkapnya!” kata Panglima Kim
Bayan sambil mengepal tinju.
“Ah, yang menjadi gara-gara adalah Lai-ciangkun itu! Dia
yang melakukan pemerasan! Dia yang merampas dua orang
dari keluarga Chao itu! Kenapa putera-putera kami yang
disalahkan?”
“Saya akan melaporkan ke kota raja dan Perwira Lai akan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 295
saya tangkap karena dia melakukan penyelewengan. Sayang
selama ini tidak ada penduduk yang berani melapor sehingga
kami tidak mengetahui akan perbuatannya. Akan tetapi, saya
harap Kim Thai-ciangkun dan Kui-thaijin menegur agar putera
ji-wi tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan nama ji-wi
sendiri. Dan sekali lagi, kami akan menyuruh keluarga Chao
Kung kembali ke rumah mereka dan kami harap jangan ada
yang mengganggu mereka karena mereka sama sekali tidak
bersalah. Mereka hanya menjadi korban dan ditolong oleh
gadis pakaian putih itu. Gadis itulah yang harus disalahkan
bukan keluarga Chao Kung.”
Pertemuan itu selesai dan pada hari itu juga, Perwira Lai
Koan ditangkap dan dipenjara, menanti keputusan dari kota
raja. Sebagai penggantinya, ditunjuk seorang perwira lain yang
dipesan agar pemilihan tenaga kerja dilakukan sebagaimana
mestinya, yaitu hanya mengambil seorang laki-laki saja dari
sebuah keluarga, dan laki-laki itu pun mendapat upah
sebagaimana mestinya seperti yang ditentukan pemerintah
kerajaan.
Adapun Chao Kung sekeluarga boleh kembali ke rumah
mereka dengan jaminan bahwa mereka tidak akan diganggu
oleh para pejabat di Cin-yang. Tentu saja diam-diam Chao
Kung, Siok Kan, Siok Hwa, dan Siok Eng berterima kasih
sekali kepada Liu Ceng yang telah menyelamatkan mereka.
Dengan rahasia mereka bersembahyang untuk keselamatan
nona penolong itu, tidak berani terang-terangan karena mereka
tahu bahwa gadis itu dianggap pemberontak dan menjadi
buronan.
@_Alysa^DewiKZ_@
Pemuda itu berjalan santai menuju ke utara, ke kota raja.
Pakaiannya sederhana dan wajahnya yang tampan dengan sinar
mata lembut itu tampak muram. Pemuda berusia sekitar
duapuluh dua tahun ini adalah Pouw Cun Giok yang dijuluki
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 296
Bu-eng-cu (Si Tanpa Bayangan). Semenjak kematian Lu Siang
Ni, adik misannya, Cun Giok merasa sedih dan batinnya
tertekan. Dia pun tidak menggunakan marga Suma lagi karena
Suma adalah marga gurunya yang sudah meninggal dunia. Dia
keturunan marga Pouw, hanya satu-satunya dialah keturunan
keluarga Pouw yang besar. Maka sejak kematian Siang Ni, dia
menggunakan she (marga) Pouw.
Kini dia melangkah perlahan sambil melamun, terbenam ke
dalam duka. Belum juga kesedihannya menipis karena
kematian adik misannya, Lu Siang Ni secara amat
menyedihkan itu, dia bertemu dengan Cu Ai Yin, puteri Bu-tek
Sin-liong Cu Liong Majikan Bukit Merak dan timbul pula
keributan karena kehadirannya!
Ai Yin adalah seorang gadis yang amat baik, selain cantik
jelita juga lihai ilmu silatnya. Gadis itu telah menyelamatkan
nyawanya, bahkan membelanya sampai berselisih dengan
kakak seperguruan dan dengan ayahnya sendiri sehingga
akhirrya gadis itu terpaksa pergi meninggalkan Bukit Merak!
Kembali dia yang menjadi gara-gara sehingga Ai Yin
bertentangan dengan ayahnya dan suhengnya sendiri!
Cun Giok merasa demikian sedih sehingga tubuhnya terasa
lemas dan lelah. Melihat sebatang pohon besar yang rindang,
dia segera menghentikan perjalanannya, duduk di bawah pohon
itu yang melindungi dirinya dari sinar matahari yang mulai
panas. Makin dalam pikirannya tenggelam. kepada masa lalu,
mengenangkan keadaan dirinya sejak kecil, dia merasa
semakin tertekan perasaan sedih.
Ayah kandungnya tewas terbunuh ketika dia belum lahir
dan ibunya meninggal dunia ketika dia terlahir. Dia yatim
piatu, tidak pernah melihat ayah ibunya. Kemudian, gurunya,
Suma Tiang Bun, menjadi pengganti orang tuanya, akan tetapi
gurunya itu kini pun telah tiada, juga terbunuh oleh pembunuh
ayah kandungnya dulu. Oleh Panglima Kong Tek Kok, musuh
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 297
besarnya yang telah dapat terbunuh oleh dia dan mendiang Lu
Siang Ni, adik misannya. Akan tetapi Siang Ni membunuh diri.
Ibu Siang Ni, yaitu bibinya, juga telah meninggal dunia.
Dia telah kehilangan semua orang itu, semua anggauta
keluarganya, dan dia hidup sebatang kara, tiada sanak keluarga,
tiada teman, tiada tempat tinggal! Ke mana dia harus pergi?
Bahkan gurunya yang menjadi pengganti orang tuanya telah
tiada. Satu-satunya orang yang dekat dengan dia hanyalah Pakkong
Lojin, sukongnya (kakek gurunya) yang juga kini dapat
disebut menjadi gurunya karena dia telah menerima
gemblengan dari Pak-kong Lojin yang hidup sebagai seorang
petani miskin di Ta-pie-san. Akan tetapi kakek gurunya ini
telah tua sekali, usianya sudah delapanpuluh lima tahun dan
ingin hidup menyendiri di tempat sunyi itu.
Ketika tangannya hendak mengambil saputangan dalam
saku bajunya untuk menghapus keringatnya, tiba-tiba jari
tangannya menyentuh benda keras. Dikeluarkannya benda itu
yang ternyata adalah sebuah tusuk sanggul terbuat dari perak
dan membentuk sebatang pohon yang-liu (cemara). Tusuk
konde pemberian Siok Eng sebagai tanda ikatan perjodohan!
Terbayanglah wajah Siok Eng dalam benaknya. Gadis yang
manis, puteri Paman Siok Kan yang telah ditunangkan
kepadanya. Mengapa selama ini dia tidak pernah ingat kepada
Siok Eng? Harus diakuinya bahwa dia mau dijadikan calon
suami Siok Eng karena itu sangat dikehendaki mendiang
suhunya, Suma Tiang Bun. Dia tidak mau mengecewakan
suhunya. Dan memang dia merasa suka kepada Siok Eng yang
manis. Akan tetapi mengapa dia tidak pernah teringat
kepadanya?
Dia meragu apakah dia mencinta gadis tunangannya itu!
Bahkan setelah dia bertemu dengan adik misannya, Lu Siang
Ni yang telah tewas, kemudian bertemu dengan Cu Ai Yin,
melihat gadis-gadis cantik itu memiliki ilmu silat yang amat
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 298
lihai, dia merasakan kekurangan pada diri Siok Eng. Siok Eng
gadis yang lemah!
Adakah cinta di hatinya terhadap Siok Eng yang telah
menjadi calon isterinya? Dia sendiri tidak tahu. Akan tetapi
yang jelas, dia telah diikat tali perjodohan dengan gadis itu dan
bukan sikap seorang jantan kalau mengingkari ikatan itu dan
melanggar janji! Tidak, dia tidak akan melanggar janji! Akan
tetapi dia merasa malu kalau harus berkunjung kepada
tunangannya di Cin-yang itu. Dia kini seorang pemuda yang
tiada keluarga, tiada tempat tingga1, tidak mempunyai
pekerjaan dan tidak berpenghasilan. Bagaimana mungkin dia
berkunjung dalam keadaan begini? Kalau sudah menikah
dengan Siok Eng, apa yang dapat diberikan kepada isterinya?
Rumah pun dia tidak punya!
Sering dia mendengar orang-orang berkata dengan wajah
serius bahwa modal orang menikah dan membangun rumah
tangga adalah cinta! Dulu dia sendiri membenarkan pendapat
ini, akan.....
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
M a a f ..H a l a m a n 59 ~ 62 R o b e kz !!
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
........tua. Maka kini dia cepat melompat menjauhi
rombongan itu dan mempergunakan ilmunya berlari cepat,
mendahului mereka menuju ke bukit itu.
Di lereng bukit itu Cun Giok melihat sebuah kuil tua dan di
luar kuil terdapat belasan orang pengawal yang melihat
pakaiannya bukan perajurit-perajurit biasa. Mereka adalah
perwira-perwira pembantu Panglima Kim Bayan dan rata-rata
memiliki ilmu silat yang tangguh. Lima orang perwira menjaga
di depan kuil, lima lagi menjaga di belakang, dan di kanan dan
kiri kuil masing-masing terdapat tiga orang perwira. Semua ada
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 299
enambelas orang. Cun Giok dapat menduga bahwa mereka
bukan perajurit sembarangan. Akan tetapi, bagaimana besar
pun bahayanya, dia harus menyelamatkan Ai Yin. Andaikata
yang ditawan itu orang lain, kalau orang itu tidak bersalah, dia
pun siap untuk menolongnya. Apalagi yang ditawan adalah Cu
Ai Yin, gadis yang telah tiga kali menyelamatkan nyawanya.
Pertama ketika menolong dia yang roboh pingsan di tepi
sungai, kedua kalinya ketika dia diserang ayah gadis itu, dan
ketiga ketika dia hendak dibunuh Kong Sek. Tentu dia akan
siap menolong dan berani menempuh bahaya yang
bagaimanapun besarnya!
@_Alysa^DewiKZ_@
Jilid 10
Bab 1. Tawanan Cantik Berbaju Putih
Cun Giok mendekati kuil itu dengan cara bergerak cepat
dari semak ke semak, dari pohon ke pohon. Karena gerakannya
cepat bukan main, maka sukarlah mengikuti gerakannya
dengan pandang mata. Ilmunya berlari cepat yang disebut
Liok-te Hui-teng (Lari Terbang di Atas Bumi) memang telah
mencapai titik tinggi sekali sehingga saking cepatnya dia
bergerak, Cun Giok mendapat julukan Bu-eng-cu (Si Tanpa
Bayangan). Akhirnya dia berhenti bergerak dan sembunyi di
dalam pohon terdekat dengan kuil, dan dia melihat betapa tidak
mungkin baginya untuk menghampiri kuil karena
penjagaannya demikian ketat. Dia harus dapat mengalihkan
perhatian penjaga yang jumlahnya hanya tiga orang di sebelah
kiri agar terbuka jalan baginya untuk dapat memasuki kuil tua.
Cun Giok melompat turun ke belakang batang pohon agar
tidak terlihat, dan mengambil lima butir batu kecil, lalu
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 300
melompat lagi ke atas pohon. Kemudian, dari dalam sebatang
pohon terdekat, dia menyambitkan lima butir batu kecil itu ke
arah lima orang yang berjaga di bagian belakang kuil.
Cun Giok selain hebat gin-kangnya (ilmu meringankan
tubuhnya) juga dia mahir menggunakan senjata rahasia apa
saja. Dia telah menguasai bidikan yang amat tepat yang disebut
Pek-po-coan-yang (Timpuk Tepat Seratus Kaki). Karena ketika
menyambit dia menggunakan sin-kang (tenaga sakti), maka
luncuran lima buah kerikil itu cepat sekali dan lima orang
perwira yang berada di situ tidak sempat mengelak. Mereka
sama sekali tidak menyangka akan diserang orang, maka batubatu
itu menyambar dengan tepat. Cun Giok telah mengukur
dan membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh
mereka, hanya cukup menimbulkan kegaduhan sehingga
menarik tiga orang yang berjaga di sebelah kiri.
Perhitungannya memang tepat. Lima orang itu berseru kaget,
heran dan juga kesakitan. Batu kerikil yang mengenai tubuh
mereka merobek baju berikut kulit tubuh mereka,
mendatangkan rasa pedih dan nyeri.
Seruan lima orang itu tentu saja menarik perhatian tiga
orang yang berjaga di bagian kiri dan berada paling dekat
dengan mereka. Tiga orang itu segera berlarian ke arah
belakang untuk membantu kalau-kalau lima orang rekan
mereka terancam bahaya. Cun Giok menggunakan kesempatan
ini untuk berkelebat masuk ke kuil melalui pintu di sebelah kiri
yang telah ditinggalkan tiga orang penjaganya.
Kuil itu cukup luas, akan tetapi keadaannya sudah banyak
yang rusak. Banyak ruangan tidak tertutup atap lagi dan
tembok-temboknya ditumbuhi lumut. Karena sudah puluhan
tahun tidak terpakai dan terawat, maka di dalamnya banyak
tumbuh semak-semak. Cun Giok mencari-cari dan akhirnya dia
menemukan apa yang dicarinya.
Gadis itu berada dalam sebuah kamar kosong di mana
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 301
terdapat sebuah meja yang sudah lapuk. Gadis itu duduk
membelakangi Cun Giok yang muncul di ambang pintu yang
tak berdaun lagi, dan ia duduk bersila di atas lantai. Dari sikap
duduknya, dengan punggung tegak lurus, Cun Giok maklum
bahwa gadis itu sedang Siu-lian (samadhi).
Karena sejak semula ia mengira bahwa yang tertawan
adalah Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin, maka Cun Giok merasa
heran sekali mengapa Ai Yin menyerah untuk ditawan begitu
saja, padahal kenyataannya gadis itu tidak dibelenggu dan
masih bebas dalam kamar itu. Rasanya tidak mungkin seorang
gadis yang amat lihai, pemberani dan keras seperti Ai Yin
begitu mudah mengalah!
“Nona Cu......!” Cun Giok memanggil lirih sambil
melangkah masuk ke kamar itu.
Gadis itu bangkit dengan perlahan lalu memutar tubuhnya
menghadapi Cun Giok. Terkejutlah pemuda itu ketika melihat
bahwa gadis itu sama sekali bukan Pek-hwa Sianli Cu Ai Yin!
“Ah, maafkan aku, Nona. Apakah Nona yang disebut Pekeng
Sianli?”
“Benar, siapa engkau dan mau apa datang ke sini?” tanya
Pek-eng Sianli Liu Ceng dengan lembut.
Cun Giok merasa bodoh dan malu. Gadis ini sama sekali
bukan Ai Yin walaupun tidak kalah cantiknya. Namun
perbedaannya amat mencolok. Kalau Ai Yin keras hati dan
galak, sebaliknya gadis ini lemah lembut dan sukarlah
membayangkan bahwa gadis seperti ini pandai ilmu silat
sehingga dijuluki Pek-eng Sianli (Dewi Bayangan Putih).
“Maaf, siapa pun adanya engkau, Nona, ketika mendengar
bahwa ada seorang gadis yang ditawan oleh pasukan kerajaan,
aku datang untuk menolong dan membebaskanmu.”
Gadis itu menghela napas panjang. “Ah, engkau membuat
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 302
bebanku lebih berat lagi. Sekarang selain harus membela diri,
aku juga harus melindungimu! Sobat, perbuatanmu ini baik
sekali dan aku berterima kasih, akan tetapi juga bodoh.”
“Akan tetapi aku.......”
“Awas......!” Gadis itu memotong kata-kata Cun Giok dan
pada saat itu sebuah benda dilempar masuk ke kamar itu dan
terdengar ledakan disusul mengepulnya asap kemerahan.
“Tahan napas!” Gadis itu, Ceng Ceng, berseru.
Cun Giok menurut dan selagi mereka digelapkan asap
kemerahan tebal itu, sebuah tangan yang halus menyentuh
lengannya.
“Cepat, telan ini......” Ceng Ceng berkata.
Cun Giok menerima dan ternyata gadis itu memberinya
sebuah pel. Tanpa ragu dia memasukkannya ke dalam mulut
dan menelannya. Dia merasa yakin bahwa gadis yang akan
ditolongnya itu tidak akan tega meracuninya. Terasa betapa pel
itu hancur di kerongkongannya dan rasanya pahit namun
berbau harum.
“Sekarang boleh bernapas dan mari ikut aku. Pegang
tanganku!” terdengar gadis itu berkata dan sebuah tangan yang
telapakannya hangat dan halus memegang tangan Cun Giok.
Pemuda itu menurut saja ditarik keluar dari kamar itu
menuju ke belakang. Dia pun berani bernapas dan ternyata asap
kemerahan itu berbau amis, akan tetapi tidak mempengaruhi
atau mengganggunya.
Begitu mereka keluar dari kuil bagian belakang, tiba-tiba
mereka dikepung banyak orang. Cun Giok maklum bahwa
enam belas orang perwira yang tadi menjaga kuil, kini
ditambah dengan enam orang perwira lain yang dilihatnya
dalam perjalanan tadi. Semua berjumlah dua puluh dua orang
dan mereka mengepung dengan pedang di tangan!
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 303
“Menyerahlah atau kalian berdua akan mati!” bentak
seorang dari mereka sambil menodongkan pedangnya.
“Engkau larilah menyelamatkan diri, biar aku yang
menahan mereka!” kata Ceng Ceng yang cepat bergerak ke
depan. Kaki tangannya bergerak sedemikian cepatnya,
tubuhnya berkelebatan menjadi bayangan putih dan dalam
beberapa gebrakan saja empat orang telah roboh oleh
tendangan kaki dan tamparan tangannya!
Kini mengertilah Cun Giok mengapa gadis itu dijuluki
Dewi Bayangan Putih! Dia merasa kagum akan tetapi tentu
saja dia tidak mau menaati permintaan gadis itu untuk
melarikan diri: Biarpun gadis itu lihai, namun dikeroyok
demikian banyaknya perwira yang memegang pedang
sedangkan gadis itu bertangan kosong, dapat membahayakan
gadis itu.
“Orang-orang yang curang. Begini banyaknya laki-laki
mengeroyok seorang gadis!” bentaknya dan tiba-tiba tampak
sinar keemasan bergulung-gulung dan para pengeroyok itu
berpelantingan, pedang mereka ada yang patah dan banyak
yang terlepas dari pegangan! Dalam waktu singkat, Cun Giok
sudah merobohkan enam orang pengeroyok!
Tiba-tiba gadis itu berseru, “Kita pergi!” Dan Cun Giok
merasa betapa tangannya dipegang gadis itu dan dibawa
melompat! Biarpun dia tidak tahu mengapa gadis itu tadi
menyerah saja ditawan dan kini melawan lalu tiba-tiba hendak
melarikan diri, dia tidak sempat bertanya dan dia pun segera
bergerak cepat, melepaskan tangannya dari pegangan gadis itu
dan mereka berdua menggunakan ilmu berlari cepat bagaikan
terbang!
Setelah jauh meninggalkan bukit itu dan tidak tampak ada
perwira yang melakukan pengejaran, Ceng Ceng berhenti. Ia
memandang Cun Giok dengan mata dilebarkan. Baru saja ia
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 304
menggunakan ilmu Co-sang-hui (Terbang di Atas Rumput)
dengan mengerahkan seluruh ginkangnya. Akan tetapi ternyata
pemuda itu dapat mengimbanginya! Juga ia melihat betapa
dengan mudahnya pemuda itu merobohkan enam orang
pengeroyok dengan pedangnya yang bersinar kuning emas!
Di lain pihak, Cun Giok juga merasa heran bukan main. Dia
bermaksud menolong dan membebaskan gadis yang tadinya
dikira Cu Ai Yin itu. Ternyata gadis berpakaian putih ini
memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan ketika melarikan diri
tadi, dia yakin gadis itu memiliki gin-kang yang lebih hebat
daripada tingkat Ai Yin. Dia yakin kalau gadis ini mampu
membebaskan diri sendiri, akan tetapi mengapa ia membiarkan
dirinya ditawan?
Cun Giok mengangkat kedua tangan depan dada memberi
hormat lalu berkata tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.
“Nona, ternyata engkau lihai sekali. Mengapa engkau
membiarkan dirimu ditawan dalam kuil itu? Aku yakin kalau
engkau menghendaki, mereka tidak akan mampu
menawanmu!”
Akan tetapi Ceng Ceng berkata, “Maaf, nanti saja kita
bicara. Sekarang ada urusan yang lebih penting! Mari!” Ia lalu
melanjutkan larinya.
Cun Giok cepat mengikutinya dan kembali mereka berdua
berlari cepat memasuki sebuah dusun. Ceng Ceng menuju ke
sebuah rumah sederhana dan di depan pintu itu ia disambut
sepasang kakek dan nenek berusia sekitar enampuluhan tahun.
“Ah, syukur engkau dalam keadaan selamat, Nona!” kata
nenek itu sambil memegang kedua tangan Ceng Ceng.
“Paman dan Bibi, tidak banyak waktu lagi. Kalian berdua
harus segera pergi dari sini karena anjing-anjing Mongol itu
tentu akan segera datang ke sini!”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 305
Akan tetapi kakek itu menggelengkan kepalanya dan
setelah menghela napas dia berkata, “Tidak, Nona. Karena
membela kami berdua, Nona sampai ditangkap mereka.
Sekarang Nona sudah dapat lolos, sebaiknya cepat melarikan
diri dan jangan khawatir tentang diri kami. Kami adalah orangorang
tua yang miskin dan sama sekali tidak mempunyai
kesalahan. Kalau mereka mau menangkap kami, biarlah.
Akhirnya mereka akan tahu bahwa kami bukanlah orang-orang
yang bersalah. Kami tidak dapat meninggalkan rumah dan
dusun kami.”
@_Alysa^DewiKZ_@
“Benar, Nona. Selama ini, sebelum engkau datang
bermalam di sini, kami tidak pernah diganggu orang. Kalau
kami kedua orang tua melarikan diri, akan lari ke mana? Dan
kami akan selalu dikejar-kejar sebagai pelarian. Melarikan diri
membuktikan bahwa kami berdua mempunyai kesalahan.
Padahal kami tidak bersalah apa-apa. Pergilah, Nona. Engkau
masih muda dan engkau harus menjaga diri, jangan sampai
terjatuh ke tangan orang-orang kejam itu,” kata Si Nenek.
Ceng Ceng merasa terharu dan ia pun mengerti akan
pendirian mereka. Ia menghela napas beberapa kali, lalu
mengambil dua potong emas dari saku bajunya dan
menyerahkan kepada nenek itu. “Kalau begitu, saya akan pergi
dan terimalah sedikit uang ini, Bibi. Selamat tinggal, Paman
dan Bibi.”
Setelah dua potong emas itu diterima Si Nenek, Ceng Ceng
lalu memberi isyarat kepada Cun Giok untuk pergi dari situ.
Cepat mereka meninggalkan dusun itu dan Ceng Ceng berhenti
di bawah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan kecil yang
sunyi. Cun Giok mengikutinya dan pemuda itu berkata.
“Nona, kalau boleh aku mengetahui, apakah yang telah
terjadi dan siapa pula kakek dan nenek itu?”
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 306
Ceng Ceng menatap wajah pemuda itu beberapa saat
lamanya. Baru sekarang ia memandang wajah pemuda itu
dengan seksama. Wajah yang tampan, gagah dan sikapnya
sopan dan lembut. Akan tetapi ia harus yakin dulu apakah
pemuda ini dapat dipercaya? Dia harus mengenalnya lebih dulu
sebelum menceritakan keadaan dirinya dan apa yang telah
dialaminya.
“Maaf, sobat. Harap engkau memperkenalkan diri lebih
dulu, baru saya akan dapat menceritakan segalanya. Saya tidak
mungkin dapat bercerita kepada seorang yang tidak saya
kenal.”
Cun Giok semakin kagum. Gadis ini selain cantik jelita,
juga tutur sapa dan sikapnya amat lembut dan penuh
kesopanan.
“Tentu saja, Nona. Perkenalkan, aku bernama Pouw Cun
Giok seorang kelana yang tidak memiliki tempat tinggal tetap,
sebatang kara yatim piatu tiada sanak keluarga. Kebetulan tadi
dalam perjalanan, aku mendengar pembicaraan enam orang
perwira yang bicara tentang Pek-eng Sianli yang ditawan di
sebuah kuil tua di bukit itu. Tadinya aku mengira bahwa
mungkin yang dimaksudkan mereka adalah Pek-hwa Sianli,
seorang gadis pendekar yang pernah bertemu denganku. Maka,
aku segera pergi ke kuil itu untuk menolongmu. Akan tetapi,
ternyata yang akan kutolong itu bukan Pek-hwa Sianli, dan
agaknya sama sekali tidak perlu kutolong. Bahkan engkau yang
menyelamatkan aku dari asap beracun tadi dengan memberi pel
penawarnya. Nah, yang membuat aku heran, bagaimana
seorang pendekar wanita lihai seperti engkau ini membiarkan
dirimu ditawan?”
Ceng Ceng tertarik. “Nanti dulu, engkau bermarga Pouw?
Aku tahu akan keluarga Pouw yang amat terkenal di So-couw,
apakah engkau masih mempunyai hubungan keluarga dengan
mereka?
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 307
Cun Giok terkejut dan heran. “Keluarga Pouw di So-couw?
Ah, Nona, benarkah engkau mengenal keluarga Pouw di Socouw?
Siapakah di antara mereka yang engkau kenal?” tanya
Cun Giok hendak menguji apakah benar gadis ini mengenal
keluarga ayahnya di So-couw.
Ceng Ceng tersenyum. Ia memang seorang yang cerdik dan
memiliki perasaan peka. Ia dapat menduga bahwa pemuda itu
masih belum percaya bahwa ia mengenal keluarga Pouw di Socouw.
Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda itu
agaknya memang anggauta keluarga yang amat terkenal itu.
“Ayahku bernama Liu Bok Eng dan tinggal di Nan-king.
Apakah engkau tidak mengenal nama itu?”
Cun Giok menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nona, aku
tidak mengenal nama Ayahmu yang terhormat itu.”
“Ayahku adalah sahabat baik dari keluarga Pouw! Bahkan
merupakan sahabat seperjuangan. Ayahku mengenal baik
Kakek Pouw Bun dan Paman Pouw Keng In.......”
“Ah, Pouw Keng In adalah Ayah kandungku, Nona Liu!”
Cun Giok memotong, girang bahwa dia bertemu dengan puteri
sahabat baik ayahnya.
Akan tetapi Ceng Ceng mengerutkan alisnya dan pandang
matanya yang menatap wajah Cun Giok amat tajam penuh
selidik.
“Hemm, benarkah itu, sobat? Di mana sekarang tinggalnya
Paman Pouw Keng In?”
Tiba-tiba wajah Cun Giok berubah muram. Ditanya tentang
ayahnya, dia merasa sedih sekali.
“Ayah...... Ayah dan Ibuku sudah tiada, sudah
meninggal......” dia menghela napas panjang, lalu melanjutkan.
“Semua keluarga Ayah sudah meninggal. Kong-kong (Kakek)
Pouw Bun, Ayah Pouw Keng In dan Ibuku, juga Bibi Pouw Sui
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 308
Hong...... semua sudah tiada, tinggal aku seorang diri.......”
Kembali Ceng Ceng mengerutkan alisnya mendengar ini. Ia
sudah mendengar dari ayahnya tentang pembantaian keluarga
Pouw itu yang menurut ayahnya keluarga itu sudah habis sama
sekali karena Pouw Keng In merupakan keturunan terakhir dan
ketika dia tewas, belum mempunyai anak. Bagaimana sekarang
tiba-tiba muncul seorang pemuda yang mengaku sebagai anak
kandung Pouw Keng In? Akan tetapi, pemuda itu agaknya
mengenal benar keluarga Pouw.
“Terus terang saja, aku banyak mendengar tentang keluarga
Pouw dari Ayahku karena persahabatan antara Ayah dan
mendiang Paman Pouw Keng In amat akrab. Akan tetapi, apa
yang didengar Ayah, keluarga itu sudah terbasmi oleh pasukan
Mongol dan menurut cerita Ayah, ketika Paman Pouw Keng In
tewas terbunuh, dia tidak mempunyai anak. Bagaimana
sekarang engkau dapat mengatakan bahwa engkau adalah anak
kandungnya? Pula, kalau engkau benar anak kandung
mendiang Paman Pouw Keng In, bagaimana engkau tidak
mengenal nama Ayahku? Tentu mendiang Paman Pouw Keng
In pernah menceritakan kepadamu tentang Ayahku yang
menjadi sahabat baiknya itu!”
Dengan suara mengandung kedukaan Cun Giok menjawab.
“Tidak aneh kalau engkau meragukan keteranganku, Nona Liu
karena sesungguhnya, sejak lahir aku tidak pernah mendapat
kesempatan melihat ayah dan ibuku. Ayah tewas terbunuh akan
tetapi ibu ketika itu sedang mengandung dan sempat tertolong.
Akan tetapi ketika ibu melahirkan aku, ibu meninggal dunia
dan aku dirawat dan hidup bersama guruku. Bibi Pouw Sui
Hong tertawan dan menjadi selir seorang pangeran. Aku…..
aku tak sempat bertemu ayah ibuku, bagaimana mungkin
mereka dapat menceritakan tentang ayahmu?” Suaranya
mengandung kedukaan sehingga Ceng Ceng yang halus
perasaannya itu menjadi sangat terharu.
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 309
“Aduh, maafkan aku, Twako (Kakak), kalau aku tadi
meragukan keteranganmu. Kiranya riwayatmu demikian
menyedihkan. Kalau aku boleh bertanya, siapa gurumu itu?”
“Guruku adalah mendiang Suma Tiang Bun.......”
“Ah! Ayah pernah bercerita tentang Suma Tiang Bun yang
terkenal sebagai seorang pendekar patriot sejati yang gagah
perkasa. Ayah mengenalnya dengan baik: Jadi, pendekar tua itu
telah meninggal pula? Ceritamu semakin menarik, Twako.
Maukah engkau melanjutkannya?”
Karena gadis itu ternyata puteri seorang yang menjadi
sahabat ayah dan kakeknya, juga sudah mengenal baik
gurunya, Cun Giok tidak ragu lagi untuk menceritakan
pengalamannya.
“Setelah menjadi murid dan anak angkat guruku dan
menerima gemblengan pula dari Kakek Guruku Pak-kong
Lojin, aku lalu pergi ke kota raja untuk membalas musuh
besarku. Akan tetapi aku telah berbuat dosa yang besar sekali.
Mendengar bahwa Bibi Sui Hong menjadi selir Pangeran Lu
Kok Kong, aku mengira hidupnya sengsara dan ia dipaksa oleh
pangeran itu, maka pada suatu malam aku membunuh
Pangeran Lu Kok Kong! Kemudian ternyata kepadaku bahwa
pangeran itu sama sekali tidak jahat, bahkan dicinta oleh Bibi
Pouw Sui Hong, juga mereka telah mempunyai seorang anak
perempuan bernama Lu Siang Ni.”
Pemuda itu menghentikan ceritanya dan wajahnya berubah
pucat karena dia teringat akan semua itu dengan hati seperti
diremas-remas rasanya.
“Ah......!” Ceng Ceng terkejut akan tetapi juga tertarik
sekali. Melihat pemuda itu demikian berduka, ia tidak berani
mendesaknya untuk melanjutkan ceritanya.
Setelah dapat menenangkan hatinya, Cun Giok melanjutkan
Koleksi Tiraikasih http://kangzusi.com
DewiKZ- 310
ceritanya.
@_Alysa^DewiKZ_@
Tag:cersil cersil indo cersil mandarin full cerita silat mandarin online cersil langka cersil mandarin lepas cerita silat pendekar matahari kumpulan cerita silat jawa cersil mandarin beruang salju. cerita silat pendekar mataharicerita silat indonesia cerita silat kho ping hoo cerita silat mandarin online cerita silat mandarin full cerita silat jawa kumpulan cerita silat cerita silat jawa pdf cerita silat indonesia gratis cerita silat jadul indonesia cerita silat indonesia pendekar rajawali sakti cersil indonesia pendekar mabuk cersil langka cersil dewa arak cerita silat jaman dulu cersil jawa download cerita silat mandarin full cerita silat mandarin online cersil mandarin lepas cerita silat mandarin pendekar matahari cerita silat jawa pdf cersil indonesia pdf cersil mandarin beruang salju kumpulan cerita silat pdf
kumpulan cerita silat cersil online
Share:
cersil...
Comments
0 Comments

Arsip Cersil

Best Cersil

Pecinta Cersil